PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK, PENUNJANG DAN PENATAALAKSANAAN MEDIK PADA BENIGNA PROSTATE HIPERPLASIA (BPH

)

Disusun oleh: Kelompok 3B Agustina Dwi 0706270213 Diana Tri Budi S0706270384 Fitri Annisa 0706270592 Hedy Hardiana 0706 Hestiana Rahayu 0706270705 Listarina Noviani 0706270831 Nur Fitriani Y 0706270964 Rio Febrian 0706271121 Titin Hermaneti 0706271241

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA 2010

Untuk itu pada kecurigaan adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine. Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH. tes sensitivitas dan biakan urin 2.  PEMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA 1. dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: a. foto polos abdomen. elekrolit. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK UNTUK BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA Pada pasien Benigna Prostat Hipertropi umumnya dilakukan pemeriksaan: 1. batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi. tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong. Urinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. sistogram. USG. 3. retrograd. di antara-nya: karsinoma buli-buli in situ atau striktura uretra. hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat. 2. Pada pasien BPH yang sudah mengalami retensi urine dan telah memakai kateter. pertumbuhan volume prostat lebih cepat . mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel. 1997). dan kalau terdapat 3 kecurigaan adanya karsinoma buli-buli perlu dilakukan pemeriksaan sitologi urine. LaboratoriumMeliputi ureum (BUN). Prostatektomi Retro PubisPembuatan insisi pada abdomen bawah. tetapi kandung kemih tidak dibuka. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih. 4. cystoscopy. Ct Scanning. pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat pemasangan kateter. pada pemeriksaan urinalisis menunjukkan adanya kelainan. Prostatektomi Parineal Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum. selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli. ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi). kreatinin. BNO. Pemeriksaan PSA (Prostate Specific Antigen) PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific. RadiologisIntravena pylografi. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk.

Rentang kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah: o 40-49 tahun: 0-2. meliputi : 1. Sebagian besar petunjuk yang disusun di berbagai negara merekomendasikan pemeriksaan PSA sebagai salah satu pemeriksaan awal pada BPH.2 ng/dl sebesar 2. Adapun menurut Mansjoer Arief.1. keganasan prostat. kateterisasi.5 ng/ml o 50-59 tahun:0-3.3 ng/dl laju adalah 0.1 mL/tahun. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0.4-3. keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek. Sesuai yang dikemukakan oleh Wijanarko et al (2003) bahwa serum PSA meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahanlahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi.9 ng/dl adalah 3. dan usia yang makin tua.7 mL/tahun. (2000) pemeriksaan penunjang pada penyakit BPH.5 ng/ml Meskipun BPH bukan merupakan penyebab timbulnya karsinoma prostat. Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA. dan c. Pemeriksaan laboratorium o Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat adanya sel leukosit.3 mL/tahun19. meskipun dengan sarat yang berhubungan dengan usia pasien atau usia harapan hidup pasien. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan.5 ng/ml o 70-79 tahun: 0-6. tes PSA sebaiknya dimulai sejak umur 40 tahun. dan kadar PSA 3. pada retensi urine akut. namun untuk pria yang memiliki riwayat penyakit kanker prostat atau orang keturunan Afrika-Amerika. Tes PSA ini sebaiknya dilakukan setiap tahun sejak berumur 50 tahun. tetapi kelompok usia BPH mempunyai resiko terjangkit karsinoma prostat. lebih mudah terjadinya retensi urine akut. Dikatakan oleh Roehrborn et al (2000) bahwa makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan prostat. Pemeriksaan PSA bersamaan dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat. Bila terdapat hematuri harus .3-9.b. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan PSA menjadi sangat penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat. setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP). sedangkan pada kadar PSA 1.2.5 ng/ml o 60-69 tahun:0-4. bakteri dan infeksi.

USG dan sistoskopi.8% jika kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18. hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya memang besar. Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pasca bedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal (17%). Sensitifitas pemeriksaan ini dalam menentukan adanya karsinoma prostat sebesar 33%. Pasien LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat. Pemeriksaan fisik Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) merupakan pemeriksaan yang penting pada pasien BPH. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas. dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak. Pemeriksaan Prostat Spesifik Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan. pielografi intravena. konsistensi prostat. infeksi saluran kemih. .diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih.3-30% dengan rata-rata 13. Disamping itu pada DRE diperhatikan pula tonus sfingter ani dan refleks bulbokavernosus yang dapat menunjukkan adanya kelainan pada busur refleks di daerah sakral. dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik.6%. sehingga jika prostat teraba besar. 4. status mental pasien secara umum dan fungsi neuromusluler ekstremitas bawah. kadar ureum. Pemeriksaan radiologis yang biasanya dilakukan adalah foto polos abdomen. dan adanya nodul yang merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat. batu. Pemeriksaan fungsi ginjal Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius bawah ataupun bagian atas. o Elektrolit. ternyata hanya 26-34% yang positif kanker prostat pada pemeriksaan biopsi. disamping pemerik-saan fisik pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli. Kecurigaan suatu keganasan pada pemeriksaan colok dubur. tujuannya adalah untuk memperkirakan volume BPH. 3. Mengukur volume prostat dengan DRE cenderung underestimate daripada pengukuran dengan metode lain. o 2. Perlu dinilai keadaan neurologis.9% jika terdapat kelainan kadar kreatinin serum10.

6. dapat menimbulkan cedera uretra.24 mL dengan rata-rata 0. namun ternyata peningkatan volume residual urine tidak selalu menunjukkan beratnya gangguan pancaran urine atau beratnya obstruksi. maupun non invasif. Jumlah residual urine ini pada orang normal adalah 0. Dahulu para ahli urologi beranggapan bahwa volume residual urine yang meningkat menandakan adanya obstruksi. sehingga perlu dilakukan pembedahan. namun Brown et al (2002) mendapatkan bahwa pencatatan selama 3-4 hari sudah cukup untuk menilai overaktivitas detrusor. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Prasetyawan dan Sumardi (2003). menimbulkan infeksi saluran kemih. Pemeriksaan residual urine Residual urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. Tujuh puluh delapan persen pria normal mempunyai residual urine kurang dari 5 mL dan semua pria normal mempunyai residu urine tidak lebih dari 12 mL. hingga terjadi bakteriemia. volume residual urine mempunyai variasi individual yang cukup tinggi. sedangkan volume residual urine yang tidak terlalu banyak (<120 ml) hasil pengukuran dari waktu ke waktu hampir sama. Catatan harian miksi (voiding diaries) Voiding diaries saat ini dipakai secara luas untuk menilai fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan validitas yang cukup baik.5. Dengan mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine yang dikemihkan dapat diketahui seorang pasien menderita nokturia idiopatik. Pengukuran dengan cara apapun.092. yaitu dengan mengukur sisa urine melalui USG atau bladder scan. Pengukuran melalui kateterisasi ini lebih akurat dibandingkan dengan USG. menunjukkan perbedaan volume residual urine yang cukup bermakna.53 mL. instabilitas detrusor akibat obstruksi infra-vesika. yaitu seorang pasien yang diukur residual urinenya pada waktu yang berlainan pada hari yang sama maupun pada hari yang berbeda. Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif. Sebaiknya pencatatan dikerjakan 7 hari berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang baik2. tetapi tidak meng-enakkan bagi pasien. bahwa volume residual urine . Variasi perbedaan volume residual urine ini tampak nyata pada residual urine yang cukup banyak (>150 ml).10. Pencatatan miksi ini sangat berguna pada pasien yang mengeluh nokturia sebagai keluhan yang menonjol. atau karena poliuria akibat asupan air yang berlebih. yaitu dengan melaku-kan pengukuran langsung sisa urine melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih.

Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien BPH dengan memakai IVP atau USG. ternyata bahwa 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran kemih bagian atas. Oleh karena itu pencitraan saluran kemih bagian atas tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan pada BPH. besar prostat. dan mencari kemungkinan adanya . kecuali jika pada pemeriksaan awal diketemukan adanya: (a) hematuria. Pencitraan traktus urinarius Pencitraan traktus urinarius pada BPH meliputi pemeriksaan terhadap traktus urinarius bagian atas maupun bawah dan pemeriksaan prostat. Namun. Karena variasi intraindividual yang cukup tinggi. demikian pula pada volume residual urine lebih 350 ml seringkali telah terjadi disfungsi pada buli-buli sehingga terapi medikamentosa biasanya tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. (c) insufisiensi renal (dengan melakukan pemeriksaan USG). sedangkan yang menunjukkan kelainan. hanya sebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan penanganan berbeda dari yang lain. (d) perkiraan volume residual urine. Pemeriksaan USG prostat bertujuan untuk menilai bentuk. Beberapa negara terutama di Eropa merekomendasikan pemeriksaan PVR sebagai bagian dari pemeriksaan awal pada BPH dan untuk memonitor setelah watchful waiting. (b) infeksi saluran kemih. Dahulu pemeriksaan IVP pada BPH dikerjakan oleh sebagian besar ahli urologi untuk mengungkapkan adanya: (a) kelainan pada saluran kemih bagian atas. pemeriksaan PVR dikerjakan lebih dari satu kali dan sebaiknya dikerjakan melalui melalui USG transabdominal. bagaimanapun adanya residu uirne menunjukkan telah terjadi gangguan miksi. Pemeriksaan sistografi maupun uretrografi retrograd guna memperkirakan besarnya prostat atau mencari kelainan pada buli-buli saat ini tidak direkomendasikan. (d) riwayat urolitiasis. dan (e) perkiraan besarnya prostat. Namun pemeriksaan itu masih berguna jika dicurigai adanya striktura uretra. (c) batu pada buli-buli. 7. Watchful waiting biasanya akan gagal jika terdapat residual urine yang cukup banyak. dan (e) riwayat pernah menjalani pembedahan pada saluran urogenitalia.tidak dapat menerangkan adanya obstruksi saluran kemih. (b) divertikel atau selule pada buli-buli.

(b) termoterapi. Pemeriksaan urodinamika Kalau pemeriksaan uroflometri hanya dapat menilai bahwa pasien mempunyai pancaran urine yang lemah tanpa dapat menerangkan penyebabnya. infeksi. Selain itu sesaat sebelum dilakukan sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi. selule. (c) pemasangan stent. dan divertikel bulibuli. trabekulasi buli-buli. Uretrosistoskopi Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli-buli. dan retensi urine sehingga tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH. kecuali hendak menjalani terapi: (a) inhibitor 5-α reduktase. (d) TUIP atau (e) prostatektomi terbuka.karsinoma prostat. Pemeriksaan urodinamika merupakan pemeriksaan optional pada evaluasi . 8. Jika terdapat peningkatan kadar PSA. Mungkin saja LUTS yang dikeluhkan oleh pasien bukan disebabkan oleh BPO melainkan disebabkan oleh kelemahan kontraksi otot detrusor sehingga pada keadaan ini tindakan desobstruksi tidak akan bermanfaat. 9. obstruksi uretra dan leher buli-buli. bisa menimbulkan komplikasi perdarahan. cedera uretra. Terlihat adanya pembesaran prostat. Sayangnya pemeriksaan ini tidak mengenakkan bagi pasien. Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan TUIP. atau prostatektomi terbuka. TURP. Pemeriksaan ultrasonografi prostat tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin. pemeriksaan USG melalui transrektal (TRUS) sangat dibutuhkan guna menilai kemungkinan adanya karsinoma prostat. Menilai bentuk dan ukuran kelenjar prostat dapat dilakukan melalui pemeriksaan transabdominal (TAUS) ataupun transrektal (TRUS). batu buli-buli. Disamping itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantu dalam mencari lesi pada buli-buli. pemeriksaan urodinamika (pressure flow study) dapat membedakan pancaran urine yang lemah itu disebabkan karena obstruksi leher buli-buli dan uretra atau kelemahan kontraksi otot detrusor. Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang hendak menjalani pembedahan.

Meskipun merupakan pemeriksaan invasif. Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi. apabila ditemukan keluhan prostatismus. prostat lebih menonjol. Penatalaksanaan Medis Benigna Prostat Hiperplasia Hiperplasi prostat yang telah memberikan keluhan klinik biasanya akan menyebabkan penderita datang kepada dokter. Diagnosis Banding Kelemahan otot destrusor dapat disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik). hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml. seperti derajat dua. spesifisitas 93%. dan mampu meramalkan keberhasilan suatu tindakan pem-bedahan. atau kecurigaan adanya buli-buli neurogenik. Derajat dua. Derajat satu. dan nilai prediksi positif sebesar 95%. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO PSS (WHO prostate symptom score). Qmax>10 ml/detik. Resistensi uretra dapat disebabkan oleh pembesaran prostat (jinak atau ganas). batas atas mudah diraba dan sisa urin kurang dari 50 ml. Menurut Javle et al (1998)30. Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin. Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi. penghambat reseptor ganglion dan parasimpatik). 10. urodinamika saat ini merupakan pemeriksaan yang paling baik dalam menentukan derajat obstruksi prostat (BPO). dan penggunaan obat-obatan (penenang. Kekakuan leher buli-buli dapat disebabkan oleh proses fibrosis. Di dalam praktek pembagian derajat beratnya hiperplasia prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan. batu uretra dan striktur uretra. setelah menjalani pembedahan radikal pada daerah pelvis. neuropati diabetes. Pada penderita dengan derajat satu biasanya belum . setelah gagal dengan terapi invasif. pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas 87%. tumor dileher buli-buli. sedangkan derajat empat. apabila sudah terjadi retensi urin total. apabila ditemukan tanda dan gejala sama seperti pada derajat satu. batas atas masih dapat teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.pasien BPH bergejala. pada colok dubur ditemukan penonjolan prostat. Indikasi pemeriksaan uro-dinamika pada BPH adalah berusia kurang dari 50 tahun atau lebih dari 80 tahun dengan volume residual urine>300 mL. bedah radikal yang mengorbankan persarafan didaerah pelvis. Derajat tiga. misalnya pada lesi medula spinalis. Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15.

Pada hiperplasia prostat derajat empat tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total.7 Terdapat beberapa pilihan tindakan terapi didalam penatalaksanaan hiperplasia prostat benigna yang dapat dibagi kedalam 4 macam golongan tindakan.2 Terapi sedini mungkin sangat dianjurkan untuk mengurangi gejala. dan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans uretral resection (TUR). kemudian terapi definitif dapat dengan TUR P atau operasi terbuka. Melebarkan uretra pars prostatika. meningkatkan kualitas hidup dan menghindari komplikasi akibat obstruksi yang berkepanjangan. dan berkurangnya kekuatan detrusor. Pada penderita dengan derajat dua sebenarnya sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif. dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif. Di dalam penatalaksanaan terapi hiperplasia prostat ini terdapat istilah terapi konservatif yang merupakan terapi non operatif. yaitu : TERAPI KONSERVATIF NON OPERATIF Sampai dengan tahun 1980-an kasus-kasus BPH selalu diatasi dengan operasi. Meskipun demikian pada dekade terakhir dikembangkan pula beberapa terapi nonbedah yang mempunyai keunggulan kurang invasif dibandingkan dengan terapi bedah.memerlukan tindakan operatif. dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik. Pada derajat tiga. otot polos prostat dan kapsul prostat 3. TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman melakukan TUR oleh karena biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. melainkan dapat diberikan pengobatan secara konservatif. Mengingat gejala klinik hiperplasia prostat disebabkan oleh 3 faktor yaitu pembesaran kelenjar periuretral. A. menurunnya elastisitas leher vesika. nyaman dan bahkan lebih ekonomis. Tindakan bedah masih merupakan terapi utama untuk hiperplasia prostat (lebih dari 90% kasus). Untuk penderita yang oleh karena keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan operasi dapat diusahakan pengobatan konservatif. Menghilangkan atau mengurangi volume prostat 2. maka pengobatan gejala klinik ditujukan untuk : 1. Watchful Waiting . Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.1. Mengurangi tonus leher vesika. menambah kekuatan detrusor 2. Didorong oleh faktor biaya dan morbiditas post operatif yang tidak nyaman maka terus dicari pendekatan yang lebih aman. Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi.

terutama mengandung reseptor alpha. sehingga sehingga menghasilkan peningkatan laju pancaran urin dan memperbaiki gejala miksi. Jadi kelompok obat penghambat adrenoreseptor alpha ini hanya dapat digunakan untuk jangka pendek dan akan lebih fungsional pada terapi tahap awal. 1.Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. sedang phenoxy benzanmine meskipun lebih kuat tetapi tidak selektif untuk reseptor alpha 1 dan alpha 2. Terapi Medikamentosa Pilihan terapi non-bedah adalah pengobatan dengan obat (medikamentosa). Tetapi kelompok obat ini tidak dapat digunakan berkepanjangan karena efek samping obat ini berupa hipotensi ortostatik. obat lain selain itu adalah Terazosin dosis 1 mg/hari. Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan. Contoh obatnya adalah Phenoxy benzanmine (Dibenyline) dosis 2x10 mg/hari. Sekarang telah tersedia obat yang lebih selektif untuk alpha 1 adrenergik bloker yaitu Prazosine. astenia vertigo dan lain-lain yang sangat mengganggu kualitas hidup kecuali bagi penderita hipertensi. dan sekarang ditakutkan phenoxy benzanmine bersifat karsinogenik. Episode serangan biasanya cepat teratasi. jadi dengan pemberian obat golongan alpha adrenergik bloker. palpitasi. Pengobatan dengan penghambat alpha ini pertama kali dilakukan oleh Caine dan kawan-kawan yang dilaporkan pada tahun 1976. Prazosine diketahui lebih selektif sebagai alpha 1 adrenergik bloker. Bila serangan prostatismus memuncak menjurus kepada retensio urin ini adalah pertanda bahwa tonus otot polos prostat meningkat atau berkontraksi sehingga pemberian obat ini adalah sangat rasional. terutama alpha 1 adrenergik bloker maka tonus leher vesika. Penelitian terakhir di Amerika Serikat menyebutkan bahwa Doxazosin terbukti efektif dalam pengobatan hiperplasia prostat jangka panjang pada pasien hipertensi dan normotensi. tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasia prostat sedikitpun. obat ini mempunyai efek positif segera terhadap keluhan. Dengan pengobatan secara ini ditemukan perbaikan sekitar 30-70% pada symptom skore dan kira-kira 50% pada flow rate. 2.Penghambat adrenergik a Seperti kita ketahui persyarafan trigonum leher vesika. Fitoterapi . otot polos prostat dan kapsul prostat akan berkurang. otot polos prostat dan kapsul prostat terutama oleh serabut-serabut saraf simpatis. Bila respon dari pengobatan ini baik maka ini merupakan indikator untuk masuk kedalam tahap perawatan “Watch and wait”. dosisnya adalah 1-5 mg/hari. Tamzulosin dan Doxazosin. B.

dll.Kelompok kemoterapi pada umumnya telah mempunyai informasi farmakokinetik dan farmakodinamik terstandar secara konvensional dan universal. Bukti-bukti empirik lapangan dan empirik uji klinik semakin banyak mencatat efektifitas dan keamanannya. Saw Palmetto Berry (SPB) Yang disebut juga Serenoa repens adalah suatu obat tradisional Indian.9%. dan di negara-negara Eropa dan Amerika pemakaiannya terus meningkat dengan cepat. masih memerlukan penelitian yang panjang. Di Jerman 90% kasus BPH di terapi dengan Serenoa repens tunggal atau kombinasi. hepatitis. Termasuk ini adalah: BPH.1% sedangkan finasteride = 4. Namun secara empirik. rematik. dll. Diantara sekian banyak fitoterapi yang sudah masuk pasaran. Catatan empiriknya tentang manfaat tumbuhan ini untuk gangguan urologis sudah ada sejak tahun 1900. Banyak penyakit kronis. a. manfaat sudah lama tercatat dan semakin diakui. dan penuaan yang belum ada obatnya seperti: kanker. demensia. gangguan metabolisme. hipertensi. Banyak pula yang belum bisa dituntaskan pengobatannya. Keduanya. degeneratif. Sehingga diperlukan terapi komplementer atau alternatif. diantaranya yang terkenal adalah Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin seeds yang digunakan untuk pengobatan BPH. Kelompok terapi ini disebut Fitoterapi. Disebut demikian karena berasal dari tumbuhan. DM. Bahan aktifnya belum diketahui dengan pasti. terutama Serenoa repens semakin diterima pemakaiannya dalam upaya pengendalian prosatisme BPH dalam kontek “watchfull waiting strategy”. HIV. Tidak semua penyakit dapat diobati secara tuntas dengan kemoterapi ini. Kelompok obat ini juga disebut dengan “obat modern”. Dalam Life Extension Update dimuat. dari sebanyak 32 publikasi studi terdapat catatan bahwa extract dari SPB ini secara signifikan menunjukan perbaikan klinis dalam hal : a) Frekuensi nokturia ® berkurang b) Aliran kencing ® bertambah lancar c) Volume residu dikandung kencing ® berkurang d) Gejala kurang enak dalam mekanisme urinoir ® berkurang Mekanisme kerja obat ini belum dapat dipastikan tetapi diduga kuat ia : a) Menghambat aktifitas enzim 5 alpha reduktase dan memblokir reseptor androgen . Efek samping obat berupa disfungsi ereksi = 1. Isu back to nature memberikan iklim yang kondusif bagi pemakaian obat ini. Dalam Current Medical Diagnosis and Treatment (2001) dinyatakan bahwa Saw Palmetto Berry (SPB) ini didalam 18 RCT (Randomized Clinical Trial) dengan 2939 subyek adalah superior terhadap placebo dan efektifitasnya sama dengan finasteride.

Contoh preparatnya ialah Diaethyl Stilbestrol (DES) dosis satu kali 1-5 mg sehari. dengan dosis minggu I 3dd 500 mg s. 3 kali sehari. Contoh obat adalah Buserelin. Penelitian di Jerman melakukan studi terhadap preparat yang mengandung komponen utama beta-sitosterol dengan sedikit campuran campesterot dan stigmasterol untuk mengobati hiperplasia prostat. . sehingga produksi testosteron juga menurun. sehingga obat ini akan “menghabiskan” reseptor dengan membentuk LH-RH super agonist reseptor kompleks. terjadi perbaikan seperti halnya terapi menggunakan penghambat reseptor alpha dan 5-alpha reduktase. Cara ini tentu saja menyebabkan penurunan libido oleh karena penurunan kadar testosteron darah. (7 hari) dan minggu II intra nasal spray 200 mg.10 c. tetapi dengan efek samping yang lebih minimal. sekarang cara pengobatan ini untuk hiperplasia prostat telah ditinggalkan. Pada tingkat testikular. pada permulaan justru akan terjadi kenaikan produksi LH oleh hypofisis. Pada tingkat infra hipofisis pemberian estrogen dapat memberikan umpan balik dengan menekan produksi FSH dan LH.b) Bersifat anti inflamasi dan anti udem dengan cara menghambat aktifitas enzim cycloxygenase dan 5 lipoxygenase. Sehingga mula-mula oleh karena banyaknya LH-RH super agonist yang menangkap reseptor. Pumpkin seeds (Cucurbitae peponis semen) Testimoni empirik tradisional bahan ini telah digunakan di Jerman dan Austria sejak abad 16 untuk gangguan “urinoir” dan belakangan ini ekstraknya dipakai untuk mengatasi gejala yang berhubungan dengan BPH didalam konteks farmakoterapi maupun uji klinis kombinasi dengan ekstraks serenoa repens. Walaupun mekanisme kerja dari preparat campuran fitosterol ini belum dapat dibuktikan. b. Tetapi setelah reseptor “habis”maka LH-RH tidak dapat lagi mencari reseptor .c. Pemberian obat-obat anti androgen yang dapat mulai pada tingkat hipofisis misalnya dengan pemberian Gn-RH analogue sehingga menekan produksi LH. orchiectomi untuk pengobatan pembesaran prostat jinak hanya dikenal pada sejarah. maka LH akan menurun. Untuk karsinoma prostat tentu saja orchiectomi masih dikerjakan oleh karena pertimbangan kemungkinan penyebaran ca prostat dan juga biasanya penderita telah tua. yang menyebabkan produksi testosteron oleh sel leydig berkurang. penelitian terus dikembangkan untuk keperluan di masa depan. Hasilnya.9. Hormonal Pada tingkat supra hypofisis dengan obat-obat LH-RH (super) agonist yaitu obat yang menjadi kompetitor LH-RH mempunyai afinitas yang lebih besar dengan reseptor bagi LHRH.

TERAPI OPERATIF A.Terapi Bedah Konvensional Open simple prostatectomy. Finasteride mengurangi volume prostat sampai 30%. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. sehingga libido juga tidak menurun. di atas 100g. bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada sebagaian kecil dapat mengalami impotensi. sehingga libido tidak menurun. sehingga jumlah DHT berkurang tetapi jumlah testosteron tidak berkurang. efektif dan berhasil guna. Penurunan kadar zat aktif dehidrotestosteron ini menyebabkan mengecilnya ukuran prostat. menjadi saingan testosteron untuk 5 alpha reduktase sehingga DHT tidak terbentuk. Terapi Invasif Minimal . Contoh obatnya adalah Megestrol acetat 160 mg empat kali sehari dan MPA 300-500 mg/hari. mengurangi gejala dan memperbaiki laju pancaran urin sampai 12%. Contoh obat tersebut ialah Finesteride. Untuk keperluan tersebut. Proscar dengan dosis 5 mg/hari dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan. medrogestone 15 mg2 kali/hari dan Anandron. B. Hasil terbaik diperoleh pasien yang sungguh membutuhkan tindakan bedah. Golongan gestagen dan ketokonazole. evaluasi urodinamik sangat berguna . Obat ini mempunyai toleransi baik dan tidak mempunyai efek samping yang bermakna. Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri dari jaringan kelenjar sentralis. suatu enzim yang diperlukan untuk mengubah testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT). Obat ini juga tidak menurunkan kadar testosteron pada darah.Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu besar. Flutamide. suatu hormon androgen yang mempengaruhi pertumbuhan kelenjar prostat. Kesulitan pengobatan konservatif ini adalah menentukan berapa lama obat harus diberikan dan efek samping dari obat. menekan LH dan FSH. Contoh obatnya ialah : Cyproterone acetate 100 mg 2 kali/hari. Metode ini cukup aman. Penelitian lain di Kanada menyatakan bahwa Finasteride mengurangi volume prostat pada 613 pria dengan angka rata-rata 21%. Obat anti androgen lain yang juga bekerja pada tingkat prostat ialah obat yang mempunyai mekanisme kerja sebagai inhibitor kompetitif terhadap reseptor DHT sehingga DHT tidak dapat membentuk kompleks DHT-Reseptor.Trans urethral resection (TUR) Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra. obat-obat ini mempunyai khasiat : mengurangi enzim dehidrogenase dan isomerase yang berguna untuk metabolisme steroid.Pada tingkat yang lebih rendah dapat pula diberikan obat anti androgen yang mekanisme kerjanya mencegah hidrolise testosteron menjadi DHT dengan cara menghambat 5 alpha reduktase. atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.

membatasi jangka waktu operasi tidak melebihi 1 jam.Morbiditas dan mortalitas rendah . Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Suatu penelitian menyebutkan bahwa hasil obyektif TUR meningkat dari 72% menjadi 88% dengan mengikutsertakan evaluasi urodinamik pada penilaian pra-bedah dari 152 pasien. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah.Tehnik sulit . Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril (aquades).Lama perawatan lebih pendek .Prostat fibrous mudah diangkat . Jika tidak segera diatasi.Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol Kerugian : .Trauma spingter eksterna dan trigonum . Keuntungan : . Salah satu kerugian dari aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang terbuka pada saat reseksi. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik. tekanan darah meningkat. Mortalitas TUR sekitar 1% dan morbiditas sekitar 8%. Saat ini tindakan TUR P merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Evaluasi ini berperan selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan TUR. yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Angka mortalitas sindroma TUR P ini adalah sebesar 0. dan memasang sistostomi suprapubik untuk mengurangi tekanan air pada buli-buli selama reseksi prostat.Resiko merusak uretra .untuk membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien non-obstruksi. dan terdapat bradikardi.Intoksikasi cairan . antara lain adalah cairan glisin . Karena itu untuk mengurangi timbulnya sindroma TUR P dipakai cairan non ionik yang lain tetapi harganya lebih mahal daripada aquades. kesadaran somnolen. pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam keadaan koma dan meninggal. Kelebihan air dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan sindroma TUR P.99%.Tidak dianjurkan untuk BPH yang besar .Luka incisi tidak ada .

Ketrampilan khusus .Mortaliti rate rendah .Tidak ada indikasi absolut.Dapat untuk memperbaiki segala jenis obstruksi leher buli .Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal .Trans urethral incision of prostate (TUIP) Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif. c.Tidak dapat dipakai kalau diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam vesika Komplikasi : . tetapi ukuran prostatnya mendekati normal.Infeksi . sayatan dimulai dari dekat muara ureter sampai dekat ke verumontanum dan harus cukup dalam sampai tampak kapsul prostat.Dapat memotong pleksus santorini . Kelebihan dari metode ini adalah lebih cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR.Osteitis pubis . Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut atau incisi leher bulibuli atau bladder neck incision (BNI) pada jam 5 dan 7.Mudah berdarah . Terapi ini juga dilakukan secara endoskopik yaitu dengan menyayat memakai alat seperti yangg dipakai pada TUR P tetapi memakai alat pemotong yang menyerupai alat penggaruk.Trombosis .Dapat terjadi osteitis pubis .Perdarahan lebih mudah dirawat .Langsung melihat fossa prostat . baik untuk adenoma yang besar pada subservikal .Retropubic infravesika (Terence millin) Keuntungan : ..Alat mahal .Perdarahan .Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika Kerugian : . Terapi Operatif Lainnya Prostatektomi terbuka .

Batu buli 2.Baik untuk kelenjar besar . Batu ureter distal 3..Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat . Uretrokel 5.Impotensi .Transperineal Keuntungan : .Kerusakan spingter eksterna minimal Kerugian : .Sulit untuk kontrol perdarahan .Ejakulasi retrograde .Suprapubic transvesica/TVP (Freyer) Keuntungan : .Striktura post operasi (uretra anterior 2 – 5 %.Deep venous thrombosis .Memerlukan pemakain kateter lebih lama sampai luka pada dinding vesica sembuh .Pembuluh darah tampak lebih jelas . bladder neck stenosis 4%) .Dapat langssung pada fossa prostat .Recurent (10 – 20%) . Divertikel 4. Retropubik sulit karena kelainan os pubis .Sulit pada orang gemuk .Epididimo orchitis . Adanya sistsostomi 6.Perdarahan .Carcinoma .Mortality rate 1 -5 % Komplikasi : .Merusak mukosa kulit .Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : 1.Fimosis .Mudah untuk pinggul sempit .Inkontinensia (<1%) .

Kemudian Shenberg mengajukan pemakaian Nd YAG ini untuk melaser prostat pada penderita yang tidak dapat mentoleransi perdarahan apabila dilakukan TUR. Apabila laser Nd YAG ini mengenai jaringan prostat energinya akan berubah menjadi energi termal yang dapat menguapkan jaringan dengan Nd YAG tanpa kontak dengan jaringan mempunyai efek laser maksimal pada .Perdarahan hebat . Mula-mula laser untuk prostat ini hanya dipakai untuk pengobatan tambahan setelah TUR P pada ca prostat. yang dibimbing dengan pemakaian USG untuk dapat menembak prostat yang disempurnakan dengan menggunakan alat pembelok (deflektor) sinar laser dengan sudut 90 derajat sehingga sinar laser dapat diarahkan ke arah kelenjar prostat yang membesar. Penggunaan laser untuk operasi prostat pertamakali diusulkan oleh Sander (1984).. Nd YAG mempunyai panjang gelombang 1064 nm sehingga gelombang ini tidak banyak diserap oleh air seperti laser CO2 dan mempunyai sifat divergensi tetapi masih mempunyai daya penetrasi yang cukup dalam. Pc Phee menulis mengenai penggunaan YAG laser untuk photo irradiasi segmental pada mukosa buli. Roth dan Aretz (1991) menjadi pelopor penggunaan laser Transuretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP). Untuk mengobati ca prostat yang masih lokal dengan memakai Nd YAG (Neodymium. yang biasanya diberikan 3 minggu setelah TUR P (Shanberg 1985. Yttrium Aluminium Garnet) Solid state Nd YAG ini pertamakali diperkenalkan tahun 1964 tapi baru tahun 1975 baru dicoba dibidang urologi untuk mengablasi tumor buli superficial (Hoffstetter). sedang pengobatan dengan TUMT dan TURF belum dapat memberikan hasil yang sebaik dengan operasi maka dicoba cara operasi yang dapat dilakukan hampir tanpa perdarahan.Inkontinensia .Langsung biopsi untuk karsinoma Kerugian : . YAG laser ini mempunyai panjang gelombang yang cocok untuk pengobatan prostat oleh karena mempunyai daya penetrasi yang cukup dalam.Impotensi . Mc Nicholas 1990).Bisa terkena rektum .Merusak diagframa urogenital -Pembedahan dengan laser (Laser prostatectomy) Oleh karena cara operatif (operasi terbuka atau TUR P) untuk mengangkat prostat yang membesar merupakan operasi yang berdarah.

. Waktu yang diperlukan untuk melaser prostat biasanya sekitar 2-4 menit untuk masingmasing lobus prostat (lobus lateralis kanan. Jakarta : EGC. Resiko impotensi tidak ada 7. sehingga uretra pars prostatika akan segera akan menjadi lebih lebar. sehingga sinar laser dapat diarahkan ke jaringan prostat dari dalam uretra. Dengan alat pembelok ini 92% dari energi laser masih dapat mencapai jaringan preostat. Nd YAG ini aman untuk pengobatan prostat oleh karena pembuluh darah yang agak besar dan pembuluh darah pada kapsul prostat akan menjadi penahan panas (heat sink) sehingga tidak akan terjadi penjalaran panas keluar dari prostat. Waktu operasi lebih cepat 4. Keuntungan bedah laser ialah : 1. Tidak memerlukan terapi antikoagulan 6.kedalaman 3mm dibawa mukosa dan efek termal dapat mencapai 100°C sehingga pada kekuatan 40 – 60 watts akan menyebabkan koagulasi pada kedalaman 3mm sehingga akan terjadi letusan kecil yang disebut “pop corn effect”. Teknik lebih sederhana 3. de Jong W. Tahun 1989 Johnson menemukan alat pembelok Nd YAG sehingga sinar laser tersebut dapat dibelokkan 90° dengan menggunakan pembelok dari emas yang ditempelkan diujung serat laser. Lama tinggal di rumah sakit lebih singkat 5. 1997. kiri dan medius). Pada waktu ablasi akan ditemukan pop corn effect sehingga tampak melalui sistoskop terjadi ablasi pada permukaan prostat. Tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan tidak memerlukan transfusi 2. yang kemudian masih akan diikuti efek ablasi ikutan yang kan menyebabkan “laser nekrosis” lebih dalam setelah 4-24 minggu sehingga hasil akhir nanti akan terjadi rongga didalam prostat menyerupai rongga yang terjadi sehabis TUR. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi. Resiko ejakulasi retrograd minimal Kerugian : Penggunaan laser ini masih memerlukan anestesi (regional) DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidajat R. Costello (1992) mempelopori penggunaan laser ini utnuk ablasi pembesaran prostat jinak menggunakan laser yang dibelokkan 90° melalui sistoskopi.

Sabiston. David C. Buku Kuliah Dasar – Dasar Urologi. Bertram G. Nasution I. Gambaran Klinis dan Penatalaksanaan Hipertrofi Prostat. Jakarta : Binarupa Aksara. Jakarta : Gramedia. Pendekatan Farmakologis Pada Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). 1994. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah cetakan pertama. Dudley. Hugh. Katzung.. Jakarta : CV.com/media. Rahardjo D. Laboratory and Diagnostic Tests with Nursing Implications. 1998. Jakarta : Aksara Medisina. Jakarta : EGC.php?module=detailberita&id=356 Kee. Rahardja K. Tan Hoan Tjay.Jakarta : Media Aesculapius FK-UI. Reksoprodjo S.F.M. 1997. Benigna Prostat Hiperplasi.. Hamilton Bailey’s Emergency Surgery 11th edition. Penggunaan. Jakarta : Kuliah Staf Subbagian Urologi Bagian Bedah FK UI R. 1995. Khasiat. Dr..com/index. Jakarta : EGC. 3rd edition. 2000 ppni-klaten. Setiowulan W. dan Efek – Efek Sampingnya edisi V.E. Anonim. 2005. 2002. Joyce Lefever. Semarang : Bagian Farmakologi dan Terapeutik FK UNDIP.. Prostat Hipertrofi. Majalah Kedokteran Indonesia volume: 48.php?view. Mansjuoer Akan. Pembesaran Prostat Jinak.S.. Buku Ajar Bedah bagian 2.P.64%3Abph => pdf http://ortotik-prostetik. Gadjah Mada University Press. A. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi VI. Cipto Mangunkusumo. New Jersey: Pearson Education Inc. Soetomo-FK Universitas Airlangga. Jakarta : IDI.freetzi. Semarang : Sub Bagian Bedah Urologi FK UNDIP.Tenggara T. Urologi RSUD Dr.Obat Penting. . Purnomo B. 1993.catid. Obat . Soebadi D. 1997. Fitoterapi Dalam Pengobatan BPH.I. Surabaya : SMF/Lab. Kapita Selekta Kedokteran.Sagung Seto. Beberapa Perkembangan Cara Pengobatan. 1992. 2002. Suprohaita. Wardhani W. Kumpilan Kuliah Ilmu Bedah Khusus. 2000. Priyanto J. Hipertrofi Prostat Benigna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful