ZAKAT Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah.

Sedangkan sacara syar¶i ialah kadar harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang tertentu untuk di berikan kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan syara¶, yang di dalam al-Qur¶an terkadang disebut juga dengan istilah shodaqoh dan infaq. Dalam tinjauan Islam zakat mempunyai banyak peran, antara lain : Zakat adalah sarana pembersih jiwa; Menurut bahasa zakat adalah suci, maka seseorang yang berzakat pada hakikatnya untuk mensucikan diri (QS. At-Taubah : 103) Zakat merupakan realisasi kepedulian social; Zakat merupakan wujud dari kepedulian masyarakat Islam terhadap sesama muslim yaitu Ätakaful dan tadhomun³ (rasa sepenanggunagan). (QS. At-Taubah :71) Zakat sebagai sarana untuk meraih pertolongan Allah SWT; Allah SWT hanya akan memberikan pertolongan-Nya kepada hamba-Nya yang mematuhi ajaran-Nya, dan diantara ajaran Allah SWT adalah berzakat. (QS. Al-Hajj : 39-40) Zakat merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat harta. (QS.Ibrahim : 7) Zakat adalah salah satu aksiomatika dalam Islam; Zakat adalah salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan, sebagaimana rukun Islam yang lainnya. Demikian kokoh kedudukan zakat dalam Islam, sehingga pantas kalau Allah SWT mengancam orang yang tidak menunaikannya dengan ancaman yang keras di dunia dan di akhirat. Historis Pelaksanaan Zakat Periode Makkah; Pada periode ini perintah zakat masih bersifat mutlaq tanpa ada ketentuan yang rinci, ayat-ayat yang turun tidak dalam bentuk perintah, namun dalam bentuk berita. (QS. AlMukminun : 4) Oleh karena itu Ulama sepakat, bahwa yang dimaksud zakat pada periode Makkah adalah zakat mutlaq yang tidak terikat dengan jumlah tertentu baik dalam nishabnya atau kadar zakat yang harus dikeluarkannya. Periode Madinah; Pada periode ini ayat dan hadits tentang kewajiban zakat secara rinci telah diturunkan yaitu pada tahun 2 H, dan zakat pada periode ini langsung ditangani oleh tim khusus yang bertugass mengambil zakat dari kaum muslimin sebagai realisasi dari firman Allah SWT dalam surat at-Taubah ayat 103, bahkan zakat pada periode ini sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Islam, hal tersebut bisa kita pahami dari firman Allah SWT dalam surat at-Taubah ayat 5, 11, 18, 34, dan 35. Periode Khulafaurrosyiddin; Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, muncul sebuah gerakan yang disebut dengan: ³HARAKATURRIDDAH´ yang anggota-anggotanya tidak mau bahkan mengingkari kewajiban zakat dan pada saat itu Abu Bakar mengambil sikap tegas yaitu memerangi mereka. Pada awalnya sebagian sahabat tidak menyetujui sikap beliau terutama Umar bin Khottob ra., namun setelah Abu Bakar menjelaskan permasalahannya dan urgensi zakat dalam Islam barulah Umar tahu dan menyadari bahwa sikap Abu Bakar yang benar,

Umar pun akhirnya berkomentar: ³Demi Allah, tidak mungkin Abu Bakar mengambil sikap ini kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi, maka aku mengerti bahwa sikap itu benar´ dan dalam hal ini Abu Bakar memberikan pernyataan yang teas:´Demi Allah, akan aku perangi mereka-mereka yang membedakan antara sholat dan zakat, karena zakat adalah hak harta, demi Allah, seandainya mereka melarang aku untuk mengeluarkan zakat domba kecil yang pada masa Rasulullah saw ditunaikan, niscaya akan aku perangi mereka´ (lihat kisah selengkapnya dalam buku Naiul Author IV/119) Jenis Zakat dan Syarat-syaratnya; Secara global zakat dalam Islam diklasifikasikan kepada dua jenis ; yaitu Zakat Maal (zakat harta kekayaan) dan Zakat Nafs (zakat fitrah), deng an perincian sebagai berikut : Zakat Maal ; Adapun harta kekeyaan yang terkena wajib zakat ialah : Yang ada nashnya : a. Emas dan perak b. Harta perniagaan c. Binatang ternak (Unta, sapi, dan kambing) d. Hasil tanaman e. Hasil tambang dan harta karun Yang di istimbatkan : f. Saham g. Hasil profesi h. Benda-benda produktif dan yang lainnya Syarat-syarat zakat maal : 1. Halal 2. Kepemilikan penuh 3. Mencapai nishob 4. Berumur satu tahun (khusus untuk harta poin 1a, b dan c) 5. Bebas hutang 6.Kelebihan dari kebutuhan pokok minimal 7. Berkembang atau berpotensi untuk berkembang

Zakat Nafs (Zakat Fitrah); Adalah zakt yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim atas nama dirinya dan yang di bawah tanggung jawabnya, pada setiap menjelang Idul Fitri, bila pada dirinya ada kelebihan makanan untuk hari tersebut dan malamnya. Adapun jumlah zakat yang wajib dikeluarkannya adalah bahan makanan pokok sebesar 1 (satu) sha¶ setiap jiwa.

Golongan yang Berhak Menerima Zakat (QS. At -Taubah ± 60) ; 1. Fakir, ialah orang yang tidak memiliki pekerjaan atau memiliki tetapi penghasilannya kurang dari separo yang dibutuhkan. 2. Miskin, ialah orang yang memiliki pekerjaan dan penghasilannya lebih dari separo yang dibuthkan, tetapi tidak mencukupinya. 3. Amil, ialah orang uang bertugas mengelola zakat.

4. 5. 6. 7. 8.

Muallaf, ialah orang yang baru masuk Islam atau orang yang diharapkan masuk Islam. Hamba sahaya Orang yang mempunyai hutang Fi sabilillah, ialah orang yang sedang berjuang menegakkan agama Allah. Ibnu sabil, ialah orang yang sedang dalam perjalanan dan bekal perjalanannya tidak cukup.

Golongan yang Tidak Berhak Menerima Zakat ; 1. Orang kaya 2. Orang yang mampu bekerja 3. Orang kafir yang memerangi 4. Orang atheis 5. orang murtad 6. Ahludzimmah 7. Istri, Bapak/Ibu ke atas dan anak ke bawah 8.Keluarga Nabi Muhammad saw Sistem Zakat ; terdiri dari 3(tiga) komponen, yaitu : 1. Aghniyak (Muzakki), yang merupakan sumber pendapatan zakat 2.Amil, yang merupakan badan pengelola zakat 3. Mustahiq, yang merupakan pihak yang berhak menerima zakat Fungsi Amil : 1. Mengambil zakat dari Muzakki 2. Menyalurkan zakat kepada Mustahiq Apabila umat Islam memiliki pemahama yang utuh tentang zakat, yang didukung dengan adanya badan pengelola zakat yang terpercaya dan bekerja secara profesional, insya Allah akan banyak permasalahan umat yang dapat diselesaikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful