EMERGENCY

Protokol syok anafilaktik :
1. Tinggikan kaki, bebaskan air way
2. Adrenalin 0,2 - 0,5 cc/ sub kutan .
Untuk dosis anak : 0,01cc/kg BB
3. O2 masker 4-6 L/mnt
Infus RL/PZ :
Tensi tidak terukur  20 cc/ kg BB
Sistole < 100 mmHg  500 cc/ ½ jam
Sistole > 100 mmHg  500 cc/ 1 jam
5. Tensi titik atas < 100 mmHg  Adrenalin 1 : 1000 /cc
diencerkan dgn P8 jadi 10 cc  digunakan 2-3 cc /IV
pelan (anak :0,1 cc/kg BB).
Dosis dapat diulang setelah 10 menit.
6. Bila gagal memasang infus  adrenalin 1 : 100  0,2
- 0,5 cc / i.m.
6. Setelah infus terpasang berikan difenhidramin 60 - 80
mg i.v ( anak : 1 -2 mg /kg BB / i.v ). Maximal 200
mg / i.v (anak : 8 mg/ kg BB/ i.v )
7. Bila terdapat wheezing berikan aminofilin 1 amp ( 240
mg) i.v pelan dalam 20 menit ( anak 4 - 6 mg/ kg BB).
8. Bila infus belum dapat terpasang , tensi tetap kurang
atau tak terukur  segera ke ICU
9. Observasi vital sign ketat 6 jam berturut-turut,
kemudian setiap 2 jam.
10. Sisa obat jangan dibuang.
Evaluasi untuk Operasi Emergenci :
1. KU : - Nadi : frek., irama, kualitas dan isi
- Pengisian kapiler
- Tensi
- Pengisian vena sentralis & perifer  CVP
- ECG  Usia > 35 thn
2. Neurologi : Kesadaran, pernafasan, fraktur tulang
belakang ?
3. RPD : Foto thorak, BSN (usia > 40 thn)
Monitoring :
- Kadar gula darah dan elektrolit  tiap hari
- Albumin & leukosit  tiap 2 - 3 hari
Tranfusi :
- PRC : 4 x A x BB = cc  max / hari = 10 cc/kg BB
- WB : 8 x A x BB = cc
- Kebutuhan Albumin / hari
Dalam gram : A x BB x 80 / 100 x 1 grm
Dalam % : 20 % = A x (BB x 80 / 20) x 1 cc
25 % = A x (BB x 80 / 25) x 1 cc
JEF/99/1
Hb toleransi :
Hb : 8 grm/ dL
Ht : 25 %
Alb : 2,5 grm/ dL
Tranfusi Plasma :
Indikasi :
1. Koreksi defisiensi faktor pembekuan
2. Koreksi defisiensi Ig heriditer.
3. Koreksi hipovolemia karena plasma leakage (DHF)
No. 1 dan 2 dosis :  1 jam I = 10 cc/ kg BB/ jam
jam berikutnya : 1 cc/ kg BB/ jam
No. 3 dosis : 10 - 20 cc/ kg BB
Dopamin :
1. Dosis rendah(CVP dbn, TD |): 2 micro-grm/kg BB/mnt
 u/ meningkatkan flow rate pre renal
mengaktifkan reseptor dopaminergic
vasodilatsi renal vascular  diuresis
adrenergik efek minimal
2. Dosis sedang (CVP |, TD |, urine ||) : 2 - 8 micro-
grm /kg BB / mnt
 u/ meningkatkan tensi
stimulasi beta-1  HR |, CO |
3. Dosis tinggi : 8 – 20 micro-grm/ kg BB/mnt
 stimulasi alfa-1
| retensi perifer
GFR |
Cara membuat sediaan :
1 ampul dopamin = 200 mg
200 mg dopamin dilarutkan dalam 500 cc D5%
 1 cc = 200 / 500 = 0,4 mg
1 cc = 400 micro-grm
20 tts = 400 micro-grm
1 tts = 400 / 20
= 20 micro-grm
Bila BB = 50 kg
Dosis kecil = 2 micro-grm x 50 /mnt
 100 micro / mnt  100 / 20
= 5 tts / mnt
Rumus praktis = J x BB x 6 / 100 tetes per menit
J = jumlah dalam yg dibutuhkan dlm micro
Dobutamin :
- Selektif beta-1 agonis
- CO | , efek inotropik lebih baik
- Retensi perifer| sedikit
- T, RBF, aliran darah mesenterik |
Dossage :
JEF/99/2
1 ampul = 250 mgr = 20 cc
Dosis awal : 0,5 micro-grm /kgBB/mnt
Cardiogenik syok 2 – 10 micro-gr /kg/mnt
Range dose : 2 – 20 micro-gr /kg/ mnt
Cara membuat sediaan :
250 mgr dalam 250 cc D5 atau PZ
A R D S :
1. Fase I :
- Gangguan perfusi dan metabolisme
- Ronkhi basah
- Foto normal
2. Fase II :
- Foto tampak kelainan
- Hipoksemia tak dpt diperbaiki dgn cara biasa
respirator
3. Fasse III :
- Hipoksemia kuat
- Foto  tanda udem paru (infiltrat difuse)
4. Fase IV : - Cardiac aritmia
- Sepsis
- Hipoksemia berat
Patologi ARDS :
18 jam : congesti, atelektasis, intestinal udema,
tromboemboli
48 jam : intra alveolaar hemorrhage
78 jam : konsistensi paru seperti hepar , alveolar turun.
Trombus / emboli vena :
Trombus  arteri / vena besar
Vena : pembentnukan fibrinogen sangat penting, sedang
agragasi trombosit hampir tidak ada, arterosklerosis
tak berperan.
Faktor penentu :
1. dinding pembuluh darah
2. aliran darah
3. komponen darah
Tingkat dehidrasi :
Cairan hilang % BB Gejala klinis
A. Ringan (< 5 % BB) Irritable, bibir kering, kulit hangat &
kemerahan, turgor sedikit |, rasa
haus.
B. Sedang (10 % BB) Gelisah , mata cekung, tek.
Intraoculer |, demam, pucat, turgor
|, demam , takikardi, ubun cekung,
oliguri.
C. Berat (> 15 % BB) Apatis / somnolent, hipotonia, mata
cekung , tek. Intra oculer jelas
turun, pucat/ cianosis, turgor |,
JEF/99/3
hiperpireksia, kkejang, nadi lemah ,
ubun sangat cekung.
Pemberian NPE :
A. Kurang dari 5 hari :
hari I RD5 : D5 = 2 : 3  ( =500 kcal)
hari II & III RD5 : D10 = 2 : 3  (800 kcal)
hari IV & V RD5 : D20 = 2 : 2  (1000 kcal)
b. Jika panj lewat vena perifer :
hari I  RD5 : D5 = 2 : 3
hari II & III  AA 2,5 % KH : D10 = 2 : 3  (900 kcal +
25 grm AA)
hari IV & V  AA 2,5 % KH : D10 = 2 : 2  (1100 kcal
+ 25 grm AA)
c. Jika panj lewat vena central :
hari I  RD5 : D5 = 2 : 3
hari II - III  AA 5 % KH10 : D10 = 2 : 3  (1000kcal
+50grm AA)
hari IV dst AA5 % KH10 : D20 = 2 : 2  ( 1200kcal+
50 grm AA)
D20 diberi bersama insulin 20 IU/ 500 cc
AA 2,5 % +KH : Plasmatein ( 300 cal + 25 grm AA)
AA 5 % + KH10 : Aminofel 600 ( 450 cal/L + 50 grm
AA+25 meq K+)
Triparen : Elektrolit + glukosa + xilitol + fruktosa
Triparen No.1  933 kcal
Triparen No.2  1200 kcal
EAS 7 %  osmol rendah  1 L = 50 grm AA
Intralipid 10 % dan 20 %
tubuh mencerna lemak tidak bisa langsung
Amiparen  100 grm AA / L
Aminofusin  50 grm AA /L  Isi AA essensial + AA
rantai panjang
Panamin G : AA 27 grm/ L
Kebutuhan kalori pasca trauma/sepsis
1000 kcal/m2 atau
25 kcal /kg BB atau
5 gram / kg BB
Asam amino = 1 gram / kg BB
50 gr protein /hari  perlu 1200 kcal (300 gr gula)
Nutrisi Enteral dimulai diberikan jika retensi lambung <
200 cc/hari dengan warna jernih, putih kehijauan.
Caranya : awali dengan 50 cc D 5 % / jam
Lipid diberikan 30 % dari kebutuhan kalori.
Infeksi  suhu |, intake minum |  uremia
Trauma score (0 - 12) :
1. Nafas, frekuensi :10 - 24 : 4
25-35 : 3
> 35 : 2
JEF/99/4
<10 : 1
0 : 0
2. Usaha Bernafas :
Normal : 1
Dangkal/retraksi : 0
3. Tekanan sistolik
> 90 : 4
70 - 90 : 3
50 - 69 : 2
< 50 : 1
0 : 0
4. Pengisian kapiler :
Normal (< 2 detik) : 2
Lambat ( > 2 detik : 1
Tidak ada : 0
5. GCS
14 - 15 : 5
11 - 13 : 4
8 - 10 : 3
5 - 7 : 2
3 - 4 : 1
< 3 : 0
Score : 1 - 16
Bila trauma score 9  harapan hidup 9/16 x 100 %
Koreksi elektrolit :
Kalium  Normal : 3,5 - 5 meq/L
Kebutuhan : 1 - 2 mg/ kg/ hari
Hati -hati pada orang tua.
Defisit K+ x BB
K + = ------------------------ x cc
10
Cara masuk  masukkan koreksi (KCl 15 %) dlm drip D5
dengan monitor EKG.
Indikasi koreksi kalium bila K < 2,5
Defisit x BB
BE = -----------------------
3
Cara masuk : - ½ bolus meylon
- ½ lagi drip
1 grm NaCl = 17,1 meq (kebutuhan harian 2 - 4 meq/kg/hr)
1 grm KCl = 13,4 meq (kebutuhan 1 - 2 meq/kg/ hr)
1 grm Na. Bic. = 5,9 meq
1 cc Meylon = 1 meq
KCl 7,5 %  1 cc = 1 meq/L
KCl 15 %  1 cc = 2 meq/ L
NaCl 15 %  1 cc = 2,5 meq/L
JEF/99/5
Analisa Gas Darah :
* Acidemia (pH turun) : [H+] > 45 atau pH < 7,35
* Alkalemia : [H+] < 35 atau pH > 7,45
* Metabolik alkalosis [HCO3-] > 35
* Metabolik asidosis [HCO3-] < 23
* Respiratori asidosis [PCO2] > 45
* Respiratori alkalosis [PCO2] < 35
Step :
1. Evaluasi pH :
- Low  asidosis – primery lesion
- High  alkalosis – primery lesion
- Normal  normal/ mixed
2. Evaluasi [HCO3-] :
- High  metabolik alkalosis
- Low  metabolik asidosis
3. Evaluasi pCO2 :
- High (hipercapnia)  respiratori asidosis
- Low (hippocapnia)  respiratori alkalosis
4. Combine information :
- pH : Low  asidemia
- [HCO3-] : Low  metabolik acidemia
- pCO2 : Low  respiratori alkalosis
overall  penderita acidemia dgn lesi primer metabolik
asidosis dengan proses kompensasi respiratori
alkalosis.
5. Evaluasi proses kompensasi :
Compensasi respiratori asidosis :
a. Acut : HCO3- < 32
b. Cronik (2-4 hari) : HCO3- < 45
Rumus [HCO3-] = 0,43 x pCO2 + 7,6.
Alkalosis : H+ keluar sel, K masuk sel  K serum |
Asidosis : H+ masuk sel, K keluar sel  K serum |
Metabolik alkalosis :
-Retensi HCO3-
-Loss H+ >>
Causa :
- Loss H+  GIT : muntah >>
- Renal Loss H+ : -Minerallocortikoid excess
- Hipoparathiroid
- Retensi Bicarbonat :
- Pemberian NaHCO3 >>
- Tranfusi masif
Gangguan Asam Basa  mempengaruhi distribusi K+
JEF/99/6
- Asidosis  K+ keluar sel  Hiperkalemia
- Alkalosis  K+ masuk sel  Hipokalemia
Metabolik Asidosis
- Prod. H+ >>
- Ekskresi H+ <<
¹
HCO3 - |
Ada 2 macam :
1. Anion gap meningkat
2. Anion gap normal.
Anion Gap : Perbedaan antara Na serum dan jumlah Cl +
bicarbonat.
- Bila Anion gap | (>14 mEq/lt)  berarti terjadi
penambahan asam : RF, Ketoasidosis, laktic acidosis
- Bila anion gap normal (12 mEq/lt)  berarti kehilangan
bicarbonate dengan retensi cloride : RTA, Urinari
diversion, pangkreatic fistel, diarhea.
Causa :
- Produksi asam organik >> :
Ketoasidosis diabetik
Sepsis, Shock, Perfusi |
Obat-obatan
- Kegagalan mekanisme ekskresi Ren :
Oliguri ARF
CRF
Renal Tubular Asidosis
- Bicarbonat Loss >>> :
GE, Fistel pangkreas
Koreksi Asidosis Metabolik :  Bicarbonat.
BB x 0,3 x (25 – HCO3 – serum) = mEq Bic.Nat needed
1 Ampul NaHCO3 = 44 mEq.
Menghitung Tetesa infus :
Jml cairan infus
Makro : -----------------------
lamanya infus x 3
Jml cairan infus
Mikro : ---------------------------
lamanya infus (jam)
Hiperkalemia : > 5,5 mEq/L
Causa :
- asidosis metabolik  K intrasel keluar
- GGA
- Trauma jaringan >>>
- Perdarahan GI.
JEF/99/7
Gx/ :
- Aritmia, Lemah otot
- ECG : peak T wave, flat P wave, QRS melebar
Terapi :
a. Acut :
*Gluk hipertonik(D40%) + 10 - 20 UI RI.
Cont. :
Hiperkalemia 7, 8 meq di terapi dgn cara :
D40 %  25 cc
2 unit insulin I.V. ( boleh 2 x dgn jarak 1 jam,
diantaranya diberi Kalium glukonas)
*Clsium glukonas (10 %) : 10 - 20 cc / iv
*Dialisis
*Sodium bicarbonat “ 50 - 100 mEq/ iv
*Pemberian elektrolit :
Defisit + kebutuhan /hari = ………/ 24 jam
Defisit = Elekt Normal - elektrolit yg ada x BB x 0,
6 meq
b. Cronik :
- Diet rendah K
Tiap perubahan pH 0,2  menimbulkan perub. K = 1 mEq
Kenaikan 3 mEq Na. serum  defisit air ± 1000 cc
Hipokalemia : < 3 mEq/l
causa : - Ektra renal : muntah, diare, ileus, fistel usus,
combus
- Renal : shock (anoksia jaringan), diuresis >>
- Inbalance asam - basa : alkalosis, asidosis
Klinis :
- aritmia
- lemah oto, kram, mialgia, flaccid/ tetani
- ileus, mual, nokturia
- haus, gelisah  koma
- reflek tendon turun, parestesi
- ECG : flat T wave atau T terbalik, gelombang U
menonjol
Terapi :
a. Non- urgent : Oral : 80 - 120 mEq/ hari (aspar K)
b. Urgent : max. : 40 mEq/ jam dgn monitor ECG
Hiponatremia : < 120 mmol/l
Klinis :
- mual, muntah
- muscle cramps, letargi
- gelisah, kesaaran turun
- agitasi, kejang
- sensorik turun, reflek tendon turun
- hipotermia
- nafas cheyne stokes
JEF/99/8
Terapi :
* NaCl 3 % , kec. infus : 1 mEq/L/hari (max)
* Infus PZ / RL
Defisit x BB
Natrium : ----------------------- x cc
12,5
 ½ : drip, dan ½ lagi bolus.
Estimasi defisit bicarbonat dan excess :
* Pada asidosis metabolik yang berat dgn HCO
3
- < 10 :
HCO
3-
defisit = 0,7 x LBW x [10 - HCO
3-
]
* Pada alkalosismetabolik :
HCO
3-
excess = 0,5 x LBW x [ HCO
3-
- 24]
Osmolalitas dan Consentrasi Na plasma :
glukose BUN
P osm = 2 x [Na
+
] + ------------- + -------
18 2,8
glukose
Efektif P osm = 2 x Na
+
+ -----------
18
Na
+
+ K
+
Plasma Na
+
= -------------------
TBW
Pada hiperglikemia :
Setiap kenaikan glukosa 62 mg/dl akan menurunkan Na :
1 meq/lt  akibat perpindahan air dari sel ke ektra sel
Hiperglikemia  P osm meningkat, Na menurun
Hiponatremia :
Na defisit = 0,6 x LBW x (140 - Na+)
Hipernatremia :
Water defisit (lt) = 0,5 x LBW x (Na/140 -1)
pH turun 0,1  K+ naik 0,5 meq/lt
Acidemia  H+ plasma meningkat  masuk intra sel
K+ keluar  hiperkallemia
Penilaian Obstr. Jalan Nafas (Jackson)
Derajat I : pasien tenang hanya ada retraksi supra sternal
Derajat II : gelisah, retraksi supra sternal & epigastrium
Derajat III : Gelisah sukar bernafas, retraksi supra sternal,
Epigastrium,intercostal, supra & infra klcikula.
Derajat IV: Tanda 1 - 3 positif, anciety, muka pucat, pusat
pernafasan mulai letih.
Derj. II & III  segera trakheostomi
Derj. III  tidak boleh diberi sedatif
Penilaian Obstr. Jalan Nafas (Silverson
Anderson ) :
JEF/99/9
Upper chest :
- Syncronized 0
- Lag on inspiration 1
- See saw 2
Lower Chest :
- No retention 1
- Just visible 2
- Marked 3
Xyphoid retraction :
- None 0
- Just visible 1
- Marked 2
Expiratori grubting :
- None 0
- Just visible 1
- Marked 2
Bila grade II :  siapkan trakeostomi.
Indikasi pemasangan Ventilator :
1. Respiratori faillure : nafas sponta tapi tidak adekuat
2. Penderita dgn operasi + hemodilusi
Bleeding >> ( >1/3 blood vol) dan diganti dgn
RL, dextran, PZ
3. Post trepanasi yg perlu black out (tidur tidak nafas)
dgn obat anestesi
3. Respiratori arrest :
- SGB, Fr. Cervik, miastenia gravis.
BMR = 0,75 {0,74(sistole - diastole) + Nadi } - 72.
Perawatan Insufisiensi Nafas/ Pontodidan
Tindakan
Normal Fisio tx
dada
Intubasi
Tx O
2
& obs
ketat
Nafas
buatan
Mekanik :
Frek. Nafas 12 - 25 25 - 35 > 35
VC (cc/kg) 30 - 70 15 - 30 < 15
Kuat ins. cc/kg 50 -100 25 - 50 < 25
FEV
1
(cc/kg) 50 - 60 10 - 50 <10
Oksigenasi : FiO2-1
Pa O2 75-100 70 - 200 < 70
Aa DO2 50-200 200-350 > 350
Ventilasi :
Pa CO2 35 - 45 45 - 55 > 55
VD/VT 0,25-0,4 0,4 - 0,6 > 0,6
Komposisi Cairan Tubuh :
JEF/99/10
Cairan K
(mEq/L)
Na
(mEq/L)
Urin 40 - 60 60 - 75
Kringat 0 10 - 20
Nafas 0 0
GIT 10 75 - 100
Ekstra sel 4 135 - 150
Intra sel 150 -170 10
RL 4 135
PZ 0 135
Estimasi Blood Volume:
Umur : cc/ kg BB
Neonatus 85
Bayi 80
Anak 75
Dewasa 65 - 70
Class I Class II Class III Class IV
Blood
loss/ cc
< 750
cc
750 -
1500
1500 -
2000
> 2000
Blood
loss/%
BV
< 15
%
15- 30 30- 40 > 40
Pulse
rate
< 100 > 100 > 120 > 140
BP N N
| |
Pulse
pessure
N or
|
| | |
RR 14 -
20
20 - 30 30 - 40 > 35
Urin/ jam > 30 20 - 30 5 - 15 -
CNS slight
anxiou
mild
anxious
anxious
confuse
confus
letargi
Anterior cord syndrom :
- Parese/ paralise
- Hilang rasa nyeri dan suhu dibawah lesi
- Sentuhan ringan, propioseptif dan vibrasi positif
Central cord sindrom :
- Parese ekstremitas atas > bawah
- Gangguan semua fungsi sensoris
- Gangguan fungsi autonom (bladder disfunction)
Brown sequard sindrom :
- Hemiseksi spina cord
- Gangguan suhu, & nyeri kontra lateral
JEF/99/11
- Paralisi, gangguan vibrasi dan sentuhan satu sisi
(UMN : bawah lesi, LMN : pada lesi )
Neurogenik shock : Aliran adrenergik dr simpatis ke
cord vasculer perifer hilang :
Gx/ - Hipotensi
- Bradikardi
- Hipotensi
Spinal Shock :
- Fungsi sensoris
- Fungsi motorik
- Fungsi reflek
Fungsi tersebut hilang dibawah lesi
klinis : reflek (-), paraplegi , flakcid
Tanda spinal shock :
Tensi < 90, nadi < 90
Perfusi perifer baik (akral hangat)
Tidak berkeringat, BCR negatif.
Terapi spinal shock :
Infus D5 ½ NS
Posisi trendelenberg
NGT / Kateter
Oksigen
Cegah hipotermi
Bila bradicardi < 80 beri SA 0,25 - 15 mg
Bowel sterilisasi :
a. Medikamentosa :
Kanamicin = 3x500 mg  3 hari pre op.
Neomicin 4 x 500 mg  2 hari
Metronidazol 3 x 750 mg  2 hari
Tetraciklin 4 x 250 mg  2 hari
Klindamicin 3 x 450 mg  2 hari
b. Mekanik :
- Laxan : bisacodyl
- Lavement : gliserol
Bubur rendah serat 3 hari
Lavament atas dan bawah
Paralytik Ileus :
Klinis :
1. Muntah ( >> isi lambung)
2. Abdomen distended (central)  BAB (-)
3. Flatus (-)
4. Bising usus (-)
5. Perkusi tympani
JEF/99/12
6. Takhikardi
7. hipotensi
BOF :
- Usus distended
- Air fluid levels
Tx/
- Konservatif : - Infus
- NG tube
Cegah adesi usus dengan :
Dextran & gelatin yg telah dimodifikasi
Perlekatan :  penyembuhan usus dari dalam
penyembuhan kulit dari luar
Hemostasis
Inflamasi
Proliferasi
Remodeling
Peritonitis :
Klinis : - nyeri abdomen
- mual, muntah
- febris
- perut : distensi, kaku dan nyeri tekan
- bising usus mula-2 meningkat  kmd turun
- hipotensi shock
Lab. :
- leukositosis (DL)
- elektrolit bervariasi
- metabolik acidosis
Foto :
BOF  - usus besar dan halus distensi
- air fluid level
Tegak & LLD  foto diagram – volume bebas
Pre operasi :
- infus (hartman Sol)
- NGT & DK
- AB : ampi, genta, metro
JEF/99/13
Dosis Obat pada Anak :
Obat Route Dosis
(kg/dosis
)
Frekuen
si
Amikasin im/iv 7,5 mg 2 x/ hari
Amoxicillin PO 7,5 mg 3 x/ hari
Ampicillin PO/IM/
IV
10-25 mg 4 x/ hari
Cefalexin
Cefazolin
IM/ IV 6,25 -
12,5 mg
4 x/ hari
Ceforoxim
Cefoxitm
IM/ IV 12,5-25
mg
3 x/ hari
Cefotaxim IM/ IV 25-
37,5mg
4 x/ hari
Ceftaziclim
Ceftriaxon
IM/ IV 25-50 mg 2 x/ hari
Clindamicin PO/IM/
IV
2,5- 5 mg 3 x/ hari
Erytromisiin PO 12,5 mg 4 x/ hari
Ethambutol PO 15 mg 1 x/ hari
Gentamicin IM/ IV 2,5 mg <7thn 2x
>7thn 3x
INH PO 15 mg 1 / hari
Kloksasilin PO/IM/
IV
10-25 mg 4 x/ hari
Metronidazol PO/ IV 7-10 mg 3 x/ hari
Netilmisin IM/IV 2 mg 2x/ hari
PAS PO 100 mg 2x/ hari
Pirasinamid PO 12,5-
20mg
2x/ hari
RIF. PO 10 mg 1 x/ hari
Streptomisin IM 20-40 mg 1x/ hari
Test Coma pada anak :
 Curiga hipoglikemi = D40 : 1 cc /kg BB  diencerkan
dgn aqua 1 : 1  IV
Cairan Maintenance : (holiday & Segas)
Vital sign
- Sistolik = 80 mmHg + (2 x umur dlm thn)
- Diastolik = 2/3 x sistolik
Nadi Tensi RR
Infant 160 80 40
Preschool 120 90 30
Adolescen 110 100 20
JEF/99/14
Berat badan Jumlah cairan :
Neonatus :
hari I : 60 - 80 cc/ kg BB
hari II : 80 - 100 cc/ kg BB
hari III dst : 100 cc/ kg BB
Bayi dan Anak :
0 - 10 kg 4 cc/ kg BB/ jam atau 100 cc/ kg BB/ hari
10 - 20 kg 40 cc , u/ tiap kenaikan / kg + 2 cc/ kg
atau 1000 cc + 50 cc/ kg BB/ hari.
> 20 kg 60 cc, u/ tiap kenaikan/ kg + 1 cc/ kg
atau 1500 cc + 20 cc/kg BB/ hari
Elektrolit :  dimulai hari ke- 2
Natrium : 3 mEq/kg BB/hari
Kalium : 2 mEq/ kg BB/ hari
Kalori :
100 kalori/ kg BB/ hari
Anak :
< 3 bulan  D10 0,18 NS
< 3 tahun  D5 ¼ NS
> 3 tahun  D5 ½ NS
< 10 kg  100 cc / 24 jam
10 - 20 kg  50 cc / 24 jam
20 - 30 kg  30 cc / 24 jam
Kalau sesak / malnutrisi  …………….. 20 % v 1/3 nya
Kalau GGA/GGK  hanya boleh D5/D10 tanpa saline
Jumlah cairan ¼ kebutuhan /24jam + produksi urin
Transfusi :
Tanpa perdarahan  PRC :10 cc /kg /hari (sebelumnya
tes lasix 1 cc/kg/IV)
Ada perdarahan  harus WB -- sesuai jumlah perdarahan
Post tranfusi : Kalsium glukonas (IV) : 1 cc / 100 cc darah
yg masuk .
Lavement  PZ 10 cc / kg BB / hari / 2 kali
JEF/99/15
UROLOGI
Acut treatment of Hyperkalemia :
1. Cal. Glukonate 10 %, 10 cc/ i.v.  10 mnt.
2. 10 IU RI & 25 grm Glukosa (50 cc 50 % atau 125 cc
20% ) / i.v.
3. Cation exchange Resin (ex. Calsium atau Sodium
Polystyrene sulphonate) 30 grm  sbg enema.
4. Osmotic laxative (ex. Laktulose).
Uropati Obstruktif:  Ca cervik
Dx/ - Anamnesis, PD, Lab  SC > 6
- Ro : IVP + Endoskopi  bila memenuhi syarat
BOF / USG
¹
MRS melalui UGD, bila
b/p. tindakan klasifikasi cito :
- Urosepsis
- Pyonefrosis
- Anria
b/p tindakan klasifikasi urgent :
- Acut on CRF
- GK / uremia
¹
Konsul kandungan
Uropati obstruktif = anuria obstruksi dan obstruksi yang
menyebabkan stasis urin disertai bakteremia atau
urosepsis.
Patofisiologi : Kenaikan tek. sistim kolecting dan aliran
darah ke ginjal berkurang  menyebabkan atrofi dan
nekrosis  semua fungsi ginjal terganggu.
Anamnesis : riwayat kolik, disuri, keluar batu, operasi UT.
Fl. Pain, menggigil/demam, anuria, fl. mass
Lab. : - UL : leukosituria, hematuria.
- DL : Leukositosis, LED meningkat, shift to the left.
USG : sistim kalik melebar, ada batu.
BOF : batu, perselubungan daerah ginjal.
Terapi :
1. Antibiotik : - Ampi 4 x 1 gr + Gentamicin 2 x 80 mg atau
- sefalosporin generasi ke-3
2. Operatif :  prinsip cepat masuk , cepat keluar.
* Nefrostomi, ada dua cara :
JEF/99/16
Hemodinamik
tidak stabil
10 cc / kg BB
PRC
Observasi Operasi
Tak Stabil
Evaluasi ulang Operasi
a. Terbuka (klasik), tindakan sementara, perlu tindakan
definitif. Tujuannya mengeluarkan urin yang
tersumbat. Bila kortek masih tebal ginjal dibebaskan
sampai terkihat pelvis dan Folley kateter no 20
dimasukkan kedalam pyelum melalui pelvis renalis.
Bila kortek sudah tipis Folley kateter lanngsung
dimasukkan melalui sayatan pada kortek.
b. Peerkutan, dengan bantuan flouroskopi. Syarat :
ginjal teraba dari luar, kortek tipis dan tidak gemuk.
3. Bila keadaan sudah stabil lakukan Pielografi antegrad.
Diuresis post Obstruksi dapat menyebabkan terjadinya :
Dehidrasi
Kehilangan Natrium.
Edema cerebri
Kejang
 Evaluasi CVP, Balance cairan, Cek K & Na
Frekuensi Miksi :
Normal : 4 – 8 kali/ hari
Meningkat > 8 kali/hari  Kel. TU, Kel. Metabolisme,
psikologik/ansietas.
Straining :
- Usaha untuk meningkatkan pancaran miksi dengan
sengaja melakukan kontraksi otot abdomen dan pelvis
- Ciri obstruksi bladder outlet
Enueresis : nogmpol > 3 x/ mgg pada anak yang
harusnya sudah tidak ngompol
Stranguria : disuria berat + hematuria
IVP :
Kontraas : urografin 76 % = 0,5 mg/ kg BB or 60-100 cc
1 ampul = 20 cc
SC < 1,6 : - BB < 50 kg  dosis 1 ampul
- BB > 50 kg  dosis 2 ampul
SC 1,6 – 2,5 :
- BB < 50 kg  dosis 2 ampul
- BB > 50 kg  dosis 4 ampul
SC 2,5 – 3,5 :
- Infusion 5 ampul + 100 cc D5 (=200 cc)
- grojok sampai sisa 25 cc
Bila alergi ringan/ sedang :  difenhidramin 50 mg/ iv
Bila alergi berat :
Resusitasi C/P
JEF/99/17
Epinefrin 1/1000  0,3 cc / sc or 1/10.000 3 cc/ iv
Difenhidramin 50 mg/ iv
Bila bradicardi  atropin 0,5 cc/ iv
Profilaksis reaksi alergi kontras :
Difenhidramin 50 cc – 1jam sebelum injeksi
Prednison oral : 4 x 50 mg -- 1 hari sebelumnya
1 jam sebelum injeksi
4 jam setelah selesai
Indikasi IVP :
- Curiga kelainan kongenital TU
- ISK berulang or resisten
- Colik yg diduga dari TU
- Hematuria
- Curiga tumor TU
- Curiga urolitiasis, kecuali BBB endemis
- Hipertensi renovaskular
- Trauma TU
- Buli-buli neuropati
- BPH tanpa retensi
- PNA, GNA, hematuria + silinder eritrosit
- Tumor testis
Indikasi RPG :
- IVP tidak informatif  terdapat obstruksi tapi
causa tidak jelas
- IVP tidak dapat dikerjakan dan sarana lain tidak
dapat membantu diagnosis
- Curiga fistel upper tract
Kontras yg dipakai 30 % = 5 – 10 cc
Komplikasi RPG :
Sepsitikemia
False route
Reaksi kontras
Obstruksi sementara o/k edema ureter
Kaliko renal refluks
Sistografi :
Masukkan kontras langsung kedalam buli-buli mll :
Kateter transuretra
Perkutan,SPP  kedalam buli
Kontras 30 % sebanyak sesuai kapasitas buli
Indikasi sistografi :
Vistel fesikovaginal
Fistel vesikointestinal
Fistel vesikourakal
Striktur uretra totallis untuk ketahui batas proximal dan
panjang penyempitan  vol kontras harus cukup agar
bledder outlet membuka dan terisi kontras atao hingga
pasien ingin kencing
JEF/99/18
Dx= staging
Renc. Tindak-
an & Th/
÷
+
Diversi urine
k/p HD pre Op.
Paliatif
Curiga refluks vesiko uretra  refluks studi
Uretrografi :
Kontras 10 – 20 cc kedalam uretra
Indikasi :
- Curiga striktur uretra
- Curiga ruptur uretra
- Curiga duplikasi/ divertikel uretra
- Bila curiga klep uretra  kontras masuk
antegrade
Lopografi :
Pemeriksaan radiologis deengan kontras pada pasien yg
telah dikerjakan diversi urin dennganconduit dari usus,
kontras dimasukkan mll stome dari cunduit tersebut
Vassografi : Pemeriksaan Vas deferens dengan kontras:
- retrorade mll ductus ejakulatorius dgn bantuan
panendoskopi,  kontras juga masuk vesikula
seminalis  vasoseminal vesikolagrafi
- langsung mll vas deferens yg telah dikeluarkan lewat
skrotum.
- Bila curiga obstruksi vas deferens pada infertilitas pria.
Phlebografi v. spermatika interna sin. :
- Kontras masuk kedalam v. spermatika interna melalui
incisi kecil di inguinal  cath  v. femoralis  v. iliaka
 v. cava inferior  cab. V. renalis sin  masuk
kontras.
- Imdikasi : Varikokel subklinis
Varikokele yg tdk hilang/ kambuh pasaca
operasi
Bila (+) varikokele  injeksi bahan oklusan  hati-hati
dapat terjadi emboli v. renalis
Kavernosografi :
Ro. Penis dgn injeksi kontras kedalam korpus cavernosum
Indikasi : Fraktur penis, ruptur tunika albuginea
Impotensia erektile, curiga v. oklusi
(inkompeten)
Arteriografi A. renalis : indikasi :
- Curiga tumor renalis  hipervaskularisasi
- Calon donor ginjal
- Horse shoe Kidney pro separasi
Limfangiografi :untuk mengatahui saluran kel limfe :
Kel. Limfe inguinal, pelvinal & retroperitoneal (tu.
Testis)
Kontras masuk mll sal limfe dorsum penis.
JEF/99/19
BCR : kontraksi spinter anal dan otot bulbocavernosus
 S2-4
Reflex cremaster  L1-2
Reflex anal  S2-5
JEF/99/20
UROLITIASIS
Manfaat USG pd urolitiasis :
1. Menentukan adanya batu ginjal dan buli-buli (tu
radiolusen)
2. Menentukan ada tidaknya HN ok/ obstruksi batu
3. Membedakan ren kistous atau padat
4. Sebagai tuntunan pd saat melakukan drainage ginjal
perkutan
5. Membantu melokalisasi/ membedakan adanya batu
dalam calic pada saat operasi batu ren.
RPG pd urolitiasis :
- Pemeriksaan harus segera diikuti dengan
menghilangkan obstruksinya
- Harus ada perlindungan terhadap sepsis
- Penyuntikan kontras harus dilakukan dengan
pemantauan flouroskopi
Prinsip terapi urolitiasis :
1. Ekspektatif
2. Manipulatif
Indikasi terapi ekspektatif :
- Batu asimtomatik tanpa obstruksi atau infeksi, C < 4
mm, letak di ureter 1/3 distal
- 90 % batu < 4 mm  keluar spontan
- 20 % batu < 6 mm  keluar spontan
- Tempat macet :
- UPJ
- Pelvic brim
- UVJ
- 4 minggu evaluasi BOF
- Bila > 8 minggu batu tdk keluar & penyulit (+)  terapi
modalitas lain
Terapi operatif/ manipulatif :
1. Endourologik
2. Operasi terbuka
3. ESWL
Tergantung pd : diameter batu, fasilitas yg ada, lokalisasi
batu dan pengalaman pelaksana.
Batu < 2,5 cm : lithotripsi ( mekanik, ultrasonik,
elektrohidraulik, atau laser)
Batu ureter :
Submukasa Intravesikal  endo : collin’s knife  ekstraksi
transuretral.
Bt 1/3 distal  endo : URS & litotripsi  ekstraksi Dormir
Bt 1/3 tengah  open : ureterolitotomi
JEF/99/21
Endo  URS & litotripsi
Push & bangdorong ke pyelum & ESWL
Push & PNL
Bt 1/3 prox  Pyelum
C < 2 cm : ESWL (jika ren masih cukup fungsi, tdk ada
infeksi aktif), PNL, Pyelolitotomi
C > 2 cm : PNL & ESWL (multisession), extended
pyelolitotomi
Staghorn : Open  bivalve/ anatropik nefrolitotomi
Faktor predisposisi urolitiasis :
1. Benda asing
2. Obstruksi / stasis urin :BPH, striktur, UPJ/UVJ stenosis
3. Infeksi o/k urea splitter
4. Gangguan metabolisme
5. Kurang minum/ dehidrasi
6. Ren spons meduler
Batu sal kemih tanpa pencegahan 50 – 60 % kambuh
Dengan pencegahan 5 – 10 % kambuh
Pemeriksaan pd curiga batu sal kemih :
1. Eksresi : kreatinin, Ca, Pospat, as urat, oxalat & sitras
dalam urin 24 jam
2. Cek pH urin, Ca., pospat dan as urat dalam darah
3. Retriksi diet.
Peningkatan Ca. :
1. Resorbtif :  terapi penyakit primer
Hipertiroid, osteolitik metastase
Multiple myeloma
Immobilisasi
Cushing hipertiroid
2. Absorbtif :  absorbsi oleh usus meningkat
Terapi retriksi diet & banyak minum
Oksalat sellulose fosfat 3 x 5 grm
3. Kebocoran ren : tubulus renal tidak mampu resorbsi ca
Terapi : Diuretika (HCT 2 x 50 mg)
Orthopospat
Kalsium retriksi
Derajat HN pada IVP :
 Grd I : Seluruh sal kemih proximal dari obstruksi terisi
bahan kontras.
 Grd II : Tdpt gambaran kalix yg datar, tdk cekung lagi
 Grd III : terdapat gambaran kallik yg cembung
 Grd IV : Semua kalik cembung
 Grd V : Parenkim ren menipis lebih dari ½ tebal
normal, bila batu diureter distal biasanya ureter juga
berkelok-kelok.
Penyebab terjadinya batu :
JEF/99/22
1. Batu Endemis :
Biasanya pada anak laki usia 2 tahunan  BBB
Sosial ekonomi lemah
2. Batu infeksi :
Banyak pada px/ dgn bakteriuria o/ kuman pemecahan
urea  amoniak atau proteus.
Urin + amoniak  alkalis  senyawa pospat
mengendap  Batu amonium magnesium pospat
(struvit)
3. Batu o/k gangguan metabolisme :
Oxalat, Ca, As urat, xanthine, cystine  bila bertambah
dalam urin  mengandap  jadi inti pembentukan batu
lebih lanjut.
4. Batu oleh karena faktor-faktor lain :
 Immobilisasi yg lama  px/ fraktur, cidera vert/ lumpuh
 Px/ dgn penyakit tulang : tumor ganas tulang,
myeloma, paget disease  ekskresi calsium urine
meningkat
 Benda asing dalam saluran kencing (cath, jahitan pd
buli)
 Kelainan anatomis TU : kongenital or acquired
Keluhan dan Gejala :
Silent stones
Keluhan (+)  bila terjadi obstruksi / infeksi :
Hematuria
Nyeri (kemeng-kolik) o/k obstruksi/ infeksi
Febris/ menggigil : infeksi  ren terancam rusak
Anuria obstruktif ggn faal ren cepat dan progresif
Komplikasi batu sal kemih :
1. Obstruksi  HN
2. CRF
3. Nonfungtion ren
4. Atrofi ren
5. Fistel uretra  impact stones
Jenis batu menurut akibatnya pada TU :
1. Batu simple : tanpa obstruksi / infeksi, batu tunggal /
tdk terlalu besar.
2. Batu Complicated : Multiple /besar (staghorn, BBB),
batu obstruktif/ infeksi progresif  gagal ginjal,
urosepsis
3. Batu o/k kel anatomis :
 Kongenital : UPJ stenosis, horse shoe kidney,
refluk vesikouretral, double sistim, divertikel,
katup uretra
 Didapat : bladder nect kontraktur, striktur uretra,
fibrosis ureter, tekanan tumor dari luar.
JEF/99/23
Pencegahan batu TU :
1. Banyak minum diuresis s/d 2-2,5 liter/ hari
2. Olah raga/ aktivitas fisik yang cukup dan teratur
3. Berantas infeksi / bakteriuria
4. Cegan meningkatnya bahan-2 pembentuk batu atau
meningkatnya daya larut bahan tersebut :
 Koreksi gangguan metabolisme dgn diet/ obat :
 Allopurinol  bt as urat.
 Diet rendah purin, thiazide, hygroton  u/
bt calsium
 Diet rendah calsium
 Ikat bahan pembentuk batu agar mudah larut 
Mg oxyde
 Buat urin alkalis pada bt as urat dengan Na sitras
atau Na bicarbonat.
 Buat urin reaksi asam bila terdapat kuman
pemecah urea  untuk larutkan garam pospat
dengan : mandelamin, vit c, amonium cloride.
JEF/99/24
Varicocele
# Melebar + berkelok-2 plexus pampiniformis, derajatnya :
- Grade I : teraba / tampak setelah valsava C < 1 cm
- Grade II : teraba / tampak saat berdiri C 1 - 2 cm
- Grade III : teraba / tampak saat baring C > 2 cm
Varikokel lebih sering kiri karena :
- V. spermatika kiri bermuara pada v. renalis kiri
- V. spermatika kiri > panjang dari kanan
- V. renalis kiri terjepit oleh aorta dan a. mesenterika
superior
- Katup v. spermatika kiri lebih jelek
Indikasi operasi varikokel :
- Varikokel dengan keluhan.
- Varikokel dengan komplikasi
- Analisa sperma  penurunan kwalitas dan kwantitas
sperma.
Opersi Varikokel : Vasoligasi tinggi v. spermatika interna.
1. Metode Palomo : Incisi inguinal transversal.
2. Prosedur laparoskopik.
Sebab Varikokel :
1. Dilatasi atau hilangnya mekanisme pompa otot atau
kurangnya struktur penunjang/ atrofi otot cremaster,
kelemahan kongenital, proses degeneratif pl.
pampiniformis.
2. Hipertensi v. renalis atau penurunan aliran ginjalke
vena kava inferior.
3. Turbulensi dari v. supra renalis s keda;am juxta v.
renalis internus s berlawanan dengan kedalam v.
spermatika int.s.
4. Tekanan segment iliaka (oleh feses) pada pangkal v.
spermatika .
5. Tekanan v. spermatika int. meningkat letak sudut turun
v. renalis 90 derajat.
6. Skunder : tumor retro, trombus v. renalis,
hidronefrosis.
Penyebab ggn spermatogenesis pada varikokel :
- Suhu crotum yang meningkat (1958)
- Aliran retrograd dari v. renalis dan v. adrenalis s. yang
mengandung bahan metabolik toksik (steroid) 
inhibitor spermatogenesis (1965)
- Darah varicocele mengandung katekolamin yang
tinggi.
- Kadar testosteron dalam darah menurun  jumlah sel
-sel leidig turun. (1978).
JEF/99/25
Penanganan:
1. Konservativ/ noninvasive
Pentoxifilin (dgn/ tanpa androgen dosis rendah) 
minimal 6 bulan.
Analisa sperma tiap bulan
Follow up fisik testis
2. Invasif nonsirurgis :
Sklerosis v. spertaika interna sin.
Follow up analisis sperma minimal 6 bulan
3. Sirurgis
Vasoligasi tinggi v. spermatika int.
Follw up analisi sperma minimal 6 bulan
Gagal pasca bedah varikokel (minimal 1 tahun) :
Captopril  minimal 3 bulan
Infertility :
Peningkatan suhu scrotal
Penurunan aliran darah
Peningkatan kadar steroid adrenal dan katekolamin
Peningkatan kadar prostaglandin sebagai metabolit ginjal
Pada Renogram yang dinilai :
- Vascularisasi
- Sekresi
- ekskresi  hambatan.
Kurve rendah, relatif mandatar  Pola RF
Kurve naik pelan  pola kurve obstruksi.
Spermatocele :
Painless cystic mass yg mengandung sperma
Letaknya posterosuperior testis
Umumnya ukurannya kurang dari 1 cm diameternya
Berupa massa kistik yg mobil dan trnsluminansi +
Aspirasi berupa cairan halus berwarna putih dan keruh,
sedangkan cairan hidrokel kuning jernih
Tidak perlu terapi kecuali yg sangat besar dan mengangu
penderita.
Analisis Sperma :
1. Oligospermia : volume ejakkulat < 1 cc
2. Hiperspermia :Vol ejakulat > 4 cc
3. Aspermia : vol ejakulat 0 cc
4. Normozoospermia : Jml hitungan sperma > 20 jt/cc
5. Hiperzoospermia : spermatozoa > 250 juta/cc
6. Oligozoospermia : spermatozoa 5 – 20 jt/cc
7. Oligozoospermia ekstrim :spermatozoa < 5 jt/cc
8. Kriptozoospermia : Hanya ditemukan bbrp
spermatozoa saja.
9. Teratozoospermia : Morfologi spermatozoa yg normal
< 30 %.
10. Astenozoospermia : motilitas spermatozoa < 50 %
JEF/99/26
Alur Penanganan Subfertilitas pria :
1. Normozoospermia & normospermia :
- Pikirkan faktor immunologis : Bila (+)  terapi
etiologi  follow up analisa sperma  belum
berhasil  preparasi sperma  rujuk IUI/ IVF
- Kemungkinan disfungsi seksual
- Coital stress
2. Normozoospermia & hipospermia :
- Incomplit ejakulasi
- Disfungsi kelainan sek skunder
3. Oligoastenoteratozoospermia :
- Faktor infeksi atau inflamasi
- Faktor endokrinologi
- Faktor kongenitak/heriditer
- Obstruksi intra/ post testikuler
- Underlying disease
JEF/99/27
Retensio Urin :
* Keadaan dimana px tidak dapat mengeluarkan urin yang
terkumpul didalam buli-buli shg melampaui kapasitas
maksimal buli-buli.
Causa :
1. Kelemahan detrusor :  kateterisasi  evaluasi
- cidera sumsum tulang belakang
- kerusakan saraf perifer (DM)
- dilatasi detrusor yang berlebihan dalam waktu lama.
2. Disenergi detrusor-spingter (ggn koordinasi) :
- cidera sumsumtulang daerah cauda equina.
3. Hambatan jalan keluar :
- Kelainan pada prostat (BPH, Ca)  DK (16 -18 F)
- Striktur Uretra  sistostomi
- Clot retention  evakuasi sistoskopik
- Batu uretra  lubrikasi :
+ Batu keluar  poli klinis
+ Batu masuk buli-buli  DK  litotripsi
+ Bila gagal  sistostomi  observasi 6 jam :
Baik  KRS
Peyulit  MRS
Klasifikasi urinari obstruction & stasis :
Etiologi : congenital or aquired
Durasi : acut and cronik
Degree : partial and complete
Level : upper or lower UT
1. Congenital :
- meatal stenosis
- stenosis uretra distal
- katup uretra posterior
- ureter ektopik/ ureterokele
- UVJ & UPJ
- Kerusakan S2-4 (spina bifida, myelomeningocele.
2. Aquired :
- striktur  infeksi dan trauma
- BPH or Ca prostat
- Tumor buli  bladder neck
- Ekstensi lokal Ca prostat/ cervik ke dasar buli atau
uretra,
- Penekanan ureter pasa pelvic brim o/ KGB yg
membesar atau Ca.
- Uretral stone
- Fobrosis retroperitoneal atau tumor ganas
- Kehamilan.
3. Lain-lain :
- Neurogenik bladder  refluk dan infeksi
- Ureter yang kingking
JEF/99/28
Patogenesis:
A. Lower tract  striktur uretra.
Obstruksi  dilatasi uretra proksimal  divertikulum 
bila infeksi  ekstravasasi dan abses periuretral.
B. Mid tract  BPH.
1. Stadium Compensasi :
- hipertrofi otot buli
- trabekulasi jalianan otot yang hipertropi
- Cellulae  hiipertrofi  tek. Buli 2-4 kali 
menekan mukosa diantara bundel-bundel otot
 membentuk kantong kecil.
- Divertikel  cellulae terdorong keluar dinding
buli  saccula  divertikel (tdk ada otot).
- Mukosa : bila infeksi  edem & kemerahan.
2. Stadium Decompensasi :
-prostation
-retensio
-residual urine.
C. Upper tract.
1. Ureter : Refluk  dilatasi ureter  hidronefrosis
- elongatio & tortous dari ureter
- fase dekompensasi  dinding ureter tipis 
dilatasi  kemampuan kontraksi menurun.
2. Kidney.
Derajat hidronefrosis tergantung pada
-Lamanya obstruksi
-Derajat obstruksi
-Tempat obstruksi
Perubahan pada renal akibat :
-Compensation atrophi atau peningkatan
tekanan intrapelvic
-Ischenia atrophi atau perubahan hemodinamik.
Fisiologi Gejala Obstruksi :
A. Fase compensasi :
- Stadium irritabilitas: hipertrofi detrusor  kontraksi
kuat, spasme  irritabel bladder  frekuensi &
urgensi
- Stadium compensasi : obstruksi & hipertrofi |
kontraksi |  hesitansi & pancaran lemah
B. Fase dekompensasi :
Decompensasi acut : overstretch detrusor & rapid filling
 kesulitan miksi : -hesitansi, pancaran lemah,
terminal dribbling, residual urin, retensio acut.
Decompensasi kronik : imbalance kekuatan otot
detrusor & resistensi uretra  residual urin |,
frekuensi, over flow incontenensia.
1 Lab : - DL 2. Ro. : - BOF  IVU
JEF/99/29
- UL - Urethrografi
- Serum kreatinin - USG
- BUN
- Glukose
Akibat retensio urin :
- Dilatasi buli-buli maksimal  tekanan & tegangan
meningkat.
- Hambatan aliran urin  hidroureter, hidonefrosis
- Inkontinensia paradoksa.
- Kontraksi otot detrusor menyusut
- Predileksi ISK (pielonefritis, urosepsis)  gawat uro
Penatalaksanaan Retensio urin :
1. Kateterisasi :
Syarat :
- Prinsip aseptik
- Gunakan kateter folley
- Usahakan tidak nyeri  spasme spingter.
- Sistim tertutup dan ukur volume urin.
- Antibiotik profilaksis 1 kali.
2. Sistostomi trokar/tertutup :
Indikasi :
-Kateterisasi gagal : striktur, batu uretra yg menancap
-Kateterisasi tidak dibenarkan : trauma uretra
Syarat :
- Retensi urin dan buli-buli penuh (fundus lebih tinggi
pertengahan jarak antara simpisis dan pusat).
- Ukuran Folley lebih kecil dari celah trokar (20 F)
- Cikatrik abd. bawah (-)
3. Open sistostomi :
Indikasi :
- Sistostomi trokar
- Sistostomi trokar gagal
- Ada tindakan tambahan : ambil batu, evakuasi clot.
4. Pungsi buli-buli.
Syarat :
- kateterisasi gagal
- fasilitas sistostomi (-)
- informasi  tindakan sementara & perlu tindakan
lanjutan
Kateterisasi, Indikasi :
- Drainase buli selama dan sesudah proc. bedah .
- Menilai produksi urin pada pasien kritis.
- Pengambilan spesimen urin .
- Evaluasi urodinamik.
- Studi radiografi
- Menilai residual urin
- Retensio urin.
JEF/99/30
Pungsi buli-buli, Indikasi :
1. Sample urin.  pada anak-anak.
2. Kateterisasi gagal.
3. Study voiding cystografi
4. Diversi urin.
Syarat :  buli-buli penuh.
JEF/99/31
Trias Hipospadia :
1. Letak OUE lebih proximal
2. Ada chordae  penis bengkok.
3. Preputium bagian ventral minimal/ tidak ada, bagian
dorsal berlebihan.
Operasi hipospadia :
Usia 1 tahun  chordektomi.
Usia 1,5 tahun rekonstruksi uretrae
Kalau terjadi fistel + 6 bulan lagi.  fistulektomi.
Tanda sex primer :
- adanya gonad.
- cromosom sex.
Tanda sex scunder :
- alat kelamin luar.
JEF/99/32
Ruptur Uretra
Klasifikasi trauma uretra Colapinto & McCallum 1977 :
Tipe I : uretra teregang (stretched) akibat ruptur ligamentum
puboprostatikum dan hematom periuretra. Uretra
masih intack.
Tipe II: uretrra pars membranacea ruptur diatas diafragma
urogenital yg masih intack. Ekstravasasi kontras ke
ekstraperitoneal pelvic space.
Tipe III : Uretra pars membranacea ruptur . Diafragma
urogenital ruptur. Trauma uretra bulbosa proksimal.
Ekstravassasi kontras ke peritoneum.
Trauma Uretra :
a. Traume uretra Posterior :
- KLL  90 % fr. Pelvis
- Manipulasi  kateterisasi, endoskopi
b. Trauma uretra Anterior :
- Manipulasi  Kateter, endoskopi
- Straddle injury, - KLL
- Intercourse/ bite
- Self manipultion
Diagnosis :
1. Ax/ : riwayat trauma , mekanisme trauma hematome
2. PD/ :
Trias ruptur uretra anterior
- Bloddy discharge
- Retensio urine
- Hematome/jejas peritoneal/ urine infiltrat
Trias ruptur uretra posteriior
- Bloody discharge
- Retensio urine
- Floating prostat
3. Lab. : UL  ery +
3. Radiologis : uretrografi, AP pelvic foto
Terapi :
a. Initial : segera sistostomi transpubik  bila ada fr.
Pelvis tidak boleh trokar
b. Rekonstruksi : - uretrotomia interna/ sachse
- Anastomosis uretra
- PER
Pengelolaan trauma uretra :
Trauma panggul / perineum
hematuri/ bloody discharge peruretrum
hematom scrotum, perinem, penis, retensio urin
¹
Keadaan umum
JEF/99/33
Keadaan lokal
RT : massa lunak menonjol kedlm rectum,
floating prostat, urin infiltrat.
¹
Foto pelvis
Uretrografi  ekstravasasi
¹
---------------------------------------
¹ ¹
Rupt uretra ant. Rupt uretra post
¹ ¹
1. Bila > 6 jam : sistostomi
Sistostomi ¹
Debridement PER
Aproximasi/anastomosis dalam tempo 2mgg
Stent uretra : k/p diawali reposisi
-silikon kateter 16 F fiksasi simp. pubis
selama 3 minggu
2. Bila < 6jam : open dan
end to end anastomosis.
Striktur Uretra :
Etiologi :
1. Congenital : Cobb’s collar  contriksi diafragma
pada pars bulbar
2. Trauma :
-Fall astride  uretra bulbar
-Fraktur pelvis  uretra posterior
-Iatrogenik  Instrumen endoskopi
3. Post TURP :
Biasanya submeatal  akibat iskemia
4. Infeksi / inflamasi :
Cateterisasi : (iritasi)
-Material (latex)
-Lubricant
-Lamanya
-Calibrasi
-Adanya infeksi
Balanitis Xerotika obliteran
Pelvic radioterapi :
-endarteritis obliterance  iskemia  striktur
5. Malignancy :
Ca prostat
Ca penis
Ca uretra
¹
Jarang
Diagnosis :
Anamnesa : riwayat trauma, intrumentasi, GO
Klinis : -MUE
-foreskin retrakten
JEF/99/34
- spongiofibrosis.
LAB :  urine kultur
Urinary flaow rate :  tergsngu bila kaliber uretra < 10 F
Uretrografi : -Site, length & calibre stricture
-Adanya concurrent stricture
-Jarak dari spinter distal
Prinsip penatalaksanaan strikture :
1. Regeneration procedure : uretral dilatasi & urethrotomy
 baik pada proliferasi regeneratif
2. Eksisi dan reanastomosis :
 tergantung pada panjang striktur
3. Substitusi / urethroplasty : patch or tube (graft)
-pedicle flap of tissue
-cendrung recuren
Terapi striktur :
1. Konservatif :
-Dilatasi uretra : metal sound, filiforms & followers
-Uretrotom : -blind  biasanya menggunakan otis
-Optical (otis, sache, laser)  incisi pada
posisi jam 4 dan jam 8
-Uretral stent : wall stent
2. Adjunctive measures :
-Intermittent self dilatation : kateter, hidraulic
3. Uretgroplasty :
-Anastomosis
-Substitusi :  onlay patch graft/flap :
-pedicle flap
-free graft
-tube graft/ flap
-Stage procedures
4. Proximal diversion :
-Perineal uretrostomy : temporer atau permanen
-Kateterisasi uretra : uretra, suprapubik
-Supratrigonal diversion.
Comparison of abdominal wall & scrotum layer
Abdominal wall : Scrotum :
Kulit Kulit
Fascia superficialis Dartos
(camper & scarpa)
MOE & aponeuresis Fasc spermatika ekst
Aponeurosis MOI & MTA Fasc. & otot crremaster
Fascia transversalis Fasc. Spermatika int
Preperitoneal fat Preperitoneal fat
Peritoneum Procc. vaginalis
JEF/99/35
Akut Scrotum
* Onset
* Aktivitas saat terjadi keluhan
* Riwayat ISK
* Febris ?
¹
* Suhu axilla dan rektal
* Keadaan / status lokal : - Posisi testis,
- Phren test, reflek kremaster
- Epididimis
* Lab.: DL, , BUN / SC
sedimen urin
¹
Stethoskop Doppler di daerah anulus externus
¹ ¹ ¹
Epididimitis/ meragukan torsi testis
orchitis ¹
detorsi manual
¹ ¹
Explorasi
Anti biotika & ¹
Anti inflammasi orkhidopeksi /
4 - 6 minggu orkhidektomi
&
¹ orkhidopeksi
Evaluasi kausal kontra lateral
DD/ Acut scrotum :
1. Torsio testis
2. Torsio appendix testis
3. Orchoepididimitis
4. Hernia incarserata
5. Tumor yg mengalami perdarahan.
6. Torsio appendik epididimis
Torsio testis intravaginal testis berputar didalam
t.vaginalis parietalis.
Torsio testis elstravaginal  t.vaginalis parietalis ikut
berputar bersama testis, epididimis & funikulus.
DIAGNOSIS :
Nyeri hebat dan mendadak, menjalar ke inguinal
Mual, muntah dan febris
Testis bengkak, letak tinggi dan horizontal
Funikulus menebal & prehn sign (-)
Leukosituria sangat jarang
Doppler  aliran darah berkurang.
Tx/ :
Detorsi manual  memutar kearah lateral.
Orkhidopeksi : 3 jahitan antara tunika albuginea dan tunika
dartos dengan bahan non-absorbsable
JEF/99/36
EPIDIDIMITIS AKUT :
Keradangan nyeri dan pembengkakan epididimis < 6 mgg.
Causa :
1. STD : C. trachomatis, GO.
2. Non STD : enterobacte, pseudomonas, ISK,
prostatitis.
JEF/99/37
Urosepsis
- Febris / pernah febris
- Gejala obstruksi urologis
- Gejala dini : gejala bakteremia disertai takhikardia,
takipneu, hipotensi dan oliguria. Lanjut  bingung,
gelisah, letargi,stupor, kulit dingin serta basah.
- Sepsis sindrom : cambell’s
Clinical evidence of infection
Tachipneu, RR > 20
Tachicardi, N > 90
Hiper/hipotermia, 35,6 > t > 38,3
Inadequate organ perfusion :
Hypoxemia, PaO2/FiO2 <280
Kadar lactate plasma |
Oliguria, < 0,5 cc/ kg/ jam
- Septic shock : sepsis sindrome + hipotension, sistole <
90, or turun > 40 / jam (volume replacement
adequate)
- Manipulasi urologis/ batu ren
¹
Dx : Urosepsis
¹
keadaan umum / status lokalis
sekaligus dipasang infus
Lab: DL, BUN / SC, GDA (usia > 40 th)
BGA, sedimen urin, kultur, darah & urin test kepekaan
anti biotika
(sedapat mungkin urin dari infeksi spontan)
¹
Pielografie infusion , USG urologik
thorak foto (setelah pasang CVP), EKG
¹
Pasang CVP & Indwelling catheter
( catat CVP & prod. Urin )
¹
Terapi / tindakan :
* Antibiotika :  s/d 5 hari afebril
Ampicillin 4 x 1 gram
Gentamicin 3 x 80 mg
Cefalosporin Gen.III 3 x 1 gram
* Koreksi Cairan :
Elektrolit
Asam / basa
* Hemodialisis :
Bila SC > 10, Bun > 100, K > 7
Edema paru
* Drainage timbunan nanah  Op. Cito bila
Pyonephrosis dan Hidronefrosis berat  dapat
menyebabkan terjadinya iskemia sehingga penetrasi
antibiotika turun.
* Tx/ definitif  Op. urgen untuk kel. primer urologik
JEF/99/38
Shock septik tidak hanya dipengaruhi oleh endotoksin, tapi
juga interaksi dari sistim fibrinolitik, coagulasi, complement,
kinin & pengaruh pada mikrosirkulasi & hemostasis.
R/  urosepsis
Blood set = 3 PZ = 2, D5% = 2
Cavafic 375 = 1 Tree way stopcox =1
DK + Urobag = 1 Surflo = 1
Spuit 5 cc, 10 cc Antibiotik
Antibiotik :
a. Cefalosporin generasi I  efektif u/ Klebsiela ,
Stafilococ producer penicillinase:
Sefazolin
Sefalotin
Sefradin
Sefaloridin
b. Cefalosporin gen. II  efektif terhadap nosokomial :
Sefoksitin
Sefamandol
Sefuroxin  1,5 grm
Seftasidin
Sefotetan  2 grm
c. Cefalosporin gen III  pilihan profilaksis urologi :
Sefotaxim  2 grm/ 8 jam
Sefoperazon
Seftriaxon  2 x 1 grm
Seftazidin  2 x 2 grm
d.Cefalosporin gen IV :
cefixim
d. Aminoglikosida  gram negatif : 1,5 mg/kg/ 8 jam
Kanamicin
Gentamicin : 1,5 mg/ kg/ 8 jam
Netilmicin
Tobramicin : 1,5 mg/ kg/ 8 jam  less nefrotoksis
Amikacin : 5 mg/ kg/ 8 jam
Bila gentamicin resisten  ganti tobramicin  bila resisten
 ganti amikasin
JEF/99/39
Management of Septic Shock
1. Establishment of dx/ :
A. Diagnosis bacteremia :
Epidemiologi, clinical, & physical finding
Cultur/ gram stain darah dan urin
B. Dx/ penyebab syok :
Hipovolemia
Hemorrhage
Cardiac cause
Hipersensivitas, anafilaksis
Endokrine
Bacteremia
2. Appropriate antibiotic therapy
a. berdasarkan cultur & sensitivitas
b. pertimbangan dx/, sumber infeksi, nosokomial
c. pengambilan sampel cultur sebelum th/
3. Volume expansion : 1000 cc cristaloid sol  15 -20 mnt
4. Monitoring volume expansion : CVP
a. Tek a. pulmonal | > 8 mmHg or to level > 18
mmHg kemung-kinan cardiac decompensation
b. CVP | > 5 cm H2O or to level 12 – 14 cm H2O
 kemungkinan overload
5. Continuation of volume expansion (15 – 20 cc/mnt) until
recovery or tek a. pulmonal > 18 mmHg or CVP > 12 cm
H2O
6. Vasoactive agent
7. Evaluasi status mental & urin output
8. Ventilasi : O2 dengan atau tanpa intubasi
9. Digitalis jika berkembang CHF
10. Drainage akumulasi pus
11. Modifikasi Antibiotik  sesuai kultur sensitiviti test &
fungsi renal
JEF/99/40
Gross Hematuri.
Urine terbukti masih merah
¹
Periksa K/U
St. Lokal
¹
LAB : DL, BUN/SC
Sedimen urin
Ro. : BOF, USG urologik (ginjal &buli)
¹
M R S ¬ Evaluasi lengkap : - IVP , Sistoskopi
- Sitologi urin
¬ - Causa jelas  terapi definitif
- Causa belum jelas  evaluasi berencana (poliklinis)
Penyebab hematuria :
1. Glumerular : glumerulonefritis
2. Renal :
 Penyakit polikistik ginjal
 Nekrosis papiler
 Inflamasi dan infeksi
 Malformasi vaskuler
3. Urologik :
 Neoplasma : tu ca buli, ca prostat
 Batu
 BPH
 Striktur uretra
 Divertikullitis, apendicitis
 Corpus alaenum
4. Hematologik :
 Koagulopati
 Antikoagulasi terapeutik
 Sickle cell
5. Factitious : perdarahan vaginal (causa luar TU).
6. Pseudohematuria : pigmen makanan, metabolit obat,
zat pewarna.
7. Hemoglobinuria, Myoglobinuria.
Penatalaksanaan hematuria (>3 rbc/lp):
1. Bila proteinuria + dan red cell cast +  nefrologi
2. Bacteria + :- cultur urin
- antibiotik
- IVP
- Uretrocystoscopy
3. IVP/ Uretrocystoskopi/ Sitologi urin :
- kelainan +  bedah
- kelainan - evaluasi / observasi.
JEF/99/41
Trauma Ginjal :
-Trauma yang paling sering dari TU
-Ginjal dilindungi oleh :
Otot lumbar
Corpus vertebra
Iga dan viscera didepannya
-Causa :- automobile accident  80 %
- Sport
-Predisposisi keadaan patologis :
Hidronefrosis, tumor  ruptur
Klasifikasi :
Grade I :
-mikroskopis/ gross hematuria
-Ro;  normal
-Contusio / hematome subcapsuler
-Laserasi parenchime (-)
Grade II:
-Tidak meluas
-Hematome perirenal/ laserasi kortikal < 1 cm
dalamnya
-Ekstravasasi urin (-)
Grade III :
-Laserasi parenkhim < 1 cm ke kortex
-Ekstravasasi urin (-)
Grade IV :
-Laserasi parenkhime yg luas mll corticomedulla
junction
-Sistim kolekting terkena
-Laserasi vasa segmental
-Trombosis a.renalis segmental tanpa laserasi
parenkhim
-Parenkhim iskemia
Grade V :
-Trombosis a.renalis utama
-Multiple mayor laceration
-Avulsi a/v. renalis utama
Klasifikasi Patologis:
1. Kontusio : hematoma subkapsuler kapsul intak
2. Laserasi minor : kortek parenchym ginjal rusak,
medulla & sistem kalisial intak
3. Laserasi mayor : kerusakan kortek s/d medulla atau
sistem kalisial
4. Trauma Vaskuler: oklusi atau ruptur vasa renalis
Bila urin bocor ÷ masuk rongga intra peritoneal ÷ ileus
paralitik
Klasifikasi Patologis :
1. Trauma renal minor (85 %)  grade I & II
2. Trauma renal mayor (15%)
3. Vasculer injury (1 %)  blunt trauma
JEF/99/42
Late Pathologic Finding :
1. Urinoma :
-Perinefric renal mass
-Hidronefrosis
-Abcess formation
2. Hidronefrosis :
-Hematome/ekstravasasi urin fibrosis Hidronefrosis
3. Arteriovenous fistel  jarang
4. Renal vascular hipertension.
Clinical Finding :
-Hematuria  gross/ mikroskopis
Derajat hematuri tdk berkaitan dengan derajat trauma
-Flank pain
-Echimosis di flank
-Fraktur iga bawah
-Nyeri abdomen  acut abdomen
-Teraba mass.
Langkah Dx/ Trauma Tumpul Ginjal
Trauma tumpul abdomen / pinggang
Multi trauma
¹
Keadaan umum : kesadaran, T, N, R, t
Status lokalis : jejas, massa, nyeri tekan
Lab. : Hb, SC / BUN, Urin sedimen
Pasang infus
¹
Pielografi Infusion, ( USG )
Tindakan pd trauma ginjal :
* Kontusio Ginjal : observasi  bila UL normal 1-2 hari KRS
Cek UL s/d 3 minggu  bahaya rebleeding
* Rupture ginjal :
KU baik & Ekstravasasi minimal / moderat
¹
observasi
KU Labil & ekstravasasi luas  Expl. Laparotomi.
* Fragmented / shattered : Eksplorsi laparotomi
* Non visualized kontur baik : segera arterio grafi
Prinsip pengelolaan pada trauma ginjal :
- menyelamatkan /mempertahankan fungsi ginjal
- mengurangi morbiditas ginjal
1. Penetrating trauma :  harus dikerjakan explorasi
laparatomi
2. trauma tumpul :
-Kontusio ren sikap adalah konservatif :
- bed rest total
- anti biotika broad spektrum
- observasi ketat vital sign, status lokalis
lab.: Hb, urin , sedimen
JEF/99/43
-Indikasi operasi pada kontusio ren :
* perdarahan yang tidak dapat diatasi secara
konservatif
* ekstra vasasi urin (urinoma)
* infeksi ÷ abses
JEF/99/44
Trauma Ureter :
Kausa :
1. Eksternal trauma :
- Penetrasi (Luka tusuk, tembak)
- Op. Rongga pelvis (terligasi/ terpotong)
2. Internal trauma :
- Ureteral catheterization
- Intra ureteral manipulation
- Endourologi : - RPG
- Ureteroskopi
- Stenting ureter
Diagnosis Trauma ureter :
1. Intra operatif  irigasi methylen blue/ betadin
2. Post operatif  IVP/RPG
3. Klinis : - Nyeri abdominal
- Massa di abdomen
- Unknown febris
- Gx. RF dgn segala macam komplikasi
Terapi trauma ureter :
1. Deligasi
2. Stent ureter
3. Reimplantasi ureter
4. Transureteroureteroskopi
5. Autotransplantsi
6. Ureterolisis
7. Diversi ureter
Kolik ureter :
Keadaan umum
Keadaan lokal
¹
- DL : Hb/Leko
- RFT : BUN/SC
- Sedimen urin
- BOF
¹
Spasmolitikum :
- sembuh  poliklinis
- tak sembuh/ makin frekuensi  dipertimbangkan
dengan pemasangan stent
JEF/99/45
BPH
Classical LUTS :
1. Voiding symptom : WAHIDIT
Weakness of stream
Abdominal straining
Hesitensy
Intermittensy
Disuria
Imcomplete bladder emptying
Terminal dribble
2. Storage symptom :  FUrNIB
Frekuensi
Urgensi
Nokturia
Incontinensia
Bladder pain
Complikasi BPH/BOO :  BUHABOH
Bladder
UTI
Hematuria
Acut urinary retention
Bladder damage (trabekulasi - diverticel)
Overflow incontinence
Hidronefrosis & renal insuffisiensi
Medical TX/ for BPH :  3 kategori
1. Farmakologis  dgn ABA (alfa blocking agent)
2. Hormonal dgn 5-ARI (alfa reductase inhibitor)
3. Phytotherapi dgn plan extracts
ABA :
1. Long acting alfa adrenoceptor antagonis :
+ Terazosin
+ Doxazosin
 spesifik untuk TU.
TERAZOSIN
 tonus otot polos prostat
otot polos vasculer
Dimulai dgn dosis : 1 mg, 2, 5, 10mg  max 20 mg
Moontly interval
Efek samping :
Dizziness 14%
Asthenia 11%
Somnolen 5 %
Headache 5%
DOXAZOSIN
Dimulai dgn dosis : 1, 2, 4 mg,  max 8 mg.
Efek samping :
Dizziness 15%
Asthenia 10%
Somnolen 4 %
JEF/99/46
Headache 10%
TAMSULOSIN
 selective 1-alfa adrenoceptor antagonist
Tidak berpengruh pada tekanan darah
2. 5-ARI :
Walsh  Caribean family  defisiensi DHT
FINASTERIDE
Menurunkan DHT 75 %
Vol prostat turun 30%
PSA turun 50%
Sel epitel atrofi  mati  prostat involusi
Bila PSA pre th/ 2 x lipat  tidak dipengaruhi
Biasanya untuk prostat > 40 grm
Efek samping :
Impoten 2,1 %
Libido | 1 %
Ginecomasti 0,4%
Medical terapi hanya menaikkan uroflowmetri 3-4 ml/s
Terazosin dan doxazosin  perlu titrasi
Tamsulosin & finasteride  titrasi (-)
Indikasi operasi BPH :
1. Retensio urine
2. BPH dgn penulit : ISK, batu , hernia, hidronefrosis,
uremia, hematuria berulang.
3. Residual urine > 100 cc
4. Flow metri : pola obstruktif ( < 10 cc/ det)
5. Sindroma prostatism yg progresif, mengganggu &
iritatif.
6. Terapi medikamentosa ttidak berhasil
Indikasi open prostat :
1. BPH besar ÷ Tur > 1 jam
2. BPH disertai BBB > 2,5 Cm atau multiple
3. TRUS > 40 gram
RT :  pembesaran prostat :
- Grade I : berat < 20 gram
- Grade II : berat 20 - 40 grm, jelas menonjol , batas lateral
>, & dangkal, sulkus median ttb / +
- Grade III : berat > 40 grm, batas atas tak teraba, teraba
supra simpisis.  indikasi open/Millins
Kriteria stop kateter :
1. Miksi spontan.
2. Residu urine < 10
3. Bakteriuri terkendali
JEF/99/47
Uroflowmetri :
- Jumlah urin yang representatif : 200 - 300 cc
- Flow rate Max : - non obstruktif : > 15 cc/dt
- border line : 10 - 15 cc/dt
- obstruktif : < 10 cc/dt
- Grafik normal bifasik
PSA (Prostat Spesific Antigen) :
Suatu glikoprotein yang di sekresi oleh sitoplasma sel
prostat.
Fungsi  Mencairkan (kuquifasi) semen
Diproduksi oleh sel epitel asini & duktal
Waktu paruh 2,2 – 3,3 hari
Normal : 0 – 4 ng/cc
Setiap 1 grm BPH  PSA meningkat 0,2 - 0,3 ng/cc
PSA < 10 ng/cc  lymp node tidak terlibat
PSA > 40 ng/cc  60 % nodal disease
Post radical prostatectomy  PSA = 0
 Bila naik lagi  recurrent disease
masih (+)  residual disease
Faktor yang mempengaruhi kenaikan PSA :
1. Intrinsik : BUVICA
BPH, Umur, Volume, Infeksi, Ca prostat
2. Ekstrinsik :
Retensi urin akut, DRE (2x), Biopsi (57x), DK,
Endoskopi (4x), TURP (53x), TRUS (1,3x)
Interpretasi PSA :
Kadar PSA : 0,5 – 4 ng/cc  normal
4 – 10 ng/cc  20 % kanker
> 10 ng/cc  50 % kanker
Meningkat > 20 % / tahun  perlu biopsi
PSA terikat pada
A-ACT : alfa-antichemotripsin
AMG : alfa-2-macroglobulin
Free PSA tidak terikat dgn komponen tersebut
Yang dapat diperiksa dengan PS assay :
Free PSA (F)
PSA-A-ACT
Total PSA (T)
F/T ratio : free PSA : total PSA
Bila ratio turun  Ca.
Bila ratio meningkat  benign
PSA dalam kaitan dgn perlunya Biopsi :
1. PSA Density.
2. PSA Velocity
3. Age-spesific PSA references ranges
4. Molekular form of PSA (% free PSA)
PSA Density :
JEF/99/48
Oleh Benson dari Columbia Univ. ’92
PSA : Vol Prostat.
Indikasi bila PSA 4-10 ng/l
Cutt-off : 0,15 ng/l  > 0,15  Ca prostat
Masih kontroversi
PSA Velocity
Change of PSA overtime.
PSA-V = ½ x [(PSA2-PSA1/ t1)+(PSA3-PSA2/t2)]
PSA velocity > 0,75ng/l/tahun  sensitivitas 72 %
Spesifisitas 95 %
Age-Spasific PSA references range :
Nilai :
Usia 40 – 49 : 0 – 2,5 ng/l
Usia 50 – 59 : 0 – 3,5 ng/l
Usia 60 – 69 : 0 – 4,5 ng/l
Usia 70 – 79 : 0 – 6,5 ng/l
Free PSA :
Enzimatically inactive
Uncomplex
Free
Nilai : 5 – 50 % dari total PSA
Cut-off 25 %  sensitifitas 95 %
Moderate grade Ca prostat : gleason < 7
High-grade Ca prostat : gleason > 7.
Recurrent of prostate cancer :
Post radical prostatectomi PSA >0,4 ng/l  residual or
recurrent
Hormonal th/  early.
Th/ standar :
Orchidectomi
LHRH agonist
Anti Androgen :
1. Sterodi :
- Cyproterene acetat
- Megastrol acetat
2. Non-steroid :
- Flutamide
- Nilutamide
- Bicalutamide
Algoritma dx/ Ca. Prostat :
DRE dan PSA :
1. DRE normal  PSA total  PSA 2-10  free PSA
 PSA < 2  anual DRE &
PSA
2. Abnormal DRE  Biopsi
Free PSA PSA < 2 PSA 2-4 PSA 4-10 PSA >10
JEF/99/49
s 10%
Ann.DRE
& PSA
Biopsi Biopsi Biopsi
11-26 Ann.DRE
& PSA
Ann.DRE
& PSA
Biopsi Biopsi
> 26 % Ann.DRE
& PSA
Ann.DRE
& PSA
Ann.DRE
& PSA
Biiopsi
Cancer probability estimates of free PSA :
% free PSA % probability
s 10
70
10 – 11 58
11 – 15 46
15 – 20 34
20 – 24 23
24 – 26 15
> 26 10
JEF/99/50
Refluk Study :
Etiokogi :
1. Refluk primer : kelemahan uretero trigonum
2. Refluk skunder krn obstruksi : Obst. Intravesikal
Bisa iatrogenik atau radang
3. Refluk skunder kongenital : anomali ureter, orifisium
ektopik, uretrokel, double ureter.
Klasifikasi refluk ureter menurut Heikel & Parkeetmien
(Internal refluk study group) :
Grade I : Refluk s/d ureter distal , belum sampai ginjal
Grade II : refluk s/d kalik, belum dilatasi
Grade III : Dilatasi ringan, tak ada blunting calic
Grade IV : Blunting calic
Grade V : refluk massive, ureter sangat lebar, tourtous,
clubbing calic
Diagnosis :
1. Voiding cystouretrografi  foto evakuasi.
2. Isotop cystografi
3. USG
Terapi : tujuan  mencegah timbulnya renal scarring
memberi kesempatan pada ginjal untuk
tumbuh.
a. Medikamentosa : AB dosis rendah secara terus menerus
s/d refluk menghilang.
b. Operatif :
- Injeksi teflon/ kolagen submukosa buli pada orifisium
ureter
- Pembedahan  membuat ureter intravesikal lebih
penjang :
* Politano-leadbetter
* Cohen
* Lich-gregoir
* Keramidas
JEF/99/51
BULI-BULI
Vaskularisasi buli-buli :
a. Arteri : - cab. iliaka int. : a. vesikalis sup, med, & inf.
- cab. a. obtoratoria & a. glutea inf.
- cab. a. uterina & a. vaginalis
b. Vena : plexus venosus inferolateral & preprostatik  v.
iliaka interna  iliaka komunis.
Persyarafan Buli :
1. Otonom :  u/ buli-buli dan uretra proximal.
a. Parasimpatis (S2-4)  n. splanicus pelvicus
(sacralis, n. pelvicus). Bersifat visceromotorik (otot
buli)  pengosongan buli - buli.
Neurotransmitternya : acetilkolin.
b. Simpatis (Th 11-L2)  n. hipogastrikus
Neurotranslitter : alfa & beta adrenergik
Alfa  dominan di spinter  kontraksi spinter int.
Beta  dominan di buli  menghambat otot
detrusor pengisian buli.
2. Somatomotorik (S2-4) :  n. pudendus
u/ spinter uretra ekterna
Sensoris : nyeri, suhu, raba (ekteroseptif
regangan ( propioseptif)
Bladder :
- Bladder dilindungi oleh tulang pelvis.
- Fraktur  menusuk buli  ruptur ekstraperitoneal
- Buli-buli penuh  blunt trauma  intraperitoneal
Buli-buli Neuropati :
1. Causa : DM, trauma med. Spinalis, ALS, tabes .
2. Diagnosis :
- keluhan miksi : retensio, incontinensia, frekwensi
- reflek sacral : BCR, sadel area, tonus spinter ani.
- USG : dinding buli menebal, divertikel, sakulae, residu
urin
- Voiding sistografi :
Tidak timbul rasa ingin kencing meski buli penuh
Miksi +  walau baru diisi sedikit
Miksi berhenti  sisa urin/ kontras +
Buli-buli seperti pohon natal
Refluk +/ -
- Endoskopi :- trebekulasi, sellulae/ divertikel
- Kapasitas buli
- Residu urin
- Sensasi saat buli-buli penuh
- Pemeriksaan urodinamik :
* Uroflowmetri : volume urin yg dikencingkan turun
flow max. turun
JEF/99/52
flow rata-rata turun
Lamanya miksi meningkat
Kurva normogram  multifasik
* Sistonometri tekanan intra buli-buli.
N : - fase pengisian < 20 cm H2O
- fase kontraksi 60 - 120
* EMG  u/ aktivitas elektrik otot
Neurogenic Bladder :
1. Type Spastic :
a. Lesi di brain stem
Tumor, gangguan vasculer
Multiple sclerosis
Keradangan (meningitis, encephalitis)
b.Spinal cord injury
Vert. Th XI – L III
2. Type Flaccid :
Sacral cord injury
Spina bifida
Tumor, radang
Radiasi daerah pelvis
Operasi besar daerah pelvis
DM
3. Obat-obatan :
Parsimpatolitik
Anti spasmolitik
Simpatomimetik
CIC
Indikasi :
1. Neuroogenik bladder ( tu. hipo/areflek bladder)
2. Prevensi restricten pasca tindakan
stricture uretra complicate ( residif, multiple, panjang)
Penatalaksanaan :
1. Neurogenic bladder ;
- spinal set fase akut ( 7 days pasca truma)
- spinal set stabilisasi ( 3 - 5 hari)
- diabetes/multiple sclerotis set diagnose tegas
2. Preventi restriktur : 7 - 14 hari post sachse.
Frekuensi ; - neurogenic bleedere ( natrium ) 3 - 4 jam
- frekwensi
Truma Buli-buli:
1. Trauma tumpul : - Kontusio buli-buuli
- Ruptur buli ekstraperitoneal
- Ruptur buli intraperitonela
2. Trauma tajam (penetrating) :  tusuk, tembak,
iatrogenik.
Diagnosis :
a. Ax/ : - Riwayat trauma/ fr. Pelvis
JEF/99/53
- Hematri, Anuria
- Infiltrat urin prevesikal
- Trauma perut bawah pd keadaan buli penuh
b. Klinis :
- nyeri perut bagian bawah/supra pubik
- peritoneal iritasi, jejas/riwayat trauma
- tidak dapat kencing
- gross heaturia
- RT : landmark tdk dpt dibedakan  hematom luas
c. Radiologis : BOF  fr. Pelvis, benda asing/peluru
Sistogrfi  300 cc kontras  foto AP
d. Tes buli-buli  300 - 400 cc PZ  tampung ulang.
e. Uretrogram  bila ada bloody discharge
Komplikasi :
-Pelvic abcess  ruptur ekstraperitoneal
-Peritonitis  ruptur intraperitoneal
-Partial incontinensia  laserasi bladder neck
Terapi :
Diversi urin harus adekuat
Drainage urin dari prevesikal area
Jahit ruptur buli
Pada ruptur intraperitoneal : - Eksplorasi laparatomi
- Bladder repair
- Pasang drain cavum retzii
Pada ruptur Ekstraperitoneal :
- Konservatif : pasang DK 7 hari
- Infiltrat urin bertambah besar  Eksplorasi +drain
Komplikasi :
- Pelvic abses  ruptur ekstraperitoneal
- Peritonitis  ruptur intraperitoneal
- Partial inkontinentia laserasi bladder neck
JEF/99/54
Priapismus.
 Ereksi berkepanjangan tanpa disertai hasrat seksual dan
sering disertai rasa nyeri. lebih 4 - 6 jam
> 24 jam  nekrosis sel luas
> 48 jam pembekuan darah dalam kaverne dan
destruksi endotel.
Etiologi :
- Primer/ idoipatik.
- Skunder : ggn pembekuan darah (anemia bulan sabit,
lekemi, emboli lemak), trauma perineum/
genetalia, neurogenik, keganasan, obat-obatan
(alkohol, psikotropik, anti hipertensi).
Jenis :
1. Low-flow priapismus (iskemik)  diikuti rasa nyeri.
2. High-flow proapismus (non-iskemik)  tanpa rasa nyeri
dan prognosis lebih baik.
Terapi :  mengeluarkan darah dari koprpora kavernosa
secepatnya.
a. Konservatif :
- hidrasi yang baik
- sedativ
- enema es saline
- kompres srotum/penis
- massage prostat
b. Aspirasi dan irigasi intrakavernosa :
- aspirasi 10 - 20 cc darah intrakavernosa dgn scalp vein
no.21G.
- Instilasi 10 -20 mg epinefrin yang dilarutkan dalam 1 cc
larutan garam fisiologis setiaap 5 menit hingga
detumesensi. (priapismus < 24 jam)
c. Jalan pintas (shunting) dari kavernosa :
 jenis iskemik atau gagal medikamentosa/ aspirasi
- Pintas korporo-glanular/ winter.
- Pintas korporo-spongiosum.
- Pintas saveno-kavernosum.
JEF/99/55
POST OPERASI
Vesikolitotomi :
Aff DK setelah 7 - 10 hari
Aff redon drain 2 hari setelah aff DK prod < 20 cc/ hr
Litotripsi :
aff DK setelah 24 jam
bila ada lesi buli  tunggu 5 hari.
Sistoskopi ulang setelah 3 bulan
IVP ulang setelah 6 bulan
Ureterolitotomi :
aff DK setelah 24 jam
vacum drain tiap hari
rawat luka setelah hari ketiga
aff redon drain hari ke-5, bila prod. < 10 cc/hr  2 hr
analisa batu
aff benang hari ke 10 - 14
BOF kontrol
IVP setelah 6 bulan
TURP :
aff traksi setelah 24 jam
aff spoel setelah 2 hari (urin jernih)
aff DK hari ke 3 - 5
evaluasi uroflowmetri
TURP Syndrome :
Tensi naik atau < 88 mmHg
Bradikardi
Edema paru  sesak & ronkhi (+)
Cardiovascular :
Early : Bradicardi
Hipertensi
Dyspneu
Cianosis
Angina
Late : hipotensi / shock
Neurologik :
Early : restlessness
Confussion
Blurred vision
Twitching
Seizure
Late : coma
Th/ :
Bila Na serum ± 110 mEq/lt  diuresis dgn furosemide
Bila coma/ kejang  NaCl 3% 1 lt/ 12 jam + antikonvulsan
Millin’s :
JEF/99/56
aff DK setelah hari ke-5
aff redon drain hari ke-6  prod. < 20 cc/hari
kontrol tiap 2 minggu (bulan I)
evaluasi uroflowmetri
JEF/99/57
ISK atas :  Pyelonefritis
Klinis :
- febris (t : 38,5 - 40)  disertai menggigil
- nyeri pinggang
- gejala ISK bawah
- malaise, mual, muntah
- takikardi (90 - 140)
- palpasi  pinggang tegang
- flank pain
- bising usus turun
-kronis hipertensi, azotemia, -- faktor pencetus penting.
LAB. :
- leukositosis  PMN dan segmen meningkat
- LED meningkat
- urinalisis : urin keruh, pyuria,
bacteriuria, proteinuria, hematuria
- kultur urin > 100.000 koloni/cc
- febris  kultur darah
IVP :
- kontur ginjal >>
- batas ginjal dan lemak perirenal
- psoas line  kabur
- cari bayangan kalsifiaksi
- kalic, infundibulum, pyelum -> kecil & langsing (a/ edem)
- bila ada tanda-tanda obstruksi di pyelokalic degan klinis
pyelonefritis  dx/ Urosepsis.
- bila nonvisualized  konfirmasi dengan USG  ada
dilatasi pyelokalic -> dx/ pyonefrosis.
Pyelonefritis kronis :
- batas/ kontur ginjal tidak teratur
- kaliektase multiple (clubbing)
 akibat scarring dari parenkim ginjal
Voiding cistografi :  untuk melihat adanya reflux vesiko
uretral  ascending infection .
ISK Bawah :
Sistitis :
- fase acut : mukosa hiperemi, edema, infiltrasi sel netrofil
- fase kronis : buli rapuh  banyak debris, mudah
berdarah , granulasi s/d ulkus.
Klinis :
- gejala sistemik ( -)
- tidak ada demam & nyeri pinggang
- tanda iritasi : frekuensi, urgensi, nokturia, disuria.
- nyeri suprapubik/ perut bawah.
- wanita  post soitus
- cari kelainan pada uretra : stenosis meatus , fimosis
Lab.
- leukositosis
- faal ginjal normal
- urinalisis  pyuria dan bacteriuria, hematuria ±
JEF/99/58
- kultur urin +  dx/ pasti.
Indikasi IVP :  u/ cari kelainan primer
- curiga infeksi menyebar ke ginjal
- terapi adekuat  hasil (-)
- re-infeksi 1 - 2 bulan
Terapi :
* causal : Anti biotik - Cotrim
- Nitrofurantoin 4 x 50 mg
* Simtomatik
- Anticholinergik : probantine 3 x 15 mg
- Analgetik : pyridium 3 x 1 tab.
* Minum banyak.
Interstitial Cystitis
(Hunner’s Ulcer, Submucous fibrosis)
-Ditandai o/ fibrosis dinding buli  capasty |
- Fibrosis diduga karena obstruksi limfe buli sekunder dari
infeksi
pelvic surgery,
prolonged intrinsic arteriol spasm
neuropathic origin
faktor endokrinologi
Klinis :
-Middle age women
-Frekuensi & nocturia tanpa disuria
-Suprapubic pain, juga di uretra dan perineum. 
setelah BAK nyeri hilang
-Gross hematuria
Lab :
-Urin steril
-Mikros hematuria
X-Ray :
-Excretori urogram dbn
Cystoskopi :
Buli diisi  suprapibic pain meningkat
Kapasitas bula < 60 cc
Bladder lining  dbn
DD/ :
-Tuberculosa Buli.  yg sering orifisium ureteral
pyuria, basil (+)
-Vesical ulcer akibat schistosomiasis.
-Nonspesific vesical infection
-Ca buli.
Komplikasi :
- Gradual ureteral stenosis
- Refluk
- Hidronefrosis
- Treatment
Terapi :
JEF/99/59
-Terapi definitif tidak ada
-Hidraulic overdistention  meningkatkan kapasitas buli
-Superfisial electrocoagulation  relief pain
-Tranuretral resection of the lesion
-Symptomatic relief  50 cc DMSO 50 % (dimethyl
sulfoxide) kedalam buli setiap 2
minggu.
-Sodium pentosan polysulfate (Elmiron) 4 x 50 mg
atau 2 x 150 mg selama 4- 8 minggu.
 relief frekuensi & nokturia
-Cortison asetate 100 mg atau prednison 10 – 20 mg 
21 hari
-Antihistamin : pyribenzamin 4 x 50 mg /hari
-Antibiotik bila disertai infeksi akibat instrumentasi
-Terapi komplikasi.
Abses Ginjal .
Ada 2 jenis :
1. Kortikal/kortikorenal.  akibat infeksi hematogen
causa 90 %  stafilokokus aureus
predisposisi : obat-obat i.v, HD, DM.
2. Kortikomeduler :akibat ascending infection  reflux.
Causa : E. coli, klebsiella, proteus.
Predisposisi : obstruksi, reflux.
Klinis :
- sama dengan pyelonefirtis akut
- abses besar  teraba mass daerah pinggan .
Lab. :
- sama dgn pyelonefritis
- pada kortikorenal  urinalisis normal.
IVP :
- distorsi sistim pyelokalic
- cari faktor predisposisi
Terapi :  sama dgn pyelonefritis
- abses besar  drainage
- abses luas dan multiple  nefrektomi
- koreksi faktor primer
Fournier’s Gangrene
Bentuk fasciitis necrotizing yg terjadi sekitar genetalia laki-
laki.
Gangrene skrotum idiopatik
Gangrene skrotum streptokokus
Phlegmon perineal
Infeksi umumnya muncul dari kulit , uretra, or regio rektal
Faktor predisposisi :
DM, Trauma lokal, parafimosis,
Ekstravasasi urine peri uretral,
Infeksi peri uretral or perianal,
Circumsisi, herniotomi, instrumentasi
STD
JEF/99/60
Kultur luka biasanya multiple organisme (aerob & anaerob)
Klinis :
- Riwayat trauma, instrumentasi, striktur uretra, STD,
fistel uretrokutan
- Biasanya dimulai dgn sellulitis, bengkak, eritema, nyeri
dan febris sistemik.
Gx/ UT; disuria, discharge and retensiio, Gas.
Th/.
Debridement  ekstensif
AB: Ampicillin + Sulbactam atau
Cephalosporin gen III
PERIURETRAL ABCESS :
Life treatening infection
Akibat dari : GO, striktur uretra, kateterisasi uretra
Klinis :
Scrotal sweeling
Fever
Retensio urine
Spontan drainage abcess
Dysuria
Urethral discharge
Gx/ awal s/d timbul abcess : 21 hari
LAB :
Pyuria
Bacteriuria
Th/ :
Suprapubic urin drainage
Wide debridement
AB : Aminoglikoside
Cephalosporin
Acut bacterial prostatitis :
Etiologi :
- Aerobic gram negatif : E.coli, pseudomonas, s. fecalis
- Gram positif : sangat jarang.
Pathogenesis :
1. Ascending dari uretra.
2. Reflux kedalam duktus prostatikus
3. Direct extension/ limfogen dari rektum
4. Hematogen
1 & 2  paling sering
Berkaitan dgn sistitis akut
Dapat menyebabkan retensio akut
Patologi :
PMN sekitar acini
Desquamasi intraduktal
Struma  edem dan hiperemi
Klinis :
Febris akut dgn menggigil
JEF/99/61
Low back pain
Perineeal pain
Urgensi & frekuensi, nokturia, disuria
Retensio urin akut
Mialgia, artralgia
Prostat bengkak, nyeri, lembut, indurasi dan hangat
Urin keruh, hematuria
Kontraindikasi :
Intrumentasi / kateterisasi
Massage prostate : nyeri, & bakteremia
Th/ :
1. Cotrim : 2 x 960 mg  4 minggu
2. Gentamici/ tobramicin + ampicillin  1 minggu –
dilanjutkan dgn oral ampicillin full dose 30 hari.
JEF/99/62
Beda torsio degan epididimitis :
Epididimitis/
orchitis acut.
Torsio testis
onset bbrp jam acut sekali
kel. miksi + -
instrumentasi
±
-
febris/menggig
il
+ -
testis sumbu vertikal
di postero
lateral
sumbu
horizontal di
anterior
prehn test
nyeri |
sangat nyeri
sedimen pyuria normal
darah leukositosis
normal / |
terapi AB, bed rest cito operasi
Batu cistein baru terlihat pd BOF bila >3-4 mm
Batu calsium >2 mm
Type Sym
pto
m
Siste
mic
sign
WBC
in
EPS
Cult
ur
Acut Bact. Prst.is Yes Yes Yes Yes
Cronic Bact. Prst.is Yes No Yes Yes
Non Bact. Prst.is Yes No Yes No
Prostatodynia yes No No No
EPS : Expressed Prostatic Secretion
Indikasi operasi repair ren mobilis :
- Intermitten gros hematuri
- Sering nyeri hebat
- Hematuri tanpa obstruksi dan infeksi
- Hipertensi/ hipotensi
Indikasi Percutaneus catheter placement :
Cateterisasi ureter retrograde kontraindikasi (sepsis)
Obstruksi ureter (batu, tumor, striktur)
Indikasi diagnostik (whitakertest)
Prosedur terapi  kemolisis batu
Indikasi Pungsi Renal Perkutan
1. Indikasi diagnostik :
APG
Whitaker test (pressure/perfusion study)
2. Indikasi terapeutik :
Nefrostomy catether drainage
Antegrade ureteral stenting
Dilatasi strikture ureter
Percutaneus endopyeloplasty
JEF/99/63
Perfusion chemolisis batu renal
PNL
Percutaneus resection and coagulation of urothelial
tumor
Indikasi PNS :
1. Pyonefrosis akut dan krosis
2. Infected hidronefrosis
3. Bilateral hidronefrosis
4. Bagian dari test Whittaker
5. Bagian dari PNL
6. Hidronefrosis unilateral, tapi tindakan definitif tidak bisa
cepat (> 2 minggu).
Indikasi PNL  dalam hal ESWL
Obstruksi bukan saja oleh batu :
- ada divertikel,
- ureteropelvic stenosis
Batu yang besar/staghorn
Batu tidak dapat diposisikan dgn fokus ‘Shock wave’
Indikasi ureterorenoskopi :
1. Diagnostik :
- Lesi ureter atau pelvis renal
- Hematuria dari upper tract
2. Terapeutik :
- Terapi batu ureter
- Direct vision internal ureterotomy dr striktur ureter
- Endoskopik resection & coagulation of ureteral tu.
JEF/99/64
Cushing’s Syndrome :
Akibat over produksi cortisol (hidrocortison)
Hipofisa  Produksi ACTH |  hiperplasia cortek adrenal
 cortison >>>
Klinis :  3 dari gejala berikut :
1. Weakness : quadricep femur
2. Obesitas : moonface, fat pad ( bufallow hump)
3. Striae
4. Iritabilitas
5. Hipertension
6. Osteoporosis
7. Diabetik glukose tolerance
8. Adrenogenital syndrome.
Lab :
-Leukosit : 12 – 20 ribu
-Polisitemia : Hb : 14 – 16
-Natrium Meningkat
-CO2 meningkat
-Kalium turun  metabolik alkalosis
Terapi :
Total bilateral adrenalectomy
TBC urogenital selain di terapi dgn TB drug juga diberi
Vitamin C dosis tinggi  mengasamkan urin (BTA)
TBC di Prostat  paling jarang karena vaskularisasinya
paling kurang.
JEF/99/65
Acut Renal Faillure
Fase ARF :
1. Onset
2. Fase oliguria
3. Fase early diuretic
4. Fase late diuretic
Pada fase early diuretic  fungsi tubular tetap gagal & terdapat
penalimpahan cairan dan elektrolit
Pada fase late diuretic  ditandai dgn perbaikan yang menetap pada
fungsi ginjal
Onset ARF pada post traumatic :
- Early  6 hari pertama
- Late  > 7 hari
Bila tek arteri afferen < 60 mmHg (N: 100mmHg)  filtrat | : Na, Air, &
urea  sebagian besar diserab lagi.
Creatinin tidak diserap  rasio ure : creatinin >>
Anuria
Def : Keadaan dimana produksi urin < 200 cc/24 jam.
Anuria obstruktif : causa obstruksi pasca renal.
K/U
St. Lokal :
- Tr. Urinarius
- DL, BUN/SC, BGA (kosul kardio), elektrolit
- CVP (pre renal), DK
¹
Foto thorak
BOF  IVP
USG (u/ membedakan renal dan post renal)
# Non obtruktiif  perawatan nefrologik
# Obtruktif  diversi urin / by pass  terapi definitif
# Meragukan :
- RPG double set up
- Tes diuretik dengan persiapan tindakan :
+ diversi urin, & + by pass
Bila ada indikasi, hemodialisis mendahuli tindakan.
Oliguria.
Def. : bila produksi urine < 400 / hari pada spesifik gravity
urin 1,035 atau < 6 cc/ kg BB
Jika kemampuan onsentrasi ginjal gagal dan spesifik gravity
hanya 1,010,  oliguria bila urin < 1000 – 1500 cc/ hari 
high output/nonoliguric renal faillure
Etiologi acut renal faillure : (Smith’s)
==========================================
1. Pre renal :
-Dehidrasi
-Vascular collapse (sepsis, obat antihipertensi)
-Reduced cardiac output
JEF/99/66
2. Vascular :
- Atheroembilsm
- Dissecting arterial aneurisme
- Malignant hipertensi
3. Parenchimal (intrarenal) :
-. Spesifik : -Glumerulonefritis
- Interstitial nefritis
- Toxin, dye-induced
- Nonspesifik :
-Acut tubular nekrosis
-Acut cortical necrosis
4. Fungtional – hemodinak :
-ACE-inhibitor drug
-Nonsteroid anti inflamasi drug
-Cyclosporin
-Hepatorenal syndrome
5. Post renal :
-Calculus pd px/ dgn solitary kidney
-Bilateral uretral obstruction
-Outlet obstruktion
-Leak, post traumatik
-Retroperitoneal fibrosis.
----------------------------------------------------------------------------
Prerenal Renal Faillure
Akibat perfusi renal yg tidak adekuat karena volume
intravaskuler yg tidak adekuat atau tidak efektif.
Klinis
-complain : thirst, orthostatic dizziness, fluid loss, BB |.
-turgor |, JVP |, mukosa kering, orthostatic change in BP
& pulse, tachicardi, prod. urin |
Lab.
1. Urine :
-Volume |
-High urine spesific gravity : > 1,025
-High urine osmolality : > 600 mosm/kg
2. Kimia darah urin :
-Ratio BUN : SC meningkat (N=10:1)
ARF Prerenal
Azotemia
Urine osmolality < 300 > 500
Urine/plasma urea < 10 > 20
Urine/plasma creatine < 20 > 40
Urine Na (meq/L) > 40 < 20
R F. indek = U
Na
: U/P
cr
> 1 < 1
FE Na = (U/P
Na
: U/P
cr
) x
100
> 1 < 1
JEF/99/67
3. CVP : - turun  hipovolemia  blood loss, dehidrasi
- Cardiac faillure  CO | dan CVP |
4. Fluid hallenge :
PZ 300 – 500 cc atau 125 cc manitol 20 %  diukur
urine 1 – 3 jam kemudian.
Bila volume urin > 50 cc/ jam  respon positif 
dilajutkan dengan infus PZ u/ koreksi dehidrasi.
Bila vlume urin tidak meningkat  evaluasi ulang
kimmia darah dan urin.
Terapi :  tergantung primer
Dehidrasi  koreksi cairan
Bila tetap oliguri setelah rehidrasi  obat vasopressor
dapat diberikan untuk memperbaiki hipotensi yg berkaitan
dgn sepsis dan shock cardiogenik.
 Doopamin 1 – 5 mikro gram /kg/menit  renal dose
Spesific Intrarenal Disease State.
Klinis :
-Riwayat URTI, obat-obat IV
-bilateral back pain
-gross hematuria
-Pyelonefritis menyebabkan ARF bila disertai sepsis/
dehidrasi, obstruksi dan adanya solitary kidney.
Patogenesis :
- Destruksi tubuler :
Major trauma injuri  pelepasan mioglobin dari sel otot
rangka  presipitasi di tubulus  obstruksi : intrtubuler
pressure naik dan GF turun.
- Vasomotor th/ :
Renin angiotensin naik  vasokontriksi arteriole afferen 
GFR turun.
- Permiabilitas membran glumerulus turun.
Lab :
1. Urine:
-Eritrosit +
-Leukosit +
-Celluler & glanuler cast
-Eosinofil +  allergic interstitial nefritis
-Na urin 10 – 40 meq/L
-Osmolaritas urin < 400 mOsmol/kg
-Ration urin plasma :
- urea < 10 : 1
- osmolaritas < 1,2 : 1
- creatinine < 20 : 1
2. Renal biopsi  characteristic change of acut interstitial
nefritis atau glumerulonefritis
X-Ray :
-IVP :  porr/ non visualized .
Terapi :
-Eradikasi infeksi.
-Mengurangi respon inflamasi
-Immunoterapi.
JEF/99/68
Non Spesific Intrarenal States.
Klinis :
-Dehidrasi & shock  dgn rehidrasi produksi urin tidak
membaik.
-Gejala uremia : perubahan mental dan gejala GIT.
Lab :
1. Urine : -Spesific gravity : 1.005 – 1.015
-Osmolality : < 450 mosm/kg
- Ratio osmol U/P = < 1,5 : 1
-Urinalisis : tubular cell & granuler cast
2. CVP : normal atau sedikit meningkat
3. Fluid challenge : Pemberian manitol atau cairan PZ tidak
meningkatkan produksi urin.
Terapi :
- Balance cairan
- Glukosa dan AAE 30–35 kcal/kgu/ mengurangi
katabolisme
- Monitor Kalium dan ECG
- Terapi hiperkalemia : -Nac.bic /i.v
-Kayexalate 25 – 50 g / oral
- Insulin i.v
- Preparat Calsium
- Hemodialisis
Prognosis :  biasanya reversible dalam 7 – 14 hari
Tubular Destruktion :
Major trauma injury
|
release myoglobin sel otot skeletal
|
precipitate dalm tubulus
|
obstruksi
|
tek intratubulus |
GFR |
|
iskemia
|
pelepasan sel-sel, debris
|
filtered tubular obstrukstion
Postrenal Acut Renal Faillure
Klinis :
-Renal pain or renal tenderness
JEF/99/69
-Edema akibat over hidrasi
-Ileus  berkaitn dgn distensi abd. dan vomiting
Lab :
- Kateterisasi  untuk diagnostik dan terapi pada obstruksi
uretra dan bladder neck.
X-Ray :
IVU  poor visualization
Renal scan : membantu pd obstruksi akut tapi tidak pada
yg kronik.
Gambaran kebocoran urin atau retensi isotop
di pelvis renalis.
USG  dilatasi sistim kolekting  hidronefrosis
Cystoskopi  obstruksi uretra.
Indikasi Dialisis (clasic) :
- Hiperkalemia
- Fluid overload
- Severe metabolic acidosis
- Uremic complication.
Indikasi Dialisis pada pasien yg kritis :
1. Ekstrem oliguria ( Urine < 100 cc/ 24 jam)
2. Hiperkalemia  K > 6,5 mmol/lt
3. Acidemia  pH < 7,1
4. Uremia  Urea > 30 mmol/lt
5. Clinically significant organ oedema
6. Severe dysnatraemia  Na >160 or < 115 mmol/lt
Mayor Parenchymal Causes of Acut Renal Faillure :
(Cambell’s)
=========================================
1. Primary Renal Disease .
Glumerular :
Glumerlonephritis acut
Tubulointerstitial :
Acut interstitial nefritis (obat-obatan)
ATN (iskemia, nefrotoksis antibiotik, radiocontas)
Pyelonefritis
Transplant allograft rejection
Nrfrolitiasis
Radiation nephritis
Vascular :
Renal artery occlusion
Renal vein trombosis
2. Sistemic disease
Glumerular :
Vasculitis
Goodpasture’s syndrome
Secondary acut glumerulonephritis
JEF/99/70
Tubulointerstitial :
Tumor lysis syndrome
Hipercalcemia
Infection
Infiltration (limphoma, sarcoid)
Vasculer :
Vasculitis
Malignant hpertention
Scleroderma
Thrombotic thrombocytopenic purpura
------------------------------------------------------------------
Mayor Causes of Prerenal Azotemia :
======================================
1. Decreased cardiac output
Decresase intravasculer volume :
-Dehidrasi
-Hemorhage
-Anaphylactic sock
Decrease venous tone :
-Autonomic neuropathy
-Spinal injury
Decrease contractile function :
-IHD
-Cardiomiopathy
-Valvular heart disease.
-Pericardial tamponade or constriction
2. Normal or increase cardiac output
Systemic disorder :
-Hepatorenal syndrome
-Sepsis
Local renal disease :
-Renal arteri stenosis
-------------------------------------------------------------------
Complication of acut renal faillure :
1. Fluid over load :
Hipertension
Edema
Acut pulmonary edema
2. Electrolit disturbance
Hyponatremia
Hyperkalemia
Hypermagnesemia
Hyperphosphatemia
Hypocalcemia
Hypercalcemia (post rhabdomyolisis)
Hyperuricemia
3. Metabolic acidosis
4. Uremic signs and symptoms
Gastrointestinal :
Nusea, Vomiting
JEF/99/71
Upper GIT bleeding
Neurologic :
Mental status changes
Encephalopathy
Coma, Seizures
Peripheral neuropathy
Cardiac :
Pericarditis
Uremic cardiomyopathy
Pulmonary :
Pleuritis
Uremic pneumonitis
Hematologic:
Bleeding, Anemia
Immunologic :
Impaired granulocyte function
Impaired lymphocyte function
-----------------------------------------------------------------------------
Anemia pada CRF disebabkan oleh :
-Produksi eritropoitin yg berkurang.
-Penurunan survival dari sel darah merah
-Penurunan respon terhadap eritropoitin
-Supresi bone marrow  oleh middles molecule atau
uremic toxin.
Terapi anemia pada CRF :
- Eritropoitin : 500 U/kg/ i.v.  3 kali seminggu.
- Selain i.v. dapat juga diberikan subcutan, intraperitoneal.
GFR |  < 30 cc/mnt
|
serum elektrolit abnormal
|
Body buffer | , serum bic.nat |
Ekskresi sisa metab |
|
Asidosis metabolik
|
hiperventilation (compensasi)
DIURESIS :
Klasifikasi :
1. Fisiologis : akibat retensi urea, Na. & air.
Non electrolite Solute diuresis :
C/ osmotically aktif agent. (urea)
2. Patologis : c/ kegagalan kemampuan
mengkonsentrasi urin atau reabsorbsi Na.
3. Iatrogenik : c/ high –volume glukose-containing fluid
replacement.
JEF/99/72
Post obstruktif Diuresis :
C/ combinasi dari :
- Fisiologik diuresis  urea osmotik diuresis
- Patologik diuresis
- Iatrogenik diuresis glukose osmotik diuresis
Biasanya 2 hari atau kurang ( BUN dan SC turun menjadi
normal)
Biasanya disertai dengan :
- Obstruksi kronis
- Edema
- Congestif HF
- Hipertensi
- Kenaikan BB
- Azotemia
- Uremia encephalopathi
Klinis :
SC > 4,0, CHD, edema perifer
Hight risk terhadap post obstruksi diuresis
Mekanisme yg menyebabkan ketidak mampuan
mengkonsebtrasi urine :
- Reabsorbsi NaCl | o/ thick ascending loop
Reabsorbsi Urea | o/ kolekting loop
- Ketidakmampuan mempertahankan solute gradient
akibat | medullary blood flow (solute washout)
- Kegagalan medullary gradient akibat | aliran &
konsentrasi solute di nefron distal.
Diuresis post obstruksi yang paling sering adalah Pathologik
sodium loss  Sodium washting nephropathy
Definisi poliuri :
Urine out put > 3 lt/hari  pd keadaan minum biasa.
Untuk membedakan poliuria k/ solute diuresis atau wawter
diuresis  periksa osmolaritas urine.
Bila < 150 mosmol  | water ingestion/ d.insipidus
Bila iso/ hiperosmolar : periksa Na, K.
(Na + K) x 2  << osmol urine osmotik diuresis
(Na + K) x 2  = osmol urine  salt & water diuresis
JEF/99/73
Prune- Belly syndrome
Congenital
Absence, deficience/ hypoplasia :
Abdominal muscle
Cryptorchidism d/s
Variasi dari abnormalitas TU 
Renal dysplasia
Hidronefrosis
Hipotonik bladder
Dilated prostatis yretra
Uretral atresia
Megalu uretra
Etiologi & embriologi  unknown
Beberapa teori :
1. Early urethral obstruction/ prostatic hypoplasia 
bladder /urethral dilatation with :
- Abdominal distortion
- Mechanical obstruction of testicular descent
2. Intrinsic defect ureter & bladder
3. Mesodermal defect
Diagnosis :
Prenatal USG (kehamilan 25-30 minggu)  classic finding :
Distended bladder
Hidroureteronefrosis
Floppy abdominal wall
Gambaran pada saat lahir :
Diding abd tipis
Jaringan otot dan subcutis sedikit
Organ abdominal dgn mudah dapat diraba
Kriptorchidism  >> intraabdominal
Megalouretra
Disertai dengan kelainan lain :
Cardivasculer (ASD TF)
Extremitas (congenital hip disloc)
GIT (malrotasi bowel, imperforates anus,
gastroschisis, hirsprung disease)
Lung : polmonary hipoplasia
Evaluasi periode perinatal :
USG, Renal function studies
Urinalisis  untuk menilai : derajat HN, kerusakan
parenchim dan menyingkirkan infeksi
Urography
Voiding cystouretrografi
Penanganan :
1. Antibiotik
2. Consevative  non operatif
Indikasi bedah :
 Recurrent infeksi
 Upper tract deterioration
JEF/99/74
3. Inisial urinary divertion  vesicostomy
Setelah diversion bila RFT stabil 
 Extensive remodeling ureter & bladder untuk
menghilangkan stasis urin & memperbaiki refluk
 Excission  lower redundant ureter & bladder
 Uretral reimplantation
 Memperbaiki abnormalitas uretra ( internal uretrotom,
uretroplasti
 Orchiopexy  Future numbering for malignansi (6 bl –
1th)
Klasifikasi didasarkan pd beratnya abnormalitas dan
prognosis :
Klas I : Poor infant survival
Klas II : Moderate impairment
Klas III : Mild defect, good long term survival.
JEF/99/75
WILM’S TUMOR
Adeno sarcoma
Nefroblastoma
Embrioma
Karsino sarcoma
Adenomio sarcoma
Frekuensi :
Bayi – anak  90 % pd usia < 7 tahun
Terbanyak pada usia 3 tahun
Etiologi :
Asal metanefrik blastema
Genetik ikut berperan, namun ragu sebagai kongenital
Berhubungan dgn sindroma :
Trisomi 8
Trisomi 18
Turner’s sindrome
Pseudohermaphroditism
Kadang-2 aniridia, hemihipertropi
Pathologi :
Umumnya besar, soliter, coklat, gambaran seperti daging
7 % kasus bilateral
Diameter  daerah hemorhage & nekrosis sentral
Klasifikasi histologis (NWTS) menurut prognosis :
Favorable
Unfavorable
Unfavorable subgroup terdiri dari  3 tipe
1. Anaplastik : mitosis abnormal & nukleus picnotic, dapat
focal atau difuse
2. Rhabdoid tumor : prognosis paling jelek, berhubungan
dgn pemisahan tu CNS, metastase ke otak
3. Clear cel sarcoma : spindel cells, metastase ke tulang
Staging :
Stad I : Tumor terbatas dalam kapsul ginjal. Reseksi
operaasi komplit.
Stad II : Tumot meluar keluar ginjal tapi kompletly
removed. Mungkin terdapat lokal spillage atau trombus
tumor pd vena renalis. Residual tumor pd margin eksisi (-).
Stad III : Residual tumor pd operasi dgn
kontaminasi/spillage pd peritoneum dan abdomen. Lnn + pd
hilus atau periaorta. Tumor melewati margin operasi.
Stad IV : Metastase hematogen : paru, liver, bone & brain
Stad V : Bilateral renal lesion
Klinis:
 Sign-simptom : Asimtomatic mass (>>>), abdominal
pain, distensi, anorexia, mual & muntah, febris,
hematuria. Hipertensi 25-60 % o/k renin |.
 Lab : Anemia, hematuria
JEF/99/76
 X-Ray : IVU distorsi PCS & pembesaran ren,
kalsifikasi perdarahan dl tumor, fungsi ren.
 Renal arteriografi bila tumor bilateral/ horseshoe k.
 Thorax :  deteksi metastase.
 USG  men-dd/ dgn lesi jinak ginjal
 CT-scan/ MRI : extensi tumor ke v. renalis, v.cava.
 Bone scan  curiga metastase ke tulang, tu clear cell
Ca.
 Biopsi preoperatif  indikasi bila tu terlalu besar, pre
operatif citostatika atau th/ radiasi
DD :
Hydronefrosis & kistik kidney.
Neuroblastome : biasanya muncul dari adrenal gland or
paraspinal ganglion, melewati midline, kalsifikasi >>. Tumor
marker : VMA (vanillylmandelic acid) & other katekolamin.
Penanganan :
1. Surgical :
- Unilateral & tdk melewati grs tengah atau
mengenai organ visceral
- RPLND tdk dianjurkan
- U/ staging  biopsi Ln
- Hindari spillage ginjal diangkat bersama dgn
fascia gerota & perinefrik fat
- Approach : transabdominal/ torakoabdominal,
alasannya :
- Memungkinkan reseksi terhadap tu/ primer
- Explorasi u/ metastase
- Pemeriksaan ren kontralateral.
2. Radioterapi :
- Wilm’s tu  radiosensitif
- Direkomendasikan pd yg Unfavorable stadium
apapun dan untuk penyakit stadium IV
- Usia > 1 th : 2000 rad, mulai 1 – 3 hari post op.
- Usia < 1 th : total 1000 rad
3. Kemoterapi :
Wilm’s tu  kemosensitif :
- Actinomicin D : 0,015 mg/kg/hari
- Vincristine : 1,5 mg/m2LDT/minggu
- Doxorubicin
- Cyclophosphamide
- Cisplatin
- Adriamicin : 0,6 mg;kg/hari max
JEF/99/77
JEF/99/78
Ektopik & kriptorchismus.
Ektopik disebabkan o/ koneksi yg abnormal dari ujung
distal gubernakulum testis sehingga menyebabkan posisi
gonad tidak normal.
Tempat ektopik adalah :
1. Superfisial inguinal  paling sering.
2. Perineal.
3. Femoral atau crural  pada scarpa’s triangel
4. Penil  dibawah kulit dorsum penis.
5. Transverse atau paradoxic descent  pada canalis
inguinalis yg sama
6. Pelvik.
Kriptorkismus  testis berhenti secara tidak normal pada
tempat turunnya. Sering unilateral.
Pada bayi prematur  insiden 30 %
Causa :
-Abnormalitas gubernakulum testis
-Intrinsik testicular defect  testis tidak sensitif terhadap
gonadotropin
-Defisiensi stimulasi hormon gonadotropin
Klinis :
-Skrotum tidak berisi testis
-Infertil
-Skrotum yg terkena  atropi
-Testis teraba tidak pada tempatnya
-Sering disertai dengan hernia pada sisi yg terkena
Lab.:
Pada hipogonadisme primer  gonadotropin urin (FSH)
|, Androgen sedikit berkurang
Pada hipopituitarisme primer  Androgen dan
gonadotropin hipofise sangat berkurang.
Pada kriptorkismus bilateral primer  androgen dan
gonadotroopin hipofise sedikit berkurang.
Test hCG : ukur kadar testosteron serum, lalu berikan
hCG 2000 unit/ hari selama 4 hari. Hari ke 5 periksa
ulang kadar testosteron serum. Bila testis ada 
kadar testosteron meningkat 10 kali.
X-Ray :
-Selective gonadal venography  plexus pampiniformis
CT-Scan :
-Efectif pada penderita yg dewasa
USG :
-Untuk canalis inguinalis hasilnya cukup baik.
-Untuk rongga pelvis hasil kurang memuaskan.
MRI :
-Hasilnya cukup memuaskan, tapi sulit dikerjakan pada
anak
Komplikasi :
-Hernia inguinal  25 %
JEF/99/79
-Torsio testis
-Cancer  35 – 38 kali lebih sering (seminoma >>)
Biasanya usia > 10 tahun.
Terapi :
1. Terapi hormonal :
Diberikan pada usia sebelum 5 tahun.
Diberikan hCG, 1500 U/m
2
/ i.m.  3 x seminggu.
-diberikan 9 dosis.
-dapat juga diberikan LH-RH
-pada bilateral hasilnya lebih baik
2. Surgical :
Gagal terapi hormonal
Menmpatkan testis ke dalam skrotum  sebelum usia 1
tahun (belum ada perubahan histologik)
Orkhiopeksi & herniorafi  preservasi vasculer pedicle
Prognosis :
Unilateral 20 % menjadi infertil
JEF/99/80
Carcinoma Buli.
Faktor peningkat resiko :
1. Bahan pewarna : naphtylamin dan benzidin
2. TAR dalam tembakau
3. Pemanis sintetis : Sodium siklamat, sodium sakarin
4. Skistosomiasis
5. Infeksi / iritasi kronis buli
6. Analgetikum : phenacetin
Klinis :
Keluhan : hematuri (gross) tanpa nyeri dan berulang
Disuria yg lama dan berulang
Retensio urin karena klot
PF. : Massa suprasimpisis atau pada RT
Hidronefrosis
Anemia
Lab. :DL, UL, Cultur dan citologi, RFT, LFT,FH.
Bahan urin  setelah jogging / melompat
Penilaian sitologi  sistim Broder
JEF/99/81
Tumor testis
- Insiden 1 – 2 % dari semua Ca pd pria
- Faktor resiko :
- Kriptorkismus
- Genetika
- Trauma
- Atropi
- Infeksi
Klasifikasi :
A. Gernminal sel ;
1. Seminoma : - Klasik
- Anaplastik
- Spermatositik
2. Nonseminoma :
- Embrional (20 %)
- Teratoma (5 %)
- Terato Ca. (40 %)
- Chorio Ca, (<3 % )
3. Campuran
B. Non-Germinal sel :
1. Dari interstitial sel
2. Dari sel gonad
Metastase :
- limfogen
- Kkecuali chorio Ca  hematogen
- Saat diagnosis dibuat  40 – 50 % meta (+)
- Regional : para aorta  duktus thoracikus 
medistinum  supra clavikula
Dex : ke KGB inter aortocaval level hilum 
precaval, preaorti, para caval, ilium communis dan
iliaka eksterna dex.
Sin. : ke peri aortik level hilum (s)  advance :
preaortic iliaka communis & iliaka eksterna sin.
Tumor Marker :
Tujuannya :
- Diagnosis
- Stadium
- Evaluasi terapi
- Prognosis
1. Alpha Feto Protein :
Diproduksi oleh : Yolk sac, hepar & GIT
AFP À pada Ca embrional, teratoma
2. Beta HCG :
Diproduksi oleh tropoblas
JEF/99/82
Beta HCG À : choriio Ca, Ca embrional (40 – 60 %),
Seminoma (5 – 10 %)
3. Lactic acid dehidrogenase (LDH)
Seminoma & chorio Ca  AFP dbn
Klinis :
- Asimtomatik : 10 %
- Pembesaran testis  painless
- Back pain  metastase ke retroperitoneal
- Anoreksia, nusea
- Bone pain
- Masa kenyal yg bebas dari testis
- Ginekomastia :5 %
Clinacal Staging :
1. Beden & Gibb :
A. Stad. A  lesi terbatas pada testis
B. Stad. B  Penyebaran KGB regional
B1 : RPLN C < 5 cm
B2.: RPLN C 5 – 10 cm
B3 : RPLN > 10 cm
C. Stad. C  diatas RPLN
2. MD. Anderson :
A. Stad. I : terbatas pd testis
B. Stad. II : metastase ke RPLN
IIa : C < 10 cm
Iib : C > 10 cm
C. Stad III : KGB supradiafragma &/ visceral
3. TNM sistem :
T1 : terbatas pada testis
T2 : melewati tunika albuginea/ ke epididimis
T3 : Kena funikulus spermatikus
T4 : kena skrotum
N1 : mikroskopis  KGB (+)
N2a : KGB < 5 nodus / <2 cm
N2b : KGB > 5 nodus/ > 2 cm
N3 : invasi ekstra nodul
N4 : unresectable ROLN meta
Terapi :
1. Low-Stage Seminoma : (I – IIa)
- Radical orchidectomi
- Radiasi RPLN : 2500 – 3000 rad/3 minggu
2. High-stage seminoma (Iib – III) :
- chemoterapi : PVB (platinum – vincristin –
bleomicin)
3. Low-stage nonseminomatous germ cell :
Stadium A : Orchidektomi + RPLND
JEF/99/83
4. Hig-stage non seminoma germ cell tomur :
Orchicdektomi + kemoterapi
JEF/99/84
UROLITIASIS
Evaluasi px/ urolitiasis :
IVP : Conformasi Dx/
Ukuran & posisi batu
Derajat Obstruksi
UL : RBC & Cristal
Cultur : Bacterial infection &
Management Px/
SC : Data dasar
As. Urat  hyperuricemia
Related to stone problem
Elektrolit  Screening test u/ RTA type I  hipercloremic
acidosis
Ca. Serum (3x)  Deteksi hiperparatiroid (>10,1 mg %)
Fosfor serum  Dx/ hiperparatiroid (pd level yg renndah)
Batu cystein dan asam urat :
Urin  pH sekitar 5,5 atau |
Batu Ca. Fosfat :
PH urin  Alkaline side of 6,5
Batu infeksi (struvit) :
Urea splitter  amonium  PH urin  Alkaline –
endapan/ medium
 AB pre Op dan post Op diberikan s/d cultur urine
negatif, bila tidak batu akan cepat muncul lagi.
Teori pembentukan batu :
1. Nucleation theori :
Pembentukan batu diawali oleh adanya kristal atau
foreign body dlm urin supersaturasi.
2. Stone matrix theori :
- Bahan organik serum
- Protein urin : albumin, globulin, glikosaminoglikan
 kerangka u/ deposisi kristal
3. Inhibitor of crystalization theori :
Bahan-bahan tertentu dalam urin dapat menghambat
pembentukan kristal :
Mg, Fosfor, Citrat, fosfocitrat, Mucoprotein, RNA,
glikosaminoglikan.
4. Status metabolisme Aquired or genetic
5. Faktor lingkungan  supersaturasi urin
6. Dietary excess
7. Abnormalitas anatomi
Gx/ dan tanda batu TU :
1. Batu Calix :
- Kecil  nonobstruksi  asimtomatis
JEF/99/85
- Gross hematuria
- Flank pain
- Recurrent infection
2. Renal pelvic stone :
- Nyeri flank atau CVA
- Infected  sepsis
- Obstruksi  pyelonefritis
3. Proximal ureter :
- Nyeri spamodic, tajam, acut  di daerah flank
- Radiating to abdominal area
- Mual dan muntah.
4. Distal ureter :
- Kolik yg menjalar ke inguinal, testis/ labia
Radiologis :
- 90 % radioopage
- Calsium fosfat  paling radioopage ~ tulang
- Calsium oxalat  sedikit kurang opage
- Mag. Amonium Fosfat (struvit)
- Cystein
- As. Urat & xanthine  paling radioluscent
Batu Calsium:  tidak larut.
- calsium fosfat Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
- Calsium oxalat  80 %
- campuran
Laki-laki 3 x lebih sering
Jenis batu ginjal yang paling sering
Citrat urin  inhibitor cristalisasi kalsium
 bila kadar  (<300 mg/hr)  stone formation
Sreening Bila kadar calsium serum   cek paratiroid H.
a. Fasting and calsium loading test.
Periksa kadar calsium dan creatin dalam urin puasa
(10jam). Lalu diberi loading calsium glukonas 1 grm/oral 
periksa kadar calsium& creatinin post loading Cal.glukonas.
Normal = ratio Ca : creatini puasa < 0,11
Ratio > 0,11  renal hipercalciuria.
Rasio Ca : creatini post loading > 0,2  absorbtif
hipercalsiuria.
Bila pH urin puasa > 5,3  renal tubular asidosis
Hipercalciuria : > 300mg/hari  tanpa diet.
Absorbsi calsium : duodenum dan jejenum.  dipengaruhi
oleh Vit. D dan calsium binding protein.
Absorbtif hipercalsiuria :
Perubahan respon usus terhadap vit. D  absorbsi
calsium maningkat.
Renal hipercalciuria :
JEF/99/86
Calsium loss via urin  kadar calsium plasma rendah
 stimulasi sekresi hormon paratiroid  sintesis vit. D
meningkat dan absorbsi calsium dari GIT meningkat,
resorbsi tulang meningkat. Kadar calsium urin puasa
tidak turun.
Th/ : Thiazide  meningkatkan resorbsi calsium di
tubulus distal  eksresi calsium ke
dalam urin turun.
Resorbtif hipercalciuria :
Jarang, biasanya disebabkan oleh :
- Hiperparathiroidisme  stimulasi bone destruksi,
meningkatnya absorbsi calsium usus.
- Cushing disease.
- Bone metastase
- Prolonge immobilization.
Kelainan metabolik yang berkaitan dengan Batu Calsium :
1. Sarcoidosis : sensitifitas epitel usus terhadap vit. D
meningkat  hipercalsiuria
Th/ ; Cortikosteroid.
2. RTA : yaitu RTA tipe I.
Autosomal dominan
70 % membentuk batu kalsium
70 % female
Persisten metabolic acidosis
Bicarbonat serum turun, calsium serumturun
Sitrat urin turun, Alkalin fosfat serum naik, hipercalciurin
 membentuk batu.
Cystine Stone :
-cystinuria
-family history of recurrent stone
-early onset
-UL : acid, hexagonal cystine crystal
Medical th/ :
+ Hidrasi
+ Alkalinisasi urin : Bic Nat 15 – 20 grm/ hari
Sodium potassium citrat solution 10 –
15 cc/ 4x/ hari
+ Cystine binding drugs :
Penicillinamine
Alfa-mercaptopropionylglycine
+ Retriksi methionine
Struvit Stone :
+ Berkaitan dengan UTI kronis
+ 15 – 20 % dari batu urin
+ Terdiri dari Magnesium Amonium fosfat
(MgNH4PO4.6H2O)
+ Infeksi disebabkan oleh Urea-spliiting bacteria :
Proteus, Pseudomonas, Klebsiella, Stafilokoccos.
JEF/99/87
+ Urin infeksi oleh bakteria spliiter.  :
 Urin supersaturasi terhadap Mg, Nitras, fosfat,
carbonat apatite
 Urin menjadi alkalis, pH >7
+ Batu relatif non-opage.
Terapi/ :
Indikasi operasi :
 Recurrent UTI
 Progresif renal damage
 Urinary obstruction
 Persisten pain.
Tujuan Operasi :
+ Mengangkat semua batu
+ Memperbaiki abnormalitas anatomi
+ Membasmi UTI
+ Preservasi jaringan ginjal yang sehat
+ Preventif recurrent UTI & stone formation.
Kontraindikasi ESWL :
- Gemuk/obesitas
- Urosepsis/ infeksi
- Obstruksi bagian bawal
JEF/99/88
DISORDER OF URETER
Congenital : wanita > pria
1. Atresia ureter  bila bilateral : Potter’s syndrome
2. Duplikasi ureter : complete (Y-type) or incomplete
Complete  Weigert-Meyer law :
 Ureter upper segment  muara ke distal 
ektopik
 Ureter lower segment  muara lebih kelateral,
intramural pendek refluk vesicoureter
 Pada wanita  ureter pole atas biasanya ektopik
dgn muara distal dari spincter ekst atau diluar TU
 incontinensia +
 Pada lk  ureter ektopik selalu proksimal dari
spincter eksterna.
3. Ureterocele :
Sacculasi dari bagianterminal ureter :
 Intravesical : single ureter
 Ektopic ureterocele  ureter duplikasi pole atas
 Ektopic 4 x lebih sering intravesikal, >
Ro. : cystic dilatasi & filling defect dalam buli.
Th/ Eksisi ureterocele
Vesical rekonstruksi
Ureteral reimplantasi
4. Ectopic ureter orifice :
Berhubungan dgn ureterocele & duplikasi ureter.
Laki : incontinensia (-), sering epididimitis
Wanita : bisa ke uretra, vagina atau perineum,
incontinensia (+)
Th/ Reimplantasi ureter
Nefroureterectomi
5. Kelainan posisi ureter :
Retrocaval : - upper ureter & renal pelvis
- 1/3 tgh  L3
6. Obstruksi UPJ :
Kelainan ureter yg paling sering
Lk > wanita, kiri > kanan
10 – 15 % bilateral
Causa tidak jelas
Terdapat angulasi & lekukan
Sering  ureter proksimal hipoplastik
Blood vessel of lower pole
 Kongenital :  faktor intrinsik : bisa k/ segmen
ureter yg aperistaltik (tdk ada oto spiral) atau ada
jaringan fibrotik  kegagalan pembentukan
gelombang peristaltik  aliran urine tdk lancar.
Keadaan lain : Katup daerah uretero pelvik atau
adanya arteria abberan yg menyilang lewat
belakang ureter.
JEF/99/89
 Didapat : refluk  ureter kinking, neoplasma
Klinis :
Infant  abdominal mass, gx/ uremia
Children : pain, vomiting, hematuria, infeksi, calculus,
hipertensi.
Dx/ :
IVP  k/p provokasi  diuretik renografi
USG  bila RFT turun & nonvisualized
RPG  bisa memastikan dx/  k/p pasang DJ stent
PNS  sarana dx/ & untuk mengukur tekanan
(Whittaker test) :  larutan NaCl 0,9 % 10 cc/ menit
Non obstruktif : s/d 12- 15 cm H2O
Obstruktif : > 15 cm H2O
Th/ :
Tujuan : menghilangkan sign &symptom
Menyelamatkan fungsi ginjal
Teknik : Pyelouretereo-plasty
Foley Y-V plasty
Pelvic flap procedures
Indikasi : obstruksi pelvis
Infeksi
Kemunduran fungsi
Batu (skunder)
JEF/99/90
BATU URETER
Batu ureter : adanya batu (opaque maupun non opaque) di
ureter (proksimal, tengah dan distal)
PROSEDUR LENGKAP
a. Anamnesa :
- Keluhan utama adalah colik ureter, yaitu nyeri
pinggang mendadak yang sangat hebat kadang-
kadang disertai muntah hilang timbul dan menjalar ke
perut bawah atau kemaluan (testis, ujung penis,
labium mayor) tergantung lokasi batu.
- Riwayat kencing batu dan kencing berdarah disertai nyeri
pinggang.
b
b. Pemeriksaan klinis
- status umum
- status urologis :
- Anamnesa : Flank pain
- Pemeriksaan : Flank mass, nyeri CVA, colok dubur:
untuk membedakan dengan appendicitis (pada
appendicitis, colok dubur akan didapatkan nyeri jam
10.00 – 11.00, sedangkan kolik ureter tidak
didapatkan).
c. Pemeriksaan laboratorium
- Sedimen urine : Eritrosit > 2 l/lpl
- DL, RFT, LFT, Faal Hemotasis
- Kultur urine dan tes kepekaan antibiotika
- Kadar kalsium, phosphat dan asam urat dalam
serum serta ekskresi kalsium, phosphat dan asam
urat dalam urine 24 jam.
d. Pemeriksaan Radiologi
- Foto polos Abdomen : akan nampak gambaran
klasifikasi sepanjang ureter 1/3 proximal, 1/3 tengah
atau 1/3 distal bila batu radio opaque. Batu tidak
nampak bila batu non opaque.
- Pyelografi Intravena (IVP) dengan pemeriksaan ini
dapat diketahui anatomi dan fungsi dari Traktus
Urinarius. Adanya sumbatan karena batu ureter
akan nampak sebagai Hidroureter proximal batu,
Hidronephrosis, delayed function sampai non
visualized.
- Tomogram : bila batu tidak/kurang jelas (semi-
opaque)
- Pyelografi Retrograde (RPG) : Adalah membuat
foto kontras dari ureter, pyelum dan kaliks ureter
yang dipasang dengan bantuan sistoskop. RPG
dikerjakan bila IVP belum cukup jelas (misalnya
JEF/99/91
terdapat tanda obstruksi tetapi penyebabnya belum
jelas), atau IVP tidak dapat dikerjakan dan sarana
lain dapat membantu diagnosa.
- Pyelografi Antegrade (APG) : Berlawanan dengan
pyelografi retrograde maka pada APG kontras
dimasukkan melalui saluran ke kaliks (nefrostomi)
yang telah dibuat.
- Foto Thoraks
- USG / renogram : bila ginjal non visualized
e. Pemeriksaan penunjang lain :
- Gula darah puasa
- Gula darah 2 jpp
- ECG
PENATALAKSANAAN
Terapi operatif batu ureter tergantung pada lokasi batu,
dibagi menjadi batu ureter 1/3 proksimal, batu ureter 1/3
tengah dan batu ureter 1/3 distal.
Ureterolithotomi : operasi pembedahan untuk mengambil
batu ureter.
Nephrostomy Percutan (PNS) :
Adalah membuat lubang yang menghubungkan pelvis kalik
sistem dengan dunia luar. Tujuannya untuk diversi urin bila
sumbatan ureter tidak dapat segera diatasi.
Ureterorenoscopy (URS) :
Adalah mengambil / memecahkan batu ureter dengan alat
ureteronoscope yang dimasukkan lewat muara meter
dengan bantuan cytoscope.
PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Ureterolithotomi proksimal
Alat :
-Meja operasi
- Lampu operasi besar dan kecil (satelit)
- Meja instrument
- Lampu baca foto
- Anesthesis set
- Suction set
- Coagulation set
- Baju operasi
- Klem desinfeksi 1 set
- Linen set
- Mess No. 20 & No. 15 masing – masing 1 buah
- Hand pack mess 2 buah
- Pinset anatomis & chirurgie masing–masing 2
JEF/99/92
- Dock klem 7 buah
- Klem mosquito 2 buah
- Hak tajam 2 buah
- Hak tumpul 2 buah
- Timan besar dan kecil masing – masing 2 buah
- Spreader finochietto 1 buah
- Ring tang 2 buah
- Massenbaum 1 buah
- Red angel besar & kecil masing – masing 1 buah
- Teugel Nelaton No. 12 atau 14
- Kocher 2 buah
- Stein tang 1 buah
- Naalvoelder 1 buah
- Steel deppers 1 buah
- Jarum jahit (cutting & round)
- Benang : - Dexon 4-0 : 2 buah
- Catgut plain 2-0 : 1 buah
- Vicryl 1-0 : 2 buah
- Zeyde 3-0 : 2 buah
-Maagslang No. 8 : 1 buah
- Handscoen sesuai ukuran : 4 pasang
- Redon drain set
- Kasa steril set
- Kasa steril
- Cucing, bengkok
Teknik Operasi :
- Sebelum dilakukan operasi foto BOF pre operatif (1
jam sebelum operasi)
- Pasang dauer kateter 16 Fr dan urobag
- Pasang foto-foto (BOF/IVP) di light box
- Setelah dilakukan anesthesi, pasien diletakkan dalam
posisi lumbotomi dengan sisi yang ada batu diatas.
- Dilakukan desinfeksi dengan larutan Povidone Iodine
mulai dari papilla mammac-umbilikus-collum vertebra-
simphisis pubis.
- Persempit lapangan operasi dengan dock steril
- Insisi kulit mulai ICS XI kearah umbilikus ± 10 cm lapis
demi lapis sambil merawat perdarahannya. (Struktur
yang diinsisi : kulit, lemak subcutis, MOE, MOI in
transversus abdominis). Buka fascia m. lumbo dorsalis
agak ke posterior ± di posterior axillary line (agar tidak
merobek peritoneum) sepanjang ± 1-2 cm, pisahkan
peritoneum dengan steel doppers kearah medial,
setelah peritoneum terpisahkan, perlebar insisi sesuai
dengan insisi diatasnya.
- Pasang spreader
- Cari ureter dengan cara buka fascia gerota yang
terletak didepan muskulus ilco psoas dgn ciri :
- berupa saluran warna putih
- tidak berdenyut
JEF/99/93
- berjalan bersama dgn a. spermatika in-terna pd laki
atau a. ovarica pd wanita.
- Teugel ureter dengan nelaton kateter no. 8 di
proksimal batu.
- Raba batu dan bersihkan ureter
- Insisi ureter dgn mess No. 15 tepat didaerah batu
- Keluarkan batu dengan stein tang
- Evaluasi cairan/urine yg keluar dari ureter (jernih)
- Lakukan sondage ke arah distal dan proksimal
- Bila sondage lancar lakukan spoeling
- Tutup ureter yang diinsisi dengan Dexon 4-0 secara
jelujur
- Cuci lapangan operasi dengan PZ berkali-kali
- Evaluasi lagi adanya perdarahan
- Pasang redon drain di retro peritoneal
- Tutup lapangan operasi lapis demi lapis
2. Ureterolithotomi batu ureter tengah dan distal
- BOF pre operasi
- Posisi pasien telentang
- Pasang dauer kateter No. 16 Fr dan urobag
- Insisi Gibson yaitu mulai 2 jari medial SIAS kearah
simphisis pubis ± 8-10 cm lapis demi lapis dan rawat
perdarahan. MOE, MOI di split sesuai seratnya
- Sisihkan peritoneum kearah medial
- Identifikasi ureter dan raba batu
- Teugel ureter dengan Nelaton kateter di proksimal
batu
- Bersihkan ureter dari jaringan peri ureter, insisi ureter
di tempat batu, perhatikan urine yang keluar (jernih,
pus).
- Keluarkan batu dengan stein tang
- Sondage dan spoeling ureter distal dan proksimal
dengan PZ
- Jahit ureter dengan Dexon 4-0 secara jelujur
- Cuci lapangan operasi dengan PZ dan rawat
perdarahan
- Pasang redon drain dan fiksasi di kulit dengan zeyde
2-0
- Tutup lapangan operasi lapis demi lapis.
3. ESWL : memecah batu ginjal dengan gelombang
kejut dari luar tubuh penderita
4. URS
C. PERAWATAN PASCA OPERASI
1. Di Rumah Sakit :
- Kateter dilepas setelah 1 hari paska operasi
- Vaccum drain tiap hari
JEF/99/94
- Rawat luka mulai 3 hari paska operasi dan ganti
kasa tiap hari
- Aff redon drain pada hari ke 5 dan bila produksinya
< 10 cc/hari selama 2 hari.
- Batu dianalisa bila hasil sudah ada konsult Bagian
Gizi
2. Di Poliklinik Urologi
- Rawat luka, angkat jahitan pd hari ke 10 – 14
- Evaluasi UL, DL dan Kultur urine, bila ada tanda-
tanda ISK berantas dengan antibiotika sesuai
dengan uji kepekaannya
- Cegah/hilangkan faktor predisposisi timbulnya batu
lagi
- Evaluasi BOF/IVP 6 bulan paska operasi
- Minum banyak (>3 l/hari) dan aktif berolah raga.
JEF/99/95
BATU BULI-BULI
Batu buli-buli adalah batu baik opaque maupun non opaque
yang berada di buli-buli
DIAGNOSIS
a. Anamnesa : Hematuria baik mikroskopik/ makroskopik,
disuria karena infeksi, demam disertai menggigil,
dapat juga terjadi retensi urine bila batu menyumbat
leher buli atau dapat tanpa keluhan (“silent stone”).
b. Pemeriksaan Klinis :
1. Status umum
2. Status urologis :
-inspeksi : suprapubik dapat terlihat menon jol bila
retensi urine
-palpasi : suprapubik menonjol atau teraba keras
bila batu sangat besar
3. Rectal toucher : teraba batu bila batunya sangat
besar
c. Pemeriksaan laboratorium :
- Darah lengkap
- Urine lengkap
- Faal haemostasis
- Faal hati & faal ginjal :
- Urine kultur dan sensitivity test
- Kalsium, phosphat, asam urat dalam darah
- Eskresi kalsium, phosphat, asam urat dalam urine
tampung 24 jam

d. Pemeriksaan foto radiologis :
- Foto polos abdomen (BOF) + Fotot Thorak
- Intravena pyelografi (IVP)
- Ultrasonografi (USG), bila dicurigai batu non opaque
e. Pemeriksaan penunjang lain :
c - ECG
d - Sistoskopi bila dipandang perlu
PROSEDUR PENATALAKSANAAN
1. Vesicolithotomi adalah tindakan bedah untuk
mengeluarkan dari vesika urinaria
2. Lithotripsi adalah tindakan penghancuran batu buli – buli
secara endoskopik dengan lithotriptor
3. Trokar lithotripsi adalah tindakan pengeluaran batu di
buli-buli pada anak-anak yang besarnya < 10 mm,
dengan kombinasi endoskopik dan trokar.
Vesikolitotomi
Indikasi :
- batu buli-buli dengan C > 2 cm
JEF/99/96
- batu buli-buli yang tidak dapat dipecahkan dengan
lithotriptor
- batu buli-buli multiple
Alat :
- baju operasi steril ( operator/asisten/instrumen )
- sarung tangan steril
- doek steril
- doek klem
- khrom klem
- gunting
- naald voerder
- pinset anatomis dan chirurgis
- kocher klem
- spreader 9 ( millin’s )
- steen tang
- blaas spuit
- folley kateter F 16
- urobag
Persiapan Operasi :
- Persetujuan operasi
- Puasa
- Antibiotika profilaksis
Teknik Operasi :
1. Posisi pasien tidur terlentang dengan GA
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone
jodine (paha atas ; genitalia eksterna, prosesua
xyphoidius).
3. Persempit lapangan operasi dengan doek steril
4. Insisi kulit midline, mulai 2 jari diatas simphisis ke arah
umbilikus 10 cm, lapis demi lapis sampai fascia
anterior muskulus rektus abdominis.
5. Muskulus rektus abdominis dipisahkan secara tumpul
pada linea alba
6. Pasang spreader millin’s dan sisihkan pre vesikal fat
kearah kranial
7. Dilakukan identifikasi buli (warna kebiruan, banyak
pembuluh darah dan punksi keluar urine)
8. Teugel buli dengan chromic catgut 1-0 pada sisi
kanan-kiri
9. Insisi buli dengan punch mesch dan perlebar secara
tumpul dengan chrome klem.
10. Raba batu dengan jari, kemudian keluar kan batu
dengan stain tang (perhatikan jumlah, ukuran dan
warna)
11. Setelah batu keluar spoelling buli dengan PZ (3x),
kemudian evaluasi mukosa buli (tumor, divertikel),
muara ureter kanan-kiri (batu dan ureteric jet)
12. Pasang kateter F 16 sampai tampak ujung kateter di
buli-buli kemudian spoelling PZ dengan blaas spuit.
JEF/99/97
13. Jahit buli-buli 2 lapis, mukosa muskularis dengan plain
catgut 3-0 secara jelujur, tunika serosa dengan Dexon
3-0.
14. Test buli-buli untuk evaluasi kebocoran dengan
memasukkan PZ 250 cc lewat kateter, bila tidak ada
kebocoran isi kateter dengan air steril 10 cc.
15. Cuci lapangan operasi dengan Betadine dan PZ
16. Pasang redon drain peri vesikal dan fiksasi pada kulit
17. Tutup lapangan operasi lapis demi lapis, muskulus
rektus abdominis dengan Dexon 1-0, fascia anterior
muskulus rektus abdominis dengan Dexon 1-0,
subkutan dengan plain catgut 3-0, kulit dengan Zeyde
3-0.
Lithotripsi
Indikasi :  Batu buli simple dengan ukuran <2,5 cm
Alat :
- Alat untuk irigasi dan slang steril
- Sumber cahaya dan kabel fibre optic
- Busi roser 18 s/d 27 Fr
- Sistoskopi set dengan sheath 25 Fr dan teleskop 30
º dan 70 º
- Ellik Evacuator
- Alat lithotriptor mekanik :
+ Alligator lithotrite, untuk batu dengan ukuran panjang
C terpendek max. 1½ cm.
+ Hendrickson type lithotrite, untuk batu dgn ukuran
panjang C terpendek max. 2½ cm
+ Peralatan desinfeksi
+ Skort serta doek dan baju operasi steril
Persiapan :
- Puasa, antibiotika profilaksis injeksi, 1 jam sebelum
tindakan
- Tindakan dilakukan dengan bantuan anestesi umum
atau spinal
Teknik operasi untuk batu < 1,5 cm :
1. Posisi lithotomi
2. Tindakan aseptik
3. Kalibrasi/dilatasi uretra dgn roser sampai 27 Fr
4. Panendoskopi untuk diagnosa
5. Teleskop dan bridge dilepas
6. Buli diisi irigan sampai penuh, pasang Aligator lithotrite
dengan teleskop 30º mulai lithotripsi.
7. Lithotripsi dihentikan kalau ukuran fragmen sudah
dapat melewati sheath
8. Evakuasi fragmen dengan ellik evakuator
9. Sistoskopi melihat apakah batu sudah keluar semua
dan mengetahui adanya komplikasi tindakan.
10. Keluarkan lithotriptor dan keluarkan sheath dengan
sebelumnya memasang obturator.
11. Pasang folley kateter F 16
JEF/99/98
12. Kateter dicabut setelah 24 jam, KRS.
Teknik Operasi untuk batu < 2,5 cm :
1. Posisi lithotomi
2. Tindakan aseptik
3. Kalibrasi atau dilatasi urethra dengan roser sampai 27
Fr
4. Panendoskopi untuk diagnosa
5. Teleskop dan bridge dilepas
6. Buli diisi irigan sampai penuh
7. Set panendoskopi dikeluarkan semuanya
8. Masukkan lithotriptor type Hendrickson dengan
teleskop 70º, mulai lithotripsi
9. Lithotripsi dihentikan kalau ukuran fragmen sudah
dapat melewati sheath 25 Fr, kemudian lithotriptor
dikeluarkan.
10. Masukkan sistoskopi sheath 25 Fr. Evakuasi fragmen
11. Panendoskopi
12. Kalau masih ada fragmen yang tidak bisa di evakuasi
ulangi lithotripsi dengan menggunakan alligator.
Trokar Lithotripsi
Indikasi :
Batu buli pada anak dengan ukuran < 10 mm
Alat :
- Alat untuk irigasi & slang yang sudah di sterilkan
- Sumber cahaya dan kabel fibre optic
- Set sistoskopi pediatri
- Set sistoskopi dgn sheath 21 Fr & teleskop 30 º
- Trokar champbell untuk fungsi sistostomi suprapubik
- Amplats 28 Fr / 30 Fr
- Peralatan desinfeksi
- Skort serta doek dan baju operasi steril
Persiapan :
- Puasa, antibiotika profilaksi 1 jam sebelum tindakan,
tindakan dengan bantuan
- Anestesi umum
Teknik Operasi :
1. Posisi lithotomi
2. Tindakan antiseptik
3. Panendoskopi untuk diagnosa dgn sistoskopi anak
4. Buli diisi irigan sampai penuh semaksimal mungkin
sampai teraba pada supra pubis
5. Lakukan insisi longitudinal sepanjang 1,5 sampai
dengan 2 cm sampai menembus linea alba pada jarak
2,5 cm dari suprapubik di garis mediana.
6. Lakukan punksi sistostomi dengan trokar campbell
yang sudah dipasangi amplatz. Daerah punksi
dipastikan dengan melihat dinding anterior buli yang
terdorong oleh ujung trokar.
JEF/99/99
7. Setelah trokar berhasil masuk amplatz didorong ke
dalam buli dan setelah kelihatan amplastz dalam buli
(secara endoskopis) baru trokar dapat dicabut.
8. Lubang luar amplatz ditutup dengan jari dan ujung
amplatz yang berada dalam buli diusahakan agar
dapat dimasuki batu.
9. Buli-buli diisi maksimal dengan cairan irigan, setelah
penuh dilakukan penekanan yang gentle pada
abdomen pada abdomen pada saat bersamaan jari
yang menutup amplatz dilepas . Dengan manuver ini
diharapkan batu akan ikut keluar bersama cairan
irigasi.
10. Buli dikosongkan
11. Pasang kateter urethra
12. Bekas luka sistostomi dibiarkan terbuka, kalau perlu
hanya dilakukan oposisi kulit
13. Kateter dibuka setelah 48 – 72 jam
14. Anak kencing spontan  KRS
PERAWATAN PASCA OPERASI
1. Di Rumah Sakit :
- Vesikolithotomi, pelepasan kateter setelah 7 – 10 hari
dan pelepasan redon drain bila dalam 2 hari berturut –
turut setelah pelepasan kateter produksinya < 20 cc/24
jam.
- Lithotripsi, pelepasan kateter setelah 24 jam, kecuali
bila pada waktu operasi terjadi lesi pada buli dapat
diperpanjang sampai 5 hari.
- Periksa analisa batu, untuk menentukan diet-nya
setelah dikonsulkan kepada ahli gizi.
2. Di Poliklinik Urologi :
- Pasca operasi kontrol 2 minggu, kontrol beri-kutnya
tiap 3 bulan
- Sistoskopi dilakukan 3 bulan setelah lithotripsi
- Pemeriksaan IVP dilakukan 6 bln setelah operasi
- Setiap kontrol penderita periksa laboratorium (darah
lengkap, urin lengkap, faal ginjal, urin kultur dan
sensitivity test).
- Usahakan diuresis yang adekuat : minum 2 – 3 l /
hari, sehingga dicapai diurese 1,5 l/hari
- Diet, tergantung dari jenis batunya.
- Eradikasi infeksi saluran air kemih, khususnya untuk
batu struvit.
TRAUMA URETRA
Trauma uretra adalah Trauma mengenai uretra berupa
trauma mengenai uretra berupa trauma tajam, trauma
tumpul atau akibat instrumentasi uretra seperti pemasangan
kateter dan sistoskopi.
DIAGNOSIS
A. Anamnesa :
JEF/99/100
Keluhan Utama :
- Keluar darah lewat uretra
- Tidak bisa kencing
- Hematom urine infiltrat darah uretra / srotum.
Anamnesa kausal :
- Trauma tajam
- Trauma tumpul : : cara terjadi berupa straddle injury
atau fraktur pelvis (bahkan fraktur)
- Trauma akibat instrumentasi uretra berupa
pemasangan kateter atau sistoskopi.
A. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda vital
2. Status umum
3. Status urologis / lokalis
Inspeksi :
- Keluar darah lewat meatus uretra
- Buli-buli penuh
- Hematom/urin Infiltrat darah uretra atau
skrotum
Palpasi :
- Teraba buli penuh
- Pembengkakan di uretra, perineum, dan
skrotum
- Nyeri tekan
Colok dubur :
- Terdapat prostat melayang
B. Pemeriksaan Laboratorium
- Darah lengkap
- Urine lengkap
- Fungsi ginjal
C. Pemeriksaan Radiologis
- Foto polos abdomen / pelvis
- Uretrografi
PENATALAKSANAAN
Sistostomi : adalah tindakan mengalirkan kencing melalui
lubang yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi
urine dan menghindari komplikasi.
Macam Sistostomi :
1. Sistostomi trokar
2. Sistostomi terbuka
Sistostomi Trokar
Alat yang diperlukan :
1. Trokar khusus yang terdiri dari :
A. “Sheath” setengah lingkaran
B. Kanula berlobang (“Hollow Obtutor”)
2. Kateter folley Ch 18 atau 20 F
JEF/99/101
3. Kantong penampung urine (“urine bag”)
4. Sepasang sarung tangan steril
5. Mata pisau berujung tajam lengkap dengan tangkainya
(“handle”)
6. Syringe : 10 ml.
7. “Doek” berlobang ditengahnya, steril.
8. Larutan xylocain 1 %
9. Larutan desinfektan
10. Kasa steril
11. Tang/klem/forceps untuk desinfeksi
Indikasi :
Seperti indikasi sistostomi pd umumnya dgn syarat
- Buli-buli jelas penuh dan secara palpasi teraba
- Tidak ada sikatrik bekas operasi didaerah abdomen
bawah
- Tidak dicurigai adanya perivesikal hematom, seperti
pada fraktur pelvis
Cara Melakukan :
- Penderita diberi penjelasan tentang apa yang akan
dikerjakan padanya & diminta persetujuan tertulis.
- Sebaiknya operator berdiri disebelah kiri penderita.
Cek ulang semua alat dan siap pakai.
- Semua alat yang diperlukan diatur ditempat khusus
dan diletakkan sehingga terjangkau oleh operator.
- Operasi dikerjakan dengan teknik aseptik. Cukur
rambut pubis.
- Daerah operasi desinfeksi dan ditutup dengan “doek”
lubang steril.
- Di daerah yang akan di insisi (2-3 jari) diatas simpisis,
dilakukan infiltrasi anastesi dengan larutan xylocain
linea alba.
- Trokar set, dimana canulla dlm keadaan terkunci telah
pd “Sheath” ditusukkan melalui insisi tadi ke arah buli
dgn posisi telentang miring ke bawah.
- Sebagai pedoman arah trokar adalah tegak miring ke
arah kaudal sebesar 15-30%.
- Telah masuknya trokar ke dalam buli-buli akan
ditandai dengan :
1. Hilangnya hambatan pada trokar
2. Keluarnya urin melalui lubang pada canulla
- Trokar terus dimasukkan sedikit lagi.
- Secepatnya canulla dilepaskan dari “Sheath”nya dan
secepatnya pula foley kateter, maksimal Ch. 20 F,
dimasukkan dalam buli-buli melalui kanal dari “sheath”
yang masih terpasang.
- Pangkal kateter segera dihubungkan dengan “urine
bag” dan balon kateter dikembangkan dengan air
sebanyak kurang lebih 10 cc.
- Sekarang “sheath” dapat dilepas dan kateter ditarik
keluar sampai balon menempel pada dinding buli-buli.
JEF/99/102
- Insisi ditutup dengan kasa steril dan difiksasi kekulit
dengan plester.
Sistostomi Terbuka
Alat yang diperlukan :
Seperti alat-alat pada sistostomi trokar, hanya tidak
memerlukan khusus.
Cara operasi :
- Posisi penderita : Penderita diletakkan dalam posisi
terlentang biasa, kadang diperlukan tambahan
pengangkat sakrum.
- Kulit perut bawah sampai dasar penis, pelipatan paha
kanan dan kiri di desinfeksi dengan larutan povidon
iodine 2-3X.
- Lapangan operasi dipersempit dengan kain steril.
- Dilakukan penyuntikan xilocain untuk anastesi lokal.
Irisan yang digunakan disini adalah digaris median
tegak lurus keatas sampai dibawah pusat. Disamping
itu dikenal beberapa macam irisan yaitu transversal
menurut Cherney.
- Irisan ini mulai dari kulit diperdalam terus menembus
lapisan subcukan, fasia dari muskulus rektus yg digaris
tengah kita namakan linea alba.
- Dilakukan penyisihan lipatan peritoneum diatas buli-
buli keatas. Dalam buli-buli penuh, lipatan peritoneum
ini dengan sendirinya sudah terdorong keatas.
Kedudukan ini dipertahankan dengan meletakkan
kasa basah diatasnya dan menariknya keatas
(memakai retraktor).
- Buli-buli dikenal karena banyak pembuluh darah vena
yang berjalan sebagian besar vertikal.
- Dinding buli disangga dua jahitan yang diletakkan
disisi kanan – kiri dinding buli sebelah depan (dapat
pula digunakan klem dari Allis).
- Untuk meyakinkan dapat dilakukan fungsi buli, bila
ternyata air seni yang keluar melalui tempat fungsi
tersebut diperlebar dengan membuat irisan tempat titik
fungsi tadi selanjutnya diperlebar dengan
menggunakan klem Pean.
- Setelah dilakukan eksplorasi dari buli – buli
dimasukkan kateter foley Ch. 20-24
- Luka buli-buli ditutup kembali dengan jahitan benang
chrom catgut No. 0-2, tidak dibenarkan menjahit
dengan benang yang tidak dapat diserap.
- Bila diperlukan diversi suprapubik untuk jangka lama
maka dinding buli digantungkan di dinding perut
dengan jalan menjahit dinding buli-buli pada otot rektus
kanan dan kiri.
- Luka operasi dijahit lapis demi lapis :
- Otot dengan catgut chromic
- Fasia dengan catgut chromic
JEF/99/103
- Lemak dengan catgut plain
- Kulit dengan benang sutera
- Untuk mencegah terlepasnya kateter maka selain
balon kateter dikembangkan juga dilakukan
penjahitan fiksasi kateter dengan kulit.
PERAWATAN PASCA OPERASI
Perawatan Pasca Operasi
1. Di Rumah Sakit :
Kateter dilepas setelah 5-7 hari bila strikturnya simple, 14
hari apabila strikturnya panjang dan multiple.
2. Di Poliklinik Urologi (VK Sistoskopi)
- Untuk striktur simple : kontrol 2 minggu pasca operasi
untuk test pancaran (Uroflometri), selanjutnya kontrol
setiap 3 bulan.
- Untuk striktura residif, complicated, multiple & panjang
(>1cm) : penderita diajari kateterisasi mandiri (self
kateterisasi), kateterisasi sampai dengan 1 tahun,
residif paling sering terjadi pada tahun pertama.
JEF/99/104
BATU GINJAL
Batu ginjal adalah semua batu baik opaque maupun non
opaque yang berada di ginjal
1. Pielolithotomi adalah tindakan bedah untuk
mengeluarkan batu dari pielum ginjal.
2. Bivalve nefrolithotomi adalah tindakan bedah
untuk mengeluarkan batu baik dari pielum dan kalik
ginjal dengan membelah ginjal menjadi dua sisi
anterior dan posterior.
3. ESWL adalah alat untuk memecah batu ginjal dengan
gelombang kejut dari luar tubuh penderita.
1. Pielolithotomi :
Indikasi :
Batu ginjal yang berada di pielum dengan batu
sekunder yang dapat diambil melalui pielum.
Alat :
- Baju operasi steril (Operator/asisten/ instrumen)
- Handschoen steril
- Doek steril
- Doek klem
- Krom klem
- Gunting Metzenbaum dan gunting drip kasar
- Naald voerder
- Pinset anatomis dan chirurgies
- Kocher
- Spreader Fienochieto
- Stein tang
- Blaas spuit
- Nelaton kateter
- Folley kateter no : 16 F
- Urobag
- Redon drain
- Kateter ureter 6 F
Persiapan operasi :
- Persetujuan operasi
- Puasa sejak malam harinya
- Lavemen
- Profilaksis antiobiotika sesuai kultur.
Tehnik Operasi :
1. Posisi pasien tidur miring sesuai dengan letak batu
pada sisi atas (misalkan batu ginjal kanan, maka
posisi miring kiri, bagian kanan di sebelah atas).
Dengan general anestesi.
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone
Iodine (mulai pada lapangan operasi sampai umbilikus
dibagian depan, linea skapularis belakang dan papilla
mama).
JEF/99/105
3. Persempit lapangan operasi dengan doek steril.
4. Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI
sampai ke arah umbilikus sepanjang lebih kurang 15
cm. Insisi diperdalam lapis demi lapis dengan
memotong fascia eksterna, muskulus intercostalis
dibelakang dan muskulus oblikus abdominis di depan
sampai didapatkan fascia abdominis internus.
5. Fascia abdominis dibuka sedikit, kemudian
peritoneum dilepaskan dan disisihkan penempe-lannya
pada fascia seperlunya (sampai ke tepi luka insisi
kulit ).
6. Dicari fascia gerota dan dibuka dengan dilaku-kan
kauterisasi terlebih dahulu. Fascia gerota dibuka lebih
kurang sepanjang tepi ginjal.
7. Dicari terlebih dahulu ureter pada kutub bawah ginjal
dan diteugel dengan kateter Nelaton. Lemak perirenal
dibersihkan dengan menggu-nakan pinset anatomis &
gunting Metzembaum bila perlu dilakukan kauterisasi
terlebih dahulu.
8. Setelah ginjal telah bebas dari lemak dilakukan fiksasi
ginjal pada kedua kutubnya dengan kasa dan di
identifikasi pielum dengan mencari hubungannya pada
ureter.
9. Pielum dibuka dengan insisi berbentuk huruf “V”,
kemudian batu diluksir keluar dengan menggunakan
stein tang. Batu sekunder yang kemungkinan ada
juga di cari dan diluksir keluar.
10. Dilakukan sondage ureter kebawah dengan
menggunakan kateter ureter dan dipompakan PZ
yang telah dicampur Povidone Iodine secukupnya.
11. Dilakukan pula spoeling ginjal dgn PZ steril saja.
12. Penutupan pielum dijahit dengan Dexon 3.0, jahitan
simpul terputus semua lapisan sekaligus.
13. Cuci lapangan operasi dgn Pov. Iodine dan PZ
14. Pasang redon drain pada fosa renalis.
15. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, muskulus
oblikus abdominis internus dan muskulus oblikus
abdominis transversus jahit satu lapis,muskulus
oblikus abdominis eksternus satu lapis dengan
menggunakan benang Dexon 1.0 secara jelujur
Feston. Lemak subkutan dgn plain catgut 3.0 dan kulit
dengan zeide 1.0
2. Bivalve nefrolithotomi :
Indikasi :
Batu ginjal yang bercabang dan memenuhi seluruh
sistema pelvio kaliseal atau dengan batu sekunder
yang banyak.
Alat :
- Baju operasi steril (Operator/asisten/instrumen)
- Handschoen steril
- Doek steril
JEF/99/106
- Doek klem
- Krom klem
- Gunting Metzenbaum dan gunting drip kasar
- Naald voerder
- Pinset anatomis dan chirurgies
- Kocher
- Spreader Fienochieto
- Stein tang
- Blaas spuit
- Nelaton kateter
- Folley kateter no : 16 F
- Urobag
- Redon drain
- Kateter ureter 6 F
- Es PZ ( normal saline beku ) 2 botol
Persiapan operasi :
- Persetujuan operasi
- Puasa sejak malam harinya
- Lavemen
- Profilaksis antiobiotika sesuai kultur.
- General anestesi
Tehnik Operasi :
1. Posisi pasien tidur miring sesuai dengan letak batu
pada sisi atas (misalkan batu ginjal kanan, maka
posisi miring kiri, bagian kanan disebelah atas).
Dengan general anestesi.
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone Iodine
(mulai pada lapangan operasi sampai umbilikus
dibagian depan, linea skapularis belakang dan papilla
mama).
3. Persempit lapangan operasi dengan doek steril.
4. Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI
sampai ke arah umbilikus sepanjang lebih kurang 15
cm. Insisi diperdalam lapis demi lapis dgn
memotong fascia eksterna, muskulus intercostalis
dibelakang dan muskulus oblikus abdominis depan
sampai didapatkan fascia abdominis internus.
5. Fascia abdominis dibuka sedikit, kemudian peritoneum
dilepaskan dan disisihkan penem-pelannya pada
fascia seperlunya ( sampai ke tepi luka insisi kulit ).
6. Dicari fascia gerota dan dibuka dengan dilaku-kan
kauterisasi terlebih dahulu. Fascia gerota dibuka lebih
kurang sepanjang tepi ginjal.
7. Dicari terlebih dahulu ureter pada kutub bawah
ginjal dan diteugel dgn kateter Nelaton. Lemak
perirenal dibersihkan dgn menggunakan pinset
anatomis dan gunting Metzembaum bila perlu
dilakukan cauterisasi terlebih dahulu.
JEF/99/107
8. Setelah ginjal telah bebas dr lemak dilakukan fik sasi
ginjal pd kedua kutubnya dgn kasa basah.
9. Dipisahkan pada daerah pedikel ginjal antara pedikel
dengan ureter/pielum
10. Pedikel ginjal (tidak termasuk ureter) di klem dengan
klem non traumatis menggunakan Satinsky klem.
Kemudian ginjal didinginkan dengan memakai es PZ
secukupnya. Klem Satinsky harus dibuka tiap 30
menit.
11. Kapsula renalis dibuka tepat pd tepi lateral ginjal
12. Dilakukan pengirisan pada Broder’s line sepan-jang
tepi ginjal pada daerah korteks sampai mencapai
daerah sistema pelvio-caliceal.
13. Batu diambil dengan menggunakan stein tang. Batu
sekunder yg kemungkinan ada juga dicari dan diluksir
keluar.
14. Dilakukan sondage ureter kebawah dengan
menggunakan kateter ureter dan dipompakan PZ yg
telah dicampur Pov. Iodine secukupnya.
15. Dilakukan pula spoeling ginjal dgn PZ steril saja.
16. Sistema pelviokaliseal dijahit dgn menggunakan
Dexon 3.0 serapat mungkin, dgn mengguna-kan
simpul terputus.
17. Korteks dijahit dengan khromik cat gut 2.0 dengan
jarum bulat, jahitan matras.
18. Kapsula renalis dijahit dengan Dexon 3.0 dengan
simpul terputus.
19. Cuci lapangan operasi dengan Povidone Iodine dan
PZ
20. Pasang redon drain pada fosa renalis.
21. Luka operasi ditutup lapis demi lapis,muskulus oblikus
abdominis internus dan muskulus oblikus abdominis
transversus di jahit satu lapis, muskulus oblikus
abdominis eksternus satu lapis dengan menggunakan
benang Dexon 1.0 secara jelujur Feston. Lemak
subkutan dengan plain cat gut 3.0 dan kulit dengan
zeide 1.0.
PERAWATAN PASCA OPERASI
1. Di Rumah Sakit :
- Pelepasan kateter 24 jam setelah penderita siuman
- Pelepasan redon drain bila dalam 2 hari berturut-turut
produksi < 20cc/24 jam.
- Pelepasan benang jahitan selang-seling 4 hari pasca
operasi bila luka operasi kering dan pelepasan
benang keseluruhan 7 hari pasca operasi.
2. Di Poliklinik Urologi :
- Pasca operasi kontrol 2 minggu, kontrol berikutnya
tiap 3 bulan
- Pemeriksaan IVP dilakukan 6 bulan pasca operasi
JEF/99/108
- Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan
laboratorium (darah lengkap, urin lengkap faal
ginjal, urin kultur dan tes kepekaan).
- Usahakan diuresis yang adekuat ; minum 2-3 liter /
hari, sehingga dicapai diuresis 1,5 l/hari.
- Dilakukan konsultasi ke Instalasi Gizi untuk
menentukan jenis diet sesuai analisa batu
- Eradikasi infeksi saluran air kemih, khususnya untuk
batu struvit.
JEF/99/109
BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA
( B.P.H. )
BPH adalah suatu neoplasma jinak (hiperplasia) yang
mengenai kelenjar prostat. Prostat adalah suatu organ
yang terdiri dari komponen kelenjar, stroma dan muskuler.
Semua penderita laki-laki berusia diatas 50 tahun yang
datang dengan keluhan kencing kurang lancar ( sindroma
prostatism ) yang terdiri dari :
1. Gejala Obstruktif
Hesitansi, pancaran urin melemah atau
mengecil, intermitensi, terminal dribling, terasa ada
sisa setelah selesai miksi.
2. Gejala Iritasi
Urgensi (sulit menahan miksi), frekuensi (miksi
lebih sering dari biasanya), disuria sampai akhirnya
terjadi retensi urin.
DIAGNOSIS
a. Anamnesa : Keluhan utama & lamanya keluhan
b. Pemeriksaan Klinis :
1. Status umum
- Inspeksi : Penonjolan supra pubik bila terjadi retensi
urin dengan buli penuh.
- Palpasi : Buli-buli teraba diatas pubis apabila
terjadi retensi urin.
- Rectal toucher : Prostat teraba membesar
konsistensi kenyal
c. Pemeriksaan laboratorium :
Darah lengkap, Faal hemostasis, Faal hati, Faal
Ginjal, Elektrolit (K, Na), Urinalisis, Kultur urin dan test
kepekaan antibiotika.
d. Pemeriksaan Foto Radiologi
- BOF
- IVP : Pada kasus BPH tanpa retensi urin
- USG : Ada gangguan faal ginjal (SC > 4 )
- Foto thoraks
e. Pemeriksaan penunjang lain :
- Uroflowmetri  harus dikerjakan apabila penderita
masih bisa kencing atau untuk evaluasi pasca
terapi.
- Sistoskopi  dilakukan pada penderita tanpa retensio
urine dengan indikasi tertentu
- TRUS (Transrektal USG) dgn indikasi tertentu
- ECG
PENATALAKSANAAN
1. Terapi medikamentosa diindikasikan pd penderita :
JEF/99/110
- BPH dengan keluhan ringan, sedang dan berat
tanpa penyulit (dianjurkan dengan IPSS)
- BPH dengan indikasi terapi pembedahan tetapi
masih terdapat indikasi kontra
Macam obat yang digunakan :
- Golongan alpha blocker
- Golongan inhibitor enzim 5 alpha reduktase
- Golongan finasteride
2. Terapi operatif diindikasikan pada penderita :
- Penderita dengan retensio urin akut atau pernah
retensio urin akut
- Penderita dengan retensio urin kronis artinya dalam
buli-buli selalu lebih dari 300 ml.
- Penderita dgn residual urine lebih dari 100 ml
- Penderita BPH dengan penyulit : batu buli-buli,
divertikel buli-buli, hidronephrosis, gangguan faal
karena obstruksi.
- Terapi medikamentosa tidak berhasil
- Flowmetri menunjukkan pola obstruksi,yaitu :
+ Flow maksimal < 10 ml/detik
+ Kurve berbentuk datar atau multifasik
+ Waktu miksi memanjang
1. Retropubik transkapsular prostatektomi (cara Millin)
adalah suatu tindakan pengambilan (pembuangan)
jaringan prostat melalui retropubik dan membuka
kapsul prostat.
2. Reseksi prostat transuretra (TURP) adalah suatu
tindakan pengambilan (pembuangan) jaringan prostat
secara endoskopi dengan menggunakan alat pemotong
(cutting loop) elektrik.
3. Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT) adalah
invasi minimal ter- hadap prostat dengan menggunakan
kateter 22 F yang dihubungkan dengan sumber panas
microwave 1296 MHz, dipanaskan sampai 45° - 60° C
dan uretra secara terus menerus didinginkan sehingga
mukosa uretra tidak rusak.

1. Retropubik Transkapsular Prostatektomi (Millin)
Alat yang diperlukan :
- Alat operasi set besar
- Linen set terdiri dari :
- Doek besar 2 buah
- Taplak penutup
- Doek kecil 6 buah
- Meja instrumen
- Baju operasi 4 buah
Tehnik Operasi :
- Pasang foto-foto pada light-box
JEF/99/111
- Setelah dilakukan anestesi baik regional ataupun
general, penderita diletakkan dalam posisi supinasi
(telentang).
- Dilakukan desinfeksi dengan larutan povidone iodine
5% dari bawah os xyphoid sampai pertengahan kedua
paha dan skrotum di sangga dengan doek steril kecil.
- Lapangan operasi di persempit dengan doek steril
(lapangan operasi di mid line antara umbilikus dan
os pubis).
- Insisi supra pubik dan infra umbilikal (midline) lapis
demi lapis
- Muskulus rektus abdominis dipisahkan ke lateral
(pada linea alba) sambil merawat perdarahan
- Lemak perivesikal disisihkan ke proksimal,
identifikasi buli-buli dan prostat selanjutnya dipasang
spreader.
- Pasang bantalan pada kiri dan kanan prostat
(dengan kasa) dengan tujuan :
- agar prostat lebih menonjol
- identifikasi prostat lebih mudah
- Jahit (hemostasis) kapsul prostat pada 4 tempat
dengan chromic catgut no. yaitu :
- lateral kanan dan kiri (arah oblique)
- tengah atas dan bawah kira-kira 1 cm dan 2 cm dari
leher buli-buli.
- Insisi kapsul prostat arahnya horisontal (diantara ke
empat jahitan tersebut) sampai nampak adenoma
prostat.
- Adenoma prostat dipisahkan dari kapsulnya dgn
gunting metzeubaum secara tajam dan tumpul.
- Setelah ada ruang antara kapsul dengan adenoma
prostat sampai keluar semua adenomanya. Bekas
enukleasi di tekan dengan kassa sebanyak 4-5 lembar
selama ± 5 menit untuk menghentikan perdarahan.
- Kasa diambil 2 sumber perdarahan dijahit dengan
chormic catgut No. 0 pada jam 5 dan 7 secara figure
of eight. Rawat perdarahan yang lain dengan
kauterisasi.
- Kemudian pasang kateter three way 24F sampai ke
buli-buli (balon jangan diisi dulu)
- Kapsul prostat dijahit dengan chromic catgut No. 0
secara simpul bedah sampai tidak ada kebocoran
(water tight).
- Isi buli-buli dengan PZ untuk melihat kebSetelah tidak
bocor, balon kateter diisi air 40 cc dan di fraksi dan
dipasang spoel dengan PZ.
- Rawat perdarahan dan pasang redon drain pada
cavum Retzii
- Semua kasa yang ada didalam dikeluarkan
- Luka operasi ditutup lapis demi lapis :
- Otot dan fascia dijahit dengan chromic catgut
- Lemak dijahit dengan plain catgut
JEF/99/112
- Kulit dijahit dengan benang sutra (zeide)
2. Reseksi Prostat Transuretra (TURP)
Alat yang dipersiapkan :
- Cold light fountain standard (lampu endoskopi)
- Kabel cahaya fiber optik
- Pipa air dengan luerlock
- Alat koagulasi dan reseksi listrik
- Working element yang terdiri dari :
+ Sheath : No.24 F atau 27 F
+ Obturator : No. 24 F atau 27 F
+ Teleskope : Optik 0° atau 30°
+ Cutting loop: No. 24 F atau 27 F
- Bougie : Roser 25 F,27 F, dan 29 F
- Desinfeksi klem
- Sarung tangan steril 2 pasang
- Linen set terdiri dari : penutup meja instrumen, sarung
kaki 2 buah, doek besar berlubang, baju dan skort
operasi
Tehnik Operasi
- Pasang foto-foto pada light box
- Setelah dilakukan anestesi regional penderita
diletakkan dalam posisi lithotomi
- Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan
Vasektomi tanpa Pisau (VTP)
- Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine didaerah
penis scrotum dan sebagian dari kedua paha dan
perut sebatas umbilikus
- Persempit lapangan operasi dengan memasang
sarung kaki dan doek panjang berlubang untuk bagian
perut keatas.
- Dilatasi uretra dgn bougie roser 25 F sampai 29 F
- Sheath 24 F atau 27 F dengan obturator dimasukkan
lewat uretra sampai masuk buli-buli.
- Obturator dilepas diganti dengan optik 30°dan cutting
loop sesuai dengan ukuran sheatnya.
- Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu, trabekulasi
dan divertikel buli
- Working element ditarik keluar untuk mengeva-luasi
prostat ( panjangnya prostat yang menutup uretra,
leher buli dan verumontanum )
- Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat
perdarahan
- Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi
semuanya, waktu reseksi paling lama 60 menit (bila
menggunakan irigan aquades ) dan waktu bisa lebih
lama bila menggunakan irigan glisin. Hal ini untuk
menghindari terjadinya Sindroma TUR.
- Apabila terjadi pembukaan sinus maka operasi segera
dihentikan u/ menghindari sindroma TUR.
JEF/99/113
- Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan ellik
evakuator sampai bersih, selanjutnya dilakukan
perawatan perdarahan.
- Setelah selesai, dipasang three way kateter 24 F dan
dipasang Spoel PZ atau aquades. Kateter ditraksi
selama 24 jam, dan dilepas 5-7 hari.
- Flowmetri dilakukan setelah lepas kateter dan
penderita dapat miksi spontan.
- Penderita dapat pulang setelah diketahui hasil Patologi
Anatominya
3. Transurethral Microwave Thermoterapi (TUMT)
Kriteria :
- Volume prostat > 40 cc
- Lobus medius (sub trigonam) tidak membesar
- PSA 0-4 ng/ml
- Tidak memakai Implan metal
- Tidak memakai pacemaker jantung
- Tidak mempunyai kelainan koagulasi
- Tidak memakai Aspirin
- Tidak mempunyai Angina
- Panjang urethra prostatika > 25 mm
Alat – alat :
- Prostaprobe (dapat disterilkan dalam Glutaral-
dehyde selama 15 menit dan dicuci dgan PZ)
- Sarung tangan steril 3 pasang
- Kondom 2 buah
- Xylocain 2% jelly
- Analgesik dan antibiotik
- Doek steril
- Disposable syringe 5 cc= 2; 10 cc = 2
- Larutan PZ
- Folley kateter 16 F=1 & Urobag = 1
Persiapan penderita :
- Sebaiknya dilakukan lavement dengan pemberian
dulcolax suppositoria pada pagi harinya.
- Kateter per uretram (bila ada) di klem untuk pengisian
buli-buli
- Analgesik (sedatif) dan antibiotik diberikan 1 jam
sebelumnya
Tehnik Operasi :
- Posisi penderita tidur telentang
- Ukur temperatur aksilar dan catat hasilnya
- Dilakukan pemeriksaan TRUS dengan probe 7,5 MHz
untuk mengukur volume prostat : 0,52 x D1 x D2 x D3
(D1 = penampang longitudinal/sumbu panjang prostat;
D2 = penampang melintang/ sumbu lebar prostat ; D3
= penampang melintang/ sumbu tinggi prostat) dan
mengukur panjang uretra pars prostatika.
JEF/99/114
- Kateter uretra bila ada dilepas
- Masukkan probe 2,5 atau 2,0 dari prosta probe sesuai
program yang diminta pada uretra.
- Masukkan probe rektal dan fiksasi pada tempatnya
dengan baik
- Jalankan mesin sesuai prosedur
- Cek dan monitor probe rektal dan uretra secara
berkala, dengan probe USG pada buli-buli.
- Bila telah selesai lepaskan probe per uretram dan
probe rektal
- Pasang kateter per uretram No. 16 dan urobag
- Penderita harus kontrol tiap minggu sampai pelepasan
kateter di hari ke XIV.
Perawatan Pasca Operasi
1. Di Rumah Sakit :
- Traksi kateter dilepas setelah 24 jam pasca operasi
- Spoel kateter dilepas apabila urine yang keluar sudah
jernih (± 2 hari)
- Pada tindakan Millin :
- kateter dilepas setelah hari ke 5
- redon drain dilepas pada hari berikutnya, bila produksi <
20 cc/24 jam.
- pada tindakan TURP, kateter dilepas pada hari ke 3 atau
lebih lama
2. Di Poliklinik Urologi (VK Sistoskopi)
- Pada bulan pertama kontrol 2 minggu sekali untuk
evakuasi keluhan dan pancaran kencingnya.
- Selanjutnya setiap 3 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan
setiap tahun
- Apabila terdapat gangguan pancaran segera
periksa uroflowmetri
- Setiap kontrol penderita harus sudah membawa
hasil laboratorium dasar (UL, DL, RFT dan kultur urine).
- Terapi antibiotika diberikan atas indikasi yang jelas
Selain dengan tiga jenis pembedahan BPH juga dapat
diterapi dengan teknologi modern :
- Dilatasi dgn baloon
- Sten prostat (temporer & permanen)
- Hipertermia
- Termoterapi
- Ablasio dengan laser
- Ultrasound intensitas tinggi terfokus
- Pyroterapi ekstracorporal terfokus
- Ablasi jarum trans uretra (TUNA)
Komplikasi pembedahan Prostat durante op. :
1. Perdarahan :
a. Pada pembedahan terbuka perdarahan dapat
bersumber daari arteri (a, prostatika – cabang
dari vesikalis inferior) atau vena (cabang dari
JEF/99/115
vena dorsalis penis di retropubic). Perdarahan
arteri biasanya terjadi pada teknik Freyer
(Suprapubic transvesical Prostatectomi). Arteri ini
berjalan pada permukaan posterolateral prostat
dan pada vesicoprostatic junction pada jam 5 dan
7. Perdarahan vena biasanya pada teknik Millin
(Retropubic transcapsuler Prostatectomi). Vena
terletak pada permukaan anterior kapsul prostat
andiantara ligamen puboprostatikum. Perdara-
han juga dapat terjadi bila kapsul prostat robek
pada saat enukleasi prostat.
b. Pada reseksi prostat transuretra perdarahan
dapat berasal dari cabang arteri uretralis interna
yang masuk kedalam prostat melalui leher buli
pada jam 5 dan 7 atau berasal dari vena-vena
kecil dimukosa. Perdarahan dari sinus venosus 
serius/ masif. Sinus venosus ada dua kelompok :
submukosa dan profunda/periprostatika antara
jam 3-5 dan 7-9. Cara mnegatasi dengan traksi.
c. Pada TUIP perdarahan dari cabang arteri
uretralis interna. Cara mengatasi  dengan
traksi.
2. Sindroma TURP.
Akibat masuk cairan irigan dan hiponatremia.
Klinis : - tensi meningkat
- Bradikardi
- Mual
- Muntah
- Mata kabur
- Penurunan kesadaran/gelisah
- Twitching
- Kejang dan letargi.
Kadar Na < 125 mEq/L
Cairan bisa masuk langsung ke intravaskuler lewat sinus
yg terbuka atau melalui ekstravasasi periprostatik dan
perivesikal.
Faktor yg berpengaruh timbulnya sindroma TURP
- Besarnya tekanan intravesikal – dalam fossa
prostatika.
- Teknik TURP
- Lamanya waktu reseksi.
3. Trauma :
Pada open prostatektomi  Robekan rektum atau
kapsul prostat dan kerusakan spinter eksterna
Pada TURP :
Trauma orifisium uretra  striktur uretra
Trauma spinter uretra eksterna  inkontinensia
Perforasi uretra  False route
Perforasi buli
Perforasi kapsul prostat
Perforasi daerah prostatovesikal
JEF/99/116
Komplikasi pasca bedah dini:
1. Infeksi saluran kemih -- sepsis
-Prostatitis
-Pielonefritis
-Uretritis
-Epididimitis
2.Retensi bekuan darah/clot retention
3.Perdarahan skunder/ deleyed bleeding  urin sudah
pernah jernih. Biasanya hari 10 –14. Berhenti sendiri.
Banyak minum kurangi aktivitas, dan tidak mengejan
4. Sindroma TURP
5. Retensio urin, causa :
-Clot
-Chip prostat
-Otot detrusor masih dalam fase dekompensata
6. Inkontinentia Urin, akibat inflamasi, neoplastik, mekanikal
(sisa prostat, striktur,batu), neurogenik.
7. Koagulasi intravaskuler dan fibrinolisis
8. Deep vein trombosis dan emboli paru
Komplikasi pasca operasi lanjut
1. Impotensia
2. Ejakulasi retrograde
3. Striktur uretra
4. Stenose leher buli
5. Osteitis pubis
6. Prostat kambuh
JEF/99/117
NEPHROSTOMI PERKUTAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Semua tindakan Endourologi yang menggunakan sinar
rontgen harus diperhatikan perlindungan untuk
dokter/petugas dan juga untuk penderita.
Untuk petugas :
-pakai baju khusus (lood jas/apron)
-bila tidak perlu jangan berada dalam kamar operasi
-pakai dosimeter (bila tersedia)
Untuk penderita :
-batasi expose dengan sinar rontgen seminimal mungkin
-gunakan C arm dengan memori
Indikasi
1. Pyonefrosis akut dan kronis
2. Infected hidronefrosis
3. Bilateral hidronefrosis
4. Sebagai bagian dari test Whitaker
5. Sebagai bagian PNL
6. Hidronefrosis unilateral terapi tindakan definitif tidak
dapat cepat dikerjakan (lebih dari 2 minggu).
Alat yang diperlukan
A. 1. Meja operasi tembus sinar-X
2. Image intensifier = C arm
3. Kontras  minimal 2 ampul
B. Set katun steril
C. 1. Klem desinfeksi
2. Kasa depper
3. Larutan desinfektan (Povidone jodium 10%)
4. Doek klem atau steridrape
5. Spidol steril
6. Spuit 10 ml (2 buah)
7. Larutan anestesi 1%
8. Tangkai dan pisau yang sesuai (kecil)
9. Jarum punksi lengkap dengan mandrin : jarum
Chiba 22G  20 cm (2 bh)
10. Larutan krontrast (urografin atau yang lain) minimal
2 ampul
11. Guide wire : Standar : panjang 80 cm ; ø 0,97 mm ;
ujung fleksibel lurus atau panjang 100 cm ; ø 0,97
mm ; ujung fleksibel J.
12. Dilator teflon : Ch. 6 ; 8 ; 10 dan 12 F
13. Set dilator metal yang terdiri dari :
- Rigid guide wire (antena)  Storz 27090 AG.
- 6 buah telescoping dilator/Storz 27090 A : Ch.
9, 12, 15, 21, 24F.
- Slotted canulla (Storz 27094 V)
14. Kateter Ch. 18F atau 20F, kantong urin
15. Alat jahit
16. Kasa ; plester
JEF/99/118
Tehnik Operasi
A. Persiapan penderita :
- Inform consent
- Pasang infus
- Antibiotika (untuk indikasi 1 & 2 : terapeutik ; 3,4 & 5 :
profilaktik)
- Cuci lapangan operasi dengan Savlon encer
B. Operasi
- Penderita posisi telengkup
- Daerah ginjal yang akan di punksi boleh diberi ganjal
- Tim pakai apron, cuci tangan secara “Fuhrbringer” dan
pakai gaun steril
- Desinfeksi daerah operasi :
+ke kranial sampai ujung scapula
+ke kaudal sampai sakrum yang menonjol
+ke lateral sampai linea axilaris anterior
- Persempit lapangan operasi dengan linen steril
- C-arm yang telah di tutup linen steril. Diatur dan
dipasang posisinya
- Bila terdapat bayangan batu opaque bertanda silang
dengan spidol
- Tentukan daerah yang akan di punksi/insisi kulit yaitu
titik temu antar garis 2 cm sejajar dan dibawah kosta
XII dengan garis aksila posterior. Beri tanda dengan
spidol.
- Berikan anestesi lokal sampai fascia pada titik 7
- Insisi kulit di titik 7, sepanjang 1 - 1½ cm.
- Punksi melalui insisi kulit tadi dengan tujuan kaliks
inferior berpedoman :
+ Bayangan batu
+ Pyelografi retrograd (RPG)
+ Pyelografi interna (IVP)
+ Ultrasonografi
+ Imaginasi berdasarkan bayangan tulang-tulang
+ Punksi ke arah kutub bawah ginjal dengan sudut ±
30º- 45º. Bila jarum telah masuk/ menusuk ginjal
biasanya akan bergerak seirama dengan
pernafasan penderita.
- Tarik mandrin pelan-pelan sambil dorong sedikit jarum
luar, perhatikan cairan yang keluar dari jarum setelah
mandrin terlepas, Bila yang keluar bukan urin/pus 
segera tutup dengan jari dan masukkan kontrast
pelan-pelan dengan perenceran 1:1, sambil dilakukan
fluoroskopi dan diperhatikan apakah jarum telah betul
masuk kalik inferior atau kaliks yang dituju. Bila
kontrast ternyata tidak masuk kaliks / pyelum,
penyuntikan jangan diteruskan. Lakukan punksi
ulangan.
JEF/99/119
- Bila punksi sudah tepat segera masukan guide wire
sampai ke pyelum dan jangan sampai melingkar di
jalur nefrostomi.
- Cabut jarum punksi pelan-pelan dgn memperta-hankan
guide wire tetap pada tempatnya.
- Masukan delator teflon melalui guide wire, mulai ch. 6
bergantian sampai no. 10 atau 12 F, sampai bagian
yang datar dari delator masuk kedalam kaliks  kontrol
dengan fluoroskopi.
- Masukkan “ Rigit Guide Wire “ = antena melalui
fleksibel guide wire.
- Lakukan delatasi traktus dengan cara memasukan
“Telescopy Delator” pada antena secara berturutan
dari yang terkecil sampai ukuran ch. 22.
Cara
- Tetap pertahankan antena pada tempatnya .
- Kontrol dgn fluoroskopi pada saat manipulasi
- Bila terdapat tahanan dari fascia, delator dapat
diputar2 sedikit
- Lepaskan delator yang Ch. 22 dan ganti dengan
slotted canulla
- Cabutlah antena, pertahankan guide wire fleksibel
dan slotted canulla. Semua delator akan tercabut
bersama antena.
- Masukkan Folley kateter Ch. 18 atau 20 yang telah
dipotong ujungnya dengan tuntunan guide wire dan
slotted canulla. Bagian baloon kateter harus berada
dalam kaliks. Cabut slotted canulla dan kembangkan
baloon kateter dengan H
2
O atau PZ 2 – 5 ml.
Lepaskan guide wire, kontrol dengan memasukkan
kontrast melalui kateter.
- Fiksasi kateter dengan jahitan benang sutera.
Hubungkan dengan kantong urin.
Perawatan Nefrostomi
Untuk nefrostomi dengan indikasi 1 & 2 (infeksi) maka
pemberian antibiotika sejak sebelum tindakan diteruskan.
Pedoman :
a.Jenis antibiotika berdasarkan kultur dan antibiogram
b. Bila belum ada kultur dan antibiogram :
c. Kombinasi ampicillin/ derifatnya dan aminogliko-sida
d. Cephalosporin generasi III, untuk kasus gagal ginjal
berat
Bila tidak infeksi cukup diberikan obat golongan
nitrofurantorin atau asam nalidisat peri operatif.
1. Perhatikan kateter / pipa drainage, jangan sampai
buntu karena terlibat, dll.
JEF/99/120
2. Perhatikan dan catat secara terpisah produksi cairan
dari nefrostomi
3. Usahakan diuresis yang cukup
4. Periksa kultur urin dari nefrostomi secara berkala
5. Bila ada boleh spoeling dengan larutan asam asetat
1% seminggu 2x
6. Kateter diganti setiap lebih kurang 2 minggu. Bila
nefrostomi untuk jangka lama pertimbangkan
memakai kateter silikon.
JEF/99/121
OPERASIONALISASI ESWL EDAP LT - 02
Persiapan penderita:
1. Sedative (valium) dan analgetika kalau dianggap perlu
dapat diberikan
2. Antibiotika diberikan mulai sehari sebelumnya bila
terdapat bakteriuria bermakna
3. Tidak diperlukan puasa
4. Untuk batu ureter distal penderita diusahakan defekasi
(bab) dahulu dan buli-buli dalam keadaan terisi (jangan
miksi dahulu sebelum ESWL).
Alat
I I. Menyalakan dan Booting Unit :
a. Power dan regulator bekerja pada 220 volt
b. Tombol M-24 di unit Control Console harus
terangkat (tombol berwarna merah)
c. Power Supply Unit (PSU) :
1. Tangkai berwarna merah putar ke arah ON, lampu
kuning menyala.
2. Kunci putar ke arah ON.
3.Tekan tombol hitam - lampu hijau menyala.
Sebagian unit telah menyala , kecuali X - ray unit.
II. Operasionalisasi Unit Control - Console ( Unit X-ray)
Digunakan tanpa penderita.
1. Tekan tombol X-01 sehingga unit X-Ray menyala,
tunggu 2-3 menit akan keluar tulisan Ready for
Operation pada monitor A.
Catatan :Off button X-02 untuk mematikan X-Ray. X-
Ray baru boleh dimatikan bila semua session telah
selesai. Diantara 2 penderita jangan tekan X-02.
2. Fluoroskopi (tombol X-29) ditekan sampai menyala
pada monitor A (tombol X-30, monitor B menyala).
3. Tombol X-22 (switch auto/manual regulation) dari KV (X-
16) dan mA (X-17), mengatur dose rate controle
(DRC). Sebaiknya dimulai secara manual dahulu yaitu
dengan mematikan tombol X-22. (misalkan X-16
sampai 60 KV dan X-17 sampai 6.0 mA). Kemudian
tekan X-22 sampai menyala, maka kV dan mA
menyesuaikan secara otomatis.
4. Pemanfaatan X-Ray :
Dimulai dengan menekan tombol M-19. Tekan tombol
M-20 untuk mengaktifkan X-ray unit sampai M-20
menyala.
Tekan M-23 terus menerus untuk mengembang-kan balon
X-ray sampai lampu menyala.
III. Operasionalisasi Unit Control console - Unit USG
1. Pastikan tidak ada gelembung udara dalam balon.
Tekan tombol F3.
2. Tekan tombol 1 pada keyboard untuk mengaktifkan
monitor 1 atau monitor
JEF/99/122
3. Luruskan arah panah pada monitor 2, gambar 1 dan 2
dengan joystick M
4. Berikan lubrikan pada membran dan kulit penderita
pada sisi letak batu.
5. Dengan menekan tombol F3 pada keyboard, harus
diisi data penderita dan komentar atau tekan tombol
return : 2x
6. Mengembangkan balon :
a. Aktifkan ultrasound unit dengan mengempes-kan
balon X-Ray, dengan menekan terus-menerus
tombol M-21 sampai menyala.
b. Tekan tombol M-22 guna memindahkan probe
ultrasound ketempatnya
c. Matikan M-19 u/ dpt mengisi membran balon.
d. Tekan M-17 sambil melihat monitor-1 sehingga
dicapai luas permukaan kontak yang optimal
antara membran dengan kulit.
e. Melihat pada layar monitor-1 posisi ginjal dan batu
dicari dengan memainkan ketiga Joy-stick M1 -
M2 - M3 secara sistematis.
f. Usahakan posisi pusat dari ginjal dan batu berada
pada fokus tembakan.
g. Bilamana masih belum jelas dapat diatur
gambaran potongan ginjal pada Ultrasonografi
dengan menekan tombol M4a atau M4b (M4a :
posisi longitudinal; M4b: posisi transversal/
melintang). Lihat monitor 2 gambar kanan bawah.
h. Isilah data penderita pada monitor B dengan
tombol-tombol huruf / angka di-keyboard.
IV. Positioning Batu
a. Dengan unit X-Ray :
a.1.Letakkan batu dalam layar monitor A.
a.2.Tepatkan batu dengan menggunakan Joy-stick M2
pada tanda pusat tembakan (+) dengan X-Ray aktif
( Fluoroskopi aktif dengan menekan X-29).
a.3.Putar arah inklinasi dengan Joystick M-1 ke arah
sesuai dgn letak batu dgn memperhatikan tulang
rusuk dan tulang-tulang disekelilingnya.
a.4.Dengan Joystick M3, maka kedalaman batu
terhadap pusat tembakan diatur sampai tepat pada
pusat tembakan (+).
a.5.Dengan memakai Joy-stick M1 dan fluoroskopi aktif
dapat dilihat berbagai posisi batu, batu harus tetap
pada fokus tembakan.
a.6.Tekan tombol X-47 untuk memory, pindahkan
gambar pada monitor B.
b. Dengan unit ultrasonografi :
b.1.Aktifkan ultrasosnografi lihat Bab III.
b.2.Tepatkan batu pada puncak tembakan
JEF/99/123
b.3.Gunakan Joystick M2 secara sistematis untuk
mencari batu.
V. Tambahan
1. Usahakan melakukan tembakan dengan
memanfaatkan ultrasound.
2. Bilamana tidak memungkinkan dengan ultrasound
dapat digunakan X - Ray dengan catatan pada waktu
balon X-Ray mengembang, energi akan berkurang
25%. Untuk itu bila selesai memonitor dengan X-Ray,
balon harus dikempeskan dengan menekan tombol
M-21.
3. Tembakan dimulai pada posisi tombol M-10 dan M-
11 paling rendah (power dan frekwensi).
4. Tekan tombol M-6 sampai menyala dan dilanjutkan
dengan menekan tombol M-9 sampai menyala.
Power dan frekwensi dapat ditingkatkan secara
bertahap sampai batas nyeri yang bisa diterima oleh
penderita dengan menggunakan tombol M-10 dan
M11.
5. Disarankan frekwensi maksimal 4Hz yang umum
digunakan adalah 1 dan 2 Hz. Sebaiknya ditentukan
lama dan storage tiap session.
6. Selama tembakan posisi batu diikuti dan dipantau
bila perlu di koreksi terus menerus.
7. Untuk mengakhiri tembakan tekan tombol M-8 dan M-
7. Kembalikan tombol M-10 dan M-11 pada posisi
terendah.
VI. Laporan Tindakan
1. Aktifkan monitor 2 dengan menekan tombol 1 pada
keyboard.
2. Tekan ombol F5 sehingga terlihat form data isisan
penderita dan penyakit.
3. Isi :
-Nama, kelamin dan umur penderita.
-Operator : Isi dengan singkatan nama yang baku
(misalkan WS)
- Lokasi batu
- US location : YA atau TIDAK
- Rx location : YA atau TIDAK
- Rx exposure : tulis sesuai X-16, X-17 & X-19
- Comments :Batu : Hancur atau Tidak; Nyeri : Ya
atau Tidak (keberhasilan, kegagalan, nyeri, catatan
lain yang diperlukan).
Gunakan tanda panah arah | dan | ataupun ÷ untuk
mengisi. Hapus : tekan DEL.
4. Siapkan printer dengan power on dengan kertas
ukuran kuarto.
5. Tekan ctrl-F9 untuk pencetakan. Dibuat 2 copies
laporan.
JEF/99/124
6. Untuk mengaktifkan layar kembali : monitor 1 : tekan
F5 : exit, untuk monitor 2 : tekan F3.
VII. Printing Foto
a. Untuk printer X-ray tekan tombol M12, lihat di monotor
kecil, tekan tombol print pd printer unit.
b. Untuk printer USG - tekan tombol M-13. Tekan tombol
print pada printer unit.
c. Potonglah kertas film dengan menekan tombol “cut”
(cutter).
JEF/99/125
URS
( URETERORENOSKOPI )
Suatu tindakan Endoskopi seperti Sistoskopi dengan
perbedaan utama pada anatomi ureter dan ginjal serta
ukuran yang kecil dari instrumentasi, untuk melihat dan
melakukan tindakan didalam ureter dan ginjal.
DIAGNOSIS :
1. Dokter umum :
- Anamnesa
- Pemeriksaan klinis
- Pemeriksaan laboratorium
- Pemeriksaan foto rotgen
- Merujuk pasien ke Spesialis Urologi
2. Spesialis Urologi :
- Pemeriksaan radiologi
- Pemeriksaan penunjang
- Tindakan URS
Indikasi URS :
1. Diagnosa
- Evaluasi filling defect atau obstruksi pada
radiologi
- Evaluasi gross hematuri unilateral
- Evaluasi maligna cytologi unilateral
- Surveilance pada terapi konservatip tumor tractus
urinous atas
2. Tindakan
- Untuk batu-batu ureter atau dan ginjal basket
(tertentu) :
+ diambil dengan forceps atau
+ dipecah (lithotripsi)
- Biopsi tumor /polyp ureter
- Reseksi tumor
- Dilatasi strictura
- Pengambilan benda asing
ALAT-ALAT :
- Baju operasi steril (operator/ asistensi/ instrumen).
- Sarung tangan
- Duk steril
- Duk klem
JEF/99/126
- Alat set endoskopi
- Sheath + optic ukuran bermacam-macam (6 sampai
15 Ch)
- Optik 0
o
atau lainnya
- Guidewire
- Kateter ureter
- Stone basket
- Forceps
- C arm (Fluoroscopy)
TEKNIK OPERASI :
1. Posisi pasien tergantung letak batu biasanya : lithotomi
2. Dilakukan retrograde pyelografi untuk melihat anatomi
ureter
3. Bila perlu dilatasi muara ureter
4. Masukkan alat URS secara avue dan bantuan
fluoroskopi
5. Lakukan tindakan yang diperlukan
6. Bila batu perlu dihancurkan dipakai Elektro Hidrolik
Litholapasy atau Lithoclast (Pneumatik) atau sarana
lainnya
7. Bila perlu pemasangan ureter kateter / DJ Stent
PERAWATAN PASCA OPERASI
Tergantung tindakan yang telah dilakukan misalnya, jika
pengambilan batu intra ureter sebaiknya 6 minggu dilakukan
IVP untuk melihat komplikasi dsb.
Bila dipasang DJ Stent, diambil bila sudah tidak dibutuhkan
melaui cystoskopi.
JEF/99/127
KARSINOMA BULI-BULI
Karsinoma buli adalah keganasan berasal dari epitel
(mukosa) buli-buli, dan anak-anak paling sering berasal dari
otot.
DIAGNOSIS
Anamnesa : Keluhan utama adanya hematuria dengan sifat
:
- Gross (makroskopis) tanpa nyeri dan
intermiten dapat terjadi (berulang serta
retensi urin karena tersumbat bekuan
darah).
- Disuria yg lama dan berulang
- Retensio urin karena klot
Faktor peningkat resiko :
- Bahan pewarna : naphtylamin dan benzidin
- TAR dalam tembakau
- Pemanis sintetis : Sodium siklamat, sodium sakarin
- Skistosomiasis
- Infeksi / iritasi kronis buli
- Analgetikum : phenacetin
Pemeriksaan klinis
1. Status Umum : Tanda vital, berat badan, status
penampilan (Karnofsky).
2. Status Urologi : Adanya masa suprasimfiser, tanda
invasi organ terdekat, tanda-tanda metastase.
Palpasi : Adanya masa suprasimfiser, masa daerah
flank.
Colok dubur : Adanya masa pada buli-buli dan prostat.
Bimanual palpasi pada keadaan narkose
Pemeliharaan Laboratorium
- Darah lengkap
- Faal Hemostasis
- Faal hati
- Faal Ginjal
- Urinalisis
- Kultur Urin dan tes kepekaan.
- Sitologi Urin, dinilai menurut sistim Broder, di bagi 5
kelas :
 Kelas I : tidak di ketemukan sel
 Kelas II : di ketemukan sel yang normal
 Kelas III: diketemukan sel dengan perubahan atipik
 Kelas IV: di ketemukan sel yang mencu-rigakan
keganasan
 Kelas V : di ketemukan sel-sel ganas.
Pemeriksaan Radiologis :
- Thoraks foto PA / lateral
- IVP
JEF/99/128
- USG buli-buli, ginjal dan abdomen
- CT Scan abdomen, dikerjakan dgn indikasi ttt.
Pemeriksaan Sistoskopi :
Pemeriksaan ini dikerjakan bila pemeriksaan yang disebut
diatas di ketahui hasilnya. Dan bila hasilnya menyokong
adanya karsinoma buli-buli, maka penderita sekaligus
dipersiapkan untuk dilakukan reseksi tumor dan “staging”.
Pemeriksaan sistoskopi dengan tujuan diagnostik saja, di
kerjakan bila :
1. Pemeriksaan yang lain tidak menyokong adanya
karsinoma buli-buli
2. Penderita mengalami penyulit retensi urin karena
tersumbat bekuan darah.
Pada sistoskopi diagnostik ini sekaligus dilakukan
pemeriksaan bimanual palpasi dalam keadaan narkose dan
biopsi.
Histopatologi :
Pemeriksaan histopatologi untuk menentukan :
1. Jenis Karsinoma. Sebagian besar karsinoma buli-buli
berasal dari epitel (mukosa). Yang sering adalah
karsinoma sel transisi (TCC), karsinoma sel
skuamosa, adeno karsinoma
2. Derajat Infiltrasi. Ditentukan berdasarkan infiltrasi sel
ganas terhadap membrana basalis (lamina propria)
dan lapisan otot buli-buli.
3. Derajat degenerasi / deferensiasi. Ditentukan
berdasarkan susunan dan tebalnya lapisan sel,
gambaran inti sel dan perbandingan antara inti sel
dengan sitoplasma.
Derajat I : diferensiasi baik (well differentiated)
Derajat II: diferensiasi sedang (moderatly diffe-
rentiated )
Derajat III: diferensiasi jelek (poorly differen-tiated)
Derajat IV: diferensiasi tak beraturan (undiffe-
rentiated )
Diagnosa Stadium klinis :
Setelah data klinis, laboratoris, radiologis, histopatologi
ditegakkan, diperlukan staging guna memilih terapi yang
adekuat untuk penderita.
Stadium dengan sistim TNM :
Stadium O : Tis dan Ta
Stadium I : T1 No Mo
Stadium II : T2
Stadium III : T3a dan T3b
Stadium IV : T4 No Mo
Semua T N1-3 Mo
Semua T Semua N M1
JEF/99/129
Stage Batasan
JEF/99/130
T
N
M
Tx
To
Tis
Ta
T1
T2
T3
T4
Nx
No
N1
N2
N3
Mx
Mo
M1
Ektensi dari tumor primer (pemeriksaan
fisik, imaging, sistoskopi dan biopsi /
reseksi.)
Kelenjar limfa regiona;, yaitu kelenjar limfa
di bawah bifurcatio arteria iliaka komunis
sepanjang arteria iliaka interna.
Metastase jauh (pemeriksaan fisik dan
imaging).
Tumor primer tidak bisa di nilai ekstensinya
(tidak tersedia fasilitas sistoskopi dan
reseksi).
Tidak didapatkan tumor primer.
Karsinoma in situ yaitu tumor yang datar /
difuse – “flat tumor”.
Karsinoma papiler tidak invasive, belum
menembus membrana basalis.
Tumor invasi sampai ke sub mukosa.
Tumor invasi sampai ke otot superfisial, <
setengah lapisan otot dan bersih dengan
reseksi transuretra.
Tumor invasi:
+ 3a melebihi ½ tebal otot
+ 3b mengenai lemak peri vesikal.
Tumor invasi ke : prostat, uterus, vagina,
dinding pelvis, dinding abdomen.
Keadaan kelenjar limfa tidak bisa dinilai
Tidak terdapat metastase ke kelenjar limfa
Metastase tunggal dgn diameter < 2 cm
Metastase tunggal dgn diameter 2 - 5 cm,
Metastase multipel dgn diameter < 5 cm
Metastase dengan diameter > 5 cm
Metastase jauh tidak bisa dinilai
Tidak ada metastase jauh
Terdapat metastase jauh
Pembagian staging yang lain adalah menurut Jewett –
Strong – Marshall Stage.
Reseksi Transuretra
Dengan resektoskop dilakukan reseksi transuretra dalam
keadaan narkose baik sebagai monoterapi maupun dengan
tujuan mengurangi masa tumor.
Cara ini dilakukan dengan menggunakan peralatan
endoskopi.
Sistektomi Partial
Pengangkatan buli-buli secara parsial (sebagian buli-buli)
sebatas daerah tumor. Adapun teknik operasi dengan cara
JEF/99/131
pendekatan supra pubik, identifikasi buli-buli dan kelenjar
getah bening daerah pelvis, ligasi arteri vesicalis superior,
dilakukan limfadenektomi daerah pelvis dan wide eksisi
tumor minimal 2 cm daerah bebas tumor.
Radikal Sistektomi
Pengangkatan organ yang lebih luas / radikal. Pada laki-laki
dilakukan pangangkatan buli-buli, peritoneum daerah pelvis,
prostat, vesicula seminalis dengan cara sistoprostatektomi
radikal, termasuk limfadenektomi daerah pelvis. Pada
wanita pengangkatan buli-buli disertai organ sekitarnya
termasuk peritoneum daerah pelvis, uretra, serviks, uterus
sepertiga dinding depan vagina, ligamen maupun ovarium
disertai Limfadenektomi daerah pelvis. Diversi urin
dikerjalan berdasarkan persetujuan dokter, penderita
maupun kebiasaan operator, baik yang kontinen maupun
yang inkontinen. Metode yang biasa digunakan adalah
dengan cara Coffey atau cara Bricker.
Radiasi
Radiasi yang diberikan adalah eksternal radiasi dengan
dosis 6000 – 7000 rad diberikan selama 5-8 minggu untuk
tujuan kuratip dan 2000 rad untuk preoperatip (sistektomi).
Kemoterapi
Kemoterapi diberikan secara topikal intravesikal.
Penanganan karsinoma buli-buli
JEF/99/132
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Reseksi
transuretra
Operasi
sistektomi.
SALVAGE
sistektomi
Sistostika :
- Intravesika
- Sistemik
Radiasi
eksterna
Imunologi
(BCG intra
fesikal)
Ta, T1, T2
Tis, T3, T4 prostat, No, Mo
T2 res G 3-4
Ta, T1 residif
T1, G 3-4
T1 m
Sebagai pengobatan alternatif
untuk T3, T4
Untuk M1 multiple
Pra operasional radikal
T3, N 1-3, Mo
Alternatif u/ T2, G3-4, Nx, Mo
T3, T4, Nx, Mo
Ta, T1 (sebagai alternatif)
1. Reseksi Transuretra buli-buli.
Alat yang dipersiapkan
- Cold light fountain standart (lampu endoskopi).
- Kabel cahaya fiber optik
- Pipa air dengan Luer lock
- Resektoskop set terdiri dari :
 Resktoskop Sheath dengan obturator No. F 24
atau F 27
 Teleskop optik 30
o
 Working elemen
 Cutting Loop
 Coagulating elektroda
 High Frequency Cord
 Protection tube.
- Bougie Roser.
- Three Way catheter F 24 dan urobag.
- Desinfeksi klem
- Sarung tangan dua pasang ukuran sesuai
- Linen set terdiri dari : taplak penutup meja instrumen,
sarung kaki 2 buah, doek besar berlubang, baju/skot
operasi.
- Cairan irigan yang digunakan “Water for irrigation”.
Teknik Operasi
+ Pasang foto-foto pada light box
+ Setelah dilakukan anestesi baik regional ataupun
general, penderita diletakkan dalam posisi lithotomi.
+ Dilakukan pemeriksaan colok dubur dan bimanual
palpasi
JEF/99/133
+ Dilakukan desinfeksi dengan larutan povidone jodine :
di daerah penis, skrotum sebagian dari kedua paha
dan perut sebatas umbilikus.
+ Persempit lapangan operasi dengan memasang
sarung kaki pada kedua kaki dan doek panjang
berlubang untuk bagian perut ke atas
+ Dilakukan panendoskopi dengan sheath No. F16,
Optik 30
o
, untuk evaluasi uretra
+ Dilatasi dengan bougie roser secara gentle
+ Dengan sheath F 27 atau F 24 Sheat Resektoskop
dengan obturator secara gentle dimasukkan ke dalam
buli-buli
+ Kemudian dilakukan evaluasi buli-buli, sebelum
melakukan reseksi harus diperhatikan lokasi, ukuran
tumor, bentuk tumor.
+ Reseksi dilakukan / dimulai dari daerah tumor yang
berbatas tegas dengan mukosa buli-buli yang normal
(daerah margin). Kemudian reseksi tumor dilanjutkan
sampai tampak otot buli-buli sambil melakukan
hemostatis dengan cara fulgurasi. Selama reseksi,
cairan irigan diatur sedemikian rupa sehingga operator
dapat melakukan reseksk tumor dengan baik, serta
tidak menyebabkan perforasi buli-buli.
+ Untuk tumor yang besar, dan dasar tumor yang luas
bentuk sesile, tumor papiler yang multiple, serta lokasi
tumor yang sulit, suker untuk melakukan reseksi
sampai bersih.
+ Hati-hati melakukan reseksi tumor di muara ureter
daerah trigonum, kemungkinan terjadi sikatrik di muara
ureter sangat besar sehingga dikawatirkan dapat
menyebabkan terjadinya striktur. Beberapa peneliti
menggunakan penuntun sten kateter ureter sebelum
melakukan reseksi.
+ Untuk tumor di dinding lateral buli-buli hati-hati akan
terjadinya rangsangan nervus obturator saat
melakukan reseksi, sehingga terjadi kontraksi otot
aduktor paha yang dapat mengakibatkan perforasi
buli-buli.
+ Apabila tumor sudah bersih, dasar otot yang sudah
dilakukan reseksi dilakukan biopsi untuk menilai
dalamnya infiltrasi tumor ( staging ).
+ Setelah dilakukan hemostasis, dilakukan pemasangan
three way kateter No. F 24, sambil dilakukan spoeling
dengan cairan NaCl 0,9% sampai jernih. Tidak
dilakukan pemasangan traksi kateter.
+ Jaringan reseksi timor dan biopsi dasar tumor
dilakukan pemeriksaan PA.
a. Partial Sistektomi
Indikasi :
JEF/99/134
Tumor tunggal, T1-T3, lokasi tumor pada dinding
lateral buli-buli, atap buli-buli (dome), tumor pada
divertikel, adeno karsinoma daerah dome yang
berhubungan dengan urachus.
Teknik Operasi
Pendekatan Retroperitoneal.
- Persiapan operasi pada umumnya.
- Pemberian antibiotika profilaksis, premedikasi.
- Setelah anestesi general, penderita diletakkan dalam
posisi supine.
- Dilakukan pemasangan kateter No. F 16
- Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan povidone
yodine di daerah penis, skrotum, sebagian dari
pangkal paha, kateter, perut sebatas umbilikus, &
vulva (wanita).
- Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
- Insisi midline supra pubik, perdalam lapis demi lapis.
- Identifikasi buli & peritonium disisihkan ke kranial.
- Bebaskan dinding buli kearah lateral & posterior.
- Identifikasi KGB ipsilateral dengan cara mengikuti
percabangan anterior dan posterior arteri iliaka interna,
sampai tampak pedikel arteri vesikalis superior, ligasi
arteri vesikalis superior.
- Jika KGB tampak besar dilakukan limfadenektomi dan
dilakukan pemeriksaan froozen section.
- Setelah buli-buli terekspose dengan baik dimana
operator sudah dapat memprediksi letak tumor yang
sudah dilakukan evaluasi sebelumnya dengan
pemeriksaan sistoskopi, operator mulai
memperkirakan insisi dinding buli-buli. Letak insisi
harus jauh dari lokasi tumor. Beberapa peneliti
menganjurkan tiga sampai empat sentimeter dari leher
buli-buli dan tiga sampai empat sentimeter dari tepi
tumor, sehingga terekspose dengan baik.
- Dengan bantuan dua buah jahitan pagar yang sudah di
buat sebelumnya pada dinding buli-buli, dilakukan insisi
dinding buli-buli diantara dua jahitan pagar. Insisi
diperluas dengan kromklem sehingga tampak tumor
yang sudah dievaluasi sebelumnya.
- Gunakan allis clamp agar lapangan pandang tumor
dalam buli-buli tampak jelas, sambil melakukan
hemostasis yang baik dengan elektro surgikal.
- Apabila dalam perencanaan eksisi tumor diperkirakan
akan mengenai muara ureter (karena lokasi tumor
dekat dengan muara), maka dapat digunakan stent
kateter ureter.
- Lindungi jaringan mukosa buli-buli normal dengan
kasa, guna mengisolasi jaringan tumor. Setelah
jaringan tumor dapat diekspose dengan jelas,
dilakukan wide eksisi jaringan tumor 2-3 cm dari
margin, termasuk lemak perivesikal.
JEF/99/135
- Jika eksisi tumor mengenai muara ureter, dapat
dilakukan reimplantasi ureter, yang sering digunakan
adalah cara Politano-Ledbetter.
- Sesudah jaringan tumor dieksisi dilakukan penjaitan
dua lapis.
- Tidak dianjurkan pemasangan kateter sistostomi.
- Pasang drain prevesikal, & kateter F 22 atau F 24
- Jahit dinding abdomen lapis demi lapis.
Pendekatan Trans Peritoneal
- Untuk tumor daerah dinding posterior buli-buli,
dianjurkan dengan pendekatan transperitoneal.
- Insisi midline suprasimfisis, perdalam.
- Identifikasi buli-buli dan peritonium, buka peritonium
daerah midline, sisihkan usus.
- Identifikasi vasa iliaka interna dan percabangan arteri
vesikalis superior, serta dilakukan ligasi.
- Bebaskan dinding posterior buli-buli serta identifikasi
kelenjar getah bening ipsilateral.
- Jika KGB tampak besar dilakukan limfadenektomi dan
dilakukan pemeriksaan froozen section sebelum
mengambil keputusan lebih lanjut.
- Setelah buli-buli terekspose dengan baik dimana
operator sudah dapat memprediksi letak tumor yang
sudah dilakukan evaluasi sebelumnya dengan
pemeriksaan sistoskopi, operator mulai
memperkirakan insisi dinding buli-buli. Letak insisi
harus jauh dari lokasi tumor. Beberapa peneliti
menganjurkan tiga sampai empat sentimeter dari leher
buli-buli dan tiga sampai empat sentimeter dari tepi
tumor, sehingga terekspose dengan baik.
- Dengan bantuan dua buah jahitan pagar yang sudah di
buat sebelumnya pada dinding buli-buli, dilakukan insisi
dinding buli-buli diantara dua jahitan pagar. Insisi
diperluas dengan kromklem sehingga tampak tumor
yang sudah dievaluasi sebelumnya.
- Gunakan allis clamp agar lapangan pandang tumor
dalam buli tampak jelas, sambil melakukan
hemostasis yg baik dgn elektro surgikal.
- Apabila dalam perencanaan eksisi tumor diperkirakan
akan mengenai muara ureter (karena lokasi tumor
dekat dengan muara), maka dapat digunakan stent
kateter ureter.
- Lindungi jaringan mukosa buli-buli normal dengan
kasa, guna mengisolasi jaringan tumor. Setelah
jaringan tumor dapat diekspose dengan jelas,
dilakukan wide eksisi jaringan tumor 2-3 cm dari
margin, termasuk lemak perivesikal.
- Jika eksisi tumor mengenai muara ureter, dapat
dilakukan reimplantasi ureter, yang sering digunakan
adalah cara Politano-Ledbetter.
JEF/99/136
- Sesudah jaringan tumor dieksisi dilakukan penjaitan
dua lapis.
- Tidak dianjurkan pemasangan kateter sistostomi.
- Pasang drain prevesikal, & kateter F 22 atau F 24
- Jahit dinding abdomen lapis demi lapis.
b. Radikal Sistektomi
Persiapan preoperasi
- Radiasi/ kemotrapi preoperasi dilihat kasus
perkasus
- Bowel sterilisasi
Prinsip teknik operasi :
Pengangkatan organ yang lebih luas / radikal. Pada laki-
laki dilakukan pengangkatan buli-buli, peritonium daerah
pelvis, prostat, vesicula seminalis dengan cara
sistoprostatektomi radikal, termasuk limfadenektomi
daerah pelvis. Pada wanita pangangkatan buli-buli
disertai organ sekitarnya termasuk peritonium daerah
pelvis, uretra, serviks, uterus, sepertiga dinding depan
vagina, ligamen maupun ovarium disertai
Limfadenektomi daerah pelvis. Diversi urin di kerjakan
berdasarkan persetujuan dokter, penderita maupun
kebiasaan operator, baik yang kontinen maupun yang
inkontinen. Metode yang biasa digunakan adalah dengan
cara Coffey atau cara Bricker.
Follow Up :
Tahun I : setiap 3 bulan
Tahun II : setiap 4 bulan
Tahun III : setiap 6 bulan & seterusnya.
Hal yang diperiksa pada saat kunjungan ulang :
Tentukan status penampilan ( performance status ),
menurut kriteria Karnofsky. Menentukan T,N dan M.
Dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratorik dasar,
dan sitologi urin.
Sistoskopi di kerjakan setiap kali kunjungan ulang, kecuali
telah dikerjakan sistektomi.
Foto thorak : setiap 6 bulan sekali
Pyelografi intravena : setelah 6 bulan, 12 bulan dan bila ada
indikasi tertentu.
PH dan elektrolit darah dikerjakan setiap kali kunjungan
untuk penderita dengan diversi urin.
Pemeriksaan yang lain dikerjakan hanya atas dasar indikasi
tertentu.
JEF/99/137
KARSINOMA PROSTAT
Karsinoma prostat adalah keganasan yang berasal dari sel
acinus prostat.
DIAGNOSIS
Anamnesa :
- Keluhan utama, lamanya keluhan, riwayat
pemeriksaan, pengobatan dan rujukan
- Gejala-gejala obstruksi infravesikal
- Tanda-tanda metastase
Pemeriksaan klinis :
+ Status umum : Tanda vital, Berat badan, Status
penampilan (Karnofsky)
+ Status urologi :
Inspeksi : Tanda-tanda pembesaran kelenjar
regional / juksta regional, tanda-tanda invasi organ
terdekat, tanda-tanda metastase.
Palpasi : Kelenjar inguinal, kelenjar hypogas-trika,
kelenjar Virchow, massa tumor di supra pubik.
Colok dubur : Nodulus, konsistensi prostat
berdungkul keras, mobilitas, invasi perkontinuitatum
ke vesikula seminalis, rektum.
Pemeriksaan laboratorium :
- Darah lengkap
- Faal hemostasis
- Faal hati
- Elektrolit
- Urinalisis
- Kultur urin dan tes kepekaan
- Antigen spesifik untuk prostat (PSA)
- Alkali fosfatase  curiga metastase tulang
Pemeriksaan radiologis :
- Thoraks foto PA/lateral
- IVP
- USG abdomen
- TRUS
- Bone survey/scanning
- CT scanning
- MRI
bila diperlukan
Histopatologi pre operasi :
 Sitologi urin bila didapatkan hematuria
 Colok dubur teraba nodul keras, didapatkan
peningkatan PSA > 4 ng/dl, lesi hypoekhoik pada
TRUS dilakukan Biopsi prostat
JEF/99/138
Uretrosistoskopi :
 Adanya kecurigaan invasi pada uretra, bladder neck,
buli-buli dilakukan uretrosistoskopi.
Diagnosa stadium klinis :
 Histopatologi (sitologi urin/Biopsi)  diagnosa stadium
klinis guna memilih terapi yang adekuat untuk
penderita.
Staging Batasan
Stage A1 Fokal
Stage A2 Difuse
Stage B1 Tumor pd 1 lobus kurang dari 1,5 cm
Stage B2 Tumor pada 2 lobus lebih dari 1,5 cm
Stage C Ekstensi ekstrakapsuler ke lemak
periprostatik, bladder neck atau
vesikula seminalis
Stage C1 Invasi vesikula seminalis (-)
Stage C2 Invasi vesikula seminalis (+)
Stage D1 Metastase regional ke kel. Lymfe pelvik
atau hydronefrosis karena obstruksi
uretra
Stage D2 Metastase kelenjar jauh, tulang, paru,
liver dan jaringan lunak lain
PROSTATEKTOMI RADIKAL
- Teknik suprapubik, insisi midline suprapubik sampai
dengan 2 cm di atas umbilikus membuang prostat,
vesikula seminalis beserta lymfedenektomi pelvik
meninggalkan jaras syaraf vaskuler.
- Tehnik perineal, insisi mercy pada perineal membuang
prostat, vesikula seminalis, jaras syaraf vaskuler
terpotong, insisi kedua di atas untuk lymfedenektomi
pelvik.
RADIASI EKSTERNA
Radiasi eksterna dengan rasdioterapi simulator (a.l :
Xymatron) baik untuk terapetik, adjuvan maupun
paliatif.
RADIASI IMPLANTASI
Retropubik implantasi I 125 pada prostat
TERAPI HORMONAL
BEDAH, Orkhidektomi subkapsuler
MEDIKAMENTOSA dengan estrogen, LH-RH agonis,
anti androgen
KEMOTERAPI
JEF/99/139
Dengan sitostatika pd kasus hormonal resisten
PENGOBATAN PALIATIF
Terutama pengobatan bebas nyeri pada keganasan
lanjut.
Radiasi eksterna pasca operasi
Dilakukan setelah TURP sebagai terapik adjuvan atau pada
prostatektomi radikal bila masih ada spillage, dosis 60 – 65
Gy.
Paliatif Radiasi eksterna untuk metastase tulang :
- Lokal, dosis 3500 – 4000 cGy selama 2 minggu
- Difus, radiasi hemibogy 800 cGy tiap kali pemberian
RADIASI IMPLANTASI
Dengan I 125 dimasukkan ke prostat melalui insisi
suprapubik dosis total 10.000 sampai 17.000 rads
HORMONAL TERAPI
 Orkhidektomi subkapsuler, dengan anestesi lokal
infiltrasi ke arah funikulus atau anestesi umum atau
regional, insisi pada raphe, dibuka rongga kanan kiri,
buka tunika vaginalis keluarkan isi testis dengan
meninggalkan epididimis dan kapsul.
 Medikamentosa :
- Estrogen, preparat DES dosis 3 mg/hari
- LH-RH agonis : leuprolide acetate, goserlin
- Antiandrogen : ketoconazole, flutamide
 KOMBINASI ANDROGEN BLOKADE
Kombinasi antiandrogen dengan LH-RH analog atau
orkhidektomi
KEMOTERAPI
Terutama untuk kasus hormonal resisten :
Obat Dosis
mg/m
2
Rou
te
Pemberian
hari ke
Frekuensi
Epirubicin 25-30 i.v 1-8-15 … Tiap
minggu
Adriamycin 30 i.v 1-8 Diulang
tiap 4
mgg
Cyclophos
phamide
100 p.o 1 s/d 14 Diulang
tiap 4
minggu
Adriamycin 50–60 i.v 1 Diulang
tiap 4
minggu
Platinumcis 50–60 i.v 1 Diulang
tiap 4
minggu
JEF/99/140
RADIASI EKSTERNA
- Stage A1, A2, B1 dimana lymfedenektomi hasil (-)
radiasi pada prostat saja dosis total 6400 cGy selama
6,5 minggu.
- Stage A2, B tanpa lymfedenektomi radiasi dengan
dosis 4500 cGy selama 4,5 minggu dilanjutkan pada
prostatnya saja 2000 cGy selama 2 minggu
- Stage A2, B dengan lymfedenektomi hasil (+) area
radiasi diperluas sampai dengan Th 2 sampai L5
dengan dosis 4500 cGy selama 4,5 minggu dilanjutkan
pada prostatnya saja 2000 cGy selama 2 minggu
- Stage C dengan lymfedenektomi hasil (-) radiasi area
pelvik dengan dosis 4500 cGy selama 4,5 minggu
dilanjutkan daerah prostat saja 2000 cGy selama 2,5
minggu
- Stage C dengan lymfedenektomi hasil (+) radiasi area
pelvik bila kelenjar para aorta positif juga diradiasi
dengan dosis 4500 cGy selama 4,5 minggu dilanjutkan
daerah prostat saja 2500 cGy selama 2,5 minggu
- Stage D1 area pelvik dengan dosis 4500 cGy selama
4,5 minggu dilanjutkan daerah prostat saja 2000 cGy
selama 2 minggu
PENATALAKSANAAN TERAPI
Stadium Batasan Alternatif
A
A1 Differensiasi baik,
fokal
A2 Bukan well
differensiasi, difus
Prostatektomi
radikal
Radiasi eksterna
Implantasi I 125
B,B1,B2 Prostatektomi
radikal
Radiasi eksterna
Implantasi I 125
C Tumor keluar dari
prostat
Metastase jauh (-)
PSA normal
Prostatektomi
radikal +
radiasi adjuvan
radiasi eksterna
D Metastase jauh
D0 PSA meningkat
persisten
Hormonal
D1 Metastase kel.
Lymfe regional
Hormonal
Radioterapi
D2 Metastase ke tulang
atau organ lain
Hormonal
D3 Metastase jauh
progresif lagi
setelah terapi
hormonal
Kemoterapi
JEF/99/141
TRAUMA GINJAL
Trauma ginjal adalah suatu proses rudapaksa yang dapat
menimbulkan kerusakan ginjal, bisa menyebabkan
diskontinuitas kortex atau bahkan dapat merusak medulla
sampai sistim pielokaliks, atau merusak pembuluh darah
utama ginjal. Biasanya merupakan salah satu diagnosa sari
multiple injured patient.
Klasifikasi :
1) Trauma major : 85 %
Kontusio : Memar atau hematom subkapsuler, kapsul
ginjal masih utuh
Laserasi minor : Kerusakan korteks parenkim ginjal
bagian superfisial tanpa disertai kerusakan medula
atau sistim kaliks.
2) Trauma mayor (10-15 %) (Ruptur Ginjal) : Kerusakan
parenkim yang meluas mulai dari korteks dan medulla
sampai ke sistim kaliks
3) Trauma vaskuler (1 %) atau Renal vascular injury :
oklusi atau terputusnya pembuluh darah utama ginjal.
DIAGNOSTIK
a) Anamnesa :
Keluhan, kencing darah, nyeri pinggang, riwayat
trauma ( mode of injury ), riwayat penyakit ginjal
sebelumnya ( batu ginjal, hidronefrosis, kista )
b) Pemeriksaan klinis :
Status Umum : Dicari apakah ada tanda kekurangan
darah atau adanya syok karena berkurangnya volume
darah atau cairan intravaskuler. Dicari apakah ada
kerusakan organ lain akibat proses rudapaksa yang
dialami penderita.
Status Urologis :
Inspeksi : Dilihat apakah ada jejas, hematome, luka
terbuka, luka tusuk, luka masuk atau luka keluar akibat
tembakan didaerah perut bagian atas ( kiri atau
kanan ), pinggang (kanan atau kiri) Dicari apakah ada
gross hematuria.
JEF/99/142
Palpasi : Dicari apakah ada tanda patah tulang iga 12,
dan tanda penumpukan darah didaerah ginjal.
Biasanya ditemui adanya nyeri tekan ataupun nyeri
ketok pada daerah ini.
Auskultasi : Pada kasus dimana sudah terjadi inhibisi
cairan dari retroperitoneal kedalam rongga peritoneal
biasanya ditemui tanda ileus paralitik.
c) Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan faal
hemostatik, faal ginjal dan eritrosit dalam sedimen
urine pada keadaan syok diperlukan pemeriksaan
hematokrit, analisa gas darah.
d) Pemeriksaan foto rongen
Pemeriksaan IVP di klinik ini dijadikan sebagai
pemeriksaan standard untuk penilaian klinis adanya
trauma serta menilai berat ringannya trauma ginjal.
Agar dapat terlaksana penderita tidak harus dalam
keadaan syok, dan tidak ada kontrainsikasi lain untuk
pemeriksaan radiologis dengan menggunakan kontrast
serta tidak boleh menunda tindakan yang bersifat live-
saving. Pada senter yang lebih maju, umumnya diluar
negari yang dijadikan standard adalah CT-Scan.
e) Pemeriksaan penunjang lain
Pada keadaan tertentu dimana pemeriksaan IVP tidak
dapat dilakukan atau kurang informatif dapat dilakukan
pemeriksaan dengan ultrasonografi.
Pada kecurigaan trauma pedikel, dapat dilakukan
pemeriksaan arteriografi renal.
Eksplorasi emergensi : adalah suatu tindakan eksplorasi
ginjal yang mengalami trauma yang bernilai live saving
dengan tujuan mengatasi perdarahan. Selain untuk
mengatasi perdarahan indikasi lain eksplorasi emergensi
adalah ; cedera vaskular ginjal, nonviable parenchym,
ekstravasi urine major. Macam perlakuan tergantung pada
derajat kerusakan ginjal yang ditemui saat eksplorasi serta
pertimbangan kondisi ginjal kontralateral. Tindakan yang
paling sering dilakukan nefrektomi. Tindakan lain yang
mungkin dilakukan adalah nefrektomi parsial, reparasi
kerusakan parenkim dan sistim kaliks serta reparasi
kerusakan vaskuler.
Terapi konservatif : 85% trauma ginjal hanya
membutuhkan tindakan tirah baring.
Eksplorasi tertunda : yaitu tindakan eksplorasi yang
dilakukan pada penderita dengan terapi konservatif
dengan komplikasi berupa gejala perdarahan
berulang, infeksi dan timbulnya urinoma.
Terapi Late complication : pada penderita yang pernah
mengalami trauma ginjal dapat timbul komplikasi
berupa hipertensi, fistel arteri-venosa, urolithilasis
dan pielonefritis. Pada penderita tersebut dapat
dilakukan tindakan ; terapi urolitiasis koreksi
hidronefrosis atau fistel AV, atau nefrektomi.
JEF/99/143
1. Eksplorasi emergensi
A. Persiapan Pra Bedah gawat darurat. :
- Melakukan resusitasi kardio-pulmonal, agar
optimal untuk pembedahan emergensi
- Mempersiapkan kebutuhan cairan dan darah
yang dibutuhkan untuk pembedahan
- Memasang kateter uretra
- Melakukan informed consent
B. Alat yang diperlukan
- Satu set alat major set surgery
- Ring spreader besar
- Peralatan untuk oklusi pedikel ginjal : klem
satinsky, bulldog
- Alat untuk diversi urine atau untuk tindakan
splinting ; DJ Stent, Gastric tube 8 Fr, Kateter
folley 20 Fr
- Redon drainage set steril
C. Teknik Operasi / Eksposur ginjal
- Karena besar kemungkinan adanya trauma organ
intraperitoneal maka approach operasi adalah
lewat sayatan perut vertikal dibagian tengah.
- Penderita dalam posisi terlentang
- Buat sayatan mediana dari prosesus sifoideus
kearah simfisi pubis
- Ekspolarasi organ intraperitoneal (hepar, lien,
usus, omentum). Umumnya reparasi organ
intraperitoneal dilakukan lebih dulu, kecuali kalau
perdarahan retroperitoneal yang lebih
mengancam.
- Pasang ring spreader
- Usus halus dikeluarkan dan ditempatkan diatas
dinding perut kontralateral.
- Peritoneum posterior dibuka vertikal secara
tajam di sebelah medial dan sejajar vena
mesenterika inferior. Kalau perlu agar
eksposure dapat lebih baik, pada sisi kiri, arteri
dan vena mesenterika inferior dapat dikorbankan.
- Pasang klem vaskuler pada vassa renalis
- Insisi peritoneum posterior pada daerah white
line ipsilateral, kolon disisihkan ke arah medial,
agar daerah retroperitoneal ipsilateral dapat di
ekpose, bebaskan ginjal dari lemak perirenal.
- Hematome dan darah yang terkumpul pada
daerah retroperitoneal di keluarkan, nilai derajat
kerusakan ginjal, dan vaskular.
- Perlakuan terhadap ginjal yang mengalami
trauma tergantung pada beratnya kerusak-an,
JEF/99/144
perkiraan waktu yang diperlukan untuk
tindakan yg bersifat koreksi, adanya trauma
penyerta lain serta keadaan umum penderita saat
operasi
D. Teknik Reparasi ginjal
- Ginjal didinginkan dengan Ice slush. Buka klem
pada vena renalis agar lokasi perdarahan dapat
terlihat,
- Perdarahan diatasi dengan jahitan angka 8
dengan chromic cat gut 4.0.
- Laserasi parenkim dijahit dgn chromc cat gut 4.0
- Drainage retroperitoneal dipasang kalau ada
kecurigaan ekstravasasi urine
E. Nefrektomi
- Pada tindakan nefrektomi parsial (atas atau
bawah), sebaiknya dilakukan ligasi arteri
segmental terlebih dulu
- Kalau diputuskan untuk melakukan nefrektomi
total tindakan diawali dengan memasang klem
hilus, kemudian nefrektomi dan kemudian
dilakukan double ligasi pada arteri dan vena
renalis secara terpisah dengan benang sutera
No. 1
F. Repair Vaskuler
- Robekan pada arteri atau vena renalis dilakukan
jahitan dengan prolene 5.0, interrupted.
- Pada trombosis yang menimbulkan oklusi
mungkin diperlukan graft yang berasal dari vena
safena
G. Repair Sistem Pielokaliks
- Robekan pada pielum atau UPJ dijahit dengan
chromic cat gut 4.0 atau 5.0 dan dengan
pemasangan splint
H. Teknik Eksplorasi delayed
- Ginjal di ekpose melalui sayatan lumbotomi
lateral (ICS XI-XII)
- Perlakuan pada ginjal tergantung berat ringanya
kerusakan yang ada (seperti 1d,e,f,g)
2. Terapi Konservatif
80-85% trauma ginjal merupakan kontusio dan laserasi
minor, dan tidak membutuhkan terapi pembedahan, dan
hanya memerlukan tirah baring, sampai makrokopis
hematuria menghilanh dan tanda vital normal dan stabil
(berapa lama waktu yang diperlukan tidak disebutkan dari
JEF/99/145
kepustakaan). Tindakan yang dilakukan pada terapi
konservatif ini adalah :
- Tirah baring
- Monitor Tanda vital berkala (tekanan darah nadi,
frekuensi nafas dan suhu rektal)
- Monitor perubahan tanda fisik pada status lokalis :
flankmass, nyeri lokal
- Monitor tanda berlanjutnya perdarahan ; Hb,
hematokrit, Urine serial.
Terapi konservatif diangap tidak berhasil kalau didapatkan :
- Perdarahan masih berlanjut, dengan tanda flank mass
bertambah besar, atau gross hematuri menetap,
- Ekstravasasi urine yang cukup besar (urinoma)
- Komplikasi infeksi / sepsis
- Perdarahan sekunder.
3. Perawatan pasca Bedah / follow-up
- Pada penderita yang di nefrektomi perhatian harus
ditujukan pada ginjal yang masih ada agar terhindar
dari proses patologi lain yg dapat timbul
- Pada penderita yang diterapi konservatif atau dengan
koreksi pembedahan harus dilakukan pemeriksaan
teratur secara berkala agar komplikasi yang timbul
berupa hipertensi, fistel arteri-venosa, urolitiasis,
hidronefrosis dan pielonefritis dapat diketahui dan
dikoreksi sedini mungkin.
JEF/99/146
TRAUMA BULI-BULI
Trauma buli-buli adalah hilangnya kontinuitas dari dinding
buli-buli, dapat disebabkan oleh trauma tajam, trauma
tumpul maupun iatrogenik.
Semua penderita yang dicurigai trauma buli-buli, yaitu
penderita dengan riwayat trauma yang disertai dengan :
- Tidak keluar kencing atau tidak ingin kencing
- Kencing darah atau bercampur darah
- Nyeri didaerah supra symphysis/perut bagian bawah
- Nyeri tekan didaerah abdomen dan tegang
(peritonismus)
- Sistografi : ada ekstravasasi kontras
- Test buli-buli : cairan yang keluar < cairan yang masuk
buli
DIAGNOSIS
a. Anamnesa :
Keluhan utama :
- nyeri didaerah supra simphysis
- kencing darah atau bercampur darah
- tidak keluar kencing dan atau tidak ingin kencing
Anamnesa kausal :
- riwayat trauma
- nstrumentasi didaerah urethra buli-buli
b. Pemeriksaan klinis :
1. Status umum : Tensi, nadi, respirasi (ingat ABCD,
karena biasanya disertai dgn trauma ditempat lain)
2. Status urologi :
Inspeksi :
- adanya jejas didaerah symphysis atau pelvis
- kwalitas urine yang keluar ( hematuria )
- abdomen distended bagian bawah (supra simphysis)
Palpasi
- nyeri tekan di supra simphysis / abdomen bawah
- abdomen tegang (peritonismus)
- buli-buli tak teraba (kosong)
- terdapat infiltrat urine di daerah prevesikal
Perkusi : nyeri ketok supra simphysis
RT: prostat melayang/tidak teraba ditempat
c. Pemeriksaan laboratorium :
 Sedimen urin
 Darah lengkap
 RFT, LFT, FH
 Kultur urin
d. Pemeriksaan radiologis :
JEF/99/147
- Foto polos abdomen dan sistografi
- IVP (bila juga dicurigai ada trauma di upper tract dan
vital sign-nya stabil
- Foto thoraks
e. Pemeriksaan penunjang :
- Test buli-buli :
Masukkan PZ ± 300 cc melalui kateter perurethra,
kemudian keluarkan lagi bila jumlah yang keluar lebih
sedikit ÷ trauma buli-buli.
- Sistoskopi
Terapi trauma buli tergantung letaknya, yaitu extra
peritoneal atau intra peritoneal.
DIAGNOSTIK
Alat yang disiapkan :
Linen set, terdiri dari :
- Taplak penutup meja instrumen
- Duk besar dan kecil
- Baju operasi
- Sarung tangan
- Set Instrumen
- Desinfeksi klem
- Kateter Folley No. 16 dan 20 + urobag
- Benang : - Plain cat gut No. 3-0
- Dexon No. 4-0
TEKNIK OPERASI
- Beri profilaksis antibiotika (ampisili 2 gr) sebelum
operasi (bila ada hasil kultur urin, profilaksis sesuai
kultur).
- Pasang foto sistografi (bila ada) pada kotak cahaya
- Setelah dilakukan anesthesi, baik regional ataupun
general penderita diletakkan dengan posisi terlentang.
- Desinfeksi (dengan larutan povidon iodin 10%)
didaerah paha atas, skrotum, penis sampai di
processus xyploideus.
- Pasang duk kecil dibawah skrotumnya
- Persempit lapangan operasi dengan duk steril
- Insisi kulit midline ± 10 cm, lapis demi lapis dan rawat
perdarahan
- M. rektum abdominis di split (dipisahkan) pada linea
alba (tengah-tengah)
- Sisihkan prevesikal fat kearah kranial sehingga buli-buli
terlihat keseluruhannya dengan jelas.
- Periksa dengan teliti seluruh dinding buli-buli, tentukan
letak, jumlah, ukuran dan bentuk robekannya :
- Bila bentuk robekan tidak teratur, perlu dilakukan
debridement pada tepi-tepinya.
JEF/99/148
- Bila letak robekan di intraperitoneal, maka dilakukan
repair trans peritoneal
- Pasang DK 16 F per urethra sebelum dilakukan
penjahitan buli-buli, dan pastikan DK masuk di dalam
buli (balon kateter jangan dikembangkan dulu, agar
tidak tertusuk sewaktu menjahit buli) pada kasus -
kasus ruptura yang berat atau pertimbangan lain perlu
di pasang kateter sistostomi Ch. 22 atau 24.
- Jahit robekan buli 2 lapis, yaitu :
+ Jahit mukosa-muskulari buli dengan plain cutgut 3-0
secara jelujur biasa
+ Jahit mukosa-muskularis dengan dexon 4-0, satu-satu
- Kembangkan balon kateter dengan PZ ± 10cc
- Lakukan test buli-buli, untuk mengecek jahitan buli
(bocor/tidak)
- Cuci lapangan operasi dengan PZ sampai bersih
- Pasang redon drain perivesikal (di cavum Retzii) dan
fiksasi dengan silk 1-0 di kulit
- Tutup lapangan operasi lapis demi lapis
- Dekatkan M. rektus abdominis dengan chromic 2-0
satu-satu
- Jahit lemak subkutan dengan plain cat-gut 3-0 satu-
satu
- Jahit kulit dengan silk 3-0 satu-satu
PERAWATAN PASCA OPERASI
- Bila bising usus (+) dan tidak muntah, segera di MSS
(minum sedikit-sedikit)
- Mobilisasi sedini mungkin (bila dengan anesthesi SAB,
mobilisasi/duduk setelah 24 jam post operasi)
- Rawat DK dengan baik, perhatikan fixasinya dengan
baik
- Usahakan di uresis yang cukup (minum : 2-3 liter/hari)
- Rawat luka dan vaccum drain tiap hari
- Catat produksi urin dan drain
- Lepas DK atau kateter sistostomi pada hari ke 7
dengan profilaksis antibiotika sesuai kultur urine
(ampisilin 2 gr, bila hasil kultur (-) )
- Lepas drain, setelah lepas DK dan produksinya < 20
cc dalam 2 hari berturut-turut.
JEF/99/149
Urofarmakologi
Nama obat Pengaruh
pd SSS
SS otonom
SSPS
Pengaruh
pd miksi
Efedrin
À Ä
Ret. Urin
Imipramin
À Ä
Ret. Urin
Fanilefrin
À Ä
Ret. Urin
Amfetamin
À Ä
Ret. Urin
Metamfetamin
À Ä
Ret. Urin
L-Dopa
À Ä
Ret. Urin
Fenoksibenza
min
Ä À
Ink. Urin
Fentolamin
Ä À
Ink. Urin
Metildopa
Ä À
Ink. Urin
Reserpin
Ä À
Ink. Urin
Neuroleptika
Ä À
Ink. Urin
Prazosin
Ä À
Ink. Urin
Clonidin
Ä À
Ink. Urin
Oksibutinin -
Ä
Ret. Urin
Hyociamin -
Ä
Ret. Urin
Dicyclomin -
Ä
Ret. Urin
Probantin -
Ä
Ret. Urin
Betanekol -
À
Ink. Urin
Karbakol -
À
Ink. Urin
Neostigmin -
À
Ink. Urin
Fisostigmin -
À
Ink. Urin
Klorfeniramin
À -
Ret. Urin
Tripelenamin
À -
Ret. Urin
Cyproheptadin
À -
Ret. Urin
JEF/99/150
Klinefelter’s syndrome :
Fost common form of primery hypogonadism and infertility
in males.
Cromosome : 47,XXY
Incidence Ca mamma 20 x lebih tinggi
Delay in the onset of adolescence
Hialinisasi dan fibrosis tubulus seminiferus >>>
FSH >> dan Testosteron <<
Terapi  androgen replacement :
- Testosteron 50 – 100 mg / i.m./montly.
Turner’s syndrome (gonadal dysgenesis)
Cromosom : 45,X or XO.
Cardinal feature :
-variety of somatic anomalies,
-sexual infantilism,
-short staure.
Lymphedema of extremities and loose skin folds
Micrognathia, epicanthal folds, prominent low set ear
Fishlike mouth and ptosis.
Chest shieldlike, neck short, Hypertensi, renal
abnormalities,cubitus valgusshort fourth metacarpal.
True Hermafrodism
Ambigius genetalia
Cromosome : 46,XX (60%) atau 46,XY (20%).
Ovotestis in the inguinal region or labioscrotal folds
Criptorchidism and hipospadia are often
Female Pseudohermaphroditism.
Normal ovaries with ambigius external genetalia.
Mascullinization
Congenital adrenal hperplasiaautosomal recessive
Male Pseudohermaphroditism.
Have testis, but external genetalia not completely
masculinized.
Causa : -Defect in testicular differentiation
-Kegagalan sekresi testosteron
-Faillure of target tissue response to testosterone
or dihidrotestosteron
-Kegagalan konversi testosterone menjadi
dihidrotestosteron.
Pemeriksaan pada intersexuality :
1. History : family history, pregnancy (hormon)
2. Physical examination: KGB, labioscrotal folds, RT.
3. Karyotype analysis.
4. Initial studies : Plasma 17-hydroxyprogesteron,
dihidroepiandrosterone, testosterone and
dihydrotestosterone.
5. Serum elektrolite
JEF/99/151
6. Sonogram or MRI of the kidney, ureter and pelvic
content.
7. Provisional diagnosis
8. Vaginogram (selected cases)
9. Endoscopy, laparotomy, gonadal biopsy.
JEF/99/152

Hb toleransi :
Hb : 8 grm/ dL Ht : 25 % Alb : 2,5 grm/ dL Tranfusi Plasma : Indikasi : 1. Koreksi defisiensi faktor pembekuan 2. Koreksi defisiensi Ig heriditer. 3. Koreksi hipovolemia karena plasma leakage (DHF) No. 1 dan 2 dosis :  1 jam I = 10 cc/ kg BB/ jam jam berikutnya : 1 cc/ kg BB/ jam No. 3 dosis : 10 - 20 cc/ kg BB

Dopamin :
1. Dosis rendah(CVP dbn, TD ): 2 micro-grm/kg BB/mnt  u/ meningkatkan flow rate pre renal mengaktifkan reseptor dopaminergic vasodilatsi renal vascular  diuresis adrenergik efek minimal 2. Dosis sedang (CVP , TD , urine ) : 2 - 8 microgrm /kg BB / mnt  u/ meningkatkan tensi stimulasi beta-1  HR , CO  3. Dosis tinggi : 8 – 20 micro-grm/ kg BB/mnt  stimulasi alfa-1  retensi perifer GFR  Cara membuat sediaan : 1 ampul dopamin = 200 mg 200 mg dopamin dilarutkan dalam 500 cc D5%  1 cc = 200 / 500 = 0,4 mg 1 cc = 400 micro-grm 20 tts = 400 micro-grm 1 tts = 400 / 20 = 20 micro-grm Bila BB = 50 kg Dosis kecil = 2 micro-grm x 50 /mnt  100 micro / mnt  100 / 20 = 5 tts / mnt Rumus praktis = J x BB x 6 / 100 tetes per menit J = jumlah dalam yg dibutuhkan dlm micro

Dobutamin :
- Selektif beta-1 agonis - CO  , efek inotropik lebih baik - Retensi perifer sedikit - T, RBF, aliran darah mesenterik  Dossage :

JEF/99/2

1 ampul = 250 mgr = 20 cc Dosis awal : 0,5 micro-grm /kgBB/mnt Cardiogenik syok 2 – 10 micro-gr /kg/mnt Range dose : 2 – 20 micro-gr /kg/ mnt Cara membuat sediaan : 250 mgr dalam 250 cc D5 atau PZ

ARDS:
1. Fase I : - Gangguan perfusi dan metabolisme - Ronkhi basah - Foto normal Fase II : - Foto tampak kelainan - Hipoksemia tak dpt diperbaiki dgn cara biasa respirator Fasse III : - Hipoksemia kuat - Foto  tanda udem paru (infiltrat difuse) Fase IV : - Cardiac aritmia - Sepsis - Hipoksemia berat jam :

2.

3. 4.

Patologi ARDS :
18 congesti, atelektasis, intestinal udema, tromboemboli 48 jam : intra alveolaar hemorrhage 78 jam : konsistensi paru seperti hepar , alveolar turun. Trombus / emboli vena : Trombus  arteri / vena besar Vena : pembentnukan fibrinogen sangat penting, sedang agragasi trombosit hampir tidak ada, arterosklerosis tak berperan.

Faktor penentu :
1. 2. 3. dinding pembuluh darah aliran darah komponen darah

Tingkat dehidrasi :
Cairan hilang % BB A. Ringan (< 5 % BB) Gejala klinis Irritable, bibir kering, kulit hangat & kemerahan, turgor sedikit , rasa haus. B. Sedang (10 % BB) Gelisah , mata cekung, tek. Intraoculer , demam, pucat, turgor , demam , takikardi, ubun cekung, oliguri. C. Berat (> 15 % BB) Apatis / somnolent, hipotonia, mata cekung , tek. Intra oculer jelas turun, pucat/ cianosis, turgor ,

JEF/99/3

hiperpireksia. Jika panj lewat vena perifer : hari I  RD5 : D5 = 2 : 3 hari II & III  AA 2.5 % KH : D10 = 2 : 3  (900 kcal + 25 grm AA) hari IV & V  AA 2.1  933 kcal Triparen No. intake minum   uremia Trauma score (0 .III  AA 5 % KH10 : D10 = 2 : 3  (1000kcal +50grm AA) hari IV dst AA5 % KH10 : D20 = 2 : 2  ( 1200kcal+ 50 grm AA) D20 diberi bersama insulin 20 IU/ 500 cc AA 2. kkejang.24 :4 :2 25-35 : 3 > 35 JEF/99/4 . nadi lemah . Kurang dari 5 hari : hari I RD5 : D5 = 2 : 3  ( =500 kcal) hari II & III RD5 : D10 = 2 : 3  (800 kcal) hari IV & V RD5 : D20 = 2 : 2  (1000 kcal) b. Nafas. frekuensi :10 . Pemberian NPE : A. ubun sangat cekung. Caranya : awali dengan 50 cc D 5 % / jam Lipid diberikan 30 % dari kebutuhan kalori. Jika panj lewat vena central : hari I  RD5 : D5 = 2 : 3 hari II .5 % KH : D10 = 2 : 2  (1100 kcal + 25 grm AA) c.12) : 1.5 % +KH : Plasmatein ( 300 cal + 25 grm AA) AA 5 % + KH10 : Aminofel 600 ( 450 cal/L + 50 grm AA+25 meq K+) Triparen : Elektrolit + glukosa + xilitol + fruktosa Triparen No. putih kehijauan. Infeksi  suhu .2  1200 kcal EAS 7 %  osmol rendah  1 L = 50 grm AA Intralipid 10 % dan 20 % tubuh mencerna lemak tidak bisa langsung Amiparen  100 grm AA / L Aminofusin  50 grm AA /L  Isi AA essensial + AA rantai panjang Panamin G : AA 27 grm/ L Kebutuhan kalori pasca trauma/sepsis 1000 kcal/m2 atau 25 kcal /kg BB atau 5 gram / kg BB Asam amino = 1 gram / kg BB 50 gr protein /hari  perlu 1200 kcal (300 gr gula) Nutrisi Enteral dimulai diberikan jika retensi lambung < 200 cc/hari dengan warna jernih.

13 8 .5 .<10 0 2.5 meq/L JEF/99/5 .15 11 .4 meq/kg/hr) 1 grm KCl = 13. Defisit K+ x BB -----------------------.4 meq (kebutuhan 1 .2 meq/kg/ hr) 1 grm Na.16 Bila trauma score 9  harapan hidup 9/16 x 100 % Koreksi elektrolit : Kalium  Normal : 3.9 meq 1 cc Meylon = 1 meq KCl 7. Tekanan sistolik > 90 70 .5 K+= Defisit x BB BE = ----------------------3 Cara masuk : . = 5. GCS 14 .90 50 . Bic.2 mg/ kg/ hari Hati -hati pada orang tua.5 %  1 cc = 1 meq/L KCl 15 %  1 cc = 2 meq/ L NaCl 15 %  1 cc = 2.5 meq/L Kebutuhan : 1 .1 meq (kebutuhan harian 2 .10 5-7 3-4 <3 :1 :0 :1 :0 :4 :3 :2 :1 :0 :2 :1 :0 :5 :4 :3 :2 :1 :0 Score : 1 .½ lagi drip 1 grm NaCl = 17.x cc 10 Cara masuk  masukkan koreksi (KCl 15 %) dlm drip D5 dengan monitor EKG. Indikasi koreksi kalium bila K < 2. Usaha Bernafas : Normal Dangkal/retraksi 3.69 < 50 0 4.½ bolus meylon . Pengisian kapiler : Normal (< 2 detik) Lambat ( > 2 detik Tidak ada 5.

Evaluasi proses kompensasi : Compensasi respiratori asidosis : a.Analisa Gas Darah : * Acidemia (pH turun) : [H+] > 45 atau pH < 7.6.< 32 b. K masuk sel  K serum  Asidosis : H+ masuk sel.Normal  normal/ mixed 2. Evaluasi [HCO3-] : .High  metabolik alkalosis .Tranfusi masif Gangguan Asam Basa  mempengaruhi distribusi K+ JEF/99/6 .35 * Alkalemia : [H+] < 35 atau pH > 7.Low (hippocapnia)  respiratori alkalosis 4.pCO2 : Low  respiratori alkalosis overall  penderita acidemia dgn lesi primer metabolik asidosis dengan proses kompensasi respiratori alkalosis.pH : Low  asidemia .High  alkalosis – primery lesion .Pemberian NaHCO3 >> . Evaluasi pH : . Alkalosis : H+ keluar sel. Cronik (2-4 hari) : HCO3.High (hipercapnia)  respiratori asidosis .< 45 Rumus [HCO3-] = 0.45 * Metabolik alkalosis [HCO3-] > 35 * Metabolik asidosis [HCO3-] < 23 * Respiratori asidosis [PCO2] > 45 * Respiratori alkalosis [PCO2] < 35 Step : 1.[HCO3-] : Low  metabolik acidemia .Low  metabolik asidosis 3. Evaluasi pCO2 : . Acut : HCO3. Combine information : . K keluar sel  K serum  Metabolik alkalosis : -Retensi HCO3-Loss H+ >> Causa :  Loss H+  GIT : muntah >>  Renal Loss H+ : -Minerallocortikoid excess . 5.Hipoparathiroid  Retensi Bicarbonat : .43 x pCO2 + 7.Low  asidosis – primery lesion .

Causa :  Produksi asam organik >> : Ketoasidosis diabetik Sepsis. H+ >> . diarhea. laktic acidosis  Bila anion gap normal (12 mEq/lt)  berarti kehilangan bicarbonate dengan retensi cloride : RTA.  Bila Anion gap  (>14 mEq/lt)  berarti terjadi penambahan asam : RF.GGA .Ekskresi H+ <<  HCO3 .5 mEq/L Causa : . Anion gap normal.Perdarahan GI. Ketoasidosis. Anion Gap : Perbedaan antara Na serum dan jumlah Cl + bicarbonat. Menghitung Tetesa infus : Jml cairan infus Makro : ----------------------lamanya infus x 3 Jml cairan infus Mikro : --------------------------lamanya infus (jam) Hiperkalemia : > 5.Prod. pangkreatic fistel. BB x 0.Nat needed 1 Ampul NaHCO3 = 44 mEq. Perfusi  Obat-obatan  Kegagalan mekanisme ekskresi Ren : Oliguri ARF CRF Renal Tubular Asidosis  Bicarbonat Loss >>> : GE. Urinari diversion.asidosis metabolik  K intrasel keluar . Anion gap meningkat 2. Ada 2 macam : 1. Fistel pangkreas Koreksi Asidosis Metabolik :  Bicarbonat.  Asidosis  K+ keluar sel  Hiperkalemia Alkalosis  K+ masuk sel  Hipokalemia Metabolik Asidosis . Shock. JEF/99/7 .Trauma jaringan >>> .3 x (25 – HCO3 – serum) = mEq Bic.

diantaranya diberi Kalium glukonas) *Clsium glukonas (10 %) : 10 .Ektra renal : muntah. kesaaran turun .Aritmia.lemah oto.nafas cheyne stokes JEF/99/8 .haus. Acut : *Gluk hipertonik(D40%) + 10 . ( boleh 2 x dgn jarak 1 jam. reflek tendon turun . parestesi . gelombang U menonjol Terapi : a. gelisah  koma .V. muntah . flat P wave. K = 1 mEq Kenaikan 3 mEq Na. QRS melebar Terapi : a.20 cc / iv *Dialisis *Sodium bicarbonat “ 50 .sensorik turun. Non. Cronik : .Renal : shock (anoksia jaringan).2  menimbulkan perub. flaccid/ tetani . mialgia.Gx/ : . nokturia . letargi .elektrolit yg ada x BB x 0.gelisah. : 40 mEq/ jam dgn monitor ECG Hiponatremia : < 120 mmol/l Klinis : . serum  defisit air  1000 cc Hipokalemia : < 3 mEq/l causa : .Diet rendah K Tiap perubahan pH 0.basa : alkalosis.120 mEq/ hari (aspar K) b. Cont.ECG : flat T wave atau T terbalik. Lemah otot .urgent : Oral : 80 . Urgent : max. ileus. diare.muscle cramps.mual.aritmia .ileus. mual.ECG : peak T wave.agitasi. fistel usus. 6 meq b.20 UI RI.100 mEq/ iv *Pemberian elektrolit : Defisit + kebutuhan /hari = ………/ 24 jam Defisit = Elekt Normal .hipotermia . kram. : Hiperkalemia 7.reflek tendon turun. 8 meq di terapi dgn cara : D40 %  25 cc 2 unit insulin I. combus . asidosis Klinis : .Inbalance asam . kejang . diuresis >> .

dan ½ lagi bolus.5 meq/lt Acidemia  H+ plasma meningkat  masuk intra sel K+ keluar  hiperkallemia Penilaian Obstr. supra & infra klcikula.< 10 : HCO3. muka pucat.24] Osmolalitas dan Consentrasi Na plasma : glukose BUN P osm = 2 x [Na+] + ------------.3 positif.Na+) Hipernatremia : Water defisit (lt) = 0.excess = 0.HCO3-] * Pada alkalosismetabolik : HCO3. pusat pernafasan mulai letih. retraksi supra sternal & epigastrium Derajat III : Gelisah sukar bernafas.5 x LBW x [ HCO3. anciety.5 x LBW x (Na/140 -1) pH turun 0.+ ------18 2. Derj. Na menurun Hiponatremia : Na defisit = 0.x cc 12.6 x LBW x (140 . Epigastrium.Terapi : * NaCl 3 % .1  K+ naik 0. retraksi supra sternal. III  tidak boleh diberi sedatif Penilaian Obstr.7 x LBW x [10 .. Jalan Nafas (Jackson) Derajat I : pasien tenang hanya ada retraksi supra sternal Derajat II : gelisah.8 glukose Efektif P osm = 2 x Na+ + ----------18 Na+ + K+ Plasma Na+ = ------------------TBW Pada hiperglikemia : Setiap kenaikan glukosa 62 mg/dl akan menurunkan Na : 1 meq/lt  akibat perpindahan air dari sel ke ektra sel Hiperglikemia  P osm meningkat. Jalan Nafas (Silverson Anderson ) : JEF/99/9 . Estimasi defisit bicarbonat dan excess : * Pada asidosis metabolik yang berat dgn HCO3 .intercostal.defisit = 0. kec.5  ½ : drip. infus : 1 mEq/L/hari (max) * Infus PZ / RL Defisit x BB Natrium : ----------------------. II & III  segera trakheostomi Derj. Derajat IV: Tanda 1 .

50 70 . Fr.50 10 . Respiratori faillure : nafas sponta tapi tidak adekuat Penderita dgn operasi + hemodilusi Bleeding >> ( >1/3 blood vol) dan diganti dgn RL.Syncronized 0 . BMR = 0.None 0 .70 50 -100 50 . dextran. 2.See saw 2 Lower Chest : . Cervik.Upper chest : .Lag on inspiration 1 .6 > 35 < 15 < 25 <10 < 70 > 350 > 55 > 0.60 FiO2-1 75-100 50-200 35 .35 15 . cc/kg FEV1 (cc/kg) Oksigenasi : Pa O2 Aa DO2 Ventilasi : Pa CO2 VD/VT 12 .200 200-350 45 .Marked 2 Expiratori grubting : .SGB.45 0.55 0.75 {0.74(sistole .Just visible 1 .72.25-0.Marked 3 Xyphoid retraction : . 3.25 30 . miastenia gravis. Indikasi pemasangan Ventilator : 1. Nafas VC (cc/kg) Kuat ins.Just visible 2 .4 .4 Komposisi Cairan Tubuh : JEF/99/10 .6 Mekanik : Frek.Just visible 1 .diastole) + Nadi } . Perawatan Insufisiensi Nafas/ Pontodidan Normal Tindakan Fisio tx Intubasi dada Tx O2 & obs Nafas ketat buatan 25 .0.No retention 1 .30 25 .None 0 . 3.Marked 2 Bila grade II :  siapkan trakeostomi. PZ Post trepanasi yg perlu black out (tidur tidak nafas) dgn obat anestesi Respiratori arrest : .

Parese ekstremitas atas > bawah .15 anxious confuse Class IV > 2000 > 40 > 140   > 35 confus letargi Blood loss/ cc Blood loss/% BV Pulse rate BP Pulse pessure RR Urin/ jam CNS Anterior cord syndrom : .30 > 100 N  20 . & nyeri kontra lateral JEF/99/11 .30 mild anxious Class III 1500 2000 30.75 10 .Gangguan fungsi autonom (bladder disfunction) Brown sequard sindrom : .Hilang rasa nyeri dan suhu dibawah lesi .20 0 75 .40 > 120   30 .Sentuhan ringan.100 135 .Cairan Urin Kringat Nafas GIT Ekstra sel Intra sel RL PZ K (mEq/L) 40 .Hemiseksi spina cord .Parese/ paralise . propioseptif dan vibrasi positif Central cord sindrom : .60 0 0 10 4 150 -170 4 0 Na (mEq/L) 60 .40 5 .70 Class II 750 1500 15.Gangguan semua fungsi sensoris .30 20 .Gangguan suhu.150 10 135 135 Estimasi Blood Volume: Umur : Neonatus Bayi Anak Dewasa Class I < 750 cc < 15 % < 100 N N or  14 20 > 30 slight anxiou cc/ kg BB 85 80 75 65 .

Medikamentosa : Kanamicin = 3x500 mg  3 hari pre op.Bradikardi . Flatus (-) 4. Muntah ( >> isi lambung) 2. Neomicin 4 x 500 mg  2 hari Metronidazol 3 x 750 mg  2 hari Tetraciklin 4 x 250 mg  2 hari Klindamicin 3 x 450 mg  2 hari b.Hipotensi .25 . Abdomen distended (central)  BAB (-) 3.Laxan : bisacodyl . Perkusi tympani JEF/99/12 ..15 mg Bowel sterilisasi : a.Hipotensi Spinal Shock : . LMN : pada lesi ) Neurogenik shock : Aliran adrenergik dr simpatis ke cord vasculer perifer hilang : Gx/ . Bising usus (-) 5.Fungsi motorik . BCR negatif. gangguan vibrasi dan sentuhan satu sisi (UMN : bawah lesi. paraplegi .Fungsi reflek Fungsi tersebut hilang dibawah lesi klinis : reflek (-). Mekanik : . nadi < 90 Perfusi perifer baik (akral hangat) Tidak berkeringat.Lavement : gliserol Bubur rendah serat 3 hari Lavament atas dan bawah Paralytik Ileus : Klinis : 1.Paralisi. Terapi spinal shock : Infus D5 ½ NS Posisi trendelenberg NGT / Kateter Oksigen Cegah hipotermi Bila bradicardi < 80 beri SA 0. flakcid Tanda spinal shock : Tensi < 90.Fungsi sensoris .

infus (hartman Sol) . Takhikardi 7.bising usus mula-2 meningkat  kmd turun .hipotensi shock Lab.leukositosis (DL) . muntah .Air fluid levels Tx/ .mual.usus besar dan halus distensi .Infus .elektrolit bervariasi .nyeri abdomen .Konservatif : .AB : ampi.NGT & DK .perut : distensi.metabolik acidosis Foto : BOF  .air fluid level Tegak & LLD  foto diagram – volume bebas Pre operasi : . kaku dan nyeri tekan . genta. : .6.Usus distended . metro JEF/99/13 . hipotensi BOF : .febris .NG tube Cegah adesi usus dengan : Dextran & gelatin yg telah dimodifikasi Perlekatan :  penyembuhan usus dari dalam penyembuhan kulit dari luar Hemostasis Inflamasi Proliferasi Remodeling Peritonitis : Klinis : .

520mg 10 mg 20-40 mg Frekuen si 2 x/ hari 3 x/ hari 4 x/ hari 4 x/ hari 3 x/ hari 4 x/ hari 2 x/ hari 3 x/ hari 4 x/ hari 1 x/ hari <7thn 2x >7thn 3x 1 / hari 4 x/ hari 3 x/ hari 2x/ hari 2x/ hari 2x/ hari 1 x/ hari 1x/ hari Test Coma pada anak :  Curiga hipoglikemi = D40 : 1 cc /kg BB  diencerkan dgn aqua 1 : 1  IV Cairan Maintenance : (holiday & Segas) Vital sign .5 mg 10-25 mg 6.5 mg 7.25 12.Diastolik = 2/3 x sistolik Infant Preschool Adolescen Nadi 160 120 110 Tensi 80 90 100 RR 40 30 20 JEF/99/14 .5 mg 15 mg 10-25 mg 7-10 mg 2 mg 100 mg 12.5.5-25 mg 2537.5 mg 12.Dosis Obat pada Anak : Obat Amikasin Amoxicillin Ampicillin Cefalexin Cefazolin Ceforoxim Cefoxitm Cefotaxim Ceftaziclim Ceftriaxon Clindamicin Erytromisiin Ethambutol Gentamicin INH Kloksasilin Metronidazol Netilmisin PAS Pirasinamid RIF.Sistolik = 80 mmHg + (2 x umur dlm thn) .5mg 25-50 mg 2.5 mg 12.5 mg 15 mg 2. Streptomisin Route im/iv PO PO/IM/ IV IM/ IV IM/ IV IM/ IV IM/ IV PO/IM/ IV PO PO IM/ IV PO PO/IM/ IV PO/ IV IM/IV PO PO PO IM Dosis (kg/dosis ) 7.

u/ tiap kenaikan/ kg + 1 cc/ kg atau 1500 cc + 20 cc/kg BB/ hari Elektrolit :  dimulai hari ke. 20 % v 1/3 nya Kalau GGA/GGK  hanya boleh D5/D10 tanpa saline Jumlah cairan ¼ kebutuhan /24jam + produksi urin Transfusi : Tanpa perdarahan  PRC :10 cc /kg /hari (sebelumnya tes lasix 1 cc/kg/IV) Ada perdarahan  harus WB -.20 kg  50 cc / 24 jam 20 .100 cc/ kg BB hari III dst : 100 cc/ kg BB Bayi dan Anak : 0 . Lavement  PZ 10 cc / kg BB / hari / 2 kali JEF/99/15 .Berat badan Neonatus : Jumlah cairan : hari I : 60 .80 cc/ kg BB hari II : 80 . > 20 kg 60 cc. u/ tiap kenaikan / kg + 2 cc/ kg atau 1000 cc + 50 cc/ kg BB/ hari.18 NS < 3 tahun  D5 ¼ NS > 3 tahun  D5 ½ NS < 10 kg  100 cc / 24 jam 10 .10 kg 4 cc/ kg BB/ jam atau 100 cc/ kg BB/ hari 10 .30 kg  30 cc / 24 jam Kalau sesak / malnutrisi  …………….20 kg 40 cc ..sesuai jumlah perdarahan Post tranfusi : Kalsium glukonas (IV) : 1 cc / 100 cc darah yg masuk .2 Natrium : 3 mEq/kg BB/hari Kalium : 2 mEq/ kg BB/ hari Kalori : 100 kalori/ kg BB/ hari Anak : < 3 bulan  D10 0.

Terapi : 1.UROLOGI Acut treatment of Hyperkalemia : 1. USG : sistim kalik melebar. bila b/p. sistim kolecting dan aliran darah ke ginjal berkurang  menyebabkan atrofi dan nekrosis  semua fungsi ginjal terganggu.Ampi 4 x 1 gr + Gentamicin 2 x 80 mg atau . fl. shift to the left. ada dua cara : JEF/99/16 .UL : leukosituria. Pain. 4. Patofisiologi : Kenaikan tek. disuri. Antibiotik : . perselubungan daerah ginjal. Glukonate 10 %.v. Hemodinamik tidak stabil Uropati Obstruktif:  Ca cervik Dx/ .Pyonefrosis Tak Stabil .DL : Leukositosis. : . ada batu. Calsium atau Sodium Polystyrene sulphonate) 30 grm  sbg enema. operasi UT. hematuria. LED meningkat. 2. Fl.GK / uremia Evaluasi ulang Operasi  Konsul kandungan Uropati obstruktif = anuria obstruksi dan obstruksi yang menyebabkan stasis urin disertai bakteremia atau urosepsis. Cation exchange Resin (ex. .Ro : IVP + Endoskopi  bila memenuhi syarat BOF / USG 10 cc / kg BB  PRC MRS melalui UGD. 10 IU RI & 25 grm Glukosa (50 cc 50 % atau 125 cc 20% ) / i. Cal.Acut on CRF . 10 cc/ i. 3. Anamnesis : riwayat kolik.sefalosporin generasi ke-3 2. anuria.v. mass Lab. menggigil/demam. keluar batu.Anria b/p tindakan klasifikasi urgent : . Laktulose).Urosepsis Observasi Operasi .Anamnesis. BOF : batu. Operatif :  prinsip cepat masuk . cepat keluar. tindakan klasifikasi cito : . * Nefrostomi.  10 mnt. Osmotic laxative (ex. Lab  SC > 6 . PD.

Kel.a. 3. Terbuka (klasik).BB > 50 kg  dosis 4 ampul SC 2. Diuresis post Obstruksi dapat menyebabkan terjadinya : Dehidrasi Kehilangan Natrium.BB < 50 kg  dosis 2 ampul .6 : . Syarat : ginjal teraba dari luar. perlu tindakan definitif. TU. Cek K & Na Frekuensi Miksi : Normal : 4 – 8 kali/ hari Meningkat > 8 kali/hari  Kel. Bila kortek masih tebal ginjal dibebaskan sampai terkihat pelvis dan Folley kateter no 20 dimasukkan kedalam pyelum melalui pelvis renalis.BB > 50 kg  dosis 2 ampul SC 1.6 – 2. kortek tipis dan tidak gemuk. Bila kortek sudah tipis Folley kateter lanngsung dimasukkan melalui sayatan pada kortek.BB < 50 kg  dosis 1 ampul . tindakan sementara. Balance cairan.5 : . psikologik/ansietas.5 : .grojok sampai sisa 25 cc Bila alergi ringan/ sedang :  difenhidramin 50 mg/ iv Bila alergi berat : Resusitasi C/P JEF/99/17 . Tujuannya mengeluarkan urin yang tersumbat. b. Bila keadaan sudah stabil lakukan Pielografi antegrad. Metabolisme.5 – 3. Peerkutan. dengan bantuan flouroskopi.Infusion 5 ampul + 100 cc D5 (=200 cc) . Edema cerebri Kejang  Evaluasi CVP.5 mg/ kg BB or 60-100 cc 1 ampul = 20 cc SC < 1. Straining :  Usaha untuk meningkatkan pancaran miksi dengan sengaja melakukan kontraksi otot abdomen dan pelvis  Ciri obstruksi bladder outlet Enueresis : nogmpol > 3 x/ mgg pada anak yang harusnya sudah tidak ngompol Stranguria : disuria berat + hematuria IVP : Kontraas : urografin 76 % = 0.

SPP  kedalam buli Kontras 30 % sebanyak sesuai kapasitas buli Indikasi sistografi : Vistel fesikovaginal Fistel vesikointestinal Fistel vesikourakal Striktur uretra totallis untuk ketahui batas proximal dan panjang penyempitan  vol kontras harus cukup agar bledder outlet membuka dan terisi kontras atao hingga pasien ingin kencing JEF/99/18 . hematuria + silinder eritrosit Tumor testis Dx= staging Indikasi RPG : . + Paliatif Komplikasi RPG : Sepsitikemia False route Reaksi kontras Obstruksi sementara o/k edema ureter Kaliko renal refluks Sistografi : Masukkan kontras langsung kedalam buli-buli mll : Kateter transuretra Perkutan.000 3 cc/ iv Difenhidramin 50 mg/ iv Bila bradicardi  atropin 0. kecuali BBB endemis Hipertensi renovaskular Trauma TU Buli-buli neuropati BPH tanpa retensi PNA. Tindakdapat membantu diagnosis  an & Th/ Curiga fistel upper tract Diversi urine Kontras yg dipakai 30 % = 5 – 10 cc k/p HD pre Op.3 cc / sc or 1/10. GNA.1 hari sebelumnya 1 jam sebelum injeksi 4 jam setelah selesai Indikasi IVP : Curiga kelainan kongenital TU ISK berulang or resisten Colik yg diduga dari TU Hematuria Curiga tumor TU Curiga urolitiasis.Epinefrin 1/1000  0.IVP tidak informatif  terdapat obstruksi tapi causa tidak jelas IVP tidak dapat dikerjakan dan sarana lain tidak Renc.5 cc/ iv Profilaksis reaksi alergi kontras : Difenhidramin 50 cc – 1jam sebelum injeksi Prednison oral : 4 x 50 mg -.

spermatika interna sin.Curiga refluks vesiko uretra  refluks studi Uretrografi : Kontras 10 – 20 cc kedalam uretra Indikasi : Curiga striktur uretra Curiga ruptur uretra Curiga duplikasi/ divertikel uretra .Curiga tumor renalis  hipervaskularisasi Calon donor ginjal Horse shoe Kidney pro separasi Limfangiografi :untuk mengatahui saluran kel limfe : Kel. Imdikasi : Varikokel subklinis Varikokele yg tdk hilang/ kambuh pasaca operasi Bila (+) varikokele  injeksi bahan oklusan  hati-hati dapat terjadi emboli v. spermatika interna melalui incisi kecil di inguinal  cath  v. : .Kontras masuk kedalam v. Penis dgn injeksi kontras kedalam korpus cavernosum Indikasi : Fraktur penis. renalis : indikasi : .retrorade mll ductus ejakulatorius dgn bantuan panendoskopi. femoralis  v. Testis) Kontras masuk mll sal limfe dorsum penis. iliaka  v. V. Bila curiga obstruksi vas deferens pada infertilitas pria.  kontras juga masuk vesikula seminalis  vasoseminal vesikolagrafi langsung mll vas deferens yg telah dikeluarkan lewat skrotum. renalis Kavernosografi : Ro.Bila curiga klep uretra  kontras masuk antegrade Lopografi : Pemeriksaan radiologis deengan kontras pada pasien yg telah dikerjakan diversi urin dennganconduit dari usus. renalis sin  masuk kontras. JEF/99/19 . oklusi (inkompeten) Arteriografi A. kontras dimasukkan mll stome dari cunduit tersebut Vassografi : Pemeriksaan Vas deferens dengan kontras: . curiga v. Limfe inguinal. cava inferior  cab. pelvinal & retroperitoneal (tu. ruptur tunika albuginea Impotensia erektile. Phlebografi v.

BCR : kontraksi spinter anal dan otot bulbocavernosus  S2-4 Reflex cremaster  L1-2 Reflex anal  S2-5 JEF/99/20 .

Batu < 2.  < 4 mm. fasilitas yg ada. ESWL Tergantung pd : diameter batu.Bila > 8 minggu batu tdk keluar & penyulit (+)  terapi modalitas lain Terapi operatif/ manipulatif : 1. Bt 1/3 distal  endo : URS & litotripsi  ekstraksi Dormir Bt 1/3 tengah  open : ureterolitotomi JEF/99/21 . Endourologik 2. Ekspektatif 2. Membantu melokalisasi/ membedakan adanya batu dalam calic pada saat operasi batu ren.Batu asimtomatik tanpa obstruksi atau infeksi. Manipulatif Indikasi terapi ekspektatif : . Menentukan adanya batu ginjal dan buli-buli (tu radiolusen) 2. RPG pd urolitiasis : Pemeriksaan harus segera diikuti menghilangkan obstruksinya Harus ada perlindungan terhadap sepsis Penyuntikan kontras harus dilakukan pemantauan flouroskopi Prinsip terapi urolitiasis : 1.90 % batu < 4 mm  keluar spontan . Sebagai tuntunan pd saat melakukan drainage ginjal perkutan 5. Operasi terbuka 3. dengan dengan Batu ureter : Submukasa Intravesikal  endo : collin’s knife  ekstraksi transuretral. atau laser) mekanik. Menentukan ada tidaknya HN ok/ obstruksi batu 3. lokalisasi batu dan pengalaman pelaksana.20 % batu < 6 mm  keluar spontan Tempat macet : UPJ Pelvic brim UVJ 4 minggu evaluasi BOF . ultrasonik.5 cm : lithotripsi ( elektrohidraulik. Membedakan ren kistous atau padat 4. letak di ureter 1/3 distal .UROLITIASIS Manfaat USG pd urolitiasis : 1.

Kurang minum/ dehidrasi 6. as urat. tdk cekung lagi  Grd III : terdapat gambaran kallik yg cembung  Grd IV : Semua kalik cembung  Grd V : Parenkim ren menipis lebih dari ½ tebal normal. pospat dan as urat dalam darah 3.  Grd II : Tdpt gambaran kalix yg datar. Infeksi o/k urea splitter 4. tdk ada infeksi aktif). extended pyelolitotomi Staghorn : Open  bivalve/ anatropik nefrolitotomi Faktor predisposisi urolitiasis : 1. PNL. Peningkatan Ca. bila batu diureter distal biasanya ureter juga berkelok-kelok. Benda asing 2.. Pospat. Obstruksi / stasis urin :BPH. Ren spons meduler Batu sal kemih tanpa pencegahan 50 – 60 % kambuh Dengan pencegahan 5 – 10 % kambuh Pemeriksaan pd curiga batu sal kemih : 1. Kebocoran ren : tubulus renal tidak mampu resorbsi ca Terapi : Diuretika (HCT 2 x 50 mg) Orthopospat Kalsium retriksi Derajat HN pada IVP :  Grd I : Seluruh sal kemih proximal dari obstruksi terisi bahan kontras. Absorbtif :  absorbsi oleh usus meningkat Terapi retriksi diet & banyak minum Oksalat sellulose fosfat 3 x 5 grm 3. Penyebab terjadinya batu : JEF/99/22 . Ca. Eksresi : kreatinin. Pyelolitotomi  > 2 cm : PNL & ESWL (multisession). Ca. Resorbtif :  terapi penyakit primer Hipertiroid. : 1. Retriksi diet. Gangguan metabolisme 5. striktur. Cek pH urin. osteolitik metastase Multiple myeloma Immobilisasi Cushing hipertiroid 2. UPJ/UVJ stenosis 3.Endo  URS & litotripsi Push & bangdorong ke pyelum & ESWL Push & PNL Bt 1/3 prox  Pyelum  < 2 cm : ESWL (jika ren masih cukup fungsi. oxalat & sitras dalam urin 24 jam 2.

CRF 3. cystine  bila bertambah dalam urin  mengandap  jadi inti pembentukan batu lebih lanjut. 2. Nonfungtion ren 4. As urat. JEF/99/23 . urosepsis 3. Batu Complicated : Multiple /besar (staghorn. myeloma. batu obstruktif/ infeksi progresif  gagal ginjal. BBB). katup uretra  Didapat : bladder nect kontraktur. cidera vert/ lumpuh  Px/ dgn penyakit tulang : tumor ganas tulang. Fistel uretra  impact stones Jenis batu menurut akibatnya pada TU : 1. refluk vesikouretral. jahitan pd buli)  Kelainan anatomis TU : kongenital or acquired Keluhan dan Gejala : Silent stones Keluhan (+)  bila terjadi obstruksi / infeksi : Hematuria Nyeri (kemeng-kolik) o/k obstruksi/ infeksi Febris/ menggigil : infeksi  ren terancam rusak Anuria obstruktif ggn faal ren cepat dan progresif Komplikasi batu sal kemih : 1. Batu infeksi : Banyak pada px/ dgn bakteriuria o/ kuman pemecahan urea  amoniak atau proteus. double sistim. 4. Batu o/k kel anatomis :  Kongenital : UPJ stenosis. Batu Endemis : Biasanya pada anak laki usia 2 tahunan  BBB Sosial ekonomi lemah 2. Batu o/k gangguan metabolisme : Oxalat. fibrosis ureter. Ca. Batu simple : tanpa obstruksi / infeksi. batu tunggal / tdk terlalu besar. Obstruksi  HN 2. xanthine. tekanan tumor dari luar. horse shoe kidney. Atrofi ren 5. Batu oleh karena faktor-faktor lain :  Immobilisasi yg lama  px/ fraktur. Urin + amoniak  alkalis  senyawa pospat mengendap  Batu amonium magnesium pospat (struvit) 3.1. divertikel. paget disease  ekskresi calsium urine meningkat  Benda asing dalam saluran kencing (cath. striktur uretra.

vit c. JEF/99/24 .Pencegahan batu TU : 1. hygroton  u/ bt calsium  Diet rendah calsium  Ikat bahan pembentuk batu agar mudah larut  Mg oxyde  Buat urin alkalis pada bt as urat dengan Na sitras atau Na bicarbonat.  Buat urin reaksi asam bila terdapat kuman pemecah urea  untuk larutkan garam pospat dengan : mandelamin. Olah raga/ aktivitas fisik yang cukup dan teratur 3. Banyak minum diuresis s/d 2-2.5 liter/ hari 2. amonium cloride.  Diet rendah purin. thiazide. Cegan meningkatnya bahan-2 pembentuk batu atau meningkatnya daya larut bahan tersebut :  Koreksi gangguan metabolisme dgn diet/ obat :  Allopurinol  bt as urat. Berantas infeksi / bakteriuria 4.

renalis atau penurunan aliran ginjalke vena kava inferior.Analisa sperma  penurunan kwalitas dan kwantitas sperma. Dilatasi atau hilangnya mekanisme pompa otot atau kurangnya struktur penunjang/ atrofi otot cremaster. spermatika int.Varicocele # Melebar + berkelok-2 plexus pampiniformis. Tekanan segment iliaka (oleh feses) pada pangkal v.  Kadar testosteron dalam darah menurun  jumlah sel -sel leidig turun. 1.Grade I : teraba / tampak setelah valsava  < 1 cm .s. renalis kiri . 4. trombus v. renalis 90 derajat. mesenterika superior . adrenalis s. Penyebab ggn spermatogenesis pada varikokel :  Suhu crotum yang meningkat (1958)  Aliran retrograd dari v. proses degeneratif pl. Sebab Varikokel : 1. Opersi Varikokel : Vasoligasi tinggi v.V. kelemahan kongenital. Metode Palomo : Incisi inguinal transversal. Hipertensi v. Skunder : tumor retro. meningkat letak sudut turun v. 2. spermatika kiri bermuara pada v.am juxta v.Grade II : teraba / tampak saat berdiri  1 . pampiniformis. spermatika kiri lebih jelek Indikasi operasi varikokel : . 6. spermatika int.Katup v.2 cm .Grade III : teraba / tampak saat baring  > 2 cm Varikokel lebih sering kiri karena : . renalis dan v. 3. Tekanan v.V. . renalis kiri terjepit oleh aorta dan a. hidronefrosis.Varikokel dengan keluhan. 5.V. renalis. yang mengandung bahan metabolik toksik (steroid)  inhibitor spermatogenesis (1965)  Darah varicocele mengandung katekolamin yang tinggi. Prosedur laparoskopik. JEF/99/25 .Varikokel dengan komplikasi . derajatnya : . spermatika interna. Turbulensi dari v. 2. renalis internus s berlawanan dengan kedalam v. spermatika kiri > panjang dari kanan . supra renalis s keda. (1978). spermatika .

Hiperzoospermia : spermatozoa > 250 juta/cc 6. Hiperspermia :Vol ejakulat > 4 cc 3. Follow up analisis sperma minimal 6 bulan 3. Analisa sperma tiap bulan Follow up fisik testis 2. Kriptozoospermia : Hanya ditemukan bbrp spermatozoa saja. Analisis Sperma : 1. sedangkan cairan hidrokel kuning jernih Tidak perlu terapi kecuali yg sangat besar dan mengangu penderita. Spermatocele : Painless cystic mass yg mengandung sperma Letaknya posterosuperior testis Umumnya ukurannya kurang dari 1 cm diameternya Berupa massa kistik yg mobil dan trnsluminansi + Aspirasi berupa cairan halus berwarna putih dan keruh. spertaika interna sin. Aspermia : vol ejakulat 0 cc 4. Normozoospermia : Jml hitungan sperma > 20 jt/cc 5. 10. spermatika int. Oligospermia : volume ejakkulat < 1 cc 2. Kurve rendah. Follw up analisi sperma minimal 6 bulan Gagal pasca bedah varikokel (minimal 1 tahun) : Captopril  minimal 3 bulan Infertility : Peningkatan suhu scrotal Penurunan aliran darah Peningkatan kadar steroid adrenal dan katekolamin Peningkatan kadar prostaglandin sebagai metabolit ginjal Pada Renogram yang dinilai : . Invasif nonsirurgis : Sklerosis v. Sirurgis Vasoligasi tinggi v.Penanganan: 1.ekskresi  hambatan.Vascularisasi . Oligozoospermia ekstrim :spermatozoa < 5 jt/cc 8. Teratozoospermia : Morfologi spermatozoa yg normal < 30 %. Astenozoospermia : motilitas spermatozoa < 50 % JEF/99/26 . 9. relatif mandatar  Pola RF Kurve naik pelan  pola kurve obstruksi.Sekresi . Oligozoospermia : spermatozoa 5 – 20 jt/cc 7. Konservativ/ noninvasive Pentoxifilin (dgn/ tanpa androgen dosis rendah)  minimal 6 bulan.

Normozoospermia & normospermia :  Pikirkan faktor immunologis : Bila (+)  terapi etiologi  follow up analisa sperma  belum berhasil  preparasi sperma  rujuk IUI/ IVF  Kemungkinan disfungsi seksual  Coital stress 2. Oligoastenoteratozoospermia : Faktor infeksi atau inflamasi Faktor endokrinologi Faktor kongenitak/heriditer Obstruksi intra/ post testikuler Underlying disease JEF/99/27 . Normozoospermia & hipospermia : Incomplit ejakulasi Disfungsi kelainan sek skunder 3.Alur Penanganan Subfertilitas pria : 1.

Penekanan ureter pasa pelvic brim o/ KGB yg membesar atau Ca. Hambatan jalan keluar : .stenosis uretra distal . Congenital : .dilatasi detrusor yang berlebihan dalam waktu lama.kerusakan saraf perifer (DM) .ureter ektopik/ ureterokele . 3. Kelemahan detrusor :  kateterisasi  evaluasi . Lain-lain : . Disenergi detrusor-spingter (ggn koordinasi) : . Aquired : .cidera sumsumtulang daerah cauda equina.Striktur Uretra  sistostomi .Retensio Urin : * Keadaan dimana px tidak dapat mengeluarkan urin yang terkumpul didalam buli-buli shg melampaui kapasitas maksimal buli-buli.Kelainan pada prostat (BPH. 3.Neurogenik bladder  refluk dan infeksi Ureter yang kingking JEF/99/28 .Batu uretra  lubrikasi : + Batu keluar  poli klinis + Batu masuk buli-buli  DK  litotripsi + Bila gagal  sistostomi  observasi 6 jam : Baik  KRS Peyulit  MRS Klasifikasi urinari obstruction & stasis : Etiologi : congenital or aquired Durasi : acut and cronik Degree : partial and complete Level : upper or lower UT 1. 2. myelomeningocele.Tumor buli  bladder neck Ekstensi lokal Ca prostat/ cervik ke dasar buli atau uretra. 2. Causa : 1.UVJ & UPJ .striktur  infeksi dan trauma BPH or Ca prostat .Clot retention  evakuasi sistoskopik . Ca)  DK (16 -18 F) .meatal stenosis .katup uretra posterior . Uretral stone Fobrosis retroperitoneal atau tumor ganas Kehamilan.cidera sumsum tulang belakang .Kerusakan S2-4 (spina bifida.

pancaran lemah.fase dekompensasi  dinding ureter tipis  dilatasi  kemampuan kontraksi menurun. Stadium Compensasi : hipertrofi otot buli .Stadium irritabilitas: hipertrofi detrusor  kontraksi kuat. Upper tract. Kidney. . Obstruksi  dilatasi uretra proksimal  divertikulum  bila infeksi  ekstravasasi dan abses periuretral.DL 2. Fisiologi Gejala Obstruksi : A. Fase dekompensasi : Decompensasi acut : overstretch detrusor & rapid filling  kesulitan miksi : -hesitansi. Lower tract  striktur uretra. 2. Derajat hidronefrosis tergantung pada -Lamanya obstruksi -Derajat obstruksi -Tempat obstruksi Perubahan pada renal akibat : -Compensation atrophi atau peningkatan tekanan intrapelvic -Ischenia atrophi atau perubahan hemodinamik.Stadium compensasi : obstruksi & hipertrofi  kontraksi   hesitansi & pancaran lemah B. B. spasme  irritabel bladder  frekuensi & urgensi . . 2.Mukosa : bila infeksi  edem & kemerahan. Mid tract  BPH. residual urin. over flow incontenensia. C.Patogenesis: A. Ro. Stadium Decompensasi : -prostation -retensio -residual urine. : . retensio acut. 1 Lab : . 1. 1. Decompensasi kronik : imbalance kekuatan otot detrusor & resistensi uretra  residual urin . terminal dribbling.BOF  IVU - JEF/99/29 . Buli 2-4 kali  menekan mukosa diantara bundel-bundel otot  membentuk kantong kecil. frekuensi. Ureter : Refluk  dilatasi ureter  hidronefrosis elongatio & tortous dari ureter . Fase compensasi : .Divertikel  cellulae terdorong keluar dinding buli  saccula  divertikel (tdk ada otot).trabekulasi jalianan otot yang hipertropi Cellulae  hiipertrofi  tek.

Urethrografi . Indikasi : .Menilai produksi urin pada pasien kritis.Predileksi ISK (pielonefritis.Hambatan aliran urin  hidroureter. Kateterisasi : Syarat : . JEF/99/30 . hidonefrosis .Ada tindakan tambahan : ambil batu. 2. Open sistostomi : Indikasi : . Pungsi buli-buli.Inkontinensia paradoksa.Drainase buli selama dan sesudah proc. bedah .Ukuran Folley lebih kecil dari celah trokar (20 F) .Sistim tertutup dan ukur volume urin.Usahakan tidak nyeri  spasme spingter.Prinsip aseptik .BUN . Syarat : .USG Akibat retensio urin : .Studi radiografi .Retensi urin dan buli-buli penuh (fundus lebih tinggi pertengahan jarak antara simpisis dan pusat).fasilitas sistostomi (-) .Serum kreatinin .informasi  tindakan sementara & perlu tindakan lanjutan Kateterisasi. urosepsis)  gawat uro Penatalaksanaan Retensio urin : 1.Sistostomi trokar gagal .Evaluasi urodinamik.Sistostomi trokar . . .. .Cikatrik abd. .Pengambilan spesimen urin .Dilatasi buli-buli maksimal  tekanan & tegangan meningkat.UL .Gunakan kateter folley .kateterisasi gagal .Retensio urin. evakuasi clot. . bawah (-) 3. . . Sistostomi trokar/tertutup : Indikasi : -Kateterisasi gagal : striktur. 4. .Glukose .Kontraksi otot detrusor menyusut .Antibiotik profilaksis 1 kali.Menilai residual urin . . batu uretra yg menancap -Kateterisasi tidak dibenarkan : trauma uretra Syarat : .

2.Pungsi buli-buli. 3. Sample urin. JEF/99/31 .  pada anak-anak. Study voiding cystografi 4. Indikasi : 1. Syarat :  buli-buli penuh. Diversi urin. Kateterisasi gagal.

Trias Hipospadia : 1. Preputium bagian ventral minimal/ tidak ada. Letak OUE lebih proximal Ada chordae  penis bengkok.adanya gonad. 3. Usia 1. 2.alat kelamin luar. bagian dorsal berlebihan. Operasi hipospadia : Usia 1 tahun  chordektomi.  fistulektomi. JEF/99/32 . Tanda sex scunder : .5 tahun rekonstruksi uretrae Kalau terjadi fistel + 6 bulan lagi.cromosom sex. Tanda sex primer : . .

Hematome/jejas peritoneal/ urine infiltrat Trias ruptur uretra posteriior . penis.KLL  90 % fr.Intercourse/ bite . Trauma Uretra : a.Anastomosis uretra . retensio urin  Keadaan umum JEF/99/33 . Radiologis : uretrografi.Retensio urine . Pelvis . : UL  ery + 3.uretrotomia interna/ sachse . Traume uretra Posterior : . Ax/ : riwayat trauma . Trauma uretra Anterior : .Floating prostat 3. . Trauma uretra bulbosa proksimal. PD/ : Trias ruptur uretra anterior . AP pelvic foto Terapi : a. Ekstravasasi kontras ke ekstraperitoneal pelvic space. Rekonstruksi : . Lab. Ekstravassasi kontras ke peritoneum. perinem.Self manipultion Diagnosis : 1.Straddle injury.Bloddy discharge . Uretra masih intack.Bloody discharge .Manipulasi  Kateter. Tipe II: uretrra pars membranacea ruptur diatas diafragma urogenital yg masih intack. Initial : segera sistostomi transpubik  bila ada fr.Retensio urine . mekanisme trauma hematome 2.KLL . Tipe III : Uretra pars membranacea ruptur . Diafragma urogenital ruptur.Manipulasi  kateterisasi. endoskopi b.PER Pengelolaan trauma uretra : Trauma panggul / perineum hematuri/ bloody discharge peruretrum hematom scrotum. endoskopi . Pelvis tidak boleh trokar b.Ruptur Uretra Klasifikasi trauma uretra Colapinto & McCallum 1977 : Tipe I : uretra teregang (stretched) akibat ruptur ligamentum puboprostatikum dan hematom periuretra.

GO Klinis : -MUE -foreskin retrakten JEF/99/34 . floating prostat. pubis selama 3 minggu 2. Malignancy : Ca prostat Ca penis Ca uretra  Jarang Diagnosis : Anamnesa : riwayat trauma. Infeksi / inflamasi : Cateterisasi : (iritasi) -Material (latex) -Lubricant -Lamanya -Calibrasi -Adanya infeksi Balanitis Xerotika obliteran Pelvic radioterapi : -endarteritis obliterance  iskemia  striktur 5. Striktur Uretra : Etiologi : 1. Trauma : -Fall astride  uretra bulbar -Fraktur pelvis  uretra posterior -Iatrogenik  Instrumen endoskopi 3. Post TURP : Biasanya submeatal  akibat iskemia 4. Bila < 6jam : open dan end to end anastomosis. urin infiltrat. intrumentasi. Rupt uretra post   1.  Foto pelvis Uretrografi  ekstravasasi  --------------------------------------  Rupt uretra ant. Bila > 6 jam : sistostomi Sistostomi  Debridement PER Aproximasi/anastomosis dalam tempo 2mgg Stent uretra : k/p diawali reposisi -silikon kateter 16 F fiksasi simp.Keadaan lokal RT : massa lunak menonjol kedlm rectum. Congenital : Cobb’s collar  contriksi diafragma pada pars bulbar 2.

Eksisi dan reanastomosis :  tergantung pada panjang striktur 3.spongiofibrosis. vaginalis JEF/99/35 . Regeneration procedure : uretral dilatasi & urethrotomy  baik pada proliferasi regeneratif 2. Adjunctive measures : -Intermittent self dilatation : kateter.. hidraulic 3. LAB :  urine kultur Urinary flaow rate :  tergsngu bila kaliber uretra < 10 F Uretrografi : -Site. Uretgroplasty : -Anastomosis -Substitusi :  onlay patch graft/flap : -pedicle flap -free graft -tube graft/ flap -Stage procedures 4. length & calibre stricture -Adanya concurrent stricture -Jarak dari spinter distal Prinsip penatalaksanaan strikture : 1. & otot crremaster Fasc. Spermatika int Preperitoneal fat Procc. Konservatif : -Dilatasi uretra : metal sound. Proximal diversion : -Perineal uretrostomy : temporer atau permanen -Kateterisasi uretra : uretra. laser)  incisi pada posisi jam 4 dan jam 8 -Uretral stent : wall stent 2. Comparison of abdominal wall & scrotum layer Abdominal wall : Kulit Fascia superficialis (camper & scarpa) MOE & aponeuresis Aponeurosis MOI & MTA Fascia transversalis Preperitoneal fat Peritoneum Scrotum : Kulit Dartos Fasc spermatika ekst Fasc. filiforms & followers -Uretrotom : -blind  biasanya menggunakan otis -Optical (otis. sache. suprapubik -Supratrigonal diversion. Substitusi / urethroplasty : patch or tube (graft) -pedicle flap of tissue -cendrung recuren Terapi striktur : 1.

Torsio testis Torsio appendix testis Orchoepididimitis Hernia incarserata Tumor yg mengalami perdarahan.6 minggu orkhidektomi &  orkhidopeksi Evaluasi kausal kontra lateral DD/ Acut scrotum : 1. Torsio appendik epididimis Torsio testis intravaginal testis berputar didalam t.vaginalis parietalis ikut berputar bersama testis.Akut Scrotum * Onset * Aktivitas saat terjadi keluhan * Riwayat ISK * Febris ?  * Suhu axilla dan rektal * Keadaan / status lokal : . epididimis & funikulus. Torsio testis elstravaginal  t. . reflek kremaster .Epididimis * Lab. 3.Posisi testis. 6.vaginalis parietalis. muntah dan febris Testis bengkak.: DL. 5. 2. Tx/ : Detorsi manual  memutar kearah lateral. menjalar ke inguinal Mual. BUN / SC sedimen urin  Stethoskop Doppler di daerah anulus externus    Epididimitis/ meragukan torsi testis orchitis  detorsi manual   Explorasi Anti biotika &  Anti inflammasi orkhidopeksi / 4 .Phren test. 4. letak tinggi dan horizontal Funikulus menebal & prehn sign (-) Leukosituria sangat jarang Doppler  aliran darah berkurang. Orkhidopeksi : 3 jahitan antara tunika albuginea dan tunika dartos dengan bahan non-absorbsable JEF/99/36 . . DIAGNOSIS : Nyeri hebat dan mendadak.

Causa : 1. pseudomonas. GO. ISK.EPIDIDIMITIS AKUT : Keradangan nyeri dan pembengkakan epididimis < 6 mgg. prostatitis. JEF/99/37 . STD : C. Non STD : enterobacte. 2. trachomatis.

USG urologik thorak foto (setelah pasang CVP). N > 90 Hiper/hipotermia.Urosepsis       Febris / pernah febris Gejala obstruksi urologis Gejala dini : gejala bakteremia disertai takhikardia. or turun > 40 / jam (volume replacement adequate) Manipulasi urologis/ batu ren  Dx : Urosepsis  keadaan umum / status lokalis sekaligus dipasang infus Lab: DL. BUN / SC. kulit dingin serta basah. Sepsis sindrom : cambell’s Clinical evidence of infection Tachipneu.6 > t > 38. urgen untuk kel. takipneu.stupor. GDA (usia > 40 th) BGA. * Tx/ definitif  Op.5 cc/ kg/ jam Septic shock : sepsis sindrome + hipotension.3 Inadequate organ perfusion : Hypoxemia. letargi. gelisah. kultur. Cito bila Pyonephrosis dan Hidronefrosis berat  dapat menyebabkan terjadinya iskemia sehingga penetrasi antibiotika turun. K > 7 Edema paru * Drainage timbunan nanah  Op. < 0. EKG  Pasang CVP & Indwelling catheter ( catat CVP & prod. PaO2/FiO2 <280 Kadar lactate plasma  Oliguria. 35. hipotensi dan oliguria. darah & urin test kepekaan anti biotika (sedapat mungkin urin dari infeksi spontan)  Pielografie infusion . sedimen urin. primer urologik JEF/99/38 . Lanjut  bingung. sistole < 90. Urin )  Terapi / tindakan : * Antibiotika :  s/d 5 hari afebril Ampicillin 4 x 1 gram Gentamicin 3 x 80 mg Cefalosporin Gen. Bun > 100.III 3 x 1 gram * Koreksi Cairan : Elektrolit Asam / basa * Hemodialisis : Bila SC > 10. RR > 20 Tachicardi.

tapi juga interaksi dari sistim fibrinolitik. Cefalosporin gen.Cefalosporin gen IV : cefixim d.5 mg/kg/ 8 jam Kanamicin Gentamicin : 1.Shock septik tidak hanya dipengaruhi oleh endotoksin. 10 cc Antibiotik Antibiotik : a.5 mg/ kg/ 8 jam Netilmicin Tobramicin : 1. complement.5 mg/ kg/ 8 jam  less nefrotoksis Amikacin : 5 mg/ kg/ 8 jam Bila gentamicin resisten  ganti tobramicin  bila resisten  ganti amikasin JEF/99/39 . R/  urosepsis Blood set = 3 PZ = 2. II  efektif terhadap nosokomial : Sefoksitin Sefamandol Sefuroxin  1. Aminoglikosida  gram negatif : 1. kinin & pengaruh pada mikrosirkulasi & hemostasis. coagulasi.5 grm Seftasidin Sefotetan  2 grm c. Cefalosporin generasi I  efektif u/ Klebsiela . Stafilococ producer penicillinase: Sefazolin Sefalotin Sefradin Sefaloridin b. D5% = 2 Cavafic 375 = 1 Tree way stopcox =1 DK + Urobag = 1 Surflo = 1 Spuit 5 cc. Cefalosporin gen III  pilihan profilaksis urologi : Sefotaxim  2 grm/ 8 jam Sefoperazon Seftriaxon  2 x 1 grm Seftazidin  2 x 2 grm d.

Dx/ penyebab syok : Hipovolemia Hemorrhage Cardiac cause Hipersensivitas. & physical finding Cultur/ gram stain darah dan urin B. anafilaksis Endokrine Bacteremia 2. Diagnosis bacteremia : Epidemiologi. CVP  > 5 cm H2O or to level 12 – 14 cm H2O  kemungkinan overload 5. Vasoactive agent 7. Establishment of dx/ : A. Modifikasi Antibiotik  sesuai kultur sensitiviti test & fungsi renal JEF/99/40 . berdasarkan cultur & sensitivitas b. pulmonal  18 mmHg or CVP  12 cm H2O 6. clinical. pulmonal  > 8 mmHg or to level  18 mmHg kemung-kinan cardiac decompensation b. pertimbangan dx/. Drainage akumulasi pus 11. Continuation of volume expansion (15 – 20 cc/mnt) until recovery or tek a. Ventilasi : O2 dengan atau tanpa intubasi 9. Appropriate antibiotic therapy a. nosokomial c. Tek a. sumber infeksi.Management of Septic Shock 1. Volume expansion : 1000 cc cristaloid sol  15 -20 mnt 4. Digitalis jika berkembang CHF 10. Monitoring volume expansion : CVP a. pengambilan sampel cultur sebelum th/ 3. Evaluasi status mental & urin output 8.

Bila proteinuria + dan red cell cast +  nefrologi 2.Sitologi urin  .IVP . Lokal  LAB : DL.cultur urin .IVP . 6. Hematologik :  Koagulopati  Antikoagulasi terapeutik  Sickle cell 5.kelainan +  bedah . JEF/99/41 . Myoglobinuria.Uretrocystoscopy 3. Bacteria + :. metabolit obat. 7. Urine terbukti masih merah  Periksa K/U St. Factitious : perdarahan vaginal (causa luar TU). : BOF. apendicitis  Corpus alaenum 4. Hemoglobinuria. Penatalaksanaan hematuria (>3 rbc/lp): 1. Glumerular : glumerulonefritis 2.Causa belum jelas  evaluasi berencana (poliklinis) Penyebab hematuria : 1. USG urologik (ginjal &buli)  M R S  Evaluasi lengkap : .kelainan . Sistoskopi . zat pewarna. Pseudohematuria : pigmen makanan. ca prostat  Batu  BPH  Striktur uretra  Divertikullitis.Causa jelas  terapi definitif . Renal :  Penyakit polikistik ginjal  Nekrosis papiler  Inflamasi dan infeksi  Malformasi vaskuler 3. BUN/SC Sedimen urin Ro.evaluasi / observasi. Urologik :  Neoplasma : tu ca buli.Gross Hematuri. IVP/ Uretrocystoskopi/ Sitologi urin : .antibiotik .

medulla & sistem kalisial intak 3. Trauma renal minor (85 %)  grade I & II 2. Laserasi minor : kortek parenchym ginjal rusak.  normal -Contusio / hematome subcapsuler -Laserasi parenchime (-) Grade II: -Tidak meluas -Hematome perirenal/ laserasi kortikal < 1 cm dalamnya -Ekstravasasi urin (-) Grade III : -Laserasi parenkhim < 1 cm ke kortex -Ekstravasasi urin (-) Grade IV : -Laserasi parenkhime yg luas mll corticomedulla junction -Sistim kolekting terkena -Laserasi vasa segmental -Trombosis a.renalis segmental tanpa laserasi parenkhim -Parenkhim iskemia Grade V : -Trombosis a. Trauma renal mayor (15%) 3. Kontusio : hematoma subkapsuler kapsul intak 2. Vasculer injury (1 %)  blunt trauma JEF/99/42 .automobile accident  80 % .Sport -Predisposisi keadaan patologis : Hidronefrosis. renalis utama Klasifikasi Patologis: 1. Trauma Vaskuler: oklusi atau ruptur vasa renalis Bila urin bocor  masuk rongga intra peritoneal  ileus paralitik Klasifikasi Patologis : 1. tumor  ruptur Klasifikasi : Grade I : -mikroskopis/ gross hematuria -Ro. Laserasi mayor : kerusakan kortek s/d medulla atau sistem kalisial 4.Trauma Ginjal : -Trauma yang paling sering dari TU -Ginjal dilindungi oleh : Otot lumbar Corpus vertebra Iga dan viscera didepannya -Causa :.renalis utama -Multiple mayor laceration -Avulsi a/v.

Renal vascular hipertension. T. status lokalis lab. * Fragmented / shattered : Eksplorsi laparotomi * Non visualized kontur baik : segera arterio grafi Prinsip pengelolaan pada trauma ginjal : . : Hb. Urinoma : -Perinefric renal mass -Hidronefrosis -Abcess formation 2. nyeri tekan Lab. trauma tumpul : Kontusio ren sikap adalah konservatif : . Arteriovenous fistel  jarang 4. Urin sedimen Pasang infus  Pielografi Infusion. Clinical Finding : -Hematuria  gross/ mikroskopis Derajat hematuri tdk berkaitan dengan derajat trauma -Flank pain -Echimosis di flank -Fraktur iga bawah -Nyeri abdomen  acut abdomen -Teraba mass.anti biotika broad spektrum . urin .bed rest total . Langkah Dx/ Trauma Tumpul Ginjal Trauma tumpul abdomen / pinggang Multi trauma  Keadaan umum : kesadaran. Penetrating trauma :  harus dikerjakan explorasi laparatomi 2.mengurangi morbiditas ginjal 1. N. Hidronefrosis : -Hematome/ekstravasasi urin fibrosis Hidronefrosis 3. SC / BUN.observasi ketat vital sign. t Status lokalis : jejas. ( USG ) Tindakan pd trauma ginjal : * Kontusio Ginjal : observasi  bila UL normal 1-2 hari KRS Cek UL s/d 3 minggu  bahaya rebleeding * Rupture ginjal : KU baik & Ekstravasasi minimal / moderat  observasi KU Labil & ekstravasasi luas  Expl.: Hb. Laparotomi.menyelamatkan /mempertahankan fungsi ginjal .Late Pathologic Finding : 1. sedimen JEF/99/43 . massa. R.

Indikasi operasi pada kontusio ren : * perdarahan yang tidak dapat diatasi secara konservatif * ekstra vasasi urin (urinoma) * infeksi  abses JEF/99/44 .

Internal trauma : . Intra operatif  irigasi methylen blue/ betadin 2. Diversi ureter Kolik ureter : Keadaan umum Keadaan lokal  . RF dgn segala macam komplikasi Terapi trauma ureter : 1.DL : Hb/Leko .sembuh  poliklinis .BOF  Spasmolitikum : . Autotransplantsi 6.Stenting ureter Diagnosis Trauma ureter : 1.RFT : BUN/SC . Stent ureter 3.Intra ureteral manipulation . Rongga pelvis (terligasi/ terpotong) 2.Endourologi : .Op.Ureteroskopi .RPG .Unknown febris .Trauma Ureter : Kausa : 1.Gx.Penetrasi (Luka tusuk.Nyeri abdominal . Klinis : . Reimplantasi ureter 4.tak sembuh/ makin frekuensi  dipertimbangkan dengan pemasangan stent JEF/99/45 .Sedimen urin . Eksternal trauma : . Deligasi 2. Transureteroureteroskopi 5. tembak) . Post operatif  IVP/RPG 3.Massa di abdomen . Ureterolisis 7.Ureteral catheterization .

Storage symptom :  FUrNIB Frekuensi Urgensi Nokturia Incontinensia Bladder pain Complikasi BPH/BOO :  BUHABOH Bladder UTI Hematuria Acut urinary retention Bladder damage (trabekulasi . TERAZOSIN  tonus otot polos prostat otot polos vasculer Dimulai dgn dosis : 1 mg. Farmakologis  dgn ABA (alfa blocking agent) 2. Efek samping : Dizziness 15% Asthenia 10% Somnolen 4 % JEF/99/46 . 4 mg. Long acting alfa adrenoceptor antagonis : + Terazosin + Doxazosin  spesifik untuk TU. 5. Hormonal dgn 5-ARI (alfa reductase inhibitor) 3.  max 8 mg. Voiding symptom : WAHIDIT Weakness of stream Abdominal straining Hesitensy Intermittensy Disuria Imcomplete bladder emptying Terminal dribble 2. 2.diverticel) Overflow incontinence Hidronefrosis & renal insuffisiensi Medical TX/ for BPH :  3 kategori 1. 10mg  max 20 mg Moontly interval Efek samping : Dizziness 14% Asthenia 11% Somnolen 5 % Headache 5% DOXAZOSIN Dimulai dgn dosis : 1. Phytotherapi dgn plan extracts ABA : 1.BPH Classical LUTS : 1. 2.

5 Cm atau multiple 3. jelas menonjol . Miksi spontan. teraba supra simpisis.40 grm. batas atas tak teraba. 2.  indikasi open/Millins Kriteria stop kateter : 1.Headache 10% TAMSULOSIN  selective 1-alfa adrenoceptor antagonist Tidak berpengruh pada tekanan darah 2. hidronefrosis. 4. TRUS > 40 gram RT :  pembesaran prostat : . hematuria berulang. Terapi medikamentosa ttidak berhasil Indikasi open prostat : 1. 5-ARI : Walsh  Caribean family  defisiensi DHT FINASTERIDE Menurunkan DHT 75 % Vol prostat turun 30% PSA turun 50% Sel epitel atrofi  mati  prostat involusi Bila PSA pre th/ 2 x lipat  tidak dipengaruhi Biasanya untuk prostat > 40 grm Efek samping : Impoten 2. hernia. mengganggu & iritatif.4% Medical terapi hanya menaikkan uroflowmetri 3-4 ml/s Terazosin dan doxazosin  perlu titrasi Tamsulosin & finasteride  titrasi (-) Indikasi operasi BPH : 1. BPH besar  Tur > 1 jam 2. batas lateral >. Retensio urine BPH dgn penulit : ISK. sulkus median ttb / + . batu . Residu urine < 10 3.Grade III : berat > 40 grm. 2. Residual urine > 100 cc Flow metri : pola obstruktif ( < 10 cc/ det) Sindroma prostatism yg progresif.Grade I : berat < 20 gram . 6. & dangkal. 5.1 % Libido  1% Ginecomasti 0. 3. BPH disertai BBB > 2. Bakteriuri terkendali JEF/99/47 . uremia.Grade II : berat 20 .

3.2 – 3.non obstruktif : > 15 cc/dt . DRE (2x). TRUS (1.3x) Interpretasi PSA : Kadar PSA : 0. PSA Velocity Age-spesific PSA references ranges Molekular form of PSA (% free PSA) PSA Density : JEF/99/48 . TURP (53x). Ekstrinsik : Retensi urin akut. Umur.3 hari Normal : 0 – 4 ng/cc Setiap 1 grm BPH  PSA meningkat 0.2 . 2. Volume. Bila ratio meningkat  benign PSA dalam kaitan dgn perlunya Biopsi : 1. 4.3 ng/cc PSA < 10 ng/cc  lymp node tidak terlibat PSA > 40 ng/cc  60 % nodal disease Post radical prostatectomy  PSA = 0  Bila naik lagi  recurrent disease masih (+)  residual disease Faktor yang mempengaruhi kenaikan PSA : 1.15 cc/dt . PSA Density. Infeksi. DK. Fungsi  Mencairkan (kuquifasi) semen Diproduksi oleh sel epitel asini & duktal Waktu paruh 2.Flow rate Max : .border line : 10 . Intrinsik : BUVICA BPH. Endoskopi (4x).Jumlah urin yang representatif : 200 .0.5 – 4 ng/cc  normal 4 – 10 ng/cc  20 % kanker > 10 ng/cc  50 % kanker Meningkat > 20 % / tahun  perlu biopsi PSA terikat pada A-ACT : alfa-antichemotripsin AMG : alfa-2-macroglobulin Free PSA tidak terikat dgn komponen tersebut Yang dapat diperiksa dengan PS assay : Free PSA (F) PSA-A-ACT Total PSA (T) F/T ratio : free PSA : total PSA Bila ratio turun  Ca. Biopsi (57x).300 cc .obstruktif : < 10 cc/dt .Grafik normal bifasik PSA (Prostat Spesific Antigen) : Suatu glikoprotein yang di sekresi oleh sitoplasma sel prostat.Uroflowmetri : . Ca prostat 2.

Abnormal DRE  Biopsi Free PSA PSA < 2 PSA 2-4 PSA 4-10 PSA >10 JEF/99/49 .15  Ca prostat Masih kontroversi PSA Velocity Change of PSA overtime.5 ng/l Usia 50 – 59 : 0 – 3.75ng/l/tahun  sensitivitas 72 % Spesifisitas 95 % Age-Spasific PSA references range : Nilai : Usia 40 – 49 : 0 – 2.4 ng/l  residual or recurrent Hormonal th/  early. Th/ standar : Orchidectomi LHRH agonist Anti Androgen : 1. Prostat : DRE dan PSA : 1. PSA-V = ½ x [(PSA2-PSA1/ t1)+(PSA3-PSA2/t2)] PSA velocity > 0.Oleh Benson dari Columbia Univ. Recurrent of prostate cancer : Post radical prostatectomi PSA >0. DRE normal  PSA total  PSA 2-10  free PSA  PSA < 2  anual DRE & PSA 2. ’92 PSA : Vol Prostat. Sterodi : Cyproterene acetat Megastrol acetat 2.5 ng/l Usia 70 – 79 : 0 – 6.5 ng/l Usia 60 – 69 : 0 – 4.15 ng/l  > 0. Indikasi bila PSA 4-10 ng/l Cutt-off : 0. Non-steroid : Flutamide Nilutamide Bicalutamide Algoritma dx/ Ca.5 ng/l Free PSA : Enzimatically inactive Uncomplex Free Nilai : 5 – 50 % dari total PSA Cut-off 25 %  sensitifitas 95 % Moderate grade Ca prostat : gleason < 7 High-grade Ca prostat : gleason  7.

DRE & PSA Ann.DRE & PSA Biopsi Ann.DRE & PSA Biopsi Biopsi Ann.DRE & PSA Biopsi Biopsi Biiopsi Cancer probability estimates of free PSA : % free PSA % probability 70  10 10 – 11 58 11 – 15 46 15 – 20 34 20 – 24 23 24 – 26 15 > 26 10 JEF/99/50 .DRE & PSA Ann. 10% 11-26 > 26 % Ann.DRE & PSA Ann.

Refluk skunder krn obstruksi : Obst. tak ada blunting calic Grade IV : Blunting calic Grade V : refluk massive. b. USG Terapi : tujuan  mencegah timbulnya renal scarring memberi kesempatan pada ginjal untuk tumbuh. Refluk skunder kongenital : anomali ureter. Operatif : . Isotop cystografi 3. orifisium ektopik. Refluk primer : kelemahan uretero trigonum 2. a. belum sampai ginjal Grade II : refluk s/d kalik. clubbing calic Diagnosis : 1.Pembedahan  membuat ureter intravesikal lebih penjang : * Politano-leadbetter * Cohen * Lich-gregoir * Keramidas JEF/99/51 . Klasifikasi refluk ureter menurut Heikel & Parkeetmien (Internal refluk study group) : Grade I : Refluk s/d ureter distal . Medikamentosa : AB dosis rendah secara terus menerus s/d refluk menghilang.Refluk Study : Etiokogi : 1. Intravesikal Bisa iatrogenik atau radang 3. ureter sangat lebar. tourtous. 2. belum dilatasi Grade III : Dilatasi ringan. double ureter.Injeksi teflon/ kolagen submukosa buli pada orifisium ureter . uretrokel. Voiding cystouretrografi  foto evakuasi.

Somatomotorik (S2-4) :  n.cab.Residu urin . Causa : DM.BULI-BULI Vaskularisasi buli-buli : a. pudendus u/ spinter uretra ekterna Sensoris : nyeri.Fraktur  menusuk buli  ruptur ekstraperitoneal .trebekulasi. uterina & a. trauma med. b. . splanicus pelvicus (sacralis.Voiding sistografi : Tidak timbul rasa ingin kencing meski buli penuh Miksi +  walau baru diisi sedikit Miksi berhenti  sisa urin/ kontras + Buli-buli seperti pohon natal Refluk +/ . obtoratoria & a. Neurotransmitternya : acetilkolin. 2. Arteri : . a. vesikalis sup.buli. Otonom :  u/ buli-buli dan uretra proximal. vaginalis b. iliaka interna  iliaka komunis.Buli-buli penuh  blunt trauma  intraperitoneal Buli-buli Neuropati : 1. & inf. residu urin . hipogastrikus Neurotranslitter : alfa & beta adrenergik Alfa  dominan di spinter  kontraksi spinter int.cab. ALS.Bladder dilindungi oleh tulang pelvis. Bersifat visceromotorik (otot buli)  pengosongan buli . Spinalis. iliaka int. a.Pemeriksaan urodinamik : * Uroflowmetri : volume urin yg dikencingkan turun flow max.USG : dinding buli menebal. glutea inf. tonus spinter ani. divertikel. sadel area. suhu. frekwensi . pelvicus). Persyarafan Buli : 1. tabes . . : a.cab. sellulae/ divertikel . Diagnosis : .Sensasi saat buli-buli penuh . sakulae. n. a. med. Vena : plexus venosus inferolateral & preprostatik  v.Kapasitas buli . turun JEF/99/52 .reflek sacral : BCR. . Simpatis (Th 11-L2)  n. incontinensia. Beta  dominan di buli  menghambat otot detrusor pengisian buli.Endoskopi :. . Parasimpatis (S2-4)  n. raba (ekteroseptif regangan ( propioseptif) Bladder : . 2.keluhan miksi : retensio.

hipo/areflek bladder) 2.Riwayat trauma/ fr. Trauma tajam (penetrating) :  tusuk.neurogenic bleedere ( natrium ) 3 . Type Spastic : a. iatrogenik. Prevensi restricten pasca tindakan stricture uretra complicate ( residif. Th XI – L III 2. Neurogenic bladder .14 hari post sachse.Kontusio buli-buuli . Preventi restriktur : 7 . Pelvis JEF/99/53 . Frekuensi . multiple. radang Radiasi daerah pelvis Operasi besar daerah pelvis DM 3.diabetes/multiple sclerotis set diagnose tegas 2. tembak.4 jam . panjang) Penatalaksanaan : 1.spinal set stabilisasi ( 3 . N: .frekwensi Truma Buli-buli: 1.Ruptur buli ekstraperitoneal .5 hari) .120 * EMG  u/ aktivitas elektrik otot Neurogenic Bladder : 1.fase pengisian < 20 cm H2O . Trauma tumpul : . Obat-obatan : Parsimpatolitik Anti spasmolitik Simpatomimetik CIC Indikasi : 1. .Spinal cord injury Vert. Neuroogenik bladder ( tu.Ruptur buli intraperitonela 2. .spinal set fase akut ( 7 days pasca truma) . Diagnosis : a. Lesi di brain stem Tumor. gangguan vasculer Multiple sclerosis Keradangan (meningitis.fase kontraksi 60 . Type Flaccid : Sacral cord injury Spina bifida Tumor. encephalitis) b.flow rata-rata turun Lamanya miksi meningkat Kurva normogram  multifasik * Sistonometri tekanan intra buli-buli. Ax/ : .

Anuria .Eksplorasi laparatomi .Konservatif : pasang DK 7 hari . benda asing/peluru Sistogrfi  300 cc kontras  foto AP d. Klinis : .RT : landmark tdk dpt dibedakan  hematom luas c.gross heaturia ..tidak dapat kencing .Pelvic abses  ruptur ekstraperitoneal . Tes buli-buli  300 .Trauma perut bawah pd keadaan buli penuh b. Radiologis : BOF  fr.Infiltrat urin bertambah besar  Eksplorasi +drain Komplikasi : .nyeri perut bagian bawah/supra pubik . Pelvis. Uretrogram  bila ada bloody discharge Komplikasi : -Pelvic abcess  ruptur ekstraperitoneal -Peritonitis  ruptur intraperitoneal -Partial incontinensia  laserasi bladder neck Terapi : Diversi urin harus adekuat Drainage urin dari prevesikal area Jahit ruptur buli Pada ruptur intraperitoneal : .peritoneal iritasi.Hematri.Partial inkontinentia laserasi bladder neck JEF/99/54 .Infiltrat urin prevesikal .Bladder repair . e.Peritonitis  ruptur intraperitoneal . jejas/riwayat trauma .400 cc PZ  tampung ulang.Pasang drain cavum retzii Pada ruptur Ekstraperitoneal : .

enema es saline .massage prostat b.Skunder : ggn pembekuan darah (anemia bulan sabit. Terapi :  mengeluarkan darah dari koprpora kavernosa secepatnya. lekemi. Etiologi : .6 jam > 24 jam  nekrosis sel luas > 48 jam pembekuan darah dalam kaverne dan destruksi endotel.kompres srotum/penis .Primer/ idoipatik.Priapismus. a. (priapismus < 24 jam) c.  Ereksi berkepanjangan tanpa disertai hasrat seksual dan sering disertai rasa nyeri.hidrasi yang baik . . lebih 4 .Pintas korporo-spongiosum. obat-obatan (alkohol. emboli lemak). keganasan. trauma perineum/ genetalia. .sedativ . 2. Jenis : 1. High-flow proapismus (non-iskemik)  tanpa rasa nyeri dan prognosis lebih baik. Konservatif : .Pintas korporo-glanular/ winter. JEF/99/55 .20 cc darah intrakavernosa dgn scalp vein no.21G. anti hipertensi). Low-flow priapismus (iskemik)  diikuti rasa nyeri.aspirasi 10 . psikotropik. Jalan pintas (shunting) dari kavernosa :  jenis iskemik atau gagal medikamentosa/ aspirasi . .Pintas saveno-kavernosum. Aspirasi dan irigasi intrakavernosa : . neurogenik.Instilasi 10 -20 mg epinefrin yang dilarutkan dalam 1 cc larutan garam fisiologis setiaap 5 menit hingga detumesensi. .

< 10 cc/hr  2 hr analisa batu aff benang hari ke 10 .5 evaluasi uroflowmetri TURP Syndrome : Tensi naik atau < 88 mmHg Bradikardi Edema paru  sesak & ronkhi (+) Cardiovascular : Early : Bradicardi Hipertensi Dyspneu Cianosis Angina Late : hipotensi / shock Neurologik : Early : restlessness Confussion Blurred vision Twitching Seizure Late : coma Th/ : Bila Na serum  110 mEq/lt  diuresis dgn furosemide Bila coma/ kejang  NaCl 3% 1 lt/ 12 jam + antikonvulsan Millin’s : JEF/99/56 .10 hari Aff redon drain 2 hari setelah aff DK prod < 20 cc/ hr Litotripsi : aff DK setelah 24 jam bila ada lesi buli  tunggu 5 hari. bila prod.14 BOF kontrol IVP setelah 6 bulan TURP : aff traksi setelah 24 jam aff spoel setelah 2 hari (urin jernih) aff DK hari ke 3 . Sistoskopi ulang setelah 3 bulan IVP ulang setelah 6 bulan Ureterolitotomi : aff DK setelah 24 jam vacum drain tiap hari rawat luka setelah hari ketiga aff redon drain hari ke-5.POST OPERASI Vesikolitotomi : Aff DK setelah 7 .

aff DK setelah hari ke-5 aff redon drain hari ke-6  prod. < 20 cc/hari kontrol tiap 2 minggu (bulan I) evaluasi uroflowmetri JEF/99/57 .

LED meningkat .psoas line  kabur .febris  kultur darah IVP : . infundibulum. edema. Klinis : .tanda iritasi : frekuensi.faktor pencetus penting.cari kelainan pada uretra : stenosis meatus . bacteriuria.nyeri pinggang . nokturia.palpasi  pinggang tegang .batas ginjal dan lemak perirenal .000 koloni/cc .urinalisis : urin keruh.wanita  post soitus . muntah .faal ginjal normal .kalic.malaise. azotemia.bising usus turun -kronis hipertensi. LAB. -.leukositosis  PMN dan segmen meningkat .40)  disertai menggigil .kultur urin > 100. hematuria .5 . .febris (t : 38.bila ada tanda-tanda obstruksi di pyelokalic degan klinis pyelonefritis  dx/ Urosepsis. fimosis Lab.kontur ginjal >> . Pyelonefritis kronis : .batas/ kontur ginjal tidak teratur . proteinuria. urgensi. . disuria.gejala ISK bawah . mual.takikardi (90 . pyelum -> kecil & langsing (a/ edem) .nyeri suprapubik/ perut bawah. : . . mudah berdarah .ISK atas :  Pyelonefritis Klinis : . granulasi s/d ulkus.bila nonvisualized  konfirmasi dengan USG  ada dilatasi pyelokalic -> dx/ pyonefrosis.leukositosis . .gejala sistemik ( -) .cari bayangan kalsifiaksi . infiltrasi sel netrofil . ISK Bawah : Sistitis : . hematuria  JEF/99/58 .140) .fase acut : mukosa hiperemi. pyuria.fase kronis : buli rapuh  banyak debris.tidak ada demam & nyeri pinggang .flank pain .urinalisis  pyuria dan bacteriuria.kaliektase multiple (clubbing)  akibat scarring dari parenkim ginjal Voiding cistografi :  untuk melihat adanya reflux vesiko uretral  ascending infection .

curiga infeksi menyebar ke ginjal .Fibrosis diduga karena obstruksi limfe buli sekunder dari infeksi pelvic surgery.terapi adekuat  hasil (-) .kultur urin +  dx/ pasti. Submucous fibrosis) -Ditandai o/ fibrosis dinding buli  capasty  .. Komplikasi :  Gradual ureteral stenosis  Refluk  Hidronefrosis  Treatment Terapi : JEF/99/59 . Indikasi IVP :  u/ cari kelainan primer .  setelah BAK nyeri hilang -Gross hematuria Lab : -Urin steril -Mikros hematuria X-Ray : -Excretori urogram dbn Cystoskopi : Buli diisi  suprapibic pain meningkat Kapasitas bula < 60 cc Bladder lining  dbn DD/ : -Tuberculosa Buli. * Minum banyak. Interstitial Cystitis (Hunner’s Ulcer. basil (+) -Vesical ulcer akibat schistosomiasis.Nitrofurantoin 4 x 50 mg * Simtomatik .2 bulan Terapi : * causal : Anti biotik .Analgetik : pyridium 3 x 1 tab. -Nonspesific vesical infection -Ca buli.  yg sering orifisium ureteral pyuria.Cotrim . juga di uretra dan perineum. prolonged intrinsic arteriol spasm neuropathic origin faktor endokrinologi Klinis : -Middle age women -Frekuensi & nocturia tanpa disuria -Suprapubic pain.re-infeksi 1 .Anticholinergik : probantine 3 x 15 mg .

Gangrene skrotum idiopatik Gangrene skrotum streptokokus Phlegmon perineal Infeksi umumnya muncul dari kulit . Abses Ginjal . Kortikomeduler :akibat ascending infection  reflux. Klinis : . Predisposisi : obstruksi. parafimosis. Trauma lokal. or regio rektal Faktor predisposisi : DM. Causa : E. Ekstravasasi urine peri uretral.v. proteus.8 minggu. reflux.koreksi faktor primer Fournier’s Gangrene Bentuk fasciitis necrotizing yg terjadi sekitar genetalia lakilaki.pada kortikorenal  urinalisis normal. herniotomi. IVP : . uretra. Lab. 2. -Sodium pentosan polysulfate (Elmiron) 4 x 50 mg atau 2 x 150 mg selama 4.sama dgn pyelonefritis . Infeksi peri uretral or perianal.  akibat infeksi hematogen causa 90 %  stafilokokus aureus predisposisi : obat-obat i. DM. coli.sama dengan pyelonefirtis akut .-Terapi definitif tidak ada -Hidraulic overdistention  meningkatkan kapasitas buli -Superfisial electrocoagulation  relief pain -Tranuretral resection of the lesion -Symptomatic relief  50 cc DMSO 50 % (dimethyl sulfoxide) kedalam buli setiap 2 minggu. klebsiella.abses besar  drainage .distorsi sistim pyelokalic . Ada 2 jenis : 1. instrumentasi STD JEF/99/60 .  relief frekuensi & nokturia -Cortison asetate 100 mg atau prednison 10 – 20 mg  21 hari -Antihistamin : pyribenzamin 4 x 50 mg /hari -Antibiotik bila disertai infeksi akibat instrumentasi -Terapi komplikasi. Circumsisi. HD.cari faktor predisposisi Terapi :  sama dgn pyelonefritis .abses luas dan multiple  nefrektomi . : . Kortikal/kortikorenal.abses besar  teraba mass daerah pinggan .

coli. fistel uretrokutan  Biasanya dimulai dgn sellulitis. Gx/ UT. Debridement  ekstensif AB: Ampicillin + Sulbactam atau Cephalosporin gen III PERIURETRAL ABCESS : Life treatening infection Akibat dari : GO. s. striktur uretra.Gram positif : sangat jarang. eritema.Aerobic gram negatif : E. Direct extension/ limfogen dari rektum 4. fecalis .Kultur luka biasanya multiple organisme (aerob & anaerob) Klinis :  Riwayat trauma. bengkak. Reflux kedalam duktus prostatikus 3. pseudomonas. Pathogenesis : 1. 2. nyeri dan febris sistemik. discharge and retensiio. disuria. Hematogen 1 & 2  paling sering Berkaitan dgn sistitis akut Dapat menyebabkan retensio akut Patologi : PMN sekitar acini Desquamasi intraduktal Struma  edem dan hiperemi Klinis : Febris akut dgn menggigil JEF/99/61 . STD. Th/. instrumentasi. Ascending dari uretra. Gas. striktur uretra. kateterisasi uretra Klinis : Scrotal sweeling Fever Retensio urine Spontan drainage abcess Dysuria Urethral discharge Gx/ awal s/d timbul abcess : 21 hari LAB : Pyuria Bacteriuria Th/ : Suprapubic urin drainage Wide debridement AB : Aminoglikoside Cephalosporin Acut bacterial prostatitis : Etiologi : .

indurasi dan hangat Urin keruh. disuria Retensio urin akut Mialgia. Gentamici/ tobramicin + ampicillin  1 minggu – dilanjutkan dgn oral ampicillin full dose 30 hari. Cotrim : 2 x 960 mg  4 minggu 2. JEF/99/62 .Low back pain Perineeal pain Urgensi & frekuensi. lembut. hematuria Kontraindikasi : Intrumentasi / kateterisasi Massage prostate : nyeri. nyeri. artralgia Prostat bengkak. & bakteremia Th/ : 1. nokturia.

Beda torsio degan epididimitis :
Epididimitis/ orchitis acut. bbrp jam +  + sumbu vertikal di postero lateral nyeri  pyuria leukositosis AB, bed rest Torsio testis acut sekali sumbu horizontal anterior sangat nyeri normal normal /  cito operasi di

onset kel. miksi instrumentasi febris/menggig il testis prehn test sedimen darah terapi

Batu cistein baru terlihat pd BOF bila >3-4 mm Batu calsium >2 mm Sym Siste pto mic m sign Acut Bact. Prst.is Yes Yes Cronic Bact. Prst.is Yes No Non Bact. Prst.is Yes No Prostatodynia yes No EPS : Expressed Prostatic Secretion Type WBC in EPS Yes Yes Yes No Cult ur Yes Yes No No

Indikasi operasi repair ren mobilis :
- Intermitten gros hematuri - Sering nyeri hebat - Hematuri tanpa obstruksi dan infeksi - Hipertensi/ hipotensi

Indikasi Percutaneus catheter placement :
Cateterisasi ureter retrograde kontraindikasi (sepsis) Obstruksi ureter (batu, tumor, striktur) Indikasi diagnostik (whitakertest) Prosedur terapi  kemolisis batu

Indikasi Pungsi Renal Perkutan
1. Indikasi diagnostik : APG Whitaker test (pressure/perfusion study) 2. Indikasi terapeutik : Nefrostomy catether drainage Antegrade ureteral stenting Dilatasi strikture ureter Percutaneus endopyeloplasty

JEF/99/63

Perfusion chemolisis batu renal PNL Percutaneus resection and coagulation of urothelial tumor

Indikasi PNS :
1. 2. 3. 4. 5. 6. Pyonefrosis akut dan krosis Infected hidronefrosis Bilateral hidronefrosis Bagian dari test Whittaker Bagian dari PNL Hidronefrosis unilateral, tapi tindakan definitif tidak bisa cepat (> 2 minggu).

Indikasi PNL  dalam hal ESWL
Obstruksi bukan saja oleh batu : - ada divertikel, - ureteropelvic stenosis Batu yang besar/staghorn Batu tidak dapat diposisikan dgn fokus ‘Shock wave’

Indikasi ureterorenoskopi :
1. Diagnostik : - Lesi ureter atau pelvis renal - Hematuria dari upper tract 2. Terapeutik : - Terapi batu ureter - Direct vision internal ureterotomy dr striktur ureter - Endoskopik resection & coagulation of ureteral tu.

JEF/99/64

Cushing’s Syndrome :
Akibat over produksi cortisol (hidrocortison) Hipofisa  Produksi ACTH   hiperplasia cortek adrenal  cortison >>> Klinis :  3 dari gejala berikut : 1. Weakness : quadricep femur 2. Obesitas : moonface, fat pad ( bufallow hump) 3. Striae 4. Iritabilitas 5. Hipertension 6. Osteoporosis 7. Diabetik glukose tolerance 8. Adrenogenital syndrome. Lab : -Leukosit : 12 – 20 ribu -Polisitemia : Hb : 14 – 16 -Natrium Meningkat -CO2 meningkat -Kalium turun  metabolik alkalosis Terapi : Total bilateral adrenalectomy TBC urogenital selain di terapi dgn TB drug juga diberi Vitamin C dosis tinggi  mengasamkan urin (BTA) TBC di Prostat  paling jarang karena vaskularisasinya paling kurang.

JEF/99/65

Acut Renal Faillure
Fase ARF : 1. Onset 2. Fase oliguria 3. Fase early diuretic 4. Fase late diuretic Pada fase early diuretic  fungsi tubular tetap gagal & terdapat penalimpahan cairan dan elektrolit Pada fase late diuretic  ditandai dgn perbaikan yang menetap pada fungsi ginjal Onset ARF pada post traumatic : - Early  6 hari pertama

- Late  > 7 hari Bila tek arteri afferen < 60 mmHg (N: 100mmHg)  filtrat  : Na, Air, & urea  sebagian besar diserab lagi. Creatinin tidak diserap  rasio ure : creatinin >>
Def : Keadaan dimana produksi urin < 200 cc/24 jam. Anuria obstruktif : causa obstruksi pasca renal. K/U St. Lokal : - Tr. Urinarius - DL, BUN/SC, BGA (kosul kardio), elektrolit - CVP (pre renal), DK  Foto thorak BOF  IVP USG (u/ membedakan renal dan post renal) # Non obtruktiif  perawatan nefrologik # Obtruktif  diversi urin / by pass  terapi definitif # Meragukan : - RPG double set up - Tes diuretik dengan persiapan tindakan : + diversi urin, & + by pass Bila ada indikasi, hemodialisis mendahuli tindakan.

Anuria

Oliguria.
Def. : bila produksi urine < 400 / hari pada spesifik gravity urin 1,035 atau < 6 cc/ kg BB Jika kemampuan onsentrasi ginjal gagal dan spesifik gravity hanya 1,010,  oliguria bila urin < 1000 – 1500 cc/ hari  high output/nonoliguric renal faillure Etiologi acut renal faillure : (Smith’s) ========================================== 1. Pre renal : -Dehidrasi -Vascular collapse (sepsis, obat antihipertensi) -Reduced cardiac output

JEF/99/66

urin  Lab. Spesifik : -Glumerulonefritis . post traumatik -Retroperitoneal fibrosis. dye-induced .Malignant hipertensi 3. -turgor . BB . 1. mukosa kering. Parenchimal (intrarenal) : -. fluid loss.Atheroembilsm .Interstitial nefritis . indek = UNa : U/P cr FE Na = (U/PNa : U/Pcr) x < 300 < 10 < 20 > 40 >1 >1 Prerenal Azotemia > 500 > 20 > 40 < 20 <1 <1 100 JEF/99/67 . Fungtional – hemodinak : -ACE-inhibitor drug -Nonsteroid anti inflamasi drug -Cyclosporin -Hepatorenal syndrome 5. orthostatic change in BP & pulse. Vascular : . Urine : -Volume  -High urine spesific gravity : > 1. JVP . Kimia darah urin : -Ratio BUN : SC meningkat (N=10:1) ARF Urine osmolality Urine/plasma urea Urine/plasma creatine Urine Na (meq/L) R F.Dissecting arterial aneurisme .2. Klinis -complain : thirst.Toxin.025 -High urine osmolality : > 600 mosm/kg 2. orthostatic dizziness.Nonspesifik : -Acut tubular nekrosis -Acut cortical necrosis 4. tachicardi. ---------------------------------------------------------------------------- Prerenal Renal Faillure Akibat perfusi renal yg tidak adekuat karena volume intravaskuler yg tidak adekuat atau tidak efektif. prod. Post renal : -Calculus pd px/ dgn solitary kidney -Bilateral uretral obstruction -Outlet obstruktion -Leak.

-Mengurangi respon inflamasi -Immunoterapi. .Cardiac faillure  CO  dan CVP  4. . Klinis : -Riwayat URTI. Bila volume urin > 50 cc/ jam  respon positif  dilajutkan dengan infus PZ u/ koreksi dehidrasi.Permiabilitas membran glumerulus turun.2 : 1 creatinine < 20 : 1 2. Urine: -Eritrosit + -Leukosit + -Celluler & glanuler cast -Eosinofil +  allergic interstitial nefritis -Na urin 10 – 40 meq/L -Osmolaritas urin < 400 mOsmol/kg -Ration urin plasma : urea < 10 : 1 osmolaritas < 1. Bila vlume urin tidak meningkat  evaluasi ulang kimmia darah dan urin. Renal biopsi  characteristic change of acut interstitial nefritis atau glumerulonefritis X-Ray : -IVP :  porr/ non visualized .Vasomotor th/ : Renin angiotensin naik  vasokontriksi arteriole afferen  GFR turun. Terapi :  tergantung primer Dehidrasi  koreksi cairan Bila tetap oliguri setelah rehidrasi  obat vasopressor dapat diberikan untuk memperbaiki hipotensi yg berkaitan dgn sepsis dan shock cardiogenik.turun  hipovolemia  blood loss.Destruksi tubuler : Major trauma injuri  pelepasan mioglobin dari sel otot rangka  presipitasi di tubulus  obstruksi : intrtubuler pressure naik dan GF turun. Patogenesis : . CVP : . JEF/99/68 . obstruksi dan adanya solitary kidney. Terapi : -Eradikasi infeksi.  Doopamin 1 – 5 mikro gram /kg/menit  renal dose Spesific Intrarenal Disease State. Fluid hallenge : PZ 300 – 500 cc atau 125 cc manitol 20 %  diukur urine 1 – 3 jam kemudian. dehidrasi . Lab : 1. obat-obat IV -bilateral back pain -gross hematuria -Pyelonefritis menyebabkan ARF bila disertai sepsis/ dehidrasi.3.

Terapi : .015 -Osmolality : < 450 mosm/kg .v -Kayexalate 25 – 50 g / oral . CVP : normal atau sedikit meningkat 3.Preparat Calsium . Urine : -Spesific gravity : 1. debris  filtered tubular obstrukstion Postrenal Acut Renal Faillure Klinis : -Renal pain or renal tenderness JEF/99/69 .Terapi hiperkalemia : -Nac.v . Klinis : -Dehidrasi & shock  dgn rehidrasi produksi urin tidak membaik.Insulin i.Hemodialisis Prognosis :  biasanya reversible dalam 7 – 14 hari Tubular Destruktion : Major trauma injury  release myoglobin sel otot skeletal  precipitate dalm tubulus  obstruksi  tek intratubulus  GFR   iskemia  pelepasan sel-sel.bic /i. Fluid challenge : Pemberian manitol atau cairan PZ tidak meningkatkan produksi urin. -Gejala uremia : perubahan mental dan gejala GIT.005 – 1.Ratio osmol U/P = < 1. Lab : 1.Monitor Kalium dan ECG .5 : 1 -Urinalisis : tubular cell & granuler cast 2.Balance cairan .Non Spesific Intrarenal States.Glukosa dan AAE 30–35 kcal/kgu/ mengurangi katabolisme .

Severe dysnatraemia  Na >160 or < 115 mmol/lt Mayor Parenchymal Causes of Acut Renal Faillure : (Cambell’s) ========================================= 1. nefrotoksis antibiotik. Sistemic disease Glumerular : Vasculitis Goodpasture’s syndrome Secondary acut glumerulonephritis JEF/99/70 . Clinically significant organ oedema 6. Acidemia  pH < 7.5 mmol/lt 3. Ekstrem oliguria ( Urine < 100 cc/ 24 jam) 2.1 4. X-Ray : IVU  poor visualization Renal scan : membantu pd obstruksi akut tapi tidak pada yg kronik. USG  dilatasi sistim kolekting  hidronefrosis Cystoskopi  obstruksi uretra. Uremia  Urea > 30 mmol/lt 5. Glumerular : Glumerlonephritis acut Tubulointerstitial : Acut interstitial nefritis (obat-obatan) ATN (iskemia. radiocontas) Pyelonefritis Transplant allograft rejection Nrfrolitiasis Radiation nephritis Vascular : Renal artery occlusion Renal vein trombosis 2. Indikasi Dialisis pada pasien yg kritis : 1. Hiperkalemia  K > 6. Gambaran kebocoran urin atau retensi isotop di pelvis renalis. dan vomiting Lab : .-Edema akibat over hidrasi -Ileus  berkaitn dgn distensi abd.Kateterisasi  untuk diagnostik dan terapi pada obstruksi uretra dan bladder neck. Indikasi Dialisis (clasic) : Hiperkalemia Fluid overload Severe metabolic acidosis Uremic complication. Primary Renal Disease .

sarcoid) Vasculer : Vasculitis Malignant hpertention Scleroderma Thrombotic thrombocytopenic purpura -----------------------------------------------------------------Mayor Causes of Prerenal Azotemia : ====================================== 1. Decreased cardiac output Decresase intravasculer volume : -Dehidrasi -Hemorhage -Anaphylactic sock Decrease venous tone : -Autonomic neuropathy -Spinal injury Decrease contractile function : -IHD -Cardiomiopathy -Valvular heart disease. -Pericardial tamponade or constriction 2. Normal or increase cardiac output Systemic disorder : -Hepatorenal syndrome -Sepsis Local renal disease : -Renal arteri stenosis ------------------------------------------------------------------- Complication of acut renal faillure : 1. Fluid over load : Hipertension Edema Acut pulmonary edema 2.Tubulointerstitial : Tumor lysis syndrome Hipercalcemia Infection Infiltration (limphoma. Vomiting JEF/99/71 . Metabolic acidosis 4. Electrolit disturbance Hyponatremia Hyperkalemia Hypermagnesemia Hyperphosphatemia Hypocalcemia Hypercalcemia (post rhabdomyolisis) Hyperuricemia 3. Uremic signs and symptoms Gastrointestinal : Nusea.

Iatrogenik : c/ high –volume glukose-containing fluid replacement. Na.Selain i. Patologis : c/ kegagalan kemampuan mengkonsentrasi urin atau reabsorbsi Na.nat  Ekskresi sisa metab   Asidosis metabolik  hiperventilation (compensasi) DIURESIS : Klasifikasi : 1. Fisiologis : akibat retensi urea. -Penurunan survival dari sel darah merah -Penurunan respon terhadap eritropoitin -Supresi bone marrow  oleh middles molecule atau uremic toxin. Non electrolite Solute diuresis : C/ osmotically aktif agent.v. JEF/99/72 . serum bic. & air.v.Eritropoitin : 500 U/kg/ i. (urea) 2. GFR   < 30 cc/mnt  serum elektrolit abnormal  Body buffer  .Upper GIT bleeding Neurologic : Mental status changes Encephalopathy Coma. Seizures Peripheral neuropathy Cardiac : Pericarditis Uremic cardiomyopathy Pulmonary : Pleuritis Uremic pneumonitis Hematologic: Bleeding. 3. dapat juga diberikan subcutan. .  3 kali seminggu. intraperitoneal. Anemia Immunologic : Impaired granulocyte function Impaired lymphocyte function ----------------------------------------------------------------------------- Anemia pada CRF disebabkan oleh : -Produksi eritropoitin yg berkurang. Terapi anemia pada CRF : .

(Na + K) x 2  << osmol urine osmotik diuresis (Na + K) x 2  = osmol urine  salt & water diuresis JEF/99/73 .Post obstruktif Diuresis : C/ combinasi dari :  Fisiologik diuresis  urea osmotik diuresis  Patologik diuresis  Iatrogenik diuresis glukose osmotik diuresis Biasanya 2 hari atau kurang ( BUN dan SC turun menjadi normal) Biasanya disertai dengan :  Obstruksi kronis  Edema  Congestif HF  Hipertensi  Kenaikan BB  Azotemia  Uremia encephalopathi Klinis : SC > 4. Untuk membedakan poliuria k/ solute diuresis atau wawter diuresis  periksa osmolaritas urine. Diuresis post obstruksi yang paling sering adalah Pathologik sodium loss  Sodium washting nephropathy Definisi poliuri : Urine out put > 3 lt/hari  pd keadaan minum biasa.0. edema perifer Hight risk terhadap post obstruksi diuresis Mekanisme yg menyebabkan ketidak mampuan mengkonsebtrasi urine :  Reabsorbsi NaCl  o/ thick ascending loop Reabsorbsi Urea  o/ kolekting loop  Ketidakmampuan mempertahankan solute gradient akibat  medullary blood flow (solute washout)  Kegagalan medullary gradient akibat  aliran & konsentrasi solute di nefron distal.insipidus Bila iso/ hiperosmolar : periksa Na. Bila < 150 mosmol   water ingestion/ d. K. CHD.

Prune- Belly syndrome
Congenital Absence, deficience/ hypoplasia : Abdominal muscle Cryptorchidism d/s Variasi dari abnormalitas TU  Renal dysplasia Hidronefrosis Hipotonik bladder Dilated prostatis yretra Uretral atresia Megalu uretra Etiologi & embriologi  unknown Beberapa teori : 1. Early urethral obstruction/ prostatic hypoplasia  bladder /urethral dilatation with : Abdominal distortion Mechanical obstruction of testicular descent 2. Intrinsic defect ureter & bladder 3. Mesodermal defect Diagnosis : Prenatal USG (kehamilan 25-30 minggu)  classic finding : Distended bladder Hidroureteronefrosis Floppy abdominal wall Gambaran pada saat lahir : Diding abd tipis Jaringan otot dan subcutis sedikit Organ abdominal dgn mudah dapat diraba Kriptorchidism  >> intraabdominal Megalouretra Disertai dengan kelainan lain : Cardivasculer (ASD TF) Extremitas (congenital hip disloc) GIT (malrotasi bowel, imperforates anus, gastroschisis, hirsprung disease) Lung : polmonary hipoplasia Evaluasi periode perinatal : USG, Renal function studies Urinalisis  untuk menilai : derajat HN, kerusakan parenchim dan menyingkirkan infeksi Urography Voiding cystouretrografi Penanganan : 1. Antibiotik 2. Consevative  non operatif Indikasi bedah :  Recurrent infeksi  Upper tract deterioration

JEF/99/74

3.

Inisial urinary divertion  vesicostomy Setelah diversion bila RFT stabil   Extensive remodeling ureter & bladder untuk menghilangkan stasis urin & memperbaiki refluk  Excission  lower redundant ureter & bladder  Uretral reimplantation  Memperbaiki abnormalitas uretra ( internal uretrotom, uretroplasti  Orchiopexy  Future numbering for malignansi (6 bl – 1th) Klasifikasi didasarkan pd beratnya abnormalitas dan prognosis : Klas I : Poor infant survival Klas II : Moderate impairment Klas III : Mild defect, good long term survival.

JEF/99/75

WILM’S TUMOR
Adeno sarcoma Nefroblastoma Embrioma Karsino sarcoma Adenomio sarcoma Frekuensi : Bayi – anak  90 % pd usia < 7 tahun Terbanyak pada usia 3 tahun Etiologi : Asal metanefrik blastema Genetik ikut berperan, namun ragu sebagai kongenital Berhubungan dgn sindroma : Trisomi 8 Trisomi 18 Turner’s sindrome Pseudohermaphroditism Kadang-2 aniridia, hemihipertropi Pathologi : Umumnya besar, soliter, coklat, gambaran seperti daging 7 % kasus bilateral Diameter  daerah hemorhage & nekrosis sentral Klasifikasi histologis (NWTS) menurut prognosis : Favorable Unfavorable Unfavorable subgroup terdiri dari  3 tipe 1. Anaplastik : mitosis abnormal & nukleus picnotic, dapat focal atau difuse 2. Rhabdoid tumor : prognosis paling jelek, berhubungan dgn pemisahan tu CNS, metastase ke otak 3. Clear cel sarcoma : spindel cells, metastase ke tulang Staging : Stad I : Tumor terbatas dalam kapsul ginjal. Reseksi operaasi komplit. Stad II : Tumot meluar keluar ginjal tapi kompletly removed. Mungkin terdapat lokal spillage atau trombus tumor pd vena renalis. Residual tumor pd margin eksisi (-). Stad III : Residual tumor pd operasi dgn kontaminasi/spillage pd peritoneum dan abdomen. Lnn + pd hilus atau periaorta. Tumor melewati margin operasi. Stad IV : Metastase hematogen : paru, liver, bone & brain Stad V : Bilateral renal lesion Klinis:  Sign-simptom : Asimtomatic mass (>>>), abdominal pain, distensi, anorexia, mual & muntah, febris, hematuria. Hipertensi 25-60 % o/k renin .  Lab : Anemia, hematuria

JEF/99/76

alasannya : Memungkinkan reseksi terhadap tu/ primer Explorasi u/ metastase Pemeriksaan ren kontralateral. Tumor marker : VMA (vanillylmandelic acid) & other katekolamin.Wilm’s tu  radiosensitif Direkomendasikan pd yg Unfavorable stadium apapun dan untuk penyakit stadium IV Usia > 1 th : 2000 rad.015 mg/kg/hari Vincristine : 1.kg/hari max - U/ staging  biopsi Ln JEF/99/77 . Surgical : Unilateral & tdk melewati grs tengah atau mengenai organ visceral . Biopsi preoperatif  indikasi bila tu terlalu besar. Bone scan  curiga metastase ke tulang.       X-Ray : IVU distorsi PCS & pembesaran ren. 2. Kemoterapi : Wilm’s tu  kemosensitif : Actinomicin D : 0. v. pre operatif citostatika atau th/ radiasi DD : Hydronefrosis & kistik kidney. Penanganan : 1. kalsifikasi perdarahan dl tumor.6 mg. Usia < 1 th : total 1000 rad 3.cava.5 mg/m2LDT/minggu Doxorubicin Cyclophosphamide Cisplatin .Adriamicin : 0. mulai 1 – 3 hari post op.RPLND tdk dianjurkan Hindari spillage ginjal diangkat bersama dgn fascia gerota & perinefrik fat Approach : transabdominal/ torakoabdominal. kalsifikasi >>. Radioterapi : . Thorax :  deteksi metastase. Neuroblastome : biasanya muncul dari adrenal gland or paraspinal ganglion. fungsi ren. renalis. Renal arteriografi bila tumor bilateral/ horseshoe k. USG  men-dd/ dgn lesi jinak ginjal CT-scan/ MRI : extensi tumor ke v. tu clear cell Ca. melewati midline.

JEF/99/78 .

Perineal. 2. Superfisial inguinal  paling sering. Transverse atau paradoxic descent  pada canalis inguinalis yg sama 6. tapi sulit dikerjakan pada anak Komplikasi : -Hernia inguinal  25 % JEF/99/79 . -Untuk rongga pelvis hasil kurang memuaskan. Tempat ektopik adalah : 1. Penil  dibawah kulit dorsum penis. X-Ray : -Selective gonadal venography  plexus pampiniformis CT-Scan : -Efectif pada penderita yg dewasa USG : -Untuk canalis inguinalis hasilnya cukup baik. Bila testis ada  kadar testosteron meningkat 10 kali. Androgen sedikit berkurang Pada hipopituitarisme primer  Androgen dan gonadotropin hipofise sangat berkurang. Sering unilateral. Ektopik disebabkan o/ koneksi yg abnormal dari ujung distal gubernakulum testis sehingga menyebabkan posisi gonad tidak normal.Ektopik & kriptorchismus. Hari ke 5 periksa ulang kadar testosteron serum.: Pada hipogonadisme primer  gonadotropin urin (FSH) . Pada kriptorkismus bilateral primer  androgen dan gonadotroopin hipofise sedikit berkurang. Femoral atau crural  pada scarpa’s triangel 4. 5. Kriptorkismus  testis berhenti secara tidak normal pada tempat turunnya. Pada bayi prematur  insiden 30 % Causa : -Abnormalitas gubernakulum testis -Intrinsik testicular defect  testis tidak sensitif terhadap gonadotropin -Defisiensi stimulasi hormon gonadotropin Klinis : -Skrotum tidak berisi testis -Infertil -Skrotum yg terkena  atropi -Testis teraba tidak pada tempatnya -Sering disertai dengan hernia pada sisi yg terkena Lab. Pelvik. MRI : -Hasilnya cukup memuaskan. 3. lalu berikan hCG 2000 unit/ hari selama 4 hari. Test hCG : ukur kadar testosteron serum.

1500 U/m2 / i. Surgical : Gagal terapi hormonal Menmpatkan testis ke dalam skrotum  sebelum usia 1 tahun (belum ada perubahan histologik) Orkhiopeksi & herniorafi  preservasi vasculer pedicle Prognosis : Unilateral 20 % menjadi infertil JEF/99/80 . Terapi : 1. -dapat juga diberikan LH-RH -pada bilateral hasilnya lebih baik 2. -diberikan 9 dosis.-Torsio testis -Cancer  35 – 38 kali lebih sering (seminoma >>) Biasanya usia > 10 tahun.m.  3 x seminggu. Diberikan hCG. Terapi hormonal : Diberikan pada usia sebelum 5 tahun.

sodium sakarin 4. Pemanis sintetis : Sodium siklamat. Faktor peningkat resiko : 1. RFT.FH. Bahan pewarna : naphtylamin dan benzidin 2. LFT. :DL. Bahan urin  setelah jogging / melompat Penilaian sitologi  sistim Broder JEF/99/81 . Analgetikum : phenacetin Klinis : Keluhan : hematuri (gross) tanpa nyeri dan berulang Disuria yg lama dan berulang Retensio urin karena klot PF. TAR dalam tembakau 3. : Massa suprasimpisis atau pada RT Hidronefrosis Anemia Lab. Infeksi / iritasi kronis buli 6. Cultur dan citologi. UL.Carcinoma Buli. Skistosomiasis 5.

Sin. 1. para caval. Campuran B. hepar & GIT AFP À pada Ca embrional.Faktor resiko : Kriptorkismus Genetika Trauma Atropi Infeksi Klasifikasi : A. : ke peri aortik level hilum (s)  advance : preaortic iliaka communis & iliaka eksterna sin. preaorti. Non-Germinal sel : 1. (<3 % ) 3. Seminoma : . Gernminal sel . ilium communis dan iliaka eksterna dex. teratoma 2. (40 %) Chorio Ca.Spermatositik 2.Anaplastik . Dari interstitial sel 2. Dari sel gonad Metastase : . Nonseminoma : . Beta HCG : Diproduksi oleh tropoblas JEF/99/82 . Alpha Feto Protein : Diproduksi oleh : Yolk sac.Insiden 1 – 2 % dari semua Ca pd pria .Kkecuali chorio Ca  hematogen - Saat diagnosis dibuat  40 – 50 % meta (+) Regional : para aorta  duktus thoracikus  medistinum  supra clavikula Dex : ke KGB inter aortocaval level hilum  precaval.limfogen . Tumor Marker : Tujuannya : Diagnosis Stadium Evaluasi terapi Prognosis 1.Embrional (20 %) Teratoma (5 %) Terato Ca.Klasik .Tumor testis .

Stad. B  Penyebaran KGB regional B1 : RPLN  < 5 cm B2. I : terbatas pd testis B. nusea Bone pain Masa kenyal yg bebas dari testis Ginekomastia :5 % - Clinacal Staging : 1.: RPLN  5 – 10 cm B3 : RPLN > 10 cm C. Low-stage nonseminomatous germ cell : Stadium A : Orchidektomi + RPLND B. Beden & Gibb : A. JEF/99/83 . TNM sistem : T1 : terbatas pada testis T2 : melewati tunika albuginea/ ke epididimis T3 : Kena funikulus spermatikus T4 : kena skrotum N1 : mikroskopis  KGB (+) N2a : KGB < 5 nodus / <2 cm N2b : KGB > 5 nodus/ > 2 cm N3 : invasi ekstra nodul N4 : unresectable ROLN meta Terapi : 1. MD. Anderson : A. Low-Stage Seminoma : (I – IIa) Radical orchidectomi Radiasi RPLN : 2500 – 3000 rad/3 minggu 2. High-stage seminoma (Iib – III) : chemoterapi : PVB (platinum – vincristin – bleomicin) 3. C  diatas RPLN 2. Stad. A  lesi terbatas pada testis Stad. Stad.3. Beta HCG À : choriio Ca. II : metastase ke RPLN IIa :  < 10 cm Iib :  > 10 cm C. Ca embrional (40 – 60 %). Seminoma (5 – 10 %) Lactic acid dehidrogenase (LDH) Seminoma & chorio Ca  AFP dbn Klinis : Asimtomatik : 10 % Pembesaran testis  painless Back pain  metastase ke retroperitoneal Anoreksia. Stad III : KGB supradiafragma &/ visceral 3. Stad.

Hig-stage non seminoma germ cell tomur : Orchicdektomi + kemoterapi JEF/99/84 .4.

Kecil  nonobstruksi  asimtomatis JEF/99/85 . RNA. Status metabolisme Aquired or genetic 5. Citrat. Dietary excess 7. globulin. glikosaminoglikan. Inhibitor of crystalization theori : Bahan-bahan tertentu dalam urin dapat menghambat pembentukan kristal : Mg.5 Batu infeksi (struvit) : Urea splitter  amonium  PH urin  Alkaline – endapan/ medium  AB pre Op dan post Op diberikan s/d cultur urine negatif. Urat  hyperuricemia Related to stone problem Elektrolit  Screening test u/ RTA type I  hipercloremic acidosis Ca. Mucoprotein.1 mg %) Fosfor serum  Dx/ hiperparatiroid (pd level yg renndah) Batu cystein dan asam urat : Urin  pH sekitar 5. Abnormalitas anatomi Gx/ dan tanda batu TU : 1. Nucleation theori : Pembentukan batu diawali oleh adanya kristal atau foreign body dlm urin supersaturasi. Stone matrix theori : Bahan organik serum Protein urin : albumin. Fosfat : PH urin  Alkaline side of 6. bila tidak batu akan cepat muncul lagi. 2. Fosfor. Faktor lingkungan  supersaturasi urin 6. fosfocitrat. Batu Calix : . Serum (3x)  Deteksi hiperparatiroid (>10.UROLITIASIS Evaluasi px/ urolitiasis : IVP : Conformasi Dx/ Ukuran & posisi batu Derajat Obstruksi UL : RBC & Cristal Cultur : Bacterial infection & Management Px/ SC : Data dasar As. 4.5 atau  Batu Ca. glikosaminoglikan  kerangka u/ deposisi kristal 3. Teori pembentukan batu : 1.

Renal pelvic stone : Nyeri flank atau CVA Obstruksi  pyelonefritis 3. Lalu diberi loading calsium glukonas 1 grm/oral  periksa kadar calsium& creatinin post loading Cal. a.calsium fosfat Ca10(PO4)6(OH)2 . Urat & xanthine  paling radioluscent - Batu Calsium:  tidak larut. Rasio Ca : creatini post loading > 0.glukonas. 4.2  absorbtif hipercalsiuria. . Bila pH urin puasa > 5. testis/ labia Radiologis : 90 % radioopage - Infected  sepsis - Calsium fosfat  paling radioopage ~ tulang Calsium oxalat  sedikit kurang opage Mag.3  renal tubular asidosis Hipercalciuria : > 300mg/hari  tanpa diet. Normal = ratio Ca : creatini puasa < 0. tajam.  dipengaruhi oleh Vit.Calsium oxalat  80 % . D dan calsium binding protein. Fasting and calsium loading test. Periksa kadar calsium dan creatin dalam urin puasa (10jam). Amonium Fosfat (struvit) Cystein As. acut  di daerah flank Radiating to abdominal area Mual dan muntah. Absorbtif hipercalsiuria : Perubahan respon usus terhadap vit.Nyeri spamodic.11  renal hipercalciuria.Gross hematuria Flank pain Recurrent infection 2. Absorbsi calsium : duodenum dan jejenum.11 Ratio > 0. Proximal ureter : . Renal hipercalciuria : JEF/99/86 . Distal ureter : . D  absorbsi calsium maningkat.campuran Laki-laki 3 x lebih sering Jenis batu ginjal yang paling sering Citrat urin  inhibitor cristalisasi kalsium  bila kadar  (<300 mg/hr)  stone formation Sreening Bila kadar calsium serum   cek paratiroid H.Kolik yg menjalar ke inguinal.

Alkalin fosfat serum naik. hipercalciurin  membentuk batu. Th/ : Thiazide  meningkatkan resorbsi calsium di tubulus distal  eksresi calsium ke dalam urin turun. Bone metastase Prolonge immobilization.Calsium loss via urin  kadar calsium plasma rendah  stimulasi sekresi hormon paratiroid  sintesis vit. Kelainan metabolik yang berkaitan dengan Batu Calsium : 1. Cortikosteroid. calsium serumturun Sitrat urin turun. meningkatnya absorbsi calsium usus. Resorbtif hipercalciuria : Jarang. biasanya disebabkan oleh : . Sarcoidosis : sensitifitas epitel usus terhadap vit. D meningkat dan absorbsi calsium dari GIT meningkat. Kadar calsium urin puasa tidak turun. hexagonal cystine crystal Medical th/ :  Hidrasi  Alkalinisasi urin : Bic Nat 15 – 20 grm/ hari Sodium potassium citrat solution 10 – 15 cc/ 4x/ hari  Cystine binding drugs : Penicillinamine Alfa-mercaptopropionylglycine  Retriksi methionine Struvit Stone :  Berkaitan dengan UTI kronis  15 – 20 % dari batu urin  Terdiri dari Magnesium Amonium fosfat (MgNH4PO4. RTA : yaitu RTA tipe I.6H2O)  Infeksi disebabkan oleh Urea-spliiting bacteria : Proteus. Pseudomonas. D meningkat  hipercalsiuria Th/ . 2. Cystine Stone : -cystinuria -family history of recurrent stone -early onset -UL : acid. JEF/99/87 .Hiperparathiroidisme  stimulasi bone destruksi. Klebsiella. Stafilokoccos. resorbsi tulang meningkat. Cushing disease. Autosomal dominan 70 % membentuk batu kalsium 70 % female Persisten metabolic acidosis Bicarbonat serum turun.

Terapi/ : Indikasi operasi :  Recurrent UTI  Progresif renal damage  Urinary obstruction  Persisten pain. fosfat. Tujuan Operasi :  Mengangkat semua batu  Memperbaiki abnormalitas anatomi  Membasmi UTI  Preservasi jaringan ginjal yang sehat  Preventif recurrent UTI & stone formation. pH >7  Batu relatif non-opage.  :  Urin supersaturasi terhadap Mg. carbonat apatite  Urin menjadi alkalis. Urin infeksi oleh bakteria spliiter. Kontraindikasi ESWL : Gemuk/obesitas Urosepsis/ infeksi Obstruksi bagian bawal JEF/99/88 . Nitras.

sering epididimitis Wanita : bisa ke uretra.DISORDER OF URETER Congenital : wanita > pria 1. vagina atau perineum. incontinensia (+) Th/ Reimplantasi ureter Nefroureterectomi Kelainan posisi ureter : Retrocaval : . > Ro.1/3 tgh  L3 Obstruksi UPJ : Kelainan ureter yg paling sering Lk > wanita. Laki : incontinensia (-). Th/ Eksisi ureterocele Vesical rekonstruksi Ureteral reimplantasi Ectopic ureter orifice : Berhubungan dgn ureterocele & duplikasi ureter. : cystic dilatasi & filling defect dalam buli. kiri > kanan 10 – 15 % bilateral Causa tidak jelas Terdapat angulasi & lekukan Sering  ureter proksimal hipoplastik Blood vessel of lower pole  Kongenital :  faktor intrinsik : bisa k/ segmen ureter yg aperistaltik (tdk ada oto spiral) atau ada jaringan fibrotik  kegagalan pembentukan gelombang peristaltik  aliran urine tdk lancar. Atresia ureter  bila bilateral : Potter’s syndrome 2. Ektopic 4 x lebih sering intravesikal. Duplikasi ureter : complete (Y-type) or incomplete Complete  Weigert-Meyer law :  Ureter upper segment  muara ke distal  ektopik  Ureter lower segment  muara lebih kelateral. JEF/99/89 . Ureterocele : Sacculasi dari bagianterminal ureter :  Intravesical : single ureter  Ektopic ureterocele  ureter duplikasi pole atas  4. 3.upper ureter & renal pelvis . intramural pendek refluk vesicoureter  Pada wanita  ureter pole atas biasanya ektopik dgn muara distal dari spincter ekst atau diluar TU  incontinensia +  Pada lk  ureter ektopik selalu proksimal dari spincter eksterna. 6. Keadaan lain : Katup daerah uretero pelvik atau adanya arteria abberan yg menyilang lewat belakang ureter. 5.

 Didapat : refluk  ureter kinking. neoplasma Klinis : Infant  abdominal mass. hipertensi. calculus. vomiting. Dx/ : IVP  k/p provokasi  diuretik renografi USG  bila RFT turun & nonvisualized RPG  bisa memastikan dx/  k/p pasang DJ stent PNS  sarana dx/ & untuk mengukur tekanan (Whittaker test) :  larutan NaCl 0. infeksi. hematuria.9 % 10 cc/ menit Non obstruktif : s/d 12. gx/ uremia Children : pain.15 cm H2O Obstruktif : > 15 cm H2O Th/ : Tujuan : menghilangkan sign &symptom Menyelamatkan fungsi ginjal Teknik : Pyelouretereo-plasty Foley Y-V plasty Pelvic flap procedures Indikasi : obstruksi pelvis Infeksi Kemunduran fungsi Batu (skunder) JEF/99/90 .

phosphat dan asam urat dalam urine 24 jam. Pyelografi Intravena (IVP) dengan pemeriksaan ini dapat diketahui anatomi dan fungsi dari Traktus Urinarius. Tomogram : bila batu tidak/kurang jelas (semiopaque) Pyelografi Retrograde (RPG) : Adalah membuat foto kontras dari ureter. Pemeriksaan klinis status umum status urologis : Anamnesa : Flank pain Pemeriksaan : Flank mass. b b. sedangkan kolik ureter tidak didapatkan). delayed function sampai non visualized. d.00 – 11. Anamnesa : Keluhan utama adalah colik ureter. phosphat dan asam urat dalam serum serta ekskresi kalsium.BATU URETER Batu ureter : adanya batu (opaque maupun non opaque) di ureter (proksimal. Hidronephrosis. RPG dikerjakan bila IVP belum cukup jelas (misalnya JEF/99/91 . colok dubur akan didapatkan nyeri jam 10. pyelum dan kaliks ureter yang dipasang dengan bantuan sistoskop. . colok dubur: untuk membedakan dengan appendicitis (pada appendicitis. yaitu nyeri pinggang mendadak yang sangat hebat kadangkadang disertai muntah hilang timbul dan menjalar ke perut bawah atau kemaluan (testis.00. ujung penis. nyeri CVA. labium mayor) tergantung lokasi batu. Faal Hemotasis Kultur urine dan tes kepekaan antibiotika Kadar kalsium. Adanya sumbatan karena batu ureter akan nampak sebagai Hidroureter proximal batu. Pemeriksaan laboratorium Sedimen urine : Eritrosit > 2 l/lpl DL.Riwayat kencing batu dan kencing berdarah disertai nyeri pinggang. RFT. tengah dan distal) PROSEDUR LENGKAP a. LFT. Pemeriksaan Radiologi Foto polos Abdomen : akan nampak gambaran klasifikasi sepanjang ureter 1/3 proximal. Batu tidak nampak bila batu non opaque. 1/3 tengah atau 1/3 distal bila batu radio opaque. c.

Ureterorenoscopy (URS) : Adalah mengambil / memecahkan batu ureter dengan alat ureteronoscope yang dimasukkan lewat muara meter dengan bantuan cytoscope. dibagi menjadi batu ureter 1/3 proksimal. Pyelografi Antegrade (APG) : Berlawanan dengan pyelografi retrograde maka pada APG kontras dimasukkan melalui saluran ke kaliks (nefrostomi) yang telah dibuat. Ureterolithotomi proksimal Alat : -Meja operasi Lampu operasi besar dan kecil (satelit) Meja instrument Lampu baca foto Anesthesis set Suction set Coagulation set Baju operasi Klem desinfeksi 1 set Linen set Mess No. Foto Thoraks USG / renogram : bila ginjal non visualized e. PROSEDUR PELAKSANAAN 1. Pemeriksaan penunjang lain : Gula darah puasa Gula darah 2 jpp ECG PENATALAKSANAAN Terapi operatif batu ureter tergantung pada lokasi batu. atau IVP tidak dapat dikerjakan dan sarana lain dapat membantu diagnosa. 15 masing – masing 1 buah Hand pack mess 2 buah Pinset anatomis & chirurgie masing–masing 2 JEF/99/92 . batu ureter 1/3 tengah dan batu ureter 1/3 distal. Tujuannya untuk diversi urin bila sumbatan ureter tidak dapat segera diatasi. 20 & No. Ureterolithotomi : operasi pembedahan untuk mengambil batu ureter. Nephrostomy Percutan (PNS) : Adalah membuat lubang yang menghubungkan pelvis kalik sistem dengan dunia luar.- - terdapat tanda obstruksi tetapi penyebabnya belum jelas).

Vicryl 1-0 : 2 buah . bengkok Teknik Operasi : Sebelum dilakukan operasi foto BOF pre operatif (1 jam sebelum operasi) Pasang dauer kateter 16 Fr dan urobag Pasang foto-foto (BOF/IVP) di light box Setelah dilakukan anesthesi. Dilakukan desinfeksi dengan larutan Povidone Iodine mulai dari papilla mammac-umbilikus-collum vertebrasimphisis pubis.Dexon 4-0 : 2 buah . Buka fascia m.berupa saluran warna putih . pasien diletakkan dalam posisi lumbotomi dengan sisi yang ada batu diatas.tidak berdenyut JEF/99/93 . Persempit lapangan operasi dengan dock steril Insisi kulit mulai ICS XI kearah umbilikus ± 10 cm lapis demi lapis sambil merawat perdarahannya. lemak subcutis. 12 atau 14 Kocher 2 buah Stein tang 1 buah Naalvoelder 1 buah Steel deppers 1 buah Jarum jahit (cutting & round) Benang : .Dock klem 7 buah Klem mosquito 2 buah Hak tajam 2 buah Hak tumpul 2 buah Timan besar dan kecil masing – masing 2 buah Spreader finochietto 1 buah Ring tang 2 buah Massenbaum 1 buah Red angel besar & kecil masing – masing 1 buah Teugel Nelaton No. setelah peritoneum terpisahkan. lumbo dorsalis agak ke posterior ± di posterior axillary line (agar tidak merobek peritoneum) sepanjang ± 1-2 cm.Zeyde 3-0 : 2 buah -Maagslang No. (Struktur yang diinsisi : kulit. Pasang spreader Cari ureter dengan cara buka fascia gerota yang terletak didepan muskulus ilco psoas dgn ciri : .Catgut plain 2-0 : 1 buah . pisahkan peritoneum dengan steel doppers kearah medial. MOE. perlebar insisi sesuai dengan insisi diatasnya. 8 : 1 buah Handscoen sesuai ukuran : 4 pasang Redon drain set Kasa steril set Kasa steril Cucing. MOI in transversus abdominis).

8 di proksimal batu.berjalan bersama dgn a. insisi ureter di tempat batu. 16 Fr dan urobag Insisi Gibson yaitu mulai 2 jari medial SIAS kearah simphisis pubis ± 8-10 cm lapis demi lapis dan rawat perdarahan. Raba batu dan bersihkan ureter Insisi ureter dgn mess No. ovarica pd wanita. . MOI di split sesuai seratnya Sisihkan peritoneum kearah medial Identifikasi ureter dan raba batu Teugel ureter dengan Nelaton kateter di proksimal batu Bersihkan ureter dari jaringan peri ureter. 15 tepat didaerah batu Keluarkan batu dengan stein tang Evaluasi cairan/urine yg keluar dari ureter (jernih) Lakukan sondage ke arah distal dan proksimal Bila sondage lancar lakukan spoeling Tutup ureter yang diinsisi dengan Dexon 4-0 secara jelujur Cuci lapangan operasi dengan PZ berkali-kali Evaluasi lagi adanya perdarahan Pasang redon drain di retro peritoneal Tutup lapangan operasi lapis demi lapis Ureterolithotomi batu ureter tengah dan distal BOF pre operasi Posisi pasien telentang Pasang dauer kateter No. Di Rumah Sakit : Kateter dilepas setelah 1 hari paska operasi Vaccum drain tiap hari JEF/99/94 .2. Teugel ureter dengan nelaton kateter no. spermatika in-terna pd laki atau a. PERAWATAN PASCA OPERASI 1. perhatikan urine yang keluar (jernih. Keluarkan batu dengan stein tang Sondage dan spoeling ureter distal dan proksimal dengan PZ Jahit ureter dengan Dexon 4-0 secara jelujur Cuci lapangan operasi dengan PZ dan rawat perdarahan Pasang redon drain dan fiksasi di kulit dengan zeyde 2-0 Tutup lapangan operasi lapis demi lapis. 3. 4. ESWL : memecah batu ginjal dengan gelombang kejut dari luar tubuh penderita URS C. MOE. pus).

DL dan Kultur urine. angkat jahitan pd hari ke 10 – 14 Evaluasi UL.- 2. Rawat luka mulai 3 hari paska operasi dan ganti kasa tiap hari Aff redon drain pada hari ke 5 dan bila produksinya < 10 cc/hari selama 2 hari. Batu dianalisa bila hasil sudah ada konsult Bagian Gizi Di Poliklinik Urologi Rawat luka. bila ada tandatanda ISK berantas dengan antibiotika sesuai dengan uji kepekaannya Cegah/hilangkan faktor predisposisi timbulnya batu lagi Evaluasi BOF/IVP 6 bulan paska operasi Minum banyak (>3 l/hari) dan aktif berolah raga. - JEF/99/95 .

Status urologis : -inspeksi : suprapubik dapat terlihat menon jol bila retensi urine -palpasi : suprapubik menonjol atau teraba keras bila batu sangat besar 3.Intravena pyelografi (IVP) . demam disertai menggigil. Lithotripsi adalah tindakan penghancuran batu buli – buli secara endoskopik dengan lithotriptor 3. disuria karena infeksi.Sistoskopi bila dipandang perlu PROSEDUR PENATALAKSANAAN 1. Pemeriksaan penunjang lain : c . Pemeriksaan foto radiologis : .Kalsium.ECG d . phosphat.Foto polos abdomen (BOF) + Fotot Thorak . phosphat. asam urat dalam urine tampung 24 jam d.Ultrasonografi (USG). Vesikolitotomi Indikasi : . dapat juga terjadi retensi urine bila batu menyumbat leher buli atau dapat tanpa keluhan (“silent stone”). bila dicurigai batu non opaque e.Eskresi kalsium. dengan kombinasi endoskopik dan trokar. Pemeriksaan Klinis : 1.batu buli-buli dengan  > 2 cm JEF/99/96 . Rectal toucher : teraba batu bila batunya sangat besar c.Urine kultur dan sensitivity test . Status umum 2.BATU BULI-BULI Batu buli-buli adalah batu baik opaque maupun non opaque yang berada di buli-buli DIAGNOSIS a. Anamnesa : Hematuria baik mikroskopik/ makroskopik. b. Pemeriksaan laboratorium : Darah lengkap Urine lengkap Faal haemostasis Faal hati & faal ginjal : . Trokar lithotripsi adalah tindakan pengeluaran batu di buli-buli pada anak-anak yang besarnya < 10 mm. Vesicolithotomi adalah tindakan bedah untuk mengeluarkan dari vesika urinaria 2. asam urat dalam darah .

kemudian evaluasi mukosa buli (tumor. Raba batu dengan jari. Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone jodine (paha atas . Setelah batu keluar spoelling buli dengan PZ (3x). prosesua xyphoidius). Persempit lapangan operasi dengan doek steril 4. kemudian keluar kan batu dengan stain tang (perhatikan jumlah. muara ureter kanan-kiri (batu dan ureteric jet) 12. Pasang kateter F 16 sampai tampak ujung kateter di buli-buli kemudian spoelling PZ dengan blaas spuit. 10.- batu buli-buli yang tidak dapat dipecahkan dengan lithotriptor batu buli-buli multiple baju operasi steril ( operator/asisten/instrumen ) sarung tangan steril doek steril doek klem khrom klem gunting naald voerder pinset anatomis dan chirurgis kocher klem spreader 9 ( millin’s ) steen tang blaas spuit folley kateter F 16 urobag Alat : - Persiapan Operasi : Persetujuan operasi Puasa Antibiotika profilaksis Teknik Operasi : 1. Teugel buli dengan chromic catgut 1-0 pada sisi kanan-kiri 9. Posisi pasien tidur terlentang dengan GA 2. genitalia eksterna. mulai 2 jari diatas simphisis ke arah umbilikus 10 cm. banyak pembuluh darah dan punksi keluar urine) 8. JEF/99/97 . Insisi kulit midline. 5. Insisi buli dengan punch mesch dan perlebar secara tumpul dengan chrome klem. Muskulus rektus abdominis dipisahkan secara tumpul pada linea alba 6. Dilakukan identifikasi buli (warna kebiruan. Pasang spreader millin’s dan sisihkan pre vesikal fat kearah kranial 7. lapis demi lapis sampai fascia anterior muskulus rektus abdominis. ukuran dan warna) 11. divertikel). 3.

Pasang redon drain peri vesikal dan fiksasi pada kulit 17. untuk batu dengan ukuran panjang  terpendek max. 1½ cm. Lithotripsi dihentikan kalau ukuran fragmen sudah dapat melewati sheath 8. Tutup lapangan operasi lapis demi lapis. 11. Kalibrasi/dilatasi uretra dgn roser sampai 27 Fr 4.5 cm : 1. 15. Jahit buli-buli 2 lapis. Pasang folley kateter F 16 JEF/99/98 . Evakuasi fragmen dengan ellik evakuator 9. 10.13. 1 jam sebelum tindakan Tindakan dilakukan dengan bantuan anestesi umum atau spinal Teknik operasi untuk batu < 1. subkutan dengan plain catgut 3-0. Keluarkan lithotriptor dan keluarkan sheath dengan sebelumnya memasang obturator. antibiotika profilaksis injeksi. fascia anterior muskulus rektus abdominis dengan Dexon 1-0. 7. Teleskop dan bridge dilepas 6. Panendoskopi untuk diagnosa 5. kulit dengan Zeyde 3-0. Posisi lithotomi 2. Tindakan aseptik 3. Lithotripsi Indikasi :  Batu buli simple dengan ukuran <2. Test buli-buli untuk evaluasi kebocoran dengan memasukkan PZ 250 cc lewat kateter. bila tidak ada kebocoran isi kateter dengan air steril 10 cc. Sistoskopi melihat apakah batu sudah keluar semua dan mengetahui adanya komplikasi tindakan. 2½ cm + Peralatan desinfeksi + Skort serta doek dan baju operasi steril Persiapan : Puasa.5 cm Alat : Alat untuk irigasi dan slang steril Sumber cahaya dan kabel fibre optic Busi roser 18 s/d 27 Fr Sistoskopi set dengan sheath 25 Fr dan teleskop 30 º dan 70 º Ellik Evacuator Alat lithotriptor mekanik : + Alligator lithotrite. muskulus rektus abdominis dengan Dexon 1-0. tunika serosa dengan Dexon 3-0. Buli diisi irigan sampai penuh. untuk batu dgn ukuran panjang  terpendek max. mukosa muskularis dengan plain catgut 3-0 secara jelujur. Cuci lapangan operasi dengan Betadine dan PZ 16. 14. + Hendrickson type lithotrite. pasang Aligator lithotrite dengan teleskop 30º mulai lithotripsi.

Masukkan sistoskopi sheath 25 Fr. 6. Posisi lithotomi 2. Buli diisi irigan sampai penuh semaksimal mungkin sampai teraba pada supra pubis 5.Puasa. JEF/99/99 . Evakuasi fragmen 11. Trokar Lithotripsi Indikasi : Batu buli pada anak dengan ukuran < 10 mm Alat : Alat untuk irigasi & slang yang sudah di sterilkan Sumber cahaya dan kabel fibre optic Set sistoskopi pediatri Set sistoskopi dgn sheath 21 Fr & teleskop 30 º Trokar champbell untuk fungsi sistostomi suprapubik Amplats 28 Fr / 30 Fr Peralatan desinfeksi Skort serta doek dan baju operasi steril Persiapan : . Tindakan antiseptik 3. Panendoskopi untuk diagnosa 5. Teleskop dan bridge dilepas 6. KRS. Masukkan lithotriptor type Hendrickson dengan teleskop 70º.5 cm dari suprapubik di garis mediana. Tindakan aseptik 3. Panendoskopi 12. Set panendoskopi dikeluarkan semuanya 8.5 cm : 1. Lakukan insisi longitudinal sepanjang 1. Buli diisi irigan sampai penuh 7. mulai lithotripsi 9. antibiotika profilaksi 1 jam sebelum tindakan.Anestesi umum Teknik Operasi : 1. Kateter dicabut setelah 24 jam. Posisi lithotomi 2. Lakukan punksi sistostomi dengan trokar campbell yang sudah dipasangi amplatz. 10. Daerah punksi dipastikan dengan melihat dinding anterior buli yang terdorong oleh ujung trokar. Kalau masih ada fragmen yang tidak bisa di evakuasi ulangi lithotripsi dengan menggunakan alligator.12. Panendoskopi untuk diagnosa dgn sistoskopi anak 4. Teknik Operasi untuk batu < 2. tindakan dengan bantuan . kemudian lithotriptor dikeluarkan. Lithotripsi dihentikan kalau ukuran fragmen sudah dapat melewati sheath 25 Fr. Kalibrasi atau dilatasi urethra dengan roser sampai 27 Fr 4.5 sampai dengan 2 cm sampai menembus linea alba pada jarak 2.

13. khususnya untuk batu struvit. Dengan manuver ini diharapkan batu akan ikut keluar bersama cairan irigasi. sehingga dicapai diurese 1. 12. Usahakan diuresis yang adekuat : minum 2 – 3 l / hari.7. urin lengkap. kalau perlu hanya dilakukan oposisi kulit Kateter dibuka setelah 48 – 72 jam Anak kencing spontan  KRS PERAWATAN PASCA OPERASI 1. . pelepasan kateter setelah 7 – 10 hari dan pelepasan redon drain bila dalam 2 hari berturut – turut setelah pelepasan kateter produksinya < 20 cc/24 jam. Buli-buli diisi maksimal dengan cairan irigan. kecuali bila pada waktu operasi terjadi lesi pada buli dapat diperpanjang sampai 5 hari. urin kultur dan sensitivity test). 8. 10. Anamnesa : JEF/99/100 . trauma tumpul atau akibat instrumentasi uretra seperti pemasangan kateter dan sistoskopi.Vesikolithotomi.Periksa analisa batu.5 l/hari Diet. Di Poliklinik Urologi : Pasca operasi kontrol 2 minggu. Lubang luar amplatz ditutup dengan jari dan ujung amplatz yang berada dalam buli diusahakan agar dapat dimasuki batu. setelah penuh dilakukan penekanan yang gentle pada abdomen pada abdomen pada saat bersamaan jari yang menutup amplatz dilepas . Setelah trokar berhasil masuk amplatz didorong ke dalam buli dan setelah kelihatan amplastz dalam buli (secara endoskopis) baru trokar dapat dicabut. 2. kontrol beri-kutnya tiap 3 bulan Sistoskopi dilakukan 3 bulan setelah lithotripsi Pemeriksaan IVP dilakukan 6 bln setelah operasi Setiap kontrol penderita periksa laboratorium (darah lengkap. Di Rumah Sakit : . faal ginjal. 9. tergantung dari jenis batunya. untuk menentukan diet-nya setelah dikonsulkan kepada ahli gizi. DIAGNOSIS A. pelepasan kateter setelah 24 jam. 14. .Lithotripsi. Eradikasi infeksi saluran air kemih. Buli dikosongkan Pasang kateter urethra Bekas luka sistostomi dibiarkan terbuka. TRAUMA URETRA Trauma uretra adalah Trauma mengenai uretra berupa trauma mengenai uretra berupa trauma tajam. 11.

Sistostomi trokar 2. Sistostomi terbuka Sistostomi Trokar Alat yang diperlukan : 1. Status urologis / lokalis Inspeksi : Keluar darah lewat meatus uretra Buli-buli penuh Hematom/urin Infiltrat darah uretra atau skrotum Palpasi : Teraba buli penuh Pembengkakan di uretra. Tanda vital 2. Macam Sistostomi : 1. Kanula berlobang (“Hollow Obtutor”) 2. perineum. dan skrotum Nyeri tekan Colok dubur : Terdapat prostat melayang Pemeriksaan Laboratorium Darah lengkap Urine lengkap Fungsi ginjal Pemeriksaan Radiologis Foto polos abdomen / pelvis Uretrografi PENATALAKSANAAN Sistostomi : adalah tindakan mengalirkan kencing melalui lubang yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi urine dan menghindari komplikasi. B. Trokar khusus yang terdiri dari : A. “Sheath” setengah lingkaran B. Keluhan Utama : Keluar darah lewat uretra Tidak bisa kencing Hematom urine infiltrat darah uretra / srotum.A. Pemeriksaan Fisik 1.Trauma tumpul : : cara terjadi berupa straddle injury atau fraktur pelvis (bahkan fraktur) Trauma akibat instrumentasi uretra berupa pemasangan kateter atau sistoskopi. C. Kateter folley Ch 18 atau 20 F JEF/99/101 . Anamnesa kausal : Trauma tajam . Status umum 3.

“Doek” berlobang ditengahnya. Larutan desinfektan 10. dimasukkan dalam buli-buli melalui kanal dari “sheath” yang masih terpasang. Kasa steril 11. Tang/klem/forceps untuk desinfeksi Indikasi : Seperti indikasi sistostomi pd umumnya dgn syarat Buli-buli jelas penuh dan secara palpasi teraba Tidak ada sikatrik bekas operasi didaerah abdomen bawah Tidak dicurigai adanya perivesikal hematom. Telah masuknya trokar ke dalam buli-buli akan ditandai dengan : 1. maksimal Ch. steril.3. dilakukan infiltrasi anastesi dengan larutan xylocain linea alba. Operasi dikerjakan dengan teknik aseptik. Hilangnya hambatan pada trokar 2. Trokar set. Cek ulang semua alat dan siap pakai. Sekarang “sheath” dapat dilepas dan kateter ditarik keluar sampai balon menempel pada dinding buli-buli. Cukur rambut pubis. seperti pada fraktur pelvis Cara Melakukan : Penderita diberi penjelasan tentang apa yang akan dikerjakan padanya & diminta persetujuan tertulis. dimana canulla dlm keadaan terkunci telah pd “Sheath” ditusukkan melalui insisi tadi ke arah buli dgn posisi telentang miring ke bawah. 4. Sebagai pedoman arah trokar adalah tegak miring ke arah kaudal sebesar 15-30%. Pangkal kateter segera dihubungkan dengan “urine bag” dan balon kateter dikembangkan dengan air sebanyak kurang lebih 10 cc. Larutan xylocain 1 % 9. Di daerah yang akan di insisi (2-3 jari) diatas simpisis. Daerah operasi desinfeksi dan ditutup dengan “doek” lubang steril. JEF/99/102 . 8. Sebaiknya operator berdiri disebelah kiri penderita. Keluarnya urin melalui lubang pada canulla Trokar terus dimasukkan sedikit lagi. 5. Semua alat yang diperlukan diatur ditempat khusus dan diletakkan sehingga terjangkau oleh operator. Syringe : 10 ml. 7. Kantong penampung urine (“urine bag”) Sepasang sarung tangan steril Mata pisau berujung tajam lengkap dengan tangkainya (“handle”) 6. 20 F. Secepatnya canulla dilepaskan dari “Sheath”nya dan secepatnya pula foley kateter.

Irisan yang digunakan disini adalah digaris median tegak lurus keatas sampai dibawah pusat. Sistostomi Terbuka Alat yang diperlukan : Seperti alat-alat pada sistostomi trokar. Dilakukan penyisihan lipatan peritoneum diatas bulibuli keatas. kadang diperlukan tambahan pengangkat sakrum. Disamping itu dikenal beberapa macam irisan yaitu transversal menurut Cherney. lipatan peritoneum ini dengan sendirinya sudah terdorong keatas. bila ternyata air seni yang keluar melalui tempat fungsi tersebut diperlebar dengan membuat irisan tempat titik fungsi tadi selanjutnya diperlebar dengan menggunakan klem Pean. Setelah dilakukan eksplorasi dari buli – buli dimasukkan kateter foley Ch. Cara operasi : Posisi penderita : Penderita diletakkan dalam posisi terlentang biasa.- Insisi ditutup dengan kasa steril dan difiksasi kekulit dengan plester. 20-24 Luka buli-buli ditutup kembali dengan jahitan benang chrom catgut No. Buli-buli dikenal karena banyak pembuluh darah vena yang berjalan sebagian besar vertikal. 0-2. tidak dibenarkan menjahit dengan benang yang tidak dapat diserap. fasia dari muskulus rektus yg digaris tengah kita namakan linea alba. Bila diperlukan diversi suprapubik untuk jangka lama maka dinding buli digantungkan di dinding perut dengan jalan menjahit dinding buli-buli pada otot rektus kanan dan kiri. Lapangan operasi dipersempit dengan kain steril. Kulit perut bawah sampai dasar penis. Kedudukan ini dipertahankan dengan meletakkan kasa basah diatasnya dan menariknya keatas (memakai retraktor). Dinding buli disangga dua jahitan yang diletakkan disisi kanan – kiri dinding buli sebelah depan (dapat pula digunakan klem dari Allis).Fasia dengan catgut chromic JEF/99/103 . Untuk meyakinkan dapat dilakukan fungsi buli. hanya tidak memerlukan khusus. Dalam buli-buli penuh. pelipatan paha kanan dan kiri di desinfeksi dengan larutan povidon iodine 2-3X. Irisan ini mulai dari kulit diperdalam terus menembus lapisan subcukan.Otot dengan catgut chromic . Dilakukan penyuntikan xilocain untuk anastesi lokal. Luka operasi dijahit lapis demi lapis : .

Untuk mencegah terlepasnya kateter maka selain balon kateter dikembangkan juga dilakukan penjahitan fiksasi kateter dengan kulit. multiple & panjang (>1cm) : penderita diajari kateterisasi mandiri (self kateterisasi). 14 hari apabila strikturnya panjang dan multiple. complicated.Kulit dengan benang sutera .. kateterisasi sampai dengan 1 tahun. . Di Rumah Sakit : Kateter dilepas setelah 5-7 hari bila strikturnya simple. JEF/99/104 . Di Poliklinik Urologi (VK Sistoskopi) . PERAWATAN PASCA OPERASI Perawatan Pasca Operasi 1. 2.Untuk striktura residif. residif paling sering terjadi pada tahun pertama. selanjutnya kontrol setiap 3 bulan.Lemak dengan catgut plain .Untuk striktur simple : kontrol 2 minggu pasca operasi untuk test pancaran (Uroflometri).

maka posisi miring kiri. Dengan general anestesi.Folley kateter no : 16 F .Persetujuan operasi .Kocher .Handschoen steril .Krom klem . Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone Iodine (mulai pada lapangan operasi sampai umbilikus dibagian depan.Stein tang .Redon drain .BATU GINJAL Batu ginjal adalah semua batu baik opaque maupun non opaque yang berada di ginjal 1. Posisi pasien tidur miring sesuai dengan letak batu pada sisi atas (misalkan batu ginjal kanan.Gunting Metzenbaum dan gunting drip kasar .Blaas spuit . 2. Pielolithotomi : Indikasi : Batu ginjal yang berada di pielum dengan batu sekunder yang dapat diambil melalui pielum. 2.Spreader Fienochieto .Doek steril . ESWL adalah alat untuk memecah batu ginjal dengan gelombang kejut dari luar tubuh penderita. 1.Kateter ureter 6 F Persiapan operasi : . Alat : . Bivalve nefrolithotomi adalah tindakan bedah untuk mengeluarkan batu baik dari pielum dan kalik ginjal dengan membelah ginjal menjadi dua sisi anterior dan posterior.Doek klem . linea skapularis belakang dan papilla mama). Tehnik Operasi : 1.Urobag .Naald voerder .Lavemen .Profilaksis antiobiotika sesuai kultur.Pinset anatomis dan chirurgies . JEF/99/105 .Baju operasi steril (Operator/asisten/ instrumen) .Nelaton kateter . bagian kanan di sebelah atas). 3.Puasa sejak malam harinya . Pielolithotomi adalah tindakan bedah untuk mengeluarkan batu dari pielum ginjal.

Handschoen steril . Lemak perirenal dibersihkan dengan menggu-nakan pinset anatomis & gunting Metzembaum bila perlu dilakukan kauterisasi terlebih dahulu.0 2. Lemak subkutan dgn plain catgut 3. 15.3.0. 12. Batu sekunder yang kemungkinan ada juga di cari dan diluksir keluar. Dilakukan sondage ureter kebawah dengan menggunakan kateter ureter dan dipompakan PZ yang telah dicampur Povidone Iodine secukupnya. Fascia gerota dibuka lebih kurang sepanjang tepi ginjal. 8. kemudian batu diluksir keluar dengan menggunakan stein tang. Luka operasi ditutup lapis demi lapis. Penutupan pielum dijahit dengan Dexon 3.muskulus oblikus abdominis eksternus satu lapis dengan menggunakan benang Dexon 1. 4. Dicari fascia gerota dan dibuka dengan dilaku-kan kauterisasi terlebih dahulu. kemudian peritoneum dilepaskan dan disisihkan penempe-lannya pada fascia seperlunya (sampai ke tepi luka insisi kulit ). Alat : . 11. 14.0 secara jelujur Feston. Bivalve nefrolithotomi : Indikasi : Batu ginjal yang bercabang dan memenuhi seluruh sistema pelvio kaliseal atau dengan batu sekunder yang banyak. 13. Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI sampai ke arah umbilikus sepanjang lebih kurang 15 cm. Pielum dibuka dengan insisi berbentuk huruf “V”. Fascia abdominis dibuka sedikit.Doek steril JEF/99/106 . Insisi diperdalam lapis demi lapis dengan memotong fascia eksterna. jahitan simpul terputus semua lapisan sekaligus. 9.Baju operasi steril (Operator/asisten/instrumen) . Dilakukan pula spoeling ginjal dgn PZ steril saja.0 dan kulit dengan zeide 1. Dicari terlebih dahulu ureter pada kutub bawah ginjal dan diteugel dengan kateter Nelaton. Cuci lapangan operasi dgn Pov. muskulus oblikus abdominis internus dan muskulus oblikus abdominis transversus jahit satu lapis. 7. 5. Setelah ginjal telah bebas dari lemak dilakukan fiksasi ginjal pada kedua kutubnya dengan kasa dan di identifikasi pielum dengan mencari hubungannya pada ureter. Persempit lapangan operasi dengan doek steril. 6. 10. muskulus intercostalis dibelakang dan muskulus oblikus abdominis di depan sampai didapatkan fascia abdominis internus. Iodine dan PZ Pasang redon drain pada fosa renalis.

Persetujuan operasi .Folley kateter no : 16 F .Es PZ ( normal saline beku ) 2 botol Persiapan operasi : . JEF/99/107 .Redon drain .Blaas spuit . bagian kanan disebelah atas).Nelaton kateter . Dengan general anestesi. 7.Pinset anatomis dan chirurgies .Doek klem . muskulus intercostalis dibelakang dan muskulus oblikus abdominis depan sampai didapatkan fascia abdominis internus.Spreader Fienochieto .Naald voerder .Lavemen . Fascia gerota dibuka lebih kurang sepanjang tepi ginjal. 2. 4.Gunting Metzenbaum dan gunting drip kasar . kemudian peritoneum dilepaskan dan disisihkan penem-pelannya pada fascia seperlunya ( sampai ke tepi luka insisi kulit ). 5. Dicari terlebih dahulu ureter pada kutub bawah ginjal dan diteugel dgn kateter Nelaton. 3.Stein tang .Krom klem . Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone Iodine (mulai pada lapangan operasi sampai umbilikus dibagian depan. 6. . Posisi pasien tidur miring sesuai dengan letak batu pada sisi atas (misalkan batu ginjal kanan.Profilaksis antiobiotika sesuai kultur. Fascia abdominis dibuka sedikit.Kateter ureter 6 F . Lemak perirenal dibersihkan dgn menggunakan pinset anatomis dan gunting Metzembaum bila perlu dilakukan cauterisasi terlebih dahulu.Kocher .. Insisi kulit dimulai dari tepi bawah arkus kosta XI sampai ke arah umbilikus sepanjang lebih kurang 15 cm. linea skapularis belakang dan papilla mama). Insisi diperdalam lapis demi lapis dgn memotong fascia eksterna. Persempit lapangan operasi dengan doek steril.Puasa sejak malam harinya . maka posisi miring kiri.General anestesi Tehnik Operasi : 1. Dicari fascia gerota dan dibuka dengan dilaku-kan kauterisasi terlebih dahulu.Urobag .

Luka operasi ditutup lapis demi lapis.0 serapat mungkin. jahitan matras. Batu sekunder yg kemungkinan ada juga dicari dan diluksir keluar. Kemudian ginjal didinginkan dengan memakai es PZ secukupnya. PERAWATAN PASCA OPERASI 1. Klem Satinsky harus dibuka tiap 30 menit.Pelepasan redon drain bila dalam 2 hari berturut-turut produksi < 20cc/24 jam.Pelepasan kateter 24 jam setelah penderita siuman . 16. muskulus oblikus abdominis eksternus satu lapis dengan menggunakan benang Dexon 1.0 dengan jarum bulat. Setelah ginjal telah bebas dr lemak dilakukan fik sasi ginjal pd kedua kutubnya dgn kasa basah. 21. Di Rumah Sakit : . 11. 19. Iodine secukupnya. Cuci lapangan operasi dengan Povidone Iodine dan PZ Pasang redon drain pada fosa renalis.0 dan kulit dengan zeide 1. 2. 18. Dilakukan pula spoeling ginjal dgn PZ steril saja.Pemeriksaan IVP dilakukan 6 bulan pasca operasi JEF/99/108 . 12. Di Poliklinik Urologi : . 10. Lemak subkutan dengan plain cat gut 3. Kapsula renalis dibuka tepat pd tepi lateral ginjal Dilakukan pengirisan pada Broder’s line sepan-jang tepi ginjal pada daerah korteks sampai mencapai daerah sistema pelvio-caliceal.muskulus oblikus abdominis internus dan muskulus oblikus abdominis transversus di jahit satu lapis. 14. . Dipisahkan pada daerah pedikel ginjal antara pedikel dengan ureter/pielum Pedikel ginjal (tidak termasuk ureter) di klem dengan klem non traumatis menggunakan Satinsky klem.8. dgn mengguna-kan simpul terputus.0 secara jelujur Feston.0.Pasca operasi kontrol 2 minggu. 15. kontrol berikutnya tiap 3 bulan . Batu diambil dengan menggunakan stein tang. Sistema pelviokaliseal dijahit dgn menggunakan Dexon 3.0 dengan simpul terputus. Kapsula renalis dijahit dengan Dexon 3.Pelepasan benang jahitan selang-seling 4 hari pasca operasi bila luka operasi kering dan pelepasan benang keseluruhan 7 hari pasca operasi. 9. Korteks dijahit dengan khromik cat gut 2. Dilakukan sondage ureter kebawah dengan menggunakan kateter ureter dan dipompakan PZ yg telah dicampur Pov. 17. 13. 20.

minum 2-3 liter / hari.Dilakukan konsultasi ke Instalasi Gizi untuk menentukan jenis diet sesuai analisa batu .Usahakan diuresis yang adekuat . urin lengkap faal ginjal. JEF/99/109 . sehingga dicapai diuresis 1. .. urin kultur dan tes kepekaan).Setiap kontrol dilakukan pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.Eradikasi infeksi saluran air kemih. khususnya untuk batu struvit.5 l/hari. .

Gejala Obstruktif Hesitansi. terasa ada sisa setelah selesai miksi. Na). ) BPH adalah suatu neoplasma jinak (hiperplasia) yang mengenai kelenjar prostat.TRUS (Transrektal USG) dgn indikasi tertentu . Urinalisis.Uroflowmetri  harus dikerjakan apabila penderita masih bisa kencing atau untuk evaluasi pasca terapi. 2. . Kultur urin dan test kepekaan antibiotika.BOF .USG : Ada gangguan faal ginjal (SC > 4 ) . Faal hemostasis. e. Elektrolit (K. Status umum . Gejala Iritasi Urgensi (sulit menahan miksi). pancaran urin melemah atau mengecil. Semua penderita laki-laki berusia diatas 50 tahun yang datang dengan keluhan kencing kurang lancar ( sindroma prostatism ) yang terdiri dari : 1. PENATALAKSANAAN 1. DIAGNOSIS a. Terapi medikamentosa diindikasikan pd penderita : JEF/99/110 . Pemeriksaan Foto Radiologi . . Prostat adalah suatu organ yang terdiri dari komponen kelenjar. Faal hati. . stroma dan muskuler. frekuensi (miksi lebih sering dari biasanya).Foto thoraks Pemeriksaan penunjang lain : .P.Palpasi : Buli-buli teraba diatas pubis apabila terjadi retensi urin. terminal dribling.Inspeksi : Penonjolan supra pubik bila terjadi retensi urin dengan buli penuh. d.IVP : Pada kasus BPH tanpa retensi urin . Anamnesa : Keluhan utama & lamanya keluhan Pemeriksaan Klinis : 1.ECG c.H. intermitensi.Rectal toucher : Prostat teraba membesar konsistensi kenyal Pemeriksaan laboratorium : Darah lengkap. disuria sampai akhirnya terjadi retensi urin. b.BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA ( B.Sistoskopi  dilakukan pada penderita tanpa retensio urine dengan indikasi tertentu . Faal Ginjal.

Reseksi prostat transuretra (TURP) adalah suatu tindakan pengambilan (pembuangan) jaringan prostat secara endoskopi dengan menggunakan alat pemotong (cutting loop) elektrik.Alat operasi set besar . gangguan faal karena obstruksi.Doek kecil 6 buah .60 C dan uretra secara terus menerus didinginkan sehingga mukosa uretra tidak rusak.Doek besar 2 buah . 2. Penderita dgn residual urine lebih dari 100 ml Penderita BPH dengan penyulit : batu buli-buli.Linen set terdiri dari : .yaitu : + Flow maksimal < 10 ml/detik + Kurve berbentuk datar atau multifasik + Waktu miksi memanjang 1. 1. Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT) adalah invasi minimal ter.hadap prostat dengan menggunakan kateter 22 F yang dihubungkan dengan sumber panas microwave 1296 MHz. sedang dan berat tanpa penyulit (dianjurkan dengan IPSS) BPH dengan indikasi terapi pembedahan tetapi masih terdapat indikasi kontra Macam obat yang digunakan : Golongan alpha blocker Golongan inhibitor enzim 5 alpha reduktase Golongan finasteride 2.Baju operasi 4 buah Tehnik Operasi : Pasang foto-foto pada light-box JEF/99/111 .Taplak penutup .BPH dengan keluhan ringan. dipanaskan sampai 45 .Meja instrumen . 3. hidronephrosis. Terapi medikamentosa tidak berhasil Flowmetri menunjukkan pola obstruksi. Terapi operatif diindikasikan pada penderita : Penderita dengan retensio urin akut atau pernah retensio urin akut Penderita dengan retensio urin kronis artinya dalam buli-buli selalu lebih dari 300 ml. divertikel buli-buli. Retropubik transkapsular prostatektomi (cara Millin) adalah suatu tindakan pengambilan (pembuangan) jaringan prostat melalui retropubik dan membuka kapsul prostat. Retropubik Transkapsular Prostatektomi (Millin) Alat yang diperlukan : .

Adenoma prostat dipisahkan dari kapsulnya dgn gunting metzeubaum secara tajam dan tumpul.- - - - - - Setelah dilakukan anestesi baik regional ataupun general. Bekas enukleasi di tekan dengan kassa sebanyak 4-5 lembar selama  5 menit untuk menghentikan perdarahan. Insisi supra pubik dan infra umbilikal (midline) lapis demi lapis Muskulus rektus abdominis dipisahkan ke lateral (pada linea alba) sambil merawat perdarahan Lemak perivesikal disisihkan ke proksimal. 0 pada jam 5 dan 7 secara figure of eight. Kemudian pasang kateter three way 24F sampai ke buli-buli (balon jangan diisi dulu) Kapsul prostat dijahit dengan chromic catgut No. Lapangan operasi di persempit dengan doek steril (lapangan operasi di mid line antara umbilikus dan os pubis).tengah atas dan bawah kira-kira 1 cm dan 2 cm dari leher buli-buli. balon kateter diisi air 40 cc dan di fraksi dan dipasang spoel dengan PZ. yaitu : .Lemak dijahit dengan plain catgut JEF/99/112 . Dilakukan desinfeksi dengan larutan povidone iodine 5% dari bawah os xyphoid sampai pertengahan kedua paha dan skrotum di sangga dengan doek steril kecil. Isi buli-buli dengan PZ untuk melihat kebSetelah tidak bocor. identifikasi buli-buli dan prostat selanjutnya dipasang spreader. penderita diletakkan dalam posisi supinasi (telentang). 0 secara simpul bedah sampai tidak ada kebocoran (water tight). Setelah ada ruang antara kapsul dengan adenoma prostat sampai keluar semua adenomanya. Pasang bantalan pada kiri dan kanan prostat (dengan kasa) dengan tujuan : agar prostat lebih menonjol identifikasi prostat lebih mudah Jahit (hemostasis) kapsul prostat pada 4 tempat dengan chromic catgut no. Rawat perdarahan dan pasang redon drain pada cavum Retzii Semua kasa yang ada didalam dikeluarkan Luka operasi ditutup lapis demi lapis : . Kasa diambil 2 sumber perdarahan dijahit dengan chormic catgut No. Insisi kapsul prostat arahnya horisontal (diantara ke empat jahitan tersebut) sampai nampak adenoma prostat. Rawat perdarahan yang lain dengan kauterisasi.Otot dan fascia dijahit dengan chromic catgut .lateral kanan dan kiri (arah oblique) .

trabekulasi dan divertikel buli Working element ditarik keluar untuk mengeva-luasi prostat ( panjangnya prostat yang menutup uretra. Dilatasi uretra dgn bougie roser 25 F sampai 29 F Sheath 24 F atau 27 F dengan obturator dimasukkan lewat uretra sampai masuk buli-buli. batu.Kulit dijahit dengan benang sutra (zeide) 2. sarung kaki 2 buah. dan 29 F Desinfeksi klem Sarung tangan steril 2 pasang Linen set terdiri dari : penutup meja instrumen. Evaluasi buli-buli apakah ada tumor. Hal ini untuk menghindari terjadinya Sindroma TUR.27 F.Obturator dilepas diganti dengan optik 30dan cutting loop sesuai dengan ukuran sheatnya. 24 F atau 27 F Bougie : Roser 25 F. 24 F atau 27 F + Teleskope : Optik 0 atau 30 + Cutting loop: No. baju dan skort operasi Tehnik Operasi Pasang foto-foto pada light box Setelah dilakukan anestesi regional penderita diletakkan dalam posisi lithotomi Untuk menghindari komplikasi orchitis dilakukan Vasektomi tanpa Pisau (VTP) Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine didaerah penis scrotum dan sebagian dari kedua paha dan perut sebatas umbilikus Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan doek panjang berlubang untuk bagian perut keatas. Apabila terjadi pembukaan sinus maka operasi segera dihentikan u/ menghindari sindroma TUR. JEF/99/113 . Reseksi Prostat Transuretra (TURP) Alat yang dipersiapkan : Cold light fountain standard (lampu endoskopi) Kabel cahaya fiber optik Pipa air dengan luerlock Alat koagulasi dan reseksi listrik Working element yang terdiri dari : + Sheath : No. leher buli dan verumontanum ) Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat perdarahan Sebaiknya adenoma prostat dapat direseksi semuanya. doek besar berlubang. waktu reseksi paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan aquades ) dan waktu bisa lebih lama bila menggunakan irigan glisin.24 F atau 27 F + Obturator : No. ..

Transurethral Microwave Thermoterapi (TUMT) Kriteria : Volume prostat > 40 cc Lobus medius (sub trigonam) tidak membesar PSA 0-4 ng/ml Tidak memakai Implan metal Tidak memakai pacemaker jantung Tidak mempunyai kelainan koagulasi Tidak memakai Aspirin Tidak mempunyai Angina Panjang urethra prostatika > 25 mm Alat – alat : Prostaprobe (dapat disterilkan dalam Glutaraldehyde selama 15 menit dan dicuci dgan PZ) Sarung tangan steril 3 pasang Kondom 2 buah Xylocain 2% jelly Analgesik dan antibiotik Doek steril . JEF/99/114 . Kateter per uretram (bila ada) di klem untuk pengisian buli-buli Analgesik (sedatif) dan antibiotik diberikan 1 jam sebelumnya Tehnik Operasi : Posisi penderita tidur telentang Ukur temperatur aksilar dan catat hasilnya Dilakukan pemeriksaan TRUS dengan probe 7. dipasang three way kateter 24 F dan dipasang Spoel PZ atau aquades. Kateter ditraksi selama 24 jam. Penderita dapat pulang setelah diketahui hasil Patologi Anatominya 3.- Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan ellik evakuator sampai bersih. D2 = penampang melintang/ sumbu lebar prostat .52 x D1 x D2 x D3 (D1 = penampang longitudinal/sumbu panjang prostat.5 MHz untuk mengukur volume prostat : 0. dan dilepas 5-7 hari. selanjutnya dilakukan perawatan perdarahan. 10 cc = 2 Larutan PZ Folley kateter 16 F=1 & Urobag = 1 Persiapan penderita : Sebaiknya dilakukan lavement dengan pemberian dulcolax suppositoria pada pagi harinya.Disposable syringe 5 cc= 2. Flowmetri dilakukan setelah lepas kateter dan penderita dapat miksi spontan. Setelah selesai. D3 = penampang melintang/ sumbu tinggi prostat) dan mengukur panjang uretra pars prostatika.

Traksi kateter dilepas setelah 24 jam pasca operasi . Di Poliklinik Urologi (VK Sistoskopi) Pada bulan pertama kontrol 2 minggu sekali untuk evakuasi keluhan dan pancaran kencingnya. Bila telah selesai lepaskan probe per uretram dan probe rektal Pasang kateter per uretram No. DL. Di Rumah Sakit : . . : 1. Terapi antibiotika diberikan atas indikasi yang jelas Selain dengan tiga jenis pembedahan BPH juga dapat diterapi dengan teknologi modern : Dilatasi dgn baloon Sten prostat (temporer & permanen) Hipertermia Termoterapi Ablasio dengan laser Ultrasound intensitas tinggi terfokus Pyroterapi ekstracorporal terfokus Ablasi jarum trans uretra (TUNA) Komplikasi pembedahan Prostat durante op.5 atau 2. 6 bulan dan setiap tahun Apabila terdapat gangguan pancaran segera periksa uroflowmetri Setiap kontrol penderita harus sudah membawa hasil laboratorium dasar (UL.Spoel kateter dilepas apabila urine yang keluar sudah jernih ( 2 hari) . Selanjutnya setiap 3 bulan. 16 dan urobag Penderita harus kontrol tiap minggu sampai pelepasan kateter di hari ke XIV. Masukkan probe rektal dan fiksasi pada tempatnya dengan baik Jalankan mesin sesuai prosedur Cek dan monitor probe rektal dan uretra secara berkala. Perdarahan : a.0 dari prosta probe sesuai program yang diminta pada uretra. kateter dilepas pada hari ke 3 atau lebih lama 2. prostatika – cabang dari vesikalis inferior) atau vena (cabang dari JEF/99/115 . bila produksi < 20 cc/24 jam. Pada pembedahan terbuka perdarahan dapat bersumber daari arteri (a.- Kateter uretra bila ada dilepas Masukkan probe 2. dengan probe USG pada buli-buli.pada tindakan TURP.Pada tindakan Millin : .redon drain dilepas pada hari berikutnya.kateter dilepas setelah hari ke 5 . Perawatan Pasca Operasi 1. 4 bulan. RFT dan kultur urine).

Klinis : tensi meningkat Bradikardi Mual Muntah Mata kabur Penurunan kesadaran/gelisah Twitching Kejang dan letargi. Cara mengatasi  dengan traksi. Arteri ini berjalan pada permukaan posterolateral prostat dan pada vesicoprostatic junction pada jam 5 dan 7. c. 2. Perdarahan arteri biasanya terjadi pada teknik Freyer (Suprapubic transvesical Prostatectomi). Cara mnegatasi dengan traksi. 3. Sindroma TURP. Perdarahan dari sinus venosus  serius/ masif. Faktor yg berpengaruh timbulnya sindroma TURP Besarnya tekanan intravesikal – dalam fossa prostatika. Akibat masuk cairan irigan dan hiponatremia. Perdarahan juga dapat terjadi bila kapsul prostat robek pada saat enukleasi prostat. Perdarahan vena biasanya pada teknik Millin (Retropubic transcapsuler Prostatectomi).vena dorsalis penis di retropubic). Trauma : Pada open prostatektomi  Robekan rektum atau kapsul prostat dan kerusakan spinter eksterna Pada TURP : Trauma orifisium uretra  striktur uretra Trauma spinter uretra eksterna  inkontinensia Perforasi uretra  False route Perforasi buli Perforasi kapsul prostat Perforasi daerah prostatovesikal JEF/99/116 . Sinus venosus ada dua kelompok : submukosa dan profunda/periprostatika antara jam 3-5 dan 7-9. Vena terletak pada permukaan anterior kapsul prostat andiantara ligamen puboprostatikum. Pada TUIP perdarahan dari cabang arteri uretralis interna. Teknik TURP Lamanya waktu reseksi. Pada reseksi prostat transuretra perdarahan dapat berasal dari cabang arteri uretralis interna yang masuk kedalam prostat melalui leher buli pada jam 5 dan 7 atau berasal dari vena-vena kecil dimukosa. b. Kadar Na < 125 mEq/L Cairan bisa masuk langsung ke intravaskuler lewat sinus yg terbuka atau melalui ekstravasasi periprostatik dan perivesikal.

causa : -Clot -Chip prostat -Otot detrusor masih dalam fase dekompensata 6. 7.batu). Retensio urin. neoplastik. Striktur uretra 4. Impotensia 2. Inkontinentia Urin.sepsis -Prostatitis -Pielonefritis -Uretritis -Epididimitis 2. Sindroma TURP 5.Perdarahan skunder/ deleyed bleeding  urin sudah pernah jernih. neurogenik. akibat inflamasi. mekanikal (sisa prostat. dan tidak mengejan 4. Prostat kambuh JEF/99/117 .Retensi bekuan darah/clot retention 3. Koagulasi intravaskuler dan fibrinolisis 8. striktur. Ejakulasi retrograde 3. Banyak minum kurangi aktivitas. Stenose leher buli 5. Biasanya hari 10 –14. Infeksi saluran kemih -. Osteitis pubis 6. Berhenti sendiri. Deep vein trombosis dan emboli paru Komplikasi pasca operasi lanjut 1.Komplikasi pasca bedah dini: 1.

Kontras  minimal 2 ampul B. Alat jahit 16. Kasa . Klem desinfeksi 2. 9. Image intensifier = C arm 3. 15. ujung fleksibel J. 6 buah telescoping dilator/Storz 27090 A : Ch. 18F atau 20F. 12. plester JEF/99/118 . Alat yang diperlukan A. Hidronefrosis unilateral terapi tindakan definitif tidak dapat cepat dikerjakan (lebih dari 2 minggu). Larutan krontrast (urografin atau yang lain) minimal 2 ampul 11. ujung fleksibel lurus atau panjang 100 cm . 21. Bilateral hidronefrosis 4.97 mm . Slotted canulla (Storz 27094 V) 14.97 mm . Tangkai dan pisau yang sesuai (kecil) 9. 24F. ø 0. 12. Untuk petugas : -pakai baju khusus (lood jas/apron) -bila tidak perlu jangan berada dalam kamar operasi -pakai dosimeter (bila tersedia) Untuk penderita : -batasi expose dengan sinar rontgen seminimal mungkin -gunakan C arm dengan memori Indikasi 1. Pyonefrosis akut dan kronis 2. Jarum punksi lengkap dengan mandrin : jarum Chiba 22G  20 cm (2 bh) 10. Spidol steril 6. Doek klem atau steridrape 5. Infected hidronefrosis 3. kantong urin 15. Spuit 10 ml (2 buah) 7. Larutan anestesi 1% 8. Larutan desinfektan (Povidone jodium 10%) 4. 1. Sebagai bagian dari test Whitaker 5. Sebagai bagian PNL 6. Kasa depper 3. Guide wire : Standar : panjang 80 cm . 1. Kateter Ch. 8 . Meja operasi tembus sinar-X 2. ø 0. Set katun steril C. Dilator teflon : Ch.Rigid guide wire (antena)  Storz 27090 AG. 10 dan 12 F 13.NEPHROSTOMI PERKUTAN Hal-hal yang perlu diperhatikan : Semua tindakan Endourologi yang menggunakan sinar rontgen harus diperhatikan perlindungan untuk dokter/petugas dan juga untuk penderita. 6 . Set dilator metal yang terdiri dari : .

Operasi Penderita posisi telengkup Daerah ginjal yang akan di punksi boleh diberi ganjal Tim pakai apron. Bila kontrast ternyata tidak masuk kaliks / pyelum. perhatikan cairan yang keluar dari jarum setelah mandrin terlepas. .Berikan anestesi lokal sampai fascia pada titik 7 Insisi kulit di titik 7.4 & 5 : profilaktik) Cuci lapangan operasi dengan Savlon encer B. Persiapan penderita : Inform consent Pasang infus Antibiotika (untuk indikasi 1 & 2 : terapeutik .1½ cm. sepanjang 1 . 3. cuci tangan secara “Fuhrbringer” dan pakai gaun steril Desinfeksi daerah operasi : +ke kranial sampai ujung scapula +ke kaudal sampai sakrum yang menonjol +ke lateral sampai linea axilaris anterior . Bila jarum telah masuk/ menusuk ginjal biasanya akan bergerak seirama dengan pernafasan penderita. JEF/99/119 . Lakukan punksi ulangan. penyuntikan jangan diteruskan. Beri tanda dengan spidol. Bila yang keluar bukan urin/pus  segera tutup dengan jari dan masukkan kontrast pelan-pelan dengan perenceran 1:1. . sambil dilakukan fluoroskopi dan diperhatikan apakah jarum telah betul masuk kalik inferior atau kaliks yang dituju.45º.Tehnik Operasi A.Persempit lapangan operasi dengan linen steril C-arm yang telah di tutup linen steril.Tarik mandrin pelan-pelan sambil dorong sedikit jarum luar. Punksi melalui insisi kulit tadi dengan tujuan kaliks inferior berpedoman : + Bayangan batu + Pyelografi retrograd (RPG) + Pyelografi interna (IVP) + Ultrasonografi + Imaginasi berdasarkan bayangan tulang-tulang + Punksi ke arah kutub bawah ginjal dengan sudut ± 30º. Diatur dan dipasang posisinya Bila terdapat bayangan batu opaque bertanda silang dengan spidol Tentukan daerah yang akan di punksi/insisi kulit yaitu titik temu antar garis 2 cm sejajar dan dibawah kosta XII dengan garis aksila posterior.

Lepaskan guide wire. 22 dan ganti dengan slotted canulla Cabutlah antena. sampai bagian yang datar dari delator masuk kedalam kaliks  kontrol dengan fluoroskopi. kontrol dengan memasukkan kontrast melalui kateter. Cabut slotted canulla dan kembangkan baloon kateter dengan H2O atau PZ 2 – 5 ml. Pedoman : a. 1. delator dapat diputar2 sedikit Lepaskan delator yang Ch.Masukkan Folley kateter Ch. Kontrol dgn fluoroskopi pada saat manipulasi Bila terdapat tahanan dari fascia. JEF/99/120 . 22. Masukan delator teflon melalui guide wire. 6 bergantian sampai no. untuk kasus gagal ginjal berat Bila tidak infeksi cukup diberikan obat golongan nitrofurantorin atau asam nalidisat peri operatif. Cabut jarum punksi pelan-pelan dgn memperta-hankan guide wire tetap pada tempatnya. Cephalosporin generasi III. 18 atau 20 yang telah dipotong ujungnya dengan tuntunan guide wire dan slotted canulla.Jenis antibiotika berdasarkan kultur dan antibiogram b. Fiksasi kateter dengan jahitan benang sutera. . Bagian baloon kateter harus berada dalam kaliks. Bila belum ada kultur dan antibiogram : c. dll. Lakukan delatasi traktus dengan cara memasukan “Telescopy Delator” pada antena secara berturutan dari yang terkecil sampai ukuran ch.- - Bila punksi sudah tepat segera masukan guide wire sampai ke pyelum dan jangan sampai melingkar di jalur nefrostomi. Kombinasi ampicillin/ derifatnya dan aminogliko-sida d. Semua delator akan tercabut bersama antena. jangan sampai buntu karena terlibat. Hubungkan dengan kantong urin. Masukkan “ Rigit Guide Wire “ = antena melalui fleksibel guide wire. pertahankan guide wire fleksibel dan slotted canulla. Perhatikan kateter / pipa drainage. Perawatan Nefrostomi Untuk nefrostomi dengan indikasi 1 & 2 (infeksi) maka pemberian antibiotika sejak sebelum tindakan diteruskan. Cara Tetap pertahankan antena pada tempatnya . mulai ch. 10 atau 12 F.

6. Perhatikan dan catat secara terpisah produksi cairan dari nefrostomi Usahakan diuresis yang cukup Periksa kultur urin dari nefrostomi secara berkala Bila ada boleh spoeling dengan larutan asam asetat 1% seminggu 2x Kateter diganti setiap lebih kurang 2 minggu. Bila nefrostomi untuk jangka lama pertimbangkan memakai kateter silikon. 4. JEF/99/121 . 3.2. 5.

Tidak diperlukan puasa 4. Tombol M-24 di unit Control Console harus terangkat (tombol berwarna merah) c. Untuk batu ureter distal penderita diusahakan defekasi (bab) dahulu dan buli-buli dalam keadaan terisi (jangan miksi dahulu sebelum ESWL). 3. Sebaiknya dimulai secara manual dahulu yaitu dengan mematikan tombol X-22. Sebagian unit telah menyala . Operasionalisasi Unit Control . lampu kuning menyala. Tangkai berwarna merah putar ke arah ON. maka kV dan mA menyesuaikan secara otomatis. 1. Power Supply Unit (PSU) : 1. XRay baru boleh dimatikan bila semua session telah selesai. Tekan tombol X-01 sehingga unit X-Ray menyala.Tekan tombol hitam .ray unit. tunggu 2-3 menit akan keluar tulisan Ready for Operation pada monitor A.0 mA). Tekan tombol F3. Pemanfaatan X-Ray : Dimulai dengan menekan tombol M-19.02 Persiapan penderita: 1.OPERASIONALISASI ESWL EDAP LT . 2.Console ( Unit X-ray) Digunakan tanpa penderita. Menyalakan dan Booting Unit : a. monitor B menyala). Fluoroskopi (tombol X-29) ditekan sampai menyala pada monitor A (tombol X-30. 2. Power dan regulator bekerja pada 220 volt b. Tekan tombol M-20 untuk mengaktifkan X-ray unit sampai M-20 menyala. Sedative (valium) dan analgetika kalau dianggap perlu dapat diberikan 2. Tekan tombol 1 pada keyboard untuk mengaktifkan monitor 1 atau monitor JEF/99/122 . kecuali X .lampu hijau menyala. Kemudian tekan X-22 sampai menyala. (misalkan X-16 sampai 60 KV dan X-17 sampai 6.Unit USG 1. Operasionalisasi Unit Control console . Diantara 2 penderita jangan tekan X-02. Alat I I. Tekan M-23 terus menerus untuk mengembang-kan balon X-ray sampai lampu menyala. 3. Pastikan tidak ada gelembung udara dalam balon. Kunci putar ke arah ON. II. 2. Catatan :Off button X-02 untuk mematikan X-Ray. Tombol X-22 (switch auto/manual regulation) dari KV (X16) dan mA (X-17). mengatur dose rate controle (DRC). 4. III. Antibiotika diberikan mulai sehari sebelumnya bila terdapat bakteriuria bermakna 3.

Lihat monitor 2 gambar kanan bawah.Aktifkan ultrasosnografi lihat Bab III.6. Positioning Batu a. dengan menekan terus-menerus tombol M-21 sampai menyala. Dengan unit X-Ray : a. Usahakan posisi pusat dari ginjal dan batu berada pada fokus tembakan.Dengan memakai Joy-stick M1 dan fluoroskopi aktif dapat dilihat berbagai posisi batu. b. IV. pindahkan gambar pada monitor B.5.3.Letakkan batu dalam layar monitor A. harus diisi data penderita dan komentar atau tekan tombol return : 2x 6.1. Tekan M-17 sambil melihat monitor-1 sehingga dicapai luas permukaan kontak yang optimal antara membran dengan kulit. Bilamana masih belum jelas dapat diatur gambaran potongan ginjal pada Ultrasonografi dengan menekan tombol M4a atau M4b (M4a : posisi longitudinal. b. Melihat pada layar monitor-1 posisi ginjal dan batu dicari dengan memainkan ketiga Joy-stick M1 M2 . a.2. a. Dengan unit ultrasonografi : b. a. b. Berikan lubrikan pada membran dan kulit penderita pada sisi letak batu. maka kedalaman batu terhadap pusat tembakan diatur sampai tepat pada pusat tembakan (+). d. Tekan tombol M-22 guna memindahkan probe ultrasound ketempatnya c. e. h.M3 secara sistematis. batu harus tetap pada fokus tembakan.4.3. a.Dengan Joystick M3. gambar 1 dan 2 dengan joystick M 4. 5.Tepatkan batu dengan menggunakan Joy-stick M2 pada tanda pusat tembakan (+) dengan X-Ray aktif ( Fluoroskopi aktif dengan menekan X-29). Luruskan arah panah pada monitor 2. f. Mengembangkan balon : a. Dengan menekan tombol F3 pada keyboard. g. Matikan M-19 u/ dpt mengisi membran balon.2. a. M4b: posisi transversal/ melintang). Isilah data penderita pada monitor B dengan tombol-tombol huruf / angka di-keyboard.Tepatkan batu pada puncak tembakan JEF/99/123 .Putar arah inklinasi dengan Joystick M-1 ke arah sesuai dgn letak batu dgn memperhatikan tulang rusuk dan tulang-tulang disekelilingnya. Aktifkan ultrasound unit dengan mengempes-kan balon X-Ray.1.Tekan tombol X-47 untuk memory.

b. JEF/99/124 . Untuk itu bila selesai memonitor dengan X-Ray. Selama tembakan posisi batu diikuti dan dipantau bila perlu di koreksi terus menerus. energi akan berkurang 25%. 3.3.Comments :Batu : Hancur atau Tidak. Dibuat 2 copies laporan.Rx exposure : tulis sesuai X-16. 7. Kembalikan tombol M-10 dan M-11 pada posisi terendah. Tambahan 1. Power dan frekwensi dapat ditingkatkan secara bertahap sampai batas nyeri yang bisa diterima oleh penderita dengan menggunakan tombol M-10 dan M11. Tembakan dimulai pada posisi tombol M-10 dan M11 paling rendah (power dan frekwensi). 5.Gunakan Joystick M2 secara sistematis untuk mencari batu. Laporan Tindakan 1. Disarankan frekwensi maksimal 4Hz yang umum digunakan adalah 1 dan 2 Hz.Rx location : YA atau TIDAK . balon harus dikempeskan dengan menekan tombol M-21. 2. Aktifkan monitor 2 dengan menekan tombol 1 pada keyboard. Nyeri : Ya atau Tidak (keberhasilan.Ray dengan catatan pada waktu balon X-Ray mengembang. VI. kelamin dan umur penderita. Hapus : tekan DEL. kegagalan. Tekan tombol M-6 sampai menyala dan dilanjutkan dengan menekan tombol M-9 sampai menyala. Siapkan printer dengan power on dengan kertas ukuran kuarto. Tekan ctrl-F9 untuk pencetakan. Bilamana tidak memungkinkan dengan ultrasound dapat digunakan X . 6. nyeri. Usahakan melakukan tembakan dengan memanfaatkan ultrasound. Tekan ombol F5 sehingga terlihat form data isisan penderita dan penyakit. V. 3. -Operator : Isi dengan singkatan nama yang baku (misalkan WS) . Sebaiknya ditentukan lama dan storage tiap session. catatan lain yang diperlukan).US location : YA atau TIDAK . Isi : -Nama. Untuk mengakhiri tembakan tekan tombol M-8 dan M7.Lokasi batu . Gunakan tanda panah arah  dan  ataupun  untuk mengisi. 2. 4. 4. X-17 & X-19 . 5.

tekan tombol M-13. Printing Foto a. Untuk mengaktifkan layar kembali : monitor 1 : tekan F5 : exit. Potonglah kertas film dengan menekan tombol “cut” (cutter). untuk monitor 2 : tekan F3. Tekan tombol print pada printer unit. lihat di monotor kecil. tekan tombol print pd printer unit. VII. JEF/99/125 . Untuk printer USG . b. Untuk printer X-ray tekan tombol M12.6. c.

URS ( URETERORENOSKOPI ) Suatu tindakan Endoskopi seperti Sistoskopi dengan perbedaan utama pada anatomi ureter dan ginjal serta ukuran yang kecil dari instrumentasi. Spesialis Urologi : Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan penunjang Tindakan URS Indikasi URS : 1. untuk melihat dan melakukan tindakan didalam ureter dan ginjal. Sarung tangan Duk steril Duk klem JEF/99/126 . Dokter umum : Anamnesa Pemeriksaan klinis Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan foto rotgen Merujuk pasien ke Spesialis Urologi 2. Diagnosa Evaluasi filling defect atau obstruksi pada radiologi Evaluasi gross hematuri unilateral Evaluasi maligna cytologi unilateral Surveilance pada terapi konservatip tumor tractus urinous atas 2. Tindakan Untuk batu-batu ureter atau dan ginjal basket (tertentu) : + diambil dengan forceps atau + dipecah (lithotripsi) Biopsi tumor /polyp ureter Reseksi tumor Dilatasi strictura Pengambilan benda asing ALAT-ALAT : Baju operasi steril (operator/ asistensi/ instrumen). DIAGNOSIS : 1.

Masukkan alat URS secara avue dan bantuan fluoroskopi 5. Bila perlu pemasangan ureter kateter / DJ Stent PERAWATAN PASCA OPERASI Tergantung tindakan yang telah dilakukan misalnya. jika pengambilan batu intra ureter sebaiknya 6 minggu dilakukan IVP untuk melihat komplikasi dsb. Bila dipasang DJ Stent.- - Alat set endoskopi Sheath + optic ukuran bermacam-macam (6 sampai 15 Ch) Optik 0o atau lainnya Guidewire Kateter ureter Stone basket Forceps C arm (Fluoroscopy) TEKNIK OPERASI : 1. diambil bila sudah tidak dibutuhkan melaui cystoskopi. Lakukan tindakan yang diperlukan 6. Dilakukan retrograde pyelografi untuk melihat anatomi ureter 3. Bila perlu dilatasi muara ureter 4. JEF/99/127 . Posisi pasien tergantung letak batu biasanya : lithotomi 2. Bila batu perlu dihancurkan dipakai Elektro Hidrolik Litholapasy atau Lithoclast (Pneumatik) atau sarana lainnya 7.

tanda invasi organ terdekat. sodium sakarin Skistosomiasis Infeksi / iritasi kronis buli Analgetikum : phenacetin Pemeriksaan klinis 1.Gross (makroskopis) tanpa nyeri dan intermiten dapat terjadi (berulang serta retensi urin karena tersumbat bekuan darah). masa daerah flank. status penampilan (Karnofsky). Status Urologi : Adanya masa suprasimfiser. tanda-tanda metastase. Colok dubur : Adanya masa pada buli-buli dan prostat. berat badan. Status Umum : Tanda vital. Bimanual palpasi pada keadaan narkose Pemeliharaan Laboratorium Darah lengkap Faal Hemostasis Faal hati Faal Ginjal Urinalisis Kultur Urin dan tes kepekaan. DIAGNOSIS Anamnesa : Keluhan utama adanya hematuria dengan sifat : .Sitologi Urin. Palpasi : Adanya masa suprasimfiser. dan anak-anak paling sering berasal dari otot. . .Retensio urin karena klot Faktor peningkat resiko : Bahan pewarna : naphtylamin dan benzidin TAR dalam tembakau Pemanis sintetis : Sodium siklamat. dinilai menurut sistim Broder. Pemeriksaan Radiologis : Thoraks foto PA / lateral IVP JEF/99/128 .KARSINOMA BULI-BULI Karsinoma buli adalah keganasan berasal dari epitel (mukosa) buli-buli. 2.Disuria yg lama dan berulang . di bagi 5 kelas :  Kelas I : tidak di ketemukan sel  Kelas II : di ketemukan sel yang normal  Kelas III: diketemukan sel dengan perubahan atipik  Kelas IV: di ketemukan sel yang mencu-rigakan keganasan  Kelas V : di ketemukan sel-sel ganas.

di kerjakan bila : 1. Derajat I : diferensiasi baik (well differentiated) Derajat II: diferensiasi sedang (moderatly differentiated ) Derajat III: diferensiasi jelek (poorly differen-tiated) Derajat IV: diferensiasi tak beraturan (undifferentiated ) Diagnosa Stadium klinis : Setelah data klinis. Derajat Infiltrasi. Pemeriksaan sistoskopi dengan tujuan diagnostik saja. Pemeriksaan yang lain tidak menyokong adanya karsinoma buli-buli 2. Dan bila hasilnya menyokong adanya karsinoma buli-buli. Ditentukan berdasarkan susunan dan tebalnya lapisan sel. dikerjakan dgn indikasi ttt. Sebagian besar karsinoma buli-buli berasal dari epitel (mukosa). Penderita mengalami penyulit retensi urin karena tersumbat bekuan darah. Jenis Karsinoma. diperlukan staging guna memilih terapi yang adekuat untuk penderita. Histopatologi : Pemeriksaan histopatologi untuk menentukan : 1. gambaran inti sel dan perbandingan antara inti sel dengan sitoplasma.USG buli-buli. Yang sering adalah karsinoma sel transisi (TCC). adeno karsinoma 2. maka penderita sekaligus dipersiapkan untuk dilakukan reseksi tumor dan “staging”. Pada sistoskopi diagnostik ini sekaligus dilakukan pemeriksaan bimanual palpasi dalam keadaan narkose dan biopsi. karsinoma sel skuamosa. Stadium dengan sistim TNM : Stadium O : Tis dan Ta Stadium I : T1 No Mo Stadium II : T2 Stadium III : T3a dan T3b Stadium IV : T4 No Mo Semua T Semua T N1-3 Semua N Mo M1 JEF/99/129 . Derajat degenerasi / deferensiasi. ginjal dan abdomen CT Scan abdomen. histopatologi ditegakkan. Pemeriksaan Sistoskopi : Pemeriksaan ini dikerjakan bila pemeriksaan yang disebut diatas di ketahui hasilnya. 3. laboratoris. Ditentukan berdasarkan infiltrasi sel ganas terhadap membrana basalis (lamina propria) dan lapisan otot buli-buli. radiologis.

Stage Batasan JEF/99/130 .

< setengah lapisan otot dan bersih dengan reseksi transuretra. Adapun teknik operasi dengan cara JEF/99/131 . Cara ini dilakukan dengan menggunakan peralatan endoskopi. Sistektomi Partial Pengangkatan buli-buli secara parsial (sebagian buli-buli) sebatas daerah tumor.5 cm. Metastase multipel dgn diameter < 5 cm Metastase dengan diameter > 5 cm Metastase jauh tidak bisa dinilai Tidak ada metastase jauh Terdapat metastase jauh Pembagian staging yang lain adalah menurut Jewett – Strong – Marshall Stage. Reseksi Transuretra Dengan resektoskop dilakukan reseksi transuretra dalam keadaan narkose baik sebagai monoterapi maupun dengan tujuan mengurangi masa tumor. sistoskopi dan biopsi / reseksi. dinding pelvis. Tumor invasi sampai ke otot superfisial.. yaitu kelenjar limfa di bawah bifurcatio arteria iliaka komunis sepanjang arteria iliaka interna. Karsinoma in situ yaitu tumor yang datar / difuse – “flat tumor”. Tumor primer tidak bisa di nilai ekstensinya (tidak tersedia fasilitas sistoskopi dan reseksi). imaging. Keadaan kelenjar limfa tidak bisa dinilai Tidak terdapat metastase ke kelenjar limfa Metastase tunggal dgn diameter < 2 cm Metastase tunggal dgn diameter 2 . Tumor invasi ke : prostat. vagina. Tidak didapatkan tumor primer. Karsinoma papiler tidak invasive. uterus. Tumor invasi sampai ke sub mukosa. belum menembus membrana basalis.) Kelenjar limfa regiona. Metastase jauh (pemeriksaan fisik dan imaging). dinding abdomen. Tumor invasi: + 3a melebihi ½ tebal otot + 3b mengenai lemak peri vesikal.T N M Tx To Tis Ta T1 T2 T3 T4 Nx No N1 N2 N3 Mx Mo M1 Ektensi dari tumor primer (pemeriksaan fisik.

peritoneum daerah pelvis. serviks. ligasi arteri vesicalis superior. prostat.pendekatan supra pubik. identifikasi buli-buli dan kelenjar getah bening daerah pelvis. Radikal Sistektomi Pengangkatan organ yang lebih luas / radikal. Metode yang biasa digunakan adalah dengan cara Coffey atau cara Bricker. Penanganan karsinoma buli-buli JEF/99/132 . dilakukan limfadenektomi daerah pelvis dan wide eksisi tumor minimal 2 cm daerah bebas tumor. Radiasi Radiasi yang diberikan adalah eksternal radiasi dengan dosis 6000 – 7000 rad diberikan selama 5-8 minggu untuk tujuan kuratip dan 2000 rad untuk preoperatip (sistektomi). Pada laki-laki dilakukan pangangkatan buli-buli. uretra. vesicula seminalis dengan cara sistoprostatektomi radikal. Pada wanita pengangkatan buli-buli disertai organ sekitarnya termasuk peritoneum daerah pelvis. baik yang kontinen maupun yang inkontinen. termasuk limfadenektomi daerah pelvis. Kemoterapi Kemoterapi diberikan secara topikal intravesikal. penderita maupun kebiasaan operator. Diversi urin dikerjalan berdasarkan persetujuan dokter. ligamen maupun ovarium disertai Limfadenektomi daerah pelvis. uterus sepertiga dinding depan vagina.

T2 Tis. penderita diletakkan dalam posisi lithotomi. T3.Sistemik Ta. Reseksi transuretra Operasi sistektomi. 2. baju/skot operasi. Reseksi Transuretra buli-buli.Intravesika .1. Mo T3. Kabel cahaya fiber optik Pipa air dengan Luer lock Resektoskop set terdiri dari :  Resktoskop Sheath dengan obturator No. No. G 3-4 T1 m Sebagai pengobatan alternatif untuk T3. Nx. G3-4. Desinfeksi klem Sarung tangan dua pasang ukuran sesuai Linen set terdiri dari : taplak penutup meja instrumen. Mo T2 res G 3-4 Ta. N 1-3. Alat yang dipersiapkan Cold light fountain standart (lampu endoskopi). 3. Mo Ta. sarung kaki 2 buah. Teknik Operasi  Pasang foto-foto pada light box  Setelah dilakukan anestesi baik regional ataupun general. Radiasi eksterna Imunologi (BCG intra fesikal) 6.  Dilakukan pemeriksaan colok dubur dan bimanual palpasi JEF/99/133 . Three Way catheter F 24 dan urobag. Nx. SALVAGE sistektomi Sistostika : . F 24 atau F 27  Teleskop optik 30 o  Working elemen  Cutting Loop  Coagulating elektroda  High Frequency Cord  Protection tube. Bougie Roser. doek besar berlubang. T4 Untuk M1 multiple Pra operasional radikal T3. 4. Mo Alternatif u/ T2. Cairan irigan yang digunakan “Water for irrigation”. 1. T1 residif T1. T4 prostat. T1 (sebagai alternatif) 5. T1. T4.

9% sampai jernih. Reseksi dilakukan / dimulai dari daerah tumor yang berbatas tegas dengan mukosa buli-buli yang normal (daerah margin). Setelah dilakukan hemostasis. serta lokasi tumor yang sulit. Untuk tumor yang besar. sebelum melakukan reseksi harus diperhatikan lokasi. Apabila tumor sudah bersih. dasar otot yang sudah dilakukan reseksi dilakukan biopsi untuk menilai dalamnya infiltrasi tumor ( staging ). Selama reseksi. Jaringan reseksi timor dan biopsi dasar tumor dilakukan pemeriksaan PA. Kemudian reseksi tumor dilanjutkan sampai tampak otot buli-buli sambil melakukan hemostatis dengan cara fulgurasi. Beberapa peneliti menggunakan penuntun sten kateter ureter sebelum melakukan reseksi. Tidak dilakukan pemasangan traksi kateter. a. sehingga terjadi kontraksi otot aduktor paha yang dapat mengakibatkan perforasi buli-buli. untuk evaluasi uretra Dilatasi dengan bougie roser secara gentle Dengan sheath F 27 atau F 24 Sheat Resektoskop dengan obturator secara gentle dimasukkan ke dalam buli-buli Kemudian dilakukan evaluasi buli-buli. kemungkinan terjadi sikatrik di muara ureter sangat besar sehingga dikawatirkan dapat menyebabkan terjadinya striktur. Partial Sistektomi Indikasi : JEF/99/134 .             Dilakukan desinfeksi dengan larutan povidone jodine : di daerah penis. skrotum sebagian dari kedua paha dan perut sebatas umbilikus. Untuk tumor di dinding lateral buli-buli hati-hati akan terjadinya rangsangan nervus obturator saat melakukan reseksi. tumor papiler yang multiple. sambil dilakukan spoeling dengan cairan NaCl 0. bentuk tumor. ukuran tumor. Optik 30o. Hati-hati melakukan reseksi tumor di muara ureter daerah trigonum. serta tidak menyebabkan perforasi buli-buli. cairan irigan diatur sedemikian rupa sehingga operator dapat melakukan reseksk tumor dengan baik. F16. F 24. dan dasar tumor yang luas bentuk sesile. suker untuk melakukan reseksi sampai bersih. Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki pada kedua kaki dan doek panjang berlubang untuk bagian perut ke atas Dilakukan panendoskopi dengan sheath No. dilakukan pemasangan three way kateter No.

atap buli-buli (dome). sampai tampak pedikel arteri vesikalis superior. lokasi tumor pada dinding lateral buli-buli. adeno karsinoma daerah dome yang berhubungan dengan urachus. sehingga terekspose dengan baik. dilakukan wide eksisi jaringan tumor 2-3 cm dari margin.  Apabila dalam perencanaan eksisi tumor diperkirakan akan mengenai muara ureter (karena lokasi tumor dekat dengan muara).  Setelah anestesi general. F 16  Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan povidone yodine di daerah penis.  Dengan bantuan dua buah jahitan pagar yang sudah di buat sebelumnya pada dinding buli-buli. sambil melakukan hemostasis yang baik dengan elektro surgikal. Teknik Operasi Pendekatan Retroperitoneal. ligasi arteri vesikalis superior.  Setelah buli-buli terekspose dengan baik dimana operator sudah dapat memprediksi letak tumor yang sudah dilakukan evaluasi sebelumnya dengan pemeriksaan sistoskopi.  Persiapan operasi pada umumnya. & vulva (wanita). sebagian dari pangkal paha. perut sebatas umbilikus. guna mengisolasi jaringan tumor.  Identifikasi KGB ipsilateral dengan cara mengikuti percabangan anterior dan posterior arteri iliaka interna. perdalam lapis demi lapis.  Insisi midline supra pubik.  Gunakan allis clamp agar lapangan pandang tumor dalam buli-buli tampak jelas. penderita diletakkan dalam posisi supine. JEF/99/135 . premedikasi. kateter.  Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.Tumor tunggal.  Jika KGB tampak besar dilakukan limfadenektomi dan dilakukan pemeriksaan froozen section. skrotum. Insisi diperluas dengan kromklem sehingga tampak tumor yang sudah dievaluasi sebelumnya. T1-T3. operator mulai memperkirakan insisi dinding buli-buli.  Lindungi jaringan mukosa buli-buli normal dengan kasa. Letak insisi harus jauh dari lokasi tumor. dilakukan insisi dinding buli-buli diantara dua jahitan pagar.  Dilakukan pemasangan kateter No. Beberapa peneliti menganjurkan tiga sampai empat sentimeter dari leher buli-buli dan tiga sampai empat sentimeter dari tepi tumor.  Identifikasi buli & peritonium disisihkan ke kranial. termasuk lemak perivesikal. Setelah jaringan tumor dapat diekspose dengan jelas. maka dapat digunakan stent kateter ureter.  Bebaskan dinding buli kearah lateral & posterior. tumor pada divertikel.  Pemberian antibiotika profilaksis.

guna mengisolasi jaringan tumor.  Bebaskan dinding posterior buli-buli serta identifikasi kelenjar getah bening ipsilateral. sambil melakukan hemostasis yg baik dgn elektro surgikal.  Identifikasi buli-buli dan peritonium.  Jika KGB tampak besar dilakukan limfadenektomi dan dilakukan pemeriksaan froozen section sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. JEF/99/136 . operator mulai memperkirakan insisi dinding buli-buli. sisihkan usus. buka peritonium daerah midline. Pasang drain prevesikal. Insisi diperluas dengan kromklem sehingga tampak tumor yang sudah dievaluasi sebelumnya. maka dapat digunakan stent kateter ureter. dapat dilakukan reimplantasi ureter. Letak insisi harus jauh dari lokasi tumor.  Setelah buli-buli terekspose dengan baik dimana operator sudah dapat memprediksi letak tumor yang sudah dilakukan evaluasi sebelumnya dengan pemeriksaan sistoskopi. termasuk lemak perivesikal. yang sering digunakan adalah cara Politano-Ledbetter. yang sering digunakan adalah cara Politano-Ledbetter.  Jika eksisi tumor mengenai muara ureter. dapat dilakukan reimplantasi ureter. dilakukan insisi dinding buli-buli diantara dua jahitan pagar.  Insisi midline suprasimfisis.  Apabila dalam perencanaan eksisi tumor diperkirakan akan mengenai muara ureter (karena lokasi tumor dekat dengan muara).  Lindungi jaringan mukosa buli-buli normal dengan kasa. Beberapa peneliti menganjurkan tiga sampai empat sentimeter dari leher buli-buli dan tiga sampai empat sentimeter dari tepi tumor. Pendekatan Trans Peritoneal  Untuk tumor daerah dinding posterior buli-buli. Sesudah jaringan tumor dieksisi dilakukan penjaitan dua lapis. dilakukan wide eksisi jaringan tumor 2-3 cm dari margin.  Gunakan allis clamp agar lapangan pandang tumor dalam buli tampak jelas. serta dilakukan ligasi. dianjurkan dengan pendekatan transperitoneal. sehingga terekspose dengan baik.  Identifikasi vasa iliaka interna dan percabangan arteri vesikalis superior. & kateter F 22 atau F 24 Jahit dinding abdomen lapis demi lapis. Setelah jaringan tumor dapat diekspose dengan jelas. perdalam. Tidak dianjurkan pemasangan kateter sistostomi.  Dengan bantuan dua buah jahitan pagar yang sudah di buat sebelumnya pada dinding buli-buli.     Jika eksisi tumor mengenai muara ureter.

Menentukan T. uretra. b. Tidak dianjurkan pemasangan kateter sistostomi. JEF/99/137 . termasuk limfadenektomi daerah pelvis. Follow Up : Tahun I : setiap 3 bulan Tahun II : setiap 4 bulan Tahun III : setiap 6 bulan & seterusnya. Pada wanita pangangkatan buli-buli disertai organ sekitarnya termasuk peritonium daerah pelvis. peritonium daerah pelvis. penderita maupun kebiasaan operator. Metode yang biasa digunakan adalah dengan cara Coffey atau cara Bricker. Pada lakilaki dilakukan pengangkatan buli-buli. Pasang drain prevesikal. kecuali telah dikerjakan sistektomi. Diversi urin di kerjakan berdasarkan persetujuan dokter. laboratorik dasar. PH dan elektrolit darah dikerjakan setiap kali kunjungan untuk penderita dengan diversi urin. & kateter F 22 atau F 24 Jahit dinding abdomen lapis demi lapis. Radikal Sistektomi Persiapan preoperasi  Radiasi/ kemotrapi preoperasi dilihat kasus perkasus  Bowel sterilisasi Prinsip teknik operasi : Pengangkatan organ yang lebih luas / radikal. sepertiga dinding depan vagina. Sistoskopi di kerjakan setiap kali kunjungan ulang. Pemeriksaan yang lain dikerjakan hanya atas dasar indikasi tertentu. dan sitologi urin. Dilakukan anamnesa.    Sesudah jaringan tumor dieksisi dilakukan penjaitan dua lapis. prostat. 12 bulan dan bila ada indikasi tertentu. serviks. uterus. pemeriksaan fisik. Hal yang diperiksa pada saat kunjungan ulang : Tentukan status penampilan ( performance status ). menurut kriteria Karnofsky. Foto thorak : setiap 6 bulan sekali Pyelografi intravena : setelah 6 bulan.N dan M. ligamen maupun ovarium disertai Limfadenektomi daerah pelvis. baik yang kontinen maupun yang inkontinen. vesicula seminalis dengan cara sistoprostatektomi radikal.

lesi hypoekhoik pada TRUS dilakukan Biopsi prostat JEF/99/138 . kelenjar hypogas-trika. invasi perkontinuitatum ke vesikula seminalis. kelenjar Virchow. pengobatan dan rujukan Gejala-gejala obstruksi infravesikal Tanda-tanda metastase riwayat Pemeriksaan klinis :  Status umum : Tanda vital. Colok dubur : Nodulus. Pemeriksaan laboratorium : Darah lengkap Faal hemostasis Faal hati Elektrolit Urinalisis Kultur urin dan tes kepekaan Antigen spesifik untuk prostat (PSA) . Palpasi : Kelenjar inguinal. Berat badan. lamanya keluhan. tanda-tanda metastase. tanda-tanda invasi organ terdekat. pemeriksaan. massa tumor di supra pubik.KARSINOMA PROSTAT Karsinoma prostat adalah keganasan yang berasal dari sel acinus prostat. mobilitas. DIAGNOSIS Anamnesa : Keluhan utama. konsistensi prostat berdungkul keras. rektum.Alkali fosfatase  curiga metastase tulang Pemeriksaan radiologis : Thoraks foto PA/lateral IVP USG abdomen TRUS Bone survey/scanning CT scanning bila diperlukan . didapatkan peningkatan PSA > 4 ng/dl. Status penampilan (Karnofsky)  Status urologi : Inspeksi : Tanda-tanda pembesaran kelenjar regional / juksta regional.MRI Histopatologi pre operasi :  Sitologi urin bila didapatkan hematuria  Colok dubur teraba nodul keras.

adjuvan maupun paliatif. RADIASI EKSTERNA Radiasi eksterna dengan rasdioterapi simulator (a. vesikula seminalis.5 cm Ekstensi ekstrakapsuler ke lemak periprostatik. Orkhidektomi subkapsuler MEDIKAMENTOSA dengan estrogen. LH-RH agonis. Lymfe pelvik atau hydronefrosis karena obstruksi uretra Metastase kelenjar jauh. jaras syaraf vaskuler terpotong. anti androgen KEMOTERAPI JEF/99/139 . insisi mercy pada perineal membuang prostat. bladder neck atau vesikula seminalis Invasi vesikula seminalis (-) Invasi vesikula seminalis (+) Metastase regional ke kel. insisi kedua di atas untuk lymfedenektomi pelvik. Staging Stage A1 Stage A2 Stage B1 Stage B2 Stage C Stage C1 Stage C2 Stage D1 Stage D2 Batasan Fokal Difuse Tumor pd 1 lobus kurang dari 1. bladder neck. . insisi midline suprapubik sampai dengan 2 cm di atas umbilikus membuang prostat.Uretrosistoskopi :  Adanya kecurigaan invasi pada uretra.5 cm Tumor pada 2 lobus lebih dari 1. buli-buli dilakukan uretrosistoskopi. liver dan jaringan lunak lain PROSTATEKTOMI RADIKAL . tulang. paru. RADIASI IMPLANTASI Retropubik implantasi I 125 pada prostat TERAPI HORMONAL BEDAH.l : Xymatron) baik untuk terapetik.Teknik suprapubik. Diagnosa stadium klinis :  Histopatologi (sitologi urin/Biopsi)  diagnosa stadium klinis guna memilih terapi yang adekuat untuk penderita.Tehnik perineal. vesikula seminalis beserta lymfedenektomi pelvik meninggalkan jaras syaraf vaskuler.

dibuka rongga kanan kiri. dosis 3500 – 4000 cGy selama 2 minggu Difus.Dengan sitostatika pd kasus hormonal resisten PENGOBATAN PALIATIF Terutama pengobatan bebas nyeri pada keganasan lanjut. dosis 60 – 65 Gy. flutamide  KOMBINASI ANDROGEN BLOKADE Kombinasi antiandrogen dengan LH-RH analog atau orkhidektomi KEMOTERAPI Terutama untuk kasus hormonal resisten : Obat Epirubicin Adriamycin Cyclophos phamide Dosis mg/m2 25-30 30 100 Rou te i.000 sampai 17.v Pemberian Frekuensi hari ke 1-8-15 … Tiap minggu 1-8 Diulang tiap 4 mgg 1 s/d 14 Diulang tiap 4 minggu 1 Diulang tiap 4 minggu 1 Diulang tiap 4 minggu Adriamycin 50–60 Platinumcis 50–60 JEF/99/140 .v i. buka tunika vaginalis keluarkan isi testis dengan meninggalkan epididimis dan kapsul. insisi pada raphe.  Medikamentosa : Estrogen.000 rads HORMONAL TERAPI  Orkhidektomi subkapsuler. Paliatif Radiasi eksterna untuk metastase tulang : Lokal. Radiasi eksterna pasca operasi Dilakukan setelah TURP sebagai terapik adjuvan atau pada prostatektomi radikal bila masih ada spillage.v p.o i. goserlin Antiandrogen : ketoconazole. radiasi hemibogy 800 cGy tiap kali pemberian RADIASI IMPLANTASI Dengan I 125 dimasukkan ke prostat melalui insisi suprapubik dosis total 10.v i. dengan anestesi lokal infiltrasi ke arah funikulus atau anestesi umum atau regional. preparat DES dosis 3 mg/hari LH-RH agonis : leuprolide acetate.

difus Alternatif Prostatektomi radikal Radiasi eksterna Implantasi I 125 Prostatektomi radikal Radiasi eksterna Implantasi I 125 Prostatektomi radikal + radiasi adjuvan radiasi eksterna Hormonal Hormonal Radioterapi Hormonal Kemoterapi C D D0 D1 D2 D3 Tumor keluar dari prostat Metastase jauh (-) PSA normal Metastase jauh PSA meningkat persisten Metastase kel. Lymfe regional Metastase ke tulang atau organ lain Metastase jauh progresif lagi setelah terapi hormonal JEF/99/141 .5 minggu dilanjutkan pada prostatnya saja 2000 cGy selama 2 minggu Stage A2.5 minggu dilanjutkan daerah prostat saja 2000 cGy selama 2. Stage A2.B1.RADIASI EKSTERNA Stage A1.5 minggu.5 minggu Stage C dengan lymfedenektomi hasil (+) radiasi area pelvik bila kelenjar para aorta positif juga diradiasi dengan dosis 4500 cGy selama 4.B2 Batasan Differensiasi baik.5 minggu dilanjutkan pada prostatnya saja 2000 cGy selama 2 minggu Stage C dengan lymfedenektomi hasil (-) radiasi area pelvik dengan dosis 4500 cGy selama 4. B tanpa lymfedenektomi radiasi dengan dosis 4500 cGy selama 4.5 minggu dilanjutkan daerah prostat saja 2000 cGy selama 2 minggu PENATALAKSANAAN TERAPI Stadium A A1 A2 B.5 minggu dilanjutkan daerah prostat saja 2500 cGy selama 2. A2. B dengan lymfedenektomi hasil (+) area radiasi diperluas sampai dengan Th 2 sampai L5 dengan dosis 4500 cGy selama 4.5 minggu Stage D1 area pelvik dengan dosis 4500 cGy selama 4. B1 dimana lymfedenektomi hasil (-) radiasi pada prostat saja dosis total 6400 cGy selama 6. fokal Bukan well differensiasi.

JEF/99/142 . nyeri pinggang. Dicari apakah ada kerusakan organ lain akibat proses rudapaksa yang dialami penderita. DIAGNOSTIK a) Anamnesa : Keluhan. kista ) b) Pemeriksaan klinis : Status Umum : Dicari apakah ada tanda kekurangan darah atau adanya syok karena berkurangnya volume darah atau cairan intravaskuler. kencing darah. hematome. riwayat trauma ( mode of injury ). kapsul ginjal masih utuh Laserasi minor : Kerusakan korteks parenkim ginjal bagian superfisial tanpa disertai kerusakan medula atau sistim kaliks. luka terbuka. luka masuk atau luka keluar akibat tembakan didaerah perut bagian atas ( kiri atau kanan ). hidronefrosis. Klasifikasi : 1) Trauma major : 85 % Kontusio : Memar atau hematom subkapsuler. Biasanya merupakan salah satu diagnosa sari multiple injured patient. 2) Trauma mayor (10-15 %) (Ruptur Ginjal) : Kerusakan parenkim yang meluas mulai dari korteks dan medulla sampai ke sistim kaliks 3) Trauma vaskuler (1 %) atau Renal vascular injury : oklusi atau terputusnya pembuluh darah utama ginjal. atau merusak pembuluh darah utama ginjal. bisa menyebabkan diskontinuitas kortex atau bahkan dapat merusak medulla sampai sistim pielokaliks.TRAUMA GINJAL Trauma ginjal adalah suatu proses rudapaksa yang dapat menimbulkan kerusakan ginjal. Status Urologis : Inspeksi : Dilihat apakah ada jejas. riwayat penyakit ginjal sebelumnya ( batu ginjal. pinggang (kanan atau kiri) Dicari apakah ada gross hematuria. luka tusuk.

c)

d)

e)

Palpasi : Dicari apakah ada tanda patah tulang iga 12, dan tanda penumpukan darah didaerah ginjal. Biasanya ditemui adanya nyeri tekan ataupun nyeri ketok pada daerah ini. Auskultasi : Pada kasus dimana sudah terjadi inhibisi cairan dari retroperitoneal kedalam rongga peritoneal biasanya ditemui tanda ileus paralitik. Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan faal hemostatik, faal ginjal dan eritrosit dalam sedimen urine pada keadaan syok diperlukan pemeriksaan hematokrit, analisa gas darah. Pemeriksaan foto rongen Pemeriksaan IVP di klinik ini dijadikan sebagai pemeriksaan standard untuk penilaian klinis adanya trauma serta menilai berat ringannya trauma ginjal. Agar dapat terlaksana penderita tidak harus dalam keadaan syok, dan tidak ada kontrainsikasi lain untuk pemeriksaan radiologis dengan menggunakan kontrast serta tidak boleh menunda tindakan yang bersifat livesaving. Pada senter yang lebih maju, umumnya diluar negari yang dijadikan standard adalah CT-Scan. Pemeriksaan penunjang lain Pada keadaan tertentu dimana pemeriksaan IVP tidak dapat dilakukan atau kurang informatif dapat dilakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi. Pada kecurigaan trauma pedikel, dapat dilakukan pemeriksaan arteriografi renal.

Eksplorasi emergensi : adalah suatu tindakan eksplorasi ginjal yang mengalami trauma yang bernilai live saving dengan tujuan mengatasi perdarahan. Selain untuk mengatasi perdarahan indikasi lain eksplorasi emergensi adalah ; cedera vaskular ginjal, nonviable parenchym, ekstravasi urine major. Macam perlakuan tergantung pada derajat kerusakan ginjal yang ditemui saat eksplorasi serta pertimbangan kondisi ginjal kontralateral. Tindakan yang paling sering dilakukan nefrektomi. Tindakan lain yang mungkin dilakukan adalah nefrektomi parsial, reparasi kerusakan parenkim dan sistim kaliks serta reparasi kerusakan vaskuler. Terapi konservatif : 85% trauma ginjal hanya membutuhkan tindakan tirah baring. Eksplorasi tertunda : yaitu tindakan eksplorasi yang dilakukan pada penderita dengan terapi konservatif dengan komplikasi berupa gejala perdarahan berulang, infeksi dan timbulnya urinoma. Terapi Late complication : pada penderita yang pernah mengalami trauma ginjal dapat timbul komplikasi berupa hipertensi, fistel arteri-venosa, urolithilasis dan pielonefritis. Pada penderita tersebut dapat dilakukan tindakan ; terapi urolitiasis koreksi hidronefrosis atau fistel AV, atau nefrektomi.

JEF/99/143

1. Eksplorasi emergensi A. Persiapan Pra Bedah gawat darurat. : Melakukan resusitasi kardio-pulmonal, agar optimal untuk pembedahan emergensi Mempersiapkan kebutuhan cairan dan darah yang dibutuhkan untuk pembedahan Memasang kateter uretra Melakukan informed consent B. Alat yang diperlukan - Satu set alat major set surgery Ring spreader besar Peralatan untuk oklusi pedikel ginjal : klem satinsky, bulldog Alat untuk diversi urine atau untuk tindakan splinting ; DJ Stent, Gastric tube 8 Fr, Kateter folley 20 Fr Redon drainage set steril Teknik Operasi / Eksposur ginjal  Karena besar kemungkinan adanya trauma organ intraperitoneal maka approach operasi adalah lewat sayatan perut vertikal dibagian tengah.  Penderita dalam posisi terlentang  Buat sayatan mediana dari prosesus sifoideus kearah simfisi pubis  Ekspolarasi organ intraperitoneal (hepar, lien, usus, omentum). Umumnya reparasi organ intraperitoneal dilakukan lebih dulu, kecuali kalau perdarahan retroperitoneal yang lebih mengancam.  Pasang ring spreader  Usus halus dikeluarkan dan ditempatkan diatas dinding perut kontralateral.  Peritoneum posterior dibuka vertikal secara tajam di sebelah medial dan sejajar vena mesenterika inferior. Kalau perlu agar eksposure dapat lebih baik, pada sisi kiri, arteri dan vena mesenterika inferior dapat dikorbankan.  Pasang klem vaskuler pada vassa renalis  Insisi peritoneum posterior pada daerah white line ipsilateral, kolon disisihkan ke arah medial, agar daerah retroperitoneal ipsilateral dapat di ekpose, bebaskan ginjal dari lemak perirenal.  Hematome dan darah yang terkumpul pada daerah retroperitoneal di keluarkan, nilai derajat kerusakan ginjal, dan vaskular.  Perlakuan terhadap ginjal yang mengalami trauma tergantung pada beratnya kerusak-an,

C.

JEF/99/144

perkiraan waktu yang diperlukan untuk tindakan yg bersifat koreksi, adanya trauma penyerta lain serta keadaan umum penderita saat operasi D. Teknik Reparasi ginjal  Ginjal didinginkan dengan Ice slush. Buka klem pada vena renalis agar lokasi perdarahan dapat terlihat,  Perdarahan diatasi dengan jahitan angka 8 dengan chromic cat gut 4.0.  Laserasi parenkim dijahit dgn chromc cat gut 4.0  Drainage retroperitoneal dipasang kalau ada kecurigaan ekstravasasi urine Nefrektomi  Pada tindakan nefrektomi parsial (atas atau bawah), sebaiknya dilakukan ligasi arteri segmental terlebih dulu  Kalau diputuskan untuk melakukan nefrektomi total tindakan diawali dengan memasang klem hilus, kemudian nefrektomi dan kemudian dilakukan double ligasi pada arteri dan vena renalis secara terpisah dengan benang sutera No. 1 Repair Vaskuler  Robekan pada arteri atau vena renalis dilakukan jahitan dengan prolene 5.0, interrupted.  Pada trombosis yang menimbulkan oklusi mungkin diperlukan graft yang berasal dari vena safena Repair Sistem Pielokaliks  Robekan pada pielum atau UPJ dijahit dengan chromic cat gut 4.0 atau 5.0 dan dengan pemasangan splint Teknik Eksplorasi delayed  Ginjal di ekpose melalui sayatan lumbotomi lateral (ICS XI-XII)  Perlakuan pada ginjal tergantung berat ringanya kerusakan yang ada (seperti 1d,e,f,g)

E.

F.

G.

H.

2. Terapi Konservatif 80-85% trauma ginjal merupakan kontusio dan laserasi minor, dan tidak membutuhkan terapi pembedahan, dan hanya memerlukan tirah baring, sampai makrokopis hematuria menghilanh dan tanda vital normal dan stabil (berapa lama waktu yang diperlukan tidak disebutkan dari

JEF/99/145

hematokrit. hidronefrosis dan pielonefritis dapat diketahui dan dikoreksi sedini mungkin. nyeri lokal  Monitor tanda berlanjutnya perdarahan . Tindakan yang dilakukan pada terapi konservatif ini adalah :  Tirah baring  Monitor Tanda vital berkala (tekanan darah nadi. frekuensi nafas dan suhu rektal)  Monitor perubahan tanda fisik pada status lokalis : flankmass. Terapi konservatif diangap tidak berhasil kalau didapatkan :  Perdarahan masih berlanjut. Hb. Urine serial. atau gross hematuri menetap. JEF/99/146 . dengan tanda flank mass bertambah besar. Perawatan pasca Bedah / follow-up  Pada penderita yang di nefrektomi perhatian harus ditujukan pada ginjal yang masih ada agar terhindar dari proses patologi lain yg dapat timbul  Pada penderita yang diterapi konservatif atau dengan koreksi pembedahan harus dilakukan pemeriksaan teratur secara berkala agar komplikasi yang timbul berupa hipertensi. 3. fistel arteri-venosa.  Ekstravasasi urine yang cukup besar (urinoma)  Komplikasi infeksi / sepsis  Perdarahan sekunder.kepustakaan). urolitiasis.

adanya jejas didaerah symphysis atau pelvis . dapat disebabkan oleh trauma tajam. Status urologi : Inspeksi : . Pemeriksaan laboratorium :  Sedimen urin  Darah lengkap  RFT. Semua penderita yang dicurigai trauma buli-buli. FH  Kultur urin d. nadi.abdomen distended bagian bawah (supra simphysis) Palpasi nyeri tekan di supra simphysis / abdomen bawah abdomen tegang (peritonismus) buli-buli tak teraba (kosong) terdapat infiltrat urine di daerah prevesikal Perkusi : nyeri ketok supra simphysis RT: prostat melayang/tidak teraba ditempat c. trauma tumpul maupun iatrogenik. Status umum : Tensi. respirasi (ingat ABCD. Anamnesa : Keluhan utama : nyeri didaerah supra simphysis kencing darah atau bercampur darah tidak keluar kencing dan atau tidak ingin kencing Anamnesa kausal : riwayat trauma nstrumentasi didaerah urethra buli-buli b.TRAUMA BULI-BULI Trauma buli-buli adalah hilangnya kontinuitas dari dinding buli-buli. LFT. karena biasanya disertai dgn trauma ditempat lain) 2. yaitu penderita dengan riwayat trauma yang disertai dengan : Tidak keluar kencing atau tidak ingin kencing Kencing darah atau bercampur darah Nyeri didaerah supra symphysis/perut bagian bawah Nyeri tekan didaerah abdomen dan tegang (peritonismus) Sistografi : ada ekstravasasi kontras Test buli-buli : cairan yang keluar < cairan yang masuk buli DIAGNOSIS a. Pemeriksaan klinis : 1. Pemeriksaan radiologis : JEF/99/147 .kwalitas urine yang keluar ( hematuria ) .

DIAGNOSTIK Alat yang disiapkan : Linen set. 3-0 . Foto polos abdomen dan sistografi IVP (bila juga dicurigai ada trauma di upper tract dan vital sign-nya stabil Foto thoraks Pemeriksaan penunjang : .Dexon No. Pasang duk kecil dibawah skrotumnya Persempit lapangan operasi dengan duk steril . jumlah. 4-0 TEKNIK OPERASI Beri profilaksis antibiotika (ampisili 2 gr) sebelum operasi (bila ada hasil kultur urin. baik regional ataupun general penderita diletakkan dengan posisi terlentang. kemudian keluarkan lagi bila jumlah yang keluar lebih sedikit  trauma buli-buli. JEF/99/148 .Test buli-buli : Masukkan PZ  300 cc melalui kateter perurethra. tentukan letak.e. Pasang foto sistografi (bila ada) pada kotak cahaya Setelah dilakukan anesthesi. ukuran dan bentuk robekannya : Bila bentuk robekan tidak teratur. skrotum. Periksa dengan teliti seluruh dinding buli-buli.Sistoskopi Terapi trauma buli tergantung letaknya. profilaksis sesuai kultur). rektum abdominis di split (dipisahkan) pada linea alba (tengah-tengah) Sisihkan prevesikal fat kearah kranial sehingga buli-buli terlihat keseluruhannya dengan jelas. terdiri dari : Taplak penutup meja instrumen Duk besar dan kecil Baju operasi Sarung tangan Set Instrumen Desinfeksi klem Kateter Folley No. penis sampai di processus xyploideus. lapis demi lapis dan rawat perdarahan M. perlu dilakukan debridement pada tepi-tepinya.Plain cat gut No.Insisi kulit midline  10 cm. 16 dan 20 + urobag Benang : . Desinfeksi (dengan larutan povidon iodin 10%) didaerah paha atas. . yaitu extra peritoneal atau intra peritoneal.

satu-satu Kembangkan balon kateter dengan PZ  10cc Lakukan test buli-buli. perhatikan fixasinya dengan baik Usahakan di uresis yang cukup (minum : 2-3 liter/hari) Rawat luka dan vaccum drain tiap hari Catat produksi urin dan drain Lepas DK atau kateter sistostomi pada hari ke 7 dengan profilaksis antibiotika sesuai kultur urine (ampisilin 2 gr. 22 atau 24.Lepas drain. bila hasil kultur (-) ) . untuk mengecek jahitan buli (bocor/tidak) Cuci lapangan operasi dengan PZ sampai bersih Pasang redon drain perivesikal (di cavum Retzii) dan fiksasi dengan silk 1-0 di kulit Tutup lapangan operasi lapis demi lapis Dekatkan M. maka dilakukan repair trans peritoneal Pasang DK 16 F per urethra sebelum dilakukan penjahitan buli-buli. JEF/99/149 . agar tidak tertusuk sewaktu menjahit buli) pada kasus kasus ruptura yang berat atau pertimbangan lain perlu di pasang kateter sistostomi Ch. dan pastikan DK masuk di dalam buli (balon kateter jangan dikembangkan dulu.- - - Bila letak robekan di intraperitoneal. Jahit robekan buli 2 lapis. segera di MSS (minum sedikit-sedikit) Mobilisasi sedini mungkin (bila dengan anesthesi SAB. yaitu : + Jahit mukosa-muskulari buli dengan plain cutgut 3-0 secara jelujur biasa + Jahit mukosa-muskularis dengan dexon 4-0. setelah lepas DK dan produksinya < 20 cc dalam 2 hari berturut-turut. mobilisasi/duduk setelah 24 jam post operasi) Rawat DK dengan baik. rektus abdominis dengan chromic 2-0 satu-satu Jahit lemak subkutan dengan plain cat-gut 3-0 satusatu Jahit kulit dengan silk 3-0 satu-satu PERAWATAN PASCA OPERASI Bila bising usus (+) dan tidak muntah.

Urin Ret. Urin Ret. Urin Ret. Urin Ink. Urin Ink. Urin Ret. Urin Ret. Urin Ink. Urin Ret. Urin Ä Ret. Urin Ret.Urofarmakologi Nama obat Efedrin Imipramin Fanilefrin Amfetamin Metamfetamin L-Dopa Fenoksibenza min Fentolamin Metildopa Reserpin Neuroleptika Prazosin Clonidin Oksibutinin Hyociamin Dicyclomin Probantin Betanekol Karbakol Neostigmin Fisostigmin Klorfeniramin Tripelenamin Cyproheptadin Pengaruh pd SSS À À À À À À Ä Ä Ä Ä Ä Ä Ä À À À SS otonom Pengaruh SSPS pd miksi Ret. Urin Ink. Urin Ret. Urin Ink. Urin Ink. Urin - JEF/99/150 . Urin Ink. Urin Ink. Urin Ä Ä Ä Ä Ä À À À À À À À Ä Ä Ä Ä À À À À Ret. Urin Ink. Urin Ret. Urin Ret. Urin Ink. Urin Ink.

prominent low set ear Fishlike mouth and ptosis.Testosteron 50 – 100 mg / i. 3. Chest shieldlike. 5. Serum elektrolite JEF/99/151 .XX (60%) atau 46. pregnancy (hormon) 2. labioscrotal folds. dihidroepiandrosterone.XY (20%). Physical examination: KGB. History : family history.XXY Incidence Ca mamma 20 x lebih tinggi Delay in the onset of adolescence Hialinisasi dan fibrosis tubulus seminiferus >>> FSH >> dan Testosteron << Terapi  androgen replacement : ./montly.X or XO. testosterone and dihydrotestosterone. Cromosome : 47. 4. Hypertensi. neck short.m. -short staure. Mascullinization Congenital adrenal hperplasiaautosomal recessive Male Pseudohermaphroditism. Karyotype analysis. Causa : -Defect in testicular differentiation -Kegagalan sekresi testosteron -Faillure of target tissue response to testosterone or dihidrotestosteron -Kegagalan konversi testosterone menjadi dihidrotestosteron. Ovotestis in the inguinal region or labioscrotal folds Criptorchidism and hipospadia are often Female Pseudohermaphroditism. RT. Cardinal feature : -variety of somatic anomalies. epicanthal folds. -sexual infantilism. Initial studies : Plasma 17-hydroxyprogesteron. Turner’s syndrome (gonadal dysgenesis) Cromosom : 45. Pemeriksaan pada intersexuality : 1.Klinefelter’s syndrome : Fost common form of primery hypogonadism and infertility in males. Have testis. but external genetalia not completely masculinized. Lymphedema of extremities and loose skin folds Micrognathia.cubitus valgusshort fourth metacarpal. renal abnormalities. True Hermafrodism Ambigius genetalia Cromosome : 46. Normal ovaries with ambigius external genetalia.

ureter and pelvic content.6. gonadal biopsy. Sonogram or MRI of the kidney. laparotomy. 8. 9. 7. JEF/99/152 . Provisional diagnosis Vaginogram (selected cases) Endoscopy.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful