KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II : KASUS KABUPATEN LINGGA

KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II: KASUS KABUPATEN LINGGA

HANING ROMDIATI SRI SUNARTI PURWANINGSIH

COREMAP-LIPI PUSAT PENELITIAN KEPENDUDUKAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA LIPI

(PPK-LIPI), 2008

COREMAP-LIPI

beragam jenis ikan karang campuran maupun pelagis terdapat di perairan desa ini. cumi-cumi. Selain kepiting rajungan (ketam). Pengumpulan data/informasi mengenai pendapatan rumah tangga mendapat penekanan dalam kajian ini. Provinsi Riau pada tahun 2008 bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. tetapi juga mendorong perkembangan sektor industri pengolahan daging ketam (kepiting) yang dapat menyediakan kesempatan kerja kepada penduduk Desa Limbung. Desa Limbung yang merupakan wilayah kepulauan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dalam dua tahun terakhir tidak terlihat perubahan pemilikan dan penguasaan armada tangkap. Kabupaten Lingga. kecuali jumlah sampan yang cenderung meningkat. Tingginya potensi SDL tersebut bukan hanya dimanfaatkan sebagian besar penduduk sebagai sumber mata pencaharian utama. Teknologi penangkapan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong masih sederhana. karena bertambahnya nelayan yang hanya mencari ketam di perairan tidak jauh dari garis pantai yang tentunya K K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | iii . kajian ini mengumpulkan data rumah tangga dan individu tentang kondisi sosial-ekonomi terkait dengan pengelolaan terumbu karang. dan ikan bilis. dan (2) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10.000 rumah tangga pada akhir program. khususnya perempuan. karena indikator keberhasilan COREMAP dari aspek sosial ekonomi adalah (1) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun.RINGKASAN ajian BME Aspek Sosial Ekonomi di Desa Limbung. Kebanyakan penduduk menggunakan sampan dan pompong dengan ukuran mesin kecil (1217 PK). khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

khususnya oleh nelayan dari luar Desa Limbung. Akibatnya. iv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan penyauk untuk menangkap cumi-cumi. Kecenderungan penggunaan alat-alat tangkap yang tidak merusak terumbu karang tersebut sudah cukup lama terjadi. Disamping itu. penggunaan racun. Sebelumnya. Sudah sangat jarang ditemukan nelayan yang menggunakan parit gamat untuk menangkap teripang. kelong bilis. Pada umumnya nelayan juga menggunakan alat-alat tangkap sederhana dan cenderung tidak merusak terumbu karang. tampaknya sebagian nelayan memilih untuk berkonsentrasi pada penangkapan ketam dengan menggunakan bubu. parit gamat. Meskipun cenderung tidak ada spesifikasi terhadap jenis alat tangkap tertentu. Keadaan ini mendorong pengelola dan pelaksanan COREMAP Kabupaten Lingga untuk memilih kembali lokasi COREMAP I sebagai lokasi COREMAP II. termasuk oleh nelayan perempuan. dan jaring dasar untuk menangkap SDL cukup sering digunakan oleh nelayan setempat maupun nelayan luar. bubu ikan karang. Selama kurun waktu 2006-2008 telah terjadi perubahan penggunaan alat tangkap ketam. Bahkan. kira-kira sejak masyarakat mengenal COREMAP yang pertama kali diimplementasikan pada tahun 2000-an. ketika COREMAP I telah berakhir dan ada masa vakum sekitar dua tahun karena proses otonomi daerah dan pengalihan penanggung jawab COREMAP di daerah Lingga. yaitu dari jaring ke bubu. Perubahan alat tangkap tersebut didorong oleh kemudahan untuk mendapatkan bubu ketam dengan cara meminjam kepada tauke dengan harga yang lebih murah daripada jaring ketam. penggunaan alatalat tangkap yang merusak mulai dilakukan kembali. Jenis alat tangkap lain yang biasa dipakai oleh nelayan Desa Limbung adalah jaring ikan. terumbu karang di Desa ini telah mengalami kerusakan pada tingkat sedang.cukup dilakukan dengan menggunakan sampan. bubu ketam juga mudah dioperasikan. Keadaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kemudahan dalam menjual ketam yang dapat dilakukan setiap saat kepada penampung maupun langsung ke industri pengolahan ketam yang dalam dua tahun terakhir bertambah dari satu menjadi menjadi tiga buah.

sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. Demikian pula pelaksanaan COREMAP di Desa Limbung belum menunjukkan keberhasilan dalam upaya meningkatkan pendapatan penduduk maupun pengelolaan ekosistem terumbu karang. Sedangkan kendala pendanaan COREMAP II terjadi pada dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat. terlebih konflik kepentingan hampir dipastikan terjadi. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. Kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas dan hanya terkonsentrasi di satu dusun. pendanaan. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang tidak optimal. Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam satu komponen. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain. sehingga kualitas hasil kegiatan tidak baik. Terkait dengan kendala keterbatasan sumber daya manusia. Persoalan koordinasi. yaitu antara mendahulukan kegiatanCOREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. Bahkan.Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. LPSTK dan tiga pokmas (jender. jabatan rangkap dapat ditemukan pada semua koordinator komponen maupun Ketua PIU. kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. dan keterbatasan sumberdaya manusia sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. baik jabatan struktural maupun proyek. Akibatnya kegiatan usaha ekonomi Kasus Kabupaten Lingga | v .

. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah yang merupakan kelompok mayoritas.pada tahun 2006 menjadi Rp 967.300. vi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .000. yaitu dari 70 persen menjadi 51. karena sebagian besar rumah tangga mendapat penghasilan dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap. angka median hampir mendekati rata-rata pendapatan.per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1.360.produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal).700. Namun demikian. atau meningkat 89. rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) masih memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean). pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423. Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan.200. Dengan demikian.5 persen. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam. hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223. dampak kegiatan COREMAP terhadap pendapatan rumah tangga maupun pendapatan per kapita belum nampak dengan nyata. Bahkan pada tahun 2008. mengindikasikan semakin banyaknya rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan.per bulan. Sedangkan kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan sebesar 23.5 persen. Perubahan pendapatan dalam dua tahun terakhir tampaknya lebih disebabkan oleh faktor internal dan eksternal daripada karena implementasi kegiatan COREMAP dan program lain. yaitu dari Rp 948..per bulan). Dampak kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan terlihat dengan jelas di Desa Limbung. Hasil survei juga menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan)..pada tahun 2008..200. Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita..per bulan pada tahun 2008.2 persen (dari Rp 743. Pada tahun 2008. Peningkatan pendapatan rumah tangga sampel (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) sebesar 30 persen.050.

Kabupaten Lingga.Kenaikan pendapatan tertinggi terjadi pada musim ombak lemah. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | vii . yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari. Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga. Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian. yang saling terkait satu dengan yang lain. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini.7 persen). yaitu di Desa Limbung. Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan. Perbedaan perubahan pendapatan menurut musim tersebut dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal. Penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu. sehingga semakin banyak hasil tangkapan ketam. Setiap kali melaut bisa mengoperasikan lebih dari 20 buah bubu. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis. yaitu sebesar 45. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar. dipengaruhi oleh faktor internal. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut.7 persen. khususnya bubu ketam. Sedangkan kenaikan pendapatan rumah tangga pada musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar (15. yang berarti hasil penjualan juga semakin besar. eksternal dan struktural. sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah Alat tangkap ini dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM yang berarti mengurangi biaya melaut. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap.4 persen) daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4.

serta di provinsi sekitar. Dengan demikian. walaupun masih terbatas pada nelayan bermodal besar. Sedangkan dari faktor struktural cenderung belum memperlihatkan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. dan tokoh setempat. Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. Dengan harga jual yang cenderung stabil. Hal ni tentunya berdampak terhadap peningkatan pendapatan nelayan. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. diperoleh informasi bahwa faktor permintaan dan pemasaran tampaknya perupakan faktor penting dalam mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alat-alat tangkap). yaitu kepada penampung maupun langsung ke PT Ketam (industri pengolahan ketam). Dari faktor ekternal. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang. Pemasaran hasil tangkapan yang berupa ketam sangat mudah dilakukan. Wawancara mendalam dengan pihak nelayan. hasl yang diperoleh juga jauh lebih besar daripada hasil penjualan ketam atau cumi-cumi.Meskipun modal untuk memasang kelong bilis cukup besar. perubahan musim sedikit berpengaruh terhadap hasil tangkapan. tetapi hal ini juga terkait dengan perubahan alat-alat tangkap yang telah dikemukakan di atas. penampung. meningkatnya peluang pasar karena permintaan yang terus menerus dari pasar internasional terhadap daging ketam. Akses pemasaran ketam yang sangat baik tersebut tidak terlepas dari faktor permintaan daging ketam olahan dari Singapura yang cenderung terus meningkat. industri pengolahan ketam. Peningkatan pendapatan pada musim angin teduh adalah sangat erat kaitannya dengan penggunaan bubu ketam dan meningkatnya pemilikan kelong bilis dalam dua tahun terakhir. karena kelong bilis dapat menghasilkan setiap hari ketika bulan gelap (20 hari per bulan pada musim teduh hingga awal pancaroba). sedangkan hasil tangkapan ketam semakin banyak. COREMAP yang telah mengimplementasikan aktivitas usaha viii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. tentunya menambah penghasilan nelayan.

agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target”. Sedangkan program pemerintah lainnya adalah Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung.ekonomi produktif melalui pokmas produksi. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Meskipun bantuan ini lebih banyak diakses oleh nelayan pemodal besar dan penampung. Kredit usaha yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong. nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. Hal ini jelas berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas. kemungkinan besar karena jumlah bantuan tidak besar dan dilakukan secara perorangan. Kajian ini merekomendasikan perlunya memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan. Dengan demikian. Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata. tetapi indikasi ke arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masingmasing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan.sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil. sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. Demikian pula dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya. Sedangkan keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya. konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | ix . Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. jender. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga peserta program. dan konservasi.

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah melalui program kredit lunak kepada nelayan. terutama untuk meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung.usaha pemberdayaan ekonomi penduduk perlu dilakukan mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok. x | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

BME sosial-ekonomi bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan COREMAP di daerah dan mengumpulkan data mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat. khususnya tingkat pendapatan untuk memantau dampak program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xi . khususnya peningkatan pendapatan penduduk di lokasi COREMAP. Dengan adanya evaluasi dan masukan-masukan bagi pengelola dan pelaksana program. baik di tingkat nasional. Penelitian BME ekologi dilakukan setiap tahun untuk memonitor kesehatan karang. keberhasilan COREMAP dari indikator bio-fisik dan sosial-ekonomi dapat tercapai. Untuk melihat keberhasilan tersebut perlu dilakukan penelitian benefit monitoring evaluation (BME) baik ekologi maupun sosialekonomi. diharapkan dalam sisa waktu yang ada sampai akhir program fase II. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan dari aspek bio-fisik. agar sumber daya laut ini dapat direhabilitasi.ekonomi ini selain dapat dipakai untuk memantau perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat. Program ini telah berjalan kurang lebih tiga tahun atau pada pertengahan program.KATA PENGANTAR P elaksanaan COREMAP fase II bertujuan untuk menciptakan pengelolaan ekosistem terumbu karang. juga dapat dipergunakan untuk melakukan evaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program. kabupaten maupun di tingkat lokasi. Sedangkan dari aspek sosial ekonomi diharapkan pendapatan per-kapita penduduk naik sebesar 2 persen per tahun dan terjadi peningkatan kesejahteraan sekitar 10. Hasil BME sosil. sedangkan BME sosial-ekonomi dilakukan pada tengah dan akhir program. diproteksi dan dikelola secara berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Keberhasilan COREMAP dapat dikaji dari aspek bio-fisik dan sosial ekonomi.000 penduduk di lokasi program.

LIPI. Oleh karena itu. BME sosialekonomi ini dilakukan oleh CRITC-LIPI bekerjasama dengan tim peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI (PPK-LIPI) dan beberapa peneliti sosial dari kedeputian IPSK . tokoh masyarakat di lokasi Desa Limbung kami ucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Penghargaan dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI yang telah memberikan dukungan kepada tim peneliti melakukan studi ini. Kami juga memberikan penghargaan setinggitingginya kepada semua narasumber dari berbagai unsur pengelola COREMAP di tingkat kabupaten: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. pemimpin formal dan informal. kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna meskipun tim peneliti telah berusaha sebaik mungkin dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki.Buku laporan ini merupakan hasil dari BME sosial-ekonomi yang dilakukan pada tahun 2008 di lokasi-lokasi Coremap di Indonesia Bagian Barat (lokasi Asian Development Bank/ADB). CRITC Kabupaten Lingga dan berbagai pihak yang ada di daerah yang telah membantu memberikan data dan informasi. Ono Kurnaen Sumadhiharga. kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan laporan ini. Pada akhirnya. Terlaksananya kegiatan penelitian dan penulisan buku laporan melibatkan berbagai pihak. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para pewawancara yang telah membantu pelaksanaan survai. Kepada para informan: masyarakat nelayan. DR. MSc xii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Jakarta. Desember 2008 Direktur NPIU CRITC COREMAP II-LIPI Prof. Unit pelaksana COREMAP di Kabupaten Lingga. ketua dan pengurus LPSTK dan POKMAS.

4. Sarana dan Prasarana 2.DAFTAR ISI RINGKASAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR MATRIKS DAFTAR GAMBAR DAFTAR PETA DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1.2.4.3.3.2.1. Teknologi Penangkapan 2. Wilayah pengelolaan 2. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL 2.5.2. Kependudukan 2. Keadaan Sumber Daya Alam 2. Potensi Sumber Daya Alam dan Pengelolaannya 2.3. Pembabakan Penulisan PROFIL LOKASI PENELITIAN 2.2.3. Pendidikan dan Ketrampilan 2.2.2. Tujuan 1. Kesejahteraan iii xi xiii xv xvii xix xxi xxiii 1 1 3 4 7 9 9 13 13 18 23 31 32 35 36 37 40 47 BAB II K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xiii .2. Pekerjaan 2. Latar Belakang 1.4.1. Kondisi Geografis 2.3.2. Jumlah dan Komposisi Penduduk 2.3.3.3.1.2. Metodologi 1.1.

Faktor Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga 4. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/ CRITC) 3.2. Pelaksanaan COREMAP: Permasalahan dan Kendala 3.BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA 3.2.1. Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan 4.1.2. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa 3.1. Rekomendasi 53 54 55 66 67 83 95 95 96 100 107 107 112 114 121 121 130 135 DAFTAR PUSTAKA xiv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal 4.2. Kesimpulan 5.1.1.2.1. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten 3. Pengetahuan Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Program COREMAP BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4.1.1.2.1. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan 4.1.2. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.2.2.1.3. Pendapatan Rumah Tangga dan Perubahannya 4. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural 4.3.

94 Tabel 4.5. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset. Desa Limbung. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan UEP COREMAP Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Mengenai Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan. 2006 dan 2008. 97 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xv .1.DAFTAR TABEL Tabel 2. Desa Limbung.7. Desa Limbung.1. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) 48 Tabel 3. Kabupaten Lingga.6. 91 92 Tabel 3. 87 Tabel 3.1.2. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II. 85 Tabel 3.4.3. 93 Tabel 3. Tabel 3. 89 Tabel 3.

Tahun 2006 dan 2008 (%) 99 Tabel 4.3. Desa Limbung. Kabupaten Lingga Utara. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim. 106 xvi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . 105 Tabel 4. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga. Desa Limbung.4. Kabupaten Lingga Utara. Tahun 2006dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim.Tabel 4.2.

Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program.1.1. Jumlah Anggota & Nama Ketua 12 22 77 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xvii .DAFTAR MATRIKS Matriks 2. Matriks 3. Matriks 2.2.

xviii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Desa Limbung. Desa Limbung. Kabupaten Lingga. Kabupaten Lingga.3. 46 Gambar 4.4. Kabupaten Lingga. 2006 dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan. 102 Gambar 4.2. 98 Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.5. Desa Limbung. Desa Limbung. Kabupaten Lingga.3. 45 Gambar 2. Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan. Tahun 2006 dan 2008 38 Gambar 2. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. Desa Limbung. 42 Gambar 2. 2008 104 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xix .1. Desa Limbung. 41 Gambar 2.2. Kabupaten Lingga. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi. Desa Limbung. Kabupaten Lingga. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan.1. Kabupaten Lingga. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan. Kabupaten Lingga.

xx | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

2. Desa Limbung dan Sekitarnya Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung 10 21 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxi . Peta 2.DAFTAR PETA Peta 2.1.

xxii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Desa Limbung. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Tabel 2. Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan. Jenis. Desa Limbung. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin. Kabupaten Lingga 137 138 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxiii .2. 2008 Lampiran Tabel 2.1.

Upaya merehabilisasi dan mengelola terumbu karang di perairan Desa Limbung telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1998 melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP). Program ini diimplementasikan pada kawasan yang dianggap banyak ditemukan ekosistem terumbu karang dan perlu dipelihara atau diperbaiki kondisinya. dan di akwasan tersebut telah terjadi kerusakan terumbu karang. pukat) merupakan faktor penting penyebab kerusakan terumbu karang. Kerusakan terumbu karang di Indonesia karena penangkapan ikan secara berlebihan diperkirakan mencapai 64 persen dari luas keseluruhan (Sutanta. Kabupaten Lingga. Sementara itu. COREMAP telah diimplementasikan di desa-desa yang penduduknya menggantungkan hidup dari SDL. Kegiatan penangkapan SDL berlebih dan menggunakan alat-alat penangkapan yang tidak ramah lingkungan (seperti bom. Kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan alam atau lingkungan sebagai akibat pengrusakan pengambilan SDL secara berlebihan agar tidak mengganggu kehidupan ekonomi nelayan di kawasan tersebut pada masa datang. Dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Kerusakan terumbu karang juga terjadi di perairan laut Limbung. Program nasional ini merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mengatasi penurunan populasi sumber daya laut (SDL) di Indonesia. namun kerusakan terumbu karang di Indonesia cenderung lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia. LATAR BELAKANG E kosistem terumbu karang sangat rentan terhadap proses alam dan perilaku manusia yang merusak. penangkapan ikan dengan metode merusak menyumbang 53 persen kerusakan terumbu karang di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau. khususnya terumbu karang. 2008). Berdasarkan hasil Kasus Kabupaten Lingga | 1 . sianida.BAB I PENDAHULUAN 1.1.

membagi tingkat kerusakan berdasarkan persentase tutupan karang hidup.75 persen. memberikan akses mata pencaharian alternatif. Selain karena faktor alam.penelitian Puslit Oseanologi (P20)-LIPI pada tahun 2006 dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). Oleh karena itu. pelaksanaan COREMAP fase II yang pada tahun 2008 ini telah memasuki tahun ke tiga diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan pada fase sebelumnya. berada dalam tingkatan sedang dengan tutupan karang hidup sebesar 30. kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut juga terjadi akibat aktivitas manusia.94 persen (CRITC-LIPI. 2007). Tutupan karang di perairan Limbung tersebut merupakan angka terendah dibandingkan dengan tujuh stasiun pengamatan lainnya di perairan Lingga Utara. kondisi terumbu karang di Limbung paling buruk. 2 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan perbaikan fungsi pemerintahan. COREMAP di Desa Limbung didanai oleh Bank Pembangunan Asia (Asean Development Bank-ADB) yang telah dilakukan sejak fase I. dan rusak berat: < 25 persen. menggunakan metode line intercept transect. dua lembaga yang mengukur kondisi terumbu karang berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. meskipun terjadi kenaikan tutupan terumbu karang hidup sekitar 9. Salah satu komponen kunci COREMAP adalah pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat (PBM). Selain itu. tetapi tampaknya masih terdapat beberapa kekurangan. yang terletak berdekatan dengan Desa Limbung. yaitu menggabungkan aspek tehnis 1 LIPI dan COREMAP. kegiatan COREMAP juga mencakup upaya pengentasan masyarakat dari kondisi kemiskinan.50 persen. rusak: 25 . Dibandingkan dengan stasiun pengamatan lainnya.9 persen1. kerusakan karang di perairan Duara. Penggunaan parit gamat untuk menangkap teripang dan pelanggaran wilayah tangkap di daerah perlindungan laut merupakan dua faktor penting yang mengakibatkan terjadinya kerusakan terumbu karang di perairan laut Limbung. bagus: 50 . Program ini merupakan program nasional yang dirancang untuk menekan laju kerusakan dan membenahi/merehabilitasi terumbu karang. Coremap fase I telah selesai dilaksanakan di Desa Limbung. Kondisi sangat bagus jika persentase tutupanya > 75 persen.

kabupaten. Secara detail tujuan survei BME meliputi: 1. khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Mengidentifikasi permasalahan dan kendala pelaksanaan Program COREMAP di daerah Kasus Kabupaten Lingga | 3 . Sedangkan indikator keberhasilan dari aspek sosialekonomi adalah: (a) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun. maupun nasional. dan (b) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10. Tujuan umum PBM adalah untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut dan ekosistem terumbu karang agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.pengelolaan dan aspek-aspek sosial. Untuk mengetahui pencapaian indikator keberhasilan COREMAP telah ditentukan suatu cara monitoring yang dikenal dengan Benefit Monitoring Evaluation (BME). sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. yaitu dilihat dari aspek bio-fisik dan sosial-ekonomi. 2005). 1. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan Coremap dari aspek bio-fisik. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. manfaat dari kegiatan BME bagi pengelola program adalah sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan.2. yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program di tingkat lokasi. Kegiatan BME sosial-ekonomi dilaksanakan pada pertengahan dan akhir tahun program. lembaga donor telah menentukan indikator keberhasilan. TUJUAN Survei “Benefit Monitoring Evaluation Aspek Sosial-Ekonomi COREMAP” merupakan kelanjutan dari “Studi Aspek Sosial Terumbu Karang tahun 2006”.000 rumah tangga pada akhir program (Project Appraisal Document. Dengan demikian. Dalam rangka melihat pencapaian program.

karena responden yang terdahulu tidak ada di tempat selama survei dilakukan. 4 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Lokasi penelitian adalah Desa Limbung. Namun demikian. Bahkan. Kecamatan Lingga Utara yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. Menggambarkan perubahan tingkat pendapatan masyarakat untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap kesejahteraan masyarakat. meninggal (sedang ART bergabung dengan kerabat). pemilihan rumah tangga sampel merupakan responden yang disurvei pada tahun 20062). Pemilihan rumah tangga pengganti diupayakan mempunyai kemiripan karakteristik sosial-ekonomi dengan rumah tangga yang digantikan. dan pindah ke luar desa. lokasi penelitian adalah desa yang juga dipilih pada kegiatan survei pada tahun 2006. 1. Pendekatan kuantitatif dimaksudkan untuk mendapatkan data primer yang bersifat kuantitatif. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan alasan karena Desa Limbung merupakan salah satu desa dari tujuh desa yang merupakan lokasi implementasi COREMAP fase I maupun fase II. tetapi penelitian BME sosial-ekonomi hanya dilakukan di dua dusun. METODOLOGI Penelitian BME ini merupakan studi yang bertujuan untuk memantau pelaksanaan Program COREMAP yang sudah berjalan. Mengkaji pemahaman COREMAP masyarakat mengenai Program 3. Pengumpulan data BME aspek sosial-ekonomi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. sedangkan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan 2 Pemilihan rumah tangga dilakukan dengan metode sampel secara acak sistematis (sistematic random sampling).3. Sebagaimana dengan pemilihan lokasi penelitian. direncanakan dusun tersebut akan terpisah dari Desa Limbung menjadi desa tersendiri. Oleh karena itu. karena satu dusun lainnya (Linau) tidak menjadi lokasi COREMAP.2. sebanyak delapan (8) rumah tangga sampel harus diganti. Meskipun Desa Limbung meliputi tiga dusun.

Survei dilakukan dengan cara tatap muka dengan responden. dan observasi. Data yang diperoleh dari survei adalah data rumah tangga dan individu. Data rumah tangga ditanyakan kepada kepala rumah tangga (KRT) atau ART dewasa yang mengetahui tentang kehidupan rumah tangga bersangkutan. Sedangkan informan di tingkat kabupaten adalah koordinator/anggota komponen COREMAP Kabupaten Lingga. ketua dan anggota Pokmas. Sedangkan pada tingkat individu. pengetahuan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta keterlibatan ART terpilih. Pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Informan di tingkat desa adalah nelayan. Sebanyak 7 orang pewawancara yang telah mendapat pelatihan. data/informasi yang dikumpulkan adalah pengetahuan dan partisipasi ART terpilih (responden) dalam kegiatan COREMAP. diskusi terfokus (FGD). dan pemilikan aset rumah tangga). sehingga dapat dipakai untuk analisis perubahan pendapatan. LSM.pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. Sedangkan data individu diperoleh dari ART berusia > 15 tahun yang dipilih dengan cara acak insidental/kebetulan (pada saat dilakukan survei ada di tempat). Selanjutnya. pendapatan. atau sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada survei tahun 2006. dan fasilitator. serta dampak COREMAP terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Wawancara mendalam ditujukan pada informan di tingkat lokasi/desa dan kabupaten. serta materi pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. yaitu dengan melakukan survei terhadap rumah tangga terpilih. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang maksud dan tujuan pengumpulan data. pemuka masyarakat (formal maupun informal). membantu dalam pelaksanaan survei. anggota masyarakat lain yang diperkirakan mengetahui tentang pengelolaan terumbu karang. serta pelaksanaan kegiatan COREMAP. Data rumah tangga mencakup kondisi demografi anggota rumah tangga dan kondisi ekonomi (pekerjaan. Sedangkan Kasus Kabupaten Lingga | 5 . Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan data di tingkat rumah tangga. dan tenaga pendamping. kuesioner yang telah terisi diperiksa oleh tim peneliti untuk melihat kelengkapan data dan konsistensi jawaban.

dan degradasi lingkungan. Observasi lapangan hanya dilakukan di tingkat desa. Sedangkan analisis data kualitatif yang dilakukan dengan tehnik analisis kontekstual (content analysis) dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. kebijakan/program terkait dengan program COREMAP. Informasi yang dikumpulkan dengan pendekatan kualitatif meliputi berbagai aspek terkait dengan program dan kegiatan pengelolaan terumbu karang dan sumber daya laut. 6 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Desk review terhadap hasil penelitian/kajian sebelumnya. Data yang dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif adalah data/informasi yang tidak diperoleh dari kegiatan survei. Analisis data kuantitatif berfokus pada perubahan kondisi sosial ekonomi rumah tangga.FGD di tingkat kabupaten dilakukan pada tujuh orang tenaga pendamping COREMAP di Kabupaten Lingga. khususnya perubahan pendapatan. dengan penekanan pada faktor yang mempengaruhi perubahan pendapatan serta isu-isu yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. FGD di desa penelitian juga dilakukan dengan peserta berasal dari kelompok nelayan dan anggota Pokmas. kondisi daerah. dan bahan-bahan dokumentasi lain yang relevan juga dilakukan untuk menambah pemahaman tentang BME dari aspek sosial ekonomi. sehingga dapat saling melengkapi dengan data kuantitatif. produksi dan pemasaran SDL. lokasi dan wilayah penangkapan. Pendekatan kualitatif dalam penelitian BME aspek sosial ekonomi juga digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang tersedia di instansi-instansi pemerintah dan non-pemerintah. yaitu untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman tentang keadaan lokasi penelitian dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil survei dianalisis dengan menggunakan tabulasi frekuensi dan tabulasi silang untuk mengetahui keterkaitan antara variabel-variabel yang dianalisis.

potensi sumber daya alam darat dan laut. Deskripsi tentang kondisi daerah penelitian terdapat pada Bab II yang meliputi kondisi geografis. wilayah pengelolaan dan kapasitas penangkapan sumber daya laut. Kasus Kabupaten Lingga | 7 . Kecamatan Lingga Utara. Sedangkan analisis tentang pendapatan penduduk dan perubahannya serta faktor yang mempengaruhinya dibahas pada Bab IV. tujuan dan metodologi penelitian. Sebagai akhir tulisan adalah Bab V yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan rekomendasi yang merupakan pemikiran-pemikiran untuk pertimbangan dalam penyusunan perencanaan.1. pelaksanaan dan pengelolaan terumbu karang. Kabupaten Lingga” ini terdiri dari lima bab. PEMBABAKAN PENULISAN Laporan peneitian “BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung. Selanjutnya Bab III berisi uraian tentang pelaksanaan dan pengelolaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. Bab I adalah bab pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang dilakukannya kajian Benefit Monitoring Evaluation SosialEkonomi.4. saranaprasarana terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan kesejahteraan penduduk. serta kondisi kependudukan.

8 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Jarak antara Desa Limbung dengan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga. selanjutnya ke Desa Limbung dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.BAB II PROFIL LOKASI PENELITIAN 2. Kota Daik. sehingga bila hujan sulit untuk keluar desa menuju kota kabupaten (Kota Daik) atau desa sekitarnya. Kecamatan Lingga Utara termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga.1. Namun sarana jalan ini dibandingkan pada saat survey data dasar COREMAP (2006) kondisinya semakin parah. Kecamatan ini terbentuk bersamaan dengan perubahan status wilayah administrasi. Desa Pekaka di sebelah barat. dan Dusun Linau. KONDISI GEOGRAFIS esa Limbung adalah salah satu desa dari 36 desa yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lingga Utara3 dengan luas wilayah 40. Dari dermaga ini disambung dengan transportasi darat menuju Kota Daik. dan Desa Bukit Harapan di sebelah selatan. yaitu dari Kecamatan Lingga menjadi Kabupaten Lingga yang merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau (pada saat ini menjadi Provinsi Kepulauan Riau). kemudian disambung dengan pompong hingga Dermaga Tanjung Buton. Jalur lain untuk menuju Desa Limbung dari pelabuhan Tanjung Pinang langsung Kecamatan Lingga (Dermaga Pancur). tak jauh jauh dari Dermaga Tanjung Buton yang masih dalam proses penyelesaian. sekitar 37 kilometer yang dapat ditempuh melalui jalan darat4. Desa Sei Pinang. dan Desa Teluk di sebelah timur (lihat Peta Desa Limbung). Desa Keton. Alat transportasi umum yang menghubungan ibukota Propinsi Kep. 4 3 D Kasus Kabupaten Lingga | 9 . Riau (Tanjung Pinang) dengan ibukota Kabupaten Lingga (Daik) adalah fery yang berlabuh di dermaga. desa ini terbagi atas tiga dusun yaitu Dusun Centeng. kemudian disambung dengan pompong langsung ke desa. Desa Limbung berbatasab dengan Kecamatan Senayang di sebelah utara. Pada struktur pemerintahan Desa Limbung.408 km2. Dusun Sinempek.

Tikus. Kekek.Selain tiga dusun tersebut.1. Telum. Baruk. penduduk jarang yang melalui jalan darat dan lebih memilih jalan laut bila hendak keluar atau masuk ke Dusun Sinempek. Transportasi antar desa atau dusun umumnya dilakukan melalui laut menggunakan pompong atau sampan. Peta 2. Jalan darat yang ada hanya menghubungi Dusun Centeng dan Dusun Sinempek namun kondisinya sangat buruk. P. Malang Sekateh. Dusun Centeng ada Kampung Seranggas. Misalnya. Desa Limbung dan Sekitarnya Sumber : Bappeda Kabupaten Lingga. Desa Limbung terdiri dari wilayah pulau dan pesisir yang dikelilingi oleh lautan. Sebagai kawasan kepulauan. P 10 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Seranggas. P. P. Luas pulau-pulau tersebut berkisar antara 1 – 3 hektar dan di antaranya ada yang tidak berpenghuni. 2005. P. Jakok. terdapat beberapa ’dusun kecil’ yang masuk dalam lingkup tiga dusun dan penduduk menyebutnya ’kampung’. Dusun Sinempek ada Kampung Air Kelat dan Kampung Sei Nona. Oleh karena itu. Beberapa pulau yang menjadi tempat masyarakat mencari ikan dan berkebun antara lain adalah P. P. terutama pada saat hujan atau setelah hujan. P.

musim barat.. dan musim utara yang sangat mempengaruhi nelayan dalam mencari SDL (lihat matriks 2. terutama di daerah perbukitan. Keempat musim tersebut adalah musim timur. Penduduk ada yang mengatakan. 40. Penduduk ada yang membawa kayu tersebut ke luar Desa Limbung sebagai salah satu kegiatan mereka. namun kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal.000. secara periodik (3 kali seminggu) ada kapal motor pengumpul ikan dari K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 11 . namun jalan-jalan ke desa ini terlanjur hancur. Kondisi alam ini mulai dirasakan nelayan dengan ketidakteraturannya cuaca di kawasan Limbung atau perairan di sekitar tempat mencari ikan. Para nelayan Limbung mencari ikan di sekitar pulau-pulau tersebut karena dengan peralatan yang sederhana mereka kurang berani untuk pergi melaut dengan jarak jauh. Pada saat ini pengambilan kayu memang berkurang karena adanya larangan untuk menebang kayu. iklim di kawasan Limbung mulai menunjukkan ketidakteraturan. Apabila akan ke kota kecamatan (Pancur) menggunakan perahu motor umum (sewa) atau terlebih dahulu naik ojek/motor hingga Desa Resun dengan sewa Rp.-. sehingga dianggap tanah milik keluarga.1.per orang. Alat tranportasi umum (laut) antar pulau atau dusun belum ada. mungkin pemanasan global mulai memasuki kawasan Limbung. Namun secara umum kawasan ini dipengaruhi oleh empat (4) musim dengan ciri-ciri tiupan angin berbeda-beda yang berpengaruh terhadap gelombang laut di kawasan tersebut. Hantu. kemudian dilanjutkan angkutan perahu motor hingga Pancur Rp. sehingga sulit untuk keluar masuk Desa Limbung. Pada dataran tinggi terdapat kawasan hutan yang kayunya dimanfaatkan masyarakat untuk dijual maupun digunakan sendiri. Sedangkan tanah yang tidak berpenghuni ada yang telah dikelola penduduk secara turun-temurun. dan P. bergelombang. namun secara topografi desa ini berbentuk datar. Walaupun desa ini terletak di wilayah pesisir.000. berbukit dengan tingkat kemiringan cukup tajam. di bawah ini). musim selatan.Terumbu Terap. 5. Selain itu. sehingga berpengaruh dalam melakukan kegiatan kenelayanan. Akhir-akhir ini. Dampak dari kegiatan ini jalan menjadi jelek dan bila hujan sangat licin karena belum diaspal.

yaitu ojek antara Rp. Sewa kendaraan Daik – Limbung cukup mahal.satu kali jalan (tahun 2008). Transportasi jalur Limbung – Pancur ini cukup ramai.000. Musim Angin Timur Angin Selatan Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Bulan Maret – Mei Kondisi Laut • Angin lemah • Gelombang tenang • Pancaroba • Kadang2 angin & hujan. karena Pancur adalah tempat penduduk Limbung melakukan transaksi penjualan hasil laut dan berbelanja kebutuhan nelayan dan rumah tangga. penelitian BME – COREMAP. Sedangkan transportasi umum dari Daik menuju Desa Limbung belum ada. dan hujan • Sering dengan waktu yang lama • Gelombang kuat 12 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  ..Pancur ke perairan Desa Limbung yang kadang-kadang bisa ditumpangi penduduk yang akan ke Pancur atau sebaliknya tampa membayar. Transportasi laut dari Daik ke Limbung adalah melalui Kota Kecamatan Lingga Utara (Pancur) yang jaraknya sekitar 47 kilometer.000. gonggong. Pada umumnya penduduk Limbung menggunakan perahu motor/pompong milik sendiri atau menumpang pompong orang lain dengan memberi uang untuk pembeli bahan bakar minyak.000. 2008 Angin Utara Januari – Maret • Pancaroba • Tiba2 angin ribut.dan sewa kendaraan sekitar Rp.Rp. Matriks 2. kecuali ojek motor dan penyewa kendaraan pribadi yang berdomisili di Daik. berawan. ikan. kepiting..1. 40.. teripang • Melaut namun diiringi rasa khawatir karena cuaca yang tibatiba berubah • • • • Juni September Angin Barat (Ulu Barat) September – Desember • Tidak melaut libur • Menebar jaring atau memancing ikan di pinggir pantai Sumber: Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung.. bilis. tapi sebentar Kegiatan Melaut Persiapan melaut Setiap hari melaut Panen ikan & SDL lain Menurunkan semua alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan SDL yang ada di perairan Limbung • Setiap hari • Panen cumi. 50. 300.

2. Lingga. penduduk pun memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk pembuatan tiang pancang kelong bilis dan papan untuk dinding rumah penduduk. Keadaan Sumber Daya Alam Sumber Daya Darat Sumber daya darat yang ada di Desa Limbung mencakup hutan primer. Oleh karena itu. Kondisi ini makin parah dengan adanya penebangan liar.2. dan kehutanan. yaitu kakao. pertanian (tanaman keras dan pangan). yang kayunya dijual ke luar Desa Limbung.1. cengkeh. Beberapa jenis tanaman perkebunan tersebut juga terdapat di Desa Limbung yang umumnya masih K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 13 . 2007: 25).2. Akhir-akhir ini memang telah dilakukan berbagai tindakan terhadap penebang liar. Pada saat ini kondisi hutan primer semakin berkurang dengan adanya pembalakan kayu yang cukup tinggi. baik yang terdapat di darat maupun di laut. Begitu pula dengan sumber daya laut (SDL). Sedangkan hasil tangkapan lain seperti beragam jenis ikan karang campuran dan pelagis walaupun bukan tangkapan pokok nelayan. dan sagu. dan pertambangan. potensi pokoknya adalah kepiting rajungan. dan ikan bilis. walaupun tidak berskala besar juga dikembangkan beberapa jenis komoditas perkebunana lain yang cukup potensial. perkebunan. Kira-kira sebagian dari luas daratan desa ini memiliki potensi di sektor pertambangan. Selain itu. Kondisi tanah di Kabupaten Lingga juga cocok untuk lahan perkebunan. baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyarakat. dan kopi (BPS Kab. gambir. terutama pada saat pembukaan hutan untuk daerah transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit. Selanjutnya akan dideskripsikan kondisi sumber daya darat dan sumber daya laut yang berpotensi di Desa Limbung. lada. kabupaten ini telah mengembangkan beberapa jenis komoditas yang dianggap cukup besar antara lain adalah kelapa. namun cukup banyak dijumpai di perairan Limbung. cumi-cumi. 2. namun kondisi hutan sudah parah dan kayunya pun makin menipis. POTENSI SUMBER DAYA ALAM DAN PENGELOLAANNYA Desa Limbung walaupun tidak luas namun memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang cukup kaya. karet. perkebunan keras. Selain itu.

kelapa dan karet. Bahkan menurut pemilik pabrik. Apalagi pada saat evaluasi ini dilakukan. Kecamatan Lingga Utara memiliki lahan sagu paling luas yaitu 841. telah lama mengusahakan tanaman karet. Berdasarkan luas perkebunan sagu yang menghasilkan (1. Produksi pabrik yang berupa tepung tersebut dikirim ke Palembang dengan kapal melalui Jambi. kebutuhan akan tepung sagu cukup tinggi namun pemasok masih kurang dan terbanyak dari kebunnya sendiri. Luas kebun karet hanya sekitar 7 persen dari luas daratan Desa Limbung. luas kebun sagu sekitar 250 ha. Khusus Desa Limbung. sehingga hasilnya pun tidak maksimal dan hanya untuk memenuhi kebutuhan 14 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .68 ha. terutama mereka yang berdiam di wilayah daratan. Antara lain jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat Desa Limbung adalah tanaman sagu. harga karet sedang tinggi sehingga penduduk mulai bersemangat mengusahakan kembali perkebunan karet mereka. dan disadap ketika permintaan pasar tinggi. namun bila pohan-pohan karet yang telah tua tersebut direvitalisasi tampaknya akan berpotensi untuk dikembangkan. Ini disebabkan penduduk yang membuka lahan sagu masih terbatas dan mereka lebih suka pergi melaut daripada berkebun sagu. Mengingat prospek kebutuhan tepung sagu cukup baik.492. namun umumnya kondisi pohon karet tersebut berusia cukup tua. dan terluas banyak dijumpai di Dusun Sinempek. maka sebaiknya areal kebun sagu lebih diperluas karena kondisi tanah di dusun ini cocok untuk tanaman ini. Lingga.merupakan perkebunan rakyat.01 ha. Perkebunan kelapa yang ada di Desa Limbung umumnya tumbuh secara alamiah dan tidak diusahakan secara profesional. Pemanfaatan lahan untuk kebun karet masih sistem kebun rakyat. 2007: 37). Wilayah kebun sagu di Kabupaten Lingga hanya terdapat di Kecamatan Lingga Utara dan Kecamatan Lingga dengan total luas 3. Walaupun belum banyak penduduk yang membuka perkebunan karet.36 ha (BPS Kab. Penduduk Desa Limbung.382. tampak ada perawatan. Situasi ini juga berpengaruh terhadap penduduk lain yang juga bersemangat membuka lahan mereka untuk ditanami karet.) di kedua kecamatan tersebut. Perkembangan perkebunan sagu di Sinempek cukup baik terutama dengan adanya pabrik tepung sagu di dusun tersebut.

pemerintah kabupaten bersama perusahaan swasta berencana untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Limbung. walaupun sulit bila masyarakat mau mengelola lahannya secara optimal untuk tanaman palawija mungkin dapat berhasil. namun tampaknya usaha ini tidak berjalan dengan semestinya. dan buah yang banyak dijumpai di daerah transmigrasi. Pengembangan pada usaha pertanian pangan ini. Sedangkan masyarakat setempat atau orang Melayu jarang yang mengolah lahan kering atau kebun. Apalagi harga jualnya rendah dan bila dibawa ke luar desa tranportasinya cukup mahal. Dalam hal ini. Lingga. karena umumnya mereka tidak biasa pergi melaut. Misalnya usaha produksi kopra atau makanan terbuat dari kelapa.sendiri. Situasi ini berdampak terhadap kekecewaan penduduk yang sangat berharap terhadap usaha perkebunan kelapa sawit. Mungkin usaha perkebunan kelapa dapat berkembang di desa ini bila ada penduduk yang mengusahakan pengolahan produksi kelapa yang dapat mendorong penduduk untuk berkebun secara profesional. 2007: 12). bila ada Pokmas MPA-COREMAP yang memulai dan diberi pelatihan atau bimbingan cukup mungkin usaha ini dapat menjadi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 15 . dan bila ada tumbuh yang menghasilkan umumnya adalah tanaman liar atau tidak dipelihara. Sebagai daerah pesisir. Berdasarkan data Kabupaten Lingga dalam Angka 2006. Khusus Desa Limbung. kountur tanah Kecamatan Lingga Utara cocok untuk lahan pertanian pangan. Masyarakat transmigran sejak awal di desa ini yang membuka lahan pertanian tampa irigasi atau lahan kering. Bahkan menurut informasi yang diperoleh. Pada saat surveI data dasar aspek sosial ekonomi terumbu karang dilakukan (tahun 2006). perusahaan akan mengalihkan lahan untuk kelapa sawit tersebut untuk tanaman jagung. terutama Pulau Lingga. potensi pohon kelapa perlu menjadi perhatian sebagai alternatif mata pencarian apabila tidak melaut. Walaupun lahan untuk perkebunan ini telah dibuka. yaitu lokasi transmigran Dusun Linau. sayuran. jenis tanaman pangan yang dominan adalah palawija. Tanah-tanah mereka tidak atau jarang yang dirawat atau dibuka untuk sebagai usaha pertanian atau kebun. karena mereka umumnya pergi melaut. Pulau Singkep dan beberapa pulau di Kecamatan Senayang (BPS Kab.

Besarnya potensi dua jenis biota laut ini menjadikan Desa Limbung sebagai pemasok ketam. pemerintah harus mempunyai perencanaan yang jelas dan tidak sembarangan dalam memberikan ijin pada pengusaha yang ingin membuka usaha tambang di Kawasan COREMAP. Kawasan daratan Kabupaten Lingga ada beberapa jenis pertambangan yang berpotensi cukup menonjol.mata pencaharian alternatif bagi penduduk Desa Limbung. Di Desa Limbung yang sudah dieksplorasi adalah pertambangan pasir di sekitar Air Kelat dan melibatkan perusahaan swasta yang dieksport ke negara tetangga (Singapura). bahkan ke Negara Singapura. ikan bulat. sekitar tahun 2000-an. dan kembung. antara lain adalah boksit. terdapat juga berbagai jenis ikan pelagis seperti ikan tenggiri. baik berbagai jenis ikan maupun non-ikan. Kondisi ini terntu akan berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya laut. Usaha ini sudah berlangsung lama. cumi-cumi. Namun larangan tersebut muncul setelah pasir di lokasi itu telah terkeruk dan pantainya terlihat rusak. delah. termasuk terumbu karang. dalam volume besar dan sekitar dua tahun silam ditutup karena ada larangan untuk penambangan pasir. SDL ikan yang banyak terdapat di perairan Limbung adalah ikan bilis/teri. ikan karang seperti kerapu. pasir. dan batu granit. walaupun potensi tambang seperti batu granit ada di sekitar desa ini. ungar. teripang dan gonggong atau siput. ikan merah. Meskipun ikan 16 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Sumber Daya Laut Perairan kawasan Desa Limbung mengandung potensi sumber daya laut. Selain itu. termasuk Kawasan Limbung. sangerat. Kegiatan pertambangan lain belum muncul di kawasan Desa Limbung. dan dingkis. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah bagi penduduk Limbung. Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem SDL. ikan bilis. sehingga tidak tergantung pemasokan dari luar seperti Pancur dan Daik. pari. yang produksinya cukup besar. Jenis-jenis SDL yang menonjol di perairan sekitar Desa Limbung dan merupakan hasil tangkapan utama nelayan antara lain adalah kepiting/ketam. cumi-cumi dan ikan bilis ke Tanjung Pinang dan Batam.

Untuk mengembangkan usaha ini dibutuhkan biaya cukup besar untuk membangun tempat pemeliharaan ikan dan membeli bibit ikan kerapu yang harganya cukup mahal. namun kepada pedagang ikan yang datang tiga kali seminggu dari Pancur untuk mengambilnya. besarnya minat masyarakat Desa Limbung untuk mengembangkan budidaya kerapu terlihat dari proposal Pokmas MPA-COREMAP. Melihat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ini cukup tinggi. Adanya intervensi untuk menjaga kelestarian ekosistem SDL seperti kepiting bakau dan ketam. sehingga mereka kembali menebang kayu bakau untuk kebutuhan hidupnya. yaitu dengan tidak melakukan penebangan pohon bakau secara berlebihan terlihat dari berkurangnya masyarakat memanfaatkan kayu bakau untuk kayubakar. penduduk banyak yang ingin mencoba namun terbentur pada modal. Pada saat kapal datang. Seperti umumnya di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 17 . Namun kegiatan ini dapat saja diulangi kembali oleh masyarakat bila terdesak oleh kehidupan ekonomi yang semakin tinggi atau kesulitan memperoleh bahan bakar untuk memasak. sehingga banyak yang gagal dan belum ada kelanjutannya. Akhir-akhir ini berkembang budidaya ikan kerapu. namun potensi jenis-jenis ikan tersebut cukup besar karena kondisi terumbu karang di Desa Limbung termasuk sedang hingga baik. Kemudian. Sumberdaya lain yang juga masih banyak dijumpai adalah hutan bakau (mangrove) di bagian pesisir pulau-pulau kawasan Desa Limbung. yang diusahakan oleh beberapa nelayan. yaitu ikan hidup dan ikan mati. Sistem pemasaran ada dua macam. Apalagi program COREMAP fase I untuk penanaman pohon bakau terhenti begitu saja. yaitu cukup banyaknya kelompok yang berkeinginan untuk budidaya ikan tersebut. pada tahun 2007 dan dilanjutkan 2008 pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Pertambangan memberi bantuan bibit ikan kerapu di dusun ini. nelayan pengumpul akan mengantarkannya ke kapal yang berlabuh agak jauh dari pantai. Pemasaran dari ikan-ikan tersebut tidak di desa ini.karang dan pelagis bukan merupakan hasil tangkapan utama. khususnya kerapu sunu dan tiger. Kegiatan ini terutama ada di Dusun Sinempek karena budidaya ikan ini cocok untuk perairan di dusun ini. Kondisi hutan bakau mulai berkurang karena masa lalu penduduk sering mengambil kayu bakau sebagai bahan bakar.

Oleh karena itu. 2. Untuk mengatasi masalah BBM. baik dari alat tangkap maupun sarana transportasinya. akhir-akhir ini mereka ke Pulau Semut secara berkelompok dan setelah di sana mulai bekerja 18 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . bilis/teri. tidak hanya di sekitar perairan Limbung namun di luar Limbung. Walaupun harga BBM naik yang cukup berpengaruh terhadap jarak tempuh nelayan. namun karena cumi-cumi akan memberi keuntungan maka Pulau Semut tetap merupakan wiayah tangkap nelayan dalam mencari cumicumi. Pencarian cumi-cumi. Wilayah pengelolaan Nelayan Desa Limbung umumnya adalah nelayan tradisional. Kenaikan harga BBM sangat berdampak terhadap jangkauan nelayan untuk mencari ikan. Hal ini mengingat lokasi ini nelayan dapat memperoleh cumicumi tanpa mengenal musim. Hal ini mengingat pohon bakau memiliki fungsi untuk melindungi pantai dan sekaligus sebagai tempat bernaungnya berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.2. sebagai SDL yang banyak memberi keuntungan bagi nelayan Desa Limbung. teripang (Strombus Camariun).masyarakat. Terutama bagi nelayan yang telah mempunyai pasar dan pengolahan paska panen dapat dilakukan di Pulau Semut hingga penjualan langsung pun dilakukan dari pulau tersebut. khususnya nelayan Dusun Sinempek. yakni ketam. dan ikan karang.2. kesadaran untuk penanaman kembali secara individu belum muncul dan hanya menunggu pemberian atau intervensi dari pihak luar. Jarak tempuh paling jauh adalah ke Pulau Semut di Kabupaten Senayang untuk mencari cumi-cumi (nus). untuk mencegah munculnya kembali kegiatan penebangan bakau sebaiknya Pemerintah Desa berupaya melindungi hutan bakau dengan menetapkan kawasan perlindungan hutan mangrove. Ada beberapa jenis sumber daya laut yang menjadi andalan nelayan di Kawasan Limbung. dikenal dengan istilah nyomek. Lokasi pencarian cumi-cumi di perairan Limbung adalah sekitar Batu Putih (Tanjung Takeh) hingga ke bagian selatan Pulau Buluh atau Pulau Kojong. Dampak dari kesederhanaan perlengkapan mereka adalah lokasi penangkapan ikan dan SDL lainnya yang tidak jauh dari Desa Limbung. Wilayah tangkap para nelayan bervariasi menurut jenis sumber daya laut yang ditangkap. cumi-cumi (nus).

Makin banyaknya penduduk memasang bubu di perairan Limbung berdampak terhadap padatnya laut oleh bubu sehingga kapal yang lalu harus hati-hati agar tidak mengenanya. Lamanya waktu melaut sangat tergantung jarak antara tempat tinggal nelayan tersebut dengan lokasi di mana jaring diletakkan. nelayan memasang jaring hingga dasar laut yaitu sekitar 1 mil dari pantai selama kira-kira satu malam. terkadang sendiri atau berdua dengan anaknya. namun juga kaum perempuan. Di samping itu bila pemasangan bubu makin meluas hingga di air dalam dekat Pulau Hantu di mana banyak dijumpai karang. Selain pencarian cumi-cumi. Ikan bilis termasuk SDL yang utama bagi penduduk Desa Limbung walaupun pengelolanya terbatas bagi mereka yang punya kelong. pada saat ini kepiting atau ketam juga merupakan SDL yang sangat dicari penduduk karena pemasaran yang mudah dengan adanya tiga pabrik pengolahan kepiting di Desa Limbung yang menerima dengan harga relatif stabil. Para nelayan Desa Limbung bebas memasang jaring asalkan tidak ada nelayan lain yang memasang jaring di lokasi tersebut. Mereka cukup menggunakan pompong. yang dikenal dengan istilah ‘asal berada di luar pagar’. Akhir-akhir ini yang mencari tidak hanya lakilaki. Pada awalnya hanya satu orang ibu dan sekarang ada sekitar lima orang ibu-ibu mencari kepiting yang umumnya berasal dari Dusun Centeng dan Dusun Sranggas. dan sore hari bagi mereka yang memasang kembali jaringnya pada pagi hari. Pencarian kepiting cukup di sekitar Perairan Desa Limbung. baik secara langsung maupun tidak langsung. BBM untuk pulang-pergi Limbung – Pulau Semut sekitar 10 liter (PP) dapat ditanggung bersama dan setelah di lokasi pencaharian tidak memakai diesel (motor) karena lokasi pencarian tidak jauh dari pulau. Lokasi kelong ini. Di lokasi ini. Pemasangan kelong mengikuti arah arus air yang dapat mendorong ikan bilis masuk dalam kelong-kelong yang terhampar di sekitar teluk dan sepanjang pantai bagian laut lepas dekat Pulau Bulu dan Pulau Kojong.menggunakan sampan sendiri-sendiri. Dengan demikian. pada musim angin kuat (Juni – K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 19 . paling jauh sekitar Pulau Hantu. akan berpengaruh terhadap kehidupan ekosistem tersebut. Jaring tersebut diangkat setiap pagi bagi mereka yang memasang malam hari. yakni di wilayah teluk dan Pantai Timur.

terutama wilayah teluk sekitar ½ mil dari pantai. Namun sayangnya lokasi pemasangan kelong tersebut banyak dijumpai terumbu karang. Hal ini sangat terkait dengan peralatan yang dimiliki masih sederhana. Sumberdaya laut lain yang juga bernilai tinggi adalah teripang (gamat) dan banyak dijumpai di daerah berlumpur yang ada di Perairan Limbung. Peletakan bubu ini tentu saja dapat merusak karang. Pada bulan-bulan tersebut hampir setiap hari nelayan Desa Limbung mencari teripang dengan menggunakan ‘galah’. ada beberapa nelayan yang khusus mencari ikan tersebut di sekitar teluk dan pantai yang banyak dijumpai di daerah tersebut. yaitu selama 20 hari. Musim selatan (Bulan Mei hingga September) adalah musim yang menguntungkan bagi nelayan pencari teripang. Keberadaan teripang di perairan Limbung mendorong nelayan luar untuk ikut mengambilnya. namun tingginya permintaan pasar mulai ada yang menggunakan bubu. namun belum sampai di laut lepas. yaitu ketika air laut surut pada jarak terjauh dari pantai. sehingga pada saat pemasangan maupun penarikan jala dapat mengganggu kehidupan ekosistem terumbu karang. Apalagi dengan maraknya permintaan akan kepiting yang mudah diperoleh di sekitar pantai membuat kegiatan pencaharian ikan hanya sebagai sambilan saja. Dulu mereka hanya menggunakan alat pancing. Para nelayan Limbung yang umumnya menggunakan sampan karena pencaharian ikan hanya di sekitar teluk. Kecuali nelayan yang punya kapal motor berusaha mencari ikan di laut lepas hingga Tanjung Nyang atau sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong. nelayan Limbung juga ada yang mencari ikan namun masih tidak dalam jumlah besar. Teripang dapat diperoleh dalam jumlah banyak pada Bulan Juli dan Agustus. Pada musim-musim tersebut. Lokasi pengambilan teripang adalah di sepanjang perairan Limbung antara Pulau Malang Sekateh – Pulau Tanjung Rawa – Pulau Jako. terutama jenis ikan karang untuk eksport ke Singapore. pengambilan bilis dilakukan setiap malam ketika bulan gelap. antara lain adalah nelayan dari Buton dan Madura 20 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pada waktu-waktu tertentu.September) arus air cukup kuat yang akan membawa bilis-bilis masuk kelong mereka. karena jenis ikan yang dicari berada di sekitar karang. Dengan meningkatnya harga nilai ikan tertentu.

Siput gonggong (Strombus Camarun) umumnya hidup pada tempattempat yang bersih atau tidak tercemar. dan disebut musim karang jauh. terbanyak adalah perempuan. 2007. Pada saat air K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 21 . Khusus penduduk Dusun Sinempek yang mencari siput banyak juga dilakukan perempuan dengan cara menyelam menggunakan kacamata khusus dan galah. yaitu sore hari.yang menggunakan peralatan lebih canggih. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dari kelompok usia anak-anak hingga dewasa. Waktu pencarian siput adalah pada saat air kering (air tohor). yaitu sepanjang pantai di bagian teluk Desa Limbung. Jenis siput ini banyak dijumpai di Perairan Limbung.2. Anak-anak mencari siput hanya di pinggir pantai pada saat air surut. Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung Sumber: PRA bersama nelayan Dusun Sinempek. Sayangnya nelayan pendatang ini bekerja tanpa mengenal waktu dan musim. Pencari siput di Dusun Sinempek berkisar antara 20 hingga 30 orang. biasanya malam hari menggunakan sampan sedangkan kapal mereka berada di tengah laut. terutama di daerah karang. Peta 2.

2. tentang aktivitas nelayan dalam pencarian sumber daya laut menurut musim di Perairan Kawasan Limbung. mencari ikan dan 22 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Di samping pengaruh musim. Banyak hujan. angin tidak menentu. pendapatan nelayan juga dipengaruhi oleh banyak atau sedikit orang yang terlibat dalam pencarian SDL di Perairan Kawasan Limbung. Kegiatan yang dilakukan: 1. Dalam penangkapan atau pencarian SDL sangat terkait dengan kondisi musim yang memengaruhi wilayah penangkapan mereka. mendung. Lihat matriks 2. ikan. Artinya. Musim air kelat berlangsung selama satu minggu. mendung dan kadangkadang angin ribut. Dalam 5 – 10 terakhir ini pendapatan nelayan dirasakan makin berkurang yang disebabkan oleh makin banyaknya nelayan yang menggunakan alat tangkap dengan mengambil ikan tanpa batas. besar maupun kecil. khususnya ketam. Musim yang paling aman mencari ikan adalah musim angin selatan dan musim angin utara. yaitu Musim Barat.2. kegiatan cari ikan hanya sekedarnya saja. terutama dengan cara menyelam. namun yang terbanyak memperoleh ikan pada musim angin selatan.dekat (air kelat) tidak ada orang yang mencari gonggong. alat tangkap ini menangkap semua jenis ikan. tetap mencari ketam. Utara dan Selatan. Pencarian SDL hanya di pinggir pinggir. Kategori Waktu Kondisi alam Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Musim Timur ( Maret – Mei) Gelombang lemah Musim Barat (September – Desember) Musim Selatan (Juni – September) Gelombang kuat namun karena Lingga terletak di mata Utara atau pantai menghadap Utara sehingga ke laut selatan terlindungi. Matriks 2. dan bila ada yang mencari gonggong hanya di bagian pantai. Kegiatan nelayan normal karena mereka dapat melaut setiap hari untuk menangkap semua macam Musim Utara (Januari -Awal Maret) Gelombang kuat • • Musim pancaroba. • Musim ini dianggap musim istirahat. Timur. Kegiatan nelayan • Melaut namun hasilnya minimal dan tidak dapat diperhitungkan.

nelayan pencari ketam punya perahu dan bubu ketam. nelayan Limbung memiliki sendiri teknologi tersebut sesuai dengan SDL yang dikelolalanya. ikan teri. Pemanfaatan teknologi tersebut disesuaikan dengan SDL yang dikelola. 2008.l. Teknologi Penangkapan Teknologi pengelolaan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong sederhana sesuai dengan kapasitas penangkapan yang tidak besar. bubu tidak penuh. kepiting dan rajungan (ketam renjong). yaitu perahu motor yang berkekuatan mesin (PK) sangat kecil dan perahu atau sampan yang tidak menggunakan motor (pompong). menjaring pantai Timur ketam.3. Mesin perahu motor yang digunakan nelayan umumnya berkekuatan antara 12 hingga 17 PK dan dapat digunakan untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 23 . memperbaiki kelong tapi belum dipasang • Mengatur & 2. andalan 2. penelitian BME – COREMAP. baik saat melaut maupun kegiatan paska panen. Misalnya: nelayan pengelola ikan bilis akan punya kelong dan perahu atau sampan. terdiri tiga kelompok besar yaitu armada tangkap. hingga pantai Selatan. dan jaring di 3. Armada Tangkap Armada tangkap yang digunakan nelayan Desa Limbung masih sederhana.2. Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung. dan pengelolaan paska panen. ikan pari. kegiatan melaut ekonomi dilakukan oleh penduduk sebagian nelayan nelayan (40/50 %) tapi pancing. teripang. Pada umumnya.Sumber: SDL yang ketram di pinggir menjadi pantai. mempersiapkan alat tangkap. alat tangkap. Selanjutnya akan dideskripsikan ketiga kelompok teknologi penangkapan nelayan Limbung. sotong. SDL yang ditangkap a.

dengan menggunakan bubu ketam buatan Thailand karena dianggap lebih mudah pemakaiannya dibanding jarring ketam yang harus dipasang agak di tengah laut. Tampaknya yang cenderung bertambah adalah sampan sebagai dampak makin banyaknya penduduk yang mencari ketam di pinggir-pinggir perairan Limbung. termasuk perempuan. Di antara alat tangkap tersebut. serok untuk teripang.melaut dengan jarak agak jauh. Pulau Kojong atau Pulau Semut dibutuhkan sekitar 4 giya untuk perjalanan pulang-pergi dengan jarak tempuh sekitar 9 jam. alat tangkap yang digunakan adalah kelong untuk ikan bilis. Sedangkan pompong hanya digunakan untuk penangkapan di sekitar desa atau teluk seperti pengambilan ketam di sekitar pantai Limbung. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh hanya dibutuhkan minyak 1 giya (sekitar 5 liter). kebutuhan operasional BBM tergantung dari waktu dan jarak melaut. Pada awal kegiatan. Jumlah armada alat tangkap antara tahun 2006 (T0) hingga 2008 (T1) tidak banyak berubah. jarring dan bubu ketam untuk ketam. yaitu sistem pncung menggunakan kayu dan sistem benang atau tali. Perahu motor menggunakan BBM yang kebutuhannya sangat terkait dengan jarak tempuh pencarian atau pengambilan SDL yang menjadi fokus kegiatannya. yang makin banyak jumlahnya adalah alat tangkap bubu ketam. Dalam peletakkan bubu dapat dilakukan dengan dua cara. pencari ketam dapat mengoperasionalkan bubu sebanyak 25 buah karena ketika membeli harus satu set sebanyak 25 buah bubu dengan hara Rp.-. jarring tangsi untuk ikan pesisir. bubu untuk ikan hidup. 600. dan bila telah lunas 24 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Teknologi Alat Tangkap Mengacu kepada SDL yang menjadi fokus pencarian nelayan. Hal ini disebabkan makin banyak orang mencari ketam. dan keramba untuk pemeliharaan ikan hidup. namun untuk mencari cumi-cumi di Laut Batu Putih. penyauk untuk cumi-cumi. Pada saat berada di lokasi penangkapan SDL tersebut. yaitu kapal operasional COREMAP.000. Dilihat dari cara mereka memiliki bubu umumnya dimulai dengan berhutang pada tauke. Misalnya di Dusun Centeng terlihat hanya ada satu kapal baru.

yang umumnya disebut dengan bubu sono. Pembuatan kelong dengan cara ditancapkan pada lokasi yang diperkirakan akan banyak didatangi ikan bilis. Jenis bubu juga ada yang digunakan untuk penangkapan ikan dalam kondisi hidup. dan jumlah bubu ikan di Desa Limbung diperkirakan hanya berkisar antara 50 hingga 60 buah. maka anak ketam tidak diambil dan dikembalikan ke laut. Kelong yang dianggap kurang berhasil karena dipengaruhi oleh waktu penanaman yang kurang memperhatikan arus air atau terhambat dengan kelong K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 25 . Pada umumnya.000. maka produksi ketam yang diperoleh para nelayan tersebut berkurang atau yang masuk lebih banyak ukuran kecil. 600. Pada saat ini. bubu ini dimanfaatkan nelayan untuk menangkap jenis ikan karang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti kerapu dan ikan merah. pemasangannya pun pada tempat-tempat yang banyak dijumpai terumbu karang. Terutama bila bubu ditanam di daerah sekitar teluk sedangkan pada lokasi di perairan air jauh ada nelayan yang mengambil ikan sehingga tidak ada ikan yang datang ke perairan teluk..biasanya mereka akan menambah bubu agar memperoleh hasil lebih banyak. Rendahnya tingkat kepemilikan bubu karena pengambilan ikan karang atau ikan hidup ini tidak menjadi kegiatan utama nelayan dibandingkan dengan pencarian cumi-cumi. Penangkapan ikan bilis juga merupakan fokus kegiatan nelayan Desa Limbung dengan amenggunakan alat tangkap kelong. terutama dengan memperhatikan arus air yang mendorong ikan tersebut masuk ke jaring. Apalagi perolehan ikan menggunakan bubu ini tidak stabil. dan ikan bilis. Dampak dari pemasangan bubu ketam yang demikian banyaknya di Laut Limbung. ketam. Harga bubu ikan bila dibandingkan dengan dua tahun lalu harganya masih tetap sama. Alat tangkap ini diperoleh nelayan dapat dengan cara membeli atau membuat sendiri. yaitu sekitar Rp. Oleh karena itu. biasanya satu kali melaut nelayan memasang bubu sebanyak 45 buah. Nelayan yang sadar bahwa bila anak ketam diambil berdampak terhadap produksi ketam ukuran besar berkurang. Harga bubu ikan ini cukup mahal sehingga tidak semua nelayan memilikinya. yaitu dari ujung timur hingga barat Perairan Limbung.untuk 24 buah. Namun mereka yang ingin memperoleh uang tidak perduli sehingga tetap mengambil walaupun harganya rendah.

Sebagaimana telah 26 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . bahkan diperkirakan berkurang. 15.lain. 2005:69-70). Pengetahuan tentang penggunaan umpan ini diperoleh dari teman sesama nelayan cumi-cumi. Penyauk adalah alat tangkap cumi-cumi berbentuk kerucut yang terbuat dari jaring halus untuk penangkap. sedangkan saat ini diperkirakan hanya ada sekitar 30 kelong. Alat tangkap ini dapat digunakan untuk jangka waktu dua hingga tiga tahun. Alat tangkap cumi-cumi lain adalah pancing yang diujungnya diberi umpan terbuat dari kayu menyerupai udang atau ikan yang disebut candar atau candit di Pulau Abang (Romdiati & Mita Noveria. Dalam satu tahun hanya dua bulan yang digunakan secara terus menerus.. dan lainnya di sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong. Karena menurut informasi pada saat survey terdahulu (T0) jumlah kelong ada 39 buah baik yang dimiliki penduduk Limbung maupun orang luar Limbung. namun bila umpan sudah koyak-koyak ikan tidak mau memakannya dan harus diganti dengan yang baru. Perlengkapan lain dalam pencarian cumi-cumi adalah lampu petromaks sebagai alat untuk menarik atau mengumpulkan cumi-cumi agar mudah ditangkap. yaitu jarring untuk menangkap ikan dan jarring menangkap ketam. Namun adapula faktor keberuntungan atau nasib. tali pengikat. jumlah kelong di Desa Limbung tampaknya tidak berubah.000. Bagian dari alat tangkap penyauk yang paling sering dan mudah rusak adalah kawat penyangga atau kerangka pengikat jaring. Lokasi pemasangan kelong paling banyak di sekitar Dusun Linau. Umpan udang-udangan ini diberi warna yang akan bersinar di dalam laut bila diterangi lampu.~ Rp. Alat tangkap jarring ada dua macam. karena menangkap ikan bilis dengan kelong berarti kegiatan ini berbentuk pasif karena hanya menunggu ikan untuk masuk ke kelong. kawat sebagai kerangka penyauk. dan kayu sebagai pemegang alat yang panjang sekitar 2 meter. Jaring ikan (jaring tangsi).000. umumnya digunakan untuk menangkap ikan pesisir dan kadangkadang juga menangkap ikan karang. 16. yaitu pada Musim Selatan.-. Dalam dua tahun ini (2006 – 2008). Apabila cumi-cumi sudah tersangkut pada umpan tersebut tidak akan lepas sehingga mudah ditangkap. Akhir-akhir ini para nelayan mengganti candar dengan umpan menyerupai udang yang terbuat dari karet buatan Jepang dengan harga antara Rp.

digambarkan sebelumnya.. lokasi pemasangan jarring ketam agak jauh dari pesisir Desa Limbung. ikan sembilang. Padatnya lokasi pemasangan bubu di sekitar desa. bahkan hingga di lokasi daerah konservasi COREMAP pada fase I. yaitu dekat laut lepas sehingga biasanya menggunakan perahu motor. Selain itu. Berbeda dengan jaring ketam yang dimiliki hampir oleh semua nelayan Desa Limbung. baik secara tradisional maupun modern. Satu jaring ketam memiliki ukuran panjang sekitar 500 meter (2 bantal) dilengkapi dengan batu sebanyak 20 kg. pencarian ikan bukan merupakan kegiatan utama bagi nelayan Desa Limbung. Ada beberapa alat yang dilakukan nelayan untuk mencari teripang. Dengan tingginya permintaan akan ketam oleh pabrikpabrik pengolahan daging ketam. tali 12 buku. alat serok atau suluh. karena ketam merupakan target tangkapan utama dari nelayan desa ini. maka usaha pelestarian terumbu karang di kawasan perairan Limbung tidak akan tercapai. yaitu pada saat implementasi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 27 . maka akhir-akhir ini nelayan mulai mencari lokasi yang strategis untuk pemasangan jarring. Jaring ketam bila digunakan setiap hari biasanya hanya dapat bertahan dalam tempo tiga bulan. Jenis ikan yang biasa ditangkap dengan menggunakan jaring tangsi antara lain ikan pinang. Khusus untuk pemasangan jarring ketam biasanya dilakukan oleh laki-laki karena jarring ketam lebih berat dibanding alat bubu ketam. Apabila situasi ini dibiarkan. Cara tradisional umumnya dilakukan oleh nelayan lokal seperti membuat parit gamat. Perlengkapan untuk membuat jaring dapat diperoleh melalui tauke yang ada di Dusun Centeng atau penampung ketam yang ada di setiap dusun di mana penduduknya beraktivitas mencari ketam. Di antara pulau-pulau yang terdapat di bagian teluk perairan Limbung banyak dijumpai teripang (gamat). pelampung 396 buah. dan bagian alat tangkap yang dapat bertahan dalam waktu lama adalah batu hingga 10 tahun. ikan penggali dan ikan debaun. dan tuba khusus oleh Suku Laut. sehingga penggunaan jaring ikan pun tidak dianggap sebagai alat utama bagi mereka. maka pemasangan jarring ketam pun meningkat sama dengan pemasangan bubu ketam. Pengambilan teripang dengan membuat parit dan sistem penarikan menggunakan trawl kecil untuk menjaring teripang yang telah terkumpul telah dilarang. dan tali pengikat 3 gulung.

Teknologi Paska Panen Dalam tempo dua tahun. namun dalam tempo satu hari saja mati 500 ekor. Sedangkan cara modern umumnya dilakukan oleh nelayan pendatang seperti nelayan asal Madura dan Buton. terutama bila di eksport ke Singapore. yaitu APBD tahun 2007 – 2008. Sedangkan kerapu sunu cocok di daerah ini karena jenisnya adalah kerapu alam. Walaupun alat yang digunakan nelayan pendatang dilarang. Pada saat ini nelayan lokal dan Suku Laut mencari teripang hanya menggunakan serok atau suluh yang terbuat dari kayu dan ujungnya diikat kawat runcing. Masa operasional keramba sekitar 2 hingga 3 tahun. namun bibitnya sulit didapat dan harga jual sering tidak stabil. Alat tambahan lain adalah kacamata selam buatan sendiri yang digunakan ketika menyelam sebagai penutup mata. Begitupula dengan cara penangkapan menggunakan racun yang dapat membunuh ikan-ikan karang lain yang terdapat di sekitar pencarian teripang. Usaha keramba mulai banyak dalam dua tahun terakhir ini yang berlokasi di Dusun Centeng dan Dusun Sinempek. dan tali kecil. namun karena mereka melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi sulit untuk menangkapnya. Ikan yang dipeliharan dalam keramba ini adalah kerapu sunu atau kerapu tiger yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.program COREMAP fase I di desa ini. Keramba bantuan Dinas SDA ada di Dusun Sinempek. Bahan yang diperlukan untuk membuat karamba adalah jarring. Alat yang digunakan adalah kompresor dan mungkin juga tuba atau racun agar teripang lemas sehingga mudah ditangkap. yaitu sejak survey data dasar aspek sosial terumbu karang (T0) hingga survey evaluasi program COREMAP (T1) di Desa Limbung. tali untuk satu bubu. menunjukkan bahwa kegiatan paska panen 28 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pada awal program dilaksanakan diberi kerapu tiger sebanyak 1000 ekor. Kerapu tiger tampaknya memang kurang cocok di perairan Limbung karena arusnya kurang kuat dan jenis air adalah payau. namun yang dianggap berhasil adalah nelayan karamba Dusun Sinempek. Akhir-akhir ini Desa Limbung mulai mengembangkan usaha pembesaran ikan dengan menggunakan karamba yang berbentuk kotak seluas 2 x 3. dan bila ada yang rusak harus cepat diganti agar ikan-ikan tidak lari.

Pulau Kojong. penjemuran secara tradisional dengan menggunakan semacam tampah dan diletakkan di atas genteng atau tembok di halaman rumah. Kegiatan pengeringan ini dilakukan oleh isteri. dan pengolahan daging kepiting. terutama ke Dusun Sinempek yang dilakukan sebanyak tiga kali per minggu. Pada musim cumi-cumi tauke datang ke Desa Limbung dengan rutin. mengontak tauke dengan menggunakan HT bahwa cumi-cumi/nus siap dijual. • • K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 29 . di antara nelayan akan menggunakan kompor yang ditutup kain agar hawanya tetap panas. pengeringan ikan bilis. bahkan satu bulan bila ke Pulau Semut.masih terfokus pada tiga jenis SDL yaitu pengeringan cumi-cumi. Kegiatan pengolahan cumi-cumi dilakukan dalam tiga tahap. Apabila hari hujan. yaitu di tempat para nelayan beristirahat setelah mencari cumi-cumi di sekitar pulau tersebut. dan Pulau Semut. nelayan cumi-cumi ada yang melakukan proses pengeringan di pulau-pulau sekitar pencarian cumi-cumi yaitu Pulau Buluh. Di pulau-pulau tersebut mereka bermalam sekitar satu minggu. tetapi pada malam hari dimasukkan ke dalam rumah. Oleh karena itu. Kegiatan pengeringan ikan bilis dan cumi-cumi masih tetap dilakukan secara sederhana oleh nelayan dan keluarganya. Tahap ketiga. Sistem pengeringan menggunakan kompor ini dipelajari dari orang Vietnam yang sering datang ke Pulau Semut. Dalam kondisi cuaca baik atau panas penjemuran cumi-cumi memerlukan waktu sekitar 1 ½ hari. saudara perempuan atau anak-anak. Tahap kedua. Pengeringan cumi-cumi menggunakan teknologi pengasapan yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah SDL tersebut ditangkap. sehingga cumi-cumi cepat menjadi kering. pembersihan dan pembelahan cumi-cumi menggunakan pisau yang dilakukan di atas kapal/ perahu oleh di nelayan (laki-laki). yaitu: • Tahap pertama. sedangkan pengolahan kepiting diproses di pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng.

Kegiatan ini dilakukan oleh si pemilik kelong dibantu pekerja atau keluarga. yaitu kelompok daging kaki. • Tahap keempat. yaitu: • Tahap pertama. Di antara jenis daging tersebut. Proses pengeringan dilakukan dalam empat tahap. kemudian memisahkan kepiting menurut ukurannya. Proses selanjutnya adalah mengeluarkan daging kepiting dan disusun dalam kotak berdasarkan kelompok-kelompok dari jenis daging tersebut. • Tahap ketiga. 30 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan terakhir perusahaan pokok (central) di Tanjung Pinang atau Batam untuk pengolahan selanjutnya sebelum dikirim ke konsumen. setelah ikan teri kering dimasukkan kembali ke bakul dan siap untuk dijual ke tauke di Dusun Centeng atau pembeli/pedagang yang datang dari Pancur.Sedangkan pengolahan paska panen ikan teri umumnya dilakukan di Desa Limbung setelah diangkut dari kelong ke rumahnya. ikan teri yang telah direbus dijemur pada tempat khusus untuk menjemur ikan yang terbuat dari bambu atau kayu. Apabila kegiatan paska panen dari kedua SDL tersebut di atas dilakukan secara sederhana oleh anggota keluarga atau satu/dua orang pekerja. pabrik pengolahan kepiting bertambah satu yang pemiliknya bukan orang Centeng. Setelah masuk kotak disusun dalam kotak viber untuk dibawa ke perusahaan cabang (branch) di Pancur atau di Daik. berbeda dengan pengolahan paska panen kepiting. ikan teri yang ditangkap di kelong dimasukkan dalam bakul dan dibawa ke daratan menggunakan perahu. Kegiatan ini dilakukan pada pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng. • Tahap kedua. Proses pengolahan setelah menerima kepiting dari pencari di laut diawali dengan merebus. Namun dalam pengelolaannya diserahkan kepada orang Centeng yang sebelumnya pernah bekerja pada salah satu pabrik di dusun tersebut. dan daging serpihan. Dalam kurun waktu dua tahun ini. daging dada atau perut. ikan teri direbus menggunakan panci besar dan kompor. namun terkadang hanya pekerja saja. nilai ekonomi tertinggi adalah daging perut atau dada yang disebut “mawar”.

Apabila akan mengadakan hubungan ekonomi yang luas adalah di kota kecamatan Pancur atau kota kabupaten Daik. toko dalam ukuran lebih kecil juga terdapat di Dusun Sinempek dan Linau. Sarana – prasarana yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. adalah warga keturunan Cina yang umumnya juga memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. toko. Selain toko dan kios/kedai. tahun lalu berdiri satu perusahaan penampung kepiting milik orang luar Desa Limbung di Dusun Centeng. pedagang sayur-mayur orang transmigran. Selain itu. karena di Desa ini belum ada tempat pelelangan ikan (TPI). terutama di Desa Centeng.2. khususnya SDL. Sebagian besar pemilik toko. Sarana dan Prasarana Gambaran Desa Limbung tidak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Indonesia. Tempat penjual dan pembeli bertemu atau mengadakan transaksi kegiatan ekonomi hanya lah warung klontong. Para penampung kepiting yang telah lama berusaha di desa ini umumnya memiliki toko yang dapat dimanfaatkan nelayan untuk menjual SDL.2. baik yang terdapat di Dusun Centeng maupun Dusun Sinempek. Sedangkan jumlah kios/kedai diperkirakan hanya sebanyak enam (6) kedai yang umumnya dimiliki warga Etnis Melayu. Di Dusun Centeng kira-kira terdapat delapan (8) toko yang yang tergolong besar. dan tauke di mana mereka mempunyai hubungan sosial atau kerja. saat evaluasi tidak berjalan lagi. Sarana ekonomi lain yang dapat melangsungkan kegiatan ekonomi penduduk adalah keberadaan pedagang pengumpul SDL yang biasa disebut penampung. Jumlah kedai/kios dan toko. Jumlah penampung di Dusun Centeng tampaknya ada pengurangan karena penampung kepiting atau ikan yang dua tahun lalu ada di Dusun Sranggas dan Kampung Air Berani. baik dilihat dari ukuran/luas toko maupun ketersedian jumlah dan jenis barang. masih sangat terbatas. namun dapat juga K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 31 .4. Pemilik toko umumnya juga bekerja sebagai penampung produksi SDL sebelum dikirim kepada tauke atau pembeli yang lebih besar. Di sisi lain. Penampung mempunyai peran penting untuk transaksi hasil tangkapan nelayan. di desa ini juga terdapat penjual bahan makanan dan sayuran keliling. dalam dua tahun ini belum menunjukkan penambahan yang berarti.

membeli/berhutang barang-barang kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan melaut. Namun sampai saat ini belum ada tranportasi umum yang masuk Desa Limbung untuk menghubungkan penduduk dengan daerah luar. elektronik. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL Program yang berkaitan dengan pengelolaan SDL yang masuk Desa Limbung diawali dengan Program COREMAP Fase I. Oleh karena itu. Sarana pendukung lain adalah komunikasi. Akhir-akhir ini mulai banyak penduduk yang memiliki telpon genggam sebagai alat komunikasi dengan masyarakat luar desa. Sarana media cetak belum ada yang masuk Desa Limbung secar teratur. Sedangkan telpon umum ada satu wartel (warung telekomuniksi) di Dusun Centeng yang menggunakan saluran satelit. Khusus televisi. atau kendaraan bermotor milik pribadi. perahu/kapal motor. Sarana komunikasi yang diikuti penduduk terbanyak adalah televisi dan radio. Dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Desa Limbung. Untuk sarana kendaraan permasalahannya karena buruknya sarana jalan yang menghubungkan desa ini dengan daerah luar. baik sarana media cetak. Kotak pengumuman yang ada di Dusun Centeng hanya berisikan pengumuman lowongan pekerjaan. penduduk menonton televisi pada rumah-rumah yang memilikinya dan ada aliran listrik.5.2. namun belum 32 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kecuali ojek. penduduk yang memiliki masih terbatas karena terkait dengan listrik negara yang belum masuk desa ini. namun sinyalnya masih terbatas pada kartu tertentu atau lokasi tertentu seperti di ujung jembatan yang dibuat COREMAP fase II. Bagi penduduk yang mempunyai ekonomi lebih membuat saluran telpon yang dapat digunakan untuk telpon genggam. sarana transportasi dan komunikasi semestinya mempunyai peran cukup penting. bahkan desa pun tidak menyediakan koran dinding yang bisa diakses oleh penduduk. 2. baik diesel desa mapun diesel pribadi. maupun telekomunikasi. Mungkin bila sarana jalan diperbaiki akan lebih memberi peluang bagi penduduk untuk melakukan transaksi ekonomi dengan masyarakat luar.

dan Pokmas Pemberdayaan Perempuan (Jender). waktu itu telah dibentuk tiga (3) kelompok masyarakat (Pokmas) yang terdiri dari Pokmas Konservasi. Depdagri. Keberadaan Pokmas-pokmas tersebut telah dapat menggerakkan masyarakat dalam upaya mengelola dan melestarikan terumbu karang. bahkan berhenti sejak fasilitator Program COREMAP fase I meninggalkan Desa Limbung. tingkat kabupaten (antara lain Pemda dan Bappeda Kabupaten). Pada waktu itu. Universitas Riau. kecuali Pokmas Konservasi yang beranggotakan penduduk dari Dusun Centeng dan Air Kelat. Pokmas Usaha dan Produksi. instansi dari tingkat pusat hingga lokal yaitu pemerintah pusat (antara lain Bappenas. di samping dapat bertindak dengan cepat jika ada pelanggar yang melakukan pengambilan SDL dengan alat-alat tangkap yang merusak di wilayah konservasi tersebut. Mereka diharapkan dapat melakukan pengawasan terumbu karang dengan mudah. Selain itu. Sedangkan Pokmas Usaha Produksi hanya ada di Dusun Centeng. tingkat provinsi (antara lain Pemda dan Bappeda Provinsi. LSM). Terhentinya kegiatan Program COREMAP fase I ini kemungkinan besar berkaitan dengan adanya peralihan tanggung jawab program dari satu instansi ke instansi lain. Masing-masing Pokmas beranggotakan sekitar 25 orang dan setiap Pokmas cenderung berasal dari dusun yang sama. di samping meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha untuk Pokmas Usaha Produksi dan Pokmas Jender. Dipilihnya anggota dari ‘Dusun’ Air Kelat adalah karena mereka tinggal paling dekat dengan Pulau Hantu yang merupakan titik program upaya konservasi terumbu karang di Desa Limbung. LIPI). dan Perangkat desa. terhentinya kegiatan Pokmas-pokmas tersebut tampaknya juga dipengaruhi oleh rendahnya motivasi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya melalui usaha bersama yang tidak K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 33 . sehingga mengganggu kelancaran pelaksanaan program.terlaksana seluruhnya berhenti di tengah jalan dan hanya berlangsung sekitar empat tahun. Pemda tingkat kecamatan. Berbeda dengan Pokmas Jender yang cakupannya cukup tersebar di beberapa dusun yaitu Dusun Centeng. Namun demikian. Linau dan Sinempek. stakeholders yang terkait adalah pemberi donor ADB. Khusus Desa Limbung. kegiatan Pokmas tersebut tidak jalan lagi.

Lingkungan. namun implementasi ke desa belum dapat terlaksana karena terbentur dengan proposal dan dana (lihat BAB III tentang implementasi program COREMAP fase II di Kabupaten Lingga. namun karena adanya ‘kevakuman’ pada kegiatan program COREMAP berdampak terhadap berhentinya usaha masing-masing Pokmas dan ketrampilan yang sudah mereka peroleh tidak dipergunakan lagi.biasa mereka lakukan. Seiring dengan masuknya otonomi daerah. beberapa kegiatan pelatihan ketrampilan dan praktek langsung diberikan kepada masyarakat Desa Limbung seperti pengembangan budidaya kepiting bakau (rajungan) dengan menggunakan karamba apung dan pembuatan krupuk ikan. Tahun 2006 proyek COREMAP fase II mulai diimplementasikan kembali di Desa Limbung. dan aparat keamanan seperti polisi dan angkatan laut. Meskipun pada awalnya berbagai ketrampilan tersebut dimanfaatkan penduduk. Yaitu ketrampilan membuat abon ikan. Beberapa program telah berjalan. pelaksanaan program COREMAP fase II ini lebih melibatkan stakeholders tingkat kabupaten. yaitu Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Lingga. tertama anggota Pokmas. Di samping itu juga ada pelatihan yang diberikan di luas desa. Program COREMAP fase I juga memberikan ketrampilan membuat kue-kue dan ternak ayam sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Program-program pemerintah tersebut. Dinas-dinas yang banyak terlibat dengan program COREMAP fase II antara lain adalah Dinas SDA. Selain program COREMAP. Di luar pemanfaatan sumber daya laut. pada tahun 2007 mulai masuk beberapa program pembangun yang berasal dari pemerintah dengan dana APBD. Pada masa COREMAP fase I. walaupun tidak secara 34 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Selain itu adalah LSM dari tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang diharapkan berhubungan langsung dengan masyarakat Desa Limbung sebagai fasilitator. maka kegiatan usaha bersama tampaknya masih sulit dilakukan. namun hanya untuk kepentingan rumah tangganya sendiri. Ketrampilan tersebut sebenarnya sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan. khususnya Desa Limbung). Hanya sebagian anggota yang masih memanfaatkan ketrampilan tersebut. Masyarakat Desa Limbung umumnya bila tanpa bimbingan dan pengawasan. PU.

Dalam pelaksanaan program lain tersebut di atas juga akan melibatkan dinas-dinas yang terkait dengan program tersebut. Rencana dari Desa Limbung dana tersebut akan dibagi per dusu dan juga digunakan untuk menggerakkan kegiatan PKK. Dinas lain seperti kesehatan dan pendidikan hanya terkait setelah bangunan selesai dan melanjutkan program ke dalam agar berjalan seperti yang diharapkan. 2. tidak jarang akibat kebutuhan yang sangat mendesak maupun untuk tujuan komersial. pada bagian ini diuraikan tentang kondisi kependudukan di daerah penelitian yang mencakup aspek kuantitas dan kualitas penduduk. program perbaikan dermaga. maka stakeholders yang banyak terkait adalah Dinas Pekerja Umum (PU). Namun demikian. 4) program Polindes dan Pustu. Khusus Desa Limbung rencananya akan dilaksanakan pembangun fisik jambatan Dusun Sranggas dan semenisasi jalan di Dusun Sinempek pada tahun 2008. Selain pembangunan fisik. Oleh karena program tersebut cenderung ke arah pembangunan fisik.3. 2) program air bersih.langsung berkaitan dengan pengelolaan SDL namun tujuannya adalan untuk kesejahteraan masyarakat. karena dengan kemampuannya. Dari segi kuantitas. Stakeholders yang terkait pada kegiatan ini umumnya adalah Pemda adalah Dinas PU. bangunan sekolah setelah jadi akan melibatkan dinas pendidikan dalam mencari staf pengajar. Misalnya pembangunan masyarakat dalam mengelola Pustu dan Polindes akan melibatkan staf dari Dinas Kesehatan. Dengan mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. uraian menekankan pada K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 35 . 3) program sekolah dan perumahan guru. mereka dapat mengelola sumber daya alam dan lingkungannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup. KEPENDUDUKAN Penduduk merupakan sumber daya yang sangat penting. PPM juga menganggarkan program simpan-pinjam untuk kelompok perempuan dengan dana 60 juta per desa. Program pembangunan mandiri dimulai tahun 2007 dengan dana 200 juta per desa. penduduk justru merusak sumber daya alam yang berdampak negatif bagi kehidupan mereka dan generasi berikutnya. Antara lain program tersebut adalah: 1) Program Pembangunan Mandiri (PPM). dan 5) program budidaya ikan kerapu tiger.

1.516 perempuan.559 jiwa). Jumlah dan Komposisi Penduduk Uraian tentang jumlah dan komposisi penduduk sangat bermanfaat untuk menganalisis berbagai fenomena demografi dan implikasi yang ditimbulkannya sekaligus memberikan masukan kepada pengambil kebijakan untuk perencanaan dan monitoring kegiatan-kegiatan yang akan dan telah dilakukan oleh COREMAP. terdiri dari 220 laki-laki dan 191 perempuan. Angka ini sedikit lebih rendah dari rasio jenis kelamin hasil survei terhadap 100 rumah tangga di Dusun Centeng dan Senempek. Struktur umur penduduk sampel (responden) di Desa Limbung cenderung mengarah struktur penduduk dewasa. biasanya di sektor pemerintahan. atau lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk desa ini pada tahun 2005 ( 2. karena persentase penduduk sampel yang berumur 0-14 tahun adalah < 40 persen. serta besar anggota rumah tangga. faktor migrasi ke luar desa diperkirakan juga berpengaruh terhadap perubahan jumlah penduduk di Desa Limbung. Selain karena adanya kelahiran dan kematian.334 laki-laki dan 2. Sedangkan jumlah responden menurut hasil survei adalah 411 jiwa. menggambarkan bahwa setiap 113 laki-laki terdapat 100 perempuan. Pelaku migrasi ke luar desa biasanya penduduk usia muda yang bertujuan untuk bekerja.3. 2. komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. yaitu 36 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Desa Limbung. pembahasan menekankan pada tingkat pendidikan dan keadaan ketrampilan responden. yaitu 1. Rasio jenis kelamin yang sebesar 113.516 jiwa (Catatan di Kantor Kecamatan Lingga Utara). Untuk aspek kualitas penduduk. yang sebesar 115. jumlah penduduk Desa Limbung sebanyak 2. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Jumlah penduduk Desa Limbung adalah tertinggi ke dua dibandingkan dengan enam desa lainnya di Kecamatan Lingga Utara.jumlah. Pada tahun 2008. banyaknya penduduk produktif dan berjenis kelamin perempuan memberikan indikasi bahwa pelaksanaan COREMAP harus melibatkan perempuan. Sebagai contoh.

Dalam konteksnya dengan wilayah pesisir. persentase penduduk pada kelompok usia produktif utama (prime working age group)5 kira-kira 36. maka kualitas penduduk semakin baik. hasil survei menunjukkan. Kualitas penduduk sampel (responden) di Desa Limbung masih termasuk rendah. khususnya dialami oleh rumah tangga sampel. persentase responden perempuan pada kelompok usia produktif utama sedikit lebih tinggi daripada laki-laki. Jumlah penduduk usia muda yang semakin sedikit mempengaruhi rendahnya angka beban ketergantungan (dependency ratio). Kelompok ini merupakan tenaga kerja potensial untuk pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Angka ini lebih rendah dari hasil survei pada tahun 2006 yang masih mencapai 34.2. Dengan kondisi seperti ini.6 persen responden hanya berpendidikan SD ke bawah.hanya sebanyak 30. sedangkan kelompok angkatan kerja lainnya adalah mereka yang baru saja masuk dalam pasar kerja (15-24 tahun) dan mereka yang berumur 50 ke atas. kelompok usia produksi utama adalah mereka yang berumur antara 25-49 tahun. Sebanyak 87. menjadi penting dilakukan. maka keterlibatan perempuan dalam pelaksanaan COREMAP. sehingga mereka dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka yang selanjutnya berkontribusi positif dalam upaya peningkatan kesejahteraan rumah tangga. yang berarti setiap satu orang usia belum/tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) ditanggung oleh dua orang usia produktif (15-64 tahun).1). khususnya kegiatan pemberdayaan masyarakat. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 37 . Penurunan persentase penduduk pada kelompok usia tersebut menggambarkan turunnya jumlah kelahiran di desa penelitian. di mana sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan.51.0 persen. Semakin terdidik dan terampil. yaitu hanya sebesar 0. bahkan 5 Dalam tulisan ini.3. Diperhatikan menurut jenis kelamin. Pendidikan dan Ketrampilan Tingkat pendidikan dan ketrampilan merupakan salah satu indikator untuk melihat kualitas penduduk.9 persen (lihat Lampiran Tabel 2. penduduk yang berumur 50 tahun ke atas biasanya sudah mulai mengurangi frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap.5 persen. 2. Lebih lanjut.

1. 2008) menjadi 12. yaitu dari 11. tetapi tetap tinggal dan bekerja di kota. Meskipun termasuk kelompok ini adalah responden anak-anak yang masih berstatus belum sekolah. Menurut sejumlah informan. Selepas menamatkan jenjang pendidikan menengan atas dan tinggi di kota. Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan.6 persen pada tahun 2006 (Romdiati dkk. 2008 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Angka ini lebih tinggi dari pada responden pada kelompok umur sama yang menamatkan pendidikan SD maupun SMP.3 persen 38 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . di antara responden yang tidak berpendidikan (belum/tidak sekolah) terdapat sebanyak 83. Selama dua tahun terakhir terjadi tren peningkatan persentase responden yang menamatkan pendidikan SMP ke atas. Sebagai contoh diperlihatkan pada Lampiran Tabel 2. Gambar 2. persentase penduduk dewasa dan orang tua yang tidak berpendidikan cukup besar. kondisi pendidikan penduduk Desa Limbung menunjukkan pergeseran ke arah yang lebih baik. pada umumnya mereka tidak kembali lagi ke desa. Kabupaten Lingga. PPK-LIPI 2007 Walaupun masih termasuk rendah. Desa Limbung.9 persen berumur 19 tahun ke atas.sebagian besar dari kelompok ini adalah mereka yang tidak/atau belum menamatkan SD. rendahnya tingkat pendidikan penduduk Desa Limbung tidak terlepas dari adanya fenomena migrasi ke luar desa yang dilakukan oleh penduduk berpendidikan tinggi.

Jika pada saat penelitian ini ada sebagian kecil perempuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 39 . ketrampilan penduduk juga terbatas. ketrampilan tersebut tidak nampak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. karena sejak setahun yang lalu (tahun 2007) di Desa Limbung tersedia gedung SMP yang merupakan peningkatan status dari SMP terbuka menjadi SMP Negeri. persentase responden laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Pada jenjang pendidikan SD ke bawah. Ketrampilan yang dikuasai oleh responden adalah jenisjenis ketrampilan yang berhubungan dengan kegiatan kenelayanan dan pengolahan SDL. seperti membuat kerupuk ikan. tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol di semua jenjang pendidikan. kue) dan peternakan ayam. Sedangkan perempuan di Desa Limbung pada umumnya mempunyai ketrampilan di bidang industri rumah tangga. ketrampilan membuat bubu diperkrakan akan semakin hilang di masa-masa yang akan datang. Temuan survei ini menggambarkan bahwa kesenjangan jender tidak dijumpai di bidang pendidikan. kue. kelong. Selain kualitas pendidikan yang masih rendah. karena di dusun ini terdapat industri rumah tangga pengolahan sagu yang hasilnya dipasarkan ke luar daerah. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP.berdasarkan hasil survei BME tahun 2008. Meskipun pada pelaksanaan COREMAP fase I pernah dilakukan pelatihan industri rumah (misalnya membuat kerupuk dan abon ikan. karena nelayan lebih senang membeli bubu (ketam) siap pakai. Kondisi pendidikan responden laki-laki cenderung lebih baik dibandingkan perempuan. dan jaring merupakan jenis ketrampilan yang dikuasai dan diterapkan oleh masyarakat di Desa Limbung. Membaiknya kondisi pendidikan ini kemungkinan dipengaruhi oleh semakin luasnya akses penduduk terhadap fasilitas pendidikan. Namun demikian. khususnya untuk jenjang pendidikan menengah ke bawah. Membuat bubu. persentase pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. demikian pula pada pendidikan SMA ke atas. dan mengopek (pengolahan daging) ketam. Jenis ketrampilan lain yang dikuasai oleh perempuan adalah membuat atap rumbia. Sedangkan ketrampilan mengolaj tepung sagu hanya dikuasai oleh sebagian laki-laki di Dusun Senempek membuat tepung sagu.

3. yaitu penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. jenis. Peningkatan jenis ketrampilan maupun kualitasnya belum terlihat di kalangan masyarakat Desa Limbung. 2. dikemukakan terlebih dahulu status kegiatan ekonomi penduduk usia kerja. Meskipun COREMAP fase II juga memberikan pelatihan kepada Pokmas Jender. Pembahasan mengenai pekerjaan meliputi pekerjaan utama dan tambahan yang dbedakan menjadi lapangan.yang tergabung dalam Pokmas Jender membuat kerupuk ikan dan kue. Mereka beranggapan bahwa konsep mencari pekerjaan diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan di luar pekerjaan kenelayanan. Namun demikian. Persentase responden yang menganggur dan tidak mencari kerja. Sedangkan mereka yang sekolah hanya hanya sekitar seperempatnya.3. kegiatan ini semata-mata dilakukan karena mereka sudah mendapatkan bantuan modal usaha yang jumlahnya terhitung sangat kecil (Rp 100. 40 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pekerjaan Pekerjaan dalam tulisan ini diartikan sebagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan/atau jasa. atau hampir sama dengan responden yang mempunyai pekerjaan mengurus rumah tangga. hampir separuhnya mempunyai kegiatan utama bekerja (lihat Gambar 2. Sebelum membahas tentang pekerjaan penduduk. jenis ketrampilan yang diberikan sudah dikuasai oleh peserta. karena pekerjaan sebagai nelayan selalu tersedia tanpa harus dicari. dan status pekerjaan. Dari sebanyak 348 responden yang berunur 10 tahun ke atas.9 persen. mencapai 6.2). yang dalam istilah ketenagakerjaan disebut dengan penganggur putus asa. ketika ditanyakan kepada beberapa penganggur dan tokoh masyarakat diperoleh informasi bahwa ‘penganggur putus asa’ tersebut terkadang juga pergi melaut untuk membantu orang tua.000 per kelompok yang beranggotakan 4 orang).

Gambar 2.2.

Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di antara penduduk yang bekerja, kira-kira sebesar 62 persen mempunyai pekerjaan utama pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap (Gambar 2.3). Persentase responden yang bekerja di sektor tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan hasil survei tahun 2005 (58 persen). Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi adanya beberapa perempuan yang mulai tertarik untuk melaut. Beberapa faktor yang mempengaruhi perempuan melakukan pekerjaan melaut adalah ketersediaan bubu ketam berukuran kecil yang mudah digunakan oleh perempuan, pemasaran mudah, wilayah tangkap di sekitar tempat tinggal mereka sehingga dapat mengunakan sampan untuk jangka waktu yang sangat singkat (kira-kira satu jam). Selain mencari ketam, sebagian nelayan perempuan, khususnya di dusun Senempek juga melaut untuk mencari gonggong.

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 41

Gambar 2.3. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di luar perikanan tangkap, sektor perdagangan merupakan lapangan pekerjaan yang cukup banyak menyerap tenaga kerja responden, atau lebih tinggi dari lapangan pekerjaan industri pengolahan. Temuan ini berbeda dengan kondisi pada dua tahun sebelumnya, di mana sektor perdagangan menyerap 5,8 persen, sedangkan sektor industri pengolahan sebesar 17,3 persen. Penurunan persentase responden yang bekerja di sektor industri tampaknya tidak sesuai dengan adanya peningkatan kegiatan sektor industri pengolahan (khususnya pengolahan kepiting/ketam), ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah industri kecil yang memproduksi daging ketam. Jika pada tahun 2006 di Desa Limbung hanya terdapat satu PT Ketam, pada saat penelitian ini berlangsung (2008) bertambah menjadi tiga buah (walaupun jumlah tenaga kerja hanya berkisar 5-8 orang). Bekerja pada sektor industri pengolahan ketam biasanya dilakukan oleh perempuan dengan sistem borongan, sehingga bukan merupakan tenaga tetap. Sistem kerja seperti ini, tenaga kerja sangat mudah untuk masu dan

42 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

keluar dari pekerjaan. Dengan demikian besar kemungkinan menurunnya persentase responden yang bekerja pada lapangan pekerjaan industri dalam dua tahun terakhir ini adalah karena sebagian dari mereka tidak lagi bekerja di sektor tersebut. Di antara mereka diperkirakan beralih bekerja di sektor perdagangan (usaha kios kecil) maupun tidak bekerja lagi. Lapangan pekerjaan perkebunan dan jasa kemasyarakatan tidak menunjukkan perubahan selama kurun waktu 2006-2008. Jenis perkebunan di Desa Limbung adalah kebun karet yang sudah berumur cukup tua. Pemilik kebun karet pada umumnya warga keturunan Tionghoa, meskipun beberapa penduduk etnis Melayu juga mempunyai kebun karet, walau tidak luas. Sedangkan lapangan pekerjaan jasa kemasyarakatan adalah pekerjaan di sektor pemerintahan desa dan pendidikan. Sebagai wilayah pesisir dengan sektor perikanan tangkap sebagai mata pencaharian utama, maka jenis pekerjaan nelayan ditekuni oleh hampir dua-pertiga dari total anggota rumah tangga sampel (Gambar 2.4). Pekerjaan sebagai nelayan dilakukan setiap hari pada musim teduh (gelombang laut dalam keadaan tenang), bahkan dua kali per hari jika wilayah tangkap tidak jauh dari tempat tinggal. Pada musim pancaroba nelayan tetap melaut setiap hari, tetapi harus mencermati keadaan angin kencang yang datangnya tiba-tiba dalam waktu sebentar. Jenis pekerjaan sebagai nelayan jarang dilakukan pada musim angin kencang/gelombang kuat, dan bagi nelayan yang melalut biasanya hanya di wilayah pantai. Apabila dirinci lebih lanjut, temuan survei memperlihatkan, nelayan dengan alat tangkap jaring merupakan jenis pekerjaan terbanyak (ditekuni oleh 51 persen dari 96 orang nelayan) dibandingkan dengan nelayan dengan alat bubu (33,3 persen) dan nelayan kelong (15,6 persen). Namun demikian, pengelompokan nelayan menurut jenis alat tangkap tersebut hanya menggambarkan jenis alat tangkap utama, karena pada umumnya nelayan juga mengoperasikan alat tangkap lainnya selain alat tangkap utama (misalnya selain menggunakan jaring, mereka juga menggunakan bubu ketam, demikian sebaliknya). Hanya beberapa nelayan kelong (bilis) yang ketika sedang musim bilis tidak menggunakan alat tangkap lain, karena kelong bilis bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 43

biasanaya mereka pergi ke wilayah tangkap bersama dengan nelayan lain. misalnya nelayan. Sebagian besar dari status pekerjaan ini adalah nelayan yang melaut sendiri. Sedangkan di luar jenis pekerjaan nelayan.menghasilkan setiap hari ketika musim teduh pada saat bulan gelap (kira-kira 20 hari per bulan). 44 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sehingga masih dapat melakukan pekerjaan domestik. banyak dilakukan oleh laki-laki. Hanya sedikit perempuan yang melakukan jenis pekerjaan ini.7 persen. Hal ini karena tenaga penjualan di Desa Limbung merupakan pedagang-pedagang skala sangat kecil yang dilakukan di rumah. Sedangkan pekerjaan industri pengolahan ketam yang memerlukan ketelitian juga hanya dilakukan perempuan. karena mengindikasikan adanya stereotipi perempuan. biasanya menggunakan bubu ketam dan melaut di kawasan tidak jauh dari tepi pantai. Jenis pekerjaan sebagai tenaga industri dan penjualan lebih banyak dilakukan oleh perempuan daripada laki-laki (lihat Lampiran Tabel 2. biasanya dengan anak mereka. hampir tiga-perempat responden bekerja/berusaha sendiri. Jenis pekerjaan ke dua yang dilakukan oleh responden adalah sebagai tenaga penjualan. dan tenaga penjualan di kios milik sendiri. Sedangkan persentase responden dengan jenis pekerjaan sebagai tenaga industri adalah 9. Sebaliknya jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik. Termasuk mereka bukan hanya yang bekerja di sektor industri pengolahan ketam. atau sejalan dengan lapangan pekerjaan perdagangan yang juga berada pada urutan ke dua. karena mereka hanya menggunakan sampan atau pompong berkekuatan mesin kecil. Hanya sebagian kecil nelayan yang bekerja dibantu oleh anggota rumah tangganya. Walaupun bekerja sendiri. mereka yang bekerja/berusaha meliputi penyadap karet. pencari kayu. tetapi juga tenaga industri anyaman atap rumah dan makanan (kue yang dititipkan di kios orang lain maupun milik sendiri).2). Berdasarkan status pekerjaan.

juga pada hari minggu.Gambar 2. dan beberapa guru serta pamong desa. Desa Limbung. dengan jam kerja antara 6-8 jam. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.4. pada umumnya mereka adalah ART yang membantu bekerja pada lapangan pekerjaan nelayan dan perdagangan. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 45 . Buruh industri pengolahan ketam dilakukan setiap hari. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. 2008. tergantung pada produksi hasil tangkapan nelayan setempat dan pasokan dari daerah lain. Untuk status pekerjaan sebagai pekerja keluarga hanya sekitar 3 persen. PPK-LIPI 2007 Responden yang bekerja dengan status pekerjaan sebagai buruh/karyawan pada umumnya mereka yang bekerja sebagai buruh industri pengolahan daging ketam. Kabupaten Lingga.

Sedangkan sektor pertanian pangan yang hanya diminati oleh sangat sedikit (0. Pentingnya sub-sektor pertanian pangan dan tanaman keras (perkebunan) sebagai lapangan pekerjaan tambahan mengindikasikan adanya potensi ke arah pengembangan mata pencaharian alternatif pada dua sub-sektor ini. yaitu sebanyak 34 responden (21. 46 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sebagian kecil responden juga mempunyai pekerjaan tambahan.3). tampaknya justru menjadi lapangan pekerjaan tambahan oleh sebagian responden (20.Gambar 2.5 persen responden yang memiliki pekerjaan tambahan.6 persen) responden sebagai lapangan pekerjaan utama (lihat Gambar 2.9 persen dari 155 responden yang bekerja). Kemungkinan besar termasuk kelompok tersebut antara lain responden yang pekerjaan utamanya di sektor perdagangan (biasanya warga keturunan Tionghoa) yang mempunyai usaha kelong.6 persen). Desa Limbung.6 persen dari total responden yang mempunyai pekerjaan tambahan). Hal sama juga untuk sektor perkebunan (17. 2008.5. perikanan tangkap juga menjadi lapangan pekerjaan tambahan bagi sekitar 26. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Selain menjadi lapangan pekerjaan utama. Kabupaten Lingga. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. PPKLIPI 2007 Selain melakukan pekerjaan utama. walaupun perlu dibarengi dengan upaya-upaya peningkatan ketrampilan SDM dan pengelolaan usahatani.

3. tetapi kebanyakan berukuran 175 dan 195. Sedangkan aset non produksi mencakup rumah tinggal dan barang-barang berharga yang dimiliki oleh rumah tangga. Desa Limbung yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan sumber kehidupan pada sumber daya laut. Setiap rumah tangga pemilik perahu motor hanya mempunyai satu buah. Keadaan ini menggambarkan adanya perbaikan kesejahteraan rumah tangga nelayan. semuanya berupa perahu motor dalam. maka rumah tangga bersangkutan juga sejahtera. suatu rumah tangga mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. Berdasarkan hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi. sedangkan rumah tangga yang mempunyai perahu motor sebanyak 45 persen. Pemilikan perahu motor di Desa Limbung memperlihatkan tren yang meningkat selama tahun 2006-2008. maka perahu motor merupakan aset produksi yang sangat berharga bagi suatu rumah tangga nelayan. Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu rumah tangga yang mempunyai banyak aset produksi. dan alat transportasi. lahan/tanah. Informasi yang diperoleh dari beberapa nelayan menunjukkan adanya pemilikan dua jenis armada tangkap (perahu motor dan tanpa motor/sampan) pada beberapa rumah tangga nelayan yang kondisi ekonominya baik. misalnya nelayan kelong bilis. terdapat kira-kira separuh rumah tangga responden mempunyai perahu tanpa motor (sampan). walaupun tidak banyak. Kesejahteraan Untuk mengetahui gambaran kondisi kesejahteraan rumah tangga. serta kondisi permukiman dan sanitasi lingkungan.1. salah satu di atanranya dapat diketahui dari pemilikan aset produksi maupun non produksi.4. Aset produksi antara lain berupa armada dan alat-alat penangkapan.2. Dengan pemilikan aset yang banyak. sehingga dapat dibelanjakan untuk aset rumah tangga non-produksi maupun untuk pemenuhan semua kebutuhan rumah tangganya. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 47 . Pemilikan Aset Rumah Tangga Data pemilikan aset produksi dan bukan produksi berdasarkan hasil survei dapat dilihat pada Tabel 2. Ukuran mesin motor cukup beragam.

0 7.0 4.0 100 100 Asset rumah tangga lain Rumah 92.0 45. Desa Limbung.0 54. yaitu dari 89 persen dari 100 rumah tangga responden menjadi 45 persen.0 100 TV 47.0 57.0 45.0 39. persentase responden yang memiliki bubu hanya 12 persen.1.0 49. terutama di Dusun Centeng dan Sinempek. Sepanjang wilayah pantai.Tabel 2.0 24.0 100 Perhiasan 46.0 100 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.0 100 Asset produktif lainnya 100 Lahan 18. ke alat tangkap bubu ketam. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan alat tangkap dari jaring.0 26.0 66. 2006 dan 2008. Pengamatan di lokasi wilayah penangkapan (fishing ground) memperlihatkan fenomena tersebut.0 59. Pada tahun 2006.0 100 Parabola 41. khususnya jaring ketam. demikian pula hasil wawancara mendalam dengan beberapa nelayan.0 3. PPK-LIPI 2007 Membaiknya kesejahteraan rumah tangga nelayan juga terlihat dari meningkatnya persentase pemilikan alat-alat tangkap selama periode dua tahun terakhir (2006-2008).0 100 Alat transportasi 7. merupakan wilayah penangkapan ketam dengan 48 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kabupaten Lingga Jenis Pemilikan Status Pemilikan 2006 2008 n Asset produktif perikanan Perahu tanpa motor 48.0 98. meningkat sangat tajam menjadi 39 persen. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset.0 100 Perahu motor 41.0 100 Kelong bilis 15. kecuali jaring yang turun tajam.0 100 Karamba 3.0 100 Kendaraan bermotor 22.0 100 Ternak (sapi/kambing) 4.0 100 VCD 35.0 21.0 100 Bubu 12.0 100 Jaring 89.

dan hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan/menumpang parabola milik tetangganya.8 persen). Dalam dua tahun terakhir. Data hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi tahun 2008 memperlihatkan.6 persen) yang memiliki 92 bubu ketam. Keadaan kesejahteraan rumah tangga Desa Limbung dilihat dari aset non-produksi cenderung menunjukkan tren meningkat.1 juga memperlihatkan. kenaikan persentase responden pemilik kelong bilis tersebut merupakan indikasi adanya peningkatan kondisi kesejahteraan sebagian nelayan di Desa Limbung. meskipun masih dapat menghasilkan getah.6 persen) mempunyai bubu sebanyak 50 buah. tetapi harus dikemas dalam bentuk hiburan karena jenis siaran ini yang cenderung K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 49 . Lahan tersebut umumnya berupa lahan kebun karet yang umumnya telah berusia tua dan perlu peremajaan. kira-kira seperempatnya (25. Pemilik kebun karet pada umumnya adalah penduduk desa keturunan Tionghoa. meskipun pada tahun 2008 jumlahnya hanya kira-kira seperempatnya dari 100 rumah tangga yang menjadi sampel penelitian ini. Rumah tangga yang memiliki lahan menunjukkan tren meningkat. Peningkatan pemilikan televisi tersebut merupakan faktor yang kondusif terhadap penyebarluasan informasi pengelolaan terumbu karang. dan satu rumah tangga responden (2. sedang Suku Melayu berperan sebagai pekerja (buruh sadap). Dengan demikian. tergantung pada luas kelong. Tabel 2. Hanya ada sekitar 23. rumah tangga yang memiliki alat tangkap berupa kelong bilis juga meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 2006-2008.1 persen yang mempunyai bubu dengan jumlah kurang dari 25 buah. Selebihnya adalah rumah tangga yang mempunyai bubu antara 25-49 buah (48. Modal untuk membuat kelong bilis yang mencapai jutaan rupiah. Jumlah pemilikan barang elektronik adalah satu buah untuk setiap rumah tangga. Peningkatan pesat terlihat pada rumah tangga yang memiliki televisi dan VCD. Kondisi ini berkaitan dengan jumlah pemilikan bubu oleh rumah tangga nelayan yang umumnya mencapai puluhan buah.menggunakan bubu yang jumlahnya cukup banyak. serta parabola. semua jenis aset non-produksi semakin banyak dimiliki oleh rumah tangga sampel. Pada umumnya rumah tangga yang memiliki televisi juga memiliki parabola.

Tren meningkat terkait dengan pemilikan aset non-produksi juga terjadi untuk jenis rumah. Hanya sebagian kecil rumah yang dindingnya terbuat dari tembok atau papan kayu berkualitas baik. dan sebagian lainnya terbuat dari anyaman sejenis daun pandan. Sedangkan atap rumah pada umumnya terbuat dari seng.1). dan beratap seng. demikian pula lantai rumah.diminati oleh penduduk di daerah penelitian. Menurut pengamatan dan wawancara dengan beberapa informan. Bak penampungan air tersebut dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kimpraswil. kira-kira sepertiga (32. Sedangkan pemilikan perhiasan juga meningkat (Tabel 2. tetapi tampaknya kurang berhasil karena 50 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kondisi Perumahan dan Sanitasi Lingkungan Indikator kesejahteraan dari aspek perumahan dan sanitasi lingkungan meliputi kondisi fisik rumah.7 persen dari 49 rumah tangga responden) memiliki sebanyak tiga unit. kondisi bangunan rumah dalam dua tahun terakhir ini cenderung tidak ada perubahan. Selebihnya. Setiap rumah tangga memiliki satu buah rumah dengan kondisi bangunan yang umumnya sederhana. Sumber air bersih berasal dari mata air yang dialirkan ke beberapa hidran dan bak penampungan air ke permukiman penduduk. berupa rumah panggung yang didirikan di atas permukaan air laut. Sedangkan rumah tangga yang memiliki dua unit perhiasan sekitar seperempatnya (26. Pada tahun 2008. Hampir semua rumah tangga responden mempunyai rumah. Kondisi fisik rumah cenderung masih sederhana. Sebagian rumah tinggal di Desa Limbung berdiri di atas daratan yang langsung menempel pada permukaan tanah maupun berupa rumah panggung. memberikan indikasi adanya perbaikan kesejahteraan. sarana mandi-cucikakus. sumber air bersih. Sebagian rumah lainnya. berlantai keramik. dan tempat pembuangan air limbah rumah tangga. walau sebagian rumah tangga responden memiliki rumah yang kondisi bangunan lebih baik dari rumah kebanyakan. kecuali beberapa rumah milik penduduk yang berkecukupan. atau lebih tinggi dari rumah tangga yang hanya memiliki satu unit perhiasan. terutama yang berada di pinggir pantai.5). Dinding rumah pada umumnya terbuat dari papan.4 persen memiliki perhiasan antara 4-10 unit. yakni 20.

Kondisi sanitasi lingkungan seperti ini mungkin bukan berkaitan dengan kesejahteraan penduduk. Tempat MCK umum yang tersedia di Dusun Air Brani dan Seranggas. tetapi pada musim kemarau hidran juga kering. tetapi tampaknya berkaitan dengan belum baiknya pengetahuan mereka tentang kesehatan lingkungan. Sedangkan saluran pembuangan limbah rumah tangga juga jauh dari standar kesehatan. Kepedulian penduduk terhadap lingkungan yang belum baik juga terlihat dari kepemilikan kakus yang tidak higienis. selebihnya penduduk memanfaatkan kakus/WC cemplung milik sendiri yang limbahnya langsung dibuang ke laut atau anak sungai yang berada di dekat rumah. Limbah cair. Penduduk memanfaatkan hidran air bersih yang telah ada sejak dua tahun sebelumnya yang didanai Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM Infrastruktur Pembangunan (PKPS-IP). Sebagian rumah tangga memiliki sumur gali dengan kondisi sangat sederhana sebagai sumber air minum. yaitu air bekas mencuci dan mandi.kesalahan tehnis penempatan bak penampungan yang menyebabkan air tidak bisa mengalir ke dalam bak tersebut. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 51 . maupun limbah padat dibuang di laut atau di pekarangan rumah. juga mandi dan cuci.

52 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA alam upaya meningkatkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan pelestarian terumbu karang di perairan Kabupaten Lingga. Kegiatan yang sudah berjalan pada COREMAP I adalah kegiatan pengawasan terhadap daerah konservasi terumbu karang yang ditetapkan di Pulaua Hantu. COREMAP mengimplementasikan berbagai program di beberapa lokasi.2009. Kabupaten Lingga masih termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Riau. 6 D Fase pertama seharusnya berakhir pada tahun 2004. sedangkan COREMAP II antara tahun 2005. kegiatan-kegiatan tersebut juga berhenti. dan penghitungan ekonomi dari pengambilan SDL. Ketika COREMAP I diimplementasikan di Desa Limbung. Perubahan administrasi pemerintahan ini mempengaruhi kegiatan COREMAP I yang terhenti sebelum waktunya. sejalan dengan berhentinya COREMAP I. baik daerah pesisir maupun kepulauan. Pertanggungjawaban COREMAP I berada di BAPPEDA tingkat provinsi. yang kemudian dimulai lagi dengan pembentukan Pokmas-Pokmas pada COREMAP II. Namun demikian. sedangkan COREMAP II pada Pemerintah Daerah Tingkat II Bupati Kabupaten Lingga. daerah penangkapan SDL. COREMAP ditujukan untuk masyarakat nelayan dan keluarganya yang diperkirakan mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan sumber daya laut. Di Desa Limbung. Pada dasarnya. namun sejak otonomi daerah masuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau. program ini telah berlangsung sejak fase pertama namun terhenti karena adanya perubahan administrasi struktur pemerintahan di tingkat provinsi. khususnya ekosistem terumbu karang. pembangunan pondok informasi dan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pemetaan lokasi terumbu karang. COREMAP I berlangsung antara tahun 1999 hingga pertengahan tahun 20036. Perbedaan antara COREMAP I dan II terletak pada aspek pertanggungjawaban teknis maupun non-teknis. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 53 .

59/KPTS/VI/2005. tetapi baru sebagian kecil dari yang semestinya dilakukan. PBM (Pengelolaan Berbasis Masyarakat). Komponen-komponen COREMAP yang bertugas untuk mengimplementasikan program tersebut adalah CRITC (Coral Reef Information and Training Center). dalam hal ini Departemen Perikanan dan Kelautan. 3.Pada bagian ini dikemukakan implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga dan implikasinya terhadap kehidupan masyarakat di lokasi progam. Melalui pendekatan ini diharapkan masyarakat berpartisipasi secara aktif pada setiap program yang dilaksanakan.1. mengkordinasikan. Pada SK bupati tersebut tercantum bahwa Ketua KPD adalah Kepala BAPPEDA Kabupaten Lingga yang beranggotakan staf dari berbagai instansi. Semua komponen tersebut dikoordinir oleh seorang yang duduk sebagai Project Implementation Units (PIU). and Surveillance) dan PA (Public Awarenees-penyadaran masyarakat). MCS (Monitoring. Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanan COREMAP II adalah pengelolaan yang berbasis masyarakat. Tugas KPD adalah mengarahkan. Pelaksanan COREMAP II di Kabupaten Lingga diawali dengan kegiatan pembentukan KPD (Komite Pengarah Daerah) oleh Bupati Lingga yang tertuang pada Surat Keputusan Bupati Lingga No. Banyak 54 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan memberi masukan terhadap segala bentuk perencanaan dan kegiatan yang menjadi tujuan dan target program COREMAP II kepada PIU (Project Implementation Units). (2) pengetahuan dan partisipasi masyarakat di lokasi program dalam kegiatan COREMAP. semua komponen COREMAP talah melaksanakan kegiatan. baik pada tingkat kabupaten sebagai pengelola maupun desa sebagai pelaksana program. yaitu:(1) pelaksanaan COREMAP di tingkat kabupaten dan tingkat desa dengan menekankan pada aspek permasalahan dan kendala. Ada dua pokok bahasan yang dikaji. PELAKSANAAN COREMAP: PERMASALAHAN DAN KENDALA Program nasional COREMAP di Kabupaten Lingga dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat. Selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga. Controlling.

kendala yang dihadapi, baik menyangkut persoalan dana pendamping, personil pada setiap komponen di tingkat kabupaten maupun di lokasi program. 3.1.1. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten PIU (Project Implementation Units) Pengelola COREMAP II di tingkat kabupaten adalah PIU (Project Implementation Units)7 yang berperan untuk memfasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian COREMAP. Keberadaan PIU bertujuan agar program COREMAP dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip, kebijakan, prosedur, dan mekanisme COREMAP di lokasi program. Pada setiap kabupaten, PIU terdiri dari unsur-unsur DKP, BAPPEDA, KSDA atau Taman Nasional Laut terkait, serta instansi terkait lainnya. Kelompok ini secara khusus dibantu oleh tim konsultan yang akan membantu kegiatan ini hingga PIU dapat berjalan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Keputusan pembentukan PIU COREMAP II tercantum dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 yang dikeluarkan tanggal 23 Juni 2005. Struktur kepengurusan PIU meliputi berbagai unsur kepemerintahan dari Kabupaten Lingga yang terbagi menjadi lima komponen yang bertanggung jawab langsung kepada PIU, yaitu (1) Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia; (2) Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Masyarakat (CBM); (3) Penyadaran Masyarakat (PA); (4) Penegakan Hukum (MCS); dan (5) Pelatihan dan Informasi Terumbu Karang (CRITC). Setiap komponen terdiri dari koordinator yang membawahi anggota antara enam (6) hingga sembilan (9) orang yang berasal dari berbagai dinas terkait. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIU COREMAP II mempertanggungjawabkan pelaksanaan program

Untuk selanjutnya tulisan ini akan menggunakan singkatan PIU (Project Implementation Units) yang umum digunakan untuk proyek COREMAP yang didanai ADB.

7

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 55

kepada Bupati Lingga. Sesuai dengan surat keputusan tersebut, tugas PIU adalah8: 1. Melakukan implementasi aspek perencanaan dalam rangka memadukan perencanaan pembangunan kegiatan program COREMAP II Kabupaten Lingga dengan pembangunan daerah serta melakukan pemantapan perencanaan pembangunan yang ramah lingkungan di Kabupaten Lingga secara berkesinambungan; 2. Melaksanakan survei (penelitian/kajian) dan pelatihan dalam rangka pembangunan program COREMAP II; 3. Melaksanakan pengendalian, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan program COREMAP II; 4. Membuat laporan perkembangan secara berkala sesuai dengan tahapan perencanaan dan tahapan pengendalian, juga analisa terhadap program yang terkait dalam program COREMAP II Kabupaten Lingga. Telah dikemukakan di atas, selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga, tampaknya masih banyak kegiatan yang belum berjalan sesuai dengan rencana. Banyak faktor yang berpengaruh. Menurut beberapa anggota komponen, permasalahan ini terutama disebabkan oleh ketidakpedulian PIU
Tugas PIU yang tercantum pada SK Bupati tersebut sesuai dengan tanggung jawab dan fungsi PIU yang tertera dalam buku pedoman umum PBM COREMAP fase II (2007:30), yaitu (1) melaksanakan kebijakan dan rekomendasi Dewan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (CCEB/Coastal Community Empowerment Board); (2) mempersiapkan rencana kerja dan anggaran tahunan sesudah mendapat persetujuan CCEB; (3) mengkoordinasikan keseluruhan program; (4) mengelola anggaran, administrasi, pemantauan dan evaluasi; (5) mengadakan sosialisasi di wilayah program; (5) Menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan (keuangan dan fisik) ke NCU (National Coordinating Unit); (6) Mempersiapkan strategi untuk mengatasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan program; (7)Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan program.
8

56 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

dalam menjalankan fungsinya dalam mengkoordinasi dan memfasilitasi semua kegiatan yang semestinya dijalankan setiap komponen COREMAP. Lemahnya fungsi koordinasi PIU terhadap semua komponen, antara lain diindikasikan oleh sangat jarangnya pertemuan antar anggota komponen COREMAP untuk saling bersinergi dalam menjalankan tugasnya. Selama tiga tahun proyek COREMAP II berjalan, hingga saat ini (Mei 2008) pertemuan seluruh komponen COREMAP untuk koordinasi program dengan undangan dari PIU baru dua (2) kali. Akibatnya, masing-masing komponen cenderung berjalan sendiri-sendiri, bahkan komponen yang bukan berasal dari instansi teknis (KDA) cenderung tidak menjalankan kegiataan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini kemungkinan besar karena mereka tidak mengetahui dengan jelas tentang tugas pokok dan fungsinya dalam COREMAP II. Sebagai contoh, salah seorang anggota pelaksana COREMAP yang namanya tertulis dalam SK hingga penelitian BME ini berlangsung, belum mengetahui tentang keterlibatannya dalam kegiatan COREMAP di Kabupaten Lingga, karena belum pernah diberitahukan, apalagi diberi SK tentang kepenguruasan COREMAP. Ketua PIU yang juga merangkap lebih dari dua jabatan struktural disamping jabatan pada proyek lainnya tampaknya menghambat kegiatan-kegiatan COREMAP yang menjadi tanggung jawabnya. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kegiatan yang harus dilakukan oleh komponen-komponen pada COREMAP. Namun demikian, kendala-kendala di tingkat PIU tersebut tidak terlepas dari keterlambatan pencairan dana pendamping COREMAP yang bersumber dari anggaran APBD. Dikemukakan oleh seorang informan yang mengetahui aspek anggaran COREMAP, dana pendamping pada tahun 2006 baru dapat dicairkan pada bulan Oktober 2006, bahkan anggaran pada tahun 2007 baru turun dua bulan sebelum anggaran harus dipertanggungjawabkan. Sedangkan dana pendamping pada tahun 2008, hingga saat penelitian ini berlangsung (bulan Mei) belum ada tanda-tanda kapan akan turun. Keterlambatan dana pendamping yang jumlahnya tidak besar (10 persen) tersebut sangat berpengaruh terhadap pencapaian program, karena kegiatan COREMAP di lokasi program tidak bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 57

yaitu: 1) Pelatihan pada kelompok sasaran di tingkat kabupaten maupun desa terpilih. yang praktis hanya berjalan antara 2-3 bulan. pada umumnya tidak memenuhi persyaratan yang disepakati dalam lelang. sebanyak 32 persen dari total COREMAP II di Kabupaten Lingga harus dikembalikan ke negara karena tidak terserap dalam kegiatan. menyebabkan kegiatan COREMAP dilakukan dengan sistem kejar target (terburu-buru). Dari 68 persen yang terserap. Keadaan ini berdampak pada kualitas pekerjaan yang rendah. karena umumnya hanya dilakukan asal jadi sebagai akibat dana harus segera dipertanggungjawabkan. Dalam implementasi pelaksanaan kegiatan COREMAP Kabupaten Lingga. sebanyak 40 persen untuk pembangunan infrastruktur. seperti telah dikemukakan di atas. Terdapat empat indikator yang mendukung program ini. PIU membawahi beberapa koordinator yang tercakup dalam empat komponen projek. Keterlambatan pencairan dana pendaping tersebut juga menyebabkan sebagian anggaran harus dikembalikan ke negara. Keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan program nasional terumbu karang tersebut. Komponen Penyadaran Masyarakat (Public Awareness) Pelaksanaan kegiatan pada komponen penyadaran masyarakat (public awareness) yang disingkat dengan kata PA bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan adanya perubahan kebijakan dan keputusan yang lebih baik tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut. 58 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sedangkan 28 persen untuk kegiatan lainlain. Kegiatan ini melibatkan berbagai stakeholders di tingkat kabupaten maupun lokasi program. Lebih tingginya penyerapan dana untuk pembangunan fisik daripada kegiatan lain-lain tersebut menggambarkan bahwa kegiatan COREMAP tampaknya belum menyentuh pada pembangunan non fisik yang secara langsung berpengaruh terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan COREMAP dengan sistem kejar target tersebut antara lain terlihat dari pekerjaanpekerjaan infrastruktur bantuan COREMAP yang dilakukan oleh pihak ke tiga..dilaksanakan sebelum dana pendamping turun.

sehingga informan tersebut tidak mengetahui tugas dan fungsinya dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Implementasi kegiatan PA di Desa Limbung masih sangat terbatas. kecuali hanya mengetahui bahwa salah satu kegiatan PA adalah melakukan distribusi poster dan brosur. menyebabkan kegiatan tidak efektif dalam upaya meningkatkan penyadaran masyarakat. Kegiatan di tingkat kabupaten masih terbatas pada distribusi poster dan brosur (leaflet) ke lokasi program. Tanpa ada kontrol dari anggota komponen PA ke lokasi program. Contoh nyata dari permasalahan tersebut ditemukan di Desa Limbung. Poster dan brosur penyadaran masyarakat yang sudah beberapa bulan dipasang di Pondok Informasi (PI) sebelum penelitian BME Aspek Sosial K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 59 . komponen PA beranggotakan enam (6) orang yang dikoordinir oleh staf dari Kantor Sumber Daya Alam. sejak penetapan SK. 4) Para stakeholders berpartisipasi dalam mendukung manajemen peningkatan ekosistem terumbu karang dari survey data dasar sebesar 20 %. Itupun tampaknya tidak dilakukan kontrol terhadap pelaksanaan di desa. projector video. anggota komponen PA belum pernah melakukan pertemuan. Anggota dipilih dari unsur dinas pemerintah kabupaten dengan anggota berasal dari tingkat kecamatan sebagai lokasi program (yaitu Kecamatan Senayang dan Kecamatam Lingga Utara). Berdasarkan SK Bupati Lingga tentang pembentukan PIU. 3) Faslitas komponen ini adalah peralatan seperti kamera video.2) Pelakukan advokasi melalui mass media tentang konservasi terumbu karang yang pengelolaannya berbasis masyarakat. Hal ini karena poster dan brosur tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang yang ditipkan kepada pelaksana di lapangan tersebut tidak menjamin sampai dengan cepat ke masyarakat. Menurut informasi dari salah seorang anggota PA. dan computer untuk membuat dokumen aktivitas program COREMAP fase II. Poster dan brosur biasanya hanya dititipkan pada pelaksana di lokasi program yang datang ke kabupaten. Informan lain dari komponen yang sama juga mengungkapkan ketidaktahuannya tentang kegiatan-kegiatan yang mestinya dilakukan.

3) Mengembangkan infrastruktur masyarakat dan kesempatan ekonomi yang berorientasi ke depan agar kehidupan sumber daya laut dapat berlanjut. khususnya ekositem terumbu karang. 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi dalam kelanjutan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut dan pencegahan terjadinya degradasi laut. pada COREMAP II dilakukan melalui pendekatan yang berbasis masyarakat. Tujuan tersebut kemudian diterjemahkan dalam empat (4) kegiatan PBM. Komponen Pengelolaan Sumberdaya (Community Based Management) Berbasis Masyarakat Pengelolaan sumber daya laut.Ekonomi ini berlangsung. Melakukan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat antara lain untuk mengontrol aktivitas yang merusak terumbu karang dan memprotek lokasi atau tempat biota laut berada. - - 60 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . khususnya terumbu karang. Melakukan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat seperti bangunan sarana-prasarana kebutuhan pokok masyarakat. rehabilitasi dan memprotek lingkungan tempat biota laut yang dilindungi berada. Pendekatan ini dikenal Community Based ManagementCBM). pada kenyataannya baru saja disebarkan ke dusun lainnya. Terdapat tiga (3) tujuan dari komponen PBM. yaitu: Melakukan penguatan masyarakat dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat dan memperkuat kapasitas lembaga. atau Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM). yakni: 1) Meningkatkan penguatan tingkat ekonomi masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian alternatif.

-

Melakukan pengembangan mata pencaharian alternatif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat seperti mengembangkan jaringan pasar dan meningkatkan pengetahuan manajemen usaha kecil.

Dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 ditetapkan anggota PBM Kabupaten Lingga berjumlah delapan (8) orang yang berasal dari berbagai unsur aparat pemerintah Kabupaten Lingga. Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan Setda Lingga sebagai koordinator, sedangkan anggotanya terdiri dari Dinas SDA, Bawasda, dan camat di wilayah program. Implementasi program PBM tampaknya belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Menurut salah seorang staf komponen COREMAP, program komponen CBM mungkin baru berjalan sekitar separuhnya, antara lain meliputi: - Pelatihan PBM di Bali dengan peserta dua orang koordinator dari komponen CBM dan CRITC. Kegiatan menggunakan dana Dipa APPBN Dinas SDA; - Pelatihan manajemen kepengurusan LPSTK di Senayang pada tahun 200 selama satu hari. Peserta adalah perwakilan dari setidap desa yang menjadi lokasi COREMAP. Pelatihan ini diadakan dalam rangka pembentukan LPSTK - Pelatihan tentang pembukuan laporan keuangan yang diselenggarakan di Senayang yang diikuti oleh bendahara LPSTK; - Pelatihan selam di Tanjung Pinang; - Tahun 2007 melakukan beberapa pertemuan dengan masyarakat pengelola terumbu karang, aparat desa, aparat kecamatan, tokoh masyarakat. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan lokasi kegiatan PBM dan penyusunan profil desa. - Tahun 2007 melakukan pengumpulan informasi tentang profil SDM, SDA, pemanfaatan sumberdaya pantai pada area terumbu karang dan penilaian kebutuhan dari sisi ekonomi, lingkungan dan sumberdaya khusus di lokasi COREMAP

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 61

yang dapat dikembangkan sebagai sumber penghidupan nelayan. - Pelatihan kelompok jender dengan kegiatan membuat kerupuk di Senayang pada tahun 2007, dengan peserta ketua dan satu orang anggota Pokmas. Kegiatan ini sering dikaitkan pula dengan usaha ekonomi produktif (UEP). Namun demikian, pelatihan ini seolah-olah hanya untuk mengisi kegiatan, karena materi pelatihan tersebut sudah pernah dilaksanakan pada masa COREMAP I. - Pembangunan infrastruktur di lokasi COREMAP dengan jenis bangunan fisik yang berbeda-beda di setiap desa. Untuk Desa Limbung, pembangunan infrastruktur yang dilakukan adalah membangun tambatan perahu, memperbaiki pondok informasi, dan membangun fasilitas MCK umum; - Pengembangan budidaya kerapu tiger sebagai pengganti budidaya teripang yang tidak berhasil pada kegiatan sebelumnya Mengacu kepada beberapa program yang telah dilaksanakan oleh komponen PBM di atas dan dikaitkan dengan fokus PBM, tampaknya masih terdapa beberapa kegiatan yang belum sepenuhnya sampai pada masyarakat di kawasan COREMAP. Kegiatan yang telah dilakukan masih pada tahap pelatihan, pembangunan, dan pengumpulan informasi berkaitan dengan profil lokasi COREMAP. Demikian pula kegiatan baru diimplementasikan pada kampung yang mudah dijangkau dari tingkat kabupaten yang telah menjadi lokasi COREMAP sejak fase I. Keterbatasan program dan kegiatan PMB di tingkat lokasi program tersebut cenderung sebagian masyarakat di lokasi yang tidak atau belum tersentuh program COREMAP merasa ditinggalkan atau tidak diikutsertakan. Hal ini membuat sebagian masyarakat tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam COREMAP, bahkan di antaranya ada yang tidak mau terlibat karena dianggap hanya menimbulkan konflik di antara mereka dan tidak memberi keuntungan. Kemungkin permasalahan ini muncul karena efektifnya kegiatan sosialisasi COREMAP kepada masyarakat, khususnya di dusun-dusun yang sulit letaknya agak jauh dari pusat desa.

62 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Kendala lain terkait dengan kegiatan PBM adalah minimnya dana yang langsung dapat dikelola masyarakat, sehingga pelaksanaannya pun tidak maksimal. Misalnya, bantuan untuk kegiatan jender yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi keluarga hanya sekitar 1,2 juta pada saat pelatihan, tetapi dana itu tidak semuanya untuk implementasi program, karena harus dikurangi untuk biaya transporatsi ke tempat pelatihan (di Desa Sekanah) dan membeli peralatan memasak. Dengan demikian, dana yang sampai ke Pokmas Jender tinggan sedikit. Sebagai contoh, kelompok jender Desa Limbung hanya menerima dana sebesar Rp. 200.000,- yang kemudian dipakai untuk kas Rp. 50.000,- dan kegiatan usaha sebesar Rp. 150.000,- . Kegiatan usha yang semestinya dilakukan secara berkelompok, pada kenyataannya dibagikan kepada anggota karena mereka tidak terbiasa kerja kelompok, sehingga masing-masing anggota hanya menerima Rp. 15.000,- yang dimanfaatkan untuk untuk membuat kerupuk dan makan kecil yang kemudian dijual dengan cara dititipkan di warung. Komponen Penegakan Surveillance) Hukum (Monitoring, Controlling &

Fungsi dan tugas komponen Monitoring, Controlling & Surveillance (MCS) adalah memonitor, mengawasi, dan menjaga ekosistem sumber daya laut, termasuk terumbu karang, dari perilaku orangorang yang tidak bertanggungjawab agar tetap terjaga keberadaan dan kelestariannya. Hal ini karena ekosistem terumbu karang sangat penting perannya bagi keberlanjutan kehidupan nelayan dan pelestarian sumber daya laut pada masa datang. Seperti halnya kondisi di Indonesia pada umumnya, terumbu karang di perairan kawasan Lingga sudah cukup mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan tingginya aktivitas nelayan, khususnya nelayan pendatang, yang mencari ikan dengan mengunakan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang, misalnya penggunaan bom, racun, kompresor, dan parit gamat (alat penangkap teripang). Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. 58/KPTS/VI/2005, komponen MCS di Kabupaten Lingga beranggotakan enam (6) orang yang berasal dari berbagai unsur pemerintahan yang bertanggung

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 63

jawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Koordinator MCS adalah dari instansi Bawasda (Badan Pengawasan Daerah), sedangkan anggotanya terdiri dari instansi Kesbang Linmas, Polres, Kejaksaan, dan Lannal Dabo Sinkep. Kegiatan yang dilakukan oleh komponen ini masih sangat terbatas, bahkan sebagian besar anggota masih belum mengetahui dengan pasti tentang tugas dan fungsi mereka dalam pelaksanaan program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut. Padahal keberadaan komponen ini sangat penting di kawasan perairan Lingga yang masih sering menjadi lokasi target penangkapan ikan dengan menggunakan alatalat terlarang, disamping kegiatan eksploitasi SDA (misalnya kegiatan penambangan pasir dan boksit) yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap degradasi lingkungan laut dan ekosistem di perairan tersebut. Namun demikian, berdasarkan wawancara mendalam dengan beberapa anggota komponen COREMAP II diketahui adanya beberapa permasalahan dan kendala yang dihadapi komponen MCS untuk dapat menjalankan kegiatannya, yaitu: - Lemahnya koordinasi antara anggota komponen MCS maupun antara MCS dengan anggota komponen COREMAP II lainnya. Kendala geografis dan pendanaan menyebabkan kegiatan MCS tidak dapat dilakukan sesuai dengan harapan. Keberadaan sebagian orang anggota yang masih berkantor dan tinggal di Kota Dabo yang termasuk dalam wilayah Kepulauan Singkep sangat tidak efektif dalam mendukung pelaksanaan MCS, karena semua lokasi kegiatan COREMAP II berada di kawasan yang tidak jauh dari Kepulauan Lingga. Kendala geografis tersebut juga berimbas pada masalah waktu dan pendanaan, karena apabila mengadakan pertemuan untuk koordinasi di suatu lokasi tertentu sangat tergantung dengan waktu dan anggaran yang ada. - Kurangnya pengetahuan anggota MCS tentang COREMAP, terutama berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai pengurus dan pelaksana komponen MCS, karena hingga kini belum pernah ada anggota MCS yang mengikuti pelatihan

64 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Minimnya peralatan yang dimiliki komponen MCS untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. . . kegiatan Pokmaswas menjadi tanggung jawab penduduk di Dusun Air Kelat yang karena lokasi daerah konservasi cukup dekat. Faktor penyebabnya adalah masalah pendanaan dan tidak adanya kata ”putus” dari PIU untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dengan demikian. maka mereka dapat melakukan pengawasan setiap saat.berkaitan penegakkan hukum terkait dengan pengawasan terumbu karang. Padahal perairan Kawasan Lingga sering menjadi wilayah penangkapan SDL dengan menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem terumbu karang. komponen MCS tidak bisa menangkappelaku pencurian maupun penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang merusak. misalnya. Bahkan.Terbatasnya kegiatan MCS di tingkat kabupaten berdampak pada pelaksanaan di tingkat lapangan/lokasi program. Komponen MCS di Kabupaten Lingga hanya mempunyai kapal yang kapasitas mesinnya lebih kecil dibandingkan dengan kapal nelayan yang melakukan penangkapan secara ilegal. Walaupun pernah ada pelatihan untuk anggota MCS di luar Kepulauan Riau yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat. keterbatasan kapasitas kapal untuk kegiatan pengawasan tersebut menyebabkan kapal sering dipergunakan untuk alat transportasi antar pulau-pulau kecil di kawasan Kepulauan Lingga. Berdasarkan wawancara dengan komponen COREMAP maupun pihak masyarakat. penduduk di Dusun Air Kelat yang letaknya paling dekat dengan Pulau Hantu sebagai lokasi daerah perlindungan laut pada umumnya belum mengetahui adanya COREMAP II. Padahal pada pelaksanaan COREMAP I. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 65 . tetapi COREMAP dari Kabupaten Lingga tidak mengirimkan perwakilannya. keberadaan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) masih terbatas pada nama. Di Desa Limung.

dokumentasi. Dana untuk kegiatan ini sudah dianggarkan hanya tinggal pelaksanaannya.3. Pemda bagian informasi. disnakertrans. Pada awalnya akan diikutsertakan dua orang staf. komponen CRITC akan diawali dengan membangun pusat informasi di desa atau lokasi COREMAP. Antara lain dari dinas perhubungan & PU. anggota komponen CRITC kawasan Lingga adalah sembilan (9) orang yang terdiri dari berbagai unsur pemerintah Kabupaten Lingga.1. Hingga evaluasi ini dilakukan (Mei 2008) CRITC belum melakukan kegiatan. lingkungan hidup. Menurut rencana. Tepat pada waktunya tidak jadi karena hingga waktunya ijin dari PIU tidak keluar. termasuk terumbu karang. dan Humas Kab. yaitu sebagai tempat penyebaran informasi berkaitan dengan kegiatan COREMAP dan isu-isu pelesatrian terumbu karang. BAPPEDA.2. maka dana yang disediakan hanya untuk merenovasi bangunan tersebut. Lingga. yaitu dari komponen CRITC dan komponen COREMAP lainnya. 66 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pelatihan dari tingkat pusat (Krill) pernah diadakan di luar Kepulauan Riau. baik yang berkaitan dengan pelatihan tentang terumbu karang maupun penyelenggaraan pusat informasi di lokasi COREMAP atau desa pilihan COREMAP. Komponen CRITC Kabupaten Lingga berencana akan melaksanakan pelatihan Krill di Daik pada tahun 2008 ini. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/CRITC) Komponen CRITC bertujuan dalam memberi informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan ekositem SDL. Kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dalam rangka konservasi terumbu karang. namun staf dari komponen COREMAP Kabupaten Lingga tidak ada yang pergi atau mewakili. Misalnya memperbaiki bangunan yang rusak dan menambah fasilitas lain yang dibutuhkan. dan Pemda bagian sosial. Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. 58/KPTS/VI/2005. Keberadaan pusat informasi ini dianggap penting karena di tempat ini semua kegiatan desa akan berfokus. Pada desa yang telah dibangun pusat informasi pada saat pelaksanaan COREMAP fase I. belum dilaksanakan. baik pada tingkat pengurus di kabupaten maupun peaksana di daerah konservasi atau desa COREMAP.

Pada tahun 2006. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa Terdapat beberapa lokasi COREMAP di provinsi Kabupaten Lingga. dan pemb entukan kelompok masyarakat.1. pembangunan infrastruktur sosial ekonomi sebagai pendukung kegiatan COREMAP di bidang lain. Infrastruktur yang dibangun pada fase I meliputi sarana air bersih. tetapi beberapa anggota Pokmas pada COREMAP I kembali terlibat pada keanggotanan untuk kegiatan COREMAP fase II. Salah satu desa yang menjadi fokus implementasi COREMAP adalah Desa Limbung yang terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Kabupaten Lingga.3. yaitu membangun beberapa pompa air. Implementasi COREMAP fase I di Desa Limbung meliputi berbagai pelatihan yang berkaitan dengan program COREMAP. ketrampilan masyarakat yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh COREMAP I juga tidak dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi produktif.3. Sedangkan infrastruktur yang mendukung kegiatan COREMAP adalah pondok informasi yang dilengkapi dengan papan untuk menempelkan poster dan pengumuman tentang kegiatan COREMAP yang saat ini masih jarang dimanfaatkan. namun sekarang sudah rusak dan tidak berfungsi lagi. pada bagian ini dideskripsikan pelaksanakan kegiatan COREMAP di Desa Limbung serta permasalahan yang dihadapi dalam implementasi. COREMAP mulai dilaksanakan kembali di Desa Limbung setelah mengalami kevacuman selama kurang lebih dua tahun. Seperti halnya program yang telah dilaksanakan sebelumnya. Demikian pula Pokmas yang dibentuk dan telah menjalankan kegiatannya pada fase I sudah tidak ada. Seiring dengan berhentinya kegiatan Pokmas COREMAP I. Untuk mengetahui perkembangan implementasi COREMAP di tingkat desa. COREMAP fase II yang dimulai pada tahun 2005 di Desa Limbung. kegiatan COREMAP II dilakukan melalui berbagai tahap mulai dari persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan. walaupun COREMAP fase II sudah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 67 .

(2) penguatan kelembagaan di daerah dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang. berikut ini dideskripsikan 9 Strategi 1: memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang 10 Strategi 5: menciptakan dan memperkuat komitmen. 2005:10-12). Program ini lebih ditujukan kepada pengelola di tingkat kabupaten atau nasional. (4) pengaktualisasi tradisi musyawarah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Pembentukan LPSTK dilakukan pada tahun 2006. (3) peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Strategi pertama adalah program tentang peningkatan peran serta lembaga non pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir. tampaknya yang tidak langsung berkaitan dengan pengelolaan kelembagaan di tingkat desa adalah program peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. yaitu: (1) peningkatan kuantitas dan kualitas SDM di berbagai institusi melalui perekrutan. semenjak tahun 2006 telah membentuk beberapa lembaga yang terkait dengan komponen COREMAP. Sedangkan strategi ke lima meliputi empat program. Desa Limbung yang merupakan salah satu desa implementasi program COREMAP II di Kabupaten Lingga. kapasitas dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang 68 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Di antara kesembilan strategi tersebut. pemerintah menetapkan sembilan (9) strategi dan 34 program sebagai kebijakan nasional (DKP. sedangkan Pokmas tahun anggaran 2007.Kelembagaan COREMAP Di Desa Limbung Dalam rangka pengelolaan terumbu karang. Untuk selanjutnya. Ada dua kelembagaan pokok yang mendukung kegiatan COREMAP II. pelatihan serta pendidikan formal dan informal. yaitu Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan Kelompok Masyarakat (Pokmas). program yang berkaitan dengan kelembagaan dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang tercantum pada strategi pertama9 dan ke lima10. Dari kelima program tersebut.

Oleh karena itu. Sepulangnya dari pelatihan. yaitu Dusun Centeng yang terletak di pusat desa. Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Kegiatan COREMAP di Desa Limbung diawali dengan mengirimkan tiga (3) orang penduduk desa tersebut pada kegiatan pelatihan calon pengurus LPSTK di Senayang atas undangan pihak kabupaten. (2) merangkul seluruh masyarakat untuk ikut andil dalam pengelolaan kegiatan. Walaupun pembentukan LPSTK atas anjuran manajemen COREMAP tingkat kabupaten. (b) cara menyusun perencanaan kegiatan satu tahun ke depan (RPTK). LPSTK bertanggung jawab atas terlaksananya semua kegiatan COREMAP di Desa Limbung. terutama kelompok binaan komponen COREMAP. Tujuan pembentukan LPSTK adalah untuk membantu pemerintah kabupaten dalam rangka mensukseskan program COREMAP. peserta mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa untuk memilih kepengurusan LPSTK. Oleh karena itu. dan aparat desa. pemilihan pengurus LPSTK Desa Limbung melibatkan perwakilan masyarakat. pemilihan pengurus lembaga ini dipilih atas dasar kesepakatan masyarakat. itupun tidak mencakup semua lingkungan RW (Kampung) yang ada di dusun tersebut. LPSTK bertugas mengawasi dan mengkoordinir semua perangkat COREMAP di tingkat desa. yaitu: (1) mewujudkan LPSTK menjadi lembaga yang berbadan hukum . Dari hasil pertemuan warga terbentuk kepengurusan LPSTK K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 69 . Namun demikian. Dalam hal ini. (3) memfasilitasi keberhasilan kegiatan Pokmas. dan (c) pemberitahuan tentang anggaran LPSTK. diasmping karena jauh lokasinya.dan dikaji permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh lembagalembaga COREMAP yang ada di Desa Limbung. juga karena pelaksanaan COREMAP II cenderung hanya dikonsentrasikan di salah satu dusun. LPSTK merupakan lembaga di tingkat desa dengan visi untuk mensukseskan program COREMAP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pelatihan tersebut hanya dilakukan selama satu hari dengan materi: (a) menjelaskan fungsi dan peran LPSTK. tidak semua dusun yang ada di Desa Limbung hadir pada saat pemilihan pengurus. tetapi terbatas pada tokoh masyarakat. Sesuai dengan AD/ART.

sehingga menimbulkan kecemburuan bagi penduduk di dusun dan kampung lain yang merasa tidak diikutkan dalam kegiatan COREMAP II. dan pembina). Kenyataan ini berdampak negatif terhadap kegiatan COREMAP. 11 Dalam penyusunan RPTK harus memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan pelestarian ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya. Sedangkan dari informasi kualitatif diketahui adanya kelemahan kepengurusan LPSTK. dan bendahara). Hingga penelitian ini berlangsung. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kurang pedulinya masyarakat luas terhadap pengurusan LPSTK yang selanjutnya dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja kegiatan yang berarti mengganggu kelancaran pelaksanaan COREMAP. yaitu (1) menyusun RPTK (rencana pengelolaan terumbu karang)11 bersama-sama dengan anggota Pokmas dan perangkat desa dengan bantuan fasilitator. penasehat. (2) menyusun usulan kegiatan (proposal)berdasarkan usulan dari kelompok masyarakat (pokmas). Kebanyakan dari pengurus LPSTK berdomisili di Kampung Air Brani dan Centeng. LPSTK telah melaksanakan tiga kegiatan. 70 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kesejahteraan masyarakat). tetapi hanya didominasi oleh satu dusun. pelaksana harian (ketua. maka pengurus kelembagaan ini juga hanya terwakili dari satu dusun (walau agak terdistribusi menurut lingkungan RT). (3) melakukan koordinasi dengan kepala desa terkait dengan kegiatan yang akan dilakukan. sekretaris.yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa tahun 2006 dengan struktur organisasi yang terdiri dari dewan kehormatan (pelindung. dan seksi-seksi (pengawasan TK & DPL. pemberdayaan perempuan. Konsekuensi dari tidak diundangnya perwakilan dari dusun lain dalam pembentukan LPSTK. Pembentukan pengurus LPSTK tidak melibatkan masyarakat di semua dusun. (4) melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur sosial. terutama terkait dengan kegiatan pengawasan daerah perlindungan laut (dpl) yang lokasinya berada dekat dengan Kampung Air Kelat yang penduduknya tidak dilibatkan dalam pembentukan LPSTK. antara lain terkait dengan pembentukan dan kepengurusan LPSTK.

- - - Mengacu kepada pelatihan yang diberikan pada pengurus LPSTK di Sekanah. LPSTK bertugas sebagai penghubung antara kelompok di desa dengan pelaksana COREMAP kabupaten. dibentuk pula beberapa kelompok masyarakat sebagai pendukung COREMAP di Desa Limbung. Sistem pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan dan terumbu karang untuk membatasi dan melindungi sumberdaya dari aktivitas yang merusak SDL tersebut. Hal yang paling nyata adalah dalam pengajuan proposal kegiatan yang akan dilaksanakan kelompok. Keberhasilan implementasi COREMAP fase II di Desa Limbung sangat terkait dengan keberhasilan kelompok dalam membuat proposal sebagai bentuk rencana kegiatan yang akan dilakukan. dan pembangunan infrastruktur.Seiring dengan pembentukan LPSTK. Sistem pengelolaan sumberdaya perikanan dan terumbu karang yang diharapkan dapat menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat nelayan Desa Limbung. karena hal ini dianggap sebagai masukan dari masyarakat sebagai dasar untuk melakukan kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Dalam kaitannya dengan kegiatan kelompok. Perencanaan program dan jenis kegiatan yang disusun berdasarkan visi dan misi masyarakat Desa Limbung seperti program konservasi. Sistem ini misalnya dengan pengelolaan SDL yang ramah lingkungan dan pengembangan usaha berbasis budidaya. bagi kelompok yang mengajukan proposal akan melalui beberapa tahapan dari pembuatan proposal hingga persetujuan di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 71 . Dua lembaga ini dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang logam. di mana LPSTK mempunyai peran dalam mengumpulkan dan mengajukan proposal tersebut ke pelaksana COREMAP kabupaten. Hal yang perlu dipertimbangkan oleh kelompok dalam membuat proposal antara lain adalah berkaitan dengan: Penataan wilayah atau sistem zonasi. pengembangan MPA. karena saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan.

beberapa permasalahan atau kendala yang muncul berkaitan dengan berhentinya proposal di tingkat PIU. pembuatan bakso ikan (1 Pokmas). tim inti atau LPST selalu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkopempeten dalam proyek COREMAP di tingkat kabupaten baik substansi. budidaya rumput laut (4 unit). MCK (5 buah). pembuatan kerupuk (5 Pokmas). pemasangan papan peringatan (5 buah). yang selanjutnya disampaikan pada PIU. Menurut pihak pelaksana di tingkat kabupaten maupun LSM yang berperan dalam mendapingi masyarakat di lokasi program. sehingga membuat anggota kelompok menjadi ’malas’ atau ’patah semangat’ terhadap COREMAP II. peternakan ayam kampung (3 pokmas). 2. bahan2 sosialisasi (1 paket). Jalur proposal yang dibuat kelompok hingga disetujui pada tingkat kabupaten adalah diusulkan oleh kelompok yang kemudian diberikan kepada LPSTK untuk diajukan pada pelaksana komponen di tingkat kabupaten. belum ada satu pun dari proposal tersebut disetujui oleh PIU. yaitu: 72 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . peternakan sapi (10 ekor). Padahal proposal tersebut telah berulangkali diperbaiki. Selama pembuatan proposal. Program mata pencaharian alternatif: keramba ikan kerapu sunu (8 unit). buku2 untuk perpustakaan (1 paket). Program pengelolaan terumbu karang: pemasangan pelampung tanda batas (50 buah).tingkat kabupaten. Program infrastruktur: sarana air bersih (1 unit). bubu ketam (4 unit). pelabuhan/tambatan perahu (jarak 100 meter). Beberapa proposal yang telah diajukan kelompok COREMAP Desa Limbung adalah: 1. 3. Dalam hal ini tim inti pembuat proposal selalu didampingi oleh fasilitator lapangan dari awal hingga siap untuk dikirim ke COREMAP kabupaten (PIU). hukum maupun teknis pembuatan RPTK. Dari tiga proposal yang diajukan. pelatihan penggunaan peralatan selam (1 paket). perluasan jalan desa (300 meter). penginapan untuk wisatawan (1 unit).

Pembuatan proposal hanya dalam rangka mengejar target agar terpenuhi sesuai dengan yang ditentukan. setelahnya tidak ada tenaga pendamping lapangan. Sedangkan fasilitator lapangan untuk Desa Limbung hanya bertahan sekitar satu bulan (2007). K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 73 . - - Kelompok Masyarakat (Pokmas) Salah satu tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan implementasi proyek COREMAP fase II. yang berarti masyarakat harus bekerja sendiri dalam membuat proposal.- Adanya keharusan LPSTK memilik NPWP sebelum pengajuan atau pencairan dana. yaitu sekitar Rp. Persyaratan ini memberatkan masyarakat. Meskipun ada tenaga penyuluh. Keberadaan kelompok ini merupakan ’ujung tombak’ keberhasilan program COREMAP di Desa Limbung. faktor-faktor tersebut meliputi: Pemimpin yang cakap dan paham tentang visi atau tujuan kelompok. tetapi keberadaan mereka di lapangan hanya salam waktu sangat singkat dan umumnya untuk kepentingan tugasnya. yaitu hanya sekitar tiga (3) bulan.140. sehingga mereka harus menunggu cukup lama dan seolah-olah tidak ada kata putus dari pelaksana COREMAP tingkat kabupaten. 2. Kurang seriusnya komponen COREMAP fase II tingkat kabupaten dalam menanggapi apa yang telah dilakukan masyarakat desa. Menurut Sahyuti (2006:44-45). sehingga perlu diperhatikan pula adanya faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kelompok. khususnya dari komponen CBM.berikut biaya tranportasi ke Tanjung Pinang. Terbatasnya waktu oleh pihak fasilitator dalam melakukan pendampingan. karena biaya pembuatan NPWP cukup besar.000. padahal biaya pembuatan NPWP harus disediakan terlebih dahulu oleh masyarakat. adalah pembentukan masyarakat (Pokmas).

dan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas). kecuali Pokmas Jender.- SDM anggota kelompok. Pokmas MPA. meskipun dengan dana yang sangat kecil dan kegiatan tersebut tidak dilakukan berkelompok. Hubungan yang kuat antara kelompok. khususnya pada keluarga nelayan. Ketrampilan dan ketulusan petugas lapangan yang ditugaskan di desa membantu kelompok. Pembentukan kelompok masyarakat di Desa Limbung sudah dilakukan. Startegi dan tujuan yang jelas. Harapan yang wajar terhadap usaha yang akan dilakukan. Keberlanjutan keterlibatan kelompok di masyarakat. Terdapat tiga pokmas yang sudah terbentuk di Desa Limbung. Situasi ini berkaitan dengan anggapan dari sebagian besar anggota pokmas yang selalu mengkaitkan kegiatan pokmas dengan pemberian dana.2 juta rupiah per desa. pendamping. Kegiatan diawali dengan membuat proposal yang berisi rencana kegiatan untuk berusaha di bidang industri rumah tangga yang berupa kue dan kerupuk. Dana tersebut 74 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . a) Pokmas Jender Pokmas Jender dibentuk pada tahun 2007 yang bertujuan meningkatkan peran ibu rumahtangga dalam kegiatan ekonomi untuk membantu suami. Pokmas ini sudah melakukan kegiatan. pemimpin lokal dan lembaga pendukung. yaitu Pokmas Jender. Pada akhir tahun 2007. tetapi belum menjalankan kegiatannya. dan logistik yang cukup. Pendekatan yang digunakan dapat diadaptasi dalam konteks yang berubah-ubah. dua orang (ketua dan satu anggota) Pokmas Jender mengikuti pelatihan usaha industri rumah tangga di Sekanah selama dua hari dan langsung mendapat bantuan dana untuk modal usaha sebesar 1.

dana yang diterima kelompok itu dibagikan kepada anggota mereka. Pomas Jender di Desa Limbung terdiri dari satu (1) kelompok induk dan empat (4) ‘kelompok kecil’.yang biasanya dimanfaatkan untuk usaha membuat kerupuk atau kue epuk-epuk. anggota kelompok hanya dipilih dari masyarakat Dusun Centeng yang masing-masing kelompok mendapat bantuan dana Rp 100. 320..digunakan untuk biaya transportasi.-. Sisa uang yang dibawa pulang ke Limbung adalah Rp.000.000. karena umumnya mereka menjalankan usaha sendiri-sendiri. 400. 100... dalam arti dipinjamkan kepada anggota ‘kelompok kecil’ lainnya.-.000. membeli peralatan untuk usaha membuat kerupuk. Dalam pelaksanaannya. dan ember (1) yang menghabiskan dana sekitar Rp. seterusnya uang sebesar Rp.(pp) untuk dua orang dan pembelian alat Rp. 80. Pada tahap awal.000. 105. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 75 .. sehingga modal usaha dibagikan merata pada anggota.000. 480. Diharapkan dana tersebut dapat bergulir ke kampung dan dusun lain sesuai dengan tujuan pembentukan Pokmas jender di Desa Limbung.dan digunakan sebagai modal usaha kelompok dan uang kas. ayakan (4). Berdasarkan pengalaman anggota kelompok jender yang pernah terlibat pada COREMAP fase I mengatakan bahwa penyelenggarakan 12 Biaya transportasi ke Senayang Rp. maka LPSTK berencana untuk membentuk satu kelompok inti lagi di Kampung Seranggas. dan modal usaha12. Misalnya dalam satu kelompok kecil yang beranggotakan empat (4) orang. dari anggota ‘kelompok kecil’ disetorkan kepada bendahara pokmas induk. kemudian membagi dana pinjaman sebesar Rp.000. Oleh kelompok inti. Usaha pokmas jender tidak dilakukan secara berkelompok. Apabila dana COREMAP tersebut telah lunas. 25. gilingan ikan (2). Sedangkan sisa dana sebesar Rp.-. sehingga masing-masing anggota hanya mendapat pinjaman Rp. disimpan untuk kas Pokmas jender. Peralatan yang dibeli telah tersedia dari penyelenggara pelatihan antara lain untuk setiap desa adalah kompor (2). yang dibentuk pada awal tahun 2008.000.kepada 4 orang anggota. Pengembalian dana diangsur selama tiga (3) bulan.000.-. kukusan (2). dana tersebut direncanakan akan diputar. Setiap anggota yang mendapatkan bantuan wajib mengembalikan setiap bulan dengan sistem angsuran. tetapi setiap anggota melakukan usaha produktif sendiri.000.-. uang kas pokmas. 320.

juga diberikan ketrampilan membuat nuget. Pembentukan Pokmas MPA masih terbatas pada masyarakat Dusun Centeng (6 kelompok) dan Kampung Sranggas (1 76 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .000. bahkan itupun terkonsentrasi di satu dusun. pada saat pertemuan atau pelatihan di luar desa. dan abon ikan. baik dari sisi dana maupun kegiatannya. menjadikan permasalahan akan menjadi potensi ketidakharmonisan dalam hubungan bermasyarakat/sosial. Tidak adanya tenaga pendamping di Desa Limbung yang semestinya dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pada waktu itu. Begitupula dengan dana yang diterima lebih besar. pelatih datang ke Desa Limbung sehingga peserta cukup bany banyak. selain diberi makan dan kue mereka juga diberi uang sebesar Rp. sehingga jumlah kelompok cepat bertambah. Pada saat penelitian ini berlangsung. tetapi belum mendapat bantuan modal usaha. Terdapat kecenderungan umum di kalangan masyarakat untuk membandingkan kegiatan usaha pemberdayaan ekonomi antara pelaksanaan COREMAP I dan II. Walaupun tidak semua peserta pernah memperoleh dana COREMAP I.. b) Pokmas MPA Pokmas MPA (Mata Pencaharian Alternatif) mulai dibentuk tahun 2007 setelah ada pertemuan antara LPSTK dan masyarakat Desa Limbung. di mana dana tersebut dalam tempo enam bulan sudah dapat digulirkan kepada kelompok lain. Kondisi ini dapat dihindari jika ada saling keterbukaan antara kelompok induk dengan kelompok keci. karena kelompok kecil tampaknya belum mengetahui tentang bantuan modal usaha ekonomi produktif pada COREMAP fase II yang dilakukan secara bertahap. Misalnya. bakso.fase I lebih baik daripada kegiatan pada COREMAP II. yaitu sekitar 20 orang yang berasal dari empat dusun. Keadaan ini memunculkan kecemburuan dari mereka yang sudah membentuk pokmas. tidak seperti COREMAP I yang dilakukan secara serentak.per hari. namun karena pernah ikut berlatih maka mereka bisa mencoba sendiri. hanya beberapa orang yang sudah memperoleh bantuan modal usaha. 50. sehingga memunculkan permasalahan. materi pelatihan lebih banyak yaitu selain kerupuk. Dilihat dari pelatihan yang diberikan.

Berbagai jenis usaha yang ingin dikembangkan masyarakat Desa Limbung sesuai dengan yang diminati anggota kelompok.Usulan draft RPTK-T dan draft Perdes Tahun 2007 Disamping jenis kegiatan yang sama. 1. bubu.kelompok). simpanperempuan) pinjam Sumber: .1. 7. pengolahan kerupuk ikan. dagang. Misalnya. Sumber Makmur Ternak sapi. 8 jaring ikan 4. 6 jaring ketam.1). rumput laut. NAMA KELOMPOK Jasa Mandiri PROGRAM JUMLAH ANGGOTA 7 Ternak sapi. Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program. sehingga dijumpai beberapa kesamaan jenis kegiatan. (laki-laki dan Seranggas) pengolahan kerupuk ikan. dari wawancara mendalam juga diketahui adanya beberapa orang yang terlibat pada lebih dari satu pokmas. dagang. Camar Laut Budidaya kerapu sunu. Hal ini mungkin disebabkan pelaksanaan program COREMAP fase II didominasi oleh masyarakat yang tinggal di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 77 . dari tujuh (7) Pokmas MPA ada beberapa Pokmas yang mengajukan program sama seperti peternakan sapi dan jaring ketam (lihat Matriks 3. Harapan Bunda Budidaya kerapu sunu. Jumlah Anggota & Nama Ketua NO. Kelompok ini memulai kegiatan dengan menyusun proposal bersama LPSTK dan tenaga pendamping (dikenal dengan field fasilitator-FF). Matriks 3. bubu. bubu 5. Bunga Karang Ternak ayam. 5 jaring ketam 14 6. bubu 2. 6 jaring ketam.Laporan akhir kegiatan CBM Program COREMAP II Kabupaten Lingga . bubu 3. simpanpinjam 23 Siput Laut (Dusun Ternak ayam. Usaha Bersama Ternak sapi.

berhentinya pengawasan laut yang dilakukan COREMAP fase I di Desa Limbung mendorong kembali kegiatan penangkapan ikan secara 78 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . c) Pokmas Pengawasan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) dibentuk pada tahun 2007. akibat sudah terlalu lama menunggu. bantuan yang diterima lebih banyak. Secara umum. lebih berhasil. Sejumlah informan. Pokmaswas baru mempunyai sebuah kapal dengan jangkauan terbatas dan tidak dapat mengejar nelayan yang melakukan kegiatan ilegal yang umumnya menggunakan kapal dengan mesin besar. dan penanaman bakau. dan fasilitator menyatu dengan masyarakat. Sementara itu.Dusun Centeng. Ketika Kajian BME Sosial Ekonomi ini dilakukan (Mei 2008). motivator. karena proposal belum disetujui komponen dan PIU Kabupaten Lingga. kebersihan lingkungan laut dan pantai. Keenam Pokmas telah mengajukan proposal sejak tahun 2006 dan telah berulangkali diperbaiki sesuai dengan saran dari fasilitator/tenaga pendamping. yang biasanya dilakukan oleh nelayan luar. Gambaran ini juga memicu terjadinya rasa ”iri” dari masyarakat dusun lain yang tidak terlibat. Hal ini berdampak terhadap kebosanan dan kurang peduli dari anggota Pokmas lagi terhadap COREMAP. maupun komponen COREMAP kabupaten. Kegiatan yang direncanakan kelompok ini adalah melakukan patroli dan pengawasan laut. Implementasi program MPA yang akan dilaksanakan Pokmas setempat belum berjalan. Pokmas ini beranggotakan 10 orang dari Dusun Centeng. sehingga mempengaruhi hubungan sosial antar dusun. kegiatan yang dilakukan oleh kelompok pengawasan adalah melakukan pengawasan terhadap kelestarian sumberdaya laut dari berbagai ancaman. bahkan membandingkan pelaksanaan COREMAP I yang berjalan lebih baik. terutama yang berasal dari pihak luar seperti nelayan pendatang. Pokmaswas belum memulai kegiatan. Padahal di kawasan perairan Limbung dan sekitarnya sering terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan alat terlarang. padahal di dusun ini terdapat banyak WNI keturunan Cina yang umumnya tidak bersedia terlibat dalam kegiatan COREMAP. turunnya dana lebih cepat karena tidak perlu memiliki NPWP. karena sibuk dengan usaha dagang/toko.

sosialisasi COREMAP. yaitu sekitar Pulau Hantu. namun seharusnya juga melibatkan penduduk Kampung Air Kelat seperti pada masa COREMAP fase I karena mereka tinggal sangat dekat dengan daerah perlindungan laut yang juga menjadi wilayah penangkapan nelayan dengan menggunakan alat-alat tangkap yang merusak. yaitu: penyadaran masyarakat. Kegiatan COREMAP Di Desa Limbung Kegiatan COREMAP II di Desa Limbung tidak hanya sebatas pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai alat untuk implementasi program. tampaknya perlu melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan wilayah tangkap yang merupakan target pengambilan ikan secara ilegal. semua kegiaatan tersebut belum berjalan sesuai K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 79 . Ada beberapa kegiatan COREMAP yang telah dilaksanakan di Desa Limbung.berlebihan oleh nelayan dari desa yang tidak terlibat program COREMAP. Apalagi dilihat dari keseriusan pihakpihak terkait dengan pengawasan. Namun demikian. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya biaya dan sarana/prasarana pengawasan yang memadai sehingga sulit memantau kegiatan nelayan di tengah laut. sehingga kelompok pengawasan pun sulit untuk bertindak. Namun kegiatan nelayan ini turut mendorong nelayan Desa Limbung untuk mengambil ikan di sekitar kawasan konservasi pada masa COREMAP fase I. Pada saat ini. tetapi juga meliputu upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang mendukung terlaksananya program COREMAP. Permasalahan terkait dengan pemanfaatan perairan laut kawasan perairan Limbung tersebut tampaknya terkait dengan ketidakjelasan program yang dimotori oleh komponen MCS COREMAP di tingkat kabupaten. keterlibatan dalam Pokmaswas masih terbatas pada penduduk dari Dusun Centeng. pelatihan. bantuan kapal motor sebagai sarana untuk kegiatan pengawasan wilayah konservasi. pembangunan tambatan perahu dan fasilitas MCK. ada kecenderungan adanya tindakan yang tidak serius. diindikasikan oleh dilepaskannya pelanggar yang sudah ditangkap tanpa proses pengadilan terlebih dahulu. Oleh karena itu.

Air Kelat. cara membuat proposal. tetapi tampaknya juga cenderung terkonsentrasi di Dusun Centeng. misalnya memasukkan materi pengelolaan dan pelestarian terumbu karang dalam mulok. tampaknya masih banyak anggota masyarakat yang belum mengetahui tentang COREMAP II. kegiatan sosialisasi masih terbatas pada anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP. direncananan program penyadaran masyarakat akan diimplementasikan di kampung yang ditempati oleh Suku Laut dan Linau (terutama di lingkungan masyarakat yang mencari penghidupan sebagai nelayan). Penyadaran masyarakat melalui pendidikan formal belum dilakukan. Kegiatan pelatihan merupakan sarana penting dalam melaksanakan implementasi program. yaitu mereka yang hadir ketika pembentukan LPSTK (sekitar 30 orang). dan Senempek belum dilakukan. Program penyadaran masyarakat baru dilakukan pada tahap penyebaran leaflet dan itu pun belum mencakup seluruh wilayah Desa Limbung. sedangkan dusun-dusun lain yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan seperti di Kampung Air Kelat. Materi sosialisasi meliputi pengetahuan tentang COREMAP. Sranggas. pengetahuan tentang alat-alat penangkapan yang merusak. Dengan demikian. pelestarian terumbu karang. kelembagaan COREMAP di tingkat desa dan kegiatan kelembagaan tersebut. yang juga dihadiri oleh field fasilitator dan senior fasilitator. Linau.dengan harapan. Meskipun perwakilan dari dusun juga diundang dalam rapat pembentukan LPSTK yang sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisi COREMAP. Khusus Kampung Sinempek. Bahkan kegiatan sosialisasi tersebut baru dilakukan pada masyarakat yang sangat terbatas. terutama program-program yang berkaitan 80 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pemasangan leaflet baru dilakukan di Dusun Centeng.. dan kampung Suku Laut. Dari pihak komponen penyadaran masayarakat di Kabupaten Lingga. kegiatan sosialisasi kepada masyarakat maupun anggota Pokmas juga telah dilakukan. leaflet baru diserahkan ke perangkat dusun ketika penelitian ini berlangsung. Dalam rangka memperkenalkan keberadaan COREMAP di masyarakat. khususnya desa yang menjadi fokus implementasi program. terutama mereka yang tinggal di Kampung Senempek. padahal poster dan leaflet sudah diterima oleh LPSTK pada awal tahun 2008.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Limbung juga membangun/merenovasi tambatan perahu yang sudah ada sebelumnya. Hal ini karena ketika air laut surut. Tambatan perahu dan fasilitas MCK adalah dua jenis fasilitas umum yang dibangun di Desa Limbung. pantai di perkampungan nelayan pada umumnya menjadi kering. pembangunan fasilitas MCK yang juga berlokasi di Kampung Air Berani. agar supaya kegiatan tersebut dapat diikuti oleh semua anggota kelompok. yang dilakukan di luar Desa Limbung. sehingga kekuatannya dapat bertahan dalam jangka waktu lama. sehingga nelayan harus berjalan cukup jauh untuk menuju daratan. Dalam kaitan dengan program COREMAP yang berfokus untuk pelestarian terumbu karang dan peningkatan ekonomi keluarga. Hal ini menguntungkan nelayan. Dalam waktu yang sama. Namun tampaknya kegiatan pelatihan baru dilakukan pada pengurus lembaga COREMAP desa. Namun K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 81 . Terlepas dari kekurangannya. Pelaksanaan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan dengan sistem lelang. karena hemat waktu dan hasil tangkapan segera dapat dipasarkan. ketua dan bendahara Pokmas Jender. keberadaan tambatan perahu tersebut dapat mempermudah nelayan untuk menambatkan perahu/sampan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan penting nelayan. Padahal jika dilakukan koordinasi. maka dibutuhkan pelatihan-pelatihan yang berfokus pada program tersebut. Tambatan perahu dibangun di pantai dengan kedalaman air cukup dalam. Sebagian anggota Pokmas mengharapkan adanya kegiatan pelatihan yang dilakukan di Desa Limbung yang diikuti dengan penyuluhan secara rutin oleh fasilitator/tenaga pendamping. Sepertihalnya dengan tambatan perahu. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program COREMAP fase II. maka kualitas tambatan perahu dapat lebih baik. yaitu di Kampung Centeng yang terletak bersebelahan dengan Kampung Air Berani yang merupakan lokasi tambatan perahu bantuan COREMAP. Hal ini menunjukkan tidak adanya koordinasi antar institusi pemerintahan di Kabupaten Lingga. seperti pelatihan untuk Ketua LPSTK. sehingga tidak pernah kering walaupun air laut surut. karena di kampung ini terdapat mata air yang tidak pernah kering.dengan peningkatan pengetahuan masyarakat dan upaya memperbaiki ekonomi.

Hal ini mungkin berkaitan dengan adanya sistem lelang. pondok informasi hanya digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lainnya yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP. Proposal yang diajukan oleh Pokmaswas Dea Limbung belum mendapat persetujuan. kegiatan pengawasan di Desa Limbung belum berjalan. Pada saat ini. Sarana yang tersedia hanya sebuah kapal. Adanya pekerjaan alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. kegiatan pengawasan laut merupakan hal yang penting dan perlu menjadi perhatian dari berbagai stakeholders terkait. Dalam usaha menjaga ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya di perairan Limbung. dan genteng yang pecah. UEP (Usaha Ekonomi Produktif) adalah salah satu kegiatan yang diharapkan dapat menjadi bagian keberhasilan proyek COREMAP fase II. padahal pelaksanaan COREMAP II sudah memasuki tahun ke tiga. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya di atas. namun tampaknya yang disetujui hanya 19 juta rupiah. Kegiatan lain yang sedang dalam tahap rencana adalah merenovasi bangunan pondok informasi yang dibangun pada COREMAP I. di mana pembangunan dilakukan oleh pihak ketiga yang biasanya banyak mengambil keuntungan dan kurang memperhatikan kualitas bangunan. sedangkan pelatihan yang berkaitan dengan pengawasan juga belum pernah diikuti. Oleh karena itu program ini lebih ditujukan pada masyarakat nelayan yang diperkirakan paling tinggi berpotensi dalam merusak terumbu karang. khususnya terumbu karang. Namun demikian. tetapi lebih banyak dimanfaatkan untuk alat transportasi. LPSTK telah mengajukan proposal untuk biaya renovasi pondok ini dengan dana sekitar 30 juta rupiah. Padahal renovasi akan dilakukan dengan sistem swakelola yang merupakan ‘aturan main’ proyek COREMAP. pintu-pintu. Kegiatan ini diperkirakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui pekerjaan yang tidak merusak SDL.tampaknya MCK ini kurang terkontrol dalam pembangunannya sehingga sudah banyak yang rusak dan tidak jalan seperti pompa. maka aktivitas sebagai nelayan dapat dikurangi atau paling tidak mengurangi mencari ikan di 82 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tembok yang sudah mulai retak.

PENGETAHUAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM COREMAP Sebagian besar masyarakat tampaknya telah mengetahui tentang COREMAP. Tingginya pengetahuan tersebut adalah karena COREMAP telah lama masuk di desa ini. Pokmas UEP didirikan sekitar tahun 2006. karena program hanya terkonsentrasi di satu dusun. yaitu sejak tahun 2006. Telah dikemukakan sebelumnya. proposal dibuat Pokmas tersebut masih ditangan PIUs.tempat-tempat yang banyak ditumbuhi terumbu karang. Padahal anggota kelompok sangat membutuhkan bimbingan untuk pembuatan proposal maupun implementasi kegiatan. yaitu sejak COREMAP I. diketahui adanya peningkatan pengetahuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 83 . Menurut informasi. Berdasarkan Survei Data Dasar Sosial Ekonomi yang dilakukan tahun 2006 (T0) (Romdiati dkk. yaitu ada enam (6) Pokmas. namun partisipasi mereka masih rendah. namun sudah diperiksa oleh komponen COREMAP terkait. namun sampai saat evaluasi dilakukan belum ada realisasinya. dengan diawal dengan membuat proposal bersama LPSTK dan FF (field fasilitator). sedangkan tenaga penyuluh sangat jarang datang. sehingga tidak bisa menambah penghasilan rumah tangga.2. Di Desa Limbung program UEP baru pada tingkat pembuatan proposal. anggota kelompok mulai ”bosan” dan tidak perduli apakah program tersebut ada atau tidak.. 3. Kegiatan UEP yang baru berjalan adalah yang dilakukan oleh Pokmas Jender yang meliputi empat kelompok kecil dan semua berdomisili di Dusun Centeng. Sedangkan permasalahan yang muncul terkait dengan kegiatan UEP di Desa Limbung adalah terkait dengan tidak adanya tenaga pendaping. dan jika datang hanya beberapa saat untuk mendapatkan data/informasi bagi kepentingannya sendiri. Dengan tidak adanya kabar-berita mengenai kelanjutan proposal tersebut. tetapi karena modal sangat kecil (Rp 25 ribu per orang). kegiatan yang dilakukan adalah membuat kerupuk ikan dan kue. Kegiatan yang direncanakan ada yang berkaitan dengan kegiatan kenelayanan dan adapula kegiatan di darat seperti ternak sapi. 2008:101-10) dan survey BME tahun 2008 (T1). Permasalahan lain adalah dana yang belum turun sehingga tidak dapat mengimplementasikan program yang direncanakan.

Pengetahuan responden tentang COREMAP cukup baik.1. terutama yang paling diketahui responden adalah kegiatan yang berkaitan dengan pentingnya pelestarian terumbu karang (75 persen) dan perlindungan daerah pesisir/laut (67 persen). Pada umumnya. pendampingan UEP. Sedangkan pengetahuan responden terkait dengan kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang diketahui oleh tiga perempar dari total responden. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya papan nama (bilbord) tentang COREMAP yang dipasang di depan pondok informasi. yaitu kegiatan terkait dengan pelatihan UEP.). yaitu di Air Brani. dan kegiatan pokmas UEP (lihat Tabel 3. pengetahuan tersebut pernah diterima beberapa responden pada saat program COREMAP fase I dilaksanakan di desa ini dan mareka mulai menjaga terumbu karang agar tidak rusak.masyarakat tentang COREMAP. Dari sembilan pertanyaan mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP yang diajukan kepada responden. maka mudah dipahami jika sebagian besar penduduknya telah mengetahui adanya kegiatan COREMAP yang terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang. Desa Limbung telah menjadi lokasi program sejak COREMAP fase I. terutama bagi keberlanjutan kehidupan mereka yang sangat tergantung dengan laut. Dari beberapa kegiatan COREMAP fase II yang diimplementasikan di Desa Limbung. mungkin karena kegiatan yang dilakukan masih terkonsentrasi di satu kampung. Tingginya pengetahuan responden tersebut memperlihatkan bahwa mereka sudah mengetahui tentang pentingnya terumbu karang untuk dilestarikan atau dijaga. Selain itu. yang merupakan proporsi paling tinggi dibandingkan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan COREMAP lainnya. yang terletak berdampingan dengan Puskesmas dan Kantor Desa. 84 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Temuan ini mendiikasikan bahwa kegiatan-kegiatan COREMAP yang berhubungan dengan pengembangan usaha produktif belum diketahui secara meluas. diindikasikan oleh tingginya proporsi responden yang mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan program ini. hanya tiga kegiatan yang hanya diketahui oleh kurang lebih sepertiga dari keseluruhan responden.

0 akan pentingnya pelestarian terumbu karang Kegiatan perlindungan/pengawasan 67. persentase responden dalam kegiatan pendampingan UEP.0 100 pesisir dan laut Pembentukan lembaga pengelola 62.2. sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3. 2008.0 100 Kegiatan pendampingan UEP 40.0 49.0 38.2 41. Desa Limbung. atau hanya sedikit lebih tingi daripada mereka yang mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK (62 persen).4 100 Kegiatan Pokmas wanita/jender 58.0 Jumlah (N=100) 100 Kegiatan COREMAP Peningkatan pengetahuan dan kesadaran 75.6 40. Kabupaten Lingga Tahu Tidak tahu 25.0 68. disamping juga LPSTK sudah melakukan beberapa kegiatan.6 70. Bahkan.8 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung.0 100 pemanfaatan & pelestarian TK Kegiatan Pokmas konservasi 59.0 60. pada saat pembentukan LPSTK terdapat perwakilan dari kampung lain. Hal ini digambarkan oleh rendahnya persentase responden yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan COREMAP. dan pembentukan LPSTK hanya mencapai kurang dari sepertiganya dari responden K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 85 .Untuk kegiatan perlindungan dan pengawasan pesisir dan laut yang merupakan salah satu kegiatan COREMAP juga diketahui oleh kirakira dua pertiga responden.0 100 Kegiatan penyusunan rencana 51.4 100 Kegiatan Pokmas UEP 29. Cukup tingginya pengetahuan responden mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP tersebut tampaknya belum diimplementasikan dalam praktek.0 100 sumberdaya terumbu karang LPSTK Pelatihan UEP 32. pokmas jender. Cukup tingginya pengetahuan tersebut tidak terlepas dari pembentukan LPSTK yang telah dilakukan cukup lama. Tabel 3.0 33. Walaupun terkonsentrasi di Kampung Air Brani. Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II. meskipun kampung-kampung yang letaknya cukup jauh dari pusat desa tidak hadir.1. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa keterlibatan responden yang hanya kira-kira separuhnya dari mereka yang mengetahui.

pada umumnya juga belum melakukan kegiatan apapun. Bahkan. Ada dua kemungkinan jawaban ini muncul. 86 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Dari wawancara mendalam diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan COREMAP. terlebih tenaga penyuluh dan senior fasilitator jarang berkinjung ke Desa Limbung. Oleh karena itu. Namun demikian. sebagian lainnya tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan-kegiatan COREMAP. kecuali beberapa orang anggota Pokmas Jender.yang mengetahui adanya tiga jenis kegiatan tersebut dalam COREMAP. terutama terkait dengan keanggotaan pokmas. Lebih kecilnya proporsi yang terlibat dalam masingmasing kegiatan jauh lebih kecil daripada proporsi responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam COREMAP tersebut kemungkinan besar karena mereka biasanya hanya terlibat dalam salah satu kegiatan. Persentase responden pada angka yang sangat rendah juga ditemukan pada kegiatan pendampingan UEP (15 persen). dan kemudian meninggalkan desa tanpa ada penggantinya. dan (2) mereka yang terlibat program jender baru mencapai 16 orang yang mungkin juga tidak termasuk sampel rsponden individu. Pendampingan UEP di Desa Limbung hanya dilakukan oleh tenaga penyuluh dengan jadwal kerja yang tidak teratur. yakni (1) karena yang menjadi responden umumnya laki-laki yang tentunya tidak terlibat program jender. mudah dimengerti jika keterlibatan responden dalam kegiatan pendampingan UEP sangat rendah. Sedankan tenaga pendamping lapangan hanya bekerja satu bulan. terutama sebagai anggota dalam salah satu pokmas. keterlibatan responden dalam kegiatan Pokmas Jender hanya sebesar 14 persen dari jumlah mereka yang mengetahui pokmas ini (57 responden).

Persentase responden yang terlibat pada jenis kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang serta perlindungan/pengawasan pesisir dan laut paling tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis kegiatan lainnya.8 64.0 85.Tabel 3.3 persen. Selain itu. Kenyataan ini mudah diphami karena kegiatan yang merupakan tahap awal pelaksanaan program tersebut diselenggarakan untuk seluruh anggota masyarakat. Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Keterlibatan Kegiatan Terlibat Tidak Jumlah COREMAP terlibat (N) Peningkatan pengetahuan dan 41. persentase responden dalam kegiatan yang berkaitan dengan UEP lebih rendah daripada kegiatan pelestarian terumbu karang.2.0 86. Sebaliknya.7 75 kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang Perlindungan/pengawasan pesisir 35.3 29 Pokmas wanita/jender 14. karena kegiatan tersebut hanya melibatkan berbagai bentuk pertemuan.3 49 & pelestarian TK Pokmas konservasi 37. Angka ini hanya sedikt lebih tinggi daripada mereka yang terlibat dalam pokmas konservasi (37.0 57 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung.6 77.4 65.7 79.6 32 Pendampingan UEP 15.0 40 Penyusunan rencana pemanfaatan 32.9 62. Temuan penelitian ini menggambarkan bahwa kegiatan penyadaran dan konservasi ekosistem terumbu karang cukup diminati.2 67 dan laut Pembentukan LPSTK 22.3 58.4 62 Pelatihan UEP 34.9 persen). meskipun hanya mencapai 41.7 67.1 58 Pokmas UEP 20. meskipun tidak selalu terkait dengan penerimaan bantuan (terutama untuk keterlbatan dalam kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pelestarian terumbu karang). 2008. maka kemungkinan masyarakat untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 87 .

mengikutinya juga paling besar dibandingkan dengan kegiatan lainnya.3 menyajikan data mengenai pengetahuan responden terkait dengan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan COREMAP di Desa Limbung. rendahnya persentase responden yang tidak mengetahui pemberian dana bergulir untuk pengembangan UEP kemungkinan disebabkan karena implementasi kegiatan belum dilakukan. Untuk keterlibatan pada pembentukan LPSTK dan penyusunan RPTK juga hanya melibatkan sebagian kecil responden. dan motivator.3. Tabel 3. disamping kurangnya sosialisasi yang berkaitan dengan penggunaan dana COREMAP untuk program UEP. Dapat dilihat pada Tabel 3. Persentase responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan program ini termasuk tinggi. keramba ikan kerapu. 88 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yaitu dicerminkan dari pengetahuan untuk pemilihan jenis usaha yang diajukan dalam proposal pokmas yang memilih usaha-usaha usaha peternakan sapi. Sebaliknya. kecuali untuk jenis kegiatan pemberian dana bergulir/kredit yang hanya diketahui oleh sekitar sepertiga dari jumlah responden. Hal ini mungkin disebabkan dalam pembuatan proposal mereka telah dilatih dan dibimbing oleh anggota LPSTK. Dari wawancara mendalam dengan beberapa anggota pokmas juga mencerminkan hal ini. sehingga mempengaruhi rendahnya persentase responden yang terlibat dalam dua jenis kegiatan COREMAP tersebut. dan jaring ikan. tenaga pendamping. Besar kemungkinan termasuk mereka hanya terbatas pada beberapa anggota dalam pokmas dan/atau LPSTK. sebagian besar responden telah mengetahui jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. mereka umumnya hanya mengetahui bahwa sebelum kegiatan dilakukan akan diadakan pelatihan dan bimbingan agar usaha yang akan dikembangkan berhasil. Di sisi lain.

9 persen) dan masyarakat yang terlibat dengan kegiatan COREMAP (30.Tabel 3.8 persen) dan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat (55. 2008.0 32. diberikan oleh pengurus tingkat kabupaten.6 persen). Ketiga jenis kegiatan UEP di atas diketahui masyarakat Desa Limbung dari empat sumber informasi. dan anggota masyarakat lainnya. yaitu kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha. Mengacu kepada jawaban responden ini dapat dimengerti karena pada sosialisasi awal kegiatan COREMAP fase II umumnya penjelasan program implementasi.0 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. Khususnya untuk kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang adalah mencapai lebih dari separuhnya (58. Penjelasan selanjutnya yang lebih rinci akan diberikan kepada kelompok yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 89 .3. jawaban terbanyak adalah dari pengurus COREMAP termasuk fasilitator dan motivator. diketahui responden hampir berbanding antara dari pengurus COREMAP (35. aparat desa.0 64. Distribusi Persentase Responden Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan COREMAP Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha Tahu 80.0 Menurut UEP Jumlah (N=100) 100 100 68.0 Tidak tahu 20.0 36. termasuk UEP. Berdasarkan jawaban responden mengenai sumber informasi dari kegiatan tersebut. yaitu pengurus COREMAP. anggota masyarakat yang terlibat kegiatan COREMAP.9 persen). Sedangkan kegiatan UEP lain.

pada umumnya kegiatan COREMAP yang akan diimplementasikan kepada masyarakat Desa Limbung langsung diberikan kepada pengurus LPSTK atau ketua kelompok. Informasi dari anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP biasanya diterima dari ketua kelompok atau pengurus COREMAP tingkat desa (LPSTK) yang telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan atau menerima informasi dari pengurus COREMAP tingkat kabupaten. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari wawancara mendalam. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang hanya kurang dari 6 persen responden mengatakan bahwa sumber informasi tentang kegiatan UEP diperoleh dari aparat desa. Dalam penyampaian informasi tentang program COREMAP. termasuk UEP.telah terbentuk dan umumnya juga dilakukan oleh pengurus COREMAP. yaitu tenaga pendamping/field fasilitator (FF) dan motivator. yang sekaligus dalam rangka pembentukan LPSTK. 90 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Gambaran ini menunjukkan bahwa kemungkinan aparat Desa Limbung kurang dilibatkan dalam kegiatan COREMAP yang berdampak terhadap kurangnya pemberian informasi mengenai kegiatan ini kepada masyarakat. Kepala desa dan perangkatnya hanya diberitahu pada saat awal kegiatan COREMAP akan diimplementasikan di Desa Limbung. tampaknya sangat kurang diberikan dari kepala desa dan aparatnya.

5 26. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 91 . Hal ini dimaklumi karena kegiatan ini umumnya diikuti pada saat pembuatan proposal. yaitu sebesar 32 persen. (Lihat Tabel 3.Tabel 3.8 27. Sebagian dari responden yang mengetahui jenis kegiatan UEP – COREMAP ada yang terlibat lebih dari satu kegiatan.9 36 Pelatihan dan bimbingan keterampilan 35.4 68 untuk meningkatkan usaha Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung. namun dia juga mengikuti kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha.3 Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Fasilitator/ motivator/ pengurus COREMAP Anggota masyarakat lainnya Jumlah (N) Pemilihan jenisjenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat 58. Permasalahan ini mungkin karena sampai evaluasi ini dilakukan dana untuk kegiatan UEP sebagian besar belum turun. 2008. Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Sumber informasi Anggota Kepala/ masyarakat aparat desa/ yang terlibat dusun/ dalam kampung/ kegiatan RT/RW COREMAP 2.6 2.5 80 55.9 7. Misalnya. yaitu 14.3 persen.8 13. di mana salah satu yang harus dipertimbangkan adalah kegiatan yang tidak merusak terumbu karang. seseorang terlibat pada kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. Namun tampaknya kegiatan UEP yang berkaitan dengan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat sangat kecil yang terlibat.8 12.9 30.5).4. sehingga mereka belum merasa terlibat pada kegiatan UEP.9 5. Sedangkan jawaban terbanyak adalah responden yang terlibat pada kegiatan memilih jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang.

3 85. dan usaha ternak rumahtangga (52 persen). Mengacu kepada usulan kegiatan dari Pokmas-pokmas COREMAP fase II. dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat nelayan atau pesisir. Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Terlibat 31. jawaban terbanyak adalah kegiatan pembuatan makanan atau kue (66 persen).4 68 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. baik secara langsung maupun tidak langsung kegiatan ini akan berkaitan dengan usaha ekonomi yang dilakukan di darat atau di laut. Oleh karena itu. tampaknya kegiatan yang mereka ketahui umumnya adalah mirip dengan kegiatan pada 92 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . pengolahan hasil ikan laut (59 persen). Sebagaimana diketahui. 2008. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan UEP diharapkan dapat menggantikan kegiatan yang dapat merusak lingkungan.5.Tabel 3.6 79.2 Tdk Terlibat 68. Berdasarkan pengetahuan responden ada beberapa jenis usaha ekonomi pernah dilakukan COREMAP.8 Jumlah (N) 77 Jenis kegiatan UEP COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha 14.7 35 20. Di antara tujuh (7) kegiatan yang diketahui responden. khususnya lingkungan SDL dan ekosistem terumbu karang. program COREMAP di Desa Limbung telah berlangsung dua fase dan pada fase pertama pernah kegiatan yang berkaitan dengan usaha ekonomi.

muncul jawaban usaha kerajian atau souvenir yang hanya sekitar 2 persen.0 99. Tabel 3. Hal ini karena kegiatan tersebut ada yang tidak muncul atau belum dilaksanakan pada fase II.0 Lainnya (penyaluran BBM) 1. Kegiatan ekonomi lain adalah usaha BBM (1 persen).0 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 2.0 41.0 Keramba ikan/udang/kepiting/biota 27.0 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 59.0 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Ekonomi Desa Limbung. kecuali pembuatan makanan atau kue yang telah dilaksanakan oleh Pokmas Jender. 2008. Berdasarkan wawancara mendalam diketahui bahwa kegiatan tersebut bukan berasal dari COREMAP. Apabila dilihat dari poroposal yang diajukan oleh Pokmas UEP COREMAP fase II belum muncul usaha penjualan BBM.COREMAP fase I.0 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 66. Di antara kegiatan ekonomi yang diketahui responden.0 73.6. Distribusi Responden Mengenai Jenis Usaha Dilakukan COREMAP Jenis usaha ekonomi Menurut Ekonomi Tahu Pengetahuan yang Pernah Tidak tahu Jumlah (N) 100 100 100 100 100 100 100 100 Sosial- Perdagangan/warung 100.0 48.0 34. Mungkin kegiatan ini pernah dilakukan pada program COREMAP fase I.0 98. tetapi usahanya sendiri bila tidak pergi melaut atau berkebun. Padahal di Desa Limbung hingga saat ini belum ada kegiatan membuat kerajinan atau souvenir khas dari Desa Limbung atau Kepulauan Riau.0 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 2. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 93 .0 98.0 Ternak 52.

2 52 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 7. Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Jenis usaha ekonomi yang diikuti Terlibat Tidak Terlibat 96.3 Jumlah (N) 27 Perdagangan/warung Keramba ikan/udang/kepiting/biota 3. 94 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .7 92.0 1 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung.7 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 100.0 2 Ternak 7.0 2 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 100.3 66 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 100. 2008.8 92. Salah satu kemungkinan yang menyebabkan fenomena ini adalah kurangnya sosialisasi mengenai jenis-jenis usaha ekonomi produktif yang bisa dilakukan dalam rangka pelaksanaan COREMAP.Kegiatan ekonomi COREMAP mencakup sejumlah besar jenis usaha ekonomi produktif yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan sekaligus juga mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya laut. hanya sebagian kecil responden yang terlibat dalam kegiatan ekonomi tersebut.7. pembuatan kerajinan hanya diketahui oleh kurang dari 10 persen responden. Tabel 3. Namun demikian. Sebagai contoh beberapa usaha ekonomi produktif seperti perdagangan/warung.0 2 Lainnya (penyaluran BBM) 100. bahkan untuk keterlibatan dalam penyaluran BBM hanya satu orang responden.

median. dan distribusi rumah tangga menurut besar pendapatan per bulan. Sejalan dengan fokus penelitian pada perubahan pendapatan dalam kaitannya dengan pengelolaan terumbu karang. Sedangkan aspek pemasaran. program. baik pada musim angin teduh. produksi.1. pancaroba maupun kencang/kuat. keuntungan usaha). dan kualitas sumber daya manusia. Termasuk dalam faktor internal antara lain teknologi penangkapan.BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4. sarana-prasarana produksi dan kompetisi pemanfaatan sumber daya laut. pendapatan per kapita. peraturan dan penegakkan hukum terkait dengan pemanfaatan sumber daya laut dalam rangka memperoleh pendapatan. Faktor struktural meliputi kebijakan. merupakan beberapa contoh dari faktor eksternal. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 95 . eksternal dan struktural. kiriman/pemberian. Pendapatan rumah tangga yang dimaksudkan dalam tulisan ini merujuk pada total pendapatan suatu rumah tangga yang diperoleh oleh kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga. dan (3) uang pensiun. Sedangkan pendapatan dari kegiatan kenelayanan adalah semua pendapatan yang diperoleh oleh kepala maupun anggota rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan. mencakup ratarata pendapatan rumah tangga per bulan. yang meliputi faktor internal. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari beberapa sumber: (1) penghasilan yang diperoleh anggota rumah tangga yang bekerja (seperti gaji/upah. PENDAPATAN RUMAH TANGGA DAN PERUBAHANNYA P embahasan pendapatan rumah tangga pada tulisan ini mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. (2) penghasilan dari bunga tabungan/saham/ deposito. maka bagian ini juga menguraikan tentang pendapatan dari kegiatan kenelayan dan faktor yang berpengaruh.

Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita. 96 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .. tetapi lebih dari separuh rumah tangga sampel hanya mempunyai pendapatan di bawah rata-rata pendapatan rumah tangga.360.per bulan). Pada tahun 2006.1. Semua ukuran statistik pendapatan menunjukkan fenomena membaiknya kondisi ekonomi rumah tangga responden..1. Peningkatan pendapatan per kapita ini mungkin berkaitan dengan perubahan jumlah anggota rumah tangga.4. meningkat menjadi Rp 1. hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223. Tingkat pendapatan rumah tangga menunjukkan tren meningkat.per bulan. Peningkatan pendapatan rumah tangga terjadi pada mereka yang berpendapatan rendah maupun tinggi.-.5 persen.5 persen selama periode 2006-2008 (lihat Tabel 3. pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423.1).200. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan Kondisi pendapatan rumah tangga responden di Desa Limbung menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir (2006-2008).. rata-rata pendapatan rumah tangga per bulan dari berbagai sumber pendapatan di daerah penelitian sebesar Rp 948. Pada tahun 2008. terlihat dari adanya kenaikan pendapatan minimum maupun maksimum. Informasi dari masyarakat dan pengamatan di lokasi penelitian memperkuat alasan tersebut.pada tahun 2008. diperlihatkan oleh angka median yang lebih rendah dari rata-rata pendapatan rumah tangga.700. atau meningkat 89. atau mengalami kenaikan sebesar 43. antara lain karena migrasi ke luar untuk bekerja maupun karena perkawinan.300.050.

157.375.) 2008 423.700 981. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan.800 10.300 754.050 1.000 6.1). Perubahan pendapatan ini kemungkinan besar dialami oleh rumah tangga nelayan yang mengganti alat tangkap jenis jaring (pada tahun 2006) dengan bubu (pada tahun 2008. Desa Limbung. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 97 .000 Jumlah (Rp.1 persen pada tahun 2008. Kabupaten Lingga.360. hasil ketam yang ditangkap dengan bubu cenderung lebih banyak daripada dengan jaring (wawancara dengan beberapa nelayan di Dusun Centeng maupun Senempek). Meskipun sama-sama dipasang sepanjang siang dan malam hari yang hasil tangkapannya diambil pada pagi dan sore hari.Tabel 4. PPK-LIPI 2007 Perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung terjadi di setiap kategori besar pendapatan (lihat Gambar 4.1. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Pendapatan 2006 Per kapita Rata-rata rumah tangga Median Minimum Maksimum 223.250 75. yang juga mengalami sedikit peningkatan. yang ditunjukkan oleh tingginya persentase rumah tangga dengan jumlah pendapatan tersebut.000 10. Persentase rumah tangga pada kelompok rumah tangga berpendapatan terendah menurun tajam. Diperkirakan rumah tangga tersebut berpindah ke kelompok rumah yang mempunyai rata-rata pendapatan antara 500 ribu – 1 juta rupiah per bulan.500 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.200 948. yaitu dari 37 persen pada tahun 2006 menjadi 13.

4 juta rupiah dan 3. Desa Limbung. Namun 98 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dengan peningkatan tajam dialami oleh mereka yang memiliki pendapatan antara 2 juta – 2. Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan.5 juta -2. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Kabupaten Lingga. Dengan demikian. tetapi hanya dialami sedikit rumah tangga. peningkatan pendapatan rumah tangga dirasakan oleh mayoritas rumah tangga di Desa Limbung.5 juta rupian per bulan ke atas. dengan wilayah tangkap yang semakin mendekati lokasi terumbu karang.9 juta rupiah per bulan. Lokasi wilayah tangkap seperti ini memungkinkan nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan bilis lebih banyak. Nelayan kelong bilis yang umumnya mempunyai kondisi ekonomi lebih baik diperkirakan termasuk kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi ini. Observasi di wilayah penangkapan kelong bilis memperlihatkan adanya penambahan jumlah kelong dibandingkan pada survei tahun 2006.1. 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. PPK-LIPI 2007 Perubahan tingkat pendapatan rumah tangga ke arah yang lebih besar juga terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi. Walau terjadi penurunan persentase rumah tangga responden yang berada pada kelompok pendapatan antara 2. sehingga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan.Gambar 4.

000 2 600.300 3 1.500 4 470.) 2006 N 2008 n Perikanan tangkap 1. Sedangkan peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap yang hanya 23.200 6 Perdagangan 933.000 12 Jasa Kemasyarakatan 777. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.712.500 68 1. karena perannya sebagai pencari nafkah utama.200 5 600. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga. Desa Limbung. yaitu meningkat sebesar 60.376.800 67 Pertanian pangan 505.600 4 Lainnya 732. Data rata-rata pendapatan berdasarkan lapangan pekerjaan KRT memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan rata-rata pendapatan per bulan di setiap sektor. meningkatnya pendapatan rumah tangga tampaknya belum dapat memperbaiki kondisi kesejahteraan. sehingga peningkatan pendapatan tersebut tidak berdampak luas pada kesejahteraan rumah tangga secara umum.300 7 1.2 persen selama dua tahun terakhir.000 2 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. tetapi keterlibatan kepala rumah tangga (KRT) pada umumnya paling tinggi. PPK-LIPI 2008 Lapangan Pekerjaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 99 .2.858. karena harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar juga semakin mahal. Peningkatan pendapatan KRT yang tertinggi dialami oleh mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan perkebunan (karet). kecuali sektor industri pengolahan dan lainnya.050. Pendapatan rumah tangga berasal dari penghasilan yang diperoleh dari kepala maupun anggota rumah tangga.demikian.700 2 Industri pengolahan 850. keterlibatan KRT pada lapangan pekerjaan ini hanya sedikit.7 persen tampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. karena jumlah KRT yang bekerja di sektor ini adalah paling banyak dibandingkan mereka yang bekerja di sektor lain. Namun demikian. Tabel 4.000 2 Perkebunan 681.000 1 Kehutanan 700. Tahun 2006dan 2008 Rata-rata Pendapatan (Rp. Kabupaten Lingga Utara.

Pabrik ketam terbesar mempunyai tiga kelompok dengan anggota per kelompok (meja) antara 6-8 orang. Hal ini karena lapangan pekerjaan perdagangan di Desa Limbung pada umumnya berupa usaha dagang barang-barang kebutuhan sehari-hari. pada tahun 2008 tidak ditemukan KRT yang bekerja di sektor jasa kemasyakatan yang pada tahun 2006 berjumlah empat orang. Peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan usaha perdagangan yang mencapai 49.Kenaikan pendapatan KRT yang berasal dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan perkembangan sektor lainnya. sedangkan pengganti responden bekerja di luar sektor tersebut. Usaha –usaha industri kecil dan rumah tangga yang cenderung memberikan upah rendah dan diperkirakan belum dapat meningkatkan pendapatan pekerja13. Keterangan yang diperoleh dari masyarakat menunjukkan bahwa responden yang semula bekerja pada sektor jasa kemasyarakatan telah memasuki usia pensiun dan pindah ke luar desa. Demikian pula KRT yang bekerja di sektor industri tersebut didominasi oleh KRT perempuan (berstatus janda) yang bekerja pada usaha pengolahan daging ketam. Sedangkan dua usaha industri ketam lainnya hanya mempekerjakan tenaga kerja masing-masing 5 orang dan 8 orang. dan membuat makanan kecil. Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Kapasitas penangkapan sebagian besar nelayan di Indonesia masih rendah. Penurunan pendapatan KRT terjadi di sektor industri dan sektor lainnya.8 persen mungkin juga dipengaruhi oleh peningkatan daya beli rumah tangga responden yang kebanyakan dikepalai oleh mereka yang bekerja di sektor perikanan tangkap. anyaman untuk atap rumah.2. Penggunaan dan sarana-prasarana penangkapan sumber daya 13 Besar penghasilan dari sektor industri pengolahan kepiting tersebut tergantung pada hasil kerja kelompok dengan sistem upah borongan. Tabel 4.2 juga memperlihatkan. 100 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Lapangan pekerjaan industri pengolahan yang terlihat menonjol di Desa Limbung adalah usaha pengolahan daging kepiting yang mayoritas tenaga kerjanya perempuan.1. 4.

Di antara 100 rumah tangga responden. Sedikitnya jumlah rumah tangga yang mendapat penghasilan dari kegiatan kenelayanan pada musim ombak kuat berhubungan dengan cukup banyaknya nelayan yang menghentikan aktivitas melaut. Jumlah rumah tangga tersebut menjadi lebih sedikit pada saat musim pancaroba (68 rumah tangga) dan ombak kuat (38 orang). atau lebih besar dari nilai upah minimum Provinsi Kepulauan Riau yang sebesar Rp 833.laut umumnya berupa perahu motor (dan bahkan perahu tanpa motor/sampan).2 persen dalam kurun waktu 2006-2008 (lihat Gambar 4. Keadaan ini berdampak terhadap pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang rendah. Analisis pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan dalam tulisan ini didasarkan pada data hasil survei rumah tangga yang memperoleh penghasilan dari kegiatan kenelayanan. terdapat sebanyak 79 rumah tangga yang mempunyai penghasilan dari kegiatan kenelayanan. baik berasal dari pekerjaan utama maupun tambahan.. besar median hampir mendekati angka rata-rata pendapatan. Besar pendapatan dihitung dari semua pendapatan anggota rumah tangga yang bekerja pada sub-sektor perikanan tangkap/laut.2).200. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam. demikian pula alat tangkap yang digunakan masih sederhana. karena mereka hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil atau sampan yang tidak dapat menembus ombak besar.2 memperlihatkan rata-rata pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan sebesar Rp 967. mengindikasikan bahwa semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. data pada Tabel 4.. Bahkan pada tahun 2008.000. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 101 . Pendapatan tersebut mengalami peningkatan sekitar 23. Tanpa memperhitungkan musim angin.

nelayan juga sering memperoleh berbagai jenis ikan. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. Meskipun terjadi penurunan harga jual. juga menunjukkan angka lebih tinggi dibandingkan dengan dua musim lainnya.2. PPK-LIPI 2008 Pendapatan rumah tangga nelayan sangat bergantung pada musim angin.Gambar 4. Demikian pula statistik pendapatan lainnya (median. Pada musim ini semua nelayan turun ke laut. tetapi selain kepiting/ketam sebagai hasil tangkapan utama. Tahun 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. pendapatan maksimum dan minimum). Rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh (gelombang lemah) adalah paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pada musim pancaroba dan musim gelombang kuat. sehingga penjualan hasil tangkapan dapat memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan 102 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Keadaan ini terjadi karena pada musim teduh nelayan dapat melaut dua kali per hari dengan menggunakan beberapa jenis alat tangkap. Kabupaten Lingga. Desa Limbung.

dengan dua musim lainnya (gelombang kuat dan pancaroba)... Kalau jual ikan bisa ke kapal yang datang dari Pancur. Harganya memang lebih murah dibandingkan dengan jualan ikan pada saat angin ribut (musim angin kencang). sehingga mengurangi waktu melaut. tapi karena hasilnya lebih banyak. maka pendapatan yang diperoleh nelayan juga cukup besar. ke penampung di sini juga bisa. banyak ketam dan ikan yang dapat ditangkap nelayan.pada musim teduh. seperti diungkapkan oleh salah seorang nelayan berikut ini.... kegiatan kenelayanan dilakukan dengan memperhitungkan kondisi angin yang sewaktuwaktu dapat berubah cepat. Tapi ketam bisa dijual kemana saja dan turunnya (harga) juga tidak banyak... Kita jual kemana kita mau. Di sini ada tiga PT. dapat uangnya juga lebih banyak... tapi harga turun. tetapi karena hasil tangkapan tergolong banyak. tetapi lebih tinggi dibandingkan musim gelombang kuat (lihat Gambar 4. terserah kita mau kemana. Perubahan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut perubahan pada musim tersebut berhubungan dengan frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap.2). Pada musim pancaroba..... Sedangkan kegiatan melaut pada musim ombak kuat sangat jauh berkurang dengan jangkauan wilayah tangkap sangat terbatas. Harga jual sedikit menurun.. “.” Pendapatan rumah tangga nelayan pada musim pancaroba lebih rendah daripada pendapatan pada musim teduh. sehingga hasil tangkapan biasanya hanya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 103 .

3. PPK-LIPI 2008 Pendapatan dari kegiatan kenelayanan cenderung meningkat selama periode tahun 2006-2008 (Tabel 4. terendah pada musim ombak kuat. Tren tingkat pendapatan selama periode 2006-2008 juga menunjukkan. Perubahan pendapatan menurut musim tampak konsisten pada tahun 2006 maupun 2008 (Tabel 4. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan.3). 104 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yaitu pendapatan paling besar diperoleh pada musim teduh/ombak lemah. Kecuali pendapatan maksimum14.4 persen. karena menolak untuk diwawancara.Gambar 4. sedangkan pada musim pancaroba berada di antara musim teduh dan ombak kuat. Desa Limbung. atau kira-kira tiga kali lipat 14 Penurunan pendapatan maksimum kemungkinan berhubungan dengan pergantian responden (yaitu dari seorang nelayan pemilik beberapa kelong bilis dengan nelayan lain yang kondisi ekonominya lebih rendah). Kenaikan rata-rata pendapatan pada musim ombak kuat adalah 15.7 persen). Kabupaten Lingga. semua statistik pendapatan menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada setiap musim. 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45.3).

100.400 750.000 2008 647.000 Ombak Kuat 2006 561.3. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah).000 150.000 2008 879. Musim Ombak Lemah Pendapatan Rata-rata Median Minimum Maksimum 2006 1. perubahan pendapatan ke arah yang lebih baik paling jelas terlihat pada musim ombak lemah dibandingkan dengan dua musim lainnya. Desa Limbung.5 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 105 .000 300.7 persen). Tabel 4.500. pancaroba maupun ombak kuat.000 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. Kabupaten Lingga Utara.500 500. baik pada musim teduh/ombak lemah.000 Pancaroba 2006 839.000 6. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut.500 310.000 2008 1.236. PPK-LIPI 2008 Perubahan pendapan yang lebih baik juga terlihat dari angka median pendapatan yang meningkat.000 50.000 3.000 100.050 650. Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan. Tabel 4. yaitu ditunjukkan oleh angka median yang masih berada di bawah nilai rata-rata pendapatan. masih banyak rumah tangga nelayan yang mempunyai pendapatan rumah di bawah ratarata pendapatan.000 5.900.000 45. sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun. Secara umum terjadi kenaikan pendapatan pada kelompok rumah tangga nelayan yang memiliki besar pendapatan di bawah angka rata-rata pendapatan. Meskipun demikian.000 3.200. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim.000 7.000.850 500. Namun demikian.802. Kenaikan pendapatan rumah tangga nelayan pada musim ombak kuat cenderung dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 1 juta (lihat Tabel 4.000 9.lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4.750.900. Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan dan musim menunjukkan perbedaan perubahan pendapatan menurut musim angin.100 1.000 25. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.4).

999 ribu.000 – 2. khususnya bubu ketam.7 8.0 41.6 0.0 0.4 5.999 3.Rp 1.499 2.memperlihatkan persebaran rumah tangga yang cenderung merata pada kelompok pendapatan ke dua. PPK-LIPI 2005 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.1 31.0 6.3 2.4 4.0 4.000 – 1.499 1. dan Rp 1.999 2.5.1 13. Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim.3 0. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap.7 1.0 0.9 juta). Namun demikian.7 0.0 1.0 1.0 0.4 37.8 13.500 Jumlah (N) Musim Ombak Lemah 2006 2008 25.0 7.7 100 100 (79) (75) Pancaroba 2006 2008 47. PPK-LIPI 2007 106 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .3 10.4 18.4 24. Perbedaan ini dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal.0 0.0 1. pada musim pancaroba dan ombak kuat.7 11.3 2.5 8.4 0.4.4 46.7 35.7 10.9 32.7 0.9 2.3 0.499 > 3.0 3. Tahun 2006 dan 2008 (%) Pendapatan (‘000 rp) < 500 500 – 999 1.500 – 2.3 6.6 22. pendapatan mereka diperkirakan turun pada kelompok pendapatan yang lebih rendah.4 100 100 (68) (69) Ombak Kuat 2006 2008 68. persentase rumah tangga nelayan berdasarkan kelompok pendapatan cenderung terpusat pada dua kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu dan Rp 500 999 ribu).4 1.500 – 1. yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini. Tabel 4.6 21. karena frekuensi dan waktu melaut berkurang. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar.4 juta. Sedangkan pada musim pancaroba dan ombak kuat.0 100 100 (38) (42) Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. ke tiga dan ke empat terbawah (Rp 500 .5 menggambarkan keadaan tersebut.4 2.0 7. Data pada Tabel 4. Rp 1 juta-1. yaitu persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu) jauh lebih tinggi dibandingkan pada musim ombak lemah.4 8.000 – 3.

2. musim.4 juta.2. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural Tujuan COREMAP fase II yang berlangsung selama periode 2005 – 2010 adalah untuk mengembangkan sistem pengelolaan terumbu K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 107 . pada musim pancaroba dan ombak kuat. yaitu di Desa Limbung. Kabupaten Lingga. yang saling terkait satu dengan yang lain. FAKTOR PENGARUH PENDAPATAN RUMAH TANGGA Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian.5 juta) terjadi pada musim teduh/ombak lemah. wilayah penangkapan. dan degradasi sumberdaya pesisir/laut. misalnya Program COREMAP maupun programprogram pembangunan lainnya.Data tren pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan juga menunjukkan.0 – Rp 3. Kenaikan proporsi rumah tangga yang memiliki pendapatan tinggi pada musim teduh tersebut kemungkinan berhubungan dengan bertambahnya rumah tangga yang memiliki kelong bilis yang biasanya dioperasikan pada musim teduh. dipengaruhi oleh faktor internal.5 – Rp 2. Sebaliknya. rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tinggi tersebut tampaknya juga mengalami penurunan pendapatan. Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga adalah kebijakan/program/aturan pemerintah dan lembaga lain. 4.5 juta) yang cukup besar.9 juta dan Rp 3.1. biaya produksi. antara lain teknologi penangkapan. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga dan perubahannya antara lain permintaan sumber daya laut. Fator internal meliputi semua faktor yang ada dalam diri dan lingkungan masyarakat setempat. akses pemasaran. eksternal dan struktural. Hal ini diindikasikasikan oleh peningkatan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan Rp 2. Dengan perkataan lain terjadi pergeseran kelompok rumah tangga nelayan dari kelompok pendapatan tertinggi ke kelompok pendapatan lebih rendah. dan kualitas sumber daya nelayan. kenaikan persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan tinggi (> Rp 2. 4. sebaliknya terjadi penurunan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tertinggi (> Rp 3.

2007). Kegiatan COREMAP diawali dengan sosialisasi di tingkat kabupaten dan desa. Pada saat survei BME Sosial Ekonomi dilakukan. Beberapa kegiatan untuk mencapai tujuan COREMAP telah dilakukan. kemudian dibagi menjadi empat (4) kelompok. oleh. karena berbagai kendala. Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang merupakan target pelaksanaan COREMAP II dalam rangka meningkatkan kesejahteraan penduduk di lokasi Desa Limbung tampaknya masih sangat terbatas. 15 Walaupun mengatasnamakan pokmas. hanya terdapat satu pokmas yang sudah berjalan. Masing-masing kelompok mendapat bantuan modal Rp 100 ribu yang kemudian dibagikan kepada empat orang anggota. 108 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . disamping pembentukan beberapa kelompok masyarakat (pokmas). Dari satu pokmas yang beranggotakan sebanyak 16 orang. yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Indonesia. yaitu pokmas jender yang melakukan kegiatan usaha industri rumah tangga. Pelaksanaan COREMAP di Kabupaten Lingga. Program ini terus berusaha mendorong dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengorganisir diri. kegiatan COREMAP II telah berlangsung selama tiga tahun. dan untuk masyarakat) (DKP. yaitu di tujuh desa (salah satunya adalah Desa Limbung) telah dimulai sejak fase I dan dilanjutkan pada fase II. memberdayakan dan mendukung masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang dan ekosistem terkait secara berkelanjutan.. Dengan modal usaha sebesar Rp 500 ribu per kelompok dengan anggota 16 orang15. Berikut ini dibahas capaian dan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program. pada kenyataannya kegiatan usaha dilakukan secara individu.karang. Uang sebesar Rp 25 ribu tersebut dipakai sebagi modal usaha membuat kue kering (mereka menyebutnya epuk-epuk) atau kerupuk ikan. Data maupun informasi yang berasal dari hasil survei BME sosial ekonomi tersebut dapat dimanfaatkan oleh komponen CBM (community based management) untuk perbaikan implementasi COREMAP selanjutnya. Walaupun telah terbentuk enam (6) pokmas UEP. termasuk menentukan pilihan kegiatan pembangunan di daerahnya secara musyawarah dengan mengacu pada azas COREMAP II (yaitu dari. meskipun sebagian diantaranya masih belum memberikan dampak positif.

demikian pula tidak dilakukannya penangkapan SDL di lingkungan DPL.. Menurunnya atau bahkan tidak adanya lagi penggunaan alat-alat tangkap yang merusak.hasil kelong sejak COREMAP II jadi baik lagi. Dampak positif lain yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya COREMAP adalah fasilitas (kemudahan) dalam melakukan kegiatan melaut. jadi kelong makin banyak. sehingga meningkatkan populasi sumber daya laut. menyebabkan tekanan terhadap ekosistem terumbu karang dan kekeruhan air laut semakin berkurang. Lebih-lebih dengan dikeluarkannya peraturan desa (Perda) tentang larangan penggunaan alat-alat tangkap yang merusak yang juga difasilitasi oleh COREMAP fase I... misalnya parit gamat yang sebelumnya sering digunakan untuk mencari teripang. Tak apa- K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 109 . Parit gamat buat air jadi keruh dan teri tak mau masuk (ke kelong). Penentuan daerah perlindungan laut (DPL) yang dimotori oleh COREMAP dengan partisipasi masyarakat setempat.. Sekarang orang yang mampu pada cacak (memasang) baru. ketua dan salah seorang anggota pokmas jender tersebut mengatakan bahwa kegiatan UEP dapat membantu dalam memberikan kegiatan produktif bagi anggota pokmas yang jumlahnya masih terbatas pada beberapa orang. termasuk ikan bilis yang tidak bisa hidup di lingkungan air keruh. Informasi yang diperoleh dari FGD di Dusun Seranggas menggambarkan semakin meningkatnya ketersediaan ikan bilis.maka kegiatan UEP yang baru berjalan kira-kira empat (4) bulan sebelum pelaksanaan survei BME Sosek. dampak kegiatan ini terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga belum terlihat nyata. yang secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. membuat nelayan tidak lagi berani melakukan penangkapan di kawasan tersebut dan juga tidak menggunakan alatalat tangkap yang tidak ramah lingkungan. masyarakat nelayan menjadi berani untuk melakukan protes jika ada nelayan setempat dan luar desa yang melanggar aturan tersebut. seperti diungkapkan sebagai berikut: “. Meskipun demikian. karena ada larangan penggunaan alat tangkap yang merusak. seperti parit gamat untuk cari teripang.

Program ini dimulai tahun 2006 (tetapi di Desa Limbung baru berjalan pada awal tahun 2007) yang ditujukan pada nelayan dan pembudidaya di Kabupaten Lingga. khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas. karena lokasinya besar (luas). sarana dan atribut kawasan perlindungan laut. Selain COREMAP. tetapi 20 persen dari total anggaran ditujukan untuk wilayah COREMAP 110 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . soalnya tempatnya di laut. Keberadaan fasilitas ini sangat membantu nelayan. ditunjukkan oleh semakin banyaknya jumlah kelong bilis pada saat ini dibandingkan dua tahun yang lalu. termasuk dalam faktor eksternal yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Desa Limbung antara lain Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga. pokmas pengawasan belum aktif dalam melakukan kegiatan karena belum memiliki peralatan (kapal motor. bahan bakar minyak. yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana. Meskipun pada COREMAP fase I pernah ada kegiatan pengawasan. Manfaat keberadaan tambatan perahu bantuan COREMAP ini tidak hanya dirasakan oleh nelayan. Kemudahan dalam kegiatan melaut lainnya adalah bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga). padahal anggota pokmas kebanyakan berasal dari dusun yang letaknya jauh dari lokasi dpl. lampu sorot. tetapi juga masyarakat lainnya (setempat dan luar desa) yang akan menyeberang dari dan ke dusun lainnya di Desa Limbung atau bahkan ke kecamatan lain. Menurut sejumlah informan. yang selanjutnya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. misalnya Penaah. dengan berhentinya program ini selama kurang lebih tiga tahun berdampak pada rusak/hilangnya peralatan.apa mereka pada nambah. yang sumber dananya berasal dari tingkat provinsi.” Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan Desa Limbung memperkuat semakin banyaknya keberadaan ikan bilis di perairan tersebut. Dampak lanjutan dari peningkatan populasi SDL adalah bertambahnya hasil tangkapan. Kondisi ini akan semakin baik apabila pokmas pengawasan (reef watcher) yang sudah terbentuk dapat segera melakukan aktivitasnya. dan atribut untuk tanda batas DPL).

sedangkan KSDA bertindak sebagai pendampingan teknis. karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki tanah/kendaraan sebagai agunan. Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan memperkuat informasi tersebut. nelayan kecil juga mendapat keuntungan/ manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. nelayan yang mepunyai modal cukup juga dapat meminjam kepada penampung yang mendapat Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga tersebut untuk cacak kelong bilis yang memerlukan modal cukup besar. Sepertihalnya dengan persyaratan untuk mendapatkan kredit. Informasi dari beberapa nelayan Desa Limbung juga menunjukkan adanya peningkatan peminjaman alat-alat tangkap (umumnya berupa bubu ketam) kepada penampung. Kondisi ini tentunya akan berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung.(wawancara di KSDA Kabupaten Lingga). yaitu hampir di sepanjang pantai di lingkungan perairan Desa Limbung dapat ditemukan bubu ketam dalam jumlah banyak. Ketersediaan dermaga ini akan memfasilitasi masyarakat Desa Limbung yang bertipologi daerah K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 111 . Akibatnya. sehingga belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini karena kredit usaha yang diperoleh penampung. biasanya dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap yang dapat dibayar secara kredit pada saat nelayan menjual hasil tangkapan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penyaluran dana dilakukan oleh salah satu koperasi di kabupaten ini yang merupakan rekanan KSDA. calon peminjam harus memiliki agunan yang berupa sertifikat tanah atau surat BPKB. pembangunan sarana ini masih dalam proses penyelesaian. Bahkan. Pada saat survei BME Aspek Sosial Ekonomi. Persyaratan semacam ini sulit dipenuhi oleh nelayan di Desa Limbung. Program pemerintah lain yang diimplementasikan di Desa Limbung yang memberikan kontribusi tidak langsung terhadap peningkatan pendapatan adalah pembangunan perbaikan dermaga dengan dana APBD melalui proyek Dinas Kimpraswil Kabupaten Lingga. Meskipun demikian.

rumah tangga pemilik bubu ketam meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. 4.pesisir dan kepulauan dalam melakukan kegiatan ekonomi. sehingga mudah untuk dioperasionalkan.2. dibandingkan dengan jaring16. Teknologi penangkapan merupakan salah satu faktor penting dalam mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Telah dikemukakan sebelumnya. Teknologi penangkapan yang berubah drastis dalam dua tahun terakhir (2006-2008) adalah alat tangkap kepiting/ketam. Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan. Faktor internal yang berperan penting dalam mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga adalah perubahan teknologi penangkapan dan modal melaut. 16 112 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Perkembangan teknologi penangkapan di lingkungan masyarakat nelayan di Desa Limbung terlihat nyata dalam peningkatan jumlah dan perubahan jenis alat tangkap. bahkan jenis alat tangkap ini juga menarik kaum perempuan untuk ikut melaut yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.2. Pada umumnya nelayan membeli bubu di penampung dengan cara kredit yang pembayarannya dilakukan pada saat menjual hasil tangkapan. serta peningkatan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja. Perubahan alat tangkap ketam tersebut disebabkan karena bubu lebih murah dan mudah dalam pengoperasian. meskipun Harga bubu ketam di tingkat penampung pada saat survei dilakukan (tahun 2008) sekitar Rp 600 ribu untuk 25 buah. yaitu dari jaring menjadi bubu. dan penampung. Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal Peningkatan pendapatan rumah tangga selama dua tahun terakhir tampaknya juga tidak terlepas dari pengaruh internal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Limbung. rata-rata pemilikan bubu ketam kira-kira 35 buah dengan pemilikan terendah 10 buah dan tertinggi 92 buah. sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan. serta pengamatan di wilayah penangkapan menggambarkan fenomena perkembangan teknologi penangkapan di Desa Limbung. tokoh desa. Hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi 2008 memperlihatkan. Ukuran dan berat bubu ketam cukup ringan. Bubu ketam juga dapat dipakai sepanjang musim.

Perempuan juga bisa pakai.pada musim ombak besar pemakaian alat ini jauh berkurang. Salah seorang nelayan di Dusun Centeng... Peningkatan hasil tangkapan ketam akibat perubahan alat tangkap dari jaring ke bubu tampaknya berkontribusi cukup besar terhadap peningkatan pendapatan dalam dua tahun terakhir.. Menurut sejumlah nelayan lainnya. rumah tangga yang mempunyai kelong bilis terus bertambah dalam dua tahun terakhir.. tetapi hasil tangkapan juga lebih banyak daripada mereka yang mencari ketam di kawasan pantai. sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah17. Namun demikian.. Hanya nelayan yang mencari ketam hingga agak ke tengah dan menggunakan perahu motor memerlukan biaya operasional.. karena hanya menggunakan sampan dan dalam waktu paling lama dua jam. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis. Tidak semua bubu terisi ketam. Telah dikemukakan sebelumnya.. tergantung keberanian saja.. karena tidak berat. “.. 17 Pemasangan dan pengangkatan bubu ketam dilakukan pagi dan sore hari.pasang bubu ketam tak pakai musim. yaitu hampir mencapai dua kali lipat. tetapi setiap melaut sering memperoleh hasil yang dijual ke penampung atau pabrik ketam. tidak suah buat sendiri. Desa Limbung mengambarkan alasan kenapa nelayan di desa ini pada umumnya menggantikan jaring ketam menjadi bubu ketam.. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 113 . Melaut dengan menggunakan bubu ketam yang dilakukan di kawasan pantai juga tidak perlu mengeluarkan biaya operasional (BBM maupun ransum).. Kelong bilis harus ditempatkan di wilayah tangkap yang agak ke tengah yang berarti memerlukan modal usaha cukup besar.. Bubu juga mudah dibeli jadi. paling mengganti kawat yang rusak.. penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu. Makanya sekarang ibu-ibu di sini juga ada yang pergi melaut”.. seperti berikut.

Berikut dibahas pengaruh eksternal terhadap perubahan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. 4. pertambahan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja juga berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga. pada tahun 2006 rata-rata jumlah ART yang bekerja hanya satu orang. sehingga masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka juga tidak perlu pergi terlalu lama. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga di Desa Limbung meliputi musim angin (iklim).2. sehingga mereka bisa menggunakan sampan yang didayung sendiri atau dengan bantuan anak.pendapatan dari hasil kelong juga terhitung tinggi. 114 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . hasil tangkapan sangat sulit diperoleh pada musim angin kencang karena 18 Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan sebagai nelayan bubu karena alat tangkap ini biasanya hanyadipasang/ditempatkan di wilayah penangkapan yang letaknya tidak jauh dari pantai. Walaupun SDL selalu tersedia sepanjang tahun. dan sebagian lainnya bekerja di sektor jasa kemasyarakatan (guru honor) dan industri pengolahan ketam. karena menghasilkan setiap hari selama bulan gelap (sekitar 20 hari/bulan pada musim angin teduh/lemah dan terkadang pancaroba). Musim angin/iklim Pengaruh musim/iklim terhadap tingkat pendapatan nelayan sangat besar. Dengan demikian.3. meningkat menjadi antara 1-2 orang. Selain teknologi penangkapan. Data survei menunjukkan. bertambahnya pemilikan kelong bilis di antara nelayan di Desa Limbung berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga secara keseluruhan. permintaan dan pemasaran SDL. Tambahan ART yang baru mulai bekerja pada dua tahun terakhir ini diantaranya adalah perempuan dan anakanak yang bekerja sebagai nelayan bubu ketam18.

Data survei BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung menunjukkan adanya tren peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada setiap musim (lihat Tabel 4. tetapi skala usaha masih terbilang usaha kecil. Keadaan ini berdampak terhadap sedikitnya hasil tangkapan. Bahkan permintaan daging ketam dari Singapura meningkat dari tahun ke tahun. meskipun harga jual SDL lebih tinggi daripada musim teduh. perubahan musim di Desa Limbung tersebut mungkin belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan. Sedangkan nelayan sampan sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas ke laut.laut sedang berombak besar. sehingga pendapatan juga tidak besar. mengindikasikan meningkatnya permintaan pasar terhadap daging ketam. Sebaliknya. Menurut beberapa nelayan. harga jual SDL menurun pada musim teduh. musim angin barat yang biasanya terjadi hujan. Salah seorang pengelola K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 115 . masyarakat nelayan Desa Limbung juga merasakan adanya perubahan iklim/musim angin dalam beberapa tahun terakhir. musim angin seperti yang mereka perhitungkan selama ini sudah tidak bisa lagi menjadi pedoman.3). tetapi kenaikan tersebut kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti perubahan teknologi. Dicontohkan. permintaan dan pemasaran hasil SDL) daripada faktor musim. Seperti terjadi di daerah-daerah lainnya. sehingga armada ini hanya dapat menjangkau wilayah tangkap yang terlindung dan dekat dengan pantai. saat sekarang justru ada panas. Pada umumnya nelayan hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil. Namun demikian. Permintaan Permintaan SDL hasil tangkapan nelayan di Desa Limbung cukup tinggi di pasar dalam maupun luar negeri. tetapi karena hasil tangkapan melimpah akibat semua nelayan pergi melaut dengan semua alat tangkap yang mereka miliki. Demikian pula pada musim teduh (angin timur dan selatan) terkadang muncul angin pancaroba. bertambahnya industri pengolahan daging ketam di Desa Limbung dari satu menjadi tiga industri. maka berkontribusi terhadap pendapatan nelayan yang lebih tinggi daripada musim ombak kuat dan pancaroba. Meskipun tidak ada data statistik tentang permintaan daging ketam yang diekspor ke negara tersebut.

sedangan harga termurah adalah ketam berukuran C. terutama pada musim selatan. hasil tangkapan nelayan Desa Limbung belum dapat memenuhi permintaan pasar Singapura.industri mengemukakan bahwa pasokan daging ketam dari perusahaan di Daik ke Singapura tidak pernah ada penolakan. tingginya permintaan daging ketam olahan tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga yang bukan hanya berasal dari penjualan hasil tangkapan ketam. Merespon permintaan ini. Sebagian nelayan melepas kembali anak ketam tersebut ke laut karena tidak laku untuk dijual. tetapi juga dari meningkatnya jumlah tenaga dan 19 Industri pengolahan daging ketam menetapkan ukuran (berat) per satuan ekor ketam menjadi tipe A (super). pihak industri tidak pernah menolak membeli ketam hasil tangkapan nelayan Desa Limbung. sehingga pihak industri pengolahan daging ketam di desa ini juga membeli dari hasil tangkapan nelayan di luar Desa Limbung. Harga ketam berukuran A lebih mahal daripada ukuran B . B (besar). Dampak negatif dari penggunaan bubu ketam adalah tertangkapnya ketam berukuran kecil (anak ketam) yang selanjutnya akan berakibat pada berkurangnya populasi ketam di masa depan. Dengan demikian. Namun demikian. sehingga upah yang diperoleh juga semakin besar. Potensi ketam di perairan Desa Limbung tergolong cukup besar. bahkan permintaan cenderung bertambah terus. Keadaan ini mendorong nelayan untuk meningkatkan kapasitas penangkapan (antara lain dengan memperbanyak pemasangan bubu) dan mengoptimalkan ART untuk melakukan kegiatan melaut (misalnya dengan menyertakan isteri/anak) agar dapat menangkap ketam sebanyak mungkin20. Banyaknya pasokan ketam tersebut memberikan pekerjaan yang lebih banyak terhadap buruh industri. didindikasikan oleh dominasi jenis SDL ini sebagai hasil tangkapan nelayan. dan C (kecil). timur dan barat. tetapi kebanyakan membawa pulang anak ketam tersebut untuk dikonsumsi sendiri. 20 116 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sepanjang memenuhi ukuran standar19. misalnya dari daerah Tanjung Keriting dan Bukit Harapan.

tetapi populasinya tidak besar. sehingga diperlukan 21 Dari tiga industri pengolahan ketam di Desa Limbung pada tahun 2008. Kondisi ini berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. atau mencapai dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun 2006 yang jumlahnya sekitar 20 orang. sehingga produksi ikan bilis semakin banyak pula. sehingga air laut menjadi tidak keruh yang sangat kondusif untuk tempat hidup ikan bilis. Peningkatan populasi ikan bilis di perairan Desa Limbung tersebut. bukan hanya bagi pemilik kelong. Untuk mendapatkan cumicumi dalam jumlah cukup banyak. nelayan harus pergi ke wilayah perairan Pulau Semut di Kecamatan Singkep. Hal ini karena produksi nus tidak sebanyak ketam dan ikan bilis. Kondisi ini mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan bilis. Pulau Buluh atau Pulau Kojong). Selain ketam. mendorong nelayan bermodal cukup besar untuk memasang (dalam istilah lokalnya adalah cacak) kelong baru. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 117 . Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan kelong bilis menunjukkan bahwa meningkatnya ketersediaan ikan bilis dalam dua tahun terakhir ini antara lain karena tidak ada lagi nelayan yang menggunakan parit gamat. permintaan ikan bilis kering di pasaran Kota Batam dan Tanjung Pinang cukup besar. Sedangkan upah buruh industri yang dibayarkan dengan sistem upah borongan (pekerjaan dilakukan secara berkelompok) juga mengalami sedikit peningkatan. terdapat kira-kira 40-an orang buruh kopek ketam. Potensi jenis SDL di perairan Desa Limbung cukup tinggi dan cenderung semakin banyak dalam dua tahun terakhir. meskipun besarnya tidak pasti karena tergantung pada banyaknya daging ketam yang dapat diproduksi oleh kelompok kerja. Hal ini karena pemilik kelong biasanya mempunyai buruh untuk menunggu kelong dan mengangkat jaring. Meskipun cumi-cumi dapat diperoleh di perairan Limbung (sekitar Batu Putih di Tanjung Takeh. Permintaan nus (cumi-cumi yang sudah dikeringkan) di pasar Singapura maupun pasar domestik yang juga cukup besar tampaknya kurang berpengaruh terhadap perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. serta buruh membersihkan ikan bilis sebelum dikeringkan.upah sebagai buruh industri ketam (penduduk setempat menyebutnya buruh kopek ketam)21. tetapi juga para buruhnya.

Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. Hal ini diindikasikan dari mudahnya menjual hasil tangkapan untuk jenis SDL apa saja dan berapapun jumlahnya. Pemasaran kepiting/ketam yang merupakan SDL andalan di Desa Limbung semakin mudah dalam pemasarannya. penampung di Desa Limbung bersedia membeli semua jenis SDL. karena potensi SDL di perairan desa ini sangat tinggi. sehingga kontribusi hasil penjualan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tidak besar. seperti telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karena itu.biaya operasional cukup besar. umumnya kepada penampung. Selain penampung dan pengusaha industri. serta pada waktu kapan saja. seperti 118 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Wawancara dengan dua orang pengelola industri pengolahan daging ketam menggambarkan adanya peluang pasar yang masih terbuka luas. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang. Hasil tangkapan lain. seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. terutama ke Singapura. hasil tangkapan nelayan juga dapat dijual ke kapal ikan dari Pancur yang datang tiga kali per minggu ke Desa Limbung. serta di provinsi sekitar. Kondisi ini tentunya berdampak positif terhadap pendapatan nelayan Desa Limbung. Harga ikan bilis yang cukup stabil mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui cacak kelong baru. walau cenderung terbatas pada nelayan yang mempunyai kondisi ekonomi baik. diindikasikan oleh bertambahnya jumlah usaha pengolahan daging ketam. tidak banyak nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan cumi-cumi (umumnya dari Dusun Senempek). Setiap dusun terdapat beberapa penampung yang selalu siap membeli hasil tangkapan nelayan. karena pembuatan kelong memerlukan modal yang tidak sedikit. yang selanjutnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dipasarkan di dalam desa. Kecuali penampung yang mengkhususkan pada ikan bilis. Pemasaran Tingginya permintaan produk SDL hasil tangkapan nelayan Desa Limbung berdampak pada peluang pasar yang semakin terbuka.

mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui perubahan kapasitas penangkapan dan maksimalisasi tenaga kerja rumah tangga. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga.gonggong yang langsung dikirim ke Kota Batam juga mengindikasikan bahwa pasaran jenis SDL ini masih terbuka lebar. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 119 . Bahkan dengan meningkatnya peluang pasar. Kemudahan dalam pemasaran dalam dan luar negeri untuk semua jenis SDL hasil tangkapan nelayan tersebut berpengaruh terhadap perolehan pendapatan rumah tangga. khususnya ketam.

120 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Pada kenyataannya. Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. itupun harus dilakukan perbaikan. Kelemahan I K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 121 . di mana hanya sebagian kecil infrastuktur yang masih dapat dimanfaatkan. dan keterbatasan sumberdaya manusia (kuantitas dan kualitas) sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Padahal sebagian besar anggota sudah tinggal dan berdomisili di Kepulauan Lingga. hampir semua desa menghadapi kondisi yang tidak berbeda. sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. Persoalan koordinasi. Lokasi program yang mengambil desa-desa sama dengan lokasi COREMAP I merupakan suatu pilihan yang tepat jika infrastruktur dan kelembagaan masyarakat yang dibentuk pada COREMAP I masih berfungsi.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. KESIMPULAN mplementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga telah berjalan selama empat tahun. Terpencarnya domisili tempat kerja dan tempat tinggal anggota komponen dijadikan ‘kambing hitam’ untuk menutupi buruknya koordinasi antar komponen maupun anggota komponen COREMAP. Sedangkan kelembagaan masyarakat terkait dengan pengelolaan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat sudah terhenti sejalan dengan berhentinya COREMAP I yang sempat mengalami masa vakum kira-kira selama dua tahun akibat adanya perubahan status wilayah administrasi pemerintahan dan pengalihan tanggung jawab pengelolaan COREMAP dari Bappeda Provinsi Riau ke Kantor Sumber Daya Alam Kabupaten Lingga.1. Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam suatu komponen. pendanaan. Kendala geografis sering dikaitkan dengan lemahnya koordinasi.

dalam koordinasi ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. karena keterbatasan waktu. Keadaan ini tentunya mempengaruhi kelancaran kegiatan COREMAP yang tidak dapat 122 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Bahkan. komponen yang satu terkadang tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh komponen yang lain. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program yang tidak dapat dilakukan dengan optimal. Sejak COREMAP II diimplementasikan. padahal kegiatan tidak bisa dilaksanakan sebelum dana pendamping dapat dicairkan. karena pencairan dana baru dapat dilakukan antara tiga atau dua bulan sebelum penutupan tahun anggaran. Faktor keterbatasan sumber daya manusia yang menghambat dalam pelaksanaan COREMAP tercermin dari keterbatasan jumlah maupun rendahnya kualitas pengelola program. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. sehingga kualitas hasil kegiatan sering tidak sesuai dengan persyaratan yang disepakati dalam lelang dengan pihak ketiga. Tenaga pengelola COREMAP yang terbatas dalam jumlah dan kualitas terlihat dari sebagian besar koordinator komponen dan PIU yang harus memegang jabatan rangkap. lebih-lebih kegiatan koordinasi yang semestinya difasilitasi oleh PIU juga sangat jarang dilakukan. khususnya pekerjaan-pekerjaan infrastruktur yang ditangani oleh perusahaan kontraktor. baik jabatan struktural maupun proyek. sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. Kendala pendanaan COREMAP II yang mensyaratkan adanya dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat. dana pendamping selalu menjadi hambatan utama. Keterlambatan dalam pendanaan juga menyebabkan setiap komponen harus segera melaksanakan program dan kegiatan tanpa berkoordinasi dengan komponen lain. sehingga berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan program. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. Akibatnya.

Kegiatan pengawasan yang terjadwal juga jarang dilakukan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 123 . maka menjadi hal yang wajar jika implementasi COREMAP bukanlah menjadi prioritas utama bagi pemerintah Kabupaten Lingga. karena konflik kepentingan antara mendahulukan COREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya diperkirakan dihadapi oleh mereka yang memiliki jabatan rangkap. terdapat indikasi adanya upaya ekploitasi penambangan boksit dan pasir besi yang akan dilakukan di lokasilokasi COREMAP. tetapi juga tidak terlepas dari pengelola COREMAP Kabupaten Lingga yang menyetujui bahwa fokus kegiatan COREMAP II hanya pada satu dusun yang terletak di pusat Desa Limbung. Bahkan. Apabila kegiatan tersebut terlaksana. yang kemudian dilanjutkan pada fase II yang pada saat ini sudah memasuki tahun ke tiga (satu tahun lebih lambat dari pelaksanaan di tingkat kabupaten). dalam arti semua kegiatan berhenti sejalan dengan berhentinya program. itupun cenderung terkonsentrasi pada kegiatan di salah satu dusun. Sejumlah kendala dalam implementasi COREMAP juga dihadapi pada pelaksanaan kegiatan di lokasi program. Sedangkan kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas. Sebagaimana dengan kondisi di tingkat kabupaten. maka program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang di Kabupaten Lingga yang telah dilakukan selama ini akan sia-sia. Implementasi COREMAP I tidak meninggalkan bekas. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan kurangnya sosialisai program dan rendahnya keterlibatan masyarakat luas dalam COREMAP.ditangani dengan baik. Dalam konteks Kabupaten Lingga dengan potensi sumber daya alam sangat besar yang cenderung lebih menguntungkan untuk meningkatkan pembangunan daerah maupun meningkatkan kesejahteraan ekonomi SDM pengelolanya daripada COREMAP. dan bahkan kondisi terumbu karang semakin mengalam kerusakan parah. Kondisi seperti ini tampaknya bukan semata-mata merupakan kekeliruan masyarakat Desa Limbung. Terjadi kecenderungan pada kebanyakan masyarakat yang kurang peduli terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang sudah ada maupun rencana kegiatan yang akan dilakukan. pelaksanaan COREMAP II di Desa Limbung telah dilakukan sejak fase I. termasuk di Desa Limbung.

Akibatnya kegiatan usaha ekonomi produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari 124 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kelembagaan COREMAP di tingkat desa yang baru dibentuk pada tahun 2007 yang terdiri dari LPSTK dan tiga pokmas (jender. khususnya dalam aspek pengawasan dan perlindungan daerah konservasi. Sangat jarang (jika tidak bisa dikatakan tidak pernah) pengurus LPSTK maupun tenaga pendamping yang berkunjung ke dusun lain untuk mensosialisasikan COREMAP. itupun pada kalangan yang sangat terbatas. sebagian besar penduduk di dusun lain (misalnya Senempek dan Air Kelat) juga bekerja sebagai nelayan yang selalu bersinggungan dengan ekosistem terumbu karang. Hal ini disebabkan lokasi program COREMAP dimana pokmas pengawasan berada justru berjarak paling jauh dengan kawasan konservasi terumbu karang (daerah perlindungan laut-DPL). apalagi memberi penyuluhan tentang pentingnya pengelolaan terumbu karang. kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. sehingga pelaksanaan program dan kegiatan cenderung diputuskan oleh masyarakat sendiri. Meskipun bukan merupakan lokasi program.oleh komponen COREMAP. Oleh karena itu tidak dilibatkannya mereka dalam kegiatan COREMAP dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang mungkin juga berdampak lanjutan terhadap kelancaran kegiatan COREMAP. dan kegiatan penyadaran masyarakat. Kondisi ini semakin membuat masyarakat kurang peduli terhadap kelanjutan COREMAP. Tenaga penyuluh lapangan juga cenderung lebih banyak berada di kantor. sehingga praktis tidak dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam membantu masyarakat untuk menggali usaha-usaha produktif yang dikembangkan. Tenaga pendamping lapangan (Field Fasilitator-FF) yang direkrut oleh pihak ketiga (LSM) hanya ada di Desa Limbung selama satu bulan. membentuk kelembagaan COREMAP di tingkat desa. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan. Sikap ‘masa bodoh’ kebanyakan masyarakat Desa Limbung terhadap kegiatan COREMAP II kemungkinan juga disebabkan oleh kinerja LPSTK maupun tenaga pendamping yang kurang pro-aktif terhadap masyarakat di luar lokasi binaan COREMAP yang hanya dikonsentrasikan di satu dusun.

Walaupun pendapatan nelayan sangat jauh berkurang pada musim ombak besar. antara lain dengan kepemilikan NPWP. maka tambatan perahu ini bukan hanya berfungsi sebagai tambatan perahu nelayan. Namun demikian. ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga penduduk Desa Limbung ke arah yang lebih baik. tetapi juga dimanfaatkan untuk dermaga penyeberangan antar dusun. meskipun hanya untuk lingkungan masyarakat yang terbatas.komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal). program PBM yang telah dilakukan di Desa Limbung adalah memberikan bantuan di bidang pembangunan infrastruktur (tambatan perahu dan sarana MCK). Sumber pendapatan utama rumah tangga sampel di Desa Limbung berasal dari kegiatan kenelayanan. Hal ini tampaknya berkaitan dengan belum berhasilnya pengurus LPSTK untuk mendapatkan status sebagai lembaga yang berbadan hukum. terutama dipengaruhi oleh akses yang lebih mudah untuk mencari penghidupan di laut daripada di daratan. tetapi adanya bantuan pinjaman barang maupun uang dari penampung. Desa Limbung dengan wilayah daratan yang lebih luas dari lautannya tampaknya belum menjadi pendorong bagi penduduknya untuk mencari penghidupan dari sumber daya darat. yakni dari lahan pertanian ataupun perkebunan. Di sisi lain. Bantuan tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bekerja melaut sudah dilakukan secara turun temurun. Implementasi COREMAP yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat memang belum terlihat nyata di Desa Limbung. Sebagian besar penduduk menggantungkan kehidupannya pada sumber daya laut (SDL). karena hasil tangkapan bisa langsung dijual kepada penampung maupun industri pengolahan ketam yang tersedia di dalam desa. cepat mendapat uang. menjadikan sebagian besar penduduk Desa Limbung untuk tetap menekuni pekerjaannya sebagai nelayan. lokasi tambatan perahu yang cukup strategirsdan berada dalam lokasi dengan kondisi pantai yang cukup dalam. Namun demikian. ‘kemurahan hati’ penampung untuk membantu nelayan pada musim K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 125 . Di luar kegiatan ekonomi produktif yang baru dilakukan oleh pokmas jender. disamping bantuan untuk merenovasi bangunan pondok informasi beserta peralatan pendukung.

yaitu dari 70 persen menjadi 51. tetapi dampak perubahan pendapatan tersebut cenderung terlihat cukup meluas di kalangan rumah tangga di Desa Limbung.pada tahun 2006 menjadi Rp 967.300..000.sulit ikan dilandasi oleh motif untuk tetap menjaga hubungan kerja dengan mereka. karena kegiatan ekonomi penampung juga sangat tergantung pada kegiatan nelayan.200. Selain pendapatan rata-rata rumah tangga yang mengalami kenaikan cukup besar dalam dua tahun terakhir.5 persen.pada tahun 2008) masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) yang mencapai 30 persen.. meskipun tidak selalu mengindikasikan perbaikan kesejahteraan.700. semua statistik pendapatan menunjukkan kenaikan dengan perkecualian pendapatan maksimum. Hal ini diindikasikan oleh banyaknya rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) yang memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean). Meskipun peningkatan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan lebih rendah daripada kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya. Namun demikian. Walaupun persentase rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan) menurun cukup besar. Kenaikan angka median sangat tajam.360.. Hal ini karena kenaikan pendapatan tersebut juga seiring dengan kenaikan harga barang-barang konsumsi maupun barang lainnya. kenaikan pendapatan rumah tangga per bulan dari kegiatan kenelayanan yang sebanyak 23. Keadaan ini menunjukkan membaiknya kondisi ekonomi penduduk Desa Limbung. atau dari Rp 948.. kecuali mereka yang tinggal di Dusun Linau yang menurut rencana akan menjadi desa pemekaran Desa Limbung.per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1. Hal ini karena sebagian besar rumah tangga di desa ini memiliki sumber pendapatan dari pekerjaan sebagai nelayan. dengan angka yang mencapai hampir dua kali 126 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendapatan dari kegiatan kenelayanan memang dapat memberikan penghasilan kira-kira dua kali lipat lebih besar daripada pendapatan dari sektor pertanian/perkebunan.2 persen (dari Rp 743.per bulan pada tahun 2008. tetapi sebagian besar rumah tangga mungkin tidak mengalami perbaikan kesejahteraan.

dan penurunan terendah terjadi pada musim ombak kuat (89 persen menjadi 87 persen). kenaikan pendapatan nelayan di Desa Limbung tersebut belum dapat menempatkan rumah tangga ke posisi yang pendapatannya lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata. pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah. diindikasikan oleh angka median yang lebih rendah daripada pendapatan rata-rata (mean) masih berada di bawah pendapatan. eksternal.lipat lebih besar pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2006. pancaroba maupun ombak kuat. Beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal. Pada periode sama untuk rumah tangga dengan kelompok pendapatan sama hanya turun sedikit pada musim pancaroba (79 persen menjadi 69 persen). sedangkan musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4. Penurunan proporsi rumah tangga dengan pendapatan kurang dari satu juta rupiah dari 60 persen menjadi 27 persen mencerminkan membaiknya pendapatan rumah tangga. Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. Data pendapatan minimum yang meningkat lebih dari dua kali lipat selama kurun waktu 20062008 juga mencerminkan bahwa peningkatan pendapatan rata-rata cenderung dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan rumah tangga yang berpenghasilan rendah yang merupakan kelompok mayoritas. dan struktural. sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun. Tren membaiknya pendapatan rumah tangga nelayan juga ditunjukkan oleh angka median pendapatan yang meningkat.7 persen). Kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut musim selama periode 2006-2008 menunjukkan. Namun demikian. sehingga hampir menyamai besar pendapatan rata-rata. mempengaruhi perubahan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 127 .7 persen). baik pada musim teduh/ombak lemah. Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh selama kurun waktu 20062008.

Alat tangkap bubu ketam lebih murah dan lebih mudah dioperasikan daripada jaring. Dalam dua tahun terakhir terjadi sedikit perubahan musim yang diindikasikan oleh datangnya angin ribut pada musim teduh. Meningkatnya peluang pasar. Seperti yang umum terjadi. Dua jenis SDL tersebut (terutama ketam) tersedia cukup banyak wilayah perairan Limbung dan sekitarnya dan dapat ditangkap hanya dengan menggunakan teknologi penagkapan yang sederhana. Bubu yang berukuran relatif kecil dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan. Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga. rata-rata anggota rumah tangga yang bekerja hanya satu orang. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM. sehingga pendapatan rumah tangga pada musim ini paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh pada musim pancaroba dan ombak kuat. meningkat menjadi antara 1-2 orang pada tahun 2008. yaitu permintaan dan pemasaran. faktor ini cenderung bukan merupakan faktor eksernal yang berperan penting dalam mempengaruhi pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. musim angin lemah dengan kondisi laut sangat teduh merupakan musim panen bagi nelayan Desa Limbung. tetapi fenomena perubahan musim ini belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan menurut musim. Dua faktor eksternal lainnya.pendapatan dari kegiatan kenelayanan tersebut yang tentunya juga sangat bergantung pada kondisi musim angin. Keterlibatan anak-anak dan perempuan dalam kegiatan melaut akibat perubahan alat tangkap ketam tersebut telah meningkatkan rata-rata jumlah ART yang bekerja. Walaupun Desa Limbung juga terjadi perubahan musim angin. Sumber daya laut hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dapat tertampung oleh pasar dalam dan luar negeri. Mudahnya pemasaran ketam dicerminkan pula dengan semakin meningkatnya permintaan daging ketam yang pengolahannya juga dilakukan di Desa Limbung. khususnya 128 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Hal ini diindikasikan bertambahnya jumlah industri pengolahan ketam dari dua menjadi tiga buah. Pada tahun 2006.

faktor struktural belum memperlihatkan kontribusi penting dalam memperbaiki kesejahteraan nelayan yang diukur dari kenaikan pendapatan rumah tangga. dan konservasi. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga.-. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alatalat tangkap).000. Meskipun penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung.sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Di luar COREMAP. Sedangkan bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga) dari COREMAP memberi kemudahan bagi nelayan.per kelompok yang beranggotakan empat orang. khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas. nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. jender. Hal ini karena kredit usaha K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 129 . pemanfaatannya yang dilakukan secara perorangan kemungkinan besar berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas. Disamping besar bantuan dalam jumlah tidak besar. Berbedan dengan faktor internal dan eksternal yang memperlihatkan pengaruh nyata dalam peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. sehingga satu orang mendapat bantuan Rp 25. Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung tampaknya menunjukkan kecenderungan positif dalam upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. bahkan pendapatan rumah tangga peserta program.. Tanpa adanya tambahan modal dan upaya mewujudkan usaha kelompok.ketam. akibat semakin habisnya modal usaha yang hanya sebesar Rp 100. diperkirakan usaha tersebut tidak akan bertahan lama. yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana.000. COREMAP (Coral reef Rehabilitation and Management Program) yang telah mengembangkan aktivitas usaha ekonomi produktif melalui pokmas produksi.

Oleh karena itu.2. memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan. CBM/PBM. apalagi kualitas. Hal ini jelas berdampak terhadap kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan. Dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masing-masing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan. Koordinasi program yang terjadwal secara teratur diharapkan dapat mempermudah dalam koordinasi pelaksanaan kegiatan dan menghindari terjadinya tumpang tindih program antara satu komponen ssatu dengan lainnya. PA) yang semestinya merupakan satu tubuh (karena program setiap komponen harus mendukung komponen yang lain) tampaknya belum dilakukan dalam pelaksanaan program dan kegiatan di Kabupaten Lingga. MCS. 5. Konsep COREMAP dengan komponennya (CRITC. Disamping itu. koordinasi yang teratur juga bermanfaat dalam memfasilitasi keterbukaan dan penyediaan informasi yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program. REKOMENDASI Berdasarkan temuan kajian BME Aspek Sosial Ekonomi tersebut. agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target” yang juga tidak bisa mencapai target dari aspek kuantitas. Jika keterlambatan dana pendamping 130 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan.yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong. beberapa pemikiran yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan untuk mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan adalah seperti berikut ini.

peralatan maupun koordinasi. agar anggota komponen MCS lebih mengetahui dan memahami proyek COREMAP yang berbasis masyarakat maka perlu di antara mereka diikutsertakan pada pelatihan MCS atau COREMAP. adanya kecenderungan anggota komponen yang belum memahami tentang COREMAP. meliputi alat navigasi. kelengkapan peralatan komponen MCS harus disediakan. masing-masing 10 persen pada saat berakhirnya program di Kawasan Lingga. Selain itu. dan kapal “patroli” nelayan. Namun demikian. Pada saat ini yang tersedia baru kapal patroli nelayan. Misalnya dengan memilih anggota komponen yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 131 . Lambatnya kegiatan penyadaran masyarakat (PA) tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut tampaknya dipengaruhi oleh lemahnya koordinasi. perlu penentuan anggota adalah yang berdomisili pada satu lokasi. Keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya. baik di antara anggota komponen PA maupun lintas komponen dan PIU sebagai pimpinan pelaksana proyek COREMAP II. Oleh karena perlu dilakukan kaji ulang pilihan orang-orang yang terlibat pada komponen ini. sedangkan nelayan tidak mampu untuk membiayai sendiri. Selain itu. kapal patroli untuk anggota MCS. tampaknya perlu dilakukan kaji ulang terhadap keanggotaan komponen. sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. alat komunikasi antar anggota. Sedangkan untuk kelancaran tugas sebagai penegak hukum . tetapi pengelola (koordinator dan anggota setiap komponen) harus dapat membagi waktu dan tidak mengesampingkan salah satu pekerjaan yang ditanganinya. jabatan rangkap tidak menjadi masalah besar. namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan patroli karena dana operasional belum tersedia.terus terjadi jelas akan berpengaruh terhadap usaha peningkatan tutupan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat. Komponen MCS yang belum menjalankan tugas dan fungsinya karena persoalan personil.

Kegiatan perlindungan ekosistem terumbu karang sudah dilakukan dengan memberi tanda pada kawasan konservasi (DPL). melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi DPL sangat membantu dalam kegiatan MCS di lokasi program. disamping juga melalui kesepakatan antara semua masyarakat dan pemerintahan desa yang kemudian disosialisaikan kepada masyarakat. Program PBM yang telah diimplementasikan di Desa Limbung belum berjalan baik karena alasan pendanaan maupun ketiadaan tenaga pendamping (field fasilitator). disamping juga memahami konsep atau teknik penyadaran masyarakat yang tidak sama antara kelompok masyarakat satu dengan lainnya. Hal ini untuk memperkuat keberadaan pokmas pengawasan dalam melakukan kegiatannya. terutama dapat menindak pelanggar. serta peningkatan pendapatan penduduk. Sikap kurang peduli terhadap kegiatan COREMAP oleh masyarakat di Desa Limbung dapat diatasi antara lain dengan meningkatkan kemampuan pengurus LPSTK untuk berkoordinasi dengan perangkat desa dan jajaranya (RW dan RT) dalam rangka mengakomodasikan kepentingan semua masyarakat terkait dengan pengelolaan dan pelestarian terumbu karang. Namun demikian.memahami persoalan masyarakat nelayan. penyediaan atribut-atribut yang lebih jelas (bukan hanya semacam pelampung/marine eboy) . Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata karena bantuan dana masih sangat kecil. Namun demikian. Oleh karena itu. tetapi belum diikuti dengan kegiatan pengawasan. indikasi ke 132 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pembentukan kelompok pengawasan dengan anggota yang berasal dari dusun yang jauh dengan lokasi DPL sangat tidak efektif. dapat diatasi antara lain dengan memperbanyak kunjungan dari anggota komponen atau tenaga penyuluh untuk memonitor dan sekaligus melakukan pembinaan kepada pokmas-pokmas. Hal ini akan berdampak positif terhadap upaya penyelesaian masalah terkait dengan kegiatan COREMAP dan memperlancar kegiatan di masa depan.

kegiatan evaluasi dan memonitorng dari pengelola program perlu dilakukan agar masyarakat sebagai kelompok sasaran tetap menjadi penerima manfaat. tetapi harus disertai dengan konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan usaha pemberdayaan ekonomi penduduk mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok. Hal ini menginsyaratkan bahwa mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program COREMAP II bukanlah upaya yang terlalu sulit untuk dilakukan. bukan penampung/pemilik usaha industri maupun pengelola program. memobilisasi dan menanamkan sikap optimis akan pemanfaatan SDL berkelanjutan. Oleh karena itu. upaya membangun kerjasama diantara kelompok masyarakat dan mengembangkan kapsitas institusi (termasuk pemerintah setempat). Namun demikian. Melakukan kerjasama dengan penampung dan indusri pengolahan ketam yang selama ini menjalin hubungan kerja dengan nelayan cukup baik. kemungkinan besar dapat membantu kelancaran pengembalian dana bantuan. dan membagi secara proporsional berkaitan dengan kewenangan dan tanggung jawab antara masyarakat dan pengelola Program COREMAP Bantuan modal usaha melaut (armada dan alat penangkapan) melalui program kredit lunak kepada nelayan diharapkan dapat meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung.arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 133 . yang kemudian dapat digulirkan kepada nelayan lain.

134 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

2004. Pedoman Umum Pengelolaan Berbasis Masyarakat COREMAP II. Jakarta: Dirjen Kelautan. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan.php?id=4 92 Departemen Kelautan dan Perikanan-Republik Indonesia. BPS Kabupaten Lingga. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. CRITCT-LIPI. 2007.go. Kelautan. 2007.or. Romdiati. 2005. Daik: BPS Kabupaten Lingga. Catatan Statistik Kantor Kecamatan Lingga Utara 2008. Riset Agenda. Kabupaten Lingga.coremap.Rahayu. dan S. http://www.php?c=1530. BME Ekologi di Kabupaten Lingga. Statistik Pertanian 2006 Kabupaten Lingga.id/content. CRITC-COREMAP-LIPI. Jakarta: LIPI Press K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 135 . H. http:///www. Power Point. BME Reef Health Monitoring di Lokasi ADP. 2006. 2007. Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia: Desa Limbung. Sambutan Direktur Jendral Pesisir dan Pulau-Pulau kecil Pada Peluncuran Proyek Pengelolaan Dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Pemantapan Proyek Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut. Jakarta: DKP Kantor Kecamatan Linga Utara. 2008. Kabupaten Lingga dalam Angka. DKP.DAFTAR PUSTAKA BPS Kabupaten Lingga.dkp. E. Kecamatan Lingga Utara.id/research_agenda/article. 2007. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Daik: BPS Kabupaten Lingga. Dirjen.Djohan.

2007. Kualitas Terumbu Karang Indonesia Turun Hingga 50 Persen. Toni (ed). Sutanta. 2006.net/node/1163 Syahyuti. Bina Rena Pariwara. Hari. 136 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. 2008. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan.oneworld.Ruchimat. Kelautan. Jakarta: Dirjen. Panduan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). http://satudunia. Jakarta: PT.

5 2.1 10.1 1.1 5.8 10.0 191 9.9 8.6 100.4 2.2 4.7 9.7 3.2 3.9 4.8 14.9 13.1 5.4 6.1.5 4.0 411 Total K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 137 .7 5.9 3.5 6.9 7.1 100.5 5.2 7.4 11.1 7.8 13.5 9.5 9.2 2. Desa Limbung.9 100.7 7.8 8.0 220 Perempuan 6.Lampiran Tabel 2.0 8. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.5 7.2 9.4 5.2 9.5 5.5 6. 2008 Kelompok Umur 0–4 5– 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 + Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki 11.1 3.

2 1.1 8. Kabupaten Lingga Pekerjaan Lapangan Pekerjaan: Perikanan tangkap Pertanian pangan Perkebunan Kehutanan Perdagangan Industri pengolahan Jasa kemasyarakatan Lainnya Jenis Pekerjaan: Profes/Kepm?Adm Nelayan Petani Tenaga penjualan Tenaga industri Tenaga kasar Status Pekerjaan: Berusaha sendiri Berusaha dg ART/orang lain Buruh/karyawan Pekerja keluarga Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 73.4 7.8 61.5 (1) 100.7 (2) (4) (0) (2) (0) 28.5 72.9 (1) 5.7 (3) 3.9 (2) (4) 92) 25.9 16.6 9.6 42.3 (1) 42.9 (4) 100.Lampiran Tabel 2.2 100.9 (2) (1) Lk-lk + Pr 61. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin.9 78.2 Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan.9 5.0 155 138 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .1 11.8 (4) 12. Desa Limbung.6 3. Jenis.9 21.7 5.9 (1) 5.0 28 71.7 3.0 127 39.0 42.7 (3) 4.2 (1) 5.7 3.5 (4) 8.3 3.9 7.3 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful