Antara Facebook, Twitter dan Blog Oleh : Yons Achmad* Facebook semacam rumah kontrakan, Twitter kost-kosan

dan Blog, itulah rumah sejati kita Facebook. Sudah sekitar 6 bulan saya tidak aktif. Beralih ke twitter, bertahan sampai sekarang dan blog sudah jarang dibelai, hanya 1-2 postingan sebulan. Dengan bergabung di facebook, saya sempat kembali dipertemukan oleh teman-teman sewaktu sekolah atau kuliah dulu, sempat berbagi informasi (artikel/resensi buku). Selebihnya komentar-komentar tak jelas. Beralih ke twitter, saya banyak mendapatkan ilmu dari para pakar. Puisi (Hasan Aspahani), internet sehat (Donny BU), kepenulisan (Ollie/Jonru), marketing online (Nukman), sastra (Eka Kurniawan), agama (Qurais Shihab) bisnis (Roni Yuzirman). Selebihnya, untuk berkomunikasi dengan Geng “Friday Jazz” Margo City Depok (Muthia, Meniex, Ajo, Iwan, Bakti). Lalu apa setelah itu? Saya kadang berpikir, seperti saat ini. Apakah sudah bisa memberikan makna pada media sosial tersebut. Artinya, apakah dengan bergabung dengan facebook, twitter, blog kualitas hidup menjadi meningkat? Begitu juga, apakah juga sudah memberikan andil meningkatkan kualitas hidup orang lain menjadi lebih baik? Pertanyan semacam ini selalu mengusik saya. Bagi saya, facebook, twitter, blog hanyalah media. Kitalah yang akan memberikan nilai, memberikan warna pada media itu. Namun kadang, entah karena alasan apa, banyak orang yang menilai kita berdasar bagaimana cermin kita dalam media tersebut. Kita, dinilai orang berdasarkan kualitas ucapan/tulisan/komentar dari media sosial tersebut. Tak salah memang. Walau kurang tepat. Kini, setelah saya renungkan dengan berbagai pertimbangan kebutuhan. Saya mulai bosan dan meninggalkan facebook. Facebook sudah semakin riuh, banyak hal-hal yang tak penting. Informasi ada, tapi tak penting dan tak banyak gunanya bagi saya. Daripada membuang-buang waktu, ya sudah untuk sementara saya tinggalkan. Kini, twitter masih cukup memberikan ilmu kepada saya untuk meningkatkan kualitas hidup. Walau kadang agak membosankan juga ketika sedang banyak pengguna twitter yang stress. Kirim sampah digital bertubi-tubi. Dan blog. Ini dia. Rasa-rasanya, inilah media yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan saya. Biarkan facebook dan twitter tetap ada. Tapi blog, seperti saya tuliskan di atas, rasa-rasanya kok inilah sejatinya rumah maya saya sesungguhnya. Dan, kini saya memutuskan untuk menggunakan facebook non aktif, dan twitter secukupnya saja, selebihnya bloging, bloging dan blogging. Rencananya begitu. Facebook dan twitter memang memberikan ruang bagi kecepatan informasi dan interaksi seketika. Namun, dibalik keunggulannya ia bisa menjebak pemakainya. Orang bisa terjebak dalam kegelisahan yang akut. Misalnya kegelisahan saat bingung untuk menulis status apa. Padahal dunia juga tahu, kenapa kita mesti memaksakan untuk mengatakan/menuliskan sesuatu yang semestinya tak ada yang perlu dikatakan. Ketidakmampuan melakukan kontrol ini yang secara psikologis menjadikan sesorang menuliskan status sampah yang tidak penting. Alih-alih memberikan kemanfaatan bagi para pengguna lain, yang ada justru kita turut andil dalam memproduksi sampah digital. Ironis memang.

Dalam khasanah postmodernisme, khususnya mengenai studi tentang tumpang tindihnya gaya hidup, citra dan makna, barangkali ini yang dinamakan dengan conspious comsumtion atau sekelompok masyarakat yang mempunyai budaya konsumsi, dalam hal ini media sosial secara berlebihan. Logika yang berjalan bukan lagi logika kebutuhan (need) tapi logika hasrat (desire). Disini barangkali kita benar-benar tak bisa mengontrol diri sendiri dan bisa jadi kita sedang kehilangan akal sehat. Tragis. Parahnya lagi, seperti kata Dick Hebdige dalam buku Hiding in the Light, jangan-jangan kita semua sedang mengidap apa yang dinamakan dengan Konsumer Skizofrenik, dimana kita terjebak dalam chronos (ini-lalu-ini-lalu-ini-lalu) tanpa mampu menemukan jalan menuju tempat suci kairos (sebuah kehidupan yang syarat makna). Memakai (bermain) berjam-jam lewat facebook, twitter. Rajin sekali mengupdate status, membalas satu persatu. Terus begitu, terus begitu, setiap hari. Selalu dan selalu. Sehari tak membuka twitter atau facebook gelisahnya bukan main. Padahal, kita juga tak pernah bertanya atau mengerti, sebenarnya apa yang kita cari dari aktivitas semua ini. Itulah “kedahsyatan” lain media sosial tanpa kita sadari. Kebodohan yang telanjang. Jujur, saya sendiri juga pernah terjebak dalam kondisi semacam itu hingga pelan-pelan menyadarinya. Dan blog, saat ini menjadi pilihan media sosial saya dibanding facebook atau twitter. Blog, memberikan ruang yang lebih memberikan makna. Blog tidak mengejar spontanitas belaka dan instanisme. Ia memberikan kesempatan kepada pemakainya untuk berpikir lebih dalam, lebih sesuai akal sehat, lebih sistematis. Efek dahsyat blog juga merangsang kita lebih rajin membaca untuk sebuah kualitas karya (postingan). Untuk karir maupun keperluan membangun personal branding, blog juga sepertinya lebih menjanjikan. Memang, ini argumen subjektif saya. Semua tergantung selera dan selera tak bisa diperdebatkan. Seperti kau kau mungkin menyukai siang dan saya begitu menyukai senja. Begitulah. Tapi, setidaknya saya sudah menentukan pilihan. Kembali ke jalan yang benar, menjadi blogger produktif. Saya yakin pilihan saya kali ini betul. Bagaimana denganmu? [] * Pengamat media. Founder Kanetwork.net ---------------------------yons achmad Blog: http://penamuda.multiply.com Blog: http://penakayu.blogspot.com Web: http://kanetwork.net Twitter: @revoltaka "Kekuatan Ilmu Terletak Pada Bagaimana Kita Berbagi"

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful