P. 1
KONDISI_SOSIAL-EKONOMI_MASYARAKAT_DI_LOKASI_COREMAP_II__KASUS_...

KONDISI_SOSIAL-EKONOMI_MASYARAKAT_DI_LOKASI_COREMAP_II__KASUS_...

|Views: 358|Likes:
Published by Boedak Daex

More info:

Published by: Boedak Daex on Sep 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. LATAR BELAKANG
  • 1.2. TUJUAN
  • 1.3. METODOLOGI
  • 1.4. PEMBABAKAN PENULISAN
  • PROFIL LOKASI PENELITIAN
  • 2.1. KONDISI GEOGRAFIS
  • 2.2.1. Keadaan Sumber Daya Alam
  • 2.2.2. Wilayah pengelolaan
  • 2.2.3. Teknologi Penangkapan
  • 2.2.4. Sarana dan Prasarana
  • 2.3. KEPENDUDUKAN
  • 2.3.1. Jumlah dan Komposisi Penduduk
  • 2.3.2. Pendidikan dan Ketrampilan
  • 2.3.3. Pekerjaan
  • 2.3.4. Kesejahteraan
  • 4.2. FAKTOR PENGARUH PENDAPATAN RUMAH TANGGA
  • KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
  • 5.1. KESIMPULAN
  • 5.2. REKOMENDASI
  • DAFTAR PUSTAKA

KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II : KASUS KABUPATEN LINGGA

KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI LOKASI COREMAP II: KASUS KABUPATEN LINGGA

HANING ROMDIATI SRI SUNARTI PURWANINGSIH

COREMAP-LIPI PUSAT PENELITIAN KEPENDUDUKAN LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA LIPI

(PPK-LIPI), 2008

COREMAP-LIPI

Provinsi Riau pada tahun 2008 bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. karena bertambahnya nelayan yang hanya mencari ketam di perairan tidak jauh dari garis pantai yang tentunya K K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | iii . Teknologi penangkapan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong masih sederhana. Desa Limbung yang merupakan wilayah kepulauan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar. Kebanyakan penduduk menggunakan sampan dan pompong dengan ukuran mesin kecil (1217 PK).RINGKASAN ajian BME Aspek Sosial Ekonomi di Desa Limbung. tetapi juga mendorong perkembangan sektor industri pengolahan daging ketam (kepiting) yang dapat menyediakan kesempatan kerja kepada penduduk Desa Limbung. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Selain kepiting rajungan (ketam). karena indikator keberhasilan COREMAP dari aspek sosial ekonomi adalah (1) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun. Tingginya potensi SDL tersebut bukan hanya dimanfaatkan sebagian besar penduduk sebagai sumber mata pencaharian utama. khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. kajian ini mengumpulkan data rumah tangga dan individu tentang kondisi sosial-ekonomi terkait dengan pengelolaan terumbu karang. Kabupaten Lingga. dan ikan bilis. cumi-cumi. kecuali jumlah sampan yang cenderung meningkat. dan (2) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10. beragam jenis ikan karang campuran maupun pelagis terdapat di perairan desa ini. Pengumpulan data/informasi mengenai pendapatan rumah tangga mendapat penekanan dalam kajian ini. khususnya perempuan. Dalam dua tahun terakhir tidak terlihat perubahan pemilikan dan penguasaan armada tangkap.000 rumah tangga pada akhir program.

Selama kurun waktu 2006-2008 telah terjadi perubahan penggunaan alat tangkap ketam. Meskipun cenderung tidak ada spesifikasi terhadap jenis alat tangkap tertentu. Jenis alat tangkap lain yang biasa dipakai oleh nelayan Desa Limbung adalah jaring ikan. termasuk oleh nelayan perempuan. kira-kira sejak masyarakat mengenal COREMAP yang pertama kali diimplementasikan pada tahun 2000-an. khususnya oleh nelayan dari luar Desa Limbung. dan jaring dasar untuk menangkap SDL cukup sering digunakan oleh nelayan setempat maupun nelayan luar. Bahkan. parit gamat. Keadaan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kemudahan dalam menjual ketam yang dapat dilakukan setiap saat kepada penampung maupun langsung ke industri pengolahan ketam yang dalam dua tahun terakhir bertambah dari satu menjadi menjadi tiga buah. yaitu dari jaring ke bubu. iv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . penggunaan racun. Perubahan alat tangkap tersebut didorong oleh kemudahan untuk mendapatkan bubu ketam dengan cara meminjam kepada tauke dengan harga yang lebih murah daripada jaring ketam. dan penyauk untuk menangkap cumi-cumi.cukup dilakukan dengan menggunakan sampan. terumbu karang di Desa ini telah mengalami kerusakan pada tingkat sedang. Kecenderungan penggunaan alat-alat tangkap yang tidak merusak terumbu karang tersebut sudah cukup lama terjadi. Akibatnya. bubu ketam juga mudah dioperasikan. Disamping itu. Sudah sangat jarang ditemukan nelayan yang menggunakan parit gamat untuk menangkap teripang. Pada umumnya nelayan juga menggunakan alat-alat tangkap sederhana dan cenderung tidak merusak terumbu karang. tampaknya sebagian nelayan memilih untuk berkonsentrasi pada penangkapan ketam dengan menggunakan bubu. Sebelumnya. ketika COREMAP I telah berakhir dan ada masa vakum sekitar dua tahun karena proses otonomi daerah dan pengalihan penanggung jawab COREMAP di daerah Lingga. bubu ikan karang. penggunaan alatalat tangkap yang merusak mulai dilakukan kembali. kelong bilis. Keadaan ini mendorong pengelola dan pelaksanan COREMAP Kabupaten Lingga untuk memilih kembali lokasi COREMAP I sebagai lokasi COREMAP II.

Akibatnya kegiatan usaha ekonomi Kasus Kabupaten Lingga | v . kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. Demikian pula pelaksanaan COREMAP di Desa Limbung belum menunjukkan keberhasilan dalam upaya meningkatkan pendapatan penduduk maupun pengelolaan ekosistem terumbu karang. Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam satu komponen. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. Terkait dengan kendala keterbatasan sumber daya manusia. terlebih konflik kepentingan hampir dipastikan terjadi. sehingga kualitas hasil kegiatan tidak baik. sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan. LPSTK dan tiga pokmas (jender. pendanaan. Bahkan.Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. yaitu antara mendahulukan kegiatanCOREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Persoalan koordinasi. jabatan rangkap dapat ditemukan pada semua koordinator komponen maupun Ketua PIU. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. Sedangkan kendala pendanaan COREMAP II terjadi pada dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat. Hal ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. Kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas dan hanya terkonsentrasi di satu dusun. dan keterbatasan sumberdaya manusia sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. baik jabatan struktural maupun proyek. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang tidak optimal. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain.

Perubahan pendapatan dalam dua tahun terakhir tampaknya lebih disebabkan oleh faktor internal dan eksternal daripada karena implementasi kegiatan COREMAP dan program lain. mengindikasikan semakin banyaknya rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan.. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam..5 persen.050. Hasil survei juga menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan).000.per bulan). yaitu dari Rp 948.300.per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1.produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal). yaitu dari 70 persen menjadi 51.per bulan pada tahun 2008.700. rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) masih memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean).. Namun demikian.5 persen.200.. hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223.pada tahun 2008.2 persen (dari Rp 743. pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423. Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. Pada tahun 2008.per bulan. dampak kegiatan COREMAP terhadap pendapatan rumah tangga maupun pendapatan per kapita belum nampak dengan nyata.pada tahun 2006 menjadi Rp 967.360. angka median hampir mendekati rata-rata pendapatan. Sedangkan kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan sebesar 23. Bahkan pada tahun 2008. atau meningkat 89. Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita. vi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . karena sebagian besar rumah tangga mendapat penghasilan dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap.200. Dampak kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan terlihat dengan jelas di Desa Limbung.. Dengan demikian. Peningkatan pendapatan rumah tangga sampel (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) sebesar 30 persen. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah yang merupakan kelompok mayoritas.

sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah Alat tangkap ini dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan.Kenaikan pendapatan tertinggi terjadi pada musim ombak lemah.7 persen. Penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu. Kabupaten Lingga.7 persen). khususnya bubu ketam. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap. Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan. Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian.4 persen) daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4. eksternal dan struktural. yaitu di Desa Limbung. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | vii . yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari. Sedangkan kenaikan pendapatan rumah tangga pada musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar (15. Setiap kali melaut bisa mengoperasikan lebih dari 20 buah bubu. yaitu sebesar 45. yang berarti hasil penjualan juga semakin besar. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini. sehingga semakin banyak hasil tangkapan ketam. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM yang berarti mengurangi biaya melaut. yang saling terkait satu dengan yang lain. Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga. dipengaruhi oleh faktor internal. Perbedaan perubahan pendapatan menurut musim tersebut dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis.

perubahan musim sedikit berpengaruh terhadap hasil tangkapan. sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Akses pemasaran ketam yang sangat baik tersebut tidak terlepas dari faktor permintaan daging ketam olahan dari Singapura yang cenderung terus meningkat. seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. Hal ni tentunya berdampak terhadap peningkatan pendapatan nelayan. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alat-alat tangkap). tentunya menambah penghasilan nelayan. hasl yang diperoleh juga jauh lebih besar daripada hasil penjualan ketam atau cumi-cumi. diperoleh informasi bahwa faktor permintaan dan pemasaran tampaknya perupakan faktor penting dalam mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. yaitu kepada penampung maupun langsung ke PT Ketam (industri pengolahan ketam). Dengan demikian. walaupun masih terbatas pada nelayan bermodal besar. serta di provinsi sekitar. tetapi hal ini juga terkait dengan perubahan alat-alat tangkap yang telah dikemukakan di atas. Pemasaran hasil tangkapan yang berupa ketam sangat mudah dilakukan. Sedangkan dari faktor struktural cenderung belum memperlihatkan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. Wawancara mendalam dengan pihak nelayan. COREMAP yang telah mengimplementasikan aktivitas usaha viii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Dengan harga jual yang cenderung stabil. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang. industri pengolahan ketam. Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. karena kelong bilis dapat menghasilkan setiap hari ketika bulan gelap (20 hari per bulan pada musim teduh hingga awal pancaroba). meningkatnya peluang pasar karena permintaan yang terus menerus dari pasar internasional terhadap daging ketam. dan tokoh setempat. Peningkatan pendapatan pada musim angin teduh adalah sangat erat kaitannya dengan penggunaan bubu ketam dan meningkatnya pemilikan kelong bilis dalam dua tahun terakhir. Dari faktor ekternal.Meskipun modal untuk memasang kelong bilis cukup besar. sedangkan hasil tangkapan ketam semakin banyak. penampung.

nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masingmasing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan. sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga peserta program. Kajian ini merekomendasikan perlunya memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan. Demikian pula dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya. konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | ix . jender. Sedangkan program pemerintah lainnya adalah Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung. agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target”.sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil. Meskipun bantuan ini lebih banyak diakses oleh nelayan pemodal besar dan penampung. Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata. Sedangkan keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya.ekonomi produktif melalui pokmas produksi. kemungkinan besar karena jumlah bantuan tidak besar dan dilakukan secara perorangan. Dengan demikian. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. dan konservasi. Hal ini jelas berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas. tetapi indikasi ke arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender. Kredit usaha yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong.

terutama untuk meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung. x | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Upaya lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan nelayan adalah melalui program kredit lunak kepada nelayan.usaha pemberdayaan ekonomi penduduk perlu dilakukan mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok.

baik di tingkat nasional. Hasil BME sosil. Dengan adanya evaluasi dan masukan-masukan bagi pengelola dan pelaksana program.ekonomi ini selain dapat dipakai untuk memantau perkembangan tingkat kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan COREMAP dapat dikaji dari aspek bio-fisik dan sosial ekonomi.KATA PENGANTAR P elaksanaan COREMAP fase II bertujuan untuk menciptakan pengelolaan ekosistem terumbu karang. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xi . diproteksi dan dikelola secara berkesinambungan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. kabupaten maupun di tingkat lokasi. Penelitian BME ekologi dilakukan setiap tahun untuk memonitor kesehatan karang. Sedangkan dari aspek sosial ekonomi diharapkan pendapatan per-kapita penduduk naik sebesar 2 persen per tahun dan terjadi peningkatan kesejahteraan sekitar 10. keberhasilan COREMAP dari indikator bio-fisik dan sosial-ekonomi dapat tercapai. agar sumber daya laut ini dapat direhabilitasi.000 penduduk di lokasi program. juga dapat dipergunakan untuk melakukan evaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program. sedangkan BME sosial-ekonomi dilakukan pada tengah dan akhir program. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan dari aspek bio-fisik. BME sosial-ekonomi bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan COREMAP di daerah dan mengumpulkan data mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat. diharapkan dalam sisa waktu yang ada sampai akhir program fase II. khususnya peningkatan pendapatan penduduk di lokasi COREMAP. Untuk melihat keberhasilan tersebut perlu dilakukan penelitian benefit monitoring evaluation (BME) baik ekologi maupun sosialekonomi. khususnya tingkat pendapatan untuk memantau dampak program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Program ini telah berjalan kurang lebih tiga tahun atau pada pertengahan program.

ketua dan pengurus LPSTK dan POKMAS. Unit pelaksana COREMAP di Kabupaten Lingga. Terlaksananya kegiatan penelitian dan penulisan buku laporan melibatkan berbagai pihak. Oleh karena itu.Buku laporan ini merupakan hasil dari BME sosial-ekonomi yang dilakukan pada tahun 2008 di lokasi-lokasi Coremap di Indonesia Bagian Barat (lokasi Asian Development Bank/ADB). BME sosialekonomi ini dilakukan oleh CRITC-LIPI bekerjasama dengan tim peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI (PPK-LIPI) dan beberapa peneliti sosial dari kedeputian IPSK . kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna meskipun tim peneliti telah berusaha sebaik mungkin dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. MSc xii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Penghargaan dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Pusat Penelitian Kependudukan – LIPI yang telah memberikan dukungan kepada tim peneliti melakukan studi ini. Desember 2008 Direktur NPIU CRITC COREMAP II-LIPI Prof. kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan laporan ini.LIPI. Kami juga memberikan penghargaan setinggitingginya kepada semua narasumber dari berbagai unsur pengelola COREMAP di tingkat kabupaten: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para pewawancara yang telah membantu pelaksanaan survai. DR. Jakarta. Pada akhirnya. Ono Kurnaen Sumadhiharga. Kepada para informan: masyarakat nelayan. pemimpin formal dan informal. tokoh masyarakat di lokasi Desa Limbung kami ucapkan terima kasih atas segala bantuannya. CRITC Kabupaten Lingga dan berbagai pihak yang ada di daerah yang telah membantu memberikan data dan informasi.

Sarana dan Prasarana 2.1. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL 2.3. Jumlah dan Komposisi Penduduk 2. Latar Belakang 1.4.4.1.3.2.3.2. Kondisi Geografis 2.5.2.2.2.1.3.DAFTAR ISI RINGKASAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR MATRIKS DAFTAR GAMBAR DAFTAR PETA DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1. Keadaan Sumber Daya Alam 2.3.1.2.4. Pekerjaan 2.2. Pendidikan dan Ketrampilan 2. Kesejahteraan iii xi xiii xv xvii xix xxi xxiii 1 1 3 4 7 9 9 13 13 18 23 31 32 35 36 37 40 47 BAB II K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xiii .3.2.3.3. Potensi Sumber Daya Alam dan Pengelolaannya 2.2. Kependudukan 2. Metodologi 1. Tujuan 1. Pembabakan Penulisan PROFIL LOKASI PENELITIAN 2. Teknologi Penangkapan 2. Wilayah pengelolaan 2.

Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan 4.2.1. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural 4. Rekomendasi 53 54 55 66 67 83 95 95 96 100 107 107 112 114 121 121 130 135 DAFTAR PUSTAKA xiv | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .1.1.1. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan 4.2. Kesimpulan 5.1.3. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa 3. Pengetahuan Dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Program COREMAP BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4. Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal 4.1. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/ CRITC) 3.BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA 3. Faktor Pengaruh Pendapatan Rumah Tangga 4.1.2.1.1.2.3. Pelaksanaan COREMAP: Permasalahan dan Kendala 3.2.1. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten 3.2.2.2.1. Pendapatan Rumah Tangga dan Perubahannya 4.2. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.

Tabel 3.6. Desa Limbung. Desa Limbung. 91 92 Tabel 3. Desa Limbung. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset.3.1. 85 Tabel 3. 87 Tabel 3.DAFTAR TABEL Tabel 2. 94 Tabel 4. 2006 dan 2008.4. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) 48 Tabel 3.7.5. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan UEP COREMAP Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Mengenai Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan. 93 Tabel 3.1. 97 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xv .2. Kabupaten Lingga.1. Kabupaten Lingga Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II. 89 Tabel 3.

Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga. 105 Tabel 4. Desa Limbung.3. Kabupaten Lingga Utara. Tahun 2006dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim. Kabupaten Lingga Utara. Tahun 2006 dan 2008 (%) 99 Tabel 4. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim. 106 xvi | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .2. Desa Limbung.4.Tabel 4.

Matriks 3. Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program.DAFTAR MATRIKS Matriks 2. Matriks 2. Jumlah Anggota & Nama Ketua 12 22 77 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xvii .1.2.1.

xviii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Kabupaten Lingga. 2006 dan 2008 Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. 2008 104 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xix . 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan. 98 Gambar 4.1. Kabupaten Lingga. 102 Gambar 4. Desa Limbung. Desa Limbung.1. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. Desa Limbung. Kabupaten Lingga. Kabupaten Lingga. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan. Desa Limbung. 41 Gambar 2. 45 Gambar 2.DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Desa Limbung. Desa Limbung.3. Kabupaten Lingga. Tahun 2006 dan 2008 38 Gambar 2. Desa Limbung. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi. Kabupaten Lingga.5. 2008 Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan. 42 Gambar 2.4. Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan.2. Kabupaten Lingga.2. Kabupaten Lingga. 2008 Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan. 46 Gambar 4.3.

xx | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Peta 2.2.DAFTAR PETA Peta 2. Desa Limbung dan Sekitarnya Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung 10 21 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxi .1.

xxii | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Desa Limbung. Jenis. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin. Kabupaten Lingga 137 138 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | xxiii . 2008 Lampiran Tabel 2. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Tabel 2.2.1. Desa Limbung.

namun kerusakan terumbu karang di Indonesia cenderung lebih banyak disebabkan oleh aktivitas manusia. Kegiatan penangkapan SDL berlebih dan menggunakan alat-alat penangkapan yang tidak ramah lingkungan (seperti bom. 2008). Program nasional ini merupakan salah satu program yang bertujuan untuk mengatasi penurunan populasi sumber daya laut (SDL) di Indonesia. LATAR BELAKANG E kosistem terumbu karang sangat rentan terhadap proses alam dan perilaku manusia yang merusak.1. Program ini diimplementasikan pada kawasan yang dianggap banyak ditemukan ekosistem terumbu karang dan perlu dipelihara atau diperbaiki kondisinya. Kerusakan terumbu karang di Indonesia karena penangkapan ikan secara berlebihan diperkirakan mencapai 64 persen dari luas keseluruhan (Sutanta. COREMAP telah diimplementasikan di desa-desa yang penduduknya menggantungkan hidup dari SDL. dan di akwasan tersebut telah terjadi kerusakan terumbu karang. Upaya merehabilisasi dan mengelola terumbu karang di perairan Desa Limbung telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1998 melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP). Provinsi Kepulauan Riau. sianida. Kerusakan terumbu karang juga terjadi di perairan laut Limbung. penangkapan ikan dengan metode merusak menyumbang 53 persen kerusakan terumbu karang di Indonesia. khususnya terumbu karang. Berdasarkan hasil Kasus Kabupaten Lingga | 1 . Kabupaten Lingga. Dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Sementara itu. pukat) merupakan faktor penting penyebab kerusakan terumbu karang. Kegiatan ini dilakukan untuk melestarikan alam atau lingkungan sebagai akibat pengrusakan pengambilan SDL secara berlebihan agar tidak mengganggu kehidupan ekonomi nelayan di kawasan tersebut pada masa datang.BAB I PENDAHULUAN 1.

94 persen (CRITC-LIPI. Kondisi sangat bagus jika persentase tutupanya > 75 persen. Tutupan karang di perairan Limbung tersebut merupakan angka terendah dibandingkan dengan tujuh stasiun pengamatan lainnya di perairan Lingga Utara.9 persen1. rusak: 25 . dan rusak berat: < 25 persen.75 persen. kerusakan karang di perairan Duara. 2 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . menggunakan metode line intercept transect. tetapi tampaknya masih terdapat beberapa kekurangan. bagus: 50 . berada dalam tingkatan sedang dengan tutupan karang hidup sebesar 30. kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut juga terjadi akibat aktivitas manusia. Selain itu. kondisi terumbu karang di Limbung paling buruk. Dibandingkan dengan stasiun pengamatan lainnya. kegiatan COREMAP juga mencakup upaya pengentasan masyarakat dari kondisi kemiskinan. dua lembaga yang mengukur kondisi terumbu karang berdasarkan pengamatan langsung dilapangan. yang terletak berdekatan dengan Desa Limbung. COREMAP di Desa Limbung didanai oleh Bank Pembangunan Asia (Asean Development Bank-ADB) yang telah dilakukan sejak fase I. Program ini merupakan program nasional yang dirancang untuk menekan laju kerusakan dan membenahi/merehabilitasi terumbu karang. meskipun terjadi kenaikan tutupan terumbu karang hidup sekitar 9. dan perbaikan fungsi pemerintahan.50 persen.penelitian Puslit Oseanologi (P20)-LIPI pada tahun 2006 dengan menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT). Penggunaan parit gamat untuk menangkap teripang dan pelanggaran wilayah tangkap di daerah perlindungan laut merupakan dua faktor penting yang mengakibatkan terjadinya kerusakan terumbu karang di perairan laut Limbung. Oleh karena itu. Selain karena faktor alam. memberikan akses mata pencaharian alternatif. 2007). Coremap fase I telah selesai dilaksanakan di Desa Limbung. membagi tingkat kerusakan berdasarkan persentase tutupan karang hidup. pelaksanaan COREMAP fase II yang pada tahun 2008 ini telah memasuki tahun ke tiga diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi kekurangan pada fase sebelumnya. yaitu menggabungkan aspek tehnis 1 LIPI dan COREMAP. Salah satu komponen kunci COREMAP adalah pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat (PBM).

dan (b) terdapat peningkatan taraf hidup sekitar 10. Terjadinya peningkatan tutupan karang sebesar 2 persen per tahun merupakan indikator keberhasilan Coremap dari aspek bio-fisik. maupun nasional. Secara detail tujuan survei BME meliputi: 1.pengelolaan dan aspek-aspek sosial. Dalam rangka melihat pencapaian program. Dengan demikian. TUJUAN Survei “Benefit Monitoring Evaluation Aspek Sosial-Ekonomi COREMAP” merupakan kelanjutan dari “Studi Aspek Sosial Terumbu Karang tahun 2006”. Tujuan umum PBM adalah untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya laut dan ekosistem terumbu karang agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. kabupaten. lembaga donor telah menentukan indikator keberhasilan.2. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi. manfaat dari kegiatan BME bagi pengelola program adalah sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan. Mengidentifikasi permasalahan dan kendala pelaksanaan Program COREMAP di daerah Kasus Kabupaten Lingga | 3 .000 rumah tangga pada akhir program (Project Appraisal Document. Sedangkan indikator keberhasilan dari aspek sosialekonomi adalah: (a) pendapatan per kapita masyarakat di lokasi target COREMAP meningkat sebesar dua persen per tahun. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. yang dapat dipergunakan untuk mengevaluasi pengelolaan dan pelaksanaan program di tingkat lokasi. Untuk mengetahui pencapaian indikator keberhasilan COREMAP telah ditentukan suatu cara monitoring yang dikenal dengan Benefit Monitoring Evaluation (BME). Kegiatan BME sosial-ekonomi dilaksanakan pada pertengahan dan akhir tahun program. 2005). sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. khususnya tingkat pendapatan masyarakat yang merupakan indikator untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. yaitu dilihat dari aspek bio-fisik dan sosial-ekonomi. 1.

Pemilihan rumah tangga pengganti diupayakan mempunyai kemiripan karakteristik sosial-ekonomi dengan rumah tangga yang digantikan. Bahkan. sebanyak delapan (8) rumah tangga sampel harus diganti. Kecamatan Lingga Utara yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga. 1. meninggal (sedang ART bergabung dengan kerabat). pemilihan rumah tangga sampel merupakan responden yang disurvei pada tahun 20062). Oleh karena itu. tetapi penelitian BME sosial-ekonomi hanya dilakukan di dua dusun. dan pindah ke luar desa. karena responden yang terdahulu tidak ada di tempat selama survei dilakukan. lokasi penelitian adalah desa yang juga dipilih pada kegiatan survei pada tahun 2006. METODOLOGI Penelitian BME ini merupakan studi yang bertujuan untuk memantau pelaksanaan Program COREMAP yang sudah berjalan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dengan alasan karena Desa Limbung merupakan salah satu desa dari tujuh desa yang merupakan lokasi implementasi COREMAP fase I maupun fase II. Lokasi penelitian adalah Desa Limbung. 4 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Meskipun Desa Limbung meliputi tiga dusun. Namun demikian. sedangkan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan 2 Pemilihan rumah tangga dilakukan dengan metode sampel secara acak sistematis (sistematic random sampling).3. Menggambarkan perubahan tingkat pendapatan masyarakat untuk memantau dampak Program COREMAP terhadap kesejahteraan masyarakat.2. Pengumpulan data BME aspek sosial-ekonomi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dimaksudkan untuk mendapatkan data primer yang bersifat kuantitatif. karena satu dusun lainnya (Linau) tidak menjadi lokasi COREMAP. direncanakan dusun tersebut akan terpisah dari Desa Limbung menjadi desa tersendiri. Mengkaji pemahaman COREMAP masyarakat mengenai Program 3. Sebagaimana dengan pemilihan lokasi penelitian.

Sedangkan data individu diperoleh dari ART berusia > 15 tahun yang dipilih dengan cara acak insidental/kebetulan (pada saat dilakukan survei ada di tempat). Selanjutnya. Wawancara mendalam ditujukan pada informan di tingkat lokasi/desa dan kabupaten. Pengumpulan data dengan pendekatan kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. pendapatan. LSM. Sebanyak 7 orang pewawancara yang telah mendapat pelatihan. Data rumah tangga ditanyakan kepada kepala rumah tangga (KRT) atau ART dewasa yang mengetahui tentang kehidupan rumah tangga bersangkutan. sehingga dapat dipakai untuk analisis perubahan pendapatan. dan pemilikan aset rumah tangga). serta dampak COREMAP terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. data/informasi yang dikumpulkan adalah pengetahuan dan partisipasi ART terpilih (responden) dalam kegiatan COREMAP. Survei dilakukan dengan cara tatap muka dengan responden. ketua dan anggota Pokmas. diskusi terfokus (FGD). Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan data di tingkat rumah tangga. kuesioner yang telah terisi diperiksa oleh tim peneliti untuk melihat kelengkapan data dan konsistensi jawaban. dan fasilitator. pemuka masyarakat (formal maupun informal). atau sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada survei tahun 2006. dan observasi. Data rumah tangga mencakup kondisi demografi anggota rumah tangga dan kondisi ekonomi (pekerjaan. yaitu dengan melakukan survei terhadap rumah tangga terpilih. anggota masyarakat lain yang diperkirakan mengetahui tentang pengelolaan terumbu karang. Sedangkan pada tingkat individu. dan tenaga pendamping. Data yang diperoleh dari survei adalah data rumah tangga dan individu. Sedangkan Kasus Kabupaten Lingga | 5 . serta materi pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. serta pelaksanaan kegiatan COREMAP. pengetahuan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta keterlibatan ART terpilih. membantu dalam pelaksanaan survei.pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang maksud dan tujuan pengumpulan data. Informan di tingkat desa adalah nelayan. Sedangkan informan di tingkat kabupaten adalah koordinator/anggota komponen COREMAP Kabupaten Lingga.

FGD di desa penelitian juga dilakukan dengan peserta berasal dari kelompok nelayan dan anggota Pokmas. yaitu untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman tentang keadaan lokasi penelitian dan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut dan terumbu karang. Informasi yang dikumpulkan dengan pendekatan kualitatif meliputi berbagai aspek terkait dengan program dan kegiatan pengelolaan terumbu karang dan sumber daya laut. khususnya perubahan pendapatan. Desk review terhadap hasil penelitian/kajian sebelumnya. produksi dan pemasaran SDL. Sedangkan analisis data kualitatif yang dilakukan dengan tehnik analisis kontekstual (content analysis) dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kondisi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Data yang dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif adalah data/informasi yang tidak diperoleh dari kegiatan survei. lokasi dan wilayah penangkapan. Analisis data kuantitatif berfokus pada perubahan kondisi sosial ekonomi rumah tangga.FGD di tingkat kabupaten dilakukan pada tujuh orang tenaga pendamping COREMAP di Kabupaten Lingga. Observasi lapangan hanya dilakukan di tingkat desa. kondisi daerah. Pendekatan kualitatif dalam penelitian BME aspek sosial ekonomi juga digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang tersedia di instansi-instansi pemerintah dan non-pemerintah. dengan penekanan pada faktor yang mempengaruhi perubahan pendapatan serta isu-isu yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. dan bahan-bahan dokumentasi lain yang relevan juga dilakukan untuk menambah pemahaman tentang BME dari aspek sosial ekonomi. dan degradasi lingkungan. 6 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kebijakan/program terkait dengan program COREMAP. sehingga dapat saling melengkapi dengan data kuantitatif. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil survei dianalisis dengan menggunakan tabulasi frekuensi dan tabulasi silang untuk mengetahui keterkaitan antara variabel-variabel yang dianalisis.

tujuan dan metodologi penelitian. Sebagai akhir tulisan adalah Bab V yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan rekomendasi yang merupakan pemikiran-pemikiran untuk pertimbangan dalam penyusunan perencanaan. serta kondisi kependudukan. potensi sumber daya alam darat dan laut. Sedangkan analisis tentang pendapatan penduduk dan perubahannya serta faktor yang mempengaruhinya dibahas pada Bab IV. Deskripsi tentang kondisi daerah penelitian terdapat pada Bab II yang meliputi kondisi geografis. Kabupaten Lingga” ini terdiri dari lima bab. Kasus Kabupaten Lingga | 7 . Kecamatan Lingga Utara. pelaksanaan dan pengelolaan terumbu karang. Bab I adalah bab pendahuluan yang menjelaskan tentang latar belakang dilakukannya kajian Benefit Monitoring Evaluation SosialEkonomi. Selanjutnya Bab III berisi uraian tentang pelaksanaan dan pengelolaan COREMAP di tingkat desa maupun kabupaten. wilayah pengelolaan dan kapasitas penangkapan sumber daya laut. saranaprasarana terkait dengan pengelolaan sumber daya laut dan kesejahteraan penduduk.4.1. PEMBABAKAN PENULISAN Laporan peneitian “BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung.

8 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

KONDISI GEOGRAFIS esa Limbung adalah salah satu desa dari 36 desa yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lingga Utara3 dengan luas wilayah 40. dan Desa Teluk di sebelah timur (lihat Peta Desa Limbung). Desa Limbung berbatasab dengan Kecamatan Senayang di sebelah utara. kemudian disambung dengan pompong langsung ke desa. Kecamatan ini terbentuk bersamaan dengan perubahan status wilayah administrasi. Dari dermaga ini disambung dengan transportasi darat menuju Kota Daik. Pada struktur pemerintahan Desa Limbung. Namun sarana jalan ini dibandingkan pada saat survey data dasar COREMAP (2006) kondisinya semakin parah. tak jauh jauh dari Dermaga Tanjung Buton yang masih dalam proses penyelesaian. sekitar 37 kilometer yang dapat ditempuh melalui jalan darat4. sehingga bila hujan sulit untuk keluar desa menuju kota kabupaten (Kota Daik) atau desa sekitarnya. Dusun Sinempek. Jalur lain untuk menuju Desa Limbung dari pelabuhan Tanjung Pinang langsung Kecamatan Lingga (Dermaga Pancur). Kota Daik. Jarak antara Desa Limbung dengan pusat pemerintahan Kabupaten Lingga. kemudian disambung dengan pompong hingga Dermaga Tanjung Buton. Riau (Tanjung Pinang) dengan ibukota Kabupaten Lingga (Daik) adalah fery yang berlabuh di dermaga. Desa Sei Pinang. dan Desa Bukit Harapan di sebelah selatan. yaitu dari Kecamatan Lingga menjadi Kabupaten Lingga yang merupakan pemekaran dari wilayah Kabupaten Kepulauan Riau (pada saat ini menjadi Provinsi Kepulauan Riau). Alat transportasi umum yang menghubungan ibukota Propinsi Kep. desa ini terbagi atas tiga dusun yaitu Dusun Centeng. dan Dusun Linau. selanjutnya ke Desa Limbung dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.1. Desa Pekaka di sebelah barat. 4 3 D Kasus Kabupaten Lingga | 9 . Desa Keton.408 km2.BAB II PROFIL LOKASI PENELITIAN 2. Kecamatan Lingga Utara termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga.

P. Desa Limbung terdiri dari wilayah pulau dan pesisir yang dikelilingi oleh lautan. Jakok. Malang Sekateh. Luas pulau-pulau tersebut berkisar antara 1 – 3 hektar dan di antaranya ada yang tidak berpenghuni. P 10 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . 2005. Seranggas. Sebagai kawasan kepulauan. penduduk jarang yang melalui jalan darat dan lebih memilih jalan laut bila hendak keluar atau masuk ke Dusun Sinempek. terdapat beberapa ’dusun kecil’ yang masuk dalam lingkup tiga dusun dan penduduk menyebutnya ’kampung’. Misalnya. Peta 2. P. Desa Limbung dan Sekitarnya Sumber : Bappeda Kabupaten Lingga. P. Telum. P. P. P. Dusun Centeng ada Kampung Seranggas. Kekek. Tikus. Jalan darat yang ada hanya menghubungi Dusun Centeng dan Dusun Sinempek namun kondisinya sangat buruk. Transportasi antar desa atau dusun umumnya dilakukan melalui laut menggunakan pompong atau sampan. Beberapa pulau yang menjadi tempat masyarakat mencari ikan dan berkebun antara lain adalah P. Dusun Sinempek ada Kampung Air Kelat dan Kampung Sei Nona. Baruk. Oleh karena itu.1. terutama pada saat hujan atau setelah hujan.Selain tiga dusun tersebut.

Sedangkan tanah yang tidak berpenghuni ada yang telah dikelola penduduk secara turun-temurun. Pada dataran tinggi terdapat kawasan hutan yang kayunya dimanfaatkan masyarakat untuk dijual maupun digunakan sendiri. 40. Hantu. Selain itu. dan musim utara yang sangat mempengaruhi nelayan dalam mencari SDL (lihat matriks 2. Para nelayan Limbung mencari ikan di sekitar pulau-pulau tersebut karena dengan peralatan yang sederhana mereka kurang berani untuk pergi melaut dengan jarak jauh.per orang. mungkin pemanasan global mulai memasuki kawasan Limbung. Keempat musim tersebut adalah musim timur. namun kegiatan ini dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilegal. berbukit dengan tingkat kemiringan cukup tajam. Penduduk ada yang membawa kayu tersebut ke luar Desa Limbung sebagai salah satu kegiatan mereka. bergelombang. namun secara topografi desa ini berbentuk datar. di bawah ini). dan P. terutama di daerah perbukitan.1. Kondisi alam ini mulai dirasakan nelayan dengan ketidakteraturannya cuaca di kawasan Limbung atau perairan di sekitar tempat mencari ikan. namun jalan-jalan ke desa ini terlanjur hancur. iklim di kawasan Limbung mulai menunjukkan ketidakteraturan. Dampak dari kegiatan ini jalan menjadi jelek dan bila hujan sangat licin karena belum diaspal. kemudian dilanjutkan angkutan perahu motor hingga Pancur Rp. Apabila akan ke kota kecamatan (Pancur) menggunakan perahu motor umum (sewa) atau terlebih dahulu naik ojek/motor hingga Desa Resun dengan sewa Rp. musim barat. Alat tranportasi umum (laut) antar pulau atau dusun belum ada. sehingga sulit untuk keluar masuk Desa Limbung. Penduduk ada yang mengatakan.000.Terumbu Terap.. secara periodik (3 kali seminggu) ada kapal motor pengumpul ikan dari K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 11 . Pada saat ini pengambilan kayu memang berkurang karena adanya larangan untuk menebang kayu. sehingga berpengaruh dalam melakukan kegiatan kenelayanan. Walaupun desa ini terletak di wilayah pesisir. musim selatan. Akhir-akhir ini. 5. Namun secara umum kawasan ini dipengaruhi oleh empat (4) musim dengan ciri-ciri tiupan angin berbeda-beda yang berpengaruh terhadap gelombang laut di kawasan tersebut.-.000. sehingga dianggap tanah milik keluarga.

berawan.dan sewa kendaraan sekitar Rp. Sewa kendaraan Daik – Limbung cukup mahal. Transportasi jalur Limbung – Pancur ini cukup ramai. Transportasi laut dari Daik ke Limbung adalah melalui Kota Kecamatan Lingga Utara (Pancur) yang jaraknya sekitar 47 kilometer.. dan hujan • Sering dengan waktu yang lama • Gelombang kuat 12 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .Pancur ke perairan Desa Limbung yang kadang-kadang bisa ditumpangi penduduk yang akan ke Pancur atau sebaliknya tampa membayar.Rp. Musim Angin Timur Angin Selatan Ciri-ciri dan Kondisi Musim Angin Kawasan Perairan Limbung Bulan Maret – Mei Kondisi Laut • Angin lemah • Gelombang tenang • Pancaroba • Kadang2 angin & hujan. Sedangkan transportasi umum dari Daik menuju Desa Limbung belum ada. tapi sebentar Kegiatan Melaut Persiapan melaut Setiap hari melaut Panen ikan & SDL lain Menurunkan semua alat tangkap yang digunakan untuk penangkapan SDL yang ada di perairan Limbung • Setiap hari • Panen cumi.1.000.. 300. yaitu ojek antara Rp. bilis. kecuali ojek motor dan penyewa kendaraan pribadi yang berdomisili di Daik. 2008 Angin Utara Januari – Maret • Pancaroba • Tiba2 angin ribut. ikan. kepiting. 50. penelitian BME – COREMAP.. 40. karena Pancur adalah tempat penduduk Limbung melakukan transaksi penjualan hasil laut dan berbelanja kebutuhan nelayan dan rumah tangga. Pada umumnya penduduk Limbung menggunakan perahu motor/pompong milik sendiri atau menumpang pompong orang lain dengan memberi uang untuk pembeli bahan bakar minyak.000. gonggong.000. teripang • Melaut namun diiringi rasa khawatir karena cuaca yang tibatiba berubah • • • • Juni September Angin Barat (Ulu Barat) September – Desember • Tidak melaut libur • Menebar jaring atau memancing ikan di pinggir pantai Sumber: Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung.satu kali jalan (tahun 2008). Matriks 2..

cumi-cumi. Kondisi tanah di Kabupaten Lingga juga cocok untuk lahan perkebunan. namun kondisi hutan sudah parah dan kayunya pun makin menipis.2. baik yang terdapat di darat maupun di laut. gambir. kabupaten ini telah mengembangkan beberapa jenis komoditas yang dianggap cukup besar antara lain adalah kelapa. Keadaan Sumber Daya Alam Sumber Daya Darat Sumber daya darat yang ada di Desa Limbung mencakup hutan primer.1. perkebunan keras. Oleh karena itu. Lingga. yaitu kakao. Pada saat ini kondisi hutan primer semakin berkurang dengan adanya pembalakan kayu yang cukup tinggi.2. lada. baik dilakukan oleh perusahaan maupun masyarakat. terutama pada saat pembukaan hutan untuk daerah transmigrasi dan perkebunan kelapa sawit. dan kehutanan. Selain itu. dan ikan bilis. walaupun tidak berskala besar juga dikembangkan beberapa jenis komoditas perkebunana lain yang cukup potensial. dan kopi (BPS Kab. yang kayunya dijual ke luar Desa Limbung. dan sagu. cengkeh. namun cukup banyak dijumpai di perairan Limbung. Begitu pula dengan sumber daya laut (SDL). dan pertambangan. 2. penduduk pun memanfaatkan kayu-kayu tersebut untuk pembuatan tiang pancang kelong bilis dan papan untuk dinding rumah penduduk. 2007: 25). Kondisi ini makin parah dengan adanya penebangan liar. Akhir-akhir ini memang telah dilakukan berbagai tindakan terhadap penebang liar. Beberapa jenis tanaman perkebunan tersebut juga terdapat di Desa Limbung yang umumnya masih K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 13 . Selain itu. perkebunan. Sedangkan hasil tangkapan lain seperti beragam jenis ikan karang campuran dan pelagis walaupun bukan tangkapan pokok nelayan. POTENSI SUMBER DAYA ALAM DAN PENGELOLAANNYA Desa Limbung walaupun tidak luas namun memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang cukup kaya. karet. pertanian (tanaman keras dan pangan).2. potensi pokoknya adalah kepiting rajungan. Kira-kira sebagian dari luas daratan desa ini memiliki potensi di sektor pertambangan. Selanjutnya akan dideskripsikan kondisi sumber daya darat dan sumber daya laut yang berpotensi di Desa Limbung.

Perkebunan kelapa yang ada di Desa Limbung umumnya tumbuh secara alamiah dan tidak diusahakan secara profesional.01 ha. dan disadap ketika permintaan pasar tinggi. harga karet sedang tinggi sehingga penduduk mulai bersemangat mengusahakan kembali perkebunan karet mereka. Ini disebabkan penduduk yang membuka lahan sagu masih terbatas dan mereka lebih suka pergi melaut daripada berkebun sagu.68 ha. dan terluas banyak dijumpai di Dusun Sinempek.36 ha (BPS Kab. terutama mereka yang berdiam di wilayah daratan. Wilayah kebun sagu di Kabupaten Lingga hanya terdapat di Kecamatan Lingga Utara dan Kecamatan Lingga dengan total luas 3. kebutuhan akan tepung sagu cukup tinggi namun pemasok masih kurang dan terbanyak dari kebunnya sendiri. Situasi ini juga berpengaruh terhadap penduduk lain yang juga bersemangat membuka lahan mereka untuk ditanami karet. Apalagi pada saat evaluasi ini dilakukan. namun bila pohan-pohan karet yang telah tua tersebut direvitalisasi tampaknya akan berpotensi untuk dikembangkan.382. maka sebaiknya areal kebun sagu lebih diperluas karena kondisi tanah di dusun ini cocok untuk tanaman ini. Walaupun belum banyak penduduk yang membuka perkebunan karet. Antara lain jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat Desa Limbung adalah tanaman sagu.492. Mengingat prospek kebutuhan tepung sagu cukup baik. 2007: 37). Produksi pabrik yang berupa tepung tersebut dikirim ke Palembang dengan kapal melalui Jambi. Luas kebun karet hanya sekitar 7 persen dari luas daratan Desa Limbung. luas kebun sagu sekitar 250 ha. Perkembangan perkebunan sagu di Sinempek cukup baik terutama dengan adanya pabrik tepung sagu di dusun tersebut. telah lama mengusahakan tanaman karet. Pemanfaatan lahan untuk kebun karet masih sistem kebun rakyat. Lingga. namun umumnya kondisi pohon karet tersebut berusia cukup tua. sehingga hasilnya pun tidak maksimal dan hanya untuk memenuhi kebutuhan 14 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Penduduk Desa Limbung.merupakan perkebunan rakyat.) di kedua kecamatan tersebut. Bahkan menurut pemilik pabrik. Kecamatan Lingga Utara memiliki lahan sagu paling luas yaitu 841. Berdasarkan luas perkebunan sagu yang menghasilkan (1. Khusus Desa Limbung. kelapa dan karet. tampak ada perawatan.

Misalnya usaha produksi kopra atau makanan terbuat dari kelapa. Khusus Desa Limbung. Pengembangan pada usaha pertanian pangan ini. Lingga. yaitu lokasi transmigran Dusun Linau. walaupun sulit bila masyarakat mau mengelola lahannya secara optimal untuk tanaman palawija mungkin dapat berhasil. Sebagai daerah pesisir. karena mereka umumnya pergi melaut. perusahaan akan mengalihkan lahan untuk kelapa sawit tersebut untuk tanaman jagung. 2007: 12). bila ada Pokmas MPA-COREMAP yang memulai dan diberi pelatihan atau bimbingan cukup mungkin usaha ini dapat menjadi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 15 . Mungkin usaha perkebunan kelapa dapat berkembang di desa ini bila ada penduduk yang mengusahakan pengolahan produksi kelapa yang dapat mendorong penduduk untuk berkebun secara profesional. kountur tanah Kecamatan Lingga Utara cocok untuk lahan pertanian pangan. Dalam hal ini.sendiri. Bahkan menurut informasi yang diperoleh. Masyarakat transmigran sejak awal di desa ini yang membuka lahan pertanian tampa irigasi atau lahan kering. Sedangkan masyarakat setempat atau orang Melayu jarang yang mengolah lahan kering atau kebun. Walaupun lahan untuk perkebunan ini telah dibuka. jenis tanaman pangan yang dominan adalah palawija. Berdasarkan data Kabupaten Lingga dalam Angka 2006. dan buah yang banyak dijumpai di daerah transmigrasi. Tanah-tanah mereka tidak atau jarang yang dirawat atau dibuka untuk sebagai usaha pertanian atau kebun. potensi pohon kelapa perlu menjadi perhatian sebagai alternatif mata pencarian apabila tidak melaut. Pulau Singkep dan beberapa pulau di Kecamatan Senayang (BPS Kab. karena umumnya mereka tidak biasa pergi melaut. sayuran. namun tampaknya usaha ini tidak berjalan dengan semestinya. pemerintah kabupaten bersama perusahaan swasta berencana untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di wilayah Desa Limbung. Pada saat surveI data dasar aspek sosial ekonomi terumbu karang dilakukan (tahun 2006). dan bila ada tumbuh yang menghasilkan umumnya adalah tanaman liar atau tidak dipelihara. Apalagi harga jualnya rendah dan bila dibawa ke luar desa tranportasinya cukup mahal. terutama Pulau Lingga. Situasi ini berdampak terhadap kekecewaan penduduk yang sangat berharap terhadap usaha perkebunan kelapa sawit.

ikan merah. cumi-cumi dan ikan bilis ke Tanjung Pinang dan Batam. Selain itu. termasuk Kawasan Limbung. SDL ikan yang banyak terdapat di perairan Limbung adalah ikan bilis/teri. Di Desa Limbung yang sudah dieksplorasi adalah pertambangan pasir di sekitar Air Kelat dan melibatkan perusahaan swasta yang dieksport ke negara tetangga (Singapura). antara lain adalah boksit. sekitar tahun 2000-an. pasir. teripang dan gonggong atau siput. Besarnya potensi dua jenis biota laut ini menjadikan Desa Limbung sebagai pemasok ketam. sehingga tidak tergantung pemasokan dari luar seperti Pancur dan Daik. baik berbagai jenis ikan maupun non-ikan. Kawasan daratan Kabupaten Lingga ada beberapa jenis pertambangan yang berpotensi cukup menonjol. Kegiatan pertambangan lain belum muncul di kawasan Desa Limbung. walaupun potensi tambang seperti batu granit ada di sekitar desa ini. Namun larangan tersebut muncul setelah pasir di lokasi itu telah terkeruk dan pantainya terlihat rusak. delah. Untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem SDL. pemerintah harus mempunyai perencanaan yang jelas dan tidak sembarangan dalam memberikan ijin pada pengusaha yang ingin membuka usaha tambang di Kawasan COREMAP.mata pencaharian alternatif bagi penduduk Desa Limbung. dan dingkis. termasuk terumbu karang. ikan bulat. terdapat juga berbagai jenis ikan pelagis seperti ikan tenggiri. Sumber Daya Laut Perairan kawasan Desa Limbung mengandung potensi sumber daya laut. Usaha ini sudah berlangsung lama. Kondisi ini terntu akan berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya laut. pari. dan batu granit. cumi-cumi. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah bagi penduduk Limbung. bahkan ke Negara Singapura. ikan karang seperti kerapu. Meskipun ikan 16 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Jenis-jenis SDL yang menonjol di perairan sekitar Desa Limbung dan merupakan hasil tangkapan utama nelayan antara lain adalah kepiting/ketam. ikan bilis. sangerat. dalam volume besar dan sekitar dua tahun silam ditutup karena ada larangan untuk penambangan pasir. dan kembung. ungar. yang produksinya cukup besar.

Untuk mengembangkan usaha ini dibutuhkan biaya cukup besar untuk membangun tempat pemeliharaan ikan dan membeli bibit ikan kerapu yang harganya cukup mahal. Kemudian. khususnya kerapu sunu dan tiger. Sumberdaya lain yang juga masih banyak dijumpai adalah hutan bakau (mangrove) di bagian pesisir pulau-pulau kawasan Desa Limbung. Akhir-akhir ini berkembang budidaya ikan kerapu.karang dan pelagis bukan merupakan hasil tangkapan utama. Adanya intervensi untuk menjaga kelestarian ekosistem SDL seperti kepiting bakau dan ketam. nelayan pengumpul akan mengantarkannya ke kapal yang berlabuh agak jauh dari pantai. Melihat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ini cukup tinggi. yang diusahakan oleh beberapa nelayan. Sistem pemasaran ada dua macam. sehingga banyak yang gagal dan belum ada kelanjutannya. namun potensi jenis-jenis ikan tersebut cukup besar karena kondisi terumbu karang di Desa Limbung termasuk sedang hingga baik. yaitu ikan hidup dan ikan mati. sehingga mereka kembali menebang kayu bakau untuk kebutuhan hidupnya. Pada saat kapal datang. penduduk banyak yang ingin mencoba namun terbentur pada modal. Apalagi program COREMAP fase I untuk penanaman pohon bakau terhenti begitu saja. Seperti umumnya di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 17 . yaitu cukup banyaknya kelompok yang berkeinginan untuk budidaya ikan tersebut. namun kepada pedagang ikan yang datang tiga kali seminggu dari Pancur untuk mengambilnya. pada tahun 2007 dan dilanjutkan 2008 pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Pertambangan memberi bantuan bibit ikan kerapu di dusun ini. yaitu dengan tidak melakukan penebangan pohon bakau secara berlebihan terlihat dari berkurangnya masyarakat memanfaatkan kayu bakau untuk kayubakar. Pemasaran dari ikan-ikan tersebut tidak di desa ini. Kegiatan ini terutama ada di Dusun Sinempek karena budidaya ikan ini cocok untuk perairan di dusun ini. Namun kegiatan ini dapat saja diulangi kembali oleh masyarakat bila terdesak oleh kehidupan ekonomi yang semakin tinggi atau kesulitan memperoleh bahan bakar untuk memasak. Kondisi hutan bakau mulai berkurang karena masa lalu penduduk sering mengambil kayu bakau sebagai bahan bakar. besarnya minat masyarakat Desa Limbung untuk mengembangkan budidaya kerapu terlihat dari proposal Pokmas MPA-COREMAP.

khususnya nelayan Dusun Sinempek. Wilayah pengelolaan Nelayan Desa Limbung umumnya adalah nelayan tradisional. cumi-cumi (nus). sebagai SDL yang banyak memberi keuntungan bagi nelayan Desa Limbung. Hal ini mengingat lokasi ini nelayan dapat memperoleh cumicumi tanpa mengenal musim. kesadaran untuk penanaman kembali secara individu belum muncul dan hanya menunggu pemberian atau intervensi dari pihak luar.2. Oleh karena itu. teripang (Strombus Camariun). Jarak tempuh paling jauh adalah ke Pulau Semut di Kabupaten Senayang untuk mencari cumi-cumi (nus). tidak hanya di sekitar perairan Limbung namun di luar Limbung. dan ikan karang. baik dari alat tangkap maupun sarana transportasinya. 2. Pencarian cumi-cumi. Wilayah tangkap para nelayan bervariasi menurut jenis sumber daya laut yang ditangkap. akhir-akhir ini mereka ke Pulau Semut secara berkelompok dan setelah di sana mulai bekerja 18 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Lokasi pencarian cumi-cumi di perairan Limbung adalah sekitar Batu Putih (Tanjung Takeh) hingga ke bagian selatan Pulau Buluh atau Pulau Kojong. namun karena cumi-cumi akan memberi keuntungan maka Pulau Semut tetap merupakan wiayah tangkap nelayan dalam mencari cumicumi.2.masyarakat. Walaupun harga BBM naik yang cukup berpengaruh terhadap jarak tempuh nelayan. yakni ketam. Kenaikan harga BBM sangat berdampak terhadap jangkauan nelayan untuk mencari ikan. Terutama bagi nelayan yang telah mempunyai pasar dan pengolahan paska panen dapat dilakukan di Pulau Semut hingga penjualan langsung pun dilakukan dari pulau tersebut. untuk mencegah munculnya kembali kegiatan penebangan bakau sebaiknya Pemerintah Desa berupaya melindungi hutan bakau dengan menetapkan kawasan perlindungan hutan mangrove. bilis/teri. Dampak dari kesederhanaan perlengkapan mereka adalah lokasi penangkapan ikan dan SDL lainnya yang tidak jauh dari Desa Limbung. Hal ini mengingat pohon bakau memiliki fungsi untuk melindungi pantai dan sekaligus sebagai tempat bernaungnya berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Untuk mengatasi masalah BBM. Ada beberapa jenis sumber daya laut yang menjadi andalan nelayan di Kawasan Limbung. dikenal dengan istilah nyomek.

baik secara langsung maupun tidak langsung. Di samping itu bila pemasangan bubu makin meluas hingga di air dalam dekat Pulau Hantu di mana banyak dijumpai karang. Akhir-akhir ini yang mencari tidak hanya lakilaki. dan sore hari bagi mereka yang memasang kembali jaringnya pada pagi hari. Para nelayan Desa Limbung bebas memasang jaring asalkan tidak ada nelayan lain yang memasang jaring di lokasi tersebut.menggunakan sampan sendiri-sendiri. Selain pencarian cumi-cumi. Lokasi kelong ini. akan berpengaruh terhadap kehidupan ekosistem tersebut. Jaring tersebut diangkat setiap pagi bagi mereka yang memasang malam hari. Pada awalnya hanya satu orang ibu dan sekarang ada sekitar lima orang ibu-ibu mencari kepiting yang umumnya berasal dari Dusun Centeng dan Dusun Sranggas. pada saat ini kepiting atau ketam juga merupakan SDL yang sangat dicari penduduk karena pemasaran yang mudah dengan adanya tiga pabrik pengolahan kepiting di Desa Limbung yang menerima dengan harga relatif stabil. yakni di wilayah teluk dan Pantai Timur. Di lokasi ini. Makin banyaknya penduduk memasang bubu di perairan Limbung berdampak terhadap padatnya laut oleh bubu sehingga kapal yang lalu harus hati-hati agar tidak mengenanya. Lamanya waktu melaut sangat tergantung jarak antara tempat tinggal nelayan tersebut dengan lokasi di mana jaring diletakkan. BBM untuk pulang-pergi Limbung – Pulau Semut sekitar 10 liter (PP) dapat ditanggung bersama dan setelah di lokasi pencaharian tidak memakai diesel (motor) karena lokasi pencarian tidak jauh dari pulau. Ikan bilis termasuk SDL yang utama bagi penduduk Desa Limbung walaupun pengelolanya terbatas bagi mereka yang punya kelong. Mereka cukup menggunakan pompong. yang dikenal dengan istilah ‘asal berada di luar pagar’. namun juga kaum perempuan. paling jauh sekitar Pulau Hantu. Dengan demikian. Pencarian kepiting cukup di sekitar Perairan Desa Limbung. terkadang sendiri atau berdua dengan anaknya. pada musim angin kuat (Juni – K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 19 . Pemasangan kelong mengikuti arah arus air yang dapat mendorong ikan bilis masuk dalam kelong-kelong yang terhampar di sekitar teluk dan sepanjang pantai bagian laut lepas dekat Pulau Bulu dan Pulau Kojong. nelayan memasang jaring hingga dasar laut yaitu sekitar 1 mil dari pantai selama kira-kira satu malam.

Kecuali nelayan yang punya kapal motor berusaha mencari ikan di laut lepas hingga Tanjung Nyang atau sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong. terutama jenis ikan karang untuk eksport ke Singapore. ada beberapa nelayan yang khusus mencari ikan tersebut di sekitar teluk dan pantai yang banyak dijumpai di daerah tersebut. Sumberdaya laut lain yang juga bernilai tinggi adalah teripang (gamat) dan banyak dijumpai di daerah berlumpur yang ada di Perairan Limbung. yaitu selama 20 hari. Apalagi dengan maraknya permintaan akan kepiting yang mudah diperoleh di sekitar pantai membuat kegiatan pencaharian ikan hanya sebagai sambilan saja. Namun sayangnya lokasi pemasangan kelong tersebut banyak dijumpai terumbu karang. Pada musim-musim tersebut. namun tingginya permintaan pasar mulai ada yang menggunakan bubu. Peletakan bubu ini tentu saja dapat merusak karang. Teripang dapat diperoleh dalam jumlah banyak pada Bulan Juli dan Agustus. yaitu ketika air laut surut pada jarak terjauh dari pantai. Hal ini sangat terkait dengan peralatan yang dimiliki masih sederhana. Pada waktu-waktu tertentu. antara lain adalah nelayan dari Buton dan Madura 20 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .September) arus air cukup kuat yang akan membawa bilis-bilis masuk kelong mereka. namun belum sampai di laut lepas. Para nelayan Limbung yang umumnya menggunakan sampan karena pencaharian ikan hanya di sekitar teluk. Lokasi pengambilan teripang adalah di sepanjang perairan Limbung antara Pulau Malang Sekateh – Pulau Tanjung Rawa – Pulau Jako. nelayan Limbung juga ada yang mencari ikan namun masih tidak dalam jumlah besar. pengambilan bilis dilakukan setiap malam ketika bulan gelap. Pada bulan-bulan tersebut hampir setiap hari nelayan Desa Limbung mencari teripang dengan menggunakan ‘galah’. terutama wilayah teluk sekitar ½ mil dari pantai. Dulu mereka hanya menggunakan alat pancing. karena jenis ikan yang dicari berada di sekitar karang. Musim selatan (Bulan Mei hingga September) adalah musim yang menguntungkan bagi nelayan pencari teripang. sehingga pada saat pemasangan maupun penarikan jala dapat mengganggu kehidupan ekosistem terumbu karang. Dengan meningkatnya harga nilai ikan tertentu. Keberadaan teripang di perairan Limbung mendorong nelayan luar untuk ikut mengambilnya.

Sayangnya nelayan pendatang ini bekerja tanpa mengenal waktu dan musim. terbanyak adalah perempuan. Waktu pencarian siput adalah pada saat air kering (air tohor). yaitu sore hari. Pencari siput di Dusun Sinempek berkisar antara 20 hingga 30 orang. Jenis siput ini banyak dijumpai di Perairan Limbung. biasanya malam hari menggunakan sampan sedangkan kapal mereka berada di tengah laut. yaitu sepanjang pantai di bagian teluk Desa Limbung. 2007. Wilayah Tangkap SDL di Perairan Kawasan Limbung Sumber: PRA bersama nelayan Dusun Sinempek. Siput gonggong (Strombus Camarun) umumnya hidup pada tempattempat yang bersih atau tidak tercemar. Peta 2. dan disebut musim karang jauh. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dari kelompok usia anak-anak hingga dewasa. Pada saat air K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 21 . Khusus penduduk Dusun Sinempek yang mencari siput banyak juga dilakukan perempuan dengan cara menyelam menggunakan kacamata khusus dan galah.yang menggunakan peralatan lebih canggih.2. Anak-anak mencari siput hanya di pinggir pantai pada saat air surut. terutama di daerah karang.

• Musim ini dianggap musim istirahat. Musim yang paling aman mencari ikan adalah musim angin selatan dan musim angin utara. Musim air kelat berlangsung selama satu minggu. Dalam 5 – 10 terakhir ini pendapatan nelayan dirasakan makin berkurang yang disebabkan oleh makin banyaknya nelayan yang menggunakan alat tangkap dengan mengambil ikan tanpa batas. Dalam penangkapan atau pencarian SDL sangat terkait dengan kondisi musim yang memengaruhi wilayah penangkapan mereka. Kegiatan nelayan normal karena mereka dapat melaut setiap hari untuk menangkap semua macam Musim Utara (Januari -Awal Maret) Gelombang kuat • • Musim pancaroba. namun yang terbanyak memperoleh ikan pada musim angin selatan. tentang aktivitas nelayan dalam pencarian sumber daya laut menurut musim di Perairan Kawasan Limbung. khususnya ketam. mencari ikan dan 22 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kegiatan cari ikan hanya sekedarnya saja.2. mendung dan kadangkadang angin ribut. alat tangkap ini menangkap semua jenis ikan. dan bila ada yang mencari gonggong hanya di bagian pantai. Lihat matriks 2. yaitu Musim Barat. Banyak hujan. Kegiatan yang dilakukan: 1. Kegiatan nelayan • Melaut namun hasilnya minimal dan tidak dapat diperhitungkan. tetap mencari ketam. Pencarian SDL hanya di pinggir pinggir. mendung. angin tidak menentu. Di samping pengaruh musim.dekat (air kelat) tidak ada orang yang mencari gonggong. Timur. pendapatan nelayan juga dipengaruhi oleh banyak atau sedikit orang yang terlibat dalam pencarian SDL di Perairan Kawasan Limbung. Matriks 2.2. besar maupun kecil. Utara dan Selatan. terutama dengan cara menyelam. ikan. Artinya. Kategori Waktu Kondisi alam Aktivitas Nelayan Desa Limbung Dalam Pencarian Sumber Daya Laut Menurut Musim Musim Timur ( Maret – Mei) Gelombang lemah Musim Barat (September – Desember) Musim Selatan (Juni – September) Gelombang kuat namun karena Lingga terletak di mata Utara atau pantai menghadap Utara sehingga ke laut selatan terlindungi.

sotong. Mesin perahu motor yang digunakan nelayan umumnya berkekuatan antara 12 hingga 17 PK dan dapat digunakan untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 23 . ikan teri.3. Selanjutnya akan dideskripsikan ketiga kelompok teknologi penangkapan nelayan Limbung. Armada Tangkap Armada tangkap yang digunakan nelayan Desa Limbung masih sederhana. mempersiapkan alat tangkap. kepiting dan rajungan (ketam renjong). dan jaring di 3. Teknologi Penangkapan Teknologi pengelolaan SDL yang umum digunakan nelayan Limbung tergolong sederhana sesuai dengan kapasitas penangkapan yang tidak besar. nelayan pencari ketam punya perahu dan bubu ketam.2. Misalnya: nelayan pengelola ikan bilis akan punya kelong dan perahu atau sampan. menjaring pantai Timur ketam. alat tangkap. SDL yang ditangkap a. baik saat melaut maupun kegiatan paska panen.Sumber: SDL yang ketram di pinggir menjadi pantai. bubu tidak penuh. teripang. Pada umumnya. kegiatan melaut ekonomi dilakukan oleh penduduk sebagian nelayan nelayan (40/50 %) tapi pancing. ikan pari. andalan 2. Pemanfaatan teknologi tersebut disesuaikan dengan SDL yang dikelola. nelayan Limbung memiliki sendiri teknologi tersebut sesuai dengan SDL yang dikelolalanya. Wawancara dengan beberapa informan penduduk Desa Limbung. hingga pantai Selatan. penelitian BME – COREMAP. 2008. memperbaiki kelong tapi belum dipasang • Mengatur & 2.l. dan pengelolaan paska panen. yaitu perahu motor yang berkekuatan mesin (PK) sangat kecil dan perahu atau sampan yang tidak menggunakan motor (pompong). terdiri tiga kelompok besar yaitu armada tangkap.

dan keramba untuk pemeliharaan ikan hidup. yaitu sistem pncung menggunakan kayu dan sistem benang atau tali. Di antara alat tangkap tersebut. 600.-. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh hanya dibutuhkan minyak 1 giya (sekitar 5 liter). alat tangkap yang digunakan adalah kelong untuk ikan bilis.melaut dengan jarak agak jauh. Dalam peletakkan bubu dapat dilakukan dengan dua cara. Dilihat dari cara mereka memiliki bubu umumnya dimulai dengan berhutang pada tauke. Pada saat berada di lokasi penangkapan SDL tersebut. yaitu kapal operasional COREMAP. Hal ini disebabkan makin banyak orang mencari ketam. Pulau Kojong atau Pulau Semut dibutuhkan sekitar 4 giya untuk perjalanan pulang-pergi dengan jarak tempuh sekitar 9 jam. Sedangkan pompong hanya digunakan untuk penangkapan di sekitar desa atau teluk seperti pengambilan ketam di sekitar pantai Limbung. Jumlah armada alat tangkap antara tahun 2006 (T0) hingga 2008 (T1) tidak banyak berubah. dengan menggunakan bubu ketam buatan Thailand karena dianggap lebih mudah pemakaiannya dibanding jarring ketam yang harus dipasang agak di tengah laut. namun untuk mencari cumi-cumi di Laut Batu Putih. dan bila telah lunas 24 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kebutuhan operasional BBM tergantung dari waktu dan jarak melaut. yang makin banyak jumlahnya adalah alat tangkap bubu ketam. Misalnya di Dusun Centeng terlihat hanya ada satu kapal baru. termasuk perempuan. pencari ketam dapat mengoperasionalkan bubu sebanyak 25 buah karena ketika membeli harus satu set sebanyak 25 buah bubu dengan hara Rp. Perahu motor menggunakan BBM yang kebutuhannya sangat terkait dengan jarak tempuh pencarian atau pengambilan SDL yang menjadi fokus kegiatannya. serok untuk teripang. Pada awal kegiatan. jarring tangsi untuk ikan pesisir. Tampaknya yang cenderung bertambah adalah sampan sebagai dampak makin banyaknya penduduk yang mencari ketam di pinggir-pinggir perairan Limbung. jarring dan bubu ketam untuk ketam. penyauk untuk cumi-cumi.000. Teknologi Alat Tangkap Mengacu kepada SDL yang menjadi fokus pencarian nelayan. bubu untuk ikan hidup.

Kelong yang dianggap kurang berhasil karena dipengaruhi oleh waktu penanaman yang kurang memperhatikan arus air atau terhambat dengan kelong K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 25 . maka anak ketam tidak diambil dan dikembalikan ke laut..untuk 24 buah. Harga bubu ikan ini cukup mahal sehingga tidak semua nelayan memilikinya. Rendahnya tingkat kepemilikan bubu karena pengambilan ikan karang atau ikan hidup ini tidak menjadi kegiatan utama nelayan dibandingkan dengan pencarian cumi-cumi. yang umumnya disebut dengan bubu sono. bubu ini dimanfaatkan nelayan untuk menangkap jenis ikan karang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti kerapu dan ikan merah. biasanya satu kali melaut nelayan memasang bubu sebanyak 45 buah.biasanya mereka akan menambah bubu agar memperoleh hasil lebih banyak. Pada umumnya. Namun mereka yang ingin memperoleh uang tidak perduli sehingga tetap mengambil walaupun harganya rendah. yaitu dari ujung timur hingga barat Perairan Limbung. Nelayan yang sadar bahwa bila anak ketam diambil berdampak terhadap produksi ketam ukuran besar berkurang. Penangkapan ikan bilis juga merupakan fokus kegiatan nelayan Desa Limbung dengan amenggunakan alat tangkap kelong. Harga bubu ikan bila dibandingkan dengan dua tahun lalu harganya masih tetap sama. ketam. Apalagi perolehan ikan menggunakan bubu ini tidak stabil.000. dan ikan bilis. Pada saat ini. Oleh karena itu. maka produksi ketam yang diperoleh para nelayan tersebut berkurang atau yang masuk lebih banyak ukuran kecil. Dampak dari pemasangan bubu ketam yang demikian banyaknya di Laut Limbung. Terutama bila bubu ditanam di daerah sekitar teluk sedangkan pada lokasi di perairan air jauh ada nelayan yang mengambil ikan sehingga tidak ada ikan yang datang ke perairan teluk. Pembuatan kelong dengan cara ditancapkan pada lokasi yang diperkirakan akan banyak didatangi ikan bilis. yaitu sekitar Rp. Alat tangkap ini diperoleh nelayan dapat dengan cara membeli atau membuat sendiri. Jenis bubu juga ada yang digunakan untuk penangkapan ikan dalam kondisi hidup. pemasangannya pun pada tempat-tempat yang banyak dijumpai terumbu karang. dan jumlah bubu ikan di Desa Limbung diperkirakan hanya berkisar antara 50 hingga 60 buah. terutama dengan memperhatikan arus air yang mendorong ikan tersebut masuk ke jaring. 600.

Lokasi pemasangan kelong paling banyak di sekitar Dusun Linau. Apabila cumi-cumi sudah tersangkut pada umpan tersebut tidak akan lepas sehingga mudah ditangkap. jumlah kelong di Desa Limbung tampaknya tidak berubah. Dalam dua tahun ini (2006 – 2008).~ Rp. Alat tangkap cumi-cumi lain adalah pancing yang diujungnya diberi umpan terbuat dari kayu menyerupai udang atau ikan yang disebut candar atau candit di Pulau Abang (Romdiati & Mita Noveria.lain. dan kayu sebagai pemegang alat yang panjang sekitar 2 meter. Perlengkapan lain dalam pencarian cumi-cumi adalah lampu petromaks sebagai alat untuk menarik atau mengumpulkan cumi-cumi agar mudah ditangkap.000. 15. umumnya digunakan untuk menangkap ikan pesisir dan kadangkadang juga menangkap ikan karang. Penyauk adalah alat tangkap cumi-cumi berbentuk kerucut yang terbuat dari jaring halus untuk penangkap. Bagian dari alat tangkap penyauk yang paling sering dan mudah rusak adalah kawat penyangga atau kerangka pengikat jaring. sedangkan saat ini diperkirakan hanya ada sekitar 30 kelong.000.. Dalam satu tahun hanya dua bulan yang digunakan secara terus menerus. Namun adapula faktor keberuntungan atau nasib. Jaring ikan (jaring tangsi). 16. dan lainnya di sekitar Pulau Bulu dan Pulau Kojong. kawat sebagai kerangka penyauk. 2005:69-70). Karena menurut informasi pada saat survey terdahulu (T0) jumlah kelong ada 39 buah baik yang dimiliki penduduk Limbung maupun orang luar Limbung. yaitu jarring untuk menangkap ikan dan jarring menangkap ketam. Umpan udang-udangan ini diberi warna yang akan bersinar di dalam laut bila diterangi lampu. namun bila umpan sudah koyak-koyak ikan tidak mau memakannya dan harus diganti dengan yang baru. Pengetahuan tentang penggunaan umpan ini diperoleh dari teman sesama nelayan cumi-cumi. yaitu pada Musim Selatan. bahkan diperkirakan berkurang.-. Akhir-akhir ini para nelayan mengganti candar dengan umpan menyerupai udang yang terbuat dari karet buatan Jepang dengan harga antara Rp. Alat tangkap jarring ada dua macam. Sebagaimana telah 26 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tali pengikat. karena menangkap ikan bilis dengan kelong berarti kegiatan ini berbentuk pasif karena hanya menunggu ikan untuk masuk ke kelong. Alat tangkap ini dapat digunakan untuk jangka waktu dua hingga tiga tahun.

lokasi pemasangan jarring ketam agak jauh dari pesisir Desa Limbung. baik secara tradisional maupun modern. alat serok atau suluh. ikan penggali dan ikan debaun. yaitu dekat laut lepas sehingga biasanya menggunakan perahu motor. bahkan hingga di lokasi daerah konservasi COREMAP pada fase I. tali 12 buku. Berbeda dengan jaring ketam yang dimiliki hampir oleh semua nelayan Desa Limbung. Cara tradisional umumnya dilakukan oleh nelayan lokal seperti membuat parit gamat. Padatnya lokasi pemasangan bubu di sekitar desa. pencarian ikan bukan merupakan kegiatan utama bagi nelayan Desa Limbung. Ada beberapa alat yang dilakukan nelayan untuk mencari teripang. dan tuba khusus oleh Suku Laut. Apabila situasi ini dibiarkan. Khusus untuk pemasangan jarring ketam biasanya dilakukan oleh laki-laki karena jarring ketam lebih berat dibanding alat bubu ketam. maka usaha pelestarian terumbu karang di kawasan perairan Limbung tidak akan tercapai. Pengambilan teripang dengan membuat parit dan sistem penarikan menggunakan trawl kecil untuk menjaring teripang yang telah terkumpul telah dilarang. karena ketam merupakan target tangkapan utama dari nelayan desa ini.. sehingga penggunaan jaring ikan pun tidak dianggap sebagai alat utama bagi mereka. dan tali pengikat 3 gulung. ikan sembilang. maka pemasangan jarring ketam pun meningkat sama dengan pemasangan bubu ketam. Di antara pulau-pulau yang terdapat di bagian teluk perairan Limbung banyak dijumpai teripang (gamat). Satu jaring ketam memiliki ukuran panjang sekitar 500 meter (2 bantal) dilengkapi dengan batu sebanyak 20 kg. Jaring ketam bila digunakan setiap hari biasanya hanya dapat bertahan dalam tempo tiga bulan. maka akhir-akhir ini nelayan mulai mencari lokasi yang strategis untuk pemasangan jarring. pelampung 396 buah. Dengan tingginya permintaan akan ketam oleh pabrikpabrik pengolahan daging ketam. dan bagian alat tangkap yang dapat bertahan dalam waktu lama adalah batu hingga 10 tahun. Selain itu.digambarkan sebelumnya. Perlengkapan untuk membuat jaring dapat diperoleh melalui tauke yang ada di Dusun Centeng atau penampung ketam yang ada di setiap dusun di mana penduduknya beraktivitas mencari ketam. yaitu pada saat implementasi K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 27 . Jenis ikan yang biasa ditangkap dengan menggunakan jaring tangsi antara lain ikan pinang.

Begitupula dengan cara penangkapan menggunakan racun yang dapat membunuh ikan-ikan karang lain yang terdapat di sekitar pencarian teripang. Ikan yang dipeliharan dalam keramba ini adalah kerapu sunu atau kerapu tiger yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Usaha keramba mulai banyak dalam dua tahun terakhir ini yang berlokasi di Dusun Centeng dan Dusun Sinempek. Sedangkan kerapu sunu cocok di daerah ini karena jenisnya adalah kerapu alam. dan bila ada yang rusak harus cepat diganti agar ikan-ikan tidak lari. menunjukkan bahwa kegiatan paska panen 28 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . terutama bila di eksport ke Singapore.program COREMAP fase I di desa ini. Kerapu tiger tampaknya memang kurang cocok di perairan Limbung karena arusnya kurang kuat dan jenis air adalah payau. Alat tambahan lain adalah kacamata selam buatan sendiri yang digunakan ketika menyelam sebagai penutup mata. Walaupun alat yang digunakan nelayan pendatang dilarang. yaitu sejak survey data dasar aspek sosial terumbu karang (T0) hingga survey evaluasi program COREMAP (T1) di Desa Limbung. namun yang dianggap berhasil adalah nelayan karamba Dusun Sinempek. yaitu APBD tahun 2007 – 2008. Teknologi Paska Panen Dalam tempo dua tahun. namun karena mereka melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi sulit untuk menangkapnya. Akhir-akhir ini Desa Limbung mulai mengembangkan usaha pembesaran ikan dengan menggunakan karamba yang berbentuk kotak seluas 2 x 3. Pada saat ini nelayan lokal dan Suku Laut mencari teripang hanya menggunakan serok atau suluh yang terbuat dari kayu dan ujungnya diikat kawat runcing. Keramba bantuan Dinas SDA ada di Dusun Sinempek. namun bibitnya sulit didapat dan harga jual sering tidak stabil. Alat yang digunakan adalah kompresor dan mungkin juga tuba atau racun agar teripang lemas sehingga mudah ditangkap. Pada awal program dilaksanakan diberi kerapu tiger sebanyak 1000 ekor. dan tali kecil. namun dalam tempo satu hari saja mati 500 ekor. Sedangkan cara modern umumnya dilakukan oleh nelayan pendatang seperti nelayan asal Madura dan Buton. tali untuk satu bubu. Bahan yang diperlukan untuk membuat karamba adalah jarring. Masa operasional keramba sekitar 2 hingga 3 tahun.

Dalam kondisi cuaca baik atau panas penjemuran cumi-cumi memerlukan waktu sekitar 1 ½ hari. pengeringan ikan bilis. pembersihan dan pembelahan cumi-cumi menggunakan pisau yang dilakukan di atas kapal/ perahu oleh di nelayan (laki-laki). penjemuran secara tradisional dengan menggunakan semacam tampah dan diletakkan di atas genteng atau tembok di halaman rumah.masih terfokus pada tiga jenis SDL yaitu pengeringan cumi-cumi. Kegiatan pengeringan ikan bilis dan cumi-cumi masih tetap dilakukan secara sederhana oleh nelayan dan keluarganya. Pengeringan cumi-cumi menggunakan teknologi pengasapan yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah SDL tersebut ditangkap. saudara perempuan atau anak-anak. Apabila hari hujan. sehingga cumi-cumi cepat menjadi kering. terutama ke Dusun Sinempek yang dilakukan sebanyak tiga kali per minggu. Tahap ketiga. Kegiatan pengolahan cumi-cumi dilakukan dalam tiga tahap. tetapi pada malam hari dimasukkan ke dalam rumah. Sistem pengeringan menggunakan kompor ini dipelajari dari orang Vietnam yang sering datang ke Pulau Semut. Di pulau-pulau tersebut mereka bermalam sekitar satu minggu. dan pengolahan daging kepiting. mengontak tauke dengan menggunakan HT bahwa cumi-cumi/nus siap dijual. • • K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 29 . yaitu: • Tahap pertama. Oleh karena itu. Tahap kedua. yaitu di tempat para nelayan beristirahat setelah mencari cumi-cumi di sekitar pulau tersebut. sedangkan pengolahan kepiting diproses di pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng. bahkan satu bulan bila ke Pulau Semut. Pulau Kojong. nelayan cumi-cumi ada yang melakukan proses pengeringan di pulau-pulau sekitar pencarian cumi-cumi yaitu Pulau Buluh. Pada musim cumi-cumi tauke datang ke Desa Limbung dengan rutin. di antara nelayan akan menggunakan kompor yang ditutup kain agar hawanya tetap panas. dan Pulau Semut. Kegiatan pengeringan ini dilakukan oleh isteri.

yaitu kelompok daging kaki. Proses pengeringan dilakukan dalam empat tahap. dan daging serpihan. Kegiatan ini dilakukan oleh si pemilik kelong dibantu pekerja atau keluarga. berbeda dengan pengolahan paska panen kepiting. 30 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . ikan teri direbus menggunakan panci besar dan kompor. • Tahap keempat. Di antara jenis daging tersebut. nilai ekonomi tertinggi adalah daging perut atau dada yang disebut “mawar”. Setelah masuk kotak disusun dalam kotak viber untuk dibawa ke perusahaan cabang (branch) di Pancur atau di Daik. kemudian memisahkan kepiting menurut ukurannya. Kegiatan ini dilakukan pada pabrik pengolahan kepiting yang ada di Dusun Centeng. pabrik pengolahan kepiting bertambah satu yang pemiliknya bukan orang Centeng. Dalam kurun waktu dua tahun ini. setelah ikan teri kering dimasukkan kembali ke bakul dan siap untuk dijual ke tauke di Dusun Centeng atau pembeli/pedagang yang datang dari Pancur. daging dada atau perut. Apabila kegiatan paska panen dari kedua SDL tersebut di atas dilakukan secara sederhana oleh anggota keluarga atau satu/dua orang pekerja. ikan teri yang telah direbus dijemur pada tempat khusus untuk menjemur ikan yang terbuat dari bambu atau kayu. Proses pengolahan setelah menerima kepiting dari pencari di laut diawali dengan merebus. namun terkadang hanya pekerja saja. yaitu: • Tahap pertama. • Tahap kedua.Sedangkan pengolahan paska panen ikan teri umumnya dilakukan di Desa Limbung setelah diangkut dari kelong ke rumahnya. • Tahap ketiga. ikan teri yang ditangkap di kelong dimasukkan dalam bakul dan dibawa ke daratan menggunakan perahu. Proses selanjutnya adalah mengeluarkan daging kepiting dan disusun dalam kotak berdasarkan kelompok-kelompok dari jenis daging tersebut. dan terakhir perusahaan pokok (central) di Tanjung Pinang atau Batam untuk pengolahan selanjutnya sebelum dikirim ke konsumen. Namun dalam pengelolaannya diserahkan kepada orang Centeng yang sebelumnya pernah bekerja pada salah satu pabrik di dusun tersebut.

saat evaluasi tidak berjalan lagi. masih sangat terbatas. Sarana dan Prasarana Gambaran Desa Limbung tidak jauh berbeda dengan desa-desa lain di Indonesia. Jumlah penampung di Dusun Centeng tampaknya ada pengurangan karena penampung kepiting atau ikan yang dua tahun lalu ada di Dusun Sranggas dan Kampung Air Berani. Apabila akan mengadakan hubungan ekonomi yang luas adalah di kota kecamatan Pancur atau kota kabupaten Daik.4. Jumlah kedai/kios dan toko.2. dan tauke di mana mereka mempunyai hubungan sosial atau kerja. Para penampung kepiting yang telah lama berusaha di desa ini umumnya memiliki toko yang dapat dimanfaatkan nelayan untuk menjual SDL. terutama di Desa Centeng. di desa ini juga terdapat penjual bahan makanan dan sayuran keliling. toko.2. karena di Desa ini belum ada tempat pelelangan ikan (TPI). Tempat penjual dan pembeli bertemu atau mengadakan transaksi kegiatan ekonomi hanya lah warung klontong. baik yang terdapat di Dusun Centeng maupun Dusun Sinempek. adalah warga keturunan Cina yang umumnya juga memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. dalam dua tahun ini belum menunjukkan penambahan yang berarti. Sarana – prasarana yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. baik dilihat dari ukuran/luas toko maupun ketersedian jumlah dan jenis barang. Sebagian besar pemilik toko. Di sisi lain. Selain toko dan kios/kedai. Sarana ekonomi lain yang dapat melangsungkan kegiatan ekonomi penduduk adalah keberadaan pedagang pengumpul SDL yang biasa disebut penampung. Penampung mempunyai peran penting untuk transaksi hasil tangkapan nelayan. tahun lalu berdiri satu perusahaan penampung kepiting milik orang luar Desa Limbung di Dusun Centeng. khususnya SDL. Di Dusun Centeng kira-kira terdapat delapan (8) toko yang yang tergolong besar. pedagang sayur-mayur orang transmigran. Pemilik toko umumnya juga bekerja sebagai penampung produksi SDL sebelum dikirim kepada tauke atau pembeli yang lebih besar. Selain itu. toko dalam ukuran lebih kecil juga terdapat di Dusun Sinempek dan Linau. Sedangkan jumlah kios/kedai diperkirakan hanya sebanyak enam (6) kedai yang umumnya dimiliki warga Etnis Melayu. namun dapat juga K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 31 .

maupun telekomunikasi.2.5. penduduk yang memiliki masih terbatas karena terkait dengan listrik negara yang belum masuk desa ini. 2. Akhir-akhir ini mulai banyak penduduk yang memiliki telpon genggam sebagai alat komunikasi dengan masyarakat luar desa. Untuk sarana kendaraan permasalahannya karena buruknya sarana jalan yang menghubungkan desa ini dengan daerah luar. Kotak pengumuman yang ada di Dusun Centeng hanya berisikan pengumuman lowongan pekerjaan. Bagi penduduk yang mempunyai ekonomi lebih membuat saluran telpon yang dapat digunakan untuk telpon genggam. namun sinyalnya masih terbatas pada kartu tertentu atau lokasi tertentu seperti di ujung jembatan yang dibuat COREMAP fase II. Sedangkan telpon umum ada satu wartel (warung telekomuniksi) di Dusun Centeng yang menggunakan saluran satelit.membeli/berhutang barang-barang kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan melaut. elektronik. bahkan desa pun tidak menyediakan koran dinding yang bisa diakses oleh penduduk. baik sarana media cetak. Namun sampai saat ini belum ada tranportasi umum yang masuk Desa Limbung untuk menghubungkan penduduk dengan daerah luar. Oleh karena itu. baik diesel desa mapun diesel pribadi. Mungkin bila sarana jalan diperbaiki akan lebih memberi peluang bagi penduduk untuk melakukan transaksi ekonomi dengan masyarakat luar. Dalam mendukung kegiatan ekonomi masyarakat Desa Limbung. Khusus televisi. perahu/kapal motor. Sarana komunikasi yang diikuti penduduk terbanyak adalah televisi dan radio. Sarana media cetak belum ada yang masuk Desa Limbung secar teratur. namun belum 32 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sarana transportasi dan komunikasi semestinya mempunyai peran cukup penting. Program dan Kegiatan Pengelolaan SDL Program yang berkaitan dengan pengelolaan SDL yang masuk Desa Limbung diawali dengan Program COREMAP Fase I. penduduk menonton televisi pada rumah-rumah yang memilikinya dan ada aliran listrik. Sarana pendukung lain adalah komunikasi. atau kendaraan bermotor milik pribadi. kecuali ojek.

kecuali Pokmas Konservasi yang beranggotakan penduduk dari Dusun Centeng dan Air Kelat. stakeholders yang terkait adalah pemberi donor ADB. Universitas Riau. Keberadaan Pokmas-pokmas tersebut telah dapat menggerakkan masyarakat dalam upaya mengelola dan melestarikan terumbu karang. Berbeda dengan Pokmas Jender yang cakupannya cukup tersebar di beberapa dusun yaitu Dusun Centeng. Sedangkan Pokmas Usaha Produksi hanya ada di Dusun Centeng. sehingga mengganggu kelancaran pelaksanaan program. di samping meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha untuk Pokmas Usaha Produksi dan Pokmas Jender. terhentinya kegiatan Pokmas-pokmas tersebut tampaknya juga dipengaruhi oleh rendahnya motivasi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya melalui usaha bersama yang tidak K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 33 . waktu itu telah dibentuk tiga (3) kelompok masyarakat (Pokmas) yang terdiri dari Pokmas Konservasi. Masing-masing Pokmas beranggotakan sekitar 25 orang dan setiap Pokmas cenderung berasal dari dusun yang sama. Khusus Desa Limbung. Selain itu. Terhentinya kegiatan Program COREMAP fase I ini kemungkinan besar berkaitan dengan adanya peralihan tanggung jawab program dari satu instansi ke instansi lain. instansi dari tingkat pusat hingga lokal yaitu pemerintah pusat (antara lain Bappenas.terlaksana seluruhnya berhenti di tengah jalan dan hanya berlangsung sekitar empat tahun. LIPI). Pokmas Usaha dan Produksi. LSM). Mereka diharapkan dapat melakukan pengawasan terumbu karang dengan mudah. Pada waktu itu. dan Perangkat desa. Pemda tingkat kecamatan. bahkan berhenti sejak fasilitator Program COREMAP fase I meninggalkan Desa Limbung. tingkat provinsi (antara lain Pemda dan Bappeda Provinsi. Depdagri. kegiatan Pokmas tersebut tidak jalan lagi. dan Pokmas Pemberdayaan Perempuan (Jender). Dipilihnya anggota dari ‘Dusun’ Air Kelat adalah karena mereka tinggal paling dekat dengan Pulau Hantu yang merupakan titik program upaya konservasi terumbu karang di Desa Limbung. Linau dan Sinempek. Namun demikian. tingkat kabupaten (antara lain Pemda dan Bappeda Kabupaten). di samping dapat bertindak dengan cepat jika ada pelanggar yang melakukan pengambilan SDL dengan alat-alat tangkap yang merusak di wilayah konservasi tersebut.

walaupun tidak secara 34 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Selain itu adalah LSM dari tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang diharapkan berhubungan langsung dengan masyarakat Desa Limbung sebagai fasilitator. Tahun 2006 proyek COREMAP fase II mulai diimplementasikan kembali di Desa Limbung. pada tahun 2007 mulai masuk beberapa program pembangun yang berasal dari pemerintah dengan dana APBD. namun karena adanya ‘kevakuman’ pada kegiatan program COREMAP berdampak terhadap berhentinya usaha masing-masing Pokmas dan ketrampilan yang sudah mereka peroleh tidak dipergunakan lagi. Program-program pemerintah tersebut. Beberapa program telah berjalan. khususnya Desa Limbung). namun implementasi ke desa belum dapat terlaksana karena terbentur dengan proposal dan dana (lihat BAB III tentang implementasi program COREMAP fase II di Kabupaten Lingga.biasa mereka lakukan. dan aparat keamanan seperti polisi dan angkatan laut. Program COREMAP fase I juga memberikan ketrampilan membuat kue-kue dan ternak ayam sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Meskipun pada awalnya berbagai ketrampilan tersebut dimanfaatkan penduduk. tertama anggota Pokmas. Seiring dengan masuknya otonomi daerah. Pada masa COREMAP fase I. Di luar pemanfaatan sumber daya laut. maka kegiatan usaha bersama tampaknya masih sulit dilakukan. Selain program COREMAP. Hanya sebagian anggota yang masih memanfaatkan ketrampilan tersebut. PU. beberapa kegiatan pelatihan ketrampilan dan praktek langsung diberikan kepada masyarakat Desa Limbung seperti pengembangan budidaya kepiting bakau (rajungan) dengan menggunakan karamba apung dan pembuatan krupuk ikan. Ketrampilan tersebut sebenarnya sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan. Lingkungan. Masyarakat Desa Limbung umumnya bila tanpa bimbingan dan pengawasan. Yaitu ketrampilan membuat abon ikan. yaitu Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Lingga. Dinas-dinas yang banyak terlibat dengan program COREMAP fase II antara lain adalah Dinas SDA. Di samping itu juga ada pelatihan yang diberikan di luas desa. namun hanya untuk kepentingan rumah tangganya sendiri. pelaksanaan program COREMAP fase II ini lebih melibatkan stakeholders tingkat kabupaten.

Dalam pelaksanaan program lain tersebut di atas juga akan melibatkan dinas-dinas yang terkait dengan program tersebut. 3) program sekolah dan perumahan guru. Dinas lain seperti kesehatan dan pendidikan hanya terkait setelah bangunan selesai dan melanjutkan program ke dalam agar berjalan seperti yang diharapkan. Rencana dari Desa Limbung dana tersebut akan dibagi per dusu dan juga digunakan untuk menggerakkan kegiatan PKK. Dengan mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. 2) program air bersih. Program pembangunan mandiri dimulai tahun 2007 dengan dana 200 juta per desa. Namun demikian. Khusus Desa Limbung rencananya akan dilaksanakan pembangun fisik jambatan Dusun Sranggas dan semenisasi jalan di Dusun Sinempek pada tahun 2008.3. maka stakeholders yang banyak terkait adalah Dinas Pekerja Umum (PU). mereka dapat mengelola sumber daya alam dan lingkungannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya pembangunan masyarakat dalam mengelola Pustu dan Polindes akan melibatkan staf dari Dinas Kesehatan. Dari segi kuantitas.langsung berkaitan dengan pengelolaan SDL namun tujuannya adalan untuk kesejahteraan masyarakat. 4) program Polindes dan Pustu. karena dengan kemampuannya. uraian menekankan pada K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 35 . Oleh karena program tersebut cenderung ke arah pembangunan fisik. bangunan sekolah setelah jadi akan melibatkan dinas pendidikan dalam mencari staf pengajar. Stakeholders yang terkait pada kegiatan ini umumnya adalah Pemda adalah Dinas PU. tidak jarang akibat kebutuhan yang sangat mendesak maupun untuk tujuan komersial. pada bagian ini diuraikan tentang kondisi kependudukan di daerah penelitian yang mencakup aspek kuantitas dan kualitas penduduk. 2. Selain pembangunan fisik. program perbaikan dermaga. Antara lain program tersebut adalah: 1) Program Pembangunan Mandiri (PPM). penduduk justru merusak sumber daya alam yang berdampak negatif bagi kehidupan mereka dan generasi berikutnya. PPM juga menganggarkan program simpan-pinjam untuk kelompok perempuan dengan dana 60 juta per desa. KEPENDUDUKAN Penduduk merupakan sumber daya yang sangat penting. dan 5) program budidaya ikan kerapu tiger.

334 laki-laki dan 2.jumlah. Desa Limbung. Pada tahun 2008. komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Sedangkan jumlah responden menurut hasil survei adalah 411 jiwa. serta besar anggota rumah tangga. atau lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk desa ini pada tahun 2005 ( 2. Jumlah dan Komposisi Penduduk Uraian tentang jumlah dan komposisi penduduk sangat bermanfaat untuk menganalisis berbagai fenomena demografi dan implikasi yang ditimbulkannya sekaligus memberikan masukan kepada pengambil kebijakan untuk perencanaan dan monitoring kegiatan-kegiatan yang akan dan telah dilakukan oleh COREMAP. karena persentase penduduk sampel yang berumur 0-14 tahun adalah < 40 persen. faktor migrasi ke luar desa diperkirakan juga berpengaruh terhadap perubahan jumlah penduduk di Desa Limbung.1.559 jiwa).516 jiwa (Catatan di Kantor Kecamatan Lingga Utara).516 perempuan. yaitu 1. Angka ini sedikit lebih rendah dari rasio jenis kelamin hasil survei terhadap 100 rumah tangga di Dusun Centeng dan Senempek. Untuk aspek kualitas penduduk. terdiri dari 220 laki-laki dan 191 perempuan. Pelaku migrasi ke luar desa biasanya penduduk usia muda yang bertujuan untuk bekerja. jumlah penduduk Desa Limbung sebanyak 2. biasanya di sektor pemerintahan. Jumlah penduduk Desa Limbung adalah tertinggi ke dua dibandingkan dengan enam desa lainnya di Kecamatan Lingga Utara. Sebagai contoh. Struktur umur penduduk sampel (responden) di Desa Limbung cenderung mengarah struktur penduduk dewasa. menggambarkan bahwa setiap 113 laki-laki terdapat 100 perempuan. Rasio jenis kelamin yang sebesar 113. pembahasan menekankan pada tingkat pendidikan dan keadaan ketrampilan responden. 2. yang sebesar 115. yaitu 36 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Selain karena adanya kelahiran dan kematian. banyaknya penduduk produktif dan berjenis kelamin perempuan memberikan indikasi bahwa pelaksanaan COREMAP harus melibatkan perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan.3.

3. Kelompok ini merupakan tenaga kerja potensial untuk pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.2. yang berarti setiap satu orang usia belum/tidak produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) ditanggung oleh dua orang usia produktif (15-64 tahun). K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 37 . kelompok usia produksi utama adalah mereka yang berumur antara 25-49 tahun.5 persen. Lebih lanjut. khususnya kegiatan pemberdayaan masyarakat. bahkan 5 Dalam tulisan ini.6 persen responden hanya berpendidikan SD ke bawah. Sebanyak 87.9 persen (lihat Lampiran Tabel 2.0 persen. persentase responden perempuan pada kelompok usia produktif utama sedikit lebih tinggi daripada laki-laki. sehingga mereka dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka yang selanjutnya berkontribusi positif dalam upaya peningkatan kesejahteraan rumah tangga.hanya sebanyak 30. khususnya dialami oleh rumah tangga sampel. Penurunan persentase penduduk pada kelompok usia tersebut menggambarkan turunnya jumlah kelahiran di desa penelitian. yaitu hanya sebesar 0. Angka ini lebih rendah dari hasil survei pada tahun 2006 yang masih mencapai 34. Dengan kondisi seperti ini. maka keterlibatan perempuan dalam pelaksanaan COREMAP. di mana sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan. Dalam konteksnya dengan wilayah pesisir. maka kualitas penduduk semakin baik. hasil survei menunjukkan. Pendidikan dan Ketrampilan Tingkat pendidikan dan ketrampilan merupakan salah satu indikator untuk melihat kualitas penduduk.1).51. 2. Jumlah penduduk usia muda yang semakin sedikit mempengaruhi rendahnya angka beban ketergantungan (dependency ratio). Kualitas penduduk sampel (responden) di Desa Limbung masih termasuk rendah. Semakin terdidik dan terampil. Diperhatikan menurut jenis kelamin. persentase penduduk pada kelompok usia produktif utama (prime working age group)5 kira-kira 36. sedangkan kelompok angkatan kerja lainnya adalah mereka yang baru saja masuk dalam pasar kerja (15-24 tahun) dan mereka yang berumur 50 ke atas. penduduk yang berumur 50 tahun ke atas biasanya sudah mulai mengurangi frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap. menjadi penting dilakukan.

PPK-LIPI 2007 Walaupun masih termasuk rendah. pada umumnya mereka tidak kembali lagi ke desa. Distribusi Persentase Responden Umur 7 Tahun keatas Menurut Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan. Selepas menamatkan jenjang pendidikan menengan atas dan tinggi di kota.3 persen 38 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .sebagian besar dari kelompok ini adalah mereka yang tidak/atau belum menamatkan SD.9 persen berumur 19 tahun ke atas.6 persen pada tahun 2006 (Romdiati dkk. Menurut sejumlah informan. persentase penduduk dewasa dan orang tua yang tidak berpendidikan cukup besar. Angka ini lebih tinggi dari pada responden pada kelompok umur sama yang menamatkan pendidikan SD maupun SMP. 2008 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Kabupaten Lingga. Gambar 2. kondisi pendidikan penduduk Desa Limbung menunjukkan pergeseran ke arah yang lebih baik. Selama dua tahun terakhir terjadi tren peningkatan persentase responden yang menamatkan pendidikan SMP ke atas. 2008) menjadi 12. Meskipun termasuk kelompok ini adalah responden anak-anak yang masih berstatus belum sekolah. Sebagai contoh diperlihatkan pada Lampiran Tabel 2. Desa Limbung. rendahnya tingkat pendidikan penduduk Desa Limbung tidak terlepas dari adanya fenomena migrasi ke luar desa yang dilakukan oleh penduduk berpendidikan tinggi. di antara responden yang tidak berpendidikan (belum/tidak sekolah) terdapat sebanyak 83. yaitu dari 11.1. tetapi tetap tinggal dan bekerja di kota.

dan jaring merupakan jenis ketrampilan yang dikuasai dan diterapkan oleh masyarakat di Desa Limbung. Ketrampilan yang dikuasai oleh responden adalah jenisjenis ketrampilan yang berhubungan dengan kegiatan kenelayanan dan pengolahan SDL. persentase pendidikan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Namun demikian. Jika pada saat penelitian ini ada sebagian kecil perempuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 39 . dan mengopek (pengolahan daging) ketam. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SMP. Kondisi pendidikan responden laki-laki cenderung lebih baik dibandingkan perempuan. Sedangkan ketrampilan mengolaj tepung sagu hanya dikuasai oleh sebagian laki-laki di Dusun Senempek membuat tepung sagu. karena di dusun ini terdapat industri rumah tangga pengolahan sagu yang hasilnya dipasarkan ke luar daerah. Sedangkan perempuan di Desa Limbung pada umumnya mempunyai ketrampilan di bidang industri rumah tangga. Pada jenjang pendidikan SD ke bawah. seperti membuat kerupuk ikan. Meskipun pada pelaksanaan COREMAP fase I pernah dilakukan pelatihan industri rumah (misalnya membuat kerupuk dan abon ikan. Temuan survei ini menggambarkan bahwa kesenjangan jender tidak dijumpai di bidang pendidikan. kelong. kue. karena nelayan lebih senang membeli bubu (ketam) siap pakai. Membuat bubu. ketrampilan membuat bubu diperkrakan akan semakin hilang di masa-masa yang akan datang. Jenis ketrampilan lain yang dikuasai oleh perempuan adalah membuat atap rumbia. khususnya untuk jenjang pendidikan menengah ke bawah. persentase responden laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. ketrampilan tersebut tidak nampak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.berdasarkan hasil survei BME tahun 2008. karena sejak setahun yang lalu (tahun 2007) di Desa Limbung tersedia gedung SMP yang merupakan peningkatan status dari SMP terbuka menjadi SMP Negeri. demikian pula pada pendidikan SMA ke atas. kue) dan peternakan ayam. tetapi tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol di semua jenjang pendidikan. ketrampilan penduduk juga terbatas. Selain kualitas pendidikan yang masih rendah. Membaiknya kondisi pendidikan ini kemungkinan dipengaruhi oleh semakin luasnya akses penduduk terhadap fasilitas pendidikan.

Pekerjaan Pekerjaan dalam tulisan ini diartikan sebagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan/atau jasa. Mereka beranggapan bahwa konsep mencari pekerjaan diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan di luar pekerjaan kenelayanan. 2. Persentase responden yang menganggur dan tidak mencari kerja.3. Namun demikian. Pembahasan mengenai pekerjaan meliputi pekerjaan utama dan tambahan yang dbedakan menjadi lapangan.3. 40 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . kegiatan ini semata-mata dilakukan karena mereka sudah mendapatkan bantuan modal usaha yang jumlahnya terhitung sangat kecil (Rp 100.9 persen.yang tergabung dalam Pokmas Jender membuat kerupuk ikan dan kue. hampir separuhnya mempunyai kegiatan utama bekerja (lihat Gambar 2. ketika ditanyakan kepada beberapa penganggur dan tokoh masyarakat diperoleh informasi bahwa ‘penganggur putus asa’ tersebut terkadang juga pergi melaut untuk membantu orang tua. dikemukakan terlebih dahulu status kegiatan ekonomi penduduk usia kerja. Peningkatan jenis ketrampilan maupun kualitasnya belum terlihat di kalangan masyarakat Desa Limbung. jenis. Dari sebanyak 348 responden yang berunur 10 tahun ke atas. dan status pekerjaan. yaitu penduduk yang berumur 10 tahun ke atas. Sedangkan mereka yang sekolah hanya hanya sekitar seperempatnya. karena pekerjaan sebagai nelayan selalu tersedia tanpa harus dicari.000 per kelompok yang beranggotakan 4 orang). mencapai 6.2). Sebelum membahas tentang pekerjaan penduduk. Meskipun COREMAP fase II juga memberikan pelatihan kepada Pokmas Jender. yang dalam istilah ketenagakerjaan disebut dengan penganggur putus asa. jenis ketrampilan yang diberikan sudah dikuasai oleh peserta. atau hampir sama dengan responden yang mempunyai pekerjaan mengurus rumah tangga.

Gambar 2.2.

Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun keatas Menurut Kegiatan Ekonomi, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di antara penduduk yang bekerja, kira-kira sebesar 62 persen mempunyai pekerjaan utama pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap (Gambar 2.3). Persentase responden yang bekerja di sektor tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan hasil survei tahun 2005 (58 persen). Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi adanya beberapa perempuan yang mulai tertarik untuk melaut. Beberapa faktor yang mempengaruhi perempuan melakukan pekerjaan melaut adalah ketersediaan bubu ketam berukuran kecil yang mudah digunakan oleh perempuan, pemasaran mudah, wilayah tangkap di sekitar tempat tinggal mereka sehingga dapat mengunakan sampan untuk jangka waktu yang sangat singkat (kira-kira satu jam). Selain mencari ketam, sebagian nelayan perempuan, khususnya di dusun Senempek juga melaut untuk mencari gonggong.

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 41

Gambar 2.3. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Desa Limbung, Kabupaten Lingga, 2008

Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi, PPK-LIPI 2007 Di luar perikanan tangkap, sektor perdagangan merupakan lapangan pekerjaan yang cukup banyak menyerap tenaga kerja responden, atau lebih tinggi dari lapangan pekerjaan industri pengolahan. Temuan ini berbeda dengan kondisi pada dua tahun sebelumnya, di mana sektor perdagangan menyerap 5,8 persen, sedangkan sektor industri pengolahan sebesar 17,3 persen. Penurunan persentase responden yang bekerja di sektor industri tampaknya tidak sesuai dengan adanya peningkatan kegiatan sektor industri pengolahan (khususnya pengolahan kepiting/ketam), ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah industri kecil yang memproduksi daging ketam. Jika pada tahun 2006 di Desa Limbung hanya terdapat satu PT Ketam, pada saat penelitian ini berlangsung (2008) bertambah menjadi tiga buah (walaupun jumlah tenaga kerja hanya berkisar 5-8 orang). Bekerja pada sektor industri pengolahan ketam biasanya dilakukan oleh perempuan dengan sistem borongan, sehingga bukan merupakan tenaga tetap. Sistem kerja seperti ini, tenaga kerja sangat mudah untuk masu dan

42 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

keluar dari pekerjaan. Dengan demikian besar kemungkinan menurunnya persentase responden yang bekerja pada lapangan pekerjaan industri dalam dua tahun terakhir ini adalah karena sebagian dari mereka tidak lagi bekerja di sektor tersebut. Di antara mereka diperkirakan beralih bekerja di sektor perdagangan (usaha kios kecil) maupun tidak bekerja lagi. Lapangan pekerjaan perkebunan dan jasa kemasyarakatan tidak menunjukkan perubahan selama kurun waktu 2006-2008. Jenis perkebunan di Desa Limbung adalah kebun karet yang sudah berumur cukup tua. Pemilik kebun karet pada umumnya warga keturunan Tionghoa, meskipun beberapa penduduk etnis Melayu juga mempunyai kebun karet, walau tidak luas. Sedangkan lapangan pekerjaan jasa kemasyarakatan adalah pekerjaan di sektor pemerintahan desa dan pendidikan. Sebagai wilayah pesisir dengan sektor perikanan tangkap sebagai mata pencaharian utama, maka jenis pekerjaan nelayan ditekuni oleh hampir dua-pertiga dari total anggota rumah tangga sampel (Gambar 2.4). Pekerjaan sebagai nelayan dilakukan setiap hari pada musim teduh (gelombang laut dalam keadaan tenang), bahkan dua kali per hari jika wilayah tangkap tidak jauh dari tempat tinggal. Pada musim pancaroba nelayan tetap melaut setiap hari, tetapi harus mencermati keadaan angin kencang yang datangnya tiba-tiba dalam waktu sebentar. Jenis pekerjaan sebagai nelayan jarang dilakukan pada musim angin kencang/gelombang kuat, dan bagi nelayan yang melalut biasanya hanya di wilayah pantai. Apabila dirinci lebih lanjut, temuan survei memperlihatkan, nelayan dengan alat tangkap jaring merupakan jenis pekerjaan terbanyak (ditekuni oleh 51 persen dari 96 orang nelayan) dibandingkan dengan nelayan dengan alat bubu (33,3 persen) dan nelayan kelong (15,6 persen). Namun demikian, pengelompokan nelayan menurut jenis alat tangkap tersebut hanya menggambarkan jenis alat tangkap utama, karena pada umumnya nelayan juga mengoperasikan alat tangkap lainnya selain alat tangkap utama (misalnya selain menggunakan jaring, mereka juga menggunakan bubu ketam, demikian sebaliknya). Hanya beberapa nelayan kelong (bilis) yang ketika sedang musim bilis tidak menggunakan alat tangkap lain, karena kelong bilis bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 43

Sebaliknya jenis pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik. Walaupun bekerja sendiri. hampir tiga-perempat responden bekerja/berusaha sendiri. biasanaya mereka pergi ke wilayah tangkap bersama dengan nelayan lain. Berdasarkan status pekerjaan. karena mengindikasikan adanya stereotipi perempuan.menghasilkan setiap hari ketika musim teduh pada saat bulan gelap (kira-kira 20 hari per bulan). Jenis pekerjaan ke dua yang dilakukan oleh responden adalah sebagai tenaga penjualan. Sedangkan di luar jenis pekerjaan nelayan. pencari kayu.2). Termasuk mereka bukan hanya yang bekerja di sektor industri pengolahan ketam. sehingga masih dapat melakukan pekerjaan domestik. karena mereka hanya menggunakan sampan atau pompong berkekuatan mesin kecil. banyak dilakukan oleh laki-laki. biasanya menggunakan bubu ketam dan melaut di kawasan tidak jauh dari tepi pantai. tetapi juga tenaga industri anyaman atap rumah dan makanan (kue yang dititipkan di kios orang lain maupun milik sendiri). 44 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Jenis pekerjaan sebagai tenaga industri dan penjualan lebih banyak dilakukan oleh perempuan daripada laki-laki (lihat Lampiran Tabel 2.7 persen. Hanya sedikit perempuan yang melakukan jenis pekerjaan ini. Sebagian besar dari status pekerjaan ini adalah nelayan yang melaut sendiri. biasanya dengan anak mereka. atau sejalan dengan lapangan pekerjaan perdagangan yang juga berada pada urutan ke dua. dan tenaga penjualan di kios milik sendiri. misalnya nelayan. Sedangkan persentase responden dengan jenis pekerjaan sebagai tenaga industri adalah 9. Sedangkan pekerjaan industri pengolahan ketam yang memerlukan ketelitian juga hanya dilakukan perempuan. Hal ini karena tenaga penjualan di Desa Limbung merupakan pedagang-pedagang skala sangat kecil yang dilakukan di rumah. mereka yang bekerja/berusaha meliputi penyadap karet. Hanya sebagian kecil nelayan yang bekerja dibantu oleh anggota rumah tangganya.

dan beberapa guru serta pamong desa. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. pada umumnya mereka adalah ART yang membantu bekerja pada lapangan pekerjaan nelayan dan perdagangan. 2008.Gambar 2. PPK-LIPI 2007 Responden yang bekerja dengan status pekerjaan sebagai buruh/karyawan pada umumnya mereka yang bekerja sebagai buruh industri pengolahan daging ketam. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 45 . Kabupaten Lingga. Untuk status pekerjaan sebagai pekerja keluarga hanya sekitar 3 persen. juga pada hari minggu. Buruh industri pengolahan ketam dilakukan setiap hari. dengan jam kerja antara 6-8 jam. tergantung pada produksi hasil tangkapan nelayan setempat dan pasokan dari daerah lain. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan.4. Desa Limbung.

Gambar 2. tampaknya justru menjadi lapangan pekerjaan tambahan oleh sebagian responden (20.9 persen dari 155 responden yang bekerja).5 persen responden yang memiliki pekerjaan tambahan. perikanan tangkap juga menjadi lapangan pekerjaan tambahan bagi sekitar 26. 46 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kemungkinan besar termasuk kelompok tersebut antara lain responden yang pekerjaan utamanya di sektor perdagangan (biasanya warga keturunan Tionghoa) yang mempunyai usaha kelong. yaitu sebanyak 34 responden (21. sebagian kecil responden juga mempunyai pekerjaan tambahan. 2008.6 persen). Kabupaten Lingga. Desa Limbung. Distribusi Persentase Responden Umur 10 Tahun Yang Bekerja Menurut Jenis Pekerjaan.3). Selain menjadi lapangan pekerjaan utama.5.6 persen) responden sebagai lapangan pekerjaan utama (lihat Gambar 2. walaupun perlu dibarengi dengan upaya-upaya peningkatan ketrampilan SDM dan pengelolaan usahatani. PPKLIPI 2007 Selain melakukan pekerjaan utama. Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Hal sama juga untuk sektor perkebunan (17.6 persen dari total responden yang mempunyai pekerjaan tambahan). Sedangkan sektor pertanian pangan yang hanya diminati oleh sangat sedikit (0. Pentingnya sub-sektor pertanian pangan dan tanaman keras (perkebunan) sebagai lapangan pekerjaan tambahan mengindikasikan adanya potensi ke arah pengembangan mata pencaharian alternatif pada dua sub-sektor ini.

Desa Limbung yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan sumber kehidupan pada sumber daya laut. tetapi kebanyakan berukuran 175 dan 195. Setiap rumah tangga pemilik perahu motor hanya mempunyai satu buah. semuanya berupa perahu motor dalam. serta kondisi permukiman dan sanitasi lingkungan. Ukuran mesin motor cukup beragam. maka rumah tangga bersangkutan juga sejahtera.4. salah satu di atanranya dapat diketahui dari pemilikan aset produksi maupun non produksi. maka perahu motor merupakan aset produksi yang sangat berharga bagi suatu rumah tangga nelayan. Secara umum dapat dikatakan bahwa suatu rumah tangga yang mempunyai banyak aset produksi. Pemilikan Aset Rumah Tangga Data pemilikan aset produksi dan bukan produksi berdasarkan hasil survei dapat dilihat pada Tabel 2. sehingga dapat dibelanjakan untuk aset rumah tangga non-produksi maupun untuk pemenuhan semua kebutuhan rumah tangganya. Dengan pemilikan aset yang banyak.1. Sedangkan aset non produksi mencakup rumah tinggal dan barang-barang berharga yang dimiliki oleh rumah tangga. Aset produksi antara lain berupa armada dan alat-alat penangkapan. terdapat kira-kira separuh rumah tangga responden mempunyai perahu tanpa motor (sampan). Keadaan ini menggambarkan adanya perbaikan kesejahteraan rumah tangga nelayan. lahan/tanah. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 47 . Kesejahteraan Untuk mengetahui gambaran kondisi kesejahteraan rumah tangga. Berdasarkan hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi. Pemilikan perahu motor di Desa Limbung memperlihatkan tren yang meningkat selama tahun 2006-2008.2.3. suatu rumah tangga mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar. misalnya nelayan kelong bilis. Informasi yang diperoleh dari beberapa nelayan menunjukkan adanya pemilikan dua jenis armada tangkap (perahu motor dan tanpa motor/sampan) pada beberapa rumah tangga nelayan yang kondisi ekonominya baik. dan alat transportasi. walaupun tidak banyak. sedangkan rumah tangga yang mempunyai perahu motor sebanyak 45 persen.

0 100 Bubu 12. persentase responden yang memiliki bubu hanya 12 persen.0 59. kecuali jaring yang turun tajam.0 98.0 100 Asset produktif lainnya 100 Lahan 18. Sepanjang wilayah pantai.0 100 Sumber: Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan alat tangkap dari jaring.0 4.0 49.1.0 100 100 Asset rumah tangga lain Rumah 92.0 100 Alat transportasi 7. Desa Limbung.0 100 VCD 35.0 45.0 100 Kelong bilis 15. Pengamatan di lokasi wilayah penangkapan (fishing ground) memperlihatkan fenomena tersebut.0 45.0 100 TV 47. meningkat sangat tajam menjadi 39 persen. ke alat tangkap bubu ketam. 2006 dan 2008. merupakan wilayah penangkapan ketam dengan 48 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . yaitu dari 89 persen dari 100 rumah tangga responden menjadi 45 persen.0 100 Parabola 41. Kabupaten Lingga Jenis Pemilikan Status Pemilikan 2006 2008 n Asset produktif perikanan Perahu tanpa motor 48.0 7. khususnya jaring ketam.0 100 Jaring 89.0 24. Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Status Pemilikan Aset.0 54.0 26.0 39. demikian pula hasil wawancara mendalam dengan beberapa nelayan.0 100 Perahu motor 41. Pada tahun 2006.Tabel 2. PPK-LIPI 2007 Membaiknya kesejahteraan rumah tangga nelayan juga terlihat dari meningkatnya persentase pemilikan alat-alat tangkap selama periode dua tahun terakhir (2006-2008).0 21.0 100 Kendaraan bermotor 22.0 3. terutama di Dusun Centeng dan Sinempek.0 66.0 100 Karamba 3.0 100 Perhiasan 46.0 100 Ternak (sapi/kambing) 4.0 57.

dan satu rumah tangga responden (2. kenaikan persentase responden pemilik kelong bilis tersebut merupakan indikasi adanya peningkatan kondisi kesejahteraan sebagian nelayan di Desa Limbung. meskipun pada tahun 2008 jumlahnya hanya kira-kira seperempatnya dari 100 rumah tangga yang menjadi sampel penelitian ini. Tabel 2. Kondisi ini berkaitan dengan jumlah pemilikan bubu oleh rumah tangga nelayan yang umumnya mencapai puluhan buah. Peningkatan pemilikan televisi tersebut merupakan faktor yang kondusif terhadap penyebarluasan informasi pengelolaan terumbu karang. dan hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan/menumpang parabola milik tetangganya. Peningkatan pesat terlihat pada rumah tangga yang memiliki televisi dan VCD. Dalam dua tahun terakhir. Keadaan kesejahteraan rumah tangga Desa Limbung dilihat dari aset non-produksi cenderung menunjukkan tren meningkat. Data hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi tahun 2008 memperlihatkan. Selebihnya adalah rumah tangga yang mempunyai bubu antara 25-49 buah (48. Pemilik kebun karet pada umumnya adalah penduduk desa keturunan Tionghoa. kira-kira seperempatnya (25. tergantung pada luas kelong. Lahan tersebut umumnya berupa lahan kebun karet yang umumnya telah berusia tua dan perlu peremajaan.6 persen) yang memiliki 92 bubu ketam.6 persen) mempunyai bubu sebanyak 50 buah. Rumah tangga yang memiliki lahan menunjukkan tren meningkat. sedang Suku Melayu berperan sebagai pekerja (buruh sadap). Pada umumnya rumah tangga yang memiliki televisi juga memiliki parabola. tetapi harus dikemas dalam bentuk hiburan karena jenis siaran ini yang cenderung K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 49 . serta parabola.menggunakan bubu yang jumlahnya cukup banyak.1 juga memperlihatkan. meskipun masih dapat menghasilkan getah. Modal untuk membuat kelong bilis yang mencapai jutaan rupiah.8 persen). Jumlah pemilikan barang elektronik adalah satu buah untuk setiap rumah tangga. Hanya ada sekitar 23. semua jenis aset non-produksi semakin banyak dimiliki oleh rumah tangga sampel.1 persen yang mempunyai bubu dengan jumlah kurang dari 25 buah. Dengan demikian. rumah tangga yang memiliki alat tangkap berupa kelong bilis juga meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 2006-2008.

walau sebagian rumah tangga responden memiliki rumah yang kondisi bangunan lebih baik dari rumah kebanyakan.4 persen memiliki perhiasan antara 4-10 unit. Bak penampungan air tersebut dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Kimpraswil. kondisi bangunan rumah dalam dua tahun terakhir ini cenderung tidak ada perubahan. sumber air bersih. atau lebih tinggi dari rumah tangga yang hanya memiliki satu unit perhiasan. tetapi tampaknya kurang berhasil karena 50 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sarana mandi-cucikakus. Setiap rumah tangga memiliki satu buah rumah dengan kondisi bangunan yang umumnya sederhana. terutama yang berada di pinggir pantai. yakni 20. Kondisi Perumahan dan Sanitasi Lingkungan Indikator kesejahteraan dari aspek perumahan dan sanitasi lingkungan meliputi kondisi fisik rumah. Sumber air bersih berasal dari mata air yang dialirkan ke beberapa hidran dan bak penampungan air ke permukiman penduduk. dan beratap seng.1). Hampir semua rumah tangga responden mempunyai rumah. berupa rumah panggung yang didirikan di atas permukaan air laut. Pada tahun 2008. Dinding rumah pada umumnya terbuat dari papan. Sebagian rumah tinggal di Desa Limbung berdiri di atas daratan yang langsung menempel pada permukaan tanah maupun berupa rumah panggung.diminati oleh penduduk di daerah penelitian. berlantai keramik. Sedangkan rumah tangga yang memiliki dua unit perhiasan sekitar seperempatnya (26. Menurut pengamatan dan wawancara dengan beberapa informan. Hanya sebagian kecil rumah yang dindingnya terbuat dari tembok atau papan kayu berkualitas baik.7 persen dari 49 rumah tangga responden) memiliki sebanyak tiga unit. Sebagian rumah lainnya. dan sebagian lainnya terbuat dari anyaman sejenis daun pandan. memberikan indikasi adanya perbaikan kesejahteraan. Tren meningkat terkait dengan pemilikan aset non-produksi juga terjadi untuk jenis rumah. kira-kira sepertiga (32. Kondisi fisik rumah cenderung masih sederhana. dan tempat pembuangan air limbah rumah tangga. Selebihnya. kecuali beberapa rumah milik penduduk yang berkecukupan. demikian pula lantai rumah. Sedangkan pemilikan perhiasan juga meningkat (Tabel 2.5). Sedangkan atap rumah pada umumnya terbuat dari seng.

selebihnya penduduk memanfaatkan kakus/WC cemplung milik sendiri yang limbahnya langsung dibuang ke laut atau anak sungai yang berada di dekat rumah. tetapi pada musim kemarau hidran juga kering. Kondisi sanitasi lingkungan seperti ini mungkin bukan berkaitan dengan kesejahteraan penduduk. Limbah cair. tetapi tampaknya berkaitan dengan belum baiknya pengetahuan mereka tentang kesehatan lingkungan. yaitu air bekas mencuci dan mandi. Sebagian rumah tangga memiliki sumur gali dengan kondisi sangat sederhana sebagai sumber air minum. Kepedulian penduduk terhadap lingkungan yang belum baik juga terlihat dari kepemilikan kakus yang tidak higienis.kesalahan tehnis penempatan bak penampungan yang menyebabkan air tidak bisa mengalir ke dalam bak tersebut. Penduduk memanfaatkan hidran air bersih yang telah ada sejak dua tahun sebelumnya yang didanai Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM Infrastruktur Pembangunan (PKPS-IP). juga mandi dan cuci. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 51 . Tempat MCK umum yang tersedia di Dusun Air Brani dan Seranggas. maupun limbah padat dibuang di laut atau di pekarangan rumah. Sedangkan saluran pembuangan limbah rumah tangga juga jauh dari standar kesehatan.

52 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Pada dasarnya. program ini telah berlangsung sejak fase pertama namun terhenti karena adanya perubahan administrasi struktur pemerintahan di tingkat provinsi. sejalan dengan berhentinya COREMAP I. sedangkan COREMAP II antara tahun 2005. 6 D Fase pertama seharusnya berakhir pada tahun 2004. Kegiatan yang sudah berjalan pada COREMAP I adalah kegiatan pengawasan terhadap daerah konservasi terumbu karang yang ditetapkan di Pulaua Hantu.2009. yang kemudian dimulai lagi dengan pembentukan Pokmas-Pokmas pada COREMAP II. namun sejak otonomi daerah masuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau.BAB III COREMAP DAN IMPLEMENTASINYA alam upaya meningkatkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dan pelestarian terumbu karang di perairan Kabupaten Lingga. Perbedaan antara COREMAP I dan II terletak pada aspek pertanggungjawaban teknis maupun non-teknis. COREMAP mengimplementasikan berbagai program di beberapa lokasi. Perubahan administrasi pemerintahan ini mempengaruhi kegiatan COREMAP I yang terhenti sebelum waktunya. daerah penangkapan SDL. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 53 . sedangkan COREMAP II pada Pemerintah Daerah Tingkat II Bupati Kabupaten Lingga. Pertanggungjawaban COREMAP I berada di BAPPEDA tingkat provinsi. khususnya ekosistem terumbu karang. COREMAP ditujukan untuk masyarakat nelayan dan keluarganya yang diperkirakan mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan sumber daya laut. dan penghitungan ekonomi dari pengambilan SDL. Di Desa Limbung. Namun demikian. COREMAP I berlangsung antara tahun 1999 hingga pertengahan tahun 20036. kegiatan-kegiatan tersebut juga berhenti. Ketika COREMAP I diimplementasikan di Desa Limbung. Kabupaten Lingga masih termasuk dalam wilayah administrasi Provinsi Riau. baik daerah pesisir maupun kepulauan. pembangunan pondok informasi dan pelatihan-pelatihan berkaitan dengan pemetaan lokasi terumbu karang.

1. Melalui pendekatan ini diharapkan masyarakat berpartisipasi secara aktif pada setiap program yang dilaksanakan. baik pada tingkat kabupaten sebagai pengelola maupun desa sebagai pelaksana program. 59/KPTS/VI/2005. mengkordinasikan. Pada SK bupati tersebut tercantum bahwa Ketua KPD adalah Kepala BAPPEDA Kabupaten Lingga yang beranggotakan staf dari berbagai instansi. PBM (Pengelolaan Berbasis Masyarakat). 3. Controlling. tetapi baru sebagian kecil dari yang semestinya dilakukan. Pelaksanan COREMAP II di Kabupaten Lingga diawali dengan kegiatan pembentukan KPD (Komite Pengarah Daerah) oleh Bupati Lingga yang tertuang pada Surat Keputusan Bupati Lingga No. yaitu:(1) pelaksanaan COREMAP di tingkat kabupaten dan tingkat desa dengan menekankan pada aspek permasalahan dan kendala. Banyak 54 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dalam hal ini Departemen Perikanan dan Kelautan. Komponen-komponen COREMAP yang bertugas untuk mengimplementasikan program tersebut adalah CRITC (Coral Reef Information and Training Center). (2) pengetahuan dan partisipasi masyarakat di lokasi program dalam kegiatan COREMAP. PELAKSANAAN COREMAP: PERMASALAHAN DAN KENDALA Program nasional COREMAP di Kabupaten Lingga dilaksanakan sesuai dengan ketentuan pemerintah pusat.Pada bagian ini dikemukakan implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga dan implikasinya terhadap kehidupan masyarakat di lokasi progam. Semua komponen tersebut dikoordinir oleh seorang yang duduk sebagai Project Implementation Units (PIU). dan memberi masukan terhadap segala bentuk perencanaan dan kegiatan yang menjadi tujuan dan target program COREMAP II kepada PIU (Project Implementation Units). semua komponen COREMAP talah melaksanakan kegiatan. Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanan COREMAP II adalah pengelolaan yang berbasis masyarakat. Tugas KPD adalah mengarahkan. Ada dua pokok bahasan yang dikaji. MCS (Monitoring. Selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga. and Surveillance) dan PA (Public Awarenees-penyadaran masyarakat).

kendala yang dihadapi, baik menyangkut persoalan dana pendamping, personil pada setiap komponen di tingkat kabupaten maupun di lokasi program. 3.1.1. Pengelolaan dan Pelaksanaan COREMAP Fase II Tingkat Kabupaten PIU (Project Implementation Units) Pengelola COREMAP II di tingkat kabupaten adalah PIU (Project Implementation Units)7 yang berperan untuk memfasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian COREMAP. Keberadaan PIU bertujuan agar program COREMAP dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip, kebijakan, prosedur, dan mekanisme COREMAP di lokasi program. Pada setiap kabupaten, PIU terdiri dari unsur-unsur DKP, BAPPEDA, KSDA atau Taman Nasional Laut terkait, serta instansi terkait lainnya. Kelompok ini secara khusus dibantu oleh tim konsultan yang akan membantu kegiatan ini hingga PIU dapat berjalan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Keputusan pembentukan PIU COREMAP II tercantum dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 yang dikeluarkan tanggal 23 Juni 2005. Struktur kepengurusan PIU meliputi berbagai unsur kepemerintahan dari Kabupaten Lingga yang terbagi menjadi lima komponen yang bertanggung jawab langsung kepada PIU, yaitu (1) Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia; (2) Pengelolaan Sumber Daya Berbasis Masyarakat (CBM); (3) Penyadaran Masyarakat (PA); (4) Penegakan Hukum (MCS); dan (5) Pelatihan dan Informasi Terumbu Karang (CRITC). Setiap komponen terdiri dari koordinator yang membawahi anggota antara enam (6) hingga sembilan (9) orang yang berasal dari berbagai dinas terkait. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, PIU COREMAP II mempertanggungjawabkan pelaksanaan program

Untuk selanjutnya tulisan ini akan menggunakan singkatan PIU (Project Implementation Units) yang umum digunakan untuk proyek COREMAP yang didanai ADB.

7

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 55

kepada Bupati Lingga. Sesuai dengan surat keputusan tersebut, tugas PIU adalah8: 1. Melakukan implementasi aspek perencanaan dalam rangka memadukan perencanaan pembangunan kegiatan program COREMAP II Kabupaten Lingga dengan pembangunan daerah serta melakukan pemantapan perencanaan pembangunan yang ramah lingkungan di Kabupaten Lingga secara berkesinambungan; 2. Melaksanakan survei (penelitian/kajian) dan pelatihan dalam rangka pembangunan program COREMAP II; 3. Melaksanakan pengendalian, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan program COREMAP II; 4. Membuat laporan perkembangan secara berkala sesuai dengan tahapan perencanaan dan tahapan pengendalian, juga analisa terhadap program yang terkait dalam program COREMAP II Kabupaten Lingga. Telah dikemukakan di atas, selama empat tahun implementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga, tampaknya masih banyak kegiatan yang belum berjalan sesuai dengan rencana. Banyak faktor yang berpengaruh. Menurut beberapa anggota komponen, permasalahan ini terutama disebabkan oleh ketidakpedulian PIU
Tugas PIU yang tercantum pada SK Bupati tersebut sesuai dengan tanggung jawab dan fungsi PIU yang tertera dalam buku pedoman umum PBM COREMAP fase II (2007:30), yaitu (1) melaksanakan kebijakan dan rekomendasi Dewan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (CCEB/Coastal Community Empowerment Board); (2) mempersiapkan rencana kerja dan anggaran tahunan sesudah mendapat persetujuan CCEB; (3) mengkoordinasikan keseluruhan program; (4) mengelola anggaran, administrasi, pemantauan dan evaluasi; (5) mengadakan sosialisasi di wilayah program; (5) Menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan (keuangan dan fisik) ke NCU (National Coordinating Unit); (6) Mempersiapkan strategi untuk mengatasi hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan program; (7)Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan program.
8

56 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

dalam menjalankan fungsinya dalam mengkoordinasi dan memfasilitasi semua kegiatan yang semestinya dijalankan setiap komponen COREMAP. Lemahnya fungsi koordinasi PIU terhadap semua komponen, antara lain diindikasikan oleh sangat jarangnya pertemuan antar anggota komponen COREMAP untuk saling bersinergi dalam menjalankan tugasnya. Selama tiga tahun proyek COREMAP II berjalan, hingga saat ini (Mei 2008) pertemuan seluruh komponen COREMAP untuk koordinasi program dengan undangan dari PIU baru dua (2) kali. Akibatnya, masing-masing komponen cenderung berjalan sendiri-sendiri, bahkan komponen yang bukan berasal dari instansi teknis (KDA) cenderung tidak menjalankan kegiataan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini kemungkinan besar karena mereka tidak mengetahui dengan jelas tentang tugas pokok dan fungsinya dalam COREMAP II. Sebagai contoh, salah seorang anggota pelaksana COREMAP yang namanya tertulis dalam SK hingga penelitian BME ini berlangsung, belum mengetahui tentang keterlibatannya dalam kegiatan COREMAP di Kabupaten Lingga, karena belum pernah diberitahukan, apalagi diberi SK tentang kepenguruasan COREMAP. Ketua PIU yang juga merangkap lebih dari dua jabatan struktural disamping jabatan pada proyek lainnya tampaknya menghambat kegiatan-kegiatan COREMAP yang menjadi tanggung jawabnya. Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kegiatan yang harus dilakukan oleh komponen-komponen pada COREMAP. Namun demikian, kendala-kendala di tingkat PIU tersebut tidak terlepas dari keterlambatan pencairan dana pendamping COREMAP yang bersumber dari anggaran APBD. Dikemukakan oleh seorang informan yang mengetahui aspek anggaran COREMAP, dana pendamping pada tahun 2006 baru dapat dicairkan pada bulan Oktober 2006, bahkan anggaran pada tahun 2007 baru turun dua bulan sebelum anggaran harus dipertanggungjawabkan. Sedangkan dana pendamping pada tahun 2008, hingga saat penelitian ini berlangsung (bulan Mei) belum ada tanda-tanda kapan akan turun. Keterlambatan dana pendamping yang jumlahnya tidak besar (10 persen) tersebut sangat berpengaruh terhadap pencapaian program, karena kegiatan COREMAP di lokasi program tidak bisa

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 57

PIU membawahi beberapa koordinator yang tercakup dalam empat komponen projek. yang praktis hanya berjalan antara 2-3 bulan. Dari 68 persen yang terserap. pada umumnya tidak memenuhi persyaratan yang disepakati dalam lelang. sedangkan 28 persen untuk kegiatan lainlain.dilaksanakan sebelum dana pendamping turun. 58 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . menyebabkan kegiatan COREMAP dilakukan dengan sistem kejar target (terburu-buru). sebanyak 32 persen dari total COREMAP II di Kabupaten Lingga harus dikembalikan ke negara karena tidak terserap dalam kegiatan. Keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan program nasional terumbu karang tersebut. Kegiatan ini melibatkan berbagai stakeholders di tingkat kabupaten maupun lokasi program. Keadaan ini berdampak pada kualitas pekerjaan yang rendah. Komponen Penyadaran Masyarakat (Public Awareness) Pelaksanaan kegiatan pada komponen penyadaran masyarakat (public awareness) yang disingkat dengan kata PA bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan adanya perubahan kebijakan dan keputusan yang lebih baik tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut.. Terdapat empat indikator yang mendukung program ini. sebanyak 40 persen untuk pembangunan infrastruktur. Keterlambatan pencairan dana pendaping tersebut juga menyebabkan sebagian anggaran harus dikembalikan ke negara. yaitu: 1) Pelatihan pada kelompok sasaran di tingkat kabupaten maupun desa terpilih. Dalam implementasi pelaksanaan kegiatan COREMAP Kabupaten Lingga. karena umumnya hanya dilakukan asal jadi sebagai akibat dana harus segera dipertanggungjawabkan. Lebih tingginya penyerapan dana untuk pembangunan fisik daripada kegiatan lain-lain tersebut menggambarkan bahwa kegiatan COREMAP tampaknya belum menyentuh pada pembangunan non fisik yang secara langsung berpengaruh terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan COREMAP dengan sistem kejar target tersebut antara lain terlihat dari pekerjaanpekerjaan infrastruktur bantuan COREMAP yang dilakukan oleh pihak ke tiga. seperti telah dikemukakan di atas.

2) Pelakukan advokasi melalui mass media tentang konservasi terumbu karang yang pengelolaannya berbasis masyarakat. 3) Faslitas komponen ini adalah peralatan seperti kamera video. 4) Para stakeholders berpartisipasi dalam mendukung manajemen peningkatan ekosistem terumbu karang dari survey data dasar sebesar 20 %. Menurut informasi dari salah seorang anggota PA. Anggota dipilih dari unsur dinas pemerintah kabupaten dengan anggota berasal dari tingkat kecamatan sebagai lokasi program (yaitu Kecamatan Senayang dan Kecamatam Lingga Utara). sehingga informan tersebut tidak mengetahui tugas dan fungsinya dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Poster dan brosur penyadaran masyarakat yang sudah beberapa bulan dipasang di Pondok Informasi (PI) sebelum penelitian BME Aspek Sosial K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 59 . Berdasarkan SK Bupati Lingga tentang pembentukan PIU. Contoh nyata dari permasalahan tersebut ditemukan di Desa Limbung. sejak penetapan SK. Informan lain dari komponen yang sama juga mengungkapkan ketidaktahuannya tentang kegiatan-kegiatan yang mestinya dilakukan. Implementasi kegiatan PA di Desa Limbung masih sangat terbatas. komponen PA beranggotakan enam (6) orang yang dikoordinir oleh staf dari Kantor Sumber Daya Alam. menyebabkan kegiatan tidak efektif dalam upaya meningkatkan penyadaran masyarakat. Kegiatan di tingkat kabupaten masih terbatas pada distribusi poster dan brosur (leaflet) ke lokasi program. kecuali hanya mengetahui bahwa salah satu kegiatan PA adalah melakukan distribusi poster dan brosur. Tanpa ada kontrol dari anggota komponen PA ke lokasi program. Itupun tampaknya tidak dilakukan kontrol terhadap pelaksanaan di desa. projector video. dan computer untuk membuat dokumen aktivitas program COREMAP fase II. anggota komponen PA belum pernah melakukan pertemuan. Poster dan brosur biasanya hanya dititipkan pada pelaksana di lokasi program yang datang ke kabupaten. Hal ini karena poster dan brosur tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang yang ditipkan kepada pelaksana di lapangan tersebut tidak menjamin sampai dengan cepat ke masyarakat.

khususnya ekositem terumbu karang. yaitu: Melakukan penguatan masyarakat dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat dan memperkuat kapasitas lembaga. yakni: 1) Meningkatkan penguatan tingkat ekonomi masyarakat melalui pengembangan mata pencaharian alternatif. Terdapat tiga (3) tujuan dari komponen PBM. Melakukan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat antara lain untuk mengontrol aktivitas yang merusak terumbu karang dan memprotek lokasi atau tempat biota laut berada. atau Pengelolaan Berbasis Masyarakat (PBM). pada COREMAP II dilakukan melalui pendekatan yang berbasis masyarakat. 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk berpartisipasi dalam kelanjutan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya laut dan pencegahan terjadinya degradasi laut. Komponen Pengelolaan Sumberdaya (Community Based Management) Berbasis Masyarakat Pengelolaan sumber daya laut. Melakukan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat seperti bangunan sarana-prasarana kebutuhan pokok masyarakat. Tujuan tersebut kemudian diterjemahkan dalam empat (4) kegiatan PBM. 3) Mengembangkan infrastruktur masyarakat dan kesempatan ekonomi yang berorientasi ke depan agar kehidupan sumber daya laut dapat berlanjut. pada kenyataannya baru saja disebarkan ke dusun lainnya. khususnya terumbu karang. - - 60 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendekatan ini dikenal Community Based ManagementCBM). rehabilitasi dan memprotek lingkungan tempat biota laut yang dilindungi berada.Ekonomi ini berlangsung.

-

Melakukan pengembangan mata pencaharian alternatif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat seperti mengembangkan jaringan pasar dan meningkatkan pengetahuan manajemen usaha kecil.

Dalam SK Bupati No. 58/KPTS/VI/2005 ditetapkan anggota PBM Kabupaten Lingga berjumlah delapan (8) orang yang berasal dari berbagai unsur aparat pemerintah Kabupaten Lingga. Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan Setda Lingga sebagai koordinator, sedangkan anggotanya terdiri dari Dinas SDA, Bawasda, dan camat di wilayah program. Implementasi program PBM tampaknya belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Menurut salah seorang staf komponen COREMAP, program komponen CBM mungkin baru berjalan sekitar separuhnya, antara lain meliputi: - Pelatihan PBM di Bali dengan peserta dua orang koordinator dari komponen CBM dan CRITC. Kegiatan menggunakan dana Dipa APPBN Dinas SDA; - Pelatihan manajemen kepengurusan LPSTK di Senayang pada tahun 200 selama satu hari. Peserta adalah perwakilan dari setidap desa yang menjadi lokasi COREMAP. Pelatihan ini diadakan dalam rangka pembentukan LPSTK - Pelatihan tentang pembukuan laporan keuangan yang diselenggarakan di Senayang yang diikuti oleh bendahara LPSTK; - Pelatihan selam di Tanjung Pinang; - Tahun 2007 melakukan beberapa pertemuan dengan masyarakat pengelola terumbu karang, aparat desa, aparat kecamatan, tokoh masyarakat. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan lokasi kegiatan PBM dan penyusunan profil desa. - Tahun 2007 melakukan pengumpulan informasi tentang profil SDM, SDA, pemanfaatan sumberdaya pantai pada area terumbu karang dan penilaian kebutuhan dari sisi ekonomi, lingkungan dan sumberdaya khusus di lokasi COREMAP

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 61

yang dapat dikembangkan sebagai sumber penghidupan nelayan. - Pelatihan kelompok jender dengan kegiatan membuat kerupuk di Senayang pada tahun 2007, dengan peserta ketua dan satu orang anggota Pokmas. Kegiatan ini sering dikaitkan pula dengan usaha ekonomi produktif (UEP). Namun demikian, pelatihan ini seolah-olah hanya untuk mengisi kegiatan, karena materi pelatihan tersebut sudah pernah dilaksanakan pada masa COREMAP I. - Pembangunan infrastruktur di lokasi COREMAP dengan jenis bangunan fisik yang berbeda-beda di setiap desa. Untuk Desa Limbung, pembangunan infrastruktur yang dilakukan adalah membangun tambatan perahu, memperbaiki pondok informasi, dan membangun fasilitas MCK umum; - Pengembangan budidaya kerapu tiger sebagai pengganti budidaya teripang yang tidak berhasil pada kegiatan sebelumnya Mengacu kepada beberapa program yang telah dilaksanakan oleh komponen PBM di atas dan dikaitkan dengan fokus PBM, tampaknya masih terdapa beberapa kegiatan yang belum sepenuhnya sampai pada masyarakat di kawasan COREMAP. Kegiatan yang telah dilakukan masih pada tahap pelatihan, pembangunan, dan pengumpulan informasi berkaitan dengan profil lokasi COREMAP. Demikian pula kegiatan baru diimplementasikan pada kampung yang mudah dijangkau dari tingkat kabupaten yang telah menjadi lokasi COREMAP sejak fase I. Keterbatasan program dan kegiatan PMB di tingkat lokasi program tersebut cenderung sebagian masyarakat di lokasi yang tidak atau belum tersentuh program COREMAP merasa ditinggalkan atau tidak diikutsertakan. Hal ini membuat sebagian masyarakat tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam COREMAP, bahkan di antaranya ada yang tidak mau terlibat karena dianggap hanya menimbulkan konflik di antara mereka dan tidak memberi keuntungan. Kemungkin permasalahan ini muncul karena efektifnya kegiatan sosialisasi COREMAP kepada masyarakat, khususnya di dusun-dusun yang sulit letaknya agak jauh dari pusat desa.

62 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Kendala lain terkait dengan kegiatan PBM adalah minimnya dana yang langsung dapat dikelola masyarakat, sehingga pelaksanaannya pun tidak maksimal. Misalnya, bantuan untuk kegiatan jender yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi keluarga hanya sekitar 1,2 juta pada saat pelatihan, tetapi dana itu tidak semuanya untuk implementasi program, karena harus dikurangi untuk biaya transporatsi ke tempat pelatihan (di Desa Sekanah) dan membeli peralatan memasak. Dengan demikian, dana yang sampai ke Pokmas Jender tinggan sedikit. Sebagai contoh, kelompok jender Desa Limbung hanya menerima dana sebesar Rp. 200.000,- yang kemudian dipakai untuk kas Rp. 50.000,- dan kegiatan usaha sebesar Rp. 150.000,- . Kegiatan usha yang semestinya dilakukan secara berkelompok, pada kenyataannya dibagikan kepada anggota karena mereka tidak terbiasa kerja kelompok, sehingga masing-masing anggota hanya menerima Rp. 15.000,- yang dimanfaatkan untuk untuk membuat kerupuk dan makan kecil yang kemudian dijual dengan cara dititipkan di warung. Komponen Penegakan Surveillance) Hukum (Monitoring, Controlling &

Fungsi dan tugas komponen Monitoring, Controlling & Surveillance (MCS) adalah memonitor, mengawasi, dan menjaga ekosistem sumber daya laut, termasuk terumbu karang, dari perilaku orangorang yang tidak bertanggungjawab agar tetap terjaga keberadaan dan kelestariannya. Hal ini karena ekosistem terumbu karang sangat penting perannya bagi keberlanjutan kehidupan nelayan dan pelestarian sumber daya laut pada masa datang. Seperti halnya kondisi di Indonesia pada umumnya, terumbu karang di perairan kawasan Lingga sudah cukup mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan tingginya aktivitas nelayan, khususnya nelayan pendatang, yang mencari ikan dengan mengunakan alat tangkap yang dapat merusak terumbu karang, misalnya penggunaan bom, racun, kompresor, dan parit gamat (alat penangkap teripang). Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. 58/KPTS/VI/2005, komponen MCS di Kabupaten Lingga beranggotakan enam (6) orang yang berasal dari berbagai unsur pemerintahan yang bertanggung

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 63

jawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Koordinator MCS adalah dari instansi Bawasda (Badan Pengawasan Daerah), sedangkan anggotanya terdiri dari instansi Kesbang Linmas, Polres, Kejaksaan, dan Lannal Dabo Sinkep. Kegiatan yang dilakukan oleh komponen ini masih sangat terbatas, bahkan sebagian besar anggota masih belum mengetahui dengan pasti tentang tugas dan fungsi mereka dalam pelaksanaan program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut. Padahal keberadaan komponen ini sangat penting di kawasan perairan Lingga yang masih sering menjadi lokasi target penangkapan ikan dengan menggunakan alatalat terlarang, disamping kegiatan eksploitasi SDA (misalnya kegiatan penambangan pasir dan boksit) yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Kegiatan-kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap degradasi lingkungan laut dan ekosistem di perairan tersebut. Namun demikian, berdasarkan wawancara mendalam dengan beberapa anggota komponen COREMAP II diketahui adanya beberapa permasalahan dan kendala yang dihadapi komponen MCS untuk dapat menjalankan kegiatannya, yaitu: - Lemahnya koordinasi antara anggota komponen MCS maupun antara MCS dengan anggota komponen COREMAP II lainnya. Kendala geografis dan pendanaan menyebabkan kegiatan MCS tidak dapat dilakukan sesuai dengan harapan. Keberadaan sebagian orang anggota yang masih berkantor dan tinggal di Kota Dabo yang termasuk dalam wilayah Kepulauan Singkep sangat tidak efektif dalam mendukung pelaksanaan MCS, karena semua lokasi kegiatan COREMAP II berada di kawasan yang tidak jauh dari Kepulauan Lingga. Kendala geografis tersebut juga berimbas pada masalah waktu dan pendanaan, karena apabila mengadakan pertemuan untuk koordinasi di suatu lokasi tertentu sangat tergantung dengan waktu dan anggaran yang ada. - Kurangnya pengetahuan anggota MCS tentang COREMAP, terutama berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai pengurus dan pelaksana komponen MCS, karena hingga kini belum pernah ada anggota MCS yang mengikuti pelatihan

64 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME 

Walaupun pernah ada pelatihan untuk anggota MCS di luar Kepulauan Riau yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat. komponen MCS tidak bisa menangkappelaku pencurian maupun penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang merusak. tetapi COREMAP dari Kabupaten Lingga tidak mengirimkan perwakilannya. Berdasarkan wawancara dengan komponen COREMAP maupun pihak masyarakat. Di Desa Limung. keberadaan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) masih terbatas pada nama. Faktor penyebabnya adalah masalah pendanaan dan tidak adanya kata ”putus” dari PIU untuk mengikuti kegiatan tersebut. kegiatan Pokmaswas menjadi tanggung jawab penduduk di Dusun Air Kelat yang karena lokasi daerah konservasi cukup dekat. misalnya. Komponen MCS di Kabupaten Lingga hanya mempunyai kapal yang kapasitas mesinnya lebih kecil dibandingkan dengan kapal nelayan yang melakukan penangkapan secara ilegal. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 65 . Bahkan. . . Dengan demikian. maka mereka dapat melakukan pengawasan setiap saat.berkaitan penegakkan hukum terkait dengan pengawasan terumbu karang. keterbatasan kapasitas kapal untuk kegiatan pengawasan tersebut menyebabkan kapal sering dipergunakan untuk alat transportasi antar pulau-pulau kecil di kawasan Kepulauan Lingga.Minimnya peralatan yang dimiliki komponen MCS untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Padahal pada pelaksanaan COREMAP I. Padahal perairan Kawasan Lingga sering menjadi wilayah penangkapan SDL dengan menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem terumbu karang. penduduk di Dusun Air Kelat yang letaknya paling dekat dengan Pulau Hantu sebagai lokasi daerah perlindungan laut pada umumnya belum mengetahui adanya COREMAP II.Terbatasnya kegiatan MCS di tingkat kabupaten berdampak pada pelaksanaan di tingkat lapangan/lokasi program.

Lingga. Pada awalnya akan diikutsertakan dua orang staf. Pemda bagian informasi.1. Dana untuk kegiatan ini sudah dianggarkan hanya tinggal pelaksanaannya. 58/KPTS/VI/2005. maka dana yang disediakan hanya untuk merenovasi bangunan tersebut. yaitu sebagai tempat penyebaran informasi berkaitan dengan kegiatan COREMAP dan isu-isu pelesatrian terumbu karang. Komponen CRITC Kabupaten Lingga berencana akan melaksanakan pelatihan Krill di Daik pada tahun 2008 ini. Pelatihan dari tingkat pusat (Krill) pernah diadakan di luar Kepulauan Riau. Kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dalam rangka konservasi terumbu karang. Menurut rencana. Tepat pada waktunya tidak jadi karena hingga waktunya ijin dari PIU tidak keluar. dan Pemda bagian sosial. Hingga evaluasi ini dilakukan (Mei 2008) CRITC belum melakukan kegiatan. Pada desa yang telah dibangun pusat informasi pada saat pelaksanaan COREMAP fase I. disnakertrans. Pusat Informasi & Pelatihan Terumbu Karang (Coral Reef Information & Trainig Center/CRITC) Komponen CRITC bertujuan dalam memberi informasi dan pelatihan yang berkaitan dengan ekositem SDL. komponen CRITC akan diawali dengan membangun pusat informasi di desa atau lokasi COREMAP. belum dilaksanakan. namun staf dari komponen COREMAP Kabupaten Lingga tidak ada yang pergi atau mewakili. Antara lain dari dinas perhubungan & PU. Misalnya memperbaiki bangunan yang rusak dan menambah fasilitas lain yang dibutuhkan.3. dan Humas Kab. baik pada tingkat pengurus di kabupaten maupun peaksana di daerah konservasi atau desa COREMAP. dokumentasi. yaitu dari komponen CRITC dan komponen COREMAP lainnya. 66 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . termasuk terumbu karang. anggota komponen CRITC kawasan Lingga adalah sembilan (9) orang yang terdiri dari berbagai unsur pemerintah Kabupaten Lingga. baik yang berkaitan dengan pelatihan tentang terumbu karang maupun penyelenggaraan pusat informasi di lokasi COREMAP atau desa pilihan COREMAP. BAPPEDA.2. lingkungan hidup. Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Lingga No. Keberadaan pusat informasi ini dianggap penting karena di tempat ini semua kegiatan desa akan berfokus.

yaitu membangun beberapa pompa air. ketrampilan masyarakat yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh COREMAP I juga tidak dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi produktif. Demikian pula Pokmas yang dibentuk dan telah menjalankan kegiatannya pada fase I sudah tidak ada. pembangunan infrastruktur sosial ekonomi sebagai pendukung kegiatan COREMAP di bidang lain. Implementasi COREMAP fase I di Desa Limbung meliputi berbagai pelatihan yang berkaitan dengan program COREMAP. COREMAP mulai dilaksanakan kembali di Desa Limbung setelah mengalami kevacuman selama kurang lebih dua tahun.1. pada bagian ini dideskripsikan pelaksanakan kegiatan COREMAP di Desa Limbung serta permasalahan yang dihadapi dalam implementasi.3. Pengelolaan Dan Pelaksanaan COREMAP Di Tingkat Desa Terdapat beberapa lokasi COREMAP di provinsi Kabupaten Lingga. Salah satu desa yang menjadi fokus implementasi COREMAP adalah Desa Limbung yang terletak tidak begitu jauh dari pusat kota Kabupaten Lingga. Sedangkan infrastruktur yang mendukung kegiatan COREMAP adalah pondok informasi yang dilengkapi dengan papan untuk menempelkan poster dan pengumuman tentang kegiatan COREMAP yang saat ini masih jarang dimanfaatkan. walaupun COREMAP fase II sudah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Seiring dengan berhentinya kegiatan Pokmas COREMAP I. dan pemb entukan kelompok masyarakat.3. COREMAP fase II yang dimulai pada tahun 2005 di Desa Limbung. Seperti halnya program yang telah dilaksanakan sebelumnya. Untuk mengetahui perkembangan implementasi COREMAP di tingkat desa. Infrastruktur yang dibangun pada fase I meliputi sarana air bersih. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 67 . tetapi beberapa anggota Pokmas pada COREMAP I kembali terlibat pada keanggotanan untuk kegiatan COREMAP fase II. kegiatan COREMAP II dilakukan melalui berbagai tahap mulai dari persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan. Pada tahun 2006. namun sekarang sudah rusak dan tidak berfungsi lagi.

sedangkan Pokmas tahun anggaran 2007. Dari kelima program tersebut. semenjak tahun 2006 telah membentuk beberapa lembaga yang terkait dengan komponen COREMAP. 2005:10-12). yaitu Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan Kelompok Masyarakat (Pokmas).Kelembagaan COREMAP Di Desa Limbung Dalam rangka pengelolaan terumbu karang. kapasitas dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang 68 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . (2) penguatan kelembagaan di daerah dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang. Desa Limbung yang merupakan salah satu desa implementasi program COREMAP II di Kabupaten Lingga. (4) pengaktualisasi tradisi musyawarah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Program ini lebih ditujukan kepada pengelola di tingkat kabupaten atau nasional. Ada dua kelembagaan pokok yang mendukung kegiatan COREMAP II. (3) peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Di antara kesembilan strategi tersebut. berikut ini dideskripsikan 9 Strategi 1: memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang 10 Strategi 5: menciptakan dan memperkuat komitmen. Pembentukan LPSTK dilakukan pada tahun 2006. yaitu: (1) peningkatan kuantitas dan kualitas SDM di berbagai institusi melalui perekrutan. tampaknya yang tidak langsung berkaitan dengan pengelolaan kelembagaan di tingkat desa adalah program peningkatan kapasitas dan kapabilitas pemerintah daerah dalam mengelola ekosistem terumbu karang. Strategi pertama adalah program tentang peningkatan peran serta lembaga non pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir. pelatihan serta pendidikan formal dan informal. Untuk selanjutnya. program yang berkaitan dengan kelembagaan dalam rangka pengelolaan ekosistem terumbu karang tercantum pada strategi pertama9 dan ke lima10. Sedangkan strategi ke lima meliputi empat program. pemerintah menetapkan sembilan (9) strategi dan 34 program sebagai kebijakan nasional (DKP.

juga karena pelaksanaan COREMAP II cenderung hanya dikonsentrasikan di salah satu dusun. (2) merangkul seluruh masyarakat untuk ikut andil dalam pengelolaan kegiatan. (3) memfasilitasi keberhasilan kegiatan Pokmas. yaitu: (1) mewujudkan LPSTK menjadi lembaga yang berbadan hukum . Walaupun pembentukan LPSTK atas anjuran manajemen COREMAP tingkat kabupaten. tidak semua dusun yang ada di Desa Limbung hadir pada saat pemilihan pengurus. Tujuan pembentukan LPSTK adalah untuk membantu pemerintah kabupaten dalam rangka mensukseskan program COREMAP. itupun tidak mencakup semua lingkungan RW (Kampung) yang ada di dusun tersebut. Dari hasil pertemuan warga terbentuk kepengurusan LPSTK K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 69 . Pelatihan tersebut hanya dilakukan selama satu hari dengan materi: (a) menjelaskan fungsi dan peran LPSTK. Dalam hal ini. pemilihan pengurus LPSTK Desa Limbung melibatkan perwakilan masyarakat. peserta mengadakan pertemuan dengan masyarakat desa untuk memilih kepengurusan LPSTK. LPSTK bertanggung jawab atas terlaksananya semua kegiatan COREMAP di Desa Limbung. dan (c) pemberitahuan tentang anggaran LPSTK. LPSTK merupakan lembaga di tingkat desa dengan visi untuk mensukseskan program COREMAP dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pemilihan pengurus lembaga ini dipilih atas dasar kesepakatan masyarakat. tetapi terbatas pada tokoh masyarakat. Sesuai dengan AD/ART. Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Kegiatan COREMAP di Desa Limbung diawali dengan mengirimkan tiga (3) orang penduduk desa tersebut pada kegiatan pelatihan calon pengurus LPSTK di Senayang atas undangan pihak kabupaten. Oleh karena itu. yaitu Dusun Centeng yang terletak di pusat desa. (b) cara menyusun perencanaan kegiatan satu tahun ke depan (RPTK). Oleh karena itu. dan aparat desa.dan dikaji permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh lembagalembaga COREMAP yang ada di Desa Limbung. terutama kelompok binaan komponen COREMAP. diasmping karena jauh lokasinya. Sepulangnya dari pelatihan. Namun demikian. LPSTK bertugas mengawasi dan mengkoordinir semua perangkat COREMAP di tingkat desa.

(4) melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur sosial. penasehat. Hingga penelitian ini berlangsung.yang kemudian disahkan melalui Surat Keputusan Kepala Desa tahun 2006 dengan struktur organisasi yang terdiri dari dewan kehormatan (pelindung. yaitu (1) menyusun RPTK (rencana pengelolaan terumbu karang)11 bersama-sama dengan anggota Pokmas dan perangkat desa dengan bantuan fasilitator. 11 Dalam penyusunan RPTK harus memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan pelestarian ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya. dan pembina). dan bendahara). Konsekuensi dari tidak diundangnya perwakilan dari dusun lain dalam pembentukan LPSTK. maka pengurus kelembagaan ini juga hanya terwakili dari satu dusun (walau agak terdistribusi menurut lingkungan RT). sehingga menimbulkan kecemburuan bagi penduduk di dusun dan kampung lain yang merasa tidak diikutkan dalam kegiatan COREMAP II. antara lain terkait dengan pembentukan dan kepengurusan LPSTK. 70 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . (2) menyusun usulan kegiatan (proposal)berdasarkan usulan dari kelompok masyarakat (pokmas). terutama terkait dengan kegiatan pengawasan daerah perlindungan laut (dpl) yang lokasinya berada dekat dengan Kampung Air Kelat yang penduduknya tidak dilibatkan dalam pembentukan LPSTK. kesejahteraan masyarakat). Keadaan ini tentunya berdampak terhadap kurang pedulinya masyarakat luas terhadap pengurusan LPSTK yang selanjutnya dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja kegiatan yang berarti mengganggu kelancaran pelaksanaan COREMAP. Pembentukan pengurus LPSTK tidak melibatkan masyarakat di semua dusun. Kenyataan ini berdampak negatif terhadap kegiatan COREMAP. pemberdayaan perempuan. Sedangkan dari informasi kualitatif diketahui adanya kelemahan kepengurusan LPSTK. Kebanyakan dari pengurus LPSTK berdomisili di Kampung Air Brani dan Centeng. tetapi hanya didominasi oleh satu dusun. (3) melakukan koordinasi dengan kepala desa terkait dengan kegiatan yang akan dilakukan. LPSTK telah melaksanakan tiga kegiatan. dan seksi-seksi (pengawasan TK & DPL. sekretaris. pelaksana harian (ketua.

- - - Mengacu kepada pelatihan yang diberikan pada pengurus LPSTK di Sekanah. dibentuk pula beberapa kelompok masyarakat sebagai pendukung COREMAP di Desa Limbung. di mana LPSTK mempunyai peran dalam mengumpulkan dan mengajukan proposal tersebut ke pelaksana COREMAP kabupaten. Dalam kaitannya dengan kegiatan kelompok. karena saling mendukung dalam pelaksanaan kegiatan. Sistem pengelolaan sumberdaya perikanan dan terumbu karang yang diharapkan dapat menjamin keberlanjutan kehidupan masyarakat nelayan Desa Limbung. pengembangan MPA. Perencanaan program dan jenis kegiatan yang disusun berdasarkan visi dan misi masyarakat Desa Limbung seperti program konservasi. Keberhasilan implementasi COREMAP fase II di Desa Limbung sangat terkait dengan keberhasilan kelompok dalam membuat proposal sebagai bentuk rencana kegiatan yang akan dilakukan. Sistem ini misalnya dengan pengelolaan SDL yang ramah lingkungan dan pengembangan usaha berbasis budidaya. karena hal ini dianggap sebagai masukan dari masyarakat sebagai dasar untuk melakukan kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. LPSTK bertugas sebagai penghubung antara kelompok di desa dengan pelaksana COREMAP kabupaten.Seiring dengan pembentukan LPSTK. dan pembangunan infrastruktur. Hal yang paling nyata adalah dalam pengajuan proposal kegiatan yang akan dilaksanakan kelompok. bagi kelompok yang mengajukan proposal akan melalui beberapa tahapan dari pembuatan proposal hingga persetujuan di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 71 . Hal yang perlu dipertimbangkan oleh kelompok dalam membuat proposal antara lain adalah berkaitan dengan: Penataan wilayah atau sistem zonasi. Dua lembaga ini dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang logam. Sistem pemantauan dan pengawasan sumberdaya perikanan dan terumbu karang untuk membatasi dan melindungi sumberdaya dari aktivitas yang merusak SDL tersebut.

perluasan jalan desa (300 meter). yaitu: 72 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . hukum maupun teknis pembuatan RPTK. peternakan sapi (10 ekor). bahan2 sosialisasi (1 paket). pemasangan papan peringatan (5 buah). 3. pembuatan kerupuk (5 Pokmas). Program pengelolaan terumbu karang: pemasangan pelampung tanda batas (50 buah).tingkat kabupaten. budidaya rumput laut (4 unit). Dari tiga proposal yang diajukan. Beberapa proposal yang telah diajukan kelompok COREMAP Desa Limbung adalah: 1. MCK (5 buah). Selama pembuatan proposal. beberapa permasalahan atau kendala yang muncul berkaitan dengan berhentinya proposal di tingkat PIU. Program infrastruktur: sarana air bersih (1 unit). pelabuhan/tambatan perahu (jarak 100 meter). peternakan ayam kampung (3 pokmas). tim inti atau LPST selalu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkopempeten dalam proyek COREMAP di tingkat kabupaten baik substansi. pembuatan bakso ikan (1 Pokmas). yang selanjutnya disampaikan pada PIU. penginapan untuk wisatawan (1 unit). buku2 untuk perpustakaan (1 paket). Program mata pencaharian alternatif: keramba ikan kerapu sunu (8 unit). Jalur proposal yang dibuat kelompok hingga disetujui pada tingkat kabupaten adalah diusulkan oleh kelompok yang kemudian diberikan kepada LPSTK untuk diajukan pada pelaksana komponen di tingkat kabupaten. sehingga membuat anggota kelompok menjadi ’malas’ atau ’patah semangat’ terhadap COREMAP II. pelatihan penggunaan peralatan selam (1 paket). Dalam hal ini tim inti pembuat proposal selalu didampingi oleh fasilitator lapangan dari awal hingga siap untuk dikirim ke COREMAP kabupaten (PIU). 2. bubu ketam (4 unit). belum ada satu pun dari proposal tersebut disetujui oleh PIU. Padahal proposal tersebut telah berulangkali diperbaiki. Menurut pihak pelaksana di tingkat kabupaten maupun LSM yang berperan dalam mendapingi masyarakat di lokasi program.

Kurang seriusnya komponen COREMAP fase II tingkat kabupaten dalam menanggapi apa yang telah dilakukan masyarakat desa. sehingga perlu diperhatikan pula adanya faktor-faktor yang mendukung keberhasilan kelompok. - - Kelompok Masyarakat (Pokmas) Salah satu tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan implementasi proyek COREMAP fase II. Terbatasnya waktu oleh pihak fasilitator dalam melakukan pendampingan. Meskipun ada tenaga penyuluh.berikut biaya tranportasi ke Tanjung Pinang. Menurut Sahyuti (2006:44-45).000. tetapi keberadaan mereka di lapangan hanya salam waktu sangat singkat dan umumnya untuk kepentingan tugasnya. Pembuatan proposal hanya dalam rangka mengejar target agar terpenuhi sesuai dengan yang ditentukan.140. yaitu hanya sekitar tiga (3) bulan. yaitu sekitar Rp. adalah pembentukan masyarakat (Pokmas). sehingga mereka harus menunggu cukup lama dan seolah-olah tidak ada kata putus dari pelaksana COREMAP tingkat kabupaten.- Adanya keharusan LPSTK memilik NPWP sebelum pengajuan atau pencairan dana. 2. Keberadaan kelompok ini merupakan ’ujung tombak’ keberhasilan program COREMAP di Desa Limbung. Sedangkan fasilitator lapangan untuk Desa Limbung hanya bertahan sekitar satu bulan (2007). K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 73 . setelahnya tidak ada tenaga pendamping lapangan. padahal biaya pembuatan NPWP harus disediakan terlebih dahulu oleh masyarakat. karena biaya pembuatan NPWP cukup besar. khususnya dari komponen CBM. Persyaratan ini memberatkan masyarakat. yang berarti masyarakat harus bekerja sendiri dalam membuat proposal. faktor-faktor tersebut meliputi: Pemimpin yang cakap dan paham tentang visi atau tujuan kelompok.

Pada akhir tahun 2007. dua orang (ketua dan satu anggota) Pokmas Jender mengikuti pelatihan usaha industri rumah tangga di Sekanah selama dua hari dan langsung mendapat bantuan dana untuk modal usaha sebesar 1. yaitu Pokmas Jender.- SDM anggota kelompok. a) Pokmas Jender Pokmas Jender dibentuk pada tahun 2007 yang bertujuan meningkatkan peran ibu rumahtangga dalam kegiatan ekonomi untuk membantu suami. Keberlanjutan keterlibatan kelompok di masyarakat. pendamping. tetapi belum menjalankan kegiatannya. Pembentukan kelompok masyarakat di Desa Limbung sudah dilakukan. khususnya pada keluarga nelayan. kecuali Pokmas Jender. Situasi ini berkaitan dengan anggapan dari sebagian besar anggota pokmas yang selalu mengkaitkan kegiatan pokmas dengan pemberian dana. Ketrampilan dan ketulusan petugas lapangan yang ditugaskan di desa membantu kelompok. pemimpin lokal dan lembaga pendukung. Terdapat tiga pokmas yang sudah terbentuk di Desa Limbung. Pokmas ini sudah melakukan kegiatan. meskipun dengan dana yang sangat kecil dan kegiatan tersebut tidak dilakukan berkelompok. Pokmas MPA.2 juta rupiah per desa. Dana tersebut 74 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendekatan yang digunakan dapat diadaptasi dalam konteks yang berubah-ubah. Startegi dan tujuan yang jelas. dan logistik yang cukup. Hubungan yang kuat antara kelompok. Harapan yang wajar terhadap usaha yang akan dilakukan. dan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas). Kegiatan diawali dengan membuat proposal yang berisi rencana kegiatan untuk berusaha di bidang industri rumah tangga yang berupa kue dan kerupuk.

80. 320. Dalam pelaksanaannya. kukusan (2). yang dibentuk pada awal tahun 2008. 25.000.kepada 4 orang anggota. Berdasarkan pengalaman anggota kelompok jender yang pernah terlibat pada COREMAP fase I mengatakan bahwa penyelenggarakan 12 Biaya transportasi ke Senayang Rp. dan ember (1) yang menghabiskan dana sekitar Rp. Peralatan yang dibeli telah tersedia dari penyelenggara pelatihan antara lain untuk setiap desa adalah kompor (2). dana tersebut direncanakan akan diputar.. membeli peralatan untuk usaha membuat kerupuk. Misalnya dalam satu kelompok kecil yang beranggotakan empat (4) orang.-..dan digunakan sebagai modal usaha kelompok dan uang kas.000.. Pomas Jender di Desa Limbung terdiri dari satu (1) kelompok induk dan empat (4) ‘kelompok kecil’. tetapi setiap anggota melakukan usaha produktif sendiri..000. Pengembalian dana diangsur selama tiga (3) bulan.000.-. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 75 . dana yang diterima kelompok itu dibagikan kepada anggota mereka. 400.000. sehingga modal usaha dibagikan merata pada anggota.000.-. Oleh kelompok inti. Setiap anggota yang mendapatkan bantuan wajib mengembalikan setiap bulan dengan sistem angsuran. Usaha pokmas jender tidak dilakukan secara berkelompok. Apabila dana COREMAP tersebut telah lunas. seterusnya uang sebesar Rp.yang biasanya dimanfaatkan untuk usaha membuat kerupuk atau kue epuk-epuk. sehingga masing-masing anggota hanya mendapat pinjaman Rp. ayakan (4). 105. Pada tahap awal. maka LPSTK berencana untuk membentuk satu kelompok inti lagi di Kampung Seranggas. Diharapkan dana tersebut dapat bergulir ke kampung dan dusun lain sesuai dengan tujuan pembentukan Pokmas jender di Desa Limbung. dalam arti dipinjamkan kepada anggota ‘kelompok kecil’ lainnya. disimpan untuk kas Pokmas jender. anggota kelompok hanya dipilih dari masyarakat Dusun Centeng yang masing-masing kelompok mendapat bantuan dana Rp 100.000. 320. uang kas pokmas.digunakan untuk biaya transportasi.(pp) untuk dua orang dan pembelian alat Rp. 480. dan modal usaha12. gilingan ikan (2).-. kemudian membagi dana pinjaman sebesar Rp.000.000.-. dari anggota ‘kelompok kecil’ disetorkan kepada bendahara pokmas induk. Sisa uang yang dibawa pulang ke Limbung adalah Rp. karena umumnya mereka menjalankan usaha sendiri-sendiri. Sedangkan sisa dana sebesar Rp. 100.

pelatih datang ke Desa Limbung sehingga peserta cukup bany banyak. Kondisi ini dapat dihindari jika ada saling keterbukaan antara kelompok induk dengan kelompok keci. namun karena pernah ikut berlatih maka mereka bisa mencoba sendiri. Pada waktu itu. selain diberi makan dan kue mereka juga diberi uang sebesar Rp. pada saat pertemuan atau pelatihan di luar desa.. yaitu sekitar 20 orang yang berasal dari empat dusun.fase I lebih baik daripada kegiatan pada COREMAP II. Pada saat penelitian ini berlangsung. tetapi belum mendapat bantuan modal usaha. baik dari sisi dana maupun kegiatannya. Terdapat kecenderungan umum di kalangan masyarakat untuk membandingkan kegiatan usaha pemberdayaan ekonomi antara pelaksanaan COREMAP I dan II. hanya beberapa orang yang sudah memperoleh bantuan modal usaha. materi pelatihan lebih banyak yaitu selain kerupuk. bakso. Misalnya. menjadikan permasalahan akan menjadi potensi ketidakharmonisan dalam hubungan bermasyarakat/sosial.per hari. Dilihat dari pelatihan yang diberikan. di mana dana tersebut dalam tempo enam bulan sudah dapat digulirkan kepada kelompok lain. Walaupun tidak semua peserta pernah memperoleh dana COREMAP I.000. sehingga jumlah kelompok cepat bertambah. b) Pokmas MPA Pokmas MPA (Mata Pencaharian Alternatif) mulai dibentuk tahun 2007 setelah ada pertemuan antara LPSTK dan masyarakat Desa Limbung. Keadaan ini memunculkan kecemburuan dari mereka yang sudah membentuk pokmas. sehingga memunculkan permasalahan. Begitupula dengan dana yang diterima lebih besar. Tidak adanya tenaga pendamping di Desa Limbung yang semestinya dapat mengatasi permasalahan tersebut. bahkan itupun terkonsentrasi di satu dusun. karena kelompok kecil tampaknya belum mengetahui tentang bantuan modal usaha ekonomi produktif pada COREMAP fase II yang dilakukan secara bertahap. juga diberikan ketrampilan membuat nuget. dan abon ikan. Pembentukan Pokmas MPA masih terbatas pada masyarakat Dusun Centeng (6 kelompok) dan Kampung Sranggas (1 76 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . 50. tidak seperti COREMAP I yang dilakukan secara serentak.

bubu 2. Camar Laut Budidaya kerapu sunu. Usaha Bersama Ternak sapi. Berbagai jenis usaha yang ingin dikembangkan masyarakat Desa Limbung sesuai dengan yang diminati anggota kelompok. rumput laut. Pokmas MPA Desa Limbung Menurut Program. simpanpinjam 23 Siput Laut (Dusun Ternak ayam. bubu. bubu 3.kelompok). Bunga Karang Ternak ayam. simpanperempuan) pinjam Sumber: .1). Misalnya. dagang. Sumber Makmur Ternak sapi. 1.Usulan draft RPTK-T dan draft Perdes Tahun 2007 Disamping jenis kegiatan yang sama. (laki-laki dan Seranggas) pengolahan kerupuk ikan. bubu. sehingga dijumpai beberapa kesamaan jenis kegiatan. bubu 5. dagang. 7. Jumlah Anggota & Nama Ketua NO. Kelompok ini memulai kegiatan dengan menyusun proposal bersama LPSTK dan tenaga pendamping (dikenal dengan field fasilitator-FF). 5 jaring ketam 14 6. 6 jaring ketam. dari wawancara mendalam juga diketahui adanya beberapa orang yang terlibat pada lebih dari satu pokmas. pengolahan kerupuk ikan. Hal ini mungkin disebabkan pelaksanaan program COREMAP fase II didominasi oleh masyarakat yang tinggal di K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 77 . dari tujuh (7) Pokmas MPA ada beberapa Pokmas yang mengajukan program sama seperti peternakan sapi dan jaring ketam (lihat Matriks 3. Harapan Bunda Budidaya kerapu sunu. 8 jaring ikan 4.1. 6 jaring ketam. Matriks 3. NAMA KELOMPOK Jasa Mandiri PROGRAM JUMLAH ANGGOTA 7 Ternak sapi.Laporan akhir kegiatan CBM Program COREMAP II Kabupaten Lingga .

bahkan membandingkan pelaksanaan COREMAP I yang berjalan lebih baik. Pokmas ini beranggotakan 10 orang dari Dusun Centeng. kegiatan yang dilakukan oleh kelompok pengawasan adalah melakukan pengawasan terhadap kelestarian sumberdaya laut dari berbagai ancaman. motivator. karena proposal belum disetujui komponen dan PIU Kabupaten Lingga. dan penanaman bakau. Secara umum. yang biasanya dilakukan oleh nelayan luar. c) Pokmas Pengawasan Pokmas Pengawasan (Pokmaswas) dibentuk pada tahun 2007. sehingga mempengaruhi hubungan sosial antar dusun. berhentinya pengawasan laut yang dilakukan COREMAP fase I di Desa Limbung mendorong kembali kegiatan penangkapan ikan secara 78 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . maupun komponen COREMAP kabupaten. Implementasi program MPA yang akan dilaksanakan Pokmas setempat belum berjalan. Gambaran ini juga memicu terjadinya rasa ”iri” dari masyarakat dusun lain yang tidak terlibat. Ketika Kajian BME Sosial Ekonomi ini dilakukan (Mei 2008). kebersihan lingkungan laut dan pantai. Sejumlah informan.Dusun Centeng. Padahal di kawasan perairan Limbung dan sekitarnya sering terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan alat terlarang. terutama yang berasal dari pihak luar seperti nelayan pendatang. dan fasilitator menyatu dengan masyarakat. Hal ini berdampak terhadap kebosanan dan kurang peduli dari anggota Pokmas lagi terhadap COREMAP. turunnya dana lebih cepat karena tidak perlu memiliki NPWP. Pokmaswas belum memulai kegiatan. Pokmaswas baru mempunyai sebuah kapal dengan jangkauan terbatas dan tidak dapat mengejar nelayan yang melakukan kegiatan ilegal yang umumnya menggunakan kapal dengan mesin besar. bantuan yang diterima lebih banyak. padahal di dusun ini terdapat banyak WNI keturunan Cina yang umumnya tidak bersedia terlibat dalam kegiatan COREMAP. Sementara itu. akibat sudah terlalu lama menunggu. Keenam Pokmas telah mengajukan proposal sejak tahun 2006 dan telah berulangkali diperbaiki sesuai dengan saran dari fasilitator/tenaga pendamping. Kegiatan yang direncanakan kelompok ini adalah melakukan patroli dan pengawasan laut. karena sibuk dengan usaha dagang/toko. lebih berhasil.

Hal ini juga didukung dengan tidak adanya biaya dan sarana/prasarana pengawasan yang memadai sehingga sulit memantau kegiatan nelayan di tengah laut. semua kegiaatan tersebut belum berjalan sesuai K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 79 . namun seharusnya juga melibatkan penduduk Kampung Air Kelat seperti pada masa COREMAP fase I karena mereka tinggal sangat dekat dengan daerah perlindungan laut yang juga menjadi wilayah penangkapan nelayan dengan menggunakan alat-alat tangkap yang merusak. Ada beberapa kegiatan COREMAP yang telah dilaksanakan di Desa Limbung. yaitu: penyadaran masyarakat.berlebihan oleh nelayan dari desa yang tidak terlibat program COREMAP. sehingga kelompok pengawasan pun sulit untuk bertindak. keterlibatan dalam Pokmaswas masih terbatas pada penduduk dari Dusun Centeng. sosialisasi COREMAP. yaitu sekitar Pulau Hantu. ada kecenderungan adanya tindakan yang tidak serius. Oleh karena itu. bantuan kapal motor sebagai sarana untuk kegiatan pengawasan wilayah konservasi. Pada saat ini. tampaknya perlu melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan wilayah tangkap yang merupakan target pengambilan ikan secara ilegal. pembangunan tambatan perahu dan fasilitas MCK. Apalagi dilihat dari keseriusan pihakpihak terkait dengan pengawasan. pelatihan. diindikasikan oleh dilepaskannya pelanggar yang sudah ditangkap tanpa proses pengadilan terlebih dahulu. Kegiatan COREMAP Di Desa Limbung Kegiatan COREMAP II di Desa Limbung tidak hanya sebatas pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas) sebagai alat untuk implementasi program. Permasalahan terkait dengan pemanfaatan perairan laut kawasan perairan Limbung tersebut tampaknya terkait dengan ketidakjelasan program yang dimotori oleh komponen MCS COREMAP di tingkat kabupaten. Namun kegiatan nelayan ini turut mendorong nelayan Desa Limbung untuk mengambil ikan di sekitar kawasan konservasi pada masa COREMAP fase I. Namun demikian. tetapi juga meliputu upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pembangunan infrastruktur yang mendukung terlaksananya program COREMAP.

Meskipun perwakilan dari dusun juga diundang dalam rapat pembentukan LPSTK yang sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisi COREMAP.dengan harapan. Penyadaran masyarakat melalui pendidikan formal belum dilakukan. Air Kelat. kegiatan sosialisasi kepada masyarakat maupun anggota Pokmas juga telah dilakukan. kelembagaan COREMAP di tingkat desa dan kegiatan kelembagaan tersebut. padahal poster dan leaflet sudah diterima oleh LPSTK pada awal tahun 2008. khususnya desa yang menjadi fokus implementasi program. cara membuat proposal. leaflet baru diserahkan ke perangkat dusun ketika penelitian ini berlangsung. pengetahuan tentang alat-alat penangkapan yang merusak. tampaknya masih banyak anggota masyarakat yang belum mengetahui tentang COREMAP II. Pemasangan leaflet baru dilakukan di Dusun Centeng. kegiatan sosialisasi masih terbatas pada anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP. Bahkan kegiatan sosialisasi tersebut baru dilakukan pada masyarakat yang sangat terbatas. dan Senempek belum dilakukan.. dan kampung Suku Laut. Program penyadaran masyarakat baru dilakukan pada tahap penyebaran leaflet dan itu pun belum mencakup seluruh wilayah Desa Limbung. Dari pihak komponen penyadaran masayarakat di Kabupaten Lingga. pelestarian terumbu karang. yaitu mereka yang hadir ketika pembentukan LPSTK (sekitar 30 orang). yang juga dihadiri oleh field fasilitator dan senior fasilitator. Kegiatan pelatihan merupakan sarana penting dalam melaksanakan implementasi program. Dalam rangka memperkenalkan keberadaan COREMAP di masyarakat. sedangkan dusun-dusun lain yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan seperti di Kampung Air Kelat. tetapi tampaknya juga cenderung terkonsentrasi di Dusun Centeng. terutama mereka yang tinggal di Kampung Senempek. Materi sosialisasi meliputi pengetahuan tentang COREMAP. direncananan program penyadaran masyarakat akan diimplementasikan di kampung yang ditempati oleh Suku Laut dan Linau (terutama di lingkungan masyarakat yang mencari penghidupan sebagai nelayan). Khusus Kampung Sinempek. terutama program-program yang berkaitan 80 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . misalnya memasukkan materi pengelolaan dan pelestarian terumbu karang dalam mulok. Sranggas. Dengan demikian. Linau.

Hal ini karena ketika air laut surut. Sebagian anggota Pokmas mengharapkan adanya kegiatan pelatihan yang dilakukan di Desa Limbung yang diikuti dengan penyuluhan secara rutin oleh fasilitator/tenaga pendamping. Namun K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 81 . pembangunan fasilitas MCK yang juga berlokasi di Kampung Air Berani. Tambatan perahu dibangun di pantai dengan kedalaman air cukup dalam. Tambatan perahu dan fasilitas MCK adalah dua jenis fasilitas umum yang dibangun di Desa Limbung. ketua dan bendahara Pokmas Jender. maka kualitas tambatan perahu dapat lebih baik. pantai di perkampungan nelayan pada umumnya menjadi kering. yaitu di Kampung Centeng yang terletak bersebelahan dengan Kampung Air Berani yang merupakan lokasi tambatan perahu bantuan COREMAP. Dalam kaitan dengan program COREMAP yang berfokus untuk pelestarian terumbu karang dan peningkatan ekonomi keluarga. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program COREMAP fase II. Namun tampaknya kegiatan pelatihan baru dilakukan pada pengurus lembaga COREMAP desa. karena di kampung ini terdapat mata air yang tidak pernah kering. sehingga nelayan harus berjalan cukup jauh untuk menuju daratan. Hal ini menguntungkan nelayan. keberadaan tambatan perahu tersebut dapat mempermudah nelayan untuk menambatkan perahu/sampan yang selama ini menjadi salah satu kebutuhan penting nelayan. karena hemat waktu dan hasil tangkapan segera dapat dipasarkan. Terlepas dari kekurangannya. Hal ini menunjukkan tidak adanya koordinasi antar institusi pemerintahan di Kabupaten Lingga. sehingga kekuatannya dapat bertahan dalam jangka waktu lama. seperti pelatihan untuk Ketua LPSTK. agar supaya kegiatan tersebut dapat diikuti oleh semua anggota kelompok. sehingga tidak pernah kering walaupun air laut surut.dengan peningkatan pengetahuan masyarakat dan upaya memperbaiki ekonomi. Dalam waktu yang sama. Pelaksanaan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan dengan sistem lelang. maka dibutuhkan pelatihan-pelatihan yang berfokus pada program tersebut. Padahal jika dilakukan koordinasi. Sepertihalnya dengan tambatan perahu. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Limbung juga membangun/merenovasi tambatan perahu yang sudah ada sebelumnya. yang dilakukan di luar Desa Limbung.

Pada saat ini. Kegiatan ini diperkirakan akan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk melalui pekerjaan yang tidak merusak SDL. Sarana yang tersedia hanya sebuah kapal. dan genteng yang pecah. pintu-pintu. sedangkan pelatihan yang berkaitan dengan pengawasan juga belum pernah diikuti. Hal ini mungkin berkaitan dengan adanya sistem lelang. kegiatan pengawasan di Desa Limbung belum berjalan. Kegiatan lain yang sedang dalam tahap rencana adalah merenovasi bangunan pondok informasi yang dibangun pada COREMAP I. Oleh karena itu program ini lebih ditujukan pada masyarakat nelayan yang diperkirakan paling tinggi berpotensi dalam merusak terumbu karang.tampaknya MCK ini kurang terkontrol dalam pembangunannya sehingga sudah banyak yang rusak dan tidak jalan seperti pompa. Adanya pekerjaan alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya. khususnya terumbu karang. maka aktivitas sebagai nelayan dapat dikurangi atau paling tidak mengurangi mencari ikan di 82 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tembok yang sudah mulai retak. pondok informasi hanya digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lainnya yang terkait dengan pelaksanaan COREMAP. padahal pelaksanaan COREMAP II sudah memasuki tahun ke tiga. di mana pembangunan dilakukan oleh pihak ketiga yang biasanya banyak mengambil keuntungan dan kurang memperhatikan kualitas bangunan. Padahal renovasi akan dilakukan dengan sistem swakelola yang merupakan ‘aturan main’ proyek COREMAP. Namun demikian. kegiatan pengawasan laut merupakan hal yang penting dan perlu menjadi perhatian dari berbagai stakeholders terkait. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya di atas. Dalam usaha menjaga ekosistem terumbu karang dan SDL lainnya di perairan Limbung. tetapi lebih banyak dimanfaatkan untuk alat transportasi. Proposal yang diajukan oleh Pokmaswas Dea Limbung belum mendapat persetujuan. UEP (Usaha Ekonomi Produktif) adalah salah satu kegiatan yang diharapkan dapat menjadi bagian keberhasilan proyek COREMAP fase II. namun tampaknya yang disetujui hanya 19 juta rupiah. LPSTK telah mengajukan proposal untuk biaya renovasi pondok ini dengan dana sekitar 30 juta rupiah.

dengan diawal dengan membuat proposal bersama LPSTK dan FF (field fasilitator). sehingga tidak bisa menambah penghasilan rumah tangga. Kegiatan yang direncanakan ada yang berkaitan dengan kegiatan kenelayanan dan adapula kegiatan di darat seperti ternak sapi. karena program hanya terkonsentrasi di satu dusun. namun partisipasi mereka masih rendah. Dengan tidak adanya kabar-berita mengenai kelanjutan proposal tersebut. Padahal anggota kelompok sangat membutuhkan bimbingan untuk pembuatan proposal maupun implementasi kegiatan. namun sudah diperiksa oleh komponen COREMAP terkait. kegiatan yang dilakukan adalah membuat kerupuk ikan dan kue. Kegiatan UEP yang baru berjalan adalah yang dilakukan oleh Pokmas Jender yang meliputi empat kelompok kecil dan semua berdomisili di Dusun Centeng. Berdasarkan Survei Data Dasar Sosial Ekonomi yang dilakukan tahun 2006 (T0) (Romdiati dkk.. dan jika datang hanya beberapa saat untuk mendapatkan data/informasi bagi kepentingannya sendiri. namun sampai saat evaluasi dilakukan belum ada realisasinya. anggota kelompok mulai ”bosan” dan tidak perduli apakah program tersebut ada atau tidak. sedangkan tenaga penyuluh sangat jarang datang. diketahui adanya peningkatan pengetahuan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 83 . 2008:101-10) dan survey BME tahun 2008 (T1). Permasalahan lain adalah dana yang belum turun sehingga tidak dapat mengimplementasikan program yang direncanakan.tempat-tempat yang banyak ditumbuhi terumbu karang. proposal dibuat Pokmas tersebut masih ditangan PIUs. yaitu sejak COREMAP I. Di Desa Limbung program UEP baru pada tingkat pembuatan proposal. tetapi karena modal sangat kecil (Rp 25 ribu per orang). yaitu ada enam (6) Pokmas. yaitu sejak tahun 2006. Menurut informasi. Telah dikemukakan sebelumnya. 3. PENGETAHUAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PROGRAM COREMAP Sebagian besar masyarakat tampaknya telah mengetahui tentang COREMAP. Sedangkan permasalahan yang muncul terkait dengan kegiatan UEP di Desa Limbung adalah terkait dengan tidak adanya tenaga pendaping. Tingginya pengetahuan tersebut adalah karena COREMAP telah lama masuk di desa ini.2. Pokmas UEP didirikan sekitar tahun 2006.

pengetahuan tersebut pernah diterima beberapa responden pada saat program COREMAP fase I dilaksanakan di desa ini dan mareka mulai menjaga terumbu karang agar tidak rusak. Desa Limbung telah menjadi lokasi program sejak COREMAP fase I. Tingginya pengetahuan responden tersebut memperlihatkan bahwa mereka sudah mengetahui tentang pentingnya terumbu karang untuk dilestarikan atau dijaga. Temuan ini mendiikasikan bahwa kegiatan-kegiatan COREMAP yang berhubungan dengan pengembangan usaha produktif belum diketahui secara meluas. hanya tiga kegiatan yang hanya diketahui oleh kurang lebih sepertiga dari keseluruhan responden.masyarakat tentang COREMAP. yang merupakan proporsi paling tinggi dibandingkan pengetahuan tentang kegiatan-kegiatan COREMAP lainnya. yaitu di Air Brani. yaitu kegiatan terkait dengan pelatihan UEP. Dari beberapa kegiatan COREMAP fase II yang diimplementasikan di Desa Limbung. terutama bagi keberlanjutan kehidupan mereka yang sangat tergantung dengan laut. mungkin karena kegiatan yang dilakukan masih terkonsentrasi di satu kampung.1. yang terletak berdampingan dengan Puskesmas dan Kantor Desa. terutama yang paling diketahui responden adalah kegiatan yang berkaitan dengan pentingnya pelestarian terumbu karang (75 persen) dan perlindungan daerah pesisir/laut (67 persen). pendampingan UEP. maka mudah dipahami jika sebagian besar penduduknya telah mengetahui adanya kegiatan COREMAP yang terkait untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang. diindikasikan oleh tingginya proporsi responden yang mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan program ini. Selain itu. dan kegiatan pokmas UEP (lihat Tabel 3. Pada umumnya.). Sedangkan pengetahuan responden terkait dengan kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang diketahui oleh tiga perempar dari total responden. Pengetahuan responden tentang COREMAP cukup baik. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya papan nama (bilbord) tentang COREMAP yang dipasang di depan pondok informasi. 84 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Dari sembilan pertanyaan mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP yang diajukan kepada responden.

0 100 sumberdaya terumbu karang LPSTK Pelatihan UEP 32.4 100 Kegiatan Pokmas wanita/jender 58. Tabel 3. persentase responden dalam kegiatan pendampingan UEP. meskipun kampung-kampung yang letaknya cukup jauh dari pusat desa tidak hadir.4 100 Kegiatan Pokmas UEP 29.8 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung.0 100 pesisir dan laut Pembentukan lembaga pengelola 62. pokmas jender. disamping juga LPSTK sudah melakukan beberapa kegiatan.0 60. pada saat pembentukan LPSTK terdapat perwakilan dari kampung lain. Hal ini digambarkan oleh rendahnya persentase responden yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan COREMAP.0 49. dan pembentukan LPSTK hanya mencapai kurang dari sepertiganya dari responden K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 85 . 2008.0 100 pemanfaatan & pelestarian TK Kegiatan Pokmas konservasi 59.2 41. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa keterlibatan responden yang hanya kira-kira separuhnya dari mereka yang mengetahui.0 akan pentingnya pelestarian terumbu karang Kegiatan perlindungan/pengawasan 67. Desa Limbung. Distribusi Persentase Responden Menurut Pengetahuan Tentang Kegiatan COREMAP II.2. Bahkan.1.0 100 Kegiatan penyusunan rencana 51.6 70.0 100 Kegiatan pendampingan UEP 40. sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3. Kabupaten Lingga Tahu Tidak tahu 25. Cukup tingginya pengetahuan responden mengenai kegiatan-kegiatan COREMAP tersebut tampaknya belum diimplementasikan dalam praktek. atau hanya sedikit lebih tingi daripada mereka yang mengetahui kegiatan pembentukan LPSTK (62 persen). Cukup tingginya pengetahuan tersebut tidak terlepas dari pembentukan LPSTK yang telah dilakukan cukup lama.0 33.0 38. Walaupun terkonsentrasi di Kampung Air Brani.Untuk kegiatan perlindungan dan pengawasan pesisir dan laut yang merupakan salah satu kegiatan COREMAP juga diketahui oleh kirakira dua pertiga responden.0 Jumlah (N=100) 100 Kegiatan COREMAP Peningkatan pengetahuan dan kesadaran 75.0 68.6 40.

Pendampingan UEP di Desa Limbung hanya dilakukan oleh tenaga penyuluh dengan jadwal kerja yang tidak teratur.yang mengetahui adanya tiga jenis kegiatan tersebut dalam COREMAP. dan kemudian meninggalkan desa tanpa ada penggantinya. Sedankan tenaga pendamping lapangan hanya bekerja satu bulan. terutama terkait dengan keanggotaan pokmas. Oleh karena itu. 86 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Namun demikian. pada umumnya juga belum melakukan kegiatan apapun. Dari wawancara mendalam diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan COREMAP. terlebih tenaga penyuluh dan senior fasilitator jarang berkinjung ke Desa Limbung. Persentase responden pada angka yang sangat rendah juga ditemukan pada kegiatan pendampingan UEP (15 persen). kecuali beberapa orang anggota Pokmas Jender. Ada dua kemungkinan jawaban ini muncul. Lebih kecilnya proporsi yang terlibat dalam masingmasing kegiatan jauh lebih kecil daripada proporsi responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam COREMAP tersebut kemungkinan besar karena mereka biasanya hanya terlibat dalam salah satu kegiatan. Bahkan. dan (2) mereka yang terlibat program jender baru mencapai 16 orang yang mungkin juga tidak termasuk sampel rsponden individu. sebagian lainnya tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan-kegiatan COREMAP. terutama sebagai anggota dalam salah satu pokmas. yakni (1) karena yang menjadi responden umumnya laki-laki yang tentunya tidak terlibat program jender. keterlibatan responden dalam kegiatan Pokmas Jender hanya sebesar 14 persen dari jumlah mereka yang mengetahui pokmas ini (57 responden). mudah dimengerti jika keterlibatan responden dalam kegiatan pendampingan UEP sangat rendah.

2008.6 77.7 79.6 32 Pendampingan UEP 15.0 85. Angka ini hanya sedikt lebih tinggi daripada mereka yang terlibat dalam pokmas konservasi (37.8 64.2.3 persen.7 67.2 67 dan laut Pembentukan LPSTK 22. Temuan penelitian ini menggambarkan bahwa kegiatan penyadaran dan konservasi ekosistem terumbu karang cukup diminati.9 62.4 62 Pelatihan UEP 34. Selain itu. karena kegiatan tersebut hanya melibatkan berbagai bentuk pertemuan.0 86. maka kemungkinan masyarakat untuk K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 87 . Distribusi Persentase Responden yang Mengetahui Kegiatan COREMAP Menurut Keterlibatannya Keterlibatan Kegiatan Terlibat Tidak Jumlah COREMAP terlibat (N) Peningkatan pengetahuan dan 41.3 49 & pelestarian TK Pokmas konservasi 37. Kenyataan ini mudah diphami karena kegiatan yang merupakan tahap awal pelaksanaan program tersebut diselenggarakan untuk seluruh anggota masyarakat.3 58.7 75 kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang Perlindungan/pengawasan pesisir 35.1 58 Pokmas UEP 20.0 57 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. Persentase responden yang terlibat pada jenis kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya pelestarian terumbu karang serta perlindungan/pengawasan pesisir dan laut paling tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis kegiatan lainnya. Sebaliknya.Tabel 3.9 persen).4 65. meskipun hanya mencapai 41.3 29 Pokmas wanita/jender 14. persentase responden dalam kegiatan yang berkaitan dengan UEP lebih rendah daripada kegiatan pelestarian terumbu karang.0 40 Penyusunan rencana pemanfaatan 32. meskipun tidak selalu terkait dengan penerimaan bantuan (terutama untuk keterlbatan dalam kegiatan peningkatan pengetahuan dan kesadaran pentingnya pelestarian terumbu karang).

tenaga pendamping. keramba ikan kerapu. sebagian besar responden telah mengetahui jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. Di sisi lain. Sebaliknya. disamping kurangnya sosialisasi yang berkaitan dengan penggunaan dana COREMAP untuk program UEP. sehingga mempengaruhi rendahnya persentase responden yang terlibat dalam dua jenis kegiatan COREMAP tersebut. Tabel 3. Hal ini mungkin disebabkan dalam pembuatan proposal mereka telah dilatih dan dibimbing oleh anggota LPSTK. Besar kemungkinan termasuk mereka hanya terbatas pada beberapa anggota dalam pokmas dan/atau LPSTK.3 menyajikan data mengenai pengetahuan responden terkait dengan kegiatan ekonomi yang dilaksanakan COREMAP di Desa Limbung. dan motivator. kecuali untuk jenis kegiatan pemberian dana bergulir/kredit yang hanya diketahui oleh sekitar sepertiga dari jumlah responden. dan jaring ikan. yaitu dicerminkan dari pengetahuan untuk pemilihan jenis usaha yang diajukan dalam proposal pokmas yang memilih usaha-usaha usaha peternakan sapi.mengikutinya juga paling besar dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Persentase responden yang mengetahui jenis-jenis kegiatan ekonomi produktif yang dilaksanakan program ini termasuk tinggi. rendahnya persentase responden yang tidak mengetahui pemberian dana bergulir untuk pengembangan UEP kemungkinan disebabkan karena implementasi kegiatan belum dilakukan. mereka umumnya hanya mengetahui bahwa sebelum kegiatan dilakukan akan diadakan pelatihan dan bimbingan agar usaha yang akan dikembangkan berhasil. 88 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .3. Untuk keterlibatan pada pembentukan LPSTK dan penyusunan RPTK juga hanya melibatkan sebagian kecil responden. Dapat dilihat pada Tabel 3. Dari wawancara mendalam dengan beberapa anggota pokmas juga mencerminkan hal ini.

dan anggota masyarakat lainnya.0 36. Sedangkan kegiatan UEP lain.3.9 persen) dan masyarakat yang terlibat dengan kegiatan COREMAP (30. aparat desa.8 persen) dan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat (55. yaitu pengurus COREMAP.0 Tidak tahu 20.0 Menurut UEP Jumlah (N=100) 100 100 68. termasuk UEP. diketahui responden hampir berbanding antara dari pengurus COREMAP (35. jawaban terbanyak adalah dari pengurus COREMAP termasuk fasilitator dan motivator.0 100 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. Ketiga jenis kegiatan UEP di atas diketahui masyarakat Desa Limbung dari empat sumber informasi. Khususnya untuk kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang adalah mencapai lebih dari separuhnya (58.0 32. Berdasarkan jawaban responden mengenai sumber informasi dari kegiatan tersebut. yaitu kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha. 2008.Tabel 3. anggota masyarakat yang terlibat kegiatan COREMAP.0 64. Mengacu kepada jawaban responden ini dapat dimengerti karena pada sosialisasi awal kegiatan COREMAP fase II umumnya penjelasan program implementasi.9 persen). Penjelasan selanjutnya yang lebih rinci akan diberikan kepada kelompok yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 89 .6 persen). diberikan oleh pengurus tingkat kabupaten. Distribusi Persentase Responden Pengetahuan Tentang Jenis Kegiatan COREMAP Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha Tahu 80.

Gambaran ini menunjukkan bahwa kemungkinan aparat Desa Limbung kurang dilibatkan dalam kegiatan COREMAP yang berdampak terhadap kurangnya pemberian informasi mengenai kegiatan ini kepada masyarakat. Informasi dari anggota masyarakat yang terlibat program COREMAP biasanya diterima dari ketua kelompok atau pengurus COREMAP tingkat desa (LPSTK) yang telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan atau menerima informasi dari pengurus COREMAP tingkat kabupaten. Kepala desa dan perangkatnya hanya diberitahu pada saat awal kegiatan COREMAP akan diimplementasikan di Desa Limbung. yaitu tenaga pendamping/field fasilitator (FF) dan motivator. yang sekaligus dalam rangka pembentukan LPSTK. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari wawancara mendalam. Dalam penyampaian informasi tentang program COREMAP. pada umumnya kegiatan COREMAP yang akan diimplementasikan kepada masyarakat Desa Limbung langsung diberikan kepada pengurus LPSTK atau ketua kelompok. tampaknya sangat kurang diberikan dari kepala desa dan aparatnya.telah terbentuk dan umumnya juga dilakukan oleh pengurus COREMAP. 90 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . termasuk UEP. Hal ini terlihat dari jawaban responden yang hanya kurang dari 6 persen responden mengatakan bahwa sumber informasi tentang kegiatan UEP diperoleh dari aparat desa.

8 12.3 persen. 2008. yaitu 14. Hal ini dimaklumi karena kegiatan ini umumnya diikuti pada saat pembuatan proposal.5).9 7. di mana salah satu yang harus dipertimbangkan adalah kegiatan yang tidak merusak terumbu karang. Distribusi Responden Yang Mengetahui Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Menurut Sumber Informasi Sumber informasi Anggota Kepala/ masyarakat aparat desa/ yang terlibat dusun/ dalam kampung/ kegiatan RT/RW COREMAP 2.6 2. yaitu sebesar 32 persen. Permasalahan ini mungkin karena sampai evaluasi ini dilakukan dana untuk kegiatan UEP sebagian besar belum turun. Sebagian dari responden yang mengetahui jenis kegiatan UEP – COREMAP ada yang terlibat lebih dari satu kegiatan.5 80 55.9 30.5 26.8 13.8 27. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 91 . Misalnya. sehingga mereka belum merasa terlibat pada kegiatan UEP. Sedangkan jawaban terbanyak adalah responden yang terlibat pada kegiatan memilih jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang. (Lihat Tabel 3.9 5.9 36 Pelatihan dan bimbingan keterampilan 35. seseorang terlibat pada kegiatan pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang.4 68 untuk meningkatkan usaha Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Sosial-Ekonomi Desa Limbung. Namun tampaknya kegiatan UEP yang berkaitan dengan pemberian dana bergulir untuk mengembangkan UEP di masyarakat sangat kecil yang terlibat.4.Tabel 3. namun dia juga mengikuti kegiatan pelatihan dan bimbingan ketrampilan untuk meningkatkan usaha.3 Jenis Kegiatan UEP – COREMAP Fasilitator/ motivator/ pengurus COREMAP Anggota masyarakat lainnya Jumlah (N) Pemilihan jenisjenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat 58.

dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat nelayan atau pesisir.4 68 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung.6 79.5. Di antara tujuh (7) kegiatan yang diketahui responden. pengolahan hasil ikan laut (59 persen). Berdasarkan pengetahuan responden ada beberapa jenis usaha ekonomi pernah dilakukan COREMAP. Sebagaimana diketahui.8 Jumlah (N) 77 Jenis kegiatan UEP COREMAP Pemilihan jenis-jenis usaha yang tidak merusak terumbu karang Pemberian dana bergulir/kredit untuk mengembangkan UEP masyarakat Pelatihan dan bimbingan keterampilan untuk meningkatkan usaha 14. dan usaha ternak rumahtangga (52 persen).3 85. Oleh karena itu. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan UEP diharapkan dapat menggantikan kegiatan yang dapat merusak lingkungan. khususnya lingkungan SDL dan ekosistem terumbu karang. Mengacu kepada usulan kegiatan dari Pokmas-pokmas COREMAP fase II. program COREMAP di Desa Limbung telah berlangsung dua fase dan pada fase pertama pernah kegiatan yang berkaitan dengan usaha ekonomi.Tabel 3. Distribusi Responden Menurut Jenis Keterlibatan Kegiatan UEP – COREMAP dan Keterlibatannya Terlibat 31. baik secara langsung maupun tidak langsung kegiatan ini akan berkaitan dengan usaha ekonomi yang dilakukan di darat atau di laut. tampaknya kegiatan yang mereka ketahui umumnya adalah mirip dengan kegiatan pada 92 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .7 35 20. jawaban terbanyak adalah kegiatan pembuatan makanan atau kue (66 persen).2 Tdk Terlibat 68. 2008.

kecuali pembuatan makanan atau kue yang telah dilaksanakan oleh Pokmas Jender.0 Lainnya (penyaluran BBM) 1.0 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) Ekonomi Desa Limbung. muncul jawaban usaha kerajian atau souvenir yang hanya sekitar 2 persen.0 48.COREMAP fase I. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 93 . Distribusi Responden Mengenai Jenis Usaha Dilakukan COREMAP Jenis usaha ekonomi Menurut Ekonomi Tahu Pengetahuan yang Pernah Tidak tahu Jumlah (N) 100 100 100 100 100 100 100 100 Sosial- Perdagangan/warung 100. Mungkin kegiatan ini pernah dilakukan pada program COREMAP fase I. Kegiatan ekonomi lain adalah usaha BBM (1 persen).0 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 66. 2008. Tabel 3. tetapi usahanya sendiri bila tidak pergi melaut atau berkebun.0 99.0 73.0 Keramba ikan/udang/kepiting/biota 27. Hal ini karena kegiatan tersebut ada yang tidak muncul atau belum dilaksanakan pada fase II.0 34.0 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 2. Padahal di Desa Limbung hingga saat ini belum ada kegiatan membuat kerajinan atau souvenir khas dari Desa Limbung atau Kepulauan Riau.0 98.0 98.6.0 41.0 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 2. Di antara kegiatan ekonomi yang diketahui responden.0 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 59.0 Ternak 52. Apabila dilihat dari poroposal yang diajukan oleh Pokmas UEP COREMAP fase II belum muncul usaha penjualan BBM. Berdasarkan wawancara mendalam diketahui bahwa kegiatan tersebut bukan berasal dari COREMAP.

0 2 Lainnya (penyaluran BBM) 100.3 Jumlah (N) 27 Perdagangan/warung Keramba ikan/udang/kepiting/biota 3.7 laut lainnya Pembelian armada dan alat tangkap 100. Namun demikian. Distribusi Responden yang Mengetahui Jenis Usaha Ekonomi yang Pernah Dilakukan COREMAP Menurut Keterlibatannya Jenis usaha ekonomi yang diikuti Terlibat Tidak Terlibat 96. Sebagai contoh beberapa usaha ekonomi produktif seperti perdagangan/warung.8 92.0 2 Ternak 7.0 1 Sumber: Survei Benefit Monitoring Evaluation (BME) SosialEkonomi Desa Limbung. Tabel 3.Kegiatan ekonomi COREMAP mencakup sejumlah besar jenis usaha ekonomi produktif yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan sekaligus juga mengurangi ketergantungan terhadap sumberdaya laut. pembuatan kerajinan hanya diketahui oleh kurang dari 10 persen responden.2 52 ayam/bebek/itik/kambing/lele/babi Pembuatan makanan/kue/minyak 7. 94 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .7.3 66 kelapa Pengolahan hasil laut/ikan 100. bahkan untuk keterlibatan dalam penyaluran BBM hanya satu orang responden. 2008.7 92.0 2 asin/asap/pindang/ kerupuk Kerajinan/souvenir 100. Salah satu kemungkinan yang menyebabkan fenomena ini adalah kurangnya sosialisasi mengenai jenis-jenis usaha ekonomi produktif yang bisa dilakukan dalam rangka pelaksanaan COREMAP. hanya sebagian kecil responden yang terlibat dalam kegiatan ekonomi tersebut.

kiriman/pemberian. produksi. dan (3) uang pensiun. eksternal dan struktural. keuntungan usaha). Pendapatan rumah tangga yang dimaksudkan dalam tulisan ini merujuk pada total pendapatan suatu rumah tangga yang diperoleh oleh kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari beberapa sumber: (1) penghasilan yang diperoleh anggota rumah tangga yang bekerja (seperti gaji/upah. sarana-prasarana produksi dan kompetisi pemanfaatan sumber daya laut. Sedangkan pendapatan dari kegiatan kenelayanan adalah semua pendapatan yang diperoleh oleh kepala maupun anggota rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan. PENDAPATAN RUMAH TANGGA DAN PERUBAHANNYA P embahasan pendapatan rumah tangga pada tulisan ini mendasarkan pada hasil survei rumah tangga. median. pancaroba maupun kencang/kuat.1.BAB IV PENDAPATAN RUMAH TANGGA: PERUBAHAN DAN FAKTOR PENGARUH 4. mencakup ratarata pendapatan rumah tangga per bulan. dan kualitas sumber daya manusia. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 95 . Sedangkan aspek pemasaran. (2) penghasilan dari bunga tabungan/saham/ deposito. Sejalan dengan fokus penelitian pada perubahan pendapatan dalam kaitannya dengan pengelolaan terumbu karang. Faktor struktural meliputi kebijakan. maka bagian ini juga menguraikan tentang pendapatan dari kegiatan kenelayan dan faktor yang berpengaruh. program. dan distribusi rumah tangga menurut besar pendapatan per bulan. Termasuk dalam faktor internal antara lain teknologi penangkapan. peraturan dan penegakkan hukum terkait dengan pemanfaatan sumber daya laut dalam rangka memperoleh pendapatan. baik pada musim angin teduh. pendapatan per kapita. merupakan beberapa contoh dari faktor eksternal. yang meliputi faktor internal.

diperlihatkan oleh angka median yang lebih rendah dari rata-rata pendapatan rumah tangga. meningkat menjadi Rp 1.050.300.5 persen selama periode 2006-2008 (lihat Tabel 3.700.360. Semua ukuran statistik pendapatan menunjukkan fenomena membaiknya kondisi ekonomi rumah tangga responden. Tingkat pendapatan rumah tangga menunjukkan tren meningkat. Pada tahun 2008. Pada tahun 2006.1).. pendapatan per kapita hanya sebesar Rp 423.200.1. Gambaran tentang kondisi kesejahteraan penduduk Desa Limbung yang semakin baik juga diperlihatkan oleh peningkatan pendapatan per kapita. atau meningkat 89. Pendapatan Rumah Tangga dari Semua Sumber Mata Pencaharian dan Penerima Pendapatan Kondisi pendapatan rumah tangga responden di Desa Limbung menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir (2006-2008). tetapi lebih dari separuh rumah tangga sampel hanya mempunyai pendapatan di bawah rata-rata pendapatan rumah tangga. atau mengalami kenaikan sebesar 43..4. hampir dua kali lipatnya dari pendapatan per kapita pada tahun 2006 (Rp 223.per bulan.5 persen. Peningkatan pendapatan per kapita ini mungkin berkaitan dengan perubahan jumlah anggota rumah tangga. Peningkatan pendapatan rumah tangga terjadi pada mereka yang berpendapatan rendah maupun tinggi. Informasi dari masyarakat dan pengamatan di lokasi penelitian memperkuat alasan tersebut.pada tahun 2008. antara lain karena migrasi ke luar untuk bekerja maupun karena perkawinan. rata-rata pendapatan rumah tangga per bulan dari berbagai sumber pendapatan di daerah penelitian sebesar Rp 948.per bulan).1.. 96 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .-. terlihat dari adanya kenaikan pendapatan minimum maupun maksimum.

yang ditunjukkan oleh tingginya persentase rumah tangga dengan jumlah pendapatan tersebut.500 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan.1).000 Jumlah (Rp.800 10.157.Tabel 4. hasil ketam yang ditangkap dengan bubu cenderung lebih banyak daripada dengan jaring (wawancara dengan beberapa nelayan di Dusun Centeng maupun Senempek).050 1.700 981.1 persen pada tahun 2008. Meskipun sama-sama dipasang sepanjang siang dan malam hari yang hasil tangkapannya diambil pada pagi dan sore hari. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah) Pendapatan 2006 Per kapita Rata-rata rumah tangga Median Minimum Maksimum 223. Perubahan pendapatan ini kemungkinan besar dialami oleh rumah tangga nelayan yang mengganti alat tangkap jenis jaring (pada tahun 2006) dengan bubu (pada tahun 2008.250 75.375. yaitu dari 37 persen pada tahun 2006 menjadi 13. PPK-LIPI 2007 Perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung terjadi di setiap kategori besar pendapatan (lihat Gambar 4.300 754. Persentase rumah tangga pada kelompok rumah tangga berpendapatan terendah menurun tajam. Diperkirakan rumah tangga tersebut berpindah ke kelompok rumah yang mempunyai rata-rata pendapatan antara 500 ribu – 1 juta rupiah per bulan.000 10.000 6. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 97 . Desa Limbung.1.200 948. yang juga mengalami sedikit peningkatan. Kabupaten Lingga.) 2008 423.360.

4 juta rupiah dan 3. Observasi di wilayah penangkapan kelong bilis memperlihatkan adanya penambahan jumlah kelong dibandingkan pada survei tahun 2006. dengan peningkatan tajam dialami oleh mereka yang memiliki pendapatan antara 2 juta – 2. Lokasi wilayah tangkap seperti ini memungkinkan nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan bilis lebih banyak.1.Gambar 4. Desa Limbung. dengan wilayah tangkap yang semakin mendekati lokasi terumbu karang. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.9 juta rupiah per bulan. PPK-LIPI 2007 Perubahan tingkat pendapatan rumah tangga ke arah yang lebih besar juga terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi. peningkatan pendapatan rumah tangga dirasakan oleh mayoritas rumah tangga di Desa Limbung. Distribusi Persentase Rumah Tangga Responden Menurut Kelompok Pendapatan. 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. Namun 98 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . sehingga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan.5 juta -2. Kabupaten Lingga. Walau terjadi penurunan persentase rumah tangga responden yang berada pada kelompok pendapatan antara 2. Dengan demikian. tetapi hanya dialami sedikit rumah tangga. Nelayan kelong bilis yang umumnya mempunyai kondisi ekonomi lebih baik diperkirakan termasuk kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi ini.5 juta rupian per bulan ke atas.

karena perannya sebagai pencari nafkah utama. Pendapatan rumah tangga berasal dari penghasilan yang diperoleh dari kepala maupun anggota rumah tangga.300 3 1.500 68 1.800 67 Pertanian pangan 505. Peningkatan pendapatan KRT yang tertinggi dialami oleh mereka yang bekerja pada lapangan pekerjaan perkebunan (karet).2.600 4 Lainnya 732.000 12 Jasa Kemasyarakatan 777. Kabupaten Lingga Utara.500 4 470. karena harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar juga semakin mahal.700 2 Industri pengolahan 850.050. sehingga peningkatan pendapatan tersebut tidak berdampak luas pada kesejahteraan rumah tangga secara umum.7 persen tampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat.376. PPK-LIPI 2008 Lapangan Pekerjaan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 99 . Data rata-rata pendapatan berdasarkan lapangan pekerjaan KRT memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan rata-rata pendapatan per bulan di setiap sektor. kecuali sektor industri pengolahan dan lainnya.200 6 Perdagangan 933. yaitu meningkat sebesar 60. Namun demikian. keterlibatan KRT pada lapangan pekerjaan ini hanya sedikit.858.) 2006 N 2008 n Perikanan tangkap 1. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Tahun 2006dan 2008 Rata-rata Pendapatan (Rp.000 1 Kehutanan 700. Sedangkan peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan pekerjaan perikanan tangkap yang hanya 23.200 5 600. karena jumlah KRT yang bekerja di sektor ini adalah paling banyak dibandingkan mereka yang bekerja di sektor lain.000 2 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.712.000 2 600.000 2 Perkebunan 681.demikian. Desa Limbung.2 persen selama dua tahun terakhir. Tabel 4.300 7 1. meningkatnya pendapatan rumah tangga tampaknya belum dapat memperbaiki kondisi kesejahteraan. tetapi keterlibatan kepala rumah tangga (KRT) pada umumnya paling tinggi. Rata-rata Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Keluarga.

Penggunaan dan sarana-prasarana penangkapan sumber daya 13 Besar penghasilan dari sektor industri pengolahan kepiting tersebut tergantung pada hasil kerja kelompok dengan sistem upah borongan. anyaman untuk atap rumah. Usaha –usaha industri kecil dan rumah tangga yang cenderung memberikan upah rendah dan diperkirakan belum dapat meningkatkan pendapatan pekerja13. sedangkan pengganti responden bekerja di luar sektor tersebut.Kenaikan pendapatan KRT yang berasal dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan perkembangan sektor lainnya. Tabel 4. Penurunan pendapatan KRT terjadi di sektor industri dan sektor lainnya.2 juga memperlihatkan. dan membuat makanan kecil. Peningkatan pendapatan KRT yang bekerja pada lapangan usaha perdagangan yang mencapai 49. Pabrik ketam terbesar mempunyai tiga kelompok dengan anggota per kelompok (meja) antara 6-8 orang. 4. Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Kapasitas penangkapan sebagian besar nelayan di Indonesia masih rendah.1. Hal ini karena lapangan pekerjaan perdagangan di Desa Limbung pada umumnya berupa usaha dagang barang-barang kebutuhan sehari-hari. Keterangan yang diperoleh dari masyarakat menunjukkan bahwa responden yang semula bekerja pada sektor jasa kemasyarakatan telah memasuki usia pensiun dan pindah ke luar desa.2. Sedangkan dua usaha industri ketam lainnya hanya mempekerjakan tenaga kerja masing-masing 5 orang dan 8 orang.8 persen mungkin juga dipengaruhi oleh peningkatan daya beli rumah tangga responden yang kebanyakan dikepalai oleh mereka yang bekerja di sektor perikanan tangkap. pada tahun 2008 tidak ditemukan KRT yang bekerja di sektor jasa kemasyakatan yang pada tahun 2006 berjumlah empat orang. Lapangan pekerjaan industri pengolahan yang terlihat menonjol di Desa Limbung adalah usaha pengolahan daging kepiting yang mayoritas tenaga kerjanya perempuan. 100 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Demikian pula KRT yang bekerja di sektor industri tersebut didominasi oleh KRT perempuan (berstatus janda) yang bekerja pada usaha pengolahan daging ketam.

K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 101 . Jumlah rumah tangga tersebut menjadi lebih sedikit pada saat musim pancaroba (68 rumah tangga) dan ombak kuat (38 orang). karena mereka hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil atau sampan yang tidak dapat menembus ombak besar. demikian pula alat tangkap yang digunakan masih sederhana.laut umumnya berupa perahu motor (dan bahkan perahu tanpa motor/sampan). terdapat sebanyak 79 rumah tangga yang mempunyai penghasilan dari kegiatan kenelayanan.2). Besar pendapatan dihitung dari semua pendapatan anggota rumah tangga yang bekerja pada sub-sektor perikanan tangkap/laut. Bahkan pada tahun 2008. Pendapatan tersebut mengalami peningkatan sekitar 23.000.. mengindikasikan bahwa semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. Keadaan ini berdampak terhadap pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang rendah.200. baik berasal dari pekerjaan utama maupun tambahan.2 persen dalam kurun waktu 2006-2008 (lihat Gambar 4..2 memperlihatkan rata-rata pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan sebesar Rp 967. atau lebih besar dari nilai upah minimum Provinsi Kepulauan Riau yang sebesar Rp 833. Sedikitnya jumlah rumah tangga yang mendapat penghasilan dari kegiatan kenelayanan pada musim ombak kuat berhubungan dengan cukup banyaknya nelayan yang menghentikan aktivitas melaut. Tanpa memperhitungkan musim angin. besar median hampir mendekati angka rata-rata pendapatan. Di antara 100 rumah tangga responden. Pendapatan dari kegiatan kenelayanan yang cenderung membaik juga terlihat dari angka median yang meningkat tajam. Analisis pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan dalam tulisan ini didasarkan pada data hasil survei rumah tangga yang memperoleh penghasilan dari kegiatan kenelayanan. data pada Tabel 4.

Statistik Pendapatan Rumah Tangga Per Bulan Dari Kegiatan Kenelayanan. juga menunjukkan angka lebih tinggi dibandingkan dengan dua musim lainnya. Demikian pula statistik pendapatan lainnya (median.Gambar 4. Keadaan ini terjadi karena pada musim teduh nelayan dapat melaut dua kali per hari dengan menggunakan beberapa jenis alat tangkap. PPK-LIPI 2008 Pendapatan rumah tangga nelayan sangat bergantung pada musim angin. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. nelayan juga sering memperoleh berbagai jenis ikan.2. Pada musim ini semua nelayan turun ke laut. sehingga penjualan hasil tangkapan dapat memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan 102 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . pendapatan maksimum dan minimum). Kabupaten Lingga. Rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh (gelombang lemah) adalah paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pada musim pancaroba dan musim gelombang kuat. Desa Limbung. Meskipun terjadi penurunan harga jual. tetapi selain kepiting/ketam sebagai hasil tangkapan utama. Tahun 2006 dan 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.

Harga jual sedikit menurun.pada musim teduh.. sehingga mengurangi waktu melaut. tapi harga turun. kegiatan kenelayanan dilakukan dengan memperhitungkan kondisi angin yang sewaktuwaktu dapat berubah cepat. tetapi karena hasil tangkapan tergolong banyak.. Harganya memang lebih murah dibandingkan dengan jualan ikan pada saat angin ribut (musim angin kencang).” Pendapatan rumah tangga nelayan pada musim pancaroba lebih rendah daripada pendapatan pada musim teduh. maka pendapatan yang diperoleh nelayan juga cukup besar.. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 103 ... tetapi lebih tinggi dibandingkan musim gelombang kuat (lihat Gambar 4. Kalau jual ikan bisa ke kapal yang datang dari Pancur..dengan dua musim lainnya (gelombang kuat dan pancaroba). Di sini ada tiga PT. terserah kita mau kemana. Tapi ketam bisa dijual kemana saja dan turunnya (harga) juga tidak banyak. ke penampung di sini juga bisa.. tapi karena hasilnya lebih banyak... Perubahan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut perubahan pada musim tersebut berhubungan dengan frekuensi melaut dan jangkauan wilayah tangkap... “. Kita jual kemana kita mau. dapat uangnya juga lebih banyak. seperti diungkapkan oleh salah seorang nelayan berikut ini. Sedangkan kegiatan melaut pada musim ombak kuat sangat jauh berkurang dengan jangkauan wilayah tangkap sangat terbatas. banyak ketam dan ikan yang dapat ditangkap nelayan. sehingga hasil tangkapan biasanya hanya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Pada musim pancaroba...2)..

Kabupaten Lingga. Desa Limbung. karena menolak untuk diwawancara. semua statistik pendapatan menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada setiap musim.3). sedangkan pada musim pancaroba berada di antara musim teduh dan ombak kuat. atau kira-kira tiga kali lipat 14 Penurunan pendapatan maksimum kemungkinan berhubungan dengan pergantian responden (yaitu dari seorang nelayan pemilik beberapa kelong bilis dengan nelayan lain yang kondisi ekonominya lebih rendah).3.Gambar 4. Perubahan pendapatan menurut musim tampak konsisten pada tahun 2006 maupun 2008 (Tabel 4. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. yaitu pendapatan paling besar diperoleh pada musim teduh/ombak lemah. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan. PPK-LIPI 2008 Pendapatan dari kegiatan kenelayanan cenderung meningkat selama periode tahun 2006-2008 (Tabel 4. terendah pada musim ombak kuat.4 persen.7 persen).3). Tren tingkat pendapatan selama periode 2006-2008 juga menunjukkan. Kecuali pendapatan maksimum14. 2008 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45. 104 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kenaikan rata-rata pendapatan pada musim ombak kuat adalah 15.

4).000 Ombak Kuat 2006 561. Statistik Pendapatan Rumah Tangga dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim.900.900.000 Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang. pancaroba maupun ombak kuat. Secara umum terjadi kenaikan pendapatan pada kelompok rumah tangga nelayan yang memiliki besar pendapatan di bawah angka rata-rata pendapatan.000 300. PPK-LIPI 2006 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi.050 650.7 persen).000 Pancaroba 2006 839. Tahun 2006 dan 2008 (Rupiah). Tabel 4.000 7. PPK-LIPI 2008 Perubahan pendapan yang lebih baik juga terlihat dari angka median pendapatan yang meningkat.000 50. perubahan pendapatan ke arah yang lebih baik paling jelas terlihat pada musim ombak lemah dibandingkan dengan dua musim lainnya.100. Desa Limbung.000 9.000 100. Kabupaten Lingga Utara. Namun demikian. Kenaikan pendapatan rumah tangga nelayan pada musim ombak kuat cenderung dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan kurang dari Rp 1 juta (lihat Tabel 4.000 25.000.000 5.000 2008 647. Musim Ombak Lemah Pendapatan Rata-rata Median Minimum Maksimum 2006 1. yaitu ditunjukkan oleh angka median yang masih berada di bawah nilai rata-rata pendapatan.lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4.000 45. sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun.200.500 310.000 6.850 500.000 150. Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan dan musim menunjukkan perbedaan perubahan pendapatan menurut musim angin.750.400 750.3.000 2008 879.500 500.000 2008 1. Tabel 4.000 3. Meskipun demikian.500.000 3. masih banyak rumah tangga nelayan yang mempunyai pendapatan rumah di bawah ratarata pendapatan.236.100 1. karena pada musim ombak kuat hanya nelayan yang mempunyai perahu motor bermesin cukup besar ( >15 PK) yang dapat melakukan aktivitas melaut.802. baik pada musim teduh/ombak lemah.5 K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 105 . Tren kenaikan pendapatan yang cukup tinggi pada musim ombak kuat tersebut menggambarkan adanya peningkatan kapasitas penangkapan nelayan.

4.Rp 1.0 0.0 7.0 1. ke tiga dan ke empat terbawah (Rp 500 .500 – 1.3 0. pendapatan mereka diperkirakan turun pada kelompok pendapatan yang lebih rendah. Data pada Tabel 4.7 0. Distribusi Rumah Tangga Nelayan Menurut Kelompok Pendapatan dan Musim.0 1.4 2.0 0. Tahun 2006 dan 2008 (%) Pendapatan (‘000 rp) < 500 500 – 999 1.0 6.4 100 100 (68) (69) Ombak Kuat 2006 2008 68.4 24.3 6.7 8.8 13.4 46.9 2.9 juta).4 juta. Sedangkan pada musim pancaroba dan ombak kuat. khususnya bubu ketam. Apalagi dalam dua tahun terakhir tampaknya terjadi peningkatan pemilikan/penguasaan alat tangkap.0 0.5 8. pada musim pancaroba dan ombak kuat. Perbedaan ini dapat dipahami dari kenyataan bahwa kegiatan kenelayanan pada musim teduh dapat dilakukan dengan maksimal. PPK-LIPI 2007 106 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .7 11.3 2. persentase rumah tangga nelayan berdasarkan kelompok pendapatan cenderung terpusat pada dua kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu dan Rp 500 999 ribu). karena frekuensi dan waktu melaut berkurang. sehingga pendapatan nelayan juga lebih besar.3 10.4 4.1 31.000 – 3.4 0.7 10.999 ribu.0 41.4 5.7 35.6 0.6 22.4 37.499 > 3.9 32.000 – 1. Rp 1 juta-1.3 0.499 1.5.999 3.memperlihatkan persebaran rumah tangga yang cenderung merata pada kelompok pendapatan ke dua.000 – 2.4 1.1 13.6 21. yang dioperasikan terus-menerus selama musim teduh dan umumnya selalu menghasilkan setiap pagi dan sore hari.4 18.0 4.0 100 100 (38) (42) Sumber: Survei Data Dasar Aspek Sosial Ekonomi Terumbu Karang.0 3.500 – 2. yaitu persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan terendah (< Rp 500 ribu) jauh lebih tinggi dibandingkan pada musim ombak lemah.7 100 100 (79) (75) Pancaroba 2006 2008 47.0 0.499 2. sehingga berkontribusi terhadap besarnya pendapatan rumah tangga pada musim ini.999 2. Tabel 4.7 1.5 menggambarkan keadaan tersebut.4 8. dan Rp 1.500 Jumlah (N) Musim Ombak Lemah 2006 2008 25.0 7.3 2. PPK-LIPI 2005 dan Survei BME Aspek Sosial-Ekonomi. Namun demikian.7 0.0 1.

Kenaikan proporsi rumah tangga yang memiliki pendapatan tinggi pada musim teduh tersebut kemungkinan berhubungan dengan bertambahnya rumah tangga yang memiliki kelong bilis yang biasanya dioperasikan pada musim teduh. FAKTOR PENGARUH PENDAPATAN RUMAH TANGGA Perubahan pendapatan rumah tangga di lokasi penelitian. sebaliknya terjadi penurunan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tertinggi (> Rp 3. rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan tinggi tersebut tampaknya juga mengalami penurunan pendapatan. Sebaliknya. 4. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pendapatan rumah tangga dan perubahannya antara lain permintaan sumber daya laut. kenaikan persentase rumah tangga pada kelompok pendapatan tinggi (> Rp 2. biaya produksi.9 juta dan Rp 3.5 – Rp 2. yang saling terkait satu dengan yang lain.0 – Rp 3. Fator internal meliputi semua faktor yang ada dalam diri dan lingkungan masyarakat setempat. dan degradasi sumberdaya pesisir/laut.2. akses pemasaran. dan kualitas sumber daya nelayan. Hal ini diindikasikasikan oleh peningkatan persentase rumah tangga nelayan pada kelompok pendapatan Rp 2.5 juta) terjadi pada musim teduh/ombak lemah.Data tren pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan juga menunjukkan. Dengan perkataan lain terjadi pergeseran kelompok rumah tangga nelayan dari kelompok pendapatan tertinggi ke kelompok pendapatan lebih rendah. Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga adalah kebijakan/program/aturan pemerintah dan lembaga lain. 4. pada musim pancaroba dan ombak kuat. musim.2.4 juta. antara lain teknologi penangkapan. misalnya Program COREMAP maupun programprogram pembangunan lainnya. Pengaruh Program COREMAP dan Program Lainnya: Faktor Struktural Tujuan COREMAP fase II yang berlangsung selama periode 2005 – 2010 adalah untuk mengembangkan sistem pengelolaan terumbu K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 107 .1. eksternal dan struktural. dipengaruhi oleh faktor internal.5 juta) yang cukup besar. Kabupaten Lingga. yaitu di Desa Limbung. wilayah penangkapan.

disamping pembentukan beberapa kelompok masyarakat (pokmas). Masing-masing kelompok mendapat bantuan modal Rp 100 ribu yang kemudian dibagikan kepada empat orang anggota. dan untuk masyarakat) (DKP. Walaupun telah terbentuk enam (6) pokmas UEP.karang. memberdayakan dan mendukung masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang dan ekosistem terkait secara berkelanjutan. Pada saat survei BME Sosial Ekonomi dilakukan. Dari satu pokmas yang beranggotakan sebanyak 16 orang. Kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) yang merupakan target pelaksanaan COREMAP II dalam rangka meningkatkan kesejahteraan penduduk di lokasi Desa Limbung tampaknya masih sangat terbatas. kegiatan COREMAP II telah berlangsung selama tiga tahun. Beberapa kegiatan untuk mencapai tujuan COREMAP telah dilakukan. 2007). yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Indonesia. yaitu di tujuh desa (salah satunya adalah Desa Limbung) telah dimulai sejak fase I dan dilanjutkan pada fase II. Pelaksanaan COREMAP di Kabupaten Lingga. Uang sebesar Rp 25 ribu tersebut dipakai sebagi modal usaha membuat kue kering (mereka menyebutnya epuk-epuk) atau kerupuk ikan. Data maupun informasi yang berasal dari hasil survei BME sosial ekonomi tersebut dapat dimanfaatkan oleh komponen CBM (community based management) untuk perbaikan implementasi COREMAP selanjutnya. 15 Walaupun mengatasnamakan pokmas. Program ini terus berusaha mendorong dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengorganisir diri. termasuk menentukan pilihan kegiatan pembangunan di daerahnya secara musyawarah dengan mengacu pada azas COREMAP II (yaitu dari. hanya terdapat satu pokmas yang sudah berjalan. yaitu pokmas jender yang melakukan kegiatan usaha industri rumah tangga. Dengan modal usaha sebesar Rp 500 ribu per kelompok dengan anggota 16 orang15. oleh. meskipun sebagian diantaranya masih belum memberikan dampak positif. 108 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . pada kenyataannya kegiatan usaha dilakukan secara individu. karena berbagai kendala. kemudian dibagi menjadi empat (4) kelompok.. Berikut ini dibahas capaian dan kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program. Kegiatan COREMAP diawali dengan sosialisasi di tingkat kabupaten dan desa.

karena ada larangan penggunaan alat tangkap yang merusak. sehingga meningkatkan populasi sumber daya laut... Meskipun demikian. Sekarang orang yang mampu pada cacak (memasang) baru. Parit gamat buat air jadi keruh dan teri tak mau masuk (ke kelong). seperti diungkapkan sebagai berikut: “. demikian pula tidak dilakukannya penangkapan SDL di lingkungan DPL.. Dampak positif lain yang dirasakan oleh masyarakat dengan adanya COREMAP adalah fasilitas (kemudahan) dalam melakukan kegiatan melaut. Penentuan daerah perlindungan laut (DPL) yang dimotori oleh COREMAP dengan partisipasi masyarakat setempat. termasuk ikan bilis yang tidak bisa hidup di lingkungan air keruh. Tak apa- K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 109 ..maka kegiatan UEP yang baru berjalan kira-kira empat (4) bulan sebelum pelaksanaan survei BME Sosek. seperti parit gamat untuk cari teripang. misalnya parit gamat yang sebelumnya sering digunakan untuk mencari teripang. yang secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. masyarakat nelayan menjadi berani untuk melakukan protes jika ada nelayan setempat dan luar desa yang melanggar aturan tersebut. Lebih-lebih dengan dikeluarkannya peraturan desa (Perda) tentang larangan penggunaan alat-alat tangkap yang merusak yang juga difasilitasi oleh COREMAP fase I.hasil kelong sejak COREMAP II jadi baik lagi. Menurunnya atau bahkan tidak adanya lagi penggunaan alat-alat tangkap yang merusak. dampak kegiatan ini terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga belum terlihat nyata. Informasi yang diperoleh dari FGD di Dusun Seranggas menggambarkan semakin meningkatnya ketersediaan ikan bilis. menyebabkan tekanan terhadap ekosistem terumbu karang dan kekeruhan air laut semakin berkurang. jadi kelong makin banyak. ketua dan salah seorang anggota pokmas jender tersebut mengatakan bahwa kegiatan UEP dapat membantu dalam memberikan kegiatan produktif bagi anggota pokmas yang jumlahnya masih terbatas pada beberapa orang. membuat nelayan tidak lagi berani melakukan penangkapan di kawasan tersebut dan juga tidak menggunakan alatalat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Manfaat keberadaan tambatan perahu bantuan COREMAP ini tidak hanya dirasakan oleh nelayan.” Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan Desa Limbung memperkuat semakin banyaknya keberadaan ikan bilis di perairan tersebut. yang sumber dananya berasal dari tingkat provinsi. dan atribut untuk tanda batas DPL). yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana. Selain COREMAP. termasuk dalam faktor eksternal yang mungkin berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Desa Limbung antara lain Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga. Menurut sejumlah informan. dengan berhentinya program ini selama kurang lebih tiga tahun berdampak pada rusak/hilangnya peralatan. Program ini dimulai tahun 2006 (tetapi di Desa Limbung baru berjalan pada awal tahun 2007) yang ditujukan pada nelayan dan pembudidaya di Kabupaten Lingga. padahal anggota pokmas kebanyakan berasal dari dusun yang letaknya jauh dari lokasi dpl. yang selanjutnya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. Keberadaan fasilitas ini sangat membantu nelayan. bahan bakar minyak. karena lokasinya besar (luas). tetapi 20 persen dari total anggaran ditujukan untuk wilayah COREMAP 110 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . tetapi juga masyarakat lainnya (setempat dan luar desa) yang akan menyeberang dari dan ke dusun lainnya di Desa Limbung atau bahkan ke kecamatan lain. ditunjukkan oleh semakin banyaknya jumlah kelong bilis pada saat ini dibandingkan dua tahun yang lalu. Kondisi ini akan semakin baik apabila pokmas pengawasan (reef watcher) yang sudah terbentuk dapat segera melakukan aktivitasnya.apa mereka pada nambah. lampu sorot. misalnya Penaah. Dampak lanjutan dari peningkatan populasi SDL adalah bertambahnya hasil tangkapan. soalnya tempatnya di laut. pokmas pengawasan belum aktif dalam melakukan kegiatan karena belum memiliki peralatan (kapal motor. Kemudahan dalam kegiatan melaut lainnya adalah bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga). Meskipun pada COREMAP fase I pernah ada kegiatan pengawasan. sarana dan atribut kawasan perlindungan laut. khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas.

Akibatnya. yaitu hampir di sepanjang pantai di lingkungan perairan Desa Limbung dapat ditemukan bubu ketam dalam jumlah banyak. pembangunan sarana ini masih dalam proses penyelesaian. Hal ini karena kredit usaha yang diperoleh penampung. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penyaluran dana dilakukan oleh salah satu koperasi di kabupaten ini yang merupakan rekanan KSDA. Meskipun demikian. Persyaratan semacam ini sulit dipenuhi oleh nelayan di Desa Limbung. Pada saat survei BME Aspek Sosial Ekonomi. Informasi dari beberapa nelayan Desa Limbung juga menunjukkan adanya peningkatan peminjaman alat-alat tangkap (umumnya berupa bubu ketam) kepada penampung. Bahkan. sedangkan KSDA bertindak sebagai pendampingan teknis. Program pemerintah lain yang diimplementasikan di Desa Limbung yang memberikan kontribusi tidak langsung terhadap peningkatan pendapatan adalah pembangunan perbaikan dermaga dengan dana APBD melalui proyek Dinas Kimpraswil Kabupaten Lingga. nelayan yang mepunyai modal cukup juga dapat meminjam kepada penampung yang mendapat Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari Kantor Sumber Daya Alam (KSDA) Kabupaten Lingga tersebut untuk cacak kelong bilis yang memerlukan modal cukup besar. penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung. karena kebanyakan dari mereka tidak memiliki tanah/kendaraan sebagai agunan. biasanya dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap yang dapat dibayar secara kredit pada saat nelayan menjual hasil tangkapan. Kondisi ini tentunya akan berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan.(wawancara di KSDA Kabupaten Lingga). Pengamatan di wilayah penangkapan nelayan memperkuat informasi tersebut. Ketersediaan dermaga ini akan memfasilitasi masyarakat Desa Limbung yang bertipologi daerah K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 111 . sehingga belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. calon peminjam harus memiliki agunan yang berupa sertifikat tanah atau surat BPKB. nelayan kecil juga mendapat keuntungan/ manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut. Sepertihalnya dengan persyaratan untuk mendapatkan kredit.

rumah tangga pemilik bubu ketam meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Faktor internal yang berperan penting dalam mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga adalah perubahan teknologi penangkapan dan modal melaut. Teknologi penangkapan merupakan salah satu faktor penting dalam mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Perkembangan teknologi penangkapan di lingkungan masyarakat nelayan di Desa Limbung terlihat nyata dalam peningkatan jumlah dan perubahan jenis alat tangkap. Perubahan Pendapatan Karena Faktor Internal Peningkatan pendapatan rumah tangga selama dua tahun terakhir tampaknya juga tidak terlepas dari pengaruh internal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Limbung.2. Ukuran dan berat bubu ketam cukup ringan. Telah dikemukakan sebelumnya. serta peningkatan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja. sehingga mudah untuk dioperasionalkan.2. sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan. Bubu ketam juga dapat dipakai sepanjang musim. Teknologi penangkapan yang berubah drastis dalam dua tahun terakhir (2006-2008) adalah alat tangkap kepiting/ketam. Pada umumnya nelayan membeli bubu di penampung dengan cara kredit yang pembayarannya dilakukan pada saat menjual hasil tangkapan. dan penampung.pesisir dan kepulauan dalam melakukan kegiatan ekonomi. Perubahan alat tangkap ketam tersebut disebabkan karena bubu lebih murah dan mudah dalam pengoperasian. meskipun Harga bubu ketam di tingkat penampung pada saat survei dilakukan (tahun 2008) sekitar Rp 600 ribu untuk 25 buah. yaitu dari jaring menjadi bubu. Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan. Hasil survei BME Aspek Sosial Ekonomi 2008 memperlihatkan. 4. 16 112 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . dibandingkan dengan jaring16. serta pengamatan di wilayah penangkapan menggambarkan fenomena perkembangan teknologi penangkapan di Desa Limbung. rata-rata pemilikan bubu ketam kira-kira 35 buah dengan pemilikan terendah 10 buah dan tertinggi 92 buah. tokoh desa. bahkan jenis alat tangkap ini juga menarik kaum perempuan untuk ikut melaut yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

Desa Limbung mengambarkan alasan kenapa nelayan di desa ini pada umumnya menggantikan jaring ketam menjadi bubu ketam. rumah tangga yang mempunyai kelong bilis terus bertambah dalam dua tahun terakhir. seperti berikut. Telah dikemukakan sebelumnya. tetapi setiap melaut sering memperoleh hasil yang dijual ke penampung atau pabrik ketam. Perubahan teknologi penangkapan lainnya yang diperkirakan juga mempunyai kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung adalah pertambahan jumlah pemilikan kelong bilis. Namun demikian... karena hanya menggunakan sampan dan dalam waktu paling lama dua jam. Perempuan juga bisa pakai. Bubu juga mudah dibeli jadi.. sehingga hasil tangkapan juga semakin bertambah17. Tidak semua bubu terisi ketam.. Melaut dengan menggunakan bubu ketam yang dilakukan di kawasan pantai juga tidak perlu mengeluarkan biaya operasional (BBM maupun ransum). tergantung keberanian saja. Salah seorang nelayan di Dusun Centeng.pasang bubu ketam tak pakai musim. Menurut sejumlah nelayan lainnya. paling mengganti kawat yang rusak. “. yaitu hampir mencapai dua kali lipat. Makanya sekarang ibu-ibu di sini juga ada yang pergi melaut”. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 113 . karena tidak berat.. tetapi hasil tangkapan juga lebih banyak daripada mereka yang mencari ketam di kawasan pantai.... Peningkatan hasil tangkapan ketam akibat perubahan alat tangkap dari jaring ke bubu tampaknya berkontribusi cukup besar terhadap peningkatan pendapatan dalam dua tahun terakhir.pada musim ombak besar pemakaian alat ini jauh berkurang... Kelong bilis harus ditempatkan di wilayah tangkap yang agak ke tengah yang berarti memerlukan modal usaha cukup besar.. tidak suah buat sendiri.... penggunaan bubu lebih banyak menghasilkan ketam daripada jaring yang digunakan dua tahun yang lalu. Hanya nelayan yang mencari ketam hingga agak ke tengah dan menggunakan perahu motor memerlukan biaya operasional. 17 Pemasangan dan pengangkatan bubu ketam dilakukan pagi dan sore hari.

bertambahnya pemilikan kelong bilis di antara nelayan di Desa Limbung berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga secara keseluruhan. pertambahan jumlah anggota rumah tangga yang bekerja juga berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga. Musim angin/iklim Pengaruh musim/iklim terhadap tingkat pendapatan nelayan sangat besar. Perubahan Pendapatan karena Faktor Eksternal Beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga di Desa Limbung meliputi musim angin (iklim). meningkat menjadi antara 1-2 orang.pendapatan dari hasil kelong juga terhitung tinggi.3. karena menghasilkan setiap hari selama bulan gelap (sekitar 20 hari/bulan pada musim angin teduh/lemah dan terkadang pancaroba). Selain teknologi penangkapan. Mereka juga tidak perlu pergi terlalu lama. pada tahun 2006 rata-rata jumlah ART yang bekerja hanya satu orang. 4. Berikut dibahas pengaruh eksternal terhadap perubahan rata-rata pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. hasil tangkapan sangat sulit diperoleh pada musim angin kencang karena 18 Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan sebagai nelayan bubu karena alat tangkap ini biasanya hanyadipasang/ditempatkan di wilayah penangkapan yang letaknya tidak jauh dari pantai. Tambahan ART yang baru mulai bekerja pada dua tahun terakhir ini diantaranya adalah perempuan dan anakanak yang bekerja sebagai nelayan bubu ketam18. 114 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Dengan demikian. dan sebagian lainnya bekerja di sektor jasa kemasyarakatan (guru honor) dan industri pengolahan ketam.2. sehingga mereka bisa menggunakan sampan yang didayung sendiri atau dengan bantuan anak. sehingga masih bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Walaupun SDL selalu tersedia sepanjang tahun. permintaan dan pemasaran SDL. Data survei menunjukkan.

musim angin seperti yang mereka perhitungkan selama ini sudah tidak bisa lagi menjadi pedoman. Demikian pula pada musim teduh (angin timur dan selatan) terkadang muncul angin pancaroba. permintaan dan pemasaran hasil SDL) daripada faktor musim. musim angin barat yang biasanya terjadi hujan. masyarakat nelayan Desa Limbung juga merasakan adanya perubahan iklim/musim angin dalam beberapa tahun terakhir. saat sekarang justru ada panas. Pada umumnya nelayan hanya mempunyai kapal motor bermesin kecil. tetapi skala usaha masih terbilang usaha kecil. tetapi karena hasil tangkapan melimpah akibat semua nelayan pergi melaut dengan semua alat tangkap yang mereka miliki.3). Data survei BME Sosial Ekonomi di Desa Limbung menunjukkan adanya tren peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pada setiap musim (lihat Tabel 4. Bahkan permintaan daging ketam dari Singapura meningkat dari tahun ke tahun. Keadaan ini berdampak terhadap sedikitnya hasil tangkapan. Sedangkan nelayan sampan sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas ke laut. Salah seorang pengelola K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 115 . tetapi kenaikan tersebut kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti perubahan teknologi. Meskipun tidak ada data statistik tentang permintaan daging ketam yang diekspor ke negara tersebut. harga jual SDL menurun pada musim teduh. sehingga pendapatan juga tidak besar. Permintaan Permintaan SDL hasil tangkapan nelayan di Desa Limbung cukup tinggi di pasar dalam maupun luar negeri. bertambahnya industri pengolahan daging ketam di Desa Limbung dari satu menjadi tiga industri. sehingga armada ini hanya dapat menjangkau wilayah tangkap yang terlindung dan dekat dengan pantai. Namun demikian. Menurut beberapa nelayan. mengindikasikan meningkatnya permintaan pasar terhadap daging ketam. perubahan musim di Desa Limbung tersebut mungkin belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan. Seperti terjadi di daerah-daerah lainnya. Sebaliknya.laut sedang berombak besar. Dicontohkan. maka berkontribusi terhadap pendapatan nelayan yang lebih tinggi daripada musim ombak kuat dan pancaroba. meskipun harga jual SDL lebih tinggi daripada musim teduh.

sehingga upah yang diperoleh juga semakin besar. 20 116 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Sebagian nelayan melepas kembali anak ketam tersebut ke laut karena tidak laku untuk dijual. pihak industri tidak pernah menolak membeli ketam hasil tangkapan nelayan Desa Limbung. Dengan demikian. sepanjang memenuhi ukuran standar19. Merespon permintaan ini. Namun demikian. terutama pada musim selatan. sehingga pihak industri pengolahan daging ketam di desa ini juga membeli dari hasil tangkapan nelayan di luar Desa Limbung. tetapi kebanyakan membawa pulang anak ketam tersebut untuk dikonsumsi sendiri. tetapi juga dari meningkatnya jumlah tenaga dan 19 Industri pengolahan daging ketam menetapkan ukuran (berat) per satuan ekor ketam menjadi tipe A (super). dan C (kecil). tingginya permintaan daging ketam olahan tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan rata-rata pendapatan rumah tangga yang bukan hanya berasal dari penjualan hasil tangkapan ketam. didindikasikan oleh dominasi jenis SDL ini sebagai hasil tangkapan nelayan. Potensi ketam di perairan Desa Limbung tergolong cukup besar. Dampak negatif dari penggunaan bubu ketam adalah tertangkapnya ketam berukuran kecil (anak ketam) yang selanjutnya akan berakibat pada berkurangnya populasi ketam di masa depan. Banyaknya pasokan ketam tersebut memberikan pekerjaan yang lebih banyak terhadap buruh industri.industri mengemukakan bahwa pasokan daging ketam dari perusahaan di Daik ke Singapura tidak pernah ada penolakan. sedangan harga termurah adalah ketam berukuran C. hasil tangkapan nelayan Desa Limbung belum dapat memenuhi permintaan pasar Singapura. Harga ketam berukuran A lebih mahal daripada ukuran B . B (besar). misalnya dari daerah Tanjung Keriting dan Bukit Harapan. bahkan permintaan cenderung bertambah terus. Keadaan ini mendorong nelayan untuk meningkatkan kapasitas penangkapan (antara lain dengan memperbanyak pemasangan bubu) dan mengoptimalkan ART untuk melakukan kegiatan melaut (misalnya dengan menyertakan isteri/anak) agar dapat menangkap ketam sebanyak mungkin20. timur dan barat.

sehingga diperlukan 21 Dari tiga industri pengolahan ketam di Desa Limbung pada tahun 2008. Selain ketam. Peningkatan populasi ikan bilis di perairan Desa Limbung tersebut. sehingga air laut menjadi tidak keruh yang sangat kondusif untuk tempat hidup ikan bilis. atau mencapai dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun 2006 yang jumlahnya sekitar 20 orang. Hal ini karena pemilik kelong biasanya mempunyai buruh untuk menunggu kelong dan mengangkat jaring. mendorong nelayan bermodal cukup besar untuk memasang (dalam istilah lokalnya adalah cacak) kelong baru. Kondisi ini mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan bilis. Pulau Buluh atau Pulau Kojong). Potensi jenis SDL di perairan Desa Limbung cukup tinggi dan cenderung semakin banyak dalam dua tahun terakhir. sehingga produksi ikan bilis semakin banyak pula. permintaan ikan bilis kering di pasaran Kota Batam dan Tanjung Pinang cukup besar. Sedangkan upah buruh industri yang dibayarkan dengan sistem upah borongan (pekerjaan dilakukan secara berkelompok) juga mengalami sedikit peningkatan.upah sebagai buruh industri ketam (penduduk setempat menyebutnya buruh kopek ketam)21. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 117 . serta buruh membersihkan ikan bilis sebelum dikeringkan. Meskipun cumi-cumi dapat diperoleh di perairan Limbung (sekitar Batu Putih di Tanjung Takeh. Permintaan nus (cumi-cumi yang sudah dikeringkan) di pasar Singapura maupun pasar domestik yang juga cukup besar tampaknya kurang berpengaruh terhadap perubahan pendapatan rumah tangga di Desa Limbung. meskipun besarnya tidak pasti karena tergantung pada banyaknya daging ketam yang dapat diproduksi oleh kelompok kerja. Untuk mendapatkan cumicumi dalam jumlah cukup banyak. Hal ini karena produksi nus tidak sebanyak ketam dan ikan bilis. Wawancara mendalam dengan beberapa nelayan kelong bilis menunjukkan bahwa meningkatnya ketersediaan ikan bilis dalam dua tahun terakhir ini antara lain karena tidak ada lagi nelayan yang menggunakan parit gamat. Kondisi ini berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga. tetapi juga para buruhnya. bukan hanya bagi pemilik kelong. tetapi populasinya tidak besar. nelayan harus pergi ke wilayah perairan Pulau Semut di Kecamatan Singkep. terdapat kira-kira 40-an orang buruh kopek ketam.

tidak banyak nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan cumi-cumi (umumnya dari Dusun Senempek). karena potensi SDL di perairan desa ini sangat tinggi. Hasil tangkapan lain. Pemasaran kepiting/ketam yang merupakan SDL andalan di Desa Limbung semakin mudah dalam pemasarannya. Pemasaran Tingginya permintaan produk SDL hasil tangkapan nelayan Desa Limbung berdampak pada peluang pasar yang semakin terbuka. karena pembuatan kelong memerlukan modal yang tidak sedikit. seperti halnya daerah-daerah lain di Kabupaten Lingga juga sangat luas. serta di provinsi sekitar. walau cenderung terbatas pada nelayan yang mempunyai kondisi ekonomi baik. seperti 118 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . terutama ke Singapura. umumnya kepada penampung. hasil tangkapan nelayan juga dapat dijual ke kapal ikan dari Pancur yang datang tiga kali per minggu ke Desa Limbung. sehingga kontribusi hasil penjualan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan tidak besar. yang selanjutnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan. Wawancara dengan dua orang pengelola industri pengolahan daging ketam menggambarkan adanya peluang pasar yang masih terbuka luas. seperti telah dikemukakan sebelumnya. Peluang pasar ikan bilis kering dari Desa Limbung. diindikasikan oleh bertambahnya jumlah usaha pengolahan daging ketam.biaya operasional cukup besar. penampung di Desa Limbung bersedia membeli semua jenis SDL. Ikan bilis dari daerah ini dipasarkan di Kota Batam dan Tanjung Pinang. Setiap dusun terdapat beberapa penampung yang selalu siap membeli hasil tangkapan nelayan. Hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dipasarkan di dalam desa. Selain penampung dan pengusaha industri. Kondisi ini tentunya berdampak positif terhadap pendapatan nelayan Desa Limbung. Hal ini diindikasikan dari mudahnya menjual hasil tangkapan untuk jenis SDL apa saja dan berapapun jumlahnya. Kecuali penampung yang mengkhususkan pada ikan bilis. serta pada waktu kapan saja. Oleh karena itu. Harga ikan bilis yang cukup stabil mendorong nelayan Desa Limbung untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui cacak kelong baru.

khususnya ketam. Kemudahan dalam pemasaran dalam dan luar negeri untuk semua jenis SDL hasil tangkapan nelayan tersebut berpengaruh terhadap perolehan pendapatan rumah tangga. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 119 . sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan melalui perubahan kapasitas penangkapan dan maksimalisasi tenaga kerja rumah tangga.gonggong yang langsung dikirim ke Kota Batam juga mengindikasikan bahwa pasaran jenis SDL ini masih terbuka lebar. Bahkan dengan meningkatnya peluang pasar.

120 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

itupun harus dilakukan perbaikan. Kelemahan I K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 121 . Persoalan koordinasi dicerminkan oleh jarangnya pertemuan antar komponen COREMAP maupun antara anggota dalam suatu komponen. pendanaan.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1. KESIMPULAN mplementasi COREMAP II di Kabupaten Lingga telah berjalan selama empat tahun. Pada kenyataannya. Persoalan koordinasi. dan keterbatasan sumberdaya manusia (kuantitas dan kualitas) sangat menghambat dalam pelaksanaan kegiatan COREMAP. Sedangkan kelembagaan masyarakat terkait dengan pengelolaan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat sudah terhenti sejalan dengan berhentinya COREMAP I yang sempat mengalami masa vakum kira-kira selama dua tahun akibat adanya perubahan status wilayah administrasi pemerintahan dan pengalihan tanggung jawab pengelolaan COREMAP dari Bappeda Provinsi Riau ke Kantor Sumber Daya Alam Kabupaten Lingga. Terpencarnya domisili tempat kerja dan tempat tinggal anggota komponen dijadikan ‘kambing hitam’ untuk menutupi buruknya koordinasi antar komponen maupun anggota komponen COREMAP. Selama pelaksaan COREMAP II yang dilatarbelakangi oleh nuansa otonomi daerah dan pengalihan tanggung jawab pelaksana program nasional tersebut. sejumlah kendala dan persoalan dihadapi yang menyebabkan keterlambatan dalam pencapaian program dan kegiatan COREMAP. Padahal sebagian besar anggota sudah tinggal dan berdomisili di Kepulauan Lingga. di mana hanya sebagian kecil infrastuktur yang masih dapat dimanfaatkan. hampir semua desa menghadapi kondisi yang tidak berbeda. Kendala geografis sering dikaitkan dengan lemahnya koordinasi. Lokasi program yang mengambil desa-desa sama dengan lokasi COREMAP I merupakan suatu pilihan yang tepat jika infrastruktur dan kelembagaan masyarakat yang dibentuk pada COREMAP I masih berfungsi.

Akibatnya. baik jabatan struktural maupun proyek. sehingga kualitas hasil kegiatan sering tidak sesuai dengan persyaratan yang disepakati dalam lelang dengan pihak ketiga. karena keterbatasan waktu. Keterlambatan dalam pendanaan juga menyebabkan setiap komponen harus segera melaksanakan program dan kegiatan tanpa berkoordinasi dengan komponen lain. Keadaan ini berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program yang tidak dapat dilakukan dengan optimal. Keadaan ini tentunya mempengaruhi kelancaran kegiatan COREMAP yang tidak dapat 122 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . khususnya pekerjaan-pekerjaan infrastruktur yang ditangani oleh perusahaan kontraktor. Bahkan. Tenaga pengelola COREMAP yang terbatas dalam jumlah dan kualitas terlihat dari sebagian besar koordinator komponen dan PIU yang harus memegang jabatan rangkap. Faktor keterbatasan sumber daya manusia yang menghambat dalam pelaksanaan COREMAP tercermin dari keterbatasan jumlah maupun rendahnya kualitas pengelola program.dalam koordinasi ini berdampak terhadap rendahnya pemahaman anggota komponen terkait dengan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) dalam melakukan kegiatan pengelolaan terumbu karang melalui COREMAP II. lebih-lebih kegiatan koordinasi yang semestinya difasilitasi oleh PIU juga sangat jarang dilakukan. disamping kegiatan yang dilakukan oleh suatu komponen tidak berkoordinasi dengan komponen lain. Sistem ‘kejar target’ selalu mewarnai pelaksanaan kegiatan COREMAP di desa/lokasi program. karena pencairan dana baru dapat dilakukan antara tiga atau dua bulan sebelum penutupan tahun anggaran. dana pendamping selalu menjadi hambatan utama. sehingga berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan program. Sejak COREMAP II diimplementasikan. padahal kegiatan tidak bisa dilaksanakan sebelum dana pendamping dapat dicairkan. bahkan beberapa di antaranya memiliki lebih dari dua jabatan. sejumlah kegiatan yang direncanakan tidak dapat dilaksanakan. Kendala pendanaan COREMAP II yang mensyaratkan adanya dana pendamping dari anggaran APBD yang sering turun sangat terlambat. sehingga dapat dipastikan akan berpengaruh terhadap pencapaian implementasi COREMAP. komponen yang satu terkadang tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh komponen yang lain.

Terjadi kecenderungan pada kebanyakan masyarakat yang kurang peduli terhadap pelaksanaan kegiatan COREMAP yang sudah ada maupun rencana kegiatan yang akan dilakukan. termasuk di Desa Limbung. tetapi juga tidak terlepas dari pengelola COREMAP Kabupaten Lingga yang menyetujui bahwa fokus kegiatan COREMAP II hanya pada satu dusun yang terletak di pusat Desa Limbung. pelaksanaan COREMAP II di Desa Limbung telah dilakukan sejak fase I. Bahkan. Implementasi COREMAP I tidak meninggalkan bekas. Hal ini kemungkinan besar berkaitan dengan kurangnya sosialisai program dan rendahnya keterlibatan masyarakat luas dalam COREMAP. maka menjadi hal yang wajar jika implementasi COREMAP bukanlah menjadi prioritas utama bagi pemerintah Kabupaten Lingga. Kondisi seperti ini tampaknya bukan semata-mata merupakan kekeliruan masyarakat Desa Limbung. yang kemudian dilanjutkan pada fase II yang pada saat ini sudah memasuki tahun ke tiga (satu tahun lebih lambat dari pelaksanaan di tingkat kabupaten). karena konflik kepentingan antara mendahulukan COREMAP atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya diperkirakan dihadapi oleh mereka yang memiliki jabatan rangkap. Sebagaimana dengan kondisi di tingkat kabupaten. Sedangkan kegiatan COREMAP II yang telah dilakukan di Desa Limbung masih sangat terbatas. Sejumlah kendala dalam implementasi COREMAP juga dihadapi pada pelaksanaan kegiatan di lokasi program. dan bahkan kondisi terumbu karang semakin mengalam kerusakan parah. maka program nasional pengelolaan dan pelestarian terumbu karang di Kabupaten Lingga yang telah dilakukan selama ini akan sia-sia. Kegiatan pengawasan yang terjadwal juga jarang dilakukan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 123 . itupun cenderung terkonsentrasi pada kegiatan di salah satu dusun. Dalam konteks Kabupaten Lingga dengan potensi sumber daya alam sangat besar yang cenderung lebih menguntungkan untuk meningkatkan pembangunan daerah maupun meningkatkan kesejahteraan ekonomi SDM pengelolanya daripada COREMAP.ditangani dengan baik. Apabila kegiatan tersebut terlaksana. dalam arti semua kegiatan berhenti sejalan dengan berhentinya program. terdapat indikasi adanya upaya ekploitasi penambangan boksit dan pasir besi yang akan dilakukan di lokasilokasi COREMAP.

Sangat jarang (jika tidak bisa dikatakan tidak pernah) pengurus LPSTK maupun tenaga pendamping yang berkunjung ke dusun lain untuk mensosialisasikan COREMAP. Sikap ‘masa bodoh’ kebanyakan masyarakat Desa Limbung terhadap kegiatan COREMAP II kemungkinan juga disebabkan oleh kinerja LPSTK maupun tenaga pendamping yang kurang pro-aktif terhadap masyarakat di luar lokasi binaan COREMAP yang hanya dikonsentrasikan di satu dusun. dan kegiatan penyadaran masyarakat. kecuali pokmas jender yang mendapat bantuan modal dalam jumlah yang sangat kecil. Hal ini disebabkan lokasi program COREMAP dimana pokmas pengawasan berada justru berjarak paling jauh dengan kawasan konservasi terumbu karang (daerah perlindungan laut-DPL). sehingga praktis tidak dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam membantu masyarakat untuk menggali usaha-usaha produktif yang dikembangkan. Tenaga penyuluh lapangan juga cenderung lebih banyak berada di kantor. sehingga pelaksanaan program dan kegiatan cenderung diputuskan oleh masyarakat sendiri. Akibatnya kegiatan usaha ekonomi produktif yang merupakan sasaran program mata pencaharian alternatif (MPA) dari 124 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Kondisi ini semakin membuat masyarakat kurang peduli terhadap kelanjutan COREMAP. apalagi memberi penyuluhan tentang pentingnya pengelolaan terumbu karang. membentuk kelembagaan COREMAP di tingkat desa. itupun pada kalangan yang sangat terbatas. Oleh karena itu tidak dilibatkannya mereka dalam kegiatan COREMAP dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang mungkin juga berdampak lanjutan terhadap kelancaran kegiatan COREMAP. khususnya dalam aspek pengawasan dan perlindungan daerah konservasi. sebagian besar penduduk di dusun lain (misalnya Senempek dan Air Kelat) juga bekerja sebagai nelayan yang selalu bersinggungan dengan ekosistem terumbu karang. Tenaga pendamping lapangan (Field Fasilitator-FF) yang direkrut oleh pihak ketiga (LSM) hanya ada di Desa Limbung selama satu bulan. Meskipun bukan merupakan lokasi program. produksi dan pengawasan) belum melakukan kegiatan.oleh komponen COREMAP. Kelembagaan COREMAP di tingkat desa yang baru dibentuk pada tahun 2007 yang terdiri dari LPSTK dan tiga pokmas (jender.

ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi perubahan pendapatan rumah tangga penduduk Desa Limbung ke arah yang lebih baik. Namun demikian. program PBM yang telah dilakukan di Desa Limbung adalah memberikan bantuan di bidang pembangunan infrastruktur (tambatan perahu dan sarana MCK).komponen PBM masih berhenti dalam usulan kegiatan (proposal). meskipun hanya untuk lingkungan masyarakat yang terbatas. ‘kemurahan hati’ penampung untuk membantu nelayan pada musim K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 125 . menjadikan sebagian besar penduduk Desa Limbung untuk tetap menekuni pekerjaannya sebagai nelayan. tetapi adanya bantuan pinjaman barang maupun uang dari penampung. cepat mendapat uang. karena hasil tangkapan bisa langsung dijual kepada penampung maupun industri pengolahan ketam yang tersedia di dalam desa. Bekerja melaut sudah dilakukan secara turun temurun. Walaupun pendapatan nelayan sangat jauh berkurang pada musim ombak besar. Sebagian besar penduduk menggantungkan kehidupannya pada sumber daya laut (SDL). Sumber pendapatan utama rumah tangga sampel di Desa Limbung berasal dari kegiatan kenelayanan. antara lain dengan kepemilikan NPWP. Implementasi COREMAP yang salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat memang belum terlihat nyata di Desa Limbung. yakni dari lahan pertanian ataupun perkebunan. Desa Limbung dengan wilayah daratan yang lebih luas dari lautannya tampaknya belum menjadi pendorong bagi penduduknya untuk mencari penghidupan dari sumber daya darat. Bantuan tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. disamping bantuan untuk merenovasi bangunan pondok informasi beserta peralatan pendukung. terutama dipengaruhi oleh akses yang lebih mudah untuk mencari penghidupan di laut daripada di daratan. Di luar kegiatan ekonomi produktif yang baru dilakukan oleh pokmas jender. tetapi juga dimanfaatkan untuk dermaga penyeberangan antar dusun. lokasi tambatan perahu yang cukup strategirsdan berada dalam lokasi dengan kondisi pantai yang cukup dalam. Hal ini tampaknya berkaitan dengan belum berhasilnya pengurus LPSTK untuk mendapatkan status sebagai lembaga yang berbadan hukum. maka tambatan perahu ini bukan hanya berfungsi sebagai tambatan perahu nelayan. Di sisi lain. Namun demikian.

.. meskipun tidak selalu mengindikasikan perbaikan kesejahteraan. Selain pendapatan rata-rata rumah tangga yang mengalami kenaikan cukup besar dalam dua tahun terakhir. karena kegiatan ekonomi penampung juga sangat tergantung pada kegiatan nelayan.pada tahun 2006 menjadi Rp 967. Walaupun persentase rumah tangga yang memiliki pendapatan rendah (kurang dari 500 ribu rupiah per bulan) menurun cukup besar. Keadaan ini menunjukkan membaiknya kondisi ekonomi penduduk Desa Limbung.2 persen (dari Rp 743. Hal ini karena sebagian besar rumah tangga di desa ini memiliki sumber pendapatan dari pekerjaan sebagai nelayan. yaitu dari 70 persen menjadi 51..per bulan pada tahun 2006 menjadi Rp 1.000.300. semua statistik pendapatan menunjukkan kenaikan dengan perkecualian pendapatan maksimum. Kenaikan angka median sangat tajam.200. Hal ini diindikasikan oleh banyaknya rumah tangga (lebih dari separuh jumlah rumah tangga sampel) yang memiliki pendapatan di bawah rata-rata (mean).per bulan pada tahun 2008. dengan angka yang mencapai hampir dua kali 126 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pendapatan dari kegiatan kenelayanan memang dapat memberikan penghasilan kira-kira dua kali lipat lebih besar daripada pendapatan dari sektor pertanian/perkebunan.700.sulit ikan dilandasi oleh motif untuk tetap menjaga hubungan kerja dengan mereka. tetapi sebagian besar rumah tangga mungkin tidak mengalami perbaikan kesejahteraan. atau dari Rp 948. Hal ini karena kenaikan pendapatan tersebut juga seiring dengan kenaikan harga barang-barang konsumsi maupun barang lainnya. Meskipun peningkatan pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayanan lebih rendah daripada kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya.pada tahun 2008) masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pendapatan rumah tangga sampel pada umumnya (termasuk mereka yang bekerja di luar kegiatan kenelayanan) yang mencapai 30 persen.5 persen. kecuali mereka yang tinggal di Dusun Linau yang menurut rencana akan menjadi desa pemekaran Desa Limbung.360. kenaikan pendapatan rumah tangga per bulan dari kegiatan kenelayanan yang sebanyak 23. Namun demikian. tetapi dampak perubahan pendapatan tersebut cenderung terlihat cukup meluas di kalangan rumah tangga di Desa Limbung..

Data empiris ini mengindikasikan semakin banyak rumah tangga nelayan yang pendapatannya mengalami kenaikan. Beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal. baik pada musim teduh/ombak lemah. Terjadi kecenderungan peningkatan pendapatan dialami oleh rumah tangga yang berpendapatan rendah maupun menengah. Penurunan proporsi rumah tangga dengan pendapatan kurang dari satu juta rupiah dari 60 persen menjadi 27 persen mencerminkan membaiknya pendapatan rumah tangga. kenaikan pendapatan nelayan di Desa Limbung tersebut belum dapat menempatkan rumah tangga ke posisi yang pendapatannya lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata. pancaroba maupun ombak kuat. sedangkan musim ombak kuat sekitar tiga kali lipat lebih besar daripada kenaikan rata-rata pendapatan pada musim pancaroba (4. mempengaruhi perubahan K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 127 . dan struktural. Kenaikan pendapatan dari kegiatan kenelayanan menurut musim selama periode 2006-2008 menunjukkan.7 persen). Data distribusi rumah tangga menurut kelompok pendapatan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya pendapatan rumah tangga nelayan pada musim teduh selama kurun waktu 20062008. Pada periode sama untuk rumah tangga dengan kelompok pendapatan sama hanya turun sedikit pada musim pancaroba (79 persen menjadi 69 persen). pada musim ombak lemah terjadi kenaikan pendapatan paling tinggi (45. Tren membaiknya pendapatan rumah tangga nelayan juga ditunjukkan oleh angka median pendapatan yang meningkat. dan penurunan terendah terjadi pada musim ombak kuat (89 persen menjadi 87 persen). sehingga hampir menyamai besar pendapatan rata-rata. diindikasikan oleh angka median yang lebih rendah daripada pendapatan rata-rata (mean) masih berada di bawah pendapatan.7 persen).lipat lebih besar pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2006. sebaliknya pendapatan minimum cenderung menurun. eksternal. Data pendapatan minimum yang meningkat lebih dari dua kali lipat selama kurun waktu 20062008 juga mencerminkan bahwa peningkatan pendapatan rata-rata cenderung dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan rumah tangga yang berpenghasilan rendah yang merupakan kelompok mayoritas. Namun demikian.

yaitu permintaan dan pemasaran. Pada tahun 2006. musim angin lemah dengan kondisi laut sangat teduh merupakan musim panen bagi nelayan Desa Limbung. Sumber daya laut hasil tangkapan nelayan Desa Limbung dapat tertampung oleh pasar dalam dan luar negeri. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya BBM. rata-rata anggota rumah tangga yang bekerja hanya satu orang. Dua jenis SDL tersebut (terutama ketam) tersedia cukup banyak wilayah perairan Limbung dan sekitarnya dan dapat ditangkap hanya dengan menggunakan teknologi penagkapan yang sederhana. Seperti yang umum terjadi. sehingga pendapatan rumah tangga pada musim ini paling tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh pada musim pancaroba dan ombak kuat. Alat tangkap bubu ketam lebih murah dan lebih mudah dioperasikan daripada jaring. Dalam dua tahun terakhir terjadi sedikit perubahan musim yang diindikasikan oleh datangnya angin ribut pada musim teduh. faktor ini cenderung bukan merupakan faktor eksernal yang berperan penting dalam mempengaruhi pendapatan rumah tangga dari kegiatan kenelayan. Walaupun Desa Limbung juga terjadi perubahan musim angin. Keterlibatan anak-anak dan perempuan dalam kegiatan melaut akibat perubahan alat tangkap ketam tersebut telah meningkatkan rata-rata jumlah ART yang bekerja. Perubahan teknologi penangkapan dalam dua tahun terakhir (20062008) dari jaring menjadi bubu untuk menangkap ketam merupakan faktor internal yang mempengaruhi peningkatan pendapatan rumah tangga.pendapatan dari kegiatan kenelayanan tersebut yang tentunya juga sangat bergantung pada kondisi musim angin. Dua faktor eksternal lainnya. Bubu yang berukuran relatif kecil dapat dioperasikan oleh anak-anak maupun perempuan dengan kawasan wilayah tangkap di sekitar pantai yang dapat dijangkau dengan sampan. Mudahnya pemasaran ketam dicerminkan pula dengan semakin meningkatnya permintaan daging ketam yang pengolahannya juga dilakukan di Desa Limbung. Meningkatnya peluang pasar. khususnya 128 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . meningkat menjadi antara 1-2 orang pada tahun 2008. Hal ini diindikasikan bertambahnya jumlah industri pengolahan ketam dari dua menjadi tiga buah. tetapi fenomena perubahan musim ini belum berpengaruh terhadap perubahan pendapatan nelayan menurut musim.

bahkan pendapatan rumah tangga peserta program. akibat semakin habisnya modal usaha yang hanya sebesar Rp 100. jender.000. COREMAP (Coral reef Rehabilitation and Management Program) yang telah mengembangkan aktivitas usaha ekonomi produktif melalui pokmas produksi.000. Meskipun penerima program di Desa Limbung adalah nelayan pemodal besar dan penampung. pemanfaatannya yang dilakukan secara perorangan kemungkinan besar berpengaruh terhadap lambatnya usaha yang dijalankan oleh anggota pokmas.sehingga manfaat bantuan tersebut masih terbatas pada terciptanya usaha ekonomi produktif dalam skala yang sangat kecil. dan konservasi. mendorong nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dengan cara mengoptimalkan faktor internal (memaksimalisasi tenaga kerja yang ada dalam rumah tangga dan meningkatkan/merubah alatalat tangkap).-. diperkirakan usaha tersebut tidak akan bertahan lama. Di luar COREMAP. sehingga satu orang mendapat bantuan Rp 25. nelayan kecil juga mendapat manfaat dari bantuan pinjaman program tersebut.ketam. faktor struktural belum memperlihatkan kontribusi penting dalam memperbaiki kesejahteraan nelayan yang diukur dari kenaikan pendapatan rumah tangga. khususnya di Dusun Air Berani dan Seranggas.. yang selama ini hanya memanfaatkan tambatan perahu pribadi atau swadaya dengan kondisi sangat sederhana. Sedangkan bantuan infrastruktur yang berupa pembangunan tambatan perahu (dermaga) dari COREMAP memberi kemudahan bagi nelayan. Tanpa adanya tambahan modal dan upaya mewujudkan usaha kelompok. Program Bantuan Dana Penguatan Modal dari KSDA Kabupaten Lingga yang dimulai tahun 2007 di Desa Limbung tampaknya menunjukkan kecenderungan positif dalam upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan. Berbedan dengan faktor internal dan eksternal yang memperlihatkan pengaruh nyata dalam peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan. tampaknya juga belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.per kelompok yang beranggotakan empat orang. Hal ini karena kredit usaha K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 129 . sehingga berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Bantuan modal usaha kepada pokmas jender belum dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Disamping besar bantuan dalam jumlah tidak besar.

Hal ini jelas berdampak terhadap kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan. memperkuat koordinasi antar komponen menjadi sangat penting untuk dilakukan.2. Jika keterlambatan dana pendamping 130 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . 5. Dana pendamping COREMAP yang berasal dari APBD perlu dipercepat pencairannya. MCS.yang diperoleh penampung kemudian dipinjamkan kepada anak buah mereka dalam bentuk alat-alat tangkap maupun mesin pompong. beberapa pemikiran yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam merespon permasalahan yang dihadapi dan untuk mengambil tindakan agar program dapat berjalan sesuai dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan adalah seperti berikut ini. Disamping itu. PA) yang semestinya merupakan satu tubuh (karena program setiap komponen harus mendukung komponen yang lain) tampaknya belum dilakukan dalam pelaksanaan program dan kegiatan di Kabupaten Lingga. agar kegiatan COREMAP tidak selalu “kejar target” yang juga tidak bisa mencapai target dari aspek kuantitas. apalagi kualitas. PIU harus meningkatkan kinerja untuk mengkoordinir dan memfasilitasi proses pelaksanaan kegiatan dan target yang harus dicapai oleh masing-masing komponen dalam mengimplementasikan kegiatan di lapangan. Terpenuhinya kebutuhan alat dan armada tangkap bagi nelayan dalam jumlah dan kualitas yang baik berkontribusi terhadap peningkatan hasil tangkapan yang selanjutnya berdampak terhadap kenaikan pendapatan. Konsep COREMAP dengan komponennya (CRITC. CBM/PBM. Oleh karena itu. koordinasi yang teratur juga bermanfaat dalam memfasilitasi keterbukaan dan penyediaan informasi yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan COREMAP di lokasi program. Koordinasi program yang terjadwal secara teratur diharapkan dapat mempermudah dalam koordinasi pelaksanaan kegiatan dan menghindari terjadinya tumpang tindih program antara satu komponen ssatu dengan lainnya. REKOMENDASI Berdasarkan temuan kajian BME Aspek Sosial Ekonomi tersebut.

Keterbatasan sumber daya manusia dari aspek kuantitas dan kualitas perlu segera dicarikan jalan keluarnya.terus terjadi jelas akan berpengaruh terhadap usaha peningkatan tutupan terumbu karang dan peningkatan pendapatan masyarakat. peralatan maupun koordinasi. Selain itu. sedangkan nelayan tidak mampu untuk membiayai sendiri. Pada saat ini yang tersedia baru kapal patroli nelayan. Misalnya dengan memilih anggota komponen yang K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 131 . Selain itu. jabatan rangkap tidak menjadi masalah besar. dan kapal “patroli” nelayan. adanya kecenderungan anggota komponen yang belum memahami tentang COREMAP. perlu penentuan anggota adalah yang berdomisili pada satu lokasi. kapal patroli untuk anggota MCS. Oleh karena perlu dilakukan kaji ulang pilihan orang-orang yang terlibat pada komponen ini. tetapi pengelola (koordinator dan anggota setiap komponen) harus dapat membagi waktu dan tidak mengesampingkan salah satu pekerjaan yang ditanganinya. meliputi alat navigasi. Lambatnya kegiatan penyadaran masyarakat (PA) tentang pentingnya pengelolaan dan pelestarian terumbu karang tersebut tampaknya dipengaruhi oleh lemahnya koordinasi. Namun demikian. masing-masing 10 persen pada saat berakhirnya program di Kawasan Lingga. kelengkapan peralatan komponen MCS harus disediakan. baik di antara anggota komponen PA maupun lintas komponen dan PIU sebagai pimpinan pelaksana proyek COREMAP II. sehingga kegiatan COREMAP dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tujuan serta sasaran. Komponen MCS yang belum menjalankan tugas dan fungsinya karena persoalan personil. agar anggota komponen MCS lebih mengetahui dan memahami proyek COREMAP yang berbasis masyarakat maka perlu di antara mereka diikutsertakan pada pelatihan MCS atau COREMAP. tampaknya perlu dilakukan kaji ulang terhadap keanggotaan komponen. alat komunikasi antar anggota. namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan patroli karena dana operasional belum tersedia. Sedangkan untuk kelancaran tugas sebagai penegak hukum .

melibatkan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi DPL sangat membantu dalam kegiatan MCS di lokasi program. penyediaan atribut-atribut yang lebih jelas (bukan hanya semacam pelampung/marine eboy) . Upaya meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatan PBM di pokmas-pokmas belum menunjukkan hasil nyata karena bantuan dana masih sangat kecil. Pembentukan kelompok pengawasan dengan anggota yang berasal dari dusun yang jauh dengan lokasi DPL sangat tidak efektif. Namun demikian. disamping juga melalui kesepakatan antara semua masyarakat dan pemerintahan desa yang kemudian disosialisaikan kepada masyarakat. Program PBM yang telah diimplementasikan di Desa Limbung belum berjalan baik karena alasan pendanaan maupun ketiadaan tenaga pendamping (field fasilitator). serta peningkatan pendapatan penduduk. dapat diatasi antara lain dengan memperbanyak kunjungan dari anggota komponen atau tenaga penyuluh untuk memonitor dan sekaligus melakukan pembinaan kepada pokmas-pokmas. Namun demikian. Kegiatan perlindungan ekosistem terumbu karang sudah dilakukan dengan memberi tanda pada kawasan konservasi (DPL). indikasi ke 132 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .memahami persoalan masyarakat nelayan. Hal ini untuk memperkuat keberadaan pokmas pengawasan dalam melakukan kegiatannya. Sikap kurang peduli terhadap kegiatan COREMAP oleh masyarakat di Desa Limbung dapat diatasi antara lain dengan meningkatkan kemampuan pengurus LPSTK untuk berkoordinasi dengan perangkat desa dan jajaranya (RW dan RT) dalam rangka mengakomodasikan kepentingan semua masyarakat terkait dengan pengelolaan dan pelestarian terumbu karang. disamping juga memahami konsep atau teknik penyadaran masyarakat yang tidak sama antara kelompok masyarakat satu dengan lainnya. Hal ini akan berdampak positif terhadap upaya penyelesaian masalah terkait dengan kegiatan COREMAP dan memperlancar kegiatan di masa depan. tetapi belum diikuti dengan kegiatan pengawasan. Oleh karena itu. terutama dapat menindak pelanggar.

dan membagi secara proporsional berkaitan dengan kewenangan dan tanggung jawab antara masyarakat dan pengelola Program COREMAP Bantuan modal usaha melaut (armada dan alat penangkapan) melalui program kredit lunak kepada nelayan diharapkan dapat meningkatkan hasil tangkapan (ketam maupun bilis) yang merupakan sumber daya laut utama di Desa Limbung. Melakukan kerjasama dengan penampung dan indusri pengolahan ketam yang selama ini menjalin hubungan kerja dengan nelayan cukup baik.arah peningkatan pendapatan terlihat dari dimanfaatkannya bantuan dana untuk kegiatan produktif pada kelompok jender. tetapi harus disertai dengan konsistensi kegiatan program dan dukungan pengelolaan usaha pemberdayaan ekonomi penduduk mengingat kualitas SDM yang masih rendah dan tidak terbiasa bekerja secara berkelompok. kemungkinan besar dapat membantu kelancaran pengembalian dana bantuan. Hal ini menginsyaratkan bahwa mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam Program COREMAP II bukanlah upaya yang terlalu sulit untuk dilakukan. K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 133 . memobilisasi dan menanamkan sikap optimis akan pemanfaatan SDL berkelanjutan. bukan penampung/pemilik usaha industri maupun pengelola program. Namun demikian. yang kemudian dapat digulirkan kepada nelayan lain. upaya membangun kerjasama diantara kelompok masyarakat dan mengembangkan kapsitas institusi (termasuk pemerintah setempat). Oleh karena itu. kegiatan evaluasi dan memonitorng dari pengelola program perlu dilakukan agar masyarakat sebagai kelompok sasaran tetap menjadi penerima manfaat.

134 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .

Sambutan Direktur Jendral Pesisir dan Pulau-Pulau kecil Pada Peluncuran Proyek Pengelolaan Dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Pemantapan Proyek Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut. 2007. Kecamatan Lingga Utara.go.php?c=1530. http:///www. BME Reef Health Monitoring di Lokasi ADP. Dirjen. 2005.DAFTAR PUSTAKA BPS Kabupaten Lingga. 2006. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. http://www.id/research_agenda/article. CRITC-COREMAP-LIPI. Power Point.php?id=4 92 Departemen Kelautan dan Perikanan-Republik Indonesia. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan. Kabupaten Lingga.id/content. 2007.dkp. Jakarta: Dirjen Kelautan.Rahayu. CRITCT-LIPI. BME Ekologi di Kabupaten Lingga. dan S. Romdiati. 2004.Djohan. Daik: BPS Kabupaten Lingga. Jakarta: DKP Kantor Kecamatan Linga Utara. 2007. H. Kelautan.coremap. E. Riset Agenda. 2008. Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. BPS Kabupaten Lingga. Catatan Statistik Kantor Kecamatan Lingga Utara 2008. Statistik Pertanian 2006 Kabupaten Lingga. Kabupaten Lingga dalam Angka. Daik: BPS Kabupaten Lingga.or. DKP. Pedoman Umum Pengelolaan Berbasis Masyarakat COREMAP II. 2007. Jakarta: LIPI Press K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 135 . Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia: Desa Limbung.

Panduan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). Kelautan. Toni (ed). Hari. 2007. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. Sutanta.Ruchimat. Jakarta: PT. 2008.net/node/1163 Syahyuti. http://satudunia. Jakarta: Dirjen.oneworld. Kualitas Terumbu Karang Indonesia Turun Hingga 50 Persen. Bina Rena Pariwara. 2006. 136 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  . Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan.

7 7.0 411 Total K a s u s K a b u p a t e n L i n g g a | 137 .9 7. 2008 Kelompok Umur 0–4 5– 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 60 – 64 65 + Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki 11.4 11.0 8.1 5.5 7.5 6.2 3.2 9.1 100.0 191 9.7 9.8 14.1 7.5 6.8 13.2 2.8 10.5 5.9 8.9 4.5 2.9 3.2 7.5 4.4 5.9 13.1 10.7 5. Desa Limbung.1.9 100.1 5.Lampiran Tabel 2.8 8.5 5. Distribusi Persentase Penduduk Sampel Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.5 9.1 1.0 220 Perempuan 6.1 3.4 6.2 9.5 9.6 100.2 4.4 2.7 3.

5 72.7 3.7 3.6 42.2 100.6 3.9 21.9 7.0 42.0 28 71. Desa Limbung.9 (4) 100.0 127 39. Kabupaten Lingga Pekerjaan Lapangan Pekerjaan: Perikanan tangkap Pertanian pangan Perkebunan Kehutanan Perdagangan Industri pengolahan Jasa kemasyarakatan Lainnya Jenis Pekerjaan: Profes/Kepm?Adm Nelayan Petani Tenaga penjualan Tenaga industri Tenaga kasar Status Pekerjaan: Berusaha sendiri Berusaha dg ART/orang lain Buruh/karyawan Pekerja keluarga Jumlah N Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 73.9 (2) (1) Lk-lk + Pr 61.7 (3) 4. Status Pekerjaan Utama Dan Jenis Kelamin.5 (4) 8.9 (1) 5.7 5.8 61.7 (3) 3.1 11.6 9.8 (4) 12.7 (2) (4) (0) (2) (0) 28.3 9. Jenis.3 (1) 42.3 3.5 (1) 100.9 5.0 155 138 | Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II – Hasil BME  .2 (1) 5.9 (1) 5.2 1.2 Distribusi Persentase Penduduk Menurut Lapangan.9 16.4 7.1 8.Lampiran Tabel 2.9 78.9 (2) (4) 92) 25.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->