You are on page 1of 2

RESUME BUKU MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN SENI DAN BUDAYA Sebuah Warisan Intelektual yang Terlupakan Disusun untuk

memenuhi tugas Mata Kuliah SERTIFIKASI II Dosen Pengampu : Farid Setiawan Oleh: Muhibbah Fatati (08004354) Apakah budaya local bertentangan dengan strategi dakwah dalam Islam? Jawabannya adalah “tidak”, Perlu digaris bawahi di sini bahwa masuknya Islam di Indonesia juga tidak lepas dari budaya local masyarakat setempat. Itu dibuktikan dengan propert y yang mereka pakai untuk berdakwah, salah satu contohnya adalah wayang sebagai symbol budaya yang digunakan untuk penyebaran Islam di jawa oleh para wali terda hulu kita. Hal inilah yang harus kita tekankan dari sekarang bahwa berdakwah jug a harus memakai metode-metode khusus guna pencapaian tujuan yang diharapkan. Muhammadiyah sebagai gerakan seni dan budaya, warisan intelektual yang terlupak an. Sepanjang sejarah, muhammadiyah lebih didominasi oleh prospektif tertentu y ang berkaitan dengan ekonomi, keagamaan, politik, pendidikan dan social. Sedangk an jika dalam bidang seni dan budaya, muhammadiyah termasuk pada organisasi yang paling terpojok dan terbawah. Kenapa hal tersebut bisa tejadi? Jawabannya sanga t kontradiktif sekali, selain daripada pemahaman tentang keterkaitan budaya dan Islam juga karena muhammadiyah sendiri terlalu sibuk dengan amal usahanya tanpa memperhatikan perkembangan dakwah muhammadiyah yang selama ini belum mencapai to talitas dan mungkin bisa dibilang mengalami krisis strategi dan kaderisasi. Untu k pembahasan ini, kita harus kembalikan semuanya pada persoalan-persoalan crucia l terkait dengan keislaman Muhammadiyah. Islam sebagai rahmatan li-l-‘alamin agaknya sangat sulit untuk diimplementasikan d alam kehidupan nyata saat ini, maka dari itu hadirlah beberapa organisasi masyar akat yang mengakomodasi masyarakat dalam implementasi tersebut. Salah satunya ad alah Muhammadiyah, yang di awal berdirinya mempunyai dua tujuan: purifikasi (tan zih) dan pembaharuan (tajdid). Purifikasi sebagai refleksi dari hablun-mina-Alla h yang berkaitan dengan ketauhidan dan keyakinan, sedangkan Tajdid adalah upaya unuk mempererat hablu-mina-nas dengan amal usahaya. Ada apa dengan Muhammadiyah dan budaya local?, bagaimana strategi dakwah muhamma diyah memangkas TBC (tahayyul, Bid’ah dan khurafat) yang tidak terlepas dari masya rakat kita saat ini?. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwasanya Islam sangat m enghargai budaya, sebelum budaya Indonesia itu ada, Islam telah muncul terlebih dahulu dengan membawa budaya; seni misalnya yang dalam sepanjang sejarah telah a da dari masa kenabian. Implementasi dari seni dalam Islam adalah wahyu, lantas a pa keterkaitan wahyu dan budaya dalam prospek Islam? Buku ini menjawab bahwasanya wahyu dan kebudayaan sangat terkait, karena kedua-d uanya adalah wujud dari pengetahuan. Pengetahuan dapat mengendap dalam pola tata pikir yang dapat digunakan sebagai acuan untuk merespon stimululus dari lingkun gan sosialnya. Maka dari itu strategi yang digunakan oleh Muhammadiyah adalah Da’w ah Kultural, yang dalam hal ini golongan yang tidak memahami keterkaitan antara budaya dan Islam akan mengatakan bahwa metode ini termasuk dalam kategori TBC it u tadi. Lantas bagaimana muhammadiyah menjawab?. Perlu dipahami di sini bahwa dakwah cultural adalah sebagai metode pendekatan se kaligus metode untuk memahami lokalitas secara arif. Artinya dakwah cultural mer upakan suatu pendekatan dalam rangka memahami keberislaman umat Islam dalam kont eks sosiologis, antropologis dan budaya. Perspektif dakwah cultural yang digunak an untuk memahami keberislaman umat bukan atas dasar purifikasi, melainkan lebih mengakui pada khazanah budaya local. Disamping itu dakwah cultural juga dapat dipahami sebagai metode dalam berdakwah . Pengertian demikian tentunya lebih lazim digunakan daripada makna dakwah kultu ral sebagai pendekatan. Sebab di dalam aplikasi praktisinya, dakwah cultural mem butuhkan keberadaan lokalitas sebagai medium penyampaian ajaran Islam. Dalam hal ini, dakwah cultural lebih memposisikan kebudayaan sebagai medium untuk memperk enalkan ajaran-ajaran Islam secara murni melalui proses yang berkelanjutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia sangat kaya akan budaya, maka str

ategi dakwah pun juga harus sarat dengan budaya Indonesia, budaya nenek luhur ki ta. Namun, itu bukan ketentuan paten yang harus ditaati karena Muhammadiyah memb erI batasan-batasan dalam metode ini untuk menghindari TBC yang sudah menjadi ma kanan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Maka dari itu, strategi dakwah Muhamma diyah harus diperbaharui dengan adanya dakwah cultural, dakwah yang menggunakan metode approach (pendekatan) yang sudah tentu mengandung makna pengetahuan akan psikologis obyak dakwahnya. Jika itu dikembangkan maka hasilnya akan sangat sign ifikan dalam pelaksanaan misi Muhammadiyah yaitu sebagai organisasi yang membawa pembaharuan (tajdid) dan purifikasi (tanzih). Lantas kenapa terjadi kotroversi di kalangan umat Islam tentang seni dan Islam?, menurut Qardhawi tentang fenomena tersebut ada beberapa factor, yaitu; pertama, pemahaman tidak tepat terhadap hakikat seni, peran dan fungsinya. Kedua, interp retasi terhadap landasan ajaran agama Islam yang terdapat dalam al-qur’an. Ketiga, ekspresi seni merupakan refleksi masyarakat yang telah terpolusi oleh dekandens i moral, lunturnya nilai-nilai luhur bangsa, erosi akhlak dan budi mulia.lumpuhn ya sendi-sendi moral tersebut setidaknya dapat diperhatikan melalui ragam ekspre si seni dalam media. Lantas sejauh mana Muhammadiyah menerapkan pendidikan seni di kalangan masyraka t?, di sekolah muhammadiyah hampir dapat dipastikan bahwa pendidikan music, drum band, dan seni bela diri berjalan cukup maju. Itu seamua bukan tanpa alasan, ka rena dalam da’wahnya muhammadiyah mengintegralkan antara seni dan budaya sebagai g erakannya, karena dengan seni dan budayalah ajaran-ajaran Islam akan lebih mudah diterima dan dicerna, salah satu contohnya adalah music yang sangat berpengaruh dalam kehidupan nmasyarakat saat ini. Perlu kita tinjau sebelumnya tentang hakikat da’wah dalam perspektif Muhammadiyah yaitu, pertama sebagai kewajiban yang ditujukan untuk semua kalangan. Kedua, seb agai pembinaan kualitas manusia dalam pembentukan akhlaqul karimah. Ketiga, meto de yang digunakan harus bersandar dengan Al-qur’an dan As-sunnah. Muhammadiyah adalah gerakan yang ramah akan budaya local,melihat perjuangan dari pendirinya Kiai Dahlan (1869-1923) yang mengubah budaya masyarakat waktu itu me rupakan indikasi bahwa muhammadiyah sejatinya adalah kebudayaan yang berkemajuan yang ramah akan tradisi dan budaya local. Buku ini akan mengubah perspektif anda tentang muhammadiyah. Karena keringnya pa ham masyarakat tentang gerakan seni Muhammadiyah selama ini, yang jika ketidakpa hamannya itu terus berlanjut akan menimbulkan misi yang sangat berbeda dari mis i yang sebenarnya, maka dari itulah buku ini dinamakan “sebagi warisan intelektual yang terlupakan” dengan harapan performa dan prspektif muhammadiyahj kembali kepa da tujuan utamanya.