You are on page 1of 12

Sekolah Sebagai Alat Politik

Oleh Rum Rosyid


Orang Miskin Dilarang Sekolah, Emoh Sekolah, dan judul buku semacamnya merupakan
potret kegelisahan public melihat realitas sekolah yang semrawut, mahal, bersifat seperti
bank, dan menjadi alat kapitalisme global. Neokolonialisme telah hadir begitu dekat
dengan lembaga publik yang selama ini diagungkan. Pendidikan telah mengalami proses
formalisasi sekolah, dan hanya sekolah yang mendapatkan legitimasi negara membuat
semua warga “salah baca” terhadap pendidikan. Pendidikan dimaknai sekolah dengan
batasan yang amat sempit. Tugas pendidik, ujian nasional, pembangunan fisik, dan
program pendidikan lainnya selalu dilekatkan pada lembaga formal yang bernama
“sekolah”. Nasib orang ditulis dalam secarik kerta keramat yang kemudian dimaknai oleh
pejabat yang berwenang yang didukung oleh data dan sekaligus “data pendukung”. Data
pendukung ini dibutuhkan karena ijazah dianggap belum cukup, karenanya harus ada
lembaran-lembaran kecil lain yang bisa mendukung ijazah ini laku atau tidak.
Sekolah dengan desain politik seperti ini telah merebut kebebasan dan kemanusiaan.
Sekolah bukan lagi mengemban misi pendidikan tetapi lebih cenderung pada penyediaan
lapangan kerja, perdagangan ilmu, dan praktik kapitalisme dan kolonialisme baru. Tanpa
membedakan antara sekolah dan pendidikan secara global ada dua hal yang perlu
direnungkan:
1. Mengapa sekolah mahal, mengapa harus membeli buku setumpuk. Apa tujuan dan
bagaimana proses dan strategi pembelajarannya telah direncanakan sehingga anak paham
terhadap tujuan membeli dan membaca buku-buku tersebut. Pertanyaan ini selalu saja
tidak terjawab, yang membuat jiwa tertekan dan merasa harga buku yang harus mereka
beli menjadi lebih mahal dan menyesakkan dada. Belum lagi kondisi pekerjaan, beban
hidup, kondisi lingkungan yang rusak, informasi yang terus mengalir bahwa ada orang-
orang yang memanfaatkan proyek pengadaan buku ajar dengan cara yang kurang ngajar.
Apalagi dengan melihat kebijakan pemerintah yang kurang berpihak pada pendidikan
bangsanya.
2. Secara institusional, sekolah kita belum mampu membuat visi dan orientasi yang
berpihak kepada rakyat, akan tetapi berpihak pada kepentingan investasi modal. Di sisi
lain sekolah juga belum mampu mengaplikasikan strategi pembelajaran dan pendidikan
yang menyentuh wilayah “dalam” manusia agar peserta didik memiliki kompetensi
unggulan sehingga ia dapat berpartisipasi untuk memajukan peradaban yang
berkeadaban.

Politik Keterpaksaan Sekolah : ilusi pendidikan murah dan berkualitas


Pendidikan di zaman seperti ini seperti menjadi barang yang mahal. Mau sekolah, harus
bayar setinggi langit. Mencekik urat leher rasanya. Kalau tidak jangan harap bisa
bersekolah seperti yang lain. Dalam kasus seperti ini, uang lah yang berbicara. Kejadian
seperti itu, tidak hanya terjadi di tingkat SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi. Bahkan
di tingkat taman kanak-kanak (TK) saja, di usia dini untuk masuk sekolah, uang sekolah
tidak kalah dengan anak yang ingin masuk SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi.
BAGI bangsa yang ingin maju, pendidikan merupakan sebuah kebutuhan. Sama dengan
kebutuhan perumahan, sandang, dan pangan. Bahkan, ada bangsa atau yang terkecil
adalah keluarga, pendidikan merupakan kebutuhan utama. Artinya, mereka mau
mengurangi kualitas perumahan, pakaian, bahkan makanan, demi melaksanakan
pendidikan anak-anaknya.
Seharusnya negara juga demikian. Apabila suatu negara ingin cepat maju dan berhasil
dalam pembangunan, prioritas pembangunan negara itu adalah pendidikan. Jika perlu,
sektor-sektor yang tidak penting ditunda dulu dan dana dipusatkan pada pembangunan
pendidikan.
Negeri ini telah lebih dari 20 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6
Tahun dan telah 10 tahun melaksanakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Maksud dan tujuan pelaksanaan wajib belajar adalah memberikan pelayanan kepada anak
bangsa untuk memasuki sekolah dengan biaya murah dan terjangkau oleh kemampuan
masyarakat banyak. Apabila perlu, pendidikan dasar enam tahun seharusnya dapat
diberikan pelayanan secara gratis karena dalam pendidikan dasar enam tahun atau
sekolah dasar kebutuhan mendasar bagi warga negara mulai diberikan. Di sekolah dasar
inilah anak bangsa diberikan tiga kemampuan dasar, yaitu baca, tulis, dan hitung, serta
dasar berbagai pengetahuan lain. Setiap wajib belajar pasti akan dimulai dari jenjang
yang terendah, yaitu sekolah dasar.
Seperti diketahui, sebagian besar keadaan sosial ekonomi masyarakat kita tergolong tidak
mampu. Dengan kata lain, mereka masih dililit predikat miskin. Mulai Inpres Nomor 10
Tahun 1971 tentang Pembangunan Sekolah Dasar dan inpres- inpres selanjutnya, negeri
ini telah berusaha memberikan pendidikan murah untuk anak bangsanya. Puluhan ribu
gedung sekolah dasar telah dibangun dan puluhan ribu guru sekolah dasar diangkat agar
pemerataan kesempatan belajar untuk jenjang sekolah dasar dapat dilaksanakan dengan
murah, dari kota sampai ke desa-desa. Semua warga negara, kaya atau miskin, diberi
kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan dasar enam tahun yang biayanya
dapat dijangkau golongan miskin.
Kejadian itu dapat dinikmati dalam jangka waktu cukup lama, yaitu sejak dicetuskannya
Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 Tahun tahun 1984. Sayang, gema wajib belajar itu
makin hari makin melemah karena komitmen bangsa ini pada wajib belajar tidak seperti
saat dicanangkan. Jika selama ini kita melihat pendidikan tinggi itu mahal, sekolah
menengah juga mahal, SMP juga mahal, sekarang kita saksikan memasuki sekolah dasar
pun sudah mahal.
Kini kita melihat, hampir semua jenjang sekolah negeri sudah menjadi lembaga
komersialisasi karena yang berbicara tidak lagi persyaratan-persyaratan yang ditentukan
oleh kurikuler, tetapi justru besarnya biaya masuk untuk sekolah dasar. Jika untuk masuk
sekolah dasar ditentukan oleh umur, maka seorang anak yang sudah berumur tujuh tahun
atau lebih wajib diterima sebagai murid sekolah dasar. Ini adalah ketentuan yang tidak
boleh ditawar karena ketentuan untuk masuk sekolah dasar adalah berdasarkan umur.
Agaknya pelaksanaan wajib belajar negeri ini adalah slogan yang selalu didengung-
dengungkan. Padahal, dalam kenyataannya, pelaksanaan wajib belajar dihalang-halangi,
karena untuk masuk sekolah dasar pun kini harus membayar mahal sehingga masyarakat
miskin tidak mungkin dapat membayarnya. Maka terjadilah hal yang sebenarnya tidak
perlu terjadi apabila semua pihak, terutama guru dan kepala-kepala sekolah, menghayati
tujuan wajib belajar itu. Bagi masyarakat dan orangtua yang kaya, anaknya akan dapat
bersekolah di sekolah negeri, sedangkan yang miskin akan gagal dan tidak bersekolah.
Untuk masuk ke sekolah swasta, masyarakat miskin tidak mungkin mampu
membayarnya. Akibatnya, banyak anak bangsa yang tidak akan memperoleh kesempatan
memperoleh pendidikan. Sungguh satu hal yang ironis. Sebab, pada negara yang hampir
60 tahun usianya ini, banyak anak bangsanya akan menjadi buta huruf karena dililit
kemiskinan dan negeri ini akan terpuruk karena kualitas sumber daya manusianya tidak
mampu bersaing dengan negara –negara yang lain.

Dari awal tampaknya sekolah dijadikan tempat mencari keuntungan. Lembaga profit.
Tidak hanya di swasta di sekolah negeri pun juga demikian. Sama saja alias tidak ada
bedanya sama sekali. Bahkan kalau dihitung-hitung, bayar uang sekolah di swasta jauh
lebih murah di bandingkan negeri. Indonesia adalah negeri yang unik. Tidak terkecuali di
bidang pendidikannya. Perguruan tinggi negeri saja menerapkan standar ganda untuk
masuk ke sana. Anda bisa kuliah di sana kalau otaknya encer atau bisa kuliah di sana jika
punya uang banyak.
Mereka terpaksa putus sekolah karena berbagai alasan, terutama karena keterbatasan
kemampuan ekonomi keluarga. Keterbatasan ini bukan hanya berakibat pada persoalan
keberlangsungan sekolah pada anak-anak itu, tetapi lebih jauh kemiskinan telah
mengakibatkan tekanan pada gizi yang buruk dan kesehatan. Mereka yang berada dalam
strata seperti ini tidak memiliki kepastian dan keleluasaan.
Tekanan ekonomi dan kemiskinan yang melanda sejumlah besar penduduk telah
mengakibatkan munculnya berbagai persoalan yang sepertinya tak pernah selesai.
Kemiskinan bukan hanya berpengaruh langsung terhadap rendahnya kualitas kesehatan
dan rendahnya angka harapan hidup, tetapi juga terhadap rendahnya tingkat pendidikan.
Padahal, seperti diketahui rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan akan berpengaruh
langsung terhadap kualitas sumber daya yang pada akhirnya bermuara pada rendahnya
produktivitas. Semakin miskin, semakin tidak berdaya. Maka semakin banyak orang
miskin, bangsa ini semakin tidak berdaya. Pada akhirnya kekukuhan negara juga
diragukan.
Jika kenyataannya semakin banyak anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk sekolah
dengan semestinya, maka mudah diduga ada yang salah pada negara dan pemerintahnya.
Dalam realitas seringkali dinyatakan adanya pendidikan gratis. Tetapi, mana ada sekolah
yang gratis ? Karena kenyataan, buku, seragam, sepatu, biaya-biaya non-SPP tetap saja
harus ada. Jika jarak tempuh antara rumah dengan sekolah cukup jauh, maka harus ada
biaya transportasi. Karena biaya sekolah bukan hanya persoalan SPP yang digratiskan,
maka mereka yang berada dalam kemiskinan tetap tak mampu menjangkau. Artinya,
sumber dari tingginya angka putus sekolah tetap pada kemiskinan.

Pendidikan murah dan gratis adalah pandangan yang bertentangan dengan kenyataan.
Bahkan seperti dikatakan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari
Pendidikan Nasional di SMU 13, Tanjung Priok, Jakarta Utara, "pandangan itu sangat
menyesatkan". Menurut Megawati, pendidikan membutuhkan biaya sangat besar. Saat ini
saja, negara mengalokasikan seperlima dari anggaran belanja negara untuk pendidikan,
tapi tetap dirasa belum memadai. "Saya kira, tidak ada di antara kita yang akan berpikir
dua kali untuk mengalokasikan dana lebih besar untuk kepentingan generasi masa
depan," kata Megawati. Untuk meningkatkan dana pendidikan, kata Megawati, masih
terbatas kondisi perekonomian. "Sungguh tidak mudah membagi kue anggaran yang
sedemikian kecil untuk mendanai banyak kebutuhan. Memperbesar alokasi untuk satu
bidang, akan mengurangi alokasi untuk bidang lainnya," kata Megawati. Untuk itu, salah
satu cara yang bisa dilakukan adalah memperbesar kue anggaran dan menggalakkan
kampanye anti korups, kolusi dan nepotisme (KKN). "Dunia pendidikan dapat memberi
andil dengan membina kehidupan kerohanian di sekolah dan di rumah tangga. Dalam tiap
rumah tangga harus ditanamkan, KKN itu adalah jahat," kata Megawati. Walau demikian,
tetap tidak jelas apa yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan.

Dalam dua tahun terakhir memang pendidikan maju sedikit. Angka Partisipasi Kasar
(APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) di setiap jenjang pendidikan dalam tiga tahun
belakang, yang menunjukan peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan yang sangat
signifikan. Pada tingkat SD/MI/Paket A, Sumatra Barat mengalami peningkatan nilai
APK, rata-rata sebesar 2 persen per tahun, dimana tahun 2005, APK Sumbar sebesar
112,46 persen, tahun 2006, 113,37 persen dan tahun 2007 telah mencapai 114,87 persen.
Di tingkat SMP/MTS/Paket B, APK Sumatra Barat mencapai 89,78 persen. Sedangkan
untuk tingkat SMU/Paket C, APK sebesar 66,21 persen. Peningkatan nilai APK, juga
diiringi dengan peningkatan nilai APM, dengan nilai peningkatan lebih dari 2 persen per
tahun. Pada tingkat SD sederajat, APM Sumbar tahun 2005 (96,81 persen), tahun 2006
(97,61 persen) dan tahun 2007 mampu mencapai 99,12 persen. Tingkat SMP sederajat,
tahun 2005 (69,44 persen), tahun 2006 (70,62 persen) dan tahun 2007 (72,63 persen).
Sedangkan untuk APM sekolah menengah, mencapai 50,63 persen.
Ibu Negara Ani Yudhoyono saat menjadi narasumber pada Konferensi Regional
UNESCO mengenai Upaya Pemberantasan Buta Huruf Sedunia (”UNESCO Regional
Conferences in Support of Global Literacy”), di Beijing, China, memaparkan upaya dan
keberhasilan Indonesia mempercepat pemberantasan buta aksara di Indonesia. Ia
mengatakan, Indonesia sebagai negara besar memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan
jumlah penduduk sekitar 245 juta jiwa, yang sebagian besar atau 43 juta diantaranya anak
usia 4-15 tahun. Pemberantasan buta aksara di Indonesia berlangsung sejak tahun 1945,
yang ketika itu tingkat buta aksara mencapai 97 persen dari jumlah penduduk. Menurut
dia, salah satu pendorong berhasilnya menurunkan angka buta aksara adalah Program
Wajib Belajar 9 Tahun yang merupakan Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006, dan juga
menjadi “Tahun Mengatasi Buta Aksara” di tanah air.
Yang perlu difikirkan sekarang, bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk
kemajuan dunia pendidikan. Pendidikan sangat penting. Pendidikan bermutu itu mahal.
Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus
dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya
pendidikan membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak
bersekolah. Unuk diketahui, jumlah penduduk miskin di Sumbar sekitar 12 persen dari
4,45 juta

Jika sekolah masih diposisikan sebagai alat politik, maka pendidikan politik bagi generasi
muda di negeri ini akan mengalami penurununan kualitas dan bahkan lebih drastis lagi.
Untuk mengantisipasi agar unsur keterpaksaan sekolah bisa dinetralisasikan dari
pengaruh politik jahat, maka harus ada program pembebasan rakyat dari keterpaksaan
dalam menempuh pendidikan. Kebebasan memilih pendidikan yang berkualitas tanpa
dibebani biaya yang tidak terjangkau adalah salah satu solusi di samping peningkatan
kualitas dan pemerataan pendidikan itu sendiri.
Mengatakan bahwa pendidikan bermutu tidak mungkin dicapai dengan biaya yang
murah. Dengan kata lain, murah dan mutu memang bukan pilihan hitam putih karena bisa
saja murah tapi bermutu atau tak murah tapi tak bermutu. Mempertanyakan fasilitas
pendidikan memang menjadi sangat relevan ketika dunia pendidikan saat ini sedang
dihadapkan pada pilihan tetap masuk General Agreement on Trade in Services) GATS
atau memilih mundur dari perundingan internasional itu.
Globalisasi pendidikan sebenarnya bukan baru berlangsung atau baru akan terjadi di
Indonesia. Masuknya lembaga pendidikan internasional di Indonesia banyak dilihat sejak
beberapa tahun terakhir. Kalau saat ini menjadi polemik, karena GATS memberi batas
waktu sampai Mei 2005 untuk melakukan globalisasi pendidikan. Pendidikan yang
berkualitas harus tersebar di seluruh sudut kehidupan bangsa sehingga mudah diakses.
Dengan teknologi informasi, upaya ini menjadi lebih mudah untuk direalisasikan.
Terlepas dari perundingan GATS, siap atau tidak pendidikan Indonesia memang harus
memenuhi syarat minimal pendidikan yang baik. Pendidikan harus memiliki penjamin
mutu minimal (minimum quality assurance) dalam satu kerangka yang jelas agar setiap
siswa mempunyai kesempatan belajar secara optimal untuk ditantang dengan persoalan
keilmuan dengan tradisi berpikir secara ilmiah. ”Minimal pendidikan membutuhkan
kualitas pengajar baik guru dan dosen, peralatan sekolah, buku referensi, laboratorium,
kurikulum yang berkualitas,” demikian Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan
Indonesia Soedijarto kepada SH.
Guru besar ilmu pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini menjelaskan menghadapi
globalisasi pendidikan, kuncinya ada di anggaran pendidikan. Tidak mungkin
menghadapi globalisasi pendidikan dengan mengandalkan partisipasi subsidi silang dari
masyarakat. Tidak semua rakyat kaya dan mampu membayar pendidikan global yang
mahal ongkosnya. Negara barat seperti Amerika Serikat dapat mengandalkan partisipasi
masyarakat karena pendapatan perkapitanya tinggi US$ 30.000 per tahun sedangkan
Indonesia, hanya US$ 600.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Tinggi dan Menengah DKI Jakarta Margani
Muhammad Mustar, Msc menjelaskan bahwa prinsipnya bukan pendidikan murah tapi
pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu membutuhkan biaya yang tidak murah.
Pendidikan dalam UU adalah tanggung jawab masyarakat, pemerintah, dan orang tua.
”Kita harus cari modal untuk menanggulangi ketidakmampuan pemerintah untuk
mendukung pendidikan. Salah satu sumbernya adalah masyarakat. Kita mengalami
dilema. Di satu sisi kita harus memberi kesempatan semua belajar, di sisi lain harus
meningkatkan kualitas untuk bersaing. Ini harus dilakukan secara bersamaan dan
simultan. Tidak mungkin kita memeratakan pendidikan tanpa mengejar globaliasi yang
mahal. Oleh karena itu ada kelas reguler, kelas akselerasi, dan kelas internasional. Inilah
demokrasi pendidikan,” jelasnya.
Soedijarto menegaskan lagi bahwa semua ilmu pengetahuan—matematika, fisika,
biologi, kimia tehnik, sosiologi, filsafat—bersifat internasional. Harga standar setiap
pendidikan juga menggunakan harga standar internasional, tidak bisa ditawar-tawar.
Tetapi ada perbedaaan pada upah tenaga pengajar. Guru dan dosen kita dibayar murah
sedangkan di luar negeri punya standar yang jauh lebih tinggi. ”Persoalan ini tidak bisa
diserahkan sepenuhnya pada partisipasi masyarakat. Harus ada upaya keras dari
pemerintah mencari sumber dana pendidikan selain peningkatan anggaran lewat APBN.
Sejauh ini belum ada upaya yang serius walaupun amanat UU Pendidikan sudah jelas
bahwa pemerintah memikul anggaran pendidikan sebesar 20%,” kata pakar pendidikan
ini.

Pengelolaan Anggaran Rawan Bocor


Namun di balik gugatan publik tentang pentingnya pengalokasian 20 persen anggaran
APBN untuk sektor pendidikan, ada beberapa hal yang harus dibenahi terlebih dahulu,
yang terkait dengan manajemen pengelolaan anggaran dan reformasi kultur birokrasi
pendidikan. Sudah rahasia umum, pengelolaan anggaran pendidikan banyak atau rawan
kebocoran.

Banyak proyek pendidikan yang tidak kena sasaran dan justru sumber korupsi pejabat
birokrasi sektor pendidikan. Melihat banyaknya bangunan gedung sekolah yang rubuh,
padahal baru didirikan pada periode 80-an dan 90-an merupakan bukti nyata bahwa
praktek korupsi dan penggelembungan dalam proyek-proyek pendidikan telah
melembaga dalam birokrasi pendidikan. Belum lagi praktik pungli, korupsi sekolah yang
juga telah menjadikan mahalnya biaya pendidikan.

Untuk itulah saat ini diperlukan reformasi manajemen pengelolaan anggaran pendidikan
berdasarkan prinsip akuntabilitas, profesionalisme, dan
bertanggung-gugat. Perlu sebuah skenario politik untuk menyelamatkan efesiensi dan
efektivitas penggunaan anggaran pendidikan apabila benar-benar oleh pemerintah
direalisasikan menjadi 20 persen dari total belanja APBN. Skenario
politis tersebut antara lain:
Pertama, pemerintah dan DPR membentuk komisi pengawasan anggaran pendidikan
yang anggotanya terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang peduli terhadap dunia
pendidikan dan memiliki integritas moral dan kompetensi profesi. Komisi pengawas
anggaran pendidikan dibentuk dari tingkat pusat sampai daerah yang bertanggung jawab
secara langsung kepada Presiden.

Kedua, pelibatan partisipasi organisasi masyarakat sipil dalam proses pemantauan dan
evaluasi implementasi anggaran pendidikan. Partisipasi tersebut
diorientasikan dalam konsepsi program education for all, yakni mendorong pemenuhan
hak sosial-ekonomi-budaya seluruh anggota masyarakat dalam memperoleh pelayanan di
bidang pendidikan.

Ketiga, desain implementasi alokasi anggaran pendidikan sampai 20 persen dari total
anggaran APBN sepenuhnya harus difokuskan kepada penciptaan sarana pendidikan
murah dan berkualitas bagi masyarakat. Untuk itulah, DPR dan pemerintah bersama
masyarakat membuat grand design pendidikan murah bagi seluruh masyarakat.

Demikianlah, saat ini diperlukan rumusan konsep nyata tentang fasilitasi pelayanan
pendidikan murah dan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Anggaran
pendidikan apabila telah mencapai 20 persen dari APBN-sekitar Rp 115 triliun-harus
diabdikan untuk memenuhi program pelayanan pendidikan murah dan
berkualitas bagi seluruh anak didik dan generasi muda bangsa. Anggaran sebesar tersebut
bahkan dalam logika akal sehat cukup untuk menggratiskan biaya SPP siswa SD sampai
SMA seluruh Indonesia, memeratakan pendidikan sampai pelosok desa terpencil.

Anggaran sebesar itu juga cukup untuk membiayai program peningkatan kompetensi
profesi guru dan berbagai orientasi peningkatan pendidikan yang akuntabel. Jangan
sampai anggaran pendidikan diperuntukkan untuk kepentingan proyek-proyek pendidikan
yang rawan korupsi dan justru mendorong praktik komersialisasi pendidikan.

Kompetisi secara Transparan


Kalau mau meningkatkan kualitas sumber daya manusia, salah satu upaya yang paling
logis adalah kompetisi. Kompetisi harus diciptakan secara transparan dan profesional
agar terpacu untuk meningkatkan kualitas. Dalam kerangka ini, Soedijarto menilai
kedatangan lembaga pendidikan asing akan memicu kualitas perguruan tinggi. Kita harus
cari solusi untuk mampu bersaing, jangan menghindar dari persaingan karena dunia
bersaing dalam globalisasi, katanya.
Soedijarto menilai kalau UU tidak diterjemahkan akan terjadi seperti sekarang, mutu
pendidikan rendah akibat guru dibayar murah, sekolah dan kampus seadanya sehingga
hasil pendidikan masyarakat pasif, konsumtif, etos kerja rendah, dan mudah terjajah.
”Inilah krisis manusia Indonesia. Guru tidak bisa disalahkan karena hanya sebagai
motivator. Keadaan seperti ini tidak memungkinkan untuk kompetisi walaupun di dalam
negeri sendiri. Kalau tidak ada kompetisi, tidak akan fair,” katanya.
Margani Muhammad Mustar menjelaskan sebanyak 20% perguruan tinggi ada di Jakarta.
Semuanya sedang konsolidasi untuk menghadap globalisasi pendidikan. ”Globalisasi
pasti datang dan ini kesempatan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Dulu
kita harus belajar keluar negeri untuk meningkatkan kualitas. Sekarang terbuka bagi
perguruan tinggi asing untuk berdiri di Indonesia. Dengan demikian orang Indonesia bisa
mendapatkan pendidikan dengan kualitas internasional tapi dengan biaya lebih murah
karena di dalam negeri dan tidak ada peningkatan living cost ,” jelasnya.
Soedijarto memiliki pemahaman berbeda soal globalisasi pendidikan. Ia menjelaskan
tidak perlu lembaga pendidikan asing membuka sekolah di Indonesia.
Ia mengungkapkan yang lebih penting adalah bagaimana tenaga pendidik Indonesia
memiliki taraf internasional dan tidak perlu memakai guru asing di Indonesia atau
membuka sekolah di Indonesia.
Membuka sekolah di Indonesia, menurutnya, jelas akan menimbulkan persoalan baru.
Akan ada jarak gaji guru asing dan domestik, akan ada gap antara PT asing dan domestik,
dan seterusnya, ujar Soedijarto. ”Kita sebenarnya bangsa yang pintar. Pada masa
menjelang kemerdekaan para pendiri bangsa menuntut ilmu di sekolah yang bertaraf
internasional. Walaupun belajar di Indonesia tapi metode Belanda ternyata lebih baik dari
sekarang, sehingga kita punya Soekarno, M. Yamin, M. Hatta, Amir Syariffudin, Sjahrir,
Ratulangi dan lainnya yang mampu menghantarkan kita ke gerbang kemerdekaan. Hasil
pendidikan saat ini menghasilkan koruptor, manipulator, penjual aset negara, dan
pengkhianat,” ujarnya lagi.
Sementara itu, dosen dan Ketua Jurusan Ilmu Politik Fisip Universitas Tirtayasa, Banten,
Maruli Hendra Utama mengingatkan agar jangan mengukur Indonesia dari kacamata
Jakarta saja. Kondisi dunia pendidikan di Banten, provinsi tetangga DKI Jakarta, saja
sudah bisa menjadi ukuran betapa tidak adilnya pendidikan di Indonesia. ”Bagaimana
mungkin kita bicara globalisasi jika semakin banyak SD ambruk, anak sekolah mencoba
bunuh diri karena tidak mampu bayar uang sekolah, perguruan tinggi tidak punya
perpustakaan, laboratorium, dan komputer seadanya. Kecuali jika globalisasi pendidikan
hanya dilakukan di Jakarta saja, sedangkan di daerah full support dari pemerintah pusat,”
kata Sekretaris Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Banten ini.

Alternative solusi agar sekolah bisa murah sehingga bisa terjangkau oleh semua lapisan
masyarakat di antaranya dengan :
1. Pengalokasian dana APBN/APBD 20 persen untuk pendidikan, sehingga tidak hanya
menjadi wacana atau dengan menggunakan politik anggaran.
2. Memotong gaji pejabat tinggi yang dialokasikan untuk pendidikan berdasarkan
komitmen yang dipaksakan pemerintah.
3. Menarik pajak pendidikan melalui perusahaan-perusahaan besar.
4. Menginvestigasi dan menjatuhkan sanksi kepada semua pihak yang melakukan korupsi
atas anggaran pendidikan.
5. Mendorong sektor usaha yang terkait dengan lembaga pendidikan untuk
mengalokasikan anggaran yang bisa memanfaatkan secara maksimal oleh institusi
pendidikan.
6. Melibatkan media massa terutama untuk memberi liputan yang berani dan tajam
mengenai komitmen sejumlah kalangan untuk pendidikan.
7. Membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak saja menyentuh
kemampuan dan kreativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah.
8. Mendorong manajemen lembaga pendidikan secara terbuka dengan melibatkan
sejumlah wali murid dan jika perguruan tinggi adalah mahasiswa untuk mendesain
kebutuhan lembaga pendidikan.
9. Mendorong kalangan parlemen untuk terlibat aktif dalam penentuan pejabat
pendidikan. Pejabat pendidikan bukan urusan internal sekolah melainkan urusan publik.
10. Melakukan penarikan dana langsung ke kalangan masyarakat

Kegagalan Membangun kebudayaan


Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kebudayaannya. Kebudayaan adalah
konsep,gagasan, fikiran dan keyakinan yang dianut oleh suatu masyarakat
dalam waktu lama sehingga menuntun mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berbeda konsep, berakibat berbeda pula perilaku, salah
konsep berakibat menjadi salah perilaku. Kebudayaan tidak jadi dengan sendirinya, tetapi
dibangun oleh para pemimpin bangsa.

Konsep kebangsaan Indonesia misalnya tercermin dalam konstitusi (Panca Sila,UUD 45


dst) yang dirumuskan oleh founding father RI dan dikembangkan oleh generasi-generasi
berikutnya. Membangun kebudayaan dilakukan terutama melalui pendidikan. Oleh
karena itu sangat mengherankan ketika dalam kabinet kita, kebudayaan hanya ditempel
pada pariwisata sehingga kebudayaan terdistorsi menjadi benda-benda kebudayaan yang
dijadikan obyek pariwisata, sementara ruhnya justeru tidak ada yang mengerjakan.

Sesungguhnya jika tidak menjadi departemen sendiri, kebudayaan lebih tepat berada di
departemen pendidikan (depdikbud), karena pendidikanlah yang membangun konsep
budaya Indonesia pada generasi sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,
sementara pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman kanak-kanak bisa diserahkan
kepada masyarakat local sebagai wujud pembentukan budaya local, kearifan local.

Demokrasi dan ekonomi pasar adalah dua prinsip pengaturan masyarakat yang memiliki
kemiripan. Keduanya menghormati arti penting kebebasan individu, pluralisme dan
tegaknya rule of law. Namun sejarah ekonomi politik Indonesia modern adalah sejarah
kegagalan hidup bersama demokrasi dan ekonomi pasar. Kenyataan ini disebabkan oleh
rentetan kegagalan para pemimpin politik dalam membangun dan menegakan rule of law.
Aturan permainan dalam transaksi ekonomi , politik, dan kebudayaan dibangun oleh
kekuasaan politik yang sangat sentralistis.
Sejarah kegagalan ekonomi politik Indonesia sesungguhnya adalah sejarah kegagalan
institusi negara membangun dan menegakkan prinsip rule of law. Kita tidak perlu jauh
menengok ke belakang menelusuri dan menganalisis proses kegagalan ini. Kita tidak
perlu menganalisis kegagalan 'politik benteng' sebagai reaksi Indonesia menanggapi
penetrasi ekonomi pasar pada dasawarsa 50-an. Kita cukup menengok krisis ekonomi dan
politik baru-baru ini yang daya pukulnya bagi masyarakat Indonesia digambarkan pers
Barat sebagai pasien yang menjalani operasi besar tanpa pembiusan. Sumber utama dari
krisis ini adalah runtuhnya penghormatan institusi negara atas prinsip rule of law sebagai
kerangka pengaturan kehidupan masyarakat modern. Akibatnya, kroniisme sebagai
perwujudan bekerjanya ersatz capitalism (kapitalisme palsu) berkembang dan merusak
tubuh ekonomi, politik dan hukum masyarakat Indonesia. Kapitalisme semacam ini
pulalah yang membentuk negara Orde Baru menjadi negara predator. Suatu sifat dari
negara yang memiliki mekanisme menelan seluruh dasar-dasar kepercayaan yang
dimiliki oleh setiap perkumpulan kemasyarakatan

Jika kita sering mendengar sesama kita memperolok-olok manusia Indonesia,


sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal:

Pertama, oleh faktor hereditas, faktor keturunan. Manusia Indonesia dewasa ini adalah
keturunan langsung manusia Indonesia generasi 45 dan cucu dari generasi 1928, cicit dari
generasi 1912. Menurut bapak sosiologi Ibn Khaldun, jatuh bangunnya suatu bangsa
ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama generasi Pendobrak, kedua generasi
Pembangun dan ketiga generasi penikmat. Jika pada bangsa itu sudah banyak kelompok
generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati hasil pembangunan tanpa
berfikir harus membangun, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu akan mengalami
kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung
dalam kurun satu abad. Yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini ialah bahwa baru
setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak masih ada satu dua yang hidup, ketika
generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah
muncul sangat banyak generasi penikmat, dan mereka bukan hanya kelompok yang
kurang terpelajar, tetapi justeru kebanyakan dari kelompok yang terpelajar. What wrong?

Kedua, dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun jiwa
bangsa Indonesia. Lalu apa yang salah pada pendidikan generasi ini? Kekeliruan
pendidikan nasional kita selama ini (masa orde Baru), meliputi: Pengelolaan pendidikan
di masa lampau terlalu berlebihan penekanannya pada aspek kognitip, mengabaikan
dimensi-dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi yang mengidap split
personality, kepribadian yang pecah. Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan
generasi yang hanya bisa memandang Jakarta (ibu kota) sebagai satu-satunya tumpuan
harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar yang tersedia di daerah masing-
masing.

Inkeles menjelaskan bahwa pendidikan merupakan faktor terpenting yang meniscayakan


ciri manusia moderen (Suwarno & Alvin 2000:31). Sedangkan kondisi modern itu sendiri
bermakna perubahan struktur sosial dalam masyarakat yang membawa perubahan nilai-
nilai, norma-norma dan perilaku sosial (Inkeles 1966:152). Modernisasi mengakibatkan
perubahan kepribadian dalam masyarakat modern, semisal perubahan dalam prilaku,
pandangan dan cara hidup serta cara berpikir mengenai nilai norma dan agama,
sebagaimana pendapat Shipman (1971;20) “ modernisation does not just replace the
technology, scales and tempo of live and work, but changes the expectations that govern
behaviours itself “. Oleh karena itu dapat dikatakan pendidikan merupakan agent of
modernisation yang memikul beban berat dalam menciptakan perubahan masyarakat
demi kebaikan dan kemajuan masa depan.

Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus
sesuatu bangsa. Dengan demikian, sudah selayaknya apabila kita merenung pemahaman
tentang paradigma pendidikan jangan hanya dikurung dalam pengertian yang sangat
sempit yakni hanya pendidikan sekolah (sekolah formal). Namun lebih dari itu nalar kita
hendaknya merambah kesemua aspek kehidupan sebagai kegiatan pendidikan. Dimana
aspek kehidupan tersebut dapat menjadi sarana dan media pembelajaran (Sidi 2001:4).
Dari sini lahirlah satu ide menciptakan masyarakat belajar (learning society ), maknanya
aktor belajar bukanlah mutlak sebagai atribut yan menempel pada peserta didik dan
mahasiswa, akan tetapi aktor belajar adalah semua komponen masyarakat. Sehingga
tanggung jawab kualitas dan keberlangsungan kegiatan belajar bukanlah beban total yang
dipikul sekolah, namun pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama (individu,
sekolah, masyarakat, tempat kerja, dan Negara). Diharapkan ketika learning society
terbentuk, maka akan muncul budaya belajar (cultural learning) yang mewarnai pola
hidup masyarakat belajar. Menurut Green dalam bukunya prolegomena to Ethics, ia
menggambarkan “ individuals can develop a good manner or character, and hence realise
themselves only within society (Bousfield 1999:106). Sedangkan menurut Al-Kaylani
seharusnya pendidikan mampu membawa seseorang peserta didik untuk berperan bagi
dirinya, masyarakat setempat, dan masyarakat luas.

Pendidikan kita gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang


berdisiplin. Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global
Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-hak azasi
manusia. Sebagai contoh, pada masa orde Baru, Guru negeri di sekolah lingkungan
Dikbud mencapai 1 guru untuk 14 siswa, tetapi di madrasah (Depag) hanya 1 guru negeri
untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan dari Pemerintah misalnya di SMU negeri
mencapai Rp. 400.000,-/siswa/ tahun, sementara untuk Madrasah Aliah hanya Rp.
4.000,-/anak/ tahun. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan
SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam
pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh; Sentralisasi pendidikan nasional
mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah. Pendidikan nasional kurang
menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat bhinneka Tunggal Ika.
Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan, yakni melalui P4 dan
PMP, terlalu kering sehingga kontraproduktif.

Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini sekarang telah


melahirkan buahnya yang pahit, yakni:
 Generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki kemampuan imajinasi
idealistic;
 Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global;
 Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif;
 Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair ;
 Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis;
 Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah;
 Cendekiawan yang hipokrit; Hutang Luar Negeri yang tak tertanggungkan;
 Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya;
 Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetap
mengharap kucuran dari pusat, bupati daerah plus, menghambur-hamburkan uang
untuk hal-hal yang tidak strategis.

Keterkejutan Budaya
Era reformasi melahirkan keterkejutan budaya, bagaikan orang yang terkurung dalam
penjara selama puluhan tahun kemudian melihat tembok penjara runtuh. Mereka semua
keluar mendapati pemandangan yang sangat berbeda, kebebasan dan keterbukaan yang
nyaris tak terbatas. Suasana psikologis euforia itu membuat masyarakat tidak bisa berfikir
jernih, menuntut hak tapi lupa kewajiban, mengkritik tetapi tidak mampu menawarkan
solusi. Kejutan kebudayaan akan merusak dasar unit kebudayaan sosial, yaitu keluarga.
La Farge mengingatkan, kebudayaan yang utuh adalah kebudayaan yang mengikuti
serangkaian penyesuaian yang sudah berjalan dan dapat memberikan kepuasan.
Sedangkan ciri khas kebudayaan yang rusak, tidak lagi membuat kehidupan pantas
dijalani.

Masyarakat pendidikan tersadar bahwa SDM produk dari system pendidikan nasional kita
tidak bisa bersaing dalam persaingan global sehingga kita hanya mampu mengekspor
tenaga kerja PRT, sebaliknya tenaga skill pun di dalam negeri harus bersaing dengan
tenaga skill dari luar. Problemnya, output pendidikan yang bermutu itu baru dapat
dinikmati 20-25 tahun kemudian. SDM kita yang tidak kompetetip hari ini adalah juga
produk dari sistem pendidikan sejak 20-30 tahun yang lalu. Untuk mengubah system
pendidikan secara radikal juga punya problem, yaitu tenaga guru yang kita miliki adalah
produk dari system pendidikan yang tidak tidak tepat. Dalam konsep IKIP, guru adalah
instrument pendidikan, bukan tokoh yang bisa mentransfer kebudayaan kepada anak
didiknya. Lingkaran setan inilah yang sulit diputus.
Dibutuhkan keputusan politik dan kemauan politik yang sungguh-sungguh untuk
mengubah system pendidikan di Indonesia menjadi pembangun budaya bangsa. Sayang
ahli-ahli pendidikan kita lebih berorientasi kepada teksbook dibanding melakukan
ujicoba system di lapangan. Guru-guru SD tetap saja hanya tenaga pengajar, bukan guru
yang digugu dan ditiru seperti dalam filsafat pendidikan nasional kita sejak dulu.
Mestinya doctor dan professor bidang pendidikan tetap mengajar di SD-SLP sehingga
mampu melahirkan system pendidikan berbasis budaya, menemukan realita-realita yang
bisa dikembangkan menjadi teori, bukan kemudian berkumpul di birokrasi untuk
kemudian mengatur pendidikan dari balik meja berpedoman kepada teori-teori Barat.
Selagi pendidikan di SD dilaksanakan oleh tukang pengajar, maka sulit mengembangkan
mereka pada jenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan bermutu memang mahal, tetapi
kenaikan anggaran pendidikan di APBN menjadi 20 % pun tidak banyak membantu jika
kreatifitas depdiknas, hanya pada proyek-proyek pendidikan bukan pada pengembangan
pendidikan.

Swasta mempunyai peluang untuk melakukan inovasi pendidikan tanpa terikat aturan
birokrasi yang jelimet, tetapi menjadi sangat menyedihkan ketika dijumpai banyak
lembaga pendidikan swasta yang orientasinya pada bisnis pendidikan. Sekolah
international diperlukan sebagai respond terhadap globalisasi, tetapi pembukaan sekolah
international oleh asing sangat riskan dari segi budaya bangsa karena filsafat
pendidikannya berbeda. Oliver La Varge dalam “Telaah-telaah orang Meksiko dalam
kebudayaan kemiskinan”. Dikemukakannya, akibat serbuan kebudayaan negara-negara
maju, bangsa Meksiko dipisahkan dari pemerkayaan sumber-sumber sendiri dan
menggantinya dengan barang-barang yang membuat setiap orang menjadi konsumtif.
Menurut La Farge, serbuan budaya asing itu akan menjadikan kita sebagai bangsa “tong
kosong yang nyaring bunyinya”. Manusia tanpa kasih sayang, tanpa kesetiaan. Untuk
mempercepat dan memperluas budaya belajar sebaiknya anggaran pendidikan Negara
bukan hanya diperuntukkan bagi sekolah formal, tetapi juga untuk sekolah informal dan
sekolah non formal. Pada satu titik nanti pasar tenaga kerja tidak lagi melihat ijazah
sekolah formal tetapi melihat skill tenaga kerja, dan ini bisa dikermbangkan di sekolah
informal dan non formal. Pada satu titiknanti, gelar-gelar akademik juga tidak lagi
relefan. (Wallahu’alam Bishawab).