You are on page 1of 30

MEWUJUDKAN PERADABAN YANG SEMPURNA :

Pengembangan Pribadi Yang Utuh


Oleh Rum Rosyid
Membangun sebuah peradaban bangsa yang baik dan kuat, bukanlah pekerjaan sederhana
yang dapat dilakukan dengan sekali ayunan tangan. Karena, kekuatan-kekuatan eksternal
dan tantangan globalisasi pasti akan berusaha menghambat tatanan masyarakat yang
sedang dibangun tersebut. Bahkan, sejarah telah memperlihatkan bahwa tidak semua
reformasi, revolusi dan perubahan sosial secara otomatis dapat berjalan dengan mulus
dan senantiasa menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Sebagai contoh, Revolusi
perancis yang terjadi tahun 1787, memerlukan waktu 13 tahun untuk mencapai kondisi
politik yang stabil. Majelis Nasional pasca revolusi yang dibentuk pada 1789 masih
diwarnai oleh orang-orang yang tidak membawa aspirasi perubahan dan 43 % terdiri dari
pejabat-pejabat yang bisa disuap.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, ternyata juga


bukanlah sebuah jaminan bahwa manusia Indonesia akan selamanya terbebas dari
penindasan dan keterbelakangan. Karena ternyata, kezaliman dan kesewenang-wenangan
bukan cuma watak khas dari imperialisme Belanda, Portugis, Jepang atau Inggris saja.
Akan tetapi, ia adalah watak dasar dari semua orang yang hatinya tidak tergantung pada
nilai-nilai moral, keimanan, dan keadilan. Sejak tahun 1950-an, ternyata kita telah
mengalami tindakan represif dari dua periode rezim otoriter yang kontroversi, yakni orde
lama dan orde baru. Padahal, kedua rezim itu tumbuh sebagai hasil sebuah gerakan yang
pada dasarnya bercita-cita menegakkan kemerdekaan sebagai hak asasi manusia dan
memajukan peradaban bangsa Indonesia.

Hakekat Membangun Peradaban


"if religion without morality lacks a solid earth to walk on, morality without religion
lacks a wide heaven to breath in".(Jika agama tanpa moralitas, kekurangan tanah untuk
berjalan diatasnya, jika moralitas tanpa agama, kekurangan surga langit untuk bernafas).
Kata-kata Prof. John Oman yang di kutip oleh Dr. Faisal Ismail diatas mengajak kepada
kita untuk menilik kembali terhadap pandangan kita yang selama ini kita pegang
khususnya dalam hal memperbincangkan dalam kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu
bangsa tak hanya di ukur melalui patokan kemajuan teknologi dan GNP nya semata tetapi
juga harus dilihat kelakuan masyarakatnya seperti yang tertulis dalam syairnya Ahmad
Syangu, "sesungguhnya ini suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika akhlak mereka
bejat hancurlah bangsa itu".

Kemajuan terknologi di segala bidang memang telah mempermudah kerja manusia tetapi
jika tak ada control, kemajuan teknologi malah menyeret masyarakatnya kedalam
berbagai jebakan krisis seperti krisis kejiwaan, krisis ekologi, krisis kejujuran dan masih
banyak lagi. Dampaknya kini mulai muncul seperti kasus bunuh diri, membunuh bayi-
bayi maupun gejala-gejala depresi berat yang menyelimuti masyarakat diabad global
adalah tanda dari kehampaan jiwa masyarakat modern. Di lain pihak, bahaya kerusakan
alam semakin mengkuatirkan. Tanah longsor, banjir bandang, angin ribut, gempa bumi
yang akhir-akhir ini marak terjadi di tanah air menambah "kengeluan" bangsa ini. Global
warming merupakan ancaman serius bagi segenap makhluk di muka bumi. Dalam kurun
waktu seratus tahun terakhir suhu bumi akan meningkat 0.7 derajat celcius. Para ahli
memprediksikan, jika tak ada upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, pada tahun
2100 suhu bumi akan meningkat hingga 0,8 derajat celcius. Padahal jika kenaikan suhu
melebihi dua derajat celcius maka akan terjadi kepunahan banyak spesies dan ekosistem.
Salah satu penyebab terjadi perubahan iklim global di Indonesia adalah kebakaran hutan
dan lahan serta semakin rusaknya hutan akibat pembalakan liar.(Tempo, 30 april 2006).

Perubahan yang terpenting dalam abad ke-21 adalah menurunnya daya tarik terhadap
materi-fisik. Di dalam perkembangan Teknologi, Ekonomi dan Politik Nasional bangsa-
bangsa, kekayaan yang berasal dari benda-benda materi, terasa menurunnya arti dan daya
tariknya. Kekuasaan/ kekayaan yang berasal dari pemikiran dan budidaya manusia, jauh
lebih tinggi dihargai dari produk benda-benda materi. Di dalam ekonomi era-Pertanian,
Gelombang-Pertama Toffler, tanah dan kerja fisik adalah faktor-faktor utama produksi.
Di dalam ekonomi era-Industri berikutnya, yaitu di dalam Gelombang-Kedua Toffler,
tanah masih dibutuhkan, tetapi kerja-fisik diperbanyak secara massa oleh mesin-mesin
raksasa. Di dalam era-Informasi, Gelombang Ketiga Toffler, sumber daya utama adalah
semua pengetahuan yang dapat didayagunakan, yang mencakup: data, informasi, gambar,
simbol, budaya, ideologi dan nilai. Sambil memasuki era Gelombang-Ketiga atau
peradaban Informasi/Pengetahuan ini, semua manusia di seluruh Bumi, akan menghadapi
pertanyaan yang mendasar sekali, yaitu bagaimana cara mengorganisasi masyarakat,
demi kemajuan bersama? Definisi dari hak milik, perilaku kompetisi, syarat-syarat ber-
kooperasi, artinya kemerdekaan individu struktur pemerintahan self-government, cara
ber-masyarakat, dan artinya sesuatu kemajuan. Semua ini satu-persatu harus didefinisikan
kembali bagi peradaban-informasi atau era Gelombang-Ketiga. Ini semua telah kita
lakukan 250 tahun yang lalu bagi era Gelombang-Kedua, yaitu peradaban-Industri.
Sekarang kita harus mengulanginya lagi bagi peradaban Gelombang-Ketiga.

Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan
karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang
dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik
sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan. Pendidikan
mempunyai peran dan posisi yang signifikan dalam kehidupan manusia.
Keberlangsungan proses pendidikan, meliputi transfer ilmu pengetahuan dan pengalaman
manusia bahkan transfer ideologi terajut dan terjalin dalam rentang peradaban dan
kehidupan manusia. Keberlangsungan proses ini menjadi dalil argumentatif dan affirmatif
signifikansi pendidikan bagi peradaban. Sejalan dengan terus bergulirnya waktu, roda
peradabanpun terus berputar dan meniscayakan kita untuk selalu menemukan formulasi
yang tepat dalam menjawab dan menyikapi tantangan peradaban yang mengemuka
dihadapan kita.

Manusia-manusia di seluruh dunia mengutak-ngatik di Cyberspace mendesain suatu


mesin, mengarang cerita baru, mengeditnya kembali, atau mengembangkan cerita lama
dengan kecepatan yang tambah hari tambah meningkat. Dengan menggunakan komputer
yang lebih cepat, alat penyimpanan elektronika yang lebih luas dan lebih murah, software
yang lebih mampu, dan dengan segala macam saluran komunikasi seperti satelit, kabel
fiber-optik dll. Jika semua ini terjadi pada ruang dan waktu yang bersamaan, maka akan
terjadi suatu ekplosi kombinasi-kombinasi atau sinergi baru, yang implikasinya sekarang,
apalagi di waktu yang akan datang, banyak belum dimengerti para pakar Ilmu
Pengetahuan.

Explorasi dari Cyberspace memang sangat intersains dan banyak membuka kernungkinan
dan kesempatan, tetapi juga merupakan tantangan baru, yang belum pernah manusia
hadapi. Cyberspace adalah suatu ruang yang penuh berisi informasi & pengetahuan, dan
rupa-rupanya sudah menjadi sasaran eksplorasi seluruh manusia di bumi. Kewajiban kita
adalah mencari cara, membuka jalan dan membuat kondisi, sehingga setiap manusia
dapat memberdayakan dirinya, untuk eksplorasi Cyberspace dengan cara masing-masing.
Tantangan yang dihadapi sangat berat, tetapi sebaliknya kesempatan-kesempatan yang
mungkin terbuka adalah sangat menarik. Peradaban Gelombang-Ketiga mempunyai
implikasi-implikasi yang menonjol dalam arti dan hakekat Kepemilikan, berfungsinya
suatu Pasar, sifat dan hakekat suatu kelompok-manusia/masyarakat, dan pengaruh dan
arti Hak dan Kemerdekaan seorang individu.

Dengan muncul dan menyebar luasnya Cyberspace, setiap organisasi, lembaga-lembaga,


keluarga, kelompok agama, kelompok masyarakat, perusahaan, pemerintahan dan
bangsa-bangsa, dituntut untuk mengubah sistem nilai & perilakunya, melampaui nilai-
nilai & perilaku dari peradaban Gelombang-Kedua, yaitu standarisasi dan sentralisasi.
Juga melampaui nilai & perilaku-perilaku yang tercermin dalam obsesi pengumpulan
kekayaan materi, dengan energi, uang dan kekuasaan. Cyberspace akan mengubah
ekonorni produksi-massa dari peradaban Gelombang-Kedua. Teknologi-informasi baru
akan menekan ongkos membuat keanekaragaman produk ataupun personalia, menjadi
sangat rendah. Lembaga-lembaga dan kebudayaan manusia juga akan meninggalkan
kebudayaan massa, dan berubah menjadi kebudayaan yang penuh dengan
keanekaragaman (demassified). Kecenderungan ke arah keanekaragaman ini
memperbesar potensi kemerdekaan/pemberdayaan individu. Kecenderungan ke arah
keanekaragaman ini juga akan mengurangi arti paradigma kelembagaan/pengelolaan
yang terpusat dan semua organisasi birokrasi. Semua birokrasi pemerintahan nasional di
seluruh dunia, adalah kekuasaan birokrasi yang terpusat yang terbesar, yang akan
mengalami perubahan/pembaharuan yang sangat berarti.

Paradigma Pendidikan dan gerak Peradaban


Peradaban manusia tidak pernah tidak, dan malah niscaya, akan selalu dipengaruhi oleh
mainstream yang berkembang dalam pendidikan. Paradigma pendidikan apa yang akan
atau sedang mendominasi dunia pendidikan sangat mempengaruhi arah dan gerak laju
serta maju mundurnya suatu peradaban. Itulah hebatnya pendidikan, yang merupakan
proses penyadaran (consientization) dan pembudayaan (culturation) – meminjam
terminologi Paulo Fraire – yang berjalan terus-menerus demi mewujudkan sebuah
peradaban dan tatanan kehidupan kemanusiaan yang lebih adil. Pendidikan akan menjadi
diskursus tandingan (counter discourse) terhadap diskursus atau wacana yang
menghegemoni dan menindas, agar arus perubahan selalu terjaga dan terjadi dalam segala
aspek kehidupan manusia.
Pada abad 21 ini manusia berada dalam kompleksitas hidup yang diciptakannya sendiri.
Manusia makin bisa mengatasi masalah dalam hidup dan, pada saat yang bersamaan,
masalah hidup itu makin semarak berkembang biak. Manusia mengagumi
kemampuannya dan norma moral yang menghalangi perkembangan kemampuannya
hanya menghambat kemajuan. Pada sebagian lain, manusia memiliki kemampuan yang
terbatas dalam mengatasi kompleksitas kemajuan. Yang tersisa hanyalah anomali,
mungkin Thomas Kuhn berkata demikian. Itu pula yang menggelisahkan Fuad Hassan
(2001) yang mengingatkan bahwa, “kita berada di ambang suatu masa yang akan
digoncang oleh terjadinya krisis nilai dan heteronomi (bahkan anomi). Memudarnya
nilai-nilai peri kehidupan serta norma-norma perilaku akan makin menggelisahkan dan
mencemaskan, karena menjadikan manusia makin tercengkeram oleh relativisme.
Bertubi-tubinya dampak proses globalisasi niscaya akan melahirkan perikehidupan yang
ditandai oleh kesegeraan-serba-kesementaraan…”.

Kalau pada negara maju globalisasi berefek pada kemampuan kompetisi, pada Dunia
Ketiga (Third World), termasuk Indonesia, globalisasi berefek antara lain pada
penyesuaian (adjustment) dan tantangan budaya (cultural challenge). Yang terjadi adalah
kegamangan masyarakat kita dalam menanggapi globalisasi. Globalisasi jadi gurita yang
mencengkeramkan kaki-kakinya melalui struktur (pembagian kerja, hak, modal dan
resiko), pembudayaan (identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol) dan tindakan—
berupa interaksi global (Thernborn, 2000). Pada resonansi budaya yang kurang
berimbang, masyarakat hanya meniru saja budaya baru yang timbul dari luar—dan
dengan bangga ditonjolkan sebagai apresiasi atas globalisasi demi menghindari tuduhan
anti kemajuan.

Masyarakat kita mengalami kegamangan penyesuaian dalam menghadapi budaya akibat


globalisasi (cultural mal adjustment). Contoh yang dekat dengan masyarakat adalah
televisi. Kalau dahulu hanya ada satu stasiun (channel) televisi, sekarang ada lebih dari
sepuluh channel. Kalau dahulu hanya sedikit tayangan yang diproduksi dari luar negeri,
sekarang banyak tayangan yang diproduksi luar negeri yang bahkan menuntut partisipasi
banyak pemirsa. Program penjaringan penyanyi berbakat yang diadopsi dari American
Idol; Indonesian Idol banyak menyedot kalangan remaja untuk berpartisipasi. Popularitas
pun jadi obsesi. Popularitas bisa dicapai oleh siapa saja tanpa mengenal latar belakang
sosial. Akibat ikutannya, anak dan remaja dilibatkan dalam program yang hanya
menguntungkan sebagian kecil pemodal saja. Anak dan remaja terobsesi oleh popularitas
dan menggunakan berbagai cara untuk mencapai obsesinya itu.
Untuk tidak sekedar mengandalkan, sekolah sebagai agen pendidikan berada di ruang
yang jauh dari kondusif dalam melakukan proses pendidikan. Sekolah perlu memperbarui
peran agar sesuai dengan tuntutan konteks kekinian. Jangan sampai, alih-alih
menciptakan ruang sosial yang mendidik, yang terjadi adalah pengasingan siswa dari
realitas di masyarakat.

Religiusitas sebagai budaya tanding


Tiada budaya tanding yang kuat selain menggali dari warisan purba dalam mayarakat
yang akan terus dipegang teguh, yakni agama. Agama adalah senjata! Dengan agama,
orang akan tergerak memberi sesuatu setulus-tulusnya sampai sepaksa-paksanya
merampas. Dengan agama orang akan menebar kasih sayang sampai menyebar
kebencian. Melalui agama akan tergelar kedamaian dan juga terselimuti permusuhan.
Dari agama akan muncul sebajik-bajiknya amalan dan sekaligus sekeji-kejinya perbuatan.
Dari agama kita berharap akan energi positif yang turut serta membangun peradaban.

Diharapkan religiusitas jadi sumber rujukan dalam menghampiri globalisasi. Sebagai


seorang muslim, modalitas itu sudah ada. Namun, apakah modalitas itu hanya ada secara
potensial atau aktual, itu tergantung kita sendiri. Religiusitas itu ada secara esensial
maupun kontekstual dalam tiga unsur globalisasi itu sendiri, yakni struktur, pembudayaan
dan tindakan. Sekolah sebagai agen budaya diharapkan berperan di aspek pembudayaan
(identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol) dan tindakan. Religiusitas sebagai
nilai ditatap oleh Hassan (2001) sebagai “jauh dari relativisme. Maka dapatlah
disimpulkan bahwa nilai-nilai religius bisa berlaku sebagai andalan bagi kemantapan
orientasi manusia dalam perilakunya. Ini terutama berlaku bagi perilaku manusia yang
disebut ‘akhlak’, yaitu segala penjelmaan perilakunya yang dinilai pada rentangan skala
‘baik-buruk’ (‘good-evil’). Pada segala perilakunya yang tergolong sebagai ‘akhlak’
inilah melekat ‘adab’ sebagai acuan normatif dalam interaksinya dengan manusia
sesamanya maupun sikapnya terhadap kemanusiaan umumnya. Bagi seorang yaang
religius mestinya agama yang dianutnya cukup memberi tuntunan untuk tampil dengan
perilaku berakhlak dan beradab, sebab sebagai suatu sumber keyakinan dan keimanan,
agama secara keseluruhan dan keutuhan mestinya merupakan cara pandang bagi
penganutnya mengenai manusia dan dunianya maupun perikehidupannya (Mensch-,
Welt- und Lebensanschauung).” (hlm 15).

Hasil akhirnya adalah religius dalam tindakan. Akhlak, inilah esensi hadirnya agama. Ini
pula esensi diutusnya Rasulullah saw. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat 4,
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” Dalam hadits
riwayat Ahmad dan Baihaqy, Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya aku diutus
hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.” Dengan penekanan yang tidak
kalah kuat akan pentingnya akhlak, seorang penyair, Ahmad Syauqi Bey berkata,
“kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap,
musnah pulalah bangsa itu.” Lantas, apa itu akhlak? Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
memberikan pengertian bahwa “akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa,
daripadanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan
pikiran”(Razak, 1989).

Pada tingkat identitas dan kognisi (cara pandang), religiusitas yang tinggi pada seseorang
akan nampak seperti kesadaran atas eksistensi ketuhanan pada sosok penggembala
kambing yang ditemui Umar bin Khattab ra. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar
bahwa pada suatu hari dia berjalan bersama Umar bin Khattab ra. Dari Madinah ke
Mekkah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang sedang
turun dari tempat penggembalaan dengan kambing-kambingnya yang banyak. Khalifah
ingin menguji sampai dimana anak gembala itu bersikap amanah. Khalifah bertanya,
“wahai gembala, juallah padaku seekor anak kambing itu.” Gembala itu menjawab, “aku
hanya seorang budak”. Lalu khalifah menimpali, “katakan saja pada tuanmu kalau anak
kambing itu telah dimakan serigala.” Segera anak gembala itu menjawab, “kalau begitu
dimana Allah?”
Religiusitas yang muncul dari nilai-nilai ketauhidan menjelmakan kesadaran atas Tuhan-
hamba. Manusia adalah pengabdi. Manusia juga adalah pemimpin-pengelola (khalifah)
bagi jagad raya. Dimanapun berada kita adalah seorang muslim yang punya hubungan
relasional dengan Tuhannya. Dimanapun berada kita adalah seorang muslim yang punya
hubungan interaksional dengan manusia lain dan makhluk Allah lainnya.

Hakekat pendidikan agama


Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi religiusitas pada siswa.
Pendidikan agama akan mengena jika di dalam terkandung pesan-pesan religius yang
membangkitkan potensialitas siswa sebagai seutuh-utuhnya manusia. Karena tujuan
utama pendidikan agama, menurut Imam Tolkhah (2006) sejatinya bukanlah sekedar
mengalihkan pengetahuan dan keterampilan (sebagai isi pendidikan), melainkan lebih
merupakan suatu ihktiar untuk menumbuhkembangkan fitrah insani (ranah afektif)
sehingga peserta didik bisa menjadi penganut atau pemeluk agama yang taat dan baik
(paripurna). Jangankan pendidikan agama, pendidikan apapun (matematika, kimia, fisika,
ekonomi, sejarah, dan sebagainya) bisa membangkitkan fitrah insani yang mampu
memberikan kesadaran sebagai hamba Allah. Ali Issa Othman (1981) menggambarkan
tentang potensi pengetahuan manusia menurut Al-Ghazali seperti berikut ini.
"Walaupun manusia terbawa oleh fitrahnya untuk mengenal Allah, ia tidak dapat tertarik
ke dekat Allah melalui fitrah atau melalui prinsip-prinsip akali, kecuali melalui ilmu-ilmu
yang diperolehnya. Dengan perkataan lain, perolehan ilmu pengetahuan sangat penting di
dalam mencari pengetahuan tentang Allah. Pengetahuan tentang alam semesta merupakan
tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Alam semesta merupakan
‘tulisan Allah’ di mana terdapat tulisan-tulisan dan perwujudan kebenaran-kebenaran
ilahi."

Karena itu, pendidikan agama harus bisa membangkitkan religiusitas. Karena hakekat
pendidikan Islam adalah kesadaran atas identitasnya sebagai seorang muslim dan mampu
mewarnai diri dan di luar dirinya agar sejalan dengan Islam. Pesan Islam adalah akhlak.
Dari akhak inilah pondasi peradaban terbangun. John Gardner, seorang cendekiawan
Amerika yang pernah menjadi Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan
(Health, Education and Welfare—HEW) dalam pemerintahan Presiden John F. Kennedy
mengatakan, “no nation can achieve greatness unless it believes in something, and unless
that something has moral dimensions to sustain a great civilization” (tidak ada bangsa
yang mampu mencapai kebesaran kecuali jika bangsa ini percaya kepada sesuatu, dan
kecuali jika sesuatu itu memiliki dimensi moral untuk menopang suatu peradaban yang
besar). Agama, menurut Madjid (2004), adalah sistem kepercayaan, dan agama yang
besar memiliki dimensi moral yang besar untuk menopang peradaban yang besar.
Peradaban besar terbangun dari keteladanan!

Bangsa yang religius ini merindukan siswa yang giat belajar mandiri (sebagai ganti dari
mencontek), siswa yang hormat pada yang lebih tua, tenggang rasa pada yang seusia dan
mencintai pada yang lebih muda, siswa yang menebarkan kebaikan tanpa pandang-pilih,
siswa yang mampu mengelola energinya dengan prestasi dan aktualisasi kemampuan.
Siswa yang tegar dengan segala lika-liku hidup (sehingga tidak mudah terjerumus pada
kenikmatan yang melalaikan). Siswa yang memiliki otonomi moral atau akhlak sehingga
tidak mudah terbawa oleh ajakan-ajakan negatif, bahkan mampu mengingatkan jika
orang lain terlanjur berperilaku negatif. Ini bukan doktrin, ini harapan yang terkumpul
oleh kerinduan atas budaya religius yang makin terkikis oleh derasnya kemajuan
peradaban sehingga lupa menyingsingkan lengan baju, bergegas membenah diri.
Ideologi peradaban Gelombang-Kedua tidak senang melihat masyarakat banyak dipecah-
pecah menjadi berbagai kelompok. Perpecahan ini mereka namakan fragmentasi atau
balkanisasi, bukan suatu peningkatan keanekaragaman yang akan memperbesar
kemungkinan berkembangnya masyarakat. Untuk dapat berfungsinya suatu demokrasi
dalam masyarakat Gelombang-Ketiga, kita harus mampu menghilangkan asumsi yang
menakutkan, bahwa menambah keanekaragaman akan membawa lebih banyak konflik,
perpecahan dan ketegangan di dalam masyarakat.
Karena sebetulnya yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu: jika 100 orang sangat ingin
sekali mempunyai cincin yang sama, kemungkinan besar mereka akan berjuang mati-
matian untuk mendapatkannya. Keadaannya akan jauh lebih menyenangkan, jika masing-
masing dari 100 orang tsb, mempunyai keinginan yang berlainan. Sehingga mereka
terangsang untuk tukarmenukar, bekerjasama, dan membentuk suatu hubungan simbiotik.
Dengan pengaturan yang baik, keanekaragaman akan dapat membangun suatu peradaban
yang stabil, dinamis dan sejahtera.
Memang tidak ada yang tahu, ke mana kecenderungan peradaban Gelombang-Ketiga
akan berubah. Tetapi jelas sudah bahwa Cyberspace akan membuat ikatan-ikatan dan
jaringan-jaringan dengan berbagai kelompok masyarakat esok, membentuk "kelompok
elektronik" yang bersatu bukan oleh ikatan geografi. tetapi bersatu oleh ikatan
minat/perhatian/pemikiran/budi yang sama. Cyberspace adalah suatu dunia yang
pluralistik, yang akan membuka dan menggali potensi budidaya peradaban Gelombang-
Ketiga. Cyberspace tidak akan bekerja sebagai gaya sentrifugal yang memecah-mecah
masyarakat. Justru ia akan rnenjadi salah satu daya yang merekat persatuan masyarakat,
yang tambah hari tambah menjadi masyarakat yang merdeka dan penuh keanekaragaman.
Amerika dikenal sebagai suatu negara dengan kemerdekaan individu yang luar biasa. Dan
kemerdekaan individu inilah yang juga tercermin di dalam ruang hidup di Cyberspace.
Sifat dan perilaku seorang hacker contoh yang paling cocok di sini. Yaitu seorang muda
yang meremehkan tekanan-tekanan oleh aturan atau kebiasaan yang berlaku di dalam
masyarakat. la, si hacker, terus saja melaksanakan mimpinya, yaitu main dan mengutak-
ngatik hardware dan software komputer murah. Kalau perlu dengan drop-out dari
pendidikan universitas.
Keterampilan yang terbentuk dan dikuasainya, akhirnya menjadi sangat laku di pasar,
yaitu mengciptakan software-aplikasi dan meng-implementasi jaringan komputer. Si
hacker lama-lama akhirnya menjadi seorang teknisi, penemu dan seorang entrepreneur,
yang mulai dengan beberapa perusahaan-garasi kecil, dan akhirnya membawa Amerika
kesuatu posisi terdepan dalam eksplorasi, transmigrasi dan penghunian ruang hidup di
Cyberspace.
Banyak pakar berpendapat, contoh manusia-hacker yang diterangkan di atas tadi, akan
susah dan kemungkinan besar tidak dapat hidup di negara industri yang demokratis
seperti Jepang dan Eropa. Bagaimana di negara berkembang seperti Indonesia?
Bandingkan bagaimana Habibie atau/dan Mahathir merencanakannya? Tetapi di Amerika
mereka dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembaharuan industri &
teknologi. Kenapa??
Karena masyarakat Amerika masih menilai individuality lebih tinggi dan lebih penting
dari conformity, memberi penghargaan yang lebih tinggi kepada achievement dari pada
consensus, dan tetap mempertahankan mati-matian hak azasi manusia untuk lain dari, dan
tidak serupa dengan orang banyak sekelilingnya.
Kebutuhan yang mendesak untuk berpegang teguh kepada prinsip-dasar dari sifat &
hakekat suatu Kemerdekaan ini, adalah sangat dirasakan. Karena manusia sedang
memasuki suatu daerah atau ruang baru Cyberspace, di mana peraturan dan tradisi belum
ada serupa dengan yang dihadapi para imigran benua Amerika pada tahun 1620. Ratusan
tahun sesudah 1620, suatu kebulatan-tekad perlunya suatu prinsip-dasar suatu
Kemerdekaan, adalah sangat dibutuhkan. Terutama karena manusia sekarang berada
dalam akhir dari ratusan tahun, di mana kita didominasi oleh institusi-massa dari era
industri Gelombang-Kedua. Era-industri Gelombang-Kedua ini merangsang conformity
dan banyak tergantung pada standarisasi. Ini semua tercermin di dalam bentuk dan sifat
lembaga-lembaga yang ada birokrasi perusahaan, birokrasi pemerintah, administrasi
raksasa militer dan sipil. berbagai macam sekolah. Terasa sekali kemerdekaan individu
menciut dan merana, seperti contoh-contoh di bawah ini:
Di dalam masyarakat Gelombang-Kedua, adalah masuk akal jika Pemerintah
memaksakan haknya untuk mengintip ke setiap komputer pribadi, dengan adanya
"clipper chip" di setiap computer; Di dalam masyarakat Gelombang-Kedua, adalah
masuk akal sekali jika Pemerintah merasa memiliki Spektrum Elektromagnetik, dan
melelangnya dengan harga mahal, supaya akhirnya dapat digunakan oleh rakyat ; Di
dalam peradaban Gelombang-Kedua adalah masuk akal sekali bagi pemerintah untuk
melarang para wirausahawan untuk masuk dalam pasar-pasar tertentu, guna memberi
suatu pelayanan baru kepada masyarakat ; Di dalam masyarakat Gelombang-Kedua
adalah masuk akal sekali, jika jaringan media-massa "usang", dengan hanya satu arah,
memaksakan penyiaran hanya opini-opini politik tertentu.
Semua intervensi ini masuk akal sekali di dalam suatu masyarakat Gelombang-Kedua, di
mana kita didominasi oleh standarisasi. Masyarakat masih kekurangan pengetahuan,
terutama karena kekurangan infrastruktur komunikasi. Karenanya sebaiknyalah pihak
birokrasi sebagai kaum elit yang lebih mampu membuat keputusan dari pada rakyat
banyak. Tibanya peradaban-inforrnasi Gelombang-Ketiga memutarbalikkan semua
keadaan. Kompleksitas suatu masyarakat Gelombang-Ketiga terlalu besar, untuk dikelola
secara ketat oleh suatu pemerintahan yang terpusat. Demassification, customization,
individuality, dan freedom, adalah kunci suksesnya suatu peradaban Gelombang-Ketiga.

Sumber peradaban
Peneliti dan penulis wanita yang masyhur di dunia saat ini Karen Armstrong mengatakan,
bahwa prestasi peradaban terbukti rapuh dan memiliki kelemahan-kelemahan. Inilah yang
membuat manusia sejak zaman awal sejarah mencari kekuatan-kekuatan transendensi
dari alam idea-nya yang menjadi dasar agama-agama purba termasuk agama Israel agar
dapat survive.
Namun demikian Armstrong menegaskan bahwa pencarian atas keadilan sosial yang
lebih baik bukan sekedar suatu fantasi religius (Karen Armstrong : Jerussalem : One City,
Three Faiths, May 1997). Pernyataan Armstrong meskipun hanya didasarkan logika
mengandung kejujuran tentang kebutuhan manusia atas visi transendensi, berbeda dengan
sikap kelompok luar global-Freemasonry yang sering menyesatkan dan memusuhi agama
sebagaimana sudah kita bahas sejak Pengajian ke-46 hingga ke-57 y.l dan masih terus
kita bahas.
Subyektivisme Israâ-Miraj dalam tradisi Islam, tidak membuat konsep Islam menyempit
dalam ektremitas primordial seperti faham neo-Qabbalis dalam doktrin anthropomorphis
Adam-Kadmon misalnya, yang hanya menempatkan ras kaum freemasonry sebagai
manusia. Diluar ras mereka tidak dipertimbangkan dalam derajat manusia. Konsep Islam
adalah Rachmatan lil Alamen. Perhatikan Firman Allah :
Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani dan
orang-orang Sabiien; siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah,
hari akhirat dan beramal saleh; mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka (Allah
swt); tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati; (Al-
Baqoroh : 62).
Islam memiliki konsep perubahan berdasarkan Firman. Nilai tertinggi adalah Firman.
Jika Allah swt percaya terdapat orang-orang beriman di semua basis budaya dan
peradaban di muka bumi yang beraneka ragam itu, maka tauladan manakah yang lebih
baik dari Allah Taala sendiri ? Sesungguhnya yang terkuat adalah Rachman-Rachiem,
Kasih-Sayang.
Mari kita simak sumber-sumber peradaban dunia yang indah dibawah ini :
Abad ke-10 SM, Naciketas, pemuda Hindu yang cerdas dan saleh menyucikan diri,
berpuasa tiga hari tiga malam, bermeditasi sepenuh hati untuk bertemu dengan Yama
sang malakul-maut. Naciketas bertanya : Wahai Yama, apakah setelah mati seseorang itu
ada atau tidak ada ?. Yama sang penguasa kematian menjawab : Dia yang dibebaskan
dari batasan-batasan nama dan bentuk, yang menjadi satu dengan segalanya, tidak dapat
dikatakan ada (exist) dalam pengertian biasa. Tidak ada kesadaran yang secara khusus
membatasi keberadaannya. Tetapi ia juga tidak dapat disebut tidak ada (non-exist) dalam
pengertian biasa, karena ia telah memperoleh hakekat keberadaan. Seorang yang tahu
kegembiraan moksha (kehidupan abadi) tidak akan tertarik pada nafsu-nafsu duniawi.
Serta-merta Naciketas mendesak Yama agar segera mencabut nyawanya agar ia dapat
segera memasuki kegembiraan moksha di alam astral. Kisah suci Hindu ini dinukil dari
Kitab Suci Upanisad I yang diuraikan kembali oleh Maharsi Tiruvaluvar pada abad ke I.
Dalam Hinduisme Tuhan bersifat impersonal, hakekat tertingginya disebut Brahman, inti
jiwa suci manusia yang abadi.
Abad ke-5 SM, Putra Mahkota Sidharta Gautama meninggalkan istana kerajaan Sakya di
Kapilavastu, India, hidup papa sengsara untuk mencari kebenaran. Beliau mencapai
Nibbana atau Nirvana, yaitu Yang Penghabisan dimana manusia mencapai kondisi batin
sempurna, terlepas dari segala penderitaan dan perubahan fana duniawi, mencapai
hakekat kebebasan dan kebahagiaan jiwa yang sejati yang tidak terikat hidup dan mati.
Sidharta kemudian disebut Sakyamuni Buddha. Diantara sabdanya : Semua kejadian
adalah fana dan intisari kebenaran tidak mengandung egoisme. Menurut Buddhisme
Tuhan bersifat impersonal dan mengalir bersama kolektivisme semesta alam.
Abad ke-5 SM, di kota Qufu, Tiongkok, lahir filsuf terbesar Khonghucu yang
menyerukan perdamaian dan persatuan bangsanya, mengajarkan egaliterianisme melalui
pendidikan dengan tradisi Hsueh (pendidikan dan keteladanan). Mainstream ajaran
Khonghucu adalah Harmonisme makrokosmos dan mikrokosmos yang pada tingkat
individual akan melahirkan visi tertinggi yang disebut Te, yaitu kekuatan dan kebajikan
moral. Khonghucu percaya bahwa Thian (Tuhan) adalah kesatuan harmonis semesta
alam. Maka memelihara harmonisme berarti memelihara hubungan dengan Thian.
Khonghucu adalah penemu tradisi China yang mewarnai spirit dan religi China sepanjang
masa.
Abad ke-4 SM, di Yunani muncul filsuf Socrates yang mengajarkan eudaemonia, yaitu
jiwa yang baik yang harus dicapai dengan kebajikan dan keutamaan yang disebut Arete
yang pada hakekatnya adalah pengetahuan. Maka baik dan jahat berdasarkan
pengetahuan bukan kemauan. Tidak ada orang sengaja berbuat salah, kecuali ia tidak
berpengetahuan. Arete adalah alat untuk mencapai eudaemonia yang bersifat tunggal dan
menyeluruh. Maka memiliki eudaemonia (Kebajikan Yang Esa) berarti memiliki segala
kebajikan. Socrates dianggap murtad dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun
pada th. 399 SM pada usia 70 th. Tetapi nyala pikirannya terus menerangi akal pikiran
manusia, membawa kemajuan peradaban dan terus hidup selama 2400 th.

Abad ke-15 SM, pangeran Mesir keturunan Yahudi, Musa meninggalkan istana Firaun,
menolak ras-diskriminasi terhadap etnis Yahudi. Musa kemudian menerima wahyu Allah
(Kitab Taurat) menjadi Nabi dan Rasul Allah. Nabi Musa a.s. dengan berani menyerukan
Firaun penguasa dunia zaman itu yang bahkan telah mengaku sebagai tuhan, agar
menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan, dan membebaskan bangsa Yahudi dari
perbudakan dan penindasan. Puncak konflik Musa vs Firaun berakhir dengan eksodus
bangsa Yahudi ke Kanaan atau Yerussalem, negeri yang dijanjikan. Sebuah perjalanan
rohani kembali kepada habitat dan konstitusi jiwa tauchid, dengan mukjizat membelah
Laut Merah dan menenggelamkan Firaun (Rameses II) dan balatentaranya. Agama
Yahudi adalah cikal bakal agama-agama samawi yang monoteis dengan personalitas
Tuhan yang disebut YHWH (Allah) Tuhan Yang Esa, beriman kepada Hari Kiamat dan
Alam Akhirat sesudah kematian.

Abad ke-1, di kota Betlehem atau Baitul-Maqdis di bagian kota Nazareth, lahir seorang
bayi dari rahim suci Maryam tanpa proses seksualitas, sebuah mukjizat dari Allah swt.
Dialah Isa al-Masih a.s. yang dipercaya sebagai Mesias (Juru Selamat), yang mampu
berbicara lancar waktu masih bayi. Reformer terhadap ajaran Taurat yang sudah banyak
diselewengkan. Tetapi para penguasa dan pendeta Yahudi yang hedonis-materialis tidak
mengakuinya.
Tanpa kenal takut di bukit Golgota Yesus al-Masih menyampaikan khotbah akbarnya
yang menjadi essensi dasar ajarannya. Yesus a.s. bersabda : Bahwa kerajaan Allah bukan
kerajaan dunia, melainkan Kerajaan Sorga, bukan kerajaan berdasarkan kekerasan,
melainkan Kerajaan Kasih, yakni kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia ;
(Cerita-cerita Al-Kitab Perjanjian Baru, hal.6788). Isa al-Masih memiliki 13 murid yang
disebut Al-Hawariyyun yang selalu setia menyertainya. Yesus dari Nazareth ditangkap
oleh konspirasi penguasa Yahudi-Romawi dan disalibkan di bukit Golgota sebagai
penggenapan teologi penebusan dosa (berdasarkan keyakinan Nasrani). Tetapi spirit al-
Masih tidak pernah padam. Ritual tri-Paskah membuktikan hakekatnya Yesus tidak
pernah mati di tiang salib itu. Allah telah mengangkat tinggi derajatnya dan ajarannya
kini menjadi panutan ummat Katholik/Kristen di seluruh dunia.

Demikianlah takdir dunia yang tidak terbentuk oleh budaya tunggal, melainkan oleh
pluralitas budaya, dari zaman dan belahan dunia yang berbeda. Itulah fitrah dunia. Kita
bersukur karena Bangsa Indonesia yang multikultur bagaikan miniatur pluralitas dunia.
Pluralitas adalah hakekatnya, sedangkan kesatuan iman adalah tujuan akhirnya. Semangat
fanatisme primordial jelas tidak sesuai dengan Sunnatullah. Maka tolok ukur kesamaan
bukan pada syariat, custom atau habit yang menjadi domain etnosentrisme budaya
masing-masing, tetapi pada kwalitas iman yang memiliki satu nafas. Maka tidak akan ada
perang, terror dan penindasan atas nama ideology, agama dan tuhan. Dan sesungguhnya
kebahagian sejati hanya ada di Yaum al Dien, yaitu Alam Akhirat yang transcendental
dan abadi, sesudah kematian.

Peradaban adalah derivasi dari kata adab. Adab sesungguhnya berarti jamuan makan
yang dalam konteks ini al-Qur'an merupakan jamuan spiritual (ma'dubah) yang terbaik
bagi ummat manusia. Maka para ulama terdahulu mengartikan adab sebagai ilmu, ta'dib
adalah pendidikan atau pananaman ilmu dan konsekuensi terkati seperti iman, amal, dan
akhlak. Ta'dib adalah usaha pengkaderan manusia-manusia beradab, yaitu manusia yang
mempunyai ilmu dan mempunyai moralitas yang tinggi atau manusia-manusia yang
ilmunya disertai amal dan sebaliknya. Tidak bisa dipungkiri lagi, memang pada dasarnya
pendidikan merupakan salah satu pilar dan fondasi yang terpenting dalam membangun
peradaban suatu negara. Kesadaran akan arti pentingnya suatu pendidikanlah, yang pada
akhirnya akan menentukan kualitas kesejahteraan lahir dan batin dan masa depan
rakyatnya.

Oleh karena itu, substansi pendidikan, materi pengajaran dan manajemen pendidikan
yang akuntabel sudah seharusnya menjadi perhatian yang utama. Sebab terbukti bangsa
yang berhasil dalam mencapai tingkat kebudayaan dan teknologi yang tinggi, mesti
ditopang dengan kualitas pendidikan yang kokoh. Sehingga tidak mengherankan, jika
berbagai jalan dilakukan untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas dan humanis
dalan suatu negara belahan dunia, tidak terkecuali dengan pendidikan di Indonesia.

Namun sayangnya dalam pejalanan, pendidikan yang ada dan di gagas di negara
Indonesia mengalami berbagai kendala dan selalu menghantui dalam benak pikiran
masyarakatnya. Meminjam istilahnya Clifford Geertz, bahwa pendidikan yang sedang
terjadi di Indonesia untuk sekarang, sedang mengalami yang namanya proses Involusi.
Proses di mana manusia-manusia yang bergulat dalam dunia pendidikan tersebut, bukan
semakin tumbuh cerdas, berwawasan luas, kreatif, jujur dan adil, atau beretos kerja untuk
kemajuan bersama, meskipun fasilitas fisiknya sudah mulai bertambah elit dan lumayan
lengkap. Namun pada realitasnya yang terjadi justru sebaliknya, manusia yang sedang
bergelut dalam dunia pendidikan di Indonesia semakin hari semakin jauh dari substansi
yang ada dalam pendidikan itu sendiri.

Secara historis, jika diruntut lebih lanjut lagi dalam penjalan sejarah Indonesia,
Pendidikan memiliki peranan yang sangat vital sekali dalam memajukan bangsa
Indonesia. Tengok saja sejak masa penjajahan kolonial dahulu, pendidikan yang ada di
nusantra ini sudah mempunyai peranan yang utama dan mempunyai andil yang besar
dalam melawan para penajajah kolonial Belanda, dan pada akhirnya Nusantara ini dapat
meraih kemerdekaan sesuai dengan cita-cita masyarakat Nusantara.
Namun persoalannya, dalam konteks sekarang ini, ketika negara Indonesia sudah sekian
tahun mendapatkan kemerdekaan dan persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin
rumit dan plural, lalu pendidikan yang bagaimanakah yang seharusnya diarahkan dan
yang tepat untuk diusung oleh bangsa Indonesia ke depan? Pendidikan yang seperti
apakah yang semestinya dikembangkan untuk "mencerdaskan" kehidupan kita sebagai
individu dan sebagai warga negara? Berbagai pertanyaan dan kegelisahan semacam itulah
yang menghantui benak pikiran seluruh masyarakat Indonesia. Hingga genap sudah
seratus kebangkitan nasional bangsa ini, namun persoalan semacam ini belum dapat
terselesaikan.

Bahwa gerakan Budi Utomo pada tahun 1908 lewat dunia pendidikan yang pernah
diterapkan di Indonesia, mampu untuk mendongkrak dan menjadi mobilisator yang
paling efektif, dan bahkan mampu untuk menjadi senjata utama dalam melawan masa
penjajahan kolonialisme belanda, ketika perlawanan yang bersifat fisik/bersenjata dirasa
kurang efektif lagi. Sehingga gerakan Budi Utomo dipandang sebagai titik balik
kesadaran terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Disadari maupun tidak, persoalan tentang dunia pendidikan yang ada di Indonesia untuk
saat ini dilihat dari fungsional pedagogis adalah bagaimana mempersiapkan para generasi
muda Indonesia, agar bagaimana mereka dapat menjawab dan mengatasi segala
tantangan secara lebih memadai di masa depan. Namun, bukan hanya sebatas
kemampuan kognitif saja yang diperlukan untuk memajukan dan membangun peradaban
suatu bangsa. Ada hal lain dalam dunia pendidikan yakni "kesadaran" akan realitas
kebangsaan yang plural dan humanistik. Mengingat negera Indonesia merupakan salah
satu negara plural yang terdapat beragam suku, agama, kepercayaan ada adat istiadat
yang pluralis.
Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi dan
ideologisasi nilai-nilai kebaikan dan keimanan. Di antara kaum laki-laki dan perempuan
terikat dalam relasi yang proporsional saling melengkapi dalam rangka merealisasikan
”amanah” penciptaan manusia. Hak-hak masyarakat terdistribusi secara proposional
hingga terbangun kesederajatan sosial dan kehidupan yang tentram dan dinamis menuju
terbentuknya masyarakat madani. Manusia Indonesia hidup dalam tatanan kekuasaan
yang demokratis, berjalan dalam koridor hukum dan agama dan rakyat memperoleh hak-
hak politiknya secara penuh. Di sana tegak persamaan hak di hadapan hukum bagi setiap
orang dengan prosedur dan mekanisme yudisial yng berkeadilan.
Mereka berusaha dalam sistem ekonomi egaliter sebagai cermin dari ekonomi yang
berkeadilan, yang memungkinkan perilaku ekonomi yang adil dan memberikan akses
yang sama pada seluruh rakyat sehingga kekayaan tidak menumpuk hanya pada segelintir
orang yang memicu jurang kesenjangan. Dimana pemanfaatan dan pengendalian ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek) secara etis sebagai modal dasar pembangunan
peradaban untuk kesejahteraan manusia Indonesia dan kemandirian bangsa. Warna-
warni kehidupan mencerminkan pluralitas kebudayaan sebagai entitas yang berinteraksi
secara harmonis menuju kemajuan peradapan. Individu dan masyarakat mendapat
pendidikan yang integratif untuk membangun manusia yang mampu merealisasikan
”amanah” penciptaannya menuju kehidupan sejahtera dan kemajuan bangsa.
Oleh karena itu, indikator keberhasilan suatu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh
sejauh mana peserta didiknya mampu untuk menjawab segala persoalan yang ada di
sekitarnya, namun yang terpenting adalah seberapa besar kesadaran yang dimiliki
olehnya dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam realitas kebangsaan kekinian
dan sekaligus akan menjawab tantangan di masa mendatang. Sehingga akan terjadi suatu
pendidikan yang humanistik dan menjunjung nilai-nilai pluralistik dalam berbangsa dan
bernegara. Tanpa adanya dialog lintas-komponen, universalisme tidak mungkin terwujud.
Rasulullah saw dalam membangun Negara Madinah pun melaksanakan dialog multi-
kultural, antara kaum Muhajirin, suku Aus, suku Khazraj dan bani-bani Yahudi. Dialog
ini tidak mengaburkan identitas Islam Rasulullah saw. Justru karena Islamlah dialog ini
terjadi. Dari dialog ini, lahirlah Piagam Madinah yang menjadi kerangka kerja semua
elemen dari berbagai golongan yang hidup di negara Madinah.
Sebab dengan pendidikan yang semacam ini dan berwawasan kebangsaan akan semakin
memprkokoh dan menjaga eksistensi bangsa Indonesia.

Manusia beradab adalah individu yang dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan
kedudukan dan tempatnya; individu yang dapat menempatkan kedudukan dirinya
dihadapan Penciptanya dan dikalangan masyarakatnya. Jika ia seorang rakyat jelata ia
mengetahui hak dan kewajibannya, jika ia seorang pemimpin ia mengerti arti keadilan
dan berlaku adil, jika ia seorang ulama ia berani mengatakan yang hak dan yang batil
kepada siapapun dan dimanapun, jika ia seorang seorang wakil rakyat (politisi) ia dapat
meletakkan (memilih) seseorang sesuai dengan kapasitas dan keutamaannya baik
dihadapan Tuhan maupun dan dihadapan manusia (rakyat). Jika kita memahami adab
seperti itu, maka kita harus merubah pemahaman kita terhadap makna peradaban selama
ini.

Peradaban adalah suatu struktur sosial dan spiritual yang merupakan sumbangan Islam
yang berharga bagi ummat manusia. Realitas sosial dan spiritual itu harus difahami
secara integral, tidak dapat dipisah-pisahkan atau dilihat secara sendiri-sendiri tanpa
saling-berkaitan seperti dalam tradisi dan kebudayaan Barat. Oleh sebab itu peradaban
Islam tidak sama dengan kebudayaan Barat atau kebudayaan asing lainnya, karena
akarnya memang berbeda. Di Barat masyarakat berbudaya atau civil society hanya
menggambarkan kedudukan individu-individu itu dihadapan Negara, sedang masyarakat
beradab menggambarkan kedudukan individu dihadapan Tuhan dan didepan
masyarakatnya sekaligus.

Struktur civil society tidak melibatkan unsur-unsur spiritual, sedang struktur masyarakat
beradab adalah kombinasi aspek-aspek fisikal dan spiritual yang sesuai dengan esensi
kemanusiaannya. Manusia berbudaya adalah manusia yang tunduk pada aturan-aturan
Negara, sedang manusia beradab tunduk pada perintah Tuhan, aturan Negara dan
masyarakatnya sekaligus. Dalam civil society Tuhan "tidak boleh campur tangan"
mengenai urusan negara, sedang dalam masyarakat beradab aturan-aturan dan perintah
Tuhan mengejawantah dalam setiap gerak individu masyarakat dan pemimpin Negara
dan menghiasai berbagai gerak dan kegiatan institusi negara, dalam suatu bangunan
peradaban yang manusiawi.
Atas dasar itu iman, ilmu dan amal setiap individu masyarakat adalah sine qua non dalam
bangunan peradaban Islam, yang aktualisasinya pasti tercermin secara institusional dan
tak terbantahkan, baik dalam bentuk organisasi sosial, partai politik, lembaga pendidikan,
bahkan Negara. Sebaliknya, organisasi sosial, partai politik, lembaga pendidikan dan juga
Negara yang dibentuk oleh individu-individu Muslim yang tidak beradab atau yang
memenuhi prasyarat bagi pembentukan bangunan peradaban Islam hanya akan menjadi
simbol-simbol dan wadah-wadah yang secara substantif tidak mencerminkan wajah
peradaban Islam bahkan mungkin malah merusaknya.

Semua fenomena diatas semakin meyakinkan akan kebenaran firman Tuhan bahwa
"Telah tampak kerusakan di dadarat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan
manusia"(Q.S ArRum:41).Kalu kita cermati seksama dari pengalaman hidup maupun kita
kaji dari Al Qur'an bahwa kerusakan alam merupakan akibat kerakusan manusia yang tak
arif dalam mengeksploitasi kekayan alam. Kerakusan adalah urusan moral yang
tersimpan dalam sanubari masing-masing orang. Moral yang menjabat "chek and
balance" telah mengalami kemerosotan yang menyebabkan penodaan terhadap harkat
kemanusiaan (human dignity) sehingga pemiliknya terperosok sebagai budak penyembah
nafsu.Walau kita tahu bahwa abad ini adalah abadnya orang-orang pintar tetapi
kehidupanya jauh dari tanda-tanda orang berilmu. Mengapa demikian? Allah
menjawabnya ,"Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhanya. Allah memberi sesat dengan ilmunya dan Allah telah mengunci
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas kepalanya itu. (Q.S AL Jatsiyah:23).

Sebab utama merosotnya moral adalah hilangnya keyakinan (iman) terhadap Tuhan, hari
akhir dan balasan surga-neraka. Agama yang telah di berikan Tuhan sebagai pembimbing
di tinggalkan begitu saja, sehingga norma-norma yang mengatur perilaku manusia
dilupakan. Dosa telah dianggap ringan dan hal yang biasa, Tuhan hanyalah cerita tahayul
dan dianggap sebagai sosok yang di gunakan untuk menakut-nakuti anak kecil belaka.
Hingga timbullah pandangan bahwa takkan ada lagi kehidupan sesudah mati, tak ada lagi
balasan surga neraka, seperti yang dikatakan Klein, "dengan membebaskan diri dari rasa
takut terhadap ancaman neraka, maka lepas pula harapan akan kenikmatan surga, orang
hidup,mati, dan selesailah sudah".Pernyatan itu di tepis Allah, "Dan mereka berkata "tak
ada kehidupan lain, melainkan kehidupan di muka bumi ini. Kita mati dan hidup tidak
ada yang memusnahkan melainkan waktu. Sesungguhnya mereka tidak tahu tentang hal
itu, mereka hanya menduga-duga saja".

Lalu bagaimana kita menyelamatkan moral kita yang selama ini tercecer di lembah hiruk
pikuknya nafsu sekaligus mengembalikan "tuhan" kita Yang telah kita "hilangkan"
tersebut ? jawabannya adalah seperti yang telah di katakana Prof.Jaques Barzun, "restore
god to the fullness of his reality" (kembalikan Tuhan kepada kedudukanNya yang
sesungguhnya).Dengan mengacu pada ucapan jaques berarti kita harus menghadirkan
Tuhan dalam segala hal dalam menampaki proses kehidupan kita, menghadirkan hakikat
tuhan bahwa Dialah sbagai inspirasi atau patokan moral hidup.
Kalau memang "tuhan" harus hadir dalam segala dimensi kehidupan ini maka salah satu
jalan yang harus di tempuh adalah membentangkan agama sebagai jalan bagi kita untuk
lebih dekat atau lebih mengena rasa ketuhanan kita,.Mengapa harus agama yang kita pilih
sebagi salah satu cara bagi kita untuk menghadirkan tuhan atau sumber moral kita ?.

Memperbincangkan masalah sumber moral yang sesuai dengan perilaku manusia


sekaligus tak pernah kering adalah agama sebagai jawabannya, karena agama merupakan
jalan penyampaian moral tuan yang di turankan kepada makhluknya.Moral yang
bersumber dari agama akan menjadi kuat dan tahan terhadap berbagai benturan zaman
sehingga agama akan tetap memposisikan "manusia sebagai manusia".
Adalah pasti bahwa agama islam merupakan sumber nilai-nilai moral islam. Nilai moral
dalam islam sangat di junjung tinggi dan ditempatkan pada kursi agung.Karena moral
merupakan elemen penting dalam membentuk peradaban. Nabi Muhammad di utus
kedunia tak sebatas menyampaikan risalah ketauhidan semata melainkan menyampaikan
pesan-pesan moral yang hasanah.("tiadalah Kami mengutus
kamu(Muhammad)melainkan bagi rahmat semesta alam. Aku di utus untuk
menyempurnakan akhlak manusia. Jelaslah bahwasannya misi Muhammad tidak sekedar
mengajarkan ritual-ritual ibadah, do'a atau menyuruh jihad, melainkan sebuah misi yang
sangat mulia yakni menghijrahkan manusia dari kesesatan menuju kebenararan ,dari sifat
barbarisme menuju sikap tawadhu', dari sikap rakus menuju sikap qona'ah dan ikhlas.
Menjadikan manusia kembali kefitrohnya yang di ridoi Tuhan.

Dakwah Islam berlaku lintas-waktu yang berarti nilai-nilai Islam akan terus cocok untuk
diterapkan tanpa terpengaruh interaksi manusia dengan waktu. Meskipun manusia
sebagai makhluk kreatif sangat terpengaruh oleh waktu namun ada hakekat kemanusiaan
di dalam diri yang bersifat kekal. Islam, baik ritual maupun esensi, selaras dengan hakikat
kemanusiaan yang kekal ini. Karena itulah Islam cocok untuk diterapkan pada manusia
hingga akhir zaman nanti. Dakwah Islam berlaku lintas-ruang yang berarti nilai-nilai
Islam mampu menembus sekat-sekat geografis yang acapkali membatasi budaya
manusia. Sebagaimana telah ditunjukkan oleh para pakar linguistik, sekat-sekat geografis
sangat berpengaruh pada perwujudan kreativitas manusia, bahasa, adat dan budaya
manusia menjadi bervariasi, sesuai dengan kondisi lingkungan tempat peradaban tersebut
tumbuh. Namun, dakwah Islam membawa nilai-nilai asasi yang mendasari semua
kebudayaan dan peradaban. Nilai-nilai asasi ini pasti disepakati oleh budaya dan
peradaban manapun dan mampu diterapkan dalam konteks lokalitas tersebut.

Dakwah Islam berlaku juga lintas-golongan yang berarti nilai-nilai Islam sejalan dengan
hakekat kemanusiaan dari semua golongan. Meski tidak semua manusia memeluk ajaran
Islam dan menjalankan ritual ibadahnya, namun esensi yang dibawa Islam, seperti
kejujuran, keadilan dan kepedulian sosial, merupakan nilai yang selaras dengan jiwa
kemanusiaan. Semua manusia yang masih memiliki jiwa kemanusiaannya akan mampu
merasakan dan menyetujui nilai-nilai esensi ini, tanpa peduli pada golongan apa ia
berada.
Di dalam sejarah Rasulullah saw, kita dapat menyaksikan betapa nilai-nilai Islam cocok
dengan para sahabat yang berasal dari kota dagang Makkah sekaligus pas dengan para
sahabat yang berasal dari negeri agraris Madinah. Nilai-nilai ini juga sesuai dengan
kepribadian Salman al Farisi yang berasal dari kalangan bangsawan Persia. Lebih jauh
lagi, nilai-nilai kepahlawanan Islam mampu membangkitkan gelora jiwa satria pada
masyarakat Eropa dan melahirkan age of chivalry. Munculnya para satria Eropa yang
gallant dan charming merupakan bentuk persetujuan universal terhadap nilai-nilai
kepahlawanan mujahidin Islam yang mereka temui pada Perang Salib.

Dalam peringatan Nuzulul Qur’an secara nasional, sby menyampaikan beberapa ajakan
dan harapan kepada umat Islam di tanah air, dan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Kebetulan tema Nuzulul Qur’an tahun ini adalah Al Qur’an Sebagai Sumber Peradaban.
Peradaban adalah sesuatu yang paling hakiki, yang paling pokok, yang paling
fundamental dalam kehidupan umat, dalam kehidupan bangsa, dan kehidupan negara.
Dalam bahasa asing disebut Civilization. Rasulullah melakukan transformasi besar,
melakukan hijrah, mengubah bangsa dari zaman kegelapan ke zaman yang penuh dengan
cahaya. Hakekatnya itu adalah membangun peradaban, civilization. Membangun
peradaban tidak seperti membalik telapak tangan, banyak ujian, tantangan, cobaan, yang
harus dihadapi, yang harus dilalui, tetapi kalau Rasulullah sebagai peMimpin agung
dunia berhasil melakukan transformasi besar, melakukan reformasi besar, melakukan
perubahan besar, menghadapi tantangan yang sangat-sangat berat, tentunya kita sebagai
bangsa harus bisa menteladani apa yang dilakukan oleh Junjunan kita Nabi Muhammad
shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Kita pun harus seraya pandai bersyukur, tetap tegar, sabar,
berikhtiar, tidak cengeng, tidak mengeluh, tidak putus asa, tidak menyalahkan satu sama
lain, tapi tetap berjiwa terang, berfikir positif, berfikir rasional, tidak mempercayai
tahayul dan mistik, dan juga bersikap optimis, itulah bagian dari peradaban. Tentu
peradaban lebih dari itu, menyangkut akhlak, menyangkut perilaku, menyangkut budi
pekerti, menyangkut adat istiadat, dan sebagainya. Dan dalam dunia masa kini, bagian
penting dari peradaban juga menyangkut ilmu pengetahuan, menyangkut segi-segi
pendidikan. Al Qur’an sangat jelas didalam memerintahkan umat Islam agar kita
membaca keimanan, dan keilmuan dalam satu nafas. Kehidupan kita akan tenteram, akan
bisa mengatasi masalah apapun yang kita hadapi manakala kita bisa menyatukan antara
keimanan pada Allah Subhaanahu Wata’ala dan pada keilmuan, pengetahuan, yang
semua juga datang dari Allah Subhaanahu Wata’ala. Oleh karena itu, penting sekali kita
terus meningkatkan mutu pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan, termasuk mutu
pendidikan di kalangan pondok-pondok pesantren.

Moral islam menekankan aspek penyucian hati karena pada hakekatnya hati merupakan
pusat inspirasi dan motivasi akal untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan terhadap
sesuatu hal yang akhirnya melahirkan suatu pandangan (persepsi). Manusia yang
pandangan hidupnya tidak jelas atau mengambang maka cenderung perilakunya pun
nampak amburadul dan bingung. Keyakinan yang tidak mantap akan melahirkan sosok-
sosok manusia kelas rendah, munafik, pragmatis, hedonis dan sekule. (Dr. Muhammad
Tholib, Melacak kekafiran berfikir). Hal ini pernah terjadi pada bangsa arab saat islam
belum datang .Arab jahiliyah kebanyakan kaum pengembara badui yang hidupnya
nomaden, memiliki jiwa yang kasar, kering dari "air ketauhidan", suka merampok, tak
tahu halal haram, hanya berorientasi pada kesenangan yang sekejap sehingga alqu'an
mengatakan orang-orang ini munafik dan tak bertuhan. Tetapi setelah islam datang
keadaan berubah, mereka menjadi santun, terbimbing kejalan yang benar dan ditinggikan
kedudukannya yang semula bersifat hewaniyah kepada kedudukan yang mulia. Itulah
islam yang lebih mengedepankan pembentukan moral di banding dengan hal lain. Karena
kita tahu bahwa moral merupakan penentu"warna" peradaban manusia. Jika bangsa yang
besar, maju dalam bidang keduniaan saja tetapi moral bangsanya amburadul maka sudah
dapat di pastikan bangsa itu akan segera runtuh. Islam di datangkan untuk memperbaiki
peradaban manusia oleh karena itu islam adalah agama peradaban dan tak menentang
peradaban suatu bangsa manapun selama peradaban itu memberi manfaat kepada
manusia dan mengangkat harkat, martabat manusia. Namun jika peradaban itu ternyata
tak sesuai dengan fitroh manusia dan mendehumanisasi, maka islam akan melawan
,karena islam adalah agama perlawanan.

Pendidikan Yang Membebaskan


Pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang membebaskan manusia untuk selalu
sadar akan dirinya dan tidak teralienasi dari masyarakat dan dunianya. Sebuah proses
pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas sosial, bukan pendidikan yang malah
menjauhkan manusia atau peserta didik dari kenyataan hidup yang ada. Disinilah
signifikansi sebuah paradigma dalam pendidikan. Paradigma pendidikan transformatif,
yang mengarahkan manusia untuk senantiasa menyadari bahwa dirinya sedang
mengalami transformasi terus-menerus (learning to be) dan untuk selalu “menjadi
sesuatu” (becoming to), sangat signifikan keberadaannya. Masyarakat Amerika
merasakan sekali bahwa pemerintahan mereka sekarang ini, sangat mengharnbat
terbentuknya peradaban Gelombang-Ketiga, terutama karena mereka menggunakan usaha
dan cara-cara peradaban Gelombang-Kedua terhadap suatu masyarakat peradaban
Gelombang-Ketiga, yang lincah, aneka ragam, dan yang tidak mungkin dikomando atau
diperintah terpusat.

Meminjam terminologi Paulo Freire, konsep Problem Possing Education atau pendidikan
hadap-masalah, merupakan salah satu alternatif agar peserta didik mampu memahami
realitas sosial yang senyatanya. Peserta didik akan selalu dibenturkan dengan problem-
problem kongkret dan aktual yang ada, untuk selanjutnya berupaya menganalisis
menggunakan pisau analisis atau sudut pandang yang sesuai guna ditemukannya
pemecahan yang komprehensif.
Memang, jika misalnya dirasakan dibutuhkan suatu "kebijakan industri bagi era
Informasi, maka kebijakan itu harus terfokus kepada menghilangkan hambatan-hambatan
terjadinya kompetisi dan tindakan deregulasi, besar-besaran bagi industri telekomunikasi
dan industri komputer.

Sebaiknyalah besarnya dan kuatnya pemerintah, sesuai dengan kebutuhan yang riil untuk
melaksanakan tugasnya seefektif dan seefisien mungkin, di dalam suatu masyarakat
Gelombang-Ketiga. Karenanya menurut banyak pakar di Amerika, besar dan kuatnya
pemerintah Amerika diperkirakan sebaiknya diciutkan menjadi kira-kira 50% dari besar
dan kuatnya sekarang ini. Ini adalah konsekuensi langsung dari transisi struktur-
pemerintahan yang terpusat (era-lndustri) ke struktur lembaga-lembaga yang terpencar
serupa network dari era-lntormasi. Pemerintahan yang lebih kecil, bukan berarti
pemerintahan yang lemah! Dan mengusulkan untuk melangsingkan pemerintahan,
janganlah diartikan secara sempit, yaitu tidak mendukung atau melawan pemerintahan
yang harus dirampingkan tadi.
Nelson Black dalam bukunya yang berjudul "Kapan Sebuah Bangsa Akan Mati"
menyatakan bahwa nilai-nilai akhlak, kemanusiaan, kemakmuran ekonomi, dan kekuatan
budaya merupakan sederet faktor keunggulan sebuah masyarakat yang humanis.
Sebaliknya, kebejatan sosial dan budaya merupakan faktor penyebab kemunduran sebuah
peradaban. Ia juga menulis, “Kebejatan sosial akan tampak pada pengingkaran atas
konstitusi dan instabiltas ekonomi.”
Edward Gibbon menilai bahwa kebobrokan moral adalah penyebab dari kehancuran
sebuah peradaban. Gibbon menulis, “Menyerahnya para pejabat di hadapan
penyelewengan budaya dan penyalahgunaan kekuasaan, telah menyebabkan sebuah
bangsa harus takluk di hadapan bangsa lain.” Pada hakikatnya, pendidikan merupakan
upaya membangun budaya dan peradaban bangsa. Oleh karena itu, UUD 1945 secara
tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Proses belajar kebudayaan


Kebudayaan ‘dibangun’ oleh masyarakat pendukungnya. Sebaliknya, manusia ‘dibentuk’
oleh kebudayaan. Kebudayaan adalah way of life atau pedoman bagi masyarakat. Sebagai
unsur vital, kebudayaan mengambil unsur-unsur pembentuknya dari segala ilmu
pengetahuan yang dianggap vital dan sangat diperlukan dalam menginterpretasi semua
yang ada dalam kehidupannya. Hal ini diperlukan sebagai modal dasar untuk dapat
berdaptasi dan mempertahankan kelangsungan hidup (survive). Dalam kaitan ini
kebudayaan dipandang sebagai nilai-nilai yang diyakini bersama dan terinternalisasi
dalam diri individu sehingga terhayati dalam setiap perilaku. Nilai-nilai yang dihayati
ataupun ide yang diyakini tersebut itu diperoleh melalui proses belajar. Proses belajar
merupakan cara untuk mewariskan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi. Proses
pewarisan tersebut dikenal dengan proses sosialisasi atau enkulturasi (proses
pembudayaan).
Kita mengenal beberapa istilah proses bagaimana manusia belajar dari kebudayaan.
Proses belajar kebudayaan (sendiri) dapat didekati dengan dengan tiga pilahan;
internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Internalisasi , Manusia terlahir dengan potensi
bawaan; perasaan, hasrat, nafsu, emosi, dan seterusnya. Sepanjang kehidupan dari lahir
sampai mati manusia menanamkan dalam kepribadiannya hal-hal yang diperlukan dalam
kehidupan. Individu berusaha memenuhi hasrat dan motivasi dalam dirinya; beradaptasi,
belajar dari alam dan lingkungan sosial dan budayanya. Proses Internalisasi. Menurut
Koentjaraningrat (1996; 142-143) proses internalisasi adalah proses yang berlangsung
sepanjang hidup individu, yaitu mulai ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Sepanjang
hayatnya seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu,
dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya.
Kebudayaan dalam arti luas Komponen Wujud Fungsi Proses Belajar Pranata universal
Kebudayaan dalam arti khusus Masyarakat. Sistem budaya Adat-istiadat Gagasan Konsep
Aturan Sistem social Tindakan berpola antar individu Sistem kepribadian — Sistem
organic Tindakan ber-kepribadian Organisasi Manusia Menata. memantapkan
Pembudayaan (enkulturasi) Interaksi antar individu Sosialisasi Memenuhi hasrat &
motivasi Adaptasi terhadap lingkungan menyambung keter-batasan organisme Sistem
nilai-budaya/agama Sistem norma-norma hukum/ agama Sistem norma-non-hukum
dalam pranata universal agama Bahasa,Pranata teknologi Pranata pengetahuan Pranata
ekonomi Pranata organisasi social Pranata keagamaan Pranata kesenian Internalisasi
Peralatan dalam rangka pranata universal. Masih ingat ketika kecil melihat Ibu-Bapak
salat? Kita meniru-niru, sekalipun belum paham. Kita menginstal memori, hidup kudu
salat. Kalau hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, berbondong-bondong ke lapangan
melakukan salat bersama. Ada rasa ingin, ada rasa bangsa, ada kepuasaan. Ketika
mengunjungi keluarga, kita tersenang apalagi kalau diberi ‘Uang Lebaran’. Kita terharu
bertemu keluarga yang jarang bersua, kadang menangis.
Pada lain ketika belajar bagaimana bertutur kata yang baik kepada orang tua. Kalau
kasar, akibatnya begini-begitu. Kalau melawan guru, akibatnya begini-begitu; memuji
teman yang berprestasi dapat respon begini-begitu. Kesemua proses tersebut dengan
segala balikannya kita ‘tanamkan’ dalam diri. Setiap hari, setiap saat kita mendapatkan
hal-hal baru, bersua hal-hal yang belum diketahui. Semua itu ‘ditanamkan’; membentuk
kepribadian. Kita mempelajari segala hal. Proses tersebut dinamakan internalisasi.
Bergaul dengan orang-orang suka menulis, ada kecenderungan akan suka membaca dan
menulis. Sebaliknya, jika lingkungan adalah lingkungan pencopet, manakala internalisasi
adalah kepencoetan, berhati-hatilah, bisa jadi pencopet sungguhan, he he. Ingat,
internalisasi dari kehidupan bermula sampai berakhir.
Sosialisasi, Pada ranah sosialisasi, belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem
sosial. Individu belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan sesama, dari individu
yang menduduki aneka peranan sosial. Sosialisasi berarti proses belajar anggota
masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.
Misalnya ketika memahami posisi dan peran bapak sebagai kepala keluarga yang
bertanggung jawab terhadap ekonomi; Ibu memasak, kakak membantu, dan seterusnya.
Sosialisasi bermula dalam keluarga. Keluarga pembentuk kepribadian awal individu.
Dalam relasi sosial selanjutnya bertemu saudara sepupu atau teman-teman sekampung.
Proses sosialisasi lebih luas berlanjut dimana individu mengenal peran, tanggung jawab,
bahkan sampai bagaimana ‘menyenangkan’ yang lebih tua. Ketika bersekolah mengenal
auturan, dan bagaimana disiplin belajar. Hal-hal serupa terus berlanjut sesuai dengan
luasnya cakupan kehidupan sosial.
Enkulturasi, Proses enkulturasi dimana individu mempelajari dan menyesesuaikan alam
pikiran dan sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, dan peraturan-peratruran dalam
kebudayaannya. Kalau pada awal meniru, sesuai dengan perkembangan kehidupan,
‘membaca’, menghayati, hingga menjadi pola tindakan. Enkulturasi misalnya dapat
disimak dari bagaimana menjadi warga negara yang baik. Di sekolah formal aturan dan
atau bagaimana menjadi warga negara yang baik diajarkan melalui mata pelajaraan
kewarganegaraan; dimulai apa itu warga negara, apa itu negara, tata negara, dan
seterusnya. Belajar menata dan memantapkan diri menjadi warga negara yang baik.
Sepanjang kehidupan proses belajar berlangsung tanpa putus. Adat istiadat, norma,
peraturan-peraturan, tata krama, dan seterusnya menjadi ‘pegangan’ kehidupan. Apabila
individu keluar dari hal-hal yang berlaku di masyarakat, maka akan menjadi
‘aneh’. Proses belajar kebudayaan, internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi dapat
dikatakan, kebudayaan itu sendiri. Belajar adalah kebudayaan. Semakin banyak belajar,
semakin mantap beraktivitas, semakin berakumulasi hasilnya.

Satu aspek penting yang tidak dapat terpisahkan dari aspek budaya berkaitan dengan
proses pewarisan budaya adalah pendidikan. Pendidikan adalah proses budaya ke dalam
diri seseorang dan membuat orang jadi beradab. Keluarga dan sekolah adalah saluran
atau media dari proses pembudayaan. Dalam konteks inilah pendidikan disebut sebagai
proses untuk “memanusiakan manusia”. Sejalan dengan itu, pendidikan merupakan upaya
untuk membudayakan dan menyosialisasikan manusia sebagaimana yang kita kenal
dengan proses enkulturasi (pembudayaan) dan sosialisasi (proses membentuk kepribadian
dan perilaku seorang anak menjadi anggota masyarakat sehingga anak tersebut diakui
keberadaanya oleh masyarakat yang bersangkutan). Proses enkulturasi dan sosialisasi
didampingi dengan proses internalisasi.
Proses internalisasi berarti bahwa sepanjang kehidupannya, manusia menanamkan dalam
kepribadiannya hal-hal yang diperlukan dalam kehidupan dan berusaha memenuhi hasrat
dan motivasi dalam dirinya; beradaptasi, belajar dari alam dan lingkungan sosial dan
budayanya. Sementara itu, menurut Herskovits enkulturasi berasal dari aspek-aspek dari
pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari
makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses
enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbeda-beda
pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi secara agak
dipaksakan selama awal masa kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan
belajar secara lebih sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran
dari masyarakatnya. Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat
dari pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses
pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah
proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam kebudayaan
kelompok.
Proses belajar kebudayaan, internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi dapat dikatakan,
kebudayaan itu sendiri. Belajar adalah kebudayaan. Semakin banyak belajar, semakin
mantap beraktivitas, semakin berakumulasi hasilnya. Inilah makna pendidikan meminjam
istilah Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning”. Pendidikan
bertujuan membentuk agar manusia dapat menunjukkan perilakunya sebagai makhluk
yang berbudaya yang mampu bersosialisasi dalam masyarakatnya dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup, baik secara
pribadi, kelompok, maupun masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan adalah upaya
menanamkan sikap dan keterampilan pada anggota masyarakat agar mereka kelak
mampu memainkan peranan sesuai dengan kedudukan dan peran sosial masing-masing
dalam masyarakat. Secara tidak langsung, pola ini menjadi proses melestarikan suatu
kebudayaan. Sejalan dengan ini, Bertrand Russel mengatakan pendidikan sebagai tatanan
sosial kehidupan bermasyarakat yang berbudaya. Melalui pendidikan kita bisa
membentuk suatu tatanan kehidupan bermasyarakat yang maju, modern, tentram dan
damai berdasarkan nilai-nilai dan norma budaya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pembelajaran dalam konsep enkulturasi adalah
perubahan perilaku. Hal ini sejalan dengan 4 (empat) pilar pendidikan yang dikemukakan
oleh Unesco, Belajar bukan hanya untuk tahu (to know), tetapi juga menggiring siswa
untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara langsung dalam
kehidupan nyata (to do), belajar untuk membangun jati diri (to be), dan membentuk sikap
hidup dalam kebersamaan yang harmoni (to live together). Berkaitan dengan pendidikan
tentang permuseuman ada beberapa lembaga yang berperan di dalamnya, yaitu museum
itu sendiri, sekolah, dan keluarga serta masyarakat.
Selain sebagai salah satu objek wisata, museum juga berfungsi sebagai tempat menggali
ilmu pengetahuan non formal. Ini berarti, keberadaan museum mempunyai peranan
penting dalam menunjang kegiatan pendidikan masyarakat dalam upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dengan demikian, berbicara tentang kebudayaan, juga tidak terlepas
dari keberadaan museum. Dan tentu pula, keberadaan museum juga tak terpisahkan
dengan pendidikan. Hal ini terlihat nyata dengan keberadan museum sebagai lembaga
yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya yang fungsi dan tugasnya
mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan serta mempublikasikan benda-
benda dan lingkungannya untuk tujuan pendidikan non formal yang bersifat kreatif.
Inilah perkembangan kebudayaan tak terlepas dari pengaruh lingkungan social
masyarakat pendukung dimana kebudayaan itu berkembang. Jadi, museum ini berperan
serta menunjang kegiatan pendidikan masyarakat.
Sekolah adalah salah satu media proses pembudayaan (enkulturasi). Manusia yang
berbudaya adalah manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap
sehingga mereka mampu berpikir secara rasional, kritis, dan memiliki karakter serta
kepribadian yang cinta pada keharmonian kehidupan. Di sini para pendidik di sekolah
diharapkan juga dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang museum
sebagai tempat pelestari warisan budaya masyarakat.
Keluarga adalah media yang sangat efektif dalam proses sosialisasi. Pengenalan terhadap
nilai budaya dan termasuk pemahaman tentang peran penting museum sebagai lembaga
pelestari budaya masyarakat diajarkan pertama kali dari keluarga. Keluarga juga sangat
efektif terutama jika seseorang masih mengandalkan kemampuannya dalam bahasa lisan,
bukan bahasa tulis. Dalam masyarakat, seseorang dapat melihat, memahami, dan
mempratikkan setiap unsur kebudayaan, masyarakat dengan aturannya juga dapat
menjadi media yang memperkenalkan dan memahamkan masyarakat itu sendiri tentang
pentingnya dan peranan museum. Di sini tokokh masyarakat tetap menjadi seseorang
yang sangat berperan di dalamnya.

Pendidikan juga merupakan kunci bagi pemecahan masalah-masalah sosial. Karena


itulah, pendidikan yang progresif menyerukan penataan kembali masyarakat dan bangsa
lewat pendidikan. Dengan pendidikan, reformasi (terutama reformasi pendidikan budi
pekerti) dapat dijalankan. Begitu juga halnya dengan reformasi moralitas (agama),
reformasi kebudayaan (keindonesiaan), reformasi nasionalisme (NKRI).

Reformasi budaya merupakan bagian-bagian kecil dari proses transfomasi budaya dalam
suatu rentang sejarah panjang sebuah peradaban (Sachari dan Sunarya, 1998:1).
Reformasi dapat diartikan sebuah gerakan untuk mengubah tatanan yang mengandung
pemahaman sebagai perubahan bertahap, pembaruan, penataan kembali, penggantian
cara, penyatuan kembali, dan perbaikan tatanan yang rusak. Seluruh perangkat budaya
termasuk pendidikan, hakikatnya mengalami proses perubahan terus-menerus (evolusi),
reformasi, diferensiasi, adaptasi, yang diciptakan dalam keadaan berubah terus.
Pendidikan termasuk perubahan yang tak penah berakhir.

Membangun Sistem Nilai


Pembangunan sektor pendidikan haruslah menghasilkan sistem nilai yang mampu
mendorong terjadinya perubahan-perubahan positif dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sehingga, dapat menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan
aman. Karena, Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 mengamanatkan tiga misi
pembangunan nasional, yaitu: 1) Mewujudkan Negara Indonesia yang aman dan damai,
2) Mewujudkan bangsa Indonesia yang adil dan demokratis, dan 3) Mewujudkan bangsa
Indonesia yang sejahtera.
Untuk mewujudkan misi pembangunan tersebut, masyarakat terdidiklah yang akan
mudah didorong dan mau diajak berubah untuk mengembangkan sistem kehidupan yang
aman, damai, adil, demokratis, dan sejahtera. Pendidikan akan melahirkan sumber daya
manusia yang berkualitas.
Pemerintah telah menetapkan Renstra pendidikan tahun 2005 – 2009 dengan tiga sasaran
pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai, yaitu meningkatnya perluasan dan
pemerataan pendidikan, meningkatnya mutu dan relevansi pendidikan; dan meningkatnya
tata kepemerintahan (governance), akuntabilitas, dan pencitraan publik.
Karena itu, kebijakan pendidikan nasional harus mampu menghadirkan pemerataan
pendidikan yang bermutu pada setiap sisinya. Dalam konteks outcome, pendidikan
nasional harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan
akhlak mulia secara seimbang.
Pembangunan pendidikan hendaknya dapat membangun manusia Indonesia seutuhnya
sebagai subyek yang bermutu. Membangun manusia seutuhnya berarti mengembangkan
seluruh potensi manusia melalui keseimbangan olah hati, olah pikir, olah rasa, olah raga,
dan olah jiwa yang dilakukan seiring dengan pembangunan peradaban bangsa.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
mengamanatkan bahwa Pendidikan nasional harus berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang diarahkan dan bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pengembangan Pribadi Yang Utuh


Pendidikan ideal harus berpijak pada pengembangan keutuhan seseorang peserta didik
agar muncul self-realisationnya dengan baik. Menurut Prof Naquib al-Attas, pendiri
ISTAC, konsep ilmu sekular Barat adalah sumber kerusakan terbesar bagi umat manusia.
Karena itu, saat menjadi keynote speaker pada Konferensi Pendidikan Islam di Makkah
pada 1977, Al-Attas menggulirkan makalah berjudul ‘The Dewesternization of
Knowledge’. Langkah awal diajukannya untuk membangun peradaban Islam adalah
Islamisasi ilmu. Menurut al-Attas, mau tidak mau harus dilakukan melalui proses
pendidikan, yang disebutnya sebagai ta’dib, bukan tarbiyah.
Tujuan utamanya membentuk manusia beradab. Adab adalah disiplin rohani, akli, dan
jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala
sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar sehingga menimbulkan keharmonisan
dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertingginya ialah
mengenal Allah SWT dan meletakkan-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan
ibadah dan amal shaleh pada tahap ihsan.
Sangat tidak bijaksana ketika kegiatan pendidikan justru hanya menekankan sisi
kecerdasan intelektual semata-mata. Sedangkan Daniel Goleman dalam bukunya
Emotional Intelligence (Sidi 2001) bahwa IQ seseorang hanya menyumbang 20% dari
kesuksesan seseorang, sedangkan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor lain (kecedasan
intelektual dan kecerdasan emosional. Pendidikan ideal adalah yang mampu
menyeimbangkan domain-domain tersebut sehingga lahirlah masyarakat peradaban
(civilize culture society) atau meminjam istilah Inkeles masyarakat modern (modern
society) atau lebih populernya biasa kita sebut civil society. Bentuk masyarakat seperti
ini tidak mungkin akan ada tanpa lahirnya generasi yang well educated.
Pendidikan yang ideal akan menciptakan masyarakat yang sadar (conscious community).
Oleh karena itu mendewasakan masyarakat lewat kegiatan pendidikan adalah langkah
bijaksana yang harus dikembangkan. Namun kenyataan di negara-negara yang kurang
berkembang, pemerintah lebih cenderung melihat pendidikan sebagai sesuatu yang tidak
menguntungkan baik secara ekonomi maupun politik. Pendidikan yang mendukung
kesadaran pekerja dan petani dilihat sebagai ancaman terhadap bentuk status quo
terutama bagi sistem politik dan ekonomi. Lebih jauh lagi pendidikan untuk masyarakat
ini, meminjam istilah Freire adalah “conscientizacao”, merupakan ramuan untuk
menyelesaikan tekanan terhadap pendidikan bagi kaum tertindas agar mereka sadar
tentang kondisi ini (Fegerlind& saha 1983:25).

Disekolah seorang anak harus belajar membaca, menulis berhitung, aturan kemandirian
(independence), prestasi (achievement), universalisme (universalism), spesifitas
(specificity). Sejalan dengan ini John Dewey menjelaskan bahwa pendidikan yang
sesungguhnya adalah mampu memberikan gambaran objektif tentang dunia dimana
peserta didik hidup, ke arah mana kehidupan dunia ini berjalan, dan peran apa yang dapat
mereka lakukan di lingkungan sekitar mereka. Atau dengan kata lain pendidikan
merupakan salah satu agen dalam proses sosialisasi yang dialami manusia. Sosialisasi
merupakan proses seumur hidup (life-long process) dan pendidikan memfasilitasi
tranformasi ketrampilan dan nilai-nilai luhur yang dibutuhkan seseorang dalam
kehidupannya (John Dewey 1958:90). Worsley (1970) melihat pada dasarnya pendidikan
tidak dapat dicabut dari lanskap sosial di mana pendidikan merekrut aktor-aktor sosial
dalam segala segi kehidupan, sehingga pendidikan dapat disebut sebagai “a mini
society”. Dalam masyarakat mini inilah daya-daya belajar dikembangkan dengan berbasis
pada paradikma learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to
how to learn.

Keahlian hidup (life skills) tidak hanya berdasarkan kepada pemberian ketrampilan-
ketrampilan dasar (basic competencies) agar peserta didik mampu mengembangkan dunia
entrepreneuship dan menata nilai-nilai kemandirian hidup, namun lebih penting dari itu
adalah bagaimana pendidikan mampu mengasah domain moral dan ruang kesalehan
nurani dan nilai-nilai kebersamaan, pluralisme, dan inklusivisme. Sisi humanis ini
sepertinya kurang dijadikan agenda penting dalam menopang pesan-pesan kemanusiaan
lewat kegiatan pendidikan formal. Intinya peserta didik dibimbing untuk mampu
merambah domain learning to do, learning to think, learning to be, learning to learn, dan
learning to live together. Sedangkan Dreeben (1968) menyebutkan bahwa apa yang
dipelajari oleh seorang anak disekolah adalah di samping membaca, menulis, dan
berhitung aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement),
universalisme (universalism), dan spesifitas (specificity) juga merupakan faktor yang
tidak boleh diabaikan.

Basis Pengembangan Kurikulum


Bergelimang kekayaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia Indonesia,
menggambarkan bahwa Indonesia merupakan negara yang siap menghadapi masa depan
gemilang tanpa kekurangan dan kemiskinan. Sumberdaya alam Indonesia yang memiliki
keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif masih banyak yang menganggur tanpa
disentuh oleh tangan kreatif dan masih kekurangan tenaga ahli yang mumpuni untuk
mengolah dan mengelolanya.
Keterbatasan kreativitas sesungguhnya disebabkan oleh motivasi sumberdaya manusia
Indonesia yang masih mengandalkan menjadi pegawai untuk mengembangkan diri,
sehingga kreativitas yang lahir di Indonesia bersumber dari kreator asing dan warga
negara pendatang.
Waktu yang tepat bagi Indonesia untuk merubah pola pikir masyarakat yang semula
menyandarkan dirinya beradaptasi dengan pasar tenaga kerja, menjadi pola pikir yang
menyediakan lapangan kerja. Iklim kreatif dapat ditumbuhkan melalui program
pengembangan kompetensi masyarakat, melalui pengembangan kurikulum pembelajaran
di sekolah-sekolah, maupun program pendidikan informal di setiap peloksok tanah air.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam perjalanan sejarah sejak
tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun
1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, serta yang terbaru adalah
kurikulum 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya
perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa
dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu
dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di
masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu
Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan
serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Kurikulum apa saja yang pernah dikembangkan dalam program pendidikan di negeri
tercinta Indonesia. Salah satu konsep terpenting untuk maju adalah "melakukan
perubahan", tentu yang kita harapkan adalah perubahan untuk menuju ke perbaikan dan
sebuah perubahan selalu di sertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sudah
selayaknya di pertimbangkan agar tumbuh kebijakan yang bijaksana. Berikut perjalanan
sejarah pengembangan kukulum di negara kita,

Berkaitan dengan persoalan kurikulum, Hilda Taba (1962) dalam bukunya “ Curriculum
Development: Theory and Practice” berpendapat bahwa pengembangan kurikulum
hendaknya bersifat rasional dan ilmiah yang penentuannya harus beralaskan elemen-
elemen valid berbasis realita yang diantaranya berasal dari tradisi dan budaya, tuntutan
sosial, dan kebiasaan masyarakat. Masyarakat memiliki kepentingan terhadap sistem
pendidikan. Ia menunjukkan sekelompok masyarakat yang bercirikan budaya,
kepercayaan/ agama dan bahasa yang sama. Kepentingan masyarakat dalam pendidikan
bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan warisan budaya seperti adat istiadat,
kesenian, bahasa, kepercayaan, peningggalan budaya, dan sebagainya. Masyarakat juga
menunjukkan organisasi yang bergerak pada seluruh aspek kebutuhan hidup warganya
secara ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Pendidikan
berperan untuk mengembangkan organisasi tersebut.
Kepentingan negara terhadap sistem pendidikan berkaitan dengan fungsinya untuk
menjaga keberadaan dan integritas negara, melindungi warganya, membina persatuan dan
kesatuan, menjalankan hukumnya, berhubungan dan bekerja sama dengan negara lain,
dan lain sebagainya. Fungsi tersebut disampaikan kepada warganya terutama melalui
pendidikan.
Ketiga kepentingan tersebut diramu dan dimuatkan ke dalam kurikulum. Untuk
pengembangan kurikulum, pihak kepentingan biasanya diwakilkan kepada utusan orang
tua/siswa, utusan guru, pemerintah, ahli bidang ilmu, ahli pendidikan, stakeholders, dan
sebagainya. Mereka terlibat dalam mengembangkan kurikulum tersebut pada tingkat
nasional, daerah, dan sekolah. Muatan kurikulum berbasis-kompetensi berupa
keterampilan. Ia berbeda dari muatan kurikulum subjek akademis yang berisi bidang ilmu
seperti agama, biologi, fisika, kimia, matematika, sejarah, IPS, IPA, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kurikulum ilmiah harus merujuk pada analisis masyarakat dan budaya,
telaah mengenai peserta didik dan proses belajar, serta ciri khusus bangunan
epistemology ilmu pengetahuan tertentu agar dapat ditentukan tujuan institusional dan
ciri kurikulumnya. Kurikulum berbasis kompetensi hendaknya mampu menyodorkan
fakta-fakta mengenai problem kehidupan social (lazim disebut “problem posing”). Hal ini
bermakna bahwa subjek didik diajak untuk memasuki arena “problem solving” dimana
siswa mampu berimajinasi untuk memecahkan masalah yang dia temukan. Lebih penting
dari itu adalah penguatan nilai-nilai budaya dan agama agar subjek didik tidak terjerumus
dalam budaya hedonis, meterialistik dan serba mengagungkan Barat sebagai sistem hidup
dan bertingkah laku. Persoalan kini muncul, Kapan siswa di Indonesia mempelajari
perdamaian di sekolah mereka dan apa yang menjadi fokus pendidikan perdamaian di
lingkungan sekolah?

Pencegahan Kekerasan
Kajian tentang perdamaian sudah cukup lama menjadi perhatian berbagai kalangan di
Indonesia, khususnya sejak tahun 1980-an. Ketika itu, lomba senjata nuklir dan perang
dingin melatari meningkatnya secara pesat gerakan perdamaian di berbagai belahan
dunia. Gerakan perdamaian awal 1980-an ini lebih besar dan luas dari gerakan serupa di
tahun 1960-an. Selain peneliti dan ilmuwan, dokter, artis, mahasiswa, dan kalangan LSM
banyak yang terlibat membicarakan bahaya perang nuklir bagi kehidupan makhluk hidup
di muka bumi. Keberhasilan mereka pantas dicatat: Isu nuklir yang sebelumnya rahasia
negara dibawa ke diskusi publik. Gerakan ini berhasil pula memperkenalkan dan
mempopulerkan metode perlawanan nirkekerasan.

Di Indonesia, ada seminar-seminar Polemologi di Universitas Gadjah Mada yang


diadakan pada awal 1980-an dan dimotori Prof. T. Jacob, Rektor UGM ketika itu.
Kegiatan ini melibatkan banyak pakar yang berasal dari berbagai disiplin ilmu berbeda.
Melalui majalah seperti Prisma, M. Dawam Rahardjo dan cendekiawan lain juga
membicarakan perdamaian, bahaya perang nuklir, dan perlunya penyelesaian masalah
politik melalui cara-cara nirkekerasan. Judo Poerwowidagdo dari Universitas Kristen
Duta Wacana, Yogyakarta, mendirikan Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian pada
1985.
Pada dasawarsa 1990-an, kajian-kajian perdamaian mulai muncul mendampingi gerakan
perdamaian dekade sebelumnya. Sebagai contoh, di Universitas Gadjah Mada pada 1996
berdiri Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) di UGM. Selain itu, sejak 1996-
1997 di Universitas Gadjah Mada muncul beberapa mata kuliah baru yang terkait
langsung dengan riset perdamaian dan resolusi konflik, seperti Pengantar Studi
Perdamaian, Negosiasi dan Resolusi Konflik, dan Analisis & Transformasi Konflik.

Di Universitas Indonesia lahir Ceric yang dimotori Imam B. Prasojo. Penekanan pada
studi dan riset juga berlanjut setelah periode Orde Baru. Misalnya, beberapa peneliti LIPI
membentuk Research for Democracy and Peace (RIDEP). Pada tahun 2002 Universitas
Gadjah Mada membuka program Magister Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik
(MPRK), sebagai lembaga pemberi gelar pertama di bidang perdamaian dan resolusi
konflik di Indonesia.
Ada banyak LSM lain, baik nasional maupun internasional, khususnya yang bekerja di
daerah yang dilanda kekerasan di Indonesia, yang juga giat menerapkan program-
program perdamaian di masyarakat. Dari Aceh sampai Papua, lembaga ini bergerak
langsung di masyarakat – dengan anak-anak dan pemuda, dengan perempuan dan tokoh
masyarakat.

Dengan demikian, langkah selanjutnya yang perlu dipikirkan kalangan pendidik di negeri
kita adalah bagaimana membawa pendidikan perdamaian ke lingkungan sekolah dan
kelas. Dilihat dari tantangan perdamaian di lingkungan sekolah, hal ini sangatlah relevan.
Sebagaimana diketahui, perkelahian pelajar dan mahasiswa, baik yang berasal dari
sekolah dan kampus yang sama maupun dari sekolah dan kampus yang berbeda terjadi
setiap minggu di Jakarta dan cukup sering di kota-kota lain di Indonesia. Salah satu
program pendidikan perdamaian yang perlu diperkenalkan adalah pencegahan kekerasan.
Program pencegahan kekerasan berurusan dengan perilaku kekerasan seperti tawuran di
kalangan pelajar dan pemuda. Selain tawuran, bentuk-bentuk kekerasan lainnya adalah
kenakalan siswa di sekolah, kejahatan jalanan, bullying, serangan seksual, prasangka
buruk, dan stereotip negatif. Mengembangkan perilaku yang pro-sosial dan cara-cara
mengelola amarah adalah unsur lain program pencegahan kekerasan di kalangan siswa di
dalam lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, faktor-faktor risiko terhadap perilaku kekerasan di masyarakat Indonesia
juga harus dipertimbangkan. Ini mencakup pola perilaku di dalam keluarga, lingkungan
sosial yang keras, model budaya yang negatif (misalnya yang disodorkan industri
hiburan), penyalahgunaan alkohol dan obat-obat terlarang, dan ketersediaan senjata
tajam. Beberapa ilustrasi berikut perlu dipertimbangkan.
Organisasi Common Ground pernah mengadakan program pembuatan komik dan
program radio yang dapat dijadikan sebagai contoh program pencegahan kekerasan yang
dilakukan LSM. Sandiwara radio yang diproduksi LSM ini, misalnya, berkisah tentang
interaksi sehari-hari yang damai, kekerasan di dalam keluarga, masalah gender,
menangani stereotip negatif, dan lain-lain. Menurut Common Ground, program radio
mereka melibatkan lebih dari 140 stasiun radio. Selain itu, buku komik yang diterbitkan
juga sudah terdiri dari beberapa seri.
Dialog yang melibatkan tokoh masyarakat, kelompok perempuan, dan LSM setempat
yang membicarakan berbagai topik seperti toleransi, hidup berdampingan secara damai
bagi berbagai kelompok etnis yang berbeda-beda, dan perilaku pro-sosial juga telah
dilaksanakan UNICEF, Common Ground, dan lain-lain. Program pencegahan kekerasan
perlu menjadi prioritas di daerah-daerah yang pernah ditimpa konflik seperti Kalimantan
Barat dan Tengah, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Aceh.
Selain di sekolah-sekolah negeri, sekolah-sekolah Islam seperti madrasah dan pesantren,
yang dimiliki Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan organisasi Islam lain perlu
dilibatkan juga dalam rangka meningkatkan cakupan pendidikan pencegahan kekerasan.
Pertimbangan-pertimbangan masyarakat setempat, misalnya yang terkait dengan adat-
istiadat dan agama, harus diperhatikan ketika menyusun kurikulum di bidang program
pencegahan kekerasan. Universitas Muhammadiyah di Surakarta, sekarang sedang
melancarkan program pendidikan perdamaian yang berbasis agama Islam. Dengan kata
lain, di bidang pendidikan dalam arti luas, cukup banyak yang terjadi di bidang
pendidikan perdamaian. Ini dapat menjadi basis bagi pengembangan kurikulum
pendidikan perdamaian di lingkungan sekolah.

Ruang kelas dan Sekolah


Dalam rangka mencegah kekerasan melalui pendidikan, salah satu pendekatan yang dapat
digunakan adalah menciptakan iklim ruang kelas yang positif. Lingkungan belajar di
kelas diciptakan sehingga memungkinkan siswa menyelesaikan masalah, bekerja dan
belajar bersama siswa lain, dan melaksanakan tugas-tugas bersama secara kolaboratif.
Proses belajar yang menekankan kerjasama dan interdependensi positif, bukan hanya
kompetisi, perlu dipraktikkan di ruang kelas. Dalam hal ini, gagasan tentang manajemen
konflik berbasis sekolah (school-based conflict management) yang telah penulis
sampaikan di harian ini beberapa waktu lalu, perlu dipertimbangkan.
Selain itu, pelarangan terhadap hukuman fisik di sekolah perlu dilakukan. Cara-cara fisik
dalam menanamkan disiplin di kalangan peserta didik akan memberikan role-model
resolusi konflik yang buruk, merendahkan harga diri siswa, dan mempersulit anak-anak
mempercayai orang dewasa. Uraian populer dan disajikan dengan menarik mengenai hak
anak – seperti yang pernah dilakukan UNICEF dan World Vision Indonesia, dapat
dibawa ke lingkungan sekolah.
Mengelola dan menjalankan sekolah dengan cara-cara yang demokratis perlu digalakkan.
Lokakarya dan pelatihan perlu dilakukan di bidang ini kepada guru dan pegawai sekolah
serta siswa. Secara khusus lagi, mendidik guru supaya memahami hak-hak anak perlu
dilakukan lebih luas lagi.
Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dari tindakan kejahatan (termasuk yang
menyangkut narkoba dan minuman keras, bullying, dan lain-lain). Pekan perdamaian dan
perayaan perdamaian di sekolah perlu diperkenalkan dan dilakukan secara rutin.
Demikian juga kegiatan-kegiatan yang menopang hal ini seperti lomba menulis (esai
ilmiah dan cerpen) di bidang rekonsiliasi, dan perayaan bersama untuk anak-anak yang
berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
Secanggih apapun kurikulum disusun, namun keterampilan pendidik (guru) dalam
menyampaikan kurikulum tidak pernah dipantau dan di upgrade, maka akan sia-sialah
kurikulum tersebut. Guru memegang peranan yang sangat penting dalam mentransfer
kandungan kurikulum. Jika kondisi guru yang tidak qualified terus saja dibiarkan, maka
alih-alih mengintrodusir domain life skills, yang akan terjadi adalah subjek didik tidak
mampu menyerap dan mengaplikasi kan pesan-pesan kurikulum karena fakor pendidik
yang tidak qualified. Malangnya, kualifikasi guru yang tidak sesuai dengan bidang studi
yang diajarkan masih menjadi kenyataan buram yang menimpa pendidikan kita.
Di samping itu juga guru tidak memahami pengkondisian pembelajaran melalui strategi
hidden curriculum (kurikulum tersembunyi). Di mana nilai-nilai kejujuran, kesalehan,
kedisiplinan dan lain-lain lebih ditekankan pada aspek praksis daripada teoritis dan
pesan-pesan oral di dalam ruangan kelas.
Kurikulum tersembunyi atau kurikulum terselubung, secara umum dapat dideskripsikan
sebagai “hasil (sampingan) dari pendidikan dalam latar sekolah atau luar sekolah,
khususnya hasil yang dipelajari tetapi tidak secara tersurat dicantumkan sebagai tujuan”.
Beragam definisi lain telah dikembangkan berdasarkan pada perspektif yang luas dari
mereka yang mempelajari peristiwa ini.
Segala bentuk pendidikan, termasuk aktivitas rekreasional dan sosial tradisional, dapat
mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang sebetulnya tak sengaja karena bukan
berhubungan dengan sekolah tetapi dengan pengalaman belajar. Tetapi umumnya,
kurikulum tersembunyi mengacu pada berbagai jenis pengetahuan yang diperoleh dalam
sekolah dasar dan menengah, biasanya dengan suatu konotasi negatif yang mengacu pada
ketidaksamaan yang muncul sebagai akibat hal tersebut. Sikap ini berasal dari komitmen
sistim sekolah yang mempromosikan demokrasi dan memastikan pengembangan
kecerdasan yang sama. Sasaran tersebut dihalangi oleh pelajaran-pelajaran yang tak
terukur ini.
Dalam konteks ini, kurikulum tersembunyi disebut sebagai memperkuat kesetaraan sosial
dengan mendidik siswa dalam berbagai persoalan dan perilaku menurut kelas dan status
sosial mereka. Sama halnya seperti adanya kesetaraan distribusi modal budaya di
masyarakat, berupa distribusi yang berhubungan dalam pengetahuan di antara para siswa.
Kurikulum tersembunyi juga dapat merujuk pada transmisi norma, nilai, dan kepercayaan
yang disampaikan baik dalam isi pendidikan formal dan interaksi sosial di dalam sekolah-
sekolah ini. Kurikulum tersembunyi sukar untuk didefinisikan secara eksplisit karena
berbeda-beda antar siswa dan pengalamannya serta karena kurikulum itu selalu berubah-
ubah seiring berkembangnya pengetahuan dan keyakinan masyarakat.
Konsep kurikulum tersembunyi terkespresikan dalam gagasan bahwa sekolah melakukan
lebih dari sekedar menyebarkan pengetahuan, seperti tercantum dalam kurikulum resmi.
Di balik itu terdapat berbagai kritik tentang implikasi sosial, landasan politik, dan hasil
budaya dari aktivitas pendidikan modern. Sementara penelaahan awal berkaitan dengan
identifikasi faham anti-demokratis dari sekolah, penelitian lain telah memperhatikan
permasalahan berbeda, termasuk masalah sosialisme, kapitalisme, dan anarkisme dalam
pendidikan.

Peradaban Islami
Peradaban Islam berlandaskan pada agama Islam yang berasal dari wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Menurut Mujahid, Saâid bin Jubair, al-Hasan
dan Qatadah r.anhum, Adam menyebutkan nama segala sesuatu, termasuk nama-nama
malaikat itu, yang membuktikan keunggulan species Adam dari species Malaikat. Tafsir
Ibnu Katrsir menerangkan bahwa Allah mengetahui substansi pernyataan terbuka para
malaikat tentang sifat-sifat destruksi ras Adam yang akan membuat kerusakan dan
menumpahkan darah di bumi; sekaligus Allah mengetahui bisikan Iblis di hati mereka,
yang menunjukkan keangkuhan mereka yang merasa sebagai ciptaan terbaik Allah swt.
Padahal mereka tidak mengetahui rahasia Hikmah Yang Maha Tinggi dari perbuatan
Allah menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi.
Menurut Tafsir Jalalain, malaikat dengan akal-naluri yang disifatkan Allah, tidak
mempunyai kebutuhan duniawi, seperti sandang-pangan dan harta benda. Jika para
malaikat yang hidup dalam dimensi ruh dijadikan penghuni dan penguasa di bumi tentu
tidak akan ada peradaban. Skema ras Adam yang hidup dalam dimensi ruh dan ˜jasad,
dengan keistimewaan akal-pikiran yang bebas dan independen dengan kemampuan
mental-development, justru merupakan prasyarat utama untuk menjadi penghuni dan
khalifah di bumi.
Dasar-dasar penciptaan Adam memang dimaksudkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk
membangun peradaban di muka bumi. Tentu idealitasnya adalah untuk membangun
peradaban tauchid dimana kemakmuran bumi merupakan manifestasi amal saleh yang
sekaligus membawa kesempurnaan ˜ruh manusia ketika kembali keharibaan Allah swt,
sesuai perjanjian ruh manusia dengan Allah Azza wa Jalla di alam transcendent yang
awal (Al-Aârof 172).
Esensi peradaban Islam dapat ditelusur melalui kajian konsep-konsep kunci didalamnya,
seperti 'ilm, 'amal, adab, din dan sebagainya. Berfikir dan berilmu dalam Islam adalah
kewajiban yang sama derajatnya dengan kewajiban beramal saleh, bahkan iman
merupakan sesuatu yang concomitant pada kesemua kegiatan berfikir dan beramal, dalam
artian keberadaan yang satu tidak sempurna tanpa disertai oleh yang lain. Proses
psikologis dan psikis yang terpadu ini sudah di set dalam diri manusia sebagai
potensialitas yang jika diaktualisasikan secara proporsional ia akan memenuhi tujuan
penciptaannya sebagai sebaik-baik makhluk Tuhan (ahsunu taqwim) dan sebaliknya ia
akan menjadi makhluk yang paling hina (asfala safilin). Di Barat berfikir rasional yang
membawa kepada doktrin rasionalisme tidak memiliki dimensi iman dan amal. Lagipun,
konsep akal bukan sekedar bermakna mind, ia meliputi qalb, fuad, bashar, aql dan
sebagainya; dan karena itu konsep berfikir dalam Islam bukan sekedar bermakna
reasoning dalam pengertian Barat, tapi lebih kaya dari itu dan meliputi unsur-unsur
kejiwaan yang lebih menyeluruh seperti tafakkur, tadabbur, ta'aqqul.
Konsep berfikir ini juga berkaitan dengan konsep 'ilmu yang merupakan pemberian Allah
Yang Maha Suci kepada manusia. Jika rasionalitas adalah esensi Islam, maka para filosof
Barat yang menjunjung prinsip rasionalitas itu dapat disebut Ulama yang dapat dipastikan
takut kepada Allah (yakhshallah), padahal sejatinya tidak. Jika rasionalitas dikaitkan
dengan 'ilm maka ia tidak dapat dipisahkan dari iman, dan orang yang berilmu itu
menjadi superior jika ia berangkat dari atau berdasarkan pada iman kepada Allah (Lihat
Qur'an 58:11). Sebelum seseorang beriman ia perlu mengetahui apa yang diimaninya, dan
seorang mukmin harus berilmu agar dapat beramal. Ilmu tanpa amal adalah gila, kata al-
Ghazzali, dan amal tanpa ilmu adalah sombong. Amal tanpa ilmu lebih banyak merusak
daripada memperbaiki dan amal tanpa ilmu akan menyesatkan, kata para ahli hikmah.
Jadi ilmu adalah prasyarat bagi amal dan memiliki peranan sentral dalam peradaban
Islam.
Sifat kekhalifahan manusia di bumi bukan untuk mewakili Allah. melainkan untuk
membangun peradaban tauchid bagi manusia di muka bumi. Al-Baqoroh : 30 yang
berbunyi : Innii jaaâilun fil-ardhi kholiifah bermakna Aku hendak menjadikan seorang
khalifah di muka bumi , bukan Aku hendak menjadikan seorang khalifah untuk-Ku di
muka bumi. Konsep kekhalifahan manusia di bumi memperoleh bentuknya yang lebih
sempurna pada masa kerasulan Muhammad SAW. Derajat kerasulan akhir zaman ini
disempurnakan dengan peristiwa Israâ Miraj, seperti Firman Allah : Maha suci Dzat
Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad SAW) pada malam hari dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekitarnya, agar Kami
memperlihatkan kepadanya sebagian ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar
lagi Maha Melihat : (Al-Isro : 1).
Isra Miraj terjadi 1 tahun atau 16 bulan sebelum Hijrah (abad ke-7) (Urwah As-Sadi dan
Musa bin Uqbah dari az-Zuhri dalam Tafsir Ibnu Katsir). Ini merupakan perjalanan suci
dari Masjidil-Haram di Mekah ke Masjidil-Aqsho di Palestina, lalu naik ke langit
tertinggi yang di sebut Mustawa dan Sidratul-Muntaha merupakan pusat kerajaan akhirat
dimana Rasulullah SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk
dilaksanakannya Sholat 5 waktu bagi ummat-nya, sebagai ibadah transcendent yang
bersifat wajib, dengan garis pemisah yang tegas terhadap segala bentuk ritual Arab yang
berbau paganisme. Sebagaimana diterangkan budaya dan peradaban Arabia berakar pada
system paganisme (berhalaisme) sejak ribuan tahun yang lampau.
Penetapan Shalat 5 waktu sebagai bentuk peribadatan transcendent secara definitive
memberikan kepastian tentang peribadatan kaum Muslimin, sekaligus mengakhiri segala
bentuk ritual paganisme dan sinkretisme yang dikembangkan kalangan munafikin-
musrikin sebagaimana diterangkan dalam Pengajian ke-33 hinga ke-45 (Buku ke-3).
Sinkretisme Arab berakar pada peradaban Qabbala-Israili dan Mesopotamia. Meskipun
mereka percaya adanya Allah, tetapi Tuhan itu begitu tinggi, begitu ideal dan jauh dari
kenyataan kehidupan manusia, maka mereka memberikan persembahan kepada rejim
Dewa-dewa Baâal, Hubal, Manat, Latta dan Uzza yang terasa lebih dekat dengan realitas
kehidupan yang diinginkan melalui lambang material seperti bentuk arca-arca dan mitos-
mitos yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kalangan Quraisy seperti disampaikan
Utbah bin Rabiah kepada Rasulullah dalam upaya kompromi mengusulkan sinkretisme
(kemusrikan) ala-Israili dengan bersama-sama menyembah Allah dan tuhan-tuhan
Qabbalis (berhala) tersebut.
Isra-Miraj memastikan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah. Inilah akar
peradaban Tauhid yang telah mengeluarkan Arabia dari kegelapan paganisme yang
konvergen kepada zaman baru yang divergen, dan telah menerangi dunia selama 1500
tahun. Inilah proses sublimasi minadzzulumati ilannuur yang membawa manusia kearah
transferabilitas-progresif ke-arah nilai-nilai transendensi dengan diferensiasi yang lebih
tinggi dari nilai-nilai mitologi qabbalism sebelumnya yang fatal dan dekaden.
(Wallohu A’lam Bishawab).