You are on page 1of 15

Krisis dan Keterpurukan Pendidikan Indonesia

Oleh Rum Rosyid


Sekularisme Sebagai Paradigma Pendidikan
Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang
sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20
tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan
berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”
Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti
“iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur
kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi
masalah privat dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah
sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun
para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).
Secara umum merupakan pengaruh budaya globalisasi. Globalisasi mendorong
pergeseran nilai-nilai masyarakat kearah sekulerisme yang mempengaruhi paradigma
pendidikan. Orientasi pendidikan pada peserta didik (student learning center).
Proses belajar seumur hidup. Lumernya batas antara pendidikan formal dengan non-
formal. Berkembangnya pendidikan jarak jauh dan multimedia.
Meningkatnya standar mutu dan daya saing. Berkembangnya pendekatan multi disiplin
keilmuan. Meningkatnya peran teknologi komunikasi dan informasi dalam proses
pendidikan

Sesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang
sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20
tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum)
pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan,
akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus.
Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan
pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal
melahirkan manusia salih yang berkepribadian religius sekaligus mampu menjawab
tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.
Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui
madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama;
sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta
perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan
yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh
Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan
karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang
tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang
perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.
Hal ini juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang ketentuan kurikulum
pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata
pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan
bagi bidang pelajaran yang lainnya.
Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari
pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunya
kurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudian
mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya
bagi proses penguasaan peradaban Illahiyah dan pembentukan kepribadian taqwa.
Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai yang
menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi,
pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan
penguasaan tsaqâfah rabbani. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja
‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan
pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisi
kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan
sains dan teknologi.
Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh
orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama
terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag), tidak mampu
terjun di sektor modern.
Jadi, pendidikan sekular memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritas
kepribadian atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular itu
akan melahirkan insan pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk
lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini
adalah out put umum dari sistem pendidikan sekular. Mari kita lihat contoh negara
Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju, kehidupan
publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap
peraturan publik tinggi.
Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungi
secara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak boleh
dirayakan di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absen
di sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat 5
waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar
moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik
kita tidak boleh melihat wajah agama.
Sistem pendidikan yang material-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan
bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular.
Dalam sistem sekular, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak
pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang
pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk
tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.

Krisis Pendidikan Sekuler


Krisis multidimensional yang melanda Indonesia telah membuka mata kita terhadap
mutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, dan secara tidak langsung juga merujuk
pada mutu pendidikan yang menghasilkan SDM itu sendiri. Meskipun sudah merdeka
lebih dari setengah abad, akan tetapi mutu pendidikan Indonesia dapat dikatakan masih
sangat rendah dan memprihatinkan. Hal tersebut setidaknya dapat kita ketahui dengan
melihat 2 (dua) indikator sekaligus, yaitu indikator makro seperti pencapaian Human
Develompement Index (HDI) dan indikator mikro seperti misalnya kemampuan
membaca.
Menurut Human Development Reports , HDR 2002 (Laporan Pembangunan Manusia
2002) yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB ( United Nations Development
Programme, UNDP) tentang Human Development Indicators 2002, Indonesia menempati
peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti dengan Human Development Index (HDI)
0.684. Posisi Indonesia itu jauh di bawah negara anggota ASEAN, misalnya Singapura
(25), Brunei Darussalam (32), Malaysia (59), Thailand (70), Vietnam (109).
Kemudian pada HDR 2003, indeks tersebut merosot menjadi 0,682. Penurunan indeks
yang mencerminkan memburuknya kualitas manusia Indonesia ini juga terlihat dari
menurunnya peringkat HDI, dari urutan 110 ke 112, sementara Malaysia naik ke
peringkat 58 dan Vietnam masih di urutan ke 109. ( Suara Pembaharuan , 23/07/2003)
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada Human Development Report
2005, ternyata Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Bahkan
yang lebih mencemaskan, peringkat tersebut justru sebenarnya semakin menurun dari
tahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 1997 HDI Indonesia berada pada peringkat
99, lalu menjadi peringkat 102 pada tahun 2002, dan kemudian merosot kembali menjadi
peringkat 111 pada tahun 2004.
Menurut IMD (2000), dalam hal daya saing, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari
47 negara. Sedangkan, Singapura berada pada peringkat 2 dan Malaysia serta Thailand
masing-masing pada urutan ke-25 dan ke-23. Terkait masalah produktivitas, terungkap
bahwa produktivitas SDM Indonesia sangatlah rendah, hal tersebut setidaknya
dikarenakan kurangnya kepercayaan diri, kurang kompetitif, kurang kreatif, dan sulit
berprakarsa sendiri (selfstarter). Itu semua disebabkan oleh sistem pendidikan yang top
down dan tidak mengembangkan inovasi dan kreativitas (N. Idrus - CITD 1999).
Begitu pula dari berbagai data perbandingan antar negara dalam hal anggaran pendidikan
yang diterbitkan oleh UNESCO dan Bank Dunia dalam “The World Bank (2004):
Education in Indonesia: Managing the Transition to Decentralization (Indonesia
Education Sector Review), Volume 2, hal. 2-4”, Indonesia adalah negara yang terendah
dalam hal pembiayaan pendidikan. Pada tahun 1992, menurut UNESCO, pada saat
Pemerintah India menanggung pembiayaan pendidikan 89% dari keperluan, Indonesia
hanya menyediakan 62,8% dari keperluan dana bagi penyelenggaraan pendidikan
nasionalnya. Sementara itu, dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara yang
lebih terbelakang seperti Srilanka, persentase anggaran yang disediakan oleh Pemerintah
Indonesia masih merupakan yang terendah.

Dampak krisis ekonomi, yang menurunkan pendapatan riil masyarakat, terus


membayangi dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan dasar, sehingga
memaksa upaya penyelamatan oleh semua pihak. Kekhawatiran itu paling tidak tercermin
dari hasil pengamatan Dr Hafid Abbas terhadap masyarakat di sekitar beberapa sekolah
swasta jenjang SD dan SMP yang terkena PHK di Kecamatan Tamblang, Bekasi.
Pengamat pendidikan dari IKIP Jakarta itu menemukan di setiap kelas SD dan SMP,
kecuali kelas terakhir, terdapat empat sampai delapan anak, atau 10 sampai 20 persen
siswa, berhenti sekolah karena kesulitan ekonomi. "Itu pengamatan dua bulan lalu. Kini,
dengan tekanan ekonomi yang makin berat, sekolah-sekolah swasta itu mungkin sudah
tutup," katanya.
Bahkan, menurut dia, jika tabungan kelas digunakan sebagai ukuran kesejahteraan, maka
tingkat kesejahteraan orangtua murid di sekolah-sekolah swasta tersebut juga mengalami
penurunan drastis, yakni sebesar 80 persen. Ia mengatakan, sebelum krisis tiap siswa di
sekolah tersebut umumnya menabung rata-rata Rp500 perhari, saat ini kurang lebih Rp4
ribu per kelas per hari. Menurut dia, tantangan berat dunia pendidikan di Indonesia
sekarang adalah mempertahankan transition rate, yakni murid dapat melanjutkan ke
jenjang sekolah lebih tinggi, sebab mempertahankan sekolah saja sulit. Di Jatim,
misalnya, dalam beberapa bulan terakhir terdapat 346 SLTP swasta terpaksa tutup dan
diperkirakan 72 ribu siswa mengalami putus sekolah. Data Balitbang Depdikbud juga
menunjukkan tingkat putus sekolah yang mengkhawatirkan itu sebagai dampak krisis
ekonomi terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Tercatat 29,8 persen
siswa SD, terutama dari keluarga miskin, tidak melanjutkan sekolah, sedangkan untuk
tingkat SLTP 14,8 persen, 13,4 persen di SMU, dan 13,3 persen di tingkat SMK. Itu
berarti, dari 100 siswa SD terdapat 30 anak putus sekolah, sebanyak 15 anak dari 100
siswa SLTP drop out. Nasib yang sama dialami 13 anak dari 100 murid SMU ataupun
SMK.

Sebelum krisis, tercatat angka putus sekolah 2,99 persen tingkat SD, SLTP 3,47 persen,
SMU 4,6 persen, dan 6,08 persen di SMK. Mendikbud Juwono Sudarsono ketika itu juga
mengungkapkan, sebagai akibat krisis ekonomi, Angka Partisipasi Kasar (APK)
pendidikan dasar turun drastis dari 78 persen menjadi 58 persen. Krisis ekonomi agaknya
telah menjadikan Indonesia berada di bawah bayang-bayang krisis pendidikan, khususnya
pendidikan dasar. Jika kondisi krisis tetap berlanjut, bukan tidak mungkin satu generasi
kita terputus pendidikannya. Ia juga memperkirakan pemerintah mengalami kesulitan
mencapai target pemenuhan program Wajar Dikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar)
tahun 2004-2005. Setidaknya target itu akan mundur tiga tahun dari semula. Bahkan,
Wakil Ketua Komisi VII DPR, Zarkasih Nur, menyatakan, pencapaian target Wajar
Dikdas akan mundur empat tahun. Sementara itu Bank Dunia memperkirakan, jika tidak
segera dilakukan intervensi untuk mencegah krisis pendidikan di Indonesia, seperti maka
pengorbanan besar akan terjadi. Jadi, dibutuhkan investasi besar-besaran untuk
memulihkan keadaan dan memerlukan waktu sekitar 10 tahun. Kondisi itu terlihat dari
hasil ujian akhir nasional tahun 2004-2005 yang mengejutkan banyak orang. Puluhan ribu
murid tingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia tidak lulus ujian. Di Yogyakarta yang
nota bene sebagai kota pelajar, ada 13 SMA yang persentase kelulusan muridnya nol
persen. Bahkan di NTT, Papua, Bengkulu, Sulteng, Kalteng dan NAD, angka
ketidaklulusan siswa SMP peserta UAN 2005, sekitar 50 %. Sungguh ironis dan
lengkaplah derita kita.

Rendahnya kualitas pendidikan itu selain dapat dilihat dari hasil ujian nasional, menurut
International Education Achievement (IEA), bisa dilihat dari kemampuan membaca
untuk tingkat SD dan matematika bagi siswa SLTP. Untuk membaca, Indonesia termasuk
urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sedang matematika kita masuk urutan ke-39
dari 42 negara. Untuk studi IPA, kita masuk urutan ke-40 dari 42 negara peserta.
Hasil studi penelitian yang dilakukan oleh Vincent Greanery dalam “Literacy Standards
in Indonesia” dapat disimpulkan bahwa kemampuan pendidikan membaca anak-anak
Indonesia adalah paling rendah dibandingkan dengan anak-anak Asia Tenggara pada
umumnya. Padahal, mempertimbangkan pendidikan anak sama saja dengan
mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat
fotografik yang tidak bergambar apa-apa dan akan merefleksikan semua yang
ditampakkan padanya.

Memahami kondisi itu, pemerintah melakukan intervensi dalam bentuk program tindakan
penyelamatan sementara sekitar tiga tahun mendatang dalam bentuk kampanye nasional
yang dicanangkan 29 Juni lalu. Kampanye itu, menurut Presiden BJ Habibie ketika itu,
untuk memberi kesempatan kepada keluarga kurang mampu untuk bekerja, belajar, dan
berwirausaha serta memberikan prioritas tinggi pada pendidikan anak. Dalam kaitan itu,
pemerintah telah menyiapkan dana sekitar Rp4 triliun dana bantuan Bank Dunia, Bank
Pembangunan Asia (ADB), Unicef, serta dana penyertaan dari APBN pemerintah.
Dana yang dikenal dengan istilah block grant itu, akan dikeluarkan secara bertahap
selama lima tahun berdasarkan persentase dana. Tahun pertama sampai ketiga,
pemerintah mengalokasikan masing-masing 27 persen untuk pembiayaan program
penyelamatan tersebut, 21 persen tahun keempat, serta 15 persen pada tahun kelima.
Selain kepada siswa, pemerintah juga mengadakan program untuk membantu para
pemimpin sekolah dan guru SD/SLTP, agar dapat mempersiapkan pendidikan tanpa
gangguan berarti. Diharapkan dua tahun mendatang Angka Partisipasi Kasar naik 60
hingga 65 persen.

Dalam pelaksanaannya, akan diberikan dalam tiga paket program secara bertahap,
bergantung pada kemampuan masyarakat yang bersangkutan. Paket program pertama
pembebasan segala bentuk pungutan di sekolah seperti SPP, BP3 bagi keluarga miskin,
biaya pendaftaran, uang buku, dan uang seragam. Jika keluarga tersebut masih belum
mampu menyekolahkan anaknya, meski telah dibebaskan dari berbagai pungutan, maka
pemerintah akan memberikan bea siswa kepada keluarga miskin. Melalui Program
Kampanye Nasional Wajar Dikdas, pemerintah akan memberikan beasiswa sebesar
Rp120 ribu per tahun pada 4.169 ribu siswa SD dan beasiswa Rp140 ribu pada 1.551.200
murid SMP. Selain beasiswa, pemerintah juga memberikan bantuan dana operasional
sekolah sebesar Rp2 juta dan Rp4 juta, masing-masing pada 40 persen dari 173 ribu
SD/MI swasta atau negeri termiskin, dan 40 persen dari 31 ribu SLTP/MTs negeri dan
swasta termiskin.

Anggaran Pendidikan dalam Bingkai Hukum


Terhadap kondisi pendidikan yang semakin terpuruk tersebut, C.E. Beeby mencatat ada 2
(dua) hambatan utama dalam upaya meningkatkan bidang pendidikan di Indonesia.
Pertama, kurangnya biaya dan perlengkapan yang bisa dibeli dengan uang. Kedua,
hambatan-hambatan yang bukan material sifatnya, di mana penambahan uang tidak akan
segera memperlihatkan efeknya. Hal tersebut sejalan dengan salah satu temuan penting
dari studi empiris terhadap referensi pencapaian Human Development Index versi UNDP,
yaitu pembiayaan pendidikan di suatu negara terbukti memberikan pengaruh sangat
positif dan signifikan terhadap kinerja pendidikan nasional di negara-negara
bersangkutan.

Satu dari sekian masalah utama namun klasik yang selalu membelit sistem pendidikan di
Indonesia adalah rendahnya anggaran pendidikan yang disediakan oleh negara.
Rendahnya anggaran pendidikan itu diyakini sebagian kalangan sebagai akar utama
buruknya pendidikan nasional. Alokasi dana yang rendah untuk pendidikan, di mana
penganggaran selalu dialokasikan dibawah 10% dari APBN, dinilai sebagai cermin tidak
adanya political will pemerintah terhadap dunia pendidikan. Padahal dalam Pasal 31 ayat
(4) UUD 1945, secara jelas pemerintah mempunyai suatu kewajiban konstitusi
(constitutional obligation) untuk memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-
kurangnya 20% dari APBN dan APBD guna memenuhi kebutuhan penyelenggaraan
pendidikan nasional. Demikian pula ditegaskan kembali dalam UU organiknya yaitu UU
No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan
biaya pendidikan kedinasan harus dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor
pendidikan dan minimal 20% dari APBD.

Masyarakat yang skeptis memandang nasib pendidikan saat ini, baik itu berasal dari
pihak perorangan maupun institusi pendidikan seperti PGRI dan ISPI, sebenarnya telah
berupaya menembus tembok kemandegan penganggaran bagi pendidikan yang tidak
sejalan dengan amanah Pasal 31 UUD 1945. Hal itu mereka tempuh dengan upaya
melakukan proses permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 (judicial
review) sebanyak dua kali kepada Mahkamah Konstitusi (MK) selaku Lembaga Negara
pengawal konstitusi, yaitu UU APBN 2005 dan UU APBN 2006. Terjadinya permohonan
Judicial Review atas pemenuhan hak-hak asasi manusia yang bersifat fundamental
tersebut dapat kita katakan sebagai pertanda bahwa telah terjadi suatu permasalahan yang
sangat krusial, bahkan Mark Elliot dalam bukunya “The Constitutional Foundations”
memaknai judicial review sebagai tindakan warga negara dalam mencari keadilan yang
hakiki yang tidak boleh dianggap sepele oleh siapa pun.

Alhasil, pendapat MK terhadap kebijakan pemerintah yang hanya mengalokasikan


anggaran pendidikan dalam APBN sebesar 8,1 % pada tahun 2005 dan 9,1 % pada tahun
2006 dianggap bertentangan dengan UUD 1945 (inkonstitusional) karena tidak sesuai
(unvereibar) dengan amanat Pasal 31 ayat (4) UUD 1945. Ketentuan tersebut dikuatkan
lewat putusannya No. 012/PUU-III/2005 bertanggal 5 Oktober 2005 dan No. 026/PUU-
III/2005 bertanggal 22 Maret 2006 yang pada intinya menyatakan bahwa keberadaan
Pasal 31 UUD 1945 mempunyai sifat imperatif (dwingend recht) yang tidak dapat
dielakkan selama masih tercantum dalam UUD 1945. Putusan tersebut sangat tepat
tatkala kita melakukan penafsiran konstitusi (constitutional interpretation) terhadap
rumusan Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi, “Negara memprioritaskan anggaran
pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta
dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional”, maka tidak akan membuka adanya kemungkinan
penafsiran lain selain bahwa negara wajib memprioritaskan anggaran pendidikan dalam
APBN dan APBD dengan prioritas dimaksud haruslah sekurang-kurangnya 20%
(duapuluh persen) dari APBN serta dari APBD.
Begitu pula dalam Putusannya Nomor 011/PUU-III/2005, Mahkamah menegaskan bahwa
pada hakikatnya pelaksanaan Konstitusi tidak boleh ditunda-tunda. Ketentuan anggaran
minimal 20 persen dari APBN/APBD itu sudah dinyatakan secara expres verbis, sehingga
tidak boleh direduksi oleh peraturan perundang-undangan di bawahnya. Itu pula
sebabnya, MK menyatakan Penjelasan Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional yang membuat norma baru dengan menyatakan bahwa pemenuhan
anggaran pendidikan dapat dilakukan secara bertahap tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat. Jikapun pemerintah diperbolehkan, quot non, melakukan pemenuhan anggaran
pendidikan secara bertahap, faktanya pun sudah melenceng jauh dari skenario progresif
pemenuhan anggaran pendidikan yang disepakati bersama oleh DPR dan Pemerintah
pada tanggal 4 Juli 2005 yang lalu. Padahal, skenario itu hanya menetapkan kenaikan
bertahap 2,7 persen per tahun hingga 2009, dengan rincian kenaikan 6,6 % (2004), 9,29
% (2005), 12,01 % (2006), 14,68 % (2007), 17,40 % (2008), dan 20,10 % (2009).
Bandingkan dengan anggaran yang ternyata hanya dialokasikan sebesar 8,1 % pada tahun
2005 dan 9,1 % pada tahun 2006.

Belum lagi jika kita mencermati minderheids notes yang sebenarnya telah disampaikan
oleh Komisi X DPR yang membawahi bidang Pendidikan dalam pengesahan RUU
APBN 2006 menjadi APBN 2006 pada sidang paripurna DPR RI tanggal 28 Oktober
2005 berkaitan dengan alokasi anggaran pendidikan yang belum mencapai 20% APBN.
Tanpa menambah atau mengurangi satu kata pun, minderheids notes tersebut berbunyi
sebagai berikut:
Sekalipun DPR RI dan Pemerintah telah berusaha optimal, namun berdasar keputusan
Mahkamah Konstitusi 19 Oktober 2005, maka dengan tidak terpenuhinya anggaran
pendidikan minimal 20% dalam UU APBN 2006, berarti belum memenuhi amanat Pasal
31 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tidak terpenuhinya “kesepakatan 4 Juli
2005” antara DPR (yang diwakili oleh Komisi X) dan Pemerintah yang diwakili oleh 7
Menteri (Menko Kesra, Mendiknas, Menag, Menteri PPN/Ketua Bappenas, Menkeu,
Mendagri dan Menpan), untuk secara bertahap mencapai anggaran pendidikan 20% dari
APBN menunjukan lemahnya kemauan politik DPR RI dan Pemerintah dalam
mewujudkan amanat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Mengingatkan DPR RI dan Pemerintah untuk segera mewujudkan “kesepakatan 4 Juli
2005” melalui APBNP 2006. Jelas bagi penulis untuk menyatakan bahwa ini adalah suatu
bentuk tindak kesengajaan atas pengingkaran kesepakatan antara DPR dan Pemerintah
yang dilakukan oleh diri mereka sendiri. Dapat kita bayangkan, jika kenaikan bertahap
2,7 persen per tahun saja tidak terpenuhi, maka lompatan besar peningkatan anggaran
dalam tahun 2007 tentu jauh dari harapan. Bahkan, terkait dengan alokasi anggaran
pendidikan pada tahun 2007, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengatakan
bahwa Pemerintah hanya akan menaikkan anggaran pendidikan maksimal menjadi 10
persen dari APBN. Hal itupun ditegaskan kembali oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dalam pidatonya dihadapan anggota DPR dan DPD bahwa pada tahun 2007
nanti sektor pendidikan hanya akan mendapatkan alokasi sebesar 10,3 persen dari total
belanja pemerintah pusat. Rencana kebijakan tersebut diambil dengan berlindung pada
salah satu argumentasi utama bahwa pemerintah sudah mendasarkan komitmen untuk
tidak menaikkan tarif dasar listrik (TDL) untuk periode 2006 sehingga anggaran
pendidikan tidak dapat seluruhnya dipenuhi. Menjadi pertanyaan kita bersama, hanya
inikah jalan keluar yang dapat dipikirkan oleh Pemerintah guna mengatasi krisis
pendidikan nasional?

Rencana menaikkan alokasi anggaran pendidikan sekedarnya guna menghindar ”vonis


mati” dari Mahkamah Konstitusi telah mencerminkan bahwa Pemerintah tidak cukup
serius dalam melaksanakan amanat UUD 1945 dan harus dipandang tidak sesuai dengan
semangat UUD 1945 (the spirit of constitution) dan moralitas konstitusi (constitutional
morality). Dengan kata lain, penulis sangat yakin jika komitmen pemerintah terhadap
dunia pendidikan tidak kunjung berubah, maka masih akan terjadi pelanggaran konstitusi
secara berjamaah pada tahun-tahun anggaran mendatang dan bisa dipastikan akan
kembali terjadi krisis konstitusi yang berakibat pada turunnya kepercayaan masyarakat,
khususnya kalangan terpelajar dan akademisi, terhadap legitimasi Pemerintah saat ini.
Terhadap anggaran pendidikan yang kian tahun kian membesar tidaklah dapat dijadikan
rujukan satu-satunya untuk menilai bahwa pemerintah telah menunjukan komitmennya
secara serius. Sebab di saat yang bersamaan, kenaikan juga terjadi pada sektor-sektor
lainnya, bahkan ada yang jauh lebih besar dari sektor pendidikan itu sendiri. Sehingga
posisi persentase anggaran pendidikan tidak bergeser naik jauh dari tahun-tahun
sebelumnya.

Selain tidak dipatuhinya dua kali putusan Mahkamah, lemahnya komitmen ditunjukan
pula dengan terjadinya perubahan skenario anggaran secara sepihak terhadap kesepakatan
yang pernah dibuat antara Pemerintah dengan komisi Komisi X DPR RI. Rekomendasi
yang dikeluarkan oleh DPD RI berdasarkan Keputusan No. 26/DPD/2006 agar
pemerintah berupaya menggunakan sisa anggaran tahun lalu sebesar 57 triliun untuk
anggaran pendidikan tidak juga direspon dengan cukup baik. Begitu pula dengan surat
khusus yang disampaikan oleh Sekjen Education International (EI), Fred van Leuwen,
kepada Presiden yang sengaja “menyentil” kebijakan pemerintah dengan
membandingkan anggaran pendidikan negara tetangga yaitu Malaysia (20%) dan
Thailand (27%), belum juga berbuah hasil. Indikasi lemahnya komitmen ini juga
dirasakan oleh Mahkamah dalam pertimbangannya yang menyatakan bahwa Pemerintah
dan DPR belum melakukan upaya yang optimal.

Problematika Anggaran
Berbagai kalangan, baik itu Pemerintah maupun Non-Pemerintah, berdalih bahwa
sulitnya pemenuhan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN dan APBD setidaknya
disebabkan oleh dua permasalahan utama, yaitu: Pertama, kesalahan konstitusi
(constitusional failure) yang menetapkan besaran angka persentase anggaran pendidikan
dalam konstitusinya. Kedua, untuk pemerintah pusat, pemenuhan anggaran pendidikan
terhalang besarnya beban pembayaran bunga dan cicilan pokok utang serta berbagai
subsidi.
Menanggapi permasalah tersebut di atas, mencari kambing hitam atas ketidakmampuan
Pemerintah dalam memenuhi kewajiban konstitusi (constitutional obligation) dengan
menyalahkan ketentuan yang tercantum pada UUD 1945 dan kondisi “tragis” bangsa ini
adalah hal yang tidak patut lagi dijadikan alasan, sebab hampir setiap pergantian
kepemimpinan alasan tersebut selalu dijadikan dalih. Memang hingga saat ini baru
Indonesia dan Taiwan yang secara tegas mencatumkan besaran angka persentase
anggaran pendidikan di dalam konstitusinya, akan tetapi “menyesali” suatu ketentuan
konstitusi yang pada kenyataannya sulit untuk dilaksanakan sehingga boleh
dikesampingkan tidaklah dapat dijadikan sebagai suatu alasan pembenar
(rechtsvaardigingsgrond).
Sudah seharusnya para pemimpin negeri ini sejak awal mengetahui betul secara sungguh-
sungguh tugas utamanya, termasuk mempunyai visi yang jelas dalam mencari jalan
keluar dari kondisi terburuk yang seandainya terjadi selama melaksanakan amanah yang
diembannya. Lagipula, ketentuan-ketentuan pada UUD 1945 adalah grundnorm dari
suatu negara itu sendiri, di mana grundnorm tersebut merupakan cerminan dari
kesepakatan tertinggi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, mau tidak mau, suka
tidak suka, Pemerintah harus melaksanakan amanah konstitusi secara mutlak, sebab hal
tersebut sama artinya dengan menjalankan titah rakyat sepenuhnya, sebagaimana Thomas
Paine pernah mengatakan, ”Constitutions is not the act of government, but the people
constituing a government”.
Dengan gambaran problematika seperti itu, maka kita tidak bisa mengharapkan terjadinya
lompatan peningkatan persentase anggaran pendidikan pada tahun-tahun mendatang
tanpa adanya revolusi kinerja, reformasi birokrasi, dan kebijakan penganggaran yang
ketat dan efisien. Sebagai alternatif, misalnya, pemerintah bisa mendesakkan pengetatan
alokasi anggaran untuk pejabat pemerintahan. Teknisnya, persentase kenaikan anggaran
untuk pejabat tidak boleh lebih tinggi dari persentase kenaikan anggaran untuk
pendidikan atau dengan cara lain melakukan penundaan untuk “menerbitkan” badan-
badan atau komisi pemerintahan baru yang terkadang tidak menyelesaikan masalah
kepemerintahan namun justru menambah beban keuangan yang cukup besar.
Konsekuensinya, selama anggaran pendidikan belum mencapai 20 persen, kenaikan
anggaran untuk lembaga dan departemen dalam APBN selanjutnya harus diminimalisir
sedemikian rupa, jika perlu dibatalkan demi konstitusi dan masa depan anak negeri. Efek
dari pendidikan yang tidak bermutu seperti ini selama bertahun-tahun mengakibatkan
kemiskinan sebagai harga yang harus dibayar. Dengan demikian, pendidikan yang
bermutu rendah justru memberikan isyarat terhadap biaya yang sebenarnya jauh lebih
mahal harganya.
Hitam-putih potret pendidikan Indonesia kembali mewarnai momentum peringatan Hari
Pendidikan Nasional. Berbagai peristiwa nonpekerti seperti misalnya kecurangan UN
oleh para tenaga pendidik bak awan pekat yang menyelimuti pendidikan bangsa ini. Di
lain pihak, berbagai prestasi gemilang mampu diukir putra-putri terbaik Indonesia di
pentas internasional, sebutlah salah satunya aksi Mahasiswi Indonesia yang mampu
merebut the best oralist peradilan semu internasional. Berangkat dari hal tersebut, maka
dapat kita katakan bahwa kualitas SDM Indonesia tidaklah seburuk apa yang kita
bayangkan. Lalu dimanakah sesungguhnya letak kesalahan yang terjadi di dalam dunia
pendidikan kita selama ini?

Diyakini oleh berbagai kalangan, salah satu akar permasalahan ini terjadi dikarenakan
lemahnya kemauan politik (political will) pemerintah untuk memposisikan sektor
pendidikan sebagai prioritas yang utama. Selain dalam hal lemahnya manajemen
pengelolaan, rendahnya anggaran pendidikan seringkali menjadi batu ganjalan yang amat
dirasakan oleh banyak pihak. Kewajiban konstitusi (constitutional obligation) pemerintah
untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD
belumlah dipenuhi hingga saat ini. Oleh karenanya, putusan Mahkamah Konstitusi yang
diucapkan tanggal 1 Mei lalu dengan menyatakan bahwa pengalokasian anggaran
pendidikan oleh pemerintah sebesar 11,8% sebagai batas tertinggi bertentangan dengan
UUD, merupakan “kado istimewa” di suasana hari pendidikan nasional.

Namun demikian, hal tersebut akanlah menjadi sekedar “kartu ucapan” kosong tatkala
pemerintah mengulangi kembali pelanggaran konstitusional di masa yang akan datang.
Pasalnya, inilah putusan ketiga yang pernah dikeluarkan oleh Mahkamah terkait dengan
tidak dipenuhinya 20% anggaran pendidikan. Dua buah “kartu kuning” yang telah
dikeluarkan sebelumnya, rupanya tidak mampu juga menggetarkan kemauan politik para
penentu kebijakan di negara ini. Pemerintah seakan-akan selalu berlindung di balik
kelemahan putusan yang tidak mempunyai sanksi hukum tegas bila tidak dilaksanakan
(lex imperpecta).

Daya upaya segenap pihak yang peduli akan nasib pendidikan bangsa ini telah dilakukan
lewat berbagai cara. Tetapi lemahnya kesadaran hukum (lawlessness) para pejabat negara
untuk mematuhi ketentuan konstitusi menyebabkan upaya tersebut menjadi tidak
maksimal. Perlu usaha ekstra keras untuk mewujudkan cita-cita para founding fathers
dalam hal pemenuhan anggaran pendidikan ini. Agar hal tersebut bukan sekedar menjadi
impian semu para generasi mendatang, cara-cara konvensional harus pula ditunjang
dengan aktifisme konstitusional (constitutional activism) lainnya.

Kesatu, dalam hal memperjuangkan hak pendidikan melalui ranah yudisial – khususnya
dalam bidang anggaran – hingga saat ini masyarakat masih terpaku pada pergulatan di
arena Mahkamah Konstitusi. Padahal sebenarnya, upaya yang sama dapat pula dilakukan
oleh segenap lapisan masyarakat untuk melakukan pengujian terhadap Peraturan Daerah
di wilayahnya masing-masing yang dianggap bertentangan dengan UU Sisdiknas ke
hadapan Mahkamah Agung.

Peluang ini sangatlah terbuka lebar melalui pintu Pasal I Angka 20 UU No. 5 tahun 2004
tentang Mahkamah Agung, mengingat di dalam UU Sisdiknas telah termaktub juga
berbagai hak warga negara guna memperoleh pembebasan biaya pada jenjang pendidikan
dasar (Pasal 34), kewajiban dan jaminan dari Pemerintah Daerah atas tersedianya dana
pendidikan untuk warga negara berusia 7 s.d.15 tahun (Pasal 6), Pengalokasian dana
pendidikan minimal 20% dari APBD (Pasal 49), serta berbagai jaminan pendidikan
lainnya.

Praktik yudisial seperti ini sudah sangatlah lazim dilakukan di pengadilan India. Sehingga
kunci pemerataan kesempatan dan pesatnya pendidikan India juga dimotori oleh
dukungan putusan Pengadilannya. Bahkan dalam putusan terakhirnya (29/03),
Mahkamah Agung India mampu memutuskan untuk menyediakan reservasi bangku
perguruan tinggi ternama sebesar 27% khusus kepada kelas masyarakat terbelakang
(other backward classes).

Kedua, alasan yang dikemukakan oleh Komisi X DPR bahwa RUU APBN yang datang
dari pemerintah sejak semula tidak mempunyai goodwill tidaklah dapat diterima.
Melepaskan tanggung jawab bukanlah solusi yang dinanti rakyat banyak. Sebab
bagaimanapun juga anggaran adalah hasil bersama antara Pemerintah dengan DPR secara
institusional.

Kewenangan legislative review yang dimilik oleh mereka seharusnya dapat difungsikan
secara maksimal. Jikapun mereka benar-benar mau memperjuangkan aspirasi rakyatnya,
terhadap kondisi yang sangat memperhatinkan ini, maka patutlah sesegera mungkin
untuk membentuk Pansus Anggaran Pendidikan guna mengatasi berlarut-larutnya
pelanggaran konstitusi secara berjamaah ini.

Ketiga, Mahkamah Konstitusi sebagai ”pengawal konstitusi” harus pula ditafsirkan


sebagai lembaga yang befungsi untuk mencegah kemungkinan terjadinya pelanggaran
konstitusi. Terhadap adanya kemungkinan berulangnya pelanggaran konstitusi yang
sama, kiranya Mahkamah harus pula menempuh langkah untuk mengontrol efektifitas
putusannya agar dijalankan oleh Pemerintah.

Berbeda dengan praktik ketatanegaraan Jerman, efektifitas putusan Mahkamah Konstitusi


Jerman (Bundesverfassungsgericht) biasanya ditopang dengan adanya kekuataan oposisi
yang mendorong Pemerintah berkuasa untuk melaksanakan putusan Mahkamah.
Sayangnya alam demokrasi dan praktik ketatenegaraan seperti ini belum terbangun
dengan baik di negara kita. Oleh karenanya, salah satu cara yang dapat ditempuh
Mahkamah untuk saat ini yaitu dengan mengingatkan Presiden dan/atau DPR dengan
mengirimkan surat resmi sebagaimana pernah dilakukannya dalam kasus BBM beberapa
waktu yang lalu.

Ketiga cara tersebut kiranya dapat dipertimbangkan oleh berbagai elemen masyarakat dan
lembaga negara terkait. Jika kesadaran akan hak dan kewajiban konstitusional ini telah
terbangun dalam sistem kehidupan berdemokrasi kita, niscaya seluruh jajaran pemerintah
pusat dan daerah beserta masyarakat akan bersatu-padu guna mewujudkan pendidikan
yang bermutu tinggi. Karena hanya dengan hal tersebutlah bangsa ini akan bangkit dan
keluar dari krisis multi-dimensi yang tengah mendera selama satu dasawarsa terakhir.

Akankah perkataan manis dari pemimpin kita yang mengatakan ”Saya takut jika
melanggar Konstitusi” dan bahkan di dalam kesempatan sidang Inter-Parliamentary
Union (IPO) juga berani menghimbau seluruh negara di dunia supaya memberikan
keseriusan untuk menaikkan anggaran pendidikannya, diikuti pula dengan tindakan dan
langkah yang lebih nyata di tahun-tahun mendatang? Kiranya suara hati dari negeri
seberang ini dapat terdengung di telinga para pemangku kepentingan di tanah air.

Political Will
Kinerja pendidikan nasional Indonesia memang buruk dan memprihatinkan. Itu semua
terjadi dikarenakan kurangnya political will dari para pemimpin bangsa ini, beberapa
diantaranya dapat terlihat jelas dari pengalokasian anggaran pendidikan yang rendah dan
kurang memadai, manajerial keuangan baik di tingkat pusat maupun daerah yang tidak
kunjung membaik, output SDM yang kurang kompetitif, dan sebagainya. Keterpurukan
yang diakibatkan dari penerapan sistem pendidikan nasional yang sekuler antara lain:
Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat
di Hongkong pada tahun 2001 saja menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia
terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Korea Selatan dinilai
memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan, India, Cina,
serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam
(www.kompas.com).
Laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun 2004 dan 2005,
menyatakan bahwa Indeks pembangunan manusia di Indonesia ternyata tetap buruk.
Tahun 2004 Indonesia menempati urutan ke-111 dari 175 negara. Tahun 2005 IPM
Indonesia berada pada urutan ke 110 dari 177 negara. Posisi tersebut tidak jauh berbeda
dari tahun sebelumnya. Berdasarkan IPM 2004, Indonesia menempati posisi di bawah
negara-negara miskin seperti Kirgistan (110), Equatorial Guinea (109) dan Algeria (108).
Bahkan jika dibandingkan dengan IPM negara-negara di ASEAN seperti Singapura (25),
Brunei Darussalam (33) Malaysia ( 58), Thailand (76), sedangkan Filipina (83).
Indonesia hanya satu tingkat di atas Vietnam (112) dan lebih baik dari Kamboja (130),
Myanmar (132) dan Laos (135) (www.suara pembaruan.com/16 juli 2004 dan Pan
Mohamad Faiz. 2006).
Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan jumlah pengguna narkoba di lingkungan
pelajar SD, SMP, dan SMA pada tahun 2006 mencapai 15.662 anak. Rinciannya, untuk
tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak 3.543 anak, dan SMA sebanyak 10.326
anak. Dari data tersebut, yang paling mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar
SD pengguna narkoba. Pada tahun 2003, jumlahnya baru mencapai 949 anak, namun tiga
tahun kemudian atau tahun 2006, jumlah itu meningkat tajam menjadi 1.793 anak
(www.pikiran-rakyat.com). Selain itu, kalangan pelajar juga rentan tertular penyebaran
penyakit HIV/AIDS. Misalnya di kota Madiun-Jatim, dari data terakhir yang dilansir
Yayasan Bambu Nusantara Cabang Madiun, organisasi yang konsen masalah HIV/AIDS,
menyebutkan kasus Infeksi Seksual Menular (IMS) yang beresiko tertular HIV/AIDS
menurut kategori pendidikan sampai akhir Oktober 2007 didominasi pelajar SMA/SMK
sebanyak 51 %, pelajar SMP sebesar 26%, mahasiswa sebesar 12% dan SD/MI sebesar
11% (news.okezone.com). Dalam hal tawuran, di kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, dan Medan, tingkat tawuran antar pelajar sudah mencapai ambang yang cukup
memprihatinkan. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992
tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13
pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15
pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban
tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat.
Bahkan sering tercatat, dalam satu hari di Jakarta terdapat sampai tiga kasus perkelahian
di tiga tempat sekaligus (www.smu-net.com).
Pencapaian APK (Angka Partisipasi Kasar) dan APM (Angka Partisipasi Murni) sebagai
indikator keberhasilan program pemerataan pendidikan oleh pemerintah, hingga tahun
2003 secara nasional ketercapaiannya ternyata masih rendah, hal ini didasarkan pada
indikator: (1) anak putus sekolah tidak dapat mengikuti pendidikan (usia 7-15) sekira
693.700 orang atau 1,7%, (2) putus sekolah SD/MI ke SMP/MTs dan dari SMP/MTs ke
jenjang pendidikan menengah mencapai 2,7 juta orang atau 6,7% dari total penduduk usia
7-15 tahun (Pusat Data dan Informasi Depdiknas, 2003). Rasio partisipasi pendidikan
rata-rata hanya mencapai 68,4 persen. Bahkan, masih ada sekitar 9,6 persen penduduk
berusia 15 tahun ke atas yang buta huruf. (www.republikaonline.com) sampai sekarang
masih terdapat 9 provinsi dengan jumlah buta aksara terbesar usia 10 tahun ke atas dan
15-44 tahun, yakni: Jawa Timur (1.086.921 orang), Jawa Tengah (640.428), Jawa Barat
(383.288), Sulawesi Selatan (291.230), Papua (264.895), Nusa Tenggara Barat (254.457),
Nusa Tenggara Timur (117.839), Kalimantan Barat (117.338), dan Banten (114.763
orang). (www.pikiran-rakyat.com).
Data dari Balitbang Depdiknas 2003 yang menyebutkan bahwa porsi biaya pendidikan
yang ditanggung orang tua/siswa berkisar antara 63,35%-87,75% dari biaya pendidikan
total. Sedangkan menurut riset Indonesia Corruption Watch (ICW) pada 2006 di 10
Kabupaten/Kota se-Indonesia ternyata orang tua/siswa pada level SD masih menanggung
beban biaya pendidikan Rp 1,5 Juta, yang terdiri atas biaya langsung dan tak langsung.
Selain itu, beban biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat
(selain orang tua/ siswa) hanya berkisar antara 12,22%-36,65% dari biaya pendidikan
total (Koran Tempo, 07/03/2007). Menurut laporan dari bank dunia tahun 2004,
Indonesia hanya menyediakan 62,8% dari keperluan dana penyelenggaraan pendidikan
nasionalnya padahal pada saat yang sama pemerintah India telah dapat menanggung
pembiayaan pendidikan 89%. Bahkan jika dibandingkan dengan negara yang lebih
terbelakang seperti Srilanka, persentase anggaran yang disediakan oleh pemerintah
Indonesia masih merupakan yang terendah. (www.worldbank.com).

Perumusan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) yang


sudah berlangsung sejak 2004 yang telah dibekukan tidak lama ini, dinilai oleh pengamat
ekonomi Tim Indonesia Bangkit (TIB), Revrisond Bashwir sebagai agenda kapitalisme
global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia.
Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah
berencana memprivatisasi sektor pendidikan. Semua satuan pendidikan (sekolah) kelak
akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya
sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.
Kebijakan UN yang banyak ditentang oleh masyarakat karena dinilai diskriminatif dan
hanya menghamburkan anggaran pendidikan, antara lain ditentang oleh Koalisi
Pendidikan yang terdiri dari Lembaga Advokasi Pendidikan (LAP), National Education
Watch (NEW), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), The Center for the
Betterment Indonesia (CBE), Kelompok Kajian Studi Kultural (KKSK), Federasi Guru
Independen Indonesia (FGII), Forum Guru Honorer Indonesia (FGHI), Forum Aksi Guru
Bandung (FAGI-Bandung), For-Kom Guru Kota Tanggerang (FKGKT), Lembaga
Bantuan Hukum (LBH-Jakarta), Jakarta Teachers and Education Club (JTEC), dan
Indonesia Corruption Watch (ICW), berdasarkan kajian terhadap UU No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Kepmendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian
Akhir Nasional, Koalisi Pendidikan menemukan beberapa kesenjangan
(www.tokohindonesia.com).

Rendahnya tingkat kesejahteraan guru yang berpengaruh terahadap rendahnya kualitas


pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia)
pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp
3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta.
guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam.
Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan
sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi
tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan
sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Realisasi anggaran pendidikan yang masih sedikit. Ketentuan anggaran pendidikan dalam
UU No.20/2003 pasal dinyatakan bahwa Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya
pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) (ayat 1). Realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari
APBN/APBD ternyata masih sangat sulit untuk dilakukan pemerintah, bahkan skenario
yang diterapkan pun masih mengalokasikan dana pendidikan dari APBN/APBD dalam
jumlah yang terbatas yaitu Total Belanja Pemerintah Pusat menurut APBN 2006 adalah
sebesar Rp 427,6 triliun. Dari jumlah tersebut, jumlah yang dianggarkan untuk
pendidikan adalah sebesar Rp36,7 triliun. Sedangkan asumsi kebutuhan budget anggaran
pendidikan adalah 20% dari Rp. 427,6 triliun atau sebesar Rp. 85,5 triliun, maka masih
terdapat defisit atau kekurangan kebutuhan dana pendidikan sebesar Rp 47,9 triliun.
Skenario progresif pemenuhan anggaran pendidikan yang disepakati bersama oleh DPR
dan Pemerintah pada tanggal 4 Juli 2005 yang lalu hanya menetapkan kenaikan bertahap
2,7 persen per tahun hingga 2009, dengan rincian kenaikan 6,6 % (2004), 9,29 % (2005),
12,01 % (2006), 14,68 % (2007), 17,40 % (2008), dan 20,10 % (2009). Bandingkan
dengan anggaran yang ternyata hanya dialokasikan sebesar 8,1 % pada tahun 2005 dan
9,1 % pada tahun 2006 (Pan Mohamad Faiz;2006).Tahun 2007 hanya mencapai 11,8
persen. Nilai ini setara dengan Rp 90,10 triliun dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun.
(www.tempointeraktif.com).

Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka
pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0
sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan
kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%,
14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3
juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan
masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan
kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional
terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja. Pada
tahun 2009 diperkirakan ada 116,5 juta orang yang akan mencari kerja
(www.kompas.com).

Data di atas merupakan beberapa indikator yang menunjukan betapa sistem pendidikan
nasional kita saat ini tengah didera oleh berbagai problematika, yang pada akhirnya
penyelenggaraan pendidikan tidak dapat memberikan penyelesaian terhadap
permasalahan pembentukan karakter insan yang berakhlak mulia, pembentukan
keterampilan hidup, penguasaan IPTEK untuk peningkatan kualitas dan taraf hidup
masyarakat, serta memecahkan berbagai problematika kehidupan lainnya. Padahal
diantara tujuan semula pendidikan adalah untuk itu semua.

Sektor pendidikan di Indonesia sudah sangat tertinggal, sehingga sudah waktunya


pendidikan harus menjadi prioritas utama pembangunan. Mengingat akar masalahnya
bukan sekedar pada alokasi anggaran pendidikan, maka seruan untuk melakukan
perbaikan bukan hanya menyangkut soal terpenuhinya alokasi dana 20 persen dari
APBN/APBD, tetapi yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran, komitmen,
dan kemauan bersama dalam memajukan pendidikan Indonesia. Sebab, apabila seruan
hanya ditujukan untuk terpenuhinya dana 20 persen dari APBN/APBD, tetapi tidak
disertai peningkatan kesadaran dan kemampuan pengelolaan alokasi anggaran
pendidikan, justru hal tersebut hanya membuka peluang korupsi dan pemborosan besar-
besaran. Akhirnya, baik anggaran pendidikan yang besar maupun kecil sama-sama tidak
memperbaiki mutu pendidikan nasional, juga tidak mengurangi beban masyarakat.
Dalam konteks ini, kita perlu berlapang dada tanpa rasa malu sebagaimana Jepang
bangkit dari kehancuran Perang Dunia II dengan memajukan pendidikannya, India
dengan culture kesederhanaannya mampu membangun kualitas pendidikan yang cukup
bersaing di tingkat International, Malaysia yang pada tahun 1970 belajar dari guru-guru
Indonesia yang didatangkan ke Malaysia. Hasilnya dapat kita lihat sendiri, Jepang telah
menjadi negara industri terkemuka di dunia, India mampu memainkan peranannya di
berbagai tingkatan Internasional, dan Malaysia lambat laun mulai menjadi capital bagi
Asia Tenggara.

Dengan begitu besarnya peranan Pendidikan bagi kemajuan suatu bangsa, maka
bagaimanapun juga – disadari atau pun tidak – hanya melalui pintu atau saluran
pendidikanlah bangsa kita diharapkan dapat bangkit dari keterpurukan krisis
multidimensional, dan kemudian menata ulang (redesaigning) rancang-bangun kehidupan
berbangsa, membangun karakter bangsa (character building) atas dasar kearifan dan
identitas tradisi lokal dan melanjutkan estafet pembangunan bangsa (nation building),
terlebih di era globalisasi yang menunjukkan semakin ketatnya kompetisi negara-negara
di seluruh dunia. Agar di masa depan kinerja pendidikan nasional dapat diperbaiki maka
amat diperlukan sebuah komitmen. Para pemimpin negara, siapa pun orangnya, harus
memiliki sense of education yang memadai dengan komitmen tinggi memajukan
pendidikan Indonesia. (Wallahu’alam Bishawab).