Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN I PEMERIKSAAN BERAT ISI AGREGAT I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan berat isi agregat halus, kasar, atau campuran yang didefinisikan sebagai perbandingan antara berat material kering dengan volumenya. I. PERALATAN a. Timbangan dengan ketelitian 0,1% berat contoh. b. Talam berkapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat. c. Tongkat pemadat berdiameter 15cm, panjang 60cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat. d. Mistar perata. e. Sekop. f. Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang (bohler).
U kuran butir m aks. Ag a reg t (m ) m 1 .7 2 0 2 .4 5 0 3 .1 8 0 11 0 0 .6

Ka sita pa s (liter) 2 3 .8 2 9 3 .4 5 1 .1 8 4 5 2 .3 6 8 1

D m ia eter (c ) m 1 2 ± .5 5 .4 2 1 2 ± .6 5 .4 2 1 2 ± .7 5 .4 2 1 2 ± .8 5 .4 2

Ting i g (c ) m 1 4 ± .5 5 .9 2 2 2 ± .5 9 .1 2 2 9 ± .5 7 .4 2 2 4 ± .5 8 .9 2

Teba W dah l a Minim um da r sa sisi 5 8 .0 5 8 .0 5 8 .0 5 8 .0 2 4 .5 2 4 .5 3 0 .0 3 0 .0

II. BAHAN – BAHAN a. Agregat halus (pasir). b. Agregat kasar (batu pecah dan kerikil).

III.PROSEDUR PRAKTIKUM

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 1

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Masukkan agregat ke dalam talam, sekurang – kurangnya sebanyak kapasitas wadah. Keringkan dengan oven pada suhu 110º sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji. 1. Berat isi lepas a. Timbang dan catat berat wadah (W1). b. Masukkan benda uji dengan hati – hati agar tidak terjadi pemisahan butir – butir dari ketinggian 5cm diatas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh. c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. d. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W2). e. Hitung berat benda uji (W3 = W2 – W1). 2. Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38.19mm (1.5in) dengan cara penusukan : a. Timbang dan catat wadah (W1). b. Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusuk – tusuk sebanyak 25 kali secara merata. c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. d. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W2). e. Hitung berat benda uji (W3 = W2 – W1). 3. Berat isi untuk agregat ukuran butir 38,10 – 101,10mm (1,5 – 4in) dengan cara penggoyangan : a. Hitung dan catat berat wadah (W1). b. Isi wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. c. Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang – goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut : Letakkan wadah diatas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira – jira setinggi 5cm

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 2

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

kemudian lepaskan. Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi. d. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata. e. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W2). f. Hitung berat benda uji (W3 = W2 – W1).

PENENTUAN BERAT ISI DENGAN CARA PENUSUKAN

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 3

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ANALISA PERCOBAAN Dari pemeriksaan berat volume agregat halus didapatkan : Keadaan gembur dengan cara lepas Keadaan padat dengan cara penusukan Rata – rata : 1361,972 kg/m3 : 1484,013 kg/m3 : 1422,992 kg/m3

Dari pemeriksaan berat volume agregat kasar didapatkan : Keadaan gembur dengan cara lepas Keadaan padat dengan cara penusukan Rata – rata II. DATA HASIL PERCOBAAN 1) PEMERIKSAAN VOLUME AGRAGAT HALUS.
Metode pelaksanaan Diameter mould Ø (cm) Tinggi mould Volume mould Berat mould H (cm) V (m ) W 1 (kg)
3

: 1257,017 kg/m3 : 1422,519 kg/m3 : 1349,768 kg/m3

Gembur cara lepas 15,3 22,3 4,097.10 8,240 13,820 5,580 1.361,972
-3

Padat Penusukan 15,3 22,3 4,097.10 8,240 14,320 6,080 1.483,013 rata - rata
-3

Penggoyangan 15,3 22,3 4,097.10 8,240 14,390 6,150 1.501,098 1.422,992 kg/m
3 -3

Berat mould + agregat (kg) Berat agregat W 3 = W2 - W1 Berat volume (W3/V) kg/m3

Catatan : V mould = 3,14 (1/4) . (15,3)2 . (22,3) = 4097,86 cm3 = 4,098.10-3 m3

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 4

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

2)

PEMERIKSAAN VOLUME AGREGAT KASAR
Metode pelaksanaan Gembur cara lepas 15,3 22,3 4,097.10 8,240 13,390 5,150 1.257,07
-3

Padat Penusukan 15,3 20,3 4,097.10 8,240 14,150 5,910 1.442,519 rata - rata
-3

Penggoyangan 15,3 22,3 4,097.10 8,240 13,930 5,660 1.381,498 1.349,768 kg/m
3 -3

Diameter mould Ø (cm) Tinggi mould Volume mould Berat mould H (cm) V (m ) W 1 (kg)
3

Berat mould + agregat (kg) Berat agregat W 3 = W2 - W1 Berat volume (W3/V) kg/m3

PERCOBAAN II

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 5

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ANALISA SARINGAN AGREGAT KASAR DAN HALUS I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan pembagian butir (gradasi) agregat. Data distribusi butiran pada agregat diperlukan dalam perencanaan adukan beton. Pelaksanaan penentuan gradasi ini dilakukan pada agregat halus dan kasar. Alat yang digunakan adalah seperangkat saringan dengan ukuran jaring- jaring tertentu. IV. PERALATAN a. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat benda uji. b. Satu set sarungan untuk agregat kasar ukuran #67 (diameter agregat antara 50,00 – 4,76mm) dengan berat minimum contoh 20kg. c. Satu set saringan agregat halus dengan berat minimum contoh 500kg. d. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu ubtuk pemanasan sampai 110ºC. e. Alat pemisah contoh (sample splinter). f. Talam – talam. g. Kuas, sikat kuningan, sendok, dan alat bantu lainya. V. BAHAN - BAHAN Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh, berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan. Dalam praktikum ini tidak ada agregat kasar berdiameter lebih dari 50mm, sehingga digunakan saringan ukuran #467. VI. PROSEDUR PRAKTIKUM a. Benda uji dikeringkan didalam oven dengan suhu 110ºC sampai berat contoh tetap. b. Contoh dicurahkan pada perangkat saringan. Susunan saringan dimulai dari saringan yang paling besar diletakkan paling atas. Perangkat saringan

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 6

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang dengan tangan atau mesin pengguncang selama 15 menit. VII. PERHITUNGAN

Analisa ayakan bagi butiran antara 50,0 – 4,76mm berat contoh 5kg dan kategori ayakan No. 467. II. DATA PERHITUNGAN HASIL PERCOBAAN II
ANALISIS AYAKAN AGREGAT DENGAN DIAMETER 50,0 - 4,76 mm Nomor Saringan mm 1,5 5/8 5/16 38,1 15,8 7,9 Pan Ukuran lubang ayakan inch total Berat tertahan ( gram ) 0 565 1,367 162 2,094 0 26,9 65,28 7,73 99,91 % tertahan % berat yang lolos ( kumulatif ) 99,91 73,01 7,73 0

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 7

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ANALISIS AYAKAN AGREGAT HALUS ( PASIR) Nomor Saringan Ayakan ( mm ) 16 30 60 200 1,18 0,6 0,25 0,075 Pan total Berat tertahan ( gram ) 0,3 169,2 463,1 328,4 31,43 992,43 0,03 17,03 46,66 33,09 3,166 99,986 % tertahan % berat tertahan ( kumulatif ) 0,03 17,07 63,73 96,82 99,986 % berat yang lolos ( kumulatif ) 99,956 82,926 36,266 3,176 0,01

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 8

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 9

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ANALISA PERCOBAAN - Modulus kehalusan (FM) = fineness modulus diperoleh dengan menjumlahkan prosentase komulatif pada masing – masing ayakan dibagi 100. AGREGAT HALUS

FM =

0,03 + 17,07 + 63,73 + 98,82 + 99,986 = 2,77 100

AGREGAT HALUS

FM =

26,9 + 92,18 + 99,91 + 500 = 7,19 100

- Agregat grafik susunan butir untuk agregat campuran. Grafik butiran halus menempati daerah 1 dan 2. a) Daerah tidak baik, diperlukan terlalu banyak semen dan air. b) Daerah baiktetapi diperlukan terlalu banyak semen dan air disbanding daerah 3. Grafik butiran kasar menempati butir diskontinu. c) Daerah banyak untuk susunan butir diskontinu. d) Daerah tidak baik terlalu sulit dikerjakan. Catatan : untuk mencapi suatu kekuatan beton tertentu pada suatu sebanyak 25kg/m3 beton pada daerah 3 dibandigkan daerah 2. nilai slump tertentu, pada umumnya diperoleh penghematan semen

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 10

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN III PEMERIKSAAN ORGANIK DALAM AGREGAT HALUS I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan adanya bahan organic dalam agregat halus. Kandungan bahan organic yang berlebihan pada unsure bahan beton dapat mempengaruhi kualitas beton. Kadar oeganik adalah bahanbahan yang terdapat didalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton. VIII. PERALATAN penutup lainnya yang tidak beraksi terhadap NaOH volume gelas = 350ml. b. Standard warna (organic plate). c. Larutan NaOH 3%. IX. BAHAN – BAHAN Contoh pasir dengan volume 115ml (sepertiga volume botol). X. PROSEDUR PRAKTIKUM a. Contoh benda uji dimasukkan kedalam botol. b. Tambahkan larutan NaOH 3% setelah dikocok, total volume menjadi kira – kira ¾ volume botol. c. Botol ditutup erat – erat dengan penutup dan botol dikocok kembali. Diamkan botol selama 24 jam. d. Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan warna standard No. 3 (apakah lebih tua / muda). Bila terlihat nyata warnanya lebih muda (misalnya sesuai No.1) berarti kadar organiknya rendah.

a. Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet atau gelas atau bahan

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 11

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

II. DATA PERCOBAAN III Tanggal percobaan 10~11 Oktober 2009 1. Pasir + NaOH 3% (kuning muda). Pasir + NaOh 3% (kuning tua). Di kocok. 2. Setelah 24 jam -------warna kuning muda, ke abu – abuan. Benda uji pasir 1/3 dari tinggi botol (350ml) ditambah, NaOH 3% menjadi berisi ¾ dari tinggi botol (350ml).

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 12

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Analisa Percobaan : Warna lebih rendah dari warna standard. Standard warna No.3 dari standard warna colour chart warna tersebut masih sesuai untuk menentukan rendahnya kadar organic, maka agregat halus tersebut dapat digunakan untuk pembuatan beton.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 13

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN IV PEMERIKSAAN KADAR LUMPUR DALAM AGREGAT HALUS I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan prosentase kadar lumpur yang terkandung dalm agregat halus. Kandungan lumpur kurang dari 5% merupakan ketentuan dalam peraturan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton. XI. PERALATAN a. Gelas ukur b. Alat pengaduk XII. BAHAN – BAHAN

Contoh pasir biasa dalam kondisi lapangan dengan pelarut air biasa. XIII. PROSEDUR PRAKTIKUM

a. Contoh benda uji dimasukkan kedalam benda ukur. b. Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur. c. Gelas dikocok untuk mencuci pasir dari lumpur. d. Simpan gelas pada tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam. e. Ukut tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V3). XIV. PERHITUNGAN
V

1 Kadar lumpur = V + V x100 % 1 2

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 14

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

II. DATA PERCOBAAN IV Berat agregat halus dalam keadaan alam (gr) Tinggi pasir mula – mula (ml) Tinggi air + pasir (ml) Tinggi pasir (V1) (ml) Tinggi lumpur (V2) (ml)
2 Kadar lumpur = V +V x100 % 1 2 V

= 300 = 360 = 270 =7

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 15

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

2 Kadar lumpur = V +V x100 % 1 2

V

7 x100% 270 + 7 7 x100% = 2,53% 277
ANALISA PERCOBAAN : Bahwa kadar agregat yang kita teliti mengandung lumpur kurang dari 5%, maka agregat halus tersebut dapat digunakan untuk pembuatan campuran beton.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 16

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN V PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar air dengan cara pengeringan. Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam agregat dengan berat agregat dalam keadaan kering. Nilai kadar air ini digunakan untuk korelsi tekanan air untuk adukan beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat lapangan. XV. PERALATAN

a. Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh. b. Oven yang suhunya dapat diatur sampai 110±5°C c. Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan contoh benda uji. XVI. BAHAN – BAHAN

Berat minimum contoh agregat tergantung pada ukuran maksimum dengan batasan sebagai berikut : Ukuran maksimum : 6,30mm (1/4”) 9,50mm (3/8”) 12,70mm (0,5”) 19,10mm (3/4”) 25,40mm (1,0”) 38,10mm (1,5”) 50,80mm (2,0”) 63,50mm (2,5”) 76,20mm (3,0”) 88,90mm (3,5”) 101,60mm (4,0”) 152,40mm (6,0”) = 0,50 kg = 1,50 kg = 2,00 kg = 3,00 kg = 4,00 kg = 6,00 kg = 8,00 kg = 10,00 kg = 13,00 kg = 16,00 kg = 25,00 kg = 50,00 kg

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 17

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

XVII.

PROSEDUR PRAKTIKUM a. Timbang dan catat berat dalam talam (W1).

b. Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian berat talambenda uji ditimbang. Catat beratnya (W2). c. Hitung berat uji benda uji : W3 = W2 – W1. d. Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu (110±5)°C sampai mencapai bobot tetap. e. Setelah kering, contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam (W4). f. Hitunglah berat benda uji kering : W5 = W4 – W1 XVIII. PERHITUNGAN
W3 − W5 x100 % W3

Kadar air agregat =

Dimana : W3 = Berat contoh semula (gr). W5 = Berat contoh kering (gr).

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 18

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

APARATUS UNTUK ANALISIS GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 19

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

XIX.

DATA PERCOBAAN V PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT HALUS A. Berat wadah B. Berat wadah dan benda uji C. Berat benda uji (B-A) D. Berat benda uji kering = 180 gr = 3.000 gr = 2.820 gr = 2.770 gr

Kadar air =

2.820 − 2.770 C −D x100 % ⇒ x100 % = 1,77 % C 2.820

PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT KASAR A. Berat wadah B. Berat wadah dan benda uji C. Berat benda uji (B-A) D. Berat benda uji kering = 180 gr = 5.000 gr = 4.820 gr = 4.804,5 gr

Kadar air =

4.820 − 4.804 ,5 C −D x100 % ⇒ x100 % = 0,32 % C 4.820

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 20

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN VI ANALISIS SPECIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan bulk dan apparent specific gravity dan penyerapan (absobsion) dari agregat kasar menurut prosedur ASTM C127. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya komposisi volume agregat dalam beton. XX. PERALATAN

a. Timbangan dengan ketelitian 0,5gr yang mempunyai kapasitas 5kg. b. Keranjang besi diameter 203.2 (b”) dan tinggi 63,5mm (2,5”). c. Alat penggantung keranjang. d. Oven. e. Handuk. XXI. BAHAN – BAHAN

Bahan contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering muka (SSD = Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau dengan cara perempatan. Butiran agregat lolos saringan no. 4 tidak dapat. XXII. PROSEDUR PRAKTIKUM

a. Benda uji direndam selama 24 jam. b. Benda uji dikering mukakan (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran agregat. c. Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD = A. d. Contoh benda uji dimasukkan kekeranjang dan direndam kembali didalam air. Temperature air dijaga (73.4± 3)°F,dan kemudian ditimbang, setelah ditimbang keranjang digoyang – goyangkan dalam air untuk

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 21

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh = B. e. Contoh dikeringkan pada temperatur (212 – 230)°F. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C.

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 22

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

XXIII.

DATA DAN PERHITUNGAN A. Berat contoh SSD B. Berat keranjang dalam air D. Berat contoh dalam air = 6.928gr = 779gr

C. Berat contoh + keranjang dalam air = 4.962gr = 4.183gr E. Berat contoh kering sesudah di oven = 6.666,4gr
E 6.666 ,4

Apparent Spesific Grafity = E − D = 6.666 ,4 − 4.183 = 2,684 4 Bulk SG kondisi kering = Bulk SG kondisi SSG =

E 6.666,4 = = 2,4286 A - D 6.928 − 4.183

A 6.928 = = 2,524 A − D 6.928 − 4183

Prosentase Absorpsi Air =

A− E x100% E
6.928 − 6.666,4 x100 % = 3,924 % 6.666,4

Berat tali Berat keranjang Agregat + keranjang Besi + rafia ANALISA PERCOBAAN

= = =

29,5gr 804gr 912gr

= 7.769gr

Dari analisa specific gravity agregat kasar dapat diketahui nilai : • APPARENT S.G • BULK S.G KONDISI KERING • BULK S.G KONDISI SSD • ABSORPSI AIR = 2,6844 = 2,4286 = 2,524 = 3,924%

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 23

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN VII ANALISIS SPECIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan bulk dan apparent specific gravity dan penyerapan (absobsion) dari agregat halus menurut prosedur ASTM C128. Nilai ini diperlukan untuk menetapkan besarnya komposisi volume agregat dalam adukan beton. XXIV. 1kg. b. Piknometer dengan kapasitas 500gr. c. Cetakan kerucut pasir. d. Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir. XXV. BAHAN – BAHAN PERALATAN

a. Timbangan dengan ketelitian 0,5gr yang mempunyai kapasitas minimum

Bahan contoh agregat halus disiapkan sebanyak 1000gr. Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan. XXVI. PROSEDUR PRAKTIKUM

a. Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik. b. Sebagian dari contoh dimasukkan pada metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat butiran – butiran pasir longsor / runtuh. c. Contoh agregat halus seberat 500gr dimasukkan kedalam piknometer dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung – gelembung udara

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 24

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

dengan cara menggoyang – goyangkan piknometer. Rendamlah piknometer dengan suhu (73,4 ± 3)ºF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dan air. d. Pisahkan contoh benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213 – 230)ºF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari). e. Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kalibrasi pada temperatur (73,4 ± 3)ºF dengan ketelitian 0,1 gram. XXVII. DATA DAN PERHITUNGAN PERCOBAAN VII = 140,55gr = 500gr = 653,25gr

A. Berat piknometer B. Berat contoh kondisi SSD C. Berat piknometer + air

D. Berat piknometer + contoh SSD + air= 939,6gr E. Berat contoh kering sesudah di oven = 480,4gr
E Apparent S.G = E − ( D − C ) = 2,475 E Bulk S.G kondisi kering = B − ( D − C ) = 2,248

B Bulk S.G kondisi SSD = B − ( D − C ) = 2,340

Prosentase Absorpsi air =

B− E x100% = 4,08% E

Volume air 400 ml --- sisa 95 ml --- yang terpakai 400 – 95 = 305 ml, berat contoh 500 gram, berat contoh oven + cawan = 544,6 dan berat cawan 64,2 gram. Jadi, berat contoh setelah di oven : 544,6 – 64,2 = 480,4gr.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 25

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ANALISA PERCOBAAN Dari analisa specific gravity agregat halus dapat diketahui nilai : • APPARENT S.G • BULK S.G KONDISI KERING • BULK S.G KONDISI SSD • ABSORPSI AIR = 2,475 = 2,248 = 2,340 = 4,08%

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT KASAR

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 26

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN VIII PERENCANAAN CAMPURAN BETON I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan komposisi atau unsure beton basah dengan ketentuan kekuatan tekan karakteristik dan SLUMP rencana. XXVIII. PERALATAN a. Timbangan. b. Peralatan membuat adukan : • Wadah • Sendok semen • Peralatan pengukur SLUMP • Peralatan pengukur berat volume XXIX. BAHAN – BAHAN

Unsur beton : • Air • Semen • Agregat halus • Agregat kasar Yang mempunyai syarat atau ketentuan

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 27

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

XXX.

PERENCANAAN CAMPURAN BETON (CONCRETE MIX

DESIGN)

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

PENETAPAN VARIABEL PERENCANAAN Kategori jenis struktur : Tabel I Rencana Slump : Tabel III Rencana kuat tekan beton : Tabel II Modulus kehalusan agregat halus Ukuran maksimum agregat kasar : Tabel IV Spesific grafity agregat kasar kondisi SSD Spesific grafity agregat halus kondisi SSD Berat volume agregat kasar PERHITUNGAN KOMPOSISI UNSUR BETON Balok 7,5 - 10 cm 350 kg/cm
2 2

2,77 4 cm 2,62 2,40 1394,11 kg/m
3

9

Rencana air adukan untuk 1m beton

185 kg 1% 0,535 0,53 349,05 kg 71% 989,84 kg 0,011 m
3

10 Prosentase udara yang terperangkap : Tabel A 11 W/C ratio berdasarkan grafik 2 / Tabel II 12 W/C ratio maksimum berdasrkan Table I 13 Berat semen yang diperlukan : (9) / (11) 14 Volume Agregat kasar perlu m beton : Table B 15 Berat agregat kasar perlu : (14) x (8) 16 Volume semen : 0,001 x (13) / 3,15 17 Volume air : 0,001 x (9) 18 Volume agregat kasar : 0,001 x (15) / (6) 19 Volume udara : (10) Volume agregat halus / m3 beton : 1m - {(1 ) +(17 +(18 +(1 ) }m 6 ) ) 9
3 3

0,185 kg 0,377 m 0,01 m 0,417 m
3 3

3

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 28

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

KOMPOSISI BERAT UNSUR ADUKAN / M 20 Semen : (13) 21 Air : (9) 22 Agregat kasar kondisi SSD : (15) 23 Agregat halus kondisi SSD : (20) x (7) x 1000 24 Faktor semen : (21) / 40 (1 zak = 40kg)

3

BETON 349,85 kg 185 kg 989,81 kg 1000,8 kg 8,746 kg

KOREKSI JUMLAH AIR DAN BERAT UNSUR PERENCANAAN LAPANGAN 25 Kadar air asli / kelembaban agregat kasar : mk 26 Penyerapan air kondisi SSD agregat kasar : ak 27 Kadar air asli / kelembaban agregat halus : mh 28 Penyerapan air kondisi SSD agregat halus : ah 29 Tambahan air adukan dari kondisi agregat kasar (23) x { (ak - mk ) / (1 - mk) } 30 Tambahan agr. Kasar untuk kondisi lapangan (23) x { (mk - ak ) / (1 - mk) } 31 Tambahan air adukan dari kondisi agregat halus (23) x { (ah - mh ) / (1 - mh) } 32 Tambahan agregat halus untuk kondisi lapangan (23) x { (mh - ah ) / (1 - mh) } KOMPOSISI AKHIR UNSUR UNTUK PERENCANAAN LAPANGAN / M 33 Semen : (13) 34 Air : (22) + (30) + (32) 35 Agregat kasar kondisi lapangan : (23) + (31) 36 Agregat halus kondisi lapangan : (24) + (33)
3

2,58 % 3,924 % 6,021 % 4,08 % 13,65 kg

-13,65 kg

-20,87 kg

20,87 kg

BETON 389,85 kg 1177,78 kg 976,16 kg 1021,67 kg

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 29

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

KOMPOSISI UNSUR CAMPURAN BETON / KAPASITAS MESIN MOLEN 37 Semen 38 Air 39 Agregat kasar kondisi lapangan 40 Agregat halus kondisi lapangan DATA - DATA SETELAH PENGADUKAN / PELAKSANAAN 41 Sisa air campuran ( jika ada ) 42 Tambahan air selama pengadukan ( jika ada ) 43 Jumlah air sesungguhnya yang digunakan 44 Nilai SLUMP hasil pengukuran 45 Berat isi beton basah waktu pelaksanaan 2,6 kg 11,89 kg 7,93 kg 11,69 kg 5,33 kg 29,28 kg 30,65 kg

TABEL I

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 30

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

W/C RATIO BERDASARKAN JENIS KONSTRUKSI DAN KONDISI LINGKUNGAN
KONDISI LINGKUNGAN PEKERJAAN JENIS KONSTRUKSI NORMAL BASAH KERING BERGANTI GANTI Konst. Lansing / hanya punya penutup tulangan kurang dari 2,50 cm. Struktur dinding penahan tanah, pilar, balok abutmen Beton yang tertanam dalam air, pilar, balok Struktur lantai beton diatas tanah Beton yang terlindung dari perubahan udara ( konstruksi interior bangunan) 0,44 0,44 0,53 0,44 0,53 0,59 0,40 DAPAT PENGARUH SULFAT AIR LAUT

-

-

-

W/C ratio ditentukan berdasarkan persyaratan kekuatan tekan

rencana Tabel II atau grafik 2. Disamping factor semen berdasarkan Tabel I, unsure lain penentu factor air semen ditetapkan atas kekuatan rencana tekan beton, yang dinyatakan sbb :

TABEL II

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 31

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

HUBUNGAN ANTARA W/C RASIO DENGAN KEKUATAN TEKAN BETON

Kekuatan tekan beton umur 28 hari (kg/cm ) 420 350 280 210 140

2

Nilai rata - rata W/C 0,44 0,53 0,62 0,73 0,89

Nilai pada Tabel II berdasarkan atas ukuran terbesar agregat kasar diameter 2,5 cm. Bagi W/C ratio yang sama dengan ukuran agregat lebih besar, kekuatan tekan beton akan lebih rendah. TABEL III UKURAN SLUMP YANG DIANJURKAN BAGI BERBAGAI KONSTRUKSI

Uraian 1. Dinding, plat pondasi, dan pondasi telapak bertulang 2. Pondasi telapak tidak bertulang, kaison, dan konstruksi dibawah tanah 3. Pelat, balok, kolom, dan dinding 4. Perkerasan jalan 5. Pembetonan masal

Slump (cm) Maksimum 8,00 Minimum 2,50

8,00

2,50

10,00 8,00 5,00

2,50 2,50 2,50

Catatan :

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 32

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Nilai pada Tabel III ini berlaku untuk pemadatan menggunakan alat penggetar. Untuk cara yang lain , nilai slump dapat dinaikkan 2,50cm lebih besar. TABEL IV UKURAN MAKSIMUM AGREGAT Ukuran maksimum agregat yang digunakan harus memenuhi ketentuan : 1. 2. 3.
1 1

/5 lebih kecil atau sama dari ukuran terkecil dimensi struktur. /3 lebih kecil atau sama dari tebal plat lantai. lebih kecil atau sama dari jarak bersih tulangan, berkas tulangan

¾

atau berkas kabel pratekan.

TABEL A JUMLAH BERAT AIR PERLU UNTUK SETIAP M3 BETON DAN UDARA YANG TERPERANGKAP UNTUK BERBAGAI SLUMP DAN UKURAN MAKSIMUM AGREGAT

SLUMP (cm) 2,5 - 5 7,5 - 10 15 - 17

Berat air (kg/m3) betom untuk ukuran agregat berbeda 10 mm 12,5 mm 20 mm 208 228 243 199 217 228 187 202 214 25 mm 179 193 202 38 mm 163 179 187 50 mm 154 169 178 75 mm 150 mm 142 157 169 125 136 -

Prosentase udara (%) yang ada dalam unit beton 3 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,3 0,2

TABEL B PROSENTASE VOLUME AGREGAT KASAR / SATUAN VOLUME BETON

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 33

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Ukuran maksimum agregat kasar (mm) 10,0 12,5 20,0 25,0 37,5 50,0 75,0 150

Prosentase volume agregat kasar dibandingkan dengan satuan volume beton untuk fineness moduli agregat halus ( pasir ) tertentu 2,40 50 59 66 71 75 78 82 87 2,60 48 57 64 69 73 76 80 85 2,80 46 55 62 67 71 74 78 83 3,00 44 53 60 65 69 72 76 81

CATATAN : Volume pada Tabel B berdasarkan kondisi agregat kering muka atau dry rodded. Nilai dalam table dipilih dari hubungan empiris untuk bisa mendapatkan beton dengan tingkat kekenyalan umum. Untuk beton yang kurang kenyal bagi pekerjaan jalan, harga didalam table bisa dinaikkan sebanyak 10% untuk lebih kenyal, seperti beton yang ditempatkan melalui sistem pompa, nilai pada table dikurangi sampai 10%.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 34

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 35

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN IX PELAKSANAAN CAMPURAN Setelah ditetapkan unsure – unsur campuran, prosedur praktikum untuk pelaksanaan campuran beton adalah sebagai berikut : 1. Mempersiapkan bahan campuran sesuai dengan rencana berat pada wadah yang terpisah. 2. Mempersiapkan wadah yang cukup menampung volume beton basah rencana. 3. Memasukkan agregat kasar dan halus dalam wadah. 4. Mencampurkan agregat dengan menggunakan sekop atau alat pengaduk. 5. Menambahkan pada agregat campuran dan mengulangi proses pencampuran sehingga diperoleh adukan kering agregat dan semen merata. 6. Menambahkan 1/3 jumlah air total kedalam wadah, dan lakukan pencampuran sampai terlihat konsistensi adukan merata. 7. Menambahkan kembali 1/3 jumlah air kedalam wadah dan mengulangi proses untuk mendapatkan konsistensi adukan. 8. Melakukan pemeriksaan SLUMP. 9. Apabila nilai SLUMP sudah mencapai nilai rencana, lakukan perbuatan benda uji silender beton dan kubus. Jika belum tercapai SLUMP yang diinginkan, tambahkan sisa air dan lakukan pengadukan kembali. 10. Menghitung berat jenis beton. 11. Membuat empat benda uji silinder dan empat benda uji kubus sesuai petunjuk. 12. Mencatat hal – hal yang menyimpang dari perencanaan, terutama jumlah air dan nilai SLUMP.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 36

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN X MENENTUKAN SLUMP BETON I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan konsistensi suatu campuran beton berdasarkan satuan SLUMP. Suatu campuran beton memiliki konsistensi yang berbeda – beda sesuai kebutuhan suatu bangunanyang akan di beton. Konsistensi itu dapat sangat kering, kering, plastis, plastis cair, cair, dan sebagainya. XXXI. • • • PERALATAN 1. Apparatus bagi pemeriksaan SLUMP yang terdiri dari : Cetakan Timbangan Alat ukur

2. Tongkat pemadat dengan diameter 10mm, panjang Ø)cm. Ujung dibulatkan dan sebaiknya dari bahan baja anti karat. 3. Pelat logam dengan permukaan rata dan kedap air. 4. Sendok cekung. XXXII. BAHAN - BAHAN

Contoh beton segar sesuai dengan isi cetakan. XXXIII. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Cetakan dan pelat dibasahi dengan kain basah. 2. Letakkan cetakan diatas pelat. 3. Isi cetakan dengan beton segar sampai penuh dalam tiga lapis. Tiap kira- kira 1/3 isi cetakan. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25 kali tusukan secara merata. Tongkat pemadat harus masuk tepat sampai lapisan bagian bawah tiap – tiap lapisan. Pada

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 37

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

bagian bawah atau lapisan pertama, penusukan bagian tepi dilakukan dengan tongkat dimiringkan sesuai dengan kemiringan dinding cetakan. 4. Setelah selesai pemadatan, ratakan permukaan benda uji dengan tongkat, tunggu selama ½ menit dan dalam jangka waktu ini, semua lapisan kelebihan beton segar disekitar cetakan harus dibersihkan. 5. Cetakan diangkat perlahan – lahan tegak lurus keatas. 6. Balikkan cetakan dan letakkan disamping benda uji. 7. Ukur SLUMP yang terjadi dengan menggunakan perbedaan tinggi cetakan dengan tinggi rata – rata dari benda uji. XXXIV. PERHITUNGAN Nilai SLUMP = Tinggi cetakan – Tinggi rata rata benda uji

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 38

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

APARATUS UNTUK PEMERIKSAAN SLUMP

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 39

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 40

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

APARATUS UNTUK ANALISIS SPESIFIC GRAVITY DAN PENYERAPAN AGREGAT HALUS

Jenis adukan dengan ekivalen yang berbeda. Contoh ini merupakan contoh adukan dengan bahan – bahan yang tepat komposisinya, tidak terjadi segregasi walaupun nilai SLUMPnya tinggi.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 41

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN XI PEMBUATAN DAN PERSIAPAN BENDA UJI I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan beton yang keras dalam bentuk kubus dan silinder ( masing – masing empat buah ), yang akan digunakan sebagai benda uji dalam pemeriksaan kekuatan tekan beton. XXXV. PERALATAN

1. Cetakan dari baja berbentuk kubus dan silinder masing – masing 4 buah. 2. Meja penggetar. 3. Pisau perata. 4. Sendok. 5. Bak perendam atau karung basah. XXXVI. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Cetakan dibersihkan dan dilumasi dengan minyak. 2. Adukan dimasuukan kedalm cetakan dengan menggunakan sendok semen, dan dipadatkan dengan meletakkan cetakan diatas meja penggetar sampai permukaan adukan beton terlihat basah dan tidak ada gelembung udara yang naik kepermukaan. 3. Permukaan adukan diratakan dengan menggunakan pisau perata. 4. Setelah itu setiap cetakan diberi tanda ( nomor kelompok dan group ) serta dicatat tanggal percobaannya.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 42

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 43

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN XII PEMERIKSAAN KEKUATAN TEKAN BETON I. TUJUAN PERCOBAAN Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder dibuat dan dirawat (cured) di laboratorium. Kekuatan tekan beton adalah beban persatuan luas yang menyebabkan beton hancur. XXXVII. PERALATAN Mesin penguji tekanan beton. XXXVIII. PROSEDUR PENGUJIAN 1. Ambil benda uji yang akan ditentukan kekutan tekanan dari bak perendam, kemudian bersihkan dari kotoran yang menempel dengan kain pelembab. 2. Tentukan berat dan ukuran benda uji. 3. Letakkan benda uji pada mesin secara sentries. 4. Jalankan benda uji atau mesin tekan dengan penambahan beban konstan berdasar 2 sampai 4 kg/cm2 per detik. 5. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda uji. XXXIX. PERHITUNGAN Kekuatan tekan beton = P/A (kg/cm2) Dimana : P = Beban maksimum (kg) A = Luas penampang benda uji (cm2)

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 44

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

PERCOBAAN UJI TEKAN BETON

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 45

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

XL.

DATA – DATA PERCOBAAN XII

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Kode Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder

Umur ( hari ) 3 3 7 7 16 16 28 28

Berat ( kg ) 7,125 11,625 7,256 11,553 7,09 11,458 7,280 11,640

Luas bidang Tekan ( cm ) 222,01 177,804 225 181,27 225 176,625 225 181,36
2

Volume ( cm ) 3352,351 5423,036 3341,25 5441,1 3375 5298,75 3375 5531,48
3

Berat isi ( kg/lt )

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

kode Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder Kubus Silinder

Umur ( hari ) 3 3 7 7 16 16 28 28

Beban Max ( kg ) 73.006,8 31.730,20 12.988,03 48.514,10 108.966,00 63.930,80 113.370,20 54.370,20

σ = P/A (kg/cm σb 328,84 178,46 368,84 267,63 484,43 361,96 503,87 300,02
Σ=

2

)

σb = 28 hari 724,96 326,55 813,14 489,71 1.067,97 662,32 1.110,82 548,98 5.744,45

1 pound ( Lb ) = 0,4536 kg
1 Kubus = σb = 28 hari ⇒ 0,4536 xσb 1 Silinder = σb = 28 hari ⇒ 0,4536 xσbx 0,83

PERCOBAAN XIII ANALISIS KEKUATAN TEKAN BETON KARAKTERISTIK

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 46

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

I. TUJUAN PERCOBAAN Dari hasil pengumpulan data kekuatan hancur tekan beton, dilakukan penentuan tegangan tekanan karakteristik beton. Tegangan tekan karakteristik beton ini diperoleh dengan menggunakan rumusan statistik sebagai berikut : a. Menentukan deviasi standar benda uji : s=
∑ σ −σ )2 /( H −1) ( b bm

Dimana : s σb σbm σbm = deviasi standar = kekuatan tekan beton yang didapat dari masing masing – masing benda uji ( kg/cm2 ) = kekuatan tekan beton rata – rata ( kg/cm2 )

N = ∑ .σb N

N = jumlah seluruh nilai hasil pemeriksaan b. Menghitung nilai kekuatan beton karakteristik dengan 5%

kemungkinan adanya kekuatan yang tidak memenuhi syarat

σbk = σbm −1.64 s
c. Nilai kekuatan tekan beton karakteristik yang diperoleh pada langkah (b) dibandingkan dengan nilai rencana. Disebut benda uji mempunyai / memenuhi persyaratan mutu kekuatan, bila nilai ada lebih besar dari rencana. Benda uji tidak memenuhi rencana atau syarat, bila mutu kekuatan yang ada kurangdari nilai rencana. II. PERHITUNGAN Kekuatan tekan rata – rata :

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 47

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

σbm =

∑N .σb N

σbm = ∑ N .σb / N

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

b σ 28 hari 364,75 266,202 294,56 253,80 282,87 266,26 428,95 Σ = 2157,392

(σ - σ b bm) 56,56 - 41,988 - 13,63 - 54,39 - 25,32 - 41,93 120,76 -

(σ - σ b bm) 3199,0036 1762,992 185,7769 2958,2721 641,1324 1758,1249

2

145,829,776 Σ = 25088,2795

Jadi nilai :
σbm = ∑ N .σb / N =
2157 ,392 = 308 ,199 7

Standard deviasi :
s= ∑(σb −σbm ) 2 (7 −1) = 25088 ,2795 = 26 ,399 (7 −1)

σ = bm −1,64 .s = 308 ,19 −(1,64 )26 ,399 = 264 ,90 bk

Dari hasil percobaan diatas didapatkan nilai kekuatan beton karakteristik lebih rendah dari yang direncanakan : 2649 < 350 hal ini disebabkan : • Pengadukan tidak merata (manual).

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 48

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

• • • •

Penambahan air yang berlebihan sehingga mempengaruhi mutu kekuatan beton. Susunan butiran agregat kurang bagus, hal ini dapat diketahui dari grafik sieve analis. Mutu semen rendah (menggumpal). Di adakan mix design ulang karena kekuatan beton karakteristik kurang dari kekuatan beton rencana.

KESIMPULAN AKHIR

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 49

Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Setelah diadakan beberapa kali percobaan dalam suatu proses untuk pembuatan campuran beton yang dimulai dari pemeriksaan bahan / agregat sampai dengan pembuatan mix design, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • • • • Modulus agregat halus diambil antara 2,56. Modulus agregat kasar diambil antara 3,8 cm. Untuk agregat halus, kadar lumpur yang terkandung maximum 5%. Untuk agregat kasar, kadar lumpur yang terkandung maximum 1%.

Kemudian setelah dihitung seluruh kebutuhan material yang akan dipergunakan dalam pembuatan campuran beton dan adanya koreksi tentang kebutuhan jumlah air yang dibutuhkan untuk mendapatkan perencanaan beton dengan

αbk = 550 kg/cm2 dengan slump test = 0,2 cm.
Dari hasil test kekuatan beton pada umur 28 hari didapatkan :

αbm = 521,6 kg/cm2

αbm = kekuatan beton rata – rata

Karena didalam pelaksanaan pembuatan beton memungkinkan terdapat kekuatan yang tidak memenuhi syarat, yang besarnya diperhitungkan sebesar 5%, maka kekuatan beton karakteristik menjadi :

αbk = αbm – 1,64 s
= 521,6 – 1,64 (69,03) = 408,391 kg/cm2

αbk

= nilai kekuatan beton karakteristik dengan 5% kemungkinan tidak

memenuhi syarat.

αbm = kekuatan beton rata – rata (kg/cm2)
s = standar deviasi.

ilmusipil.com
Laporan Praktikum Konstruksi Beton 50