KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II : KASUS KABUPATEN LINGGA

KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II: KASUS KABUPATEN LINGGA

HANING ROMDIATI SRI SUNARTI PURWANINGSIH

COREMAP-LIPI PUSAT PENELITIAN KEPENDUDUKAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA LIPI

(PPK-LIPI), 2008

COREMAP-LIPI

Teknologi penangkapan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong masih sederhana.000 rumah tangga pada akhir program. Kebanyakan penduduk menggunakan sampan dan pompong dengan ukuran mesin kecil (1217 PK). Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. karena bertambahnya nelayan yang hanya mencari ketam di perairan tidak jauh dari garis pantai yang tentunya K K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | iii . kajian ini mengumpulkan data rumah tangga dan individu tentang kondisi sosial-ekonomi terkait dengan pengelolaan terumbu karang. Tingginya potensi SDL tersebut bukan hanya dimanfaatkan sebagian besar penduduk sebagai sumber mata pencaharian utama. khususnya perempuan. cumi-cumi. Selain kepiting rajungan (ketam). Provinsi Riau pada tahun 2008 bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. Pengumpulan data/informasi mengenai pendapatan rumah tangga mendapat penekanan dalam kajian ini.RINGKASAN ajian BME Aspek Sosial Ekonomi di Desa Limbung. beragam jenis ikan karang campuran maupun pelagis terdapat di perairan desa ini. Desa Limbung yang merupakan wilayah kepulauan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar. Kabupaten Lingga. tetapi juga mendorong perkembangan sektor industri pengolahan daging ketam (kepiting) yang dapat menyediakan kesempatan kerja kepada penduduk Desa Limbung. karena indikator keberhasilan COREMAP dari aspek sosial ekonomi adalah (1) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun. dan ikan bilis. khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. dan (2) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10. kecuali jumlah sampan yang cenderung meningkat. Dalam dua tahun terakhir tidak terlihat perubahan pemilikan dan penguasaan armada tangkap.

cukup dilakukan dengan menggunakan sampan. Bahkan. kelong bilis. dan jaring dasar untuk menangkap SDL cukup sering digunakan oleh nelayan setempat maupun nelayan luar. Sebelumnya. khususnya oleh nelayan dari luar Desa Limbung. Meskipun cenderung tidak ada spesifikasi terhadap jenis alat tangkap tertentu. Sudah sangat jarang ditemukan nelayan yang menggunakan parit gamat untuk menangkap teripang. yaitu dari jaring ke bubu. kira-kira sejak masyarakat mengenal COREMAP yang pertama kali diimplementasikan pada tahun 2000-an. Akibatnya. termasuk oleh nelayan perempuan. bubu ketam juga mudah dioperasikan. Jenis alat tangkap lain yang biasa dipakai oleh nelayan Desa Limbung adalah jaring ikan. dan penyauk untuk menangkap cumi-cumi. Perubahan alat tangkap tersebut didorong oleh kemudahan untuk mendapatkan bubu ketam dengan cara meminjam kepada tauke dengan harga yang lebih murah daripada jaring ketam. Keadaan ini mendorong pengelola dan pelaksanan COREMAP Kabupaten Lingga untuk memilih kembali lokasi COREMAP I sebagai lokasi COREMAP II. Kecenderungan penggunaan alat-alat tangkap yang tidak merusak terumbu karang tersebut sudah cukup lama terjadi. bubu ikan karang. Pada umumnya nelayan juga menggunakan alat-alat tangkap sederhana dan cenderung tidak merusak terumbu karang. Selama kurun waktu 2006-2008 telah terjadi perubahan penggunaan alat tangkap ketam. iv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . penggunaan alatalat tangkap yang merusak mulai dilakukan kembali. penggunaan racun. tampaknya sebagian nelayan memilih untuk berkonsentrasi pada penangkapan ketam dengan menggunakan bubu. Keadaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kemudahan dalam menjual ketam yang dapat dilakukan setiap saat kepada penampung maupun langsung ke industri pengolahan ketam yang dalam dua tahun terakhir bertambah dari satu menjadi menjadi tiga buah. Disamping itu. terumbu karang di Desa ini telah mengalami kerusakan pada tingkat sedang. parit gamat. ketika COREMAP I telah berakhir dan ada masa vakum sekitar dua tahun karena proses otonomi daerah dan pengalihan penanggung jawab COREMAP di daerah Lingga.

sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. baik jabatan struktural maupun proyek. LPSTK dan tiga pokmas (jender. Akibatnya kegiatan usaha ekonomi Kasus Kabupaten Lingga | v . Demikian pula pelaksanaan COREMAP di Desa Limbung belum menunjukkan keberhasilan dalam upaya meningkatkan pendapatan penduduk maupun pengelolaan ekosistem terumbu karang. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain. sehingga kualitas hasil kegiatan tidak baik. Bahkan. yaitu antara mendahulukan kegiatanCOREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. Terkait dengan kendala keterbatasan sumber daya manusia. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. pendanaan. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang tidak optimal. Sedangkan kendala pendanaan COREMAP II terjadi pada dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat.Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. jabatan rangkap dapat ditemukan pada semua koordinator komponen maupun Ketua PIU. Kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas dan hanya terkonsentrasi di satu dusun. terlebih konflik kepentingan hampir dipastikan terjadi. Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam satu komponen. dan keterbatasan sumberdaya manusia sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. Persoalan koordinasi.

produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal).. rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) masih memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean).per bulan pada tahun 2008. Dengan demikian.per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1. atau meningkat 89. Peningkatan pendapatan rumah tangga sampel (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) sebesar 30 persen. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah yang merupakan kelompok mayoritas. Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita..5 persen. yaitu dari 70 persen menjadi 51. Pada tahun 2008.pada tahun 2008. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam.300.. yaitu dari Rp 948.5 persen.700.200..360.per bulan.per bulan). karena sebagian besar rumah tangga mendapat penghasilan dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap.000. Namun demikian. Sedangkan kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan sebesar 23. Dampak kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan terlihat dengan jelas di Desa Limbung.200. vi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dampak kegiatan COREMAP terhadap pendapatan rumah tangga maupun pendapatan per kapita belum nampak dengan nyata.2 persen (dari Rp 743. Perubahan pendapatan dalam dua tahun terakhir tampaknya lebih disebabkan oleh faktor internal dan eksternal daripada karena implementasi kegiatan COREMAP dan program lain. pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423. Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan.050.. angka median hampir mendekati rata-rata pendapatan. Bahkan pada tahun 2008.pada tahun 2006 menjadi Rp 967. Hasil survei juga menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan). hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223. mengindikasikan semakin banyaknya rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan.

Perbedaan perubahan pendapatan menurut musim tersebut dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal.7 persen. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut. yaitu di Desa Limbung. dipengaruhi oleh faktor internal. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap. khususnya bubu ketam.Kenaikan pendapatan tertinggi terjadi pada musim ombak lemah. yang berarti hasil penjualan juga semakin besar. yang saling terkait satu dengan yang lain. sehingga semakin banyak hasil tangkapan ketam. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar.4 persen) daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4. Penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu. Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | vii . Setiap kali melaut bisa mengoperasikan lebih dari 20 buah bubu. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM yang berarti mengurangi biaya melaut. yaitu sebesar 45. Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian. Sedangkan kenaikan pendapatan rumah tangga pada musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar (15.7 persen). Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga. sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah Alat tangkap ini dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini. eksternal dan struktural. Kabupaten Lingga. yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari.

industri pengolahan ketam. karena kelong bilis dapat menghasilkan setiap hari ketika bulan gelap (20 hari per bulan pada musim teduh hingga awal pancaroba). Peningkatan pendapatan pada musim angin teduh adalah sangat erat kaitannya dengan penggunaan bubu ketam dan meningkatnya pemilikan kelong bilis dalam dua tahun terakhir. Wawancara mendalam dengan pihak nelayan.Meskipun modal untuk memasang kelong bilis cukup besar. Akses pemasaran ketam yang sangat baik tersebut tidak terlepas dari faktor permintaan daging ketam olahan dari Singapura yang cenderung terus meningkat. seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. walaupun masih terbatas pada nelayan bermodal besar. COREMAP yang telah mengimplementasikan aktivitas usaha viii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . meningkatnya peluang pasar karena permintaan yang terus menerus dari pasar internasional terhadap daging ketam. Hal ni tentunya berdampak terhadap peningkatan pendapatan nelayan. Sedangkan dari faktor struktural cenderung belum memperlihatkan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. penampung. yaitu kepada penampung maupun langsung ke PT Ketam (industri pengolahan ketam). Dengan demikian. tetapi hal ini juga terkait dengan perubahan alat-alat tangkap yang telah dikemukakan di atas. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang. dan tokoh setempat. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. sedangkan hasil tangkapan ketam semakin banyak. Dari faktor ekternal. perubahan musim sedikit berpengaruh terhadap hasil tangkapan. tentunya menambah penghasilan nelayan. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alat-alat tangkap). diperoleh informasi bahwa faktor permintaan dan pemasaran tampaknya perupakan faktor penting dalam mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. Pemasaran hasil tangkapan yang berupa ketam sangat mudah dilakukan. hasl yang diperoleh juga jauh lebih besar daripada hasil penjualan ketam atau cumi-cumi. Dengan harga jual yang cenderung stabil. serta di provinsi sekitar.

Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata. Dengan demikian. nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. dan konservasi. tetapi indikasi ke arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender. Kredit usaha yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong. Kajian ini merekomendasikan perlunya memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan. Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target”. jender. Demikian pula dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya.sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masingmasing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan. sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. Hal ini jelas berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas. Sedangkan keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Sedangkan program pemerintah lainnya adalah Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga peserta program. Meskipun bantuan ini lebih banyak diakses oleh nelayan pemodal besar dan penampung.ekonomi produktif melalui pokmas produksi. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | ix . kemungkinan besar karena jumlah bantuan tidak besar dan dilakukan secara perorangan.

x | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah melalui program kredit lunak kepada nelayan.usaha pemberdayaan ekonomi penduduk perlu dilakukan mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok. terutama untuk meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung.

000 penduduk di lokasi program. Untuk melihat keberhasilan tersebut perlu dilakukan penelitian benefit monitoring evaluation (BME) baik ekologi maupun sosialekonomi. Sedangkan dari aspek sosial ekonomi diharapkan pendapatan per-kapita penduduk naik sebesar 2 persen per tahun dan terjadi peningkatan kesejahteraan sekitar 10. agar sumber daya laut ini dapat direhabilitasi. diproteksi dan dikelola secara berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Keberhasilan COREMAP dapat dikaji dari aspek bio-fisik dan sosial ekonomi. diharapkan dalam sisa waktu yang ada sampai akhir program fase II. sedangkan BME sosial-ekonomi dilakukan pada tengah dan akhir program. Program ini telah berjalan kurang lebih tiga tahun atau pada pertengahan program. BME sosial-ekonomi bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan COREMAP di daerah dan mengumpulkan data mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.ekonomi ini selain dapat dipakai untuk memantau perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya evaluasi dan masukan-masukan bagi pengelola dan pelaksana program. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xi . kabupaten maupun di tingkat lokasi. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan dari aspek bio-fisik. baik di tingkat nasional. khususnya tingkat pendapatan untuk memantau dampak program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. khususnya peningkatan pendapatan penduduk di lokasi COREMAP. juga dapat dipergunakan untuk melakukan evaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program. keberhasilan COREMAP dari indikator bio-fisik dan sosial-ekonomi dapat tercapai.KATA PENGANTAR P elaksanaan COREMAP fase II bertujuan untuk menciptakan pengelolaan ekosistem terumbu karang. Penelitian BME ekologi dilakukan setiap tahun untuk memonitor kesehatan karang. Hasil BME sosil.

tokoh masyarakat di lokasi Desa Limbung kami ucapkan terima kasih atas segala bantuannya. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para pewawancara yang telah membantu pelaksanaan survai. pemimpin formal dan informal. Pada akhirnya. CRITC Kabupaten Lingga dan berbagai pihak yang ada di daerah yang telah membantu memberikan data dan informasi.Buku laporan ini merupakan hasil dari BME sosial-ekonomi yang dilakukan pada tahun 2008 di lokasi-lokasi Coremap di Indonesia Bagian Barat (lokasi Asian Development Bank/ADB). Jakarta. kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna meskipun tim peneliti telah berusaha sebaik mungkin dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Terlaksananya kegiatan penelitian dan penulisan buku laporan melibatkan berbagai pihak. Penghargaan dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI yang telah memberikan dukungan kepada tim peneliti melakukan studi ini.LIPI. MSc xii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . ketua dan pengurus LPSTK dan POKMAS. Kami juga memberikan penghargaan setinggitingginya kepada semua narasumber dari berbagai unsur pengelola COREMAP di tingkat kabupaten: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan laporan ini. Kepada para informan: masyarakat nelayan. Desember 2008 Direktur NPIU CRITC COREMAP II-LIPI Prof. BME sosialekonomi ini dilakukan oleh CRITC-LIPI bekerjasama dengan tim peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI (PPK-LIPI) dan beberapa peneliti sosial dari kedeputian IPSK . Unit pelaksana COREMAP di Kabupaten Lingga. Ono Kurnaen Sumadhiharga. Oleh karena itu. DR.

Kesejahteraan iii xi xiii xv xvii xix xxi xxiii 1 1 3 4 7 9 9 13 13 18 23 31 32 35 36 37 40 47 BAB II K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xiii .DAFTAR ISI RINGKASAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR MATRIKS DAFTAR GAMBAR DAFTAR PETA DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1. Pekerjaan 2.2.2.2. Teknologi Penangkapan 2.2. Metodologi 1. Kependudukan 2.2.2. Latar Belakang 1.2.2.3. Potensi Sumber Daya Alam dan Pengelolaannya 2.1. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL 2.1.3.2.3. Tujuan 1. Keadaan Sumber Daya Alam 2. Sarana dan Prasarana 2.4. Pendidikan dan Ketrampilan 2. Kondisi Geografis 2.4.3.3. Jumlah dan Komposisi Penduduk 2.1.5.3.3.1.3. Wilayah pengelolaan 2.4. Pembabakan Penulisan PROFIL LOKASI PENELITIAN 2.

1.BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA 3. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/ CRITC) 3. Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal 4. Kesimpulan 5. Rekomendasi 53 54 55 66 67 83 95 95 96 100 107 107 112 114 121 121 130 135 DAFTAR PUSTAKA xiv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendapatan Rumah Tangga dan Perubahannya 4.1.1.2.1.2.1.2.2.1.3. Pengetahuan Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Program COREMAP BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4.1.1.2. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan 4.1.2.2.2. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa 3.2. Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan 4. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten 3.1.1.3. Faktor Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga 4. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural 4. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. Pelaksanaan COREMAP: Permasalahan dan Kendala 3.

85 Tabel 3.3. 87 Tabel 3. Desa Limbung.DAFTAR TABEL Tabel 2. 97 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xv . Desa Limbung.1. 91 92 Tabel 3. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II. Tabel 3.2. 2006 dan 2008. Kabupaten Lingga. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) 48 Tabel 3.1. 94 Tabel 4. 89 Tabel 3. Desa Limbung. 93 Tabel 3. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan UEP COREMAP Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Mengenai Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset.5.1.4.6.7.

2. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim. 106 xvi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Desa Limbung. 105 Tabel 4. Tahun 2006dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim.3. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga. Kabupaten Lingga Utara. Desa Limbung. Kabupaten Lingga Utara.4. Tahun 2006 dan 2008 (%) 99 Tabel 4.Tabel 4.

1.2.1. Matriks 2. Jumlah Anggota & Nama Ketua 12 22 77 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xvii . Matriks 3.DAFTAR MATRIKS Matriks 2. Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program.

xviii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

1. 46 Gambar 4. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. Kabupaten Lingga.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.2. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan. 45 Gambar 2. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi. 42 Gambar 2. 2006 dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. Kabupaten Lingga. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan.5.3. Desa Limbung. Kabupaten Lingga. Desa Limbung.2. 102 Gambar 4. 2008 104 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xix . 2008 Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan. Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan. Kabupaten Lingga. Kabupaten Lingga. Desa Limbung.1. Kabupaten Lingga. Kabupaten Lingga. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan. Tahun 2006 dan 2008 38 Gambar 2.4. Desa Limbung. Desa Limbung. Kabupaten Lingga. 98 Gambar 4.3. 41 Gambar 2.

xx | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

DAFTAR PETA Peta 2. Desa Limbung dan Sekitarnya Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung 10 21 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxi .2. Peta 2.1.

xxii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

1. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Tabel 2. Desa Limbung.2. Kabupaten Lingga 137 138 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxiii . Jenis. Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. Desa Limbung. 2008 Lampiran Tabel 2.

BAB I PENDAHULUAN 1. namun kerusakan terumbu karang di Indonesia cenderung lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia. Provinsi Kepulauan Riau. LATAR BELAKANG E kosistem terumbu karang sangat rentan terhadap proses alam dan perilaku manusia yang merusak. Program ini diimplementasikan pada kawasan yang dianggap banyak ditemukan ekosistem terumbu karang dan perlu dipelihara atau diperbaiki kondisinya. Sementara itu. khususnya terumbu karang. COREMAP telah diimplementasikan di desa-desa yang penduduknya menggantungkan hidup dari SDL. sianida.1. penangkapan ikan dengan metode merusak menyumbang 53 persen kerusakan terumbu karang di Indonesia. Berdasarkan hasil Kasus Kabupaten Lingga | 1 . Kerusakan terumbu karang di Indonesia karena penangkapan ikan secara berlebihan diperkirakan mencapai 64 persen dari luas keseluruhan (Sutanta. Kabupaten Lingga. Upaya merehabilisasi dan mengelola terumbu karang di perairan Desa Limbung telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1998 melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP). pukat) merupakan faktor penting penyebab kerusakan terumbu karang. Kegiatan penangkapan SDL berlebih dan menggunakan alat-alat penangkapan yang tidak ramah lingkungan (seperti bom. Kerusakan terumbu karang juga terjadi di perairan laut Limbung. 2008). Kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan alam atau lingkungan sebagai akibat pengrusakan pengambilan SDL secara berlebihan agar tidak mengganggu kehidupan ekonomi nelayan di kawasan tersebut pada masa datang. Dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Program nasional ini merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mengatasi penurunan populasi sumber daya laut (SDL) di Indonesia. dan di akwasan tersebut telah terjadi kerusakan terumbu karang.

dua lembaga yang mengukur kondisi terumbu karang berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. Dibandingkan dengan stasiun pengamatan lainnya.94 persen (CRITC-LIPI. menggunakan metode line intercept transect. membagi tingkat kerusakan berdasarkan persentase tutupan karang hidup.9 persen1.75 persen. Oleh karena itu. rusak: 25 . COREMAP di Desa Limbung didanai oleh Bank Pembangunan Asia (Asean Development Bank-ADB) yang telah dilakukan sejak fase I. kegiatan COREMAP juga mencakup upaya pengentasan masyarakat dari kondisi kemiskinan. Selain karena faktor alam. dan perbaikan fungsi pemerintahan. Penggunaan parit gamat untuk menangkap teripang dan pelanggaran wilayah tangkap di daerah perlindungan laut merupakan dua faktor penting yang mengakibatkan terjadinya kerusakan terumbu karang di perairan laut Limbung. meskipun terjadi kenaikan tutupan terumbu karang hidup sekitar 9. yaitu menggabungkan aspek tehnis 1 LIPI dan COREMAP. bagus: 50 . tetapi tampaknya masih terdapat beberapa kekurangan. pelaksanaan COREMAP fase II yang pada tahun 2008 ini telah memasuki tahun ke tiga diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan pada fase sebelumnya. 2007). kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut juga terjadi akibat aktivitas manusia. yang terletak berdekatan dengan Desa Limbung.50 persen. dan rusak berat: < 25 persen. 2 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Program ini merupakan program nasional yang dirancang untuk menekan laju kerusakan dan membenahi/merehabilitasi terumbu karang. Selain itu. Coremap fase I telah selesai dilaksanakan di Desa Limbung. Tutupan karang di perairan Limbung tersebut merupakan angka terendah dibandingkan dengan tujuh stasiun pengamatan lainnya di perairan Lingga Utara. Kondisi sangat bagus jika persentase tutupanya > 75 persen. berada dalam tingkatan sedang dengan tutupan karang hidup sebesar 30. memberikan akses mata pencaharian alternatif. kondisi terumbu karang di Limbung paling buruk.penelitian Puslit Oseanologi (P20)-LIPI pada tahun 2006 dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). kerusakan karang di perairan Duara. Salah satu komponen kunci COREMAP adalah pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat (PBM).

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 1. khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. TUJUAN Survei “Benefit Monitoring Evaluation Aspek Sosial-Ekonomi COREMAP” merupakan kelanjutan dari “Studi Aspek Sosial Terumbu Karang tahun 2006”. Untuk mengetahui pencapaian indikator keberhasilan COREMAP telah ditentukan suatu cara monitoring yang dikenal dengan Benefit Monitoring Evaluation (BME).000 rumah tangga pada akhir program (Project Appraisal Document. Secara detail tujuan survei BME meliputi: 1. Sedangkan indikator keberhasilan dari aspek sosialekonomi adalah: (a) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun. yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program di tingkat lokasi. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. kabupaten. yaitu dilihat dari aspek bio-fisik dan sosial-ekonomi.2. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan Coremap dari aspek bio-fisik. 2005). dan (b) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10. lembaga donor telah menentukan indikator keberhasilan. Dengan demikian.pengelolaan dan aspek-aspek sosial. Dalam rangka melihat pencapaian program. Tujuan umum PBM adalah untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut dan ekosistem terumbu karang agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. manfaat dari kegiatan BME bagi pengelola program adalah sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan. Kegiatan BME sosial-ekonomi dilaksanakan pada pertengahan dan akhir tahun program. maupun nasional. Mengidentifikasi permasalahan dan kendala pelaksanaan Program COREMAP di daerah Kasus Kabupaten Lingga | 3 .

Namun demikian. Lokasi penelitian adalah Desa Limbung. pemilihan rumah tangga sampel merupakan responden yang disurvei pada tahun 20062). 4 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kecamatan Lingga Utara yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. 1. tetapi penelitian BME sosial-ekonomi hanya dilakukan di dua dusun. karena satu dusun lainnya (Linau) tidak menjadi lokasi COREMAP. Meskipun Desa Limbung meliputi tiga dusun. Pemilihan rumah tangga pengganti diupayakan mempunyai kemiripan karakteristik sosial-ekonomi dengan rumah tangga yang digantikan.2. karena responden yang terdahulu tidak ada di tempat selama survei dilakukan. Mengkaji pemahaman COREMAP masyarakat mengenai Program 3. Bahkan. sebanyak delapan (8) rumah tangga sampel harus diganti. sedangkan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan 2 Pemilihan rumah tangga dilakukan dengan metode sampel secara acak sistematis (sistematic random sampling). Sebagaimana dengan pemilihan lokasi penelitian. meninggal (sedang ART bergabung dengan kerabat). Pengumpulan data BME aspek sosial-ekonomi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. lokasi penelitian adalah desa yang juga dipilih pada kegiatan survei pada tahun 2006. Menggambarkan perubahan tingkat pendapatan masyarakat untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap kesejahteraan masyarakat.3. dan pindah ke luar desa. Oleh karena itu. Pendekatan kuantitatif dimaksudkan untuk mendapatkan data primer yang bersifat kuantitatif. direncanakan dusun tersebut akan terpisah dari Desa Limbung menjadi desa tersendiri. METODOLOGI Penelitian BME ini merupakan studi yang bertujuan untuk memantau pelaksanaan Program COREMAP yang sudah berjalan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan alasan karena Desa Limbung merupakan salah satu desa dari tujuh desa yang merupakan lokasi implementasi COREMAP fase I maupun fase II.

Sedangkan pada tingkat individu. serta materi pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. Sebanyak 7 orang pewawancara yang telah mendapat pelatihan. Data rumah tangga ditanyakan kepada kepala rumah tangga (KRT) atau ART dewasa yang mengetahui tentang kehidupan rumah tangga bersangkutan. Sedangkan informan di tingkat kabupaten adalah koordinator/anggota komponen COREMAP Kabupaten Lingga. serta pelaksanaan kegiatan COREMAP. dan fasilitator. Survei dilakukan dengan cara tatap muka dengan responden. pengetahuan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta keterlibatan ART terpilih. Data rumah tangga mencakup kondisi demografi anggota rumah tangga dan kondisi ekonomi (pekerjaan. ketua dan anggota Pokmas. serta dampak COREMAP terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. kuesioner yang telah terisi diperiksa oleh tim peneliti untuk melihat kelengkapan data dan konsistensi jawaban. data/informasi yang dikumpulkan adalah pengetahuan dan partisipasi ART terpilih (responden) dalam kegiatan COREMAP. anggota masyarakat lain yang diperkirakan mengetahui tentang pengelolaan terumbu karang. Data yang diperoleh dari survei adalah data rumah tangga dan individu. pemuka masyarakat (formal maupun informal). Pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Selanjutnya. dan pemilikan aset rumah tangga). sehingga dapat dipakai untuk analisis perubahan pendapatan. pendapatan. diskusi terfokus (FGD).pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. LSM. dan observasi. Wawancara mendalam ditujukan pada informan di tingkat lokasi/desa dan kabupaten. dan tenaga pendamping. Sedangkan Kasus Kabupaten Lingga | 5 . Informan di tingkat desa adalah nelayan. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang maksud dan tujuan pengumpulan data. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan data di tingkat rumah tangga. membantu dalam pelaksanaan survei. atau sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada survei tahun 2006. Sedangkan data individu diperoleh dari ART berusia > 15 tahun yang dipilih dengan cara acak insidental/kebetulan (pada saat dilakukan survei ada di tempat). yaitu dengan melakukan survei terhadap rumah tangga terpilih.

produksi dan pemasaran SDL. lokasi dan wilayah penangkapan. Data yang dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif adalah data/informasi yang tidak diperoleh dari kegiatan survei. Informasi yang dikumpulkan dengan pendekatan kualitatif meliputi berbagai aspek terkait dengan program dan kegiatan pengelolaan terumbu karang dan sumber daya laut. Desk review terhadap hasil penelitian/kajian sebelumnya. Sedangkan analisis data kualitatif yang dilakukan dengan tehnik analisis kontekstual (content analysis) dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. dengan penekanan pada faktor yang mempengaruhi perubahan pendapatan serta isu-isu yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. kebijakan/program terkait dengan program COREMAP. kondisi daerah. sehingga dapat saling melengkapi dengan data kuantitatif. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil survei dianalisis dengan menggunakan tabulasi frekuensi dan tabulasi silang untuk mengetahui keterkaitan antara variabel-variabel yang dianalisis. khususnya perubahan pendapatan. FGD di desa penelitian juga dilakukan dengan peserta berasal dari kelompok nelayan dan anggota Pokmas.FGD di tingkat kabupaten dilakukan pada tujuh orang tenaga pendamping COREMAP di Kabupaten Lingga. yaitu untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman tentang keadaan lokasi penelitian dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. dan degradasi lingkungan. dan bahan-bahan dokumentasi lain yang relevan juga dilakukan untuk menambah pemahaman tentang BME dari aspek sosial ekonomi. 6 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendekatan kualitatif dalam penelitian BME aspek sosial ekonomi juga digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang tersedia di instansi-instansi pemerintah dan non-pemerintah. Observasi lapangan hanya dilakukan di tingkat desa. Analisis data kuantitatif berfokus pada perubahan kondisi sosial ekonomi rumah tangga.

Bab I adalah bab pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang dilakukannya kajian Benefit Monitoring Evaluation SosialEkonomi. potensi sumber daya alam darat dan laut. PEMBABAKAN PENULISAN Laporan peneitian “BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung. Sedangkan analisis tentang pendapatan penduduk dan perubahannya serta faktor yang mempengaruhinya dibahas pada Bab IV. Sebagai akhir tulisan adalah Bab V yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan rekomendasi yang merupakan pemikiran-pemikiran untuk pertimbangan dalam penyusunan perencanaan. Deskripsi tentang kondisi daerah penelitian terdapat pada Bab II yang meliputi kondisi geografis. pelaksanaan dan pengelolaan terumbu karang. Kecamatan Lingga Utara. wilayah pengelolaan dan kapasitas penangkapan sumber daya laut. tujuan dan metodologi penelitian. Selanjutnya Bab III berisi uraian tentang pelaksanaan dan pengelolaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. saranaprasarana terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan kesejahteraan penduduk.4. Kabupaten Lingga” ini terdiri dari lima bab. Kasus Kabupaten Lingga | 7 .1. serta kondisi kependudukan.

8 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

desa ini terbagi atas tiga dusun yaitu Dusun Centeng. Dari dermaga ini disambung dengan transportasi darat menuju Kota Daik.1. Riau (Tanjung Pinang) dengan ibukota Kabupaten Lingga (Daik) adalah fery yang berlabuh di dermaga. Desa Pekaka di sebelah barat. Alat transportasi umum yang menghubungan ibukota Propinsi Kep. Namun sarana jalan ini dibandingkan pada saat survey data dasar COREMAP (2006) kondisinya semakin parah.408 km2. yaitu dari Kecamatan Lingga menjadi Kabupaten Lingga yang merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau (pada saat ini menjadi Provinsi Kepulauan Riau). Desa Keton. Jarak antara Desa Limbung dengan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga. sehingga bila hujan sulit untuk keluar desa menuju kota kabupaten (Kota Daik) atau desa sekitarnya. dan Desa Bukit Harapan di sebelah selatan. dan Desa Teluk di sebelah timur (lihat Peta Desa Limbung). Desa Limbung berbatasab dengan Kecamatan Senayang di sebelah utara. tak jauh jauh dari Dermaga Tanjung Buton yang masih dalam proses penyelesaian.BAB II PROFIL LOKASI PENELITIAN 2. selanjutnya ke Desa Limbung dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. sekitar 37 kilometer yang dapat ditempuh melalui jalan darat4. kemudian disambung dengan pompong langsung ke desa. Kecamatan ini terbentuk bersamaan dengan perubahan status wilayah administrasi. KONDISI GEOGRAFIS esa Limbung adalah salah satu desa dari 36 desa yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lingga Utara3 dengan luas wilayah 40. Kota Daik. Jalur lain untuk menuju Desa Limbung dari pelabuhan Tanjung Pinang langsung Kecamatan Lingga (Dermaga Pancur). dan Dusun Linau. 4 3 D Kasus Kabupaten Lingga | 9 . Dusun Sinempek. Kecamatan Lingga Utara termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. Pada struktur pemerintahan Desa Limbung. kemudian disambung dengan pompong hingga Dermaga Tanjung Buton. Desa Sei Pinang.

terdapat beberapa ’dusun kecil’ yang masuk dalam lingkup tiga dusun dan penduduk menyebutnya ’kampung’. Peta 2. penduduk jarang yang melalui jalan darat dan lebih memilih jalan laut bila hendak keluar atau masuk ke Dusun Sinempek. P.Selain tiga dusun tersebut. P 10 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Jalan darat yang ada hanya menghubungi Dusun Centeng dan Dusun Sinempek namun kondisinya sangat buruk. Seranggas. Desa Limbung terdiri dari wilayah pulau dan pesisir yang dikelilingi oleh lautan. Baruk. Telum. P. Oleh karena itu. Jakok. Misalnya. Beberapa pulau yang menjadi tempat masyarakat mencari ikan dan berkebun antara lain adalah P. Malang Sekateh. Dusun Sinempek ada Kampung Air Kelat dan Kampung Sei Nona. terutama pada saat hujan atau setelah hujan. Dusun Centeng ada Kampung Seranggas. Sebagai kawasan kepulauan.1. 2005. P. P. Kekek. Tikus. Transportasi antar desa atau dusun umumnya dilakukan melalui laut menggunakan pompong atau sampan. P. Desa Limbung dan Sekitarnya Sumber : Bappeda Kabupaten Lingga. Luas pulau-pulau tersebut berkisar antara 1 – 3 hektar dan di antaranya ada yang tidak berpenghuni. P.

per orang. Apabila akan ke kota kecamatan (Pancur) menggunakan perahu motor umum (sewa) atau terlebih dahulu naik ojek/motor hingga Desa Resun dengan sewa Rp. sehingga sulit untuk keluar masuk Desa Limbung.-. iklim di kawasan Limbung mulai menunjukkan ketidakteraturan. Penduduk ada yang mengatakan. Dampak dari kegiatan ini jalan menjadi jelek dan bila hujan sangat licin karena belum diaspal. namun secara topografi desa ini berbentuk datar. dan musim utara yang sangat mempengaruhi nelayan dalam mencari SDL (lihat matriks 2. terutama di daerah perbukitan. namun kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal. kemudian dilanjutkan angkutan perahu motor hingga Pancur Rp. Penduduk ada yang membawa kayu tersebut ke luar Desa Limbung sebagai salah satu kegiatan mereka. mungkin pemanasan global mulai memasuki kawasan Limbung. 5. dan P. 40. Walaupun desa ini terletak di wilayah pesisir. secara periodik (3 kali seminggu) ada kapal motor pengumpul ikan dari K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 11 . sehingga berpengaruh dalam melakukan kegiatan kenelayanan. Selain itu. Kondisi alam ini mulai dirasakan nelayan dengan ketidakteraturannya cuaca di kawasan Limbung atau perairan di sekitar tempat mencari ikan. Alat tranportasi umum (laut) antar pulau atau dusun belum ada. Keempat musim tersebut adalah musim timur. Akhir-akhir ini.000. musim selatan. di bawah ini). Para nelayan Limbung mencari ikan di sekitar pulau-pulau tersebut karena dengan peralatan yang sederhana mereka kurang berani untuk pergi melaut dengan jarak jauh. berbukit dengan tingkat kemiringan cukup tajam. namun jalan-jalan ke desa ini terlanjur hancur.Terumbu Terap.000. Hantu.1. Pada saat ini pengambilan kayu memang berkurang karena adanya larangan untuk menebang kayu.. Sedangkan tanah yang tidak berpenghuni ada yang telah dikelola penduduk secara turun-temurun. Pada dataran tinggi terdapat kawasan hutan yang kayunya dimanfaatkan masyarakat untuk dijual maupun digunakan sendiri. musim barat. sehingga dianggap tanah milik keluarga. Namun secara umum kawasan ini dipengaruhi oleh empat (4) musim dengan ciri-ciri tiupan angin berbeda-beda yang berpengaruh terhadap gelombang laut di kawasan tersebut. bergelombang.

50. 300.. 2008 Angin Utara Januari – Maret • Pancaroba • Tiba2 angin ribut. Transportasi jalur Limbung – Pancur ini cukup ramai. ikan. tapi sebentar Kegiatan Melaut Persiapan melaut Setiap hari melaut Panen ikan & SDL lain Menurunkan semua alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan SDL yang ada di perairan Limbung • Setiap hari • Panen cumi.000. Pada umumnya penduduk Limbung menggunakan perahu motor/pompong milik sendiri atau menumpang pompong orang lain dengan memberi uang untuk pembeli bahan bakar minyak. Sedangkan transportasi umum dari Daik menuju Desa Limbung belum ada.. Musim Angin Timur Angin Selatan Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Bulan Maret – Mei Kondisi Laut • Angin lemah • Gelombang tenang • Pancaroba • Kadang2 angin & hujan.Pancur ke perairan Desa Limbung yang kadang-kadang bisa ditumpangi penduduk yang akan ke Pancur atau sebaliknya tampa membayar.satu kali jalan (tahun 2008). karena Pancur adalah tempat penduduk Limbung melakukan transaksi penjualan hasil laut dan berbelanja kebutuhan nelayan dan rumah tangga.000. berawan. penelitian BME – COREMAP. Matriks 2. kepiting. Sewa kendaraan Daik – Limbung cukup mahal. kecuali ojek motor dan penyewa kendaraan pribadi yang berdomisili di Daik. Transportasi laut dari Daik ke Limbung adalah melalui Kota Kecamatan Lingga Utara (Pancur) yang jaraknya sekitar 47 kilometer. gonggong. bilis..Rp. 40.. dan hujan • Sering dengan waktu yang lama • Gelombang kuat 12 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yaitu ojek antara Rp.dan sewa kendaraan sekitar Rp.1. teripang • Melaut namun diiringi rasa khawatir karena cuaca yang tibatiba berubah • • • • Juni September Angin Barat (Ulu Barat) September – Desember • Tidak melaut libur • Menebar jaring atau memancing ikan di pinggir pantai Sumber: Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung.000.

gambir. baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyarakat. Kondisi tanah di Kabupaten Lingga juga cocok untuk lahan perkebunan. terutama pada saat pembukaan hutan untuk daerah transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit.2. Sedangkan hasil tangkapan lain seperti beragam jenis ikan karang campuran dan pelagis walaupun bukan tangkapan pokok nelayan. Kira-kira sebagian dari luas daratan desa ini memiliki potensi di sektor pertambangan. dan kopi (BPS Kab. kabupaten ini telah mengembangkan beberapa jenis komoditas yang dianggap cukup besar antara lain adalah kelapa. Lingga. yaitu kakao. namun cukup banyak dijumpai di perairan Limbung. Kondisi ini makin parah dengan adanya penebangan liar. Pada saat ini kondisi hutan primer semakin berkurang dengan adanya pembalakan kayu yang cukup tinggi. dan ikan bilis. Selain itu. 2007: 25). Selain itu. perkebunan. Akhir-akhir ini memang telah dilakukan berbagai tindakan terhadap penebang liar. cengkeh. yang kayunya dijual ke luar Desa Limbung. Oleh karena itu. walaupun tidak berskala besar juga dikembangkan beberapa jenis komoditas perkebunana lain yang cukup potensial. dan sagu. Beberapa jenis tanaman perkebunan tersebut juga terdapat di Desa Limbung yang umumnya masih K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 13 . Keadaan Sumber Daya Alam Sumber Daya Darat Sumber daya darat yang ada di Desa Limbung mencakup hutan primer.2. penduduk pun memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk pembuatan tiang pancang kelong bilis dan papan untuk dinding rumah penduduk. cumi-cumi. Begitu pula dengan sumber daya laut (SDL). baik yang terdapat di darat maupun di laut. perkebunan keras. pertanian (tanaman keras dan pangan). dan kehutanan. 2. lada.1. dan pertambangan. namun kondisi hutan sudah parah dan kayunya pun makin menipis. karet. potensi pokoknya adalah kepiting rajungan. POTENSI SUMBER DAYA ALAM DAN PENGELOLAANNYA Desa Limbung walaupun tidak luas namun memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang cukup kaya.2. Selanjutnya akan dideskripsikan kondisi sumber daya darat dan sumber daya laut yang berpotensi di Desa Limbung.

Luas kebun karet hanya sekitar 7 persen dari luas daratan Desa Limbung. namun umumnya kondisi pohon karet tersebut berusia cukup tua. Perkembangan perkebunan sagu di Sinempek cukup baik terutama dengan adanya pabrik tepung sagu di dusun tersebut. 2007: 37). Situasi ini juga berpengaruh terhadap penduduk lain yang juga bersemangat membuka lahan mereka untuk ditanami karet. Walaupun belum banyak penduduk yang membuka perkebunan karet. luas kebun sagu sekitar 250 ha. kelapa dan karet. Berdasarkan luas perkebunan sagu yang menghasilkan (1. telah lama mengusahakan tanaman karet. Wilayah kebun sagu di Kabupaten Lingga hanya terdapat di Kecamatan Lingga Utara dan Kecamatan Lingga dengan total luas 3.492. Perkebunan kelapa yang ada di Desa Limbung umumnya tumbuh secara alamiah dan tidak diusahakan secara profesional. Penduduk Desa Limbung. Antara lain jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat Desa Limbung adalah tanaman sagu. namun bila pohan-pohan karet yang telah tua tersebut direvitalisasi tampaknya akan berpotensi untuk dikembangkan. Kecamatan Lingga Utara memiliki lahan sagu paling luas yaitu 841. Mengingat prospek kebutuhan tepung sagu cukup baik. Khusus Desa Limbung.382. Ini disebabkan penduduk yang membuka lahan sagu masih terbatas dan mereka lebih suka pergi melaut daripada berkebun sagu. dan disadap ketika permintaan pasar tinggi. terutama mereka yang berdiam di wilayah daratan. dan terluas banyak dijumpai di Dusun Sinempek.01 ha. kebutuhan akan tepung sagu cukup tinggi namun pemasok masih kurang dan terbanyak dari kebunnya sendiri. Pemanfaatan lahan untuk kebun karet masih sistem kebun rakyat.) di kedua kecamatan tersebut. Apalagi pada saat evaluasi ini dilakukan. Lingga. tampak ada perawatan. Bahkan menurut pemilik pabrik. sehingga hasilnya pun tidak maksimal dan hanya untuk memenuhi kebutuhan 14 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .36 ha (BPS Kab.merupakan perkebunan rakyat.68 ha. Produksi pabrik yang berupa tepung tersebut dikirim ke Palembang dengan kapal melalui Jambi. harga karet sedang tinggi sehingga penduduk mulai bersemangat mengusahakan kembali perkebunan karet mereka. maka sebaiknya areal kebun sagu lebih diperluas karena kondisi tanah di dusun ini cocok untuk tanaman ini.

perusahaan akan mengalihkan lahan untuk kelapa sawit tersebut untuk tanaman jagung. walaupun sulit bila masyarakat mau mengelola lahannya secara optimal untuk tanaman palawija mungkin dapat berhasil. namun tampaknya usaha ini tidak berjalan dengan semestinya. Mungkin usaha perkebunan kelapa dapat berkembang di desa ini bila ada penduduk yang mengusahakan pengolahan produksi kelapa yang dapat mendorong penduduk untuk berkebun secara profesional. Sedangkan masyarakat setempat atau orang Melayu jarang yang mengolah lahan kering atau kebun. Pulau Singkep dan beberapa pulau di Kecamatan Senayang (BPS Kab. potensi pohon kelapa perlu menjadi perhatian sebagai alternatif mata pencarian apabila tidak melaut. Misalnya usaha produksi kopra atau makanan terbuat dari kelapa. Dalam hal ini. Pada saat surveI data dasar aspek sosial ekonomi terumbu karang dilakukan (tahun 2006). Lingga. sayuran. yaitu lokasi transmigran Dusun Linau. terutama Pulau Lingga. Masyarakat transmigran sejak awal di desa ini yang membuka lahan pertanian tampa irigasi atau lahan kering. karena mereka umumnya pergi melaut.sendiri. Sebagai daerah pesisir. dan bila ada tumbuh yang menghasilkan umumnya adalah tanaman liar atau tidak dipelihara. Situasi ini berdampak terhadap kekecewaan penduduk yang sangat berharap terhadap usaha perkebunan kelapa sawit. pemerintah kabupaten bersama perusahaan swasta berencana untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Limbung. karena umumnya mereka tidak biasa pergi melaut. Tanah-tanah mereka tidak atau jarang yang dirawat atau dibuka untuk sebagai usaha pertanian atau kebun. dan buah yang banyak dijumpai di daerah transmigrasi. kountur tanah Kecamatan Lingga Utara cocok untuk lahan pertanian pangan. Bahkan menurut informasi yang diperoleh. Walaupun lahan untuk perkebunan ini telah dibuka. Pengembangan pada usaha pertanian pangan ini. Khusus Desa Limbung. jenis tanaman pangan yang dominan adalah palawija. Apalagi harga jualnya rendah dan bila dibawa ke luar desa tranportasinya cukup mahal. Berdasarkan data Kabupaten Lingga dalam Angka 2006. 2007: 12). bila ada Pokmas MPA-COREMAP yang memulai dan diberi pelatihan atau bimbingan cukup mungkin usaha ini dapat menjadi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 15 .

Usaha ini sudah berlangsung lama. ikan bulat. sekitar tahun 2000-an. ungar. Kegiatan pertambangan lain belum muncul di kawasan Desa Limbung. cumi-cumi dan ikan bilis ke Tanjung Pinang dan Batam. Kawasan daratan Kabupaten Lingga ada beberapa jenis pertambangan yang berpotensi cukup menonjol. delah. Meskipun ikan 16 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan kembung.mata pencaharian alternatif bagi penduduk Desa Limbung. ikan merah. termasuk terumbu karang. dan dingkis. Besarnya potensi dua jenis biota laut ini menjadikan Desa Limbung sebagai pemasok ketam. termasuk Kawasan Limbung. sangerat. cumi-cumi. ikan bilis. pemerintah harus mempunyai perencanaan yang jelas dan tidak sembarangan dalam memberikan ijin pada pengusaha yang ingin membuka usaha tambang di Kawasan COREMAP. SDL ikan yang banyak terdapat di perairan Limbung adalah ikan bilis/teri. Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem SDL. teripang dan gonggong atau siput. walaupun potensi tambang seperti batu granit ada di sekitar desa ini. yang produksinya cukup besar. dan batu granit. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah bagi penduduk Limbung. Sumber Daya Laut Perairan kawasan Desa Limbung mengandung potensi sumber daya laut. pari. bahkan ke Negara Singapura. dalam volume besar dan sekitar dua tahun silam ditutup karena ada larangan untuk penambangan pasir. Namun larangan tersebut muncul setelah pasir di lokasi itu telah terkeruk dan pantainya terlihat rusak. Kondisi ini terntu akan berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya laut. sehingga tidak tergantung pemasokan dari luar seperti Pancur dan Daik. baik berbagai jenis ikan maupun non-ikan. terdapat juga berbagai jenis ikan pelagis seperti ikan tenggiri. Selain itu. ikan karang seperti kerapu. pasir. antara lain adalah boksit. Jenis-jenis SDL yang menonjol di perairan sekitar Desa Limbung dan merupakan hasil tangkapan utama nelayan antara lain adalah kepiting/ketam. Di Desa Limbung yang sudah dieksplorasi adalah pertambangan pasir di sekitar Air Kelat dan melibatkan perusahaan swasta yang dieksport ke negara tetangga (Singapura).

penduduk banyak yang ingin mencoba namun terbentur pada modal. Pada saat kapal datang. Kemudian. yaitu cukup banyaknya kelompok yang berkeinginan untuk budidaya ikan tersebut. pada tahun 2007 dan dilanjutkan 2008 pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Pertambangan memberi bantuan bibit ikan kerapu di dusun ini. Kondisi hutan bakau mulai berkurang karena masa lalu penduduk sering mengambil kayu bakau sebagai bahan bakar. yang diusahakan oleh beberapa nelayan. Adanya intervensi untuk menjaga kelestarian ekosistem SDL seperti kepiting bakau dan ketam. Pemasaran dari ikan-ikan tersebut tidak di desa ini. Sistem pemasaran ada dua macam. nelayan pengumpul akan mengantarkannya ke kapal yang berlabuh agak jauh dari pantai.karang dan pelagis bukan merupakan hasil tangkapan utama. Akhir-akhir ini berkembang budidaya ikan kerapu. namun potensi jenis-jenis ikan tersebut cukup besar karena kondisi terumbu karang di Desa Limbung termasuk sedang hingga baik. Namun kegiatan ini dapat saja diulangi kembali oleh masyarakat bila terdesak oleh kehidupan ekonomi yang semakin tinggi atau kesulitan memperoleh bahan bakar untuk memasak. Untuk mengembangkan usaha ini dibutuhkan biaya cukup besar untuk membangun tempat pemeliharaan ikan dan membeli bibit ikan kerapu yang harganya cukup mahal. yaitu ikan hidup dan ikan mati. sehingga banyak yang gagal dan belum ada kelanjutannya. besarnya minat masyarakat Desa Limbung untuk mengembangkan budidaya kerapu terlihat dari proposal Pokmas MPA-COREMAP. yaitu dengan tidak melakukan penebangan pohon bakau secara berlebihan terlihat dari berkurangnya masyarakat memanfaatkan kayu bakau untuk kayubakar. khususnya kerapu sunu dan tiger. Sumberdaya lain yang juga masih banyak dijumpai adalah hutan bakau (mangrove) di bagian pesisir pulau-pulau kawasan Desa Limbung. namun kepada pedagang ikan yang datang tiga kali seminggu dari Pancur untuk mengambilnya. Seperti umumnya di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 17 . Apalagi program COREMAP fase I untuk penanaman pohon bakau terhenti begitu saja. Melihat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ini cukup tinggi. Kegiatan ini terutama ada di Dusun Sinempek karena budidaya ikan ini cocok untuk perairan di dusun ini. sehingga mereka kembali menebang kayu bakau untuk kebutuhan hidupnya.

khususnya nelayan Dusun Sinempek. akhir-akhir ini mereka ke Pulau Semut secara berkelompok dan setelah di sana mulai bekerja 18 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tidak hanya di sekitar perairan Limbung namun di luar Limbung. Dampak dari kesederhanaan perlengkapan mereka adalah lokasi penangkapan ikan dan SDL lainnya yang tidak jauh dari Desa Limbung. Terutama bagi nelayan yang telah mempunyai pasar dan pengolahan paska panen dapat dilakukan di Pulau Semut hingga penjualan langsung pun dilakukan dari pulau tersebut. Wilayah tangkap para nelayan bervariasi menurut jenis sumber daya laut yang ditangkap. Lokasi pencarian cumi-cumi di perairan Limbung adalah sekitar Batu Putih (Tanjung Takeh) hingga ke bagian selatan Pulau Buluh atau Pulau Kojong. 2. sebagai SDL yang banyak memberi keuntungan bagi nelayan Desa Limbung. cumi-cumi (nus). Kenaikan harga BBM sangat berdampak terhadap jangkauan nelayan untuk mencari ikan. Ada beberapa jenis sumber daya laut yang menjadi andalan nelayan di Kawasan Limbung. untuk mencegah munculnya kembali kegiatan penebangan bakau sebaiknya Pemerintah Desa berupaya melindungi hutan bakau dengan menetapkan kawasan perlindungan hutan mangrove. Walaupun harga BBM naik yang cukup berpengaruh terhadap jarak tempuh nelayan. teripang (Strombus Camariun). dikenal dengan istilah nyomek. Hal ini mengingat lokasi ini nelayan dapat memperoleh cumicumi tanpa mengenal musim. Wilayah pengelolaan Nelayan Desa Limbung umumnya adalah nelayan tradisional.masyarakat. Hal ini mengingat pohon bakau memiliki fungsi untuk melindungi pantai dan sekaligus sebagai tempat bernaungnya berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Untuk mengatasi masalah BBM.2. Pencarian cumi-cumi.2. Oleh karena itu. baik dari alat tangkap maupun sarana transportasinya. Jarak tempuh paling jauh adalah ke Pulau Semut di Kabupaten Senayang untuk mencari cumi-cumi (nus). dan ikan karang. namun karena cumi-cumi akan memberi keuntungan maka Pulau Semut tetap merupakan wiayah tangkap nelayan dalam mencari cumicumi. bilis/teri. yakni ketam. kesadaran untuk penanaman kembali secara individu belum muncul dan hanya menunggu pemberian atau intervensi dari pihak luar.

Di samping itu bila pemasangan bubu makin meluas hingga di air dalam dekat Pulau Hantu di mana banyak dijumpai karang. terkadang sendiri atau berdua dengan anaknya. Selain pencarian cumi-cumi. Dengan demikian. Ikan bilis termasuk SDL yang utama bagi penduduk Desa Limbung walaupun pengelolanya terbatas bagi mereka yang punya kelong. Makin banyaknya penduduk memasang bubu di perairan Limbung berdampak terhadap padatnya laut oleh bubu sehingga kapal yang lalu harus hati-hati agar tidak mengenanya. Lokasi kelong ini. Para nelayan Desa Limbung bebas memasang jaring asalkan tidak ada nelayan lain yang memasang jaring di lokasi tersebut. yang dikenal dengan istilah ‘asal berada di luar pagar’. pada saat ini kepiting atau ketam juga merupakan SDL yang sangat dicari penduduk karena pemasaran yang mudah dengan adanya tiga pabrik pengolahan kepiting di Desa Limbung yang menerima dengan harga relatif stabil. dan sore hari bagi mereka yang memasang kembali jaringnya pada pagi hari. Pencarian kepiting cukup di sekitar Perairan Desa Limbung. Pemasangan kelong mengikuti arah arus air yang dapat mendorong ikan bilis masuk dalam kelong-kelong yang terhampar di sekitar teluk dan sepanjang pantai bagian laut lepas dekat Pulau Bulu dan Pulau Kojong. BBM untuk pulang-pergi Limbung – Pulau Semut sekitar 10 liter (PP) dapat ditanggung bersama dan setelah di lokasi pencaharian tidak memakai diesel (motor) karena lokasi pencarian tidak jauh dari pulau. namun juga kaum perempuan. Mereka cukup menggunakan pompong.menggunakan sampan sendiri-sendiri. Akhir-akhir ini yang mencari tidak hanya lakilaki. Lamanya waktu melaut sangat tergantung jarak antara tempat tinggal nelayan tersebut dengan lokasi di mana jaring diletakkan. yakni di wilayah teluk dan Pantai Timur. Pada awalnya hanya satu orang ibu dan sekarang ada sekitar lima orang ibu-ibu mencari kepiting yang umumnya berasal dari Dusun Centeng dan Dusun Sranggas. akan berpengaruh terhadap kehidupan ekosistem tersebut. Jaring tersebut diangkat setiap pagi bagi mereka yang memasang malam hari. baik secara langsung maupun tidak langsung. paling jauh sekitar Pulau Hantu. Di lokasi ini. pada musim angin kuat (Juni – K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 19 . nelayan memasang jaring hingga dasar laut yaitu sekitar 1 mil dari pantai selama kira-kira satu malam.

Musim selatan (Bulan Mei hingga September) adalah musim yang menguntungkan bagi nelayan pencari teripang. Pada musim-musim tersebut. namun tingginya permintaan pasar mulai ada yang menggunakan bubu. Pada waktu-waktu tertentu. Lokasi pengambilan teripang adalah di sepanjang perairan Limbung antara Pulau Malang Sekateh – Pulau Tanjung Rawa – Pulau Jako. Teripang dapat diperoleh dalam jumlah banyak pada Bulan Juli dan Agustus. Peletakan bubu ini tentu saja dapat merusak karang. antara lain adalah nelayan dari Buton dan Madura 20 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Dulu mereka hanya menggunakan alat pancing. Keberadaan teripang di perairan Limbung mendorong nelayan luar untuk ikut mengambilnya. ada beberapa nelayan yang khusus mencari ikan tersebut di sekitar teluk dan pantai yang banyak dijumpai di daerah tersebut. karena jenis ikan yang dicari berada di sekitar karang. Namun sayangnya lokasi pemasangan kelong tersebut banyak dijumpai terumbu karang. pengambilan bilis dilakukan setiap malam ketika bulan gelap. nelayan Limbung juga ada yang mencari ikan namun masih tidak dalam jumlah besar. terutama jenis ikan karang untuk eksport ke Singapore. Apalagi dengan maraknya permintaan akan kepiting yang mudah diperoleh di sekitar pantai membuat kegiatan pencaharian ikan hanya sebagai sambilan saja. Hal ini sangat terkait dengan peralatan yang dimiliki masih sederhana. terutama wilayah teluk sekitar ½ mil dari pantai. yaitu ketika air laut surut pada jarak terjauh dari pantai. namun belum sampai di laut lepas. yaitu selama 20 hari. Dengan meningkatnya harga nilai ikan tertentu. Pada bulan-bulan tersebut hampir setiap hari nelayan Desa Limbung mencari teripang dengan menggunakan ‘galah’. Sumberdaya laut lain yang juga bernilai tinggi adalah teripang (gamat) dan banyak dijumpai di daerah berlumpur yang ada di Perairan Limbung. Para nelayan Limbung yang umumnya menggunakan sampan karena pencaharian ikan hanya di sekitar teluk. Kecuali nelayan yang punya kapal motor berusaha mencari ikan di laut lepas hingga Tanjung Nyang atau sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong.September) arus air cukup kuat yang akan membawa bilis-bilis masuk kelong mereka. sehingga pada saat pemasangan maupun penarikan jala dapat mengganggu kehidupan ekosistem terumbu karang.

terbanyak adalah perempuan.yang menggunakan peralatan lebih canggih. yaitu sepanjang pantai di bagian teluk Desa Limbung. Sayangnya nelayan pendatang ini bekerja tanpa mengenal waktu dan musim.2. Jenis siput ini banyak dijumpai di Perairan Limbung. Pada saat air K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 21 . Anak-anak mencari siput hanya di pinggir pantai pada saat air surut. yaitu sore hari. terutama di daerah karang. 2007. Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung Sumber: PRA bersama nelayan Dusun Sinempek. Siput gonggong (Strombus Camarun) umumnya hidup pada tempattempat yang bersih atau tidak tercemar. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dari kelompok usia anak-anak hingga dewasa. Waktu pencarian siput adalah pada saat air kering (air tohor). biasanya malam hari menggunakan sampan sedangkan kapal mereka berada di tengah laut. Pencari siput di Dusun Sinempek berkisar antara 20 hingga 30 orang. Peta 2. Khusus penduduk Dusun Sinempek yang mencari siput banyak juga dilakukan perempuan dengan cara menyelam menggunakan kacamata khusus dan galah. dan disebut musim karang jauh.

alat tangkap ini menangkap semua jenis ikan. Pencarian SDL hanya di pinggir pinggir. Artinya. kegiatan cari ikan hanya sekedarnya saja. Kegiatan nelayan • Melaut namun hasilnya minimal dan tidak dapat diperhitungkan. mencari ikan dan 22 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Banyak hujan. Kegiatan nelayan normal karena mereka dapat melaut setiap hari untuk menangkap semua macam Musim Utara (Januari -Awal Maret) Gelombang kuat • • Musim pancaroba. tetap mencari ketam. mendung dan kadangkadang angin ribut. besar maupun kecil. ikan. dan bila ada yang mencari gonggong hanya di bagian pantai. Dalam penangkapan atau pencarian SDL sangat terkait dengan kondisi musim yang memengaruhi wilayah penangkapan mereka. tentang aktivitas nelayan dalam pencarian sumber daya laut menurut musim di Perairan Kawasan Limbung. Kategori Waktu Kondisi alam Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Musim Timur ( Maret – Mei) Gelombang lemah Musim Barat (September – Desember) Musim Selatan (Juni – September) Gelombang kuat namun karena Lingga terletak di mata Utara atau pantai menghadap Utara sehingga ke laut selatan terlindungi. yaitu Musim Barat. Kegiatan yang dilakukan: 1. Matriks 2. Lihat matriks 2. terutama dengan cara menyelam. Musim air kelat berlangsung selama satu minggu. Di samping pengaruh musim. Utara dan Selatan. Musim yang paling aman mencari ikan adalah musim angin selatan dan musim angin utara. Timur.dekat (air kelat) tidak ada orang yang mencari gonggong. namun yang terbanyak memperoleh ikan pada musim angin selatan. khususnya ketam. Dalam 5 – 10 terakhir ini pendapatan nelayan dirasakan makin berkurang yang disebabkan oleh makin banyaknya nelayan yang menggunakan alat tangkap dengan mengambil ikan tanpa batas. pendapatan nelayan juga dipengaruhi oleh banyak atau sedikit orang yang terlibat dalam pencarian SDL di Perairan Kawasan Limbung.2. • Musim ini dianggap musim istirahat.2. mendung. angin tidak menentu.

teripang. mempersiapkan alat tangkap. dan jaring di 3.3. Pada umumnya. Misalnya: nelayan pengelola ikan bilis akan punya kelong dan perahu atau sampan. Pemanfaatan teknologi tersebut disesuaikan dengan SDL yang dikelola. bubu tidak penuh. Mesin perahu motor yang digunakan nelayan umumnya berkekuatan antara 12 hingga 17 PK dan dapat digunakan untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 23 . Selanjutnya akan dideskripsikan ketiga kelompok teknologi penangkapan nelayan Limbung.Sumber: SDL yang ketram di pinggir menjadi pantai. penelitian BME – COREMAP. sotong. Armada Tangkap Armada tangkap yang digunakan nelayan Desa Limbung masih sederhana. hingga pantai Selatan. kepiting dan rajungan (ketam renjong). nelayan Limbung memiliki sendiri teknologi tersebut sesuai dengan SDL yang dikelolalanya. memperbaiki kelong tapi belum dipasang • Mengatur & 2. baik saat melaut maupun kegiatan paska panen. ikan teri. andalan 2.l. Teknologi Penangkapan Teknologi pengelolaan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong sederhana sesuai dengan kapasitas penangkapan yang tidak besar. Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung. alat tangkap. menjaring pantai Timur ketam. kegiatan melaut ekonomi dilakukan oleh penduduk sebagian nelayan nelayan (40/50 %) tapi pancing. dan pengelolaan paska panen.2. terdiri tiga kelompok besar yaitu armada tangkap. ikan pari. nelayan pencari ketam punya perahu dan bubu ketam. SDL yang ditangkap a. yaitu perahu motor yang berkekuatan mesin (PK) sangat kecil dan perahu atau sampan yang tidak menggunakan motor (pompong). 2008.

Sedangkan pompong hanya digunakan untuk penangkapan di sekitar desa atau teluk seperti pengambilan ketam di sekitar pantai Limbung. yaitu sistem pncung menggunakan kayu dan sistem benang atau tali. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh hanya dibutuhkan minyak 1 giya (sekitar 5 liter).-. serok untuk teripang. yang makin banyak jumlahnya adalah alat tangkap bubu ketam. Jumlah armada alat tangkap antara tahun 2006 (T0) hingga 2008 (T1) tidak banyak berubah. dengan menggunakan bubu ketam buatan Thailand karena dianggap lebih mudah pemakaiannya dibanding jarring ketam yang harus dipasang agak di tengah laut. Perahu motor menggunakan BBM yang kebutuhannya sangat terkait dengan jarak tempuh pencarian atau pengambilan SDL yang menjadi fokus kegiatannya. namun untuk mencari cumi-cumi di Laut Batu Putih. jarring tangsi untuk ikan pesisir. pencari ketam dapat mengoperasionalkan bubu sebanyak 25 buah karena ketika membeli harus satu set sebanyak 25 buah bubu dengan hara Rp. 600. yaitu kapal operasional COREMAP. penyauk untuk cumi-cumi.000. Dalam peletakkan bubu dapat dilakukan dengan dua cara. dan bila telah lunas 24 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pada awal kegiatan.melaut dengan jarak agak jauh. Teknologi Alat Tangkap Mengacu kepada SDL yang menjadi fokus pencarian nelayan. Hal ini disebabkan makin banyak orang mencari ketam. Dilihat dari cara mereka memiliki bubu umumnya dimulai dengan berhutang pada tauke. alat tangkap yang digunakan adalah kelong untuk ikan bilis. termasuk perempuan. jarring dan bubu ketam untuk ketam. dan keramba untuk pemeliharaan ikan hidup. Pada saat berada di lokasi penangkapan SDL tersebut. kebutuhan operasional BBM tergantung dari waktu dan jarak melaut. Tampaknya yang cenderung bertambah adalah sampan sebagai dampak makin banyaknya penduduk yang mencari ketam di pinggir-pinggir perairan Limbung. Pulau Kojong atau Pulau Semut dibutuhkan sekitar 4 giya untuk perjalanan pulang-pergi dengan jarak tempuh sekitar 9 jam. bubu untuk ikan hidup. Di antara alat tangkap tersebut. Misalnya di Dusun Centeng terlihat hanya ada satu kapal baru.

bubu ini dimanfaatkan nelayan untuk menangkap jenis ikan karang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti kerapu dan ikan merah. 600. Namun mereka yang ingin memperoleh uang tidak perduli sehingga tetap mengambil walaupun harganya rendah. Pada saat ini. Penangkapan ikan bilis juga merupakan fokus kegiatan nelayan Desa Limbung dengan amenggunakan alat tangkap kelong. Terutama bila bubu ditanam di daerah sekitar teluk sedangkan pada lokasi di perairan air jauh ada nelayan yang mengambil ikan sehingga tidak ada ikan yang datang ke perairan teluk.. dan jumlah bubu ikan di Desa Limbung diperkirakan hanya berkisar antara 50 hingga 60 buah. Alat tangkap ini diperoleh nelayan dapat dengan cara membeli atau membuat sendiri. maka anak ketam tidak diambil dan dikembalikan ke laut. pemasangannya pun pada tempat-tempat yang banyak dijumpai terumbu karang. Rendahnya tingkat kepemilikan bubu karena pengambilan ikan karang atau ikan hidup ini tidak menjadi kegiatan utama nelayan dibandingkan dengan pencarian cumi-cumi. Harga bubu ikan ini cukup mahal sehingga tidak semua nelayan memilikinya. Pembuatan kelong dengan cara ditancapkan pada lokasi yang diperkirakan akan banyak didatangi ikan bilis. ketam. Pada umumnya.000. Apalagi perolehan ikan menggunakan bubu ini tidak stabil. terutama dengan memperhatikan arus air yang mendorong ikan tersebut masuk ke jaring. Nelayan yang sadar bahwa bila anak ketam diambil berdampak terhadap produksi ketam ukuran besar berkurang. yaitu dari ujung timur hingga barat Perairan Limbung.untuk 24 buah. Harga bubu ikan bila dibandingkan dengan dua tahun lalu harganya masih tetap sama. dan ikan bilis. Jenis bubu juga ada yang digunakan untuk penangkapan ikan dalam kondisi hidup. maka produksi ketam yang diperoleh para nelayan tersebut berkurang atau yang masuk lebih banyak ukuran kecil. Oleh karena itu.biasanya mereka akan menambah bubu agar memperoleh hasil lebih banyak. yaitu sekitar Rp. Kelong yang dianggap kurang berhasil karena dipengaruhi oleh waktu penanaman yang kurang memperhatikan arus air atau terhambat dengan kelong K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 25 . yang umumnya disebut dengan bubu sono. biasanya satu kali melaut nelayan memasang bubu sebanyak 45 buah. Dampak dari pemasangan bubu ketam yang demikian banyaknya di Laut Limbung.

Alat tangkap jarring ada dua macam.-. karena menangkap ikan bilis dengan kelong berarti kegiatan ini berbentuk pasif karena hanya menunggu ikan untuk masuk ke kelong.lain. Lokasi pemasangan kelong paling banyak di sekitar Dusun Linau. yaitu jarring untuk menangkap ikan dan jarring menangkap ketam. namun bila umpan sudah koyak-koyak ikan tidak mau memakannya dan harus diganti dengan yang baru.000. Namun adapula faktor keberuntungan atau nasib. Penyauk adalah alat tangkap cumi-cumi berbentuk kerucut yang terbuat dari jaring halus untuk penangkap. Dalam satu tahun hanya dua bulan yang digunakan secara terus menerus. Dalam dua tahun ini (2006 – 2008). Akhir-akhir ini para nelayan mengganti candar dengan umpan menyerupai udang yang terbuat dari karet buatan Jepang dengan harga antara Rp. Sebagaimana telah 26 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Apabila cumi-cumi sudah tersangkut pada umpan tersebut tidak akan lepas sehingga mudah ditangkap. 15. Bagian dari alat tangkap penyauk yang paling sering dan mudah rusak adalah kawat penyangga atau kerangka pengikat jaring.~ Rp.. Perlengkapan lain dalam pencarian cumi-cumi adalah lampu petromaks sebagai alat untuk menarik atau mengumpulkan cumi-cumi agar mudah ditangkap. 16. Umpan udang-udangan ini diberi warna yang akan bersinar di dalam laut bila diterangi lampu. 2005:69-70).000. Alat tangkap ini dapat digunakan untuk jangka waktu dua hingga tiga tahun. Pengetahuan tentang penggunaan umpan ini diperoleh dari teman sesama nelayan cumi-cumi. dan lainnya di sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong. dan kayu sebagai pemegang alat yang panjang sekitar 2 meter. jumlah kelong di Desa Limbung tampaknya tidak berubah. Alat tangkap cumi-cumi lain adalah pancing yang diujungnya diberi umpan terbuat dari kayu menyerupai udang atau ikan yang disebut candar atau candit di Pulau Abang (Romdiati & Mita Noveria. umumnya digunakan untuk menangkap ikan pesisir dan kadangkadang juga menangkap ikan karang. Karena menurut informasi pada saat survey terdahulu (T0) jumlah kelong ada 39 buah baik yang dimiliki penduduk Limbung maupun orang luar Limbung. yaitu pada Musim Selatan. bahkan diperkirakan berkurang. kawat sebagai kerangka penyauk. Jaring ikan (jaring tangsi). tali pengikat. sedangkan saat ini diperkirakan hanya ada sekitar 30 kelong.

dan tali pengikat 3 gulung. pelampung 396 buah. tali 12 buku. Perlengkapan untuk membuat jaring dapat diperoleh melalui tauke yang ada di Dusun Centeng atau penampung ketam yang ada di setiap dusun di mana penduduknya beraktivitas mencari ketam. Selain itu. Apabila situasi ini dibiarkan.. pencarian ikan bukan merupakan kegiatan utama bagi nelayan Desa Limbung. Dengan tingginya permintaan akan ketam oleh pabrikpabrik pengolahan daging ketam. yaitu pada saat implementasi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 27 . Jenis ikan yang biasa ditangkap dengan menggunakan jaring tangsi antara lain ikan pinang. Cara tradisional umumnya dilakukan oleh nelayan lokal seperti membuat parit gamat. karena ketam merupakan target tangkapan utama dari nelayan desa ini. baik secara tradisional maupun modern. Satu jaring ketam memiliki ukuran panjang sekitar 500 meter (2 bantal) dilengkapi dengan batu sebanyak 20 kg. dan bagian alat tangkap yang dapat bertahan dalam waktu lama adalah batu hingga 10 tahun. Berbeda dengan jaring ketam yang dimiliki hampir oleh semua nelayan Desa Limbung. ikan sembilang. Ada beberapa alat yang dilakukan nelayan untuk mencari teripang. Khusus untuk pemasangan jarring ketam biasanya dilakukan oleh laki-laki karena jarring ketam lebih berat dibanding alat bubu ketam. yaitu dekat laut lepas sehingga biasanya menggunakan perahu motor. Pengambilan teripang dengan membuat parit dan sistem penarikan menggunakan trawl kecil untuk menjaring teripang yang telah terkumpul telah dilarang. Jaring ketam bila digunakan setiap hari biasanya hanya dapat bertahan dalam tempo tiga bulan. maka pemasangan jarring ketam pun meningkat sama dengan pemasangan bubu ketam. alat serok atau suluh.digambarkan sebelumnya. maka akhir-akhir ini nelayan mulai mencari lokasi yang strategis untuk pemasangan jarring. dan tuba khusus oleh Suku Laut. ikan penggali dan ikan debaun. maka usaha pelestarian terumbu karang di kawasan perairan Limbung tidak akan tercapai. Padatnya lokasi pemasangan bubu di sekitar desa. sehingga penggunaan jaring ikan pun tidak dianggap sebagai alat utama bagi mereka. lokasi pemasangan jarring ketam agak jauh dari pesisir Desa Limbung. bahkan hingga di lokasi daerah konservasi COREMAP pada fase I. Di antara pulau-pulau yang terdapat di bagian teluk perairan Limbung banyak dijumpai teripang (gamat).

Bahan yang diperlukan untuk membuat karamba adalah jarring. Kerapu tiger tampaknya memang kurang cocok di perairan Limbung karena arusnya kurang kuat dan jenis air adalah payau. namun yang dianggap berhasil adalah nelayan karamba Dusun Sinempek. yaitu sejak survey data dasar aspek sosial terumbu karang (T0) hingga survey evaluasi program COREMAP (T1) di Desa Limbung. dan bila ada yang rusak harus cepat diganti agar ikan-ikan tidak lari. Akhir-akhir ini Desa Limbung mulai mengembangkan usaha pembesaran ikan dengan menggunakan karamba yang berbentuk kotak seluas 2 x 3. Walaupun alat yang digunakan nelayan pendatang dilarang. namun karena mereka melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi sulit untuk menangkapnya. yaitu APBD tahun 2007 – 2008. Begitupula dengan cara penangkapan menggunakan racun yang dapat membunuh ikan-ikan karang lain yang terdapat di sekitar pencarian teripang. Masa operasional keramba sekitar 2 hingga 3 tahun. Keramba bantuan Dinas SDA ada di Dusun Sinempek. dan tali kecil. Alat tambahan lain adalah kacamata selam buatan sendiri yang digunakan ketika menyelam sebagai penutup mata. Sedangkan cara modern umumnya dilakukan oleh nelayan pendatang seperti nelayan asal Madura dan Buton. Pada awal program dilaksanakan diberi kerapu tiger sebanyak 1000 ekor. Alat yang digunakan adalah kompresor dan mungkin juga tuba atau racun agar teripang lemas sehingga mudah ditangkap. menunjukkan bahwa kegiatan paska panen 28 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Usaha keramba mulai banyak dalam dua tahun terakhir ini yang berlokasi di Dusun Centeng dan Dusun Sinempek. tali untuk satu bubu. Ikan yang dipeliharan dalam keramba ini adalah kerapu sunu atau kerapu tiger yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pada saat ini nelayan lokal dan Suku Laut mencari teripang hanya menggunakan serok atau suluh yang terbuat dari kayu dan ujungnya diikat kawat runcing. Sedangkan kerapu sunu cocok di daerah ini karena jenisnya adalah kerapu alam. namun bibitnya sulit didapat dan harga jual sering tidak stabil. namun dalam tempo satu hari saja mati 500 ekor. Teknologi Paska Panen Dalam tempo dua tahun.program COREMAP fase I di desa ini. terutama bila di eksport ke Singapore.

nelayan cumi-cumi ada yang melakukan proses pengeringan di pulau-pulau sekitar pencarian cumi-cumi yaitu Pulau Buluh. mengontak tauke dengan menggunakan HT bahwa cumi-cumi/nus siap dijual. tetapi pada malam hari dimasukkan ke dalam rumah. Kegiatan pengeringan ikan bilis dan cumi-cumi masih tetap dilakukan secara sederhana oleh nelayan dan keluarganya. saudara perempuan atau anak-anak. Apabila hari hujan. Pengeringan cumi-cumi menggunakan teknologi pengasapan yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah SDL tersebut ditangkap. Tahap kedua. yaitu: • Tahap pertama. terutama ke Dusun Sinempek yang dilakukan sebanyak tiga kali per minggu. sedangkan pengolahan kepiting diproses di pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng.masih terfokus pada tiga jenis SDL yaitu pengeringan cumi-cumi. • • K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 29 . pembersihan dan pembelahan cumi-cumi menggunakan pisau yang dilakukan di atas kapal/ perahu oleh di nelayan (laki-laki). sehingga cumi-cumi cepat menjadi kering. Kegiatan pengeringan ini dilakukan oleh isteri. Dalam kondisi cuaca baik atau panas penjemuran cumi-cumi memerlukan waktu sekitar 1 ½ hari. dan Pulau Semut. Pada musim cumi-cumi tauke datang ke Desa Limbung dengan rutin. di antara nelayan akan menggunakan kompor yang ditutup kain agar hawanya tetap panas. Kegiatan pengolahan cumi-cumi dilakukan dalam tiga tahap. Oleh karena itu. bahkan satu bulan bila ke Pulau Semut. Pulau Kojong. pengeringan ikan bilis. dan pengolahan daging kepiting. yaitu di tempat para nelayan beristirahat setelah mencari cumi-cumi di sekitar pulau tersebut. Tahap ketiga. penjemuran secara tradisional dengan menggunakan semacam tampah dan diletakkan di atas genteng atau tembok di halaman rumah. Sistem pengeringan menggunakan kompor ini dipelajari dari orang Vietnam yang sering datang ke Pulau Semut. Di pulau-pulau tersebut mereka bermalam sekitar satu minggu.

Sedangkan pengolahan paska panen ikan teri umumnya dilakukan di Desa Limbung setelah diangkut dari kelong ke rumahnya. Namun dalam pengelolaannya diserahkan kepada orang Centeng yang sebelumnya pernah bekerja pada salah satu pabrik di dusun tersebut. setelah ikan teri kering dimasukkan kembali ke bakul dan siap untuk dijual ke tauke di Dusun Centeng atau pembeli/pedagang yang datang dari Pancur. Proses pengeringan dilakukan dalam empat tahap. Di antara jenis daging tersebut. yaitu: • Tahap pertama. nilai ekonomi tertinggi adalah daging perut atau dada yang disebut “mawar”. • Tahap ketiga. Kegiatan ini dilakukan pada pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng. 30 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan daging serpihan. • Tahap keempat. yaitu kelompok daging kaki. Proses selanjutnya adalah mengeluarkan daging kepiting dan disusun dalam kotak berdasarkan kelompok-kelompok dari jenis daging tersebut. • Tahap kedua. namun terkadang hanya pekerja saja. dan terakhir perusahaan pokok (central) di Tanjung Pinang atau Batam untuk pengolahan selanjutnya sebelum dikirim ke konsumen. Proses pengolahan setelah menerima kepiting dari pencari di laut diawali dengan merebus. kemudian memisahkan kepiting menurut ukurannya. ikan teri yang telah direbus dijemur pada tempat khusus untuk menjemur ikan yang terbuat dari bambu atau kayu. pabrik pengolahan kepiting bertambah satu yang pemiliknya bukan orang Centeng. Dalam kurun waktu dua tahun ini. Setelah masuk kotak disusun dalam kotak viber untuk dibawa ke perusahaan cabang (branch) di Pancur atau di Daik. daging dada atau perut. ikan teri yang ditangkap di kelong dimasukkan dalam bakul dan dibawa ke daratan menggunakan perahu. Kegiatan ini dilakukan oleh si pemilik kelong dibantu pekerja atau keluarga. Apabila kegiatan paska panen dari kedua SDL tersebut di atas dilakukan secara sederhana oleh anggota keluarga atau satu/dua orang pekerja. berbeda dengan pengolahan paska panen kepiting. ikan teri direbus menggunakan panci besar dan kompor.

Tempat penjual dan pembeli bertemu atau mengadakan transaksi kegiatan ekonomi hanya lah warung klontong. pedagang sayur-mayur orang transmigran. masih sangat terbatas. Selain itu. toko dalam ukuran lebih kecil juga terdapat di Dusun Sinempek dan Linau. namun dapat juga K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 31 . khususnya SDL.2. tahun lalu berdiri satu perusahaan penampung kepiting milik orang luar Desa Limbung di Dusun Centeng. toko. Sarana ekonomi lain yang dapat melangsungkan kegiatan ekonomi penduduk adalah keberadaan pedagang pengumpul SDL yang biasa disebut penampung. Selain toko dan kios/kedai. adalah warga keturunan Cina yang umumnya juga memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. dalam dua tahun ini belum menunjukkan penambahan yang berarti. saat evaluasi tidak berjalan lagi. Jumlah kedai/kios dan toko. di desa ini juga terdapat penjual bahan makanan dan sayuran keliling.2. Di Dusun Centeng kira-kira terdapat delapan (8) toko yang yang tergolong besar. baik dilihat dari ukuran/luas toko maupun ketersedian jumlah dan jenis barang. Penampung mempunyai peran penting untuk transaksi hasil tangkapan nelayan.4. Pemilik toko umumnya juga bekerja sebagai penampung produksi SDL sebelum dikirim kepada tauke atau pembeli yang lebih besar. terutama di Desa Centeng. Para penampung kepiting yang telah lama berusaha di desa ini umumnya memiliki toko yang dapat dimanfaatkan nelayan untuk menjual SDL. Jumlah penampung di Dusun Centeng tampaknya ada pengurangan karena penampung kepiting atau ikan yang dua tahun lalu ada di Dusun Sranggas dan Kampung Air Berani. Di sisi lain. Sedangkan jumlah kios/kedai diperkirakan hanya sebanyak enam (6) kedai yang umumnya dimiliki warga Etnis Melayu. karena di Desa ini belum ada tempat pelelangan ikan (TPI). Sebagian besar pemilik toko. dan tauke di mana mereka mempunyai hubungan sosial atau kerja. Sarana dan Prasarana Gambaran Desa Limbung tidak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Indonesia. baik yang terdapat di Dusun Centeng maupun Dusun Sinempek. Apabila akan mengadakan hubungan ekonomi yang luas adalah di kota kecamatan Pancur atau kota kabupaten Daik. Sarana – prasarana yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi.

Dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Desa Limbung. penduduk yang memiliki masih terbatas karena terkait dengan listrik negara yang belum masuk desa ini. namun sinyalnya masih terbatas pada kartu tertentu atau lokasi tertentu seperti di ujung jembatan yang dibuat COREMAP fase II. Namun sampai saat ini belum ada tranportasi umum yang masuk Desa Limbung untuk menghubungkan penduduk dengan daerah luar. Sedangkan telpon umum ada satu wartel (warung telekomuniksi) di Dusun Centeng yang menggunakan saluran satelit. Sarana pendukung lain adalah komunikasi. baik diesel desa mapun diesel pribadi. Sarana komunikasi yang diikuti penduduk terbanyak adalah televisi dan radio. perahu/kapal motor. atau kendaraan bermotor milik pribadi. bahkan desa pun tidak menyediakan koran dinding yang bisa diakses oleh penduduk. Bagi penduduk yang mempunyai ekonomi lebih membuat saluran telpon yang dapat digunakan untuk telpon genggam.5. Oleh karena itu. namun belum 32 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . baik sarana media cetak. penduduk menonton televisi pada rumah-rumah yang memilikinya dan ada aliran listrik. Kotak pengumuman yang ada di Dusun Centeng hanya berisikan pengumuman lowongan pekerjaan. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL Program yang berkaitan dengan pengelolaan SDL yang masuk Desa Limbung diawali dengan Program COREMAP Fase I. Khusus televisi. 2.2.membeli/berhutang barang-barang kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan melaut. Untuk sarana kendaraan permasalahannya karena buruknya sarana jalan yang menghubungkan desa ini dengan daerah luar. Sarana media cetak belum ada yang masuk Desa Limbung secar teratur. Akhir-akhir ini mulai banyak penduduk yang memiliki telpon genggam sebagai alat komunikasi dengan masyarakat luar desa. maupun telekomunikasi. Mungkin bila sarana jalan diperbaiki akan lebih memberi peluang bagi penduduk untuk melakukan transaksi ekonomi dengan masyarakat luar. sarana transportasi dan komunikasi semestinya mempunyai peran cukup penting. elektronik. kecuali ojek.

Keberadaan Pokmas-pokmas tersebut telah dapat menggerakkan masyarakat dalam upaya mengelola dan melestarikan terumbu karang. Pemda tingkat kecamatan. Depdagri. stakeholders yang terkait adalah pemberi donor ADB. LIPI). tingkat provinsi (antara lain Pemda dan Bappeda Provinsi. tingkat kabupaten (antara lain Pemda dan Bappeda Kabupaten). di samping meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha untuk Pokmas Usaha Produksi dan Pokmas Jender. sehingga mengganggu kelancaran pelaksanaan program. Mereka diharapkan dapat melakukan pengawasan terumbu karang dengan mudah. Linau dan Sinempek. bahkan berhenti sejak fasilitator Program COREMAP fase I meninggalkan Desa Limbung. waktu itu telah dibentuk tiga (3) kelompok masyarakat (Pokmas) yang terdiri dari Pokmas Konservasi. dan Pokmas Pemberdayaan Perempuan (Jender). Berbeda dengan Pokmas Jender yang cakupannya cukup tersebar di beberapa dusun yaitu Dusun Centeng. Masing-masing Pokmas beranggotakan sekitar 25 orang dan setiap Pokmas cenderung berasal dari dusun yang sama. kecuali Pokmas Konservasi yang beranggotakan penduduk dari Dusun Centeng dan Air Kelat. kegiatan Pokmas tersebut tidak jalan lagi. Pokmas Usaha dan Produksi. Khusus Desa Limbung. terhentinya kegiatan Pokmas-pokmas tersebut tampaknya juga dipengaruhi oleh rendahnya motivasi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya melalui usaha bersama yang tidak K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 33 . LSM). Terhentinya kegiatan Program COREMAP fase I ini kemungkinan besar berkaitan dengan adanya peralihan tanggung jawab program dari satu instansi ke instansi lain. Pada waktu itu.terlaksana seluruhnya berhenti di tengah jalan dan hanya berlangsung sekitar empat tahun. Universitas Riau. Namun demikian. instansi dari tingkat pusat hingga lokal yaitu pemerintah pusat (antara lain Bappenas. Sedangkan Pokmas Usaha Produksi hanya ada di Dusun Centeng. dan Perangkat desa. di samping dapat bertindak dengan cepat jika ada pelanggar yang melakukan pengambilan SDL dengan alat-alat tangkap yang merusak di wilayah konservasi tersebut. Dipilihnya anggota dari ‘Dusun’ Air Kelat adalah karena mereka tinggal paling dekat dengan Pulau Hantu yang merupakan titik program upaya konservasi terumbu karang di Desa Limbung. Selain itu.

Program COREMAP fase I juga memberikan ketrampilan membuat kue-kue dan ternak ayam sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. khususnya Desa Limbung). namun implementasi ke desa belum dapat terlaksana karena terbentur dengan proposal dan dana (lihat BAB III tentang implementasi program COREMAP fase II di Kabupaten Lingga. Seiring dengan masuknya otonomi daerah. pelaksanaan program COREMAP fase II ini lebih melibatkan stakeholders tingkat kabupaten. walaupun tidak secara 34 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Selain itu adalah LSM dari tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang diharapkan berhubungan langsung dengan masyarakat Desa Limbung sebagai fasilitator. Dinas-dinas yang banyak terlibat dengan program COREMAP fase II antara lain adalah Dinas SDA. tertama anggota Pokmas.biasa mereka lakukan. PU. Lingkungan. beberapa kegiatan pelatihan ketrampilan dan praktek langsung diberikan kepada masyarakat Desa Limbung seperti pengembangan budidaya kepiting bakau (rajungan) dengan menggunakan karamba apung dan pembuatan krupuk ikan. maka kegiatan usaha bersama tampaknya masih sulit dilakukan. Pada masa COREMAP fase I. Meskipun pada awalnya berbagai ketrampilan tersebut dimanfaatkan penduduk. Selain program COREMAP. namun hanya untuk kepentingan rumah tangganya sendiri. Tahun 2006 proyek COREMAP fase II mulai diimplementasikan kembali di Desa Limbung. Hanya sebagian anggota yang masih memanfaatkan ketrampilan tersebut. dan aparat keamanan seperti polisi dan angkatan laut. Di luar pemanfaatan sumber daya laut. Beberapa program telah berjalan. Ketrampilan tersebut sebenarnya sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan. namun karena adanya ‘kevakuman’ pada kegiatan program COREMAP berdampak terhadap berhentinya usaha masing-masing Pokmas dan ketrampilan yang sudah mereka peroleh tidak dipergunakan lagi. yaitu Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Lingga. Program-program pemerintah tersebut. pada tahun 2007 mulai masuk beberapa program pembangun yang berasal dari pemerintah dengan dana APBD. Di samping itu juga ada pelatihan yang diberikan di luas desa. Yaitu ketrampilan membuat abon ikan. Masyarakat Desa Limbung umumnya bila tanpa bimbingan dan pengawasan.

Khusus Desa Limbung rencananya akan dilaksanakan pembangun fisik jambatan Dusun Sranggas dan semenisasi jalan di Dusun Sinempek pada tahun 2008. 4) program Polindes dan Pustu. bangunan sekolah setelah jadi akan melibatkan dinas pendidikan dalam mencari staf pengajar. Namun demikian.3. Selain pembangunan fisik. Dengan mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. KEPENDUDUKAN Penduduk merupakan sumber daya yang sangat penting. Program pembangunan mandiri dimulai tahun 2007 dengan dana 200 juta per desa. Dinas lain seperti kesehatan dan pendidikan hanya terkait setelah bangunan selesai dan melanjutkan program ke dalam agar berjalan seperti yang diharapkan. dan 5) program budidaya ikan kerapu tiger. Rencana dari Desa Limbung dana tersebut akan dibagi per dusu dan juga digunakan untuk menggerakkan kegiatan PKK. penduduk justru merusak sumber daya alam yang berdampak negatif bagi kehidupan mereka dan generasi berikutnya. uraian menekankan pada K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 35 . Misalnya pembangunan masyarakat dalam mengelola Pustu dan Polindes akan melibatkan staf dari Dinas Kesehatan. Dalam pelaksanaan program lain tersebut di atas juga akan melibatkan dinas-dinas yang terkait dengan program tersebut. Dari segi kuantitas. 2. tidak jarang akibat kebutuhan yang sangat mendesak maupun untuk tujuan komersial. mereka dapat mengelola sumber daya alam dan lingkungannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena program tersebut cenderung ke arah pembangunan fisik. Antara lain program tersebut adalah: 1) Program Pembangunan Mandiri (PPM).langsung berkaitan dengan pengelolaan SDL namun tujuannya adalan untuk kesejahteraan masyarakat. 2) program air bersih. maka stakeholders yang banyak terkait adalah Dinas Pekerja Umum (PU). PPM juga menganggarkan program simpan-pinjam untuk kelompok perempuan dengan dana 60 juta per desa. karena dengan kemampuannya. 3) program sekolah dan perumahan guru. program perbaikan dermaga. Stakeholders yang terkait pada kegiatan ini umumnya adalah Pemda adalah Dinas PU. pada bagian ini diuraikan tentang kondisi kependudukan di daerah penelitian yang mencakup aspek kuantitas dan kualitas penduduk.

Selain karena adanya kelahiran dan kematian. pembahasan menekankan pada tingkat pendidikan dan keadaan ketrampilan responden. Desa Limbung. Rasio jenis kelamin yang sebesar 113. faktor migrasi ke luar desa diperkirakan juga berpengaruh terhadap perubahan jumlah penduduk di Desa Limbung.jumlah.516 perempuan. terdiri dari 220 laki-laki dan 191 perempuan. banyaknya penduduk produktif dan berjenis kelamin perempuan memberikan indikasi bahwa pelaksanaan COREMAP harus melibatkan perempuan. Sedangkan jumlah responden menurut hasil survei adalah 411 jiwa.334 laki-laki dan 2.516 jiwa (Catatan di Kantor Kecamatan Lingga Utara). atau lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk desa ini pada tahun 2005 ( 2. yang sebesar 115. yaitu 36 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pelaku migrasi ke luar desa biasanya penduduk usia muda yang bertujuan untuk bekerja.559 jiwa). komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Jumlah dan Komposisi Penduduk Uraian tentang jumlah dan komposisi penduduk sangat bermanfaat untuk menganalisis berbagai fenomena demografi dan implikasi yang ditimbulkannya sekaligus memberikan masukan kepada pengambil kebijakan untuk perencanaan dan monitoring kegiatan-kegiatan yang akan dan telah dilakukan oleh COREMAP. biasanya di sektor pemerintahan. yaitu 1. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Angka ini sedikit lebih rendah dari rasio jenis kelamin hasil survei terhadap 100 rumah tangga di Dusun Centeng dan Senempek. jumlah penduduk Desa Limbung sebanyak 2. serta besar anggota rumah tangga.3. 2. karena persentase penduduk sampel yang berumur 0-14 tahun adalah < 40 persen. Untuk aspek kualitas penduduk. Struktur umur penduduk sampel (responden) di Desa Limbung cenderung mengarah struktur penduduk dewasa. Sebagai contoh. Jumlah penduduk Desa Limbung adalah tertinggi ke dua dibandingkan dengan enam desa lainnya di Kecamatan Lingga Utara. menggambarkan bahwa setiap 113 laki-laki terdapat 100 perempuan.1. Pada tahun 2008.

sehingga mereka dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka yang selanjutnya berkontribusi positif dalam upaya peningkatan kesejahteraan rumah tangga. Jumlah penduduk usia muda yang semakin sedikit mempengaruhi rendahnya angka beban ketergantungan (dependency ratio). 2.0 persen. yang berarti setiap satu orang usia belum/tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) ditanggung oleh dua orang usia produktif (15-64 tahun). hasil survei menunjukkan. khususnya dialami oleh rumah tangga sampel. penduduk yang berumur 50 tahun ke atas biasanya sudah mulai mengurangi frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap. sedangkan kelompok angkatan kerja lainnya adalah mereka yang baru saja masuk dalam pasar kerja (15-24 tahun) dan mereka yang berumur 50 ke atas. Semakin terdidik dan terampil. Dalam konteksnya dengan wilayah pesisir.hanya sebanyak 30. Kelompok ini merupakan tenaga kerja potensial untuk pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Penurunan persentase penduduk pada kelompok usia tersebut menggambarkan turunnya jumlah kelahiran di desa penelitian. persentase penduduk pada kelompok usia produktif utama (prime working age group)5 kira-kira 36. Sebanyak 87.51. Diperhatikan menurut jenis kelamin. di mana sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan. Kualitas penduduk sampel (responden) di Desa Limbung masih termasuk rendah. maka kualitas penduduk semakin baik. Lebih lanjut. maka keterlibatan perempuan dalam pelaksanaan COREMAP. khususnya kegiatan pemberdayaan masyarakat.6 persen responden hanya berpendidikan SD ke bawah. Dengan kondisi seperti ini. persentase responden perempuan pada kelompok usia produktif utama sedikit lebih tinggi daripada laki-laki. kelompok usia produksi utama adalah mereka yang berumur antara 25-49 tahun.5 persen. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 37 .9 persen (lihat Lampiran Tabel 2. Pendidikan dan Ketrampilan Tingkat pendidikan dan ketrampilan merupakan salah satu indikator untuk melihat kualitas penduduk. menjadi penting dilakukan. Angka ini lebih rendah dari hasil survei pada tahun 2006 yang masih mencapai 34.3.1).2. yaitu hanya sebesar 0. bahkan 5 Dalam tulisan ini.

Kabupaten Lingga.1.sebagian besar dari kelompok ini adalah mereka yang tidak/atau belum menamatkan SD. Meskipun termasuk kelompok ini adalah responden anak-anak yang masih berstatus belum sekolah. Angka ini lebih tinggi dari pada responden pada kelompok umur sama yang menamatkan pendidikan SD maupun SMP. 2008 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. persentase penduduk dewasa dan orang tua yang tidak berpendidikan cukup besar. tetapi tetap tinggal dan bekerja di kota. Menurut sejumlah informan. pada umumnya mereka tidak kembali lagi ke desa. Desa Limbung.3 persen 38 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan. Selepas menamatkan jenjang pendidikan menengan atas dan tinggi di kota. rendahnya tingkat pendidikan penduduk Desa Limbung tidak terlepas dari adanya fenomena migrasi ke luar desa yang dilakukan oleh penduduk berpendidikan tinggi. Selama dua tahun terakhir terjadi tren peningkatan persentase responden yang menamatkan pendidikan SMP ke atas. kondisi pendidikan penduduk Desa Limbung menunjukkan pergeseran ke arah yang lebih baik. PPK-LIPI 2007 Walaupun masih termasuk rendah.6 persen pada tahun 2006 (Romdiati dkk. Gambar 2. di antara responden yang tidak berpendidikan (belum/tidak sekolah) terdapat sebanyak 83. Sebagai contoh diperlihatkan pada Lampiran Tabel 2. 2008) menjadi 12. yaitu dari 11.9 persen berumur 19 tahun ke atas.

Meskipun pada pelaksanaan COREMAP fase I pernah dilakukan pelatihan industri rumah (misalnya membuat kerupuk dan abon ikan. karena di dusun ini terdapat industri rumah tangga pengolahan sagu yang hasilnya dipasarkan ke luar daerah. Sedangkan perempuan di Desa Limbung pada umumnya mempunyai ketrampilan di bidang industri rumah tangga. Selain kualitas pendidikan yang masih rendah. karena sejak setahun yang lalu (tahun 2007) di Desa Limbung tersedia gedung SMP yang merupakan peningkatan status dari SMP terbuka menjadi SMP Negeri. tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol di semua jenjang pendidikan. persentase pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan survei ini menggambarkan bahwa kesenjangan jender tidak dijumpai di bidang pendidikan.berdasarkan hasil survei BME tahun 2008. Pada jenjang pendidikan SD ke bawah. ketrampilan membuat bubu diperkrakan akan semakin hilang di masa-masa yang akan datang. Kondisi pendidikan responden laki-laki cenderung lebih baik dibandingkan perempuan. ketrampilan tersebut tidak nampak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. karena nelayan lebih senang membeli bubu (ketam) siap pakai. Sedangkan ketrampilan mengolaj tepung sagu hanya dikuasai oleh sebagian laki-laki di Dusun Senempek membuat tepung sagu. kue. Jika pada saat penelitian ini ada sebagian kecil perempuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 39 . ketrampilan penduduk juga terbatas. Membaiknya kondisi pendidikan ini kemungkinan dipengaruhi oleh semakin luasnya akses penduduk terhadap fasilitas pendidikan. Membuat bubu. khususnya untuk jenjang pendidikan menengah ke bawah. seperti membuat kerupuk ikan. Jenis ketrampilan lain yang dikuasai oleh perempuan adalah membuat atap rumbia. dan jaring merupakan jenis ketrampilan yang dikuasai dan diterapkan oleh masyarakat di Desa Limbung. persentase responden laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. demikian pula pada pendidikan SMA ke atas. dan mengopek (pengolahan daging) ketam. kelong. kue) dan peternakan ayam. Namun demikian. Ketrampilan yang dikuasai oleh responden adalah jenisjenis ketrampilan yang berhubungan dengan kegiatan kenelayanan dan pengolahan SDL. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP.

Pekerjaan Pekerjaan dalam tulisan ini diartikan sebagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan/atau jasa.3. dan status pekerjaan. Namun demikian. kegiatan ini semata-mata dilakukan karena mereka sudah mendapatkan bantuan modal usaha yang jumlahnya terhitung sangat kecil (Rp 100. mencapai 6. Persentase responden yang menganggur dan tidak mencari kerja. yaitu penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Sedangkan mereka yang sekolah hanya hanya sekitar seperempatnya.3. yang dalam istilah ketenagakerjaan disebut dengan penganggur putus asa. jenis ketrampilan yang diberikan sudah dikuasai oleh peserta. jenis. Mereka beranggapan bahwa konsep mencari pekerjaan diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan di luar pekerjaan kenelayanan. 2. ketika ditanyakan kepada beberapa penganggur dan tokoh masyarakat diperoleh informasi bahwa ‘penganggur putus asa’ tersebut terkadang juga pergi melaut untuk membantu orang tua. Peningkatan jenis ketrampilan maupun kualitasnya belum terlihat di kalangan masyarakat Desa Limbung. hampir separuhnya mempunyai kegiatan utama bekerja (lihat Gambar 2.2). Dari sebanyak 348 responden yang berunur 10 tahun ke atas. Meskipun COREMAP fase II juga memberikan pelatihan kepada Pokmas Jender.9 persen. Sebelum membahas tentang pekerjaan penduduk.yang tergabung dalam Pokmas Jender membuat kerupuk ikan dan kue. Pembahasan mengenai pekerjaan meliputi pekerjaan utama dan tambahan yang dbedakan menjadi lapangan. dikemukakan terlebih dahulu status kegiatan ekonomi penduduk usia kerja. karena pekerjaan sebagai nelayan selalu tersedia tanpa harus dicari.000 per kelompok yang beranggotakan 4 orang). 40 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . atau hampir sama dengan responden yang mempunyai pekerjaan mengurus rumah tangga.

Gambar 2.2.

Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di antara penduduk yang bekerja, kira-kira sebesar 62 persen mempunyai pekerjaan utama pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap (Gambar 2.3). Persentase responden yang bekerja di sektor tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan hasil survei tahun 2005 (58 persen). Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi adanya beberapa perempuan yang mulai tertarik untuk melaut. Beberapa faktor yang mempengaruhi perempuan melakukan pekerjaan melaut adalah ketersediaan bubu ketam berukuran kecil yang mudah digunakan oleh perempuan, pemasaran mudah, wilayah tangkap di sekitar tempat tinggal mereka sehingga dapat mengunakan sampan untuk jangka waktu yang sangat singkat (kira-kira satu jam). Selain mencari ketam, sebagian nelayan perempuan, khususnya di dusun Senempek juga melaut untuk mencari gonggong.

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 41

Gambar 2.3. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di luar perikanan tangkap, sektor perdagangan merupakan lapangan pekerjaan yang cukup banyak menyerap tenaga kerja responden, atau lebih tinggi dari lapangan pekerjaan industri pengolahan. Temuan ini berbeda dengan kondisi pada dua tahun sebelumnya, di mana sektor perdagangan menyerap 5,8 persen, sedangkan sektor industri pengolahan sebesar 17,3 persen. Penurunan persentase responden yang bekerja di sektor industri tampaknya tidak sesuai dengan adanya peningkatan kegiatan sektor industri pengolahan (khususnya pengolahan kepiting/ketam), ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah industri kecil yang memproduksi daging ketam. Jika pada tahun 2006 di Desa Limbung hanya terdapat satu PT Ketam, pada saat penelitian ini berlangsung (2008) bertambah menjadi tiga buah (walaupun jumlah tenaga kerja hanya berkisar 5-8 orang). Bekerja pada sektor industri pengolahan ketam biasanya dilakukan oleh perempuan dengan sistem borongan, sehingga bukan merupakan tenaga tetap. Sistem kerja seperti ini, tenaga kerja sangat mudah untuk masu dan

42 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

keluar dari pekerjaan. Dengan demikian besar kemungkinan menurunnya persentase responden yang bekerja pada lapangan pekerjaan industri dalam dua tahun terakhir ini adalah karena sebagian dari mereka tidak lagi bekerja di sektor tersebut. Di antara mereka diperkirakan beralih bekerja di sektor perdagangan (usaha kios kecil) maupun tidak bekerja lagi. Lapangan pekerjaan perkebunan dan jasa kemasyarakatan tidak menunjukkan perubahan selama kurun waktu 2006-2008. Jenis perkebunan di Desa Limbung adalah kebun karet yang sudah berumur cukup tua. Pemilik kebun karet pada umumnya warga keturunan Tionghoa, meskipun beberapa penduduk etnis Melayu juga mempunyai kebun karet, walau tidak luas. Sedangkan lapangan pekerjaan jasa kemasyarakatan adalah pekerjaan di sektor pemerintahan desa dan pendidikan. Sebagai wilayah pesisir dengan sektor perikanan tangkap sebagai mata pencaharian utama, maka jenis pekerjaan nelayan ditekuni oleh hampir dua-pertiga dari total anggota rumah tangga sampel (Gambar 2.4). Pekerjaan sebagai nelayan dilakukan setiap hari pada musim teduh (gelombang laut dalam keadaan tenang), bahkan dua kali per hari jika wilayah tangkap tidak jauh dari tempat tinggal. Pada musim pancaroba nelayan tetap melaut setiap hari, tetapi harus mencermati keadaan angin kencang yang datangnya tiba-tiba dalam waktu sebentar. Jenis pekerjaan sebagai nelayan jarang dilakukan pada musim angin kencang/gelombang kuat, dan bagi nelayan yang melalut biasanya hanya di wilayah pantai. Apabila dirinci lebih lanjut, temuan survei memperlihatkan, nelayan dengan alat tangkap jaring merupakan jenis pekerjaan terbanyak (ditekuni oleh 51 persen dari 96 orang nelayan) dibandingkan dengan nelayan dengan alat bubu (33,3 persen) dan nelayan kelong (15,6 persen). Namun demikian, pengelompokan nelayan menurut jenis alat tangkap tersebut hanya menggambarkan jenis alat tangkap utama, karena pada umumnya nelayan juga mengoperasikan alat tangkap lainnya selain alat tangkap utama (misalnya selain menggunakan jaring, mereka juga menggunakan bubu ketam, demikian sebaliknya). Hanya beberapa nelayan kelong (bilis) yang ketika sedang musim bilis tidak menggunakan alat tangkap lain, karena kelong bilis bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 43

Sedangkan persentase responden dengan jenis pekerjaan sebagai tenaga industri adalah 9. Hal ini karena tenaga penjualan di Desa Limbung merupakan pedagang-pedagang skala sangat kecil yang dilakukan di rumah. karena mereka hanya menggunakan sampan atau pompong berkekuatan mesin kecil. dan tenaga penjualan di kios milik sendiri. banyak dilakukan oleh laki-laki. biasanya dengan anak mereka. Hanya sedikit perempuan yang melakukan jenis pekerjaan ini. biasanya menggunakan bubu ketam dan melaut di kawasan tidak jauh dari tepi pantai. Sedangkan di luar jenis pekerjaan nelayan. pencari kayu. biasanaya mereka pergi ke wilayah tangkap bersama dengan nelayan lain. atau sejalan dengan lapangan pekerjaan perdagangan yang juga berada pada urutan ke dua. 44 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tetapi juga tenaga industri anyaman atap rumah dan makanan (kue yang dititipkan di kios orang lain maupun milik sendiri). Walaupun bekerja sendiri. Sedangkan pekerjaan industri pengolahan ketam yang memerlukan ketelitian juga hanya dilakukan perempuan. Sebagian besar dari status pekerjaan ini adalah nelayan yang melaut sendiri.7 persen. Jenis pekerjaan sebagai tenaga industri dan penjualan lebih banyak dilakukan oleh perempuan daripada laki-laki (lihat Lampiran Tabel 2. Hanya sebagian kecil nelayan yang bekerja dibantu oleh anggota rumah tangganya. Berdasarkan status pekerjaan. sehingga masih dapat melakukan pekerjaan domestik. karena mengindikasikan adanya stereotipi perempuan.2).menghasilkan setiap hari ketika musim teduh pada saat bulan gelap (kira-kira 20 hari per bulan). misalnya nelayan. hampir tiga-perempat responden bekerja/berusaha sendiri. Sebaliknya jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik. Termasuk mereka bukan hanya yang bekerja di sektor industri pengolahan ketam. Jenis pekerjaan ke dua yang dilakukan oleh responden adalah sebagai tenaga penjualan. mereka yang bekerja/berusaha meliputi penyadap karet.

Desa Limbung. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 45 . tergantung pada produksi hasil tangkapan nelayan setempat dan pasokan dari daerah lain. PPK-LIPI 2007 Responden yang bekerja dengan status pekerjaan sebagai buruh/karyawan pada umumnya mereka yang bekerja sebagai buruh industri pengolahan daging ketam. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. juga pada hari minggu.4. dan beberapa guru serta pamong desa. Untuk status pekerjaan sebagai pekerja keluarga hanya sekitar 3 persen. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. dengan jam kerja antara 6-8 jam. Buruh industri pengolahan ketam dilakukan setiap hari. pada umumnya mereka adalah ART yang membantu bekerja pada lapangan pekerjaan nelayan dan perdagangan. 2008. Kabupaten Lingga.Gambar 2.

5 persen responden yang memiliki pekerjaan tambahan. Selain menjadi lapangan pekerjaan utama. tampaknya justru menjadi lapangan pekerjaan tambahan oleh sebagian responden (20. Desa Limbung.3).6 persen dari total responden yang mempunyai pekerjaan tambahan). sebagian kecil responden juga mempunyai pekerjaan tambahan. Pentingnya sub-sektor pertanian pangan dan tanaman keras (perkebunan) sebagai lapangan pekerjaan tambahan mengindikasikan adanya potensi ke arah pengembangan mata pencaharian alternatif pada dua sub-sektor ini. PPKLIPI 2007 Selain melakukan pekerjaan utama.5. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.9 persen dari 155 responden yang bekerja).Gambar 2. Kemungkinan besar termasuk kelompok tersebut antara lain responden yang pekerjaan utamanya di sektor perdagangan (biasanya warga keturunan Tionghoa) yang mempunyai usaha kelong.6 persen) responden sebagai lapangan pekerjaan utama (lihat Gambar 2. yaitu sebanyak 34 responden (21. 2008.6 persen). Kabupaten Lingga. perikanan tangkap juga menjadi lapangan pekerjaan tambahan bagi sekitar 26. 46 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . walaupun perlu dibarengi dengan upaya-upaya peningkatan ketrampilan SDM dan pengelolaan usahatani. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. Sedangkan sektor pertanian pangan yang hanya diminati oleh sangat sedikit (0. Hal sama juga untuk sektor perkebunan (17.

maka rumah tangga bersangkutan juga sejahtera. serta kondisi permukiman dan sanitasi lingkungan. Sedangkan aset non produksi mencakup rumah tinggal dan barang-barang berharga yang dimiliki oleh rumah tangga. Ukuran mesin motor cukup beragam. Keadaan ini menggambarkan adanya perbaikan kesejahteraan rumah tangga nelayan. terdapat kira-kira separuh rumah tangga responden mempunyai perahu tanpa motor (sampan). dan alat transportasi. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 47 . sehingga dapat dibelanjakan untuk aset rumah tangga non-produksi maupun untuk pemenuhan semua kebutuhan rumah tangganya. Setiap rumah tangga pemilik perahu motor hanya mempunyai satu buah. salah satu di atanranya dapat diketahui dari pemilikan aset produksi maupun non produksi. Informasi yang diperoleh dari beberapa nelayan menunjukkan adanya pemilikan dua jenis armada tangkap (perahu motor dan tanpa motor/sampan) pada beberapa rumah tangga nelayan yang kondisi ekonominya baik. lahan/tanah. Dengan pemilikan aset yang banyak. semuanya berupa perahu motor dalam. Pemilikan perahu motor di Desa Limbung memperlihatkan tren yang meningkat selama tahun 2006-2008.1. Aset produksi antara lain berupa armada dan alat-alat penangkapan.4. Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu rumah tangga yang mempunyai banyak aset produksi. Pemilikan Aset Rumah Tangga Data pemilikan aset produksi dan bukan produksi berdasarkan hasil survei dapat dilihat pada Tabel 2. walaupun tidak banyak. sedangkan rumah tangga yang mempunyai perahu motor sebanyak 45 persen.2. maka perahu motor merupakan aset produksi yang sangat berharga bagi suatu rumah tangga nelayan. Kesejahteraan Untuk mengetahui gambaran kondisi kesejahteraan rumah tangga. Desa Limbung yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan sumber kehidupan pada sumber daya laut. tetapi kebanyakan berukuran 175 dan 195. misalnya nelayan kelong bilis. Berdasarkan hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi. suatu rumah tangga mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar.3.

merupakan wilayah penangkapan ketam dengan 48 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Desa Limbung.0 100 Bubu 12.0 100 Ternak (sapi/kambing) 4.0 100 Kendaraan bermotor 22.0 100 Karamba 3.0 54.0 100 Perahu motor 41.0 45. kecuali jaring yang turun tajam. Sepanjang wilayah pantai.1. yaitu dari 89 persen dari 100 rumah tangga responden menjadi 45 persen. Pengamatan di lokasi wilayah penangkapan (fishing ground) memperlihatkan fenomena tersebut.0 100 VCD 35.0 4. meningkat sangat tajam menjadi 39 persen.0 100 Jaring 89. 2006 dan 2008. Kabupaten Lingga Jenis Pemilikan Status Pemilikan 2006 2008 n Asset produktif perikanan Perahu tanpa motor 48. PPK-LIPI 2007 Membaiknya kesejahteraan rumah tangga nelayan juga terlihat dari meningkatnya persentase pemilikan alat-alat tangkap selama periode dua tahun terakhir (2006-2008).0 45. terutama di Dusun Centeng dan Sinempek.0 100 Perhiasan 46. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan alat tangkap dari jaring.0 39.0 100 Asset produktif lainnya 100 Lahan 18.0 100 100 Asset rumah tangga lain Rumah 92. Pada tahun 2006.0 100 TV 47.0 7.0 57.0 100 Parabola 41.0 24.0 3.0 98.0 49.0 21. persentase responden yang memiliki bubu hanya 12 persen.0 66. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset.0 59. demikian pula hasil wawancara mendalam dengan beberapa nelayan.0 100 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.0 26.0 100 Kelong bilis 15. khususnya jaring ketam. ke alat tangkap bubu ketam.0 100 Alat transportasi 7.Tabel 2.

sedang Suku Melayu berperan sebagai pekerja (buruh sadap). Dalam dua tahun terakhir.6 persen) mempunyai bubu sebanyak 50 buah.1 persen yang mempunyai bubu dengan jumlah kurang dari 25 buah. Dengan demikian.1 juga memperlihatkan. Jumlah pemilikan barang elektronik adalah satu buah untuk setiap rumah tangga. semua jenis aset non-produksi semakin banyak dimiliki oleh rumah tangga sampel. dan hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan/menumpang parabola milik tetangganya. Peningkatan pesat terlihat pada rumah tangga yang memiliki televisi dan VCD. Peningkatan pemilikan televisi tersebut merupakan faktor yang kondusif terhadap penyebarluasan informasi pengelolaan terumbu karang. serta parabola. tergantung pada luas kelong. Keadaan kesejahteraan rumah tangga Desa Limbung dilihat dari aset non-produksi cenderung menunjukkan tren meningkat. Modal untuk membuat kelong bilis yang mencapai jutaan rupiah. Pada umumnya rumah tangga yang memiliki televisi juga memiliki parabola. kenaikan persentase responden pemilik kelong bilis tersebut merupakan indikasi adanya peningkatan kondisi kesejahteraan sebagian nelayan di Desa Limbung. rumah tangga yang memiliki alat tangkap berupa kelong bilis juga meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 2006-2008.6 persen) yang memiliki 92 bubu ketam. tetapi harus dikemas dalam bentuk hiburan karena jenis siaran ini yang cenderung K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 49 . Data hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi tahun 2008 memperlihatkan.8 persen). dan satu rumah tangga responden (2. Hanya ada sekitar 23. Kondisi ini berkaitan dengan jumlah pemilikan bubu oleh rumah tangga nelayan yang umumnya mencapai puluhan buah. Rumah tangga yang memiliki lahan menunjukkan tren meningkat. kira-kira seperempatnya (25. meskipun masih dapat menghasilkan getah. meskipun pada tahun 2008 jumlahnya hanya kira-kira seperempatnya dari 100 rumah tangga yang menjadi sampel penelitian ini. Tabel 2.menggunakan bubu yang jumlahnya cukup banyak. Lahan tersebut umumnya berupa lahan kebun karet yang umumnya telah berusia tua dan perlu peremajaan. Pemilik kebun karet pada umumnya adalah penduduk desa keturunan Tionghoa. Selebihnya adalah rumah tangga yang mempunyai bubu antara 25-49 buah (48.

Sumber air bersih berasal dari mata air yang dialirkan ke beberapa hidran dan bak penampungan air ke permukiman penduduk. sumber air bersih. Sedangkan rumah tangga yang memiliki dua unit perhiasan sekitar seperempatnya (26. demikian pula lantai rumah. Sebagian rumah tinggal di Desa Limbung berdiri di atas daratan yang langsung menempel pada permukaan tanah maupun berupa rumah panggung. Hanya sebagian kecil rumah yang dindingnya terbuat dari tembok atau papan kayu berkualitas baik.5). dan beratap seng. Selebihnya. Setiap rumah tangga memiliki satu buah rumah dengan kondisi bangunan yang umumnya sederhana. kecuali beberapa rumah milik penduduk yang berkecukupan. Kondisi Perumahan dan Sanitasi Lingkungan Indikator kesejahteraan dari aspek perumahan dan sanitasi lingkungan meliputi kondisi fisik rumah. dan sebagian lainnya terbuat dari anyaman sejenis daun pandan. Menurut pengamatan dan wawancara dengan beberapa informan. Sedangkan pemilikan perhiasan juga meningkat (Tabel 2.1). kira-kira sepertiga (32.diminati oleh penduduk di daerah penelitian. Sebagian rumah lainnya. Tren meningkat terkait dengan pemilikan aset non-produksi juga terjadi untuk jenis rumah. Kondisi fisik rumah cenderung masih sederhana. atau lebih tinggi dari rumah tangga yang hanya memiliki satu unit perhiasan. sarana mandi-cucikakus. tetapi tampaknya kurang berhasil karena 50 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yakni 20. memberikan indikasi adanya perbaikan kesejahteraan. dan tempat pembuangan air limbah rumah tangga. kondisi bangunan rumah dalam dua tahun terakhir ini cenderung tidak ada perubahan.7 persen dari 49 rumah tangga responden) memiliki sebanyak tiga unit. Bak penampungan air tersebut dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kimpraswil. berlantai keramik. Sedangkan atap rumah pada umumnya terbuat dari seng. Hampir semua rumah tangga responden mempunyai rumah. walau sebagian rumah tangga responden memiliki rumah yang kondisi bangunan lebih baik dari rumah kebanyakan. Pada tahun 2008. berupa rumah panggung yang didirikan di atas permukaan air laut. terutama yang berada di pinggir pantai.4 persen memiliki perhiasan antara 4-10 unit. Dinding rumah pada umumnya terbuat dari papan.

kesalahan tehnis penempatan bak penampungan yang menyebabkan air tidak bisa mengalir ke dalam bak tersebut. Sedangkan saluran pembuangan limbah rumah tangga juga jauh dari standar kesehatan. Limbah cair. juga mandi dan cuci. tetapi pada musim kemarau hidran juga kering. maupun limbah padat dibuang di laut atau di pekarangan rumah. Tempat MCK umum yang tersedia di Dusun Air Brani dan Seranggas. yaitu air bekas mencuci dan mandi. Kepedulian penduduk terhadap lingkungan yang belum baik juga terlihat dari kepemilikan kakus yang tidak higienis. Penduduk memanfaatkan hidran air bersih yang telah ada sejak dua tahun sebelumnya yang didanai Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM Infrastruktur Pembangunan (PKPS-IP). Kondisi sanitasi lingkungan seperti ini mungkin bukan berkaitan dengan kesejahteraan penduduk. selebihnya penduduk memanfaatkan kakus/WC cemplung milik sendiri yang limbahnya langsung dibuang ke laut atau anak sungai yang berada di dekat rumah. tetapi tampaknya berkaitan dengan belum baiknya pengetahuan mereka tentang kesehatan lingkungan. Sebagian rumah tangga memiliki sumur gali dengan kondisi sangat sederhana sebagai sumber air minum. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 51 .

52 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

sejalan dengan berhentinya COREMAP I. COREMAP mengimplementasikan berbagai program di beberapa lokasi. baik daerah pesisir maupun kepulauan. daerah penangkapan SDL. 6 D Fase pertama seharusnya berakhir pada tahun 2004. yang kemudian dimulai lagi dengan pembentukan Pokmas-Pokmas pada COREMAP II. Namun demikian. COREMAP I berlangsung antara tahun 1999 hingga pertengahan tahun 20036. program ini telah berlangsung sejak fase pertama namun terhenti karena adanya perubahan administrasi struktur pemerintahan di tingkat provinsi. kegiatan-kegiatan tersebut juga berhenti. sedangkan COREMAP II pada Pemerintah Daerah Tingkat II Bupati Kabupaten Lingga. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 53 .2009. dan penghitungan ekonomi dari pengambilan SDL. namun sejak otonomi daerah masuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau.BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA alam upaya meningkatkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan pelestarian terumbu karang di perairan Kabupaten Lingga. COREMAP ditujukan untuk masyarakat nelayan dan keluarganya yang diperkirakan mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan sumber daya laut. Perbedaan antara COREMAP I dan II terletak pada aspek pertanggungjawaban teknis maupun non-teknis. pembangunan pondok informasi dan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pemetaan lokasi terumbu karang. khususnya ekosistem terumbu karang. Kegiatan yang sudah berjalan pada COREMAP I adalah kegiatan pengawasan terhadap daerah konservasi terumbu karang yang ditetapkan di Pulaua Hantu. Ketika COREMAP I diimplementasikan di Desa Limbung. Pertanggungjawaban COREMAP I berada di BAPPEDA tingkat provinsi. Perubahan administrasi pemerintahan ini mempengaruhi kegiatan COREMAP I yang terhenti sebelum waktunya. Kabupaten Lingga masih termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Riau. sedangkan COREMAP II antara tahun 2005. Di Desa Limbung. Pada dasarnya.

dan memberi masukan terhadap segala bentuk perencanaan dan kegiatan yang menjadi tujuan dan target program COREMAP II kepada PIU (Project Implementation Units). MCS (Monitoring. Controlling. Selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga. 3. Banyak 54 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . PELAKSANAAN COREMAP: PERMASALAHAN DAN KENDALA Program nasional COREMAP di Kabupaten Lingga dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat. and Surveillance) dan PA (Public Awarenees-penyadaran masyarakat). Melalui pendekatan ini diharapkan masyarakat berpartisipasi secara aktif pada setiap program yang dilaksanakan. 59/KPTS/VI/2005. Pada SK bupati tersebut tercantum bahwa Ketua KPD adalah Kepala BAPPEDA Kabupaten Lingga yang beranggotakan staf dari berbagai instansi. semua komponen COREMAP talah melaksanakan kegiatan. Komponen-komponen COREMAP yang bertugas untuk mengimplementasikan program tersebut adalah CRITC (Coral Reef Information and Training Center). Tugas KPD adalah mengarahkan. mengkordinasikan. Semua komponen tersebut dikoordinir oleh seorang yang duduk sebagai Project Implementation Units (PIU). dalam hal ini Departemen Perikanan dan Kelautan. yaitu:(1) pelaksanaan COREMAP di tingkat kabupaten dan tingkat desa dengan menekankan pada aspek permasalahan dan kendala.Pada bagian ini dikemukakan implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga dan implikasinya terhadap kehidupan masyarakat di lokasi progam. tetapi baru sebagian kecil dari yang semestinya dilakukan. Ada dua pokok bahasan yang dikaji. Pelaksanan COREMAP II di Kabupaten Lingga diawali dengan kegiatan pembentukan KPD (Komite Pengarah Daerah) oleh Bupati Lingga yang tertuang pada Surat Keputusan Bupati Lingga No.1. Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanan COREMAP II adalah pengelolaan yang berbasis masyarakat. (2) pengetahuan dan partisipasi masyarakat di lokasi program dalam kegiatan COREMAP. PBM (Pengelolaan Berbasis Masyarakat). baik pada tingkat kabupaten sebagai pengelola maupun desa sebagai pelaksana program.

kendala yang dihadapi, baik menyangkut persoalan dana pendamping, personil pada setiap komponen di tingkat kabupaten maupun di lokasi program. 3.1.1. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten PIU (Project Implementation Units) Pengelola COREMAP II di tingkat kabupaten adalah PIU (Project Implementation Units)7 yang berperan untuk memfasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian COREMAP. Keberadaan PIU bertujuan agar program COREMAP dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip, kebijakan, prosedur, dan mekanisme COREMAP di lokasi program. Pada setiap kabupaten, PIU terdiri dari unsur-unsur DKP, BAPPEDA, KSDA atau Taman Nasional Laut terkait, serta instansi terkait lainnya. Kelompok ini secara khusus dibantu oleh tim konsultan yang akan membantu kegiatan ini hingga PIU dapat berjalan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Keputusan pembentukan PIU COREMAP II tercantum dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 yang dikeluarkan tanggal 23 Juni 2005. Struktur kepengurusan PIU meliputi berbagai unsur kepemerintahan dari Kabupaten Lingga yang terbagi menjadi lima komponen yang bertanggung jawab langsung kepada PIU, yaitu (1) Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia; (2) Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Masyarakat (CBM); (3) Penyadaran Masyarakat (PA); (4) Penegakan Hukum (MCS); dan (5) Pelatihan dan Informasi Terumbu Karang (CRITC). Setiap komponen terdiri dari koordinator yang membawahi anggota antara enam (6) hingga sembilan (9) orang yang berasal dari berbagai dinas terkait. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIU COREMAP II mempertanggungjawabkan pelaksanaan program

Untuk selanjutnya tulisan ini akan menggunakan singkatan PIU (Project Implementation Units) yang umum digunakan untuk proyek COREMAP yang didanai ADB.

7

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 55

kepada Bupati Lingga. Sesuai dengan surat keputusan tersebut, tugas PIU adalah8: 1. Melakukan implementasi aspek perencanaan dalam rangka memadukan perencanaan pembangunan kegiatan program COREMAP II Kabupaten Lingga dengan pembangunan daerah serta melakukan pemantapan perencanaan pembangunan yang ramah lingkungan di Kabupaten Lingga secara berkesinambungan; 2. Melaksanakan survei (penelitian/kajian) dan pelatihan dalam rangka pembangunan program COREMAP II; 3. Melaksanakan pengendalian, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan program COREMAP II; 4. Membuat laporan perkembangan secara berkala sesuai dengan tahapan perencanaan dan tahapan pengendalian, juga analisa terhadap program yang terkait dalam program COREMAP II Kabupaten Lingga. Telah dikemukakan di atas, selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga, tampaknya masih banyak kegiatan yang belum berjalan sesuai dengan rencana. Banyak faktor yang berpengaruh. Menurut beberapa anggota komponen, permasalahan ini terutama disebabkan oleh ketidakpedulian PIU
Tugas PIU yang tercantum pada SK Bupati tersebut sesuai dengan tanggung jawab dan fungsi PIU yang tertera dalam buku pedoman umum PBM COREMAP fase II (2007:30), yaitu (1) melaksanakan kebijakan dan rekomendasi Dewan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (CCEB/Coastal Community Empowerment Board); (2) mempersiapkan rencana kerja dan anggaran tahunan sesudah mendapat persetujuan CCEB; (3) mengkoordinasikan keseluruhan program; (4) mengelola anggaran, administrasi, pemantauan dan evaluasi; (5) mengadakan sosialisasi di wilayah program; (5) Menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan (keuangan dan fisik) ke NCU (National Coordinating Unit); (6) Mempersiapkan strategi untuk mengatasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan program; (7)Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan program.
8

56 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

dalam menjalankan fungsinya dalam mengkoordinasi dan memfasilitasi semua kegiatan yang semestinya dijalankan setiap komponen COREMAP. Lemahnya fungsi koordinasi PIU terhadap semua komponen, antara lain diindikasikan oleh sangat jarangnya pertemuan antar anggota komponen COREMAP untuk saling bersinergi dalam menjalankan tugasnya. Selama tiga tahun proyek COREMAP II berjalan, hingga saat ini (Mei 2008) pertemuan seluruh komponen COREMAP untuk koordinasi program dengan undangan dari PIU baru dua (2) kali. Akibatnya, masing-masing komponen cenderung berjalan sendiri-sendiri, bahkan komponen yang bukan berasal dari instansi teknis (KDA) cenderung tidak menjalankan kegiataan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini kemungkinan besar karena mereka tidak mengetahui dengan jelas tentang tugas pokok dan fungsinya dalam COREMAP II. Sebagai contoh, salah seorang anggota pelaksana COREMAP yang namanya tertulis dalam SK hingga penelitian BME ini berlangsung, belum mengetahui tentang keterlibatannya dalam kegiatan COREMAP di Kabupaten Lingga, karena belum pernah diberitahukan, apalagi diberi SK tentang kepenguruasan COREMAP. Ketua PIU yang juga merangkap lebih dari dua jabatan struktural disamping jabatan pada proyek lainnya tampaknya menghambat kegiatan-kegiatan COREMAP yang menjadi tanggung jawabnya. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kegiatan yang harus dilakukan oleh komponen-komponen pada COREMAP. Namun demikian, kendala-kendala di tingkat PIU tersebut tidak terlepas dari keterlambatan pencairan dana pendamping COREMAP yang bersumber dari anggaran APBD. Dikemukakan oleh seorang informan yang mengetahui aspek anggaran COREMAP, dana pendamping pada tahun 2006 baru dapat dicairkan pada bulan Oktober 2006, bahkan anggaran pada tahun 2007 baru turun dua bulan sebelum anggaran harus dipertanggungjawabkan. Sedangkan dana pendamping pada tahun 2008, hingga saat penelitian ini berlangsung (bulan Mei) belum ada tanda-tanda kapan akan turun. Keterlambatan dana pendamping yang jumlahnya tidak besar (10 persen) tersebut sangat berpengaruh terhadap pencapaian program, karena kegiatan COREMAP di lokasi program tidak bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 57

Komponen Penyadaran Masyarakat (Public Awareness) Pelaksanaan kegiatan pada komponen penyadaran masyarakat (public awareness) yang disingkat dengan kata PA bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan adanya perubahan kebijakan dan keputusan yang lebih baik tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut. yang praktis hanya berjalan antara 2-3 bulan. sedangkan 28 persen untuk kegiatan lainlain. 58 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan program nasional terumbu karang tersebut. PIU membawahi beberapa koordinator yang tercakup dalam empat komponen projek. sebanyak 40 persen untuk pembangunan infrastruktur. Terdapat empat indikator yang mendukung program ini. seperti telah dikemukakan di atas. pada umumnya tidak memenuhi persyaratan yang disepakati dalam lelang. Kegiatan ini melibatkan berbagai stakeholders di tingkat kabupaten maupun lokasi program. Pelaksanaan kegiatan COREMAP dengan sistem kejar target tersebut antara lain terlihat dari pekerjaanpekerjaan infrastruktur bantuan COREMAP yang dilakukan oleh pihak ke tiga.. Keadaan ini berdampak pada kualitas pekerjaan yang rendah. karena umumnya hanya dilakukan asal jadi sebagai akibat dana harus segera dipertanggungjawabkan. sebanyak 32 persen dari total COREMAP II di Kabupaten Lingga harus dikembalikan ke negara karena tidak terserap dalam kegiatan. Keterlambatan pencairan dana pendaping tersebut juga menyebabkan sebagian anggaran harus dikembalikan ke negara. Lebih tingginya penyerapan dana untuk pembangunan fisik daripada kegiatan lain-lain tersebut menggambarkan bahwa kegiatan COREMAP tampaknya belum menyentuh pada pembangunan non fisik yang secara langsung berpengaruh terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. Dalam implementasi pelaksanaan kegiatan COREMAP Kabupaten Lingga. Dari 68 persen yang terserap. yaitu: 1) Pelatihan pada kelompok sasaran di tingkat kabupaten maupun desa terpilih. menyebabkan kegiatan COREMAP dilakukan dengan sistem kejar target (terburu-buru).dilaksanakan sebelum dana pendamping turun.

dan computer untuk membuat dokumen aktivitas program COREMAP fase II. Implementasi kegiatan PA di Desa Limbung masih sangat terbatas. anggota komponen PA belum pernah melakukan pertemuan. 3) Faslitas komponen ini adalah peralatan seperti kamera video. Itupun tampaknya tidak dilakukan kontrol terhadap pelaksanaan di desa. kecuali hanya mengetahui bahwa salah satu kegiatan PA adalah melakukan distribusi poster dan brosur. Menurut informasi dari salah seorang anggota PA. projector video. Tanpa ada kontrol dari anggota komponen PA ke lokasi program. sehingga informan tersebut tidak mengetahui tugas dan fungsinya dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Contoh nyata dari permasalahan tersebut ditemukan di Desa Limbung. Poster dan brosur penyadaran masyarakat yang sudah beberapa bulan dipasang di Pondok Informasi (PI) sebelum penelitian BME Aspek Sosial K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 59 . Anggota dipilih dari unsur dinas pemerintah kabupaten dengan anggota berasal dari tingkat kecamatan sebagai lokasi program (yaitu Kecamatan Senayang dan Kecamatam Lingga Utara). Kegiatan di tingkat kabupaten masih terbatas pada distribusi poster dan brosur (leaflet) ke lokasi program.2) Pelakukan advokasi melalui mass media tentang konservasi terumbu karang yang pengelolaannya berbasis masyarakat. Hal ini karena poster dan brosur tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang yang ditipkan kepada pelaksana di lapangan tersebut tidak menjamin sampai dengan cepat ke masyarakat. Informan lain dari komponen yang sama juga mengungkapkan ketidaktahuannya tentang kegiatan-kegiatan yang mestinya dilakukan. Poster dan brosur biasanya hanya dititipkan pada pelaksana di lokasi program yang datang ke kabupaten. sejak penetapan SK. 4) Para stakeholders berpartisipasi dalam mendukung manajemen peningkatan ekosistem terumbu karang dari survey data dasar sebesar 20 %. menyebabkan kegiatan tidak efektif dalam upaya meningkatkan penyadaran masyarakat. Berdasarkan SK Bupati Lingga tentang pembentukan PIU. komponen PA beranggotakan enam (6) orang yang dikoordinir oleh staf dari Kantor Sumber Daya Alam.

Tujuan tersebut kemudian diterjemahkan dalam empat (4) kegiatan PBM. Pendekatan ini dikenal Community Based ManagementCBM). Terdapat tiga (3) tujuan dari komponen PBM. Komponen Pengelolaan Sumberdaya (Community Based Management) Berbasis Masyarakat Pengelolaan sumber daya laut. rehabilitasi dan memprotek lingkungan tempat biota laut yang dilindungi berada. Melakukan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat seperti bangunan sarana-prasarana kebutuhan pokok masyarakat. atau Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM). 3) Mengembangkan infrastruktur masyarakat dan kesempatan ekonomi yang berorientasi ke depan agar kehidupan sumber daya laut dapat berlanjut. khususnya terumbu karang. - - 60 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . khususnya ekositem terumbu karang. Melakukan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat antara lain untuk mengontrol aktivitas yang merusak terumbu karang dan memprotek lokasi atau tempat biota laut berada. yakni: 1) Meningkatkan penguatan tingkat ekonomi masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian alternatif.Ekonomi ini berlangsung. yaitu: Melakukan penguatan masyarakat dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat dan memperkuat kapasitas lembaga. pada COREMAP II dilakukan melalui pendekatan yang berbasis masyarakat. pada kenyataannya baru saja disebarkan ke dusun lainnya. 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi dalam kelanjutan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut dan pencegahan terjadinya degradasi laut.

-

Melakukan pengembangan mata pencaharian alternatif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat seperti mengembangkan jaringan pasar dan meningkatkan pengetahuan manajemen usaha kecil.

Dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 ditetapkan anggota PBM Kabupaten Lingga berjumlah delapan (8) orang yang berasal dari berbagai unsur aparat pemerintah Kabupaten Lingga. Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan Setda Lingga sebagai koordinator, sedangkan anggotanya terdiri dari Dinas SDA, Bawasda, dan camat di wilayah program. Implementasi program PBM tampaknya belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Menurut salah seorang staf komponen COREMAP, program komponen CBM mungkin baru berjalan sekitar separuhnya, antara lain meliputi: - Pelatihan PBM di Bali dengan peserta dua orang koordinator dari komponen CBM dan CRITC. Kegiatan menggunakan dana Dipa APPBN Dinas SDA; - Pelatihan manajemen kepengurusan LPSTK di Senayang pada tahun 200 selama satu hari. Peserta adalah perwakilan dari setidap desa yang menjadi lokasi COREMAP. Pelatihan ini diadakan dalam rangka pembentukan LPSTK - Pelatihan tentang pembukuan laporan keuangan yang diselenggarakan di Senayang yang diikuti oleh bendahara LPSTK; - Pelatihan selam di Tanjung Pinang; - Tahun 2007 melakukan beberapa pertemuan dengan masyarakat pengelola terumbu karang, aparat desa, aparat kecamatan, tokoh masyarakat. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan lokasi kegiatan PBM dan penyusunan profil desa. - Tahun 2007 melakukan pengumpulan informasi tentang profil SDM, SDA, pemanfaatan sumberdaya pantai pada area terumbu karang dan penilaian kebutuhan dari sisi ekonomi, lingkungan dan sumberdaya khusus di lokasi COREMAP

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 61

yang dapat dikembangkan sebagai sumber penghidupan nelayan. - Pelatihan kelompok jender dengan kegiatan membuat kerupuk di Senayang pada tahun 2007, dengan peserta ketua dan satu orang anggota Pokmas. Kegiatan ini sering dikaitkan pula dengan usaha ekonomi produktif (UEP). Namun demikian, pelatihan ini seolah-olah hanya untuk mengisi kegiatan, karena materi pelatihan tersebut sudah pernah dilaksanakan pada masa COREMAP I. - Pembangunan infrastruktur di lokasi COREMAP dengan jenis bangunan fisik yang berbeda-beda di setiap desa. Untuk Desa Limbung, pembangunan infrastruktur yang dilakukan adalah membangun tambatan perahu, memperbaiki pondok informasi, dan membangun fasilitas MCK umum; - Pengembangan budidaya kerapu tiger sebagai pengganti budidaya teripang yang tidak berhasil pada kegiatan sebelumnya Mengacu kepada beberapa program yang telah dilaksanakan oleh komponen PBM di atas dan dikaitkan dengan fokus PBM, tampaknya masih terdapa beberapa kegiatan yang belum sepenuhnya sampai pada masyarakat di kawasan COREMAP. Kegiatan yang telah dilakukan masih pada tahap pelatihan, pembangunan, dan pengumpulan informasi berkaitan dengan profil lokasi COREMAP. Demikian pula kegiatan baru diimplementasikan pada kampung yang mudah dijangkau dari tingkat kabupaten yang telah menjadi lokasi COREMAP sejak fase I. Keterbatasan program dan kegiatan PMB di tingkat lokasi program tersebut cenderung sebagian masyarakat di lokasi yang tidak atau belum tersentuh program COREMAP merasa ditinggalkan atau tidak diikutsertakan. Hal ini membuat sebagian masyarakat tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam COREMAP, bahkan di antaranya ada yang tidak mau terlibat karena dianggap hanya menimbulkan konflik di antara mereka dan tidak memberi keuntungan. Kemungkin permasalahan ini muncul karena efektifnya kegiatan sosialisasi COREMAP kepada masyarakat, khususnya di dusun-dusun yang sulit letaknya agak jauh dari pusat desa.

62 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Kendala lain terkait dengan kegiatan PBM adalah minimnya dana yang langsung dapat dikelola masyarakat, sehingga pelaksanaannya pun tidak maksimal. Misalnya, bantuan untuk kegiatan jender yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi keluarga hanya sekitar 1,2 juta pada saat pelatihan, tetapi dana itu tidak semuanya untuk implementasi program, karena harus dikurangi untuk biaya transporatsi ke tempat pelatihan (di Desa Sekanah) dan membeli peralatan memasak. Dengan demikian, dana yang sampai ke Pokmas Jender tinggan sedikit. Sebagai contoh, kelompok jender Desa Limbung hanya menerima dana sebesar Rp. 200.000,- yang kemudian dipakai untuk kas Rp. 50.000,- dan kegiatan usaha sebesar Rp. 150.000,- . Kegiatan usha yang semestinya dilakukan secara berkelompok, pada kenyataannya dibagikan kepada anggota karena mereka tidak terbiasa kerja kelompok, sehingga masing-masing anggota hanya menerima Rp. 15.000,- yang dimanfaatkan untuk untuk membuat kerupuk dan makan kecil yang kemudian dijual dengan cara dititipkan di warung. Komponen Penegakan Surveillance) Hukum (Monitoring, Controlling &

Fungsi dan tugas komponen Monitoring, Controlling & Surveillance (MCS) adalah memonitor, mengawasi, dan menjaga ekosistem sumber daya laut, termasuk terumbu karang, dari perilaku orangorang yang tidak bertanggungjawab agar tetap terjaga keberadaan dan kelestariannya. Hal ini karena ekosistem terumbu karang sangat penting perannya bagi keberlanjutan kehidupan nelayan dan pelestarian sumber daya laut pada masa datang. Seperti halnya kondisi di Indonesia pada umumnya, terumbu karang di perairan kawasan Lingga sudah cukup mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan tingginya aktivitas nelayan, khususnya nelayan pendatang, yang mencari ikan dengan mengunakan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang, misalnya penggunaan bom, racun, kompresor, dan parit gamat (alat penangkap teripang). Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. 58/KPTS/VI/2005, komponen MCS di Kabupaten Lingga beranggotakan enam (6) orang yang berasal dari berbagai unsur pemerintahan yang bertanggung

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 63

jawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Koordinator MCS adalah dari instansi Bawasda (Badan Pengawasan Daerah), sedangkan anggotanya terdiri dari instansi Kesbang Linmas, Polres, Kejaksaan, dan Lannal Dabo Sinkep. Kegiatan yang dilakukan oleh komponen ini masih sangat terbatas, bahkan sebagian besar anggota masih belum mengetahui dengan pasti tentang tugas dan fungsi mereka dalam pelaksanaan program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut. Padahal keberadaan komponen ini sangat penting di kawasan perairan Lingga yang masih sering menjadi lokasi target penangkapan ikan dengan menggunakan alatalat terlarang, disamping kegiatan eksploitasi SDA (misalnya kegiatan penambangan pasir dan boksit) yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap degradasi lingkungan laut dan ekosistem di perairan tersebut. Namun demikian, berdasarkan wawancara mendalam dengan beberapa anggota komponen COREMAP II diketahui adanya beberapa permasalahan dan kendala yang dihadapi komponen MCS untuk dapat menjalankan kegiatannya, yaitu: - Lemahnya koordinasi antara anggota komponen MCS maupun antara MCS dengan anggota komponen COREMAP II lainnya. Kendala geografis dan pendanaan menyebabkan kegiatan MCS tidak dapat dilakukan sesuai dengan harapan. Keberadaan sebagian orang anggota yang masih berkantor dan tinggal di Kota Dabo yang termasuk dalam wilayah Kepulauan Singkep sangat tidak efektif dalam mendukung pelaksanaan MCS, karena semua lokasi kegiatan COREMAP II berada di kawasan yang tidak jauh dari Kepulauan Lingga. Kendala geografis tersebut juga berimbas pada masalah waktu dan pendanaan, karena apabila mengadakan pertemuan untuk koordinasi di suatu lokasi tertentu sangat tergantung dengan waktu dan anggaran yang ada. - Kurangnya pengetahuan anggota MCS tentang COREMAP, terutama berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai pengurus dan pelaksana komponen MCS, karena hingga kini belum pernah ada anggota MCS yang mengikuti pelatihan

64 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Padahal perairan Kawasan Lingga sering menjadi wilayah penangkapan SDL dengan menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem terumbu karang. Padahal pada pelaksanaan COREMAP I.Terbatasnya kegiatan MCS di tingkat kabupaten berdampak pada pelaksanaan di tingkat lapangan/lokasi program. tetapi COREMAP dari Kabupaten Lingga tidak mengirimkan perwakilannya.berkaitan penegakkan hukum terkait dengan pengawasan terumbu karang.Minimnya peralatan yang dimiliki komponen MCS untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Bahkan. keterbatasan kapasitas kapal untuk kegiatan pengawasan tersebut menyebabkan kapal sering dipergunakan untuk alat transportasi antar pulau-pulau kecil di kawasan Kepulauan Lingga. Dengan demikian. maka mereka dapat melakukan pengawasan setiap saat. keberadaan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) masih terbatas pada nama. Komponen MCS di Kabupaten Lingga hanya mempunyai kapal yang kapasitas mesinnya lebih kecil dibandingkan dengan kapal nelayan yang melakukan penangkapan secara ilegal. komponen MCS tidak bisa menangkappelaku pencurian maupun penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang merusak. kegiatan Pokmaswas menjadi tanggung jawab penduduk di Dusun Air Kelat yang karena lokasi daerah konservasi cukup dekat. Berdasarkan wawancara dengan komponen COREMAP maupun pihak masyarakat. . Walaupun pernah ada pelatihan untuk anggota MCS di luar Kepulauan Riau yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat. Di Desa Limung. misalnya. penduduk di Dusun Air Kelat yang letaknya paling dekat dengan Pulau Hantu sebagai lokasi daerah perlindungan laut pada umumnya belum mengetahui adanya COREMAP II. . Faktor penyebabnya adalah masalah pendanaan dan tidak adanya kata ”putus” dari PIU untuk mengikuti kegiatan tersebut. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 65 .

baik pada tingkat pengurus di kabupaten maupun peaksana di daerah konservasi atau desa COREMAP. Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. yaitu sebagai tempat penyebaran informasi berkaitan dengan kegiatan COREMAP dan isu-isu pelesatrian terumbu karang. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/CRITC) Komponen CRITC bertujuan dalam memberi informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan ekositem SDL. Pada desa yang telah dibangun pusat informasi pada saat pelaksanaan COREMAP fase I. Komponen CRITC Kabupaten Lingga berencana akan melaksanakan pelatihan Krill di Daik pada tahun 2008 ini. maka dana yang disediakan hanya untuk merenovasi bangunan tersebut. Pada awalnya akan diikutsertakan dua orang staf. baik yang berkaitan dengan pelatihan tentang terumbu karang maupun penyelenggaraan pusat informasi di lokasi COREMAP atau desa pilihan COREMAP. belum dilaksanakan. Kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dalam rangka konservasi terumbu karang. Keberadaan pusat informasi ini dianggap penting karena di tempat ini semua kegiatan desa akan berfokus. dan Humas Kab. komponen CRITC akan diawali dengan membangun pusat informasi di desa atau lokasi COREMAP. Hingga evaluasi ini dilakukan (Mei 2008) CRITC belum melakukan kegiatan. namun staf dari komponen COREMAP Kabupaten Lingga tidak ada yang pergi atau mewakili. lingkungan hidup. Pemda bagian informasi. Menurut rencana. anggota komponen CRITC kawasan Lingga adalah sembilan (9) orang yang terdiri dari berbagai unsur pemerintah Kabupaten Lingga. Dana untuk kegiatan ini sudah dianggarkan hanya tinggal pelaksanaannya. 58/KPTS/VI/2005. yaitu dari komponen CRITC dan komponen COREMAP lainnya. Lingga. Tepat pada waktunya tidak jadi karena hingga waktunya ijin dari PIU tidak keluar.3. disnakertrans. 66 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . BAPPEDA. dan Pemda bagian sosial. Pelatihan dari tingkat pusat (Krill) pernah diadakan di luar Kepulauan Riau. Antara lain dari dinas perhubungan & PU. dokumentasi.1. Misalnya memperbaiki bangunan yang rusak dan menambah fasilitas lain yang dibutuhkan.2. termasuk terumbu karang.

Infrastruktur yang dibangun pada fase I meliputi sarana air bersih. COREMAP mulai dilaksanakan kembali di Desa Limbung setelah mengalami kevacuman selama kurang lebih dua tahun. Seperti halnya program yang telah dilaksanakan sebelumnya. ketrampilan masyarakat yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh COREMAP I juga tidak dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi produktif. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa Terdapat beberapa lokasi COREMAP di provinsi Kabupaten Lingga. kegiatan COREMAP II dilakukan melalui berbagai tahap mulai dari persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan. pembangunan infrastruktur sosial ekonomi sebagai pendukung kegiatan COREMAP di bidang lain.3. Implementasi COREMAP fase I di Desa Limbung meliputi berbagai pelatihan yang berkaitan dengan program COREMAP. walaupun COREMAP fase II sudah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Seiring dengan berhentinya kegiatan Pokmas COREMAP I. Salah satu desa yang menjadi fokus implementasi COREMAP adalah Desa Limbung yang terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Kabupaten Lingga. dan pemb entukan kelompok masyarakat. namun sekarang sudah rusak dan tidak berfungsi lagi.3. tetapi beberapa anggota Pokmas pada COREMAP I kembali terlibat pada keanggotanan untuk kegiatan COREMAP fase II. Untuk mengetahui perkembangan implementasi COREMAP di tingkat desa. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 67 . Demikian pula Pokmas yang dibentuk dan telah menjalankan kegiatannya pada fase I sudah tidak ada. pada bagian ini dideskripsikan pelaksanakan kegiatan COREMAP di Desa Limbung serta permasalahan yang dihadapi dalam implementasi. Sedangkan infrastruktur yang mendukung kegiatan COREMAP adalah pondok informasi yang dilengkapi dengan papan untuk menempelkan poster dan pengumuman tentang kegiatan COREMAP yang saat ini masih jarang dimanfaatkan. Pada tahun 2006.1. yaitu membangun beberapa pompa air. COREMAP fase II yang dimulai pada tahun 2005 di Desa Limbung.

semenjak tahun 2006 telah membentuk beberapa lembaga yang terkait dengan komponen COREMAP. Pembentukan LPSTK dilakukan pada tahun 2006. Di antara kesembilan strategi tersebut. sedangkan Pokmas tahun anggaran 2007.Kelembagaan COREMAP Di Desa Limbung Dalam rangka pengelolaan terumbu karang. tampaknya yang tidak langsung berkaitan dengan pengelolaan kelembagaan di tingkat desa adalah program peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Dari kelima program tersebut. (4) pengaktualisasi tradisi musyawarah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. pemerintah menetapkan sembilan (9) strategi dan 34 program sebagai kebijakan nasional (DKP. berikut ini dideskripsikan 9 Strategi 1: memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang 10 Strategi 5: menciptakan dan memperkuat komitmen. yaitu: (1) peningkatan kuantitas dan kualitas SDM di berbagai institusi melalui perekrutan. Desa Limbung yang merupakan salah satu desa implementasi program COREMAP II di Kabupaten Lingga. (2) penguatan kelembagaan di daerah dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang. Strategi pertama adalah program tentang peningkatan peran serta lembaga non pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir. (3) peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. yaitu Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan Kelompok Masyarakat (Pokmas). pelatihan serta pendidikan formal dan informal. program yang berkaitan dengan kelembagaan dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang tercantum pada strategi pertama9 dan ke lima10. kapasitas dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang 68 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Ada dua kelembagaan pokok yang mendukung kegiatan COREMAP II. Program ini lebih ditujukan kepada pengelola di tingkat kabupaten atau nasional. 2005:10-12). Untuk selanjutnya. Sedangkan strategi ke lima meliputi empat program.

LPSTK merupakan lembaga di tingkat desa dengan visi untuk mensukseskan program COREMAP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan (c) pemberitahuan tentang anggaran LPSTK.dan dikaji permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh lembagalembaga COREMAP yang ada di Desa Limbung. (2) merangkul seluruh masyarakat untuk ikut andil dalam pengelolaan kegiatan. yaitu: (1) mewujudkan LPSTK menjadi lembaga yang berbadan hukum . Walaupun pembentukan LPSTK atas anjuran manajemen COREMAP tingkat kabupaten. LPSTK bertugas mengawasi dan mengkoordinir semua perangkat COREMAP di tingkat desa. Dalam hal ini. peserta mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa untuk memilih kepengurusan LPSTK. diasmping karena jauh lokasinya. pemilihan pengurus lembaga ini dipilih atas dasar kesepakatan masyarakat. Oleh karena itu. Pelatihan tersebut hanya dilakukan selama satu hari dengan materi: (a) menjelaskan fungsi dan peran LPSTK. (3) memfasilitasi keberhasilan kegiatan Pokmas. Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Kegiatan COREMAP di Desa Limbung diawali dengan mengirimkan tiga (3) orang penduduk desa tersebut pada kegiatan pelatihan calon pengurus LPSTK di Senayang atas undangan pihak kabupaten. LPSTK bertanggung jawab atas terlaksananya semua kegiatan COREMAP di Desa Limbung. yaitu Dusun Centeng yang terletak di pusat desa. tidak semua dusun yang ada di Desa Limbung hadir pada saat pemilihan pengurus. pemilihan pengurus LPSTK Desa Limbung melibatkan perwakilan masyarakat. juga karena pelaksanaan COREMAP II cenderung hanya dikonsentrasikan di salah satu dusun. Sepulangnya dari pelatihan. Dari hasil pertemuan warga terbentuk kepengurusan LPSTK K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 69 . dan aparat desa. terutama kelompok binaan komponen COREMAP. Tujuan pembentukan LPSTK adalah untuk membantu pemerintah kabupaten dalam rangka mensukseskan program COREMAP. (b) cara menyusun perencanaan kegiatan satu tahun ke depan (RPTK). itupun tidak mencakup semua lingkungan RW (Kampung) yang ada di dusun tersebut. tetapi terbatas pada tokoh masyarakat. Oleh karena itu. Namun demikian. Sesuai dengan AD/ART.

70 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Hingga penelitian ini berlangsung. LPSTK telah melaksanakan tiga kegiatan. Konsekuensi dari tidak diundangnya perwakilan dari dusun lain dalam pembentukan LPSTK. Kenyataan ini berdampak negatif terhadap kegiatan COREMAP. penasehat. 11 Dalam penyusunan RPTK harus memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan pelestarian ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya. Pembentukan pengurus LPSTK tidak melibatkan masyarakat di semua dusun. (2) menyusun usulan kegiatan (proposal)berdasarkan usulan dari kelompok masyarakat (pokmas). tetapi hanya didominasi oleh satu dusun. Kebanyakan dari pengurus LPSTK berdomisili di Kampung Air Brani dan Centeng. dan bendahara). pemberdayaan perempuan. maka pengurus kelembagaan ini juga hanya terwakili dari satu dusun (walau agak terdistribusi menurut lingkungan RT). Sedangkan dari informasi kualitatif diketahui adanya kelemahan kepengurusan LPSTK. pelaksana harian (ketua. sehingga menimbulkan kecemburuan bagi penduduk di dusun dan kampung lain yang merasa tidak diikutkan dalam kegiatan COREMAP II. dan pembina). antara lain terkait dengan pembentukan dan kepengurusan LPSTK. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kurang pedulinya masyarakat luas terhadap pengurusan LPSTK yang selanjutnya dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja kegiatan yang berarti mengganggu kelancaran pelaksanaan COREMAP.yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa tahun 2006 dengan struktur organisasi yang terdiri dari dewan kehormatan (pelindung. sekretaris. (3) melakukan koordinasi dengan kepala desa terkait dengan kegiatan yang akan dilakukan. terutama terkait dengan kegiatan pengawasan daerah perlindungan laut (dpl) yang lokasinya berada dekat dengan Kampung Air Kelat yang penduduknya tidak dilibatkan dalam pembentukan LPSTK. (4) melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur sosial. kesejahteraan masyarakat). dan seksi-seksi (pengawasan TK & DPL. yaitu (1) menyusun RPTK (rencana pengelolaan terumbu karang)11 bersama-sama dengan anggota Pokmas dan perangkat desa dengan bantuan fasilitator.

karena saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan. karena hal ini dianggap sebagai masukan dari masyarakat sebagai dasar untuk melakukan kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Dalam kaitannya dengan kegiatan kelompok. Dua lembaga ini dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang logam. - - - Mengacu kepada pelatihan yang diberikan pada pengurus LPSTK di Sekanah. Hal yang paling nyata adalah dalam pengajuan proposal kegiatan yang akan dilaksanakan kelompok. LPSTK bertugas sebagai penghubung antara kelompok di desa dengan pelaksana COREMAP kabupaten. Sistem pengelolaan sumberdaya perikanan dan terumbu karang yang diharapkan dapat menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat nelayan Desa Limbung. Keberhasilan implementasi COREMAP fase II di Desa Limbung sangat terkait dengan keberhasilan kelompok dalam membuat proposal sebagai bentuk rencana kegiatan yang akan dilakukan. di mana LPSTK mempunyai peran dalam mengumpulkan dan mengajukan proposal tersebut ke pelaksana COREMAP kabupaten. Perencanaan program dan jenis kegiatan yang disusun berdasarkan visi dan misi masyarakat Desa Limbung seperti program konservasi. pengembangan MPA. dibentuk pula beberapa kelompok masyarakat sebagai pendukung COREMAP di Desa Limbung. dan pembangunan infrastruktur. Sistem ini misalnya dengan pengelolaan SDL yang ramah lingkungan dan pengembangan usaha berbasis budidaya. Sistem pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan dan terumbu karang untuk membatasi dan melindungi sumberdaya dari aktivitas yang merusak SDL tersebut. Hal yang perlu dipertimbangkan oleh kelompok dalam membuat proposal antara lain adalah berkaitan dengan: Penataan wilayah atau sistem zonasi.Seiring dengan pembentukan LPSTK. bagi kelompok yang mengajukan proposal akan melalui beberapa tahapan dari pembuatan proposal hingga persetujuan di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 71 .

hukum maupun teknis pembuatan RPTK. Menurut pihak pelaksana di tingkat kabupaten maupun LSM yang berperan dalam mendapingi masyarakat di lokasi program. Jalur proposal yang dibuat kelompok hingga disetujui pada tingkat kabupaten adalah diusulkan oleh kelompok yang kemudian diberikan kepada LPSTK untuk diajukan pada pelaksana komponen di tingkat kabupaten. tim inti atau LPST selalu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkopempeten dalam proyek COREMAP di tingkat kabupaten baik substansi. pembuatan kerupuk (5 Pokmas). bahan2 sosialisasi (1 paket). yaitu: 72 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . MCK (5 buah). pelabuhan/tambatan perahu (jarak 100 meter). sehingga membuat anggota kelompok menjadi ’malas’ atau ’patah semangat’ terhadap COREMAP II. Program mata pencaharian alternatif: keramba ikan kerapu sunu (8 unit). 3. yang selanjutnya disampaikan pada PIU. pelatihan penggunaan peralatan selam (1 paket). peternakan ayam kampung (3 pokmas). peternakan sapi (10 ekor). belum ada satu pun dari proposal tersebut disetujui oleh PIU. Program infrastruktur: sarana air bersih (1 unit). Dalam hal ini tim inti pembuat proposal selalu didampingi oleh fasilitator lapangan dari awal hingga siap untuk dikirim ke COREMAP kabupaten (PIU). budidaya rumput laut (4 unit). penginapan untuk wisatawan (1 unit). Dari tiga proposal yang diajukan. buku2 untuk perpustakaan (1 paket). bubu ketam (4 unit). perluasan jalan desa (300 meter). pemasangan papan peringatan (5 buah). pembuatan bakso ikan (1 Pokmas). beberapa permasalahan atau kendala yang muncul berkaitan dengan berhentinya proposal di tingkat PIU.tingkat kabupaten. Beberapa proposal yang telah diajukan kelompok COREMAP Desa Limbung adalah: 1. Selama pembuatan proposal. Padahal proposal tersebut telah berulangkali diperbaiki. Program pengelolaan terumbu karang: pemasangan pelampung tanda batas (50 buah). 2.

2. Terbatasnya waktu oleh pihak fasilitator dalam melakukan pendampingan. Kurang seriusnya komponen COREMAP fase II tingkat kabupaten dalam menanggapi apa yang telah dilakukan masyarakat desa. faktor-faktor tersebut meliputi: Pemimpin yang cakap dan paham tentang visi atau tujuan kelompok. sehingga mereka harus menunggu cukup lama dan seolah-olah tidak ada kata putus dari pelaksana COREMAP tingkat kabupaten. sehingga perlu diperhatikan pula adanya faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kelompok. yaitu hanya sekitar tiga (3) bulan.140. tetapi keberadaan mereka di lapangan hanya salam waktu sangat singkat dan umumnya untuk kepentingan tugasnya. khususnya dari komponen CBM.- Adanya keharusan LPSTK memilik NPWP sebelum pengajuan atau pencairan dana. yaitu sekitar Rp. adalah pembentukan masyarakat (Pokmas). - - Kelompok Masyarakat (Pokmas) Salah satu tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan implementasi proyek COREMAP fase II. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 73 . Persyaratan ini memberatkan masyarakat. yang berarti masyarakat harus bekerja sendiri dalam membuat proposal. Sedangkan fasilitator lapangan untuk Desa Limbung hanya bertahan sekitar satu bulan (2007). karena biaya pembuatan NPWP cukup besar.berikut biaya tranportasi ke Tanjung Pinang. Pembuatan proposal hanya dalam rangka mengejar target agar terpenuhi sesuai dengan yang ditentukan. Keberadaan kelompok ini merupakan ’ujung tombak’ keberhasilan program COREMAP di Desa Limbung. padahal biaya pembuatan NPWP harus disediakan terlebih dahulu oleh masyarakat.000. Meskipun ada tenaga penyuluh. setelahnya tidak ada tenaga pendamping lapangan. Menurut Sahyuti (2006:44-45).

Harapan yang wajar terhadap usaha yang akan dilakukan. khususnya pada keluarga nelayan. Terdapat tiga pokmas yang sudah terbentuk di Desa Limbung. pendamping. a) Pokmas Jender Pokmas Jender dibentuk pada tahun 2007 yang bertujuan meningkatkan peran ibu rumahtangga dalam kegiatan ekonomi untuk membantu suami. Situasi ini berkaitan dengan anggapan dari sebagian besar anggota pokmas yang selalu mengkaitkan kegiatan pokmas dengan pemberian dana. Ketrampilan dan ketulusan petugas lapangan yang ditugaskan di desa membantu kelompok. Pokmas MPA. pemimpin lokal dan lembaga pendukung. Kegiatan diawali dengan membuat proposal yang berisi rencana kegiatan untuk berusaha di bidang industri rumah tangga yang berupa kue dan kerupuk. kecuali Pokmas Jender. Dana tersebut 74 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . meskipun dengan dana yang sangat kecil dan kegiatan tersebut tidak dilakukan berkelompok. Pembentukan kelompok masyarakat di Desa Limbung sudah dilakukan.- SDM anggota kelompok. Pada akhir tahun 2007. Pendekatan yang digunakan dapat diadaptasi dalam konteks yang berubah-ubah. Keberlanjutan keterlibatan kelompok di masyarakat. Startegi dan tujuan yang jelas. dan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas). tetapi belum menjalankan kegiatannya. dua orang (ketua dan satu anggota) Pokmas Jender mengikuti pelatihan usaha industri rumah tangga di Sekanah selama dua hari dan langsung mendapat bantuan dana untuk modal usaha sebesar 1. Hubungan yang kuat antara kelompok. yaitu Pokmas Jender. dan logistik yang cukup. Pokmas ini sudah melakukan kegiatan.2 juta rupiah per desa.

80. maka LPSTK berencana untuk membentuk satu kelompok inti lagi di Kampung Seranggas. yang dibentuk pada awal tahun 2008. 105. sehingga masing-masing anggota hanya mendapat pinjaman Rp. Oleh kelompok inti.-. sehingga modal usaha dibagikan merata pada anggota.000. Sedangkan sisa dana sebesar Rp.000. Sisa uang yang dibawa pulang ke Limbung adalah Rp.000.-. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 75 . anggota kelompok hanya dipilih dari masyarakat Dusun Centeng yang masing-masing kelompok mendapat bantuan dana Rp 100. Pengembalian dana diangsur selama tiga (3) bulan.000.(pp) untuk dua orang dan pembelian alat Rp.000.-. 480. Dalam pelaksanaannya. disimpan untuk kas Pokmas jender. 400.000. tetapi setiap anggota melakukan usaha produktif sendiri. ayakan (4).-. Peralatan yang dibeli telah tersedia dari penyelenggara pelatihan antara lain untuk setiap desa adalah kompor (2). 25. karena umumnya mereka menjalankan usaha sendiri-sendiri.kepada 4 orang anggota..000. gilingan ikan (2). dan ember (1) yang menghabiskan dana sekitar Rp. Setiap anggota yang mendapatkan bantuan wajib mengembalikan setiap bulan dengan sistem angsuran.dan digunakan sebagai modal usaha kelompok dan uang kas.digunakan untuk biaya transportasi.yang biasanya dimanfaatkan untuk usaha membuat kerupuk atau kue epuk-epuk. Pada tahap awal. Pomas Jender di Desa Limbung terdiri dari satu (1) kelompok induk dan empat (4) ‘kelompok kecil’.000.-. dari anggota ‘kelompok kecil’ disetorkan kepada bendahara pokmas induk. kemudian membagi dana pinjaman sebesar Rp. dana tersebut direncanakan akan diputar. membeli peralatan untuk usaha membuat kerupuk. 100. 320. 320. dana yang diterima kelompok itu dibagikan kepada anggota mereka. kukusan (2). Diharapkan dana tersebut dapat bergulir ke kampung dan dusun lain sesuai dengan tujuan pembentukan Pokmas jender di Desa Limbung.... dalam arti dipinjamkan kepada anggota ‘kelompok kecil’ lainnya. Berdasarkan pengalaman anggota kelompok jender yang pernah terlibat pada COREMAP fase I mengatakan bahwa penyelenggarakan 12 Biaya transportasi ke Senayang Rp. uang kas pokmas. Misalnya dalam satu kelompok kecil yang beranggotakan empat (4) orang. dan modal usaha12. Usaha pokmas jender tidak dilakukan secara berkelompok. Apabila dana COREMAP tersebut telah lunas.000. seterusnya uang sebesar Rp.

Begitupula dengan dana yang diterima lebih besar. sehingga jumlah kelompok cepat bertambah.000. selain diberi makan dan kue mereka juga diberi uang sebesar Rp. pelatih datang ke Desa Limbung sehingga peserta cukup bany banyak. tidak seperti COREMAP I yang dilakukan secara serentak. Terdapat kecenderungan umum di kalangan masyarakat untuk membandingkan kegiatan usaha pemberdayaan ekonomi antara pelaksanaan COREMAP I dan II. Kondisi ini dapat dihindari jika ada saling keterbukaan antara kelompok induk dengan kelompok keci. bakso. 50. tetapi belum mendapat bantuan modal usaha.. Pada waktu itu. yaitu sekitar 20 orang yang berasal dari empat dusun. materi pelatihan lebih banyak yaitu selain kerupuk. Misalnya. Walaupun tidak semua peserta pernah memperoleh dana COREMAP I. Pembentukan Pokmas MPA masih terbatas pada masyarakat Dusun Centeng (6 kelompok) dan Kampung Sranggas (1 76 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . namun karena pernah ikut berlatih maka mereka bisa mencoba sendiri. Keadaan ini memunculkan kecemburuan dari mereka yang sudah membentuk pokmas. hanya beberapa orang yang sudah memperoleh bantuan modal usaha. karena kelompok kecil tampaknya belum mengetahui tentang bantuan modal usaha ekonomi produktif pada COREMAP fase II yang dilakukan secara bertahap.per hari. pada saat pertemuan atau pelatihan di luar desa. juga diberikan ketrampilan membuat nuget. baik dari sisi dana maupun kegiatannya. sehingga memunculkan permasalahan. b) Pokmas MPA Pokmas MPA (Mata Pencaharian Alternatif) mulai dibentuk tahun 2007 setelah ada pertemuan antara LPSTK dan masyarakat Desa Limbung. dan abon ikan.fase I lebih baik daripada kegiatan pada COREMAP II. di mana dana tersebut dalam tempo enam bulan sudah dapat digulirkan kepada kelompok lain. Dilihat dari pelatihan yang diberikan. Tidak adanya tenaga pendamping di Desa Limbung yang semestinya dapat mengatasi permasalahan tersebut. menjadikan permasalahan akan menjadi potensi ketidakharmonisan dalam hubungan bermasyarakat/sosial. Pada saat penelitian ini berlangsung. bahkan itupun terkonsentrasi di satu dusun.

6 jaring ketam. 6 jaring ketam. (laki-laki dan Seranggas) pengolahan kerupuk ikan. dari wawancara mendalam juga diketahui adanya beberapa orang yang terlibat pada lebih dari satu pokmas.Usulan draft RPTK-T dan draft Perdes Tahun 2007 Disamping jenis kegiatan yang sama. Camar Laut Budidaya kerapu sunu. dagang. Harapan Bunda Budidaya kerapu sunu. NAMA KELOMPOK Jasa Mandiri PROGRAM JUMLAH ANGGOTA 7 Ternak sapi.1). Berbagai jenis usaha yang ingin dikembangkan masyarakat Desa Limbung sesuai dengan yang diminati anggota kelompok. bubu 2. Jumlah Anggota & Nama Ketua NO. bubu 3. Bunga Karang Ternak ayam. pengolahan kerupuk ikan. bubu. dagang.Laporan akhir kegiatan CBM Program COREMAP II Kabupaten Lingga . 7. dari tujuh (7) Pokmas MPA ada beberapa Pokmas yang mengajukan program sama seperti peternakan sapi dan jaring ketam (lihat Matriks 3.kelompok). Misalnya. Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program. rumput laut. Hal ini mungkin disebabkan pelaksanaan program COREMAP fase II didominasi oleh masyarakat yang tinggal di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 77 . simpanperempuan) pinjam Sumber: . Matriks 3. bubu.1. Usaha Bersama Ternak sapi. simpanpinjam 23 Siput Laut (Dusun Ternak ayam. 8 jaring ikan 4. sehingga dijumpai beberapa kesamaan jenis kegiatan. Sumber Makmur Ternak sapi. bubu 5. 1. 5 jaring ketam 14 6. Kelompok ini memulai kegiatan dengan menyusun proposal bersama LPSTK dan tenaga pendamping (dikenal dengan field fasilitator-FF).

Gambaran ini juga memicu terjadinya rasa ”iri” dari masyarakat dusun lain yang tidak terlibat. Ketika Kajian BME Sosial Ekonomi ini dilakukan (Mei 2008). karena sibuk dengan usaha dagang/toko. turunnya dana lebih cepat karena tidak perlu memiliki NPWP. berhentinya pengawasan laut yang dilakukan COREMAP fase I di Desa Limbung mendorong kembali kegiatan penangkapan ikan secara 78 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . karena proposal belum disetujui komponen dan PIU Kabupaten Lingga. Implementasi program MPA yang akan dilaksanakan Pokmas setempat belum berjalan. Kegiatan yang direncanakan kelompok ini adalah melakukan patroli dan pengawasan laut. yang biasanya dilakukan oleh nelayan luar. lebih berhasil. bantuan yang diterima lebih banyak. Pokmaswas baru mempunyai sebuah kapal dengan jangkauan terbatas dan tidak dapat mengejar nelayan yang melakukan kegiatan ilegal yang umumnya menggunakan kapal dengan mesin besar. Secara umum. Sementara itu. kegiatan yang dilakukan oleh kelompok pengawasan adalah melakukan pengawasan terhadap kelestarian sumberdaya laut dari berbagai ancaman.Dusun Centeng. Pokmaswas belum memulai kegiatan. motivator. dan fasilitator menyatu dengan masyarakat. c) Pokmas Pengawasan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) dibentuk pada tahun 2007. akibat sudah terlalu lama menunggu. sehingga mempengaruhi hubungan sosial antar dusun. padahal di dusun ini terdapat banyak WNI keturunan Cina yang umumnya tidak bersedia terlibat dalam kegiatan COREMAP. kebersihan lingkungan laut dan pantai. bahkan membandingkan pelaksanaan COREMAP I yang berjalan lebih baik. Sejumlah informan. terutama yang berasal dari pihak luar seperti nelayan pendatang. dan penanaman bakau. maupun komponen COREMAP kabupaten. Hal ini berdampak terhadap kebosanan dan kurang peduli dari anggota Pokmas lagi terhadap COREMAP. Padahal di kawasan perairan Limbung dan sekitarnya sering terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan alat terlarang. Keenam Pokmas telah mengajukan proposal sejak tahun 2006 dan telah berulangkali diperbaiki sesuai dengan saran dari fasilitator/tenaga pendamping. Pokmas ini beranggotakan 10 orang dari Dusun Centeng.

bantuan kapal motor sebagai sarana untuk kegiatan pengawasan wilayah konservasi. ada kecenderungan adanya tindakan yang tidak serius. Hal ini juga didukung dengan tidak adanya biaya dan sarana/prasarana pengawasan yang memadai sehingga sulit memantau kegiatan nelayan di tengah laut. keterlibatan dalam Pokmaswas masih terbatas pada penduduk dari Dusun Centeng. Ada beberapa kegiatan COREMAP yang telah dilaksanakan di Desa Limbung. pelatihan. semua kegiaatan tersebut belum berjalan sesuai K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 79 . sosialisasi COREMAP. Permasalahan terkait dengan pemanfaatan perairan laut kawasan perairan Limbung tersebut tampaknya terkait dengan ketidakjelasan program yang dimotori oleh komponen MCS COREMAP di tingkat kabupaten. Apalagi dilihat dari keseriusan pihakpihak terkait dengan pengawasan.berlebihan oleh nelayan dari desa yang tidak terlibat program COREMAP. Namun demikian. diindikasikan oleh dilepaskannya pelanggar yang sudah ditangkap tanpa proses pengadilan terlebih dahulu. Oleh karena itu. Kegiatan COREMAP Di Desa Limbung Kegiatan COREMAP II di Desa Limbung tidak hanya sebatas pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai alat untuk implementasi program. yaitu sekitar Pulau Hantu. Namun kegiatan nelayan ini turut mendorong nelayan Desa Limbung untuk mengambil ikan di sekitar kawasan konservasi pada masa COREMAP fase I. tetapi juga meliputu upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang mendukung terlaksananya program COREMAP. tampaknya perlu melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan wilayah tangkap yang merupakan target pengambilan ikan secara ilegal. yaitu: penyadaran masyarakat. namun seharusnya juga melibatkan penduduk Kampung Air Kelat seperti pada masa COREMAP fase I karena mereka tinggal sangat dekat dengan daerah perlindungan laut yang juga menjadi wilayah penangkapan nelayan dengan menggunakan alat-alat tangkap yang merusak. Pada saat ini. pembangunan tambatan perahu dan fasilitas MCK. sehingga kelompok pengawasan pun sulit untuk bertindak.

Penyadaran masyarakat melalui pendidikan formal belum dilakukan. leaflet baru diserahkan ke perangkat dusun ketika penelitian ini berlangsung. Dengan demikian. Bahkan kegiatan sosialisasi tersebut baru dilakukan pada masyarakat yang sangat terbatas. Pemasangan leaflet baru dilakukan di Dusun Centeng.dengan harapan. tampaknya masih banyak anggota masyarakat yang belum mengetahui tentang COREMAP II. tetapi tampaknya juga cenderung terkonsentrasi di Dusun Centeng. direncananan program penyadaran masyarakat akan diimplementasikan di kampung yang ditempati oleh Suku Laut dan Linau (terutama di lingkungan masyarakat yang mencari penghidupan sebagai nelayan). Sranggas. khususnya desa yang menjadi fokus implementasi program. Dari pihak komponen penyadaran masayarakat di Kabupaten Lingga. misalnya memasukkan materi pengelolaan dan pelestarian terumbu karang dalam mulok.. padahal poster dan leaflet sudah diterima oleh LPSTK pada awal tahun 2008. pengetahuan tentang alat-alat penangkapan yang merusak. Kegiatan pelatihan merupakan sarana penting dalam melaksanakan implementasi program. dan Senempek belum dilakukan. terutama mereka yang tinggal di Kampung Senempek. Khusus Kampung Sinempek. sedangkan dusun-dusun lain yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan seperti di Kampung Air Kelat. Meskipun perwakilan dari dusun juga diundang dalam rapat pembentukan LPSTK yang sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisi COREMAP. yang juga dihadiri oleh field fasilitator dan senior fasilitator. Air Kelat. dan kampung Suku Laut. Materi sosialisasi meliputi pengetahuan tentang COREMAP. Program penyadaran masyarakat baru dilakukan pada tahap penyebaran leaflet dan itu pun belum mencakup seluruh wilayah Desa Limbung. Dalam rangka memperkenalkan keberadaan COREMAP di masyarakat. kegiatan sosialisasi masih terbatas pada anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP. kegiatan sosialisasi kepada masyarakat maupun anggota Pokmas juga telah dilakukan. Linau. kelembagaan COREMAP di tingkat desa dan kegiatan kelembagaan tersebut. terutama program-program yang berkaitan 80 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . pelestarian terumbu karang. yaitu mereka yang hadir ketika pembentukan LPSTK (sekitar 30 orang). cara membuat proposal.

Namun tampaknya kegiatan pelatihan baru dilakukan pada pengurus lembaga COREMAP desa. ketua dan bendahara Pokmas Jender. Pelaksanaan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan dengan sistem lelang. yaitu di Kampung Centeng yang terletak bersebelahan dengan Kampung Air Berani yang merupakan lokasi tambatan perahu bantuan COREMAP. maka dibutuhkan pelatihan-pelatihan yang berfokus pada program tersebut. Namun K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 81 . pembangunan fasilitas MCK yang juga berlokasi di Kampung Air Berani. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Limbung juga membangun/merenovasi tambatan perahu yang sudah ada sebelumnya. Sebagian anggota Pokmas mengharapkan adanya kegiatan pelatihan yang dilakukan di Desa Limbung yang diikuti dengan penyuluhan secara rutin oleh fasilitator/tenaga pendamping. Dalam kaitan dengan program COREMAP yang berfokus untuk pelestarian terumbu karang dan peningkatan ekonomi keluarga. keberadaan tambatan perahu tersebut dapat mempermudah nelayan untuk menambatkan perahu/sampan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan penting nelayan. Dalam waktu yang sama. karena hemat waktu dan hasil tangkapan segera dapat dipasarkan. karena di kampung ini terdapat mata air yang tidak pernah kering. agar supaya kegiatan tersebut dapat diikuti oleh semua anggota kelompok. Padahal jika dilakukan koordinasi. Tambatan perahu dibangun di pantai dengan kedalaman air cukup dalam. Hal ini karena ketika air laut surut.dengan peningkatan pengetahuan masyarakat dan upaya memperbaiki ekonomi. Sepertihalnya dengan tambatan perahu. maka kualitas tambatan perahu dapat lebih baik. Tambatan perahu dan fasilitas MCK adalah dua jenis fasilitas umum yang dibangun di Desa Limbung. sehingga tidak pernah kering walaupun air laut surut. Hal ini menguntungkan nelayan. sehingga nelayan harus berjalan cukup jauh untuk menuju daratan. pantai di perkampungan nelayan pada umumnya menjadi kering. yang dilakukan di luar Desa Limbung. Hal ini menunjukkan tidak adanya koordinasi antar institusi pemerintahan di Kabupaten Lingga. seperti pelatihan untuk Ketua LPSTK. Terlepas dari kekurangannya. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program COREMAP fase II. sehingga kekuatannya dapat bertahan dalam jangka waktu lama.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya di atas. pintu-pintu. Dalam usaha menjaga ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya di perairan Limbung. LPSTK telah mengajukan proposal untuk biaya renovasi pondok ini dengan dana sekitar 30 juta rupiah. Adanya pekerjaan alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pada saat ini. maka aktivitas sebagai nelayan dapat dikurangi atau paling tidak mengurangi mencari ikan di 82 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tembok yang sudah mulai retak. padahal pelaksanaan COREMAP II sudah memasuki tahun ke tiga. khususnya terumbu karang. UEP (Usaha Ekonomi Produktif) adalah salah satu kegiatan yang diharapkan dapat menjadi bagian keberhasilan proyek COREMAP fase II. Kegiatan lain yang sedang dalam tahap rencana adalah merenovasi bangunan pondok informasi yang dibangun pada COREMAP I. pondok informasi hanya digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lainnya yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP. Oleh karena itu program ini lebih ditujukan pada masyarakat nelayan yang diperkirakan paling tinggi berpotensi dalam merusak terumbu karang.tampaknya MCK ini kurang terkontrol dalam pembangunannya sehingga sudah banyak yang rusak dan tidak jalan seperti pompa. Hal ini mungkin berkaitan dengan adanya sistem lelang. Kegiatan ini diperkirakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui pekerjaan yang tidak merusak SDL. kegiatan pengawasan di Desa Limbung belum berjalan. tetapi lebih banyak dimanfaatkan untuk alat transportasi. Padahal renovasi akan dilakukan dengan sistem swakelola yang merupakan ‘aturan main’ proyek COREMAP. di mana pembangunan dilakukan oleh pihak ketiga yang biasanya banyak mengambil keuntungan dan kurang memperhatikan kualitas bangunan. Namun demikian. kegiatan pengawasan laut merupakan hal yang penting dan perlu menjadi perhatian dari berbagai stakeholders terkait. namun tampaknya yang disetujui hanya 19 juta rupiah. Proposal yang diajukan oleh Pokmaswas Dea Limbung belum mendapat persetujuan. sedangkan pelatihan yang berkaitan dengan pengawasan juga belum pernah diikuti. dan genteng yang pecah. Sarana yang tersedia hanya sebuah kapal.

Telah dikemukakan sebelumnya. Kegiatan UEP yang baru berjalan adalah yang dilakukan oleh Pokmas Jender yang meliputi empat kelompok kecil dan semua berdomisili di Dusun Centeng. karena program hanya terkonsentrasi di satu dusun. diketahui adanya peningkatan pengetahuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 83 . yaitu ada enam (6) Pokmas.. dan jika datang hanya beberapa saat untuk mendapatkan data/informasi bagi kepentingannya sendiri. Kegiatan yang direncanakan ada yang berkaitan dengan kegiatan kenelayanan dan adapula kegiatan di darat seperti ternak sapi. dengan diawal dengan membuat proposal bersama LPSTK dan FF (field fasilitator). sedangkan tenaga penyuluh sangat jarang datang. proposal dibuat Pokmas tersebut masih ditangan PIUs. PENGETAHUAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM COREMAP Sebagian besar masyarakat tampaknya telah mengetahui tentang COREMAP. anggota kelompok mulai ”bosan” dan tidak perduli apakah program tersebut ada atau tidak. namun partisipasi mereka masih rendah. namun sudah diperiksa oleh komponen COREMAP terkait. sehingga tidak bisa menambah penghasilan rumah tangga. Berdasarkan Survei Data Dasar Sosial Ekonomi yang dilakukan tahun 2006 (T0) (Romdiati dkk. yaitu sejak COREMAP I. Tingginya pengetahuan tersebut adalah karena COREMAP telah lama masuk di desa ini.tempat-tempat yang banyak ditumbuhi terumbu karang. Permasalahan lain adalah dana yang belum turun sehingga tidak dapat mengimplementasikan program yang direncanakan. tetapi karena modal sangat kecil (Rp 25 ribu per orang). Dengan tidak adanya kabar-berita mengenai kelanjutan proposal tersebut. Sedangkan permasalahan yang muncul terkait dengan kegiatan UEP di Desa Limbung adalah terkait dengan tidak adanya tenaga pendaping. yaitu sejak tahun 2006.2. 3. kegiatan yang dilakukan adalah membuat kerupuk ikan dan kue. 2008:101-10) dan survey BME tahun 2008 (T1). Menurut informasi. Pokmas UEP didirikan sekitar tahun 2006. Di Desa Limbung program UEP baru pada tingkat pembuatan proposal. namun sampai saat evaluasi dilakukan belum ada realisasinya. Padahal anggota kelompok sangat membutuhkan bimbingan untuk pembuatan proposal maupun implementasi kegiatan.

dan kegiatan pokmas UEP (lihat Tabel 3. Dari sembilan pertanyaan mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP yang diajukan kepada responden. terutama yang paling diketahui responden adalah kegiatan yang berkaitan dengan pentingnya pelestarian terumbu karang (75 persen) dan perlindungan daerah pesisir/laut (67 persen). Dari beberapa kegiatan COREMAP fase II yang diimplementasikan di Desa Limbung. yaitu kegiatan terkait dengan pelatihan UEP. Temuan ini mendiikasikan bahwa kegiatan-kegiatan COREMAP yang berhubungan dengan pengembangan usaha produktif belum diketahui secara meluas. yang merupakan proporsi paling tinggi dibandingkan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan COREMAP lainnya. pendampingan UEP. yaitu di Air Brani. Selain itu. Tingginya pengetahuan responden tersebut memperlihatkan bahwa mereka sudah mengetahui tentang pentingnya terumbu karang untuk dilestarikan atau dijaga. maka mudah dipahami jika sebagian besar penduduknya telah mengetahui adanya kegiatan COREMAP yang terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang. terutama bagi keberlanjutan kehidupan mereka yang sangat tergantung dengan laut. Pengetahuan responden tentang COREMAP cukup baik.). Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya papan nama (bilbord) tentang COREMAP yang dipasang di depan pondok informasi. Pada umumnya.1. diindikasikan oleh tingginya proporsi responden yang mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan program ini. pengetahuan tersebut pernah diterima beberapa responden pada saat program COREMAP fase I dilaksanakan di desa ini dan mareka mulai menjaga terumbu karang agar tidak rusak. mungkin karena kegiatan yang dilakukan masih terkonsentrasi di satu kampung.masyarakat tentang COREMAP. Desa Limbung telah menjadi lokasi program sejak COREMAP fase I. yang terletak berdampingan dengan Puskesmas dan Kantor Desa. Sedangkan pengetahuan responden terkait dengan kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang diketahui oleh tiga perempar dari total responden. hanya tiga kegiatan yang hanya diketahui oleh kurang lebih sepertiga dari keseluruhan responden. 84 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

2.0 100 Kegiatan pendampingan UEP 40.Untuk kegiatan perlindungan dan pengawasan pesisir dan laut yang merupakan salah satu kegiatan COREMAP juga diketahui oleh kirakira dua pertiga responden.4 100 Kegiatan Pokmas UEP 29.0 100 pesisir dan laut Pembentukan lembaga pengelola 62. dan pembentukan LPSTK hanya mencapai kurang dari sepertiganya dari responden K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 85 .4 100 Kegiatan Pokmas wanita/jender 58. Cukup tingginya pengetahuan tersebut tidak terlepas dari pembentukan LPSTK yang telah dilakukan cukup lama.0 100 sumberdaya terumbu karang LPSTK Pelatihan UEP 32.0 akan pentingnya pelestarian terumbu karang Kegiatan perlindungan/pengawasan 67.1.8 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung. Desa Limbung. Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II. pokmas jender. meskipun kampung-kampung yang letaknya cukup jauh dari pusat desa tidak hadir.6 40. Tabel 3. Cukup tingginya pengetahuan responden mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP tersebut tampaknya belum diimplementasikan dalam praktek.0 49.0 33. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa keterlibatan responden yang hanya kira-kira separuhnya dari mereka yang mengetahui. atau hanya sedikit lebih tingi daripada mereka yang mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK (62 persen). Kabupaten Lingga Tahu Tidak tahu 25.0 68.0 100 pemanfaatan & pelestarian TK Kegiatan Pokmas konservasi 59.0 100 Kegiatan penyusunan rencana 51.2 41.0 Jumlah (N=100) 100 Kegiatan COREMAP Peningkatan pengetahuan dan kesadaran 75. pada saat pembentukan LPSTK terdapat perwakilan dari kampung lain. sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.6 70.0 60. Hal ini digambarkan oleh rendahnya persentase responden yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan COREMAP. Bahkan. disamping juga LPSTK sudah melakukan beberapa kegiatan. 2008. persentase responden dalam kegiatan pendampingan UEP.0 38. Walaupun terkonsentrasi di Kampung Air Brani.

kecuali beberapa orang anggota Pokmas Jender. dan (2) mereka yang terlibat program jender baru mencapai 16 orang yang mungkin juga tidak termasuk sampel rsponden individu. terutama sebagai anggota dalam salah satu pokmas. sebagian lainnya tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan-kegiatan COREMAP. terlebih tenaga penyuluh dan senior fasilitator jarang berkinjung ke Desa Limbung. Ada dua kemungkinan jawaban ini muncul. Dari wawancara mendalam diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan COREMAP. Oleh karena itu. Pendampingan UEP di Desa Limbung hanya dilakukan oleh tenaga penyuluh dengan jadwal kerja yang tidak teratur. dan kemudian meninggalkan desa tanpa ada penggantinya.yang mengetahui adanya tiga jenis kegiatan tersebut dalam COREMAP. Persentase responden pada angka yang sangat rendah juga ditemukan pada kegiatan pendampingan UEP (15 persen). Bahkan. Lebih kecilnya proporsi yang terlibat dalam masingmasing kegiatan jauh lebih kecil daripada proporsi responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam COREMAP tersebut kemungkinan besar karena mereka biasanya hanya terlibat dalam salah satu kegiatan. Namun demikian. keterlibatan responden dalam kegiatan Pokmas Jender hanya sebesar 14 persen dari jumlah mereka yang mengetahui pokmas ini (57 responden). yakni (1) karena yang menjadi responden umumnya laki-laki yang tentunya tidak terlibat program jender. terutama terkait dengan keanggotaan pokmas. pada umumnya juga belum melakukan kegiatan apapun. 86 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . mudah dimengerti jika keterlibatan responden dalam kegiatan pendampingan UEP sangat rendah. Sedankan tenaga pendamping lapangan hanya bekerja satu bulan.

4 65. Selain itu.8 64.9 62.0 57 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung.2.7 79.6 77.3 49 & pelestarian TK Pokmas konservasi 37.0 40 Penyusunan rencana pemanfaatan 32. maka kemungkinan masyarakat untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 87 .0 85.3 persen. 2008.1 58 Pokmas UEP 20. persentase responden dalam kegiatan yang berkaitan dengan UEP lebih rendah daripada kegiatan pelestarian terumbu karang.3 58.9 persen). meskipun tidak selalu terkait dengan penerimaan bantuan (terutama untuk keterlbatan dalam kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pelestarian terumbu karang). karena kegiatan tersebut hanya melibatkan berbagai bentuk pertemuan.2 67 dan laut Pembentukan LPSTK 22. Temuan penelitian ini menggambarkan bahwa kegiatan penyadaran dan konservasi ekosistem terumbu karang cukup diminati. Persentase responden yang terlibat pada jenis kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang serta perlindungan/pengawasan pesisir dan laut paling tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis kegiatan lainnya.Tabel 3.7 75 kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang Perlindungan/pengawasan pesisir 35.3 29 Pokmas wanita/jender 14.0 86.7 67. Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Keterlibatan Kegiatan Terlibat Tidak Jumlah COREMAP terlibat (N) Peningkatan pengetahuan dan 41. Angka ini hanya sedikt lebih tinggi daripada mereka yang terlibat dalam pokmas konservasi (37.4 62 Pelatihan UEP 34. Sebaliknya. Kenyataan ini mudah diphami karena kegiatan yang merupakan tahap awal pelaksanaan program tersebut diselenggarakan untuk seluruh anggota masyarakat.6 32 Pendampingan UEP 15. meskipun hanya mencapai 41.

Persentase responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan program ini termasuk tinggi. keramba ikan kerapu. dan jaring ikan. Hal ini mungkin disebabkan dalam pembuatan proposal mereka telah dilatih dan dibimbing oleh anggota LPSTK. dan motivator. Dari wawancara mendalam dengan beberapa anggota pokmas juga mencerminkan hal ini. Tabel 3. Dapat dilihat pada Tabel 3. sebagian besar responden telah mengetahui jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. mereka umumnya hanya mengetahui bahwa sebelum kegiatan dilakukan akan diadakan pelatihan dan bimbingan agar usaha yang akan dikembangkan berhasil. kecuali untuk jenis kegiatan pemberian dana bergulir/kredit yang hanya diketahui oleh sekitar sepertiga dari jumlah responden.mengikutinya juga paling besar dibandingkan dengan kegiatan lainnya. disamping kurangnya sosialisasi yang berkaitan dengan penggunaan dana COREMAP untuk program UEP. Besar kemungkinan termasuk mereka hanya terbatas pada beberapa anggota dalam pokmas dan/atau LPSTK. yaitu dicerminkan dari pengetahuan untuk pemilihan jenis usaha yang diajukan dalam proposal pokmas yang memilih usaha-usaha usaha peternakan sapi. 88 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sehingga mempengaruhi rendahnya persentase responden yang terlibat dalam dua jenis kegiatan COREMAP tersebut.3 menyajikan data mengenai pengetahuan responden terkait dengan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan COREMAP di Desa Limbung. rendahnya persentase responden yang tidak mengetahui pemberian dana bergulir untuk pengembangan UEP kemungkinan disebabkan karena implementasi kegiatan belum dilakukan. Sebaliknya. tenaga pendamping. Untuk keterlibatan pada pembentukan LPSTK dan penyusunan RPTK juga hanya melibatkan sebagian kecil responden. Di sisi lain.3.

Khususnya untuk kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang adalah mencapai lebih dari separuhnya (58. Penjelasan selanjutnya yang lebih rinci akan diberikan kepada kelompok yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 89 . Ketiga jenis kegiatan UEP di atas diketahui masyarakat Desa Limbung dari empat sumber informasi.9 persen) dan masyarakat yang terlibat dengan kegiatan COREMAP (30. diketahui responden hampir berbanding antara dari pengurus COREMAP (35. 2008.8 persen) dan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat (55. diberikan oleh pengurus tingkat kabupaten.6 persen).Tabel 3.0 36.0 32. jawaban terbanyak adalah dari pengurus COREMAP termasuk fasilitator dan motivator. aparat desa. yaitu pengurus COREMAP. Mengacu kepada jawaban responden ini dapat dimengerti karena pada sosialisasi awal kegiatan COREMAP fase II umumnya penjelasan program implementasi. Distribusi Persentase Responden Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan COREMAP Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha Tahu 80.0 Menurut UEP Jumlah (N=100) 100 100 68. yaitu kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha.0 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. termasuk UEP.9 persen). dan anggota masyarakat lainnya.3. Sedangkan kegiatan UEP lain. anggota masyarakat yang terlibat kegiatan COREMAP.0 64.0 Tidak tahu 20. Berdasarkan jawaban responden mengenai sumber informasi dari kegiatan tersebut.

Kepala desa dan perangkatnya hanya diberitahu pada saat awal kegiatan COREMAP akan diimplementasikan di Desa Limbung. tampaknya sangat kurang diberikan dari kepala desa dan aparatnya. 90 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . pada umumnya kegiatan COREMAP yang akan diimplementasikan kepada masyarakat Desa Limbung langsung diberikan kepada pengurus LPSTK atau ketua kelompok. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari wawancara mendalam. Gambaran ini menunjukkan bahwa kemungkinan aparat Desa Limbung kurang dilibatkan dalam kegiatan COREMAP yang berdampak terhadap kurangnya pemberian informasi mengenai kegiatan ini kepada masyarakat. yaitu tenaga pendamping/field fasilitator (FF) dan motivator. Informasi dari anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP biasanya diterima dari ketua kelompok atau pengurus COREMAP tingkat desa (LPSTK) yang telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan atau menerima informasi dari pengurus COREMAP tingkat kabupaten. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang hanya kurang dari 6 persen responden mengatakan bahwa sumber informasi tentang kegiatan UEP diperoleh dari aparat desa. termasuk UEP. yang sekaligus dalam rangka pembentukan LPSTK.telah terbentuk dan umumnya juga dilakukan oleh pengurus COREMAP. Dalam penyampaian informasi tentang program COREMAP.

3 Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Fasilitator/ motivator/ pengurus COREMAP Anggota masyarakat lainnya Jumlah (N) Pemilihan jenisjenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat 58.4. Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Sumber informasi Anggota Kepala/ masyarakat aparat desa/ yang terlibat dusun/ dalam kampung/ kegiatan RT/RW COREMAP 2.4 68 untuk meningkatkan usaha Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung.9 5. Namun tampaknya kegiatan UEP yang berkaitan dengan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat sangat kecil yang terlibat.Tabel 3. seseorang terlibat pada kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. Misalnya.9 30.5 26. Sedangkan jawaban terbanyak adalah responden yang terlibat pada kegiatan memilih jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. yaitu sebesar 32 persen.8 27. namun dia juga mengikuti kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha. di mana salah satu yang harus dipertimbangkan adalah kegiatan yang tidak merusak terumbu karang.8 13.9 36 Pelatihan dan bimbingan keterampilan 35. yaitu 14. 2008. (Lihat Tabel 3. Sebagian dari responden yang mengetahui jenis kegiatan UEP – COREMAP ada yang terlibat lebih dari satu kegiatan. sehingga mereka belum merasa terlibat pada kegiatan UEP.6 2.8 12.5).9 7.3 persen. Permasalahan ini mungkin karena sampai evaluasi ini dilakukan dana untuk kegiatan UEP sebagian besar belum turun.5 80 55. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 91 . Hal ini dimaklumi karena kegiatan ini umumnya diikuti pada saat pembuatan proposal.

Sebagaimana diketahui. 2008. jawaban terbanyak adalah kegiatan pembuatan makanan atau kue (66 persen).Tabel 3.6 79. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan UEP diharapkan dapat menggantikan kegiatan yang dapat merusak lingkungan. Mengacu kepada usulan kegiatan dari Pokmas-pokmas COREMAP fase II. Di antara tujuh (7) kegiatan yang diketahui responden. baik secara langsung maupun tidak langsung kegiatan ini akan berkaitan dengan usaha ekonomi yang dilakukan di darat atau di laut. program COREMAP di Desa Limbung telah berlangsung dua fase dan pada fase pertama pernah kegiatan yang berkaitan dengan usaha ekonomi. khususnya lingkungan SDL dan ekosistem terumbu karang. pengolahan hasil ikan laut (59 persen). dan usaha ternak rumahtangga (52 persen).3 85.2 Tdk Terlibat 68.7 35 20.8 Jumlah (N) 77 Jenis kegiatan UEP COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha 14.4 68 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung.5. tampaknya kegiatan yang mereka ketahui umumnya adalah mirip dengan kegiatan pada 92 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat nelayan atau pesisir. Oleh karena itu. Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Terlibat 31. Berdasarkan pengetahuan responden ada beberapa jenis usaha ekonomi pernah dilakukan COREMAP.

Di antara kegiatan ekonomi yang diketahui responden.0 41. Hal ini karena kegiatan tersebut ada yang tidak muncul atau belum dilaksanakan pada fase II. tetapi usahanya sendiri bila tidak pergi melaut atau berkebun.0 99.COREMAP fase I. Berdasarkan wawancara mendalam diketahui bahwa kegiatan tersebut bukan berasal dari COREMAP.0 Lainnya (penyaluran BBM) 1.0 98. Distribusi Responden Mengenai Jenis Usaha Dilakukan COREMAP Jenis usaha ekonomi Menurut Ekonomi Tahu Pengetahuan yang Pernah Tidak tahu Jumlah (N) 100 100 100 100 100 100 100 100 Sosial- Perdagangan/warung 100.0 Keramba ikan/udang/kepiting/biota 27. 2008.0 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 2.0 Ternak 52.0 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 66. Apabila dilihat dari poroposal yang diajukan oleh Pokmas UEP COREMAP fase II belum muncul usaha penjualan BBM. Kegiatan ekonomi lain adalah usaha BBM (1 persen).0 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Ekonomi Desa Limbung. muncul jawaban usaha kerajian atau souvenir yang hanya sekitar 2 persen.0 98.0 48. kecuali pembuatan makanan atau kue yang telah dilaksanakan oleh Pokmas Jender.0 73. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 93 .0 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 59.6.0 34.0 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 2. Tabel 3. Mungkin kegiatan ini pernah dilakukan pada program COREMAP fase I. Padahal di Desa Limbung hingga saat ini belum ada kegiatan membuat kerajinan atau souvenir khas dari Desa Limbung atau Kepulauan Riau.

0 2 Lainnya (penyaluran BBM) 100. Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Jenis usaha ekonomi yang diikuti Terlibat Tidak Terlibat 96. bahkan untuk keterlibatan dalam penyaluran BBM hanya satu orang responden.0 2 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 100. Sebagai contoh beberapa usaha ekonomi produktif seperti perdagangan/warung. Tabel 3. pembuatan kerajinan hanya diketahui oleh kurang dari 10 persen responden.7 92.7. Namun demikian.Kegiatan ekonomi COREMAP mencakup sejumlah besar jenis usaha ekonomi produktif yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan sekaligus juga mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya laut.7 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 100.2 52 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 7. Salah satu kemungkinan yang menyebabkan fenomena ini adalah kurangnya sosialisasi mengenai jenis-jenis usaha ekonomi produktif yang bisa dilakukan dalam rangka pelaksanaan COREMAP.3 Jumlah (N) 27 Perdagangan/warung Keramba ikan/udang/kepiting/biota 3.8 92.0 1 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. hanya sebagian kecil responden yang terlibat dalam kegiatan ekonomi tersebut. 2008.3 66 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 100.0 2 Ternak 7. 94 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

eksternal dan struktural. PENDAPATAN RUMAH TANGGA DAN PERUBAHANNYA P embahasan pendapatan rumah tangga pada tulisan ini mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. mencakup ratarata pendapatan rumah tangga per bulan. kiriman/pemberian. dan kualitas sumber daya manusia. Sedangkan aspek pemasaran.BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4. yang meliputi faktor internal. merupakan beberapa contoh dari faktor eksternal. Sejalan dengan fokus penelitian pada perubahan pendapatan dalam kaitannya dengan pengelolaan terumbu karang. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 95 . median. produksi. pancaroba maupun kencang/kuat. program. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari beberapa sumber: (1) penghasilan yang diperoleh anggota rumah tangga yang bekerja (seperti gaji/upah. (2) penghasilan dari bunga tabungan/saham/ deposito. baik pada musim angin teduh. Pendapatan rumah tangga yang dimaksudkan dalam tulisan ini merujuk pada total pendapatan suatu rumah tangga yang diperoleh oleh kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga. maka bagian ini juga menguraikan tentang pendapatan dari kegiatan kenelayan dan faktor yang berpengaruh. Faktor struktural meliputi kebijakan. keuntungan usaha).1. Termasuk dalam faktor internal antara lain teknologi penangkapan. dan (3) uang pensiun. sarana-prasarana produksi dan kompetisi pemanfaatan sumber daya laut. peraturan dan penegakkan hukum terkait dengan pemanfaatan sumber daya laut dalam rangka memperoleh pendapatan. dan distribusi rumah tangga menurut besar pendapatan per bulan. Sedangkan pendapatan dari kegiatan kenelayanan adalah semua pendapatan yang diperoleh oleh kepala maupun anggota rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan. pendapatan per kapita.

Informasi dari masyarakat dan pengamatan di lokasi penelitian memperkuat alasan tersebut..360. pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423. Tingkat pendapatan rumah tangga menunjukkan tren meningkat. Peningkatan pendapatan rumah tangga terjadi pada mereka yang berpendapatan rendah maupun tinggi.pada tahun 2008. meningkat menjadi Rp 1. atau meningkat 89. Pada tahun 2008.per bulan).300.1. Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita. hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223.5 persen selama periode 2006-2008 (lihat Tabel 3.1).700..050. atau mengalami kenaikan sebesar 43.-.per bulan. antara lain karena migrasi ke luar untuk bekerja maupun karena perkawinan.1. tetapi lebih dari separuh rumah tangga sampel hanya mempunyai pendapatan di bawah rata-rata pendapatan rumah tangga. diperlihatkan oleh angka median yang lebih rendah dari rata-rata pendapatan rumah tangga. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan Kondisi pendapatan rumah tangga responden di Desa Limbung menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir (2006-2008).4.5 persen. Peningkatan pendapatan per kapita ini mungkin berkaitan dengan perubahan jumlah anggota rumah tangga. Semua ukuran statistik pendapatan menunjukkan fenomena membaiknya kondisi ekonomi rumah tangga responden. rata-rata pendapatan rumah tangga per bulan dari berbagai sumber pendapatan di daerah penelitian sebesar Rp 948.. terlihat dari adanya kenaikan pendapatan minimum maupun maksimum.200. 96 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pada tahun 2006.

Meskipun sama-sama dipasang sepanjang siang dan malam hari yang hasil tangkapannya diambil pada pagi dan sore hari. yaitu dari 37 persen pada tahun 2006 menjadi 13. yang ditunjukkan oleh tingginya persentase rumah tangga dengan jumlah pendapatan tersebut.Tabel 4.000 10.000 6. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan. hasil ketam yang ditangkap dengan bubu cenderung lebih banyak daripada dengan jaring (wawancara dengan beberapa nelayan di Dusun Centeng maupun Senempek).250 75. Diperkirakan rumah tangga tersebut berpindah ke kelompok rumah yang mempunyai rata-rata pendapatan antara 500 ribu – 1 juta rupiah per bulan. PPK-LIPI 2007 Perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung terjadi di setiap kategori besar pendapatan (lihat Gambar 4.200 948. Persentase rumah tangga pada kelompok rumah tangga berpendapatan terendah menurun tajam.000 Jumlah (Rp. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.157. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Pendapatan 2006 Per kapita Rata-rata rumah tangga Median Minimum Maksimum 223.375. yang juga mengalami sedikit peningkatan.) 2008 423.1.800 10.500 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. Kabupaten Lingga.300 754.360.700 981. Perubahan pendapatan ini kemungkinan besar dialami oleh rumah tangga nelayan yang mengganti alat tangkap jenis jaring (pada tahun 2006) dengan bubu (pada tahun 2008.1 persen pada tahun 2008. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 97 .050 1.1). Desa Limbung.

Nelayan kelong bilis yang umumnya mempunyai kondisi ekonomi lebih baik diperkirakan termasuk kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi ini. sehingga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan.4 juta rupiah dan 3.5 juta rupian per bulan ke atas.5 juta -2. dengan peningkatan tajam dialami oleh mereka yang memiliki pendapatan antara 2 juta – 2. 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. tetapi hanya dialami sedikit rumah tangga. PPK-LIPI 2007 Perubahan tingkat pendapatan rumah tangga ke arah yang lebih besar juga terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi.1.Gambar 4. Lokasi wilayah tangkap seperti ini memungkinkan nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan bilis lebih banyak. Walau terjadi penurunan persentase rumah tangga responden yang berada pada kelompok pendapatan antara 2. Observasi di wilayah penangkapan kelong bilis memperlihatkan adanya penambahan jumlah kelong dibandingkan pada survei tahun 2006. dengan wilayah tangkap yang semakin mendekati lokasi terumbu karang. Kabupaten Lingga. Dengan demikian. Namun 98 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan.9 juta rupiah per bulan. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Desa Limbung. peningkatan pendapatan rumah tangga dirasakan oleh mayoritas rumah tangga di Desa Limbung.

000 12 Jasa Kemasyarakatan 777.000 2 600.2.300 3 1.200 6 Perdagangan 933.2 persen selama dua tahun terakhir.demikian. kecuali sektor industri pengolahan dan lainnya.050. Kabupaten Lingga Utara.712. yaitu meningkat sebesar 60. PPK-LIPI 2008 Lapangan Pekerjaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 99 .200 5 600.376. keterlibatan KRT pada lapangan pekerjaan ini hanya sedikit. karena harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar juga semakin mahal. karena jumlah KRT yang bekerja di sektor ini adalah paling banyak dibandingkan mereka yang bekerja di sektor lain.300 7 1. Desa Limbung. Tabel 4. Sedangkan peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap yang hanya 23.600 4 Lainnya 732. karena perannya sebagai pencari nafkah utama.800 67 Pertanian pangan 505. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Data rata-rata pendapatan berdasarkan lapangan pekerjaan KRT memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan rata-rata pendapatan per bulan di setiap sektor.) 2006 N 2008 n Perikanan tangkap 1.000 1 Kehutanan 700. Pendapatan rumah tangga berasal dari penghasilan yang diperoleh dari kepala maupun anggota rumah tangga. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga.000 2 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.000 2 Perkebunan 681. meningkatnya pendapatan rumah tangga tampaknya belum dapat memperbaiki kondisi kesejahteraan.500 4 470.7 persen tampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat.500 68 1.858. tetapi keterlibatan kepala rumah tangga (KRT) pada umumnya paling tinggi.700 2 Industri pengolahan 850. Peningkatan pendapatan KRT yang tertinggi dialami oleh mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan perkebunan (karet). sehingga peningkatan pendapatan tersebut tidak berdampak luas pada kesejahteraan rumah tangga secara umum. Tahun 2006dan 2008 Rata-rata Pendapatan (Rp. Namun demikian.

2. Keterangan yang diperoleh dari masyarakat menunjukkan bahwa responden yang semula bekerja pada sektor jasa kemasyarakatan telah memasuki usia pensiun dan pindah ke luar desa. Sedangkan dua usaha industri ketam lainnya hanya mempekerjakan tenaga kerja masing-masing 5 orang dan 8 orang. Penggunaan dan sarana-prasarana penangkapan sumber daya 13 Besar penghasilan dari sektor industri pengolahan kepiting tersebut tergantung pada hasil kerja kelompok dengan sistem upah borongan.Kenaikan pendapatan KRT yang berasal dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan perkembangan sektor lainnya. Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Kapasitas penangkapan sebagian besar nelayan di Indonesia masih rendah. dan membuat makanan kecil. Peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan usaha perdagangan yang mencapai 49. Tabel 4. 4. anyaman untuk atap rumah.8 persen mungkin juga dipengaruhi oleh peningkatan daya beli rumah tangga responden yang kebanyakan dikepalai oleh mereka yang bekerja di sektor perikanan tangkap. Pabrik ketam terbesar mempunyai tiga kelompok dengan anggota per kelompok (meja) antara 6-8 orang. Penurunan pendapatan KRT terjadi di sektor industri dan sektor lainnya.2 juga memperlihatkan. Demikian pula KRT yang bekerja di sektor industri tersebut didominasi oleh KRT perempuan (berstatus janda) yang bekerja pada usaha pengolahan daging ketam.1. Lapangan pekerjaan industri pengolahan yang terlihat menonjol di Desa Limbung adalah usaha pengolahan daging kepiting yang mayoritas tenaga kerjanya perempuan. sedangkan pengganti responden bekerja di luar sektor tersebut. Hal ini karena lapangan pekerjaan perdagangan di Desa Limbung pada umumnya berupa usaha dagang barang-barang kebutuhan sehari-hari. pada tahun 2008 tidak ditemukan KRT yang bekerja di sektor jasa kemasyakatan yang pada tahun 2006 berjumlah empat orang. Usaha –usaha industri kecil dan rumah tangga yang cenderung memberikan upah rendah dan diperkirakan belum dapat meningkatkan pendapatan pekerja13. 100 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

data pada Tabel 4. atau lebih besar dari nilai upah minimum Provinsi Kepulauan Riau yang sebesar Rp 833. demikian pula alat tangkap yang digunakan masih sederhana. baik berasal dari pekerjaan utama maupun tambahan..000. terdapat sebanyak 79 rumah tangga yang mempunyai penghasilan dari kegiatan kenelayanan. Jumlah rumah tangga tersebut menjadi lebih sedikit pada saat musim pancaroba (68 rumah tangga) dan ombak kuat (38 orang). Pendapatan tersebut mengalami peningkatan sekitar 23. karena mereka hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil atau sampan yang tidak dapat menembus ombak besar.2). besar median hampir mendekati angka rata-rata pendapatan. Keadaan ini berdampak terhadap pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang rendah.laut umumnya berupa perahu motor (dan bahkan perahu tanpa motor/sampan). K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 101 . Tanpa memperhitungkan musim angin.2 memperlihatkan rata-rata pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan sebesar Rp 967.. Di antara 100 rumah tangga responden.2 persen dalam kurun waktu 2006-2008 (lihat Gambar 4. Bahkan pada tahun 2008. Besar pendapatan dihitung dari semua pendapatan anggota rumah tangga yang bekerja pada sub-sektor perikanan tangkap/laut. Sedikitnya jumlah rumah tangga yang mendapat penghasilan dari kegiatan kenelayanan pada musim ombak kuat berhubungan dengan cukup banyaknya nelayan yang menghentikan aktivitas melaut.200. Analisis pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan dalam tulisan ini didasarkan pada data hasil survei rumah tangga yang memperoleh penghasilan dari kegiatan kenelayanan. mengindikasikan bahwa semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam.

Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. nelayan juga sering memperoleh berbagai jenis ikan. Desa Limbung. Demikian pula statistik pendapatan lainnya (median. sehingga penjualan hasil tangkapan dapat memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan 102 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .Gambar 4. juga menunjukkan angka lebih tinggi dibandingkan dengan dua musim lainnya. Kabupaten Lingga. PPK-LIPI 2008 Pendapatan rumah tangga nelayan sangat bergantung pada musim angin. tetapi selain kepiting/ketam sebagai hasil tangkapan utama. Keadaan ini terjadi karena pada musim teduh nelayan dapat melaut dua kali per hari dengan menggunakan beberapa jenis alat tangkap.2. pendapatan maksimum dan minimum). Pada musim ini semua nelayan turun ke laut. Tahun 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Meskipun terjadi penurunan harga jual. Rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh (gelombang lemah) adalah paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pada musim pancaroba dan musim gelombang kuat.

sehingga mengurangi waktu melaut... Tapi ketam bisa dijual kemana saja dan turunnya (harga) juga tidak banyak. terserah kita mau kemana. Harga jual sedikit menurun. Harganya memang lebih murah dibandingkan dengan jualan ikan pada saat angin ribut (musim angin kencang).2)... “. dapat uangnya juga lebih banyak.dengan dua musim lainnya (gelombang kuat dan pancaroba).” Pendapatan rumah tangga nelayan pada musim pancaroba lebih rendah daripada pendapatan pada musim teduh. tapi harga turun. tetapi karena hasil tangkapan tergolong banyak.pada musim teduh... sehingga hasil tangkapan biasanya hanya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 103 ... banyak ketam dan ikan yang dapat ditangkap nelayan. Kalau jual ikan bisa ke kapal yang datang dari Pancur. kegiatan kenelayanan dilakukan dengan memperhitungkan kondisi angin yang sewaktuwaktu dapat berubah cepat. Perubahan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut perubahan pada musim tersebut berhubungan dengan frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap. Pada musim pancaroba. tapi karena hasilnya lebih banyak. tetapi lebih tinggi dibandingkan musim gelombang kuat (lihat Gambar 4. maka pendapatan yang diperoleh nelayan juga cukup besar. Di sini ada tiga PT.. Kita jual kemana kita mau..... seperti diungkapkan oleh salah seorang nelayan berikut ini.. Sedangkan kegiatan melaut pada musim ombak kuat sangat jauh berkurang dengan jangkauan wilayah tangkap sangat terbatas. ke penampung di sini juga bisa.

3).3). Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan. Perubahan pendapatan menurut musim tampak konsisten pada tahun 2006 maupun 2008 (Tabel 4. terendah pada musim ombak kuat. 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.7 persen).4 persen. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45. Kabupaten Lingga. 104 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yaitu pendapatan paling besar diperoleh pada musim teduh/ombak lemah. atau kira-kira tiga kali lipat 14 Penurunan pendapatan maksimum kemungkinan berhubungan dengan pergantian responden (yaitu dari seorang nelayan pemilik beberapa kelong bilis dengan nelayan lain yang kondisi ekonominya lebih rendah). karena menolak untuk diwawancara. Kecuali pendapatan maksimum14. Tren tingkat pendapatan selama periode 2006-2008 juga menunjukkan. semua statistik pendapatan menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada setiap musim. Desa Limbung. Kenaikan rata-rata pendapatan pada musim ombak kuat adalah 15. PPK-LIPI 2008 Pendapatan dari kegiatan kenelayanan cenderung meningkat selama periode tahun 2006-2008 (Tabel 4. sedangkan pada musim pancaroba berada di antara musim teduh dan ombak kuat.3.Gambar 4.

7 persen).000 25.000 5. Meskipun demikian. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah).4).3.000 45.000 2008 879.400 750. perubahan pendapatan ke arah yang lebih baik paling jelas terlihat pada musim ombak lemah dibandingkan dengan dua musim lainnya.000 50. Musim Ombak Lemah Pendapatan Rata-rata Median Minimum Maksimum 2006 1. pancaroba maupun ombak kuat. Kenaikan pendapatan rumah tangga nelayan pada musim ombak kuat cenderung dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 1 juta (lihat Tabel 4.900. Desa Limbung. Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan. Namun demikian. baik pada musim teduh/ombak lemah. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut.lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4.000 150.900.000.000 Pancaroba 2006 839.000 7. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Tabel 4.000 300.500 500. masih banyak rumah tangga nelayan yang mempunyai pendapatan rumah di bawah ratarata pendapatan. Kabupaten Lingga Utara.000 9. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim. Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan dan musim menunjukkan perbedaan perubahan pendapatan menurut musim angin.200.000 6.000 2008 1.000 3.500.100.050 650.500 310. sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun. yaitu ditunjukkan oleh angka median yang masih berada di bawah nilai rata-rata pendapatan. PPK-LIPI 2008 Perubahan pendapan yang lebih baik juga terlihat dari angka median pendapatan yang meningkat.000 Ombak Kuat 2006 561.236.000 100.000 3. Tabel 4.5 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 105 .000 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. Secara umum terjadi kenaikan pendapatan pada kelompok rumah tangga nelayan yang memiliki besar pendapatan di bawah angka rata-rata pendapatan.750.100 1.850 500.000 2008 647.802.

000 – 3.500 – 2.4 37.9 32. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap.999 2.0 4.3 2.4 1.0 0.0 0.4 100 100 (68) (69) Ombak Kuat 2006 2008 68.8 13. yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari. Tabel 4. karena frekuensi dan waktu melaut berkurang.4 18.4 8.3 10.9 juta). Rp 1 juta-1.0 1.4 juta.0 7. PPK-LIPI 2005 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.memperlihatkan persebaran rumah tangga yang cenderung merata pada kelompok pendapatan ke dua.0 0.3 2.7 10.0 3. khususnya bubu ketam.000 – 2.500 – 1.3 0. PPK-LIPI 2007 106 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .000 – 1.0 1.1 13.6 21.0 6.0 1.4 2.7 11.499 2. ke tiga dan ke empat terbawah (Rp 500 .5.7 8.5 menggambarkan keadaan tersebut.7 100 100 (79) (75) Pancaroba 2006 2008 47.7 1.4 5. persentase rumah tangga nelayan berdasarkan kelompok pendapatan cenderung terpusat pada dua kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu dan Rp 500 999 ribu).9 2.4 0. dan Rp 1. Data pada Tabel 4. Namun demikian.999 3.3 6. Tahun 2006 dan 2008 (%) Pendapatan (‘000 rp) < 500 500 – 999 1. yaitu persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu) jauh lebih tinggi dibandingkan pada musim ombak lemah. pendapatan mereka diperkirakan turun pada kelompok pendapatan yang lebih rendah. Perbedaan ini dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal.6 0.7 0.0 41. Sedangkan pada musim pancaroba dan ombak kuat.500 Jumlah (N) Musim Ombak Lemah 2006 2008 25.3 0.1 31.7 35. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini.6 22. pada musim pancaroba dan ombak kuat.4 46.499 > 3.999 ribu.0 7.499 1. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar.5 8.4 24.0 0.4. Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim.0 100 100 (38) (42) Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.4 4.Rp 1.7 0.

dan degradasi sumberdaya pesisir/laut. 4. sebaliknya terjadi penurunan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tertinggi (> Rp 3. antara lain teknologi penangkapan. yang saling terkait satu dengan yang lain. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga dan perubahannya antara lain permintaan sumber daya laut. FAKTOR PENGARUH PENDAPATAN RUMAH TANGGA Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian. wilayah penangkapan. dipengaruhi oleh faktor internal. Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga adalah kebijakan/program/aturan pemerintah dan lembaga lain.2. dan kualitas sumber daya nelayan.Data tren pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan juga menunjukkan.1.5 juta) terjadi pada musim teduh/ombak lemah. rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tinggi tersebut tampaknya juga mengalami penurunan pendapatan.9 juta dan Rp 3. kenaikan persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan tinggi (> Rp 2. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural Tujuan COREMAP fase II yang berlangsung selama periode 2005 – 2010 adalah untuk mengembangkan sistem pengelolaan terumbu K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 107 . Fator internal meliputi semua faktor yang ada dalam diri dan lingkungan masyarakat setempat.5 – Rp 2.4 juta.0 – Rp 3. 4. pada musim pancaroba dan ombak kuat.2. musim. biaya produksi. akses pemasaran. Hal ini diindikasikasikan oleh peningkatan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan Rp 2. misalnya Program COREMAP maupun programprogram pembangunan lainnya. eksternal dan struktural. Sebaliknya. Kenaikan proporsi rumah tangga yang memiliki pendapatan tinggi pada musim teduh tersebut kemungkinan berhubungan dengan bertambahnya rumah tangga yang memiliki kelong bilis yang biasanya dioperasikan pada musim teduh. Kabupaten Lingga.5 juta) yang cukup besar. Dengan perkataan lain terjadi pergeseran kelompok rumah tangga nelayan dari kelompok pendapatan tertinggi ke kelompok pendapatan lebih rendah. yaitu di Desa Limbung.

Masing-masing kelompok mendapat bantuan modal Rp 100 ribu yang kemudian dibagikan kepada empat orang anggota. Dari satu pokmas yang beranggotakan sebanyak 16 orang. dan untuk masyarakat) (DKP. Program ini terus berusaha mendorong dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengorganisir diri. termasuk menentukan pilihan kegiatan pembangunan di daerahnya secara musyawarah dengan mengacu pada azas COREMAP II (yaitu dari. yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Indonesia. Beberapa kegiatan untuk mencapai tujuan COREMAP telah dilakukan. yaitu di tujuh desa (salah satunya adalah Desa Limbung) telah dimulai sejak fase I dan dilanjutkan pada fase II. Pada saat survei BME Sosial Ekonomi dilakukan. hanya terdapat satu pokmas yang sudah berjalan. 108 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kemudian dibagi menjadi empat (4) kelompok. Walaupun telah terbentuk enam (6) pokmas UEP. yaitu pokmas jender yang melakukan kegiatan usaha industri rumah tangga.. Kegiatan COREMAP diawali dengan sosialisasi di tingkat kabupaten dan desa. Berikut ini dibahas capaian dan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program.karang. meskipun sebagian diantaranya masih belum memberikan dampak positif. Dengan modal usaha sebesar Rp 500 ribu per kelompok dengan anggota 16 orang15. oleh. Data maupun informasi yang berasal dari hasil survei BME sosial ekonomi tersebut dapat dimanfaatkan oleh komponen CBM (community based management) untuk perbaikan implementasi COREMAP selanjutnya. 2007). Pelaksanaan COREMAP di Kabupaten Lingga. kegiatan COREMAP II telah berlangsung selama tiga tahun. Uang sebesar Rp 25 ribu tersebut dipakai sebagi modal usaha membuat kue kering (mereka menyebutnya epuk-epuk) atau kerupuk ikan. Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang merupakan target pelaksanaan COREMAP II dalam rangka meningkatkan kesejahteraan penduduk di lokasi Desa Limbung tampaknya masih sangat terbatas. karena berbagai kendala. disamping pembentukan beberapa kelompok masyarakat (pokmas). pada kenyataannya kegiatan usaha dilakukan secara individu. memberdayakan dan mendukung masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang dan ekosistem terkait secara berkelanjutan. 15 Walaupun mengatasnamakan pokmas.

. ketua dan salah seorang anggota pokmas jender tersebut mengatakan bahwa kegiatan UEP dapat membantu dalam memberikan kegiatan produktif bagi anggota pokmas yang jumlahnya masih terbatas pada beberapa orang. membuat nelayan tidak lagi berani melakukan penangkapan di kawasan tersebut dan juga tidak menggunakan alatalat tangkap yang tidak ramah lingkungan. demikian pula tidak dilakukannya penangkapan SDL di lingkungan DPL. seperti diungkapkan sebagai berikut: “. Tak apa- K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 109 . misalnya parit gamat yang sebelumnya sering digunakan untuk mencari teripang. Menurunnya atau bahkan tidak adanya lagi penggunaan alat-alat tangkap yang merusak. Penentuan daerah perlindungan laut (DPL) yang dimotori oleh COREMAP dengan partisipasi masyarakat setempat. seperti parit gamat untuk cari teripang. Informasi yang diperoleh dari FGD di Dusun Seranggas menggambarkan semakin meningkatnya ketersediaan ikan bilis. yang secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. dampak kegiatan ini terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga belum terlihat nyata.maka kegiatan UEP yang baru berjalan kira-kira empat (4) bulan sebelum pelaksanaan survei BME Sosek.. menyebabkan tekanan terhadap ekosistem terumbu karang dan kekeruhan air laut semakin berkurang. Parit gamat buat air jadi keruh dan teri tak mau masuk (ke kelong). jadi kelong makin banyak.. Lebih-lebih dengan dikeluarkannya peraturan desa (Perda) tentang larangan penggunaan alat-alat tangkap yang merusak yang juga difasilitasi oleh COREMAP fase I. Sekarang orang yang mampu pada cacak (memasang) baru. karena ada larangan penggunaan alat tangkap yang merusak. termasuk ikan bilis yang tidak bisa hidup di lingkungan air keruh. Meskipun demikian. masyarakat nelayan menjadi berani untuk melakukan protes jika ada nelayan setempat dan luar desa yang melanggar aturan tersebut..hasil kelong sejak COREMAP II jadi baik lagi. Dampak positif lain yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya COREMAP adalah fasilitas (kemudahan) dalam melakukan kegiatan melaut. sehingga meningkatkan populasi sumber daya laut.

sarana dan atribut kawasan perlindungan laut. yang sumber dananya berasal dari tingkat provinsi. Kemudahan dalam kegiatan melaut lainnya adalah bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga). khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas.apa mereka pada nambah. lampu sorot. Meskipun pada COREMAP fase I pernah ada kegiatan pengawasan. ditunjukkan oleh semakin banyaknya jumlah kelong bilis pada saat ini dibandingkan dua tahun yang lalu. yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana. karena lokasinya besar (luas). Program ini dimulai tahun 2006 (tetapi di Desa Limbung baru berjalan pada awal tahun 2007) yang ditujukan pada nelayan dan pembudidaya di Kabupaten Lingga. yang selanjutnya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. Keberadaan fasilitas ini sangat membantu nelayan. bahan bakar minyak. Manfaat keberadaan tambatan perahu bantuan COREMAP ini tidak hanya dirasakan oleh nelayan. dan atribut untuk tanda batas DPL). Kondisi ini akan semakin baik apabila pokmas pengawasan (reef watcher) yang sudah terbentuk dapat segera melakukan aktivitasnya. dengan berhentinya program ini selama kurang lebih tiga tahun berdampak pada rusak/hilangnya peralatan. termasuk dalam faktor eksternal yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Desa Limbung antara lain Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga. padahal anggota pokmas kebanyakan berasal dari dusun yang letaknya jauh dari lokasi dpl. tetapi juga masyarakat lainnya (setempat dan luar desa) yang akan menyeberang dari dan ke dusun lainnya di Desa Limbung atau bahkan ke kecamatan lain. soalnya tempatnya di laut. misalnya Penaah.” Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan Desa Limbung memperkuat semakin banyaknya keberadaan ikan bilis di perairan tersebut. tetapi 20 persen dari total anggaran ditujukan untuk wilayah COREMAP 110 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Selain COREMAP. pokmas pengawasan belum aktif dalam melakukan kegiatan karena belum memiliki peralatan (kapal motor. Dampak lanjutan dari peningkatan populasi SDL adalah bertambahnya hasil tangkapan. Menurut sejumlah informan.

nelayan kecil juga mendapat keuntungan/ manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut.(wawancara di KSDA Kabupaten Lingga). Program pemerintah lain yang diimplementasikan di Desa Limbung yang memberikan kontribusi tidak langsung terhadap peningkatan pendapatan adalah pembangunan perbaikan dermaga dengan dana APBD melalui proyek Dinas Kimpraswil Kabupaten Lingga. nelayan yang mepunyai modal cukup juga dapat meminjam kepada penampung yang mendapat Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga tersebut untuk cacak kelong bilis yang memerlukan modal cukup besar. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penyaluran dana dilakukan oleh salah satu koperasi di kabupaten ini yang merupakan rekanan KSDA. Persyaratan semacam ini sulit dipenuhi oleh nelayan di Desa Limbung. karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki tanah/kendaraan sebagai agunan. Meskipun demikian. yaitu hampir di sepanjang pantai di lingkungan perairan Desa Limbung dapat ditemukan bubu ketam dalam jumlah banyak. Sepertihalnya dengan persyaratan untuk mendapatkan kredit. sehingga belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. biasanya dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap yang dapat dibayar secara kredit pada saat nelayan menjual hasil tangkapan. Hal ini karena kredit usaha yang diperoleh penampung. pembangunan sarana ini masih dalam proses penyelesaian. sedangkan KSDA bertindak sebagai pendampingan teknis. Ketersediaan dermaga ini akan memfasilitasi masyarakat Desa Limbung yang bertipologi daerah K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 111 . calon peminjam harus memiliki agunan yang berupa sertifikat tanah atau surat BPKB. Bahkan. Akibatnya. penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung. Pada saat survei BME Aspek Sosial Ekonomi. Kondisi ini tentunya akan berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan memperkuat informasi tersebut. Informasi dari beberapa nelayan Desa Limbung juga menunjukkan adanya peningkatan peminjaman alat-alat tangkap (umumnya berupa bubu ketam) kepada penampung.

tokoh desa. Bubu ketam juga dapat dipakai sepanjang musim. serta pengamatan di wilayah penangkapan menggambarkan fenomena perkembangan teknologi penangkapan di Desa Limbung. sehingga mudah untuk dioperasionalkan. Teknologi penangkapan yang berubah drastis dalam dua tahun terakhir (2006-2008) adalah alat tangkap kepiting/ketam. Telah dikemukakan sebelumnya. yaitu dari jaring menjadi bubu.pesisir dan kepulauan dalam melakukan kegiatan ekonomi. Perubahan alat tangkap ketam tersebut disebabkan karena bubu lebih murah dan mudah dalam pengoperasian. Hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi 2008 memperlihatkan. Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal Peningkatan pendapatan rumah tangga selama dua tahun terakhir tampaknya juga tidak terlepas dari pengaruh internal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Limbung. rumah tangga pemilik bubu ketam meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Teknologi penangkapan merupakan salah satu faktor penting dalam mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Faktor internal yang berperan penting dalam mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga adalah perubahan teknologi penangkapan dan modal melaut. meskipun Harga bubu ketam di tingkat penampung pada saat survei dilakukan (tahun 2008) sekitar Rp 600 ribu untuk 25 buah. 16 112 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pada umumnya nelayan membeli bubu di penampung dengan cara kredit yang pembayarannya dilakukan pada saat menjual hasil tangkapan. 4.2.2. sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan. Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan. rata-rata pemilikan bubu ketam kira-kira 35 buah dengan pemilikan terendah 10 buah dan tertinggi 92 buah. dan penampung. Perkembangan teknologi penangkapan di lingkungan masyarakat nelayan di Desa Limbung terlihat nyata dalam peningkatan jumlah dan perubahan jenis alat tangkap. Ukuran dan berat bubu ketam cukup ringan. dibandingkan dengan jaring16. bahkan jenis alat tangkap ini juga menarik kaum perempuan untuk ikut melaut yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. serta peningkatan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja.

.. tidak suah buat sendiri.. Telah dikemukakan sebelumnya. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 113 . Peningkatan hasil tangkapan ketam akibat perubahan alat tangkap dari jaring ke bubu tampaknya berkontribusi cukup besar terhadap peningkatan pendapatan dalam dua tahun terakhir.. Namun demikian. karena tidak berat. Perempuan juga bisa pakai. Bubu juga mudah dibeli jadi.. karena hanya menggunakan sampan dan dalam waktu paling lama dua jam.pasang bubu ketam tak pakai musim. Makanya sekarang ibu-ibu di sini juga ada yang pergi melaut”. yaitu hampir mencapai dua kali lipat.. rumah tangga yang mempunyai kelong bilis terus bertambah dalam dua tahun terakhir. Hanya nelayan yang mencari ketam hingga agak ke tengah dan menggunakan perahu motor memerlukan biaya operasional. seperti berikut.. “.... Desa Limbung mengambarkan alasan kenapa nelayan di desa ini pada umumnya menggantikan jaring ketam menjadi bubu ketam. paling mengganti kawat yang rusak. Melaut dengan menggunakan bubu ketam yang dilakukan di kawasan pantai juga tidak perlu mengeluarkan biaya operasional (BBM maupun ransum). Salah seorang nelayan di Dusun Centeng. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis. Kelong bilis harus ditempatkan di wilayah tangkap yang agak ke tengah yang berarti memerlukan modal usaha cukup besar.pada musim ombak besar pemakaian alat ini jauh berkurang. sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah17. Menurut sejumlah nelayan lainnya. tergantung keberanian saja.. tetapi hasil tangkapan juga lebih banyak daripada mereka yang mencari ketam di kawasan pantai. tetapi setiap melaut sering memperoleh hasil yang dijual ke penampung atau pabrik ketam. Tidak semua bubu terisi ketam. 17 Pemasangan dan pengangkatan bubu ketam dilakukan pagi dan sore hari.... penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu.

permintaan dan pemasaran SDL. Berikut dibahas pengaruh eksternal terhadap perubahan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. Selain teknologi penangkapan. bertambahnya pemilikan kelong bilis di antara nelayan di Desa Limbung berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga secara keseluruhan. Tambahan ART yang baru mulai bekerja pada dua tahun terakhir ini diantaranya adalah perempuan dan anakanak yang bekerja sebagai nelayan bubu ketam18. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga di Desa Limbung meliputi musim angin (iklim). Mereka juga tidak perlu pergi terlalu lama.2. sehingga masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan demikian. pada tahun 2006 rata-rata jumlah ART yang bekerja hanya satu orang. 4. karena menghasilkan setiap hari selama bulan gelap (sekitar 20 hari/bulan pada musim angin teduh/lemah dan terkadang pancaroba). Walaupun SDL selalu tersedia sepanjang tahun. sehingga mereka bisa menggunakan sampan yang didayung sendiri atau dengan bantuan anak.3. Data survei menunjukkan. meningkat menjadi antara 1-2 orang. dan sebagian lainnya bekerja di sektor jasa kemasyarakatan (guru honor) dan industri pengolahan ketam. hasil tangkapan sangat sulit diperoleh pada musim angin kencang karena 18 Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan sebagai nelayan bubu karena alat tangkap ini biasanya hanyadipasang/ditempatkan di wilayah penangkapan yang letaknya tidak jauh dari pantai.pendapatan dari hasil kelong juga terhitung tinggi. pertambahan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja juga berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga. 114 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Musim angin/iklim Pengaruh musim/iklim terhadap tingkat pendapatan nelayan sangat besar.

Meskipun tidak ada data statistik tentang permintaan daging ketam yang diekspor ke negara tersebut. maka berkontribusi terhadap pendapatan nelayan yang lebih tinggi daripada musim ombak kuat dan pancaroba. sehingga pendapatan juga tidak besar. Salah seorang pengelola K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 115 . Menurut beberapa nelayan. Pada umumnya nelayan hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil. tetapi kenaikan tersebut kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti perubahan teknologi. harga jual SDL menurun pada musim teduh. masyarakat nelayan Desa Limbung juga merasakan adanya perubahan iklim/musim angin dalam beberapa tahun terakhir. meskipun harga jual SDL lebih tinggi daripada musim teduh. Seperti terjadi di daerah-daerah lainnya. mengindikasikan meningkatnya permintaan pasar terhadap daging ketam. musim angin seperti yang mereka perhitungkan selama ini sudah tidak bisa lagi menjadi pedoman.3). sehingga armada ini hanya dapat menjangkau wilayah tangkap yang terlindung dan dekat dengan pantai.laut sedang berombak besar. Sedangkan nelayan sampan sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas ke laut. Sebaliknya. Permintaan Permintaan SDL hasil tangkapan nelayan di Desa Limbung cukup tinggi di pasar dalam maupun luar negeri. Namun demikian. saat sekarang justru ada panas. perubahan musim di Desa Limbung tersebut mungkin belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan. Bahkan permintaan daging ketam dari Singapura meningkat dari tahun ke tahun. Keadaan ini berdampak terhadap sedikitnya hasil tangkapan. tetapi karena hasil tangkapan melimpah akibat semua nelayan pergi melaut dengan semua alat tangkap yang mereka miliki. permintaan dan pemasaran hasil SDL) daripada faktor musim. Dicontohkan. tetapi skala usaha masih terbilang usaha kecil. Data survei BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung menunjukkan adanya tren peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada setiap musim (lihat Tabel 4. musim angin barat yang biasanya terjadi hujan. bertambahnya industri pengolahan daging ketam di Desa Limbung dari satu menjadi tiga industri. Demikian pula pada musim teduh (angin timur dan selatan) terkadang muncul angin pancaroba.

Keadaan ini mendorong nelayan untuk meningkatkan kapasitas penangkapan (antara lain dengan memperbanyak pemasangan bubu) dan mengoptimalkan ART untuk melakukan kegiatan melaut (misalnya dengan menyertakan isteri/anak) agar dapat menangkap ketam sebanyak mungkin20. Harga ketam berukuran A lebih mahal daripada ukuran B . 20 116 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . hasil tangkapan nelayan Desa Limbung belum dapat memenuhi permintaan pasar Singapura.industri mengemukakan bahwa pasokan daging ketam dari perusahaan di Daik ke Singapura tidak pernah ada penolakan. timur dan barat. misalnya dari daerah Tanjung Keriting dan Bukit Harapan. sedangan harga termurah adalah ketam berukuran C. Merespon permintaan ini. tetapi juga dari meningkatnya jumlah tenaga dan 19 Industri pengolahan daging ketam menetapkan ukuran (berat) per satuan ekor ketam menjadi tipe A (super). sehingga upah yang diperoleh juga semakin besar. Dampak negatif dari penggunaan bubu ketam adalah tertangkapnya ketam berukuran kecil (anak ketam) yang selanjutnya akan berakibat pada berkurangnya populasi ketam di masa depan. tingginya permintaan daging ketam olahan tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga yang bukan hanya berasal dari penjualan hasil tangkapan ketam. B (besar). pihak industri tidak pernah menolak membeli ketam hasil tangkapan nelayan Desa Limbung. Dengan demikian. tetapi kebanyakan membawa pulang anak ketam tersebut untuk dikonsumsi sendiri. sehingga pihak industri pengolahan daging ketam di desa ini juga membeli dari hasil tangkapan nelayan di luar Desa Limbung. Banyaknya pasokan ketam tersebut memberikan pekerjaan yang lebih banyak terhadap buruh industri. bahkan permintaan cenderung bertambah terus. Sebagian nelayan melepas kembali anak ketam tersebut ke laut karena tidak laku untuk dijual. sepanjang memenuhi ukuran standar19. Namun demikian. Potensi ketam di perairan Desa Limbung tergolong cukup besar. dan C (kecil). didindikasikan oleh dominasi jenis SDL ini sebagai hasil tangkapan nelayan. terutama pada musim selatan.

sehingga air laut menjadi tidak keruh yang sangat kondusif untuk tempat hidup ikan bilis. serta buruh membersihkan ikan bilis sebelum dikeringkan. atau mencapai dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun 2006 yang jumlahnya sekitar 20 orang. permintaan ikan bilis kering di pasaran Kota Batam dan Tanjung Pinang cukup besar. Hal ini karena produksi nus tidak sebanyak ketam dan ikan bilis. Hal ini karena pemilik kelong biasanya mempunyai buruh untuk menunggu kelong dan mengangkat jaring. bukan hanya bagi pemilik kelong. Kondisi ini mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan bilis. meskipun besarnya tidak pasti karena tergantung pada banyaknya daging ketam yang dapat diproduksi oleh kelompok kerja.upah sebagai buruh industri ketam (penduduk setempat menyebutnya buruh kopek ketam)21. Potensi jenis SDL di perairan Desa Limbung cukup tinggi dan cenderung semakin banyak dalam dua tahun terakhir. nelayan harus pergi ke wilayah perairan Pulau Semut di Kecamatan Singkep. sehingga produksi ikan bilis semakin banyak pula. Permintaan nus (cumi-cumi yang sudah dikeringkan) di pasar Singapura maupun pasar domestik yang juga cukup besar tampaknya kurang berpengaruh terhadap perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. terdapat kira-kira 40-an orang buruh kopek ketam. mendorong nelayan bermodal cukup besar untuk memasang (dalam istilah lokalnya adalah cacak) kelong baru. sehingga diperlukan 21 Dari tiga industri pengolahan ketam di Desa Limbung pada tahun 2008. Peningkatan populasi ikan bilis di perairan Desa Limbung tersebut. Pulau Buluh atau Pulau Kojong). Meskipun cumi-cumi dapat diperoleh di perairan Limbung (sekitar Batu Putih di Tanjung Takeh. Sedangkan upah buruh industri yang dibayarkan dengan sistem upah borongan (pekerjaan dilakukan secara berkelompok) juga mengalami sedikit peningkatan. Kondisi ini berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. tetapi populasinya tidak besar. tetapi juga para buruhnya. Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan kelong bilis menunjukkan bahwa meningkatnya ketersediaan ikan bilis dalam dua tahun terakhir ini antara lain karena tidak ada lagi nelayan yang menggunakan parit gamat. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 117 . Untuk mendapatkan cumicumi dalam jumlah cukup banyak. Selain ketam.

serta pada waktu kapan saja. Pemasaran Tingginya permintaan produk SDL hasil tangkapan nelayan Desa Limbung berdampak pada peluang pasar yang semakin terbuka. Harga ikan bilis yang cukup stabil mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui cacak kelong baru. Oleh karena itu. sehingga kontribusi hasil penjualan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tidak besar. hasil tangkapan nelayan juga dapat dijual ke kapal ikan dari Pancur yang datang tiga kali per minggu ke Desa Limbung. Kecuali penampung yang mengkhususkan pada ikan bilis. karena potensi SDL di perairan desa ini sangat tinggi. yang selanjutnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. terutama ke Singapura. seperti 118 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . karena pembuatan kelong memerlukan modal yang tidak sedikit. Setiap dusun terdapat beberapa penampung yang selalu siap membeli hasil tangkapan nelayan. Hasil tangkapan lain. Pemasaran kepiting/ketam yang merupakan SDL andalan di Desa Limbung semakin mudah dalam pemasarannya. Hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dipasarkan di dalam desa. penampung di Desa Limbung bersedia membeli semua jenis SDL. walau cenderung terbatas pada nelayan yang mempunyai kondisi ekonomi baik. tidak banyak nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan cumi-cumi (umumnya dari Dusun Senempek). Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. Hal ini diindikasikan dari mudahnya menjual hasil tangkapan untuk jenis SDL apa saja dan berapapun jumlahnya. Kondisi ini tentunya berdampak positif terhadap pendapatan nelayan Desa Limbung. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang.biaya operasional cukup besar. diindikasikan oleh bertambahnya jumlah usaha pengolahan daging ketam. seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. seperti telah dikemukakan sebelumnya. umumnya kepada penampung. Wawancara dengan dua orang pengelola industri pengolahan daging ketam menggambarkan adanya peluang pasar yang masih terbuka luas. Selain penampung dan pengusaha industri. serta di provinsi sekitar.

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 119 . mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui perubahan kapasitas penangkapan dan maksimalisasi tenaga kerja rumah tangga. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Kemudahan dalam pemasaran dalam dan luar negeri untuk semua jenis SDL hasil tangkapan nelayan tersebut berpengaruh terhadap perolehan pendapatan rumah tangga.gonggong yang langsung dikirim ke Kota Batam juga mengindikasikan bahwa pasaran jenis SDL ini masih terbuka lebar. Bahkan dengan meningkatnya peluang pasar. khususnya ketam.

120 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

KESIMPULAN mplementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga telah berjalan selama empat tahun. Lokasi program yang mengambil desa-desa sama dengan lokasi COREMAP I merupakan suatu pilihan yang tepat jika infrastruktur dan kelembagaan masyarakat yang dibentuk pada COREMAP I masih berfungsi. Kelemahan I K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 121 . Kendala geografis sering dikaitkan dengan lemahnya koordinasi.1. pendanaan. Persoalan koordinasi.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. itupun harus dilakukan perbaikan. Pada kenyataannya. Terpencarnya domisili tempat kerja dan tempat tinggal anggota komponen dijadikan ‘kambing hitam’ untuk menutupi buruknya koordinasi antar komponen maupun anggota komponen COREMAP. sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. dan keterbatasan sumberdaya manusia (kuantitas dan kualitas) sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. di mana hanya sebagian kecil infrastuktur yang masih dapat dimanfaatkan. Padahal sebagian besar anggota sudah tinggal dan berdomisili di Kepulauan Lingga. hampir semua desa menghadapi kondisi yang tidak berbeda. Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam suatu komponen. Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. Sedangkan kelembagaan masyarakat terkait dengan pengelolaan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat sudah terhenti sejalan dengan berhentinya COREMAP I yang sempat mengalami masa vakum kira-kira selama dua tahun akibat adanya perubahan status wilayah administrasi pemerintahan dan pengalihan tanggung jawab pengelolaan COREMAP dari Bappeda Provinsi Riau ke Kantor Sumber Daya Alam Kabupaten Lingga.

karena pencairan dana baru dapat dilakukan antara tiga atau dua bulan sebelum penutupan tahun anggaran. lebih-lebih kegiatan koordinasi yang semestinya difasilitasi oleh PIU juga sangat jarang dilakukan. sehingga kualitas hasil kegiatan sering tidak sesuai dengan persyaratan yang disepakati dalam lelang dengan pihak ketiga. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. Kendala pendanaan COREMAP II yang mensyaratkan adanya dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat. Keterlambatan dalam pendanaan juga menyebabkan setiap komponen harus segera melaksanakan program dan kegiatan tanpa berkoordinasi dengan komponen lain. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program yang tidak dapat dilakukan dengan optimal. komponen yang satu terkadang tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh komponen yang lain. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. Sejak COREMAP II diimplementasikan. khususnya pekerjaan-pekerjaan infrastruktur yang ditangani oleh perusahaan kontraktor. Bahkan. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. sehingga berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan program. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain. baik jabatan struktural maupun proyek. Akibatnya. Tenaga pengelola COREMAP yang terbatas dalam jumlah dan kualitas terlihat dari sebagian besar koordinator komponen dan PIU yang harus memegang jabatan rangkap.dalam koordinasi ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. karena keterbatasan waktu. Keadaan ini tentunya mempengaruhi kelancaran kegiatan COREMAP yang tidak dapat 122 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . padahal kegiatan tidak bisa dilaksanakan sebelum dana pendamping dapat dicairkan. dana pendamping selalu menjadi hambatan utama. Faktor keterbatasan sumber daya manusia yang menghambat dalam pelaksanaan COREMAP tercermin dari keterbatasan jumlah maupun rendahnya kualitas pengelola program.

Bahkan. tetapi juga tidak terlepas dari pengelola COREMAP Kabupaten Lingga yang menyetujui bahwa fokus kegiatan COREMAP II hanya pada satu dusun yang terletak di pusat Desa Limbung. termasuk di Desa Limbung. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan kurangnya sosialisai program dan rendahnya keterlibatan masyarakat luas dalam COREMAP. maka menjadi hal yang wajar jika implementasi COREMAP bukanlah menjadi prioritas utama bagi pemerintah Kabupaten Lingga. Apabila kegiatan tersebut terlaksana. Kegiatan pengawasan yang terjadwal juga jarang dilakukan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 123 . karena konflik kepentingan antara mendahulukan COREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya diperkirakan dihadapi oleh mereka yang memiliki jabatan rangkap. itupun cenderung terkonsentrasi pada kegiatan di salah satu dusun. terdapat indikasi adanya upaya ekploitasi penambangan boksit dan pasir besi yang akan dilakukan di lokasilokasi COREMAP.ditangani dengan baik. Sejumlah kendala dalam implementasi COREMAP juga dihadapi pada pelaksanaan kegiatan di lokasi program. Implementasi COREMAP I tidak meninggalkan bekas. Sedangkan kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas. maka program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang di Kabupaten Lingga yang telah dilakukan selama ini akan sia-sia. pelaksanaan COREMAP II di Desa Limbung telah dilakukan sejak fase I. dan bahkan kondisi terumbu karang semakin mengalam kerusakan parah. yang kemudian dilanjutkan pada fase II yang pada saat ini sudah memasuki tahun ke tiga (satu tahun lebih lambat dari pelaksanaan di tingkat kabupaten). Sebagaimana dengan kondisi di tingkat kabupaten. Kondisi seperti ini tampaknya bukan semata-mata merupakan kekeliruan masyarakat Desa Limbung. Terjadi kecenderungan pada kebanyakan masyarakat yang kurang peduli terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang sudah ada maupun rencana kegiatan yang akan dilakukan. Dalam konteks Kabupaten Lingga dengan potensi sumber daya alam sangat besar yang cenderung lebih menguntungkan untuk meningkatkan pembangunan daerah maupun meningkatkan kesejahteraan ekonomi SDM pengelolanya daripada COREMAP. dalam arti semua kegiatan berhenti sejalan dengan berhentinya program.

khususnya dalam aspek pengawasan dan perlindungan daerah konservasi. Akibatnya kegiatan usaha ekonomi produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari 124 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Meskipun bukan merupakan lokasi program.oleh komponen COREMAP. dan kegiatan penyadaran masyarakat. sebagian besar penduduk di dusun lain (misalnya Senempek dan Air Kelat) juga bekerja sebagai nelayan yang selalu bersinggungan dengan ekosistem terumbu karang. Tenaga pendamping lapangan (Field Fasilitator-FF) yang direkrut oleh pihak ketiga (LSM) hanya ada di Desa Limbung selama satu bulan. sehingga pelaksanaan program dan kegiatan cenderung diputuskan oleh masyarakat sendiri. Kelembagaan COREMAP di tingkat desa yang baru dibentuk pada tahun 2007 yang terdiri dari LPSTK dan tiga pokmas (jender. Hal ini disebabkan lokasi program COREMAP dimana pokmas pengawasan berada justru berjarak paling jauh dengan kawasan konservasi terumbu karang (daerah perlindungan laut-DPL). membentuk kelembagaan COREMAP di tingkat desa. kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. itupun pada kalangan yang sangat terbatas. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan. Sikap ‘masa bodoh’ kebanyakan masyarakat Desa Limbung terhadap kegiatan COREMAP II kemungkinan juga disebabkan oleh kinerja LPSTK maupun tenaga pendamping yang kurang pro-aktif terhadap masyarakat di luar lokasi binaan COREMAP yang hanya dikonsentrasikan di satu dusun. sehingga praktis tidak dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam membantu masyarakat untuk menggali usaha-usaha produktif yang dikembangkan. Sangat jarang (jika tidak bisa dikatakan tidak pernah) pengurus LPSTK maupun tenaga pendamping yang berkunjung ke dusun lain untuk mensosialisasikan COREMAP. Oleh karena itu tidak dilibatkannya mereka dalam kegiatan COREMAP dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang mungkin juga berdampak lanjutan terhadap kelancaran kegiatan COREMAP. Tenaga penyuluh lapangan juga cenderung lebih banyak berada di kantor. Kondisi ini semakin membuat masyarakat kurang peduli terhadap kelanjutan COREMAP. apalagi memberi penyuluhan tentang pentingnya pengelolaan terumbu karang.

Namun demikian. disamping bantuan untuk merenovasi bangunan pondok informasi beserta peralatan pendukung. yakni dari lahan pertanian ataupun perkebunan. Desa Limbung dengan wilayah daratan yang lebih luas dari lautannya tampaknya belum menjadi pendorong bagi penduduknya untuk mencari penghidupan dari sumber daya darat. Di luar kegiatan ekonomi produktif yang baru dilakukan oleh pokmas jender. ‘kemurahan hati’ penampung untuk membantu nelayan pada musim K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 125 . lokasi tambatan perahu yang cukup strategirsdan berada dalam lokasi dengan kondisi pantai yang cukup dalam. Bekerja melaut sudah dilakukan secara turun temurun.komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal). karena hasil tangkapan bisa langsung dijual kepada penampung maupun industri pengolahan ketam yang tersedia di dalam desa. maka tambatan perahu ini bukan hanya berfungsi sebagai tambatan perahu nelayan. Implementasi COREMAP yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat memang belum terlihat nyata di Desa Limbung. program PBM yang telah dilakukan di Desa Limbung adalah memberikan bantuan di bidang pembangunan infrastruktur (tambatan perahu dan sarana MCK). Walaupun pendapatan nelayan sangat jauh berkurang pada musim ombak besar. Sebagian besar penduduk menggantungkan kehidupannya pada sumber daya laut (SDL). Bantuan tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal ini tampaknya berkaitan dengan belum berhasilnya pengurus LPSTK untuk mendapatkan status sebagai lembaga yang berbadan hukum. terutama dipengaruhi oleh akses yang lebih mudah untuk mencari penghidupan di laut daripada di daratan. cepat mendapat uang. menjadikan sebagian besar penduduk Desa Limbung untuk tetap menekuni pekerjaannya sebagai nelayan. tetapi adanya bantuan pinjaman barang maupun uang dari penampung. meskipun hanya untuk lingkungan masyarakat yang terbatas. Di sisi lain. tetapi juga dimanfaatkan untuk dermaga penyeberangan antar dusun. antara lain dengan kepemilikan NPWP. ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga penduduk Desa Limbung ke arah yang lebih baik. Sumber pendapatan utama rumah tangga sampel di Desa Limbung berasal dari kegiatan kenelayanan. Namun demikian.

Keadaan ini menunjukkan membaiknya kondisi ekonomi penduduk Desa Limbung. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan memang dapat memberikan penghasilan kira-kira dua kali lipat lebih besar daripada pendapatan dari sektor pertanian/perkebunan.2 persen (dari Rp 743. tetapi sebagian besar rumah tangga mungkin tidak mengalami perbaikan kesejahteraan.pada tahun 2008) masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) yang mencapai 30 persen. Walaupun persentase rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan) menurun cukup besar. Hal ini karena sebagian besar rumah tangga di desa ini memiliki sumber pendapatan dari pekerjaan sebagai nelayan. kecuali mereka yang tinggal di Dusun Linau yang menurut rencana akan menjadi desa pemekaran Desa Limbung... dengan angka yang mencapai hampir dua kali 126 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .per bulan pada tahun 2008.000. Meskipun peningkatan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan lebih rendah daripada kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya.sulit ikan dilandasi oleh motif untuk tetap menjaga hubungan kerja dengan mereka. atau dari Rp 948.pada tahun 2006 menjadi Rp 967.5 persen. Hal ini karena kenaikan pendapatan tersebut juga seiring dengan kenaikan harga barang-barang konsumsi maupun barang lainnya. meskipun tidak selalu mengindikasikan perbaikan kesejahteraan. Selain pendapatan rata-rata rumah tangga yang mengalami kenaikan cukup besar dalam dua tahun terakhir. Kenaikan angka median sangat tajam..200. semua statistik pendapatan menunjukkan kenaikan dengan perkecualian pendapatan maksimum.. karena kegiatan ekonomi penampung juga sangat tergantung pada kegiatan nelayan. tetapi dampak perubahan pendapatan tersebut cenderung terlihat cukup meluas di kalangan rumah tangga di Desa Limbung.per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1.360.300. yaitu dari 70 persen menjadi 51. Hal ini diindikasikan oleh banyaknya rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) yang memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean). kenaikan pendapatan rumah tangga per bulan dari kegiatan kenelayanan yang sebanyak 23.700. Namun demikian.

Pada periode sama untuk rumah tangga dengan kelompok pendapatan sama hanya turun sedikit pada musim pancaroba (79 persen menjadi 69 persen).lipat lebih besar pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2006. dan struktural.7 persen). Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. sedangkan musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4. sehingga hampir menyamai besar pendapatan rata-rata. Data pendapatan minimum yang meningkat lebih dari dua kali lipat selama kurun waktu 20062008 juga mencerminkan bahwa peningkatan pendapatan rata-rata cenderung dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan rumah tangga yang berpenghasilan rendah yang merupakan kelompok mayoritas. pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah. Namun demikian. Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh selama kurun waktu 20062008. pancaroba maupun ombak kuat. eksternal. Kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut musim selama periode 2006-2008 menunjukkan. diindikasikan oleh angka median yang lebih rendah daripada pendapatan rata-rata (mean) masih berada di bawah pendapatan. mempengaruhi perubahan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 127 . sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun. Penurunan proporsi rumah tangga dengan pendapatan kurang dari satu juta rupiah dari 60 persen menjadi 27 persen mencerminkan membaiknya pendapatan rumah tangga. dan penurunan terendah terjadi pada musim ombak kuat (89 persen menjadi 87 persen).7 persen). Beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal. Tren membaiknya pendapatan rumah tangga nelayan juga ditunjukkan oleh angka median pendapatan yang meningkat. kenaikan pendapatan nelayan di Desa Limbung tersebut belum dapat menempatkan rumah tangga ke posisi yang pendapatannya lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata. baik pada musim teduh/ombak lemah.

Alat tangkap bubu ketam lebih murah dan lebih mudah dioperasikan daripada jaring. Dua faktor eksternal lainnya. yaitu permintaan dan pemasaran. Pada tahun 2006.pendapatan dari kegiatan kenelayanan tersebut yang tentunya juga sangat bergantung pada kondisi musim angin. Hal ini diindikasikan bertambahnya jumlah industri pengolahan ketam dari dua menjadi tiga buah. Meningkatnya peluang pasar. meningkat menjadi antara 1-2 orang pada tahun 2008. Seperti yang umum terjadi. Dalam dua tahun terakhir terjadi sedikit perubahan musim yang diindikasikan oleh datangnya angin ribut pada musim teduh. Bubu yang berukuran relatif kecil dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan. Dua jenis SDL tersebut (terutama ketam) tersedia cukup banyak wilayah perairan Limbung dan sekitarnya dan dapat ditangkap hanya dengan menggunakan teknologi penagkapan yang sederhana. Walaupun Desa Limbung juga terjadi perubahan musim angin. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM. tetapi fenomena perubahan musim ini belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan menurut musim. sehingga pendapatan rumah tangga pada musim ini paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh pada musim pancaroba dan ombak kuat. Mudahnya pemasaran ketam dicerminkan pula dengan semakin meningkatnya permintaan daging ketam yang pengolahannya juga dilakukan di Desa Limbung. Keterlibatan anak-anak dan perempuan dalam kegiatan melaut akibat perubahan alat tangkap ketam tersebut telah meningkatkan rata-rata jumlah ART yang bekerja. musim angin lemah dengan kondisi laut sangat teduh merupakan musim panen bagi nelayan Desa Limbung. khususnya 128 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Sumber daya laut hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dapat tertampung oleh pasar dalam dan luar negeri. Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga. faktor ini cenderung bukan merupakan faktor eksernal yang berperan penting dalam mempengaruhi pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. rata-rata anggota rumah tangga yang bekerja hanya satu orang.

Hal ini karena kredit usaha K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 129 . Di luar COREMAP.000. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alatalat tangkap).sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil.per kelompok yang beranggotakan empat orang. sehingga satu orang mendapat bantuan Rp 25. Sedangkan bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga) dari COREMAP memberi kemudahan bagi nelayan. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga.000. bahkan pendapatan rumah tangga peserta program. Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung tampaknya menunjukkan kecenderungan positif dalam upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. pemanfaatannya yang dilakukan secara perorangan kemungkinan besar berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas. Disamping besar bantuan dalam jumlah tidak besar. COREMAP (Coral reef Rehabilitation and Management Program) yang telah mengembangkan aktivitas usaha ekonomi produktif melalui pokmas produksi. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. dan konservasi.-. nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. akibat semakin habisnya modal usaha yang hanya sebesar Rp 100.ketam. diperkirakan usaha tersebut tidak akan bertahan lama. faktor struktural belum memperlihatkan kontribusi penting dalam memperbaiki kesejahteraan nelayan yang diukur dari kenaikan pendapatan rumah tangga. Berbedan dengan faktor internal dan eksternal yang memperlihatkan pengaruh nyata dalam peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan.. Meskipun penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung. khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas. jender. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Tanpa adanya tambahan modal dan upaya mewujudkan usaha kelompok. yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana.

apalagi kualitas. agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target” yang juga tidak bisa mencapai target dari aspek kuantitas. Jika keterlambatan dana pendamping 130 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Konsep COREMAP dengan komponennya (CRITC. Hal ini jelas berdampak terhadap kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan. 5.2. Disamping itu. koordinasi yang teratur juga bermanfaat dalam memfasilitasi keterbukaan dan penyediaan informasi yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masing-masing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan. MCS. beberapa pemikiran yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan untuk mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan adalah seperti berikut ini. REKOMENDASI Berdasarkan temuan kajian BME Aspek Sosial Ekonomi tersebut. Koordinasi program yang terjadwal secara teratur diharapkan dapat mempermudah dalam koordinasi pelaksanaan kegiatan dan menghindari terjadinya tumpang tindih program antara satu komponen ssatu dengan lainnya. Oleh karena itu. Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan.yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong. CBM/PBM. memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan. PA) yang semestinya merupakan satu tubuh (karena program setiap komponen harus mendukung komponen yang lain) tampaknya belum dilakukan dalam pelaksanaan program dan kegiatan di Kabupaten Lingga. Dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya.

adanya kecenderungan anggota komponen yang belum memahami tentang COREMAP. kelengkapan peralatan komponen MCS harus disediakan.terus terjadi jelas akan berpengaruh terhadap usaha peningkatan tutupan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat. peralatan maupun koordinasi. alat komunikasi antar anggota. jabatan rangkap tidak menjadi masalah besar. Sedangkan untuk kelancaran tugas sebagai penegak hukum . meliputi alat navigasi. Namun demikian. masing-masing 10 persen pada saat berakhirnya program di Kawasan Lingga. namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan patroli karena dana operasional belum tersedia. Keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya. sedangkan nelayan tidak mampu untuk membiayai sendiri. perlu penentuan anggota adalah yang berdomisili pada satu lokasi. Lambatnya kegiatan penyadaran masyarakat (PA) tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut tampaknya dipengaruhi oleh lemahnya koordinasi. tampaknya perlu dilakukan kaji ulang terhadap keanggotaan komponen. tetapi pengelola (koordinator dan anggota setiap komponen) harus dapat membagi waktu dan tidak mengesampingkan salah satu pekerjaan yang ditanganinya. agar anggota komponen MCS lebih mengetahui dan memahami proyek COREMAP yang berbasis masyarakat maka perlu di antara mereka diikutsertakan pada pelatihan MCS atau COREMAP. baik di antara anggota komponen PA maupun lintas komponen dan PIU sebagai pimpinan pelaksana proyek COREMAP II. dan kapal “patroli” nelayan. Misalnya dengan memilih anggota komponen yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 131 . sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. Pada saat ini yang tersedia baru kapal patroli nelayan. Selain itu. kapal patroli untuk anggota MCS. Komponen MCS yang belum menjalankan tugas dan fungsinya karena persoalan personil. Oleh karena perlu dilakukan kaji ulang pilihan orang-orang yang terlibat pada komponen ini. Selain itu.

Hal ini akan berdampak positif terhadap upaya penyelesaian masalah terkait dengan kegiatan COREMAP dan memperlancar kegiatan di masa depan. Hal ini untuk memperkuat keberadaan pokmas pengawasan dalam melakukan kegiatannya. penyediaan atribut-atribut yang lebih jelas (bukan hanya semacam pelampung/marine eboy) .memahami persoalan masyarakat nelayan. Program PBM yang telah diimplementasikan di Desa Limbung belum berjalan baik karena alasan pendanaan maupun ketiadaan tenaga pendamping (field fasilitator). dapat diatasi antara lain dengan memperbanyak kunjungan dari anggota komponen atau tenaga penyuluh untuk memonitor dan sekaligus melakukan pembinaan kepada pokmas-pokmas. terutama dapat menindak pelanggar. Pembentukan kelompok pengawasan dengan anggota yang berasal dari dusun yang jauh dengan lokasi DPL sangat tidak efektif. Kegiatan perlindungan ekosistem terumbu karang sudah dilakukan dengan memberi tanda pada kawasan konservasi (DPL). Sikap kurang peduli terhadap kegiatan COREMAP oleh masyarakat di Desa Limbung dapat diatasi antara lain dengan meningkatkan kemampuan pengurus LPSTK untuk berkoordinasi dengan perangkat desa dan jajaranya (RW dan RT) dalam rangka mengakomodasikan kepentingan semua masyarakat terkait dengan pengelolaan dan pelestarian terumbu karang. melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi DPL sangat membantu dalam kegiatan MCS di lokasi program. indikasi ke 132 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata karena bantuan dana masih sangat kecil. serta peningkatan pendapatan penduduk. Namun demikian. Oleh karena itu. disamping juga memahami konsep atau teknik penyadaran masyarakat yang tidak sama antara kelompok masyarakat satu dengan lainnya. disamping juga melalui kesepakatan antara semua masyarakat dan pemerintahan desa yang kemudian disosialisaikan kepada masyarakat. tetapi belum diikuti dengan kegiatan pengawasan. Namun demikian.

memobilisasi dan menanamkan sikap optimis akan pemanfaatan SDL berkelanjutan. dan membagi secara proporsional berkaitan dengan kewenangan dan tanggung jawab antara masyarakat dan pengelola Program COREMAP Bantuan modal usaha melaut (armada dan alat penangkapan) melalui program kredit lunak kepada nelayan diharapkan dapat meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung. Melakukan kerjasama dengan penampung dan indusri pengolahan ketam yang selama ini menjalin hubungan kerja dengan nelayan cukup baik. Hal ini menginsyaratkan bahwa mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program COREMAP II bukanlah upaya yang terlalu sulit untuk dilakukan. bukan penampung/pemilik usaha industri maupun pengelola program. Oleh karena itu. kegiatan evaluasi dan memonitorng dari pengelola program perlu dilakukan agar masyarakat sebagai kelompok sasaran tetap menjadi penerima manfaat. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 133 . yang kemudian dapat digulirkan kepada nelayan lain. kemungkinan besar dapat membantu kelancaran pengembalian dana bantuan. Namun demikian. upaya membangun kerjasama diantara kelompok masyarakat dan mengembangkan kapsitas institusi (termasuk pemerintah setempat). tetapi harus disertai dengan konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan usaha pemberdayaan ekonomi penduduk mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok.arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender.

134 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

2004.php?c=1530. dan S.php?id=4 92 Departemen Kelautan dan Perikanan-Republik Indonesia. 2007. Kabupaten Lingga. Jakarta: LIPI Press K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 135 .or. Statistik Pertanian 2006 Kabupaten Lingga. Daik: BPS Kabupaten Lingga.Rahayu. Kabupaten Lingga dalam Angka. Sambutan Direktur Jendral Pesisir dan Pulau-Pulau kecil Pada Peluncuran Proyek Pengelolaan Dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Pemantapan Proyek Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut. 2006. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.go. CRITC-COREMAP-LIPI.DAFTAR PUSTAKA BPS Kabupaten Lingga. CRITCT-LIPI. E. Daik: BPS Kabupaten Lingga. Jakarta: DKP Kantor Kecamatan Linga Utara. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dirjen. BME Reef Health Monitoring di Lokasi ADP. Kelautan. Jakarta: Dirjen Kelautan. Power Point.id/research_agenda/article. http://www. H. Catatan Statistik Kantor Kecamatan Lingga Utara 2008.id/content.Djohan. Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia: Desa Limbung. Romdiati. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. BPS Kabupaten Lingga. Kecamatan Lingga Utara. Riset Agenda. 2007. 2007. 2008. DKP. 2005.dkp. 2007.coremap. Pedoman Umum Pengelolaan Berbasis Masyarakat COREMAP II. BME Ekologi di Kabupaten Lingga. http:///www.

2008.net/node/1163 Syahyuti. Toni (ed). Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian.oneworld. Kualitas Terumbu Karang Indonesia Turun Hingga 50 Persen. 2007. Hari.Ruchimat. Jakarta: Dirjen. Panduan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). 136 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Sutanta. 2006. Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara. Kelautan. http://satudunia.

2 9.1 10.0 411 Total K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 137 .2 3.9 100.5 5.5 9.7 3.8 14.1 100.1 5.1.5 9.6 100.4 2.8 13.0 8. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.1 5.4 6.5 4.0 191 9.7 5.4 11.5 6.7 9. 2008 Kelompok Umur 0–4 5– 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 + Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki 11.9 13. Desa Limbung.8 8.9 8.2 7.0 220 Perempuan 6.5 6.4 5.2 2.9 7.9 3.2 9.5 5.2 4.Lampiran Tabel 2.8 10.5 2.1 7.5 7.1 3.9 4.7 7.1 1.

1 8.2 (1) 5.6 9.0 127 39.9 5.8 (4) 12.9 7. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin.7 3.9 (1) 5.0 42.7 3.Lampiran Tabel 2.9 16. Desa Limbung.7 (3) 4.9 78.6 3. Jenis.6 42.2 Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan.8 61.3 9.5 (1) 100.7 (2) (4) (0) (2) (0) 28.1 11.3 (1) 42.0 155 138 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .9 (1) 5.9 (2) (4) 92) 25. Kabupaten Lingga Pekerjaan Lapangan Pekerjaan: Perikanan tangkap Pertanian pangan Perkebunan Kehutanan Perdagangan Industri pengolahan Jasa kemasyarakatan Lainnya Jenis Pekerjaan: Profes/Kepm?Adm Nelayan Petani Tenaga penjualan Tenaga industri Tenaga kasar Status Pekerjaan: Berusaha sendiri Berusaha dg ART/orang lain Buruh/karyawan Pekerja keluarga Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 73.9 (2) (1) Lk-lk + Pr 61.9 21.5 72.4 7.0 28 71.9 (4) 100.7 5.5 (4) 8.2 100.2 1.3 3.7 (3) 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful