■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

FARMASI KEDOKTERAN
Siti Rahmatul Aini, S.F, Apt, dr. Triana Dyah C, dr. Ilsa Hunaifi Andang Sari, S.Si, Apt, Drs. Agus Supriyanto, Apt, dr. Nurhidayati M.Kes, Emmy Amalia dr.

BAHAN BELAJAR KETERAMPILAN MEDIK

PENDAHULUAN
Ilmu farmasi kedokteran merupakan ilmu terintegrasi dengan ilmu farmasi dan ilmu kedokteran klinik. Ditilik dari sejarahnya, sebelum abad XX, obat yang digunakan masih sederhana yaitu obat tradisional dan Ars Prescribendi dan Ars Preparans dipegang oleh 1 ahli yaitu dokter/tabib. Sedangkan setelah abad XX, melalui perkembangan ilmu pengobatan maka diciptakan obat dari bahan kimia, Ars prescribendi oleh dokter dan Ars preparansi dilakukan oleh apoteker.

PERIHAL OBAT
BATASAN OBAT Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun. Menurut Permenkes RI No.242/1990, obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan, dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. Obat adalah unsur bahan aktif secara fisiologis, zat kimia, atau racun, sedangkan menurut Permenkes No.193/Kab/B-VII/71, obat adalah bahan/paduan bahan yang digunakan dalam menetapkan :  Diagnosis Contoh: cairan kontras (BaSO4)  Mencegah Contoh: vaksin, pil KB.  Menghilangkan penyakit/ gejala, luka/kelainan Contoh: obat-obat simptomatis, contoh: parasetamol.  Memperindah/memperelok tubuh Contoh: obat jerawat, pemutih KATEGORI OBAT Obat bisa dikategorikan menurut UU Farmasi, bentuk (fisik), cara pemberian dan khasiat/efek obat. Berdasarkan keamanannya obat dapat digolongkan (Peraturan MenKes No. 242/ Thn 90)  Obat bebas  Obat bebas terbatas  Obat keras  Obat Psikotropika  Obat narkotika

Menurut Jenisnya Obat Dapat Dibedakan Menjadi :  Obat baku/bahan  Substansi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia atau buku

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

1

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

obat  Obat jadi  Obat paten  

resmi lainnya yang ditetapkan pemerintah. Obat standart, obat generik: obat dengan komposisi dan nama teknis standart seperti dalam Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan pemerintah. Trade name: obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar seperti nama pabrik atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya dan obat tersebut obat yang masih dilindung oleh hak patennya. Obat paten tidak tersedia dalam bentuk generik, dan tidak boleh suatu perusahaan membuat nama paten yang lain dengan kandungan yang sama selama masa paten obat ini masih dikuasai oleh perusahaan leadernya atau selama hak paten kandungannya tidak dijual atau dilisensikan ke perusahaan lain yang berminat. obat yang telah habis masa patennya obat dengan nama generik, nama resmi yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan INN (International Non-propietary Names) dari WHO (World Health Organization) untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Nama generik ini ditempatkan sebagai judul dari monografi sediaan-sediaan obat yang mengandung nama generik tersebut sebagai zat tunggal (Obat Generik Berlogo). Obat Generik bisa berupa obat off paten yang terdiri atas branded generik dan generik (berlogo). Obat tradisional, jamu, fitofarmaka: obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Obat generik yang dibuat oleh pabrik dengan nama yang berbeda dengan nama generiknya tetapi komposisinya sama dengan generiknya. Yang membedakan adalah bentuk sediaan, rasa, kemasan dan promosi.

 Obat Off Paten  Obat Generik

 

 Obat asli

 Obat dengan Nama  Dagang

Menurut Cara Pemberiannya, Obat Dibedakan Menjadi:  Obat sistemik, yaitu cara pemberian obat yang memungkinkan obat masuk dalam tubuh dan beredar dalam sirkulasi sistemik sehingga efek kerjanya bersifat sistemik. Cara pemberian obat sistemik ini misalnya pemberian per oral dan parenteral.  Obat lokal, yaitu cara pemberian obat yang menghasilkan efek setempat atau hanya pada tempat pemberian. Obat lokal ini tidak atau minimal ditemukan dalam sirkulasi sistemik. Cara pemberian obat dengan efek lokal misalnya obat topikal seperti salep kulit, sampho anti ketombe, dan pemberian per inhalasi. Menurut khasiat/efek obat, obat dibedakan menjadi kelas terapi seperti tercantum dalam Daftar Obat Essensial Nasional ( DOEN). Penggolongan Berdasar Efek Farmakologi Contoh : Fenobarbital; dapat dikategorikan menurut:  Tempat kerja dalam tubuh; merupakan obat yang bekerja pada SSP  Aktivitas terapeutik; merupakan obat sedatif-hipnotik.  Mekanisme kerja farmakologi; merupakan depressan SSP  Sumber asal/ sifat-sifat kimia; merupakan turunan asam barbiturat. Menurut bentuk dan struktur kimia:  Asam; contoh acetosal, acidum ascorbinium, barbitalum  Basa; contoh alucol, bisacodyl, hidrochlorothiazida  Garam; contoh : natrium chlorida, papaverine HCI, atropine sulfas

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

2

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

   

Garam/senyawa kompleks; contoh: magnesium trisilikat, cynacobalamin, aluminium/ kalium sulfat. Ester; contoh: chloramphenicol palmitat, adrenaline bitartrat, gliceryl guayacolate Kristal mengandung aior: contoh ampiciline trihiodrat, calcii lactas, codein HCI Isotop radioaktif: contoh : chlormerodin Hg, natrii yodida.

Hubungan antara struktur kimia-sifat kimia dan aktivitas biologis obat.
Struktur kimia Sifat kimia-fisika Aktifitas biologis obat

Jumlah Macam Susunan dari atom molekul obat

Kelarutan Koefisien partisi Adsorpsi Derajat ionisasi

Respon Kenaikan jumlah ikatan obat reseptor

Penggolongan Obat Tradisional

Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga dikenal obat yang berasal dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional.Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

1.

Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turunmenurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

3

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

2.

Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine)

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis.

3.

Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

TATA NAMA
Sesuai dengan Monografi Farmakope Indonesia, maka nama yang sah digunakan dalam penulisan resep adalah:  Nama latin : contoh: acidium acetylsalicylicum,aecetaminofen, methampyronum  Nama Indonesia : contoh:asam asetilsalisilat, asetaminofen, metampiron  Nama lazim/generik : contoh: acetosal, paracetamol, antalgin

DERIVAT OBAT (TURUNAN OBAT)
Derivat (turunan) obat adalah sekelompok obat yang diturunkan dari senyawa yang sama dengan senyawa induk tetapi masing-masing punya struktur kimia yang berbeda, umumnya digunakan untuk sekelompok obat dengan khasiat yang sama, dan didapatkan dari hasil” manipulasi molekuler” senyawa induk (dengan struktrur kimia tertentu). Tujuan dibuatnya derivat obat adalah untuk mendapatkan obat baru dengan efek sama tapi lebih poten dan efek samping lebih kecil atau efek berbeda. Berdasarkan efek farmakologinya, derivat obat ini dapat dikategorikan menjadi obat lain. Sebagai contoh, SULFONAMID, suatu antimikroba, secara struktur kimia menyerupai PABA. Dari sulfonamid dapat diturunkan banyak obat baru dengan efek berbeda antara lain: chlorthiazide (berefek diuretika/ penurun tekanan darah); chlorpropamida yang mempunyai struktur mirip sulfonamid tapi berefek lain yaitu sebagai obat anti-diabetik.

DOSIS OBAT
Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

4

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■

Farmasi Kedokteran

Dosis lazim, dosis terapeutik adalah sejumlah obat ( dalam satuan berat/volume unit) yang memberikan efek terapeutik pada penderita ( dewasa). Selain dosis terapeutik, dikenal pula istilah, dosis awal, dosis pemeliharaan, dosis maksimum, dosis toksis, dan dosis letal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis antara lain adalah faktor obat, faktor pemberian, faktor penderita dan indikasi dan patologi penyakit. Dosis Maksimum (DM) kecuali dinyatakan lain, adalah dosis maksimum untuk dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Penyerahan obat dengan melebih DM dapat dilakukan, jika dibelakang jumlah obat bersangkutan pada resep dibubuhi tanda seru dan paraf dokter penulis resep. Dosis Lazim untuk dewasa, anak dan bayi hanya merupakan petunjuk dan tidak mengikat.  FAKTOR OBAT Dipengaruhi oleh sifat fisika, daya larut (air/lemak), bentuk(kristal/amorf), sifat kimia (asam, basa, garam, ester), derajat keasaman (pH dan pKa), toksisitas.  FAKTOR RUTE PEMBERIAN OBAT Dosis obat yang diberikan melalui rute/cara pemberian apapun, harus mencapai dosis terapi dalam pada target organ. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misanya faktor yang membatasi kemampuan absorbsi obat pada pemberian per oral, maka dosis oral berbeda dengan dosis obat yang diberikan secara parenteral. Dosis obat pada pemberian per oral lebih tinggi dari pada per parenteral.  FAKTOR PENDERITA Dipengaruhi oleh umur (anak, dewasa, geriatri), berat badan (normal, obesitas, malnutrisi), luas permukaan tubuh, ras dan sensitivitas individual.  INDIKASI DAN PATOLOGI PENYAKIT  Penyebab penyakit  Keadaan pato-fisiologis, misalnya pada gangguan fungsi hepar dan/atau gangguan fungsi ginjal, beberapa jenis obat dikontraindikasikan, atau dosis beberapa jenis obat perlu diturunkan atau interval pemberian diperlama.

PERHITUNGAN DOSIS OBAT UNTUK ANAK Anak bukanlah miniatur dewasa, oleh karena organ tubuhnya (hepar, ginjal, saluran pencernaan, dan SSP) belum berfungsi secara sempurna, luas permukaan tubuh, kecepatan metabolisme basal, serta volume dan distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa, maka besar dosis pada anak ditentukan berdasarkan pada keadan fisiologi anak. Dalam menghitung dosis obat untuk anak, perlu dibedakan antara :      Prematur Neonatus ( 1bln) Infant ( s.d 1 thn) Balita (>1-5 thn) Anak ( 6-12 tahun)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan dosis anak: Faktor farmakokinetik obat  Absorpsi : kemampuan absorpsi dipengaruhi oleh  PH lambung dan usus  Waktu pengosongan lambung  Waktu transit  Enzim pencernaan  Distribusi : jumlah obat yang sampai di jaringan dipengaruhi oleh:

Laboratorium Keterampilan Medik
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM

5

Berdasar perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) Dianggap bahwa luas permukaan tubuh orang dewasa : 1.73 4.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran    Masa jaringan  Kandungan lemak  Aliran darah  Permeabilitas membran  Kadar protein plasma  Volume cairan ekstraseluler Metabolisme : kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh:  Ukuran hepar  Kemampuan enzim mikrosomal Eksresi : proses eksresi obat terutama melalui ginjal dan dipengaruhi oleh:  Kecepatan filtrasi glomeruler  Proses sekresi dan reabsopsi tubuler Cara menghitung dosis anak 1. Berdasar perbandingan umur: Rumus young ( Anak umur 1 – 8 tahun) Da = n n +12 x DM (mg) Angka 12 menunjukkan berlaku untuk umur anak <12 tahun Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat sama. Didasarkan perbandingan dengan dosis dewasa.73 m2 Rumus ( crawford. Berdasar perbandingan berat badan dianggap berat badan orang dewasa 70 kg Rumus Clark = BBa DM (mg) 70 3. maka dosisdosis yang ada dihitung sebagai berikut : Dosis A DM A + Dosis B DM B + dan seterusnya ≤1 Dihitung dosis rangkap sekali dan dosis rangkap sehari. Didasarkan atas ukuran fisik anak secara individual Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 6 . Rumus Dilling 20 DM (mg) Da = n Angka 20 menunjukkan bahwa rumus ini berlaku untuk orang dewasa >20-24 tahun.Terry Rouke) = LPT a DM (mg) 1. Ket rumus diling: Da= dosis anak DM= dosis Maksimum n= umur 2.

gentamisin  Berdasar berat badan normal ( BBN) untuk obat lipofilik Contoh: thiopental DOSIS LAZIM / TERAPEUTIK Yang tertulis dalam pustaka Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 7 . PERHITUNGAN DOSIS OBAT PADA OBESITAS Dikatakan obesitas jika BB > 20%.5 + n 19. Contoh: digitoksin.5 + W 41 DM W= berat badan dalam kg Catatan : rumus ini diturunkan dari Rumus Clark ( yang telah diseuaikan untuk anak Indonesia).■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran   Sesuai dengan BB anak ( dalam kg) Sesuai dengan LPT anak ( dalam m2) CATATAN: Kelemahan perhitungan anak dengan perbandingan dengan dosis dewasa:  Umur: tidak tepat oleh karena ada variasi BB dan LPT  Berat Badan : tidak tepat untuk semua obat  LPT : tidak praktis terutama kasus gawat Karena kelemahan-kelemahan tersebut maka diciptakan rumus baru untuk menghitung dosis anak yang lebih akurat oleh bagian farmasi kedokteran Unair. Untuk bayi 0-11 bulan Da= 89 13 + M DM Da = dosis anak DM= Dosis Makanan m = umur dalam bulan atau 28. BB ideal dan komposisi komponen tubuh berbeda dengan BB normal Untuk perhitungan dosisnya harus memperhatikan kelarutan obat dalam lemak (lipofisitas) :  Berdasar berat badan tanpa lemak (BBTL) untuk obat non-lipofilik.8+0.8 DM DM n = umur dalam tahun atau Da = 2.9 W Da = 1+ W W= berat dalam kg Untuk balita 1 – 4 tahun Da = 4.

5-1 g/ hari ( dosis tunggal atau terbagi) . anak : 10 mg/kg BB/ hari DOSIS UNTUK EFEK BERBEDA Sebagai contoh.  Griseofulvin 0.d  antikonvulsan. PHENOBARBITAL sebagai :  sedative – hipnotik.BB/hari  Ampicilin 50-100 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam. dosisnya 30-60 mg/2-3 DM KURVA BENTUK BEL Menunjukkan efek obat dalam populasi EFEK Kecil Rata-rata Besar Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 8 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran    Dosis sekali (tunggal) Bisacodyl 5-10 mg/ dosis tunggal Dosis sehari Dexamethasone 0. dosisnya 30 mg/ 3-4 d.2-2mg/ hari Diazepam 5-30 mg dalam dosis terbagi Dosis/kg.

nama setiap obat dan komposisi obat 3. 5. Tanggal penulisan R/. dalam Keputusan Menkes No. apabila dalam hal dimkasud ayat (1) karena pertimbangan tertentu dokter penulis tetap pada pendirianya. apabila apoteker menganggap bahwa dalam R/ terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat. Pasal 16: 1. serta alamat pemilik untuk R/ dokter hewan 6. pemulihan. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan R/ 4. Jenis hewan. drh 2. Peraturan MenKes No. Tanda seru dan paraf dokter untuk R/ yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. dan dokter hewan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 26/ thn 1981 BAB III pasal 10 menjelaskan: 1. 2. pencegahan penyakit. drg. 242/ thn 90 : Pasal 1 ayat 1 Obat adalah bahan atau panduan bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sisitem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa. Pasal 17 ayat 3: R/ atau salinan R/ hanya boleh diperlihatkan kepada :  dokter penulis R/ atau yang merawat. Peraturan MenKes No. alamat. penyembuhan penyakit. Nama. Ketentuan mengenai resep yang dimaksud ayat ( 1) ditetapkan Menteri. 922/thn 1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek Pasal 1 ayat 1 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter. Peraturan MenKes RI No.26/thn 81) resep juga harus memuat juga: 1. 922/ thn 93: Pasal 15 ayat 3 Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam R/ apoteker wajib berkonsultasi dngan dokter untuk pemilihan obat yang tepat.undangan yang berlaku Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 9 . Resep harus ditulis dengan jelas (terbaca red) dan lengkap 2. Masih tentang resep.  Penderita yang bersangkutan  Petugas kesehatan  Petugas yang berwenang menurut perundang. dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep. dokter gigi. Selain itu . 280/ thn 1981 tentang resep yang terdapat dalam BAB II yang berbunyi: Pasal II : disamping memuat pasal 10 ( no. dan peningkatan kesehatan termasuk kontrasepsi dan sediaan biologis. dan nomor izin praktek dr.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran UNDANG-UNDANG FARMASI & KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN UU FARMASI Peraturan MenKes no. apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Tanda tangan /paraf dokter penulis R/ sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. nama.

Lambang obat bebas terbatas Sebagai contoh peringatannya :  P No. jangan ditelan  Gargarisma khan  Betadin gargarisma  P NO. 3 : awas obat keras hanya untuk bagian luar badan  Anthistamin pemakain luar . Obat bebas obat bebas yaitu obat yang dijual bebas dan dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter. Obat bebas terbatas yaitu obat yang dibeli secara bebas tanpa resep dokter.  Lasonil  Liquor burowl  P No. hanya untuk kumur . tapi juga dengan batasan jumlah dan isi berkhasiat serta tanda peringatan P. bacalah aturan pemakaiannya. 6355/69).  P No. awas obat keras tidak boleh ditelan  Dulcolax Suppos  Amonia 10 % ke bawah  P No. caladril. Dibuku ISO ada tanda atau tulisan B. Menkes No.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran GOLONGAN OBAT Peraturan MenKes no.  P No. 242/ thn 90 pasal 1 ayat 3 menyebutkan bahwa obat digolongkan menjadi : 1. di toko. Pada kemasannya ada tanda lingkaran biru tua dan termasuk obat daftar W ( Werschuwin) ( Kep. misal dalam bentuk cream.66227/73)  SG tablet. dan toko obat.  Dulcolax tablet  Acetaminofen = >600 mg/tab atau >40 mg/ml (kep Menkes no. caladin. 2 : awas obat keras. Di buku ISO ditandai dengan tulisan T. Lambang obat bebas Contohnya:      Vitamin larut air 2-4 salep. 6 : awas obat keras wasir jangan ditelan:  Varemoid Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 10 .5 . Oralit Parasetamol ≤ 500mg Ibuprofen 200 mg 2. Obat ini ditandai dengan lingkaran warna hijau. 4 : awas obat keras hanya untuk dibakar  Dalam bentuk rokok dan sebuk untuk penyakit asma yang mengandung scopolamin. I : awas obat keras.

dokter hewan Yang berhak memiliki serta menyimpan obat daftar G dalam jumlah yang patut disangka bahwa obat tersebut tidak akan digunakan sendiri adalah: 1.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. Harus dengan resep dokter ( G1)  Untuk semua injeksi  Antibiotika dan virus  Obat-obat jantung  Obat-obat psikotropika. pasien dengan resep dokter untuk obat yang bukan OWA 2. 5 tahun 1997 tentang PSIKOTROPIKA yang terdiri atas 16 bab 74 pasal. Pasal 2 ayat 2 tentang penggolongan psikotropika: Penggolongan psikotropika: 1.drg) 4. psikotropika golongan I 2. tertanggal 11 maret 1997. 49/1949 pasal 3 ayat 2. asam mefenamat)  antihistamin dan obat asma  Psikotropika Kombinasi  Obat Keras tertentu Menurut UU No. 347/ menkes/SK/VII/1990 tentang obat wajib Apotek (OWA 1) No. dan keputusan Menkes : 924/93 (OWA 2) maka menurut cara memperolehnya. psikotropika golngan II 3. dokter/dokter gigi 4. Dokter hewan (dalam batas haknya) 4. b. Obat ini termasuk daftar G ( Gevarrlijk). apoteker 3. PBF (pedagang besar farmasi) 2. Disarankan oleh apoteker di apotek  pil kb  analgetik-antipiretik ( antalgin. I. obat keras terbagi 2: a. psikotropika golongan III Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 11 . APA (apoteker pengelola apotik) 3. Dokter yang berizin (dr. Obat keras Adalah obat yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan RI dan yang ditandai dengan lingkaran warna merah lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya dan di penandaanya harus dicantum kalimat “Harus dengan Resep Dokter”. Psikotropika Menurut Undang-undang RI no. PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat baik alamiah maupun bukan narkotik yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Apoteker hanya dapat menjual obat keras kepada: 1. Lambang obat keras Berdasarkan keputusan Menkes No.

Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 12 . 9 thn 1976 yang terdiri atas 10 bab 55 pasal diganti dengan UU no. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Lambang obat golongan narkotika UU Narkotika No. Di buku ISO ditandai dengan tulisan N. memproduksi atau menggunakan psikotropika golongan I c. BAB I pasal 1 Narkotika : zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. mengedarkan psikotropika golongan I d. psikotropika golongan IV Pasal 4 1. psikotropika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan. Ketentuan Pidana ( 13 pasal) Pasal 59 1. Narkotika Obat narkotika ditandai dengan lingkaran warna putih ada palang merah di tengah-tengahnya dan termasuk daftar O (Opiat). Untuk memperolehnya harus dengan resep dokter dan apotik wajib melaporkan jumlah dan macamnya. Barang Siapa: a. 2. mengimpor selain kepentingan ilmu pengetahuan e. secara tanpa hak memiliki menyimpan atau membawa psikotropika golongan I dipidana penjara paling sedikit 4 tahun dan selama-lamanya 15 tahun dan membayar denda paling sedikit 150 juta dan paling bayak 750 jt. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. Pasal 68 : tindak pidana di bidang Psikotropika sebagaimana diatur dalam undang-undang ini adalah kejahatan: 5. 2. menggunakan psikotropika selain yang dimaksud pasal 4 ayat 2 b. psikotropika golongan I untuk ilmu pengetahuan 3. Peresepan tidak boleh diulang dan ada tanda tangan dokter penulis resep. menjalankan praktek dan diberikan dengan suntikan b. selain pasal 4 ayat 2 psikotropika golongan I dinyatakan sebagai barang terlarang. Pasal 14 ayat 5 Dokter hanya diperbolehkan menyerahkan obat psikotropika apabila: a. Jika terorganisasi maka akan dipidana mati atau seumur hidup dan membayar denda 750 juta.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 4. BAB XIV. menolong orang sakit dalam keadaan darurat c. hilangnya rasa. 22 tahun 1997 tentang Narkotika dengan 15 BAB 104 pasal.

puskesmas. menjamin ketersediaannya narkotika untuk keperluan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. apotek. obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh apotek atas resep dokter. balai pengobatan dan dokter. apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada : rumah sakit. balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan R/ dokter. Tujuan pengaturan Narkotika 1. BAB III. mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika 3. morfina. 2. 2. Pasal 4 Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan. Menkes : mengupayakan tersedianya narkotika untuk pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan Pasal 9 I. dokter. BAB V PEREDARAN Pasal 33 Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada Depkes Pasal 37 Narkotika golongan I hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat tertentu atau pedagang besar farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. 3. 4. Narkotika golongan III. Narkotika golongan I. rumah sakit. balai pengobatan. kecuali jumlah sangat terbatas untuk pengembangan ilmu pengetahuan dengan pengawasan ketat dari Menkes. pasien.kodein. petidin. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan pemakaiannya pada pemerintah. apotik lain . puskesmas. Pasal 39 1. rumah sakit. BAB II Pasal 2 Narkotika digolongkan menjadi: a. penyerahan narkotika hanya dilakukan oleh: apotek. heroin b. Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dilakukan dalam: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 13 . memberantas peredaran gelap narkotika. Pasal 5 Narkotika golongan I hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya. Narkotika golongan II= Metadon. Puskesmas. narkotika golongan I dilarang diproduksi atau digunakan dalam proses produksi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Oleh karena itu. opium.kokain. Pengadaan Pasal 6 I. tebain c.

tanpa konsultasi dokter penulis R/ 3. disarankan dokter dimaksud ayat 4 hanya dapat diperoleh di apotek. KODE ETIK KEFARMASIAN DALAM KEDOKTERAN Etika adalah suatu perbuatan. apotek. memberikan suntikan atau meracik obat kecuali suntikan. Bagi apoteker: 1. KETENTUAN PIDANA ( PASAL 78-99) Pasal 84 Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum: a. 5. maka apoteker harus memberi pertolongan dalam batas pengetahuan dan kemampuannya. kecuali jika pertolongan atau pengobatan itu sangat diperlukan.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran a. Puskesmas. dipidana paling lama 10 tahun dan didenda 500 jt. 385 tahun 1989 Pasal 26 Ayat 1 Dokter dan dokter gigi dilarang: a. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan II untuk orang lain. maka apoteker harus menyarankan atau menasehati pasien untuk datang ke dokternya. BAB XII. menjalankan praktek dan diberikan melalui suntikan. c. sarana penyimpanan pemerintah. 2. sikap dan kebiasaan manusia dalam pergaulan sesama manusia dalam masyarakat yang mengutamakan kejujuran terhadap diri sendiri dan sesama manusia. Pasal 99 Dipidana penjara paling lama 10 tahun dan didenda 200 juta bagi pimpinan Rumah Sakit. b. Pasal 1 ayat 1 Daerah terpencil adalah daerah yang sulit komunikasinya meliputi wilayah administrasi yang luas serta berpenduduk jarang. narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu . menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan I untuk orang lain. dipidana paling lama 15 tahun dan didenda 750 jt b. apabila seorang pasien meminta nasehatnya dalam bidang pengobatan. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 14 . c. Ayat 2 Larangan pada ayat 1b tidak berlaku bagi dokter yang bertugas di Puskesmas atau daerah terpencil yang tidak ada apotek atau menolong orang sakit dalam keadaan darurat. R/ adalah rahasia tidak boleh dibicarakan kepada siapapun kecuali bila diperlukan untuk membuktikan kebenaran yaitu berdasarkan perintah pengadilan. Balai Pengobatan. Menolong orang sakit dalam keadaan darurat melalui suntikan. Peraturan ini juga berlaku untuk obat dan golongan psikotropika dan narkotika. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kode etik kedokteran b. Menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek. tingkah laku. dipidana paling lama 5 tahun dan didenda 250 jt. tidak boleh merubah obat yang tertulis dalam R/. Menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika golongan III untuk orang lain. dan dokter yang mengedarluaskan narkotika golongan II dan III bukan untuk pelayanan kesehatan. HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER TENTANG PENGELOLAAN OBAT SESUAI PERATURAN PERUNDANGAN Hal ini dicantumkan dalam peraturan Menkes No.

b. Geriatri : dalam hal kesulitan menelan pada penderita lanjut usia. dll. sifat sediaan. sehingga tidak memberikan permasalahan dalam pelayanannya. efisien dan atau memberikan efek yang optimal. guttae) . kecuali suntikan  menulis R/ harus obat produk dari perusahaan farmasi tertentu  menjual obat ditempat praktek kecuali dengan ketentuan tertentu  menjual contoh obat. menghindarkan semua tindakan yang berentangan dengan etika kedokteran diantaranya:  memberikan atau meracik obat. dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat 3. Umumnya BSO mengandung satu atau lebih senyawa obat/ zat yang berkhasiat dan bahan dasar/ vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu. merupakan sediaan yang cocok untuk:  obat yang tidak stabil. tidak larut  setiap cara penggunaan  penyakit pada berbagai tubuh 6. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 15 . kalau ada kesalahan dengan apoteker saat memberikan obat. Umur penderita: a. harga. demikian juga sebaliknya. suspensi. Orang dewasa : obat yang diberikan per oral lebih sering diberikan dalam bentuk sediaan padat daripada bentuk sediaan cair. c. dapat dikemas/ dibentuk lebih menarik dan menyenangkan Dalam memilih BSO perlu memperhatikan sifat bahan obat. dapat menyediakan kerja yang luas 4. inhalasi) 5. karena bentuk sediaan cair lebih mudah diminum daripada bentuk padat. Bagi dokter: 1. perlu dijaga agar kertas R/ jangan sampai digunakan orang lain untuk memberi atau menerima sebagaimana telah terjadi 2. Bentuk sediaan padat yang masih dapat diberikan ialah bentuk pulveres ( puyer). emulsi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 4. kondisi penderita dan penyakitnya. oleh karena bentuk sediaan padat (tablet/kapsul) umumnya lebih stabil dalam penyimpanan daripada sediaan cair. FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MENENTUKAN PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN OBAT 1. dapat melengkapi kerja obat yang optimum ( topikal. sedang bentuk tablet atau kapsul hendaknya dihindari bagi anak dibawah umur lima tahun. 4. seorang apoteker hendaknya menghindarkan diri dari tindakan atau pernyataan yang dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan pasien pada dokter. BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat (BSO) diperlukan agar penggunaan senyawa obat/ zat berkhasiat dalam farmakoterapi dapat secara aman. maka bertentangan sekali dengan kode etik bila hal ini dibicarakan dengan pasien. MANFAT BENTUK SEDIAAN OBAT Bentuk sediaan obat dipilih agar: 1. pilih bentuk sediaan cair seperti bentuk sediaan pada anak-anak. Hendaknya dokter langsung berhubungan dengan apoteker. dapat melindungi obat dari faktor-faktor yang menimbulkan kerusakan baik di luar maupun dalam tubuh. jangan meninggalkan kertas R/ kosong yang sudah ditanda tangani 3. 2. Disamping itu perlu diperhatikan pula penulisan resepnya agar jelas dan lengkap . anak balita: sebaiknya diberikan oral dalam bentuk sediaan cairan ( solutio.

7 um Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 16 . tabula. Serbuk oral yang dapat diserahkan dalam bentuk terbagi ( pulveres) atau tidak terbagi ( pulvis). 5.25 um-1. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut daripada bentuk sediaan yang dipadatkan. Lokasi tubuh dimana obat harus bekerja: a. Vitamin C dalam bentuk sediaan cairan (oral) akan terurai. penderita tidak sadar atau koma: dipilih bentuk sediaan injeksi atu rektal b. MACAM BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) 1.. penderita masuk rumah sakit atau berobat jalan. seperti laksan. Anak-anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. 6. efek lokal: bentuk sediaan dapat berupa solutio/mixtura. sehingga akan lebih enak diberikan dalam bentuk sediaan padat ( tablet/kapsul) Misalnya. 3. dll. Kecepatan dan lama obat yang dikehendaki a. b.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. Bentuk sediaan yang paling enak/ cocok bagi penderita: a. bahan obat yang berbau amis: dipilih dalam bentuk sediaan tablet atau kapsul atau lebih baik dalam bentuk dagree. 4. Cotrimoxsazol. Bentuk sediaan tersebut harus dapat dibedakan untuk dipakai pada kulit biasa atau kulit berambut atau mukosa dan untuk kulit yang utuh atau terluka. guttae. Ferosi klorida. pemberiaan obat cukup sekali atau dua kali sehari. suspensi/mixtura agitanda. Misalnya berbagai garam Fe ( Ferosi Sulfat. Serbuk oral yang tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak paten. Bahan oral yang sangat pahit meskipun mudah larut dalam air tidak diberikan dalam bentuk sediaan cair. c. cream. morphin HCI diberikan dalam bentuk sediaan injeksi. obat berbentuk sediaan injeksi lebih cepat diabsorpsi daripada bentuk sediaan per oral atau per rektal b. Emetin HCI. suspensi. Metronidazol b. sehingga diberikan dalam bentuk sediaan tablet. pulveres. unguentum/pasta. Keadaan umum penderita a. tidak dalam bentuk oral. Efek sistemik : bentuk sediaan dapat berupa cairan atau padat. BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) PADAT PULVIS DAN GRANULA (SERBUK DAN GRANUL) Serbuk adalah campuran kering bahan obat dan zat kimia yang dihaluskan. kering dan homogen  Ukuran partikel 1. Bentuk sediaan cair: solutio/mixtura. infusa. antasida. Chloramphenicol. Bentuk teraupetik obat yang optimal dan efek samping yang minimal bagi penderita: a. Masalah stabilitas yang sering dihadapi dalam sediaan bentuk cair. capsula. emulsi. rektal atau injeksi. Karena mempunyai pemakaian yang luas. Bentuk sediaan setengah padat : unguenta. supositoria 2. Bentuk sediaan padat : pulvis. per oral. tidak ditemukan dalam bentuk serbuk. Penyerapan atau penetrasi obat melalui kulit: bentuk sediaan injeksi. atau linimentum/ cream/ unguentum/ cream dengan vehikulum tertentu. pasta. dll 3.makanan diet dan beberapa analgetika tertentu dan pasien dapat menakar secara syarat pulvis maupun pulveres :  Serbuk halus . karena bila diberikan dalam bentuk sediaan cair akan berasa seperti besi karatan pada lidah sangat tidak menyenangkan. Obat yang tidak stabil diberikan dalam bentuk suspensi atau larutan air dapat dibuat dalam bentuk serbuk atau granul. Ferosi carbonas). b. ditujukan untuk pemakaian oral atau luar. obat dengan bentuk sediaan sustained release ( berupa tablet atau capsul) bekerja lebih lama daripada bentuk sediaan tablet atau kapsul biasa.

Yang tersedia merupakan sediaan paten. pengikat. Bentuk sediaannnya pada umumnya paten yang tidak stabil dalam penyimpanan cukup lama. Bentuk sediaan tablet pada saat ini disiapkan oleh pabrik obat dengan alat dan teknik khusus. Oleh karena itu. asam tetrat. Diracik berdasarkan formula resep dokter. dokter hanya menyusun kombinasi dan dosis obat secara tepat sesuai kebutuhan 4. Yang tersedia merupakan sediaan paten. TABULAE ( COMPRESI. atau dicampur dengan makanan lunak/bahan lain. EFER VERSENT POWDER Sediaan yang mengandung selain bahan obat juga bahan pembantu yaitu Na bicarbonat dan asam citrat. Penggunaan : pengobatan lokal dan sistemik. kekerasan. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat 100 mesh seperti tertera pada pengayak dan derajat halus serbuk 1141 agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Keuntungan dan kerugiannya: 1. biasanya 15 menit) dan bioavalibilitas . serbuk untuk injeksi. GRANULA Sediaan serbuk kasar yang dimaksudkan untuk di suspensikan /dilarutkan dalam air. dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Berat pulveres antara 300-500 mg. Sediaan ini sebagai obat luar untuk terapetik. pelicin). pengancur. dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. produk lain mungkin dirancang untuk melepaskan zat secara perlahan-lahan supaya diabsorspsi secara lambat sehingga dapat memperpanjang aksinya. 5. Sedangkan menurut Farmakope USA ditambah kecepatan disolusi ( kecepatan hancur dalam tubuh. Beberapa produk obat dirancang untuk melepaskan zat yang berkhasiat dan diabsorspsi tubuh secara cepat dan sempurna. tidak semua obat dapat diberikan dengan bentuk ini. atau Na bisosfat. serta dibuat besar-besaran. pada umumnya untuk pemakaian oral 2.Berdasarkan metode pembuatan. waktu hancur. profilaksi dan lubricant Penggunaan:  untuk tujuan menyerap tubuh  untuk mengurangi gesekan antara 2 lipatan  sebagai vehicle (pengisi)  tidak diberikan untuk luka yang terbuka.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Macam-macam serbuk PULVERES ( serbuk terbagi) Suatu serbuk yang terbagi dalam bobot yang kurang lebih sama. Ukuran partikel granul adalah 2-4 mm. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 17 . rasa pahit yang tidak enak dan tidak dapat disembunyikan. Contoh: antibiotik syrup (dry syrup). misalnya beberapa obat yang saling berinteraksi. penyerapan oleh gastrointestinal cukup baik 3. dapat digolongkan tablet cetak dan tablet kempa.Granula dibagi bulk granula dan divided granula. TABLET) Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pembantu ( pengisi. FINELY DIVIDE POWDERS Sediaan serbuk yang dimaksudkan untuk disuspensikan/dilarutkan dalam air atau dicampur dengan makanan lunak/ bahan lain. pembuatan tablet memerlukan bahan tambahan yang disesuaikan terhadap fungsi/penggunaannya. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu keseragaman bobot dan kadar. PULVIS ADSPERSORIUS (serbuk tabur) Serbuk ringan untuk topikal.

digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Pengikat (binder) Dengan tujuan supaya tablet tidak mudah pecah dan bahan tablet dan saling merekat. Tablet triturat. dan Na-alginat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran PERJALANAN OBAT DALAM BENTUK SEDIAAN TABLET DISENTEGRASI GRANUL TABLET DISOLUSI MODERAT DIAGREGASI PARTIKEL OBAT DISOLUSI LAMBAT DISOLUSI CEPAT OBAT TERLARUT DALAM CAIRAN GIT OBAT DIABSORBSI OBAT DALAM DARAH M acam-macam tambahan untuk pembuatan tablet: (adanya bahan tambahan akan mempengaruhi kecepatan disolusi dan bioavailabilitas) 1. Ca-karbonat. TABLET KEMPA (Compressed Tablet) a. Contoh: Mucilago gummi arabicium 10-20% 3. Pelicin ( lubricant) Supaya talet tidak melekat pada cetakan (matriks). umumnya silindris. amilum. Tablet Hipodermik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 18 . Contoh: amilum kering. Ca-fosfat. Jenis tablet ini sekarang sudah jarang digunakan. Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. 4. Contoh: talkum 5% . 2. misal zat warna. MACAM – MACAM TABLET 1. Pengisi (diluent) Untuk memperbesar volume tablet. 5. agaragar. gelatin. Bahan pembantu lain. Mg-stearat. Penghancur (disintegrator) Dengan tujuan supaya tablet dapat/cepat hancur di lambung. Contoh: sakarum laktis. b.

zat penyalut bagian luar dapat diwarnai. asam tartrat) dan Na-bikarbonat dan apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida. Tablet salut biasa Umumnya tablet disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut. f. Cara penggunaanya dengan mengimplementasi pelet di bawah kulit. penyerapan bahan obat terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama. b. Tablet dilarutkan atau didespresikan dalam air sebelum pemberian. Tablet kunyah ( chewable) Dimaksud untuk dikunyah. Tablet lozenges ( tablet hisap) Adalah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat. kelembapan atau cahaya. Tablet lozenges umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. d. Tablet sub lingual Digunakan dengan cara meletakkan di bawah lidah. Tablet effervescent Dibuat dengan cara kempa. Tablet salut enterik ( Enteric Coated tablet (ECT) Jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi lambung. i. Tablet pelepasan terkendali ( Slow Reacting tablet (SRT)) c. Zat aktif diserap langsung melalui mukosa mulut dan efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan cepat. Pada tablet ada yang namanya kaplet yaitu tablet yang bentuknya menyerupai kapsul. diperlukan bahan yang untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorpsi sistemik. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 19 . Zat aktif terserap langsung melalui mukosa mulut. Tablet hisap yang dibuat dengan cara dituang kadang-kadang disebut dengan pastiles. SCT ( sugar Coated Tablet). h. sedangkan tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa disebut dengan troches/trochisi. anatara lain melindungi zat aktif dari udara.menutupi rasa dan bau tidak enak. Tablet implantasi Tablet implantasi juga disebut sebagai pelet/implants. pengobatan infeksi candida albicans. membuat penampilan lebih baik dan mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab dan pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. 2. anatasida. Jenis ini digunakan pada formulasi tablet untuk anak. Guna tablet vagina dimaksudkan untuk : kontrasepsi. Tablet vagina Adalah talet yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh. Untuk tujuan identifikasi dari nilai estetika. mudah ditelan. Pelet umumnya mengandung zat berkhasiat hormon alami atau hormon sintesis tablet implantasi untuk Keluarga Berencana disebut susuk. g. Efek yang ditimbulkan bersifat sistemik dan lambat. dan antibiotika tertentu. a. Merupakan tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air dan digunakan untuk memberikan sediaan injeksi hipodermik. memberikan residu dengan rasa enak di rongga mulut. pengobatan vaginitis. e.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran c. khususnya vagina. selain zat aktif juga mengandung campuran asam ( asam sitrat. umumnya dengan bahan dasar beraroma manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. TABLET SALUT Tablet disalut untuk berbagai alasan. Tablet bukal Digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara gusi dan pipi. terutama formulasi multivitamin.

Kurva hubungan antara kadar dalam plasma dan waktu untuk sediaan aksi panjang. Sedangkan produk lain tidak.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Tablet pelepasan terkendali dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Dengan sediaan ini. long action. KTM PELEPASAN AJEG KEM AKSI PANJANG KONVESIONAL AKSI BERULANG 2. Dan biasanya digunakan bila tidak diperlukan aksi obat dengan cepat. Karena itu. sediaan pelepasan ajeg ini sepenuhnya menggambarkan sediaan pelepasan terkendali . Sediaan aksi panjang ( Prolonged action) Sediaan obat yang dirancang untuk melepaskan obat secara lambat dan memberi cadangan secara terus menerus. konsentrasi obat dalam plasma yang relatif konstan dapat dipertahankan dengan fluktuasi yang minimal. Pada gambar terlihat bahwa konsentrasi obat dalam darah mempunyai puncak dan lembah. 3. timed release. Berkaitan dengan hal ini. drug delivery system dan programmed drug delivery. Produk tersebut. Bahkan beberapa produk mempunyai bagian ketiga. Obat tersebut hancur di lambung. aksi berulang dan sediaan konvesional. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 20 . yakni aksi berulang (repeat action). Sediaan aksi berulang ( Repeat action) Sediaan repeat action terdiri dari 2 bagian. aksi panjang (prolong action). dan bagian kedua merupakan dosis yang baru dilepaskan setelah beberapa waktu berlangsung. Berbagai istilah lain yang sering dikaitkan dengan produk sediaan pelepasan terkendali meliput: Extended action. sediaan semacam ini sering juga disebut pelepasan lambat. Dalam hal ini absorpsi cepat yang menyebabkan kadar puncak obat dalam plasma sangat tinggi dapat dicegah. Karena itu. Sediaan pelepasan ajeg (Sustained Action) Suatu produk dirancang untuk melepaskan suatu dosis terapetik awal (loading dose) yang diikuti oleh dosis tambahan untuk memelihara kisaran kadar terapi (dosis pemeliharaan-maintenance dose) suatu pelepasan obat yang lebih lambat dan konstan. Bagian pertama mempunyai dosis yang dapat melepaskan obatnya secara tepat. sediaan pelepasan ajeg. selama selang waktu yang panjang. dan pelepasan ajeg ( sustained action). Secara umum. terdapat beberapa jenis sediaan obat yang mudahnya digolongkan ke dalam pelepasan terkendali. produk sediaan lepas lambat ( Slow Reacting Tablet) dapat dibagi menjadi 3 tipe: 1. benar-benar mengendalikan pelepasan dan absorpsi obat sehingga dapat memelihara secara ajeg dan dapat diperkirakan kadar obat plasma.

Menghindari pemakaian obat pada malam hari 6.efek lambat Mukosa mulut . yang disebabkan oleh fluktuasi kadar obat dalam plasma. Adapun kerugiannya: 1.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Tujuan sediaan pelepasan terkendali Sebagaimana tersirat dalam uraian diatas. Tablet kempa Tablet salut gula (SCT) Tablet salut film (FCT) Tablet salut enterik (ECT) Tablet lepasan terkendali 2. Mengurangi jumlah dan frekunsi pemakaian 3.efek sistemik . 2. Tablet sublingual Diletakkan di bawah lidah 7. Tablet vagina 8. hal tersebut dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti keracunan dan lebih sulit bila terjadi gangguan teknologi atau antaraksi.efek sistemik efek sistemik efek lama 6. 6. Efek obat lebih seragam 5. Tablet Effervescent 4. sebagaimana tersirat dari uraian diatas. Beberapa keuntungan sediaan pelepasan terkendali. Mempertahankan efek terapi untuk bebas waktu yang lama. Kepatuhan penderita tinggi karena obat yang dimakan lebih sedikit 4. Dose dumping. Fleksibilitas aturan dosis hilang 5. meliputi: 1. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET Macam 1. 3.efek sistemik . Biaya mahal 2. 4.efek lokal . Lozenges Trochisci Pastiles 5. Tablet kunyah (chewable) 3. Tablet hipodermik 9. Tablet bukal Ditelan Pemakaian GIT Tempat absorpsi Dikunyah kemudian ditelan Dilarutkan kemudian ditelan Dihisap GIT MUKOSA GIT Mukosa mulut Diletakkan antara gusi dan pipi Mukosa mulut . MACAM. Mengurangi efek samping obat yang disebabkan oleh kadar obat yang tinggi dalam darah. Pellet Cont:norplant susuk KB Dimasukkan ke vagina Dilarutkan kemudian disuntikkan Disisipkan di bawah kulit Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 21 . Efektivitas pelepasan obat dipengaruhi dan dibatasi oleh lama tinggal di saluran pencernaan.efek cepat Mukosa vagina . yaitu adanya sejumlah besar obat dari sediaan lepas secara cepat. Kepatuhan dan kemudahan penderita terhadap dosis mungkin berkurang. tujuan utama produk obat tersebut adalah untuk mencapai suatu efek samping yang diinginkan. Sering menimbulkan korelasi in vitro-in vivo yang jelek.

Soft capsule (kapsul lunak) Cangkang mengandung seperti no. Capsule gelatinosae operculatae (Hard gelatine capsules/kapsul gelatin keras) Cangkang berisi gelatin. Isi terpisah dari cangkang. tube. Syarat : memenuhi persyaratan yang tertera dalam farmakope Indonesia ( mengenai keseragaman bobot dan waktu hancur) Macam kapsul menurut sifat cangkang: 1.000 (terbesar). Obat bekerja setelah cangkang/kulit kapsul larut dan obat terlarut serta diabsorpsi utuh. Macam sediaan kapsul ada kapsul biasa dan time released form. Ukuran : 5 (terkecil). Sediaan pelepasan lambat ( time release) dalam kapsul keras: sustained released capsules dan enteric coated capsules. Misal: kapsul minyak ikan. Isi tak terpisah dari cangkang ( cairan dalam minyak. granul. Bentuk: bulat. oval. tetapi gula diganti bahan plasticier yang membuat kapsul menjadi lunak. Bentuk obat dalam kapsul dapat berupa serbuk. kapsul vit. suspensi). Fleksibilitas ini merupakan kelebihan kapsul cangkang dibandingkan bentuk sediaan tablet atau kapsul cangkang lunak. 2.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran CAPSULAE (KAPSUL) Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak. Sediaan dapat berupa obat paten atau puyer yang disusun oleh penulis resep untuk memilih obat tunggal atau campuran dengan dosis tepat yang paling baik bagi setiap pasien. air dan zat warna. Biasanya dipakai secara oral.A. cair atau pasta dengan atau tanpa zat tambahan. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 22 .1. gula.

melunak. Obat tak dapat diberikan per oral karena penderita hiperemesis atau baru saja menjalani operasi pada traktus digestivus bagian atas.Suppositoria digunakan melalui rektum. . bacilia . bentuk seperti torpedo. BACILLA Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. yang diberikan melalui rektal. Isinya adalah zat aktif dalam vehikulum.lokal : supositoria. Penderita tak dapat menelan d. Efek lokal : hemorrhoid.sistematik : suposioria Bentuk : SUPOSITORIA (REKTUM) OVULA (VAGINA) BACILIA (URETRA) Mekanisme pelepasan obat: SUPOSITORIA VEHIKULUM -MELELEH -MELARUT ZAT AKTIF TERBEBAS PEMBASAHAN DISOLUSI DIFUSI Tujuan pemberian obat dalam bentuk supositoria : 1. atau melunak atau melarut pada suhu tubuh. Menurut Farmakope Indonesia. Efek sistemik. sebagai pembawa zat berpengaruh pada pelepasan zat teraupetik. Mengurangi metablisme obat dalam hepar (tidak mengalami first past effect) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 23 . c.dapat meleleh. Obat yang dapat mengiritasi lambung f. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat.dapat melarut. vagina atau uretra. ovula. membedakan: . Penderita dalam keadaan an-kooperatif g. bentuk seperti batang Syarat : pada suhu tubuh bahan dasar harus dapat larut dan meleleh Bahan dasar supositoria : . Obat tidak dapat diberikan per injeksi karena penderita berobat jalan. OVULA. b. lokal anastetik 2.Ovula digunakan melalui vagina.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran SUPPOSITORIA. Obat rusak oleh enzim yang ada di saluran cerna e. Umumnya meleleh. diberikan apabila cara pemberian lain sulit dilakukan. . bentuk seperti telur. misalnya : PEG ( Poly Etilen Glikol) . misalnya: a.Bacila digunakan melalui saluran kencing. misalnya : Oleum cacao Tujuan pengobatan : .

■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Alasan pembatasan di atas adalah karena bentuk sediaan supositoria bahan obat tidak diabsorpsi secara sempurna. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. supaya jangan ditelan. faktor fisika kimia obat: . Cara pemakaian supositoria hendaknya penderita diberitahu dengan jelas. Bahan obat yang diberikan dapat dalam supositoria untuk efek sistemik:  Extr. penderita dalam posisi terlentang untuk menghindari meleleh obat keluar rektum/vagina. faktor fisisologi: . maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. untuk menghindari obat dikeluarkan terlalu cepat bersama faeces sebelum sempat bekerja. 2. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok.kelarutan obat . Sesudah defekasi. malam sebelum tidur.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok.motilitas dinding rektum 2.sifat mukosa rektum . Sifat-sifat: 1. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air.konsentrasi obat dalam basis . misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Dosis dapat diubah-ubah Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 24 . LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. Homogen 2.volume cairan rektum . misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus.isi rektum . tingtur dan air. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. Penyimpanan . Belladon (spamolitik)  Barbital (sedatif)  Diazepam ( trankuilizer)  Aminophylin ( bronkodilator)  Bisacodyl (laksatif) Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan obat bentuk supositoria: 1.ukuran partikel . Waktu dan cara pemakaian supositoria: 1. umumnya fraksi yang diabsorbsi lebih rendah dibandingkan pemberian oral. LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. Apabila menyebut solutio.basis supositoria. pada suhu sejuk 5-15 0C BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.

3. 4. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. b. Contoh: Effisol liquid. 5. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. 3. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. Kadar Alkohol antara 3-75%. Ada 4 macam sediaan sirup: a. Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. pengawet dan pewarna. zat pewarna. 7. sering disebut sirup putih. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. Contoh: Bisovon eliksir. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) 9. c. tidak ditelan. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. 6. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Tidak berwarna.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Cocok untuk anak-anak. d. Sirup Simpleks. analgetika lokal atau adstringentia. perasa (flavorong agent). tetapi biasanya sekitar5-15%. maka omset juga cepat Dapat diberikan dalam larutan yang encer. 8. SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. lalu dikumur-kumur. tidak beraroma. Homogen 2. Berhubung mengandung alkohol. antiseptika. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. Sifat-sifat: 1. rasanya lebih enak. zat pewangi dan zat perasa. Contoh: Betadingargle & mouthwash. Batugin eliksir. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. Absorpsi obatnya cepat. Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). Sifat. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2. Dibanding dengan sediaan sirup. tidak boleh ditelan. eliksir kurang manis dan kurang kental. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 25 .sifat sirup: 1. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. misal sakit hepar. Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%.

Sirup obat. cocok untuk penderita yang sukar menelan. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. memperbaiki rasa dan aroma. pemanis. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. glukosa/sakarosa 64%. c. topikal maupun injeksi.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran b. tragakant. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 26 . kecuali bahan pelarut. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. anak-anak dan manula. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. pada umumnya ditambah pemanis. Sifat-sifat: 1. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. sehingga cepat mengendap. Contoh suspensi oral:Gelusil. 5. tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. pewarna. sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. Konsisten emulsi sangat beragam. tragakant. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M).perasa( flavoring agent) 3. Contoh. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . dan senyawa amonium kuartener. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Mylanta. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). Tujuan penggunaan BSO emulsi: 1. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Sirup thymi. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. Sirup kering. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). benzalkonium klorida. stabilisator. Polycrol gel EMULSA (EMULSI) Emulsi adalah sistem dua fase. asam benzoat.Contoh : panadol sirup. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. 2. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. biasanya 10%. perasa. 4. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. propil dan butil paraben. Liquor Faberi (FMI). d. oral : memperbaiki absorbsi. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Contoh. etil. dan bahan lainnya.

Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. antiseptika. Sifat-sifat: 1. kortikosteroid. sirup. emulsi eliksir. sehingga cocok untuk bayi dan balita. topikal: mudah dibersihkan. Perhatikan kemasan pada bobotnya. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). 2.5 mg dan 52. Contoh: Triaminic drops b. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. 2. sehingga aturan pakai tepat. pH sebaiknya asam (5. GUTTAE NASALES (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. Macam –macam Guttae: a. lokal anastetik. pengawet. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. vitamin dan antitusif.5 Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 27 . pada umumnya ditambah pemanis. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. c. GUTTAE AURICULARES (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. Sifat-sifat: 1. Contoh obat dalam: Scott Emulsion.5 mg (1 tetes baku= 0. volume pemberian kecil. heksilen glikol dan minyak nabati. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. parenteral : memperbaiki absorpsi . ph sebaiknya antara 5. pewarna. penetrasi/absopsi lebih baik 3. cairan pembawa umumnya digunakan air.0-6. memperpanjang efek. bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.05 ml). jadi 1 ml= 20 tetes. GUTTAE ORIS Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. GUTTAE ORAL Obat tetes untuk oral. analgetika. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. yaitu penetes pada suhu 20 0C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. Contoh: effisol liquid. dan zat uuntuk irigasi. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. 1. 2.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 2. atau suspensi.0) d. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. lokal anastesik.5-7. perasa. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. Kerugian BSO emulsi : Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. analgetika-antipiretika. gliserol. dll).

lokal anastesik. Inj luminal. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. anastetika. dan antiseptika. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. isohidris 4. Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain.5 %  BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. Contoh: inj Vit C. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. antiinflamasi. diagnostika. untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 3. steril 2. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras.5 bagian  Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian  Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. GUTTAE OPTHALMICAE (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Contoh: iliadin 0. inj valium. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. Kecuali dinyatakan lain. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Berdasarkan bentuk sediaan: a. Sifat-sifat: 1. Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 28 . Apabila bentuk sediaan suspensi. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. digunakan sejumlah yang tertera:  Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). midriatika. isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. miotika dan zat irigasi. bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. INJECTIONES (INJEKSI. antimikroba. b.025% e. emulsi. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai.

c) . luka dan rasa sakit). larutan yang bersifat hipertonis harus diberikan perlahan-lahan. . inj.Meninggalkan tanda sedikit melepuh pada tempat yang disuntikan. Injeksi intraderma/intrakutan (i.Efek yang ditimbulkan kurang cepat. Penicilin oil.umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh: inj. Injeksi Subkutan/hipodermik(s.Tergantung dari tipe preparatnya. Valium 3. dan biasanya durasi lebih besar dari pada pemberian i. Kristal steril.d) Larutan hanya digunakan dalam keadaan gawat karena dikehendaki onset yang cepat. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) e.m) .v) . bebas pirogen. Injeksi intratekal (i.Sediaan harus berupa larutan jernih. dan diracik dalam wadah dosis tunggal.Digunakan untuk pengobatan sistemik .V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. Streptomycin.Sediaan berupa larutan yang harus isotonis. inj. steril. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. .d) 7. vaksin BCG 2. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie) Contoh : inj. larutan dalam air lebih cepat diabsosrpsi dari pada dalam minyak. Papaverin.Aksi obat cepat karena tidak melalui proses absorpsi .umumnya berupa larutan atau suspensi (bahan obat yang mengiritasi atau suspensi kental menyebabkan abses.Digunakan untuk diagnose atau immunitas . 6.2 ml . .p) 9.v . Syarat injeksi: aman. Streptomycin sulfat. isohidris. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 29 . 5. . Dextrose Berdasarkan cara pemberian: 1.c) . Inj Cortison Acetat suspensi c. Injeksi peritoneal(i.umumnya tidak lebih dari 20 ml. Injeksi intramuskular (i.t) atau subarakhnoid.s) 8.Contoh: ekstrak allergen. Ringer lactat. Penicilin G Sodium d. . Injeksi intravena ( i.Contoh: inj. 4. .Biasanya diberikan dalam keadaan darurat. Cairan intravena ( infundabilia : infus i.Digunakan untuk pengobatan sistemik .Contoh : ampisilin injeksi.k. isotonis.Sediaan obat dapat berupa larutan. Injeksi peridural (p. intraspinal. emulsi atau suspensi . Injeksi intrasternal (i.Volume yang digunakan < 2 ml .Volume yang digunakan 0. . inj. .Contoh : inj.intradural. untuk dosis tunggal. tidak boleh mengandung bakterisida. Injeksi intrakardial (i. Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. sebelum disuntikkan.1-0. Contoh: inj.

6. BAHAN TAMBAHAN LAIN 1.5 %  Benzyl alkohol 2 %  Fenil merkuri nitrat/asetat 0.1 %  Klorobotanol 0. Pengawet Untuk injeksi pada wadah ganda ( multiple dese). parafin liq. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 30 .gas karbondioksida . gliserin. 2.  Bukan minyak : alkohol. 3. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5.15 % .01-0. Untuk menaikkan kelarutan : alkohol. dll. o Mencapai pH sama dengan pH darah (7.zat pengkhelat ( mis. dll b. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. Larutan penyangga ( buffer) Tujuan penambahan larutan penyangga: o Menghindari perubahan pH dalam penyimpanan karena berinteraksi dengan wadah. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. minyak wijen ( Ol sesami). pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2. propilen-glikol. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7.002 % KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. Bahan penambah kelarutan a. Contoh :  Benzalkonium kloroda 0.Na Metabisulfit 0. minyak zaitun ( Ol olivarum).■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1. Surface active agent terutama non ionik.Asam asetat dan garamnya(1-2%) .gas nitrogen .Arachidis).Asam fosfat dan garamnya (0. gliserin. Antioksidan Tujuannya: menghindari terjadinya oksidasi obat dalam sediaannya. koma. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. misalnya minyak kacang (Ol.4) Contoh : . Pelarut bukan air:  Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama.8-2%). bahan yang digunakan bersifat bakteriostatik.2 % 4. Contoh antioksidan: . selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya.075%) .Asam sitrat dan garamnya (1-3 %) . untuk stabilisator.Na bisulfit 0. EDTA 0. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. an-cooperatif.05-0.

Vaksin dibuat dari bakteria. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). 1-10 ml Vial/flacon. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki. ukuran partikel obat harus dikontrol dan Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 31 . multiple dose Vol 10-20 ml SEDIAAN STERIL YANG LAIN a.v yaitu botol infus dari kaca atau plastik biasanya dengan volume 500 ml. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di RS atau tempat praktek dokter. b.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 8. Wadah dosis tunggal ( single dose). Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. umumnya berbentuk vial atau flacon volume 10-20 ml. 3. c. oleh dokter atau perawat yang berkompeten. 2. Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Wadah dosis ganda ( multiple dose). terutama pemberian intavena. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. tidak boleh digunakan secara parenteral. Wadah untuk infus i. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. 9. venin. Ampul. single dose Vol. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. suspensi. pada umumnya berbentuk ampul dengan volume 1-10 ml. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. Pemakaiannya secara topikal. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Pada aerosol inhalasi. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). WADAH OBAT SUNTIK 1.

Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ukuran rata-rata partikel obat harus lebih kecil dari 10 mg. yang karena bertekanan uap tinggi. Contoh: Alupent aerosol. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 32 . Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. 3. Contoh: Vicks Inhaler. Sifat-sifatnya : 1. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. ataupun rusak karena kelembaban udara. Harganya mahal 2. 2. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. seperti pada asma bronkiale. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk memperoleh efek lokal atau sistemik. Contoh: Bricasma inhaler. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. 2. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. 5. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. Sediaan ini dikenal sebagai inhaler dosis terukur. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. SEDIAAN CAIR LAIN LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya Contoh : Baby Lotion. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1.

sediaan lain. Bentuk Resep:  Obat standart/paten  Racikan Macam sediaan setengah padat 1. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) SEDIAAN SETENGAH PADAT Biasanya digunakan secara topikal dan berefek lokal. unguenta 2. contoh krem pembersih. Vanishing cream untuk obat jerawat. Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. Adapun prosesnya adalah sbb: setelah obat dilepas basis. Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Sifat-sifatnya : 1. khusus untuk sediaan setengah padat dengan basis berminyak. lunak mudah dipakai dengan cara dioleskan. cocok/ sesuai serta dapat terdistribusi merata. kortikosteroid. sapo 6.  Pembersih.  Pelindung (protective). disamping mengandung bahan obat juga memerlukan bahan dasar/basis yang berfungsi sebagai bahan pembawa obat disamping fungsi lain yaitu:  Pelumas (lubricant). jelly 5. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. contoh vaseline. cream 3. kemungkinan obat akan diabsorpsi lebih lanjut masuk ke pembuluh darah kemudian ke sirkulasi sistemik. tetapi dengan perkembangan teknologi di bidang farmasi tersedia juga obat yang bertujuan untuk memberi efek sistemik karena tertentu contoh: obat anti-inflamasi diklofenak. Apabila pelarutnya minyak.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . all propose cream. Oleh karena itu maka obat Voltaren diberikan secara topikal tapi bertujuan untuk menghasilkan efek sistemik. oculenta 7. antibiotika. obat akan diabsorpsi oleh lapisan kulit dan membrana mukosa. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol.  Pelunak ( emolien) Bahan dasar atau basis yang digunakan harus memenuhi persyaratan stabil maksudnya tidak terpisah dari obatnya kecuali penicilin dan tetrasilikin yang diberikan dalam bentuk sediaan dalam bentuk sediaan oinment. Komposisi sediaan ini. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. pengering. contoh :  in ora base  emplastrum  liniment Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 33 . dan voltaren. 3. pasta 4. 2. penutup. Oleh karena ia merupakan NSAID maka sifat khasnya adalah mengiritasi lambung dan menyebabkan pendarahan lambung jika diberikan per oral. Voltaren merupakan NSAID yang merupakan obat pilihan pertama untuk reumatoid artritis.

dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Basis Polimer sintetik Silikon. Keuntungan yang lain adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terdapat pada keadaan dermatologik ( ket: pada lesi dermatologik akut banyak mengandung air. anhidrus : merupakan bahan dasar yang dapat bercampur dengan air dan membentuk emulsi air dalam minyak. anthihistamin. Contoh lain:  PEG 4000 40% dilebur dengan  Peg 400 60%  (POLIETILEN GLIKOL) F.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Bahan obat bisa terdiri dari obat khas topikal. Basis Hidrokarbon Dikenal sebagai basis berlemak antara lain vaseline putih dan salep putih.  Hidrofilik petrolatum  Parafin hidrofilik  Lanoloin anhidrat.  Cholesterol. contoh : asam salsilat adalah salah satu contoh obat yang khas tujuannya apakah akan digunakan sebagai antiseptik/antifungi/keratolitik. dll atau obat lain contoh : antibiotik. sedangkan basis tercuci ini lebih banyak airnya daripada minyak sehingga air dari sediaan ini akan lebih mudah bercampur dengan air dan lesi. Emulsi M/A ( sedikit minyak yang terselubung dalam air) : Vinishing cream Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 34 . C. Hidrous : merupakan emulsi air dalam minyak dan dapat bercampur dengan sejumlah air tambahan. A. untuk mengabsorpsi kebasahan lesi. ingat bahwa air larut dalam air bukan dalam minyak). Penggunaan bahan dasar ini terutama sebagai pelunak (emolien). contoh:  Lanolin ( merupakan kombinasi asam lemak dan air dengan perbandingan 3:1). Ol sesami. B. Sulfur. Plastik : Polietilen cair 3. Ol. 2. Basis ini disebut tercuci oleh karena mudah dicuci dengan air atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima sebagai bahan dasar kosmetik. Basis Tipe Emulsi 1. Adapun pembagian basis hidrokarbon ini adalah sbb: 1. Adapun sifat basis ini sukar dicuci. resorcinol.campora. Contohnya antara lain salep hidrofilik atau tepat disebut krim (chemores). Olivarium. Hanya sejumlah kecil bahan berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. vaseline. E. dimetikon/dimetilpolisiloksan D. Basis Tercuci Merupakan emulsi minyak dalam air. jelene 2. arachidis. kortikosteroid. tidak mengering. Parafin padat/cair. Basis lemak dan minyak Ol . Sabun : alumunium stearat + minyak mineral. Tujuannya terutama memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Basis absorpsi/ bahan dasar serap Manfaat bahan dasar ini juga sebagai emolien 1. contoh:  adeps lanae ( lemak bulu domba) .

Bahan obat : sampai dengan 10 % Bahan dasar : A ( misal vaselin putih)/B/D ( misal lanolin) atau bisa juga campuran bahan dasar A dan D Fungsi : pengobatan setempat. meskipun obat tersebut lebih efektif dalam bahan dasar yang mengandung air. Misalnya obat-obat yang cepat terhidrolisis.L.e Standart = R/ 2-4 Salf 20 SsDM ue Paten = R/ Nerisona fatty Oint/Oint tube I StDM u.u. pelunak Sediaan : Racikan. UNGUENTUM ( Ointment. Emulsi A/M Lanolin Cold Cream PEMILIHAN BAHAN DASAR Tergantung pada banyak faktor antara lain:  Khasiat yang diinginkan  Sifat bahan obat yang dicampurkan. beberapa sediaan lebih efektif menggunakan bahan dasar tercuci daripada bahan dasar hidrokarbon. salep) Adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan. lebih stabil dalam bahan dasar hidro karbon daripada bahan dasar yang mengandung air. pelindung. mengandung salah satu/lebih bahan obat terlarut/terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Paten.  Ketersediaan hayati  Stabilitas dan ketahanan bahan jadi Dalam beberapa hal perlu menggunakan bahan dasar yang kurang ideal untuk menjaga stabilitasnya. Keuntungan : kontak dengan kulit lebih lama sehingga kerja obat lebih efektif. oleh karena kontaknya dengan kulit lebih lama. terdiri atas satu atau lebih bahan berkhasiat dalam bahan dasar yang cocok.F. Standar.e CREAM ( KRIM) Adalah bentuk sediaan setengah padat. Basis krim menggunakan bahan dasar yang dapat dicuci dengan air antara lain basis emulsi atau cream tipe air/minyak ( A/M atau minyak/air ( M/A) Basis krim A/M dapat menyimpan lipid dan kelembaban dalam stratum korneum dan kemampuan memperbaiki jaringan dari kekeringan karena mempunyai sifat emolien. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasikan sebagai air dalam minyak/minyak dalam air. Basis krim M/A dioleskan pada kulit untuk mendapatkan :  Fase penguapan yang kontinyu  Menaikkan konsentrasi obat dalam air  Membentuk lapisan film pada permukaan kulit Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 35 . Bahan dasar biasanya berminyak sehingga kontak dengan kulit lebih lama.A UNGT SbDM m e t v. Contoh Penulisan R/ Unguenta Racikan = R/ Vioform 3% Acid salisil 4 % Adeps Lanae 2 Vaseline AD 15 M.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Hidrophilic Oint 2.

Kerugian : Karena banyak mengandung air maka mudah dibersihkan sehingga kontaknya dengan kulit singkat ( kerja obat singkat) Fungsi :  Pengobatan setempat  Pendingin  Pelunak Sediaan  Racikan  Standart  Non Generik / Obat dengan nama dagang Contoh Cream Racikan= R/ Hidrocortison Asetat 0.f. misalnya pasta natrium karbonsimetilselulose. Cara pemakaian : dioleskan dulu pada kain kasa Sediaan : racikan.u.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Keuntungan : oleh karena mengandung banyak air maka bisa berfungsi sebagai pendingin kulit. Bahan obat : padat 40-60% Bahan dasar : A/B/D Fungsi :  Pengobatan setempat  Pelindung pada bagian yang diolesi  Pembersih ( pasata gigi)  Tidak bisa untuk daerah berambut  Pengering  Obat dapat kontak lama dengan kulit  Cocok untuk lesi akut yang cendrung membentuk kerak menggelembung/mengeluarkan cairan. Keuntungannya : bahan obat bisa 40-60 % lebih banyak Kerugiannya : tak bisa menempel pada kulit berambut.l. dibuat dengan mencampurkan bahan obat berbentuk serbuk dalam jumlah besar(40-60 %) dalam vaselin/parafin cair atau ke dalam bahan dasar berlemak dibuat dari gel fase tunggal mengandung air.e PASTA Pasta adalah sediaan setengah padat yang mengandung satu/lebih bahan obat yang ditunjukkan untuk pemakaian topikal. Standart.u. Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air dan daya penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dibandingkan dengan salep.f Non Generik / Obat dengan nama dagang= R/Nerisona Cream tube I SsDM m.e standart= R/All Purpose Cream 25 S.e. Sediaan tersebut berupa masa lembek. sedangkan pasta berlemak misalnya pasta zink oksida.d.1 Basis Crem A/M ad.10 m.a cream sbDM met v. merupakan salep yang padat dan kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh. Non Generik / Obat dengan nama dagang CONTOH PASTA Standart = Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 36 .

Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. pendingin  Mudah berjamur  Mudah kering oleh karena basisnya mengandung air  Efek lokal atau kemungkinan sistemik Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Bioplacenton) SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. GEL Gel atau jeli merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar.1-1% Aqua ad 100 Cara pemakaian : Tidak langsung dioleskan pada kulit tetapi dioleskan dahulu pada kain kasa Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang. Tragakanta. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. Oxyd 6.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang OCULENTA ( UNGENTUM OPHTALMICAE) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. antara lain karbomer ( PEG. pembawa obat. semi sintetik (metil selulose.Standart. Bahan dasar salep Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 37 . CMC) Tidak dikemas dalam pot tapi dalam tube Sifat :  Pelicin kulit.u. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Pasta lasari R/ Acid salicyl 0. pektin) Bahan dasar : Gom.250 Vaselin Flav ad 25 Mfla pasta SsDM v.5 Zinc. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. As. CMC) dan gom alam ( tragakanta. Caragen agar Pektin. Alginat. terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel/jeli topikal merupakan gel fase tunggal dengan menggunakan bahan dasar larut dalam air.racikan JELLY.e Racikan= R/ CMC 1 % PEG 10-30 % CaCO3 15-50 % Na Lauryl Sulfat 1-2 % Pengawet Na F Warna 0.

. IN ORA BASE Merupakan preparat Non Generik / Obat dengan nama dagang setengah padat yang dioleskan.Sifat PEDOMAN  DERMATOSA Akut : Krim M/A Kronis : Salep Pasta Krim M/A atau A/M Sub Akut : pasta Krim A/M  KEADAAN KULIT Kering : salep Krim Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 38 . Digunakan untuk pengobatan bibir dan mukosa mulut Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( contoh Kenalog) 2. Keuntungan menggunakan salep mata yaitu obat dapat kontak lama dengan mata.Penetrasi Obat baik . dll  Bentuk sediaan : .Pembersih.Lapisan Straturn Komeum. Sifat :  Steril. sehingga obat tetap berkhasiat selama penyimpanan  Untuk obat dalam larutan/serbuk halus. SEDIAAN LAIN 1.macam . jika lap. EMPLASTRUM Dari segi kimia hasil proses penyabunan dari asam lemak dengan logam berat.Fisiologi Kulit  Tujuan : .Obat lama dikulit .Fungsi  Basis : .Macam . Sifat emplastrum :  Proteksi dan bantuan mekanis pada kulit  Kontak obat dengan kulit erat  Obat tidak melelh sehingga efek lokal lebih intensif.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran seperti ini memungkinkan dispersi obat larut yang lebih baik. Str. jika lesi luas ( ½ luas permukaan tubuh atau lebih berikan sediaan lotion ( murah). konsistensinya sedemikian rupa sehingga mudah melekat pada kulit dan biasanya dilapisi dengan kain. Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang ( Kove salonpas) HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATKAN DALAM MEMILIH BENTUK SEDIAAN SETENGAH PADAT  Kondisi kulit yang terkena penyakit: . basis tidak mengiritasi mata dan memungkinkan obat tersebar dengan perantaraan air mata.luas permukaan kulit. korneum tebal tambahkan keratolitik. .

RESEP Kata resep berasal dari bahasa latin: Recipe (R/) : ambilah Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 39 . 922/1993: Resep merupakan suatu permintaan tertulis dari dokter. RS) Cara menyimpan resep : disimpan rapi sebagai dokumen selama tiga tahun Cara pemusnahan resep : dibakar oleh apotek dan dilaporkan pada instansi yang berwenang. spesialis)  Dokter gigi terbatas untuk penyakit gigi  Dokter hewan terbatas untuk hewan Orang yang berhak mengetahui resep :  Dokter penulis resep atau yang merawat penderita  Penderita. Sebagai catatan terapi Sebaiknya resep dibuat rangkap 2 :  1 lembar untuk pasien agar mendapat obat  1 lembar sebagai catatan dokter bila pasien datang lain untuk kontrol atau tidak sembuh. Merupakan media komunikasi Dari dokter kepada apoteker. misal Dinas Kesehatan. Pelumas keratolitik Contoh : pada lesi yang akut dan basah.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Basah : Salep = Basis 4 ( D) Krim M/A atau A/M Berambut : basis 5 ( E) Krim M/A atau A/M Bersisik atau lap. atau dengan petugas kesehatan lain. Merupakan dokumen legal ( karena dilindungi UU) Agar pelayanan oleh apotek tidak dijumpai hal-hal yang merugikan penderita. Setelah dicocokkan maka sediaan yang cocok adalah krim M/A. misalnya instansi yang membiayai pasien. 4. dokter gigi. tetapi kalau berpengaruh jelek pada psikologisnya. Tempat melayani resep : apotek ( umum.  Petugas kesehatan  Petugas lain yang berwenang menurut UU. atau dokter hewan kepada APA ( Apoteker Pengelola Apotek) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Lihat pada dermatosa yang akut dan pada keadaan kulit yang basah. Str corneum tebal. juga untuk memonitor atau mengevaluasi pengoabatan. maka berikan sediaan yang cocok sesuai pedoman diatas. Balai Pengawasan Obat dan Makanan. etc. Depkes. Sebagai perwujudan cara terapi Upaya terapi pasien dengan menggunakan obat 2. sebaiknya tidak perlu diberitahu. Orang yang berhak menulis resep adalah:  Dokter ( umum. 3. Fungsi resep : 1.

Tab Aminophylin 200 mg. Berat : g (gram). Theophylin.b. Alat penakar  Sendok makan (=15 ml)  C  Sendok teh ( = 8 ml)  Cth  Sendok obat ( =5 ml)  C plastik.5 ml dalam 100 ml sediaan 2 . (OBH)  Obat dengan Nama Dagang  Contoh : Tab.salic).I 3. tab.5 % ( b/b) = 0./lag/tube ( biji) Satuan tersebut ditulis dengan angka Romawi . harus ditulis dengan jelas dan lengkap. 120 ml  Nama obat harus ditulis dengan jelas agar tidak keliru diberikan. 500 mg.acet.  Jelas dapat dibaca  Sesuai aturan/kaidah penulisan yang berlaku Resep harus sesuai dengan Peraturan Menkes NO. v/v.280/1981. Nigr. Aspirin. Pot./cap. Satuan internasional : IU Volume : l (liter). Satuan jumlah/kekuatan obat 2. Singkatan ditulis dalam bahasa latin dan harus lengkap penulisannya agar memenuhi syarat untuk dibuatkan/dilayani obatnya di apotek. Nama obat. Ac Benzoic. Obat jadi  ditulis nama standart  sesuai DOEN ( berisi nama obat generik berlogo)  Misal: 1).5 g dalam 100 g sediaan .5 % (v/v) = 0. 2) Nama Sinonim  Misal : Asetosal ( ac. Resep ditulis: Resep ditulis pada blanko R/ yang berukuran : Panjang : 15-18 cm Lebar : 10-12 cm Ditulis dengan tinta dan bahasa latin.a. BAHASA LATIN DALAM RESEP Bahasa latin dalam resep digunakan untuk penulisan:  Nama obat ( obat baku)  Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 40 . b/b.5 g dalam 100 ml sediaan . mcg (mikrogram). 2. 3). Salic. ml (mililiter) Persentase %. Acetosal 100 mg. b/v.0. Allerin Exp.5 % ( b/v) = 0. mg (miligram). Ac. antiinflamasi) dengan Lindocin (antibiotik) atau sebaliknya. tuss.  Dapat ditulis: 1) Nama generik.0. Contoh: ampicilin syr. misalnya Indocin (anlgesik.60 ml. 26/1980 dan Keputusan Menkes No. biasa juga ditulis cth. Lag No. v=volume) Arti prosentase : . Aturan/kaidah penulisan resep: 1. C.  Bahan baku ( bentuk aslinya). v/b (b=berat. Tab..■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ATURAN PENULISAN RESEP A. Satuan tab. 2). Dengan cara yang benar.05 ml)  gtt B.  Tetesan/drops ( = 0.0. Bronsolven.

umur (khususnya u/anak). bisa tunggal atau beberapa bahan. maka boleh digunakan bahasa Indonesia. Alasan penggunaan bahasa latin :  Bahasa latin adalah bahasa yang mati ( artinya bahasa yang sudah tidak berkembang lagi)  Merupakan bahasa Internasional dalam dunia kedokteran dan kefarmasian  Menghindari dualisme ( adanya perbedaan pengertian).I = ne iteratur = tidak boleh diulang Cito = segera Urgent = penting Statim = penting P. pasien kembali kepada dokternya). Bila ada istilah yang tidak ada dalam bahasa latin. alamat pasien  Tempat dan tanggal penulisan R/  Simbol R/ (= invocatio)  Nama. . Singkatan Bahasa asing yang Penting : Iter…x = iteratur= diulang…x N. .Remidium corrigens ( hanya kalau perlu). Rossarum ( minyak permen) Corringens constituen: ditambahkan untuk bahan yang sedikit agar dapat dibuat sediaan obat. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 41 . Penulisan singkatan ini dikarenakan ukuran blanko R/ yang tidak terlalu besar. dan nomor izin praktek dokter 2.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran  Pembentukan/bentuk obat  Petunjuk penggunaan obat ( biasanya disingkat) Biasanya ditulis dengan singaktan yang baku ( disepakati Internasional) dan dihindarkan singkatan dalam bahasa Indonesia. Lact) Corringens coloris ( warna)= carmine Corringens odoris (bau)= ol. misal: sendok plastik harus ditulis C plastik.remidium cardinale = nama dan jumlah bahan-bahan pokok. meliputi: Corringens saporis= perasa. Untuk hal-hal yang khusus. Inscriptio  Jenis bahan obat dalam resep.M = periculum in mora= berbahaya bila ditunda! = ditulis dibelakang jumlah obat jika dosis melebihi dosis maksimum. Kerugian : Akibat perkembangan dari ilmu kedokteran dan kefarmasian.  Dalam keadaan tertentu karena faktor psikologi. Tidak boleh membuat singkatan versi sendiri. seperti singkatan bahasa Indonesia. banyak menimbulkan istilahistilah baru yang tidak dijumpai singkatannya dalam bahasa latin. Misal : saccharum lactis ( sacch. Misalnya: obat diberikan untuk 3 hari ( maksudnya kalau sampai 3 hari tidak terlihat perkembangannya yang positif. alamat.Vehicle ( pembawa) yang diperlukan bila resep merupakan racikan dokter sendiri dan bukan obat jadi. Superscriptio  Nama.Remidium adjuvant/korektor= nama dan jumlah obat tambahan . RESEP LENGKAP Resep lengkap terdiri atas : 1.I. meliputi: . namun tidak boleh disingkat. maka diupayakan agar seluruh pesan tersampaikan. istilah/kata tersebut ditulis utuh. Jadi istilah tersebut harus ditulis lengkap. ada baiknya pasien tidak perlu tahu obat/ bahan obat apa yang diberikan. jangan disingkat.

tanda tangan/paraf* dokter penulis resep. izin kerja. Obat narkotika dan psikotropika tertentu  paraf u/ gol. 3). sebuah resep dikatakan sah bila:  Untuk resep dokter praktek swasta harus ada nama.I) 3.obat selain diatas Dalam memberikan resep kepada pasien perlu diperhatikan hal-hal sbb:  Penggunaan obat. Contoh blanko resep dokter praktek swasta :  dr.Ahmad yani 9 Gerung : Gerung.  Dibubuhkan pada resep setelah signa  tanda tangan u/ gol. sediaannya dipilih obat mana dan sediaan apa yang paling efektif dan cocok untuk penderita  Penggunaan kombinasi obat harus dipertimbangkan adanya kemungkinan interaksi  Dosis diperhitngkan dengan tepat sesuai kondisi penderita. alamat RS/Klinik/Poliklinik. tanda tangan/paraf. alamat. misal: perubahan urin menjadi merah bila mengkonsumsi Rifampisin.g) atau satuan isi untuk cairan (tetes. efek samping.  Sertakan info tentang cara penggunaan.  Adanya catatan ( kartu obat) untuk evaluasi jika pasien kembali lagi. Subscriptio Memuat cara pembuatan (nama dan jumlah bentuk sediaan) 4. Signatura/transcriptio berisi petunjuk penggunaan obat. Enni Yuliani SIP : DU-2000/III/1999 Alamat Rumah/Praktek Jl.2). …………………… R/ Pro Alamat Umur : : : Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 42 . ml.mg. nama.bagian/unit di RS.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Jumlah bahan obat dinyatakan dalam satuan berat untuk bahan padat (mcg. alamat praktek dan rumah. Nama.  Untuk resep dokter RS/Klinik/Poliklinik harus ada 1). dan peringatan lain.  Penulisan singkatan dalam bahasa latin  Jumlah obat/sediaan seperlunya.

a. Catatan : untuk resep-resep intern misalnya RS. misalnya untuk obat narkotika jumlahnya tidak ditambahi oleh pasien yang akan menyalahgunakan pamakaiannya. dan SMF.  Untuk tanda-tanda khusus seperti „Cito‟ atau „PIM‟ harus ditulis disebelah kanan pada bagian atas kertas resep. nama binatang.  Penulisan signa harus jelas. FORMULA RESEP Dalam menuliskan resep. seorang dokter bisa memilih 3 penulisan formula resep.  Pada penulisan numero dengan menggunakan angka romawi.  Untuk penulisan resep digunakan bahasa latin.u.l.XX (= campur sesuai aturan puyer sesuai takaran di atas sebanyak 20 bungkus).obat yang dipilih : bahan baku ( racikan) Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 43 .f. Resep Formula Magistralis -sediaan disusun oleh dokter sendiri .c (= tandailah 3x sehari 1 tablet 1 jam sebelum makan)  s. RS.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Contoh Blanko resep dokter RS/Klinik/Poliklinik Klinik Bersalin EXONERO JL. yaitu: 1. bagian nama sampai dengan alamat dapat diganti oleh kop. resep yang demikian hanya berlaku lokal untuk negara Indonesia saja. maka gunakan bahasa Indonesia.f ( = tandailah dengan formulanya)  m. berat badan.d.d.t.h.  Pada lembar resep yang digunakan oleh dokter hewan. Penulisan tersebut diperlukan terutama untuk keamanan agar angkanya tidak ditambahi.susp.no. khusus untuk nama pasien perlu dicantumkan: jenis spesies( jenis binatang seperti kucing.200ml (= campur dan buat sesuai aturan suspensi sebanyak 200 ml)  f.c.t.pulv.Pemuda 18 Mataram Mataram. misalnya‟X‟ jika diperlukan dapat ditulis‟-X-„.  Penulisan resep tidak boleh dicantumkan kode-kode tertentu. dengan mencantumkan dan lain-lain yang diperlukan.  Penulisan nama obat dengan menggunakan singkatan bahasa latin. bila termasuk obat baku/generik. dokter. atau penambahan angka untuk obat lainnya oleh pihak apotek ( terutama dalam hubungannya dengan klaim asuransi).l. Apabila ada keraguan dalam penjelasan dengan menggunakan bahasa tersebut.a.d.d.d. dll).l.a. anjing.  Untuk nama obat Non Generik / Obat dengan nama dagang harus secara lengkap dan jelas. „iter‟ harus ditulis disebelah kiri di bawah pada setiap R/ yang memerlukan pengulangan maka harus ditulis pada sebelah kiri atas dari resep. …………………… Dokter : R/ Pro Alamat Umur : : : Arti singkatan bahasa latin:  s.tab. nama dan alamat pemilik.

vehikulum/constituen.obat berupa standart/baku menurut: Formula standart. dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan bahan sediaan obat (BSO).f. ** misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero quindecem=” campur dan buatlah sesuai aturan puyer sebanyak dosis tersebut diatas sebanyak 15 bungkus”.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Sediaan Non Generik / Obat dengan nama dagang memakai bahan tambahan. Komposisi tersebut dibuat puyer sesuai dengan dosis obat yang digunakan.. Contoh cara penulisan. farmakope Indonesia.berupa sediaan jadi atau sediaan yang diracik apotek.p. antara lain : corrigen saporis. Arti. *** signa pro re nata ter de die pulveres una=” tandai: bila perlu 3x sehari 1 bungkus puyer” Makna resep “setiap bungkus puyer mengandung bahan obat: Parasetamol 100 mg. Buatlah puyer sejumlah 15 bungkus.sediaan jadi sesuai pabrik . .a pulv.l. RESEP MARGINALIS Sediaan padat R/ Paracetamol mg 100 Phenobarbital mg 10 Sacch. .dokter harus memahami spesifikasi/kekhususan. dan Makna masing-masing formula Resep: 1.Bila memakai formula ini. Resep Formula Officinalis . Extra farmakope dan Formularium Indonesia. Resep Formula Spesialistis . XV** s. odoris. Phenobarbital 10 Mg. coloris.Obat / sediaan generik berlogo . 3.d.Dokter harus memahami isi/komposisi obat dan indikasinya.d. Obat diperlukan untuk 5 hari.r. dan Saccaharum laktum ( sebagai pemanis dan pembawa) secukupnya.I *** Paraf - - arti singkatan * Saccaharum lactum quantum sactis = “ Saccaharum lactum secukupnya”. .obat yang dipilih berupa obat dengan nama dagang atau obat jadi . Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus. Lact.s* m.t.q. dan tujuan produk obat yang akan diberikan. sifat.d no.n t.d pulv.satu sediaan bisa memiliki banyak formulasi . 2.” Atau: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 44 .

sedangkan R/2 ditulis jumlah banyaknya obat untuk 15 bungkus puyer. sehingga bila diperlukan dosis lain yang tidak sama dengan kandungan obat dalam sediaan tersebut.I Paraf .s m.p.d.Paracetamol No.5 gr).a pulv.d. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 1 bungkus. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 45 .a Makna resep : “ tablet parasetamol ( 1 tablet =500 mg) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x500 mg= 1500 mg= 1.l.n t.a pulv.l.d.s m. Tidak dianjurkan bentuk peresepan berikut: R/ Tab.n t.f.p. Lact. Phenobarnital 150 mg dan saccharum laktum secukupnya dicampur dan dibuat untuk menajdi 15 bungkus puyer.s” Mengapa resep seperti ini tidak dianjurkan? Sediaan tablet Parasetamol dan Luminal mengandung sejumlah obat yang tertentu per tablet. III Tab. XV s.q. Tablet Luminal ( 1 tablet = 50 mg ) sebanyak 3 tablet ( jadi 3x50 = 150 mg).t. dan Saccharum laktum secukupnya.arti singkatan : idem sda . Luminal 50 mg no. Jadi tiap bungkus mengandung 100 mg dan Phenobarbital 10 mg. Aturan pakai : s.5 g. Lact.d pulv.d.5 Phenobarbital mg 150 Sacch.d. Dicampur dan dibuat untuk menjadi 15 bungkus puyer. akan memberikan masalah. Apa bedanya kedua resep tersebut? Pada R/1 ditulis jumlah banyaknya obat untuk tiap bungkus puyer.a no. no. Obat diperlukan untuk 5 hari.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Paracetamol g 1.f.q. XV s.Makna resep : “ dari bahan obat : Parasetamol 1.d pulv.r.r.III Sacch.I Paraf   arti singkatan : s.

emulsi) harus dibuat segera dan memerlukan tambahan pengawet.u.” **** signa bi de die usus externus mane et vespere = “ tandai: 2x sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari.” Makna resep “ campur dan buatlah salep sebanyak 20 gram yang mengandung : Tetrasiklin 3 %.”***misce fac lege artis unguenta = “ campur dan buatlah sesuai aturan salep.t.d caps. suspensi.** s.in caps.b.n t.l.a.c*** Paraf Arti singkatan * misce fac lege artis pulveres da tales dosis nomero trigenta= “ campur dan buatlah sesuai aturan puyer sesuai dosis tersebut sebanyak 30 bungkus”.alb. v **** Paraf Arti singkatan * Adeps lanae 2= “ Adeps lanae sebanyak 2 gram”** vaselin album ad 20 = “Vaselin album sampai 20 gram.a no.*** signa pro re nata ter de die capsula una post coenam=”tandai : bila perlu 3x sehari masing-masing 1 kapsul.m. ungt*** s. menggangggu homogenitas dan kadar obat dalam darah yang akhirnya akan mempengaruhi tujuan terapi.d.Lan. XXX* da.5 %.et. Pencampuran sediaan obat padat ke dalam sebuah sediaan jadi cair dilarang karena sangat tidak rasional.f.ad 20 ** m.” Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 46 .1 p. dan bahan Adeps lanae 2 gram dan vaseline album( ditambahkan hingga mencapai 20 g).** da in capsula= “berikan dalam bentuk kapsul”. aturan pakai: untuk pemakaian luar 2x sehari pagi dan sore.r.d. Sediaan Cair  sekarang sudah tidak ada sediaan cair yang disusun formula oleh dokter melalui resep.p.l.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Aminophylin mg 150 Prednison mg 5 m. stabilitas tidak bisa dijamin apabila dibuat di apotek. Sediaan ½ Padat R/ Tetrasiklin 3 % Hidrokortison 2.5 % Ad.2* Vas.d.e.f. berikan sesudah makan‟.d. Obat sediaan cair (sirup. Hidrokortison 2. karena untuk membuat sediaan cair perlu teknologi dan sudah tersedia dalam bentuk sediaan jadi yang siap pakai oleh pabrik farmasi.a pulv.

3xsehari masing-masing 1 kapsul.5 Ad.u.f.e.6 gram.d.d.a. v ** Paraf Arti resep : ambilkan Tetrasiklin 0. Aturan pakai : s.d.6 gram.et.d.d. ungt* s.a” Apa beda resep ini dengan resep diatas? Rsep ini memakai jumlah obat dalam gram.ad 20 m.l.* campur dan buatlah menurut aturan salep. di dapat dari : 3 % x20 gram = 0.m.6 Hidrokortison 0. demikian pula Hidrokortison: 2.5 gram. Adeps lanae 2 gram dan Vaseline album sampai jumlah salep sebanyak 20 gram.5 gram.d.I * Paraf Arti singkatan * signa ter de die capsula una=” tandailah 3x sehari 1 kapsul”.t.** tandailah dua kali sehari untuk pemakaian luar pagi dan sore hari.Lan.6 gram.ml. 2.Yaitu Tetrasiklin 0. Dibuat salep . RESEP OFFICINALIS Sediaan Padat R/ Amoxycilin 500 mg no.5 %.b.c. II* * Paraf Arti singkatan * potio album contra tussim = “ obat batuk putih (OBP).d. 100 * s. Makna resep:” berikan kapsul amoksisilin 500 mg sebanyak 15 butir. Hidrokortison 0. Makna resep “ salep resep diatas mengandung Tetrasiklin 3 %. dengan basis salep: Adeps lanae (10 %) dan Vaseline album.5 %x20 gram = 0. caps.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Atau R/ Tetracyclin 0. Aturan pakai.tuss.2 Vas.alb. Alb.” Sediaan Cair R/ Pot.t. Hidrokortison 2.XV s.** signa ter de die cochlear theae= “tandailah 3x sehari masing-masing 2 sendok teh” Makna resep: Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 47 . Cth.

Ad 100 m.” Formula Ungt.Sulf. Aturan pakai : 3x sehari masing-masing 2 sendok teh.d. Aturan pakai: 3x sehari.spirt.d.u.dest. caps I Paraf Makna resep “berikan kapsul Amoxan 500 mg 15 butir.d.Mint.t.d.100 3.a mixt Sediaan ½ Padat R/ Ungt. Amm.et.Pip.60 ml lag. Aturan pakai 2x sehari untuk pemakaian luar.I Paraf Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 48 . Simpl. 20* s.I Syr.XV s. Ad. Cth.2 Ol.. pagi.d. Anis.I* s.v** ( setelah Mandi) Paraf Arti singkatan * Ungentum Sulfuric Salicylitum= “ salep Belerang-Salsilat” ** signa bi de die usus externus mane et vespere = tandailah 2 x sehari . Sulfuris Salicylitum( 2-4 Zalf) R/ acidum salicylicum 2 Sulfur praesipitatum 4 Vaselin alb.b.setelah mandi Makna resep “ Berikan salep Sulfuris Salisilitum sebanyak 20 gram.f.untuk pemakaian luar.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ” berikan obat batuk putih100 ml.t.Gtt.pagi dsan sore. dan sore hari sesudah mandi.10 Aq. masing-masing 1 kapsul.l.m.Salicyl.” Formula dan sediaan Amoxan: Bisa dilihat di buku IIMS/ISO Sediaan Cair R/ Cohistan expt. RESEP SPESIALISTIS Sediaan Padat R/ Caps Amoxan 500 mg no.e.” Formula Potio Album Contra Tusim ( OBP) R/ sol.d.

dan jumlahnya. Aturan pakai : diminum 3x sehari masing-masing 1 sendok teh.u. 2.d.” Makna resep “berikan Cohistan expectoran 60 ml 1 botol.” Makna resep “berikan Scabicid cream 1 tube.b. Komposisi/ formula harus diketahui secara baik oleh dokter penulis resep.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan * Cohistan expectoran 60 ml lag una= “ Cohistan Expectoran 60 ml 1 btl. Aturan pakai . Perhatian Karena obat ini ( injeksi Pethidin) termasuk golongan narkotika. kekuatan. R/ Inj.d gtt. II ( duo) * s.I* s.” Formula dan sediaan Cohistan Expectoran: Bisa dilihat di ISO/IIMS Sediaan ½ Padat R/ Scabicid cr.Tub.” Formula dan sediaan Scabicid Cream : Lihat ISO/IIMS Catatan : dalam penulisan formula spesialistis dokter hanya perlu menuliskan nama Non Generik / Obat dengan nama dagang yang diberikan oleh pabriknya.d.* Paraf Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 49 .II a.i. telah diketahui.m** Tanda tangan Arti singkatan: * injeksi Pethidin ampula duo = “ Injeksi Pethudin dua ampul” ** signa in manum medici = “ Serahkan pada dokter” Makna resep “ serahkan pada dokter. Pethidin amp.m. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENULISAN RESEP: 1. injeksi Pethidin sebanyak 2 ampul”. maka dokter harus memberi tanda tangan bukan paraf.** Paraf Arti singkatan: * Scabicid cream tube una= “krim Scabicid 1 tube” ** signa usus cognitus =” Tandailah : aturan pakai sudah tahu. R/ Otopain ear drop lag I s.c.

Perhatian: Seperti halnya tetes. Perhatian: Untuk tetes telinga. Perhatian: Bila pemberian hanya waktu tertentu. salep mata jelas untuk mata kanan.. R/ Chloramphenicol Ungt. Aturan pakai 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan “.d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Arti singkatan:  signa bi de die guttae duo auriculae dextra=”Tandailah 2x sehari 2 tetes pada telinga kanan”.d puff. Aturan pakai 2x sehari. Opth.d.b. Paraf Arti singkatan:  signa bi de die unguentum opthalmicum ocular dexter et ocular sinister=” tandailah 2x sehari salep mata. 4. 0.d. dapat diberikan 3x sehari. R/ Bricasma Aerosol fl I s.n.b. 5.n = pro re nata= bila perlu.4 ml Paraf Makna Resep: “berikan Tempra oral drop satu flacon/botol. Makna resep “ Berikan salep mata Kloramfenikol 1 % 1 tube.d.d. kiri atau keduanya. Misal: selain p. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 50 . ungt.r.p. Makna Resep “Berikan Otopain Ear drop (satu) botol. mata kanan dan mata kiri”. 2 semprotan. dapat diberi keterangan” febris/demam/panas”. Pemakaian kata” ear drop” ( bahasa inggris) diperbolehkan. R/ Tempra oral drop fl.4 ml (dengan pipet yang tersedia).t. Aturan pakai : bila demam/panas berikan 0. 3. 1 % tub. Untuk obat-obat simptomatis yang diminum bila demam.II Paraf Makna resep : “ berikan Bricasma aerosol 1 flacon/botol.Opth. bisa diberi keterangan.r.I s. Od & Os. hidung atau mata kanan atau mata kiri atau kedua-duanya. Aturan pakai : 2x sehari mata kanan dan kiri”. hidung atau mata harus jelas untuk telinga.I s.

Aturan pakai 2x sehari.II Paraf Makna resep : “ Berikan Bricasama Turbohaler 1 botol.d. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 51 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran R/ Bricasma Turbohaler fl I s. Yang satu aerosol yang satu lagi inhalasi. Perhatikan perbedaan kedua resep Perhatikan perbedaan aturan pakai dan sediaan/alat yang digunakan.d inh. 2 hirupan (inhalan)”.b.

aeq p.i s.c d. o.m. ½ . Si necesse sit Solutio Spiritus Signa suo nomine Signa usus externus Signa usus internus Signa usus notus Sgna usus cognitus Sumendum Ter de die/ ter in die Unguentum Vespere Menurut semestinya (= aturan) Botol Linimen Cairan Cairan varbonas pencuci Cair Parpum cair Tutul mulut Air pembersih Tablet hisap Pagi hari Campurlah Campur dan berilah tanda Pagi dan sore hari Campur dan buatlah Campur dan buatlah serbuk Miligram Larutan campuran Siang/tengah hari Malam hari Tidak diulang Tiap ½ jam Tiap jam Tiap 2 jam Tiap 3 jam Tiap pagi hari Tiap malam Tiap bagian yang sama Sesudah makan Berbahaya bila ditunda Cairan utk diminum Utk si miskin Bila perlu Serbuk (tunggal) Serbuk( jamak) Serbuk tabur Empat kali sehari Secukupnya Ambillah Segar Dibuat baru Tanda Dos Bila perlu Bila perlu Larutan Alkohol= etanol Tandai dengan namanya Tanda untuk obat luar Tanda untuk obat dalam Tanda aturan pakai sudah tahu Tanda aturan pakai sdh tahu utk Diminum Tiga kali sehari Salep Senja(=sore)hari Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 52 .oris Lot Loz m/man m. m.c ad ad lib aDM aq.n.l. S scat.. q. rec.a lag lin liq Liq.i.d.u.I..et v.h o. t.h c C Cp C.2 plo dil.d/t.p.i. P. p.c.s.i.i.f.u.m inf inf.u. s.G garg gtt gtt.h.u.in. p.t. m.iv iter iter 2x Lc Ana Ante coenam Ad Ad libitium Adbe Aqua bidestilata Aqua destilata Aqua pro injectio Aqua sterilisata Bis de die/bis in die Bis hora Cum Cochlear Cochlear pultis Cochlear theae Capsulae Clysma Collyrium Collutio Concentratus Cream Da Dorante coenam Da cum formula De die Da in demidio Da in duplo Dilitus Devide in dartes/equales Da tasles dosis Dexter Emplastrum Enema Extractum Extractum liquidium Extractum spisssum Extractum siccum Fac/fiat Fac lege artis Filtra Grama Gargarisma Guttae Guttae opthalimiceae Guttae auriculares Guttae nasales Hora Hora matutina Haustus Hora somni In manum medici Infusum Infus intavenus Iteretur /iteratie Iteretur 2x Loco Masing-masing sama banyak Sebelum makan Sampai Sampai yang diinginkan Tambahkan Air suling 2 kali Air suling Air untuk larutan suntik Air steril 2 kali sehari 2 jam Dengan Sendok makan 9 15 ml) Sendok bubur 9 8 ml) Sendok the(5 ml) Kapsul Lavement (cairan utk bubur) Cuci mata Cuci muluit Pekat Krim Berilah Selama makan Berilah dengan resep/formulanya sehari Berilah setengahnya Berilah 2 kalinya Encer Bagilah dalam bagian yg sama Berikan sebanyak takaran tersebut Kanan Plester Lavement Ekstrak/sari Sari cair Sari kental Sari kering Buat/ dibuat Buat menurut seni( aturan) Saring Garam Obat kumur Tetes Tetes mata Tetes relinga Tetes hidung Jam Pagi-pagi Sekali minum sebelum tidur Serahkan ke dokter Rebusan Sediaan steril untuk intravenous Diulang Diulang 2 kali Penggantinya l. N ne iter/ N.h o. d q.th Caps Cylsm Collyr Collut Conc Cr d/da d.n s.pulv mg mixt merid. m.d.I o.adsp.d Ungt.d/4. p.in p.c.e s.bidest aq.s sol. R.m haust h.steril b.d d.d d.e s.nasal h h.b.n.d b.c sum./o. o.dest aq. r.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ISTILAH BAHASA LATIN DALAM RESEP Aa a.d/q.s m.r.det Liq Paraf.liq Lit.f.auric gtt.spiss extr.Carb.n.n pulv pulv.inj aq.a filtr g.h.f d.pro.d.d.h.s.liq extr.p.d.aeq d.n s.opth gtt.d/b.ung Vesp Lege artis Legena Linimentum Liquor Liquor Carbonas detergent Liquidium Parafin liquidium Litus oris Lotio Lozonges Mane Misce Misce da signa Mane et vespere Misce fac Misce fac pulveres Miligramata Mixtura Meridium Noctum Ne iteretur Omni dimidia hora Omni hora Omni bi horio Omni tri horio Omni mane Omni noctum Partes aequales Post coenam Periculum in mora Potio Pro paupere Pro re nata Pulvis Pulveres Pulvis adspersorius Quarter de die/ quarter in die Quantum satis/quanrum suficit Recipe Recens Recenter paratus Signa Scatula Si necesse est.s i.t.M Pot.d dext empl enem extr extr.sicc f f. div. o.d./solut spir s.m.

Penggunaan obat tidak sesuai dengan perintah pengobatan (Non compliance) 4. Tepat penilaian kondisi pasien 7. Tepat dosis. Tepat indikasi 3. Tepat pemilihan obat 4. Idiosinkrasi pasien a. bentuk sediaan. Tepat diagnosis 2. Berhubungan dengan cara pengobatan yang tidak tepat b. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara : mengobati pasien. d.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran ANGKA LATIN 1= I = Unus. b. Terjadi kesalahan atau kecelakaan 5. ae 3=III=tres 4=IV=quatuor 5=V=quinguae 6=VI=sex 7=VII=Septem 8=VIII= octo 9=IX=novem 10=X= decem 12=XII=duodecem 15=XV=quidacem 20=XX=viginti 21=XXI=unus et viginti 25=XXV=quinguae et viginti 30=XXX=trigenta 40=XL=quadragenta 50=L=Quingenta 51=LI=unus quingenta 90=XC=nona genta 100=C=Centum 500=D=quncenti 1000=M=mille 2000=MM=duo mille 121=CXXI=centum unus et viginti 131=CXXXI= centum unus trigenta. mengurangi atau meniadakan rasa sakit. e. rute. Peresepan salah 2. Tepat informasi 6. cara & lama pemberian 5. Pengobatan kurang tepat (missal: pemilihan obat. lama pemakaian). Tepat tindak lanjut Namun ada hal-hal yang tidak dapat disangkal dalam pemberian obat yaitu kemungkinan terjadinya hasil pengobatan yang seperti yang diharapkan (Drug related problem). Respon aneh individu terhadap obat b. Pemberian obat yang tidak diperlukan. dosis. interval dosis. Penulisan resep yang kurang tepat a. unum. menghentikan atau memperlambat proses penyakit serta mencegah penyakit atau gejalanya. Penyerahan obat yang tidak tepat a. Obat yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan b. PENGGUNAAN OBAT RASIONAL Terapi dengan menggunakan obat terutama ditujukan untuk meningkatkan kualitas atau mempertahankan hidup pasien. Pemberian obat yang dikontraindikasikan pada penderita Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 53 . Ketidakberhasilan pengobatan ini dapat disebabkan oleh: 1. Tidak tepat penderita a. yaitu : 1. unae. Terdapat 7 kriteria penggunaan obat secara rasional (POSR). Perilaku pasien yang tidak mendukung a. Peresepan obat berlebih c. Peresepan obat majemuk (polifarmasi). una 2=II= duo. Kesalahan dispensing 3.

 Diuretik lebih baik diberikan pada pagi hari daripada malam hari (kecuali pada pasien yang dikateterisasi).  Pasien dengan keadaan tidak memungkinkan akses melalui vena sehingga pemeberian obat secara IV harus dihindari. Rute pemberian obat juga harus disesuaikan dengan obat itu sendiri. Contoh: suspensi fenitoin 90mg dalam 15 ml dipertimbangkan memberikan efek terapeutik yang kurang lebih sama dengan kapsul atau tablet yang mengandung natrium fenitoin 100mg. harus dilakukan kajian terhadap pengobatan yang sedang diterima saat ini untuk menentukan formulasi atau pilihan obat alternatif. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 54 .  Bentuk sediaan obat Pada obat-obat tertentu. yaitu melalui pemberian sediaan obat yang pelepasannya terkendali sehingga cukup diberikan satu kali sehari. Gagal dalam memantau efek pengobatan pada pasien. Contoh :  Sediaan obat yang pelepasannya terkendali akan tidak tepat jika diberikan melalui selang naso-gastrik. Contoh :  Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan secara oral karena tidak mampu / tidak boleh minum obat seperti sebelum operasi. sangatlah penting untuk mempertimbangkan bioekuivalensi berbagai nama dagang obat. b. Pemantauan yang tidak tepat a. kadang-kadang tidak tersedia di bangsal / di apotek / di puskesmas. Contoh:  Pemberian obat sedasi untuk malam hari sebaiknya 30 menit sebelum tidur.  Pemilihan waktu pemberian obat Sangat penting untuk memahami tentang ketepatan waktu pemberian dosis obat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran 6.  Pasien yang tidak dapat menerima pengobatan peroral memerlukan adanya kajian apakah pengobatan dapat diabaikan sementara waktu atau apakah diperlukan rute atau pengobatan alternatif. tidak sadar atau menderita mual dan muntah.  Pemberian obat antihiperlipidemia golongan statin harus pada malam hari karena tujuan untuk mengurangi produksi kolesterol endogen yang diproduksi oleh tubuh pada malam hari. Gagal untuk mengenali dan menyelesaikan adanya keputusan terapi yang tidak tepat. Masalah yang terkait dengan pemberian obat  Rute pemberian obat Rute pemberian obat perlu dievaluasi untuk memastikan bahwa rute tersebut tepat bagi pasien.  Dosis yang terabaikan (kadang-kadang terlupakan. atau obat tidak tersedia pada saat dibutuhkan). Pada rute pemberian obat dapat diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dan pemantauan intensif terhadap efek klinis. Pasien yang mungkin mengalami kesulitan dalam mematuhi aturan pengobatan akan memperoleh kemudahan dengan penyederhanaan aturan pengobatan. Contoh: pasien yang diterapi dengan Calsium chanel blockers pelepasan terkendali harus menggunakan nama dagang obat yang sama untuk terapi pemeliharaanya.

 Kecepatan pemberian obat Untuk obat-obat tertentu perlu dipastikan bahwa obat-obat tersebut diberikan pada kecepatan yang tepat. Contoh:  Laktulosa perlu diberikan secara teratur agar efektif. Contoh:  Profilaksis anti malaria yang tepat untuk wisatawan sesuai dengan tempat tujuan mereka.  Pentingnya pengobatan Pertimbangkan apakah pengobatan benar-benar dibutuhkan oleh pasien. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 55 . persoalan kepatuhan dan lain-lain. Perhatian/perlakuan khusus diperlukan untuk mencegah uap nebulasi dari masker menuju ke mata pasien. Contoh:  Acute anger glaucoma dilaporkan terjadi pada pasien dengan pemberian ipatropium bromida secara nebulasi. mengingat faktor-faktor seperti: keadaan penyakit yang bersamaan.  antipirektik hanya diberikan jika diperlukan untuk mengatasi demam. Masalah yang terkait dengan obat  Ketepatan pengobatan Aturan pengobatan perlu dikaji untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi pasien.  Efek samping yang terkait dengan cara pemberian obat Perlu diantisipasi efek samping yang mungkin timbul sebagai akibat dari rute pemberian obat.  Frekwensi pemberian obat Pastikan frekwensi pemberian obat telah sesuai dengan farmakokinetika obat ataupun formulasinya.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Beberapa makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat-obat tertentu sehingga perlu diperikasa adanya persyaratan bahwa suatu obat harus diberikan bersamaan dengan atau sesuadah makan. Contoh:  Furosemid secara intravena harus diberikan pada kecepatan tidak lebih dari 4mg per menit. terutama jika digunakan bersama-sama dengan salbutamol secara nebulasi). alergi. sehingga harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat penyakit asma atau penyakit paru obstrutif menahun. Contoh:  Tetrasiklin harus diberikan 1 jam sebelum makan atau pada saat perut kosong dan tidak boleh diberikan bersamaan dengan susu. atau justru menghindari pemberian bersamaan dengan makanan/ minuman.  Beta bloker dapat memperparah keadaan asma. Pertimbangkan apakah pengobatan tersebut akan efektif bila diberikan hanya jika perlu atau perlu diberikan secara teratur. Aturan pengobatan juga perlu dikaji dalam rangka memastikan ketepatan untuk masingmasing individu pasien. pilihan waktu dan lamanya kunjungan. kontra indikasi. Contoh:  Perlu dipertimbangkan antara resiko dan manfaat jika pasien diobati atau tidak diobati (terutama pada kehamilan dan menyusui). fungsi hati dan ginjal.

Masalah obat yang tidak tercampurkan (OTT) secara fisika maupun kimia dapat muncul dan mengakibatkan hilangnya potensi. yang dapat mengarah pada duplikasi pengobatan (termasuk obat yang berbeda tetapi memiliki mekanisme aksi sama) atau pengobatan yang diberikan untuk mengatasi efek samping yang diakibat obat (termasuk ruam. sementara obat yang lain perlu diberikan untuk suatu pengobatan jangka waktu tertentu. interaksi obat-diet atau interaksi obat – uji laboratorium.  Pengobatan jangka pendek untuk infeksi. Efek samping obat Efek samping yang dapat diantisipasi perlu dicegah atau ditangani dengan tepat. interaksi obat-obat. sehingga perlu kajian terhadap khasiatnya dan atau penyesuain dosis.  Eritromisin estolat menyebabkan peningkatan semu terhadap aspartat transaminase AST / SGOT. berat. Contoh:  Karbamazepin menginduksi metabolismenya sendiri. muntah). usia.  Pertimbangkan dasar pemikiran pada pemberian pengobatan yang bersamaan ataupun tambahan pengobatan. Contoh:  Walaupun beta bloker tidak dikontra indikasikan untuk diabetes.  Sebagian makanan enteral yang diberikan melalui selang nasogastrik dapat mengganggu absorpsi fenitoin. mual / muntah. Kadang-kadang dosis obat perlu disesuaikan ketika terapi berlangsung. Interaksi obat Interaksi obat dapat termasuk: interaksi obat-penyakit. mual. Jangka waktu pengobatan Beberapa terapi obat harus dilanjutkan untuk seumur hidup. Ketepatan dosis Pertimbangkan pedoman dosis (termasuk dosis maksimum dan minimum) dan variable pasien yang mempengaruhi dosis (termasuk tinggi. Contoh:  Pengobatan seumur hidup untuk disfungsi tiroid atau diabetes mellitus. OTT     Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 56 . diare atau demam. serta mengganggu respon metabolisme dan autonomik terhadap hipoglikemia.  Amiodaron meningkatkan konsentrasi digoksin dalam plasma sehingga memerlukan penurunan dosis pemeliharaan digoksin. fungsi ginjal dan hati).  Penurunan dosis kortikosteroid pada tahap akhir pengobatan jangka panjang asma. tetapi golongan obat ini dapat mengakibatkan sedikit penurunan toleransi terhadap glukosa darah. Atau adanya logam bervalensi 2 pada diet (misalnya sayur bayam) dapat mengurangi absorpsi ciprofloksasin secara bermakna. meningkatnya toksisitas atau efek samping lain. Kompatibilitas / Ketercampuran obat. Efek samping yang tidak terduga perlu diidentifikasi dan dinilai untuk memutuskan apakah pengobatan dapat dilanjutkan. harus dihentikan (dan pengobatan alternatif diberikan) dan apakah pengobatan tambahan perlu diresepkan untuk mengatasi efek samping obat.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran   Pertimbangkan apakah suatu pengobatan masih diindikasikan untuk pasien – seperti penyelesaian suatu periode antibotika. Kardio selektif beta bloker lebih dipilih dan beta bloker harus dihindarkan pada mereka yang sering mengalami kejadian hipoglikemia.

9% ketika digunakan bersamaan dalam satu alat suntik (syring drive) sehingga sangat penting untuk memeriksa semua tanda / indikasi pengendapan sebelum pemberian obat. lebih terjamin. Sebagai standar keprofesian. Pedoman tersbut disusun berdasarkan bukti ilmiah dan kesepakatan para ahli. rasional dan ekonomis bagi pasien. mutu peresepan lebih terjamin dan memungkinkan evaluasi. c. Dapat memperkirakan kebutuhan obat secara lebih riil berdasarkan epidemiologi penyakit. Untuk pengelolaan suplai obat Suplai obat tiap penyakit baik oleh pemerintah sendiri ataupun melalui kerjasama dengan pihak swasta. Untuk dokter dan tenaga keperawatan Memudahkan dokter dan tenaga keperwatan untuk menentukan pengobatan yang paling bermanfaat. b. serta dapat mengurangi kebingungan pasien akibat keaneka. Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 57 .■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran dapat timbul karena pencampuran dua jenis injeksi yang tidak tepat atau penambahan suatu injeksi ke dalam cairan infus yang tidak tepat. DOEN. Manfaat pedoman pengobatan: a. d. PPAB. Untuk pemegang kebijaksanaan kesehatan Pedoman pengobatan bermanfaat untuk mengukur mutu pelayanan pengobatan dan pengendalian biaya. Contoh pedoman yang digunakan di Indonesia adalah FRS.  Siklizin cenderung mengendap dengan adanya NaCl 0. Pedoman Pengobatan Salah satu aspek yang dapat memudahkan dan menjamin terlaksananya POSR adalah adanya suatu pedoman pengobatan. supervisi dan monitoring praktek peresepan serta memberikan perlindungan hukum. karena pedoman pengobatan dibuat atas dasar pertimbangan ilmiah dan juga merupakan kesepakatan berbagai ahli yang relevan dan kompeten b. Dampak terhadap efek samping obat Semakin banyak jenis obat yang diberikan. DOEW.paling dibutuhkan. aman dan ekonomis. Dampak terhadap biaya pengobatan Waktu perawatan lebih lama. karena telah mengikuti prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan hukum. Dampak pengobatan tidak rasonal a. Penggunaan antibiotik secara tidak rasonal menyebabkan terjadinya resistensi obat. Contoh. Memberi status hukum yang jelas dan dapat diterima. Aspek Hukum Pedoman Pengobatan a.ragaman pengobatan antara petugas sehingga kepatuhan pasien terhadap pengobatan lebih terjamin. Untuk pasien Pengobatan yang diterima oleh pasien hanya pengobatan yang paling bermanfaat. efek samping yang mungkin dialami oleh pasein dapat meningkat. aman. pemberian obat tanpa indikasi dan pemberian obat yang tidak perlu menyebabkan biaya pengobatan meningkat b. Tenaga kesehatan lebih dapat memusatkan perhatian pada proses penegakan diagnosis. sehingga anggaran obat dapat dimanfaatkan secara lebih efektif. dan PDT.

Laboratorium Keterampilan Medik FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 58 . Tekanan dari industri farmasi 8. antara lain: 1. Kurang mendapat informasi obat yang benar 3. Diagnosis yang tidak pasti sehingga pemberian obat seperti “ shot gun therapy” 4. Tekanan dari penderita 7. Kurangnya pengetahuan tentang farmakoterapi 2. Tidak adanya pedoman pengobatan pada unit-unit pelayanan kesehatan 6. kurangnya motivasi dokter dan tenaga paramedis untuk menambah ilmu misalnya jarang mengikuti kursus penyegar 5. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang merata 9.■ BAHAN AJAR KETERAMPILAN MEDIK VI ■ Farmasi Kedokteran Faktor penyebab penggunaan obat yang tidak rasional Banyak faktor yang mendorong terjadinya pnggunaan obat yang tidak rasional. Pengawasan penggunaan dan peredaran obat yang kurang ketat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful