Januari, 2009

IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK
IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK SEBAGAI KONSTRUKSI HUKUM PERJANJIAN SEWA-BELI DALAM EKONOMI SYARIAH Oleh : Firdaus Muhammad Arwan1

A. PENDAHULUAN Sewa beli merupakan salah satu bentuk perjanjian campuran antara jual-beli dan sewa menyewa, namun dalam praktek seringkali disamakan dengan leasing. Para ulama menilai perjanjian sewa-beli ini merupakan bentuk perjanjian yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah karena dianggap mengumpulkan dua kad dalam satu akad yang dilarang oleh Rasulullah. Oleh karena perjanjian ini telah marak dipraktikkan oleh masyarakat dan dipandang banyak manfaatnya, maka perlu dicarikan solusinya agar perjanjian seperti itu tetap dapat dilaksanakan, namun tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Konstruksi hukum yang ditawarkan oleh para ahli hukum Islam melalui apa yang disebut “Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik” atau “ Iajarah wa Iqtina” Di Indonesia telah ada ketentuan yang mengatur tentang Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik, yaitu fatwa DSN No. 27/DSN-MUI/III/2002 dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Dari kedua ketentuan tersebut terdapat perbedaan yang cukup prinsipil, sehingga perlu dilakukan pengkajian agar diperoleh pemahaman yang benar yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. B. ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH Untuk membahas permasalahan Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik terlebih dahulu perlu dikemukakan tentang sewa-beli serta pandangan para ulama terhadap hukum sewa-beli. 1. Sewa Beli Sewa-beli (Belanda: huurkoop, Inggris: hire purchase) merupakan perjanjian campuran antara jual beli dan sewa menyewa yang tidak diatur dalam KUHPerdata. Perjanjian ini mula-mula timbul dari praktek karena
1

adanya

kebutuhan

masyarakat

yang

berkeinginan

untuk

Hakim PTA Pontianak

Page | 1

Ada dua jenis leasing yakni operating-lease dan financing-lease. Ibid.18-19 Page | 2 . akan tetapi hak kepemilikannya baru berpindah setelah seluruh angsuran dilunasi. menyewakan dan lain-lain karena sudah menjadi miliknya. hal. padahal antara keduanya berbeda. menggadaikan. Bandung. dalam operating-lease penyewa tidak diberikan 2 3 4 hak opsi. maka debitur telah melakukan tindak pidana penggelapan. akan tetapi objek perjanjian sudah menjadi milik pembeli sejak perjanjian itu ditutup. Citra Aditya Bakti. Bandung. Jika hal itu dilakukan. meskipun pembayaran angsuran belum dilunasi. Selama masih dalam masa angsuran. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK memilki barang tetapi tidak punya cukup uang. Subekti. Akibat dari perbedaan kepemilikan itu berbeda pula akibat hukumnya. Sri Gambir Melati Hatta 4 mengemukakan. Praktik yang terjadi saat sekarang. sewa-beli seringkali disamakan dengan leasing (financing-leas). Perbedaan antara keduanya. Kepemilikan benda baru berpindah setelah dilunasinya seluruh angsuran. 51 Sri Gambir Melati Hatta. misalnya: menjual. 1999. sedangkan pembayarannya selama masa angsuran dianggap sebagai sewa. hak kepemilikan atas benda tersebut masih tetap pada penjual. pembeli bebas bertindak atas barang tersebut. Dalam jual beli angsuran. Alumni. 1995. sedangkan dalam sewa-beli pembeli (debitur) tidak diperbolehkan menjual atau bertindak hukum lain yang dipersyaratkaan menjadi pemilik barang. Oleh karena itu Subekti2 dan Sri Gambir Melati Hatta3 mengatakan bahwa niat utama dalam sewa-beli adalah untuk memperoleh hak milik barang dan bukan sekedar memberikan hak memanfaatkan barang. Aneka Perjanjian. hal. di mana dalam jual beli angsuran. Hal ini berbeda dengan jual beli angsuran. baik secara sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating-lease) maupun sewa guna usaha dengan opsi (financing-lease) untuk digunakan atau dimanfaatkan oleh lessee (penyewa) dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. sedangkan dalam financing-lease penyewa R. leasing merupakan perjanjian berkenaan dengan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang. Beli Sewa Sebagai Perjanjian Tak Bernama: Pandangan Masyarakat dan Sikap Mahkamah Agung Indonesia. Meskipun tujuannya untuk memperoleh hak milik dan barangnya sudah diserahkan kepada debitur. hal. 3 Sri Gambir Melati Hatta.Januari.

sedangkan dalam sewa-beli kepemilikan barang telah berpindah kepada pembeli sejak dilakukan pembayaran angsuran terakhir. dalam realitasnya. di mana pengertian leasing telah mengalami pergeseran yang disamakan dengan sewa-beli. atau menurut lessor. sedang resikonya ditanggung oleh masyarakat.Januari. Ketentuan ini berbeda dengan praktik yang terjadi di 7 istilah Subekti 6 sebagai “pemilik ekonomis” karena mendapatkan manfaat dari barang. ibid. Lessee semata-mata hanya memilki hak memanfaatkan barang. Bila dalam masa akhir sewa pihak penyewa tidak dapat melunasi sewanya. Kurnia. Sedangkan bila pada masa akhir sewa pihak penyewa dapat melunasi cicilannya maka barang tersebut menjadi milik penyewa. Hukum Seputar Leasing (htp://ayok. R. maka selama masa leasing kepemilikan benda tetap ada pada lessor. sedangkan barangnya itu sendiri tetap merupakan milik bagi pihak pemberi sewa. Adapun financing-lease merupakan suatu bentuk sewa di mana kepemilikan barang tersebut berpindah dari pihak pemberi sewa kepada penyewa.wordpress. Dalam perjanjian perolehan mobil atau motor yang didasarkan atas perjanjian sewa-beli atau leasing. Perbedaan yang menyolok antara leasing dengan sewa-beli terletak pada peralihan hak milik. Memperhatikan apa yang dikemukakan Kurnia di atas. Subekti. Loc cit R. Dalam leasing kepemilikan barang sampai akhir perjanjian tetap di tangan lessor. operating-lease merupakan suatu proses menyewa suatu barang untuk mendapatkan manfaat barang yang disewa. Ibid.5 Karena perjanjian leasing merupakan perjanjian sewa menyewa. barang tersebut tetap merupakan milik pemberi sewa (perusahaan leasing) dan akadnya dianggap sebagai akad sewa. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK diberikan hak opsi untuk membeli dengan harga murah atau dengan kondisi yang ringan setelah berakhirnya masa perjanjian. namun sudah bergeser kepada jual beli angsuran. MR Kurnia mengemukakan. Sewa jenis ini berpadanan dengan konsep ijarah (sewa menyewa).. Subekti. maka pengertian leasing bukan saja bergeser kepada bentuk sewa-beli. pada umumnya BPKB dan STNKnya sudah atas nama 5 6 7 Sri Gambir Melati Hatta.com). Page | 3 .

hal. maka dibuat klausul-klausul yang banyak merugikan debitur (pembeli). Bila dikategorikan sebagai jual beli angsuran.170-189. antara lain: menarik kembali barang dan perjanjiannnya dianggap batal serta uang angsurannya dianggap sebagai sewa. 3) Penjual berhak menuntut pembayaran sekaligus dan seketika atas sisa angsuran dan denda. tentunya kepemilikan barang masih atas nama penjual tidak atas nama pembeli. Ini menunjukkan bahwa hak kepemilikan atas barang sudah beralih kepada pembeli. 8 dalam penelitiannya menemukan tidak memenuhi pembayaran pembeli 8 9 Sri Gambir Melati Hatta. penjual berhak menyita barang lain milik pembeli dalam hal barang objek perjanjian tidak dapat ditemukan. Dalam banyak kasus masih ditemukan klausul-klausul lain. Ibid Page | 4 . penjual bebas memasuki rumah pembeli untuk menarik barang. 4) Pemberian kuasa mutlak kepada penjual untuk bebas bertindak atas barang. Untuk melindungi kepentingan kreditur (penjual) dari keadaan yang tidak diinginkan. serta adanya klausul-kalusul seperi itu mengakibatkan tidak jelasnya bentuk perjanjian.9 Memperhatikan karakter perjanjian perolehan mobil atau motor melalui sewa beli serta sebagaimana dikemukakan di atas.Januari. 6) Perjanjian bernilai eksekutorial. misalnya larangan bagi pembeli untuk memindahtangankan barang. 2) Penjual berhak mengenakan denda. Op cit. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK pembeli. tentunya tidak dibenarkan adanya klausul-kalusul yang melarang pembeli yang sudah menjadi pemilik barang bertindak atas barang miliknya. Apabila dikategorikan sebagai sewa-beli atau leasing. Sri Gambir berbagai 1) Penjual klausul berhak ketika angsuran. dan lain-lain. kecuali jika barang itu dijadikan jaminan. namun kenyataannya BPKB dan STNK sudah atas nama pembeli. 5) Pembatalan perjanjian tanpa melalui hakim (pelepasan berlakunya pasal 1266 dan 1267).

Ibnu Rusyd. Wahbah Zuhaily. Farid Ma‟ruf.wordpress.) Kurnia. melarang mengumpulkan dua akad dalam satu akad. Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi larangan mengumpulkan dua akad dalam satu akad sebagaimana dinyatakan dalam hadits tersebut. 213.wordpress. jilid III (diterjemahkan oleh M.Januari. tetapi melarang untuk selainnya. sementara Wahbah Imam Zuhaily Malik 15 membolehkan mengumpulkan Mazhab Hanabilah antara juga keduanya. Pandangan Para Ulama Tentang Hukum Sewa Beli Farid Ma‟ruf 11 dan MR. Kurnia 12 menyatakan bahwa perjanjian ini dilarang oleh Islam berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang menyatakan: “Naha Rasulullahi SAW ‘an bi’ataini fi bi’atin au shafqataini fi ‘aqdin wahidin” (Rasulullah melarang dua akad dalam suatu proses akad tertentu) Maksud hadits ini menurut MR. (htp://ayok. Bidayatul Mujtahid. 207. Ibid. Kurnia 13 adalah tidak boleh seseorang melakukan dua akad yang berbeda dalam suatu proses muamalah tertentu. maka kepemilikannya sudah beralih kepada pembeli. (htp://ayok. Dar al-Fikr. hal. dan Nomor 935K/Pdt/1985 tanggal perjanjian sewa-beli kendaraan di mana STNK dan BPKB-nya sudah atas nama pembeli.Syifa‟. hal.Haris Abdullah). tetapi bila di tengah jalan Anda tidak dapat melunasinya maka barang tersebut tetap menjadi milik saya dan uang yang telah Anda berikan dianggap sebagai sewa barang selama Anda menggunakannya”. Leasing Sepeda Motor. Putusan ini memberikan pengertian bahwa perjanjian semacam itu dikonstruksikan sebagai perjanjian jual beli agsuran. 1990. (www.A Abdurrahman dan A. hal. seperti penjual 10 11 12 13 14 15 Sri Gambir Melati Hatta. Page | 5 .com). Kurnia. seseorang menyatakan “Saya menjual perusahaan ini pada Anda dengan syarat Anda menikahkan putri Anda kepada saya”. Semarang. jilid IV.14 mengemukakan.1989.easzysmart. Imam Syafi‟i dan Abu Hanifah melarang mengumpulkan akad bai‟ (jual beli) dengan ijarah (sewa menyewa). 2. atau “Saya menjual barang ini dengan harga 10 juta rupiah pada Anda dengan cicilan selama 2 tahun. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK Mahkamah Agung 10 dalam beberapa putusannya antara lain: 30 September 1986 menyatakan bahwa putusan Nomor 1243K/Pdt/1983 tanggal 19 April 1985. misalnya. Asy. Beirut.com. 207. Al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu.com).

Januari. serta hadits Rasul yang menyatakan: dilakukan di antara kaum muslimin. Akad seperti itu menurut mazhab Hanabilah termasuk akad yang mengandung syarat yang dilarang oleh syara. Mereka beralasan. kecuali “Perjanjian dapat perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. penuhilah janji). Sedangkan dalam sewa-beli. Dasar hukum yang mereka pegangi adalah firman Allah surah anNissa ayat 29: “Hai orang orang yang beriman. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”. Pengumpulan dua akad sebagaimana dicontohkan oleh Wahbah Zuhaily di atas. Page | 6 . Akad bai‟ merupakan akad pokok sedangkan akad ijarah atau akad hibah merupakan akad tambahan sebagai syarat (digantungkannya) akad pokok. (wahai orangorang yang beriman. berarti telah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah. kedua akad itu dicampur menjadi satu 16 Wahbah Zuhaily. Menurut mereka. Atas janji yang telah mereka sepakati itu. Akad bai‟ yang dikumpulkan dengan akad ijarah atau hibah merupakan dua akad yang berbeda dan dilaksanakan secara sendiri-sendiri dalam waktu yang berbeda pula. kedua belah pihak wajib memenuhinya sebagaimana diperintahkan Allah dalam surah al-Maidah ayat 1: “Ya ayyuhallalazina amanu aufuu bil „uqud”. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK mensyaratkan agar pembeli menyewakan rumah kepada seseorang atau menghibahkan sesuatu kepadanya. janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Ibid. dan syarat itu tidak menghalakan yang haram atau mengharamkan yang halal. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qiyyim 16 membolehkan membuat segala syarat dalam akad asalkan kedua belah pihak sepakat. hukum asal dari akad dan syarat adalah ibahah atau jawaz (boleh) sampai ada dalil yang melarangnya demi menjaga kemaslahatan kehidupan yang sudah menjadi kebiasaan. dan contoh-contoh lainnya. tidak sama dengan pengumpulan dua akad yang terjadi dalam sewa-beli. mengharamkan akad dan syarat yang sudah biasa terjadi di masyarakat tanpa adanya dalil syara‟.

Jika pembeli tidak dapat melunasi angsurannya. Ensiklopedi Ekonomi dan Perbankan Syariah. 3. berfungsi sebagai pembayaran harga jual beli. hal. Pengertian Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Ijarah muntahiyah bit tamlik disebut juga ijarah wa iqtina.Januari. dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) cenderung mengartikannya sebagai sewa-beli dalam bentuk khusus. maka pembayaran tersebut berfungsi sebagai sewa. Dengan adanya klausul seperti itu. Bandung. maka sewa-beli dapat dikategorikan sebagai akad yang mengandung syarat yang dilarang oleh syara‟ dan bisa juga dikategorikan sebagai akad yang mengandung “ghubn”. 246. Adanya karakter sewa-beli seperti itu menjadikan bentuk akad dalam sewa-beli tidak jelas karena tidak termasuk kategori bai‟ maupun ijarah. Kaki Langit. dan tidak pula termasuk kategori akad bersyarat yang dibolehkan. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK dan dilaksanakan secara sekaligus dalam satu aktivitas muamalah. perjanjian sewa-beli yang seringkali disertai dengan klausul-klausul yang meniadakan hak-hak pembeli atau yang mengeksploitir pembeli serta terjadinya ketidakseimbangan kedudukan antara penjual dan pembeli. tetapi jika mampu melunasinya. Operating-ijarah menurut mereka merupakan ijarah yang didasarkan atas periode/masa sewa yang obyeknya biasanya berupa peralatan. Apabila setelah berakhirnya masa perjanjian itu 17 Habib Nazir dan Muhammad Hasannuddin. Page | 7 . Pembayaran yang dilakukakan selama masa angsuran dapat berubah fungsi tergantung dari kemampuan pembeli melunasi angsurannya. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik a. Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin membagi ijarah ke dalam dua jenis yaitu operating-ijarah dan Ijarah muntahiyah bit tamlik. Dengan tidak jelasnya bentuk akad tersebut. 2004. sedangkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN). Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin 17 dapat dikategorikan sebagai akad yang mengandung memberikan makna ijarah muntahiyah bit tamlik dengan leasing disertai opsi beli (financinglease). Selain itu. kiranya akad sewa-beli ”gharar”.

Lembaga Keuangan Syariah (LKS) memerlukan akad sewa-beli yang sesuai dengan Syariah. 2) Bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. yaitu perjanjian sewa menyewa yang disertai dengan opsi pemindahan hak milik atas benda yang disewa. hal.Januari. Bagian pertama fatwa ini mengatur ketentuan umum. Dengan demikian. Meskipun dalam akad itu ada opsi beli. maka jual beli tidak akan terjadi. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK terdapat pengalihan hak kepemilikan atas dasar opsi beli. Dewan Syari‟ah Nasional (DSN) telah mengeluarkan fatwa tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah bit Al-tamlik sebagaimana tertuang dalam fatwanya Nomor: 27/DSN-MUI/III/2002. yaitu akad al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik atau alijarah wa al-iqtina untuk dijadikan pedoman. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa terjadinya jual beli dalam ijarah muntahiyah bit tamlik digantungkan dalam dua keadaan yaitu harus ada opsi beli dan adanya kemauan penyewa untuk membeli. 250 Page | 8 . kepada penyewa. bahwa akad al-ijarah al-muhtahiyah bi al-tamlik boleh dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 18 Habib Nazir dan Muhammad Hasannuddin. ijarah muntahiyah bit tamlik menurut Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin identik dengan financing-lease. Ibid. setelah selesai masa sewa. b. maka opsi beli menurut Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin hanya ada dalam ijarah muntahiyah bit tamlik. maka perjanjian itu disebut ijarah muntahiyah bit tamlik18 Berdasarkan pengertian ini. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Menrut Fatwa DSN Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cq. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang sewa-beli yang sesuai dengan syariah. sedangkan operating-ijarah identik dengan operating-lease. 3) Bahwa oleh karena itu. tetapi jika penyewa tidak ingin membeli. sedangkan dalam operating-ijarah tidak ada opsi beli. Latar belakang timbulnya fatwa ini dapat dibaca dalam konsiderannya yang menyatakan: 1) Bahwa dewasa ini dalam masyarakat telah umum dilakukan praktik sewa-beli.

hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai. maka konstruksi hukum yang dipandang tepat untuk pemindahan kepemilikan adalah melalui pemberian. Dalam fatwa DSN ini ada dua hal yang menarik untuk dicermati yaitu: (1) pemindahan hak milik bisa dilakukan melalui jual beli atau melalui pemberian. dan sama pula dengan financing-lease dalam hukum perdata. b) Perjanjian untuk melakukan akad al-ijarah al-muntahiyah bi altamlik harus disepakati ketika akad ijarah ditandatangani. b) Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad ijarah adalah wa‟d. Selanjutnya pada bagian kedua mengatur ketentuan khusus tentang al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik yaitu: a) Pihak yang melakukan al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. sedangkan pemindahan hak milik melalui pemberian merupakan konstruksi hukum baru yang selama ini tidak dikenal dalam hukum perdata. Apabila janji itu ingin dilaksanakan. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK a) Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad ijarah (Fatwa DSN nomor 09/DSN-MUI/IV/2000) berlaku pula dalam akad alijarah al-muntahiyah bi al-tamlik. maka pembeli tidak perlu lagi membayar harga apapun dan benda akan menjadi milik debitur.Januari. yang hukumnya tidak mengikat. dan (2) janji pemindahan hak milik tersebut sifatnya tidak mengikat. maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa ijarah selesai. Dengan cara ini. oleh karena dalam sewa-beli niat utamanya untuk memiliki benda dan harga yang dibayarpun harga jual-beli. Perbedaan yang menyolok antara sewa-beli dan ijarah Page | 9 . baik dengan jual beli atau pemberian. Pemindahan hak milik melalui pemberian. Akad pemindahan kepemilikan. Pemindahan hak milik melalui jual beli sama dengan opsi beli dalam financing-ijarah atau ijarah muntahiyah bit tamlik yang dikemukakan oleh Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin. “barangkali“ didasarkan kepada suatu pemikiran. c) Hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad.

maka fatwa DSN telah mampu menghilangkan sifat mengumpulkan dua akad dalam satu akad yang dilarang oleh Rasulullah. maka janji itu tidak ada gunanya dan akan kehilangan makna dan tujuannya. bahkan dapat menimbulkan kezaliman. Ketentuan ini mengundang penafsiran ganda. Ketidakterikatan itu bisa dimaknai tidak terikat untuk membuat janji pemindahan hak milik. Penyewa yang sejak semula berniat untuk memiliki benda dan telah melunasi seluruh angsurannya. Adapun terhadap makna kedua yakni tidak terikat untuk melaksanakan janji yang sudah disepakati. Melalui konstruksi hukum demikian. Apalah artinya membuat akad ijarah muntahiyah bit tamlik jika tidak diakhiri dengan pemindahan hak kepemilikan. Keterikatan para pihak terhadap janji telah menjadi ketentuan hukum universal dan dalam hukum Islam telah ditunjuki secara tegas dalam surah al-Maidah ayat 1: “Wahai orang-orang yang beriman. dan bisa dimaknai tidak terikat untuk melaksanakan janji yang sudah disepakati dalam akad. Jika suatu janji boleh tidak dilaksanakan.Januari. ketentuan seperti ini tidak lazim dalam hukum perjanjian karena telah menjadi asas hukum bahwa setiap perjanjian yang dibuat dipandang sebagai undang-undang yang selalu mengikat dan harus ditaati. Permasalahan lain yang perlu dicermati adalah mengenai janji pemindahan hak milik yang sifatnya tidak mengikat. sudah pasti merasa dirugikan (dizalimi) jika ternyata ia tidak dapat memiliki barang karena pemberi sewa tidak mau menghibahkannya Page | 10 . 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK muntahiyah bit tamlik versi DSN adalah dalam sewa-beli antara akad sewa dan akad beli dicampur dalam satu akad. penuhilah janji” serta hadits Rasulullah yang menyatakan: Orang Islam itu terikat akan janji yang mereka buat. sedangkan dalam ijarah muntahiyah bit tamlik masing-masing dari dua akad itu dipisah satu sama lain dan berdiri sendiri serta dilaksanakan dalam waktu yang berbeda. Terhadap makna pertama yaitu tidak mengikat untuk membuat janji pemindahan hak milik. kiranya ketentuan ini tidak sejalan dengan maksud diadakannya akad yakni diakhiri dengan kepemilikan (muntahiyah bit tamlik).

Artinya. memberi kebebasan bagi para pihak untuk menyepakati cara penyelesaiannya. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK dengan alasan janji itu tidak mengikat. kiranya lebih tepat jika janji itu bersifat mengikat. Kesimpulan ini diperoleh dari pemahaman bunyi pasal 323. kedua belah pihak sudah dengan sendirinya (dianggap) sepakat untuk mengakhirinya dengan pemindahan hak milik melalui jual beli. ketika akad ijarah muntahiyah bit tamlik dibuat. c. Mengenai cara penyelesaian apabila penyewa tidak mampu melunasi angsuran. Memperhatikan permasalahan-permasalahan di atas. Pelaksanaan akad seperti ini tidak sesuai dengan tujuan dibuatnya akad yakni diakhiri dengan pemindahan hak milik (muntahiyah bit tamlik). namun jika memperhatikan bagian pertama nomor 3 dari fatwa tersebut terdapat ketentuan umum yang menyatakan: hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad. Janji opsi beli merupakan konstruksi hukum leasing (finacing-lease). fatwa DSN tidak mengatur secara rinci. Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Dalam KHES akad ijarah muntahiyah bit tamlik selalu diakhiri dengan pemindahan hak milik melalui jual beli tanpa digantungkan adanya janji atau klausul dalam akad seperti ketentuan dalam fatwa DSN atau pendapat Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin.Januari. Tentang cara penyelesaian ini akan penulis kemukakan dalam pembahasan di bawah nanti. Janji tersebut dikonstruksikan sebagai janji pihak pemberi sewa kepada penyewa untuk memberikan opsi beli atau menghibahkan kepadanya setelah berakhirnya masa ijarah. Pasal 323 KHES menyebutkan: “Dalam akad ijarah muntahiyah bit tamlik suatu benda antara mu‟jir/pihak yang menyewakan dengan musta‟jir/pihak penyewa diakhiri dengan pembelian ma‟jur/obyek ijarah oleh musta‟jir/pihak penyewa”. sedangkan janji menghibahkan merupakakn konstruksi hukum sewa-beli. Jani-janji itu secara tegas harus dituangkan dalam akad ijarah muntahiyah bit tamlik sehingga pemberi sewa terikat untuk memenuhinya. Dari kalimat Page | 11 .

Jika yang ditetapkan dalam akad bai‟ itu seluruh harga yang telah dibayar..Januari.diakhiri dengan pembelian. apakah seluruh harga yang telah dibayar meliputi harga ijarah dan harga bai‟.. Kepastian diakhirinya dengan jual beli dikuatkan oleh bunyi pasal 326 yang menyatakan: “Harga ijarah dalam akad ijarah muntahiyah bit tamlik sudah termasuk dalam pembayaran benda secara angsuran”. 2) Apakah pembayaran harga angsuran benda atau harga bai‟ sebelum adanya akad bai‟.. ketika musta‟jir sudah melunasi seluruh angsuran berarti ia telah membayar seluruh harga bai‟. Oleh karena itu. atau ada perhitungan lain. tidak berarti telah mewajibkan suatu prestasi sebelum adanya akad. Bunyi pasal ini memberi arti bahwa harga yang dibayar oleh musta‟jir meliputi dua harga sekaligus yakni harga ijarah dan harga bai‟. Memperhatikan cara pembayaran sebagaimanan ketentuan pasal 326 di atas. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK “.” serta tidak adanya ketentuan yang mengatur tentang opsi beli memberikan pengertian bahwa setiap ijarah muntahiyah bit tamlik menurut KHES selalu diakhiri dengan pembelian.. 3) Ketika dibuat akad bai‟ untuk memindahkan kepemilikan pada akhir masa ijarah. Page | 12 . Pasal 327 ayat (2) pada pokoknya menyatakan bahwa cara penyelesaiannya dapat ditempuh melalui perdamaian dan/atau melalui pengadilan. ada permasalahan yang perlu mendapat perhatian antara lain: 1) Apakah pembayaran dua harga secara bersama-sama dan sekaligus (harga ijarah dan harga bai‟) tidak memberi arti bahwa dalam akd ijarah muntahiyah bit tamlik ini telah mengumpulan dua aktivitas muamalah dalam satu aktivitas muamalah. harga mana yang ditetapkan dalam akad bai‟ pada akhir masa ijarah. tentunya diperlukan ketentuan yang mengatur agar akad menjadi jelas. Permasalahan lainnya adalah tentang cara penyelesaian ketika musta‟jir tidak mampu melunasi sisa angsuran. Sedangkan jika ada perhitungan lain. Apakah yang demikian ini sejalan dengan prinsip-prinsip akad.. akan semakin kuat kesan pengumpulan dua akad dalam satu akad.

Cara penyelesaian sebagaimana diatur dalam pasal 329 ayat (1) sebenarnya sangat tepat dan adil jika dikontruksikan sebagai kesepakatan yang disebutkan secara tegas dalam perjanjian sebagaimana yang dimaksud oleh fatwa DSN. pengadilan dapat membebaskannya atas izin mu‟jir (pasal 329 ayat 3). Ringkasnya. Cara penyelesaian sebagaimana diatur dalam pasal 329 ayat (1) di atas mirip dengan cara penyelesaian dalam jual beli angsuran yang diikuti dengan penjaminan atas barang objek akad yang akan dikemukakan dalam pembahasan bai’ bi tsmanin ajil. padahal tidak ada alas hak yang mendasari kepemilikan tersebut. maka musta‟jir harus membayar sisanya (pasal 329 ayat 2). maka segala kekhususan itu harus dituangkan dalam akad sebagai manifesatsi kehendak kedua belah pihak („an taradlin). sedangkan jika harga jualnya lebih kecil dari sisa utang. Pemberian hak semacam itu telah medudukkan musta‟jir sebagai pemilik (sebagian) benda. bukan sebagai pemilik. Page | 13 . Kesepakatan ini harus secara tegas dituangkan dalam perjanjian setiap akad ijarah muntahiyah bit tamlik sebagai bentuk khusus sewa beli dalam ekonomi syariah. maka kelebihannya dikembalikan kepada musta‟jir (pasal 329 ayat 1). karena akad ijarah muntahiyah bit tamlik merupakan bentuk khusus dari ijarah yang tidak ditemukan pengaturannya dalam nash. Oleh karena bukan sebagai pemilik. pengadilan dapat menjual obyek ijarah muntahiyah bit tamlik berdasarkan harga pasar untuk melunasi utang penyewa.Januari. Atas dasar kesepakatan inilah musta‟jir diberikan hak menerima pengembalian sisa. Dalam hukum ijarah kedudukan musta‟jir tidak lain kecuali hanya sebagai penikmat manfaat ma‟jur. bukan timbul dengan sendirinya karena hukum. tentunya musta‟jir tidak berhak atas hasil penjualan benda tersebut. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK Selanjutnya pasal 328 menyatakan. Atas dasar kesepakatan inilah mereka terikat untuk memenuhinya. Apabila harga jualnya melebihi sisa utang. Apabila penyewa tidak mampu membayar.

hal. di mana pemilik benda akan menyerahkan benda tersebut kepada pembeli secara seketika. sedangkan pembayarannya dilakukan dengan cicilan dalam jangka waktu yang disepakati bersama. maka rukun dan syaratnya sama dengan jual beli. Inggris: credit sale) di mana kepemilikan obyek perjanjian telah berpindah kepada pembeli. Ibid.20 Bai‟ bi tsamanin ajil dapat juga disebut dengan murabahah dengan pembayaran secara angsuran. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK 4. Sejak barang diserahkan benda tersebut resmi menjadi milik pembeli dan pembeli menanggung hutang kepada penjual seharga benda tersebut. jika dalam murabahah pembeli diberi tahu tentang harga aslinya sehingga diketahui keuntungan penjual. sedangkan dalam musawwamah pembeli tidak diberi tahu harga aslinya. Oleh karena murabahah merupakan bentuk akad jual beli. Op cit. namun dari definisi murabahah yang ada dalam pasal 20 ayat (6). Pasal 20 ayat (6) menyatakan: “Murabahah adalah pembiayaan saling menguntungkan yang dilakukan oleh shahibu al-mal dengan 19 20 Habib Nazir dan Muhammad Hasannuddin. Bai’ Bi Tsmanin Ajil Sebagai Alternatif Pengaturan Sewa-Beli Yang Kepemilikannya Telah Berpindah Kepada Debitor Seperti telah dikemukakan bahwa praktik sewa beli pada masa sekarang (seringkali disebut juga leasing) telah mengalami pergeseran ke arah jual beli angsuran (Belanda: koop op afbetaling. hal 181. hal.19 Murabahah menurut fiqh merupakan salah satu bentuk jual beli yang bersifat amanah sebagai imbangan dari jual beli bentuk musawwamah (tawar menawar). Ibnu Rusyd.Januari. Perbedaan antara keduanya. Bai‟ bi tsaman ajil merupakan suatu bentuk perjanjian jual beli. Page | 14 . serta sistem pembayaran murabahah yang diatur dalam pasal 124 ayat (1). Konstruksi hukum yang dipandang tepat terhadap sewa-beli model ini adalah melalui akad Bai’ Bi Tsmanin Ajil (defered payment sale). Ibid. cukup memberikan pengertian adanya akad bai‟ bi tsamanin ajil. 52 Habib Nazir dan Muhammad Hasannuddin. 403. Meskipun dalam KHES tidak ditemukan sebutan bai‟ bi tsamanin ajil. Bai‟ bi tsamanin ajil pada dasarnya merupakan pengembangan (second derivitation) sistem murabahah yang banyak dipraktekkan oleh kalangan perbankan.

dan Nasai. Dari kata “angsur atau cicilan” ini dapat dipahami adanya akad bai‟ bi tsamanin ajil. Kebolehan melakukan jual beli dengan jaminan ini didasarkan kepada sunnah Rasul yang diriwayatkan oleh Bukhari. “Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (al-Baqarah: 275). Ketika pembeli tidak memenuhi prestasi yang diperjanjiakan (tidak mampu membayar angsuran). maka benda jaminan dapat dijual kemudian hasilnya digunakan pembeli. untuk melunasi sisa angsuran. Dasar hukum kebolehan akad bai‟ bi tsmanain ajil antara lain: a. bahwa Rasulullah SAW pernah membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan hutang dan beliau memberikan baju besinya sebagai jaminan. yaitu 1) menjual secara kredit. Apabila terdapat kelebihan. Sunnah. Adapun pasal 124 ayat (1) menyatakan: “Sistem pembayaran dalam akad murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan dalam kurun waktu yang disepakati”. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (An Nissa:29) b. dan 3) mencampur tepung dengan gandum untuk makanan di rumah dan bukan untuk menjualnya. Untuk melindungi kepentingan penjual agar pembeli mentaati perjanjian dan/atau tidak berbuat curang. jangan lah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.Januari. Al-Qur‟an. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah : Ada tiga hal yang di dalamnya terdapat barakah. “Hai orang orang yang beriman . 2) muqarradlah (nama lain mudlarabah). maka kelebihan itu diberikan kepada Page | 15 . 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK pihak yang membutuhkan melalui transaksi jual beli dengan penjelasan bahwa harga pengadaan dan harga jual terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau angsur”. dapat ditempuh melalui penjaminan barang termasuk barang yang menjadi obyek jual beli. Muslim.

kiranya kurang sejalan dengan firman Allah dalam surah al-Maidah ayat (1) dan hadits Rasullah serta bertentangan dengan asas hukum yang mewajibkan setiap orang mentaati janji yang dibuatnya. Oleh karena perjanjian ini banyak dipraktikkan oleh masyarakat. namun pengaturan mengenai janji pemindahan hak kepemilikan yang sifatnya tidak mengikat. KESIMPULAN Sewa-beli yang ada dalam hukum perdata umum dipandang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip syariah karena adanya sifat mengumpulkan dua akad dalam satu akad. Pengaturan ijarah muntahiyah bit tamlik dalam fatwa DSN masih bersifat garis besar sehingga tidak ditemukan cara penyelesaian secara tegas dan rinci ketika penyewa tidak mampu membayar seluruh harga ijarah. Upaya yang telah dilakukan antara lain: Majelis Ulama Indonesia Cq. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK D. 2. Page | 16 menghilangkan kesan . perlu dibuat konstruksi hukum yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. ijarah muntahiyah bit tamlik dapat dibuat konstruksi hukum sebagai berikut: 1.Januari. Dari kedua pedoman ini terdapat beberapa permasalahan yang perlu mendapat perhatian. Ijarah muntahiyah bit tamlik dikonstruksikan dalam dua bentuk yaitu ijarah muntahiyah bit tamlik dengan “opsi beli” dan ijarah muntahiyah bit tamlik dengan “janji hibah”. antara lain: 1. Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa Nomor 27/DSNMUI/III/2002 tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah bit Al-tamlik dan Mahkamah Agung telah menerbitan Kompilasi Hukum Ekonomi Syari‟ah (KHES). Pengaturan ijarah muntahiyah bit tamlik dalam KHES lebih lengkap dan lebih rinci dibandingkan dengan yang ada dalam fatwa DSN. 3. namun mekanisme pelaksanaan akadnya masih terdapat beberapa permasalahan yang belum sepenuhnya dapat sifat mengumpulkan dua akad dalam satu akad. Pengaturan ijarah muntahiyah bit tamlik dalam fatwa DSN pada dasarnya merupakan konstruksi dan hukum dan yang telah tepat pula dalam mampu mengakomodir sewa-beli leasing menghilangkan sifat mengumpulkan dua akad dalam satu akad. Untuk menjawab permasalahan tersebut.

Untuk mengatasi keadaan apabila musta‟jir tidak mampu melunasi angsurannya dapat ditempuh dengan cara sebagaimana diatur dalam pasal 327 sampai dengan 329. Ijarah muntahiyah bit tamlik dalam bentuk ini murni termasuk kategori sewa menyewa (ijarah) sehingga selama berlangsungnya masa ijarah segala ketentuan hukum ijarah berlaku dalam akad ini.Januari. 3. Page | 17 . Terhadap perjanjian sewa-beli (leasing) yang hak kepemilikannya sudah berpindah kepada debitur sebagaimana yang banyak dipraktikkan di masyarakat. Ijarah muntahiyah bit tamlik dengan janji hibah merupakan konstruksi hukum sewa-beli (hak kepemilikan atas benda belum berpindah kepada debitur). konstruksi hukumnya melalui bai‟ bi tsamanin ajil (jual beli angsuran) yang diikuti dengan penjaminan benda obyek akad. Wallahu a‟lam bis shawab. Ijarah muntahiyah bit tamlik dengan opsi beli merupakan konstruksi hukum sewa guna usaha (financing-lease). 4. Janji memberikan opsi beli dan janji menghibahkan merupakan janji yang sifatnya sepihak dari mu‟jir kepada musta‟jir dan janji itu bersifat mengikat yang harus ditaati oleh mu‟jir. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK 2. namun harus disebutkan secara tegas dalam akad sebagai bentuk kesepakatan. Ketika masa ijarah berakhir. 5. maka mu‟jir wajib menghibahkan benda objek akad kepada musta‟jir.

Page | 18 . 2000.eazymart. (www.R. Alumni..com).. Mandar Maju 15. Kaki Langit. Pradnya Paramita 14. Ensiklopedi Ekonomi dan Perbankan Syariah. 2004. Leasing Sepeda Motor.or.. Bandung. 1986. Intermasa. Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.. 1986. 10. 9.Januari. Mahkamah Agung R.. E. jilid III (diterjemahkan oleh M. Ibnu Rusyd.………. Yahya Harahap. 12. Al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu. Farid Ma‟ruf. Asas-asas Hukum Perjanjian. Asy. 1990. 2. Bandung. Jakarta. Alumni. 1979. 1989. Subekti. DAFTAR PUSTAKA 1.Syifa‟.. jilid IV. 1979. (www. (http://www.. 11. Beirut.. Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aneka Perjanjian. 1999.easzysmart. 1995.Sri Gambir Melati Hatta. 2009 IJARAH MUNTAHIYAH BIT TAMLIK Abdul Kadir Muhammad. Bandung. Bandung.wordpress.Wiryono Prodjodikoro. Hukum Perjanjian. Segi-segi Hukum Perjanjian. Alumni. 7...………. Jakarta. Beli Sewa Sebagai Perjanjian Tak Bernama: Pandangan Masyarakat dan Sikap Mahkamah Agung Indonesia.A Abdurrahman dan A.Haris Abdullah). 6. Habib Nazir dan Muhammad Hasanuddin. 16. Citra Aditya Bakti.com) 5.. Intermasa. Semarang. 2008.. 3.com) 4... Dar al-Fikr. 13. R. Pokok-pokok Hukum Perdata.php) 8.id/mui_in/product_2/fatwa.. Bandung. Fatwa Dewan Syariah Nasional.mui.. Jual-Beli Barang Kredit... Tjitrosudibio. Bidayatul Mujtahid. . Hukum Perjanjian.I.. 1994.. Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Hukum Seputar Leasing.Wahbah Zuhaily. Bandung.... (http://ayok.. Kurnia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful