BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN

(STUDI PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI)

SKRIPSI DISUSUN DAN DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS SYARI'AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN SYARAT-SYARAT GUNA MEMPEROLEH GELAR SARJANA STRATA SATU DALAM ILMU HUKUM ISLAM OLEH: AGUS SANWANI ARIF NIM: 03360239

PEMBIMBING: 1. PROF. DR. KHOIRUDDIN NASUTION, M.A. 2. DRS. OCKTOBERRINSYAH, M.AG.

PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARI'AH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2008

i

ABSTRAK Pada dasarnya ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan tidak ditentukan secara tegas dalam literatur Hukum Islam. Ketentuan ini hanya dibicarakan dalam syarat-syarat perkawinan. Namun, untuk menegakan prinsip yang lima (ad-darūriyyah al-khams) serta mewujudkan maqāşid asy-syarī'ah maka pembatasan umur dalam perkawinan dipandang perlu dan diatur dalam undang-undang yang legal agar dapat ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Setelah ketentuan ini diatur dan diundangkan, pembatasan umur minimal perkawinan bagi seseorang yang hendak melangsungkan pernikahan yang terdapat dalam keputusan Inpres No. 1 Tahun 1991 Kompilasi Hukum Islam dalam penerapannya ternyata masih mengalami dilema. Di satu sisi ketentuan ini berimbas positif karena kasus pelecehan seksual yang sering terjadi terhadap remaja bisa dikurangi dengan jalan melakukan pernikahan dini. Sedang di sisi lain, banyaknya kasus perceraian yang terjadi di masyarakat justru karena suamiisteri tersebut secara psikologis belum memiliki kematangan jiwa dan mental dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Berbagai tarik ulur pendapat mengenai kemaslahatannya sering menjadi bahan kajian saat ini. Melihat perkembangannya, banyak yang menyatakan bahwa ketentuan tersebut sudah tidak layak lagi diterapkan mengingat banyaknya kasus perceraian yang terjadi akibat dari, salah satunya pernikahan dini (yang dimaksud dengan pernikahan dini disini adalah pernikahan yang terjadi pada saat umur suami-isteri masih dalam tahap remaja yang belum memiliki sifat kedewasaan dan kematangan jiwa). Skripsi ini adalah penelitian tentang batas umur minimal perkawinan (Studi Perbandingan Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi). Sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian pustaka (library research) yang berusaha menggali wacana pembatasan umur minimal perkawinan yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam dan ketentuan-ketentuan tertulis lain berdasarkan prinsip-prinsip perkawinan dalam Islam. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan secara kritik-analitik terhadap pandangan Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi tentang batas minimal umur perkawinan. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik, yaitu menggambarkan konsep-konsep pembatasan umur minimal dalam perkawinan yang terdapat dalam Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam. Kemudian dianalisis dan dikomparasikan dengan kajian psikologi. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembatasan umur minimal perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam dimaksudkan untuk kemaslahatan keluarga dan mampu meraih tujuan perkawinan. Pembatasan ini diperlukan mengingat banyaknya perkawinan di bawah umur yang marak terjadi di masyarakat. Sehingga kalau hal ini terjadi maka tujuan perkawinan yang diharapkan tidak akan terwujud karena yang akan terjadi adalah sebaliknya, yaitu kehancuran rumah tangga atau perceraian. Dalam kajian psikologi, ketentuan umur yang terdapat dalam undang-undang maupun Kompilasi Hukum Islam masuk dalam wilayah ‘masa remaja’, yaitu masa transisi menuju kedewasaan.

ii

MOTTO

“Helpt Uzelf en God zal U Helpen”
Tolonglah dirimu sendiri dan Tuhan akan membantumu.
(Pepatah Jerman)

xi

A. Konsonan Tunggal Huruf Arab Nama Alif Bā' Tā' Śā' Jim Hā' Khā' Dal Źal Rā' Zai Sīn Huruf Latin ………. B T Ś J H · Kh D Ź R Z S Keterangan tidak dilambangkan Be Te es titik atas Je ha titik di bawah ka dan ha De zet titik di atas Er Zet Es ‫أ‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ث‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬ ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ vi ..PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN Pedoman Transliterasi Arab-Latin ini merujuk pada SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987.

‫ش‬ ‫ص‬ ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬ ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ﻩ‬ ‫ء‬ ‫ي‬ Syīn Şād Dād Tā' Zā' 'Ain Gayn Fā' Qāf Kāf Lām Mīm Nūn Waw Hā' Hamzah Yā Sy Ş D · Ţ Z · …‘… G F Q K L M N W H …’… Y es dan ye es titik di bawah de titik di bawah te titik di bawah zet titik di bawah koma terbalik (di atas) Ge Ef Qi Ka El Em En we Ha apostrof Ye vii .

ditulis h: ‫هﺒﺔ‬ ‫ﺟﺰﻳﺔ‬ ditulis ditulis hibah jizyah (ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia seperti zakat. 2. Bila dihidupkan karena berangkaian dengan kata lain. Tā' marbūtah di akhir kata. ditulis t: ‫ﻧﻌﻤﺔ اﷲ‬ ‫زآﺎة اﻟﻔﻄﺮ‬ ditulis ditulis ni'matullāh zakātul-fitri D. Vokal pendek __َ _ (fathah) ditulis a contoh _ ____(kasrah) ditulis i contoh __ً _(dammah) ditulis u contoh _ ‫ﺿﺮب‬ َ ََ ‫ﻓﻬﻢ‬ َِ َ ‫آﺘﺐ‬ َ ُِ ditulis daraba ditulis fahima ditulis kutiba viii . 1. Bila dimatikan. Konsonan rangkap karena tasydīd ditulis rangkap: ‫ﻣﺘﻌ ّﺪﻳﻦ‬ ‫ﻘ‬ ‫ﻋ ّة‬ ‫ﺪ‬ ditulis ditulis muta‘aqqidīn ‘iddah C. kecuali dikehendaki lafal aslinya). shalat dan sebagainya.B.

dipisahkan dengan apostrof. Vokal rangkap: ditulis furūd 1. ditulis ī (garis di atas) ‫ﻣﺠﻴﺪ‬ ditulis majīd 4. ditulis au ‫ﻗﻮل‬ ditulis qaul G. ditulis ā (garis di atas) ‫ﺟﺎهﻠﻴﺔ‬ ditulis jāhiliyyah 2. dammah + wau mati. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata. ditulis ū (dengan garis di atas) ‫ﻓﺮوض‬ F. ‫ااﻧﺘﻢ‬ ‫اﻋﺪت‬ ‫ﻟﺌﻦ ﺷﻜﺮﺕﻢ‬ ditulis ditulis ditulis a'antum u'iddat la'in syakartum ix . fathah + wau mati.E. Vokal panjang: 1. kasrah + ya mati. fathah + alif maqşūr. ditulis ai ‫ﺏﻴﻨﻜﻢ‬ ditulis bainakum 2. ditulis ā (garis di atas) ‫ﻳﺴﻌﻲ‬ ditulis yas'ā 3. fathah + yā mati. fathah + alif.

ditulis dengan menggandengkan huruf syamsiyyah yang mengikutinya serta menghilangkan huruf l-nya ‫اﻟﺸﻤﺲ‬ ‫اﻟﺴﻤﺎء‬ ditulis ditulis asy-syams as-samā' I.H. Penulisan kata-kata dalam rangkaian kalimat dapat ditulis menurut penulisannya ‫ذوى اﻟﻔﺮوض‬ ‫اهﻞ اﻟﺴﻨﺔ‬ ditulis ditulis zawī al-furūd ahl as-sunnah x . Bila diikuti huruf syamsiyyah. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al- ‫اﻟﻘﺮﺁن‬ ‫اﻟﻘﻴﺎس‬ ditulis ditulis al-Qur'ān al-Qiyās 2. Huruf besar Huruf besar dalam tulisan Latin digunakan sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) J. Kata sandang Alif + Lām 1.

3.Ag.Ag. Amin Abdullah. Serta semoga keselamatan selalu menaungi keluarganya. M. xii . Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia ke jalan yang benar dan penuh dengan nur Ilahi.A. Bapak Prof. inayah dan taufik-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas akhir dalam menempuh studi di Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Drs. DR. selaku Ketua Jurusan PMH.KATA PENGANTAR ‫ﺑﺴﻢ اﷲ ا ﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ‬ ‫اﻟﺤﻤﺪ ﷲ اﻟﺬي ٲرﺱﻞ رﺱﻮﻟﻪ ﺑﺎﻟﻬﺪى ودیﻦ اﻟﺤﻖ، ﻟﻴﻈﻬﺮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺪیﻦ آﻠﻪ وآﻔﻰ‬ ‫ﺑﺎﷲ ﺷﻬﻴﺪا. sahabatnya dan orang-orang yang selalu mengikuti jalannya. Ph. Bapak Drs. terutama kepada: 1.Ag. Najib. ٲﺷﻬﺪ ٲن ﻻ ٳﻟﻪ ٳﻻ اﷲ وٲﺷﻬﺪ ٲن ﻡﺤﻤﺪا ﻋﺒﺪﻩ ورﺱﻮﻟﻪ. tak lupa pula penyusun mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini. M. Oman Fathurrohman SW. selaku Dekan Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. M. Kemudian. selaku Pembimbing Akademik.. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. ٲﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ وﺱﻠﻢ‬ :‫ﺑﻌﺪ‬ ‫ﻋﻠﻰ ﻡﺤﻤﺪ وٲﻟﻪ وﺻﺤﺒﻪ ٲﺟﻤﻌﻴﻦ ٲﻡﺎ‬ Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat. Bapak Agus Moh.. tenaga atau pikiran. baik berupa bantuan dan dorongan moril maupun materiil. S. 2.. H.D. Yudian Wahyudi.. M.. 4.

.

....................................................................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ........................................ xii DAFTAR ISI ....... Syarat dan Rukun Perkawinan ......................................... xiv BAB................. Tujuan dan Kegunaan ....... Tujuan Perkawinan ............................................... 25 C.............................. III................ Batas Umur Minimal Perkawinan ................... 9 E.................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................... Latar Belakang Masalah ............................................................................ BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI ... Kerangka Teoretik .................................... 37 BAB.................... 1 B.......... vi MOTTO ........................................................... v PEDOMAN TRANSLITERASI .......................................................... 8 D.... Sistematika Pembahasan ............ 33 E.................... 19 BAB.............. 21 B............................................................ Pengertian Umur .......... 31 D............................................. PENDAHULUAN A.............. I............................. II. 12 F. xi KATA PENGANTAR ..................... TINJAUAN UMUM TENTANG BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN A..................................................................................................... 8 C....................................................................... ii HALAMAN NOTA DINAS .......... Telaah Pustaka ................................................................................................................................. i ABSTRAK ..................................................... Metode Penelitian .................................................................................... Pokok Masalah . 16 G................................................................. Pengertian Perkawinan ...........................................

.............................. Landasan Kompilasi Hukum Islam dalam Pembatasan Umur minimal Perkawinan .................................. 78 B......... ANALISIS PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI TENTANG BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN A........ Landasan Psikologi dalam pembatasan Umur Perkawinan ..... 54 a... Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam ............................................... Batas Umur Minimal Perkawinan di Negara Muslim Lain .... 42 1.................................................................. 81 LAMPIRAN TERJEMAHAN ............A..... Perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam ...... Analisis Persamaan dan Perbedaan Batas Umur Minimal Perkawinan dalam KHI dan Psikologi ...... 54 b................. IV LAMPIRAN RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN DALAM KHI .................................................................. 43 b........ X xv ..... Landasan Yuridis Formal ................................ Latar Belakang Penyusunan KHI ........... V.... 43 a............ 56 BAB.............................................................................. 42 2...................................................... VII LAMPIRAN CURRICULUM VITAE ...... Saran .......................... Sekilas tentang Psikologi . Kesimpulan ...... Faktor Psikologis dalam Perkawinan .................................................................................................................... I LAMPIRAN BIOGRAFI TOKOH DAN ULAMA .. IV................. Perkawinan dalam Psikologi ................................................................ 79 DAFTAR PUSTAKA ................................. 53 2................. PENUTUP A.......... Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Psikologi ........... 46 B....................... 65 B............................. 53 1................................... 74 BAB.......................

An-Nisā’ (4): 1. binatang maupun tumbuh-tumbuhan tidak bisa lepas dari pernikahan atau perkawinan. hlm. Dalam ayat lain dinyatakan: ‫وﻣﻦ أیﺎﺗﻪ أن ﺧﻠﻖ ﻝﻜﻢ ﻣﻦ ٲﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ ﻝﺘﺴﻜﻨﻮا إﻝﻴﻬﺎ وﺟﻌﻞ ﺑﻴﻨﻜﻢ ﻣﻮدة ورﺣﻤﺔ‬ 3 ‫إن ﻓﻲ ذاﻝﻚ ﻻٔیﺎت ﻝﻘﻮم یﺘﻔﻜﺮون‬ Perkawinan (pernikahan) pada hakekatnya merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk suatu keluarga Mohammad Asmawi.1 Hukum alam semacam ini dijelaskan dalam firman Allah SWT: 2 ‫وﻣﻦ آﻞ ﺷﻲء ﺧﻠﻘﻨﺎ زوﺟﻴﻦ ﻝﻌﻠﻜﻢ ﺗﺬآﺮون‬ Ketentuan ini berlaku pada setiap jaman dan masa semenjak makhluk hidup ada di muka bumi ini hingga saat sekarang bahkan untuk selamanya. Ini merupakan sunnatullāh (hukum alam) untuk kelangsungan hidup umat manusia.BAB I PENDAHULUAN A. Nikah Dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta: Darussalam.. 18. 3 . Ar-Rūm (30): 21. semua makhluk hidup baik manusia. Setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. 2 1 Aź-Źāriyāt (51): 49. An-Nahl (16): 72.. Lihat juga Asy-Syūrā (42): 11. berkembang-biaknya binatang-binatang dan untuk melestarikan lingkungan alam semesta. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan dunia fana ini. 2004).

Menggagas Fiqh Sosial. tempat berbagi suka dan duka. . Hidup bersama merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik kebutuhan yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Menurut Ali Yafie. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melaluinya bersama dengan orang lain yang bisa dijadikan curahan hati penyejuk jiwa.4 Hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dan telah memenuhi ketentuan hukumnya. karena perkawinan tidak hanya menyangkut pribadi kedua calon suami istri. cet. Hal itu dikarenakan sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial yang suka berkelompok atau berteman dengan manusia lainnya. Pada umumnya perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaedah-kaedah perkawinan 4 Ali Yafie. 256.2 yang kekal dan bahagia. Demikian pula bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang telah mencapai usia tertentu maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Perkawinan ini dianggap suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia. bentuk-bentuk hubungan pria dan wanita ini sudah dikenal manusia sejak jaman dahulu kala. tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Hidup bersama atau hubungan antara dua orang yang berlainan jenis kelamin (pria dan wanita) dapat berlangsung dalam beberapa bentuk. ke-2 (Bandung: Mizan. 1994). hlm. ini yang lazimnya disebut sebagai sebuah perkawinan. Manusia dalam menempuh pergaulan hidup dalam masyarakat ternyata tidak dapat terlepas dari adanya saling ketergantungan antara manusia dengan yang lainnya.

Bahkan. Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan kepada para pemuda yang sudah mampu untuk segera menikah. Makanya Allah menegaskan dalam beberapa ayat-Nya bahwa betapa pentingnya hubungan perkawinan ini dijalankan. Perkawinan sebagai bentuk hubungan antara dua makhluk yang sejenis merupakan unsur terpenting dalam keberlangsungan kehidupan didunia ini. (Beirut: Dar al-Fikr. usianya belum mencapai tiga puluh tahun. VI: 143. Semua agama umumnya mempunyai hukum perkawinan yang tekstular. pernikahan sudah dianggap sah bila sudah diucapkan ijab kabul oleh mempelai laki-laki di hadapan wali dan saksi-saksi.3 dengan kedah-kaedah agama." "Bab Man Lam Yastaţi’ al-Bā’ah Falyaşum". 1414 H/1994 M). Dalam satu hadis Nabi disebutkan: ‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻝﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺱﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻝﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج ﻓ ﻥﻪ ٲﻏﺾ ﻝﻠﺒﺼﺮ وٲﺣﺼﻦ‬ 5 ‫ﻝﻠﻔﺮج وﻣﻦ ﻝﻢ یﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻝﺼﻮم ﻓ ﻥﻪ ﻝﻪ وﺟﺎء‬ Dalam hadis di atas. semua agama mensyaratkan peneguhan dan pemberkatan oleh pejabat sebagai syarat syahnya perkawinan menurut hukum agama. Şahīh al-Bukhārī. 5 . siapakah yang dimaksud dengan Syabāb itu? Syabāb adalah seseorang yang telah mencapai aqil balig dan menurut mayoritas ulama. "Kitāb an-Nikāh. Sedangkan menurut agama Islam. Nabi SAW menggunakan kata Syabāb yang sering kita maknakan dengan ‘pemuda’. Manusia akan punah dan tidak bisa berkembang biak lagi. Hadis diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud. Kecuali agama Islam. Aqil balig bisa di Al-Bukhārī. Tanpa adanya interaksi semacam ini mustahil kehidupan manusia bisa bertahan lama. Akan tetapi.

Norma ini berasal dari ajaran agama maupun budaya setempat. psikis.6 Usia 14-17 tahun bagi seseorang yang disebut syabāb dalam hadits Nabi SAW di atas. Akan tetapi. Harapan usia menikah untuk pria dan wanita biasanya berbeda. Masa aqil balig seharusnya telah dialami oleh tiap-tiap orang pada rentang usia 14-17 tahun. 47.. pada masa sekarang datangnya ihtilām sering tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran seseorang sehingga orang tersebut telah memiliki kedewasaan berpikir.7 Dalam masyarakat terdapat suatu norma. Batas usia harapan menikah ini berbeda-beda. Mohammad Fauzil Adhim. dalam tinjauan psikologi rentang usia ini masuk dalam kategori masa remaja. hlm. 2002). 2004). Masa Transisi Remaja (Jakarta: Triasco Publisher. 30. Abdurrouf dkk. dan seterusnya. Generasi yang lahir pada jaman ini banyak yang telah memiliki kematangan seksual. 25. . hlm. dan dapat berubah dari masa ke masa. tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir. dan pematangan fungsi seksual. bahwa setiap orang yang telah memasuki masa dewasa selayaknya memiliki pasangan dan memasuki jenjang perkawinan. Masa ini juga disebut sebagai pubertas yakni masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik. Salah satu tanda yang biasa dijadikan patokan apakah seseorang sudah dianggap balig atau belum adalah datangnya mimpi basah (ihtilām). 1. pria lebih tinggi daripada wanita. Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. 7 6 Moh. Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press.4 tandai dengan mimpi basah (ihtilām) atau masturbasi (haid bagi wanita) atau telah mencapai usia 15 tahun. Ada yang mematok 18 tahun.

.J. alih bahasa Siti Rahayu Haditono. Oleh karena itu apapun yang F. 9 8 . jika menurut psikologi usia terbaik untuk menikah adalah antara 1925 tahun. Perkawinan sebagai bagian dari hukum keluarga tentunya juga mendapatkan proporsi perhatian yang penting.5 Norma tentang usia perkawinan itu merupakan bagian dari tugas perkembangan. dkk. psikis. Tugas perkembangan ini digariskan mengikuti potensi-potensi yang dalam keadaan normal berkembang terus sepanjang siklus kehidupan manusia. Monks. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.9 Lalu. Dalam psikologi. Di negara Indonesia sendiri hukum keluarga yang dianggap sebagai bagian dari Hukum Islam telah diundangkan dalam UU No. 1985). hlm 20. “Tugas Perkembangan Masa Remaja. ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. bagaimana dengan pembatasan usia minimal menikah yang ditetapkan oleh Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disebut: KHI) yang disebar luaskan dengan Instruksi Presiden No. Potensipotensi yang dipertimbangkan meliputi potensi fisik. telah digariskan. akses 6 Mei 2008. Di setiap negara Muslim lainnya. sebelum masuk usia tengah baya. cet. isu ini berkembang hangat.multiply. tugas perkembangan individu dalam tiap-tiap rentang usia (bayi hingga lansia/dewasa akhir).” http://abang1980. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.8 Khususnya mengenai perkawinan. dan sosial. 1 Tahun 1991? Persoalan perkawinan semacam ini mencuat seiring dengan isu pembaharuan hukum Islam dalam suatu negara yang tidak hanya di dominasi oleh negara Indonesia. ini merupakan bagian dari tugas perkembangan individu yang semestinya sudah dicapai pada masa dewasa awal (berkisar 21-35 tahun).com/journal/item/26.

10 Disini kita lihat adanya perbedaan tentang usia diperbolehkannya atau usia terbaik untuk melangsungkan perkawinan menurut tinjauan psikologi dan KHI. 2001). (4) dan (5) UU No. (3). oleh karena hukum Islam sendiri tidak melarang terjadinya perkawinan di bawah usia 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. 1 Tahun1974. Abdurrahman. yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurangkurangnya berumur 16 tahun. (2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2). hlm. Pengaturan semacam ini diperkuat lagi dengan adanya penegasan yang tertera dalam KHI yang menyatakan bahwa: Pasal 15 (1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. Jadi bagi laki-laki dan perempuan yang telah mencapai usia 21 tahun tidak perlu ijin lagi untuk menikah (Pasal 7). ke-3 (Jakarta: Akademika Pressindo. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. cet. Untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang tua (Pasal 6). 10 . 117. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan seseorang diperbolehkan melakukan perkawinan bila telah mencapai umur 19 tahun bagi laki-laki dan umur 16 tahun bagi perempuan. Dari sekian peraturan yang berhubungan dengan perkawinan yang mendapat perhatian lebih adalah masalah pembatasan umur minimal perkawinan. Namun pada dasarnya ketentuan-ketentuan tersebut tidak berlaku dalam ajaran Islam. Menurut UU No.6 menyangkut masalah perkawinan akan mendapat sorotan luas dari masyarakat. 1 Tahun 1974.

20.12 Dadan Muttaqien. Klasifikasi inilah yang biasanya dijadikan landasan pada umur atau pada tingkat yang mana seseorang dikenai taklīf (kewajiban) untuk melakukan perbuatan tertentu. hlm.11 Berkenaan hal di atas. ke-1 (Yogyakarta: Insania Cita Press. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. Psychology of Loving. bālig. sedangkan dalam psikologi diterangkan bahwa dalam usia-usia tertentu seseorang bisa jadi belum memiliki kedewasaan berpikir. Pernikahan yang masih terlalu muda mempunyai resiko ketidakbahagiaan di masa yang akan datang. Klasifikasi itu adalah: mumayyiz. 2004). maka sewajarnya bila permasalahan usia dalam perkawinan menjadi bahan yang perlu dikaji kembali. 12 11 Ignace Lepp. 2006). 41. bisa dipastikan umur perkawinan mereka tidak akan bertahan lama karena keduanya belum memiliki rasa tanggung jawab dan belum memiliki mental yang kuat untuk menghadapi rintangan bahtera rumah tangga. alih bahasa Eriyanti (Yogyakarta: Alenia.7 Dalam Islam terdapat beberapa klasifikasi umur seseorang bisa dipandang telah memiliki kecakapan hukum atau tidak. cet. apabila ada sepasang suami-isteri yang menikah di bawah umur. karena sangat mungkin mereka tidak lagi mempunyai kesamaan ketika mereka telah mencapai kedewasaan. . Realita yang terjadi di masyarakat umumnya adalah bahwa perkawinan tidak memandang usia. dan rusyd. hlm. Sehingga yang terjadi.

Tujuan dan Kegunaan Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Sedangkan kegunaan penelitian ini antara lain: 1. terlebih untuk penyusun sendiri. Memberikan kontribusi ilmiah bagi perkembangan dunia pengetahuan terutama yang erat kaitannya dengan kajian usia perkawinan perspektif Kompilasi Hukum Islam dan psikologi.8 B. Bagaimana pandangan Kompilasi Hukum Islam dan psikologi tentang batas umur minimal perkawinan? 2. 2. . yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini antara lain: 1. Mengetahui secara jelas dasar dan pijakan hukum yang dipergunakan dalam penetapan batas umur minimal perkawinan dalam KHI dan psikologi. psikolog maupun masyarakat luas. Landasan apa saja yang diterapkan oleh Kompilasi Hukum Islam dan psikologi untuk menentukan batas usia minimal perkawinan? C. Menjelaskan secara kritik-analitik terhadap pandangan Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi tentang batas minimal usia perkawinan. baik di lingkungan akademik. Memberikan manfaat bagi siapa saja yang mengkaji masalah perkawinan di Indonesia. 2. praktisi hukum. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang di atas.

Bahasan yang terkandung di dalamnya mencakup banyak hal dan selalu membangkitkan gairah bagi para penulis dan peneliti. Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga dan Rumah Tangga (Bandung: Pustaka Hidayah. memberikan gambaran lebih 13 Abdurrahman. Problem-problem sekitar rumah tangga menjadi salah satu objek yang sangat sering dilirik karena bagaimanapun juga lembaga perkawinan yang mengikat sebuah rumah tangga tak selamanya sepi dari masalah. 14 . buku ini tetap menjadi rujukan primer dalam penelitian ini. dalam penelitian ini pembahasan lebih difokuskan dalam materi pembatasan umur minimal perkawinan menurut tinjauan KHI dan psikologi. adat ataupun hukum Barat. Walaupun ada beberapa kekurangan. Namun. Kemudian dalam buku Ilmu Perkawinan Problematika Seputar Keluarga dan Rumah Tangga14 karangan Nasaruddin Latif. Sehingga banyak sekali buku-buku yang membahas tentang perkawinan dipandang dari berbagai sudut. seperti kurangnya penjelasan terhadap berbagai pasal. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Akademika Pressindo. 2001). Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Di antara buku-buku yang membicarakan tentang perkawinan dari sudut hukum Islam adalah buku karangan Abdurrahman. Telaah Pustaka Membicarakan perkawinan berarti memasuki dunia yang penuh dengan warna-warni.13 Buku ini mengkaji secara mendalam tentang latar belakang penyusunan. baik dari segi sudut agama. landasan dan kedudukan KHI beserta isi-isi pasalnya. proses penyusunan. 1992).9 D. Nasaruddin Latif.

antropologi. Patokan usia ini sesuai dengan pendapat Sarwono Prawirohardjo yang dikemukakan di hadapan sidang Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ tahun 1955.. Padahal dalam banyak kasus agar nash dapat dipahami secara lengkap dan kontekstual. 16 15 Ibid. . 2004). mulai pedoman memasuki gerbang perkawinan sampai problematika yang muncul dalam proses kehidupan berumah tangga. 4-5. batas terendah bagi usia perkawinan seorang anak gadis sekurang-kurangnya adalah 18 tahun. Buku Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1)15 karya Khoiruddin Nasution menjelaskan tentang pengertian. Salah satu ciri rumusan tersebut adalah: Kajian Islam yang terlalu menekankan dan berdasar pada ilmu agama murni. rukun. ilmu sosiologi.10 jelas seputar liku-liku perkawinan. sama sekali tidak mempertimbangkan atau menggunakan konsepkonsep atau teori-teori ilmu-ilmu lain. Ada pernyataan yang menarik dalam buku ini terkait dengan rumusan atau konsep yang dirumuskan oleh para ahli hukum Islam konvensional tentang pembahasan perkawinan. seharusnya dengan bantuan ilmu lain. tujuan dan juga prinsip-prinsip dalam perkawinan. ilmu jiwa dan semacamnya. seperti teori yang lahir dari ilmu sosiologi. sejarah dan sejenisnya. Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1) (Yogyakarta: Academia & Tazzafa. syarat. hlm. seperti bantuan ilmu sejarah.16 Pernyataan di atas membangkitkan semangat penyusun untuk mengkaji masalah ini dengan menggunakan pisau analisis perbandingan antara ilmu agama Khoiruddin Nasution. Dalam buku ini dinyatakan bahwa jika diambil patokan umur yang paling baik bagi perkawinan yang sesuai dengan keadaan di Indonesia.

M. Selanjutnya buku-buku psikologi yang membahas fase perkembangan manusia adalah Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan18 karya Elizabeth B. Tapi alasan-alasan yang dikemukakannya dalam buku ini bukan berarti tanpa landasan. Kemudian buku yang secara lugas membahas tentang Indahnya Pernikahan Dini17 ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Soedjarwo. Ia melihatnya dari sudut agama dan juga psikologi. 18 . Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.Sc. Buku ini benar-benar mampu menggugah perasaan siapa saja yang membacanya terlebih lagi bagi para ‘bujangan’ yang hendak menikah namun belum mendapat kepercayaan diri karena seribu masalah yang menghadangnya. edisi ke-5 (Jakarta: Erlangga.11 dengan ilmu jiwa (psikologi) agar nantinya bisa ditarik sebuah conclusion yang dapat diterapkan dengan konteks yang terjadi di masyarakat. Hurlock. Sebuah buku yang komprehensif dalam menjelaskan fase-fase perkembangan manusia semenjak masa kanak-kanak sampai masa tua. Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press. tt). alih bahasa Dra. Elizabeth B. Hurlock. Istiwidayanti dan Drs. Fauzil seakan-akan menyuruh setiap pemuda untuk menikah dalam usia muda.. Buku-buku di atas adalah sebagian kecil dari referensi yang dijadikan rujukan dalam penyusunan penelitian ini disamping buku-buku lainnya yang terkait dengan masalah perkawinan. 2002). 17 Mohammad Fauzil Adhim.

Abdurrouf. bahaya Penyakit Menular Seksual (PMS). keselamatan akal pikirannya. dan kelima. bahaya HIV/AIDS dan kekerasan terhadap perempuan terdapat dalam buku Masa Transisi Remaja 20 karangan Moh. pertama. Dasar dari segala kepentingan dari setiap manusia adalah. Abdurrouf dkk. E. raga. Buku ini menjelaskan beberapa faktor peranan umur dalam kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat dan perkawinan. keselamatan nasab keturunannya. dan peranan komunikasi dalam perkawinan.. dan kehormatannya. . Peranan faktor psikologis dalam perkawinan. 20 19 Moh. dkk. kehamilan. sampai pada kesehatan seksual. tidak hanya perubahan pada fisik (jasmani) melainkan juga perubahan pada psikis (rohani). Buku yang membedah kehidupan remaja semenjak mereka mengalami perubahan-perubahan pada diri mereka sendiri. 2004). keselamatan harta bendanya. Masa Transisi Remaja (Jakarta: Triasco Publisher. Lima kebutuhan penting tersebut sangat Bimo Walgito. keselamatan agamanya. 2004). keempat. Kerangka Teoretik Setiap manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini mempunyai keperluan yang dia pentingkan untuk menegakkan kehidupannya dan untuk mencapai perkembangan menuju kesempurnaan hidup. keselamatan dirinya. Bimbingan dan Konseling Perkawinan.. yakni keselamatan jiwa. peranan agama dalam perkawinan. Kedua. edisi ke-2 (Yogyakarta: Penerbit Andi. ketiga.12 Peranan umur dalam perkawinan yang dibahas secara lugas terdapat dalam buku Bimbingan dan Konseling Perkawinan19 karangan Bimo Walgito. peranan faktor fisiologis dalam perkawinan.

dalam perkawinan akan terjaga bila calon suami dan isteri telah benar-benar pula memiliki kesiapan mental dan moral untuk dapat menjaga nama baik keluarganya (baik keluarga dari pihak suami maupun kelurga dari pihak isteri). memiliki beberapa implikasi dengan salah satu ad-darūriyyah al-khams di atas. . Begitu juga keselamatan nasab keturunannya. Keselamatan jiwa atau kehormatan dalam perkawinan harus diutamakan dalam perkawinan. 27/1983 dinyatakan bahwa perkawinan di bawah umur adalah perkawinan yang dilaksanakan di bawah umur 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi laki-laki.13 mendasar bagi hajat hidup setiap manusia. Maka dari itu perkawinan dari segi umur yang terlalu dini sangat beresiko terhadap kelangsungan kehidupan keluarga tersebut.21 Sebuah perkawinan yang pada dasarnya adalah salah satu kepentingan manusia untuk meraih beberapa tujuan hidup yang telah digariskan. Perkawinan semacam ini seringkali terjadi di kalangan masyarakat yang memandang bahwa yang terpenting dalam sebuah 21 Ali Yafie. 185. apakah penetapan batas umur minimal yang ditetapkan dalam undang-undang sudah sesuai dengan kondisi saat ini ataukah malah sebaliknya. Menggagas Fiqh Sosial. perlu direvisi ulang? Dalam instruksi Mendagri No. Hal ini hanya akan bisa terjadi bila calon suami isteri yang akan melangsungkan pernikahan benar-benar telah matang fisik dan psikisnya (jiwanya). Dan inilah yang dikenal dalam ajaran Islam dengan istilah al-kulliyah al-khams atau ad-darūriyyah al-khams. Penting disini kiranya kita melirik kembali. hlm. Inilah yang dijadikan standar bagi kemaslahatan setiap orang yang berhubungan dengan martabat kemanusiaannya.

Perkawinan merupakan bentuk hubungan dua orang yang awalnya tidak memiliki ikatan apa-apa. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan terutama Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 2 ayat (2).23 Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah kedua mempelai harus mencapai usia aqil balig untuk dapat melangsungkan pernikahan. Islam juga menempatkan pernikahan pada posisi yang sangat mulia. 1 Tahun 1974 dari Segi Hukum Islam (Jakarta: Penerbit Ind–Hill.”22 Islam melihat pernikahan sebagai sebuah pandangan yang indah dan memasukannya ke dalam bagian terpenting di tatanan kehidupan. Islam memandang bahwa perkawinan adalah sunnatullāh yang di-taklīfkan kepada umat manusia dan “Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Moh. dan bagi golongan orang-orang Islam harus diperlakukan Hukum Perkawinan Islam seperti yang ditetapkan oleh UU No. 1985). Tinjauan Beberapa Pasal UU No. 49.14 perkawinan adalah tercapainya syarat-syarat dan rukun-rukun perkawinan itu. dan satu sama lain tidak memiliki hak dan kewajiban 22 23 Asy-Syūrā (42): 21. Idris Ramulyo. Pandangan seperti ini tidak bisa disalahkan atau tidak dibenarkan. Bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia mutlak adanya UU Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan dalam masayarakat. dan sahnya perkawinan menurut Hukum Islam harus memenuhi syarat dan rukun-rukunnya. Pembatasan yang diterapkan dalam UU No. hlm. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan maupun dalam KHI sebenarnya sudah sesuai dengan ketentuan ini. Usia mempelai tidak menjadi syarat utama boleh tidaknya perkawinan dilangsungkan. .. Co.

Ketika seorang wali menyerahkan anak perempuannya (ījāb) dan seorang laki-laki menerimanya (qabūl) maka sejak saat itulah kewajiban orang tua untuk mengurus anaknya terputus dan tergantikan oleh calon suami yang meminangnya. Ditinjau dari perspektif psikologi. . Nikah dalam Perbincangan dan Perbedaan. hlm. usia memulai perkawinan itu harus memperhitungkan kematangan jasmani 24 Mohammad Asmawi. Disini babak baru kehidupan bagi dua insan ini bersatu.15 yang harus ditunaikan. Sedang bagi seorang gadis. pernikahan di usia muda sangat tidak menguntungkan dari segi kematangan mental dalam memasuki kehidupan yang luas untuk berintegrasi sosial dengan masyarakat sekitarnya.24 Bagi seorang pemuda. Ketika hubungan kedua orang ini legal dan memiliki kekuatan hukum. Ketika keluarga baru ini dipimpin oleh suami atau isteri yang belum memiliki mental kemasyarakatan yang tinggi. tidak mampu beradaptasi dengan keadaan lingkungannya apalagi untuk mengurus rumah tangganya saja masih semrawut karena usia mereka di bawah 15 tahun misalnya. maka kehidupan keluarga ini bisa dipastikan kurang harmonis dalam berinteraksi dengan masyarakatnya. Maka terciptalah tatanan kehidupan masyarakat dari beberapa keluarga kecil ini. 88. usia untuk memasuki gerbang perkawinan dan kehidupan berumah tangga pada umumnya dititik-beratkan pada kematangan jasmani dan kedewasaan pikirannya serta kesanggupannya untuk memikul beban tanggung jawab sebagai suami dalam rumah tangganya. maka hak dan kewajiban itu muncul dengan sendirinya.

26 Kemudian menelaah dan menggunakan bahanbahan berupa buku. 9. Suharsimi Akunto. 22. 1. maka dari itu dibutuhkan metode yang sudah menjadi syarat mutlak dalam penulisan karya ilmiah (skripsi). Metode Penelitian Penyusunan skripsi ini menggunakan beberapa metode yang bertujuan untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian skripsi ini.25 Namun disisi lain ada yang beranggapan bahwa usia bukanlah ukuran utama untuk menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta.16 dan ruhaninya yang memungkinkan ia dapat menjalankan tugas sebagai isteri dan ibu dengan sebaik-baiknya. hlm. 11. sehingga dapat diketahui gambaran-gambaran yang jelas. majalah. ensiklopedi. F. hlm. media online dan sumber pustaka lainnya untuk dikaji lebih lanjut. Untuk lebih memahami dan memudahkan persoalan yang akan diteliti.27 25 26 Nasaruddin Latif. 27 Sutrisno Hadi. 1990). yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari sumber buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini. 1998). hlm. . Jenis Penelitian Jenis penelitian ini bisa dikategorikan sebagai penelitian pustaka (library research). bahwa menikah bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kenakalan kaum remaja yang kian tak terkendali. Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset. Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga. jurnal.

kaidah-kaidah ushul fiqh. 1996). Metode Penelitian Filsafat (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Analisis Data Data yang terkumpul tersebut selanjutnya dilakukan analisis data secara kualitatif dengan menggunakan instrumen analisis deduktifkomparatif. dimana kesimpulan itudengan sendirinya muncul dari satu atau beberapa premis. 1994). 4749. serta pendapat ulama yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. dan untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala/frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Sedangkan pendekatan yuridis. maka pengumpulan data dilakukan terhadap bahan-bahan yang ada kaitannya dengan pembahasan penelitian ini.30 Yaitu pendekatan dengan memandang bahwa pembatasan usia minimal perkawinan walaupun telah diatur secara Sudarto. Deskriptif. yaitu pendekatan dengan tolok ukur tata aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia (hukum positif) yang mengatur tentang perkawinan. hlm. berarti menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu. gejala atau kelompok tertentu. yaitu pendekatan dengan tolok ukur norma-norma agama melalui penelusuran teks-teks al-Quran. Dahlan Al Barry. keadaan. 30 29 28 . 95. Partanto dan M. terutama buku-buku yang mengkaji usia perkawinan menurut KHI dan psikologi. Pengumpulan Data Karena penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Deduksi adalah penarikan kesimpulan dari yang berbentu umum ke bentuk khusus.17 2.29 5. Kamus llmiah Populer (Surabaya: Arkola. Analitik. Sifat Penelitian Sifat penelitian ini adalah deskriptif-analitik28 3. Pius A. Pendekatan normatif. adalah jalan yang dipakai untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan perincian terhadap objek yang diteliti dengan jalan memilah-milah antara kondisi yang satu dengan kondisi yang lain. hlm. 4. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penelusuran berbagai literatur. hadis. Pendekatan Pendekatan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif-yuridis.

dan motivasi terhadap aktualisasi diri. Pengantar Psikologi. Pendekatan neurobiologi mencoba menghubungkan tindakan kita dengan peristiwa yang terjadi dalam tubuh kita. Pendekatan behavior (perilaku) berfokus pada kegiatan luar organisme yang dapat diamati dan diukur.). hlm. kebebasan memilih. alih bahasa Nurdjannah Taufiq dan Rukmini Barhana. Psikologi kognitif menekankan cara otak mengolah informasi yang masuk secara aktif dan mengubahnya dengan berbagai cara. Rita L. Pendekatan Psikoanalitik menekankan motif di bawah sadar yang berakar dari dorongan seksual dan agresi yang ditekan pada masa anak-anak. Pendekatan fenomenologis dan humanistik berfokus pada pengalaman subjektif seseorang. terutama dalam otak dan sistem saraf..18 yuridis dalam undang-undang (Pasal 7 UU No. maka tidak semua pendekatan psikologi itu diterapkan. edisi ke-8 (Jakarta: Erlangga. Bidang tertentu dari penyelidikan psikologi dapat didekati dari beberapa sudut pandang ini. 31 . Sedangkan dalam studi psikologi dapat didekati dari berbagai sudut pendekatan. 37. tt. Penyusun hanya mengkaji secara umum dan tidak terfokus pada salah satu dari pendekatan studi psikologi di atas. Atkinson dkk.31 Namun karena penelitian ini bersifat analisis komparatif. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam) namun pembentukannya tidak terlepas dari pengaruh hukum Islam sendiri yang bersifat normatif.

batas umur minimal manusia dalam perkawinan. dimana setiap bab mempunyai sub-sub bab yang terkait dengan cakupan bab tersebut. berisi acuan yang akan digunakan dalam pembahasan dan penyelesaian masalah. adapun sub bab pertama. Keempat. membahas tentang batas umur minimal dalam KHI yang meliputi. merupakan penegasan dari apa yang terkandung dalam latar belakang masalah. tujuan perkawinan. berisi tentang struktur dan turunan yang akan dibahas dalam penyusunan skripsi ini. pokok masalah. Dan ketujuh. Keenam. Kedua. telaah pustaka. Sistematika Pembahasan Dalam penyusunannya. yang berisi tentang cara-cara yang dipergunakan dalam penelitian. Ketiga. Bab I terdiri dari tujuh sub bab. Kajian dalam bab ini membicarakan tentang pengertian umur manusia. penulisan penelitian ini dibagi ke dalam beberapa bab. sistematika pembahasan. . pertama adalah pendahuluan yang memuat latar belakang masalah yang diteliti. sedangkan kegunaan merupakan manfaat dari hasil penelitian. Bab II berisi tinjauan umum tentang batas usia minimal perkawinan. Pendahuluan ini berfungsi untuk mengarahkan penyususn kepada substansi penelitian. pengertian perkawinan. berisi penelusuran terhadap literatur yang berkaitan dengan obyek penelitian. dan dasar-dasar hukum perkawinan Bab III mengkaji tentang pengertian batas umur minimal perkawinan dalam KHI dan psikologi. syarat dan rukun perkawinan. tujuan adalah keinginan yang ingin dicapai dalam peelitian ini. tujuan dan kegunaan. metode penelitian. Kelima. kerangka teoretik. Bab ini dibagi menjadi dua sub bab.19 G.

20 pengertian perkawinan menurut KHI dan landasan KHI dalam pembatasan umur perkawinan. landasan psikologi dalam pembatasan umur perkawinan. hanya sebagai bahan perbandingan saja. Sebagai penutup. perkawinan menurut psikologi. Bab IV. Sub bab kedua. membahas tentang batas umur minimal perkawinan dalam psikologi yang terdiri dari. penyusun memfokuskan penelitian ini pada analisis komparatif antara Kompilasi Hukum Islam dan psikologi. Kemudian secara sekilas menjelaskan batas umur minimal perkawinan di berbagai negara lain. Analisis komparatif ini digunakan untuk menemukan persamaan dan perbedaan kedua pandangan tersebut dari berbagai aspeknya. bab V diisi dengan saran (rekomendasi) dan kesimpulan akhir dari penelitian ini. .

Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. ada batasan tertentu sampai di mana ia masih bisa bernafas. Pengertian Umur Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya. seperti diberi akal. cet.BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN A. Keduanya mengandung pengertian yang sama yaitu rentang masa hidup seseorang. 2 1 . hlm. 1683. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sedangkan perkataan 'usia kawin' dapat diartikan dengan usia yang dianggap cocok secara fisik dan mental untuk kawin (kira-kira di atas 20 tahun). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989). hlm. dan dibekali kehendak untuk meraih sesuatu. Kelebihan-kelebihan inilah yang menjadikannya sebagai khalīfah di muka bumi ini. 1991). dikaruniai perasaan. umur diartikan dengan masa hidup sesorang atau sejak dilahirkan atau diadakan. Umur dunia semakin tua namun ia tidak akan hancur sebelum Tuhan menentukannya hancur.2 Peter Salim dan Yenny Salim. ke-2 (Jakarta: Balai Pustaka. 998. Tanggung jawab ini terus berkesinambungan selama dunia ini masih tegak dan matahari masih terbit dari timur. ke-1 (Jakarta: Modern English Press. Sedang umur manusia.1 Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara kata 'umur' dan 'usia'. cet.

Allamah Sayyid Abdullah Haddad. Renungan tentang Umur Manusia. Renungan tentang Umur Manusia. menjadi lima bagian umur. Di antaranya źurriyat yang bahagia dan źurriyat yang celaka. Allamah Sayyid Abdullah Haddad. hlm. hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: ‫ﻗﻞ ﻟﻮﺷﺎء اﷲ ﻣﺎ ﺗﻠﻮﺗﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ وﻻ أدراآﻢ ﺑﻪ ﻓﻘﺪ ﻟﺒﺜﺖ ﻓﻴﻜﻢ ﻋﻤﺮا ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻪ اﻓﻼ‬ 4 ‫ﺗﻌﻘﻠﻮن‬ Adapun 'umur' yang dimaksud oleh Allah di dalam firman tersebut adalah 40 tahun. ke-7 (Bandung: Mizan.3 Sayyid Abdullah Haddad memberikan definisi umur dengan "suatu masa yang berlaku sebagai bagian dari zaman". 27. sejak awal hingga akhirnya. dan dibekali źurriyat6 pada tulang punggungnya.22 Dalam buku Renungan tentang Umur Manusia. cet.5 Umur pertama: Sejak Allah SWT menciptakan Adam as. Lebih lanjut. hlm. sebab tiap-tiap manusia dalam salah satu bagian umur tersebut mengalami berbagai hal dan keadaan yang tidak dialaminya pada masa umur yang lain. Sayyid Abdullah Haddad membagi masa umur manusia sepanjang hidupnya. ketika beliau tinggal bersama kaumnya di Makkah. Maka źurriyat itu pun terus-menerus berpindah-pindah dari tulang sulbi laki-laki ke dalam rahim wanita dan dari dalam rahim wanita ke dalam tulang sulbi laki-laki sehingga lahirlah tiap-tiap manusia dari perkawinan antara ayah dan ibunya. . 1995). Źurriyat (źurriyah) = keturunan. yaitu sejak Nabi Muhammad SAW dilahirkan hingga masa beliau diutus menjadi Rasul. alih bahasa Muhammad Baqir. 28-29. 4 5 6 3 Yûnus (10): 16.

dari umur tiga puluh lima tahun hingga umur 50 tahun 4. Sedangkan Ibnul Jauzi membagi umur manusia semenjak masa kelahirannya sampai masa kematiannya menjadi lima masa. sejak dilahirkan hingga mencapai umur 15 tahun 2. Masa muda. Umur keempat: Sejak keluarnya manusia dari kubur atau tempat lain yang dikehendaki Allah sejak saat di tiupkan şur (sangkakala ) pada hari kebangkitan hingga tibanya hari ketika manusia sekalian dikumpulkan di hadapan pengadilan Allah SWT. Masa usia-lanjut. Masa kanak-kanak. Atau sejak masuknya para ahli neraka ke dalam neraka sedang keadaan mereka satu dengan yang lain tidak sama. 32. . dari umur 50 tahun hingga umur 70 tahun 5. Masa tua. Umur kelima: Sejak masuknya manusia ke dalam surga dan kekal di dalamnya.23 Umur kedua: Sejak lahirnya manusia dari perkawinan kedua ibu bapaknya hingga masa ajal dan keluarnya dari alam dunia ini. 7 Ibid. Ada yang kekal di dalamnya untuk selama-lamanya dan ada juga yang hanya sementara lalu dimasukkan ke surga. hlm.. dari umur lima belas tahun hingga umur 35 tahun 3. Umur ketiga: Sejak keluarnya manusia dari alam dunia ini melalui mati hingga di bangkitkannya kembali oleh Allah SWT dengan tiupan şur (sangkakala) yaitu masa menunggu manusia di Barźakh. Masa dewasa. Itulah umur yang tiada akhirnya. yaitu:7 1. dari umur 70 tahun hingga akhir umur yang di karuniakan oleh Allah.

1 2 Prenatal Neonatus Masa Umur Saat konsepsi sampai lahir Lahir sampai akhir minggu kedua setelah 3 Bayi lahir Akhir minggu kedua sampai akhit tahun kedua 4 5 6 Kanak-kanak awal Kanak-kanak akhir Preadolescence/Pubertas 2 tahun sampai 6 tahun 6 tahun sampai 10 atau 11 tahun 10 atau 12 tahun sampai 13 atau 14 tahun 7 8 9 10 11 Remaja awal Remaja Akhir Dewasa awal Setengah baya Masa tua 13 atau 14 tahun sampai 17 tahun 17 tahun sampai 21 tahun 21 tahun sampai 40 tahun 40 tahun sampai 60 tahun 60 tahun sampai meninggal dunia Elizabeth B.24 Menurut Elizabeth B. 1968). maka rentangan kehidupan terdiri atas sebelas masa. edisi ke-3 (New York: Mc Graw Hill Book Company. hlm. Developmental Psychology. 12. Hurlock.8 periodeisasi umur manusia jika dibagi berdasarkan bentuk-bentuk perkembangan dan pola-pola perilaku yang nampak khas bagi usia-usia tertentu. yaitu: No. 8 . Hurlock.

67.25 B. Dadan Muttaqien. dalam kitab-kitab fiqih klasik dikenal istilah nikāh aş-şagīr/ aş-şagīrah untuk menyebut perkawinan muda/kawin belia. Balig disini diartikan dengan seseorang yang telah memiliki sifat kedewasaan. dan rusyd. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. cet. misalnya). Penetapan batas awal umur sebagai dasar hukum seseorang dikenai suatu kewajiban dalam hukum Islam didasarkan pada usia dan atau tanda-tanda fisik yang dalam istilah hukum Islam dikenal istilah tamyīz. ke-1 (Yogyakarta: LKiS. cet.10 Husein Muhammad. ia juga harus ‘aqil. Sementara kitab-kitab fiqih kontemporer menyebutnya dengan istilah az-zawajalmubakkir untuk menyebut perkawinan dini. ke-1 (Yogyakarta: Insania Cita Press. 10 9 . hlm. bālig. atau berada dalam kondisi mental yang memungkinkan dirinya memahami hakikat perbuatan dan tanggung jawab yang menyertainya.9 Walaupun dalam hukum Islam tidak secara tegas menentukan pada umur berapa seseorang diwajibkan/diperbolehkan menikah. disamping harus bebas. 20. 2001). tampaknya ciri ini yang lebih sering dijadikan landasan dalam penentuan batas umur melakukan perkawinan. Para ulama fiqih menyebut salah satu syarat perkawinan bagi calon suami isteri adalah sudah menginjak masa bālig. Agar perbuatan sesorang mempunyai keabsahan. 2006). namun dengan adanya syarat-syarat dan rukun-rukun yang harus dipenuhi maka ketentuan penetapan umur bisa diterapkan sesuai dengan kemaslahatan manusia. Batas Umur Minimal dalam Perkawinan Menurut Husein Muhammad. Disamping ciri-ciri lain (ihtilām. hlm. Fiqh Perempuan Refleksi Kiai atas Wacana Gender.

1995). untuk melaksanakan tanggung jawab orang dewasa dan dirasakan 11 Zakiah Daradjat dkk.11 Kemampuan ‘aql atau nalar. Oleh karena itu mulainya masa tamyīz hanya dapat diketahui dengan melihat dari hasil pertimbangan akal atau dari tingkah laku yang merupakan pengejawantahan dari penggunaan kemampuan akalnya.26 a. Batas mulainya periode tamyīz tidak dapat dipastikan dengan umur tertentu yang telah dicapai oleh sesorang atau dengan adanya tanda-tanda tertentu yang terdapat pada perkembangan jasmani. secara mental atau sosial. Ilmu Fiqh (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf. tetapi hal itu masih terbatas pada kenyataankenyataan lahir saja. Pada usia ini seorang anak tidak dapat dikatakan cukup dewasa. karena periode ini adalah masa mulai dan semakin bersinarnya cahaya kemampuan akal sesorang. adalah hal yang diperhitungkan pertama kali pada seorang anak untuk bisa disebut mumayyiz. Oleh karena itu daya pikirnya masih dangkal. yakni masih terbatas pada hal-hal yang nampak saja. . melainkan tergantung pada perkembangan akalnya. II: 2. Mumayyiz Periode tamyīz dimulai dari seseorang mampu membedakan antara sesuatu yang baik dengan yang buruk dan antara sesuatu yang bermanfaat dengan yang maḍarat. Pada periode ini kemampuan akal seseorang belum sempurna. Sungguhpun pada periode ini ia sudah mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk dan antara yang mengandung manfaat dengan yang mengandung maḍarat..

tt. 418. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW: 13 ‫ﻣﺮوا اوﻻد آﻢ ﺑﺎﻟﺼﻼة وهﻢ ٲﺑﻨﺎء ﺳﺒﻊ ﺳﻨﻴﻦ‬ Dalam hadis di atas ditegaskan. masa tamyīz bagi seseorang yang normal biasanya apabila telah genap berumur 7 tahun. Masa tersebut merupakan titik alih secara fisik anatara bentuk tubuh anakanak menjadi bentuk tubuh orang dewasa. Musthafa Ahmad Az-Zarqa dalam kitabnya Al-Fiqh al-Islāmi fi Śaubih al-Jadīd. Para ahli hukum berpendapat bahwa balig berhubungan dengan perubahan besar dalam diri seseorang. II: 88. Hadis no. Sunan Abī Dāwud (Beirut: Dar al-Fikr. 22. yaitu apabila seeorang telah mencapai masa balig. Jadi umur tujuh tahun ini menunjukan mulainya masa tamyīz. Sedangkan berakhirnya periode tamyīz. Diriwayatkan dari 'Umar bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya.27 bahwa dia harus dijaga dengan pengawasaan langsung yang ketat oleh orang dewasa. Bālig Bālig atau masa pubertas merupakan masa yang sangat penting. 12 13 Dadan Muttaqien. menyebutkan bahwa menurut para ulama. sebagaimana dikutip oleh Zakiah Daradjat. agar membiasakan anak-anak untuk beribadah kepada Allah SWT setelah berumur tujuh tahun. Abū Dāwud. Padahal ibadah dipandang sah apabila dilakukan oleh seseorang yang minimal telah mencapai masa tamyīz. hlm.12 Dalam hal ini.). . Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. b.

hlm. . Ketika terjadi untuk pertama kalinya. hlm. Periode balig ini berakhir sampai dengan dengan meninggal dunianya seseorang itu. Perbedaan jenis kelamin meyebabkan pula perbedaan tanda-tanda pubertas. 3. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kemampuan akal seseorang telah sempurna apabila ia telah balig.15 Sedangkan umur paling lambat bagi seseorang untuk mencapai masa ini adalah 15 tahun. 24. Permulaan umur balig antara satu orang dengan yang lainnya dapat berbeda-beda dikarenakan perbedaan lingkungan.28 Tanda-tanda kedewasaan fisik. geografis. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. c. Zakiah Daradjat dkk. misalnya. dan sebagainya. Batas awal dimulainya umur balig secara yuridik (hukmī) adalah jika seseorang telah berusia 12 tahun bagi laki-laki dan berusia 9 tahun bagi perempuan.14 Tanda-tanda fisik lebih mudah diamati daripada tanda-tanda non fisik.16 Perkembangan kemampuan akal sampai pada taraf ini dapat dikatakan telah mencapai kesempurnaannya. Sifat rāsyid merupakan 14 15 16 Dadan Muttaqien. dikatakan oleh ahli hukum terbagi menjadi dua yaitu tanda fisik dan non fisik. hlm. 23. hal ini merupakan awal dari tahap baru yang sangat penting dari kehidupan seorang anak telah tercapai. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian.. karena keluarnya sejenis cairan dari dalam tubuh. Ilmu Fiqh. Dadan Muttaqien. Rusyd Rāsyid atau rusyd adalah kepandaian seseorang dalam membelanjakan (men-taşaruf-kan) hartanya.

tt. 21 Muslim.17 Hukum menekankan pentingnya pencapaian rusyd atau kedewasaan mental. II: 595. VI: 143. adakalanya datang kemudian setelah datangnya periode balig. ‫وﻻﺗﻘﺮﺑﻮا ﻣﺎ ل اﻟﻴﺘﻴﻢ اﻻ ﺑﺎ ﻟﺘﻲ هﻲ اﺣﺴﻦ ﺣﺘﻰ یﺒﻠﻎ اﺷﺪﻩ‬ 20 . bahkan adakalanya pula tidak kunjung datang pada diri seseorang yang telah balig. hlm. ‫اﻣﻮاﻟﻬﻢ‬ 19 . sebab sifat rāsyid adakalanya datang pada seseorang terlebih dahulu daripada datangnya periode balig." "Bab Man Lam Yastaţi’ al-Bā’ah Falyaşum"... Al-Bukhārī. ‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻟﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج‬ ‫ﺗﺰوﺟﻬﺎ رﺳﻮل اﷲ ﺹﻠﻰ اﷲ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وهﻲ ﺑﻨﺖ ﺳﺖ وﺑﻨﻰ ﺑﻬﺎ وهﻲ‬ 21 ‫ﺑﻨﺖ ﺗﺴﻊ وﻣﺎت ﻋﻨﻬﺎ وهﻲ ﺑﻨﺖ ﺙﻤﺎن ﻋﺸﺮة‬ 17 18 19 20 Zakiah Daradjat dkk. "Kitāb an-Nikāh. Dalam Islam batas usia kedewasaan secara umum didasarkan pada ayat: ‫واﺑﺘﻠﻮا اﻟﻴﺘﺎﻣﻰ ﺣﺘﻰ اذا ﺑﻠﻐﻮا اﻟﻨﻜﺎح ﻓﺎن ءاﻥﺴﺘﻢ ﻣﻨﻬﻢ رﺷﺪا ﻓﺎدﻓﻌﻮا اﻟﻴﻬﻢ‬ 18 . Al-An’ām (6): 152. Şahīh al-Bukhārī..29 pelengkap bagi orang yang telah balig. 1414 H/1994 M).. yaitu baik kesempurnaan bulūg maupun kematangan mental. Hadis diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud.). "Bab Tazwīj al-Ab al-Bikr aş- Şagīrah". . dalam arti mampu untuk berpikir (‘aql)... Şahīh Muslim (Beirut: Dar al-Fikr. Akan tetapi tidak semua orang yang telah balig memiliki sifat ini.. 4. An-Nisā' (4): 6. (Beirut: Dar al-Fikr. Ilmu Fiqh.

Imam Malik berpendapat bahwa kedewasaan antara laki-laki dan perempuan sama. (Jakarta: Bulan Bintang. 41. Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menentukan batas usia dewasa adalah 15 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan. hlm. Hal ini diperlukan karena jaman modern menuntut untuk 'Abd al-Qadir 'Audah. sebagaimana dikutip oleh Abu Al-Ghifari berpendapat bahwa usia kedewasaan untuk siapnya seseorang memasuki hidup berumah tangga harus diperpanjang dari yang ditetapkan undang-undang menjadi 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria.22 2. Imam Abu Hanifah menentukan 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan. III: 185. 23 24 22 Ibid. 25 . Sarlito Wirawan Sarwono. At-Tasyrī' al-Jina'i al-Islāmi. Menurutnya kata ini diartikan dengan pemuda yang berusia antara 25-31 tahun. 1992). para ulama berbeda pendapat tentang batas kedewasaan seseorang. 1963). Pendapat para ulama dan ilmuawan tentang penentuan batas dewasa itu.30 Berdasarkan ayat-ayat dan hadis di atas. yaitu 18 tahun.23 3. cet ke-3 (Kairo: Dar al-‘Urubah.25 5. 1963). berpendapat bahwa layaknya seorang pemuda untuk menikah didasarkan pada redaksi kata asy-Syabāb. Muhammad 'Ali al-Sāyis. I: 603.: Muhammad 'Ali Sa'bih. antara lain: 1. Kamal Mukhtar. Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan. Tafsīr Āyāt al-Ahkām (ttp. Kamal Mukhtar.24 4.

1996). cet. Kedua kata inilah yang mejadi istilah pokok yang digunakan al-Quran untuk menunjuk perkawinan (pernikahan).26 6. 2004). Istilah atau kata nakaha berarti ‘berhimpun’. 15. baik dari segi kesehatan maupun tanggung jawab sosial. Helmi Karim.31 mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan. nikah adalah akad serah terima antara laki-laki dan wanita dengan tujuan untuk saling memuaskan satu sama lainnya dan membentuk sebuah bahtera rumah tangga yang sakīnah serta masyarakat yang 26 Abu-Al-Ghifari. Islam tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1) (Yogyakarta: Academia & Tazzafa. hlm. dari sisi bahasa perkawinan berarti berkumpulnya dua insan yang semula terpisah dan berdiri sendiri menjadi satu kesatuan yang utuh dan bermitra. Badai Rumah Tangga. Problematika Hukum Islam Kontemporer (Jakarta: Pustaka Firdaus. Pengertian Perkawinan Dalam al-Quran ada dua kata kunci yang menunjukkan konsep pernikahan. hlm. sedang kata zawaja berarti ‘pasangan’. II: 70. 28 27 . dalam Chuzaimah T. “Kedewasaan untuk Menikah”. 132. Para ahli ilmu jiwa agama menilai bahwa kematangan beragama seseorang tidak terjadi sebelum umur 25 tahun.28 Adapun menurut syara’. Yanggo dan Hafiz Anshary. 2003). ke-2 (Bandung: Mujahid Press. yaitu zawwaja dan kata derivasinya berjumlah lebih kurang dalam 20 ayat dan nakaha dan kata derivasinya sebanyak lebih kurang dalam 17 ayat. Khoiruddin Nasution.27 C. Dengan demikian.

kawin atau yang semakna dengan itu. “Perkawinan dalam Hukum Islam. Bekal Pernikahan (Jakarta: Qisthi Press.32 sejahtera.33 29 30 31 Sulaiman Al-Mufarraj.29 Akad dalam perkawinan ini bersifat sangat kuat atau miśāqan galīżan. yaitu harus lafal nikah.com/judul-skripsi-tugasmakalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-makalah.31 Sedangkan ulama Mazhab Hanafi mendefinisikannya dengan “akad yang mempaedahkan halalnya melakukan hubungan suami istri antara seorang lelaki dan seorang wanita selama tidak ada halangan syara’.32 Perkataan 'nikah' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suatu perjanjian antara laki-laki dengan perempuan untuk membentuk rumah tangga dengan resmi sesuai dengan peraturan agama maupun peraturan Negara. Kamus Besar Indonesia Kontemporer. akses 6 Mei 2008. 32 33 Peter Salim dan Yenny Salim. Ulama Mazhab Syafi’i mendefinisikannya dengan “akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan lafal nikah/kawin atau yang semakna dengan itu”. Al-Fiqh 'alā al-Maźāhib al-Arba'ah ( Beirut: Dar al-Fikr. tetapi seluruh definisi tersebut mengandung esensi yang sama meskipun redaksionalnya berbeda. An-Nisā’ (4): 21.” http://one. 1969). Abdul al-Rahman al-Jazīry.indoskripsi. . 1035. 6.30 Ada beberapa definisi nikah yang dikemukakan ulama fiqih. Definisi jumhur ulama menekankan pentingnya menyebutkan lafal yang dipergunakan dalam akad nikah tersebut. hlm. hlm. 2003). IV: 1.

Co. D. 34 . saling cinta mencintai. hlm.. 2. santun menyantuni dan kasih mengasihi antara satu terhadap yang lain dengan tujuan mengembangkan keturunan. Perkawinan adalah satu jalan yang halal untuk melanjutkan keturunan dan dengan perkawinan itu akan terpelihara agama. 1 Tahun 1974 dari Segi Hukum Islam (Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Dari sudut kemasyarakatan (sosial) Dari sudut kemasyarakatan bahwa orang-orang yang telah kawin atau berkeluarga telah memenuhi salah satu bagian syarat dari kehendak masyarakat.33 Menurut Idris Ramulyo perkawinan dalam Islam dapat ditinjau dari 3 sudut:34 1. 1985). Syarat dan Rukun Perkawinan Dalam beberapa literatur kitab kuning. Dari sudut keagamaan Dari sudut keagamaan perkawinan dianggap sebagai suatu lembaga yang suci di mana antara suami dan istri agar dapat hidup tenteram. Dari sudut hukum Dari sudut hukum perkawinan itu adalah suatu perjanjian antara pria dan wanita agar dapat melakukan hubungan kelamin secara sah dalam waktu yang tidak tertentu. Idris Ramulyo. kesopanan dan kehormatan. 175-176. para fuqaha nampaknya tidak secara tegas menentukan wilayah mana yang menjadi syarat perkawinan dan Moh. 3. serta mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih dihargai dari mereka yang belum menikah. Tinjauan Beberapa Pasal UU No.

hlm. tidak dibolehkan memaksa laki-laki untuk menikahinya.35 Syarat-syarat nikah adalah sesuatu yang tidak bisa menyempurnakan nikah kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Mahmud Yunus. berakal. tetapi tidak termasuk salah satu bagian dari hakikat perkawinan itu. Perbedaan antara syarat dan rukun perkawinan ialah. Kerelaan kedua calon pengantin Syarat inilah yang paling penting. wali. begitu juga sebuah tindakan tidak bisa dianggap sah bila rukun-rukunnya tidak terpenuhi. Syarat dan rukun seperti mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Sedangkan syarat adalah sesuatu yang mesti ada dalam perkawinan. seperti calon suami dan isteri. bidang muamalah misalnya. 1983). bahwa rukun adalah sebagian dari hakikat perkawinan. Sesuatu yang belum memenuhi syarat tidak diperbolehkan melakukan tindakan tertentu. Syarat-syarat nikah tersebut di antaranya: a. dan akad nikah. syarat dan rukun jelas-jelas dibedakan. Bekal Pernikahan. Karena itulah pihak laki-laki tidak boleh memaksa wanita untuk menikah dengannya. balig.36 Allah SWT telah menetapkan syarat-syarat yang bisa menciptakan kelanggengan pernikahan. hlm.34 bagian mana yang menjadi rukun perkawinan. . Misalnya. Ini merupakan hikmah dan rahasia Allah dalam melegitimasi nikah. 15. ke-10 (Jakarta: Hidakarya Agung. Hukum Perkawinan dalam Islam. cet. syarat wali itu laki-laki. Demikian juga halnya dengan pihak wanita. Padahal dalam konteks lain. Semuanya itu adalah sebagian dari hakikat perkawinan dan suatu perkawinan tidak dapat terjadi jika rukun-rukun tersebut tidak terpenuhi. 8. 36 35 Sulaiaman Al-Mufarraj. dan sebagainya.

Wali Perwalian secara etimologi berarti pertolongan (an-nuşrah).a. Maka wali adalah orang yang bertindak untuk menyelesaikan urusan orang lain. (Mesir: Syirkah Maktabah an-Nasyiriyah. Sedangkan kewenangan mengurus jiwa meliputi berbagai urusan yang berkaitan dengan masalah pertumbuhan. baik wanita tersebut masih perawan ataupun sudah pernah menikah. Hadis diriwayatkan dari Abu Hurairah r. perawatan kesehatan. "Kitāb an-Nikāh".). tt. mengelola. Otoritas perwalian meliputi kewenangan mengurus harta dan mengurus jiwa. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW. dan keselamatan orang yang berada di bawah 37 38 An-Nisā’ (4): 19. Al-Bukhārī. Secara terminologi perwalian artinya kewenangan untuk melakukan transaksi (al-'uqud) dan melakukan perbuatan hukum lainnya (at-taşarrufat) secara langsung tanpa menunggu persetujuan orang lain. yaitu: ‫ﻻ ﺗﻨﻜﺢ اﻷیﻢ ﺣﺘﻰ ﺗﺴﺘﺎٔﻣﺮوﻻﺗﻨﻜﺢ اﻟﺒﻜﺮﺣﺘﻰ ﺗﺴﺘﺎٔذن ﻗﺎﻟﻮا یﺎ رﺳﻮل اﷲ وآﻴﻒ‬ 38 ‫ٳذﻥﻬﺎ ﻗﺎل أن ﺗﺴﻜﺖ‬ b. III: 135. Kewenangan mengurus harta mencakup berbagai transaksi dan perbuatan hukum yang bertujuan untuk memelihara. Şahīh al-Bukhārī. memindahkan harta atau hak yang dimiliki oleh orang yang berada dibawah perwaliannya.35 Allah SWT berfirman: 37 ‫یﺎیﻬﺎ اﻟﺬیﻦ ٲﻣﻨﻮا ﻻیﺤﻞ ﻟﻜﻢ ٲن ﺗﺮﺙﻮا اﻟﻨﺴﺎء آﺮهﺎ‬ Maka haram hukumnya menikahi wanita tanpa kerelaannya (ridha). . perkembangan pendidikan. menukar.

termasuk masalah perkawinan.36 perwaliannya. Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil. hadis no. 41 40 39 Ibid. ulama Syafi’iyyah sangat selektif Mukhlisin Muzarie. Nail al-Autār (Beirut: Dar al-Fikr. 1973). 2002). VI: 208. 2 riwayat Ahmad ibn Hanbal dari Imran ibn Husain. yaitu: 41 ‫ﻻﻥﻜﺎح ٳﻻ ﺑﻮﻟﻲ وﺷﺎهﺪى ﻋﺪل‬ Kedua hadis tersebut memberi petunjuk dengan jelas bahwa persaksian sebagaimana perwalian merupakan unsur yang menentukan keabsahan nikah.. 57. hlm. Asy-Syaukānī. Saksi Sejumlah besar yuris dan pemuka-pemuka mazhab memandang bahwa persaksian dalam perkawinan merupakan syarat seperti halnya wali dan mereka menetapkan tidak sah perkawinan yang tidak dihadiri oleh minimal dua orang saksi. Calonnya jelas dan tertentu Hendaknya perempuan yang akan dinikahi oleh seorang laki-laki telah ditentukan dengan jelas baik nama ataupun sifatnya sehingga tidak terjadi kesalahan penentuan dari saudara-saudaranya yang lain. (Yogyakarta: Pustaka Dinamika. Mengenai kriteria saksi dalam perkawinan. . Disinilah peranan wali untuk melaksanakan akad nikah bagi wanita yang berada di bawah perwaliannya.39 Hendaknya seorang wanita dinikahkan oleh walinya. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Imran ibn Husain. sebagaimana hadis Nabi SAW: 40 ‫ﻻﻥﻜﺎح ٳﻻ ﺑﻮﻟﻲ‬ c. d.

Kualitas saksi yang demikian ini diperlukan agar dapat memberikan keterangan yang jujur dan adil atas kesaksiannya. serta kondisi sosial dan ekonomi yang cukup untuk memenuhi 42 Mukhlisin Muzarie. laki-laki. Mereka mengajukan persyaratan saksi haruslah orang yang sudah dewasa. Apabila dalam pelaksanaan akad ternyata saksinya tidak adil. Kebahagiaan tersebut bukan saja terbatas dalam ukuran fisik biologis tetapi juga dalam psikologis dan sosial serta agamis. dapat melihat dan dapat berbicara. maka di tuntut bagi suami isteri untuk dapat memenuhi syarat-syarat yang ideal. hlm. Keluarga yang didirikan oleh sepasang suami dan isteri tersebut tentu telah memiliki taraf kedewasaan diri yang baik dengan segala cabang-cabangnya serta telah pula mempunyai dan memenuhi persyaratan-persyaratan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan bila menghendaki suatu perkawinan berbahagia dan penuh dengan kesejahteraan. psikis-rohaniah yang sehat dan utuh. . adil.42 E. Seorang suami yang ideal adalah yang memiliki persyaratan fisik biologis yang sehat segar. bukan seteru. beragama Islam. 61-64. maka perkawinan dianggap tidak sah. merdeka. Demi tujuan mulia tersebut. Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil. keharmonisan dan keserasian yang menyeluruh.37 dalam menerima saksi. dapat mendengar. Tujuan Perkawinan Sebuah perkawinan yang didirikan berdasarkan asas-asas yang Islami adalah bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang sah dan baik-baik serta mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dalam kehidupan manusia. bukan anak. berakal sehat.

dan sebagainya. walaupun dalam beberapa hal ada sedikit perbedaannya 43 Disamping itu tujuan yang hakiki dari sebuah pernikahan adalah mewujudkan mahligai rumah tangga yang sakinah dan selalu dihiasi mawaddah dan rahmah. Mohammad Asmawi.44 Beberapa tujuan pernikahan menurut Kamal Mukhtar. Dalam kondisi yang demikian seorang suami akan memiliki kemampuan lebih baik dalam mengarungi kehidupan berumah tangga yang masih asing bagi dirinya dan mempunyai kemampuan dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan kehidupan yang datang dalam bahtera rumah tangganya. Asas-Asas Hukum. hlm. 2002).38 kebutuhan hidup berumah tangga. yaitu:45 Hasan Basri. 19. 45 44 43 Kamal Mukhtar. 2004) hlm. 32. Pengertian kata hubbun mempunyai makna cinta secara umum karena ada rasa senang dan tertarik pada obyek tertentu seperti cinta pada harta benda. ke-5 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. cet. Keluarga Sakinah. hlm 14-16. Demikian pula seorang isteri hendaknya selalu mengusahakan agar taraf ideal dalam aspek-aspek kehidupan seorang suami perlu dimilikinya. senang pada binatang piaraan. Dalam Perbincangan dan Perbedaan (Yogyakarta: Darussalam. Kata mawaddah yang dipergunakan dalam al-Quran sebagaimana tertera dalam surat Ar-Rūm ayat 17 berbeda dengan kata hubbun yang berarti cinta. Nikah. Apalagi kata mawaddah ini dibarengi kata rahmah yang mempunyai makna kasih sayang. . Sedangkan kata mawaddah mempunyai makna rasa cinta yang dituntut melahirkan ketenangan dan ketentraman pada jiwa seseorang serta bisa saling mengayomi antara suami isteri. Tinjauan Psikologi dan Agama.

Menimbulkan rasa cinta antara suami dan istri. Firman Allah SWT: ‫واﷲ ﺟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ وﺟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أزواﺟﻜﻢ ﺑﻨﻴﻦ وﺣﻔﺪة‬ 46 ‫ورزﻗﻜﻢ ﻣﻦ اﻟﻄﻴﺒﺖ‬ dilarang Allah 2. menimbulkan rasa kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya dan adanya rasa kasih sayang antara sesama anggota-anggota keluarga. membentuk keluarga dan dari keluarga-keluarga tersebut dibentuk masyarakat (umat). Al-Bukhāri. Melanjutkan keturunan yang merupakan sambungan hidup dan penyambung cita-cita. Hadis diriwayatkan dari Abdullah ibn Mas’ud. hlm. Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang mengerjakannya. Ar-Rūm (30): 21. Firman Allah SWT: ‫وﻣﻦ أیﺎﺗﻪ أن ﺧﻠﻖ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ أﻥﻔﺴﻜﻢ أزواﺟﺎ ﻟﺘﺴﻜﻨﻮا ٳﻟﻴﻬﺎ وﺟﻌﻞ ﺑﻴﻨﻜﻢ‬ 48 ‫ﻣﻮدة ورﺣﻤﺔ ٳن ﻓﻲ ذاﻟﻚ ﻷیﺎت ﻟﻘﻮم یﺘﻔﻜﺮون‬ Ada tiga kata kunci yang disampaikan oleh Allah dalam ayat tersebut. Rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga ini akan dirasakan pula dalam masyarakat atau umat sehingga terbentuklah umat yang meliputi cinta dan kasih sayang.39 1. Şahīh al-Bukhārī. 143. sesuai dengan hadis: ‫یﺎ ﻣﻌﺸﺮاﻟﺸﺒﺎب ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎع ﻣﻨﻜﻢ اﻟﺒﺎﺋﺔ ﻓﻠﻴﺘﺰوج ﻓ ﻥﻪ ٲﻏﺾ ﻟﻠﺒﺼﺮ‬ 47 ‫وٲﺣﺼﻦ ﻟﻠﻔﺮج وﻣﻦ ﻟﻢ یﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺼﻮم ﻓ ﻥﻪ ﻟﻪ وﺟﺎء‬ 3. dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga yang ideal 46 An-Nahl (16): 72. 47 48 .

Moh. Beliau mencela orang-orang yang berjanji akan puasa setiap hari. mawaddah. yaitu keturunan yang sehat dan penuh berkat dari Allah SWT. kakek dan sebagainya hanya diperoleh dengan perkawinan. Tujuan pernikahan untuk menghormati sunnah Rasullullah SAW. Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia. sebagaimana dikutip oleh Idris Ramulyo. Menurut Imam al-Ghazali.40 menurut Islam. yang jelas ayahnya. sehingga rasa tanggung jawab kedua belah pihak semakin tinggi. yaitu:49 1. hlm 27. masing-masing pihak menjalankan perintah Allah SWT dengan tekun. saling menghormati. Selanjutnya. sekaligus sebagai pencurahan rasa cinta dan kasih suami istri dan anak-anak mereka 4. akan bangun dan beribadah setiap malam namun tidak akan kawin. Idris Ramulyo. Dari suasana as-sakīnah tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawadah). cet. yaitu sakīnah. Tujuan pernikahan untuk membersihkan keturunan. Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari UU No. tujuan dan faedah perkawinan bisa dibagi kepada lima hal. 49 . 1999). dan rahmah. ke-2 (Jakarta: Bumi Aksara. para mufasir mengatakan bahwa dari as-sakinah dan al-mawadah inilah nanti muncul ar-rahmah. 5. keturunan yang bersih. Ulama tafsir menyatakan bahwa as-sakīnah adalah suasana damai yang melingkupi rumah tangga yang bersangkutan. 1 Tahun 1974 dan KHI. dan saling toleransi.

Membentuk dan mengatur rumah tangga yang menjadi basis pertama dari masyarakat yang besar di atas dasar kecintaan dan kasih sayang. Menumbuhkan kesungguhan berusaha mencari rejeki penghidupan yang halal. . 3. Memelihara manusia dari kejahatan dan kerusakan. dan memperbesar rasa tanggung jawab. Memenuhi tuntutan naluriah hidup kemanusiaan. 4. 5.41 2.

cet. 114. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. 1 . Pengertian ini sedikit berbeda dengan apa yang disepakati dalam UU No. hlm. yaitu akad yang sangat kuat atau mīśāqan galīzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Dalam pasal 1 UU No. ke-3 (Jakarta: Akademika Pressindo. 1 tahun 1974 perkawinan diartikan dengan ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Abdurrahman. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal 3 Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah. apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. mawaddah dan rahmah. Perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam Dalam Bab II Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam disebutkan:1 Pasal 2 Perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan.BAB III BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI A. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. 2001). Pasal 4 Perkawinan adalah sah. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam 1.

12. .3 2. yaitu ikatan lahir dan batin dituntut dalam perkawinan. harus saling cinta mencintai satu dengan yang lain. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Kedua ikatan tersebut di atas. yaitu suami dan isteri. Bimo Walgito. Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara suami isteri. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak tampak secara langsung. merupakan ikatan psikologis. 2 3 Ibid. Latar Belakang Penyusunan Kompilasi Hukum Islam Kalau kita memperhatikan konsideran Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No. Ikatan lahir artinya ikatan yang menampak atau ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada.43 Esa. edisi ke-2 (Yogyakarta: Penerbit Andi. 2004).. hlm. hlm. kasih mengasihi. Antara suami isteri harus ada ikatan ini. dan tidak ada paksaan dalam perkawinan.2 Sedangkan dalam KHI ada tambahan yang menyatakan bahwa melaksanakan pernikahan merupakan ibadah dan untuk mentaati perintah Allah. baik yang mengikat dirinya. Oleh karena itu perkawinan pada umumnya diinformasikan kepada masyarakat luas agar masyarakat dapat mengetahuinya. maupun bagi orang lain. misalnya dengan mengadakan walimah atau pesta pernikahan. yaitu masyarakat luas. Ikatan formal ini nyata. 67. Landasan Kompilasi Hukum Islam dalam Pembatasan Umur Perkawinan a.

Munawir Sadzali pada bulan Februari 1985 dalam ceramahnya di depan para mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bahwa sesuai dengan fungsi pengaturan Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan di Indonesia. demi meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas. sinkronisasi dan tertib administrasi dalam Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Sejak itu ide ini menggelinding dan mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak. hlm. setidaknya ada dua pertimbangan yang dapat dikemukakan mengapa proyek ini diadakan. Gagasan untuk mengadakan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia untuk pertama kali diumumkan oleh Menteri Agama RI. Bahwa guna mencapai maksud tersebut. . khususnya di lingkungan Peradilan Agama. dipandang perlu membentuk suatu tim proyek yang susunannya terdiri dari para Pejabat Mahkamah Agung dan Departemen Agama Republik Indonesia. yaitu:4 1. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi atau yang lebih dikenal sebagai Proyek Kompilasi Hukum Islam.44 07/KMA/1985 dan No. 15. Apakah ini merupakan ide dari Menteri Agama sendiri ataukah tidak? 4 Abdurrahman. perlu mengadakan Kompilasi Hukum Islam yang selama ini menjadikan hukum positif di Pengadilan Agama 2.

33. Ke-2 (Yogyakarta: UII Press. Ibrahim Hussein dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Putra Harapan. Zarkowi Soeyoeti. 58. 1999).45 Kalau kita membaca buku Ibrahim Hussein dan pembaharuan hukum Islam di Indonesia kita mendapat kesan seakan-akan ide ini berpangkal dari pemikiran Ibrahim Hussein yang kemudian disampaikan kepada Busthanul Arifin. Akhirnya usulan tersebut terealisasi dengan lahirnya proyek kerjasama antara Mahkamah Agung dengan Departemen Agama.5 Memang tidak jelas di sini apakah ide yang dikemukakan oleh Ibrahim Hussein itu sesudah atau sebelum pelontaran Menteri Agama yang dimaksud.). dalam satu rapat kerja gabungan yang dihadiri oleh Ketua-ketua Pengadilan Tinggi dari Peradilan Umum. hlm. Hakim Agung Ketua Muda Mahkamh Agung yang membawai Peradilan Agama yang menerima dan memahami dengan baik. 6 7 5 Abdurrahman. . Ketua-ketua Pengadilan Tinggi Agama dan Ketua-ketua Mahkamah Militer se-Indonesia. Pada tanggal 21 Maret 1985 di Yogyakarta. 223-224. Busthanul Arifin tentang penyusunan Kompilasi Hukum Islam dengan mengusulkan dibentuknya Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi. hlm. cet. “Sejarah Penyusunan KHI di Indonesia.7 Panitia Penyusunan Biografi. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Peradilan Agama dan KHI dalam Tata Hukum Indonesia. (ed. Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama menandatangani Surat Keputusan Bersama tentang Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi atau disebut juga proyek Kompilasi Hukum Islam. dkk.” dalam Dadan Muttaqien.6 Penandatanganan tersebut merupakan buah dari gagasan Ketua Muda Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Agama. hlm. KH. Prof. 1990).

Buku III tentang Perwakafan. hlm.46 Melalui Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Agama tanggal 21 Maret 1985 No. 63. Sistematika kompilasi mengenai hukum Perkawinan dalam KHI adalah sebagai berikut: I II III IV V Ketentuan Umum (Pasal 1) Dasar-Dasar Perkawinan (Pasal 2-10) Peminangan (Pasal 11-13) Rukun dan Syarat Perkawinan (Pasal 14-29) Mahar (Pasal 30-38) Marzuki Wahid dan Rumadi. . 145. 07/KMA/1985 dan No. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Buku I tentang Perkawinan. hlm.000.9 Adapun isi buku 1 tentang Hukum Perkawinan terdiri atas 19 bab dan 170 pasal. Buku II tentang Kewarisan. cet ke-1 (Yogyakarta: LKiS. 230.000. Fiqh Madzhab Negara. 2001).8 b. 9 8 Abdurrahman. Pelaksanaan proyek ini kemudian didukung oleh Keputusan Presiden No. 25 Tahun 1985 tentang Penunjukan Pelaksana Proyek Pembangunan Hukum Islam melalui yurisprudensi dimulailah kegiatan proyek tersebut yang berlangsung untuk jangka waktu 2 tahun. Secara keseluruhan Kompilasi Hukum Islam terdiri atas 229 pasal dengan distribusi yang berbeda-beda untuk masing-masing buku. 191/1985 tanggal 10 Desember 1985 dengan biaya sebesar Rp. Landasan Yuridis Formal Isi kompilasi Hukum Islam terdiri dari 3 buku yaitu.

. . (4) dan (5) UU No. 65-66. 1 Tahun1974. 10 Ibid. yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurangkurangnya berumur 16 tahun. (3). 1 Tahun 1974. hlm. Selengkapnya pasal tersebut berbunyi: Pasal 15 (1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. (2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2). pengaturan tentang batas umur minimal perkawinan terdapat dalam Bab IV Pasal 15 tentang Rukun dan Syarat Perkawinan.47 VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI Larangan Kawin (Pasal 39-44) Perjanjian Perkawinan (Pasal 45-52) Kawin Hamil (Pasal 53-54) Beristeri lebh dari satu orang (Pasal 55-59) Pencegahan Perkawinan (Pasal 60-69) Batalnya Perkawinan (Pasal 70-76) Hak dan Kewajiban Suami Isteri (Pasal 77-84) Harta Kekayaan dalam Perkawinan (Pasal 85-97) Pemeliharaan Anak (Pasal 98-106) Perwalian (Pasal 107-112) Putusnya Pewrkawinan (Pasal 113-148) XVII Akibat Putusnya Perkawinan (Pasal 149-162) XVIII Rujuk (Pasal 163-169) XIX Masa Berkabung (Pasal 170)10 Dari kesembilan belas bab tersebut.

48 Ada empat sumber atau jalur yang digunakan oleh para penyusun/perumus pengumpulan data untuk buku Kompilasi Hukum Islam Indonesia. dalam hal ini negara Maroko. yaitu:11 1. . 12 11 Ibid. hlm. Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah. Menurut Busthanul Arifin. penetapan batas umur minimal perkawinan yang terdapat Busthanul Arifin. Jalur wawancara dengan ulama-ulama Indonesia 3. kebudayaan. Ketiga: lewat yurisprudensi kita mengetahui bagaimana praktek yang berlaku di masyarakat Indonesia. Kedua: karena ulama-ulama Indonesia dianggap paling mengetahui kondisi Indonesia dari sisi tradisi. Hambatan dan Prospeknya (Jakarta: Gema Insani Press. 58-60. pertama: karena kitab-kitab fiqih merupakan bentuk perkembangan pemikiran hukum Islam dalam sejarah perkembangannya. alasan memilih empat sumber penetapan hukum dalam KHI di Indonesia adalah. Jalur studi banding ke negara-negara yang mempunyai perundang undangan dibidang yang dibahas dalam Kompilasi Hukum Islam. 1996). Dengan kata lain. Jalur kitab-kitab fiqih 2. dan konteks masyarakatnya. Keempat: untuk mengetahui bagaimana negara-negara muslim lain memberikan respon terhadap fenomena kontemporer yang berhubungan dengan Hukum Perkawinan. dan Mesir. Turki. Jalur yurisprudensi peradilan agama 4.12 Dari keempat sumber itulah isi KHI dibentuk dan dijadikan landasan dalam penetapan segala hal yang berkaitan dengan hukum perkawinan.

perkawinan adalah sah jika memenuhi syarat-syarat dibawah ini:13 1. Sehingga untuk mencari dasar penetapan ini.. hlm. 1 tahun 1974 ini. 2. Oleh karena perkawinan mempunyai maksud dan tujuan agar suami dan isteri dapat membentuk keluarga yang kekal dan Moh. Buddha dan agama lainnya yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa tetap berlaku menurut agama dan kepercayaannya pula. Menurut UU No. Beberapa Masalah tentang Hukum Perdata Peradilan Agama dan Hukum Perkawinan Islam. Idris Ramulyo. Namun pada kenyataannya. Hal ini berarti bahwa bagi orang Islam perkawinan tetap dilangsungkan dengan tata cara agama Islam yaitu dengan akad nikah dan ijab kabul dihadapan wali nikah serta pihak pengantin perempuan dan dihadiri sekurang-kurangnya 2 orang saksi. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan baru sah jika dilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya masing-masing (Pasal 2 ayat 1). kita harus kembali ke ketentuan Undanng-Undang Perkawinan. 1985). Perkawinan harus berdasarkan persetujuan bebas dari kedua calon mempelai. ketentuan tersebut disamakan dengan ketentuan yang terdapat dalam UU No. Co. Menurut UU No. 13 . 182-183. perkawinan ialah ikatan lahir batin antara pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1).49 dalam pasal 15 KHI-pun seharusnya berlandaskan salah satu dari keempat sumber di atas. (Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Sedangkan bagi bagi orang Kristen. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

maka perkawinan tersebut harus dilaksanakan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun juga. b. Penyimpangan terhadap syarat usia ini dapat dimintakan dispensasi oleh Pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak laki-laki dan perempuan (Pasal 7 ayat 3). 4. 3. Prinsip-prinsip ini juga menunjang terlaksananya program Keluarga Berencana. 5 dan 6). 4. Perkawinan hanya diperkenankan bila pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 tahun. karena hanya akan menambah beban dan tanggung jawab bagi orang tua. keturunan maupun kemantapan dalam mengarungi lautan samudera rumah tangga kelak. Sebagai konsekuensi dari prinsip ini adalah: a. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat ijin dari kedua orang tuanya (diatur dalam Pasal 6 ayat 2. 3. guna menjaga pertumbuhan penduduk yang menjadi masalah Nasional. .50 bahagia dan sesuai pula dengan hak azasi manusia. Batas umur sangat penting demi untuk menjaga kesehatan. Kebiasaan perkawinan anak-anak atau perkawinan yang masih berumur kurang dari batasan umur yang telah ditetapkan harus dihapuskan.

ia mendapat tanggapan dan sorotan yang tajam dari berbagai kalangan. RUU Perkawinan yang diajukan oleh pemerintah kepada DPR sebelum dijadikan undang-undang. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa RUU Perkawinan bertentangan secara diametral dengan ajaran-ajaran Islam. hlm.14 Pembatasan tentang umur minimal perkawinan dalam KHI ini jelas sekali masih mengadopsi ketentuan dari UU No. belum mampu untuk bertanggung jawab sendiri sehingga sangat mudah menimbulkan perceraian. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengirim surat nomor A-6/174/73 tentang RUU Perkawinan tanggal 30 Juli 1973 (29 Jumadil Akhir 1393 H. karena perkawinan yang dilakukan oleh calon suami isteri yang masih muda. Surat tersebut dilampiri dengan pasal-pasal RUU Perkawinan yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal apabila kita menilik kembali kepada sejarah penyusunan draft Rancangan Undang-Undang Perkawinan akan didapati pro dan kontra mengenai. Menurut Jaih Mubarok. dinilai tidak sejalan dengan perkawinan menurut al-Qur'an dan as-Sunnah. Tujuh ketentuan RUU Perkawinan yang dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam adalah: (1) pencatatan perkawinan sebagai syarat sah perkawinan.51 c. 14 .) yang ditujukan kepada Menteri Kehakiman. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 7. cet. 2006). Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. Diharapkan pula prinsip-prinsip ini mampu untuk mengurangi angka-angka kelahiran dan angka perceraian. (2) tidak ada pembatasan jumlah Dadan Muttaqien. Oleh karena itu. salah satunya pembatasan umur menikah tersebut. 62. ke-1 (Yogyakarta: Insania Cita Press.

dengan demikian program Keluarga Berencana Nasional dapat berjalan seiring dan sejalan dengan undang-undang ini. Hal itu akan jelas dapat dibaca pada penjelasan dari UndangUndang tersebut.16 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mempunyai hubungan erat dengan masalah kependudukan.15 Batas umur yang tercantum dalam Undang-Undang Perkawinan tersebut bila dikaji lebih lanjut. ke-1 (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 41-42. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. cet. daripada mempertimbangkan baik segi psikologis. dan (7) dua kali cerai menjadi penghalang perkawinan. 27.52 isteri dalam poligami (poligini). (3) batas usia perkawinan (21 tahun bagi pria dan 18 tahun bagi wanita). Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia. hlm. 16 15 Bimo Walgito. Sehubungan dengan hal tersebut. pekawinan di bawah umur dilarang keras dan harus dicegah pelaksanaannya. perlu ditetapkan batas-batas umur untuk perkawinan". . (4) tidak memasukan susuan (radā’at) sebagai penghalang perkawinan. 2005). bahwa "Untuk menjaga kesehatan suami isteri dan keturunannya. (6) waktu tunggu bagi isteri yang dicerai suaminya. (5) perbedaan agama tidak menjadi penghalang perkawinan. Pencegahan ini semata-mata didasarkan agar kedua mempelai dapat memenuhi tujuan luhur Jaih Mubarok. hlm. maupun segi sosialnya. Dengan pernyataan seperti itu jelas sekali bahwa yang menonjol dalam meletakkan batas umur dalam perkawinan lebih atas dasar pertimbangan kesehatan. lebih menitik beratkan pada pertimbangan segi kesehatan. Dengan adanya pembatasan umur pernikahan baik bagi wanita maupun bagi pria diharapkan lajunya kelahiran dapat ditekan seminimal mungkin.

Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan (Yogyakarta: Liberty. kematangan dimaksud disini adalah kematangan umur perkawinan. 2006). 18 17 . Agar hal ini dapat terlaksana. Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Psikologi 1. 1986). kematangan dalam berpikir dan bertindak sehingga tujuan perkawinan sebagaimana tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik. Soemiyati.53 dari perkawinan yang mereka langsungkan itu dari perkawinan yang telah mencapai batas umur jasmani maupun rohani. Hasrat atau dorongan adalah sesuatu kekuatan dari dalam yang mempunyai tujuan tertentu atau untuk memenuhi Abdul Manan. hlm. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia.18 B. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. hlm. adanya ketentuan dalam pasal 15 KHI dan Pasal 7 UU No. karena kedewasaan calon pengantin ditentukan oleh usia dan kematangan jiwa individunya. Tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan rumah tangga bahagia dan sejahtera dengan mewujudkan suasana rukun dan damai dalam suatu rumah tangga yang selalu mendapat taufik dan hidayah dari Tuhan Yang Mahakuasa. perkawinan merupakan salah satu bentuk hubungan antar manusia yang berlainan jenis untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan jasmani serta rohaninya. Menurutnya. 30. maka kematangan calon mempelai sangat diharapkan. Perkawinan dalam Psikologi Dalam pandangan psikologi. 11.17 Hal senada juga diungkapkan oleh Soemiyati. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini dimaksudkan agar calon pengantin sudah masak jiwa raganya.

belajar. istirahat. 120. Pernikahan sama dengan kebutuhan manusia untuk makan dan minum. dll. Alisuf Sabri. 2. Dengan demikian psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang jiwa atau secara singkat bisa disinonimkan dengan istilah Ilmu Jiwa. Secara kebutuhan manusia. Menurut psikologi pernikahan berarti menyatukan dua jiwa yang berbeda.19 Dan tentu saja. Kendala dalam rumah tangga pasti ada namun hal itu bisa diminimalisir apabila suami dan isteri telah memiliki kematangan jiwa dan mental untuk mengarungi bahtera kelarga. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. dalam pemenuhan kebutuhan ini seseorang tidak meninggalkan ketentuan-ketentuan yang telah diterapkan. 1993). Bahwa dalam usia-usia tertentu seseorang secara psikologis telah memiliki kematangan jiwa untuk melangsungkan pernikahan atau walaupun dalam usia yang dianggap sudah pantas untuk menikah malah belum memiliki kesiapan mental. Hanya saja dalam perkembangannya psikologi tidak menjadikan "jiwa" sebagai objek M.54 kebutuhan hidup tertentu. nikah merupakan sesuatu hal yang biasa. olahraga. hlm. Pernikahan yang terlalu dipaksakan hanya akan berakibat buruk bagi perkembangan kehidupan berkeluarga selanjutnya. Landasan Psikologi dalam Batas Umur Perkawinan a. kata “psikologi” berasal dari bahasa Yunani psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang artinya “ilmu” atau “ilmu pengetahuan”. Sekilas tentang Psikologi Secara etimologis. 19 .

20 Keabstrakan jiwa sendiri dapat dilihat dalam firman Allah SWT: 21 ‫وﻳﺴٔﻟﻮﻧﻚ ﻋﻦ اﻟﺮوحۖ ﻗﻞ اﻟﺮوح ﻣﻦ ٲﻣﺮر ّﻰ وﻣﺎ ٲوﺗﻴﺘﻢ ﻣﻦ اﻟﻌﻠﻢ ٳﻻ ﻗﻠﻴﻼ‬ ‫ﺑ‬ ‫ﺎ‬ Dengan demikian jelas sudah bahwa manusia hanya dapat memahami jiwa sebatas gejala kejiwaan yang muncul dari tingkah lakunya. melainkan segala teori dikemukakan berdasarkan argumentasi-argumentasi logis (akal) belaka.55 kajian. yaitu doktrin psikologi yang menyatakan bahwa jiwa itu tersusun atas elemenelemen sederhana dalam bentuk ide-ide yang muncul dari pengalaman 20 21 Akyas Azhari. antara lain di Prancis muncul Rene Descartes (1596-1650). Pada waktu itu belum ada pembuktian-pembuktian nyata atau empiris. Penyelidikan tentang gejala-gejala kejiwaan itu sendiri mula-mula dilakukan oleh para filsuf Yunani Kuno. psikologi juga masih merupakan bagian dari filsafat. mungkin lebih tepat dikatakan sebagai mengkaji gejala-gejala kejiwaan yang muncul dalam tingkah laku manusia. . mereka dikenal sebagai tokoh asosiasionisme. Al-Isrā' (17): 85. yang nampak hanya gejala kejiwaan yang termanifestasikan dalam tingkah laku. di Inggris muncul tokoh Jhon Locke (1623-1704). Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Teraju. manusia tidak dapat dengan pasti mengetahui jiwa secara obyektif. Berabad-abad setelah itu. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kejiwaan manusia. 2004). Manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentang rūh-nya. Karena jiwa dipandang sebagai sesuatu yang bersifat abstrak. hlm. 1.

dan Bimo Walgito. psikologi klinis dan penyuluhan. serta psikologi industri dan permesinan. Pengantar Psikologi. alih bahasa Nurdjannah Taufiq dan Rukmini Barhana. 37. 2004).22 Dalam perjalanan sejarahnya. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. psikologi sosial. edisi ke-4 (Yogyakarta: Penerbit Andi. P Chaplin. hlm. 110. psikologi didefinisikan sebagai studi ilmiah mengenai proses prilaku dan proses mental. hlm. Kamus Lengkap Psikologi. Namun karena ruang lingkup psikologi saat ini begitu luas. Alisuf Sabri. Para ahli psikologi terdahulu. Rita L. hlm. Atkinson dkk.).24 b. 1-4. hlm. 18. Disini.56 inderawi. sebagian besar buku teks psikologi mempergunakan definisi ini. Lihat juga M. 1999). Mulai tahun 1930-an sampai 1960-an. psikologi sekolah dan pendidikan. Pengertian ini memberikan gambaran yang jelas J. 39. psikologi kepribadian.23 Bidang khusus yang terdapat di dalamnya sangat beraneka ragam termasuk psikologi eksperimental dan psikologi fisiologis. hlm.. psikologi didefinisikan dengan berbagai cara oleh para ahli ilmu ini. 24 23 22 Ibid. Ide-ide ini bersatu dan berkaitan satu sama lain lewat asosiasiasosiasi. Pengantar Psikologi Umum. . maka definisi psikologi kontemporer pun mengalami pengembangan. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan.. edisi ke-8 (Jakarta: Erlangga.. Sehingga bisa dikatakan bahwa psikologi merupakan salah satu bagian dari ilmu perilaku atau ilmu sosial. psikologi perkembangan. Faktor Psikologis dalam Perkawinan Di atas telah dijelaskan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara suami dan isteri. mendefinisikan bidang mereka sebagai “Studi Kegiatan Mental”. tt.

hlm. 24.25 Dalam kajian psikologi memang tidak secara tegas menentukan batas umur minimal perkawinan seseorang. kasih mengasihi. Psikologi hanya mengkaji masalah ini dilihat dari sudut kejiwaan dan tingkah laku seseorang sehingga seseorang tersebut telah memiliki kematangan baik fisik maupun psikis. psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang sifatnya eksperimental. yaitu ikatan lahir dan batin dituntut dalam perkawinan. . emosional. seperti yang digunakan pada saat ini. merupakan ikatan psikologis.57 bagaimana pentingnya faktor psikologis dalam sebuah perkawinan. dan tidak ada paksaan dalam perkawinan. Pada umur 16 tahun maupun 19 tahun pada umumnya masih digolongkan pada umur remaja atau adolesensi. hlm. Antara suami isteri harus ada ikatan ini. mencakup kematangan mental. Hurlock pada Bab II. sosial. Kedua ikatan tersebut di atas. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Kebenarannya tidak absolut dan didasarkan pada realita-realita yang terjadi di masyarakat. belumlah dapat dikatakan bahwa anak tersebut telah dewasa secara psikologis. mempunyai arti yang lebih luas. dan fisik. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak tampak secara langsung. Dan juga. Dilihat dari segi psikologi sebenarnya pada anak perempuan yang telah berumur 16 tahun atau laki-laki yang telah berumur 19 tahun. B. pada umur berapa dan pada masa periode yang mana.” Istilah adolescence. Masa ini dimulai pada usia 25 26 Bimo Walgito. Lihat periodeisasi umur manusia menurut Elizabeth. 12.26 Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescer yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa. harus saling cinta mencintai satu dengan yang lain.

edisi ke-5 (Jakarta: Erlangga. Hurlock. 28 27 . Abdurrouf dkk. Masa Transisi Remaja. (Jakarta: Triasco Publisher. Moh.). Istiwidayanti dan Drs. 2004). hlm. Secara tentatif pula para ahli umumnya sependapat bahwa rentang masa remaja itu berlangsung dari sekitar 11-13 tahun sampai 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang. 37. Pada remaja awal khususnya bagi remaja putri rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi (datang bulan) yang pertama.. baik secara jasmani maupun rohani. 1. Soedjarwo. Masa remaja secara global berlangsung antara usia 13 sampai dengan 21 tahun.28 Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Metoda Pendidikan Seks. ke-2. M.27 Sedang dalam istilah hukum Islam. seorang remaja akhir mengalami kematangan seksual (dalam kondisi seks yang optimum) dan telah membentuk pola-pola kencan yang lebih serius dan mendalam dengan lawan jenis atau berpotensi aktif secara seksual. 1994). hlm. dan Keluarga (Jakarta: Erlangga. tt. lihat juga Johan Suban Tukan.Sc. hlm. 206. terutama Elizabeth B. Periode masa remaja dapat didefinisikan secara umum sebagai suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanaknya sampai datangnya awal masa dewasanya. Masa remaja ini dibagi menjadi dua. yaitu masa remaja awal usia 13-18 tahun dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.58 13 tahun sampai usia 16-18 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan fisik dan seksual berlangsung sekitar usia 12 tahun. alih bahasa Dra. cet. masamasa ini disebut masa balig yang terjadi dalam diri anak perempuan usia 1112 tahun dan anak laki-laki usia 13-14 tahun.. Perkawinan.

Moh. ke-6. Seorang individu lalu mulai terlihat berbeda.59 remaja putri akan lebih sensitif dorongan seksualnya dan memiliki rasa ingin tahu sangat besar dari pada remaja putra. Masa Transisi Remaja. dan Paedagogi. Sarlito Wirawan Sarwono. Seiring dengan itu. Abdurrouf dkk. 4. cet. Psikologi. Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja. 2. dan ini membawa perubahan dalam ciri-ciri seks primer dan memunculkan ciri-ciri seks sekunder. Psikologi Remaja.hormon baru diproduksi oleh kelenjar endokrin. bukanlah berasal dari bidang hukum melainkan berasal dari bidang ilmu-ilmu sosial lainnya. berlangsung pula pertumbuhan yang pesat pada tubuh dan anggota tubuh untuk mencapai proporsi seperti orang dewasa. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. (Jakarta: Rajawali Pers. Hormon. seperti Antropologi. hlm. Sosiologi.30 Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. 28.31 29 30 Bimo Walgito.. yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita 12-16 tahun pada pria. 31 . hlm.29 Menurut Sarlito Wirawan Sarwono konsep tentang ‘remaja’. 2006). Perubahan Fisik Rangkaian perubahan yang paling jelas nampak dialami oleh remaja ialah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada awal masa remaja. hlm. Proses perubahan dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja diuraikan sebagai berikut: 1.

ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Perubahan Kognitif Perubahan dalam kemampuan berpikir ini diungkapkan oleh Piaget sebagai tahap terakhir yang disebut formal operation dalam perkembangan kognitifnya.33 4. . F. 179. remaja mulai mampu berhadapan denagn aspek-aspek yang hipotesis dan abstrak dari realita. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. hlm. Akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal tadi ialah perubahan dalam aspek emosionlitas pada remaja sebagi akibat dari perubahan fisik dan hormonal tadi.60 2. Psikologi Umum dan Perkembangan. hlm 175. Dalam tahapan yang bermula pada umur 11 atau 12 tahun ini. Implikasi Psikososial Secara perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat itu membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya 32 33 Akyas Azhari. Perubahan Emosionalitas Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi.J. dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan denagn badaniah tersebut.. 1985). remaja tidak lagi terikat pada realitas fisik yang konkrit dari apa yang ada.32 3. Hormonal menyebabkan perubahan seksual dan menimbulkan dorongan-dorongan dan perasaan-perasaan baru. Monks dkk. Keseimbangan hormonal yang baru menyebabkan individu merasakan hal-hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. alih bahasa Siti Rahayu Haditono cet.

Pada saat remaja mengalami keprihatinan yaitu dimana remaja sangat tidak siap untuk berkutat dengan kerumitan dan ketidak pastian. yang sering disebut sebagai masa dewasa awal. Faktor umur dan sifat kedewasaan diperlukan dalam perkawinan karena hanya dengan ini maka tujuan perkawinan bisa tercapai. kehidupan suami isteri terasa hambar karena satu sama lain tidak akan saling mengerti dan rasa kasih sayang akan terasa kurang. kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya masa remaja adalah masa pencariaan jati diri. Remaja dalam masyarakat kita secara tipikal dituntut untuk membuat satu pilihan.61 sendiri. 34 35 Ibid. Tanpa adanya kematangan jiwa. . tetapi sebagai ancar-ancar untuk menjaga agar tidak terjadi perkawinan di bawah umur. sehingga kematangan jiwanya masih labil. hlm.34 Dengan melihat ciri-ciri perubahan masa remaja di atas. dapat menempatkan persoalan sesuai dengan keadaan yang seobyektif-obyektifnya. Pada umumnya para ahli tidak jauh berbeda pendapatnya mengenai permulaan masa dewasa yang ada pada individu.35 Selain itu. Bimo Walgito. Umur bukanlah suatu patokan yang mutlak. berikutnya muncul fakor-faktor yang menimpa dirinya. kematangan jiwapun menjadi faktor penting dalam perkawinan. 215.. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. yaitu sekitar umur 21 tahun. hlm. 29. dan dengan demikian dapat berpikir secara baik. Salah satu ciri kedewasaan seseorang dilihat dari segi psikologis ialah bila seseorang dapat mengendalikan emosinya. suatu keputusan tentang apa yang dia lakukan bila dewasa.

hlm. Psikologi Umum dan Perkembangan. psikis manusia memiliki tiga strata kesadaran. Jiwa itu pada mulanya kosong. psikologi Humanistik memandang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh antara raga. 14. Psikologi Umum dan Perkembangan. Menurut humanistik susunan struktur psikis manusia terdiri dari dimensi somatis (raga). jiwa. Baharuddin menjelaskan secara gamblang beberapa pendapat aliran psikologi tentang struktur jiwa manusia. dan super ego merupakan kesadaran normatif.struktur psikis manusia terdiri dari tiga sistem. psikis Baca lebih lanjut Baharuddin. 17. Studi tentang Elemen Psikologi dari Al-Quran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pengalaman itu berhubungan satu dengan lainnya melalui proses asosiasi secara otomatis. Paradigma Psikologi Islam. Hubungan itu dapat berbentuk kausalitas. dan diisi dengan pengalaman secara sedikit demi sedikit. behaviorisme menggambarkan jiwa manusia sebagai mesin otomatis yang rumit.36 Menurut Psikoanalisa –teutama Freud. pre consciousness (bawah sadar. hlm. dan lain-lain. ego merupakan kesadaran terhadap realitas kehidupan. ego dan super ego. Studi tentang Elemen Psikologi dari Al-Quran. 2004). Pengalaman yang memiliki kesamaan akan berhubungan saling mendekat dan pengalaman yang berbeda akan saling menjauh. hubungan perbandingan. . ambang sadar). Berbeda dengan psikoanalisis. yaitu: id.37 Sementara itu. dan spiritual. hlm. hubungan waktu. Sementara itu. dan Akyas Azhari. Id berisikan dorongan-dorongan instink biologis dan pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak. dan unconsciousness (ketidaksadaran).62 Dalam buku Paradigma Psikologi Islam. 37 36 Akyas Azhari. yaitu consciousness (kesadaran). hubungan tempat.296-304. kompleks dan canggih.

dan neotik (kerohanian). 4.63 (kejiwaan). dan lain-lain. mencakup kompetensi. seperti dikutip oleh Bimo Walgito. kemauan dan nilai-nilai kemanusian tersebut membentuk rangkaian kebutuhan jiwa yang tersusun secara bertingkat. 16. adalah sebagai berikut:38 1. dan lain-lain. istirahat. kekuatan pribadi. Komponen-komponen jiwa yang berisikan pikiran. . Safety needs atau need for self-security. yaitu kebutuhan akan rasa harga diri. yaitu kebutuhan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup manusia. atau disebut juga dengan dimensi spiritual. seks. 38 Bimo Walgito. dan lain-lain. dan kenyamanan. yaitu kebutuhan ketentraman. 3. kepastian. 2. kasih sayang. air. Belongingness and love needs. Physiological needs (kebutuhan dasar fisiologis). percaya diri. seperti: keamanan. dan ketetapan keadaan lingkungan. oksigen. dan lain-lain. kemandirian. perasan. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. ketentraman. seperti: makanan. dari kebutuhan dasar sampai kepada kebutuhan utama. prestasi. Kebutuhan-kebutuhan itu menurut Maslow. penghargaan atas segala yang dilakukan. hlm. Esteem needs atau need for self esteem. seperti: Cinta. yaitu kebutuhan ikatan emosional dengan individu lain.

integritas. an-nafsu. Ia merupakan makhluk satu wujud dua dimensi (two in one) yang terdiri dari jasmani dan rohani.64 5. dan al-fiţrah. Sedangkan menurut Psikologi Islami manusia adalah makhluk unik (istimewa). 306. hlm. dan inilah struktur atau komposisi jiwa manusia dalam psikologi Islami. utuh. . Self-actualization needs (kebutuhan akan aktualisasi diri). yaitu hasrat individu untuk menjadi sesorang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya.39 39 Baharuddin. al-qalb. ar-rūh. dan sempurna. Unsur-unsur ini membentuk komposisi (struktur) yang sistematis. al-'aql. Dimensi rohani yang disebut dengan an-nafs (jiwa) memiliki unsur-unsur. Paradigma Psikologi Islam.

2 1 An-Nisā' (4): 9.BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN PSIKOLOGI TENTANG BATAS UMUR MINIMAL PERKAWINAN A. yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun. . bila dilacak referensi syar'inya. (2) Masalah penentuan umur dalam Undang-undang perkawian atau KHI memang bersifat ijtihādiyyah.‫ﻗﻮﻻ ﺳﺪﻳﺪا‬ Abdurrahman. 117. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. (3). 1 Tahun1974. Selengkapnya pasal 15 KHI tersebut berbunyi:1 (1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juga terdapat dalam Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam. 1 Tahun 1974. ke-3 (Jakarta: Akademika Pressindo. misalnya isyarat Allah dalam ayat: ‫وﻟﻴﺨﺶ اﻟﺬﻳﻦ ﻟﻮ ﺗﺮآﻮا ﻣﻦ ﺧﻠﻔﻬﻢ ذ رﻳﺔ ﺿﻌﺎﻓﺎ ﺧﺎﻓﻮا ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﺎﻟﻴﺘﻘﻮا اﷲ وﻟﻴﻘﻮﻟﻮا‬ 2 . Analisis Persamaan dan Perbedaan Batas Umur Minimal Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam dan Psikologi Penetapan tentang batas umur minimal perkawinan selain diatur dalam UU No. (4) dan (5) UU No. hlm. cet. Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2). mempunyai landasan yang kuat. sebagai usaha pembaharuan pemikiran fiqih masa lalu. 2001). Namun demikian.

1. II: 2. 3 4 An-Nisā' (4): 6.. Dalam ayat lain dinyatakan: 3 ‫واﺑﺘﻠﻮا اﻟﻴﺘﺎﻣﻰ ﺣﺘﻰ ٳذا ﺑﻠﻐﻮا اﻟﻨﻜﺎح ﻓﺎن ءاﻧﺴﺘﻢ ﻣﻨﻬﻢ رﺷﺪا ﻓﺎدﻓﻌﻮا اﻟﻴﻬﻢ اﻣﻮاﻟﻬﻢ‬ Dari ayat di atas. melainkan tergantung pada perkembangan akalnya.66 Ayat ini memang bersifat umum. yaitu apabila seeorang telah mencapai masa balig. 1995). Mumayyiz. Zakiah Daradjat dkk. dan rusyd. batas mulainya tidak dapat dipastikan dengan umur tertentu yang telah dicapai oleh sesorang atau dengan adanya tanda-tanda tertentu yang terdapat pada perkembangan jasmani. Tujuan-tujuan perkawinan ini tentu akan sulit apabila masing-masing mempelai belum masak jiwa dan raganya. Sedangkan berakhirnya periode tamyīz. akan tetapi rendahnya usia kawin akan lebih banyak menimbulkan hal-hal yang tidak sejalan dengan misi dan tujuan perkawinan. Ilmu Fiqh (Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf.4 Apabila memperhatikan salah satu hadi Nabi SAW. periode ini dimulai pada umur 7 tahun. . tidak secara langsung menunjukan bahwa perkawinan yang dilakukan oleh pasangan usia muda yakni di bawah ketentuan yang diatur Undang-undang Perkawinan atau KHI. ada 3 klasifikasi batas awal umur sebagai dasar hukum seseorang dikenai suatu kewajiban dalam hukum Islam didasarkan pada usia dan atau tanda-tanda fisik yang dalam istilah hukum Islam dikenal istilah tamyīz. akan menimbulkan kekhawatian kesejahteraannya terhadap keturunan yang dihasilkan. bālig.

Pada masa sekarang. hlm. Sifat rusyd ini biasanya datang pada seseorang yang telah mencapai balig ('aqil bālig). periode balig lebih cepat datang pada diri seseorang tetapi tidak dibarengi dengan datangnya sifat rusyd. cet. perlu dilihat kembali klasifikasi yang lain. yakni sifat rusyd yang harus dimiliki seseorang walaupun ia telah mencapai usia balig. Dadan Muttaqien. yaitu baik kesempurnaan bulūg maupun kematangan mental.67 2. . 4. dalam arti mampu untuk berpikir (‘aql). Rusyd. Hukum menekankan pentingnya pencapaian rusyd atau kedewasaan mental. ke-1 (Yogyakarta: Insania Cita Press. 2006).. penetapan batas umur minimal yang terdapat dalam pasal 15 KHI masuk dalam kategori balig. Banyak individu yang 5 6 Ibid. Karena kriteria seseorang memasuki masa balig adalah salah satunya telah berumur 12 tahun. 3. Namun. Bālig. Dari beberapa klasifikasi tersebut.. 3. hlm. 7 Zakiah Daradjat dkk.6 Periode balig ini berakhir sampai dengan dengan meninggal dunianya seseorang itu. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perceraian. batas awal dimulainya umur balig secara yuridik (hukmī) adalah jika seseorang telah berusia 12 tahun bagi laki-laki dan berusia 9 tahun bagi perempuan.5 Sedangkan umur paling lambat bagi seseorang untuk mencapai masa ini adalah 15 tahun. 24. hlm. Ilmu Fiqh.7 Secara normatif. ketentuan yang dibuat dalam Undang-undang Perkawinan ataupun KHI mengenai batas umur minimal perkawinan ini telah sesuai dengan syarat-syarat perkawinan yang terdapat dalam hukum Islam.

Masa remaja adalah periode peralihan.. . 180- 182. Hal ini bisa disebabkan kerana berbedanya faktor lingkungan. namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik yang terjadi pada laki-laki maupun perempuan. 9 8 Akyas Azhari. hlm. masalahnya sebagian diselesaikan oleh orang tua F. Psikologi Umum dan Perkembangan (Jakarta: Teraju. hlm 228. 1985). Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Dalam setiap periode peralihan. Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya.68 menjalani proses perkembangan lebih cepat dibanding individu yang lain. Organ-organ seksualnya juga telah mengalami kematangan fungsi. Masa remaja adalah salah satu periode yang penting dalam proses perubahan. Secara jasmani memang seseorang yang berumur 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan telah matang fisiknya. Setiap periode mempunyai masalah-masalah sendiri.J. geografis atau keadaan sosial di sekitarnya. Monks dkk. ke-3 (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. baik dalam pertumbuhan maupun perkembangan. Ciri-ciri tersebut secara ringkas dijelaskan dalam buku Psikologi Umum dan Perkembangan. alih bahasa Siti Rahayu Haditono cet.9 yaitu: a. 2004). c.8 Sedangkan dari sudut psikologi. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu. status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. sepanjang masa kanak-kanak. periode balig berarti masuk dalam masa remaja. yang terjadi secara cepat. b. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Pertama.

10 . Remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa. Lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal.W. 2006). Kedua. yang dikutif oleh Sarlito Wirawan Sarwono. 71-72. menolak bantuan orang tua atau guru-guru. sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Masa transisi ini tidak secara langsung terjadi tanpa melalui tahap-tahap tertentu. hlm. penyesuaian dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Pada tahun-tahun awal masa remaja. Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah. yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menganggap orang atau hal lain sebagai bagian dari dirinya sendiri juga. karena merasa diri bisa mandiri. Sarlito Wirawan Sarwono.69 dan guru-guru. Ada beberapa ciri-ciri psikologi tertentu pada seseorang yang sedang berkembang menuju ke pendewasaan (sifat dewasa). e. d. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Allport. Pemekaran diri sendiri (extension of the self). cet. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:10 1. Psikologi Remaja. Menurut G. sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri. ke-6 (Jakarta: Rajawali Pers.

dan ia berusaha mencari jalannya sendiri menuju sasaran yang ia tetapkan sendiri. orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya. Hal itu dapat dilakukan tanpa perlu merumuskannya dan mengucapkannya dalam kata-kata. Sedangkan sifat rusyd yang diartikan sebagai kecakapan seseorang dalam melakukan tindakan hukum hanya dapat tercapai bila seseorang telah dewasa. 3. Orang yang sudah dewasa tahu dengan tepat tempatnya dalam rangka susunan objek-objek lain di dunia. M. Hurlock. edisi ke-5 (Jakarta: Erlangga.).11 Elizabeth B. Soedjarwo. kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa. Istiwidayanti dan Drs. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Ia tahu kedudukannya dalam masyarakat. alih bahasa Dra.” Akan tetapi. Istilah adult (dewasa) berasal dari kata kerja latin. 11 . hlm. ia paham bagaimana harusnya ia bertingkah laku dalam kedudukan tersebut.. Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara obyektif (self objectivication) ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk menangkap humor (sense of humor) termasuk yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran. seperti juga istilah adolescene yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan.” Oleh karena itu.Sc. 246. Memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life).70 2. tt.

yakni saat baik menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap orang.71 Masa dewasa dapat dibagi menjadi 3 masa. Dalam sudut pandang psikologi. tetapi teknik pengobatan modern. Masa Dewasa Dini Masa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. umur terendah dibatasi 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. . Masa Dewasa madya Masa dewasa madya masa dimulai pada umur 40 tahun sampai pada umur 60 tahun. Umur-umur tersebut sudah mencapai umur balig. Dalam KHI. 3. saat perubahan–perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif. serta upaya dalam hal berpakaian dan dandanan. Masa Dewasa Lanjut Masa dewasa lanjut atau usia lanjut dimulai pada umur 60 tahun sampai kematian. Pada waktu ini baik kemampuan fisik maupun psikologis cepat menurun. yaitu: 1. Dari beberapa pernyataan di atas. bisa ditarik kesimpulan bahwa persamaan antara ketentuan yang terdapat dalam KHI dan psikologi mengenai batas umur minimal perkawinan adalah keduanya sama-sama sesuai dengan ketentuan balig. memungkinan pria dan wanita berpenampilan. bertindak. 2. umur minimal bagi perempuan adalah 20 tahun dan bagi laki-laki 25 tahun. dan berperasaan seperti kala mereka masih lebih muda.

ketentuan umur 16 dan 19 tahun. usia minimal perempuan diizinkan menikah tidak bisa semata-mata ditentukan dari ketika dia mulai mengalami menstruasi. Menurut penelitian. Tahun XV (Januari 1991). kurang kalsium dan zat-zat lain dalam darah akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan bagi perkembangan janin. No. 5-12. Mimbar Ulama. dan lain-lain. Adanya anemi.72 Sedangkan perbedaan keduanya terletak pada pencapaian kematangan jiwa (psikologis) dan akal pikiran. Dr Meiwita. Dalam KHI. kawin muda akan mengandung resiko terhadap kesehatan ibu dan anak.12 Dalam banyak kasus keretakan rumah tangga diketahui salah satu penyebabnya adalah pernikahan usia dini. Sedang dalam pandangan psikologi. seperti halnya kelahiran prematur. pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengatakan. lemah mental. "Lokakarya Nasional tentang Perkawinan Usia Muda". hlm. seperti mendapatkan kanker leher rahim. Disamping itu. seseorang belum tentu telah mencapai sifat rusyd. Begitu juga fisik perempuan yang kawin muda pada umumnya belum mencapai perkembangan fisik yang mantap. Dimana kedua pihak masih rentan dan belum mampu mandiri dalam memikul tanggung jawab keluarga. karena masa-masa ini keadaan jiwa masih labil. 156. Mengenai hal ini. perkawinan pada usia dini akan berdampak buruk baik bagi kelangsungan keluarga atau bagi individu (suami isteri) yang menjalaninya. 12 . sehingga bila perempuan tersebut hamil maka pengaruh kurang mantapnya kondisi fisik ibu mau tidak mau berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan janin dalam rahim. patokan umur 20-25 tahun untuk menikah. epilepsi. keadaan jiwa seseorang dipandang sudah stabil dan matang.

akses 10 Mei 2008. seperti dikutip oleh Fauzil Adhim.com/kompas-cetak/0410/11/swara/1316378. Papalia dan Sally Wendoks. Lois Hoffman. kematangan biologis. 38. Dengan pertambahan umur ini diharapkan seorang manusia keadaan psikologis dan kepribadiannya semakin matang karena pada umur ini dipandang memasuki tahapan dewasa awal. yakni dari usia 18 tahun sampai sekitar 24 tahun. maka sebaiknya umur laki-laki minimal 25 tahun dan wanita 20 tahun.htm. rentang usia ini juga paling baik untuk mengasuh anak pertama (the first time parenting). berapa usia ideal dalam perkawinan? Tidak ada patokan yang pasti.” http://www2. sedangkan bagi laki-laki usia 20-25 tahun.kompas. Selain untuk keutuhan rumah tangga. 2002). Senada dengan Papalia. hlm. seorang profesor psikologi dari Michigan University dalam bukunya Development Psychology Today mengatakan bahwa usia 20-24 tahun adalah saat yang terbaik untuk menikah. sebab usia 21 tahun merupakan batas awal kedewasaan manusia Dalam buku Human Development (1995) yang ditulis oleh Diane E.73 Yang harus lebih menjadi pertimbangan adalah kesiapan kesehatan reproduksi perempuan ketika menikah dan mempunyai anak. Ada satu pertanyaan penting. Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani Press.13 Pertimbangan umur lebih dititikberatkan pada segi kesehatan. Akan tetapi. Dalam buku ini dibahas secara khusus tentang menikah pada usia dewasa muda (young adulthood). 14 13 . Hoffman menunjukan bahwa saat yang tepat untuk menikah juga dipengaruhi oleh “Menyosialisasikan “Cuonter Legal Draft” Kompilasi Hukum Islam. Namun para ahli menyarankan kisaran usia minimal 21 tahun. Mohammad Fauzil Adhim.14 dikatakan bahwa usia terbaik untuk menikah bagi perempuan adalah usia 19-25 tahun.

Al-Jazair dan Bangladesh misalnya membatasi umur untuk melangsungkan pernikahan itu. jika dibandingkan dengan batas umur kawin baik di Mesir maupun Pakistan sebenarnya sama. termasuk budaya keluarga. Memang ada juga Negara yang mematok umur tersebut sangat rendah. Batas umur kawin untuk Indonesia di atas. demikian juga dalam Hukum Keluarga di Pakistan dinyatakan bahwa perkawinan dapat dilakukan jika laki-laki sudah berumur 18 tahun dan wanita berumur 16 tahun. Dan rata-rata Negara didunia membatasi umur perkawinan itu laki-laki 18 tahun dan perempuan berkisar anatara 15-16 tahun. Malaysia membatasi usia perkawinan pada umur 18 tahun bagi laki-laki dan umur 16 tahun bagi perempuan. Batas Umur Minimal Perkawinan di Negara Muslim Lain Pasal 7 ayat (1) Undang-undang perkawinan No. akan cenderung menjadikan para pemuda lebih cepat mengalami kesiapan menikah. Budaya yang memandang pernikahan dini sebagai keputusan yang baik. B. laki-laki 21 tahun dan perempuan 18 tahun. Sedangkan Hukum Keluarga di Mesir menjelaskan bahwa perkawinan hanya dapat diizinkan jika laki-laki berumur 18 tahun dan wanita berumur 16 tahun. kecuali untuk laki-laki relatif tinggi. Yaman utara misalnya membatasi usia perkawinan tersebut pada umur 15 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan. .74 dukungan sosial budaya. 1 tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

ke-3 (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Aljazair Bangladesh Mesir Indonesia Irak Yordania Libanon Libya Malaysia Maroko Yaman Utara Yaman Selatan Pakistan Somalia Suriah Tunisia Turki Negara Umur Laki-laki 21 21 18 19 18 16 18 18 18 18 15 18 18 18 18 19 17 Umur Perempuan 18 18 16 16 18 15 17 16 16 15 15 16 16 18 17 17 15 15 A. hlm. 79. sebagaiman dikutip oleh Ahmad Rofiq.75 Berikut data komprehensif yang dikemukakan Tahir Mahmood mengenai batas umur minimal perkawinan di Negara-negara muslim. 1998). Rofiq. .15 No. Hukum Islam di Indonesia. cet.

.76 Pada tabel di atas tampak bahwa batas umur terendah untuk kawin di Indonesia relatif cukup tinggi untuk laki-laki tetapi termasuk terendah untuk perempuan. batas umur kawin bagi wanita yang sudah rendah itu masih belum tentu dipatuhi sepenuhnya. Di Mesir. meskipun perkawinan yang dilakukan oleh orang yang belum mencapai batas umur terendah itu sah juga. pada tahun 1929 diterbitkan suatu undang-undang untuk mencegah perkawinan anak di bawah umur (Child Marriage Restraint Act. Undang-undang ini menetapkan larangan mengawinkan anak perempuan sebelum menmcapai usia 14 tahun dan anak lelaki sebelum mencapai usia 16 tahun. Pencegahan perkawinan anak di bawah umur yang belum mencapai usia tersebut di anak benua India dipertegas dengan memberikan khiyār fasakh setelah dewasa kepada anak di bawah umur itu baik yang lelaki maupun perempuan apabila mereka dikawinkan oleh wali mereka sebelum mencapai usia tersebut di atas. Untuk mendorong agar orang kawin di atas batas umur terendahnya. Akan tetapi dalam kenyataan justru sering pihak orang tua sendiri yang cenderung menggunakan batas umur terendah itu atau bahwa lebih rendah lagi. 1 tahun 1974 telah melakukannya dengan memberikan ketentuan bahwa untuk melaksanakan perkawinan bagi seorang yang belum berumur 21 tahun harus mendapat izin dari orang tua. tetapi tidak boleh didaftarkan. 1929). Undang-undang ini juga menetapkan sanksi hukuman atas pelanggaran ketentuan-ketentuannya. Dalam tingkat pelaksanaan. sebenarnya pasal 6 ayat (2) UU No. Di anak benua India.

Akan tetapi beberapa lingkungan sosial tertentu masih melakukan perkawinan seperti itu karena pertimbangan-pertimbangan dan kepentingan-kepentingan yang mereka asumsikan. Untuk memenuhi ketentuan-ketentuan guna mendapatkan perlindungan hukum mereka cukup pergi ke dokter untuk memperoleh surat keterangan bahwa anak-anak tersebut telah mencapai usia yang dikehendaki oleh hukum.indoskripsi.77 Tidak diragukan bahwa pemerataan pendidikan.16 Maratusshaliha. akses 12 Mei 2008.com/judul-skripsi-tugasmakalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquran-makalah. 16 . kondisi sosial ekonomi dan bentuk-bentuk pengarahan masyarakat memberi andil dalam mengurangi keinginan untuk melakukan perkawinan di bawah umur di Mesir dan Pakistan. "Hukum Islam." http://one.

Namun.BAB V PENUTUP A. 2. Kesimpulan 1. kajian dan analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa ketentuan batas umur minimal perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam yang termaktub dalam Pasal 15 masih mengadopsi ketentuan dari Undang-undang No. Sedangkan dalam kajian psikologi. (4) dan (5) UU No. fiqih klasik maupun sumber-sumber lainnya. untuk menegakan prinsip yang lima (ad-darūriyyah al-khams) serta mewujudkan maqāşid asy-syarī'ah . yaitu 21-25 tahun. batas umur minimal perkawinan didasarkan pada kematangan fisik dn psikis seseorang. Berdasarkan pembahasan. Kemudian "bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2). (3). Umur yang tepat menurut tinjauan ini adalah pada saat seseorang memasuki masa dewasa awal. 1 Tahun1974". Ketentuan yang dimaksud adalah "untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pada dasarnya ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan tidak dikenal dalam literatur Hukum Islam seperti kitab-kitab hadis. yakni calon suami sekurangkurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun". 1 Tahun 1974.

Bila melihat kenyataan yang ada. akan terputus ditengah jalan dengan lebih memilih pernikah dini. pada umur 16-19 tahun baik bagi perempuan maupun laki-laki. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Inpres No.79 maka pembatasan umur dalam perkawinan dipandang perlu dan diatur dalam undang-undang yang legal agar dapat ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Berbagai kritik diajukan. Setelah sekian tahun sejak ditetapkannya UU. pembatasan umur minimal perkawinan harus berlandaskan pada prinsip kemaslahatan manusia. kematangan fisik harus diimbangi juga dengan kematangan jiwa untuk dapat melangsungkan pernikahan . Saran Ada beberapa hal penting yang bisa ditawarkan dalam mengkaji kembali ketentuan tentang batas umur minimal perkawinan dengan mengacu pada maqāşid asy-syarī'ah. maka generasi penerus bangsa yang seharusnya menimba ilmu dan memperluas wawasan serta pengalamannya. Kalau ketentuan itu masih tetap dipertahankan. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Pertama. Kedua. No. B. ternyata terdapat berbagai kendala dan hambatan dalam pelaksanaannya. terutama mengenai pembatasan yang terdapat dalam pasal 15 Kompilasi Hukum Islam. Ditambah lagi. pada umur tersebut masih dalam tahap-tahap belajar (pendidikan akademik) yang tidak mungkin ditinggalkan. secara psikologis dalam umur-umur saat itu perkembangan jiwa belum stabil dan belum memiliki mental yang kuat untuk hidup bermasyarakat.

dengan melihat dari sisi psikologis.80 agar tujuan pernikahan bisa tercapai dan hal itu bisa dilakukan dengan menambah batasan umur yang termaktub dalam pasal 15 KHI menjadi sekurang-kurangnya 20-21 tahun bagi perempuan dan 21-25 tahun bagi laki-laki. prinsip nasionalitas (al-Muwaţanah). prinsip kemaslahatan (al-Maşlahah). "Pembaharuan Kompilasi Hukum Islam. sosial. prinsip pluralisme (at- Ta`addudiyyah). dan juga pertimbangan kesehatan maka pembatasan umur minimal dalam Undang-undang dan Kompilasi Hukum Islam hendaknya lebih memperhatikan 6 prinsif yang terkandung dalam 'Counter Lrgal Draft' KHI yakni. dan prinsip demokrasi (al-Dimuqrathiyyah). hlm. 1 . Jakarta. prinsip kesetaraan dan keadilan gender (al-Musāwah al-Jinsiyyah). diselenggarakan oleh Universitas Paramadina. 5-6." paper dipresentasikan pada seminar Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu Gender. Februari 2007. prinsip penegakan HAM (Iqāmat al-Huqūq al-Insāniyah). Ketiga.1 Siti Musdah Mulia.

Al-Imām Abī 'Abdillah Muhammad ibn Ismā'il al-. 1963. Muhammad ibn 'Ali ibn Muhammad al-. cet ke-3. 1995. 1995. Muslim. Renungan tentang Umur Manusia.DAFTAR PUSTAKA A. Kairo: Dar al'Urubah. 1414 H/1994 M. ttp. Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah. Şahīh alMuslim.. Beirut: Dar al-Fikr. Nikah dalam Yogyakarta: Darussalam. Tafsīr Āyāt al-Ahkām. B. Bandung: Mizan. Ilmu Fiqh. Daradjat. 2003. tt. Beirut: Dar al-Fikr. Sāyis. Mohammad. Hambatan dan Prospeknya. Jakarta: Departemen Agama RI. dkk. Jakarta: Gema Insani Press. Abī al-Khusaini Muslim ibn Muslim ibn Al-Hujjāj al-. 1973. Nail al-Autār. Abu al. 1963. 2001. Bandung: Mujahid Press. Şahīh al-Bukhārī. ke-2. Muhammad 'Ali al-. Audah. 1997. Kelompok Hadis Bukhāri. Busthanul. 'Abd al-Qadir. Kelompok Al-Qur'an/Tafsir Al-Qur'an dan Terjemahannya. Al-Tasyrī' al-Jina'i al-Islāmi. Jakarta: Akademika Pressindo. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Beirut: Dar al-Fikr.Badai Rumah Tangga. Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf. Zakiah. 2004. Syaukānī. Asmawi. 'Allamah Sayyid Abdullah. Kelompok Fiqh/Ushul Fiqh Abdurrahman. Haddad. Ghifari. Perbincangan dan Perbedaan.: Muhammad 'Ali Sa'bih. Jilid II. C. cet. . 1996. Arifin.

Februari 2007. 'Abdul Al-Rahmān al-. Manan. Maratusshaliha. Ilmu Perkawinan Problem Seputar Keluarga dan Rumah Tangga." http://one.kompas. KH. Bekal Pernikahan. Jakarta: Kencana.com/judul-skripsitugas-makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquranmakalah. Mufarraj. Mulia. Jakarta: Pustaka Firdaus. Mukhlisin. Panitia Penyusunan Biografi. Khoiruddin. 2006. ke-1. 2002. dalam Chuzaimah T. cet. Jakarta. Muhammad. Sulaiaman al-.82 Jazīry. Islam Tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum Perkawinan 1). Mubarok. 2005. Cakap Hukum Bidang Perkawinan dan Perjanjian. Nasution. diselenggarakan oleh Universitas Paramadina. Jakarta: Qisthi Press. Nasaruddin. Yogyakarta: Pustaka Dinamika. Siti Musdah. “Menyosialisasikan “Cuonter Legal Draft” Kompilasi Hukum Islam. Yanggo dan Hafiz Anshary. "Hukum Islam. Bandung: Pustaka Hidayah.indoskripsi." paper dipresentasikan pada seminar Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu Gender. Al-Fiqh 'ala al-Mazāhib al-Arba'ah. 1990. "Pembaharuan Kompilasi Hukum Islam. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia. 2006. Muttaqien. Abdul. akses 10 Mei 2008. Karim. Jakarta: Putra Harapan. 2001. Helmi. Latif. “Kedewasaan untuk Menikah”. 2001.” http://www2. Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil. Modernisasi Hukum Perkawinan di Indonesia. Prof. Dadan. 1996. Muzarie. Refleksi Kiai atas Wacana Gender. Ibrahim Hussein dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia. Yogyakarta: LKiS. Yogyakarta: Academia & Tazzafa.com/kompas-cetak/0410/11/swara/1316378. Yogyakarta: Insania Cita Press. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. 2003. 2004. cet. Husein. akses 12 Mei 2008. Fiqh Perempuan. Jaih. 1969. ke-1. Beirut: Dar al-Fikr. Problematika Hukum Islam Kontemporer.htm. .

Adhim. ________. Zarkowi. Ahmad. Co. Hukum Perkawinan Islam. dkk. Rita L. Jakarta: Erlangga. Moh.. 1998. Soemiyati. 1985. Rofiq. Ali. edisi ke-8. Akyas. ke-1. Wahid.. 2002. Psikologi Umum dan Perkembangan. _________. Jakarta: Teraju. Triasco Publisher. “Sejarah Penyusunan KHI di Indonesia. Atkinson. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Mohammad Fauzil. D. 1994. akses 6 Mei 2008. 2004. Co. Hukum Perkawinan dalam Islam. ke-3.. Yafie. Hukum Islam di Indonesia. 1986.” http://one. ke-2.indoskripsi. Jakarta: Gema Insani Press. Pengantar Psikologi. Soeyoeti.). 1999. 1999.” dalam Dadan Muttaqien. cet.83 “Perkawinan dalam Hukum Islam. Ramulyo. . Jakarta: Penerbit Ind–Hill. cet ke-10 Jakarta: Hidakarya Agung. 1983. Masa Transisi Remaja. alih bahasa Nurdjannah Taufiq dan Rukmini Barhana. Mahmud. Jakarta: Raja Grafindo Persada. cet. Tinjauan Beberapa Pasal UU No. Idris. Azhari. (ed. Beberapa Masalah tentang Hukum Perdata Peradilan Agama dan Hukum Perkawinan Islam.. 1 Tahun 1974 dan KHI.. cet. 2001.Yogyakarta: UII Press. dkk. Yogyakarta: LKiS. Peradilan Agama dan KHI dalam Tata Hukum Indonesia. dkk.com/judul-skripsitugas-makalah/hukum-islam/pernikahan-dalam-perspektif-alquranmakalah. Yogyakarta: Liberty. Suatu Analisis dari UU No. 1985. Yunus. tt. Indahnya Pernikahan Dini. Menggagas Fiqih Sosial. Marzuki dan Rumadi. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Penerbit Ind–Hill. Bandung: Mizan. Moh. 1 Tahun 1974 Dari Segi Hukum Islam. Kelompok Psikologi Abdurrouf. Fiqh Madzhab Negara. 2004.

. Jakarta: Erlangga. Psikologi Remaja.84 Baharuddin. edisi ketiga. Johan Suban. dkk. Kamus Lengkap Psikologi. Keluarga Sakinah: Tinjauan Psikologi dan Agama. Soedjarwo. Ignace. 1998. Jakarta: Rajawali Press. Psychology of Loving. Jakarta: Erlangga. ke-5. Basri. 1999. . edisi ke-2. ke-2. 1968.. Istiwidayanti dan Drs. Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. M. Sarwono. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Andi. Chaplin. edisi ke-4. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. 2004. Hurlock. ke-3. Developmental Psychology. Jakarta: Balai Pustaka. Pengantar Psikologi Umum. tt. F. 1989. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. ke-6. New York: Mc Graw Hill Book Company. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Alenia. E. ________. Tukan.. Lepp. 1994. Perkawinan. J. Sabri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Alisuf. dan Keluarga. 1985. Walgito. M. Suharsimi. Hasan. Kelompol Lain-lain Akunto. cet. P. Jakarta: Rineka Cipta. 2004. 2004. edisi ke-5. alih bahasa Siti Rahayu Haditono. ________. 2006. alih bahasa Dra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. cet. Sarlito Wirawan. Metoda Pendidikan Seks. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Monks. Elizabeth B.Sc. 2002. 1993.. cet. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Paradigma Psikologi Islam Studi tentang Elemen Psikologi dari Al-Qur'an.J. 2004. alih bahasa Eriyanti. cet. Bimo. Yogyakarta: Penerbit Andi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

1996. 156. cet.85 Hadi. 1994. Metodologi Research. Peter dan Yenny Salim. 1991. Januari 1991. Sudarto. Mimbar Ulama. No. Surabaya: Arkola. Metode Penelitian Filsafat. . Pius A. Jakarta: Modern English Press. Partanto. Tahun XV. Jakarta: Raja Grafindo Persada. "Lokakarya Nasional tentang Perkawinan Usia Muda". Sutrisno. 1990. Salim. ke-1. Kamus llmiah Populer. Yogyakarta: Andi Offset. dan M. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Dahlan Al Barry.

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya… Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta). Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. barangsiapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya.Lampiran 1 TERJEMAHAN Bab I Hlm 1 FN 2 Terjemah Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Dan barangsiapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa. karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? Perintahlah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. barangsiapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin. dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Wahai para pemuda. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki. niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. hendaklah dia kawin karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya. 3 3 5 II 22 4 27 13 29 18 19 20 I . hingga sampai ia dewasa… Wahai para pemuda. dan akan memeliharanya dari godaan syahwat.

Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah SAW bagaimanakah ijinnya? Rasul menjawab: Dia berdiam diri. dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku 35 37 38 36 40 41 39 46 47 48 III 55 21 II . karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang. Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan utukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri. Tiada nikah kecuali hanya dengan adanya wali. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. dan janganlah kamu menikahi seorang perawan sampai kamu minta ijinnya. Dan barangsiapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa. Hai orang-orang yang beriman. tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa… Janganlah kamu menikahi wanita (baik yang masih kecil atau sudah besar) sampai kamu minta kesiapannya. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.hendaklah dia kawin… 21 Rasulullah menikah dengan dia ('Aisyah) dalam usia 6 tahun dan beliau memboyongnya ketika dia umur 9 tahun dan beliau wafat pada waktu dia berumur 18 tahun. hendaklah dia kawin karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya. dan memberimu rezki yang baik-baik… Wahai para pemuda. dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. anak-anak dan cucu-cucu. barangsiapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin. Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu. Tiada nikah kecuali hanya dengan adanya wali dan kedua orang saksi yang adil.

dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". IV 65 2 Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anakanak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya…

66

3

III

Lampiran II BIOGRAFI TOKOH DAN ULAMA 1. Imam Al-Bukhāri. Nama lengkap beliau Abu Abdillah Muhammad Ibn Ismā'il Ibn Mughirah al-Jufi, lahir di Bukhara pada tahun 194 H/ 810 M. Imam al-Bukhāri memiliki daya hafalan yang sangat kuat dalam bidang hadis, ketika masa kanak-kanak beliau sudah bisa menghafal hadis sebanyak 70.000 hadis lengkap dengan sanadnya, dapat mengetahui hari lahir dan hari wafat serta tempat-tempat perawi hadis, yang kemudian beliau catat. Beliau merupakan orang pertama yang emnyusun kitab hadis yang terkenal dengan kitab Sāhih Bukhāri, yang disusun dalam waktu 15 tahun, dalam kitab tersebut berisikan 7.297 hadis. Diantara karya-karya beliau yang lain adalah Al-Mabsut al-Qirā'at al-Khalfal Iman, Al-Tafsir al-Kabir dan lain sebagainya. Beliau wafat pada tahun 156 H. 2. Abdurrahman. Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada pada tanggal 28 Juni 1949. Alumni dari Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, kemudian melanjutkan pada Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia bidang studi Ilmu Hukum. Selain itu pernah mengikuti Training Inventarisasi Yurisprudensi (FH. Unpad, 1976), Penataran Pengacara Muda (LBH Jakarta, 1976), Manajemen Penelitian (Unlam, 1977), Penelitian Hukum (BPHN, 1980), Kursus Dasar Andal (Lembaga Ekologi Unpad, 1983), dan lain-lain. Sekarang menjabat sebagai dosen tetap untuk Fakultas hukum Unlam dan dosen luar biasa untuk Fakultas Syariah IAIN Antasari. Selain itu menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Hukum Tanah FH. Unlam, Penasehat Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum FH. Unlam, anggota Pusat Studi Wilayah dan Lingkungan Hidup Unlam, Anggota Tim Pengkajian Hukum Adat Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, dan lainlain.

IV

3. Busthanul Arifin. Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni 1929. Beliau adalah salah seorang tokoh di bidang hukum Islam di Indonesia, pencetus lahirnya UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam. Ia memulai pendidikannya pada HIS (Hollands Inlandsche School) di Payakumbuh dan tamat tahun 1943. Kemudian melanjutkan studinya ke SMPN Bukit Tinggi (tamat tahun 1948). SMA Peralihan di Jakarta (tamat tahun 1951) dan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (tamat tahun 1955). Semasa mahasiswa aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Yogyakarta dan sempat menjadi Ketua Umum HMI cabang Yogyakarta (masa jabatan 1954-1955). Lulus dari FH UGM, meniti karir sebagai Hakim di Semarang sambil mengajar di SMA swasta. Diangkat menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Kalimantan Selatan dan Tengah di Banjarmasin (1966-1968). Lalu melalui Keppres No. 38/1968 tanggal 3 Februari 1968, diangkat menjadi Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI padahal usianya baru 38 tahun. Setelah 14 tahun menjadi Hakim Agung, tanggal 22 Februari 1982 melalui Keppres No. 33/M tahun 1982, diangkat menjadi Ketua Muda MA RI Urusan Lingkungan Peradilan Agama. Berkat jasa-jasanya di bidang keilmuan dan gagasannya memperjuangkan hukum Islam dan Peradilan Agama di Indonesia, Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta menganugerahinya gelar doctor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dalam ilmu Agama Islam. 4. Husein Muhammad. lahir di Cirebon pada tanggal 9 Mei 1953. Setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren Lirboyo Jawa Timur, pada tahun 1973, ia melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta dan tamat pada tahun 1980. Kemudian meneruskan belajar di Aljazair dan Kairo. Saat ini masih memimpin pondok pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun Cirebon Jawa Barat. Aktif dalam berbagai kegiatan diskusi dan seminar ke-Islaman, terakhir aktif dalam seminar-seminar yang membicarakan seputar agama, gender, serta isu-isu perempuan. Juga menulis di sejumlah

V

Pada tahun 1973-1974. VI . ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studinya di Universitas Edinburgh di Skotlandia dalam bidang Community Development. 1979-1982. menyelesaikan Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama di Tegal. Selama menjadi mahasiswa aktif mengikuti pergerakanpergerakan mahasiswa antara lain pernah menjabat anggota Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Universitas Indonesia dan Sekretaris Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia periode 1966-1967. Lahir di Purwokerto pada tanggal 2 Februari 1944. Dalam kesempatan itu pula ia telah mempelajari secara mendalam masalah Komunikasi Massa di British Broadcasting Corporation di London. Kemudian ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 5. Selain menjadi Direktur Pengembangan Wacana di Lembaga Swadaya Masyarakat Rahima. Sarlito Wirawan Sarwono. International Council of Psychologists (CP) – Member. Society for Psychological of Studies Issues (SPSSI) – Member. Organisasi-organisasi ang pernah ia duduki antara lain Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPSI).media massa dan menerjemahkan sejumlah buku. Pada tahun 1977 memperoleh kesempatan untuk memperdalam bidang Psikologi Sosial di Universitas Leiden. dan mendapat gelar Sarjana Psikologi pada bulan Januari 1968. Minatnya yang besar terhadap kehidupan remaja khususnya dan gejala-gejala sosial umumya dilanjutkan setelah ia menjadi sarjana dengan mengadakan berbagai penelitian tentang remaja serta penelitian-penelitian lainnya. Belanda. ia dan teman-temannya di Cirebon mendirikan Klub kajian Building. American Psychological Assosiation (APA) – Foreign Affiliate. Dan pada tahun 1978 meraih gelar Doktor dalam ilmu Psikologi dari Universitas Indonesia. Sedangkan ijazah Sekolah Menengah Atas diperoleh di Bogor tahun 1961. Wakil Ketua II. antara lain dalam bidang Kelurga Berencana dan Pembangunan Masyarakat Desa.

e. (3) Bagi calon mempelai yang menderita tuna wicara atau tuna rungu persetujuan dapat dinyatakan dengan tulisan atau isyarat yang dapat dimengerti. c. Pasal 16 (1) Perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai. Dua orang saksi. (4) dan (5) UU No. lisan atau isyarat tapi dapat juga berupa diam dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas. VII . Calon isteri. (2) Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2). d. Pasal 17 (1) Sebelum berlangsungnya perkawinan. b. Wali nikah. (3). dapat berupa pernyataan tegas dan nyata dengan tulisan. yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurangkurangnya berumur 16 tahun. dan Ijab dan kabul Bagian Kedua Calon Mempelai Pasal 15 (1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No.Lampiran III BAB IV RUKUN DAN SYARAT PERKAWINAN Bagian Kesatu Rukun Pasal 14 Untuk melakukan perkawinan harus ada: a. Calon suami. Pegawai Pencatat Nikah menanyakan lebih lebih dahulu persetujuan calon mempelai dihadapan dua saksi nikah. 1 Tahun 1974. (2) Bentuk persetujuan calon memepelai wanita. (2) Bila ternyata perkawinan tidak disetujui oleh salah seorang calon mempelai maka perkawinan itu tidak dapat dilangsungkan. 1 Tahun1974.

yakni saudara laki-laki kandung ayah. mereka sama-sama berhak menjadi wali nikah. dan laki-laki keturunan mereka. Bagian Ketiga Wali Nikah Pasal 19 Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya. kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita. Keempat. maka yang paling berhak menjadi wali ialah yang lebih dekat derajat kekerabatannya dengan calon mempelai wanita. kelompok saudara laki-laki kandung kakek. saudara seayah dan kturunan laki-laki mereka. tuna rungu atau VIII . dengan mengutamakan yang lebih tua dan memenuhi syarat-syarat wali. Pasal 20 (1) yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim. kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah. kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah. Wali nasab b. Kedua. Apabila dalam satu kelompok derajat kekerabatannya sama yakni samasama derajat kandung atau sama-sama derajat kerabat seayah. saudara laki-laki seayah kakek dan keturunan laki-laki mereka. (1) (2) (3) (4) Pasal 22 Apabila wali nikah yang paling berhak. (2) Wali nikah terdiri dari: a. kakek dari pihak ayah dan seterusnya. Apabila dalam satu kelompok sama derajat kekerabatannya maka yang paling berhak menjadi wali nikah ialah kerabat kandung dari kerabat yang hanya seayah. urutannya tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah atau oleh karena wali nikah itu menderita tuna wicara. Apabila dalam satu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang sama-sama berhak menjadi wali. Wali hakim Pasal 21 Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan. Ketiga. Pertama. kelompok kerabat paman.Pasal 18 Bagi calon suami dan calon isteri yang akan melangsungkan pernikahan tidak terdapat halangan perkawinan sebagaimana diatur dalam Bab IV. ‘aqil dan baligh.

Wali nikah dapat mewakilkan kepada orang lain. adil. Pasal 29 (1) Yang berhak mengucapkan kabul ialah calon mempelai pria secara pribadi. Bagian Kelima Akad Nikah Pasal 27 Ijab dan kabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak berselang waktu. Pasal 25 Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki muslim. ‘aqil baligh. Bagian Keempat Surat Nikah Pasal 24 (1) Saksi dalam perkawinan merupakan rukun pelaksanaan akad nikah. Pasal 23 (1) Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghindarkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan. tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli. IX . (2) Dalam hal-hal tertentu ucapan kabul nikah dapat diwakilkan kepada pria lain dengan ketentuan calon mempelai pria memberi kuasa yang tegas secara tertulis bahwa penerimaan wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai pria. (2) Dalam hal wali adlal atau enggan maka wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut. Pasal 26 Saksi harus hadir dan meyaksikam secara langsung akad nikah serta menandatangani Akte Nikah pada waktu dan tempat akad nikah dilangsungkan. maka akad nikah tidak boleh dilangsungkan. maka hak menjadi wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut derajat berikut. (2) Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi. (3) Dalam hal calon mempelai wanita atau wali keberatan calon mempelai pria diwakili. Pasal 28 Akad nikah diaksanakan sendiri secara pribadi oleh wali nikah yang bersangkutan.sudah udzur.

MA HM Tri Bakti Lirboyo Kediri 2002 d. Juned : Hj. Pendidikan Non-Formal a. Pandeglang. Sobang. SDN 01 Cimanis 1996 b. 21 Maret 1984 : Cimanis.Lampiran IV CURRICULUM VITAE Identitas Diri: Nama Tempat/Tgl. Sobang. angkatan 2003 2. Banten 42282 Orang Tua/Wali: Nama Ayah Nama Ibu Alamat Pekerjaan : H. Sami : Cimanis. Banten : Wiraswasta Riwayat Pendidikan: 1. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Fakultas Syari'ah Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Yogyakarta. Ponpes Sunniy Darussalam Maguwoharjo Sleman Yogyakarta 2008 X . Pandeglang. RT 01 RW 02. Lahir Alamat Asal : Agus Sanwani Arif : Pandeglang. Pendidikan Formal a. MTs Hidayatul Mubtadi'in Sobang 1999 c. RT 01 RW 02. Ponpes HM Putra Al-Mahrusyiah Lirboyo Kediri 2002 b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful