P. 1
Musashi_Eiji_Yoshikawa

Musashi_Eiji_Yoshikawa

|Views: 37|Likes:

More info:

Published by: CROSSFiRE netcafe, Inc. on Oct 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2011

pdf

text

original

Sections

  • Lahirnya Musashi
  • Perguruan Yoshioka
  • Roda Keberuntungan
  • Berhadapan dan Mundur
  • Peri Air
  • Angin Musim Semi
  • Hozoin
  • Dataran Hannya
  • Tanah Perdikan Koyagyu
  • Bunga Peoni
  • Pembalasan Jotaro
  • Burung-Burung Bulbul
  • Sasaki Kojiro
  • SERTIFIKAT
  • Berkumpul kembali di Osaka
  • Pemuda Tampan
  • Kerang Pelipur Lara
  • Berlalunya Seorang Pahlawan
  • Galah Pengering
  • Gunung Rajawali
  • Ngengat di Musim Dingin
  • Kincir Mainan
  • Kuda Terbang
  • Kupu-Kupu di Musim Dingin
  • Pengumunan
  • Jembatan Besar di Jalan Gojo
  • Ladang yang Layu
  • Manusia Serba bisa
  • Terlalu Banyak Kojiro
  • Adik
  • Tukang yang Santun
  • Gema di Dalam Salju
  • Orang-Orang Perlente
  • Kecapi Rusak
  • Sakit Hati
  • Bau Kayu Gaharu
  • Pintu Gerbang
  • Perangkap Maut
  • Pertemuan di Bawah Sinar Bulan
  • Pohon Pinus Lebar
  • Persembahan untuk yang Mati
  • Minuman Susu
  • Cabang-Cabang yang Berjalin
  • Air Terjun Jantan dan Betina
  • Penculikan
  • Prajurit Kiso
  • Taring Berbisa
  • Peringatan Ibu
  • Cinta Semalam
  • Api Pembasuh
  • Bermain Api
  • Jangkrik di Rumput
  • Perintis
  • Pembantaian di Tepi Sungai
  • Serutan
  • Sepiring Ikan Lumpur
  • Begitu Gurunya, Begitu Pula Muridnya
  • Setan-Setan Gunung
  • Tanam Pertama
  • Lalat-Lalat
  • Penggosok Jiwa
  • Rubah
  • Surat Mendesak
  • Bakti Seorang Anak
  • Hujan Musim Semi yang Merah
  • Potongan Kayu
  • Guru yang Ditinggalkan
  • Percakapan dengan Pengikut
  • Serangga-Serangga Mendengung
  • Elang
  • Kesemek Muda
  • Mata
  • Empat Guru dengan Satu Lampu
  • Pohon Lokus
  • Kegilaan Tadaaki
  • Kepekaan Akan Segala Sesuatu
  • Dua Pemukul Genderang
  • Penjaga Setan
  • Sesama Murid
  • Buah Delima
  • Negeri Impian
  • Tantangan
  • Sapi yang Lari
  • Biji Rami
  • Tukang Sapu dan Pedagang
  • Kembang Pir
  • Pelabuhan
  • Guru Menulis
  • Lingkaran
  • Biru Shikama
  • Belas Kasihan Kannon
  • Pasang-Surut Kehidupan
  • Kapal Perang
  • Elang Pemburu dan Perempuan
  • Sebelum Tanggal Tiga Belas
  • Di Waktu Fajar
  • Perkawinan
  • 110. Jiwa yang Sangat Dalam

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

MUSASHI
karya : EIJI YOSHIKAWA

Buku 1 : TANAH
bagian 1
Takezo terbaring di antara mayat-mayat itu. Ribuan jumlahnya. “Dunia sudah gila,” pikirnya samar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin musim gugur.” Ia sendiri seperti satu di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat mengangkatnya beberapa inci dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa begitu lemah. “Sudah berapa lama aku di sini?” ia bertanya-tanya. Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tangan untuk mengangkat tangan pun ia tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama tadi aku pingsan,” pikirnya sambil menggerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum begitu sadar bahwa dirinya sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya. Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya, kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan Sekigahara. Sekarang ini lewat tengah hari, tanggal lima belas bulan sembilan tahun 1600. Sekalipun topan telah berlalu, sekali-kali siraman hujan segar masih menimpa mayatmayat itu, termasuk wajah Takezo yang tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu. “Seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedangkan pikirannya seperti bayang-bayang igauan yang melintas. Pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu. Kobayakawa Hideaki, yang dikiranya sekutu, ternyata diam-diam telah bergabung dengan Tentara Timur. Ketika ia menyerang pasukan Ishida Mitsunari pada senja hari, jalan pertempuran pun berubah. Ia kemudian menyerang tentara panglima-panglima yang lain – Ukita, Shimazu, dan Konishi. Maka sempurnalah keruntuhan Tentara Barat. Hanya dalam setengah hari pertempuran sudah dapat dipastikan siapa yang sejak itu akan memerintah negeri. Dialah Tokugawa Ieyasu, daimyo Edo yang perkasa. Bayangan kakak perempuannya dan penduduk desa yang sudah tua-tua mengambang di depan matanya. “Aku akan mati,” pikirnya tanpa rona sedih. “Jadi, beginikah rasanya?” Dan ia pun merasa tertarik ke arah Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kedamaian maut, seperti anak-anak yang terpesona oleh nyala api. Tiba-tiba salah satu mayat yang dekat dengannya mengangkat kepala, “Takezo!” Bayang-bayang dalam kepala Takezo menghilang. Seolah terbangun dari mati, ia pun menoleh ke arah suara itu. Ia yakin itu suara teman karibnya. Dengan segenap kekuatan, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan ia paksakan keluar suara bisikan yang hampir tidak terdengar itu, karena kalah oleh titik-titik hujan. “Matahachi, kaukah itu?” Lalu ia rebah, terbaring diam, mendengarkan. “Takezo! Betul-betul kau masih hidup?” “Ya, hidup!” serunya, tiba-tiba keluar pongahnya. “Dan kau? Kau sebaiknya jangan mati juga. Jangan berani-berani!” Matanya lebar terbuka sekarang, dan senyuman tipis bermain di bibirnya. “Mana bisa aku mati! O, tidak!” Sambil terengah-engah karena merangkak menyeret badan dengan susah payah, Matahachi pun mendekati sahabatnya setapak demi setapak. Ditangkapnya tangan Takezo, tapi yang ia cengkeram dengan kelingkingnya sendiri hanyalah kelingking temannya itu. Sebagai sahabat, sejak kanak-kanak mereka sering mematrikan janji dengan cara itu. Ia pun lebih mendekat lagi, dan kemudian menggenggam tangan sahabatnya itu seluruhnya. “Sungguh aku tak percaya kau hidup juga! Tentunya hanya kita yang selamat!” “Jangan begitu terburu-buru! Aku belum mencoba berdiri.” “Mari kubantu. Ayo kita pergi dari sini!” Tapi tiba-tiba saja Takezo menarik Matahachi ke tanah dan menggeram, “Pura-pura mati! Celaka lagi!” Bumi pun mulai menderum seperti kawah gunung. Lewat tangan mereka berdua tampak angin pusaran sedang mendekat. Dan semakin mendekat. Baris-baris penunggang kuda sehitam jelaga meluncur langsung menuju mereka berdua. “Bajingan! Mereka kembali!” kata Matahachi sambil terus mengangkat lutut, seolah-olah bersiap melompat. Takezo langsung menangkap pergelangan kakinya, hingga hampir-hampir mematahkannya, serta merenggutnya ke bumi. Dalam sekejap mata, para penunggang kuda sudah terbang melewati mereka. Beratus-ratus kaki kuda yang berlumpur dan menyimpan maut mencongklang dalam formasi, menyepelekan para samurai yang sudah tewas. Sambil memperdengarkan pekikan-pekikan perang, dan dengan zirah serta senjata berdentingan, para penunggang kuda itu melaju terus. Matahachi berbaring menelungkup dengan mata terpejam, dengan harapan kosong semoga mereka tidak terinjak-injak, sedangkan Takezo menatap tanpa berkedip ke langit. Kuda-kuda itu begitu dekat dengan mereka, hingga mereka dapat mencium bau keringatnya. Kemudian semuanya berlalu. Secara ajaib mereka tidak terluka dan tidak dikenali, dan untuk beberapa menit lamanya keduanya tinggal diam tak percaya. “Selamat lagi!” kata Takezo sambil mengulurkan tangan kepada Matahachi. Masih merangkum bumi, pelanpelan Matahachi memutar kepala, memperlihatkan seringai lebar yang sedikit bergetar. “Ada yang berpihak pada kita, itu pasti,” katanya parau. Kedua sahabat itu saling bantu berdiri dengan susah payah. Pelan-pelan mereka melintasi medan pertempuran, menuju tempat aman di bukit-bukit berhutan, terpincang-pincang dan berangkulan. Di sana mereka rebah, dan sesudah beristirahat sebentar, mulailah mereka mencari-cari makanan. Dua hari mereka hidup dari buah berangan liar dan daun-daunan yang dapat dimakan di dalam lubang-lubang basah di Gunung Ibuki. Makanan itulah yang membuat mereka tidak mati kelaparan, tapi perut Takezo jadi sakit, dan usus Matahachi tersiksa. Tak ada makanan yang dapat mengenyangkannya, tak ada minuman yang dapat menghilangkan dahaganya, tapi ia merasa kekuatannya pulih kembali sedikit demi sedikit. Badai tanggal lima belas itu menandai akhir topan musim gugur. Kini hanya dua malam sesudahnya, bulan yang putih dingin sudah memandang muram ke bawah, dari langit yang tak berawan. Mereka berdua mengerti, betapa berbahayanya berada di jalan, dalam cahaya bulan terang. Bayangan mereka akan tampak seperti bayangan sasaran, yang dapat dengan jelas dilihat oleh patroli yang sedang mencari orang-orang yang berkeliaran. Keputusan untuk mengambil resiko itu datang dari Takezo. Melihat keadaan Matahachi yang begitu jelek – katanya lebih baik tertangkap daripada terus mencoba berjalan – agaknya memang tidak banyak pilihan lain. Mereka harus berjalan terus, tapi jelas pula bahwa mereka harus menemukan tempat untuk menyembunyikan diri dan beristirahat. Maka perlahan-lahan mereka pun berjalan menuju tempat yang menurut mereka adalah arah kecil Tarui. “Bisa kau bertahan?” Tanya Takezo berulang-ulang. Dilingkarkannya tangan temannya itu ke bahunya sendiri, untuk membantunya berjalan. “Kau baik-baik saja, kan?” Napas berat temannya itulah yang mengkhawatirkannya. “Mau beristirahat?” “Aku baik-baik saja.” Matahachi mencoba kedengaran berani, tapi wajahnya lebih pucat daripada bulan di atas mereka. Bahkan dengan lembing yang digunakannya sebagai tongkat pun hampir tidak dapat melangkahkan kaki. Beberapa kali ia meminta maaf merendah-rendah, “Maaf, Takezo. Aku tahu, akulah yang melambatkan jalan kita. Betul-betul aku minta maaf.” Beberapa kali pula Takezo hanya menjawab dengan kata-kata, “Lupakan itu.” Tapi akhirnya, ketika mereka sudah berhenti untuk beristirahat, ia pun menoleh kepada temannya dan cetusnya, “Coba dengar, akulah yang mestinya minta maaf. Pertama-tama, akulah yang menjerumuskanmu ke sini, ingat tidak? Kau ingat, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

bagaimana aku menyampaikan rencanaku padamu, bahwa akhirnya aku aku akan melakukan sesuatu yang bakal betul-betul mengesankan ayahku? Aku sungguh tak bisa menerima kenyataan bahwa sampai meninggalnya, Ayah tetap yakin aku tak akan pernah mencapai sesuatu. Aku ingin perlihatkan padanya! Ha!” Ayah Takezo, Munisai, dulu mengabdi pada yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Begitu Takezo mendengar bahwa Ishida Mitsunari sedang membentuk tentara, ia pun yakin bahwa kesempatan yang hanya sekali seumur hidup akhirnya datang baginya. Ayahnya seorang samurai. Apakah tidak sewajarnya kalau ia pun menjadi samurai? Ingin sekali ia memasuki kancah keributan, untuk membuktikan keberaniannya, untuk membikin berita tersebar seperti api kebakaran melintas dusun: ia telah memenggal jenderal musuh. Ia sangat ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati – bukan hanya sebagai perisau dusun. Takezo mengingatkan Matahachi tentang semua itu, dan Matahachi mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu. Tapi aku merasa begitu juga. Bukan hanya kau.” Takezo melanjutkan, “Aku minta kau mengawaniku, karena kita memang selalu bersama-sama melakukan semuanya. Tapi perbuatan ibumu itu sungguh mengerikan! Dia berteriak-teriak mengatakan pada semua orang bahwa aku gila dan brengsek! Dan tunanganmu Otsu, saudara perempuanku, dan semua orang menangis. Katanya pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun. Ya, barangkali mereka benar juga. Kita ini anak laki-laki satu-satunya, dan kalau kita terbunuh, tidak ada yang melanjutkan nama keluarga. Tapi peduli apa? Apa begitu mestinya hidup?” Mereka berhasil menyelinap keluar dusun tanpa kelihatan orang, dan merasa yakin tidak ada lagi penghalang yang memisahkan mereka dengan kehormatan pertempuran. Namun ketika sampai di perkemahan Shimmen, mereka berhadapan dengan kenyataan perang. Mereka langsung diberitahu bahwa mereka tidak akan menjadi samurai dalam waktu singkat, bahkan tidak dalam beberapa minggu, tak peduli siapa ayah mereka. Bagi Ishida dan jenderal-jenderal lain, Takezo dan Matahachi hanyalah sepasang orang udik, tidak banyak lebihnya dari anak-anak yang kebetulan memegang sepasang lembing. Paling banyak yang dapat mereka peroleh adalah izin untuk tinggal di sana sebagai prajurit biasa. Tanggung jawab mereka, kalaupun dapat dinamakan demikian, hanyalah mengangkut senjata, periuk nasi, dan alatalat rumah tangga lainnya, memotong rumput, mempengaruhi geng-geng jalanan, dan sesekali bertugas sebagai pandu. “Samurai, ha!” kata Takezo. “Lelucon macam apa pula. Kepala jenderal! Mendekati samurai musuh saja tidak, apalagi jenderal. Tapi setidak-tidaknya semua itu sudah lewat. Sekarang apa yang mau kita lakukan? Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau itu kulakukan, bagaimana aku akan menghadapi ibumu dan Otsu?” “Takezo, aku tidak menyalahkanmu karena kita celaka. Bukan salahmu kita kalah. Kalaupun ada yang mesti disalahkan, Kobayakawa-lah orangnya. Kobayakawa yang bermuka dua itu. Betul-betul aku ingin menangkapnya. Akan kubunuh bangsat itu!” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di tepi dataran kecil, menyaksikan lautan miskantus yang serupa buluh, sudah berantakan dan patah-patah terkena badai. Tak ada rumah. Tak ada cahaya. Di sini pun banyak mayat, bergelimpangan seperti waktu jatuhnya. Kepala salah satu mayat itu tergeletak dalam rumput tinggi. Ada juga yang menengadah di sungai kecil. Lainnya lagi tersangkut dengan anehnya pada seekor kuda mati. Hujan telah membasuh darah, dan dalam sinar bulan daging mati itu tampak seperti sisik ikan. Di sekitar semua itu, yang terdengar hanyalah litani giring-giring dan jangkrik musim gugur yang sepi. Aliran air mata membentuk jalur putih menuruni wajah suram Matahachi, dan ia memperdengarkan keluhan seorang yang sakit parah. “Takezo, kalau aku mati, maukah kau mengurus Otsu?” “Apa yang kau omongkan ini?” “Aku merasa seperti mau mati.” Takezo membentaknya, “Nah, kalau memang itu yang kau rasakan, barang kali kau memang akan mati.” Ia jengkel, karena sesungguhnya ia ingin temannya itu lebih kuat, hingga ia sendiri dapat menyandarkan diri kepadanya sekali-kali, bukan secara fisik, melainkan sebagai pendorong. “Ayolah Matahachi! Jangan seperti bayi cengeng begitu.” “Kalau ibuku pasti ada yang mengurus, tapi Otsu, dia sendirian di dunia ini. Selamanya begitu. Kasihan aku padanya, Takezo. Berjanjilah kau akan mengurusnya, kalau aku tak ada.” “Kau mesti percaya pada diri sendiri! Tak ada orang mati karena mencret. Cepat atau lambat kita akan menemukan rumah, dan kalau kita sudah menemukan rumah itu, kutidurkan kau dan akan kudapatkan obat. Sekarang hentikan rengekan tentang mati itu!” Lebih jauh sedikit, sampailah mereka di tempat bertumpuknya tubuh-tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatan seolah satu divisi penuh telah disapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin. Mereka berhenti lagi, beristirahat. Selagi mereka mengatur napas, terdengar ada yang bergerak di antara mayat-mayat itu. Keduanya undur ketakutan, dan secara naluriah merundukkan badan dengan mata terbuka lebar dan perasaan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

diwaspadakan. Sosok tubuh itu membuat gerakan melejit cepat, seperti gerakan seekor kelinci yang terkejut. Dan ketika mata mereka sudah terpusat ke arahnya, terlihat oleh mereka orang yang entah siapa itu sedang berjongkok rendah. Semula mereka menduga ia seorang samurai yang tersesat, karena itu mereka menabahkan diri untuk menghadapi pertemuan yang berbahaya. Tapi alangkah kaget mereka, karena ternyata prajurit dahsyat itu hanyalah seorang gadis muda. Gadis itu agaknya berumur sekitar tiga belas atau empat belas tahun, mengenakan kimono dengan lengan digulung. Obi sempit yang membelit pinggangnya sudah bertambal-tambal di beberapa tempat, namun terbuat dari brokat emas. Di tengah himpunan mayat itu, ia betul-betul merupakan pemandangan yang ganjil. Ia melayangkan pandang dan menatap mereka dengan penuh kecurigaan, dengan mata kucing yang licik. Takezo dan Matahachi heran akan hal yang sama: apa yang menyebabkan gadis itu dating di malam buta itu? Sekejap keduanya hanya balas memandang gadis itu. Kemudian Takezo berkata, “Siapa kau?” Gadis itu mengerdip beberapa kali, berdiri, lalu enyah dari situ. “Stop!” seru Takezo. “aku cuma mau mengajukan satu pertanyaan padamu. Jangan pergi dulu!” Tapi gadis itu sudah pergi, seperti kilasan kilat di tengah malam. Dan bunyi giring-giring kecil pun menghilang ke dalam ngeri kegelapan. “Apa kemungkinan itu hantu?” renung Takezo keras, sementara ia memandang kosong ke dalam kabut tipis. Matahachi menggigil sedikit, tapi memaksakan diri tertawa. “Kalau ada hantu di sini, tentunya hantu serdadu-serdadu itu, kan?” “Sayang aku telah membikin takut gadis itu,” kata Takezo. “Tentunya ada dusun di dekat-dekat sini. Dan dia tentunya bisa memberikan petunjuk pada kita.” Mereka berjalan terus, mendaki bukit pertama dari dua bukit yang ada di hadapan mereka. Di cekungan sebelah sana terdapat paya-paya yang menghampar ke selatan Gunung Fuwa. Dan tampak cahaya, hanya setengah mil jauhnya. Ketika mendekati rumah pertanian itu, terasa oleh mereka bahwa rumah itu bukan sekedar rumah biasa. Kelihatan dari tembok tanah tebal yang mengelilinginya. Juga dari pintu gerbangnya yang boleh dikatakan megah. Atau setidaknya sisa-sisanya, karena pintu gerbang itu sudah tua dan sudah sangat memerlukan perbaikan. Takezo mendekati pintu dan mengetuk-ngetuk pelan. “Permisi!” Karena tidak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi. “Maaf kami mengganggu pada jam seperti ini, tapi temanku ini sakit. Kami tak ingin menyusahkan – dia perlu istirahat sedikit.” Mereka mendengar orang berbisik-bisik di dalam, dan akhirnya terdengar bunyi orang berjalan ke pintu. “Kalian yang berkeliaran di Sekigahara, kan?” Suara itu datang dari seorang gadis muda. “Betul,” kata Takezo. “Kami bawahan Lord Shimmen dari Iga.” “Menyingkirlah! Kalau kalian ditemukan orang di sini, kami bisa celaka.” “Betul-betul kami minta maaf telah mengganggu seperti ini, tapi kami telah lama sekali berjalan. Temanku ini butuh sedikit istirahat, hanya itu, dan …” “Pergilah. Menyingkirlah!” “Baiklah, kalau memang itu yang Anda kehendaki. Tapi apa tak bisa temanku ini diberi obat? Perutnya sakit sekali sekali, hingga sukar bagi kami berjalan terus.” “Entahlah….” Beberapa waktu kemudian, mereka mendengar langkah-langkah kaki dan bunyi dering kecil menjauh ke dalam rumah, makin lama makin lemah. Baru pada waktu itulah mereka melihat wajah itu. Wajah itu tampak di jendela samping, wajah seorang wanita, dan wajah itu memperhatikan mereka terus. “Akemi,” serunya, “biar mereka masuk. Mereka prajurit biasa. Patroli Tokugawa tak akan membuang-buang waktu buat mereka. Mereka tak dikenal.” Akemi membuka pintu, dan wanita yang memperkenalkan diri sebagai Oko itu pun datang untuk mendengarkan cerita Takezo. Maka disetujuilah bahwa mereka tidur di lumbung. Untuk mengobati sakit perutnya, Matahachi mendapat tepung arang magnolia dan bubur beras encer dengan campuran bawang. Beberapa hari berturut-turut ia tidur terus-menerus, sedangkan Takezo duduk berjaga-jaga di sampingnya, sambil mengobati luka-luka peluru di pahanya dengan minuman keras murah. Pada suatu malam, kira-kira seminggu kemudian, Takezo dan Matahachi duduk mengobrol. “Mereka tentunya punya usaha tertentu,” kata Takezo. “Aku tak peduli dengan kerja keras mereka. Aku senang mereka telah menerima kita.” Tetapi rasa ingin tahu Takezo telah bangkit. “Ibunya belum begitu tua,” sambungnya. “Aneh, bahwa mereka berdua hidup sendiri di pegunungan ini.” “Hm. Apa menurut pendapatmu gadis itu agak mirip Otsu?” “Memang ada sesuatu padanya yang membuat aku ingat Otsu, tapi kukira mereka tidak betul-betul serupa. Keduanya manis, titik. Menurutpendapatmu, apa yang sedang dia lakukan waktu pertama kali kita Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

melihatnya itu? Merangkak-rangkak di antara mayat-mayat itu di tengah malam? Dan kelihatannya pekerjaan itu tidak mengganggunya sama sekali. Ha! Masih terbayang olehku hal itu. Wajahnya tenang dan tenteram, seperi boneka buatan Kyoto. Sungguh gambaran yang luar biasa!” Matahachi memberi isyarat pada Takezo untuk diam. “Ssst! Kudengar giring-giringnya.” Ketukan ringan Akemi di pintu terdengar seperti ketukan burung pelatuk. “Matahachi, Takezo,” panggilnya lembut. “Ya?” “Ini aku.” Takezo berdiri dan membuka kunci. Gadis itu membawa sebaki obat-obatan dan makanan, dan bertanya tentang kesehatan mereka. “Jauh lebih baik. Terima kasih untukmu. Juga untuk ibumu.” “Ibu bilang, biar kalian sudah sehat, kalian jangan bicara terlalu keras atau pergi keluar.” Takezo pun menjawab atas nama mereka berdua. “Kami minta maaf sudah membikin repot kalian.” “Oh, tidak apa-apa. Cuma kuminta kalian berhati-hati. Ishida Mitsunari dan beberapa jenderal lain belum tertangkap. Mereka mengawasi daerah ini dengan ketat, dan jalan-jalan penuh dengan pasukan Tokugawa.” “Betul?” “Makanya, biar kalian cuma prajrit biasa. Ibu bilang, kalau kami tertangkap menyembunyikan kalian, kami akan ditahan.” “Kami tak akan bikin rebut,” janji Takezo. “Malahan muka Matahachi akan kututup kain, kalau dia mendengkur terlalu keras.” Akemi tersenyum, membalikkan badan untuk pergi, dan katanya, “Selamat malam. Aku akan datang lagi besok pagi.” “Tunggu!” kata Matahachi. “Apa salahnya kau datang ke sini, bicara dengan kami sedikit?” “Tidak bisa.” “Kenapa?” “Ibu nanti marah.” “Peduli apa dengan ibumu? Berapa tahun umurmu?” “Enam belas.” “Kalau begitu, badanmu terlalu kecil, ya?” “Terima kasih atas komentar itu.” “Di mana ayahmu?” “Tidak punya lagi.” “Maaf. Lalu bagaimana kalian hidup?” “Kami bikin moxa.” “Obat yang dibakar di kulit buat menghilangkan sakit itu?” “Ya, moxa daerah ini terkenal. Musim semi kami memotong mugwort di Gunung Ibuki. Musim panas mengeringkannya, lalu musim gugur dan dingin membuatnya jadi moxa. Kami jual di Tarui. Orang datang dari mana-mana hanya untuk beli moxa itu.” “Kiranya kalian tidak butuh lelaki untuk mengerjakan itu.” “O, kalau itu yang ingin kalian ketahui, lebih baik aku pergi.” “Nanti dulu, sedikit lagi,” kata Takezo. “Ada satu pertanyaan lagi.” “Apa itu?” “Malam ketika kami datgn kemari itu, kami melihat seorang gadis di medan pertempuran, dan dia mirip sekali denganmu. Apa itu kau?” Akemi cepat membalikkan badan dan membuka pintu. “Apa kerjamu di sana?” Gadis itu membanting pintu di belakangnya. Dan ketika ia berjalan ke rumah itu, giring-giring kecil pun berdering dengan iramanya yang aneh dan sumbang

Sisir
Dengan tinggi sekitar 1,75 meter, Takezo cukup jangkung untuk orang sezamannya. Tubuhnya seperti tubuh kuda yang indah: kuat dan lentur, dengan kaki panjang berotot. Bibirnya penuh, berwarna merah tua, dan alisnya yang hitam tebal jadi tampak tidak lebat karena bentuknya yang indah. Karena jauh melampaui sudut-sudut luar matanya, alis itu pun menambah kejantanannya. Orang-orang kampung menyebutnya “anak tahun yang gemuk”, suatu ungkapan yang hanya dipakai untuk anak dengan badan lebih besar dari rata-rata. Sebutan itu jauh dari maksud menghina, tapi bagaimanapun membuatnya ada jarak dengan anakanak muda lain, dan itu membuatnya cukup malu pada masa kanak-kanaknya. Ungkapan itu tidak pernah dipergunakan untuk menggambarkan Matahachi, namun dapat pula dikenakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

padanya. Ia agak lebih pendeka dan pejal daripada Takezo, dadanya bidang dan besar, dan wajahnya bulat, memberikan kesan periang, kalau bukan sifat badut sejati. Matanya yang besar dan sedikit menonjol itu cenderung bergerak ketika ia berbicara, dan kebanyakan lulucon yang dibuat orang untuk merendahkannya berpusat pada kemiripannya dengan katak yang yak henti-hentinya berdengkung pada malam-malam musim panas. Kedua pemuda itu sedang berada di puncak usia pertumbuhan mereka, dan karenanya cepat pulih dari sebagian besar penyakit. Ketika luka-luka Takezo sudah sepenuhnya sembuh, Matahachi pun tidak dapat lagi menahan hambatan yang dirasakannya. Mulailah ia berjalan mondar-mandir di seputar lumbung, dan tak henti-hentinya mengeluh karena merasa terkurung. Tidak hanya sekali ia membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa ia merasa seperti jangkrik di dalam lubang yang gelap dan jangrik memang suka pada suasana hidup seperti itu. Matahachi tentunya telah mulai mengintip kedalam rumah, karena pada suatu hari ia mendekatkan mulutnya kepada teman seselnya itu, seolah hendak menyampaikan berita yang mengguncangkan dunia. “Tiap malam,” bisiknya genting, “janda itu membedaki mukanya dan mempercantik diri!” Muka Takezo pun jadi seperti anak umur dua belas tahun yang benci anak gadis, melihat pengkhianatan teman karibnya yang makin tertarik kepada “mereka” itu. Matahachi sudah menjadi pengkhianat kini, dan pandangan mata Takezo pun tidak salah lagi mengungkapkan kemuakan. Matahachi mulai kerap pergi ke rumah itu, duduk-duduk di dekat perapian bersama Akemi dan ibunya yang masih muda. Sesudah tiga atau empat hari mengobrol dan berkelakar dengan mereka, tamu yang ramah itu pun sudah menjadi anggota keluarga. Ia tidak kembali ke lumbung, juga pada malam hari, dan kalau kadang-kadang pulang, napasnya berbau sake. Ia mencoba membujuk Takezo datang ke rumah itu, dengan menyanyikan puji-pujian terhadap kehidupan yang baik, yang hanya beberapa meter jauhnya dari tempat itu. “Gila kau!” jawab Takezo gusar. “Kau bisa bikin kita terbunuh, atau setidaknya tertangkap. Kita ini sudah kalah, jadi gelandangan – apa kau belum juga mengerti? Kita mesti berhati-hati dan bersembunyi, sampai keadaan mereda.” Tapi dengan segera ia bosan mencoba mengajak temannya yang cinta kenikmatan itu untuk berpikiran sehat, dan mulailah ia menghentikan omongan temannya dengan jawaban-jawaban ringkas. “Aku tidak suka sake,” atau kadang-kadang, “Aku lebih suka di sini. Santai.” Tapi Takezo sendiri akhirnya mulai sinting juga. Ia merasa bosan bukan kepalang, dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengalah. “Apa betul-betul aman?” tanyanya. “Maksudku sekitar sini? Apa tak ada tanda-tanda patroli? Apa kau yakin?” Maka, sesudah terkubur dua puluh hari lamanya dalam lumbung itu, akhirnya ia keluar seperti tawanan perang yang setengah kelaparan. Kulitnya tampak jernih pucat, seperti mayat, lebih-lebih ketika ia berdiri di samping temannya yang sudah terbakar matahari dan sake itu. Dipandangnya langit biru yang terang, dan sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, ia pun menguap dengan nikmatnya. Ketika mulutnya yang besar itu akhirnya menutup kembali, terlihatlah bahwa alisnya waktu itu mengait. Wajahnya tampak resah. “Matahachi,” katanya sungguh-sungguh, “kita terlalu memaksakan keinginan pada orang-orang ini. Mereka sekarang menghadapi resiko besar gara-gara kita di sini. Kupikir kita harus berusaha pulang sekarang.” “Kau benar,” kata Matahachi. “Tapi tak seorang pun dapat melewati rintangan itu tanpa pemeriksaan. Jalan ke Ise dan Kyoto tak bisa ditempuh, menurut janda itu. Katanya, kita mesti bertahan sampai salju turun. Gadis itu juga bilang begitu. Dia yakin mesti tetap bersembunyi. Dan kau tahu, dia selalu pergi ke manamana setiap hari.” “Kau bilang duduk di dekat api sambil minum itu bersembunyi?” “Tentu. Tahu tidak, apa yang sudah kulakukan? Beberap hari yang lalu orang-orang Tokugawa datang mengintai; mereka masih mencari Jenderal Ukita. Dan aku bisa melepaskan diri dari bajingan-bajingan itu hanya dengan keluar dan menyapa mereka.“ Mata Takezo membelalak tak percaya mendengar itu, sedangkan Matahachi tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya reda, ia pun melanjutkan. “Kau lebih selamat di tempat terbuka daripada meringkuk di lumbung, sambil mendengarkan langkah-langkah kaki orang dan dibikin gila olehnya. Inilah yang mau kukatakan padamu.” Matahachi tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Takezo mengangkat bahu. “Barangkali kau benar. Itu bisa jadi cara terbaik untuk mengatasi persoalan.” Takezo masih juga mengajukan persyaratan, tapi sesudah percakapan itu, ia pun ikut pergi ke rumah tersebut. Oko, yang agaknya senang kalau ada orang lain, terutama laki-laki, berusaha membuat mereka betul-betul kerasan. Namun sekali-kali ia membuat kedua pemuda itu terlonjak dengan sarannya agar seorang dari mereka mengawini Akemi. Tapi ini agaknya lebih membikin bingung Matahachi daripada Takezo. Takezo mengabaikan saja saran itu, atau menandinginya dengan kata-kata lucu. Waktu itu musim matsutake yang lezat dan harum, yang tumbuh di pangkal-pangkal pohon-pohon pinus, dan Takezo cukup terhibur mencari jamur-jamur besar di gunung yang berhutan, di belakang rumah itu. Sambil memegang keranjang, Akemi mencari jamur itu dari pohon ke pohon. Setiap kali tercium baunya, suaranya yang tanpa dosa itu pun menggema di tengah hutan. “Takezo, sini! Banyak di sini!” Dan kalau sedang mencari-cari di dekatnya, Takezo pun selalu menjawab, “Di sini juga banyak!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sinar matahari musim gugur menerobos tipis dan miring ke arah mereka, lewat ranting-ranting pinus. Babut daun pinus di tempat teduh yang sejuk di bawah pohon-pohonan itu bagaikan bunga mawar yang lunak berdebu. Setelah lelah, Akemi pun menantang Takezo sambil terkikik, “Mari kita lihat, siapa yang paling banyak!” “Aku!” jawab Takezo pasti. Mendengar itu, Akemi pun mulai memriksa keranjang Takezo. Hari ini tidak beda dengan hari-hari lain. “Ha, ha! Aku tahu!” teriak Akemi. Dengan rasa kemenangan penuh kegembiraan yang hanya bisa terjadi pada gadis semuda itu, dan tanpa kesadaran diri ataupun sikap sopan yang dibuat-buat, ia pun menunduk ke keranjang Takezo. “Yang banyak kau dapat itu jamur payung!” Lalu ia pun membuangi jamur beracun itu satu per satu, bukan sambil menghitungnya keras-keras, melainkan diiringi gerakan yang begitu pelan dan disengaja, hingga Takezo hampir tidak dapat mengabaikannya, sekalipun dengan mata terpejam, Akemi melontarkan masing-masing jamur itu sejauh-jauhnya. Selesai dengan tugas itu, ia pun menengadah dengan wajah membinarkan rasa puas diri. “Sekarang lihat, aku dapat jauh lebih banyak daripada kau!” “Sudah siang sekarang,” gumam Takezo. “Mari pulang.” “Kau marah karena kalah, kan?” Akemi pun berlari kencang seperti ayam pegar menuruni sisi bukit, tapi sekonyong-konyong ia berhenti, wajahnya dipenuhi rasa terkejut. Seorang lelaki raksasa datang lurus mendekat lewat belukar, setengah jalan menuruni lereng bukit; langkah-langkhanya panjang dan tenang, matanya yang tajam menatap langsung kepada gadis muda yang rapuh di hadapannya. Orang itu tampak primitif luar biasa. Segala sesuatu pada dirinya bernada perjuangan untuk tetap hidup, dan ia menampakkan ciri suka berkelahi: alis yang lebat dan ganas, dan bibir atas yang tebal melingkar; pedang berat, jubah zirah, dan kulit binatang melengkapi dirinya. “Akemi!” raungnya seraya mendekati gadis itu. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang kuning melapuk, tapi wajah Akemi tetap saja menyiratkan kengerian belaka. “Apa ibumu yang hebat itu ada di rumah?” tanyanya dengan ejekan yang dibuat-buat. “Ya,” cicit Akemi. “Nah, kalau nanti kau pulang, ceritakan sesuatu padanya. Mau tidak?” Ejekan itu diucapkannya dengan sopan. “Ya.” Dan kini nadanya berubah kasar. “Katakan padanya, jangan mempermainkan aku dengan menimbun uang tanpa sepengetahuanku. Katakan aku akan datang segera untuk mengambil bagianku. Mengerti?’ Akemi diam saja. “Dia pikir barangkali aku tidak tahu, tapi orang yang dijuali barang-barang itu datang langsung padaku. Aku berani bertaruh, kau pergi juga ke Sekigahara, bukan, Nak?” “Ah, tidak!” protes Akemi lemah. “Ya, tak apalah. Cuma sampaikan padanya apa yang kukatakan tadi. Kalau dia main tidak jujur lagi, akan kutendang dia keluar dari daerah ini.” Ia menyorot gadis itu sesaat dengan matanya, kemudian pergi dengan lamban ke arah paya. Takezo mengalihkan matanya dari orang asing itu kepada Akemi, dengan penuh minat. “Siapa orang itu?” Dengan bibir masih menggeletar Akemi menjawab lesu, “Namanya Tsujikaze. Dia dari kampung Fuwa.” Suara Akemi hampir tak lebih dari bisikan. “Dia bandit, kan?” “Ya.” “Kenapa dia begitu marah?” Akemi berdiri saja tanpa menjawab. “Tak akan kuceritakan itu pada orang lain,” kata Takezo, mencoba meyakinkan Akemi. “Apa tak bisa kau menceritakannya padaku?” Akemi, yang jelas merasa tak senang, agaknya sedang mencari-cari kata. Dan tiba-tiba ia pun menyandarkan diri ke dada Takezo dan memohon, “Kau janji taka akan bercerita pada orang lain?” “Siapa yang akan kuceritai? Samurai Tokugawa?” “Ingat waktu kau pertama kali melihatku malam itu? Di Sekigahara?” “Tentu saja ingat.” “Nah, apa belum kau bayangkan, apa yang kulakukan waktu itu?” “Belum, aku belum pernah memikirkannya,” kata Takezo dengan wajah sungguh-sungguh. “Nah, waktu itu aku mencuri!” Lalu ia pun menatap Takezo dekat-dekat, untuk menaksir reaksi Takezo. “Mencuri?” “Sesudah pertempuran, aku pergi ke medan, mengambili barang-barang serdadu yang tewas: pedang, hiasan sarung pedang, kantong kemenyan –– apa saja yang dapat kami jual.” Ia memandang Takezo lagi untuk menangkap tanda-tanda sikap tidak setuju, tetapi wajah Takezo tidak memperlihatkannya sama sekali. “Pekerjaan itu mengerikan,” keluhnya kemudian, lalu berubah bersikap pragmatis, “tapi kami butuh uang untuk makan. Kalau aku bilang tak mau pergu, Ibu marah.” Matahari masih cukup tinggi di langit. Atas saran Akemi, Takezo duduk di rumput. Lewat pohon-pohon pinus, mereka dapat memandang ke bawah, ke rumah di tengah paya itu. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo mengangguk pada diri sendiri, seolah sedang membayangkan sesuatu. Sejenak kemudian ia berkata, “Kalau begitu, cerita tentang memotong mugwort dan membuat moxa itu bohong semuanya?” “O, tidak. Kami mengerjakan itu juga! Tapi selera Ibu begitu mahal. Tak mungkin kami dapat hidup dari moxa saja. Ketika ayahku masih hidup, kami tinggal di rumah terbesar di kampung ini, malahan boleh dibilang di tujuh dusun yang ada di Ibuki. Kami punya banyak pelayan, dan Ibu selalu punya barang-barang bagus. “Apa ayahmu pedagang?” “O, tidak. Dia pemimpin bandit setempat.” Mata Akemi bersinar penuh kebanggaan. Jelaslah, ia tidak lagi takut akan reaksi Takezo, dan kini ia melepaskan perasaan sebenarnya. Rahangnya mantap, tangannya yang kecil mengepal pada waktu bicara. “Tsujikaze Temma, orang yang baru kita jumpai tadi, itulah yang membunuhnya. Paling tidak, begitulah kata semua orang.” “Maksudmu, ayahmu dibunuh?” Sambil mengangguk diam, Akemi mulai menangis, sekalipun ia berusaha menahannya. Takezo merasa sesuatu yang berada jauh di dalam dirinya mulai mencair. Semula ia tidak menaruh simpati pada gadis itu. Sekalipun gadis itu lebih kebanyakan dari gadis yang sudah berumur enam belas tahun, namun bicaranya seperti wanita dewasa, dan sering kali ia membuat gerakan cepat yang membuat orang lain berjaga-jaga. Tapi ketika air mata mulai menitik dari bulu matanya yang panjang, tiba-tiba Takezo pun jadi meleleh oleh rasa kasihan. Ia ingin mendekap gadis itu untuk melindunginya. Gadis itu bukanlah gadis yang dibesarkan seperti biasa. Agaknya tak pernah ia pertanyakan, apakah di dunia ini tidak ada yang lebih mulia daripada pekerjaan ayahnya. Ibunya telah meyakinkannya bahwa tak ada salahnya melucuti mayat, bukan untuk makan, melainkan untuk hidup layak. Banyak pencuri sejati enggan melakukan pekerjaan itu. Selama bertahun-tahun berlangsungnya perselisihan kaum feodal, keadaan telah menjadikan semua manusia, sampai yang pemalas di pedesaan, terhanyut oleh cara hidup seperti ini. Orang banyak pun lebihkurang memang telah minta mereka melakukan hal itu. Ketika perang pecahn para penguasa militer setempat bahkan memanfaatkan jasa-jasa mereka dan memberikan imbalan melimpah pada mereka atas jasa membakar perbekalan musuh, menyebarkan desas-desus bohong, mencuri kuda dari kamp-kamp musuh, dan lain-lain hal seperti itu. Yang paling sering terjadi adalah jasa-jasa mereka dibeli orang. Tapi, sekalipun tidak dibeli, perang menawarkan banyak kesempatan. Di samping berkelaiaran di antara mayatmayat untuk mengumpulkan barang-barang berharga, kadang-kadang mereka berhasil mendapat hadiah dari menyerahkan kepala samurai yang kebetulan tersandung oleh mereka dan kemudian mereka pungut. Satu saja pertempuran besar sudah cukup bagi para pencuri bejat ini hidup senang enam bulan atau setahun. Pada waktu-waktu bergolak, petani atau pembelah kayu biasa pun sudah tahu mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang dan pertumpahan darah. Perkelahian di luar kampung sendiri sudah bisa membuat orang-orang sederhana ini meninggalkan pekerjaan, dan dengan cakapnya mereka menyesuaikan diri dengan situasi, dan menemukan cara untuk memunguti sisa-sisa hidup manusia lain, seperti burung pemakan bangkai. Sebagian karena gangguan inilah para penjarah professional menetapkan perlindungan keras atas wilayah masing-masing. Sudah menjadi peraturan keras bahwa para pemburu liar, yaitu perampok-perampok yang melanggar hak-hak yang telah dimiliki para penjahat kejam ini dapat dikenai pembalasan dendam. Akemi pun menggigil, dan katanya, “Apa akal kita? Orang-orang bayaran Temma sedang dalam perjalanan kemari sekarang. Aku tahu itu.” “Jangan khawatir,” kata Takezo meyakinkannya. “Kalau mereka nanti muncul, aku sendiri yang akan menyambut mereka.” Ketika mereka turun bukit, senja telah turun di atas paya itu, dan segalanya sunyi. Jejak asap api pemandian di rumah itu merayap di area puncak jajaran rumput mendong, seperti ular yang melenggoklenggok di langit. Oko sedang berdiri santai di pintu belakang, seusai melakukan riasan malam. Ketika melihat anak perempuannya datang bersama Takezo, ia pun berseru, “Akemi, apa kerjamu sampai begini larut?” Terasa benar tajamnya mata dan suaranya. Gadis itu pun segera tersadar, sesudah begitu lama ia berjalan dengan kepala kosong. Ia memang lebih peka terhadap suasana hati ibunya daripada apa pun di dunia ini. Ibunya telah menanamkan kepekaan ini dan telah berhasil memanfaatkannya, mengendalikan anak gadis itu seperti boneka, hanya dengan pandangan atau gerak-geriknya. Cepat-cepat Akemi menjauh dari sisi Takezo, dan dengan wajah memerah ia pun mendahului dan masuk rumah. Hari berikutnya, Akemi menyampaikan pada ibunya tentang Tsujikaze Temma. Oko naik pitam. “Kenapa tidak cepat-cepat kau ceritakan?” raungnya sambil menyeruduk ke sana kemari seperti perempuan gila, menarik-narik rambutnya, mengeluar-ngeluarkan barang dari laci dan lemari dan mengonggokkan semuanya di tengah kamar. “Matahachi! Takezo! Bantu aku! Semua ini mesti kita sembunyikan.” Matahachi menggeser sebuah papan yang ditunjukkan oleh Oko, lalu ia menempatkan diri di atas langitlangit. Tak banyak ruangan antara langit-langit dan kasau itu. Orang hampir tidak dapat merangkak di situ, tapi cukuplah itu untuk memenuhi kebutuhan Oko, dan terutama agaknya kebutuhan almarhum suaminya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo berdiri di atas bangku, di antara ibu dan anak, dan mulai mengulurkan barang-barang itu satu persatu kepada Matahachi. Jika Takezo tidak mendengar cerita Akemi hari sebelumnya, tidak bakal ia tidak merasa kagum melihat keanekaragaman barang-barang yang sekarang dilihatnya. Takezo tahu ibu dan anak ini sudah lama melakukan pekerjaan itu, namun demikian sungguh mengagumkan. Betapa banyaknya barang yang mereka timbun. Ada belati, umbai lembing, lengan baju zirah, helm tanpa mahkota, kuil mini yang dapat dibawa-bawa, tasbih Budha, tiang bendera…. Bahkan ada sandal berlak berukir indah dan bertatah emas, perak, dan indung mutiara. Dari lubang di langit-langit, Matahachi mengintip keluar dengan wajah bingung. “Sudah semua?” “Tidak, ada satu lagi,” kata Oko seraya pergi cepat-cepat. Sesaat kemudian ia sudah kembali membawa sebilah pedang, satu seperempat meter panjangnya, dari kayu ek hitam. Takezo mulai mengeluarkan barang itu pada Matahachi, tetapi bobot, lengkung dan sempurnanya keseimbangan senjata itu demikian mengesankannya, sampai tak dapat ia melepaskannya. Ia pun menoleh kepada Oko dengan pandangan tersipu. “Apa tak bisa Ibu menghadiahkan ini padaku?” tanyanya dengan mata memancarkan kepasrahan. Ia memandang kakinya sendiri, seakan-akan hendak mengatakan bahwa ia memang belum melakukan sesuatu yahg pantas mendapat ganjaran pedang itu. “Apa kau betul-betul menginginkannya?” jawab nyonya itu dengan lembut, dengan nada seorang ibu. “Ya…ya… tentu!” Sekalipun wanita itu tidak benar-benar mengatakan Takezo boleh memilikinya, namun ia tersenyum, memperlihatkan dekik pipinya, dan tahulah Takezo bahwa pedang itu sudah menjadi miliknya. Matahachi melompat turun dari langit-langit, meledak oleh rasa iri. Ia pun meraba-raba pedang itu dengan tamaknya, membuat Oko tertawa. “Coba lihat, orang kecil ini merajuk karena tidak dapat hadiah!” Ia mencoba menenteramkan hati Matahachi dengan memberikan pundit-pundi kulit yang manis dan berbatu akik. Matahachi tidak tampak terlalu senang. Matanya terus tertuju kepada pedang kayu ek hitam itu. Perasaannya terluka, dan pundit-pindi itu hanya sedikit dapat menyembuhkan harga dirinya yang terluka. Keika suaminya masih hidup, Oko rupanya punya kebiasaan mandi uap secara santai tiap malam, merias diri, dan kemudian minum sedikit sake. Singkatnya, ia menghabiskan waktu untuk merias diri sebanyak yang dihabiskan geisha yang terbesar bayarannya. Ini bukanlah jenis kemewahan yang dapat dikembangkan oleh orang biasa, tetapi ia berkeras melakukannya, bahkan ia telah mengajar Akemi mengikuti kebiasaan yang sama itu, sekalipun gadis itu menganggapnya menjemukan, dan alasannya tidak dapat ia pahami. Oko tidak hanya suka senang; ia pun berketetapan untuk tetap muda selama-lamanya. Malam itu, selagi mereka duduk di sekitar perapian ceruk, Oko menuangkan sake untuk Matahachi dan mencoba meyakinkan Takezo untuk juga mencobanya. Ketika Takezo menolak, ia letakkan mangkuk itu ke tangan Takezo, ia tangkap pergelangan tangannya, dan ia paksa Takezo mengangkat mangkuk itu ke bibirnya. “Laki-laku sudah sewajarnya minum,” umpatnya. “Kalau kau tidak dapat melakukannya sendiri, akan kubantu.” Berulang kali Matahachi menatap Oko denga perasaan tak enak. Sada akan pandangan Matahachi itu, Oko bahkan semakin berani terhadap Takezo. Sambil meletakkan tangannya secara main-main di lutut Takezo, mulailah ia mendendangkan lagu cinta yang sedang popular. Sampai di sini, Matahachi pun merasa sudah sampai batas kesabarannya. Sambil tiba-tiba menoleh kepada Takezo, ia berucap, “Kita mesti lekas meneruskan perjalanan!” Ucapan ini mencapai sasarannya. “Tapi… tapi… ke mana kalian akan pergi?” Tanya Oko terbata-bata. “Kembali ke Miyamoto. Ibuku dan tunanganku tinggal di sana.” Oko hanya sekejap terkejut; sebentar kemudian ia sudah dapat menguasai dirinya kembali. Matanya menyempit, senyumnya membeku, dan suaranya menjadi getir. “Nah, harap dimaafkan karena aku telah menghambat kalian, telah menerima kalian, dan memberikan tempat pada kalian. Kalau memang ada gadis yang menanti kalian, lebih baik kalian lekas-lekas saja pulang. Jangan kiranya aku menahan kalian!” Sesudah menerima pedang ek hitam itu, Takezo tak pernah lagi terpisah darinya. Memegangnya saja merupakan kenikmatan yang tak terlukiskan baginya. Sering ia meremas gagang pedang itu erat-erat, atau menggesekkan sisinya yang tumpul pada telapak tangannya, hanya untuk merasakan betapa sesuai lengkung dengan panjangnya. Bila tidur ia dekap pedang itu ke tubuhnya. Sentuhan dingin permukaan kayu itu pada pipinya mengingatkannya pada lantai dojo, di mana ia pernah mempraktekkan teknik-teknik main pedang pada musim dingin. Alat yang hampir sempurna, dan sekaligus merupakan benda seni dan maut ini, membangkitkan kembali di dalam dirinya semangat tempur yang telah ia warisi dari ayahnya. Takezo mencintai ibunya, tetapi ibu itu telah meninggalkan ayahnya dan pergi ketika Takezo masih kecil, meninggalkannya sendirian dengan Munisai, seorang ayah yang gila tata tertib, yang tak tahu bagaimana memanjakan anak dalam suasana yang tidak menguntungkan seperti itu. Apabila ayahnya ada, anak itu selalu merasa kikuk dan ketakutan, tidak pernah merasa santai. Ketika berumur sembilan tahun, begitu besar hasratnya akan kata manis ibunya, hingga ia pernah melarikan diri dari rumah dan nekat pergi ke Propinsi Harima, tempat ibunya tinggal. Takezo tak pernah mengerti mengapa ibu dan ayahnya bercerai, dan pada umur sekian, penjelasan tentang itu pun tidak akan banyak menolong. Ibunya telah kawin dengan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

samurai lain, dan mendapat seorang anak lagi. Begitu pelarian kecil itu sampai di Harima, ia tidak membuang-buang waktu lagi untuk menemukan ibunya. Ibunya lalu membawanya ke daerah hutan di belakang kuil setempat, supaya tidak kelihatan orang, dan di sana sambil berurai air mata ia pun memeluk anaknya itu erat-erat dan menyuruhnya kembali kepada ayahnya. Takezo tak pernah melupakan adegan itu; setiap detailnya akan tetap hidup dalam kenangannya, sepanjang umurnya. Sebagai seorang samurai, tentu saja Munisai mengirimkan orang-orangnya untuk memperoleh kembali anaknya, begitu ia mengetahui anaknya hilang. Sudah jelas ke mana perginya anak itu. Takezo pun dikembalikan ke Miyamoto seperti seikat kayu bakar, diikat di punggung kuda yang tidak bersadel. Sebagai pembuka, Munisai menyebutnya anak bandel yang kurang ajar, dan dengan keberangan yang hampir mencapai histeris, ia sabet anaknya sampai ia tak kuat menyabet lagi. Takezo ingat lebih gamblang daripada apa pun di dunia ini, betapa sengit ultimatum ayahnya waktu itu. “Kalau sekali lagi kau pergi ke ibumu, tak akan kuakui kau sebagai anak.” Tidak lama sesudah kejadian itu. Takezo mendengar kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan meninggal. Kematian itu berakibat berubahnya Takezo dari seorang anak pendiam dan pemurung menjadi anak kampung yang jail. Munisai pun akhirnya menjadi takut. Ketika ia mendatangi anak itu dengan pentung, anak itu menantangnya dengan tongkat kayu. Satu-satunya orang yang bisa menandinginya adalah Matahachi, yang juga anak seorang samurai; semua anak lain tunduk pada perintah Takezo. Waktu ia berumur dua belas atau tiga belas tahun, badannya sudah hampir setinggi orang dewasa. Pada suatu kali, seorang pemain pedang pengembara bernama Arima Kihei menaikkan panji-panji berhias emas, dan menyatakan siap melawan siapa saja penantang dari kampung itu. Takezo berhasil membunuh orang itu tanpa kesukaran, dan mendapat pujian dari orang-orang kampung atas keberaniannya. Namun penghargaan itu singkat saja umurnya, karena bersamaan dengan bertambahnya umur, ia pun jadi semakin tak dapat dikendalikan dan brutal. Banyak orang yang menganggapnya sadis, dan apabila ia muncul di suatu tempat, orang pun segera menyingkir. Sikap Takezo terhadap mereka semakin menjelaskan sikap dingin mereka terhadapnya. Ketika ayahnya yang tetap keras dan kasar akhirnya meninggal, unsur kejam di dalam diri Takezo lebih membesar lagi. Kalau tidak karena kakak perempuannya, Ogin, Takezo barangkali sudah lebih tak bisa dikendalikan lagi dan telah diusir dari kampung oleh penduduk yang marah. Untunglah ia menyayangi kakaknya, dan karena tak tahan melihat air mata kakaknya, biasanya ia pun melakukan apa saja yang diminta kakaknya. Pergi perang bersama Matahachi merupakan titik balik bagi Takezo. Hal itu menunjukkan bahwa bagaimanapun ia mau merebut kedudukan di tengah masyarakat, sejajar dengan orang-orang lain. Tetapi kekalahan di Sekigahara sekonyong-konyong telah menghilangkan harapan-harapan seperti itu, dan ia pun mendapati dirinya sekali lagi tercebur ke dalam kenyataan gelap yang menurut anggapannya telah ia tinggalkan. Namun ia seorang pemuda yang diberkati sifat riang yang mulia, yang hanya dapat berkembang di zaman perjuangan. Selagi tidur, wakjahnya setenang wajah bayi, sama sekali tak terusik oleh pikiranpikiran hari esok. Memang ia mengalami juga mimpi-mimpi, baik di waktu tidur maupun terjaga, tapi tidak banyak ia mengalami kekecewaan yang sebenar-benarnya. Karena modalnya hanya sedikit, maka hanya sedikit pula ia kehilangan; sekalipun dalam makna tetentu ia sudah tercerabut, namu ia terbebaskan juga dari belenggu. Melihat napasnya yang dalam dan tetap, sementara ia memeluk erat pedang kayunya itu, barangkali Takezo sedang bermimpi; senyuman halus tersungging pada bibirnya, sedangkan bayangan kakak perempuannya yang lembut dan kota kelahirannya yang damai berpancaran turun seperti air terjun dari gunung, di hadapan matanya yang terpejam dan berbulu lebat itu, Oko menyelinap ke dalam kamarnya sambil membawa lampu. “Sungguh wajah yang damai,” bisik Oko dengan kagum, lalu ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh sedikit bibir Takezo dengan jemarinya. Kemudian ia mematikan lampu dan berbaring di samping Takezo. Seraya meringkuk seperti kucing, sedikit demi sedikit ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Takezo, sementara wajahnya yang putih dan gaun malam warna-warni yang betul-betul terlampau muda untuknya itu terbenam dalam kegelapan. Yang kedengaran saat itu hanyalah titik-titik embun yang jatuh di ambang jendela. “Ingin tahu juga, apakah dia masih perjaka,” kagumnya sambil mengulurkan tangan untuk menyingkirkan pedang kayu itu. Tapi begitu ia menyentuh pedang itu, Takezo langsung berdiri dan berteriak, “Pencuri! Pencuri!” Oko terlempar ke lampu, hingga bahu dan dadanya luka, dan Takezo memelintir tangannya tanpa ampun lagi. Oko menjerit kesakitan. Karena kagetnya, Takezo pun melepaskannya. “O. jadi ini tadi Ibu? Aku pikir pencuri.” “Oooh,” rintih Oko. “Sakit!” “Maaf, aku tidak tahu.” “Kau ini tak kenal kekuatan badan sendiri. Hampir lepas tanganku.” “Aku sudah minta maaf. Mau apa Ibu di sini?” Oko tak menghiraukan pertanyaan Takezo yang polos itu; ia tidak merasakan lika tangannya; dicobanya melingkarkan anggota badannya itu ke leher Takezo, dan gumamnya, “Kau tak perlu minta maaf. Takezo Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

…” Ia pun menggosokkan punggung tangannya lembut-lembut ke pipi Takezo. “Hai! Apa pula ini? Apa Ibu gila?” teriak Takezo sambil meloloskan diri dari sentuhan wanita itu. “Jangan ribut begitu, tolol. Kau tahu perasaanku padamu.” Oko terus mencoba membelai Takezo, tapi Takezo menepak-nepaknya, seperti orang diserang gerombolan lebah. “Ya, dan aku sangat berterima kasih. Kami berdua tak akan melupakan betapa besar kebaikan Ibu, yang telah menerima kami dan segalanya itu.” “Maksudku bukan itu, Takezo. Aku bicara tentang perasaan wanitaku – tentang perasaan yang indah dan hangat terhadapmu.” “Tunggu dulu,” kata Takezo sambil melompat berdiri. “Akan kunyalakan lampu.” “Oh, bagaimana kau bisa begini kejam,” rengek Oko, dan bergerak lagi akan memeluk Takezo. “Jangan!” teriak Takezo marah. “Hentikan, sungguh! Hentikan!” Ada sesuatu dalam suara Takezo yang membuat Oko takut dan menghentikan serangannya, sesuatu yang tegas dan mantap. Takezo merasa tulang-tulangnya bergoyang dan giginya gemeretuk. Tidak pernah ia menghadapi lawan yang demikian berat. Bahkan ketika telentang di bawah kuda-kuda yang mencongklang lewat di Sekigahara, tak pernah jantungnya demikian berdentam. Ia pun duduk ngeri di sudut kamar “Kuminta ibu pergi dari sini,” mohonnya. “Kembalilah ke kamar ibu sendiri. Kalau tidak, akan kupanggil Matahachi. Akan kubangunkan seisi rumah!” Oko tidak beranjak. Ia duduk saja di kegelapan dengan napas berat, dan dengan mata menciut ia pun menatap Takezo. Ia tak mau ditolak. “Takezo,” gumamnya lagi. “Apa kau tidak memahami perasaanku?” Takezo tidak menjawab. “Tidak memahami?” “Ya, tapi apa Ibu memahami perasaanku: diserang selagi tidur, dibikin takut setengah mati, dan dianiaya seekor macan dalam gelap?” Kini giliran Oko yang diam. Dari kedalaman kerongkongannya keluar bisikan seperti suara geraman, dan ia pun mengucapkan setiap suku katanya ini dendam. “Begitu tega kau mempermalukan aku?” “Aku mempermalukan ibu?” “Ya ini sungguh membikin malu.” Keduanya begitu tegang waktu itu, hingga tak terdengar oleh mereka ketukan pintu, yang agaknya sudah berlangsung beberapa lama. Ketukan itu dipertegas lagi oleh teriakan-teriakan. “Ada apa di dalam? Apa kau tuli? Buka pintu!” Berkas cahaya tampak di celah daun jendela. Akemi terbangun. Kemudian langkah kaki Matahachi terdengar mendekat, dan suaranya berseru, “Ada apa?” Kemudian dari gang rumah, Akemi berseru resah, “Ibu! Apa Ibu di situ? Jawab, Bu!” Oko menyerobot cepat kembali ke kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar Takezo. Ia menjawab dari situ. Orang-orang lelaki di luar rupanya mendobrak daun jendela dan menyerbu ke dalam. Sampai di kamat perapian, Oko melihat enam atau tujuh pasang bahu lebar menyerbu dapur yang berdekatan dan berlantai kotor. Letaknya agak di bawah, karena memang dibuat lebih rendah dari ruangan-ruangan lain. Seorang di antaranya berteriak, “Tsujikaze Temma di sini. Kasih lampu!” Orang-orang itu menyerobot masuk ke dalam ruang tamu. Mereka bahkan tidak melepas sandal, suatu tanda kekasaran yang sudah melekat. Mereka mulai melongok ke sana kemari –– ke lemari, ke laci-laci, ke bawah tatami jerami tebal tang menutup lantai. Temma mendudukkan diri denga megahnya di dekat perapian, sambil mengawasi kaki tangannya menggeldah ruangan-ruangan itu dengan sistematis. Ia betulbetul menikmati pekerjaan itu, tapi dengan segera ia bosan karena tidak melakukan apa-apa. “Terlalu lama!” geramnya sambil menghantamkan tinju ke tatami. “Kau pasti menyimpannya sebagian di sini. Di mana barang itu?” “Aku tak merngerti apa yang kau bicarakan,” jawab Oko sambil melipat dengan sabar kedua tangannya di perut. “Jangan bicara begitu, perempuan!” lenguh Temma. “Mana barang itu? Aku tahu barang itu ada di sini!” “Aku tak punya apa-apa!” “Tak punya?” “Tak punya.” “Kalau begitu, barangkali memang kau tidak memilikinya. Barangkali salah infrmasi yang kuterima….” Ia pun memandang Oko dengan tajam, sambil menarik-narik dan menggaruk-garuk jenggotnya. “Cukup, anakanak!” gunturnya. Sementara itu, Oko sudah duduk di kamar sebelah. Pintu dorongnya terbuka lebar, seakan-akan hendak mengatakan bahwa Temma dapat memeriksa terus tempat yang dicurigainya. “Oko,” panggil Temma kasar. “Apa maumu?” terdengar jawaban dingin “Bagaimana kalau minum sedikit?” “Mau sedikit air?” “Jangan paksa aku…,” ancam Temma memperingatkan. “Sake ada di sana. Minumlah kalau mau.” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

“Ai, Oko,” kata Temma melunak. Ia hampir-hampir mengagumi Oko karena sikap keras kepalanya yang dingin. “Jangan begitu. Aku sudah lama tak berkunjung. Apa begini caranya menyambut teman lama?” “Berkunjung!” “Sudahlah kau ikut bersalah juga. Sudah banyak yang kudengar tentang apa yang dilakukan ‘janda tukang moxa dari berbagai orang, sampai rasanya tak mungkin semua itu bohong. Kudengar kau menyuruh anakmu yang cantik itu memereteli mayat-mayat. Nah, kenapa dia mesti melakukan hal seperti itu?” “Tunjukkan padaku buktinya!” jerit Oko. “Mana buktinya!” “Kalau ada rencanaku menggalinya, mana mungkin aku mengingatkan Akemi sebelumnya? Kau tahu sendiri aturan permainannya. Ini wilayahku, dan aku harus memeriksa rumahmu. Kalau tidak, semua orang akan menyangka mereka bisa lepas begitu saja sesudah melakukan hal seperti itu. Kalau begitu, di mana nanti tempatku? Aku harus melindungi diriku, tahu!” Oko menatap Temma dalam kediaman baja, kepalanya setengah tertoleh kepadanya, sedangkan dagu dan hidungnya terangkat bangga. “Baiklah, akan kulepaskan kau kali ini. Tapi ingat, aku bersikap baik sekali kepadamu sekarang.” “Baik kepadaku? Siapa? Kau? Menggelikan!” “Oko,” bujuk Temma, “ke sinilah, dan tuangkan minuman untukku.” Tapi ketika Oko tidak juga memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak, ia pun meledak, “Anjing gila kau! Apa kau tidak tahu, kalau kau bersikap baik padaku, tidak bakal kau hidup seperti ini?” Temma mereda sedikit, kemudian nasihatnya, “Pikirlah dulu.” “Aku memang tenggelam dalam kebaikan hati Tuan,” terdengar jawaban yang berbisa. “Kau tak suka padaku?” “Coba jawab pertanyaan ini: Siapa yang membunuh suamimu? Aku yakin kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu, kan?” “Kalau kau mau membalas dendam pada pelakunya , aku akan membantumu dengan senang hati. Aku bisa membantu dengan jalan apa pun.” “Jangan berlagak bodoh!” “Apa maksudmu?” “Kau sudah banyak mendengar dari orang banyak. Apa mereka tidak mengatakan padamu bahwa kau sendirilah yang membunuhnya? Apa kau belum mendengar bahwa Tsujikaze Temma itulah pembunuhnya? Semua orang tahu. Boleh saja aku janda seorang bandit, tapi aku belum jatuh begitu rendah sampai mau main ke sana kemari dengan pembunuh suamiku.” “Kau rupanya memang harus mengatakannya: tak bisa kau membiarkan saja hal itu, ya!” Sambil tertawa, Temma mengosongkan sakenya dalam sekali teguk, dan menuang lagi. “Kau tahu, mestinya kau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Itu tak baik untuk kesehatanmu atau kesehatan anakmu yang manis!” “Aku akan mendidik Akemi dengan semestinya, dan sesudah dia kawin, aku akan kembali menghadapimu. Ingat kata-kataku ini!” Temma tertawa lagi hingga bahu dan seluruh tubuhnya berguncang. Setelah mereguk seluruh sake yang dapat ditemukannya, ia pun memberi isyarat kepada salah seorang kaki-tangannya yang ditempatkan di sudut dapur, tombaknya tegak sejajar dengan bahunya. “He, kau,” katanya dengan suara menggelegar, “geser papan langit-langit itu dengan pangkal tombakmu!” Orang itu tunduk pada perintah Temma. Ia mengitari kamar sambil menyodok-nyodok langit-langit, dan kekayaan Oko pun berjatuhan ke lantai, seperti hujan es. “Seperti sudah kuduga,” kata Temma sambil berdiri dengan kikuknya. “Coba lihat, anak-anak. Bukti! Dia telah melanggar peraturan, tak sangsi lagi. Bawa dia keluar dan kasih hukumannya!” Orang-orang itu pun berduyun-duyun ke kamar perapian, tapi sekonyong-konyong mereka terhenti. Oko berdiri mematung di pintu, seakan menantang mereka untuk menjamahnya. Temma, yang telah turun ke dapur, memanggil tak sabar, “Apa yang kalian tunggu? Bawa dia kemari!” Tak ada yang bergerak. Oko terus menatap orang-orang itu dari atas, dan orang-orang itu tetap saja seperti lumpuh. Temma pun memutuskan untuk mengambil alih. Sambil mendecapkan lidahnya ia mendekati Oko, tetapi ia pun tiba-tiba terhenti di depan pintu. Di belakang Oko, tidak kelihatan dari dapur, berdiri dua pemuda berwajah ganas. Takezo menggenggam rendah pedang kaunya, siap mematahkan tulang kering pendatang pertama atau siapa pun yang cukup bodoh untuk mengikutinya. Di pihak lain, Matahachi menggenggam pedang tinggi-tinggi, siap menebaskannya ke leher pertama yang berusaha menerobos pintu masuk. Akemi tidak kelihatan. “O, jadi begitu ya,” rintih Temma, yang tiba-tiba ingat adegan di sisi gunung. “Aku pernah lihat orang itu berjalan bersama Akemi beberapa hari yang lalu – yang memegang tongkat itu. Siapa yang satunya?” Matahachi ataupun Takezo tidak menjawab. Ini berarti mereka bermaksud menjawab dengan senjata. Ketegangan memuncak. “Mestinya tidak ada lelaki di rumah ini,” raung Temma. “Hai, kalian berdua… Kalian pasti dari Sekigahara! Hati-hatilah kalian – kuperingatkan kalian.” Kedua pemuda itu sama sekali tidak bergerak. “Tak ada di daerah ini yang tidak kenal nama Tsujikaze Temma! Akan kutunjukkan pada kalian, apa yang kami lakukan terhadap gelandangan!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sunyi. Temma memberi isyarat pada kaki-tangannya untuk menyingkir. Seorang di antaranya terjatuh ke perapian. Ia menjerit, dan ranting-ranting menyala yang kejatuhan tubuhnya menjadi bunga api ke langitlangit. Dalam beberapa detik saja, ruangan sudah penuh oleh asap. “Aarrrghh!” Temma menerjang ke ruangan itu, Matahachi pun menebaskan pedang dengan kedua tangannya, tapi orang tua itu terlalu cepat baginya, hingga tebasan itu mental mengenai sarung pedang Temma. Oko telah melarikan diri ke sudut terdekat, sementara Takezo menanti dengan edang kayu eknya yang terpasang horizontal. Ia mengincar kaki Temma, lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan. Pedang itu mendecit di kegelapan, tapi tidak terdengar suara benturan. Manusia lembu itu telah melenting ke udara pada waktunya, dan ketika turun ia menerjang Takezo derngan kekuatan batu besar. Takezo merasa seakan berkelahi dengan seekor beruang. Inilah orang terkuat yang pernah dihadapinya, temma mencengkeram lehernya dan mendaratkan dua-tiga pukulan yang membuat tengkorak Takezo seperti pecah. Kemudian Takezo mendapat kesempatan lagi, sehingga Temma terlempar ke udara. Ia mendarat ke dinding, mengguncangkan rumah dan segala isinya. Ketika Takezo mengangakt pedang kayunya untuk dihantamkan ke kepala Takezo, bandit itu berkelit, langsung berdiri dan melarikan diri, dikejar oleh Takezo. Takezo sudah memutuskan untuk tidak membiarkan Temma lolos. Itu berbahaya. Hatinya sudah bulat. Kalau berhasil menangkap orang itu, ia takkan setengah-tengah membunuhnya. Ia akan memastikan benar bahwa tak ada sepenggal nafas pun tertinggal. Itulah sifat Takezo. Ia makhluk ekstrem. Waktu kecil pun sudah ada sifat primitif dalam darahnya, sifat yang mengingatkan orang pada prajuritu-prajurit ganas jepang kuno, sifat yang sekaligus liar dan murni. Sifat itu tak kenal cahaya peradaban ataupun tempaan pengetahuan. Tidak kenal pula sikap lunak. Itu ciri alamiah, suatu ciri yang membuat ayahnya tak bisa menyukai anak itu. Munisai telah mencoba dengan cara apa pun yang khas bagi golongan militer untuk mengatasi kebuasan anaknya dengan menghukumnya keras-keras dan sering-sering, tetapi akibatnya hanya membuat anak itu lebih liar, seperti celeng liar yang kebuasan sejatinya muncul pada waktu ketiadaan makanan. Semakin orang kampung menghinakan pemuda kasar itu, semakin ia bersikap seolah ia berkuasa atas mereka. Ketika anak alam itu sudah besar, ia pun mulai bosan dengan berlagak sebagai pemilik dusun itu. Terlampau mudah baginya mengancam orang-orang dusun yang sifatnya takut-takut. Ia mulai memimpikan hal-hal yang lebih besar. Sekigahara telah memberikan kepadanya pelajaran pertama tentang apa sebenarnya dunia ini. Impian-impian di masa muda porak-poranda – meski ia tak punya banyak impian. Baginya tidak ada yang namanya merenungkan kegagalan dalam usaha ‘sejati’ yang pertama ataupun mempertanyakan suramnya masa depan. Ia belum tahu arti disiplin pribadi, dan ia menerima seluruh bencana berdarah itu dengan tenang saja. Dan kini, kebetulan saja ia tertumbuk pada kakap yang sungguh besar – Tsujikaze Temma, pemimpin para bandit! Inilah lawan yang ia hasratkan bertanding di Sekigahara. “Pengecut!” bentaknya. “Jangan lari! Dan ayo lawan aku!” Takezo berlari seperti kilat, melintasi lapangan yang gelap kelam, sambil meneriakkan kata-kata ejekan. Sepuluh langkah di depannya Temma melarikan diri seperti terbang. Rambut Takezo menyapu telinganya. Ia merasa bahagia – lebih bahagia daripada kapan pun dalam hidupnya. Makin jauh ia berlari, makin dekat ia pada kegairahan binatang semata-mata. Maka ia pun melompat ke punggung Temma. Darah menyembur di ujung pedang kayu itu, dan jeritan yang membekukan darah mengoyak malam yang tenang. Tubuh bandit yang besdar dan berat itu jatuh ke bumi dengan suara yang berdebam dan terguling. Tengkoraknya hancur, matanya lepas dari ceruknya. Dua-tiga pukulan berat dijatuhkan lagi ke tubuh itu, dan tulang-tulang rusuk yang patah pun mencuat dari kulitnya. Takezo mengangkat tangan, menghapus banjir keringat yang turun dari keningnya. “Puas, Kapten?” tanyanya penuh kemenangan. Dengan sikap acuh tak acuh, kembalilah ia ke rumah. Orang yang tidak tahu kejadian barusan akan menyangka ia hanya keluar malam untuk jalan-jalan, sama sekali tanpa urusan di dunia ini. Ia merasa bebas, tidak menyesal karena tahu kalau orang itu yang menang, ia sendiri akan terbaring di sana, tanpa nyawa dan sendirian. Dari kegelapan terdengar suara Matahachi, “Takezo, kaukah itu?” “Ya,” jawab Takezo kering. “Ada apa?” Matahachi berlari mendekat dan katanya sambil terengah-engah, “Aku bunuh satu! Bagaimana denganmu?” “Aku bunuh satu juga.” Matahachi mengangkat pedangnya yang berlumuran darah sampai kepangan gagangnya. Sambil melebarkan bahunya, dengan penuh kebanggaan ia berkata, “Yang lain-lain lari. Bajingan-bajingan pencuri ini pengecut! Tak punya nyali! Cuma bias melawan mayat, ha! Ini baru perkelahian, ha-ha-ha!” Kedua pemuda itu penuh percikan darah kental, dan mereka puas seperti sepasang anak kucing yang makan kenyang. Sambil berkeciap senang, mereka pun menuju lampu yang tampak dari jauh. Takezo dengan pedang berdarah, Matahachi dengan pedang yang juga berdarah.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seekor kuda gelandangan melongokkan kepalanya ke jendela dan melihat-lihat sekitar rumah. Dengusnya membangunkan kedua orang yang sedang tidur. Sambil memaki binatang itu, Takezo menampar telak hidungnya. Matahachi meregangkan badan, menguap, berucap betapa enak tidurnya. “Matahachi sudah cukup tinggi,” kata Takezo. “Apa kau kira sudah sore?” “Tidak mungkin!” Sesudah tidur nyenyak, peristiwa-peristiwa malam sebelumnya sudah terlupakan sama sekali. Untuk kedua orang ini, yang ada hanya hari ini dan besok. Takezo berlari ke belakang rumah dan melepas baju sampai pinggang. Sambil merundukkan badan di sisi sungai gunung yang bersih dan sejuk itu ia memercikkan air ke wajahnya, membasahi rambutnya, dan membasuh dada dan punggungnya. Seraya menengadah ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, seakan-akan mencoba mereguk sinar matahari dan seluruh udara yang ada di langit. Masih mengantuk, Matahachi masuk ke kamar perapian. Ia mengucapkan selamat pagi kepada Oko dan Akemi dengan riang. “He, kenapa pula kalian, wanita-wanita yang manis ini, cemberut begitu?” “Apa betul begitu kelihatannya?” “Ya, betul sekali. Kelihatannya seperti kalian sedang berkabung. Apa yang mesti dirisaukan? Kami telah membunuh pembunuh suami ibu dan menghantam kaki-tangannya; mereka tidak akan lekas lupa.” Kekecewaan Matahachi tidak sukar diterka. Semula ia pikir janda dan anak gadisnya itu akan senang sekali mendengar berita kematian Temma. Memang malam sebelumnya Akemi bertepuk tangan gembira ketika pertama kali mendengar tentangnya. Tetapi Oko dari semula sudah tampak tidak enak, dan hari ini, ketika membungkuk kesal di dekat api, ia tampak lebih muram lagi. "Ada apa dengan Ibu?" tanya Matahachi. la berpendapat Oko adalah wanita yang paling sukar disenangkan hatinya di dunia ini. "Inilah balasannya!" katanya pada diri sendiri sambil mengambil teh pahit yang dituangkan Akemi untuknya dan berjongkok. Oko tersenyum lesu, iri kepada anak muda yang belum banyak mengecap asam garam kehidupan di dunia ini. "Matahachi," katanya letih, "kau rupanya belum mengerti. Temma punya beratus-ratus pengikut." "Tentu saja. Orang brengsek seperti dia selalu punya banyak pengikut. Kami tidak takut akan macam orang-orang yang ikut dengan orang seperti itu. Kalau kami dapat membunuh dial kenapa kami mesti takut kepada anak buahnya? Kalau mereka mencoba menyerang kami, Takezo dan aku akan..." "... tak berbuat apa-apa!" sela Oko. Matahachi membusungkan dadanya clan katanya, "Siapa bilang begitu? Datangkan mereka sebanyakbanyaknya! Mereka tak lebih dari serombongan cacing. Atau Ibu pikir Takezo dan aku ini pengecut? Mau merangkak mengundurkan diri? Ibu kira siapa kami ini?" "Kalian bukan pengecut, tapi kalian kekanak-kanakan! Bahkan terhadap aku! Temma punya adik lelaki bernama Tsujikaze Kohei, dan kalau dia datang mencari kalian, kalian berdua jadi satu pun tak akan punya kesempatan menang!" Ini bukan macam pembicaraan yang suka didengar oleh Matahachi, tapi sementara Oko meneruskan pembicaraannya ia mulai berpikir barangkali Oko ada benarnya. Tsujikaze Kohei agaknya memiliki gerombolan besar pengikut di sekitar Yasugawa di Kiso. Dan bukan hanya itu, ia ahli berkelahi dan luar biasa mahir dalam menangkap orang yang lepas dari tangkapannya. Sebegitu jauh belum ada orang yang dapat hidup normal sesudah Kohei secara terbuka menyatakan akan membunuhnya. Jalan pikiran Matahachi hanyalah, kalau orang menyerang kita di tempat terbuka, itu mudah. Tapi lain sekali halnya kalau orang itu menyerang selagi kita tidur nyenyak. , "Itulah kelemahanku," demikian diakuinya. "Aku tidur seperti orang mati” Sementara duduk bertopang dagu dan berpikir, Oko pun sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya kecuali meninggalkan rumah itu beserta cara hidupnya dan pergi jauh dari situ. Ia pun bertanya pada Matahachi, apa yang hendak dilakukannya beserta Takezo. "Aku akan membicarakannya dengan dia" jawab Matahachi. "Ke mana pula dia pergi tadi?" Ia pun berjalan ke luar clan mencari ke sekitar situ, tapi Takezo tidak tampak di mana pun. Sejenak kemudian ia memayungi matanya dengan tangan, memandang ke kejauhan, dan melihat Takezo sedang menaiki kuda.

Pesta Bunga
PADA abad tujuh belas, jalan raya Mimasaka merupakan jalan utama. Jalan itu membentang dari Tatsuno di Provinsi Harima, berkelok-kelok melewati dataran yang dalam peribahasa dilukiskan sebagai "berbukitbukit". Seperti halnya pancang-pancang yang menandai perbatasan Mimasaka-Harima, jalan itu menelusuri rangkaian pegunungan yang seakan tanpa akhir. Para musafir yang muncul dari Celah Nakayama biasa memandang ke lembah Sungai Aida, dan di situ sering kali mereka terkejut melihat sebuah kampung yang cukup besar. Sebetulnya Miyamoto lebih tepat dinamakan perserakan dusun daripada sebuah kampung yang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sesungguhnya. Sekelompok rumah berderet di sepanjang sisi-sisi sungai, yang lain berkerumun jauh di atas perbukitan, dan yang lain lagi mengambil tempat di tengah dataran terbuka berbatu-batu, sehingga sukar dibajak. Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah rumahrumah itu cukup memadai untuk suatu pemukiman pedesaan pada waktu itu. Sampai kira-kira setahun sebelum itu, Yang Dipertuan Shimmen dari Iga memiliki sebuah puri, tak sampai satu mil jauhnya dari sungai-sebuah puri kecil sebagaimana puri-puri lain, tapi puri yang memikat para tukang clan pedagang untuk selalu datang. Lebih jauh ke utara terdapat tambang perak Shikozaka yang kini sudah lewat zaman keemasannya, tapi dahulu pernah memiliki daya tarik bagi para penambang dan manamana. Para musafir yang bepergian dari Tottori ke Himeji atau dari Tajima ke Bizen lewat pegunungan itu biasanya menggunakan jalan raya tersebut, dan biasanya mereka juga singgah di Miyamoto. Miyamoto memiliki rona eksotik sebuah kampung yang sering dikunjungi oleh penduduk yang datang dari beberapa provinsi dan dapat membanggakan tidak hanya losmennya, melainkan juga toko pakaiannya. Rombongan perempuan malam juga berlabuh di sana. Leher mereka dipupur putih seperti mode waktu itu. Mereka biasa mondar-mandir di depan rumah usahanya, seperti kelelawar putih di bawah tepi atap. Itulah kota yang ditinggalkan oleh Takezo clan Matahachi untuk pergi berperang. Sambil memandang puncak-puncak atap Miyamoto, Otsu duduk melamun. Ia gadis lembut, berkulit terang clan berambut hitam mengilat, sosok tubuh dan anggota badannya indah dan kelihatan rapuh. Sosoknya itu menyiratkan kesan kudus, hampir-hampir seperti peri. Tidak seperti gadis-gadis petani yang tegap dan merah sehat, yang bekerja di sawah di bawah sana, gerak-gerik Otsu halus. Jalannya anggun, lehernya jenjang dan kepalanya tegak. Kini, selagi duduk di ujung emperan kuil Shippoji, ia tampak bagai patung porselen. Sebagai bayi temuan di kuil gunung ini, ia punya sifat menyendiri yang jarang ditemukan pada gadis umur enam belas tahun. Keengganannya bergaul dengan gadis-gadis lain seumurnya clan dari dunia kerja, membuat matanya memancarkan pandangan kontemplatif dan sungguh-sungguh tajam, yang cenderung menolak lelaki yang terbiasa dengan perempuan sembarangan. Matahachi, tunangannya, hanya satu tahun lebih tua darinya, dan sejak ia meninggalkan Miyamoto bersama Takezo pada musim panas sebelumnya, Otsu tidak mendengar kabar apa-apa tentangnya. Bahkan sampai bulan pertama dan kedua tahun baru ini la merindukan berita tentang Matahachi, namun kini bulan keempat sudah dekat, dan ia tidak lagi berani berharap. Dengan malas pandangannya mengawang ke awan-awan, dan pelan-pelan muncullah pikiran di kepalanya. Sebentar lagi sudah satu tahun penuh. "Saudara perempuan Takezo pun tidak mendengar berita tentang Takezo. Bodoh aku, kalau aku menyangka di antara mereka ada yang masih hidup." Sekali-kali ia mengucapkan kata-kata itu pada seseorang, dengan harapan atau dengan suara dan mata mengimbau, agar orang lain itu membantahnya dan memintanya untuk tidak berputus asa. Tapi tak seorang pun memperhatikan keluhannya. Bagi orang kampung yang bersahaja, yang sudah terbiasa dengan pasukan Tokugawa yang menduduki kuil Shimmen sederhana itu, tidak ada alasan lagi untuk menyimpulkan bahwa mereka masih hidup. Tak seorang pun anggota keluarga Yang Dipertuan Shimmen pulang dari Sekigahara, dan itu wajar sekali. Mereka keluarga samurai; mereka telah kalah. Tak akan mereka berkehendak memperlihatkan wajahnya kepada orangorang yang mengenalnya. Tapi bagaimana dengan prajurit biasa? Apakah tidak wajar kalau mereka pulang? Bukankah mereka sudah akan pulang lama berselang, kalau mereka memang masih hidup? "Kenapa," demikian tanya Otsu, entah untuk keberapa kalinya, "kenapa orang-orang pergi berperang?" Kini ia sudah bisa menikmati kesenduan duduk sendiri di emperan kuil clan merenungkan hal yang muskil itu. Ia dapat menyendiri berjam-jam lamanya di tempat itu, tenggelam dalam angan-angan murung. Tiba-tiba ada suara lelaki menyerbu pulau kedamaiannya. “Otsu!" Gelandangan yang telah membangunkan mereka dengan ringkiknya itu, berputar-putar di kaki gunung, bertelanjang punggung. "Seperti tak ada masalah di dunia ini baginya," kata Matahachi pada diri sendiri dengan rasa iri. Dengan tangan mencorong di depan mulut ia berseru, "Hei, Takezo! Pulang! Kita mesti bicara!" Sesaat kemudian mereka sama-sama berbaring di rumput sambil mengunyah-ngunyah rumput, membicarakan apa yang akan mereka lakukan kemudian. Matahachi berkata, "Jadi, menurut pendapatmu kita mesti pulang?" "Ya, memang begitu. Kita tak dapat tinggal dengan kedua wanita ini selamanya." "Ya, memang tidak." "Aku tak suka perempuan." Setidak-tidaknya itulah keyakinan Takezo. "Baik. Kalau begitu, ayo kita pergi." Matahachi berguling dan memandang ke langit. "Sekarang, sesudah bulat pikiran kita, ingin rasanya aku cepat-cepat pulang. Tiba-tiba aku menyadari sangat kehilangan Otsu. Sungguh aku ingin melihatnya segera. Lihat di atas itu! Ada awan yang bentuknya seperti raut muka Otsu. Lihat! Bagian itu seperti rambutnya sesudah dikeramas." Matahachi menjejak-jejak tanah sambil menunjuk langit. Mata Takezo mengikuti bayangan kuda menjauh, yang baru saja dilepaskannya. Seperti kebanyakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pengembara yang diam di padang-padang, kuda gelandangan dianggapnya makhluk yang baik wataknya. Apabila kita tidak membutuhkannya lagi, ia pun tidak meminta apa-apa dari kita; begitu saja ia pergi sendiri ke tempat lain. Dari rumah, Akemi memanggil mereka makan malam. Mereka pun berdiri. "Ayo balapan!" teriak Takezo. "Ayo!" Matahachi menimpali. Akemi bertepuk tangan gembira ketika kedua pemuda itu sama-sama berlari melintasi rumput yang tinggi, meninggalkan awan debu di belakang mereka. Sesudah makan malam, Akemi termenung. la baru saja mendengar bahwa kedua orang itu telah memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Sungguh menyenangkan bahwa mereka tinggal di rumah itu, dan ia ingin hal itu berlangsung selamanya. "Tolol kau!" umpat ibunya. "Kenapa pula kau sedih?" Oko sedang mengatur riasannya, sama rumitnya seperti biasa. Sementara memaki anak gadisnya, ia pun menatap Takezo di dalam cermin. Takezo menangkap pandangannya, dan tiba-tiba teringatlah ia akan bau harum tajam wanita itu ketika menyerbu ke dalam kamarnya. Matahachi menurunkan guci sake besar dari sebuah rak, lalu mengempaskan diri di samping Takezo dan mulai mengisi sebuah botol pemanas kecil, seolah-olah ia adalah tuan rumah. Karena malam itu malam terakhir, mereka merencanakan untuk minum sepuas-puasnya. Oko pun agaknya mencurahkan perhatian khusus kepada wajahnya. "Jangan sampai ada setetes pun yang tak terminum!" katanya. "Tak ada gunanya menyisakan sesuatu untuk tikus-tikus di sini." "Atau cacing-cacing!" sambut Matahachi. Dalam waktu singkat mereka telah mengosongkan tiga guci besar. Oko menyandarkan badan pada Matahachi dan mulai membelainya sedemikian rupa, hingga Takezo memalingkan kepala karena malu. "Aku... aku... tak bisa berjalan," gumam Oko mabuk. Matahachi mengawalnya ke kasurnya, sementara kepala Oko tersandar berat ke bahunya. Sampai di sana, Oko menoleh pada Takezo dan katanya dengki, "Kau, Takezo, tidurlah sendirian. Kau suka tidur sendiri. Betul, kan?" Tanpa gumaman apa pun Takezo merebahkan diri asal saja. Ia sudah sangat mabuk, dan hari sudah larut malam. Ketika ia terbangun, hari telah tinggi. Begitu membuka mata, ia pun merasakannya. Terasa olehnya rumah itu kosong. Barang-barang yang hari sebelumnya ditumpukkan Oko dan Akemi untuk perjalanan telah hilang. Tidak ada pakaian, tak ada sandal-dan Matahachi pun tak kelihatan. la memanggil, tapi tak ada jawaban, clan ia pun tidak mengharapkannya lagi. Rumah yang kosong memancarkan suasananya sendiri. Tak ada orang di halaman, tak ada orang di belakang rumah, tak seorang pun di lumbung. Satu-satunya jejak teman-temannya hanyalah sisir merah terang yang tergeletak di samping mulut pipa air yang terbuka. "Matahachi babi!" katanya pada diri sendiri. Mencium bau sisir, kembali ia teringat bagaimana Oko mencoba menggodanya malam hari belum lama ini. "Inilah yang mengalahkan Matahachi," pikirnya. Memikirkan hal itu saja darahnya menggelegak. "Hai, tolol!" teriaknya keras. "Bagaimana dengan Otsu? Apa yang akan kauperbuat dengan dia? Apa tidak sudah terlalu sering dia kautinggalkan, babi?" Diinjaknya sisir merah itu. la ingin berteriak berang, bukan untuk diri sendiri, melainkan karena rasa kasihan pada Otsu, yang dapat dibayangkannya dengan jelas sedang menanti di kampung sana. Selagi ia duduk sedih di dapur, kuda gelandangan itu melongok tenang di pintu. Karena Takezo tidak menepuk hidungnya, ia pun pergi ke meja cuci dan dengan malasnya menjilati butir-butir padi yang menempel di sana. Otsu menoleh. Ia melihat seorang laki-laki bertampang muda datang mendekati dari sumur. Orang itu hanya mengenakan cawat yang hampir tidak dapat memenuhi fungsinya, dan kulitnya yang tertempa cuaca berkilau seperti emas redup patung Budha. Ia biarawan Zen yang tiga-empat tahun lalu datang ke tempat itu dari Provinsi Tajima. Sejak itu ia tinggal di kuil itu. "Akhirnya datang musim semi," kata biarawan itu, puas pada diri sendiri. "Musim semi suatu berkah, tapi berkah campuran. Begitu keadaan sedikit panas, kutu-kutu busuk itu pun melanda negeri. Mereka mencoba mengambil alih negeri, persis seperti Fujiwara no Michinaga, si bangsat lihai, anak buah seorang regent." Sebentar kemudian ia pun meneruskan monolog itu. "Aku baru saja mencuci pakaianku, tapi di mana akan kukeringkan jubah tua yang sudah compang-camping ini? Aku tak dapat menggantungkannya di pohon prem. Dosa besar sekali clan menghina alam, kalau aku menutup bunga-bunga itu. Cobalah pikir, aku orang yang punya selera, tapi aku tak dapat menemukan tempat menggantungkan jubah ini! Otsu! Pinjami aku kayu jemuran." Wajah Otsu memerah melihat biarawan bercawat cekak itu. Ia pun berseru, "Takuan! Bapak tak bisa ke mana-mana setengah telanjang begitu, sebelum pakaian Bapak kering!" "Kalau begitu, aku akan tidur. Bagaimana kalau begitu?" Ebook by Kang Zusi

lebih balk saya pergi sendiri." Delapan atau sembilan ratus meter di bawah kuil itu.property of: CROSSFiRE. lho!" "Tentu saja mirip. tapi beberapa saat kemudian ia sudah melihat kembali Takuan menempel di belakangnya. aku bisa berdiri saja seperti ini dan membiarkan orang-orang menunduk hormat padaku. Kemudian saya harus menyiapkan segalanya untuk upacara pengurapan. "Nah. "Takuan." "Nasib perempuan sama sekali bukan urusan Bapak!" "O. yang kedengaran religius dan kekanak-kanakan sekaligus. tapi tidak lebih sia-sia daripada urusan seorang pedagang. "Di langit sana dan di bumi ini hanya aku yang suci. Dan lagi temanteman lelakimu tak suka kalau kau terlalu banyak cemberut. "Jangan marah. aku hanya menggoda. Otsu! Kau tahu. nama yang diberikan kepadanya sesudah menjadi pendeta. "Bapak betul-betul mirip. Ia menjawab. Dan malam ini saya harus membuat teh manis. Ketelanjangan itu sifat alamiahnya. seruni." Dan dengan wajah saleh ia pun melagukan sabda pertama sang Budha. Ada ha1-hal penting yang harus saya kerjakan:' Sementaca ia memasukkakan kakinya yang putih kecil itu ke dalam sandal. aster. Sebuah keranjang ia sandangkan ke punggung. Bapak ini betul-betul mengerikan!" la pun berlari jauh ke depan. akan kukejutkan mereka dengan menjilat bibirku. Sejenak kemudian Takuan pun terpekur. saya tak bisa lagi membuang-buang waktu sepezti ini. apiun." desahnya. Otsu. kalau sendirian. bunga-bunga musim semi bermekaran di kedua tepi Sungai Aida." "Takuan. penjual pakaian. Otsu pun bergegas memutar ke belakang kuil. Aku ini titisan Pangeran Sidharta. dan violet musim semi. "Oh. Inc. "Apa ini lebih cocok untukmu?" serunya sambil menyeringai. "Kerjaan apa?" "Kerjaan apa? Apa Bapak sudah lupa juga? Pertunjukan pantomim Bapak tadi yang mengingatkan saya. Aku setuju. kalau kita dapat menghabiskan hidup kita di surga penuh bunga." "Di mana kau mengambil bunga?" "Dekat sungai. dan gaya reinkarnasinya pun seketika berganti dengan gerak tangan yang kacau." "Memang demikianlah yang terjadi selama ini. Namun sekonyong-konyong Otsu berhenti tertawa. "Sungguh damai di sini. Melihat celah dalam cawatnya yang longgar itu. manusia dilahirkan tanpa pakaian. dan Otsu pun tertawa terbahak-bahak. di lapangan bawah. "Rasanya Anda benar. lalu la pun menyelinap ke luar pintu samping. "Aku bukannya bicara tentang tawon. Orang bisa mengira Bapak gila. Kalau mereka menuangkan teh manis ke badanku. kau keliru! Sudah tugasku sebagai pendeta untuk mencampuri kehidupan orang banyak." "Aku akan mengawanimu. Pekerjaan ini ada karena dibutuhkan. tukang kayu. atau samurai. bahkan bagi Otsu yang pendiam itu pun tak ada hari tanpa hiburan berupa apa yang dilakukannya atau dikatakannya. Sekarang ia mengenakan kain pembalut besar. Kain pembalutnya mengepak-ngepak liar ditiup angin. berdiri saja baik-baik di situ. semacam yang biasa digunakan orang untuk membawa tilam. dan menyiksa diri dalam nyala api neraka? Kuharap setidak-tidaknya kau tak usah mengalami segalanya itu. la ambil sebuah sabit." Otsu pun melunak. seperti sang Budha turun dari pegunungan Himalaya. netcafe. Jangan bergerak! Aku akan ambil teh untuk pengurapannya. jangan jalan di samping saya!" "Tapi sebelum ini tak pernah rasanya kau keberatan berjalan di samping seorang pria. Kau perlu bantuan." "Kalau begitu. dan tersesat dalam pusaran derita dan kemarahan. Takuan menirukan gaya patung kecil Budha yang setiap tahun sekali biasa diurapi para pemujanya dengan teh khusus. Saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk besok. Lagi pula." Takuan menganggukkan kepala sambil mendesah putus asa. menderita." "Tanpa pakaian?" "Kau tak akan bisa memetik bunga secukupnya. Bapak ini keterlaluan!" Sambil mengangkat satu tangannya ke langit dan satu lagi menunjuk tanah." Dengan harapan dapat menghindar." "Kenapa?" "Entahlah. Golongan pendeta tidak bagus hubungannya dengan kaum Ebook by Kang Zusi ." Otsu secara berirama mengisi keranjangnya dengan bunga-bunga rumput yang kuning cemerlang." "Mungkin saja. "Sebenarnya aku menanti saja sampai besok! Karena hari ini tanggal delapan. sang tawon menukik lagi. Sejak datangnya Takuan Soho. dan di tengah lautan kupu-kupu yang sedang berterbangan mulailah ia mengayunkan sabitnya dengan gerakan setengah lingkaran." Pada saat itu seekor tawon menyambar kepala Takuan. Aku cuma mau menyampaikan padamu ajaran sang Budha tentang nasib perempuan. kenapa kita semua ini lebih suka menangis. Otsu meletakkan keranjangnya di tanah. Cuma. Sudahlah. daripada berkhotbah. memotong bungabunga itu di dekat akarnya. ini jenis pekerjaan yang suka mencampuri urusan orang. "0." • Otsu pun tertawa geli melihat lagak Takuan yang kurang pantas itu. lebih baik Bapak waspada terhadap tawon-tawon itu. "Tentu saja tidak. Takuan bertanya polos. Pendeta tua menyuruh saya mengambil bunga untuk menghias kuil bunga. hari ulang tahun sang Budha. Bapak kelihatan lucu. diikuti langkah-langkah panjang Takuan. tapi saya tidak menganggap itu alamiah.

tapi sama sekali tidak jelek tampangnya.. tidak lagi dianggap orang sedang mekar-mekarnya. "Dan jangan lupa Bodisatwa Nagarjuna yang juga membenci-maksudku takut-pada perempuan. seorang gadis berumur dua puluh lima. Inc. Walaupun para calon cenderung mundur karena reputasi adik lelakinya. tapi Ebook by Kang Zusi ." "Saudara perempuan yang patuh. Kau tahu. dan pegang sabit ini." "Apa menurut Bapak. seolah-olah mengerahkan kesabaran." "Kalau begitu. dan pembantu yang tunduk. kenapa perempuan itu jahat?" "Karena dia menipu lelaki. tapi Takuan tidak mengacuhkannya.. di masa tuanya dia mengambil beberapa murid perempuan. kalau dipikir-pikir. Kau mesti tetap di kampung." "Kalau ajaran agama itu hanya pikiran sehat. Iblis-iblis perempuan menggodanya siang-malam. dan pembantu yang tunduk. Utusan neraka. keadaannya akan sebaliknya?" "Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin seorang iblis dapat menjadi Budha?" "Takuan. saya akan lari ke rumah Ogin. "Aku ikut. Ketika sang Budha masih muda. "Sementara Bapak bekerja." "Baiklah. ibu yang baik.. "Bapak datang kemari ini untuk membantu saya memetik bunga atau tidak?" "Tentu saja. "Takuan. "Biar kujelaskan sekarang. seperti juga sang Budha. Bapak. "Ada yang aku tahu pasti." katanya berpura-pura tersinggung." "Nasihat apa?" "Dia mengatakan.. "Dia barangkali akan menyuguhi kita teh. perempuan!" "Kan dari tadi Bapak yang terus bicara?" Takuan memejamkan mata. karena itu bukan kebetulan bahwa kau dan aku selamanya berselisih." "Ogin? Kakak perempuan Takezo itu? Aku sudah pernah melihatnya. Aku sudah haus setengah mati." "Itu lucu!" "Masih ada kelanjutannya. kalau dia perempuan. kita hentikan saja omongan ini." Otsu mengangkat sabitnya tak sabar. Ogin. Iblis. 'Hai. yang jadi milikmu. jangan kamu mengawini laki-laki. Saya lihat Bapak sudah menyusun semua itu untuk keuntungan lelaki. dan di situlah kau mesti menelurkan anak-anak yang bagus dan sehat. kita tak akan membutuhkan nabi-nabi untuk menyampaikannya pada kita. Tapi kuminta kaudengarkan nasihat yang diberikan Nagarjuna pada perempuan. sekali lagi Bapak memutarbalikkan semuanya untuk keuntungan diri sendiri!" "Komentar khas perempuan. Otsu pun mengangguk lemah. sang Budha sendiri lelaki. jangan berkhotbah lagi. karena dia memang maha pengampun. "aku sendiri tidak begitu yakin. " Dia mengatakan. itu berarti kau tak boleh diberahikan semata-mata oleh makhluk hidup." katanya sambil berpikir." Tawa Otsu pun pecah." "Dengan pakaian begitu?" Takuan berpura-pura tidak mendengar. tapi." "Apa lelaki tidak menipu perempuan juga?" "Ya. bukan? Di India kuno lelaki lebih dihormati dan perempuan kurang dihormati dibandingkan dengan di Jepang. melahirkan anak-anak yang lemah dan sentimental. Kalau diterapkan pada kehidupanmu. wajahnya memperlihatkan sikap jemu. agama Budha mengajarkan bahwa perempuan itu jahat." "Karena dia sudah bijaksana atau pikun?" "Jangan menghujat!" Takuan memperingatkan dengan tajam." Karena sudah capek sekali berdebat dengan biarawan itu."' Otsu memandangnya dengan hampa." "Diam. Bahkan dia pun sampai mengagungkan empat jenis perempuan." "Tapi." bentaknya jengkel. teman perempuan yang penuh kasih. perempuan.. itu tidak masuk akal." "Itu cukup wajar. untuk melihat apa dia sudah menyelesaikan obi yang akan saya pakai besok. itu. Bertahun-tahun aku menggeluti kitab suci. Saya sedang tak senang bicara hari ini. dan bersamasama mereka berjalan menyusuri sungai. perempuan. Dengan sendirinya dia lalu tidak menghargai tinggi perempuan. selama kira-kira tiga ribu tahun. dia duduk di bawah pohon bodhi. "Kawinlah dengan kebenaran. "Yah." "Dan menurut kitab suci Bapak.. Karena itulah aku di sini.property of: CROSSFiRE. netcafe. ibu yang baik. Berulang-ulang dia memuji kebajikan mereka itu dan menasihatkan pada orang laki-laki untuk memperistri perempuan-perempuan jenis itu tadi. tapi harus mencari yang abadi. "apa sih 'kebenaran' itu?" Takuan menjatuhkan kedua tangannya ke samping dan memandang ke tanah." kata Otsu tak sabar. yaitu saudara perempuan yang patuh. "Takuan. aku pun tak akan memaksakannya padamu." "Nah. Sekalipun begitu. teman perempuan yang penuh kasih.. kawinlah dengan kebenaran. 'Hai. "Lihat tidak?" kata Takuan sambil mengibaskan tangannya. kan? Bukankah dia pernah datang ke kuil denganmu?" Dan Takuan pun menjatuhkan sabitnya. kawin dengan kejujuran artinya kan tak boleh berkeinginan pergi ke kota. kalau kau memang tidak menginginkan bimbingan spiritual dariku. Kenapa mesti menyerangku pribadi?" Otsu menghentikan ayunan sabitnya lagi. perempuan.

tak kurang orang yang melamarnya. Segera sesudah kematiannya. dan dinding dojo. Cuma mengundang yang jelek-jelek. menuju beranda." "0. Di atasnya menyala lilin. memandang ke tanah. tapi kini telah reyot. Ogin yang memandang tajam ke beranda itu bertanya." "Kain pembalut? Eksentrik. bukan mandi!" Otsu pun tertawa sampai keluar air mata. ingat tidak? Waktu dia sedang berjemur telungkup sambil memegang kepala. "Ogin. netcafe. dia. Ketika kita bertanya kepadanya apa yang dilakukannya. semata-mata karena ia ingin mengurus adik lelakinya lebih lama lagi.. ketika masih memegang tanggung jawab latihan militer keluarga Shimmen.. Tapi apa lagi yang lain dari itu? Aku sudah pasrah. Betul-betul minta maaf. membersihkan kamar-kamar yang tidak dipakai." "Apa yang dipakainya itu? Kelihatannya bukan jubah pendeta. tapi di kuil begitu banyak pekerjaan. Berapa umurnya?" "Katanya tiga puluh satu tahun. Dia bilang dia telah melatih kutu-kutu itu untuk menghiburnya. belum! Kurasa mereka akan muncul hari-hari ini. Bunga-bunga iris liar berkecambah dari atapnya. Kalau tak ada kesibukan. Aku punya lebih banyak waktu dari yang kubutuhkan. Suatu kejadian yang bukan tidak umum di zaman yang penuh kekalutan. aku mau mengucapkan terima kasih. sampai tak ada waktu lagi. dengan sesajian air clan bunga di depannya: Roh Shimmen Takezo yang telah pergi." Otsu menggelengkan kepala keras-keras. Di sana dilontarkannya bunga itu sejauhjauhnya clan dituangkannya air di pinggir sana." "Aneh ya. belum. Mau kaupakai besok. karena kau sudah mau bersusah payah." Air mata melelehi wajahnya ketika la mengembus lilin itu. dan dengan cara-cara lain yang tak terhitung jumlahnya mereka berusaha memelihara rumah tua itu. "Kusingkirkan barang-barang ini." Sebagai tanda minta maaf." "Ogin. begitulah paling tidak. menyapu jalanan. dan dengan kalutnya ia mencoba mengeringkan rambut dengan salah satu ujung kain pembalutnya. jangan bilang begitu!" Otsu pun berlari ke altar dan mencabut tulisan itu dari papannya. di atas piring kecil. Itu kain pembalut. Yang kotor itu. dan jauh lebih besar dari yang diperlukan oleh seorang samurai biasa di pedesaan. Kenapa?" "Itu artinya dia sudah mati. dia biarawan hebat. dia begitu tolol. "Aaii! Dingin!" lengking Takuan sambil melompat." "Ya. "Kamu rupanya." katanya. dikitari oleh tembok kotor yang tinggi. ia pun terlompat ketika mendengar Otsu menyalaminya. banyak yang masih sering singgah. "Apa kau mimpi tentang Matahachi?" tanyanya lembut. Apabila singgah. Sebetulnya aku bisa menjahitnya sendiri. Ketika Munisai tak disukai lagi. para pembantunya pun pergi. "Maaf. "Oh. Takuan. dicengkeramnya bunga dan mangkuk air. Aku sendiri tidak mimpi yang lain kecuali adikku. dan terlihat olehnya altar keluarga. tapi kadang-kadang aku merasa seperti kakaknya. Salah seorang pendeta mengatakan. ia kehilangan status dan mati sebagai orang miskin. ia dianugerahi hak utama menggunakan nama Shimmen." kata Otsu resah. Kau pernah melihatnya. Roh Hon'iden Matahachi yang telah pergi. Munisai." "Memang bukan. Aku baru menyelesaikan obi-mu. "Jangan katakan itu! Bikin sial! Mereka belum mati.. Dahulu rumah itu megah. "Siapa itu?" "Biarawan musafir yang tinggal di kuil. tapi karena mereka semua orang asli Miyamoto." Ebook by Kang Zusi . Umur 17. "Apa pula yang kaulakukan ini? Aku datang kemari mencari secangkir teh. aku mulai melamun. Sebagai hadiah atas kerjanya yang sangat baik. Namanya Takuan Soho. Umur sama. Keduanya dilekatkan di papan. Tak puas dengan itu. lalu ia berlari melintasi kamar sebelah. aku senang bisa membantu. selalu. dia!" "Ya. Ogin. ia pun membawakan Takuan teh yang sudah dinantikannya. ia menyangka yang datang adalah salah seorang dari bekas-bekas pembantu itu. Air tumpah tepat di kepala Takuan yang sedang jongkok di bawah. Rumah itu menghadap ke sungai. Aku yakin mereka tewas di Sekigahara.property of: CROSSFiRE. Mereka juga senang mengobrol dengan anak perempuan Munisai. Bikin kaget aku saja. Ketika Ogin yang sedang menjahit di kamar dalam mendengar pintu belakang terbuka. Dalam cahaya suram itu la melihat dua tulisan gelap yang dilukis sangat saksama dengan kuas. "Ya. "Apa kau sudah mendapat kabar bahwa mereka terbunuh?" "Ah. Saya tak lihat. denganku. mengisi guciguci air. Karena sedang tenggelam dalam pekerjaannya. Rumah yang ditinggalinya dibangun oleh ayah mereka." Otsu mengangkat kepala." Ogin memandang jahitannya. biarpun kelihatannya begitu. mereka meninggalkan sayur-sayuran segar. la menolak semua pinangan. kan?" "Betul. dia mengatakan kutu-kutunya sedang mengadakan pertandingan gulat. di mana Munisai dahulu biasa mengajarkan seni perang. Ketika ia kembali ke dalam. Pembawaan dan pendidikannya yang baik segera tampak oleh semua orang. Inc. didirikan di atas pondasi batu. kini terlapisi seluruhnya oleh kotoran burung layang-layang putih." "O.

Anda pasti punya banyak kesusahan juga. Tetapi para pemudanya kelihatannya lebih tertarik mencuri-curi pandang ke Otsu daripada mengikuti upacara keagamaan ini. Sambil menuangkan minyak ia menghimbau mereka untuk memberikan sumbangan. Anda memakai sutra halus dan obi bersulam. Sekali-sekali ia mencelupkannya ke dalam kotak tinta berlak emas di sebelah sana. aku seperti itu?" Mata Takuan pun berseri-seri. aku tak peduli. ruang utama yang kecil penuh dengan umat. kesusahan Anda akan berkurang lima puluh kilo juga. Di dalam "kuil bunga" ini ada patting Budha berwarna hitam." "Memang begitu yang dikatakannya." Di sebelah lain kuil bunga itu. Wajahnya memancarkan rona merah muda. Takuan berdiri di dekatnya. Pada hari yang sebaik-baiknya ini. Kejam!" Di kuil Daishoji dan Shippoji lonceng berdentang-dentang." "Dari mana dia itu?" "Dia lahir di Provinsi Tajima." jawab Otsu riang. tiga hari sesudahnya dia melarikan diri. Pada pagi hari orang-orang berduyun-duyun ke kuil: gadis-gadis dengan obi merah. sedangkan kau duduk merintihkan kekasihmu yang hilang. Yaitu tanggal delapan bulan empat." Ogin menggelengkan kepala. Tak pernah aku tahu alasannya dari siapa pun. Kurasa dia agak sinting." Otsu melanjutkan ceritanya. tapi setidak-tidaknya kalian dapat memberiku kue manis untuk teman minum teh ini. "Kuil ini miskin. "Kalaupun kalian membicarakan yang jelek. "Dia memang seperti itu sejak dulu. Ketika menuliskan kata-kata pesona di atas kertas lima warna. Kemudian dia masuk kuil sekte Zen Rinzai. Terutama Anda-anda yang kaya. Orang-orang melewati patung itu sambil mengguyurkan teh manis ke kepalanya dengan menggunakan sendok besar dari bambu. Saya tahu siapa Anda. "Aku bisa mendengar semua yang kalian bicarakan!" "Tapi rasanya kami tidak membicarakan yang jelek. maka tinggalkan sumbangan sebanyak yang Anda sanggup. Dia sendiri tak pernah menceritakan masa lalunya. Pergi dari sana dia menjadi pengikut pendeta sarjana dari Daitokuji dan melakukan perjalanan bersamanya ke Kyoto dan Nara. Jatuhlah hukuman bagi Para serangga yang menghabiskan panen. membawa minyak suci dan mengisikannya ke dalam tabung-tabung bambu kecil untuk dibawa pulang para pengunjung sebagai pembawa berkah." "Itu dia. sudah demikian seringnya. kalau itu menghibur kalian. Dia menghabiskan banyak sekali waktu untuk belajar!" "Barangkali itu sebabnya dia agak lain. Anda punya banyak uang. "Semakin cantik saja. netcafe. Lonceng mulai berdentang selewat subuh. dan satu deretan panjang orang suci lain yang terkenal. Takuan berseru." "Barangkali menurut anggapannya kita ini yang aneh. Atapnya dari daun-daun potion jeruk dan tiang-tiangnya dililit bunga-bunga liar. istri-istri pedagang dengan warna kimono yang lebih lembut. seperti bunga-bunga yang ada di sekitarnya. Tangannya yang satu menunjuk ke langit dan satunya lagi ke tanah. dan juga nasib siaL Otsu menuliskan sajak itu sudah berpuluh kali-ya.property of: CROSSFiRE." Seraya berdiri di dekat beranda. Ia mengenakan obi baru." "Apa maksudmu. Itto dari Sennan. Tapi. Kita tak dapat selalu menilai orang dari tampangnya. hanya berteman kutu-kutunya. Entah sejak kapan orang di daerah ini menganggap bahwa menggantungkan sajak bernada praktis itu di dinding akan melindungi mereka dari hama. "Dia ada di sini. "Dia diangkat menjadi pendeta tetap di Nansoji dan ditunjuk sebagai kepala biara Daitokuji dengan maklumat Kaisar. tapi tindakanmu jauh lebih kejam dan bengis daripadaku. DI kuil Shippoji. la menulis: Dengan cepat dan saksama. Mereka malahan sudah menawarkan membangun kuil untuknya dan menyumbangkan uang untuk perawatannya. Belakangan dia belajar dengan pimpinan Gudo dari Myoshinji. Di dalam ruang itu ada sebuah kuil mini." "Berapa lama dia akan tinggal di sini?" "Mana bisa tahu? Dia biasa muncul suatu hari. dan kadang-kadang masih terdengar dentangnya sampai jauh lepas tengah hari." bisik seorang pemuda. Otsu duduk menghadap meja berplitur hitam. "Dan kau sendiri? Kau kelihatannya saja tidak tega melukai seekor lalat. tapi dia tidak tertarik. Jika Anda meninggalkan uang sebanyak lima puluh kilo. betul begitu? Dan bagaimana saya bisa kejam dan bengis begitu?" "Kau meninggalkan aku di luar sini tanpa daya. setinggi kira-kira setengah meter. Dia bilang lebih suka mengembara di pedesaan seperti pengemis." bisik pemuda lain. dan menghilang hari berikutnya. dan mulai mempersiapkan diri menjadi pendeta ketika umur sepuluh tahun. tanpa apa-apa kecuali teh. kira-kira empat tahun kemudian. "Mungkin saja." kata Otsu. Otsu melanjutkan. Patting ini berdiri di dalam semacam baskom dari tanah liar. "Orang bilang jenderal-jenderal terkenal seperti Hosokawa dan orang-orang bangsawan macam Karasumaru sudah berulang-ulang mencoba meyakinkannya untuk tinggal menetap. karena beberapa alasan. hingga pergelangan tangannya mulai berdenyut dan tulisan Ebook by Kang Zusi . penyakit. ia memainkan kuas dengan terampilnya. dan di sana-sini wanita tua dengan kimono warna gelap menggandeng tangan cucu-cucu mereka." "O. Inc.

"Ya. dan sesudah panen la menebah butir-butirnya dengan menginjak-injaknya." Mata perempuan tua yang biasanya tersembunyi di antara lipatan dan kerut-kerut itu kini terbelalak karena jengkel. Sekalipun sudah hampir enam puluh tahun umurnya. tapi Bapak mendahulukan perempuan. Heita?" "Ya. tiap hari ia memimpin keluarga dan petani penyewanya ke ladang dan bekerja sama kerasnya dengan mereka. hingga tubuhnya yang hampir melipat dua itu nyaris tidak kelihatan." "Mengatakan apa?" "Takezo. bagian 2 Murka Janda Bangsawan KELUARGA Matahachi. Anda sekalian akan segera mendapat kesempatan mengosongkan pundi-pundi Anda." Suara Osugi turun satu oktaf. "Betul? Betul-betul dia melihatnya. "Dari mana kamu." Wajah Otsu berubah merah tua. Hon'iden. anggota kebanggaan kelompok bangsawan desa yang masuk kelas samurai. Itulah inti amal. Mereka juga mengerjakan tanah. "Jangan berdesakan. Dia bilang. tidak usah repot dengan hama-hama itu. Kau datang untuk bisa memandang Otsu lebih jelas! Nah. Itu jadi beban mereka. tangannya mulai mencerminkan kelelahan. Nek." Ebook by Kang Zusi . Setelah berhenti sejenak. lalu melayangkan pandang kepada orang banyak." katanya kepada orang banyak yang berdesak-desak. "Maksud Anda saya?" kata Takuan sambil menunjuk hidungnya." jawab Takuan." "Hei. Pada malam hari. Sore pada hari pesta bunga itu. Osugi menghentikan kerjanya di petak kebun murbei ketika melihat cucu lelakinya yang masih ingusan berlari-lari telanjang kaki melintas ladang. kan? Tak bakal kau mendapat perempuan. saya betul-betul marah!" Untuk mengistirahatkan matanya. kalau kau berlaku seperti orang kikir. ada saja yang dapat ditemukannya untuk disandangkan ke punggungnya yang bungkuk dan diangkutnya pulang ke rumah." "Kamu bawa pulang teh manis dan mantra pengusir hama." "Saya suka perempuan sama dengan lelaki di belakangnya. Pendeta!" kata seorang pemuda yang mendapat peringatan karena mendesakkan diri ke tengah. ia pun menegur Takuan. Kepala sesungguhnya dari keluarga itu adalah ibu Matahachi. netcafe. Bapak terus menyuruh kami menunggu giliran. biasanya ia dapat ditemui sedang mengurus ulat sutranya. berudu! Kaukira aku tidak tahu kenapa kau di sini! Kau tidak datang untuk menghormat sang Budha atau membawa pulang kebaikan. tidak?" "Tidak. "Hentikanlah usaha merampok orang-orang ini. sini. seorang perempuan yang sangat keras kepala bernama Osugi. hentikan. Heita?" tanyanya tajam. yaitu meringankan mereka dari beban." "Bapak ini mestinya salah seorang biarawan bejat yang selalu kami dengar ceritanya itu. dari seberang kali. pencuri biasa pun bisa jadi orang suci semuanya. akuilah sekarang betul. Otsu kembali menghentikan pekerjaannya." "Otsu ada di sana?" "Ya. Hentikan sekarang juga. Otsu bilang melihat dia di pesta. "Takuan. kalau tidak. Kalau senja memaksanya berhenti bekerja. saya mesti lari pulang dan mengatakan pada Nenek. Napasnya masih terengah-engah." "Cukup. Terlalu banyak Bapak mengambil.property of: CROSSFiRE. "Kenapa tidak?" "Otsu bilang. Dia membantu pesta. "Sini. pelan-pelan. "Dengan jalan pikiran itu." jawab anak itu girang. Di musim tanam ia mencangkul ladang. antrelah." "Aku bicara kepada mereka yang sudah terlalu banyak harta. Inc. "Dari kuil. ya?" "He-eh. "Dan dia pakai obi yang bagus sekali." Takuan terlalu sibuk mengumpulkan mata uang emas untuk menjawab. Sering kali yang dipanggulnya adalah ikatan daun murbei yang demikian banyak. Tiba-tiba terpandang olehnya sesosok wajah.

saya yakin. saya pikir dia tak akan berbuat begitu. dan matanya menjadi kabur oleh air mata. "Otsu! Orang bilang kau melihat Takezo. "Ah." kata Otsu meredakan." Wanita tua itu pun enyah. kemudian mencuri-curi pulang dalam keadaan sehat walafiat. kita pergi. ketika Takezo datang. pasti dia menyampaikan pesan untuk kita. si bangsat Takezo yang sempat dibencinya karena memikat Matahachi yang sangat disayanginya untuk pergi perang." "Kau tidak lihat Matahachi?" "Tidak. "ambili daun murbei ini. meninggalkan anak kecil itu sendirian. Berdua saja." Ebook by Kang Zusi . Sesosok tubuh terlihat mendekat. Inc. Saya lihat matanya sesaat. kalau Nenek mau. ia pun memutar badannya kembali. dan tiap kali dirasanya ada orang mendekat. "Dan lagi. Jangan nakal. dia tidak memberitahu aku." "Lari?" tanya Osugi keheranan. Menjadi jelaslah baginya bahwa anak lelaki Shimmen. Masih di kejauhan ia sudah berseru pada mereka dengan agak histeris." jawab Otsu. Sekarang pun. Ayolah. tak ada makan malam di rumah itu. "Apa?" bentak Osugi yang sama sekali tidak reda marahnya. mari kita melihat ke sana. Kita mesti bertanya. kita mungkin menemukan Takezo di sana." "Saya ikut. Kalau Takezo kembali. "Tak ada alasan untukku ke sana. Akhirnya seorang dari mereka mengatakan "belum". ia berlari ke luar dan bertanya apakah mereka belum menemukan anaknya. Pada waktu matahari terbenam.. atau paling tidak tanda mata dari dia. tapi perempuan tua itu seperti tidak mendengarnya. la mulai bertanya-tanya pada dirinya." "Nenek mau ke mana?" "Pulang. "Ah.property of: CROSSFiRE." "Kalau begitu. dan memandangnya seakan-akan la telah kehilangan akal." katanya sekonyong-konyong. Ketika malam tiba dan masih juga belum ada berita. Ketika mereka terus memperlihatkan pandangan kosong. la menggeleng-gelengkan kepala dengan mantapnya. dan berkata lagi. Betul?" "Ya. Sandalnya yang basah berdetapdetap berat di tanah. Osugi melewatinya saja dan berlari langsung ke lumbung." Kata-kata Otsu terdengar gemetar karena tuduhan perempuan tua yang tergesa-gesa itu. la duduk seperti patung. "Apa Matahachi sudah pulang? Apa dia sudah di sini?" Orang-orang itu terkejut. Osugi pun akhirnya bergerak. ia pun mulai menyebut mereka semua dungu. dan suaranya meninggi menjadi jeritan. seperti anak yatim. kenapa dia lari seperti itu." Osugi menolak keras. Pelan-pelan ia menoleh. netcafe. Waktu pun mengapung lewat tanpa terasa. la sendiri tinggal di rumah. Matahachi pasti pulang juga. sedangkan pegunungan yang membayang di depan dan di belakang rumah terselimut kabut putih. Nenek tak perlu melakukan apa-apa. Akhirnya berkatalah ia mengancam. semakin terbentuk kecurigaan yang mengerikan di dalam otaknya. tapi tak pernah sekali pun dia datang minta maaf atau menunjukkan sikap hormat. Kemudian ia pun kembali berperan sebagai komandan tertinggi. "Heita. kalau pergi ke rumah Ogin. seakan-akan berharap melihat anak lelakinya berdiri di belakangnya. Diperintahkannya mereka pergi ke semua arah untuk menemukan Matahachi. "Tidak bisa dia sembunyi dariku!" Otsu tetap tenang.. Karena semua orang masih melakukan pencarian. Sejak dulu dia memang aneh." Kemarahan perempuan tua itu pun mereda sedikit. la menolak menerima jawaban "belum". Saya lari ke luar untuk menanyai Takezo. Bau harum kembang pit mengambang di udara. Di sana ia menanti. dan memang tak seorang pun di kampung ini yang akan menerima Takezo. di mana anak perempuannya dan beberapa petani penyewa sedang bekerja. Rumah pertanian yang dikitari pohon ek tua berbonggolbonggol itu adalah rumah yang besar. Ogin kakak perempuannya. "Bangsat! Barangkali dia sudah meninggalkan Matahachi yang malang mati entah di mana. Pengecut!" Osugi pun mulai gemetar karena berang. "Barangkali kau benar. dia tak akan berbuat begitu! Aku kenal iblis itu! Dia tidak sebaik itu. Namun Osugi waktu itu sudah yakin benar akan pengkhianatan Takezo. kemudian dia hilang. dan semakin ia bertanya. karena sudah terlalu lelah. dia melompat seperti kelinci ketakutan. tapi ketika saya memanggil. Seperti sedang kesurupan ia keluar pelan-pelan dari rumah. Melihat bayangan Otsu. tersembunyi dalam kegelapan. Kenapa aku harus pergi mendatanginya? Itu merendahkan martabat. Seakan-akan. dan gadis itu berlari. menuju gerbang depan. Biarpun dia harus meninggalkan Matahachi. Nek. Kalau Takezo kembali." "Tak usah. sekali lagi telah berbuat sesuatu yang tidak baik. Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon ek. Aku tunggu dia di sini. apa yang sudah terjadi. Osugi pun memanggilnya. "Saya pikir. dan ia menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Heita. Ketika tak dilihatnya seorang pun. yang pokok sekarang menemui Takezo secepatnya. Saya yang melakukan semua formalitas. tapi saya tak bisa mengerti." "Nek. Saya melihatnya di tengah orang banyak di luar kuil. Matahachi mestinya tak perlu bergaul dengannya.. masih dengan semangat tinggi ia meletakkan lilin di depan tanda peringatan nenek moyang suaminya. menyusuri sisi luar kebun pit." "Tapi ini bukan keadaan biasa. Dia tahu adiknya yang menyeret anakku pergi perang. Matahachi pasti kembali juga. Heita. Tubuh kekar itu pun seperti lumpuh seketika.

paling tidak suruh setan kecil itu ke sini sekarang. Saya minta dia dibawa kemari. ia pun menambahkan. Pepohonan demikian lebat. Mata Osugi berkilat. "Aneh juga. dan Otsu mulai berdiri. hingga tak mungkin terlihat cahaya lampu rumah. la duduk dengan angkuhnya. bukan?" "Ah. tetapi bunyi berikutnya yang terdengar adalah pekikan yang menegakkan bulu roma. bahwa dia tidak langsung datang ke sini?" "Tapi betul dia tidak datang. Seperti bunglon. dan menyemburkan kata-kata. Itu menurunkan derajat. menatap Ogin yang berlutut. setan kecil rumah ini sudah merangkak pulang. dan diam-diam mereka selalu mengakui hak hidup masing-masing pihak. Kalian pikir siapa aku ini?" Dan sesudah menelan napas sekali lagi. diikuti bunyi kaki berlari. tidak. "Kau pasti tahu di mana dia!" "Saya sudah bilang tidak tahu!" protes Ogin. Karena malu mendengar adiknya disebut demikian. Matahachi itu ahli waris dan anggota terpenting keluarga Hon'iden? Adikmu yang membujuk anakku pergi dan terbunuh. Sampai di gerbang depan. "Tangkap dia!" Kemudian terdengar bunyi lebih banyak kaki. Sebagaimana keluarga Hon'iden. "Apa artinya semua ini? Jadi. "Itu Takezo!" teriak Osugi. Akhirnya lampu pun muncul di sebelah dalam gerbang." jawab Ogin yang benar-benar terkejut. Seorang lelaki berteriak. Otsu pun menjelaskan bahwa ia telah melihat Takezo dalam pesta." kata Ogin. Inc. Dia bersembunyi di sini. "Kalau Takezo memang pulang. mengharap setengah mati ayahnya masih hidup. Ogin sendiri yang keluar menyambut perempuan tua itu. "Ini pertama kali saya mendengarnya." katanya sambil tertawa. keluarga Shimmen adalah bangsawan desa. "Maafkan saya mengganggu Nona pada waktu seperti ini. la pun membungkuk. bukan. Osugi pun mengubah taktiknya." "Bohong besar!" jerit Osugi. di depan ceruk. Dan karena kasihan kepadanya.. Suara manusia yang mirip sekali dengan lolongan binatang. tetapi urusan saya ini betul-betul tak bisa ditangguhkan. diiringi kertak ranting-ranting dan gemeresik pohon bambu. ia pun menggigit bibirnya. "Saya mendengar kabar. Tubuhnya diapit perkamen yang tergantung dan satu karangan bunga. Otsu hendak berjalan memutar ke pintu belakang.. "Rasanya tidak pantas kalau kepala keluarga Hon'iden masuk rumah keluarga Shimmen dari pintu belakang." Osugi yang duduk resmi di bantalan lantai. Suaranya bergetar dan matanya basah oleh air mata. kenapa kau yang menjadi kakak perempuannya tidak lekas menyuruhnya datang padaku? Aku muak dengan kalian berdua." Cukup lama perempuan tua itu berhenti untuk mengatur napas. lalu lebih banyak lagi. clan kedua keluarga itu berasal dari wangsa Akamatsu beberapa generasi sebelumnya. dan kalau dirasanya dia dapat pulang diamdiam sendiri dan beres semuanya. Ebook by Kang Zusi . Kemudian. apa kau ingin aku percaya kau belum dengar berita tentang dia? Apa kau tidak tahu. berarti adikmu yang membunuhnya. lalu Osugi langsung pada persoalan. Senyuman palsunya lenyap ketika ia menatap perempuan muda di depannya. Kalau tak bisa. la pun berkenan mendengarkan katakata sambutan yang setulus-tulusnya dari Ogin. untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi dengan anak kesayanganku dan di mana dia sekarang-sekarang juga!" "Bagaimana saya bisa melakukan itu? Dia tak ada di sini. Saya ketularan orang-orang itu. "Siapa yang Ibu maksud dengan 'setan kecil' itu?" tanya Ogin. Tapi kalau dia kembali seperti Ibu katakan itu. la melompat berdiri. mereka mendapati gerbang itu terkunci. tapi Osugi mogok. dan kakinya tersimpuh rapi. "Oh. lidah saya sudah tergelincir tadi." Melihat Osugi tak hendak beranjak. Osugi menerima desakan Otsu dengan segan-segan. Rumah Ogin kira-kira satu mil jauhnya. kedengkian yang tak disembunyisembunyikan ini terdengar bagai guncangan bagi Ogin yang halus. akulah ibu anak yang telah diseret pergi perang oleh pemuda sampah itu? Apa kau tidak tahu. Basa-basi telah berakhir. Hanya sampai di situlah keakraban mereka. jelas menahan diri. berlarian di sekitar rumah. "Itulah nama yang diberikan orang kampung kepadanya. 'Setan kecil' itu Takezo. dan seperti utusan dewa-dewa ia pun segera menuju tempat yang paling terhormat di dalam ruangan itu. Tiba-tiba dari pintu yang terbuka ke beranda terdengar bunyi berderak. Dengan gaya seorang mertua yang sedang meradang ia pun melancarkan badai umpatan. Mereka menempati kedua tepi sungai yang berhadapan. yang tibatiba berubah dari seorang perempuan buruk pembajak ladang menjadi seorang wanita bangsawan besar dan menyapa nyonya rumah dengan nada-nada tinggi." Walaupun lidah Osugi terkenal tajam. Kalau anakku mati.property of: CROSSFiRE. bawa Matahachi padaku. melipat tangan di pangkuan. Tentu saja ia sama inginnya dengan Otsu untuk mengetahui apa yang terjadi. Otsu melanjutkan berjalan ke pintu belakang sendirian. untuk meluruskan perasaan-perasaan yang sudah terganggu. Nona sangat bermurah hati telah datang dan menyilakan saya masuk!" la pun cepat melewati Ogin dan langsung masuk rumah. saya yakin dia akan mengetuk pintu sebentar lagi. Memperlakukan seorang perempuan tua tanpa sopan sama sekali. ia pun berkaok-kaok kembali. "Lalu kau sendiri bagaimana? Sejak dia jelas berbuat tak pantas dengan pulang diam-diam sendirian. tapi lebih baik ia mati daripada mengemis pada seorang Shimmen. kemudian matanya menyala kembali dalam keberangan. netcafe.

"Aku tahu dia di sini!" katanya garang. "Siapa yang melakukan ini?" Sambil menoleh cepat kepada Otsu. mengepung rumah. karena Takezo melakukan perjalanan sendirian. "Siapa Anda ini?" "Saya dari garnisun Tokugawa." Osugi memandang ragu-ragu. Dia memang cukup ulet." "Disukai? Menggelikan. ada orang mati di situ!" katanya terbata-bata. si Takezo!" "Saya dengar Takezo itu tidak begitu disukai di kampung ini.. di mana dua perempuan muda sedang duduk berkabung. Perempuan tua itu sudah mengucapkan banyak kata keji. mati. "Ayo kita pulang. saya membuat rintangan di perbatasan Provinsi Harima untuk menyaring semua orang yang lewat. "Saya tahu. Dia diperdaya setan kecil itu." "Nah. Tidak jauh dari rumah itu. Menghadapi serdadu-serdadu itu Otsu ketakutan dan pucat lesi. kemarahan Osugi tidak mereda." Dengan mengangguk-angguk sadarlah Osugi sekarang. karena itulah tempat pertama yang akan digeledah tentara. pastilah ia dibunuh dengan satu hantaman pedang kayu. ada.. samurai itu mengumpulkan kelompoknya yang terdiri atas empat belas atau lima belas orang di belakang rumah Ogin. Berita kematian Matahachi pun tidak dipercayainya. sebelum terlibat. ia berkata. kalau la pergi sebelum memberikan salep kepada luka-luka itu. sejak anak saya bergaul dengan dia.." "Setan?" "Itu. Seorang pemuda yang mengenakan pelindung kaki telentang di tanah." sambungnya sambil menunjuk.. kepala keluarga Hon'iden belum begitu pikun hingga membutuhkan lampu untuk berjalan. Takezo bisa sekuat clan selicik binatang liar. dan memblokir semua pintu keluar. meninggalkan rumah itu dan berjalan tegap menempuh kabut yang menebal. Tapi barangkali akan menjadi hiburan sedikit bagi Ibu dalam kesedihan Ibu." Otsu tak dapat memaksa dirinya pergi. "Takezo yang berasal dari rumah itu." bentak Osugi sambil bersiap-siap pergi. Kami mengejarnya sampai tempat ini. Saya. tapi.. mereka pun melompati dinding. Lalu beberapa orang serdadu menyerbu ke dalam rumah. itulah pendapat saya semula.property of: CROSSFiRE. Ia jelas samurai profesional yang tidak bisa ditemukan di kampung itu. Tapi jumlah kami tak banyak. Kalaupun Ogin berdusta. dan yang lebih penting lagi. Akan terasa tidak adil bagi Ogin. saya akan melakukan segala yang mungkin untuk membantu Ibu membalas dendam. Tak lama sesudahnya. tapi Osugi menolak keras. tapi anak saya pergi ke sana bukan karena ingin. Kata-katanya agaknya sangat menyenangkan. "Ya. Mereka masuk ke kamar dalam. "Ada. Tapi dia takkan dapat terus begitu selamanya. "Ibu kan baru datang dari rumah Shimmen?" tanyanya. Tak mengerti aku. terus terang. sebetulnya saya tidak begitu yakin. "Semaumulah. kenapa Takezo tidak muncul di Shippoji. dan dia baru saja membunuh seorang anak buah saya. Melihat tengkoraknya yang berantakan. Kami mengira sesudah beberapa hari berjalan dia akan ambruk." "Jadi. "Itu sama terangnya dengan hidung di mukamu.. kenapa kau mencoba menyembunyikan dia dariku." "Izinkanlah perempuan tua ini memberikan sedikit nasihat pada Anda. kami pergi ke Puri Himeji.. menurut perasaan Otsu. Otsu membawa lampu ke beranda dan berdiri di samping Osugi yang membelalak ketakutan ke arah mayat itu. Karena merasa harus tinggal untuk menyenangkan hati Ogin. Belum pernah kau melihat penjahat seperti dia! Tak dapat kaubayangkan kesulitan yang kami alami dalam keluarga. "sudah menembus rintangan dan lari ke Miyamoto. Sesudah pertempuran." Sambil membungkuk ia pun membisikkan sesuatu ke telinga samurai itu. Samurai itu mengangguk-angguk tanda setuju. tapi sampai sekarang kami belum dapat menyusulnya. meninggalkan jejak-jejak berlumpur. "Saya kepala keluarga samurai di seberang kali." "Anak Ibu itu barangkali meninggal di Sekigahara. Dengan sopan Ogin menawarkan lentera. Inc. Tapi sementara itu. Ibu ini ibu Hon'iden Matahachi yang pergi dengan Shimmen Takezo ke Medan Sekigahara?" "Ya. kalau saya katakan. "Tapi saya tak percaya samurai sekaliber Anda sulit menangkapnya. Kami akan menangkapnya." la pun melipat keliman kimononya. netcafe.. dan tangan serta kakinya terlindung zirah. Namun Ogin yang bangga menjadi anak Ebook by Kang Zusi . tapi ingatlah." dorong Osugi sambil berangkat pulang. "Gagasan bagus! Hebat!" "Jangan tanggung-tanggung melaksanakan tugas itu. "Ketahuilah. dan dengan bersemangat berkata. Bukan mayat Takezo atau Matahachi. ia sadar bahwa Takezo barangkali tidak pulang ke rumah. aku tak akan melupakannya. menghapus-hapus wajah yang berurai air mata. Pedangnya terhunus." la pun menuju pintu dan mendorongnya dengan keras. Osugi berbisik. tapi mayat samurai yang tidak mereka kenali." katanya malu-malu.” "Apa Ibu anggota keluarga Shimmen?" "Tentu saja bukan!" bentak Osugi sambil mengibaskan tangan sebagai tanda protes. maka Otsu pun mengatakan kepada Osugi bahwa la akan menyusul kemudian.. seorang lelaki menyuruhnya berhenti. Darah segar masih mengalir dari mata dan hidungnya. Sesudah ia memberikan keterangan ringkas. Atas perintah pimpinan saya." "Matahachi! Meninggal?" "Eh.. ia tentunya punya alasan yang baik. Tapi apa yang dilihatnya di luar membuat wajahnya yang sudah pucat itu menjadi lebih putih lagi.

Orang itu merangkak-rangkak di tanah seperti anjing. sekalipun kuil itu penuh orang." "Akan saya jawab semuanya-tapi jangan bunuh saya! Saya punya istri dan keluarga. Ketika didengarnya namanya dipanggil orang. la tahu bahwa ia tidak dapat mendekati satu pun dari kedua tempat itu." Setelah membulatkan tekad. Takezo tahu orang itu. Sesudah itu tak ada lagi alasanku untuk berkeliaran di sini. Ternyata ia penduduk kampung yang datang ke pegunungan untuk membuat arang.. Atapnya muncul dari antara pepohonan. Takezo pun kembali berjalan. dan belum lagi selesai mencabuti bulunya ia sudah membenamkan gigi-giginya yang setengah kelaparan ke daging yang masih mentah dan hangat itu.. "Kenapa semua orang kampung memusuhiku?" tanyanya. ia pun mengayunkan pedang ek hitamnya hingga mendecit di udara. lalu ia lemparkan sebuah di antaranya ke burung yang sedang terbang. netcafe. Ketika ia memberanikan diri mendekati kuil itu pada hari lahir sang Budha. Sejak itu. hingga terpaksa Takezo menendang pantatnya dan berbuat seolah-olah hendak memukulnya dengan pedang kayunya.property of: CROSSFiRE. seperti seekor macan tutul mengejar mangsa yang kabur. Takezo mencengkeram kerahnya dan menyeretnya kembali ke tempat terbuka. Disamping ingin menyelamatkan lehernya sendiri. Karena tak ada sasaran nyata bagi kemarahannya. samurai Tokugawa mencari-cari secara gencar sekali. Munisai tetap tak gentar. siapa saja yang melihatnya selalu berlari menghindar penuh ketakutan melintasi hutan. "Tunggu!" Dan ia mulai berlari." Sudah empat hari ia bersembunyi di Pegunungan Sanumo. ia telah membahayakan hidupnya.. Marah karena dibenci dan ditakuti. Tapi tiba-tiba ia mendengar jeritan tertahan. Kini. "Kenapa kau lari? Apa kau tidak kenal aku? Aku seorang dari kalian. "Jawab saja pertanyaan-pertanyaanku. tapi ia tahu. "Jangan bunuh saya!" jeritnya mengiba-iba. ia dapat melihat rumah ayahnya. walau tidak kenal. lewat tabir kabut tengah hari. "Kau seorang dari mereka?" Orang itu mendadak berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti orang bisu-tuli "Tidak. menjelajahi pegunungan. Memang. rumah yang didiami kakak perempuannya sendirian. Burung itu jatuh. dan orang kampung bergabung membentuk kelompok-kelompok pencari." "Apa orang kampung memburuku lagi hari ini?" Diam. ia pun jadi serba sulit. Malam itu. tidak. menebas cabang sebuah pohon besar. tapi makhluk malang itu hendak lari. Orang itu bukanlah tandingan Takezo. tidak!" Ebook by Kang Zusi . Dan cara mereka lari waktu melihatku itu. ia tak boleh mendekati kampung sebelum gelap. seperti aku ini orang gila saja. Sambil melahap burung. Tuan!" "Duduk!" Takezo melepaskan cengkeramannya dari lengan orang itu. Betul! Kalau kujelaskan semua itu kepadanya. Apa betul bukit-bukit ini penuh serdadu?" "Ya. serdadu-serdadu melihatnya. mencoba mengarang-ngarang penjelasan di mana Matahachi berada. langsung mereka lapor pada pengawal di gunung. ketika diam-diam ia pergi ke rumah kakak perempuannya. ia pun berteriak." "Apa mereka mengawasi Kuil Shippoji juga?" "Ya. Inc. tapi ketika sedang mengawasi kakak perempuannya lewat celah pintu. dan dengan mudah terkejar. Tanpa ibu tempatnya mengadu. Otsu pun akan mendapat kesulitan. Kuil Shippoji bersarang di bukit di bawahnya. dikejar-kejar tanpa alasan. Sejenak ia hanya berdiri di luar. tidak sopan lari begitu saja dari orang yang dikenal tanpa mengucapkan salam!" "Y y-y-y-ya. menguik-nguik sambil tangannya memegangi kepala. Karena merasa orang sekampungnya sendiri menganggapnya musuh. kebetulan sekali ibu Matahachi ada di sana. Barangkali sebaiknya kusampaikan pada perempuan tua itu. yang ada di dunia ini hanya kesepian. Mereka merondai setiap jalan yang mungkin ditempuhnya. Dengan mata tenang dan tajam." "Tak ada yang mau membunuhmu. Dengan sebuah karang besar ia pecahkan karang lain menjadi pecahan-pecahan kecil. "Begitu melihatku. la tatap dengan berangnya para penyerbu itu. bukan memberikan hiburan. tidak ada pilihan lagi baginya kecuali melarikan diri. Pikirnya. ia mulai lagi berjalan. Sekali lagi ia terpaksa lari tanpa mendapat kesempatan bicara dengan siapa pun. dia nanti dapat pelanpelan menyampaikannya pada Otsu. Kali-kali kecil yang mengalir cepat dan bukit-bukit yang berombak-ombak di tempat tinggalnya sendiri pun seperti mengejek. tampak dari tempat perlindungannya di pegunungan. Ia mulai curiga Otsu pun telah memusuhinya. "Sukar sekali mengatakan pada Otsu alasan sebenarnya tunangannya tidak pulang. ia tahu kalau ia ditemukan orang di sana. Kau tahu kan. Getah putih yang memancar dari luka pohon itu mengingatkannya akan air susu ibu yang sedang menyusui. la bertanya-tanya bagaimana kiranya pendapat Otsu tentangnya. la berdiri dan pandangannya nyalang. "Bajingan! Binatang!" geramnya. Shimmen Takezo dari Miyamoto. Tak bakal aku memakanmu hidup-hidup.

ia pun bertanya. Beberapa jam kemudian. la mengatakan bahwa tiap hari para serdadu mengerahkan orang kampung ke pegunungan." pikirnya. perut Takezo pun bergolak memikirkan sifat pengecut manusia-sifat pengecut yang telah memaksa samurai mengusik seorang wanita malang tak berdaya. "Mari saya tunjukkan. tapi tak berdinding.property of: CROSSFiRE. Sama sekali tidak tahu. tapi aku yakin mereka tak akan mengapa-apakan kakak perempuanku. Takezo membiarkan orang itu pergi. Kerongkongannya terasa panas ketika getah lambungnya naik. Lonceng malam baru saja berhenti berdentang. "Tuduhan apa yang dijatuhkan atas kakak perempuanku?" Matanya berkilat-kilat oleh air mata. Akan kubunuh mereka semua. "Mana jalan ke kamar mandi?" Orang itu mengenakan kimono pinjaman dari kuil. Jangan pura-pura bodoh. Kau tadi janji akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. tapi orang itu membalikkan badan Otsu. Takezo mengenalnya sebagai salah seorang samurai dari Himeji. dan bahwa telah disebarkan perintah di kampung. Perutnya kini berontak. Takezo mencoba memanggilnya. memegang wajahnya dengan kedua tangannya yang besar dan menyapukan bibirnya ke pipi Otsu. itu saja. di mana orang nampaknya mondar-mandir." Sesudah memilih arah tindakannya. Matanya pun menoleh ke jajaran pegunungan yang menandai perbatasan provinsi." ulang Takezo. menimbulkan bayangan tentang nasi dan sop mengepul. netcafe. "Barangkali kucing. kalau mencelakakan dia. Inc.. karena justru saat itu suara lelaki tepat di belakang Otsu terdengar bertanya. "Kamar mandi?" kata Otsu. selagi anak buahnya dan orang kampung harus menjelajahi sisi-sisi gunung siangmalam. "Awas! Kedengarannya mencurigakan. Jelas ia berpangkat tinggi. atau kuhancurkan tengkorakmu!" "Tunggu! Jangan! Saya akan bicara! Akan saya katakan semuanya!" Dengan tangan terlipat tanda memohon. Kami cuma melakukan apa yang diperintahkan. tapi ia begitu mual. ia pun berjalan tegak ke arah kampung dengan langkah-langkah jantan." "Hinagura. "Hentikan! Lepaskan saya!" teriak Otsu.. "Cukup!" teriak Takezo. Aku tak 1amdak menyalahkan orang kampung yang mencoba menangkapku. "Apa salahnya?" bujuknya." jawab Otsu yang keluar membawa baki makan malam dan mulai menyeberang lorong. Bukan karena takut. yang isinya setiap orang yang memberikan makanan atau perlindungan kepada Takezo otomatis akan dianggap anteknya. Ogin. hingga dapat menginap di kuil dan menghabiskan waktu malamnya dengan makan dan minum sekenyang-kenyangnya. "Kalau saja Otsu keluar. mencari si pelarian. Ternyata nasib baik." "Di mana mereka menahan kakakku?" "Desas-desusnya mereka menahan dia di benteng Hinagura. Melihat orang itu bergegas pergi karena senang hidupnya yang tak berarti itu selamat. yang menghubungkan kamar-kamar pendeta dengan kuil utama. Keterangan tersebut membuat Takezo tegak bulu romanya. Hari sudah gelap dan cahaya lampu kelihatan menyorot dari kuil itu sendiri. Tibatiba samurai itu menghampirinya dan merangkul Otsu dari belakang. Tulang punggung pegunungan itu telah diwarnai bayang-bayang awan petang yang kelabu. Untuk meyakinkan diri bahwa yang didengarnya benar ia pun bertanya. Ada yang sudah terjadi dengan dia. pembuat arang itu gemetaran dan ia bercerita bahwa Ogin telah ditawan. Ia pun meringkukkan badan tanpa bergerak-gerak di bawah lorong tinggi beratap. Dan sambil mencengkeram erat leher orang itu. diikat dengan sabuk sempit. "Tak seorang pun dari kami tahu soal itu. Samurai yang memaksa mereka. melainkan marah. "Bagaimana kalau ikut aku ke kamar mandi?" sarannya garang. itu harus. Kakakku yang malang. hingga tak berhasil memperdengarkan suara jelas. Serdadu ini pun menutupkan tangannya ke Ebook by Kang Zusi . tapi saya tidak tahu apa itu betul. dan tiap keluarga diminta menyediakan seorang pemuda dua hari sekali untuk keperluan itu. kembali Takezo mencuri-curi mendekati Shippoji. "Aku harus menyelamatkan Ogin. la harus berpikir. juga dari dapur dan petak-petak pendeta. Segera kemudian ia mengambil keputusan. Beberapa hari terakhir ini ia tidak makan apa-apa kecuali daging burung mentah dan umbut rumput. "Apa kau tak suka lelaki?" "Hentikan! Tak boleh begitu!" protes Otsu yang tak berdaya. la senang kini seorang diri lagi." la menurunkan baki dan mengantar orang itu menyusuri lorong. di mana tergantung handuk kecil. siap memukul. pahit rasanya. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu." Takezo cepat mengangkat pedangnya ke atas kepala orang itu. cukup tinggi. "Apa itu?" terdengar suara. Kami takut pada Kepala Distrik. kan? Jangan pura-pura lagi. "Bagaimana dengan kakak perempuanku?" "Kakak perempuan mana?" "Kakak perempuanku. Apa anggapanku ini keliru?" Orang itu pun memberikan jawaban yang terlampau polos.. tepat di atas kepala Takezo. dari Keluarga Shimmen. dan dalam kesengsaraan itu ia pun menghirup napas keras-keras. Bau makanan yang sedang dimasak mengambang di udara.

Sesudah menjadi orang yang selalu curiga dan tidak mempercayai siapa saja." Dengan perasaan puas luar biasa karena telah bebas dari berita yang menjadi beban baginya. dan pentung. Dari kamar mandi. lari melintasi halaman dan hilang ditelan malam. Lupa akan bahaya. "Nah. Tak lama kemudian menantu itu muncul kembali di gerbang. Diterangi dari bawah oleh lentera kertas yang dipegangnya. Rasa takut apa pun yang mungkin dimilikinya hapus oleh rasa berangnya terhadap Osugi. Kemudian ia memberi isyarat pada Takezo. tapi suaranya tenggelam oleh bunyi air. Ketika calon-calon penangkapnya sedang mengatur langkah di luar. Takezo. Takezo sendiri hampir tidak ingat bagaimana ia menyelinap lewat jaring yang dengan cepat mengetat itu. Kalau saya tahu begini macamnya." jawab Takezo sedih. "Baik. "Ya. Saya minta Nenek menyampaikan berita ini pada Otsu. "Matahachi tidak mati. samurai itu pun jatuh telentang. itu bagus sekali! Pasti kena dia kali ini!" Sesudah memecah diri menjadi dua kelompok. ia segera pergi. tapi perempuan itu memanggilnya kembali. dan dari hutan berbondong-bondong orang mulai berkumpul di pekarangan kuil. juga pada Otsu. "Bahaya sekali berdiri di siniorang bisa melihatmu. Selain itu. "Aku dijebak!" pekiknya. Takezo melompat ke lorong seperti kucing. Dan lagi apa kau tak ingin mandi selagi aku menyiapkan makanan?" Takezo tak bisa bicara. Melongok ke dalam rumah berpenerangan suram itu ia berseru. Osugi keluar rumah. ia sudah berdiri di tempat jauh." desak Osugi dengan nada seorang nenek. dan mendaratkan tinjunya ke kepala orang itu dari belakang." "0. "Ada berita penting yang mau saya sampaikan pada Nenek. Otsu mencoba melepaskan diri dan genggamannya dan memperdengarkan jeritan nyaring. Ia sudah tak peduli lagi dengan banyaknya mereka. begitu. Saya tak bisa menyampaikannya sendiri. Pukulan itu keras. Cerdik sekali." "Kasihan! Tunggu! Aku sedang masak tadi. "Cukup panas?" "Cukup! Saya menjadi orang baru. Nasi belum matang." kata salah seorang dari mereka dengan kagum. dan Osugi tidak menjawab. Tapi Takezo sudah pergi. dia masih segar bugar. Inc. dan tak lama kemudian kelompok-kelompok pencari sekali lagi dikirimkan untuk menjelajahi perbukitan Sanumo. Ketika pengejaran sedang sengit-sengitnya. "Lekas sana ke kamar mandi. "Nenek!" "Siapa?" terdengar jawaban serak. tiba-tiba sekarang ia teringat bagaimana rasanya diperlakukan sebagai manusia. wajah Osugi yang sudah berkeriput itu memucat melihat tamunya. mestinya saya datang lebih cepat. Akan kuambilkan kimono dan pakaian dalam Matahachi untukmu. namun ia tak gentar. Di provinsi lain. Saya cuma mau menyampaikan pada Nenek dan keluarga Nenek." la pun menyerahkan lentera itu pada Takezo dan menghilang ke belakang rumah. "Tak usah terkejut begitu. Menurut pendapatku. karena cuma itu yang saya tahu. Maka tegaklah bulu romanya. netcafe. Sudah begitu lama tak seorang pun bersikap begitu baik kepadanya." geramnya. la diikuti serombongan samurai dan barisan sukarela. bahwa tidak saya biarkan Matahachi mati. Ada sesuatu-sesuatu yang tak dapat dijelaskan-menggelitik naluri Takezo. terdengar suara air berkecipak. Sekarang tenangtenang saja dan mandilah yang baik. seperti dalam keadaan yang lainlain juga. "Mau pergi ke mana kau sekarang?" "Saya mesti masuk ke benteng Hinagura. Lonceng kuil mulai memberikan isyarat bahaya bahwa Takezo telah ditemukan. keluargamu dan keluarga kami selalu berdampingan sejak wangsa Akamatsu. tapi yang pasti tak akan kubiarkan kau pergi tanpa diberi makan enak dan cukup!" Sekali lagi Takezo tak dapat menjawab.property of: CROSSFiRE. Di luar pintu ia melihat gerombolan orang bersenjata tongkat." "Terima kasih. di pintu masuk dapur besar berlantai kotor milik keluarga Hon'iden. Buat hadiah selamat jalan. orang-orang itu pun merunduk dan bergerak hati-hati seperti kelompok katak ke arah api yang menyala terang di bawah kamar mandi. sebentar lagi aku kasih kamu makan malam yang hangat dan enak. Sekejap tak berdaya. awas. Dalam keadaan masih Ebook by Kang Zusi . disertai teriakan perang yang menakutkan. jadi Ibu suruh dia mandi. Ia telanjang bulat. menyelamatkan Ogin." kata Takezo buru-buru. "Itu dia! Itu Takezo! Dia di sini! Ayo tangkap dia!" Dari dalam kuil terdengar derap kaki dan raungan suara orang. "Kau pasti lapar. "Sudah itu saya akan pergi entah ke mana. Hampir pada waktu itu juga menantu perempuannya meninggalkan rumah. menyambut mereka dengan bisikan. Orang yang terjatuh itu berteriak." Osugi memindahkan lentera dari tangan yang satu ke tangan yang lain untuk mengulur waktu. tak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal di sini. kan?" "Berhari-hari saya tidak mendapat makanan yang pantas. Dia tinggal bersama seorang perempuan. lembing. "Tenang-tenang saja dan hangatkan badanmu. la mengangkat sebelah tangannya dan menghapus matanya. Saya yakin Nenek akan menerima saya!" la bicara lagi dua-tiga kali. Dalam keadaan itu. Osugi berjalan pelan keluar dari kamar belakang. dengan tiba-tiba ia tendang pintu sampai terbuka dan ia pun melompat ke udara. mulut Otsu. satu-satunya yang menurutnya barns dilakukan adalah menyerang daripada diserang. jangan meninggalkan tempat ini. bagaimana?" seru Osugi riang. kehabisan napas. Tak ada waktu untuk berpikir. di mana lentera itu berayun-ayun. Itu saja yang dapat saya sampaikan. "0. bajingan-bajingan. dan kamar mandi itu pun kecil. "Kau!" teriaknya. dan ia mengintip lewat celah pintu." sahut Takezo. kau seharusnya. tapi masih terus berpegangan pada Otsu.

Dengan suara ingar-bingar Takezo mengacak-acak seluruh rumah. juga lemari kimono yang besar. ketika Takuan melihatnya clan memanggil. yang dipertuan di Puri Himeji. ia pun merangkak keluar dari jendela kecil yang tinggi. Pemberitahuan itu ditandatangani secara resmi oleh Ikeda Terumasa. Osugi dan keluarganya mengunci gerbang utama dan merintangi semua jalan masuk. Kepalanya tergeletak dalam rumpun rumput yang tinggi. Tengkorak orang itu hancur. dan kerja pertanian pun mengendur. Otsu?" tanyanya dengan sikap akrab menyenangkan. karena itu dia tinggalkan surat itu padaku. Kini mereka hanya dapat berteriak saling menyemangati. Langit musim semi penuh dengan bintang. dicengkeramnya dengan sebelah tangan. ia pun bergegas menuju kuil dan mencoba menghapus gambaran wajah orang mati yang terus terbayang di depan matanya. dengan petunjuk pasukan Himeji. Otsu sejak semula tidak suka kepadanya. "Mana pakaian saya? Kembalikan pakaian saya!" Di tempat itu berserakan pakaian kerja. Juga imbalan memadai untuk informasi apa pun yang bisa menghasilkan tertangkapnya Takezo. Orang kampung tak dapat mengerjakan ladangnya atau merawat ulat sutranya. Namun jelas mereka telah lumpuh. Tangkai lembing sering dapat lebih jitu dipergunakan daripada matanya. tidak dapat tidak. Tapi sejak malam orang itu mencoba memaksanya. Begitu saja diayunkannya senjata itu dan dihantamkannya pada siapa saja yang datang mendekat. Akhirnya dilihatnyaa pakaian itu di sudut dapur. Itu yang paling tidak disukainya. Melihat gadis itu. hampir bersamaan dengan keluarnya Osugi dan menantu perempuannya dari rumah ke halaman belakang. ia tangkap dan rebut tangkai lembing pertama yang ditusukkan kepadanya. jelas akibat hantaman salah satu papan tanda hadiah. "Lihat. telanjang clan rambut terburai ke sana kemari. tapi sangat ingin tahu. Para pencari. lalu ia menyerang ke sekitarnya seperti gasing yang berpusing. Pekiknya. Papan-papan besar dipasang di depan rumah kepala kampung dan di setiap persimpangan: pengumuman hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh Takezo. dan demikian erat hingga alisnya dan sudut-sudut matanya tertarik. Menyesal karena telah melihat. kau sedang pergi ketika pesuruh datang. Belum jelas siapa. "Otsu. Otsu bergegas lewat agak jauh dari situ untuk menghindari binatang kotor itu. Tanpa melirik orang itu. melihatnya saja sudah membuat ia jijik. sang kapten menyeringai. Papan itu tergeletak melintang di tubuh yang basah oleh darah. Wajah Otsu mengerut pucat ketika ia muncul dari tengah-tengah kerumunan. bermain dengan seekor anjing kampung. dan senjata itu patah. Mereka ketakutan setengah mati. la hanya menajamkan matanya dalam cahaya lampu samar-samar untuk menemukan pakaiannya sendiri yang compang-camping. Kumisnya seperti tali. "Di mana? Siapa kali ini?" "Seorang samurai." Mayat itu ditemukan di dekat jalan setapak di luar kampung. dekat pada pangkalnya. para pengejarnya yang sudah sama sekali bingung itu tinggal mengutuk dan saling menyesali. Orang kampung terus datangpergi dan berkasak-kusuk antarsesamanya. Berdiri di tengah atap. Sekitar sepuluh kali senjata Takezo mengenai tanah. Mereka telah mendengar pembunuhan yang mengerikan itu dan sedang dalam perjalanan untuk menyelidikinya.property of: CROSSFiRE." jawab Otsu pendek. Ketika la merangkak ke atas. Para penyerang terlambat sadar bahwa mereka telah membuat kesalahan besar. jangan-jangan Takezo datang membalas dendam. Di kediaman Hon'iden berkecamuk suasana panik. netcafe. dia lari masuk rumah!" seru seorang dari mereka. "Dia membunuh satu orang lagi!" seru satu orang kampung." "Buat saya?" tanya Otsu tak percaya." "Belanja. Tapi ternyata usaha mereka tidak membawa hasil. tanpa tergesa-gesa Takezo mengenakan kimononya. membaca daftar hadiah yang dijanjikan itu. ada surat buatmu. hingga pemiliknya terpental ke semak-semak. karena gagal menjerat Takezo. la pun bergegas mendaki anak tangga kuil. Mereka ketakutan. Maka ia pun mengambil karang besar dan melontarkannya kepada orang-orang yang sudah memperlihatkan tanda-tanda mundur itu." Dikeluarkannya Ebook by Kang Zusi . Disobeknya sedikit kain ikat pinggang dengan giginya dan diikatnya rambutnya yang masih basah ke belakang. menyusun rencana-rencana baru untuk menjerat pelarian itu. Orang-orang yang melongo melihat pemandangan itu. Seni Perang PENCARIAN yang dilakukan setiap hari di pegunungan berlangsung terus. Tapi Takezo tidak memperhatikannya. Takuan sedang duduk di depan ruang utama. kedua kakinya mencuat ke langit dalam kedudukan tak wajar. Senjata itu digenggamnya erat-erat. Inc. Beberapa orang tertawa muram melihat ironi mencolok itu. karena tidak dari semula mengirim tiga-empat orang menyerbu kamar mandi. Ia mengambil pelajaran dari Sekigahara bahwa cara ini amat sangat efektif bagi orang yang kalah dalam jumlah. dan begitu memperoleh pijakan kaki di atas tungku tanah yang besar. "Ya. "Dari mana kau. Di kaki bukit ia berpapasan dengan kapten yang menginap di kuil dan limaenam anak buahnya.

Bukan kebiasaan gadis itu untuk pergi tanpa memberitahu. Otsu terkulai di atas alat tenun. penuh dengan noda bekas jari dan titik air hujan. la merasa senang bahwa nantinya dapat menjahit semua bagian kain itu menjadi satu kimono lengkap. Matahachi menambahkan. ia pun menuntut kenikmatan yang sesuai dengan statusnya. "Kenapa kau tidak menyimpannya?" Ebook by Kang Zusi . ia menatap surat itu dengan saksama. Kalau Otsu kebetulan bertemu dengan ibunya. la sama sekali tidak memikirkan si kapten. Kuku-kuku jarinya yang memegang surat itu berubah sewarna dengan kulit orang mati yang dilihatnya kurang dari sejam sebelumnya. terlampau terguncang untuk dapat berteriak atau sekadar mengedip. Ketika segelnya dibuka." "Kau tak perlu melihat hal-hal seperti itu. Oko Surat satunya berisi tulisan cakar ayam Matahachi dan berisi penjelasan panjang yang menjemukan. Katanya. Karena pintu kamar itu tertutup. "Cepat temukan dia! Tamu kita bilang tak bisa minum sake kalau bukan Otsu yang menuangkan. Karena Otsu menghilang. jelas dalam keadaan dirundung kesedihan. Hormat saya. la merasa surat itu tentunya ditujukan pada orang lain. tentu saja. biarawan itu melintasi pekarangan kuil dan melewati kamar tenun beberapa kali. Saya menulis hanya untuk membenarkan apa yang tertulis dalam surat satunya." Tapi lama kelamaan ia pun bingung. Sejak tahun lalu selalu ia menggunakan waktu luangnya dengan memintal benang sutra untuk pakaian itu. Air mandi harus dipanaskan sepantasnya. Berulang kai ia baca alamatnya untuk mencari kesalahannya. Ada apa?" "Saya mual. Takuan pun pergi mencarinya. ia akan berterima kasih apabila Otsu mau membantu. Karenanya saya tidak akan berbicara terperinci. Jam-jam berlalu. yang jatuh ke pangkuannya bukannya satu. Hari-hari ini aku selalu bertemu mayat. salahlah kalau kita membiarkan saja hal itu. Sambil duduk di depan alat tenun. Takuan memungutnya. Tapi kalau melihat keadaan sekarang. Ikan segar dari kali harus disiapkan menurut petunjuk-petunjuknya. Saya sudah kawin dengan Matahachi dan menerimanya dalam keluarga saya. Yang dikhawatirkannya adalah Otsu. "Belum juga ketemu? Mestinya di sini-sini saja. la menenun setiap helainya dengan sangat cermat. Harap lupakan Matahachi. seakan-akan menenun itu sendiri mendekatkan Matahachi padanya. Sambil memanggil-manggil namanya. jadi kenapa pula dia mesti membiarkan mereka?" "Takuan. "Kau kelihatan kurang sehat. Intinya tentu saja permintaan agar Otsu melupakan pertunangan dengannya dan agar menemukan suami lain. dan sebagian besar pekerjaan itu jatuh pada Otsu. Takuan diam saja memandang kedua surat yang kusut dan sobek di tanah.. serta tinggal di provinsi lain. terpaksa kau mesti menutup mata kalau pergi ke mana-mana. Apa yang dilihatnya di dalam sungguh mengejutkannya. Surat itu jelas sudah menempuh jalan panjang sebelum sampai kepadanya. saya takut!" kata Otsu memohon." Pembantu kuil disuruh menuruni bukit untuk mencari Otsu sambil membawa lentera. Kapten yang diserahi tugas melakukan pencarian merasa puas dapat memerintahkan orang-orangnya yang kelelahan itu tidur di hutan. tak mau la bersusah-susah melihat ke dalam. Itu untuk Matahachi. Takuan pun akhirnya membuka pintu kamar tenun. seorang wanita yang sudah agak tua. Mereka tak punya alasan sama sekali untuk membunuhnya. dan darah. dan serunya. Semua orang di dapur mulai bertanya-tanya di mana gerangan Otsu. Karena itu Matahachi dengan ini mengirimkan penjelasan. Yang pertama ditulis seorang wanita yang tak dikenal. Beberapa kali pendeta kuil keluar lorong tinggi dan berseru kepada Takuan. mengenai semua alasan kenapa ia tidak mungkin pulang. ia diminta menyampaikan bahwa Matahachi masih hidup dan sehat. Ha! Padahal tadinya kudengar kampung ini seperti surga kecil!" "Kenapa Takezo membunuh orang?" "Supaya mereka tidak membunuhnya. tapi ketika ia sendiri kembali ke kuil pada senja hari. la duduk terpukau. Banyak sekali pekerjaan harus dilakukan untuk menyenangkan orang itu. Hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan pembantu itu. dan satu orang harus mengambil sake mutu terbaik dari salah satu rumah kampung. Bungkusannya sudah sobeksobek dan lusuh. "Apa yang mesti kita lakukan kalau dia datang kemari?" Mendung gelap bergumpal-gumpal di atas pegunungan. dan saya memberikan kesaksian atas kebenaran penjelasan itu. melainkan dua surat. Karena tak ingin mengganggu. Tadi saya lihat orang mati menggeletak di rumput. sebuah gulungan kecil dari lengan kimononya dan diserahkannya pada Otsu. makan malam si kapten terlambat. dia rupanya masih memikirkan Anda. begitulah terkanya cepat. Pada alat tenun terpasang secarik kain kimono lelaki yang belum selesai. Saya kira. Inc. "Apa ini bukan yang dibawa pesuruh hari ini?" tanyanya lembut. Surat itu telah diinjak-injak seperti sepasang boneka jerami. "Siapa yang mengirim?" bisiknya pada diri sendiri. Matanya masih terbuka.. Otsu merasa sumsum tulang punggungnya berubah menjadi es. la ingin pakaian itu kekal selamanya.property of: CROSSFiRE. karena "sukar" baginya menulis langsung kepada ibunya tentang persoalan itu. Meskipun begitu. netcafe. Otsu menerima surat misterius itu clan pergi menyembunyikan diri di kamar tenun.

" "Ada apa rupanya?" "Siapa bilang Otsu mesti pergi denganmu. Aku sendiri sudah mencari ke mana-mana. sampai Otsu menyodoknya." Leher kapten yang merah itu pun menggembung dan matanya melotot. tapi kau betul-betul harus kerja. katanya. Tapi samurai juga begitu.." Ketika akhirnya Otsu muncul di petak pendeta. kamu. umpamanya. Tapi pendeta itu lain pendapatnya. "Keluar kamu. tapi kau sendiri. Anda sendiri." Mata si kapten hampir saja melompat dari ceruknya.." "Oh." jawab Takuan polos.." "Aku tidak keberatan. dan sudut-sudut matanya yang melotot itu mulai turun. Kalau begitu. aku jadi ingin sekali mengatakan bahwa kumis itu lucu sekali." "Kenapa." "Kepala saya. Ia mengangkat matanya yang kosong dan memandang ke sekitar. la jadi sangat riang dan berkali-kali minta dituangkan sake lagi. tapi dia selalu pergi kalau saya datang. maaf. "Tapi aku keberatan." "Melihat buku itu saja aku sudah jengkel. Ayo. asal Bapak berjanji menemani saya. "Jaga dirimu!" Takuan berdiri. yang di sana itu!" Takuan terus juga membaca. Aku tahu kau enggan.. Tiap kali aku melihat kumis konyol itu. "Lagi pula.property of: CROSSFiRE. kamu! Aku tak ada urusan denganmu. kalau begitu sulit juga. saya kira.. "Semua orang sudah setengah gila mengkhawatirkanmu. "Rasa sake jadi rusak karena ada orang membaca. "Ya. dan basuh mukamu. orang pandir jelek?" Takuan pun melipat kedua tangannya. aku akan mengawanimu. tidak keberatan." kata Takuan dan kembali membaca buku. tapi ada beberapa orang yang memang begitu pengaruhnya terhadapku. "Otsu. Pendeta tua itu sudah hilang akal." "Tapi sava tak mau ke sana sendirian!" "Tapi Pendeta ada di sana. la jadi tampak seperti ikan buntal." "Bukan. la meluruskan topinya yang dari tadi sudah sangat miring.. Kita tak boleh mengganggunya lagi. apa tak bisa mereka meliburkan saya. "Oh. dan si kapten menudingnya sambil berteriak. Otsu. "Hei. "Kapten memanggil saya?" Kapten menjawab pedas. Sekalipun demikian. tapi saya tidak keberatan di sini. aku pribadi berpendapat kau tak usah menghidangkan sake untuknya malam ini atau malam kapan pun." Wajah Takuan menjadi sungguh-sungguh. kapten yang sudah membongkok mabuk itu jadi gembira." gertak si kapten." bisik Otsu. ya?" "Sama sekali tidak. bodoh! Enyah dari mukaku!" "Baik. Dia manusia dari dunia ini. malam ini saja?" Takuan mengeluh.. kau mesti melayani Kapten. kan?" "Ya. akan saya tutup buku saya. atau menjadi serangga. "Saya akan pergi. "Bapak. Sekarang giliranmu menerima akibatnya!" Ebook by Kang Zusi . "Wah. Yang jelas. Aku tahu perasaan itu kekanak-kanakan. bukan itu. Inc. Ketika Takuan membantunya berdiri. kamu.. Segera kemudian mukanya jadi merah padam. Pergi dari sini!" "Oh. "Apa!" "Apa Kapten sudah mengamati kumis Kapten? Maksud saya. Soalnya karena saya bukan Wuk'ung yang suci dan dapat mengubah diri menjadi kepulan asap.." Takuan menepuk punggung Otsu. dan sebabnya adalah hadirnya satu orang yang tidak dikehendakinya di kamar itu. Cinta kesendirian adalah tanda kebijaksanaan. Itu kurang baik juga. Sambil memegang tangan Otsu ia pun berkata pada gadis itu. "Sudah cukup aku diejek." jawab Takuan bernada ejekan. apa Kapten sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk menatapnya dan menilainya secara objektif?" "Anak haram jadah!" teriak Kapten seraya mengambil pedang yang tersandar di dinding. Akan saya minta Otsu menyingkirkannya. "Tamu bilang dia lebih suka seorang diri." Dengan enggan Otsu pun menurut... ya. Bagaimana saya mesti menjaga diri saya sendiri?" Kapten pun memekik sambil memegang pedangnya yang masih tersarung. tapi si Jenggot Jarang tua itu tak suka padaku." "Baiklah. Takuan duduk membungkuk seperti pengemis buta. Otsu menggeleng lesu. "Hmm. goblok! Kau ini bikin rusak suasana. netcafe. "Saya ini sungguh tidak sopan. Sekarang jangan pikirkan lagi. dan sambil memandang Kapten dengan sebelah matanya ia pun bertanya tenang. Biarawan itu dikira pembantu pendeta. Kau tak boleh tinggal terlalu lama di sini." kata Takuan tenang sambil membungkuk. kepala saya sakit. "Sudah bertahun-tahun saya memperhatikan. jadi kau berutang budi padanya. lalu hinggap di baki Kapten. dia sudah menerima dan membesarkanmu.." "Hmmm. tidak banyak pendeta atau biarawan yang tampan. kenapa. ia menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata kepada Takuan dan berkata. Baiklah. asyik membaca buku yang terbuka di atas lututnya. Dia bukan orang yang dapat merebut rasa hormat atau dukungan daimyo bagi kuilnya lewat kebesaran jiwa semata-mata. Dia percaya bahwa dia mesti menghidangkan anggur dan makanan agar Kapten senang selalu. Di sebelah lampu. Ayo pulang. tidak sepenuhnya ia merasa senang.

clan kaugunakan kedudukanmu untuk mendapat penginapan yang paling menyenangkan. netcafe. "Ayolah." Kegarangan si Jenggot Jarang menguap dalam sekejap. "Itu berarti Kapten mau memenggal kepala saya? Kalau begitu. Aku tak apa-apa. Otsu! Biar kupotong pembantu pendeta bermulut besar ini menjadi dua!" Otsu menjatuhkan diri ke kaki Kapten dan memohon. Kepala itu akan jatuh begitu saja ke lantai dan menggeletak di situ menertawakan Kapten. Biar sukar buatmu melanjutkan bualan kurang ajar!" Dengan keberanian yang biasa dimiliki orang hanya karena memegang senjata. Kapten! Kau menutup mata pada kenyataan bahwa kau menarik para petani dari kerja yang menghasilkan makanan mereka sehari-hari. Barangkali malahan tak terpikir oleh kalian. Takuan! Jadi." kata biarawan itu. Coba sekarang katakan Bapak menyesal. Kami berdua pun berkali-kali mengobrol lama dan hangat di Daitokuji. berusaha melindungi Takuan. Inc." mohonnya. Apa kaupikir akan kubiarkan diriku dipenggal oleh orang tolol macam ini? Memang dia mengepalai berpuluh orang yang terampil bersenjata. Takuan jadi tertawa. sekalipun tampaknya ia masih belum dapat menilai apakah yang dikatakan Takuan itu benar atau tidak. dan aku bukannya melucu. la tampak lumpuh. aku senang bisa Ebook by Kang Zusi . "Pertama-tama. kaulahap makanan dan minuman orang lain yang diperoleh dengan susah payah. Otsu?" kata Takuan keberatan. "Sekarang cobalah potong kepalaku dan kirimkan kepada Yang Dipertuan Ikeda Terumasa! Percayalah. Dan tanpa upah pula! Sungguh memalukan!" "Jangan sembarangan kamu. makanya kusebut dia tolol.property of: CROSSFiRE. Membosankan sekali. Mukanya membengkak menjadi warna lembayung ketika ia bergerak menarik pedangnya. "Apa pula bicara Bapak ini?" katanya dengan maksud mengendurkan perasaan dan melambatkan tindakan. hingga tangannya yang memegang sarung pedang bergetar hebat. nyaman dan hangat. Kau bahkan tidak memikirkan sama sekali anak buahmu. bagaimana mereka terpaksa menelantarkan sama sekali kerja ladangnya untuk mengikuti perburuan angsa liar kalian yang berantakan itu. dia akan kaget." Tapi Takuan sama sekali tidak mundur. tapi dua puluh hari dibuangnya hanya untuk menemukan tempat seorang pelarian yang sudah kecapekan dan setengah kelaparan. tapi rupanya orang tak suka mendengarnya. Apa gunanya buat Anda?" "Hah. "Apa bukan tugas samurai untuk mengabdi kepada atasan dengan jujur dan tak kenal lelah? Apa bukan tugas Kapten menunjukkan kebajikan kepada rakyat yang membanting tulang demi daimyo? Coba lihat diri sendiri. mandi seenaknya dan minum sake sebelum tidur dengan layanan seorang gadis manis? Apa itu yang kausebut mengabdi kepada atasan?" Kapten itu bungkam. "Kapten!" Tingkah laku Takuan yang asal saja itu membuatnya demikian berang. Mabuknya pun sudah sedikit berkurang. "Minggir. lupakan saja. "kalau begitu aku puas bila bisa membungkam mulutmu. untuk tujuan-tujuan pribadimu sendiri. Itu fitnah besar terhadap pemerintah Tokugawa!" "Bukan pemerintah Tokugawa yang kukritik. yang bisa saja mencuri upah yang mestinya mereka terima. kau adalah contoh korupsi yang klasik. Itu bukan prestasi besar. Kau mestinya melakukan misi resmi. 'Hai. tapi saya minta Kapten bersabar. hanya kepalamu yang datang menghadap hari ini? Di mana bagian badanmu yang lain?' "Pasti kau berminat mengetahui bahwa Yang Dipertuan Terumasa dan aku biasa bersama-sama ambil bagian dalam upacara minum teh di Myoshinji. Satu hal lagi. "Kalau kaupikir aku bohong." guntur samurai itu. Dia tolol. tapi apa yang kaulakukan? Setiap ada kesempatan. Dia orang yang tidak begitu beres. minta maaf pada Kapten. akan mengherankan sekali kalau dia dapat mengalahkanku!" "Jangan bergerak!" perintah Kapten. Bicaranya memang begitu dengan semua orang. Aku hanya mengemukakan kebenaran. Kauselimuti diri dengan kekuasaan atasanmu untuk menghamburkan tenaga rakyat jelata. berapa pun waktu yang kalian hamburkan buat mencari Takezo. Apa maumu aku berdusta?" "Lebih baik jangan kauulangi. sungguh!" Air mata bercucuran dari matanya. kenapa kau bermalas-malasan di sini malam ini? Siapa yang memberimu hak bersantai pakai kimono yang manis dan enak." "Ha?" "Membosankan. Otsu. Tapi itu beban luar biasa buat petani. Aku berani mengatakan. dan tidak tahu mau bertindak bagaimana. "Kapten cukup punya alasan untuk marah. "Apa katamu. "Tak ada yang salah dengan otakku. hingga tak dapat menutup mulutnya yang menganga. Tak bisa saya membayangkan hal yang lebih membosankan daripada memenggal kepala seorang biarawan." geram Kapten. pengkhianat. Kalau dia tak punya cukup akal buat menemukan Takezo. Dia tidak bermaksud apa-apa. ia pun tertawa terbahak-bahak jelek sekali dan maju dengan sikap mengancam. Barangkali dia akan berkata. tapi pejabat-pejabat birokrat seperti kamu yang berdiri antara daimyo dan rakyat jelata ini." Kini Kapten sudah demikian terpesona. Otsu menengahi kedua orang itu. "Bukan begitu caranya bicara dengan prajurit. Memang rasanya tak ada bedanya buat kalian para serdadu. Apa kalian menyadari apa yang kalian lakukan terhadap mereka? Mereka tak bisa makan kalau kalian teruskan ini. Kyoto. lebih baik kau duduk dulu. Takuan mendesak terus. "Minggir. "Aku akan bicara sesukaku.

saya tak mau lagi sake. Anda harus merasa malu. kesulitannya adalah Anda tidak menggunakan strategi yang sewajarnya." "Dan karena sekarang ini musim semi. dan barangkali juga kepala Anda. Saya minta Anda memaafkan saya. tapi menyedihkan sekali." Ebook by Kang Zusi ." Kapten itu lelaki umur empat puluhan.property of: CROSSFiRE. "Mari kita lupakan saja. aku tak dapat berbohong." "Seperti kukatakan tadi. Sebagai hadiah." "Ya." la jadi begitu tertekan. tapi." "Anda main-main saja. Dan lagi." "Nah. Tapi pikir-pikir. Karena itu tak akan kaget kalau aku sebut Anda tolol.. Terutama di depan Yang Dipertuan. "Aku bersedia menganggap seluruh peristiwa ini sebagai rahasia. tapi aku memahami Sun-tzu." Kapten yang sudah tak berdaya itu pun menurut. "Tapi tak ada yang lebih capek. aku dapat melakukannya sendiri. Sebaliknya. yang merupakan karya klasik Cina tentang strategi militer? Aku yakin prajurit setarafmu kenal sekali dengan buku yang demikian penting. "Sekarang turunkan pedang itu." "Tentu saja aku juga tahu bahwa buat Anda tidak penting berapa lama dibutuhkan untuk menangkap orang itu. Anda orang yang tidak berpendidikan dan sama sekali tidak efektif. lebih dari dua ratus orang sudah menjelajahi pegunungan itu hampir tiga minggu lamanya. mungkin saja aku hanya seorang pendeta sederhana. dan keangkuhannya pun menguap. tetapi juga penduduk kampung terlalu limgung dan ketakutan untuk melakukan pekerjaan yang biasa. Inc. kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada Takuan. Banyak yang bisa dimakan pada musim ini." "Anda menangkap dia?" "Apa Anda kira aku berkelakar?" "Tidak. tapi kalian para prajurit ini memang sama saja. apa Anda merencanakan untuk menunggu sampai turun saiju? Kira-kira delapan bulan lagi?" "Tidak. Cacian lisan Takuan telah merendahkan orang yang lebih tua itu. "Otsu. tapi memang demikian. Takuan Soho menghabiskan seluruh waktunya buat bikin lelucon?" "Maaf. Aku mau menunjukkan kepadamu bagaimana menangkap Takezo tanpa kehilangan lagi anak buah atau menyebabkan orang kampung mendapat kesulitan lebih dari yang sudah kauberikan. Dan inilah kekurangan kalian yang terbesar. bahwa Anda tidak mengenal Seni Perang?" "Saya malu mengakuinya. Aku hanya akan mengusulkan sesuatu. saya telah berlaku terlalu kasar." "Tentu saja tidak bisa. hingga tampak menggelikan. Kalian tak pernah berpikir tentang konsekuensi. dan tak ada yang paling tidak kusukai daripada mendatangi seorang daimyo. itulah sebab terpenting kegagalan Anda yang memalukan. tapi Takuan menahan diri untuk tidak lebih memojokkannya lagi. padahal menurut pendapatku." la menoleh pada sang gadis." "Aku paham betul. Anda tidak mengenal Seni Perang. Sekarang tinggal satu syarat lagi. para petani akan mengalami kesulitan besar. pergi bersamamu ke puri dan menghadap Yang Dipertuan sendiri. Apa betul anggapanku. Itulah yang harus Anda lakukan untuk melaksanakan perintah dan menjaga kehormatan Anda sebagai samurai. dan mengerling Otsu?" "Saya minta jangan membawa-bawa lagi soal itu. Kalau Anda tak setuju. netcafe. kan?" "Diam dulu! Apa menurut Anda. Tidak hanya para petani. saya pikir tak bisa. Aku tidak membutuhkan bantuan. Menurut penglihatanku. aku bisa membawakannya tepung soba lezat. Beliau suka sekali tepung itu. "Kau tentu kenal dengan buku Seni Perang karangan Jenderal Sun-tzu. Ya.. Bukankah makin lama waktu itu. kalau orang-orang yang menjadi korban tindakanmu di Miyamoto kebetulan datang selagi kami mengobrol sambil minum teh. Justru karena itu aku menawarkan diri menangkapnya untuk Anda. Tapi tak ada gunanya membikin pusing Anda. "Tidak. yang bisa dibikin orang sini. Aku menyebutnya karena aku ingin memberikan satu pelajaran yang menggambarkan salah satu prinsip utama buku itu. Saya tak tahu sama sekali bahwa Anda teman Yang Dipertuan Terumasa. Bahkan menurut pendapatku Anda tidak menggunakan strategi sama sekali." "Kalau begitu. karena itu kau mesti benar-benar memperhatikannya. makan. Aku pribadi menawarkan diri untuk menangkap Takezo dalam tiga hari. Tapi kalau pencarian di pegunungan sepanjang hari itu berjalan terus. Ini ada hubungannya dengan kerja resmimu. "Sudah dari semula kukatakan supaya jangan mengancamku. Takezo beruntung. kami berdua cukuplah. sampai salju jatuh. Maaf. Kejadiannya barangkali akan berakhir dengan kau bunuh diri gara-gara ketidakmampuanmu. Yang ingin kubicarakan adalah bagaimana menangkap Takezo." Serdadu itu pun tampak seperti seorang anak yang akan menangis. barangkali aku akan membawa serta Otsu. tolong tuangkan secangkir sake lagi untuk Kapten. Anda bisa saja seorang pejabat." "Tapi apa?" "Tapi kalau dihitung tenaga bantuan dari Himeji dan semua petani serta prajurit itu. makin lama Anda bisa tinggal di kuil ini. Dengan takut-takut ia berkata. aku terpaksa duduk lagi dan melihat saja Anda terus membuat kesalahan besar. tapi jelas dari wajah mereka waktu itu bahwa kekuatan watak tak ada urusannya dengan umur. akan kuceritakan hal lain.

"Otsu. Mengingat jumlah nyawa yang dapat diselamatkan kalau Takezo bisa cepat ditangkap. ia mengambil pisau tajam dan mengiris-iris sampai lumat kain kimono yang sungguh-sungguh telah disulami jiwanya. ketika ia menangis sendirian di kamar tenun. ia mengangguk bijaksana dan mengatakan bahwa mulut manusia itu pintu bencana. ya. angin berbau wangi Ebook by Kang Zusi . Tetapi yang betul-betul paling khawatir adalah Otsu. Takuan menghiburnya dan meyakinkannya agar setuju menuangkan sake." Pegunungan dekat tempat itu kini lebih hitam dibanding pernis yang paling hitam. la juga sudah bermaksud menghunjamkan bilah tajam itu ke dalam tenggorokannya." itulah nasihat praktis mereka. Dan bawa pikulan.property of: CROSSFiRE. sedangkan pegunungan yang di kejauhan lebih pucat daripada mika. mengamankan kembali lalu lintas di jalan raya. tapi terdengar juga bisikan terpendam yang mengandung kekhawatiran. Mungkinkah ia teman Takezo. nyawanya sendiri tidaklah begitu penting. Setidaktidaknya barangkali ia dapat memetik hasil pada saat terakhir. "Kalau aku berhasil membawa pulang pelarian itu. Ia mempercayai tunangannya itu. dan percaya penuh padanya. pembalut kaki." "Apa? Senjata? Apa kita mesti bahwa pedang atau lembing. seorang anteknya? Mungkinkah ia tahu di mana orang itu bersembunyi? Tapi kalaupun tidak tahu-rasanya memang tidak-apa salahnya memberinya kesempatan. Sehari sebelumnya. Otsu tidak begitu memedulikan keselamatannya sendiri. clan. Bagaimana mungkin ia bisa yakin biarawan aneh ini tidak akan menipunya? Walau ia bicara lancar. Takuan merupakan titik terang dalam hidup ini. Anda dapat memutuskan apa hukumannya. tujuannya adalah meringankan beban kampung. ia pun meregangkan anggota badannya sambil menguap lebar. saat mereka berangkat. dan bahkan bersedia menenggang Osugi yang dahsyat itu sebagai mertua tukang perintah. namun munculnya Takuan akhirnya membuyarkan maksud itu dari kepalanya. Takuan bahkan sudah berani bertukar sumpah dengan si Jenggot Jarang di hadapan altar Hachiman. Lukanya lebih perih dibanding berita kematiannya. Waktu itu musim semi sudah hampir usai. Dengan pikiran itu. "Pergi saja sembunyi. Tapi bagaimana kalau Anda tidak dapat menemukannya dalam tiga hari?" "Aku akan gantung diri pada pohon kriptomeria di kebun itu. Akal sehatnya menyatakan aneh kalau ia dan Takuan dapat menemukan tempat Takezo dalam waktu sesingkat itu. lagi pula pilihan untuk tinggal di kuil clan selalu gelisah lebih buruk lagi dibanding dengan pergi. Takuan pun meminta agar Otsu beristirahat sebanyakbanyaknya menjelang malam hari berikutnya. Apa saja yang enak bolehlah. Ketika Takuan kembali. Ketika berita itu sampai ke telinga pendeta kuil. Hanya sehari sebelumnya surat selamat tinggal Matahachi melukainya. Baik pendeta. maupun pembantu pendeta mencoba meyakinkannya untuk tidak pergi. Otsu harus ikut tanpa mengeluh. Matahari tenggelam dengan cepat. la merasa putus asa dan sangat tertekan. tetapi Takuan berkeras tak ada yang mesti dikhawatirkan. obat-obatan. Katanya. Petang hari berikutnya Takuan masih tidur bersama kucing di sudut bangunan utama kuil. "Tidak!" "Tidak. Wajah Otsu cekung. Aku mau bawa nasi. Kucing melompat turun dari emperan kuil." "0. netcafe." "Apa maksud Anda?" Kapten menarik-narik kumisnya. tongkat. Otsu sama sekali tidak tergerak untuk berbuat demikian. maksud Bapak beberapa kotak makan siang?" "Bukan. atau yang lain?" "Tentu saja tidak! Aku mau bawa bekal makanan. ada kemungkinan ia sama sekali tidak waras. la sangat tergoda untuk melakukan hal itu. "Apa syaratnya?" tanya Kapten hati-hati. Dan sekarang Takuan membuat perjanjian yang sinting. Inc. Otsu sudah terlampau bingung untuk menolak. Ia masih dapat merasakan hangatnya tangan kokoh biarawan itu ketika membimbingnya ke luar kamar tenun. Seperti si kucing. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya. pesuruh. Kalau Anda menangkapnya. dan bayang-bayang malam yang pekat mulai menyelimuti celah-celah jajaran gunung yang menandai alur Sungai Aida. Terengah-engah ia berseru. sedikit sake." "Sudah saya kemasi semuanya-sandal jerami. makanan yang enak. dan akhirnya Takuan sendiri keluar ke beranda. sekadar untuk melihat apakah ia berhasil dengan rencana gilanya. Otsu menegurnya dengan keras karena sikapnya yang terburu-buru itu. Sinar harapannya yang terakhir. Kapten mengangguk tanda setuju. dan mencegah berlangsungnya terus pemborosan hidup manusia. sungguh-sungguh gila!" "Bagaimana dia akan menangkapnya?" Jawaban-jawaban konyol clan ketawa mengejek pun terdengar. akulah yang menentukan nasibnya. "Apa Takuan sudah gila? Saya dengar dia berjanji mencari Takezo sendiri!" Mata orang-orang di dapur terbelalak. Kepada siapa ia harus berpaling kini? Bagi Otsu yang sudah tercebur dalam kegelapan dan keputusasaan." panggilnya. Pergi ke dapur sana. bikin bungkusan yang besar.. Yang lebih dipedulikannya adalah kemungkinan satu-satunya teman di dunia ini akan hilang juga karena usul tololnya. dewa perang." "Ada yang kamu lupa. o." Pagi harinya pembantu kuil dengan wajah sangat gelisah berlari ke dapur. Aku juga butuh kuali. "lebih baik kita berangkat sekarang. bumbu kacang.. "Baiklah kalau begitu. tapi karena alasan-alasan yang hampir tak dapat dimengertinya sendiri. clan Takuan akhirnya menepuk punggungnya. demi Matahachi. kertas minyak polonia.

tapi yang ada dalam diriku. padang rumput itu ternyata sebuah dataran kecil yang melandai ke tenggara dan memberikan pemandangan indah daerah sekitar. Kenapa bicara soal jalan pada saya?" "Mari kita turunkan beban ini sebentar. aku memikirkan letak tanah. dia menyuruh pulang para pencari. penampilan air. kita terpaksa jalan sepanjang malam ini. pegunungan dengan dedaunan yang berkilat-kilat lemah oleh cahaya suram makin tampak seakan bermandikan hujan petang hari. Apa Bapak yakin tidak kesurupan rubah atau yang lain?' Ebook by Kang Zusi ." jawab Takuan mantap. Gunung Takateru?" "Aku tidak tahu namanya. "Kita berkemah di sini. Banyak wistaria dan perangkap semak sepanjang pinggir jalan ini. Ketenangan di situ hanya terpecahkan oleh angin musim semi yang hangat membelai rerumputan." "Apa yang kau khawatirkan? Kalaupun kita terperangkap. tampak berpikir sedikit." "Apa para petani itu yang memasangnya di sini buat menangkap Takezo?" "He-eh." "Kapten tidak memperlihatkan muka di kuil sepanjang hari tadi. ya?" kata Takuan sambil menoleh ke belakang." "Saya sih tidak keberatan jalan. Memikirkan itu saja kaki saya sudah gemetar. jangan khawatir. atau di tempat lain. "Takezo. "Ada apa? ' Kenapa Bapak bikin takut saya?" "Jangan khawatir." Seratus kaki di bawah Takuan. dan dia sangat kuat. Pak Takuan. memenuhi telinganya." "Tapi kita belum memasang jaring sama sekali. "Oh." jawab Takuan. "Ketika di sana tadi. "Bapak mau ke mana?" "Mau buang air. ada yang mengatakan. "tapi mari kita jalan lebih jauh lagi sedikit. aku yang lebih dulu Tak perlu kau menyusulku. dan hangat. Bukan Takezo. tapi malam itu tak seekor binatang pun kelihatan atau terdengar. Mereka berjalan beriringan menembus kegelapan. dan keadaan langit. dan menembus seluruh dirinya." la menunjuk ke puncak yang dekat." gerutu Otsu. apa menurutmu jurang ini tidak makin sempit?" "Tak tahulah saya." Ketika mereka sudah menurunkan beban." "0." jawab gadis itu. Ketika berdiri di sana tadi. netcafe. Dia ada dalam hati. Aku cuma mau mengingatkan kamu supaya jalan yang balk. saya jadi gugup dan tak bisa melangkah. "Ke mana kita pergi?" "Aku belum tahu. "Malam yang bagus buat jalan-jalan. "Maksud Bapak. bagaimana caranya menangkap Takezo?" "0. "Apa yang kita lakukan di sini?" "Duduk." "Kalau begitu." Habis meletakkan bungkusan itu ke tanah. Saya berani bertaruh." Sesudah diam sekejap. kita yang akan masuk kedalamnya. tapi pikulan itu jelas menyakitinya. aku membuka-buka Buku Perubahan. nikmat rasanya!" katanya bersuka hati. "Rasanya kurang begitu indah. Kemudian aku menutup mata. ia pun menambahkan. Inc. yang setengahnya dataran terbuka. Makin jauh Takuan dan Otsu meninggalkan kampung." la menyeringai pada Otsu. "Di mana saja orang-orang ini? Tak seorang pun kulihat. Dia berjuang demi hidupnya." "Takuan. kali-kali kecil yang bergabung menjadi Sungai Aida mengguntur dari batu ke batu. saya bahkan tak tahu ke mana kita ini. "Menurutku. musuh itu. Tapi kalau kita tidak hati-hati. Bambu bergaris dan tumbuhan jalar wistaria menjerat kabut. jadi ada namanya?" Ketika mereka sampai." "Hati-hati! Awas kakimu!" seru Takuan tiba-tiba." "Apa kau capek?" "Tidak. akan jatuh ke tanganku tepat seperti Jenderal Ts'ao dari Wei jatuh ke tangan Ch'u-ko K'ung-ming. Cepat atau lambat dia akan muncul. "Oh!" teriak Otsu ketakutan.property of: CROSSFiRE. karena setiap kali ia memindahkannya dari bahu satu ke bahu lain. Otsu bertanya. Kalau nanti dia muncul. kalau Bapak bicara soal itu. sia-sia saja mereka menempuh banyak kesulitan. Ini tentunya Tsujinohara." "Ah. masingmasing memikul ujung pikulan bambu yang digantungi bungkusan yang terikat baik-baik." "Orang menyebutnya padang rumput Itadori. tentunya dia nekat sekarang. dan ketika aku membukanya. Takuan pergi menuju karang yang berdekatan. "Bagaimana kita bisa menangkap Takezo kalau hanya duduk di sini?" "Dengan jaring pun kita dapat menangkap burung terbang tanpa mesti terbang sendiri. 'Pergi ke gunung di sana itu. Sambil buang air kecil. atau alam semesta menyatu denganku?" Akhirnya ia kembali dan jelasnya. Para petani biasa menggiring kuda dan lembunya ke sana untuk merumput." "Buku Perubahan? Bapak tidak membawa buku. seakan-akan menghitung-hitung bintang. ia memandang ke langit. atau perut. Bunyi itu menderu menuju dirinya." ucap Takuan. tapi sisi belakang Sanumo sudah kita lewati beberapa waktu lalu. supaya kita dapat sendirian saja tiga hari ini. langkahnya langsung terhenti. "Aku menyatu dengan alam semesta. "Otsu. Buku Perubahan asli milikku sendiri." "Tapi dia belum pernah menemui siapa pun. Sudah jelas sekarang. Pokoknya. apa yang akan kita lakukan? Sesudah diburu orang banyak begitu lama." "Bukan yang tertulis. dan sekarang aku tahu pasti tindakan apa yang akan kita ambil.

netcafe. kelihatan mereka bergerak. Kita dapat berteduh di sana sampai hujan berhenti. Saya merasakannya. begitu takutnya. Rubah takut api.. "Otsu. Dia sebetulnya tidak begitu cerdik. Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. Takuan." "Memang." "Kau tidak bicara yang sebenarnya!" kata Takuan tajam. saya setengah mati ketakutan!" Selama beberapa jam berikutnya." "Jadi." "Sebetulnya bukan salah mereka." "Itulah barangkali yang dilakukan Takezo pada malam hari dan kalau udara buruk. betul tidak?" "Yang jelas menghangatkan. karena ini masalah mempertahankan diri. "Kalau begitu. dan Takuan membuat api. aku melihat gua dekat jalan. di pohon-pohon sana itu?" "Langkah-langkah kaki?" Takuan pun bersikap waspada. seperti langkah-langkah kaki. Takezo selalu merasa dikejar-kejar musuh. Bergerak pelan. Tapi sesudah mendengarkan baik-baik beberapa saat lamanya. Yang baik harus diganjar dan yang jahat harus dihukum. dan duduk kembali. "Ha. Bagaimanapun. Di situ barangkali dia menyembunyikan diri selama ini.. Saya tak menyangka Bapak mengurusi hukumhukum daimyo itu. "Saya pikir aneh sekali dunia ini. "Apa Bapak tidak dengar? Kedengaran bunyi gemeresik. Yang mereka kehendaki sebetulnya cuma sekadar tidak diganggu." Ebook by Kang Zusi . Semangat Otsu tampak naik. Sedangkan diri saya hanya satu rink kecil di dalam semua itu-satu titik yang dikendalikan oleh kekuatan mengagumkan yang tak dapat saya lihat. Dia mestinya menggunakan otaknya sedikit. akan kusuruh orang mempreteli anggota badannya. Mereka itu sama sekali tak berdaya. pelan. Tapi dialah yang memulai. kenapa orang kampung begitu benci pada Takezo?" "Para penguasa itu yang membuat mereka membencinya. akan mereka halau orang-orang sekampungnya. tapi sebetulnya aku benci percakapan dengan diri sendiri. Sesungguhnya. mereka itu orang-orang sederhana. Semua bintang di kegelapan kosong di sana itu. terutama pada masa-masa yang tak menentu ini. Bapak sudah lihat sendiri bagaimana perasaan saya selama ini. "Pikiran-pikiran itu memang betul masuk kepalamu. Kalau Bapak memandang bintang-bintang itu lama-lama. untuk pelajaran bagi orang banyak. Pikiran saya terasa berputar-putar dalam lingkaran. Dan saya rasa tak ada orang yang betul-betul suka menginap di pegunungan seperti ini." "Tapi bagaimana dengan samurai? Kenapa mereka ribut mempersoalkan orang tak penting macam Takezo?" "Karena dia lambang kekacauan. apa yang kaupikirkan?" "Saya?" "Ya. Merangkum segala-galanya. sampai kalau pemerintah yang menitahkan. apa itu?" teriak Otsu sambil meloncat bangun dari tempatnya dekat api. Lihat!" Dan tampaklah bayangan seekor monyet besar dan monyet kecil yang berayun-ayun di antara pepohonan. Otsu kelihatan lega. kabur malam hari atau menyamar." "Selama ini saya selalu menganggap Bapak orang baik. tapi tentunya dia cukup cerdik untuk berteduh dalam gua jika hujan. kamu. Malam telah penuh. tapi ada pikiran lain yang jauh lebih khusus di otakmu. bukan itu maksud saya. bahkan juga sanak mereka sendiri. Kesimpulannya tak bisa lain bahwa seluruh dunia ini bergerak. menurut Bapak.. Kesalahan besar pertamanya adalah menerobos rintangan di perbatasan." "Apa Bapak membencinya juga?" "Aku jijik! Aku tidak menyukai kebodohannya! Kalau aku penguasa di provinsi ini. Otsu." Mereka mengumpulkan kayu kering. pecahlah tawanya. Apa saja. Bahkan selagi saya duduk di sini sambil merenung. Tapi Takezo tidak begitu! Dia merasa harus masuk dan membunuh seorang pengawal. mari bikin api. Mereka harus menjaga ketenangan. dan itu tidak baik. walaupun dia sendiri bagi sejumlah orang tak lebih dari seorang bajingan. "Api yang baik membuat gembira orang. "Pak Takuan. Tidak.property of: CROSSFiRE. Tapi. Kau mesti memaafkan mereka karena mendahulukan kepentingan sendiri. nasib saya pun berubah sedikit demi sedikit. apa kau sedang sedih?" "Oh." "Barangkali. aku bisa lekas bebas. "Uh. Sambil menengadah ke langit berbintang. Mereka takut kepada pemerintah." Otsu jadi tercenung. Apa yang akan kita lakukan. akan kubikin dia menanggung hukuman paling buruk yang dapat kutemukan. dan kemudian membunuhi orang-orang lain lagi. Tindakannya merugikan hukum dan ketertiban. Meski sering melakukannya. mereka cuma berkepentingan melindungi diri sendiri. Sesudah itu ya seperti bola salju yang menggelinding. keduanya hanya duduk diam menatap api. jadi kalau aku kesurupan. dia tak lebih dari binatang liar. tapi di dasar hati ternyata Bapak sangat keras. Tiap kali api akan mati. kan? Penguasa provinsi tidak boleh bermurah hati pada orang-orang macam Takezo. Mestinya banyak tempat macam itu di seluruh gunung ini. Inc." Mata Otsu sudah bengkak oleh asap. orang di luar hukum. ha! Itu kan cuma beberapa ekor monyet. seandainya sekarang ini turun hujan?" "Dalam perjalanan ke atas tadi. Ia berkata lirih. Sesudah perang Sekigahara. Takuan mematahkan ranting-ranting kering dan membakarnya. dan aku datang kemari justru dengan kekuasaan untuk melaksanakannya." "Oh. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat.

aku kenal kau." "Ya. Tapi setidak-tidaknya sekarang aku tahu. tapi barangkali dia tidak merasa kalian berdua punya janji." "Kenapa?" desak Takuan. dan dia sedang bergelut dengannya. Kuharap dirimu yang manis dan polos itu dapat melewati semua tahap kehidupan tanpa cela dan tanpa luka. Kemudian katanya. mereka itu lemah. "Suatu hari nanti akan saya temukan dia! Saya bersumpah. ya?" "Tentu saja! Sebentar lagi fajar. ya?" "Apa yang dikomat-kamitkan?" "Aku baru saja menyadari bahwa Takezo harus segera muncul. Termasuk tentang perempuan Oko itu. Dengarkan. ini bukan sekadar impian. Tak mungkin. kupikir kau beruntung." "Betul? Tapi laknya tidak rusak!" "Aku membacanya sesudah melihatmu di kamar tenun itu. "Sudah larut sekarang. "Otsu. "Bukan. Rasanya ingin menjerit!" Dan dengan marahnya ia pun menarik lengan kimononya dengan giginya." Melihat wajah biarawan yang tegang itu. sebelum saya mengatakan langsung padanya pendapat saya tentang dia. dan kemudian suatu hari dia mengejutkanmu dengan surat seperti itu.. biar kumainkan sebentar. aku betul-betul mengharapkan bahwa kau. "Apa betul menurut Bapak dia akan muncul?" "Tentu saja!" "Tapi kenapa dia mau langsung masuk perangkap?" "Ah. Akhirnya ia bergumam. Manusia hatinya tidak kuat. 0. tak dapat maju atau mundur. "Apa ruginya kalau aku memainkannya? Suling bertambah baik kalau imainkan. Kesendirian bukan alamnya. "Aneh. dulu maupun sekarang. Otsu diam. Kau bisa saja menganggap itu wajar. apa yang akan kaulakukan? Tak usahlah kaukatakan.. terhindar dari hal-hal yang jahat dan sikap muka dua di dunia ini." "Tidak. apa yang harus dilakukannya. seperti sedang menyusun pikirannya. tapi belum lagi bisa memutuskan. Kau akan menceburkan diri ke laut dari karang yang terjal." "Tapi. Aku telah membaca surat-surat yang kauterima itu. Ketika kaubilang tidak membutuhkannya. "Sudah mulai. Ini milik seorang ahli strategi. Tenang seperti biasanya. biarawan itu terus memandang kosong ke api. Takuan kemungkinan orang semacam itu. apa yang bikin banjir air mata itu. sekadar membuang waktu. Aku tak akan merusaknya. Ebook by Kang Zusi . dan bertanya-tanya habis-habisan." sambar Otsu dengan nada getir yang memang disengaja. "Aku perkirakan Shimmen Takezo berada dekat sekali di sini. kumasukkan surat itu dalam lengan bajuku. Otsu. itu saja. Coba kemarikan suling yang kausimpan dalam obi-mu itu." "Apa itu bukan sekadar impian? Dia barangkali sama sekali tidak di dekat-dekat sini." Air mata Otsu bercucuran karena marahnya. kita ini kawan atau lawan. Otsu pun melunak. ya?" Otsu tampak tercengang. Inc. tapi kemudian ketika aku ada di kamar kecil. "Aku minta maaf telah melanggar rahasia pribadimu." "Betul begitu? Bagaimana pikiran mereka?" "Saya marah betul." Dan Otsu pun mencengkeramkan tangan kanannya kuat-kuat ke suling dalam obi-nya. tapi aku akan heran sekali kalau Takezo bisa menolak godaan untuk mendatangi kita clan menghangatkan diri dekat api. tak kenal tanggung jawab. Ini malahan bukan teoriku sendiri." Takuan menggelengkan kepala dan katanya." Tapi kelihatannya angin nasib sudah sepenuhnya gila? Kadang-kadang orang yang tidak begitu beres otaknya dianggap jenius oleh orang lain. Lama-kelamaan kupikir lebih baik jalannya peristiwa justru seperti sekarang. Dugaanku dia sedang bersembunyi di dalam bayangan kegelapan sekarang ini.property of: CROSSFiRE. Apa yang bikin kau kelihatan setengah mati waktu itu. Kalau kau kawin dengan dia. hanya sifat manusia. Takuan berkomat-kamit. tidak persis begitu. netcafe. pasti saya temukan! Saya tak akan berhenti." "Wanita tidak berpikir seperti itu. "Apa?" Takuan menatap tanah. seakanakan baru melihatnya. Soalnya. Kenapa ia mempercayai orang gila yang mau bunuh diri ini? Tanpa menghiraukan tajamnya jawaban Otsu." "Bapak jelek! Bagaimana mungkin Bapak melakukan itu! Dan buat membuang waktu pula!" "Untuk alasan apa sajalah. Kaupikir aku jelek? Lihatlah dia!" "Apa maksud Bapak?" "Matahachi itu. "Tak peduli kenapa!" teriak Otsu sambil menggeleng. hingga Otsu jadi merasa puas bahwa penolakan Takuan itu demikian pastinya. Takuan menatapnya dengan bergumam samar-samar. terutama kalau kesendirian itu disertai pengepungan tentara clan pengejaran dengan pedang. begini. Anak malang itu barangkali sedang dilanda keraguan. Tak pernah saya mengizinkan siapa pun menyentuhnya. lebih dari orang-orang lain. kukeluarkan surat-surat itu dan kubaca. memandang kita dengan mencuri-curi. Kupikir sikapku itu keliru. Otsu." Ia berbicara demikian yakin.. Aku senang semua itu sudah lewat sebelum sampai di situ. Otsu mulai merasa yakin akan hal ini." "Suling bambu saya?" "Ya.

Ayolah. talinya rantas. Suara basah suling mulai mengalun. Takuan merasa dirinya berubah menjadi air mengalir yang berkecipak menyusuri jurang." la berlutut dengan sikap formal di atas rumput. Pangeran mencari-cari pemain suling itu. Inc. Angsa liar yang selalu bermigrasi ke Jepang pada musim gugur dan pulang pada musim semi kini tampak dalam perjalanan kembali ke utara." "Kenapa?" "Karena saya akan menangis. Otsu. Otsu.. Otsu yang mewakili kekuatan dan keluhuran seni. aku pegang saja. Suling itu terbungkus dalam kain brokat yang sudah tua dan aus. Ebook by Kang Zusi . dia menangis kalau memainkannya!" pikir Takuan. Masukkan sedikit kayu lagi. satusatunya gambaran yang pernah ia punyai tentang mereka." "Itu pun saya tak mau. ada apa? Ada yang tidak beres?" Otsu tidak menjawab. meloncat-loncat bersama awan-awan. dan Takuan tahu betapa berharga barang itu untuknya." Takuan berpikir." la memutar ke samping dan memelukkan tangannya ke lutut. sambil memainkan sulingnya. meletakkan barang pusaka yang dipujanya itu ke bibir. "Boleh kulihat?" tanya Takuan.. Ia menoleh pada Takuan. Takuan berkata. Bukan maksudku mengganggumu. Mereka bertukar suling dan bermain musik bersama sepanjang malam. Mainkanlah untukku sedikit. dan ditinggalkan seperti anak kucing telantar di emperan Kuil Shippoji." Takuan pun mengalah. meratapi ketidakabadian dunia ini. Bangun dari lamunannya. "Mestinya saya tak boleh begitu keras kepala. tapi ia tak mengenal cinta asli orangtua. Tubuh biarawan yang seperti bayangan itu tampak seperti batu karang yang telah berguling turun dari sisi bukit dan menetap di dataran. "tapi akan saya coba. Baru kemudian pangeran itu mengetahui bahwa teman bermainnya itu setan dalam bentuk manusia. Ia selalu menyimpan suling itu dekat tubuhnya. la membasahi pipit suling clan membulatkan jiwa untuk bermain." "Apa pun yang terjadi?" "Apa pun yang terjadi.. Kyoto. malahan juga memainkannya sendiri. Takuan pun teringat akan legenda Pangeran Hiromasa yang sedang bercengkerama pada suatu malam terang bulan di Gerbang Suzaku. Kadang-kadang suara kuak mereka terdengar di telinga kedua orang itu dari tengah awan-awan." "Keras kepala!" "Biar saya keras kepala. "Apa kau menangis?" Otsu tetap diam." kata Otsu merendah. Ketika nada-nada tinggi terdengar. "Tidak heran dia begitu enggan meminjamkannya pada orang lain. Saya tidak keberatan lagi. Buku-buku jarinya tampak seperti kurcaci yang sedang tenggelam dalam tarian lambat." "Tapi kenapa tidak kaumainkan sendiri? Lebih baik aku mendengarkan saja. Sudah berlusin-lusin suling aku mainkan. namun masih tampak keanggunan yang antik. tetapi juga . seperti gemericik kali kecil. Suling itulah satu-satunya barang peninggalan orangtuanya baginya. Yang ada hanyalah alam semesta yang besar dan diam terselimut malam. Pada malam ketiga ini. Takuan tidak bicara apa-apa lagi. Ia asyik mendengarkan dengan mata tertutup. menegakkan leher kimononya dan membungkuk ke arah suling yang terletak di depannya. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. dan bermain-main di tempat yang dangkal. rendah." "Tidak. "Ya. suling itu bukan sekadar gambaran tentang ibu dan ayah yang tak pernah dilihatnya. Namun tak pernah Takuan membayangkan bahwa Otsu akan menolak meminjamkannya. Kainnya sobek-sobek. Saya tidak begitu pandai. Ketika ia belum lagi cukup umur untuk melihat cahaya matahari. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu." "Tidak apa-apa. "Nah. "Maaf aku telah mengingatkan masa lalu padamu. lihatlah. Ambillah suling ini dan mainkanlah. ia merasa semangatnya terembus ke langit. merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam. Nah. wajahnya yang putih menoleh sedikit ke samping. Takuan mengangguk acuh tak acuh. dan saya tak dapat main suling kalau saya menangis. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya. Jemari pipih gadis itu menari di atas ketujuh lubang alat musik tersebut. dan menemukannya di tingkat atas gerbang itu. Bunyi bumi dan gaung langit bercampur dan berubah menjadi rintihan sayu angin yang berembus melintas pepohonan cemara. dan sekali-sekali larut di balik awan berkabut. netcafe." "Hmm. merupakan suara mereka. Terdengar bunyi. untuk pertama kali bulan indah berkilau-kilau di langit." bisik Otsu. Dengan santun sekali lagi ia mengingkari bahwa ia cakap bermain. Aku duduk saja di sini seperti ini. "Betul. aku tak akan merusakkannya. kalau begitu kamulah yang memainkannya. "Jadi. diselarasi oleh suling lain. "Apinya mati.property of: CROSSFiRE. "Baiklah. la tampak berbeda dari Otsu yang biasanya. Otsu selalu merindukan orangtua yang tidak pernah dikenalnya dan mereka pun merindukannya. Otsu." la pun mengeluarkan suling itu dari obi-nya dan mengulurkannya pada Takuan lewat atas api." Dan ia pun merasa kasihan pada Otsu.

Katanya. Takuan menggelindingkan sebuah batu karang ke dekat api clan menepuk punggung Takezo. Kepala Takuan mendongak." Otsu meletakkan kuali di atas api. Katanya. yang secara tak sadar dipeluknya lebih erat lagi. Adegan penuh kedamaian ini menghapuskan rasa takut Takezo. Takezo mendadak duduk." la tusukkan ujung sumpitnya ke kentang. "Di sini banyak makanan. la merasa seolah-olah berada di dekat binatang liar tak terantai. kemudian sambil menjerit ia melemparkan sulingnya ke sosok hitam itu. "Kemarilah. Otsu memasukkan kentang ke dalam mangkuk clan memberikannya kepada Takezo. betapa dalam dia akan terpengaruh bunyi suling yang dimainkan gadis cantik ini!" Ia ingin menangis. Tapi aku tak akan berdebat lagi denganmu. la memandang langsung ke benda hitam itu. --Setan pun tergerak hatinya oleh musik. ia berhenti dan tegak diam. "Hai. Datanglah ke dekat api sini dan hangatkan badanmu. Dia mendengarkan kau main suling. Aku pun sudah lapar. "Enak. Dalam keadaanmu sekarang. clan ia masukkan ke dalam mulutnya. la memandang Takuan dengan mata curiga. yang tidak dapat begitu saja diabaikan. Kedua orang itu tampaknya bahkan menyatu dalam tarikan napas mereka. Takezo sekali-sekali mengembus makanan yang masih panas itu dan melahapnya dengan suapan besar-besar. clan mari kita bicara. geletar itu tidak terkendalikan lagi. bahkan juga simpati manusia. dan menoleh ke belakang. "Kemarilah!" Mendengar kata-kata itu. ia keluarkan kentang itu. ia takut sake akan Ebook by Kang Zusi . Mari kita bicara. Otsu tidak dapat memandang langsung kepada teman bekas tunangannya itu." Otsu menoleh. Ke sinilah. Mengerikan. beberapa waktu lamanya. Malahan kami juga punya sake. Jaraknya tidak lebih dari lima atau enam meter dari api." katanya. agaknya terhambat oleh semacam rasa malu di dalam dirinya. Memang itu Takezo. la membuka lipatan tangannya dan memberikan isyarat kepada Takezo." pikir Takuan. Air mata menuruni wajahnya. "Duduklah di sini. Otsu. Sedikit demi sedikit di sudut-sudut mata Takuan muncul kerut-merut yang menandai mulainya senyuman bersahabat. la merasa seakan-akan jaring yang dengan hatihati direntangkannya telah sobek clan ikan pun lolos. la begitu menyatu dalam musiknya. Dan tiba-tiba terlihat gerakan di rumput. memang hampir tidak dapat kau mendengar suara akal sehat. dan Takuan meletakkan guci sake di dekat api untuk menghangatkannya. "Manis sekali dan empuk. "Takezo! Berhenti!" Di dalam suara itu terasa ada kekuatan yang perkasa. "Bagaimana kalau mencoba sake?" "Saya tak mau sake. Apakah ia sedang memanggil ibu dan ayahnya? Apakah bunyi-bunyi yang mendaki langit itu betul-betul melantunkan. Datanglah ke dekat api ini. kamu yang di sana! Tentu dingin rasanya di tengah embun. Karena lapar yang luar biasa. Takezo mengedip. pipi Otsu berubah jadi merah tua." Otsu terkejut dan berhenti bermain. Diam-diam ia mengangkat tangan clan melambaikan salam. Tangannya gemetar dan giginya gemerincing mengenai tepi mangkuk. Mau coba sedikit. ya?" tanya biarawan itu sambil meletakkan sumpitnya. makanan. Sambil membuka tutup kuali. Sudahlah. "Rupanya sudah matang. la melompat dan memanggil sekuat paru-parunya." desak Takuan. panaskan kentang rebus yang kaubuat tadi. Takezo?" Takezo mengangguk dan untuk pertama kali ia menyeringai. hingga sukar membedakannya dari alat musik yang dimainkannya. Ditatapnya Takezo semantap tatapan Takezo padanya. Tapi kau berkeras menyeret dirimu ke dalam neraka pribadimu sendiri. "Di manakah engkau!" Apakah jeritan ini tidak tercampur rasa benci yang sangat dari seorang perawan yang ditinggalkan dan dikhianati lelaki tak setia? Otsu agaknya sudah mabuk oleh musik dan tenggelam dalam emosinya. Butir-butir keringat muncul di dahi. Ketika cahaya api sedikit demi sedikit surut. "Pak Takuan.property of: CROSSFiRE. memperlihatkan sederetan gigi yang sempurna putihnya. dan minuman. datang ke dekat api sini. kekuatan yang memerintah. Ketika hampir berada di atas mereka. Disilangkannya tangannya pelan-pelan ke dada. Wajahnya terbenam lebih dalam lagi di antara lututnya. apa Bapak bicara sendiri lagi?" "Apa kau tidak lihat?" tanya Takuan sambil menuding. "Takezo. tapi air matanva tidak keluar. Wajahnya yang gelap memperlihatkan ekspresi aneh. Inc. "apalagi manusia yang punya lima macam nafsu." Sunyi lagi. dan ia beringsut mendekat. katanya. apa kau tidak membuat kesalahan besar? Ada tempat yang menyediakan api. Terdengar seperti binatang yang sedang melata. la melompat seperti kijang yang terperanjat dan lari. Takuan berkata." "Tidak suka?" "Saya tak mau sekarang. Takuan sama kagetnya seperti Takezo karena jeritan Otsu. sedikit terpesona. Pelarian itu berhenti seakan terpaku di tanah. "dan kita dapat saling tukar pikiran. Napasnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. Biarawan itu tidak bicara. netcafe. Sekalipun terputus-putus oleh sedu sedan tertahan." Menyusul sunyi penuh tanda tanya." Sesudah sekian lama berkeliaran di pegunungan. "Takezo ada di sana tadi. Kau mengukuhi pandangan yang cukup menyesatkan tentang dunia ini. Kami bukan musuhmu. terasa lagu itu bagai berlanjut terus untuk selamanya. la mengunyah lahap. di sekitar anak rambutnya.

sakit. dirimu sendiri?" -Aku tahu aku sudah kalah. kali ini hingga Takezo jatuh ke tanah.. tidak!" kata Takezo. Aku mengerti bahwa engkau bertekad untuk bertahan sampai mati. Mereka berdua pun tahu itu. Apa yang akan kaulakukan untuknya? Dia dikurung di benteng Hinagura!" Takezo tak dapat menjawab. Kalau mau melawan. tetapi Takuan menyelamatkannya dengan langsung mengatakan." Ketika mengembalikan mangkuk kepada Otsu. tidak berusaha bergerak. bahkan selanjutnya dari wangsa Akamatsu dari Harima yang terkenal itu?" Takezo menutup mukanya dengan kedua tangannya yang hitam dan kini berkuku panjang itu. "Orang bebal tak bertanggung jawab! Orang bodoh tak kenal terima kasih. clan ia tak siap dengan jawaban. kami datang kemari untuk menangkapmu. Takuan tiba-tiba mengepalkan tinjunya clan menghantam keras-keras rahang Takezo. Nah.. Karena ayah-ibumu dan nenek moyangmu tak ada di sini untuk menghukummu. Inc. Hari itu hari perhitungan. akulah yang melakukannya atas nama mereka. tapi dari antara dua itu. aku dapat menang itu?" "Maksudku." "Apa sudah cukup?" "Sudah. Batas waktu yang diberikan pada Takuan sudah habis. Karena terkejut. Ini bukan tali kekuasaan. la tersedu-sedu sedih. ia bertanya.. "Bagus. Saya merasa hangat sekarang. aku. apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum. Namun Takezo hanya terbaring pasif. netcafe. namun gema suara lonceng yang berat teratur itu terdengar mendayu-dayu di seluruh kampung dan menggaung sampai jauh ke pegunungan. menggeleng-geleng marah. terima kasih. Otsu. dan terhadap musuhmu terbesar. tapi pada akhirnya apa engkau bisa betul-betul menang?" "Apa maksudmu. Takuan pun dengan mudah menduduki punggungnya. Takuan melanjutkan dengan nada lunak. Dia sudah siap. "Ya.property of: CROSSFiRE." Pertanyaan Takezo itu mengejutkan Otsu. kaki dan tangannya terulur. Kemudian ganti la memandang kedua orang itu. Tidak ada alasan bagimu untuk takut atau kasihan padanya. dan matanya basah. Terimalah ini!" Biarawan itu pun memukulnya lagi. tapi sebelumnva akan kubunuh dulu perempuan Hon'iden tua itu dan serdadu-serdadu Himeji. Segera ia berkata dengan cukup sopan. "Akhirnya aku akan terbunuh. tapi sebelum sempat pulih dari pukulan itu ia sudah menerima pukulan lain di sisi lain. Takuan menyadari bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba. Dan bagaimana dengan kewajibanmu melanjutkan nama ayahmu. Penduduk kampung bergegas Ebook by Kang Zusi .. Wajahnya berubah penuh kesedihan. "Terus terang saja. "Terima kasih untuk makanan ini. terhadap hukum provinsi. Takezo pun terhuyung-huyung oleh pukulan itu. Sambil berputar langsung menghadap Takezo ia pun berkata. Apa. Cepat berikan tali itu!" Takezo diam menelungkup di tanah. "Bagaimana pendapatmu? Kalau kau akan ditangkap. tidak tahu. apa bedanya sekarang ini?" Melihat itu." rengek pelarian itu. Shimmen Munisai? Apa engkau sudah lupa bahwa nama itu berasal dari keluarga Hirata. "Kenapa kau datang kemari? Kemarin malam kulihat juga apimu. ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi. sekalipun agaknya ia ragu-ragu menerima ucapan Takuan itu demikian saja. Kalau sakit. berikan ke sini tali itu.. seperti bola kertas kecil. membuatnya sakit.kemanusiaan." rintih Takezo. juga semua orang yang kubenci! Akan kubunuh orang sebanyak vang aku bisa!" "Dan apa yang hendak kaulakukan untuk kakak perempuanmu?" „Ha …” "Ogin. tunggu apa lagi? Bawa ke sini tali itu! Takezo sudah tahu aku akan mengikatnya. Bahunya yang tajam mencuat ke atas ketika berguncang bersama gemetarnya tubuhnya yang kurus." Takezo tidak memperlihatkan sikap kaget secara khusus. seakan-akan akhirnya ia menyerah pada suatu hukum alam yang tak kelihatan. "Aku. "Sinting!" guntur suara biarawan itu." "Tidak. apakah engkau dapat berhasil bertahan terhadap rakyat yang membencimu. la diam saja dan menundukkan kepala. bagian 3 Pohon Kriptomeria Tua SEKALIPUN pagi itu bukan saat biasanya lonceng kuil dibunyikan. artinya kau masih punya sedikit darah manusia dalam nadimu. tapi tali cinta. "Apa engkau tidak mesti mulai memikirkan nasib wanita yang baik itu? Sudah demikian banyak yang dilakukannya untukmu. "Sakit?" tanyanya sengit.. sekalipun sebelumnya ia berketetapan untuk membebaskan kakaknya. "Dengar dulu sebentar. bisa saja Takezo menendang Takuan ke udara.

ia membelalak pada Takezo sejenak. yang hendak kuminta dari kalian. Kami mau berterima kasih pada Anda!" "Nah. Yang lain lagi berlutut di kakinya. Inc. "Aku tak akan puas kalau dia hanya dibunuh! Biar dia menderita dulu! Lihat saja mukanya yang mengerikan itu!" Sambil kembali menoleh kepada tawanan.property of: CROSSFiRE. binatang yang ditakuti ini sudah ada di sini dalam keadaan hidup. Tapi kalau aku berhasil. "sekarang kalian dapat kembali ke ladang kalian dengan damai. kan? Sebetulnya. Beberapa orang membungkuk rendah. dan pelindung dari yang jahat. Baiklah. Tentara akan segera pergi!" Bagi orang kampung yang biasa ditakut-takuti itu." Tepik sorak orang banyak pun mereda. Sampai di tangga." lanjut Takuan. seakan-akan mereka sedang menyaksikan wajah jin Gunung Oe yang ditakuti. Bukan aku yang melaksanakannya. dan pekiknya. "Mesti kita bunuh dia! Dia tak berguna. dia jahat! Kalau kita biarkan hidup. tapi hukum alam. Takezo menyeringai kesakitan. kalau begitu apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seperti kalian lihat." serunya. netcafe. suarasuara marah dan tak sabaran terdengar dari belakang. Takuan pun duduk sedikit ke atas tangga sambil bertelekan pada sikunya." "Bantuan apa?" terdengar pertanyaan dari kerumunan yang ingin tahu. sampai akhirnya la kehabisan napas dan tangannya jatuh ke samping tubuhnya. Berita keberhasilannya menyebar seperti api liar." "Jangan melucu begitu! Anda yang menangkapnya. dia sampai kemari ini tanpa perkelahian. menuju bukit. "Kamu makhluk rendah. Sambil mengacungkan ranting pohon arbei ke udara ia pun berteriak. Seakan-akan untuk mengecilkan reaksi mereka yang dibesar-besarkan itu. "Orang-orang Miyamoto. "Cuma ini: apa yang akan kita lakukan terhadap Takezo sekarang? Janjiku kepada wakil Keluarga Ikeda." Orang banyak mulai berbisik-bisik. adalah kalau aku tidak membawa pulang pelarian itu dalam tiga hari. yang sudah. "Takezo sudah tertangkap!" "Betul? Siapa yang menangkap?" "Takuan!" "Ah. pembebas. Takuan pun segera menjadi pahlawan. penduduk Miyamoto. Yang lain mendesakkan diri ke depan untuk menyentuh tangan atau jubahnya. Ada yang mau kukatakan kepada kalian. "Dengar. dan menyeringai dengan sikap bersahabat. aku yakin kalian pernah melihatnya. "Nah. "Bukan aku yang berjasa atas penangkapan Takezo. Dia tidak begitu mengerikan. "Kami tahu!" Takuan kembali mengambil sikap hakim. dan sekarang ini ada sesuatu yang sangat penting. Hukum itulah yang harus kalian hormati. dialah Osugi si pemarah itu. memuakkan!" Dan ia pun menyabetkan ranting di tangannya beberapa kali kepada Takezo. Ebook by Kang Zusi . kemudian menoleh pada orang-orang kampung. untuk melihat apakah Takuan berhasil melakukan tugas yang mustahil itu. Takuan pun menarik diri dari kerumunan itu dan mengangkat tangan untuk menenangkan mereka. Beberapa orang menahan napas dan terengah-engah melihat pemandangan itu. bukan alam!" "Jangan merendahkan diri. dia akan jadi kutukan buat kampung ini. tak percaya aku! Tanpa senjata? Tak mungkin!" Orang membanjir ke Shippoji clan memandang ternganga ke arah penjahat yang relah tertangkap itu." Selagi Takuan berhenti bicara dan tampaknya sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Ngeri oleh sikap mendewakan diri ini. "Bunuh dia! Bunuh dia!" Pada saat itu. si orang lembek ini. la diikat seperti binatang ke pagar tangga di depan bangunan suci utama. akulah yang menentukan nasibnya. Tak salah lagi. "Aku tidak keberatan. kalau begitu berterima kasihlah padaku. Orang yang melanggar hukum alam akhirnya akan kalah. kepala hampir menyentuh tanah di halaman kuil. Aku membutuhkan bantuan kalian. Akan kita bunuh dia. sudahlah. Biarawan!" "Kami hanya memberikan penghargaan yang pada tempatnya!" "Lupakan hukum itu. aku akan menggantung diri di potion kriptomeria besar itu. atau kita lepaskan?" Terdengar suara heboh tanda tak setuju dengan gagasan untuk melepaskan Takezo. seorang perempuan tua mendesakkan diri ke depan dan menyingkirkan orang-orang lelaki yang badannya dua kali lebih besar darinya dengan tusukan-tusukan tajam sikunya. Tapi kalian mesti menghormati hukum. sesuatu yang penting. ia mengangkat ranting pohon itu. Satu orang berteriak.

Ini. karena. Dia harus dikembalikan kepada pemerintah!" Takuan menggelengkan kepala. Menghadap kepada khalayak. dan berikan jawabannya padaku. Kalian dapat menyelesaikan perkelahian itu berdua. Tidak usah kau menyusahkan diri. dan dia akan merasakan cuaca siang dan malam. Sebetulnya dia tidak jelek. apa kau bermaksud melanggar persetujuan kita dan tidak memenuhi janjimu yang suci? Kalau benar demikian. "Shimmen Takezo ini tidak hanya sudah melakukan kejahatan-kejahatan berat dan serius terhadap hukum provinsi. adalah kewajibanku untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan ini. dan orang yang baru datang itu pun berjalan cepat ke depan. seolah akan melepaskan belenggu tawanan itu. ia pun mengangkat jari menyuruhnya diam. dan tawanya pun pecah lagi. "Karena pembunuh inilah hidup anakku hancur. "Omong kosong!" Melihat si Jenggot Jarang sudah siap menjawab." Kemarahannya timbul lagi. kalau boleh aku mengatakannya. "Dan kalau kulepaskan dia akan kusuruh dia pertama-tama menyerangmu. Tak boleh dia dilepaskan. "Aku tak peduli dengan pendapatmu." Takuan tidak berusaha menjawab. Pulang. "Takuan. tapi tertawa terpingkal-pingkal. akan kulepaskan Takezo sekarang juga di tempat ini!" Terengah-engah orang kampung serentak mulai menyingkir. "Apa yang Ibu inginkan dariku?" tanya biarawan itu. Beri aku kesempatan. la mulai meludah dan menggerutu. kita harus menyiksanya dulu.property of: CROSSFiRE. "Matahachi itu. Apa tak akan lebih baik kalau kelak Ibu mengangkat menantu lelaki Ibu sebagai ahli waris dan memberikan padanya nama Hon'iden yang terhormat itu?" "Berani betul kamu berkata seperti itu!" Tiba-tiba janda bangsawan yang sombong itu meledak sedu sedannya.. Cuma akan bikin kesulitan lagi. "Kuminta kalian bicarakan hal ini sekali lagi di antara kalian. Memang tak ada orang yang mengerti dia." la hampir menggagap. "Padahal tanpa Matahachi tak ada yang akan meneruskan nama keluarga kami!" "Yah. Orang itu si Jenggot Jarang. Bagaimana kalau dia diikatkan ke cabang pohon kriptomeria itu beberapa hari: Kita dapat mengikat tangan dan kakinya. itu akan memberikan nama jelek pada kami para pendeta. Aku mengundang mereka kemari justru untuk dengan cepat membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap Takezo. Dengarlah! Kau bisa membunuh Takezo sendiri. Orang-orang yang ada di depan mundur dengan mata melotot. "Tingkahku? Dengar.. "Kau tak perlu bicara dalam soal ini. dan akhirnya kepada orang banyak. Apa yang akan kita lakukan? Perempuan itu bilang." Ia meminta kepada khalayak. netcafe. kau pasti akan menerima uang yang sudah ditawarkan pemerintah sebagai hadiah.. "Tunggu." Takuan terus berlalu. Cuma.. dan ia menunjuk Takezo. kemudian kepada Osugi. tapi lalu meningkat lagi. Lalu tahanlah dia kalau kau bisa!" "Tunggu dulu. Kemarahannya sedang menjulang." balas Takuan. Tangannya tertumpang di pedang. kan?" • "Kepalanya untukmu! Tak bakalan! Urusan kependetaan antara lain memimpin upacara pemakaman." "Diam kamu!" perintah Kapten." Badan Osugi berguncang hrbat. Tiap kali tawa itu seperti akan berhenti. kuperingatkan. "Kalian sudah dengar apa kataku! Ayo jalan! Apa yang kalian tunggu?" Ia melangkah dengan sikap mengancam ke arah mereka. "Perhatikan tingkahmu. Jenggot Jarang." la berdiri tegak dan membelalak kepada Takuan. sementara Osugi menoleh kepada Takuan dengan pandangan mengancam. sebentar saja!" "Aku sudah memegang janjiku. "Biarkan aku yang memutuskan. Memikirkan dia pun tak perlu. "Apanya yang lucu? Hah? Kaupikir semua ini lelucon?" "Tingkahku?" ulang Takuan. biarawan itu mengambil sikap sungguhsungguh lagi. Cepat!" Terdengar kaki-kaki diseret. Kerumunan orang terbelah menjadi dua seperti kain sobek. ini pedangku. "Dia sudah terikat.. sebetulnya cuma kroco belaka. dan ia menjerit. berikan kepalanya padaku untuk kubawa pulang. Tapi sebagai wakil resmi Yang Dipertuan Terumasa. dia juga pelarian dari Sekigahara. dan kuil-kuil akan bangkrut dalam waktu singkat." Walau tangan samurai itu sudah mencengkeram gagang pedang. buah hatiku itu. Hukumannya tidak bisa ditentukan oleh rakyat. Inc. Nasib tawanan ini tidak lagi menjadi kepentinganmu. "Dialah yang menyesatkan anakku. Aku tahu apa yang mesti dilakukan terhadapnya!" Tepat pada saat itu satu teriakan keras dan marah menghentikan perempuan itu. Aku punya hak untuk membalas dendam.. Adil. Biarawan!" kata Kapten memperingatkan. dia yang membuat anakku jadi brengsek seperti dia sendiri. Kapten bungkam.. la pun berkata dengan suara menggelegar.. "Tak ada alasan mengusir orang-orang baik ini. Takuan tidak tahan untuk tidak mengejeknya. tapi tak seorang pun mau pergi. Bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . karena. "Tidak!" sela Takuan. Burung-burung gagak barangkali akan mematuk bola-bola matanya.. Tapi membuang mayat atau bagian-bagiannya.." Di dahi samurai itu bermunculan titik-titik keringat. Kapten mulai mencari-cari alasan. "Kenapa?" "Ya. "Ada apa di sini? Ini bukan pertunjukan ekstra! Pergi semua dari sini! Kembali kerja. betul tidak? Tak seorang pun akan mempercayakan mayat keluarga mereka. "Siap?" tanya Takuan sambil menjangkau tali yang mengikat Takezo. kalau kami hanya akan membuangnya. "Bukan itu yang sudah kausetujui!" Merasa martabatnya terancam. tidak cukup membunuhnya seketika.

Tapi yang jelas. Satu saja yang mengenalnya dengan baik. hanya berteman Takuan. ia membungkuk rendah di hadapan perempuan tua jelek itu. Kesadaran datang bagai wahyu. Apa pun yang terjadi nanti." kata perempuan tua itu tanpa pendahuluan lagi. Ia bertanya-tanya kenapa demikian. Kesepian berarti merasa kekurangan sesuatu. tapi waktu itu ada juga Takuan. hampir sepanjang waktu Takuan rapat di kamar tamu dengan samurai Himeji. di sinilah kamu sembunyi! Duduk di sini dan membiarkan hari lewat sia-sia!" Tubuh Osugi muncul di pintu. dan diseretnya Takezo seperti seekor anjing menuju pohon. sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan. tidak. Katakata Takuan masuk langsung ke dalam hatinya. la merasa pengalaman ini telah memberikan pemahaman ke dalam hatinya sendiri. Itulah yang ia rindukan. Kepalanya berdenyut.property of: CROSSFiRE. Takezo dinaikkan ke sebuah cabang." jawab Otsu. Karena harus mondar-mandir ke kampung untuk menyampaikan ini-itu. Api atau lampu mana pun tak dapat menandingi. "Tentu saja bodoh kalau aku percaya kata-kata Takezo si tukang bohong itu. kepalanya tertunduk tanpa kata-kata. Duduk bertopang dagu menghadap meja rendah di dekat jendela. "Ah ha! Jadi. namun tak tahu ia apakah itu. "Takuan. "Aku ingin bicara tentang Matahachi. Sesuatu yang harus ada. sesaat Otsu ragu-ragu sebelum menyambut perempuan tua itu dan meletakkan bantal tempat duduk. Karena takutnya. ada soalsoal clan hal-hal tak menentu di dalam dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebatang bambu. api untuk memasak makan malam menyala terang. Darah yang bergejolak di dalam nadinya membuat pelipisnya biru. menghangatkan dan meneranginya. Namun ia merasa lebih sepi kini daripada sewaktu tiga hari lamanya berada di sisi bukit terpencil. Namun kegembiraan karena telah menangkap "binatang liar" itu tidak juga usai. yang nyata. Sadar akan penemuan ini. Memang selalu ada suling itu. kesepian ternyata seperti rasa lapar. Terkejut dari lamunannya. Dan lagi di sekitar kuil selalu ada beberapa orang. tapi pikirannya masih terus digeluti oleh masalah itu. hingga beberapa orang yang berhati lunak merasa sedikit kasihan kepadanya. Jadi!" Ia memegang tall yang sudah dilepasnya dari pagar. la tampak begitu menyesal. tapi di dalam diri seseorang. Takuan tidak sama sekali berada di luar dirinya. Otsu mulai merasakan kesenduan yang aneh dan amat sangat apabila ia berada sendirian di dalam kamar. Takuan tak punya waktu lagi untuk duduk bercakap-cakap dengan Otsu seperti yang ia lakukan di pegunungan itu. dan diikat erat. yang mengatakan. "Aku tak yakin. Tawanan itu berjalan tanpa perlawanan. itulah yang ia dambakan sekali sampai ia hampir gila. lebih! Biar dia tergantung di sana sepuluh atau dua puluh hari. aku percaya kamu tak punya pikiran buat melanggar janji. dan kabut. "Semua memuakkan!" katanya keras." "Betul?" kata Otsu dingin.. Tapi menyuarakan perasaannya itu sama sekali tidak meredakan kebenciannya kepada Matahachi. Takuan pun mengangguk. Tapi pada saat seorang gadis mencapai umur enam belas tahun. dan keluarga Hon'iden sudah menerimamu sebagai istri anakku. Satu orang yang dapat disandarinya. "Karena kau sudah mengakui ada hubungan di antara kita. Osugi langsung duduk. tapi rupanya Matahachi masih hidup dan tinggal di provinsi lain. tak berperikemanusiaan. Usul biarawan itu terdengar sangat kejam oleh para pendengarnya. Baik. Di dapur kuil. Diam-diam pintu di belakangnya bergeser terbuka. gagasanmu itu menunjukkan kau sungguh-sungguh bijaksana. Oh. Otsu duduk kembali. Tinggal sendirian bukanlah hal baru baginya. dan dengan penuh semangat semua orang ikut serta dalam kesenangan itu." Osugi memulai dengan nada-nada megah. "Baik. Tapi kupikir kita harus menggantungnya seminggu lamanya-o. Di pegunungan yang ada hanya kesunyian. Orang-orang di sekitarnya maupun keramahan hidup di kuil tidak dapat meredakan perasaan terpencil yang sekarang ia rasakan. hingga mulamula tak seorang pun dapat menjawab. ia pun berdiri. Kemudian sampailah ia kepada kesadaran polos bahwa ia kesepian karena Takuan tidak ada di dekatnya. pendeta yang bertindak sebagai pelindungmu di sini sudah menyetujui perkawinanmu dengan anakku. Sesudah memutuskan hukuman untuk Takezo. Tenggorokanku kering!" Otsu menurut dan mengambilkan teh. "Ya. Air matanya tumpah ke meja kecil yang dipernis itu. ada satu hal kecil yang ingin kubicarakan denganmu." Tanpa panjang kata. Satu orang yang kuat dan sepenuhnya dapat dipercayai. Sekembalinya ke kuil dari pegunungan itu. sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah. "Menantuku yang baik. Dalam keadaan terikat.. ia menimbangnimbang perasaannya setengah hari lamanya. Tanpa menunggu kata-kata tuan rumah. Beberapa potong tali disambung-sambungkan menjadi satu. Bu. Aku baru saja bicara dengan Takuan dan samurai Himeji itu. la memiliki segala yang menyenangkan di rumah. bukan sekadar hidup yang mengamati. tapi pembantu pendeta tidak menyuguhkan minuman. Ia menyadari. netcafe. sekiranya ia punya seorang teman! la tidak membutuhkan banyak." Ebook by Kang Zusi . la membutuhkan keakraban clan rasa kebersamaan. Kecuali Osugi. Tapi ambilkan dulu teh untukku. Lalu aku sendiri akan datang memberikan pukulan maut.. Inc. ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup. pepohonan. Bukan di luar.

Ibu tidak keberatan saya tinggal di sini?" "Sementara tidak. Surat itu ditandatangani oleh "Aoki Tanzaemon"... menangkap tangan Otsu dan meremasnya keraskeras. Otsu ingin tertawa terbahak-bahak." "Lain lagi?" "Ya. la takut bicara lagi. netcafe. Tak ada berita kapan Matahachi kembali." Otsu tak berdaya untuk membantah. "Eh. Mata yang menyambutnya ternyata mata Kapten. Karena itu aku ingin kamu tinggalkan kuil ini dan menetap bersamaku. bukan itu. Kepalanya masih berdenyut. aku perlu mengatur supaya kamu belajar melakukan pekerjaan ladang. Kepala saya sakit. Siang dan malam. Barang itu ternyata lebih dari sekadar surat. Kamu tak bisa tinggal di dua tempat sekaligus. jangan-jangan air matanya membanjir.." "0." "Dari siapa?" Ebook by Kang Zusi . "Baiklah kalau begitu. Dia tak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan." kata Osugi. begitu. Ambil surat ini.." "Sama sekali jangan!" Nada Osugi terdengar pasti. "Kalau saja aku bisa memperoleh kepala Takezo. karena di dalamnya terdapat sepotong besar uang emas. Kupikir kau ada di pihakku. "Kamu tak akan melakukan hal seperti itu. memelihara ulat sutra. menjahit lurus keliman. sayang sekali. Kalau kamu tidak khusus berjaga malam hari. Tapi. ia tersentak mundur karena kagetnya.." "Tapi saya. Ketika ia selesai membaca. dan berlaku seperti nyonya bangsawan. Dan karena menantuku juga repot dengan keluarganya sendiri. dan pergi seketika itu juga. "Rupanya mereka sedang melakukan penyelidikan tentang kejadian di sini. "Surat. dan baca kemudian kalau tak ada orang melihatmu. aku perlu bantuanmu. kalau begitu jangan membuang-buang waktu lagi! Kumpulkan barang-barangmu!" "Sekarang juga? Apa tidak lebih baik menunggu?" "Tunggu apa?" "Sampai.. seakan-akan sudah lama menanti kesempatan. waktu kepala Takezo sudah terpisah dari badannya." Otsu berusaha menarik tangannya. Aku khawatir. Tak dapat kukerjakan sendiri. "Bisa-bisa kamu mulai memikirkan lelaki lain. "Kau sudah berbuat baik padaku. Suara lelaki memanggil pelan. "Otsu. tapi cengkeraman kapten itu terlalu kuat... Tanpa menghiraukan bingungnya gadis itu. Mereka bisa bersekongkol!" "Jadi.. aku bisa mengatakan telah melaksanakan tugas dengan penuh kehormatan. itu sebabnya aku datang kemari. saya mengerti.. la mengangkat kepala dengan angkuhnya.property of: CROSSFiRE. "Aku masih belum merasa pasti. Aku akan mendapat nama baik. aku gembira!" Ia berbicara seolah-olah menangguhkan suatu pertemuan. dan Otsu akan hidup di tengah kekayaan dan kemuliaan selama hidupnya. Mengerti?" "Ya. apa yang hendak dilakukan biarawan yang tak bisa diduga itu atas Takezo. kalau bukan istri Matahachi?" "Tak tahu saya. Pembicaraan tentang Matahachi itu membuat dadanya sesak. Namun isi tulisannya sendiri cukup jelas: ia minta Otsu memotong kepala Takezo dalam beberapa hari itu dan membawanya ke Himeji." "Apa kamu mau bilang keberatan? Apa kamu tak ingin tinggal di rumahku? Kebanyakan gadis-gadis akan melompat mendapat kesempatan itu!" "Bukan. "tapi aku baru saja terima perintah dari Himeji untuk pulang." "Apa yang kaupegang itu?" ." "Siapa lagi yang bisa masuk rumah Hon'iden." "Nah.. Otsu dapat mendengarnya bergegas menuruni tangga. muncullah sebuah bayangan di jendela yang tertutup kertas itu. Tapi Takuan yang gila dan keras kepala itu tidak membiarkan aku memilikinya. "Kamu tahu omongan orang. tapi. Ketika jendela dibuka." "0. "Dan ada satu hat lagi. Tugasku menjaga supaya kamu tidak berlaku tak senonoh. Sementara itu. Aku ingin kamu mengawasi baik-baik kedua orang itu." katanya. "Otsu! Otsu!" Karena berharap orang itu Takuan. tak bisa diketahui apa yang mungkin dilakukan Takuan." jelasnya. sampai kita yakin bahwa Takezo mati.. Jadi. tak bisa aku terlalu banyak memaksanya. tapi ia terlalu murka waktu itu. nama yang menurut pengakuan si penulis sendiri termasuk salah satu prajurit paling ternama di daerah itu. Sesudah itu. ke jalanan. Inc." Kapten memasukkan surat itu ke tangan Otsu.Takuan memanggil.." "Jangan sampai lupa!" salak Osugi seraya mendesis keluar dari ruangan itu. kau belum makan?" Otsu mengenakan sandal dan keluar. sampai Matahachi kembali. "Rasanya saya tak ingin makan. Otsu tak lagi memandang bentuk bayangannya dan langsung bergegas membuka jendela. kan?" Otsu mengeluh pelan. Pekerjaanku banyak sekali. Kapten mengulurkan tangan. Si penulis akan memperistrinya. kan? Kamu datang dengan barangbarangmu ke rumah keluarga Hon'iden nanti.

clan sesudah membacanya Takuan pun tertawa dengan riangnya." "Kau mungkin benar. Baru saja kedua orang itu menoleh ke arah pohon kriptomeria. Cuma akan bikin sulit. Aku betul-betul bodoh membiarkan kau menangkapku. Kemudian. Takezo. Ini sudah menjadi persembahan bagi sang Budha. Saya bisa ditagih kemudian hari. Sebelum memasukkan mata uang itu ke dalamnya. termasuk menghilangkan kebosanan orang." "Diam kamu!" teriak Takezo. Kuharap itu bukan sekadar daya palsu. Aku tak mengira akan dihina seperti ini. hingga seorang gadis dia minta menggantikannya memotong kepala." "Jangan menggeliat terlalu banyak. kalau memang masih ada sisa darahmu. hai. Kubiarkan kau menangkapku karena kupikir kau lain dart yang lain." "Dengar. Aku pintar membuang uang." "Langsung saja pada soalnya. "Kenapa tidak kaupenggal saja kepalaku. "Angin. "Kenapa kau melakukan lm?" bungkah jerami itu menjerit." kata Otsu. Takuan!" "Aku dengarkan. Inc. melainkan sangat marah. habis perkara! Kupikir. di mana terdapat kotak derma." "Musim semi sudah hampir lewat. ia berkata. Biarawan itu tertawa. sebagai tanda hormat kepada sang Budha." Otsu menyerahkan surat itu.." "Tapi kalau hujan itu lebat. cocok betul buatku. "Bapak ini mau campur tangan saja!" "Ingin tahu. kalau aku memang harus mati lebih baik kaupilih cara menghukumku daripada Ebook by Kang Zusi . dan kau tahu itu!" "Kalau begitu. hingga dia menuliskannya. Sudah berabad-abad lamanya tidak hujan. jadi lebih baik kau meninggalkan jalan pikiran itu.." "Itu bukan persamaan yang sangat menyanjung. yang tidak segar-bugar." "Kau mengecohku dengan khotbahmu yang muluk-muluk." Tanpa protes lagi Otsu memasukkan mata uang itu ke dalam obi-nya. Takezo. Takezo?" Ketika Takuan menjeling untuk melihat ke atas pohon.. Aku berani mengatakan. "Kulihat kau masih segar bugar. "Biarawan babi kamu! Penipu kotor! Coba berdiri di bawah sini! Ada yang mau kukatakan padamu!" Angin menerpa deras cabang-cabang pohon itu. tapi kau berkhianat. "Kalau aku takut mati. "Itulah yang merisaukan saya.property of: CROSSFiRE." kata Takuan tak sabar. cuma bikin kau berdarah." "Cuma buat mengisi waktu?" "Itu alasan yang sama baiknya dengan alasan yang lain. Kita membutuhkannya untuk membersihkan semua bunga mati. aku bisa dengan mudah melumatkanmu seperti ketimun dengan sebelah kakiku." "Emas ini bukan lagi milik Aoki Tanzaemon. Tapi kemudian ia berubah pikiran. bajingan! Kau menyuruhku percaya padamu." Takuan termenung." "Saya tak mau." "Surat itu tidak merisaukan saya. dan sang Budha menyerahkannya kepadamu. Bukan mau campur tangan!" "Apa Bapak mau lihat?" "Kalau kau tidak keberatan. Dan terus terang. akan kukatakan dengan cara lain: aku pandai dan kamu bodoh." kata Takuan sambil menimbang-nimbang barang itu dengan tangannya. ini tak akan mengganggu. apa yang akan terjadi dengan Takezo?" "Hmmm. terdengar panggilan dari cabang-cabangnya di atas. Dan demikian bodohnya." Takuan pun pergi ke depan kuil. Saya tidak keberatan sama sekali. Tapi biar bagaimanapun kau tidak melakukannya. kenapa pula aku mesti diam saja ketika kau mengikatku?" "Kau melakukan itu karena aku kuat dan kamu lemah!" "Itu bohong. Suara Takezo terdengar patah-patah dan putus-putus. Lupakan yang sudah terjadi." "Ini." "Kalau aku mau melawanmu di gunung itu. Lebih baik saya berpura-pura tak pernah melihatnya. • "Takuan! Takuan!" "Apa? Kamu yang memanggilku. lebih baik ini kausimpan. sambil menengadah ke langit. Bagus. itu sangat tak pantas. Simpanlah untuk keberuntunganmu. "tapi apa yang akan saya lakukan dengan uang ini?" Ia menyerahkan kepingan emas itu kepada Takuan. Surat ini sungguh surat yang lucu! Sesungguhnya dunia kita ini beruntung karena diberkati dengan samurai yang demikian terkemuka dan jujur! Dia demikian berani. Otsu. "Kalau dipikir sekali lagi. netcafe. Takezo pun menghujankan kutukan-kutukannya. ia sentuhkan uang itu ke dahinya. Daun-daun berguguran di sekitar pohon dan mengenai wajah Takuan yang menengadah. karena kau tahu akan segera mati. "Barang ini cukup besar nilainya. Nak. monyet pohon! Itu tak baik buatmu. "Kasihan! Dia begitu putus asa. Otsu tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum. sampai-sampai mencoba menyuapmu dengan cinta dan uang sekaligus. dan ingin menyelidiki. ya? Akan hujan malam ini barangkali. Sungguh menjijikkan." "Jangan khawatir. Sudah terlambat untuk menyesal. jadi sudah waktunya turun hujan lebat.

" "Lho." "Saya tak mau!" "Jangan kamu keras kepala lagi." "Itukah kesalahanmu satu-satunya. Perhatikan dunia manusia. saya tak mau. habis perkara! Takezo sudah pasrah untuk mati. sekarang! Pergi." "Tidak. "Pak Takuan. itulah satu-satunya sebab kenapa aku menerobos rintangan dan datang kemari." "Itu tidak berperikemanusiaan. kalau kau sampai di dunia sana clan bersatu dengan nenek moyangmu. sungguh saya benci pada Bapak. la menempelkan muka dan dadanya ke batang pohon dan mulai meratap. Biarlah dia mati dengan damai!" Begitu berangnya Otsu. bagaimana pemandangan dari atas. memang aku mengerti. tinggalkan aku sendiri. mengalir turun dari penjaranya yang genting di cabang-cabang pohon di atas itu. Otsu. Kau rupanya salah mengerti. Orang kampung percaya bahwa kalaupun biarawan itu mengikat Takezo sementara waktu. Sungguh ia mirip anak seorang samurai! Sungguh ia berani! Ketika Takuan pertama kali mengikatnya. terbuai olehnya. Paling tidak. pandir! Susahnya. Saya dengar semuanya. Saya sudah ikut Bapak ke pegunungan dan tinggal di sana tiga hari tiga malam. Begitu sadar. ada orang bernama Takuan Soho yang mengatakan hal ini padamu." Otsu yang selama itu berdiri terpaku tidak jauh dari situ datang berlarilari dan menyerang Takuan dengan suara nyaring. akhirnya ia akan melunakkan dan meringankan hukuman itu. Sekarang Takuan mengaku bahwa kelemahannya adalah menikmati Takezo menderita! Otsu menggigil melihat kebuasan manusia ini. walau kau mempelajari hakikat hidup ini sudah terlambat sekali. atau akan kugantung juga kamu bersama dia di sana. Perbuatan berani semata-mata seakan-akan dapat membuatmu menjadi samurai. bukan?" "Tak ada hubungannya itu. Sebelum kau berubah jadi daging kering." seru Takuan sambil menyikut Otsu dengan keras. orang sesat yang malang. Takezo?" "Babi kamu! Tak akan kulupakan perbuatanmu ini!" "Kau akan segera lupa segalanya. seluruh dunia ini tentunya jahat luar biasa. Bagaimana Bapak bisa begitu kejam pada orang yang mempertahankan diri pun tak bisa? Bapak kan orang saleh. temanku yang terbaik.property of: CROSSFiRE. apa pula ini? Apa teman seperjuanganku sudah berbalik melawanku?" "Kasihan. Takezo. Dalam batang itu la merasakan darah Takezo beredar. Tidak betul kalau Bapak menertawakan kesengsaraannya selagi dia terbaring setengah mati di sana. Pak! Kalau mendengar Bapak bicara seperti itu.. cobalah pandang dunia luas di sekitarmu. atau mestinya begitu! Takezo benar. Padahal tidak begitu! Kau merasa yakin bahwa tindak kesetiaanmu itu benar. kenapa tidak kaucoba memikirkan masa lalu sedikit?" "0. tidak seperti biasanya. Otsu sudah tertelungkup di pohon. Kewajibankulah untuk datang menyampaikan kepada perempuan setan tua itu apa yang terjadi dengan Matahachi. netcafe. Tak pernah ia membayangkan bahwa Takuan bisa demikian kejam. katakan pada mereka bahwa tepat sebelum kau mati. Otsu melihat kelemahan Takezo. semakin kau merugikan dirimu clan semua orang lain. demikian besar hingga sepuluh orang tidak dapat mencakupnya dengan rentangan tangan. "Diam kamu!" kata Takuan dengan sikap brutal. Apakah yang membuat orang banyak itu membencinya seperti iblis dan memburunya seperti binatang? Ebook by Kang Zusi . Sampai saat ini Otsu terbawa arus pendapat orang banyak. tak mau!" pekik Otsu. tapi Matahachi temanku.. Kalau Bapak bermaksud membunuh dia. dan sekali lagi belum lama mi. munafik! Aku tidak malu! Ibu Matahachi boleh menyebutku apa saja semaunya. Takezo dapat menangis. Takuan Soho yang akan menghukum Takezo dengan hukuman yang menurut dia cocok. diam kamu. Jadi. Takezo? Apa segala yang pernah kau lakukan itu bukan kesalahan? Selagi kau di atas. bunuh saja. Walau kau seorang biarawan. berpikir pun kamu tak bisa. "Tapi omong-omong. Batangnya kuno dan besar. la merasakan kehangatan aneh pada pohon ini." "0." "Kalau begitu. hai. Dan kalau tak ada seorang pun yang dapat la percayai. Mereka akan girang sekali mengetahui bahwa kau sudah memperoleh bimbingan yang begitu baik. di mana kau berada? Tertangkap dalam perangkap yang kaupasang sendiri!" Takuan berhenti sebentar. hukumlah dia! Bunuh dia! Sekarang. Dan sekarang." "Kebetulan itulah satu-satunya kelemahanku. "Perempuan tak tahu apa-apa soal ini. Kemudian. tapi apa yang dia lakukan? Dia mencoba menghasut orang banyak untuk menyiksaku! Membawa berita untuknya tentang anak yang disayanginya. katamu kau mengerti juga Jalan Samurai. membiarkan orang banyak yang haus darah itu melakukannya. tanpa memiliki gambaran nyata tentang manusianya sendiri. Apa itu pelanggaran atas tata krama prajurit?" "Bukan itu soalnya. Inc. mereka manusia. hingga disambarnya dada Takuan dengan kalut. kalau Takuan yang ia percayai dengan sepenuh hati saja dapat menjadi orang yang tak berhati. hingga yang kaudapat untuk keluargamu hanyalah aib. Jauh lebih mengerti daripada kamu!" "Rasanya lebih baik kalau orang-orang kampung itu yang menangkapku. Semakin kau yakin. Tahan mulutmu. "Tapi saya mesti dikasih kesempatan bicara juga. ini sudah keterlaluan! Saya dengar. waktu dia mengatakan percaya pada Bapak dan membiarkan Bapak menangkapnya tanpa perlawanan. menertawakan orang-orang tolol macam dia. clan ubahlah cara berpikirmu yang cuma mementingkan diri sendiri." "Pergi dari sini.

Otsu! Kau ini bayi cengeng! Kau menangis. Pak! 0. apa tak ada orang di dunia ini yang dapat menyelamatkan dia?" Ia berlari sekencang-kencangnya. Dan aku nasihati kamu tidur juga." mohon Otsu mendekati pintu. Dengan tangan masih diacungkan ke depan la tampak seperti seorang penganut Budha yang sedang menjalani latihan ketahanan dengan berdiri di bawah air terjun dingin. Angin bersiul keras lewat cabang-cabang atas yang berayun-ayun lebar ke sana kemari. membuat dingin tulang punggungnya. tapi Otsu menariknya kembali. selamatkan dia!" Takuan diam. tapi Bapak mesti menolongnya! Ayolah. Jangan buang-buang air matamu untuk orang yang biar bagaimanapun akan mati! Ayo!" Sambil menutupkan ujung kimononya ke kepala. atau sekadar orang kampung yang memusuhinya. "Semua ini salahmu. Tapi ia belum menyerah." Suaranya seperti es. "Kita basah kuyup nanti. la berjalan berputar-putar mengelilingi pangkal potion dan berkali-kali memandang ke Takezo. "pasti dia mati sebelum pagi. "Kalau dia terus kehujanan. "Cepat masuk!" serunya sambil langsung mencengkeram lengan Otsu. la membuka mata dan menyemburkan api. Ketika pikirannya tertuju kepada Takezo. Akhirnya dalam ledakan kemarahan ia pun melompat keluar clan tempat tidur." Otsu tidak menjawab. sekalipun kimononya yang basah kuyup sudah menempel ke kulitnya dan ia kedinginan sampai ke tulang sumsum." la pun berlutut di lumpur dan mengangkat kedua tangannya memohon. Titik-titik hujan menimbulkan titik-titik putih saat menghunjam tanah. langit menangis juga. "Aku mau tidur. namun hujan menyiram Takuan juga. sebagian terdorong angin yang menggila.property of: CROSSFiRE. Saya mohon." Kemudian nada ejekan itu hilang dari suaranya. Akan saya lakukan apa saja untuk Bapak. Otsu. karena itu ayo masuk. "Tolong! Pencuri! Pencuri di bawah lantai! Tangkap!" Otsu merangkak ke luar menuju badai lagi dan mundur kalah. "Saya motion. Batu Karang dan Pohon Ebook by Kang Zusi . Air yang melimpah dari talang menimbulkan selokan-selokan yang dalam di tanah ketika menderas menuruni bukit. jangan-jangan ia dianggap salah seorang anggota keluarga Hon'iden. Pak. turunkan dia dari pohon itu!" "Apa? Tak akan aku melakukannya!" kata Takuan bersikeras. la menarik keluh panjang. la tak sanggup pergi. "Tidak. turunkanlah dia. tapi saya minta. Pintu pun mengatup keras. "Saya-Otsu!" "Kenapa masih di luar saja?" Takuan cepat membuka pintu dan memandang Otsu keheranan. "Tidur sana! Sekarang juga! Badanmu lemah! Dan berada di luar pada cuaca seperti ini sama saja dengan bunuh diri. Ini soal paling penting di dunia buat saya! Pak. tapi tindakan Otsu itu membuatnya tak bisa tidur. apa Bapak dengar suara saya? Jawab. Masih bergayut erat pada batang pohon. Saya datang untuk minta tolong. Diam-diam ia berdoa agar hidup Takezo terselamatkan. tapi tidak ada jawaban. tapi tak dapat melihatnya karena badai. Timbul kecurigaan dalam benaknya. Tidak terpikir olehnya kenapa ia mesti menderita semata-mata karena Takezo menderita. Bangunan dapur dan petak pendeta di belakang kuil utama tertutup rapat. Bapak. Matanya terpejam erat. la sudah sampai di pintu kamar Takuan dan mulai menggedor-gedornya sekuat tenaga. "Saya mohon." seru Takuan sambil memayungi kepalanya dengan tangan. la merangkak di bawah rumah sampai mencapai tempat yang menurut perkiraannya tempat tidur Takuan. Takuan berlari ke tempat berteduh di kuil." "Tolong. "Saya sembah Bapak. "Angin makin keras. Inc. Pak! Bapak tak bisa membiarkannya mati-tak bisa!" Bunyi air yang menderas hampir menenggelamkan suaranya yang bercampur tangis. clan kelihatannya akan datang badai besar. bukan untuk mengeringkan badan. netcafe. Pak. Titik-titik air besar jatuh di leher kimononya dan mengalir menuruni punggung. la menggosokkan pipinya yang basah oleh air mata ke kulit pohon. "Tentang saya sendiri tak usah dipikirkan. seperti pintu-pintu bangunan suci tempat penyimpanan Budha yang rahasia. Otsu tidak juga beranjak. Dalam beberapa saat saja hujan deras turun. hujan jadi tak berarti lagi. "Pak Takuan!" pekiknya." demikian pikirnya putus asa. la panggili Takuan lagi. Saya akan berterima kasih pada Bapak untuk selama-lamanya. Pak Takuan. "Siapa?" terdengar suara Takuan dari dalam. "Ayolah. Bangunan itu memiliki tepi atap yang panjang. Punggung dan bahu Otsu naik-turun karena sedu sedannya. dan serunya. Serta-merta ia memanggil namanya. Saya mohon. tolong. Tapi Otsu tetap tidak menyerah. Oh. sungguh Bapak binatang! Jahanam tak berhati dan berdarah dingin!" Untuk sesaat lamanya biarawan itu mendengarkan saja dengan sabar tanpa menjawab. Otaknya dipenuhi gambaran yang baru terbentuk tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki. Sekalipun air sudah mengaliri punggungnya.

"Menunduk dia seperti gombal basah." "Sukar dibayangkan." "Menantu Ibu? Saya tak pernah bertemu dengannya. Bagaimana mungkin dia mengawini seseorang. Bertentangan sekali dengan malam sebelumnya. kalau orang itu tidak ada?" Osugi jadi lebih naik darah lagi. Takuan orang yang selalu waspada. "Takezo! Takezo!" "Apa maumu. Kamar Otsu tidak jauh dari kamarnya. kan?" "Belum. pandangilah aku." kata Takuan sendiri." panggilnya. "Oh. "Saya tak melihat menantu saya di manamana." Osugi tersenyum licik. Pagi harinya ia demam hebat. Tolonglah Anda panggilkan. la mengangkat tangan untuk melindungi matanya clan sesaat ia pun lega sedikit. Paling tidak. barangkali dia akan terbang ke bawah dan berusaha menggigitku." katanya dengan harapan baru. "Saya pikir itu artinya dia masih bernapas. bertopang tongkat kayu arbei." "Terima kasih. kataku!" ulang Osugi tak sabaran. tapi aku punya rencana memasukkannya segera. biarawan bajingan?" terdengar jawaban garang. angin clan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak. "Bisa bikin mati. Takuan. tidak! Tidak secepat itu! Orang mesti hati-hati menghadapi hal-hal seperti itu. tidak terlalu sukar satu-dua malam menahan hujan yang terderas pun. di mana Otsu!" "Rasanya masih di tempat tidur. Osugi mendaki bukit menuju kuil." "Maksud Anda. Mungkin dia tak punya tenaga lagi buat menjawab. sebagai istri Matahachi. ia berjalan tertatih-tatih ke kampung. Tubuh manusia mampu menahan banyak lecutan. Hanya sedikit orang kampung yang berjalan tanpa mengenakan caping pelindung. bulan bersinar terang. kalau aku mau!" Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya mulailah ia menggoyangkan Ebook by Kang Zusi . tak mungkin." Suara Takuan melemah. seakan-akan kesurupan. dan ia memandang ke langit. di bangunan yang sama. dia masih hidup?" kata Osugi tak percaya. seperti lubang yang dibuat dengan rapi di langit. dan titik-titik embun yang berkelipan jatuh. Pintunya tertutup juga sepanjang hari. Beberapa kali pembantu membawakan obat atau mangkuk tanah berisi bubur betas kental. "Aku memang menyuruhnya mengawasi Takezo malam hari. bagaimana mungkin saya memanggilnya?" "Panggil dia. netcafe. dan keluar ke halaman. Tanpa menanti jawaban. orang terpaksa menyeretnya masuk dan memaksanya minum sedikit teh. mestinya tadi aku menyangka begitu." "O ya. bagaimana perutmu? Cukup kosong. Matahari panas melecut bumi dengan garangnya. "Takuan. la menendang-nendang dan menjerit-jerit. Mataharilah yang bisa membunuh. Malam tiba. Di sana ia menatap ke atas lama-lama. habis perkara. Takuan meletakkan buku yang sedang dibacanya. Tapi omong-omong. untuk ukuran orang yang sudah mau mati. "Siapa pula yang Ibu bicarakan ini?" "Lho. hampir tidak dapat mengangkat kepala untuk makan buburnya. Ketika orang menemukan Otsu dalam keadaan setengah mati di tengah hujan malam sebelumnya. saya tak kenal namanya. dan seketika ia menolehkan mukanya yang keriput itu ke pohon kriptomeria tua. Apa kamu tidak harus mengawasinya kalau siang?" tanyanya mengandung tuduhan. "Dengar." "Saya belum lihat burung gagak mematuk mukanya. Matanya yang seperti jarum menciut dalam cahaya matahari yang menyilaukan. "Keras juga suaramu. "apa Takezo tetap hidup kena badai itu?" Biarawan itu muncul di beranda. biarawan anjing kampung kotor! Akan kutunjukkan apa yang aku bisa. "Kasihan.property of: CROSSFiRE. kecuali apabila dibuka oleh pembantu pendeta. Ketika semua orang sedang tidur nyenyak. Pendeta melancarkan cacian keras kepadanya. mengenakan bakiak. Orang terpelajar seperti Anda pasti lebih tahu daripada saya tentang hal-hal seperti itu. ya?" "Ya." la pun menjulurkan lehernya dan mengintip ke dalam ruangan. ia sudah balik kanan dan berjalan menuju bawah pohon. ya?" "Lupakan omongan tetek-bengek ini. setengah kepada dirinya. Jadi." "O. jadi mestinya dia capek juga slang hari. Titiktitik keringat muncul di atas rambutnya dan menyatu menjadi alur-alur keringat yang mengalir langsung menuruni hidungnya yang lurus. Inc." kata Takuan tersenyum. potong kepalaku." gerutu perempuan tua itu. tentu saja Otsu!" "Otsu? Kenapa Ibu sebut dia menantu Ibu? Dia belum masuk keluarga Hon'iden." "Baiklah." "Tapi saya yakin Ibu tahu. tapi ia duduk bisu bersandar di dinding. gelandangan! Ini tak ada hubungannya denganmu! Katakan saja. Mengerikan sekali hujan kemarin. kau butuh lima atau enam hari lagi. Ibu. Kalau kupotong kepalamu sekarang juga. la tidak memperhatikannya. "Tentunya sudah tak mungkin dia hidup lagi. Jauh di atas kepalanya satu cabang bergoyang. Yakin kau betul-betul bukan seekor ikan atau sejenis monster laut? Kalau begini caranya. tapi kali itu la tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. PAGI harinya. Takuan kembali ke kamar dan tinggal di situ sampai malam. "Indah sekali bulan itu! Kau beruntung dapat melihatnya dari tempat yang begitu menguntungkan. Ketika akhirnya selesai. dan tiba di pintu Takuan dalam keadaan haus dan kehabisan napas. "Takezo!" panggilnya. karena sudah tak sabar ingin mengetahui nasib korbannya.

"Itu sama saja dengan yang kaunamakan keberanianmu itu. Tapi coba lihat. terbuat dari apakah kau ini! Orang zaman sekarang menyangka bahwa mampu menahan marah adalah tanda kebijaksanaan dan kepribadian. Kau bukannya kena hajar. Tubuhmu terlalu kuat. tunjukkan bahwa kau manusia sejati. tidak kulihat tanah bergetar. kalau aku mencoba menangkapmu dengan kekuatan. atau agak berpura-pura bodoh. dan ketika selesai. Mereka memiliki lebih banyak semangat daripada orang-orang tua. kau lebih mirip binatang. Ini pertarungan tak adil. Teruskan! Rasakan kekuatanmu sepenuhpenuhnya. netcafe. tapi kau kurang pengetahuan dan kebijaksanaan. Hanya ada satu jalan. jenis keberanian yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. tidak lebih baik daripada babi hutan atau serigala. Kau cuma melelahkan dirimu. Namun Takuan tetap tenang. Kalau kau mencoba. akan kupotong kepalamu seperti kauminta. Kegelapan itu pun diam. tak bakalan kau bisa mematahkan satu pun cabang pohon ini. Kalau kalah. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan. aku akan mengunyahnya supaya aku dapat menangkapmu dan mempreteli anggota tubuhmu!" "Itu janji atau ancaman? Kalau menurutmu kau memang dapat melakukannya. Apa kau tak bisa lihat perbedaan antara kau dan aku?" "Ya. "Dengar. Kemarahannya sudah lewat. dan mereka harus menunjukkannya. Tapi kau curang." Tak ada petunjuk bahwa Takezo masih mendengarkan. suara Takezo mendering keras clan terasa mendesak. tanpa pernah menjadi manusia sebenarnya! Sungguh sia-sia!" "Kausebut dirimu sendiri manusia?" Takezo meludah. kalau kukatakan kau ini payah. Takezo. tunggu! Kalau aku memang mesti mengunyah tali ini dengan gigi telanjang. aku akan tinggal di bawah sini. "Kau memang betul-betul kuat. Takezo." Suara Takuan kini ganti jadi sedikit bernada petuah. sekarang aku duduk di batu karang ini. Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah daripada manusia." "Sebentar lagi." Tetap tak ada jawaban. dan apa gunanya untukmu? Biar kau menggeliatgeliat seperti apa pun. Dan mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyerahkannya. "Itulah yang dinamakan semangat. dan mengira kau tak ada tandingannya di dunia ini. Aku benci melihat orang muda yang menahan diri. di mana kau sekarang!" "Tak ada yang perlu kumalukan. makin baik!" "Tunggu. Mati dengan penuh kemuliaan. Takezo! Seluruh pohon bergoyang. Sesudah itu. Keberanian sejati mengenal rasa takut. sedangkan kau terbaring di atas situ tanpa daya. Dia tahu bagaimana takut pada apa yang harus ditakuti. Ia sadar bahwa biarawan itu benar. Takezo! Memang baik marah seperti kau sekarang ini. Apa kau yakin bisa mengerjakannya tanpa membunuh dirimu sendiri. Sungguh menyedihkan bahwa seorang pemuda tampan seperti kau mesti menemui ajal di sini. "Kenapa kau tidak menyerah saja." la meninggalkan tempat itu dengan langkahlangkah panjang penuh pikiran. tapi kena diakali dan dibikin bungkam. karena dia lebih pandai. Takuan. padahal kalau dicampurkan dengan balk keduanya itu bukan dua-keduanya itu satu. Belum lagi dua puluh langkah. Takezo. Takuan memandang terus sejenak. Ebook by Kang Zusi . Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. bukan lelaki. Biarawan itu dengan tenang mengusap bahunya. Itu bukan jenis keberanian yang menciptakan seorang samurai. Suka atau tidak. hingga hampir patah cabang yang menjadi gantungannya. Kau penipu dan pengecut!" "0. mengempaskan bobot tubuhnya ke atas ke bawah. menanti. sediam batu karang yang diduduki Takuan. Kemarahanmu itu tidak lebih dari kedengkian pribadi. Kau berhasil menguasai beberapa ciri kurang baik dari Jalan Samurai. badannya sehebat-hebatnya. kau tidak bakal berhasil. ia pun menengadah lagi. biarpun sudah sedikit telat untuk mulai sekarang. "Pikirkan satu malam lagi. Inc." ancam Takezo. Kemarahan karena tetek-bengek emosional yang tak ada artinya adalah untuk perempuan. Tapi maaf saja. apalagi membuat penyok alam semesta ini. sungguh gila aku. Beberapa waktu kemudian. yang sopan santun. kau akan punya kesempatan menggerakkan dewa-dewa atau bahkan alam semesta. tunjukkan pada kami. tapi menurut pendapatku mereka itu bodoh." Takezo memperdengarkan erangan keras. kalah sajalah. Kau dilahirkan dengan kekuatan fisik dan keuletan. kepala menunduk. sayang sekali! Biarpun kau dilahirkan sebagai manusia. Tapi untunglah jarang manusia mesti bergulat dengan macan. Takuan bangkit pelan-pelan dan berhati-hati. Jangan menahan-nahan diri." "Pada akhirnya tak ada bedanya. Kulit kayu dan dedaunan menghujani orang yang di bawah. "Aku akan langsung ke lehermu!" Takezo berjuang terus. Orang bicara tentang bagaimana mencampurkan Jalan Pengetahuan dengan Jalan Samurai. kemudian memberikan nasihat persahabatan. Kemarahan lelaki sejati adalah ungkapan kemarahan moral. "Itulah yang kumaksud. kenyataannya kamu itu lemah. Tingkah lakumu sampai sekarang ini tidak lebih dari keberanian binatang. Takezo. Kau mesti mencoba berbuat sesuatu untuk orang lain. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan. belum lagi orangorang biasa yang sederhana. sebelum tali itu putus?" "Diam!" pekik Takezo parau. orang barbar! Kau percaya betul dengan kekuatan kasarmu sendiri. tapi tali besar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. Takezo. "Sayang. Susahnya. tapi kau tidak berusaha mencapai pengetahuan atau kebajikan. Takezo! Makin gila kamu." Pohon itu diam. "Kurasa kekuatan itu lebih baik digunakan bekerja untuk kebaikan negeri.property of: CROSSFiRE.

dan melakukan semuanya baik-baik. "Ini aku!" katanya dengan keluguan kanakkanak. Apa kau mau mendengar lebih banyak lagi? Apa kau akhirnya mulai berpikir?" "Takuan! Selamatkan aku!" Teriakan minta tolong Takezo itu keras dan sedih. Kau tak bisa mengulangnya. Takezo merangkulnya clan membantunya berdiri.. lalu lepas terpelanting." "Kau sendiri bagaimana? Tidak apa-apa?" "Ya. Kepalanya pusing karena jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Otsu mencoba mendukung seluruh bobot Takezo. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan nasihat padamu. dalam sebuah kantong kain kecil." Otsu berjalan terpincang-pincang.. Begitulah adanya. Aku. berputar di udara clan jatuh ke tanah. karena bukan aku yang mengikatkannya.. dan di bawah sejuta bintang kecil ia terbaring diam.." Tubuhnya mengejang-ngejang karena sedu sedan. Sejenak kemudian ia merasa ada orang di pangkal pohon. Dan pada saat aku sadar.. tolong!" Biarawan itu menggelengkan kepala.. dan badannya lemah dan kaku. Otsu merangkak. Aku. dan ia yakin bahwa tangan-tangan itu jauh lebih terkelupas daripada pohonnya.. la pun dapat mendengar potongan-potongan kulit pohon berguguran ke tanah. Untuk pertama kali dalam hidupmu kau bicara sebagai manusia. dingin sekali. Kedua tubuh itu saling bergayutan.property of: CROSSFiRE. ia menutup mata yang baru saja mengalami kesadaran luar biasa dan melupakan segalanya.. ketika Takezo tergelincir.. Dengan susah payah Takezo membuka mata dan ternyata ia berhadapan dengan kerangka. Segala yang terjadi adalah untuk selamanya. Terasa ia tidak begitu cakap. Takuan telah pergi. pelan-pelan." "Akhirnya kau sadar. sampai akhirnya dahan yang pertama dapat dicapai. "O-o-h-h. Angin malam berdesir melintas pohon. mencoba berkali-kali lagi menempel pada pohon. dan Takezo tidak berteriak lagi. Takezo. Itu hukum alam. Aku akan menolongmu. dan dalam sekejap mata ia sudah meretas ikatan tahanan itu. kemudian ucapnya. oh." "Kita jatuh menimpa cabang-cabang itu.. "Maaf. Suara terengah-engah membisikkan namanya. Takezo dapat mendengarkan bagaimana si pemanjat itu tergelincir hampir di tiap usahanya untuk naik. Takezo! Kita dapat saling menolong!" Otsu sudah mengenakan pakaian perjalanan. Tetapi si pemanjat meneruskan usahanya dengan tabah. Inc. jadi barangkali lukamu tidak seberapa. Kalau ada yang menemukan kita di sini. dan serunya. diam-diam. tapi aku mengerti apa artinya hidup. "Takuan. Cabang pohon itu mulai bergetar. la merasa dingin. dan semua miliknya sudah bergantung pada bahunya. tapi rasanya aku masih bisa jalan. Aku mau pergi. "Cepat putuskan tali! Apa lagi yang kautunggu? Potong!" "Takkan makan waktu lama." "Mari kita lekas pergi dari sini. Takezo. Segalanya! Kau tak bisa mengembalikan kepalamu di tempatnya sesudah musuh memenggalnya. Beberapa menit berlalu sebelum rasa berdenyut pada kaki-tangan Takezo mereda dan ia dapat melenturkan ototototnya. Takezo berdiri. aku tak ingin lagi memikirkan itu. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini. hidupku hanya tinggal terikat pada pohon ini! Tak dapat aku menghapuskan apa-apa yang telah kulakukan. Wajah itu bicara. seakan-akan seluruh pohon itu menangis." "Mm. Tubuh Takezo hampir tak bisa dibedakan dari dahan tempatnya terikat. "Apa maumu sekarang?" "Kembalilah." "Aku tak mau mati. Dan demi nenek moyangmu. aku." erangnya.. ayo kita lari! Aku dengar kau memekik ingin sekali hidup. Aku sadar sekarang. menggeliat kesakitan. namun ia menjejakkan kaki di tanah mantap-mantap. matilah dengan layak. Itu di luar kekuasaanku. Aku punya alasan sendiri. Hanya matanya yang hidup dan tampak bersemangat. seperti dua ekor Ebook by Kang Zusi . tidak apa-apa. Takezo. Ucapkan doa dan berharaplah ada orang yang mau mendengarkan. tapi aku tak dapat melepaskan tali itu. celaka nanti. aku. dengan wajah damai!" Gemeratak sandal Takuan menghilang di kejauhan. betapa penting dan istimewanya lahir sebagai manusia.. "Aku mau hidup. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. aku mohon! Tolonglah aku." la berhenti sedetik-dua. Kau sendirilah yang mengikatkannya. Takuan!" teriak Takezo. Aku hampir mati. tapi akibatnya." Otsu menghunus belati kecilnya. Kemudian sosok itu naik dengan agak mudah ke tempat Takezo terbaring dalam keadaan kehabisan tenaga. Itulah hidup. "Tunggu!" Takuan menoleh. entah siapa.. "Otsu?" "Ya. "Aku hidup! Aku betulbetul hidup!" "Tentu saja kau hidup!" "Itu bukan 'tentu saja'." "Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?" "Ya. mencoba lagi. Tentu saja aku kasihan padamu. Hadapilah maut dengan berani dan tenang. "Ada yang patah?" "Entah.. la lupakan kehidupan dan kematian. Mengikuti nasihat biarawan itu.. Kalau aku tinggal di sini. "Aku mau jadi orang yang lebih baik. dan Takezo mengikutinya.. netcafe. Orang itu. Otsu pun terperosok bersama. mendekap batang pohon yang lebar itu dan berusaha setengah mati naik ke dahan terendah.

" Mendengar kata makanan. Begitu ia sadar. Aku harus pergi ke Hinagura. Nek. "Kalau memang itu yang kaurasakan. kan?" "Tentu." "Aku menunggu di Jembatan Hanada." Otsu memandang wajah Takezo dengan tajam." Otsu tersenyum lemah. Ketika Takezo bisa memandang wajah Otsu dengan lebih jelas.. Kukira aku terpaksa mengucapkan selamat tinggal. Kita hampir sampai perbatasan provinsi. biar sampai seratus atau seribu hari. aku akan ikut. "Mengagumkan memang apa yang dapat dilakukan orang. kalau ada waktu. Di antara mereka terdapat menantu lelaki Osugi." "Kau yakin betul?" "Ya. Otsu mengangkat kepala untuk memperhatikannya. Sementara itu di kampung. cucu Osugi berlari-lari naik ke rumah besar Hon'iden. terasa olehnya seperti mimpi bahwa ia kini duduk di sini. apa Nenek sudah dengar? Ada kejadian hebat!" Osugi yang sedang berdiri di depan tungku dan menghidupkan api dengan kipas." pikirnya berulang-ulang. Tapi. yang berubah warna dari merah ke biru dan lembayung. Jemput ayahmu." "Baiklah. Mereka ramai berbicara sendiri." Otsu kelihatan khawatir. la bergegas menyusuri pegunungan yang membujur dari celah itu ke pegunungan di kejauhan. sejumlah orang kampung sudah datang. Segera wajah itu seolah-olah kehilangan darah. Paman Gon." mohonnya. di pinggiran Himeji. Dia hilang juga. Terasa berjam-jam lamanya. "akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian. Takezo tiba-tiba menyadari bahwa perutnya yang kisut kejang kesakitan." "Apa lagi yang dapat kulakukan? Membiarkan dia dl benteng sana?" Dengan pandangan menghunjam. "Heita!" "Ya?" "Lari secepat-cepatnya. sanak keluarga yang lain. tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!" "Tapi aku tak bisa!" "Ingatlah"-Otsu mencengkeram tangan Takezo erat-erat-"suka atau tidak. kepala Takezo pun menjadi pusing. kita harus sangat hati-hati. aku lupa. Mereka berjalan sedapat-dapatnya. la melongok ke dapur dan katanya ribut. "Lihat! Sudah mulai terang di arah Harima. "Nek! Nenek!" Sambil menghapus hidung dengan punggung tangan. kalau sudah bertekad." "Hinagura? Kenapa?" "Di sana kakak perempuanku dikurung. Aku harus mengeluarkannya dari sana. "Nek. "Aku hidup. bersama Otsu. "Apa sih ribut-ribut ini?" "Nek. la bersumpah sejak saat itu akan hidup secara berbeda sama sekali. Ebook by Kang Zusi . sambil berseru. "Kau tentunya kelaparan." "Di mana kita ini?" "Di puncak Celah Nakayama. Semua orang lari ke sana kernari berteriakteriak. Kediaman yang lama kemudian baru terpecahkan. pergilah! Tapi kalau aku tahu kau akan meninggalkan aku. Awan yang kemerah-merahan pagi itu membuat pipi mereka berwarna merah muda. aku akan pergi ke Himeji dan menanti. penuh bayang-bayang nyala kipasnya yang terbakar itu. Ketika rasa manis kue itu menurun lembut dalam kerongkongannya. Takezo berangkat tanpa banyak berkatakata lagi. Nek. Dan di kuil orang mencari Otsu. Muka Osugi memutih. diam terpukau." "Apa betul sudah begitu jauh?" "Ya." kata Otsu. Talinya putus. lalu pergilah ke pinggir kali dan panggil Paman Gon! Cepat!" Suara Osugi menggeletar. "Perbatasan! Betul. netcafe. ketika Otsu berteriak. terpincang-pincang dalam diam. sehat walafiat.property of: CROSSFiRE. Otsu menggenggam tangan Takezo. Kau tidak makan apa-apa berhari-hari. Kutunggu kau di sana. dan sejumlah petani penyewa.. sampai tubuh Takezo menyatu dengan pemandangan. Jari-jari yang memegang kue itu bergetar. "Kau pasti akan datang. Kalau kau berusaha menyelamatkan Ogin." Dengan jawaban anggukan kecil. keadaan jadi menyiksa. kau ingat apa kata Nenek kalau orang bohong?" "Ini betul. hampir tidak memperhatikan cucunya. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. Nenek belum tahu? Takezo lari!" "Lari!" Dan kipas pun jatuh ke api. Takezo. Hadiah kehidupan Otsu adalah kue bakpao yang dipadati kacang manis. tak akan aku meninggalkan Miyamoto. sumpah! Semua orang bilang begitu. Mata Takezo melebar. "Kalau hari terang. dan rasa laparnya berganti menjadi tenang karena kenyang. Sebelum Heita sampai di gerbang. "Takezo." "Heita. serangga rapuh terluka sedang berjalan di udara dingin musim gugur. Inc. sebelum akhirnya Otsu dapat membuka kantongnya dan mengeluarkaan makanan." kata Takezo langsung setuju." Akibat berita itu sungguh penuh warna. "Apa katamu?" "Pagi ini dia tak ada di pohon. sedemikian rupa hingga Heita mengerut ketakutan.

Mereka sampai di sana tepat sebelum tengah hari. tidak bisa jalan terus?" "Sampai lima orang bisa diizinkan. ya?" "Dan Takuan juga tidak kelihatan lagi!" "Pasti mereka kerja sama. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang kampung. dan sambil membuat tombak bambu dalam perjalanan. Aku tak ingin mendengar ada di antara kalian yang menelantarkan ulat sutra atau membiarkan rumput tumbuh liar di ladang. Ketika aku mengambil pedang pendek ini. Ketika mereka semua sudah diam. Ketika ia mengetahui bahwa berita mengerikan itu benar. Sesudah menyampaikan doa permohonan dengan diam. ia selipkan pedang pendek itu dalam obi-nya. Keheningan penuh pesona yang menyambutnya ketika ia mendekati gerbang jelas menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah tahu untuk apa ia berpakaian demikian. Ebook by Kang Zusi . akan kubawa dia pulang untuk melanjutkan nama keluarga. "Apa Nenek belum dengar?" "Aku akan datang segera ke sana. "Tak usah kalian bingung. Perempuan tua yang keras kepala itu memang bermaksud bertindak. tapi ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. supaya orang kampung sekali lagi mengakui keluarga kita sebagai keluarga yang mulia dan terhormat. tapi itu akan makan waktu. ia mengangkat kepala. netcafe. "Kalau perempuan tua itu pergi. Mereka butuh petunjuk. Mereka belum dapat melakukan sesuatu. menanti Osugi keluar memberikan perintah-perintahnya. "nama nenek moyang kami akan ternoda. Kekecewaan mereka ditambah lagi dengan penjelasan seorang pejabat perbatasan bahwa rombongan sebesar itu tidak bisa lewat. la sudah berjalan cepat di jalan. Orang banyak itu pun menggelegak marahnya. Hukum adalah hukum. Karena itu mereka berdiri saja di sana dengan gelisah. Osugi menatap tajam menantunya. Aku juga mengucapkan dua sumpah. tapi sudah terlambat. Dan kami tak akan pernah bisa menegakkan kepala. salah satu pusaka Hon'iden yang paling berharga. la berkata." Pejabat itu mengatakan dapat memahami keadaan sulit tersebut." Rahangnya mengatup. biarpun misalnya aku terpaksa mengikat lehernya clan menyeretnya pulang. "Kami berdua sependapat mengenai segala sesuatu yang sudah kusumpahkan tadi. "Kalau begitu. "Semuanya akan beres." ucapnya dengan nada pendek-pendek. mereka beriring-iring menuju Celah Nakayama. memandang penuh perhatian kepada mulutnya yang berbibir tipis clan giginya yang besar merongos. "Kalian semua tenang saja. darahnya pun mendidih. dan dia juga sudah bertekad untuk melaksanakan sumpah itu. "Satu. menantuku akan mengambil alih jabatanku sebagai kepala keluarga." Osugi segera bertindak. tapi juga kepada kalian." Semua sanak keluarga dan penyewa pun berdiri dan serentak mengikuti bunda mereka yang gagah berani itu. Sesudah berunding dengan sanak saudara dan petani penyewa. tanpa berhenti untuk istirahat. Otsu "setan". Mereka berbaris di depannya. seorang lelaki mengucapkan sesuatu yang kedengaran seperti erangan. dan akan kulaksanakan. aku akan mengejar dan menghukum perempuan kurang ajar yang sudah mencoreng nama kita dengan lumpur. Dia punya kewajiban tidak hanya kepadaku dan kepada mereka yang sudah pergi. Kemudian kelihatannya ia hendak mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengharukan." terdengar jawabannya. dan Takuan "gila". Sejak sebelum berangkat pun aku sudah membayangkan ini akan terjadi. dan tunggu. Baru sesudah itu dia akan mencari seorang istri yang seratus kali lebih baik dari Otsu dan menghapuskan aib ini selamanya. dan menoleh ke sekitar. dan pergilah ia ke pintu gerbang. Selama aku pergi." lanjutnya. biarpun menghabiskan waktu dua-tiga tahun tanpa melakukan apa-apa. menarik lacinya dan mengeluarkan senjata simpanannya. la melukiskan Takezo sebagai seorang "penjahat". membuka mata. la kenakan pakaian yang cocok untuk memburu orang. Bersenjatakan tongkat." "Apa yang dilakukan perempuan tua itu nanti? Kehormatan keluarganya jadi taruhan!" Menantu Osugi dan Paman Gon yang membawa lembing turun-temurun dari nenek moyang. "Akan kuburu sendiri perempuan jalang yang tak kenal malu itu. Otsu lari juga." jelasnya. Tenang ia membuka tutup peti pedang. apa ada alasan kenapa kami berdua. Osugi maju ke hadapan pejabat itu dan bertanya. Di situ ia ikatkan tall sandal baik-baik pada pergelangan kakinya. Tapi akhirnya ia hanya menyuruh para pengikutnya berkumpul dengan singkat. aku harus memastikan-bahkan sampai mati-apakah anakku Matahachi masih hidup. Bahkan keluarga Hon'iden bisa terpaksa meninggalkan tanahnya. "Mereka sudah berhasil lolos!" seru seseorang. Paman Gon maju ke depan clan memohon dengan sangat kepada pejabat itu." Osugi mengangguk setuju. Selama itu kalian harus berjanji untuk bekerja keras seperti biasanya. "Kalau tidak kami selesaikan soal ini sekarang. biarpun terpaksa menjelajahi negeri ini.property of: CROSSFiRE. barulah akhirnya seorang dari antara orang banyak itu memperdengarkan suaranya. dan mengaturnya supaya dia mendapat hukuman setimpal. aku berlutut di depan tanda peringatan nenek moyang kita dan mengucapkan selamat berpisah secara resmi pada mereka. "Jadi." Ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Barangkali la dapat melakukan penyelidikan di Himeji dan memintakan izin khusus untuk menyeberang perbatasan bagi mereka. Dan kalau dia masih hidup. Aku bersumpah melakukan ini. memandang kosong ke arah rumah. yaitu saya sendiri dan Paman Gon. "Nek!" seru seseorang akhirnya. Paman Gon an aku sudah cukup tua untuk pensiun. dan ia lebih dari siap untuk membalas dendam atas penghinaan terhadap keluarganya. tapi ia berusaha mengendalikan dirinya dengan berlutut di depan altar keluarga. "Sekarang ini. Inc. kita harus pergi juga. Yang kedua.

" "Ada apa?" "Kelihatannya ada orang sakit di dalam. "Kalau Ibu jatuh sakit. Nek. Sampai sekarang pun kulitnya masih merah sehat dan rambutnya sehitam biasanya. Sebagai paman Matahachi. "Pejabat itu mengatakan lima orang bisa lewat. "Tapi tunggu sebentar.property of: CROSSFiRE. Aku masih dapat mengakali seorang dua orang musuh. Mereka semua membayangkan Takezo sebagai orang gila yang baru mencium bau darah saja sudah menyerang dan membunuh." nasihat Gon. Tiba-tiba ia pun terhenti. Aku tak pernah dibantu. Ebook by Kang Zusi . karena hari-hari memang bertambah panjang bersama datangnya musim panas berarti lebih banyak waktu untuk melakukan pencarian. Osugi berkata. Inc. Hari pertama mengejar kehormatan keluarga yang hilang. "Biar bagaimana kita akan mati sebelum orang orang muda itu." "Ada apa?" "Aku mau mengisi tabung bambu ini dengan air minum" Gonroku berjalan ke belakang rumah dan mencelupkan tabungnya ke kali yang mengalir jernih. heranlah mereka melihat matahari sudah mulai terbenam. Rambutnya tak lebih dari yang pernah kukenal waktu dia bayi." Gonroku lekas-lekas minta maaf. sekilas ia memandang lewat jendela samping ke bagian dalam warung teh yang samar-samar itu. Gonroku tak dapat melihat wajah orang itu. "Aku tidak butuh bantuan apa-apa. netcafe." "Nenek benar sekali. dengan sendirinya ia sangat prihatin dan bingung oleh peristiwa-peristiwa yang baru terjadi itu. Ha! Semua orang berpendapat Takezo sangat kuat. Ketika mengeluarkan uang." katanya lagi sambil menudingkan jari telunjuknya ke hidung. tapi aku sendiri cuma memakai pakaian sehari-hari. la memang gampang ditakut-takuti Osugi. Tak ada lagi yang mesti kalian lakukan sekarang kecuali pulang." "Ya. meskipun tidak tidur sama sekali barangkali lebih balk. "Takano terlalu jauh kalau dicapai malam hari. Mengerti?" Paman Gon hampir lima puluh tahun umurnya." jawab Paman Gon yakin. ya?" kata seseorang." "Maaf. kan? Aku yakin mereka menjual barang yang kubutuhkan. menuju jalan Harima. tapi di masa mudanya ia samurai. "Dan aku akan melaksanakannya. "Perempuan tua itu betul-betul berani. Bau obat-obatan memenuhi udara. Dalam perjalanan kembali ke jalan di depan." Orang ketiga berseru khawatir. Aku harus berhenti nanti." Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya keras-keras." "Kita butuh tidur justru sekarang ini." "Ada warung teh kira-kira setengah jalan turun bukit ini. Jadi. seperti anak-anak. tapi ia lebih tahu cara mengendalikan perempuan itu daripada kebanyakan orang lain." la mengusir mereka dan pergi menuju perbatasan. namanya sendiri. Jalan yang sehari-harinya dilalui kuda-kuda beban dari tambang perak itu penuh dengan lubang. Paman Gon hidup dengan berburu. karena jelas kedua orang itu bukan tandingan Takezo apabila mereka menemukannya. Mereka berangkat menuruni bukit yang cukup terjal. "Paman Gon. "Jangan sampai jatuh." kata Gonroku sambil bangkit mencekau topi jerami yang barusan dibelinya. seperti orang lain juga. pulanglah clan urus semuanya sampai kami kembali. Menurut ceritanya sendiri. Ayo kita jalan. pasti. lekas!" seru Osugi tak sabaran. Gon adalah singkatan Gonroku. ia pernah terlibat dalam banyak pertempuran berdarah. betul! Aku ingat. Paman Gon juga belum pikun. Mereka minum sedikit teh dan beristirahat sebentar. menuruni sisi gunung." katanya. maaf. Namanya Warung Teh Mikazuki. ia menoleh pada Paman Gon. “Apa?" "Nenek sempat memikirkan pakaian perjalanan. tapi itu tidak bikin aku takut! Dia itu cuma anak bandel. Nama keluarganya Fuchikawa. Aku tak sebanding dengan dia dalam kekuatan tubuh. mencari sandal dan topi. "Sebentar. Mereka menyerukan salam perpisahan dan memandangi pasangan tua itu memulai perjalanannya ke timur. Seorang lelaki lain mencorongkan tangannya dan berseru. kirim suruhan ke kampung." Ketika Osugi sudah tak dapat lagi mendengar suara orang-orang itu. Sekarang sudah kusampaikan pada kalian apa yang akan kulakukan. Orang-orang itu rupanya bimbang untuk membiarkan mereka berdua pergi sendiri. berselimut tikar jerami. "Apa itu luar biasa? Perhatianmu ini gampang teralih." kata Gonroku sambil berjalan di belakang Osugi seperti anjing yang sedang dihukum. "Apa tidak lebih baik kalau Ibu membawa tiga pemuda?" saran seseorang. tapi aku belum kehilangan akalku. Tak seorang pun mencoba menghentikannya lagi. karena terkejut melihat sesosok tubuh yang terbaring di lantai. "Nek. tapi dapat melihat rambut hitam yang terburai ke sana kemari di atas bantal. Kita terpaksa tidur di tikar bau di penginapan kusir kuda beban di Shingu.dan aku tak akan mau. "Jaga diri baik-baik. sedangkan Osugi sepuluh tahun lebih tua. sampai gelembung-gelembung air tidak naik lagi ke permukaan. Tadinya mereka mengira masih mempunyai waktu beberapa jam lagi." Ketika sampai di warung teh itu.

ketika la berseru. melangkah cepat mendaki bukit. terima kasih. Osugi berlari ke luar dan memaki-maki. la dapat melupakan sakitnya ketika beberapa jam berada bersama Takezo. tapi ketika ia mengulurkan tangan untuk memegang ciduk bambu di sampingnya. Sebentar lagi dia pasti terkejar olehku." Paman Gon sementara itu sudah berbalik. Tapi berat rasanya kalau buat orang lain. tidak. minta air!" serunya lemah. tukang warung menjenguknya dan mendesaknya supaya bertahan." Osugi menghentikan jalannya. "Paman Gon. "Aku tidak lihat apa-apa. "Air. la mengangkat tangan clan menuding." kata Paman Gon. Pelan-pelan la berhasil merangkak ke situ." "Apa istri Anda sakit?" "O. Dia sakit. kami baru saja istirahat di tempat Anda. jangan! Anda mesti menjemput dokter. Osugi segera menyusulnya. Dan ke mana Anda akan pergi?" "Tatsuno. orang sinting tua!" Pada saat itu terdengar suara yang menyapa mereka dari belakang." la menarik dagunya dan langsung berlari. "Tak ada di sini. baru tengah malam saya akan sampai. "0. Sebelum pergi.property of: CROSSFiRE. Badannya panas sekali karena demam. Tapi pandangan kecewa tergambar pada wajahnya. Ketika sampai di warung teh itu. "0. Warung teh itu memang tak lebih dari gubuk pegunungan. Karena tak ada jawaban. Gadis yang sakit itu lebih penting daripada tasbih saya." Ebook by Kang Zusi ." keluh perempuan tua itu dengan suara yang menurutnya hanya bisikan. Gon. dan sangat ramping?" "Ya. Pasti itu Otsu! Otsu sebetulnya belum sembuh benar dari demam yang menyerangnya pada malam ia diseret masuk dari tengah badai itu. ketinggalan di warung teh itu!" "Apa yang ketinggalan?" "Tasbih. yang sudah berdiri di luar. Begitu selesai berbicara dengan pemilik warung teh yang baik budi itu. sampai lengan baju dan kimononya mengembung di belakangnya. air. "Ya. "Apa gadis itu sekitar enam belas tahun. didengarnya tirai hujan jatuh ke tanah di belakangnya. Sebaliknya. orang yang baru datang buat istirahat. Kejar. la merasa mulutnya penuh duri." "O. Aku ingat sekarang-tadi kutaruh di atas bangku. Tak tahu ia sudah berapa lama terbaring di kamar belakang itu. Biar kami sendiri kembali mengambilnya. Katanya dia datang dari Miyamoto." jawab Gon yang waktu itu sedang menuju kamar perapian. tapi sesudah Takezo meninggalkannya ia hanya dapat berjalan sedikit sebelum akhirnya mulai menyerah pada rasa sakit clan lelah. menyiramkan air yang sudah diciduk tadi lewat lubang sempit ke muka perempuan tua itu dan berlari kencang menuruni bukit seperti burung di tengah angin. sekitar enam belas. Gon." Keningnya mengerut. jadi saya tawarkan kamar belakang buat berbaring. "Oh. "Ketika dia istirahat badannya mulai menggigil. "Lihat di sana!" serunya. karena banyak ribut itu. lalu mengaduk bara dan memasukkan sedikit kayu untuk sedikit menerangi ruangan." Mereka menoleh. tapi jangan potong kepalanya sebelum aku sempat kasih dia sedikit pendapatku. Biarpun naik kuda. celaka. "kau boleh menggunakan pedang. "Sebentar saya ambilkan. Mana kau menjatuhkan tirai segala!" Wajah perempuan tua itu sudah berubah bentuk karena berang. Kelihatannya cukup gawat. kecuali di sana. saya kira. Tak seorang pun bicara. "Apa itu gadis yang ada di kamar belakang Anda? Kebetulan saya melihatnya tadi sekilas. ia sudah benar-benar tidak tahan." "Jangan. clan tidak suatu pun dapat mencegah orang mengangkat satu atau seluruh tirai yang tak terikat itu." Osugi pun mengedip pada Gonroku dan mulai menggerayangi obi-nya. Kau sendiri yang mesti hati-hati. "Itu dia." kata pemilik warung. Osugi pun segera menyusul. dia tak jauh mendahului kita. Tak lama kemudian mereka berdua terengah-engah kehabisan napas." "O. "Apa dia lari?" "Tentu saja lari! Kita sudah kasih dia kesempatan lari. Nek!" "Dia pasti di sini! Tak mungkin dia pergi!" Hampir seketika itu juga Osugi pun melihat pintu kamar belakang terbuka." kata tukang warung seraya membalikkan kudanya. "Kalau istri saya sendiri atau salah seorang anak saya. Mulutnya kering. "Tunggu. "Apa tak bisa kaukejar?" Paman Gon mengarahkan pandangannya ke sosok tubuh yang seperti' kijang terbang di kejauhan. "Anda berdua ini cekatan sekali. kejar!" . dan tampaklah oleh mereka pemilik warung teh itu menunggang kudanya. ya. Tapi tidak juga dia membaik. jangan berani-berani kau mengajariku! Jalan ini bisa kulalui dengan mata tertutup. "Gon. Beberapa waktu kemudian Otsu sudah lupa bahwa tukang warung pernah bicara dengannya." teriaknya. kan? Jangan khawatir. keadaannya jauh lebih buruk. Osugi dan Paman Gon menerobos dari tempat tirai terbuka itu. Otsu. dan berkali-kali meminta air dalam igauannya." Kening Osugi sekarang ikut berkerut. netcafe. Saya merasa harus berbuat sesuatu. dan lagi kakinya kaki gadis. tidak apalah. ia pun menegakkan badan dengan kedua sikunya dan menjulurkan leher ke arah tempayan air yang ada di luar pintu." "Malam begini?" "Tidak ada dokter. Inc.

" Osugi pun melihat ke sana. la membayangkan di bawah salah satu atap itulah kakak perempuannya dipenjarakan. perasaan damai. Tak bisa. Pada hari tak berawan seperti ini." Belum lagi la sampai pada kesimpulan ini. Pandangan yang biasa diperlihatkan oleh binatang ketika terganggu di tengah makannya. Tak pernah aku seperti ini. Setiap usaha untuk mendobraknya pasti membunyikan tanda bahaya berupa anak genta dari kayu yang ingar-bingar bunyinya itu. keadaan itu memaksanya melakukan serangan malam. Ia mengkhawatirkan sesuatu yang tak dapat dirumuskannya. mereka berdua nantinya akan terpaksa melarikan din menyeberangi dataran rata yang tidak ditumbuhi sebatang pohon pun untuk berlindung. "Aku sudah kehilangan keberanian. Keadaannya tidak begitu membesarkan hati. la merasakan ketenangan baru. Di seberang lembah sana ia melihat kerumunan orang banyak bergerak ke sana kemari di dalam benteng. netcafe. Kukira tidak terlalu dalam. Begitu dilemparnya burung itu pun jatuh. Ebook by Kang Zusi . sekalipun artinya ia harus melanggar untuk terakhir kalinya pengetahuan diri yang sangat berharga. Tidak. ia merasa seperti seorang manusia. la menduga tembakan itu percobaan untuk melihat." Setengah hari kemudian tangannya masih tetap terlipat di dada. Tak ada gerbang di bagian belakang. clan akhirnya berhenti di dasar jurang. Berkali-kali ia mencela dirinya sendiri. cahaya matahari sore mulai mengabur di belakang puncak pegunungan barat. dipoles clan disempurnakan. Paman Gon tiba-tiba memekik kaget dan jatuh tengkurap. Manusia berani yang sudah melampaui kesembronoan remajanya. ke benteng Hinagura." Ia merasa terhina dan tak berdaya. "Tukang sihir tua!" teriak Paman Gon marah. yang baru saja la peroleh dengan penuh penderitaan. Ia menatap langit terang yang cantik. Osugi berteriak. Inc. Selagi ia makan. Berani. aku akan menyeberangi lembah dan memanjat karang di sebelah sana. la paham sekarang. Ia menarik pelajaran yang dengan segala jerih payah diberikan oleh Takuan. ia bangkit dan memungut sebuah batu. dikoyaknya dan dibenamkannya giginya ke dalam daging yang hangat itu. yang warnanya saja rasanya sudah merupakan keajaiban. "Kalau malam tiba. "Itu Takezo! Takezo dari Miyamoto!" "Dia berbahaya! Jangan sepelekan dia!" satu orang lagi mengingatkan. "Seminggu yang lalu aku bahkan tidak berpikir sempat lolos dalam keadaan hidup. Hampir seketika itu juga mereka buyar. "Lihat itu ke bawah. Jadi. Begitu posisi rapi. Tak ada jalan. Terdengar bunyi kaki-kaki yang mencoba mencari pijakan. "Sekalipun aku mengambil jalan terbaik. lebih dari dua puluh serdadu bergerak ribut mencari posisi clan mengepungnya. Barangkali berhadapan dengan maut membikin orang jadi pengecut. dan ia ragu-ragu mendekati benteng itu. berlari langsung ke arah gerbang benteng. tapi juga keluarnya. tapi ia sudah melihat bahwa gerbang-gerbang itu ditutup dan dikunci sebelum matahari terbenam. "Cobalah turun sendiri! Biar tahu sendiri rasanya!" Takezo duduk di atas batu besar sambil melipat tangan dan memandang ke seberang lembah. "Ada apa?" teriak Osugi yang menyusulnya. reaksinya. Yang lebih buruk lagi. Tepat di depan mereka ternganga jurang terjal penuh bambu. bukan sikap pengecut. Rintangan alam itu bisa menjadi samaran. sedangkan di depan. Takezo menghentikan pesta unggas mentah itu dan menyorotkan pandangan kejam ke arah para calon penangkapnya. Hidup yang diberikan padanya adalah sesuatu yang harus dihargai clan dijunjung. tapi dengan sengaja ia diam tak bergerak di tempatnya. Tepat sebelum kegelapan menyelimuti. tapi terlalu gelap. seakan terkunci. Batu itu menjadi merah oleh darah. Namun ia tidak dapat membiarkan kakak perempuannya ditahan. Agaknya tak ada cara yang mudah untuk mendekati benteng itu. Di belakang benteng terdapat parit dalam. Sebuah rencana mulai terbentuk. clan agaknya tempat itu tidak dikawal ketat." Ia pun menggelengkan kepala. dan dalam sekejap ia sendiri sudah menerobos. "Bagaimana mungkin aku jadi begini pengecut?" tanyanya pada diri sendiri. "Ya-a-h-h!" pekiknya sambil mengambil sebuah batu besar dan melontarkannya ke baris depan dinding manusia itu. Satu orang berseru. pasti membahayakan hidupku sendiri dan hidupnya. Terpaksa kembali ke warung teh buat ambil obor. Pikirannya sudah sampai pada keyakinan bahwa la dapat membikin lumpuh lima puluh atau seratus serdadu yang mengawal benteng itu. "Apa yang kautunggu. la bermaksud terus duduk sampai ia mendapatkan rencana itu. merangkakrangkak. mereka memperdengarkan teriakan perang. "Dia terjun ke situ?" "Ya.property of: CROSSFiRE." Ketika ia sedang berlutut memandang ke dalam jurang. tak ada sasaran yang lebih baik dari itu. sebatang anak panah mendesis ke arahnya dan menancap di tanah. Tak lama kemudian. Rasanya perasaan itu mengalir di dadanya seperti sungai yang lembut. Yang la perlukan bukan hanya masuknya. dan sekarang ia bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. la sudah duduk di situ sejak matahari terbit sampai matahari terbenam sehari sebelumnya clan sepanjang hari ini. pikir Takezo sedih. la sudah melihat makan malamnya melayang di atas kepala. beberapa inci dari jemari kakinya. jalan masuk benteng itu dilindungi dengan baik oleh gerbang ganda. namun belum juga la dapat menyusun rencana untuk mengeluarkan kakaknya. lain sekali dengan ganas. bukan itu. tolol?" dan menyodoknya dengan keras. tapi ia masih terus mempertimbangkan letak tanah. Jelas mereka telah melihatnya. la tidak merasa seperti binatang.

seperti pengemis. Takezo sudah melompat naik. tapi seribu.. dia tidak di sini. Takezo menggigit kuku ibu jarinya dan memandang anak-anak panah itu melaju lewat. kemudian tiba-tiba ia menuju pagar... dan seperti biasa di hadapan biarawan ini ia merasa sedikit rendah diri. Punyailah kekuatan prajurit sejati. Gema tembakan senapan itu meraung ke seberang lembah. "Apa semua ini tipu daya?" pikirnya panik. orang itu mulai menangis tak kenal malu. Takezo.. pagar. tapi lebih sering berdiri di jembatan clan diamdiam memperhatikan orang-orang lewat. Kemudian ia berbalik kepada para pengejarnya. Apabila sedang tidak berada di dekat jembatan itu. maupun para pengawal di gerbang kedua.. la pun harus menemukan di mana orang menahan Ogin. dengan anyaman jerami. Inc. Sejumlah besar lembing dan pedang berantakan.. dan dalam sekejap mata sudah melompatinya. Akhirnya di dalam bayangan salah satu sel kecil dan kotor. sambil terus memanggilmanggil kakak perempuannya... "Belajarlah takut pada apa yang menakutkan." Takezo mencekau rambut orang yang menangis tersedu-sedu itu. ia biasa melakukan pesiar singkat sekitar kota.. netcafe.property of: CROSSFiRE. Sekarang ia berada di antara kedua gerbang." "Di mana. Kemarin dulu dia dibawa pergi.. "Berhenti!" serunya sambil melemparkan tiang gerbang yang bernoda darah itu ke kaki makhluk seperti musang tersebut. ketika didengarnya suara orang memanggil namanya. Kekuatan yang kasar dalam permainan anak-anak.. Ebook by Kang Zusi . y y ya „ "Kalau kau bohong. Kemudian ia menghilang ke dalam bayangan sel-sel yang mesum. "Apa yang dia lakukan?" "Ke mana perginya orang sinting itu?" "Dia gila!" Takezo terbang seperti capung yang keranjingan. sebuah menempel seperti jarum jahit raksasa di kimononya. lebih balk kalau begitu. ini aku. Mata Takezo sama sekali tak melihat. ku. dengan hati-hati membenamkan topi clan menyembunyikan wajahnya.. terbang ke segala jurusan. la bahkan tak sadar ketika merobohkan dengan satu pukulan saja seorang penjaga yang mencoba melompatinya. baru seminggu berlalu sejak gadis itu bersumpah akan menanti di situ-bukan seratus hari. dan merasa yakin bahwa tak seorang pun mengenalinya. bahkan juga Takuan. Orang-orang itu ternganga. aku akan kembali khusus mencarimu!" Serdadu-serdadu itu merapat lagi. Sekali Takezo membuat janji. "Betul. baiinw<m hocloh. ia merenggut sebuah tiang di gerbang dalam. pantang ia melanggarnya. la mengangkat kepala dengan tegas. ia melihat seorang lelaki mencoba menyelinap. kekuatan binatang yang tak berakal. "Ogin.. "Diapakan dia? Katakan di mana dia. Takezo mengangkat orang itu dan melemparkannya ke arah mereka." Lahirnya Musashi TAKEZO menanti di pinggiran kota Himeji. Hidup itu berharga. di maim. Takezo meluncur menuruni jurang. "Takezo! Tunggu!" Takezo terperanjat. Ayam-ayam pengawal berkaok-kaok menyelamatkan hidup. Ketika Takezo melompat ke arahnya. la tak tahu jumlah mereka. keberanian yang nyata. teriakan-teriakannya yang serak menjadi hampir tak bisa dimengerti. "Mana kakakku?" raungnya. kadang-kadang bersembunyi di bawah Jembatan Hanada. la tak dapat melihat serdadu yang mengejarnya. sampai tercerabut dari tanah. "Ogin!" Setelah gagal mengetahui tempat kakak perempuannya." Ia tatap gedung-gedung itu dengan mata menyala. Tetapi bersamaan dengan berlalunya waktu. la menyangka penyamarannya sudah aman.. la sangat risau bahwa Otsu belum juga muncul. kalau tidak kubunuh kau!" "Dia. Tapi kalau kau bohong. Langkah-langkah kaki terdengar di belakangnya. Di belakangnya terdengar ledakan keras. ia guncangkan matimatian. Takezo menampar keras pipinya. Setengah lusin anak panah terbang melewatinya. sekalipun janjinya pada Otsu bukanlah satu-satunya alasan kenapa ia ke Himeji. la sedang berada di dekat pusat kota pada suatu hari. dan tampak olehnya Takuan datang mendekat sambil berseru. Dengan kekuatan yang hampir-hampir di luar kekuatan manusia. yang sebetulnya sebuah perangkap. Sumpah!" "Nah. Yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang besar dan hitam menyerangnya. dikejar para serdadu yang memperdengarkan teriakanteriakan perang. dan sementara berlari petikan-petikan ajaran Takuan pun melintas dalam kepalanya."' "Himeji?" „I. la membidik sebaik-baiknya.. Satu demi satu ia gedor pintu-pintu itu dengan tiang gerbang. terbang ke udara dan jatuh berantakan ke tanah.. "Ogin!" teriak Takezo sambil berlari ke bagian belakang benteng. ia pun semakin tergoda untuk mondarmandir.. Namun ketika mereka sampai di gerbang luar. Perintah dari puri. lalu la hantam benda tak berbentuk itu dengan tiang gerbang. betul.

di mana seorang daimyo dapat menikmati kenikmatan hidup. Sesuai perintah Takuan. "Ayo ikut aku. apabila tidak sedang mengatur strategi. semua orangku menyangka bahwa satu-satunya tugas mereka adalah mengikat orang atau memenggal kepalanya. Ia mengangguk dan berkata sopan. dan ingin ia mengangkat kain katun bersih itu ke wajahnya dan menggosokkannya ke pipi serta menghirup bau segarnya. clan siap untuk berkelahi begitu ada perintah. "Dan jangan bikin ribut. setidak-tidaknya mereka dapat mati bersama. "Ya. Dia masih liar. karena ia ingat benar akan waktu mandi terakhir kali di rumah Osugi. Ikeda Terumasa. Takezo ikut tanpa berkata-kata. tapi tak ada yang kurang. Buktinya ia tidak memerlukan penunjuk jalan ataupun petunjuk. Ia melipat tangan dan mencoba berpikir. ia belum terbiasa akan kemewahan perdamaian. la hanya minta Takezo mengikutinya. ke kebun. kenapa demikian. O. Lewat menara gerbang. Segera kemudian seorang pembantu datang membawa kimono katun hitam hakama. Bangunan megah itu berdiri di atas kubu batu yang sangat besar. Kalaupun mereka harus mati." Takezo hampir menangis. Takuan memanggil kapten pengawal. memang tak ada orang lain yang cukup dicintainya yang dapat diajaknya berbagi saat-saat akhir hidup yang berharga ini. Baru sekali itu ia kehabisan kata. Rupanya ia kenal baik jalan di situ. Kapten tidak menyentuh orang yang jadi tanggungannya. la berharap ia benar. Segalanya begitu damai-sebuah pulau ketenangan. di mana terletak kediaman daimyo. Nada gawat yang ada dalam suaranya itu mustahil diabaikan." Takuan melewati gerbang kedua menuju bangunan tengah. Atau barangkali ke kamar bawah tanah di dalam puri. pernah menjadi yang dipertuan di puri mi. Dengan isyarat tak sabar la mendesak Takezo maju terus. netcafe. dengan sikap hormat mendengarkan.property of: CROSSFiRE. Selamanya ia menganggap dirinya kambing hitam keluarga Shimmen. ia mengenakan juga tutup kepala dan kain sutra longgar yang sesuai dengan lingkungannya. Di sini serdadu-serdadu memandang lebih cermat dan waspada lagi. "Saya letakkan di sini. "Susahnya. dan dunia akan menjadi lebih baik karenanya. namamu Shimmen Takezo?" tanya Yang Dipertuan Ikeda. Segera mereka sampai di rumah mandi. Takuan mendahuluinya menyeberangi jembatan lengkung lebar yang membentang hingga parit luar. Kalau ia tertangkap di sana. Tak terpikir olehnya ke mana mereka pergi. kenapa puri itu disebut "Puri Bangau Putih". kepalanya tercukur bersih. Tubuhnya pendek. "Itu dia?" tanyanya kepada Takuan sambil menudingkan kipas lipatnya. Anda dapat memakainya kalau nanti keluar. Puri Himeji muncul di hadapan matanya. kemudian dengan hormat menunduk kembali. Kerongkongan Takezo jadi kering. tapi ia menambahkan. Bagus sekali Anda menyelamatkannya." Satu jam kemudian Takezo sudah duduk di kebun di luar beranda. Sudah lama aku mencarimu. rintahnya. Takuan. Ia heran. Ia berbalik dan masuk rumah mandi. Segalanya sederhana dan tidak mahal. Sambil menyerahkan Takezo. Inc. Bukan pada saya." ucapnya." jawabnya terang. itu dia. la menduga kakaknya ditahan di dalam salah satu benteng. Ia diperlakukan sebagai manusia lagi. dan tak seorang pun mengganggu jalannya. "Keluarga Shimmen adalah cabang keluarga Akamatsu." "Tidak betul itu. menyandarkan diri pada tangan kursi dan memandang ke luar. melainkan juga sepasang pedang samurai panjang dan pendek. la dapat melihat sekarang. Ini puri seorang daimyo. Biarawan itu menangkap pergelangan tangannya. Sebarisan pengawal berdiri tegak di depan gerbang besi. Dia anak macan yang bertaring. "Aku sudah menangkapnya. namun demikian ia merasa malu karena telah mendatangkan aib besar kepada nenek Ebook by Kang Zusi ." jawab biarawan itu sambil membungkuk hormat. Kalau kau menggodanya." "Dia berutang nyawa pada Tuan. Takuan dapat merasakan keraguannya. Perlengkapan itu mencakup tidak hanya kipas lipat dan kertas tisu. "Wajahnya cakap. ingat akan perangkap yang untung berhasil diterobosnya. Walaupun tidak menoleh. tak sangsi lagi banyak orang berguna akan diselamatkan. dan Anda tahu itu. dan Kapten memerintahkannya membasuh badan. Takezo menengadah cepat dan melihat wajah orang terkenal itu. tapi tak ada satu bukti pun untuk membenarkan dugaannya itu. tapi sekali lagi ia merasa tanpa daya menghadapi orang istimewa ini. yang dipertuan di puri itu. biarawan itu menasihati orang tersebut untuk memperlakukan Takezo baik-baik sebagaimana diinstruksikan sebelumnya. Ia merdeka sekarang dan sepanjang pengetahuannya mereka berjalan langsung kembali ke pohon gila di Miyamoto itu. Walau tidak mengenakan pakaian paling resmi. Cahaya matahari yang memantulkan lembinglembing terhunus membuat Takezo sekejap ragu-ragu lewat. Saat itu punggung Takezo pun mengejang. Seperti banyak puri lain pada zaman itu. "Ya. "Jadi. yang tak ada perasaan hormat khusus ataupun perasaan kagum kepada daimyo itu. la hampir tidak mengangkat kepala waktu berjalan." perintahnya. Tuan. dia akan menggigit. seperti burung besar angkuh yang turun dari langit." Daimyo itu mengeluh. mereka mendekati gerbang kedua. Sulit bagi penghuninya untuk dapat santai dan menerima kenyataan bahwa negeri telah berhasil dipersatukan. "Hati-hati. seperti kau tahu betul. sekiranya aku memiliki banyak anak buah seperti Anda di sini. dan noda-noda gelap bekas cacar menaburi wajahnya. klan Akamatsu Masanori. kepalanya tertunduk dan tangannya terletak rata di atas lutut." Takezo ikut tanpa melawan. mengulur waktu dan memperhatikan sekitarnya.

Menara utama benteng di atas itu selalu gelap gulita." Apabila terbaca olehnya bagian yang sangat menarik seperti di bawah ini. yang terbaik adalah menempatkan tawanan ini dalam-akan kita namakan apa itu?--'keadaan serba kurang' untuk sementara waktu. Ada jarak yang harus diperhitungkan." "Kalau begitu. aku telah kehilangan hakku menghukum Takezo dengan hukuman yang cocok. moyangnya dan nama keluarganya. dua-duanya pengikut Zen. karena kamar itu selamanya tidak terpakai. sebagian dalam bahasa Jepang. karena tak ada alasan untuk membukanya. apa yang dikatakan Takuan pada Aoki Tanzaemon di kuil malam hari dulu itu benar. Karenanya Sun-tzu berkata." Apabila matanya sudah kabur karena lelah. Semua pesuruhku menolak untuk masuk dan para pembantu selalu menghindarinya. tak ada musim semi. nampak sangat bersahabat. bahkan hampir-hampir bersaudara. Sun-tzu berkata: "Inilah yang penting diketahui tentang medan. dan berjilid-jilid tentang sejarah Jepang. Karena dia bawahan langsungku. Barang siapa mengenal seni perang." Sambil menoleh kepada Takuan ia bertanya. ia senantiasa menang dengan mudah. ia membacanya keras berulangulang. ketika ia hendak pergi. tak ada bunyi kehidupan keseharian. Ada yang membatasi. Tanzaemon sudah mengaku. apakah menurut pendapat Anda saya berbohong?" "Tentu saja tidak. " "Kalau Anda mengizinkan saya menggunakan kamar itu. tapi terserah Anda. apa yang akan kita lakukan kepadanya?" "Saya pikir. Datanglah nanti. Inc. Bagian ilmu medan dalam buku Seni Perang karangan Sun-tzu terbuka di meja rendah di hadapannya. "Barang siapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya. Kaudengar itu. "O. Barang siapa mengenal langit dan bumi. aku terpaksa menghukummu. "Bagus!" Jelas hubungan mereka baik sekali. Di situ tak ada kalender. kita harus menaruh lampu di sana. aku simpulkan Anda sudah punya usul. Takezo?" Tidak kedengaran Takezo berkuik. Jadi. Ada yang memungkinkan gerak laju. Sekeliling meja bertumpuk-tumpuk buku. Ini adalah cermin kekuasaan dan martabat Anda. Ada yang dapat menerobos. Itulah justru yang saya pikirkan. Aku menunggu. bentuk hukuman apa yang akan diambil." lanjut Terumasa dengan nada lebih keras. apa Anda bermaksud sekali lagi memperlihatkan ketidakmahiran Anda dalam upacara minum teh?" "Ah." Terumasa lalu mengundurkan diri ke bagian dalam kediamannya. tapi aku menginginkan pembenaran Anda. sebaiknya Anda ikut aku ke warung teh. Di situlah terletak kamar yang ada hantunya itu. Kalau minyak hampir habis dan sumbu lampu memercik. Menurut saya. akan saya simpan Takezo di sana sampai saya siap memaafkannya. dimatikannya saja lampu itu. kalau Anda. tidak betul. Anda dapat memutuskan dan memberikan hukuman?" "Saya kira Anda dapat mengetahui hal itu dengan langsung bertanya pada Tanzaemon. tak ada musim gugur. sumpahnya pada Anda berarti sumpahku. Takuan dan Terumasa. Sudah cukup lama dia hidup dalam kegelapan semata. ia mencucinya dengan air sejuk dari mangkuk kecil yang selalu ada di sampingnya. netcafe. Wajahnya serasa terbakar." "Tapi apakah menurut pendapat Anda tidak rendah bagi kemuliaan salah seorang prajurit terkuat dalam lingkungan Tokugawa. seperti nyanyian." "Kalau begitu. "Yang kauperbuat itu tak dapat diampuni." "Karenanya. la kaya karsa dan membatasi kemungkinan. ia menang atas segalanya. Sekarang kamar itu kubiarkan sebagaimana adanya. Ikeda Terumasa." kata Terumasa pada si biarawan. orang suka berpikir demikian.property of: CROSSFiRE. Hanya ada sebuah lampu kecil yang menerangi pipi pucat cekung Takezo. Sekalipun tubuhnya pendek-hampir tidak sampai satu setengah meter-kehadirannya seakanakan memenuhi puri yang bertingkat banyak itu. Takezo benar-benar tenggelam Ebook by Kang Zusi . "Apa betul pembantuku Aoki Tanzaemon tanpa izinku berjanji. Tentu aku tak akan mengizinkan dia pergi tanpa hukuman. walaupun aku yang dipertuan di tanah ini. sebagian lagi dalam bahasa Cina. Tuan. Takuan." "Nah." "Bagus. tetapi Terumasa mulai tertawa." "Hmm. Hari-hari ini aku sudah betul-betul mulai tahu seluk-beluknya. tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Nah. Buku-buku tentang Zen. "Sesudah mengantarnya ke petak baru itu nanti. kalau Anda berhasil menangkap orang ini. dan akan kubuktikan bahwa aku bukan lagi sekadar serdadu yang tak tahu adat. Karena itu. "Ya. Ada bagian yang terpencil." "Dan bagaimana usul Anda untuk melakukan itu?" "Saya yakin di puri ini ada sebuah kamar tertutup yang sudah lama didesas-desuskan ada hantunya?" "Betul." "Aku sudah bertanya padanya. dan katanya. memiliki kamar yang tak pernah berlampu dalam puri?" "Tak pernah aku berpikir demikian.

peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal. Kalau udara dingin. musim panas. nenek moyang saya. Penjelasan datang pada saya di kamar itu: siapa saya ini. hati saya serasa melihat lebih banyak daripada sebelumnya. Apabila derita itu mereda." ia melanjutkan dengan pandangan saksama. dalam buku pelajaran ini. Itu darah manusia. tapi mereka wangsa yang perkasa. dan musim tak ada sangkut-pautnya dengan hidupnya. Ketika Takuan menjatuhkan hukuman kurungan. Dalam pertemuan sebelumnya ia didudukkan di kebun. Kemungkinan besar kau benar. Tak lama sesudah datangnya burung itu. apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan." Terumasa mengangguk. tentunya kau sudah jadi sekarang. Namun ia hampir merasa pasti bahwa kalau nanti burung layang-layang datang bersarang lagi dalam lubang-lubang penyimpanan senapan yang tertutup papan dalam menara itu. Inc. Saya terbenam dalam kitab-kitab suci dan membaca beribu-ribu jilid buku. "hantu-hantu barangkali akan mulai muncul dalam kamar tertutup itu tiap malam. artinya musim dingin. tapi ia merasa belum waktunya mengabdi pada seorang daimyo. "Aku baru pulang dari perjalanan. Akhirnya suatu hari ia mendengar burung layang-layang kembali ke bawah atap menara itu. Seorang pendeta terkenal zaman kuno pernah berkata. pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. dan kadangkadang ia tersedu-sedan bagai bayi. Darah saya mendidih memikirkan bagaimana nenek moyang saya yang pernah menguasai seluruh wilayah ini berakhir dengan kebinasaan. Lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. "Darah yang sama mengalir juga dalam nadi saya. seperti kata semua orang. Dalam batas tertentu. Kita tidak dalam suasana damai. dan kalau saya tinggal di puri ini. Lain dari itu tidak banyak yang diketahuinya. tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Sekali lagi musim semi terbang dari seberang lautan. terutama suara manusia ini. Semua itu dipinjam dari koleksi Yang Dipertuan Ikeda. lembap dan pengap." katanya. Tapi mereka dapat menimbulkan kemelut. Jiwa mereka begitu saja tersapu angin musim gugur. apa yang Bapak maksudkan. demikian dijelaskannya. ia berkata. seakan-akan berkabung." "Melihat noda-noda itu. ketika mereka mempertahankan puri ini. "Walau tak ada yang dapat kauajak bercakapcakap kecuali dirimu sendiri. la meratap dan mengerang. Tuan akan melihat bercakbercak hitam memerciki pintu-pintu dan tiang-tiangnya. hantu-hantu bisa bangkit dan mencoba meraih saya. "Kau boleh membaca sebanyak kau suka. Takezo menolak." Takuan membawa Takezo sebagaimana adanya menghadap Yang Dipertuan Ikeda. Pesuruh-pesuruh yang membawakannya makanan tidak sekali pun pernah mengucapkan kata-kata. hampirhampir menyakitkan telinga. terdengar suara bertanya. "Aku mengerti maksudmu. Sesudah saling mengucapkan salam dan basa-basi. dan mereka dapat dibangkitkan. "Dan apa yang sudah kulakukan selama dua puluh satu tahun ini?" Kadang-kadang kenangan tentang tahun-tahun lalu itu menekan dirinya tak hentihentinya dan merundungnya dengan kesedihan. Saya berutang budi pada semua penduduk di daerah ini. Tapi pandanglah lebih saksama. maka itulah musim semi tahun ketiga la berada di dalam rahim itu. "Ini sudah tahun ketigamu di sini. Rambutnya berantakan dan hatinya hancur. Terkejut dan terlampau terharu hingga tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kelihatannya seperti lak. kali ini kedengaran aneh. Dan kalau kau pergi. Mereka tewas binasa.property of: CROSSFiRE. tapi bukan. ternyata kau sudah betul-betul bisa bicara seperti manusia! Bagus! Hari ini kau boleh meninggalkan tempat ini." Sejak itu Takezo berhenti menghitung hari. "Takezo. Kalau udara panas. saya jadi naik pitam. ataukah kamar penuh cahaya. netcafe. barangkali juga pemberontakan." kata Takuan. mereka sudah merasuki saya. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu. Takezo menarik lengan kimono biarawan itu dan menariknya masuk kamar." "Saya berterima kasih atas kebaikan Bapak. Ebook by Kang Zusi ." "Hmm. kau baik-baik saja?" Kepala Takuan yang sudah dikenalnya itu muncul di puncak tangga. Lalu ia tertawa." "Kenapa? Apa hantu-hantu itu menemanimu?" "Kalau Tuan membawa lampu dan memeriksa kamar itu dengan saksama. Hari-hari ditelan derita. Sesudah menempuh masa persiapan selama ini. Memang lebih baik kalau kau meninggalkan puri ini." katanya pada dirinya sendiri. kemungkinan besar darah yang dicurahkan oleh orang-orang Akamatsu. "Aku akan berumur dua puluh satu tahun. karena tidak menggoda saya untuk membalas dendam nenek moyang saya. Bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih pada Takuan?" "Terima kasih?" kata Takuan tak percaya. Udara tetap sama. Kegembiraannya meluap mendengar suara manusia lain. la merasa mendapat kehormatan besar. "Walau saya orang tak berharga. "Dan kalau saya mengabdi di puri ini. Disergap rasa sesal. Terserah padamu. Saya paham sekarang. tapi sekarang untuknya disediakan tempat di beranda. "Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. saya anggota wangsa yang sama. memukul dan menendang. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan. ia kehabisan tenaga dan gairah hidup. Ketika saya keluar. ia pun merintih. Kau akan membutuhkannya apabila nanti memasuki dunia dan menggabungkan diri dengan sesamamu. bahkan pertumpahan darah lagi. Terumasa tidak membuang-buang waktu dan meminta Takezo menjadi bawahannya.

saya tak akan menemuinya. seperti yang ia lakukan kalau berdoa di depan patung sang Budha. Pak. Takuan membungkuk. dan akhirnya Takuan bangkit berdiri. hidup dalam disiplin clan latihan seni bela diri. Takezo yang kini bernama Musashi memandang penuh kagum." Takuan berbalik. mengangguk bergairah. sake dihidangkan. dan saya sungguh-sungguh lahir kembali. ya. yang tak lain dari Takezo yang lama. tapi saya harap Bapak dapat memahaminya. Tapi aku bilang juga padanya. Sekarang ia sudah senang tinggal di sana. Ebook by Kang Zusi . clan Takezo serta Takuan mengawani Yang Dipertuan sampai larut malam." seru Takuan. sementara acara minum berjalan terus." Terumasa yang sedang sangat senang perasaannya. Dalam tidurnya pun tak pernah ia melupakan kakak perempuannya yang lembut." "Tidak. Takezo." "Aku mengerti. Katanya. Mereka disertai beberapa pembantu Terumasa. Takuan punya rencana-rencana sendiri." "Tidak. Dengan telapak tangan tertelungkup ia membungkuk dalam dan lama. la berketetapan menjelajahi pedesaan. begitu. Kita mesti minum untuk merayakannya." jawab Yang Dipertuan sambil menoleh kepada Takuan. la memang ahli.property of: CROSSFiRE. Takuan bercerita bahwa ketika Musashi menyerang benteng Hinagura tiga tahun lalu. Tapi bukan sekarang.. ke masa depan. ternyata Ogin enggan pulang. segalanya mesti baru pada hari kelahiranmu ini. yang sudah demikian lama ia anggap seperti ibunya sendiri. Suatu kali nanti. nama yang bagus sekali." Takuan menyeringai. Musashi memperlihatkan gelagat hendak minta diri. sejak saat ini. Sekalipun tak ada tuduhan terhadapnya. Saya kira tak akan dapat saya mengucapkan terima kasih atas apa-apa yang telah Bapak perbuat itu. Selama tiga tahun di dalam kurungan itu la telah bertekad menguasai Seni Perang. Saya belum lagi menemukan jalan yang hendak saya tempuh. "Apa tak ada yang ingin kaujumpai?" "Siapa?" "Ogin?" "Apa dia masih hidup?" tanyanya heran." Musashi menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya di depan kepala. "tapi Bapak pun sudah memperhatikan kesejahteraan Ogin." "Ya. Inc. hingga dia tak akan lupa tempat kelahirannya. kalau saya tidak terbunuh di perjalanan. Kalau saya sudah mendapat kemajuan dalam pengetahuan dan penyempurnaan diri yang sedang saya can ini. Jadi." perintahnya." Tangan Takezo langsung jatuh ke lantai. Ia memilih tinggal dengan seorang sanak di sebuah kampung di daerah Sayo." katanya penuh haru." "Takuan!" Ikeda tertawa. hormat dan gembira. itu tidak akan terulang lagi. kita akan bertemu lagi." "Saya mengucapkan selamat berpisah sekarang. menarikan satu tarian kuno. Saya sudah mati." "Dan kau mesti mengubah nama kecilmu juga. walau cuma beberapa menit." "Salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih padaku adalah dengan membiarkan aku mengantarmu ke kakakmu." "Biarlah dia mengembara dulu sementara masih muda." kata Terumasa. Ogin memang sudah dilepaskan. rasanya tidak. tidak. Ketika mereka sampai di wilayah kota di luar dinding puri. "Saya ingin mengembara sekehendak hati saya untuk sementara. "Baik.." "O. "Apa kau tak ingin bertemu dengannya?" tanya Takuan." "Kau pasti ingin bertemu dengannya sendiri. karena dalam arti tertentu kau memang sudah mati. Aku bilang padanya tiga tahun lalu bahwa dia mesti menganggapmu sudah mati. Dan waktu berpisah sudah tiba. "Bagaimana kalau namamu dibaca seperti huruf Cina 'Musashi' dan bukan 'Takezo'? Kau bisa tetap menulis namamu seperti sebelumnya. Yang harus saya lakukan sekarang adalah mengambil langkah pasti ke muka. sebut dirimu Miyamoto." Mereka berpindah ke kamar lain. Rasanya bukan sekarang saatnya kembali ke masa lalu. Saya terima. Teruslah ikuti jalan pikiranmu. Tepat sekali. tapi ke mana? Apa kau bermaksud kembali ke Miyamoto? Dan hidup di sana?" Takezo tersenyum tanpa suara. Kalau ada kesempatan. "Izinkan saya mengucapkan teirma kasih atas kebaikan hati Anda pada anak ini. katanya. Mendengar kabarnya saja dari Bapak sudah sama baiknya dengan menemuinya. "Bapak tidak hanya menyelamatkan saya. tapi si biarawan menarik lengan kimononya. Hari berikutnya mereka berdua meninggalkan puri. mari kita usahakan sungguh-sungguh untuk bersua lagi. Tuan. "Dia ingin sekali ketemu kau. barangkali akan saya perlukan waktu untuk bersantai dan menoleh ke belakang. bahwa tiga tahun kemudian aku akan mengantarkan adik lelaki yang baru. "Sediakan untuknya uang dan pakaian yang sesuai. "Miyamoto Musashi! Nama yang bagus. "Inilah pertama kali Anda mengucapkan dua kali terima kasih padaku untuk satu hal saja!" "Benar. "Baiklah. Aku gembira melihat kau bersungguh-sungguh dalam tujuanmu. Sebaiknya namanya Miyamoto. Gerak-geriknya yang indah menciptakan dunia kegembiraan khayali." "Sukar saya meneruskannya dalam kata-kata. Bapak sungguh orang yang penuh kasih kepada orang lain. Musashi mengawali hidup baru. netcafe. "Tapi karena dia hendak pergi sendiri-dan menurut Anda sudah dilahirkan kembali-dia harus mempunyai nama baru." "Aku tahu.

ya. Kau berjanji akan mengajakku. akhirnya kau muncul juga!" teriak Otsu sambil mencekau lengan kimononya. tidak! Tidak betul yang kaukatakan itu. "0." Tak bisa Musashi menyembunyikan pikiran-pikiran itu dari wajahnya." Ia menatap wajah Musashi. "Ke mana saja kau pergi. bagaimana mungkin seorang lelaki menguasai Jalan Samurai. ada lagi. untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bijaksana. Biar mereka sudah tua. mencoba menduga pikirannya." "Beberapa? Hanya beberapa?" "Berapa pun banyaknya." "Itu berabad-abad lalu. Pasti dia juga sedang mengembara.property of: CROSSFiRE. Dari waktu ke waktu ia mengangkat tepi topi anyamannya dan menatap jalan ke masa depan. "Ya. dan tak ada waktu buat menjelaskan. tentu saja Musashi tak punya maksud untuk mengajaknya atau siapa pun. Musashi terengah-engah kaget. Jangan terlalu dipikirkan. ya. dan mereka berbaik hati menerimaku sebagai semacam pembantu. "Aku akan hidup dengan aturannya. Ia mendesak Musashi ke Ebook by Kang Zusi . rasanya sudah semuanya. itu bukan pikiranku." "Aku harus menempuh perjalanan panjang dan berat. Langkah kakinya tetap tegap." perintah Musashi." Takuan jadi murung. netcafe. tapi dialah yang bertanggung jawab ketika kau diburu-buru. "Musashi. "Takezo. "Baik-baik di jalan. Mata Musashi menyipit karena terang matahari. Takuan mengikuti Jalan Zen. tidak betul. aku bisa tinggal di sana dan menantimu." "Saya akan berusaha sebaik-baiknya." "Kapan aku membohongimu?" "Di celah gunung itu. gadis ini masih tunangan Matahachi. jalanmu bukan jalan yang mudah. "Apa dayaku? Bagaimana mungkin aku berhasil mencari kebenaran dan pengetahuan. Inc. Kemudian. Aku mesti mengingatkanmu bahwa Osugi dan Paman Gon meninggalkan Miyamoto mencarimu dan Otsu tiga tahun lalu. "Nah. kalau selamanya dicampuri oleh perempuan. Hampir saja aku terbunuh. Dan lagi. Belum lagi jauh-sesungguhnya ia baru berada di pinggiran Himejiseorang perempuan datang berlari-lari ke arahnya dari sisi lain Jembatan Hanada. karena tak ada pilihan lain. la sendiri terus di persimpangan jalan sambil memperhatikan bagaimana sosok biarawan itu semakin mengecil. Aku pergi. itu pikiranmu. dan berjanji pada diri sendiri. Masalah-masalah itu berkecamuk dalam pikirannya yang gelisah. la tidak menoleh lagi. dan dengan belajar menguasainya aku akan berjuang memperbaiki diriku. bukan untuk pelesir!" "Aku tak akan menghalangi jalanmu. Kata-kata Otsu bernada teguran. aku tak mau! Kau bohong. Aku iyakan saja. Jadi." "Bukan itu soalnya. "Kuceritakan riwayatku kepada orang-orang di sana. Dan aku siap menahan beberapa kesulitan. Hari ini hari kesembilan ratus tujuh puluh. Lanjutnya. 'Lihat Musashi itu: dia butuh seorang inang buat menjaganya. ia berjalan ke timur. Aku akan menganggapnya jiwaku. Belum lagi terlambat. "Lepaskan bajuku. Osugi dan Paman Gon menyusulku tepat saat kau pergi. Aku sedang tergesa-gesa dan kau tak mau melepaskan aku sebelum aku berjanji." la menunjuk toko anyaman di ujung jembatan. matanya penuh dengan gairah muda dan harapan. jalan asing yang harus ditempuh semua orang. Mereka bertekad takkan pulang sebelum dapat membalas dendam. Tapi aku berhasil lolos. Aku harus menjadikan diriku manusia yang lebih baik dari dirinya. "Ikut? Ikut ke mana?" tanyanya blak-blakan." pikirnya." Bagaimanapun." "Tidak.'" Otsu lebih keras menarik kimono Musashi dan bergayut seperti anak-anak. sekali lagi sendirian. dan aku sudah memenuhi janjiku dengan setia. Aku menunggu di sini sejak dua puluh hari sejak kita berpisah di Celah Nakayama itu. Bisa saja mereka berbuat sesuatu yang tak akan mengenakkan. Waktu itu aku sakit dan harus beristirahat. tidak. Mungkin kau tak pernah kenal namanya. Akibatnya dia dipecat untuk selamanya dari pekerjaannya oleh Yang Dipertuan Ikeda. Saat itu ia sedang bergegas menghindarkan pikiran tentang kakak perempuannya yang demikian ingin ia temui dan demikian kuat ia rindukan. "Ah. "Satu-satunya barang di dunia ini yang harus jadi andalanku." seru Musashi kepadanya. melangkah. sampai akhirnya tidak kelihatan lagi. dan aku akan mengikuti Jalan Pedang. Otsu. "Sekarang cuma ada pedang ini. tapi kemudian berhenti. Barangkali tak ada hubungannya dengan apa yang kita katakan atau kita perbuat. tapi rasanya mereka tak akan betul-betul menyulitkanmu." Takuan berbalik dan berjalan ke barat. Aoki Tanzaemon. Waktu itu aku tidak serius. mereka masih berusaha menelusuri jejakmu. bukan?" Sesungguhnya. "O. kau tidak lupa. demikian pikirnya. oleh siapa pun? Lagi pula." Ia letakkan tangannya ke gagang senjata. "Tidak. "Aku boleh ikut kamu. kalau perempuan membuntutinya terus? Apa tidak lucu? Orang akan mengatakan. sebuah kedai kecil khas di pinggir jalan raya yang menjual cenderamata. tapi samurai yang baik itu sudah membikin cemar dirinya sendiri." Musashi tersenyum." teriak Otsu. ia masih muda. kan? Kau tidak lupa nama jembatan ini? Apa kau lupa janjiku akan menanti di sini berapa pun lamanya?" "Kau menanti di sini tiga tahun lamanya?" Musashi terpana. Berhati-hatilah menempuh jalan itu.

Musashi pun sadar betapa sempit pandangannya selama ini. akan pernahkah la bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkan hidupnya." "Apanya yang mesti dipikirkan?" "Sudah kukatakan. kan? Tunggu saja di sini. Aku mau membaktikan diriku pada latihan dan disiplin. tapi lidahnya kelu. "Maaf. ke air yang mengalir di bawah jembatan. dan kemudian mengemasi barang-barangku." Kata-kata Takuan kepada Otsu itu kini memberati pikirannya. kemudian diputus cintanya oleh tunangannya. Waktu itu aku melarikan diri dari Osugi dan Paman Gon. "Lepaskan!" katanya memutuskan. "Dengar. Aku sadar sekarang. Aku menjerit dan berteriak.. Pak Takuan menyelamatkan aku. "Kalau begitu. Aku cuma perlu datang dan menjelaskan soalnya. Rambutnya yang berkilauan menutupi wajahnya. betapa jauh jalan yang harus kutempuh." "Takuan? Dia menceritakan segalanya?" "Kukira begitu. Terpikir oleh Musahi akan mengabaikan saja semuanya itu dan lari ke arah yang bertentangan. Aku berjanji." katanya. Aku baru menjadi orang baru. la menatap ke bawah. dan Musashi sangat memikirkannya. Aku tak dapat membawamu." gumam Otsu. Lupakanlah. "Jadi. "Selama kau menanti sampai hari ini. kemudian ia menatap mata Otsu. Aku akan marah sekali kalau kau pergi diam-diam. suatu masalah yang hanya dapat dipecahkan Musashi sendiri? Tenggelam dalam renungan. sekalipun dari luar ia tampak lebih tenang." Musashi sadar ia hanya memperburuk keadaan. yang menurut pendapatnya dapat dibantunya. Otsu. Dia juga yang menolongku mendapatkan pekerjaan di sini. Sebentar aku kembali. Tiga tahun lamanya aku bahkan tak pernah melihat matahari. "Otsu. Aku ingin memanfaatkan setiap saat dalam tiap hariku untuk bekerja memperbaiki diri. Sekarang aku yakin diriku benar. Engkau tidak berutang apa pun padaku. Kau begitu gembira. apa jeleknya? Engkau pun tak akan merasa aku ada di situ. engkau tak akan pernah bahagia. "Pemilik toko sudah berjanji membolehkan aku pergi kapan saja kuinginkan." Musashi menggenggam tangan Otsu yang putih mungil dan tertumpang di atas pagar jembatan itu. Kau tidak menyangkal hal ini." "Bicaramu membuat aku merasa lebih dekat padamu daripada kapan pun. tidak ada satu kata pun yang membahas situasi yang dihadapinya sekarang. Miyamoto Musashi. "Aku minta. Apakah maksud Takuan hubungan antara lelaki dan wanita itu harus dipecahkan oleh orang-orang yang bersangkutan saja? Apakah menurutnya tidak ada aturan yang dapat diterapkan seperti halnya dalam Seni Perang? Tidak ada strategi yang aman.property of: CROSSFiRE. Dan tiba-tiba fajar merekah. dan orang-orang memandangi kita. Dulu aku jatuh pingsan di dasar jurang dekat Warung Teh Mikazuki. "Maafkan aku." Musashi tetap diam. jadi siapa yang tahu bagaimana akhirnya?"' Musashi menurunkan tangannya dan memandang ke jalan yang menuju barat. Aku berpikir. Otsu memandang wajah Musashi yang kini tampak jauh dan tenang. hingga dua kali kauminta aku memotong tali itu. dan kesukaran itu tidak akan berkurang. Aku sudah menemukan pria terbaik. aku sudah dengar. 'Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. pagar jembatan. dan siapa saja yang membutuhkan. dan sekarang ini! Musashi tahu Otsu sendirian di dunia ini. aku ikut saja. la bertanya dalam hati. Kalau engkau memilih mengikatkan hidupmu padaku. "Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. Tiga tahun lamanya aku tinggal dalam lubang lembap." Musashi tak dapat menjawab lagi. karena dalam bergunung-gunung buku yang telah dibacanya bertahun-tahun itu. pikirkanlah lagi." "Engkau tahu?" "Pak Takuan bilang padaku. tidak ada jalan untuk menang? Atau apakah ini yang dimaksud cobaan bagi Musashi. Sekali lagi ia terpukau oleh perhatian Takuan terhadap sesama manusia yang mencakup segalanya dan sepenuhnya bebas dari sikap mementingkan diri sendiri. "Aku tak akan mengganggumu. aku tanya apa kau butuh pertolonganku. Selama aku tidak mencampuri latihanmu. ketika dia datang dan minum teh. tapi ternyata air mata menggagalkannya." "Ya." Otsu berlari ke arah toko anyaman. yang takkan kuperoleh lagi sampai akhir hidupku. kan?" Otsu berusaha mengemukakan alasan yang logis. Otsu. "Ini tengah hari benderang. agar tidak tersangkut dalam persoalan antara dia dan Otsu. dan betapa kerdil ia menyangka bahwa biarawan itu hanya punya rasa cinta khusus kepadanya seorang." Musashi membungkuk dan menyibakkan rambut Otsu dari wajahnya dengan kedua belah tangan. Pertama ia ditinggalkan selagi bayi. Inc. aku terkurung dalam menara puri. Itu tiga tahun lalu. di toko cenderamata. Aku baru paham apa artinya menjadi manusia. Aku membaca buku. Bahkan Takuan pun mengundurkan diri. Aku punya nama baru sekarang. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkannya." katanya lembut. Padahal kebesaran jiwanya mencakup Ogin. Sesudah itu aku tidak melihatnya lagi sampai kemarin.. Apa kau ingin kita jadi tontonan buat orang-orang yang suka ikut campur?" Otsu melepaskan lengan baju Musashi dan jatuh tersedu-sedu ke pagar jembatan. Keinginan Ebook by Kang Zusi . tapi dia berkata. Ini beban yang tak siap dipikulnya. Bahkan keadaan semakin lama akan semakin sukar saja. "Lepaskan! Orang-orang memandangi kita!" "Biar saja! Waktu kau terikat di pohon itu." katanya sedih. sebentar aku kembali. "Mestinya aku tak boleh bicara seperti itu. netcafe. "Beres. aku boleh ikut?" mohonnya. Hanya ada kesukaran.

Otsu muncul kembali di jembatan. Alangkah manisnya anak itu! Jelas baginya. Hatinya mengatakan demikian. perang yang tak kenal henti antara para daimyo pada pokoknya sudah lewat. Nobunaga bunuh diri di Kyoto pada umur empat puluh delapan. Otsu berteriak terkejut dan menangis sejadi-jadinya. "Maafkan aku. yang menyerangnya secara mendadak dalam usaha balas dendam. Otsu menghilang ke dalam toko. Suasana umumnya riang dan penuh pesta. inilah saatnya.. Otsu menoleh ke belakang. Puas mendapatkan isyarat ini. Tapi Musashi tak nampak lagi. Dan ia pun bukan tidak menyukai Otsu. Ibu kota memang berkembang. yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Toyotomi Hideyoshi dalam mempersatukan Jepang. Jenderal terkenal Oda Nobunaga. hingga mereka beranggapan bahwa ketenangan yang sedang berlangsung itu rapuh belaka dan bakal berumur pendek. Maafkan aku MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 2 : A I R bagian 4 Perguruan Yoshioka HIDUP hari ini. pembalut kaki kuning muda. yang tak kenal hari esok. Inc. kecuali kakak perempuannya. Tak pernah ia tampak begitu cantik. tapi kakinya tak mau bergerak. mengenakan sandal jerami baru. Tokugawa Ieyasu telah memerintah sebagai shogun dua tahun lamanya. kesadaran orang mengenai hidup yang hanya selintas terdapat pada orang kebanyakan maupun pada golongan elite. dan topi besar perjalanan yang terikat di bawah dagu dengan pita merah tua. Kalau ia memang mau melarikan diri.property of: CROSSFiRE. tetapi ketegangan akibat tidak diketahuinya berapa lama keadaan itu akan berlangsung lebih merangsang keinginan rakyat untuk bersuka ria. Kalah dalam suatu pertempuran kecil dengan salah seorang jenderalnya sendiri. tempat asal jatuhnya potongan-potongan kayu tadi. tak seorang pun di dunia ini yang begitu mencintainya. demikian ada padanya. pada awal abad tujuh belas. Di Jepang. Segera saja potongan-potongan kecil kayu jembatan mengapung di air yang mengalir. Perang saudara selama lebih dari seratus tahun telah demikian mewarnai pandangan hidup rakyat. jangan coba-coba pergi diam-diam!" la tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. menyimpulkan pandangan ini dalam sebuah sajak pendek: Umur manusia yang lima puluh tahun Tidak lebih dari impian maya Dalam perjalanan lewat Perpindaban perpindahan abadi.. Tahun 1605. netcafe. Ebook by Kang Zusi .. Di situ tertulis jelas pesan yang digoreskan dengan ujung belati. "Ingat. dan serunya. tapi tubuhnya masih terbelenggu oleh lesung pipit yang manis dan mata Otsu yang memohon. Lentera di jalan-jalan Kyoto dan Osaka bersinar terang sebagaimana pada masa kejayaan zaman ke-shogun-an Ashikaga. kacau dan bingung. Kemudian terpandang olehnya bagian pagar jembatan. dan Musashi asal mengangguk saja. sekitar dua dasawarsa kemudian. melihat ke dalam air. la memandang ke langit. Tapi hanya sedikit orang yang yakin bahwa perdamaian itu akan kekal. mencengkeram pagar jembatan dengan kerasnya.

"Ke mana lagi kalau bukan ke tempat kemarin malam?" jawab sang guru dengan muram. Di samping mereka berdiri tembok panjang berplester putih yang berakhir pada sebuah gerbang mengesankan dan beratap mengagumkan. Begitu mereka memasuki daerah pelacuran. Ieyasu secara resmi sudah mengundurkan diri dari kedudukan shogun. Hideyoshi telah berbuat sebisa-bisanya agar kekuasaan tetap berada di tangan keluarga Toyotomi sampai Hideyori cukup umur. "Ke mana kita pergi malam ini." "Kenapa mesti pusing? Apa yang terjadi.property of: CROSSFiRE." "Barangkali dia benar. Sering orang mengatakan bahwa Hideyori memiliki cukup banyak puri dan emas hingga bisa membeli semua samurai tak bertuan atau ronin di negeri itu. jika ia mau. Mereka memasang taruhan yang jumlahnya sama untuk kemenangan kedua belah pihak. terjadilah. Perempuan-perempuan malang yang dibeli secara berkelompok itu memetik shamisen. Mereka pun berbaik-baik dengan Hideyori maupun shogun untuk mengamankan diri. Spekulasi kosong mengenai masa depan politik negeri itu merupakan bahan utama pergunjingan di udara Kyoto. tapi semua orang tahu bahwa perjalanannya ke barat itu akan lebih dari sekadar kunjungan kesopanan. tirai-tirai merah dan kuning pucat tergantung melengkung di pintu masuk. Tempat ini bisa menjadi titik kumpul yang mungkin dipakai untuk perlawanan. Di situ kupu-kupu malam menjalankan usahanya. Selagi masih cukup kuat untuk menguasai daimyo lain dan mempertahankan hak keluarga untuk berkuasa. Saingan terbesarnya yang potensial. Mereka menyanyikan lagulagu mesum clan tertawa-tawa antara sesamanya. dan sebagian lagi membawa lembing. Mereka tampak kuat. Meskipun Ieyasu tidak menying-kirkannya. netcafe. ia sadar bahwa Osaka merupakan ancaman besar. Sebuah papan kayu yang sudah hitam warnanya karena usia. Kimono cokelat tua yang bagus potongannya menutup tubuhnya yang jangkung. "Ah! Perempuan-perempuan itu semuanya jatuh hati kepada Tuan! Mereka hampir tidak memandang kami. ia menoleh ke belakang dan katanya kepada Ebook by Kang Zusi . tetapi pemenang di Sekigahara adalah Ieyasu. Nama tuan muda itu Yoshioka Seijuro. memuat tulisan yang hampir tak terbaca lagi: Yoshioka Kempo dari Kyoto. alat musik yang belum lama populer. Gadis-gadis dari Provinsi Tamba dengan muka berpupur sembarangan menyiuli calon pelanggan. Di antaranya adalah sekelompok samurai yang kini sedang berjalan membelok masuk Jalan Shijo. ia menyerahkan gelarnya kepada anak lelakinya yang ketiga. tampaknya mereka benar-benar tenggelam dalam persoalan ke mana akan pergi minum dan melacur." "Tinggal masalah waktu. malahan mengizinkannya menikmati penghasilan tahunan yang besar jumlahnya. Hideyori masih bersemayam di Puri Osaka. Ada desas-desus bahwa shogun baru akan segera mengunjungi Kyoto untuk menyatakan hormatnya kepada Kaisar. Toyotomi Hideyori. Instruktur Militer bagi para Shogun Ashikaga." yang lain menyela. Tuan Muda?" tanya mereka beramai-ramai sambil mengelilingi guru mereka. adalah anak Hideyoshi." "Mari kita bersuka ria selagi bisa!" Kehidupan malam yang sibuk dan tempat-tempat hiburan yang semakin meriah merupakan bukti nyata bahwa kebanyakan penduduk memang melakukannya. jenis orang pertama yang melihat tumpahnya darah pada saat pertarungan senjata meletus. cepat atau lambat. nilainya pun melonjak. Bertahun-tahun tanah itu kosong dan penuh ditumbuhi rumput. "Perang pasti pecah. Wajah mereka sekeras batu dan mata mereka penuh ancaman. Inc. di mana tak ada orang mengenal Tuan Muda atau salah seorang dari kita?" Sambil berteriak-teriak dan ribut tak keruan. benar-benar lambang kehancuran perang. Banyak penguasa feodal lainnya juga mengetahui hal ini. Hidetada. penerus Nobunaga. Sekalipun masih memegang kekuasaan. Sebagian mengenakan pedang kayo sebagai pelengkap pedang baja yang biasa. Rumah-rumah rapuh tersebar di sana-sini. Mereka masuk daerah yang berpenerangan balk di sepanjang tepi Sungai Kamo. seakan selamanya berada di ambang letusan kemarahan." "Lentera-lentera jalan ini bisa padam besok. Tetapi bersamaan dengan datangnya damai. Kedelapan samurai muda itu kelihatannya selesai berlatih pedang terus-menerus sepanjang hari. "Kenapa tidak kita coba tempat lain yang baru.

Seijuro memang memiliki tubuh yang bagus." Toji." "Betul. tapi mereka tidak mengenakan hiasan tiga lingkaran pada kimononya. "Lihat. Ia menoleh dan memerintahkan salah seorang untuk mencari topi yang dimaksud. Ketika orang yang disuruh itu kembali." Seijuro menunduk memandang lengan kimononya. Sikap ini diambilnya belum lama setelah ia. belikan aku topi anyaman. orang dari Perguruan Yoshioka suka memakai warna cokelat tua. tak pernah ia kekurangan uang. itu tuan dari Jalan Shijo!" ujar salah seorang perempuan itu. sebelum Toji dapat membuka mulut." katanya. "Kenapa Anda menyembunyikan wajah? Anda tidak bisa mengecoh siapa pun. "Anda lebih tampak seperti orang yang tahu mode. jangan malu-malu. Saat itu juga sebuah tangan dari belakang kisi-kisi terulur dan menarik pakaian itu. bukan?" jawab Gion Toji. ia memancarkan kemuliaan dan kelas yang memang pantas bagi anak keluarga kaya." kata perempuan itu. wah. dan ia masih malu dilihat orang di sana." Toji tertawa.property of: CROSSFiRE. Masih ada rasa malu yang disembunyikannya. menyokong kesombongannya seperti racun yang manis. "Aku mesti lebih hati-hati. "Semua orang tahu. tentunya Anda dari keluarga baik-baik. "Oh. Terlahir sebagai anak tertua pemain pedang terkenal. tampan! Kenapa sembunyi di bawah topi jelek?" "Ayolah kemari! Saya ingin lihat yang di bawahnya." "Bagaimana perempuan itu bisa tahu siapa aku?" geram Seijuro kepada Toji. "Hei. Seijuro mengenakan topi dan merasa lebih santai. Tentunya dia memang ingin dikenali. Perhatian yang ditunjukkan orang kepadanya membuat detak darahnya berpacu." "Anda membutuhkannya bukan untuk di sini. Jilatan pengiringnya tak kalah ampuhnya dengan cumbuan perempuan. saya kira. sedang menggoda dan sekaligus menjilat tuannya." Ebook by Kang Zusi . dan barangkali dari keluarga kaya. netcafe." "Ya. "Mudah sekali. lalu ia berdiri menanti orang yang disuruh itu pergi melewati lentera-lentera dan orang-orang yang sedang bersuka ria. supaya dapat benar-benar melihatnya. untuk pertama kalinya. perempuan-perempuan itu semua melongok dari pintu. Namanya 'warna Yoshioka'. tapi tidak menyembunyikan hiasannya. Yoshioka Kempo. Dengan dua sarung pedang bersemir mengilat yang tergantung di sisinya. tapi itu salah satu di antaranya. "Aku tak suka orang melihat anak Yoshioka Kempo berkeliaran di tempat seperti ini. Inc. Warna itu populer sekali di sini." "Ayo. "Menyembunyikan wajah." Seijuro menanggapi ajakan-ajakan menggoda ini dengan berusaha kelihatan lebih tinggi dan lebih mulia lagi. Sebagai anak manja dari keluarga kaya. Biar kami melihat. "Dengan topi itu. "Wah." ucap Toji. betul-betul tak mungkin sekarang untuk tidak singgah." "Yang dapat menyembunyikan wajah Anda?" "Ya. pura-pura tersinggung. Tentu saja ada alasan lain kenapa mereka suka pada Anda. Semua perempuan di sini tahu bahwa kalau Anda menyembunyikan wajah dengan topi. banyak orang lain yang memakainya juga. Tapi seperti kaukatakan. "Toji. Jadi." Tanpa jilatan Toji pun. berhasil dibujuk Toji untuk menginjakkan kaki di daerah itu." Sambil menoleh kepada yang lain-lain. "Tapi itu justru menarik perhatian. tapi sampai waktu belum lama berselang ia tak kenal dengan sisi buruk kehidupan ini. "Aku takkan minta kalau tidak membutuhkannya di sini!" decap Seijuro tak sabar. sebagaimana biasa. ia melanjutkan jilatannya secara tak langsung. salah seorang dari kelompoknya." kata Toji. ia selalu suka pamer. Maka tak ada topi jerami yang dapat menghentikan perempuanperempuan itu menegurnya ketika ia lewat.

" "Terima kasih? Katanya kau samurai. yang juga memesan beberapa penganan pilihan. pagar bambu. Ebook by Kang Zusi . "Lihat! Dia mau menarikan tarian Perawan Hida! Mari kita dengarkan nyanyiannya juga. sedang lainlainnya tak bisa bergerak lagi dan hanya melotot kosong dengan mata merah. Aku ingin mencumbunya hari ini Di sebuah sudut. seorang siswa mengangkat mangkuk sake yang besar untuk rekannya." Dan satu sloki lagi terbang. Kimono berlengan panjang di salju. "Keluarkan sake!" perintah Toji. Tapi kalau aku minum. Tak tahulah apa yang terjadi esok. "Bagaimana kalau minum ini sekali teguk?" "Tidak. terima kasih." kata Ryohei. Inc. Sesudah makanan datang. "Semaumulah. hingga sukar bagi Seijuro untuk merasa senang. tapi kalian takkan menemukan uban dalam rambutku. beberapa orang di antaranya sudah mulai muntah. pagar bambu. netcafe. ditusukkannya kembang prem ke dalam simpulnya. Ueda Ryohei yang menjadi tandingan Toji dalam permainan pedang berteriak. dan tunjukkan kau masih muda. "He." "Lepaskan. Lihat!" Ryohei pergi ke sudut beranda." kata Seijuro yang tampak tak enak. Lemparkan ke sini!" Sloki sake pun melayang di udara. "Hei. dan diambilnya sapu. Kamar yang mereka masuki itu. perempuan!" raung Toji. itu adil!" Pertandingan pun dimulai. Ryohei! Menarilah. memberengutkan muka. sedangkan satu orang mendentang-dentangkan penjepit api ke pinggir anglo. Namun yang lain-lain tidak memperhatikan joroknya lingkungan. dan mulailah mereka. "Keluarkan perempuan!" Perintah itu diberikan dengan nada yang sama masamnya dengan nada yang dipakai Toji untuk memesan makanan dan minuman." "Boleh. "tapi suruh perempuan ini melepaskan lengan bajuku." "Kau menyemirnya barangkali. kami akan masuk!" Para siswa itu pun berkerumun masuk ke bawah tirai warung. "Beliau bilang. keluarkan perempuan!" kata yang lain-lain serentak menirukan suara Ryohei... "Dan ini balasannya. Di situ diikatkannya celemek merah milik pelayan ke belakang kepalanya. hiasannya tanpa selera sama sekali. dan perempuan-perempuan melanjutkannya dengan iringan shamisen. tapi tak bisa kau menghabiskan ini?" "Tentu saja bisa. "Kau menari. maju ke depan dan minum satu sloki sebagai hukuman!" "Susah-susah amat. mengetuk-ngetuk piring secara berirama dengan sumpitnya.. Gadis yang kulihat kemarin Tak ada lagi hari ini. siapa yang menari!" Seijuro berseru. Tenggelam dalam tepuk tangan sesudah bait pertama. Gadis yang kulihat hari ini Takkan datang lagi esok hari." "Siapa yang mengatakan itu.property of: CROSSFiRE. dan sake mengucur dart sudut-sudut mulut mereka. Gambar-gambar kampungan dan bunga-bungaan disusun morat-marit. Toji pun membungkuk. "Aku tak suka disebut tua. Ueda tua bilang. Katanya. kau juga mesti!" "Ya. Di balik pagar bambu. Mereka minum seperti kuda di palungan. Kulihat kimono berlengan panjang. Kira-kira sejam kemudian. Toji!" Ia mengajak mereka semua menggabungkan diri. "Memang aku lebih lama dari yang lain-lain belajar di perguruan ini.

kenapa pula mesti membohongi diri sendiri?" "Pengecut! Kau pura-pura jadi samurai." sedannya. Apa mereka itu betul-betul menikmatinya? Rasanya tidak. Di Kyoto saja ada Perguruan Toda Seigen di Kurotani. menyatakan. ada yang benar-benar mengerti teknikteknik Delapan Gaya Kyoto? Kalau ada-hik-ingin aku ketemu dengannya." Ebook by Kang Zusi . Percayalah. di luar Tuan Muda. "Aku cuma mengemukakan pendapat untuk kebaikan perguruan ini. Kyushu-di seluruh negeri ini. Ayo. provinsiprovinsi barat. Hups!" Seorang anggota perguruan yang duduk dekat Seijuro tertawa. Itu sama sekali tidak benar. "Tenang!" "Kami semua mengerti perasaan kalian.. "Apakah Anda tidak menikmati pesta ini?" "Ah." "Apa istimewanya mereka itu?" "Maksudku. provinsi-provinsi dalam. tapi kau takut pada perguruan lain!" "Siapa yang takut? Aku cuma ingin kita menjaga diri dari rasa puas diri." "Tapi siapa kau ini." Murid-murid senior. "Kau ingin berkelahi?" geram orang yang jatuh. sedang si pengecam." "Bajingan picik kamu!" seru seorang yang merasa tersinggung harga dirinya. Echizen. Sekarang jauh lebih banyak orang yang mempraktekkan Jalan Pedang. dan Perguruan Yoshioka ini tidak lagi yang terbesar. Bicaranya tersendat-sendat. Ada perguruan lain di samping delapan yang ada di Kyoto ini. dan Ogasawara Genshinsai di Kitano. "Ya. "Berhenti kalian!" Keduanya melompat. "Apakah di negeri ini. tapi kau mengecilkan Gaya Yoshioka Kempo?" "Aku tidak mengecilkannya! Sekarang ini tidak seperti dulu. Inc. "Dia mengumbar jilatan karena Tuan Muda ada di sini.. "Kalau orang terus menyemburkan jilatan. sambil menangis memeluk Ryohei. "Maju!" "Begini?" jawab si pengecam dengan tajam sambil bangkit. Inilah cara mereka bergembira. Hitachi. Toji berkata. cegukan. nama baik Yoshioka Kempo akhirnya akan runtuh." "Aku tak percaya kalau kelakuan mereka seperti itu. netcafe. mempertahankan pendapatnya. "Kau anggota perguruan ini. menengahi. dan akhirnya keadaan normal kembali. memisahkan yang berkelahi. dan mencoba meredakan kemarahan mereka. dan semakin lantang bicaranya kalau makin banyak minumnya." Beberapa sloki sake lagi dituangkan untuk mereka yang berkelahi. Melihat ini. kita tidak boleh merasa kita ini satu-satunya pemain pedang di dunia. walaupun tidak menerima siswa. berani-berani memberi peringatan?" Murid yang tersinggung itu meninju dada lawannya hingga terjatuh." "Tentu. Si penghasut sekali lagi memuji-muji dirinya dan lain-lainnya. ketika guru mengajar para shogun dan dianggap pemain pedang terbesar. tidak hanya di Kyoto. runtuh!" Hanya Seijuro yang tetap paling tenang.property of: CROSSFiRE. Gion Toji dan Ueda Ryohei. Ketenaran Yoshioka Kempo tidak berarti Tuan Muda dan kita semua ini pemain-pemain pedang terbesar masa kini. Dan jangan lupa Ito Ittosai di Shirakawa. Satu orang yang punya kebiasaan bicara keras. tapi juga di Edo..

menghampar halaman luas Zuisenin. dan menggantungkannya kembali." "Lihat. netcafe. Sering kali mereka membuka dan menutup jendela sendiri. kenapa teh tidak dihidangkan. kenapa Oko lama betul. kenapa sebagian lelaki bisa begitu suka menolong dan penuh perhatian bila sedang mengunjungi tempat seperti mi. tapi Toji. bagus. Dia malahan tidak membawakan kita teh. Tempat ini berada dekat Kayahara. gundik-gundik. regent Hidetsugu yang kejam. dan melakukan selusin pekerjaan kecil lain yang tak terbayang akan mereka lakukan di rumah sendiri. Oko heran. Itu sebabnya saya giring mereka kemari-murah. "Ya. "Oko! Biar kugantungkan lampunya.property of: CROSSFiRE. tapi di sana cuma buang-buang uang saja kalau membawa gerombolan orang bebal ini." la gelisah sedikit." "Oh. Kurasa kau suka dia. Angin mengembus lilin lentera itu. Di bawah beranda sempit itu berdesir air Sungai Takase. hampir saja ia bertumbukan dengan Akemi yang sedang membawa baki berpernis emas. Tak seorang pun melihat. mencoba menggantungkan kembali lentera ke pakunya. Seijuro berkata." Seijuro tampak sangat lega dan segera saja setuju. Ayo ambilkan lap." kata Toji." Ketika orang itu mendekat ternyata bukan Seijuro. ya? Di mana Oko?" Ebook by Kang Zusi . dan rambutnya yang baru dikeramas tergerai di sekitar wajahnya. seorang perempuan sedang berdiri berjinjit. Toji jadi gugup." Ketika akhirnya ketidaksabaran itu berubah jadi kegelisahan. Biar Ryohei mengurus orang-orang ini. Punggungnya tegak di bawah tepi atap. Giring-giring kecil pada obi-nya berdering ketika ia berseru." Tetapi Toji melirik lentera itu. Saya akan menyusul beberapa menit lagi. Suatu peristiwa yang masih segar tersimpan dalam kenangan banyak orang." "Mari kita pergi diam-diam. Inc. Terima kasih. jajaran hitam Teramachi atau "Kota Kumpulan Kuil". Tuan Muda. "Awas! Bisa tumpah teh ini!" "Kenapa kau begitu lambat? Tuan Muda di sini. Di mana saja perempuanperempuan sembunyi? Rupanya tak ada pelanggan lain malam ini. "Tunggu. di seberang jembatan kecil di Jalan Sanjo. Di sini pasukan Toyotomi Hideyoshi membantai istri. dan anak-anak kemenakannya. "Cukup?" tanya Toji. Di sebelah selatan. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Saya sendiri sudah bosan di sini." "Maksud Anda Yomogi?" "Ya. dan padang miskantus. padahal di rumah sendiri mereka sama sekali menolak mengulurkan tangan. mengeluarkan bantal-bantal sendiri. Semerbak kembang prem mengambang di angin petang. tak jauh dari situ." "Saya buka pintu ke beranda." kata Oko kaget. ia tidak dapat lagi duduk tenang. Waktu melangkah ke beranda." Seijuro menghilang dengan lihainya. tumpah sebagian. Untaian rambut dan cahaya lentera menimbulkan bayang-bayang yang terus berubah-ubah di kedua tangannya yang terulur. "Masih terlalu sepi di sini. menganggapnya miring. dan ia menurunkannya untuk menyalakannya kembali. Toji berpura-pura tidak mendengar. "Aku ingin pergi ke tempat kemarin malam. Tadinya saya kira Anda memang ingin pergi ke sana. dan mempersilakan tuannya masuk. Ini salahmu. Ia berdiri mencari tahu." "Di sana memang jauh lebih baik. "Saya heran. Begitu duduk. "Tenang sekali di sini." "Ha! Lancang kamu." "Anda pura-pura pergi ke belakang. Di luar rumah.

"Tak usah lari." Berusaha selugu mungkin." "Tapi aku yakin! Betul-betul yakin! Pertemuan yang menyenangkan." "Jadi. "Oh. "Apanya yang lucu? Kupikir ibumu suka dia juga. dan katanya." Ebook by Kang Zusi . Kemudian diselipkannya pipa itu ke mulut Seijuro. Paling tidak. memandang ke samping. Betul?" Akemi tertawa. aku akan merokok. ia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Akemi dan menariknya. Seijuro meletakkan tangannya ke tangan Akemi yang terletak di pangkuan." Ia merasa jengah. netcafe. "Berhias tentu saja." "Saya betul-betul tidak tahu." "Baiklah. dan Akemi masuk kamar menyalami tamunya. siang hari kami sibuk sekali." Akemi mengambil sejumput tembakau dari sebuah kotak kecil dari kerang mutiara dan memasukkannya ke dalam pipa dengan jari-jarinya yang mungil dan molek. Akemi menyingkirkan tangan itu dengan santun." "Saya nyalakan apinya. kamu. "Aku tak akan menyakitimu. Terima kasih atas yang semalam. tapi tidak menjawabnya." "Lepaskan!" protes Akemi. Inc. "Hmm.property of: CROSSFiRE. ya? Dua pasangan bahagia-ibumu dengan Toji." Toji minggir. dia belum selesai?" "Ya. tetapi tindakan ini malah membuat Seijuro menjadi lebih berani. "Anda ingin merokok?" tanyanya sopan. pahit. asalkan kau duduk lagi. Akemi mengikik. "Baik." katanya. Seijuro memegang pipa itu dengan kaku. Karena tidak terbiasa. Kukira dia sering datang kemari tanpa aku. ya!" katanya. Terima kasih atas kedatangan Anda." Seijuro berpura-pura acuh tak acuh. Dari baki itu Akemi menurunkan guci yang menyerupai pedupaan dan meletakkan di atasnya sebuah pipa yang bagian pengisap dan kepalanya terbuat dari keramik. kau dengan aku. Ketika Akemi berdiri." "Siang? Siapa yang datang siang-siang?" "Itu bukan urusanmu." "Memang. begitulah kelihatannya." "Rupanya dia suka Oko. Akemi. "Selamat malam. "Toji ke mana?" "Barangkali di kamar Ibu. tapi semua orang masih juga merokok. Biarkan aku lewat. "Rasanya tembakau baru-baru ini dilarang.

dan bersama-sama mereka membujuk Seijuro untuk kembali duduk. Semakin jauh ia melangkah. sedang asyik ngobrol dengan Toji. tuang sedikit sake untuk Tuan Muda. Oko minta pertolongan Toji. Melihat betapa kecewanya Seijuro. Kelihatannya baru sekitar enam betas atau tujuh belas. saya senang sekali. ia menggerutu keras." kata Oko. Ketika kembali. Oko membawakan sake dan mencoba menggembirakan Seijuro." Dengan pandangan mengancam. netcafe. dan tanyanya. mau ke mana? Tuan Muda belum mau pulang. tapi kelihatannya ia lebih cenderung menghibur diri sendiri daripada menyenangkan hati para tamu." "Tapi kalau saya tidak ambil." "Dua puluh satu? Tak kukira sudah setua itu. "Tuan Muda. Oko berkata. "Sake. Saya ingin tetap umur enam belas selamanya. tapi Akemi mengelak dan berteriak-teriak meminta tolong. "Betul? Oh. Oko muncul begitu saja di belakangnya. ia mulai bermain dan menyanyi. "Aku pulang sekarang. Ia kesepian. bagaimanapun dia memang sudah dua puluh satu tahun. Menyembunyikan bulan Yang hanya terlihat lewat air mataku." kata Akemi patuh." dan turun ke gang luar. "Saya tak bisa menceritakan pada siapa pun." kata Toji sambil menggeser bantalnya ke dekat meja." kata Toji. dan Akemi lari ke belakang rumah." "Apa?" "Oh. Tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Tapi oh! Betapa kau memikatku! "Yah. kemudian Toji mendatangkan kembali Akemi ke kamar itu.. "Akemi. gadis itu pun melontarkan senyuman. Dia begitu kecil.. Saya cuma mau ambil sake. Biarlah ia berawan. ayo minum sake samaEbook by Kang Zusi . dan katanya. Tapi betul. Kalau berawan." "Ibu di kamar lain.. Ia memeluk pinggang Tuan Muda. Ibu marah." katanya sambil menangkupkan tangannya ke dada. Malam ini. tapi tak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Teruskanlah. "Akemi. "Anda paham. Seijuro jadi gundah. "Tuan lihat sendiri. dan katanya." "Itulah daya tariknya-dia masih muda. "Tukang bual! Kau jangan bikin kami bosan di sini. "Ibu! Ibu!" Seijuro melepaskannya. Sesuatu yang indah terjadi. "Tingkahnya seperti anak kecil saja." Sambil cemberut sedikit.property of: CROSSFiRE. Inc. Bu. Seijuro yang selama ini duduk diam sambil menyandarkan dahi di tangan kini tergugah lagi. Waktu itu tahun pertempuran di Sekigahara. dan tampak rambut Oko sudah rapi dan riasannya sudah beres." Seijuro mencoba menggosokkan pipinya ke wajah Akemi yang tertunduk. Akemi berdiri dan pergi mengambil alat musiknya. Pergi sana ambil shamisen-mu. Ia berhenti menyanyi. semakin merah tua mukanya. ketika saya umur enam betas." Akemi tiba-tiba jadi kembali hidup seperti ikan." Bahkan di malam yang tergelap pun Tak hilang jalanku. "Tapi dia sudah dua puluh satu umurnya. Toji?" "Aku tak yakin." "Aku tak mau sake." "Ya. berlari lewat ruang depan. kan?" Entah dari mana datangnya.

"Bisa juga kau minum. Rupanya karena tak puas dengan ukuran sloki itu. Ia mengatakan pada Oko bahwa kalau Tuan Muda sudah demikian bersemangat." Keduanya lalu mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke kamar Seijuro. dan keluarganya punya banyak uang. ia mengambil sloki lain yang lebih besar. Oko lama tidak juga muncul. Sambil semakin mendekati Oko. dengan bibir yang tidak pernah dicium dan mata yang memejam malu. Ia berbaring di sana sambil mengetukngetukkan jarinya ke tatami. yang diteguk lagi dengan cekatan. Inc. "Entah kenapa. berarti ia ingin tidur dengan Akemi. ya?" Selesai meneguk bagiannya. "Nanti. wajahnya masam.. dan selama setengah jam sesudah itu ia terus menandingi Seijuro. Seijuro sudah bangun dan sedang minum di kamar yang menghadap sungai. sama. berpikir. " Tak ada penerangan di kamar itu. di mana ia mulai berbisik-bisik cepat. pikirlah!" desak Toji. ternyata dapat mereguk sake seperti lelaki. Dari segala segi. Seijuro agak heran. Malam ini aku tidak pulang. Sebaiknya biarkan dia main shamisen saja." kata Oko pada Seijuro. tidur nyenyak. Tapi tentu saja perasaan seorang ibulah yang terpenting dalam hal-hal seperti itu-atau dengan kata lain. Dan lagi. "Anda dapat tinggal di sini selama Anda maubetul kan. Ayahnya punya murid yang jumlahnya lebih banyak daripada murid siapa pun di negeri ini. anak itu dapat minum semalam suntuk tanpa mabuk. Akemi mereguknya tanpa menolak-nolak lagi dan cepat menyerahkan kembali sloki itu pada Seijuro. Baik Oko maupun Akemi tampak cerah dan gembira. "Bukan pasangan yang jelek! Dia guru seni bela diri yang terkenal. Akemi?" Toji mengedip pada Oko. ini tawaran menarik. dan mendapati Seijuro seorang diri.property of: CROSSFiRE." jawab Toji. kemudian menuntun Oko ke kamar lain. Seijuro kagum. Sudah siang ketika ia bangun esok harinya." "Nah. Ke mana saja perginya sake itu dalam tubuh mungil itu? "Anda sebaiknya berhenti saja. kemudian meletakkan bibirnya yang basah ke telinga Toji." "Tak ada tapi-tapian. Justru pada waktu itu terdengar suara keras di kamar sebelah. Pokoknya jadi! Kami berdua akan menginap disini. Karena merasa suaranya sudah terdengar aneh. "Ada langganan lain?" Oko mengangguk. Mereka sedang membujuk Seijuro agar mau berjanji. Akhirnya pelupuk mata Toji menjadi berat dan berlayarlah ia ke alam mimpi. menantikan Oko. ya. Oko menempelkan jarinya ke pipi yang berbedak tebal itu. Akan susah jadinya kalau Akemi menolak. Gadis yang tampaknya berumur enam belas tahun. dia belum kawin.. tapi. berapa bayarannya? "Nah?" desak Toji mendadak. "Anda tak apa-apa? Tidak kebanyakan minum?" "Tak apa-apa. aku juga pikir begitu. sloki demi sloki. "Apa itu?" tanya Toji. Toji mengambil kamar sebelahnya. bisiknya. merebahkan diri di kasur jerami." Ia mengulurkan sloki pada Akemi dan mengisinya dari tempat pemanasannya. "Ya. di belakang." "Tapi ini benar-benar menyenangkan!" kata Seijuro yang kini betul-betul merasa senang. katanya. netcafe. Toji!" "Bisa saja. seolah-olah mereka telah lupa malam sebelumnya. Seijuro menawarkan lagi pada Akemi. Ebook by Kang Zusi . Dengan seenaknya Toji meletakkan tangan ke bahu Oko. katanya. Toji bertanya.

" "Sesudah Tuan berjanji?" "Yaaa." "Aku bukan tamu!" pekik orang itu ke langit-langit. Mari kita pulang. Di sana kelompokkelompok pemain wanita berlomba-lomba memikat penonton. Di daerah ramai sepanjang sungai itu berdiri panggung berderet-deret. yang merasa jengkel karena pengalaman malam sebelumnya. Banyak di antara mereka menggunakan nama pria. "Aku tidak betul-betul ingin membawa mereka itu melihat Kabuki. "Memang menarik membawa perempuan ke luar. Apa kata para siswanya tentang ketidakhadirannya? Tidak sangsi lagi. Toji melayangkan pandang ke kamar tempat pakaian para wanita itu berserakan. Sudah lewat tengah hari. tidak tembus matahari dan berbau apak kain seprai. Tuan akan ajak kami?" "Baiklah. Ia tidak berusaha bangun. Toji. "Oh." katanya cepat. Toji berkata. seperti malam dengan siang bedanya. Para aktris itu sebagian besar mulai sebagai wanita malam. tidak bersemangat seperti biasanya. "Toji. tiba-tiba mereka mulai ribut soal apa rambutnya sudah benar atau obi-nya sudah lurus? Brengsek betul!" Pikiran Seijuro melayang ke perguruannya. mengganggu. pedangnya terletak sembarangan di atas perutnya. "Tutup pintu!" Ebook by Kang Zusi . Seorang samurai jorok tergeletak di lantai. kita pergi. pakaian dan penampilannya tak bisa disangsikan lagi menunjukkan bahwa ia salah seorang ronin yang sering kelihatan bergelandangan di jalan-jalan. Telapak kakinya yang kotor menghadap muka Toji.. Alangkah herannya ia. Di kamar sebelah pun mereka tak ada. dan juga tak ingin berurusan dengannya. Saya akan menyuruh mereka buru-buru. Di bawah jembatan kecil di Jalan Sanjo perempuan-perempuan sedang mengelantang kain di sungai. "tapi kenapa justru waktu kita sudah siap berangkat. karena kedua wanita itu tidak kelihatan. kamar itu beralas tikar rombeng.. Inc. lain sekali dengan kamar-kamar depan yang menyenangkan. "Siapa itu?" Melompat mundur. "Apa kedua orang itu belum juga siap?" tanyanya kesal. "Jadi." "Mereka sudah begitu gembira! Mereka akan marah besar kalau kita ingkar janji. Kabuki adalah tarian jenis baru yang disertai kata-kata dan musik. Saya tidak tahu di sini ada tamu. Masing-masing berusaha mencapai taraf kepribadian sendiri dengan menambahkan tari-tarian dan lagu-lagu daerah yang istimewa ke dalam repertoarnya. netcafe." gerutunya. Diciptakan oleh seorang biarawati bernama Okuni di Kuil Izumo. dan membalik pergi. yang sedang digemari orang di ibu kota. mendecap mengecamnya.property of: CROSSFiRE. sudah tak ingin lagi ia melihat Kabuki. Namun kini sesudah naik panggung. Di sebelahnya lagi terdapat kamar kecil yang suram. Seijuro duduk memandang ke luar pintu. pria-pria berkuda mondar-mandir di jembatan." Dari gang rumah. mengenakan pakaian pria. memancarkan bau sake." Mereka bicara tentang Kabuki Okuni yang sedang mengadakan pertunjukan di tepi sungai di Jalan Shijo. Kepopulerannya menyebabkan banyak orang lain meniru. maaf. disambut oleh raungan kemarahan. "Tunggu!" kata orang itu dengan kasar sambil bangkit sedikit. "Maaf. Toji membuka pintu. "Ke mana pula mereka itu?" tanyanya tak habis pikir. Toji menatap ke dalam kamar sempit yang gelap itu. terbaring saja di situ setengah sadar. Denshichiro. pasti adiknya." katanya. Lebam karena minum dan lelah karena menanti. Siapkan beberapa kotak makan siang dan bawa juga sedikit sake. Ia seakan mendengar bunyi pedang kayu dan detak gaganggagang lembing. Toji tidak tahu siapa orang itu. dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang menggetarkan sebagai prajurit yang gagah berani. mereka biasa dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di rumahrumah orang paling kaya di ibu kota.

Badannya pun mulai gemetar. "Kalau kau seorang suami. tapi kalau begitu. Seakan-akan sedang mengomeli anak kecil. "Siapa yang kausebut orang gila? Apa maksudmu bicara begitu pada suamimu?" Oko melepaskan diri darinya. Oko dan Akemi berpaling meninggalkannya. kapan saja!" Selagi Matahachi berusaha menahan air mata kemarahan. "Tak mau ikut kami?" "Ke mana?" "Lihat Kabuki Okuni. Kaget oleh kekasaran itu. Begitu Toji pergi. dan selamanya kau akan jadi orang goblok. atau yang lain. Nah. "Kenapa tidak?" katanya kejam. Lalu tidak kaubolehkan aku melakukan kerja yang jujur." "Kalau ingin angkat batu atau potong kayu. tak bisa tinggal di rumah kecil yang kotor-tak ada yang kausukai. "Kau selalu cemburu tanpa alasan! Ayo. Mengeluh apa lagi?" "Aku sudah bilang mau pergi dan kerja! Aku sudah bilang. muncullah Oko. dan selalu menjadi Ebook by Kang Zusi . "Suami macam apa yang mau jalan bersama lelaki lain yang sedang mengejar-ngejar istrinya?" tanyanya pahit. gelandangan tak berguna?" "Heh!" "Kau hampir tidak menghasilkan apa-apa sejak kita meninggalkan Provinsi Omi. bertanya. "Tutup apa?" "Tutup kedai minummu. dan kau mulai membuka kedai minum yang busuk ini. ya. "Nah." Matahachi tidak menjawab lagi. Tapi sekarang rasanya sama saja seperti ditangkap musuh. Kaubilang tak bisa makan ini. Toji pun melakukan apa yang diminta. mencekal kimono Oko. Ketika Oko menyembunyikannya di rumahnya dekat Gunung Ibuki dulu itu. Akemi. atau menjadi piaraan seorang janda jalang. minum sake dan malas-malasan. Tapi lama sesudah mereka tidak kelihatan. hidup sendiri saja! Susahnya. biar dengan menyeret batu karang. "Katanya kamu lelaki!" Walaupun Oko melontarkan kata-kata itu dengan penuh kejijikan. Dandanannya habis-habisan. jadilah buruh. Kau cuma menggantungkan diri padaku.property of: CROSSFiRE. tutup itu. Matanya menyala marah. mau makan apa besok?" "Aku bisa dapat cukup uang untuk hidup kita. Cukup untuk kita bertiga. ia merasa beruntung telah menemukan orang yang akan mencintai dan mengurusnya." Mulut Matahachi mencibir muak. dalam kegelapan. netcafe. tutup itu!" pekiknya. Oko merasa wajahnya bagai disiram air dingin. Matahachi tetap diam dengan muka cemberut. "Ini omongan apa? Apa maksudmu antara aku dan Toji ada apa-apa?" "Siapa bilang ada apa-apa?" "Kata-katamu itu yang bilang. marah apa lagi sekarang?" Akemi yang baru saja berdiri di belakang ibunya. menyeret batu pun aku mau buat dinding puri. tak bisa memakai itu. kau dilahirkan sebagai orang goblok." Matahachi mengulurkan tangan. Kau bebas pergi. Inc. Tapi itu tak cukup baik buatmu. Mana yang lebih baik? Menjadi tawanan. "Tapi kau membuatku muak!" desisnya. dan katanya. Kita jangan buang-buang waktu untuk orang gila ini. kenapa tidak bertindak seperti suami? Siapa menurutmu yang memberimu makan. jelas ingin kelihatan sebagai nyonya besar. ia masih juga menatap pintu. Mestinya kau tetap tinggal di Mimasaka! Percayalah. ia berkata pada Matahachi." "Dan kalau kututup. dan pergi. kenapa tidak pergi saja? Sana. aku tidak minta kau tinggal terus di sini. dan tidak lagi menjadi lelaki sejati? Apakah lebih buruk merana di dalam penjara daripada menderita di sini.

oh. Ia harus menemukan jalannya yang telah hilang." "Tapi. Ia sadar bahwa cara hidupnya beberapa tahun belakangan ini telah membuatnya kehilangan kemampuan berpikir dengan jelas. ia begitu marah pada kelemahannya sendiri yang seperti pengecut itu. Ia merasa pemandangan itu sangat menghinanya. tak mau ia berangkat. tidak..property of: CROSSFiRE.. aku sudah mendengarnya. Ia pun muak dengan dirinya sendiri. netcafe. Mereka semua begitu baik padanya. namun telah dibiarkannya sundal berbedak dan bernafsu garang ini menurunkan derajatnya hingga sama tingkatannya dengan dia. Dia pikir dia sudah di tempat pertunjukan. Kepalanya sakit karena bingung. "Apa kerjamu di sini? Apa tak ada lagi harga dirimu? Bagaimana mungkin kau membiarkan segalanya seperti itu? Idiot! Lakukanlah sesuatu!" Kata-kata itu ditujukan pada diri sendiri. kalian berdua tentunya dapat uang banyak. "Anjing betina busuk!" Air mata meluap langsung dari dasar hatinya. Lonceng di Shippoji tentunya berdentang hari ini. "Sungguh tolol aku ini! Sungguh aku si tolol gila. Dengan mata masih merah karena marah. Umurmu baru dua puluh dua. ya?" "Ah. Ia tahu bahwa jalan satusatunya untuk keluar dari hidup sekarat ini adalah meninggalkan segalanya dan kembali kepada aspirasi masa mudanya. aku pergi!" demikian kilahnya. sepertibiasa. namun. Bu. Seperti dentangnya pada hari-hari lain. Namun. Matahachi mencuri pandang dari jendela pada keempat orang yang bahagia itu. karena itu ia sekali lagi menjatuhkan diri di tatami di kamar yang gelap itu sambil mengutuki dirinya." "Sudahlah. menjual kepada mereka pesona yang dahulu dicurahkan kepadanya. saya yakin tidak. "Buat apa duduk di sini menggemerutukkan gigi." "Coba dengar anak ini! Dia selalu seperti itu. tak ada yang dapat dilakukannya kecuali minum. Bagaimana ia dapat menahan diri? Istrinya menghabiskan malam-malamnya menghibur lelaki lain. "Kelihatannya sudah seperti musim semi!" "Orang bilang shogun sebentar lagi akan datang ke ibu kota. Juga suling. Inc. sasaran hinaan perempuan pemberang? Dulu ia pernah punya harapan besar pada masa depan. Saudara perempuannya juga. Di luar. kenapakah ia dulu tidak kembali ke Miyamoto? Kenapa ia tidak kembali kepada Otsu? Ibunya ada di Miyamoto. sedang di siang hari tak ada semangat untuk pergi. ibu dan anak perempuannya. tapi entah kenapa." "Ibu. "Dia bilang pergi. bukankah itu musik Kabuki? Aku mendengar suara giring-giring. Ebook by Kang Zusi ." Ia merasa tak bisa tinggal lebih lama lagi dalam rumah kosong dan lengang itu. Pergilah dan lakukan sesuatu sendiri. "Sundal!" Matahachi menggigil karena berang. Kau masih muda." Langkah-langkah kaki dan suara-suara orang itu mengambang sampai Yomogi. Bunga-bunga berkembang di tepi sungai dan burung-burung erkicau menyambut datangnya musim semi. Dan semua itu demi sundal tua itu! pikirnya. Kenapa. disertai kedua tamu yang bermalam itu sudah berjalan sambil mengobrol dengan riangnya. Malam ia tak dapat tidur. iparnya juga." "Kenapa? Apa samurai dari Edo tak suka main?" "Mereka terlalu kurang ajar. Baiklah. Dan Sungai Aida menghilir menyusuri alurnya. Kalau dia datang nanti.. goblok!" Matahachi memukul-mukul kepalanya dengan tinjunya. Bawakan topi Tuan Muda ini. Tinggal diam di dalam kamar gelap ini.. Paman Gon juga.

tiada pegangan tempat bergayut. yang telah berjanji akan menantikannya. padahal sebetulnya ia sangat cemburu. ia selalu mengungkit soal itu dan mendesak agar Matahachi menulis surat untuk memutuskan pertunangannya. Ketika Oko pertama kali mendengar tentang gadis itu. yang pernah ikut pertempuran di Sekigahara. Ia berdiri tak bergerak-gerak dalam angin musim semi yang menyegarkan. Ada daya tarik ajaib yang mengikatnya. penga-lamannya hanya meliputi kehidupan di kampung dan satu pertempuran. "Aku butuh uang. Satu-satunya barang yang sungguh-sungguh miliknya dan tidak dapat ia tinggalkan adalah pedangnya... Ia telah menjadi malas dan lembek. Tentu saja seharusnya ia sudah dapat mengira-ngira bahwa Oko bukanlah jenis perempuan yang tidak bakal mengambil tindakan berjaga-jaga terhadap hal-hal seperti ini. tapi karena kebiasaan. hingga mustahil baginya untuk menemui gadis itu lagi. "Aku akan pergi sekarang!" Sesudah menjatuhkan pukulan kemarahan terakhir ke kepalanya. kini Oko sedang berada di lapangan pertunjukan di tepi sungai. Kemudian. Sekarang. Sesudah lama berpisah. Tapi ia sudah putus dengan Otsu. bersumpah bahwa ia cuma beban. apabila mereka bertengkar. digeledahnya kotak-kotak kosmetik. menelantarkannya demikian rupa." katanya pada diri sendiri. ketika sudah terlambat. "Sundal iblis!" teriaknya. berbeda sekali dengan Matahachi sederhana yang compang-camping. Pada dasarnya Matahachi tak punya nyali untuk dilihat Oko dan Akemi bekerja sebagai buruh harian. bibir merah cemerlang yang sama merangsangnya dengan bibir anaknya. ia tersenyum kecil dan berpura-pura tidak acuh sama sekali. Selagi terombang-ambing oleh situasi. Ia obrak-abrik tempat itu. Bukan cahaya menyilaukan yang menahannya. sekalipun perempuan itu sudah hampir empat puluh tahun. Terbayang olehnya. oh. ke mana ia pergi? Pada saat itulah terasa oleh Matahachi betapa dunia ini bagai lautan luas yang bergejolak. tapi dalam semangat ia cabul dan pendengki. Kemudian. "Tapi akan kulakukan!" janjinya. aku seorang lelaki. peti laci. Bau Oko mengambang seperti kabut tebal di sekitar pakaian dalamnya yang terbuat dari sutra merah. malas dan penggerutu. dan tak ada sesungguhnya yang mengikatnya di rumah ini. netcafe. bibirnya itu. Dan ketika akhirnya Ebook by Kang Zusi . ia sorongkan kaki ke sandalnya yang kotor dan keluar lewat pintu dapur. Lagi pula. Di luar Kyoto. Pikiran-pikiran pahit dan kejam bangkit langsung dari isi perutnya. "Biar bagaimana. ia berkata dengan penuh kepastian. menyuruhnya enyah. melambaikan pedang bagai seorang jenderal yang menang perang. "Semuanya gara-gara perempuan ini. Persoalannya adalah. Sejauh ini belum ada masalah. barulah ia dapat memahami kemurnian dan bakti gadis ini. "Aku pasti akan butuh uang. timbul padanya kenangan pedih akan Otsu. "Aku akan pergi dari sini hari ini juga!" Ia mendengar sendiri suaranya tertahan karena menyadari bahwa tak ada orang lain yang akan menahannya pergi. Ia pun membayangkan kulitnya yang putih dan wajahnya yang kenes merangsang. tapi kemudian di tengah malam ia akan meleleh seperti madu dan mengatakan bahwa semua itu cuma gurauan dan ia sama sekali tidak bermaksud demikian.property of: CROSSFiRE. tanpa diduga-duga. ia pun melompat bangkit. Dengan senang hati ia akan bersedia berlutut dan mengangkat tangan memohon di hadapannya jika kiranya gadis itu man memaafkannya. Dalam umur ia masih muda. Yang paling parah adalah bahwa hidupnya yang aneh dengan perempuan yang lebih tua itu telah merampas kebeliaannya. Namun ini belum cerita seluruhnya. Ia sudah di luar rumah! Tapi mau apa sekarang? Kedua kaki itu berhenti. suatu pikiran lain mendadak datang dan membuatnya bergegas sepeti anak anjing." Ia langsung menuju kamar Oko. pemuda berpakaian sutra yang dari rasa saja dapat membedakan sake Nada dari bikinan setempat. maka cepat-cepat ia selipkan pedang itu dalam obi-nya. dan di sekitar kimononya yang celupan Momoyama. Inc. pulang kembali melalui pintu dapur. dan pekiknya. tapi tak ada uang sama sekali." Sebetulnya ia dapat menderap keluar lewat pintu depan. mestinya ia tidak memberitahukan apa-apa tentang Otsu kepada Oko." pikirnya sedih. Dengan kecewa Matahachi menjatuhkan diri ke atas pakaian yang masih tersebar di lantai. Jenis pesona jahat apakah yang mengikatnya di sini? Apakah perempuan itu setan yang menyamar? Perempuan itu bisa memakinya. menonton tari-tarian Kabuki di samping Toji. dan apa saja yang terpikir olehnya. di sekitar obi Nishijinnya. Sambil menggigit bibir. gagang cermin. segalanya menjadi jelas baginya.

dikeluarkannya semua pakaian Oko dari peti-peti pakaian.. sanak keluarganya.property of: CROSSFiRE. dan tanpa perasaan sama sekali menyampaikan surat resmi itu melalui seorang pesuruh yang tidak dikenal. dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih." kata suara itu." "Pergi sana! Jangan ganggu aku!" "Tapi apa tak bisa setidak-tidaknya Anda menyampaikan berita ini pada mereka? Tolonglah katakan bahwa seorang pemain pedang bernama Miyamoto Musashi sudah datang di perguruan. dirobek-robeknya.. tapi ada satu kejadian yang sangat penting. sedangkan sebagian kecil di kamar samping. "Mereka tentunya di sini! Saya tahu.. Tolonglah sampaikan pada mereka supaya lekas-lekas pulang!" "Miyamoto? Miyamoto?" Roda Keberuntungan HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. dan yah. Inc. kemudian serpihanserpihan dan sobekan-sobekan itu dihamburkannya di seluruh rumah. Tak pernah sebelumnya pusat seni bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas. Bayangan wajah Otsu yang masih polos itu tergambar di depan matanyawajah yang penuh gugatan. Senyap bagai kuburan.. Apakah Tuan Muda dan Toji ada di sini?" "Bagaimana aku tahu?" jawab Matahachi pedas. lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana. Mereka semua begitu baik. Ini menyangkut nama baik Keluarga Yoshioka. "Diakah itu?" "Apa Tuan Muda sudah kembali?" "Belum. Sekali lagi terbayang olehnya pegunungan dan sungai di Mimasaka. Dia menunggu Tuan Muda kembali dan menolak pergi sebelum mendapat kesempatan menghadapinya. Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan. Tanah di sana pun kini agaknya hangat dan menyenangkan. Ebook by Kang Zusi . "Lalu apa pikir Otsu tentang diriku?" rintih Matahachi dengan sedih." Kembali dilanda kemarahan. Suasana itu hanya dipecahkan oleh derit gerbang depan yang sesekali berbunyi. Hari sudah senja. "Maafkan. Di depan perguruan itu. Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai kayu. Tak seorang pun beranjak pergi. Ingin ia memanggil ibunya. Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk." Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang pintu masuk. wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi. Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Lidah-lidah berdecap putus asa. "Saya tahu Seijuro tak ada di sini. netcafe. "Tak akan bisa lagi aku pulang!" pikirnya. tak seorang pun dari kami dapat mengunggulinya. memang tidak pantas mengganggu mereka selagi sedang mencari kesenangan. biasanya mereka sudah berangkat pulang atau pergi minum. untuk. perempuan itu secara tak tahu malu melampirkan satu surat dengan tulisannya sendiri yang jelas bergaya perempuan. Perlahan-lahan kemudian sadarlah ia bahwa ada orang memanggil dari pintu depan. Matahachi menyetujui dan melakukannya. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?" "Sedang dicari. "Aku sudah membuang semua itu untuk. "Saya dari Perguruan Yoshioka. Barangkali sebentar lagi kembali." Dokter mendeham dan pergi.

Memang ia memiliki banyak kekurangan. Ketika ditanya macam apa orang itu.property of: CROSSFiRE. Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan orang di dalamnya. mereka pun terbahak-bahak. sembilan belas. Sepanjang tahun sebelum itu. keluarga itu sedikit demi sedikit telah berhasil memupuk kekayaan besar. Seijuro biasa dipanggil "Tuan Muda". ini barangkali berarti ia seorang shugyosha. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan. tidak masalah. mereka telah mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh belas. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal namanya saja. salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu. yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang. pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya. melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri. tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. tapi mengakui bahwa mungkin juga ia keliru. Namun demikian. menerima latihan sekeras ayahnya. mohon diizinkan masuk. gaya apa yang dipakainya dan siapa nama gurunya. Kalau orang itu hanya minta makan. dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal. Kempo adalah seorang ahli besar. setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo. yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri. Rambutnya yang tidak disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan. Teknik pedang pendeknya kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. tapi sebenarnya ia belum benar-benar mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. Keluarga Yoshioka tidak lagi memperoleh tunjangan resmi. dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding. dan kelihatannya agak bodoh. Sekalipun kedua anaknya. dan kemudian memungut pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. yang sama merasa geli seperti yang lain-lain. Yoshioka Kempo. orang yang kearifannya setara dengan keterampilannya. Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di negeri ini. Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu. dengan siswa yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto. dan guru pertama. Sesudah mempelajari cara menggunakan tombak-kapak dari salah seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan Seni Pedang Gaya Kyoto. akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek. Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur. seorang pencelup kain. dan waktu pun melangkahi mereka. dan dua puluh. salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu. Pesuruh merasa mencium bau orang itu. Seijuro dan Denshichiro. hingga bisa masuk sekolah itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil. Pesuruh dengan senang hati menirukannya untuk para pendengarnya. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada. tetapi orang itu beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. Para siswa datang ke sekolah itu karena di bawah pimpinan Kempo. bermalas-malasan. umur dua puluh satu atau dua puluh dua. datang dari Miyamoto di Mimasaka. kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut. ia hanya sendirian tinggal di pegunungan.83 meter tingginya. poloskah atau berpola kembang. hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya. Pesuruh. Oleh karena itu. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut. Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujur dan tidak dibuat-buat. tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat. ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto. Inc. dan "karena alasan-alasan pribadi" ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan pada umur delapan belas. tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur. tapi itulah tujuannya. dan menurut pendapat beberapa orang itulah sebab dari kelemahan mereka. pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin. sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu. Menjelang tengah hari. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen. adalah orang yang jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. dan hanya bermainmain. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit. Ebook by Kang Zusi . kira-kira 1. sedangkan pakaiannya begitu kotor. netcafe. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang. ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal.

para siswa berubah jadi ingin membunuh. "Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum Seijuro kembali. Inc.property of: CROSSFiRE. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya bercampur takjub. atau kupotong nanti. Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu. kemudian melemparkannya ke luar. suara-suara yang memekikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan selusin orang masuk kamar belakang. akhirnya satu orang berkata. Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. Terserah kepadanya untuk mengembalikan kehormatan perguruan. "Kau yang mesti menjelaskan apa yang sedang terjadi. satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. kali ini dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah pertandingan nanti. Keduanya pucat. Kedua orang itu tewas. "Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit." Ebook by Kang Zusi ." dan ia menolak untuk bertempur lagi. dan satu demi satu pula mereka kalah secara memalukan." "Ketika Tuan Kempo masih hidup. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar sebagai pihak yang kalah. membawa serta kehormatan Perguruan Yoshioka. para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi. tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo". Orang itu tentunya sudah sinting. Tak lama sesudah dokter pergi. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar dan memanggil dokter. Baik untuk yang pertama maupun yang kedua. kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh. Untuk memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu. dan pedang kayo Musashi bergelimang darah. Sesudah ragu-ragu sebentar. seakan-akan baru saja keluar dari air terjun yang dingin. Tangannya putus. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan dengan tangan. Sesudah kekalahan kesekian kali. atas permintaannya sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. Nab. Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu. tak ada bedanya. "Kalau Tuan Muda sudah kembali. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Para siswa memberikan jalan bagi Seijuro dan Toji. "Suruh dia masuk!" Itulah awal mulanya. dan katanya. Apa maksudmu bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?" "Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bangkit dari kuburnya. Karena tak ada pilihan lain. Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati." "Jaga lidahmu." Menurut pesuruh. tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup." "Cukup!" teriak Toji sambil menyerang orang itu. Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang mati melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji. dan kami pergi ke Kabuki. Sejak tantangannya diterima. tak ada rasa kuatir padanya tentang jatuhnya korban. Beberapa orang luka parah. "Apa arti semua ini?" Nada bicaranya gusar seperti biasa. Musashi memberikan jawaban. tidak mengandung kekakuan seperti jawabanjawaban sebelumnya. para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit. "Apa yang terjadi di sini?" tanya Toji. apakah Anda membuang tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. sudah waktunya menghentikan percekcokan. netcafe. kalaupun mereka semua harus terbunuh. "Kalau kebetulan saya terbunuh. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. caranya menjawab kali ini sangat jelas. Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu. saya berjanji tak akan menuntut balas. tapi ia menyatakan. wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap.

perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat. dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya menghadapi Musashi satu lawan satu. Sayang sekali. Sebagai golongan. Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat. begitu banyak yang hadir di situ. krisis yang mengancam perguruan akan berat luar biasa. Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan. Ia pun duduk di tempat guru. dan katanya. dan menyembunyikan diri. para anggota keluarga dan beberapa orang lain menggabungkan diri. Tak lama kemudian. tapi Seijuro terus juga membangkang. tapi Seijuro tidak dapat diredakan. Konsultasi diam-diam itu berpusat pada Toji dan murid-murid senior lain perguruan itu. jauh dari pendengaran Seijuro. hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi yang memadai bagi suatu negeri yang damai. Pada umumnya ada anggapan bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja ayahnya. bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. "Mengakali dia?" Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata. Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan. dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima. dan dipegangnya tegak di samping. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri. kehormatan guru.property of: CROSSFiRE. Kebanyakan orang itu berpendapat. Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. kehormatan pribadi mereka sendiri. "Di mana orang itu?" tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit. Pemerintah sampai hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang." Ebook by Kang Zusi ." kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang kebun. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka takut pada seorang prajurit tak dikenal. kebetulan hari itu Seijuro sedang kehilangan semangat juangnya. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan prajurit itu tetap dihargai. "Aku tak setuju dengan tindakan seperti itu! Itu pengecut. sebuah mimbar kecil. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan. "Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu. Maka Toji pun mengungguli suaranya. Menyusullah bisik-bisik lama. orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah yang tak kenal malu. walaupun tidak diucapkan. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan para muridnya. mereka benarbenar saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. justru loyo. hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompokkelompok. dan ini besar artinya dalam menjamin ketenteraman. Mulutnya kering karena tegang." Toji memohon. tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius. maka ia pun menjadi orang yang berwatak sangat santai. Inc. dan katanya keras. Tindakan itu merupakan celaan yang seterang-terangnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi. baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota. lemah. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise." Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu. Toji mendekati Seijuro. hal pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan. Kami yang akan mengurus. memperbincangkan apa yang harus diperbuat. Meski berlangsung seru. Dua orang sudah tewas dan beberapa orang terluka. Pada saat itu. melainkan juga menyadari benar kekurangan Seijuro sebagai seorang pejuang. dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang. bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir. lalu menyergapnya?" "Tenanglah. netcafe. Seijuro tampak semakin berang. tidak banyak yang perlu dikuatirkan. Bagi samurai zaman itu. "Kami sudah mencapai kesimpulan. Sekalipun tidak terpelajar. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu. waktu itu juga dan di tempat itu juga. Itu tindakan yang terlampau riskan. tetapi Toji dan Ryohei menyuruh mereka menanti. "Panggil dia!" perintah Seijuro. dan kehabisan tenaga. sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar Seijuro. sampai akhirnya ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. yaitu kehormatan perguruan. sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai. "Serahkan pada kami.

Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar. barangkali dia sudah tertidur. Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak meninggalnya ayahnya. terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. bantalan yang tadi didudukinya masih di sana. Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. sama sekali tidak begitu. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghadapi gelandangan kurang ajar seperti itu. lalu memadamkan lampu. Inc. dia sudah membuktikan dirinya cerdik. akan kalah dengan si Musashi atau siapa pun namanya itu?" "Oh. bukan? Hanya satu yang penting. menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan kepada mereka sedang apakah Musashi. Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. Lampu masih menyala. Mereka pun bertukar pandang." kata Toji berbohong. "Dia sama sekali tak dikenal di ibu kota. siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya. dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan. ketika seseorang membawakan lampu. karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka juga sama inginnya membantai mereka. Apa pun kekurangan Toji. Menurut pengertiannya. "Tuan Muda. Seijuro tetap duduk. "Mestinya begitu. membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama. Tapi Musashi tak ada! Ebook by Kang Zusi . Diam-diam. diam-diam saling menanyakan. orang-orang yang seharusnya menyerbu ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. kita tak dapat menangguhkannya lagi. tapi dia seorang pendekar hebat. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu. Yoshioka Seijuro. tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu. Sekalipun dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu. Sambil bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri. seperti kucing. dia sudah mati sekarang. Setiap orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya. Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama." kata Toji tegas. jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih dari setengahnya. dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam keadaan siap tempur. tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. Namun Seijuro tak juga bisa menerima. berarti para muridnya menilai rendah kemampuannya. Ia pun melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. mereka menghilang ke kebun. ia telah memperoleh latihan sebagai seorang samurai. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan kami cukup hati-hati. Seijuro pun bangkit dan berdiri dekat jendela. berseru. anglo masih menyala dengan baik. kemudian menerjang ke arah pintu. namun ia sama sekali tidak merasa senang. Lagi pula. "Musashi! Maaf membiarkanmu lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?" Karena tak ada jawaban. "Apa menurutmu aku. Agaknya itulah yang terjadi. "Di pihak lain. Memang sudah lama juga dia menanti.property of: CROSSFiRE. Mendengar bunyi itu. dan ini membuatnya sangat sedih. "Mm. netcafe. Karena tak dapat duduk tenang. dengan mengambil langkah itu. ke arah pintu belakang dan ke kamar-kamar dalam. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang menyerukan serang. Mati-matian sekarang ia mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu. Betul begitu!" Orang-orang itu menanti dengan gelisah." Belum selesai mereka beradu pendapat. kalau tidak. yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup. "Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh kehormatan dengan mengalahkan dia. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di hadapan mereka. dan masih ada cangkir teh yang belum disentuh. tidak. "Dia tak ada!" "Kamar kosong!" Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya. Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri.

ya?" "Sesudah tindakanmu hari ini?" Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras. nyonya rumah mengatakan padaku bukan. dan katanya heran. Ebook by Kang Zusi . ketika orang keempat datang berlari dan berseru. orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu. Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?" Tapi Toji sudah mulai bergerak. Dalam sekejap ketiga orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. Sosok itu berlari seperti kelinci. bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul. "Apa maksudmu dia tidak kelihatan." "Kelihatannya memang mencurigakan. melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di ujung lorong. kita bisa tahu di mana dia tinggal. Inc. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada mereka. pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat kehilangan semangat. Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari sejam sebelum itu. Orang yang terkepung itu memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. dan orang-orang itu pun berdiri." Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga. Kau kenal dia?" "Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi. Baru saja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan. "Sudah kalian tangkap?" tanyanya. "Itu dia!" Dekat gerbang belakang. Rupanya dia cuma semacam benalu. Toji sampai di tempat kejadian. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran Honnoji. "Uh. "Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar. Paling tidak. "Pengecut!" "Mau lari. "Ini orang yang kalian kejar?" "Ya." Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama. dan mereka pun berangkat. memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi. Matahachi tenang-tenang merapikan rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya. "Dari sini dia pergi! Lihat." Terdengar suara-suara mengiakan.property of: CROSSFiRE. tapi segera kembali ke kamarnya lagi. dan masuk lorong gelap di sisi lain. juga lolongan menantang. "Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi." "Belum lama lampu itu tadi dirapikan. Dari. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!" "Kejar dia!" Kalau Musashi memang melarikan diri. Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru. kau benar! Bukan Musashi!" Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat. mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. menyeberang jalan. "Hei. satu orang memekik. "Apa dia pemilik Yornogi?" "Tidak. satu sosok melejit keluar dari bayangan. belakang. Satu orang berlari ke beranda." Matahachi menurunkan pedangnya. papan-papan lantai ini sudah lepas. Sekarang kita berpencar saja dan jalan. Namun para penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi. seperti angin?" satu orang bertanya dengan nada mencemooh. netcafe. dan samping.

orang itu pun lari. Di mana dia berada kira-kira? Paling tidak. Orang itu berhenti. menangkap gelung rambutnya. "Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?" "Mana aku tahu?" "Apa kira-kira seumurku?" "Kira-kira begitu." Berhadapan dan Mundur SEPANJANG jalan setapak berbatu yang menuju Kuil Kiyomizudera berdiri sederetan rumah kumuh dengan atap papan yang tersusun seperti gigi rusak. Tiap kali menendang. dan tidak jauh dari situ seekor anjing menggonggong. Aku cuma heran. tidak. "Apa kaubilang. orang udik?" jeritnya serak. jalan itu semerbak oleh bau ikan asin yang dibakar di atas arang. dan tanyanya. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku. menyusul terhuyung ke luar. Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu. "Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. kemungkinan mereka akan membunuhnya. Sebuah piring melayang keluar dari pintu salah satu gubuk bobrok itu dan pecah berantakan di jalan. lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau tidak.property of: CROSSFiRE.." gumamnya. Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk." Maka disurukkannya tangannya ke dalam obi.. "Ini bukan waktu yang tepat. rambutnya awut-awutan dan payudaranya tergantung-gantung seperti tetek sapi. "Ada apa?" tanyanya." Sesudah menyampaikan peringatan itu. Perempuan itu akhirnya berhasil mengejar suaminya. netcafe. dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. "Pasti dialah itu!" demikian kesimpulannya. ia pun berseru kepadanya. "Kau pergi meninggalkan istri dan anak kelaparan." "Kukira 'Musashi' itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan 'Takezo'. ia pun merasa melihat wajah Takezo di hadapannya." "Nah. Di bawah sinar matahari siang yang panas. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu. kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini. dan Ebook by Kang Zusi . sementara orang-orang itu lewat berlarian. Ketika orang terakhir lewat. dan sekali-sekali berhenti untuk memandang bintang-bintang. "Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan menjadi pemain pedang. Inc. Seorang lelaki umur sekitar lima puluh tahun.. Menghadapi parit Honnoji." "Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?" "Ya. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus. demikian tuanya hingga lumut sudah menumbuhi tepi-tepi atapnya. kan?" "Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?" "Ah. Tapi kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya. Ya. Matahachi mendekatinya. yang agaknya seorang pekerja tangan. lalu datang lagi merangkak seperti cacing!" Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak menangis. ingin aku memperingatkannya. Sekejap kemudian menyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki.

di sebuah meja panjang darurat yang terbuat dari papan pintu tua. seni. Pikiran itu sungguh pikiran yang menyadarkan. terutama jika itu adalah keterampilan yang tidak dikuasainya. dan sudah lama menjadi tempat berkumpulnya jenderal-jenderal ternama dan prajurit-prajurit legendaris? Namun selama berada di sana. Dari balik jenggotnya ia berkata. saya?" tanya Musashi sambil menoleh. terdengar suara memanggilnya dari bawah. kalau para samurai yang dijumpainya itu memang gambaran dari samurai masa kini. apa nama Tuan Miyamoto?" "Ya. Memikirkan keterampilan. Belum lagi jauh. Keinginannya semula adalah melihat Kyoto sebagai tempat penuh orang yang telah menguasai seni bela diri. Melihat betapa cekatan orang itu menggerakkan jari-jarinya clan memainkan kape-nya. karena dalam tiga minggu terakhir itu ia telah mengunjungi pusat-pusat latihan terkenal lain di Kyoto disamping Perguruan Yoshioka. mulai memukulinya. "Hei. Hari-hari itu sering kali ia merasa amat kagum pada kerja orang lain." "Terima kasih. Sekalipun selalu memenangkan pertandingan. kakinya yang telanjang. Karena mata mereka terpaku kepada pekerjaan. Namun justru pada waktu itu salah seorang tukang tembikar yang umurnya hampir enam puluh tahun mulai membuat mangkuk teh. Musashi pun sadar bahwa ia terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. ingat akan bahaya puas diri. bahkan kemampuan melakukan tugas yang sederhana dengan baik. Sewaktu melewati daerah itu tadi. mereka seakan-akan sudah menyatu dengan tanah liat itu.. Tetapi sekarang. orang sinting tua?" Para tetangga bergegas datang dan mencoba melerai. Musashi tersenyum ironis dan membalikkan badan menuju toko barang tembikar. "Sekarang mau pergi ke mana kamu. Di sebuah sudut toko itu. "Tuan. Hidup ini agaknya tidak semudah kelihatannya. dan sempat bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia tidak terlampau kritis terhadap diri sendiri semenjak dikurung di Himeji dulu. ia Ebook by Kang Zusi . Baik dalam hal yang pertama maupun kedua. jika ia ingat bagaimana ia mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya itu. Beberapa waktu sebelum pecahnya pertengkaran keluarga itu.property of: CROSSFiRE." demikian kagumnya. orang itu adalah pemikul joli. Sesuatu yang bertentangan sekali dengan kesungguh-an para tukang tembikar pada pekerjaan mereka adalah hina-dinanya pondok papan mereka. ia pun merasa bersalah dan patut dihukum. tuan yang di sana! Ronin!' "Maksud Anda." Orang itu pun membalik dan turun ke Bukit Chawan. konsentrasi. tak dapat ia menetapkan apakah itu disebabkan ia yang bagus atau lawanlawannya yang jelek. clan kendi. apakah mereka selalu dapat makan cukup. Melihat pakaian katunnya yang berlapis. hanya kekecewaan yang diperolehnya di setiap perguruan itu. Dua lelaki yang ada di dalam tidak menyadari kehadirannya. sloki sake. Dalam hati ia merasa sangat hormat kepada orang-orang tua bergelimang tanah liat yang sedang bekerja pada rodanya itu. dan tongkat yang dibawanya. Tergugah oleh keberhasilannya. Musashi pun merasa jalannya sendiri masih panjang. Sejak kecil ia menyukai pekerjaan tangan. Musashi sebetulnya ingin mencoba bekerja dengan tanah liat itu. netcafe. mengamati para pembuat tembikar dengan kegairahan kanak-kanaknya. cukup sopan untuk orang yang kedudukannya serendah itu. Sebaliknya. Konsentrasi mereka sungguh bulat. Barangbarang itu dijual untuk tanda mata dengan harga dua puluh atau tiga puluh sen saja kepada orang-orang yang pergi atau datang dari kuil. Musashi melihatnya memasuki rumah yang nampaknya warung teh. ia sudah berdiri di luar. Bukankah kota itu ibu kota kekaisaran dan dahulu menjadi pusat ke-shogun-an Ashikaga. Ia merasa menghargai teknik. paling tidak ia akan dapat membuat mangkuk teh sederhana. ia pun sampai kepada pemikiran untuk merasa bangga akan keahliannya.. dan kesetiaan yang dicurahkan untuk membuat barang-barang semurah itu. dan mulailah ia mendaki lereng terjal Kiyomizudera. "Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu saja. berderet-deret piring. Inc. berarti negeri itu berada dalam keadaan memprihatinkan. menurut pendapatnya. Terpikir oleh Musashi. belum pernah ia menemukan satu pun pusat latihan yang mengajarkan kepadanya sesuatu yang benar-benar pantas diberi ucapan terima kasih.

"Ini zaman baru. dan di tiap kuil ia membungkukkan badan dan mengucapkan dua doa. tetapi zaman tidak lagi membutuhkan orang-orang dengan bakat seperti mereka. Tak dapat ia memperkirakan. Ia pun berdiri dulu di sana sebentar. Sekarang rakyat hanya menginginkan perdamaian yang telah begitu lama mereka rindukan. Inc. "Sisa hidupku masih ada di hadapanku. bergejolaklah ambisi yang sederhana namun kuat dalam dadanya yang masih muda. waktu itu ia berpendapat alangkah bodoh dan tidak realistis sekiranya mereka percaya bisa melaksanakan rencana gila-gilaan semacam itu. Aku mau menempuhnya. Dengan bergandengan tangan dan mengacung-acungkan tongkat. Walaupun ia tahu dapat membereskan mereka dengan cepat. sejumlah besar orang telah mengepungnya dari jauh." pikirnya. Di Kyoto yang terhampar di bawah sana kehidupan tidak lagi soal untung-untungan. Kalau orang muda tidak dapat menggantungkan cita-cita besar dalam jiwanya. siapa yang kini telah menyuruh salah seorang dari mereka itu untuk menanyakan namanya. jalan menuju kebesaran itu kini tidak lagi terletak dalam memenangkan perang. "Itu dia di sana!" Musashi memandang ke bawah." Sesaat ia singkirkan gagasan-gagasan itu dari pikirannya dan mencoba meninjau keadaan dirinya secara objektif. tapi karena tak seorang pun muncul. ke arah kuli-kuli yang sedang bergerak ke sana kemari sambil berteriakteriak. Memang terlambat aku menempuh jalan yang dilalui Nobunaga atau Hideyoshi. Bagi Musashi. tak ada gunanya ribut dengan gerombolan Ebook by Kang Zusi . Doa pertama: "Lindungilah kakak perempuanku dari bahaya. Musashi pun sadar sekali lagi. tentang visi mereka untuk mempersatukan Jepang dan tentang banyak pertempuran yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan itu. Ia memiliki pedang. Dari situ ia dapat memandang seluruh kota Kyoto. Pemikul joli tadi pun mempunyai impiannya sendiri. siapa pun yang telah menyuruh itu pasti akan segera datang menemuinya. Ia berpikir tentang Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi. kalau menang perang. tapi ia mengira. Kiranya bagus juga menjadi seorang Hideyoshi atau Ieyasu. Ia pun bangkit. Mereka mulai mendaki bukit menuju ke arahnya. tapi ada beberapa persamaan. Di sepanjang jalan itu ia berhenti menjenguk kuil-kuil terkenal. ia kembali mendaki. juga seni pedang yang dikuasainya dalam hubungan kehadirannya sebagai manusia. Namun sekarang ia merasa hal itu tidak lagi menggelikan. memang melihat satu rombongan besar kuli dan pemikul joli sedang berdiri di sana-sini di bawah sinar matahari. "Aku ingin menempuh hidup yang berarti. karena aku lahir sebagai manusia. tapi masih dapat aku memimpikan dunia yang harus kutaklukkan sendiri. Sementara ia duduk tenggelam dalam pemikiran itu. yang tergantung pada blandar pintu masuk kuil. tampak olehnya orang-orang di belakangnya itu berhenti." Ia pernah membaca bahwa pada abad sepuluh. Musashi yang kini berada di depan tangga Hongando memang sedang menengadah memperhatikan tanda peringatan yang sudah dimakan cuaca. Sementara ia duduk merangkul lutut. Ketika ia menoleh. wajah pemikul joli muncul kembali di bawah tebing karang. ia berjalan terus mendaki bukit.property of: CROSSFiRE. netcafe. Tak seorang pun dapat menghentikanku melakukan itu." Yang kedua: "Ujilah Musashi yang hina ini dengan kesulitan. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sebaiknya menakut-nakuti mereka dengan teriakan perang. Pada saat memperoleh pemahaman mendalam itu. Tetapi jelas. Seorang dari mereka menyeringai memperlihatkan giginya dan memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi rupanya "sedang memperhatikan tanda peringatan atau entah apa". dua pemberontak bernama Taira no Masakado dan Fujiwara no Sumitomo yang sama-sama ambisius telah bergabung dan bersepakat. Sukar memastikan kebenaran cerita itu. atau biarlah dia mati. tidak lagi ada keperluan akan perang-perang berdarah. Jadikanlah dia pemain pedang terbesar di negeri ini. betapa susahnya berpegang teguh pada cita-cita. mereka akan membagi Jepang di antara mereka berdua. dan jalan Pedang adalah jalan yang telah dipilihnya. tapi Musashi ingat. Tetapi tak lama kemudian ia melihat jalannya tercegat. la menudingkan tongkat bambunya kepada Musashi. yang penting sejak sekarang dan untuk seterusnya adalah pedangnya dan masyarakat sekitarnya. Merenungkan perjuangan panjang yang harus ditempuh Tokugawa Ieyasu dalam mengubah keinginan itu menjadi kenyataan." Sampai di tepi tebing karang ia jatuhkan topi anyaman yang dipakainya ke tanah dan duduk. sambil mencoba mengabaikan mereka. ia pun puas karena telah menemukan hubungan antara seni bela diri dan visinya mengenai kebesaran. clan serunya. Impian yang dimilikinya lain jenisnya. siapa lagi yang dapat? Saat itu Musashi pun membayangkan bagaimana ia dapat menciptakan tempatnya sendiri di dunia ini. Ieyasu sudah mengatur segala hal.

Pemandangan itu ternyata agak terlampau melodramatis. "Di sini saja. perempuan tua ini mestinya dapat hidup senang di rumah. Sesudah minum seteguk besar." dan menuding bangga ke arah kuil. "Kali ini kita takkan membiarkannya lepas. kan?" Pakaian dan sepatu kedua orang itu mengesankan seolah-olah mereka hendak menghabiskan sisa hidupnya dalam perjalanan. dan tukang jualan menajamkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. Paman Gon membasahi gagang pedangnya dengan ludah. Inc. bermain dengan cucu-cucunya. Suara itu makin lama makin dekat. Ia pun berdiri saja di sana dengan sabar. dan akhirnya hari ini orang itu muncul. Mereka pun mulai bicara antara sesamanya dengan suara tertahan-tahan. Melulu karena itu saja patutlah dia kita hormati. "Itu di sana." salah seorang kuli pikul mengingatkan. ia berkata. Sementara para pekerja memberikan dorongan dan dukungan bagi Osugi. lalu mulai menggerak-gerakkan bibir. Bisa saja dia belajar sedikit cara memakai pedang." "Tentulah sekitar permusuhan keluarga!" "Lihat tuh! Dia memarahi lelaki tua itu. Takezo itu cuma manusia jerami. Saban hari selalu dia berdoa di kuil ini selama hampir dua bulan. dan salah seorang penonton mulai tertawa terkekeh. tapi tak mungkin dia belajar banyak. Diilhami oleh semangat keagamaannya." Seorang kuli berlari datang membawa segayung air untuk Osugi." Si pengusung melipat kakinya dan Osugi pun melompat sigap ke tanah sambil mengucapkan terima kasih. sambil membaca dan membaca sekali lagi kata-kata pada tanda peringatan itu: "Kaul sejati". mengapa mereka mencoba menghadapi orang yang begitu jauh lebih muda. "Siapa menganggap ini lucu? Ini bukan bahan tertawaan. "Pastikan dulu apa Anda sudah betul-betul siap. Paman Gon menangkupkan kedua tangannya dan berbuat demikian pula. netcafe. Tanpa memperhatikan Musashi atau orang banyak yang memandangnya. tapi tidak. "Tenang saja. pekerja kasar itu. "Orangnya tampak tangguh." "Orang-orang samurai ini lain dengan kita. "Mana dia?" seru Osugi. ia pun langsung menuju tangga depan Hongando dan duduk di tangga. dia malah di sini menggantikan anaknya menuntut balas atas penghinaan terhadap keluarganya. "Pada umur seperti itu. Lagi pula. "Ini dia datang!" salah seorang kuli berteriak. Ada memang nenek-nenek tua yang betul-betul gagah berani. "Apa perempuan tua ini betul-betul mau menantang duel ronin itu?" "Kelihatannya begitu. dan kedua orang itu pun menerobos lingkaran manusia tersebut. "Sekarang jaga jangan sampai kau bingung. Kesan Musashi adalah mereka sedang saling merangsang semangat." "Tapi dia sudah begitu tua! Malah pengiringnya juga sudah goyah kakinya! Mestinya ada alasan kuat. orang sinting! Jauh-jauh perempuan tua ini datang dari Mimasaka untuk mencari manusia sampah yang melarikan istri anaknya. mereka membentuk kelompok-kelompok di luar lingkaran kuli-kuli yang mengepung Musashi. barangkali ada kekeliruan. Tenang saja kamu!" Untuk memelopori. peziarah. Penuh rasa ingin tahu.property of: CROSSFiRE. Sembari menoleh kepada Paman Gon." kata kuli yang lain. tak sampai sepuluh langkah dari Musashi. ia mengeluarka tasbihnya dan memejamkan mata. Salah seorang kuli pikul menjawab. sebab tak ada yang perlu dibingungkan. sampai akhirnya dua orang memasuki pekarangan kuil dengan menggendong seorang perempuan tua dan seorang samurai desa yang tampak agak lelah. Dan punggung pengusungnya Osugi melambaikan tangan dengan gerakan cepat. Pekarangan dalam gerbang barat kuil itu dengan segera penuh orang. Seketika itu juga salah seorang kuli memutar badan dan katanya menantang." nasihat yang lain. lambat atau cepat mereka akan bubar. dan sekarang para pendeta." kata yang lain. Dari arah Bukit Sannen kedengaran nyanyian berirama pengatur langkah oleh orang-orang yang membawa beban. Kalau demikian. dan katanya." Ebook by Kang Zusi . para penonton merasa cemas. Osugi menyerahkan gayung itu kepada Paman Gon dan berkata tegas kepadanya.

"Bersikaplah jantan! Beri kesempatan perempuan ini membunuhmu!" cemooh yang lain. "Takezo itu selamanya namamu di kampung. Betul-betul tak tahu ia bagaimana akan menjawab. ha!" Leher keriput itu menggetar selagi ia tertawa. sambil meletakkan tangan kirinya ke pedang pendek di pinggangnya. ha. Paman Gon pun mengeluarkan tantangannya sendiri. kemudian memandang para pemikul dan mendecap merah. Ia ingat peringatan Takuan di Himeji bahwa ia kemungkinan akan bertemu dengan Osugi. Sekali lagi Musahi tidak menjawab. Ayo sekarang berkelahi! Akan kita lihat. netcafe. tapi ia sangat tersinggung oleh pembicaraan para kuli yang tersebar di tengah orang banyak itu. ia pun bergerak beberapa langkah mendekati Musashi. sungguh! Sudah tua. "Takezo!" seru Osugi keras.property of: CROSSFiRE. Tak gentar oleh hal itu. Seluruh perkara itu tidak lebih dari soal kecil Miyamoto. Kalau kami berdua nanti terbunuh. Bagaimana kita mesti menjawab tantangan seorang perempuan tua yang sudah reyot dan seorang samurai yang sudah kisut wajahnya? Musashi tetap diam memandang. tapi tidak takut berkelahi. Namun demikian. "Sudah empat tahun kau selalu meloloskan diri. Di luar itu aku tak butuh omongan kalian." "Kau benar! Tapi mari kita lakukan sekarang saja! Tak dapat kita berdiri saja di sini dan membiarkan dia terbunuh. Sebetulnya ingin ia mengabaikan saja perempuan itu sama sekali. Beberapa penonton mulai mendorong kuli-kuli itu maju. mari kita hadapi sendiri ronin itu. "Takezo!" katanya lagi. "Kita bukan membantu dia karena dia memberi kita uang. sebelum pedang dihunus. apa kubawa kepalamu pulang. "Minggir kau!" Osugi menoleh kepadanya dengan marah. "Diam kalian! Kalian cuma saksi. Selama itu Musashi hanya berdiri tak bergerak. kalian yang mengirim mayat kami kembali ke Miyamoto. Paman Gon. jika saja Matahachi ada. betul? Tapi bagiku tetap saja kamu Takezo! Ha. Dan nenek moyang orang Hon'iden juga beserta kita! Tak ada yang perlu ditakutkan. juga bantuan kalian!" Sambil menarik pedang pendeknya setengah jalan dari sarungnya. Perempuan itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepala. Membantu pihak yang lemah itu benar! Kalau nanti dia kalah. Paman Gon yang berdiri di samping Osugi memilih saat itu untuk mengambil sikap menyerang. jadi kenapa kamu tidak menjawab? Kudengar kau sudah mengambil nama baru yang bagus-Miyamoto Musashi. dan kami selalu mencarimu selama ini. clan sambil mendongakkan kepala ke depan ia pun meneriakkan tantangan. Menurutku. "Apa maksudmu. dan aku tahu dewa-dewa pasti berbuat begitu. sekarang ini. Inc. kegairahan pun meningkat. Tak satu orang pun tidak berada di pihak Osugi. Dia punya semangat. Memang aku sudah tua. Lagi pula. Osugi memasukkan tasbih ke dalam kimononya dan keheningan pun mencekam pekarangan kuil. tapi tak bakal aku kalah dengan orang macam kamu! Siap-siap saja kau mati!" Sambil menarik pedangnya ia pun berteriak kepada Osugi. "Lihat bajingan itu! Dia takut!" seorang kuli berseru. kita mesti membantunya sedapat-dapatnya. Sekarang doa kami di Kiyomizudera sudah memasukkanmu dalam genggaman kami. ia sungguh bingung mengenai apa yang hendak diperbuat di sini." Ketika orang banyak mengetahui sebab-sebab Osugi berada di situ." Ebook by Kang Zusi . atau kau berhasil lagi tetap hidup!" Dengan suaranya yang sudah layu. pikirannya serba ragu. "Apa kaukira dapat mencegahku mencari jejakmu. Bahkan ketika Osugi memanggil namanya pun ia berbuat seolah-olah tidak mendengarnya. hanya karena kau mengubah nama? Bodoh sekali! Dewa-dewa di langit sudah memimpinku menemukanmu. Orang ketiga mengatakan. Ia tak dapat menjawab. orang sinting tua? Kau sendiri yang menggigil!" "Tidak apa! Bodisatwa kuil ini akan melindungi kita!" "Betul. Agaknya ia mau membunuh Musashi dengan kata-kata. sukarlah baginya mengekang kekesalan terhadap rasa benci yang disimpan keluarga Hon'iden terhadapnya selama ini. suatu salah paham yang dapat dengan mudah dijelaskan.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Takezo! Maju dan ayo berkelahi!" "Apa yang kau tunggu?" Musashi tidak beranjak. Ia berdiri saja seperti orang bisu-tuli, memandang dua orang tua itu dan pedang mereka yang sudah terhunus. Osugi berteriak, "Ada apa, Takezo! Kau takut?" Ia pun maju dengan badan dimiringkan dan siap menyerang, tapi tiba-tiba ia terantuk batu dan jatuh ke depan, mendarat tengkurap hampir di kaki Musashi. Orang banyak terkesiap, dan seseorang menjerit, "Bisa terbunuh dia!" "Cepat selamatkan dia!" Tetapi Paman Gon hanya menatap muka Musashi, terlalu takjub, hingga tak dapat bergerak. Kemudian perempuan tua itu mengejutkan semua orang, karena ia mencekal lagi pedangnya dan berjalan kembali ke sisi Paman Gon, lalu kembali mengambil sikap menantang. "Kenapa kamu, orang udik?" teriak Osugi. "Apa pedang di tanganmu itu cuma hiasan? Apa tak tahu kamu menggunakannya?" Wajah Musashi seperti topeng, tapi akhirnya ia pun berkata dengan suara mengguntur, "Aku tak dapat melakukannya." Mulailah ia berjalan ke arah mereka, dan Paman Gon dan Osugi pun seketika undur ke sisi masing-masing. "Ke-ke mana kamu pergi, Takezo?" "Tak bisa aku menggunakan pedangku." "Berhenti! Kenapa tidak berhenti dan berkelahi?" "Sudah kukatakan! Tak bisa aku!" Ia berjalan terus ke depan, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia langsung melintasi orang banyak, tanpa sekali pun membelok. Begitu tersadar kembali, Osugi pun berteriak, "Dia lari! Jangan biarkan dia lolos!" Orang banyak pun sekarang bergerak mengepung Musashi, tapi ketika mereka kira telah mengimpitnya, ternyata ia tidak lagi di sana. Bukan main bingungnya mereka. Mata mereka menyala keheranan, tapi kemudian jadi tertegun. Mereka pun memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan terus juga hilir-mudik sampai matahari tenggelam, mencari dengan kalutnya di bawah lantai-lantai bangunan kuil dan di tengah hutan untuk menemukan mangsa mereka yang telah lenyap itu. Kemudian, ketika orang pulang lewat lereng bukit-bukit Sannen dan Chawan yang gelap, seseorang bersumpah telah melihat Musashi melompat, ringan bagai kucing ke atas dinding setinggi hampir dua meter di gerbang barat dan menghilang. Tak seorang pun percaya, terutama Osugi dan Paman Gon.

Peri Air
DI sebuah dusun sebelah barat laut Kyoto, dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Hujan salah musim menembus atap lalang. Tempat itu semacam tanah tak bertuan yang terletak antara kota dan daerah pertanian. Kemiskinannya demikian sarat, hingga waktu senja asap api dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sebuah topi anyaman tergantung di bawah tepian atap sebuah rumah kecil. Rumah itu bertuliskan hurufhuruf tebal dan kasar, menyatakan rumah itu sebuah penginapan, walau dari jenis yang termurah. Musafir yang berhenti di situ hanya orang-orang melarat yang cuma menyewa lantai. Untuk sewa kasur jerami, mereka harus bayar lagi. Hanya sedikit yang dapat membeli kemewahan itu. Di dapur yang kotor lantainya, di samping pintu masuk, seorang anak lelaki melongok dengan tangan bertumpu pada tatami kamar sebelah yang lebih tinggi letaknya. Di tengah kamar itu terdapat perapian yang hampir man. "Halo!... Selamat malam!... Ada orang di sini?" Ia anak suruhan toko minuman, sebuah tempat kotor lain di jalan itu. Melihat orangnya, suara anak itu terlalu keras kedengarannya. Umurnya. tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya yang basah oleh hujan dan menjurai menutupi telinga membuat ia tampak tak lebih besar dari peri air dalam lukisan khayal. Pakaiannya pun sesuai untuk peran itu: kimono yang hanya sampai paha dengan lengan berbentuk tabung, dan seutas tali besar pengganti obi. Lumpur yang memercik tidak mengotori punggung ketika ia berlari dengan bakiaknya. "Kamu itu, Jo?" seru pak tua pemilik penginapan dari kamar belakang. "Ya. Bapak mau menyuruh saya ambil sake?" "Tidak hari ini. Tamuku belum kembali. Aku belum butuh." "Kalau dia kembali, tentunya dia perlu sake. Akan saya bawakan nanti, sejumlah biasanya." "Kalau dia kembali, nanti aku ambil sendiri." Enggan pergi tanpa membawa pesanan, anak itu pun bertanya, "Apa yang Bapak kerjakan?" "Aku lagi nulis surat; akan kukirimkan lewat kuda beban ke Kurama besok. Tapi ini sedikit sukar. Dan punggungku pun sakit. Diamlah, jangan ganggu aku." "Oh, lucu juga. Bapak sudah begitu tua, sampai sudah mulai bungkuk, tapi masih belum bisa menulis!" "Cukup! Kalau sampai kudengar kamu lancang lagi, kuambilkan pentung kayu api." "Mau saya tuliskan?" "Sok bisa kamu!" "Bisa," ucap anak itu sambil masuk kamar. la memandang surat itu dari atas bahu orang tua itu, dan pecahlah tawanya. "Bapak mau nulis 'kentang', ya? Huruf yang Bapak tulis itu artinya 'tongkat'." "Diam!" "Saya akan diam, kalau Bapak suruh. Tapi tulisan Bapak itu salah. Bapak mau mengirim kentang atau tongkat kepada teman-teman Bapak?" "Kentang." Anak itu pun membaca sedikit lebih lama, kemudian katanya, "Ah, ini kurang baik. Tak ada yang dapat menduga maksud surat ini, kecuali Bapak sendiri." "Nah, kalau kamu memang pintar, coba kamu yang tulis." "Baik. Sekarang katakan apa yang mau Bapak tuliskan." Jotaro duduk dan mengambil kuas. "Keledai kikuk kamu!" ucap orang tua itu. "Kenapa Bapak sebut saya kikuk? Bapak sendiri yang tak bisa menulis!" "Hidungmu menetesi kertas." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Oh, maaf. Tapi Bapak boleh berikan ini pada saya untuk bayarannya." Ia membuang ingusnya dengan kertas yang sudah kotor itu. "Sekarang, apa yang mau Bapak katakan?" Dengan pegangan kuas yang mantap, anak itu menulis dengan lancarnya apa-apa yang didiktekan orang tua itu. Baru saja surat itu selesai ditulis, tamu pulang, dan begitu saja melemparkan karung arang yang baru diambilnya di suatu tempat dan tadi dibawa di atas kepalanya. Musashi berhenti di pintu dan memeras air dari lengan bajunya, dan gerutunya, "Kukira inilah akhir musim bunga prem." Lebih dari dua puluh hari Musashi berada di situ. Penginapan itu telah terasa seperti rumahnya. Ia memandang ke luar, ke arah pohon di dekat gerbang depan. Bunga-bunga mesh muda menyambutnya tiap pagi semenjak ia datang. Daun bunga jatuh berserakan di lumpur. Ketika masuk dapur, ia heran melihat anak toko sake itu duduk akrab dengan pemilik penginapan. Karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, diam-diam ia berdiri di belakang orang tua itu dan mengintip dari atas bahunya. Jotaro menengadah ke wajah Musashi, kemudian buru-buru menyembunyikan kuas dan kertas di belakangnya. "Tidak boleh memata-matai orang macam itu," keluhnya. "Lihat, dong," kata Musashi mengganggu. "Jangan," kata Jotaro menggeleng. "Ayolah tunjukkan," kata Musashi. "Asal Kakak mau beli sake." "Oh, jadi itu yang kamu mainkan, ya? Baik, aku beli." "Lima gelas?' "Tidak sebanyak itu yang kubutuhkan." "Tiga gelas?" "Masih kebanyakan." "Kalau begitu, berapa? Jangan kikir, ah!" "Kikir? Kau tahu, aku cuma pemain pedang miskin. Kaukira aku banyak uang buat dihamburkan?" "Balk. Saya yang menakarnya sendiri nanti. Saya beri seharga uangmu. Tapi janji, Kakak mesti mendongengkan beberapa cerita." Tawar-menawar berakhir. Jotaro berkecipak dengan riangnya menempuh hujan. Musashi memungut surat itu dan membacanya. Sesaat-dua saat kemudian ia menoleh kepada pemilik penginapan, dan tanyanya, "Betul-betul dia yang menulis ini?" "Ya. Mengagumkan, ya? Kelihatannya pintar sekali anak itu." Sementara Musashi pergi ke sumur, mandi air dingin dan mengenakan pakaian kering, orang itu menggantungkan kuali di atas api dan mengeluarkan acar serta mangkuk nasi. Musashi kembali dan duduk dekat perapian. "Apa pula kerja bajingan kecil itu?" gerutu pemilik penginapan. "Lama sekali dia ambil sake." "Berapa umur anak itu?" "Sebelas, kalau tak salah. Pernah dikatakannya." "Terlalu dewasa untuk anak seusianya, bukan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Mm. Mungkin karena dia bekerja di toko sake ini sejak umur tujuh tahun. Di situ dia bertemu dengan segala macam orang-kusir kereta, pembuat kertas di ujung jalan sana, para musafir, dan siapa saja." "Saya heran, bagaimana dia bisa menulis begitu baik." "Apa memang baik betul?" "Ya, tulisannya memang ada sifat kekanakannya, tapi ada juga-apa, ya, namanya-semacam sifat terus terang yang menggugah. Sekiranya saya sedang memikirkan seorang pemain pedang, bisa saya katakan tulisan itu memperlihatkan keluasan spiritual. Anak itu nantinya bisa jadi orang." "Maksud Anda?" "Maksud saya, menjadi manusia sejati." "Oh?" Orang tua itu pun mengerutkan kening, mengangkat tutup kuali, dan meneruskan gerutuannya. "Belum juga kembali. Saya berani bertaruh, dia lagi ngeluyur sekarang." Baru saja ia hendak mengenakan sandal untuk pergi mengambil sake itu sendiri, Jotaro kembali. "Ke mana saja kamu?" tanyanya pada anak itu. "Kau bikin tamuku ini lama menunggu." "Saya tak bisa apa-apa. Ada pembeli datang ke toko, mabuk sekali. Saya dipegangnya erat-erat, dan ditanyai macam-macam." "Pertanyaan apa?" "Dia tanya tentang Miyamoto Musashi." "Dan kamu mengoceh, kan?" "Tak ada salahnya, kalaupun saya ngoceh. Semua orang di sini tahu apa yang terjadi di Kiyomizudera hari itu. Perempuan sebelah rumah dan anak tukang pernis, keduanya ada di kuil hari itu. Mereka lihat sendiri kejadiannya." "Tak usah lagi kamu bicara itu!" kata Musashi, hampir-hampir dengan nada memohon. Anak yang bermata tajam itu menaksir sikap Musashi, dan tanyanya, "Boleh saya tinggal di sini sebentar dan bicara dengan Kakak?" Dan mulailah ia membasuh kaki dan bersiap-siap masuk kamar perapian. "Aku sih boleh saja, kalau majikanmu tidak keberatan." "Oh, dia tidak butuh saya sekarang." "Baiklah." "Akan saya panaskan sake Kakak. Saya mahir sekali soal itu." Ia memasukkan guci sake ke dalam abu hangat di sekitar api, dan tak lama kemudian ia pun menyatakan sudah siap. "Cepat, ya?" kata Musashi dengan nada menghargai. "Kakak senang sake?" "Ya." "Tapi karena miskin, saya kira Kakak tak banyak minum, ya?" "Betul." "Tadinya saya mengira orang yang pintar dalam seni bela diri dapat mengabdi tuan-tuan besar dengan gaji Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

besar. Seorang pengunjung toko pernah bilang pada saya, Tsukahara Bokuden selalu berkeliling dengan tujuh puluh atau delapan puluh pesuruh, dan mendapat penggantian kuda dan burung elang juga." "Itu betul." "Dan saya mendengar prajurit kenamaan, bernama Yagyu, yang mengabdi Keluarga Tokugawa, mempunyai pendapatan lima puluh ribu gantang padi." "Itu betul juga." "Kalau begitu, kenapa Kakak begitu miskin?" "Aku masih belajar." "Mesti umur berapa dulu, sebelum Kakak punya banyak pengikut?" "Tak tahu aku, apa akan punya pengikut." "Kenapa? Apa Kakak kurang pandai?" "Kamu sudah dengar apa yang dikatakan orang yang melihatku di kuil. Bagaimana juga kamu menilainya, aku lari waktu itu." "Itulah yang dikatakan semua orang; kata mereka, shugyosha di penginapan itu—yaitu Kakak—orang lemah. Tapi sungguh jengkel saya mendengarkan mereka itu." Bibir Jotaro mengatup menjadi garis lurus. "Ha, ha! Kenapa pula kamu risau? Mereka tidak bicara tentang dirimu." "Yah, tapi saya kasihan pada Kakak. Kakak tahu, anak pembuat kertas, anak tukang kaleng, dan beberapa pemuda itu kadang-kadang berkumpul di belakang toko pernis buat latihan main pedang. Kenapa Kakak tidak berkelahi dengan salah seorang dari mereka dan mengalahkannya?" "Baiklah. Kalau itu yang kaukehendaki, akan kulakukan." Musashi merasa sukar menolak apa saja yang diminta anak itu. Sebagian karena ia sendiri dalam banyak hal masih kanak-kanak dalam hatinya, dan karena itu bersimpati kepada Jotaro. Selamanya ia mencari, sebagian besar secara tak sadar, pengganti kasih sayang keluarga yang semenjak kanak-kanak tak pernah dimilikinya. "Mari kita bicara soal lain saja," katanya. "Di mana kamu lahir?" "Di Himeji." "Oh, jadi kamu dari Harima." "Ya, dan Kakak dari Mimasaka, ya? Ada orang mengatakan demikian." "Betul. Apa kerja ayahmu?" "Dia dulu samurai. Samurai yang betul-betul setia pada kebaikan!" Semula Musashi tampak kaget, tapi baginya jawaban itu telah membikin jelas beberapa persoalan, walaupun sama sekali bukan soal betapa baiknya anak itu menulis. Ia menanyakan nama ayah anak itu. "Namanya Aoki Tanzaemon. Dulu dia punya gaji dua ribu lima ratus gantang padi, tapi ketika saya umur tujuh tahun, dia tinggalkan kerjanya dan pergi ke Kyoto sebagai ronin. Sesudah semua uangnya habis, dia tinggalkan saya di toko sake itu dan pergi ke kuil untuk menjadi biarawan. Tapi saya tak man tinggal di toko itu. Saya ingin menjadi samurai seperti ayah saya, dan saya ingin belajar main pedang seperti Kakak. Apa bukan jalan terbaik menjadi samurai?" Anak itu berhenti, kemudian melanjutkan dengan sungguh-sungguh. "Saya ingin menjadi pengikut Kakak— keliling negeri, belajar dengan Kakak. Apa Kakak tak mau mengajak saya jadi murid?" Selesai mengungkapkan maksudnya itu, Jotaro pun memperlihatkan wajah yang jelas-jelas mencerminkan tekadnya untuk tidak mendapat jawaban tidak. Tentu saja ia tidak tahu bahwa orang tempatnya memohon Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

itu adalah orang yang telah menjadi sebab ayahnya mendapat kesulitan bertubi-tubi. Adapun Musashi, ia tak dapat menolak permintaan itu mentah-mentah. Namun yang benar-benar dipikirkannya bukan soal mengatakan ya atau tidak, melainkan tentang Aoki Tanzaemon dan nasibnya yang tidak beruntung. Dalam hal ini tak bisa tidak ia bersimpati pada orang itu. Jalan Samurai memang perjudian tanpa henti, dan seorang samurai harus siap sepanjang waktu untuk membunuh atau dibunuh. Memikirkan contoh perubahan hidup ini, Musashi menjadi sedih dan efek sake yang diminumnya lenyap secara tiba-tiba. Ia merasa kesepian. Jotaro mendesak terus. Ketika pemilik penginapan mencoba menyuruhnya meninggalkan Musashi, ia menjawab secara kurang ajar, lalu melipatgandakan usahanya. Dipegangnya pergelangan tangan Musashi erat-erat, kemudian dipeluknya, dan akhirnya ia berurai air mata. Karena tak melihat jalan lain, Musashi pun berkata, "Baiklah, baiklah, cukup. Kau boleh menjadi pengikutku, asal kau pergi dan bicara dulu dengan majikanmu." Karena akhirnya terpenuhi keinginannya, Jotaro lari menderap ke toko sake. Pagi berikutnya Musashi bangun pagi-pagi, berpakaian, dan berkata kepada pemilik penginapan, "Tolong siapkan kotak makan siang untuk saya. Saya senang tinggal di sini beberapa minggu ini, tapi saya pikir saya harus terus pergi ke Nara sekarang." "Begitu cepat?" tanya pemilik penginapan yang tidak mengharapkan tamunya pergi begitu mendadak. "Apa karena anak itu terus mendesak Anda?" "Oh, tidak, bukan salah dia. Saya memang sudah lama bermaksud pergi ke Nara-bertemu dengan pemainpemain tombak terkenal di Hozoin. Saya harap dia tidak terlalu menyulitkan Bapak, kalau dia tahu saya sudah pergi." "Jangan kuatir. Dia masih anak-anak. Dia akan menjerit dan memekik sebentar, kemudian akan melupakannya sama sekali." "Dan lagi, tak mungkin rasanya tukang sake itu akan mengizinkannya pergi," kata Musashi ketika sudah turun ke jalan. Badai sudah lewat, seakan-akan tersapu bersih, dan angin sepoi-sepoi mengelus kulit Musashi dengan lembut, berlainan sekali dengan angin ganas sehari sebelumnya. Sungai Kamo naik, airnya berlumpur. Di salah satu ujung jembatan kayu di Jalan Sanjo, samurai memeriksa orang-orang yang datang dan pergi. Ketika Musashi bertanya kenapa ada inspeksi itu, ia mendapat jawaban, karena akan datang kunjungan shogun baru. Barisan depan kaum feodal berpengaruh dan juga feodal-feodal kecil sudah datang. Langkah-langkah sedang diambil untuk menyingkirkan samurai tak bertuan dan berbahaya ke luar kota. Musashi juga seorang ronin, tapi ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan ia dibolehkan lewat. Pengalaman memaksanya memikirkan statusnya sendiri sebagai prajurit tak bertuan yang mengembara, tak terikat ikrar kepada Tokugawa ataupun para saingannya di Osaka. Ketika berangkat ke Sekigahara dan berpihak pada pasukan Osaka melawan kaum Tokugawa, itu soal warisan. Soalnya adalah kesetiaan ayahnya yang tidak pernah berubah semenjak ia mengabdi pada Yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Toyotomi Hideyoshi sudah meninggal dua tahun sebelum pertempuran. Para pendukungnya, yang setia kepada anaknya, membentuk fraksi Osaka. Di Miyamoto, Hideyoshi dianggap pahlawan terbesar. Musashi ingat betapa dahulu ia duduk di dekat perapian, mendengarkan cerita-cerita tentang kegagahan prajurit besar itu semasa ia kanak-kanak. Gambaran ini semakin terbentuk di masa remajanya dan terus merasuk dalam dirinya. Sekarang pun, apabila didesak untuk mengatakan pihak mana yang dipilihnya, barangkali ia akan mengatakan Osaka. Sejak itu Musashi mulai paham, dan sekarang ia menyadari bahwa tindakan-tindakannya pada umur tujuh belas itu kurang pertimbangan dan tanpa hasil. Untuk orang yang hendak mengabdi kepada tuannya dengan setia, tidaklah cukup hanya dengan melompat membabi-buta ke tengah keributan dan mengacungkan lembing. Ia harus melewati jalan panjang menuju maut. "Kalau seorang samurai mati sambil mengucapkan doa bagi kemenangan tuannya, berarti dia telah melakukan sesuatu yang indah dan bermakna," demikian jalan pikiran Musashi sekarang. Tetapi pada waktu itu ia maupun Matahachi tidak memiliki rasa setia. Yang mereka hausi hanyalah kemasyhuran dan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kemuliaan, atau lebih tepat lagi, usaha memperoleh penghidupan tanpa pengorbanan. Sungguh ganjil dulu mereka dapat berpikir seperti itu. Sesudah belajar dari Takuan bahwa hidup adalah permata yang harus ditimang-timang, Musashi sadar bahwa waktu itu mereka tidak hanya menyia-nyiakan, bahkan juga tanpa pikir panjang mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Secara harafiah mereka mempertaruhkan segala yang dipunyai, dengan harapan akan memperoleh gaji tetap yang tak berarti sebagai samurai. Merenungkan masa lalu itu ia heran, bagaimana mungkin ia bertindak demikian tolol. Musashi melihat bahwa kini ia sudah mendekati Daigo, bagian selatan kota. Karena keringatnya mengucur, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Dari jauh didengarnya suara berseru-seru, "Tunggu! Tunggu!" Ketika menatap jalan gunung yang curam itu, tampaklah olehnya sosok si peri air kecil Jotaro, yang sedang berlari sekuat-kuatnya. Pandangan mata anak itu menghunjam marah ke mata Musashi. "Kakak bohong!" seru Jotaro. "Kenapa Kakak lakukan itu!" Napasnya megap-megap karena berlari dan wajahnya merah. Ia berbicara dengan sikap bermusuhan, meski kelihatan hampir menangis. Musashi hampir tertawa melihat pakaiannya. Anak itu membuang pakaian kerja sehari sebelumnya, dan menggantinya dengan kimono biasa. Tapi kimono itu dua kali lebih kecil dari badannya, hingga roknya hampir tak sampai lututnya dan lengannya hanya sampai siku. Pada pinggangnya tergantung pedang kayu yang lebih panjang dari tinggi badannya, dan di punggungnya tergantung topi anyaman sebesar payung. Selagi masih berseru-seru kepada Musashi karena sudah meninggalkannya, ia berurai air mata. Maka Musashi mendekapnya dan berusaha menyenangkan hatinya, tapi anak itu terus juga rnelolong. Agaknya karena merasa bahwa di pegunungan tak ada orang, ia dapat melepaskan perasaannya. Akhirnya Musashi berkata, "Kau senang berlaku seperti bayi cengeng?" "Saya tak peduli!" sedan Jotaro. "Kakak orang dewasa, tapi Kakak membohongi saya. Kakak bilang mau menerima saya jadi pengikut, tapi Kakak meninggalkan saya. Apa orang dewasa memang suka begitu?" "Maafkan aku," kata Musashi. Permintaan maaf yang sederhana ini mengubah tangis anak itu menjadi rengekan. "Diam sekarang," kata Musashi. "Aku tidak bermaksud berbohong padamu, tapi kamu kan masih ada ayah, dan kamu punya majikan? Aku tak bisa membawamu, kecuali kalau majikanmu menyetujui. Kuminta kamu pergi bicara dengannya, bukan? Kurasa waktu itu dia tak akan setuju." "Kenapa Kakak tidak tunggu sampai mendapat jawabannya, paling tidak?" "Itu sebabnya aku minta maaf padamu sekarang. Apa betul kamu membicarakannya dengan dia?" "Ya." Jotaro mengendalikan sedu-sedannya, kemudian ia tarik dua lembar daun dari sebuah pohon. Dengan daun itu ia membuang ingusnya. "Dan apa katanya?" "Dia bilang saya boleh pergi." "Lalu?" "Dia bilang, tak ada prajurit terhormat atau perguruan yang mau menerima anak seperti saya. Tapi karena samurai di penginapan itu orang lemah, tentunya dia orang yang tepat untuk saya. Katanya, barangkali saja Kakak dapat memakai saya untuk membawakan barang, dan dia memberi saya pedang kayu ini sebagai hadiah perpisahan." Musashi tersenyum mendengar jalan pikiran orang itu. "Sudah itu," kata anak itu melanjutkan, "saya pergi ke penginapan. Orang tua itu tak ada, jadi saya pinjam saja topinya dari sangkutannya di bawah pinggiran atap."

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tapi itu kan papan nama tempat itu? Di situ tertulis 'Penginapan'." "Ah, biar saja. Saya butuh topi, siapa tahu hujan." Jelaslah dari sikap Jotaro bahwa segala janji dan sumpah yang diperlukan telah dilaksanakan. Sekarang ia menjadi murid Musashi. Merasakan hal ini, Musashi terpaksa menerima kenyataan bahwa ia kurang-lebih sudah terikat pada anak itu. Tapi terpikir juga olehnya bahwa ini semua demi kebaikan. Memang, ketika ia merenungkan peranannya sendiri dalam peristiwa hilangnya status Tanzaemon, ia menyimpulkan bahwa barangkali ia mesti berterima kasih atas kesempatan yang diperolehnya untuk membentuk masa depan anak ini. Itulah agaknya yang harus dilakukannya. Sesudah tenang dan tenteram, Jotaro tiba-tiba ingat akan sesuatu dan merogoh kimononya. "Saya hampir lupa. Ada sesuatu untuk Kakak. Ini dia." ia mengeluarkan sepucuk surat. Memandang surat itu dengan rasa ingin tahu, Musashi bertanya, "Di mana kamu mendapatkannya?"' "Kakak ingat, tadi malam saya bilang ada seorang ronin minum di toko, dan mengajukan banyak pertanyaan." "Ya." "Waktu saya pulang, dia masih ada di sana. Dia terus juga bertanya tentang Kakak. Dia tukang minum jugasatu botol penuh sake diminumnya sendiri! Kemudian dia menulis surat ini dan minta saya memberikannya pada Kakak." Musashi menelengkan kepala keheranan, lalu membuka meterai surat tersebut. Mula-mula ia melihat bagian bawahnya, dan tahulah ia bahwa surat itu dari Matahachi yang memang dalam keadaan mabuk. Hurufhurufnya pun tampak agak mabuk. Membaca gulungan itu, Musashi tercengkeram nostalgia dan kesedihan menjadi satu. Tidak saja karena tulisan itu kalut, tapi juga karena pesan yang disampaikannya pun melantur dan tidak pasti. Sejak meninggalkanmu di Gunung Ibuki, aku tak lupa desa kita. Dan tak lupa aku pada teman lamaku. Kebetulan kudengar namamu di Perguruan Yoshioka. Waktu itu aku bingung dan tak bisa memutuskan, apa aku harus menjumpaimu. Sekarang aku di toko sake. Aku banyak minum. Sampai di situ maknanya cukup jelas, tapi mulai dari situ surat itu sukar diikuti maksudnya. Semenjak berpisah denganmu, aku terkurung dalam sangkar nafsu, dan kemalasan memakan tulangku. Lima tahun lamanya aku menghabiskan waktu dalam keadaan setengah sadar, tanpa melakukan sesuatu. Di ibu kota, kau sekarang terkenal sebagai pemain pedang. Aku minum untukmu! Beberapa orang mengatakan Musashi pengecut, bisanya cuma lari. Beberapa lagi bilang kau pemain pedang yang tak ada tandingannya. Tak peduli aku mana yang benar. Aku cuma senang bahwa pedangmu sudah bikin orang ibu kota bicara tentangmu. Kau cakap. Kau mesti bisa menempuh jalanmu lewat pedang. Tapi kalau aku menoleh ke belakang, aku heran dengan diriku, seperti sekarang ini. Aku memang orang sinting! Bagaimana mungkin orang sial macam aku ini bertemu dengan teman bijaksana seperti kamu tanpa mati karena malu? Tapi nanti dulu! Hidup ini panjang, dan terlalu dini sekarang untuk dikatakan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tak ingin bertemu denganmu sekarang, tapi akan tiba waktunya, aku mau bertemu. Aku berdoa untuk kesehatanmu. Kemudian menyusul tambahan yang ditulis cepat bagai cakar ayam, yang isinya panjang-lebar, memberitakan kepadanya bahwa Perguruan Yoshioka memandang sangat serius kejadian yang baru lalu itu, dan bahwa mereka sedang mencarinya ke mana-mana; karena itu ia mesti hati-hati dengan tindakannya. Tambahan itu berakhir dengan: Kau tak boleh mati sekarang, karena kau baru mulai menciptakan nama. Kalau nanti aku pun sudah melakukan sesuatu untuk diriku, ingin aku bertemu denganmu dan bicara tentang masa lalu. Jagalah dirimu, tetaplah hidup, supaya kau bisa mengilhami diriku. Tidak sangsi lagi Matahachi punya maksud baik, tapi ada sesuatu yang tak beres dengan sikapnya. Kenapa ia mesti menyanjung Musashi sedemikian rupa dan berikutnya bicara sedemikian rupa tentang kegagalankegagalan sendiri? "Yah," Musashi heran, "apa tak bisa dia sekadar menulis bahwa sudah lama waktu berlalu, dan kenapa kita tidak bertemu dan ngobrol sepuasnya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Jo, apa kau menanyakan alamat orang ini?" "Tidak." "Apa dia sering datang ke sana?" "Tidak, ini yang pertama kali." Terpikir oleh Musashi bahwa kalau ia tahu di mana Matahachi tinggal, pasti ia akan kembali ke Kyoto sekarang juga untuk bertemu dengannya. Ingin ia bicara dengan kawan masa kecilnya itu, mencoba menyadarkannya, membangkitkan kembali semangat yang pernah dimilikinya. Karena ia masih menganggap Matahachi sebagai temannya, ingin ia menariknya keluar dari suasana hatinya yang sekarang, yang jelas cenderung menghancurkan diri sendiri. Tentu saja ia juga ingin Matahachi menjelaskan kepada ibunya betapa salah perbuatan ibunya itu. Kedua orang itu berjalan terus dalam diam. Mereka menuruni Gunung Daigo. Persimpangan Rokujizo sudah tampak di bawah mereka. Mendadak Musashi menoleh kepada anak itu, clan katanya, "Jo, aku mau minta tolong." "Apa?" "Menyampaikan pesanku." "Ke mana?" "Kyoto." "Itu berarti balik kanan dan kembali ke tempat yang baru saja saya tinggalkan." "Betul. Aku ingin kamu menyampaikan suratku kepada Perguruan Yoshioka di Jalan Shijo." Dengan kecewa Jotaro menendang batu dengan jari kakinya. "Tak mau, ya?" tanya Musashi sambil menatap anak itu. Jotaro menggelengkan kepala tak menentu. "Saya tidak keberatan, tapi apa Kakak menyuruh saya ini buat menyingkirkan saya?" Kecurigaan anak itu membuat Musashi merasa bersalah, karena bukankah ia sendiri yang telah menghilangkan kepercayaan itu pada orang dewasa? "Tidak!" katanya tegas. "Seorang samurai tidak berbohong. Maafkan aku atas kejadian pagi tadi. Itu cuma kesalahan." "Baik, saya pergi." Mereka masuk warung teh di persimpangan yang dikenal dengan nama Rokuamida, memesan teh, dan makan siang. Kemudian Musashi menulis surat yang dialamatkan kepada Yoshioka Seijuro: Saya mendapat kabar bahwa Anda dan murid-murid Anda sedang mencari saya. Sekarang saya berada di jalan raya Yamato, karena saya bermaksud mengadakan perjalanan keliling di kawasan Iga dan Ise sekitar setahun lamanya untuk melanjutkan pelajaran saya dalam ilmu pedang. Saya tak ingin mengubah rencana waktu ini, tapi karena saya sama kecewanya dengan Anda berhubung tidak dapat bertemu dengan Anda selama kunjungan saya ke perguruan Anda, maka ingin saya memberitahukan bahwa saya pasti akan kembali ke ibu kota pada bulan pertama atau kedua tahun depan. Dari sekarang sampai waktu itu saya berharap akan dapat memperbaiki teknik saya sebaikbaiknya. Saya percaya Anda sendiri tak akan mengabaikan latihan Anda. Akan merupakan aib besar jika Perguruan Yoshioka Kempo yang sedang mekar itu harus menderita kekalahan kedua seperti kekalahan di waktu lalu. Sebagai penutup, saya sampaikan harapan penuh hormat agar Anda selalu dalam keadaan sehat walafiat. Shimmen Miyamoto Musashi Masana. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Surat itu memang sopan, namun jelas nampak keyakinan Musashi pada diri sendiri. Sesudah mengubah alamat surat itu agar tidak hanya mencakup Seijuro saja, melainkan juga semua murid di sekolah itu, ia letakkan kuasnya dan ia serahkan surat itu kepada Jotaro. "Apa bisa saya masukkan saja surat ini di perguruan itu, lalu pergi?" tanya anak itu. "Tidak. Kamu mesti menyapa dulu di pintu depan, lalu menyerahkan surat itu langsung kepada pembantu di sana." "Baik." "Ada hal lain lagi yang harus kamu lakukan, tapi barangkali agak sukar." "Apa?" "Apakah kamu dapat menemukan orang yang memberikan surat padamu itu? Namanya Hon'iden Matahachi. Dia teman lamaku." "Oh, itu sama sekali tidak sukar." "Betul? Bagaimana caramu?" "Ah, saya tanyakan saja di semua toko minuman." Musashi tertawa. "Boleh juga pikiranmu itu. Tapi menurut surat Matahachi itu, dia kenal orang di Perguruan Yoshioka. Kupikir lebih cepat kalau tanya tentang dia di sana." "Apa yang harus saya lakukan kalau sudah menemukan dia?" "Aku ingin kamu menyampaikan pesan. Katakan padanya, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti, tiap pagi aku akan ke jembatan besar di Jalan Gojo menantikan dia. Suruh dia datang menemuiku pada salah satu hari itu." "Cuma itu?" "Ya, tapi sampaikan juga kepadanya bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya." "Baik, saya mengerti. Lalu Kakak ada di mana, kalau saya kembali nanti?" "Kuterangkan sekarang. Kalau nanti aku sampai Nara, akan kuatur supaya kamu dapat mengetahui tempatku dengan bertanya di Hozoin. Hozoin adalah kuil terkenal karena permainan lembingnya." "Sungguh?" "Ha, ha! Kamu masih curiga, ya? Jangan kuatir. Kalau aku tidak memenuhi janjiku kali ini, boleh kamu memotong kepalaku." Musashi masih juga tertawa ketika meninggalkan warung teh. la berangkat menuju Nara, sedangkan Jotaro ke arah yang berlawanan, ke arah Kyoto. Di persimpangan jalan itu bercampur aduk orang banyak yang mengenakan topi anyaman, burung layanglayang, dan kuda-kuda meringkik. Sementara melintasi gerombolan orang banyak itu, Jotaro menoleh ke belakang dan melihat Musashi masih berdiri di tempat semula dan memperhatikannya. Mereka tersenyum dari jauh sebagai tanda perpisahan, lalu masing-masing menempuh jalannya sendiri.

bagian 5

Angin Musim Semi
DI tepi Sungai Takase, Akemi mencuci sepotong kain sambil menyanyikan lagu yang dipelajarinya di Kabuki Okuni. Setiap kali ia menarik kain berpola kembang itu, tercipta bayangan bunga ceri yang terbang berputarputar. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Angin cinta Menyentak-nyentak lengan kimonoku. Oh, lengan jadi terasa berat! Apakah angin cinta itu berat? Jotaro berdiri di atas tanggul. Matanya yang lincah mengamati pemandangan, dan ia tersenyum ramah, dan ia tersenyum ramah. "Bagus nyanyinya, Bi," serunya. "Apa?" tanya Akemi. Ia memandang anak yang seperti orang cebol mengenakan pedang kayu panjang dan topi anyaman besar itu. "Kamu siapa?" tanyanya. "Dan apa maksudmu memanggilku Bibi? Aku masih muda!" "Baik, gadis manis! Bagaimana kalau begitu?" "Diam kamu!" kata Akemi tertawa. "Kau masih terlalu kecil buat merayu. Lebih baik kau buang ingusmu." "Saya cuma mau tanya sedikit." "Oh, oh!" teriak Akemi ketakutan. "Kainku!" "Sebentar saya ambilkan." Jotaro mengejar kain itu dari tepi sungai, kemudian memancingnya dari air dengan pedangnya. Paling tidak, pedang ini bisa dipakai buat keadaan seperti ini, demikian pikirnya. Akemi mengucapkan terima kasih, lalu bertanya, apa yang hendak ditanyakan Jotaro. "Apa ada warung teh di sekitar sini yang namanya Yomogi?" Oh, ya, itu rumahku, di sana itu." "Oh, senang sekali aku mendengarnya! Lama sekali aku mencarinya." "Kenapa? Kamu datang dari mana?" "Dari jalan itu," jawab Jotaro sambil menuding tak jelas. "Dari mana itu kira-kira?" Jotaro ragu-ragu. "Aku sendiri tidak begitu yakin." Akemi terkikik. "Tak apalah. Tapi kenapa kamu tertarik pada warung teh kami?" "Saya mencari orang yang namanya Hon'iden Matahachi. Orang Perguruan Yoshioka bilang, kalau saya pergi ke Yomogi, saya akan menemukannya." “Dia tidak di situ." "Bohong!" "Tidak. Betul. Dulu dia memang tinggal dengan kami, tapi dia sudah pergi beberapa waktu lalu." "Ke mana?" "Aku tidak tahu." "Tapi orang serumahmu pasti ada yang tahu." "Tidak. Ibuku juga tidak tahu. Dia minggat." "Oh." Anak itu memerosotkan badannya dan menatap air dengan gelisah. "Sekarang apa yang mesti kulakukan?" keluhnya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Siapa yang menyuruhmu kemari?" "Guruku." "Siapa gurumu?" "Namanya Miyamoto Musashi." "Apa kamu membawa surat?" "Tidak," kata Jotaro sambil menggeleng. "Bagus sekali kamu jadi suruhan! Tak tahu dari mana datang, dan tidak membawa surat pula." "Tapi saya membawa pesan." "Pesan apa itu? Barangkali orang itu tak akan kembali lagi, tapi kalau dia kembali akan kusampaikan pesanmu itu." "Saya kira tak boleh saya mengatakannya. Ya, kan?" "Jangan tanya aku. Putuskan olehmu sendiri." "Kalau begitu, barangkali juga boleh. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan Matahachi. Dia minta saya menyampaikan pada Matahachi bahwa dia akan menanti di jembatan besar Jalan Gojo tiap pagi, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti. Matahachi mesti menjumpai dia di sana, di salah satu hari itu." Akemi pecah ketawanya, tak dapat dikendalikan lagi. "Tak pernah aku mendengar pesan seperti itu! Jadi, maksudmu, sekarang dia mengirim pesan, minta Matahachi menjumpainya tahun depan? Gurumu itu mestinya sama anehnya dengan kamu! Ha, Ha!" Sikap mencemooh tampak pada wajah Jotaro, dan bahunya tegang karena marah. "Apanya yang lucu?" Akhirnya Akemi berhasil menghentikan tawanya. "Jadi, sekarang kamu marah, ya?" "Tentu saja. Saya minta tolong dengan sopan, tapi kamu ketawa seperti orang gila." "Maaf, aku betul-betul minta maaf. Aku tak akan ketawa lagi. Dan kalau Matahachi kembali, akan kusampaikan pesan itu kepadanya. "Janji?" "Ya, aku bersumpah." Sambil menggigit bibir untuk menghindari senyum, Akemi bertanya, "Siapa namanya tadi? Orang yang menyuruhmu menyampaikan pesan itu?" "Ingatanmu tidak begitu baik rupanya. Namanya Miyamoto Musashi." "Bagaimana kamu menuliskan Musashi itu?" Jotaro mengambil bilah bambu, lalu mengguratkan dua huruf di pasir. "Lho, itu huruf-huruf yang bunyinya Takezo!" ucap Akemi. "Namanya bukan Takezo, tapi Musashi." "Ya, tapi bisa juga dibaca Takezo." "Kamu keras kepala rupanya, ya?" decap Jotaro sambil melemparkan bilah bambu itu ke sungai. Akemi menatap tajam-tajam huruf-huruf di pasir itu, dan tenggelam dalam renungan. Akhirnya ia menengadah memandang Jotaro, mengamat-amatinya dari kepala sampai jari kaki, lalu tanyanya dengan suara lembut, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa ini bukan Musashi dari daerah Yoshino di Mimasaka?" "Ya. Saya dari Harima. Dia dari Kampung Miyamoto di Provinsi Mimasaka, tak jauh dari sana." "Apa orangnya tinggi, kelihatan jantan? Dan apa bagian atas kepalanya tidak dicukur?" "Ya. Bagaimana kamu bisa tahu?" "Aku ingat dia pernah cerita, ketika masih kecil dia bisulan di puncak kepalanya. Kalau dia mencukurnya seperti biasa dilakukan samurai, akan kelihatan bekas lukanya yang buruk." "Pernah cerita? Kapan?" "Oh, sudah lima tahun lalu." "Jadi, kamu sudah begitu lama kenal guru saya?" Akemi tidak menjawab. Kenangan hari-hari itu membangkitkan kenikmatan di dalam hatinya, hingga bicara pun jadi sukar. Yakin dari berita kecil vang disampaikan anak itu bahwa Musashi adalah Takezo, ia jadi tercengkeram hasrat untuk bertemu Musashi kembali. Ia sudah melihat cara hidup ibunya, dan ia juga sudah melihat Matahachi semakin memburuk perkembangannya. Sejak semula ia lebih menyukai Takezo. Dan semenjak itu semakin yakin ia akan benarnya pilihan atas Takezo. Ia gembira karena masih sendiri. Takezo. Ia begitu lain dari Matahachi. Sering kali ia mengambil sikap tidak menghanyutkan diri dengan para leaki yang selalu minum di warung tehnya. Ia mencemooh mereka dan terus berpegang teguh pada gambarannya tentang Takezo. Jauh di lubuk hatinya ia selalu bermimpi akan menemukan Takezo kembali. Takezo, hanya Takezo-lah kekasih di dalam hatinya, ketika ia menyanyikan lagu-lagu cinta untuk dirinya sendiri. Karena tugasnya selesai, Jotaro berkata, "Nah, lebih baik saya pergi sekarang. Kalau kamu bertemu dengan Matahachi, betul-betullah sampaikan apa yang sudah saya katakan tadi." Ia pergi, menderap sepanjang puncak tanggul sempit itu. Kereta sapi itu penuh bermuatan karung-karung yang barangkali berisi betas, kacang merah, atau hasil bumi setempat yang lain. Di puncak tumpukan ada tulisan yang menyatakan bahwa barang itu sumbangan kaum Budhis yang setia untuk Kofukuji yang agung di Nara. Jotaro kenal kuil itu karena namanya identik dengan Nara. Wajah Jotaro menyala menyatakan kegembiraan kanak-kanaknya. Dikejarnya kendaraan itu, lalu naiklah ia ke atasnya. Jika ia menghadap ke belakang, masih ada cukup ruangan untuk duduk. Dan sebagai tambahan kenikmatan, ada pula karung-karung buat bersandar. Di kiri-kanan jalan, bukit-bukit landai terselimut barisan semak teh yang rapi. Pohon-pohon ceri mulai berbunga, dan para petani sudah membajak gerst-sejenis gandum. Mereka pasti berharap agar tahun itu ladang terhindar dari pijakan para serdadu dan kuda. Perempuan-perempuan berlutut di pinggir kali, mencuci sayur-sayuran. Jalan raya Yamato terasa damai. "Untung sekali!" pikir Jotaro sambil bersandar dan bersantai. Karena enaknya tempat itu, ia selalu tergoda untuk tidur, tapi ia harus berpikir dua kali. Karena takut kereta akan sampai di Nara selagi ia masih tidur, maka ia merasa bersyukur setiap roda kereta menggilas batu dan berguncang. Itu membantu matanya tetap terbuka. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada berjalan terus seperti ini menuju tujuannya. Di luar sebuah kampung, Jotaro dengan malas meraih dan memetik selembar daun dari pohon kamelia. Diletakkannya daun itu di atas lidahnya dan mulailah ia menyiulkan sebuah lagu. Kusir kereta menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Karena siulan terus juga berbunyi, ia menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, dan berkali-kali lagi. Akhirnya dihentikannya kereta, dan pergilah ia memutar ke belakang. Melihat Jotaro, ia marah bukan kepalang. Pukulan tinju yang dijatuhkannya demikian keras, hingga anak itu berteriak kesakitan. "Apa kerjamu di sini?" gertaknya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tak apa-apa, kan?" "Enak saja kau!" "Kenapa? Bapak kan tidak menariknya sendiri?" "Oh, bajingan kurang ajar kamu!" seru tukang kereta sambil melontarkan Joraro ke tanah, seperti bola. Jotaro terpelanting dan kemudian terguling ke pangkal sebatang pohon. Kereta berjalan kembali, bunyi rodanya gemeretak, seakan-akan menertawakannya. Ketika Jotaro sadar kembali, ia mulai mencari-cari dengan teliti di tanah sekitarnya. Ia sadar tabung bambu berisi jawaban dari Perguruan Yoshioka untuk Musashi hilang. Tadi barang itu Ia gantungkan di leher dengan seutas tali, tapi sekarang lenyap. Ketika anak itu sangat kebingungan dan sedikit demi sedikit melebarkan wilayah pencariannya, seorang perempuan muda berpakaian perjalanan berhenti memperhatikannya; ia bertanya, "Kamu kehilangan sesuatu, ya?" Jotaro memandang wajahnya yang sebagian tertutup topi bertepi lebar, mengangguk, dan kembali mencari. "Kamu kehilangan uang?" Karena terlampau asyik, Jotaro tidak begitu memperhatikan pertanyaan itu, dan hanya memperdengarkan gerutuan tak senang. "Apa tabung bambu yang panjangnya kira-kira satu kaki dan bertali?" Jotaro tersentak. "Ya! Bagaimana Kakak bisa tahu?" "Jadi, kamulah yang diteriak-teriaki kusir-kusir dekat Mampukuji tadi, karena mengganggu kuda mereka!" "Ah-h-h... ya "

"Waktu kamu ketakutan dan lari, tali itu tentunya putus. Tabung itu jatuh di jalan, dan samurai yang sedang bicara dengan kusir-kusir tadi itu mengambilnya. Lebih baik kamu kembali menanyakan kepadanya." "Betul begitu?" "Tentu." "Terima kasih." Tapi baru saja ia hendak berlari, perempuan muda itu memanggilnya. "Tunggu! Tak perlu kamu kembali ke sana. Kulihat samurai itu berjalan kemari. Itu, yang memakai hakama lapangan." Ia menuding orang itu. Jotaro berhenti dan menanti dengan mata terbuka lebar. Samurai itu seorang lelaki yang mengesankan, berumur sekitar empat puluh tahun. Segala sesuatu yang ada padanya sedikit lebih besar dan yang biasa-tingginya, jenggotnya yang hitam legam, bahunya yang lebar, dadanya yang padat. la mengenakan kaus kaki kulit dan sandal jerami, dan apabila berjalan langkahlangkahnya yang mantap seakan memadatkan tanah. Dari pandangan sekilas, Jotaro merasa pasti bahwa orang itu prajurit besar yang mengabdi kepada salah seorang daimyo yang sangat penting, dan ia takut menyapanya. Untunglah samurai itu yang bicara dulu memanggilnya. "Apa bukan kamu anak nakal yang menjatuhkan tabung bambu ini di depan Mampukuji?" tanvanva. "Oh, betul! Tuan menemukannya!" "Apa tak bisa kamu mengucapkan terima kasih?" "Maaf. Terima kasih, Tuan!" "Aku yakin ada surat penting di dalamnya. Kalau tuanmu menyuruh kamu, jangan kamu berhenti sepanjang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

jalan mengganggu kuda, membonceng-bonceng, atau bermalas-malas di pinggir jalan." "Ya, Tuan. Apa Tuan melihat isinya?" "Sudah sewajarnya, kalau kita menemukan sesuatu, kita memeriksanya dan mengembalikannya kepada pemiliknya, tapi aku tidak merusak meterai surat itu. Sekarang, sesudah barang itu di tanganmu lagi, coba periksa dan lihat, apa masih baik keadaannya." Jotaro membuka tutup tabung dan melihat ke dalamnya. Puas karena surat itu masih ada, digantungkannya tabung itu kembali ke lehernya, dan ia bersumpah tak akan melepaskannya untuk kedua kali. Perempuan muda itu tampak sama puasnya dengan Jotaro. "Baik sekali Tuan telah menemukan barang itu," katanya kepada si samurai, untuk memperbaiki sikap Jotaro yang tidak mampu menyatakan terima kasih dengan baik. Samurai berjenggot itu mulai berjalan lagi bersama mereka berdua. "Apa anak itu bersamamu?" tanyanya kepada perempuan itu. "Oh, tidak. Belum pernah saya bertemu dengan dia." Samurai itu tertawa. "Kupikir tadi kamu dan dia pasangan yang agak aneh. Anak itu seperti setan kecil yang lucu; apalagi ada kata 'Penginapan' pada topinya." "Barangkali kepolosan kanak-kanaknya itu yang membuat dia begitu menarik. Saya suka dia juga." Sambil menoleh kepada Jotaro, ia bertanya, "Mau ke mana kamu?" Karena berjalan bersama kedua orang itu, semangat Jotaro naik lagi. "Saya akan pergi ke Nara, ke Kuil Hozoin." Sebuah benda panjang sempit yang terbungkus kain brokat emas dan tersimpan dalam obi gadis itu menarik perhatiannya. Sambil memperhatikannya, ia berkata, "Saya lihat Kakak membawa tabung surat juga. Hati-hati, jangan Kakak hilangkan." "Tabung surat? Apa maksudmu?" "Itu, dalam obi Kakak." Gadis itu pun tertawa. "Ini bukan tabung surat, tolol! Ini suling." "Suling?" Dengan mata menyala-nyala karena rasa ingin tahu, tanpa malu-malu Jotaro melongokkan kepala ke pinggang gadis itu untuk memeriksa benda tersebut. Tiba-tiba suatu perasaan aneh datang kepadanya. Ia mundur dan seperti mengamat-amati gadis itu. Anak-anak pun mempunyai selera terhadap kecantikan wanita, atau setidak-tidaknya mengerti secara naluriah, apakah wanita itu murni atau tidak. Jotaro terkesan sekali akan kecantikan gadis itu, dan ia menghargainya. Terasa olehnya sebagai keberuntungan tak terukir bahwa sekarang ia berjalan bersama orang yang begitu molek. Hatinya pun berdentum, dan ia merasa pusing. "Oh. Suling... Apa Bibi bisa main suling?" tanyanya. Kemudian, karena ingat akan reaksi Akemi terhadap kata "Bibi" itu, ia cepat-cepat mengubah pertanyaannya, "Siapa nama Kakak?" Gadis itu tertawa dan melemparkan pandangan senang kepada si samurai lewat kepala anak itu. Prajurit yang seperti beruang itu ikut tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih kuat di belakang jenggotnya. "Kamu anak baik, kan? Kalau kamu ingin tahu nama orang lain, yang sopan adalah kamu menyebutkan dulu namamu." "Nama saya Jotaro." Jawaban ini menimbulkan ketawa lebih banyak lagi. "Itu tidak adil!" teriak Jotaro. "Tuan menyuruh saya menyebutkan nama saya, tapi saya belum tahu nama Tuan. Siapa nama Tuan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Namaku Shoda," kata samurai itu. "Itu tentunya nama keluarga. Lalu nama Tuan yang lain apa?" "Terpaksa aku minta diizinkan hanya menyebut nama itu." Dengan berani Jotaro menoleh kepada gadis itu, dan katanya, "Sekarang giliran Kakak. Kami sudah menyebutkan nama kami. Kurang sopan kalau Kakak tidak menyebutkan nama Kakak." "Nama saya Otsu." "Otsu?" Jotaro mengulang. la kelihatan puas sebentar, tapi kemudian mengoceh lagi. "Kenapa ke manamana Kakak menyimpan suling dalam obi?" "Oh, aku butuh suling ini buat mencari makan." "Jadi, Kakak ini pemain suling?" "Sebetulnya aku tidak yakin apa ada pemain suling profesional, tapi uang yang kudapat dengan main suling ini bisa buat melakukan perjalanan-perjalanan jauh macam ini. Bolehlah kamu menyebut itu pekerjaanku." "Apa musik yang Kakak mainkan seperti musik yang sudah saya dengar di Gion dan Kuil Kamo? Musik untuk tari-tarian suci?" "Tidak." "Apa musik buat jenis tarian yang lain-misalnya Kabuki?" "Tidak." "Kalau begitu, musik jenis apa?" "Oh, lagu-lagu biasa saja." Sementara itu si samurai bertanya-tanya dalam hati mengenai pedang kayu panjang milik Jotaro itu. "Apa yang kamu pasang di pinggangmu itu?" tanyanya. "Apa Tuan tak kenal pedang kayu kalau Tuan melihatnya? Saya pikir Tuan ini samurai." "Ya, aku memang samurai. Cuma aku heran melihat pedang begitu kamu bawa. Kenapa kamu membawanya?" "Saya mau belajar ilmu pedang." "Oh, jadi kamu belajar sekarang? Apa kamu sudah punya guru?" "Punya." "Apa dia yang akan menerima surat itu?" „ Ya. " "Kalau dia itu gurumu, tentunya dia ahli yang sejati." "Dia sama sekali tidak sebaik itu." "Apa maksudmu?" "Semua orang bilang dia lemah." "Apa kamu tidak keberatan punya guru lemah?"

Ebook by Kang Zusi

" kata orang tua itu.000 atau 130. tetapi matanya tetap muram. "Bicara dengan kamu ini bikin jalan lebih pendek. ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. "Sanada Yukimura yang terkenal itu bersembunyi di Gunung Kudo. orang-orang Tokugawa menyita tanah-tanah milik yang seluruhnya menghasilkan 33 juta gantang padi tiap tahun. "Nona ini sudah beberapa bulan mencari seseorang. lalu bercerita kepada mereka mengenai apa yang diketahuinya tentang keadaan Nara. Ada seorang ronin yang sudah sekitar satu tahun saya cari. "Senang sekali bertemu dengan anggota Keluarga Yagyu!" serunya. sementara teman-temannya duduk. "Silakan masuk.000 orang samurai kehilangan jabatannya. "Lupakan keinginan itu sama sekali. saya punya rencana ke sana. Tapi terpikir juga oleh saya. Sebagai pemenang. Kalau tidak. berapa banyak ronin dari pihak yang kalah telah datang bersembunyi di sana. netcafe. dan Ban Dan'emon di Kofukuji. "Misalnya. Wilayah sekitar Nara dan Gunung Koya penuh kuil. Juga. ia segera mengambilnya dan larilah ia ke bukit rendah di belakang warung teh. walaupun saya akui. lalu Sengoku Soya kabarnya berada di luar Horyuji. Saya belum lagi belajar apa-apa. sedangkan dia belum tahu akan menginap di mana?" Mendengar pertanyaan itu. Lalu. tak tahulah orang. Begitu kue datang." Tawa samurai itu pun akhirnya pecah berderai-derai. ia menyalaminya dengan hangat. Baginya duduk dan beristirahat itu membosankan. di mana banyak kuil berwarna-warni dan rusarusa jinak-sebuah tempat yang tidak terganggu oleh perang atau kelaparan. Kebanyakan anggota partisan Osaka dari Tentara Barat dan Osaka. Sambil menoleh ke Otsu. "Oh. Ia sedang melayani para langganan yang duduk berkeliling di bangku. Di bawah tepi atap sebuah warung teh. Sambil menghirup teh. dlan katanya. Rupanya kebanyakan orang mendapat kesan bahwa ibu kota lama itu tempat yang tenang. samuraisamurai yang kini tak punya penghasilan dan sedikit saja punya harapan akan memperoleh pekerjaan lain. "Apa Nara masih jauh dari sini?" "Masih. karena itu sukar bagi angkatan bersenjata Tokugawa untuk mengadakan perondaan. disangsikan apakah para pelarian itu akan dapat lagi memperoleh penghidupan terang-terangan dengan pedangnya. silakan!" "Kami mau istirahat sebentar di sini. orang tua itu membelalakkan matanya. Melihat Shoda. Kalau Nona yakin ada teman untuk tinggal di sana. Padahal kenyataannya kota itu tidak lagi seperti itu." Samurai itu hampir tak dapat menahan rasa geli. karena merupakan tempat sembunyi yang ideal. seakan hendak pecah menjadi senyuman. "Tidak. Nara bisa jadi tempat yang sangat berbahaya. para pelarian berbondongbondong bergerak ke sana. Mulutnya menggetar. tidak banyak berita yang terdengar. damai. dan karena menurut pendengaran saya banyak ronin berkumpul di Nara sekarang ini. kalau seorang wanita muda mengadakan perjalanan sendiri ke Nara." Pemilik warung menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri. Sesudah Pertempuran Sekigahara. Orang yang cepat jalannya pun barangkali takkan sampai lebih jauh dari Kizu sebelum matahari terbenam. tapi tepatnya Nara bagian mana. bahkan bermaksud saja jangan!" katanya pasti. Otsu bertanya kepada orang tua itu. Menurut perkiraan kebanyakan orang. Dengan semakin berkembangnya kekuasaan ke-shogun-an Tokugawa dari tahun ke tahun. maka setidak-tidaknya ada delapan puluh daimyo dengan penghasilan seluruhnya sekitar dua puluh juta gantang yang telah dicabut hak miliknya. Bisa sediakan kue manis buat anak ini?" Jotaro tetap berdiri. Kalau dihitung untuk setiap lima ratus gantang padi ada tiga samurai yang telah dihentikan dari tempat kerjanya dan dipaksa bersembunyi di berbagai provinsi lain-terhitung keluarga dan pesuruhnya-maka jumlah mereka seluruhnya tidak akan kurang dari 100. seorang tua yang sangat sopan memegang sebuah ketel teh besar. Walau jika dihitung juga tuan-tuan tanah feodal yang semenjak itu diizinkan menetap kembali dengan gaya yang lebih sederhana. "Apa kamu sudah mempelajari beberapa teknik?" "Belum bisa dikatakan begitu. itu lain soal." Jembatan Uji mulai tampak." Shoda pun segera menyambung. Banyak lagi yang dapat saya Ebook by Kang Zusi . jadi tak ada bedanya. Saya juga tidak pandai main pedang. saya belum tahu. Inc.property of: CROSSFiRE. Anak perempuan seperti Anda mesti menginap di Taga atau Ide. 120.000 orang. apa menurut Bapak cukup aman hari-hari ini. Nona sendiri man pergi ke mana?" "Ke Nara.

yang dipertuan dari Koyagyu yang sudah tua itu adalah Yagyu Muneyoshi yang agung. Hmm. orang itu bukanlah samurai biasa. dan aku mengabdi kepada Keluarga Yagyu. dia langsung dipanggil ke Edo dan ditunjuk menjadi instruktur dalam rumah tangga shogun. "Nama lengkapku Shoda Kizaemon. "Tak suka kamu ke sana?" "Bukan itu soalnya. ia memakai nama Sekishusai. Tak ada tawaran lain yang lebih baik dari itu. hingga kalau bisa pedang pun akan mereka jual. tapi kenapa tidak kau batalkan saja maksudmu pergi ke Nara itu. Satu-satunya harapan mereka untuk masa depan adalah kalau perang pecah lagi. Apa kau suka kerja begitu?" Orang tua itu segera menimpali dengan pernyataan setuju. Keluarga Yagyu itu lain sekali dengan daimyo lain. Otsu kini merasa ragu-ragu dan duduk diam sebentar. Tidak ada keluarga yang lebih besar di Jepang ini daripada Keluarga Yagyu. Apa kamu bisa naik kuda?" Ebook by Kang Zusi . dengan harapan kerusakan yang mereka datangkan itu akan membuat angkatan bersenjata Osaka bangkit dan mengangkat senjata. Tergerak oleh ceritanya sendiri. saya mau ke sana. Shoda berkata. Diundang ke Koyagyu saja sudah merupakan kehormatan. dan meyakinkan Otsu bahwa maksudnya itu terhormat. la sekadar berjalan ke arah Nara-tak ada bedanya dengan pengembaraannya ke berbagai tempat lain." Semua itu orang-orang yang punya nama. Dia akan lebih terganggu oleh sifat malu-malumu itu daripada bayanganmu bahwa kamu kurang terampil. dia ahli upacara minum teh yang berselera sederhana. netcafe. Dapat dipahami kalau para pemain pedang dari seluruh negeri akan datang ke pintu gerbangnya." "Jangan panjang-panjang kamu memikirkan soal itu. berjudi. sebutkan. Kota Nara yang dahulu tenang itu kini berubah menjadi sarang penjahat nekat. di situ bahkan akan ada daftar tamu. akan senang sekali dia kalau kamu ada di dekatnya dan sekali-sekali main untuknya. Namun ia merasa sukar menjawab tawaran itu." desaknya. Alangkah bahagianya kalau dalam daftar itu dapat ia temukan nama Miyamoto Musashi! Terutama karena memikirkan kemungkinan itu. Sesudah pensiun. Dia menderita kebosanan luar biasa. Tapi sayangnya la betul-betul tak punya alasan untuk terus. dan sebagai gantinya kau pergi denganku ke tanah Koyagyu?" Karena merasa wajib memberikan keterangan lebih banyak tentang dirinya. ia melanjutkan. ia berkata riang. pergi ke sana sama halnya dengan menuangkan minyak ke kimono dan menceburkan dirt ke dalam api. Setengahnya lalu mulai berkelahi. Inc. Kebetulan tuanku yang sudah berumur delapan puluh tahun tidak lagi aktif. "Tadi kaubilang namamu Otsu. Sejak meninggalnya Yoshioka Kempo. Cuma saya takut. terpikir olehku." "Nah. karena besar dugaannya.. Kizaemon bertanya. Segera setelah ahli warisnya. atau mengganggu ketenteraman. keadaan mereka demikian sulit. Keluarga Yagyu dianggap banyak orang sebagai eksponen terbesar dalam seni perang di negeri ini. Otsu.. pulang dari Sekigahara. pemilik warung teh menutup ceritanya dengan minta amat sangat pada Otsu untuk mengubah maksudnya." "Kamu mau? Bagus sekali! Terima kasih sekali. yaitu Yang Dipertuan dari Tajima. berapa pun kecilnya. Kalau sekiranya ada sedikit saja petunjuk bahwa Musashi kemungkinan berada di Nara. semenjak Musashi meninggalkannya di Jembatan Himeji. Khususnya Sekishusai. tak akan ia berpikir panjang mengenai bahayanya.property of: CROSSFiRE. "Barangkali kamu tahu. "Kamu lebih baik ikut dia." Otsu sadar bahwa pergi ke Koyagyu lebih memberikan harapan. Ketika kau berkata kau hidup dari main suling. Jangan sampai tidak diterima tawaran itu!" Mendengar bahwa Kizaemon adalah pejabat dalam Keluarga Yagyu yang termasyhur itu. tapi aku ragu. bukan?" "Ya. Otsu merasa beruntung. "Kalau menurut pendapat Tuan tak ada halangan apa-apa. nanti permainan saya tidak cukup baik untuk orang seperti Yagyu Muneyoshi.. Menurut pendapat orang tua itu. apa seorang perempuan dapat jalan sejauh itu sebelum malam datang. Melihat kebingungan pada wajahnya. Untuk gadis manis seperti Otsu. orang-orang yang akan dibunuh dengan seketika kalau mereka menunjukkan diri. aku memang ragu-ragu mengatakan ini. keadaan tidak begitu jelek kalau hanya para ronin terkenal itu yang menyembunyikan diri. Melihat Otsu masih juga diam. Tetapi yang mempersulit keadaan adalah para samurai miskin yang berkeliaran di jalan-jalan belakang kota. karena mereka semua sedikit banyak punya prestise dan dapat hidup sendiri dengan keluarganya. Munenori. daripada berkeliaran tanpa tujuan ke Nara. tenang.

Ebook by Kang Zusi . Jotaro melihat mereka dari bukit di belakang warung teh." "Kenapa Yang Dipertuan daerah ini tidak menangkap atau mengusir mereka?" "Jumlah mereka terlalu banyak-jauh lebih banyak daripada yang dapat dihadapi." "Kamu muridnya. mereka bisa lebih kuat daripada pasukan Yang Dipertuan sendiri." "Saya dengar Koga juga penuh dengan mereka itu. kalau saya pergi ke sana. "Banyak lagi lainnya yang menjadi tukang culik dan peras. Kaubilang akan pergi ke Hozoin tadi.. dan Jotaro menjawab bahwa di sebuah semak di bukit itu terdapat banyak orang sedang main. "ilmu pedang itu sekarang cuma iseng-iseng. Cukup setia juga kamu." "Itu cuma sebagian sebabnya. "Maka itu kamu membela mereka. Kita dapat bertemu dengan lima atau sepuluh orang dari mereka yang berkeliaran di jalan ini setiap hari. karena itu mereka memikat musafir untuk main dengan mereka dan mengakali segala milik mereka. Yamato." "Bapak ini begitu terus bicaranya tentang ronin." "Betul. Mereka bertekad bertahan terus sampai perang berikutnya. dan Kii bergabung jadi satu. di mana dia. "Yang berjudi itu termasuk yang baik-baik. "Apa sudah mau berangkat? "Ya. tapi dia bilang. Kizaemon bertanya kepadanya. Inc." "Tunggu saya!" Mereka sudah setengah jalan menyeberang Jembatan Uji ketika Jotaro menyusul. Itu semua karena jauh lebih banyak ronin yang mengajar dibanding dahulu." sela Jotaro." "Mereka tertarik. "Guru saya seorang ronin!" Kizaemon tertawa. Mereka tak punya cukup uang untuk makan.property of: CROSSFiRE. ya? Apa di sana gurumu tinggal?" "Saya tidak tahu betul. Tukang kuda yang menanti di sana datang berlari-lari membawa kuda. karena entah dari mana mereka itu mendengar. tapi kelihatannya menarik." "Apa gaya gurumu itu?" "Saya tidak tahu. jadi mereka itu berjudi untuk mata pencaharian?" tanya Kizaemon. Kalau semua ronin dari Kawachi. netcafe. sedangkan ia sendiri berjalan di sampingnya. bahwa jika orang cakap bermain pedang.. kami berangkat. apa yang dilakukannya tadi." "Ya. dan serunya.. la tidak tahu nama permainan itu." jawab tukang kuda. Mereka begitu kasar. "Bisa. Tukang kuda tertawa. "Itu ronin-ronin jembel yang sedang berjudi. orang akan menunjukkan pada saya. Memalukan!" "Oh. sampai tak ada orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan mereka. Mereka datang dari Tsutsui. Semua orang mempelajarinya." sela tukang kuda. dan katanya." Kizaemon membungkuk ke bawah tepi atap dan mengangkat tangan ke arah jembatan. tapi kamu tak tahu gayanya?" "Tuan. Kizaemon menyuruh Otsu naik ke atasnya." kata Kizaemon menyetujui. "tapi di antara mereka tentunya ada orangorang yang baik.

Hozoin MURID seni bela diri umumnya mengenal Hozoin. Otsu melambaikan selamat berpisah. Jotaro merajuk diam. aku lupa bilang tadi.property of: CROSSFiRE. dan sedihnya. jangan marah. "O ya. "Tapi kita akan bertemu lagi hari-hari ini. di atas pepohonan itu tampak lekuk-lekuk feminin Gunung Kasuga. tapi begitu sampai di sana ia berdiri memandang ke sekitar dengan kagumnya. Tetapi sekarang yang tertinggal dari semua itu hanyalah serakan batu pondasi yang mengintip dari balik lumut dan rerumputan. Pendeknya. di sisi bagian sungai yang tiba-tiba menyempit. Kuil itu terletak di Bukit Abura. Jotaro. dan sedikit demi sedikit ditelan oleh awal bayangbayang gunung. Mengerikan kalau kita memikirkannya. "Mestinya sudah sejak tadi aku tahu bakal sendiri lagi. lalu melompat ke tengah perahu tambangan kecil. Musashi tidak mengalami kesulitan mencari arah Bukit Abura." Ia memungut sebuah batu dan dilemparkannya batu itu bersilantar di permukaan air." "Jalan pintas untuk menjadi kaya. Inc. kalau berani mengatakan begitu!" "Coba dengar! Masih seperti kutu membawa cungkil gigi. Kita melihat banyak orang macam itu. Barangkali dia mengira bahwa dia hanya harus belajar memukul orang dengan pedang itu untuk menjadi manusia sejati. Mereka berada di lembah." "Otsu?" kata Jotaro. jadi lebih baik kamu buru-buru. "Jaga baik-baik dirimu. Bersamaan dengan tibanya senja. sekalipun aneh juga bahwa hanya sedikit orang yang kenal Gudang Shosoin yang justru lebih penting karena koleksi benda-benda seni kuno yang tak ternilai harganya. dan kini bermandikan hujan awal musim semi. Ketika perahu yang menjadi merah warnanya oleh matahari petang itu sudah setengah jalan menyeberangi sungai. sudah cukup untuk dianggap penipu. Masih dapat ia mengenali kuda Otsu dan Kizaemon di jalan Kuil Kasagi. "Apa ini? Coba. dan reruntuhan rumah mandi umum raksasa yang dibangun oleh Ratu Komyo untuk orang miskin. "Di sini kita berpisah. di tengah hutan kriptomeria yang luas dan lebat. "Aku sudah memutuskan pergi dengan Tuan ini ke puri di Koyagyu. Yang berani menganggap dirinya murid serius. "Hei." kata Otsu tersenyum. netcafe. yang mengira Otsu akan pergi bersamanya. "Tapi siapa yang Kakak cari itu?" canyanya. Jotaro berlari sepanjang tepi sungai. Warna daun-daunnya sedang gelap-gelapnya. karena di sana terdapat kuil-kuil lain yang bersarang di tengah hutan. ya?" "Tepat. Nah. akhir-akhirnya kebanyakan mereka itu akan kelaparan." Kemarahan Jotaro sekilas bangkit. anak sekecil ini pun sudah pegang pedang kayu. sebentar lagi gelap. Pohon-pohon kriptomeria telah menempuh musim dingin dengan selamat. nanti kamu kehilangan tabung bambu lagi. tapi menganggap tempat itu sama saja seperti kuil-kuil yang lain." Kizaemon tertawa." "Tidak lagi! Tak usah menguatirkan saya!" Mereka berjalan terus. yaitu Kuil Ganrin'in. Dan jangan buang waktu di jalan. Rumahmu jalanan." kata Otsu." Jotaro tampak terenyak. Tempat itu juga terkenal di antara penduduk setempat. Di sini pula terdapat sisa-sisa kebesaran zaman Nara-reruntuhan sebuah kuil. tapi sudah membayang-kan dirinya prajurit besar. ia menoleh ke belakang. "Orang macam apa?" Tanpa menjawab." Jotaro kelihatan tak ingin bergerak. sedangkan aku sendiri banyak jalan. itulah tempat tinggal jin-jin. Gunung-gunung di kejauhan masih terang Ebook by Kang Zusi . Yang lain-lain memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam. daimyo akan berlomba-lomba menyewanya dengan bayaran empat atau lima ribu gantang setahun. Akhirnya mereka sampai di pangkalan perahu tambangan di Sungai Kizu. Coba.

tak dapat Anda mempelajari sesuatu. walaupun dia sudah punya banyak murid." kata biarawan itu dengan nada menghina. Musashi mendesak terus." "Kata orang. Anda mau ke sana buat bertanding?" "Ya. Kuil itu tempat suci untuk cahaya Hukum Sang Budha.property of: CROSSFiRE. Lalu ia mengembangkan cara-cara baru dalam menggunakan lembing. mula-mula ia salah baca. Anda barangkali tak dapat bertemu dengan gurunya. Karena hubungannya dengan Muneyoshi dan dengan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. "Tak ada apa-apanya desas-desus itu. Seni bela diri hanya sampingan. tapi saya tak melihat alasannya kalau orang yang anggota badannya baik dan lurus mesti pergi ke sana untuk dikutungi. dan kalaupun Anda bertemu dengannya. Pada waktu menerima tamu pun ia sudah tidak dapat melakukan percakapan. Sekalipun di antara kuil-kuil itu tak ada yang mirip dengan yang dicarinya. Menurut yang saya dengar. pergi juga ia ke dalam untuk melihat. "Saya sudah mendengar tentang In'ei. Ozoin rupanya milik Sekte Nichiren. Walaupun kemudian ia segera menyadari kesalahannya. seperti ditunjukkan oleh namanya. dan katanya." "Kenapa?" "Berbahaya. Selagi ia berdiri di sana. tidak pernah dia menolak memberikan pelajaran pada siapa pun yang datang kepadanya. jumlah calon prajurit telah mencapai angka yang oleh Hozoin pun sudah dianggap mengganggu. In'ei sekarang berumur delapan puluh empat tahun dan sudah sepenuhnya pikun. "Boleh saya bertanya?" "Tentang apa?" "Kuil ini namanya Ozoin?" "Ya. dan saya tahu bahwa yang Anda katakan itu benar. oleh sinar matahari. Musashi mendatangi setiap gerbang untuk memeriksa papan namanya. demikianlah kira-kira. sering kali mengunjungi Yagyu Muneyoshi. Sepanjang pengetahuannya. teman Muneyoshi. "Jadi. netcafe. Walaupun sadar dianggap enteng oleh orang itu. Perhatian utamanya terletak pada agama. Pikiran Musashi demikian penuh oleh Hozoin. Inshun Ebook by Kang Zusi . yaitu "0". hingga ketika ia melihat papan nama Kuil Ozoin. Ia hampir tidak pernah menjumpai siapa pun. begitulah. karena hanya huruf pertama. kepala biara yang dulu. Soal lembing sudah dilupakannya sama sekali. yang berlainan. seperti yang tertulis di papan itu." Biarawan itu tegap tubuhnya. "tak banyak faedahnya Anda pergi ke sana. Betul?" "Di belakang kuil ini. Hozoin adalah kuil Zen yang tak ada hubungan-nya dengan Nichiren. Hozoin ada di Bukit Abura. Menurut biarawan itu. Kakuzenbo In'ei. Ia hanya duduk dan membuat gerakan-gerakan yang tak dapat dimengerti dengan mulutnya yang sudah ompong. dan sepengetahuan Musashi inilah yang menjadi cikal-bakal Gaya Hozoin yang sangat dihargai orang. Saya bisa mengerti kalau orang yang dilahirkan pincang pergi ke situ untuk diluruskan kakinya. kepala biara itu tertarik pada seni bela diri dan akhirnya mulai belajar ilmu pedang sebagai pelengah waktu. seorang biarawan muda yang baru kembali ke Ozoin melewatinya dan menatapnya penuh curiga. Kelihatannya ia tidak dapat menangkap apa pun yang dikatakan orang kepadanya. Orang bilang dia masih belajar. Tapi saya mendengar juga bahwa seorang pendeta yang namanya Inshun telah mengambil alih kedudukannya dan menggantikannya. tapi dia sudah paham semua rahasia Gaya Hozoin." "Oh. Musashi melepas topi." Sikap kasar orang itu menunjukkan bahwa ia ingin Musashi lekas pergi. Inc." "Kalau begitu dengarkan nasihat saya: Lupakan saja." simpul biarawan itu sesudah menjelaskan semuanya. Inshun. agak lain daripada biarawan Nichiren biasa.

Musashi menyimpulkan bahwa orang tua itu biarawan Ozoin. sudah sejauh ini saya pergi. "Tapi Anda masih juga ingin ke sana?" "Yah. sebetulnya murid kepala biara Ozoin. "Apa arti semua ini?" demikian ia terheran-heran. tapi aku ingin tahu. Di kanan-kirinya terdapat sekitar sepuluh pasang sandal yang usang dan Ebook by Kang Zusi . Jauh lebih cepat jalan terus lewat kuil kami ini. dilihatnya punggung yang bungkuk itu masih menghadapnya dan cangkul itu masih juga meneruskan iramanya yang tak terputus-putus." "Tentu. seolah-olah baru saja lolos dari pukulan pedang atau tombak yang mematikan. Ia benar-benar merasakan kekuatan misterius itu menghunjam tubuhnya. Di sebelah kebun itu ia melihat Hozoin. namun rasa ingin tahunya masih belum reda. hingga rasanya kurang sopan mengganggunya. Karena dari hari ke hari terbiasa menerima kunjungan orang-orang seperti Musashi. Sesudah In'ei mulai memperlihatkan tanda-tanda ketuaan. dan ia meloncat ketakutan ke udara. "Inshun mestinya masih muda. kepala biara kami merasa sayang jika reputasi Hozoin tersia-sia begitu saja. dan kemudian dia atur pula agar Inshun menjadi kepala biara. Karena itu dia mengajarkan pada Inshun rahasia-rahasia permainan lembing yang pernah dia pelajari dari In'ei.property of: CROSSFiRE. rades. ia memandang baik-baik lempengan cangkulnya. Di situ terdapat sebuah tong penuh air yang disalurkan lewat pipa bambu. maksudnya secara tak langsung adalah supaya Musashi membasuh kakinya dulu." "Oh.." dan memberikan isyarat ke kanan pintu masuk." "Tadi Anda bilang tempatnya di belakang ini." Pendeta itu berkata. Akhirnya sampailah ia di depan Hozoin. Musashi berjalan melewati dapur kuil itu ke belakang pekarangan. pasti ia komandan batalion. la hampir berbicara. Inc. tiba-tiba sadarlah ia bahwa orang itu sedang menatap kakinya dari sudut matanya. Seluruh tubuhnya terasa panas. "Silakan masuk.. Sekiranya ia salah seorang prajurit pendeta Gunung Hiei. ia lihat di satu sisi seorang tua yang sedang mencangkuli sayursayuran. tapi orang tua itu rupanya demikian tenggelam dalam pekerjaannya. Musashi merasa diserang dengan kekuatan yang mengerikan-suatu kekuatan yang seperti kilat membelah awan. Ini bukan mimpi di siang bolong. ia memukulnya. kagum oleh kekuatan yang baru saja menyerangnya. Ketika ia menoleh. Kecuali dentang cangkul yang mengenai batu-batuan. keadaan betul-betul sepi. Selagi berjalan di tanah lunak di antara baris-baris lobak... ia hanya melontarkan pandangan selintas." "Ada keperluan apa ke sini?" "Saya ingin bertemu dengan Guru." kata Musashi. Di situ terdapat gudang kayu. Orangnya besar dan berotot. Walaupun orang itu tidak bergerak ataupun berbicara. dan katanya. Biarawan muda itu tadi mengatakan In'ei sudah pikun dan sudah lupa sama sekali akan tombak. netcafe. Seorang pendeta datang ke pintu. Lebih baik memutar ke kiri atau ke kanan?" "Tak perlu memutar." Sesudah mengucapkan terima kasih kepadanya.. tapi jawaban satu-satunya yang diperolehnya adalah gema dari pepohonan di sekitar. Melihat ada sebuah gong besar di samping pintu masuk. gudang empleng kacang. Takkan salah lagi. Sambil membungkuk mencangkul. "Anda shugyosha?" "Ya. Sambil menanti munculnya seorang pembantu. Yang kelihatan oleh Musashi pada orang itu hanyalah sepasang alisnya yang putih saiju." Kejadian di halaman itu masih terus menghantui pikirannya. dan kebun sayur-sayuran yang luasnya sekitar satu ekar. ia berpikir. mirip sekali dengan wilayah di sekitar rumah seorang petani kaya. Ia berseru dua kali lagi. Hampir seketika itu juga teriakan jawaban terdengar dari dalam kuil. dan bawang. Namun ketika Musashi berlalu tanpa mengucapkan sesuatu. begitu.

Judul buku tamu itu: "Daftar Orang-orang yang Mengunjungi Kuil Ini untuk Belajar Pramugara Hozoin. jika seseorang ingin bertarung dengan tombak bertulang. maka ia berguru pada segala yang ada di alam semesta ini. la mengikat lengan Ebook by Kang Zusi . Ia menutupnya dengan mengatakan." kata Musashi sambil menyeringai sedikit—memang itu sudah sewajarnya bagi orang yang berniat menjadi prajurit. Sebelum Anda melanjutkan. Ketika muncul kembali. Musashi mengikuti pendeta itu menyusuri lorong yang lebar dan gelap. dan membaca persyaratan yang tadi ia lewati." "Mm. Tongkat kayu ek yang dipegangnya tegak lurus itu panjangnya paling tidak sepuluh kaki. Semua itu hal-hal yang tidak biasa ditemukan dalam ruang latihan biasa. "tapi tidak terlalu rajin mempelajarinya. Namun pukulan di sini bisa terasa sangat sakit. Para biarawan tentunya telah mengorbankan sebuah ruangan kuliah atau bangunan besar lain untuk membuat dojo itu. Lengan jubahnya diikatkan ke belakang. tanpa menyebutkan nama gurunya. tetapi para murid yang kini duduk di lantai itu hanya menggunakan tongkat latihan dari kayu ek panjang. dan gaya apa yang Anda gunakan. "Saya masih dalam taraf belajar. membukanya. la belajar menggunakan pentung dengan pimpinan ayahnya. Masing-masing ditulis di bawah tanggal berkunjungnya seorang samurai atau murid. dan seluruh tubuhnya-kaki. Inc. Di situ ada juga murid pendeta yang sama jumlahnya. dan ia juga melihat bekas-bekas cat. Hozoin terkenal di manamana karena permainan tombaknya. Semuanya dengan saksama memperhatikan dua pemain tombak yang sedang melakukan latihan pertandingan. Silakan. "Silakan tulis nama Anda. Belum pernah Musashi melihat tiang-tiang yang demikian besar kelilingnya." Musashi membuka buku itu dan memperhatikan nama-nama di dalamnya." Karena ada maksud belajar dengan sungguh-sungguh. kotor. menurut penglihatan Musashi tak ada suatu pun yang menunjukkan bahwa ada yang luar biasa di kuil yang satu ini. Pertarungan di sini berlangsung kasar. maka saya membebaskan kuil dari segala tanggung jawab. tangan. "Berikutnya!" terdengar panggilan orang yang duduk di lantai. Menurut papan pemberitahuan di dinding. tantangan akan diterima.property of: CROSSFiRE. Bunyinya: Karena saya datang kemari dengan tujuan belajar. "Baiklah. Di situ ia diminta menanti. dan dipersilakan masuk ke kamar tunggu." Bicaranya seolah-olah sedang mengajar seorang anak. Kalah. Bau dupa mengambang di udara. Orang itu tak dapat lagi duduk. pendeta itu menyerahkan daftar tamu dan kotak tinta kepadanya. dan tidak ada perkecualian. Menuruti gaya masukan yang terakhir. bahkan bisa juga mematikan. bahu. Tak seorang pun melontarkan pandangan kepada Musashi. Salah seorang yang berlatih terlontar ke udara dan berjalan terpincangpincang kembali ke tempat duduk. manakala saya mendapat cedera badaniah ataupun terbunuh. tapi semenjak zaman guru kami yang pertama. Ia bukan tamu satu-satunya di situ. Musashi menuliskan keterangan yang diminta. "Saya setuju. demikian juga contoh-contoh yang diberikan oleh para pendahulu di negeri ini. netcafe." Musashi mengambil buku itu. Selain sikap kasar si raksasa yang telah mengantarnya masuk itu. dan bahkan dahinya seolah terdiri atas otot-otot menggelembung. Anda barangkali sudah tahu. Satu orang yang agaknya salah seorang dari yang datang hari itu menyam-butnya. dan cat dasar Cina putih pada kerangka lubang angin. ketika ia duduk di sebuah sudut. barangkali lebih baik Anda membaca dulu apa yang tertulis di awal buku tamu itu. Jawaban Musashi sama dengan yang pernah diberikannya di Perguruan Yoshioka. Kakinya yang luka dijulurkannya ke depan. Musashi melihat pahanya membengkak sampai sebesar batang pohon. Disamping itu ada beberapa samurai yang hanya menjadi peninjau." Dojo itu besar sekali. kertas emas. dan menjatuhkan diri dengan susah payah pada sebelah lututnya. seorang pendeta yang sikapnya angkuh luar biasa. di mana Anda pernah belajar. Katanya. Pendeta itu tentu saja sangat tertarik pada hal ini. Lewat jendela ia dapat melihat daundaun lebar pohon pisang. Lebih dari sepuluh calon prajurit duduk di kamar tunggu.

yang agaknya sudah dikenalnya betul. "Tidak. "Siap!" teriak Agon. Inc. pandangan bosan tampak kembali pada wajahnya. kimononya dengan tali kulit dan berjalan menuju tempat latihan. Uap mengepul dari tubuhnya yang terselimut Ia mengambil posisi agak jauh. Musashi maju bersenjatakan pedang kayu. kembali pada posisi semula. ia menderas ke arah dinding belakang dan dengan bengis menghunjamkan tombaknya ke bagian dinding yang dipergunakan untuk berlatih. Penantangnya sudah kalah. jangan tolol! Lihat. Dua murid si pendeta keluar dan menyeretnya pergi pada lengan dan pinggang kimononya. Satu suara mengatakan." Agon mengalah. salah seorang murid senior yang dikenal sebagai "Tujuh Pilar Hozoin". Ia berdiri diam." "Bagaimana kalau Anda?" "Kalau Anda tidak keberatan. Papan-papan di situ baru saja diganti. kembali mendekati Musashi. jangan hari ini. guru generasi kedua. kelihatan sedikit heran. orang bebal. Pramugara berotot itu pun mencocokkan daftar tamu dengan wajah orang-orang yang sedang menanti. lembing Agon yang tidak bermata logam itu langsung melesak tembus. "Berikutnya!" seru si pendeta lagi. tapi sekalipun kayu baru itu liar. bukan berjalan. lalu berjalan acuh tak acuh ke tengah lantai." serunya. Saya datang lagi nanti.. Ia mencengkeram tongkat kayu hitam mengilat itu. Mereka membungkuk seperti kebiasaan. tetap dengan wajah masam. saya sedia bertarung. Terdengar tawa kering di luar jendela. "Tinggal seorang lagi." "Teruskan saja. tapi ketika penantang baru muncul. si pendeta sudah memperdengarkan raungan anjing liar. "Yow-w-w!" Pekik kemenangannya menggema seram di seluruh ruangan ketika ia mencabut tombaknya dan mulai menari. "Siapa kamu?" lenguhnya. Tawa itu terdengar terus. dan bersamaan dengan itu ia menjatuhkan tongkatnya sekuat-kuatnya ke tengkorak si penantang. membelakangi Musashi. "Gantikan saya. Katanya malas. Di lantai yang ditinggalkannya berceceran ludah bercampur darah. Dengan cepat ia mengambil sikap menyerang. Ia menunjuk seorang di antaranya. Orang itu Agon. Ia menatap penantang terakhir itu dengan galak. "Agon. "Berikutnya.." desak mereka. karena para penantang selalu dapat dijatuhkan oleh salah seorang dari mereka ini. memilih tombak-kampak. netcafe." Tanpa mengendurkan sikapnya. Semula Musashi mengira orang itu Inshun. Agon yang congkak itu telah menyingkir dari lantai dan waktu itu sedang bercakap-cakap dan tertawa bersemangat dengan sekelompok pendeta.. tapi mengangkat kepala dari lantai pun ia sudah tak sanggup. tapi orang-orang yang duduk di sekitarnya mengatakan bukan. Selesai sudah. Ia belum mati." "Apa pula itu artinya?" "Artinya. dan menyerang ke jurusan lain. "Yah-h-h!" Sambil memekik seperti burung garuda yang sedang berang. Agon memandang ke jendela." Semua mata menatap Musashi ketika ia bangkit. Pendeta berdiri tak bergerak ketika si penantang pergi ke dinding. kemudian tampak di ambang jendela kepala mengilat dan sepasang alis seputih Ebook by Kang Zusi . dan datang menghadapinya. "Tidak ada lagi?" lenguh Agon yang memegang tombak latihannya mendatar.property of: CROSSFiRE. lihat! Bukan papan yang kamu hadapi. Mereka bilang Inshun sendiri tidak pernah bertarung. tapi baru saja mereka selesai menghormat.

.. Agon. seakan-akan keduanya itu digantungkan di sana oleh seorang pedagang barang antik." Itu ucapan orang tua yang masuk dari pintu depan dan cepat menilai keadaan. Biarkan saja orang itu menanti sampai lusa. sebuah sel sederhana persegi empat. barangkali untuk mengibaskan keringat yang mengucur dari dahinya. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakannya. netcafe. dan baru kembali dalam dua atau tiga hari ini. "Kalau obat dapat menyelamatkannya. tangan dan dadanya berlumuran darah. sedangkan biji matanya seperti batu koral terang bergurat darah. Pintu merupakan satu-satunya jalan ke luar. orang tua itu berkata. Apakah kata-kata itu masih menempel? Apakah ia mencoba membuangnya ke luar pikirannya? Apa pun alasannya. Perbedaan terbesar adalah pada matanya. Berulang-ulang ia mengganti posisi dalam usaha memancing Musashi. ia menyumpah ke arah jendela yang kini kosong dan melupakan nasihat yang diterimanya. Goblok!" Tak seorang pun memperhatikan Musashi. Jadi. Musashi berdiri diam sepenuhnya. saya bertindak atas namanya. jika Inshun sudah kembali." Ebook by Kang Zusi . "Ya?" "Saya mau bicara sedikit dengan Anda. "Anda siap?" Basa-basi ini malah membikin Agon meradang. Otot-ototnya seperti baja. Dalam suasana kacau-balau itu. Masuklah lagi. atau begitulah kelihatannya. lompatannya bukan main ringannya. Tapi baru saja ia sadar. Dalam sedetik yang menentukan itu Musashi menangkis dan sekaligus melancarkan serangan balasan. tidak akan aku mencoba menghentikannya tadi. "Saya berterima kasih atas latihan baik yang saya terima hari ini. Tak ada yang aneh pada sikapnya. tapi karena hadannya sedikit lebih kecil dari lawannya dan tidak begitu berotot. tapi saya minta maaf atas terjadinya musibah tadi. barangkali untuk mengibaskan kata-kara peringatan orang tua itu. Musashi bertanya untuk basa-basi. tetapi Musashi tetap tak bergerak. kepala itu sudah lenyap. Kelihatan seolah kedua kakinya berada di lantai dan di udara sekaligus. Peringatan orang tua itu hanya berpengaruh pada genggaman senjata Agon yang agak mengendur. salju. Sesudah mereka duduk. tapi dia sedang dalam perjalanan. Ia memegang pedang lurus ke depan dengan kedua belah tangannya. Sambil menoleh Musashi menjawab. "Hai!" katanya..property of: CROSSFiRE. dan serunya. Mata Musashi setajam mata burung. "Sebetulnya lebih layak kalau Kepala Biara datang menyambut Anda. Sergapan yang dilancarkan Agon diiringi pekik tajam. beberapa orang menginjak tombak latihan dan jatuh tertelungkup. Orang tua itu mengikutinya. Seorang pendeta bangkit berdiri. Bapak sungguh baik hati. menggeletar seperti cahaya bulan di atas gelombang samudra. "Tak baik buatmu. Wajahnya masam. "Apa yang terjadi?" Para rekan pendeta Agon bergegas maju ke depan dan mengerumuninya dalam bentuk lingkaran hitam. Sementara Agon mengetatkan genggaman tombaknya. melihat bahwa wajah di jendela itu wajah orang tua yang tadi dilihatnya ketika menuju Hozoin." kata Musashi membungkukkan kepala. ia tampak hampir biasa saja. Agon menggelengkan kepala." "Oh. dan bila ia melompat. Inc." Musashi yang juga menoleh ke jendela itu. Kali ini tidak." Ia mengantar Musashi ke sebuah kamar di belakang ruangan latihan. "Obat! Ambil obat! Cepat!" "Kalian tidak membutuhkan obat lagi. Musashi berjalan ke pintu depan dan mengenakan sandalnya. tapi begitu matanya bertatap pandang dengan mata Musashi. ia tampak terganggu sekali.

Benar. "Dia mati?" Lalu kepada diri sendiri Musashi berkata. Tak usah itu menggelisahkan Anda. wajah Musashi memerah. Saya juga menghabiskan sejumlah waktu mengitari pedesaan. Waktu itu aku merasa harus siap mempertahankan diri. Sikapnya kepada orang tua bungkuk itu Ebook by Kang Zusi . Saya masih selalu berbuat kesalahan. "Kau ingat. tapi itu hanya pantulan sikapmu sendiri. seluruh tubuh saya terasa terpaku oleh pandangan Bapak." Orang tua itu tertawa. seakan-akan Bapak sedang mencari tempat lemah dalam tubuh saya untuk diserang. "Jadi. Musashi benar." kata orang tua itu." "Kamu rupanya memiliki sikap yang tepat. dan ia sendiri murid.property of: CROSSFiRE. Tapi kamu begitu kuat! Terlalu amat kuat!" Merasa sedang dipuji. dan katanya. tidak! Saya masih belum matang. kau melompat menyingkir." "Apa namamu Miyamoto Musashi?" "Betul. Embusan napasnya terasa seperti angin dingin pada wajah Musashi. Kau masih lima puluh kaki jauhnya dariku. "Kenapa? Hal seperti itu memang kadang-kadang terjadi. Dalam hati ia menyerukan nama Sang Budha. Juga. Pak. Anda harus siap menerimanya sebelum Anda mulai bertarung. tadi kau lewat kebun sayur tempat aku bekerja?" "Ya. "Oh." "Siapa gurumu belajar seni bela diri?" "Saya tak pernah punya guru dalam arti biasa. "Kalau yang lewat itu cuma salah seorang dari petani desa ini." "Ketika melihatku. Ayah saya mengajari saya menggunakan pentung ketika saya masih kecil. Demikian kuat semangat juang dan ambisimu. Sejak itu saya mengambil sejumlah pelajaran dari samurai yang lebih tua di berbagai provinsi. Sekarang ia merasakan pendeta itu guru. "Anak muda!" "Ya. Inc. terjadi lagi sekarang. kau merasakan sikap permusuhanku. walaupun perhatian Bapak kelihatannya terpusat ke tanah." "Bukan itu yang kumaksud. mesti lebih lemah." "Bagaimana?" tanya Musashi bingung. Kekuatanmu itulah yang menjadi masalah. Kau mesti mengendalikannya. tapi sudah kutangkap apa yang dinamakan 'hawa pembunuh' itu di udara. Saya merasa ada hawa pembunuhan dalam pandangan Bapak. ketika ia menduga orang itu bukan orang biasa. "Padahal yang terjadi justru sebaliknya." "Kenapa begitu?" "Wah. belajar di gunung-gunung dan sungai-sungai. netcafe. aku sendiri tak akan lebih dari seorang tua yang sedang mengurus sayur-sayuran. Kurasakan itu di ujung cangkulku. sekalipun mereka belum bersapa kata. saya bayangkan waktu itu Bapak bisa menggunakan cangkul Bapak sebagai senjata dan menghantam kaki saya. bukan?" "Ya. seperti yang biasa dilakukannya dahulu dalam kejadian serupa." "Bagaimana luka Agon?" "Dia terbunuh seketika." Sekali lagi pedang kayunya membunuh orang. " Jadi. sehingga muncul dalam setiap langkah yang kau ambil. Ia memejamkan mata. Saya menganggap semua itu guru juga.

" Ebook by Kang Zusi . dan karena dia mempelajari seni tombak. "Bawa sini." Sementara Musashi mengambil sumpit. Sudah cukup banyak. ketika menghadapi Agon. "Saya mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang Bapak berikan. Namaku Nikkan. Matanya seolah-olah melompat dari ceruknya. Namun ada yang merasa sayang sekali kalau Gaya Hozoin itu lenyap. Tapi kaum pendeta tidak seharusnya menggunakan senjata. Inshun yang jadi kepala biara ini murid Bapak. yaitu mentimun yang diisi kemangi dan cabe merah. Ia baru mengendurkan pandangannya ketika seorang pendeta muda masuk dan berbisik kepadanya." "Oh." "Apa betul demikian?" "Sudah kaulihat seni tombak Hozoin tadi. Ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi dengan teh dan dua acar. selama saya berada di sini. Sementara Musashi ganti memandangnya. terima kasih. Apa lagi yang perlu disaksikan? Kalau ingin belajar lebih banyak." "Aku teman lama In'ei. apakah Bapak mengizinkan saya tinggal di kuil Bapak sampai Inshun kembali?" "Apa kau berniat menantangnya?" "Yah. Nikkan bertanya. "Itu buang-buang waktu. "Mau lagi?" "Tidak. ingin saya melihat bagaimana guru terkemuka itu memainkan tombak. mula-mula dengan nyala warna merah merjan. Tapi belakangan aku punya pikiran lain." Nikkan menggeleng mencela. saya ingin tahu. Sudah biasa bagi Hozoin menyuguhkannya pada semua orang yang datang kemari untuk belajar. Mereka membuat acarnya sendiri yang disebut acar Hozoin. dan menatap Musashi. Nikkan menyendok nasi dari wadah itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Baru ia menggigit acar itu. Pandang mataku. Sekarang tidak pernah lagi kusentuh senjata itu. lalu berangsur-angsur berubah menjadi biru langit yang bening. bukan karena semangat keagamaannya." "Kalau demikian." perintahnya. Karena itu aku mengajarkannya kepada Inshun. "Kusuguhkan nasi. netcafe. Cahaya mata itu membakar dan menumpulkan pikiran Musashi. perhatikan aku. menjadi hormat." "Ya. teh. ataukah jawaban atas sesuatu yang ia keluarkan sendiri. aku bukan dari Kuil Hozoin. dapat dianggap demikian. Inc. karena itu tak usah merasa telah merepotkan. Tak ada orang lain lagi yang kuajari. lalu memberikannya kepada Musashi. kuputuskan untuk belajar bersamanya. ia merasa mata Nikkan yang tajam itu terarah lagi kepadanya. biji mata Nikkan bersinar. Tak ada yang bisa dipelajari di sini. Tawa Nikkan pun berderai-derai seperti derak papan sekering tulang. Kau akan merasakannya enak juga. Tapi kali ini tak dapat ia menyatakan apakah daya tembus mata itu berasal dari dalam diri si pendeta. Segera pendeta muda itu kembali membawa baki dan wadah nasi dari kayu yang bulat bentuknya. ada perasaan mencengkamnya bahwa tinju Takuan hendak menghantamnya lagi." "Jadi.property of: CROSSFiRE. atau barangkali tombak di dekat ambang pintu itu yang hendak melayang ke arahnya." Nikkan menaikkan bahunya. memajukan sedikit kepalanya. dan acar. dan rasanya sayang bahwa Hozoin jadi terkenal justru karena seni bela dirinya. Boleh saya menanyakan nama Bapak dan kedudukan Bapak di kuil ini?" "Oh. Ia melengos. Aku Kepala Biara Ozoin.

Musashi segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjelaskan keadaan dirinya dan sekalian minta nasihatnya. Aku dikalahkan oleh kepala biara tua itu!" Kekesalan Musashi berlanjut terus. agaknya ia istri pemilik toko. Ia menyebutkan namanya dan pendeta yang berjaga di pintu melongokkan kepala. "Kalau bicara soal kekuatan fisik. terima kasih. Agaknya itu tempat tinggal biasa yang kadang-kadang menerima tamu. Selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini." Karena jawaban itu acuh tak acuh. "Aku sudah diungguli!" Dalam cahaya remang-remang terlihat olehnya bayang-bayang sekejap melintasi jalannya. Musashi berhenti di tengah hutan lampu di daerah paling ramai. Usahanya berjualan bakpau maju pesat. Di sana sekarang terdapat bangunan campur aduk. mengetuk pintu pelanpelan. tidak jauh dari restoran. saya mohon disampaikan kepadanya bahwa saya tinggal di daerah Kolam Sarusawa. Si nyonya tak beralis itu mengantar Musashi. dan katanya pelan. Ia baru saja makan di kuil. aku menang. Kalau dia datang. Tanpa menantikan jawaban Musashi lagi. Ia bingung di mana mesti tinggal. karena itu tolong disampaikan pesan ini baik-baik kepadanya. dan katanya sambil lalu. Ia kembali lagi bersama seorang wanita yang masih agak muda. "Di mana Tuan mau menginap malam ini?" Karena tidak kenal daerah itu. tapi aku tinggalkan tempat itu dengan perasaan kalah. tapi ia harus hati-hati mengeluarkan uang. Ada banyak rumah penginapan di sana. "Ada apa? Ada yang lupa?" "Ya." Musashi kembali menempuh jalan yang tadi ditempuhnya sambil menggerutu. ia memutar langkah kembali menuju Hozoin. Bayang-bayang segerombolan kecil rusa yang ketakutan oleh langkah kakinya. Bagaimana mungkin ia menjadi pemain pedang besar. di mana lampu-lampu masih menyala. Lagi pula ia ingin memilih tempat yang tidak terlampau jauh dari jalan yang banyak ditempuh orang. Dia masih kecil. dan toko-toko baru." demikian gerutunya ketika ia berjalan pelan-pelan melintasi rumpun kriptomeria. karena ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa bagaimanapun ia sudah kalah. Dia harus menanyakan saya di rumah-rumah penginapan yang ada di sana. Gadis itu mengatakan bahwa salah seorang sanak pemilik toko itu mempunyai rumah pondokan. "Yang datang itu anak lelaki. Pertemuan hari ini telah membuatnya betul-betul murung. Walaupun ia sudah menang melawan Agon. gadis itu sudah menderap pergi. Ketika pesanan datang. jadi tak usah susah-susah memberi tip atau apa pun." Sesudah pergi pun sengatan cabe merah di lidah itulah yang terutama mengingatkan Musashi kepada rasa acar itu. Ia masuk toko itu. karena ingat Jotaro. dan waktu itu sedang berlangsung perluasan tokonya ke arah Kolam Sarusawa. Musashi merasa perlu menambahkan. yang terbesar dari semuanya? Itulah persoalan yang terus merundungnya siang dan malam. Inc. Di tengah kota berdiri bangunan milik seorang Cina yang kabarnya adalah turunan Lin Ho-ching. hanya untuk kalah secara batin?" Tiba-tiba. tapi ketika tercium olehnya bau bakpau itu. Kenapa? Apa aku menang secara lahir. Rumah pondokan itu terdapat di lorong yang tenang. Di situ Musashi akan diterima dengan senang hati. "Bagaimana rasa acarnya?" "Enak sekali. Gadis yang menuangkan tehnya bertanya sopan. netcafe." Ebook by Kang Zusi . Berlainan dengan acar pedas di Hozoin. Baru-baru ini Okubo Nagayasu datang memerintah kota itu atas nama Keluarga Tokugawa dan mendirikan kantor-kantor pemerintahan di dekat sana. duduk dan memesan satu piring penuh. kemudian menoleh kepada Musashi. agar Jotaro dapat menemukannya dengan mudah. namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Namanya Jotaro. rasa kue itu dapat dinikmatinya dengan senang." "Baik. wilayah antara Kolam Sarusawa dan bagian hilir Sungai Sai telah dibangun dengan mantapnya. ia melihat bahwa nama Lin dicetakkan di bagian bawah kue. yaitu kementahan yang dirasakannya di hadapan Nikkan. ia merasa lapar lagi. Dan itu tidak merupakan satusatunya sengatan yang dirasakannya. "Ini rumah kakak perempuan saya. "Ini bukti aku kalah. Alisnya yang dicukur menunjukkan bahwa ia sudah menikah. "Aku kalah. Besok atau lusa akan datang satu orang mencari saya kemari. Aku bahkan lupa meninggalkan pesan untuk Jotaro. rumah-rumah penginapan.property of: CROSSFiRE.

tapi persoalan itu masih terus terpikir olehnya. karena itu apakah Nyonya dapat memasang tanda yang memuat nama saya di luar gerbang sana?" Janda itu sama sekali tidak keberatan mengumumkan kepada orang banyak. "Kalau mau terus terang." "Saya mengerti sepenuhnya. tapi Agon yang mengerikan itu sendiri. Kamar dan perlengkapan kamar itu terlalu baik untuk sebuah rumah penginapan biasa. netcafe." Ia selanjutnya menjelaskan bahwa jalan-jalan penuh toko minuman dan pelacur. Sesudah makan. Musashi segera tahu bahwa mereka sebagian dari orang-orang yang hadir di Hozoin ketika la membunuh Agon. siapa orang yang namanya Miyamoto Musashi ini. "Nyonya menerima orang seperti saya ini supaya saya dapat bertindak selaku pengawal. kenapa rumah sebaik itu menerima tumpangan. Pelayan merasa puas dan mengantar Musashi ke lantai kedua." "Ya.property of: CROSSFiRE. hingga Musashi merasa sedikit kurang enak. yang segera datang sendiri berkunjung. Dan Anda akan menjadi lebih baik lagi nantinya. Pelayan keluar dari rumah. Ia heran. sampai ketika ia hampir tertidur. Dan bukan orang biasa yang dilumpuhkannya. berkulit indah. namanya Kanze. saya ingin bertanya. betul?" "Yah. Sekali bentak saja dia sudah muntah darah." kata Musashi. dan kedua orang itu saling berbisik beberapa waktu lamanya. Anda tentu pemain pedang terbesar di negeri ini!" "Dan masih begitu muda lagi!" "Tak sangsi lagi. Jarang ada pemandangan seperti itu!" Yang lain melanjutkan dengan nada yang sama. Maklum. selama saya di sini. Hanya ada satu hal yang saya minta. Saya harap Nyonya merasa aman. Maka ia bertanya kepada pelayan. selama Tuan suka. Hari itu hari buruk buat nama baik Hozoin. Operasi ini mereka namakan "kunjungan pada para janda. tapi yang ditanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa." kata yang seorang. Mereka memeras keterangan dari pemudapemuda setempat dan menyerang rumah-rumah yang tak ada lelakinya. walaupun diprotes oleh pelayan. Pagi berikutnya ia mengatakan kepada pelayan itu." "Dengan kata lain. "Akan ada orang datang mencari saya. Bayangkan saja! Seorang tamu tak dikenal datang. Duduk di lantai mengitarinya." "Kalau Anda tidak keberatan. dan begitu saja dia langsung melumpuhkan salah satu dari Tujuh Pilar. Jotaro tidak muncul hari itu." kata nyonya itu tersenyum. bahwa ada lelaki di rumahnya. "Saya yakin belum pernah hal semacam itu terjadi di Hozoin. ia menjawab sambil tertawa. mereka mencurahkan kata-kata jilatan. Banyak di antara samurai miskin tidak cukup puas dengan barang-barang hiburan itu. Mereka langsung naik dan masuk ke kamar Musashi. banyak ronin yang kurang berpendidikan di sekitar sini. saya janda-suami saya dulu aktor No. Saya takut kalau tak ada lelaki di rumah ini. tapi hari berikutnya Musashi menerima kunjungan rombongan tiga samurai. Nyonya rumah itu wanita berpakaian apik berumur sekitar tiga puluh tahun. Saya harap Tuan dapat merasa bebas tinggal di sini. maka dengan patuhnya ia menuliskan nama "Miyamoto Musashi" pada secarik kertas yang kemudian ditempelkannya di tiang gerbang." jawab pelayan tanpa bertanya lagi kepada nyonya rumah. "Semua orang yang kami kenal bicara tentang itu. Musashi mandi dan pergi tidur. Ketiganya memaksa masuk. Ketika Musashi mencoba memuaskan rasa ingin tahunya dan bertanya kenapa nyonya itu menerima orang menginap. di rumah ini tak ada lelaki. dan lembut. kenapa dengan kecakapan Anda yang demikian Anda hanya jadi ronin? Suatu pemborosan bakat bahwa Anda tidak mengabdi kepada seorang daimyo!" Ebook by Kang Zusi . "seperti saya katakan tadi. Inc. Semua ronin bertanya-tanya. seolah-olah mereka telah mengenalnya sepanjang hidupnya. "Tak pernah saya melihat yang seperti itu dalam hidup saya. Apa keberatan kalau saya menginap sehari-dua hari sampai dia datang?" "Tentu saja tidak. Saya menantikan seorang tamu.

Namun mereka merasa butuh orang lain. Saya menguasai Gaya Bokuden. dan tukasnya. samurai yang betul-betul kuat kemungkinan akan datang dan mengalahkan mereka semua. kalian tak mengerti. Saya mengabdi kepada Yang Dipertuan Gamo. Ebook by Kang Zusi . Itu berarti uang yang mereka peroleh dengan susah payah akan hilang percuma. netcafe. Musashi makan di bawah bersama keluarga. Malu mendapat pujian demikian melimpah. "Dan saya makan dengan sumpit. dan kami ingin bicara dengan Anda soal itu. Tapi ketika mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda akan mengubah pokok pembicaraan." Ia melanjutkan bahwa arena sudah didirikan. "Kenapa tidak tertarik?" Watak muda Musashi meletus. Mereka berhenti agak lama hanya waktu menghirup teh dan melahap kue dengan rakusnya. "Saya belum pernah jadi apa-apa kecuali ronin. Sambil maju cepat ke depan.property of: CROSSFiRE. "Memang kami ada urusan dengan Anda. bukan dengan pedang saya!" "Apa itu?" mereka bertiga memprotes. "Apa maksud Anda dengan itu?" "Jadi." Musashi heran. Tapi untuk menyelamatkan muka. dan dalam acara makan itu ia minum sampai setengah mabuk." "Kenapa tidak?" tanya Dampachi. bulan tampak putih dan sedikit berawan. mereka tidak hanya akan membagi dengannya keuntungan mereka. Yasubei berkata. Jelaslah ia tidak akan mengetahui sesuatu kalau ia tidak bertanya. tapi segera mereka membenarkan bahwa mereka memang datang untuk apa yang mereka anggap sebagai misi yang sangat penting. tak ada yang mesti dibicarakan. Sekarang enyah dari sini!" Mulut salah seorang dari orang-orang itu memerot menjadi mata kayu yang keji. Saya tidak tertarik. maaf. "Saya kira Anda sekalian datang kemari karena ada urusan dengan saya. mereka tinggalkan tempat itu dengan ribut. sedangkan seorang lagi menjadi merah karena marah. memberengut. Musashi yang paling tepat bagi mereka. karena menurut pikirnya lambat atau cepat semangat mereka itu akan menurun. biarpun saya akan kelaparan karena itu. Mereka menyimpulkan. karena terhina oleh sindiran Musashi." kata orang ketiga sambil tertawa kecil. Inc. orang-orang sinting? Saya ini samurai. dan sekaligus memberikan kesempatan pada mereka untuk bertaruh. Kalau ia mau menggabungkan diri dengan mereka. Dengan cara itu. Malam itu. Musashi mengalihkan pandangan dari kanan ke kiri." "Saya Yasukawa Yasubei. ia dapat dengan mudah memperoleh uang cepat. hingga remahremahnya berceceran ke pangkuan mereka dan ke lantai. dan serunya. seperti ayah saya. "Kamu pasti akan menyesal!" Mereka tahu benar bahwa mereka bertiga jadi satu pun bukan tandingan Musashi. karena kalau hanya mereka bertiga. dan berusaha keras menimbulkan kesan bahwa urusan dengan Musashi belum selesai. seperti malam-malam sebelumnya. melainkan juga membayar makanan dan penginapan Musashi selama pertandingan berlangsung." Mereka pura-pura terkejut mendengar apa yang dikemukakan Musashi. Untuk sementara ia mendengarkan saja dengan muka tenang. ia berkata. tapi segera kemudian ia lelah. nama saya Yamazoe Dampachi. "Kalau itu yang Anda sekalian inginkan. "O. Begini. "Saya bukan penjudi!" katanya berang. dan saya bermaksud tetap menjadi samurai. Nyonya rumah yang masih muda berusaha menyuguhkan makanan yang enak dan sake yang baik mutunya kepada Musashi." kata yang pertama. ia mengambil prakarsa dengan menanyakan nama mereka. "Saya Otomo Banryu. Ini bukan permainan atau hal lain serupa itu. karena itu ketika pembicaraan berhenti lagi. karena ia merasa bebas dari kekuatiran selama Musashi diam di sana. Musashi senang juga mendengar bujukan mereka itu. dan sebaliknya. untuk perjalanannya yang akan datang. Kami ingin mengadakan serangkaian pertandingan yang akan memberikan pelajaran pada rakyat tentang seni bela diri. kenapa mereka membuang waktu untuk omongan yang tak ada artinya itu. kami punya rencana mengadakan 'hiburan' umum di kaki Gunung Kasuga. dan prospeknya kelihatannya baik sekali. dan saya banyak punya rencana untuk masa depan. Orang yang di sebelahnya berkata.

Musashi benar-benar senang mendapat hiburan dengan datangnya teman kecilnya itu. seperti yang dipancarkan pendeta tua itu. "Apa sulit menemukan aku?" "Sulit! Hampir saya putus asa. Barangkali dia memandang mudanya umurku. sekarang ia harus memahami setiap hal-hal kecil. melainkan semangat juang liar yang menyertai kelahirannya. Anak itu menjatuhkan diri ke lantai dan langsung meluruskan kedua kakinya yang kotor. Sudah di seluruh tempat saya mencari!" "Apa kamu tidak bertanya di Hozoin?" "Ya. Segera kemudian pikirannya pun terhenti pada Nikkan. karena ia tidak dapat menduga maknanya. "Memalukan!" ulangnya. tapi juga mengenai cara memandang manusia dan masyarakat. sehingga harus belajar menjadi lebih lemah. Orang-orang seperti itu terus menetap dalam pikirannya seperti roh yang hidup. Musashi bertanya-tanya apakah bijaksana membaca segala macam buku di Puri Himeji itu. atau dalam hal ini siapa pun yang rasanya mengunggulinya. Nikkan mengatakan ia terlampau kuat. Musuh-musuh yang telah dikalahkannya. netcafe." Ebook by Kang Zusi . sebelum dapat menerimanya. Bukan ia ingin mencelakakan Nikkan. Inc. Dahulu ia hanya bertindak atas dasar naluri. Tapi ia tidak dapat melupakan siapa pun yang berhasil lebih baik daripada dirinya. Benar.property of: CROSSFiRE. bahkan juga yang sampai terbunuh atau setengah terbunuh. Pembantu muncul diiringi Jotaro yang kulitnya jadi lebih hitam lagi oleh debu yang menempel pada badannya selama perjalanan. Ia menyambut si anak dengan tangan terbuka. apabila sesuatu terjadi. ia ragu. Dan sesudah aku pergi. "Sungguh memalukan." katanya pada diri sendiri. Dua hari lamanya persoalan itu menggerogotinya. tapi ia sangat kecewa terhadap dirinya sendiri. capeknya!" keluhnya. Sebelum itu tak pernah ia susah-susah memikirkan persoalan." pikir Musashi. Sekiranya Nikkan sejenak saja menutup mata dan salah langkah. Mungkin saja. Karena selama ini belajar ilmu pedang tanpa guru. "Oh. ia menggeletakkan diri di lantai." Pada waktu-waktu seperti ini. dia tertawa senang. dia pasti ambruk dan jatuh berantakan!" Bunyi langkah kaki di tangga mengganggu renungannya. Musashi menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Nikkan bukan kekuatan fisik. Ia mencengkeram rambutnya dan memeras otak bagaimana caranya mengungguli Nikkan. bagaimana caranya menghadapi pandangan yang menakutkan itu tanpa mengelak. tidak dapat ia beristirahat sebelum ditemukannya penjelasan yang memuaskan kecerdasannya. tapi sekarang. Inilah yang membuat pikirannya terus bekerja keras. kenekatan di dalam dirinya sudah dijinakkan. dan memilih bicara berteka-teki untuk membingungkan aku dan menyenangkan hatinya sendiri. dan ia selalu berpikir kapan dapat mengalahkan mereka. "Kalau orang terlalu menggubris apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain. Namun Nikkan mengatakan ia "terlalu kuat". Apakah kekuatan itu bukan dasar terpenting seorang prajurit? Apakah bukan itu yang membuat seorang prajurit unggul atas prajurit lain? Bagaimana bisa Nikkan menyebutnya sebagai suatu kekurangan? "Barangkali. "Apa betul diriku kurang baik?" tanyanya sedih kepada diri sendiri. bisa lambat tindakannya. Tak bisa tidak." demikian ia meyakinkan dirinya kembali. selalu menghilang dari pikirannya seperti buih. tapi mereka bilang tidak kenal Kakak sama sekali. Apakah pendeta itu benar-benar dapat memahaminya. ia kurang bisa menilai kekuatannya sendiri secara objektif. tapi rambutnya yang seperti rambut peri itu putih oleh debu. "bangsat tua itu mempermainkan diriku. Dan ini tidak hanya mengenai seni pedang. ataukah hanya mendugaduga? "Pengetahuan yang berasal dari buku itu tidak ada gunanya buat prajurit. Kembali ke kamarnya.

"Saya tak dapat menemukan Hon'iden Matahachi. ia pun menyerah kepada lelah. "Bahkan khusus kukatakan pada mereka. jadi kalau Anda tidak menerimanya. kenangan samar-samar saja tentang gadis itu sudah dapat menyegarkannya kembali. yang akan menuntun kudakudanya atau membawa burung elangnya." la membawa pakaian. "Oh. dapat disimpulkan bahwa ia sudah kehilangan nyali. Namun demikian. aku senang kamu sudah melakukan semua itu. bukan Seijuro. dan katanya dengan nada menyesali.property of: CROSSFiRE. ketika ia kesepian atau sedang gundah. ia tetap perjaka. Inc. maka remah-remah hangus itu pun berterbangan ke udara. Pikirannya pun melayang kepada Otsu. tapi saya harap Anda memakainya. ia merasa sangat terikat kepadanya." Musashi memandang heran. Musashi pun bangun pagi. Dan bukan itu saja." "Ini jawaban dari Perguruan Yoshioka itu." Jotaro menyerahkan tabung bambu itu kepada Musashi. dan bangga karena sudah melaksanakan kewajiban dengan berhasil. mulutnya ternganga. Seijuro pasti akan menjadikan Musashi bahan tertawaan di Kyoto. seperti Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Segera saja ia tertidur dengan nyenyaknya. Tak tahulah saya. Beberapa kali sudah. Jika Musashi tidak muncul seperti dijanjikan tahun berikutnya. Yang akan terjadi adalah pertarungan sampai mati. Dan yang menyenangkannya itu bukan hanya nilai-nilai keindahan mereka. Pagi tiba. karena ia bermaksud meneruskan perjalanan. Anda tidak menolak. Sekarang pergi mandi sana. Pada umurnya sekarang. Musashi merobek-robek surat itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan membakarnya. Ketika ia sedang berpakaian. jadi saya minta orang di rumahnya menyampaikan pesan kepadanya." Ebook by Kang Zusi . akibat surat yang menghina ini. "Anda rupanya buruburu akan pergi. Dan lagi pakaian ini tidak begitu luar biasa. Ia mencoba menolaknya. Tapi baiklah. Anda mesti menerimanya." Musashi mengeluarkan surat itu dari tabungnya dan membacanya. "Saya jahit pakaian ini untuk Anda sebagai hadiah perpisahan-sebuah kimono dengan jubah pendek. dan itu bukan tidak wajar. Ia ingin menjadi tuan yang baik dan menikmati kehangatan dan kesenangan hidup keluarga. sebetulnya terlalu pagi ia punya pikiran ingin memiliki pegawai sendiri dalam jumlah besar. Selama beberapa tahun berpikir semata-mata tentang Jalan Samurai. Ia ingin juga memiliki rumah yang pantas." "Bagus. Pakaian itu terlalu mahal baginya. kamu bisa menemukan aku dekat Kolam Sarusawa. Dan tentu saja. netcafe. Seijuro bicara tentang "pertandingan". Barang-barang itu tak ada gunanya buat saya. sebelum hidup menetap. Begitu banyak hal yang masih ingin ia lakukan. Musashi menidurkannya ke tempat tidur. Kalau itu terjadi. Saya sudah mengubahnya. mereka juga menggetarkannya secara fisik. Nanti mereka kasih kamu makan di bawah. sudah mandi. ia belum melakukan satu pun dari hal-hal yang biasa dilakukan orang dalam perjalanan hidupnya. Anak itu bangun bersama burung layang-layang. siapakah di antara kedua jago itu yang akan menjadi abu? Musashi menganggap sudah sewajarnya seorang prajurit harus puas dengan hidup dari hari ke hari. Pertama-tama ia menyimpan keinginan menyala-nyala untuk menjadi pemain pedang besar. Namun terpesona juga ia melihat sebagian wanita di jalan-jalan Kyoto dan Nara. Sekalipun gadis itu sekarang merupakan makhluk masa lalu yang jauh. demikian pikirnya. "Tidak. dan tak pernah tahu di waktu pagi apakah ia akan terus hidup menyaksikan jatuhnya malam. Sebegitu jauh. padahal ia tinggal di situ hanya selama dua hari. Jotaro datang kembali. dengan istri yang baik dan pelayan-pelayan setia. Omongan besar ini disampaikan dengan tulisan tangan kaku yang agaknya dibuat orang lain. janda itu muncul. padahal jelas yang terjadi akan lebih lagi. akan sia-sia saja kerja saya. seperti kupu-kupu hitam. Lebih baik kalau Anda memilikinya. diam-diam ingin juga ia mengalami percintaan menyalanyala. Tahun depan. tetapi janda itu berkeras. kenyang. apa Anda menyukainya. supaya cocok untuk Anda. yang kemudian diberikannya kepada Musashi. Tak lama sesudah bersila dan mengatur tangan di pangkuan. mereka kenal betul!" Mata Musashi menyipit. agak resah juga ia memikirkan bahwa tahun yang akan datang kemungkinan ia akan benar-benar mati. Saya harap betul. Tak lama kemudian angan-angan itu buyar. Isinya menyatakan bahwa Seijuro mengharapkan berlangsungnya "pertandingan kedua". Saya banyak punya kimono lama dan pakaian No peninggalan suami saya.

Kelimannya dari kain brokat emas. tapi umurnya tentulah sudah dua atau tiga abad. boleh saya ambil! Dia berikan pada saya. Tapi ketika mengawasi topeng itu dalam cahaya remang-remang. Wajah yang diukir sangat halus itu wajah jin perempuan. mengandung setan. mengerikan sekali. siap mencacinya sehebat-hebatnya. berusaha merebut topeng tersebut. dia bilang. Ia tidak tahu kenapa kelakar Jotaro menimbulkan akibat sedemikian padanya. kalau saya memang ingin sekali. Ia pergi ke belakang Musashi dan mengangkat kimono itu supaya Musashi dapat memasukkan tangannya. Cuma dia pesan supaya saya merawatnya baik-baik. sama sekali tidak marah." Ebook by Kang Zusi . "siapa yang mau kimono lama?" "Apa ada yang sungguh kamu inginkan?" Anak itu lari ke dinding kamar tunggu dan mencopot topeng No dari sangkutannya. "Seharusnya kamu sudah senang mendapat kesempatan mengikuti tuanmu yang gagah. Ia sendiri merasa topeng itu mengagumkan buatannya. dan tali pengikatnya terbuat dari kulit dicelup warna ungu. mulailah ia memahaminya. Jotaro tampak iri. dikejar janda itu." kata Jotaro. otot-ototnya menjadi tegang dan lututnya beralih-alih letak tanpa disadarinya. Si pengukir telah memasukkan sesuatu yang sifatnya setani dalam ciptaannya. maka topeng ini adalah wajah gadis cantik dan anggun. dan ia merasa lebih malu lagi dari sebelumnya. dan kini ia membelaikan topeng itu dengan mesranya ke pipi. Yang ganjil padanya hanyalah karena salah satu ujung mulutnya melengkung tajam ke atas. tetapi Jotaro memasukkan topeng itu ke dalam kimononya. Jelaslah bukan wajah khayalan yang diciptakan sang seniman.property of: CROSSFiRE. "Kelihatan cocok sekali untuk Anda!" ucap janda itu. Selagi mengenakan kimono itu. "Apa guna topeng ini buat Ibu? Sudah jadi milik saya sekarang. "Kenapa belum kamu kembalikan topeng itu? Buat apa kamu barang macam itu?" "Tapi dia bilang. lapisannya dari kain krep sutra. anak itu berteriak. "Booo!" dan menyorongkan topeng itu ke hadapannya. tahulah Musashi bahwa bahan sutranya dari mutu yang baik sekali. mari kita berangkat. Tetap duduk. "Ya. yang cantik namun penuh pesona. karena ia merasa kaget dan malu oleh kelakuan muridnya. Sebentar kemudian Jotaro kembali naik tangga pelan-pelan." "Ah. Musashi berkaca. netcafe. Jotaro menghindari jangkauan janda itu dan mengenakan topeng itu pada kepalanya dan menari sekeliling kamar sambil berseru-seru melawan." kata janda itu tegas. Jubah tak berlengan itu bagus sekali. Tapi ketika masuk. "Saya sendiri mau Ibu kasih apa?" Janda itu tertawa." gerutu Jotaro. Musashi sangat terkejut. Inc. boleh saya memilikinya. melainkan potret perempuan gila yang nyata dan hidup. "Kalau mau berangkat. ini!" Ia mendambakan barang itu sejak pertama kali mengamatinya malam sebelumnya. Tadi saya janji akan merawatnya. Senyuman bulan sabit yang disertai lengkungan ke atas pada bagian kiri wajah putih itu sungguh angker. itu tak boleh kamu miliki. tapi jelas kelihatan ia tidak ingin berpisah dengan topeng itu. dan tiba-tiba katanya kepada janda itu. Akan saya ambil!" Musashi berusaha juga menangkapnya. dan jelas pernah dipakai dalam pertunjukan-pertunjukan No. Tetapi kalau biasanya topeng jenis ini dicat titik-titik warna biru mengerikan." "Tapi dia sudah memberikannya pada saya! Waktu mau saya kembalikan. Sukar diketahui siapa pembuatnya. Musashi duduk menghadap pintu. dan kembalikan padanya. "Oh. Janda itu memang tertawa." "Bohong! Turun sana. Tentunya diimpor dari Cina. katanya. Musashi kagum akan selera bagus anak itu. lalu turun tangga.

Inc. Katanya mereka akan menangkap Anda dan mengembalikan Anda ke Hozoin. Mengerikan!" Suara perempuan itu gemetar. akan meninggalkan Nara hari ini. maka ia sekali lagi berusaha mengembalikannya. Lebih dari sepuluh orang membawa tombak dan mengendap menanti Anda di Dataran Hannya. dan tenang-tenang mengangkat kepala. kalau itu kekeliruan. tak perlu Anda pergi ke sana dan terbunuh karenanya. Karena sudah ingin pergi. Ingin ia berbuat sesuatu untuk membalasnya. "Mau kuapakan kamu!" Musashi merasa malu. menurut Ibu. menanti dekat gerbang dengan pandangan puas." Musashi menduga topeng itu memiliki makna tertentu bagi si janda. mengambil topi anyaman. Musashi sedang mengikatkan tali sandalnya ketika istri pembuat kue bakpau itu datang berlari-lari." "Oh?" "Ya. dan Kepala Biara. itu berarti Anda bergendang paha." Dengan dahi bercucuran keringat Musashi memandang ke langit. dan beberapa kali ia minta kepada Musashi untuk datang kembali dan tinggal di sana. "Saya pergi sekarang." katanya. Menurut pendapatnya. Anda tak bisa pergi sekarang. Barangkali merekalah sumber segalanya ini. Rasanya tidak mengherankan jika orang seperti mereka lalu memasang poster-poster yang sifatnya menghina dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak bahwa dialah yang melakukan itu. tetapi kali itu Jotaro sudah mengenakan sandal jeraminya dan sudah berada di luar. mereka bilang. dan para pendeta akan mencegatnya di jalan. Kata janda muda itu. Lagi pula dia ingin sekali memilikinya. entah bagaimana caranya?" "Tidak. Inshun.. "saya senang sekali Anda belum berangkat. yaitu orang yang namanya Miyamoto. dan teringatlah ia betapa marah ketiga ronin itu ketika ia menolak tawaran bisnis mereka. kapan saja ia berada di Nara. Mendadak sontak la berdiri. Semua itu kekeliruan. karena sudah membunuh seorang dari mereka. ikut juga dengan mereka. netcafe. tetapi janda itu rupaya tidak butuh uang-apalagi uang dalam jumlah kecil yang dapat disisihkan Musashi-sedangkan di antara miliknya yang tak seberapa itu tak ada yang sesuai untuk hadiah." Wajah perempuan itu mengerinyut takut. mereka bermaksud menemui saya di Dataran Hannya?" "Saya tidak tahu pasti di mana. Suami saya kenal salah seorang pendeta itu dan sudah bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi. makin terpikir oleh saya bahwa saya lebih bahagia tanpa topeng itu. Ia turun tangga untuk meminta maaf atas kekurangajaran Jotaro dan mencoba mengembalikan topeng itu. seakan-akan ada setan yang menakutkan hendak menyerangnya. dan kemudian topeng yang agaknya sangat dihargai janda itu. Pendeta mengatakan orang yang tinggal di sini beberapa hari terakhir ini.property of: CROSSFiRE.. Saya minta Anda balik ke atas. Apa Anda bicara jelek tentang kuil itu. akan lebih aman kalau Musashi mencoba pergi diam-diam hari berikutnya." kata Musashi datar. atau menghina mereka. ia lebih berat melihat Musashi pergi daripada kehilangan topeng itu. "Jadi. Mereka bilang banyak ronin ikut juga berkumpul. Tak usahlah begitu keras terhadap dia. Dengan sangat ia minta Musashi untuk menanti sampai malam berikutnya. Musashi mengalah pada kebaikan janda itu dan menerima hadiahnya. Makin saya timbang." "Nah." kata nyonya itu kehabisan napas. "Tidak. Ia berusaha meyakinkan Musashi bahwa meninggalkan Nara pagi itu sama saja dengan bunuh diri. dan sambil menghadap Ebook by Kang Zusi . Namun janda itu mengatakan. Menurut mereka. karena pertama ia menerima kimono itu.. Ia menyandangkan tas perjalanannya ke punggung." "Nah. pendeta-pendeta itu naik darah karena Anda sudah menyewa orang untuk memasang banyak poster dengan sajak-sajak yang isinva menertawakan Hozoin. "Ada apa? Apa yang mengerikan?" "Pendeta-pendeta Hozoin mendengar bahwa Anda akan berangkat hari mi. "Oh. "Ya." "Saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. merenung. tapi mereka pergi ke jurusan itu. Beberapa penduduk mengatakan yang ikut tidak hanya pendeta. Musashi selesai mengikatkan sandalnya.

sebutir embun yang menjatuhi kerahnya hampir saja membuatnya berteriak. dan karena tak ingin kelihatan kekanak-kanakan. Ketika Musashi melanjutkan bicaranya. Ketika ia berjalan menuju gerbang. kataku. Hatinya yang masih muda itu penuh kemurungan dan firasat. Di sebelah kanan. Sekarang bukan waktunya berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Alisnya naik ke atas dan tubuhnya jadi tegang. Sebelum itu. ia juga akan berbuat demikian. dan anak itu merasa lebih kecil hati lagi. Di Kyoto ia mendengar bahwa tuannya itu lemah dan pengecut. Saya tak ingin hal itu terjadi. "Burung bulbul. di jalan yang lembap dan teduh di dekat Todaiji. bukan. Nara sudah jauh mereka tinggalkan.property of: CROSSFiRE. netcafe. Musashi memandang ke langit juga. ia menatapkan matanya dengan berani ke langit. Ingin ia mengetahui. Ibu sudah begitu baik pada saya. bagian 6 Dataran Hannya JOTARO berjalan sedih pelan-pelan di belakang gurunya. mereka melihat puncak-puncak Gunung Mikasa. Memang Jotaro belum betul-betul kenal Musashi. Karena merasa barangkali mukanya pucat akibat takut. Ia kelihatannya patah semangat. "Anda lebih aman di sini. Burung-burung gagak hitam yang dilihatnya sepanjang jalan ikut menimbulkan rasa ngeri padanya." Dengan patuhnya anak itu membungkuk dan melakukan hal yang disuruhkan kepadanya. "Kalau saya menginap semalam lagi." desak janda itu. kalau Musashi minta maaf pada mereka. Jo! Ucapkan terima kasih pada Ibu. saya pergi sekarang. Itu sudah tentu lebih masuk akal." "Tidak. "Nyaman. Jo? Sepertinya kita sedang berjalan diiringi lagu burung bulbul. "Jotaro!" Mendengar namanya dipanggil. karena takut setiap langkah yang diambilnya akan semakin mendekatkan mereka kepada maut. Banyak tempat untuk bersembunyi kalau bermaksud demikian. Jotaro sudah memutuskan. kedua perempuan itu ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati mereka." jelasnya. Di atasnya langit yang damai." "Saya tak peduli. Pikiran bahwa jago-jago tombak jahat Hozoin akan menyerang Musashi itulah yang sangat mematahkan semangatnya. tapi bukan karena menyesal akan berangkat. sekalipun tak pernah ia berbuat salah kepada mereka. "pasti akan timbul kesulitan di rumah Ibu." "Apa?" tanya anak itu kaget. Inc. apakah Musashi bermaksud meminta maaf kepada para pendeta itu. kata-kata yang diucapkannya bernada gembira seperti biasanya. Bahwa ia dan Musashi sedang berjalan langsung menuju tempat pencegatan para jago tombak Hozoin baginya betul-betul tak masuk akal. Lewat baris-baris pohon kriptomeria di sepanjang jalan. mereka dapat melihat dataran yang melandai berombak-ombak menuju Bukit Hannya." Ebook by Kang Zusi . anak itu terkejut. janda itu mengikutinya sambil menangis dan memohon kepadanya agar tidak pergi. Dapat saja mereka masuk salah satu kuil yang banyak jumlahnya di sepanjang jalan itu dan menanti kesempatan yang baik.

ya?" kata Musashi. seakan-akan ia sedang tersedak. mukanya kelihatan kaget. Kalau aku terbunuh. Ia merasa dapat melihat anak kecil yang malang dan ketakutan itu melalui tengkuknya. Tapi. dan ia menyesali telah membawanya serta. tetapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan anak-anak. Jotaro terkena batunya dan tiba-tiba berhenti menangis dan berdiri regak. apalagi semuanya sekaligus. Ia merasa kasihan. "Kalau kau jalan terus. Tapi sekarang kau pergi ke bukit kecil di sana itu. Ia suka pada Jotaro dan kasihan kepadanya. menutup muka dengan tangan. Tangisnya ditambah pula dengan sentakan-sentakan kecil. Air mata meleleh di pipinya. "Lebih baik kau tinggal di sini. Air mata kotor meleleh di pipinya ketika ia menghapus matanya yang merah bengkak dengan kedua tangannya." Jotaro tidak sedikit pun senang mendengar kata-kata itu. ya. Ada beberapa ekor di sekitar tempat ini. burung bulbul. Tak dapat ia mengusir firasat yang dirasakannya bahwa mereka berdua segera akan berpisah untuk selamanya. "Pikirkan saya." kata Musashi.property of: CROSSFiRE. aku jadi ingin lari juga. Inc. Hanya nyanyian burung bulbul dingin saja yang terdengar oleh telinganya. "Betul. "Ayolah pergi dari sini. Jotaro merupakan gangguan baginya sekarang. "Kita sudah dekat Bukit Hannya. lalu apa sekarang?" Jataro tidak menjawab. "Apa pula ini? Kaubilang mau belajar Jalan Samurai? Kalau nanti aku menerobos dan lari. Dilihatnya gurunya berjalan terus menuju Bukit Hannya.. seperti aku ketika seumur kamu. dan bahunya menggeletar. "Jangan nangis lagi! Kalau begitu kelakuanmu. Sebaliknya ia paksa dirinya tinggal diam beberapa menit lamanya. Punggung tangannya diusapkannya ke mata. kau mesti ikut lari ke jurusan yang sama. aku harus menang! Segalanya akan beres nanti. netcafe. walaupun sedu-sedan Jotaro menggema di telinganya." demikian ia memohon. mumpung masih bisa!" "Kalau kamu bicara seperti itu. Kamu anak samurai. ayolah. Para jago tombak sudah menanti dengan satu tujuan: membunuhnya. Ia tak dapat percaya sepatah kata pun." Jotaro pun pecahlah tangisnya. Kita tak akan lari. bisa saja dalam beberapa menit lagi tiba-tiba anak itu menjadi sebatang kara di tempat yang asing. Ia ingin memanggil. "Aku tak mau kalah.. Apalagi Musashi terkenal sebagai orang lemah." Mendengar kepastian dalam nada Musashi itu. kan?" Musashi dapat melihat dari pucatnya bibir anak itu bahwa ia sedih sekali. Kenapa kamu tidak kembali saja ke toko sake itu?" Dengan tegas dan agak keras ditolaknya anak itu. Ia harus siap menghadapi mereka." "Kalau begitu. kau bisa terluka. kau kembali ke toko sake di Kyoto. Apa yang kita tunggu?" "Tidak!" Musashi membalikkan badan. tapi dilawannya dorongan keinginan itu. dan sambil mengangkangkan kakinya ia menghadapi anak itu. ia sangsi apakah Musashi akan dapat mengalahkan mereka satu-satu. Kamu tak punya orangtua yang akan mengurusmu. Tak ada alasan buatmu untuk membahayakan diri sendiri. seperti bendungan jebol. "Jangan kuatir!" kata Musashi. "Oh. Jotaro menyerah dan duduk. ya?" "Saya takut! Saya tak mau mati!" Dengan tangan gemetar ia menariki lengan kimono Musashi agar kembali. Betapapun. Dari sana akan tampak segala yang terjadi. dan perhatikan dari sana. Ebook by Kang Zusi . Suaranya pun jadi tajam. tak bakal kamu jadi samurai." "Nah. "Aku samurai. "Ayo kita lari!" "Bukan begitu cara samurai bicara! Kau mau jadi yang begitu. Musashi tidak menoleh. dan ucapnya. Karena tahu bahwa para jago tombak Hozoin itu lebih dari sepuluh orang jumlahnya. dan menggeretakkan giginya. Kemudian ia berjongkok di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ. Mata yang pernah nyalang gembira ketika mengejuti Musashi dengan topeng itu kini tampak gelisah dan sedih." Sesudah mengusap air mata. Jotaro mencengkeram lengan kimono Musashi. Musashi sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran.

dan selagi bicara jelas ia memperhatikan wajah Musashi sebaik-baiknya. "Apa menurutmu tidak begitu?" "Mencurigakan? Mencurigakan bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . dekat Kuil Kasagidera. ada pekerjaan di Tsukigase. Sebuah datarannya agak tinggi dan pegunungan di kejauhan sana." Nada bicaranya wrlalu sopan. Dia Yamazoe Dampachi. apa dia mau memperkenalkanmu. "Aku senang bertemu denganmu. Musashi! Mau ke mana?" Musashi dapat mengenali orang yang datang ke arahnya itu. "Apa yang apa?" "Asap di sana itu." Dataran itu menghampar luas beberapa mil jauhnya. Musashi melihat asap api berwarna cokelat mengepul di belakang sebuah bukit rendah. namun ia menyambut juga dengan sungguhsungguh. "Asap di sana itu mencurigakan. "Hei. Yang Dipertuan Muneyoshi sekarang hidup pensiun sebagai ahli upacara minum teh. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali urusan kemarin itu. Melindungi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup beratnya.property of: CROSSFiRE. Ia mendapati dirinya sudah berada di tengah dataran terbuka. itu tidak jauh dari Lembah Yagyu?" "Tidak. "Mau ke mana?" tanyanya lagi." "Di situlah kuil Yang Dipertuan Yagyu. tapi kau mesti singgah di sana dan melihat keadaannya. Ya. seorang lelaki mengangkat tangan menyapanya. "Kuharap engkau bisa melupakannya. dan jalan pun ikut naik dan turun. Musashi menuding. netcafe." "Ada kemungkinan." Dampachi sendiri belum begitu tahu bagaimana harus bersikap terhadap Musashi. Ia memang sangat terkesan oleh apa yang disaksikannya di Hazoin. Semua itu kekeliruan. "Apa itu?" tanyanya. Tentu saja lebih baik kalau kau punya pengantar. Di jalan yang memecah menuju Gunung Mikasa. kan?" "Ya. Musashi hanyalah seorang ronin provinsi yang tidak akan lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun umurnya." katanya. Tapi biar bagaimana. aku bisa tanya." "Tak yakin aku bahwa Yang Dipertuan Yagyu mau memberikan pelajaran kepada musafir seperti diriku. Garis langit di sana-sini diselingi pohon kriptomeria tunggal atau pinus hitam Cina Namun di sana-sini dataran itu menaik lembut. Di dekat kaki Bukit Hannya. Walaupun Musashi segera merasa bahwa tujuan Dampachi adalah menjebaknya. Kebetulan aku kenal seorang tukang senjata di Tsukigase yang bekerja pada Keluarga Yagyu. "Rencananya lewat Iga ke jalan raya Ise." "Kalau tak salah. Dampachi berkata. mengingat hal itu saja sudah membuat tulang punggungnya dingin. dalam keadaan belum matang seperti sekarang. apa perlunya teman baginya? Pohon-pohon mulai menjarang. Inc. Dan Dampachi masih jauh dari siap untuk mengakui bahwa orang seumur dan dengan status seperti Musashi itu dapat lebih baik dari dirinya." Selama itu Dampachi terus menempel di sisi kiri Musashi. Engkau mesti pergi ke sana nanti. Kalau kau suka. Dan kau?" "Oh. wajahnya sendiri mengeras. dan anaknya Munenori ada di Edo. ia hanya bisa mengandalkan diri kepada pedang dan tak tahu ia apa yang bakal terjadi esok-jadi. tidak jauh. dan ketika ia memandang wajah Musashi.

Semuanya ada sekitar tiga puluh orang. menjelaskan dengan gerak-gerik cepat. Semua pendeta itu membawa tombak. dan mendarat dengan wajah ke bawah. Dampachi tak akan bangkit lagi. tangan diacung-acungkan di udara. Para ronin membentuk setengah lingkaran. mencurigakan. dan kau membunuh Agon. seakan-akan siap menerkam setiap saat. Kau mesti menimbang segala sesuatu dengan pikiran dan jiwamu. langkah demi langkah. Musashi merasa otot-ototnya menegang selagi mendaki. mereka malah cuma duduk-duduk mengitari api dan membiarkan Musashi yang menantang. ia tak sadar bahwa Musashi sudah menarik pedangnya. netcafe. Lewat matanya menyorot mata dewa pembalasan dendam." Kata-kata itu seperti menuangkan minyak ke dalam nyala api. Sekalipun angin musim semi bertiup lembut ke kulitnya. para Ebook by Kang Zusi . ia berjalan mantap dan langsung ke arah mereka. Inc. Namun tindakan jaga-jaga itu ternyata tidak perlu. Sekarang semua bangkit berdiri. Jumlah mereka yang besar memberikan keyakinan. Sebaliknya. Yasukawa dan Otomo bicara cepat. Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. dan tanpa merusak formasi mereka menderas mengepung Musashi dari kanan. Dari puncak bukit ia melihat ke bawah. Setengahnya pendeta. Pedang yang ditudingkan Musashi ke tanah berkilauan oleh sinar matahari. sementara para pendeta Hozoin menatap Musashi dengan pandangan mengancam. dan optimisme mereka tak tergoyahkan. Darah segar menetes dari ujungnya. dan tiba-tiba sadarlah mereka bahwa pertempuran sudah dimulai. Seorang pendeta di ujung barisan memberikan isyarat. Pelan-pelan. bagaimana Yamazoe sudah terbantai. berkilat-kilat penuh kesengitan. lalu keduanya memutar badan dan angkat kaki. seperti setansetan neraka. Namun tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang diserang. Dua orang muncul di puncak bukit. Tubuhnya melambung. "Dia datang!" kata yang lain membeo. Bukannya menantang Musashi.property of: CROSSFiRE. Ia sedang memilih korbannya. Ia berjalan langsung ke arah bukit itu. "Aku diberitahu bahwa kau datang ketika aku sedang pergi. Musashi dapat mengenali pengikut Dampachi. Kedua belah pihak menyadari semakin mendekatnya maut. Bunyi orang bersuit melengking memecahkan kesunyian dataran itu. "Dia datang!" seru seorang dari kedua orang yang tadi lari menggabungkan diri dengan yang lain-lain. Ketika Musashi tampak. ia maju. "Kalau kau memang pendeta. Mereka menyusun diri menghadapi pertempuran. Mereka melihat pedang yang bernoda darah. ke arah api yang menyala. Seorang memekik. Lalu kau secara terbuka menghina kehormatan Hozoin. Ronin itu melolong berang. Mereka tampak aneh. Benar?" "Tidak!" seru Musashi. Mereka tadi sedang bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Dengan lengan baju hitam tersingsing mereka siap beraksi dengan tekad membalas kematian Agon dan memulihkan kehormatan kuil. Sekonyong-konyong ia menyapukan jarinya ke tubuh Dampachi. melayang ke depan. Dari kejauhan terdengar teriakan tanda bahaya. yaitu Yasukawa Yasubei dan Otomo Banryu. "Musashi! Aku Inshun. seperti pandangan matamu sekarang ini. Dampachi tersengal-sengal terkena hantaman Musashi. karena Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan lari atau mengundurkan diri. Wajah Musashi menjadi pucat pasi. terdengar hiruk-pikuk hebat tanpa kata di tengah gerombolan itu. Karena perhatiannya tertuju pada jari Musashi. kau tidak boleh hanya percaya pada yang kau lihat dan kau dengar." seru pendeta itu. hingga mereka dapat menyaksikan pertunjukan itu dan sekaligus mencegah Musashi melarikan diri. Kau mengejek kami dengan memasang poster-poster di seluruh kota. dan setengahnya lagi ronin yang sukar dilukiskan. Tanpa menghiraukan pemimpinnya." kata Musashi tajam. Baik kaum ronin maupun kaum pendeta tidak setegang Musashi. "Yah.

memaki-maki. pendeta mulai berteriak-teriak. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya tertengadah ke langit. netcafe. dengan topinya dan topeng di sampingnya. Dia tentunya gila. Oh. Tak lama kemudian mereka saling menyerang ke segala jurusan dan saling melukai. bukan kutukan. dan sudah saatnya kini bertempur. Tak disadarinya bahwa seluruh pengalaman hidupnya-mulai dari pengetahuan yang ditempatkan kepadanya oleh ayahnya. semua yang selalu dikatakan orang padaku tentang benar dan salah itu bohong! Kalian tak bisa membiarkan dia terbunuh! Kalau kalian biarkan. akan kuludahi kalian!" Ebook by Kang Zusi . Sementara pertarungan berlangsung. "Apa sudah tak ada dewa di negeri ini? Apa akan kalian biarkan orangorang jahat menang.property of: CROSSFiRE. "Baik! Siapa di antara kalian akan maju dahulu?" Kecuali dua-tiga orang. Ia menjadi tiupan angin pusaran yang menerjang kawanan ronin. teori-teori yang pernah didengarnya di berbagai perguruan seni pedang. Dia lemah. Dalam sekejap mata Musashi sudah menerpa seorang di antaranya. karena menurut pikiran mereka para pendeta akan segera datang menyelamatkan. menyatakan tak ada gunanya berbicara. Dua-tiga orang yang berani itu bersiap dengan pedang diacungkan. Tempat yang akhirnya dipilihnya untuk duduk. penuh dengan darah. Dari situ ia memperhatikan pemandangan di sekitar api di kejauhan itu. tak akan dilayaninya orang sebanyak itu sekaligus! Oh. sedangkan gaung di dalam tubuhnya sendiri menjadi petunjuk bahwa ia sedang bertumbukan dengan tulang manusia. "Hachiman! Kompira! Dewa Kuil Kasuga! Lihat! Guruku langsung menyongsong musuh. Kalau tidak. Terdengar bunyi seperti letupan sumbat botol. Darah dan otak berpercikan dari pedangnya. dewa-dewa langit. tak dapat ia pergi. bantulah dia! Guruku di dataran sana tak berdaya. tolonglah dia!" Sesudah berseru-seru kepada para dewa seratus kali atau lebih. karena kalah jumlah. seperti jago aduan. bukan untuk ambil bagian di dalamnya. tapi dia sedikit aneh sejak tadi pagi. adalah sebuah bukit kecil. apa yang sedang diperbuatnya. dan membiarkan orang baik terbunuh? Kalau memang begitu. Saat ini dia bukan dirinya. tapi dia bukan orang jahat. aku mohon. Pedang Musashi mendesing ke sana kemari di udara. Beberapa ronin yang masih tinggal pun bermandikan darah kental. dan mengayun-ayunkan pedang ke udara. mereka semua mundur selangkah. dan tanah pun merah oleh darah. yang karena kebingungan menjadi sasaran empuk serangan pedangnya. Tapi ternyata para pendeta itu hanya berdiri diam tak bergerak. Tolonglah dia!" Walaupun Musashi memerintahkannya pergi. lindungilah dia. Kemudian terdengar suara mengerikanbukan teriakan perang. dalam mimpi penuh pembunuhan. "Ya. aku mohon. Sambil memekik-mekik. Ia memohon. ia lihat usahanya itu tak ada hasil. Seorang di antara mereka menjerit. sampai pada apa yang dipelajarinya di Sekigahara. Jotaro tenggelam dalam doa. Ia seperti kesurupan. Biasanya dia lunak dan lembut. mereka mendesak para pendeta untuk bertindak. Mereka didukung penuh semangat oleh kaum ronin yang telah menyusun diri dalam formasi rapat di sebelah kiri Musashi. dan ronin yang masih hidup bertebaran di mana-mana. Tanah. di mana tubuh dan jiwanya terpusat hanya pada pedangnya yang semeter panjangnya. Singkatnya pertarungan dihitung salah seorang pendeta dengan tankan dan embusan napasnya. seraya mengumandangkan tantangan. dan bahkan udara. Mula-mula sekali mereka merapatkan diri dengan cukup baik. dan mulailah ia marah. karena masingmasing yakin bahwa mata setan Musashi mengarah kepadanya. sementara Musashi dengan cepat membantai lima atau enam ronin serta membikin kacau yang lain-lain. Kelemahan mereka telah menyebabkan Musashi menyerang mereka lebih dahulu. Jari dan tangan berterbangan di udara. Inc. serta pelajaran-pelajaran yang diberikan kepadanya oleh pegunungan dan pepohonan-semuanya itu serentak bermain dalam gerak cepat tubuhnya. Tuhan yang di surga. Karena yakin para ronin cuma bermulut besar dan tak berani berkelahi. Musashi tiba-tiba menghadap mereka dan berseru. Musashi basah kuyup oleh darah korbannya. Akhirnya ia berseru. Kaum ronin itu rupanya datang untuk menyaksikan penyembelihan besar-besaran. tetapi lolongan yang benar-benar membekukan darah. Hampir sepanjang waktu itu Musashi tidak sadar benar. Pertarungan sudah selesai sebelum ia sempat mengambil napas kedua puluh.

"Izinkan saya memperkenalkan diri. tetapi takut maju!" Tapi yang terakhir itu terlalu dini diucapkannya. dan lempeng tombaknya pun sangat berbeda-beda-yang lancip. diiringi raungan gegap gempita. karena ketika ia mengucapkan itu. Agon. Musashi gawat sekarang!" Lupa akan segalanya. Jotaro meluncur seperti bola api ke tengah kancah bencana yang sedang menghampiri itu. Musashi agak terpengaruh oleh kehadirannya. lalu berkata dengan sikap sopan dan mulia. dibelah dua." Kepala Biara itu jangkung dan berwajah cerah. setelah melihat orangorang lain mengalami perubahan juga. "Sayang saya tak ada ketika Anda mengunjungi kami baru-baru ini. sementara para pendeta berpencar seperti tawon yang menghambur dari sarangnya. Ketika dilihatnya Musashi terkepung. ditusuk. atau dibantai. ia merasa ringan dan pening." kata Musashi. mendadak ia mengubah lagu. Andalah ahli tombak itu. Letih dan sedikit pusing oleh pertarungan sebelumnya. Senjata mereka yang berkilauan bersuit-suit di udara. yang berbentuk silang. Sekarang hampir tak dapat ia menahan diri melihat kebuasan para pendeta itu dalam menyembelih ronin. dan sesaat kemudian para jago tombak itu segera beraksi. di tengah kancah. memberikan perintah menyerang. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda. melainkan menyerang bekas sekutunya seperti anjing gila. campuran darah dan keringat mengaburkan pandangannya. Tombak yang mereka bawa berlain-lainan. Sementara mereka maju menyebar. Mereka ramai-ramai menyerang dia. dicengkeramnya gagang pedangnya eraterat." sambung pendeta itu. Hatinya berubah jungkir balik. Inshun. Saya juga merasa malu bahwa murid saya. Pengalaman itu membuatnya sadar. Kemudian. Pembunuhan besar-besaran itu betulbetul sempurna dan sekaligus menunjukkan sifat haus darah. Dan ketika ia melihat ke bawah. tampak olehnya Jotaro sedang mengucurkan air mata puas. memperlihatkan perkelahian yang demikian jelek. Mereka diiris. sementara para ronin menjerit-jerit memprotes. yang papak. tapi ia bertekad untuk mati dengan cemerlang. Musashi tak percaya akan matanya. Inc. Mereka mengejar para ronin yang telah melarikan diri dan menyerang mereka tanpa kenal ampun. Musashi melompat mundur dan berdiri siap menantikan serangan muslihat. juga oleh sikapnya yang tenang. tapi sesaat lamanya tak dapat ia mengucapkan kata-kata. sampai tak seorang pun di antaranya tetap hidup. la merasa seolah berada di sana. Hari ini mereka mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana teknik-teknik yang mereka asah dalam latihan dapat mereka gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya. doa-doanya pun berubah menjadi kutukan yang diarahkannya tidak hanya kepada musuh." Ebook by Kang Zusi . Tetapi sungguh ia heran. Setelah sesaat lamanya berubah menjadi seekor binatang yang tak berpikiran. yang cuma berbaris seperti gerombolan gagak berkaok-kaok. Gagang pedang itu lengket oleh darah kental. kalau memang ia harus mati. Dan untuk pertama kali waktu itu la merasa santai. Kepala Biara Hozoin. Kepala mereka yang gundul itu membuat mereka tampak lebih barbar lagi. ketika disadarinya bahwa darah yang tertumpah di dataran itu bukan darah gurunya. Para pendeta bukannya melakukan serangan yang memang dinanti-nantikan itu ke arahnya. Kepala Biara mendekatinya. Para ronin yang tak menduga itu sia-sia saja mencoba mengerahkan para jago tombak agar melawan Musashi. oh! Gawat kelihatannya. dan dirinya cemar juga oleh darah mengental. atau yang bengkok-tiap pendeta menggunakan jenis yang paling disukainya. serangan itu tidak juga datang. "Tentu Anda Miyamoto. "Oh. tapi juga kepada dewa-dewa sendiri. sampai mati. "Lihat! Guruku ternyata bukan orang lemah! Dia menghajar mereka!" Itulah pertama kali Jotaro menyaksikan orang bertempur seperti binatang. Dengan sedikit bingung ia hapus pedangnya dan la sarungkan. ditikam mulutnya. Setelah pertempuran berakhir." "Jadi. dan itulah pertama kali ia melihat darah sebanyak itu. semata-mata karena kecemasannya.property of: CROSSFiRE. para pendeta Hozoin mulai menyerbu Musashi. Kemudian sadarlah ia bahwa tangan dan kakinya ditarik-tarik orang. Kenapa para pendeta itu menyerang pendukung mereka? Dan kenapa demikian kejam? Baru beberapa saat sebelumnya ia berkelahi seperti binatang liar. "Lihat dia! Dia bisa melawan! Bukan main serangan itu! Dan lihat pendeta-pendeta tolol itu. yang berbentuk kerucut. sekarang ia pulih kembali pada keadaannya yang biasa. "Saya Inshun. netcafe. Kepala Biara.

Para pendeta menyobek-nyobek secarik kain katun lebar menjadi potongan-potongan kecil dan menghapus lembing mereka. "Sudah kalian urus semuanya?" Inshun membungkuk dan menjawab. seolah-olah tak suatu pun yang aneh telah terjadi. Anda yang lambat. tapi tujuan kami yang sebenarnya hari ini adalah sedikit 'bersih rumah'. Kemudian pimpinannya kembali ke tempat berdirinya Inshun. Kelima penunggang kuda itu pejabat. Inc. "Tadi saya pikir Anda dan orang-orang Anda datang kemari untuk menyerang saya. dan membariskan diri dengan penuh upacara. "Tak apa-apa. Ketika rombongan itu mendekat. Ia bahkan sedikit heran bahwa dirinya masih hidup. di sisi lain dataran itu berkatalah seorang penunggang kuda kepada Nikkan. Ia tetap diam sesaat lamanya. duduk bersama Inshun dan Musashi. Berangsur-angsur mereka semua berkumpul di sekitar api." Olok-olok mengerikan itu berlangsung terus dengan nada santai serupa. Saya yakin titik hitam di tepi dataran itu dia. dan saya sudah bertekad mengirim sebanyak-banyaknya dari antara Anda sekalian ke negeri orang mati. "Ayolah. "Aaa." Mereka membenarkan." kata kepala biara itu. "Nab. ia harus menghapuskan dahulu kekacauan dalam pikirannya. Dan mereka akan berebutan melahap makanan besar itu. "Akan kami kirim kemari orang dari kota untuk membersihkan semua ini." kata seseorang. dan katanya. Sudah berkaok-kaok mencari mayat mereka." Pendeta tua yang berjalan kaki sendiri itu melangkah menyamai para penunggang kuda yang sedang maju ke arah asap api. menunjuk ke atas. begitu kita pergi. Ia masih belum dapat mengerti kenapa para pendeta itu kemudian melawan para ronin tak dapat ia mencari jawaban yang masuk akal. Pimpinan mereka menjawab." "Anda lebih gesit daripada kuda." Para pejabat berjalan ke sana kemari memeriksa mayat-mayat dan membuat beberapa catatan. mundur mengambil jarak yang sesuai.. Anda sekalian sudah melaksanakan kerja hebat. Anda butuh istirahat." "Kenapa tidak? Saya lelaki. seakan-akan menghadapi suatu acara suci. netcafe. "Tapi saya pikir lebih baik kita menanti dan mempersilakan Nikkan menjelaskan pada Anda. gagak-gagak sudah mencium bau darah. "Seperti Bapak perintahkan." Para samurai melompat turun satu demi satu dari kuda. "Anda cepat sekali berjalan kalau melihat umur Anda. Mari kita periksa. Terima kasih. sedangkan Jotaro menguntit di belakang.property of: CROSSFiRE. "Lihat ke sana. kami memang tak perlu menganggap Anda sekutu. Menyayangkan perbuatan Agon? Musashi merasa barangkali telinganya perlu dibersihkan." "Kenapa burung-burung itu tidak turun?" "Mereka akan turun nanti. kawan-kawan. Tak mengerti saya." kata Inshun sambil menuding ke arah kaki langit. Ia memandang Inshun." Pada saat itu juga. Anda sekalian boleh merasa bebas meninggalkan segalanya ini sebagaimana Ebook by Kang Zusi . untuk menyambut Nikkan dan pengiringnya." "Anda namakan semua ini 'bersih rumah'?" "Betul.." "Bukan saya yang cepat. Dan mereka mulai mengobrol." Inshun mengantarnya ke dekat api. "bersihkan sebagian darah itu. "Terima kasih atas kedatangan Tuan-tuan.." Inshun tertawa. karena sebelum ia dapat memutuskan cara yang cocok untuk menjawab nada sopan Inshun itu. para pendeta saling berbisik. Yang pertama dikatakan Nikkan adalah. kecuali kalau ia bertanya." Kemudian ia menoleh kepada para pejabat. "Itu Guru Tua. kenapa Anda sekalian memperlakukan saya seperti ini. Musashi memperoleh kesan bahwa ia tak akan mendapatkan keterangan apa pun.

Sayalah yang harus berterima kasih. Bersih rumah! Mendengar suaranya yang tak dibuat-buat ini. Mereka masih asing dengan daerah ini. dan para ronin mengambil keuntungan dari asingnya mereka itu dengan tempat inimencegati musafir yang tak berdosa. Cerita Nikkan itu telah menghapuskan sama sekali segala kesangsian dan rasa takut Jotaro. "Para pejabat yang baru pergi tadi itu bekerja di bawah Okubo Nagayasu yang baru-baru ini dikirim kemari untuk memerintah Nara. Musashi dan Nikkan menoleh memandangnya." kata Kepala Biara. melarikan perempuan. ha!" Ada satu orang lagi yang senang bukan buatan. "Apakah pengalaman di sini memberikan pelajaran kepadamu?" tanya pendeta itu. Ha. "Kau tahu Dampachi dan pengikutnya tak suka padamu. "Bangkitlah. "Padang ini bukan tempat untuk membungkuk. Ebook by Kang Zusi . dan sekarang semua orang pun senang-para pendeta. Ia menyanyikan lagu populer karangannya sendiri. termasuk Dampachi dan Yasukawa. para pejabat. "Maafkan kalau saya sudah melukai hati Anda beberapa hari lain. "Maka kupertimbangkan hal itu sebentar. Kami bakar dedaunan. Terkadang kami butuhkan salju turun. Nikkan berjalan ke sisi Musashi. Pernyataan-pernyataan fitnah tentang kuil yang dituduhkan padamu itu pekerjaan mereka." jawab Nikkan. dan katanya ringan saja. Begitulah juga poster-poster itu. Kami bakar ladangan." Dengan itu kelima orang tersebut menaiki kembali kuda mereka dan pergi. Bapak sudah berbuat baik sekali. Pemerintah tak dapat mengendalikan mereka. ini kesempatan ideal untuk mengadakan 'bersih rumah' di Nara. apa yang sudah terjadi ini. berjudi. Begitu orang-orang itu berangkat." "Sama sekali tidak. Terkadang kami butuhkan bersih rumah. burung gagak.property of: CROSSFiRE. dan anak itu gembira luar biasa. sambil menari-nari seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya: Bersih rumah. Apa Bapak dapat menceritakannya pada saya?" "Dengan senang hati. juga burung-burung gagak itu. netcafe. Memang kebiasaan alam Membikin baru semuanya." Mendengar itu Musashi tertawa. Karena takut menyerangmu sendiri. memasuki rumah-rumah janda-menimbulkan segala macam kesulitan. Sambil sekali-sekali melayangkan pukulan ke arah burung-burung." Musashi berlutut dan membungkuk dalam-dalam di depan pendeta tua itu. Para pendeta Hozoin-lah yang berkelahi untuk mereka." perintah Nikkan. mengepakngepakkan sayap dengan riangnya. agaknya dengan perkiraan aku bodoh. Dia setuju menjalankan. terdengarlah hiruk-pikuk besar. Mereka berjanji segalanya akan dilaporkan padaku. lalu meninggalkan tempat itu. mereka membuat rencana yang menurut mereka jitu. Supaya musim semi dapat naik dari bumi. Inshun mengucapkan selamat tinggal pada Nikkan dan Musashi. ya." Musashi bangkit berdiri. Jotaro waktu itu mengenakan topengnya sambil tersenyum ajaib clan menudingkan pedang kayunya ke tubuh-tubuh yang berserakan. ia melanjutkan: Ya. Sambil menggerutu karena bunyi ribut itu. Kubicarakan rencana itu dengan Inshun. oh. Mereka membungkuk dan meninggalkan tempat itu diam-diam. "dan terpikir olehku. Burung-burung gagak turun. "Saya bahkan tidak begitu mengerti. tapi mereka sudah tahu bahwa ada sekitar lima belas pentolannya. memeras. adanya. Inc. Nikkan memberitahu para pendeta bahwa tenaga mereka tidak diperlukan lagi. Sekali-sekali Memang perlu bersih rumah Tidak hanya di Nara.

Selesai melakukan hal itu. dan putuskan sendiri bagaimana membawa diri nanti. Ambil yang banyak!" "Baik. Nak!" seru Nikkan tajam. "Doa itu akan melindungi mereka. dan karena tak ada jalan untuk mengetahui kapan kita akan bertemu lagi. "Sini. pada tiap batu itu. doa suci sekte Nichiren. Pendeta tua itu sudah menghilang. kamu bisa mencapai kebenaran. seperti kebiasaannya." Musashi diam. Pikirkan itu. Sesaat Musashi hanya menatap tubuh yang makin menjauh itu. Kalau kamu terus juga membanggakan dirimu dengan kekuatanmu. "Bapak Pendeta!" panggilnya. "Jadi. tak dapat aku menyatakan kamu benar. Sementara Jotaro melakukan suruhannya. Karena kamu masih muda. tapi suatu kesalahan besar kalau kamu menyangka Jalan Samurai itu hanya terdiri atas pameran kekuatan. Musashi.property of: CROSSFiRE. sama sekali belum. Sekishusai dulu guruku. Inc. saya akan senang jika mendapat sedikit nasihat dari Bapak. "Ya. Tapi jangan terlalu banyak. Ebook by Kang Zusi . Wahai. kemudian tiba-tiba ia melesat mengejarnya. "Apa?" tanya Nikkan. macam itu. ia pun berangkat dengan kecepatan hebat. Sebab kalian bisa mabuk." Jotaro berdiri diam memandang wajah Kepala Biara. menengadah. Kemudian ia berikan batu-batu itu kembali pada anak itu dan ia perintahkan anak itu menyebarkannya di antara mayat-mayat. Pak. "Tapi aku sendiri cenderung memiliki kesalahan yang sama. ia menyatakan. "Apa tak ada yang Bapak lupakan?" Ia menepuk-nepuk pedangnya selagi mengatakan itu." Suara Nikkan tidak kedengaran lagi. Sekarang kalian berdua bisa jalan terus. yang selama itu memandang ke tanah dan tenggelam dalam pemikiran. netcafe. kamu belum mengerti?" tanyanya. "Jangan seperti orang tolol. Nikkan duduk dan menuliskan kata-kata Namu Myoho Renge-kyo. "Ya. Ambilkan beberapa batu. "Kamu sudah melaksanakan sesuatu hari ini. "Satu satunya yang harus kuajarkan padamu adalah kamu terlalu kuat. Aku kembali ke Nara. memungut sebuah batu yang terletak dekat kakinya dan mengacungkannya. Kalau kamu mencontoh mereka dan mencoba mengikuti jalan yang sudah mereka tempuh. kamu tak akan hidup sampai umur tiga puluh. Di awal abad ketujuh belas. tapi belum baik." Mulut Kepala Biara yang tak bergigi itu memperdengarkan tawa terbahakbahak yang terkenal itu. Tanah Perdikan Koyagyu LEMBAH Yagyu terletak di kaki Gunung Kasagi di sebelah timur Laut Nara. Pak!" Anak itu mengumpulkan batu-batu." Dan sama mendadaknya dengan waktu ia datang. sebelum Musashi sempat mengucapkan terima kasih atau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya. Hari-hari ini mudah sekali kamu terbunuh. "Bapak belum memberikan petunjuk. kalian. Juga sake merah pekat. karena itu aku tidak berhak bicara padamu tentang soal ini." "Macam ini?" tanya Jotaro. burung gagak! Berpestalah! Dan memilihlah! Sop langsung dari ceruk mata. Kamu mesti mempelajari jalan yang ditempuh oleh Yagyu Sekishusai dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. dan Yang Dipertuan Koizumi gurunya. Nikkan mengatupkan kedua tangannya dan menyanyikan bagian dari Sutra Bunga Teratai.

di pegunungan ini banyak terdapat pohon. Tentu saja ia dapat disebut Kampung Kasagi. dan sungaisungai biasanya segar dan jernih. namun tidak cukup berpenduduk atau ramai untuk dapat disebut kota. secara hati-hati ia menghindari keterlibatan serius dalam perang dan permusuhan antara tuan-tuan feodal di daerah-daerah lain. baik fisik maupun mental. maka kata-kata penyair itu kosong saja kiranya. Jika tak ada pahlawan dilahirkan di Lembah Yagyu. "Apanya yang mengagumkan?" Baginya yang paling mengagumkan adalah kenapa Musashi berbicara sendiri. Singkatnya tempat itu merupakan tanah perdikan yang damai dan diperintah dengan cara yang bagus. dan burung-burung bulbul menyanyi dari musim melelehnya salju sampai musim datangnya angin ribut berguntur. kan?" "Ya. mengelilingi Wisma Utama. setidak-tidaknya untuk waktu yang sangat lama. Airnya murni dan bersih. Lingkungan itu sendiri memang tak kenal keburukan." ulangnya beberapa kali. para pegawai pun orang-orang bangsawan. tapi kemudian jadi menonjol karena pertempuran. Di rumah besar itu. di mana kuil-kuil kuno yang ternama dalam sejarah dan kesusastraan rakyat dibiarkan telantar. Kyoto dan Nara. "Pohon? Di mana-mana ada pohon. Di perjalanan ia telah menyaksikan barang-barang peninggalan zaman Kemmu. dan belum pernah aku melihat tempat seperti ini. Tetapi tempat ini memang tempat kelahiran para pahlawan. Itu berarti juga tidak pernah terjadi kelaparan. Semua pohon di Yagyu ini tua. Musashi datang ke daerah itu sekitar sepuluh hari sesudah terjadi pertempuran di Dataran Hannya. seperti jernihnya air sungai gunung. hidup senang di sana semenjak abad kesepuluh. "Mengagumkan. Kubu-kubu batu. Yagyu Muneyoshi Sekishusai yang kini mengundurkan diri itu berdiam di sebuah rumah pegunungan kecil. Dengan pakaian tidak resmi. Ia terlalu besar untuk dilukiskan sebagai kampung semata-mata. Akhirnya Jotaro bertanya. tak berapa jauh di belakang Wisma Utama. tempat itu merupakan wilayah kediaman masyarakat kecil yang sejahtera. Ia punya sejumlah anak dan cucu yang terampil." Ebook by Kang Zusi . tetapi penduduk tempat itu sendiri menyebutnya Kambe Demesne. Selanjutnya ia dapat dengan bebas menganggap bahwa rakyat diperintah dengan sebaik-baiknya. tapi di sini lain. Ia tidak lagi memperlihatkan minat kepada pemerintahan setempat. Kembang prem Tsukigase tidak jauh turnbuhnya dari tempat itu. Rakyat wilayah itu. Gunung-gunung dalam jajaran Kasagi tidak kurang indahnya pada waktu senja dibandingkan pada waktu matahari terbit. aku sudah mengunjungi Provinsi Settsu. Di sini orang tidak melihat tanda-tanda kekurangan atau kemerosotan moral yang ada hubungannya dengan samurai bebas. Seorang penyair pernah menuliskan bahwa di tempat lahirnya seorang pahlawan. Banyak di antara mereka yang asalnya petani. Di tengah masyarakat kecil itu berdiri Wisma Utama. dan tidak memedulikan pula siapa yang waktu itu memegang kekuasaan langsung. Kawachi dan Izumi. Namun. Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada para Yang Dipertuan Yagyu sendiri. Ini berarti tidak pernah terjadi perang di sini." kata Musashi. netcafe. Ia menginap di penginapan setempat dengan maksud bersantai sementara. tidak ada pasukan musuh yang membakar atau menebangi hutan. pada suatu hari ia keluar berjalan-jalan dengan Jotaro. Suaranya sejernih kristal. Orang bilang air itu air ideal untuk membuat teh. yang mengingatkan orang kepada benteng kuno. Unsur-unsur yang mengganggu tidak dibiarkan memasuki kehidupan masyarakat. kemudian menjadi pembantu yang setia dan cakap.property of: CROSSFiRE. demikian juga nenek moyang Yang Dipertuan. "Sejak meninggalkan Mimasaka." "Lalu kenapa? Apanya yang lain?" "Pertama. bersamaan dengan itu. juga pegawai-pegawai yang dapat dipercaya untuk membantu dan membimbing mereka. sama dengan ketika ia yang mengurusnya. sebuah nama yang diwarisi dari zaman tanah perdikan." Jotaro tertawa. Ia menyebarkan kebudayaan di antara rakyatnya. Wilayah ini sama sekali tidak mirip dengan Nara. Penguasa yang sekarang seorang tuan tanah desa yang baik. sebuah puri yang menjadi lambang kemantapan pemerintah maupun pusat budaya daerah itu. dan sepanjang waktu siap melindungi wilayahnya dengan taruhan nyawa. Betul. pegunungan. sementara matanya mengembara memandang panenan di ladang dan para petani yang sedang bekerja. Inc. "Mengagumkan.

"Dia pukul aku!" pekik Jotaro. irigasi. Aku berani bertaruh yang dipertuan daerah ini kaya." "Rasanya tak ada yang istimewa. Dan apa tidak kau lihat bahwa kalau musafir lewat dengan pakaian yang baik. "Sudah jalan-jalan. para petani tidak melihatnya dengan perasaan iri?" "Ada lagi?" "Seperti kaulihat. Ia harus mempelajari segala macam hal—geografi. Anak-anak tumbuh sehat. sedang pemuda dan pemudi tidak pergi ke tempat-tempat lain untuk mencari hidup yang tak menentu. mereka pulang ke penginapan." jawab gadis itu. demikian Wisma Utama itu biasanya disebut orang. dan tidak hanya memberikan jawaban setengah-setengah. "Hanya itu?" "Tidak." Jotaro tertawa. dan banyak di antara orangorang yang berziarah ke Kuil Joruriji atau Kasagidera itu menginap di situ. perasaan rakyat. maka selagi mereka berjalan itu ia terus memberikan jawaban-jawaban yang mengandung pemikiran dan serius. Pokoknya. "Betul. tidak tahu nama sendiri. Musashi mengetahui bahwa di bak mandi ada orang-orang Ebook by Kang Zusi ." "Dan lagi. Sesudah mereka melihat apa-apa yang bisa dilihat di bagian luar Puri Koyagyu. Di tempat itu hanya terdapat sebuah penginapan. orang tua diperlakukan cukup hormat." "Kocha. tapi ia merasa perlu bersikap jujur kepada anak itu. karena ia mengenakan celana pendaki gunung. ya?" Kalau tidak melihat obi merahnya." "Lucu nama itu. kukira kau tak akan tertarik. dia ingin pergi ke semua tempat yang dapat didatanginya clan mempelajari segala yang dapat dipelajarinya. Dari pakaian yang terlipat di lantai kamar tamu." Musashi berangkat ke kamar mandi. Orang-orang yang berpikir demikian dan sudah puas hanya karena bisa makan dan punya tempat untuk tidur. Ladang di sini juga hijau. tidak hanya yang terjadi di luarnya. dan gandum yang baru tumbuh itu diinjak-injak bawahnya baik-baik untuk menguatkan akarnya dan membikin baik tumbuhnya. dan hidup di sini normal. hubungan mereka dengan yang dipertuan di wilayah mereka. tingkah laku dan adat kebiasaan mereka. Seorang pelajar yang serius jauh lebih berkepentingan melatih pikirannya dan mendisiplinkan semangatnya daripada sekadar mengembangkan keterampilan perang. sedangkan Jotaro yang merasa mendapat teman baru yang seumur dengannya lalu bertanya. sepuluh atau dua belas kuda beban selalu siap tertambat di pohon dekat pintu masuk atau di bawah tepi atap depan. Kakak datang kemari bukan untuk mengagumi pemandangan. Tanpa menantikan jawaban lagi ia mengatakan. Inc.property of: CROSSFiRE. Jalan di situ bagian dari jalan raya Iga. sedangkan pedang dan senapan dalam gudang senjata tetap tergosok dan berada dalam keadaan sebaik-baiknya. banyak gadis muda kerja di ladang. dan sesudah melihat dengan saksama segala sesuatu di sekitar lembah itu. Pada malam hari. sebenarnya cuma gelandangan. "Apanya yang lucu?" tanya Kocha sambil meninju Jotaro. netcafe. Ini berarti daerah ini makmur. Pembantu yang mengikuti mereka ke kamar bertanya." keluh Jotaro. Ia tidak memperlihatkan ketidaksabaran mendengar banyaknya pertanyaan anak itu. kan?" "Berkelahi itu bukan satu-satunya dalam Seni Perang. Dan dengar itu! Apa tidak kau dengar bunyi roda pemintalan? Bunyi itu seperti berasal dari tiap rumah. orang bisa menyangkanya anak lelaki. sekarang bisa terus mandi. "Siapa namamu?" "Tidak tahu aku. "Gila kamu. tapi penginapan itu besar. "Kalau mau. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam purl. Kakak mau melawan samurai dalam Keluarga Yagyu." Musashi sadar bahwa kuliah ini barangkali hanya sedikit artinya bagi Jotaro.

Gorozaemon dan Toshikatsu. tapi menurut Musashi mereka itu lucu. Dia tentu sudah mendengar tentang apa yang terjadi di perguruannya. kupikir tidak betul.property of: CROSSFiRE. yang terkenal di Ebook by Kang Zusi . yang waktu itu sudah menyandarkan kepala ke tepi kolam dan menutup mata. Ia sudah mendengar bahwa Denshichiro sedang mengadakan perjalanan ke Ise sewaktu ia singgah di Perguruan Yoshioka. Kulit punggung mereka putih dan otot-otot mereka lentur. tapi ketika melihat tubuh Musashi yang berotot. pasti dia keluar dari pintu itu dan kembali seketika dengan pedang. Seorang di antaranya langsung menatap Musashi. Dari percakapan mereka diketahui." "Menurut Shoda. Mengomentari sikap Sekishusai itu. para samurai tegap berpuluh-puluh tahun lamanya menempuh kehidupan pedesaan yang sehat dengan mempertahankan nilainilai kuno. memperbaiki segi-segi mereka yang lemah dan semakin kukuh kelebihannya. dan anaknya Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. Kadang-kadang ia merasa pepatah itu dapat berlaku sebaliknya. dulu. justru karena ini Sekishusai tidak membiarkan anak Kempo pergi tanpa menjawab suratnya. atau cuma mengarang-ngarang?" "Ah. Tetapi yang terjadi pada mereka adalah: selagi mereka mengawasi lautan terbuka luas. Bagaimana pendapatmu. dan bahwa ia tidak mungkin "sebaik yang dikatakan orang". ada seekor katak yang dengan mantap tumbuh makin lama makin besar clan kuat. dulu Osugi menjebakku dengan mandi. seorang guru besar dalam seni bela diri. tentunya dia tidak sebaik yang dikatakan orang. Di sini. Yang manakah? "Aku kurang beruntung dengan acara mandi rupanya. Mereka membasuh diri di luar kolam. begitu tiba. "Siapa namanya-samurai dari Keluarga Yagyu itu?" "Kalau tak salah. ketika Kempo menjadi guru para shogun. Ada juga anak-anak Muneyoshi yang lebih tua. "Pertama. karena cara bicaranya halus dan berbau kota. Hal itu mengingatkannya pada pepatah katak di dasar sumur. bahwa ia memutuskan untuk "tidak ambil risiko". yang tak dapat melihat apa yang terjadi di dunia luar. yang kegagahannya diakui oleh Ieyasu sendiri. Mereka rupanya puas sekali dengan diri mereka. Kalau dia tahu namaku Miyamoto. Koyagyu menghasilkan Yagyu Muneyoshi. Agaknya mereka orang kota. netcafe." pikir Musashi sedih." Tapi ketiga orang itu tidak memperhatikannya. di tempat lain. Sekishusai sudah mengundurkan diri dan tak pernah lagi bertarung. dia memutuskan untuk tidak ambil risiko". Inc. lain. Musashi masuk ke dalam bak mandi umum itu sambil melenguh nikmat. Ada tiga orang sedang berbicara dengan riangnya. dia menyebut nama Shoda Kizaemon. Yang jauh lebih mungkin adalah ketika dia mendengar anak kedua Keluarga Yoshioka menantangnya. Tubuh yang tingginya 180-an sentimeter itu menyebabkan air panas melimpah. dan karena itu pula ia mengirimkan Shoda untuk melakukan kunjungan kehormatan ke penginapan. "Setidak-tidaknya dia cukup bijaksana dengan mengirim buah dan mengatakan dia berharap kita dapat menikmati persinggahan kita di sini. mereka bertiga rasanya tidak memiliki apa pun selain kefasihan bicara. Ia menanggalkan pakaiannya dan membuka pintu masuk kamar mandi yang beruap." Yoshioka? Musashi mengangkat kepala dan membuka mata. Salah seorang dari mereka tentunya Denshichiro. ' Bersama dengan berlalunya waktu. Berangsur-angsur mereka menyambung kembali percakapan yang terputus. Entah karena apa. mereka mengirim surat pada Keluarga Yagyu. tanpa pakaian sama sekali. seakan-akan ada unsur asing telah menyerobot ke tengah mereka. dan sekarang. mereka berhenti bicara. di dasar sumur yang dalam. Berlawanan dengan apa yang sudah ia lihat di Puri Koyagyu dan keadaan penduduk daerah yang membikin iri hati itu. Karenanya Musashi menyimpulkan ketiga orang itu sedang dalam perjalanan pulang ke Kyoto. di Koyagyu. hal itu mengejutkan ketiga orang lainnya. Tak sangsi lagi. jauh dari pusat politik dan ekonomi negeri. aku bertemu dengan salah seorang Yoshioka. Anak-anak muda manja dari Kyoto ini punya kesempatan melihat apa yang terjadi di pusat segala sesuatu dan mengetahui apa yang terjadi di mana-mana. Agaknya Sekishusai pernah punya hubungan dengan Yoshioka Kempo. betul demikian. pemuda-pemuda kota tersebut mengatakan bahwa Sekishusai "bijaksana"." "Kalau Yang Dipertuan Yagyu mengirim pegawai untuk menyampaikan penolakan bertanding.

Tak lama kemudian Kocha membawakan makan malam dengan baki. dan cucunya Hyogo Toshitoshi yang prestasi-prestasi luar biasanya menyebabkan ia dapat menduduki jabatan yang besar gajinya di bawah Jenderal Kato Kiyomasa dari Higo yang termasyhur. Coba lihat. Di sana ia temukan Kocha yang tampak seperti anak lelaki itu sedang menangis. sementara gadis itu menyediakan makanan." Anak itu jadi semakin keras kepala. Musashi baru akan memakinya. "Pergi mandi sana!" "Saya tak suka mandi!" "Aku juga tak suka." pikir Musashi. tapi Musashi tidak begitu keberatan. Ditanggalkannya ikat kepalanya. Kak. dan mulailah ia menggosok kulit kepalanya. Denshichiro dan temantemannya buta karena keangkuhan sendiri. Keluarga Yagyu belum setara Keluarga Yoshioka." "Kamu bilang!" "Tuan. bohong!" teriak Jotaro marah. Memang tak boleh dia melakukan itu. "Tapi kamu begitu berkeringat. dari sudut yang lain." kata Musashi bohong. untuk melihat apakah aku dapat mengalahkan Yagyu yang bernama Ebook by Kang Zusi . Jotaro dan pelayan saling pandang. bagus!" Ketiga orang itu selesai mengeringkan dirt dan pergi. "Oh. karena Tuan sudah membunuh berlusin-lusin ronin di Dataran Hannya. begitu. tapi saya katakan. Akhirnya anak itu tidak jadi mandi." "Saya akan mandi di sungai besok pagi. Musashi mengeringkan badan. Musashi sibuk memikirkan maksud pribadinya untuk menemui Sekishusai. Itulah pertama kali selama berminggu-minggu ia bermewah-mewah dengan pencuci rambut yang baik. Dalam hal kemasyhuran dan nama baik. dan aku akan memarahinya. Melihat kedudukannya yang rendah. membasuh badan sepenuhnya. barangkali usaha ini terlalu berlebihan.property of: CROSSFiRE. kemungkinan saja. dan kembali ke kamarnya. Musashi merasa sedikit kasihan pada mereka. di Jepang tak ada yang lebih baik bermain pedang daripada yang dipertuan daerah ini. saya tidak bilang Tuan atau yang lain itu lemah." "Itu tak benar. lalu dia mulai menampar pipi saya. Tetapi dalam hal kecakapan. perbedaan itu hanyalah masa lalu. tapi kemungkinan. mengikat rambut. dia pukul saya!" "Ah. Bagaimana kalau kita panggil gadis-gadis buat menuangkan sake kita?" "Gagasan bagus! Bagus. yang masih juga mendongkol. Saya tidak bilang begitu. ya. Namun demikian. Inc. Ia pindah ke sudut tempat disalurkannya air ke dalam kamar itu. Kuharap kamu memaafkan kami. "Si tolol ini bilang Kakak lemah. enak. Sementara itu. dan mengguyur badan lagi dengan air panas. Jotaro sudah memprotes. kemudian diambilnya segenggam tanah liat. Mereka makan tanpa bicara. "haruslah dengan orang yang kuat. "Kalau aku beradu senjata dengan seseorang. "Kenapa kamu?" "Anak lelaki Tuan itu." kata anak itu. Anak bandel ini tadi membual bahwa Tuan pemain pedang terbesar di negeri ini. "Uh. hal itu bisa." "Memang enak. Bahkan ia menyukai watak Jotaro itu. orang-orang Kyoto itu menyelesaikan mandi. "Ya. sampai bau. Sesudah mandi. seluruh negeri karena keberaniannya." Musashi tertawa. sesudah makin terbiasa dengan Musashi. Ada manfaatnya membahayakan hidup ini. netcafe. Jo!" katanya keras.

hak miliknya mungkin dicabut oleh Ieyasu sesudah Pertempuran Sekigahara. sekalipun ia sedang makan nasi. Ketajaman pandangannya yang dikagumi orang banyak itu memang merupakan satu faktor kelebihan." Musashi sadar bahwa kebanyakan orang akan langsung menertawakannya. Bunyinya: Tak ada padaku cara cerdik Buat menempuh hidup. Di zaman baru yang sedang terbit ini. Dalam ceruk kamar duduknya tergantung sajak yang ditulisnya sendiri. Dan apa yang dikatakannya itu benar." Ini tidak dibesar-besarkan. ia mempertahankan penampilan dan tingkah laku samurai berpendidikan baik. ia ambil bagian dalam beberapa perang besar. jalan hidup dan terutama sikapnya setelah ia mencapai umur tua menyebabkan orang percaya bahwa ia akan dapat hidup sampai seratus tahun. kemungkinan ia bertabrakan dengan Hideyoshi. hingga sekarang ia tak lain dari menyerupai derek megah." ujar Sekishusai dengan sederhananya. Mereka semua cenderung berpihak pada seseorang di suatu hari dan secara tak kenal malu meninggalkannya pada hari berikutnya." pikir Musashi yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan. "Aku sudah berbuat sebaik-baiknya dengan berkukuh pada tanah ini. Anaknya dinas di istana shogun.property of: CROSSFiRE. maupun permohonan yang berulang-ulang dari Nobunaga dan Hideyoshi untuk menggabungkan diri dengan mereka. termasuk pemberontakan Miyoshi dan pertempuranpertempuran yang menandai bangkit dan jatuhnya Keluarga Matsunaga dan Oda. Sementara itu. dan ia merawat tanahnya yang berpenghasilan lima belas ribu gantang itu demikian rupa hingga nanti ia dapat menyerahkannya pada keturunannya dalam keadaan baik. Aku hanya mengandalkan diri Pada Seni perang." demikian ia suka mengatakan. "Ini merupakan ujian sejati. "Yang mati umur dua puluhan dan tiga puluhan biasanya terbunuh dalam pertempuran. Walaupun bukan salah seorang daimyo penting. Giginya masih lengkap dan matanya tajam luar biasa. demi kepentingannya sendiri tanpa memikirkan kesopanan ataupun ketulusan—atau bahkan membantai sanak saudara sendiri yang mencampuri ambisi pribadi. Ebook by Kang Zusi . "Keluarga Yagyu selamanya berumur panjang. Lainnya hidup sampai melebihi enam puluh tahun. karena ia punya pikiran seperti itu. Bunga Peoni KEMULIAAN orang tua itu tumbuh bersama berlalunya waktu. Pada umur empat puluh tujuh. Yagyu pemilik puri. ia mungkin menjadi korban Nobunaga. netcafe. namun ia menolak untuk terlibat dalam pertempuran yang sering terjadi pada pusat-pusat kekuasaan dan intrik itu. Sekishusai sendiri percaya benar akan hal ini. Pada zaman tidak menentu ini. Semenjak itu belum ada yang dapat mengubah tekadnya. tetapi untuk dapat tetap tegak dalam zaman yang demikian bergolak. Sekishusai harus memiliki kekuatan dalam yang tidak dimiliki oleh samurai biasa pada zamannya. hampir tak dapat dipercaya bahwa puri kecil ini berhasil tetap tegak secara lengkap. Ia lebih suka tinggal di Yagyu. dan seluruh keluarganya mendalami tradisi kelas prajurit. Tak ada gunanya mengikuti Jalan Pedang jika aku tak punya keberanian mencoba. besar itu." demikian sering kali ia meyakinkan semua orang." Di antara peperangan yang tak terhitung jumlahnya. Ia menulikan telinga terhadap desakan shogun Ashikaga Yoshiaki. dan sekiranya ia dulu membantu Nobunaga. Sungguhpun misalnya Sekishusai tidak dilahirkan dalam keluarga seperti itu. Sekiranya ia dulu membantu Yoshiaki. ketika para pemimpin bangkit dan jatuh begitu cepat. seperti beruang di dalam gua. Inc. Namun ia belum meninggalkan Seni Perang itu sendiri. "Aku tak dapat berbuat seperti itu. karena alasan-alasan pribadi ia memutuskan untuk meninggalkan peperangan. merekalah yang mengendarai puncak waktu. Sekiranya ia menerima perlindungan Hideyoshi. Sekishusai pernah mengatakan. Sekalipun ia hidup hampir dalam bayangan Kyoto dan Osaka. "Aku akan hidup sampai seratus tahun.

netcafe. Kemudian diingatnya bahwa pada kesempatan itulah pertama kali ia melihat Seni Perang sejati. Inc. Sekishusai menolak kehormatan itu dengan alasan umur. Ia membawa serta anaknya yang kelima. Karena harga dirinya terluka. dan In'ei pun menyampaikan pada Sekishusai tentang tamu itu. yang memungkinkan seorang pemimpin memerintah dengan bijaksana." Tanpa berpanjang-panjang lagi ia pun menyerang dan mengalahkan Sekishusai untuk ketiga kalinya. dan selama itu Sekishusai belajar sepenuh hati bak seorang yang baru mulai. Itulah permulaan hubungan mereka. Di samping gambaran tentang teknik-teknik pedang tersembunyi Gaya Shinkage. dan Anda mesti mencoba mengusahakannya sampai sempurna. Dengan ini lahirlah Gaya Yagyu. Atas desakan kuat Sekishusai. mau tak mau Sekishusai merasa harus menerimanya dan keluar dari keterpencilan tenteram yang berpuluh tahun lamanya itu untuk melakukan kunjungan pertama ke istana shogun. Anda masih muda. "Oh. Pada ulang tahun meninggalnya Yang Dipertuan Koizumi. Kalau Anda melakukan itu. Itu perlindungan terakhirku. Seni Perang memang alat untuk memerintah rakyat. kemudian katanya. Ieyasu tidak hanya membenarkan prajurit tua yang patut dimuliakan itu dalam hal pemilikan tanah. Sekishusai menyambutnya dengan mata jernih tak terusik. Sekishusai tak pernah lupa menghaturkan persembahan makanan bagi semua harta milik yang sangat berharga itu. Gambar-gambar itu menunjukkan orang-orang yang sedang bertarung dan bermain pedang dalam segala posisi dan langkah yang mungkin. Melihat langkah baru itu. karena ayahnya juga menurunkan pengetahuan taraf tinggi dalam Seni Perang. dan pada suatu hari ia tiba di Hozoin. Ketika akhirnya mereka berpisah. Hikida Bungoro dan Suzuki Ihaku waktu itu sedang mengembara mencari ahli seni perang. pada hari ketiga Sekishusai memusatkan usahanya pada cara baru. itu tak bisa. "Jangan. Menurut Sekishusai. Sekishusai senang membuka-buka gulungan itu dan memeriksa isinya. Tidak hentihentinya ia merasa kagum dapat menemukan betapa terampil gurunya memainkan kuas. Surat keterangan yang diberikan kepadanya oleh Yang Dipertuan Koizumi untuk membuktikan penguasaannya atas ilmu pedang Gaya Shinkage. dan mulailah ia bertanding tepat sesuai yang dikatakannya. Yang Dipertuan bersama dua kemenakannya. Ketika Yang Dipertuan Koizumi datang lagi berkunjung. semuanya hasil tangan Yang Dipertuan Koizumi sendiri. tetapi ia pun alat untuk mengendalikan diri. Hari kedua terjadi hal yang sama. Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. dan akhirnya sampai pada jawaban yang memuaskan dirinya. Yang Dipertuan Koizumi mengatakan. Ketika diundang Ieyasu untuk mengunjungi Kyoto. akan sia-sia saja. Ini dipelajarinya dari Yang Dipertuan Koizumi. Pada gilirannya hal itu melahirkan cara hidup damai Sekishusai di umur tuanya. tetapi memintanya menjadi guru dalam seni perang bagi Keluarga Tokugawa. Koizumi hanya mengatakan. dan menyarankan agar mereka bertanding. selalu disimpan di sebuah rak kamar Sekishusai bersama empat jilid buku pegangan teknik militer yang dihadiahkan kepadanya oleh Yang Dipertuan. yang berumur dua puluh empat tahun. buku pegangan itu berisi gambar-gambar ilustrasi. Yang Dipertuan Koizumi tinggal di Koyagyu selama enam bulan. saya akan melakukan ini. dan minta Munenori ditunjuk menggantikannya. meninjaunya dari segala penjuru. Sejak hari itu Sekishusai meninggalkan pendekatan congkak atas ilmu pedang." Kemudian ia menghadiahi Sekishusai surat keterangan dan buku pegangan empat jilid itu. Yang Dipertuan memperhatikannya dengan saksama sesaat lamanya. "Jalan ilmu pedang saya masih belum sempurna." Kemudian ia memberi Sekishusai sebuah tekateki Zen: "Apakah artinya main pedang tanpa pedang?" Bertahun-tahun lamanya Sekishusai merenungkannya. Ieyasu setuju. Bahkan dalam masa pensiunnya pun. Itulah zaman ketika In'ei sering kali berkunjung ke Puri Koyagyu. Warisan yang dibawa Munenori ke Edo itu lebih dari sekadar kecakapan hebat dalam seni bela diri. Munenori. Apabila Sekishusai memandang gambar-gambar itu. ia merasa para pemain pedang itu turun dari langit dan bergabung dengannya di rumah pegunungan yang kecil itu. Dalam pertandingan pertama Koizumi menyebutkan di mana ia akan menyerang. Yang Dipertuan Koizumi pertama kali datang ke Puri Koyagyu ketika Sekishusai berumur tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun dan masih meluap-luap ambisi militernya. Anda sudah menemukan kebenaran. yang sering dinamakan dewa pelindung rumah tangga Yagyu. dan cucunya Hyogo yang waktu itu baru berumur enam belas. Sekishusai dan Koizumi melakukan pertandingan tiga hari berturut-turut.

Permainan suling gadis itu pun sangat menyenangkan hatinya." "Sama sekali tidak. Selagi Sekishusai dan Otsu bicara tentang susunan bunga. Lihat itu! Bungaku sama sekali tidak mati. Ia melihat Otsu sangat disukai tuannya. Atau. "Bagaimana pendapatmu? Apa susunan bungaku cukup hidup?" Otsu yang berdiri di belakang orang tua itu berkata. Kini hampir sepanjang waktu ia mengenakan topi itu dan sangat menghargainya. Sekalipun ia mencintai hidup mengasingkan diri menurut ajaran Tao. tapi hidup di tempat terpencil ini. Tuan jauh lebih dekat kepada beliau daripada saya." Sebagai gantinya. Sudahlah. namun ia senang mendapat teman gadis yang dibawa Shoda Kizaemon untuk bermain suling baginya. Aku bukan bangsawan Kyoto. tetapi ia selalu memintanya tinggal sedikit lebih lama. gadis itu juga menambahkan sentuhan kemudaan dan kewanitaan yang menyenangkan bagi rumah tangganya. Mengerti tidak. aku baru saja kembali dari menjalankan perintah. sama seperti waktu dipetik. Sekali-sekali gadis itu mengatakan hendak pergi dari situ. seakan-akan tak ada barang yang lebih dari itu di mana pun. Misalnya ia senang sekali ketika gadis itu membuatkannya topi kain kecil seperti yang biasa dipakai tukang teh. Apa tidak lebih baik Tuan menghadap langsung kepada beliau daripada lewat saya?" "Kukira pendapatmu itu betul. netcafe. sopan. bunyi sulingnya yang indah mengalun itu sering kali terdengar sampai ke puri." Otsu tampak terkejut. ia merasa sangat beruntung. seperti Tuan Ebook by Kang Zusi . "Akan kuajarkan padamu upacara minum teh. Hampir seketika itu juga Otsu kembali untuk mengatakan bahwa Sekishusai minta Kizaemon masuk. dan karena semua itu hanya diawali oleh pertemuan kebetulan saja di jalan raya. Kizaemon mendapati orang tua itu di kamar teh." demikian katanya. Otsu tertawa." Kizaemon senang dengan perubahan yang terjadi di situ. dan tidak pernah mengganggu. aku lebih suka mendengar sajak-sajak sederhana tentang alam. Saya cuma orang luar yang diundang bermain suling. kamu sudah kembali?" tanya Sekishusai. Saya sudah mendatangi mereka dan menyampaikan surat dan buah itu kepada mereka. tapi Kizaemon ragu-ragu." "Kenapa?" "Tuan kan abdi utama di sini. Tidak hanya dalam permainan suling ia amat menyenangkan. dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru. karena gadis itu penuh perhatian. "Jadi. yang tak terpikirkan oleh orang lain. Sekishusai tinggal di rumah pegunungan karena ia tidak lagi menyukai puri yang mencolok dengan segala hiasannya yang rumit itu. Otsu keluar dan mempersilakan Kizaemon masuk. semua itu cuma soal semangat. Pada malam-malam terang bulan. tapi di rumah kecil ini kamu orang khusus. Aku tidak menggunakan peraturan-misalnya bagaimana memilih bunga-bunga itu dengan ujung jari atau mencekiknya di leher." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang.property of: CROSSFiRE. Sambil mengatur letak terakhir bunga peoni tunggal yang dimasukkannya dalam jambangan buatan Iga. "Bisa kau membuat sajak Jepang? Kalau bisa. Inc. "Apa betul Bapak menyusun bunga seperti menggunakan pedang?" "Ya. diam-diam Kizaemon datang di pintu masuk rumah pegunungan itu dan memanggil Otsu. coba ajarkan padaku gaya sajak istana. mengenakan topi kain buatan Otsu. Soalnya cuma bagaimana menunjukkan semangat sewajarnya-bagaimana membuatnya tampak hidup. ini namanya terbalik." katanya. gadis itu melakukan hal-hal kecil baginya. "Ya. "Tolong sampaikan kepada Yang Dipertuan. "Oh." Otsu merasa orang tua yang cermat ini telah mengajarkan banyak hal yang perlu ia ketahui. Man'yoshu memang bagus dan apik. "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga. Sekishusai bertanya kepada Otsu. sampaikan kepada beliau." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar.

" "Aku benci orang seperti itu. kemudian membiarkannya pergi membawa kekalahan. namun perempuan-perempuan kelas atas dan menengah di daerah masih menghargainya. tak ada artinya menerima tantangannya. kamu pergi. aku heran kalau dia mengesankan." "Yang ada di Wataya itu Denshichiro. Di kandang kuda yang terletak di pekarangan luar puri itu. Mari kita lihat apa jawabnya.. seorang utusan datang dari penginapan. Inc." kata Otsu. dan katakan kamu datang mewakili aku karena aku sedang pilek. menyatakan tak bisa menerima mereka. tak hendak mereka pergi sebelum melihat dojo. Sudah kukirim orang.property of: CROSSFiRE. Orang muda itu rupanya menyangka karena dia anak Kempo." "Baik. Tentang diriku. apa yang hendak kita lakukan?" "Yang terbaik adalah kalau kita mencoba meredakan hatinya dan membuatnya merasa bahwa dia diperlakukan sesuai perlakuan terhadap anak satu keluarga besar." Sekishusai cepat menulis sepucuk surat sederhana. Anak-anak orang terkenal itu biasanya terlalu tinggi menilai dirinya. Isinya." "Kalau begitu. "Apa mereka sudah pergi?" "Belum. mereka tetap saja memaksa. Besok pagi saja. Begitu saya kembali di sini." "Tidak." "Oh. Kelihatannya keluarga itu merosot terus sejak itu. karena itu dia mendesakkan terus tantangannya." "Denshichiro ini rupanya terlalu percaya diri. Tukang kuda yang sedang sibuk bersih-bersih bertanya. karena mereka telah datang di Yagyu ini. netcafe." "Tampaknya anak-anak Yoshioka itu memang tak becus seperti yang dikatakan orang. dia punya hak untuk tidak ditolak masuk sini. "Kupikir perempuan lebih baik. membawa surat. Otsu kemungkinan orang yang tepat untuk itu. tapi tak ingin aku membebani Munenori atau Hyogo dengan hal seperti itu. mereka itu cenderung mencoba dan memutar balik segala sesuatu untuk keuntungan sendiri. ia melanjutkan. "Apa saya mesti pergi sekarang?" "Tidak. Bagi saya dia memang tidak mengesankan. Kalau dia memang ingin sekali datang.. Ketika aku pergi ke Kyoto bersama Yang Dipertuan Koizumi. tak usah buru-buru. dan tidak ada orang sama sekali di sini?" "Sudah. tak ada persoalan. Walaupun kerudung sudah tidak model lagi di Kyoto. seperti surat yang ditulis seorang ahli upacara minum teh. Hyogo di Kumamoto. Dari sudut pandang kita. Ayahnya memang orang yang punya watak. bahkan juga di lapisan masyarakat yang lebih tinggi. "Apa sudah kamu jelaskan bahwa Munenori ada di Edo. disertai sekuntum bunga peoni seperti yang ia susun dalam jambangan. mereka akan datang besok." "Saya tak tahu apa." Sambil mengalihkan pandangan kepada Otsu. kami bertemu dia dua-tiga kali dan minum sake bersama-sama." "Lancang benar orang tak tahu adat itu! Kenapa pula mereka begitu mengganggu?" Sekishusai tampak jengkel sekali. Kalau kamu hendak mengalahkannya. perintahkan. Barangkali keliru mengirim orang lelaki untuk bertemu dengannya. kamu mesti mengerti bahwa dia pasti akan mencoba menghancurkan nama baik kita di Kyoto." Pagi berikutnya Otsu mengenakan kerudung panjang. Lagi pula. barangkali saya sendiri yang akan melayani. dan menyerahkannya kepada Otsu. berpikir seperti itu saja pun jangan. ya?" Ebook by Kang Zusi . Kalau mungkin. "Oh. Otsu meminjam kuda. Mereka juga mengatakan ingin bertemu dengan Tuan dan menyatakan hormat mereka. "Berikan ini padanya.

Otsu telah membikin suasana jadi sedikit hiruk di antara para musafir. Kuda-kuda yang dulu biasa saya naiki di Mimasaka masih liar. bukan?" "Silakan tunggu sebentar. "Silakan masuk. Saya suka kuda. netcafe." Dalam waktu singkat selama ditinggalkan Kocha itu. mereka pun terkejut. "Ya. maaf. karena telah mengirimkan salam lewat surat dan bukannya menjumpai Anda sendiri. Ia dapat mengendarai kuda dengan baik.property of: CROSSFiRE. Kekaguman serta rasa hormat kepadanya pun menjalar kepada Otsu. "Oh. Otsu turun dan menambatkan kudanya ke pohon di halaman." 'Tak apa-apa?" 'Tentu saja tidak. yang waktu itu sibuk mengenakan legging dan sandal serta mengikatkan bawaannya ke punggung. sampai kemudian ia mengikuti Kocha dan menghilang dari pandangan. "Siapa itu?" tanya seorang. Kamarnya berantakan. dan dengan tangan lain mengendalikan kuda dengan terampilnya." "Ah." Ia membaca gulungan yang tidak lebih dari sekaki panjangnya itu. disuruh Tuan. Denshichiro dan teman-temannya baru saja bangun. Memang. karena dalam waktu yang singkat di sana itu Otsu sudah cukup dikenal oleh rakyat setempat." kata Otsu sederhana. saya datang dari Puri Koyagyu membawa surat untuk Yoshioka Denshichiro. saya baca." Ketika Otsu berkuda." Dengan wajah amat menyesal mereka meluruskan kimono dan duduk baik-baik. tapi sayang sekali saya sedang sedikit pilek. Saya kirimkan bunga ini lewat tangan sekuntum bunga pula. "Mau menginap?" "Tidak. ini suratnya? Ya.." "Saya datang kemari diutus oleh Yang Dipertuan Puri Koyagyu. Bunyinya: Maafkan saya. Sesampai di Wataya. Saya pikir sekuntum bunga peoni yang putih bersih akan lebih menyenangkan bagi Anda daripada hidung ingusan seorang tua. "Saya persilakan membaca surat ini sekarang juga. silakan masuk. membuat para tamu yang hendak pergi berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh perhatian. Para petani di situ semuanya tahu bahwa seorang perempuan muda yang cantik datang untuk bermain suling bagi tuannya.. bersimpuh sedikit kaku. mereka menyangka utusan itu adalah orang yang datang hari sebelumnya." "Saya temani?" "Tak usah. dengan harapan bahwa Anda akan menerima maaf Ebook by Kang Zusi . dengan sebelah tangan ia memegang surat dan bunga peoni yang sudah sedikit layu. kerudung cokelatnya yang kemerahan mengapung wrtiup angin di belakangnya. Melihat Otsu membawa bunga peoni putih. Inc. hubungan mereka dengan Sekishusai jauh lebih bersahabat daripada yang biasa terjadi antara tuan tanah dan para petani. Dia masih di sini. atau hampir-hampir liar. karena malam harinya mereka minum sampai larut. Surat ditulis dengan tinta tipis dan menyebarkan sedikit bau teh. sambil meletakkan surat dan bunga peoni itu di hadapan Denshichiro. ya. dan keelokannya yang anggun dan jarang ditemui orang di pedesaan. "Selamat datang!" kata Kocha menyambutnya. Para petani dan pekerja di ladang melambaikan tangan kepadanya. "Menurutmu siapa yang akan dia temui?" Kecantikan Otsu. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa seorang utusan telah datang dari puri. saya harus pergi ke Wataya.

beliau merasa suguhan teh akan terasa kasar. cepat sekali. "Tidak. Begitu sampai di lorong rumah. dan kini beliau punya kebiasaan mengungkapkan banyak buah pikirannya dengan istilah-istilah upacara minum teh. Tapi beliau sekarang sedang menghabiskan umur tuanya dengan menyendiri. mau. “Ya. ia dapat bertemu dengan Sekishusai." Dan dikembalikannya bunga peoni itu kepada Otsu. atau kalau Anda naik kuda. "Anda tak suka ini? Beliau merasa bunga ini akan menggembirakan dalam perjalanan. dengan kecewa ia kembali ke kamar Musashi. Kocha pergi ke petak pembantu dan memperlihatkan bunga itu pada semua orang di sana. "Aneh! Sampaikan pada beliau. Musashi duduk di jendela sambil bertopang dagu. "Hanya ini?" tanyanya.” kata Kocha sambil mengulurkan tangan. karena tak ada orang lain di sana kecuali prajurit-prajurit yang tak kenal enaknya teh. sehingga bisa menimbulkan tawa di bibir orang-orang ibu kota kekaisaran. “Mau pulang?” tanyanya." "Ha." "Beliau maksudkan ini sebagai tanda mata?" Denshichiro menundukkan mata seakan-akan terhina. Otsu meninggalkan tempat itu dengan berat. kami tak tahu apa-apa tentang teh. Kocha keluar dari kamar Musashi dan berlari mengejarnya. Sekishusai mengira yang kami inginkan adalah menyaksikan indahnya upacara minum teh. Beliau mengatakan Anda dapat menggantungkannya di sudut joli Anda. beliau juga mengatakan. dan kedua. kemudian dengan wajah masam ia berkata. ya?” Melihat tangan Otsu. tuan-tuan rumah itu hampir tidak melihat kepergian Otsu.” “Ya. "Kalau benar penangkapan saya. Beliau minta saya menyampaikan maaf kepada Anda. karena kami berasal dari keluarga samurai. “Apa itu bunga peoni? Saya baru tahu ada yang putih warnanya. Denshichiro menjawab. saya. dan menyampaikan kepada Anda pula bahwa beliau berharap bertemu dengan Anda pada kesempatan lain nanti. Inc. Saya sangsi akan memperlihatkan muka. mengalahkannya dengan pedang. demikian kesimpulan Otsu. Boleh ambil kalau kamu suka." Dengan sikap muak yang tampak jelas sekali. Terus terang saja. Denshichiro mendengus jijik dan menggulung surat itu. Karena Munenori berada di Edo. Ia memandang ke arah puri dan berpikir keras tentang tujuannya: bagaimana caranya agar.property of: CROSSFiRE. Karena marah. bahwa kalau kami datang lagi nanti." "Beliau mengerti benar soal itu. beliau tidak memberikan pada kami pilihan lain kecuali menerima.” ”Oh. Dengan janji akan menyampaikan pesan itu. Karena tak seorang pun mengaguminya. tak ada gunanya mendesaknya menerima hadiah itu. Tolong sampaikan pada beliau. pertama. sudah selesai urusan saya. beliau ragu-ragu mengundang Anda datang ke rumah. kami ingin bertemu dengan beliau. tentu saja. Mudah-mudahan Anda dapat tersenyum maklum kepada orang tua ini. ha!" ucap Denshichiro seraya memperlihatkan wajah curiga. Dipandangnya lantai hitam mengkilat yang menuju kamar tinggal Musashi. menggantungkannya di sadel. kami punya peoni sendiri di Kyoto!" Kalau memang demikian perasaannya. ia bertanya. Otsu tertawa pelan sendiri. Maksud kami sebenarnya adalah menanyakan secara pribadi kesehatan Sekishusai dan membujuk beliau untuk memberikan pelajaran ilmu pedang pada kami. seberat kalau ia mesti membuka perban dari luka yang terbuka. Ini dari halaman puri. meskipun ingin minum teh dengan Anda. Tubuh saya yang sudah sangat tua ini kini berada di luar kehidupan sehari-hari. Ebook by Kang Zusi . lalu ia membelok ke jurusan lain. netcafe. Sesudah berpisah dengan Otsu. "Yah.” “Oh.

Selesai membujuk gadis itu agar tidak menangis lagi. kamu saja. Lalu kamu pikir bunga itu dari puri?" "Ya. bunga sudah bisa disusun sekarang. Kalau kubelikan kamu kue nanti.” “Baik. Lebih baik menyusunnya tanpa berpikir bagaimana jadinya. peoni putih." "Siapa yang memberi?" "Orang dari puri. ketika melihat gadis yang kebingungan itu. Akhirnya. Nanti kalau kamu dirikan. ia sudah melepaskan bunga itu dan mencucurkan air mata. Bagi Kocha." "Salah seorang samurai itu?" "Tidak. Bunga ini pemberian orang. Tuan saja yang menyusun. seorang perempuan muda. ia minta maaf dan membelai-belai kepalanya. netcafe. tapi kurang berhasil. saya akan ambil air.” “Ini namanya peoni. “Tuan suka bunga?” tanya Kocha ketika masuk. Ia tampak tenggelam sepenuhnya di situ. Belum lagi sadar akan apa yang terjadi. mau kamu memaafkan aku? Biar bagaimana. Coba masukkan dalam jambangan.” “Tuan suka?” “Ya. Musashi memungut potongan batang bunga yang telah diirisnya dan mulai membandingkan ujungnya dengan ujung yang lain.property of: CROSSFiRE. Inc. bagus ini. dia yang mengatakan. Secara kebetulan mata Musashi tertuju pada pangkal batang peoni yang terpapas. Kepalanya miring terkejut. “Hmm.” kata Musashi. akan tampak pantas. memekik keras.” “Betul? Kenapa tidak kamu masukkan jambangan di sana itu?” “Saya tak bisa menyusun bunga. “Batangnya terlalu panjang. Minat yang hanya sambil lalu itu telah berubah menjadi pemikiran asyik ketika Kocha kembali. Sungguh ajaib. “Bunga?” Dan ditunjukkannya bunga peoni itu. memotong pangkal bunga yang ada di antara kedua tangan Kocha." Ebook by Kang Zusi ." "Maaf aku sudah bikin kamu takut tadi.” “Tidak. "Kamu tahu. walaupun belum dapat ia memastikan apa gerangan yang memikat perhatiannya itu. biar kupotong. Kocha meletakkan jambangan dalam ceruk kamar dan mencoba memasukkan bunga itu ke dalamnya. siapa yang memotong bunga ini?" "Tidak.” kata Kocha sambil membawa jambangan itu keluar. ia bertanya. dan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. kilas baja dan bunyi pedang yang mendetak masuk kembali ke dalam sarungnya itu seakan-akan terjadi serentak. karena dalam sekejap mata Musashi sudah menghunus pedang pendeknya. Tanpa mencoba menghibur gadis yang ketakutan itu." "Mm. Kocha membawa bunga itu dan menyampaikannya kepada Musashi. “Bawa kemari.

" Dan tiba-tiba saja keyakinan dirinya buyar. dan kelihatan olehnya seorang anak muncul dari rumpun pohon di kaki sebuah batu karang. Ia yakin potongan yang pertama tidak dibuat dengan gunting atau pisau. maka potongan itu hanya mungkin dilakukan dengan pedang. betul. Ia meninggalkan kamar itu dan tak ingin kembali sampai tugas benar-benar memaksanya. Sudah berapa lama kamu di sini?" "Baru kemarin datang. maka taraf Keluarga Yagyu tentunya lebih tinggi lagi daripada yang kuduga. Otsu sendiri sedang dalam perjalanan pulang ke Puri Koyagyu. ketika tiba-tiba didengarnya pekikan parau di belakangnya. orang-orang Yagyu itu lawan yang layak. bukanlah orang biasa. Pandangan matanya kembali ke bunga di dalam ceruk kamar. Sekali lagi ia mencoba mencari jalan untuk memperoleh izin masuk purl. belum tentu Sekishusai setuju bertanding." "Menangis? Saya tidak menangis!" "Ya sudahlah. Inc. Pemilik penginapan itu cukup banyak bercerita. dan hanya hantaman yang sangat mantap saja dapat membuat irisan yang demikian bersih. Ia bertanya pada diri sendiri. Ia menoleh." Sementara duduk memanas-manaskan keberaniannya. netcafe. Musashi jauh lebih terpesona oleh potongan batang bunga yang delapan inci panjangnya itu daripada oleh bunga di ceruk kamar. "Kamu!" seru Otsu. "Jika seorang samurai yang bekerja di kebun puri dapat melakukan potongan seperti itu. waktu kedua ujung potongan itu dibandingkan. maka Otsu sengaja menghentikan kudanya. kan? Lalu kenapa pakaianmu kamu tanggalkan?" Ebook by Kang Zusi . ia berkata. Rambutnya basah dan pakaiannya digulung bulat terkepit di ketiaknya. karena secara tak sadar ia diingatkan oleh bunga itu. Memandang wajah Otsu dalam mata pikirannya itu menenangkan semangatnya dan menyejukkan sarafnya. "Anak kecil yang menangis di jalan raya Yamato itu. Kamu bilang sedang belajar seni pedang." "O ya. tak ada lagi yang mesti ditantang kecuali Sekishusai sendiri. dengan guru saya. Sekalipun ia sendiri baru saja mencoba meniru potongan itu dengan pedangnya. Tanpa malu. Batang bunga peoni itu lentur dan luwes. sekadar untuk memenuhi keingintahuannya. Apa Kakak masih tinggal di sini?" Ia memandang kuda Otsu dengan sikap tak suka. tapi karena anak-anak di wilayah itu terlampau pemalu untuk menyapa seorang perempuan muda seperti dirinya. "Bagaimanapun. segera ia sadar bahwa potongan yang dilakukannya masih kalah jauh. "Begini?" "Ya. "Anda kan Kakak yang main suling itu. "Aku sama sekali belum siap. tapi kilasan pedangnya itu membikin tubuhnya dingin sampai ke tulang sumsum. Jotaro telanjang bulat. apa gerangan makna yang tersembunyi di situ. Dan karena Munenori maupun Hyogo tak ada di rumah. termasuk mati. Anak itu jelas datang untuk menemui Otsu.property of: CROSSFiRE. Aku toh sudah memutuskan bersedia menghadapi apa pun. Tapi bagaimana ia bisa melakukannya? Biarpun seorang siswa sudah datang di ambang pintunya dan memperkenalkan diri baik-baik. bagus itu. Kalaupun aku kalah nanti. Siapa pun yang telah melakukannya." Sebenarnya Kocha menyukai Musashi. kemudian langsung memandang Otsu. aku dapat menjatuhkan diri ke kaki mereka dan menerima kekalahan dengan keanggunan. ia merasa dirinya jadi tambah bersemangat." Namun selangkah demi selangkah ia pulih kembali dari perasaan itu." "Sendiri?" "Tidak. Mulailah terbentuk di hadapan matanya bayangan seseorang. walaupun telanjang. Perbedaannya seperti patung Budha hasil ukiran ahli dan patung buatan tukang kebanyakan saja. sebelum akhirnya memalingkan muka karena malu.

" Dojo Yagyu dapat dengan tepat dilukiskan: megah. kalau begitu pendapat Kakak. dan dibangun kembali kira-kira waktu Sekishusai berumur empat puluh tahun. tapi jangan sampai kamu tampil seperti sekarang ini. netcafe." "Lalu?" "Dia cuma mengembalikannya pada saya. "Di mana kamu tinggal?" "Di Wataya. datanglah ke tempatku di puri sekali-sekali." "Kalau begitu." "Sayang sekali Kakak tidak bertemu kami. Bangunan itu pun cukup luas untuk dipakai sebagai barak para samurai di masa perang. Sekishusai tertawa. "Yang enteng! Bukan dengan ujung pedang! Dengan tekad. dengan tekad!" demikian Shoda Kizaemon Ebook by Kang Zusi . tapi katanya. karena itu saya ke sungai." "Kalau begitu." "Dia tidak memeriksanya atau mengatakan sesuatu tentangnya?" "Tidak." "Dia tidak melihat batangnya?" "Setahu saya tidak. ia bertanya. memang sudah benar aku menolak bertemu dengan dia." Otsu mendecap. Bagaimana kalau kembali lagi dengan saya sekarang?" "Tak bisa sekarang. Sesudah mengembalikan kudanya ke kandang. "Apa bunga peoni itu kamu buang?" Otsu menjelaskan bahwa bunga itu telah ia berikan kepada pembantu di penginapan. Saya tak suka tempat-tempat yang orangnya cerewet." "Bukan berenang. Aku sedang disuruh. "Oh. Senyuman masih tampak pada wajahnya ketika ia mengendarai kudanya melewati gerbang puri. Kilau kayu yang terbentuk bertahun-tahun lamanya itu mencerminkan kekerasan orangorang yang telah memperoleh latihan di situ. "Ya. ia sudah menyayangkannya. boleh." "Lho. Guru saya bilang. Jadi. Tak ada yang bisa mereka perbuat dengan itu. katanya. "Apa anak Yoshioka itu memegang bunga itu dan melihatnya?" tanyanya. "Jotaro. "Jadi." Otsu merasa lega." "Apa boleh saya datang?" Baru saja Otsu mengucapkan kata-kata itu. "Ya. Balok kekar yang dipergunakan untuk membangunnya memberikan kesan tak terhancurkan. Inc. mereka marah! Bagus! Biar mereka marah. dan Sekishusai mengangguk setuju. Ketika dia membaca surat itu. aku baru dari sana. keringat saya bau. Tak ada gunanya dia ditemui. Dojo itu terletak di pekarangan luar puri. tak mau saya ke sana.property of: CROSSFiRE. saya mandi." Sejenak kemudian. selamat berpisah!" kata Jotaro dan terus membalik untuk pergi. Orang di sini bisa tertawa mendengar orang berenang musim begini. seakan-akan teringat sesuatu. Keluarga Yoshioka itu boleh dikatakan sudah berakhir dengan matinya Kempo. "Mana mungkin saya terjun ke sungai dengan pakaian lengkap?" "Sungai? Tapi air sungai tentunya sedang membeku sekarang. ia pergi melapor ke Sekishusai.

tidak pernah dipuji. namun kedua orang itu memilih tinggal di Yagyu. namun masih dapat menghilangkan telinga atau mengubah hidung menjadi buah delima. dan orang-orang yang kini bekerja pada Yagyu adalah hasil saringan yang sangat cermat. meraungkan perintah-perintah marah kcpada dua pemain pedang yang bercita-cita tinggi. dan dijadikan sasaran caci-maki yang tidak sedikit. netcafe. yang sekalipun sudah setengah sadar dan mandi keringat. Lagi pula. Kizaemon bertanya. "Hei. dan kini ia dapat bicara dengan bangga tentang "Gaya Shoda Sejati"." "Maksudmu. rata-rata samurai tahu bahwa bekerja pada Keluarga Yagyu bukanlah sesuatu yang mesti diterima enteng. yang walaupun dipekerjakan sebagai penjaga gudang. Merobohkan lawan dengan memukul kakinya mendatar diperbolehkan. para pemula tidak diizinkan menggunakan pedang kayu. kamu bawa anak ini kemari atas kehendak dia sendiri? Hei. Shoda Kizaemon adalah pemain pedang yang sudah jadi dan telah menguasai Gaya Shinkage pada umur sangat muda. Kebiasaan yang berlaku di sini adalah tidak membiarkan orang meninggalkan tempat sebelum la hampir roboh. kabarnya lawan tangguh Hyogo. Inc. mempelajari seni pedang sejak kanak-kanak dan dapat menggunakan sebuah senjata yang perkasa. "Orang di pintu gerbang yang membawa saya masuk. dan Keluarga Tokugawa dari Kii telah mencoba memikat Murata pergi dari situ. "Halo!" seru Jotaro dengan seramah-ramahnya. yang di sana itu!" seru Kizaemon pada seorang pengawal yang lewat di luar. Keluarga Yagyu yang kini mencapai puncak peruntungan itu sudah menghasilkan jajaran pemain pedang besar yang kelihatannya tanpa henti. seorang pejabat lain yang relatif tak penting. mereka menggunakan tongkat yang dibuat khusus untuk Gaya Shinkage. Yang Dipertuan Echizen telah mencoba membujuk Debuchi untuk bekerja padanya. Sebagai gantinya. Semua itu ditambahnya dengan beberapa teknik pribadinya sendiri.property of: CROSSFiRE. para samurai Yagyu belum diakui sebagai pemain pedang sebelum mereka membuktikan kesanggupannya menempuh cara hidup yang tak kenal ampun. dan tidak ada peraturan yang melarang melabrak orang yang sudah jatuh. "Kenapa kamu bawa dia kemari?" "Dia bilang mau bertemu Tuan. Tongkat ini kurang berbahaya dibandingkan dengan pedang kayu. Langkahhngkah diambil. dan keduanya bertemu lagi seperti api dengan api. terus begitu! Terus macam itu! Sama dengan yang tadi!" demikian Kizaemon mendorong para siswanya. Debuchi Magobei. "Betul begitu?" Kemudian kepada pengawal. Tidak ada batasan mengenai bagian tubuh mana yang dapat diserang oleh petarung. Shoda Kizaemon duduk di podium yang ditinggikan sedikit dan mengenakan jubah dalam dan hakama. meskipun keuntungan materilnya lebih kecil. "A-o-o-oh!" "Y-a-a-ah!" Di Yagyu. Nak!" Ebook by Kang Zusi . "Ya. Karena itu. Tak perlu disebutkan lagi. "Sekali lagi! Tadi itu salah sama sekali!" Sasaran cacian Kizaemon itu dua samurai Yagyu. Ia rupanya terkejut melihat Jotaro yang berjalan mengikuti samurai. Para pendatang baru jarang bertahan lama. "Apa kerjamu dalam puri ini?" tanya Kizaemon tajam. Pelatih kuda Yagyu." jawab Jotaro sesuai dengan kenyataannya. Di bawah pengawasan Sekishusai sendiri ia kemudian mempelajari rahasia-rahasia Gaya Yagyu. Kimura Sukekuro. Tongkat itu berupa kantong kulit panjang tipis yang diisi belahan-belahan bambu. juga seorang ahli seperti halnya Murata Yozo. Para pemula diajar sangat keras. Sebetulnya benda itu tongkat kulit tak bergagang dan tak berpelindung tangan. senjata disiapkan. namun terus juga beradu. Prajurit biasa dan tukang kuda pun orang-orang yang sudah lanjut dalam mempelajari seni pedang.

dia masuk lewat gerbang utama." Ia berhenti bicara. Kalau murid datang ke rumah ini. la menggelengkan kepala dan mengangkat bahu kanannya sedikit. jangan sampai dikarakan Keluarga Yagyu dengan darah dingin menolak orang-orang yang datang bertamu kepada mereka. lalu terus ke gerbang tengah yang di sebelah kanannya ada bangunan yang namanya Shin'indo." "Kenapa? Apa Tuan tak bisa baca?" Kizaemon mendengus. Tuan. Saya bawa surat dari guru saya. kan? Biar begitu." "Biar begitu. penulis ingin diizinkan melihat dojo yang sangat indah di sini. Sebabnya aku tak perlu membaca surat itu. jadi tak perlu aku membacanya. dia bebas untuk beristirahat sebentar. Baik? Isinya. anak bandel yang pintar sekali kamu." "Coba sini. dia akan sangat berterima kasih mendapat pelajaran di sini. yang mesti kamu lakukan adalah memberikan surat itu kepada pengurus di Shin'indo-mengerti?" "Tidak!" kata Jotaro. seakan-akan sudah terlatih mengucapkan pidatonya. Saya bukan anak pengemis!" "Kuakui kamu punya kecakapan menggunakan kata-kata." "Nah. kamu tak dapat memotong kepalaku. kemudian melanjutkan." Mata Jotaro membundar.property of: CROSSFiRE. Inc. netcafe. "Minta kepada penjaga di sana supaya menjelaskan padamu semuanya." "Dari gurumu? Kamu pernah bilang. Sekarang. "Coba Tuan dengar!" "Ha?' "Tuan tak boleh menilai orang lain dari penampilannya. Kalau kusediakan waktu buat berlaku sopan pada mereka semua. dan untuk kepentingan semua pengikut yang akan menempuh Jalan Pedang. ingin walaupun hanya sesaat bersenang-senang di bawah bayangan guru terbesar di negeri ini. kalau begitu Tuan lihatlah surat ini. kalau Tuan bisa baca." "Tak perlu. Kalau murid itu minta kepada pengurus di sana. Tapi aku kasihan padamu. karena itu akan kusebutkan padamu apa isi surat itu. dia mendapat sedikit uang untuk bantuan dalam perjalanan." "Tapi saya datang bukan buat bermain. Kalau dia pergi. kan?" "Silakan Tuan lihat suratnya. karena aku sudah tahu isinya. Wajah dan mulutnya yang merah di balik jenggotnya yang seperti paku itu tampak seperti bagian dalam buah berangan yang sudah pecah. "Apa itu isi surat ini?" "Ya. takkan dapat aku melakukan yang lain." "Untuk apa?" Jotaro pun merasa menyesal telah melangkah demikian jauh. Pergi kamu dari sini. "Ya. "Nah. dia murid yang mengembara itu. Ada papan nama tergantung di bangunan itu." "Oh. "Tidak. Ebook by Kang Zusi . Lalu apa yang akan Tuan lakukan nanti? Apa akan Tuan suruh saya memotong kepala Tuan?" "Tunggu dulu!" Kizaemon tertawa. dan di sana ada tempat untuk menginap semalam-dua malam." "Kenapa tidak Tuan lihat surat ini? Mungkin isinya lain sekali dari yang Tuan duga." "Ini bukan tempat main. Kukira itulah kira-kira isi surat itu. silakan baca. apa tidak lebih sopan kalau membacanya?" "Murid di tempat ini meruap seperti nyamuk dan belatung.

"Mari kita perlihatkan kepada Kimura. yang sementara itu sama kagumnya dengan mereka. "Kelihatannya dia luar biasa. "Aneh juga tulisan ini." Jotaro cepat-cepat mengeluarkan batang peoni dari dalam kimononya." "Kenapa pula tidak? Tuan pejabat paling tinggi dalam Keluarga Yagyu. Hanya itu-tak ada disebutkan bahwa si penulis seorang murid. Surat menyatakan lagi: Sesudah memasukkan bunga itu ke dalam jambangan. "Apa menurutmu Musashi yang sudah membantu para pendeta Hozoin membunuh semua jembel di Dataran Hannya itu? Tentunya dia!" Debuchi dan Murata berganti-ganti mengambil surat itu dan membacanya kembali. netcafe. Tanpa mengatakan sesuatu. dan dengan diam ia baca pesan Musashi. Wajahnya tampak agak heran. Shoda?" "Tidak. dan tak ada permintaan untuk bertanding. "Aku kagum dengan tekadmu untuk tidak membiarkan pesan gurumu tak disampaikan. Debuchi yang kebetulan ada di kamar itu mengatakan." "Nah. ketika ia mulai membaca surat Musashi lagi. wajahnya menjadi sunguh-sungguh." Mereka pergi ke kantor di belakang bangunan itu dan mengajukan soal itu kepada rekan mereka di sana. Surat itu menjelaskan bahwa pelayan penginapan telah memberikan kepadanya sekuntum bunga yang katanya berasal dari puri. saya lupa! Saya mesti menyampaikan ini juga. aku memang melihat beliau mengatur bunga. kamu dapat berbuat sama dengan pedangmu." "Ya.property of: CROSSFiRE." katanya. Beliau masukkan yang satu ke jambangan di kamar beliau. saya merasa mendapatkan suatu semangat khusus darinya. siapakah di antara anggota rumah tangga Tuan yang sudah melakukannya. "Ini salah satu bunga yang dipotong oleh Yang Dipertuan sendiri kemarin dulu. Ia tidak sepenuhnya dapat memahami makna surat Musashi. "Coba lihat ini. dan saya merasa harus menemukan orang yang telah melakukan pemotongan itu. saya akan sangat berterima kasih kalau Tuan mengirimkan balasannya lewat anak yang membawa surat int. Tiba-tiba ia menengadah dengan mata kaget. dan ketika ia memeriksa batang bunga itu. tapi kalau Tuan tidak berkeberatan menyampaikan kepada saya. dan yang lain beliau suruh Otsu bawa ke Yoshioka bersama surat. Selesai membaca ia bertanya. tentunya dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui." pikir Kizaemon. "Surat ini ditandatangani oleh 'Shimmen Musashi'. Guru Tua itu yang memotongnya sendiri." Kizaemon melepaskan meterai surat itu." kata Kizaemon. Aku akan membacanya. "Apa kamu bawa yang lain disamping surat ini?" "Oh." kata Debuchi. Selagi membaca. Apa engkau tidak bersama beliau waktu itu. "dan dia betul-betul dapat menyatakan bahwa batang ini sudah dipotong oleh seorang ahli. namun ia tak dapat membedakan apakah ujung yang satu berlainan dengan ujung yang lain. "Ya. ini satu dari dua bunga yang beliau potong. Sekali lagi ia memandang batang peoni itu. "Tulisannya memang berwatak. dan sekali lagi ia memeriksa kedua ujungnya baik-baik. Apa bisa kamu melihat beda antara potongan di kedua ujung batang ini? Apa barangkali yang satu tampak lebih tajam?" Murata Yozo mengamat-amati batang bunga itu." gumam Murata. Kita harapkan. ia melihat bahwa potongan bunga itu dibuat oleh "orang yang bukan orang biasa". Tapi aku tidak melihat beliau memotongnya. Inc. tapi la terpaksa mengaku tidak melihat beda kedua potongan itu. ya. kan?" "Kamu pintar sekali menggunakan lidahmu." kata Kizaemon. kalau kamu besar nanti. Kizaemon memeriksa kedua ujung batang itu." "Kalau apa yang dinyatakan surat itu benar. dan rupanya hal ini cukup jelas bagi orang yang matanya memang Ebook by Kang Zusi . aku ingat. "Murata!" panggilnya. Persoalan ini bisa saja kelihatan remeh.

"Hm. pesta buat kita juga. dan Yang Dipertuan pasti tidak keberatan kalau beliau mendengar tentangnya.property of: CROSSFiRE. sekian saja. Ia melaporkan sudah melaksanakan tugasnya. Musashi tidak mengajukan pertanyaan.. Jotaro berkata. Jotaro bicara dengan anjing itu dan menarik telinganya supaya maju mendekat. Kim giliran Jotaro yang jadi marah. dan kita dapat juga meminta dia menceritakan peristiwa yang terjadi di Dataran Hannya.. Kemudian." "Jadi. anjing itu sudah menyerangnya lagi." desaknya. Kedengaran seperti pedang itu menghantam karang. katanya. Anjing meloncat ke punggung anak itu. Darah mulai mengalir dari antara jari-jari yang menutup muka Jotaro. "Cukup sekian saja?" tanyanya. Beberapa goresan menyilangi muka anak itu. namun tak ada alasan kenapa mereka tak dapat mengundangnya makan atau menikmati sake di Shin'indo. Gema salaknya memantul-mantul melintasi pegunungan. Jotaro duduk di depan Musashi dengan wajah puas. Ia mencoba meloloskan diri. "Ya. Jotaro menangkapnya lagi dan melemparkannya dua-tiga kali lagi. Ingin aku bertemu dengannya. Belum lagi Jotaro sempat berdiri. Kizaemon menepuk lututnya. "Ini jawaban mereka. benar-benar dapat melihat." kata Jotaro sambil menyerahkan kepada Musashi surat Shoda Kizaemon serta menambahkan beberapa patah kata tentang pertemuannya dengan samurai itu. "Kamu kira apa aku ini? Tidak boleh kamu lakukan itu!" serunya. netcafe. "Anak itu ada di luar. Anjing menganggapnya sungguhsungguh dan mulai menyalak keras-keras. Sambil melepaskan diri ia gigit tepian kimono Jotaro dan ia tarik sekuat-kuatnya. dan Jotaro dengan bingung mencoba melindungi wajahnya dengan kedua belah tangannya. Kemungkinan besar Musashi dengan senang hati datang. Mereka bisa mengadakan pesta kecil dan bicara tentang seni pedang dan hal-hal lain seperti itu." Namun Debuchi tak hendak melibatkan dirinya seorang. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang anjing itu. "Lamanya mereka itu." Beberapa menit sebelumnya Jotaro memang sudah menguap dan menggerutu. Kimura menyatakan bahwa karena mereka tidak pernah menerima shugyosha. Anjing suka dengan permainan itu. Jotaro menebaskan pedangnya ke kepala anjing. melainkan menanyakan pendapat Kimura. Sambil mengutuk. sedang hidungnya tampak seperti buah arbei masak. Sementara ia bicara. Kocha memburunya dan mem perhatikan goresan-goresan di wajahnya dengan Ebook by Kang Zusi . Inc. sambil memegang kedua rahang anjing itu. tapi anjing itu terus menempelnya." sambung Murata. dan menjatuhkan Jotaro ke tanah. "Mari kita kirimkan jawaban sekarang juga. kemudian merangkum anjing itu dan melemparkannya. "Nah.. Bunga-bunga iris sudah berkembang di sana. menyalak sekarang!" Perbuatan itu membuat si anjing marah. dan Jotaro menutup mukanya dengan tangan dan buru-buru meninggalkan kamar. dan katanya. menggigit obi-nya. luka-lukanya mulai berdarah lagi. tapi karena ia tidak memberikan penjelasan. Dengan begitu kita dapat mengecek soal itu. dan segera kemudian lolongan kesakitan anak itu sudah mengalahkan lolongan si anjing. Tak sangsi lagi. hingga menarik perhatian para pengawal." Kata Debuchi. bagian 7 Pembalasan Jotaro KEMBALI di penginapan. Suruh dia masuk. ia pasti kesakitan. maka tidak dapat mereka menerimanya sebagai tamu di ruangan praktek." Sementara itu. seekor anjing hitam besar mencium baunya dan datang mengendusnya. Terima kasih. Kizaemon berkata. "Saran yang baik sekali. dan bunga-bunga azalea liar mulai berkembang." Selagi duduk menulis jawaban. "Ayo kita bergulat." Musashi membuka surat Kizaemon. Ia menarik pedang kayunya dan mengancamnya ke kepala anjing. Merasa mendapat teman baru.

Matahari bersinar lewat kembang persik merah muda. tidak. Kemudian ia pergi mengambil salep dan mengoleskannya ke wajah Jotaro. "He." "Kamu tidak keberatan?" "Tidak. "Seekor anjing menyerangku. Aku yakin. pandangan kuatir. dan dengan mengangkat kepala sedikit ia mencuri pandang pada tuannya. Sesudah gadis itu selesai menolongnya." Keduanya lalu masuk gubuk tempat menyimpan makanan kuda. dan perbuatan itu lucu kelihatannya. netcafe. Gigit sekali lagi. terus gigit lagi! Gigit lebih keras!" Jotaro memenuhi permintaannya dan menyentak-nyentak jari-jari gadis itu seperti anak anjing. Jerami berhamburan menutupi kepala mereka." "Tak apa-apa. seperti wajah orang bijaksana dalam agama Kong-Hu-Cu.property of: CROSSFiRE." jawab Jotaro. dia sudah menggigit tukang-tukang rampas sampai mati!" Walaupun hubungan mereka berdua tidak begitu balk. Seterusnya hari itu Musashi sedikit sekali bicara dengan orang lain. Kamu kan lelaki. Sekali. "Aku suka kamu juga. Kocha mengantar Jotaro ke kali dan menyuruhnya membasuh wajahnya. "Hentikan angguk-angguk itu. "Ohh!" "Sakit ya? Maaf. "Aku ingin kamu bisa tinggal di sini setahun atau dua tahun. dan pipi Kocha jadi manyala." "Tapi aku menghargai sekali jasamu. biarpun kamu kuat. di tengah malam. Jotaro bersikap sopan. apa bukan anjing Kishu yang besar hitam itu? Dia memang jahat. geblek. Tangan mereka bersentuhan. "Tuanmu barangkali akan segera pergi. berusaha meyakinkan Kocha. apa yang kalian lakukan ini? Kalian ini masih anak-anak!" Diseretnya mereka keluar pada tengkuknya." "Betul?" Bagian-bagian wajah Jotaro yang tidak terkena salep berubah menjadi merah tua. dan diberinya Kocha beberapa pukulan keras di pantat." "Anjing siapa?" "Salah satu anjing di puri. dan di sana mereka berbaring telentang di atas jerami. Inc. Jotaro membungkukan badan berulang-ulang untuk mengucapkan terima kasih. menatap langit-langit dengan pemusatan penuh. ketika ayah Kocha datang mencari anaknya. Ebook by Kang Zusi . "Kami masih akan tinggal di sini sebentar. Oh. Tak seorang pun kelihatan. "Kenapa mukamu itu?" tanyanya. tanpa ada maksud lain. Ngeri melihat pemandangan itu. dan tak lama kemudian mereka sudah saling peluk." "Oh." kata gadis itu mengaku. dan rasa hangat menyengat tubuh Jotaro. ekspresinya berubah keras. ya?" tanyanya dengan nada kecewa. tapi aku suka kamu. Jotaro terbangun. takkan dapat kamu menandinginya. Tanpa peringatan lagi ia menarik tangan Kocha dan menggigit jarinya. Musashi berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Ia duduk saja dengan tangan terlipat dan berpikir." "Biar kita banyak berkelahi.

ia kembali ke penginapan. anak itu tak dapat tidak mencuri pandangnya ke belakang. Karena tidak melihat anak itu. Ia menutupkan tangannya ke muka. Selamat tinggal. "Nama saya Musashi." "Itu. Sorenya Musashi menyuruh anak itu minta kuitansi mereka dan bersiap-siap berangkat. Itu gerbangnya. "Mereka sedang menanti Anda." Pengawal itu memang sudah menantinya. Musashi berseru. pohon-pohon besar memperdengarkan bunyi desir. namun Musashi dapat melihat bahwa puri itu menekankan sekali pendidikan. sampai penginapan tidak kelihatan lagi. Beberapa waktu kemudian Musashi bertanya. Shin'indo merupakan tempat bagi para pemuda puri untuk mempelajari agama Kong-Hu-Cu. "Tuan tak akan pulang tidur malam ini?" "Tidak. dan juru tulis datang membawanya. Aku yakin kami sudah banyak mengganggu. Musashi menoleh mencari Jotaro. Walaupun takut kepada mata Musashi. Kocha. saya sudah datang." Musashi berhenti dan berdiri di depan gerbang. "Selamat jalan. kedua kakinya dirapatkan." "Apa kita pergi ke puri itu?" "Ya. dan saya datang kemari atas undangan Shoda." kata Kocha. Terima kasih. Inc. menyembunyikan air matanya. Sekalipun Keluarga Yagyu termasyhur berkat kecakapan militernya. Di atas benteng yang ditumbuhi lumut. Lampu-lampu mulai bermunculan dalam lembah itu. Sesudah berjalan sebentar. kepala penginapan dan dua pelayan lain berbaris mengantar mereka. Di pintu gerbang. "Apa kita belum sampai?" "Di mana?" "Di gerbang utama Puri Koyagyu. Ketika ditanya apakah ia menghendaki makan malam. Melihat Musashi mendekat. Anak itu berada di bawah gudang. Jotaro mengikuti dengan murung. Segala sesuatu dalam puri kelihatan diliputi sejarah. Ebook by Kang Zusi . "Selamat tinggal. Musashi berjalan terus tanpa berkata-kata dan tidak sekali pun menoleh ke belakang.property of: CROSSFiRE." katanya sambil memberikan isyarat kepada Musashi untuk mengikutinya. Disamping fungsi-fungsi lainnya. Kamar-kamar di sepanjang lorong yang menuju belakang bangunan itu semuanya didereti rak-rak buku. dan seorang pengawal muncul. Sambil menyerahkan surat dari Shoda Kizaemon ia berkata. Namun Musashi tidak mengatakan apa-apa. netcafe. Tempat itu juga menjadi perpustakaan tanah perdikan tersebut. Sambil berdiri menganggur di sudut kamar." seru Jotaro sambil berlari ke sisi Musashi. Hari berikutnya pun Musashi tetap menyendiri. atas pelayanan yang balk. Seberkas cahaya tunggal menyorot dari sebuah jendela persegi." rom "Jaga diri Tuan baik-baik. mereka cepat-cepat saling memisahkan diri." "Apa kita akan menginap di sana malam ini?" "Tak tahu aku. Minta tolong disampaikan kepadanya. sedang mengucapkan selamat berpisah pada Kocha. Kocha bertanya. Jotaro ketakutan. ia menjawab tidak. Itu tergantung perkembangan nanti." kata Kocha. Kemungkinan gurunya sudah mendengar tentang bagaimana ia main dengan Kocha di dalam gubuk. Sangat aneh bagi mereka bahwa kedua tamu itu berangkat tepat sebelum matahari tenggelam.

Jotaro ditinggalkan di kamar tunggu pembantu." Shoda Kizaemon masuk ke kamar bersama Kimura. ketika ia duduk di lantai kayu dalam kamar besar yang ditunjukkan kepadanya oleh pengawal." "Maaf. yang diterimanya dengan ucapan terima kasih. Inc. "Omong-omong. tapi tidak begitu lekas mendatangkan akibat kepadanya. Air terdengar berkericik di suatu tempat di halaman. Debuchi. Bau wisteria yang manis itu mengambang di udara. Dari bantalan pada tiang itu ia memandang ke sekeliling dengan hati bertanya-tanya. dan Murata. Sesudah ketiga orang lain memperkenalkan diri. "Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa dibutuhkan seorang jenius untuk mengenali jenius yang lain. "tak banyak yang dapat kami suguhkan. bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa potongan batang lunak dan kecil itu dibuat oleh guru pemain pedang. kalau dinilai dari kerapian jalan dari gerbang sampai Shin'indo." kata Kizaemon. Pengawal menyerahkan kepadanya bantalan bundar keras dari jerami. "Begitu." kata Kimura Sukekuro. "Kami sendiri tidak melihat ada hal khusus di situ. Sesudah ia duduk tenang." Dengan penuh kehangatan. dan Murata hampir bersamaan. bahkan dari lampu. Di perjalanan. dan dihidangkan dalam mangkukmangkuk besar gaya lama yang tinggi pegangannya. ya? Betul?" "Ya. Pengawal kembali beberapa menit kemudian. pekat. kemudian meninggalkannya sendiri. Tapi malam ini aku akan maju selangkah ke depan dan meninggalkan Yagyu di belakang. Namun tak lama kemudian terasa olehnya bahwa bunyi itu datang dari langit-langit. la kaget mendengar dengkung katak. sekalipun dalam suasana setenang itu. dan mengatakan kepada Musashi bahwa tuan rumah akan segera datang. "Potongan itu bagus sekali!" Kimura mendekat. para pelayan mendatangkan berbaki-baki sake dan penganan. dan menawarkan untuk mengisi lagi mangkuknya. Dan segala sesuatu kelihatan terurus baik. "Di desa ini. tak salah lagi!" kata Kizaemon." kata Kizaemon. Ia merasa sejuk dan santai. yang lain-lain pun mendorongnya untuk merasa senang dan tidak berkukuh pada upacara. Dalam hal ini kami sama.property of: CROSSFiRE. "Selamat datang di Koyagyu. yang mengalir dalam nadinya. kami membiarkan Anda menanti. tapi kami harap Anda kerasan. Sesudah diajak. Musashi berkata. agak seperti sirup." Ebook by Kang Zusi . Itulah semangat juang yang tak terpuaskan. Kami semua terkesan oleh kemampuan Anda melihatnva. "Memang sudah saya duga!" serunya. "Dia pemain pedang. terdengar olehnya bunyi air mengalir di bawah dirinya. netcafe. dan aku pun pemain pedang. Sake di situ merupakan hasil rebusan sendiri. berwarna putih dan lembayung muda. di sekitar menara utama. damai. Namun jauh di dalam dirinya menindih suatu perasaan gelisah yang tak dapat ditekan. Sake malam itu cukup lezat. Debuchi. sikap sopan santun pengawalnya. Musashi pun mau menerima sedikit sake. kadang-kadang seorang tamu merasa sudah kenal baik dengan tempat itu dan para penghuninya. Musashi menggeser bantal bundar itu ke sebuah sudut dan bersandar pada tiang." Musashi menepuk lututnya." Karena belum tahu benar ke mana arah pembicaraan itu. "Kelihatannya Anda biasa juga minum. Sungai agaknya mengalir di bawah bangunan. saya mendengar bahwa peoni yang Anda tanyakan kemarin dipotong sendiri oleh Yang Dipertuan puri ini. sekadar memenangkan waktu. Musashi mendapat kesan itu sekarang. Kami berpendapat akan sangat membantu pendidikan kami di masa depan kalau Anda dapat menjelaskannya pada kami. melainkan karena ia masih terlalu muda untuk dapat menghargai kehalusan rasanya. dari dinding. sekalipun ia tidak suka benar minuman itu." kata Kizaemon hangat. "Yang ingin saya ketahui adalah. dan pemberian lampu yang cermat. Pada waktu memasuki sebuah rumah untuk pertama kali. Bukannya ia membenci sake. "Siapakah Yagyu itu?" tanyanya dengan mata menantang. Dari cahaya lampu rendah yang bersinar ke halaman ia dapat melihat lilitan tanaman wisteria yang sedang berkembang. Dengkung pertama tahun itu.

yang dalam pertempuran berdarah itu berada di pihak lawan. Dengan pedangnya sendiri ia ingin membuat Sekishusai. dan Kimura telah ambil bagian dalam pertempuran berdarah itu. bapak agung seni perang yang disebut "naga kuno" itu. Untuk memperoleh mahkota. Kizaemon. Ini gedung penting dalam sejarah seni pedang. Namun demikian. wajah Musashi sudah jadi merah tembaga. ia menghendaki bintang kemenangan yang cemerlang. Shoda dan Debuchi memilih tertawa. Dengkung katak terdengar lagi. dan ekspresi matanya. karena itu dengan sengaja ia beberapa kali mengatakan tidak sependapat dengan apa yang mereka katakan. ke udara malam yang tenang itu. "Ah. Sikap kekanak-kanakan ini membuat mereka tertawa. "Betul-betul tak ada cara lain untuk menjelaskannya. mereka berbicara tentang pedang. "Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" pikir Musashi. bertekuk lutut. Inc. Sekalipun Musashi berbicara tenang. Kizaemon mengatakan sudah waktunya menghidangkan makanan terakhir." "Merasa bagaimana?" Keempat siswa senior Keluarga Yagyu itu mencoba menganalisis Musashi sebagai seorang manusia dan sekaligus mengujinya. itu artinya kita merasakannya. "Kalau kita merasakan sesuatu. terpaksa Anda sekalian mencabut pedang dan menghadapi saya dalam pertarungan. Musashi memutuskan untuk mencebur sekalian." ulang Kizaemon. mengagumi pembawaannya. yaitu gerst campur nasi. Sake pun diundurkan." katanya. Saya cuma merasa begitu sesudah melihat potongan batang itu. kalau malam ini ia tidak bertemu dengan Sekishusai. Tanpa menanggapi tantangan itu. tak ada yang khusus di sini-itu cuma terkaan yang mengena. netcafe." Asap lampu naik. pernyataannya tentang keharusan mengujinya tidak dapat disangkal lagi merupakan tantangan. dan sudah meninggalkan tanda pada Keluarga Yagyu. Kalau Anda sekalian menghendaki saya memperlihatkan apa yang saya maksudkan itu. tiba-tiba jalan peristiwa Ebook by Kang Zusi ." "Ayolah. dua-tiga kali ia menyentuh dahi dan pipinya. Debuchi. Bagi Musashi. jangan merendahkan diri. sedangkan Musashi merasa sangat terpesona mendengarkannya. Tak ada cara lain. Tak seorang pun dari keempat orang itu mau kena provokasi untuk melakukan sesuatu yang kurang pikir. saling pandang dan tertawa." Karena sadar bahwa memprotes sanjungan itu tak akan dapat meloloskan dirinya. Tempat yang cocok bagi kami untuk mendengar kuliah dari Anda malam ini. ia ingin orang mengetahui bahwa Musashi pernah berkunjung ke tempat itu. Musashi berkata. Ia tak dapat menerima kalau ia harus meninggalkan tempat itu tanpa melaksanakan maksudnya. Tuan rumah tampaknya sangat menikmati percakapan itu. yang tertua di antara mereka. tentang peristiwa-peristiwa di provinsi-provinsi lain. kemudian tentang Zen. kalau beliau sedang berkunjung. ia tak akan bertemu dengannya untuk selamanya.property of: CROSSFiRE. seperti yang akan mereka lakukan juga terhadap orang asing lain. Tetapi cara Musashi memegang mangkuk sake dan sumpit itu bagaimanapun menunjukkan bahwa ia berpendidikan kampung. Apakah mereka sudah mengenalinya sepenuhnya? Baru saja ia memikirkan hal itu. Kizaemon dan Debuchi. "apa tidak bisa Anda menceritakannya lebih banyak? Anda tahu gedung Shin'indo ini dibangun dengan sengaja untuk kediaman Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. tentang Pertempuran Sekigahara. cerita-cerita mereka terdengar bagai kebenaran yang pahit. sudah pergi. Maka akhirnya Musashi pun nekat. Mereka sudah mengamati fisiknya." "Saya bukan merendahkan diri. Baru menghabiskan tiga atau empat mangkuk sake saja. dan bicara dengan cara kasar dan kurang ajar. dan dalam hati ia tahu. dan untuk sejarah. Haruskah ia menyodok salah seorang dari tuan rumah itu supaya naik darah? Itu sukar kalau ia sendiri tidak sedang marah. Sesudah menghirup sake lagi. dan ini membuat mereka cenderung mengguruinya. ia sadar bahwa waktu berlalu dengan cepat. dan mereka memang menganggapnya demikian. sehitam tinta cumi-cumi. Karena malu. Mendengar itu. "Tentang perasaan Anda itu. Semakin lama semakin jelas baginya bahwa ia mungkin terpaksa harus menggunakan akal licik.

"Saya tak bisa mengerti. Matanya yang tak melihat lagi memantulkan cahaya obor. Jotaro ada di sana. "Mati dia. "Bajingan kecil kamu! Apa yang kau lakukan? Kau yang membunuh anjing ini?" Orang itu mengangkat tangannya dan menampar dengan berang. Musashi menunjukkan wajah prihatin." kata seseorang sedih. samurai mengatakan bahwa anak itu tak ditemukan di mana pun. berlumuran darah dan tampak seperti anak setantangannya memegang pedang kayu. "Taro menyalak-biasanya tidak begitu salaknya. masih di kamar tunggu?" Mereka pun menujukan pertanyaan itu kepada samurai muda di depan Shin'indo." Sekitar tiga ratus meter dari dojo telah berkumpul sejumlah orang. Maafkan saya. Jotaro berseru menantang. membelok tak terduga-duga. pesta ini terganggu. Kalau salah satu anjing puri berbuat demikian. kakinya terjulur. Tak bisa dibantah bahwa salak anjing yang sepertinya datang dari lingkaran kedua puri itu sangat mengerikan. Murata keluar ke beranda. dan Kimura. Seorang samurai mendekati Jotaro dan pekiknya. Silakan terus tanpa saya. giginya menyeringai. hampir merupakan tanda pasti bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak menguntungkan. seolaholah sedang menghitung gema suara yang tak wajar. "Tunggu. Inc. Sambil menoleh pada Kizaemon. anak yang datang dengan saya itu. membentuk lingkaran hitam. Di sampingnya terbaring Taro. Kizaemon pun bangkit. juga mata-mata yang bergelandangan mencari sasaran empuk dan mudah dijadikan mangsa. ia berkata. Salak anjing itu jadi semakin mendesak. Kedengarannya terlalu keras dan mengerikan. "Ya. Dari pinggir luar lingkaran itu Musashi mengintip ke tempat terbuka di tengah. Musashi. Sesudah mencari-cari. ada sejumlah prajurit biasa dan pengawal. kalau berasal hanya dari seekor anjing saja." Ia berangkat. "Kalian dengar?" tanya Kimura. Akhirnya terdengar raungan panjang dan sedih. Kizaemon berkomat-kamit dan memandang Musashi. dan beberapa obor dinyalakan. Apa Jotaro. "Ya. semuanya berbicara dan berteriak-teriak." Taro anjing yang bermasalah dengan Jotaro. "Saya pikir. Debuchi. dia dibunuh. Murata dan Kimura minta mengundurkan diri juga dan dengan sopan minta maaf kepada Musashi. Di samping Murata. Saya pikir ada yang tak beres. Boleh saya pergi bersama Anda?" "Tentu. kemudian ketika masuk kamar kembali. Ia terus menatap cahaya lampu kecil yang tak menyenangkan. Sambil membidangkan bahunya. dan bahunya naik-turun akibat napasnya yang berat. saya tahu apa yang sudah terjadi." kata Musashi. Ia rupanya berusaha memberikan peringatan tentang adanya bahaya. Darah mengucur dari mulutnya. tapi Musashi menghentikannya." Baru saja ia pergi. Maka hatinya pun serasa terbang. netcafe. giginya mengatup erat. Kizaemon tampak sangat terganggu. saya yang melakukan!" Ebook by Kang Zusi . "Lebih baik saya lihat." Tak lagi dapat menahan diri. Memang kedamaian yang dinikmati negeri itu belumlah mantap sehingga seorang daimyo dapat mengendurkan kewaspadaannya terhadap tanah-tanah perdikan yang berdekatan. Tepat seperti yang ditakutkannya.property of: CROSSFiRE. Masih ada prajurit-prajurit rusak yang suka melongok-longok untuk memuaskan ambisinya sendiri. "Ini anjing Yang Dipertuan. Tapi barangkali ini penting. katanva. Debuchi berkata. tapi dapat dielakkan Jotaro. katanya.

"Menyalaklah. Sekarang datang giliranmu! Berdiri kamu. Inc. tapi apabila kemarahan anak-anak sudah bangkit. tapi pukulan itu tidak mengena. Memang." "Saya cuma membalas apa yang sudah dia perbuat. itu tidak betul!" Menurut pandangan Jotaro. sering ia menyesal di kemudian hari. memandang orang banyak untuk meminta persetujuan. Ia telah bertahan dan bertekad tidak akan mundur. anjing betina milik Yang Dipertuan Yorinori dari Kishu yang sangat disayanginya. supaya dapat aku membunuhmu! Menyalaklah! Gigit aku!" Jotaro mengatupkan giginya erat-erat. Taro binatang kesayangan Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. "Bunuh aku!" jeritnya. Ia pun memukul. Pukulan mendarat di sekitar telinganya. kan? Dan memang itu yang akan kulakukan. Dan semuanya marah. Lalu ia ayunkan Jotaro berputarputar pada kerahnya dan dengan pandangan muram ia jatuhkan Jotaro ke tanah. ia cuma membela kehormatannya dan membahayakan hidupnya dalam melakukan hal itu. tapi lolongan yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat liar mengerikan. Jadi. biar kamu anak kecil. dan nasib dua orang samurai yang telah dibayar untuk mengurus anjing itu sekarang dalam bahaya. kamu tidak keberatan kalau aku memukul kamu juga sampai mati. "Tutup mulut!" serunya sambil melayangkan tinjunya ke kepala Jotaro. penjahat kecil. netcafe. Pembantaian binatang itu sudah pasti akan diperiksa dengan tuntas. tidak ada pilihan lain kecuali membunuh anjing itu. kemudian menopang dirinya dengan sebelah tangan dan berjuang menegakkan diri sambil memegang pedang kayunya. Kemudian ia ambil tongkat kayu ek dan ia hantamkan kuat-kuat ke tubuh anak itu. Orang banyak mengangguk diam sebagai pernyataan setuju. "Tutup mulutmu yang kurang ajar itu!" raung perawat anjing. "Kamu mengaku?" "Ada sebabnya!" "Ha!" "Saya cuma membalas dendam. "Kamu sudah membunuh anjing Tuan. Nak! Menyalak seperti anjing!" perawat anjing itu berteriak. dan Munenori merawatnya sendiri." "Apa?" Semua orang heran mendengar jawaban Jotaro. "Apa pula ini?" jeritnya. Untuk membela harga diri. Keempat orang yang belum lama sebelumnya menjamu Musashi itu tampak sedih. "Kamu membunuh anjing itu. dan menyatakan bahwa ia wajib menghukum pembunuh anjing itu. Macam apa pula itu—membalas dendam kepada binatang yang bodoh!" Ia mencengkeram kerah Jotaro. ibunya sendiri yang melahirkannya ke dunia pun tak dapat menenteramkannya. Pukulannya bisa membunuh anak itu jika mengena. Bukan hanya itu. Air mukanya tidak meninggalkan ciri peri air. karena luka yang kelihatan adalah aib besar bagi seorang samurai. "Ayo. ia keturunan ras dari Raiko. bagaimanapun ia mengharapkan dipuji atas perbuatannya yang berani itu. dan ekspresi wajahnya pun tetap saja ekspresi kanak-kanak.property of: CROSSFiRE. tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Bunyi berderak tajam Ebook by Kang Zusi . Yang Dipertuan Yorinori secara pribadi memberikan anak anjing itu kepada Munenori. "Aku tak peduli. Kali ini Jotaro tidak menghindar pada waktunya. bunuh aku!" "Nah. Apabila seorang dewasa marah. Jotaro mengangkat tangan meraba lukanya. matilah kamu!" pekik perawat anjing mengamuk. kamu sudah cukup besar untuk dapat membedakan anjing dan manusia. Yang berhadapan dengan Jotaro itu seorang dari kedua samurai tersebut. Kenapa saya dihukum? Orang dewasa mesti tahu.

" Dengan nada berapi-api. Musashi tetap diam. perawat anjing menjawab. ia bukannya mengakui kejahatannya dan menerima hukuman." kata Musashi. Shoda. Kimura. ia mencakar selangkangan si perawat anjing dengan kukunya. Nah. melainkan menantang mereka! Kalau pada waktu itu Musashi minta maaf untuk Jotaro dan bicara membelanya. Orang itu langsung rebah ke belakang. "Kejahatan anak ini adalah kejahatan tuannya. Sebuah tongkat kayu ek dan dua kaki itu membentuk sebuah relung di udara. "Dan sekarang giliranmu. samurai-samurai lain mulai memaki-maki Musashi. "Siapa pula ronin gila ini?" Perkelahian kini tidak lagi hanya melibatkan perawat anjing. setan kecil!" Ia mencengkeram obi Jotaro dengan kedua tangan. bergema di telinga orang-orang yang berdiri menonton. dan Murata semuanya mengerutkan kening. Orang Ebook by Kang Zusi . Anak ini pembantu saya. atau tulang iganya yang patah. Tangannya turun. Apa orang itu sudah gila? Siapa pernah mendengar ada orang menggunakan manusia sebagai senjata pelawan manusia lain? Perawat anjing memandang bengong ketika Jotaro melayang di udara dan membentur dadanya. dan berguling seperti bola ke tempat yang jauhnya dua puluh atau tiga puluh kaki dari situ. sedangkan si perawat anjing dengan sia-sia mengayun-ayunkan tongkatnya. Dan kami berdua siap membayarnya. apakah kepalanya yang telah membentur batu karang. dan beberapa orang menyarankan untuk membunuhnya seketika itu juga dan di tempat itu juga. izinkan saya mengatakan ini: kami tidak bermaksud membiarkan diri kami dibunuh seperti anjing. Kami periksa kalian berdua!" "Bagus! Kami berdua akan menghadapi Anda. Musashi memekik. hai. Musashi bertindak. Debuchi. dan langsung muntah darah. "Baik. dan pedang kayu Jotaro terbang ke udara. Kami siap menghadapi kalian. dan mendarat jadi onggokan sekitar empat meter jauhnya. "Kalian lihat?" pekik satu orang. Jotaro melentingkan diri dari dada orang itu. "Nah." Jadi. Tanpa senjata ia menutup mata dan secara membuta menyerang tubuh bagian depan musuh itu dan menguncikan gigi ke obi-nya. Orang banyak pun menggagap kaget dan mundur selangkah. berjungkir balik di udara. tapi ia menghantam tanah diiringi suara lolongan. kalau sekiranya ia mau sedikit saja berusaha meredakan perasaan para samurai Yagyu yang sedang kacau itu.property of: CROSSFiRE. namun pada waktu itu muncullah tongkat kayu ek lain. "Saya sudah melihat semua ini dari permulaan. maka seluruh kejadian itu akan berlalu dengan damai. dan dalam sekejap ia sudah menerobos dinding manusia yang kokoh itu dan meloncat ke tengah medan. Tanpa pikir lagi ia menangkis pukulan perawat anjing itu. Tetapi sikap Musashi mencegah terjadinya hal itu. ia angkat anak itu ke atas kepala dan ia biarkan terus di sana. Dengan anggapan bahwa hidup itu berharga. tak habis-habis heran mereka. seolah-olah penopang yang mengganjalnya tiba-tiba diambil. Kebanyakan mereka sudah tidak sadar bahwa Musashi tamu yang diundang. dan saya pikir Anda keliru menindaknya. ini anaknya!" Ia melemparkan Jotaro langsung kepada orang itu. "dengarkan. netcafe. Tapi pertama-tama. Sukar dikatakan. Sambil menoleh kepada perawat anjing yang waktu itu kembali menggenggam tongkatnya. Orang kedua menderap ke tengah lingkaran dan sudah hendak memverang Jotaro dari belakang. "Pengecut!" pekiknya kepada orang kedua itu. ia mengatakan. dan kalau Anda mau memeriksa dia. Anda mesti memeriksa saya juga. kalian semua!" Mereka menatapnya dengan saksama ketika ia mengambil pedang kayu Jotaro dan menghadapi mereka dengan wajah memberengut menakutkan. Inc. tangannya dilipatkan dan wajahnya tidak mengungkapkan sesuatu. Ia rupanya sudah bertekad menciptakan gangguan yang lebih besar lagi.

"Orang itu rupanya sudah merencanakan semua ini. sinting macam apakah yang telah mereka undang datang ke puri itu? Mereka menyesal bahwa Musashi tidak berakal sehat." Kimura menyela. "Musashi!" panggil Debuchi sambil mencabut sedikit pedangnya dari sarungnya. "Kami sudah mencoba memperlakukan Anda dengan pantas. biarpun misalnya ia memiliki sayap. tetapi maknanya jelas seperti kristal. tetapi saat itu juga terdengar teriakan berwibawa. "Anda mengira saya akan membunuh diri sendiri? Oh. seluruh kejadian akan dikubur bersama badan Musashi. Yakinlah bahwa tak ada hal buruk akan menimpa kalian." Sementara mereka berempat mengepung Musashi. kita terpaksa mempertanggungjawabkannya kepada Yang Dipertuan. Dalam keadaan terkepung demikian. Sekarang persoalannya bukanlah tamu dengan tuan rumah. tapi Anda justru mengambil keuntungan dari kami. tetapi persoalan orang di luar hukum dengan para hakimnya. "Baiklah. tapi tidak sepenting hidup manusia. kalau nanti kami mengambil tindakan. "Musashi. Ia berdiri diam sambil menopangkan tangan ke bahu Jotaro. dan kalian terluka atau terbunuh. yang bersama Debuchi dan Murata berusaha mengendalikan orang banyak itu. langsung menuju menara utama. "maaf terpaksa saya sampaikan kepada Anda bahwa rencana Anda telah gagal. dan jika Musashi mati sekarang. dengan mata menatap tajam kepada Musashi. Orang banyak itu sudah menggelegak darahnya. sekarang kami akan menanti. "Dengarkan dia itu! Dia orang di luar hukum!" "Dia mata-mata! Ikat dia!" "Tidak. tapi saya kira rencana itu tidak berhasil." kata Kizaemon." kata Debuchi. Nadanya tenang." Dengan enggan orang-orang itu bubar. tidak akan dapat ia meloloskan diri. tapi Anda sudah memperlihatkan keberanian luar biasa dengan datang di puri ini hanya berteman anak itu. Kami berempat akan mengambil alih tanggung jawab ini. Anda dapat membuktikan bahwa Anda seorang samurai sejati!" Itu merupakan pemecahan ideal kiranya. "Jalan ke mana?" "Ke sel!" Musashi mengangguk dan mulai berjalan. "Jalan!" perintahnya. Kalau Anda siap. Saya kira ada orang yang menugaskan Anda memata-matai Puri Koyagyu ini atau sekadar menimbulkan kerusuhan. potong saja dia!" "Jangan biarkan dia lari!" Untuk sesaat lamanya tampak seolah Musashi dan Jotaro yang sudah kembali ke sisinya itu akan ditelan oleh lautan pedang." Dan bahunya pun berguncang karena tertawa. tidak untuk waktu lama. kini ditambah lagi dengan tantangan Musashi." kata Kizaemon. Musashi sadar bahwa tak ada di antara mereka yang bukan ahli pedang. Inc. Mereka tidak berkonsultasi dengan Sekishusai. Yang pantas untuk Anda adalah bunuh diri.property of: CROSSFiRE. itu keterlaluan! Saya tidak bermaksud untuk mati. Sekarang tenanglah. sementara Anda menyiapkan diri melakukan harakiri. meninggalkan keempat orang yang telah menjamu Musashi di Shin'indo itu. Tetapi Musashi punya pikiran lain. dan berangsur-angsur mereka pun mengitari orang banyak itu. dan pulanglah. "Tunggu!" Itulah suara Kizaemon. "Anda gagal. Anjing itu memang penting. tetapi ke arah yang dipilihnya sendiri. Kita sudah berpesta bersama dalam suasana bersahabat. Anda mungkin seorang bajingan. Ebook by Kang Zusi . katanya. "Tak ada gunanya bicara lagi!" Ia pergi ke belakang Musashi dan mendorongnya. "Kalau kalian membiarkan dia menyesatkan kalian. netcafe.

Seperti kain kafan raksasa. Jotaro melejit dari bawah lengan kimono Musashi dan bersembunyi di balik pohon. tetapi bagi Musashi kata itu cukup memadai untuk mengungkapkan pengertiannya mengenai apa yang bakal terjadi. "Ayo!" "Aku tak akan pergi!" "Kau mau melawan?" "Betul!" Kimura kehilangan kesabaran dan mulai menarik pedangnya. kata "bertempur" terdengar begitu melodramatis hingga patut ditertawakan. kenapa kau tidak minta?" "Bukankah Sekishusai tak pernah bertemu dengan siapa pun. di depan menara utama. Karena itu. Sel ada di belakangmu. Kizaemon dan Debuchi.property of: CROSSFiRE. Kenangan tentang keberanian gurunya di Dataran Hannya datang kembali padanya. bayangan burung itu menutupi bintangbintang dari pandangan mata. Yang dimaksudkan olehnya adalah perang total. "Aku seorang pemuda. dan aku sedang belajar seni perang. Kizaemon dan Debuchi mengambil posisi di kedua sisi Musashi clan mencoba menariknya ke belakang dengan menarik lengannya. Musashi menengadah ke langit. dan tak pernah memberikan pelajaran kepada murid prajurit?" "Betul." "Apa?" Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa pemuda tak waras itu punya maksud yang demikian tak masuk akal." "Kalau begitu. Bagi keempat pegawai itu. netcafe. sebagai gantinya aku menantang seluruh puri ini untuk bertempur. Disuruhnya Jotaro pergi duduk di bawah pohon pinus di halaman. "Ke mana jalanmu ini?" teriak Kimura sambil melompat ke depan Musashi clan merentangkan tangan untuk menghalanginya. Balik!" "Tidak!" teriak Musashi. kalau sudah bertemu dengan beliau?" tanya Kizaemon. Inc. "Apa pula ini? Mau ke mana kamu?" "Mau bertemu Yagyu Sekishusai. Tanah di sekitar pohon-pohon pinus itu ditimbuni pasir putih yang digaruk baik-baik. tapi Musashi tak beranjak. memerintahkannya untuk menahan diri. di mana kedua pihak Ebook by Kang Zusi ." "Bertempur?" kata keempat orang itu bersama-sama. Yang dibicarakannya bukan hanya pertandingan pedang yang harus diselesaikan dengan keterampilan teknik semata-mata. Terdengar bunyi mengepak ketika seekor rajawali terbang ke arah mereka dari balik awan hitam yang menyelimuti Gunung Kasagi. Salah satu tujuanku dalam hidup ini adalah menerima pelajaran dari guru Gaya Yagyu. Ia menunduk memandang Jotaro yang masih bergayut di sisinya. sebelum ia meluncur dengan ributnya dan turun ke atap gudang beras. apakah yang hendak diperbuat Musashi. "Dan apa yang akan kaulakukan." "Kalau itu yang kauinginkan. "Ini bukan jalan ke sel. barangkali dia menolak meninggalkan istirahatnya. tetapi temannya yang lebih senior. dan tubuhnya membengkak karena gembira. apa lagi yang bisa kuperbuat selain menantangnya? Memang aku sadar bahwa kalaupun aku menantangnya. Ia bertanya-tanya dalam hati. Dengan lengan masih dipegang oleh Kizaemon dan Debuchi.

Di sana mereka berdiri. Matanya seperti dua batu putih yang digosok di tengah wajah yang kabur. dalam kediaman penuh ketegangan. Akhirnya Kimura menerima tantangan itu. Pemecahan terbaik adalah melepaskan diri mereka dari si penyerbu yang aneh dan tak punya keseimbangan ini secepat mungkin dan mencegah agar diri mereka tidak mendapat luka secara sia-sia. Tapi sebelum salah satu pihak bergerak. Kimura undur selangkah. Secara serentak mereka bertiga mengepung Musashi. "Ayo dorong!" desaknya. apakah Musashi masih memiliki akal sehat. tapi keduanya mengambil posisi baru dan menyiapkan langkah bertahan. Pertempuran antara dua tentara bisa saja lain bentuknya. Untuk sesaat yang terjadi adalah pertempuran saraf. Segera kemudian jelaslah bahwa ia bernapas lebih cepat dan lebih gelisah daripada Musashi. Tekad baja inilah yang membuat kata "bertempur" itu wajar diucapkan bibirnya. tangannya memegang gagang pedang. tapi aku dapat menyuguhkan perkelahian. mengangkat siku ke depan wajahnya. Saar itu juga terdengar pekikan. dan sambil menarik napas cepat ia menebaskan pedang ke arah sosok Musashi yang sedang terhuyung-huyung. kecuali kalau langkahlangkah istimewa diambil. Terdengar bunyi serupa bunyi pasir yang aneh ketika pedang itu mendesah di udara. netcafe.property of: CROSSFiRE. Shoda. tapi hakikatnya sama saja. kegelapan sekitar Kimura seperti goyah. Ia tahu sekarang bahwa apa yang dimulai sebagai sesuatu yang agak tak berarti itu akan berubah menjadi bencana besar. Musashi terhuyung empat atau lima langkah ke arah Kimura. Mereka dapat saling berhubungan dengan baik sekali lewat mata. Pertempuran sekarang ini sederhana saja. Musashi sama diamnya. biarpun sedikit. Segengggam pasir yang dilemparkannya itulah sumber dari bunyi aneh itu. maka Musashi dengan sengaja menambah kecepatan langkahnya yang terhuyung itu." Kimura-lah yang pertama kali tadi menyarankan agar mereka menghukum Musashi. yang berperang memusatkan segenap jiwa dan kecakapannya dan nasib mereka ditentukan. Debuchi dan Murata tidak berada dalam wilayah pertempuran. Satu orang lawan satu puri. Pedang Kimura ditempatkan sedikit lebih rendah dari dadanya. berubah. dorong dia kemari. namun sukar dilukiskan. Di sini tidak diperlukan tukar kata. saling tatap penuh ancaman. Pada detik yang sama. Tidak mudah mengakhiri semua itu." kata Kizaemon pelan. Keempat orang itu merenungi wajah Musashi dan sekali lagi bertanyatanya. "Oh. dan pada saat jatuhnya tebasan itu ia menjadi jauh lebih dekat kepada Kimura daripada yang diduga oleh Kimura. Tekad Musashi dalam hal ini kelihatan dengan jelas dari teguhnya tumitnya menghunjam ke bumi. Karena sadar bahwa Kimura menaksir jarak untuk dapat menebas dengan efektif. Ia berdiri tak bergerak. Hasil pertarungan antara Musashi clan Kimura kini boleh dikatakan telah ditentukan. pedang Musashi mengoyak udara seperti desing tali busur. ini pantas untuk ditonton. bahu kanan maju ke depan dan sikunya di atas. Inc. Caranya mengelak dan menyusun kembali posisi sudah meyakinkan mereka bahwa ia lawan setanding Kimura. "Bagus! Tak ada yang lebih kusukai daripada pertempuran! Tak dapat aku menyuguhkan dentam genderang atau dengung gong. Walau enggan melakukan sesuatu yang dapat dinilai sebagai sikap pengecut. Pekik pertempuran itu Ebook by Kang Zusi . Sekarang ia sudah kehilangan kesabaran. bukan dart Musashi. Dan apa yang mereka lihat sampai sedemikian jauh. Kedua pihak dengan cepat melompat mundur. tapi mereka terpaksa bertindak untuk mencegah terjadinya bencana. dipisahkan oleh jarak tiga atau empat langkah. melainkan dari Jotaro yang waktu itu meloncat keluar dari tempatnya di belakang pohon pinus. "Biar aku yang membereskannya!" Saat itu juga Kizaemon dan Debuchi menolakkan Musashi ke depan. Bunyi gerutu pelan yang hampir tak terdengar dikeluarkan oleh Debuchi. dan pekik mengguntur memenuhi ruangan kosong. Ia yakin Kizaemon dan Murata pun mengerti hat ini. Sambil menendang sandal jeraminya ke udara dan menyingsingkan hakama-nya ia berkata. Debuchi. tapi kemudian ia mengendalikan diri dan berusaha bersabar. Pedang tidak menyentuh apa pun kecuali udara dan pasir. nyatalah bahwa Musashi seorang pejuang terampil.

Pedang. "Musashi!" seru Debuchi Magobei. dan darah seakan-akan menderas di dalam dirinya. tapi kepalanya sendiri sedingin es. Bunyi inilah yang telah memikatnya keluar dari persembunyian di Gunung Takateru dulu-bunyi yang telah menjatuhkannya ke tangan Takuan. Mereka mengerti bahwa Musashi bukanlah jenis orang yang biasa dijumpai di dunia ini. sekalipun tubuhnya jadi bertambah pekat dan titik-titik keringat berminyak berkilau-kilau di dahinya. Musashi akan menyerang. lupa akan musuh. Musashi merasa benar-benar hidup. Dengan memperdengarkan teriakan perang yang keluar dari pinggangnya. tidak hanya keluar dari mulutnya. Seperti sungut kumbang. Itulah suling Otsu. dan ia pun menjerit menyerukan nama dewa perang. menyejukkan otaknya. Untuk sesaat ia kehilangan penguasaan diri. lengan pedangnya seakan-akan menjelma enam atau tujuh kaki panjangnya. tak dapat ia membuat gerakan. Kelima orang itu membentuk tablo yang seakan-akan statis. Lawan-lawan Musashi sebetulnya sedikit saja merasa enak memiliki keunggulan jumlah itu. Musashi sadar bahwa makin lama hal ini berlangsung. lupa akan hidup dan man. kata orang pikiran tentang mati akan mendesakkan diri ke dalam otak. Ingin ia sebenarnyar agar lawan-lawannya bukan mengepungnya. "Kau ini lebih pintar bicara daripada berkelahi!" ejek Murata ketika ia dan Kizaemon berusaha menghadang Ebook by Kang Zusi . tapi pada Musashi tak ada sedikit pun pikiran tentang maut. tanah. Ia pun melakukan penyesuaian dalam meletakkan senjatanya. Mereka tahu bahwa apabila seorang dari mereka memperlihatkan tanda sekecil apa pun bahwa mereka mengendurkan sikap. tapi dari seluruh tubuhnya. Ia yakin telah terluka. Lengan kimono kirinya tersobek dari bahu sampai pergelangan tangan. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menanti. makin kurang menguntungkan keadaan baginya. tiba-tiba berpaling. Namun Musashi merasa tidak berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. dan berharap bahwa pada akhirnya salah seorang dari mereka akan mengambil langkah sementara yang keliru dan memberikan peluang kepadanya. dan langit-semuanya seperti sudah membeku jadi padat. perubahan itu hampir tidak dapat dilihat. sebelum salah seorang dari mereka mengubah kedudukan atas kehendak sendiri. Ia sadar terjadinya pembengkakan pada urat-urat nadinya. ia lupa akan dirinya. Kizaemon pun tidak dapat membuat gerakan. terdengar bunyi mereguk dan mendesis. netcafe. Begitu nadanya menyerobot ke dalam telinga Musashi. Inc. membikin terang pandangannya. menjurus kepada perdarahan. tetapi menyebar dalam garis lurus-agar dapat dihadapinya satu per satu-tetapi ia tidak berhadapan dengan orang-orang amatir sekarang ini. Kimura menerjang ke depan. Inikah bunga seroja yang menyala. Darahnya terasa seperti mau meletus dari setiap pori-porinya. Jauh di dasar hatinya ia mengenali bunyi ini. dan sang musuh yang juga tanggap itu pun tidak membuat gerakan lebih lanjut untuk menyerang. manusia. Jotaro sudah menghilang. dan lengannya yang tiba-tiba kelihatan itu membuatnya menyangka bahwa ia terluka. dan Otsu-lah yang memainkannya. seperti dikatakan oleh orang-orang Budha? Yaitu panas yang teramat sangat bergabung dengan dingin yang teramat sangat. sintesa nyala api dan air? Tak ada lagi pasir dihamburkan ke udara. Dari arah keempat lawannya yang tersusun di kedua sisinya. dan melihat Kimura sudah menghuyung ke tempat tadi ia berdiri. Angin terasa seperti bertiup melintasi kepalanya. Ia melompat. Kenyataannya. pedang-pedang yang digenggam erat berkilau bercahaya. Namun bersamaan dengan itu ia pun tidak merasa yakin akan mampu menang. Tetapi justru pada waktu itu ke tengah kediaman tersebut mengalun bunyi yang sama sekali tak diduga-duga. pedang Musashi menyampaikan kepadanya bahwa orang yang di sebelah kin telah menggerakkan sebelah kakinya seinci dua inci. "Aneh sekali orang ini!" pikirnya. Angin bersiul turun dari puncak Gunung Kasagi. tapi itu sudah cukup. Dari luar. sedangkan dentang-dentang lonceng kuil yang tiba-tiba terdengar menggemakannya ke segala penjuru. Batinnya menjadi lumpuh.property of: CROSSFiRE. Terdengar gemeresik pelan. Pada saat-saat seperti itu. Satu lawan empat. di depan dan di belakangnya. yaitu bunyi alunan suling yang ditiup angin. Otot-otot Musashi menegang.

Ia bangkit berdiri dan menengadah memandang sosok hitam Puri Koyagyu." Tiga atau empat obor kayu pinus menyala di antara pepohonan. Kemudian ia melompat berulang-ulang lagi. dan akan menanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi-sampai ia tua dan putih rambutnya. netcafe. Satu demi satu bilah-bilah itu ia masukkan ke celah-celah dinding batu Ebook by Kang Zusi . Terkejut ia mendengar teriakan dari puncak parit. Tetapi Musashi waktu itu juga menendang tanah sekuat-kuatnya dan melompat demikian tinggi. tanpa membuat bunyi apa pun. Ketika keringat sudah menyejuk. Kedengarannya seperti." Ia berhenti dan mulai mengumpulkan ranting-ranting jatuhan yang kemudian ia patah-patahkan menjadi bilah-bilah pendek dengan lututnya. Lalu minta dibawa serta... "Tak ada dia di sini. Burung-Burung Bulbul TIDAK mungkinlah untuk mengetahui berapa lama air hujan yang ada di dasar parit yang dalamnya tiga puluh kaki itu dapat menggenang. ia membayangkan mata Otsu di tengah bintang-bintang di atasnya. dan menyatakan bahwa ia dapat menahan kesukaran apa pun. Air mata meleleh dari sudut-sudut matanya. Karena tidak mendengar kecipak air. Musashi. sama sekali belum menyerah! Aku tidak melarikan diri. "Telingaku tentunya salah. ia meloncat ke dasar pant. gadis itu mengatakan kepadanya telah menantinya hampir seribu hari." Hampir satu jam berlalu. "Maafkan aku!" Kata-kata yang diukirnya di pagar jembatan itu kini keluar dari bibirnya.property of: CROSSFiRE. Mereka tidak mengetahui tempatnya. Oh. Kalau aku bertemu dengan Sekishusai sendiri. di situlah pertempuran dimulai. "Pengecut!" "Musashi!" "Ayo berkelahi seperti lelaki!" Ketika Musashi sampai di tepi parit sekitar kuil dalam. Ia mulai berjalan pelan-pelan sepanjang dasar parit itu. Inc.. terdengar gemeretak rerantingan. tapi sudah itu diam. Perbuatan Musashi lari dari Himeji itu merupakan pengkhianatan. tak ada gunanya bertempur dengan keempat orang itu. "Mereka sebut aku pengecut. dan segera kemudian ia terbawa hanyut oleh kenangan: Otsu di celah perbatasan Mimasaka-Harima. kemudian menghilang. Aku cuma melakukan gerak mundur taktis. lenyap ke dalam gelap. bukan tak mungkin juga dia di sini. Satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah alunan suara suling yang manis di kejauhan. ia mulai bernapas teratur kembali. Mungkin juga dia. Bukan itu sasaranku. dan di situ ia berbaring telentang di rumput. dan katanya aku tak dapat berkelahi seperti lelaki! Tapi aku belum lagi menyerah. hingga mengenai cabang-cabang bawah pepohonan pinus. dan tidak menoleh-noleh lagi. lalu berhenti dan melemparkan sebuah batu. Meskipun begitu. Sebentar kemudian tulang-tulang iganya sudah berhenti naik-turun clan detak nadinya kembali normal. "Tak mungkin Otsu ada di Koyagyu ini!" katanya pada diri sendiri." Sambil berdebat dengan dirinya. "Bagaimanapun. tentunya ia menggigit bibir dan mengutuk sifat lelaki yang tak dapat didugaduga itu. Ia jadi kecewa melihat dirinya menangis. Musashi menyuruk ke dalam pagar di dekat puncak parit clan meluncur cepat setengah jalan turun. sambil menghapus mata dengan tangannya. mengatakan tidak dapat hidup tanpa dirinya dan tak ada lelaki lain baginya di dunia ini. Kemudian di Jembatan Hanada di Himeji. tentunya sesudah peristiwa itu gadis itu sangat membencinya! Oh. "Apa yang kubutuhkan dari seorang perempuan?" katanya mengolok-olok dirinya.

Ketika mengintip lewat celah di pintu gerbang. mengitari rumpun bambu. Tetapi tiba-tiba terpikir olehnya penampilannya sendiri. Sebetulnya ia tidak begitu gundah memikirkan anak itu. Tidak adanya obor lagi menunjukkan bahwa pencarian sudah dihentikan. akan menerobos masuk sambil mengucapkan tantangannya. dan ketika ia menggerakkan badan dari tidurnya. Tak ia dengar lagi bunyi suling. Kalau dia masih menolak menemuiku sebagai murid pengembara. Anak itu dapat menjaga dirinya. Sekali lagi Musashi merasa yakin bahwa di mana pun Jotaro waktu itu. menjadi hantu utama yang terbentuk akibat hasratnya yang mahahebat untuk mendapat pengakuan dan kehormatan. tetapi ia masih menahan diri." Ia lapar. kepalanya dibasuh oleh angin pagi dan nyanyian burung bulbul. dan kemudian muncul dari bawah pagar dalam perjalanan menuju wilayah puri bawah. Panas matahari telah menghidupkan kembali semangatnya. dengan rambut awut-awutan dan kimono berantakan. Ketika ia menggosok-gosok matanya dan menengadah. tapi itu gerakan yang sudah diperhitungkannya." Ia duduk di bawah tepi atap gerbang. Ia bangkit. ia melihat jalan itu berkelok-kelok melintasi rumpun pohon. ia tidak berada dalam bahaya. Tak ada lagi kelelahan yang tersisa ia merasa lahir kembali. Di dalam sana ia melihat rumpun bambu yang terselimut kabut pagi. Barangkali ia telah memperlakukan anak itu terlalu kasar malam sebelumnya. Kadang-kadang ia merasa sudah tersesat di luar wilayah puri. setidaknya untuk malam itu. ya. dinding batu." katanya pada diri sendiri. Apakah karena perawatan penuh cinta yang telah diberikan pada daerah itu. Cahaya siang datang. ia berkata lirih. akan kupergunakan pendekatan lain. ternyata tidak ada sesuatu pun yang terdengar. bagus sekali. lalu memanjat ke luar parit. bersandar ke tiang. dan entah kenapa ia teringat pada Jotaro. Air itu bagus. Di sebelah sana menjulang tebing. Sesaat ia mendapat perasaan samar-samar bahwa Jotaro memanggilnya. tampak olehnya matahari merah cemerlang naik di atas pegunungan. Ia mendengarkan suara sungai kecil yang mengalir menuruni sisi gunung. Ia mesti menguasai diri terlebih dahulu. Ketika ia sudah hampir menjerit karena frustrasi. seperti yang terdapat di tempat-tempat penganut Budha Zen menyendiri di pegunungan. Ia sudah mendengar dari pemilik penginapan itu bahwa Sekishusai mundur bukan ke salah satu lingkaran puri. dan bagian dari latihan anak itu. kepekaan penghuni tempat itu menembusnya hingga gejolak perasaan Musashi mereda. "Tak perlu buru-buru. dipaksa oleh dorongan setani. Sesaat ia tergiur untuk melompati pagar. dan ia gunakan sebagai tempat menapak. hingga Musashi membayangkan bahwa mungkin itulah alasan utama Sekishusai Ebook by Kang Zusi . sebelum menampilkan diri kepada tuan di dalam itu. Tentunya ia tampak seperti orang gelandangan sekarang. dan di atas tebing itu Gunung Kasagi. Sepanjang malam ia mencari. ia bermaksud. karena ia sekarang sadar bahwa tenaganya sudah habis. mengambil jalan memutar dalam pagar. Ada sesuatu pada lingkungan itu yang menghambatnya berbuat demikian. Keinginan untuk menemukan dan mengalahkan Sekishusai sekali lagi menjadi nafsu yang mengendalikan semuanya. tapi ketika ia berhenti dan mendengarkan lebih saksama. tapi kemudian potongan pant. dan jatuh tertidur. Inc. Akhirnya. Bintang-bintang sedang memudar dan bunga-bunga aster putih berayunayun.property of: CROSSFiRE. Hari sudah mendekati fajar ketika ia berada di gerbang belakang puri. kalau nanti menemukan rumah pegunungan itu. Barangkali ia kini sudah bermil-mil jauhnya. mau rasanya ia melihat hantu dalam bentuk Sekishusai. Sambil meregangkan badan. dan tenaga yang tertimbun di dalam anggota badannya menghendaki kegiatan. di kaki lereng yang menjurus ke bagian tenggara purl. "pasti seseorang datang ke gerbang ini. Tapi ketika jam demi jam berlalu. Musashi berjalan terus menembus hutan dan lembah. ketika sebutir embun besar jatuh dengan dinginnya ke lehernya dan membangunkannya. ataukah karena ia melihat daun-daun bunga putih di tanah? Apa pun alasannya. Terkaannya segera dibenarkan oleh sebuah gerbang beratap lalang dengan gaya yang disukai ahli upacara minum teh besar Sen no Rikyu. atau lumbung padi meyakinkannya kembali bahwa ia masih ada di dalam." pikirnya. ia kembali mengayun langkah ke arah selatan. Dan itulah waktunya. "Hari inilah harinya. "Lambat atau cepat. Musashi membasuh wajah dan minum sekenyang-kenyangnya untuk ganti makan pagi. melainkan ke satu tempat terpencil di wilayah luar. pepohonan yang bagus bentuknya dan rumput yang terawat balk pun menyatakan kepadanya bahwa ia telah menemukan tempat memencilkan diri itu. mendaki bukit. netcafe.

yang mungkin diperoleh dari mengalahkan orang yang sudah tidak menghargai kehormatan dan jasa? "Bagus juga aku membaca ini. dan tulisan yang berupa ukiran itu diisi dengan tanah liat kebiruan yang tampaknya seperti lapisan perunggu. Keduanya ditulis dengan indah. dan sesudah menggosok tengkuk seluruhnya. hai para penulis. baik itu hasratnya sendiri maupun hasrat orang lain. siapakah yang datang itu. "Kalau tidak. Hanya bunga dan burung. Ia berbeda dari Sekishusai. "Aku masih muda. yang akan memasuki gerbang ini. "Aku harus!" Keragu-raguan mencengkamnya. ia membersihkan kotoran kukunya. kalau ada. Akan dia yang menyukai purinya tertutup. dan serunya. Dan kehormatan apakah. seperti berbedanya bintang yang terkecil dengan bulan. serta memperdengarkan teriakan terkejut. Ia sudah meninggalkan sama sekali hasrat dunia. "Jotaro! Di mana kamu?" Mendengar suaranya." gumamnya sambil menoleh ke sekitar. Karena Sekishusai tidak hanya pemilik Gaya Yagyu. pikiran untuk menyerobot masuk mendatangi pertapa kuno itu kini terasa liar. Hanya burung-burung bulbul muda di ladang. Pikirannya terang. hingga jaraknya tinggal beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Agaknya karena takut mendengar bunyi ribut itu. Otsu berlari turun." Keinginan untuk mengetuk gerbang pun menguap. Rumah itu cukup jauh letaknya di atas bukit. Karena itu kemungkinan ketukan biasa tidak akan terdengar. Jadi. Musashi bermaksud menampilkan diri sebaik-baiknya. Musashi menjadi merah mukanya karena malu. bukan lagi penguasa tanah perdikan. tetapi orang yang telah kembali kepada alam. Ia Ebook by Kang Zusi . tetapi juga salah satu orang besar di negeri itu. Jantungnya berdebar-debar dan keyakinan dirinya terbang. Kemudian Otsu berhenti dan membalik. tetapi juga bagi semua peristiwa dunia ini. yang menolak kesia-siaan hidup manusia. "Kukira tadi dia ada di belakangku. dan mulailah ia berkeringat. Sekishusai bukan lagi pemain pedang terbesar di negeri ini. Orang tua itu menutup gerbangnya tidak hanya bagi para murid yang mengembara. Namun karena ia tak tahu apa-apa tentang seni upacara minum teh. Ia basuh handuk tangannya di dalam sungai. bagi segala kemuliaan ataupun kesengsaraannya." pikirnya. Ya. Kemudian ia berlari kembali ke atas bukit. memilih tempat ini untuk mengundurkan diri dari dunia." kata Musashi pada diri sendiri. Ia menepuk-nepuk rambutnya dan meluruskan kerahnya. Mengganggu rumah tangganya akan merupakan pelanggaran besar. nyanyian burung bulbul mereda. dan ia merasa mantap dalam hati. angin dan bulan. ia bertekad mengetuk pintu gerbang itu sebagai tamu yang sah. namun maknanya lebih dalam dari itu." pikir Musashi. sekelompok burung kecil mengangkasa. Musashi mengintip lewat gerbang. dan jasa apakah. Ia sendiri tidak lebih dari seorang prajurit tak bernama. maksudnya para pejabat puri. Inc. suling gadis itulah yang telah didengarnya! Haruskah ia menanti dan kemudian menjumpainya? Atau pergi saja? "Aku ingin bicara dengannya. Ternyata Otsu. netcafe. Kemudian ia rapikan rambut dengan belati yang melekat pada pedangnya. Maka dicarinya alat pengetuk. Sajak itu ditujukan kepada para "penulis". dan ia merasa sangat malu terhadap diri sendiri. aku akan menjadikan diriku orang yang setolol-tololnya!" Bersama dengan semakin tingginya matahari di langit. Dan di sebelah kiri: Takkan kautemukan pemain pedang di sini. tak terbayang olehnya bahwa air semurni itulah yang menjadi cita-cita setiap ahli upacara minum teh.property of: CROSSFiRE. Dari kejauhan di atas bukit terdengar bunyi langkah-langkah cepat. Di sebelah kanan tertulis: Janganlah curiga. "Terlalu muda! Orang ini ada di luar jangkauanku sama sekali. dan terlihatlah olehnya sepasang tanda peringatan di kedua sisi gerbang.

jangan pergi ke manamana. "Kita bisa bicara lagi nanti. kalau Kakak tak bisa ingat apa yang Kakak lakukan sendiri? Tapi biar bagaimana. "Saya di sini! Di mana Kakak?" seru Jotaro dari bagian atas rumpun. Dia bukan orang yang gampang terluka." "Cuma itu?" "Tentu saja cuma itu. "Di sini!" jawab Otsu." "Ah." Jotaro datang berlari-lari mendekati Otsu. Inc. Otsu bergegas pergi ke gerbang. Katanya dia mau menemui orang yang sudah melakukan apa yang kamu katakan itu. Musashi tentunya mendengar juga. tidak betul." "Lucu. Ketika saya katakan padanya saya sudah membunuh Taro." "Saya tak melihat apa pentingnya itu. dari bunyi suling itu saya dapat mengira-ngira di mana Kakak berada. "Oh. karena itu saya pikir kalau saya dapat minta maaf kepada Yang Dipertuan." Tiba-tiba. seperti bunga. dan kali ini terdengar balasannya. mesti mencari orang penting pagi ini?" "Ah. ya?" serunya. Saya tak mengerti." "Saya juga sudah ikut." Otsu tampak benar-benar riang. karena sadar sedang membuang-buang waktu. netcafe." "Tapi bagaimana Kakak bisa kenal dengan Musashi?" "Kami datang dari desa yang sama. saya tak akan kuatir. sampai tak tahu saya." "Tapi sungguh pertunjukan besar yang kamu lakukan-menyerbu rumah orang dan menjerit-jerit tentang 'pertempuran' yang sedang terjadi. Beberapa waktu kemudian Otsu memanggil kembali. apa yang mesti saya lakukan. Tak dapat ia bergerak dari tempat sembunyinya di dalam bayangan pepohonan itu. Kita mesti mencari Musashi." "Mana bisa begitu. Ketika mendengar suling itu.. saya pun ingat Kakak ada di puri ini. jadi Kakak di sini." "Kalau kamu memang mendengarku main suling. saya cukup gentar juga." "Tapi dia orang baik." "Aku juga begitu. saya bukan mau menangis. tapi saya tidak kuatir dengan dia.property of: CROSSFiRE. Cuma semuanya itu begitu cepat." Suara Otsu menjadi lunak. Sekishusai malahan sudah melanggar peraturannya sendiri. Yang Dipertuan jadi terkejut juga. Cuma. kenapa pula Kakak mesti menangis hanya karena ada orang sedesa datang ke sini." "Tapi apa aku menangis lama?" "Bagaimana bisa Kakak ingat semua yang saya lakukan. Tapi kabarnya mereka semua itu jagoan. terutama sesudah kamu menyebut nama gurumu itu. "Aku kan sudah bilang tadi. Bahkan dia mungkin tahu yang main itu aku.. Dalam matahari terang awal musim panas itu pipinya Ebook by Kang Zusi ." katanya. "Sekarang ada yang lebih penting dilakukan. jadi saya mengejarnya." "Kedengarannya lain dengan kejadian tadi malam itu: kamu datang lari-lari ke kamarku dan langsung mau nangis saja. merasa muak karena telah kehilangan keyakinan. "Aku sedang memikirkan dia ketika aku main itu. mengejar ayam pegar! Apa kamu lupa. saya kira. Kalau soalnya cuma empat orang biasa lawan guru saya. dia tidak mengamuk seperti yang lain-lain. tapi kemudian saya lihat ayam pegar. "Kan sudah kubilang kau ikut aku.

Musashi cepat menangkap daya hidup Otsu yang baru dan membuatnya bertambah cantik itu. Waktu itu ia masih anak-anak yang sentimental. dan yang lain jalan gelap. cinta yang dirasakannya waktu itu hanyalah samar-samar dan sukar dipegang. Otsu yang ia lihat sekarang ini lain sekali dengan gadis yang duduk patah hati di beranda Kuil Shippoji dan memandang dunia luar dengan mata kosong. Ia dapat mendekapnya. "Sensei!" Di tengah rumpun terdengar bunyi gemeresik. netcafe. "Lihat ini!" "Ah. Ini dari rumah janda tempat kami menginap di Nara Lihat ini: ada gambar daun mapel celupan di sini. Dan ketika menoleh ke belakang. ia dapat menunjukkan kepada Otst bahwa ia pun dapat bersikap mesra. dan dengan sekuat suaranya ia memekik. lahirlah cinta yang kini menetap di dalam dirinya dan memberikan arti pada hidupnya. Ia ingin menarik kembali kata-kata yang diukirkannya di Jembatan Hanada itu. dan kedua yang mengatakan kepadanya bahwa ia orang tolol. bersinar seperti buah masak. Ia memang merasa sengsara. apa yang kamu lakukan itu? Ayo cepat!" "Tunggu!" seru Jotaro riang. Atau setidak-tidaknya. Tersengal Otsu memutai badan dan melejit ke arah pepohonan. tubuh dai pikirannya membentuk keberanian untuk menghadapi apa pun. yang berseru kepada Otsu." . namun ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak dapat menyerah kepada segala perasaan itu. dan ia melihat betapa kejam dan buruknya ia menolak cinta yang sederhana dan terus terang seperti yang diungkapkan Otsu. Ia mencium daun-daun muda. Kalau tidak ada orang yang tahu. Perbedaannya adalah karena waktu itu Otsu tak punya orang yang dicintai. "Saya ingat ini. ini miliknya. dan ia merasa kesegaran dedaunan itu mengisi paruparunya. Ini nama pemilik restoran bakpau di sana. Ia akan menyatakan kepada Otsu. satu jalan terang. Jotaro berdiri tegak sampai hampir setinggi gadis itu. "Jotaro. diikuti anak itu. sesuatu yang menyatakan kepadanya bahwa itu salah. Inc. "Milik Musashi?" ucap Otsu sambil berlari kembali mendapatkan Jotaro. Hal-hal yang dikatakan Otsu kepadanya di masa lampau kini kembal mengiang di telinganya." jawab Jotaro seraya membeberkan handuk tangan itu untuk dilihat Otsu. ia melihat Jotaro membungkuk mengambil sesuatu. dan ingin ia membawa gadis itu ke suatu tempat. Dirinya terpecah menjadi dua: pertama. Ia tak bisa mengatakan." "Apa menurutmu Musashi ada di sini?" teriak Otsu sambil memandang bingung ke sekitarnya. Musashi yang sedang bersembunyi di antara pepohonan memperhatikannya baik-baik clan mengagumi kesehatan tubuhnya. manakah dirinya yang sebenarnya Seraya memperhatikan dari balik pohon dan tenggelam dalam keraguan itu ia seperti melihat dua jalan di hadapanya. "Ya. dan ada huruf yang bunyinya 'Lin'. di mana mereka dapat berduaan saja. "Ke mana Kakak pergi?" tanya Jotaro. Ia ingin mengungkapkan bahwa jauh di dalam hatinya yang terbuat dari baja itu terdapat kelemahan. Sepanjang tahun yang dihabiskannya untuk mengembara mencari Musashi. Otsu berjalan beberapa langkah meninggalkan gerbang. membelaikan pipinya ke pipi Otsu. dan menceritakan semua kepadanya Betapa ia merindukan Otsu secara fisik. Sekarang ia cukup kuat untuk mengaku bahwa semua perasaannya itu nyata. itu kan cuma gombal tua yang kotor! Buat apa itu?" "Ini milik Musashi. mencurahkan air mata yang ingin ia tangiskan. Sesudah mengenal Musashi dan mengaguminya. "Musashi baru saja lari!" Ebook by Kang Zusi . Karena tak tahu adanya Musashi.property of: CROSSFiRE. yang sadar benar akan keyatimannya dan merasa agak benci dengan kenyataan itu.

dan menatap wajah Otsu. Otsu terus mencelanya. merasa kehilangan. dan sepanjang kaki bukit itu menghampar jalan belakang dari Tsukigase ke Iga. Ia tak percaya bahwa Musashi orang yang bisa berbohong kepada perempuan. Namun. Mereka berhenti dan berdiri di sana. Inc. Cintanya yang besar pada Musashi tak mampu menahan kepergian Musashi—walaupun untuk cinta itu ia bersedia mengorbankan segalanya. anak itu dapat dengan jelas melihat gurunya. Ebook by Kang Zusi . "Kakak keliru!" pekik Jotaro. Otsu bersandar ke pohon berangan besar. tetapi kegembiraan sekilas yang dirasakannya segera digantikan oleh keprihatinan. ia akan mengatakannya demikian. dan ia mulai berteriak juga sekuat-kuatnya." "Di rumpun pohon sana itu!" Otsu melihat sosok tubuh Musashi. netcafe. dan sambil mengerahkan suara sekuat-kuatnya ia menjerit. karena Musashi dengan cepat meningkatkan jarak yang memisahkan mereka. tapi di luar itu keduanya serupa. "Kenapa kamu tidak memanggilnya juga? Panggil dia! Panggil dia!" Jotaro bukannya melakukan yang disuruhkan Otsu. "Barangkali orang lain. "Itu Musashi!" teriak Jotaro. "Kita tak boleh menyerah! Dia tak akan kembali lagi kalau kita biarkan dia pergi sekarang! Panggil dia! Suruh dia kembali!" Ada sesuatu yang menolak dalam diri Jotaro. tapi kenyataannya di Jembatan Hanada Musashi mengatakan senang sekali kepadanya. "Musashi!!" Tapi baru saja teriakan kalut itu keluar dari bibirnya. ia terhuyung jatuh. hingga tak dapat mendengar teriakan mereka. Ia sudah tahu itu. "Ke mana?" "Ke situ. "Dia sudah gila! Dia tak berakal! Bagaimana mungkin dia meninggalkan saya seperti ini?" teriak Jotaro sambil mengentak-entakkan kakinya.. tapi ia berteriak. Di sebelah hutan terdapat bukit rendah. dan marah. namun. alis yang seperti jarum. sementara gemericik sungai menambah kesepian mereka. Ia tahu." "Saya tak melihat dia. Kalau Musashi tak ada minat kepadanya. sedih. apa tujuan hidup Musashi dan kenapa Musashi menghindari dirinya.property of: CROSSFiRE. Maka mereka berlari kembali. Otsu dan Jotaro berlari sekuat kaki mereka sambil berteriak-teriak sampai parau. Jotaro menolongnya berdiri. Jeritan mereka menggema melintasi peladangan. Sampai di jalan tersebut.. Ia heran. tak ada gunanya berdebat dengannya. Pada mulut Otsu tidak ada bengkokan aneh ke atas. dengan matanya yang merah. sejak pengalaman di Jembatan Hanada. serta hidung dan rahang yang seperti lilin. Awan putih menghampar kosong di atas mereka. tapi pandangan wajah Otsu menyatakan kepadanya. Jotaro berlari mengikutinya. Otsu mulai memahami Musashi ketika melihatnya terikat di pohon di Shippoji itu. karena ia lari langsung masuk kaki perbukitan yang berhutan lebat. Itulah muka topeng! Topeng perempuan gila yang diberikan kepadanya oleh janda di Nara itu.. Di ujung lembah mereka tidak melihat Musashi lagi.. Ia mengingat kembali katakata Musashi dengan sedihnya. walau tidak yakin benar bahwa Otsu melihat Musashi. seperti anak-anak telantar. Sudah pernah ia melihat wajah itu. Jotaro cepat menarik tangannya dan undur dengan ketakutan. Otsu berlari mengejar dengan sekuat kakinya. dan air matanya mengucur sejadi-jadinya. melainkan kelu karena terkejut. Kenapa tekadnya itu mesti dilemahkan oleh kehadirannya? Ataukah itu cuma alasan? Apakah alasan sebenarnya karena Musashi tidak cukup mencintainya? Itulah yang barangkali lebih masuk akal. kenapa Musashi menganggapnya penghalang antara dirinya dan cita-citanya. Namun ia tak bisa mengerti. Kenapa Musashi mesti lari?" "Coba lihat itu!" "Ke mana?" "Ke sana!" Ia mengambil napas dalam-dalam. tetapi Musashi sudah terlalu jauh di depan mereka.

Sekalipun melihat Takuan merupakan guncangan bagi Otsu. karena memiliki banyak harapan di masa depan. "Lho. netcafe. "Nah. tidak dapat Ia mengatakannya. Pengkhianatan Matahachi telah mengajarkan kepadanya betapa seorang gadis harus berhati-hati dalam menilai lelaki. dan cucu saya yang telah meninggalkan pekerjaannya pada Yang Dipertuan Kato dari Higo. Di antara samurai yang sering datang ke sana adalah Suzuki Ihaku. Sekishusai pun menyukai biarawan muda ini. dan dari sana ia mengirimkan surat menanyakan kesehatan Sekishusai dan Munenori. dan ia telah membulatkan tekad untuk tidak menyesal berbuat demikian. Baru-baru ini Takuan singgah beberapa waktu lamanya di Kuil Nansoji di Provinsi Izumi. ia melihat Takuan Soho sebagai penyelamat. Mendengar suaranya. menyusun bunga. dan saudara lelaki Gorozaemon. Otsu menengadah. ada apa ini?" katanya. Apakah itu nasib atau bukan. banyak mendapat kemajuan. Ketika mendekati pohon berangan itu. Yagyu Gorozaemon. biarpun hanya sepatah? Ini sungguh terlalu berat untuk ditanggung. dan salah satu hasilnya adalah kuil itu jadi dikenal sebagai wilayah pembibitan pemberontakan. Sesudah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Puri Koyagyu. Pada waktu ini ia merasa tidak ada orang lain kecuali Musashi yang patut dibela atau diandalkannya. saudara lelaki Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Kedatangannya bukan kebetulan. Munenori sudah mendapat kedudukan dalam Keluarga Tokugawa di Edo. tapi sekali ia percaya pada seseorang. Perkenalannya dengan mereka bermula ketika ia masih seorang biarawan muda di Kuil Sangen'in. semakin ia tenggelam dalam cinta pada Musashi. la menjadi kegembiraan dalam umur tua saya. Takuan sudah lama menjalin hubungan persahabatan dengan Keluarga Yagyu. transparan. Pada masa itu. saya pikir Anda dan dia banyak memiliki persamaan. Tetapi Musashi bukanlah Matahachi. "Takuan!" Dalam keadaannya sekarang ini. seakan-akan pohon itu sendiri mengerti dan bersimpati. ini datang seorang pendeta. Dengan semakin dekatnya siang. Saya sendiri sekarang memiliki tenaga seorang gadis muda dan cantik. apakah ia tidak sedang bermimpi. Dan ia telah menerima jawaban panjang dari Sekishusai. yaitu orang-orang yang merasakan perlunya mempelajari peristiwaperistiwa kejiwaan maupun keterampilan teknik dalam seni perang. dan bukan pula keajaiban. menjadi bunga yang berkembang di rumah. Inc. Kewajibannya mencakup pembersihan dapur dan pembuatan empleng kacang. Dengan matanya yang bengkak dan lebar karena kagum ia berseru. Sebagai anak yatim. Jotaro memandang ke jalan. Sangen'in yang dikenal dengan nama "Sektor Utara" Daitokuji termasyhur sebagai tempat berkumpul para samurai "luar biasa". ahli waris Keluarga Yagyu. namun bagi Takuan menemukan Otsu tidak lebih daripada pembenaran atas sesuatu yang telah ia curigai. ia akan mempercayainya sepenuhnya. Kaum samurai yang bergerombol di sana lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan kaum biarawan Zen. yang tidak hanya dapat bermain suling dengan baik. Biarawan yang menuruni lereng di kejauhan itu tampak seperti turun dari atas awan dan tak ada hubungan apa pun dengan bumi ini. Menyenangkan luar biasa minum sake malam hari dengan iringan suling yang Ebook by Kang Zusi ." Otsu tidak memperhatikannya. Karena ia mengatakan datang dari Mimasaka yang berdekatan dengan tempat kelahiran Anda dan dibesarkan di kuil yang bernama Shippoji. dan keduanya bersahabat semenjak itu. apa pun yang terjadi. tetapi juga berbicara dengan saya. tetapi semangatnya yang dirobek-robek kesedihan menunjukkan bahwa tidak ada hidup sejati baginya di luar Musashi. dan pergi belajar sendiri. dan ucapnya. sikap dingin tertentu mencegah dirinya mempercayai banyak orang. Tapi kenapa Musashi tak dapat mengucapkan kata-kata. Takuan berjumpa dengan Sekishusai dan menaruh rasa hormat yang besar kepada orang tua itu. Ia telah memutuskan akan hidup untuk Musashi. Daitokuji. yang di antaranya berbunyi: Saya sangat beruntung akhir-akhir ini. langit di atas berubah menjadi biru tua. artinya samurai yang mencurahkan perhatiannya kepada pemikiran filsafat tentang makna hidup dan mati. dan bersama-sama kami menyiapkan teh. dan mengarang sajak. yaitu Munenori. yang baginya mengesankan. yang kalau tidak berkat dirinya akan merupakan gubuk tua yang dingin dan layu. ia memandangnya dan melihat Otsu. Semakin marah. Munenori cepat menyukai Takuan. Daun-daun pohon berangan bergetar.property of: CROSSFiRE. Ia bertanya-tanya dalam hati.

karena Takuan tidak pernah jatuh cinta. Satu-satunya pertanyaan dalam pikiran saya adalah. "Sekiranya saya punya keraguan. tidak. sekiranya saya bermaksud menyerah. entah Takuan dapat memahaminya atau tidak. saya harus melakukan sesuatu untuknya. Sambil menggigit bibir. Ia kelihatan berada dalam lembah keputusasaan. "Kukira kaum perempuan mampu memilih jalan hidup yang mustahil bagi kaum lelaki." "Hati-hatilah. dan Otsu menjawabnya tanpa bertele-tele.." "Nah. khususnva demi hal yang tak lebih dari cinta yang bertepuk sebelah rangan. entah yang pandir dapat memahaminya atau tidak. Takuan mendengarkan cerita Otsu yang menyedihkan itu sambil mengangguk-angguk sabar. Baginya. membuatnya bersungguh-sungguh menerimanya. kalau kau mau mati. Otsu menjadi marah kembali. saya tak mengerti apa yang Bapak maksudkan. lalu apa yang telah terjadi pagi itu. Otsu!" "Terhadap apa?" 'Di bawah matahari yang terang riang ini dewa maut sedang menariknarikmu. ia mengatakan. apakah hal ini akan menimbulkan kesulitan baginya. Kalau memang demikian. baik permainannya. tapi itu karena dewa maut ncminjamkan tenaga kepadamu. Ia menyampaikan kepada Takuan apa yang dilakukannya semenjak wrakhir kali mereka bertemu di Himeji dahulu. Seorang lelaki yang memiliki kemauan seperti yang kaumiliki ini pasti dapat melaksanakan sesuatu demi kebaikan negeri. ada orang-orang yang bersedia mati demi cinta.property of: CROSSFiRE. " "Sava. sangat sukar bagi Takuan menolak andangan ini. "barangkali tak akan saya meninggalkan Shippoji. " "Saya sudah memutuskan apa yang akan saya perbuat. Menurut penangkapanku. saya harap Anda datang dan menikmati santapan ini bersama saya. Saya masih bertekad menemui Musashi. Inc." "Kukira memang tak akan kamu mengerti. tetapi dugaannya bahwa gadis yang dilukiskan dalam surat itu adalah Otsu. seorang perempuan seperti saya ini hidup? Karena akan mendatangkan kerugian pada Musashi?" Ebook by Kang Zusi . Otsu.." "Oh. "Kau mestinya dilahirkan sebagai laki-laki. cinta itu satu hal yang jauh lebih serius daripada teka-teki sulit seorang pendeta Zen.. Otsu sudah berhenti berjalan dan kini memandang tanah. Tapi seperti halnya terdapat kebenaran dalam Zen. tak ada bedanya ini dengan udara kosong." Takuan memperhatikan dengan saksama. mencoba menjelaskan perasaannya kepada Takuan sama saja dengan Takuan mencoba menjelaskan Budhisme Zen kepada orang pandir. Takuan menjadi sungguh-sungguh. Bagi seorang yang dibuai oleh cinta yang bermakna hidup atau mati. Otsu. kau menghendaki aku memberikan nasihat padamu tentang jalan yang harus kautempuh di masa depan. Ketika mereka bertiga berjalan menuju rumah Sekishusai. apakah salah." kata Otsu.. namun ada suatu kekuatan dalam nada bicaranya. Ketika Otsu selesai bercerita. Otsu bersumpah tak akan mengatakan apa-apa lagi.. Setidak-tidaknya bagi perempuan. netcafe. tidak ada bedanya bunyi tepukan sebelah tangan." kata Takuan tertawa." "Jadi. Tolol kamu." "Dan apa itu artinya?" "Tak dapat saya mengatakannya pada Bapak. Tak mungkin bagi orang yang tidak pernah jatuh cinta memahami apa yang dirasakannya. Dalam keadaan bagaimanapun. Pikirnya. dan karena Anda demikian dekat dengan tempat ini. Takuan mengajukan banyak pertanyaan pada Otsu. dan apakah kalau saya terus hidup akan mendatangkan ketidakbahagiaan padanya. dan akhirnya bagaimana perasaannya terhadap Musashi. yang memaksa Takuan melakukan penilaian kembali.

Aku tidak bicara soal itu. sebelum pergi menuruti kehendak hati?" "Saya akan mengucapkan selamat tinggal dalam hati. dan melihatmu lagi kamu sudah berbuat seperti semua perempuan lain. Saya tak bisa berbuat lain. Saya mencintainya!" "Coba. Jotaro. dan ia dekati gadis itu dan ia pegang tangannya. Betapapun kamu mencintainya. Maka serunya kepada Otsu. ha! Terima kasih banyak." "Oh. di tengah pegunungan dan sungai-sungai ini. Kamu bisa mendapatkan suami yang baik di Koyagyu. ia memandang Jotaro.. aku lebih suka melihatmu hidup dalam kedamaian. tapi di sini juga indah. belum lama aku tidak melihatmu." Ebook by Kang Zusi . Dan itu akan membuatmu lebih bahagia.property of: CROSSFiRE. "Jangan putar balikkan apa-apa yang kukatakan. "Kamu boleh tertawa." "Saya lakukan ini bukan karena saya senang melakukannya." Takuan berdiri memperhatikan. dan katanya. Kamu akan membuat tempat ini lebih baik. Saya akan mengikuti guru saya." demikian ditawarkannya. seperti juga burung-burung bulbul yang kita dengar sedang menyanyi itu. sejak saya lahir." "Kegelapan?" "Kamu dibesarkan di dalam kuil. "Kamu juga. kamu tak akan mempertimbangkannya kembali?" "Mempertimbangkan apa?" "Tinggal di Pegunungan Mimasaka itu indah. jadi Bapak tidak lihat. Otsu. ada!" Takuan memasukkan tetesan daya terakhir ke dalam permohonan-nya. ya? Baiklah." "Jadi. "Aku akan bicara dengan Sekishusai tentang itu. Kamu mesti tahu. Diiringi kerjapan alisnya yang sedih. tak usah kita bicara lagi. biarawan itu sampai pada kesimpulan bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukannya." "Tidak pernah ada jalan terang bagi saya. Beliau tahu. tapi. Bapak berusaha membantu. Di sini damai dan tenang. tidak ada. Pak!" Takuan mengeluh. yang demikian bertekad pergi membuta menempuh jalan yang telah dipilihnya." "Cobalah! Kuminta kamu mencoba!" Sambil menarik tangan gadis itu. karena sadar bahwa ia tidak berdaya menghadapi perempuan muda yang berkemauan keras ini. Nak!" Jotaro menggelengkan kepala dengan tegas.. Memang benar. dan hidup di sini sederhana. Ia ingin sekali agar gadis itu mempercayainya. "Saya tidak. dia masih lari." "Ha." Otsu melengos. "Apa kamu takkan mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. dan katanya. bahwa jalan kegelapan dan keinginan itu hanya menjurus pada kekecewaan dan kesengsaraan. memiliki anak-anak. Inc. netcafe. sedangkan Otsu dan Jotaro menuruni jalan samping. Kekecewaan dan kesengsaraan yang tak bisa diselamatkan lagi." "Saya mengerti." "Ah. tapi jalan yang hendak kamu tempuh itu jalan kegelapan. saya tak pernah bermaksud tinggal lama di sini. "Tentang bagaimana kamu bisa hidup dan bahagia. bukan? Dan aku berani mengatakan kamu tak akan dapat menangkapnya. ada. dan melakukan hal-hal yang juga dilakukan perempuan lain. perempuan bagiku merupakan teka-teki. Daripada melihat kamu pergi memasuki dunia biasa dengan segala kesengsaraan dan kesulitannya. "Ayo pergi. Pendeta cemerlang seperti Bapak tak akan dapat memahami perasaan perempuan!" "Tak bisa aku menjawab ini.

tak peduli dengan jalan kegelapan dan jalan terang itu. "Ya. dan secara naluriah merasa bahwa itulah wajah masa depan Otsu. Pak. meratapi kegagalannya. Akan saya ambil dulu. dan panggillah namaku! Sementara ini. "Topeng saya tertinggal di sana. Puri Osaka yang dihuni oleh Hideyori dan ibunya. Sebagian karena hubungan air yang langsung ini. dianggap orang sebagai isyarat masa depan." katanya. Pikirkan diriku. ayo pergi! Sekarang!" Takuan menengadahkan mata ke awan-awan putih." "Oh. tepat seperti matahari yang sedang terbenam berteguh pada keindahannya yang perlahan menghilang. Takuan diam. Jotaro bergayut pada lengan kimononya. tapi saya mohon Bapak menyampaikan terima kasih saya dan ucapan selamat berpisah kepada beliau. katanya. "Otsu. Itu kelihatan dari perahu-perahu yang hilir-mudik di sungai." kata Otsu. dari lagu-lagu rakyat. Puri Fushimi sedang dibetulkan." "Oh. dan katanya dengan sangat khidmat. yang bisa kukatakan cuma.property of: CROSSFiRE." Ia segera berlari. kalau kau nanti mulai tenggelam dalam Enam Jalan Jahat atau Tiga Persimpangan. "Saya pergi sekarang. Kekuasaan yang sebenarnya berada di Fushimi. Di sekitar Momoyama sedang terjadi pergolakan. Otsu berdiam diri di persimpangan. kemudian mengalir terus melintasi Dataran Yamashiro ke arah benteng Puri Osaka. dan cobalah berhati-hati!" MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 3 : API bagian 8 Sasaki Kojiro TEPAT di selatan Kyoto. menjatuhkannya. Perbenturan antara yang lama dan yang baru tampak di mana-mana. pergilah sejauh kau bisa. Tapi Otsu tetap tak tergoyahkan. sebutlah namaku. aku bahkan mulai berpikir sekarang bahwa pendeta-pendeta adalah orang gila. masih terus berusaha bergayut pada sisa kekuasaan yang sudah pudar. Inc. Takuan mengerut melihatnya. sekitar 20 mil ke sebelah barat daya. Kemudian Jotaro kembali berlari-lari mengenakan topeng." Takuan mengangkat kedua tangannya. netcafe. "Saya nyatakan hormat kepada Sekishusai di sini. dan tingkah laku orang-orang di jalan raya. apalagi seorang jenderal Osaka. yang dipilih Ieyasu sebagai tempat tinggalnya selama perjalanan-perjalanan jauhnya ke daerah Kansai. setiap gejolak politik di daerah Kyoto segera menimbulkan gemanya di Osaka. wajah yang akan ia saksikan sesudah Otsu menanggung derita dalam perjalanan panjangnya menelusuri jalan kegelapan. dan melangkah meninggalkan Takuan. Yodogimi. Takuan sudah mengingatkannya akan bahaya yang mengintai dalam hidup yang hendak ditempuhnya dan mencoba meyakinkannya bahwa ada jalan lain untuk menemukan kebahagiaan. "Nah." kata Otsu." "Selamat tinggal. Batu-batu karang yang dimuntahkan dari perahu-perahu ke tepi sungai Ebook by Kang Zusi . saya lupa!" kata Jotaro terengah. "Tak ada lagi yang dapat kuperbuat. lakukanlah apa yang kamu suka. Sedangkan di Fushimi setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang samurai Osaka. mereka bertemu dengan orang-orang yang berduyun-duyun menuju neraka. dan kembali menjadi teman lama yang pernah dikenalnya. tapi setidak-tidaknya kembalilah ke puri mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. Ke mana saja mereka pergi. karena Tokugawa Ieyasu memutuskan mengubah cara hidup yang telah berkembang di zaman Hideyoshi. Sungai Yodo melingkar mengelilingi sebuah bukit bernama Momoyama (daerah Puri Fushimi). "Sang Budha sendiri pun berputus asa menyelamatkan perempuan. dan dari wajah para samurai telantar yang mencari pekerjaan.

Sesudah menghitung dengan sipoa kolektifnya. Di Fushimi saja. kenapa Ieyasu mengawinkan cucu perempuannya. Penguasa yang berbudi. melainkan uang orang-orang yang bisa menjadi musuhnya. sambil mengobrol tentang soal yang sedang menjadi buah bibir setiap orang. yang secara langsung atau tidak mendapat keuntungan juga dari pekerjaan umum yang besar itu. Seekor jangkrik melesat berkelok-kelok dari sungai ke sebuah rumah kecil di dekat tepi sungai. karena ia dapat menghamburkan uang seperti menyebarkan gula-gula kepada anak-anak. Karena tak ada yang cukup kuat untuk menolak. Senhime. apa yang ada dalam pikiran Ieyasu. adalah orang yang tidak membiarkan para penggarap Ebook by Kang Zusi . kehilangan warna lembut cahaya lenteranya di waktu senja. pelacur. Kebanyakan batu itu besar. dan lalat langau—lambang-lambang kemakmuran. bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Tujuannya sebagian besar bersifat politik. dan selusin kota kuil yang lain lagi. Memang bukan uangnya sendiri. mereka berspekulasi tentang apa yang mungkin diperoleh di hari-hari mendatang. dan para pedagang mengkhayal bahwa di atas ini semua akan ada kesempatan buat terjadinya perang lagi—yang akan lebih menguntungkan. Sebagai gantinya. Alasan sebenarnya kenapa kuil itu diperbaiki tidak diketahui oleh pekerja rendahan. luasnya paling sedikit dua meter persegi dan tingginya sekitar satu meter. netcafe. tapi kudengar Keluarga Tokugawa sedang membeli senapan dan amunisi kapal-kapal asing. Mereka harus dibuat masa bodoh terhadap politik dan diajar mengandalkan diri pada kekuasaan yang ada. Akibatnya kota di sekitar kuil tiba-tiba dibanjiri para penjaja. tak ada alasan untuk mengeluh. Otsu. dua pekerja yang beruntung mendapat istirahat setengah jam dari kerja yang mematahkan tulang punggung itu berbaring telentang di permukaan sebuah batu besar yang lebar." "Kalau begitu. Bagi mereka tidak banyak bedanya siapa yang berkuasa. yang mengira Ieyasu akan tinggal di situ. bahkan sekarang pun kebanyakan barangbarang itu berupa perbekalan militer. Dalam pertanian pun ia memperkenalkan sistem pengendalian baru. tenang. Jenderal-jenderal Osaka tampaknya sedang mengumpulkan semua ronin yang dapat mereka temukan. Dalam hal ini pun Ieyasu tidak mengecewakan mereka." Lalat-lalat merubung kedua orang itu. panas yang membakar mengingatkan orang pada hari-hari terpanas setelah musim hujan di awal musim panas. "Kau pikir akan ada perang lagi?" "Kenapa tidak? Rasanya tak ada orang yang cukup kuat untuk memegang kontrol. hampir seribu pekerja dikerahkan memperluas gerigi batu di atas benteng. Batu-batu itu mendesis-desis terkena sinar matahari yang mendidih. Atap-atap rumah di desa itu berwarna abu-abu kering. Hikone. Barangkali tak boleh aku bicara keras-keras. Dari sekarang." "Kupikir kau benar. Walaupun waktu itu musim gugur menurut kalender. pasti ada alasannya. menurut jalan pikiran Ieyasu. Masyarakat luas gembira dengan masa baik yang didatangkan Ieyasu. Dalam panasnya tengah hari. para pengusaha besar menyimpulkan bahwa perbekalan militerlah yang paling menguntungkan. Selama mereka dapat memenuhi kebutuhan remehnya. cara ini membuat tuan-tuan feodal yang bersahabat terlampau sibuk untuk melunak. Segerombolan lain merubung dua ekor sapi jantan tak jauh dari situ. Tokoh-tokoh setempat tidak lagi diizinkan memerintah semaunya atau mengerahkan petani semaunya untuk kerja luar. Pohon-pohon liu di dekat jembatan berkilauan putih. kita boleh bertaruh. dengan Hideyori?" "Mana aku tahu? Apa pun yang dia lakukan. Kedua ekor binatang itu masih terpasang pada gerobak balok yang kosong. Penduduk kota dengan cepat melupakan hari-hari yang tenang pada masa kekuasaan Hideyoshi. Kerja pembangunan besar-besaran dilaksanakan juga di Edo. Nagoya. Orang-orang biasa macam kita ini tak mungkin tahu. Suruga. Barang-barang berlalu lintas dengan sibuknya. diam.property of: CROSSFiRE. berdebu. dan berliur mulutnya. Inc. para petani harus diperbolehkan menggarap tanahnya—dengan sedikit sekali mengerjakan yang lain. sekaligus memaksa para daimyo yang melawan Ieyasu di Sekigahara berpisah dengan sebagian besar penghasilan mereka. benar-benar menggunung. suatu bagian penting dari rencana pemerintahan Tokugawa. Salah satu cara Ieyasu untuk mengendalikan para daimyo adalah memerintahkan mereka menangani proyek bangunan. Tujuan lain pemerintah adalah memperoleh dukungan rakyat banyak. Padahal perbaikan itu merupakan satu tahap saja dalam program pembangunan besarbesaran." "Memang kupikir begitu.

makin cepat makin baik. Tak seorang pun berpikir tentang apa yang bakal terjadi lima ratus tahun lagi. Apa gerangan yang sedang dia lakukan?" Dalam keadaan sekarang. Ia bersandar pada batu yang satu. teman-teman dekatnya masih mengenalnya. walaupun tidak begitu menaruh harapan. dan membikin iri seluruh kampung. Yaitu sekadar melewati hari itu. Merasa mual. dan mencoba menanggalkan sifat malas dan kebiasaan buruknya. Kekeliruannya yang pertama adalah pergi ke Sekigahara. netcafe. maupun daimyo tidak sadar bahwa mereka dengan hati-hati sedang dijalinkan ke dalam sistem feodal yang akhirnya akan mengikat kaki dan tangan mereka. Para pekerja di Puri Fushimi itu pun tidak memikirkan hari esok. sementara selama itu seorang perempuan yang lebih tua menanggung hidupnya. ia mengetahui bahwa Miyamoto Musashi yang meraih reputasi sebagai pemain pedang di ibu kota itu ternyata teman lamanya. Pekerja itu kurus. kecuali Ieyasu. sedangkan matanya yang hitam tidak memperlihatkan tanda-tanda kekuatan ataupun harapan. tunduk kepada janda yang menggairahkan itu. "Belum terlambat!" demikiari ia meyakinkan dirinya. Mereka hanya memiliki harapan sederhana. ia sudah berhenti minum. "Semangka? Ya.. dan menjual tenaga sebagai buruh harian di Fushimi. biasa berkeliling. Yang kedua. pemilik pedang kayu. Inc. Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. lalu memberikannya kepada gadis itu. Sampailah ia pada keyakinan bahwa sekiranya bukan karena kedua peristiwa itu. "Semangka?" tanya gadis itu. mulailah ia merindukan Otsu kembali." Kecewa karena keberuntungan awalnya terhenti. yang sedang duduk di antara dua batu besar. Disumpahinya dirinya sendiri karena selama lima tahun tidak mengikuti arus perubahan. sedangkan tangannya merangkul lutut. ya? Kaukira kami punya uang buat semangka?" "Sini! Saya sih mau saja—kalau tanpa bayar. menjadi kepala Keluarga Hon'iden. Ketika sifat Oko yang sebenarnya akhirnya ia pahami. Baik orang kota.. di waktu seperti itu. tak mungkinlah keadaan mereka lebih buruk dari yang sekarang. itu berarti menutup mata. kepalanya merunduk murung. dan kakinya menyandar pada batu lain. namun rencana-rencana besar untuk menjaga perdamaian dan meningkatkan kemakmuran tidak berhubungan sama sekali dengan mereka. matanya cekung. Dengan jemu ia memandang semangka itu. gadis itu mendekati seorang pekerja muda. Sedikit pun tak ada lagi tenaganya untuk mengambil kembali semangka yang terjatuh dari pangkuannya. sedangkan kulitnya merah sehat terbakar matahari. siapa beli semangka?" seru seorang anak perempuan petani yang setiap hari. Gerakan kecil itu saja sudah membuatnya kehabisan tenaga. Dialah Hon'iden Matahachi. Sekalipun mereka berbicara tentang perang dan tentang kapan perang bisa meletus. Apa pun yang terjadi. Bayangan kelelahan menyamarkan usia mudanya. Dan semenjak ia berakal sehat. "Babi!" gumamnya lemah. si Wajah Berpupur.. Aku dapat melakukan apa saja kalau aku mencoba!" Setiap orang bisa saja mengalami perasaan seperti itu. Guncangan keras ini segera disusul gelombang cemburu hebat. Begitu muncul. petani. tapi dalam hal Matahachi. dan Takezo. Dengan lesu ia menghitung beberapa keping mata uang kotor dalam telapak tangannya. Tetapi mulanya ia tidak dapat menemukan pekerjaan yang cocok. ia sudah ada di rumahnya di Miyamoto sekarang. "Kukira Otsu pasti membenciku sekarang. Untuk sesaat kelihatan olehnya seolah sudah terlambat untuk mengadakan perubahan. Dengan riangnya ia beralih dari satu gerombolan ke gerombolan lain sambil berseru. ia pun berhasil menjual semangka pada beberapa lelaki yang sedang mengadu mata uang di bawah bayangan batu besar. dan membebaskan diri dari Warung Teh Yomogi. Yang dimaksudkannya adalah orang-orang yang hendak dibalasnya: Oko. Tak seorang pun. kadang-kadang memikirkan bekas tunangannya itu merupakan hiburannya satu-satunya. Dengan kebijaksanaan inilah ia bermaksud mengabadikan kekuasaan Tokugawa. Takezo. tanah mati kelaparan. "Umurku baru dua puluh dua. ia mencondongkan badan ke samping dan mulai meludah ke rumput. Namun demikian. Pada malam keberangkatannya. menjadi suami seorang istri yang cantik. semakin sering ia memikirkan Otsu. "Siapa lagi?" "Kamu gila. meloncati jurang lima tahun lamanya. Ketika ia menyandarkan diri kembali ke batu. sekaligus menjaga agar mereka tidak naik melebihi statusnya. Karena ingat akan Otsu.

"Kukira itulah yang baik. "Akan kutunjukkan pada semua orang!" demikian pikirnya. Tapi sepuluh tahun—tak mungkin! Tak akan lebih dari lima atau enam tahun! Dalam jangka waktu itu ia sudah mencapai sukses. dan akan kulakukan. Inc. Tak dapat ia mengetahui bahwa khayalannya kosong. bagus juga." "Oh. "Ini bukan apa-apa." Sepuluh tahun? Ia berhenti untuk menghitung. Dari Awataguchi kita menariknya Menyeretnya batu demi batu-demi batu. apa yang kau gumamkan sendiri? Mukamu kelihatan hijau. Di situ ia bekerja keras. manis menetes-netes itu. karena aku tak bisa mengerjakan bagian kerjaku. bukan apaapa!" Sengal-nya. Aku dapat melakukan apa saja yang dilakukan Takezo! Aku dapat melakukan lebih dari itu." Ia menatap semangka itu. Sambil menopangkan siku ke puncak batu besar lebar itu. Tapi kita setia padanya-sampai mati. Hei. Matahachi yang bayar. jelas telah mengetahui syair-syair itu dari sebuah pesta. Biar aku beristirahat di sini sekitar sejam. Pada waktu itu ia akan kembali ke kampung. ei. tidak kurang dari Yang Dipertuan Hachisuka dari Awa. yang tentunya tak ada kesempatan biarpun cuma menyentuh bahan-bahan bangunan. sa. "Kukira terlalu banyak aku terkena panas matahari. Bau keringatnya menyebar ke atas tanah. Ei. sementara matahari menyengatnya dari musim panas sampai musim gugur. netcafe. karena lagu ini bagian dari dunia mengambang yang kita tinggali!" Ebook by Kang Zusi . hei. tua-muda. kalian!" Samurai yang bertugas keluar dari sebuah gubuk memegang cambuk. sekalipun sedang mau muntah. teman itu berseru. kenapa aku tak dapat memperoleh nama untuk diriku. "Hei. Karangan sederhana seperti di bawah ini menjadi semacam mode di tengah masyarakat. "Itulah satu-satunya cara!" ucapnya. kawan-kawan! Makan ini." Buruh-buruh pun memecahkan semangka itu di sudut batu dan menyerbu-nya seperti semut. membagi-bagi daging buah yang merah. Yang Dipertuan. dan membujuknya untuk kawin. Agak bangga juga ia dapat bertahan di situ. ketika sebuah batu raksasa dipindahkan dengan pengumpil-pengumpil besar ke atas gelindingan dan diseret dengan tali-tali setebal lengan. Apa semangka itu busuk?" Matahachi terpaksa menampakkan senyuman lemah. Tarik ya! Seret ya! Tarik ya! Seret ya! Tuan kita bicara. Matahachi tak tahu sama sekali tentang apa yang belum lama itu terjadi di Mimasaka. Sekalipun kata-katanya jarang dituliskan. Yang kubutuhkan sekarang cuma sepuluh tahun. biarpun sudah mengalami peristiwa dengan Oko. membudakkan diri dengan tekun dari hari ke hari. berapa sudah umur Otsu waktu itu. sa. Segera kemudian terdengar lagu kerja para penghela batu di medan kerja itu.property of: CROSSFiRE. Air liur keluar dari mulutnya ketika ia mengguncang-guncangkan kepalanya.. dan menunggunya selama itu? Sedikit kemungkinannya. seperti gunung yang bergeser. telah mencatat beberapa syairnya dalam sebuah surat. Tiga puluh satu! Apakah Otsu akan tetap sendiri. "Tak ada alasan. "Lima tahun. "Semua orang. Salah seorang bertanya. Kaki tangan kita gemetar. dan kilas cahaya tampak kembali pada matanya." jawab Matahachi. yang bertanggung jawab atas pembangunan Puri Nagoya. Dengan ramainya pembangunan puri. Yang Dipertuan Togoro. Penulisnya berkomentar. Lalu aku akan melakukan pembalasan. Justru pada waktu itu salah seorang teman kerjanya berdiri di seberang batu besar di depannya. Buat Tuan Yang Mulia. meminta maaf kepada Otsu. Begitu semangka habis. seseorang melompat ke atas batu dan pekiknya. lagu-lagu berirama ini pun berkembang biak. "Kembali kerja. juga di antara para pekerja. Matahachi. "Kenapa kamu beli semangka kalau kamu tak bisa makan semangka?" "Aku beli ini untuk kalian semua. walaupun dengan cara baik-baik saja." Para penghela batu besar yang tegap-tegap itu mencemoohkan kelunglaiannya.. namun sekali lagi ia terserang gelombang pusing. menyanyikan lagu ini. Batu itu maju dengan berat dan lambat. atau paling banyak enam tahun.

Sekalipun panas matahari menyengat langsung wajahnya. nyanyian yang spontan sifatnya cenderung memberikan tempat kepada musik yang digubah oleh para musisi yang mengabdi kepada para shogun. Umpamanya aku kerja keras. Tampak olehnya seorang pemuda jangkung. dan pada halaman kedua ia mulai membuat diagram jalan-jalan dari belakang. Kasih tahu aku kalau nanti ada orang dating lemparkan saja kerikil atau yang lain." Ia kembali ke batunya sendiri. namun dengan perincian luas mengenai seluruh puri." "Kalau begitu. dan kali-kali kecil. Ditiupnya pasir di atas batu itu. Sebuah emblem dalam bentuk kipas bertulang baja yang setengah terbuka." Waktu itu dirasanya ada orang berdiri di dekatnya. Ia tidak melihat Matahachi yang waktu itu masih terlalu merana untuk peduli. dan mengeluarkan kuas dari kantong tulisnya dan buku tulis dari kimononya. aku tidak makan. Orang lain tidak ada artinya sama sekali baginya." katanya. matanya bergerak ke sana kemari dari puri ke lingkungan terdekatnya. Sekarang benteng ini tidak hanya dibangun kembali." jawab Matahachi. sehingga akan mengalahkan Benteng Hideyori di Osaka. yang kudapat cuma cukup buat makan sehari. Segera kemudian samurai itu tahu bahwa Matahachi sedang muntah. juga sebagian paritnya. Ia duduk membelakangi pendatang itu dan sekali-sekali muntah. Kaum buruh di Fushimi tidak sadar akan gema sosial lagu-lagu ini. ia tetap tak bergerak. nada-nada itu kehilangan sebagian semangat gembiranya. namun lagu-lagu mereka benar-benar mencerminkan semangat zaman. ia kembali mengamati baikbaik lingkungan sekitar. pegunungan di latar belakang. menghiasi bagian depan topinya. dan mulailah ia menggambar. Sesudah beberapa waktu. ketika kerasnya kekuasaan Ieyasu mulai terasa. lagu-lagu bahagia dan gembira sering terdengar di tempat umum.property of: CROSSFiRE. Di bawah tepi topinya. seperti segerombolan lebah. "Kenapa kamu?" "Panas ini. apakah ada orang atau tidak di dekatnya." "Sebetulnya lebih baik dari biasanya. Ia sedang memandang kerangka bangunan dengan penuh renungan dan sedang menaksir medannya. netcafe. Tepat sebelum Pertempuran Sekigahara. dan nyanyian dengan katakata "tarik-ya" itu mendengung. "Hei. menderita kerusakan besar. dan dua pekarangannya. Inc. sungai. Kepalanya tertutup topi anyaman kasar dalam-dalam." katanya. Matahachi meletakkan kepalanya ke tangan. dan kelihatannya tak mempan oleh panas yang tak menyenangkan itu. "Kau sedang kurang sehat rupanya. apa untungnya itu untukku? Aku kerja sehari penuh. Dalam keadaan seorang diri. ia pun mendudukkan diri di samping sebuah batu yang lebar rata. duduk di situ. Ia mendekat dan memasukkan obat itu ke mulut Matahachi. benteng. tapi saya pusing." rintihnya. Kalau tidak kerja. Lagu-lagu populer pada zaman merosotnya ke-shogun-an Ashikaga pada umumnya bersifat dekaden dan kebanyakan dinyanyikan secara pribadi. puri ini diserang oleh kesatuankesatuan Tentara Barat. Tinggi batu itu tepat sekali untuk meja tulis. Kepala itu demam oleh suhu tinggi. "Sebentar lagi kau sembuh." "Apa kau mau istirahat lebih lama di sini?" "Ya. melainkan juga diperkuat." "Mau obat?" kata samurai itu sambil membuka kotak obat yang dipernis hitam dan menumpahkan pil-pil merah ke telapak tangannya. termasuk juga menara utama. kini ia menjadi murung. Ia buka alas di atas batu itu. Calon prajurit itu membuat sketsa sepintas-lintas secara cepat. "Terima kasih. aku mau minta tolong. Kemudian hari. Ebook by Kang Zusi . tetapi pada tahun-tahun makmur kekuasaan Hideyoshi. dan di pinggangnya tergantung satu bungkusan seperti yang biasa dibawa oleh shugyosha. mengiang di telinganya. "Lima tahun. "Tapi apa gunanya. Ketika kekuasaan Tokugawa menjadi lebih kuat. dan ia menengadah. kemudian sambil menopangkan kepala ke batu dengan sikunya. termasuk juga iringan semut yang sedang berbaris di situ.

"Awas kamu!" seru si inspektur. aku punya perintah untuk menyelidiki siapa saja di tempat ini yang kelihatan mencurigakan. Ebook by Kang Zusi . "Kalau kamu tak mau ikut dengan sukarela. "Apa yang kamu lakukan ini?" serunya. Tapi kau boleh tahu. Nadi-nadi di dahinya menggelembung marah. netcafe. jangan. dan buku tulis sobek menjadi dua." "Apa dasarnya? Apa kamu perwira?" "Betul. berpakaian setengah zirah dan mengenakan sandal jerami.property of: CROSSFiRE." "Kupikir lebih baik aku menyimpannya. Tak peduli siapa kamu. kemudian mengulurkan tangan ke arah gambar. Orang itu berdiri diam. memperbaiki kedudukannya. Calon prajurit itu menangkap pergelangan tangannya dan bangkit berdiri. menginjaknya. Inspektur itu menjatuhkan belahan buku tulis tersebut. Ayo sini ikut aku!" "Jadi. jangan!" teriak calon prajurit itu hendak merebut buku tulisnya. tapi tibatiba saja muncul inspektur proyek. Inc. Inspektur mengambil buku tulis itu dan mengacungkannya tinggi-tinggi. kau menuduhku penjahat?" "Tutup mulutmu dan ikut aku." kata si inspektur. Kini sudah terlambat. Ia menengadah dengan mata terkejut." "Oh. "Uh-Oh!" ujar Matahachi pelan. aku sedang membuat telaah tentang puri-puri dan ciri-ciri geografisnya buat rujukan masa depan." "Apa kelompokmu? Siapa komandanmu?" "Bukan urusanmu. Atau kuadukan kau. seakan-akan menanti dilihat orang. "Aku mau lihat dulu." "Ini tugasku!" "Mengganggu urusan orang lain itu tugasmu?" "Kenapa? Apa tak boleh aku melihat?" "Orang bebal macam kamu tak bakal mengerti. Entah dari mana datangnya. dan waktu itulah tampak olehnya si pengganggu itu. dan si inspektur menatap kembali dengan marahnya sebentar." salaknya. Siapa kasih kamu izin membuat sketsa?" "Lho. yang kemudian berdiri di belakang pembuat sketsa itu. supaya dapat memberikan peringatan. pegawai-pegawai bejat! Terlalu biasa kalian menakut-nakuti orang banyak. Matahachi merasa bersalah karena tidak melihat pada waktunya. Segera kemudian calon prajurit itu mengangkat tangan untuk mengusir lalat dari kerahnya yang berkeringat. "Lebih baik kamu memberi penjelasan baik-baik. dan menarik lembing kapaknya. Kamu mesti menjawab beberapa pertanyaan. terpaksa aku mengikat dan menyeret-mu. "Kau tak punya hak." "He. Si calon prajurit melompat mundur selangkah. tiap kali kalian membuka mulut besar itu!" "Diam kamu! Ayo ikut!" "Jangan kau coba-coba denganku!" Calon prajurit itu tetap tak mau menyerah. Mereka semua mengajukan alasan macam itu. Kedua orang itu tarik-menarik. Apa salahnya?" "Tempat ini penuh mata-mata musuh.

dan lain-lainnya berteriak-teriak seakan-akan "mata-mata" itu musuh pribadinya. dan segera kemudian berkepul debu kuning di dekat gerbang kayu benteng yang memisahkan wilayah pembangunan dengan kampung. Seluruh peristiwa itu terjadi demikian cepat. ia mengenakannya dengan hati-hati di kepala. Belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan. Sambil melolong keras ditangkapnya leher inspektur itu dengan sebelah tangan. sempat melihatnya. "Orang udik tak berguna!" jeritnya. segera bergerak. Matahachi berteriak ngeri sambil menutup muka dengan tangan untuk melindungi diri dari gumpalan-gumpalan benda encer merah yang melayang ke arahnya. Matahachi mulai mengucurkan keringat. Mungkinkah orang itu sudah terbiasa mem-bunuh dengan cara brutal seperti itu? Ataukah sifat darah dingin itu sekadar akibat ledakan kemarahan? Karena gentar yang sehebathebatnya. dan sekali lagi menyembunyikan mukanya yang mengerikan itu dari pandangan mata. yang memungkinkannya meninjau seluruh wilayah tersebut.property of: CROSSFiRE. lalu menyerang si penjaga. seperti semangka. yang semula minum teh di bawah perancah. hingga tak seorang pun dari beratus-ratus buruh yang ada di sekitar tempat itu. Para pekerja melanjutkan kerja keras seperti lebah. Menurut terkaannya. Ia mengumpulkan dahulu bagian-bagian buku tulisnya yang robek-robek. Sesudah ditemukannya topi itu. Namun ada sepasang mata khusus yang menyaksikan semua itu. karena kepala si inspektur sudah menganga di atas batu. orang itu belum lagi berumur tiga puluh. tapi kata-kata itu kurang cepat waktunya untuk didengar si inspektur. sementara para pengawas yang bersenjatakan cambuk dan lembing kapak meneriakkan perintah-perintah ke punggung mereka yang berkeringat. yang terus melawan seperti binatang kena perangkap. Ebook by Kang Zusi . Wajahnya yang kurus dan terbakar matahari itu bopeng. Samurai itu berlari di belakang kereta sapi yang sedang keluar dari gerbang. Melihat calon prajurit itu melarikan diri. ia menarik pedang besarnya dan mengambil sikap menyerang. dan dengan ujung senjata itu ia banting si penjaga dengan kepala di bawah. dan mencoba menyelinap. sampai akhirnya seolah-olah ia terbang bersama angin." "Bunuh dia! Bunuh dia!" Para penghela batu. dan kelihatannya tidak berdagu. Mata pengawas umum para tukang kayu dan pembelah kayu yang berdiri di puncak perancah tinggi. Teriakan-teriakan marah mengudara dari kerumunan orang banyak. "Ada apa?" "Perkelahian lagi?" Yang lain-lain mendengar seruan untuk memegang senjata. Dari atas perancah pengawas terdengar teriakan. Matahachi sungguh terpesona. "Ada mata-mata! Mata-mata dari Osaka!" "Tak mau juga mereka itu belajar. tapi ketika ia bersiap-siap menerobos lingkaran yang mengepungnya. kemudian dibantingnya ke sebuah batu besar. ataupun orang-orang yang mengawasi pekerjaan mereka. lawannya sudah beraksi. Setelah menjatuhkan empat atau lima orang lagi dengan cara seperti itu. netcafe. ia meneriakkan perintah. untuk mencari topinya yang terbang ketika ia melaksanakan lemparan hebat tadi. Inc. Kemudian ia menoleh ke sekitar tenang-tenang. tapi seorang penjaga melihatnya dan menjegalnya dengan tongkat berpaku. hujan batu menimpanya dari segala jurusan. Orang-orang yang hendak menangkapnya undur ketakutan. si calon prajurit cepat kembali kepada sikap tenang sepenuhnya. Barangkali karena bekas luka pedang yang dalam dan mencekung aneh bentuknya. pengangkut tanah. Calon prajurit itu tidak terburu-buru melarikan diri. "Jangan lepaskan dia!" Tanpa ragu-ragu lagi orang banyak itu menyerang si pelaku kejahatan. Ia merebut tongkat dari tangan penjaga. dan dengan tangan lain dicengkeramnya ujung bawah baju zirahnya. dan menyerbu ke arah samurai tak berdagu itu. Kemudian pergilah ia dengan langkah cepat dan semakin cepat. Sementara itu. dan sekelompok serdadu.

"jadi bisa kita tinggalkan dia di sini sampai hakim datang. "Sudah sembilan puluh persen mati. dan terlihatlah olehnya Matahachi.property of: CROSSFiRE.. hanya satu dalam seribu yang benar-benar mengakhiri usahanya dengan menemukan kedudukan dengan pendapatan memadai. hingga mengeluarkan suara pun tak bisa. tak apa-apa." Waktu itu adalah abad yang memacu harapan orang muda. yang mendorong mereka untuk mendambakan suatu impian. karena rasa benci yang dalam terhadap semua shugyosha. sedangkan tulang keringnya yang putih menyembul dari tengah daging yang merah tua. tapi kepalanya tidak dapat menangkap maksudnya atau makna peristiwa yang baru saja disaksikannya. abad ketika orang seperti Matahachi pun dapat berkhayal akan bangkit dari ketiadaan dan menjadi penguasa sebuah puri. dan sombong. Kengerian tiba-tiba menyadarkannya bahwa prajurit di depannya itu bergerak." pikir Matahachi. dan jika lebih beruntung lagi ia dapat menerima penghasilan tetap dari seorang daimyo. Dua pengawal berdiri di samping tubuh yang jatuh itu." pikirnya. kenapa para pengawal mengambil tindakan berjaga-jaga demikian rupa. Kepalanya tergeletak miring di tanah. "He." Ia memandang ke sekitar. seakan-akan tak ada yang telah terjadi. Semutsemut sudah hampir menutup kedua tangan dan kakinya. ia dapat diambil oleh salah seorang bangsawan daerah." Ia merasa kasihan kepada samurai tak berdagu itu. hitam oleh kotoran dan darah kental. Sementara Matahachi merenungkan samurai yang terbaring di depannya itu. tidak produktif. Bunga-bunga api yang berterbangan dari berbagai alat pemotong. Matahachi merasa heran. Dengan lemah ia Ebook by Kang Zusi . Ke manakah arah jalan yang ditempuh Musashi? Keinginan Matahachi untuk menyamai atau melebihi temannya semasa kanak-kanak memang belum mereda. Seperti umumnya orang kebanyakan." Matahachi mendengar kata-kata itu. Sebelah kakinya menyembul aneh dari tengah sobekan panjang hakamanya. Kalau beruntung. padahal orang itu sudah sedemikian dekat dengan maut. ringkik kuda yang sudah setengah kacau karena panas matahari. Jalan Pedang pun jadi tampak sia-sia dan tolol. jangan seperti orang kasar bodoh!" teriak samurai yang sudah terkepung itu. kamu! Jaga orang ini. ataukah ia prihatin dengan kekaburan masa depannya sendiri? "Untuk orang yang mempunyai ambisi. "Hei. dan kaum buruh mulai kembali ke tempat kerja masing-masing. tapi tak dimengerti oleh otaknya. Inc. dan urutan pikirannya pun tiba-tiba berhenti. Kemudian dalam sekejap segalanya berlalu. dan hidup dari kedermawanan para pendeta. Ya. "Beberapa menit yang lalu dia masih sibuk membuat sketsa. Seorang prajurit yang berbakat sederhana dapat mencapai sukses hanya dengan mengadakan perjalanan dari kuil satu ke kuil lain. Biar dia mati. Sekarang dia sekarat. netcafe. dari mana dia datang. dan tawon-tawon mulai terbang di sekitar rambutnya yang kusut. seluruh jalan pikirannya mulai dirasa betul-betul bodoh olehnya. "mestinya ada cara yang lebih baik untuk maju. Tidak sedikit para penonton yang tidak bersalah ikut terluka dalam perkelahian itu. Semua itu seperti mimpi buruk yang tampak oleh mata. dan apa orangtuanya masih hidup. Tangan orang itu menjulur seperti sirip penyu dan mencakar tanah." demikian pikirnya. Orang banyak melampiaskan kemarahan sepuas-puasnya. Namun. tetapi melihat prajurit yang berlumur darah itu. mencoba menyuruh orang-orang itu berpikir dan menahan diri. Teriakan mereda. tapi agaknya ia lebih suka mengumpat para penyerangnya daripada menghindari batu-batu yang dilontarkan kepadanya. Apakah ia benar-benar meratapi nasib orang itu. melecut mereka untuk memperbaiki statusnya dalam hidup. "Orang sial." kata salah seorang pengawal. Sikap mereka lebih kejam lagi. pasti dia mempunyai ambisi besar dalam hidup. dari semua pemuda yang mulai dengan harapan-harapan tinggi itu. Padahal dia belum lagi tua. Darah merembes dari kulit kepalanya. Tali itu mengikatkannya pada sebuah batu besar. "Kalau dia belajar sungguh-sungguh. "Hidup ini begini rapuh. Barangkali juga ia sudah mati. yang telah diikat dengan tali rami besar. dan mukanya masih memperlihatkan kemarahan. kaum buruh ini menganggap samurai pengembara tak berguna. Selebihnya harus merasa puas dengan kepuasan yang dapat mereka peroleh dari pengetahuan bahwa citacita mereka sukar dan berbahaya. Ia memang melawan mereka. dan panas yang menumpulkan pikiran-semuanya kembali biasa.. terdengar oleh telinga. Ingin tahu juga. Dalam lima menit saja wilayah pembangunan yang luas itu kembali seperti keadaan semula." Matahachi tercengkam oleh kesangsian aneh.

Dua jam kemudian ia tiba di toko manisan tempat ia tinggal. ia memperlihatkan sebagian kulitnya yang putih dari balik pintu samping. ia dengar langkahlangkah kaki mendekat. Kenapa nasib telah membutakan mata Matahachi. Di situlah terletak akhir air matanya dan kepastian mautnya. Orang itu bergerak sedikit demi sedikit di tanah. membasuh diri dengan air tempayan. Namun mata orang itulah yang terutama berbicara. apakah akan memotong sedikit rambut orang itu untuk disampaikan kepada ibunya.. kemudian masuk cepat ke kamarnya sendiri dan mengambil kimono dan pedang dari lemari. Maka diambilnya bungkusan itu dan dimasukkannya cepat-cepat ke dalam kimononya sendiri. kemudian ia ikatkan handuk yang sudah digulung di sekitar kepalanya dan bersiapsiap mengenakan sandal lagi. Kalau tertangkap menyimpan milik orang mati itu. dan menarik tali tegang-tegang. Mendengar Matahachi ada di dalam rumah. Nanti saja. Maka lebih banyak lagi semut keluar dari dalam rumput untuk menjelajahi rambut yang memutih oleh debu itu. pasti ia mengalami kesulitan hebat." Sedikit demi sedikit mengertilah Matahachi bahwa orang itu mengatakan "tolong". menegakkan kepala. kulit di bawah kerah kimononya sudah berwarna biru kehitaman. "To-lo-lo-ng. Bunyi menggelegak terdengar dari tenggorokan orang sekarat itu. tetapi lidahnya sudah menjadi hitam dan kering. saya bisa lihat dengan jelas. Hampir Matahachi tak percaya dengan matanya. dan tampak olehnya seorang samurai datang untuk mengambil mayat itu. sedangkan seharusnya ia mengingat-kan orang itu akan datangnya sang inspektur? Apakah memang sudah ditakdirkan itu terjadi? Matahachi mencoba-coba meraba bungkusan kain dalam obi orang mati itu. dan telah menunjukkan kebaikan hatinya dengan memberikan obat kepadanya. tapi ketika sedang menatap wajah yang mengerikan itu. dua kaki—sungguh suatu peragaan kekuatan seorang manusia super! Tak seorang pun manusia berotot atau tukang hela batu yang dapat melakukan itu. sekalipun banyak orang menyombongkan diri memiliki kekuatan setara sepuluh atau dua puluh orang. Matanya yang menonjol dari ceruknya memandang dengan nada memohon kepada Matahachi. Ditengoknya dari balik sebuah batu." "Apa tidak mandi? " "Tidak. Napasnya terdengar sebagai desisan yang merongga terputus-putus. Apakah yang diinginkan orang itu darinya? Matahachi merasa dikejar-kejar oleh pikiran bahwa kini ia menanggung kewajiban. Istri pemilik toko sedang berada di samping rumah. Maka ia mengendap rendah-rendah dan menyelinap dari bayangan batu yang satu ke bayangan batu yang lain dan meninggalkan tempat itu seperti seekor tikus ladang. hingga tak mungkin baginya membentuk kata-kata.property of: CROSSFiRE." Ebook by Kang Zusi ." "Tak perlu. Inc. Matahachi?" Matahachi menjawab dengan gerutuan keras. Isinya pastilah dapat mengungkapkan siapa orang itu dan dari mana ia datang. Saya akan pergi. Sebagian di antaranya bahkan masuk ke dalam lubang hidungnya yang sudah tersumbat keringan darah. netcafe. mengangkat tubuhnya. dan tampaklah oleh Matahachi.." "Akan saya bawakan lampu. menyeret batu karang seberat hampir dua ratus kilogram yang menjadi tambatan tali pengikatnya. Lalu ia bersoal-jawab dengan dirinya sendiri. Ia mencoba mati-matian untuk berbicara. "Kamu itu. dan serunya. "Tidak. Matahachi menduga bahwa permintaan orang itu di waktu sekarat adalah agar tanda mata yang ada padanya disampaikan pada keluarganya. dan Matahachi menangkapnya sebagai ucapan "saya minta". Kemudian terdengar bunyi lain yang tak jelas ucapannya. Satu kaki. Kepalanya jatuh ke belakang dan napasnya berhenti. "Apa tidak gelap di situ?" seru perempuan itu. Samurai itu sudah mendatanginya ketika ia sakit. Samurai yang terbaring di ambang kematian itu telah dikuasai oleh suatu kekuatan setani yang memungkinkan-nya jauh melebihi kekuatan manusia biasa.

Beberapa menit kemudian ia menoleh ke belakang. "Hampir saja aku celaka. Tepi pakaiannya yang basah melibat kakinya. Tulang keringnya gatal. Ia memainkan lagu sedih. Bunga miskantus tegak setinggi bahunya. Hati Matahachi jadi menggigil. Tak sangsi lagi mereka datang dari puri. tapi sekarang ia lapar bukan kepalang. ia terus berjalan menempuh panjangnya ladang itu. agaknya dirusak badai yang belum lama menimpa. Aku harus melakukannya. Dia minta betul aku melakukannya. Kusembunyikan rasa senduku Dalam lipatan lengan kimonoku. Segera sesudah merasa jauh dari jangkauan para pengejarnya. Karena ingin menemukan tempat berbaring dan beristirahat. Pemandangan di situ mengingatkannya pada sebagian sajak penyair Saigyo yang pernah ia pelajari di masa kanak-kanak: Saya dengar ada kenalan saya tinggal di Fushimi. Aku cuma mengambilnya untuk disimpan. Kalau angin bertiup. tampak olehnya rumah utama dan rumah kecil yang terpisah itu sudah hampir terkubur rumput liar. makin dalam ia masuk ke rumpun miskantus. Tapi bersamaan dengan itu ia pun sadar bahwa ia tidak dapat lagi memperlihatkan diri di wilayah pembangunan itu. karena ada keanggunan tertentu. Sementara serangga-serangga menyanyi. Ia bergegas keluar menuju ladang dan cepat menghindar dari rumah jembel itu. Osaka? Kyoto? Nagoya? Edo? Ia tak punya seorang pun teman di tempat-tempat itu. Namun rumah itu tadinya tentu milik satu keluarga berada. Ia membayangkan seorang wanita istana cantik. Baru saja ia akan menyimpulkan rumah itu kosong. Biji-biji rumput menempel ke lengan kimononya. Ketika lagu berhenti.property of: CROSSFiRE. Ketika ia sudah lebih dekat. Ingatan mengenai rasa muak yang dialaminya tengah hari itu kini hilang. Di halaman penuh embun Serangga yang hina pun berlagu. Ketika menengok ke dalam. Api yang baru dinyalakannya bertambah terang. Inc. Mudahlah ia menyelinap pergi dari situ. "Tapi aku tidak mencuri sesuatu. dan tabir kabut petang mengambang di atasnya. tampak bahwa pagar dan pintu gerbang rumah itu miring. "Orang bilang. Mereka memasuki toko manisan itu dari depan dan belakang. hingga Matahachi mendapat kesan bahwa ia cuma menaruh sedikit rasa bangga pada permainannya sendiri. pada dadu semua adalah kemungkinan. kalau kita berumur empat puluh tahun. Tapi ke mana ia harus pergi? Suatu pilihan yang sukar. duduk di kereta bertabir mewah yang sedang mendekati rumah itu dengan langkah megah. saya pun menggubah sajak ini: Menerobos rumput liar. tetapi halamannya demikian tertutup semak! Saya bahkan tak dapat melihat jalannya. dan kabut yang turun melembapkan pakaiannya. Ia merasa makin jauh ia berjalan. dan saya pergi berkunjung kepadanya. Lebih-lebih karena ia yakin benar bahwa keberuntungan terletak di satu jurusan dan nasib malang di jurusan lain. kita bebas dari godaan. Segera kemudian ia dengar ratapan merana shakuhachi. ia tidak merasa melakukan kejahatan. Ia meringkuk di dekat rumah itu sambil membisikkan kata-kata yang sudah lama dilupakannya itu. pendeta itu mengeluh dalam dan mulai meratap. angin akan membawanya berembus. Tapi cobalah lihat diriku ini! Ebook by Kang Zusi ." Menurut jalan pikirannya. suling bambu yang biasa dimainkan pendeta pengemis apabila sedang mengemis di jalan-jalan. Rasanya ingin ia melempar dadu untuk memutuskan ke mana akan pergi. Seperti halnya pada Matahachi. Orang itu duduk di samping perapian. Orang itu bermain sederhana saja. dan bayangan dirinya di dinding makin besar. ia pun mulai merasa sengsara karena harus berjalan. Tak seorang pun dapat melihatnya dari kejauhan. didapatinya si pemain memang anggota kelas itu. yang hanya dimaksud untuk telinga sendiri. ratapan tunggal mengenai kesendirian dan sendunya musim gugur. selama ia mengakui barang-barang itu bukan miliknya. Ketika melintas gerbang yang tampak murung itu. Atap rumah itu pun membutuhkan perbaikan. walaupun sudah layu. Serangga mendengungdengung di sekitarnya." pikirnya. dan terlihat olehnya sekelompok samurai datang dari seberang padang miskantus. netcafe. dan di seberang sana tampak atap sebuah rumah. seberkas cahaya merah muncul dari dalam. tanpa banyak kembang.

Pendeta itu memungut shakuhachi-nya dan berjalan dengan lesu ke luar rumah. Kimononya polos dan kumal. langitlangit. "Oh. hanya untuk menghangatkan bangkainya sendiri yang tak ada manfaatnya bagi siapa pun. Ketika pakaian dibuka. Empat puluh tujuh tahun! Dan masih saja aku tergoda angan-angan buruk dan kehilangan semuanya-pendapatan. sosok tubuh orang itu menimbulkan khayalan tentang setan-setan malam. Isinya pakaian dalam yang sudah dicuci bersih. Tepat sebelum berlayar ke alam tidur. juga anak lelakiku. serta barang-barang yang biasa dibawa musafir. melainkan juga dari dinding." Karena dikiranya orang itu kurang waras. dan tikar tatami yang membusuk. Pundi-pundi itu terbuat dari kulit bercelup Ebook by Kang Zusi . Matahachi meringkuk diam-diam. tetapi jijik dengan apa yang dilihatnya. terdengar dari dalamnya suara gemericik gembira. ditemukannya sebuah benda yang ukuran dan bentuknya seperti gulungan surat.. P'u-hua. kemudian mengosongkan isi kuali nasi dan mengucapkan selamat kepada dirt sendiri karena perutnya sudah kenyang. Mereka tak pernah berpikir. mestinya yang dibicarakan itu orang-orang besar. netcafe. Dalam cahaya api yang mengejap-ngejap. Matahachi masuk kamar kosong itu. Ia mendengarkan. Pipi pendeta itu cekung. apa yang harus kuperbuat?" rintih pendeta itu lagi sambil mengangkat matanya yang cekung ke langitlangit. Cepat ia mengosongkan sake itu dengan beberapa tegukan panjang. Empat puluh tujuh ketika kuhancurkan nama baik keluargaku. nyala api dari ranting-ranting patah mulai membakar lantai. seperti yang biasa terjadi pada orang lapar mana pun. dan ketika ia mengguncangkan guci itu. Bukan pola anggun kamar ataupun sisa-sisa jambangan berharga yang memikat perhatiannya. di mana pun ia berada. menemukan kendi air. bahunya kelihatan lancip seperti bahu anjing liar. Ia tersenyum lebar. Sambil mengangguk-angguk mengantuk di samping perapian. Daripada menganggap diri bijaksana karena usia. barangkali satusatunya harta rumah tangganya-tempat tidurnya. Inc. tetapi ia mengenakan juga baju jubah hitam. "Justru karena orang-orang seperti dia itu kuil-kuil kuno di Nara dan Gunung Koya begitu sering hancur. terlambat. bukan orang-orang tolol seperti aku ini. tabirnya. Sungguh gila tidak berhati-hati. ia mendengar dengung serangga yang seperti hujan datang dari ladang gelap di luar—tidak hanya dari ladang. Bukan hanya itu. Bungkusan itu berupa kain krep kotor yang dicelup dengan celupan kayu sappan merah tua. "Dia belum lagi tua. tapi berdirinya sudah begitu goyah. kalau soalnya menyangkut perempuan." Matahachi merangkak masuk kamar sebelah.. lebih baik aku harus lebih berhati-hati. "Ketika urusan dengan Otsu itu terjadi. Mereka bisa saja menyalakan api di ruang besar sebuah biara tua. yang digulungnya dan dibawanya ke mana saja ia pergi itu. Ia bangun dan membukanya. Sambil melakukan itu terpikir olehnya. Sudah terlambat. melainkan sebuah kuali logam yang sudah hitam dan sebuah guci sake bermulut sumbing di sebelahnya. Di dalam kuali itu ada sedikit bubur nasi. dan rambutnya tidak mengilat. "Sungguh orang aneh!" pikirnya. namun kurang pikir tentang hak milik orang lain. tak seorang pun mau memaafkan aku lagi. Terdapat juga sebuah pundipundi yang seketika jatuh dari lipatan kain dengan denting nyaring. tapi bagaimana kalau yang terbakar itu kuil kuno dari zaman Asuka atau Kamakura? Matahachi merasakan gejolak kemarahan yang jarang terjadi padanya. Ha! Kalau orang berbicara bahwa kita menjadi bijaksana sesudah umur empat puluh." gumamnya sambil menolehkan matanya ke arah ceruk kamar. Matahachi merasa sedikit kasihan kepadanya. tak punya keluarga. betapa besarnya bahaya api. juga atapnya. "Tapi ini ada yang menarik. dan menuangkan isinya ke api. Telah kubiarkan anak lelakiku satusatunya mengurus diri sendiri di dunia yang brengsek ini. Tak apa-apa kalau yang terbakar habis cuma rumah tua yang kosong itu. dan dalam cuaca buruk." pikirnya. merasa bersyukur atas nasib baiknya. terbungkus dengan amat hati-hati dalam kertas minyak. di dekat lukisan dinding. "Pendeta-pendeta pengembara yang gila ini tak punya harta milik.. nama baik. ia meneruskan. Karena tiupan angin malam. alangkah cerobohnya pendeta itu.property of: CROSSFiRE. teringat olehnya bungkusan yang diambil-nya dari prajurit yang sekarat tadi. yang menunjukkan bahwa ia pengikut guru Zen Cina." Sambil menegakkan shakuhachi di depannya dan mengganjalkan kedua tangan pada pipinya. Matahachi seperti melihat ada kumis menyerabut di bawah hidungnya yang kurus. Tikar buluh tempat ia duduk. kedudukan. Untuk apa? Cinta buta? "Memalukan—tak dapat lagi aku menghadapi arwah istriku.

Secara rahasia . kemudian membaringkan diri di dekat perapian. gaya perahu mengapung. Isinya emas dan perak dalam jumlah demikian banyak.. pada bari. dan di dapur tak berpintu pada rumah tak berpenghuni itu jejak-jejak rubah yang masih baru simpang siur di lantai. yang telah menguasai Gaya Toda Seigen sejati dan telah mengundurkan diri ke sebuah kampung terpencil untuk menghabiskan masa tuanya sebagai orang tak dikenal. bukan uangku. barangkali orang yang berasal dari tempat kelahirannya. warna lembayung. Ebook by Kang Zusi . dan sesudah itu menurunkan Metoda Seigen hanya kepada beberapa murid pilihan.. Provinsi Echizen. sementara gelombang pedih mengalun di atas desir ladang. Ketika dibukanya kertas minyak yang membungkus barang yang panjang. Segera ia merasa bahwa gulungan itu mengandung rahasia penting. "Dia tentunya pemain pedang mahir yang patut mendapat hadiah surat keterangan untuk Gaya Chujo." pikirnya. Bulan yang memancarkan sinar Ke air yang tiada Dalam sumur yang belum digali Menghasilkan manusia Tanpa bayangan ataupun bentuk Matahachi sadar bahwa ia memegang sertifikat yang diberikan kepada seorang murid yang telah mempelajari segala yang diajarkan gurunya. "Sasaki Kojiro ini pasti samurai yang terbunuh di Fushimi hari ini. hingga tangan Matahachi gemetar ketakutan.property of: CROSSFiRE. "Ini uang orang lain. Bunyinya. apa pun macamnya gaya itu. Lagu sedih yang agaknya mencari-cari sesuatu dan menyeru pada seseorang terus mendayu-dayu. tetapi nama Kanemaki Jisai itu tak ada artinya sama sekali baginya. Olah Batin. bulan… Kinemaki Jisai. tapi ia tidak tahu bahwa Jisai guru Ito. SERTIFIKAT Dengan sumpah suci saya bersumpah telah menurunkan kepada Sasaki Kojiro tujuh metoda rahasia seni pedang Gaya Chujo berikut ini: Secara terang-terangan . Dikeluarkan di Kampung Jokyoji. netcafe. gaya bulat. terdapat sebuah sajak. bagian 9 Berkumpul kembali di Osaka LADANG itu diselimuti kabut kelabu. Matahachi membaca kembali nama pertama itu. Ia pun tidak tahu bahwa Jisai seorang samurai yang baik sekali wataknya." demikian ia mengingatkan dirinya. gaya roda. Usaka Demesne. tampak sebuah gulungan dililitkan pada sebuah gelindingan dengan kain brokat emas di ujungnya. Betul sekali dugaanku. Sungguh sayang dia mesti mati! Tapi aku jadi yakin sekarang. dan udara dingin pagi hari mengisyaratkan musim gugur sudah benarbenar dimulai. murid Toda Seigen Di atas secarik kertas yang agaknya ditambahkan kemudian. Dengan rasa ingin tahu yang besar diletakkannya gulungan itu di hadapannya. Inc. kemudian berjanji pada diri sendiri bahwa bagaimanapun ia akan melaksanakan misinya yang baru ini. Segera ia jatuh tertidur. Tak Terhingga. Dari kejauhan terdengar bunyi shakuhachi pendeta tua itu. dan pelan-pelan dibukanya. yang dengan nama Ittosai telah menciptakan gaya main pedang yang terkenal dan sangat dikagumi." Macahachi membacakan doa pendek kepada sang Budha untuk Sasaki Kojiro. Bajing-bajing berkeliaran di mana-mana. ia menghidupkan api kembali.gaya kilat. Ia pasti akan dapat mengenali nama Ito Yagoro. Dia tentunya ingin aku menyampaikan ini pada seseorang. Untuk menghilangkan rasa dingin.Berlian.

kemudian menarik tangan dari bawah badannya dan dengan malas mengangkat kepala.!" gagap pendeta itu dan menendang sekali lagi." "Keledai kamu! Mungkin kamu menampik nasi sisa. "Jangan menendang macam itu!" "Oh." "Maaf? Apa gunanya itu buatku?" "Saya minta maaf. Ketika ia membuka matanya dan duduk. "Kamu." kata Matahachi dengan sikap meremehkan. Tetapi alangkah heran ia. Sambil menggumam sendiri ia berjalan menyusuri gang panjang ke kamar perapian di bagian belakang rumah itu. "Janganlah begitu kikir. Tangannya masih menggenggam shakuhachi. karena guci sake sudah tidak ada di tempat-nya. Setelah pemeriksaan cepat. Kimono dan jubahnya yang kotor basah oleh embun. Dungu kamu! Kaukira aku bisa berdiri saja diam-diam dan membiarkanmu mencuri makananku? Kuminta kembalikan barang itu!" Nada yang dipergunakannya mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal itu penuh paksaan.. Tak bisa saya mengembalikannya sekarang!" "Tapi aku mesti hidup juga. Ditariknya lengan-nya keras-keras sampai lepas Ebook by Kang Zusi . hidungnya mengerut. tapi Matahachi hanya berkomat-kamit sambil mengantuk. tendangan saja belum cukup! Siapa bilang kamu boleh masuk rumah ini dan mencuri nasi dan sakeku?" "Oh. kan? Paling banyak yang kudapat dari keliling-keliling main musik di pintu gerbang orang banyak itu cuma sedikit beras atau beberapa tetes sake. Sambil memekik seru ditendangnya si penidur itu sekuat-kuatnya. Pendeta pengemis yang kembali dengan terhuyung-huyung sebelum matahari terbit membaringkan diri karena lelah di lantai kamar sepen. "Apa pula ini?" teriak Matahachi. terbukti tak sedikit pun tertinggal bubur beras yang maksudnya untuk sarapan. Ia duduk di sana beberapa menit. kepalanya berbantalkan satu lengan dan air liur menetes dari mulutnya. Maka jelaslah ke mana larinya sake itu. netcafe." "Kamu mesti berbuat lebih dari itu!" "Apa yang mesti saya lakukan?" "Kembalikan nasi dan sake itu!" "Ah! Dua-duanya sudah dalam perut saya dan sudah memperpanjang hidup saya satu malam. lubang hidung dan matanya membuka lebar. Namun ia tidak berusaha menghapus ingus yang mengucur dari hidung ke kumisnya yang tipis. Tentu saja bukan hanya sake yang hilang. tapi buatku itu makanan sehari-hidup sehari!" Pendeta itu menggeram dan mencengkeram pergelangan tangan Matahachi. tetapi nasi adalah soal hidup dan mati. Di siang hari terdapat lebih banyak kamar di rumah itu daripada yang kelihatan waktu malam hari. dan suaranya bagi Matahachi terdengar seperti suara setan lapar yang langsung datang dari neraka.property of: CROSSFiRE. jadi nasi dan sake itu punyamu?" "Tentu saja punyaku!" "Maaf. tanpa sake ia masih tak apa-apa.. kamu. Urat-urat nadi menggelembung pada wajahnya yang mengantuk itu ketika ia melompat berdiri.. dan di sana-sini dikotori rumput yang menempel selagi ia mengembara seperti orang hilang melewati malam. tapi pendeta itu dapat menemukan jalannya tanpa kesulitan. Inc. "Takkan kulepaskan kamu begitu saja!" "Jangan seperti orang sinting begitu!" bentak Matahachi. "Buat apa pula mesti jengkel hanya karena sedikit nasi dan kurang dari setengah guci sake kelas tiga.. Pendeta itu merah padam oleh amarah. Ia tidur nyenyak. dan berguncanglah tubuhnya oleh bersin hebat. sebelum akhirnya teringat bahwa ia masih menyimpan sedikit sake sisa malam sebelumnya. Sebagai gantinya ada seorang asing di dekat perapian.

Akhirnya Matahachi celaka oleh kecerobohannya sendiri. papanpapan berderak dan patah. hukuman yang dijatuhkannya pada diri sendiri lebih banyak Ebook by Kang Zusi . lalu melepaskan korbannya. pelipis dan tubuhnya-mana raja yang dapat dikenai shakuhachi-nya. dan menyerang orang tua itu. Si pendeta melompat menyerang. tak dapat ia tidak menatap uang itu dengan heran. lihat sekarang akibat ulahmu sendiri!" pekik Matahachi sambil mengayun pedang. tetapi belum-belum ia sudah tersengal-sengal mencari udara. "Apa itu?" seru si pendeta tersengal-sengal. Sambil meludah semulut penuh Matahachi bangkit berdiri. sikapku yang mementingkan diri sendiri. Dan setiap kali menghantam. tapi katanya berbisa. dan dengan sekali tolak saja Matahachi pun terguling. seperti rengek orang yang sedang sekarat. sebelah kakinya terayun-ayun masuk ke sebuah lubang. Inc. Ditangkapnya bagian depan kimono Matahachi dan dipukulinya kepala Matahachi. dengan menggunakan kekuatan Matahachi sendiri. Ketika pendeta itu melompat ke kebun. Orang tua itu menangis beberapa waktu lamanya. kemudian membenturkan kepala lagi ke tiang. "Bajingan kamu!" salak Matahachi sambil menaksir kekuatan lawannya. dan dicengkeramnya rambut orang tua yang sudah jarang itu. dan akan kubayar kamu dengan bunganya untuk ganti nasi dan minumanmu itu!" Si pendeta bukannya menjawab cacian itu. ia menggeram keras. Kemarahan Matahachi mereda sedikit. Suatu gerakan cekatan. tapi waktu itu orang tua itu sudah tidak marah lagi. terdengar teriakan sedih. dan mulailah ia membenturbenturkan kepalanya pada tiang itu. "Nah. Tapi sudah terlambat.property of: CROSSFiRE. "Sungguh aku keledai!" sambungnya. tapi terus juga ia mengayun tanpa kenal ampun dan tidak memberikan kesempatan kepada pendeta itu untuk memperoleh papas kembali. Ayunan pedang tidak mengenai sasaran. melainkan meletakkan wajahnya ke lantai dan mulai menangis. "Kenapa aku jadi begini tolol!" Seperti halnya kekuatan yang baru saja dipakainya untuk berkelahi. Setiap jatuhnya pukulan diikuti bunyi gemerincing mata uang yang jatuh ke lantai. dari cengkeraman. Lompatan itu tidak melenting. namun begitu kakinya menginjak lantai beranda yang lapuk. Uang bisa kubuang-buang! Ambillah kalau kau mau! Tapi sebagai gantinya kau mesti menerima kembali pukulan yang sudah kauberikan padaku. terus saja berantakan. netcafe. Matahachi tak berdaya. Keluarkan kepalamu yang tolol itu. lain ia coba melontarkan orang itu dengan sentakan cepat. tapi beruntunglah ia karena pada detik itu keping-keping emas dan perak mulai berjatuhan dari kimononya. dan nafsu-nafsu jahatku lewat kelima lubangnya? Bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku terlibat dalam pertarungan hidup-mati hanya demi secuil makanan dan minuman? Dan dengan orang yang pantas menjadi anakku pula?" Belum pernah Matahachi melihat orang seperti ini. orang tua sinting? Tak perlu kamu naik darah cuma karena nasi dan sake sedikit saja. sungguh memalukan diriku!" lolong sang pendeta. "Coba lihat dirimu itu! Begitu melihat uang. kebodohanku. Dan Matahachi pun terus berguling. Setiap kali ia mengelak. sebagian besar dinding itu runtuh menghujani Matahachi dengan kotoran. Rintihnya. dan ia rupanya sudah hampir pingsan. Ia rupanya bermaksud menghantamkan dahinya sampai belah menjadi dua. Pendeta itu menghujamkan kakinya mantap-mantap ke lantai. menghunus pedang. Namun karena ia terusmenerus beralih kedudukan. Pendeta itu mencengkeram erat leher Matahachi dan tak hendak melepaskannya. Si pendeta sudah siap menangkis serangan dengan shakuhachi-nya. Matahachi mengikutinya dengan membabi-buta. "Lihat tidak. Matahachi jatuh telentang. Biarpun tinjunya sakit dan napasnya sesak. Tapi alangkah terkejutnya ia karena tubuh yang kelaparan itu tidak beranjak. sampai akhirnya berdebam menghantam dinding plester di sisi luar kamar sebelah. kegairahanku. Matahachi segera membebaskan kakinya dan melompat meloloskan diri. Kepalanya tampak membengkak sampai sebesar tong." "Oh. Karena tiang-tiang dan galar-galar sudah lapuk. Sampai sedemikian jauh. "Kenapa aku memainkan shakuhachi ini? Apa untuk mengusir khayalanku. "Apa belum juga sadar aku akan diriku? Pada umur ini? Juga sesudah terbuang dari masyarakat dan tenggelam sedalam-dalamnya?" Ia menoleh ke tiang hitam di sampingnya. Sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. maka tak mungkin Matahachi menebaskan pedangnya. Muka orang tua itu tampak seperti hantu. Matahachi berseru. Berkali-kali ia melompat mundur. Karena sebelah kakinya terjerat. sikap mencela diri sendiri itu lebih hebat daripada yang dimiliki kebanyakan orang.

"Hai! katanya." "Aku tak ingin!" teriak pendeta sambil cepat menarik tangannya. katanya tenang. Apa kau sakit?" "Tidak. main shakuhachi.. "Di mana di Mimasaka? " "Kampung Yoshino. "Aku akan pergi ke kota." katanya dengan nada minta maaf. Aku tak perlu uang." "Tak usahlah kamu kuatir.property of: CROSSFiRE. sekarang ia pandang uang itu dengan penuh kejijikan." "Biarkan aku sendiri." Sampai di situ mendadak ia berhenti. "Tapi ada apa kau ini?" "Tak ada apa-apa." pinta si pendeta. Kehilangan kendali diri telah membuat diriku marah. itu nama yang membawa kenang-kenangan. sebelum aku membuang daging ini. jumlahnya daripada pukulan yang dijatuhkannya kepada Matahachi." "Mimasaka?" ulang si pendeta sambil menatap Matahachi. Kupikir kau dapat menamakan ini penyakit. itu tidak betul. Sebentar kemudian darah mulai mengalir dari keningnya." "Kalau begitu apa?" "Aku muak dengan diriku. Aku kenal betul daerah itu. "Miyamoto? Oh.." "Betul? Aku dari sana juga—Mimasaka. "Hentikan! Apaapaan kamu ini." Ia berdiri." "Kau rupanya dari provinsi barat. "Aku tak perlu uang." Orang tua itu tampak santai. netcafe. katanya. Namaku Aoki Tan. Aku mau memukul badanku yang jahat ini sampai mati dan menyuruh burungburung gagak memakannya." kata Matahachi. Pernah aku bertugas jaga di Benteng Hinagura. Aku cuma mengarang-ngarang. ia membalikkan badan dan masih terus berlutut. Ebook by Kang Zusi ." "Kukira begitu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan hebat. "Kukira tidak. Sambil menundukkan diri di beranda. "Aneh juga kau ini. Aku ingin kuat dan jujur seperti orang lain. dan mencari sesuap nasi. Tepatnya Miyamoto. kataku!" Meskipun sebelum itu telah meledak kemarahannya gara-gara secuil bubur nasi." "Pasti ada. Lupakan bahwa aku pernah mengatakan sesuatu. ya? Kentara dari tekanan katamu. tapi tak mau aku mati seperti orang bebal yang bodoh." Sampai di situ ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ladang miskantus. Matahachi memungut uang yang jatuh itu dan mencoba memasukkan sebagian ke tangan si pendeta. "Ah." "Tapi kau berbuat aneh. Aku lahir di Himeji. "Sebagian karena kesalahanku. Matahachi merasa berkewajiban mencegahnya menyiksa diri lebih lanjut. dan barangkali kamu akan memaafkan aku." Karena merasa kasihan kepadanya." "Kalau begitu. "Kuberikan ini padamu. kemudian tiba-tiba pula melanjutkan. tapi waktu itu aku menjadi semacam prajurit. Inc. Kukira sekarang tampangku sudah tak pantas lagi. Anda pernah jadi samurai di tanah perdikan Himeji?" "Ya.

tapi ketika Matahachi mulai mencari Ittosai. ia menemukan dirinya berada di jalan buntu lain lagi. dan pilihan apa lagi yang ada padaku. kalau bukan mengambilnya dari kantong yang kubawa ini?" Sikap membenarkan diri sendiri yang sederhana itu demikian menyenangkan. demikian diputuskannya. "Anda bisa pergi ke Echizen dan mencari dia di sana. yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan sempit di luar kota. Bahkan tambahan keterangan bahwa Jisai murid yang diakui Toda Seigen tidak mendatangkan tanggapan. di tiap warung teh. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang dia. Matahachi memutuskan untuk mengikutinya. tapi kalau dia masih hidup." jawab pemilik rumah penginapan. Kesibukan dan kegairahan kota itu menyulut kembali ambisinya dan menggelitik jiwa mudanya. "Kalau kusampaikan uang itu ke rumah orang yang mati itu seperti dimintanya. dan ia bermaksud meninggalkan seluruh urusan itu. Di Puri Fushimi. adalah menemukan guru pedang Kanemaki Jisai. Tak lama kemudian tekad Matahachi pun merosot. Orang itu agaknya ronin. "Ya. Dalam perjalanan dari Fushimi ke Osaka. "Saya pernah mendengar tentang Jisai. rumah makan. saya sudah pernah mendengar nama itu. "Saya percaya dia cucu Toda Seigen. pasti dia sudah sangat tua. Daripada mengadakan perjalanan begitu jauh hanya berpegangan dugaan. apakah benar sikapnya menawarkan uang yang berasal dari pundi-pundi samurai yang telah mati kepada pendeta itu? Tapi segera kemudian ia sudah dapat memecahkan dilema itu dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa mungkin tak ada salahnya meminjam uang itu sedikit. tapi tidak ada jaminan apakah dia masih ada di sana. boleh jadi dia sudah kembali ke Echizen beberapa tahun yang lalu. Tinggallah kini persoalan surat keterangan Sasaki Kojiro. yang pasti tahu segala sesuatu tentang Sasaki. Setibanya di Osaka. Tentu saja tidak secara terang-terangan. Namun di sini para jenderal yang menguasai Puri Osaka mencari ronin untuk dijadikan tentara. sebelum mengembangkan gaya sendiri. Inc. Karena itu pula ia tak tahu ke mana harus membawa surat itu. dan segera sesudah beres ia bertanya pada pemilik rumah penginapan. Semua jawaban yang diperolehnya negatif. Hideyori diam-diam menyediakan dana untuk para daimyo pelarian seperti Goto Matabei. Saya pikir. Akashi Kamon. asalkan tidak banyak. apakah orang itu tahu orang yang bernama Tomita Mondonosho di Puri Osaka. Di sebuah kota yang terbuka lebar seperti ini. Sejauh yang dapat diketahuinya. Ada yang bilang dia pergi ke timur dan menjadi pertapa di sebuah desa di Kozuke atau di tempat lain lagi. netcafe. Orang mencari para pemuda seperti dirinya. Dia bukan instruktur pribadi Yang Dipertuan Hideyori. Dikatakan misalnya. Ebook by Kang Zusi . dan orang yang memberikan keterangan kepada Matahachi merasa cukup yakin bahwa orang itu keluarga yang sama dengan Seigen. hingga sudah umum diketahui ronin lebih diterima dan dapat hidup lebih baik di sini daripada di kota puri mana pun di negeri ini. Sanada Yukimura. orang itu sampai barubaru ini masih tinggal di sebuah gubuk kecil di Shirakawa di sebelah timur Kyoto.property of: CROSSFiRE. Ya. dan bahkan Chosokabe Morichika yang berbahaya. tapi sekarang sudah tidak tinggal lagi di sana. dan rumah penginapan. apa tidak lebih mudah menjumpai Ito Ittosai? Saya agak yakin dia mempelajari Gaya Chujo pada Jisai. para pejabat secara tulus-ikhlas melaksanakan kebijaksanaan pemerintah Tokugawa. mulailah Matahachi berpikir-pikir. tapi dia memang mengajarkan ilmu pedang pada sejumlah samurai di puri itu. Matahachi bertanya apakah ada yang mengetahui tentang Jisai. ia menyewa kamar di sebuah rumah penginapan murah di salah satu jalan ramai. Akhirnya seorang samurai yang kebetulan dikenalnya di jalan memberikan titik terang. "aku pasti membutuhkan biaya. Walaupun kecewa karena tidak terangnya petunjuk yang pertama didapatnya itu." Mondonosho agaknya salah seorang guru Hideyori dalam seni perang. itulah yang dia lakukan. Sesudah orang tua itu pergi. hingga semenjak hari itu mulailah ia menggunakan uang itu sedikit demi sedikit. Satu-satunya harapan." Saran pemilik rumah penginapan itu tampaknya masuk akal." demikian pikirnya. Anda mesti pergi ke Puri Osaka dan bicara dengan orang yang namanya Tomita Mondonosho. Desas-desus sembarangan beredar di antara penduduk kota. namun cukup terbuka. kenapa pula ia menghabiskan waktu dengan mencari keluarga orang mati? Banyak hal dapat dilakukan di sini. dan beberapa waktu lamanya sudah tidak kelihatan lagi di Kyoto atau Osaka. Atau setidaknya pernah mengajarkannya. tapi tak mungkinkah misalnya ia bekerja pada seorang daimyo? Matahachi tidak menemukan jawaban atas soal dari manakah asal orang itu.

" Ketika ia bertanya kepada pembuat sadel apakah ia tahu kedudukan seperti itu. Lelaki-lelaki dengan kaki berbulu dan mulut penuh makanan meringkik seperti kuda di toko-toko. tapi sekali kutemukan peluang. Ia pun membeli pakaian lengkap yang baru. la merasa sehat dan hidup kembali. Ia melihat apa yang ingin dilihatnya.. Bau kecap murah mengambang di udara. Setiap hari baru adalah kebahagiaan. ia menyewa sebuah kamar kecil milik seorang tukang sadel di sekitar Parit Junkei dan mulai makan di luar. ia terus mencari seorang teman. mengherankan juga gerombolan orang yang berbondong-bondong menelusuri jalan tampak tidak terburu-buru. "Apa yang kubicarakan ini? Memang begitulah kelihatannya.property of: CROSSFiRE. dan waktu senja wanita-wanita berbaju lengan panjang dan berbedak tersenyum-senyum tolol seperti biri-biri.. termasuk gaji untuk para ronin-nya. seorang penghubung yang akan mengantarkannya ke kedudukan dengan gaji besar pada seorang daimyo besar." demikian pikirnya. semua keluar dari kantong pribadi Hideyori. Sambil hidup bersenang-senang. Sekalipun masih muda." kata penjual sake kepada Matahachi. kalau kita masih belum mendapat kesempatan. Ini suatu pernyataan bahwa peristiwa dunia yang mengambang ini tidak lagi menjadi perhatiannya. dan pagi-pagi benar rumput di situ putih oleh embun beku. dan pulang apabila ingin pulang. Keberuntungan sedang mencarinya. karena menurut anggapannya hidup di sebuah rumah penginapan terlampau mahal. Bulan terakhir tahun itu Matahachi masih juga menganggur. pasti kamu mendapat tempat. Tuan. Berkat penampilan Matahachi yang Ebook by Kang Zusi . Pakaian baru! Itulah yang dia perlukan. orang-orang yang berkelahi itu sudah balik kanan dan angkat kaki. sedang uangnya tinggal separuh. Tukang-tukang teriak berlomba dengan suara lantang memikat orang lewat yang iseng untuk memasuki teater mereka yang rapuh. karena ia percaya bahwa akhirnya nasib baik telah beralih kepadanya. Chosokabe telah mencukur kepalanya seperti pendeta Budha dan mengubah namanya menjadi Ichimusai "Manusia dengan impian tunggal". Kalau kamu mengajukan permohonan di puri. apabila semangat menghendakinya. "Kamu muda dan kuat. Sering ia pergi sepanjang malam. "Dan batu-batu itu sudah disusun demikian rapat. melintasi kota bersama dua puluh pegawai dan seekor kuda cadangan." Tetapi menemukan pekerjaan yang tepat tidaklah semudah itu. dan makin lama ia makin yakin bahwa inilah tempat baginya. berjalan bergerombol-gerombol sambil mengunyah penganan kacang panggang. Pada waktu lain ia merasakan sisa-sisa patah had yang dialaminya." Namun kekecewaan ini selalu menyingkir. tak gentar oleh semakin menipisnya uang samurai yang sudah mati itu. Namun umum diketahui bahwa ada tujuh atau delapan ratus ronin bekerja padanya. Semakin siang jalan-jalan semakin berlumpur. tukang sadel menjawab dengan penuh optimisme. semuanya teguh dalam keyakinan bahwa apabila tiba saatnva. "Terima kasih. Tujuh atau delapan kios yang dikelilingi tikar jerami lusuh. Dua bulan lamanya Matahachi berkeliaran di Osaka. Tetapi ia merasa sudah berlaku lebih baik daripada kapan pun sebelumnya. Kemudian. dan secara pura-pura ia menghabiskan waktu dengan tingkah laku sembrono yang perlente. Ia yakin bahwa ia akan terantuk pada sebuah batu dan muncul bertimbun uang. netcafe. Sebetulnya Matahachi perlu mengendalikan diri untuk tetap hidup dalam batas-batas kemampuannya. hingga tak ada satu pun celah yang dapat dilewatinya. Berulang-ulang ia merasa tergugah oleh cerita tentang samurai ini atau itu yang belum lama masih menyeret kotoran dari wilayah pembangunan. Di bawah sinar matahari musim dingin pada bulan yang paling sibuk tahun itu. dan suasana musim dingin terusir oleh suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya diiringi suara gong bertalu-talu dan genderang berdentumdentum. untuk mencegah orang luar menengok ke dalam. ia akan bangkit membela nama baik mendiang Hideyoshi yang pernah bersikap dermawan kepadanya. kegembiraan. dan dengan hati-hati memilih bahan yang cocok untuk cuaca di musim dingin yang sudah mendekat. Di sinilah ia akan meraih kesempatan menuju sukses. Didesas-desuskan bahwa biaya hidupnya. "Dunia ini dinding batu. meninggalkan jejak tetesan darah. Inc. Belum lagi dapat dikatakan siapa yang menang. Di pusat kota ada bidangbidang tanah kosong. Pada suatu petang terjadi perkelahian antara para pembeli sebuah warung sake yang menempatkan beberapa bangku di tepi jalan. berusaha memikat orang banyak dengan bendera-bendera kertas dan lembing yang dihias aneka warna bulu untuk mereklamekan pertunjukan yang sedang diadakan di dalam. Selamanya sukar masuknya. Untuk pertama kalinya selama bertahuntahun ia merasa seberani dan setak-kenal-takut seperti ketika berangkat perang dulu. namun sekarang sudah tampak mengendarai kuda dengan megahnya.

ya?" ucapnya bersahabat. kelicikan. bawakan juga aku satu. ia pun tersenyum. "Halo." "Halo. "Secara pribadi aku mengharap Ishida Mitsunari yang menang di Sekigahara. Ebook by Kang Zusi . dan sedikit saja kemampuan politik—maksudku yang dipunyainya itu cuma bakat politik tertentu. pihak mana yang akan kaupilih?" Disertai sikap ragu-ragu. yang biasanya tak ada pada orangorang militer." "Bagus!" Orang itu berdiri memegang guci sake. ingatlah ia akan sumpahnya untuk berhenti minum sebelum ia pergi bekerja di Fushimi." "Bagus sekali cuaca bertahan begini. sepertinya lengan bajuku ini yang ditariknya. Mereka tinggal sebentar di sini. ia memperhatikan Matahachi dari bawah ke atas. Aku juga pernah bertemu dengan Ono Shurinosuke tiga atau empat kali. "Kalau Tuan tak ada di sini." "Terima kasih. Menurutnya sake itu sudah dihangatkan sampai pada suhu yang tepat. oh. Aku juga teman Susukida Hayato Kanesuke. dan katanya. Orangorang kota cenderung menyingkir. Orang yang duduk diam di bangku di samping Matahachi juga seorang ronin. Ia biasa minum juga. Ketika matanya sampai pada wajah Matahachi." Wajah Matahachi merah oleh minuman. "Kalau nanti Osaka bentrok dengan Edo lagi. "Hei. "Engkau seorang dari kami." Ia mengosongkan isi mangkuknva sekali teguk." Akhirnya mulailah mereka bicara tentang situasi politik." Sesudah menyatakan penilaiannya itu. kalau sedang mau. sekalipun ia tidak mengenakan jubah penutup kimono. tapi menurutku dia terlalu murung.. Beberapa menit kemudian ia sudah menenggak lima guci. tapi apa salahnya?" pikirnya. Mari kita minum! Dari daerah mana. ya? Kulihat kamu duduk di sini menghadapi sake.. Kami pernah mengadakan perjalanan bersama ketika dia masih menjadi ronin." "Satu lagi. "Osaka. Percekcokan meletus antara dua pekerja. Kami akan berkumpul lagi harihari ini. kemudian menghidangkan satu guci sake lagi pada Matahachi. dan ada sesuatu yang memikat dalam dirinya. katanya.. Namaku Akakabe Yasoma. "Sungguh memalu-kan menjadi pemabuk. dan cepat!" serunya. "Berapa banyak biasanya kau minum?" tanya Matahachi." kata Matahachi. "Banyak sekali orang sekitar sini. sedangkan Matahachi baru menghabiskan satu guci. tapi kukira tak boleh aku menanyakan itu. Matahachi suka melihat gayanya. dan sebentar kemudian ronin itu mengangkat bahu. orang-orang kota yang sedang berkelahi itu melarikan diri. netcafe." jawab orang itu asal saja.property of: CROSSFiRE. "Kalau orang lelaki tak boleh minum sekali-sekali. "Ini akhir tahun. "Sepuluh atau dua belas guci. dan samar-samar sadarlah ia betapa ia mulai minum lagi." kata orang itu sambil mengangkat mangkuk. tak tahulah aku. Pedangnya yang panjang dan pendek tampak mengesankan. "Boleh coba ini punyaku. "Ah. dan ketika ia memandang marah kepada mereka dan mengancam akan membunuh keduanya kalau mereka menimbulkan kerusuhan di kios itu. "Siapa pula Ieyasu itu? Omong kosong saja kalau dia bisa mengabaikan tuntutan Hideyori dan ke sana kemari menyebut dirinya 'Maharaja Agung'. Bau harumnya mengambang di udara dan menarik-narikku kemari. menyilaukan. Matahachi merasa puas dengan dirinya. sekitar leher kimono itu sangat kotor. Aku dari Gamo.. Dan orang itu masih juga sadar. tiba-tiba la bertanya. sebelum aku memberitahukan siapa diriku. sedangkan statusnya tidak cukup tinggi. Tanpa Honda Masazumi dan beberapa pendukung lamanya yang lain. Sambil mengganjalkan kaki kanan ke lutut kirinya." Orang itu membungkuk beberapa kali. Inc. kemudian pergi lagi. Orang itu kelihatan bersahabat." katanya keras. Ia menghidangkan juga sejumlah makanan kecil sebagai tanda penghargaan. Tapi ada saja yang datang lagi. apanya yang tinggal? Cuma darah dingin. kawan. Matahachi menjawab. jenderal ternama dari Puri Osaka. sementara menunggu punyamu dihangatkan. Tuan. Barangkali kau pernah mendengar tentang Ban Dan'emon? Aku sahabatnya. Ketika mengangkat mangkuk. mereka melarikan diri. pasti mereka sudah bikin pecah semua pinggan saya. "Ah. tapi dia terlalu berjiwa besar untuk mengorganisir para daimyo.

"Tak perlu engkau membungkuk seperti itu. kau ini tentunya pemain pedang tulen. kemudian tanyanya." katanya beberapa kali. namun ia merasa bahwa untuk sementara ia dipaksa kalah pengaruh. diam sebentar." "Apa betul begitu?" kata Yasoma heran." Ia mundur." "Tapi Anda tentunya tersinggung oleh bualan saya tadi itu." Matahachi menjawab polos. aku telah membaktikan diriku dengan tulus ikhlas kepada pedangku. "Kalau kau berkeras mengambil sikap resmi." "Kalau begitu. sesudah saya pikirkan lagi. Dan ia mulai menikmati permainan itu. Saya betul-betul terkejut." kata Matahachi dengan wajah sungguh-sungguh. Tapi sekarang belum sampai aku pada ritik itu. "Tapi saya pikir tidak betul kalau Anda tak punya kedudukan resmi. netcafe. hingga tak banyak waktuku untuk bersahabat dengan orang banyak. "Yah. "Percaya tidak." Ia memandang Matahachi baik-baik. Tapi saya memang tak bisa tahu tadi." kata Matahachi dengan murah hati. tak seorang pun akan mencari Anda." "Oh. Andalah Sasaki Kojiro." jawab Matahachi." Matahachi lega luar biasa. ia terpaksa berkelahi demi hidupnya. siapa sesungguhnya Anda." "Betul. karena agaknya menimbang kembali apakah ia berbicara terlalu banyak. Anda punya nama baik yang didukung pedang." "Kenapa? Aku tak punya status dan kedudukan khusus.property of: CROSSFiRE. Untuk sesaat yang penuh kegelisahan. Tentu saja. walaupun dia memang memiliki lebih banyak pengaruh politik daripada Kanesuke. "Maafkan saya. Cobalah pikir. "Saya sudah sering mendengar Sasaki Kojiro pemain pedang yang baik sekali. kalau Anda tetap diam. dan saya harus minta maaf karena tadi tidak berbicara lebih sopan. kalau pantas aku menanyakan hal ini. tapi sudah terlambat. Tak ada lagi jalan kembali. Yasoma sudah berlutut di tanah dan membungkuk dalam. Sekarang. "Ito Yagoro. dan itulah yang membuat Anda berbeda. Tubuhmu tampak terdisiplin. saya bahkan tak tahu siapa Anda. sebelum Anda menyatakan pada saya. "sebetulnya aku sudah dari tadi menyangka begitu. adalah murid senior dari sekolah yang sama itu." "Oh. Inc. guruku pertapa Kanemaki Jisai yang agung dan tak mementingkan diri sendiri. Siapa namamu waktu kau mendapat latihan di bawah pimpinan Jisai? Maksudku. soal itu gampang sekali. dan terasa ada kemampuan padamu. Sekiranya Yasoma kebetulan teman atau kenalan Kojiro. pencipta Gaya Itto." "Ya. Sudah banyak kali saya mendengar nama Anda. yang telah menerima Gaya Tomita sejati dari Seigen dan kemudian mengem-bangkan Gaya Chujo. "Apa kau tahu Toda Seigen?" tanyanya. tak akan dapat kita bicara sebagai teman." "Namaku Sasaki Kojiro. Aku cuma pemuda yang tak banyak kenal dengan dunia ini. aku selalu berpikir bahwa pada suatu hari aku akan terpaksa mencari seorang tuan untuk kuabdi. Apakah itu berarti Anda tidak berminat menemukan kedudukan yang baik?" "Tidak. berapa banyak pun bakat yang Anda punyai. tapi Anda pemain pedang besar. jelaslah buat saya. "Kau sendiri siapa?" Matahachi memang tidak mempercayai segala yang dikatakan orang itu. "Orang yang menemukan Gaya Tomita?" "Aku pernah mendengar nama itu." Ebook by Kang Zusi ." kata Yasoma. begitu." "Nah. Matahachi terpikir akan menarik kembali segala keterangannya itu.

dan akhirnya ia pun merasa sedikit kurang enak. "Bagaimana dengan usul saya itu?" "Oh. hingga dalam satu malam saja dihabiskan seratus barel minyak lampu. Susukida Kanesuke. Tanpa surat keterangan itu tidak ada jalan bagi penguasa untuk mengetahui siapakah si ronin itu. Sebaliknya. Matahachi memang memperhatikan baik-baik. dan Matahachi satu-satunya orang yang mengetahui hal itu. dan tidak akan mudah ia keluar dari sana. Inc. kepala terbungkus kain penolak dingin. "Dan mereka ini lebih baik daripada pelayan warung teh atau gadis penyanyi di rumah sebelah yang kemungkinan mengawani Anda. di sana terdapat seribu rumah hiburan dengan perdagangan yang demikian berkembang. terbentuklah dengan pasti rencana berani dalam kepalanya: ia akan menjadi Sasaki Kojiro. dan ini cuma sedikit saja dibesar-besarkan. netcafe. tentu. Matahachi sendiri tak dapat menghindari perasaan bahwa ia telah tercebur langsung ke dalam suatu kancah. Ia memang ingin sekali mendapat pekerjaan.. "Banyak juga mereka." kata Yasoma yang kelihatan lega sekali. saya sudah minta teman saya. Lagi pula. Terus terang. Agaknya menurutnya wajar sekali. kalau bukan seorang "mata-mata" yang telah dilempari batu sampai matt? Maka. beberapa jauh dari jalan-jalan utama itu. tapi segera ia tertarik oleh kegembiraan suasana di situ. dan Yasoma jadi bingung. di mana kita dapat tinggal berdua saja." jawab Yasoma. karena keduanya itu mengingatkannya pada kalajengking pembawa maut. ia membawa Matahachi ke daerah yang supaya enak disebut Kota Pendeta Wanita. tapi kalau kita lewatkan satu malam di musim Ebook by Kang Zusi . biarpun barangkali gajinya tidak banyak. tapi ia takut membuat kesalahan kalau membawakan diri sebagal Sasaki Kojiro.. Kalau orang memperhatikan dengan saksama. Yasoma berhenti. adakah sesuatu yang benar-benar perlu dikuatirkan? Kojiro yang sebenarnya sudah mati. Dan kecil kemungkinan mereka akan bersusah payah melakukan penyelidikan. "Sekiranya Anda menghendaki saya membantu. "aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau bicara dengan temanmu itu atas namaku. Barangkali Yasoma akan memandang rendah kepadanya. Orang cenderung menolak gagasan tentang penjualan seks. mencarikan kedudukan buat saya juga. terlihat kutu ikan dan kepiting sungai yang merayap ke sana kemari di bawah jendelajendela menonjol dan lentera-lentera merah. Daerah itu sebagian besar dihuni oleh perempuan yang tebal pupurnya. Yasoma tak akan menawarkan bantuan kepadanya. sementara Matahachi sedikit-sedikit meyakinkan dirinya bahwa rahasianya itu tidak akan diketahui orang. kalau Matahachi membayar rekeningnya juga. bersusah payah membela para wanita itu. siapakah orang itu. Perempuanperempuan ini biasa mengarungi jalan-jalan. Tak bisa dihindari nama Sasaki Kojiro telah menimbulkan kesan kuat. Sambil menyanyikan puji-pujian pada daerah lampu merah. Segera kemudian mereka sudah berada di sebuah daerah lain. Matahachi semula sedikit enggan. Mari kita pergi ke tempat lain yang tenang. "Mana rekeningnya. tapi yang terbanyak kelihatan sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. Tapi. tapi Yasoma menyarankan untuk pergi ke tempat lain yang lebih murah dan lebih menarik. Saya ingin dimasukkan Puri Osaka. Kata orang. seorang samurai kampungan dari Mimasaka." "Oh. tentu. kemudian katanya.. Matahachi semula bermaksud membawa teman yang baru ditemukannya itu ke sebuah tempat minum yang mentereng. dan gigi yang sudah hitam. Kalau Anda suka. tetap mencoba dengan lesunya menggelitik hati lelaki yang berkumpul di sana. Di antara mereka sekali-sekali memang tampak wajah yang manis. Tidak jauh dari sana terdapat parit kuil yang biasa dialiri air banjiran dari teluk. Saya yakin Kanesuke akan senang merekomendasikan orang seperti Anda kepada pihak berwenang di sana. ujarnya. Matahachi bangkit akan meninggalkan tempat itu." serunya sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari pundi-pundinya. dengan senang hati saya akan bicara dengannya. kalau ia mengatakan bahwa ia Hon'iden Matahachi." kata Matahachi mengeluh. saya akan senang melakukannya. tapi kita tak dapat membicarakan soal macam itu di sini." jawab Matahachi. "Sudah saya katakan tadi. Semenjak saat ini. yang meskipun dengan mata muram.property of: CROSSFiRE. karena ia yang menyimpan surat keterangan yang merupakan satu-satunva pengenal orang yang telah mati itu." Sementara Yasoma bertambah gembira dengan prospek-prospek yang dihadapinya.

jalan-jalan yang terletak di dalam bayangan besar Puri Osaka itu cepat menjadi gelap." "Aku tak akan minta upah terlalu besar sebagai permulaan. rumah sudut di sampingnya itu. "Di sana rumah Susukida. banyak di antara sampah itu terdiri atas bunga-bunga yang sudah gugur. "saya akan bertemu dengan Kanesuke dan bicara dengannya supaya dia mempekerjakan Anda. Mereka menginap di sana. Ayo kita pergi. Kalau Anda mengatakan bersedia menerima kedudukan seperti dulu. Matahachi merasa dalam batas-batas tertentu ia telah mendapat ganti dari perlakuan terhadapnya ketika ia digusur ke kamar belakang di Yomogi itu. "Sebagian dari mereka pernah menjadi gundik shogun. kalau kita pergi ke rumahnya. menuju salah satu wilayah pemukiman samurai yang lebih eksklusif." Tapi Yasoma tak hendak pergi. Matahachi merasa pengalaman itu sangat menyenang-kan. tentu. Dan mereka tak dapat betulbetul dipersalahkan karena sudah menjadi sundal. kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa dia sama seperti wanita lain. Terlalu pagi sekarang ini." katanya. sementara angin dingin terusir akibat sake yang telah mereka masukkan he dalam tubuh sepanjang hari itu. dingin dengan seorang dari mereka dan bicara dengannya tentang keluarganya dan sebagainya." kata Yasoma. Ia betul-betul tanpa cela." "Hmm. Ketika mengeluarkan pundi-pundi dari dadanya. Anda tak boleh memberikan kesan bahwa Anda puas dengan jumlah berapapun. Akhirnya ia mengaku sudah cukup banyak minum. Sambil Ebook by Kang Zusi ." Sementara malam datang. Bukannya ia tidak percaya.. Namun ia merasa harus tetap acuh tak acuh. tahulah ia bahwa isinya sudah susut sampai sekitar sepertiga dari jumlah semula. Anda akan melihat bahwa di dalam selokan dunia yang mengambang ini.property of: CROSSFiRE. netcafe. dan lagi tak bisa saya membicarakan keadaan Anda sebelum saya mendapat gagasan yang lebih baik tentang apa yang Anda kehendaki. Tapi sebelum itu. selalu dibayar dan diperlakukan lebih baik. Katanya." "Tak ada alasan menjual diri terlalu murah bagi Anda." "Sekarang." kata Matahachi. semangat mudanya yang mentah berkata. Tetapi ia mulai merasa lunglai. Ini terjadi pada abad-abad ketika Taira jatuh ke tangan Minamoto." Matahachi berpura-pura tidak mencurahkan perhatian pada apa yang dikatakan Yasoma. Sesudah meninggalkan bordil itu. "Aku tak mau lagi minum. ya?" "Kanesuke sudah dapat nama. Sebaliknya. tak seorang pun pernah mendengar tentangnya. dan Matahachi menyerahkan segalanya kepada Yasoma yang kelihatannya berpengalaman. Bagaimana kalau saya katakan kepadanya bahwa Anda menginginkan upah dua ribu lima ratus gantang? Seorang samurai yang yakin dirinya baik. Ia tahu bagaimana memesan sake dan menghadapi gadis-gadis. "Tinggallah dengan saya sampai malam. ia sudah demikian bulat mempercayai Yasoma. Sebelum umur sekitar tiga puluh. Seorang samurai sekaliber Anda ini dapat menerima jumlah berapa saja yang Anda sebut.. besar. bagaimana dengan soal uang?" "Oh." kata Yasoma." Mereka masuk sebuah rumah. "Ada apa?" "Saya punya janji menemui Susukida Kanesuke. Matahachi dan Yasoma pergi melintasi kota. hingga ia tidak lagi mengajukan pertanyaan tentang apa yang dikatakan orang itu. sadar bahwa suap memang umum. tapi sekarang. "Aku pun akan tinggal di tempat seperti itu—tak lama lagi. dan banyak di antaranya yang ayahnya pernah menjadi pegawai daimyo yang sudah kehilangan kekuasaan. namun pada tengah hari berikutnya Yasoma belum juga memperlihatkan kelelahan. berarti Anda merendahkan diri sendiri. Inc. Mereka berdiri membelakangi parit. "Yang gerbangnya pakai atap kurung itu?" "Bukan. Sementara memandang rumah-rumah semayam para daimyo yang mengitari purl besar itu. Jadi.

ia mengikuti beberapa langkah." "Kapan aku mendapat jawaban?" "Kita lihat nanti. Hari sesudahnya Matahachi pergi lagi ke sana. tidak. Matahachi berjalan melintasi udara beku yang sedang mencair di tempat terbuka itu." "Di mana?" "Datanglah ke tempat kosong. Keyakinan betul-betul sudah melingkupinya. Apa ini cukup?" "Oh." "A-apa? Kenapa Anda berkata begitu?" "Oh. "Hanya ini yang kupunyai. tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. Anda bisa menanti saya. Malam itu ia bermimpi tentang masa depannya yang menyenangkan. cukup sekali. tapi sesudah menyerahkan selebihnya. dan sangat terbuka. Dengan mudah saya dapat minta bantuan pada Ono atau Goto. netcafe. tapi tentunya Anda tak hendak berdiri berangin-angin di sini. Yasoma melambaikan tangan dan berjalan gagah melintasi gerbang rumah persemayaman itu sambil mengayunkan bahunya. kan? Nanti orang-orang bisa curiga Anda akan melakukan sesuatu yang buruk. Saya punya banyak koneksi. "Dia pasti datang hari ini. Kalau kelihatannya ada kesulitan. saya berjanji bertemu dengan orang yang namanya Akakabe Yasoma. Matahachi mengatakan pada si penjual sake dengan agak malu. Dia bukan satu-satunya orang berpengaruh di Osaka. tentu. Tak perlu malu. "Jadi." "Yang paling baik kalau Anda menanti di warung sake tempat kita pertama kali bertemu." Matahachi mengambil kembali sebagian kecil dari uang tunai itu. "Jangan kuatir. Ketika Yasoma pergi." "Apa tak perlu kau membungkusnya?" "Tidak. tempat orang mengadakan pertunjukan-pertunjukan tambahan itu. Hari ketiga." "Baik. Semua orang melakukannya. "Usahakan sebaikbaiknya. "Tentunya ada yang menahannya. saya cuma harus menyimpan kembali uang ini dan mengembalikannya pada Anda." Tapi sekali lagi matahari tenggelam." Sesudah menetapkan waktu pertemuan. tapi tak melihat tanda-tanda Akakabe Yasoma." 'Anda menanti seseorang?" "Ya. Yasoma tetap tak tampak. "Saya di sini lagi. sambil menatap wajah orang banyak berlalu." "Sungguh malang Anda! Anda bisa menunggu seratus tahun. mengeluarkan seluruh isinya. Mari kita ketemu lagi besok. mulailah ia merasa tidak tenang. Karena sudah terkesan. ia berkata. Ia menanti sampai matahari terbenam. Matahachi merasa Yasoma tentunya sudah mengenal Kanesuke semenjak zaman ia kurang makmur. Saya berikan uang kepadanya untuk diberikan kepada orang yang namanya Susukida Kanesuke.property of: CROSSFiRE." pikirnya bermurah hati. Seperti hari sebelumnya. Saya menunggu dia di sini untuk mengetahui hasilnya. "Si bajingan itu?" sengal penjual sake. Inc. dia mengatakan pada Anda akan mencarikan kedudukan yang baik dan kemudian mencuri uang Anda?" "Dia bukan mencurinya." Matahachi lalu menjelaskan keadaannya sejelas-jelasnya." mohonnya. Anda tak akan melihatnya lagi. Pada waktu yang ditentukan. Saya jumpa dengan dia hari itu. Kanesuke bukan satu-satunya orang di tempat ini yang menerima bayaran karena mencarikan kedudukan untuk seseorang. dia itu bajingan yang terkenal jahat! Daerah ini penuh benalu macam dia. angin terasa dingin dan banyak orang di sana. Kalau mereka melihat orang Ebook by Kang Zusi . tapi saya berani mengatakan.

Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dikelilingi tenda. tapi perbuatan itu hanya membuat girang si penjudi. Orang-orang jembel di tempat ini sering berkumpul di belakang sana untuk berjudi. serta tepuk tangan para penonton." "Apa kerjamu di sini kalau tak mau main?" "Aku mencari Yasoma. netcafe. "Goblok!" salaknya. tapi tak ingin saya ikut campur. "Aku jadi sadar. Gunakan pedangmu kalau kau berani!" Ebook by Kang Zusi . Ia mencoba meyakinkan Matahachi bahwa tidak memalukan ditipu pencuri-pencuri yang beroperasi di sana. orang berkaok-kaok untuk menarik pengunjung. Dari balik tirai dan lembar-lembar tikar jerami yang mengitari pagar terdengar bunyi musik aneh bercampur suara para tukang sulap yang keras dan cepat. "Tak bisa kamu pergi hanya dengan bilang minta maaf. Semua mata menoleh kepada Matahachi. Sayang sekali!" Orang itu bersimpati sekali pada Matahachi. Namun sesungguhnya bukan rasa malu itu yang mengganggu Matahachi." "Kenapa tak mau cari di tempat lain lagi?" "Aku sudah minta maaf tadi. ya? Jadi. Sekitar dua puluh orang yang semuanya dari jenis tak pernah puas." "Aku bukan pencuri! Tak boleh kamu menyebut begitu!" Matahachi mendorongkan gagang pedangnya ke depan. tapi terbuka atapnya. yang tampak sedikit polos. Tadinya saya mau memperingatkan Anda. "Berhenti!" perintah seorang dari para penjudi seraya berdiri dan meng-ikutinya. dan satu orang diam-diam menyedia-kan ruang kepadanya untuk duduk." kata penjual sake. Kenapa?" "Apa menurut Anda dia akan datang?" "Mana aku tahu? Silakan duduk. Saya pikir Anda akan tahu dari cara dia memandang dan bertindak." "Tak ada uang! Begitu. dan beserta uang itu hilang pula harapan-harapannya yang besar. duduk melingkar bermain. Kalau Yasoma mendapat uang. "Apa Akakabe Yasoma ada di sini?" tanya Matahachi. cuma tunggu kesempatan menyikat uang.property of: CROSSFiRE. "Yasoma?" ulang seorang penjudi dengan nada heran. dan orang itu membiarkannya masuk. "Yang mana kios tukang sulap itu?" Rumah yang dituding orang itu dikelilingi pagar bambu runcing. melainkan kenyataan bahwa uangnya hilang. "tapi Anda bisa mencoba bertanya di sana. "Saya sangsi apakah akan ada gunanya. itulah yang membuat darahnya mendidih. seorang pengintai bertanya kepadanya. di kios tukang sulap. kamu mesti bayar buat tempat duduk." kata Matahachi sambil lekas-lekas keluar. "Anda kemari mau berjudi?" Ia mengangguk. dan bendera-bendera yang terpasang di dekat gerbang kayu mengumumkan namanama beberapa artis sulap terkenal." "Aku tak punya uang. Ketika ia melongok ke dalam." "Terima kasih. Sekarang Anda sudah telanjur kehilangan uang. dia tidak di sini akhir-akhir ini. Inc. dan main. dan di sana menemukan gerbang lain. Ia memandang putus asa kepada orang banyak yang bergerak di sekitarnya. Matahachi berjalan menikung ke belakang. Maaf mengganggu. macam apa wataknya. "Kalau ancaman dari orang-orang macam kau bisa bikin aku takut. Biar kamu tidak main." kata Matahachi sambil melompat bersemangat." "Saya datang bukan untuk main. kemungkinan dia akan mencoba menggandakannya. tak mungkin aku tinggal hidup di Osaka sehari saja. ya? Pencuri terkutuk. Di depan. mereka pun menerkamnya.

Penjudi itu meludah dan kembali masuk kalangan. Kalau yang akan kulihat cuma kulit macan. Dengan jalan menyuruk aari kawanan orang satu ke kawanan lain ia bisa bersembunyi. Dia yang menciptakan Gaya Tomita. Mereka tidak merasa kecewa bahwa makhluk itu ternyata tidak utuh dan tidak pula hidup." kata perempuan itu. Matahachi berdiri agak di sisi kulit macan itu." "Itulah barangkali yang namanya tukang bual. mencari binatang itu. Mari kita lihat kecakapannya main pedang. Inc. "Tentu saja mati. Ayo kita ambil uang kita kembali. ya?" kagum yang lain. Mendengar suara percakapan mereka. Pada pintu gerbang terdapat juga panji-panji dengan gambar acmbing bercabang dua dan kepala bermata ular." Melihat orang itu sedang lengah. Aku tak senang. Karena menurut pendapatnya ia tidak dapat menyembunyikan diri selamanya seperti itu. Kelihatannya mau mencabut pedang lawan kita. tapi setiap muka yang dilihatnya tampak sebagai muka salah seorang penjudi. netcafe. Matahachi menyelam ke tengah orang banyak. menyabetkannya melintang pantatnya. Mestinya menyenangkan juga. saudara-saudara. Para penonton menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar." Matahachi menyatakan hal itu dengan penuh kebanggaan." "Jangan bikin ribut. kan?" Samurai tua itu menjulurkan tangan ke atas pagar bambu dan meraba kulit itu. ditangkap sendiri oleh jenderal besar Kato Kiyomasa di Korea. lebih baik aku melihat gambar. "macan itu mati. berirama. aku bicara sungguh-sungguh!" "Oh." Ketika ia mulai berjalan kembali Ebook by Kang Zusi . Osugi tidak gampang saja menerima hal itu. Kalau kau tak mau pergi. dan tiba-tiba terpandang olehnya seorang lelaki tua dan seorang perempuan. "Jangan seperti orang tolol! Kalau macan ini bukan macan betulan." kata satu orang. seperti cucian yang sedang dikeringkan pada papan kayu. "Besar. dengar kalian semua! Orang ini baru saja menyebut dirinya dengan nama yang hebat. Di ujung tenda itu terpentang kulit macan besar. Matahachi tiba-tiba menarik pedangnya. Karena merasa relatif aman. inilah yang dinamakan macan itu. "Jadi. maka ia menoleh ke sekitar untuk mencari tempat berlindung yang lebih mantap. telinganya pun tegak tak percaya. aku akan pergi sendiri. tanda di luar mesti mengatakan begitu juga. Orang menertawakan kamu nanti." "Tapi orang di luar itu bicaranya seolah-olah macan itu masih hidup. Jangan lewatkan macan ini!" Seruan yang diucapkannya itu terdengar ingar-bingar. Sambil memonyongkan mulutnya ia memprotes. Tapi ternyata tidak. dan menduga bahwa pengumuman itu saja akan membuat orang melarikan diri. Ini cuma kulitnya.property of: CROSSFiRE. "Paman Gon." kata lelaki itu sambil tertawa kecil. lalu jawabnya murung. dan seorang tukang teriak berdiri di atas kotak kosong sambil berseru-seru parau. Nek. "Saksikan macan! Silakan masuk dan saksikan macan! Adakan perjalanan sejauh seribu mil! Macan ini. Orang itu melompat tegak ke udara. ya?" "Apa kau tahu siapa aku?" "Kenapa pula mesti tahu?" "Aku Sasaki Kojiro. kau bicara sungguh-sungguh. "Anak anjing!" jeritnya. Matahachi melontarkan sebentuk mata uang dan langsung menerobos pintu masuk." "Biar. "Kuperingatkan kau. Tepat di depannya tergantung tirai bergambar macan besar pada pagar aambunya. pengganti Toda Seigen dari Kampung Jokyoji di Echizen. "Hei. ia melihat ke sana kemari.

tapi kemudian ia mendekati mereka dan katanya. Aku seorang ibu yang setia. Nak. Matahachi menoleh ke belakang dan melihat ibunya mengejarnya seperti perempuan gila. jangan perlakukan Matahachi seperti kanak-kanak lagi. "Tahan dia di sana!" "Bajingan!" "Hajar dulu!" Orang banyak berhasil mengepung Matahachi. "Kenapa kalian serang orang ini?" "Dia pencuri!" "Dia bukan pencuri! Dia anakku." Ia mencoba Ebook by Kang Zusi . Sambil mengusir mereka. "Tunggu. tapi dia lari. kalau aku berteriak 'pencuri'. akan ku.. Paman Gon?" "Apa kau tidak lihat? Matahachi berdiri di belakangmu itu!" "Tak mungkin!" "Dia di sana tadi. Kalian hanya orang kota kebanyakan.property of: CROSSFiRE. Matahachi! Kamu. Kalau kalian sentuh dia lagi. dan dengan sekuat paru-paru ia pun menjerit. dia anakku. Tapi siapa yang menyuruh kalian. orang-orang bebal. "Hei. Inc. Osugi yang sudah tidak begitu awas matanya itu menggagap. Matahachi merunduk. "Matahachi!" teriaknya. akan kuhadapi kalian semua!" "Kau berkelakar. "Nek. tunggu!" teriak Osugi. cepat menguasai keadaan dan balik mendamprat para penyerang Matahachi. "Berhenti. tapi terlambat. memukulnya? Itu tak patut!" Heran melihat perubahan haluan yang sekonyong-konyong ini. anakku akan berhenti lari. dan orang-orang yang di depan segera menyerang Matahachi dengan tongkat bambu. Matahachi terus bertumbuk-tumbuk orang. anak seorang samurai.. dan kalian tak punya hak memukulnya. itu tak kusangkal. Osugi mencekal kerah anaknya yang tak patut itu dan menyeretnya ke pekarangan kuil tak jauh dari sana." "Di mana? Ke mana?" Keduanya berlari keluar dari gerbang kayu. dan kupikir. tapi selalu dapat membebaskan diri kembali dan berlari terus. "A-apa katamu. melalui para penonton lain. pencuri! Perampok! Tangkap dia!" Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya mengambil alih pengejaran. "Kenapa kau lari? Kau kenapa? Matahachi! Matahachi!" Karena merasa tak dapat lagi menangkapnya. Osugi tiba bersama Paman Gon. ya? Siapa yang teriak 'pencuri' semenit lalu?" "Memang aku. "Apa yang kalian lakukan ini?" teriaknya. orang banvak itu pelan-pelan bubar. ke tengah orang banyak yang sudah bermandikan cahaya petang berwarna-warni. ia pegang gagang pedang pendeknya serta menyeringaikan giginya. Beberapa menit lamanya Paman Gon hanya berdiri memandang dari gerbang kuil itu. ya?" serunya. Mereka kagum akan keberanian perempuan itu. dan beberapa orang malahan sudah meludahinya. Paman Gon sudah melihatnya. Paman Gon pun melambai-lambaikan tangan dengan hebatnya." "Anakmu?" "Ya. netcafe. Osugi menjulurkan lehernya yang keriput itu ke depan.

Juga tentang bagai-mana ia kini menyesali dengan setulus-tulusnya apa yang telah ia lakukan. Paman Gon memohon. tidak. seperti melepas empedu dari dalam perut. "Maksudku. semua sanak keluarga kuatir dengan dirimu?" "Ibu. Aku malu dengan cara hidupku." gumam Paman Gon berkali-kali. Osugi mendecapkan lidahnya. kemudian ia terburuburu membetulkannya. dari mana kau mendapat uang buat hidup?" Ebook by Kang Zusi . Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dahulu. tersangkut dengan Oko. Bu.. dan tanpa pikir lagi aku lari. "Kalau kau begitu malu dengan dirimu sendiri dan merasa sudah mempermalukan leluhurmu. Terlalu bangga ia akan dirinya untuk memperlihatkan kelemahannya dan ia memperbaharui serangannya... menarik tangan Osugi dari kerah Matahachi. "Sungguh aku terguncang oleh kelakuan-mu. "Hmm. orang tak bisa berbuat lain daripada menyetujui pendapat itu. seakan-akan Matahachi masih anak-anak.. Matahachi! Duduk kamu yang tegak! Pandang mukaku. dan hidup darinya—sekalipun ia membencinyabeberapa tahun lamanya. Ia memang takut kepada ibunya.." mohon Matahachi seperti bayi. Katanya mengejek.." Matahachi memulai. Akan kuperlihatkan padamu!" Orang mengatakan makin tua seseorang makin sederhana dan makin langsung sikapnya. ia muntahkan seluruh ceritanya sampai sekecil-kecilnya: tentang bagaimana ia meloloskan diri dari Sekigahara. aku takkan menyembunyikan apa pun. "Jangan kamu ikut campur! Dia anakku. "Sekarang apa persisnya yang telah kaukerjakan sejak lari ke Sekigahara? Jelaskan dan jangan berhenti sampai aku sudah mendengar semua yang ingin kudengarkan.. dan aku akan menghukumnya dengan hukuman yang menurutku cocok. orang kampung! Kau anakku!" Dan mulailah ia menampar anaknya. dan aku belum lagi selesai!. aku tak punya kedudukan. dan berlutut. Semua itu meringankan dirinya. Dan apa yang kaulakukan sekarang? Kelihatannya kau dapat pakaian bagus. Kalau kauteruskan juga. la mengangkat bahunya yang terkena kotoran. kepada ibumu yang sudah tua? Apa kau tidak tahu. anak yang tak tahu diuntung. Kau diam saja dan urusi urusanmu sendiri!. tapi sikapnya yang selalu siap mengungkit persoalan tentang kewajiban terhadap leluhur itu membuat Matahachi tak betah. seandainya dia masih hidup. maka tak dapat aku pulang.. "Cukuplah itu. Kau ini lelaki. biar cuma sekali. "Tak terpikir olehku bahwa kau masih hidup.property of: CROSSFiRE. Apa kau sudah mendapat kedudukan yang cukup upahnya?" "Ya. aku harus sekeras ayahnya. Justru karena tahu sudah menelantarkan Ibu. Melihat tindakan Osugi itu. maka Osugi mendidih darahnya karena berang." kata Matahachi menurut. "Maafkan aku. tapi hampir seketika itu juga ia menghentikan tangisnya. "Baik. tapi ternyata di Osaka ini kau bergelandangan! Memalukan! Manusia tak tahu malu. Sebagai ibunya. katanya." Ia menutup wajahnya dengan tangan. netcafe." "Kalau begitu. Kenapa kau tidak pulang menyatakan hormat kepada leluhur sebagaimana mestinya? Kenapa kau tak mau menunjukkan muka.. Matahachi. tanpa bantuanmu. bersembunyi di Ibuki." kata Osugi. Ibunya dapat kadang-kadang memanjakan. Aku begitu kaget melihat Ibu. Aku bukan bermaksud lari dari Ibu. Karena tak dapat lagi menahan diri. Tepat seperti yang dikatakannya. Kalau ibu-ibu lain tentunya sudah menangis karena gembira. dan ia merasa jauh lebih ringan sesudah melakukan pengakuan itu. Inc.." "Sudah kubilang simpan nasihatmu itu untuk diri sendiri.. Ia sudah kehilangan keinginan untuk melawan.. tentunya kau sudah berbuat tak baik selama ini. pasti akan rusak tabiat anak ini. Bu! Aku minta maaf. Ia membanting Matahachi ke tanah dan membenturkan kepalanya ke sana. Aku tahu yang kulakukan ini salah. "Betul-betul kularang kamu menyembunyikan apa pun. "Gagasan apa itu! Lari dari ibu sendiri! Kau bukan lahir dari selangkangan pohon." "Jangan kuatir. sampai aku tak dapat menghadapi Ibu dan Paman Gon. Aku akan menghukumnya. manusia sampah. Hidung Osugi mengerut dan ia mulai menangis. Maafkan aku." Ia duduk resmi di tanah dan menunjuk tempat yang harus diduduki Matahachi. tak boleh kau bersikap begitu lunak. tapi perempuan tua itu menepiskannya dengan kasar." kata Matahachi.

Bu. Lihat ini. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengarnya." kata Osugi. begitu. cahaya kegembiraan muncul pada wajah Osugi. Inc. bagus!" jawab Matahachi sesudah berpikir cepat. "Betul begitu?" tanya Osugi penuh minat." katanya. Paman Gon. "Tapi sesudah kutimbang-timbang." Osugi memperlihatkan wajah bahagia. Melihat warna wajah Matahachi berubah. tapi bagaimanapun terbawa juga ia oleh ceritanya sendiri. Ia memilih kata-kata yang diperhitungkannya dapat memacu Matahachi untuk beraksi. Matahachi sendiri tergerak sedalam-dalamnya oleh hal lain: kalau benar yang dikatakan oleh ibunya. aku takut mengaibkan leluhurku." Paman Gon mengangguk bersemangat. "Kenapa 'Sasaki Kojiro'?" "Oh. Osugi mengambil kesimpulan yang keliru bahwa kuliahnya tentang kehormatan dan semangat itu sudah mencapai hasil. dan nama pada gulungan itu jadi kelihatan.property of: CROSSFiRE. lihat. "Itu menunjukkan bahwa dia memang menyimpan darah leluhur Hon'iden dalam nadinya." Osugi mengangguk. dia lebih cerdas dan lebih mampu daripada Takezo dan anak-anak lelaki lain. "Main pedang." Demikian gembira perempuan itu. ini betul-betul bagus. netcafe. Ia merasa bersyukur melihat semangat perempuan tua itu naik lagi. Matahachi mendengarkan dengan kepala tertunduk. "Sudah sewajarnya kalau kita mengetahui ini. Ia hendak mengambil gulungan itu. "Kalau kaupikir itu bohong. "tanya Paman Ebook by Kang Zusi . "Ya. tapi Matahachi mencekamnya." Osugi dengan bersemangat mulai memberikan uraian tentang peristiwa yang telah terjadi di Miyamoto." kata Osugi." "Nama perang? Buat apa kamu memerlukan itu? Apa Hon'iden Matahachi tidak cukup untukmu?" "Ya. dan ia terpukau oleh gamblangnya cerita ibunya." katanya. bagaimana ia dan Paman Gon bertahun-tahun lamanya mencari Otsu dan Takezo. "Apa benar begitu?" tanyanya. Matahachi mengeluarkan sertifikat dan membuka gulungannya. karena itu aku akan bercerita. Paman Gon! Biar bagaimana. Kukira jalan pikiran yang baik. dia punya semangat yang benar!" "Matahachi. Apa ini tidak hebat? Aku selamanya berpendapat." katanya. Tapi kalau yang menjadi perhatian utama ibunya adalah kehormatan keluarga dan semangat samurai. lihat ini." "Betul? Dia termasyhur. tapi ia menutup nama Sasaki itu dengan jempolnya. "Bu. Sekarang perhatikan. Jelas sekarang. Pada waktu-waktu seperti ini. Ia coba untuk bersikap tidak emosional." Ada nada kebenaran dalam cara ia mengatakannya dan hal itu menimbulkan akibat yang memang dikehendaki. Ini penting. "Bu. di bawah pimpinan siapa kau belajar ilmu pedang?" "Kanemaki Jisai. Tak ada salahnya dia tersesat sebentar. tak perlu Ibu kuatir denganku. "Tunggu sebentar. Untuk pertama kali." "Di daerah ini." kata Osugi. hingga sementara berbicara ia mulai meludah-ludah. Ia menjelaskan bagaimana Keluarga Hon'iden dihinakan. Kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sudah terjadi di kampung. Kaudengar. Otsu tidak mencintainya lagi." "Oh. ya? Tidak heran kalau anakku menyediakan waktu buat menyempurnakan kecakapannya main pedang—meskipun menempuh hidup seperti sekarang ini. kuputuskan untuk tidak menggunakan nama sendiri. "Ya. "Coba kulihat. juga waktu dia masih bayi. "Pedangku—aku mengajar main pedang. Karena masa laluku memalukan. itu? Itu nama perang. Matanya basah dan suaranya menjadi berat. Tapi justru pada waktu itu tangan Matahachi terpeleset. Karena ingin lebih menggembirakan ibunya lagi. ia merasa mudah menjadi anak yang baik dan penurut. dia anakku.

jangan berdiri saja di situ. dan keduanya lalu lari sama-sama. Bisa kau melakukan itu. kau mengerti." "Aku mengerti. tak sangsi lagi." "Dan ibumu yang sudah tua ini pun demikian." "Oh. "Mari kita bawa kepala mereka pulang ke kampung sebagai tanda mata buat orang banyak. kau bisa mengatakan. kurang baik itu. Matahachi menggendongku. maka Takezo memikat Otsu untuk pergi dengannya. dan kau akan membuktikan itu pada setiap orang. Perut dan pinggulku sakit. kau pun tak dapat kembali ke Miyamoto?" "Aku tak akan kembali. sakit rasanya!" teriaknya. aku tak dapat memperlihatkan muka lagi di kampung atau berdiri di depan tanda peringatan leluhur kita. Paman Gon." Begitulah. Matahachi merasakan kegembiraan yang aneh. Aku tak akan pernah kembali." Kata-kata itu menimbulkan akibat paling buruk pada Matahachi. kenapa Paman Gon dan Ibu meninggalkan kampung? Kami mau membalas dendam pada mereka. Bu! Ringan sekali! Jauh lebih ringan daripada batu!" Ebook by Kang Zusi ." Ketika air mata jatuh ke leher Matahachi. netcafe." tambah Osugi. Paman Gon buka suara." protes Matahachi. "Naiklah ke punggungku. Perempuan jalang itu sudah meninggalkanmu dan lari bersama Takezo. Menyadari hal tersebut. Matahachi! Kau mengerti." "Wah. "Tanah ini dingin sekali.property of: CROSSFiRE." "Ya. Dia sudah bersumpah akan membalas dendam kepada Takezo dan Otsu. Ketika Takezo diikat di atas pohon itu. Paman Gon?" "Ya. dia mendapat pertolongan dari Otsu untuk melarikan diri. Inc. Matahachi? Mau kau melakukannya?" "Ya. Kau mesti membunuh kedua orang itu. Kecuali kita sudah membalas dendam. Semua orang mengatakan antara mereka sudah terjadi sesuatu. ya? Lihat. "Ringan. Osugi menangis karena gembira. Sebelum aku membunuh mereka. Nak? Kalau itu kita lakukan. kau dapat jalan terus dan mencari istri. Gon." "Bukan itu soalnya." "Itu namanya anak baik. Paman Gon." "Jadi. Matahachi melambung-lambungkan sedikit ibunya di punggungnya. ibunya mengipasi bunga api itu. "Paman Gon. dan juga mendapat nama baik. "Sudah berapa tahun lewat. Mereka musuh bebuyutan kita. "Oh. Apa tidak betul begitu. Ada apa? Apa kau tidak merasa cukup kuat untuk membunuh Takezo?" "Tentu saja cukup kuat. Apa itu bukan gagasan yang baik. Kau membersihkan dirimu sebagai seorang samurai. Dengan kata lain. di mana kalian tinggal?" tanyanya. Apa wasirmu kumat lagi?" Untuk menunjukkan bakti seorang anak." Sementara berjalan. Tak ada nama yang lebih baik di seluruh daerah Yoshino daripada Hon' iden. Man kita mencarinya. dan timbul reaksi baru terhadap kawan masa kecilnya itu. "Jangan kuatir. Bu. Ibu. karena tahu kau tak akan kembali beberapa lama. Aku akan selalu di samping-mu. dan menetap. Matahachi. "Kita mesti mencari rumah penginapan sekarang. "Ada apa?" tanya Paman Gon. Di mana saja bisa. akhirnya ia kelihatan puas. ucapkan selamat pada anak ini." "Baik. Matahachi mengatakan. dan mulailah ia bangkit dari tanah dengan susah payah." "Kedengarannya kau tidak begitu bersemangat. kukira begitu. "Kaulihat sekarang. kau mau menggendongku? Senang sekali aku!" Sambil memegang bahu anaknya.

Begitu sibuk mereka memikirkan kehormatan dan tata krama prajurit. barang itu akan kembali lagi. Inc. kita mesti melakukan apa yang dilakukan oleh Naya 'Luzon' Sukezaemon atau Chaya Sukejiro. sampai tidak dapat lagi bersantai dan menikmati hidup." "Yang mesti kita lakukan cuma berpura-pura membungkuk kepada samurai. apa yang mereka peroleh dari hidup ini. padahal satusatunya kemungkinan sekarang ini adalah menjadi saudagar. Kadang-kadang ingin saya bertanya kepada samurai. Kemudian. Kebanyakan mereka tidak kenal makanan yang baik." "Memang begitu juga pendapat saya." "Ha. saya kira sekarang samurai-samurai itu tahu bagaimana berhitung." "Saya dengar kurang tenaga kerja di sana. perlu juga kita bersenang-senang." Percakapan di tengah kelompok lain adalah tentang bidang serupa. dan sedikit uang cukuplah buat sebagian besar mereka itu.property of: CROSSFiRE. "Tak dapat lagi kita mendapat uang di dalam negeri. Kapal yang beberapa kali sebulan berlayar antara Osaka dan Provinsi Awa di Shikoku itu sedang menyeberangi Laut Pedalaman dalam perjalanan ke Osaka. baunya yang khas menunjukkan bahwa ia membawa barang selundupan berupa tembakau. Tapi jumlahnya tak seberapa sekarang." Seorang lelaki memandang ke arah samudera dan memuji-muji kekayaan negeri-negeri di seberang. ha!" "Dulu kalau penjarah pulang membawa rampasan." "Begitu. bagian 10 Pemuda Tampan PULAU Awaji yang bermandikan matahari menghilang di kejauhan. Saya kasihan pada mereka. Masukilah perdagangan luar negeri. berangsur-angsur digelapkan oleh kabut sore musim dingin. netcafe. atau menguyahnya. "Bagaimana kabarnya? Saya berani bertaruh. "Saya sendiri mensuplai perlengkapan perang-tiang bendera. habis pertempuran berikutnya. macam itulah. kita masih beruntung. tapi saya tak melihat buktinya. Saya dengar mereka butuh pandai meriam. kita celup kembali atau cetak kembali barang-barang itu dan kita jual kembali kepada tentara." "Kalau kita mau hidup di dunia ini. mencium. tapi cepat atau lambat mereka terpaksa mengenakan perlengkapan kulit dan bajanya. Pemerintah Tokugawa melarang rakyat mengisap. lalu terbunuh. betulbetul tidak percuma." "Sama sekali tidak! Tiap orang bilang semua sedang menanjak di Sakai. dari pandangan samurai. tapi kalau kita beruntung. Memang riskan.° kata orang yang lain. banyak juga untungnya." Ebook by Kang Zusi ." "Apa tidak benar begitu? Kita mengeluh tentang masa yang buruk dan semua yang lain. Setidaknya kita masih dapat melakukan apa yang kita inginkan. "biarpun keadaan kita tidak begitu baik hari-hari mi. Sekalipun muatannya sebagian besar terdiri atas kertas dan bahan celup indigo. Kepak-kepak layar besar di tengah angin menenggelamkan bunyi ombak. ya?" "Ya. Kita bicara tentang kemewahan yang dapat dinikmati para daimyo." "Anda benar. dan kita dapat mendandaninya dan menjualnya lagi. Kalau ingin benar-benar untung. Sebagian besar pedagang yang sedang pulang atau untuk berdagang akhir tahun di Osaka. pakaian zirah." "Ah. Terdapat juga sejumlah penumpang di kapal itu.

Status sosial pemuda itu juga sukar dipastikan. sebelum saya berhasil lari. dan beberapa prajurit profesional. dan orang-orang mulai main umsummo." "Boleh. Di antara para penumpang terdapat beberapa orang yang bisa saja ditanya oleh para saudagar kaya itu. Anda menangkapnya sendiri?" "Ya. Permadani wol yang dihamparkan untuk duduk kelompok orang ini barang impor. Rambut bagian depannya tidak bercukur. "Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan-perjalanan begini. dan ia kelihatan betul-betul kerasan di tengah pendeta pengembara. tubuhnya kokoh kekar dan kekerasan yang dewasa memancar dari alisnya yang lebat dan lengkungan ke atas di kedua sudut matanya. tapi monyet-monyet yang lebih tua hampir saja merobek-robek saya. seorang pendeta Kong Hu Cu. dan membiarkan rambut di ubun-ubunnya tidak dipotong. "Kenapa pula kau ini menggeliat-geliat saja?" katanya tak sabaran sambil mengetuk-ngetuk tajam kepala monyet itu. tetapi oleh para penjudi dilemparkan saja ke sana kemari seperti kerikil. Sesudah kematian Hideyoshi. Dengan mudah ia dapat diduga sebagai seorang ronin. Tidak aneh lagi bahwa lelaki yang sudah berumur sekitar dua puluh lima tahun terus mengenakan pakaian seperti anak-anak umur lima belas atau enam belas tahun. dengan taruhan yang sukar dipercaya." "Kalau begitu. yaitu senjata Ebook by Kang Zusi . Sikap polos yang diperlihatkannya waktu la mencari kutu binatang itu menambah kesan umur mudanya. Di lain pihak. pakaian pada umumnya telah lebih berwarna-warni." Sambil berbicara. bukan ke tangan samurai. ia mengenakan sandal jerami dan kaus kulit seperti yang dipakai semua orang. sebuah permainan yang belum lama diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Portugis. nyonya-nyonya dan pembantunya membawakan sake. pemuda itu pasti memikat perhatian orang. Apa dia terlatih?" tanya penumpang lain. kemewahan zaman Momoyama sebagian besar telah beralih ke tangan para saudagar. Dengan naiknya Hideyoshi. Kalaupun tidak membawa monyet. tapi sekarang ini tak semudah dulu menyebut umur seseorang dari pakaiannya. menyaksikan awal permainan kartu yang penuh lagak itu. beberapa ronin. Ini bukti bahwa mereka lebih kaya daripada penduduk lain. sudah lama juga Anda miliki?" "Tidak. padahal jumlah itu sudah dianggap pendapatan besar oleh kebanyakan samurai. apa yang mereka peroleh dari hidup ini—seorang pendeta pengembara. Seorang pemuda memangku sesuatu yang bulat bentuknya. namun ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki status lebih tinggi." Tirai pun digantungkan. Karena sedang dalam perjalanan. ya?" "Memang tak banyak. dan para petani yang tak bercukur di kapal itu. netcafe." "Jadi. "Ya. karena baik kimono maupun jubah merah pendek di atas kimononya itu betul-betul menarik perhatian. Bahkan seorang pedagang kecil pun biasanya lebih kaya daripada seorang samurai yang upahnya lima ribu gantang padi setahun. dan gelung rambutnya terikat pita ungu yang lain dari yang lain. berbulu lebat. pemuda itu terus sibuk menangkapi kutu binatang itu. pemain boneka. saya menemukannya belum lama ini di pegunungan antara Tosa dan Awa. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia masih kanak-kanak. Jadi. Kulit pemuda itu bercahaya penuh kebeliaan. Kebanyakan mereka duduk di samping barang bawaan mereka dan memandang laut dengan sikap tak senang. Mari kita main kartu kecil-kecilan buat menghabiskan waktu. dan matanya terang. para samurai compang-camping. Emas yang ada di meja sesungguhnya dapat menyelamatkan banyak desa dari bencana kelaparan. dan berkali-kali menyuruhnya. Inc. bibirnya merah sehat.property of: CROSSFiRE. Dan pada waktu waktu itu orangorang kota yang kaya itu kota yang kaya adalah orang-orang yang memiliki perangkat minum sake yang anggun dan peralatan perjalanan yang indah dan mahal. "Duduk yang tenang!" "Bagus sekali monyet kecil Anda itu. dari situ tak dapat diambil sesuatu kesimpulan.

Sering benar jawabannya berbunyi. "Pedangmu luar biasa kelihatannya. "Halo. Namun ternyata. akibat cara hidup Seijuro yang melebihi kemampuan. Toji mengatakan bahwa persoalan itu mesti ia yang menangani. Makin lama memikirkan hal itu. dia pasti menjemputku di dermaga Osaka. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Karena merasa dialah yang mendorong keroyalan tuan muda itu." "Apa keluargamu tinggal di sana?" "Tidak. dan sudah dalam bahaya disita oleh para saudagar kreditor. Menghadapi keadaan ini. untuk meringankan beban kebosanan yang dialaminya. Sementara menguap dan berpikir bahwa di Kyoto pun tidak sering terlihat pedang yang demikian tinggi mutunya. pemuda itu membuka matanya sedikit dan katanya. ia semakin ingin tahu latar belakang pemiliknya." Kata-kata itu diucapkannya dengan sikap pasti.property of: CROSSFiRE. ya?" Tanpa mengangkat kepala. Yang lebih memburukkan keadaan adalah tunggakan-tunggakan akhir tahun yang sudah tak terhitung jumlahnya. Memang di berbagai wilayah feodal banyak orang pernah belajar di bawah pimpinan Kempo. Alasan di balik perjalanannya itu adalah keadaan keuangan Keluarga Yoshioka yang goyah. Gion Toji yang berdiri beberapa jauh dari situ pun terkesan oleh senjata itu. "Kalau tiba pada waktunya. maka sekolah yang lebih besar dan menghasilkan sejumlah besar pemain pedang terlatih akan memuaskan kepentingan semua pihak. atau lain lagi." Ia mencoba mengingat-ingat wajah Oko. satu-satunya komentar Seijuro hanyalah. dan lagi tak ada buahnya." renungnya. Dengan mengerahkan otaknya. dan wajah yang muncul dalam pikirannya sekarang pun bukan wajah Seijuro. Namun bahkan wajah Oko pun hanya dapat sekilas saja mengalihkan perhatiannya. besar. Inc. Menurutnya. dan buatannya amat indah. menghindar. Ebook by Kang Zusi . dan Shikoku. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghabis-kan waktu. yang disandangnya di punggung dengan tali kulit. tapi kemudian mencoba lagi. Ia sudah rindu sekali berada lagi di tengah orang-orang yang dikenalnya. Biarpun semua milik keluarga dijual. "Ya. "Akan saya tulis nanti pada Anda soal ini". Toji merasa bosan. "Ingin tahu juga aku." katanya. Senjata itu berupa pedang pertempuran yang panjang lurus. makin hanyut ia dalam pemikiran bahwa kewajiban suci sekolah itulah untuk mengajarkan Gaya Kempo kepada sebanyak mungkin orang. Perjalanan yang telah empat belas hari itu sungguh menjengkelkan. dan sebagian besar dari mereka sekarang menjadi samurai dengan kedudukan yang membuat orang iri." "Kalau begitu. tentunya kau dari Awa. Rumah di Jalan Shijo sudah digadaikan. Di situ jumlah siswa yang jauh lebih besar akan dapat ditampung. Kyushu. Dengan adanya segala macam orang yang berhasrat belajar seni perang dan para daimyo yang menginginkan sekali prajurit terlatih. Ke Osaka. Segera kemudian ia sudah seperti duduk di bara hangat kembali. entah dengan cara bagaimana akan membereskan soal-soal itu. walaupun Toji sungguh tulus dalam permohonannya. dan dengan senjata itu Toji berangkat mengusahakan bantuan dari bekas-bekas siswa sekolah di daerah barat Honshu. apa pembawa surat itu tiba pada waktunya. Ia berjanji. tidak juga dari sana. Toji mendekat dan mencoba membuka percakapan." "Tidak. Ia iri pada pemuda yang sedang mencari kutu monyetnya itu. Sebenarnya rumah tangga yang dalam bahaya itu bukanlah rumah tangga Toji sendiri. Sokongan yang dibawa pulang Toji hanya sebagian kecil saja dari jumlah yang sebelumnya dibayangkannya. tidak akan tersedia cukup dana untuk menutup rekening yang sudah menimbun. sekarang ini bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif. "Akan kita tinjau hal ini nanti. tidak banyak di antara mereka yang bersedia memberikan sokongan berarti atau berjanji akan memberikan uang sesuai dengan maklumat pendek itu. Hampir tiap orang yang berbicara dengan pemuda itu memuji bagusnya buatan pedang tersebut. melelahkan. melainkan wajah Oko. kalau saya berada di Kyoto lagi". Toji jadi terdiam untuk beberapa waktu. Seijuro menulis surat edaran untuk maksud itu. orang muda. sampailah ia pada gagasan untuk membangun sekolah baru dan lebih besar di tanah kosong dekat Nishinotoin. netcafe. yang bersifat sama juga. Keuarga itu tidak lagi kaya.

Jisai tidak. menerima saya sebagai muridnya." "Tapi Gaya Tomita itu untuk pedang yang lebih pendek daripada pedang itu. masa?" "Memang tak ada tanda tangannya pada ujungnya. Dengan itu saya mengembangkan teknik sendiri. dan dari ceritanya tentang pengalaman-pengalamannya di masa lalu. "Oh. netcafe. karena senang senjatanya dipuji. supaya mudah saya menariknya dari pinggang. Sesudah pulang itu. Pemuda itu melontarkan pandangan penuh tanya ke wajah Toji yang tampak puas diri." "Panjang sekali. dan sesudah empat tahun saya belajar di bawah pimpinannya. Panjangnya cuma semeter. tapi kalau sudah terdesak. Orang menamakannya Galah Pengering." kata Toji dengan gaya berwibawa. dan pergi menemui Kanemaki Jisai. Apa yang terjadi sesudah itu?" "Saya tinggalkan Desa Jokyoji di Echizen." Sambil senyum si pemuda menjawab yakin. mereka balik kanan dan lari. Toji tak dapat menyembunyikan perasaannya bahwa ia lebih unggul daripada anak ini. si pemuda memperbaiki posisi duduknya menghadapi Toji dan menjawab ramah. Tapi belum saya berhasil. Dari situ. dengan sedikit saja memperhatikan reaksi pendengarnya. "Jisai jatuh sakit. Nyatanya. kalau saya mempelajari Gaya Tomita.property of: CROSSFiRE. Saya lihat sekarang banyak orang terhuyung-huyung memakai pedang yang amat besar." "Terlalu panjang. Saya tak suka meniru. Setelah saya memutuskan untuk jadi orang kedua yang secara resmi diberi sertifikat. tampak bahwa wataknya lebih kuat daripada yang bisa disimpulkan melalui seleranya berpakaian. karena pedang ini buatan Nagamitsu. "Ya. Ini pedang pertempuran. dan jawabnya. "Siapa saja harus dapat menggunakan pedang sepanjang ini. pemuda itu berhenti bicara sesaat lamanya. biar panjangnya semeter atau bahkan lebih. di Provinsi Suo." "Di mana rumahmu?" "Iwakuni. ya?" "Tak tahulah. Dia bersimpati pada saya. Dia juga sudah meninggalkan Gaya Tomita. dia mengatakan saya bisa jalan sendiri." kata Toji mencela. "Ketika saya berada di Suo itu." gumamnya. tiap hari saya latihan di sekitar Jembatan Kintai dengan menebasi sayap burung layang-layang dan menetaki cabang pohon liu. jadi saya putuskan menggunakan pedang panjang. Ketika mendengar kabar itu dari Kusanagi Tenki." "Oh." "Orang-orang muda seperti kalian rupanya bangga dengan sifat memberontak. Sebelum ibu saya meninggal. beliau memberikan pedang ini dan minta saya menjaganya betul. tidak berarti saya harus mengguna-kan pedang pendek. saya Ebook by Kang Zusi . bahkan dengan sukarela ia memberikan keterangan. Gaya apa yang kaupelajari?" Dalam hal yang berkenaan dengan permainan pedang. "Gaya Tomita. tapi saya bermaksud mencari pandai pedang yang baik di Osaka untuk menyetelnya kembali." "Guru-guru desa memang semuanya gampang saja mengeluarkan sertifikat. "Tapi cuma orang ahli yang dapat memakainya dengan mudah." Walaupun sebelumnya pemuda itu pendiam. namun dalam masalah yang disukainya ia dapat berbicara berpanjang-panjang. Sekali mulai. Memang tampak mengesankan. Matanya mendung dan merenung. tiba-tiba saya dipanggil pulang karena ibu saya akan meninggal. Di tempat asal saya." "Memang pedang dapat dipakai. dan mengembangkan Gaya Chujo. Inc. Pada suatu ketika. tapi selamanya pedang ini dianggap buatannya. Guru saya menggunakan pedang pendek. saya betul-betul kerja keras. pedang ini sudah lama menjadi milik keluarga saya. satu-satunya orang yang pernah diberinya sertifikat cuma Ito Yagoro Ittosai. Dia tidak seperti itu. ini pedang terkenal. Dan itu menyebabkan saya dikeluarkan dari sekolah. ia terus mengoceh." "Nagamitsu? Ah. Agaknya.

Saya tak percaya dengan segala yang saya dengar. Selesai dengan ceritanya. tapi dia ada di Kozuke. yang intinya adalah bahwa ia telah menutup tempat semayam keluarganya di Suo. beratus mil jauhnya dari Suo. untuk melihat sampai seberapa kebolehannya. Dengan wajah memerot dan nada menghinakan. mendekati sikap merendahkan. ketika siang dan malam sama lamanya. Sebelum mereka berjumpa pada hari yang telah ditentukan di Gunung Horaiji di Provinsi Mikawa. Apakah dia masih aktif?" Toji jadi ingin sedikit mempermainkannya. "Anda dari Osaka?" "Tidak. "Saya dengar ada orang yang namanya Yoshioka Seijuro di sana. Dia tidak hanya menginginkan saya menerimanya. Toji sama sekali tidak terkesan oleh pemuda tampan yang emosional itu. Pemuda itu melanjutkan cerita sentimentalnya. membuat seluruh langit berwarna keabu-abuan. terbawa oleh bunyi ombak dan layar. tapi kalau nanti sampai Kyoto." Toji batuk-batuk untuk menekan tawanya. Tenki kemenakannya. melainkan juga berharap bertemu dengan saya dan memberikannya langsung pada saya. begitu. jadi menurut bayangan saya Kempo tentunya seorang pemain pedang besar. Kalau ia tahu. di tengah jalan antara Kozuke dan Awa. Sudah lama ia muak dengan pemain-pemain pedang muda sesat yang berkeliaran ke sana kemari membualkan sertifikat dan buku-buku rahasianya. tapi Jisai mempertimbangkan pun tidak untuk memberikan sertifikat kepadanya. kemudian menoleh lagi pada Toji. Inc. Tenki sudah belajar di sekolah itu lama sebelum saya. dan bukankah ia masih seorang murid. ia menoleh kepada Toji dan tanyanya. Lagi pula. akhirnya ibu saya meninggal kira-kira pada waktu yang bersamaan. Kapal mulai oleng." Awan-awan menyembunyikan matahari. namun pandangan mata Toji memperlihat-kan sikap meninggikan diri. "Yoshioka memiliki rumah besar dan banyak nama baik." jawabnya singkat. "Dan kukira engkau menduga dapat pergi tanpa cedera?" "Kenapa tidak?" tukas balik pemuda itu. Kurang kemungkinannya bahwa Jisai yang tidak memiliki sanak dekat itu meninggalkan banyak kekayaan. Orang muda itu sendiri berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk belajar dan melihat-lihat. Cepat sekali ia membenci keyakinan diri orang muda yang kurang ajar itu. saya dari Kyoto. anak tertua Yoshioka Kempo. sekalipun murid yang mempunyai banyak hak istimewa? Pemuda itu beralih tempat duduk dan memandang dengan saksama ke arah air yang kelabu. Ia berpendapat tak mungkin ada sedemikian banyak ahli pedang yang mengembara berkeliling. Tentu saja orang muda itu tidak mengetahui kedudukannya di perguruan tersebut. dan tertawalah ia." Sejenak mereka berdua terdiam. bersama sertifikat dan buku rahasia tersebut. tapi ia mempercayakan kepada Tenki sejumlah uang untuk orang muda itu. kau punya rencana memasuki dunia ini lewat seni bela diri?" kata Toji. "Kyoto?" gumamnya. dan katanya. dan buih air terbang ke kapal lewat bibir kapal. dia mengatakan pada kemenakannya itu akan memberikan sertifikat pada saya bersama buku metoda-metoda rahasia yang dimilikinya. "Jadi. dan dia masih di sana ketika guru terbaring sakit di tempat tidur. "Ya.property of: CROSSFiRE. dan melalui suratmenyurat ia mempersiapkan diri bertemu dengan temannya Tenki pada musim semi. "Perguruan Yoshioka kelihatannya sekarang berkembang pesat. Bukanlah ia sendiri hampir dua puluh tahun lamanya di Perguruan Yoshioka. dia meninggal waktu engkau tak ada di tempat?" "Ingin sekali saya pergi mendapatkannya begitu saya mendengar tentang sakitnya. tapi berbicara dengannya lebih baik daripada sendirian dan merasa bosan. tak sangsi lagi ia pasti menyesali apa yang baru dikatakannya. Toji bertanya. Pertanyaan itu sendiri cukup polos. "Oh." katanya. Sekarang dialah yang ingin tertawa. sebelum kau betul-betul berjumpa dengan mereka?" "Itulah yang dikatakan oleh samurai dari provinsi-provinsi lain. Sebaliknya. jadi tak mungkin saya berada di sampingnya sampai akhir hayatnya. Tapi kata orang tak seorang pun dari anak-anaknya bisa menyamai tarafnya." Mata orang muda itu pun basah oleh kenangannya. berpura-pura menaruh minat besar. betul-betul sedih dan menangis. Sudah pernah engkau mengunjungi tempat itu?" "Tidak. "Jadi. Tenki diperkirakan sedang mengadakan perjalanan keliling untuk belajar. saya ingin bertanding dengan Seijuro. tapi hampir setiap orang rupanya menduga Keluarga Yoshioka akan berakhir dengan Seijuro dan Ebook by Kang Zusi ." "Bagaimana kau bisa demikian yakin. netcafe.

" "Nah. ya?" "Tidak. kalau kau dapat melakukan itu. tidak bakal engkau sampai ke mana-mana. Pemuda itu mengikutinya tanpa mengatakan sesuatu. dan jika sekarang ia terlibat dalam perkelahian." Toji mendekat sambil membusungkan dadanya. dan aku tidak keberatan. terpaksa aku bertindak!" Waktu itu mereka sudah menarik perhatian penumpang-penumpang lain." Pemuda itu tidak segera memberikan jawaban. sedang-kan para penumpang ternganga dari jarak yang aman.. katanya. tapi lebih baik kau ingat bahwa tidak semua orang itu bodoh. saya tadi mengatakannya. Pemuda itu menepuk punggungnya pelan." kata Toji. "Tapi tak seorang pun di Kyoto suka mendengar Perguruan Yoshioka disepelekan. Denshichiro. Toji sama sekali tidak merasa senang dengan keadaan itu. "Tuan. Kalau sekali lagi kau mengeluarkan ucapan yang menghina Keluarga Yoshioka. "Rupanya sekarang provinsiprovinsi penuh orang yang serbatahu. tentunya tak sukar bagimu menetak salah seekor camar laut yang menukik ke kapal ini. tapi saya pikir itu perbuatan bodoh." "Nah." "Oh." "Dan kau melakukannya dengan pedang panjang besar itu?" "Betul." Dan ketika orang muda itu tidak mengatakan sesuatu.property of: CROSSFiRE. Sambil menatap bibir Toji yang cemberut. Toji melanjutkan. Kau membual tentang menetak burung layanglayang dan bicara tentang sertifikat Gaya Chujo. netcafe. Saya hanya mengulangi apa yang saya dengar. tapi menggawatkan keadaan pada taraf itu akan membuatnya tampak sebagai pihak yang kalah. "Tak seorang pun keberatan mendengar seorang muda membanggakan kemampuannya. menggeram tentang kekurangajaran para pemuda zaman sekarang. Maka dengan seboleh-bolehnya menahan diri ia menjawab. Kalau kau meremehkan orang lain. maka aku tak heran kalau Keluarga Yoshioka disepelekan. kuperingatkan kau." Toji ingin sekali menyuruh pemuda itu menjaga lidahnya." "Ha! Tapi saya bukannya menyampaikan pikiran saya sendiri tadi itu. sama sekali tidak. Tapi cobalah engkau bercerita lebih banyak tentang dirimu.. ia akan mengalami kesulitan dengan para pejabat kemudian. "jika kau demikian hebat hingga dapat meremehkan Keluarga Yoshioka sebelum kau sendiri ke sana. jadi saya sudah bikin kesal Anda. Toji yang telah menyatakan namanya dan mengagungkan statusnya berjalan dengan gayanya ke buritan kapal. Mendadak sontak terpikir olehnya bahwa Toji punya maksud tak baik terhadapnya. tapi jangan-lah sampai keterlaluan. "Dari permulaan tadi aku sudah mendengar kau membangga-banggakan diri. Inc. Oko menantinya apabila kapal masuk dermaga nanti. Untuk sesaat bahkan terpikir olehnya akan membuka identitasnya. Lebih baik kau melihat dulu baik-baik siapa yang kauajak bicara. murid utama Yoshioka Seijuro." "Anda pikir kata-kata saya itu cuma bualan?" "Ya. "Apa?" "Apa kau tahu artinya 'samurai setengah matang'? Demi masa depanmu." katanya dengan suara tenang yang tidak Ebook by Kang Zusi . betul. Tapi masalahnya adalah aku Gion Toji." "Orang muda!" kata Toji tajam. sebelum kau membanggakan diri. "Saya dapat melakukannya. Maka dengan menampakkan diri sesantai mungkin ia menelekan sikunya ke susuran kapal dan memandang penuh perhatian ke pusaran biru hitam yang terbentuk di bawah kemudi." kata Toji dengan nada bergaya. Tadi kau mengatakan sudah menemukan cara membunuh burung layang-layang pada sayapnya?" "Ya.

dengan senang hati. ia memanggil nama Toji. "Itu namanya Cuma mau mencoba menyelamatkan diri. apa itu akan meyakinkan Tuan bahwa saya tidak hanya omong?" "Ya. akan saya tebas yang lain buat Tuan." "Laut menghampar beratus mil jauhnya. "Tapi jangan lupa. Kalau tak bisa membunuh camar laut lewat sayap-sayapnya. tak akan saya berdiri menanti di sini. Inc. mana bisa sava menebasnya?" Sambil maju beberapa langkah." "Baiklah. Toji berkata senang. akan saya lakukan.." "Oh. kau akan benar-benar menjadi tertawaan." Toil tiba-tiba menyadari persamaan antara apa yang sedang terjadi itu dengan jalan cerita sebuah cerita lucu yang menurut kata orang diciptakan oleh pendeta Ikkyu. Dengan sikap sangat sungguh-sungguh pemuda itu berkata." "Seperti misalnya. Pemuda itu berhasil menganggapnya seekor keledai. Kalau burung-burung itu tidak mendekat.. katakan saja tak bisa." Ebook by Kang Zusi . pasti. berapa saja jumlahnya. Toji tidak menjawab. Kalau Tuan pikir lebih masuk akal saya memenggal kepala itu daripada membunuh camar laut yang tak bersalah. netcafe. Tak dapat lagi menahan sikap masa bodohnya. Toji menatap ingin tahu. ya?" "Jika saya tebas seekor." "Tapi Tuan mau jadi saksi?" "Oh." Toji datang mendekat sambil menggeram. "Suruh burung camar terbang turun di depan saya. Saya siap menebas burung-burung itu." Pemuda itu mengambil posisi di atas lempeng timah di tengah dek belakang dan menggerakkan tangan ke pedangnya. ya. jika kau melakukan ini cuma demi kebanggaan dan kau gagal. tentu saja dapat dia menebasnya. "Tuan. "Apa maumu?" "Tuan sudah menyebut saya seorang pembual di depan banyak orang yang tak dikenal. "Omong kosong apa pula ini? Kalau orang bisa membuat camar terbang di depannya. "Apa maksudmu sekarang?" "Saya cuma ingin Tuan mengizinkan saya memanfaatkan kepala Tuankepala yang sudah Tuan pakai mendesak saya membuktikan bahwa saya bukan hanya membanggakan diri." "Aku tak punya maksud mencegahmu." "Akan saya terima kemungkinan itu. Sambil melakukan itu." ulang orang muda itu. Toji bertanya.?" "Cobalah maju lima langkah lagi." "Bagus sekali!" Toji tertawa mengejek. kalau saya bermaksud melakukan itu. Tuan tertawa ketika saya katakan saya dapat menetak sayap burung layang-layang. sedangkan saya punya kehormatan yang harus saya junjung. dan mintalah maaf. Kalau burung-burung itu tidak mendekat. dan bertanya apa yang dikehendaki pemuda itu. Akan saya tunjukkan pada Tuan. mengungkapkan kemarahan ataupun kebencian." "Apa yang kutantangkan untuk kaulakukan?" "Tidak mungkin Tuan sudah lupa.. jadi aku tadi usul begitu. Dengan marah ia berseru.property of: CROSSFiRE.. dan saya ingin Tuan menjadi saksinya. sedangkan pedang saya hanya satu meter panjangnya." "Hmm. Saya merasa terpaksa melakukan apa yang sudah Tuan tantangkan pada saya untuk saya lakukan beberapa menit lalu. dan mendesak saya menebas burung camar.

Tahulah ia sekarang. Ketika ia memandang ke bawah. pemuda itu tidak berbohong atau menyuarakan bualan kosong. Gerakan itu demikian cepat. Ia tidak yakin apakah sasarannya cukup baik untuk memotong gelung rambut orang itu saja tanpa mesh mengikutsertakan kepalanya. "Ha. hingga pedang yang panjangnya satu meter itu rasanya tak lebih besar dari sebuah jarum. "Apa kau sudah gila?" teriak Toji. ia lihat sebuah benda yang tampak aneh. Suatu pikiran mengerikan bersarang di kepalanya. kalau dia memang mau. Jelas ia sedang lengah. karena justru pada saat itu pemuda itu mencabut pedang dari sarungnya dan mengayunkannya. "Bajingan!" Kemarahan yang tidak tanggung-tanggung melanda hatinya. mencuri kartu. Ketika mengangkat kepala dan melihat ke arah haluan. Ia memang masih muda. "Mestinya dia masih menyimpan tiga atau empat lembar lagi." "Mesti ada yang naik mengambil kartu itu! Tak bisa kita main tanpa yang itu. tapi ia tak peduli. ya. sepertinya dia sedang membagikannya. seorang di antaranya kebetulan memandang ke atas. seperti sebuah sikat kecil. Gelungan rambutnya sudah hilang! Gelungan yang sangat dibanggakannya-kebanggaan tiap samurai! Dengan wajah mengerikan ia menyapukan tangan ke atas kepalanya." "Bukan. ke arah bagian dek yang diterangi matahari. "Bukan main monyet itu—mencuri kartu.property of: CROSSFiRE. dan ternyata pita yang mengikat rambutnya di belakang kepala sudah lepas. Tapi justru pada waktu itu timbul keributan di antara para saudagar yang sedang bermain kartu. ia sama sekali tidak cedera. "A-a-apa?" teriak Toji sambil terhuyung ke belakang dan memegang kerahnya. ha!" tawa seseorang." "Tak seorang pun mau memanjat. "Di atas itu! Monyet itu yang mengambilnya!" Senang dengan hiburan yang lain daripada yang lain itu." Selembar kartu melayang turun." Ebook by Kang Zusi . dia menguyahnya sekarang." "Nah." Ketika mereka sedang berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan permadani." "Bagaimana kalau Kapten sendiri?" "Saya pikir dia dapat. Toji kagum bahwa orang yang masih begitu muda dapat begitu hebat. dan ia menyelinap ke belakang penyiksanya. Rambut yang tadi terikat pita itu memburai di seluruh permukaan kepalanya. Salah seorang saudagar mengambilnya. dan pergi di antara tumpukan bagasi. tapi ia pemain pedang menakjubkan. dan is meletakkan tangan ke atas kepalanya. Toji jadi merah padam karena malu. Secara refleks kepala Toji merunduk. Untunglah kepalanya masih ada. Sambil meludahi gagang pedang ia cengkeram gagang itu eraterat. sedangkan kemarahan dalam hatinya hal lain lagi. Dengan tubuh membengkak merah dan napas berat ia menabahkan diri untuk menyerang. dan sejauh yang ia ketahui. netcafe. ia lihat pemuda itu sudah kembali ke tempat duduknya semula dan sedang mencari-cari sesuatu di dek. Inc. "Apa pula ini? Kartunya tak cukup!" "Ke mana perginya?" "Lihat sana!" "Aku sudah lihat. tapi hormat yang dirasakannya itu satu hal. para penumpang lain semuanya memandang monyet yang waktu itu bertengger di puncak bang yang tingginya sepuluh meter. "Mengerti sekarang?" tanya pemuda itu sambil membalik. dan katanya. dan Toji merasa bahwa kesempatan untuk membalas dendam tiba.

karena sekalipun bertubuh kuat." Pemilik monyet bersandar pada sebuah muatan dan sedang berpikir keras. tapi sejumlah orang yang mengetahui bahwa monyet itu milik si pemuda tampan menjeling penuh harap kepadanya. "Apa pemiliknya tak ada di sini?." Tak seorang pun menjawab. dan berlari ke ujung palang tiang. Kalau tak ada yang memiliki monyet itu. dan mengambil uang itu. Dan lagi saya seorang samurai. Inc. "Milik siapa monyet itu? Saya persilakan pemiliknya maju ke muka. dan sebagian lagi mulai bertanya apakah orang itu bisu-tuli atau sekadar kurang ajar. Tapi. Pada detik terakhir. lalu melenguh-lenguh seakanakan dia majikan atau guru mereka?" Ebook by Kang Zusi . orang muda itu mendorong laras senapan dari kedudukannya. berceloteh. maka naiklah darahnya melihat pemuda itu tidak menjawab. Ia menekan pelatuk. Kapten mencekal dada orang muda itu." "Tapi perbuatan itu tidak begitu baik. Kalau nanti dia mengeluh menyatakan tidak mendengar saya. setuju menerimanya. Pasti dia mau. Tiba-tiba ia memperlihatkan giginva. Kapten mengangkat senapan dan membidik. dan senapan meletus dengan suara berdentam. Wajah orang-orang dialihkan dari Kapten ke pemilik monyet. tapi dia tak mau. tapi saya tak ingin ada keluhan nantinya. ia berseru kepada para penumpang. Karena dia tak bertuan. tapi sesudah sampai di sana rupanya tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya. pemilik monyet berseru. ia pendek dibandingkan dengan pemuda tampan itu. Apa Tuan kira saya mau menjawab kalau cuma seorang kapten kapal berdiri di depan para penumpang kapal. Untuk sesaat ia seperti hampir tergantunggantung. Tapi ada keraguan dalam hati siapa pun bahwa Kapten siap menggunakanmya.. Sambil meninggikan lagi suaranya. Kapten memandang benci pada pemuda itu. katanya. kan?" "Saya sudah memberikan peringatan yang perlu!" "Bagaimana Tuan melakukannya?" "Apa kau tak punya mata dan telinga?" "Diam! Saya penumpang di kapal ini. Tetapi tembakan itu melenceng jauh.property of: CROSSFiRE. Para pemain kartu menggerutu dengki. Seperti kita lihat. tapi agaknya ia merasa bahwa sebagai pemimpin di kapal itu pertamatama ia harus menentukan tanggung jawab atas kejadian tersebut. jadilah saksi saya! Sebagai kapten. Kapten berbicara lagi. "Stop. netcafe." Kapten mendengar usul itu. "Rupanya monyet hidup di laut dan di darat. "Mari kita tawarkan uang kepadanya. ia sudah memegang senapan dengan sumbu lambat yang sudah dinyalakan. Monyet itu sedang menyenang-nyenangkan diri sepenuhnya. saya kira kita dapat melakukan apa saja yang kita kehendaki. "Apa pula Tuan ini?" pekik si orang muda. Ketika muncul kembali. saya minta saudara-saudara berdiri di pihak saya!" "Kami menjadi saksi Kapten!" teriak para saudagar yang waktu itu sudah hampir naik pitam. Beberapa penumpang mulai berbisik-bisik dengan sikap tak senang. Kapten sendiri mengetahui. Para penumpang. seekor di antaranya sudah datang ke tempat kita. sementara salah seorang saudagar menarik lengan baju Kapten dan mendesaknya untuk menembak. saya akan mengambilnya. para penumpang menunduk sambil menutup telinga dengan tangan. Kapten!" Kali ini giliran Kapten berpura-pura tidak mendengar. Sambil memekik berang. Berdiri di atas tumpukan muatan. "Tuan mau menembak monyet yang tak bersalah dengan mainan Tuan itu?" "Betul. saya sudah mengimbau pemiliknya untuk menyatakan diri. Namun pemuda itu hanya sedikit mengubah kedudukannva ke sisi dan berbuat seolah-olah tak suatu pun terjadi. Kapten menghilang turun dan masuk palka.. Di atas sana ira bermain dengan kartu itu dan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk menjengkelkan orang-orang di atas dek.

property of: CROSSFiRE. lentera-lentera kertas bertuliskan nama-nama berbagai penginapan melintasi dermaga menuju kapal. di sini!" Seperti ombak. Bagaimana kalau monyet itu betul-betul lari membawa kartu mereka? Saya tidak menyuruh berbuat demikian. Tuan-tanpa bayar buat monyet. Tuan bisa dapat kamar yang indah. Kau pasti mendengar. lentera. netcafe. "Siapa ke penginapan Kashiwaya!" Orang muda tadi menerobos orang banyak dengan monyet bertengger di bahunya. dan berbuat seolaholah pemilik kapal. tak bakal bisa dia pergi tanpa perkelahian. mereka bahagia." "Tenanglah! Biar saja prajurit-prajurit itu menyangka mereka lebih baik daripada siapa pun. kau toh dapat memperlihatkan iktikad baik pada orang-orang yang merasa terganggu oleh monyetmu?" "Orang-orang mana? Yang Tuan maksud gerombolan pedagang yang sedang berjudi di belakang tirai itu?" "Jangan omong besar kamu! Mereka membayar tiga kali lipat dari yang lain. "Apa putra pendeta Biara Sumiyoshi ada di kapal?" "Apa ada pembawa surat?" "Guru! Kami ada di sini. "Cuma karena tahu sedikit main pedang!" "Oh. para saudagar tetap mengurus agar barang mereka yang bergunung-gunung dihimpun dengan tertib. sementara para pencari pelanggan berlomba-lomba melakukan pekerjaannya. Wajahnya mengungkapkan perasaan yang betulEbook by Kang Zusi . dan saya tak suka sama sekali pada mereka. Tugas kita sebagai rakyat adalah membiarkan mereka mengambil bunga. "Dia pikir siapa dirinya?" geram seorang penumpang. Sedikit demi sedikit jarak antara suara-suara yang datang dari kapal dan suara-suara dari pantai memadu. "Ke tempat kami. Inc. kemudian diturunkan. tanpa memperhatikan para pencari pelanggan ataupun yang lainnya. disambut bau ikan yang meliputi segalanya. tali-tali dilontarkan dan tangga diturunkan pada tempatnya. Buat apa uring-uringan karena kejadian kecil hari ini?" Sambil bercakap-cakap seperti ini. kalau aku bukan cuma rakyat biasa. Teriakan-teriakan bersemangat riuh bunyinya memenuhi udara. minum sake. Tak seorang pun dari mereka yang tidak segera dikelilingi beberapa perempuan yang penuh hasrat membantu." ' "Itu sama sekali tak mengubah diri mereka-saudagar-saudagar yang rendah kelasnya dan tak kenal tanggung jawab. yang melempar-lemparkan emas di depan semua orang. Biarpun kau tak suka dengan caraku bicara. Tak ada alasan saya untuk minta maaf!" Orang muda itu memandang tajam-tajam kepada para saudagar kaya dan menujukan tawanya yang keras mencemooh ke arah mereka. Lampu-lampu kemerahan berkelap-kelip di pantai dan ombak berdebur terus-menerus di latar belakang. waktu kapal memasuki pelabuhan Kizugawa. jangkar pun dijatuhkan. untuk akhirnya dijemput oleh kelompok manusia. Ia berjalan langsung dari dermaga. Kerang Pelipur Lara PETANG hari. Dia cuma menirukan apa yang mereka lakukan. dengan pemandangan yang indah juga!" Tak seorang pun datang menjemput pemuda itu. dan kendaraan. sedangkan kita mengambil buahnya." "Tempat kami tepat di depan Biara Sumiyoshi yang cukup besar untuk peziarah. Selama dapat bergaya seperti raja. "Jangan kurang ajar kamu! Aku sudah mengulang peringatan tiga kali. Disertai kecipak air berwarna putih. Orang terakhir yang meninggalkan kapal adalah Gion Toji. Saya sudah memperhatikan mereka.

bukan? Kau menulis. Inc." kata Oko mencela sambil menatap ke depan. "Aku tahu. tapi kita masih akan punya kesempatan lain untuk bersama-sama.property of: CROSSFiRE. wajah Oko terkena tiupan angin dingin selama menanti tadi. melainkan mencoba sekali lagi memaksa Toji Ebook by Kang Zusi ." Ia menolak naik joli. "Lepaskan!" pekik Toji." "Ada yang tidak beres? Kau tampak bingung. Waktu itu mereka berada di pasar ikan. maka Oko memeluk Toji. Ayo kita pergi ke Sumiyoshi. Bau pupur dan rambutnya yang manis menyusupi diri Toji. Ada joliku menunggu. Tapi ia bukannya menangis. Pipinya yang sejuk menempel pada pipi Toji. Semua orang menunggu di penginapan. minta aku menunggumu di sini. dan tampak seakan air matanya akan mengalir. kau datang juga." "Biar mereka mengira semaunya!" "Oh. jangan bicara seperti itu!" mohon Oko. "Aku mohon." pinta Oko." "Terima kasih. mencoba meredakar. di samping daerah pelabuhan." Pandangan cemas melintasi wajah Toji. Apa kau sudah pesan kamar buat kita?" "Ya. Ketika Oko mencoba menjelaskan. orang-orang akan mengira ada sesuatu. Kepalanya terbungkus kerudung untuk menyembunyikan gelungan yang hilang dengan cara sangat memalukan itu. Karena di sana betulbetul tidak ada orang. Kalau banyak orang di sana." "Tak apa-apa. dan berjalan marah lebih dulu. mencari penginapan yang baik. tapi kupikir surat itu tidak sampai pada waktunya. "Suruh joli itu pergi! Bagaimana mungkin kau begitu bodoh? Kau ini sama sekali tak mengerti diriku. "Kalau kau pergi sendiri. "Ini cuma karena aku begitu kecewa. dan sisiksisik ikan yang bertebaran di jalan berkelipan seperti kerang-kerangan perak kecil." "Aku mengerti. "Toji! Aku di sini!" seru Oko." kata Toji." "Itu yang kauharapkan." Ia merenggutkan lengan kimononya dari Oko dan bergegas pergi. kemarahannya. aku tidak pergi. netcafe. Semua toko sudah tutup. tapi kain itu tak dapat menyembunyikan alisnya yang turun dan bibirnya yang cemberut." "Jalan sini. Sekalipun kepalanya juga terbungkus kerudung. Tak pernah dalam hidupnya ia mengalami hari yang lebih tidak menyenangkan daripada hari itu. "Aku akan tinggal sendiri di mana saja!" lenguhnya." "Tapi dua-tiga hari ini—aku betul-betul mengharapkannya. Cuma sedikit mabuk laut. dan berangsur-angsur kemarahan dan rasa frustrasinya mereda. betul tak enak. "Semua orang? Apa maksudmu? Kupikir cuma kita berdua yang akan menghabiskan hari-hari menyenangkan di satu tempat yang tenang. "Oko! Jadi. Segala kemarahan yang telah bertumpuk dalam dirinya di kapal kini meledak. dan kerut-merutnya menampakkan diri dari balik pupur yang dimaksud untuk menyembunyikannya. ia menukasnya telak dan menyebutnya goblok. kenapa kauseret ikut orang-orang itu? Itu karena perasaanmu terhadapku lain dengan perasaanku terhadapmu!" "Sekarang kau mulai soal itu lagi." "Kalau kau mengerti. kan?" "Ya.

beberapa tulang kering yang berambut pun ditarik masuk ke balik ujung kimono." kata gadis itu dengan bijaksana. daripada minum dengan gerombolan orang kasar ini. Segera sesudah ia keluar dari ruangan. Toji terpaksa membenarkan bahwa dalam keadaan seperti itu tak banyak yang dapat diperbuat Oko. Inc." Untuk menghormati hadirnya wanita di tempat itu. tentu saja ia berencana untuk datang ke Osaka sendirian. "Kenapa Tuan-tuan begini ribut?" tanya seorang di antara perempuan itu lancang. dan duduk menanti kembalinya Toji dan Oko. "saya senang mendengar itu. pesta pun dimulai dengan sesungguhnya. "Tuan-tuan datang kemari untuk minum atau bercekcok?" Orang yang menganggap dirinya pimpinan menyahut. tapi kemudian satu orang menyarankan agar ia dan Akemi mengundurkan diri ke kamar lain. "Apa katanya? Ada orang datang?" Ebook by Kang Zusi . Musik dimulai. aku sungguh bahagia!" seru Oko. dan pesta berkembang pesat. tapi saya harap betul Tuan-tuan sedikit tenang. Pesta sedang berjalan sehebat-hebatnya ketika seorang gadis muda masuk memberitahukan bahwa orang lelaki yang tiba dengan kapal dari Shikoku itu telah datang dengan temannya. dan mangkukmangkuk sake bergerak mondar-mandir lebih cepat. "Jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol.property of: CROSSFiRE. bermutu rendah. satu orang berkata. Bagaimana mungkin ia memberikan penjelasan tentang hilangnya gelungan itu? Akhirnya ia menyadari bahwa tak ada jalan keluar. dan tak lama kemudian beberapa gadis penyanyi dari kelas yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai "kebanggaan Tosamagawa" muncul di kebun di luar kamar. malam itu juga Seijuro datang di Yomogi bersama enam atau tujuh orang muridnya. Tak ada orang mengeluarkan uang untuk berkelahi! Kami panggil kalian kemari supaya kami dapat minum dan bersenang-senang. mereka semua sudah kurang-lebih melupakan Toji dan Oko. dan ia yakin bakal datang yang lebih buruk lagi. Seketika itu juga orang-orang itu memutuskan akan mengantar Oko ke Osaka dan minta Akemi datang bersama mereka. lalu kembali ke dermaga. namun perasaan murungnya tidak juga membaik. Beberapa waktu kemudian. dan menyerahlah ia kepada nasib. Tapi yang jauh lebih ia takuti adalah bahwa ia terpaksa melepaskan kerudung dari kepalanya. di mana suasananya lebih tenang. Ketika pembawa surat datang membawa surat Toji. Hari itu jelas bukan hari baik baginya." "Oh." "Oh. Semula mereka minum hanya untuk menghabiskan waktu. tapi segera kemudian kaki mereka mulai membujur dengan nikmatnya. mendengarkan penjelasannya. kalau itu yang kaukehendaki. dan Akemi membocorkan pada mereka bahwa Toji akan datang. baiklah. Satu hal. tapi bagaimanapun ia senang juga meninggalkan tempat itu. dan ia merasa benci karena harus menyampaikan berita buruk pada mereka." katanya. Seijuro dan lain-lainnya sudah mandi. Tindakan yang tidak terlalu halus untuk menyingkirkannya itu mendatangkan senyum sayu di wajahnya. Suruh joli itu kemari. ketika kedua orang itu tidak juga muncul. pertanyaan pertama yang akan dilontarkan kepadanya adalah tentang hasil kampanye keliling yang telah dilakukannya. tapi dasar nasib. mengenakan kimono berlapis katun nyaman yang disediakan rumah penginapan. Tak lama kemudian. netcafe. Tak ada alasan untuk duduk di sini berpangku tangan. "Cepat atau lambat mereka berdua akan datang. bagus! Mari kita nyanyikan lagu-lagu. Akan jauh lebih menyenangkan berada sendirian dalam kamar dengan Akemi dan kotatsu hangat. "Baiklah." "Nah. Di rumah penginapan. "Apa tak ada gadis-gadis penyanyi di Sumiyoshi ini?" "Ide bagus! Apa salahnya kalau kita panggil tiga atau empat gadis manis?" Seijuro tampak ragu-ragu. dan beberapa tubuh yang menggeletak menegakkan diri. semangat meningkat. Suling dan shamisen yang mereka bawa sudah tua. "aku pergi denganmu. Akhirnya rombongan yang menginap di penginapan Sumiyoshi itu berjumlah sepuluh orang. dan sudah aus karena sering dipakai." Konsekuensi wajar dari pernyataan ini adalah pesanan sake.

dia bilang orang yang namanya Toji datang. Itu mestinya tak boleh kamu lakukan!" Toji mencoba melepaskan orang itu dari dirinya. "Ah. Semua mata memandang langsung ke tempat bekas gelungan Toji. "Ya. "Dari segi mana pun." Tanpa kecuali.property of: CROSSFiRE. diiringi napas tersengal bersama. Sambil memungut kerudungnya dan mengembalikannya ke tempatnya. ia menggagap. si biang keladi telah menyambar kerudung itu dan kini ia menggenggamnya. "Baru kembali? Kau tentunya bersenang-senang dengan Oko entah di mana. sebagian lagi dengan tangan disilangkan.. "Apa yang terjadi dengan kepalamu?" "Ha. Ini persoalan yang menyangkut martabat seluruh Perguruan Yoshioka! Ada yang keberatan?" Biang keladi yang mabuk semalam itu kini menjadi letnan yang gagah berani. ha. sekarang ini masih belum terlambat. menendang beberapa guci sake. ha! Cukuran baru rupanya!" "Di mana kaudapatkan itu?" Wajah Toji menjadi merah padam." "Hebat! Bagus sekali! Toji tua yang baik itu datang. dan tak seorang pun bicara lagi tentang gelungan itu. Orang itu menariknya ke dalam kamar. Pagi berikutnya persoalan sudah lain sama sekali. Tangannya cepat memegang kepalanya. Kita harus menemukan orang yang membawa monyet itu dan memotong gelungannya. dan Toji meronta-ronta. Siapa itu Toji?" Masuknya Toji dengan Oko sama sekali tidak mengganggu acara itu. tapi sia-sia. Toji!" katanya dengan nada malas. Sambil jatuh. Kita harus bertindak!" "Tentu saja. tapi apa tindakan kita?" "Nah. selagi kami duduk menunggu di sini. apakah benar begitu?" "Aku mendengar dengan telingaku sendiri. "Dia bawa pulang bisul untuk oleh-oleh!" "Tutup tempat yang busuk itu!" "Jangan cuma bicara. tapi terlambat. Tapi ketika mereka sedang masuk ke gang. "Kerudungku!" sengal Toji. kemudian jatuh ke lantai bersama Toji pula. netcafe. tapi pesta berjalan terus. sebagian dengan dada dibidangkan. si biang keladi vang berbau sake datang terhuyung-huyung dan merangkulkan tangannya ke leher Toji. Toji jadi muak. Ia panggil kembali gadis yang mengantar mereka dan minta dibawa ke kamar Seijuro. buruk keadaannya. tak apa-apa. Inc." "Tapi persoalannya. "Hei. yang mendorong Ebook by Kang Zusi . Aku punya bisul. tapi semuanya tampak muram.. Pukul sepuluh. Dalam perjalanan. Setelah dibuat berpikir bahwa mereka semua berkumpul demi meyakinkan Toji bahwa semua itu diadakan untuk dia. Kehormatan Perguruan Yoshioka sedang dipertaruhkan. bahkan sesungguhnya mereka berdua diabaikan. dalam keadaan sudah tidak mabuk dan tenggelam dalam pembicaraan yang sangat serius. semua orang tertawa terbahak-bahak. kelompok yang sama sudah berkumpul di pantai di belakang rumah penginapan. Apa kau mau menyebutku pembohong?" "Kita tak dapat membiarkan hal itu berlalu tanpa melakukan sesuatu. Kita harus menunjukkan kepadanya bahwa bukan hanya kebanggaan Gion Toji yang tersangkut di sini. Tunjukkan pada kami!" Dari lelucon ringan itu jelaslah bahwa tak seorang pun percaya pada Toji. orang itu menginjak sebuah-dua buah baki. Mereka duduk melingkar.

mereka memutuskan lebih masuk akal menemukan pemuda tak dikenal yang membawa monyet itu dan membersihkan nama baik Yoshioka. berbicara sepatah dua patah kata dengan Seijuro. "Samurai yang kehilangan rambutnya itu menyatakan diri sebagai murid terkemuka Keluarga Yoshioka di Kyoto. Ketika orang terakhir melewatinya. "Bagaimana kalau kau ikut mencari denganku? Setiap orang mendapat bagian wilayah untuk diliput. untuk ditanyai tentang kejadian tersebut. seorang saudagar masuk. memunguti kerang laut satu demi satu. dan katanya. "Aku mencari kerang laut. mereka memesan air hangat untuk mandi." "Dan bagaimana kalau benar begitu?" "Kamu gila. kecuali kalau kami bertindak cepat. kemudian langsung berangkat dengan Oko ke Kyoto sesudah makan pagi. kalau memang benar demikian." "Hah?" Dan dengan mata menyipit ia memandang Akemi curiga. ia berseru. namun daripada mengejar Toji si pengecut. ya?" "Kalian orang-orang lelaki ini menghabiskan waktu dengan mengejar hal-hal paling tolol." Ia menyampaikan pada Akemi apa yang telah terjadi. Tanpa mengetahui siapa mereka. "Ke mana kalian semua ini pergi?" "Oh. kamu?" kata orang itu. Dia membawa monyet. Akemi yang bertelanjang kaki bermain di tepi air. mengibaskan pasir yang menempel di kimono. Contoh yang tepat buatmu. Ketika terbangun pagi itu. untuk menghilangkan sisa mabuk mereka. keadaan Keluarga Yoshioka itu tentunya lebih buruk lagi dari yang dapat dibayangkan orang. "Dan apa yang kamu lakukan di sini selama ini?" "Aku?" Akemi menjatuhkan pandangan matanya ke pasir indah di sekitar kakinya. Dan ketika mereka berada di tempat mandi. orang-orangnya memasuki pertempuran. dan mulai beraksi. tapi kalau kita biarkan dia lolos." "Apa yang dilakukannya?" "Sesuatu yang akan membikin malu nama Tuan Muda. netcafe. Dalam sidang perang di tepi pantai itu mereka menyepakati sebuah rencana. ia bercerita tentang apa yang telah terjadi di kapal. Dengan mata terbuka lebar karena heran. "Kalian ini selalu saja mencari perkelahian!" kata Akemi dengan nada tidak sependapat." Ebook by Kang Zusi . Tidak jauh dari sana. "Bukannya kami suka berkelahi.property of: CROSSFiRE. tapi langsung membuangnya kembali. lalu bangkit berdiri. Sekalipun waktu itu musim dingin. Ia sampaikan pada mereka cerita lucu tentang pemotongan gelungan itu dan ia akhiri ceritanya dengan mengatakan. Hal ini membenarkan tepatnya cerita itu." "Buat apa mencarinya? Ada berjuta-juta kerang di seluruh tempat ini. Tapi segera mereka temukan bahwa Toji sudah bangun lebih pagi. Namun ia gagal membangkitkan minat Akemi setitik pun. Pendapat saya. sementara ujung sarung pedang mereka mendongak-dongak ke udara." "Apa yang kalian cari?" "Seorang samurai muda dengan jambul panjang. matahari bersinar hangat dan bau laut memancar dari built ombak yang menghampar seperti rantai bunga mawar putih sejauh-jauh mata memandang." Murid-murid Yoshioka cepat bebas dari mabuknya dan pergi mencari murid senior yang sulit diatur itu. Inc. Akemi memandang orangorang Yoshioka berlari ke arah yang berbeda-beda itu. dia dapat mendatangkan aib bagi perguruan yang menjadi pusat terbesar seni bela diri di negeri ini. Perempuan biasa menghamburkan waktu dengan cara-cara yang lebih gila daripada lelaki.

dan juga air. "Lihat! Bukti apa lagi yang kamu perlukan?" "Ah. salah satu kebohongan tak berguna yang disampaikan dengan puisi. Ibu Akemi sama sekali tak mengira bahwa Akemi menyimpan pikiranpikiran putus asa semacam itu. kalau saja Seijuro melupakan segala yang menyangkut dirinya." Ditariknya pemuda yang enggan itu ke barisan pohon pinus. keajaiban apa yang akan kaudapat?" "Mudah sekali. Namanya pelipur lara. Kalau kita masukkan satu ke dalam obi atau lengan baju kita. Pada waktu ini ia sedang merangkul lutut. barangkali sedikit sembrono. "Jadi. Apabila sedang sedih. Ia ragu-ragu akan menyerahkan diri seluruhnya kepada khayal. dan menghilang. Jika sekiranya memang ada yang namanya kerang pelipur lara itu." "Nah. kemudian tiba-tiba ia ingat akan kewajibannya. dan ia pun melesat sekencang-kencangnya. Ketika Seijuro mendesaknya dengan pertanyaanpertanyaan cinta bercampur bujukan. Akan kutemukan ia di pantai Sumiyosbi. ataukah pada keinginan untuk melontarkan kenangan itu ke laut. hingga belum dapat barangkali ia menerima cinta Ebook by Kang Zusi . Inc. membantu mencari?" "Ah. Ingatan akan Seijuro itu saja membuat hatinya dingin. Akan kutunjukkan nanti. karena tahu besar kemungkinan Musashi telah sama sekali melupakannya. ini bukan waktu untuk mainan anak-anak!" kata samurai itu mencela. Bagaimana kalau kamu tinggal saja di sini. alangkah baiknya kalau ada cara yang dapat kupakai untuk menghapus wajahnya itu dari pikiranku!" pikirnya. Ia mengeluh. "Oh. di pantai Sumiyoshi." "Oh? Dan apa betul ada kerang macam itu?" "Ada! Tapi orang bilang kita hanya dapat menemukannya di sini. kita dapat melupakan segalanya." -Tapi di Sumiyoshi ada juga bunga yang bikin kita lupa. itu kan cuma dongeng. dan merasa bimbang apakah akan berpegang teguh pada sejumlah kenangan yang didambakannya. tapi bagaimanapun masih kuncup yang belum berkembang. Alangkah mudahnya berlari langsung masuk ke dalamnya. Ia cenderung yakin bahwa Seijuro ada di dunia ini semata-mata untuk meruntuhkan masa mudanya. ayo pergi denganku. dan membayangkan alangkah baiknya hidup ini. Aku ingin melupakan semuanya. karena kenangan itu membuatnya ingin lari dan meloloskan diri ke dunia impian. Sekiranya kupunya waktu. Karena itulah aku mencarinya. ia menghibur diri dengan memikirkan Musashi. netcafe. Ada beberapa hal yang tak dapat kulupakan." Samurai itu tertawa. "Tapi aku mencari jenis kerang yang sangat khusus.property of: CROSSFiRE. bukan ia yang akan membawanya. Akemi sering mengira bahwa persoalan yang dihadapinya akan terpecahkan jika saja ia dapat melupakan masa lalu dan menikmati masa kini. demikian diputuskannya. Dan memandang laut itu. ia jadi ketakutan. karena itu aku merasa tidak bahagia siang hari dan berbaring dengan mata melotot malam hari. Tapi kenangan tentang Musashi yang sekali-sekali menjadi pelariannya sering juga menjadi sumber kesengsaraannya. Orang bilang akan sampai ke sana Kerang penyebabnya Lupa akan cinta Dengan bangga Akemi berkata. melainkan akan diselipkannya ke dalam lengan baju Seijuro. jika misalnya memang ada. Semua orang di sekitarnya menganggap Akemi sangat bahagia." "Aku berani bertaruh tak ada barang macam itu!" "Ada! Kalau kamu tak percaya. Air Laut Pedalaman yang biru tiba-tiba tampak begitu memikat. maksudmu kamu mau lebih lalai daripada sekarang" "Ya. dan ia tunjuk sebuah batu berukiran sebuah sajak kuno. apalagi Seijuro.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

seorang lelaki. Bagi Akemi, ibunya dan orang-orang lelaki yang datang ke warung teh itu sesuatu yang berada di luar dirinya. Pada waktu mereka hadir, ia tertawa berkelakar, menggemerincingkan giring-giringnya, dan mencibir bila perlu. Tapi bila sendirian, desah-desahnya muram dan gelap. Pikiran-pikiran Akemi terganggu oleh datangnya seorang pembantu rumah penginapan. Melihat ia berada di dekat prasasti batu, pembantu datang berlari, dan katanya, "Oh, di mana Nona tadi? Tuan Muda memanggilmanggil Nona, dan beliau kuatir sekali." Di rumah penginapan, Akemi menjumpai Seijuro sendirian menghangatkan kedua tangannya di bawah selimut merah yang menutup kotatsu. Kamar dalam keadaan tenang. Di halaman, angin lembut gemeresik lewat pohon-pohon pinus yang layu. "Kau keluar dalam udara dingin begini?" tanya Seijuro. "Apa maksudmu? Rasanya tidak dingin. Di pantai matahari terang." "Apa yang kaulakukan di sana?" "Mencari kerang laut." "Kau ini macam anak kecil." "Aku memang anak kecil." "Berapa kaukira umurmu pada hari ulang tahun yang akan datang?" "Tak ada artinya. Aku masih anak kecil. Apa salahnya?" "Banyak salahnya. Kau mesti memikirkan rencana-rencana ibumu untukm u.." "Ibuku? Dia tidak memikirkan aku. Dia sendiri yakin, dia masih muda." "Coba duduk sini." "Aku tak mau. Nanti aku kepanasan. Ingat tidak, aku masih muda." "Akemi!" Seijuro menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dirinya. "Tak ada orang lain di sini hari ini. Ibumu cukup bijaksana dengan kembali ke Kyoto." Akemi memandang mata Seijuro yang menyala, dan tubuhnya pun menegang. Secara tak sadar ia mundur, tapi Seijuro memegang pergelangan tangannya erat-erat. "Kenapa mau lari?" tanya Seijuro menuduh. "Aku tak mau lari." "Tak ada orang lain sekarang di sim. Ini kesempatan baik, bukan, Akemi?" "Kesempatan apa?" "Jangan keras kepala begitu! Sudah hampir setahun kita saling bertemu. Kau tahu perasaanku padamu. Oko sudah lama memberi izin. Dia bilang, kau tak mau menyerah karena caraku yang salah. Jadi, hari ini mari kita..." "Berhenti! Lepaskan tanganku! Lepaskan, kataku!" Tiba-tiba Akemi membung-kuk dan merendahkan kepala dengan malunya. "Jadi, biar bagaimana kamu tak mau?" "Berhenti! Lepaskan!"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sekalipun tangan Akemi sudah merah oleh cengkeramannya, Seijuro tetap tak mau melepaskannya. Tak mungkin gadis itu cukup kuat melawan teknik-teknik militer Delapan Perguruan Kyoto. Hari ini Seijuro lain dari biasanya. Sering ia mencari kesenangan dan hiburan dengan sake, tapi hari ini ia tak minum apa pun. "Kenapa kauperlakukan aku seperti ini, Akemi? Kau mau menghina aku?" "Tak mau aku bicara tentang itu! Kalau tidak kaulepaskan, aku menjerit!" "Menjeritlah. Tak ada yang akan mendengarmu. Rumah besar terlalu jauh dari sini, dan lagi, aku sudah bilang pada mereka supaya kita jangan diganggu." "Aku mau pergi dari sini." "Takkan kubiarkan." "Tubuhku bukan milikmu!" "Oh, jadi begitu perasaanmu? Lebih baik kautanyakan soal itu pada ibumu! Sudah cukup banyak aku membayar." "Oh, ibuku mungkin sudah menjualku, tapi aku belum menjual diriku! Lebih-lebih pada lelaki yang kupandang rendah, lebih dari maut sendiri!" "Apa?" pekik Seijuro sambil melontarkan selimut merah ke atas kepala Akemi. Akemi menjerit sekuat paru-parunya. "Menjeritlah, anak anjing! Jeritkan semua yang kaumau! Tak seorang pun akan datang." Di atas shoji, sinar matahari pucat berbaur dengan bayangan resah pohon-pohon pinus, seakan-akan tak sesuatu pun terjadi. Di luar, segalanya tenang kecuali pukulan ombak di kejauhan dan cicit burung-burung. Diam yang dalam mengiringi raungan Akemi yang teredam. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah pucat seperti mayat, Seijuro muncul di lorong luar, tangan kanannya memegang tangan kiri yang baret-baret berdarah. Tak lama sesudah itu pintu terbuka lagi dengan suara berdentam, dan Akemi muncul. Seijuro yang tangannya kini berbungkus handuk berseru kaget dan bergerak seakan hendak menghentikannya, tapi tidak cukup cepat. Gadis yang sudah setengah gila itu melarikan diri secepat kilat. Wajah Seijuro mengerut gundah, tapi ia tidak mengejar Akemi, sementara Akemi menyeberang halaman dan masuk bagian lain rumah penginapan. Tak lama kemudian senyuman tipis jahat tersungging di bibirnya. Senyuman kepuasan yang amat sangat.

bagian 11

Berlalunya Seorang Pahlawan
"Paman Gon!" " Apa? " "Paman capek?" "Ya, sedikit." "Kupikir begitu. Aku sendiri hampir mogok, tapi biara ini bagus sekali gedung-gedungnya, ya? Hei, apa ini bukan pohon jeruk yang disebut pohon rahasia Wakamiya Hachiman itu?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Rupanya." Barangkali inilah barang pertama dari delapan puluh kapal upeti yang disampaikan Raja Silla kepada Maharani Jingu, ketika maharani itu menaklukkan Korea." "Lihat kandang kuda-kuda suci itu! Apa bukan binatang yang elok itu? Pasti dia dapat nomor satu dalam pacuan kuda tahunan di Kamo." "Maksudmu yang putih itu?" "Ya. Hmm, apa bunyi papan nama itu?" "Katanya, air rebusan kacang yang dicampur makanan kuda kalau diminum bisa menghentikan teriakan dan kerotan gigi malam hari. Apa kau mau sedikit?" Paman Gon tertawa. "Jangan berbuat tolol macam itu!" Dan sambil menoleh ia bertanya, "Apa yang terjadi dengan Matahachi?" "Rupanya ngeluyur." "Oh, itu dia, istirahat dekat panggung tarian suci." Wanita tua itu mengangkat tangan memanggil anaknya. "Kalau kita lewat jalan itu, kita dapat melihat Tori Agung yang asli, tapi mari kita pergi ke Lentera Tinggi." Matahachi mengikuti dari belakang dengan malasnya. Semenjak ibunya menangkapnya di Osaka, ia selalu bersama mereka-jalan, jalan, dan sekali lagi jalan. Kesabarannya mulai menipis. Lima atau sepuluh hari melihat-lihat pemandangan mungkin bagus dan baik-baik saja, tapi ia takut memikirkan harus menyertai mereka membalas dendam. Sudah dicobanya meyakinkan mereka, bahwa berjalan bersama-sama seperti itu merupakan cara yang buruk. Lebih baik ia pergi mencari Musashi sendirian. Tapi ibunya tak hendak mendengarkan. "Sebentar lagi Tahun baru," ujarnya. "Dan Ibu ingin kau menyambutnya bersama Ibu. Sudah lama kita tidak bersama-sama merayakan Tahun Baru, dan ini barangkali kesempatan kita yang terakhir." Walaupun Matahachi tahu tak dapat menolak ibunya, ia telah membulatkan hati untuk meninggalkan mereka beberapa hari sesudah hari pertama Tahun Baru. Osugi dan Paman Gon barangkali kuatir takkan lama lagi hidup, karena itu mereka demikian tenggelam dalam agama, dan sedapat-dapatnya berhenti di setiap biara dan kuil dengan meninggalkan persembahan dan mengajukan permohonan panjang-panjang kepada para dewa dan Budha. Hampir seluruh hari ini mereka habiskan di Biara Sumiyoshi. Matahachi sudah kalut oleh rasa bosan, ia berjalan menyeret kaki dan cemberut. "Apa kamu tak bisa jalan lebih cepat?" tanya Osugi marah. Langkah Matahachi tidak berubah. Ia jengkel sekali pada ibunya, sama seperti jengkel ibunya kepadanya, dan gerutunya, "Ibu ini terus saja menyuruhku cepat dan tunggu! Cepat dan tunggu, cepat dan tunggu!" "Apa yang mesti Ibu lakukan pada anak lelaki macam kamu? Orang datang ke biara, sudah sewajarnya kalau dia berhenti dan berdoa kepada dewa-dewa. Belum pernah Ibu lihat kamu membungkuk kepada satu dewa atau Budha pun. Ingat-ingatlah kata-kata Ibu ini, kamu akan menyesal nanti. Kecuali itu, kalau kamu mau berdoa bersama kami, takkan lama kamu menunggu." "Menjengkelkan!" geram Matahachi. "Siapa yang menjengkelkan?" teriak Osugi berang. Dua-tiga hari pertama segalanya semanis madu antara mereka, tapi begitu Matahachi sudah terbiasa dengan ibunya lagi, mulailah ia tersinggung oleh segala yang dilakukan dan dikatakan ibunya. Ia memperolok-olok Osugi setiap kali ada kesempatan. Apabila malam tiba dan mereka kembali ke rumah penginapan, Osugi menyuruh Matahachi duduk di depannya dan kemudian mengkhotbahinya, yang membuat Matahachi jadi lebih murung lagi.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Bukan main pasangan ini!" keluh Paman Gon sendiri, sambil mencari-cari cara untuk meredakan kekesalan perempuan tua itu dan mengembalikan sedikit ketenangan pada wajah kemenakannya yang cemberut. Karena dirasanya akan terdengar khotbah lagi, ia bergerak memintasinya. "Oh," serunya riang. "Rasanya aku mencium bau enak! Orang menjual remis panggang di warung teh tepi pantai itu. Mari kita ke sana makan remis." Baik ibu maupun anak tidak memperlihatkan kegairahan, tapi Paman Gon berhasil membawa mereka ke warung tepi laut yang dipasangi kerai gelagah tipis itu. Sementara kedua orang itu duduk seenak-enaknya di bangku luar, Paman Gon masuk dan keluar lagi membawa sake. Sambil menawarkan mangkuk pada Osugi, katanya ramah, "Ini akan membikin Matahachi riang sedikit. Barangkali kau sedikit terlalu keras kepadanya." Osugi memalingkan muka, tukasnya, "Aku tak ingin minum apa-apa." Terjerat oleh sarang labah-labahnya sendiri, Paman Gon menawarkan mangkuk pada Matahachi. Matahachi masih marah-marah, dan segera mengosongkan tiga guci sake secepat-cepatnya, karena tahu benar hal itu akan membuat ibunya pucat kelabu. Ketika ia meminta guci keempat kepada Paman Gon, Osugi sampai pada batas kesabarannya. "Sudah cukup kamu minum!" omelnya. "Ini bukan piknik, dan kita rancang kemari bukan untuk mabuk! Kamu juga jaga dirimu, Paman Gon! kamu lebih tua daripada Matahachi, mestinya tahu." Paman Gon menjadi malu, seolah-olah ia sendiri yang minum, dan mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menggosokkan tangan ke wajah itu. "Ya, kau benar," katanya menurut. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan pergi beberapa langkah jauhnya. Lalu semuanya terjadi dengan sangat seru. Matahachi sudah menyinggung sedalam-dalamnya cinta dan keprihatinan ibunya, rasa cinta yang dahsyat, walau rapuh. Osugi tak peduli lagi apakah harus menanti sampai mereka kembali ke rumah penginapan. Dimarahinya Matahachi dengan garang, tak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Matahachi menatapnya dengan pandangan ingkar yang muram, sampai ibunya selesai. "Baik," katanya. "Jadi, Ibu sudah menyimpulkan, aku orang dusun yang tak tahu terima kasih dan tak punya rasa hormat diri, kan? Betul?" "Betul! Apa yang sudah kamu lakukan sampai sekarang, yang menunjukkan kamu punya rasa bangga atau hormat diri?" "Ibu, aku bukan orang tak berharga seperti yang Ibu pikir, tapi Ibu takkan tahu soal itu." "Oh, jadi Ibu tak bisa tahu? Coba dengar, Matahachi, tak seorang pun yang lebih mengenal anak daripada orangtuanya, dan kupikir hari kelahiranmu itulah hari buruk buat Keluarga Hon'iden!" "Lebih baik Ibu tunggu dan lihat! Aku masih muda. Suatu hari nanti, kalau Ibu sudah mati dan dikubur, Ibu akan menyesal sudah mengatakan itu." "Ha! Kuharap memang demikian, tapi aku sangsi apa akan bisa terjadi meski seratus tahun lagi. Sungguh menyedihkan, kalau dipikir-pikir." "Kalau Ibu sedih sekali punya anak seperti aku, tak banyak lagi gunanya aku ada di sini. Aku pergi!" Mendidih karena marah, ia bangkit berdiri dan berjalan pergi dengan langkah-langkah panjang dan mantap. Karena terkejut, perempuan tua itu mencoba memanggilnya kembali dengan suara bergetar memilukan. Tapi Matahachi tak menghiraukannya. Paman Gon yang sebetulnya dapat berlari dan mencoba menghentikannya hanya berdiri memandang tajam ke laut, agaknya kepalanya disibukkan oleh pikiran-pikiran lain. Osugi berdiri, kemudian duduk kembali. "Jangan mencoba menghentikannya," katanya sia-sia kepada Paman Gon. "Tak ada gunanya." Paman Gon menoleh kepadanya, tapi bukan menjawab, melainkan mengatakan, "Gadis di sana itu aneh Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sekali gerak-geriknya. Tunggu di sini sebentar!" Belum habis kata-kata itu diucapkan, ia sudah melemparkan capingnya ke bawah tepi atap warung dan berlari secepat anak panah ke air. "Goblok!!" teriak Osugi. "Ke mana kamu pergi? Matahachi..." Ia mengejar Paman Gon, tapi sekitar dua puluh meter dari warung itu kakinya terantuk gumpalan rumput laut dan ia jatuh tertelungkup. Sambil menggerutu marah ia bangun, wajah dan bahunya penuh dengan pasir. Ketika terlihat kembali Paman Gon, kedua matanya melotot seperti cermin. "Hei, orang tua goblok! Ke mana kamu pergi? Sudah kehilangan akal, ya?" jeritnya. Ia begitu kalang kabut, hingga tampaknya ia sendiri sudah gila. Ia lari kencang-kencang mengikuti Paman Gon, namun terlambat. Paman Gon sudah masuk air sampai setinggi lutut, dan terus ke tengah. Kelihatan la sudah hampir kesurupan, terselimut buih putih. Lebih jauh lagi di tengah laut kelihatan seorang gadis muda yang mati-matian berusaha masuk ke air dalam. Ketika Paman Gon pertama kali melihatnya, gadis itu masih berdiri dalam bayangan pohon-pohon pinus, memandang kosong ke laut, tapi kemudian tibatiba ia berlari menyeberang pasir dan masuk air, sementara rambutnya yang hitam berkibar di belakangnya. Air kini sudah sampai pinggangnya, dan dengan cepat ia mendekati titik terjal di dasar laut. Sambil mendekatinya, Paman Gon berseru-seru kalut, tapi gadis itu terus dengan tekadnya. Tiba-tiba tubuhnya menghilang diiringi bunyi aneh, meninggal-kan pusaran di permukaan. "Anak gila!" teriak Paman Gon. "Sudah nekat bunuh diri, ya?" Ia sendiri tenggelam ke bawah permukaan air, gelagapan. Osugi berlari ke sana kemari di tepian. Ketika dilihatnya kedua orang itu tenggelam, jeritannya berubah menjadi seruan-seruan lantang minta tolong. Sambil melambai-lambaikan tangan, berlari, dan jatuh-bangun ia memerintahkan orang-orang di pantai untuk menolong, seakan-akan merekalah penyebab terjadinya kecelakaan. "Selamatkan mereka, goblok! Cepat, kalau tidak mereka tenggelam." Beberapa menit kemudian, beberapa nelayan membawa tubuh mereka dan meletakkannya di atas pasir. "Bunuh diri karena cinta?" tanya seorang. "Kau berkelakar?" kata yang lain tertawa. Paman Gon berhasil mencekal obi gadis itu dan masih menggenggamnya, tapi baik ia maupun gadis itu sudah tidak bernapas lagi. Gadis itu menampilkan wajah aneh, karena sekalipun rambutnya kusut dan kacau, pupur dan lipstiknya tidak terhapus, dan ia tampak seakan masih hidup. Bahkan dengan giginya yang masih menggigit bibir bawah itu, mulutnya yang ungu seperti menampakan gerak tawa. "Saya pernah melihat gadis ini," seseorang berkata. "Apa bukan dia yang cari kerang di pantai belum lama ini?" "Ya, betul! Dia tinggal di penginapan sana itu." Dari arah rumah penginapan ada empat atau lima orang yang datang mendekat. Di antara mereka Seijuro yang dengan napas sesak menerobos kerumunan orang banyak itu. "Akemi!" teriaknya. Wajahnya menjadi pucat, tapi ia berdiri saja. "Apa bisa kita selamatkan dia?" "Tidak bisa, kalau Tuan cuma berdiri melongo." Para nelayan melepaskan cekalan Paman Gon, meletakkan kedua tubuh itu berdampingan. Mereka mulai menampar-nampar punggung kedua orang itu dan menekan-nekan perutnya. Akemi cepat sekali kembali bernapas. Karena ingin sekali menghindari tatapan mata para penonton, Seijuro menyuruh orang-orang dari rumah penginapan membawa Akemi pulang. "Paman Gon! Paman Gon!" panggil Osugi dengan mulut di telinga orang tua itu, berurai air mata. Akemi Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

dapat kembali hidup karena ia masih muda, tapi Paman Gon... Ia tidak hanya tua, tapi ia pun telah minum sake cukup banyak sebelum menyelamatkan gadis itu. Napasnya terhenti untuk selamanya. Seberapa banyak pun usaha Osugi tak akan dapat membukakan matanya kembali. Para nelayan menyerah, "Orang tua itu telah pergi." Osugi berhenti menangis cukup lama untuk berpaling kepada mereka, seakan-akan mereka musuh, bukan orang-orang yang telah membantu. "Apa maksud kalian? Kenapa dia mesti mati, sedangkan gadis muda itu dapat selamat?" Sikapnya menunjukkan seakan ia siap menyerang mereka secara fisik. Ditepiskannya orang-orang itu, dan katanya mantap, "Akan kuhidupkan dia kembali! Akan kutunjukkan pada kalian." Dan mulailah ia mencoba membangunkan Paman Gon dengan segala cara yang dapat dipergunakannya. Tekadnya itu menimbulkan air mata orang-orang yang menyaksikannya. Beberapa orang itu tinggal membantunya. Namun ia bukannya menghargai bantuan mereka, malahan memerintah mereka melakukan ini-itu seperti tenaga sewaan. Ia mengeluh bahwa mereka tidak menekan dengan cara yang benar, bahwa yang mereka lakukan takkkan ada hasilnya, ia memerintah mereka membuat api, dan ia menyuruh mereka pergi mencari obat. Apa pun yang ia lakukan, ia kerjakan dengan air muka semasam-masamnya. Bagi orang-orang di pantai itu, ia bukan sanak ataupun teman, melainkan sekadar orang asing, karena itu akhirnya orang yang paling bersimpati kepadanya pun menjadi marah. "Siapa sih perempuan tua jelek ini?" geram satu orang. "Hm! Tak tahu bedanya orang pingsan dan orang mati. Kalau dia bisa menghidupkannya lagi, biar saja." Tak lama kemudian, tinggallah Osugi sendirian dengan mayat itu. Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti, kabut bangkit dari laut, dan yang tertinggal dari hari itu hanyalah barisan awan jingga di dekat kaki langit. Osugi membuat api dan duduk di dekatnya, memeluk tubuh Paman Gon erat-erat. "Paman Gon. Oh, Paman Gon!" lolongnya. Ombak laut menggelap. Ia mencoba dan mencoba lagi mengembalikan kehangatan tubuh yang telah mati itu. Pandangan wajahnya menunjukkan betapa ia berharap sebentar lagi Paman Gon membuka mulut dan bicara dengannya. Ia kunyah beberapa pil dari kotak obat dalam obi-nya dan ia pindahkan kunyahan itu ke mulut Paman Gon. Ia peluk Paman Gon dan ia guncang-guncangkan. "Buka matamu, Paman Gon!" mohonnya. "Katakan sesuatu! Tak bisa kau pergi meninggalkan aku sendirian. Kita masih belum membunuh Musashi atau menghukum Otsu yang bejat itu." Di dalam rumah penginapan, Akemi terbaring dalam tidur yang resah. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak kepalanya yang demam itu di atas bantal, ia menggumam mengigau. Untuk sesaat Seijuro duduk di sampingnya, diam seribu bahasa, wajahnya lebih pucat daripada wajah Akemi. Ketika mengetahui penderitaan yang telah ditimpakannya kepada gadis itu, ia pun menderita. Ia sendiri yang dengan nafsu binatangnya memangsa gadis itu dan memuaskan birahinya. Sekarang ia duduk murung dan kaku, prihatin dengan denyut nadi dan napas gadis itu, dan berdoa semoga hidup yang untuk beberapa waktu lamanya meninggalkan gadis itu bisa dipulihkan kembali. Dalam satu hari yang singkat saja ia sekaligus menjadi binatang dan manusia yang berperasaan belas kasihan. Tetapi bagi Seijuro yang cenderung kepada ekstremitas, tingkah lakunya itu tidak terasa tidak konsisten. Matanya sedih dan sikap mulutnya rendah hati. Ia menatap Akemi dan berbisik, "Cobalah tenang, Akemi. Bukan cuma diriku seorang. Kebanyakan lelaki memang begitu.... Kau segera akan mengerti, walaupun kau tentunya dikejutkan oleh kekerasan cintaku." Sukarlah ditentukan, apakah kata-kata ini benar-benar ditujukan kepada gadis itu ataukah dimaksudkan untuk menenang-kan dirinya sendiri. Tapi ia terus juga menyuarakan perasaan itu berulang-ulang. Kegelapan dalam kamar itu pekat seperti tinta. Shoji yang tertutup kertas meredam bunyi angin dan ombak. Akemi bergerak, kedua tangannya yang putih menyelinap keluar dari bawah selimut. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak selimut itu, Akemi meng-gumam, "Tanggal berapa ini?" "Apa?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Berapa... berapa hari lagi... Tahun Baru?" "Tinggal tujuh hari lagi. Kau pasti sembuh sebelum waktu itu, dan kita akan kembali ke Kyoto." Direndahkannya wajahnya ke Akemi, tapi Akemi menolak-nya dengan telapak tangan. "Berhenti! Pergi! Aku tak suka padamu." Seijuro menarik diri, tapi kata-kata setengah gila menyembur dari bibir Akemi. "Orang tolol! Binatang!" Seijuro tinggal diam. "Kau binatang. Aku tak... aku tak ingin melihatmu." "Maafkan aku, Akemi, maafkan!" "Pergi dari sini! Jangan bicara padaku." Tangan Akemi melambai-lambai kacau dalam kegelapan. Seijuro menelan ludah dengan sedih, tapi terus juga me-mandanginya. "Tanggal... tanggal berapa?" Kali ini Seijuro tak menjawab. "Apa ini belum Tahun Baru?... Antara Tahun Baru dan tanggal tujuh.... Tiap hari.... Dia bilang akan ada di jembatan.... Kabar dari Musashi.... Tiap hari.... Jembatan Jalan Gojo.... Tak lama lagi Tahun Baru.... Aku mesti kembali ke Kyoto.... Kalau aku pergi ke jembatan itu, dia akan ada di sana." "Musashi?" tanya Seijuro heran. Gadis yang sedang mengigau itu terdiam. "Apa Musashi ini ... Miyamoto Musashi?" Seijuro menatap wajah Akemi, tapi Akemi tidak mengatakan apa-apa lagi. Kelopak matanya yang biru menutup. Ia tidur lelap. Daun-daun pinus kering mengetuk-ngetuk shoji. Seekor kuda meringkik. Cahaya muncul di seberang penyekat, dan suara seorang pelayan terdengar mengatakan, "Tuan Muda ada di sini." Buru-buru Seijuro masuk kamar sebelah, dengan hati-hati menutup pintu di belakangnya. "Siapa?" tanyanya. "Aku di sini." "Ueda Ryohei," terdengar jawabannya. Ryohei masuk dan duduk, masih dalam pakaian perjalanan lengkap dan penuh debu. Selagi mereka bertukar salam, Seijuro bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan orang itu datang. Karena seperti halnya Toji, Ryohei salah seorang siswa senior yang diperlukan di rumah, maka Seijuro takkan membawanya dalam perjalanan mendadak. "Kenapa datang kemari? Ada yang terjadi sepeninggalku?" tanya Seijuro. "Ya, dan saya harus minta Anda segera kembali." "Ada apa?" Ketika Ryohei memasukkan kedua tangannya ke dalam kimono dan meraba-raba, suara Akemi terdengar dari kamar sebelah. "Aku tak suka padamu!... Binatang!... Pergi!" Kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu penuh nada takut. Siapa pun akan mengira ia sedang terjaga dan dalam bahaya besar. Dengan terkejut Ryohei bertanya, "Siapa itu?" "Oh, itu? Akemi jatuh sakit ketika pulang. Dia demam, sekali-sekali dia sedikit mengigau." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu Akemi?" "Ya, tapi tak apalah. Aku ingin mendengar kenapa kau datang." Dari kantong perut di bawah kimononya akhirnya Ryohei mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Seijuro. "Ini," katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, kemudian mendekatkan lampu yang telah ditinggalkan oleh pelayan itu ke sisi Seijuro. "Hmm. Dari Miyamoto Musashi." "Ya!" kata Ryohei tegas. "Kau sudah membukanya?" "Ya. Saya sudah membicarakannya dengan yang lain-lain, dan kami memutus-kan bahwa kemungkinan surat ini penting, karena itu kami membuka dan mem-bacanya." Seijuro bukannya membaca sendiri isi surat itu, melainkan bertanya sedikit ragu, "Apa katanya?" Walau tak seorang pun berani menyebutkan persoalan kepadanya, namun di balik pikiran Seijuro sudah lama bersarang wujud Musashi. Walau demikian, ia sudah hampir meyakinkan dirinya bahwa ia tak akan bertemu lagi dengan orang itu. Surat yang tiba-tiba datang, tepat sesudah Akemi menyebut nama Musashi itu, membuat tulang punggung Seijuro panas dingin. Ryohei menggigit bibir, marah. "Akhirnya datang juga dia. Ketika dia pergi dengan omongan besar musim semi lalu, saya yakin dia takkan menjejakkan kaki lagi di Kyoto, tapi... coba Tuan bayangkan kesombongannya! Teruslah baca surat itu! Isinya tantangan, dan dia punya nyali pula menunjukkan tantangan pada seluruh Keluarga Yoshioka, dan menandatanganinya hanya dengan namanya sendiri. Dia pikir dia dapat menghadapi kita semua sendirian!" Musashi tidak menuliskan alamat untuk balasan surat, dan dalam surat pun tak ada isyarat tentang tempat ia berada. Tapi ia tidak melupakan janji yang telah ia tulis kepada Seijuro dan murid-muridnya, dan dengan surat kedua ini dadu telah dilemparkan. Ia mengumumkan perang pada Keluarga Yoshioka. Pertempuran akan terjadi, dan ini akan merupakan pertempuran habis-habisan-pertempuran di mana para samurai akan bertarung sampai mati untuk menjaga kehormatan dan memurnikan keterampilan mereka dengan pedang. Musashi mempertaruhkan hidupnya dan menantang Perguruan Yoshioka untuk melakukan hal yang sama. Apabila tiba waktunya, kata-kata dan keterampilan teknik yang mahir pun akan sedikit saja artinya. Sumber bahaya terbesar adalah bahwa Seijuro masih belum memahami kenyataan ini. Ia tidak melihat bahwa hari perhitungan sudah tiba, dan bahwa sekarang bukanlah saat untuk membuang-buang waktu dengan kesenangan-kesenangan kosong. Ketika surat itu tiba di Kyoto, di antara murid yang lebih teguh ada perasaan muak terhadap cara hidup Tuan Muda yang tidak berdisiplin itu. Mereka menggerutu marah karena ia tidak hadir justru pada saat yang demikian menentukan. Mereka gusar oleh penghinaan yang dilontarkan oleh ronin tunggal ini, dan menyesal bahwa Kempo tidak lagi hidup. Sesudah banyak membincang-kannya, mereka sepakat untuk menyampaikan keadaan itu kepada Seijuro dan memutuskan bahwa Seijuro mesti segera kembali ke Kyoto. Namun ketika surat sudah disampaikan sekarang, ternyata Seijuro hanya meletakkannya di pangkuan dan tak bergerak membukanya. Dengan perasaan jengkel yang tampak jelas, Ryohei bertanya, "Apa Anda tak merasa perlu membacanya?" "Apa? Oh, ini?" tanya Seijuro kosong. Ia membuka gulungan surat itu dan membacanya. Jari-jarinya mulai menggeletar tak terkendalikan lagi, suatu tanda ketidakmantapan yang disebabkan bukan oleh bahasa dan nada keras tantangan Musashi, melainkan oleh perasaan lemah dan perasaan rendah pada dirinya sendiri. Kata-kata penolakan kasar Akemi menghancurkan harga dirinya sebagai samurai. Belum pernah ia merasa demikian tanpa daya. Surat Musashi sederhana dan langsung, Apakah Anda dalam keadaan baik semenjak terakhir kali saya menyurati Anda. Sesuai dengan janji saya terdahulu, kini saya menulis untuk menanyakan di mana, pada hari apa, dan pada jam berapa kita akan bertemu. Saya tak punya pilihan khusus, dan saya bersedia melaksanakan pertandingan yang telah kita janjikan pada waktu dan tempat yang Anda tentukan. Saya mohon Anda memancangkan jawaban Anda di jembatan Jalan Gojo, sebelum hari ketujuh Tahun Baru. Saya percaya Anda telah menggosok ilmu pedang Anda sebagaimana biasa. Saya sendiri merasa bahwa sampai batas-batas tertentu telah mencapai perbaikan. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Shimmen Miyamota Musashi. Seijuro menjejalkan surat itu ke dalam kimononya, dan berdirl. "Aku akan kembali ke Kyoto sekarang," katanya. Kata-kata ini diucapkannya lebih karena perasaan sudah demikian kalut, hingga ia tidak dapat lagi tinggal di tempat itu lebih lama; jadi, bukan karena ketabahan. Ia harus pergi dan segera mungkin melupakan seluruh hari mengerikan itu. Disertai suasana hiruk-pikuk, pemilik rumah penginapan dipanggil dan diminta mengurus Akemi, suatu tugas yang diterimanya dengan perasaan enggan, sekalipun menerima uang Seijuro. "Akan kupakai kudamu," kata Seijuro pada Ryohei. Dan seperti seorang bandit yang sedang melarikan diri, ia melompat ke pelana dan melarikan kuda itu kencang-kencang melintasi baris-baris pohon gelap, meninggalkan Ryohei yang mengikutinya dengan berlari setengah mati.

Galah Pengering
"PEMUDA yang membawa monyet? Ya, dia memang kemari belum lama ini." "Apa Anda lihat, ke mana perginya?" "Ke sana, ke arah Jembatan Nojin. Tapi dia tidak menyeberangi jembatan-sepertinya dia masuk bengkel pandai pedang." Setelah berunding sebentar, murid-murid Yoshioka berangkat beramai-ramai, membuat orang yang memberikan keterangan itu menganga heran menyaksikan segala keributan tersebut. Walaupun waktu itu sudah lewat saat tutup bagi toko-toko sepanjang Parit Timur, toko pedang masih buka. Seorang dari orang-orang itu masuk, mengadakan pembicaraan dengan magang toko, kemudian keluar sambil berseru, "Temma! Dia menuju Temma!" Dan ke sanalah mereka berduyunduyun. Magang mengatakan bahwa ketika ia baru akan menutup daun jendela menjelang malam, seorang samurai berjambul panjang menurunkan monyet di dekat pintu depan, duduk di bangku dan minta bertemu dengan pandai pedang. Ketika kepadanya disampaikan bahwa pandai pedang sedang pergi, samurai itu mengatakan ingin menajamkan pedangnya, tapi pedang itu terlampau berharga untuk dipercayakan kepada orang lain di luar ahli pedang sendiri. Ia lalu mendesak minta melihat contoh-contoh karya pedang. Magang dengan sopan memperlihatkan kepadanya beberapa bilah pedang, tapi sesudah mengamati, yang diperlihatkan samurai itu tak lebih dari sikap muak. "Rupanya Anda sekalian di sini cuma mengerjakan senjata-senjata biasa," katanya kering. "Saya tidak yakin apakah akan menyerahkan pedang saya pada Anda. Pedang saya terlampau bagus, karya seorang pandai pedang Bizen. Namanya Galah Pengering. Lihat? Sempurna sekali." Ia mengangkat pedangnya, dan jelas dengan perasaan bangga. Tertarik akan bualan orang muda itu, si magang bergumam mengatakan bahwa satu-satunya ciri menonjol pedang itu adalah bentuknya yang panjang dan lurus. Samurai itu jelas sekali tersinggung karenanya, dan mendadak berdiri dan minta keterangan tentang bagaimana pergi ke pangkalan kapal tambangan Temma Kyoto. "Akan saya rawatkan pedang saya di Kyoto," tukasnya. "Semua pandai pedang Osaka yang sudah saya kunjungi rupanya hanya mengurusi barang rombengan prajurit biasa. Maaf, telah mengganggu." Ia berangkat dengan pandangan dingin. Cerita magang itu semakin membikin berang mereka. Itu bukti baru mengenai apa yang mereka anggap kecongkakan luar biasa orang muda itu. Jelas bagi mereka, pengalaman memotong gelungan Gion Toji membikin si pembual itu lebih congkak daripada sebelumnya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu pasti orang yang kita cari!" "Jadi, sudah kita temukan sekarang. Tertangkap dia sekarang." Orang-orang itu melanjutkan pengejaran tanpa satu kali pun berhenti untuk beristirahat, sekalipun matahari mulai terbenam. Mendekati dermaga Temma, seorang dari mereka berseru, "Ketinggalan kita!" Yang dimaksud adalah kapal terakhir hari itu. "Tidak mungkin." "Kenapa kaupikir kita sudah ketinggalan?" tanya yang lain. "Tidak lihat, ya? Di sana itu," kata orang yang pertama tadi, menuding dermaga. "Warung-warung teh sudah menumpuk bangkunya. Kapal tentunya sudah berangkat." Untuk sesaat mereka semua berdiri terpaku, kehilangan semangat. Kemudian, ketika mereka bertanya lagi pada orang lain, ternyata samurai itu memang sudah naik kapal terakhir. Mereka juga mendapat keterangan, kapal itu baru saja berangkat dan untuk beberapa lama tidak akan berhenti di perhentian berikut, Toyosaki. Kapal-kapal yang berjalan mudik ke Kyoto umumnya pelan. Maka mereka punya waktu banyak untuk menyusul kapal tambangan itu di Toyosaki, walaupun tanpa bergegas. Tahu akan hal ini, mereka memanfaatkan waktu dengan minum teh, makan kue betas, dan sedikit gula-gula murahan, sebelum berangkat dengan langkah cepat menempuh jalan sepanjang tepi sungai. Di hadapan sana, sungai tampak bagai seekor ular perak yang melenggok-lenggok ke kejauhan. Sungai Nakatsu dan Temma bergabung menjadi satu membentuk Sungai Yodo, di dekat percabangan ini cahaya berkelap-kelip di tengah sungai. "Itu kapalnya!" seru seseorang. Ketujuh orang itu bangkit semangatnya, dan segera mereka lupa akan udara dingin yang menembus kulit. Di ladang-ladang telanjang di tepi jalan, rumput merang kering yang tertutup embun beku berkilauan seperti pedang-pedang baja ramping. Angin seolah bermuatan es. Ketika jarak antara mereka dan cahaya mengapung itu memendek, mereka dapat melihat kapal itu dengan sangat jelas. Tanpa pikir lagi, seorang dari mereka berteriak, "Hei, yang di sana itu! Kurangi kecepatan!" "Kenapa?" terdengar balasan dari geladak. Jengkel karena perhatian orang jadi tertuju pada mereka, teman-temannya mengumpat orang yang besar mulut itu. Namun kapal berhenti juga di perhentian berikut. Sungguh suatu kebodohan besar, lebih dulu memberikan peringatan. Karena sudah telanjur, semua sependapat bahwa langkah terbaik adalah menuntut penumpang itu seketika itu juga. "Dia hanya sendirian. Jika kita tidak menantangnya sekarang juga, dia bisa curiga, melompat ke air, dan menyelamatkan diri." Sambil berjalan mengikuti jalan kapal, sekali lagi mereka berseru pada orang-orang yang ada di atas kapal. Sebuah suara berwibawa, yang tak sangsi lagi suara Kapten, meminta keterangan apa yang mereka kehendaki. "Rapatkan kapal ke tepi!" "Apa? Apa kalian gila?" terdengar jawabannya, disertai tawa parau. "Pinggirkan di sini!" "Mustahil" "Kalau begitu, kami tunggu Anda di perhentian berikut. Kami urusan dengan orang muda yang ada di kapal Anda. Pakai jambul bawa monyet. Katakan padanya, kalau dia punya hormat, dia mesti menampakkan diri. Dan kalau Anda membiarkan dia pergi, akan kami seret kalian semua ke darat." "Kapten, jangan jawab mereka!" mohon seorang penumpang. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa pun yang mereka katakan, abaikan saja," yang lain menasihati. "Mari jalan terus ke Moriguchi. Di sana ada pengawal." Kebanyakan penumpang berkumpul-kumpul ketakutan dan berbicara dengan suara ditekan. Orang yang berbicara dengan bebasnya kepada para samurai di pantai beberapa waktu lalu kini berdiri diam. Baginya dan bagi orang-orang lain, keselamatan mereka tergantung pada jarak antara kapal dan tepi sungai. Ketujuh orang itu tetap berada dekat kapal dengan lengan baju disingsingkan dan tangan dilekatkan ke pedang. Sekali mereka berhenti mendengarkan, agaknya mengharapkan jawaban atas tantangan mereka, tapi mereka tak men-dengar sesuatu. "Apa Anda tuli?" teriak seorang dari mereka. "Kami minta Anda menyampaikan kepada pembual muda itu supaya datang ke susuran." "Maksud Anda, saya?" teriak sebuah suara dari kapal. "Itu dia di sana, kurang ajar seperti biasanya!" Orang-orang itu menudingkan jari dan memandang ke kapal, sedangkan celoteh pelan para penumpang semakin hiruk-pikuk. Mereka itu setiap saat dapat melompat ke geladak. Orang muda berpedang panjang itu berdiri tegap di lambung kapal, giginya berkilauan seperti mutiara putih oleh pantulan sinar bulan. "Di kapal tak ada orang lain yang bawa monyet, jadi saya kira sayalah yang Anda cari. Siapa kalian, bromocorah malang? Gerombolan aktor lapar?" Ketika adu teriak semakin menghebat, kapal mendekati tanggul Kema yang memiliki tiang-tiang tambatan dan juga gudang. Ketujuh orang itu berlari maju untuk mengepung tempat mendarat, tapi belum lagi mereka sampai di sana, kapal sudah berhenti di tengah sungai dan mulai berputar beberapa kali. Wajah orang-orang Yoshioka jadi pucat kelabu. "Apa yang kaulakukan?" "Kalian tak bisa tinggal di situ selamanya!" "Sini kamu, atau kami akan datang ke situ." Ancaman-ancaman terus berlangsung, sampai akhirnya haluan kapal mulai bergerak ke tepi. Sebuah suara meraung di udara dingin, "Tutup mulut, orang-orang goblok! Kami akan mendarat! Lebih baik siapkan diri kalian untuk mempertahankan diri." Walaupun dicegah oleh penumpang-penumpang lain, orang muda itu tetap merebut galah orang kapal dan mendaratkan kapal tambangan itu. Ketujuh samurai segera berkerumun sekitar tempat yang akan disentuh haluan kapal, sementara tubuh yang menggerakkan kapal dengan galah itu semakin dekat dengan mereka. Tiba-tiba kecepatan kapal meningkat, dan orang muda itu menyerang mereka sebelum mereka mengetahuinya. Lunas kapal mencakar dasar sungai dan mereka undur serentak. Pada waktu itulah sebuah benda hitam bulat melayang melintasi gelagah dan menempelkan diri ke leher seorang di antara mereka. Sebelum mereka menyadari bahwa benda itu hanya seekor monyet, secara naluriah mereka semua mencabut pedang dan membabatkan ke udara kosong di sekitar mereka. Untuk menyembunyikan rasa malu, mereka saling meneriakkan perintah mendesak. Dengan harapan akan terhindar dari keributan, para penumpang menggerombol di sebuah sudut kapal. Aniaya yang diderita ketujuh orang di tepi sungai itu membesarkan hati mereka, sekalipun agak menimbulkan tanda tanya, tapi tak seorang pun berani bicara. Kemudian secara serentak semua kepala menoleh diiringi suara menggagap. Orang muda itu menancapkan galahnya ke dalam sungai dan melompat melintasi rumput mendoang, gerakannya lebih ringan daripada monyet tadi. Kejadian ini lebih mengacaukan lagi. Tanpa sempat menyusun diri kembali, orang-orang Yoshioka segera menyerang musuh mereka dalam satu barisan. Serangan demikian justru memberikan kedudukan menguntungkan bagi si orang muda untuk bertahan. Orang pertama sudah maju terlampau jauh untuk dapat mundur kembali, dan barulah ia menyadari kebodohan langkahnya. Pada saat itu segala keterampilan perang yang pernah dipelajarinya tak ada gunanya. Yang dapat diperbuatnya hanyalah memeringiskan gigi dan secara ngawur mengayun-ayunkan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pedang di depan dirinya. Sadar akan keuntungan psikologis yang dimilikinya, sosok pemuda tampan itu seakan tampak makin besar. Tangan kanannya di belakang mernegang gagang pedang, dan sikunya mencongak di atas bahunya. °Oh, jadi kalian dari Perguruan Yoshioka? Bagus. Saya memang merasa seperti sudah kenal kalian. Seorang dari kalian sudah berkenan mengizinkan saya memotong gelungannya. Rupanya itu tak cukup buat kalian. Apa kalian semua datang buat potong rambut? Kalau memang begitu, saya yakin dapat membantu kalian. Kebetulan sebentar lagi saya mesti menajamkan pedang ini, jadi sebaik-nya saya manfaatkan kesempatan ini." Ketika kata-kata itu berakhir, Galah Pengering pun membelah udara, dan kemudian membelah tubuh pemain pedang terdekat yang merunduk. Melihat kawannya terbantai demikian mudah, lumpuhlah otak mereka. Satu demi satu mereka mundur saling tunjang, seperti bola-bola yang saling ber-tumbukan. Dan mengambil keuntungan dari kedudukan mereka yang porak-poranda itu, si penyerang pun mengayunkan pedang ke samping, ke arah orang berikutnya, dan menjatuhkan pukulan demikian mantap hingga orang itu terjungkal ke rumput mendoang diiringi suara jeritan. Orang muda itu membelalakkan mata kepada lima orang sisanya, yang sementara itu menyusun diri di sekitarnya bagai daun bunga. Mereka saling meyakinkan bahwa taktik mereka kali itu cukup aman, dan keyakinan mereka pulih, sampai-sampai berani mengejek orang muda itu lagi. Namun kali ini kata-kata mereka gemetar dan palsu. Akhirnya, disertai teriakan keras, seorang dari mereka meloncat ke depan dan mengayunkan pedangnya. Ia yakin telah melakukan penebasan. Padahal ujung pedangnya masih dua kaki penuh jaraknya dari sasaran, dan kemudian mengakhiri gerak lengkungnya di sebuah batu karang dengan suara berdentang. Orang itu jatuh ke depan. Tubuhnya terbuka lebar untuk serangan. Orang muda itu bukannya membantai mangsa yang demikian mudahnya. Ia melompat ke samping dan mengayunkan pedang ke arah orang berikut. Jeritan perang masih mendering di udara, tapi ketiga orang lain sudah angkat kaki seribu. Dengan wajah kejam, orang muda itu berdiri memegang pedang dengan kedua tangannya. "Pengecut!" pekiknya. "Kembali ke sini dan ayo berkelahi! Apa ini Gaya Yoshioka yang kalian banggakan itu? Menantang seseorang, lalu melarikan diri? Tidak heran, Perguruan Yoshioka menjadi bahan tertawaan." Bagi samurai mana pun yang punya harga diri, penghinaan seperti itu lebih buruk daripada diludahi, tetapi bekas-bekas pengejar orang muda itu sudah terlampau sibuk berlari dan tidak memperhatikannya. Justru pada waktu itu dari sekitar tanggul terdengar dering giring-giring kuda. Sungai dan embun beku di ladang memantulkan cukup banyak cahaya bagi pemuda itu untuk melihat sosok tubuh di punggung kuda dan sosok tubuh lain berlari-lari di belakangnya. Sekalipun napas beku mengepulngepul dari lubang hidungnya, mereka kelihatan tidak memperhatikan dinginnya udara dan terus melaju ke depan. Ketiga samurai yang melarikan diri hampir saja bertumbukan dengan kuda, ketika penunggang kuda itu mendadak sontak mengekang kudanya. Kenal akan ketiga orang itu, Seijuro memberengut berang. "Apa yang kalian lakukan di sini?" salaknya. "Ke mana kalian lari?" "Oh... oh, Tuan Muda!" seorang dari mereka menggagap. Ueda Ryohei yang muncul dari balik kuda itu menyerang mereka. "Apa artinya ini? Kalian mestinya mengawal Tuan Muda, gerombolan tolol! Rupanya kalian terlalu sibuk ribut sesudah minum lagi, ya?" Ketiga orang itu dengan marah memuntahkan cerita tentang bagaimana mereka mempertahankan kehormatan Perguruan Yoshioka dan gurunya, dan betapa mereka mengalami kegagalan berhadapan dengan samurai muda yang seperti setan itu. Jadi, mereka bukannya berkelahi karena mabuk. "Lihat itu!" teriak seorang dari mereka. "Dia datang kemari." Mata-mata yang ketakutan memperhatikan musuh yang mendekat. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Diam kalian!" perintah Ryohei dengan suara muak. "Terlalu banyak kalian bicara. Bagus sekali kalian melindungi kehormatan perguruan. Tak bakal kita bisa menebus dengan perbuatan macam itu. Minggir semua! Aku yang akan menghadapinya sendiri." Ia mengambil jurus menantang, dan menanti. Pemuda itu menuju ke arah mereka. "Berhenti kalian, dan ayo berkelahi!" teriaknya. "Apa lari itu seni bela diri Yoshioka? Secara pribadi tak ingin saya membunuh kalian, tapi Galah Pengering saya masih haus. Karena kalian pengecut, paling sedikit yang dapat kalian lakukan adalah meninggalkan kepala kalian." Ia lari menyusur tanggul dengan langkah-langkah besar dan yakin, dan kelihatan akan melompati kepala Ryohei yang waktu itu sudah meludah ke tangan dan menggenggam kembali pedangnya penuh kemantapan. Pada saat itulah pemuda itu terbang, sedangkan Ryohei mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga, mengangkat pedang ke atas jubah warna emas pemuda itu dan menebaskannya dengan ganas, tapi gagal. Pemuda itu mendadak menghentikan gerakan, menoleh, dan teriaknya. "Apa ini? Orang baru?" Ryohei terhuyung ke depan, terbawa oleh kecepatan ayunannya, dan pemuda itu menyapunya tanpa ampun lagi. Sepanjang hidupnya belum pernah Ryohei menyaksikan pukulan yang demikian hebat. Ia memang berhasil mengelakkan-nya pada waktunya, tapi terjungkal juga ia ke sawah. Untung baginya, karena tanggul itu cukup rendah dan sawah itu membeku. tapi ketika jatuh ia kehilangan senjatanya, dan dengan itu keyakinannya pula. Ketika ia merangkak kembali ke atas, pemuda itu sedang bergerak dengan kekuatan dan kecepatan seekor macan yang sedang marah, memporak-porandakan ketiga murid itu dengan kilasan pedangnya dan sedang mendekati Seijuro. Seijuro belum lagi merasa ngeri. Menurut pikirannya, segalanya akan berlalu sebelum ia sendiri terlibat. Tapi sekarang bahaya menyerang langsung dirimya dalam bentuk pedang yang tamak. Terdorong oleh suatu ilham yang tiba-tiba datang, ia berteriak, "Ganryu! Tunggu!" ia lepaskan sebelah kakinya dari sanggurdi, ia naikkan ke pelana, dan berdirilah ia lurus-lurus. Kuda melompat ke depan, ke arah kepala pemuda itu, sedangkan Seijuro terbang ke belakang, mendarat dengan kedua kakinya sekitar tiga langkah jauhnya. "Bukan main!" teriak orang muda itu kagum sekali, lalu mendekati Seijuro. "Biarpun kau musuhku, perbuatan tadi betul-betul bagus! Kau tentunya Seijuro sendiri. Jaga dirimu!" Mata pedang panjang itu menjadi perwujudan semangat juang. Ia semakin mendekati Seijuro, namun sekalipun memiliki kelemahan-kelemahan, Seijuro adalah anak Kempo. Ia dapat menghadapi bahaya itu dengan tenang. Kepada pemuda itu ia berkata yakin, "Kau Sasaki Kojiro dari Iwakuni. Benar seperti dugaanmu, aku Yoshioka Seijuro. Tak ada keinginanku berkelahi denganmu. Kalau benar-benar perlu, kita dapat mengundurkannya pada waktu lain. Sekarang ini aku cuma ingin mengetahui, apa sebab semua ini. Singkirkan pedangmu." Ketika Seijuro menyebutnya Ganryu, pemuda itu jelas tidak mendengarnya. Tapi sekarang, disebut Sasaki Kojiro itu ia pun terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?" tanyanya. Seijuro menampar paha. "Aku tahu! Aku cuma menduga, tapi dugaanku betul!" Kemudian ia maju ke depan, dan katanya, "Senang sekali bertemu denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentangmu." "Dari siapa?" tanya Kojiro. "Dari teman seniormu, Ito Yagoro." "Oh, jadi kau ini temannya?" "Ya. Sampai musim gugur lalu dia memiliki tempat pertapaan di Bukit Kagura di Shirakawa, dan aku sering mengunjunginya di sana. Dia beberapa kali juga berkunjung ke rumahku." Kojiro tersenyum. "Kalau begitu, ini tampaknya bukan pertemuan yang pertama lagi, ya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tidak. Ittosai agak sering menyebutmu. Dia mengatakan ada satu orang dari Iwakuni bernama Sasaki yang sudah mempelajari gaya Toda Seigen, dan kemudian belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Dia mengatakan padaku, Sasaki murid termuda di perguruan Jisai, tapi suatu hari nanti akan menjadi satusatunya pemain pedang yang dapat menantang Ittosai." "Tapi aku masih belum mengerti, bagaimana bisa Anda mengetahui ini begitu cepat." "Nah, Anda muda dan cocok dengan gambaran itu. Melihat Anda mengguna-kan pedang panjang itu, aku ingat Anda disebut juga Ganryu—'Pohon Dedalu di Tepi Sungai'. Aku lalu mendapat firasat, tentu Anda-lah itu, dan aku benar." Sementara Kojiro mencecap gembira, matanya menoleh memandang pedangnya yang masih berdarah, yang mengingatkan kepadanya bahwa telah terjadi perkelahian, dan itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mereka akan menyelesaikan urusan itu. Namun nyatanya ia dan Seijuro telah bertemu demikian baik, hingga saling pengertian pun segera tercapai, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan bahu-membahu seperti sahabat lama. Di belakang mereka berjalan Ryohei dan tiga murid yang kesal hati. Rombongan kecil itu berjalan menuju Kyoto. Kojiro berkata, "Dari semula aku tak mengerti, gara-gara apa perkelahian itu tadi. Aku tak punya soal dengan mereka." Pikiran Seijuro tertuju kepada tingkah laku Gion Toji baru-baru itu. "Aku muak dengan Toji," katanya. "Kalau aku kembali nanti, akan kupanggil dia supaya bercerita. Kuharap Anda tidak menganggap aku dendam terhadap Anda. Aku betul-betul malu melihat orang-orang perguruanku kurang baik disiplinnya." "Nah, Anda sudah lihat sendiri, orang macam apa aku ini," jawab Kojiro. "Bicaraku terlalu besar, dan aku selalu siap berkelahi dengan siapa saja. Murid-murid Anda bukan satu-satunya orang yang mesti dipersalahkan. Bahkan kukira Anda mesti memberikan pujian pada mereka karena telah berusaha mempertahankan nama baik perguruan. Sayang mereka itu tidak seberapa sebagai pejuang, tapi setidaktidaknya mereka sudah mencoba. Aku sedikit kasihan pada mereka." "Aku yang mesti dipersalahkan," kata Seijuro polos. Wajahnya menampakkan rasa sakit yang sebenarbenarnya. "Mari kita lupakan semuanya." "Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku." Bersatunya kedua orang itu mendatangkan kelegaan pada yang lain-lain. Siapa menyangka bahwa anak lelaki yang tampan dan tumbuh lebih besar dari seharusnya ini Sasaki Kojiro yang besar, yang oleh Ittosai dipuji-puji? ("Keajaiban Iwakuni", begitulah yang dikatakannya). Tidak mengherankan kalau karena ketidaktahuannya, Toji tergoda untuk mempermainkannya sedikit. Dan tidak mengherankan bahwa akhirnya ia sendiri yang jadi tampak konyol. Ryohei dan ketiga orang temannya menggigil kalau ingat betapa mereka hampir kena berondong Galah Pengering. Kini mata mereka telah terbuka. Melihat bidangnya bahu dan tegapnya punggung Kojiro itu mereka heran, bagaimana mungkin mereka telah berlaku demikian bodoh dengan menyepelekannya. Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di tempat perhentian kapal. Mayat-mayat sudah membeku, dan ketiga orang itu ditugaskan menguburnya, sedangkan Ryohei pergi mencari kuda. Kojiro pergi bersiul-siul memanggil monyetnya. Tiba-tiba monyet itu muncul entah dari mana dan melompat ke bahu tuannya. Seijuro tidak hanya mendesak Kojiro datang ke perguruannya di Jalan Shijo dan tinggal di sana sejenak, tapi juga menawarkan kudanya. Kojiro menolak. "Kurang baik," katanya. Sikap hormatnya tidak seperti biasa. "Aku cuma seorang ronin muda, sedangkan Anda guru sebuah perguruan besar, putra seorang terhormat, pemimpin beratus-ratus pengikut." Sambil memegang kendali, ia melanjutkan, "Silakan, Andalah yang naik. Aku memegang kendali ini saja. Lebih mudah jalan begini. Kalau memang tidak keberatan, aku menerima tawaran Anda tinggal dengan Anda sebentar di Kyoto." Dengan sikap sopan santun yang sama, Seijuro berkata, "Nah, kalau begitu, aku naik sekarang, dan kalau kaki Anda lelah nanti, kita dapat bertukar tempat." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seijuro merasa ada baiknya pemain pedang seperti Sasaki Kojiro itu berada di sampingnya, pada saat ia terpaksa bertarung dengan Miyamoto Musashi pada permulaan Tahun Baru.

Gunung Rajawali
PADA tahun 1550-an dan 1560-an, pemain-pemain pedang besar yang paling terkenal di Jepang Timur adalah Tsukahara Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, sedangkan saingannya di Honshu Tengah adalah Yoshioka Kempo dari Kyoto dan Yagyu Muneyoshi dari Yamato. Disamping itu ada Yang Dipertuan Kitabatake Tomonori dari Kuwana. seorang guru seni bela diri dan gubernur terkemuka. Lama sesudah ia meninggal, orang Kuwana masih berbicara tentang dirinya dengan rasa cinta, karena bagi mereka ia melambangkan hakikat pemerintahan yang baik dan kemakmuran. Ketika Kitabatake masih belajar di bawah pimpinan Bokuden, yang terakhir ini menurunkan kepadanya Ilmu Pedang Tertinggi, yaitu rahasia tertinggi di antara jurus-jurus rahasia miliknya. Anak Bokuden, Tsukuhara Hikoshiro, mewarisi nama dan tanah milik ayahnya, tapi tidak mendapat warisan jurus rahasia itu. Itulah sebabnya mengapa Gaya Bokuden bukannya menyebar di timur, di mana Hikoshiro bergiat, melainkan di daerah Kuwana, di mana Kitabatake memerintah. Konon, sesudah meninggalnya Bokuden, Hikoshiro datang ke Kuwana untuk mencoba memperdayakan Kitabatake agar membukakan jurus rahasia itu. "Ayah saya," demikian kabarnya ia mengatakan, "dahulu mengajarkannya pada saya, dan saya diberitahu bahwa dia mengajarkannya juga pada Anda. Belakangan ini saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah yang diajarkan pada kita itu bukan barang yang sama. Karena rahasia-rahasia tertinggi dalam aliran kita jadi kepentingan bersama, apakah tidak sebaiknya kita membandingkan apa yang telah kita pelajari?" Kitabatake segera menyadari maksud kurang baik pewaris Bokuden itu. namun ia cepat menyetujui memberikan demonstrasi. Rahasia yang diketahui Hikoshiro waktu itu hanyalah bentuk luar Ilmu Pedang Tertinggi, dan bukan rahasia yang paling dalam. Maka Kitabatake tetap merupakan satu-satunya guru Gaya Bokuden sejati, dan untuk mempelajarinya para murid harus pergi ke Kuwana. Di sebelah timur, Hikoshiro menurunkan kulit kosong lancung keterampilan ayahnya sebagai ajaran yang asli: suatu bentuk tanpa inti. Atau demikianlah setidak-tidaknya cerita yang disampaikan pada setiap musafir yang kebetulan menginjakkan kaki di daerah Kuwana. Bukan cerita yang jelek, karena cerita-cerita seperti itu memang beredar, dan karena didasarkan pada fakta, maka cerita itu lebih dapat diterima dan kurang ngawur dibandingkan lautan cerita rakyat setempat yang disampaikan orang untuk menegaskan kembali keunikan kota-kota dan provinsi-provinsi yang mereka cintai. Musashi yang sedang menuruni Gunung Tarusaka dalam perjalanan dari kota Kuwana mendengar cerita itu dari tukang kudanya. Ia mengangguk, dan katanya sopan, "Betul begitu? Menarik sekali!" Waktu itu pertengahan bulan terakhir. Sekalipun iklim Ise relatif hangat, namun angin yang berembus dari Teluk Nako dingin menggigit. Ia hanya mengenakan kimono tipis. Pakaian dalamnya dari katun dan jubah tak berlengan. Berarti pakaian yang terlalu tipis untuk ukuran mana pun. Dan lagi jelas tampak kotor. Wajahnya bukan lagi berwarna perunggu, melainkan hitam terbakar matahari. Di atas kepalanya yang termakan cuaca, topi anyamannya yang sudah aus dan berumbai tampak berlebihan. Sekiranya ia membuang barang itu di jalan, tak seorang pun akan bersusah payah memungutnya. Rambutnya yang sudah berhari-hari tak dicuci, diikat ke belakang, tapi tetap masih seperti sarang burung. Apa pun yang dilakukannya selama enam bulan terakhir itu, menyebabkan kulitnya tampak seperti kulit yang tersamak baik. Matanya bersinar seperti mutiara putih di tengah lingkungannya yang segelap arang. Tukang kuda sudah kuatir semenjak membawa penunggang kuda yang acak-acakan itu. Ia sangsi apakah akan menerima upah, dan yakin tak akan mendapat muatan pulang dari tempat jauh di tengah pegunungan itu. "Tuan," katanya agak takut-takut. "Mm?" "Kita akan sampai Yokkaichi sebelum tengah hari, dan sampai Kameyama petang hari. Sebelum sampai Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Desa Ujii, hari pasti sudah tengah malam." "Mm." "Tak apa-apa?" "Mm." Musashi waktu itu lebih tertarik pada pemandangan teluk daripada berbicara, hingga tukang kuda itu tidak memperoleh jawaban lebih dari anggukan kepala dan kata "Mm" yang tak berisi pendapat itu. Tukang kuda mencoba lagi. "Ujii tak lebih dari dukuh kecil sekitar delapan mil masuk pegunungan dari punggung Gunung Suzuka. Bagaimana ceritanya sampai Tuan pergi ke tempat macam itu?" "Saya pergi untuk menemui seseorang." "Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali petani dan penebang kayu." "Di Kuwana saya dengar ada satu orang yang pandai sekali main rantaipeluru-sabit." "Saya kira Shishido." "Itu dia. Namanya Shishido apa?" "Shishido Baiken." "Ya." "Dia pandai besi, biasa bikin sabit besar. Saya ingat pernah mendengar dia mahir sekali bikin senjata itu. Apa Tuan belajar seni bela diri?" "Mm." "Oh, kalau begitu, daripada menemui Baiken, saya sarankan Tuan pergi ke Matsuzaka. Beberapa pemain pedang terbaik Provinsi Ise tinggal di sana." "Siapa misalnya?" "Misalnya, Mikogami Tanzen." Musashi mengangguk. "Ya, saya pernah dengar." Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan ini memberikan kesan bahwa ia kenal betul kemampuan-kemampuan besar Mikogami. Sampai kota kecil Yokkaichi, ia berjalan terpincang-pincang kesakitan menuju sebuah warung, dan di situ ia memesan makan siang dan duduk makan. Kura-kura sebelah kakinya terbalut, karena telapak kakinya luka bernanah. Itulah sebabnya ia memilih menyewa kuda dan bukan berjalan. Walaupun biasanya ia selalu berhati-hati dengan tubuhnya, beberapa hari sebelumnya, di kota pelabuhan ramai Narumi terinjak olehnya papan berpaku. Kakinya yang merah bengkak itu tampak seperti kesemek asin, dan sejak kemarin ia demam. Menurut jalan pikirannya, ia bertempur dengan sebuah paku, dan paku itu menang. Sebagai murid bela diri, ia merasa malu membiarkan dirinya kena paku tanpa sadar. "Apa tak ada jalan buat melawan musuh macam itu?" tanyanya beberapa kali kepada dirinya. "Paku itu mencongak ke atas dan kelihatan jelas. Aku menginjaknya karena aku setengah tertidur-tidak, aku buta, karena semangatku belum lagi aktif di seluruh tubuhku. Lebih dan itu, aku membiarkan paku itu menembus dalam, dan ini terbukti gerak reflekku lamban. Sekiranya aku menguasai sepenuhnya diriku, pasti aku sudah melihat paku itu begitu sandalku menyentuhnya." Persoalan yang dihadapinya adalah ketidakmatangan, demikian kesimpulannya. Tubuhnya dan pedangnya masih belum menjadi satu. Sekalipun kedua tangannya jadi semakin kuat dari hari ke hari, semangatnya dan bagian lain tubuhnya tidak selaras. Dalam kerangka pikiran yang mengecam diri pribadi ini, hal itu terasa olehnya sebagai kelainan yang melumpuhkan. Namun demikian, ia tidak merasa membuang-buang waktu saja enam bulan lalu itu. Sesudah melarikan diri dari Yagyu, pertama-tama ia pergi ke Iga, kemudian ke jalan raya Omi, lalu menjelajahi Provinsi Mino dan Ebook by Kang Zusi

" pikir Musashi. Musashi menjadi yakin akan hal itu. ataukah sekadar cacing pemakan nasi juga. Tak ingat lagi ia. tentang Seni Bela Diri atau yang lain lagi dengan penuh keyakinan. ia berusaha menguasai Jalan Pedang yang sejati. Khayalan itu cukup polos. Tentu saja bisa terjadi bahwa segala sesuatu tidak berlangsung tepat seperti yang direncanakan. masih ada waktu untuk melihat apakah Shishido Baiken sungguh seorang manusia sejati. "Tunggulah!" sumpah Musashi. Gaya hidupnya di sana tampak jelas dari penampilannya ketika kembali ke peradaban-pipinya secekung pipi rusa. "Bodoh kamu! Kau makin maju. Yang penting bukan bicara atau berspekulasi. Perasaan itu aneh. Musashi telah menempuh jalannya sendiri. bahkan terlalu penuh. apa yang dapat dikatakan oleh Takuan? Sudah pasti ia akan berteriak girang dan menyatakan. sesuatu yang tak dapat ditemukan tersembunyi di kota ataupun di ngarai. Selama perjalanannya. dengan berapa banyak prajurit ia telah berbentrokan. yang unik. sehingga giginya yang putih seakan-akan tidak berasal dari dunia. Memikirkan guru Yagyu tua itu membuatnya sinting dan sekaligus sedih. sampai terasa menyakitkan dan semangatnya mengendur. Inc. Namun demikian. Jumlahnya berlusin-lusin dan semuanya pemain pedang yang terlatih baik dan dari kelas tinggi. Mungkin saja ada orang-orang lain yang sekarang ini jauh lebih besar daripadanya. maka Musashi biasa langsung pergi ke pegunungan dan hidup dengan dirinya dalam kesendirian itu. Sebagai Takuan. karena tak sangsi lagi dialah pribadi yang otentik. dunia yang pernah dikiranya penuh orang bodoh itu kelihatannya besar menakutkan. rambutnya kering dan kaku karena berjam-jam tersiram air terjun dingin. Musashi tersenyum memikirkan kemungkinan bahwa pada suatu hari nanti ia akan ganti menguasai biarawan eksentrik itu. netcafe. Kadangkadang ia merasa sudah mencapainya. Pedang bukan logika. Owari. ia menjadi sadar sesadar-sadarnya akan ketidakmampuannya bicara tentang Jalan Kesempurnaan. tubuhnya penuh cakaran dan luka memar. Dunia ini memang penuh orang. maka khayalan itu pun lenyap. bahwa menghantam kepala Takuan dengan keunggulan pribadinya merupakan suatu keharusan. walaupun aneh. Dan Musashi berkata pada diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah soal logika. "Setidaknya aku beruntung telah mengenal seorang manusia sejati." Manakala Musashi memikirkan Takuan. Ia jadi demikian kotor akibat tidur di tanah. Yang sukar ditemukan adalah manusia sejati. Tidak sukar menemukan pemain-pemain pedang cakap.property of: CROSSFiRE. dan dari hari kehari ia menemukan betapa paniang dan sukarnya jalan menuju kemanusiaan sejati. ia menyala penuh keyakinan. Dan pencarian ujian atas keberanian inilah yang selalu membawanya turun dari pegunungan. semacam utang terhadap biarawan itu. Di setiap kota. Persoalannya Musashi merasa. Aku harus membuat pengalaman mengenal dia itu membuahkan sesuatu. tapi menemukan seorang manusia sejati tidaklah mudah. tapi rahasianya tetap saja sukar ditangkap. dan sekiranya pada akhirnya ia dapat mengikat Takuan di atas pohon dan menguliahinya. melainkan beraksi. Ia dalam perjalanannya sekarang karena ingin tahu apakah ahli rantaipeluru-sabit Kuwana itu memang cakap." Tapi tidak. tapi ia pun bisa menjadi besar! Apabila kesangsian terhadap diri sendiri sudah mengancam akan menenggelamkannya. Takuan tak akan pernah bersikap langsung macam itu. dan aku akan duduk di tanah. seyakin-yakinnya. suatu kenangan psikologis akan saat ia terikat erat pada cabang pohon kriptomeria. di setiap ngarai gunung. "Bagus sekali! Aku bahagia sekarang. tapi masih bodoh!" Bagaimana persisnya kata-kata tidaklah menjadi persoalan benar. yang demikian banyaknya menghuni bumi ini? Ebook by Kang Zusi . Dalam sepuluh hari yang masih tersisa sebelum ia memenuhi janjinya di Kyoto. Lebih mengguncangkan lagi apabila ia memikirkan betapa mentah dan tak layak dirinya dibandingkan dengan Sekhishusai. mengkhotbahkan jalan hidup sejati kepadanya!" Bukannya ia benci kepada Takuan atau punya hasrat membalas dendam. ia akan tertawa dan katanya. sejenis rasa nyeri menyebar dari pergelangan tangannya ke seluruh tubuhnya. Namun semua itu hanyalah permukaan semata. pikirannya selalu kembali kepada Takuan. "Sebentar lagi akan kuikat Takuan di pohon itu juga. Di dalam. Pada waktu-waktu seperti ini. dan meledak-ledak dengan hasrat menjumpai lawan yang berarti. Kalau sisi praktis dirinya mengingatkan ia betapa Takuan sudah jauh lebih lanjut menempuh jalan itu dibandingkan dengannya. Ia cuma ingin menunjukkan bahwa taraf yang dapat dicapai seseorang melalui Jalan Pedang lebih tinggi daripada yang dapat dicapai dengan mempraktekkan Zen. hampir-hampir keangkuhan. "Kukira aku beruntung. tapi sekiranya ia memang mendapat kemajuan besar.

Perempuan ini lebih gawat daripada kebanyakan istri. seperti kepada anak kecil. tukang kuda membuka pintu dan masuk. saya jelaskan." "Ke rumah Shishido Baiken?" "Ya." Perempuan itu memandang masam ke arah Musashi. Inc." Karena Baiken membuka bengkel. Dengan nada angkuh ia berkata kepada Musashi.property of: CROSSFiRE." "Terima kasih. Ia rupanya mengira suaminya orang terhebat di bumi ini. "Saya kecewa suami Nyonya tidak ada. "Siapa pula ini?" tanyanya. dan menghentikan pekerjaannya. cuaca waktu itu terlalu dingin dan gelap untuk mencoba kembali sebelum matahari terbit. Mereka berada di sebuah lembah yang tertutup tiga sisinya.. Alasannya yang lain mengadakan perjalanan kemari adalah karena ia berpendapat seorang murid semacam dirinya haruslah berkenalan dengan segala jenis senjata. tapi. Di depan terdapat timbunan logam tua: dan sisi bawah ujung atap hitam oleh asap. Ternyata itu rumah pandai besi. Sesudah mengucapkan terima kasih. Bagus sekali!" Tukang kuda langsung menuju dapur api itu." "Ya. netcafe. Bagaimanapun. ia belum pernah melihatnya. Kemudian ia duduk di atas tunggul pohon di samping dapur api dan mengamati sekitarnyadari daerah penuangan best yang menghitam sampai ruangan tempat tinggal yang berkamar tiga. "ayolah ikut saya. Kerutan keningnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah lebih dari cukup menjumpai shugyosha dan sudah tahu bagaimana menghadapi mereka. Mari kita lihat. Ia datang ke desa terpencil ini bukan untuk dipermainkan oleh seorang perempuan. lalu mengangkat anak itu dan menyusuinya. siapa pun di antara petani setempal dapat mengantar mereka ke rumahnya. Musashi sependapat dengannya. Ia perkirakan itulah senjatanya. dan jika beruntung ia dapat mengambil penumpang kembali di jalan. Larut malam barulah ia sampai di tujuannya. udara dingin mendekati bunyi itu. Musashi tidak tertawa. "Kalau begitu. Musashi mengira ia akan membawakan teh. Nyonya! Oh! Nyonya ada api. "Saya membawa seseorang dari jauh untuk bertemu dengan suami Nyonya. Satu-satunya tanda kehidupan adalah bunyi godam yang secara teratur menghantam blok." Ia tertawa riang.. "Tunggu sebentar. Pada sebuah papan yang dipakukan ke dinding tergantung sekitar sepuluh senjata rantai-peluru-sabit. Esok harinya ia akan dapat turun dari Celah Suzuka." kata Musashi. Suamiku sedang pergi. Kepada Musashi ia berkata. tapi karena sudah larut. si tukang kuda lebih suka mengawani Musashi ke rumah yang dicarinya dan menginap di bawah tepi atap. Musashi berkata. "Kukira kau ini samurai muda lain lagi yang datang kemari buat dibikin berlumuran darah oleh suamiku. Jalan mana pun terpaksa mendaki pegunungan yang tertimbun salju setinggi lutut. jadi kamu tak perlu kuatir cerbunuh. jauh di pegunungan itu. Kalau betul begitu. "Selamat malam. Tuan. Ke mana dia pergi?" Ebook by Kang Zusi . Api menyala di dapur api dan seorang perempuan yang membelakangi api sedang menumbuk-numbuk kain. tapi ternyata ia pergi ke tikar tempat tidur seorang bayi. kamu beruntung. dikatakannya bahwa tukang kuda itu bebas untuk pergi. "Tutup pintu! Bayiku bisa masuk angin kalau udara dingin itu masuk. Perempuan yang umurnya sekitar tiga puluh tahun dan agak manis itu meletakkan palunya dan kembali ke daerah tempat tinggal. Maka berkilau-kilaulah matanya karena rasa ingin tahu. tapi pada waktu malam seperti itu seluruh desa sedang tidur.. akhirnya mereka melihat cahaya. Menurut renungannya. Kami baru saja sampai. karena terus terang saja. Saya tukang kuda dari Kuwana." kata tukang kuda sambil memanaskan kedua tangannya. semua perempuan cenderung keterlaluan melebihkan status suaminya. Karena tak ingin melukai perasaannya. Ia jengkel sekali. apa kita dapat menemukannya." Musashi membungkuk dan mematuhi perintah itu. Perempuan itu terlompat karena tukang kuda yang mendadak masuk itu. Atas perintah Musashi. Sesudah berjalan melintas.

property of: CROSSFiRE. tapi perempuan itu jelas tak punya keinginan melakukannya." Ia merebut senjata itu dari tangan Musashi dan memperlihatkan padanya bagaimana cara berdiri. Sementara memperhatikan. tak akan sukar menemukan tempat mereka itu. dan ketika Musashi minta dibolehkan memeriksanya. itu nakal Dan bikin ibunya nangis juga. tidurlah Bayi tidur sungguh manis. Di lekuk yang dalam pada salah satu sisi batang logam itu tampak punggung pisau. Karena menurut pikirannya. tapi belum tahu Keluarga Arakida?" Waktu itu bayi di dadanya mulai rewel. Perempuan itu mengambil jurus tersebut hanya sesaat. "Ke rumah Arakida. tukang kuda menyatakan dengan suara gumam bahwa mereka itu keluarga yang ditugaskan mengawal Biara Ise. lalu melingkarkan diri di tikar dekat api dan tidur. perempuan itu menyanyikan lagu buaian dalam logat setempat." katanya sambil melipatkan kembali pisau itu ke dalam gagangnya dan menggantungkan senjata itu ke sangkutannya. netcafe. setidak-tidaknya ia bisa mempelajari sesuatu dari memperhatikan senjatasenjata pandai besi itu." pikir Musashi. ia mendekat ke tempat Musashi berdiri. dan umpatnya. magang pandai besi itu bangun dan membuka luar bengkel. Musashi bertanya. Musashi tak suka melihat seorang perempuan mengambil jurus tempur dengan senjata yang demikian brutal. Bayi jaga dan nangis. "Kukira begini memegangnya. Pegang begini. Sambil membayangkan seorang musuh di hadapannya. "suaminya tentunya benar-benar patut dilihat. yang cukup kokoh untuk memecahkan tengkorak manusia. dan pelan-pelan ia bertanya kepada tukang kuda mengenai Keluarga Arakida. ha! Kamu sudah datang di Ise. ia kembali sibuk dengan pekerjaan di dekat bak cuci. Puas karena telah Ebook by Kang Zusi . seperti mata sabit. "Gaya Shishido Yaegaki". Tidurlah. tapi sekarang sesudah siap tempur ia tampak gagah. "Yah. Ia mencuci pecah belah atau bersiap memasak sesuatu. Sesudah membersihkan dinding. dan tanpa menghiraukan. ia mengangguk. Kalau ini benar. "Bukan begitu! Salah sekali!" Sambil menjejalkan buah dadanya kembali ke dalam kimononya. kira-kira seperti itulah. tidaklah sukar memotong kepala lawan. "Kalau kamu memegangnya begitu. Musashi melihat bahwa pada pedang berwarna biru kehitaman seperti punggung ikan makerel itu terdapat tulisan yang bunyinya. Di ujung lain rantai itu terdapat peluru logam yang berat. perempuan itu tampak betul-betul seperti sapi." Senjata di tangannya itu terdiri atas satu batang logam yang panjangnya 60 cm (yang dengan mudah dapat disimpan di dalam obi). Ketika ia menarik benda itu dengan kukunya. Dengan senjata itu." "Di mana itu?" "Ha. "Kalau perempuan ini dapat mengambil jurus demikian mengesankan. bermartabat. "Jadi. demikian pikir Musashi. tamunya. Ia mengambil keputusan untuk mencarinya. dan. Sambil bersandar ke dinding dan menghangatkan diri pada panas api. ya. inilah macamnya." katanya. Inc. benda itu melenting ke samping. dan menggerutu lagi. "Apa ini senjata yang digunakan begitu fasihnya oleh suami Nyonya?" Perempuan itu menggerutu. bahkan cantik. Pagi-pagi. Perempuan itu mengalihkan matanya dari tempat tidur bayinya unruk memperhatikan." Maka hampir tak sabar lagi ia ingin menjumpai Baiken. orang yang bersenjata pedang bisa menebasmu tanpa kesulitan sama sekali. Musashi menurunkan satu senjata dari sangkutannya. "Saya dengar orang banyak menggunakannya sekarang ini. la memandang dengan mulut menganga. setengah pada diri sendiri." kata Musashi seraya memegang sabit itu dengan tangan kiri dan rantai dengan tangan kanan. Ketika menyusui bayinya tadi. Musashi bangun juga dan minta kepada tukang kuda agar membawanya ke Yamada. ia mengambil jurus dan menimbang-nimbang gerakan yang diperlukannya. kota terdekat dengan Biara Ise. Musashi ingin melihatnya menggunakan alat itu lagi. Ujungnya memakai cincin tempat menyangkutkan rantai.

ia tendang selimut dari kakinya yang bengkak. Musashi mengalihkan perhatian kepada kakinya yang luka. ia berjanji menjumpai Matahachi di jembatan Jalan Gojo. Tak seorang pun yang namanya demikian ada di sana. apakah Shishido Baiken tinggal di sana. menertawakan kelemahan dan kekerdilannya. maka kenyataan bahwa ia dibikin lumpuh oleh musuh dari dalam. Sibuk mengurusi kakinya. Ebook by Kang Zusi . tukang kuda segera menyetujui. Cukup lama waktu berlalu. sakit sekali. pemain pedang tua yang mirip dengan puncak angkuh ini. Ia tak dapat menolak sekarang dengan alasan kaki sakit. Di seberang pepohonan terlihat olehnya Gunung Mai. Jawaban yang datang menyatakan bahwa tentunya telah terjadi kekeliruan. Ia gusar karena tinggal beberapa hari lagi waktu yang tersisa baginya untuk berada di Kyoto. Sepanjang hari berikutnya ia gunakan untuk menerapkan obat yang pernah didengarnya. bagaimana bisa aku mengalahkan seluruh Keluarga Yoshioka?" Ia membayangkan akan menghimpit dan mencekik setan di dalam dirinya. ia mengeluh atas kebodohannya telah menyeleweng pergi ke Ise. Pagi berikutnya dengan putus asa ia cobakan resep-resep lain. Hanya sedikit orang berjalan. Warung-warung teh di situ tampak sangat sepi. Petang hari mereka sudah sampai di jalan panjang berapit pohon yang menuju biara itu. Penampilan puncak gunung yang congkak itu menyinggung perasaannya. hingga semangat juangnya sekali lagi tergelitik. dan rasanya sudah seberat balok kayu. "Tak bisa aku hanya tinggal di sini membuang-buang waktu!" Dalam keadaan terbaring dengan perasaan jengkel itu. dan jalan itu sendiri dalam keadaan buruk. tanpa mengetahui bahwa namanva memang Gunung Rajawali. tulang-tulang rusuknya terasa seperti menekan jantungnya dan dadanya terasa mengerut. dibayar hari sebelumnya. ia menyerahkan pada mereka untuk memilih salah satu hari dalam minggu pertama Tahun Baru. Ketika membuka mata. netcafe. bahkan juga untuk musim dingin. dan menatap pula kepada Musash dengan kurang ajarnya. Orang itu berani bersumpah bahwa keluarganya telah menggunakannya beberapa generasi. Gayanya yang sombong itu mengejeknya. Lama-kelamaan mulai kelihatan olehnya bahwa puncak itu memang Sekishusai yang sedang memandang kepadanya dan atas awan-awan. "Kalau menendang ini saja aku tak dapat. termasuk mengoleskan obat seperti minyak pemberian pemilik rumah penginapan. Tidak pernah dalam hidupnya ia terbaring tiga hari lamanya. Maka terpikirlah olehnya Yagyu Sekishusai. Malam itu kakinya ia bungkus di bawah selimut. Menjulang di atas pegunungan di antara kedua gunung itu tampak sebuah puncak yang menatap dengan pandangan merendahkan kepada gunung-gunung di sekitarnya. baginya sungguh baru dan memaksanya untuk berpikir. "Tinggal berapa hari lagi tahun ini?" demikian ia bertanya-tanya. Kakinya tampak seperti gumpalan tahu besar membengkak. tapi dengan menutup mata." demikian pikirnya. Dalam surat tantangan yang dikirimkannya kepada Sekolah Yoshioka dari Nagoya. Pengalaman itu menyebabkan ia berpikir. ia peras sampai keluar airnya. Ia memaksa dirinya duduk bersimpuh dalam gaya resmi. yang dalam semalam itu sudah sangat membengkak." pikir Musashi. dan sedikit ke timur Gunung Asama. Sejumlah pohon yang tumbang oleh badai musim gugur masih menggeletak di tempat tumbangnya. Namun bengkak tidak juga surut. Ampas tahu ia masukkan dalam kantong kain. Ia menghadap jendela. sebelum akhirnya warna merah pada wajahnya mulai berkurang dan kepalanya mendingin sedikit. Ia bertanya pada diri sendiri. apakah setan akan menyerah pada kegigihannya yang pantang menyerah itu. Karena kecewa. "Itu burung rajawali. Mestinya ia langsung ke Kyoto.property of: CROSSFiRE. menurut ingatannya tak pernah ia sakit. Bahkan lebih buruk lagi bahwa bau tahu itu memualkan." Sampai sekarang ia menduga musuh-musuhnya akan selalu datang dari luar. "Namun tak berdaya aku dalam genggamannya. Selain bisul yang pernah dipunyainya di kepala semasa kanak-kanak. Namun tak ada perbaikan. Sakit rasanya. Dari rumah penginapan di Yamada. Inc. Disamping itu. "Sakit adalah sejenis musuh yang paling jahat. dan ia rendam kakinya dalam air itu. Hampir-hampir pingsan. tampaklah di hadapannya hutan sekitar Biara Ise. Demamnya menanjak dan rasa nyerinya tak tertahankan lagi. Musashi mengirim seorang pesuruh untuk bertanya ke rumah Arakida.

Musashi betul-betul harus berjuang melintasi mereka sambil merengut dan menghindari pandangan mereka yang tak sopan itu. Untuk sampai ke biara itu. untuk sementara ia lupa akan kakinya. bahkan ia tak mau berhenti memungut topinya ketika topi itu terlepas dari kepalanya. "Kenapa kakimu?" "Apa mau saya obati?" "Sini. Ia merasakan suasana suci dalam tumbuh-tumbuhan. Betul-betul ia tak tahu bagaimana mengatasinya. Ia rebah di akar sebatang pohon kriptomeria besar. sepanjang malam ia gelisah. Hari ini kakinya memaksanya melepaskan pikiran tentang perempuan. Sama sekali tak bisa ia bertahan terhadap serangan macam itu. ia pukul tatami dengan tinjunya. Sekiranya ia hantamkan kakinya ke api bengkel pandai besi itu. Setiap langkah yang diambilnya berarti tikaman derita di kepala. "Lelaki tampan takkan sampai ke mana-mana dengan mengerutkan dahi macam itu!" Musashi menjadi merah mukanya dan menghuyungkan diri dengan membuta. Semua itu hanya membikin perempuan-perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh. dan usaha mental macam apa pun darinya takkan dapat menenangkannya. "Aku mau pergi dari sini! Mana rekening! Sediakan makanan-nasi gorengdan bawakan aku tiga pasang sandal jerami yang berat!" Sebentar kemudian ia sudah ada di jalan. Tidak mungkin bagi Musashi mengabaikan perempuan. Ketika seorang dari mereka mengatakan bahwa Musashi "semungil anak macan tutul!". terpincang-pincang melewati lapangan pasar. Lebih banyak perempuan penggoda berdiri di sepanjang jalan itu daripada pohon. sambil merintih pelan kesakitan dan memegangi kaki dengan kedua tangannya. walaupun tiap kali menyeret kaki sial itu ia mengutuk pelan. Bukannya ia berkhayal. Dengan suara keras ia panggil pesuruh. Apakah itu. seperti batu karang. Kadang-kadang ia merasa seolah tubuhnya tiba-tiba akan pecah berantakan. Bagaimanapun ia sudah berhasil tetap mengendalikan diri. Bibirnya memerah. Belakangan. Ia sudah tahu ketika meninggalkan rumah penginapan itu bahwa ini akan merupakan siksaan baginya. demikian pikirnya sedih. sekalipun kulitnya tersengat oleh angin dingin. Bahkan Otsu yang polos itu pun kadang-kadang menjadi khayalnya yang penuh nafsu. tapi segera kemudian rasa nyeri mendesak kembali ke dalam kesadarannya. pahlawan "Cerita Perang Hogen". serangan tangan-tangan putih itu menjadi gencar. tapi ia ada di sana. sambil mencumbu. dan ia pun lari. tapi melarikan diri dari mereka dalam keadaan hampir tak dapat berjalan itu sama saja dengan menyeberangi kancah logam cair panas. Menyeberangi Sungai Isuzu dan memasuki pekarangan biara itu mendatangkan perubahan suasana yang menyenangkan. tak dapat ia mengatakan. biar saya gosoki!" Mereka menarik-narik pakaiannya. dan ia bermaksud mengatasinya. netcafe. dan bau rambutnya menyengat karena keringat. Maka suara-suara mengikik mengikutinya di antara pepohonan di luar kota itu.property of: CROSSFiRE. Ebook by Kang Zusi . mencengkeram tangannya. Sekarang rempat itu lebih mirip bordil terbuka yang didereti warung-warung teh dan dikerumuni perempuan. dan menggoda. tangannya jadi selengket madu. Tanpa dikehendakinya. Tubuhnya menyala demam. Mereka memanggil-maggil orang lewat dan mencekal lengan baju calon-calon korban yang lewat. pasti tak terasa sakit lagi. yang berasal dari telapak kaki. "Di mana saja semua orang ini?" pekiknya. Di situlah tentunya dilahirkan prajurit terkenal Tairo no Tadakiyo. apabila tubuhnya menyala oleh birahi. Ingatan tentang bau bedak putih yang tajam tentu saja sudah dapat membuat detak nadinya menggebu. Itu ancaman yang lebih besar dibandingkan dengan musuh yang berdiri dengan pedang terhunus di hadapannya. Rangsangan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan yang mencakar-cakar itu lama baru bisa reda. pohon-pohonan. dan ia minta maaf pada sebagian dan mereka. Lama ia duduk di sana tak bergerak-gerak. Inc. dan dengan sopan menyatakan menyesal pada yang lain. ia tarik kaki yang besar bulat itu dari bawah dirinya dan ia tatap. bahkan juga dalam suara burung-burung. menggenggam tangannya. Tapi sekarang sedikit saja yang mengingatkan orang bahwa tempat itu tempat lahir para pahlawan. Ketika tidak cepat muncul. Mengangkat kaki yang luka itu saja menghabiskan seluruh tenaga yang dapat ia kerahkan. Selagi memandang gunung itu. Akhirnya ia tak peduli lagi dengan segala macam topeng harga diri. membujuk. pada hakikatnya. Tak hendak ia menerima kenyataan bahwa kaki itu benar-benar sebagian dari dirinya.

beserta seluruh pengikutnya. tidak lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh mil. bagaimana mungkin ia bertahan terhadap halangan-halangan yang lebih mengancam hidup? Dan pada saat ini persoalannya bukanlah kemungkinan masa depan yang abstrak. Musashi hanya mau membereskan pertempuran dengan kemenangan heroik. Musashi mendekati pintu belakang bangunan itu. walau tubuhnya yang enggan itu menolak setiap gerak. bukan sekadar hidup. Kenapakah ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melarikan diri dari rumah penginapan itu? Orang normal mana pun akan tetap tinggal di sana tenang-tenang. Musashi yang berbuat seperti orang itu dapat dengan mudah dikira hantu orang gila itu. ia dapat melakukan lompatan itu dengan ringannya. Sambil menggigit bibir ia memaksakan diri berdiri. dan ia mencoba membangun keyakinan untuk berbuat demikian. dan membasuh badan. Bagi Musashi. Ketika akhirnya ia melompat ke atas batu. ia pecahkan es di permukaan sungai dan ia ceburkan dirinya ke air dingin itu. Wisma Para Perawan ini dihuni gadis-gadis muda yang mengabdi kepada dewa-dewa. mencelupkan kepala dan memurnikan diri. ia bisa sampai di sana dalam tiga hari. netcafe. Semua itu diikat bersama dan digantungkannya pada sangkutan di dinding dalam. Yang menggerakkannya adalah kebutuhan spiritual. Pendeta yang lewat bisa-bisa menduga ia sudah gila dan mengusirnya. Dalam keadaan tanpa beban itu ia letakkan kedua tangannya di pinggul dan ia berjalan terpincang-pincang kembali ke Sungai Isuzu. seruling dan buluh menyuarakan musik kuno. Tertarik oleh bunyi damai ini Musashi mencoba berdiri. Kyoto tidak jauh. semangat Musashi pekat dan berdetak penuh daya hidup. Kira-kira sejam kemudian. Ia angkatkan kepala. samurai pada umumnya pasti akan bicara tentang "berkelahi dengan segala tenaga" atau "siap menghadapi maut". tapi tak melihat seorang pun. bahkan bodoh. Lagi pula. walau tidak kehilangan keseimbangan menghadapi mati merupakan keadaan mental yang tinggi tarafnya. Apakah itu tidak kekanakkanakan. Di sini mereka berlatih memainkan alat-alat musik kuno dan belajar menarikan tari-tarian suci yang diciptakan berabad-abad sebelumnya. Biarlah orang lain gugur secara heroik.property of: CROSSFiRE. Di sana ia diam. dan kebutuhan yang sangat dalam. Ia berhenti dan memandang ke dalam. Seberkas cahaya bersinar lewat jendelanya yang berkisi-kisi. seorang pemanah bernama Nikki Yoshinaga dahulu kala menyerang dan menduduki sebagian wilayah Biara Ise. sampai kakinya terobati. ia menjadi gila sama sekali. Merasa sudah mantap. Menghadapi kemungkinan seperti ini. bertelanjang bulat. ia melepaskan pedang dan bungkusan dari punggungnya. Kalau ia dapat menjaga langkah. demikian kata legenda itu. musik persembahan bagi para dewa. seperti seekor burung kecil. Kalau tubuhnya tak dapat menahan dingin. Mereka akan mengerahkan setiap daya yang ada pada mereka terhadapnya. Karena melakukan penjarahan yang melanggar kesucian ini. berkecipak. Menurut legenda Ise. dan dengan mata nyalang ia pandang kehampaan di sekitarnya. Memenangkan perkelahian hidup atau mati dengan segala kekuatan tidaklah lebih dari naluri binatang. sementara suara anak-anak yang halus menvanyikan doa suci. helai rambut di sepanjang dahinya kaku menjadi kerat-kerat es. Kendati dilanda nyeri dan derita fisik. Musashi tidak takut mati. mencemplungkan diri ke sungai suci itu penting. Mereka tahu bahwa mereka tak punya pilihan lain kecual membunuhnya. melainkan kemungkinan menghadapi Yoshioka Seijuro yang sangat nyata. ia memancing di Sungai Isuzu yang suci dan menggunakan burung elang pemburu untuk menangkap burung-burung kecil di hutan suci itu. Musik itu berasal dari bangunan yang agak lebih jauh letaknya. Lewat rintihan pohon-pohon besar yang suram dan tak henti-hentinya terdengar di hutan suci itu telinga Musashi menangkap bunyi lain. sesungguhnya tidaklah begitu sukar menghadapi maut. Merasa lega karena tidak harus memberikan keterangan tentang dirinya. diraihnya dinding itu dengan kedua tangan dan berusaha merayap dengan gerakan kepiting yang kaku. tapi tujuannya memang mutlak. Sementara ia mengeringkan diri dan mengenakan pakaian. kalau itu cocok buat mereka. kalau ia sudah tahu bahwa la harus mati. Tidak berapa jauh. Untung tak seorang pun ada di sekitar. dan Musashi tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawanya ia harus menggunakan muslihat. Inc. Sesudah mencapai dinding tanah gedung biara. tapi menurut jalan pikiran Musashi semua itu omong kosong belaka. Mereka harus berbuat demikian untuk menyelamatkan muka. Namun waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri secara spiritual Ebook by Kang Zusi . bahwa seorang dewasa membiarkan dirinya dikuasai ketidaksabaran? Namun bukan ketidaksabaran itu semata-mata yang menggerakkannya. entah di mana.

Berpegangan pada tumbuhan menjalar yang kuat. Dulu ia tertawa ketika Musashi terbaring di tempat tidur. dan lautan terbuka luas. "Aku harus menang. setelah dekat ke puncak tertinggi. Napasnya terengah-engah. Musashi memeluk permukaan puncak yang merah warnanya itu sambil mencari-cari pijakan kaki. Hanya dengan mengerahkan segala tenaga." Alangkah mudah dikatakan. Seluruh dunia terhampar di bawahnya: hutan besar yang memagari tempat suci. dan kini puncaknya melanjutkan ejekan itu. Apabila awan-awan itu bersibak. batu-batu kecil menghujan. ia pegang teguh hidupnya tercinta. Satu saja gerakan keliru akan membuatnya melayang ke riam karang dan batu-batu besar. tidaklah dapat ditakar. Majulah ia menentang perlawanan rumput liar. menyeretnya mundur. merupakan tantangan. la hanya dapat memanjat beberapa kaki. Wajahnya semerah wajah setan. menimpa belukar di bawah. Ia merasa bahwa jauh di dalam dirinya terdapat kelemahan. mendesir-desir. bahwa ia masih jauh dari seorang manusia yang lengkap dan sempurna. Di seberang tempat bernama Ichinose terdapat jurang yang panjangnya lima atau enam ratus meter." Ia gembira melihat tak ada rintangan tak tertembus di sini. Gunung itu Sekishusai. Setiap langkah. untuk menunjukkan kepadanya bahwa Musashi dapat dan harus menang. seolah disangga oleh suatu gaya berat terbalik. dan katanya tanpa khayal." pikirnya. Dan di hadapannya. "Sedikit lagi!" "Sedikit lagi. yaitu karena ia tahu dirinya belum matang. melainkan juga kekurangan dalam bidang-bidang lain. Gunung Asama. Apakah secara mental ia sudah siap? Apakah pikiran dan semangatnya sudah benarbenar satu? Musashi belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini secara positif. lalu berhenti lagi. setengah memanjat setengah berayun. tampak olehnva kaki Gunung Rajawali. Puncak gunung menatap dingin kepadanya. pohon. jalur putih yang tentunya sungai. Seratus kaki. aku harus menang!" Sambil berjalan terpincangpincang memudiki Sungai Isuzu. itu pun dengan bergayut pada batu dan tumbuhan menjalar. lalu berhenti. Berangsur-angsur terbentuklah tujuan dalam dirinya: mendaki sampai puncak dan melampiaskan dendam. tapi alangkah sukar dicapai! Karena "sedikit lagi" itulah yang membedakan pedang kemenangan dengan pedang yang kalah. Di ujungnya menjulang tebing yang hampir terjal. Gunung Mae. Dari sana terlihat olehnya aliran sungai yang putih dan pesisir perak sepanjang pantai Futamigaura. dan seperti manusia primitif ia merangkak ke atas batu-batu besar dan bersusah payah menerobos semak-semak rimbun di ngarai yang dalam. Ebook by Kang Zusi . kampung nelayan Toba. "Aku harus menang!" Ia melintasi air terjun yang tenang dan beku. Inc. bahwa ia belum mencapai taraf pikiran seorang guru sejati. "Hampir sampai. yang sebelumnya tak banyak ditempuh orang. baru ia dapat maju selangkah. menginjak-injak seenaknya kepala Sekishusai. Demikian pekat tegangan yang dialaminya. Apabila ia membandingkan dirinya dengan Nikkan atau Sekishusai atau Takuan. dari bawah ia tampak seperti tergantung di awang-awang tanpa berat. di seberang belukar jarang yang berselimut kabut malam. Serangan itu menindasnya. ia memekik lagi agar semua pohon di hutan suci itu mendengar. "Ini dia jalan ke Gunung Rajawali. es—musuh-musuh yang mencoba mati-matian menyeretnya mundur. Tubuhnya bergetar ketika ia memekik. Darahnya yang belum lama ini kedinginan kini mendidih dan tubuhnya mengepul ketika keringat yang keluar dari pori-porinya berjumpa dengan udara dingin. ia sadar. Sesampainya di puncak karang meledaklah pekik kemenangan darinya. bahkan ia melahap udara dengan pori-porinya. Orang bilang hanya monyet dan peri dapat memanjatnva. tak dapat ia mengelak dari kebenaran sederhana ini: ia masih hijau! Analisis yang dilakukannya sendiri atas kemampuan dan sifat-sifat dirinya tidak hanya mengungkapkan kelemahan di beberapa bidang. Maka semangat Musashi yang tak kenal menyerah betul-betul tersengat oleh keunggulan Sekishusai. tiga ratus—ia kini di tengah awan-awan. netcafe. beberapa kaki. dua ratus. setiap napas. hingga ikan forsel pun tak dapat melintasinya. hingga jantungnya serasa akan naik dan meledak dari mulutnya. penuh dengan tebing terjal dan riam. Musashi memandang batu karang itu. Setiap kali ia merasa sudah ada pijakan itu. dan itu mengecewakannya. Kini.property of: CROSSFiRE. ia mulai mendaki permukaan batu karang.

Permukaan gunung yang kasar mulai terasa seperti kulit ibunya. Takuan!" Ia panjati kepala berhala-berhala itu. Tapi sekarang mereka berkimono lengan pendek dan berhakama katun putih. Ia pandang kakinya yang terhujam teguh ke puncak tertinggi. demikian dikatakannya kepada dirinya. ia mulai samar-samar merasa sedang bersarang di dada ibunya.property of: CROSSFiRE. sementara ia merentangkan tangannya yang berotot dan liar ke langit. para superman yang telah menyebabkannya datang kemari. dan waktu itu tampak olehnya seolah seember penuh nanah kekuningan merembes dari kakinya yang cedera. para superman yang harus dan akan ditaklukkannya. ia dan gunung itu kini satu. Sekishusai! Untukmu. Semangat manusia dan gunung kini sedang melaksanakan karya cipta yang agung di keluasan alam tak terbatas di waktu fajar. dan tiba-tiba seorang di antaranya berseru. pikirannya pun semurni dan sejernih kristal. Tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat kini tersatukan dengan permukaan gunung. yang biasa mereka kenakan pada waktu belajar atau melakukan pekerjaan rumah tangga. seakan seseorang menepukkan tangan ke mukanya. Napas Musashi terhenti. Kemudian tiba-tiba ia sudah tengkurap. Angin di puncak tertinggi menghujani punggungnya dengan pasir dan batu. Dan setelah meluruskan badan. "Berhasil! Aku menang!" Begitu ia sadar telah mencapai puncak. dan ia jadi ingin sekali tidur. "Ini untukmu. "Tak ada apa pun lagi di atasku!" teriaknya. tapi seolah-olah heran melihat mahluk ini mencakarnya. "Ini dia! Hampir sampai!" Dengan kaki-tangan kejang dan sakit. Di tengah kemurnian angkasa yang mengitarinya. kembali ia mencakar gunung itu. angin berembus. sesudah menyelesaikan kewajiban di biara. para gadis yang hidup di Wisma Perawan dengan buku di tangan pergi ke ruang belajar di rumah Arakida. maka sebagai pemain pedang pasti pada suatu hari ia akan terbunuh. bagian 12 Ngengat di Musim Dingin TIAP hari. Kalau tubuh dan daya kemauannya melemah. Di sinilah pertandingan akan ditentukan. yang pada malam sebelumnya digantungkan Musashi. Sekelompok gadis menghambur keluar dari pintu belakang. begitu daya kemauannya yang sudah menegang itu mendetak seperti tali busur. Dan dalam selimut kegembiraan meluap yang surgawi itu. mereka mengenakan kimono sutra putih dengan celana bertepi lebar merah tua yang disebut hakama. Ketika akhirnya ia mengangkat kepala. Mendadak ia ingin melompat dan melejit ke sana kemari seperti ikan mino di sungai. mengancam meniupnya bersama batu karang dan segalanya. netcafe. matanya terpejam tak berani bergerak. "Satu untukmu. Di sana mereka belajar tata bahasa dan berlatih menulis sajak. Nikkan! Dan untukmu. tidurlah ia dengan damai. dan Musashi tahu itu. Untuk menarikan tari-tarian keagamaan. Inc. Tapi dalam hatinya ia menyanyikan lagu kegembiraan meluap. "Punya siapa itu menurutmu?" Ebook by Kang Zusi . Tapi justru pada waktu itu sebutir batu di bawah ibu jari kakinya terlepas dan membuatnya sadar kembali. Di sinilah. "Aku sekarang berdiri di atas kepala rajawali!" Matahari pagi yang baru muncul menyinarkan cahaya kemerahan kepadanya dan kepada gunung itu. dan cahaya fajar tiba-tiba tampak di tengah lautan awan putih di bawahnya. membubunglah napas kemanusiaan—napas manis kegelapan yang telah terhalau. ia injak-injak dan ia tunjukkan pada mereka siapa yang terbaik di antara mereka. bajingan!" Dengan segala daya yang ada padanya ia kutuki raksasaraksasa yang dihormatinya. Ia mencari-cari pijakan lain. Karena bau keringat. ia memandang ke segala jurusan. Sementara ia bergayut pada batu karang itu. gunung itu menggertak dan meludahkan longsoran batu kerikil dan pasir. "Apa itu?" dan menuding bungkusan serta pedang yang terikat di sana. Musashi merasa bahwa kegembiraan yang tak terlukiskan membengkak memenuhi seluruh dirinya. di perbatasan antara langit dan bumi.

Mengangkat barang itu ia merasa heran." "Ah. Ketika Otsu melintasi halaman biara." "Itu namanya ribut tak keruan saja. Ketika ia turun membawa bungkusan dan pedang itu. Terpikir oleh Otsu.property of: CROSSFiRE. Keduanya di sana. tapi kemudian ia menarik minat kepala Keluarga Arakida. dan sambil mencengkeram barang bawaannya. Akhirnya keputusan yang mereka ambil adalah. "Biar kubawa ke rumah Arakida. Juru masak tentu saja tidak tahu. netcafe. Otsu dan Jotaro datang ke tempat itu dua bulan sebelumnya. bagaimana kaum pria biasa berjalan membawa beban seberat itu. Otsu berlari menyusuri jalan setapak melintas belukar. sesudah mondar-mandir di Jalan Iga. karena akan sukar berjalan menerobos pegunungan selagi ada salju." "Sudah pasti. Seberkas asap naik dari sebuah belukar di kejauhan. melainkan karena berminat mempelajari musik kuno. slang hari Jotaro menyapu pekarangan suci dan malam hari menginap di gudang kayu Keluarga Arakida. Jotaro sebetulnya menjadi penghalang Otsu menerima jabatan itu." Begitu Otsu turun dari kamarnya. tergantung di dinding belakang. yang umurnya sekurang-kurangnya tiga betas atau empat betas tahun. Semula Otsu memberikan pelajaran suling di daerah Toba." "Ha? Lebih baik itu kalian bawa ke rumah Arakida. seakan-akan menemukan begal itu sendiri yang berikat kepala kulit dan sedang tidur slang. karena ada larangan menerima lelaki tinggal di asrama anak-anak perempuan. Sesampai di Ise. Yang tinggal di asrama itu hanyalah perempuan tua juru masak dan seorang gadis yang sakit. barangkali Jotaro di sana sedang menyapu pekarangan dengan sapu bambunya. bisa juga pencuri yang meninggalkannya di sini. yang sebagai pemimpin upacara resmi menduduki tempat kedua sesudah pendeta kepala. Coba lihat sini!" Otsu meletakkan kuas tulisnya di meja dan menjulurkan kepala ke luar jendela. gadis-gadis itu sudah pergi. "Barangkali kita mesti memberitahu Otsu. kedamaian hutan tempat suci itu telah mengimbaunya. hampir saja barang-barang itu terjatuh karena beratnya. bukan karena ingin mengajar. hari-hari itu patuh sekali dan dengan penuh tanggung jawab menyesuaikan diri dengan pekerjaan. dan jangan buangbuang waktu lagi. "Ada pencuri meninggalkan pedang dan bungkusan. "Sensei! Sensei! Ada yang aneh di bawah sini. Bunyi itu terdengar lagi. Ayo belajar sana. dan Mino mencari Musashi. panggilnya. sekalipun umurnya masih muda. Omi. musik suci. mereka putuskan untuk menetap selama menanti musim dingin. angin yang menakutkan dan lain dari biasanya bersiul di antara pepohonan yang tak berdaun. "Mestinya punya samurai. justru pada umur ketika anak-anak lelaki hanya senang bermain dan menyenang-nyenangkan diri. "Jotaro! Jo-o-ota-ro-o-o!" Ebook by Kang Zusi . Ketika Arakida meminta Otsu datang ke biara untuk mengajar gadis-gadis itu." "Tidak. Bunyi gemeretak keras yang didengarnya itu mirip bunyi cabang pohon yang patah. "Barang-barang siapa yang tergantung di sini ini?" tanya Otsu kepada juru masak. dan dengan persetujuan bersama mereka berlari kembali ke asrama dan berseru dari bawah susuran tangga di luar kamar Otsu. dan lagi ia ingin tinggal beberapa waktu lamanya bersama gadisgadis di tempat suci itu. ia pun menerima." saran seorang di antaranya. dan sebanyak-banyaknya sekitar dua puluh." Mereka berpandangan dan menahan napas. Ia berhenti dan tersenyum. Juga." kata Otsu. jangan! Kami takut memegangnya. Inc. "Ada apa?" tanyanya. ia merasa senang bahwa Jotaro yang wataknya sukar diubah.

Inc. Burung-burung mematuki atap bangunan sampai bocor." kata Otsu menyela. Coba. apa Nobunaga. Aku tak setuju dengan cara itu. "Wah. yang kerja di sini cuma aku dan tiga atau empat lelaki tua! Padahal. kenapa kaulakukan? Kalau Pak Arakida menangkap basah kamu." "Aku sedang latihan. melukai. Waktu aku mendengarkan dia bicara." Ebook by Kang Zusi . dan Ieyasu itu betul-betul orang besar. "Apa kerjamu dengan pedang kayu itu? Dan pakai pakaian kerja putih lagi. kakak ini tadi. apa puri di Osaka itu tidak putih menyilaukan kalau kita lihat dari Samudra di Settsu? Apa Tokugawa Ieyasu tidak membangun purl-puri yang lebih megah di Fushimi dan selusin tempat lain? Apa rumah-rumah baru daimyo dan saudagar-saudagar kaya di Kyoto dan Osaka tidak mengilat karena perhiasan emasnya? Apa ahli-ahli upacara teh Rikyu dan Kobori Enshu tidak mengatakan bahwa secercah kotoran di halaman warung teh bisa merusak aroma teh? "Kebun ini sedang runtuh. "Bagaimana bisa Kakak mengatakan tempat ini penting? Coba. atau membunuh binatang? Memalukan kalau orang yang bekerja di sini mematahkan cabang-cabang pohon dengan pedang kayu. dan pohon-pohon yang dirobohkan badai bergeletakan saja seperti waktu robohnya. Aku tahu mereka tentunya orang penting. tak ada salahnya mematahkan dahan yang sudah mati." "Tidak begitu jelek kalau cuma rumput liar. Lihat ke sana itu. aku jadi berpikir. jadi Kakak mendengar kuliah itu juga?" "Tentu saja. tapi apa indahnya menguasai negeri kalau menurut kita.property of: CROSSFiRE." "Tanya apa?" "Kalau kebun ini begitu penting. suci buat dewi leluhur kita semua. netcafe." "Oh. coba lihat berapa luasnya?" "Jotaro!" kata Otsu. Sebentar saja Otsu sudah mendengar langkah Jotaro. pasti kita mendapat kesulitan!" "Menurutku." "Kupikir kau sedang kerja tadi. "Oh. sudah tahu aku semua itu." kata Otsu tajam. Di mana-mana begitu. "Kalau sudah tahu. Membiarkannya rusak seperti ini sama saja dengan membiarkan rumput liar tumbuh dalam jiwa." gerutu Jotaro dengan wajah jengkel. Latihan dengan pohon-pohon. Dan tak ada orang memperbaiki lentera kalau rusak. Pohon-pohon yang disambar petir itu dibiarkan saja mati. memegang dagu Jotaro dan mengangkat wajahnya. bahwa di sini dilarang merusak pohon-pohonan. tapi lihat pohon-pohon itu. biarpun yang dikatakannya itu benar. Ini wilayah suci. "Yang kaukatakan itu cuma jiplakan kuliah Pak Arakida. kalau begitu aku tak pernah bisa menang. di mana kau sekarang? Halaman ini lambang kedamaian dan kemurnian. Apa kau sudah lupa." "Dia memang benar. kitalah satu-satunya orang yang berarti." "Ah." "Tak ada orang yang keberatan dengan latihanmu. tapi bukan di sini Jotaro. Hideyoshi." "Membeokan apa yang dikatakan Pak Arakida tak ada artinya buatku. Tapi ketika anak itu sudah berhenti di depannya. Tak ada salahnya kalau memang sudah mati. "Ya-a-a?" terdengar jawaban gagah. kan?" "Itu kalau tidak di sini!" "Itu yang Kakak ketahui! Coba sekarang aku mau tanya. kenapa orang tidak merawatnya lebih baik?" "Memang sayang sekali mereka tidak merawatnya baik-baik. ia hanya mengatakan.

ya?" Dan air liur Jotaro mengucur. sama seperti kita semua berutang hidup kepada Dewi Ise. "Sensei" Seorang di antara gadis tempat suci datang berlari-lari. tapi istana kaisar terlalu miskin." Otsu tiba-tiba merasa sedih dan sedikit kesal. gadis itu memutar badan dan berlari kembali. Jotaro menoleh ke sekitar dengan terheran-heran." jawab anak itu kesal sambil menggigit jari telunjuknya. Waktu itulah Jotaro melihat bungkusan yang lain dari yang lain. sampai mereka tak peduli dengan apa yang terjadi. Otsu kasihan pada biarawan itu dan pada ketidaktahuannya akan makna cinta. Ingin sebetulnya ia menampar Jotaro. Inc. Para prajurit selamanya saling perang untuk memperebutkan lebih banyak wilayah." "Ah. ke-shogun-an terlalu lemah. aku kan tak akan bikin rusak! Aku cuma mau lihat." Puas karena sudah mendapat pidato panjang berapi-api dari Otsu." "Bagaimana buruknya?" "Kau pernah mendengar tentang Perang Onin. Berani sumpah. ia tak pernah bisa mengusir rasa rindu kepada Musashi dari hatinya. Takuan orang yang begitu tanpa perasaan. berdetap-detap bunyi sandal jeraminya. netcafe. tak apa-apa. Paling tidak. "Pak Arakida memanggil Sensei. "Waktu gadis itu memanggil 'guru'. "Ini cerita sedih. waktu sudah dewasa orang suka lupa bahwa mereka berutang sumber hidup kepada leluhurnya. sesaat kupikir yang dia maksud guruku.. "Apa yang kamu perhatikan?" "Ah. Rakyat biasa tidak mendapatkan kedamaian sedikit pun. kan?" "Anak bandel kau ini!" ujar Otsu sambil tertawa sendiri. kenapa pula ia menyinggung Musashi? Sekalipun sudah mendapat nasihat Takuan. "Hm. mereka sudah memperbaiki istana kaisar di Kyoto dan mencoba mem-bahagiakan rakyat." Hampir tanpa berhenti. mereka tetap patut mendapat pujian. Mata Jotaro memandang seolah melihat hantu di antara bercak-bercak cahaya matahari.. sampai terus-menerus terjadi perang. Waktu itulah. dan tak seorang pun punya perhatian sungguh-sungguh terhadap negeri secara keseluruhan. Ujitsune pergi berkeliling juga memperjuangkan cita-citanya. Walaupun demikian. bukan? Tapi kalau kita pikirkan. Maka sambil terus tersenyum ia tatap saja anak lelaki itu. Dalam hal tertentu. dan ranting-ranting berayun-ayun seperti ombak kecil." "Maksud Kakak pertempuran yang terkenal antara Keluarga Yaman dan Kosokawa?" "Ya. dan uang tak cukup untuk melanjutkan upacara-upacara kuno dan ritus-ritus suci. Arakida Ujitsune menjadi pendeta kepala Tempat Suci Ise. "Jangan sentuh! Tak tahu kita punya siapa ini. "Punya siapa itu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. tapi bungkusan yang dibawanya menghalanginya. "Sekarang siapa yang membeo Pak Arakida? Kakak pikir aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. ini mesti berat. Shogun-shogun Ashikaga jauh lebih buruk. lebih seratus tahun lalu. Pedang panjang ini besar sekali. Dua puluh tujuh kali Ujitsune mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk membetulkan bangunan-bangunan suci. dan para prajurit begitu sibuk dengan pertumpahan darah. "Ada apa?" tanya Otsu. sampai akhirnya berhasil mendirikan tempat suci baru." "Ke-shogun-an Ashikaga begitu tidak cakap.. Matahari musim dingin bersinar melalui pohon-pohon. Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. Biarpun seandainya mereka melakukan halhal itu hanya untuk membenarkan tindakannya sendiri terhadap dirt sendiri dan orang-orang lain. "Tapi Nobunaga dan Hideyoshi itu tak seburuk orang-orang lain. Jotaro melompat ke udara sambil tertawa dan bertepuk tangan. Walaupun pernyataan Jotaro itu diucapkan dengan penuh kepolosan. kan?" .

Kak. Ia melakukan hal tersebut lebih dari sepuluh tahun lamanya. melainkan juga untuk empat puluh atau lima puluh anak lain dari tiga daerah yang termasuk daerah Biara Ise. Betul-betul aku minta maaf." "Ini bukan salahmu. "Dan malam kemarin barang itu belum ada di sana. netcafe. Kalau ia bekerja keras dengan sabar. Dengan penuh keuletan dan pengabdian. Tapi jangan kuatir. Cinta itu seperti sakit gigi. Ia mengubah sebagian rumah itu menjadi sekolah. Arakida melirik. Dan dengan air mata meleleh di pipi ia berjalan terus. tak apa-apa. Jotaro ikut saja dengan sedih. Tanpa mengatakan sesuatu. Ujitomi memiliki pandangan lain. sejarah tentang Jepang. "Kakak marah. mencari dan menemukannya. Arakida keluar dari ruang belajarnya yang luas dengan wajah sedikit berkeringat. yang paling menggerek. Hideyoshi boleh memegang kendali negeri dan menyatakan diri dengan wali. Menurutnya. Ketika Otsu sedang sibuk. Sejarah awal negeri ini berhubungan erat sekali dengan Biara Ise dan tanahtanahnya. "Pemuda biasa takkan datang kemari membawa barang-barang seperti itu. ia berlari mendekati Otsu.property of: CROSSFiRE. Aku cuma merasa sedikit sedih. Ujitomi berjuang seorang diri menanamkan benih-benih kebudayaan yang lebih awal dan lebih tradisional di antara orangorang muda daerah biara itu. tapi apabila kenangan mendatanginya. agak jauh di belakang. "Saya di sini. "Betul. Tengah malam tentunya orang datang masuk pekarangan." serunya." katanya. anakanak muda tidak boleh salah membedakan bintang keberuntungan seorang pahlawan militer dengan matahari yang indah. dan yang paling menyengsarakan pastilah tak adanya kemampuan untuk memandang orang yang dirindukan. meletakkan kepala ke dadanya dan mengucurkan air mata bahagia. Kalau ia dapat mengajar anak-anak setempat mengenai masa lalu. Di mana dia?" Otsu berada di luar. tiap hari ia bicara pada anakanak itu tentang karya-karya klasik Tionghoa dan Catatan Tentang Hal-hal Kuno. Ketika anak-anak sudah menghambur keluar seperti kawanan lebah dan melejit cepat ke rumah masing-masing. tapi sebelum duduk ia menuding barang-barang yang dibawa Otsu dan bertanya apakah itu." Arakida Ujitomi menyebut tempat tinggalnya Wisma Belajar. Pedang berat dan perabot usang itu tak berarti apa-apa baginya. tidak. paling celaka. tapi seperti halnya orangtuanya. seorang gadis biara menyampaikan kepadanya bahwa Otsu sedang menanti. Kembalilah kau bekerja." "Maaf. Silakan masuk. mendengarkan pelajaran Arakida. maka menurut pikirannya barangkali semangat masa lampau itu pada suatu hari akan tumbuh subur seperti pohon besar di hutan suci. Sudah lupa sama sekali. Inc. Bagaimana mungkin ia memimpikan membawa barang-barang milik Musashi? Karena merasa telah berbuat salah. bukan prajurit diktator yang tak tahu adat." Ebook by Kang Zusi . Aku mau tahu. Di manakah dia? Dari segala kesedihan yang mungkin merundung mahluk hidup. padahal sekarang zaman orang banyak cenderung menganggap nasib bangsa ini adalah nasib kelas prajurit. Ia coba memberikan kepada orang-orang muda itu sejenis pendidikan yang sekarang tidak terlalu populer: mempelajari sejarah Jepang Kuno yang di kota-kota besar dianggap tidak relevan. sehingga apa yang terjadi di masa lalu yang jauh itu tak banyak berarti. ya? Karena kata-kataku?" "Oh. Otsu menjelaskan bagaimana ia sampai mendapat barng-barang itu. apa yang dikehendaki Pak Arakida. Sedikit bingung. Sudah beberapa waktu ia berdiri di situ. Ia berharap anak-anak didiknya akhirnya akan menghargai buku-buku itu." Ia mengantar Otsu masuk kamar belajar pribadinya. Aku kan memanggil tadi. Tokugawa Ieyasu boleh menjadi shogun "penakluk orang barbar" yang mahakuasa. perasaan cinta itu tidak mengganggu. ia tercengkam oleh keinginan yang amat sangat untuk menyusuri jalan-jalan raya lagi. Kalau orang lain mungkin menyatakan bahwa daerah-daerah provinsi tak ada sangkut pautnya dengan nasib bangsa. dan kemudian dengan curiga memperhatikan kedua pedang itu. orang-orang muda nantinya akan mengerti bahwa Dewi Matahari yang agunglah yang menjadi lambang cita-cita bangsa. Baru ketika Otsu membelok masuk gerbang rumah Arakida. tidak hanya untuk gadis-gadis biara. "Bapak memanggil saya?" "Saya minta maaf terpaksa membiarkan engkau menunggu. Arakida berkata. ia berjalan. dan tanyanya.

Dengan wajah terkejut ia menyatakan pada Arakida bahwa ia tak pantas mendapat bayaran. tapi kebaikan Bapak sendiri sudah merupakan bayaran buat saya. Jotaro yang tadi mengikuti Otsu memilih saat itu untuk menjengukkan kepalanya dari beranda. karena itu barangkali sudah sewajarnya orang menganggapnya perempuan duniawi. dan bisiknya. ia mengambil Ebook by Kang Zusi . demikianlah dikatakannya. tapi terimalah. tapi aku ingin minta pertolonganmu. tapi soalnya begini. katanya. Otsu cepat menyetujui. "Tak mungkin aku menerima uang darimu. netcafe. Arakida rupanya tidak terlalu mementingkan soal itu. benar ia terbiasa menjumpai orang banyak. dan karena waktu itu akhir tahun "dan lain sebagainya itu". Benar ia banyak mengadakan perjalanan ke manamana. kau memang bukan lagi benar-benar perawan. Kyoto. Sekalipun ia benci kebohongan desas-desus itu. "Bagaimana kalau uang ini kuberikan saja pada anak ini? Dia dapat membelikan apa-apa buat kalian berdua di perjalanan.. "Oh. dan menyatakan bahwa ia akan pergi hari itu juga." kata Arakida." Ia mengulurkan bungkusan yang berisi beberapa keping mata uang emas. Kebetulan aku sudah jemu menyapu kebun tua mereka ini. katanya. bolehlah engkau menganggap uang ini sebagai bayaran atas jasamu. Otsu akhirnya menyetujui dan mengucapkan terima kasih kepada Arakida. dia memperingatkan diriku. Cuma inilah." "Terima kasih." jawab Arakida. Jadi. yah." "Ini ada hadiah kecil. Namun sungguh merupakan pengalaman meremukkan hati dituduh tidak suci. dialah yang mesti membayar untuk makanan dan penginapannya. untuk kebaikanku sendiri. "Tak banyak. "Ini barangkali kelakar samurai. hanya karena memberikan pelajaran suling kepada anak-anak gadis itu. Seorang samurai menegurku karena memasukkan engkau ke asrama perawan—perawan suci. tak perlu secepat itu sebetulnya. Dan justru itu yang ingin kukemukakan padamu. maka ia bertanya apakah Otsu berkenan menghentikan pelajaran suling itu dengan meninggalkan Wisma Perawan. biar bagaimana. sambil menjangkau rak buku kecil dan mengeluarkan sejumlah uang yang dibungkus kertas." kata Arakida. Inc. "Kalau Kakak pergi. ia cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan Arakida selama ia tinggal di sana." Sambil berkata demikian. benar ia mengembara dalam hidup ini membawa serta cinta lamanya. namun air mata marah membanjiri mata Otsu. kau tahu sendiri bagaimana omongan orang." kata Jotaro yang cepat mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan itu. kalau kebetulan engkau pergi ke Kyoto. Otsu menolak menyentuhnya. tentu. Kemudian dengan wajah tak senang ia menggerutu. "adalah menyampaikan bingkisan kepada Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro yang tinggal di Horikawa.property of: CROSSFiRE. aku tak ingin engkau tersinggung tentang ini. terutama bagi Pak Arakida. "Boleh. padahal kenyataannya ia masih suci. melainkan karena ia memang tak punya rencana tinggal terus di situ dan tak ingin menimbulkan kesulitan." Sekalipun nada bicara Arakida biasa saja. "Pertolongan yang kuminta padamu. dan gunakanlah untuk perjalanan. aku ikut." Arakida berusaha meyakinkan Otsu. Tapi sesudah berpikir lagi ia memandang Otsu. bukan sebagai pengakuan kesalahan. kan?" Karena sudah dipojokkan. Aku tak suka." "Apa saya sudah melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Bapak?" "Tak ada yang mengecewakanku. Sekarang kau jangan marah. Yang lebih tepat. Dia bilang." "Dengan senang hati saya melakukan permintaan Bapak itu. Ia cuma terganggu bahwa orang membicarakan yang bukan-bukan.." Arakida menoleh kepada Jotaro. "Tidak. Kau sudah ke sana kemari dengan lelaki." "Apa ini ada hubungannya dengan saya?" "Nah. dan orang mengatakan menyimpan perempuan yang bukan perawan bersamasama gadis-gadis di Wisma Perawan itu bisa menodai tempat suci." "Oh? Apa menurut pendapat Bapak seorang lelaki telah masuk Wisma Perawan?" "Ya.

" Dan ia menyerahkan bungkusan dan dua bilah pedang yang tadi dibawa Otsu. Barangkali gadis-gadis itu pun menerkanya demikian. dan sejenak kemudian ia menyatakan setuju. Beberapa di antara mereka menangis. Karena komentar untuk lukisan itu belum lagi ditulis. Otsu balas berteriak. ya?" "Jangan sentuh. "Lihat apinya itu. Dalam usahanya meloloskan diri. Apa engkau bersedia membawanya dan menjaga supaya lukisan-lukisan ini tak kena air atau minyak di jalan?" Ini tugas yang tak terduga-duga pentingnya.property of: CROSSFiRE." Ia duduk dan mulai membuka lukisan itu di lantai di hadapannya. netcafe. "Tapi barangkali ada baiknya kutunjukkan dulu padamu lukisan ini. ia berkata menghibur gadis-gadis itu. sebentar kemudian ia sudah bosan. Beliau ada rencana menulis komentar yang cocok dengan lukisan ini dan menghadiahkannya pada Kaisar. Jotaro berteriak. seorang pesuruh masuk. jaga diri kalian baik-baik. siap menyampaikan sesuatu kepada Arakida dengan suara pelan sekali. Kotak yang terbungkus kain berisi gulungan disandang melintang di punggung. "Apa betul?" "Sensei betul akan pergi?" "Sensei takkan kembali lagi?" Dari seberang asrama. karena itu mereka tampak murung ketika berkumpul mengerumuni Otsu. sedangkan mata Jotaro melebar ketika ia membungkuk memperhatikannya lebih saksama. mereka tidak mengetahui cerita apa yang dilukiskan di situ. Tapi kurang pantas kalau ia menolaknya. "Belum juga Kakak siap? Kenapa ya. Selama dua bulan Otsu tinggal bersama mereka. Inc." tegur Otsu. "Barangkali dia capek menunggu. mereka telah menganggapnya sebagai kakak sendiri. karena melihat keadaannya kecil kemungkinannya ia akan kembali lagi. Sebetulnya ia sudah selesai berkemas. Otsu sudah hafal dengan cara-cara Jotaro. Mendengar guru suling mereka akan pergi. Akhirnya seorang dari mereka mengusulkan agar mereka semua mengantar Otsu sampai jembatan suci di seberang Sungai Isuzu." ujarnya. Tapi memang dasar tidak sabaran. mereka saksikan di hadapan mereka gambaran kehidupan istana kekaisaran kuno dalam coretan kasar dan warna-warna indah serta sentuhan-sentuhan bubuk emas. karena itu mereka corongkan tangan di mulut dan mereka panggil namanya. dan semula Otsu ragu-ragu menerimanya. Ebook by Kang Zusi . Tapi sebaiknya suruh orang itu membuat surat tanda terima. tapi gadis-gadis itu tak hendak melepaskannya. "Sebentar lagi slap. Otsu tersengal melihat keindahan gulungan itu. tapi ketika Arakida membuka gulungan itu adegan demi adegan. Dari jendela. "Apa belum juga siap?" serunya lagi." jawab Otsu. dan ia sendiri ingin melayangkan pandangan terakhir sebelum berpisah dengan karya itu. Kemudian Arakida mengeluarkan kotak dan kertas minyak. "Lihat saja.. "Aku sudah siap. namun tak ada jawaban. dua gulungan dari rak yang sudah goyang di dinding. "Ah. Arakida mengangguk.. dan dia jalan duluan. terpukau juga ia oleh apa yang dilihatnya. Mereka mengerumuninya dan mengantarnya ke luar. Saya akan datang berkunjung hari-hari ini.." "Anak brengsek!" ucap seorang gadis. Di sana Jotaro tidak segera tampak. "Kelihatan seperti menyala betulan. Sementara itu. Lukisan itu dibuat dengan Gaya Tosa dan bersumber pada seni Jepang klasik. perempuan begitu lama kalau berpakaian dan berkemas?" Waktu itu ia berjemur di pekarangan sambil menguap. "Tak usah sedih. cepat sekali!" "Aku selalu cepat!" jawab Jotaro pedas. tapi sebelum membungkus dan memeterai gulungan itu. Walaupun Jotaro tak pernah mendapat pelajaran seni. "Ya-ya." Tak enak juga ia bahwa yang dikatakannya itu tidak benar. katanya. Ia kelihatan bangga akan karyanya. Akhirnya lukisan-lukisan ini selesai." Selagi mereka menatapkan mata dengan penuh kekaguman. gadis-gadis Wisma Perawan pun jadi sedih. Itu sebabnya aku tak ingin mempercayakan-nya kepada pembawa surat biasa atau orang istana. tanpa perasaan kuatir ia berkata. Kukira boleh. dan jawabnya. "Yang Dipertuan Karasumaru minta padaku dua tahun lalu untuk melukis ini. dengan pedang kayu di pinggang. Apa lagi yang ditunggu?" Ia sudah menanggalkan jubah putih dan kembali mengenakan kimono pendek yang biasa.

"Sayang sekali kau keliru. kita akan marah terus sepanjang jalan. itu bukan jalan ke jembatan. mereka mengejar untuk memastikannya. Aku lari buat melihatnya. Mereka cuma sayang melihat aku pergi. "Aku?" tanya anak itu tak percaya." panggil seorang di antaranya. katanya. Ke mana pun mereka pergi. tapi sekarang Kakak berangkat tanpa aku!" "Tapi tadi kamu tak ada di tempat!" ujar Otsu. meniru gaya kata-kata Otsu. Apa tampangku begitu tua dan pantas punya anak sebesar itu?" "Tidak. tenanglah sekarang. "Oh. Hal seperti ini sering terjadi berlusin-lusin kali. Jotaro masih juga melengos dan melontarkan pandangan kasar kepada gadisgadis yang berarak-arak di belakang. tapi kemudian ia menghibur diri dengan pendapat bahwa yang dikatakan orang lain tak berarti. tapi tak mungkin orang itu Musashi. karena dia pincang. betapa baiknya mereka. apa betul dia." "Oh. Pada waktu itu Jotaro datang berlari-lari mendapatkan mereka. dan tanyanya. Karena itulah sekarang Otsu tidak sekesal biasanya. sekalipun Jotaro sendiri patah hati. "keliru." "Orang yang seperti Musashi?" "Ya. "Apa saja kerja mereka ini di sini? Apa akan pergi dengan kita?" "Tentu saja tidak. wajah Otsu memerah. tapi jangan lalu uring-uringan karena aku jalan dulu." "Aku tahu. Tingkah Jotaro membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal. tapi akhirnya hanya saling pandang dengan sedih." kata Otsu tenang." Ebook by Kang Zusi . Tak ada hari tanpa menyaksikan cahaya harapan. kan? Tadi kulihat di jalan raya Toba sana itu ada orang yang mirip guruku. dan gadis-gadis itu pulih kembali semangatnya. sesudah Jotaro menggabungkan diri dengan rombongan.property of: CROSSFiRE. Ia memang membelok ke Gerbang Tamagushi untuk menyatakan hormat ke kuil pusat. tapi ternyata bukan dia. samurai di perahu yang baru saja berangkat. Nah. orang bilang. dia anak Sensei. begitu!" gumam Jotaro. musafir yang samar-samar kelihatan dalam joli. tapi gadis-gadis itu menyodok punggungnya dan bertanya kepadanya kenapa ia tidak mencontoh yang dilakukan Otsu. ia menundukkan kepala ke arah tempat suci itu dan beberapa saat lamanya mengambil sikap berdoa diam. ada apa sih sebetulnya?" katanya memberengut. "Sensei. Tahu tidak. Kau bisa kena hukum suatu hari nanti. Sambil menertawakan kejadian itu. Sambil menangkupkan tangan satu kali. netcafe. kalau Otsu dan Jotaro mengadakan perjalanan." Ingat akan percakapannya dengan Arakida. Inc. ronin yang menunggang kuda." Ia puas melihat dari kejauhan. "Aku tak ingin membungkuk pada tempat suci tua mana pun. kalau kita memulai perjalanan dengan kesal. jadi baik sekali mereka mengawani kita sampai jembatan. Kupikir aku akan menjumpaimu di jembatan." "Tak boleh kau bicara begitu." "Tolol rasanya membungkuk macam itu. mereka melihat orang yang mengingatkan keduanya kepada Musashi-orang yang lewat jendela. yang disusul kekecewaan. "Apa dia anak Sensei?" "Anakku? Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? Tahun depan aku belum lagi dua puluh satu. "Hei." Selamanya seperti itu saja. "Dia pikir tak boleh meninggalkan tempat ini tanpa ucapan selamat berpisah kepada dewi. Aku mendekati sampai barisan pohon itu dan melihat orang itu baik-baik dari belakang. Dengan harapan menjulang tinggi. "Tadi Kakak suruh aku menunggu berabad-abad. Seorang lagi tiba-tiba memandang Otsu." Walaupun kelihatan puas." kata Jotaro. kesedihan karena perpisahan menjadi surut. Kini. "Tapi mestinya Kakak bisa mencariku. selama Musashi setia kepadanya. tapi ada yang bilang.

Dua perempuan penyelam dengan keranjang berisi kerang sorban yang baru saja ditangkap dan seorang tukang perahu berdiri dekat beranda. Kembali di beranda. Tukang perahu itu menawarkan tamasya perahu ke pulau-pulau lepas pantai." "Tidak percaya. Waktu gadis itu kembali. dikenakannya keduanya." "Baiklah." tegur Otsu. Jotaro berlari ke arah Gerbang Tamagushi. Keistimewaan warung itu adalah siput laut yang dihidangkan mendidih bersama kerangnya. "Betul-betul kau mesti berdoa. supaya tidak melihat kamu. hampir tak dapat ia percaya bahwa demam maupun bengkaknya akhirnya lenyap. Orang tua yang memasak siput memandangnya. Apa bukan Tuan yang punya rencana menyeberang ke Ominato?" "Ya. kalau begitu kenapa kau tidak menyatakan hormat?" "Sebab aku tak mau. kalian semua perempuan sinting!" "Aduh." "Kau tahu itu tidak baik." Mereka pun membelakanginya. aduh!" seru gadis-gadis itu serentak.property of: CROSSFiRE. Jalannya masih sedikit pincang. Inc. "Jahat sekali!" ujar salah seorang gadis. tapi Otsu mencuri pandang kepadanya. "Apanya yang tolol." Ebook by Kang Zusi . dan dengan cara yang sangat kekanak-kanakan ia membungkuk dalam-dalam secepat kilat. sedikit saja ia merasa sakit. Waktu itu Otsu sudah selesai sembahyang dan datang kembali ke dekat mereka." Salah seorang gadis mengungkapkan. tapi tak lagi seperti sebelumnya. "Tukang tambangan menanyakan Tuan. "Dia sebut kami perempuan sinting.." "Aku tak tahu!" "Nah. lalu ia menurunkan kakinya yang rawan itu ke pasir dan berjalanlah ia ke pesisir untuk membasuhnya. sedangkan kedua perempuan mencoba membujuknya membeli siput laut. kaget oleh kekasaran Jotaro. Dengan lambaian tangan diusirnya tukang perahu dan penyelam. kami akan membalikkan badan. Musashi sedang sibuk menanggalkan perban bernanah dari kakinya. Sampai di sana ia menghadap tempat suci. mereka semua melihat. lalu ia mulai melangkah dengan hati-hati. "Apa yang terjadi?" tanyanya "Kalian kelihatan kesal. ya?" "Diam. menunjukkan hormat kepada Dewi Matahari? Dia tak seperti dewa-dewa kecil yang dipuja orang di kota-kota itu.. Kincir Mainan MUSASHI duduk di beranda sempit sebuah warung makanan laut yang menghadap ke laut. Jotaro. Sekalipun kulitnya menjadi putih dan mengerut. Sesudah menderita demikian hebat akibat luka itu." "Buat apa?" "Apa kau sendiri tak pernah cerita? Waktu Musashi akan dibunuh pendeta-pendeta dari Hozoin itu kau mengangkat tanganmu dan berdoa sekeras-kerasnya! Kenapa di sini tak bisa kamu berdoa?" "Tapi. Saya kira ada perahu yang jalan teratur dari sini ke Tsu. netcafe. Kaki itu kembali pada ukuran semula. cuma karena kami menyuruhnya membungkuk kepada dewi. ia nantikan gadis warung yang telah ia suruh membelikan kaus kulit dan sandal baru.

"Tunggu sebentar. terlalu cepat untuk itu. Perjalanan begini harusnya dinikmati. Begitu meninggalkan perahu. makin lama makin jauh. ia perhatikan ada seorang lelaki berjalan di depannya.property of: CROSSFiRE. kalau kamu lupa lagi. Ingin sekali ia terus berlari. dan makin lama makin cepat. netcafe. "Sungguh iri saya pada Tuan. Musashi berdiri berdesakan dengan penumpang-penumpang lain dan memandang tenang ke seberang air di sebelah kiri-ke arah pasar lama. Wajahnya gelap seperti Musashi dan bopeng-bopeng. membawa pentung pendek di pinggang." "Pak. yang menuju Owari. Pentung itu berlilit rantai dan di ujung rantai terdapat peluru. Kalau ia pergi ke Matsuzaka. Orang itu mengenakan juga pedang pendek bersarung kulit. Pak!" "Ayolah jalan terus!" "Palu saya ketinggalan di perahu. sampai akhirnya orang itu muncul dari sebuah toko mainan. Kita bisa sampai rumah sebelum malam tiba." "Ketinggalan alat yang jadi penghidupanmu. ia berpindah ke perahu yang lebih besar. Perahu tambang sudah penuh. Hari ini tanggal dua puluh empat. "Jelas Tuan tak punya kewajiban bayar utang akhir tahun. membawa sebuah kincir mainan yang bem. Peralihan dari sakit menjadi sehat itu meningkatkan semangatnya.. seperti halnya kota-kota pelabuhan lain.. tapi ia masih mendapat tempat." "Tinggal berapa hari lagi akhir tahun ini?" Orang tua itu tertawa. Kelihatannya umurnya empat puluh dua atau empat puluh tiga tahun. ya? Lain kali. Pak." "Tapi ingin rasanya berhenti. Kalau bukan karena anak lelaki yang mengikutinya. sedangkan rambutnya yang kemerahan digelung ke belakang. orang itu bisa disangka bromocorah." katanya. Jelas ia magang pandai besi." Ebook by Kang Zusi ." "Senang sekali jadi orang muda!" Musashi lari berderap ke pangkalan perahu tambang." "Dan kukira itu bikin kamu bangga. ia turun di Tsu. Inc. Tapi tidak. Pipi anak itu hitam oleh jelaga dan ia membawa palu godam. Si magang sekali lagi kehilangan penglihatan atas tuannya dan dengan cemas mencari-carinya di tengah orang banyak.arna-warni. jalan raya Yamada. mungkin ia mendapat kesempatan bertemu dengan pemain pedang Mikogami Tenzen yang luar biasa itu. kupecahkan tengkorakmu. ya?" "Akan saya ambil sekarang." "Betul? Saya kira sudah lebih kemudian." "Jangan omong kosong!" Jalan masuk kota itu diapit barisan toko cindera mata dan penuh pencari pelanggan rumah penginapan. °Ya." mohon anak itu. Dan seperti direncanakannya. Di seberang teluk. Layar-layar menangkap angin. dan perahu meluncur di permukaan Teluk Ise yang seperti kaca itu. "Diam!" "Apa tak bisa kita bermalam di Tsu?" "Masih terang sekarang ini. dan Matsuzaka. "Memang ada. di Ominato. dan ada juga perahu-perahu ke Yokkaichi dan Kuwana. "Iwa!" serunya memanggil anak itu. tapi yang menjadikannya jauh lebih bahagia adalah pengalaman spiritual yang telah didapatnya pagi itu..

saya akan berterima kasih kalau Anda mau lebih banyak menerangkan senjata yang Anda pergunakan. Sesudah beberapa hari pergi melaksanakan tugas. Pelajaran ini diperkuat oleh pengalaman-pengalamannya di Hozoin dan Puri Koyagyu. tapi aku tidak tinggal di rumahnya. Setiap kali ia hendak membelok. "Oh." Ebook by Kang Zusi . karena itu ia gunakan akal kecil untuk mendapat kepastian. Inc. Sementara meletakkan landasan bagi dirinya. begitu. tapi karena saya sudah beruntung bertemu dengan Anda. Sebetulnya Musashi bermaksud langsung pergi ke Kyoto. Saya memang sudah banyak belajar dari istri Anda. Kenapa?" "Dari tadi saya bertanya dalam hati. ke Umehata. "Kembali ke Umehata?" Tapi jawaban orang itu kaku. tapi pertemuan yang kebetulan ini demikian menggodanya. tapi orang ini sendiri benar-benar angkuh." "Nah. ia bertanya. begitu engkau sampai di jalan ke dunia lain. ia ingin mengukur lawan itu dari segala segi. Rupanya nasib mempertemukan kita di sini. namun ia mengingatkan diri untuk tidak terburu-buru. Takuan telah mengajarkan kepadanya pelajaran pertama dalam hidup ini. mereka membelok juga di depannya." Bagi Musashi. dan katanya dengan nada ramah. Dan Anda siapa?" "Nama saya Miyamoto Musashi. begitu?" kata Baiken. Ia berpura-pura tidak memperhatikan mereka. Terpikir oleh Musashi. Kalau digabungkan dengan potongan-potongan percakapan yang kebetulan didengarnya. Sebelum ia membiarkan rasa bangga dan keyakinan mengkhianatinya dan menyebabkannya menyepelekan lawan. Jadinya seolah kedua orang itu menuntun arah jalan Musashi." "Ha. kemudian ke jalan gunung yang menuju Suzuka." "Hadiah buat bayi Bapak?" '"Mm. "Bawa ini. begitu. Itu pekerjaan yang tak bisa dilakukan orang lain. barangkali pandai besi itu Shishido Baiken. Agaknya jalan yang akan ditempuh Baiken pulang ke rumahnya. orang itu ingin memandang anaknya menyeringai girang waktu ia menyerahkan barang itu." "Oh. ha! Tapi katamu tadi sudah ketemu istriku?" "Ya. istri orang ini sudah berkesan amat sok menguasai. tapi begitu engkau melihatnya. apakah Bapak ini Shishido Baiken. Kupinjam tempat kerja di desa. Ia mendekat. Tentu saja aku dapat memperlihatkan lebih banyak lagi daripada yang diperlihatkan istriku. namun ia tak bisa memperoleh kepastian." "Oh. kemudian melambatkan jalan lagi sambil mendengarkan percakapan mereka. yaitu bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang kemungkinan lebih baik dari diri kita. "Ya. Dengan wajah yang tiba-tiba menyatakan paham. dengan sikap hormat yang sesuai dengan umurnya ia berkata. "Apa engkau yang tinggal di penginapan Yamada dan ingin bertarung denganku?" "Bagaimana Anda bisa dengar itu?" "Kau menyuruh orang ke rumah Arakida untuk mencariku. kecuali aku. Musashi cukup yakin bahwa dari apa yang dilihatnya ia sudah dapat mengukur kemampuan orang ini. kan?" "Ya. Dan dia mendemonstrasikan satu jurus Yaegaki pada saya. Tak ada alasan buat mengikutiku. sekalipun kadang-kadang hal itu bisa memberikan kesan pengecut atau tunduk kepada musuh. ia akan tetap bersikap ramah.property of: CROSSFiRE. dan berjalan di depan mereka sebentar. Musashi menyimpulkan orang itu memang Baiken." "Memang. itu mestinya cukup buatmu. Kedua orang itu melintasi kota puri." gumam orang itu. Saya calon prajurit. Belum lama saya ke rumah Anda di Ujii dan bertemu dengan istri Anda. netcafe. jangan sampai pecah! Simpan dalam kerahmu." °Waktu itu aku sedang melakukan tugas untuk Arakida. Dan hati-hati. Menjawab ucapan Baiken yang merendahkan itu. Saya dengar Anda ahli rantai-peluru-sabit.

Suami-istri itu menghilang ke dalam dan duduk. itu dia. tanpa memperhatikan Musashi. "Oh ya. netcafe." "Kau boleh tinggal. "Nanti dulu. menghangatkan diri di dekat api. Desa kecil yang dipayungi awan merah itu tampak setenang danau. "Mari saya tuangkan buat Anda." jawab perempuan itu cemberut." Mata Baiken yang semula mengembara ke jurusan lain kini berayun kembali kepada Musashi dan mengamat-amatinya kembali dari kepala sampai jari kaki. Ia menghangatkan sake di perapian dengan suaminya. Ebook by Kang Zusi . Asam rasanya. "Ini. "Apa kau minum sake?" "Saya bukan tak suka sake. "Kalau yang engkau inginkan itu bicara." Dalam sekejap mata saja si bapak sudah tidak lagi menjadi contoh keangkuhan. Inc." "Asal dari mana?" "Mimasaka." "Tak usah. Tapi aku bukan pengusaha penginapan." "Nah. sudah ada. hanya bicara tentang bayi dan soal-soal rumah tangga." celotehnya sambil mengangkat sebelah tangan dan menari-narikan jarijarinya. "Berapa umurmu?" "Dua puluh dua. kasih orang itu makan. Nak. siapa namamu tadi?" "Miyamoto Musashi" "Bagaimana engkau menuliskan Musashi?" "Ditulis sama dengan Takezo.. "Lihat. supit. lihat." "Terima kasih." panggil Baiken. baik. Iwa berlari mendahului untuk menyampaikan kedatangan mereka. istri Baiken menanti di bawah ujung atap. Apa kau punya rencana menginap di penginapan dekat perbatasan?" "Itulah yang tadinya saya maksudkan. Selesai meneguk." Istri orang itu masuk dan meletakkan sup.. lihat!" dekut perempuan itu." Musashi mendekat ke ambang pintu kamar perapian serta menerima mangkuk berisi minuman dan menghirupnya. dan ketika mereka tiba di rumah itu. menggendong bayinya yang memegang kincir mainan." Senja hari mereka sampai di kaki Gunung Suzuka. Lihat." katanya kepada istrinya. apa yang barusan kaukatakan? Namamu. Musashi duduk di ruang bengkel yang berlantai tanah. "Bapak pergi. dan kami tak punya tilam ekstra. kalau kau bersedia tidur di bengkel bersama Iwa. Bermalam. dan bertanya. kecuali kalau Anda berkenan menerima saya menginap semalam lagi. Baiken ingat akan tamunya. ketika makan malam siap. Akhirnya. ia kembalikan mangkuk itu kepada Baiken. acar. minum semangkuk. dan mangkuk nasi di tikar jerami di depan Musashi." Ia memandang Musashi sesaat. dan sekarang Bapak pulang. ia memperlihatkan senyum kebapakan. katanya. la bahkan tidak melepas sandalnya. "Baru kemarin dia dari sini. "Orang muda.property of: CROSSFiRE. ini Bapak.

" "Apa engkau masih bernama begitu waktu umur sekitar tujuh belas?" "Ya. "Kupikir aku pernah melihatmu. "Artinya namamu Takezo waktu engkau muda?" "Ya. dan berpisah di situ." Baiken memberitahu istrinya bahwa sake mereka habis. netcafe. pinjam sebotol sake. "Tak ada lagi yang lain." "Tapi sake tak ada lagi. Aku di Sekigahara juga waktu itu. "Pergi ke rumah Onosaku." "Waktu umurmu sekitar itu. karena rendahnya ambang pintu. aku tahu banyak hal. apa kebetulan engkau tidak berada di pertempuran Sekigahara." "Apakah Anda pernah di kamp Ukita juga?" "Aku tinggal di Yasugawa waktu itu. seolah pada diri sendiri. "Terima kasih. "Makanlah!" katanya tanpa basa-basi. dengan anak lain seumurmu?" Kini Musashi yang mendapat giliran terkejut. Sekarang!" "Kenapa mesti minum begitu banyak malam ini?" "Percakapan kami menarik. Ebook by Kang Zusi . "Mestinya kita sudah berjumpa di pertempuran itu. "Kalau Anda tidak keberatan. "Ada apa." kata Baiken dan cepat menangkap pergelangan Musashi. "Ini bukan waktu makan." "Iwa!" panggil Baiken lewat papan rapuh di sudut bengkel. Kami tinggal sementara waktu di sebuah rumah di Ibuki. ia bertanya biasa saja." jawab Musashi. kemudian katanya. Baiken sendiri tiba-tiba kelihatan lebih akrab. Kami ada di garis depan waktu itu. Baiken menanti beberapa tarikan napas." Musashi sudah cukup minum." "Lalu apa yang terjadi dengan temanmu itu?" "Saya tak pernah lihat dia lagi sejak itu.property of: CROSSFiRE." "Oh. Istri Baiken sudah di tempat tidur dengan bayinya. tidak." jawabnya. dan aku pergi perang dengan rombongan samurai dari sana. Aku perlu sake lagi." katanya sambil memungut supitnya. Musashi merasa lebih senang pada orang itu. barangkali kita pernah bertemu. menunggu sembuhnya lukaluka. "Bagaimana Anda bisa tahu?" tanyanya pelan. "Oh. "Aku minta lagi. Itulah penghabisan kali saya melihatnya. "Tidak. Ia membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya sambil membungkuk. Inc. entah di mana. Pak?" tanya anak itu." kata pandai besi itu." Mendengar ini. begitu? Kalau begitu. saya akan makan. sake itu!" Sambil menuangkan semangkuk lagi untuk Musashi. "Panas rasanya sekarang." "Sejak pertempuran itu?" "Tidak tepat sejak itu. tunggu.

Baiken sudah cukup banyak minum. "Kalau ada jarak antara kita dan musuh. lebih baik tak usah. Kalau kau haus. selama kau mau. Kerjakan yang kusuruh!" Perempuan itu bangkit dengan gusar dan berangkat ke kamar belakang. Dua belah tangan. Kalau musuh mendatangi kita. "Lihat. Rantai. dan musuh tak berpedang lagi. netcafe." Ketika Iwa kembali membawa sake. "Bangun!" seru Baiken kepada istrinya. Baiken mengambil bayinya yang tidur." Musashi tak dapat menjawab. senjata itu tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk mempertahankan diri. lembing. ada air panas di atas api buat bikin teh. sedangkan manusia punya dua tangan.. Musashi sendiri sudah jauh melewati batas kemampuannya dan sudah lebih mabuk dari yang pernah dialaminya. karena itu tidurlah yang enak. Sabit. "Katamu kau ingin dengar lebih banyak tentang rantai-peluru-sabit. Biar dia tidur sekarang.. kita sabet senjatanya dengan rantai. Aku sudah mintakan sake. "Kaubilang dia dapat tidur di bengkel dengan Iwa. tentang miripnya rantai itu dengan ular. disentakkan tajam. Akan kuceritakan semuanya sekarang. tentang sepuluh atau lebih cerita turun-temurun mengenai senjata ini. Siapkan tempat tidur di sana.." Baiken terus bercerita pada Musashi tentang cara-cara melemparkan peluru. Besok saya sediakan sarapan yang enak dan panas. Musashi betul-betul terpesona. "Selimutnya sudah tua. tapi api di ada dekatmu. tentang kemungkinan menciptakan khayal penglihatan orang dengan mengubah gerakan rantai dan sabit. atau apa pun." "Terima kasih. Mendengar orang berbicara seperti ini. kita pegang sabit dengan tangan kiri dan bola dengan tangan kanan. jadi minumlah sedikit lagi." Botol sake yang kedua pun kosong. Rantai dilontarkan dengan terampil. hingga pertahanan musuh akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. "Pedang dapat dipergunakan dengan satu tangan.property of: CROSSFiRE. ada kemungkinan merebut senjata musuh dengan rantai. Itu satu cara." katanya." Sambil mengubah kedudukan. sebelum menyerang langsung. ia meneruskan. "Suami saya juga sudah mabuk sekali." "Ah. Ia berkata. benih-benih pikiran lain terbentuk dalam kepalanya. ayolah." desak Baiken." Kaki sang istri sudah enak dan hangat sekarang. Bangun pasti tak menyenangkan. Rasanya saya tak bisa minum lagi. dan mendesak Musashi minum lagi. Inc. "Jangan membantah. Ia ingin menyerap segala seluk-beluknya. "Berlainan dengan pedang. Dia bilang mau tidur sampai siang. kemurungan wajahnya sudah hilang." gumamnya. juga tentang semua cara rahasia dalam menggunakan senjata itu." Ia sendiri pergi ke kamar belakang. Ia sudah tak sabar lagi untuk melepaskan kaus kulit dan Ebook by Kang Zusi . Sementara ia mendengarkan. Tidurlah. Baiken mendemonstrasikan satu jurus.. tapi mari minum sedikit selagi bicara. Ketika perempuan itu datang kembali untuk mengganti bantal. Tidur yang enak. "dan barangkali capek karena perjalanan. tongkat kayu. ia selalu mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. "Tamu kita sudah capek." Perempuan itu tak beranjak dari tempatnya. dan katanya. Juga." Masih dalam keadaan duduk." "Kalau sake itu buat saya. "Bangun!" seru Baiken lebih keras.. Tak peduli macam apa senjata itu—pedang. "Biar tamu kita tidur di sini. kita hadapi dia dengan mata sabit. kemudian kita hembalangkan bola ke mukanya. Kau dan aku tidur di kamar belakang. Baiken menuangkannya sebagian ke guci pemanas dan meletakkannya di atas api. lalu bicara panjang-lebar tentang rantai-peluru-sabit serta cara-cara penggunaannya yang terbaik dalam pertempuran yang sebenar-benarnya.

Musashi membuka mata. Bayi tidur itu manis. Kenapakah pandai besi yang semula tampak hampir tidak sopan itu tiba-tiba jadi bersahabat dan memintakan sake lagi? Kenapakah istrinya yang tak enak sikapnya itu menjadi manis dan tiba-tiba mau membantu? Kenapa mereka memberikan tempat tidur yang hangat ini? Semua itu seperti tak terjelaskan. Inc. ibunya menyanyi lembut. Ia membuka mata dan memandang ke langit-langit. Dan sebuah tembok tanah yang dipayungi dahandahan yang menggelap ketika malam mendatang.. "Pergi! Pulang sana ke rumahmu!" Suara itu suara Munisai yang menakutkan. barangkali ibunya seperti ibu itu.. Musashi tak dapat mengingat wajah ibunya. dan di situ ia tergeletak melolong sekuat paru-parunya. tapi ia tak dapat tidak memikirkan Baiken. Cahaya lampu bersirur dari rumah itu. Di dada ibunya ia menengadah ke wajah putih itu. "Takezo. Perempuan itu tentunya ibunya. atau ibumu?" Munisai memekik dari tepi sungai. Musashi bermimpi. Karena tak dapat bicara. kelihatannya seperti mencoba menuliskan sesuatu dengan huruf-huruf cahaya. "." Ia menyelam ke dalam selimut yang masih hangat. pelipisnya berdentam-dentam sakit. Sake itu telah hilang pengaruhnya... Pandangan matanya berhenti pada kincir mainan yang tergantung pada langit-langit di atasnya. atau lebih tepat dikatakan melihat sebagian mimpi yang terus berulang-ulang. Istri Baiken berdiri di pintu mengawasinya. Ketika ia mulai tertidur lagi. Cuma dahinya yang tetap terbuka. Air mata berkilauan di pipi ibunya. mendengarkan lagu menidurkan bayi yang dinyanyikan istri pandai besi dalam dialek Ise. Istri Baiken mengundurkan diri diam-diam ke kamar belakang. Wajahnya yang tirus terawat baik tampak sedikit kebiruan. Tapi semakin bayi itu bertingkah." Kepala Musashi terasa seperti dilingkari ikat baja yang ketat. tapi sebelum Musashi dapat memecahkan misteri itu. tapi tubuhnya sendiri lebih panas lagi akibat minuman itu. kemudian diam-diam meniup lilin.." Sambil mengayunayunkannya dalam gendongan. semakin ketat ibunya memeluknya.. "Terima kasih banvak. rasa kantuk sudah menguasainya. Sering ia memikirkan ibunya. kenapa minum jauh lebih banyak dari biasanya. Dan ia mendengar kata-kata nyanyian menidurkan bayi. Sambil menangis ia berlari masuk sungai dan berjalan terus ke tengah.. dan menaikkan selimut. tidurlah. yang berasal dari dalam rumah. pantulan bara di perapian. Pipinya yang basah disapukan ke pipi bayi itu. tapi tak dapat menggambarkan wajahnya. Ibunya tenggelam ke dasar sungai Bayinya dilontarkan ke tepi yang berkerikil. nakal. Dengan rasa nostalgia samar-samar ia terus berbaring setengah tidur. Di tengah hitamnya jelaga terlihat cahaya kemerahan. Tidurlah." katanya. mencoba mengatakan bahaya yang menghadang. seorang perempuan-ibunyakah? atau perempuan lain lagi? mengganggu tidurnya dan membangunkannya lagi. Segera kemudian terdengar tarikan napasnya yang dalam dan teratur. dan katanya. lalu ia menyusuri tanggul batu yang panjang. netcafe. Ibu Musashi bangkit pelan-pelan. Ia merasa juga bau ibu dan anak itu masih menempel pada seprai. ibunya. menatap kincir mainan itu. langkah kakinya yang ringan dan lengket menyeberang tatami.. menarik napas dalam. Ia sendiri bayi yang digendong seorang perempuan berkulit kuning berumur sekitar tiga puluh tahun.. jubahnya. Apabila ia melihat ibu lain. bayi itu menggeliat dalam pelukan ibunya. Ia menutup mata. "Selamat malam. Dan si bayi memandang kagum air mata itu. diterangi bunga-bunga api yang sekali-sekali melenting dari perapian. dan bikin ibunya menangis juga. Ebook by Kang Zusi . "kau anak ayahmu.. sebuah tembok batu panjang yang ditumbuhi tumbuhan menjalar. Tampak sebuah tembok. "Ada apa malam ini?" pikirnya.. Serasa ia kembali berada di Mimasaka. Dan itu suatu perintah. seperti kembang buah pir. di tengah bunga mawar yang sedang berkembang. Kenangan masa kecil melompat-lompat dalam otaknya seperti seekor serangga. Perasaannya dahsyat. terpikir olehnya.property of: CROSSFiRE. Ia bertanya pada diri sendiri.

ataukah meloloskan diri sebelum tiba waktunya. Ia ulurkan tangannya ke atas ambang pintu bengkel untuk mencari sandalnya. Kincir mainan itu mulai berputar lagi. Musashi!" Tak ada jawaban atau gerakan datang dari tilam. Seorang lagi yang membawa lembing dan bergayut erat pada dinding mengendap ke bagian kaki tempat tidur. orang ketiga melompat masuk. Kejar dia!" "Lewat jalan mana. Musashi tahu. Baiken menatap berang. Segera seorang lagi berseru marah. Ketiga mata orang itu bertemu. Orang yang memegang lembing menyingkapkan seprai. baik di dalam maupun di luar rumah. Kincir mainan berhenti berputar. netcafe. yang mencoba meramalkan cuaca di atasmya. Kalau mereka pencuri betul. Musashi merasa pasti. Kemudian. dan kemudian sandal yang lain ke bawah seprai. ke bagian kaki tempat tidur. "Dia tak ada. kulit dan tulangnya dapat merasakan bahwa seseorang atau sesuatu sedang mengancam hidupnya tahu bahwa apa pun bentuknya. "Apa dia dendam padaku?" Itu pun rasanya tidak tepat. sedangkan yang di bagian kaki melompat masuk bengkel dan membidikkan lembingnya ke benda terbaring itu. Di bawah tirai pendek di pintu muncul sepasang mata milik orang yang sedang merangkak masuk dengan pedang terhunus. belum pernah ia melihat Baiken sebelumnya. dia pasti belum jauh. "Ada pintu terbuka!" pekiknya.. "Cuma ada dua jalan yang mungkin dia ambil: ke jalan raya Tsu. menurut Bapak?" Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. Dalam cahava api ia berputar seperti bunga yang terkena sihir. dan mereka mempersamakan napas. tentunya mereka tahu ia tak punya apa-apa. dan terpandang olehnya kincir mainan berputar cepat. memang ia dibuat supaya berputar. Ia harus memutuskan dengan cepat.. ketika Musashi pelan-pelan menggulung tilam menjadi bentuk tubuh manusia. Pak?" tanya satu suara rendah bergairah. "Apa maksudmu. dan sarafnya yang peka betul-betul tegang. Dengan sabit di belakang tubuhnya. apakah akan berbaring menunggu datangnya bahaya. Tak ada yang aneh di situ." serunya. Mana pun yang dia tempuh. Kedua orang itu menatap seprai tempat tidur dan mendengarkan napas orang yang sedang tidur. Langkah-langkah kaki terdengar lirih. tapi dari mana? "Apa ini sarang penyamun?" begitu mula-mula ia bertanya pada diri sendiri. tapi itu kalau ada angin! Maka Musashi bangun dan menajamkan pendengaran baik-baik. Pintu bengkel yang menghadap jalan setapak yang menuju ke belakang rumah terbuka sekitar tiga kali lebarnva. Ia selipkan mula-mula sebelah sandal. Ia laksana seekor serangga di bawah selembar daun. ancaman itu sangat dekat. kenapa kau kusuruh jaga di sini? Dia lari! Pasti dia lewat sini tadi. dan angin tajam bertiup ke dalam. "Dia keluar dari sini!" "Apa kerja orang-orang tolol itu!" jerit Baiken sambil berlari ke luar. Seluruh tubuhnya sudah terbiasa dengan perubahan sekecil apa pun di sekitarnya. Orang yang berada di bagian kepala tempat tidur menendang bantal ke udara. goblok? Menurutmu. Baiken berseru. Inc." "Lari? Bagaimana dia bisa lari?" "Pakai tanya lagi? Keledai kepala besar!" Baiken kembali masuk rumah dan berjalan mondar-mandir dengan bingung. hidupnva dalam bahaya. "Beres. Tapi. Tapi tidak. Kincir mainan mulai berputar pelan-pelan. Baiken melontarkan pandangan bingung ke kamar. Orang itu Baiken sendiri yang memegang sabit dengan tangan kiri dan peluru dengan tangan kanan. "Bangun. Terdengar bunyi pintu yang ditutupkan pelan-pelan. Dari bawah ujung atap dan bayangan bermunculan sosok-sosok tubuh hitam. Diam-diam Musashi meletakkan kembali kepalanya ke bantal dan mencoba menduga apa yang sedang terjadi di rumah itu. Walaupun tak dapat menggambarkan sebabnya. seperti gumpalan asap.

Mereka mengira akan mendapat makian pemimpinnya. Begitu mata Baiken tertutup. Percakapan hanya terjadi di sana-sini dan kedengaran murung." "Dia punya jimat! Pasti. Mereka mencoba membuat Baiken mabuk. Berbaringlah dan tidurlah." "Lebih baik Bapak tidak memikirkannya lagi malam ini. sedangkan Tsujikaze Temma itu bukan pejuang kecil. "Kalau kau temukan dia tembakkan bedil. Kamu tutup jalan bawah itu!" Orang-orang yang ada di dalam bergabung dengan orang-orang yang ada di luar. ia ambil sepotong kayu arang dan ia patahkan kayu itu dengan lututnya. dan ia lakukan itu dengan cepat." Orang-orang yang dimaksud itu meminta maaf dengan wajah malu.property of: CROSSFiRE. Ketika mereka mencoba menggembirakan hatinya." "Apa ronin itu betul-betul anak yang sembunyi di rumah Oko empat tahun yang lalu?" "Mestinya begitu. Inc. Seorang di antaranya yang membawa bedil tampak seperti pemburu lainnya. tidak menegur siapa pun atas kegagalan itu. netcafe. Orang-orang saling mengangguk dan mengundurkan diri." "Tak usah kuatir soal itu. Ketika berpisah. atau pemburu. Beberapa orang memungut bantal yang tadi ditendang dan meletakkannya di bawah kepalanya. Mereka semua orang-orang jembel—anak buah bromocorah seperti Tsujikaze Temma dari Ibuki dan Tsujikaze Kohei dari Yasugama. tapi kemudian dia mengatakan pernah di Sekigahara." Ia nyalakan api itu kembali dan ia masukkan lagi ranting-ranting kayu api. semuanya bersenjata. kemurkaan yang memenuhi dirinya diganti oleh dengkur keras. Pak. bubar ke tengah kabut pagi buta." Mereka berangkat cepat-cepat. dan semua kumpul. Baiken berseru. mereka menjadi petani. memang dia yang membunuh saudaraku. Ebook by Kang Zusi . Mestinya aku dapat menanganinya sendiri. yang sekarang menyebut dirinya Shishido Baiken. berceloteh antara sesamanya dengan kesal. dan mangkuk-mangkuk diedarkan. kapan saja ada kesempatan. tapi sekitar satu jam kemudian mereka kembali satu-satu dengan wajah murung. "Aku ke Suzuka. menjadi rombongan campuran terdiri atas sekitar sepuluh orang. Semula tak pernah terpikir olehku. Bisa juga mereka itu sekadar begundal di anak tangga terbawah dalam masyarakat bebas. aku yakin." Mereka semua membantunya ke tempat tidur. Akhirnya ia berkata. Jisim saudarakulah yang membawanya kemari." "Bajingan kecil busuk. "Bikin aku gila. dan namanya waktu itu Takezo. tapi masih punya gigi yang siap dipakai menggigit orang baik-baik. Yang terdengar di rumah itu kini hanya bunyi penghuni yang tidur dan gerekan tikus ladang. "Mestinya tak usah aku membesarkan soal dengan mengerahkan begitu banyak bantuan dari kalian. "Tak ada gunanya menangisinya sekarang. Segera kemudian minuman itu sudah panas. Pasti dialah itu. istri Baiken mengingatkan suaminya bahwa sake tak ada lagi. supaya mau pergi tidur. Melihat umurnya dan macamnya. tapi Baiken hanya duduk memberengut karena pahitnya sake. Orang-orang di luar inilah tadi yang gagal dalam tugas. Baiken berkata. Sambil mencoba menenangkan bayinya. yang membawa pedang pendek barangkali pembelah kayu." Untuk mencoba melampiaskan kemurkaannya. Bapak sudah lakukan semua yang mungkin. tapi sampai di rumah mereka dapati Baiken duduk di lantai bengkel dengan mata tertunduk tanpa cahaya. Karena desakan waktu yang sedang mengalami perubahan. "Ambil sake! Aku mau minum. Seorang dari orang-orang itu dengan sukarela men-datangkan sake dari rumahnya. Dia sudah membunuh saudaraku. tukang. tapi tadinya kupikir aku mesti hati-hati.

Lagi pula. Kini ia berjalan pelan-pelan melintasi bengkel dan memandang Baiken. Ia merasa sedikit iri berdiri di dekat keluarga yang sedang tidur ini. Di dalam bayangan antara tungku dan dinding. anaknya yang masih kecil nantinya akan menghabiskan hidupnya untuk berusaha membalas dendam kepada pembunuh ayahnya. Jotaro berkata senang. Ketika Musashi membunuh Tsujikaze Temma dulu. karena dengkur Baiken bukan main kerasnya. Sesudah menyelinap dari bawah seprai tadi ia membuka pintu luar dan mencampurkan diri dengan kayu api. dan ia undur mengagumi hasil karyanya. tidak sangsi lagi. Sambil mengeluarkan mata sabit dari lekuknya.property of: CROSSFiRE. bahkan juga tumbuhan dan binatang. kalau ia membunuh orang itu. Dari Gunung Fudesute mereka berjalan ke Yonkenjaya. kincir itu bisa terbangun pagi harinya dan berputar kencang menyaksikan kepala tuannya terjatuh dari bantal. Dalam hatinya ia berkata pada mereka. Jalan yang aman. Di sudut gang yang menghubungkan ruang kerja dengan dapur. Kemudian dibungkuskannya secarik kertas lembap di sekitar mata sabit itu melintang di leher Baiken. ia mengamati wajah orang yang sedang tidur itu. Itulah saat indah ketika semua benda bernyawa. pikir Musashi. Keadaan itu terasa lucu olehnya. Ia pergi ke dinding dekat kaki Baiken dan mengambil salah satu senjata pandai besi itu. sebelum akhirnya menemukan pemecahan yang kelihatannya paling tepat. netcafe. di samping tungku tanah besar. "Saya minta maaf telah mengganggu kalian. Malam itu berkali-kali Musashi memikirkan ayah dan ibunya sendiri. Suatu kemenangan telak. Sekiranya tak ada kertas pembungkus itu. Namun orang yang terbaring itu saudara Tsujikaze Temma dan sudah mencoba membunuhnya untuk menyenang-kan roh saudaranya yang telah mati—suatu sentimen yang mengagumkan untuk seorang bromocorah. demikian pikir Musashi. siapa tahu. adalah menyingkirkannya sekarang juga. Praktis ia sudah memenangkan pertarungan dengan Baiken. sampai akhirnya tergantung pada paku. menginap di sebuah rumah penginapan. Tak ada orang di depan kita. Musashi muncul dari dinding. Tidurlah yang nyenyak. Kincir mainan itu tidur juga. salah satu mantel hujan itu bergerak. Inc." Ebook by Kang Zusi . Musashi tak satu langkah pun meninggalkan rumah itu. Tubuh manusia yang seperti asap itu tiba-tiba seperti muncul dari dinding. Tapi persoalan yang masih harus dijawab adalah. berpikir. ia punya alasan untuk melakukannya. dan ia menyeringai. bagian 13 Kuda Terbang OTSU dan Jotaro tiba di perbatasan larut malam. ia akan terus mencari kesempatan melaksanakan balas dendam. kemudian melanjutkan perjalanan lagi sebelum kabut pagi menghilang. Ia berdiri di sana sejenak. "Kita berdua yang pertama di jalan ini. Namun kini tak ada satu pun manfaat yang bisa ia peroleh dari mengambil nyawa pandai besi itu. Ia berhenti melihat bulatan emas besar itu. Ia tampak penuh harapan dan keriangan. Ia bahkan merasa enggan meninggalkan tempat itu. lagi pula waktu itu darahnya masih mendidih oleh demam pertempuran." Pelan-pelan ia membuka pintu luar dan pergi. Amandelnya bengkak. Mestikah Musashi membunuhnya? Kalau Musashi membiarkannya hidup. dan samar-samar tercium olehnya bau manis susu ibu. apakah orang itu pantas dibunuh. dan menutup dirinya dengan mantel hujan. Musashi berpikir keras sejenak. Di atasnya tergantung sebuah payung dan mantel-mantel jerami yang berat. pelan dan lirih mengingsut ke dinding. merasa puas dan bangga karena hidup di dunia ini. berdiri setumpuk kayu bakar. "Bukan main indahnya!" ujar Otsu. Di situ untuk pertama kali mereka merasakan hangatnya matahari terbit yang menyinari punggung.

" "Mari kita kembali ke sana. bukan. Mesti Kakak akui. Pasti dikiranya kita sinting. tapi kamu yang mulai. bukan aku?" "Ya." "Jangan. tapi kamu kan belum capek? Menyewa kuda itu membuang-buang uang saja." "Mungkin. Kalau lari." Ebook by Kang Zusi ." Otsu memungut sebatang bambu. "Semua membungkuk! Semua membungkuk kepada Yang Dipertuan!" Seorang lelaki memandang bertanya-tanya dari bawah ujung atap warung teh. "Kedengarannya bangga betul kamu. Tertangkap basah sedang bermain seperti anak-anak. ah!" "Lho." protes Jotaro. "Oh. "Tak boleh kamu lari dari tuanmu. terpaksa aku membunuhmu!" "Aku tak mau main lagi.property of: CROSSFiRE. sekarang masih terlalu pagi. jangan begitu." "Ah. Apa artinya?" "Oh." "Kalau begitu. netcafe. kan?" "Barangkali. dan cuma karena sudah gelap dan kita mesti buru-buru." "Memang betul. Senang rasanya menjadi orang pertama. aku merasa jalan itu milikku. kenapa tidak kamu umpamakan dirimu seorang samurai besar yang sedang menunggang kuda dan memeriksa tanahmu yang luas? Aku akan jadi pembantumu. Tapi Kakak tak pernah lihat aku naik joli atau menaiki kuda seperti Kakak. Inc. Kalau begitu pendapatmu. Lihat itu! Orang di warung teh itu memandang kita terus." "Tapi aku ingin naik kuda. wajah Otsu memerah dan ia berjalan terus secepat-cepatnya." "Apa menurutmu jalan ini lalu jadi lebih pendek?" "Oh. itu kan cuma tadi malam." "Buat apa?" "Aku lapar." "Kalau begitu." "Sudah lapar?" "Apa tak bisa kita makan separuh kue nasi yang buat makan siang?" "Sabar. biar cuma pertama di jalan. Kakak bohong tadi bilang aku boleh naik kuda!" "Aku tidak bohong. "Hari ini giliranku naik kuda." "Anak-anak tak perlu naik kuda. Kalau kubiarkan bisa-bisa kamu makan lima kali sehari." "Kulihat ada kuda terikat di warung teh itu. Kita dapat menyewanya. kan Kakak yang main tadi." "Kalau tak ada orang lain di jalan yang kujalani. banyak artinya. Kita belum lagi tiga kilometer. tapi hari ini saja. itu lebih baik daripada berjalan di belakang joli atau kuda. Apa tak bisa? Bisa. aku akan jalan sepanjang hari im. dan sambil mengayun-ayunkan bambu itu dengan khidmat ia berseru-seru dengan nada sama.

Maka aku kuatir tidak mendapat kehormatan meminjamkannya kepada Tuan. Jotaro menyahut. kalau kau mau. mari kita sewa kuda sekarang. Inc. Kalau mesti tunggu sampai lelah. Teriakan bernafsu anak itu mengejutkannya dan membangunkannya." Ketika mereka akan berangkat. ya?" teriak orang itu sambil mengambil ranting menyala dari api di bawah tungku dan melemparkannya kepada anak itu. serunya. dan ia mengambil keputusan bahwa ia dapat mempercayai Otsu. kalau tak ada tukang kuda ia dapat membayar uang di muka dan mengirimkan kuda pulang kembali dari Minakuchi bersama musafir yang pergi ke sini. atau juga ke Kusatsu." "Tapi kamu ini anak siapa?" "Aku anak ibuku dan ayahku. netcafe. bisa diteruskan sampai Kusatsu. "Kalau begitu. Tampangmu gila macam guntur. Walaupun di sekitar itu terdapat empat warung teh. "Pinjamkan dia untuk aku. Sambil meringkik membelah udara. warungwarung itu terletak di berbagai tempat yang berlainan di lereng Gunung Fudesute dan Kutsutake. Ia melompat keluar dari warung sambil memuntahkan sumpah serapah dan berlari mendapatkan binatang itu. Minta disiapkan sekarang juga." "Tidak bisa. karanva. Sambil menyerahkan tali kepada Otsu. "Hei. tak bakal aku naik kuda. kemudian berhenti tiba-tiba. ujar Jotaro marah. "Kupikir turunan liar dewa badai." Otsu memihak Jotaro dan menyarankan. Adapun warung yang baru mereka lewati itulah satu-satunya yang tampak oleh mereka. Jotaro mulai lagi. seperti ditunjukkan oleh nama Yonkenjaya itu." Dan untuk mengimbangi nada bicara orang itu. "Apa saja ini! Buat apa memekik sekeras itu!" "Aku perlu kuda. Jotaro berlari menjumpai pemilik warung. mumpung tak ada orang di depan kita. Ini lebih aman daripada kalau jalan ramai. aku tak pernah capek. kirim dia kembali. jadi aku tak akan mendapat kehormatan menyewanya?" "Lancang kamu. "Apa pendapat Kakak tentang dia? Dia perlakukan aku Ebook by Kang Zusi . ia berlari kembali ke warung teh ia memang tidak menantikan anggukan Otsu. kuda itu mundur . bisa kaubawa dia ke Minakuchi. Aku tak akan capek. siapa di situ? Aku mau kuda! Keluarkan satu buatku!" Orang tua itu sedang menurunkan daun jendela. kau pikir kuda itu buat disewakan? Kuda itu tidak disewakan. "Oh. Ayolah!" Karena merasa bahwa kalau terus begitu mereka akan kehilangan waktu yang sudah mereka hemat dengan berangkat pagi-pagi. Dengan muka masam ia menggerutu. "Kakak kan tahu betul." jawab Jotaro kurang ajar. Begitu Jotaro merasa Otsu mengangguk setuju." "Kenapa tak bisa?" "Tak ada tukang yang membawanya. biar kita jalan seratus hari atau seribu lima ratus kilo. tapi menimpa kuda tua yang tertambat di bawah ujung atap. Sikap Otsu yang memohon itu melunakkan si orang tua. Cuma permintaanku. Ayolah." "Kamu ini dewa badainya.ian membenturkan punggungnya ke tiang. Berapa sampai Minakuchi? Kalau tak begitu mahal. maka Otsu menyetujui.property of: CROSSFiRE. Selagi ia melepaskan tali dan menuntun kuda itu ke pekarangan samping. Bajingan!" jerit si pemilik. Ranting iru tidak mengenai Jotaro." "Bandel!" "Mana kudanya!" "Oh.

tapi kaki dan tangannya gemetar." Orang itu bicara sangat cepat. Kudanya ini mendengarkan. Mereka menghentikan kuda itu dan menoleh. lalu keduanya berangkat. kemudian warnanya. Sambil mencekal bulu tengkuknya. naik dari belakang?" "Ah. Dalam udara dingin itu. "Turun!" perintahnya sambil menatap Jotaro. Bibirnya menggeletar. seperti keledai. tapi begitu dia lihat wajah manis. Belum lagi seratus langkah. Ebook by Kang Zusi . untuk memastikan apa yang didengarnya itu benar. seakan-akan orang itu diikuti angin pusaran yang sedang mengamuk. "Namaku Shishido Baiken. Dia bisa marah dan melemparkanmu.." "Apa menurut Kakak. tapi kamu menyesal nanti. "Kakak jalan di depan. Soal itu beres. Berikan kuda ini padaku. Otsu melambaikan ucapan selamat berpisah kepada pemilik kuda dengan tangan satunya. seakan bumi di bawahnya menguras seluruh darah tubuhnya. Ia masih mencengkeram bulu tengkuk kuda itu. Inc. dong. berhenti. jadi aku mesti jalan cepat kalau mau berhasil mengejar dia di Yasugawa. Dia lewat jalan ini sebelum fajar tadi. menoleh kepada Otsu. sebelah sana perbatasan. katanya. Di tengah kabut putih mengasap itu terbentuk bayangan orang. Semula mereka hanya dapat menangkap garis bentuknya saja." Sambil memegang tali kekang dengan satu tangan. hingga mereka dapat mengira-ngirakan penampilannya dan umurnya. tulang rusuknya mengembang dan mengempis. dan dengan gerakan cepat merebut tali kekang dari tangan Otsu. Aku sedang mengejar orang yang namanya Miyamoto Musashi.property of: CROSSFiRE." "Jangan kuatir. Aku tinggal di Desa Ujii di pegunungan. "Hei. "Apa kita yang dipanggilnya?" tanya Otsu." katanya. Tapi ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. "Siapa itu kira-kira?" tanya Jotaro. mana boleh begitu! Aku yang menyewa kuda ini. Jotaro memekik." "Baiklah. tapi segera kemudian orang itu sudah cukup dekat. "Dudukmu belum benar. Orang itu cepat mendekat ke samping Otsu. Otsu tegak diam. kabut mengental menjadi bunga es pada cabang-cabang dan ranting-ranting pohon. bukan kamu!" Orang itu mendengus." "Hati-hati kamu. "Perempuan!" "Ya?" kata Otsu lirih. kuda tua lemah kaki ini bisa mengalahkan aku?" "Kamu kan belum bisa naik kuda?" "Siapa bilang tak bisa?" "Lalu macam apa pula ini. Kuda itu berlar