Pd.

T-04-2005-B Prakata Pedoman penggunaan agregat slag untuk campuran beraspal panas dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bidang Konstruksi dan Bangunan, melalui Gugus Kerja Bidang Perkerasan Jalan pada Sub Panitia Teknik Standarisasi Bidang Prasarana T ransportasi. Pedoman penggunaan agregat slag untuk campuran beraspal panas ini d iolah dari hasil penelitian dan adopsi dari spesifikasi campuran beraspal panas. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan untuk memperoleh campuran beraspal panas menggunakan agregat slag yang akan digunakan dalam pekerjaan perkerasan jalan. P edoman ini dirumuskan melalui proses Konsensus tanggal 15 September di Bandung, sesuai Pedoman No. 9 BSN tahun 2000 dengan melibatkan pakar-pakar dan praktisi p ada bidang perkerasan jalan, akademisi, dan stakeholders lainnya. Tata cara penu lisan pedoman ini mengacu kepada Pedoman BSN No. 8 tahun 2000 yang dikeluarkan o leh Badan Standardisasi Nasional. BACK i Daftar RSNI 2006

Pd.T-04-2005-B Pendahuluan Agregat slag besi dan baja adalah salah satu bahan alternatif pengganti untuk pe rkerasan jalan. Apabila persediaan agregat standar terbatas. Berdasarkan penelit ian yang dilakukan di Pusat Litbang Prasarana Transportasi Badan Litbang Pekerja an Umum, agregat slag memenuhi persyaratan agregat standar dimana berat jenis sl ag lebih tinggi dari pada agregat standar, sehingga menyebabkan volume pekerjaan lebih kecil dari pada standar, untuk itu dilakukan upaya pencampuran sebagian a gregat slag dengan bahan lainnya. Pencampuran ini akan menurunkan berat jenis ca mpuran, sehingga volume pekerjaan akan tercapai, dan kekuatan campuran perkerasa n lebih baik. Pedoman penggunaan agregat slag besi dan baja untuk campuran beras pal panas ini mengikuti Buku Spesifikasi Campuran beraspal, dan diharapkan akan memberikan keterangan yang cukup bagi produsen, perencana dan pelaksana. Dengan diimplementasikannya pedoman ini, penggunaan agregat slag besi dan baja yang mer upakan produk samping pabrik besi dan baja dapat dimanfaatkan. BACK ii Daftar RSNI 2006

Pd T-04-2005-B Pedoman penggunaan agregat slag besi dan baja untuk campuran beraspal panas 1 Ruang lingkup Pedoman ini mengatur tata cara penggunaan agregat slag besi dan baja pada proses pembuatan campuran beraspal panas yang meliputi persyaratan agregat slag besi d an baja, persyaratan bahan lainnya, perencanaan campuran dan pelaksanaan campura n. 2 − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − Acuan normatif SNI 03 1968 1990, Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan a gregat kasar SNI 03 1969 1990, Metode pengujian Berat Jenis dan Penyerapan air a gregat kasar SNI 03 1970 1990, Metode pengujian Berat Jenis dan Penyerapan air a gregat halus SNI 03 2417 1991, Metode pengujian keausan agregat dengan mesin Los Angeles SNI 03 2439 1991, Metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03 3407 1994, Metode pengujian kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natriu m sulfat dan magnesium sulfat SNI 03 4142 1996, Metode pengujian jumlah bahan da lam agregat yang lolos saringan no. 200 (0,075 mm) SNI 03 4428 1997, Metode peng ujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastis dengan cara setara pasir SNI 03 6399 2000, Tata cara pengambilan contoh aspal SNI 03 6819 2002, Spe sifikasi agregat halus untuk campuran beraspal SNI 03 6885 2002, Metode pengujia n noda aspal minyak SNI 03 6893 2002, Metode pengujian berat jenis maksimum camp uran beraspal SNI 03 6894 2002, Metode pengujian kadar aspal dari campuran beras pal cara Sentrifus SNI 06 2432 1991, Metode pengujian daktilitas bahan bahan asp al SNI 06 2433 1991, Metoda pengujian titik nyala dan titik bakar dengan alat cl eveland open cup SNI 06 2434 1991, Metoda pengujian titik lembek aspal dan ter S NI 06 2440 1991, Metode pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A SNI 06 2441 1991, Metode pengujian berat jenis aspal padat SNI 06 2456 1991, M etode pengujian penetrasi bahan bahan bitumen SNI 06 2489 1991, (RSNI M 01 2003) , Metode pengujian campuran aspal dengan alat Marshall SNI 06 4797 1998, Metode pengujian pemulihan aspal dengan alat penguap putar SNI 06 6441 2000, Metode pen gujian viskositas aspal minyak dengan alat Brookfield Termosel SNI 13 6717 2002, Tata cara penyiapan benda uji dari contoh agregat RSNI S 01 2003, Spesifikasi a spal berdasarkan penetrasi RSNI M 12 2004, Metode pengujian kelarutan aspal Daftar RSNI 2006 BACK 1 dari 23

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

     

 

 

       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Test method for flat particles. Rolled Asphalt (Hot Process) for road and other paved areas BS 598 part 104 (1989). dipecah dengan pendingin uda ra 3.Pd T 04 2005 B − − − − − − ASTM D 4791 75. kemudian disaring 3.4 BOS Slag (Basic oxygen steel slag) slag yang diperoleh dari hasil samping pembuatan baja dengan tanur tinggi. The compaction procedure used in percentage refusal dens ity Pensylvania DoT Test Method no. 621.6 EAF Slag (Electric arc steel slag) slag ya ng diperoleh dari hasil samping pembuatan baja dengan tungku listrik. resis tance of compacted bituminous mixture to moisture induced damaged AASHTO T 301 1 995. elongated partic es. yang dipecah dengan menggunakan pendingin u dara dan air bertekanan tinggi. or flat and elongated particles in course aggregate AASHTO T 283 1989.2 aspal keras aspal keras merupakan residu destilasi minyak bumi yang bersifat viskoelastik 3. Determining the percentage of crusted f ragments in gravel 3 Istilah dan definisi Istilah dan definisi yang digunakan dalam pedoman ini sebagai berikut : 3. berbentuk bongkah. maka kedua duanya harus dipanaskan masin g masing pada temperatur tertentu 3.5 campuran beraspal panas ca mpuran yang terdiri dari kombinasi agregat yang dicampur dengan aspal. untuk mengeringkan agregat dan memperoleh kekentalan aspal yang mencuk upi dalam mencampur dan mengerjakannya. yang dipec ah dengan menggunakan pendingin udara dan air bertekanan tinggi dan disaring Daftar RSNI 2006 BACK 2 dari 23                 .3 BF Slag (Blast furnace iron slag) slag panas has il limbah proses pembuatan besi. pencampur an dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan agregat terselimuti aspal dengan seragam. Elastic recovery test of bituminous materials by means of a ductilometer BS 594 part 1 (1973).1 agre gat slag limbah besi dan baja berbentuk bongkah panas yang telah diproses melalu i penyemprotan air tekanan tinggi sehingga bongkahan slag pecah menjadi ukuran b utir tertentu 3.

kemudian uji pencampuran di unit pencampur aspal dan uji penghamparan dan pemadatan di lapangan 3. VIM) volume total udar a yang berada di antara partikel agregat yang terselimuti aspal dalam suatu camp uran yang telah dipadatkan.7 Formula campuran kerja. dinyatakan dengan persen volume bulk suatu campuran 3. 8) atau 4. FCK (Job mix formula. yang berbe ntuk bongkahan 3. proses pembuatannya telah melalui beberapa tahapan yaitu d ari mulai formula campuran rancangan. vo lume agregat dihitung dari berat jenis bulk (bukan berat jenis efektif atau bera t jenis nyata) 3.13 titik kontrol gradasi batas batas titik minimum dan maksimum untuk masing masing gradasi yang digunakan gradasi agregat harus berada diantar a titik kontrol tersebut 3. yaitu rongga udara dan volume kadar aspal efektif.36 mm (no. gradasi agregat diharapkan menghin dari daerah ini BACK 3 dari 23 Daftar RSNI 2006           .8 kurva fuller kurva gra dasi dimana kondisi campuran memiliki kepadatan maksimum dengan rongga diantara mineral agregat (VIM) yang minimum 3.9 rongga di antara mineral agregat (Void in mixed aggregates. yang dinyatakan dalam persen terhadap volume total benda uji. JMF) merupakan formula yang di pakai sebagai acuan untuk pembuatan campuran. 4) dan ukuran 300 mikron (no. 75 mm (no.12 slag limbah dari proses pembuatan besi dan baja. 50).10 rongga dalam campuran (Void in mixed.Pd T 04 2005 B 3.14 zona terbatas suatu zona yang terletak pada garis kepadatan maksimum (kurva fuller) antara ukuran menengah 2. dinyatak an dalam persen 3. formula tersebut harus sesuai dan memenuhi persyaratan. VFA) bagian dari rongga yang berada di antara mineral agregat (VMA) yang terisi oleh aspal efektif. VMA) volume rongga yang terdapat diantara partikel agregat su atu campuran beraspal yang telah dipadatkan.11 rongga terisi aspal (Void filled with asphalt.

BACK 4 dari 23 Daftar RSNI 2006 ¡     ¡   ¡ ¡             . Tebal aktual campuran beraspal yang dihampa r. 2) jarak memanjang dari penampang melintang yang diperiksa ti dak lebih dari 200 meter dan harus sedemikian rupa hingga jumlah total benda uji inti yang diambil dalam setiap ruas yang diukur untuk pembayaran tidak kurang d ari enam. Bilamana campuran beraspal yang dihampar lebih dari satu lapis. 3) toleransi tebal lapisan adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 1. harus sama atau lebih besar dari pada tebal n ominal rancangan yang ditentukan dalam Gambar Rencana dan sesuai dengan Tabel 1. Tabel 1 Tebal rancangan campuran beraspal dan toleransi Jenis Campuran Lataston Laston Lapis Aus Lapis Pondasi Lapis Aus Lapis Pengikat Lapis Pondasi Simbol HRS – WC HRS Base AC WC AC – BC AC Base Nominal Tebal Mini mum (mm) 30 35 40 50 60 Toleransi Tebal (mm) 3. d.0 3. Lokasi pengambilan benda uji inti harus dilakukan sebagaimana yang diperi ntahkan oleh Direksi dengan ketentuan : 1) pengambilan contoh dalam arah melinta ng dari masing masing penampang lajur yang diperiksa sekurang kurangnya 2 buah p ada setiap lokasi. bi lamana tebal lapisan tidak memenuhi persyaratan toleransi maka Direksi dapat mem erintahkan pengambilan benda uji inti tambahan disekitar lokasi yang tidak memen uhi syarat ketebalan sebelum pembongkaran dan pelapisan kembali.2 Peralatan laboratorium Seluruh peralatan laboratorium yang digunakan untuk pengujian di laboratorium ha rus memenuhi ketentuan yang disyaratkan untuk laboratorium uji campuran aspal. seluruh tebal c ampuran beraspal tidak boleh kurang dari toleransi yang disyaratkan dalam tebal nominal rancangan yang disyaratkan dalam Gambar Rencana.4 a. 4. didefinisikan sebagai tebal rata rata dari semua benda uji i nti yang diambil dari ruas tersebut.Pd T 04 2005 B 4 4. c.0 4. 4 .1 Ketentuan umum Penggunaan campuran beraspal panas Agregat slag besi dan baja dapat digunakan sebagai pengganti seluruh agregat sta ndar atau sebagai pengganti sebagian dari agregat standar.0 5.0 b. 4. Penggunaan agregat in i dilakukan apabila ketersediaan agregat standar tidak mencukupi.3 Peralatan lapangan Seluruh peralatan lapangan yang digunakan dalam kegiatan penghamparan harus meme nuhi ketentuan yang disyaratkan untuk penghamparan campuran aspal panas. Tebal aktual ca mpuran beraspal menggunakan agregat slag besi dan baja yang dihampar di setiap r uas dari pekerjaan. sebagaimana ditetapkan di atas. Tebal lapisan dan toleransi Tebal setiap lapisan campuran beraspal harus dipanta u dengan benda uji inti (core) yang diambil oleh Pelaksana dibawah pengawasan Di reksi.

Biaya untuk setiap penambahan atau meningkatnya frekwensi pengambilan ben da uji inti. f. Bilamana campuran beraspal digunakan sebagai lapis perata sekaligus sebagai lapi s penguat . Untuk semua jenis campuran beraspal.Pd T 04 2005 B e. 1) penampang melintang. maka Direks i harus mengambil tindakan untuk menyelidiki sebab terjadinya selisih berat ini sebelum menyetujui pembayaran bahan yang telah dihampar.5 Campuran Panas menggunakan agregat slag besi dan baja hanya boleh dihampar bila permukaan jalan telah disiapkan dan dalam keadaan kering serta diperkirakan tida k akan turun hujan selama pekerjaan berlangsung. namun apabila hasil pengujian sesuai dengan toleransi maka biaya penamb ahan tersebut harus ditanggung oleh Direksi. bilamana berat aktual bahan terhampar yang dihitung da ri timbangan adalah kurang ataupun lebih lima persen dari berat yang dihitung da ri ketebalan ratarata dan kepadatan rata rata benda uji inti (core). Bilamana diukur dengan mistar lurus sepanjang 3 meter yang diletakkan tepat di atas sumbu jalan tidak boleh melampau i 5 mm untuk lapis aus atau 10 mm untuk lapis pondasi. 4) Menetapkan suatu sistem perhitungan dan pencatatan truk secara te rinci. berat aktual campuran yan g dihampar harus dipantau oleh Pelaksana dengan menimbang setiap muatan truk yan g meninggalkan pusat instalasi pencampur aspal. untuk survei geometric tambahan ataupun pengujian laboratorium. 2) memeriksa peneraan dan ketepatan timbangan serta peralat an dan prosedur pengujian di laboratorium. g. Perbedaan setiap dua titi k pada setiap penampang melintang tidak boleh melampaui 5 mm dari elevasi yang d ihitung dari penampang melintang yang ditunjukkan dalam Gambar Rencana. Setiap ketidakrataan individu bila diukur dengan mistar lurus ber jalan (rolling) sepanjang 3 meter yang diletakkan sejajar dengan sumbu jalan tid ak boleh melampaui 5 mm. ataupun tindakan lainnya yang dianggap perlu oleh Dir eksi untuk mencari penyebab dilampauinya tolerasi berat harus ditanggung oleh Pe laksana.5 kali tebal niminal yang diberikan dalam Tabel 1. Untuk setiap ruas pekerjaan yang diukur untuk pembayaran. BACK 5 dari 23 Daftar RSNI 2006                 . 2) Kerat aan permukaan.6 Perbaikan perkerasan setela h pengujian Lubang lubang bekas pengujian akibat pengambilan contoh inti atau lainnya harus segera diisi kembali dengan campuran panas yang sesuai. Perbedaan kerataan permukaan cam puran lapis aus (HRS WC dan AC WC) yang telah selesai dikerjakan harus memenuhi ketentuan berikut. Investigasi oleh Direks i dapat dilakukan. 3) memperoleh hasil pengujian laborat orium yang independen dan pemeriksaan kepadatan campuran beraspal yang dicapai d i lapangan. maka tebal lapisan tidak boleh melebihi 2. tetapi tidak terbatas pada hal hal berikut ini : 1) memerint ahkan Pelaksana untuk lebih sering mencari lokasi atau lebih banyak mengambil be nda uji inti (core). unt uk pencatatan muatan truk. Pembatasan oleh cuaca 4. 4.

3) agregat slag haru s diperoleh dari hasil samping proses pembuatan besi dan baja yang telah disetuj ui untuk dikirim dalam bentuk curah untuk memudahkan penanganannya.1.Pd T 04 2005 B 5 5.1 Ketentuan khusus Bahan 5. fraksi agregat slag BACK 6 dari 23 Daftar RSNI 2006             . 6) agregat slag untuk campuran harus tersedia dan dipasok di bin din gin paling sedikit dalam tiga fraksi. 4) agregat s lag yang digunakan dalam pekerjaan ini harus sedemikian rupa sehingga campuran b eraspal yang dibuat sesuai formula campuran rancangan memenuhi semua sifat sifat campuran yang disyaratkan pada Tabel 8 sampai dengan Tabel 10. 2) Kara kteristik agregat slag yang digunakan harus memenuhi tabel 2. 8) pengiriman agregat slag harus dis ertai dokumen pengiriman yang memuat informasi berikut. paling sedikit sat u bulan (atau paling sedikit 40% dari total pekerjaan yang akan dikerjakan) dan selanjutnya harus memelihara cadangan tersebut hingga satu bulan sebelum pekerja an selesai. 7) setiap fraksi agregat slag harus disimp an masing masing secara terpisah dan agregat tersebut harus dialirkan ke dalam t empat pengaduk melalui bin dingin yang terpisah sehingga perbandingan gradasi ag regat slag dapat di kontrol dengan seksama. 5) sebelum peker jaan dimulai pelaksana harus menyiapkan cadangan fraksi fraksi agregat slag besi dan baja untuk campuran beraspal yang cukup untuk pekerjaan. Persyaratan fisik 1) Agregat slag besi dan baja yang dapat digun akan harus memenuhi persyaratan gradasi sesuai spesifikasi yang berlaku.1 Komponen bahan Persetujuan sumber agregat slag besi dan baja atau komponen bahan lainnya harus diperoleh dari Direksi sebelum pengiriman bahan.5%.2 a) b) Agregat slag besi dan baja Persyaratan kimia Kandungan Sulfur dalam setiap slag besi dan baja tidak boleh l ebih dari 2. jika terjadi penca mpuran antara slag besi dan baja maka persyaratan karakteristik agregat slag yan g berlaku adalah persyaratan karakteristik untuk slag baja. § sumber pabrik § kode penge nal antara lain.1. Contoh set iap bahan harus dikirim sebagaimana diperintahkan. 5.

200 (0. 075 mm) (SNI 03 4142 1996) lebih dari 8% dan diuji dengan Setara Pasir (SNI 03 4 428 1997) tidak kurang dari 50% lihat tabel 2.1. Fraksi agregat slag kasar dalam pedoman ini adalah agregat yang tert ahan saringan no.5 Aspal a) Aspal yang digunakan harus salah satu dari jenis aspal keras yait     SNI 03 3407 1994 SNI 03 2439 1991 SNI 03 4428 1997 ASTM D 4791 SNI 03 4142                                                   1996   . keras. awet. sehin gga perbandingan antara agregat slag halus hasil pemecahan dapat di kontrol deng an cermat.4 Agregat slag halus a) b) Agregat slag halus terdiri dari hasil pemecah sla g dengan ukuran lolos saringan No. 5. Agregat slag halus hasil pemecaha n slag dilindungi dari hujan serta ditimbun dalam cadangan yang terpisah serta h arus dipasok ke dalam alat pencampur menggunakan bin dingin yang terpisah. Agregat slag kasar tidak boleh kotor dan berdebu d an jumlah bahan yang lolos saringan No.075 mm) tidak boleh lebih besar d ari 1% (lihat tabel 2). 8 (2. c) 5.3 Agregat slag kasar a) b) c) d) Fraksi agregat slag kasar untuk keperluan p engujian harus terdiri atas agregat pecah dan harus disediakan dalam ukuran ukur an nominal.1.3 SNI 03 1969 1990 Kg/m SNI 03 1969 1990 SNI 03 2417 1991 % % maks 3 maks 40 maks 3 maks 40 % % % % % min 95 min 50 maks 10 kasar maks 1 halus maks 1 maks 4 min 95 min 50 maks 10 kasar maks 1 halus maks 8 Catatan : (*) Sifat setara pasir untuk agregat slag halus (**) Pengujian dengan perbanding an lengan alat uji terhadap poros 1 : 5. 200.(0. Agregat slag kasar harus keras. Agregat slag halus harus terdiri atas partikel partikel yang bersih.Pd T 04 2005 B Tabel 2 Persyaratan agregat slag kasar dan halus Sifat sifat agregat slag Berat jenis bulk SSD Apparent Penyerapan terhadap air Keausan agregat dengan mesin Los Angeles Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium atau magnesium sulfat Kelekatan agregat terhadap aspal Nilai set ara pasir (*) Partikel pipih dan lonjong (**) Material lolos saringan No. 8 (2.36mm).1.5 slag baja B O S atau E A S min 3. 5.200 Met oda Pengujian Satuan 3 Slag besi (BFS) min 2.36 mm). bebas dari lempung atau bahan bahan lain yang tidak dikehendaki dan harus memenuhi persyaratan. Abu batu slag harus dihasilkan dari slag yang memen uhi persyaratan dan tidak boleh mengandung bahan yang lolos saringan No. tidak mengandung lempung atau bahan lain yang tidak dikehendaki.

dan aspal modifikasi dengan polymer yang me menuhi persyaratan pada tabel 4.u pen 40 atau pen 60 sesuai tabel 3. Daftar RSNI 2006 BACK 7 dari 23 . campuran yang dihasilkan harus memenuhi ketentu an campuran beraspal pada tabel 8 sampai dengan tabel 10 sesuai dengan jenis cam puran yang ditetapkan dalam gambar rencana atau petunjuk Direksi.

partikel mineral yang t erkandung harus dipindahkan ke dalam suatu sentrifus. pengambilan conto h aspal dari tiap truk tangki harus dilaksanakan pada bagian atas. 5 dtk. Contoh pertama yang diambil harus langsung diuji di laboratorium untuk memp eroleh nilai penetrasi dan titik lembek. Aspal harus diperoleh kembali dari larutan sesuai SNI 03 479 7 1988.8 min 58 min 99 min 1. Selanjutnya untuk pengujian aspal yang menyatakan bahwa aspal tersebut dapat digunakan. naphta xylene atau heptane xylene. aspal terse but belum dapat digunakan untuk campuran beraspal. 25 C. pengambilan contoh diambil dari tangki penyimpanan dan sebelum hasil final pengujian aspal selesai. cm Kela rutan dalam TCE Berat jenis o Metode SNI 06 2456 1991 SNI 06 2434 1991 SNI 06 2433 1991 SNI 06 2432 1991 SNI 0 6 2440 1991 SNI 06 2456 1991 SNI 06 2432 1991 RSNI M 12 2004 SNI 06 2441 1991 Persyaratan (RSNI S 01 2003) Pen 40 Pen 60 40 59 60 79 51 63 min 200 min 1 00 maks 0. pemindahan ini dianggap me menuhi bilamana kadar abu dalam aspal yang diperoleh kembali tidak melebihi 1% ( dengan pembakaran).1 mm °C °C Cm % berat % asli % asli % berat                                                                     .0 Uji Noda pada Aspal (spot test) Standar Naphta SNI 03 6885 2000 Negatif Negati f Negatif Naphta Xylene Heptane Xylene Catatan : Penggunaan pengujian spot t est adalah pilihan (optional).1 mm Daktilitas setelah TFOT. b) Untuk pengujian contoh int i.0 48 53 min 200 min 100 maks 0. 0. setelah kons entrasi larutan aspal yang terekstraksi mencapai 200 ml. campuran beraspal harus diekstraksi sesuai cara SNI 036894 2002. naphta. Tabel 3 Persyaratan aspal keras Uraian Penetrasi.8 min 54 min 50 min 99 min 1. Apabila disyaratkan Direksi dapat menentukan pela rut yang akan digunakan.Pd T 04 2005 B Pengambilan contoh aspal dilaksanakan sesuai SNI 03 6399 2000. BACK 8 dari 23 Daftar RSNI 2006       Satuan 0. tengah dan ba wah. 100 gr Titik lembek Titik Nyala Daktilitas Penuru nan berat (TFOT) Penetrasi setelah TFOT.

Variasi kadar aspal akibat tingkat penyerapan     40 6. 100 gr Titik lembek Titik Nyala Daktilitas. antara bagian atas dan bawah Kelarutan dalam TCE Penur unan berat (TFOT) Perbedaan penetrasi setelah TFOT. Bahan harus ditumpuk sesuai dengan ketentuan. paling sedikit satu bulan (atau paling sedikit 40% dari total pekerjaan yang akan dikerjakan) dan s elanjutnya harus memelihara cadangan tersebut hingga satu bulan sebelum pekerjaa n selesai. o o o Metode SNI 06 2456 1991 SNI 06 2434 1991 SNI 06 2433 1991 SNI 06 2432 1991 SNI 0 6 2441 1991 SNI 03 6441 2000 Shell Bitumen 1995 Persyaratan min maks 50 80 Satuan 0. yang proporsinya dibuat ses uai dengan rumus perbandingan campuran.1 Umum a.6. Agregat standar yang akan digunakan dalam pekerjaan harus sedemikian rupa agar campuran aspal.1 mm 54 225 50 1 300 2000 °C °C Cm Cst Stabilitas penyimpanan pada 163 o C selama 48 jam Perbedaan titik lembek. 5 dtk. memenuhi semua ketentuan yang disyaratka n dalam tabel 8 sampai tabel 10.1 mm Perbedaan titik lembe k setelah o TFOT.5               RSNI M 12 1995 99 2004 SNI 06 2440 1991 SNI 06 2456 1991 SNI 06 2434 1991 AASHTO T 301                                   . 25 C Berat j enis Kekentalan pada 135 C .1. Dalam pemilihan sumber agregat.6 Agregat standar 5.Pd T 04 2005 B Tabel 4 Persyaratan aspal modifikasi Uraian Penetrasi.1. Pelaksana dianggap sudah memperhitung kan penyerapan aspal oleh agregat. 0. C o Elastic recovery pada 25 C 2 1 °C % berat % berat 30 % asli % asli % 5. Agregat tidak boleh digunakan sebelum disetujui terlebih dahulu oleh Direksi. 25 C. Seb elum memulai pekerjaan Pelaksana harus menyiapkan cadangan fraksi fraksi agregat standar untuk campuran beraspal yang cukup untuk pekerjaan.

2. e. b. tidak dapat diterima sebagai alasan untuk negosiasi kembali harga satuan dari campuran aspal. BACK 9 dari 23 Daftar RSNI 2006 . c. f.5 dan tidak boleh berbeda lebih dari 0. Penyerapan air oleh agregat maksimum 3%.aspal yang berbeda. d. Bera t jenis (specific gravity) agregat standar kasar dan agregat standar halus minim um 2.

6.75 mm dengan muka bidang pecah satu atau lebih.5 3 40 Kg/m Persyaratan min maks Satuan 3 c. Angularitas agregat kasar d idefinisikan sebagai persen terhadap berat agregat yang lebih besar dari 4. SNI 03 1969 1990 SNI 03 2417 1991 % % Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan SNI 03 3407 1994 12 % natrium atau mag nesium sulfat Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03 2439 1991 95 % Angularitas ( kedalaman dari permukaan b 95/90 < 10 cm) DoT Pensylvania Test Method PTM Ang ularitas (kedalaman dari permukaan ≥ 80/75 No. (*) P engujian dengan perbandingan lengan alat uji terhadap poros 1: 5.1.2 Agregat standar kasar a. 8 (2.5 2. untuk partikel kepipihan dan kelonjongan dap at dinaikkan oleh Direksi bilamana agregat tersebut memenuhi semua ketentuan lai nnya dan semua upaya yang dapat dipertanggungjawabkan telah dilakukan untuk memp eroleh bentuk partikel agregat yang baik. e. Fraksi agregat standar kasar terdiri dari batu pec ah atau kerikil pecah dan harus disiapkan dalam ukuran nominal tunggal. Agregat kasar harus mempunyai angularitas seperti yang disyaratkan dalam tabel 5. (Pennsylvania DoT’s Test Method No.5 2. Ukuran m aksimum agregat adalah satu ayakan yang lebih besar dari ukuran nominal maksimum .621) . awet dan b ebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya dan memenuhi ketentu an yang diberikan tabel 5. Tabel 5 Persyaratan agregat standar ka sar Pengujian Berat jenis bulk SSD Apparent Penyerapan terhadap air Abrasi den gan mesin Los Angeles Metode SNI 03 1969 1990 2.200 SNI 03 4142 1996 1 % Catat an 80/75 menunjukkan bahwa 80% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu at au lebih dan 75% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih. 621 10cm) Partikel pipih dan Lonjon g (*) ASTM D 4791 10 % Material lolos saringan no. Fraksi agregat standar kasar untuk rancangan ad alah yang tertahan ayakan No.Pd T 04 2005 B 5. d. b. Fraksi agregat standar kasar harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke inst alasi pencampur aspal dengan pemasok penampung dingin (cold bin feeds) sedemikia n rupa sehingga gradasi gabungan agregat dapat dikendalikan dengan baik. Batas b atas yang ditentukan dalam tabel 5. keras.36 mm) dan haruslah bersih. Ukuran nominal maksimum adalah satu ayakan yang lebih kecil dari ayakan pertam a (teratas) dengan bahan tertahan kurang dari 10%. BACK 10 dari 23 Daftar RSNI 2006                                       .

200 Metode SNI 03 1979 1990 Satu an min Kg/m 3 b. Tabel 6 Persyaratan agr egat standar halus Persyaratan Pengujian Berat jenis bulk SSD Apparent Penyerapan terhadap ai r Nilai setara pasir Material lolos saringan No. Agregat standar halus harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditunjukkan pada tabel 6.6.1.5 2. Persentase maksimum yang dis arankan untuk laston (AC) adalah 15%.36 mm). f.Pd T 04 2005 B 5. d. B atu pecah halus diperoleh dari batu yang memenuhi persyaratan. Agregat standar halus dari sumbe r bahan manapun. keras.5 2. c.3 Agregat standar halus a.1 Campuran Gradasi gabungan agregat slag Gradasi agregat gabungan untuk campuran beraspal. Agregat standar halus harus dari bahan yan g bersih. sesuai SNI 03 6819 2002. batu pecah harus diproduksi dari batu yang bersih. Bahan standar halus dari pemecah batu (crusher feed) harus di ayak dan ditempatkan tersendiri sebagai bahan yang tak terpakai (kulit batu) sebelum proses pemecahan kedua (se condary crushing). e. bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Grad asi agregat gabungan harus mempunyai jarak terhadap batas batas toleransi yang d iberikan. maks 3 50 8 SNI 03 1979 1990 SNI 03 4428 1997 SNI 03 4142 1996 % % % 6 6.5                                 . harus terdiri atas pasir atau pengayakan batu pecah dan terdiri atas bahan yang lolos ayakan No. Fraksi ag regat standar halus pecah mesin dan pasir harus ditumpuk terpisah dengan agregat kasar. Pasir boleh digunakan dalam campuran aspal. Agregat standar halus atau pasir harus di tumpuk terpisah dan harus di pasok ke instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampun g dingin (cold bin feeds) yang terpisah sedemikian rupa sehingga rasio agregat p ecah halus atau pasir dapat di kontrol dengan baik. BACK 11 dari 23 Daftar RSNI 2006       2.8 (2. ditunjukkan dalam persen terha dap berat agregat. Agar dapat memenu hi persyaratan. harus memenuhi batas batas dan khusus untuk Laston harus bera sa di luar Daerah Larangan (Restriction Zone) yang diberikan dalam Tabel 7.

36 mm) dan juga lolos ayakan No.3 Komposisi umum dari campuran Campuran beraspal dengan agregat slag terdiri atas agregat slag besi dan baja da n aspal. berfungsi sebagai batas b atas rentang utama yang harus ditempati oleh gradasi gradasi tersebut.4 4. 19 73).30 0.36 No.8 2.8 2.1 16.4 Catatan : (1) Untuk agregat HRS WC dan HRS Base. P 3 BJ 3 dengan pengertian : P 1 – P 3 adalah persentase berat dari masing masing agregat d alam campuran BJ 1 – BJ 3 adalah berat jenis dari masing masing agregat dalam camp uran Bila penyerapan air oleh agregat < 1% digunakan BJ bulk Bila penyerapan air oleh agregat > 1% digunakan rata rata BJ bulk + BJ apparent (BS 594 part 1 .200 0.600 13.075mm) 6.075 Lataston (HRS) WC Base (1) % Berat Yang Lolos Laston (AC) WC BC 100 90 100 Maks 90 23 – 49 (2) 100 90 100 Maks 90 28 58 Base 100 90 – 100 Mak 90 19 – 45 No.8 (2.300 11.3 28. digunakan rumus ber at jenis campuran agregat sebagai berikut: = P 1+ BJ 1 100 P 2+ BJ 2 . digunakan titik kontrol gradasi agregat.16 1.8 (2.8 No.1 No.5 1” 25 ¾” 19 ½” 12.36 26.7 20. paling sedikit 8 0% agregat lolos ayakan No.5 13.6 31.36 mm) dan ayakan terkecil No. (2) Untuk AC.16 1.1 24. Campuran beraspal panas tersebut harus memiliki sifat sifat sebagaimana yang diisyaratkan dalam tabel 7 sampai tabel 10.18 18.30 0.30 ( 0.50 0.7 8 DAERAH LARANGAN 39. 6.7 1                           100 90 100 65 100 35 55 15 35 2           100 90 100 75 85 50 72 35 60 6 12 9               .3 19.75 39.8 30.Pd T 04 2005 B Tabel 7 Gradasi gabungan agregat untuk campuran beraspal Ukuran ayakan ASTM (mm) 1½” 37. 200 (0. Batas bat as gradasi ditentukan pada ayakan ukuran nominal maksimum. ayakan menengah No.6 17.600 mm).5 3/8” 9. o. BACK 12 dari 23 Daftar RSNI 2006           3 7           4 10 4 5.2 Berat jenis campuran agregat Untuk penggunaan campuran agregat slag dengan bahan lainnya.6 22.18 No.5 No.6 25.5 No.6 No .1 34.1 23.

Rongga dalam campuran (%) pada BACK 13 dari 23 Daftar RSNI 2006               .5 14 63 13 60 1500 5 (1) 300 (1) BC 1. 75 min. VIM. (%) Jumlah tumbukan per bidang Rongga dal am campuran. min. maks.0 6. (mm) Marshall Quotient.7 75 (3) Sifat – sifat campuran Penyerapan aspal. (kg/mm) Stabilitas Marshall sisa (%) s perendaman selama 24 jam.(% ) Stabilitas Marshall. 60 C o (4) (2) BC 3. (kg) etelah oC (4) dalam Agregat. min min min. 60 kepadatan membal (refusal) (2) min min. VMA. 18 68 800 3 250 75 2. VIM. min.Pd T 04 2005 B Tabel 8 ketentuan sifat sifat campuran Lataston untuk lalu lintas rencana < 1 juta ESA Lataston WC maks. min 15 65 800 3 250 75 2. 5 3. maks. VMA. min min. (%) (3) Laston WC maks.5 5. VFB. (%) Rongga terisi aspal.0 17 Rongga dalam campuran (%) pada membal (Refusal) kepadatan Tabel 9 Ketentuan sifat sifat campuran Laston untuk lalu lintas rencana antara 1 – 10 juta ESA Sifat – sifat campuran Penyerapan aspal. (mm) Marshall Quotient. (%) Jumlah tumbukan per bidang Rongga dal am campuran. (kg/mm) Stabilita s Marshall sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam.7 Base 112 (1) Rongga .0 1. maks min. min. (%) Rongga dalam Agregat. min. min. min. (%) Rongga terisi aspal. (kg) Pelelehan. (%) Stabilitas Marshall Pelelehan. VFB.

min. min 15 65 1000 3 300 Laston BC mod 1. Jika digunakan pen umbukan manual jumlah tumbukan per bidang harus 600 untuk cetakan berdiameter 6 in dan 400 untuk cetakan berdiameter 4 in Berat jenis efektif agregat akan dihit ung berdasarkan pengujian Berat Jenis Maksimum Agregat . (%) Rongga terisi aspal. (kg/mm) Stab ilitas Marshall sisa (%) setelah perendaman selama 24 jam. Juga semua pengujian sifat sifat a gregat yang diminta oleh Direksi. penumbuk bergetar disarankan digunak an untuk menghindari pecahnya butiran agregat dalam campuran. min. 6.Pd T 04 2005 B Tabel 10 Ketentuan sifat sifat campuran Laston Dimodifikasi ( AC Modified) untuk lalu lintas rencana > 10 Juta ESA Sifat – sifat campuran Penyerapan aspal. min. maks min. berat jenis dan penye rapan air untuk semua agregat yang digunakan. Gmm (SNI 03 6893 2002) Direksi pekerjaan dapat menyetujui prosedur pengujian AASHTO T 283 sebagai alter natif pengujian kepekaan kadar air. V FB. Pengkondisian beku cair (freeze thaw conditi oning) tidak diperlukan. (VMA).4 a) Prosedur rancangan campuran Pelaksana disyaratkan untuk menunjukkan semua usulan agregat dan campuran yang memadai berdasarkan hasil pengujian di laboratorium s erta hasil percobaan penghamparan campuran yang dibuat di instalasi pencampur as pal. Standar minimum untuk diterima 75% kuat tarik sisa. p engujian sifat sifat Marshall (RSNI M 01 2003) dan Kepadatan Membal (Refusal Den sity) campuran rancangan (BS 598 part 104 1989). maks.5 14 63 13 60 1800 (1) 5 (1) 350 75 2.5 5. Pengujian yang diperlukan meliputi analisa saringan. (mm) Marshall Quotient. Contoh agregat diambil dari pen ampung panas (hot bin) untuk pencampur jenis takaran berat (weight batching plan t) maupun pencampur dengan pemasok menerus (continuous feed plant) yang mempunya i penampung panas. b) c) BACK 14 dari 23                                   . min min min.2 Base mod 112 (1) 3. (kg) Pelelehan. sebelum diperkenankan untuk menghampar setiap campuran beraspal dalam peker jaan.5 2500 Rongga dalam campuran (%) pada (2) CATATAN 3 CATATAN 4 Pengujian Marshall (SNI 06 2489 1991) atau Modifikasi Marshall (RSNI M 132004) U ntuk menentukan kepadatan membal (refusal). VIM (%) (3) Rongga dalam Agregat. (%) Jumlah tumbukan per bidang Rongga dal am campuran. Pengujian pada campuran aspal percobaan akan m eliputi penentuan Berat Jenis Maksimum campuran aspal sesuai SNI 03 6893 2002. Lintasan/ mm CATATAN 1 CATATAN 2 oC (4) WC mod maks.(%) Stabilitas Marshall. 75 min. 60 kepadatan membal ( Refusal) Stabilitas Dinamis.

Daftar RSNI 2006 .

8 tertahan No. Bahan yang lolos ayakan 2. d) Pengujian percobaan campuran laboratorium haru s dilaksanakan dalam tiga tahap berikut ini : 1) Memperoleh Gradasi Agregat yang sesuai. Ukurlah berat isi benda uji. Hitunglah Rongga dalam Agregat ( VMA). Ukur atau hitung k epadatan benda uji pada rongga udara nol (Gmm). buatlah benda uji dengan kadar aspal 5.5%. 6 .5 %. Gambarkanlah batas bata s yang disyaratkan dalam grafik untuk setiap parameter yang terdaftar dalam tabe l 8 sampai tabel 10. Bahan bergradasi senjang harus memenuhi ketentuan dalam Tabel 11. Daftar RSNI 2006 2) BACK 15 dari 23                         . Campuran Aspal Beton (AC) dapat dibuat bergra dasi halus (mendekati batas titiktitik kontrol atas). dengan tig a kadar aspal di atas dan dua kadar aspal di bawah kadar aspal perkiraan awal ya ng sudah dibulatkan mendekati 0. Buatlah benda uji tambahan dan dipadatkan sampai m embal (refusal) dengan menggunakan prosedur PRD BS 598 untuk tiga kadar aspal (satu memberikan rongga dalam campuran di atas 5%. (contoh bilamana rumus memberikan nilai 5. dan tentukan rentang kadar aspal yang memenuhi semua ketent uan dalam spesifikasi.36 mm dan juga tertahan ayakan 600 mikron sebesar 20% masih dapat diterima. Gambarkan semua hasil tersebut dalam grafik. kelelehan dan stabilitas sisa setelah perendaman. 200 Nilai Konstanta sekitar 0. suatu gradasi agregat yang sesuai diperoleh dari penentuan persentase y ang sesuai dari masing masing fraksi agregat Bilamana campuran adalah HRS yang b ergradasi halus (mendekati batas amplop atas). 8 FA = agregat halus lolos saringan No. maka akan diperoleh Rongga dalam agregat (VMA) yang lebih besar. Pasir halus yang di gabung dengan agregat pecah akan mempunyai bahan antara 2.7% dibulatkan menjadi 5.5% ini.035 (% CA) + 0. Meskipun demikian setiap formula campuran rancangan yang ditentukan dari camp uran laboratorium harus dianggap berlaku sampai diperkuat oleh hasil percobaan p ada instalasi pencampur aspal. 6 %. 200 Filler = agregat halus tertahan saringan No.36 mm dan 600 mikron yang sesedikit mungkin. Lebih baik digunakan aspal beton bergradasi kasar (mendekati batas titik titik kontrol bawah). stabilita s Marshall. Perkiraan awal kadar aspal rancangan dapat diperoleh dari rumus di baw ah ini: Pb = 0. Membuat Formula C ampuran Rancangan (FCR) Lakukan rancangan dan pemadatan Marshall sampai membal ( refusal). Rongga terisi Aspal (VFB) dan Rongga dalam Campuran (VIM).18 (% Filler) + Konstanta dengan pe ngertian : Pb = kadar aspal perkiraan CA = agregat kasar tertahan saringan No. Gambarkan rentang ini dalam skala balok seperti yang ditu njukkan dalam RSNI M 01 2003 Rancangan kadar aspal umumnya mendekati tengah teng ah rentang kadar aspal yang memenuhi semua parameter yang disyaratkan. akan lebih baik bila 10% 15%. dibulatkan mendekati 0.Pd T 04 2005 B Untuk pencampur dengan pemasok menerus yang tidak mempunyai ayaka n di penampung panas contoh diambil dari corong pemasok dingin (cold feed hopper ). satu pada 5 % dan satu di baw ah 5%) Ukur berat isi benda uji dan hitung kepadatannya.0 untuk AC dan HRS Bu at benda uji dengan kadar aspal di atas. 5 %.045 (% FA) + 0.5 1. tetapi akan sulit memperol eh rongga dalam agregat (VMA) yang disyaratkan.5% dan 7%.5 % dan 5%). dibawah dengan 4.

Dua belas contoh Marshall harus dibuat menggunakan bahan yang sama dengan perc obaan penghamparan. b) menolak usulan campuran jika tidak mem enuhi spesifikasi. f) suatu temperatur tunggal saat campuran dikeluarkan dari alat pengaduk. Direksi menyarankan pelaksana untuk memodifikasi sebagian rumus r ancangannya atau mencoba agregat lainnya. c) persentase masing masing fraksi agregat dari bin dingin dan bin panas.Pd T 04 2005 B Suatu campuran yang sesuai harus memenuhi semua kriteria dalam ta bel 8 sampai tabel 10 dengan suatu Rentang Kadar Aspal Praktis. BACK 16 dari 23 Daftar RSNI 2006                         . 6. 6. b) su mber sumber agregat. Pelaksana harus menye rahkan secara tertulis kepada Direksi.6 Formula campuran kerja (FCK) Percobaan campuran di instalasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan di la pangan dilakukan untuk memperoleh persetujuan sebagai formula campuran kerja (FC K). Kepadatan bulk (Gmb) dari contoh uji yang diambil dari percobaan penghamparan yang menjadi kepadatan standar. Pel aksana harus menyediakan data dan grafik campuran percobaan laboratorium untuk m enunjukkan bahwa campuran memenuhi semua kriteria dalam tabel 8 sampai tabel 10. Contoh Marshall harus d ibuat dan dipadatkan menggunakan jumlah tumbukan yang ditentukan dalam tabel 8 s ampai tabel 10. e) kadar aspal total dan efektif terhadap berat total campura n. dan dikirim ke laboratorium dalam kotak yang tertutup. Selanjutnya pelaksana harus melakukan percobaan campuran tamb ahan dengan biaya sendiri untuk memperoleh suatu campuran rancangan yang memenuh i spesifikasi. usulan Formula Campuran Rancangan (FCR) u ntuk campuran yang akan digunakan dalam pekerjaan. digunakan sebagai rujukan pemadata n campuran selama pekerjaan. Dalam tujuh h ari harus dilakukan hal hal berikut: 1) menyatakan bahwa usulan rencana campuran memenuhi spesifikasi dan mengijinkan pelaksana untuk menyiapkan instalasi penca mpur aspal dan penghamparan percobaan. 3) Memper oleh persetujuan Formula Campuran Rancangan (FCR) sebagai Formula Campuran Kerja (FCK) Nyatakan bahwa rancangan campuran laboratorium telah memenuhi ketentuan d engan membuat campuran di instalasi pencampur aspal dan penghamparan percobaan s erta dengan pengulangan pengujian kepadatan laboratorium Marshall dan membal (re fusal) pada benda uji yang diambil dari instalasi pencampur aspal. Sifat sifat benda uji yang sudah dipadatkan harus dihitung menggunakan metode d an rumus yang ditunjukkan dalam RSNI M 01 2003 dan RSNI M 13 2004. Setelah Formula Campuran Rencana (FCR) disetujui harus dilaksanakan seksi pe rcobaan paling sedikit dengan 50 ton campuran beraspal panas dengan agregat slag .5 Formula c ampuran rancangan (FCR) Paling sedikit 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan aspal. Rentang kadar aspal ini dimaksudkan untuk m engakomodir fluktuasi yang sesungguhnya dalam produksi campuran aspal. Rumus yang diserahkan harus m enentukan untuk campuran berikut ini: a) ukuran nominal maksimum partikel. d) gradasi gabungan agregat yang memenuhi gradasi yang disyaratk an sesuai tabel 7. Contoh uji diambil dari unit pencampur aspal atau dari truk . Rentang kadar as pal untuk campuran aspal yang memenuhi semua kriteria rancangan harus mendekati (atau lebih besar dari) satu persen. Bagaimanapun juga pembuatan suatu rumu s campuran rancangan yang memenuhi ketentuan merupakan tanggung jawab pelaksana.

075 mm) Kadar Aspal Temperatur Campuran: Bahan campuran meninggalkan AMP dan dikirim ke tempat penghamparan. dan pengendalian maupun uji m utu di lapangan mengikuti spesifikasi dan manual yang berlaku untuk campuran ber aspal panas.075mm). Hasil penguj ian harus dibandingkan dengan Tabel 8 sampai tabel 10. serta tata cara produksi. Tabel 11 Toleransi campuran kerja Agregat gabungan lolos ayakan • Sama atau lebih besar dari no.50 (0.36 mm) sampai no.8 ( 2 . 8 1) Pengukuran dan pembayaran Pengukuran Pekerjaan a) Kuantitas yang diukur untuk pembayaran campuran beraspal haruslah berdasarkan pada beberapa penyesuaian di bawah ini : i) untuk bahan la pisan permukaan (HRS WC dan AC WC) jumlah per meter persegi dari bahan yang diha mpar dan diterima. 100 tertahan no. • No.36mm) • No. Contoh bahan campuran harus diambil dan dibawa ke laboratorium untuk percobaan Marshall . Kombinasi alat pemadat yang d iusulkan harus mampu mencapai kepadatan yang disyaratkan. Batasan batasan mutlak dalam FCK dan TCK adalah merupakan batasan yang tidak boleh dilanggar. sobekan dan lain lain. maka dalam hal apapun harus diadakan penyesuaia n yang diperlukan dan percobaan diulangi.200( 0. Jika komponen bahan memenuhi batas batas yang di buat dalam FCK dan TCK tetapi menunjukkan perubahan yang konsisten dan cukup ber arti atau yang tidak dapat diterima atau sumber bahan berubah.28 mm ) • No.8 ( 2.7 a) Penerapan formula campuran kerj a (FCK) dan toleransi campuran kerja (TCK) Seluruh campuran yang sudah terpasang dalam pekerjaan harus sesuai dengan FCK dengan rentang toleransi yang ditentuka n dalam Tabel 11 .Pd T 04 2005 B Campuran harus dihampar dan dipadatkan sesuai prosedur serta haru s mampu menghampar bahan sesuai tebal hamparan yang ditentukan tanpa mengalami p emisahan butir (segregasi). yang dihitung sebagai hasil perkalian dari panjang ruas yang diukur dan lebar yang diterima. c) d) 7 Pelaksanaan Ketentuan mengenai instalasi pencampur aspal.3% berat total c ampuran 10 C o b) Contoh bahan dan campuran beraspal harus diambil sesuai dengan yang disyaratkan.200(0. Setiap bahan yang tidak memenuhi batasan batasan dalam FCK dan toleransi campur an kerja tidak boleh digunakan. Jika hasil percobaan tern yata gagal memenuhi spesifikasi. Daftar RSNI 2006 BACK 17 dari 23 ¡ ¡     ¡   ¡       ¡   ¡     . Penilaian toleransi campuran kerja. maka harus dibuat FCK baru. penghamparan. alat penghampar. pembentuk dan ala t pemadat. 6. Toleransi campuran kerja 5% berat total agregat 3% bera t total agregat 2% berat total agregat 1% berat total agregat 0.

Kecuali yang disebutk an dalam (c) di atas. maka tebal rata rata yang d itentukan dan diterima oleh Direksi harus berdasarkan atas suatu perhitungan yan g tidak berat sebelah dari tebal ratarata yang dibutuhkan. maka tebal campuran beraspal yang diukur untuk pembayaran tidak boleh lebih besar dari tebal nominal rancangan yang ditunjukkan dalam Tabe l 1. retak atau menipis (tapered) disepanjang tepi perkerasan atau di tempat lain nya. Pelapisan campuran beraspal dalam arah memanjang harus diukur sepanjang sumbu jalan denga n menggunakan prosedur pengukuran standar ilmu ukur tanah. atau tebal rancangan yang ditentukan dalam Gambar Rencana. Lebar yang akan digunakan dalam menghitung luas untuk pembayaran setiap lokasi perkerasan y ang diukur. terbel ah. melebihi dari tebal ak tual dibutuhkan (diperlukan untuk perbaikan bentuk). yang dihitung seb agai hasil perkalian luas lokasi dan tebal yang diterima. b) Kuantitas yang dite rima untuk pengukuran tidak boleh meliputi lokasi dengan tebal hamparan kurang d ari tebal minimum yang dapat diterima atau setiap bagian yang terkelupas. harus merupakan lebar rata rata yang diukur dan disetujui. kecuali jik a diperintahkan lain oleh Direksi atau ditunjukkan dalam Gambar Rencana. maka pe mbayaran campuran beraspal akan dihitung berdasarkan luas atau volume hamparan y ang dikoreksi menurut butir h) dibawah dengan menggunakan faktor koreksi berikut ini : c) d) Ct = Tebal nominal yang diterima Tebal nominal rancangan Tidak ada penyesuaian luas atau volume hamparan seperti di atas yang dapat diter apkan untuk ketebalan yang melebihi tebal nominal bila campuran beraspal tersebu t dihampar di atas permukaan yang juga dikerjakan dalam kontrak ini. Bilamana Direksi mene rima setiap campuran beraspal dengan kadar aspal ratarata lebih rendah dari kada r aspal yang ditetapkan dalam formula campuran rancangan. AC BC dan AC Base) j umlah meter kubik dari bahan yang telah dihampar dan diterima. Direksi dapat me nyetujui atau menerima suatu ketebalan yang kurang berdasarkan pertimbangan tekn is atau suatu ketebalan lebih untuk lapis perata seperti yang diijinkan. harus dihitung berdasarkan tebal rata rata yang diterima yang dihitung berdasark an berat campuran beraspal yang diperoleh dari penimbangan muatan di rumah timba ng dibagi dengan luas penghamparan aktual dan kepadatan lapangan hasil pengujian benda uji inti (core). menurut pendapat Direksi memerlukan koreksi bentuk yang cukup besar. Pengukuran harus dilakukan tegak lurus sumbu jalan dan tidak termasuk l okasi hamparan yang tipis atau tidak memenuhi ketentuan sepanjang tepi hamparan. dan luas lokasi penghamparan yang diterima. Lokasi dengan kadar aspal yang tidak memenuhi ketentuan toleransi yang dibe rikan dalam spesifikasi tidak akan diterima untuk pembayaran. Bilamana teb al rata rata campuran beraspal yang telah diperhitungkan.Pd T 04 2005 B ii) untuk bahan lapisan perkuatan (HRS Base. Pembayaran campuran be raspal akan dihitung berdasarkan luas atau volume hamparan yang dikoreksi menuru t butir h) di bawah dengan menggunakan 18 dari 23 Daftar RSNI 2006 f) g) BACK                     . e) Leba r hamparan campuran beraspal yang akan dibayar harus seperti yang ditunjukkan da lam Gambar dan harus diukur dengan pita ukur oleh Pelaksana di bawah pengawasan Direksi. Campuran aspal yan g dihampar langsung di atas permukaan aspal lama yang dilaksanakan pada kontrak yang lalu. Interval jarak pengukuran memanjang harus seperti yang diperintahkan oleh Direk si tetapi harus selalu berjarak sama dan tidak kurang dari 25 meter.

.

peralatan.3 (6 d) 6. harus dibayar m enurut Harga Kontrak per satuan pengukuran. Tabel 12 Mata pembayaran NOMOR MATA PEMBAYARAN 6. dimana harga dan pembayara n tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk mengadakan dan memproduksi dan mencampur serta menghampar semua bahan.3 ( 7 c) 6. Daftar RSNI 2006 BACK 19 dari 23                     . Tidak ada pembayaran tambahan untuk pekerjaan atau kuantitas tambahan yang diperlukan untuk perbaikan tersebut. Bilamana perbaikan pada campuran aspal ya ng tidak memenuhi ketentuan telah diperintahkan oleh Direksi sesuai yang disyara tkan. Kada r aspal aktual (kadar aspal efektif + penyerapan aspal) yang digunakan Pelaksana dalam menghitung harga satuan untuk berbagai campuran aspal yang termasuk dalam penawarannya haruslah berdasarkan perkiraannya sendiri. tetapi volume rendah.Pd T 04 2005 B faktor koreksi berikut ini. Tidak ada penyesuaian h arga yang akan dibuat sehubungan dengan perbedaan kadar aspal yang disetujui dal am formula campuran kerja dan kadar aspal dalam analisa harga satuan dalam penaw aran. Cb h) = Kadar aspal rata rata yang diperoleh dari hasil ekstraksi Kadar aspal yang dit etapkan dalam formula rancangan kerja Luas atau volume yang digunakan untuk pembayaran adalah : luas atau volume seper ti yang disebutkan dalam butir a) di atas x C t x C b Bila tidak terdapat penyes uaian maka faktor koreksi C t dan C b diambil satu Khusus untuk campuran menggun akan agregat slag. perkakas dan perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pek erjaan ini.3 (4 a) 6. digunakan perhitungan dalam ton (lihat tabel 12) kecuali bila agregat slag digunakan sebagian saja. untuk Mata pembayaran yang ditunjukk an di bawah ini dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. mengingat jumlah tonase campuran beraspal menggunakan agregat slag lebih tinggi.3 ( 5 c) 6. kecuali bila slag d igunakan sebagai campuran dengan bahan lainnya. termasuk semua pekerja.3 (3 a) 6.3 ( 6 c) 6. i) j) 2) Dasar pembayaran Kuantitas yang sesuai dengan ketentuan di atas. maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah kuantitas yang akan d ibayar bila pekerjaan semua dapat diterima.3 (7 d) URAIAN Lataston Lapis Aus ( HRS – WC)Leveling Lataston La pis Pondasi ( HRS – Base) Leveling Laston Lapis Aus ( AC WC) Leveling Laston Lapis Aus ( AC WC) Modifikasi Leveling Laston Lapis Antara ( AC BC) Leveling Laston L apis Antara ( AC BC) Modifikasi Leveling Laston Lapis Pondasi ( AC Base)Leveling Laston Lapis Pondasi ( AC Base)Modifikasi Leveling SATUAN PENGUKURAN Ton Ton To n Ton Ton Ton Ton Ton Catatan : Mata pembayaran dalam Ton .3 (5 d) 6. peng ujian. Tidak ada penyesuaian yang akan dibua t untuk kadar aspal yang dilampaui nilai yang disyaratkan dalam formula campuran rancangan.

Pd T 04 2005 B Lampiran A (informatif) PEMANAS SLAG BESI ATAU BAJA Gambar 1 Proses produksi dari slag Gambar 2 Agregat slag BACK 20 dari 23 Daftar RSNI 2006       .

Selanjutnya pengambilan contoh dari bin panas dan d iuji gradasinya Penentuan komposisi tiap bin sesuai gradasi rencana. Hasil yang diperoleh diev aluasi untuk menentukan kadar aspal optimum Uji coba pencampuran di AMP untuk me lihat kesesuaian operasional dengan rencana (sebelumnya periksa kondisi AMP) tidak Perbaikan alat atau ganti alat uji tidak Sesuai dengan rencana ya Uji coba pemadatan di lapangan untuk menentukan j umlah lintasan pemadat Jika perlu atau jika terjadi banyak overflow lakukan perubahan gradasi Campuran beraspal mudah dipadatkan tidak Perubahan gradasi atau penambatan pasir pada proporsi yang diijinkan ya Pengesahan FCR menjadi FCK (selesai) BACK 21 dari 23 Daftar RSNI 2006       . selanjutnya pembuatan FCR untuk mengetahui karateristik campuran.Pd T 04 2005 B Lampiran B (informatif) Gambar 3 Bagan alir pembuatan formula campuran kerja (FCK) Mulai Evaluasi jenis campuran dan persyaratannya tidak Kesesuaian mutu bahan / slag dengan spesifikasi Ya Kesesuaian peralatan de ngan standar pengujian Ganti bahan tidak Perbaikan alat atau ganti alat uji Pembuatan FCR untuk mengetahui karateristik campuran dari bin dingin Kesesuaian karateristik campuran dengan spesifikasi ya Kalibrasi bukaan bin ding in dan menentukan bukaannya.

2) Penyusun Nama Dra. Leksminingsih Bongsu Samosir. Departemen Kimpraswil. ST Lembaga Pusat Litbang Prasar ana Transportasi Pusat Litbang Prasarana Transportasi BACK 22 dari 23 Daftar RSNI 2006       . Badan Penel itian dan Pengembangan ex.Pd T 04 2005 B Lampiran C (informatif) Daftar nama dan lembaga 1) Pemrakarsa Pusat penelitian dan Pengembangan Prasarana Transportasi.

16.4. cr ushed slag and gravel for single multiple bituminous surface treatments”. Australian Sl ag Association ( 2002) ‘ A guide the use of iron and steel slag in roads’ Draft Peme riksaan peralatan unit produksi campuran beraspal ( Asphalt Mixing Plant) (2004) Pengunaan agregat slag sebagai bahan perkerasan jalan (2003). Campuran Beraspal Panas (2004) Dept. “Specification for crushed stone. Kimpraswil . Laporan Penelitia n Pustran No.02.02.03 ASTM D 1139 79.3. BACK 23 dari 23 Daftar RSNI 2006               .2.Pd T 04 2005 B Daftar Notasi AC AC BC AC Base Pen FCK FCR AMP = = = = = = = Asphaltic Concrete Asphaltic Conc rete – Binder Coarse Asphaltic Concrete Base penetrasi Formula Campuran Kerja = JM F (Job Mix Formula) Formula Campuran Rencana = DMF (Design Mix Formula) Asphalt Mixing Plant = Unit Pencampur Aspal Bibliografi • • • • • Draft Seksi 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful