PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 2004 TERHADAP RANCANGAN PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DI DPRD PROVINSI SULAWESI SELATAN

Disusun Oleh : RUDIANSYA NIM : 10300105047

JURUSAN HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDUN 2009

1

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan penuh kesadaran, penulis atau penyusun yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penyusun sendiri, jika kemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat atau dibantu oleh orang lain secara keseluruhan atau sebagian, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya, batal demi hukum.

Makassar, 28 Februari 2009 Penyusun

RUDIANSYA NIM. 10300105047

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., yang senantiasa memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terlaksana dengan baik. Shalawat dan salam senantiasa tercurah buat junjungan ini. Menjadi sebuah kebanggaan bagi setiap orang, setelah melalui sebuah proses kerja keras yang panjang akhirnya mampu mencapai apa yang menjadi targetnya. Hal demikian pun kini hampir dirasakan oleh penulis, setelah empat tahun berproses di kampus UIN Alauddin Makassar. Penulis sadari bahwa dalam proses tersebut penulis banyak dibantu oleh berbagai pihak sampai penyelesaian skripsi ini. Olehnya itu, lewat tulisan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Kedua orang tua tercinta, Abdul Rauf dengan Hawiah. yang telah bersusah payah mengasuh, mendidik, dan membesarkan penulis sejak kecil hingga dewasa dengan segala pengorbanannya. 2. Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, MA., PR I, PR II, PR III, beserta seluruh stafnya yang telah memberikan fasilitas, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini.
3. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., PD I,

umat

manusia, Nabi Muhammad

Saw., atas

perjuangan,

pengorbanan, dan keikhlasannya dalam meneguhkan dienullah di muka bumi

PD II, PD III, beserta staf karyawan yang telah memberikan kemudahan dalam proses studi penulis maupun proses penyelesaian skripsi ini.

3

4. Ahkam Jayadi S.H. M.Hum. dan Drs. Hamzah Hasan, M.HI., selaku

Dosen

Pembimbing

atas

usaha

dan

keluangan

waktunya

dalam

membimbing penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah.
5. Drs. Hamzah Hasan, M.HI., selaku Ketua Jurusan dan Dra. Nila

Sastrawaty, Makassar.

M.Pd.,

selaku Sekretaris Jurusan

Hukum Pidana

&

Ketatanegaraan pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin
6. Para dosen, karyawan dan karyawati Fakultas Syariah dan Hukum UIN

Alauddin Makassar.
7. Rekan-rekan mahasiswa UIN Alauddin Makassar Angkatan 2005/2006

khususnya buat anak-anak HPK 1 dan 2, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya selama menjalani perkuliahan. Spesial buat sahabatsahabatku Sahabuddin, Irwan, Abd, Qayum. 8. Kepada Kepala Kelurahan Sidodadi, Asrul Ambas beserta staff yang telah meluangkan waktunya membantu penelitian ini. Semoga bimbingan, saran, arahan, serta dorongan semangat tersebut senantiasa mendapatkan imbalan dari Allah Swt. Akhirnya patutlah penulis bersyukur ke hadirat Allah Swt., karena kekuatan dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Makassar, Penyusun Maret 2009

RUDIANSYA NIM. 10300105047

4

Partisipasi masyarakat dalam penyusunan dan pembahasan Peraturan Daerah mempunyai manfaat antara laini (1) Memberikan landasan yuridis yang lebih baik untuk pembuatan rancangan peraturan daerah (2) Memastikan adanya implementasi yang lebih efektif karena warga mengetahui dan terlibat dalam pembuatan pearaturan daerah tersebut. bahwa ternyata selama periode 2004-2009 Anggota Legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tidak ada satu pun Peraturan Daerah dari inisiatif DPRD. Metode ini digunakan untuk menganalisa setiap isi Peraturan Daerah yang berkaitan dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004. penulis dapat mengemukakan intisari dari skripsi ini. 5 . 10 Tahun 2004 terhadap Rancangan Peraturan Daerah di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam penulisan ini. dan (3) Meningkatkan kepercayaan warga masyarakat kepada eksekutif dan legislatif. namun karena tidak adanya Peraturan Daerah yang ditemukan maka penulis mengubah jalur masuk bagaimana teori penyusunan Rancangan Peraturan Daerah dan akhirnya Penulis mendapatkan Tata Tertib DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 2007.ABSTRAK Nama : Rudiansya NIM : 10300105047 Judul : Penerapan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 Terhadap Rancangan Peraturan Daerah di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Skripsi ini membahas tentang Penerapan Undang-undang No. wawancara. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan dari berbagai metode yang digunakan tersebut. Partisipasi masyarakat terhadap pembuatan rancangan Peraturan Daerah sangat diharapkan dimana partisipasi masyarakat ini mempunyai landasan yuridis yaitu pada pasal 53 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 yang berbunyi “Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah”. dimana Undang-undang ini membahas tentang bagaimana prosedur perancangan suatu produk Undang-undang terhadap peraturan perundang-undangan maupun Peraturan Daerah. metode yang digunakan yaitu pengumpulan data.

........................................................................................................................................................................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN...... Asas-asas Perundang-undangan....... F............................... Pengertian Perundang-undangan....................... E................................................................................................................................................................................................................. 6 ............................................................... D.............. B.... B.............. C.. D......................................................................................... Kaidah Hukum Peraturan Perundang-undangan.......................... Hipotesis........... F.......................... Latar Belakang..................................................................... HALAMAN PENGESAHAN................... KATA PENGANTAR....................................... Pengertian judul................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL......................................................... ABSTRAK............ DAFTAR ISI...................... Fungsi Peraturan Daerah....................... Rumusan dan Batasan Masalah......................................................... Garis Besar Skripsi...........(1-20) 1 7 7 14 16 A.................................................................................... Dasar Hukum DPRD dalam Menyusun Rancangan Peraturan Daerah................................... Pengertian Perda ................ E............ BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... C. Tujuan dan Keguanaan.. HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI.................................................................................................... A....................................................................

............................................... A...... C........................ D...... A... B................................................................ Proses Penyusunan Rancangan Pembuatan Peraturan Daerah............................................................... Populasi dan Sampel .............. 7 ...BAB III METODE PENELITIAN................. Kesimpulan.................. DAFTAR PUSTAKA....................... BAB IV HASIL PENELITIAN............. Tehnik Analisis Data.................................... DAFTAR SINGKATAN.......................................................... B.............. A................................................................................................................................................................................................................................................... Bagaimana Hakikat Pentingnya Peran Serta Masyarakat Dalam Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah.................................. Saran ...................................................................................................... DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ B..................................... Instrumen............................. BAB V PENUTUP...................................... DAFTAR LAMPIRAN..................................... Tehnik Pengumpulan Data...........................................

DAFTAR SINGKATAN DPRD KUA PERDA UU UUD OTODA PERPU PEMILU PERDES RANPERDA : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Kebijakan Umum APBD : Peraturan Daerah : Undang-undang : Undang-undang Dasar : Otonomi Daerah : Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang : Pemilihan Umum : Peraturan Desa : Rancangan Peraturan Daerah 8 .

Kesulitan dalam penyusunan rancangan peraturan daerah biasanya dialami karena demikian berbelit-belitnya dan sangat bermacam-macam jenisnya. bahasa dan kalimat-kalimatnya sukar dimengerti. maupun pengetauan lain yang sesuai dengan materi permasalahan yang sedang dibahas. sehingga tidak memungkinkan penentuan dalam pokok-pokoknya yang sangat sederhana. baik Undang-undang maupun Peraturan Daerah. mereka yang bekerja di bidang itu dituntut suatu penguasaan tentang. Oleh karena itu.BAB I PENDAHULUAN A. mereka yang bekerja di bidang itu akan merasakan kesulitan itu sedangkan mereka yang memakai atau yang menjalankan peraturan daerah akan ikut merasakan jika suatu peraturan kurang sempurna atau kurang dapat dipahami. Wewenang lembaga legislatif dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selataan membuat suatu peraturan daerah dapat dilihat dalam 9 . dasar-dasar hukum bidang tata negara atau hukum administrasi negara. Latar Belakang Membuat suatu rancangan peraturan daerah atau suatu undang-undang bukanlah pekerjaan muda akan tetapi merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Apa lagi kalau tidak memperhatikan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang peraturan pembentukan perundang-undangan. dimana Undang-undang ini mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembentukan peraturan perundangundangan. oleh karena susunannya kurang sistematis.

2007). Selanjutnya untuk melaksanakan peraturan daerah dan atas kuasa peraturan perundangan-undangan lain yang berlaku. Pemerintah daerah dapat melaksanakan otonomi daerah. peraturan daerah lain.undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang sedang berlaku yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.M. Baik peraturan daerah maupun keputusan kepala daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Hari Sabarno. penumbuhan aspirasi dan kreatifitas peningkatan peran serta masyarakat lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah1. Memandu Otonomi Daerah. diperlukan pula suatu pengalaman dan penguasaan sepenuhnya materi yang akan diatur.. Adapun pengetahuan dasar yang diperlukan bagi para pembuat atau perancang pembuat peraturan daerah. desentraslisasi kewenangan pemerintahan yang diberikan pusat pada daerah dimaksudkan sebagai upaya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat. selain pengetahuan mengenai hukum tata negara dan hukum administrasi negara. dan peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi. 1 10 . dimana daerah diberi kekuasaan untuk mengatur daerahnya sendiri dan penjabarannya lebih lanjut diatur dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kepala daerah menetapkan keputusan kepala daerah. Hari Sabarno menjelaskan. Berdasarkan atas ketentuan-ketentuan tersebut. MBA. Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika. yaitu mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. M. h.

baik sebagai fungsi legislatif. bahwa peraturan itu tidak mengatur suatu keadaan dan anggapan-anggapan hukum yang statis. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif daerah. bahwa peraturan itu dibuat tidak untuk satu waktu saja. dalam merancang suatu peraturan harus diusahakan agar peraturan itu sejauh mungkin dapat pula dipergunakan untuk keadaan dan hubungan-hubungan hukum yang berkembang. akan tetapi umumnya dimaksudkan untuk dapat berlaku lama agar dapat diperoleh suatu kekekalan hukum. Haruslah diingat. Jadi di satu sisi yang tetap sifatnya. Justru kehidupan masyarakat senantiasa berkembang. maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan pemerintahan daerah.Suatu peraturan yang baik dalam persiapan pembuatannya membutuhkan pengetahuan mendalam dari materi yang akan diatur. Selain dari itu juga untuk mendorong memberdayakan masyarakat. pengetahuan mengenai ikhtiar untuk menutup lubang-lubang untuk menghindarkan ketentuan-ketentuan dalam peraturan itu. Dengan demikian maksud pembuatan suatu peraturan dapat dicapai sebaik-baiknya. kemampuan untuk menemukan inti dari fakta-fakta yang sudah tumbuh sejak lama. meningkatkan peran masyarakat. dinamis. dan di sisi lain yang cukup fleksibel. dalam suatu bidang tertentu. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. sehingga dapat memungkinkan perkembangannya secara kesinambungan. fungsi pengawasan. tidak berubah-ubah. 11 . serta mengungkapkan ke dalam bentuk peraturan yang singkat dan dengan bahasa yan jelas. Sebaliknya jangan lupa. Oleh karena itu.

Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika. 2007) 2 12 . berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan peraturan daerah yang mengatur untuk lebih memantapkan perwujudan demokrasi. keadilan dan pemerataan. maka kepada daerah diberikan hak dan kewenangan dalam tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh daerah berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. serta antar daerah dalam rangka menjaga keuangan negara kesatuan Republik Indonesia dan kesemuanya itu harus diatur dengan peraturan daerah yang tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang lebih tinggi dan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat. Memandu Otonomi Daerah. ini disebabkan karena biasanya kepentingan politik yang selalu bermain di pentas pembahasan rancangan peraturan daerah dan mencampuri urusan pemerintahan dan hubungannya dengan rakyat. MBA. M. dan Hari Sabarno. Pembangunan politik dan upaya mensejahterakan masyarakat merupakan usaha-usaha untuk membangun kehidupan bermasyarakat.M. baik pengembangan kehidupan demokrasi. Hal itu juga dijelaskan oleh Hari Sabarno bahwa hubungan pusat dan daerah dewasa ini cenderung lebih demokratis yang ditandai dengan desentralisasi. namun terkadang perwujudan demokrasi dari para anggota legislatif tidak memihak lagi kepada rakyat yang perwujudannya dapat dilihat dari produk-produk peraturan daerah yang tidak memihak. serta memelihara hubungan yang serasi antara pusat dan daerah. Hal itu bukanlah suatu proses yang mudah oleh karena dua hal. yakni masalah kultur sosial politik negeri ini dan upaya-upaya penegakan kontrol pusat yang efektif2..Untuk dapat melaksanakan tujuan tersebut.

e. Undang-undang No 10 Tahun 2004 menjelaskan tentang asas peraturan perundang-undangan diantaranya:3 a. Kejelasan rumusan. f. Keterbukaan: Dan yang paling terpenting diperhatikan dalam asas tersebut adalah “dapat dilaksanakan” baik pemerintah maupun masyarakat umum yang akan mengikuti peraturan tersebut. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. sebab tidak adalah artinya sebuah produk peraturan daerah dibentuk kalau tidak dapat dilaksanakan karena pembentukan peraturan perundangundangan harus memperhatungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Dapat dilaksanakan. c. 10 Tahun 2004 13 . d.produk peraturan daerah lahir tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan bisa juga karena memang orang-orang yang duduk di bidang legislatif tersebut tidak mempunyai kompetensi untuk membuat atau merancang suatu produk perundangundangan atau peraturan daerah. Penerapan undang-undang peraturan perundang-undangan harus mengacu pada nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat agar peraturan daerah tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Kejelasan tujuan. dan g. b. 3 Pasal 5 UU No.

diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kehususan dan keragaman daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan salah satu lembaga negara yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk rancangan peraturan perundang-undangan maupun peraturan daerah yang berkaitan dengan perkembangan 4 Pasal 18B ayat 2 UUD 1945 14 . daerah kabupaten.Pemerintahan daerah provinsi. Hubungan keuangan. pelayanan umum.4 Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang Dasar. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah Daerah Provinsi. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang diatur dalam undang-undang. Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi. Gubernur. Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis. kabupaten. Bupati. dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

penulis mengajukan beberapa sub masalah sebagai berikut : 1. Persoalan mengenai sampai dimanakah penerapan undang-undang no 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan terhadap rancangan peraturan daerah. Sekarang ini banyak diantara anggota legislatif yang kurang memahami atau mengenal tentang tata cara penyusunan atau proses peraturan perundang-undangan mulai dari rancangan pengajuan sampai pada tahap pengesahan undang-undang peraturan daerah. Bagaimana hakekat pentingnya peran serta masyarakat dalam penyusunan pembentukan suatu peraturan daerah? C. 1. Dari pokok masalah tersebut di atas. Sampai dimanakah Penerapan Undang-undang No 10 Tahun 2004 terhadap rancangan pembentukan peraturan daerah? 2.maupun segala hal yang diatur daerah tersebut. B. Hipotesis Pada bagian ini. akan diuraikan suatu jawaban yang sifatnya sementara yang selanjutnya menjadi acuan untuk diuji kebenarannya di dalam pembahasan skripsi ini. tentu kita belum bisa mengukurnya sampai dimana penerapannya sebelum kita melakukan pengkajian dan penelitian terlebih dahulu akan tetapi yang jelasnya kita akan mencoba memberikan jawaban sementara yang sifatnya baru dugaan berdasarkan banyaknya peraturan daerah yang 15 . Batasan dan Rumusan Masalah Adapun pokok permasalahan dari skripsi ini adalah bagaimana Penerapan Undang-undang No. 10 Tahun 2004 terhadap Rancangan Peraturan Daerah di DPRD Provinsi Sulawesi selatan.

5 Jurnal Konstitusi Mahkamah konstitusi volume 5 (Jakarta 2008) h. Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Ni’matul Huda dalam buku Jurnal Konstitusi menjelaskan berawal dari bulan Mei 2002 sampai dengan Oktober 2006. 22 Tahun 1999 menjadi UU No. 32 tahun 2004 dan sekarang yang berlaku adalah UU No.dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri. akan tetapi Perda yang akan saya teliti ini tidak secara keseluruhan akan tetapi penulis akan fokus pada Perda yang berasal dari inisiatif DPRD itu sendiri. 51 16 . Melihat fenomena tersebut akhirnya penulis mengambil suatu kesimpulan ternyata masih banyak perda yang perlu di teliti kembali untuk mencari penyebab dan bagaimana perda tersebut apakah tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku maupun hierarki perundangundangan serta kebiasaan masyarakat setempat dimana Perda tersebut berlaku. Meskipun sejak tahun 2004 telah terjadi pergantian UU No. Rincian sebagai berikut.5 TAHUN PERDA PAJAK 2 8 25 21 8 64 PERDA RETRIBUSI 14 87 188 97 75 461 PERDA LAINLAIN 4 7 3 14 SK/GUB/BUP WALI KOTA 2 2 6 5 15 TANGGAL PEMBATALAN 10 Mei s/d 3 Desember 2002 23 Januari s/d 30 Desember 2003 6 Januari s/d 14 Desember 2004 31 Januari s/d 14 Desember 2005 9 Januari s/d 9 Oktober 2006 JUMLAH 2002 2003 2004 2005 2006 JUMLAH 20 102 213 127 88 550 Sumber : Jurnal Konstitusi Keseluruhan Perda/Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri. 12 tahun 2008. ditemukan 550 Perda yang sudah dibatalkan oleh pusat.

menguji peraturan perundang-undangan terhadap undang-undang. Undang-undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. 10 Tahun 2004 adalah sebagai berikut: a. Peraturan Presiden dan e. ditentukan bahwa Perda mengatur urusan rumah tangga di bidang otonomi dan urusan rumah tangga di bidang 6 Pasal 24A ayat 1 UUD 1945 17 . dan mempunyai wewenang lainnya diberikan oleh undang-undang6 Adapun dalam lingkup wewenang membentuk Perda. d. misalnya peraturan daerah melanggar hak pribadi maupun kelompok serta melanggar kebiasaan yang hidup dalam masyarakat itu bisa kita gugat ke Mahkamah Agung. dimana pada pasal 24A UUD 1945 dijelaskan bahwa: Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. Maka dari itu. c. b. Peraturan Daerah Dari hierarki perundang-undangan diatas tidak boleh ada aturan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.Adapun hierarki perundang-undangan menurut UU No. jika terdapat peraturan yang bertentangan maka peraturan yang lebih rendah tingkatannya akan sendirinya tidak bisa dijadikan payung hukum atau dasar hukum dalam mengambil suatu kebijakan serta pemerintah pusat berhak untuk membatalkannya. jika ada kebijakan pemerintah daerah yang menurut kita hak konstitusional kita dilanggar berdasarkan peraturan yang ada. Peraturan Pemerintah.

keterbukaan sangat penting artinya bagi pelaksanaan pemerintahan yang baik dan demokratis. pemilihan wakil rakyat ber konsekuensi pada 18 . Kontrol ini melalui dua sarana: secara langsung melalui pemilihan para wakil rakyat dan secara tidak langsung melalui keterbukaan pengambilan keputusan. Di bidang otonomi masyarakat yang tidak diatur oleh pusat (UU No. sebagaimana dikemukakan dalam konsep ini rakyat mempunyai hak untuk ikut memutuskan dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan. Pertama.tugas pembantuan. tampak jelas bahwa dalam paham demokrasi terdapat asas keterbukaan. Dengan demikian keterbukaan dipandang sebagai suatu asas ketatanegaraan mengenai pelaksanaan wewenang secara layak. pemerintahan negara tetap di bawah kontrol masyarakat. Dalam konsep demokrasi. yang berkaitan dengan asas partisipasi masyarakat. Perda di bidang tugas pembantuan hanya mengatur tata cara melaksanakan substansi urusan pemerintahan atau suatu kepentingan masyarakat. bahwa paham demokrasi atau kedaulatan rakyat mengandung makna. Di bidang tugas pembantuan. Perda tidak mengatur substansi urusan pemerintahan atau kepentingan masyarakat. 2. Philipus M. Dalam artian. Konsep partisipasi terkait dengan konsep demokrasi. Perda di bidang tugas pembantuan hanya mengatur tata cara melaksanakan substansi urusan pemerintahan suatu kepentingan masyarakat. tanpa keterbukaan pemerintahan tidak mungkin masyarakat dapat melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan. asas keterbukaan atau partisipasi merupakan salah satu syarat minimum. 22 Tahun 1999 pada pasal 7). Hadjon mengemukakan bahwa konsep partisipasi masyarakat berkaitan dengan konsep keterbukaan.

keterbukaan pengambilan keputusan merupakan suatu keharusan. Kedua.adanya pertanggungjawaban. Karena pemerintah bertindak atas nama seluruh masyarakat. Partisipasi masyarakat itu sangat urgen dalam proses pengambilan keputusan setelah dikampanyekannya good governance. Selanjutnya UNDP mengartikan partisipasi sebagai karakteristik pelaksanaan good governance adalah keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan bersosialisasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif. 2) Memastikan adanya implementasi yang lebih efektif karena warga mengetahui dan terlibat dalam pembuatan pearaturan daerah tersebut. mereka tidak dapat begitu saja mempermainkan kepercayaan para pendukung mereka. Bukan saja berhak mengetahui. maka seluruh masyarakat berhak untuk mengetahui apa yang dilakukannya. juga berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. jika partai-partai mau terpilih kembali dalam pemilihan berikutnya. Karena. dan 3) Meningkatkan kepercayaan warga kepada eksekutif dan legislatif. Salah satu karakteristik dari good governance atau pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang baik adalah partisipasi yang dapat disalurkan ke pemerintah. sehingga harus mempertanggungjawabkan. 19 . Adapun manfaat partisipasi masyarakat dalam pembuatan rancangan peraturan daerah adalah sebagai berikut : 1) Memberikan landasan yuridis yang lebih baik untuk pembuatan rancangan peraturan daerah.

Sebagaimana telah menjadi asumsi dalam otonomi daerah. tujuan pemberian kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi tidaklah selalu berjalan efektif. sehingga tidak ada kekuatan daya tawar masyarakat terhadap pemerintah daerah. Meskipun pada dasarnya kedua tujuan tersebut seringkali diletakkan dalam prioritas yang berbeda oleh pemerintah pusat dari satu kurun waktu ke kurun waktu yang lain. akses dan pengetahuan masyarakat untuk terlibat dalam mekanisme formal belum terlalu baik. Kedua hal ini pada akhirnya menyebabkan kesempatan politik yang tidak sama bagi masyarakat dalam relasi dengan pemerintah. Dalam prakteknya di Indonesia. masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk terlibat secara aktif dalam proses penyusunan kebijakan dan peraturan daerah.Pemberian otonomi daerah dari pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah untuk menciptakan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan dan meningkatkan partisipasi masyarakat (participatory democracy). tetapi juga dalam pelaksanaan dan evaluasi kebijakan tersebut. 20 . Pertama. maupun relasi antara masyarakat dengan masyarakat. Tidak hanya itu. Tidak mengherankan jika tujuan otonomi daerah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam prakteknya menghadapi kendala yang sangat jauh dari harapan. Dalam aspek participatory democracy ekonomi daerah memiliki dimensi political equality. Kedua. pemberian kesempatan itu sendiri seringkali tidak dijamin dalam fondasi hukum misalnya peraturan daerah. tetapi kedua tujuan tersebut selalu menyertai penyelenggaraan otonomi daerah. locus pengambilan keputusan dan kebijakan politik (power over decision making) semakin dekat kepada masyarakat. Dalam konteks ini. karena kesadaran.

sebagai masyarakat yang tidak mengetahui hal itu sering kali otonomi disalah artikan. membentuk asosiasi politik dan menggunakan hak kebebasan berbicara. Kesempatan berpartisipasi yang lebih besar bagi masyarakat merupakan konsekuensi logis dari perpindahan locus pengambilan keputusan dari pemerintah nasional kepada pemerintah lokal. 1985:24) (Burns. Dalam hal otonomi daerah memang mempunyai kebebasan tertentu salah satunya sebagaimana dikemukakan oleh Smith salah satu tujuan desentralisasi adalah terciptanya political equality di tingkat lokal7. dan lain-lain. bahkan dapat mencapai tingkatan kontrol. Tentu saja tingkatan kontrol 7 8 (Smith. kekuasaan pengambilan keputusan diserahkan dari pemerintah nasional kepada masing-masing pemerintah. daripada demokrasi yang dilaksanakan di tingkat nasional. Lokal demokrasi dalam pengertian ini adalah menguatnya derajat partisipasi masyarakat yang lebih tinggi. Political Equality dalam desentralisasi merupakan kontribusi dari penguatan demokrasi lokal. Perpindahan kekuasaan untuk mengambil keputusan dari pemerintah nasional kepada pemerintah lokal lebih memperpendek proses demokrasi8. 1994:155) 21 . masyarakat kecil yang menganggap otonomi daerah kita bebas berbuat sesuai dengan kehendak masing-masing padahal ada hal-hal yang perlu di kontrol oleh pemerintah pusat seperti ekonomi. Sehingga hal ini mencerminkan kharakter demokrasi yang lebih origin dan alami. Dalam hal ini. dimana masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memberikan suaranya dalam pemilihan dan pengambilan keputusan.

2. kepala daerah menetapkan keputusan kepala daerah12 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengertian Judul Untuk menghindari adanya persepsi lain terhadap judul skripsi ini terlebih dahulu penulis mengemukakan beberapa istilah yang dianggap penting. h. III Jakarta: Balai Pustaka. Peraturan dibuat berdasarkan undang-undang atau penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Op. Proses & Perencanaan Peraturan Perundang-undangan (Jakarta: Ghalia Indonesia 2004). 2001) 10 Pasal 1 ayat 3 Undang-undang No 10 tahun 2004 11 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. cit. Penerapan berarti pelaksanaan dan sebagainya9 Undang-undang adalah peraturan perundang-undangan yag dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden10 3. Untuk melaksanakan peraturan daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang11 Peraturan daerah adalah peraturan yang ditetapkan oleh kepala daerah atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. 14 9 22 . yaitu: 1. 12 Soenobo Wirjosoegito. 4. D.masyarakat berada dalam spektrum politik yang sejajar dengan demokrasi deliberatif yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet.

dimana peraturan daerah merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum diatasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan. 36 Ibid. a. h. h. dibuat oleh Badan Perwakilan Desa atau yang setingkat.Peraturan daerah yang pada dasarnya dapat pula disebut undang-undang daerah (dalam arti luas) dibuat untuk dan berlaku dalam wilayah daerah otonomi sendiri yang bersangkutan.14 Dari beberapa pengertian diatas. penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa penerapan undang-undang terhadap rancangan peraturan daerah adalah 13 14 Ibid. Peraturan daerah propinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi bersama dengan Gubernur b. Peraturan desa atau yang setingkat PERDES. 5. Peraturan daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten bersama dengan Bupati atau Walikota c. sedangkan tata cara peraturan desa atau yang setingkat. diatur oleh peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. berkedudukan sejajar dan menjadi mitra pemerintah daerah. DPRD sebagai perwakilan rakyat di daerah merupakan DPRD wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila.22 23 .13 Khusus mengenai peraturan daerah ditentukan dalam ketetapan MPR.

2. pembahasan skripsi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum seperti apa penerapan Undang-undang No 10 Tahun 2004 Terhadap Rancangan Peraturan Daerah di DPRD Provinsi Sulawesi selatan. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Kegunaan teoritis yaitu upaya memperkaya khasanah keilmuan tentang penerapan UU No 10 Tahun 2004 tentang peraturan pembentukan rancangan perundang-undangan. E. 24 . 10 Tahun 2004 terhadap Rancangan Paeraturan Peraturan Daerah. 2) Untuk mengetahui betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam penyusunan rancangan Peraturan Daerha. Karena mungkin selama ini para mahasiswa hanya mengetahui sebatas tentang UU No. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Untuk menegetahui sampai dimana penerapan Undang-undang No. 1. maksudnya adalah implementasi undang-undang terhadap rancangan peraturan daerah demi terbentuknya suatu peraturan daerah yang sesuai kebutuhan masyarakat yang akan mengikutinya.pelaksanaan suatu undang-undang terhadap rancangan pembuatan peraturan daerah. 3) Untuk mengetahui persoalan-persoalan yang diatur dalam peraturan daerah dan yang tidak dapat diatur dalam peraturan daerah. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Secara umum.

10/2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan tetapi kita tidak mengetahui bagaimana prosesnya sehingga terbentuknya satu atau beberapa peraturan dalam hal ini peraturan daerah. khususnya peraturan daerah. proses dan penyusunan rancangan peraturan daerah. 4) Pengetahuan pemahaman dan keterampilan bidang perencanaan hukum yang sangat penting dan berguna bagi penulis maupun pribadi 25 . 2) Memberikan pengetahuan dan pemahaman yang baru kepada penulis tentang perumusan. sebab pada waktu kita masih di bangku perkuliahan kita hanya mengerti sebatas teori tanpa ada prakteknya dan sampai sekarang ini penulis masih menganggap rata-rata kita sudah mempelajari apa yang disebut dengan legal drafting namum penulis belum yakin kalau diantara teman-teman tahu bagaimana prosedur perancangan peraturan daerah 3) Memberikan pembekalan dan keterampilan yang baru kepada penulis tentang perumusan. proses dan penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan. sebab bisa jadi setelah skripsi ini selesai kalau kita benar-benar memahami tentang bagaimana membentuk suatu peraturan perundangundangan khususnya peraturan daerah kita bisa mengusulkan peraturan daerah kepada lembaga yang berwenang dalam hal ini eksekutif maupun legislatif untuk membuat suatu peraturan daerah yang dianggap perlu untuk dijadikan sebagai peraturan daerah tersebut.

Secara umum kaidah peraturan daerah bersifat umum. Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika.. Kegunaan praktis yaitu dapat diperoleh dari penelitian ini.M. dan berlaku secara terus-menerus sepanjang belum dicabut15. peraturan daerah dibentuk dengan tujuan mengatur masyarakat daerah secara baik agar berperilaku sesuai dengan yang diharapkan agar mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. dan terusmenerus berarti ditujukan kepada seluruh masyarakat dalam lingkup masyarakat daerah tersebut. Dalam perkebangannya. M. yakni dapat dijadikan sebagai pengantar dalam memahami bagaimana prosedur rancangan peraturan daerah sampai pada pengesahan peraturan daerah dan diundangkan melalui lembaran daerah. Hari Sabarno. 2007) h. Peraturan daerah sebagai hukum merupakan bentuk hukum tertulis yang berisi aturan tingkah laku yang bersifat mengikat umum. Memandu Otonomi Daerah. Sebagai peraturan daerah. abstrak. kekuatan mengikatnya pun hanya berada di lingkup daerah tersebut. Di dalam masyarakat daerah.sendiri setelah melakukan penelitian dan kembali ke daerah dan mengawasi pelaksanaan rancangan peraturan daerah. sehingga daerah lain tidak memiliki daya kekuatan untuk menerapkannya pula. 196 15 26 . tertuju kepada pengaturan terhadap objek tertentu. peraturan daerah sekarang ini mengalami pergesaran di mana peraturan daerah mengatur ketentuan yang khusus dan konkret semisal peraturan daerah yang menerapkan jam malam bagi perempuan. MBA.

Dalam hal ini. Demikian demikian. Dengan demikian. tetapi juga memiliki sinkronisasi dan harmonisasi dengan hukum nasionalnya. misalnya bagaimana perempuan daerah lain yang kebetulan bekerja di wilayah tersebut dan terjebak kemacetan? Dilemma materi muatan yang demikian cenderung terjebak pada kadar aturan tekstual dibandingkan kontekstualnya. peraturan daerah harus berdasar atau memiliki dasar hukum dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya dan isi materi muatan peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Di samping itu. pembentukan peraturan daerah meskipun memiliki kualifikasi materi yang disesuaikan dengan masyarakat daerahnya. Pembentukan peraturan daerah seperti itu lebih memberikan kesan elitis dibandingkan strategis dalam meyelesaikan suatu masalah. Dalam prakteknya. pembentukan peraturan daerah tidak dapat bersandarkan pada kewenangan dirinya sendiri karena daerah berada pada daerah kuasa lingkungan hukum publik nasional. Akan tetapi. Pemerintah Daerah dan DPRD dalam menyusun dan mengesahkan peraturan daerah perlu disadarkan pada adanya tata urutan peraturan perundang-undangan. Peraturan daerah termasuk salah satu dari peraturan perundang-undangan di Indonesia yang menjadi kewenangan daerah tersebut. 27 . pembentukan cenderung mengabaikan sistem hukum Nasional dan menerapkan jenis dan bentuk materi muatan yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan dan kepentingan daerah itu sendiri.Dilihat dari materi muatannya peraturan tersebut cenderung mengatur lingkup kuasa wilayah yang terintegrasi.

situasi. namun Pemerintah Daerah bebas saja menjadikan Perda tersebut karena masyarakat daerah tidak mengetahuinya. apakah Perda tersebut sudah layak dijadikan peraturan perundang-undangan ditingkat daerah atau tidak. Maka dari itu sekarang ini mungkin masih banyak Perda yang perlu judicial review. 28 . dan kondisi.pembentukan peraturan daerah tidak sesuai dengan tujuan. nasional sehingga kadangkala menimbulkan pertentangan dengan ketentuan diatasnya. 10 Tahun 2004 tidak memberikan sanksi kepada pemerintah yang tidak mengirimkan Perda-Nya ke Pemerintah Pusat untuk dilakukan pengujian. Namun yang menjadi persoalan sekarang adalah Undang-undang No.

dengan awalan ‘per’ dan akhiran ‘an’. Sedangkan secara maknawi. (Yogyakarta : 2001) h. Pusat Studi Fakultas Hkum Universitas Indonesia. 16 29 . Menyongsong Otonomi Daerah. istilah dan Pengertian Perundang-undangan secara etimologis perundang-undangan berasal dari istilah ‘undang-undang’. Pengertian Perundang-undangan Bagir Manan. Ketidaksepakatan berbagai ahli sebagian besar ketika sampai pada persoalan apakah perundang-undangan mengandung arti proses pembuatan atau mengandung arti hasil (produk) dari pembuatan perundang-undangan dalam hal ini Peraturan Daerah16. Imbuhan Per-an menunjukkan arti segala hal yang berhubungan dengan undang-undang. baik pusat maupun daerah. yaitu perbuatan membentuk peraturan negara. bahwa perundang-undangan dapat berarti kegiatan atau fungsi. Kansil.S. C. Kansil. sedangkan istilah peraturan perundang-undangan untuk menggambarkan keseluruhan jenis-jenis atau macam-macam Peraturan Negara. pengertian perundang-undangan belum ada kesepakatan.T. Perundang-undangan memang merupakan suatu fungsi negara yang selalu ada pada setiap negara apapun juga cita-cita negara yang dianutnya17 Menurut Penulis istilah perundang-undangan untuk menggambarkan proses dan teknik penyusunan atau pembuatan keseluruhan Peraturan Negara.S. Balai Pustaka (Jakarta : 2001) h. Pengantar Ilmu Hukum.T. 120 17 C. dan dapat berarti hasil atau produk dari kegiatan-kegiatan atau fungsi tersebut.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dalam arti lain Peraturan Perundangundangan merupakan istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan berbagai jenis Bagir Manan.

misalnya dapat disebutkan bentuk perundang-undangan. sebab dapat saja bentuknya tertulis tapi tidak mengikat umum. Tempat proses dan Teknik Penyusunan Perundang-undangan dalam Kerangka Keilmuan. Jadi kriteria suatu produk hukum disebut sebagai Peraturan Perundang-undangan menurut penulis antara lain sebagai berikut: 1. Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan ini oleh Maria 30 . Bersifat tertulis 2. namun hanya untuk perorangan berupa keputusan yang hanya mengikat internal lembaga tersebut . Dalam sistem Pemerintahan Negara Indonesia berdasarkan UUD 1945. yang jelas-jelas memenuhi tiga kriteria di atas adalah “Undang-undang”. dapat diketahui dari pandangan Maria Farida Indrati yang memperkenalkan cabang ilmu baru yang disebut Ilmu Perundangundangan yang didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang interdisipliner tentang pembentukan hukum Negara.(bentuk) peraturan (produk hukum tertulis) yang mempunyai kekuatan hukum mengikat secara umum yang dibuat oleh Pejabat atau Lembaga yang berwenang. Bersifat umum 3. Atau ada pula aturan yang bersifat untuk umum dan tertulis. namun karena dikeluarkan oleh suatu organisasi maka hanya berlaku untuk internal organisasi itu saja. tempat proses dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dalam kerangka ilmu. Dikeluarkan oleh Pejabat atau Lembaga yang berwenang Berdasarkan kriteria ini. maka tidak semua aturan tertulis yang dikeluarkan oleh Pejabat yang berwenang merupakan Peraturan perundang-undangan.

terutama dengan UU No. Ilmu Sosial. dan juga dengan Ilmu 18 19 .18 Mengenai hubungan antara ilmu perundang-undangan dengan disiplin ilmu lain sangat penting dikemukakan pandangan F. Oleh karena itu tidak mungkin ilmu tersebut berdiri sendiri terpisah satu sama lainnya tanpa adanya pengaruh dan hubungan timal balik antara yang satu dengan yang lain. Isjwara dalam Ilmu Perundangundangan oleh Mari Farida Indrati19. bahwa ilmu tidak dapat dipisah-pisahkan dalam kotak-kotak yang terpaku mati. sedangkan teori ilmu perundang-undangan. Ilmu perundang-undangan. 10 Tahun 2004 tentang peraturan perundang-undangan dan cabang ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial yang mempunyai objek kehidupan ‘Negara’. Maihofer. dan van der Velden. menurut Krems. Misalnya dengan Ilmu Politik. termasuk dalam cabang Ilmu Hukum dalam arti luas. penulis menyimpulkan bahwa skripsi ini akan membahas tentang bagaimana proses rancangan perundang-undangan dan terlebih pada peraturan daerah.internet nanti Maria Farida Indrati. 31 . Berdasarkan pandangan Maria Farida Indrati.Farida Indrati dibagi dua yaitu Ilmu Perundang-undangan dan Teori Perundangundangan. Ilmu Hukum. Ilmu Perundang-undangan dibagi menjadi tiga bagian yaitu: a) Proses perundang-undangan b) Metode perundang-undangan dan c) Teknik perundang-undangan. Demikian halnya ilmu perundang-undangan ini yang dipengaruhi dan mempunyai hubungan dengan disiplin ilmu lain.

Adapun definisi PERDA menurut Himawan Estu Bagijo Staf Pengajar Fakultas Hukum Unair Peraturan Daerah adalah instrument aturan yang secara sah diberikan kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan di daerah20. Kepala Daerah dan perangkat daerah merupakan lembaga Pemerintahan Daerah yang tidak terpisah 20 Internet nanti 32 . Lembaga DPRD. B. karenanya bermanfaat memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan membuat peraturan perundang-undangan. sedangkan teori ilmu perundang-undangan dikatakan lebih luas karena menggunakan permasalahan. dan metode dari disiplin ilmu-ilmu yang lain. menurut Hari Sabarno peraturan daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. Ilmu Perundang-undangan bersifat normatif atau bersifat tertulis dengan orientasi melakukan pembuatan penyusunan peraturan perundang-undangan.Pemerintahan. paradigma. Pengertian Peraturan Daerah Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang dimaksud dengan Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Karena itu Maria Farida Indrati menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan perundang-undangan secara eksplisit merupakan ilmu interdisipliner yang berdiri sendiri. Hubungannya adalah bahwa ilmu perundang-undangan lebih sempit karena objeknya khusus tentang pembentukan peraturan hukum oleh Negara.

MBA. 2. vii 21 33 . 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. tetapi tetap dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia21.. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah. Pasal 18 ayat (4).M. 5. M. Pasal 27 ayat (1). Memandu Otonomi Daerah. Definisi lain tentang Perda berdasarkan ketentuan Undang-Undang tentang Pemerintah Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah baik di Propinsi maupun di Kabupaten/Kota. 3. Undang-undamng No. Sejak Tahun 1945 hingga sekarang ini. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika. 10 Tahun 2004 tentang Peraturan Pembentukan Perundan-undangan. Undang-undang No. 4. Undang-undang No. dan Pasal 28D ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah Propinsi/ Kabupaten/ kota dan tugas pembantuan serta merupakan Hari Sabarno. telah berlaku beberapa undang-undang yang menjadi dasar hukum penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan menetapkan Perda sebagai salah satu instrumen yuridisnya. 2007) h. Undang-undang No. Pasal 20. diantaranya sebagai berikut : 1. 32 Tahun 2004 mempunyai konsep memberdayakan daerah dengan segala wewenangnya. Esensi Undang-undang No.menjadi satu-kesatuan yang utuh.

Pasal 18 ayat (2) menyatakan “Pemerintah daerah provinsi. Bersamaan dengan proses pelaksanaan dan evaluasi Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999. Hal ini berarti bahwa pada prinsipnya. menjadi dasar pembentukan Undang-undang Nomor 34 . Dengan adanya perkataan dibagi atas maka berari hubungan antara Pusat dan provinsi. Pada pasal 18 ayat (1) UUD 1945 menegaskan “Negara Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah proinsi dan daerah proinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang tiap-tiap provinsi.penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintahan Pusat”. Pada pasal 18 ayat (5) ditegaskan lagi bahwa “Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. serta evaluasi pelaksanaan Undnagundang Nomor 22 Tahun 1999. Salah satu hasil perubahan UUD 1945 adalah memberikan prinsip-prinsip otonomi dan penyelenggaraan pemerintah daerah secara lebih mendetail dianding sebelum perubahan. Dasardasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut. kabupaten dan kota itu mempunyai daerah yang daitur dengan dengan Undang-undang”. terdapat pula proses perubahan pada UUD 1945 yang dilakukan dari 1999 hingga 2002. kecuali jika Undang-undang menentukan sesuatu urusan sebagai urusan pemrintah pusat. serta antara Provinsi dan Kabupaten/Kota bersifat hierarkis-vertikal sebagai salah satu cirri Negara kesatuan. semua urusan bersifat otonom atau desentralistis.

pelaksanaan otonomi daerah yang luas. perdata. pikiran. asas dan materi muatan Perda adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. dan kemudian diubah pada tanggal 15 Oktober 2004 dengan ditetapkannya Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 memiliki pengaruh terhadap aparatur penyelengara pemerintah daerah. dsb. nyata. administrasi negara dan hukum lainnya). pembuatan undang-undang juga memerlukan dana yang besar. Sudah menjadi konsesnsus seluruh komponen bangsa. C. dan waktu yang lama dan mendalam. Asas-asas Perundang-undangan Sesuai ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.32 Tahun 2004. aspek sosial. menjadi dasar pembentukan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah. budaya. Disamping itu. memerlu kan tenaga. politik. Namun disisi lain. Mulai saat itu penyelenggaraan pemerintahan daerah memasuki babak baru dengan format serba baru. sebenarnya pembuatan undang-undang juga merupakan pekerjaan seni 35 . hukum tata negara. dan bertanggung jawab sebagaimana dilahirkan pertama kali Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dilaksanakan secara efektif. Membentuk peraturan perundang-undangan khusunya Undang-undang adalah pekerjaan yang sulit karena berbagai aspek antara lain: aspek hukum (pidana.

Teknik Membuat Undang-undang. baik di lingkungan lembaga legislatif. atau oleh manusia itu sendiri kalau dianggap tidak cocok lagi. badai. dan yudikatif harus menguasai benar bahasa Indonesia yang baik dan benar. dapat disebut sebagai pekerjaan seni seperti membangun suatu rumah. yang wadahnya adalah peraturan perundang-undangan. Jakarta: 1983. Oleh karena itu membangun atau merancang peraturan perundang-undangan mirip membangun rumah sehingga rancangannya dapat disebut rancangan bangunan peraturan perundang-undangan. karena menurut Irawan Soejito bahwa hukum itu adalah bahasa artinya hukum tertulis itu dituangkan ke dalam norma-norma dalam bentuk kalimat bahasa Indonesia.13 36 . Tanah dan bahan-bahan bangunan disediakan dulu. maka bangunannya pasti akan roboh atau mudah roboh atau dapat dirobohkan oleh angin. Oleh karena itu seorang perancang peraturan perundangundangan atau lembaga/pejabat yan diberi kewenangan membentuk peraturan perundang-undangan pada umumnya. Ketika kita menyusun norma-norma dalam bahasa Indonesia yang disusun secara sistematis dan konsisten dalam satu wadah yang namanya peraturan perundang-undangan. dalam bahasa Indonesia. kemudian ada gambarnyadalam bentuk cetak biru sesuai selera atau keinginan kita mau membangun rumah bersitektur bagaimana. eksekutif.22 22 Irawan Soejito.karena memerluka keterampilan oleh bahasa dan merancang bangunan layaknya rumah. Undang-undang atau norma-norma yang bersifat umum dan mengikat umum. h. Kalau rancangannya keliru atau salah. Pradnya Paramita.

10 Tahun 2004 23 37 . Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan. Kejelasan tujuan. bila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Dalam undang-undang No 10 Tahun 2004 menjelaskan tentang asas pembentukan peraturan perundang-undangan diantaranya:24 h. Semua asas tersebut haruslah dilaksanakan secara konssisten berdasarkan kompetensi masing-masing pembentuk peraturan perundang-undangan.A. i. Jakarta: h. A. 59 24 Pasal 5 UU No. Asasasas ini semula bersifat akademik karena hanya ada di dalam donktrin23 Sesudah lahirnya undang-undang no. Yang dimaksud dengan “kejelasan tujuan” adalah bahwa setiap Pembentuk Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas dan tepat. 10/2004 asas-asas tersebut diberikan landasan hukum undang-undang. Departemen Kahakiman. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan perundang-undangan yang berwenang. Hamid S.Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan kita mengenal asas-asas pembentukannya maupun asas-asas yang terkandung dalam materi muatannya. Peraturan Perundan-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hokum.

Dapat dilaksanakan. dan Yang dimaksud dengan asas “kejalasan rumusan” adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan Perundang-undangan. berbangsa. baik filosofis. m.j. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. dan bernegara. yuridis. maupun sosiologis. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Yang dimaksud dengan asas “kesesuaian antara jenis dan materi muatan” adalah bahwa dalam Pmbentukan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar meperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangan. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Kejelasan rumusan. 38 . Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. l. k. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Yang dimaksud dengan asas “kedayagunaan dan kehasilgunaan” adalah bahwa Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Yang dimaksud dengan asas “dapat dilaksanakan” adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitunkan efektifitas Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat.

penyusunan.n. persiapan. Yang dimaksud dengan asas “kemanusiaan” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga Negara dan penduduk Indonesia secara universal. Dalam pasal 6 UU No. Keterbukaan: Yang dimaksud dengan asas “keterbukaan” adalah bahwa dalam proses Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. b. Pengayoman. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. c. Yang dimaksud dengan asas “pengayoman” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluasluasnya untuk memberikan masukan dalam proses penyusunan peraturan perundang-undangan maupun peraturan daerah. Yang dimaksud dengan asas “kebangsaan” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak 39 . Kemanusiaan. 10/2004 ditentukan bahwa materi muatan peraturan perundang-undangan mengandung asas antara lain: a. Kebangsaan.

Kenusantaraan.bangsa Indonesia yang pluralis dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kekeluargaan. suku dan golongan. dan bernegara. d. g. e. f. berbangsa. Yang dimaksud dengan asas “bhinneka tunggal ika” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus keragaman penduduk. 40 . Keadilan. Yang dimaksud dengan asas “kenusantaraan” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundangundangan yang dibuat di daerah merupakan aian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan pancasila. Bhinneka tunggal ika. kondisi khusus daerah dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan ermasyarakat. Yang dimaksud dengan asas “kekluargann” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. agama. Yang dimaksud dengan asas “keadilan” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga Negara tanpa terkecuali.

Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan Negara. suku. dan/atau Yang dimaksud dengan asas “ketertiban dan kepastian hukum” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menimulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Keseimbangan. dan asas praduga tak bersalah. asas tiada hukuman tanpa kealahan. keserasian dan keselarasan” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keseibangan. j. keserasian. misalnya asas lealitas. Yang dimaksud dengan asas “kesamaan kedudukan dalam hukum” adalah setiap materi muatan peraturan perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. i.h. atau status lain. asas pembinaan narapidana. dan keselarasan. 41 . Yang dimaksu dengan “asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersankuta”. Ketertiban dan kepastian hukum. antara lain: agama. peraturan perundangundangan tertentu dapat berisi asas lain yang sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. golongan. Kesamaan kedudukan dalam hukum dan kemanusiaan. gender. keserasian dan keselarasan. Yang dimaksud dengan asas “keseimbangan. antara lain: a. Dalam hukum pidana. ras.

yakni sifat umum 42 . memberikan suatu hak atau membebankan kewajiban tertentu. Aturan hukum sebagai pedoman perilaku yang dibuat oleh para pengemban kewenangan hukum memiliki struktur dasar yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: a) subjek kaidah: menunjuk pada subjek hukum yang termasuk ke dalam sasaran penerapan sebuah pengaturan.Aspek Formal/Prosedural. Kaidah Hukum Peraturan Perundang-undangan Menurut teori perundang-undangan. kebebasan berkontrak. penyusunan peraturan perundangundangan meliputi dua masalah pokok. c) operator kaidah: menunjuk pada cara bagaimana objek kaidah diatur. D. dan iktikad baik.Aspek materiil/Substansial.Struktur Kaidah Hukum. Dalam hukum perdata. antara lain.b. Aturan hukum yang dirumuskan dalam sebuah peraturan perundang-undangan memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat digolongkan menjadi empat. 2. b) objek kaidah: menunjuk pada peristiwa-peristiwa atau perilaku apa saja yang hendak diatur dalam aturan hukum tersebut. d) kondisi kaidah: menunjuk pada kondisi atau keadaan apa yang harus dipenuhi agar suatu aturan hukum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. misalnya dalam hukum perjanjian. yaitu: 1. berhubungan dengan kegiatan pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlangsung dalam suatu negara tertentu dan 3. misalnya menetapkan keharusan atau larangan atas perilaku tertentu. asas kesepakatan. berkenaan dengan masalah pengolahan isi dari suatu peraturan perundang-undangan.

makin abstrak dan umum sifatnya. 3. Fungsinya untuk mengatur perilaku orang-orang dalam kehidupan masyarakat. Keempat sifat kaidah hukum ini digunakan secara kombinasi dalam suatu peraturan perundangundangan. Kaidah Kewenangan. dan individual-konkret. yaitu sebagai berikut: 1. Kombinasi sifat aturan hukum ini sebagian akan ditentukan pula oleh jenis peraturan yang terdapat dalam hirarkhi peraturan perundang-undangan. adalah jenis kaidah yang menetapkan bagaimana kita harus atau boleh berperilaku. bergantung pada isi/substansi dari wilayah penerapan/jangkauan berlakunya aturan hukum yang bersangkutan. Berdasarkan pemahaman terhadap kaidah-kaidah hukum. adalah jenis kaidah yang memuat reaksi yuridis atau akibatakibat hukum tertentu jika terjadi pelanggaran atau ketidakpuasan terhadap 43 . dapat diidentifikasi beberapa jenis kaidah hukum. Fungsinya adalah untuk menetapkan siapa yang berwenang untuk mengatur perilaku orang.abstrak. individual-abstrak. Kaidah Sanksi. umum-konkret. 2. Makin tinggi tingkatan peraturan perundangundangan. Kaidah Perilaku. adalah jenis kaidah hukum yang menetapkan siapa yang berhak atau berwenang untuk menciptakan dan memberlakukan kaidah perilaku tertentu. menentukan dengan prosedur bagaimana kaidah perilaku itu ditetapkan dan sekaligus menentukan bagaimana suatu kaidah harus ditetapkan jika dalam suatu kejadian tertentu terdapat ditidakjelasan.

adalah jenis kaidah hukum yang dibuat sebagai sarana untuk mempertemukan aturan hukum tertentu sebagai akibat kehadiran peraturan perundang-undangan dengan keadaan sebelum peraturan perundang-undangan itu berlaku. Dasar Hukum DPRD dalam Menyusun Rancangan Pembuatan Peraturan Daerah Adapun beberapa dasar hukum Dewan Perwakilan Rakyata Daerah dalam merumuskan sebuah rancangan pembuatan peraturan daerah sebagai beriilut: 1. 12 tahun 2008 tentang pemerintahan daerah hasil amandemen kedua dari Undang-undang No. Kaidah peralihan ini fungsinya untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekosongan hukum. Undan-undang No. E. 4.kaidah tertentu. Kaidah Kualifikasi: adalah jenis kaidah yang menetapkan persyaratanpersyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk dapat melakukan perbuatan hukum tertentu atau sebaliknya dibebaskan dari kewajiban untuk melakukan suatu perbuatan hukum tertentu. 5. 44 . menjamin kepastian dan memberi jaminan perlindungan hukum kepada subjek hukum tertentu. Kaidah Peralihan. 22 Tahun 1999 pada pasal 42 dijelaskan bahwa dasar hukum DPRD dalam menyusun rancangan perda. Secara umum kaidah sanksi memuat kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

tugas pembantuan dan penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Perda lain. (Yogyakarta 2001). Dimana keputusan Kepala Daerah dapat bersifat mengatur dalam arti yang lebih umum. Ibid. pengaruh sistem parlementer. Kedua. Bagir Manan. h. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. 2) Peraturan dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi. (Volume 5 Juni 2008) h. Dalam sistem parlementer Kepala Negara yang menetapkan atau mengesahkan RUU menjadi Undang-undang. Pusat Studi Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. atau Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.47 26 Biaya paksaan penegakan hukum atau lazim disebut dwangsom adalah jumlah yang dikenakan pada seseorang yang tidak melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan akibat suatu pelanggaran hukum. Pertama. Wewenang menetapkan Peraturan Daerah yang telah disetujui bersama berada pada Kepala Daerah. h. dalam Jurnal Konstitusi (Volume 5 Juni 2008). pengaruh system checks and balances dalam system pemisahan kekuasaan. didasarkan pada dua hal.1) Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah dengan persetujuan DPRD25. Selain itu keputusan Kepala Daerah dapat juga dibuat atas kewenangannya sebagai pejabat administrasi yang dileati wewenang tertentu yang ditentukan oleh undang-undang27. atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyaknya-banyaknya lima juta rupiah26 5) Keputusan Kepala Daerah ditetapkan dengan melaksanakan Peraturan Daerah. 3) Peraturan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. 47 27 Bagir Mana. dapat juga mencakup keputusan Kepala Daerah sebagai aturan kebijakan yang didasarkan pada kebebasan bertindak. 4) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan beban biaya paksaan penegakan hukum. Bagir Manan. Menyongsong Fajar Otonomi daerah. dalam Jurnal konstitusi. 142 25 45 .

b. setiap kebijaksanaan yang dianut pemerintah di bidang perundang-undangan. (Yogyakarta 2001). Di bidang otonomi. Adapun dalam lingkup wewenang membentuk Peraturan Daerah. Di bidang tugas pembantuan. 22 Tahun 1999 Bagir Mana. Peraturan Daerah dapat mengatur segala urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat yang tidak diatur oleh Pemerintah Pusat28. disusun berdasarkan landasan umum penyusunan perundang-undangan yaitu: a. landasan Politis.2. Sesuai dengan Undang-undang No. Peraturan Daerah di bidang tugas pembantuan hanya mengatur tata cara pelaksanaan substansi urusan pemerintahan atau suatu kepentingan masyarakat29. kebijakan penyelenggaraan pemerintahan daerah telah mengalami perubahan dan perkembangan yang sangat dinamis. Pusat Studi Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. pancasila sebagai falsafah bangsa landasan Yuridis. Ketetapan MPR. Selama kurun Undang-undang No. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah. dari mulai UUD 1945. ditentukan bahwa Peraturan Daerah mengatur urusan rumah tangga di bidang otonomi dan urusan rumah tangga di bidang tugas pembantuan. h. F. 72 29 28 46 . Peraturan Daerah tidak menatur substansi urusan pemerintahan atau kepentingan masyarakat. 10/2004 tentang dasar hukum peraturan perundang-undangan di Tingkat Daerah Setiap perundang-undangan dalam sistem hukum Indonesia. Fungsi Peraturan Daerah Selama Indonesia merdeka. landasan Filosofis. dan Undang-undang c.

setengah abad lebih, sistem pemerintahan daerah sarat dengan pengalaman yang panjang seiring dengan konfigurasi politik yang terjadi pada tataran pemerintahan Negara. Pola hubungan kekuasaan, pembagian kewenangan, dan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemrintah daerah tidak dapat dipunkiri sangat berantung konfigurasi politik pemerintahan pada masa kini. Realitas demikian tentu mempengaruhi formalitas penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pemberian otonomi daerah di Indonesia. Akan tetapi, terlepas dari semua pengaruh yang muncul dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, semua kebijakan selalu dijiwai oleh kesatuan pandangan yang sama, yaitu seluruh daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-undang Dasar 1945 memberikan kepada daerah untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) yang memiliki fungsi antara lain: 1. Perda sebagai instrumen kebijakan Dalam melaksanakan otonomi daerah yang luas dan bertanggung jawab. Pada fungsi ini Perda sebagai sarana hukum merupakan alat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan sebagaimana

diamanatkan dalam konstitusi (UUD 1945) dan undang-undang Pemda. Sebagai alat kebijakan daerah tentunya tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah melalui pembangunan daerah yang berkesinambungan (sustainable development) dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;

47

2. Perda merupakan pelaksana peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam fungsi ini, Perda tunduk kepada asas hirarki peraturan perundangundangan dimana Perda tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan ditingkat pusat (nasional) akan tetapi peraturan yang tinggi tetap saja memperhatikan nilai yang ada pada masyarakat, dalam artian kebiasaan masyarakat secara umum juga dijadikan pedoman dalam pengambilan suatu kebijakan jika tidak terdapat dasar hukumnya dalam undang-undang maupun yang lainnya; 3. Penangkap dan penyalur aspirasi masyarakat daerah. Dalam fungsi ini perda merupakan sarana penyaluran kondisi khusus daerah dalam konteks dimensi ekonomi, sosial, politik dan budaya. Dalam konteks ketiga ini peran serta masyarakat secara aktif sangat dibutuhkan agar semua pihak terkait dan yang berkepentingan dapat tertampung semua aspirasinya dengan sebaik-baiknya; 4. Harmonisator berbagai kepentingan. Dalam fungsi ini perda merupakan produk perundang-undangan yang mempertemukan berbagai kepentingan. Oleh karena itu dalam pembentukan Perda, DPRD dan Pemda harus memperhitungkan kepentingan-kepentingan, baik pada tataran daerah yang bersangkutan, lingkup antar daerah, maupun pada tataran nasional; 5. Sebagai alat transformasi perubahan bagi daerah.

48

Dalam fungsi ini, perda ikut menentukan keberhasilan pemerintahan dan pembangunan daerah. Sebagai alat transformasi atau perubahan bagi daerah, Perda memegang peranan penting dalam mencapai sistem pemerintahan dan konerja pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah. Perda bukan sekadar alat untuk mengatur tentang jalannya roda pemerintahan dan pembangunan, melainkan sebagai penagrah terhadap citacita daerah dalam menuju kearah kehidupan masyarakatnya yang lebih baik. Fungsi kelima merupakan fungsi akhir setelah keempat fungsi lainnya telah terpenuhi. Peraturan Daerah yang baik adalah Peraturan Daerah yang mampu mentransformasi masyarakat ke arah yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan, apakah Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan atau di Indonesia secara umum sudah mampu mentransformasi masyarakatnya?. Berbagai kemajemukan masyarakat yang ada di daerah memang merupakan hal yang tidak mudah untuk diatasi. Namun jika fungsi Perda dapat dimaksimalkan, maka masalah sisoal masyarakat di Indonesia lambat laun akan dapat teratasi. Menurut Hari Sabarno ada tiga argumentasi mendasar yang melandasi asumsi otonomi daerah memperkuat dimensi kebersamaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, antara lain30: Pertama, otonomi daerah merupakan kebijakan dan pilihan strategis dalam rangka memelihara kebersamaan nasional dimana hakikat khas daerah tetap

Hari Sabarno, MBA., M.M. Memandu Otonomi Daerah, Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 11

30

49

dipertahankan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam konstruksi ini, pemerintah pusat mempertahankan hak dasar daerah dengan memberikan kewenangan yang proporsional dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Pemerintah pusat dalam hal ini memberikan jaminan kewenangan tersebut dengan tetap membimbing daerah pada koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, melaluo otonomi daerah pemerintah menguatkan sentra ekonomi kepada daerah dengan memberikan kesempatan kepada daerah untuk mengurus dan mengelola potensi ekonominya sendiri secara proporsional. Dengan demikian, kekuatan ekonomi akan tersebar diseluruh daerah dengan mengandalkan kekuatan potensi ekonomi daerahnya masing-masing. Apabila potensi ekonomi ini menyebar secara merata dan berkelanjutan, kesatuan ekonomi nasional akan memiliki fundamental yang sangat kuat. Ketiga, otonomi daerah akan mendoronng pemantapan demokrasi politik di daerah dengan landasan desentralisasi yang dijalankan secara konsisten. Penguatan demokrasi di tingkat cenderung akan mendorong secara perlahan, tetapi pasti penguatan demokrasi politik nasional. Fenomena ini tentu akan memperkuat basis demokrasi di Indonesia. Dalam hal ini jika masyarakat daerah sudah terbiasa dengan proses yang terbuka dan terbiasa terlibat dalam mekanisme pembuatan kebijakan publik di daerah, partisipasi masyarakat di tingkat nasional juga akan semakin meningkat. Dengan ketiga argumentasi tersebut, kontruksi otonomi daerah dapat berjalan sesuai dengan harapan yang dituju. Tidak dapat dipungkiri untuk mencapai tujuan

50

apabila dengan kebersamaan dalam mempersersepsikan otonomi daerah di semua pihak.tersebut kadangkala terasa sulit karena adanya kendala. Pemerintah pusat tetap menempatkan posisinya sebagai regulator yang wajar dan adil dari hasil pengolahan sumber daya alam. dan gangguan yang menghadang. 51 . Mengenai peranan pemerintah pusat dalam pengaturan sumber daya alam. hambatan. pelaksanaan otonomi daerah sesulit apa pun dapat terealisasikan dengan sendirinya. Namun. Hal ini dilakukan agar pemerintah pusat dapat tetap memperhitungkan kepentingan daerah itu sendiri. hakikatnya diarahkan agar proporsi pembaguannya dapat dibagi secara seimbang.

perumusan hipotesis penelitian (bila diperlukan). sistematis adalah berdasarkan suatu sistem. Dengan demikian penelitian merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat. selanjutnya melaksanakan pengolahan data yang kemudian secara bersamaan maupun 52 . maka suatu penelitian telah dimulai. peneliti yang bersangkutan memulai dengan judul penelitian. yakni metode ilmiah untuk menemukan kebenaran. Untuk menjawab tujuan penelitian tersebut. karena sebagai awal peneliti merencanakan mengadakan suatu penelitian yang dipikirkannya adalah masalah yang ditelitinya. Namun “di atas kertas”. apabila peneliti berusaha untuk memecahkan masalah secara sistematis dengan metode tertentu. pengumpulan data. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan tujuan penelitian yang menjawab permasalahan penelitian. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu. sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu. membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan. yang dilakukan secara metodologis. penyusunan kerangka teoritis. peneliti melaksanakan tahap-tahap penelitian yaitu: penyusunan latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian. Adalah langkah yang tepat untuk mengetahui strategi menentukan permasalahan dalam penulisan karya ilmiah. Sebagai kegiatan ilmiah.BAB III METODE PENELITIAN Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah untuk menjawab hasrat keingintahuan manusia yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi. sistematis dan konsisten. Jawaban terhadap tujuan penelitian ini menjadi bobot dari sebuah penelitian.

Dalam melaksanakan penelitian. penulis akan membahas sekitar populasi dan sampel sebagai berikut: Pada pelaksanaan penelitian ini selalu berhadapan dengan objek yang diteliti. peristiwa maupun gejala yang terjadi.berkesinambungan melakukan analisis data.31 Dan uraian diatas dapat dipahami bahwa metode merupakan suatu cara penelitian karya ilmiah yang dipergunakan penulis dalam mengolah berbagai data yang dituangkan dalam penulisannya. 1. Populasi dan Sampel Dalam penulisan skripsi ini. penulis menggunakan populasi dan sampel. Jakarta: Rineka Cipta. Proses dan Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. III. 1992) h. dan pada akhirnya menyusun sebuah skripsi sebagai hasil penelitian. Populasi untuk memecahkan masalah Suharsimi Arikunto. Untuk lebih jelasnya. metode penelitian sangat diperlukan karena metode adalah alat memberi data baik dalam penelitian maupun dalam penulisan skripsi. a. baik berupa manusia. 102 31 53 . benda. (Cet. karena objek yang ditetapkan itu merupakan variabel yang diperlukan penelitian ini. Cara kerja yang ber sistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan. Metode yang dimaksud adalah cara yang teratur dan berpikir baik untuk mencapai maksud.

Makassar: Universitas Negeri Makassar.33 Sedangkan Suharsimi Arikunto sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti. subyek yang kurang dari 100 atau lebih diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. 20-25% atau lebih karena populasi bersifat homogen maka dalam penelitian ini. I. sampel diambil dengan melihat komisi atau pihak yang berkaitan dengan pembahasan penelitian yaitu Panitia Legislasi pada Komisi A Ibid. h. 2000) 33 32 54 . Dasar-dasar Statistik. (Cet. maka penelitiannya merupakan penelitian populasi32 Dalam hal ini populasinya adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Apabila seseorang ingin memiliki semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian. dimana DPRD tersebut terdiri dari beberapa komisi diantaranya adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) b. 10 Muhammad Arif Tiro. selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15%. Komisi A : Bidang Pemerintahan Komisi B : Bidang Perekonomian Komisi C : Bidang Keuangan Komisi D : Bidang Pembangunan Komisi E : Bidang Kesejahteraan Rakyat Sampel Sampel adalah jumlah anggota yang dipilih atau diambil dari suatu populasi.Populasi menurut Suharsimi Arikunto adalah keseluruhan objek penelitian.

perindustrian. meliputi: pemerintahan. peranan wanita. meliputi: keuangan daerah. sosial. hukum/perundang-undangan. penerangan/pers. kedudukan. dunia usaha dan penanaman modal. pertanian. Op. perkebunan. meliputi: pekerjaan umum. perikanan. logistik. 27-28 55 . perdagangan. perumahan rakyat dan lingkungan hidup. 3) Komisi C bidang keuangan. pertambangan dan energi. pertahanan. perhubungan. kehutanan. cit h. ketertiban keamanan. pertamanan. 4) Komisi D bidang pembangunan. perizinan. tata kota. perusahaan daerah dan perusahaan patungan. kesehatan dan keluarga berencana. 2) Komisi B bidang perekonomian. 34 Soenobo. ilmu pengetahuan dan teknologi. pengadaan pangan. kepegawaian serta sosial politik dan organisasi masyarakat. transmigrasi. perpajakan. kepedulian dan olah raga. kebudayaan. peternakan. kebersihan.Adapun pembidangan tugas masing-masing komisi menurut Soenobo Wirjosoegito34 adalah sebagai berikut: 1) Komisi A dan bidang pemerintahan. pariwisata. permuseuman dan cagar budaya. koperasi. 5) Komisi E bidang kesejahteraan rakyat. retribusi. perbankan. Wirjosoegito. meliputi. meliputi: ketenagakerjaan. agama. pendidikan.

3) Dokumentasi yaitu penulis mengumpulkan data dengan cara mencatat dokumen-dokumen yang erat kaitannya pembahasan skripsi ini. penulis menggunakan metode yang berkunjung langsung ke lapangan untuk mendapatkan informasi mengenai 56 . 3. yaitu meliputi sebagai berikut: 1) Observasi yaitu pengumpulan data dimana peneliti dalam hal ini penulis mengamati langsung masalah yang akan dibahas nantinya ke dalam skripsi. Instrumen dapat dikembangkan atau dibuat sendiri oleh peneliti dan dapat diambil dari instrumen yang sudah diketahui indeks kepercayaan dan kebenarannya. Instrumen ini sangat penting dalam suatu penelitian karena benar tidaknya suatu penelitian banyak tergantung pada ketepatan instrumen yang digunakan.2. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat yang dipakai untuk mendeteksi atau mengumpulkan data dan fenomena lain dalam penelitian. 2) Interview yaitu cara pengumpulan data dengan jalan melakukan wawancara langsung kepada informan-informan tertentu terutama pihak-pihak yang menekuni bidang ini. Prosedur Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data untuk skripsi ini. 10 Tahun 2004 terhadap Rancangan Pembuaatan Peraturan Daerah. Adapun instrumen yang penulis gunakan dalam upaya mengakuratkan kegiatan penelitian ini dan memperoleh data penelitian mengenai Penerapan Undangundang No.

Pendekatan sosiologis yaitu penulis ingin mengetahui aspek-aspek sosiologi beserta dengan dampaknya dan akan lebih memahami keadaan-keadaan dalam kehidupan masyarakat.masalah atau bahan-bahan yang dibutuhkan dalam penelitian. penulis menggunakan beberapa metode sesuai petunjuk penulisan karya ilmiah. a. 2) Tahap Pengumpulan Data Dalam penyusunan skripsi ini sebagaimana biasanya dilakukan mahasiswa dalam menyusun skripsi. kemudian penulis menyusun rancangan. antara lain: 1) Tahap Persiapan Dalam tahapan ini. Adapun langkahlangkah yang ditempuh. Metode Pengumpulan Data 57 . disamping itu penulis juga mengadakan penjajakan pada lokasi yang dijadikan sebagai tempat penelitian selanjutnya. penulis menyelesaikan beberapa kegiatan seperti studi pustaka yang ada hubungannya dengan judul yang akan diteliti. seperti instrumen penelitian berupa pedoman observasi. b. Metode Pendekatan Pendekatan yuridis yaitu mengamati dan mengetahui pandangan hukum dalam masalah pembahasan perundangundangan. Adapun metode yang dimaksud adalah sebagai berikut: 3. wawancara serta dokumentasi sebagai langka awal untuk mengetahui Penerapan Undang-undang No. 10 Tahun 2004 terhadap Rancangan Pembuaatan Peraturan Daerah. 4.

10 Tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundangundangan. termasuk peraturan daerah. penulis menggunakan beberapa antara lain: a. seperti buku-buku atau kitab perundangundangan yang ada hubungannya dengan perundang-undangan. Undang-undang No. Teknik Analisis Data Sebelum dikemukakan tentang teknik atau metode yang digunakan dalam menganalisa data yang telah diperoleh maka terlebih dahulu pula dikemukakan 58 . akan tetapi bukan satu-satunya melainkan hanya sebagai bahan pertimbangan dalam pengumpulan data. Field Research yaitu cara pengumpulan data langsung ke lapangan dengan melakukan wawancara dengan orang-orang yang berkaitan dengan hal-hal apa yang diteliti. Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 2) Sumber penunjang yaitu buku yang berkaitan proses rancangan perundang-undangan maupun tentang peraturan daerah serta referensi yang berkaitan dengan ketatanegaraan b. Library Research yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengadakan penelusuran melalui bahan bacaan. antara lain: 1) Sumber pokok yaitu Undang-undang No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah.Untuk mengumpulkan data dalam membahas skripsi ini. 4.

dipengaruhi oleh berbagai faktor. yakni memberikan komentar secara tafsiran terhadap data yang telah diperoleh. tenaga. c. oleh karena itu dalam mengolah data dipergunakan metode pengelolaan data juga yang hanya bersifat kualitatif. Pendekatan kualitatif. Tidak ada suatu kemutlakan untuk menekankan pada salah satu cara. merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan deskriptif analitis. yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis atau lisan.bahwa pada dasarnya data yang dibutuhkan dalam pembahasan skripsi ini adalah data yang bersifat kualitatif. Kepentingan yang tercantum dalam perumusan tujuan dan permasalahan yang menjadi ruang lingkup penelitian b. Yang diteliti dan dipelajari adalah obyek penelitian yang utuh. yaitu a. dan perilaku nyata. Kita tidak perlu mempertentangkan antara pendekatan kualitatif dengan pndekatan kuantitatif karena semuanya bisa dilaksanakan walaupun itu tidak akan pernah sempurna. membuat klasifikasi 59 . dan biaya penelitian Dalam penelitian hukum normatif termasuk peraturan daerah. Sistematisasi berarti. hal ini berpulang pada kemampuan peneliti yang menghendaki format tertentu. Pengolahan data. maka pengolahan data pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Format keinginan pneliti Kemampuan peneliti termasuk di dalamnya keterbatasan waktu.

Pengolahan data penelitian taraf sinkronisasi dari peraturan perundangundangan. yang dilakukan adalah mengumpulkan peraturan daerah yang dihasilkan oleh DPRD Proinsi Sulawesi Selatan bukan peraturan daerah yang diusulkan oleh lembaga eksekutif atau pemerintah. antara lain : 1. Untuk pengolahan data penelitian menelaah sistematika peraturan perundangundangan. Subyek hukum. Menelaah sistematika penyusunan peraturan daerah 3. c. Berikut disebutkan hal-hal yang dilakukan dalam penelitian hukum normatif.terhadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut. yakni asas tanpa kesalahan. Menarik asas-asas hukum 2. atau hal-hal apa yang mempengaruhi adanya asas-asas hukum tersebut. Permasalahan yang muncul berkisar pada dari manakah asas-asas hukum tersebut berasal. Hubungan hukum. dan e. Penelitian terhadap taraf sinkhronisasi dari peraturan perundang-undangan. dapat dilakukan dengan dua titik tolak taraf sinkhronisasi vertikal 60 . tidak ada hukum atau tidak ada pertanggungan jawab pidana. Penelitian dengan tujuan untuk menarik asas-asas hukum. Sebagai contoh dalam hukum pidana. dapat dilakukan terhadap hukum positif tertulis dan tidak tertulis. dikenal suatu asas secara eksplisit. pengertian-pengertian dasar dari sistem hukum. Hak dan kewajiban. tanpa kesalahan. yang mencakup: a. untuk memudahkan pekerjaan analisa dan konstruksi. Selanjutnya diadakan analisa dengan mempergunakan. b. Peristiwa hukum. atau beberapa bidang yang saling berkaitan yang menjadi pusat perhatian penelitian. Obyek hukum. d.

Undang-undang tidak dapat diganggu gugat f. jika pembuatnya sama d. Undang-undang yang bersifat khusus mengenyampingkan undang-undang bersifat umum. Undang-undang yang berlaku belakangan. kemudian mengklasifikasikan daerah-daerah hukum adat. 61 . Kegunaan dari penerapan perbanding peraturan perundang-undangan antara lain akan memberikan pengetahuan persamaan dan perbedaan antara pelbagai bidang tata hukum dan pengertian dasar sistem peraturan perundang-undangan. Undang-undang yang dibuat oleh Penguasa yang lebih tinggi. Undang-undang sebagai sarana untuk semakimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spirituil dan materiil bagi masyarakat Sebagai contoh dari pengolahan penelitian perbandingan hukum. Setiap daerah hukum adat dianalisa untuk kemudian diidentifikasi ciri-ciri khas. mempunyai kedudukan yang lebih tinggi c. Undang-undang tidak berlaku surut b. adalah konsisten. Asas dari perundangan yang dapat dipergunakan adalah: a. Disini metode pengolahan data perbandingan peraturan perundangundangan terutama dipergunakan dengan tujuan untuk mendapatkan abstraksi atau generalisasi. membatalkan undang-undang yang berlaku terdahulu e. dilakukan oleh van Vollenhoven di dalam mengisi apa yang disebut dengan lingkungan hukum.(berdasarkan hierarki) dan horisontal (peraturan setara yang mempunyai hubungan fungsional). yang merupakan daerah hukum adat.

Pada sejarah hukum yang penting adalah gejala-gejala hukum yang unik dalam proses khronologis. menelaah hubungan antara hukum dengan gejala sosial lainnya. dari sudut sejarah. serta sebab-musabab terjadinya gejala-gejala tersebut. kemudian mengambil kesimpulan yang bersifat khusus. Kegunaan dari penggunaan metode ini adalah mengungkapkan fakta hukum masa lampau dan hubungannnya fakta hukum pada masa kini. kepastian hukum maupun penyederahaan hukum. Metode deduktif yaitu menganalisa data yang bertolak dari hal-hal yang bersifat umum. Metode pengolahan penelitian sejarah hukum. Hukum masa kini. Peneliti dapat menjelaskan perkembangan dari bidang hukum yang diteliti.sehingga memudahkan dilakukannya unifikasi. merupakan hasil perkembangan dari salah satu aspek kehidupan manusia pda masa lampau. dan hukum masa kini merupakan dasar bagi hukum pada masa mendatang. 62 . Metode induktif yaitu suatu metode penjelasan yang bersifat khusus kemudian disimpulkan kedalam bentuk umum b. Demikian pula dalam menganalisa data yang telah disimpulkan dengan menggunakan teknik analisis data yang digunakan antara lain: a.

Padahal. membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama. Proses Penyusunan Rancangan Pembuatan Peraturan Daerah Dalam proses penyusunan sebuah peraturan daerah di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebuah fakta baru yang ditemui penulis adalah dimana sebelumnya saya merencanakan melakukan penelitian terhadap peraturan daerah yang lahir dari inisiatif DPRD itu sendiri. tanpa pernah membuat satu pun peraturan daerah. 10 Tahun 2004. jika kita kembali membuka peraturan perundang-undangan maka kita akan menemukan bahwa salah fungsi DPRD itu adalah fungsi legislasi. sesuai dengan Undang-undang No. namun pada awalnya saya akan mencoba meneliti tentang bagaimana proses penyusunan peraturan daerah yang lahir dari inisiatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dilihat dari Undang-undang No. dan kerja sama internasional di daerah.BAB IV HASIL PENELITIAN A. 63 . membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah. DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. APBD. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. namun pada akhirnya bukan rancangan peraturan daerah yang saya temui melainkan fakta baru yaitu tidak adanya satu pun peraturan daerah yang lahir dari inisiatif DPRD itu sendiri. berarti selama ini Badan Legislatif Daerah tersebut hanya bisa membahas dan mengesahkan peraturan daerah yang diusulkan oleh eksekutif atau pemerintah. c. 12 Tahun 2008 pasal 42 ayat (1) dan (2) fungsi DPRD sebagaai berikut : 1. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. b. peraturan kepala daerah.

d. g. 2. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD Provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD Kabupaten/Kota. Legislasi. Juga diatur dalam peraturan tata tertib DPRD tentang kedudukan. 2. 64 . melakukan pengawasan dan meminta laporan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. f. b. j. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundangundangan. Fungsi DPRD Pasal 9 1. memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah. tugas. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. e. dan wewenang DPRD Proinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007: Kedudukan DPRD Pasal 8 1. Pengawasan. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). DPRD merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Anggaran. i. h. dan c. DPRD mempunyai fungsi : a. memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama antardaerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. fungsi. DPRD sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah memiliki tanggung jawab yang sama dengan Pemerintah Daerah dalam membentuk Peraturan Daerah untuk kesejahteraan rakyat.

Tugas dan Wewenang DPRD Pasal 10 1. memilih wakil Gubernur dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil Gubernur. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 3. membahas dan menyetujui Rancangan APBD bersama dengan Gubernur. menyusun. 4. Fungsi legislasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam membentuk Peraturan Daerah bersama Gubernur. selanjutnya hasil pembahasan dibuatkan Nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara Gubernur dengan Pimpinan DPRD. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Daerah terhadap rencana perjanjian Internasional di daerah. meminta laporan keterangan pertanggungjawaban Gubernur dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah. e. Fungsi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan dalam bentuk merencanakan. membentuk Panitia Pengawas pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. selanjutnya hasil pembahasan dibuatkan Nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara Gubernur dengan Pimpinan DPRD. dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah serta Perundang-undangan lainnya. kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. bersama Gubernur mebahas Rancangan KUA. bersama Gubernur membahas PPAS. d. membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan Gubernur untuk mendapatkan persetujuan bersama. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah. kerjasama denagan pihak ketiga dan Internasional di daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya. j. b. dan menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah bersama Pemerintah Daerah. memberikan persetujuan terhadap kerjasama Internasional yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Peraturan Gubernur. Peraturan Gubernur. f. k. DPRD mempunyai tugas dan wewenang: a. i. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri.2. Peraturan Daerah. Fungsi pengawasan diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-undang. c. h. g. 65 .

menyerap. 2. Setelah mempelajari tentang fungsi DPRD itu sendiri khusunya di Provinsi Sulawesi Selatan saya tidak pernah menyangka berdasarkan bukti penelitian saya di lapangan kalau ternyata tidak ada satu pun RANPERDA inisiatif dari DPRD itu sendiri.l. DPRD melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. padahal DPRD merupakan lembaga Perwakilan Rakyat yang berada dalam sistem Pemerintahan. memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. 363 35 66 . Natabaya menyatakan bahwa Peraturan Daerah merupakan salah satu sarana transpormasi sosial dan demokrasi. sebagai organ pemerintahan di tingkat lokal mengemban harapan rakyat untuk ikut menggulirkan proses reformasi politik dan ekonomi. Menurut Purwo Santoso DPRD. menerima. dan dengan demikian mendekatkan simpul-simpul pembuatan kebijakan kepada mereka yang akan terkena Abdul Bari Azed. Agenda reformasi ini mencakup dua issue sentral. Jenderal Mahkamah Konstitusi (Jakarta : 2008) h. sebagai perwujudan kemampuan masyarakat daerah untuk menjawab perubahan cepat dan tantangan pada era otonomi35. melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur. Selain tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yakni desentralisasi dan pengembangan otonomi daerah. Keduanya bermuara pada keinginan untuk mendekatkan jalannya pemerintahan pada rakyatnya. Harmonisai Legislasi Pusat dan Daerah Melalui Penguatan Peran dan Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Bidan Legilasi. n. menyalurkan dan menindak lanjuti aspirasi masyarakat. m.

fungsi legislatif sering dimaknai sebagai fungsi perumus peraturan perundang-undangan. Optimalisasi Fungsi DPRD: Penetapan Agenda dan Pengembangan Kemitraan. secara teoritis memegang tiga peran yaitu: Pertama. Dalam makalah ini. Jelasnya. Ketiga. yang perlu digaris bawahi adalah terekspresikannya kehendak bersama yang dihasilkan dari keragaman kepentingan dan latar belakang masyarakat. Sekali lagi. khususnya yang bakal terkena akibat dari diberlakukannya peraturan perundangundangan tersebut. Secara teknis. DPRD berperan sebagai lembaga yang mengamban misi pengelolaan konflik dalam masyarakatnya. melainkan terekspresikannya ketentuan-ketentuan tersebut sebagai hasil kesepakatan berbagai pihak yang terkait. Purwo Santoso. Kedua. Namun secara generik. sebagai agen perumus agenda bagi masyarakat yang diwakilinya. DPRD adalah mengembang peran integratif dalam masyarakatnya. 25 36 67 . Sinar Grafika (Jakarta : 2006) h. dua peran yang disebut terakhir ini dibahas sekaligus dalam konteks yang lebih khusus. yakni pengembangan kemitraan. fungsi ini bisa difahami sebagai pengekspresian kehendak khalayak ramai. dan bersamaan dengan hal itu mendekatkan pelayanan publik kepada penggunanya36.kebijakan yang bersangkutan. Dalam konteks inilah penulis bermaksud untuk mengindentifikasi fungsi peran DPRD. yang lebih penting bukan hanya terumuskannya ketentuan perundang-undangan. Sebagai pengemban peran perwakilan rakyat.

akibatnya kurang mendukung 37 Wawancara bersama. 8 Februari 2009 68 . Sebenarnya melalui peraturan daerah. Pemerintah Daerah memiliki konsepsi justifikasi hukum yang mampu menerapkan kebijakan daerah dalam konsep legalnya secara proporsional. Apabila merujuk pada hierarki peraturan perundang-undangan. kecenderungan peraturan daerah hanya mendukung distribusi kekuasaan dan kepentingan tertentu di daerah. peraturan daerah harus mampu menjadi alat legitimasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara menyeluruh. Misalnya. akan tetapi begitu banyak RANPERDA usulan dari Pemerintah dan setelah kami pelajari kami menganggap ini sudah banyak RANPERDA yang berpihak kepada rakyat kecil37. peraturan diarahkan sepenuhnya untuk memenuhi kepentingan masyarakat daerah itu sendiri dan menghindari adanya kemungkinan penyimpangan atas tujuan penggunaan peraturan daerah untuk materi muatan yang bersifat nasional dan pembebanan terhadap masyarakat serta dunia usaha. saya tidak bisa mengambil suatu kesimpulan yang menyatakan bahwa Anggota Legislatif Provinsi Sulawesi Selatan periode 2004-2009 tidak mampu membuat suatu Peraturan Daerah dengan alasan pada waktu saya melakukan wawancara langsung dengan mereka khususnya di bidang panitia legislasi: Ramli Haba mengatakan : Bahwa selama periode 2004-2009 DPRD Provinsi Sulawesi Selatan tidak mengusulkan Peraturan Daerah bukan berarti kami tidak mampu merancang Peraturan Daerah. Namun. Ketua Panitia Legislasi pada tanggal.Walaupun demikian halnya yang terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tersebut.

69 . Karena saya tidak menemukan satu pun RANPERDA inisiatif DPRD. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari Gubernur diatur dengan Peraturan Presiden. (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota komisi. sehingga mendorong masyarakat melakukan perlawanan dan penolakan. Dengan melihat kepada banyaknya manfaat peraturan daerah untuk melakukan stimulasi ekonomi. 3. Berkaitan dengan proses penyusunan rancangan pembuatan peraturan daerah di Provinsi Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut : a) Persiapan pembentukan peraturan Daerah 1. 2. Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama Gubernur. maka penulis akan menjelaskan bagaimana proses penyusunan RANPERDA mulai dari tahap pengusulan sampai penetapan PERDA tersebut sesuai dengan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. salah satu contohnya adalah peraturan daerah perlu mendorong penataan usaha kecil dan menengah serta koperasi di daerah tersebut. alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi.penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. masing-masing sebagai kepala Pemerintahan darah provinsi. gabungan komisi. 3 Tahun 2007.

misalnya melalui televisi Republik Indonesia. (2) Rancangan peraturan yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kepada Gubernur. media cetak seperti surat kabar.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan tata tertib DPRD. 6. Sebagaimana rancangan undang-undang. 70 . rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. majalah dan edaran di daerah yang bersankutan. 5. 4. sehingga khalayak ramai mengetaui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Daerah yang bersankutan. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari Gubernur dilaksanakan oleh sekretariat daerah. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. RRI. (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh Gubernur dan disampaikan dengan surat pengantar Gubernur kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah oleh Gubernur. (1) Penyebarluasan rancangan peratuaran daerah yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dilaksanakan oleh sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Internet.

sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh Gubernur digunakan sebagai bahan untuk persandingan.7. (1)Apabila dalam satu masa sidang. meliputi: 1) Dalam hal Rancanan Peraturan Darah yang berasal dari Gubernur : 71 . Gabungan Komisi. b) Pembahasan Rancangan peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Pasal 111 (1) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah dilakukan melalui 4 (empat) tahap pembicaraan. Pembicaraan tahap kedua. meliputi: 1) Penjelasan Gubernur dalam Rapat Paripurna tentang penyampaian Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari Gubernur. Pembicaraan tahap pertama. b. atau alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi. Komisi. (2) Rancangan peraturan daerah disampaikan oleh Anggota. a. Gubernur dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 2) Penjelasan dalam Rapat Paripurna oleh pengusul terhadap Rancangan Peraturan Daerah dan atau Perubahan Peraturan Daerah atas usul prakarsa DPRD. menganai materi yang sama.

3) Terhadap jawaban Gubernur atau jawaban Legislatif sebagaimana dimaksud angka 1) dan 2) huruf b. d) Persetujuan usul prakarsa menjadi usul prakarsa DPRD. meliputi : 1) Pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna yang didahului dengan 72 . Pembicaraan tahap keempat. b) Gubernur untuk memberikan pendapat. dilakukan dalam Rapat Paripurna setelah dibahas dalam Panitia Musyawarah. Pembicaraan tahap ketiga meliputi pembahasan dalam rapat Komisi/Gabungan Komisi atau Rapat Panitia Khusus dilakukan bersama dengan Gubernur atau pejabat yang ditunjuk.a) Pemandangan umum dalam Rapat Paripurna dari Fraksi-fraksi. c. b) Jawaban Gubernur dalam Rapat Paripurna terhadap Pemandangan Umum Fraksi-fraksi. d. dan. 4) Pemandangan umum atau pendapat Gubernur tahap kedua sebagaimana dimaksud angka 3) dan jawaban Gubernur atau jawaban Legislatif terhadap pemandangan umum atau pendapat Gubernur tahap kedua. 2) Dalam hal Rancanan Peraturan Darah atas usul prakarsa DPRD : a) Anggota DPRD lainnya untuk memberikan pandangan. apabila dipandang perlu dapat dilakukan pemandangan umum atau pendapat Gubernur tahap kedua. c) Para pengusul memberikan jawaban atas pandangan para anggota dan pendapat Gubernur.

(3) Sebelum dilakukan pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diadakan rapat fraksi. (4) Apabila dipandang perlu. tahap kedua.a) Laporan hasil pembicaraan tahap ketiga. b) Pendapat akhir Fraksi. 73 . dalam rapat paripurna DPRD setelah dibahas dan dijadwalkan oleh Rapat Panitia Musyawarah. (2) Sebelum dilakukan pendapat akhir fraksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d angka 1) huruf b. panitia musyawarah dapat menentukan bahwa pembicaraan tahap ketiga dilakukan dalam rapat Gabungan Komisi atau dalam Rapat Panitia Khusus. apabila dipandang perlu dapat dilakukan laporan hasil pembicaraan tahap ketiga. (2) Rancangan Peraturan Daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD dan Gubernur. terhadap laporan pembicaraan tahap ketiga. Pasal 112 (1) Rancangan Peraturan Daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas DPRD dan Gubernur. (3) Penarikan Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh DPRD. dan c) Pengamilan keputusan. 2) Penyampaian sambutan Gubernur terhadap pengambilan keputusan. dilakukan dengan Keputusan Pimpinan DPRD dengan disertai alasan-alasan penarikannya.

peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan peraturan daerah lain. (3) Apabila Rancangan Peraturan Daerah tersebut tidak ditandatangani oleh Gubernur dalam waktu paling lambat 30 hari sejak rancangan Peraturan Daerah disetujui oleh DPRD. (6) Rancangan Peraturan Daerah yang telah ditarik tidak dapat diajukan kembali. (2) Rancangan Peraturan Daerah yang telah disetujui oleh DPRD disampaikan kepada Gubernur dalam jangka waktu paling lambat (7) hari terhitung sejak tanggal disetujui DPRD untuk diundangkan dalam lembaran daerah.(4) Penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana pada ayat (1) oleh Gubernur. (4) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. maka rancangan Peraturan Daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. disampaikan dengan surat Gubernur disertai alasan-alasan penarikannya. c) Penetapan dan Penandatanganan Peraturan Daerah Pasal 113 (1) Rancangan Peraturan Daerah ditandatangani oleh Gubernur atas persetujuan bersama DPRD dalam jangka waktu paling lambat 30 hari (tiga puluh ) hari. (5) Penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dapat Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah antara DPRD dan Gubernur dengan disertai persetujuan bersama. 74 .

Penjelasan Pasal 139 (1) tersebut menjelaskan bahwa hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata 75 . B. retribusi daerah dan tata ruang daerah sebelum diundangkan dalam Lembaran Daerah harus dievaluasi oleh pemerintah. Hakikat Pentingnya Peran Serta Masyarakat dalam Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Partisipasi masyarakat dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan diatur pada Bab X pasal 53 yang menyatakan bahwa masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. (6) Peraturan Daerah yang berkaitan dengan APBD. Senada dengan hal tersebut. (8) Persetujuan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan DPRD yang ditandatangani oleh Pimpinan Rapat. dalam pasal 139 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah juga terdapat ketentuan bahwa masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda. Penjelasan Pasal 53 itu menjelaskan bahwa hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pajak daerah. (7) Peraturan Daerah yang bersifat mengatur setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah harus didaftarkan kepada pemrintah.(5) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) berlaku setalah diundangkan dalam lembaran daerah.

Hak masyarakat tersebut dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Sedangkan dapat diketahui bahwa tahap penyiapan rancangan PERDA tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. 3. setiap hak pada masyarakat menimbulkan kewajiban pada pemerintah.Tertib DPRD. Dari bunyi pasal 53 UU Nomor 10 Tahun 2004 dan pasal l39 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004. Dari penjelasan pasal-pasal diatas dapat diketahui bahwa kewajiban tersebut ada pada DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. sehingga haruslah jelas pengaturan mengenai kewajiban Pemerintahan Daerah untuk memenuhi hak atas partisipasi masyarakat dalam penyusunan Peratura Daerah tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut. dan. 2. penyiapan rancangan Perda dapat juga dilakukan oleh Kepala Daerah. Dalam konteks hak asasi manusia. Oleh karena. lebih-lebih rancangan Perda tentang APBD hanya berasal dari Kepala Daerah. Hal ini terindikasikan dari penjelasan bahwa “hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD”. Masukan masyarakat tersebut dapat dilakukan secara lisan atau tertulis. partisipasi masyarakat dalam penyusunan Perda hanya pada tahap penyiapan dan pembahasan rancangan Perda di DPRD. partisipasi masyarakat dalam penyusunan PERDA merupakan hal sangat diperlukan guna menjamin efektifitas keberlakuannya. Sehingga masih memerlukan kejelasan mengenai 76 . Masyarakat berhak memberikan masukan dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan PERDA. serta Penjelasannya dapat diketahui bahwa: 1. yang dapat dilakukan baik dalam tahap penyiapan maupun tahap pembahasan. Dengan demikian.

Hari Sabarno. Pentingnya paertisipasi masyarakat dalam penyelengaraan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan peran sentral masyarakat dalam Negara demokrasi. menumbuhkan prakarsa. di samping itu.M. dan inovatif dari masyarakat itu sendiri. 22 Tahun 1999 pemerintah harus berupaya mendorong untuk memberdayakan masyarakat. baik dalam hal kebijakan maupun dalam tujuan berpemerintahan38. 2007) h. Sementara itu. proses pemberdayaan masyarakat yang dikemukakan harus mengandung makna yang dinamis untuk mengembangkan diri dalam mencapai kemajuan. MBA. 41 39 Ibid. Hal ini secara implisit merupakan Political Will pemerintah yang harus dijalankan sebagai wujud konsepsi dasar penyelenggaraan pemerintah daerah. Menjaga Kesatuan Bangsa (Jakarta: Sinar Grafika. baik pada tahap penyiapan maupun pembahasan. penuh inisiatif.. Memandu Otonomi Daerah.kewajiban untuk memenuhi hak masyarakat berpartisipasi dalam pembentukan Perda. di mana pemerintahan yang didasarkan kepada rakyat merupakan tujuan utama kehidupan berploitiknya. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan daerah sebagai perubahan kedua atas Undang-undang No. meningkatkan peran serta masyarakat dan mendoron kemajuan otonomi daerah. Dengan demikian. kreatifitas. perlu ada partisipasi secara aktif. di mana partisipasi masyarakat dalam konteks ini mengandung makna menegakkan demokrasi di daerah. M. pentingnya juga adalah untuk mendukung kemadirian daerah yang didukung segenap masyarakatnya39. 38 77 . partisipasi masyarakat. Melalui Undang-undang No.

dan Meningkatkan kepercayaan warga kepada eksekutif dan legislatif. 78 .Adapun manfaat partisipasi masyarakat dalam pembuatan rancangan peraturan daerah adalah sebagai berikut : Memberikan landasan yuridis yang lebih baik untuk pembuatan rancangan peraturan daerah. Memastikan adanya implementasi yang lebih efektif karena warga mengetahui dan terlibat dalam pembuatan pearaturan daerah tersebut.

Dapat dilaksanakan. sesuai dengan hasil penelitian yang saya lakukan selama satu bulan sejak tanggal 3 Februari sampai tanggal 4 Maret 2009 di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) ternyata yang saya temukan baru sebatas teori karena berdasarkan keterangan yang saya terima dari para anggota legislatif khususnya Ketua Panitia Legilaslasi. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Undang-undang sebagai sarana untuk semakimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spirituil dan materiil bagi masyarakat 79 . 4. 6. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. dan 7. Keterbukaan: 8. 5. Kejelasan rumusan.BAB V PENUTUP A. Jadi mungkin kalau kita bertanya tentang bagaimana implementasinya Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 terhadap peraturan daerah di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan saya tidak dapat mengambil kesimpulan yang menyatakan Asas dari perundangan yang dapat dipergunakan adalah: 1. Kejelasan tujuan. 3. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. 2. Kesimpulan Berbicara tentang sejauh mana penerapan Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 terhadap rancangan pembuatan peraturan daerah.

Undang-Undang ini memuat secara lengkap pengaturan baik menyangkut sistem. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan merupakan landasan yuridis pembentukan peraturan perundangundangan baik di tingkat pusat maupun daerah. teknik penyusunan. pengesahan.Penyusunan pembuatan rancangan peraturan daerah secara kasak mata akan terlihat mudah dalam perancangannya. perumusan. asas. salah satu fakta yang membuktikan adalah selama periode 2004-2009 tidak ada satu pun rancangan peraturan daerah inisiatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. jenis dan materi muatan. Tertib pembentukan peraturan perundang-undangan. baik di tingkat pusat maupun daerah. dan penyebarluasan. akan tetapi setelah saya melakukan penelitian di salah satu lembaga Negara yang berwenang membuat rancangan peraturan daerah tersebut yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Proinsi Sulawesi Selatan ternyata jauh dari fakta yang kita pikirkan. persiapan. Atas kejadian ini kita bisa mengambil kesimpulan yang menyatakan bahwa mereka tidak mampu membuat suatu rancangan Peraturan Daerah mungkin ada alasan lain yang menyebabkan mereka tidak membuat rancangan Peraturan Daerah. pembahasan. Untuk kepastian hukum dan ketertiban dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. pengundangan. diatur sesuai dengan proses pembentukan dari jenis dan hirarki serta materi muatan peraturan perundang-undangan. di tingkat pusat telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2005 tentang Tentang Tata Cara Penyusunan dan Pengelolaan Program 80 . proses pembentukan yang dimulai dari perencanaan.

Legislasi Nasional. Rancangan Peraturan Presiden tersebut telah disiapkan oleh Departemen Dalam Negeri dan Departemen Hukum dan HAM dan telah disampaikan kepada Presiden untuk ditetapkan menjadi Peraturan Presiden. Rancangan Peraturan Pemerintah. Pengundangan. Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Pengesahan. Berdasarkan perintah Pasal 27 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dan Pasal 140 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Kondisi yang baik dalam perencanaan dan persiapan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah dan harmonisasi materi atau substansi Rancangan Peraturan Daerah antar Satuan Kerja Perangkat Daerah akan melahirkan Peraturan Daerah yang baik dan berkualitas guna menjamin efektifitas keberlakuannya di masyarakat secara menyeluruh yang berada di wilayah hukum tersebut. dan Rancangan Peraturan Presiden. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Urgensi pengaturan tata cara pengajuan Rancangan Peraturan Daerah adalah agar lebih tercapai koordinasi antara Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam penyiapan Rancangan Peraturan Daerah dan efektifitas proses pengharmonisasian Rancangan Peraturan Daerah. perlu ditetapkan Peraturan Presiden tentang Tata Cara Pengajuan Rancangan Peraturan Daerah. Sambutan Menkumham Andi Mattalatta dalam Lokakarya Menuju Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Melalui Peningkatan Kompetensi Aparatur Pemerintahan Daerah Dalam Tertib Pembentukan Peraturan Daerah di Jakarta (19-21 November 2007) 40 81 . dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan40.

dimana suatu kaidah hukum yang khusus selalu bertumpu pada kaidah hukum yang umum dan tidak di perkenankan saling bertentangan.Dalam kajian ilmu hukum setidaknya ada 3 faktor yang menjadi parameter sebuah hukum/peraturan perundang-undangan berlaku secara baik. Keberlakuaan Yuridis Keberlakuan yuridis atau normatif suatu peraturan atau kaidah yaitu jika kaidah itu merupakan bagian dari kaidah hukum tertentu yang didalam kaidah-kaidah hukum saling menunjuk yang satu terhadap yang lain. Keberlakukan Sosiologis/empiris Bahwa keberlakuan sosiologis sebuah peraturan perundang-undangan berkaitan dengan penerimaan peraturan tersebut didalam masyarakat. Sistem kaidah hukum yang demikian itu merupakan kaseluruhan hirarkhi hukum. Sosiologis dan Filosofis. Keberlakuan Filosofis Bahwa keberlakuan Filosofis berkaitan dengan harapan-harapan yang ada dalam kehidupan masyarakat. masyarakat berharap agar kehidupannya lebih sejahtera dan keadilan dapat ditegakan ditengah masyarakat. Dalam hal keberlakuan filosofis ini menuntut kepekaan dan kesadaran dari para pembentuk peraturan perundangan-perundangan bisa memasukan nilai-nilai 82 . yakni : mempunyai dasar keberlakuan Yuridis. Sehingga penerimaan tersebut akan menimbulkan keefektifan ketika di jalankan. misalnya dengan adanya hukum. Jka peraturan tersebut memang berasal dari keinginan masyarakat maka akan berimplikasi pada penerimaan masyrakat atas hukum tersebut.

Saran 83 . Memastikan adanya implementasi yang lebih efektif karena warga mengetahui dan terlibat dalam pembuatan pearaturan daerah tersebut. dan 3. Bahwa tiga hal tersebut diatas pada tahap awal dapat menuntun kita untuk menilai apakah isi Peraturan Daerah yang dibentuk sudah berpihak pada rakyat atau belum. maka kita sama saja membiarkan elit politik leluasa menjarah hak-hak rakyat melalui produk hukumnya. Sedangkan untuk melawan elit Politik. karena jika hal tersebut tidak dilakukan maka hukum akan terasa asing ditengah masyarakat. Dalam berbagai Peraturan Perundang-undangan Partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam penyusunan sebuah Peraturan Daerah. sehingga cita-cita hukum untuk menegakan keadilan tidak akan terwujud. B. diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Jika partisipasi tersebut tidak ada.filosofis/hakiki yang ada dalam masyarakat. 2. Memberikan landasan yuridis yang lebih baik untuk pembuatan rancangan peraturan daerah. dimana partisipasi masyarakat sangat bermanfaat guna menjamin efektifitas keberlakuannya di masyarakat jika berhubungan dengan masyarakat tersebut. dapat kita lakukan melalui partisipasi aktif kita untuk mengawasi kinerja Legislative (DPRD) dan Eksekutif (Gubernur) baik dalam Pembentukan maupun Pelaksanaannya. Meningkatkan kepercayaan warga kepada eksekutif dan legislatif.

maka dari itu penulis masih berharap dari kritikan yang bersifat membangun.Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti. Masyarakat tidak lagi memilih pada PEMILU 2009 Calon Anggota Legislatif yang terlalu memberikan janji-janji kepada masyarakat. 84 . Para anggota legislatife yang menduduki Jabatan Panitia Legislasi orang-orang yang mempunya kapabilitas di bidang itu. penulis sadar bahwa dari penelitianan yang dilakukan mungkin masih jauh dari harapan kesempurnaan. 3. karena sudah fakta yang membuktikan bahwa mereka hanya mengingkan kursi jabatan. Tak lepas dari itu penulis juga akan memberikan beberapa saran sebagai berikut : 1. agar nantinya dapat membuat atau merancang sebuah Peraturan Daerah. 2. Diharapkan kiranya pada Pemilihan Umum (PEMILU) 2009 agar masyarakat tidak lagi memberikan kesempatan kepada para Calon Anggota Legislatif yang tidak mempunyai kapabilitas di bidang tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful