BABI PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Rohingya adalah nama sebuah etnis di Arakan, Myanmar Utara, yang terpinggirkan oleh pemerintahan junta militer. Mereka, dianggap sebagai orang-orang yang tak bernegara dan tidak diakui secara penuh kewarganegaraannya oleh pemerintah Burma. Tidak seperti golongan etnik lain yang setidaknya diakui

warganegaranya oleh rezim Burma, masyarakat Rohingya dianggap sebagai penduduk sementara dan tidak mendapat hak kewarganegaraan penuh. Mereka diharuskan mendapat izin sebelum menikah, dan izin tersebut biasanya disahkan setelah beberapa tahun. Pergerakan

merekapun dibatasi, mereka diharuskan mendapat izin bahkan untuk singgah ke desa lainnya, dan sering dihalangi untuk mendapat pengobatan dan pendidikan. Sebagai “orang asing”, masyarakat Rohingya tidak diperbolehkan bekerja sebagai pengajar, perawat, abdi masyarakat atau dalam layanan masyarakat, dan di wilayah Rohingya, para pengajarnya biasanya berasal dari golongan etnik Budha Rakhine, yang seringkali menghalangi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi masyarakat Rohingya. Pemerkosaan dan kerja paksa adalah hal yang cukup lazim, serta

1

seringnya pemerasan terhadap mereka. Tentara meminta uang dari mereka dan ketika mereka tidak dapat membayar, mereka akan ditahan dan disiksa.1 Masyarakat Rohingya juga mengalami penyiksaan secara religi, hampir tidak mungkin bagi mereka untuk mendapat izin renovasi, perbaikan dan pembangunan Masjid. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya 12 Masjid di Arakan Utara dihancurkan, dengan jumlah terbesar di tahun 2006. Sejak 1962, tidak ada Masjid baru yang dibangun. Bahkan para pemimpin agama telah dipenjara karena merenovasi Masjid. Perlakuan rezim Burma terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya, disebut-sebut “seburuk-buruk perlakuan terhadap kemerdekaan manusia”. Seorang pejabat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata PBB) yang sering bertugas ke daerah-daerah krisis kemanusiaan menggambarkan

kekejaman yang terjadi di Utara Arakan, bagian barat Burma, “Kalian akan mengerti arti kesengsaraan ketika kalian melihatnya”.2 Kesengsaraan Muslim Rohingya sudah dimulai sejak tahun 1978 oleh Junta Myanmar, akibatnya ratusan ribu orang mengungsi ke negaraPengungsi Rohingya enggan kembali ke Myanmar, Hanin Mazaya, 05 Februari 2009, (http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3292/pengungsi-rohingya-enggankembali-ke-myanmar.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:10 WITA. Kabar dari seberang ‘nasib pengungsi Rohingya’, Muhammad Yusuf, 26 Februari 2009, (http://www.hinamagazine.com/news/nasib-pengungsi-rohingya.html.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:15 WITA.
2 1

2

negara tetangganya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Antara lain mereka mengungsi ke perbatasan Burma dengan India. Suasana kelaparan sangat terlihat di daerah-daerah pengungsian tersebut. Di Perbatasan Cina, wanita-wanita Rohingya dijual ke tempat-tempat

prostitusi. “United Nations High Commissioner for Refugees” (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata UNHCR) pernah memulangkan sekitar 200 ribu warga Rohingya ke Burma, namun banyak yang kembali kepengungsian. Mereka tak sanggup bertahan di daerah asalnya. “Selama pelecehan hak-hak kemanusiaan masih terjadi di Burma, kami tidak akan kembali. Kami terjebak antara mulut buaya dan ular, kemana kami akan pergi ?” ujar salah seorang pengungsi3. Mereka bingung, pemerintah Burma menganggap Rohingya itu orang Bengal, sedangkan pemerintah Bangladesh juga mengusir mereka karena Rohingya itu orang Burma. “Kemana kami akan pergi ?”4 Tidak hanya pemerintah Burma yang mengintimidasi mereka, bahkan Junta pun menggembar-gemborkan gerakan anti Islam di kalangan masyarakat Budha Rakhine dan penduduk Burma sebagai bagian dari kampanye memusuhi Rohingya. Gerakan ini berhasil,
Solidaritas untuk pengungsi rohingya di aceh, Muhammad Ardan, 11 Januari 2009, (http://www.siwah.com/news/jurnalis-oposisi-burma-mengunjungi-pengungsirohingya.html.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:18 WITA. Pengungsi Rohingya enggan kembali ke Myanmar, Hanin Mazaya, 05 Februari 2009, (http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3292/pengungsi-rohingya-enggankembali-ke-myanmar.), Ibid.
4

3

3

masyarakat

Rohingya

menghadapi

diskriminasi

oleh

pergerakan

demokrasi Burma. Sebagian masyarakat Rakhine dan Burma menolak untuk mengakui Rohingya sebagai golongan etnik, dan mereka telah ditolak dalam keanggotaan Dewan Nasional Etnis. “Muslim Arakan”, “Muslim Burma” atau “Bengal dari Burma” adalah nama-nama yang disematkan kepada Rohingya sebagai bahan ejekan. Seharusnya Myanmar dapat bercermin kepada Kanada ataupun Australia yang tetap mempertahankan politik multikulturalisme yaitu tetao membiarkan kominitas-komunitas budaya tetap hidup berdampingan tanpa kehilangan identitasnya, kehidupan yang saling menghargai keyakinan dan pandangan budaya masing-masing diutamakan dalam persatuan yang dibentuk5. Masyarakat Rohingya bukan sekadar mepertahankan identitas etnis mereka di Burma, perjuangan yang mereka lancarkan di daerahnya juga untuk tetap membuat Islam berdiri di Burma. Rohingya, sejak tahun 1978 berteriak, menjerit sekeras-kerasnya kepada dunia, namun suarasuara itu hilang ditelan bumi, terhalang tembok-tembok rezim dan hilang terbawa angin. Pada akhir tahun 2008 yang lalu, mereka secara terpaksa melarikan diri dari Myanmar akibat penderitaan fisik dan batin mereka setelah mengalami perlakuan yang kurang manusiawi oleh tentara
Hendra, Nurtjahjo. 2005. Ilmu Negara Pengembangan Teori Bernegara dan Suplemen. Jakarta : Rajawali Pers. Hlm. 58
5

4

Myanmar. Sampai di Thailand, mereka pun mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan perlakuan yang mereka terima di negara asal. Militer Thailand, dengan perlakuan khas militernya, dengan sewenang-wenang melepas mereka kembali di Thailand dengan memberi bekal makanan seadanya. Tidak ada perlakuan diplomatis. Hanya bahasa kekerasan yang layak dipilih untuk orang-orang Rohingya, mungkin begitulah doktrin militer Thailand sebagaimana apa yang mereka lakukan terhadap muslim di Thailand selatan6. Sepanjang sejarah manusia dibelahan bumi manapun selalu terpaksa melarikan diri dari tempat kelahirannya mencari tempat untuk berlindung dari penganiayaan, kekerasan, maupun konflik bersenjata, namun baru pada awal abad ke-20 negara-negara menyadari bahwa untuk melindungi pengungsi dibutuhkan kerjasama global7. Begitupun kini yang dialami oleh Indonesia baru-baru ini yaitu pada bulan Januari 2009, sampailah para Pengungsi Rohingya di Sabang, Aceh. Mereka ditampung oleh para nelayan di sana, sekedar untuk bertahan hidup sembari menanti investigasi yang jelas tentang motif kedatangan mereka. Menurut beberapa harian ibukota, sebagian besar motif mereka adalah mencari perlakuan yang lebih manusiawi. Tak salah apabila
Rohingya kaum muslim yang terpinggirkan (http//.Sunu Wibirama _ [CerdasTerampil-Taqwa] » Blog Archive » Rohingya, Kaum Muslim yang Terpinggirkan.htm) diakses 16 Maret 2009, pukul 16:20 WITA. UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Switzerland : Komisariat Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi. Hlm 5
7 6

5

Indonesia meminta PBB untuk melindungi etnis Rohingya dari perlakuan buruk pemerintah junta. Ini di dukung pula dengan salah satu pasal dalam konstitusi kita yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain8. Namun, menerima mereka sebagai warga pengungsi yang mendapat suaka pun tak mudah. Setidaknya, Indonesia telah berusaha menunjukkan perlakuan yang baik terhadap pendatang, sekalipun belum tentu secara administratif mereka bisa menjadi warga negara Indonesia. Setidaknya, negeri dengan mayoritas muslim ini bisa menunjukkan pelajaran penting untuk menghargai minoritas. Sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk para negara kampiun Hak Asasi Manusia9. Dalam menangani para pengungsi ini maka perlu dilakukannya kerjasama, baik dari negara-negara yang bersangkutan maupun dari Komisaris Tinggi PBB yang khusus menangani pengungsi UNHCR, serta LSM-LSM yang ingin terlibat didalam menangani permasalahan ini. Karena melindungi pengungsi adalah tugas dan tanggung jawab negara, maka kerjasama antara negara dan UNHCR sangat penting, pemerintah bekerjasama dengan UNHCR dalam beberapa cara, misalnya
Fandi Ahmad dan Tim Setia Kawan. UUD 1945 Amandemen Pertama – Ke empat (1999 - 2002). Jakarta : Setia Kawan. Pasal 28G ayat 2, Hlm. 23 Serambinews ‘Etnis rohingya akan di deportasi’, A. Suryadi, 07 Februari 2009, (http://www.serambinews.com/index.php/2009/02/07/enis-rohingya-akan-di-deportasi.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 15:21 WITA.
9
8

6

dengan memberikan suaka sesuai kewajiban internasionalnya, dan dengan memberikan dana bagi kegiatan UNHCR diseluruh dunia. UNHCR memastikan agar setiap negara tetap menghormati komitmen mereka untuk melindungi pengungsi dengan cara misalnya memantau tata kerja nasional, melakukan intervensi atas nama pengungsi bilamana perlu, dan membantu pemerintah dalam meningkatkan kemampuannya dalam memberikan suaka. Di beberapa negara, ini berarti UNHCR harus memeriksa permohonan suaka setiap individu, UNHCR juga bekerjasama dengan organisasi antar pemerintah regional seperti Persatuan Afrika, Uni Eropa, dan organisasi negara-negara Amerika guna mengharmonisasikan dan menyempurnakan pemberian perlindungan internasional di wilayahnya10. Kerjasama antar negara juga penting guna mengatasi masalah pengungsi, terutama jika terjadi perpindahan massal yang mendadak menyeberangi perbatasan negara. Gerakan internasional bisa mengurangi beban yang ditanggung negara-negara perbatasan secara signifikan, upaya yang dilakukan dapat berupa penyelesaian krisis politik di negara asal pengungsi, bantuan keuangan dan materi kepada negara-negara suaka untuk membantu pengungsi. UNHCR mempunyai peran penting dalam memobilisasi dan mengkoordinir inisiatif pembagian tanggung

Hinamagazine ‘unhcr dilibatkan tangani pengungsi rohingya di aceh, Faisal Rahmat 05 Februari 2009, (http://www.hinamagazine.com/index.php/2009/04/01/unhcrdilibatkan-tangani-pengungsi-rohingya-di-aceh.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 15:23 WITA.

10

7

jawab dan beban tersebut. Karena kepergian pengungsi (Internasional) dan pengungsi Internal ‘IDP (Internal Displacement Persons) sering bertumpang tindih, dan hasilnya koordinasi kegiatan secara tunggal seringkali menjadi pemecahan yang paling masuk akal, terutama selama operasi pemulangan kembali ketika IDP diungsikan atau kembali kelokasi geografis yang sama dengan para pengungsi (Internasional)11. Masalah pengungsi telah menjadi isu internasional yang harus segera ditangani. Komitmen masyarakat internasional untuk menentang segala bentuk tindakan pelanggaran HAM berat, baik itu kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, atau kejahatan lainnya, yang menjadikan cikal bakal lahirnya pengungsi ini, yang didalam peraturan perundang-undangan Indonesia hanya mengatur 2 (dua) saja yaitu genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan12. Maka dalam bentuk penanganannya maka komitmen masyarakat internasional ini ditandai dengan berhasil ditandatanganinya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Status Pengungsi “Convention Relating to the Status of Refugees 1951” (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata Konvensi 1951) oleh beberapa negara di Jenewa, Swiss, pada tanggal 2 sampai dengan 25 Juli 1951 yang lalu. Konvensi ini sendiri telah diterima secara resmi oleh Majelis
UNHCR. 2007. Pengungsi Dalam Negeri Sendiri (IDP) Pertanyaan dan Jawaban. Hlm. 13 Pasal 7 . UU No. 26 tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, (UUNO262000ttgPengadilanHAM.AdobeAcrobatDocument) diakses pada 21 Desember 2009, pukul 21:10 WITA
12 11

8

Umum PBB berdasarkan Resolusi No. 429 (V)13. Serta Protokol Tentang Status Pengungsi 1967 “Protocol Relating to the Status of Refugees 1967” (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata Protokol 1967) yang ditanda tangani oleh Presiden Majelis Umum dan Sekretaris Jenderal pada 31 Januari 196714. Alasan dihadirkannya Konvensi 1951 oleh PBB oleh karena agar setiap negara dapat bertanggung jawab dan menjamin agar hak warganya dihormati, oleh karenanya perlindungan internasional hanya diperlukan jika perlindungan nasional tidak diberikan atau tidak ada. Pada saat itu, tanggung jawab utama untuk memberikan perlindungan internasional terletak pada negara dimana individu mencari suaka. Setiap negara mempunyai tugas umum untuk memberikan perlindungan internasional sebagai kewajiban yang dilandasi hukum internasional, termasuk hukum hak azasi internasional dan hukum adat internasional. Jadi negara-negara yang menjadi peserta / penanda-tangan Konvensi 1951 mengenai status pengungsi dan / atau Protokol 1967 mempunyai kewajiban-kewajiban seperti yang tertera dalam perangkatperangkat tersebut (tentang kerangka hukum bagi perlindungan

pengungsi dan pencari suaka).

Konvensi mengenai status pengungsi, 1951, (http://www.unhcr.or.id /Data/KonfensidanProtokol.pdf.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 16:09 WITA. Hlm. 9 Protokol mengenai status /Data/KonfensidanProtokol.pdf.). Hlm. 2
14

13

pengungsi

1967,

(http://www.unhcr.or.id

9

Dalam

praktiknya,

banyak

negara-negara

yang

kemudian

menangani pengungsi yang tidak sesuai standar internasional yang sudah diatur dalam Konvensi 1951 dan Protocol 1967, sebut saja Negara Thailand, yang telah melanggar pasal 33 konvensi 1951 mengenai larangan pengusiran atau pengembalian (Refoulement) yang ia lakukan kepada para Pengungsi Rohingya yang datang ke negaranya. Dapat kita bayangkan, jika banyak negara melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Negara Thailand terhadap pengungsi yang datang ke wilayahnya. Oleh karenanya keterlibatan UNHCR sangat penting untuk menentukan kebutuhan masyarakat serta merancang dan melaksanakan program-program bersama. Semua lapisan dalam

masyarakat, baik perempuan, anak-anak, maupun yang lanjut usia harus dikonsultasikan dan disertakan dalam semua aspek dan tahap kegiatan perlindungan dan bantuan, khususnya untuk menghilangkan trauma (perubahan yang menimbulkan krisis emosional dan stress mental)15 yang mereka pernah alami dinegaranya. Jika pengungsi laki-laki, perempuan, dan anak-anak dilibatkan secara aktif, mereka akan merasa lebih percaya kepada pihak-pihak yang membantunya serta membangun rasa memiliki atas program-program yang dilaksanakan untuk mereka. UNHCR dapat memberikan yang

Jalaluddin, Rakhmat. 2005. Rekayasa Sosial, Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Hlm. 25

15

10

terbaik berupa perlindungan hukum yang efektif jika kebutuhan dasar orang tersebut juga terpenuhi16. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas serta

melihat arti penting dari standar penanganan pengungsi yang sudah diatur dalam Konvensi 1951, maka penulis dapat merumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Dapatkah Indonesia terikat dengan kewajiban-kewajiban yang

diatur dalam konvensi 1951 dalam penanganan pengungsi ?
2. Apakah status Pengungsi Rohingya sudah sesuai dengan

kriteria yang telah ditetapkan oleh Konvensi 1951 ?
3. Seberapa

besar penanganan yang dilakukan pemerintah terhadap pengungsi Rohingya yang ada

Indonesia

diwilayahnya? C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan pengungsi dan

diberikan solusi yang tepat.
2. Untuk mengetahui apakah penanganan pemerintah Indonesia

dalam menangani pengungsi sudah sesuai prosedur yang diatur dalam Konvensi 1951 atau belum.

16

UNHCR. 2007. Melindungi Pengungsi dan Peran UNHCR. Hlm. 21

11

3. Untuk

mengetahui dalam

kekurangan-kekurangan Pengungsi

pemerintah dan

Indonesia

menangani

Rohingya,

dikemudian hari kekurangan-kekurangan ini paling tidak dapat terpenuhi. D. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat atau berguna baik secara teoritis maupun praktikal. 1. Kegunaan Teoritis : Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan hukum internasional dan nasional terutama dalam penanganan pengungsi.

2. Kegunaan Praktikal :
a. Sebagai bahan informasi atau masukan terhadap

proses penanganan pengungsi sesuai yang diatur dalam Konvensi 1951 dan Protokol 1967 mengenai status pengungsi.

12

b. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi

dalam proses penanganan pengungsi.

B A B II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum

1. Pengungsi
13

Definisi tertuang

pengungsi dalam Konvensi 1951,

perangkat internasional, Konvensi pengungsi

itu

dalam

OAU

(Organization Africa Union), Deklarasi Kartagena Amerika Latin 1984 (the Latin American Cartagena Declaration)17, serta organ khusus PBB yang mengurusi pengungsi UNHCR. Definisi

pengungsi yang utama terdapat dalam Konvensi 1951, dan didalam Konvensi 1951 definisi pengungsi18 terdiri dari : a. pasal penyertaan, menentukan kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah seorang individu dapat dianggap pengungsi. Pasal-pasal ini merupakan dasar penentuan apakah seseorang layak diberi status pengungsi. Didalam pasal penyertaan ini diatur bahwa Untuk memperoleh status pengungsi, seseorang harus mempunyai ketakutan yang beralasan karena ras, agama, kebangsaan, keanggotaannya didalam kelompok sosial tertentu atau pendapat politik yang dimilikinya, berada di luar Negara kebangsaannya/bekas tempat menetapnya, dan tidak dapat atau ingin dikarenakan ketakutannya itu, memperoleh perlindungan dari negaranya atau kembali ke negaranya. b. pasal pengecualian, menolak pemberian status pengungsi kepada seseorang yang memenuhi syarat pada pasal penyertaan atas dasar orang tersebut tidak memerlukan atau tidak berhak mendapatkan perlindungan internasional. Didalam pasal pengecualian ini diatur bahwa walaupun kriteria pasal penyertaan seperti yang telah dijelaskan diatas terpenuhi, permohonan status pengungsi seseorang akan ditolak jika ia sudah menerima perlindungan atau bantuan dari lembaga PBB selain UNHCR, atau diperlakukan sebagai sesama warga di
17

UNHCR. 2007. The 1951 Refugee Convention Questions & Answers. Hlm. 5

UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Op.Cit. Hlm. 53

18

14

Negara tempatnya menetap, dan melakukan pelanggaran yang serius sehingga ia tidak berhak menerima status pengungsi. c. pasal pemberhentian, menerangkan kondisi-kondisi yang mengakhiri status pengungsi karena tidak lagi diperlukan atau dibenarkan. Didalam pasal pemberhentian ini diatur bahwa konvensi juga menjabarkan keadaan-keadaan yang menghentikan status kepengungsian seseorang karena sudah tidak diperlukan lagi atau tidak dapat dibenarkan lagi karena tindakan sukarela dari pihak individu, atau perubahan fundamental pada keadaan di Negara asal pengungsi. Sedangkan definisi pengungsi dari Konvensi Pengungsi OAU ini muncul dari pengalaman perang kemerdekaan di afrika, dan pada tahun 1965 dibentuklah Commission on Refugees di Afrika19. konvensi ini mewakili perluasan yang penting dari konsep pengungsi karena mengartikan pengungsi sebagai orang-orang yang lari dari dampak tanpa pandang bulu dari perang sipil, misalnya layak dianggap pengungsi dibawah Konvensi Pengungsi OAU walau salah satu unsur penganiayaan dari Konvensi 1951 tidak ada. Menurut Konvensi Pengungsi OAU, memberikan definisi pengungsi sebagai berikut : “Seorang pengungsi adalah seseorang yang terpaksa meninggalkan negaranya karena agresi diluar, pendudukan, dominasi asing atau kejadian-kejadian yang mengganggu ketertiban umum secara serius di salah satu bagian atau di seluruh Negara asal atau Negara kebangsaan”.20
19

D. W. Bowett. 2007. Hukum Organisasi Internasional. Jakarta : Sinar Grafika.

Hlm. 306

UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Loc.Cit. Hlm. 58

20

15

Definisi lain mengenai pengungsi juga terdapat didalam Deklarasi Kartagena, walaupun bagian dari definisi ini jelas dipengaruhi Konvensi Pengungsi OAU serta mencerminkan sejarah kepengungsian massal akibat perang sipil di negara-negara Amerika. Sementara deklarasi tersebut tidak mengikat secara hukum, prinsip-prinsip, termasuk definisi pengungsi telah

dimasukan ke dalam hukum nasional dan pelaksanaan negaranegara Amerika Tengah dan Latin. Deklarasi Kartagena

memberikan definisi pengungsi sebagai berikut : “Pengungsi jika mereka meninggalkan negaranya karena hidup, keselamatan atau kebebasannya telah terancam oleh kekerasan umum, agresi asing, konflik dalam negeri, pelanggaran berat atas hak azasi manusia atau keadaankeadaan lain yang mungkin mengganggu ketertiban umum secara serius”.21 Selain definisi dari Konvensi 1951, Konvesi Pengungsi OAU, dan Deklarasi Kartagena, organ khusus PBB yang mengurusi pengungsi, UNHCR juga memberikan definisi pengungsi sebagai berikut : “Seorang pengungsi adalah seseorang yang memenuhi kriteria/definisi pengungsi konvensi 1951, serta berada di luar Negara asalnya atau tempat menetapnya dan tidak dapat kembali kesana karena ancaman yang serius dan tanpa pandang bulu terhadap hidupnya, integritas fisik atau kebebasannya dikarenakan kekerasan umum, atau kejadiankejadian yang mengganggu ketertiban umum secara serius”.22
21

Ibid Hlm. 59 Ibid Hlm. 64

22

16

2. Rohingya Belakangan kita sering membaca tentang kondisi politik negara tetangga kita Myanmar yang sedang bergejolak, namun ada hal lain yang seakan terlupakan atau sengaja dilupakan oleh masyarakat internasional, yaitu tindakan represif junta militer terhadap warga Muslim Myanmar23. Adakah warga Muslim di Myanmar ? Mungkin itu adalah pertanyaan yang akan muncul pertama kali ketika mendengar kata Myanmar. ‘ya tentu saja ada warga Muslim di Myanmar’, mereka adalah orang Rohingya, keturunan Bengali, Panthay (Muslim Burma-China) dan Pashu atau Moken (penduduk kepulauan Andaman, atau dikenal juga sebagai Orang Laut dalam bahasa Melayu)24. Siapakah Rohingya itu ? Etnis Rohingya adalah penduduk asli negara bagian Arakan. Arakan sendiri merupakan sebuah negara bagian seluas 14.200 mil persegi yang terletak di barat Myanmar, merupakan daerah pesisir timur teluk Bengali yang bergunung-gunung, berbatasan langsung dengan India di utara, negara bagian China di Timur laut, distrik Magwe dan Pegu di timur, distrik Irrawady di selatan dan Bangladesh di barat laut, saat
Rohingya muslim Myanmar yang di dzalimi (http://www.arrahmah.com /index.php/news/read/2762/rohingya-muslim-myanmar-yang-didzalimi) diakses pada 02 Desember 2009, Pukul 15:31 WITA.
24 23

Ibid.

17

ini dihuni oleh sekitar 5 juta penduduk yang terdiri dari dua etnis utama, Rohingya yang Muslim dan Rakhine / Maghs yang beragama Budha. Kata Rohingya berasal dari kata Rohang, yang merupakan nama lama dari negara bagian Arakan. Etnis Rohingya yang sudah tinggal di Arakan sejak abad ke 7 Masehi, hal ini merupakan bantahan bagi junta militer yang menyatakan, bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang yang di tempatkan oleh penjajah Inggris di Bangladesh, memang secara fisik etnis Rohingya memiliki kesamaan fisik dengan orang Bangladesh, merupakan keturunan dari campuran orang Bengali, Persia, Mongol, Turki, Melayu dan Arab, yang menyebabkan kebudayaan Rohingya sedikit berbeda dari kebanyakan orang Myanmar. Termasuk dari segi bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Parsi, Urdu dan Bengali. Arakan dulunya merupakan sebuah negara independen yang pernah dikuasai secara bergantian oleh orang Hindu, Budha dan Muslim. Pada 1203 M, Bengali menjadi sebuah negara Islam, dan sejak saat itu pula pengaruh Islam mulai merambah masuk ke wilayah Arakan. Hingga pada akhirnya pada 1430 M. Arakan menjadi sebuah negara Muslim. Selama 350 tahun kerajaan Muslim berdiri di Arakan dan Umat Islam hidup dengan tenang.

18

Namun pada 24 September 1784 M. Raja Boddaw Paya dari Burma menginvasi Arakan dan menguasainya. Pada 1824-1826 perang Anglo-Burma pertama pecah. Ketika perang ini berakhir pada 24 Februari 1426 yang ditandai dengan diratifikasinya Perjanjian Yandabo menyebabkan Burma, Arakan dan Tenasserim dimasukkan ke wilayah British-India. Lalu denga Government of India Act. Tahun 1935 diputuskan bahwa Burma terpisah dari British-India tepatnya mulai tanggal 1 April 1937, melalui keputusan ini pula digabungkanlah Arakan menjadi bagian British-Burma, bertentangan dengan keinginan mayoritas penduduknya yang beragama Islam dan ingin bergabung dengan India. Hingga pada akhirnya Arakan menjadi bagian Burma yang Merdeka pada Tahun 1948. Penduduk Muslim Rohingya merupakan mayoritas penduduk di Arakan, dengan jumlah kurang lebih 90 persen, namun selama 49 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar) jumlah itu terus berusaha dikurangi, mulai dari pengusiran hingga pembunuhan, hingga saat ini hanya tersisa sedikit Umat Islam Rohingya di selatan Arakan sedangkan di bagian utara Rohingya masih menjadi mayoritas25. Nasib Muslim Rohingya setelah Burma merdeka sangatlah memprihatinkan, ini dikarenakan Pada saat bangsa Burma lainnya
25

Ibid.

19

merayakan kemerdekaan pada tahun 1948, Umat Islam Rohingya justru seakan dikucilkan dari kegembiraan itu. Hal itu ditandai dengan tidak diundangnya satu pun perwakilan Umat Islam Rohingya saat perjanjian penyatuan Burma di tanda tangani pada 12 September 1947 di Pinlong, negara bagian Shan antara Jenderal Aung San (Ayah tokoh pro Demokrasi Aung San Su Kyi) dan perwakilan dari berbagai etnis di Burma unuk bersama-sama merebut kemerdekaan dari Inggris dan kemudian membentuk negara Federal Burma yang terdiri dari negara-negara bagian sesuai dengan komposisi etnis dan dengan hak untuk

menggabungkan diri setelah 10 tahun, etnis Rohingya sama sekali tidak dilibatkan dalam proses ini. Berbeda dengan etnis yang lain yang berhak mendirikan negara bagian sendiri, etnis Rohingya Kehilangan haknya, bahkan wilayahnya (Arakan) diserahkan kepada etnis Rakhine yang beragama Budha, walaupun populasinya kurang dari 10 persen penduduk Arakan, sejak saat itulah hak-hak etnis Rohingya berusaha dihilangkan oleh para politisi Budha Burma. Bahkan semenjak junta militer menguasai Burma keadaan semakin memburuk, bukan saja hak-hak politis yang dikekang, tetapi juga dalam bidang sosial-budaya, hal ini ditandai dengan

20

ditutupnya tempat-tempat belajar bahasa Rohingya pada tahun 1965 oleh Junta26.
3. Prinsip Utama Perlindungan Internasional

Prinsip

utama

yang

melatar

belakangi

perlindungan

internasional bagi pengungsi, perangkat-perangkat kuncinya adalah konvensi 1951 dan protokol 196727, ketentuan-ketentuan yang tercakup di dalamnya termasuk :
a. larangan untuk memulangkan pengungsi dan pencari

suaka yang beresiko menghadapi penganiayaan saat dipulangkan (prinsip non-refoulement). b. persyaratan untuk memperlakukan semua pengungsi dengan cara yang non diskriminatif. c. standar perlakuan terhadap pengungsi. d. kewajiban pengungsi kepada Negara tempatnya suaka. e. tugas Negara untuk bekerja sama dengan UNHCR dalam melaksanakan fungsi-fungsinya. Namun lebih spesifik lagi yang dimaksud dengan prinsip non-refoulement (larangan pengusiran dan pengembalian) adalah : a. melarang pengembalian pengungsi dengan cara apapun ke Negara atau wilayah dimana hidup atau kebebasannya terancam dikarenakan ras, agama, kebansaan, keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu atau pendapat politiknya. b. Pengecualian hanya dapat dilakukan jika pengungsi yang bersangkutan merupakan ancaman bagi keamanan nasional atau yang bersangkutan telah dijatuhi hukuman
26

Ibid.

UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Op.Cit. Hlm. 39

27

21

atas kejahatan yang serius, berbahaya bagi masyarakat namun tidak berlaku jika individu tersebut menghadapi resiko penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kjam, tidak manusiawi atau menghinakan. c. Sebagai bagian dari hukum adat dan traktat, prinsip dasar ini mengikat semua Negara. 4. Bali Process Bali Regional Misterial Conference “BRMC” (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata Bali Process) telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2002, 2003, dan yang terakhir pada tahun 2009 baru-baru ini yang dilaksanakan di Bali. Bali Process ke-3 ini bertemakan The Third Bali Regional Misterial Conference on People Smuggling. Trafficking in Persons and Related Transnational Crime (BRMC KE-3) yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 April 2009, BRMC ke-3 diketuai bersama oleh Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, dan Menteri Luar Negeri RI. Pertemuan dihadiri oleh 197 peserta dari 33 negara anggota, 8 negara peninjau, dan 9 organisasi internasional dan regional, dengan tingkat keterwakilan 17 menteri, 11 setingkat menteri. Hadir pula Komisaris Tinggi UNHCR, Direktur Jenderal IOM, dan Sekretaris Jenderal ASEAN28.

Arsip Direktorat Kejahatan Internasional dan Pelucutan Senjata (KIPS) Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Hlm 1

28

22

Pertemuan BRMC ke-3 yang didahului oleh pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (Senior Officials Meeting) telah

menghasilkan “pernyataan bersama ketua”. (Co-chairs’ Statement), yang diifokuskan kepada tiga hal, yang salah satunya adalah menegaskan kembali mekanisme yang ad hoc group (AHG) yang dibentuk pada tahun 2002 guna menanggapi dan menyelesaikan permasalahan kejahatan penyelundupan manusia dan

perdagangan orang secara terpadu29. 4.1 The First Ad Hoc Group Meeting of the Bali Process. The First Ad Hoc Group Meeting of the Bali Process (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata AHG Bali Process) telah diselenggarakan dari tanggal 27 - 29 Juli 2009. Pertemuan diketuai bersama oleh Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar Negeri RI dan Duta Besar Australia untuk isu Penyelundupan Manusia, Peter Wolcott. Pertemuan dihadiri oleh 12 negara yang terdiri dari Afghanistan, Australia, Bangladesh, India, Indonesia, Maladewa, Malaysia, Myanmar, Pakistan,

Selandia Baru, Sri Lanka, dan Thailand; dan 5 (lima) organisasi internasional yaitu IOM, UNHCR, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), dan ASEAN Secretariat (sebagai Peninjau)30. 5. Myanmar (Negara Asal pengungsi Rohingya)
29

Ibid. Ibid. Hlm. 2

30

23

Myanmar (Burma) merupakan salah satu negara termiskin, tetapi di lain pihak merupakan negara yang cukup menarik di Asia Tenggara. Meski terlihat begitu berbeda, tetapi memiliki hubungan yang cukup erat, negara ini tergolong miskin karena selama beberapa dekade pemerintahannya selalu melakukan perlindungan ketat dari pengaruh asing, karenanya Myanmar dinilai memiliki karakter yang berbeda dan menarik. Bepergian ke Myanmar tidak hanya sebagai perjalanan ke wilayah geografis yang berbeda, tetapi juga merupakan sebuah perjalanan memasuki jaman lain yang berbeda31. Dalam ucapan asli penduduk Burma, nama daerah ini selalu disebut dengan Myanmar. Pada tahun 1989, pemerintah militer Myanmar, mengumumkan bahwa negara ini adalah Myanmar. Sejak saat itu, dalam pengumuman resmi dan pertukaran diplomatik hanya nama Myanmar yang disebut untuk nama negara ini, walaupun orang-orang sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Burma. Tapi secara tidak resmi, nama Burma masih tetap dipakai32. 5.1 Junta Militer

Myanmar atau Burma (http://www.asiamaya.com/panduasia/myanmar/e01land/em-lan10.htm) diakses pada 28 November 2009, Pukul 13:30 WITA.
32

31

Ibid.

24

Junta militer diucapkan menurut ucapan bahasa Spanyol hun-ta, biasanya merujuk ke suatu bentuk pemerintahan diktator militer. Dalam bahasa Spanyol Junta sendiri berarti ‘rapat bersama’, dan biasanya digunakan untuk berbagai kumpulan yang bersifat kolegial (hubungan kerekanan). Junta militer biasanya dipimpin oleh seorang perwira militer yang berpangkat tinggi. Pemerintahan ini biasanya hanya dikuasai oleh satu orang perwira yang mengendalikan hampir segalagalanya. Bentuk-bentuk junta militer yang terkenal adalah

Pemerintahan Agusto Pinochet di Cili, diktator militer yang terkenal karena kekejamannya di Argentina dari 1976 hingga 198333. 6. Indonesia (Negara Transit Pengungsi Rohingya) Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk republik yang dipimpin oleh seorang Presiden dengan jumlah wilayah sebanyak 33 Provinsi, daerah-daerah yang pernah dijadikan tempat

pengungsian, seperti : Pulau Galang (Pengungsi Vietnam), Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (Pengungsi Timor Leste), Bogor (Pengungsi Afghanistan) serta yang terbaru adalah Aceh yaitu di Pulau Weh Sabang dan Idi Rayeuk Aceh Timur (Pengungsi Rohingya).

Militer Myanmar (Junta-militer-Wikipedia-bahasa-indonesia,ensiklopediabebas.webarchive) diakses pada 07 Desember 2009, pukul 17:05 Wita

33

25

6.1 Aceh Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh

Darussalam (2001-2009) adalah sebuah provinsi di Indonesia dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan34. Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali, yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue. Sejak tahun 1999, Aceh telah mengalami beberapa

pemekaran wilayah hingga sekarang mencapai 5 pemerintahan kota dan 18 kabupaten35 yang diantaranya adalah Pulau Weh
Sejarah Aceh (http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh#Sejarah) diakses pada 05 Desember 2009, Pukul 11:20 WITA.
35
34

Ibid.

26

Kabupaten Sabang dan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur yang di jadikan tempat sementara Pengungsi Rohingya. 7. Australia (Negara Tujuan Pengungsi Rohingya) Negara Persemakmuran Australia (Commonwealth of

Australia) atau dikenal sebagai Australia saja adalah sebuah negara di belahan bumi selatan yang juga menjadi nama benua terkecil di dunia. Wilayahnya mencakup seluruh benua Australia dan beberapa pulau di sekitar Samudra Hindia Selatan dan Samudra Pasifik. Negara tetangga Australia disebelah utara termasuk Indonesia, Timor Leste, dan Papua Nugini. Disebelah timur laut bertetangga dengan Pulau Solomon, Vanuatu, dan Kaledonia Baru (secara administratif milik Perancis), sementara di tenggara bertetangga dengan Selandia Baru 36. Australia, walaupun terletak di dekat Asia, lebih sering disebut sebagai bagian dari dunia Barat karena kehidupannya yang mirip Eropa Barat dan Amerika Serikat. Penduduknya pun sebagian besar kulit putih. Australia mempunyai enam buah negara bagian, dua wilayah besar, dan yang lain wilayah kecil. Negeri-negeri ini adalah New South Wales, Queensland, Australia Selatan, Tasmania,
Demografi Australia (http://id.wikipedia.org/wiki/Australia) diakses pada 02 Desember 2009, Pukul 16:10 WITA.
36

27

Victoria dan Australia Barat. Dua wilayah tanah besar adalah Northern Territory dan Australian Capital Territory. Kebanyakan penduduk Australia yang sekurang-kurangya 20,6 juta adalah keturunan pendatang dari abad kesembilan belas dan kedua puluh, kebanyakan dari Britania Raya dan Irlandia. Penduduk Australia telah berlipat 4 sejak akhir Perang Dunia I, Dipacu oleh program imigrasi yang ambisius. Pada tahun 2001, kelima kelompok terbesar dari 23,1% penduduk Australia dilahirkan di luar negeri berasal dari Britania Raya, Selandia Baru, Italia, Vietnam dan Cina. Menyusul pembatalan Kebijakan Australia Putih pada tahun 1973, banyak inisiatif pemerintahan telah diadakan untuk menggalakkan dan mempromosikan keamanan budaya berdasarkan kebijakan multikulturalisme. Seperti banyak negara maju yang lain, Australia sedang mengalami peralihan demografi terhadap penduduk yang lebih tua usianya, penduduk di bawah dan di atas umur bekerja. Umumnya dengan banyak negara berkembang lainnya, Australia sedang mengalami perubahan demografi ke arah penduduk yang lebih tua, dengan lebih banyak pensiunan dan lebih sedikit orang usia kerja. Sebagian besar orang Australia (759.849 selama masa 2002– 2003) tinggal di luar daerah mereka. Australia telah memelihara salah satu program imigrasi di dunia untuk meningkatkan jumlah

28

penduduk. Sebagian besar imigrannya terlatih, namun kuota imigrasi termasuk kategori untuk anggota keluarga dan para pengungsi37. B. Badan serta Organisasi yang Terlibat dalam Menangani

Pengungsi Rohingya.
1. Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.

Departemen Luar Negeri Republik Indonesia (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata Deplu) adalah salah satu badan yang mewakili Pemerintah Indonesia bersama Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata Kesra) dalam menangani Pengungsi Rohingya yang ada di Aceh, Departemen inilah yang mendiplomasikan permasalahan-permasalahan pengungsi yang ada di Indonesia dengan negara asal melalui para diplomatnya. Tugas pokok diplomat merupakan tolak ukur penilaian kinerja. Terdapat lima tugas pokok diplomat, yaitu : mewakili, melakukan negosiasi, melindungi, melakukan promosi, dan

pelaporan, yang kinerja dan pencapaiannya akan diukur setiap tahun melalui Sasaran Kerja Individual (SKI). Melalui pembenahan
37

Ibid.

29

organisasi dan sumber daya manusia ini, pencapaian misi diplomasi UU No. 37 tahun 1999 di atas dapat terpenuhi38. Tugas utama Deplu diarahkan untuk : (1) Memagari potensi disintegrasi bangsa, (2) Upaya membantu pemulihan ekonomi, (3) Upaya peningkatan citra Indonesia, (4) Meningkatkan kualitas pelayanan dan perlindungan WNI39. 2. Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan rakyat. Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat adalah salah satu badan yang mewakili Pemerintah Indonesia bersama Departemen Luar Negeri dalam menangani Pengungsi Rohingya yang ada di Aceh, Departemen inilah yang mengurusi sebagian besar kebutuhan hidup para pengungsi di Aceh. Sesuai Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia, bahwa Kesra mempunyai tugas membantu Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan, serta mensinkronkan pelaksanaan
Deplu “benah diri” (http://www.deplu.go.id/Pages/AboutUs.aspx?IDP=4&I=id) diakses pada 13 Desember 2009, pukul 20:27 WITA. Tugas utama Deplu dari tahun 1998 – sekarang (http://www.deplu.go.id /Pages/History.aspx?IDP=4&I=id) Diakses pada 13 Desember 2009, pukul 20:23 WITA.
39 38

30

kebijakan di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kesra menyelenggarakan fungsi : 1. 2. 3. 4. 5. 6.
7.

koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan; sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan; pengendalian penyelenggaraan kebijakan, sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2; pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawabnya; pengawasan atas pelaksanaan tugas di bidang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan; pelaksanaan tugas tertentu yang diberikan oleh Presiden; penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan fungsi tentang kesejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan kepada Presiden40. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi dimaksud, Kesra

mengkoordinasikan : 1. Departemen Kesehatan 2. Departemen Pendidikan Nasional 3. Departemen Sosial 4. Departemen Agama 5. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 6. Kementerian Negara Lingkungan Hidup 7. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan 8. Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara 9. Kementerian Negara Perumahan Rakyat 10. Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga

Kelembagaan Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (http://www.menkokesra.go.id/content/view/14/34/) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 10:05 WITA.

40

31

11. Instansi lain yang dianggap perlu41

Lembaga

Pemerintah

Non

Departemen

yang

dikoordinasikan Menteri / Menteri Negara yang terkait dengan tugas dan fungsi Kesra adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Perpustakaan Nasional (PERPUSNAS) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Badan Kepegawaian Negara (BKN)

8. Instansi lain yang dianggap perlu42

Kemudian dalam Peraturan Presiden RI Nomor 10 Tahun 2005 Tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kesra sebagai telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2005, bahwa Kesra terdiri dari : 1. 2. 3. 4. Sekretariat Kementerian Koordinator Deputi Bidang Koordinasi Kesejahteraan Sosial Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan dan Lingkungan Hidup Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak 5. Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Aparatur Negara 6. Deputi Bidang Koordinasi Agama, Budaya, dan Pariwisata 7. Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan 8. Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Luar Negeri 9. Staf Ahli Bidang Hukum dan HAM 10. Staf Ahli Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan
Tugas dan Fungsi Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (http://www.menkokesra.go.id/content/view/166/117/) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 10:15 WITA.
42 41

Ibid.

32

11. Staf Ahli Bidang Ekonomi Kerakyatan dan Informasi Kesejahteraan Rakyat 12. Staf Ahli Bidang Politik dan Keamanan 13. Staf Ahli Bidang Teknologi, Air Bersih, dan Perumahan Rakyat 14. Staf Ahli Bidang Otonomi Daerah dan Pembangunan Daerah Tertinggal
15. Inspektorat43

3. UNHCR Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi atau yang biasa disebut dengan UNHCR adalah suatu badan khusus dibawah dewan ekonomi sosial atau ECOSOC (Economic and Social) yang dibentuk oleh sidang umum PBB melalui resolusi No. 319 (IV), komisi ini di dirikan karena IRO (International Refugees

Organisation) atau organisasi internasional yang menangani pengungsi pengungsi pada waktu itu kehilangan peminat pada akhir 1940-an, namun jelas diakui perlunya suatu lembaga pengungsi, setidaknya dalam waktu dekat ini. Setelah melalui perdebatan sengit di PBB tentang bentuk yang akan diambil oleh lembaga yang akan di dirikan, maka didirikanlah sebuah lembaga yang bernama UNHCR. Wewenang utama UNHCR telah dikukuhkan dalam peraturan yang terlampir pada Resolusi 428 (V) Sidang Umum PBB tahun 1950. Wewenang ini kemudian diperluas oleh resolusi-resolusi susulan dari Sidang Umum dan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, yaitu memberikan,

43

Ibid.

33

berdasarkan alasan kemanusiaan dan non-politik, perlindungan internasional kepada pengungsi serta mencarikan solusi permanen bagi mereka44. Namun perlu diketahui bahwa UNHCR memberikan

perlindungan dan bantuan tidak hanya kepada pengungsi, tetapi juga ada kategori lainnya dari yang kehilangan tempat tinggal atau orang-orang yang membutuhkan bantuan, yaitu termasuk pencari suaka45. Keadaan tersebut telah menimbulkan suatu perkembangan baru dalam hukum Internasional yaitu timbulnya kebutuhan akan suatu pengaturan bagi masalah pengungsi. Tokoh-tokoh UNHCR merupakan pelopor yang menghendaki dibentuknya cabang hukum baru yaitu hukum pengungsi (Refugee Law)46. 4. IOM International Organization for Migration atau Organisasi Internasional Untuk Migrasi (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata IOM atau OIM) adalah Organisasi antar
44

Pemerintah

yang

didirikan

pada

tahun

1951.

IOM

UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Op.Cit. Hlm.6
45

UNHCR. Pengungsi Dalam Angka. Hlm. 6 Hukum Internasional Humaniter 1 Bagian Umum ,

Syahmin AK. 1985. Bandung : Armico. Hlm. 3

46

34

berkomitmen untuk membantu penanganan migrasi secara tertib & manusiawi, memajukan kerjasama internasional di bidang migrasi, membantu mencari solusi praktis dalam masalah migran migrasi, yang

menyediakan membutuhkan47.

bantuan

kemanusiaan

bagi

IOM membantu Pemerintah dalam menangani imigran yang tertangkap di wilayah Indonesia dengan 2 cara: Ketika tertangkap, pihak yang berwenang memberitahu pihak IOM, lalu mengirimkan suatu tim untuk melakukan

pemeriksan kesehatan, mencarikan tempat tinggal dan mengatur makanan mereka. IOM juga menjelaskan tentang keadaan mereka dan membantu mengarahkan mereka dalam hal pilihan, termasuk juga permohonan untuk status sebagai pengungsi. Jika mereka memilih status ini, maka dibuatkan referensi kepada UNHCR. Bila mereka memilih dipulangkan secara sukarela, IOM akan segera mengurus segala keperluan kepulangan, termasuk travel document, ticket, dan lainnya48.

5. ICRC
Materi Ajar (Hand Out) dari Yosefina Tanggau Bore’ (Salah Satu Staf IOM di Indonesia), Makassar 25 November 2009. Hlm. 7 dan 8.
48 47

Ibid. Hlm. 21

35

ICRC “International Committee of the Red Cross” (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata ICRC) atau yang lebih dikenal dengan Palang Merah Internasional adalah sebuah organisasi kemanusiaan netral, tidak memihak, dan mandiri49. Mandat ICRC yaitu melindungi dan membantu korban konflik bersenjata (sperti kasus 7 pemuda timor timur yang meminta suaka di Kedutaan Besar Finlandia di Jakarta. Dengan bantuan ICRC mereka kemudian telah diberangkatkan ke Swiss pada tanggal 29 Desember 199350), diperolehnya dari negara-negara ,melalui keempat Konvensi Jenewa tahun 1949 (yang juga disebut konvensi-konvensi palang merah51) beserta protokol-protokol

tambahannya tahun 1977 dan 2005 yang menggantikan Konvensi Jenewa pertama tahun 1864, organisasi ini didirikan oleh Henry Dunant Pada Tanggal 24 Juni 1859 di Solferino (Kota kecil di Italia Utara)52. ICRC pertama hadir di Indonesia pada tahun 1979. ICRC dan Palang Merah Indonesia (yang dalam penulisan selanjutnya penulis singkat dengan kata PMI) adalah organisasi-organisasi
49

ICRC. 2008. Hukum Humaniter Internasional Menjawab Pertanyaan Anda.

Hlm 2 Sumaryo Suryokusumo. 2005. Hukum Diplomatik Teori dan Kasus. Bandung : Alumni. Hlm. 158. Lihat Juga Kompas, 24 November 1993. KGPH, Haryomataram. 2005. Pengantar Hukum Humaniter. Jakarta : Rajawali Pers. Hlm. 48 ICRC. 2006. Kenali ICRC. Production Sector : International Committee of the Red Cross. Hlm 2
52

50

51

36

pertama untuk merespon darurat yang disebabkan oleh tsunami pada bulan Desember 2004, namun ICRC sekarang kembali ke kegiatan yang lebih tradisional yang berkaitan dengan situasi konflik dan paska-konflik, saat ini ICRC juga masih tetap bekerjasama dengan PMI untuk menangani para Pengungsi Rohingya, baik yang di Pulau Weh (Sabang) maupun yang ada di Idi Rayeuk (Aceh Timur)53. 6. PMI Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Dibantu Panitia lima orang terdiri atas dr. R. Mochtar sebagai Ketua, dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu dr. Djoehana Wiradikarta, dr. Marzuki, dr. Sitanala, Merah

mempersiapkan

terbentuknya

Perhimpunan

Palang

Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI. Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949
Pengenalan ICRC (http://www.icrc.org/web/eng/siteeng0.nsf/htmlall/indonesia? opendocument) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 11:15 WITA.
53

37

yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59. Kecuali protocol I yang sampai sekarang Indonesia belum meratifikasinya, ini dikarenakan ada beberapa pasal yang dipandang dapat membahayakan Negara yaitu dapat mendorong disintegrasi54. Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan dikukuhkan kegiatannya Presiden sebagai No 25 tahun 1925 dan

satu-satunya

organisasi

perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalang merahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 196355. Dalam berbagai kegiatan PMI komitmen terhadap

kemanusiaan seperti strategi 2010 berisi tentang memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan penanggulangan bencana, bencana, dan kesiapsiagaan perawatan di

kesehatan

masyarakat, Deklarasi Hanoi (United for Action) berisi penanganan program pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, remaja dan manula, kemitraan dengan

pemerintah, organisasi dan manajemen kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun Plan of Action merupakan
54

KGPH, Haryomataram. 2005. Pengantar Hukum Humaniter. Op.Cit. Hlm. 196

Sejarah Pembentukan serta Peran Palang Merah Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 13:10 WITA.

55

38

keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999. Dalam konferensi tersebut Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrar di bidang kemanusiaan56. Hal ini sangat sejalan dengan tugas pokok PMI adalah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalangmerahan yang meliputi: Kesiapsiagaan

Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan

Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah. Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 sampai dengan saat ini salah satunya sebagai berikut : “Membantu saat terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, saat pemberontakan RMS, peristiwa Aru, saat gerakan koreksi daerah melalui PRRI di Sumbar, saat Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang”57. 7 Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Internasional :
1. 2. 3. 4. 5.

Kemanusiaan (humanity) Kesamaan (impartiality) Kenetralan (neutrality) Kemandirian (independence) Kesukarelaan (voluntary service)
56

Ibid. Ibid.

57

39

6. 7.

Kesatuan (unity) Kesemestaan (universality)58

C. Konvensi 1951 (United Nations Convention For Refugees Status

1951) Konvensi ini merupakan istilah yang biasanya dipakai bagi instrumen resmi yang berkarakter multilateral. Istilah konvensi juga mencakup instrument-instrumen yang dibuat oleh organ-organ lembagalembaga internasional59. Konvensi 1951, yaitu Konvensi PBB tentang pengungsi telah ditandatangani untuk pertama kalinya di Jenewa, Swiss pada tanggal 28 Juli 1951 oleh 27 negara60. Dalam Konvensi 1951 sendiri mengatur61 antara lain sebagai berikut : Bab I mengenai ketentuan umum dari pasal 1 sampai dengan pasal 11 yang berisi Definisi istilah pengungsi, kewajiban umum, nondiskriminasi, agama, hak yang diberikan yang terpisah dari konvensi ini, istilah dalam keadaan yang sama, pembebasan dari resiprositas, pembebasan dari tindakan luar biasa, tindakan sementara,

kesinambungan tempat tinggal dan pelaut pengungsi.

58

Ibid.

J. G. Starke. 2007. Pengantar Hukum Internasional Edisi Kesepuluh (2). Jakarta : Sinar Grafika. Hlm. 586
60

59

http://www.unhcr.or.id/Data/KonfensidanProtokol.pdf.). Ibid. Hlm. 9 Ibid. Hlm 11

61

40

Bab II mengenai status hukum dari pasal 12 sampai dengan pasal 16, yang berisi status pribadi, milik bergerak dan tidak bergerak, hak karya seni perindustrian, hak berserikat dan akses ke pengadilan. Bab III mengenai pekerjaan yang memberi penghasilan dari pasal 17 sampai dengan pasal 19 yang berisi pekerjaan yang menghasilkan upah, swakarya dan profesi bebas. Bab IV mengenai kesejahteraan dari pasal 20 sampai dengan 24, berisi pencatuan, perumahan, pendidikan umum, pertolongan publik serta peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan dan jaminan sosial. Bab V mengenai tindakan administratif dari pasal 25 sampai dengan pasal 34, yang berisi bantuan administrative, kebebasan

berpindah tempat, surat identitas, dokumen perjalanan, pungutan fiskal, pemindahan asset, pengungsi yang berada secara tidak sah di Negara pengungsian, pengungsian, larangan pengusiran atau pengembalian (refoulement) dan pewarganegaraan. Bab VI mengenai ketentuan pelaksanaan dan peralihan dari pasal 35 sampai dengan pasal 37, yang berisi kerjasama instansi nasional dengan perserikatan bangsa-bangsa (PBB), informasi tentang peraturan perundang-undangan nasional dan hubungan dengan konvensi-konvensi sebelumnya. Bab VII mengenai ketentuan dari pasal 38 sampai dengan 46,

yang berisi penyelesaian perselisihan, penandatanganan, ratifikasi dan
41

aksesi, ketentuan pemberlakuan toritorial, klausul federal, reservasi, mulai berlaku, pembatalan, revisi dan notifikasi oleh sekrtaris jenderal perserikatan bangsa-bangsa (PBB).

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian

42

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan berkaitan dengan permasalahan dan pembahasan penulisan skripsi ini, maka penulis melakukan penelitian dengan memilih lokasi penelitian di Makassar, Jakarta, dan di Aceh, Pengumpulan data dan informasi akan dilaksanakan di berbagai tempat yang dianggap mempunyai data yang sesuai dengan objek yang diteliti, seperti :
1. Kantor Departemen Luar Negeri RI ( Direktorat Asia Timur

dan

Pasifik,

Direktorat

Kejahatan

Internasional

dan

Pelucutan Senjata ‘KIPS’, Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya, dan Kepala Biro Administrasi Menteri ), 2. Kantor Kementrian Negara Koordinator Bidang

Kesejahteraan Rakyat RI ( Deputi I Bidang Pemulihan Konflik sosial ),
3. Kantor Departemen Sosial RI, 4. Kantor UNHCR Jakarta ( Assistant Protection Officer ),

5. Kantor IOM Jakarta ( National Operations Officer ), 6. Kantor ICRC Jakarta ( Program untuk Kepolisian dan TNI ), 7. Kantor PMI Jakarta ( Bidang Tanggap Darurat dan Restoring Family Links ),

43

8. Wilayah pengungsian ( Pulau Weh ) di Sabang Nangroe

Aceh Darussalam, dan
9. Tempat-tempat studi ( Pusat Studi HAM ‘PUSHAM’ Unhas,

Warung Internet, dll ). Sedangkan penelitian untuk studi internet, penulis melakukan pencarian pada situs :
1. www.google.com, 2. www.wikipedia.org, 3. www.menkokesra.go.id, 4. www.icrc,org, 5. www.deplu.go.id, 6. www.unhcr.ch, dan

7. situs lain yang berhubungan dengan tulisan ini. Data ini dikumpulkan secara langsung dengan mendatangi tempattempat-tempat penelitian tersebut serta menggunakan fasilitas akses internet secara online.

B. Jenis dan Sumber Data

44

Jenis data yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data Primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara secara langsung kepada nara sumber yang terpercaya ( Teuku Faizasyah ‘Juru Bicara Deplu / Ka. BAM’, Rolliansyah Soemirat ‘Direktorat Kejahatan Internasional dan Pelucutan Senjata Deplu’, Ayodia G. L. Kalake ‘Ka. Sub. Dit. Dinas III Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Deplu’, Krishnajie ‘Direktorat Asia Timur dan Pasifik Deplu’, Syahbuddin ‘Ka. Bid. Pemulihan Konflik Sosial Deputi I Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat’, Darwin dan Anita ‘Staf UNHCR’, Ronnie Bala ‘Staf IOM’, Dinihari Puspita ‘Staf ICRC’, Andreane Tampubolon dan Umi Alfiyah ‘Staf PMI’ serta dari beberapa pengungsi yang bersangkutan ). Selain data primer dipergunakan juga data Sekunder dalam penulisan skripsi ini, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh penulis dalam proses penelitian melaui cara penelusuran literatur atau kepustakaan, dokumen-dokumen, serta arsip-arsip yang ada kaitannya dengan masalah yang akan dibahas melalui studi kepustakaan dan studi internet, berkenaan dengan kajian dalam penulisan skripsi ini. C. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui Penelitian Lapangan (Field Research) dan Studi

Kepustakaan (Library Research) untuk memperoleh data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer yakni Konvensi Perserikatan Bangsa-

45

Bangsa Mengenai Status Pengungsi 1951 (Convention Relating to the Status of Refugees 1951), Protokol Tambahan Mengenai Status Pengungsi 1967 (Protocol Relating to the Status of Refugees 1967), serta UUD’ 1945 dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Bahan hukum sekunder yakni bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti hasil penelitian dan pendapat pakar hukum. Serta bahan hukum tersier yakni bahan yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus (hukum), dan ensiklopedia. Eksplorasi data di lapangan dilakukan mengingat lokasi penelitian dapat dijangkau oleh penulis. D. Analisis Data Data yang diperoleh atau yang berhasil dikumpulkan selama proses penelitian dalam bentuk data primer,sekunder dan tersier, diolah dengan menggunakan analisis Normatif Deskriptif, dengan maksud untuk mengolah data Primer, Sekunder, dan tersier yang telah diperoleh agar menjadi sebuah karya ilmiah / skripsi yang terpadu dan sistematis. Sehingga hasil penelitian nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran secara jelas mengenai proses penanganan Pengungsi Rohingya di wilayah Indonesia yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia

46

bekerjasama dengan UNHCR, Organisasi Internasional, dan LSM-LSM lainnya.

47

BAB IV PEMBAHASAN
1. Hubungan Indonesia dengan Aturan Konvensi 1951.

Dewasa ini perjanjian internasional memainkan peranan yang sangat penting dalam mengatur kehidupan dan pergaulan antar negara. Melalui perjanjian mereka internasional dalam tiap negara menggariskan kegiatan dasar serta

kerjasama

mengatur

berbagai

menyelesaikan masalah. Perjanjian internasional merupakan instrumen yuridik oleh karenanya mengikat para pihak62. Mengikat disini adalah melahirkan hak dan kewajiban para pihak yang membuatnya. Seperti yang ditegaskan oleh Oppenheim-Lauterpacht:63 International treaties are agreements of contractual charter between states, creating legal rights and obligations between the parties”. (perjanjian adalah suatu persetujuan antarnegara, yang menimbulkan hak dan kewajiban di antara para pihak). Dari uraian yang dikemukakan diatas, perjanjian internasional dapat pula diuraikan sebagai64: Kata sepakat antara dua atau lebih subyek hukum internasional mengenai suatu obyek atau masalah tertentu dengan maksud untuk membentuk hubungan hukum atau melahirkan hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum internasional.
Boer Mauna, 2005. Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Bandung: P.T. Alumni, Hlm 82 Oppenheim-Lauterpacht, dalam bukunya C. S. T. Kansil dan Christine S. T. Kansil, 2002. Modul Hukum Internasional, Jakarta: Djambatan. Hlm 105 I Wayan Partiana. 2002. Hukum Perjanjian Internasional Bag:1. Bandung: Mandar Maju. Hlm 12
64 63 62

48

Subyek-subyek hukum yang dimaksud disini adalah negara. Sepertinya halnya dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja65: “Perjanjian internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu”.

Dalam perkembangannya, perjanjian Internasional dibagi atas 2 (dua) golongan berdasarkan proses pembentukan dan pembuatannya. Pertama Perjanjian internasional yang diadakan dengan tiga tahap, yaitu: perundingan, penandatanganan, dan ratifikasi (pengesahan). Biasanya perjanjian semacam ini diadakan untuk hal-hal yang dianggap sangat penting (vital) sehingga memerlukan persetujuan badan-badan yang berwenang (treaty-making power). Kedua perjanjian internasional yang diadakan hanya melalui dua tahap, yaitu: perundingan dan

penandatangan tanpa ratifikasi. Biasanya perjanjian ini kurang begitu penting (vital), sederhana, dan memerlukan penyelesaian yang cepat. Misalnya: perjanjian perdagangan yang berjangka pendek66. Pasal 33 (1) Konvensi 1951 menyebutkan bahwa negara-negara peserta Konvensi ini tidak diperbolehkan untuk mengusir ataupun mengembalikan pengungsi dalam bentuk apapun ke luar wilayahnya dimana keselamatan dan kebebasan mereka terancam karena alasan ras,
Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, 2003. Pengantar Hukum Internasional, Bandung: Alumni. Hlm 117
66 65

Alma, Manuputty dkk. 2008. Hukum Internasional. Depok: Rechta. Hlm 110

49

agama, kebangsaannya, keanggotaannya pada kelompok sosial atau pandangan politiknya67. Prinsip non refoulement68 ini tidak hanya terdapat pada Konvensi 1951, namun juga tercantum secara implisit maupun eksplisit pada Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Against Torture) pasal 3, Konvensi Jenewa IV (Fourth Geneva Convention) tahun 1949 pada pasal 45 paragraf 4, pada Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) tahun 1966 pasal 13, dan instrumen-instrumen HAM lainnya69. Lebih dari itu, prinsip inipun telah diakui sebagai bagian dari hukum kebiasaan internasional (international customary law). Dalam arti, negara yang belum menjadi pihak (state parties), dengan kata lain belum meratifikasi Konvensi 1951 – pun harus menghormati prinsip non refoulement ini.

Sulaiman Hamid. 2002. Lembaga Suaka dalam Hukum Internasional. Jakarta : Rajawali Pers. Hlm. 96 Negara-negara peserta Konvensi ini tidak diperbolehkan untuk mengusir ataupun mengembalikan pengungsi dalam bentuk apapun ke luar wilayahnya dimana keselamatan dan kebebasan mereka terancam karena alasan ras, agama, kebangsaannya, keanggotaannya pada kelompok sosial atau pandangan politiknya (Pasal 33 ayat 1 Konvensi 1951) Heru Susetyo. Prinsip Non Refoulement dan Mensikapi Pencari Suaku Rohingya. (http://saverohingya.com/manusia-perahu-dan-warga-yang-dilupakan.html) diakses pada 10 Desember 2009, Pukul 15:00 WITA.
69
68

67

50

Baik Myanmar, Thailand, maupun Indonesia hingga saat ini belum menjadi negara pihak (state parties) dari Konvensi 1951. Kendati demikian negara-negara tersebut tak bisa melepaskan tanggungjawabnya begitu saja terhadap pencari suaka Rohingya. Myanmar selaku negara asal adalah yang paling bertanggung jawab. Karena sudah puluhan tahun lamanya etnis Rohingnya bermukim di Myanmar namun tak kunjung diakui sebagai warganegara. Myanmar juga membiarkan terjadinya penyiksaan dan diskriminasi terhadap mereka atas dasar perbedaan etnis dan agama (persecution). Hal mana dapat digolongkan sebagai kejahatan negara (state violence)70 atau bahkan terdapat indikasi Genosida (namun hasil penelitianlah yang akan membuktikannya nanti, karena kasus ini belum selesai dan sementara berproses). Terkait dengan hal tersebut Indonesia telah memberikan sikap yang positif dengan menyampaikan keprihatinan dan memaklumi masalah yang sudah terjadi (melalui langkah diplomatis yaitu melakukan

pertemuan yang intensif dari kedua negara melalui perwakilannya), namun ini semua dapat memberikan pelajaran bagi semua negara agar kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali71.

70

Ibid.

Hasil Wawancara Bersama Bapak Teuku Faizasyah ‘Juru Bicara Dept. Luar Negeri RI’ di Gedung Utama Deplu Lantai 3, Bagian Biro Administrasi Mentri, Hari Kamis, 16 Juli 2009, Pukul 10.00 – 11.30 WIB.

71

51

Thailand, Indonesia, dan negara-negara lain yang menjadi tempat transit maupun tujuan utama pengungsian mereka, bertanggungjawab untuk tidak serta merta mengusir dan memulangkan mereka secara paksa (non refoulement) ketika pencari suaka asal Rohingnya terdampar ataupun tiba di wilayah kedaulatannya melalui cara yang tidak lazim. Karena memulangkan mereka ke Myanmar pada kondisi seperti ini adalah hal yang sangat tidak mungkin. “Ketika kami sampai di Thailand kami disiksa dan bahkan sesudah penyiksaan tersebut para militer Thailand melepaskan kami kembali ke lautan bebas dengan cara-cara kasar, hingga akhirnya pada saat itu saya terpisah dengan keluarga saya yang lain” ujar salah seorang pengungsi72. Jalan terbaik adalah menampung para pencari suaka untuk sementara sambil menentukan proses selanjutnya, apakah akan memberi suaka langsung, meneruskan ke negeri lain, ataukah mengembalikan ke negeri asal ketika kondisinya memang sudah memungkinkan. Maka arah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan

permasalahan pengungsi ini yaitu penyelesaian yang bersifat regional saja yakni negara-negara terkait diwajibkan mengutus para Menteri Luar Negerinya guna membicarakan kesemuanya didalam sebuah forum agar mendapat solusi yang terbaik, dan proses inilah yang dinamakan dengan Bali Process, jadi tidak sampai diselesaikan di ASEAN forum walaupun
Hasil Wawancara Bersama Bapak Rahmat Bin Mohammad Daud (37 Tahun) “Salah Seorang Pengungsi Rohingya asal Myanmar” oleh Hanin Mazaya, yang dikutip oleh penulis seusai shalat Jum’at. Hari Jum’at 31 Juli 2009. Pukul 13.10 WIB
72

52

ke-3 negara terkait tersebut (Myanmar, Bangladesh, dan Indonesia) adalah anggota ASEAN73. Dalam proses ini, UNHCR ikut terlibat. Karena, UNHCR memiliki mandat untuk memberikan perlindungan terhadap pengungsi dan memfasilitasi mereka untuk menyelesaikan masalah pengungsi. Dan mandat ini tak terbatas pada ‘pengungsi’ yang dimaksud pada Konvensi 1951 saja melainkan juga untuk orang-orang tanpa kewarganegaraan (stateless persons) orang-orang yang kembali pulang dari

pengungsiannya (returnees) dan juga, pada kasus-kasus tertentu, adalah para “pengungsi dalam negeri” (internally displacement persons) atau mereka yang terusir dari daerah asalnya namun tidak sampai

menyeberang ke negeri lain. Maka, kali ini kita patut bangga dengan rakyat Aceh dan pemerintah Indonesia. Keputusan menampung

sementara pencari suaka Rohingya patut dijadikan contoh bagi negaranegara lain, dan adalah hal yang sepatutnya dilakukan dari sisi hukum internasional. Dengan demikian, memberikan penampungan sementara adalah hal yang sepatutnya dilakukan sesuai asas non refoulement dalam Konvensi 195174. Selain itu Teuku Faizasyah Juga menyatakan bahwa :

73

Hasil Wawancara bersama Bapak Teuku Faizasyah Heru Susetyo. Prinsip Non Refoulement dan Mensikapi Pencari Suaku (http://saverohingya.com/manusia-perahu-dan-warga-yang-dilupakan.html)

74

Rohingya. Ibid.

53

“Walaupun secara yuridis Indonesia tidak berkewajiban untuk terikat dalam aturan Konvensi 1951 karena Indonesia bukan salah satu negara yang ikut meratifikasi konvensi, namun demi alasan kemanusiaan, Indonesia memiliki tradisi baik dalam membantu para manusia perahu yang lari dari negaranya (selain Rohingya termasuk juga penungsi Vietnam dan Timor Leste), dan ini sudah diketahui oleh banyak Negara”75.

2. Status Rohingya Terkait dengan UNHCR dan Konvensi 1951. 2.1 Sekilas Masalah Pengungsi Rohingya yang Ada di Aceh76. Pada tanggal 7 Januari 2009, sebanyak 193 manusia perahu yang beretnis Rohingnya dan berasal dari Bangladesh dan Myanmar ditemukan terdampar di Sabang, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Pada tanggal 3 Februari 2009, 198 manusia perahu yang juga berasal dari etnis Rohingnya Bangladesh dan Myanmar ditemukan terdampar di kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terkait upaya penanganan 391 manusia perahu asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut. Dalam rangka mencari penyelesaian yang komprehensif atas keberadaan manusia perahu tersebut, pemerintah Indonesia telah melakukan langkah-langkah penangan yang diperlukan secara paralel, baik pada tataran nasional maupun melalui kerjasama bilateral dan
75

Hasil Wawancara bersama Bapak Teuku Faizasyah Arsip Direktorat Asia Timur dan Pasifik (Astimpas) Departemen Luar Negeri RI.

76

Hlm. 1-2

54

regional. Hal tersebut juga telah dibahas dalam pertemuan presiden RI dengan PM Myanmar pada 16 maret 2009 di Jakarta. Presiden RI dalam hal ini menekankan perlu adanya solusi praktis terhadap masalah ini. Pada tingkat nasional Pemerintah Indonesia telah bekerjasama dengan organisasi internasional, yaitu UNHCR dan IOM untuk melakukan verifikasi dan penentuan status bagi para manusia perahu tersebut. Fokus upaya Pemerintah Indonesia pada saat ini adalah melakukan pemulangan terhadap para manusia perahu yang telah menyatakan kesediaannya direpatriasi secara suka rela (voluntary repatriation). Kasus manusia perahu etnis Rohingnya asal Bangladesh dan Myanmar merupakan salah satu masalah illegal migration yang terjadi di Indonesia. Mengingat kompleksnya permasalahan tersebut, dibutuhkan penanganan yang dilakukan secara paralel pada tingkatan domestik, bilateral dan regional. Pemerintah Indonesia telah melakukan langkahlangkah yang diperluakan secara paralel, baik pada tataran nasional maupun melalui kerjasama bilateral dan regional dalam upaya

penanganan masalah illeggal migration. Dalam rangka mencari penyelesaian komprehensif atas

keberadaan manusia perahu tersebut, Pemerintah Indonesia telah melakukan penanganan yang diperlukan secara paralel, baik pada tataran nasional maupun kerjasama bilateral dan regional.

55

Pada tataran nasional, Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNHCR dan IOM membentuk Tim Verifikasi Gabungan (TVG/Tim) guna menentukan status 391 manusia perahu asal Bangladesh dan Myanmar tersebut. Dalam rangka menindaklanjuti salah satu hasil pertemuan Presiden RI dengan PM Myanmar tersebut, Departemen Luar Negeri juga telah mengirimkan utusan khusus ke Bangladesh dan Myanmar pada 31 Maret – 4 April 2009. Kunjungan dimaksudkan untuk menjajaki upaya fasilitasi dan dukungan Pemerintah Myanmar dan Bangladesh dalam penanganan permasalahan tersebut, serta mengkonsultasikan lebih lanjut langkahlangkah penyelesaian yang praktis, komprehensif dan efektif dalam penyelesaian isu tersebut. Pihak Myanmar telah menyampaikan bahwa Myanmar pada prinsipnya bersedia menerima para manusia perahu asal Myanmar kembali, asalkan mereka dapat membuktikan diri sebagai penduduk Myanmar. Pada tingkat regional, negara-negara ASEAN juga menunjukkan keseriusan dan komitmennya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pada KTT ASEAN ke-14 di Thailand pada 28 Februari – 1 Maret 2009, telah disepakati untuk menangani isu tersebut melalui mekanisme Bali Process dan perlunya penanganan masalah tersebut dalam konteks yang lebih luas dengan melibatkan negara asal, transit dan tujuan. Dalam kaitan ini, Bali Process Ke-3 di Bali pada 14-16 April 2009 telah membahas masalah ini dalam mencari berbagai upaya terobosan.
56

Indonesia senantiasa mendukung Bali Process sebagai mekanisme regional untuk mencari solusi bagi permasalahan illegal migration khususnya dalam menangani root cause permasalahan terrsebut. Bali Process sebagai forum yang melibatkan negara asal, negara transit dan negara tujuan para illegal migrants untuk membicarakan masalah tersebut perlu senantiasa didukung guna memperoleh solusi yang praktis dalam menangani root cause permasalahan di negara asal yang mendorong para illegal migrants tersebut penyelundupan manusia, baik otak pelaku asing maupun orang-orang Indonesia yang terlibat, sesuai dengan pengkategorian penyelundupan manusia sebagai tindak pidana menurut hukum pidana Indonesia maupun ratifikasi Konvensi anti Penyelundupan Manusia yang telah dilakukan oleh Indonesia. 2.2 Proses Verifikasi pengungsi Rohingya oleh UNHCR Perihal Rohingya, pada saat ini sedang diverifikasi oleh UNHCR dan dalam kurun waktu yang tidak lama akan didapat kepastian apakah mereka dapat diklasifikasikan sebagai orang yang harus kembali atau apakah diantara mereka secara pribadi menyatakan siap kembali kenegara asal. Proses tersebut tetap memperhatikan hak asasi manusia perahu tersebut. Sejak minggu lalu77, telah ada aktifitas verifikasi dari tim UNHCR dengan Pemerintah Indonesia. Kendala yang ditemui adalah mencarikan
Teuku Faizasyah. Pokok-Pokok Press Briefing Juru Bicara Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Jakarta 17 April 2009. Hlm. 2
77

57

penerjemah. Pemerintah Indonesia memberikan keleluasaan kepada UNHCR untuk mencarikan tenaga penerjemah yang bisa berbahasa Rohingya. Oleh sebab itu proses tersebut memerlukan waktu dan terus didampingi oleh tim Deplu. Pemerintah RI memegang kendali pelaporan verifikasi tersebut. Hal itu akan menjadi bagian dari fungsi UNHCR untuk mencarikan negara ketiga untuk dapat menampung para Rohingya. Mengenai tujuh orang yang dinyatakan kabur. Dapat diinformasikan bahwa mereka sudah ditemukan dan telah dikembalikan di tempat penampungannya78. 2.3 Perkembangan Pengungsi Rohingya Secara umum perkembangan pengungsi manusia perahu Rohingya belum banyak berubah. Proses investigasi yang melibatkan pemerintah Indonesia dengan IOM dan UNHCR telah selesai dilakukan, dari proses tersebut telah diidentifikasi boat people Rohingya sebagai warga Negara Bangladesh. Mereka sudah menyatakan siap untuk dipulangkan.

Pemerintah RI saat ini sedang memproses pemulangan mereka, namun mengingat proses ini melibatkan jumlah pengungsi yang besar,

pendanaannya masih diupayakan oleh Pemerintah RI bekerjasama dengan IOM. Hal tersebut sudah dikomunikasikan kepada Pemerintah Bangladesh.

78

Ibid.

58

Adapun masalah teknis pemulangan akan melibatkan pemerintah Indonesia, Pemerintah Bangladesh dan IOM, bagi pengungsi yang menyatakan siap pulang akan dikumpulkan pada suatu tempat sehingga memudahkan proses finalisasi akhir. Untuk memastikan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan Pengungsi Rohingya, pemerintah Pusat telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah79. Hingga saat ini seluruh Pengungsi Rohingya yang berada di daerah pengungsian di Pulau Weh dan Idi Rayeuk telah dipindahdahkan ke daerah Medan pada awal Desember 2009, dengan jumlah 195 orang (196 orang lainnya dari jumlah keseluruhan 391 orang, sebagian telah dipulangkan ke negaranya masing-masing atas kemauan mereka sendiri dan sebagian lagi kabur / lari dari daerah pengungsian) dan kesemuanya telah diberikan status pengungsi oleh UNHCR, namun hingga saat ini UNHCR belum mempublikasikannya dikarenakan belum ada waktu dan kesempatan untuk mengumumkannya kepada pers80. 3. Penanganan Rohingya. 3.1 Poin-Poin Penting dalam Bali Process Pemerintah Indonesia terhadap Pengungsi

Teuku Faizasyah. Pokok-Pokok Press Briefing Juru Bicara Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Jakarta 5 Juni 2009. Hlm. 2 Hasil Pemberitahuan dari Bapak Darwin “ Staf UNHCR” Kepada Penulis via Telepon. Hari Kamis 24 Desember. Pukul 13.05 WITA.
80

79

59

Disela-sela BRMC ke-3 telah diadakan Informal Ministerial Breakfast, dengan mengundang negara-negara yang langsung terkait (negara asal, transit, dan tujuan) masalah irregular people movement, seperti Myanmar, Malaysia, Bangladesh, Sri Lanka, ini dimaksudkan untuk membahas tanggapan negara-negara dikawasan terhadap kasus-kasus irregular people movement. Pertemuan BRMC ke-3 yang didahului oleh pertemuan Tingkat Pejabat Tinggi (Senior Officials Meeting) telah menghasilkan “pernyataan bersama ketua”. (Cochairs’Statement), yang diifokuskan kepada tiga hal, yakni : a. Menegaskan kembali komitmen-komitmen yang telah disepakati pada BRMC ke-1 tahun 2002 dan BRMC ke-2 tahun 2003; b. Membuat penilaian strategis mengenai situasi dan kondisi terkini serta tantangan yang dihadapi dalam mencegah dan memberantas tindak pidana penyelundupan manusia dan perdagangan orang dikawasan; dan
c. Menegaskan kembali mekanisme ad hoc group (AHG) yang

dibentuk pada tahun 2002 guna menanggapi dan menyelesaikan permasalahan kejahatan penyelundupan manusia dan 81 perdagangan orang secara terpadu .

Selanjutnya komitmennya

konferensi upaya

menegaskan untuk

kembali

dukungan

dan

terhadap

memberantas

penyelundupan

manusia dan perdagangan orang serta kejahatan transnasional terkait merupakan ancaman terhadap integritas proses dan prosedur keamanan

81

Arsip Direktorat KIPS. Deplu. Op.Cit. Hlm. 1

60

batas wilayah kawasan, dan melemahkan kemampuan negara untuk emngelola migrasi. Secara khusus dinyatakan kekhawatiran terhadap berbagai cara transportasi dalam penyelundupan dan perdagangan orang yang membahayakan jiwa orang yang diselundupkan dan

diperdagangkan. Guna meningkatkan kerjasama regional. Ekstradisi terhadap penyelundup dan traffickers dan penukaran informasi dan komunikasi antara asal, transit, dan tujuan. Dapat memperkuat upaya kawasan dalam menanggulangi perdagangan gelap orang. Disepakati bahwa Bali Process telah memberikan kontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kordinasi ddan komunikasi. Penyelundupan manusia dan perdagangan orang merupakan ancaman bagi berbagai kelompok orang yang rentan. Selain itu diakui bahwa orang yang diperdagangkan, khususnya wanita dan anak-anak merupakan korban, sehingga perlu dilindungi dan diperbantukan melalui dukungan korban, rehabilitasi dan reintegrasi. Dalam hal ini, dinilai penting pendekatan korban (victim-centered approach) dalam penegakan hukum, guna meningkatkan prosekusi dan mencegah pengulangan korban. Menyadari bahwa masalah kemiskinan, jurang perbedaan ekonomi, kesempatan kerja, konflik internal dan ketidakamanan sebagai penyebab utama penyelundupan manusia dan perdagangan orang, perlu ditanggapi secara bersama dan menyeluruh. Krisis ekonomi global berpotensi untuk

61

menciptakan insentif bagi orang untuk mengejar keuntungan ekonomi diluar negaranya, yang pada akhirnya meningkatkan jumlah

penyelundupan manusia dan perdagangan orang. negara asal, transit dan tujuan perlu memainkan peranan dalam melindungi dan mencari solusi bagi pencari suaka. Sementara bagi yang diketahui bukan pencari suaka, dikembalikan ke negara asalnya dengan cara yang terhormat dan manusiawi. Untuk itu, disadari perlunya penggalangan dukungan dan kerjasama internasional. Dalam studi kependudukan dikenal adanya konsep migrasi yang dapat dibedakan antara permanen dan non permanen, walaupun sulit untuk didefinisikan, fenomena migrasi permanen dibatasi pada migrasi “spontan” migrasi tenaga kerja, migrasi spontan disini adalah mereka yang melakukan perpindahan melewati batas Negara bukan dalam konteks kontrak kerja atau mereka yang bermigrasi secara illegal untuk bekerja di Negara82. BRMC ke-3 berhasil dalam menugaskan kembali mekanisme ad hoc (AHG) yang dihentikan pada tahun 2004. AHG tersebut dimaksudkan untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada sekarang ini dikawasan denagan melibatkan negara-negara terkaitoleh meningkatnya irregular people movement, termasuk pendatang gelap asal Rohingya dan Afghanistan. Disepakati bahwa Bali Process dalam posisi untuk

M. Arif Nasution. 1999. Globalisasi dan Migrasi Antar Negara. Bandung : Alumni. Hlm. 2

82

62

melanjutkan dan dimanfaatkan guna menaggapi kasus-kasus irregular people movement83. 3.2 Efektifitas Bali Process Ditegaskan bahwa Bali Process tidak hanya membahas mengenai Rohingya tetapi juga melihat insiden-insiden yang berkembang akhir-akhir ini. Namun hasil akhir dari Bali Process adalah terbentuknya suatu Ad Hoc working groups yang nantinya akan membahas current issues yang lebih besar. Disela-sela Bali Process, Indonesia juga melakukan pembicaraan bilateral dengan Negara Myanmar dan juga Bangladesh, untuk

mengetahui bagaimana kebijakan umum mereka tentang Rohingya. Dalam Bali Process tersebut tercipta komitmen-komitmen yang jelas bagi para Rohingya. Salah satu hal positif yang dihasilkan dari Bali Process adalah kesediaan para peserta untuk mengangkat akar permasalahan seperti pemberian bantuan keuangan dari Australia sebesar AUS$ 3,2 juta. Disamping itu tercapai pula kesepakatan antara Myanmar dan UNHCR mengenai salah satu akar permasalahannya. Akan tetapi masih ditemui keterbatasan-keterbatasan forum tersebut. Indonesia sebagai negara

83

Arsip Direktorat KIPS. Deplu. Op.Cit. Hlm. 2

63

yang berada dikawasan Asia Pasifik, mengapresiasi segala bentuk upayaupaya bilateral84. 3.3 Isu Illegal Immigrant dalam Bali Process Indonesia tidak bisa menjadikan isu illegal immigrant di Deplu, apabila belum melewati perbatasan maka hal ini diserahkan pada pihak imigrasi dan hal ini masih dalam proses investigasi. Indonesia adalah salah satu dari banyak negara yang tidak dapat dibebani dengan masalah ini, karena banyak negara yang harus dilibatkan yaitu negara tujuan dan negara asal. Memperhatikan adanya peningkatan imigran ilegal yang datang ke Indonesia dari bulan Januari sampai April. Dan secara geografis, kita mempunyai banyak perbatasan sehingga Indonesia meningkatkan pengamanan pada perbatasan-perbatasan

tersebut. Oleh sebab itu diperlukan kerjasama regional untuk mengatasi hal tersebut. Banyak sekali faktor-faktor yang mengakibatkan semakin

meningkatnya illegal immigrant yang datang ke Indonesia, dan hal ini telah dibahas pada saat Bali Process. Dalam hal ini salah satu alasan adalah situasi politik dinegara asal . dan terdapat poin penting antara hubungan Indonesia dengan Australia. Komunikasi bilateral telah ditingkatkan dalam menangani masalah ini85.

84

Teuku Faizasyah. Pokok-Pokok Press Briefing. 17 April 2009. Op.Cit Hlm. 2 Ibid. Hlm. 1

85

64

3.4 Poin-Poin Penting dalam AHG Bali Process. Dalam sambutan pembukaan, ketua bersama menyampaikan bahwa pertemuan pertama AHG Bali Process merupakan tindak lanjut dari Bali Process ke-3 yang diadakan pada tanggal 14-15 April 2009, dengan diputuskannya untuk mengaktifkan kembali mekanisme Ad Hoc Group (AHG). Pertemuan pertama AHG ini diharapkan dapat

menghasilkan rekomendasi / kegiatan yang bersifat praktis pada tingkat operasional dalam rangka menangani permasalahan irregular people movement di kawasan86. Pertemuan pertama AHG Bali Process berjalan lancar dan memenuhi keinginan dari Bali Process untuk mengadakan pertemuan yang dapat menghasilkan tindak lanjut yang bersifat konkret dan praktis, khususnya pada tingkat operasional. Hal ini juga ditandai dengan disepakati beberapa langkah-langkah kedepan sebagaimana tercermin dalam Co-Chairs’ Statement. Sesuai denga Co-Chairs’ Statement yang telah disahkan, maka pertemuan telah menyepakati empat tindak lanjut kedepan yakni (a) Tackling Irregular Movement; (b) Penegakan Hukum dan Bantuan Hukum; (c) Strategi-Strategi Komunikasi; dan (d) Tindak Lanjut dalam Isu-Isu Perlindungan87.

86

Arsip Direktorat KIPS. Deplu. Op.Cit. Hlm. 2 Ibid.

87

65

Disamping hasil Bali Process dan AHG Bali Process diatas, secara lebih spesifik lagi penanganan yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia hingga saat ini yaitu Deplu telah melakukan repatriasi kepada Pengungsi Rohingya yang berasal dari Bangladesh, serta mencarikan negara ke-3 (tiga) bagi para Pengungsi Rohingya yang berasal dari Myanmar dan Bangladesh88. Kesra sendiri hingga saat ini telah memberikan 500 ton beras, dan 200 ton obat-obatan89, dari semua yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia, pernyataan yang dilontarkan oleh PMI, yaitu : “Menurut sudut pandang PMI sendiri mengenai penanganan Pemerintah Indonesia dalam menangani Pengungsi Rohingya sudah cukup baik diukur dari segi pemberian penanganan yang cepat tanggap (tanggap darurat) terhadap pengungsi yang masuk ke wilayahnya”90. Sedangkan peranan PMI bekerjasama dengan ICRC yang sudah dilakukan untuk Pengungsi Rohingya yang saat ini ada di Aceh adalah PMI telah melakukan bantuan untuk evakuasi, mendirikan tenda bekerja sama dengan Departemen Sosial (Depsos), member makanan bekerja sama dengan IOM, memberikan air bersih melalui proses sanitasi bekerjasama dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota
88

Hasil Wawancara bersama Bapak Teuku Faizasyah

Hasil Wawancara Bersama Bapak Syahbuddin ‘Ka.Bid. Pemulihan Konflik Sosial Deputi I Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI’ di Gedung Kementrian Negara Koor. Bidang Kesra. Lantai 2, Bagian Pemulihan Konflik Sosial Deputi I, Hari Selasa, 20 Juli 2009, Pukul 11.00 – 12.30 WIB. Hasil Wawancara Bersama Ibu Anne Tampubolon dan Umi Alfiyah ‘Head of Restoring Family Links dan Koordinator Tanggap Darurat Palang Merah Indonesia’ di Twin Plaza Building. Lantai 3, Ballroom Area, Hari Kamis, 23 Juli 2009, Pukul 12.00 – 13.30 WIB.
90

89

66

Sabang, serta membuka posko dan membuat septi tank di wilayah pengungsian. Selain itu PMI juga melakukan 3 (tiga) penanganan PMI, yaitu (a) PSP, yang sifatnya Non-Material seperti terapi sosial dan games yang kesemuanya untuk menghilangkan trauma para pengungsi, (b) RFL, yaitu memfasilitasi komunikasi para pengungsi dengan keluarganya

(menyatuka keluarga yang terpisah dengan cara pendataan, (c) JRS, yang sifatnya material seperti memberikan selimut dan sarung kepada para pengungsi91. Pendapat yang sama dikemukakan oleh IOM terkait dengan penanganan Pemerintah RI, yaitu : “Penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin hari semakin baik, karena sudah memahami hukum internasional khususnya dalam hal proteksi bagi orang-orang yang melarikan diri dari negaranya karena suatu sebab tertentu dan terdampar di negara lain, sedangkan dari kepolisian juga makin mengerti aturan main sesuai penanganan dalam hukum internasional yang berlaku”92. 3.5 Kendala-kendala yang Dihadapi Terkait dengan Penanganan

Pengungsi Rohingya.

91

Hasil Wawancara Bersama Ibu Anne Tampubolon dan Umi Alfiyah.

Hasil Wawancara Bersama Bapak Ronnie Bala ‘National Operations Officers International Organization for Migration (IOM)’ di Gedung Eksekutif. Lantai 9, Kantor IOM Indonesia, Hari Selasa, 28 Juli 2009, Pukul 14.00 – 15.30 WIB.

92

67

i. Seberapa lama aparat yang membantu disana bisa menjamin

penampungan sementara (dan saat ini hal tersebut masih kita bicarakan dengan Kesra)93.
ii. Koordinasi yang kurang dari informan yang ada dilapangan

kepada pihak Kesra, serta sulitnya mendapat data yang valid soal informasi yang ada (datanya sering berubah-ubah)94.
iii. Kapasitas

tidak sebanding dengan pekerjaan yang harus

diselesaikan, kapasitas (jumlah personil) yang sedikit dan harus menyelesaikan pekerjaan yang berat dan banyak95. 3.6 Hal-Hal yang Harus Dilakukan ke Depan yang Hingga Saat Ini Belum Terlaksana terkait dengan Penanganan Pengungsi.
i.

Menyelesaikan permasalahan pengungsi dengan cepat, teratur, dan yang terbaik96

ii.

Membuat juklak dan juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis), jadi kami selalu siap kapanpun disaat terjadinya bencana dalam bentuk apapun yang terjadi di kemudian hari97.

93

Hasil Wawancara Bersama Bapak Teuku Faizasyah. Hasil Wawancara Bersama Bapak Syahbuddin. Hasil Wawancara Bersama Ibu Anne Tampubolon dan Umi Alfiyah. Hasil Wawancara Bersama Bapak Teuku Faizasyah. Hasil Wawancara Bersama Ibu Anne Tampubolon dan Umi Alfiyah.

94

95

96

97

68

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik dari ketiga pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:

69

1. Prinsip non refoulement ini tidak hanya terdapat pada Konvensi 1951, namun juga tercantum secara implisit maupun eksplisit di beberapa konvensi kemanusiaan yang lain. Lebih dari itu, prinsip inipun telah diakui sebagai bagian dari hukum kebiasaan internasional (international customary law). Dalam arti, negara yang belum menjadi pihak (state parties), dengan kata lain belum meratifikasi Konvensi 1951 – pun harus menghormati prinsip non refoulement ini. Baik Myanmar, Thailand, maupun Indonesia hingga saat ini belum menjadi negara pihak (state parties) dari Konvensi 1951. Kendati demikian negara-negara begitu tersebut saja tak bisa melepaskan suaka

tanggungjawabnya

terhadap

pencari

Rohingya. Myanmar selaku negara asal adalah yang paling bertanggung jawab. Karena sudah puluhan tahun lamanya etnis Rohingnya bermukim di Myanmar namun tak kunjung diakui sebagai warganegara. Thailand, Indonesia, dan negara-negara lain yang menjadi tempat transit maupun tujuan utama pengungsian mereka, bertanggungjawab untuk tidak serta merta mengusir dan memulangkan mereka secara paksa (non refoulement) ketika pencari suaka asal Rohingnya terdampar ataupun tiba di wilayah kedaulatannya melalui cara yang tidak lazim.

70

2. Bali Process ke-3 pun yang membahas permasalahan Rohingya telah selesai dilaksanakan, namun negara tujuan untuk para pengungsi masih dalam tahap pembicaraan. Hingga saat ini seluruh Pengungsi Rohingya yang berada di daerah pengungsian di Pulau Weh dan Idi Rayeuk telah

dipindahdahkan ke daerah Medan pada awal Desember 2009, dengan jumlah 195 orang (196 orang lainnya dari jumlah keseluruhan 391 orang, sebagian telah dipulangkan ke negaranya masing-masing atas kemauan mereka sendiri dan sebagian lagi kabur / lari dari daerah pengungsian) dan kesemuanya telah diberikan status pengungsi oleh UNHCR, namun hingga saat ini UNHCR belum mempublikasikannya dikarenakan belum ada waktu dan kesempatan untuk

mengumumkannya kepada pers. 3. Salah satu hal positif dari hasil Bali Process adalah kesediaan para peserta untuk mengangkat akar permasalahan seperti pemberian bantuan keuangan dari Australia sebesar AUS$ 3,2 juta, serta penanganan yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia hingga saat ini yaitu Deplu telah melakukan repatriasi kepada Pengungsi Rohingya yang berasal dari Bangladesh, serta masi terus mencarikan negara ke-3 (tiga) bagi para Pengungsi Rohingya yang berasal dari Myanmar dan Bangladesh.

71

B. Saran Berdasarkan kesimpulan yang merupakan jawaban atas

permasalahan yang ada, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:
1.

Diharapkan semua negara memperhatikan hak-hak asasi manusia

para warganegaranya dan setiap mengambil keputusan tidaklah harus selalu menggunakan kekerasan.
2.

Diharapkan

semua

negara

dapat

memperhatikan

dan

melaksanakan prinsip non refoulement bagi para pengungsi yang datang kenegaranya. .
3.

Diharapkan Pemerintah Indonesia memikirkan baik-baik jika

memiliki keinginan untuk meratifikasi Konvensi 1951 ini, dikarenakan kewajiban-kewajiban sangatlah berat jika yang dibebankan dari kepada negara peratifikasi apalagi

diukur

kemampuan

Indonesia,

masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan dan sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA Buku: Alma, Manuputty dkk. 2008. Hukum Internasional. Depok: Rechta. Boer Mauna, 2005. Hukum Internasional, Pengertian Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global. Bandung: P.T. Alumni

72

D. W. Bowett. 2007. Hukum Organisasi Internasional. Jakarta : Sinar Grafika. Fandi, Ahmad dan Tim Setia Kawan. 1999. Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen Pertama – Ke Empat (1999 – 2002). Jakarta : Setia Kawan. Hendra, Nurtjahjo. 2005. Ilmu Negara Pengembangan Teori Bernegara dan Suplemen. Jakarta : Rajawali Pers. I Wayan Partiana. 2002. Hukum Perjanjian Internasional Bag:1. Bandung: Mandar Maju. ICRC. 2008. Hukum Humaniter Internasional Menjawab Pertanyaan Anda. Switzerland : International Committee of the Red Cross Production Sector. ICRC. 2006. Kenali ICRC. Switzerland : International Committee of the Red Cross Production Sector. J. G. Starke. 2007. Pengantar Hukum Internasional Edisi Kesepuluh (2). Jakarta : Sinar Grafika. Jalaluddin, Rakhmat. 2005. Rekayasa Sosial, Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar. Bandung : Remaja Rosdakarya. KGPH, Haryomataram. 2005. Pengantar Hukum Humaniter. Jakarta : Rajawali Pers. M, Arif Nasution. 1999. Globalisasi dan Migrasi antar negara. Bandung : Alumni. Mochtar, Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes. 2003. Pengantar Hukum Internasional (Buku I- Bagian Umum). Bandung: Alumni. Sulaiman Hamid. 2002. Lembaga Suaka dalam Hukum Internasional. Jakarta : Rajawali Pers. Sumaryo Suryokusumo. 2005. Hukum Diplomatik Teori dan Kasus. Bandung : Alumni. Syahmin A.K. 1985. Hukum Internasional Humaniter 1 Bagian Umum , Bandung : Armico. UNHCR, 2005, Pengenalan tentang Perlindungan Internasional, melindungi orang-orang yang menjadi perhatian UNHCR. Switzerland : Komisariat Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi.

73

UNHCR. 2005. Pengungsi dalam Angka. Switzerland : Media Relations and Public UNHCR. UNHCR. 2007. Melindungi Pengungsi dan Peran UNHCR. Switzerland : Media Relations and Public UNHCR. UNHCR. 2007. The 1951 Refugee Convention Questions and Answers. Switzerland : Media Relations and Public UNHCR. UNHCR. 2007. Pengungsi dalam Negeri Sendiri (IDP) Pertanyaan dan Jawaban. Switzerland : Media Relations and Public UNHCR.

Konvensi: Vienna Convention on the Law of Treaties, 1969. Convention Relating to the Status of Refugees 1951. Protocol Relating to the Status of Refugees 1967.

Peraturan Perundang-undangan: Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak asasi Manusia.

Sumber Lain: C. S. T. Kansil dan Christine S. T. Kansil, 2002. Modul Hukum Internasional, Jakarta: Djambatan. Materi Ajar (Hand Out) dari Yosefina Tanggau Bore’ (Salah Satu Staf IOM di Indonesia), Makassar 25 November 2009 Jurnal Hukum Humaniter Vol. 1 No. 2. 2006. Jakarta : Diterbitkan oleh Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terAs) Fakultas Hukum Universitas Trisakti atas Kerja sama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Pengungsi Rohingya enggan kembali ke Myanmar, Hanin Mazaya, 05 Februari 2009, (http://www.arrahmah.com/index.php/news/ read / 3292/pengungsi-rohingya-enggan-kembali-ke-myanmar.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:10 WITA.

74

Kabar dari seberang ‘nasib pengungsi Rohingya’, Muhammad Yusuf, 26 Februari 2009, (http://www.hinamagazine.com/news/nasib-pengun gsi-rohingya.html.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:15 WITA. Rohingya kaum muslim yang terpinggirkan (http//.Sunu Wibirama _ [Cerdas-Terampil-Taqwa] » Blog Archive » Rohingya, Kaum Muslim yang Terpinggirkan.htm) diakses 16 Maret 2009, pukul 16:20 WITA. Solidaritas untuk pengungsi rohingya di aceh, Muhammad Ardan, 11 Januari 2009, (http://www.siwah.com/news/jurnalis-oposisi-burmamengunjungi-pengungsi-rohingya.html.) diakses 16 Maret 2009, pukul 15:18 WITA. Serambinews ‘Etnis rohingya akan di deportasi’, A. Suryadi, 07 Februari 2009, (http://www.serambinews.com/index.php/2009/02/07/enisrohingya-akan-di-deportasi.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 15:21 WITA. Hinamagazine ‘unhcr dilibatkan tangani pengungsi rohingya di aceh, Faisal Rahmat 05 Februari 2009, (http://www.hinamagazine.com /index.php/2009/04/01/unhcrdilibatkan-tangani-pengungsi-rohingyadi-aceh.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 15:23 WITA. Konvensi mengenai status pengungsi, 1951, (http://www.unhcr.or.id /Data/KonfensidanProtokol.pdf.) diakses pada 16 Maret 2009, pukul 16:09 WITA. Hal. 9 Rohingya muslim Myanmar yang di dzalimi (http://www.arrahmah.com /index.php/news/read/2762/rohingya-muslim-myanmar-yangdidzalimi) diakses pada 02 Desember 2009, Pukul 15:31 WITA. Sejarah Aceh (http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh#Sejarah) diakses pada 05 Desember 2009, Pukul 11:20 WITA. Demografi Australia (http://id.wikipedia.org/wiki/Australia) diakses pada 02 Desember 2009, Pukul 16:10 WITA. Deplu “benah diri” (http://www.deplu.go.id/Pages/AboutUs. aspx?IDP= 4&I=id) diakses pada 13 Desember 2009, pukul 20:27 WITA. Tugas utama Deplu dari tahun 1998 – sekarang (http://www.deplu.go.id /Pages/History.aspx?IDP=4&I=id) Diakses pada 13 Desember 2009, pukul 20:23 WITA.

75

Kelembagaan Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (http://www.menkokesra.go.id/content/view/14/34/) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 10:05 WITA. Tugas dan Fungsi Kementrian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (http://www.menkokesra.go.id/content/view/166/117/) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 10:15 WITA. Pengenalan ICRC (http://www.icrc.org/web/eng/ siteeng0.nsf/htm lall/indonesia? opendocument) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 11:15 WITA. Sejarah Pembentukan serta Peran Palang Merah Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Palang_Merah_Indonesia) diakses pada 11 Desember 2009, Pukul 13:10 WITA. Heru Susetyo. Prinsip Non Refoulement dan Mensikapi Pencari Suaku Rohingya. (http://saverohingya.com/manusia-perahu-dan-wargayang-dilupakan.html) diakses pada 10 Desember 2009, Pukul 15:00 WITA.

76

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful