You are on page 1of 17

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

1

Bab I. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian

Secara Etimologi (cabang ilmu Linguistik yang mempelajari asal usul kata), filsafat berasal dari kata filo dan sofia (bahasa Yunani). Filo artinya cinta atau menyenangi dan sofia artinya bijaksana. Konon orang yang selalu mendambakan kebijaksanaan adalah orang-orang yang pandai, orang yang selalu mencari kebenaran. Dalam pencariannya, mereka mendasarkan pada pemikiran, logika dan bahkan spekulasi. Hal ini terjadi pada zaman sebelum ilmu berkembang. Hasil pemikiran mereka ini kemudian menjadi tantangan bagi para ilmuwan selanjutnya dimana dalam menemukan kebenaran lebih mementingkan penemuan-penemuan empiris. Logika tidak lagi menjadi metode untuk menemukan atau mencari kebenaran tersebut. Dilihat dari lahirnya ilmu yang terjadi karena ketidakpuasan para ilmuwan terhadap penemuan kebenaran oleh para filsuf maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bentuk-bentuk perkembangan filsafat yang merupakan induk dari ilmu. Pada dasarnya cabangcabang ilmu tersebut berkembang dari 2 cabang utama, yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences). Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi 2 kelompok lagi, yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences). Ilmu-ilmu sosial berkembang agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Yang mula-mula berkembang adalah antropologi,
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

2

psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik. Selanjutnya, baik cabang-cabang ilmu alam maupun ilmu-ilmu politik bercabangcabang lagi sehingga sampai pada saat ini terdapat sekitar 700 cabang keilmuan. Meskipun filsafat telah berkembang menjadi bemacam-macam ilmu namun filsafat sendiri tidak tenggelam bahkan ikut berkembang pula seirama dengan perkembangan ilmu. Dalam arti yang operasional filsafat adalah suatu pemikiran yang mendalam sampai ke akarakarnya terhadap suatu masalah atau objek. Sesuai dengan perkembangan filsafat dan pengertiannya maka muncul berbagai macam filsafat, antara lain filsafat alam (metafisika), filsafat ketuhanan (theologia), filsafat manusia, filsafat ilmu, dan sebagainya.

Pengetahuan, Ilmu dan Filsafat
Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dalam memahami alam sekitarnya terjadi proses yang bertingkat dari pengetahuan (sebagai hasil tahu manusia), ilmu dan filsafat. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Sedangkan ilmu (science) bukan sekedar menjawab what melainkan akan menjawab pertanyaan why dan how, misalnya mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernapas, dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Tetapi ilmu dapat menjawab mengapa dan bagaimana sesuatu tersebut terjadi. Pengetahuan mempunyai sasaran tertentu serta metode atau pendekatan untuk mengkaji objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis dan diakui secara universal maka terbentuklah disiplin ilmu. Dengan kata lain, pengetahuan itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Mempunyai objek kajian b. Mempunyai metode pendekatan c. Bersifat universal (mendapat pengakuan secara umum) Sementara filsafat adalah suatu ilmu yang kajiannya tidak hanya terbatas pada fakta-fakta saja melainkan sampai jauh diluar fakta sampai batas kemampuan logika manusia. Ilmu mengkaji kebenaran
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

3

dengan bukti logika atau jalan pikiran manusia. Dengan kata lain, batas kajian ilmu adalah fakta sedangkan batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab pertanyaan why dan how sedangkan filsafat menjawab pertanyaan why, why, dan why dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia. Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang pengkajian filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral. Disini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan melainkan mengaitkannya dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Namun demikian dengan taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan diri pada norma-norma filsafat. Misalnya ekonomi masih merupakan penerapan etika (appliet ethics) dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif (berpikir dari hal-hal yang umum kepada yang bersifat khusus) berdasarkan asas-asas moral yang filsafat. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya pada hakekat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan, ilmu masih mendasari diri pada norma yang seharusnya sedangkan dalam tahap terakhir ilmu didasarkan atas penemuan-penemuan. Karenanya dalam menyusun teori-teori ilmu pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif (berpikir dari hal-hal yang bersifat khusus kepada hal-hal yang bersifat umum) dengan jembatan yang berupa pengujian hipotesis. Selanjutnya proses ini dikenal sebagai metoda deducto-hipoteticoverifikatif dan metode ini dipakai sebagai dasar pengembangan metode ilmiah yang lebih dikenal dengan metode penelitian. Selanjutnya melalui atau menggunakan metode ilmiah ini akan menghasilkan ilmu. August Comte (1798-1857) membagi 3 tingkat perkembangan ilmu pengetahuan tersebut diatas kedalam tahap religius, metafisik, dan positif. Hal ini dimaksudkan dalam tahap pertama maka asas
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

4

religilah yang dijadikan postulat atau dalil ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi (deducto). Dalam tahap kedua, orang mulai berspekulasi, berasumsi, atau membuat hipotesis-hipotesis tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahaan yang terbatas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan berdasarkan postulat metafisika tersebut (hipotetico). Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah dimana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verivikasi yang objektif (verifikatif). Secara visual proses perkembangan ilmu pengetahuan tersebut yang selanjutnya merupakan kerangka-kerangka metode ilmiah dapat digambarkan seperti terlihat dalam skema berikut: Skema 1.1 Metode Deducto-Hipotetico-Verifikatif DEDUKSI - Berdasarkan pengalaman-pengalaman atau teori-teori atau dogma-dogma yang bersifat umum dilakukan dugaan-dugaan atau hipotesis. HIPOTESIS Merupakan dugaan yang ditarik berdasarkan teori dogma, atau pengalamanpengalaman. VERIFIKASI- Merupakan proses pembuktian untuk hipotesis-hipotesis yang telah disusun melalui kegiatan. INDUKSI - Hasil penelitian tersebut disusun ke dalam suatu teori yang umum.

Landasan Ilmu
Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakekat ilmu. Oleh sebab itu, filsafat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu tersebut, seperti:
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

5

a. Objek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia (misalnya berpikir, merasa, mengindera)? b. Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Cara, teknik, atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? c. Untuk apa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana hubungan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral/profesional? Ketiga kelompok pertanyaan tersebut merupakan landasanlandasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan landasan ontologi, kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok yang terakhir merupakan landasan aksiologis. Secara singkat uraian landasan ilmu itu adalah sebagai berikut: a. Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karena diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda. b. Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum, metode ilmiah pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu yaitu berupa proses kegiatan induksi-deduksi-verivikasi seperti telah diuraikan di atas. c. Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu serta membagi peningkatan kualitas hidup manusia.

Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

6

Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut. Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh. Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu : a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah. b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

7

Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.
Pustaka Notoatmodjo, Soekidjo, Prof. Dr., Januari 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cet. ke-2,. Jakarta : Rineka Cipta.

Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

8

Bab II. Jenis- Jenis Penelitian

Penggolongan sederhana jenis penelitian dalam bidang ekonomi dan bisnis yaitu meliputi: penelitian yang bersifat akademik (oleh mahasiswa), profesional (pengembangan ilmu dan teknologi) dan institusional (penelitian untuk perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan). Penelitian akademik merupakan penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam membuat skripsi, tesis, disertasi, maupun jurnal. Penelitian ini merupakan sarana edukasi, sehingga lebih mementingkan validitas internal (cara harus benar), variabel terbatas, dan pada umumnya kecanggihan analisis disesuaikan dengan jenjang pendidikan (S1, S2, S3). Penelitian profesional merupakan penelitiannya para dosen dan peneliti lainnya. Tujuannya adalah mendapatkan pengetahuan/teknologi baru. Variabel penelitian lengkap, kecanggihan analisis disesuaikan untuk kepentingan masyarakat ilmiah. Untuk itu penelitiannya harus dilakukan dengan cara yang betul (validitas internal), dan hasilnya berguna untuk pengembangan ilmu (validitas eksternal).
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

9

Penelitian institusional merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan pengembangan lembaga. Hasil penelitian informasi yang dapat digunakan pengembangan lembaga. Hasil penelitian akan sangat berguna bagi pimpinan, manajer, direktur untuk pengambilan keputusan. Oleh karena ituhasil penelitian lebih menekankan pada validitas eksternal (kegunaan), variabel lengkap (kelengkapan informasi), dan kecanggihan analisis disesuaikan untuk pengambilan keputusan. Jenis-jenis penelitian dapat dikelompokkan menurut kegunaan dan tujuan, pendekatan, tempat, metode/desain, tingkat eksplanasi, dan analisis & jenis data. Dengan mengetahui jenis-jenis penelitian tersebut, maka peneliti pada bidang ekonomi dan bisnis diharapkan dapat memilih metode yang paling efektif dan efisien untuk mendapatkan informasi yang akan digunakan untuk memecahkan masalah-masalah di bidang ekonomi dan bisnis.

Penelitian Menurut Kegunaan dan Tujuan
Menurut kegunaannya, secara umum penelitian digolongkan menjadi: a. Penelitian Murni/Dasar (Pure Research) Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan. b. Penelitian Terapan (Applied Research) Penelitian yang kegunaannya diarahkan dalam rangka memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis. Uma Sekaran (1994) menyatakan bahwa, bila penelitian diarahkan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, maka penelitian yang dilakukan diarahkan sekedar untuk memahami masalah secara mendalam dalam organisasi secara mendalam (tanpa ingin menerapkan hasilnya) maka hal itu dinamakan penelitian dasar. Hasil penelitian yang diperoleh akan berguna untuk pengembangan ilmu manajemen. Suriasumantri (1985) menyatakan bahwa penelitian dasar atau murni adalah penelitian yang bertujuan yang menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui, sedangkan penelitian terapan adalah bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan praktis.
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

10

Gay (1977) menyatakan bahwa sebenarnya sulit untuk membedakan antara penelitian murni (dasar) dan terapan secara terpisah, karena keduanya terletak pada satu garis kontinum. Penelitian dasar bertujuan untuk mengembangkan teori dan tidak memperhatikan kegunaan yang langsung bersifat praktis. penelitian dasar pada umumnya dilakukan pada laboratorium yang kondisinya terkontrol dengan ketat. Penelitian terapan dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah masalah praktis. Jadi penelitian murni/dasar berkenaan dengan penemuan dan pengembangan ilmu. Menurut tujuannya, penelitian secara umum digolongkan dalam: a. Penelitian Eksploratif Bertujuan untuk mengungkap secara luas dan mendalam tentang sebab-sebab dan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. b. Penelitian Pengembangan Bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan suatu prototipe baru atau yang sudah ada dalam rangka penyempurnaan dan pengembangan sehingga diperoleh hasil yang lebih produktif, efektif dan efisien. c. Penelitian Verifikatif Bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian yang dilakukan terdahulu/ sebelumnya. d. Penelitian Kebijakan Penelitian yang dilakukan suatu institusi/lembaga dengan tujuan untuk membuat langkah-langkah antisipatif guna mengatasi permasalahan yang mungkin timbul di kemudian hari.

Penelitian Menurut Pendekatan
Menurut pendekatannya, penelitian digolongkan menjadi: a. Penelitian Longitudinal (Bujur) Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses dan waktu yang lama terhadap sekelompok subjek penelitian tertentu (tetap) dan diamati/diukur terus menerus mengikuti masa perkembangannya (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama). b. Penelitian Cross-Sectional (Silang)
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

11

Penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan melalui proses kompromi (silang) terhadap beberapa kelompok subjek penelitian dan diamati/diukur satu kali untuk tiap kelompok subjek penelitian tersebut sebagai wakil perkembangan dari tiap tahapan perkembangan subjek (menembak satu kali terhadap satu kasus).

Penelitian Menurut Tempat
Menurut tempatnya, penelitian dibedakan atas: a. Penelitian Laboratorium/Kelas Eksperimen, tindakan, dan lain-lain. b. Penelitian Perpustakaan Studi dokumentasi (analisis isi buku, penelitian historis, dan lainlain). c. Penelitian Kancah/Lapangan Survey, dan lain-lain.

Penelitian Menurut Metode/Desain
Penelitian menurut metodenya, dapat digolongkan menjadi metode penelitian survey, ex post facto, eksperimen, naturalistic, penelitian kebijakan, penelitian tindakan, evaluasi dan sejarah. a. Penelitian Survey Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa, penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relative, distribusi dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis. Penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam. Walaupun metode survey ini tidak memerlukan kelompok kontrol seperti halnya pada metode eksperimen, namun generalisasi yang dialkukan bisa lebih akurat bila digunakan sampel yang representatif (Kline: 1980), misalnya: penelitian untuk mengungkapkan kecendrungan masyarakat dalam mengkonsumsi jenis minuman. b. Penelitian Ex post facto
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

12

Penelitian Ex post facto, adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama dengan penelitian eksperimen yaitu jika x maka y, hanya saja dalam penelitian ini tidak ada manipulasi langsung terhadap variabel independen, misalnya: penelitian untuk mengungkapkan sebab-sebab terjadinya kebakaran pabrik sepatu. Penelitian untuk mengungkapkan sebab-sebab terjadinya penurunan produktivitas penjualan. c. Penelitian Eksperimen Penelitian dengan pendekatan eksperimen, adalah suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang terkontrol secara ketat. Terdapat empat bentuk metode eksperimen yaitu experimental, true eksperimental factorial, dan quasi experimental. (Tuckman: 1982 dalam Ridwan, 2006). Penelitian eksperimen ini pada umumnya dilakukan pada laboratorium. Contoh misalnya: pengaruh unsur kimia tertentu terhadap kelezatan makanan: pengaruh jenis bahan tertentu terhadap keawetan warna kain, dsb. d. Penelitian Naturalistic Metode penelitian ini sering disebut dengan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah (seabagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara induktif. Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi, contohnya penelitian untuk mengungkapkan makna upacara ritual atau adanya sesaji terhadap keberhasilan bisnis, hubungan antara pelaku bisnis yang punya pesugihan dengan jumlah penjualan, dan sebagainya. e. Policy Research (Penelitian Kebijakan) Penelitian kebijakan pada umumnya dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang menimpa para administratur/manajer atau para pengambil keputusan pada suatu organisasi. Majchrzak (1984) mendefinisikan policy research adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap masalah-masalah
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

13

sosial yang mendasar, sehingga temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan masalah. Policy research ini sangat relevan bagi perencana dan perencanaan, contohnya penelitian untuk mendapatkan informasi guna menentukan sistem penggajian karyawan, penelitian untuk mendapatkan informasi guna menentukan jenis barang apa yang perlu diproduksi besarbesaran, dan sebagainya.

f.

Action Research (Penelitian Tindakan)

Dalam bisnis, penelitian tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga dapat meningkat. Penelitian melibatkan peneliti dan karyawan untuk mengkaji bersama-sama tentang kelemahan dan kebaikan prosedur kerja, metode kerja, dan alat-alat kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya mendapatkan metode kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya mendapatkan metode kerja baru yang dipandang paling efisien. Metode kerja baru tersebut selanjutnya dicobakan, dievaluasi secara terus menerus dalam pelaksanaannya, sehingga sampai ditemukan metode yang paling efisien untuk dilaksanakan, contohnya penelitian untuk memperbaiki prosedur dan metode kerja dalam pembuatan suatu jenis makanan yang diproduksi masal. Jadi dapat dinyatakan bahwa penelitian tindakan adalah suatu proses yang dilalui oleh perorangan atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan tersebut dan kemudian, setelah sampai pada tahap kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, melaksanakan prosedur ini. Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah (1) situasi, (2) perilaku, (3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja, iklim kerja dan pranata. g. Penelitian Evaluasi
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

14

Dalam hal yang khusus, penelitian evaluasi dapat dinyatakan sebagai evaluasi, tetapi dalam hal lain juga dapat dinyatakan sebagai penelitian. Sebagai evaluasi berarti hal ini merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standard dan program yang telah ditetapkan. Evaluasi sebagai penelitian berarti akan berfungsi untuk menjelaskan fenomena. Terdapat dua jenis dalam penelitian evaluasi yaitu: penelitian evaluasi formatif yang menekankan pada proses dan evaluasi sumatif yang menekankan pada produk. Evaluasi formatif ingin mendapatkan feedback dari suatu aktivitas dalam proses, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan program atau produk. Evaluasi sumatif menekankan pada efektifitas pencapaian program yang berupa produk tertentu, contohnya penelitian untuk mengevaluasi apakah suatu produk yang direncanakan terjual 95% tercapai atau tidak. h. Penelitian Sejarah Penelitian sejarah berkenaan dengan analisis yang logis terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di masa lalu. Jadi penelitian tidak mungkin lagi mengamati kejadian yang akan diteliti. Walaupun demikian sumber datanya bisa primer, yaitu orang yang terlibat langsung dalam kejadian itu, atau sumber-sumber dokumentasi yang berkenaan dengan kejadian itu. Tujuan penelitian sejarah menurut Isaac dan Michael (1981) adalah untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melelui pengumpulan, evaluasi verifikasi, dan sintesa data diperoleh, sehingga dapat ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu kesimpulan. Namun demikian kesimpulan yang diperoleh sifatnya masih hipotesis. Penelitian sejarah terutama dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang: kapan kejadian itu berlangsung, siapa pelakupelakunya, dan bagaimana prosesnya. Contohnya penelitian untuk mengetahui perkembangan bisnis di Indonesia antara tahun 1945 s/d 1965.

Penelitian Menurut Tingkat Ekplanasinya
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

15

Tingkat explanasi (level of explanation) adalah tingkat penjelasan. Jadi penelitian menurut tingkat eksplanasi adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variable-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu varibel dengan variabel yang lain. Berdasarkan hal ini, penelitian dapat dikelompokkan menjadi: a. Penelitian Deskriptif Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri (independen), baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Jenis penelitian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan seperti: bagaimanakah profil pelaku bisnis di Indonesia, seberapa besar produktivitas kerja karyawan di PT A; seberapa besar keuntungan PT B tahun ini; bagaimanakah etos kerja, dan prestasi kerja para karyawan di departemen X, bagaimanakah inerja Badan Usaha Milik Negara tahun 2009, bagaimanakah pelayanan kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur, dan sebagainya. b. Penelitian Komparatif Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Di sini variabelnya masih sama dengan penelitian variabel mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. Contoh penelitian ini diantaranya: adakah perbedaan keuntungan antara BUMN dengan perusahaan Swasta, adakah perbedaan nilai penjualan antara tahun 2008 dengan 2009, adakah perbedaan kinerja BUMN dengan swasta, adakah perbedaan disiplin kerja PNS dengan Karyawan Swasta, adalah perbedaan kinerja pegawai setelah dengan sebelum mengikuti diklat, dan sebagainya. c. Penelitian Asosiatif/hubungan Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai tingkatan yang tertinggi bila dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan komparatif. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala. Pada penelitian ini minimal terdapat dua variabel yang dihubungkan, bentuk hubungannya meliputi: simetris, kausal, dan
Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

16

interaktif/resiprocal. Hubungan Simetris adalah suatu bentuk hubungan karena munculnya bersama-sama, misalnya ada hubungan antara datangnya kupu-kupu dengan tamu. Kalau ada kupu-kupu masuk rumah diramalkan akan ada tamu, yang menyebabkan datangnya tamu bukan kupu-kupu. Hubungan kausal adalah hubungan sebab akibat, bila X maka Y, contoh bila gaji pegawai negeri maupun swasta naik, maka daya beli masyarakat akan naik. Jadi yang menyebabkan daya beli naik adalah adanya kenaikan gaji. Hubungan interaktif atau reciprocal/timbal balik adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Misalnya: bila pengeluaran untuk iklan naik maka nilai penjualan juga akan naik, dan bila nilai penjulan naik, maka biaya untuk iklan akan naik juga, apakah iklim organisasi mempengaruhi turnover karyawan, apakah motivasi berhubungan dengan karakter pimpinan, dan sebagainya.

Penelitian Menurut Jenis Data & Analisis
Pada dasarnya meneliti itu adalah ingin mendapatkan data obyektif, valid dan reliabel tentang sesuatu hal (variabel tertentu). Jenis data dan analisisnya dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi data kualitatif dan kuantitatif. Pada suatu proses penelitian sering hanya terdapat suatu jenis data yaitu kuantitatif atau kualitatif saja, tetapi kadang merupakan gabungan keduanya. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema dan gambar. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan. Data kualitatif yang diangkakan (scoring) misalnya terdapat dalam skala pengukuran. Suatu pernyataan/pertanyaan yang memerlukan alternatif jawaban (misalnya: sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju) diberi skor dimana masing-masing: sangat setuju diberi angka 5; setuju 4, kurang setuju 3, tidak setuju 2, dan sangat tidak setuju 1.
Pustaka Gay, William, 1977. Walt Whitman, his relation to science and philosophy, Folcroft Library Editions, Melbourne: Folcroft, Pa. Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only

Diktat Perkuliahan Metodologi Penelitian

17

Majchrzak, A., 1984. Methods For Policy Research (Paperback), Sage Publications. Marzuki, C., 1999. Metodologi Riset. Jakarta: Erlangga. Isaac, S., & Michael, W. B., 1981. Handbook in Research and Evaluation (2nd ed.). San Diego, CA: EdITS. Kerlinger, Fred N., 1973. Foundations of Behaviorial Research. New York: Holt, Rinehart and Winston. Kline, David, 1980. Introductory Readings in the Philosophy of Science. Buffalo, New York: Prometheus Books. Riduan, 2006. Dasar-dasar Statistik. Bandung: Alfabeta. Sekaran, Uma, 1994. Research Methods For Business. 5th Edition, Australia: Wiley & Sons, Incorporated, John. Suriasumantri, Jujun S., (1985). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

Bambang Sutejo; FE UNDA, Sampit 2010.Internal use only