property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

MUSASHI
karya : EIJI YOSHIKAWA

Buku 1 : TANAH
bagian 1
Takezo terbaring di antara mayat-mayat itu. Ribuan jumlahnya. “Dunia sudah gila,” pikirnya samar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin musim gugur.” Ia sendiri seperti satu di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat mengangkatnya beberapa inci dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa begitu lemah. “Sudah berapa lama aku di sini?” ia bertanya-tanya. Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tangan untuk mengangkat tangan pun ia tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama tadi aku pingsan,” pikirnya sambil menggerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum begitu sadar bahwa dirinya sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya. Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya, kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan Sekigahara. Sekarang ini lewat tengah hari, tanggal lima belas bulan sembilan tahun 1600. Sekalipun topan telah berlalu, sekali-kali siraman hujan segar masih menimpa mayatmayat itu, termasuk wajah Takezo yang tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu. “Seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedangkan pikirannya seperti bayang-bayang igauan yang melintas. Pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu. Kobayakawa Hideaki, yang dikiranya sekutu, ternyata diam-diam telah bergabung dengan Tentara Timur. Ketika ia menyerang pasukan Ishida Mitsunari pada senja hari, jalan pertempuran pun berubah. Ia kemudian menyerang tentara panglima-panglima yang lain – Ukita, Shimazu, dan Konishi. Maka sempurnalah keruntuhan Tentara Barat. Hanya dalam setengah hari pertempuran sudah dapat dipastikan siapa yang sejak itu akan memerintah negeri. Dialah Tokugawa Ieyasu, daimyo Edo yang perkasa. Bayangan kakak perempuannya dan penduduk desa yang sudah tua-tua mengambang di depan matanya. “Aku akan mati,” pikirnya tanpa rona sedih. “Jadi, beginikah rasanya?” Dan ia pun merasa tertarik ke arah Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kedamaian maut, seperti anak-anak yang terpesona oleh nyala api. Tiba-tiba salah satu mayat yang dekat dengannya mengangkat kepala, “Takezo!” Bayang-bayang dalam kepala Takezo menghilang. Seolah terbangun dari mati, ia pun menoleh ke arah suara itu. Ia yakin itu suara teman karibnya. Dengan segenap kekuatan, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan ia paksakan keluar suara bisikan yang hampir tidak terdengar itu, karena kalah oleh titik-titik hujan. “Matahachi, kaukah itu?” Lalu ia rebah, terbaring diam, mendengarkan. “Takezo! Betul-betul kau masih hidup?” “Ya, hidup!” serunya, tiba-tiba keluar pongahnya. “Dan kau? Kau sebaiknya jangan mati juga. Jangan berani-berani!” Matanya lebar terbuka sekarang, dan senyuman tipis bermain di bibirnya. “Mana bisa aku mati! O, tidak!” Sambil terengah-engah karena merangkak menyeret badan dengan susah payah, Matahachi pun mendekati sahabatnya setapak demi setapak. Ditangkapnya tangan Takezo, tapi yang ia cengkeram dengan kelingkingnya sendiri hanyalah kelingking temannya itu. Sebagai sahabat, sejak kanak-kanak mereka sering mematrikan janji dengan cara itu. Ia pun lebih mendekat lagi, dan kemudian menggenggam tangan sahabatnya itu seluruhnya. “Sungguh aku tak percaya kau hidup juga! Tentunya hanya kita yang selamat!” “Jangan begitu terburu-buru! Aku belum mencoba berdiri.” “Mari kubantu. Ayo kita pergi dari sini!” Tapi tiba-tiba saja Takezo menarik Matahachi ke tanah dan menggeram, “Pura-pura mati! Celaka lagi!” Bumi pun mulai menderum seperti kawah gunung. Lewat tangan mereka berdua tampak angin pusaran sedang mendekat. Dan semakin mendekat. Baris-baris penunggang kuda sehitam jelaga meluncur langsung menuju mereka berdua. “Bajingan! Mereka kembali!” kata Matahachi sambil terus mengangkat lutut, seolah-olah bersiap melompat. Takezo langsung menangkap pergelangan kakinya, hingga hampir-hampir mematahkannya, serta merenggutnya ke bumi. Dalam sekejap mata, para penunggang kuda sudah terbang melewati mereka. Beratus-ratus kaki kuda yang berlumpur dan menyimpan maut mencongklang dalam formasi, menyepelekan para samurai yang sudah tewas. Sambil memperdengarkan pekikan-pekikan perang, dan dengan zirah serta senjata berdentingan, para penunggang kuda itu melaju terus. Matahachi berbaring menelungkup dengan mata terpejam, dengan harapan kosong semoga mereka tidak terinjak-injak, sedangkan Takezo menatap tanpa berkedip ke langit. Kuda-kuda itu begitu dekat dengan mereka, hingga mereka dapat mencium bau keringatnya. Kemudian semuanya berlalu. Secara ajaib mereka tidak terluka dan tidak dikenali, dan untuk beberapa menit lamanya keduanya tinggal diam tak percaya. “Selamat lagi!” kata Takezo sambil mengulurkan tangan kepada Matahachi. Masih merangkum bumi, pelanpelan Matahachi memutar kepala, memperlihatkan seringai lebar yang sedikit bergetar. “Ada yang berpihak pada kita, itu pasti,” katanya parau. Kedua sahabat itu saling bantu berdiri dengan susah payah. Pelan-pelan mereka melintasi medan pertempuran, menuju tempat aman di bukit-bukit berhutan, terpincang-pincang dan berangkulan. Di sana mereka rebah, dan sesudah beristirahat sebentar, mulailah mereka mencari-cari makanan. Dua hari mereka hidup dari buah berangan liar dan daun-daunan yang dapat dimakan di dalam lubang-lubang basah di Gunung Ibuki. Makanan itulah yang membuat mereka tidak mati kelaparan, tapi perut Takezo jadi sakit, dan usus Matahachi tersiksa. Tak ada makanan yang dapat mengenyangkannya, tak ada minuman yang dapat menghilangkan dahaganya, tapi ia merasa kekuatannya pulih kembali sedikit demi sedikit. Badai tanggal lima belas itu menandai akhir topan musim gugur. Kini hanya dua malam sesudahnya, bulan yang putih dingin sudah memandang muram ke bawah, dari langit yang tak berawan. Mereka berdua mengerti, betapa berbahayanya berada di jalan, dalam cahaya bulan terang. Bayangan mereka akan tampak seperti bayangan sasaran, yang dapat dengan jelas dilihat oleh patroli yang sedang mencari orang-orang yang berkeliaran. Keputusan untuk mengambil resiko itu datang dari Takezo. Melihat keadaan Matahachi yang begitu jelek – katanya lebih baik tertangkap daripada terus mencoba berjalan – agaknya memang tidak banyak pilihan lain. Mereka harus berjalan terus, tapi jelas pula bahwa mereka harus menemukan tempat untuk menyembunyikan diri dan beristirahat. Maka perlahan-lahan mereka pun berjalan menuju tempat yang menurut mereka adalah arah kecil Tarui. “Bisa kau bertahan?” Tanya Takezo berulang-ulang. Dilingkarkannya tangan temannya itu ke bahunya sendiri, untuk membantunya berjalan. “Kau baik-baik saja, kan?” Napas berat temannya itulah yang mengkhawatirkannya. “Mau beristirahat?” “Aku baik-baik saja.” Matahachi mencoba kedengaran berani, tapi wajahnya lebih pucat daripada bulan di atas mereka. Bahkan dengan lembing yang digunakannya sebagai tongkat pun hampir tidak dapat melangkahkan kaki. Beberapa kali ia meminta maaf merendah-rendah, “Maaf, Takezo. Aku tahu, akulah yang melambatkan jalan kita. Betul-betul aku minta maaf.” Beberapa kali pula Takezo hanya menjawab dengan kata-kata, “Lupakan itu.” Tapi akhirnya, ketika mereka sudah berhenti untuk beristirahat, ia pun menoleh kepada temannya dan cetusnya, “Coba dengar, akulah yang mestinya minta maaf. Pertama-tama, akulah yang menjerumuskanmu ke sini, ingat tidak? Kau ingat, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

bagaimana aku menyampaikan rencanaku padamu, bahwa akhirnya aku aku akan melakukan sesuatu yang bakal betul-betul mengesankan ayahku? Aku sungguh tak bisa menerima kenyataan bahwa sampai meninggalnya, Ayah tetap yakin aku tak akan pernah mencapai sesuatu. Aku ingin perlihatkan padanya! Ha!” Ayah Takezo, Munisai, dulu mengabdi pada yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Begitu Takezo mendengar bahwa Ishida Mitsunari sedang membentuk tentara, ia pun yakin bahwa kesempatan yang hanya sekali seumur hidup akhirnya datang baginya. Ayahnya seorang samurai. Apakah tidak sewajarnya kalau ia pun menjadi samurai? Ingin sekali ia memasuki kancah keributan, untuk membuktikan keberaniannya, untuk membikin berita tersebar seperti api kebakaran melintas dusun: ia telah memenggal jenderal musuh. Ia sangat ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati – bukan hanya sebagai perisau dusun. Takezo mengingatkan Matahachi tentang semua itu, dan Matahachi mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu. Tapi aku merasa begitu juga. Bukan hanya kau.” Takezo melanjutkan, “Aku minta kau mengawaniku, karena kita memang selalu bersama-sama melakukan semuanya. Tapi perbuatan ibumu itu sungguh mengerikan! Dia berteriak-teriak mengatakan pada semua orang bahwa aku gila dan brengsek! Dan tunanganmu Otsu, saudara perempuanku, dan semua orang menangis. Katanya pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun. Ya, barangkali mereka benar juga. Kita ini anak laki-laki satu-satunya, dan kalau kita terbunuh, tidak ada yang melanjutkan nama keluarga. Tapi peduli apa? Apa begitu mestinya hidup?” Mereka berhasil menyelinap keluar dusun tanpa kelihatan orang, dan merasa yakin tidak ada lagi penghalang yang memisahkan mereka dengan kehormatan pertempuran. Namun ketika sampai di perkemahan Shimmen, mereka berhadapan dengan kenyataan perang. Mereka langsung diberitahu bahwa mereka tidak akan menjadi samurai dalam waktu singkat, bahkan tidak dalam beberapa minggu, tak peduli siapa ayah mereka. Bagi Ishida dan jenderal-jenderal lain, Takezo dan Matahachi hanyalah sepasang orang udik, tidak banyak lebihnya dari anak-anak yang kebetulan memegang sepasang lembing. Paling banyak yang dapat mereka peroleh adalah izin untuk tinggal di sana sebagai prajurit biasa. Tanggung jawab mereka, kalaupun dapat dinamakan demikian, hanyalah mengangkut senjata, periuk nasi, dan alatalat rumah tangga lainnya, memotong rumput, mempengaruhi geng-geng jalanan, dan sesekali bertugas sebagai pandu. “Samurai, ha!” kata Takezo. “Lelucon macam apa pula. Kepala jenderal! Mendekati samurai musuh saja tidak, apalagi jenderal. Tapi setidak-tidaknya semua itu sudah lewat. Sekarang apa yang mau kita lakukan? Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau itu kulakukan, bagaimana aku akan menghadapi ibumu dan Otsu?” “Takezo, aku tidak menyalahkanmu karena kita celaka. Bukan salahmu kita kalah. Kalaupun ada yang mesti disalahkan, Kobayakawa-lah orangnya. Kobayakawa yang bermuka dua itu. Betul-betul aku ingin menangkapnya. Akan kubunuh bangsat itu!” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di tepi dataran kecil, menyaksikan lautan miskantus yang serupa buluh, sudah berantakan dan patah-patah terkena badai. Tak ada rumah. Tak ada cahaya. Di sini pun banyak mayat, bergelimpangan seperti waktu jatuhnya. Kepala salah satu mayat itu tergeletak dalam rumput tinggi. Ada juga yang menengadah di sungai kecil. Lainnya lagi tersangkut dengan anehnya pada seekor kuda mati. Hujan telah membasuh darah, dan dalam sinar bulan daging mati itu tampak seperti sisik ikan. Di sekitar semua itu, yang terdengar hanyalah litani giring-giring dan jangkrik musim gugur yang sepi. Aliran air mata membentuk jalur putih menuruni wajah suram Matahachi, dan ia memperdengarkan keluhan seorang yang sakit parah. “Takezo, kalau aku mati, maukah kau mengurus Otsu?” “Apa yang kau omongkan ini?” “Aku merasa seperti mau mati.” Takezo membentaknya, “Nah, kalau memang itu yang kau rasakan, barang kali kau memang akan mati.” Ia jengkel, karena sesungguhnya ia ingin temannya itu lebih kuat, hingga ia sendiri dapat menyandarkan diri kepadanya sekali-kali, bukan secara fisik, melainkan sebagai pendorong. “Ayolah Matahachi! Jangan seperti bayi cengeng begitu.” “Kalau ibuku pasti ada yang mengurus, tapi Otsu, dia sendirian di dunia ini. Selamanya begitu. Kasihan aku padanya, Takezo. Berjanjilah kau akan mengurusnya, kalau aku tak ada.” “Kau mesti percaya pada diri sendiri! Tak ada orang mati karena mencret. Cepat atau lambat kita akan menemukan rumah, dan kalau kita sudah menemukan rumah itu, kutidurkan kau dan akan kudapatkan obat. Sekarang hentikan rengekan tentang mati itu!” Lebih jauh sedikit, sampailah mereka di tempat bertumpuknya tubuh-tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatan seolah satu divisi penuh telah disapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin. Mereka berhenti lagi, beristirahat. Selagi mereka mengatur napas, terdengar ada yang bergerak di antara mayat-mayat itu. Keduanya undur ketakutan, dan secara naluriah merundukkan badan dengan mata terbuka lebar dan perasaan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

diwaspadakan. Sosok tubuh itu membuat gerakan melejit cepat, seperti gerakan seekor kelinci yang terkejut. Dan ketika mata mereka sudah terpusat ke arahnya, terlihat oleh mereka orang yang entah siapa itu sedang berjongkok rendah. Semula mereka menduga ia seorang samurai yang tersesat, karena itu mereka menabahkan diri untuk menghadapi pertemuan yang berbahaya. Tapi alangkah kaget mereka, karena ternyata prajurit dahsyat itu hanyalah seorang gadis muda. Gadis itu agaknya berumur sekitar tiga belas atau empat belas tahun, mengenakan kimono dengan lengan digulung. Obi sempit yang membelit pinggangnya sudah bertambal-tambal di beberapa tempat, namun terbuat dari brokat emas. Di tengah himpunan mayat itu, ia betul-betul merupakan pemandangan yang ganjil. Ia melayangkan pandang dan menatap mereka dengan penuh kecurigaan, dengan mata kucing yang licik. Takezo dan Matahachi heran akan hal yang sama: apa yang menyebabkan gadis itu dating di malam buta itu? Sekejap keduanya hanya balas memandang gadis itu. Kemudian Takezo berkata, “Siapa kau?” Gadis itu mengerdip beberapa kali, berdiri, lalu enyah dari situ. “Stop!” seru Takezo. “aku cuma mau mengajukan satu pertanyaan padamu. Jangan pergi dulu!” Tapi gadis itu sudah pergi, seperti kilasan kilat di tengah malam. Dan bunyi giring-giring kecil pun menghilang ke dalam ngeri kegelapan. “Apa kemungkinan itu hantu?” renung Takezo keras, sementara ia memandang kosong ke dalam kabut tipis. Matahachi menggigil sedikit, tapi memaksakan diri tertawa. “Kalau ada hantu di sini, tentunya hantu serdadu-serdadu itu, kan?” “Sayang aku telah membikin takut gadis itu,” kata Takezo. “Tentunya ada dusun di dekat-dekat sini. Dan dia tentunya bisa memberikan petunjuk pada kita.” Mereka berjalan terus, mendaki bukit pertama dari dua bukit yang ada di hadapan mereka. Di cekungan sebelah sana terdapat paya-paya yang menghampar ke selatan Gunung Fuwa. Dan tampak cahaya, hanya setengah mil jauhnya. Ketika mendekati rumah pertanian itu, terasa oleh mereka bahwa rumah itu bukan sekedar rumah biasa. Kelihatan dari tembok tanah tebal yang mengelilinginya. Juga dari pintu gerbangnya yang boleh dikatakan megah. Atau setidaknya sisa-sisanya, karena pintu gerbang itu sudah tua dan sudah sangat memerlukan perbaikan. Takezo mendekati pintu dan mengetuk-ngetuk pelan. “Permisi!” Karena tidak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi. “Maaf kami mengganggu pada jam seperti ini, tapi temanku ini sakit. Kami tak ingin menyusahkan – dia perlu istirahat sedikit.” Mereka mendengar orang berbisik-bisik di dalam, dan akhirnya terdengar bunyi orang berjalan ke pintu. “Kalian yang berkeliaran di Sekigahara, kan?” Suara itu datang dari seorang gadis muda. “Betul,” kata Takezo. “Kami bawahan Lord Shimmen dari Iga.” “Menyingkirlah! Kalau kalian ditemukan orang di sini, kami bisa celaka.” “Betul-betul kami minta maaf telah mengganggu seperti ini, tapi kami telah lama sekali berjalan. Temanku ini butuh sedikit istirahat, hanya itu, dan …” “Pergilah. Menyingkirlah!” “Baiklah, kalau memang itu yang Anda kehendaki. Tapi apa tak bisa temanku ini diberi obat? Perutnya sakit sekali sekali, hingga sukar bagi kami berjalan terus.” “Entahlah….” Beberapa waktu kemudian, mereka mendengar langkah-langkah kaki dan bunyi dering kecil menjauh ke dalam rumah, makin lama makin lemah. Baru pada waktu itulah mereka melihat wajah itu. Wajah itu tampak di jendela samping, wajah seorang wanita, dan wajah itu memperhatikan mereka terus. “Akemi,” serunya, “biar mereka masuk. Mereka prajurit biasa. Patroli Tokugawa tak akan membuang-buang waktu buat mereka. Mereka tak dikenal.” Akemi membuka pintu, dan wanita yang memperkenalkan diri sebagai Oko itu pun datang untuk mendengarkan cerita Takezo. Maka disetujuilah bahwa mereka tidur di lumbung. Untuk mengobati sakit perutnya, Matahachi mendapat tepung arang magnolia dan bubur beras encer dengan campuran bawang. Beberapa hari berturut-turut ia tidur terus-menerus, sedangkan Takezo duduk berjaga-jaga di sampingnya, sambil mengobati luka-luka peluru di pahanya dengan minuman keras murah. Pada suatu malam, kira-kira seminggu kemudian, Takezo dan Matahachi duduk mengobrol. “Mereka tentunya punya usaha tertentu,” kata Takezo. “Aku tak peduli dengan kerja keras mereka. Aku senang mereka telah menerima kita.” Tetapi rasa ingin tahu Takezo telah bangkit. “Ibunya belum begitu tua,” sambungnya. “Aneh, bahwa mereka berdua hidup sendiri di pegunungan ini.” “Hm. Apa menurut pendapatmu gadis itu agak mirip Otsu?” “Memang ada sesuatu padanya yang membuat aku ingat Otsu, tapi kukira mereka tidak betul-betul serupa. Keduanya manis, titik. Menurutpendapatmu, apa yang sedang dia lakukan waktu pertama kali kita Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

melihatnya itu? Merangkak-rangkak di antara mayat-mayat itu di tengah malam? Dan kelihatannya pekerjaan itu tidak mengganggunya sama sekali. Ha! Masih terbayang olehku hal itu. Wajahnya tenang dan tenteram, seperi boneka buatan Kyoto. Sungguh gambaran yang luar biasa!” Matahachi memberi isyarat pada Takezo untuk diam. “Ssst! Kudengar giring-giringnya.” Ketukan ringan Akemi di pintu terdengar seperti ketukan burung pelatuk. “Matahachi, Takezo,” panggilnya lembut. “Ya?” “Ini aku.” Takezo berdiri dan membuka kunci. Gadis itu membawa sebaki obat-obatan dan makanan, dan bertanya tentang kesehatan mereka. “Jauh lebih baik. Terima kasih untukmu. Juga untuk ibumu.” “Ibu bilang, biar kalian sudah sehat, kalian jangan bicara terlalu keras atau pergi keluar.” Takezo pun menjawab atas nama mereka berdua. “Kami minta maaf sudah membikin repot kalian.” “Oh, tidak apa-apa. Cuma kuminta kalian berhati-hati. Ishida Mitsunari dan beberapa jenderal lain belum tertangkap. Mereka mengawasi daerah ini dengan ketat, dan jalan-jalan penuh dengan pasukan Tokugawa.” “Betul?” “Makanya, biar kalian cuma prajrit biasa. Ibu bilang, kalau kami tertangkap menyembunyikan kalian, kami akan ditahan.” “Kami tak akan bikin rebut,” janji Takezo. “Malahan muka Matahachi akan kututup kain, kalau dia mendengkur terlalu keras.” Akemi tersenyum, membalikkan badan untuk pergi, dan katanya, “Selamat malam. Aku akan datang lagi besok pagi.” “Tunggu!” kata Matahachi. “Apa salahnya kau datang ke sini, bicara dengan kami sedikit?” “Tidak bisa.” “Kenapa?” “Ibu nanti marah.” “Peduli apa dengan ibumu? Berapa tahun umurmu?” “Enam belas.” “Kalau begitu, badanmu terlalu kecil, ya?” “Terima kasih atas komentar itu.” “Di mana ayahmu?” “Tidak punya lagi.” “Maaf. Lalu bagaimana kalian hidup?” “Kami bikin moxa.” “Obat yang dibakar di kulit buat menghilangkan sakit itu?” “Ya, moxa daerah ini terkenal. Musim semi kami memotong mugwort di Gunung Ibuki. Musim panas mengeringkannya, lalu musim gugur dan dingin membuatnya jadi moxa. Kami jual di Tarui. Orang datang dari mana-mana hanya untuk beli moxa itu.” “Kiranya kalian tidak butuh lelaki untuk mengerjakan itu.” “O, kalau itu yang ingin kalian ketahui, lebih baik aku pergi.” “Nanti dulu, sedikit lagi,” kata Takezo. “Ada satu pertanyaan lagi.” “Apa itu?” “Malam ketika kami datgn kemari itu, kami melihat seorang gadis di medan pertempuran, dan dia mirip sekali denganmu. Apa itu kau?” Akemi cepat membalikkan badan dan membuka pintu. “Apa kerjamu di sana?” Gadis itu membanting pintu di belakangnya. Dan ketika ia berjalan ke rumah itu, giring-giring kecil pun berdering dengan iramanya yang aneh dan sumbang

Sisir
Dengan tinggi sekitar 1,75 meter, Takezo cukup jangkung untuk orang sezamannya. Tubuhnya seperti tubuh kuda yang indah: kuat dan lentur, dengan kaki panjang berotot. Bibirnya penuh, berwarna merah tua, dan alisnya yang hitam tebal jadi tampak tidak lebat karena bentuknya yang indah. Karena jauh melampaui sudut-sudut luar matanya, alis itu pun menambah kejantanannya. Orang-orang kampung menyebutnya “anak tahun yang gemuk”, suatu ungkapan yang hanya dipakai untuk anak dengan badan lebih besar dari rata-rata. Sebutan itu jauh dari maksud menghina, tapi bagaimanapun membuatnya ada jarak dengan anakanak muda lain, dan itu membuatnya cukup malu pada masa kanak-kanaknya. Ungkapan itu tidak pernah dipergunakan untuk menggambarkan Matahachi, namun dapat pula dikenakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

padanya. Ia agak lebih pendeka dan pejal daripada Takezo, dadanya bidang dan besar, dan wajahnya bulat, memberikan kesan periang, kalau bukan sifat badut sejati. Matanya yang besar dan sedikit menonjol itu cenderung bergerak ketika ia berbicara, dan kebanyakan lulucon yang dibuat orang untuk merendahkannya berpusat pada kemiripannya dengan katak yang yak henti-hentinya berdengkung pada malam-malam musim panas. Kedua pemuda itu sedang berada di puncak usia pertumbuhan mereka, dan karenanya cepat pulih dari sebagian besar penyakit. Ketika luka-luka Takezo sudah sepenuhnya sembuh, Matahachi pun tidak dapat lagi menahan hambatan yang dirasakannya. Mulailah ia berjalan mondar-mandir di seputar lumbung, dan tak henti-hentinya mengeluh karena merasa terkurung. Tidak hanya sekali ia membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa ia merasa seperti jangkrik di dalam lubang yang gelap dan jangrik memang suka pada suasana hidup seperti itu. Matahachi tentunya telah mulai mengintip kedalam rumah, karena pada suatu hari ia mendekatkan mulutnya kepada teman seselnya itu, seolah hendak menyampaikan berita yang mengguncangkan dunia. “Tiap malam,” bisiknya genting, “janda itu membedaki mukanya dan mempercantik diri!” Muka Takezo pun jadi seperti anak umur dua belas tahun yang benci anak gadis, melihat pengkhianatan teman karibnya yang makin tertarik kepada “mereka” itu. Matahachi sudah menjadi pengkhianat kini, dan pandangan mata Takezo pun tidak salah lagi mengungkapkan kemuakan. Matahachi mulai kerap pergi ke rumah itu, duduk-duduk di dekat perapian bersama Akemi dan ibunya yang masih muda. Sesudah tiga atau empat hari mengobrol dan berkelakar dengan mereka, tamu yang ramah itu pun sudah menjadi anggota keluarga. Ia tidak kembali ke lumbung, juga pada malam hari, dan kalau kadang-kadang pulang, napasnya berbau sake. Ia mencoba membujuk Takezo datang ke rumah itu, dengan menyanyikan puji-pujian terhadap kehidupan yang baik, yang hanya beberapa meter jauhnya dari tempat itu. “Gila kau!” jawab Takezo gusar. “Kau bisa bikin kita terbunuh, atau setidaknya tertangkap. Kita ini sudah kalah, jadi gelandangan – apa kau belum juga mengerti? Kita mesti berhati-hati dan bersembunyi, sampai keadaan mereda.” Tapi dengan segera ia bosan mencoba mengajak temannya yang cinta kenikmatan itu untuk berpikiran sehat, dan mulailah ia menghentikan omongan temannya dengan jawaban-jawaban ringkas. “Aku tidak suka sake,” atau kadang-kadang, “Aku lebih suka di sini. Santai.” Tapi Takezo sendiri akhirnya mulai sinting juga. Ia merasa bosan bukan kepalang, dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengalah. “Apa betul-betul aman?” tanyanya. “Maksudku sekitar sini? Apa tak ada tanda-tanda patroli? Apa kau yakin?” Maka, sesudah terkubur dua puluh hari lamanya dalam lumbung itu, akhirnya ia keluar seperti tawanan perang yang setengah kelaparan. Kulitnya tampak jernih pucat, seperti mayat, lebih-lebih ketika ia berdiri di samping temannya yang sudah terbakar matahari dan sake itu. Dipandangnya langit biru yang terang, dan sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, ia pun menguap dengan nikmatnya. Ketika mulutnya yang besar itu akhirnya menutup kembali, terlihatlah bahwa alisnya waktu itu mengait. Wajahnya tampak resah. “Matahachi,” katanya sungguh-sungguh, “kita terlalu memaksakan keinginan pada orang-orang ini. Mereka sekarang menghadapi resiko besar gara-gara kita di sini. Kupikir kita harus berusaha pulang sekarang.” “Kau benar,” kata Matahachi. “Tapi tak seorang pun dapat melewati rintangan itu tanpa pemeriksaan. Jalan ke Ise dan Kyoto tak bisa ditempuh, menurut janda itu. Katanya, kita mesti bertahan sampai salju turun. Gadis itu juga bilang begitu. Dia yakin mesti tetap bersembunyi. Dan kau tahu, dia selalu pergi ke manamana setiap hari.” “Kau bilang duduk di dekat api sambil minum itu bersembunyi?” “Tentu. Tahu tidak, apa yang sudah kulakukan? Beberap hari yang lalu orang-orang Tokugawa datang mengintai; mereka masih mencari Jenderal Ukita. Dan aku bisa melepaskan diri dari bajingan-bajingan itu hanya dengan keluar dan menyapa mereka.“ Mata Takezo membelalak tak percaya mendengar itu, sedangkan Matahachi tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya reda, ia pun melanjutkan. “Kau lebih selamat di tempat terbuka daripada meringkuk di lumbung, sambil mendengarkan langkah-langkah kaki orang dan dibikin gila olehnya. Inilah yang mau kukatakan padamu.” Matahachi tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Takezo mengangkat bahu. “Barangkali kau benar. Itu bisa jadi cara terbaik untuk mengatasi persoalan.” Takezo masih juga mengajukan persyaratan, tapi sesudah percakapan itu, ia pun ikut pergi ke rumah tersebut. Oko, yang agaknya senang kalau ada orang lain, terutama laki-laki, berusaha membuat mereka betul-betul kerasan. Namun sekali-kali ia membuat kedua pemuda itu terlonjak dengan sarannya agar seorang dari mereka mengawini Akemi. Tapi ini agaknya lebih membikin bingung Matahachi daripada Takezo. Takezo mengabaikan saja saran itu, atau menandinginya dengan kata-kata lucu. Waktu itu musim matsutake yang lezat dan harum, yang tumbuh di pangkal-pangkal pohon-pohon pinus, dan Takezo cukup terhibur mencari jamur-jamur besar di gunung yang berhutan, di belakang rumah itu. Sambil memegang keranjang, Akemi mencari jamur itu dari pohon ke pohon. Setiap kali tercium baunya, suaranya yang tanpa dosa itu pun menggema di tengah hutan. “Takezo, sini! Banyak di sini!” Dan kalau sedang mencari-cari di dekatnya, Takezo pun selalu menjawab, “Di sini juga banyak!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sinar matahari musim gugur menerobos tipis dan miring ke arah mereka, lewat ranting-ranting pinus. Babut daun pinus di tempat teduh yang sejuk di bawah pohon-pohonan itu bagaikan bunga mawar yang lunak berdebu. Setelah lelah, Akemi pun menantang Takezo sambil terkikik, “Mari kita lihat, siapa yang paling banyak!” “Aku!” jawab Takezo pasti. Mendengar itu, Akemi pun mulai memriksa keranjang Takezo. Hari ini tidak beda dengan hari-hari lain. “Ha, ha! Aku tahu!” teriak Akemi. Dengan rasa kemenangan penuh kegembiraan yang hanya bisa terjadi pada gadis semuda itu, dan tanpa kesadaran diri ataupun sikap sopan yang dibuat-buat, ia pun menunduk ke keranjang Takezo. “Yang banyak kau dapat itu jamur payung!” Lalu ia pun membuangi jamur beracun itu satu per satu, bukan sambil menghitungnya keras-keras, melainkan diiringi gerakan yang begitu pelan dan disengaja, hingga Takezo hampir tidak dapat mengabaikannya, sekalipun dengan mata terpejam, Akemi melontarkan masing-masing jamur itu sejauh-jauhnya. Selesai dengan tugas itu, ia pun menengadah dengan wajah membinarkan rasa puas diri. “Sekarang lihat, aku dapat jauh lebih banyak daripada kau!” “Sudah siang sekarang,” gumam Takezo. “Mari pulang.” “Kau marah karena kalah, kan?” Akemi pun berlari kencang seperti ayam pegar menuruni sisi bukit, tapi sekonyong-konyong ia berhenti, wajahnya dipenuhi rasa terkejut. Seorang lelaki raksasa datang lurus mendekat lewat belukar, setengah jalan menuruni lereng bukit; langkah-langkhanya panjang dan tenang, matanya yang tajam menatap langsung kepada gadis muda yang rapuh di hadapannya. Orang itu tampak primitif luar biasa. Segala sesuatu pada dirinya bernada perjuangan untuk tetap hidup, dan ia menampakkan ciri suka berkelahi: alis yang lebat dan ganas, dan bibir atas yang tebal melingkar; pedang berat, jubah zirah, dan kulit binatang melengkapi dirinya. “Akemi!” raungnya seraya mendekati gadis itu. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang kuning melapuk, tapi wajah Akemi tetap saja menyiratkan kengerian belaka. “Apa ibumu yang hebat itu ada di rumah?” tanyanya dengan ejekan yang dibuat-buat. “Ya,” cicit Akemi. “Nah, kalau nanti kau pulang, ceritakan sesuatu padanya. Mau tidak?” Ejekan itu diucapkannya dengan sopan. “Ya.” Dan kini nadanya berubah kasar. “Katakan padanya, jangan mempermainkan aku dengan menimbun uang tanpa sepengetahuanku. Katakan aku akan datang segera untuk mengambil bagianku. Mengerti?’ Akemi diam saja. “Dia pikir barangkali aku tidak tahu, tapi orang yang dijuali barang-barang itu datang langsung padaku. Aku berani bertaruh, kau pergi juga ke Sekigahara, bukan, Nak?” “Ah, tidak!” protes Akemi lemah. “Ya, tak apalah. Cuma sampaikan padanya apa yang kukatakan tadi. Kalau dia main tidak jujur lagi, akan kutendang dia keluar dari daerah ini.” Ia menyorot gadis itu sesaat dengan matanya, kemudian pergi dengan lamban ke arah paya. Takezo mengalihkan matanya dari orang asing itu kepada Akemi, dengan penuh minat. “Siapa orang itu?” Dengan bibir masih menggeletar Akemi menjawab lesu, “Namanya Tsujikaze. Dia dari kampung Fuwa.” Suara Akemi hampir tak lebih dari bisikan. “Dia bandit, kan?” “Ya.” “Kenapa dia begitu marah?” Akemi berdiri saja tanpa menjawab. “Tak akan kuceritakan itu pada orang lain,” kata Takezo, mencoba meyakinkan Akemi. “Apa tak bisa kau menceritakannya padaku?” Akemi, yang jelas merasa tak senang, agaknya sedang mencari-cari kata. Dan tiba-tiba ia pun menyandarkan diri ke dada Takezo dan memohon, “Kau janji taka akan bercerita pada orang lain?” “Siapa yang akan kuceritai? Samurai Tokugawa?” “Ingat waktu kau pertama kali melihatku malam itu? Di Sekigahara?” “Tentu saja ingat.” “Nah, apa belum kau bayangkan, apa yang kulakukan waktu itu?” “Belum, aku belum pernah memikirkannya,” kata Takezo dengan wajah sungguh-sungguh. “Nah, waktu itu aku mencuri!” Lalu ia pun menatap Takezo dekat-dekat, untuk menaksir reaksi Takezo. “Mencuri?” “Sesudah pertempuran, aku pergi ke medan, mengambili barang-barang serdadu yang tewas: pedang, hiasan sarung pedang, kantong kemenyan –– apa saja yang dapat kami jual.” Ia memandang Takezo lagi untuk menangkap tanda-tanda sikap tidak setuju, tetapi wajah Takezo tidak memperlihatkannya sama sekali. “Pekerjaan itu mengerikan,” keluhnya kemudian, lalu berubah bersikap pragmatis, “tapi kami butuh uang untuk makan. Kalau aku bilang tak mau pergu, Ibu marah.” Matahari masih cukup tinggi di langit. Atas saran Akemi, Takezo duduk di rumput. Lewat pohon-pohon pinus, mereka dapat memandang ke bawah, ke rumah di tengah paya itu. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo mengangguk pada diri sendiri, seolah sedang membayangkan sesuatu. Sejenak kemudian ia berkata, “Kalau begitu, cerita tentang memotong mugwort dan membuat moxa itu bohong semuanya?” “O, tidak. Kami mengerjakan itu juga! Tapi selera Ibu begitu mahal. Tak mungkin kami dapat hidup dari moxa saja. Ketika ayahku masih hidup, kami tinggal di rumah terbesar di kampung ini, malahan boleh dibilang di tujuh dusun yang ada di Ibuki. Kami punya banyak pelayan, dan Ibu selalu punya barang-barang bagus. “Apa ayahmu pedagang?” “O, tidak. Dia pemimpin bandit setempat.” Mata Akemi bersinar penuh kebanggaan. Jelaslah, ia tidak lagi takut akan reaksi Takezo, dan kini ia melepaskan perasaan sebenarnya. Rahangnya mantap, tangannya yang kecil mengepal pada waktu bicara. “Tsujikaze Temma, orang yang baru kita jumpai tadi, itulah yang membunuhnya. Paling tidak, begitulah kata semua orang.” “Maksudmu, ayahmu dibunuh?” Sambil mengangguk diam, Akemi mulai menangis, sekalipun ia berusaha menahannya. Takezo merasa sesuatu yang berada jauh di dalam dirinya mulai mencair. Semula ia tidak menaruh simpati pada gadis itu. Sekalipun gadis itu lebih kebanyakan dari gadis yang sudah berumur enam belas tahun, namun bicaranya seperti wanita dewasa, dan sering kali ia membuat gerakan cepat yang membuat orang lain berjaga-jaga. Tapi ketika air mata mulai menitik dari bulu matanya yang panjang, tiba-tiba Takezo pun jadi meleleh oleh rasa kasihan. Ia ingin mendekap gadis itu untuk melindunginya. Gadis itu bukanlah gadis yang dibesarkan seperti biasa. Agaknya tak pernah ia pertanyakan, apakah di dunia ini tidak ada yang lebih mulia daripada pekerjaan ayahnya. Ibunya telah meyakinkannya bahwa tak ada salahnya melucuti mayat, bukan untuk makan, melainkan untuk hidup layak. Banyak pencuri sejati enggan melakukan pekerjaan itu. Selama bertahun-tahun berlangsungnya perselisihan kaum feodal, keadaan telah menjadikan semua manusia, sampai yang pemalas di pedesaan, terhanyut oleh cara hidup seperti ini. Orang banyak pun lebihkurang memang telah minta mereka melakukan hal itu. Ketika perang pecahn para penguasa militer setempat bahkan memanfaatkan jasa-jasa mereka dan memberikan imbalan melimpah pada mereka atas jasa membakar perbekalan musuh, menyebarkan desas-desus bohong, mencuri kuda dari kamp-kamp musuh, dan lain-lain hal seperti itu. Yang paling sering terjadi adalah jasa-jasa mereka dibeli orang. Tapi, sekalipun tidak dibeli, perang menawarkan banyak kesempatan. Di samping berkelaiaran di antara mayatmayat untuk mengumpulkan barang-barang berharga, kadang-kadang mereka berhasil mendapat hadiah dari menyerahkan kepala samurai yang kebetulan tersandung oleh mereka dan kemudian mereka pungut. Satu saja pertempuran besar sudah cukup bagi para pencuri bejat ini hidup senang enam bulan atau setahun. Pada waktu-waktu bergolak, petani atau pembelah kayu biasa pun sudah tahu mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang dan pertumpahan darah. Perkelahian di luar kampung sendiri sudah bisa membuat orang-orang sederhana ini meninggalkan pekerjaan, dan dengan cakapnya mereka menyesuaikan diri dengan situasi, dan menemukan cara untuk memunguti sisa-sisa hidup manusia lain, seperti burung pemakan bangkai. Sebagian karena gangguan inilah para penjarah professional menetapkan perlindungan keras atas wilayah masing-masing. Sudah menjadi peraturan keras bahwa para pemburu liar, yaitu perampok-perampok yang melanggar hak-hak yang telah dimiliki para penjahat kejam ini dapat dikenai pembalasan dendam. Akemi pun menggigil, dan katanya, “Apa akal kita? Orang-orang bayaran Temma sedang dalam perjalanan kemari sekarang. Aku tahu itu.” “Jangan khawatir,” kata Takezo meyakinkannya. “Kalau mereka nanti muncul, aku sendiri yang akan menyambut mereka.” Ketika mereka turun bukit, senja telah turun di atas paya itu, dan segalanya sunyi. Jejak asap api pemandian di rumah itu merayap di area puncak jajaran rumput mendong, seperti ular yang melenggoklenggok di langit. Oko sedang berdiri santai di pintu belakang, seusai melakukan riasan malam. Ketika melihat anak perempuannya datang bersama Takezo, ia pun berseru, “Akemi, apa kerjamu sampai begini larut?” Terasa benar tajamnya mata dan suaranya. Gadis itu pun segera tersadar, sesudah begitu lama ia berjalan dengan kepala kosong. Ia memang lebih peka terhadap suasana hati ibunya daripada apa pun di dunia ini. Ibunya telah menanamkan kepekaan ini dan telah berhasil memanfaatkannya, mengendalikan anak gadis itu seperti boneka, hanya dengan pandangan atau gerak-geriknya. Cepat-cepat Akemi menjauh dari sisi Takezo, dan dengan wajah memerah ia pun mendahului dan masuk rumah. Hari berikutnya, Akemi menyampaikan pada ibunya tentang Tsujikaze Temma. Oko naik pitam. “Kenapa tidak cepat-cepat kau ceritakan?” raungnya sambil menyeruduk ke sana kemari seperti perempuan gila, menarik-narik rambutnya, mengeluar-ngeluarkan barang dari laci dan lemari dan mengonggokkan semuanya di tengah kamar. “Matahachi! Takezo! Bantu aku! Semua ini mesti kita sembunyikan.” Matahachi menggeser sebuah papan yang ditunjukkan oleh Oko, lalu ia menempatkan diri di atas langitlangit. Tak banyak ruangan antara langit-langit dan kasau itu. Orang hampir tidak dapat merangkak di situ, tapi cukuplah itu untuk memenuhi kebutuhan Oko, dan terutama agaknya kebutuhan almarhum suaminya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo berdiri di atas bangku, di antara ibu dan anak, dan mulai mengulurkan barang-barang itu satu persatu kepada Matahachi. Jika Takezo tidak mendengar cerita Akemi hari sebelumnya, tidak bakal ia tidak merasa kagum melihat keanekaragaman barang-barang yang sekarang dilihatnya. Takezo tahu ibu dan anak ini sudah lama melakukan pekerjaan itu, namun demikian sungguh mengagumkan. Betapa banyaknya barang yang mereka timbun. Ada belati, umbai lembing, lengan baju zirah, helm tanpa mahkota, kuil mini yang dapat dibawa-bawa, tasbih Budha, tiang bendera…. Bahkan ada sandal berlak berukir indah dan bertatah emas, perak, dan indung mutiara. Dari lubang di langit-langit, Matahachi mengintip keluar dengan wajah bingung. “Sudah semua?” “Tidak, ada satu lagi,” kata Oko seraya pergi cepat-cepat. Sesaat kemudian ia sudah kembali membawa sebilah pedang, satu seperempat meter panjangnya, dari kayu ek hitam. Takezo mulai mengeluarkan barang itu pada Matahachi, tetapi bobot, lengkung dan sempurnanya keseimbangan senjata itu demikian mengesankannya, sampai tak dapat ia melepaskannya. Ia pun menoleh kepada Oko dengan pandangan tersipu. “Apa tak bisa Ibu menghadiahkan ini padaku?” tanyanya dengan mata memancarkan kepasrahan. Ia memandang kakinya sendiri, seakan-akan hendak mengatakan bahwa ia memang belum melakukan sesuatu yahg pantas mendapat ganjaran pedang itu. “Apa kau betul-betul menginginkannya?” jawab nyonya itu dengan lembut, dengan nada seorang ibu. “Ya…ya… tentu!” Sekalipun wanita itu tidak benar-benar mengatakan Takezo boleh memilikinya, namun ia tersenyum, memperlihatkan dekik pipinya, dan tahulah Takezo bahwa pedang itu sudah menjadi miliknya. Matahachi melompat turun dari langit-langit, meledak oleh rasa iri. Ia pun meraba-raba pedang itu dengan tamaknya, membuat Oko tertawa. “Coba lihat, orang kecil ini merajuk karena tidak dapat hadiah!” Ia mencoba menenteramkan hati Matahachi dengan memberikan pundit-pundi kulit yang manis dan berbatu akik. Matahachi tidak tampak terlalu senang. Matanya terus tertuju kepada pedang kayu ek hitam itu. Perasaannya terluka, dan pundit-pindi itu hanya sedikit dapat menyembuhkan harga dirinya yang terluka. Keika suaminya masih hidup, Oko rupanya punya kebiasaan mandi uap secara santai tiap malam, merias diri, dan kemudian minum sedikit sake. Singkatnya, ia menghabiskan waktu untuk merias diri sebanyak yang dihabiskan geisha yang terbesar bayarannya. Ini bukanlah jenis kemewahan yang dapat dikembangkan oleh orang biasa, tetapi ia berkeras melakukannya, bahkan ia telah mengajar Akemi mengikuti kebiasaan yang sama itu, sekalipun gadis itu menganggapnya menjemukan, dan alasannya tidak dapat ia pahami. Oko tidak hanya suka senang; ia pun berketetapan untuk tetap muda selama-lamanya. Malam itu, selagi mereka duduk di sekitar perapian ceruk, Oko menuangkan sake untuk Matahachi dan mencoba meyakinkan Takezo untuk juga mencobanya. Ketika Takezo menolak, ia letakkan mangkuk itu ke tangan Takezo, ia tangkap pergelangan tangannya, dan ia paksa Takezo mengangkat mangkuk itu ke bibirnya. “Laki-laku sudah sewajarnya minum,” umpatnya. “Kalau kau tidak dapat melakukannya sendiri, akan kubantu.” Berulang kali Matahachi menatap Oko denga perasaan tak enak. Sada akan pandangan Matahachi itu, Oko bahkan semakin berani terhadap Takezo. Sambil meletakkan tangannya secara main-main di lutut Takezo, mulailah ia mendendangkan lagu cinta yang sedang popular. Sampai di sini, Matahachi pun merasa sudah sampai batas kesabarannya. Sambil tiba-tiba menoleh kepada Takezo, ia berucap, “Kita mesti lekas meneruskan perjalanan!” Ucapan ini mencapai sasarannya. “Tapi… tapi… ke mana kalian akan pergi?” Tanya Oko terbata-bata. “Kembali ke Miyamoto. Ibuku dan tunanganku tinggal di sana.” Oko hanya sekejap terkejut; sebentar kemudian ia sudah dapat menguasai dirinya kembali. Matanya menyempit, senyumnya membeku, dan suaranya menjadi getir. “Nah, harap dimaafkan karena aku telah menghambat kalian, telah menerima kalian, dan memberikan tempat pada kalian. Kalau memang ada gadis yang menanti kalian, lebih baik kalian lekas-lekas saja pulang. Jangan kiranya aku menahan kalian!” Sesudah menerima pedang ek hitam itu, Takezo tak pernah lagi terpisah darinya. Memegangnya saja merupakan kenikmatan yang tak terlukiskan baginya. Sering ia meremas gagang pedang itu erat-erat, atau menggesekkan sisinya yang tumpul pada telapak tangannya, hanya untuk merasakan betapa sesuai lengkung dengan panjangnya. Bila tidur ia dekap pedang itu ke tubuhnya. Sentuhan dingin permukaan kayu itu pada pipinya mengingatkannya pada lantai dojo, di mana ia pernah mempraktekkan teknik-teknik main pedang pada musim dingin. Alat yang hampir sempurna, dan sekaligus merupakan benda seni dan maut ini, membangkitkan kembali di dalam dirinya semangat tempur yang telah ia warisi dari ayahnya. Takezo mencintai ibunya, tetapi ibu itu telah meninggalkan ayahnya dan pergi ketika Takezo masih kecil, meninggalkannya sendirian dengan Munisai, seorang ayah yang gila tata tertib, yang tak tahu bagaimana memanjakan anak dalam suasana yang tidak menguntungkan seperti itu. Apabila ayahnya ada, anak itu selalu merasa kikuk dan ketakutan, tidak pernah merasa santai. Ketika berumur sembilan tahun, begitu besar hasratnya akan kata manis ibunya, hingga ia pernah melarikan diri dari rumah dan nekat pergi ke Propinsi Harima, tempat ibunya tinggal. Takezo tak pernah mengerti mengapa ibu dan ayahnya bercerai, dan pada umur sekian, penjelasan tentang itu pun tidak akan banyak menolong. Ibunya telah kawin dengan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

samurai lain, dan mendapat seorang anak lagi. Begitu pelarian kecil itu sampai di Harima, ia tidak membuang-buang waktu lagi untuk menemukan ibunya. Ibunya lalu membawanya ke daerah hutan di belakang kuil setempat, supaya tidak kelihatan orang, dan di sana sambil berurai air mata ia pun memeluk anaknya itu erat-erat dan menyuruhnya kembali kepada ayahnya. Takezo tak pernah melupakan adegan itu; setiap detailnya akan tetap hidup dalam kenangannya, sepanjang umurnya. Sebagai seorang samurai, tentu saja Munisai mengirimkan orang-orangnya untuk memperoleh kembali anaknya, begitu ia mengetahui anaknya hilang. Sudah jelas ke mana perginya anak itu. Takezo pun dikembalikan ke Miyamoto seperti seikat kayu bakar, diikat di punggung kuda yang tidak bersadel. Sebagai pembuka, Munisai menyebutnya anak bandel yang kurang ajar, dan dengan keberangan yang hampir mencapai histeris, ia sabet anaknya sampai ia tak kuat menyabet lagi. Takezo ingat lebih gamblang daripada apa pun di dunia ini, betapa sengit ultimatum ayahnya waktu itu. “Kalau sekali lagi kau pergi ke ibumu, tak akan kuakui kau sebagai anak.” Tidak lama sesudah kejadian itu. Takezo mendengar kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan meninggal. Kematian itu berakibat berubahnya Takezo dari seorang anak pendiam dan pemurung menjadi anak kampung yang jail. Munisai pun akhirnya menjadi takut. Ketika ia mendatangi anak itu dengan pentung, anak itu menantangnya dengan tongkat kayu. Satu-satunya orang yang bisa menandinginya adalah Matahachi, yang juga anak seorang samurai; semua anak lain tunduk pada perintah Takezo. Waktu ia berumur dua belas atau tiga belas tahun, badannya sudah hampir setinggi orang dewasa. Pada suatu kali, seorang pemain pedang pengembara bernama Arima Kihei menaikkan panji-panji berhias emas, dan menyatakan siap melawan siapa saja penantang dari kampung itu. Takezo berhasil membunuh orang itu tanpa kesukaran, dan mendapat pujian dari orang-orang kampung atas keberaniannya. Namun penghargaan itu singkat saja umurnya, karena bersamaan dengan bertambahnya umur, ia pun jadi semakin tak dapat dikendalikan dan brutal. Banyak orang yang menganggapnya sadis, dan apabila ia muncul di suatu tempat, orang pun segera menyingkir. Sikap Takezo terhadap mereka semakin menjelaskan sikap dingin mereka terhadapnya. Ketika ayahnya yang tetap keras dan kasar akhirnya meninggal, unsur kejam di dalam diri Takezo lebih membesar lagi. Kalau tidak karena kakak perempuannya, Ogin, Takezo barangkali sudah lebih tak bisa dikendalikan lagi dan telah diusir dari kampung oleh penduduk yang marah. Untunglah ia menyayangi kakaknya, dan karena tak tahan melihat air mata kakaknya, biasanya ia pun melakukan apa saja yang diminta kakaknya. Pergi perang bersama Matahachi merupakan titik balik bagi Takezo. Hal itu menunjukkan bahwa bagaimanapun ia mau merebut kedudukan di tengah masyarakat, sejajar dengan orang-orang lain. Tetapi kekalahan di Sekigahara sekonyong-konyong telah menghilangkan harapan-harapan seperti itu, dan ia pun mendapati dirinya sekali lagi tercebur ke dalam kenyataan gelap yang menurut anggapannya telah ia tinggalkan. Namun ia seorang pemuda yang diberkati sifat riang yang mulia, yang hanya dapat berkembang di zaman perjuangan. Selagi tidur, wakjahnya setenang wajah bayi, sama sekali tak terusik oleh pikiranpikiran hari esok. Memang ia mengalami juga mimpi-mimpi, baik di waktu tidur maupun terjaga, tapi tidak banyak ia mengalami kekecewaan yang sebenar-benarnya. Karena modalnya hanya sedikit, maka hanya sedikit pula ia kehilangan; sekalipun dalam makna tetentu ia sudah tercerabut, namu ia terbebaskan juga dari belenggu. Melihat napasnya yang dalam dan tetap, sementara ia memeluk erat pedang kayunya itu, barangkali Takezo sedang bermimpi; senyuman halus tersungging pada bibirnya, sedangkan bayangan kakak perempuannya yang lembut dan kota kelahirannya yang damai berpancaran turun seperti air terjun dari gunung, di hadapan matanya yang terpejam dan berbulu lebat itu, Oko menyelinap ke dalam kamarnya sambil membawa lampu. “Sungguh wajah yang damai,” bisik Oko dengan kagum, lalu ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh sedikit bibir Takezo dengan jemarinya. Kemudian ia mematikan lampu dan berbaring di samping Takezo. Seraya meringkuk seperti kucing, sedikit demi sedikit ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Takezo, sementara wajahnya yang putih dan gaun malam warna-warni yang betul-betul terlampau muda untuknya itu terbenam dalam kegelapan. Yang kedengaran saat itu hanyalah titik-titik embun yang jatuh di ambang jendela. “Ingin tahu juga, apakah dia masih perjaka,” kagumnya sambil mengulurkan tangan untuk menyingkirkan pedang kayu itu. Tapi begitu ia menyentuh pedang itu, Takezo langsung berdiri dan berteriak, “Pencuri! Pencuri!” Oko terlempar ke lampu, hingga bahu dan dadanya luka, dan Takezo memelintir tangannya tanpa ampun lagi. Oko menjerit kesakitan. Karena kagetnya, Takezo pun melepaskannya. “O. jadi ini tadi Ibu? Aku pikir pencuri.” “Oooh,” rintih Oko. “Sakit!” “Maaf, aku tidak tahu.” “Kau ini tak kenal kekuatan badan sendiri. Hampir lepas tanganku.” “Aku sudah minta maaf. Mau apa Ibu di sini?” Oko tak menghiraukan pertanyaan Takezo yang polos itu; ia tidak merasakan lika tangannya; dicobanya melingkarkan anggota badannya itu ke leher Takezo, dan gumamnya, “Kau tak perlu minta maaf. Takezo Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

…” Ia pun menggosokkan punggung tangannya lembut-lembut ke pipi Takezo. “Hai! Apa pula ini? Apa Ibu gila?” teriak Takezo sambil meloloskan diri dari sentuhan wanita itu. “Jangan ribut begitu, tolol. Kau tahu perasaanku padamu.” Oko terus mencoba membelai Takezo, tapi Takezo menepak-nepaknya, seperti orang diserang gerombolan lebah. “Ya, dan aku sangat berterima kasih. Kami berdua tak akan melupakan betapa besar kebaikan Ibu, yang telah menerima kami dan segalanya itu.” “Maksudku bukan itu, Takezo. Aku bicara tentang perasaan wanitaku – tentang perasaan yang indah dan hangat terhadapmu.” “Tunggu dulu,” kata Takezo sambil melompat berdiri. “Akan kunyalakan lampu.” “Oh, bagaimana kau bisa begini kejam,” rengek Oko, dan bergerak lagi akan memeluk Takezo. “Jangan!” teriak Takezo marah. “Hentikan, sungguh! Hentikan!” Ada sesuatu dalam suara Takezo yang membuat Oko takut dan menghentikan serangannya, sesuatu yang tegas dan mantap. Takezo merasa tulang-tulangnya bergoyang dan giginya gemeretuk. Tidak pernah ia menghadapi lawan yang demikian berat. Bahkan ketika telentang di bawah kuda-kuda yang mencongklang lewat di Sekigahara, tak pernah jantungnya demikian berdentam. Ia pun duduk ngeri di sudut kamar “Kuminta ibu pergi dari sini,” mohonnya. “Kembalilah ke kamar ibu sendiri. Kalau tidak, akan kupanggil Matahachi. Akan kubangunkan seisi rumah!” Oko tidak beranjak. Ia duduk saja di kegelapan dengan napas berat, dan dengan mata menciut ia pun menatap Takezo. Ia tak mau ditolak. “Takezo,” gumamnya lagi. “Apa kau tidak memahami perasaanku?” Takezo tidak menjawab. “Tidak memahami?” “Ya, tapi apa Ibu memahami perasaanku: diserang selagi tidur, dibikin takut setengah mati, dan dianiaya seekor macan dalam gelap?” Kini giliran Oko yang diam. Dari kedalaman kerongkongannya keluar bisikan seperti suara geraman, dan ia pun mengucapkan setiap suku katanya ini dendam. “Begitu tega kau mempermalukan aku?” “Aku mempermalukan ibu?” “Ya ini sungguh membikin malu.” Keduanya begitu tegang waktu itu, hingga tak terdengar oleh mereka ketukan pintu, yang agaknya sudah berlangsung beberapa lama. Ketukan itu dipertegas lagi oleh teriakan-teriakan. “Ada apa di dalam? Apa kau tuli? Buka pintu!” Berkas cahaya tampak di celah daun jendela. Akemi terbangun. Kemudian langkah kaki Matahachi terdengar mendekat, dan suaranya berseru, “Ada apa?” Kemudian dari gang rumah, Akemi berseru resah, “Ibu! Apa Ibu di situ? Jawab, Bu!” Oko menyerobot cepat kembali ke kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar Takezo. Ia menjawab dari situ. Orang-orang lelaki di luar rupanya mendobrak daun jendela dan menyerbu ke dalam. Sampai di kamat perapian, Oko melihat enam atau tujuh pasang bahu lebar menyerbu dapur yang berdekatan dan berlantai kotor. Letaknya agak di bawah, karena memang dibuat lebih rendah dari ruangan-ruangan lain. Seorang di antaranya berteriak, “Tsujikaze Temma di sini. Kasih lampu!” Orang-orang itu menyerobot masuk ke dalam ruang tamu. Mereka bahkan tidak melepas sandal, suatu tanda kekasaran yang sudah melekat. Mereka mulai melongok ke sana kemari –– ke lemari, ke laci-laci, ke bawah tatami jerami tebal tang menutup lantai. Temma mendudukkan diri denga megahnya di dekat perapian, sambil mengawasi kaki tangannya menggeldah ruangan-ruangan itu dengan sistematis. Ia betulbetul menikmati pekerjaan itu, tapi dengan segera ia bosan karena tidak melakukan apa-apa. “Terlalu lama!” geramnya sambil menghantamkan tinju ke tatami. “Kau pasti menyimpannya sebagian di sini. Di mana barang itu?” “Aku tak merngerti apa yang kau bicarakan,” jawab Oko sambil melipat dengan sabar kedua tangannya di perut. “Jangan bicara begitu, perempuan!” lenguh Temma. “Mana barang itu? Aku tahu barang itu ada di sini!” “Aku tak punya apa-apa!” “Tak punya?” “Tak punya.” “Kalau begitu, barangkali memang kau tidak memilikinya. Barangkali salah infrmasi yang kuterima….” Ia pun memandang Oko dengan tajam, sambil menarik-narik dan menggaruk-garuk jenggotnya. “Cukup, anakanak!” gunturnya. Sementara itu, Oko sudah duduk di kamar sebelah. Pintu dorongnya terbuka lebar, seakan-akan hendak mengatakan bahwa Temma dapat memeriksa terus tempat yang dicurigainya. “Oko,” panggil Temma kasar. “Apa maumu?” terdengar jawaban dingin “Bagaimana kalau minum sedikit?” “Mau sedikit air?” “Jangan paksa aku…,” ancam Temma memperingatkan. “Sake ada di sana. Minumlah kalau mau.” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

“Ai, Oko,” kata Temma melunak. Ia hampir-hampir mengagumi Oko karena sikap keras kepalanya yang dingin. “Jangan begitu. Aku sudah lama tak berkunjung. Apa begini caranya menyambut teman lama?” “Berkunjung!” “Sudahlah kau ikut bersalah juga. Sudah banyak yang kudengar tentang apa yang dilakukan ‘janda tukang moxa dari berbagai orang, sampai rasanya tak mungkin semua itu bohong. Kudengar kau menyuruh anakmu yang cantik itu memereteli mayat-mayat. Nah, kenapa dia mesti melakukan hal seperti itu?” “Tunjukkan padaku buktinya!” jerit Oko. “Mana buktinya!” “Kalau ada rencanaku menggalinya, mana mungkin aku mengingatkan Akemi sebelumnya? Kau tahu sendiri aturan permainannya. Ini wilayahku, dan aku harus memeriksa rumahmu. Kalau tidak, semua orang akan menyangka mereka bisa lepas begitu saja sesudah melakukan hal seperti itu. Kalau begitu, di mana nanti tempatku? Aku harus melindungi diriku, tahu!” Oko menatap Temma dalam kediaman baja, kepalanya setengah tertoleh kepadanya, sedangkan dagu dan hidungnya terangkat bangga. “Baiklah, akan kulepaskan kau kali ini. Tapi ingat, aku bersikap baik sekali kepadamu sekarang.” “Baik kepadaku? Siapa? Kau? Menggelikan!” “Oko,” bujuk Temma, “ke sinilah, dan tuangkan minuman untukku.” Tapi ketika Oko tidak juga memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak, ia pun meledak, “Anjing gila kau! Apa kau tidak tahu, kalau kau bersikap baik padaku, tidak bakal kau hidup seperti ini?” Temma mereda sedikit, kemudian nasihatnya, “Pikirlah dulu.” “Aku memang tenggelam dalam kebaikan hati Tuan,” terdengar jawaban yang berbisa. “Kau tak suka padaku?” “Coba jawab pertanyaan ini: Siapa yang membunuh suamimu? Aku yakin kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu, kan?” “Kalau kau mau membalas dendam pada pelakunya , aku akan membantumu dengan senang hati. Aku bisa membantu dengan jalan apa pun.” “Jangan berlagak bodoh!” “Apa maksudmu?” “Kau sudah banyak mendengar dari orang banyak. Apa mereka tidak mengatakan padamu bahwa kau sendirilah yang membunuhnya? Apa kau belum mendengar bahwa Tsujikaze Temma itulah pembunuhnya? Semua orang tahu. Boleh saja aku janda seorang bandit, tapi aku belum jatuh begitu rendah sampai mau main ke sana kemari dengan pembunuh suamiku.” “Kau rupanya memang harus mengatakannya: tak bisa kau membiarkan saja hal itu, ya!” Sambil tertawa, Temma mengosongkan sakenya dalam sekali teguk, dan menuang lagi. “Kau tahu, mestinya kau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Itu tak baik untuk kesehatanmu atau kesehatan anakmu yang manis!” “Aku akan mendidik Akemi dengan semestinya, dan sesudah dia kawin, aku akan kembali menghadapimu. Ingat kata-kataku ini!” Temma tertawa lagi hingga bahu dan seluruh tubuhnya berguncang. Setelah mereguk seluruh sake yang dapat ditemukannya, ia pun memberi isyarat kepada salah seorang kaki-tangannya yang ditempatkan di sudut dapur, tombaknya tegak sejajar dengan bahunya. “He, kau,” katanya dengan suara menggelegar, “geser papan langit-langit itu dengan pangkal tombakmu!” Orang itu tunduk pada perintah Temma. Ia mengitari kamar sambil menyodok-nyodok langit-langit, dan kekayaan Oko pun berjatuhan ke lantai, seperti hujan es. “Seperti sudah kuduga,” kata Temma sambil berdiri dengan kikuknya. “Coba lihat, anak-anak. Bukti! Dia telah melanggar peraturan, tak sangsi lagi. Bawa dia keluar dan kasih hukumannya!” Orang-orang itu pun berduyun-duyun ke kamar perapian, tapi sekonyong-konyong mereka terhenti. Oko berdiri mematung di pintu, seakan menantang mereka untuk menjamahnya. Temma, yang telah turun ke dapur, memanggil tak sabar, “Apa yang kalian tunggu? Bawa dia kemari!” Tak ada yang bergerak. Oko terus menatap orang-orang itu dari atas, dan orang-orang itu tetap saja seperti lumpuh. Temma pun memutuskan untuk mengambil alih. Sambil mendecapkan lidahnya ia mendekati Oko, tetapi ia pun tiba-tiba terhenti di depan pintu. Di belakang Oko, tidak kelihatan dari dapur, berdiri dua pemuda berwajah ganas. Takezo menggenggam rendah pedang kaunya, siap mematahkan tulang kering pendatang pertama atau siapa pun yang cukup bodoh untuk mengikutinya. Di pihak lain, Matahachi menggenggam pedang tinggi-tinggi, siap menebaskannya ke leher pertama yang berusaha menerobos pintu masuk. Akemi tidak kelihatan. “O, jadi begitu ya,” rintih Temma, yang tiba-tiba ingat adegan di sisi gunung. “Aku pernah lihat orang itu berjalan bersama Akemi beberapa hari yang lalu – yang memegang tongkat itu. Siapa yang satunya?” Matahachi ataupun Takezo tidak menjawab. Ini berarti mereka bermaksud menjawab dengan senjata. Ketegangan memuncak. “Mestinya tidak ada lelaki di rumah ini,” raung Temma. “Hai, kalian berdua… Kalian pasti dari Sekigahara! Hati-hatilah kalian – kuperingatkan kalian.” Kedua pemuda itu sama sekali tidak bergerak. “Tak ada di daerah ini yang tidak kenal nama Tsujikaze Temma! Akan kutunjukkan pada kalian, apa yang kami lakukan terhadap gelandangan!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sunyi. Temma memberi isyarat pada kaki-tangannya untuk menyingkir. Seorang di antaranya terjatuh ke perapian. Ia menjerit, dan ranting-ranting menyala yang kejatuhan tubuhnya menjadi bunga api ke langitlangit. Dalam beberapa detik saja, ruangan sudah penuh oleh asap. “Aarrrghh!” Temma menerjang ke ruangan itu, Matahachi pun menebaskan pedang dengan kedua tangannya, tapi orang tua itu terlalu cepat baginya, hingga tebasan itu mental mengenai sarung pedang Temma. Oko telah melarikan diri ke sudut terdekat, sementara Takezo menanti dengan edang kayu eknya yang terpasang horizontal. Ia mengincar kaki Temma, lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan. Pedang itu mendecit di kegelapan, tapi tidak terdengar suara benturan. Manusia lembu itu telah melenting ke udara pada waktunya, dan ketika turun ia menerjang Takezo derngan kekuatan batu besar. Takezo merasa seakan berkelahi dengan seekor beruang. Inilah orang terkuat yang pernah dihadapinya, temma mencengkeram lehernya dan mendaratkan dua-tiga pukulan yang membuat tengkorak Takezo seperti pecah. Kemudian Takezo mendapat kesempatan lagi, sehingga Temma terlempar ke udara. Ia mendarat ke dinding, mengguncangkan rumah dan segala isinya. Ketika Takezo mengangakt pedang kayunya untuk dihantamkan ke kepala Takezo, bandit itu berkelit, langsung berdiri dan melarikan diri, dikejar oleh Takezo. Takezo sudah memutuskan untuk tidak membiarkan Temma lolos. Itu berbahaya. Hatinya sudah bulat. Kalau berhasil menangkap orang itu, ia takkan setengah-tengah membunuhnya. Ia akan memastikan benar bahwa tak ada sepenggal nafas pun tertinggal. Itulah sifat Takezo. Ia makhluk ekstrem. Waktu kecil pun sudah ada sifat primitif dalam darahnya, sifat yang mengingatkan orang pada prajuritu-prajurit ganas jepang kuno, sifat yang sekaligus liar dan murni. Sifat itu tak kenal cahaya peradaban ataupun tempaan pengetahuan. Tidak kenal pula sikap lunak. Itu ciri alamiah, suatu ciri yang membuat ayahnya tak bisa menyukai anak itu. Munisai telah mencoba dengan cara apa pun yang khas bagi golongan militer untuk mengatasi kebuasan anaknya dengan menghukumnya keras-keras dan sering-sering, tetapi akibatnya hanya membuat anak itu lebih liar, seperti celeng liar yang kebuasan sejatinya muncul pada waktu ketiadaan makanan. Semakin orang kampung menghinakan pemuda kasar itu, semakin ia bersikap seolah ia berkuasa atas mereka. Ketika anak alam itu sudah besar, ia pun mulai bosan dengan berlagak sebagai pemilik dusun itu. Terlampau mudah baginya mengancam orang-orang dusun yang sifatnya takut-takut. Ia mulai memimpikan hal-hal yang lebih besar. Sekigahara telah memberikan kepadanya pelajaran pertama tentang apa sebenarnya dunia ini. Impian-impian di masa muda porak-poranda – meski ia tak punya banyak impian. Baginya tidak ada yang namanya merenungkan kegagalan dalam usaha ‘sejati’ yang pertama ataupun mempertanyakan suramnya masa depan. Ia belum tahu arti disiplin pribadi, dan ia menerima seluruh bencana berdarah itu dengan tenang saja. Dan kini, kebetulan saja ia tertumbuk pada kakap yang sungguh besar – Tsujikaze Temma, pemimpin para bandit! Inilah lawan yang ia hasratkan bertanding di Sekigahara. “Pengecut!” bentaknya. “Jangan lari! Dan ayo lawan aku!” Takezo berlari seperti kilat, melintasi lapangan yang gelap kelam, sambil meneriakkan kata-kata ejekan. Sepuluh langkah di depannya Temma melarikan diri seperti terbang. Rambut Takezo menyapu telinganya. Ia merasa bahagia – lebih bahagia daripada kapan pun dalam hidupnya. Makin jauh ia berlari, makin dekat ia pada kegairahan binatang semata-mata. Maka ia pun melompat ke punggung Temma. Darah menyembur di ujung pedang kayu itu, dan jeritan yang membekukan darah mengoyak malam yang tenang. Tubuh bandit yang besdar dan berat itu jatuh ke bumi dengan suara yang berdebam dan terguling. Tengkoraknya hancur, matanya lepas dari ceruknya. Dua-tiga pukulan berat dijatuhkan lagi ke tubuh itu, dan tulang-tulang rusuk yang patah pun mencuat dari kulitnya. Takezo mengangkat tangan, menghapus banjir keringat yang turun dari keningnya. “Puas, Kapten?” tanyanya penuh kemenangan. Dengan sikap acuh tak acuh, kembalilah ia ke rumah. Orang yang tidak tahu kejadian barusan akan menyangka ia hanya keluar malam untuk jalan-jalan, sama sekali tanpa urusan di dunia ini. Ia merasa bebas, tidak menyesal karena tahu kalau orang itu yang menang, ia sendiri akan terbaring di sana, tanpa nyawa dan sendirian. Dari kegelapan terdengar suara Matahachi, “Takezo, kaukah itu?” “Ya,” jawab Takezo kering. “Ada apa?” Matahachi berlari mendekat dan katanya sambil terengah-engah, “Aku bunuh satu! Bagaimana denganmu?” “Aku bunuh satu juga.” Matahachi mengangkat pedangnya yang berlumuran darah sampai kepangan gagangnya. Sambil melebarkan bahunya, dengan penuh kebanggaan ia berkata, “Yang lain-lain lari. Bajingan-bajingan pencuri ini pengecut! Tak punya nyali! Cuma bias melawan mayat, ha! Ini baru perkelahian, ha-ha-ha!” Kedua pemuda itu penuh percikan darah kental, dan mereka puas seperti sepasang anak kucing yang makan kenyang. Sambil berkeciap senang, mereka pun menuju lampu yang tampak dari jauh. Takezo dengan pedang berdarah, Matahachi dengan pedang yang juga berdarah.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seekor kuda gelandangan melongokkan kepalanya ke jendela dan melihat-lihat sekitar rumah. Dengusnya membangunkan kedua orang yang sedang tidur. Sambil memaki binatang itu, Takezo menampar telak hidungnya. Matahachi meregangkan badan, menguap, berucap betapa enak tidurnya. “Matahachi sudah cukup tinggi,” kata Takezo. “Apa kau kira sudah sore?” “Tidak mungkin!” Sesudah tidur nyenyak, peristiwa-peristiwa malam sebelumnya sudah terlupakan sama sekali. Untuk kedua orang ini, yang ada hanya hari ini dan besok. Takezo berlari ke belakang rumah dan melepas baju sampai pinggang. Sambil merundukkan badan di sisi sungai gunung yang bersih dan sejuk itu ia memercikkan air ke wajahnya, membasahi rambutnya, dan membasuh dada dan punggungnya. Seraya menengadah ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, seakan-akan mencoba mereguk sinar matahari dan seluruh udara yang ada di langit. Masih mengantuk, Matahachi masuk ke kamar perapian. Ia mengucapkan selamat pagi kepada Oko dan Akemi dengan riang. “He, kenapa pula kalian, wanita-wanita yang manis ini, cemberut begitu?” “Apa betul begitu kelihatannya?” “Ya, betul sekali. Kelihatannya seperti kalian sedang berkabung. Apa yang mesti dirisaukan? Kami telah membunuh pembunuh suami ibu dan menghantam kaki-tangannya; mereka tidak akan lekas lupa.” Kekecewaan Matahachi tidak sukar diterka. Semula ia pikir janda dan anak gadisnya itu akan senang sekali mendengar berita kematian Temma. Memang malam sebelumnya Akemi bertepuk tangan gembira ketika pertama kali mendengar tentangnya. Tetapi Oko dari semula sudah tampak tidak enak, dan hari ini, ketika membungkuk kesal di dekat api, ia tampak lebih muram lagi. "Ada apa dengan Ibu?" tanya Matahachi. la berpendapat Oko adalah wanita yang paling sukar disenangkan hatinya di dunia ini. "Inilah balasannya!" katanya pada diri sendiri sambil mengambil teh pahit yang dituangkan Akemi untuknya dan berjongkok. Oko tersenyum lesu, iri kepada anak muda yang belum banyak mengecap asam garam kehidupan di dunia ini. "Matahachi," katanya letih, "kau rupanya belum mengerti. Temma punya beratus-ratus pengikut." "Tentu saja. Orang brengsek seperti dia selalu punya banyak pengikut. Kami tidak takut akan macam orang-orang yang ikut dengan orang seperti itu. Kalau kami dapat membunuh dial kenapa kami mesti takut kepada anak buahnya? Kalau mereka mencoba menyerang kami, Takezo dan aku akan..." "... tak berbuat apa-apa!" sela Oko. Matahachi membusungkan dadanya clan katanya, "Siapa bilang begitu? Datangkan mereka sebanyakbanyaknya! Mereka tak lebih dari serombongan cacing. Atau Ibu pikir Takezo dan aku ini pengecut? Mau merangkak mengundurkan diri? Ibu kira siapa kami ini?" "Kalian bukan pengecut, tapi kalian kekanak-kanakan! Bahkan terhadap aku! Temma punya adik lelaki bernama Tsujikaze Kohei, dan kalau dia datang mencari kalian, kalian berdua jadi satu pun tak akan punya kesempatan menang!" Ini bukan macam pembicaraan yang suka didengar oleh Matahachi, tapi sementara Oko meneruskan pembicaraannya ia mulai berpikir barangkali Oko ada benarnya. Tsujikaze Kohei agaknya memiliki gerombolan besar pengikut di sekitar Yasugawa di Kiso. Dan bukan hanya itu, ia ahli berkelahi dan luar biasa mahir dalam menangkap orang yang lepas dari tangkapannya. Sebegitu jauh belum ada orang yang dapat hidup normal sesudah Kohei secara terbuka menyatakan akan membunuhnya. Jalan pikiran Matahachi hanyalah, kalau orang menyerang kita di tempat terbuka, itu mudah. Tapi lain sekali halnya kalau orang itu menyerang selagi kita tidur nyenyak. , "Itulah kelemahanku," demikian diakuinya. "Aku tidur seperti orang mati” Sementara duduk bertopang dagu dan berpikir, Oko pun sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya kecuali meninggalkan rumah itu beserta cara hidupnya dan pergi jauh dari situ. Ia pun bertanya pada Matahachi, apa yang hendak dilakukannya beserta Takezo. "Aku akan membicarakannya dengan dia" jawab Matahachi. "Ke mana pula dia pergi tadi?" Ia pun berjalan ke luar clan mencari ke sekitar situ, tapi Takezo tidak tampak di mana pun. Sejenak kemudian ia memayungi matanya dengan tangan, memandang ke kejauhan, dan melihat Takezo sedang menaiki kuda.

Pesta Bunga
PADA abad tujuh belas, jalan raya Mimasaka merupakan jalan utama. Jalan itu membentang dari Tatsuno di Provinsi Harima, berkelok-kelok melewati dataran yang dalam peribahasa dilukiskan sebagai "berbukitbukit". Seperti halnya pancang-pancang yang menandai perbatasan Mimasaka-Harima, jalan itu menelusuri rangkaian pegunungan yang seakan tanpa akhir. Para musafir yang muncul dari Celah Nakayama biasa memandang ke lembah Sungai Aida, dan di situ sering kali mereka terkejut melihat sebuah kampung yang cukup besar. Sebetulnya Miyamoto lebih tepat dinamakan perserakan dusun daripada sebuah kampung yang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sesungguhnya. Sekelompok rumah berderet di sepanjang sisi-sisi sungai, yang lain berkerumun jauh di atas perbukitan, dan yang lain lagi mengambil tempat di tengah dataran terbuka berbatu-batu, sehingga sukar dibajak. Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah rumahrumah itu cukup memadai untuk suatu pemukiman pedesaan pada waktu itu. Sampai kira-kira setahun sebelum itu, Yang Dipertuan Shimmen dari Iga memiliki sebuah puri, tak sampai satu mil jauhnya dari sungai-sebuah puri kecil sebagaimana puri-puri lain, tapi puri yang memikat para tukang clan pedagang untuk selalu datang. Lebih jauh ke utara terdapat tambang perak Shikozaka yang kini sudah lewat zaman keemasannya, tapi dahulu pernah memiliki daya tarik bagi para penambang dan manamana. Para musafir yang bepergian dari Tottori ke Himeji atau dari Tajima ke Bizen lewat pegunungan itu biasanya menggunakan jalan raya tersebut, dan biasanya mereka juga singgah di Miyamoto. Miyamoto memiliki rona eksotik sebuah kampung yang sering dikunjungi oleh penduduk yang datang dari beberapa provinsi dan dapat membanggakan tidak hanya losmennya, melainkan juga toko pakaiannya. Rombongan perempuan malam juga berlabuh di sana. Leher mereka dipupur putih seperti mode waktu itu. Mereka biasa mondar-mandir di depan rumah usahanya, seperti kelelawar putih di bawah tepi atap. Itulah kota yang ditinggalkan oleh Takezo clan Matahachi untuk pergi berperang. Sambil memandang puncak-puncak atap Miyamoto, Otsu duduk melamun. Ia gadis lembut, berkulit terang clan berambut hitam mengilat, sosok tubuh dan anggota badannya indah dan kelihatan rapuh. Sosoknya itu menyiratkan kesan kudus, hampir-hampir seperti peri. Tidak seperti gadis-gadis petani yang tegap dan merah sehat, yang bekerja di sawah di bawah sana, gerak-gerik Otsu halus. Jalannya anggun, lehernya jenjang dan kepalanya tegak. Kini, selagi duduk di ujung emperan kuil Shippoji, ia tampak bagai patung porselen. Sebagai bayi temuan di kuil gunung ini, ia punya sifat menyendiri yang jarang ditemukan pada gadis umur enam belas tahun. Keengganannya bergaul dengan gadis-gadis lain seumurnya clan dari dunia kerja, membuat matanya memancarkan pandangan kontemplatif dan sungguh-sungguh tajam, yang cenderung menolak lelaki yang terbiasa dengan perempuan sembarangan. Matahachi, tunangannya, hanya satu tahun lebih tua darinya, dan sejak ia meninggalkan Miyamoto bersama Takezo pada musim panas sebelumnya, Otsu tidak mendengar kabar apa-apa tentangnya. Bahkan sampai bulan pertama dan kedua tahun baru ini la merindukan berita tentang Matahachi, namun kini bulan keempat sudah dekat, dan ia tidak lagi berani berharap. Dengan malas pandangannya mengawang ke awan-awan, dan pelan-pelan muncullah pikiran di kepalanya. Sebentar lagi sudah satu tahun penuh. "Saudara perempuan Takezo pun tidak mendengar berita tentang Takezo. Bodoh aku, kalau aku menyangka di antara mereka ada yang masih hidup." Sekali-kali ia mengucapkan kata-kata itu pada seseorang, dengan harapan atau dengan suara dan mata mengimbau, agar orang lain itu membantahnya dan memintanya untuk tidak berputus asa. Tapi tak seorang pun memperhatikan keluhannya. Bagi orang kampung yang bersahaja, yang sudah terbiasa dengan pasukan Tokugawa yang menduduki kuil Shimmen sederhana itu, tidak ada alasan lagi untuk menyimpulkan bahwa mereka masih hidup. Tak seorang pun anggota keluarga Yang Dipertuan Shimmen pulang dari Sekigahara, dan itu wajar sekali. Mereka keluarga samurai; mereka telah kalah. Tak akan mereka berkehendak memperlihatkan wajahnya kepada orangorang yang mengenalnya. Tapi bagaimana dengan prajurit biasa? Apakah tidak wajar kalau mereka pulang? Bukankah mereka sudah akan pulang lama berselang, kalau mereka memang masih hidup? "Kenapa," demikian tanya Otsu, entah untuk keberapa kalinya, "kenapa orang-orang pergi berperang?" Kini ia sudah bisa menikmati kesenduan duduk sendiri di emperan kuil clan merenungkan hal yang muskil itu. Ia dapat menyendiri berjam-jam lamanya di tempat itu, tenggelam dalam angan-angan murung. Tiba-tiba ada suara lelaki menyerbu pulau kedamaiannya. “Otsu!" Gelandangan yang telah membangunkan mereka dengan ringkiknya itu, berputar-putar di kaki gunung, bertelanjang punggung. "Seperti tak ada masalah di dunia ini baginya," kata Matahachi pada diri sendiri dengan rasa iri. Dengan tangan mencorong di depan mulut ia berseru, "Hei, Takezo! Pulang! Kita mesti bicara!" Sesaat kemudian mereka sama-sama berbaring di rumput sambil mengunyah-ngunyah rumput, membicarakan apa yang akan mereka lakukan kemudian. Matahachi berkata, "Jadi, menurut pendapatmu kita mesti pulang?" "Ya, memang begitu. Kita tak dapat tinggal dengan kedua wanita ini selamanya." "Ya, memang tidak." "Aku tak suka perempuan." Setidak-tidaknya itulah keyakinan Takezo. "Baik. Kalau begitu, ayo kita pergi." Matahachi berguling dan memandang ke langit. "Sekarang, sesudah bulat pikiran kita, ingin rasanya aku cepat-cepat pulang. Tiba-tiba aku menyadari sangat kehilangan Otsu. Sungguh aku ingin melihatnya segera. Lihat di atas itu! Ada awan yang bentuknya seperti raut muka Otsu. Lihat! Bagian itu seperti rambutnya sesudah dikeramas." Matahachi menjejak-jejak tanah sambil menunjuk langit. Mata Takezo mengikuti bayangan kuda menjauh, yang baru saja dilepaskannya. Seperti kebanyakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pengembara yang diam di padang-padang, kuda gelandangan dianggapnya makhluk yang baik wataknya. Apabila kita tidak membutuhkannya lagi, ia pun tidak meminta apa-apa dari kita; begitu saja ia pergi sendiri ke tempat lain. Dari rumah, Akemi memanggil mereka makan malam. Mereka pun berdiri. "Ayo balapan!" teriak Takezo. "Ayo!" Matahachi menimpali. Akemi bertepuk tangan gembira ketika kedua pemuda itu sama-sama berlari melintasi rumput yang tinggi, meninggalkan awan debu di belakang mereka. Sesudah makan malam, Akemi termenung. la baru saja mendengar bahwa kedua orang itu telah memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Sungguh menyenangkan bahwa mereka tinggal di rumah itu, dan ia ingin hal itu berlangsung selamanya. "Tolol kau!" umpat ibunya. "Kenapa pula kau sedih?" Oko sedang mengatur riasannya, sama rumitnya seperti biasa. Sementara memaki anak gadisnya, ia pun menatap Takezo di dalam cermin. Takezo menangkap pandangannya, dan tiba-tiba teringatlah ia akan bau harum tajam wanita itu ketika menyerbu ke dalam kamarnya. Matahachi menurunkan guci sake besar dari sebuah rak, lalu mengempaskan diri di samping Takezo dan mulai mengisi sebuah botol pemanas kecil, seolah-olah ia adalah tuan rumah. Karena malam itu malam terakhir, mereka merencanakan untuk minum sepuas-puasnya. Oko pun agaknya mencurahkan perhatian khusus kepada wajahnya. "Jangan sampai ada setetes pun yang tak terminum!" katanya. "Tak ada gunanya menyisakan sesuatu untuk tikus-tikus di sini." "Atau cacing-cacing!" sambut Matahachi. Dalam waktu singkat mereka telah mengosongkan tiga guci besar. Oko menyandarkan badan pada Matahachi dan mulai membelainya sedemikian rupa, hingga Takezo memalingkan kepala karena malu. "Aku... aku... tak bisa berjalan," gumam Oko mabuk. Matahachi mengawalnya ke kasurnya, sementara kepala Oko tersandar berat ke bahunya. Sampai di sana, Oko menoleh pada Takezo dan katanya dengki, "Kau, Takezo, tidurlah sendirian. Kau suka tidur sendiri. Betul, kan?" Tanpa gumaman apa pun Takezo merebahkan diri asal saja. Ia sudah sangat mabuk, dan hari sudah larut malam. Ketika ia terbangun, hari telah tinggi. Begitu membuka mata, ia pun merasakannya. Terasa olehnya rumah itu kosong. Barang-barang yang hari sebelumnya ditumpukkan Oko dan Akemi untuk perjalanan telah hilang. Tidak ada pakaian, tak ada sandal-dan Matahachi pun tak kelihatan. la memanggil, tapi tak ada jawaban, clan ia pun tidak mengharapkannya lagi. Rumah yang kosong memancarkan suasananya sendiri. Tak ada orang di halaman, tak ada orang di belakang rumah, tak seorang pun di lumbung. Satu-satunya jejak teman-temannya hanyalah sisir merah terang yang tergeletak di samping mulut pipa air yang terbuka. "Matahachi babi!" katanya pada diri sendiri. Mencium bau sisir, kembali ia teringat bagaimana Oko mencoba menggodanya malam hari belum lama ini. "Inilah yang mengalahkan Matahachi," pikirnya. Memikirkan hal itu saja darahnya menggelegak. "Hai, tolol!" teriaknya keras. "Bagaimana dengan Otsu? Apa yang akan kauperbuat dengan dia? Apa tidak sudah terlalu sering dia kautinggalkan, babi?" Diinjaknya sisir merah itu. la ingin berteriak berang, bukan untuk diri sendiri, melainkan karena rasa kasihan pada Otsu, yang dapat dibayangkannya dengan jelas sedang menanti di kampung sana. Selagi ia duduk sedih di dapur, kuda gelandangan itu melongok tenang di pintu. Karena Takezo tidak menepuk hidungnya, ia pun pergi ke meja cuci dan dengan malasnya menjilati butir-butir padi yang menempel di sana. Otsu menoleh. Ia melihat seorang laki-laki bertampang muda datang mendekati dari sumur. Orang itu hanya mengenakan cawat yang hampir tidak dapat memenuhi fungsinya, dan kulitnya yang tertempa cuaca berkilau seperti emas redup patung Budha. Ia biarawan Zen yang tiga-empat tahun lalu datang ke tempat itu dari Provinsi Tajima. Sejak itu ia tinggal di kuil itu. "Akhirnya datang musim semi," kata biarawan itu, puas pada diri sendiri. "Musim semi suatu berkah, tapi berkah campuran. Begitu keadaan sedikit panas, kutu-kutu busuk itu pun melanda negeri. Mereka mencoba mengambil alih negeri, persis seperti Fujiwara no Michinaga, si bangsat lihai, anak buah seorang regent." Sebentar kemudian ia pun meneruskan monolog itu. "Aku baru saja mencuci pakaianku, tapi di mana akan kukeringkan jubah tua yang sudah compang-camping ini? Aku tak dapat menggantungkannya di pohon prem. Dosa besar sekali clan menghina alam, kalau aku menutup bunga-bunga itu. Cobalah pikir, aku orang yang punya selera, tapi aku tak dapat menemukan tempat menggantungkan jubah ini! Otsu! Pinjami aku kayu jemuran." Wajah Otsu memerah melihat biarawan bercawat cekak itu. Ia pun berseru, "Takuan! Bapak tak bisa ke mana-mana setengah telanjang begitu, sebelum pakaian Bapak kering!" "Kalau begitu, aku akan tidur. Bagaimana kalau begitu?" Ebook by Kang Zusi

Dan malam ini saya harus membuat teh manis. lebih balk saya pergi sendiri. daripada berkhotbah." "Kenapa?" "Entahlah. Sebuah keranjang ia sandangkan ke punggung. penjual pakaian. seruni. saya tak bisa lagi membuang-buang waktu sepezti ini. bahkan bagi Otsu yang pendiam itu pun tak ada hari tanpa hiburan berupa apa yang dilakukannya atau dikatakannya. ini jenis pekerjaan yang suka mencampuri urusan orang. lho!" "Tentu saja mirip. seperti sang Budha turun dari pegunungan Himalaya. "Rasanya Anda benar. hari ulang tahun sang Budha. lebih baik Bapak waspada terhadap tawon-tawon itu. kenapa kita semua ini lebih suka menangis. dan di tengah lautan kupu-kupu yang sedang berterbangan mulailah ia mengayunkan sabitnya dengan gerakan setengah lingkaran. "Kerjaan apa?" "Kerjaan apa? Apa Bapak sudah lupa juga? Pertunjukan pantomim Bapak tadi yang mengingatkan saya. Sudahlah. manusia dilahirkan tanpa pakaian. menderita." "Di mana kau mengambil bunga?" "Dekat sungai. semacam yang biasa digunakan orang untuk membawa tilam. dan menyiksa diri dalam nyala api neraka? Kuharap setidak-tidaknya kau tak usah mengalami segalanya itu. dan violet musim semi. tapi tidak lebih sia-sia daripada urusan seorang pedagang. Kemudian saya harus menyiapkan segalanya untuk upacara pengurapan. kau keliru! Sudah tugasku sebagai pendeta untuk mencampuri kehidupan orang banyak. Lagi pula. "Apa ini lebih cocok untukmu?" serunya sambil menyeringai. Ada ha1-hal penting yang harus saya kerjakan:' Sementaca ia memasukkakan kakinya yang putih kecil itu ke dalam sandal. "Nah. dan gaya reinkarnasinya pun seketika berganti dengan gerak tangan yang kacau.property of: CROSSFiRE. Otsu pun bergegas memutar ke belakang kuil." "Nasib perempuan sama sekali bukan urusan Bapak!" "O. "Oh. "0. sang tawon menukik lagi." Delapan atau sembilan ratus meter di bawah kuil itu. yang kedengaran religius dan kekanak-kanakan sekaligus. tapi beberapa saat kemudian ia sudah melihat kembali Takuan menempel di belakangnya." • Otsu pun tertawa geli melihat lagak Takuan yang kurang pantas itu. Bapak ini betul-betul mengerikan!" la pun berlari jauh ke depan. Saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk besok. apiun. Bapak kelihatan lucu. Pendeta tua menyuruh saya mengambil bunga untuk menghias kuil bunga. nama yang diberikan kepadanya sesudah menjadi pendeta. Jangan bergerak! Aku akan ambil teh untuk pengurapannya. tukang kayu. Sekarang ia mengenakan kain pembalut besar. Dan lagi temanteman lelakimu tak suka kalau kau terlalu banyak cemberut. Melihat celah dalam cawatnya yang longgar itu. "Di langit sana dan di bumi ini hanya aku yang suci. Aku cuma mau menyampaikan padamu ajaran sang Budha tentang nasib perempuan. Takuan bertanya polos. Otsu! Kau tahu. "Jangan marah. "Bapak betul-betul mirip. Golongan pendeta tidak bagus hubungannya dengan kaum Ebook by Kang Zusi . atau samurai. "Sungguh damai di sini. berdiri saja baik-baik di situ. Otsu. memotong bungabunga itu di dekat akarnya. Cuma. la ambil sebuah sabit. Ketelanjangan itu sifat alamiahnya. diikuti langkah-langkah panjang Takuan. "Sebenarnya aku menanti saja sampai besok! Karena hari ini tanggal delapan. aku hanya menggoda. "Takuan. kalau sendirian." Otsu pun melunak. aku bisa berdiri saja seperti ini dan membiarkan orang-orang menunduk hormat padaku. Namun sekonyong-konyong Otsu berhenti tertawa." Otsu secara berirama mengisi keranjangnya dengan bunga-bunga rumput yang kuning cemerlang. Aku setuju. jangan jalan di samping saya!" "Tapi sebelum ini tak pernah rasanya kau keberatan berjalan di samping seorang pria." Pada saat itu seekor tawon menyambar kepala Takuan." "Tanpa pakaian?" "Kau tak akan bisa memetik bunga secukupnya. Pekerjaan ini ada karena dibutuhkan. Aku ini titisan Pangeran Sidharta. aster." Takuan menganggukkan kepala sambil mendesah putus asa. bunga-bunga musim semi bermekaran di kedua tepi Sungai Aida. kalau kita dapat menghabiskan hidup kita di surga penuh bunga. Inc. Orang bisa mengira Bapak gila. "Aku bukannya bicara tentang tawon. Otsu meletakkan keranjangnya di tanah. Kalau mereka menuangkan teh manis ke badanku." "Aku akan mengawanimu." "Mungkin saja." "Kalau begitu. dan Otsu pun tertawa terbahak-bahak." Dengan harapan dapat menghindar. Sejak datangnya Takuan Soho. Kain pembalutnya mengepak-ngepak liar ditiup angin. Bapak ini keterlaluan!" Sambil mengangkat satu tangannya ke langit dan satu lagi menunjuk tanah. tapi saya tidak menganggap itu alamiah." Dan dengan wajah saleh ia pun melagukan sabda pertama sang Budha. "Tentu saja tidak. Kau perlu bantuan." "Takuan." "Memang demikianlah yang terjadi selama ini. dan tersesat dalam pusaran derita dan kemarahan. akan kukejutkan mereka dengan menjilat bibirku. lalu la pun menyelinap ke luar pintu samping." desahnya. di lapangan bawah. Ia menjawab. Takuan menirukan gaya patung kecil Budha yang setiap tahun sekali biasa diurapi para pemujanya dengan teh khusus. netcafe. Sejenak kemudian Takuan pun terpekur.

"Biar kujelaskan sekarang. "aku sendiri tidak begitu yakin. dia duduk di bawah pohon bodhi. wajahnya memperlihatkan sikap jemu. Karena itulah aku di sini. Kenapa mesti menyerangku pribadi?" Otsu menghentikan ayunan sabitnya lagi. yaitu saudara perempuan yang patuh. "Takuan.. ibu yang baik." "Nasihat apa?" "Dia mengatakan. dan di situlah kau mesti menelurkan anak-anak yang bagus dan sehat. "Sementara Bapak bekerja." "Kalau ajaran agama itu hanya pikiran sehat." bentaknya jengkel. karena dia memang maha pengampun.. dan bersamasama mereka berjalan menyusuri sungai. Iblis-iblis perempuan menggodanya siang-malam." "Baiklah. itu. dan pembantu yang tunduk. selama kira-kira tiga ribu tahun."' Otsu memandangnya dengan hampa. dan pegang sabit ini." "Dengan pakaian begitu?" Takuan berpura-pura tidak mendengar." Tawa Otsu pun pecah. kawinlah dengan kebenaran. jangan kamu mengawini laki-laki. Otsu pun mengangguk lemah. kalau dipikir-pikir.. "apa sih 'kebenaran' itu?" Takuan menjatuhkan kedua tangannya ke samping dan memandang ke tanah. seolah-olah mengerahkan kesabaran. perempuan. Kau mesti tetap di kampung." "Diam. seperti juga sang Budha. teman perempuan yang penuh kasih." "Nah. Inc." "Dan menurut kitab suci Bapak." kata Otsu tak sabar. kita tak akan membutuhkan nabi-nabi untuk menyampaikannya pada kita. Iblis." "Apa menurut Bapak.. " Dia mengatakan. seorang gadis berumur dua puluh lima." "Tapi. yang jadi milikmu. tapi. Kalau diterapkan pada kehidupanmu. Ketika sang Budha masih muda. "Lihat tidak?" kata Takuan sambil mengibaskan tangannya. tapi sama sekali tidak jelek tampangnya. 'Hai. "Dan jangan lupa Bodisatwa Nagarjuna yang juga membenci-maksudku takut-pada perempuan." "Saudara perempuan yang patuh." "Itu cukup wajar. sekali lagi Bapak memutarbalikkan semuanya untuk keuntungan diri sendiri!" "Komentar khas perempuan. "Kawinlah dengan kebenaran." "Kalau begitu. jangan berkhotbah lagi. Ogin. tapi Takuan tidak mengacuhkannya. aku pun tak akan memaksakannya padamu. Kau tahu." "Karena dia sudah bijaksana atau pikun?" "Jangan menghujat!" Takuan memperingatkan dengan tajam." "Itu lucu!" "Masih ada kelanjutannya. sang Budha sendiri lelaki. bukan? Di India kuno lelaki lebih dihormati dan perempuan kurang dihormati dibandingkan dengan di Jepang. tapi harus mencari yang abadi. tidak lagi dianggap orang sedang mekar-mekarnya.. Saya lihat Bapak sudah menyusun semua itu untuk keuntungan lelaki. Berulang-ulang dia memuji kebajikan mereka itu dan menasihatkan pada orang laki-laki untuk memperistri perempuan-perempuan jenis itu tadi. "Dia barangkali akan menyuguhi kita teh. Walaupun para calon cenderung mundur karena reputasi adik lelakinya. teman perempuan yang penuh kasih. agama Budha mengajarkan bahwa perempuan itu jahat. Tapi kuminta kaudengarkan nasihat yang diberikan Nagarjuna pada perempuan. Aku sudah haus setengah mati. kawin dengan kejujuran artinya kan tak boleh berkeinginan pergi ke kota. Bapak. kita hentikan saja omongan ini. "Bapak datang kemari ini untuk membantu saya memetik bunga atau tidak?" "Tentu saja. Saya sedang tak senang bicara hari ini. 'Hai. untuk melihat apa dia sudah menyelesaikan obi yang akan saya pakai besok. kalau kau memang tidak menginginkan bimbingan spiritual dariku. Sekalipun begitu. kan? Bukankah dia pernah datang ke kuil denganmu?" Dan Takuan pun menjatuhkan sabitnya. tapi Ebook by Kang Zusi . "Takuan. netcafe. itu berarti kau tak boleh diberahikan semata-mata oleh makhluk hidup. itu tidak masuk akal. "Ada yang aku tahu pasti.property of: CROSSFiRE." katanya berpura-pura tersinggung. Bahkan dia pun sampai mengagungkan empat jenis perempuan. perempuan!" "Kan dari tadi Bapak yang terus bicara?" Takuan memejamkan mata." Otsu mengangkat sabitnya tak sabar. Utusan neraka. kenapa perempuan itu jahat?" "Karena dia menipu lelaki.." Karena sudah capek sekali berdebat dengan biarawan itu. dan pembantu yang tunduk. Bertahun-tahun aku menggeluti kitab suci. ibu yang baik." "Apa lelaki tidak menipu perempuan juga?" "Ya. kalau dia perempuan." katanya sambil berpikir. karena itu bukan kebetulan bahwa kau dan aku selamanya berselisih." "Ogin? Kakak perempuan Takezo itu? Aku sudah pernah melihatnya. "Yah. melahirkan anak-anak yang lemah dan sentimental. perempuan. keadaannya akan sebaliknya?" "Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin seorang iblis dapat menjadi Budha?" "Takuan. Dengan sendirinya dia lalu tidak menghargai tinggi perempuan. di masa tuanya dia mengambil beberapa murid perempuan. perempuan. saya akan lari ke rumah Ogin.. "Aku ikut.

Roh Hon'iden Matahachi yang telah pergi." "0. Mau kaupakai besok. "Aaii! Dingin!" lengking Takuan sambil melompat. Ogin yang memandang tajam ke beranda itu bertanya." "Apa yang dipakainya itu? Kelihatannya bukan jubah pendeta. "Kamu rupanya. "Maaf. aku mulai melamun. "Ya. Apabila singgah. lalu ia berlari melintasi kamar sebelah. di atas piring kecil. tapi di kuil begitu banyak pekerjaan. "Siapa itu?" "Biarawan musafir yang tinggal di kuil. "Apa kau sudah mendapat kabar bahwa mereka terbunuh?" "Ah. Keduanya dilekatkan di papan. kan?" "Betul. kini terlapisi seluruhnya oleh kotoran burung layang-layang putih. "Kusingkirkan barang-barang ini. ia pun membawakan Takuan teh yang sudah dinantikannya. Tapi apa lagi yang lain dari itu? Aku sudah pasrah. Berapa umurnya?" "Katanya tiga puluh satu tahun. Yang kotor itu. ingat tidak? Waktu dia sedang berjemur telungkup sambil memegang kepala. la menolak semua pinangan. menyapu jalanan. tapi karena mereka semua orang asli Miyamoto. Suatu kejadian yang bukan tidak umum di zaman yang penuh kekalutan." "O. Umur 17. ketika masih memegang tanggung jawab latihan militer keluarga Shimmen. biarpun kelihatannya begitu. dia begitu tolol. dia biarawan hebat. dan dengan kalutnya ia mencoba mengeringkan rambut dengan salah satu ujung kain pembalutnya." Sebagai tanda minta maaf. Dalam cahaya suram itu la melihat dua tulisan gelap yang dilukis sangat saksama dengan kuas. Saya tak lihat. "Ogin. Sebagai hadiah atas kerjanya yang sangat baik." "Memang bukan. Pembawaan dan pendidikannya yang baik segera tampak oleh semua orang. Kalau tak ada kesibukan. Mereka juga senang mengobrol dengan anak perempuan Munisai." Ogin memandang jahitannya. membersihkan kamar-kamar yang tidak dipakai. Betul-betul minta maaf." Otsu mengangkat kepala. Sebetulnya aku bisa menjahitnya sendiri." Ebook by Kang Zusi . ia kehilangan status dan mati sebagai orang miskin. Ketika kita bertanya kepadanya apa yang dilakukannya. Cuma mengundang yang jelek-jelek. selalu. mengisi guciguci air. banyak yang masih sering singgah. karena kau sudah mau bersusah payah. Inc. menuju beranda. dia mengatakan kutu-kutunya sedang mengadakan pertandingan gulat. Salah seorang pendeta mengatakan. ia menyangka yang datang adalah salah seorang dari bekas-bekas pembantu itu. Ketika Munisai tak disukai lagi. Segera sesudah kematiannya. sampai tak ada waktu lagi. ia dianugerahi hak utama menggunakan nama Shimmen. belum. Rumah itu menghadap ke sungai. dia!" "Ya. dia. dan terlihat olehnya altar keluarga. bukan mandi!" Otsu pun tertawa sampai keluar air mata. "Oh." "Aneh ya. memandang ke tanah. didirikan di atas pondasi batu." Otsu menggelengkan kepala keras-keras. semata-mata karena ia ingin mengurus adik lelakinya lebih lama lagi. "Apa kau mimpi tentang Matahachi?" tanyanya lembut. netcafe. Air tumpah tepat di kepala Takuan yang sedang jongkok di bawah. "Jangan katakan itu! Bikin sial! Mereka belum mati.." katanya. mereka meninggalkan sayur-sayuran segar. belum! Kurasa mereka akan muncul hari-hari ini." kata Otsu resah. Kau pernah melihatnya. dan dengan cara-cara lain yang tak terhitung jumlahnya mereka berusaha memelihara rumah tua itu. Aku punya lebih banyak waktu dari yang kubutuhkan. Aku sendiri tidak mimpi yang lain kecuali adikku. Takuan. Di atasnya menyala lilin. Ketika Ogin yang sedang menjahit di kamar dalam mendengar pintu belakang terbuka. tapi kini telah reyot. Itu kain pembalut. Bikin kaget aku saja. di mana Munisai dahulu biasa mengajarkan seni perang. dengan sesajian air clan bunga di depannya: Roh Shimmen Takezo yang telah pergi.. Karena sedang tenggelam dalam pekerjaannya. dikitari oleh tembok kotor yang tinggi. tapi kadang-kadang aku merasa seperti kakaknya. dan dinding dojo. denganku.. para pembantunya pun pergi. Dahulu rumah itu megah." "Ogin. "Apa pula yang kaulakukan ini? Aku datang kemari mencari secangkir teh.property of: CROSSFiRE. Aku yakin mereka tewas di Sekigahara. aku mau mengucapkan terima kasih. Tak puas dengan itu. jangan bilang begitu!" Otsu pun berlari ke altar dan mencabut tulisan itu dari papannya. Umur sama. Di sana dilontarkannya bunga itu sejauhjauhnya clan dituangkannya air di pinggir sana. tak kurang orang yang melamarnya. Ogin." Air mata melelehi wajahnya ketika la mengembus lilin itu. begitulah paling tidak. dicengkeramnya bunga dan mangkuk air. dan jauh lebih besar dari yang diperlukan oleh seorang samurai biasa di pedesaan. ia pun terlompat ketika mendengar Otsu menyalaminya." "Ya. Ketika ia kembali ke dalam. Dia bilang dia telah melatih kutu-kutu itu untuk menghiburnya. aku senang bisa membantu." "Kain pembalut? Eksentrik. Kenapa?" "Itu artinya dia sudah mati. Bunga-bunga iris liar berkecambah dari atapnya. Aku baru menyelesaikan obi-mu. Rumah yang ditinggalinya dibangun oleh ayah mereka. Munisai. Namanya Takuan Soho.

karena beberapa alasan." "Apa maksudmu. kesusahan Anda akan berkurang lima puluh kilo juga. Tetapi para pemudanya kelihatannya lebih tertarik mencuri-curi pandang ke Otsu daripada mengikuti upacara keagamaan ini. sedangkan kau duduk merintihkan kekasihmu yang hilang." jawab Otsu riang." Ogin menggelengkan kepala. tapi setidak-tidaknya kalian dapat memberiku kue manis untuk teman minum teh ini. membawa minyak suci dan mengisikannya ke dalam tabung-tabung bambu kecil untuk dibawa pulang para pengunjung sebagai pembawa berkah." bisik seorang pemuda. Wajahnya memancarkan rona merah muda. tanpa apa-apa kecuali teh. seperti bunga-bunga yang ada di sekitarnya." "Itu dia. Dia menghabiskan banyak sekali waktu untuk belajar!" "Barangkali itu sebabnya dia agak lain. istri-istri pedagang dengan warna kimono yang lebih lembut. Jika Anda meninggalkan uang sebanyak lima puluh kilo. betul begitu? Dan bagaimana saya bisa kejam dan bengis begitu?" "Kau meninggalkan aku di luar sini tanpa daya. "Dia memang seperti itu sejak dulu." "O. Otsu duduk menghadap meja berplitur hitam. Itto dari Sennan. Patting ini berdiri di dalam semacam baskom dari tanah liar. Kita tak dapat selalu menilai orang dari tampangnya. hingga pergelangan tangannya mulai berdenyut dan tulisan Ebook by Kang Zusi . DI kuil Shippoji. ia memainkan kuas dengan terampilnya. Tak pernah aku tahu alasannya dari siapa pun. Tapi." kata Otsu. Mereka malahan sudah menawarkan membangun kuil untuknya dan menyumbangkan uang untuk perawatannya. tiga hari sesudahnya dia melarikan diri. Anda memakai sutra halus dan obi bersulam. Dia sendiri tak pernah menceritakan masa lalunya. dan di sana-sini wanita tua dengan kimono warna gelap menggandeng tangan cucu-cucu mereka." "Dari mana dia itu?" "Dia lahir di Provinsi Tajima. Takuan berdiri di dekatnya. dan mulai mempersiapkan diri menjadi pendeta ketika umur sepuluh tahun. Dia bilang lebih suka mengembara di pedesaan seperti pengemis. maka tinggalkan sumbangan sebanyak yang Anda sanggup. aku tak peduli. Pada hari yang sebaik-baiknya ini. kira-kira empat tahun kemudian. Terutama Anda-anda yang kaya. tapi tindakanmu jauh lebih kejam dan bengis daripadaku." Di sebelah lain kuil bunga itu. Lonceng mulai berdentang selewat subuh. "Kalaupun kalian membicarakan yang jelek. Anda pasti punya banyak kesusahan juga. dan juga nasib siaL Otsu menuliskan sajak itu sudah berpuluh kali-ya. Takuan berseru. Anda punya banyak uang. sudah demikian seringnya." Otsu melanjutkan ceritanya. "Semakin cantik saja. "Kuil ini miskin. ruang utama yang kecil penuh dengan umat. la menulis: Dengan cepat dan saksama." "Memang begitu yang dikatakannya. Tangannya yang satu menunjuk ke langit dan satunya lagi ke tanah." bisik pemuda lain. Kemudian dia masuk kuil sekte Zen Rinzai. hanya berteman kutu-kutunya. "Dia diangkat menjadi pendeta tetap di Nansoji dan ditunjuk sebagai kepala biara Daitokuji dengan maklumat Kaisar." Seraya berdiri di dekat beranda. tapi dia tidak tertarik. Di dalam "kuil bunga" ini ada patting Budha berwarna hitam. Orang-orang melewati patung itu sambil mengguyurkan teh manis ke kepalanya dengan menggunakan sendok besar dari bambu. Ia mengenakan obi baru. Yaitu tanggal delapan bulan empat. kalau itu menghibur kalian. netcafe. Jatuhlah hukuman bagi Para serangga yang menghabiskan panen. setinggi kira-kira setengah meter. Otsu melanjutkan. Sekali-sekali ia mencelupkannya ke dalam kotak tinta berlak emas di sebelah sana. Inc. "Aku bisa mendengar semua yang kalian bicarakan!" "Tapi rasanya kami tidak membicarakan yang jelek. "Orang bilang jenderal-jenderal terkenal seperti Hosokawa dan orang-orang bangsawan macam Karasumaru sudah berulang-ulang mencoba meyakinkannya untuk tinggal menetap. Di dalam ruang itu ada sebuah kuil mini. Pada pagi hari orang-orang berduyun-duyun ke kuil: gadis-gadis dengan obi merah. Atapnya dari daun-daun potion jeruk dan tiang-tiangnya dililit bunga-bunga liar. aku seperti itu?" Mata Takuan pun berseri-seri. "Dia ada di sini." "Barangkali menurut anggapannya kita ini yang aneh. Ketika menuliskan kata-kata pesona di atas kertas lima warna. Entah sejak kapan orang di daerah ini menganggap bahwa menggantungkan sajak bernada praktis itu di dinding akan melindungi mereka dari hama. dan kadang-kadang masih terdengar dentangnya sampai jauh lepas tengah hari. penyakit." "Berapa lama dia akan tinggal di sini?" "Mana bisa tahu? Dia biasa muncul suatu hari. Belakangan dia belajar dengan pimpinan Gudo dari Myoshinji. dan menghilang hari berikutnya. Pergi dari sana dia menjadi pengikut pendeta sarjana dari Daitokuji dan melakukan perjalanan bersamanya ke Kyoto dan Nara. Saya tahu siapa Anda. Kurasa dia agak sinting. "Mungkin saja.property of: CROSSFiRE. Kejam!" Di kuil Daishoji dan Shippoji lonceng berdentang-dentang. dan satu deretan panjang orang suci lain yang terkenal. "Dan kau sendiri? Kau kelihatannya saja tidak tega melukai seekor lalat. Sambil menuangkan minyak ia menghimbau mereka untuk memberikan sumbangan.

"Hentikanlah usaha merampok orang-orang ini." jawab Takuan. Dia membantu pesta." "Bapak ini mestinya salah seorang biarawan bejat yang selalu kami dengar ceritanya itu." "Aku bicara kepada mereka yang sudah terlalu banyak harta. Dia bilang. kan? Tak bakal kau mendapat perempuan. dari seberang kali." Takuan terlalu sibuk mengumpulkan mata uang emas untuk menjawab." "Saya suka perempuan sama dengan lelaki di belakangnya. anggota kebanggaan kelompok bangsawan desa yang masuk kelas samurai. tidak?" "Tidak. "Jangan berdesakan. "Sini." Wajah Otsu berubah merah tua. "Betul? Betul-betul dia melihatnya. lalu melayangkan pandang kepada orang banyak. "Ya. kalau tidak. Sering kali yang dipanggulnya adalah ikatan daun murbei yang demikian banyak. saya mesti lari pulang dan mengatakan pada Nenek." "Hei." Ebook by Kang Zusi . akuilah sekarang betul. berudu! Kaukira aku tidak tahu kenapa kau di sini! Kau tidak datang untuk menghormat sang Budha atau membawa pulang kebaikan. Hon'iden. hingga tubuhnya yang hampir melipat dua itu nyaris tidak kelihatan. Otsu bilang melihat dia di pesta. Setelah berhenti sejenak. dan sesudah panen la menebah butir-butirnya dengan menginjak-injaknya. Pendeta!" kata seorang pemuda yang mendapat peringatan karena mendesakkan diri ke tengah. "Kenapa tidak?" "Otsu bilang. Napasnya masih terengah-engah. "Dan dia pakai obi yang bagus sekali. sini. Itulah inti amal. pencuri biasa pun bisa jadi orang suci semuanya. tapi Bapak mendahulukan perempuan. Kau datang untuk bisa memandang Otsu lebih jelas! Nah. tidak usah repot dengan hama-hama itu. Nek. Sore pada hari pesta bunga itu. Otsu kembali menghentikan pekerjaannya. Itu jadi beban mereka. Sekalipun sudah hampir enam puluh tahun umurnya. biasanya ia dapat ditemui sedang mengurus ulat sutranya. yaitu meringankan mereka dari beban. tangannya mulai mencerminkan kelelahan. saya betul-betul marah!" Untuk mengistirahatkan matanya. Terlalu banyak Bapak mengambil. kalau kau berlaku seperti orang kikir. Tiba-tiba terpandang olehnya sesosok wajah." "Kamu bawa pulang teh manis dan mantra pengusir hama. Pada malam hari. seorang perempuan yang sangat keras kepala bernama Osugi." "Mengatakan apa?" "Takezo." "Otsu ada di sana?" "Ya. "Takuan. "Dari kuil. Kalau senja memaksanya berhenti bekerja." jawab anak itu girang. Bapak terus menyuruh kami menunggu giliran. "Dari mana kamu. Kepala sesungguhnya dari keluarga itu adalah ibu Matahachi.property of: CROSSFiRE. ada saja yang dapat ditemukannya untuk disandangkan ke punggungnya yang bungkuk dan diangkutnya pulang ke rumah. "Dengan jalan pikiran itu. Heita?" "Ya. Heita?" tanyanya tajam. ia pun menegur Takuan. "Maksud Anda saya?" kata Takuan sambil menunjuk hidungnya. tiap hari ia memimpin keluarga dan petani penyewanya ke ladang dan bekerja sama kerasnya dengan mereka. antrelah." "Cukup. Hentikan sekarang juga. Anda sekalian akan segera mendapat kesempatan mengosongkan pundi-pundi Anda. hentikan." Mata perempuan tua yang biasanya tersembunyi di antara lipatan dan kerut-kerut itu kini terbelalak karena jengkel. Di musim tanam ia mencangkul ladang. bagian 2 Murka Janda Bangsawan KELUARGA Matahachi." katanya kepada orang banyak yang berdesak-desak. ya?" "He-eh. netcafe. Osugi menghentikan kerjanya di petak kebun murbei ketika melihat cucu lelakinya yang masih ingusan berlari-lari telanjang kaki melintas ladang. Inc. pelan-pelan. Mereka juga mengerjakan tanah." Suara Osugi turun satu oktaf.

Nenek tak perlu melakukan apa-apa. la menolak menerima jawaban "belum". Heita. Rumah pertanian yang dikitari pohon ek tua berbonggolbonggol itu adalah rumah yang besar. menyusuri sisi luar kebun pit. dan matanya menjadi kabur oleh air mata. Saya yang melakukan semua formalitas." Kata-kata Otsu terdengar gemetar karena tuduhan perempuan tua yang tergesa-gesa itu. Seperti sedang kesurupan ia keluar pelan-pelan dari rumah. "Tidak bisa dia sembunyi dariku!" Otsu tetap tenang. apa yang sudah terjadi. "ambili daun murbei ini. "Apa?" bentak Osugi yang sama sekali tidak reda marahnya. Tubuh kekar itu pun seperti lumpuh seketika." Wanita tua itu pun enyah. Kalau Takezo kembali." Osugi menolak keras. Pengecut!" Osugi pun mulai gemetar karena berang. Sandalnya yang basah berdetapdetap berat di tanah. Kalau Takezo kembali. ia berlari ke luar dan bertanya apakah mereka belum menemukan anaknya. la duduk seperti patung. dan semakin ia bertanya. kenapa dia lari seperti itu." kata Otsu meredakan. dia melompat seperti kelinci ketakutan. Akhirnya berkatalah ia mengancam. Bau harum kembang pit mengambang di udara. semakin terbentuk kecurigaan yang mengerikan di dalam otaknya. dia tak akan berbuat begitu! Aku kenal iblis itu! Dia tidak sebaik itu. masih dengan semangat tinggi ia meletakkan lilin di depan tanda peringatan nenek moyang suaminya. dan gadis itu berlari. Sesosok tubuh terlihat mendekat. Jangan nakal. tapi perempuan tua itu seperti tidak mendengarnya. tapi saya tak bisa mengerti. ia pun memutar badannya kembali. sekali lagi telah berbuat sesuatu yang tidak baik. "Bangsat! Barangkali dia sudah meninggalkan Matahachi yang malang mati entah di mana. "Saya pikir. seperti anak yatim. dan suaranya meninggi menjadi jeritan. Pelan-pelan ia menoleh. kemudian dia hilang. pasti dia menyampaikan pesan untuk kita. tak ada makan malam di rumah itu. si bangsat Takezo yang sempat dibencinya karena memikat Matahachi yang sangat disayanginya untuk pergi perang. la sendiri tinggal di rumah. saya yakin. tapi tak pernah sekali pun dia datang minta maaf atau menunjukkan sikap hormat. la mulai bertanya-tanya pada dirinya. "Heita.. Sejak dulu dia memang aneh." "Lari?" tanya Osugi keheranan. Nek. kalau Nenek mau." katanya sekonyong-konyong. karena sudah terlalu lelah. netcafe. Saya lari ke luar untuk menanyai Takezo. Ogin kakak perempuannya. Diperintahkannya mereka pergi ke semua arah untuk menemukan Matahachi. Betul?" "Ya. Waktu pun mengapung lewat tanpa terasa. tapi ketika saya memanggil." "Nek. Osugi pun memanggilnya. menuju gerbang depan. dan ia menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Heita. dan memang tak seorang pun di kampung ini yang akan menerima Takezo. "Barangkali kau benar. dan tiap kali dirasanya ada orang mendekat. Ketika malam tiba dan masih juga belum ada berita." "Kalau begitu. "Ah. ketika Takezo datang. Namun Osugi waktu itu sudah yakin benar akan pengkhianatan Takezo.property of: CROSSFiRE. Seakan-akan. Melihat bayangan Otsu. dan memandangnya seakan-akan la telah kehilangan akal." jawab Otsu." Ebook by Kang Zusi ." "Tak usah. Masih di kejauhan ia sudah berseru pada mereka dengan agak histeris. Sekarang pun.. Di sana ia menanti. Ketika mereka terus memperlihatkan pandangan kosong. dia tidak memberitahu aku." Kemarahan perempuan tua itu pun mereda sedikit. kita mungkin menemukan Takezo di sana. "Dan lagi. Matahachi pasti kembali juga. Pada waktu matahari terbenam.. Aku tunggu dia di sini. "Tak ada alasan untukku ke sana. dan berkata lagi. meninggalkan anak kecil itu sendirian." "Saya ikut. atau paling tidak tanda mata dari dia. Kita mesti bertanya. "Ah. Dia tahu adiknya yang menyeret anakku pergi perang. Karena semua orang masih melakukan pencarian. saya pikir dia tak akan berbuat begitu. ia pun mulai menyebut mereka semua dungu. Kemudian ia pun kembali berperan sebagai komandan tertinggi." "Nenek mau ke mana?" "Pulang. Berdua saja. la menggeleng-gelengkan kepala dengan mantapnya. Menjadi jelaslah baginya bahwa anak lelaki Shimmen. "Apa Matahachi sudah pulang? Apa dia sudah di sini?" Orang-orang itu terkejut. di mana anak perempuannya dan beberapa petani penyewa sedang bekerja. Biarpun dia harus meninggalkan Matahachi." "Tapi ini bukan keadaan biasa. Matahachi pasti pulang juga. Kenapa aku harus pergi mendatanginya? Itu merendahkan martabat. yang pokok sekarang menemui Takezo secepatnya. "Otsu! Orang bilang kau melihat Takezo. Ayolah. tersembunyi dalam kegelapan. kalau pergi ke rumah Ogin. Akhirnya seorang dari mereka mengatakan "belum". seakan-akan berharap melihat anak lelakinya berdiri di belakangnya. Saya melihatnya di tengah orang banyak di luar kuil. Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon ek. sedangkan pegunungan yang membayang di depan dan di belakang rumah terselimut kabut putih. kemudian mencuri-curi pulang dalam keadaan sehat walafiat. Inc. Osugi pun akhirnya bergerak. Osugi melewatinya saja dan berlari langsung ke lumbung. mari kita melihat ke sana. kita pergi." "Kau tidak lihat Matahachi?" "Tidak. Ketika tak dilihatnya seorang pun. Matahachi mestinya tak perlu bergaul dengannya. Saya lihat matanya sesaat.

lalu lebih banyak lagi. Dia bersembunyi di sini. Ebook by Kang Zusi . melipat tangan di pangkuan." Osugi yang duduk resmi di bantalan lantai. untuk meluruskan perasaan-perasaan yang sudah terganggu. ia pun berkaok-kaok kembali. bukan?" "Ah. di depan ceruk. la melompat berdiri. "Kau pasti tahu di mana dia!" "Saya sudah bilang tidak tahu!" protes Ogin. dan menyemburkan kata-kata. Pepohonan demikian lebat. Saya ketularan orang-orang itu." "Bohong besar!" jerit Osugi. la pun membungkuk. bahwa dia tidak langsung datang ke sini?" "Tapi betul dia tidak datang. "Aneh juga. akulah ibu anak yang telah diseret pergi perang oleh pemuda sampah itu? Apa kau tidak tahu. Tiba-tiba dari pintu yang terbuka ke beranda terdengar bunyi berderak. Otsu melanjutkan berjalan ke pintu belakang sendirian. diiringi kertak ranting-ranting dan gemeresik pohon bambu." Melihat Osugi tak hendak beranjak. "Itu Takezo!" teriak Osugi.property of: CROSSFiRE. 'Setan kecil' itu Takezo. berarti adikmu yang membunuhnya. Matahachi itu ahli waris dan anggota terpenting keluarga Hon'iden? Adikmu yang membujuk anakku pergi dan terbunuh. lalu Osugi langsung pada persoalan. kemudian matanya menyala kembali dalam keberangan. "Itulah nama yang diberikan orang kampung kepadanya. yang tibatiba berubah dari seorang perempuan buruk pembajak ladang menjadi seorang wanita bangsawan besar dan menyapa nyonya rumah dengan nada-nada tinggi. Otsu pun menjelaskan bahwa ia telah melihat Takezo dalam pesta. Ogin sendiri yang keluar menyambut perempuan tua itu. dan seperti utusan dewa-dewa ia pun segera menuju tempat yang paling terhormat di dalam ruangan itu. Saya minta dia dibawa kemari. Seorang lelaki berteriak. tapi lebih baik ia mati daripada mengemis pada seorang Shimmen. Senyuman palsunya lenyap ketika ia menatap perempuan muda di depannya. tapi Osugi mogok. Dan karena kasihan kepadanya." kata Ogin." katanya sambil tertawa. Nona sangat bermurah hati telah datang dan menyilakan saya masuk!" la pun cepat melewati Ogin dan langsung masuk rumah. Mata Osugi berkilat. keluarga Shimmen adalah bangsawan desa. jelas menahan diri. clan kedua keluarga itu berasal dari wangsa Akamatsu beberapa generasi sebelumnya. la duduk dengan angkuhnya. ia pun menggigit bibirnya. Rumah Ogin kira-kira satu mil jauhnya. Tentu saja ia sama inginnya dengan Otsu untuk mengetahui apa yang terjadi. "Rasanya tidak pantas kalau kepala keluarga Hon'iden masuk rumah keluarga Shimmen dari pintu belakang.. Suaranya bergetar dan matanya basah oleh air mata. Karena malu mendengar adiknya disebut demikian. Sampai di gerbang depan. la pun berkenan mendengarkan katakata sambutan yang setulus-tulusnya dari Ogin. "Tangkap dia!" Kemudian terdengar bunyi lebih banyak kaki. "Saya mendengar kabar. Mereka menempati kedua tepi sungai yang berhadapan. Otsu hendak berjalan memutar ke pintu belakang. bawa Matahachi padaku. netcafe. untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi dengan anak kesayanganku dan di mana dia sekarang-sekarang juga!" "Bagaimana saya bisa melakukan itu? Dia tak ada di sini. mereka mendapati gerbang itu terkunci. berlarian di sekitar rumah. dan kalau dirasanya dia dapat pulang diamdiam sendiri dan beres semuanya. Basa-basi telah berakhir." jawab Ogin yang benar-benar terkejut. Osugi pun mengubah taktiknya. "Oh. ia pun menambahkan. "Ini pertama kali saya mendengarnya. Dengan gaya seorang mertua yang sedang meradang ia pun melancarkan badai umpatan. dan kakinya tersimpuh rapi. setan kecil rumah ini sudah merangkak pulang. dan diam-diam mereka selalu mengakui hak hidup masing-masing pihak. apa kau ingin aku percaya kau belum dengar berita tentang dia? Apa kau tidak tahu. lidah saya sudah tergelincir tadi. Inc. "Siapa yang Ibu maksud dengan 'setan kecil' itu?" tanya Ogin. Sebagaimana keluarga Hon'iden. "Lalu kau sendiri bagaimana? Sejak dia jelas berbuat tak pantas dengan pulang diam-diam sendirian. Hanya sampai di situlah keakraban mereka." Cukup lama perempuan tua itu berhenti untuk mengatur napas. dan Otsu mulai berdiri. Memperlakukan seorang perempuan tua tanpa sopan sama sekali. Kalian pikir siapa aku ini?" Dan sesudah menelan napas sekali lagi. Kalau tak bisa. tidak. saya yakin dia akan mengetuk pintu sebentar lagi. paling tidak suruh setan kecil itu ke sini sekarang. "Apa artinya semua ini? Jadi. tetapi bunyi berikutnya yang terdengar adalah pekikan yang menegakkan bulu roma." Walaupun lidah Osugi terkenal tajam. diikuti bunyi kaki berlari. hingga tak mungkin terlihat cahaya lampu rumah. kenapa kau yang menjadi kakak perempuannya tidak lekas menyuruhnya datang padaku? Aku muak dengan kalian berdua. "Maafkan saya mengganggu Nona pada waktu seperti ini. Kemudian. Seperti bunglon. tetapi urusan saya ini betul-betul tak bisa ditangguhkan. menatap Ogin yang berlutut. Akhirnya lampu pun muncul di sebelah dalam gerbang. Tubuhnya diapit perkamen yang tergantung dan satu karangan bunga. Itu menurunkan derajat. bukan. "Kalau Takezo memang pulang. Osugi menerima desakan Otsu dengan segan-segan. kedengkian yang tak disembunyisembunyikan ini terdengar bagai guncangan bagi Ogin yang halus.. Kalau anakku mati. Tapi kalau dia kembali seperti Ibu katakan itu. mengharap setengah mati ayahnya masih hidup. Suara manusia yang mirip sekali dengan lolongan binatang.

Samurai itu mengangguk-angguk tanda setuju.. Osugi berbisik. aku tak akan melupakannya. "Ayo kita pulang. tapi. Kalaupun Ogin berdusta. Akan terasa tidak adil bagi Ogin. Dengan sopan Ogin menawarkan lentera. Kami akan menangkapnya. Atas perintah pimpinan saya. tapi ingatlah. karena itulah tempat pertama yang akan digeledah tentara. "Aku tahu dia di sini!" katanya garang. sejak anak saya bergaul dengan dia. ia sadar bahwa Takezo barangkali tidak pulang ke rumah." "Jadi." "Setan?" "Itu. kalau saya katakan." sambungnya sambil menunjuk. tapi Osugi menolak keras. Mereka masuk ke kamar dalam. saya akan melakukan segala yang mungkin untuk membantu Ibu membalas dendam." "Disukai? Menggelikan. Sesudah ia memberikan keterangan ringkas.. samurai itu mengumpulkan kelompoknya yang terdiri atas empat belas atau lima belas orang di belakang rumah Ogin. ia tentunya punya alasan yang baik. "Itu sama terangnya dengan hidung di mukamu. mereka pun melompati dinding. meninggalkan jejak-jejak berlumpur. dan memblokir semua pintu keluar. Ibu ini ibu Hon'iden Matahachi yang pergi dengan Shimmen Takezo ke Medan Sekigahara?" "Ya." Sambil membungkuk ia pun membisikkan sesuatu ke telinga samurai itu. "Ibu kan baru datang dari rumah Shimmen?" tanyanya. Tapi jumlah kami tak banyak. Tidak jauh dari rumah itu.. netcafe. Dia diperdaya setan kecil itu. ia berkata. tapi anak saya pergi ke sana bukan karena ingin. "Siapa Anda ini?" "Saya dari garnisun Tokugawa. "Ya.. terus terang. pastilah ia dibunuh dengan satu hantaman pedang kayu." dorong Osugi sambil berangkat pulang. Menghadapi serdadu-serdadu itu Otsu ketakutan dan pucat lesi. itulah pendapat saya semula. Ia jelas samurai profesional yang tidak bisa ditemukan di kampung itu. dan tangan serta kakinya terlindung zirah. Tapi sementara itu.. sebetulnya saya tidak begitu yakin. Saya. karena Takezo melakukan perjalanan sendirian." "Matahachi! Meninggal?" "Eh. Melihat tengkoraknya yang berantakan. Tapi dia takkan dapat terus begitu selamanya. Karena merasa harus tinggal untuk menyenangkan hati Ogin.property of: CROSSFiRE. Berita kematian Matahachi pun tidak dipercayainya. Darah segar masih mengalir dari mata dan hidungnya. menghapus-hapus wajah yang berurai air mata." "Izinkanlah perempuan tua ini memberikan sedikit nasihat pada Anda. dan dengan bersemangat berkata. kenapa Takezo tidak muncul di Shippoji." "Nah." Dengan mengangguk-angguk sadarlah Osugi sekarang." Osugi memandang ragu-ragu. "sudah menembus rintangan dan lari ke Miyamoto. Lalu beberapa orang serdadu menyerbu ke dalam rumah. kenapa kau mencoba menyembunyikan dia dariku.” "Apa Ibu anggota keluarga Shimmen?" "Tentu saja bukan!" bentak Osugi sambil mengibaskan tangan sebagai tanda protes." Otsu tak dapat memaksa dirinya pergi. mengepung rumah. "Ada. "Ketahuilah." la pun melipat keliman kimononya. Sesudah pertempuran. kami pergi ke Puri Himeji. Inc. dan dia baru saja membunuh seorang anak buah saya. Otsu membawa lampu ke beranda dan berdiri di samping Osugi yang membelalak ketakutan ke arah mayat itu. ada orang mati di situ!" katanya terbata-bata. di mana dua perempuan muda sedang duduk berkabung. menurut perasaan Otsu. "Tapi saya tak percaya samurai sekaliber Anda sulit menangkapnya. Perempuan tua itu sudah mengucapkan banyak kata keji. seorang lelaki menyuruhnya berhenti. saya membuat rintangan di perbatasan Provinsi Harima untuk menyaring semua orang yang lewat. Belum pernah kau melihat penjahat seperti dia! Tak dapat kaubayangkan kesulitan yang kami alami dalam keluarga. kepala keluarga Hon'iden belum begitu pikun hingga membutuhkan lampu untuk berjalan... "Saya kepala keluarga samurai di seberang kali. maka Otsu pun mengatakan kepada Osugi bahwa la akan menyusul kemudian. kalau la pergi sebelum memberikan salep kepada luka-luka itu. Bukan mayat Takezo atau Matahachi. "Takezo yang berasal dari rumah itu. Kami mengejarnya sampai tempat ini.. dan yang lebih penting lagi. "Semaumulah. ada. Namun Ogin yang bangga menjadi anak Ebook by Kang Zusi . sebelum terlibat." katanya malu-malu. tapi sampai sekarang kami belum dapat menyusulnya. kemarahan Osugi tidak mereda. mati. Tapi barangkali akan menjadi hiburan sedikit bagi Ibu dalam kesedihan Ibu. Kami mengira sesudah beberapa hari berjalan dia akan ambruk. tapi mayat samurai yang tidak mereka kenali." "Anak Ibu itu barangkali meninggal di Sekigahara. meninggalkan rumah itu dan berjalan tegap menempuh kabut yang menebal.. Kata-katanya agaknya sangat menyenangkan.." bentak Osugi sambil bersiap-siap pergi. Dia memang cukup ulet. Takezo bisa sekuat clan selicik binatang liar. Tapi apa yang dilihatnya di luar membuat wajahnya yang sudah pucat itu menjadi lebih putih lagi." la pun menuju pintu dan mendorongnya dengan keras. si Takezo!" "Saya dengar Takezo itu tidak begitu disukai di kampung ini. Tak lama sesudahnya. Tak mengerti aku. "Siapa yang melakukan ini?" Sambil menoleh cepat kepada Otsu. Pedangnya terhunus. Seorang pemuda yang mengenakan pelindung kaki telentang di tanah. "Saya tahu. "Gagasan bagus! Hebat!" "Jangan tanggung-tanggung melaksanakan tugas itu.

Sambil melahap burung. tidak ada pilihan lagi baginya kecuali melarikan diri. ia pun jadi serba sulit. ia tak boleh mendekati kampung sebelum gelap. Orang itu bukanlah tandingan Takezo. Kuil Shippoji bersarang di bukit di bawahnya. Tak bakal aku memakanmu hidup-hidup. yang ada di dunia ini hanya kesepian. Ketika didengarnya namanya dipanggil orang. Barangkali sebaiknya kusampaikan pada perempuan tua itu. walau tidak kenal. Takezo pun kembali berjalan. la tatap dengan berangnya para penyerbu itu. tapi makhluk malang itu hendak lari. Burung itu jatuh. netcafe. "Jangan bunuh saya!" jeritnya mengiba-iba. dan dengan mudah terkejar.. Pikirnya. "Jawab saja pertanyaan-pertanyaanku. serdadu-serdadu melihatnya. ia telah membahayakan hidupnya." "Apa orang kampung memburuku lagi hari ini?" Diam. Ternyata ia penduduk kampung yang datang ke pegunungan untuk membuat arang.." Setelah membulatkan tekad. Disamping ingin menyelamatkan lehernya sendiri. ia pun berteriak. menguik-nguik sambil tangannya memegangi kepala. Takezo tahu orang itu. Kau tahu kan. mencoba mengarang-ngarang penjelasan di mana Matahachi berada. Tapi tiba-tiba ia mendengar jeritan tertahan. la bertanya-tanya bagaimana kiranya pendapat Otsu tentangnya. sekalipun kuil itu penuh orang.property of: CROSSFiRE. Ketika ia memberanikan diri mendekati kuil itu pada hari lahir sang Budha. Inc. dan orang kampung bergabung membentuk kelompok-kelompok pencari. Ia mulai curiga Otsu pun telah memusuhinya. "Sukar sekali mengatakan pada Otsu alasan sebenarnya tunangannya tidak pulang. samurai Tokugawa mencari-cari secara gencar sekali. Sesudah itu tak ada lagi alasanku untuk berkeliaran di sini. la berdiri dan pandangannya nyalang. Dan cara mereka lari waktu melihatku itu. lalu ia lemparkan sebuah di antaranya ke burung yang sedang terbang. siapa saja yang melihatnya selalu berlari menghindar penuh ketakutan melintasi hutan. tapi ketika sedang mengawasi kakak perempuannya lewat celah pintu. "Kau seorang dari mereka?" Orang itu mendadak berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti orang bisu-tuli "Tidak. lewat tabir kabut tengah hari. Munisai tetap tak gentar. hingga terpaksa Takezo menendang pantatnya dan berbuat seolah-olah hendak memukulnya dengan pedang kayunya." "Akan saya jawab semuanya-tapi jangan bunuh saya! Saya punya istri dan keluarga." "Apa mereka mengawasi Kuil Shippoji juga?" "Ya. "Tunggu!" Dan ia mulai berlari. Tanpa ibu tempatnya mengadu. menjelajahi pegunungan. "Bajingan! Binatang!" geramnya. tampak dari tempat perlindungannya di pegunungan. Kini. tapi ia tahu. Dengan mata tenang dan tajam. langsung mereka lapor pada pengawal di gunung. Dengan sebuah karang besar ia pecahkan karang lain menjadi pecahan-pecahan kecil. ia tahu kalau ia ditemukan orang di sana. Getah putih yang memancar dari luka pohon itu mengingatkannya akan air susu ibu yang sedang menyusui. Mereka merondai setiap jalan yang mungkin ditempuhnya. seperti seekor macan tutul mengejar mangsa yang kabur. ia dapat melihat rumah ayahnya. Apa betul bukit-bukit ini penuh serdadu?" "Ya. ia mulai lagi berjalan. Karena tak ada sasaran nyata bagi kemarahannya. Sekali lagi ia terpaksa lari tanpa mendapat kesempatan bicara dengan siapa pun. Orang itu merangkak-rangkak di tanah seperti anjing. Atapnya muncul dari antara pepohonan. Malam itu. "Kenapa semua orang kampung memusuhiku?" tanyanya. Betul! Kalau kujelaskan semua itu kepadanya. Takezo mencengkeram kerahnya dan menyeretnya kembali ke tempat terbuka. ia pun mengayunkan pedang ek hitamnya hingga mendecit di udara. seperti aku ini orang gila saja. Sejak itu. tidak!" Ebook by Kang Zusi . Shimmen Takezo dari Miyamoto. Sejenak ia hanya berdiri di luar." "Tak ada yang mau membunuhmu. menebas cabang sebuah pohon besar. "Kenapa kau lari? Apa kau tidak kenal aku? Aku seorang dari kalian. Marah karena dibenci dan ditakuti. dia nanti dapat pelanpelan menyampaikannya pada Otsu. Kali-kali kecil yang mengalir cepat dan bukit-bukit yang berombak-ombak di tempat tinggalnya sendiri pun seperti mengejek. Karena merasa orang sekampungnya sendiri menganggapnya musuh.. dikejar-kejar tanpa alasan. tidak sopan lari begitu saja dari orang yang dikenal tanpa mengucapkan salam!" "Y y-y-y-ya. la tahu bahwa ia tidak dapat mendekati satu pun dari kedua tempat itu. bukan memberikan hiburan. Otsu pun akan mendapat kesulitan. dan belum lagi selesai mencabuti bulunya ia sudah membenamkan gigi-giginya yang setengah kelaparan ke daging yang masih mentah dan hangat itu. kebetulan sekali ibu Matahachi ada di sana. ketika diam-diam ia pergi ke rumah kakak perempuannya. Memang. rumah yang didiami kakak perempuannya sendirian. tidak. Tuan!" "Duduk!" Takezo melepaskan cengkeramannya dari lengan orang itu. "Begitu melihatku." Sudah empat hari ia bersembunyi di Pegunungan Sanumo.

Takezo mengenalnya sebagai salah seorang samurai dari Himeji. Kami takut pada Kepala Distrik." pikirnya. karena justru saat itu suara lelaki tepat di belakang Otsu terdengar bertanya. yang isinya setiap orang yang memberikan makanan atau perlindungan kepada Takezo otomatis akan dianggap anteknya. tapi orang itu membalikkan badan Otsu." jawab Otsu yang keluar membawa baki makan malam dan mulai menyeberang lorong. "Tuduhan apa yang dijatuhkan atas kakak perempuanku?" Matanya berkilat-kilat oleh air mata. "Bagaimana dengan kakak perempuanku?" "Kakak perempuan mana?" "Kakak perempuanku. Ia pun meringkukkan badan tanpa bergerak-gerak di bawah lorong tinggi beratap. "Aku harus menyelamatkan Ogin. itu harus. "Tak seorang pun dari kami tahu soal itu. di mana tergantung handuk kecil. Perutnya kini berontak.. Takezo membiarkan orang itu pergi. Bau makanan yang sedang dimasak mengambang di udara." Sesudah memilih arah tindakannya.property of: CROSSFiRE. Serdadu ini pun menutupkan tangannya ke Ebook by Kang Zusi . memegang wajahnya dengan kedua tangannya yang besar dan menyapukan bibirnya ke pipi Otsu. Samurai yang memaksa mereka. "Kalau saja Otsu keluar. Tulang punggung pegunungan itu telah diwarnai bayang-bayang awan petang yang kelabu. la senang kini seorang diri lagi. kembali Takezo mencuri-curi mendekati Shippoji. Untuk meyakinkan diri bahwa yang didengarnya benar ia pun bertanya. tapi tak berdinding. siap memukul.. tapi saya tidak tahu apa itu betul. "Barangkali kucing. Segera kemudian ia mengambil keputusan. ia pun berjalan tegak ke arah kampung dengan langkah-langkah jantan." la menurunkan baki dan mengantar orang itu menyusuri lorong. netcafe. itu saja. Apa anggapanku ini keliru?" Orang itu pun memberikan jawaban yang terlampau polos. Beberapa hari terakhir ini ia tidak makan apa-apa kecuali daging burung mentah dan umbut rumput. Tibatiba samurai itu menghampirinya dan merangkul Otsu dari belakang. diikat dengan sabuk sempit.." "Hinagura. pembuat arang itu gemetaran dan ia bercerita bahwa Ogin telah ditawan. Inc. juga dari dapur dan petak-petak pendeta. hingga tak berhasil memperdengarkan suara jelas. selagi anak buahnya dan orang kampung harus menjelajahi sisi-sisi gunung siangmalam." "Di mana mereka menahan kakakku?" "Desas-desusnya mereka menahan dia di benteng Hinagura. melainkan marah. yang menghubungkan kamar-kamar pendeta dengan kuil utama." Takezo cepat mengangkat pedangnya ke atas kepala orang itu. "Hentikan! Lepaskan saya!" teriak Otsu. "Awas! Kedengarannya mencurigakan. di mana orang nampaknya mondar-mandir. Lonceng malam baru saja berhenti berdentang. pahit rasanya. tepat di atas kepala Takezo. cukup tinggi. Hari sudah gelap dan cahaya lampu kelihatan menyorot dari kuil itu sendiri. dan tiap keluarga diminta menyediakan seorang pemuda dua hari sekali untuk keperluan itu. tapi aku yakin mereka tak akan mengapa-apakan kakak perempuanku. menimbulkan bayangan tentang nasi dan sop mengepul. Takezo mencoba memanggilnya. Bukan karena takut. kan? Jangan pura-pura lagi. "Mana jalan ke kamar mandi?" Orang itu mengenakan kimono pinjaman dari kuil. dan bahwa telah disebarkan perintah di kampung. Ogin. Keterangan tersebut membuat Takezo tegak bulu romanya. la harus berpikir. "Mari saya tunjukkan. la mengatakan bahwa tiap hari para serdadu mengerahkan orang kampung ke pegunungan. "Apa kau tak suka lelaki?" "Hentikan! Tak boleh begitu!" protes Otsu yang tak berdaya. atau kuhancurkan tengkorakmu!" "Tunggu! Jangan! Saya akan bicara! Akan saya katakan semuanya!" Dengan tangan terlipat tanda memohon. Matanya pun menoleh ke jajaran pegunungan yang menandai perbatasan provinsi. Ternyata nasib baik. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Kami cuma melakukan apa yang diperintahkan. Kerongkongannya terasa panas ketika getah lambungnya naik. kalau mencelakakan dia. Kakakku yang malang. Beberapa jam kemudian. ia pun bertanya. "Apa salahnya?" bujuknya. "Bagaimana kalau ikut aku ke kamar mandi?" sarannya garang. dari Keluarga Shimmen. Aku tak 1amdak menyalahkan orang kampung yang mencoba menangkapku." ulang Takezo. hingga dapat menginap di kuil dan menghabiskan waktu malamnya dengan makan dan minum sekenyang-kenyangnya. dan dalam kesengsaraan itu ia pun menghirup napas keras-keras. Ada yang sudah terjadi dengan dia. Jangan pura-pura bodoh. mencari si pelarian. Dan sambil mencengkeram erat leher orang itu. Akan kubunuh mereka semua. "Apa itu?" terdengar suara. Jelas ia berpangkat tinggi. perut Takezo pun bergolak memikirkan sifat pengecut manusia-sifat pengecut yang telah memaksa samurai mengusik seorang wanita malang tak berdaya. "Cukup!" teriak Takezo. Sama sekali tidak tahu. tapi ia begitu mual. "Kamar mandi?" kata Otsu. Kau tadi janji akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Melihat orang itu bergegas pergi karena senang hidupnya yang tak berarti itu selamat.

Sesudah menjadi orang yang selalu curiga dan tidak mempercayai siapa saja. Inc. Takezo. "Tak usah terkejut begitu. Takezo melompat ke lorong seperti kucing. Ia telanjang bulat. itu bagus sekali! Pasti kena dia kali ini!" Sesudah memecah diri menjadi dua kelompok. Sekarang tenangtenang saja dan mandilah yang baik. "0. jangan meninggalkan tempat ini. tak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal di sini. Sekejap tak berdaya." "Terima kasih. "Nenek!" "Siapa?" terdengar jawaban serak. juga pada Otsu. Rasa takut apa pun yang mungkin dimilikinya hapus oleh rasa berangnya terhadap Osugi." desak Osugi dengan nada seorang nenek.property of: CROSSFiRE. tapi masih terus berpegangan pada Otsu. Ia sudah tak peduli lagi dengan banyaknya mereka. Saya tak bisa menyampaikannya sendiri. tapi suaranya tenggelam oleh bunyi air. awas. la diikuti serombongan samurai dan barisan sukarela. kehabisan napas. di pintu masuk dapur besar berlantai kotor milik keluarga Hon'iden. dia masih segar bugar. "Kau pasti lapar. disertai teriakan perang yang menakutkan. bajingan-bajingan. Tak lama kemudian menantu itu muncul kembali di gerbang. mestinya saya datang lebih cepat. "Baik. Pukulan itu keras. bahwa tidak saya biarkan Matahachi mati. dan mendaratkan tinjunya ke kepala orang itu dari belakang. menyambut mereka dengan bisikan." geramnya. wajah Osugi yang sudah berkeriput itu memucat melihat tamunya. keluargamu dan keluarga kami selalu berdampingan sejak wangsa Akamatsu. "Cukup panas?" "Cukup! Saya menjadi orang baru. "Mau pergi ke mana kau sekarang?" "Saya mesti masuk ke benteng Hinagura." sahut Takezo." Dengan perasaan puas luar biasa karena telah bebas dari berita yang menjadi beban baginya. "Ada berita penting yang mau saya sampaikan pada Nenek. netcafe. "Lekas sana ke kamar mandi. Dan lagi apa kau tak ingin mandi selagi aku menyiapkan makanan?" Takezo tak bisa bicara. Osugi berjalan pelan keluar dari kamar belakang. "Bahaya sekali berdiri di siniorang bisa melihatmu. dan tak lama kemudian kelompok-kelompok pencari sekali lagi dikirimkan untuk menjelajahi perbukitan Sanumo." kata Takezo buru-buru. Nasi belum matang. kau seharusnya. Dari kamar mandi." "0. dengan tiba-tiba ia tendang pintu sampai terbuka dan ia pun melompat ke udara. tapi perempuan itu memanggilnya kembali. Otsu mencoba melepaskan diri dan genggamannya dan memperdengarkan jeritan nyaring. dan pentung. Dalam keadaan itu. Itu saja yang dapat saya sampaikan. dan ia mengintip lewat celah pintu. begitu." la pun menyerahkan lentera itu pada Takezo dan menghilang ke belakang rumah. "Nah. Dia tinggal bersama seorang perempuan. lari melintasi halaman dan hilang ditelan malam. Tak ada waktu untuk berpikir. seperti dalam keadaan yang lainlain juga. Menurut pendapatku. Lupa akan bahaya. Hampir pada waktu itu juga menantu perempuannya meninggalkan rumah. Dalam keadaan masih Ebook by Kang Zusi . "Itu dia! Itu Takezo! Dia di sini! Ayo tangkap dia!" Dari dalam kuil terdengar derap kaki dan raungan suara orang. tapi yang pasti tak akan kubiarkan kau pergi tanpa diberi makan enak dan cukup!" Sekali lagi Takezo tak dapat menjawab. Takezo sendiri hampir tidak ingat bagaimana ia menyelinap lewat jaring yang dengan cepat mengetat itu. orang-orang itu pun merunduk dan bergerak hati-hati seperti kelompok katak ke arah api yang menyala terang di bawah kamar mandi. di mana lentera itu berayun-ayun. tiba-tiba sekarang ia teringat bagaimana rasanya diperlakukan sebagai manusia. Tapi Takezo sudah pergi. Cerdik sekali. Kalau saya tahu begini macamnya. Sudah begitu lama tak seorang pun bersikap begitu baik kepadanya. bagaimana?" seru Osugi riang. Saya cuma mau menyampaikan pada Nenek dan keluarga Nenek." kata salah seorang dari mereka dengan kagum. "Aku dijebak!" pekiknya. Diterangi dari bawah oleh lentera kertas yang dipegangnya. Osugi keluar rumah. Saya minta Nenek menyampaikan berita ini pada Otsu. dan dari hutan berbondong-bondong orang mulai berkumpul di pekarangan kuil. Buat hadiah selamat jalan. Orang yang terjatuh itu berteriak. mulut Otsu. Selain itu. la mengangkat sebelah tangannya dan menghapus matanya. jadi Ibu suruh dia mandi. Di provinsi lain. lembing. "Ya. Melongok ke dalam rumah berpenerangan suram itu ia berseru. Ketika calon-calon penangkapnya sedang mengatur langkah di luar. Kemudian ia memberi isyarat pada Takezo. "Sudah itu saya akan pergi entah ke mana. karena cuma itu yang saya tahu." "Kasihan! Tunggu! Aku sedang masak tadi. samurai itu pun jatuh telentang. dan Osugi tidak menjawab. ia segera pergi. sebentar lagi aku kasih kamu makan malam yang hangat dan enak. "Tenang-tenang saja dan hangatkan badanmu. Saya yakin Nenek akan menerima saya!" la bicara lagi dua-tiga kali. Ketika pengejaran sedang sengit-sengitnya. satu-satunya yang menurutnya barns dilakukan adalah menyerang daripada diserang. Di luar pintu ia melihat gerombolan orang bersenjata tongkat. menyelamatkan Ogin. dan kamar mandi itu pun kecil. kan?" "Berhari-hari saya tidak mendapat makanan yang pantas. terdengar suara air berkecipak. "Matahachi tidak mati. "Kau!" teriaknya." jawab Takezo sedih. Lonceng kuil mulai memberikan isyarat bahaya bahwa Takezo telah ditemukan. namun ia tak gentar." Osugi memindahkan lentera dari tangan yang satu ke tangan yang lain untuk mengulur waktu. Maka tegaklah bulu romanya. Akan kuambilkan kimono dan pakaian dalam Matahachi untukmu. ia sudah berdiri di tempat jauh. Ada sesuatu-sesuatu yang tak dapat dijelaskan-menggelitik naluri Takezo.

menyusun rencana-rencana baru untuk menjerat pelarian itu. Kepalanya tergeletak dalam rumpun rumput yang tinggi. para pengejarnya yang sudah sama sekali bingung itu tinggal mengutuk dan saling menyesali. Osugi dan keluarganya mengunci gerbang utama dan merintangi semua jalan masuk. Tapi ternyata usaha mereka tidak membawa hasil. Orang kampung terus datangpergi dan berkasak-kusuk antarsesamanya. Tapi Takezo tidak memperhatikannya. Takuan sedang duduk di depan ruang utama. karena tidak dari semula mengirim tiga-empat orang menyerbu kamar mandi. membaca daftar hadiah yang dijanjikan itu. "Otsu. Senjata itu digenggamnya erat-erat. Orang-orang yang melongo melihat pemandangan itu. Berdiri di tengah atap. Tangkai lembing sering dapat lebih jitu dipergunakan daripada matanya. Orang kampung tak dapat mengerjakan ladangnya atau merawat ulat sutranya. ada surat buatmu. Belum jelas siapa. netcafe. Para penyerang terlambat sadar bahwa mereka telah membuat kesalahan besar. ia pun bergegas menuju kuil dan mencoba menghapus gambaran wajah orang mati yang terus terbayang di depan matanya. Kumisnya seperti tali. ketika Takuan melihatnya clan memanggil. jangan-jangan Takezo datang membalas dendam. Mereka ketakutan. Mereka ketakutan setengah mati. Otsu sejak semula tidak suka kepadanya. dan begitu memperoleh pijakan kaki di atas tungku tanah yang besar. "Ya. Seni Perang PENCARIAN yang dilakukan setiap hari di pegunungan berlangsung terus. Papan-papan besar dipasang di depan rumah kepala kampung dan di setiap persimpangan: pengumuman hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh Takezo. "Dia membunuh satu orang lagi!" seru satu orang kampung. telanjang clan rambut terburai ke sana kemari. Kini mereka hanya dapat berteriak saling menyemangati. Otsu bergegas lewat agak jauh dari situ untuk menghindari binatang kotor itu. kedua kakinya mencuat ke langit dalam kedudukan tak wajar." "Belanja. kau sedang pergi ketika pesuruh datang. ia tangkap dan rebut tangkai lembing pertama yang ditusukkan kepadanya. juga lemari kimono yang besar. Juga imbalan memadai untuk informasi apa pun yang bisa menghasilkan tertangkapnya Takezo. Menyesal karena telah melihat. dicengkeramnya dengan sebelah tangan. Namun jelas mereka telah lumpuh. tapi sangat ingin tahu. Pemberitahuan itu ditandatangani secara resmi oleh Ikeda Terumasa. Papan itu tergeletak melintang di tubuh yang basah oleh darah. lalu ia menyerang ke sekitarnya seperti gasing yang berpusing. karena itu dia tinggalkan surat itu padaku. sang kapten menyeringai." Mayat itu ditemukan di dekat jalan setapak di luar kampung. Wajah Otsu mengerut pucat ketika ia muncul dari tengah-tengah kerumunan. Itu yang paling tidak disukainya." jawab Otsu pendek. Tanpa melirik orang itu. Mereka telah mendengar pembunuhan yang mengerikan itu dan sedang dalam perjalanan untuk menyelidikinya. Ketika la merangkak ke atas. Di kediaman Hon'iden berkecamuk suasana panik." "Buat saya?" tanya Otsu tak percaya. Melihat gadis itu. "Dari mana kau. Disobeknya sedikit kain ikat pinggang dengan giginya dan diikatnya rambutnya yang masih basah ke belakang. ia pun merangkak keluar dari jendela kecil yang tinggi. Beberapa orang tertawa muram melihat ironi mencolok itu. karena gagal menjerat Takezo. dan senjata itu patah. Ia mengambil pelajaran dari Sekigahara bahwa cara ini amat sangat efektif bagi orang yang kalah dalam jumlah. Otsu?" tanyanya dengan sikap akrab menyenangkan. dan kerja pertanian pun mengendur. Para pencari. Pekiknya. Akhirnya dilihatnyaa pakaian itu di sudut dapur. dengan petunjuk pasukan Himeji. dia lari masuk rumah!" seru seorang dari mereka. Dengan suara ingar-bingar Takezo mengacak-acak seluruh rumah. tidak dapat tidak. Tapi sejak malam orang itu mencoba memaksanya." Dikeluarkannya Ebook by Kang Zusi . dan demikian erat hingga alisnya dan sudut-sudut matanya tertarik. yang dipertuan di Puri Himeji. bermain dengan seekor anjing kampung.property of: CROSSFiRE. jelas akibat hantaman salah satu papan tanda hadiah. Inc. dekat pada pangkalnya. hingga pemiliknya terpental ke semak-semak. Maka ia pun mengambil karang besar dan melontarkannya kepada orang-orang yang sudah memperlihatkan tanda-tanda mundur itu. hampir bersamaan dengan keluarnya Osugi dan menantu perempuannya dari rumah ke halaman belakang. Sekitar sepuluh kali senjata Takezo mengenai tanah. "Lihat. melihatnya saja sudah membuat ia jijik. la pun bergegas mendaki anak tangga kuil. la hanya menajamkan matanya dalam cahaya lampu samar-samar untuk menemukan pakaiannya sendiri yang compang-camping. tanpa tergesa-gesa Takezo mengenakan kimononya. Di kaki bukit ia berpapasan dengan kapten yang menginap di kuil dan limaenam anak buahnya. Langit musim semi penuh dengan bintang. "Mana pakaian saya? Kembalikan pakaian saya!" Di tempat itu berserakan pakaian kerja. Begitu saja diayunkannya senjata itu dan dihantamkannya pada siapa saja yang datang mendekat. "Di mana? Siapa kali ini?" "Seorang samurai. Tengkorak orang itu hancur.

la menenun setiap helainya dengan sangat cermat. la ingin pakaian itu kekal selamanya. Sambil memanggil-manggil namanya. begitulah terkanya cepat. netcafe.property of: CROSSFiRE. Takuan memungutnya. Kalau Otsu kebetulan bertemu dengan ibunya. Beberapa kali pendeta kuil keluar lorong tinggi dan berseru kepada Takuan. "Kau kelihatan kurang sehat. dan darah. terpaksa kau mesti menutup mata kalau pergi ke mana-mana. Banyak sekali pekerjaan harus dilakukan untuk menyenangkan orang itu. Saya kira. ia diminta menyampaikan bahwa Matahachi masih hidup dan sehat. Kapten yang diserahi tugas melakukan pencarian merasa puas dapat memerintahkan orang-orangnya yang kelelahan itu tidur di hutan. karena "sukar" baginya menulis langsung kepada ibunya tentang persoalan itu. Semua orang di dapur mulai bertanya-tanya di mana gerangan Otsu. Saya sudah kawin dengan Matahachi dan menerimanya dalam keluarga saya. seakan-akan menenun itu sendiri mendekatkan Matahachi padanya. ia menatap surat itu dengan saksama. Sejak tahun lalu selalu ia menggunakan waktu luangnya dengan memintal benang sutra untuk pakaian itu. serta tinggal di provinsi lain. Itu untuk Matahachi. ia akan berterima kasih apabila Otsu mau membantu. "Apa yang mesti kita lakukan kalau dia datang kemari?" Mendung gelap bergumpal-gumpal di atas pegunungan. mengenai semua alasan kenapa ia tidak mungkin pulang. Jam-jam berlalu. Takuan pun akhirnya membuka pintu kamar tenun. Takuan pun pergi mencarinya. Inc. jadi kenapa pula dia mesti membiarkan mereka?" "Takuan. Hormat saya. Surat itu jelas sudah menempuh jalan panjang sebelum sampai kepadanya. "Cepat temukan dia! Tamu kita bilang tak bisa minum sake kalau bukan Otsu yang menuangkan. Takuan diam saja memandang kedua surat yang kusut dan sobek di tanah. Ada apa?" "Saya mual. dan saya memberikan kesaksian atas kebenaran penjelasan itu. Karena Otsu menghilang. dan serunya. yang jatuh ke pangkuannya bukannya satu. penuh dengan noda bekas jari dan titik air hujan." Tapi lama kelamaan ia pun bingung. Matanya masih terbuka. Air mandi harus dipanaskan sepantasnya. Pada alat tenun terpasang secarik kain kimono lelaki yang belum selesai. melainkan dua surat. Katanya. dia rupanya masih memikirkan Anda. tentu saja. Surat itu telah diinjak-injak seperti sepasang boneka jerami. Karena itu Matahachi dengan ini mengirimkan penjelasan. Hari-hari ini aku selalu bertemu mayat. terlampau terguncang untuk dapat berteriak atau sekadar mengedip. Karena tak ingin mengganggu. Tapi kalau melihat keadaan sekarang. Sambil duduk di depan alat tenun. la merasa surat itu tentunya ditujukan pada orang lain. tak mau la bersusah-susah melihat ke dalam. Intinya tentu saja permintaan agar Otsu melupakan pertunangan dengannya dan agar menemukan suami lain. salahlah kalau kita membiarkan saja hal itu.. Otsu menerima surat misterius itu clan pergi menyembunyikan diri di kamar tenun. "Kenapa kau tidak menyimpannya?" Ebook by Kang Zusi . ia pun menuntut kenikmatan yang sesuai dengan statusnya. jelas dalam keadaan dirundung kesedihan. la sama sekali tidak memikirkan si kapten. la duduk terpukau. dan sebagian besar pekerjaan itu jatuh pada Otsu. Kuku-kuku jarinya yang memegang surat itu berubah sewarna dengan kulit orang mati yang dilihatnya kurang dari sejam sebelumnya. Yang dikhawatirkannya adalah Otsu. Meskipun begitu. Matahachi menambahkan. "Siapa yang mengirim?" bisiknya pada diri sendiri. Yang pertama ditulis seorang wanita yang tak dikenal. Harap lupakan Matahachi. saya takut!" kata Otsu memohon. la merasa senang bahwa nantinya dapat menjahit semua bagian kain itu menjadi satu kimono lengkap. tapi ketika ia sendiri kembali ke kuil pada senja hari. Saya menulis hanya untuk membenarkan apa yang tertulis dalam surat satunya. Bungkusannya sudah sobeksobek dan lusuh. makan malam si kapten terlambat." "Kau tak perlu melihat hal-hal seperti itu. Karena pintu kamar itu tertutup. seorang wanita yang sudah agak tua. Oko Surat satunya berisi tulisan cakar ayam Matahachi dan berisi penjelasan panjang yang menjemukan. Mereka tak punya alasan sama sekali untuk membunuhnya. biarawan itu melintasi pekarangan kuil dan melewati kamar tenun beberapa kali. Karenanya saya tidak akan berbicara terperinci. Otsu terkulai di atas alat tenun. Berulang kai ia baca alamatnya untuk mencari kesalahannya. Ketika segelnya dibuka. "Belum juga ketemu? Mestinya di sini-sini saja. Bukan kebiasaan gadis itu untuk pergi tanpa memberitahu. Tadi saya lihat orang mati menggeletak di rumput. Ha! Padahal tadinya kudengar kampung ini seperti surga kecil!" "Kenapa Takezo membunuh orang?" "Supaya mereka tidak membunuhnya. Otsu merasa sumsum tulang punggungnya berubah menjadi es. "Apa ini bukan yang dibawa pesuruh hari ini?" tanyanya lembut." Pembantu kuil disuruh menuruni bukit untuk mencari Otsu sambil membawa lentera. sebuah gulungan kecil dari lengan kimononya dan diserahkannya pada Otsu.. dan satu orang harus mengambil sake mutu terbaik dari salah satu rumah kampung. Ikan segar dari kali harus disiapkan menurut petunjuk-petunjuknya. Apa yang dilihatnya di dalam sungguh mengejutkannya. Hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan pembantu itu.

lalu hinggap di baki Kapten. "Hmm. kamu! Aku tak ada urusan denganmu. "Saya ini sungguh tidak sopan. tapi si Jenggot Jarang tua itu tak suka padaku. kalau begitu sulit juga." jawab Takuan bernada ejekan. dia sudah menerima dan membesarkanmu." "Melihat buku itu saja aku sudah jengkel." "Tapi sava tak mau ke sana sendirian!" "Tapi Pendeta ada di sana.. dan sambil memandang Kapten dengan sebelah matanya ia pun bertanya tenang. yang di sana itu!" Takuan terus juga membaca. kamu. "Sudah bertahun-tahun saya memperhatikan. Segera kemudian mukanya jadi merah padam." "Bukan. la meluruskan topinya yang dari tadi sudah sangat miring. tapi saya tidak keberatan di sini. aku pribadi berpendapat kau tak usah menghidangkan sake untuknya malam ini atau malam kapan pun. asyik membaca buku yang terbuka di atas lututnya. Aku tahu perasaan itu kekanak-kanakan. tapi kau sendiri. orang pandir jelek?" Takuan pun melipat kedua tangannya. umpamanya. Kau tak boleh tinggal terlalu lama di sini. kamu.." "Hmmm. Yang jelas. "Jaga dirimu!" Takuan berdiri. la jadi tampak seperti ikan buntal. Otsu. Kalau begitu. Biarawan itu dikira pembantu pendeta. "Tapi aku keberatan." "Aku tidak keberatan." gertak si kapten. Ketika Takuan membantunya berdiri. tapi ada beberapa orang yang memang begitu pengaruhnya terhadapku. Aku tahu kau enggan. "Otsu. "Oh. kan?" "Ya. dan basuh mukamu." Ketika akhirnya Otsu muncul di petak pendeta. Ayo. apa Kapten sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk menatapnya dan menilainya secara objektif?" "Anak haram jadah!" teriak Kapten seraya mengambil pedang yang tersandar di dinding. Di sebelah lampu. dan sebabnya adalah hadirnya satu orang yang tidak dikehendakinya di kamar itu. Sekarang giliranmu menerima akibatnya!" Ebook by Kang Zusi .. "Hei. bukan itu. netcafe.. katanya. Dia percaya bahwa dia mesti menghidangkan anggur dan makanan agar Kapten senang selalu.." Wajah Takuan menjadi sungguh-sungguh. "Sudah cukup aku diejek. la jadi sangat riang dan berkali-kali minta dituangkan sake lagi. kapten yang sudah membongkok mabuk itu jadi gembira. Soalnya karena saya bukan Wuk'ung yang suci dan dapat mengubah diri menjadi kepulan asap." jawab Takuan polos. Aku sendiri sudah mencari ke mana-mana. dan sudut-sudut matanya yang melotot itu mulai turun." kata Takuan tenang sambil membungkuk. Tiap kali aku melihat kumis konyol itu. atau menjadi serangga.. ya?" "Sama sekali tidak. Pergi dari sini!" "Oh. Dia bukan orang yang dapat merebut rasa hormat atau dukungan daimyo bagi kuilnya lewat kebesaran jiwa semata-mata. Tapi samurai juga begitu." "Kenapa. Takuan duduk membungkuk seperti pengemis buta. "Bapak. Ayo pulang. ia menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata kepada Takuan dan berkata. Pendeta tua itu sudah hilang akal. Dia manusia dari dunia ini. ya." Takuan menepuk punggung Otsu. Bagaimana saya mesti menjaga diri saya sendiri?" Kapten pun memekik sambil memegang pedangnya yang masih tersarung.. Ia mengangkat matanya yang kosong dan memandang ke sekitar. kepala saya sakit. "Apa!" "Apa Kapten sudah mengamati kumis Kapten? Maksud saya. Itu kurang baik juga. tidak sepenuhnya ia merasa senang. "Semua orang sudah setengah gila mengkhawatirkanmu." "Oh. aku akan mengawanimu. tidak banyak pendeta atau biarawan yang tampan. Akan saya minta Otsu menyingkirkannya. Tapi pendeta itu lain pendapatnya. kenapa. Cinta kesendirian adalah tanda kebijaksanaan. Otsu menggeleng lesu. Inc. malam ini saja?" Takuan mengeluh.." Leher kapten yang merah itu pun menggembung dan matanya melotot. "Keluar kamu. Sekarang jangan pikirkan lagi.property of: CROSSFiRE. maaf." Mata si kapten hampir saja melompat dari ceruknya. bodoh! Enyah dari mukaku!" "Baik. kau mesti melayani Kapten. jadi kau berutang budi padanya." kata Takuan dan kembali membaca buku." bisik Otsu. tapi kau betul-betul harus kerja. Sekalipun demikian. "Ya. akan saya tutup buku saya. sampai Otsu menyodoknya. tidak keberatan. "Lagi pula. goblok! Kau ini bikin rusak suasana. Anda sendiri. Kita tak boleh mengganggunya lagi. "Tamu bilang dia lebih suka seorang diri. asal Bapak berjanji menemani saya. Sambil memegang tangan Otsu ia pun berkata pada gadis itu. "Wah. tapi dia selalu pergi kalau saya datang. "Saya akan pergi. aku jadi ingin sekali mengatakan bahwa kumis itu lucu sekali. Baiklah.. "Kapten memanggil saya?" Kapten menjawab pedas. apa tak bisa mereka meliburkan saya.." "Ada apa rupanya?" "Siapa bilang Otsu mesti pergi denganmu. dan si kapten menudingnya sambil berteriak." "Kepala saya... "Rasa sake jadi rusak karena ada orang membaca." Dengan enggan Otsu pun menurut." "Baiklah. saya kira.

Otsu?" kata Takuan keberatan. kau adalah contoh korupsi yang klasik. Kalau dia tak punya cukup akal buat menemukan Takezo." mohonnya. sekalipun tampaknya ia masih belum dapat menilai apakah yang dikatakan Takuan itu benar atau tidak. tapi pejabat-pejabat birokrat seperti kamu yang berdiri antara daimyo dan rakyat jelata ini. "Tak ada yang salah dengan otakku. Tapi itu beban luar biasa buat petani. Aku tak apa-apa. clan kaugunakan kedudukanmu untuk mendapat penginapan yang paling menyenangkan. Dia tidak bermaksud apa-apa. "Apa katamu.property of: CROSSFiRE. dan aku bukannya melucu. Aku hanya mengemukakan kebenaran. "kalau begitu aku puas bila bisa membungkam mulutmu. Bicaranya memang begitu dengan semua orang. Mabuknya pun sudah sedikit berkurang. Itu fitnah besar terhadap pemerintah Tokugawa!" "Bukan pemerintah Tokugawa yang kukritik." "Ha?" "Membosankan. Biar sukar buatmu melanjutkan bualan kurang ajar!" Dengan keberanian yang biasa dimiliki orang hanya karena memegang senjata. aku senang bisa Ebook by Kang Zusi . Dia orang yang tidak begitu beres. "Sekarang cobalah potong kepalaku dan kirimkan kepada Yang Dipertuan Ikeda Terumasa! Percayalah. berusaha melindungi Takuan. akan mengherankan sekali kalau dia dapat mengalahkanku!" "Jangan bergerak!" perintah Kapten. Dia tolol. minta maaf pada Kapten. ia pun tertawa terbahak-bahak jelek sekali dan maju dengan sikap mengancam. "Kalau kaupikir aku bohong. la tampak lumpuh. Apa gunanya buat Anda?" "Hah. kaulahap makanan dan minuman orang lain yang diperoleh dengan susah payah. "Apa pula bicara Bapak ini?" katanya dengan maksud mengendurkan perasaan dan melambatkan tindakan. Otsu! Biar kupotong pembantu pendeta bermulut besar ini menjadi dua!" Otsu menjatuhkan diri ke kaki Kapten dan memohon." kata biarawan itu. Apa kaupikir akan kubiarkan diriku dipenggal oleh orang tolol macam ini? Memang dia mengepalai berpuluh orang yang terampil bersenjata. "Itu berarti Kapten mau memenggal kepala saya? Kalau begitu. Aku berani mengatakan. Barangkali dia akan berkata. hanya kepalamu yang datang menghadap hari ini? Di mana bagian badanmu yang lain?' "Pasti kau berminat mengetahui bahwa Yang Dipertuan Terumasa dan aku biasa bersama-sama ambil bagian dalam upacara minum teh di Myoshinji." Kegarangan si Jenggot Jarang menguap dalam sekejap. "Minggir. Apa kalian menyadari apa yang kalian lakukan terhadap mereka? Mereka tak bisa makan kalau kalian teruskan ini. Kyoto. 'Hai. "Aku akan bicara sesukaku. bagaimana mereka terpaksa menelantarkan sama sekali kerja ladangnya untuk mengikuti perburuan angsa liar kalian yang berantakan itu. Otsu. "Kapten!" Tingkah laku Takuan yang asal saja itu membuatnya demikian berang." geram Kapten. tapi saya minta Kapten bersabar. "Kapten cukup punya alasan untuk marah. lebih baik kau duduk dulu." Tapi Takuan sama sekali tidak mundur. "Bukan begitu caranya bicara dengan prajurit. Mukanya membengkak menjadi warna lembayung ketika ia bergerak menarik pedangnya. Kau mestinya melakukan misi resmi. untuk tujuan-tujuan pribadimu sendiri. Membosankan sekali. "Ayolah. Takuan mendesak terus. yang bisa saja mencuri upah yang mestinya mereka terima. tapi rupanya orang tak suka mendengarnya. Kauselimuti diri dengan kekuasaan atasanmu untuk menghamburkan tenaga rakyat jelata. Kepala itu akan jatuh begitu saja ke lantai dan menggeletak di situ menertawakan Kapten. berapa pun waktu yang kalian hamburkan buat mencari Takezo." Kini Kapten sudah demikian terpesona. sungguh!" Air mata bercucuran dari matanya. tapi dua puluh hari dibuangnya hanya untuk menemukan tempat seorang pelarian yang sudah kecapekan dan setengah kelaparan. Kapten! Kau menutup mata pada kenyataan bahwa kau menarik para petani dari kerja yang menghasilkan makanan mereka sehari-hari. hingga tak dapat menutup mulutnya yang menganga. pengkhianat. Takuan! Jadi. netcafe. kenapa kau bermalas-malasan di sini malam ini? Siapa yang memberimu hak bersantai pakai kimono yang manis dan enak. Takuan jadi tertawa. Kau bahkan tidak memikirkan sama sekali anak buahmu. Tak bisa saya membayangkan hal yang lebih membosankan daripada memenggal kepala seorang biarawan. dan tidak tahu mau bertindak bagaimana. "Minggir. Otsu menengahi kedua orang itu. Inc. lupakan saja. nyaman dan hangat. Kami berdua pun berkali-kali mengobrol lama dan hangat di Daitokuji. "Pertama-tama. Satu hal lagi." guntur samurai itu. Apa maumu aku berdusta?" "Lebih baik jangan kauulangi. hingga tangannya yang memegang sarung pedang bergetar hebat. Memang rasanya tak ada bedanya buat kalian para serdadu. "Apa bukan tugas samurai untuk mengabdi kepada atasan dengan jujur dan tak kenal lelah? Apa bukan tugas Kapten menunjukkan kebajikan kepada rakyat yang membanting tulang demi daimyo? Coba lihat diri sendiri. makanya kusebut dia tolol. tapi apa yang kaulakukan? Setiap ada kesempatan. Itu bukan prestasi besar. Dan tanpa upah pula! Sungguh memalukan!" "Jangan sembarangan kamu. dia akan kaget. Coba sekarang katakan Bapak menyesal. mandi seenaknya dan minum sake sebelum tidur dengan layanan seorang gadis manis? Apa itu yang kausebut mengabdi kepada atasan?" Kapten itu bungkam. Barangkali malahan tak terpikir oleh kalian.

aku bisa membawakannya tepung soba lezat. "Mari kita lupakan saja. "Sudah dari semula kukatakan supaya jangan mengancamku. tapi Takuan menahan diri untuk tidak lebih memojokkannya lagi." "Tentu saja aku juga tahu bahwa buat Anda tidak penting berapa lama dibutuhkan untuk menangkap orang itu.property of: CROSSFiRE. Yang ingin kubicarakan adalah bagaimana menangkap Takezo. Terutama di depan Yang Dipertuan. Aku tidak membutuhkan bantuan. tapi memang demikian. Ya. bahwa Anda tidak mengenal Seni Perang?" "Saya malu mengakuinya. dan barangkali juga kepala Anda. "Tapi tak ada yang lebih capek." "Dan karena sekarang ini musim semi. saya pikir tak bisa. Aku mau menunjukkan kepadamu bagaimana menangkap Takezo tanpa kehilangan lagi anak buah atau menyebabkan orang kampung mendapat kesulitan lebih dari yang sudah kauberikan." "Kalau begitu. padahal menurut pendapatku. "Tidak. Aku menyebutnya karena aku ingin memberikan satu pelajaran yang menggambarkan salah satu prinsip utama buku itu." "Ya. Ini ada hubungannya dengan kerja resmimu. makin lama Anda bisa tinggal di kuil ini. Sebagai hadiah. tolong tuangkan secangkir sake lagi untuk Kapten. Itulah yang harus Anda lakukan untuk melaksanakan perintah dan menjaga kehormatan Anda sebagai samurai." Serdadu itu pun tampak seperti seorang anak yang akan menangis." Kapten yang sudah tak berdaya itu pun menurut. Banyak yang bisa dimakan pada musim ini. tapi jelas dari wajah mereka waktu itu bahwa kekuatan watak tak ada urusannya dengan umur. Anda bisa saja seorang pejabat. para petani akan mengalami kesulitan besar. kami berdua cukuplah. tapi. netcafe. tetapi juga penduduk kampung terlalu limgung dan ketakutan untuk melakukan pekerjaan yang biasa. Kalau Anda tak setuju. aku dapat melakukannya sendiri. Saya minta Anda memaafkan saya. saya tak mau lagi sake. Anda orang yang tidak berpendidikan dan sama sekali tidak efektif. hingga tampak menggelikan.. kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada Takuan.. Cacian lisan Takuan telah merendahkan orang yang lebih tua itu. kalau orang-orang yang menjadi korban tindakanmu di Miyamoto kebetulan datang selagi kami mengobrol sambil minum teh." "Anda main-main saja. Sekarang tinggal satu syarat lagi. Karena itu tak akan kaget kalau aku sebut Anda tolol. tapi menyedihkan sekali. yang bisa dibikin orang sini. mungkin saja aku hanya seorang pendeta sederhana. Dan lagi." "Nah. Menurut penglihatanku. Apa betul anggapanku. barangkali aku akan membawa serta Otsu. makan." "Seperti kukatakan tadi. tapi kalian para prajurit ini memang sama saja. dan tak ada yang paling tidak kusukai daripada mendatangi seorang daimyo." Ebook by Kang Zusi . Dengan takut-takut ia berkata. Anda tidak mengenal Seni Perang. Aku pribadi menawarkan diri untuk menangkap Takezo dalam tiga hari. dan keangkuhannya pun menguap. "Sekarang turunkan pedang itu. "Aku bersedia menganggap seluruh peristiwa ini sebagai rahasia. itulah sebab terpenting kegagalan Anda yang memalukan. tapi aku memahami Sun-tzu. lebih dari dua ratus orang sudah menjelajahi pegunungan itu hampir tiga minggu lamanya. Maaf. aku tak dapat berbohong." "Tapi apa?" "Tapi kalau dihitung tenaga bantuan dari Himeji dan semua petani serta prajurit itu. kesulitannya adalah Anda tidak menggunakan strategi yang sewajarnya. Takuan Soho menghabiskan seluruh waktunya buat bikin lelucon?" "Maaf. karena itu kau mesti benar-benar memperhatikannya. pergi bersamamu ke puri dan menghadap Yang Dipertuan sendiri. Aku hanya akan mengusulkan sesuatu. yang merupakan karya klasik Cina tentang strategi militer? Aku yakin prajurit setarafmu kenal sekali dengan buku yang demikian penting. Tapi kalau pencarian di pegunungan sepanjang hari itu berjalan terus. akan kuceritakan hal lain. Takezo beruntung. "Otsu." "Anda menangkap dia?" "Apa Anda kira aku berkelakar?" "Tidak. Inc. Kejadiannya barangkali akan berakhir dengan kau bunuh diri gara-gara ketidakmampuanmu. "Kau tentu kenal dengan buku Seni Perang karangan Jenderal Sun-tzu." "Tentu saja tidak bisa." la jadi begitu tertekan. kan?" "Diam dulu! Apa menurut Anda. saya telah berlaku terlalu kasar. Bukankah makin lama waktu itu. Dan inilah kekurangan kalian yang terbesar." Kapten itu lelaki umur empat puluhan. Kalian tak pernah berpikir tentang konsekuensi. sampai salju jatuh. Beliau suka sekali tepung itu." la menoleh pada sang gadis. Sebaliknya. Tapi tak ada gunanya membikin pusing Anda. apa Anda merencanakan untuk menunggu sampai turun saiju? Kira-kira delapan bulan lagi?" "Tidak. Tidak hanya para petani. Bahkan menurut pendapatku Anda tidak menggunakan strategi sama sekali. Tapi pikir-pikir." "Aku paham betul. dan mengerling Otsu?" "Saya minta jangan membawa-bawa lagi soal itu. aku terpaksa duduk lagi dan melihat saja Anda terus membuat kesalahan besar. Saya tak tahu sama sekali bahwa Anda teman Yang Dipertuan Terumasa. Justru karena itu aku menawarkan diri menangkapnya untuk Anda. Anda harus merasa malu.

Mungkinkah ia teman Takezo. namun munculnya Takuan akhirnya membuyarkan maksud itu dari kepalanya. dewa perang. la sangat tergoda untuk melakukan hal itu. dan bahkan bersedia menenggang Osugi yang dahsyat itu sebagai mertua tukang perintah. la merasa putus asa dan sangat tertekan. Anda dapat memutuskan apa hukumannya. ia pun meregangkan anggota badannya sambil menguap lebar. Aku juga butuh kuali. nyawanya sendiri tidaklah begitu penting. clan Takuan akhirnya menepuk punggungnya. la juga sudah bermaksud menghunjamkan bilah tajam itu ke dalam tenggorokannya. clan. tetapi Takuan berkeras tak ada yang mesti dikhawatirkan. maksud Bapak beberapa kotak makan siang?" "Bukan. "Otsu." "Apa maksud Anda?" Kapten menarik-narik kumisnya. Ketika berita itu sampai ke telinga pendeta kuil. o. bikin bungkusan yang besar. makanan yang enak. Inc. Takuan pun meminta agar Otsu beristirahat sebanyakbanyaknya menjelang malam hari berikutnya. Otsu sama sekali tidak tergerak untuk berbuat demikian. Mengingat jumlah nyawa yang dapat diselamatkan kalau Takezo bisa cepat ditangkap. ada kemungkinan ia sama sekali tidak waras. Waktu itu musim semi sudah hampir usai. Pergi ke dapur sana." "Apa? Senjata? Apa kita mesti bahwa pedang atau lembing. dan bayang-bayang malam yang pekat mulai menyelimuti celah-celah jajaran gunung yang menandai alur Sungai Aida.. Katanya. Kalau Anda menangkapnya. ya. Matahari tenggelam dengan cepat. "Tidak!" "Tidak. Akal sehatnya menyatakan aneh kalau ia dan Takuan dapat menemukan tempat Takezo dalam waktu sesingkat itu. Setidaktidaknya barangkali ia dapat memetik hasil pada saat terakhir. tujuannya adalah meringankan beban kampung. Otsu sudah terlampau bingung untuk menolak.property of: CROSSFiRE. Otsu tidak begitu memedulikan keselamatannya sendiri. "Baiklah kalau begitu. demi Matahachi." itulah nasihat praktis mereka. dan mencegah berlangsungnya terus pemborosan hidup manusia. Lukanya lebih perih dibanding berita kematiannya." "Sudah saya kemasi semuanya-sandal jerami. angin berbau wangi Ebook by Kang Zusi . mengamankan kembali lalu lintas di jalan raya. Kapten mengangguk tanda setuju. pesuruh." Pegunungan dekat tempat itu kini lebih hitam dibanding pernis yang paling hitam. ketika ia menangis sendirian di kamar tenun." Pagi harinya pembantu kuil dengan wajah sangat gelisah berlari ke dapur. pembalut kaki. Takuan merupakan titik terang dalam hidup ini. ia mengambil pisau tajam dan mengiris-iris sampai lumat kain kimono yang sungguh-sungguh telah disulami jiwanya. Seperti si kucing. maupun pembantu pendeta mencoba meyakinkannya untuk tidak pergi. Dengan pikiran itu. "Apa Takuan sudah gila? Saya dengar dia berjanji mencari Takezo sendiri!" Mata orang-orang di dapur terbelalak. seorang anteknya? Mungkinkah ia tahu di mana orang itu bersembunyi? Tapi kalaupun tidak tahu-rasanya memang tidak-apa salahnya memberinya kesempatan. atau yang lain?" "Tentu saja tidak! Aku mau bawa bekal makanan. Ia mempercayai tunangannya itu. sedikit sake. "Kalau aku berhasil membawa pulang pelarian itu. Sehari sebelumnya. Ia masih dapat merasakan hangatnya tangan kokoh biarawan itu ketika membimbingnya ke luar kamar tenun. saat mereka berangkat. Wajah Otsu cekung. kertas minyak polonia. tongkat. akulah yang menentukan nasibnya. dan akhirnya Takuan sendiri keluar ke beranda. sungguh-sungguh gila!" "Bagaimana dia akan menangkapnya?" Jawaban-jawaban konyol clan ketawa mengejek pun terdengar. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Otsu menegurnya dengan keras karena sikapnya yang terburu-buru itu. "Pergi saja sembunyi. "lebih baik kita berangkat sekarang. "Apa syaratnya?" tanya Kapten hati-hati. Dan sekarang Takuan membuat perjanjian yang sinting. Dan bawa pikulan. Apa saja yang enak bolehlah. Hanya sehari sebelumnya surat selamat tinggal Matahachi melukainya. tapi terdengar juga bisikan terpendam yang mengandung kekhawatiran." "0. Ketika Takuan kembali. Kucing melompat turun dari emperan kuil. Bagaimana mungkin ia bisa yakin biarawan aneh ini tidak akan menipunya? Walau ia bicara lancar. Aku mau bawa nasi. sedangkan pegunungan yang di kejauhan lebih pucat daripada mika. Tapi bagaimana kalau Anda tidak dapat menemukannya dalam tiga hari?" "Aku akan gantung diri pada pohon kriptomeria di kebun itu. Kepada siapa ia harus berpaling kini? Bagi Otsu yang sudah tercebur dalam kegelapan dan keputusasaan.. sekadar untuk melihat apakah ia berhasil dengan rencana gilanya. Takuan menghiburnya dan meyakinkannya agar setuju menuangkan sake. tapi karena alasan-alasan yang hampir tak dapat dimengertinya sendiri. Takuan bahkan sudah berani bertukar sumpah dengan si Jenggot Jarang di hadapan altar Hachiman. Petang hari berikutnya Takuan masih tidur bersama kucing di sudut bangunan utama kuil. Tetapi yang betul-betul paling khawatir adalah Otsu. netcafe. obat-obatan. Sinar harapannya yang terakhir. Terengah-engah ia berseru. Baik pendeta. Otsu harus ikut tanpa mengeluh. dan percaya penuh padanya. lagi pula pilihan untuk tinggal di kuil clan selalu gelisah lebih buruk lagi dibanding dengan pergi. ia mengangguk bijaksana dan mengatakan bahwa mulut manusia itu pintu bencana." panggilnya. bumbu kacang. Yang lebih dipedulikannya adalah kemungkinan satu-satunya teman di dunia ini akan hilang juga karena usul tololnya." "Ada yang kamu lupa.

seakan-akan menghitung-hitung bintang. yang setengahnya dataran terbuka. aku memikirkan letak tanah. dan keadaan langit." "Buku Perubahan? Bapak tidak membawa buku. Tapi kalau kita tidak hati-hati. "Di mana saja orang-orang ini? Tak seorang pun kulihat. Sambil buang air kecil. dan ketika aku membukanya. masingmasing memikul ujung pikulan bambu yang digantungi bungkusan yang terikat baik-baik. "Rasanya kurang begitu indah. "Oh!" teriak Otsu ketakutan. tapi pikulan itu jelas menyakitinya. apa menurutmu jurang ini tidak makin sempit?" "Tak tahulah saya. "Bagaimana kita bisa menangkap Takezo kalau hanya duduk di sini?" "Dengan jaring pun kita dapat menangkap burung terbang tanpa mesti terbang sendiri." "Takuan." "Ah. kita yang akan masuk kedalamnya. Bukan Takezo. langkahnya langsung terhenti. Kemudian aku menutup mata. Sudah jelas sekarang. aku yang lebih dulu Tak perlu kau menyusulku. tapi yang ada dalam diriku. Buku Perubahan asli milikku sendiri." Sesudah diam sekejap. nikmat rasanya!" katanya bersuka hati. Inc." "Kapten tidak memperlihatkan muka di kuil sepanjang hari tadi. Ini tentunya Tsujinohara." gerutu Otsu. saya bahkan tak tahu ke mana kita ini." la menunjuk ke puncak yang dekat. Gunung Takateru?" "Aku tidak tahu namanya. "Otsu." "Saya sih tidak keberatan jalan. Pak Takuan." "Tapi kita belum memasang jaring sama sekali. "Ada apa? ' Kenapa Bapak bikin takut saya?" "Jangan khawatir. akan jatuh ke tanganku tepat seperti Jenderal Ts'ao dari Wei jatuh ke tangan Ch'u-ko K'ung-ming." Seratus kaki di bawah Takuan. jadi ada namanya?" Ketika mereka sampai. dan menembus seluruh dirinya. ia pun menambahkan. Apa Bapak yakin tidak kesurupan rubah atau yang lain?' Ebook by Kang Zusi . ada yang mengatakan. Para petani biasa menggiring kuda dan lembunya ke sana untuk merumput. Aku cuma mau mengingatkan kamu supaya jalan yang balk." "Apa kau capek?" "Tidak. kalau Bapak bicara soal itu." ucap Takuan. bagaimana caranya menangkap Takezo?" "0. Kenapa bicara soal jalan pada saya?" "Mari kita turunkan beban ini sebentar. Mereka berjalan beriringan menembus kegelapan." "Apa para petani itu yang memasangnya di sini buat menangkap Takezo?" "He-eh. memenuhi telinganya. "Maksud Bapak." jawab Takuan mantap. saya jadi gugup dan tak bisa melangkah." "Bukan yang tertulis. atau alam semesta menyatu denganku?" Akhirnya ia kembali dan jelasnya. Cepat atau lambat dia akan muncul. musuh itu. Saya berani bertaruh. tampak berpikir sedikit. "Apa yang kita lakukan di sini?" "Duduk." Ketika mereka sudah menurunkan beban. padang rumput itu ternyata sebuah dataran kecil yang melandai ke tenggara dan memberikan pemandangan indah daerah sekitar. Otsu bertanya. "Kita berkemah di sini. penampilan air." "Kalau begitu. jangan khawatir. netcafe. Ketika berdiri di sana tadi." "Tapi dia belum pernah menemui siapa pun. dan hangat. dia menyuruh pulang para pencari. Takuan pergi menuju karang yang berdekatan. tapi malam itu tak seekor binatang pun kelihatan atau terdengar." Habis meletakkan bungkusan itu ke tanah. aku membuka-buka Buku Perubahan. kali-kali kecil yang bergabung menjadi Sungai Aida mengguntur dari batu ke batu. karena setiap kali ia memindahkannya dari bahu satu ke bahu lain. pegunungan dengan dedaunan yang berkilat-kilat lemah oleh cahaya suram makin tampak seakan bermandikan hujan petang hari. apa yang akan kita lakukan? Sesudah diburu orang banyak begitu lama. Dia ada dalam hati. "tapi mari kita jalan lebih jauh lagi sedikit.property of: CROSSFiRE." jawab gadis itu." jawab Takuan." la menyeringai pada Otsu. Bunyi itu menderu menuju dirinya. Bambu bergaris dan tumbuhan jalar wistaria menjerat kabut. "Takezo. kita terpaksa jalan sepanjang malam ini. "Bapak mau ke mana?" "Mau buang air. dan sekarang aku tahu pasti tindakan apa yang akan kita ambil. dan dia sangat kuat." "Hati-hati! Awas kakimu!" seru Takuan tiba-tiba. Kalau nanti dia muncul. Dia berjuang demi hidupnya." "Apa yang kau khawatirkan? Kalaupun kita terperangkap. Memikirkan itu saja kaki saya sudah gemetar. sia-sia saja mereka menempuh banyak kesulitan. 'Pergi ke gunung di sana itu. "Menurutku. tapi sisi belakang Sanumo sudah kita lewati beberapa waktu lalu. "Aku menyatu dengan alam semesta. atau perut. ia memandang ke langit. atau di tempat lain. Ketenangan di situ hanya terpecahkan oleh angin musim semi yang hangat membelai rerumputan. Makin jauh Takuan dan Otsu meninggalkan kampung. "Oh. Banyak wistaria dan perangkap semak sepanjang pinggir jalan ini. ya?" kata Takuan sambil menoleh ke belakang. "Malam yang bagus buat jalan-jalan. "Ke mana kita pergi?" "Aku belum tahu." "0. tentunya dia nekat sekarang." "Orang menyebutnya padang rumput Itadori. "Ketika di sana tadi. Pokoknya. supaya kita dapat sendirian saja tiga hari ini.

Mereka harus menjaga ketenangan. akan kusuruh orang mempreteli anggota badannya." Ebook by Kang Zusi . tapi ada pikiran lain yang jauh lebih khusus di otakmu. di pohon-pohon sana itu?" "Langkah-langkah kaki?" Takuan pun bersikap waspada. bukan itu maksud saya.. Di situ barangkali dia menyembunyikan diri selama ini. tapi tentunya dia cukup cerdik untuk berteduh dalam gua jika hujan. mari bikin api. Sambil menengadah ke langit berbintang. Apa saja. apa itu?" teriak Otsu sambil meloncat bangun dari tempatnya dekat api." "Itulah barangkali yang dilakukan Takezo pada malam hari dan kalau udara buruk. Bagaimanapun. Tindakannya merugikan hukum dan ketertiban. Yang baik harus diganjar dan yang jahat harus dihukum." "Kau tidak bicara yang sebenarnya!" kata Takuan tajam. Bapak sudah lihat sendiri bagaimana perasaan saya selama ini. "Ha. Takuan. mereka itu orang-orang sederhana." "Selama ini saya selalu menganggap Bapak orang baik. Malam telah penuh. Saya merasakannya. Otsu. pelan. Mereka takut kepada pemerintah. betul tidak?" "Yang jelas menghangatkan. walaupun dia sendiri bagi sejumlah orang tak lebih dari seorang bajingan. seandainya sekarang ini turun hujan?" "Dalam perjalanan ke atas tadi. dan duduk kembali. Dia sebetulnya tidak begitu cerdik. Tapi sesudah mendengarkan baik-baik beberapa saat lamanya." "Apa Bapak membencinya juga?" "Aku jijik! Aku tidak menyukai kebodohannya! Kalau aku penguasa di provinsi ini. begitu takutnya. bahkan juga sanak mereka sendiri. dia tak lebih dari binatang liar." "Jadi. Pikiran saya terasa berputar-putar dalam lingkaran. kan? Penguasa provinsi tidak boleh bermurah hati pada orang-orang macam Takezo. dan kemudian membunuhi orang-orang lain lagi. Kau mesti memaafkan mereka karena mendahulukan kepentingan sendiri. untuk pelajaran bagi orang banyak. Inc. jadi kalau aku kesurupan. Bahkan selagi saya duduk di sini sambil merenung. "Apa Bapak tidak dengar? Kedengaran bunyi gemeresik. akan kubikin dia menanggung hukuman paling buruk yang dapat kutemukan.." Otsu jadi tercenung. Meski sering melakukannya. kelihatan mereka bergerak. Kesimpulannya tak bisa lain bahwa seluruh dunia ini bergerak. kamu. Kesalahan besar pertamanya adalah menerobos rintangan di perbatasan. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat. dan Takuan membuat api." "Barangkali. Tiap kali api akan mati. Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. Sesudah perang Sekigahara. aku melihat gua dekat jalan. Otsu kelihatan lega. orang di luar hukum. apa kau sedang sedih?" "Oh. Tapi dialah yang memulai. Tidak. aku bisa lekas bebas. Lihat!" Dan tampaklah bayangan seekor monyet besar dan monyet kecil yang berayun-ayun di antara pepohonan. Kita dapat berteduh di sana sampai hujan berhenti. terutama pada masa-masa yang tak menentu ini.. pecahlah tawanya." "Tapi bagaimana dengan samurai? Kenapa mereka ribut mempersoalkan orang tak penting macam Takezo?" "Karena dia lambang kekacauan. saya setengah mati ketakutan!" Selama beberapa jam berikutnya. Bergerak pelan. karena ini masalah mempertahankan diri. sampai kalau pemerintah yang menitahkan. "Pikiran-pikiran itu memang betul masuk kepalamu. "Pak Takuan. Saya tak menyangka Bapak mengurusi hukumhukum daimyo itu. Dan saya rasa tak ada orang yang betul-betul suka menginap di pegunungan seperti ini. Mestinya banyak tempat macam itu di seluruh gunung ini." Mata Otsu sudah bengkak oleh asap. netcafe. Apa yang akan kita lakukan. Tapi. Rubah takut api. Semua bintang di kegelapan kosong di sana itu. mereka cuma berkepentingan melindungi diri sendiri. menurut Bapak. Sesungguhnya. Semangat Otsu tampak naik. dan aku datang kemari justru dengan kekuasaan untuk melaksanakannya. tapi di dasar hati ternyata Bapak sangat keras." Mereka mengumpulkan kayu kering. "Saya pikir aneh sekali dunia ini. nasib saya pun berubah sedikit demi sedikit. Takuan mematahkan ranting-ranting kering dan membakarnya." "Memang. seperti langkah-langkah kaki. Tapi Takezo tidak begitu! Dia merasa harus masuk dan membunuh seorang pengawal. Takezo selalu merasa dikejar-kejar musuh. Sedangkan diri saya hanya satu rink kecil di dalam semua itu-satu titik yang dikendalikan oleh kekuatan mengagumkan yang tak dapat saya lihat. Ia berkata lirih." "Oh. Dia mestinya menggunakan otaknya sedikit. "Api yang baik membuat gembira orang. tapi sebetulnya aku benci percakapan dengan diri sendiri. Kalau Bapak memandang bintang-bintang itu lama-lama. apa yang kaupikirkan?" "Saya?" "Ya. dan itu tidak baik. kabur malam hari atau menyamar. kenapa orang kampung begitu benci pada Takezo?" "Para penguasa itu yang membuat mereka membencinya. keduanya hanya duduk diam menatap api. Mereka itu sama sekali tak berdaya.property of: CROSSFiRE. ha! Itu kan cuma beberapa ekor monyet. Sesudah itu ya seperti bola salju yang menggelinding. "Uh. Merangkum segala-galanya. akan mereka halau orang-orang sekampungnya. "Kalau begitu. Yang mereka kehendaki sebetulnya cuma sekadar tidak diganggu." "Sebetulnya bukan salah mereka. "Otsu.

aku kenal kau. "Apa ruginya kalau aku memainkannya? Suling bertambah baik kalau imainkan." "Wanita tidak berpikir seperti itu." "Betul begitu? Bagaimana pikiran mereka?" "Saya marah betul. sekadar membuang waktu. seperti sedang menyusun pikirannya. itu saja. Akhirnya ia bergumam. Lama-kelamaan kupikir lebih baik jalannya peristiwa justru seperti sekarang.. "Suatu hari nanti akan saya temukan dia! Saya bersumpah. hingga Otsu jadi merasa puas bahwa penolakan Takuan itu demikian pastinya. Ebook by Kang Zusi . 0. ya?" "Tentu saja! Sebentar lagi fajar. ya?" Otsu tampak tercengang. Anak malang itu barangkali sedang dilanda keraguan." "Kenapa?" desak Takuan. mereka itu lemah. "Sudah larut sekarang. memandang kita dengan mencuri-curi. ini bukan sekadar impian. Otsu diam. dan kemudian suatu hari dia mengejutkanmu dengan surat seperti itu. pasti saya temukan! Saya tak akan berhenti. Ini milik seorang ahli strategi." "Tapi. Otsu. "Apa?" Takuan menatap tanah. "Aku perkirakan Shimmen Takezo berada dekat sekali di sini. Dengarkan. Otsu pun melunak. lebih dari orang-orang lain." "Apa itu bukan sekadar impian? Dia barangkali sama sekali tidak di dekat-dekat sini. apa yang harus dilakukannya.property of: CROSSFiRE." Melihat wajah biarawan yang tegang itu." Takuan menggelengkan kepala dan katanya." "Bapak jelek! Bagaimana mungkin Bapak melakukan itu! Dan buat membuang waktu pula!" "Untuk alasan apa sajalah." Tapi kelihatannya angin nasib sudah sepenuhnya gila? Kadang-kadang orang yang tidak begitu beres otaknya dianggap jenius oleh orang lain. Coba kemarikan suling yang kausimpan dalam obi-mu itu. Tenang seperti biasanya. biar kumainkan sebentar. kita ini kawan atau lawan. "Apa betul menurut Bapak dia akan muncul?" "Tentu saja!" "Tapi kenapa dia mau langsung masuk perangkap?" "Ah. Kupikir sikapku itu keliru." Air mata Otsu bercucuran karena marahnya. Tak pernah saya mengizinkan siapa pun menyentuhnya. dan bertanya-tanya habis-habisan. kumasukkan surat itu dalam lengan bajuku. aku betul-betul mengharapkan bahwa kau. terutama kalau kesendirian itu disertai pengepungan tentara clan pengejaran dengan pedang. Kuharap dirimu yang manis dan polos itu dapat melewati semua tahap kehidupan tanpa cela dan tanpa luka. Tak mungkin. tak kenal tanggung jawab." "Tidak. terhindar dari hal-hal yang jahat dan sikap muka dua di dunia ini. tapi aku akan heran sekali kalau Takezo bisa menolak godaan untuk mendatangi kita clan menghangatkan diri dekat api. Otsu mulai merasa yakin akan hal ini. sebelum saya mengatakan langsung padanya pendapat saya tentang dia. netcafe. Aku tak akan merusaknya." "Suling bambu saya?" "Ya. tapi belum lagi bisa memutuskan. Ini malahan bukan teoriku sendiri." Ia berbicara demikian yakin." "Ya. tidak persis begitu. apa yang bikin banjir air mata itu. kupikir kau beruntung. dan dia sedang bergelut dengannya. "Bukan. hanya sifat manusia. dulu maupun sekarang. Rasanya ingin menjerit!" Dan dengan marahnya ia pun menarik lengan kimononya dengan giginya. Aku telah membaca surat-surat yang kauterima itu. Kau akan menceburkan diri ke laut dari karang yang terjal. apa yang akan kaulakukan? Tak usahlah kaukatakan. Aku senang semua itu sudah lewat sebelum sampai di situ. tapi barangkali dia tidak merasa kalian berdua punya janji.." sambar Otsu dengan nada getir yang memang disengaja. Manusia hatinya tidak kuat. "Sudah mulai. "Tak peduli kenapa!" teriak Otsu sambil menggeleng. Kenapa ia mempercayai orang gila yang mau bunuh diri ini? Tanpa menghiraukan tajamnya jawaban Otsu. Kau bisa saja menganggap itu wajar. Takuan berkomat-kamit." Dan Otsu pun mencengkeramkan tangan kanannya kuat-kuat ke suling dalam obi-nya. biarawan itu terus memandang kosong ke api. Kalau kau kawin dengan dia. seakanakan baru melihatnya.. Kemudian katanya. "Aku minta maaf telah melanggar rahasia pribadimu. "Aneh. "Otsu. Dugaanku dia sedang bersembunyi di dalam bayangan kegelapan sekarang ini. Kaupikir aku jelek? Lihatlah dia!" "Apa maksud Bapak?" "Matahachi itu. Kesendirian bukan alamnya." "Betul? Tapi laknya tidak rusak!" "Aku membacanya sesudah melihatmu di kamar tenun itu. tak dapat maju atau mundur. Termasuk tentang perempuan Oko itu. ya?" "Apa yang dikomat-kamitkan?" "Aku baru saja menyadari bahwa Takezo harus segera muncul. Soalnya. kukeluarkan surat-surat itu dan kubaca. Apa yang bikin kau kelihatan setengah mati waktu itu. begini. Inc. Tapi setidak-tidaknya sekarang aku tahu. Ketika kaubilang tidak membutuhkannya. Takuan menatapnya dengan bergumam samar-samar. Takuan kemungkinan orang semacam itu. tapi kemudian ketika aku ada di kamar kecil. Otsu.

Kadang-kadang suara kuak mereka terdengar di telinga kedua orang itu dari tengah awan-awan." "Tidak. wajahnya yang putih menoleh sedikit ke samping. dan sekali-sekali larut di balik awan berkabut." "Apa pun yang terjadi?" "Apa pun yang terjadi. ada apa? Ada yang tidak beres?" Otsu tidak menjawab. Takuan tidak bicara apa-apa lagi. Aku duduk saja di sini seperti ini." bisik Otsu. Ketika ia belum lagi cukup umur untuk melihat cahaya matahari. tetapi juga . Mainkanlah untukku sedikit. Suling itulah satu-satunya barang peninggalan orangtuanya baginya. satusatunya gambaran yang pernah ia punyai tentang mereka. sambil memainkan sulingnya. Takuan berkata." la berlutut dengan sikap formal di atas rumput. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya. dan ditinggalkan seperti anak kucing telantar di emperan Kuil Shippoji. meloncat-loncat bersama awan-awan. dan Takuan tahu betapa berharga barang itu untuknya. rendah. namun masih tampak keanggunan yang antik. Takuan pun teringat akan legenda Pangeran Hiromasa yang sedang bercengkerama pada suatu malam terang bulan di Gerbang Suzaku. Otsu." "Itu pun saya tak mau. talinya rantas. Saya tidak begitu pandai. Bunyi bumi dan gaung langit bercampur dan berubah menjadi rintihan sayu angin yang berembus melintas pepohonan cemara. la tampak berbeda dari Otsu yang biasanya. Bangun dari lamunannya. Ambillah suling ini dan mainkanlah. "Tidak heran dia begitu enggan meminjamkannya pada orang lain. Buku-buku jarinya tampak seperti kurcaci yang sedang tenggelam dalam tarian lambat. "Nah." "Hmm." Takuan berpikir.. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu. "Betul. Otsu. Jemari pipih gadis itu menari di atas ketujuh lubang alat musik tersebut. tapi ia tak mengenal cinta asli orangtua. meratapi ketidakabadian dunia ini. Takuan merasa dirinya berubah menjadi air mengalir yang berkecipak menyusuri jurang. "Mestinya saya tak boleh begitu keras kepala. Terdengar bunyi." "Tidak apa-apa. Nah. Ketika nada-nada tinggi terdengar. aku pegang saja. suling itu bukan sekadar gambaran tentang ibu dan ayah yang tak pernah dilihatnya. Kyoto. "tapi akan saya coba." Takuan pun mengalah. ia merasa semangatnya terembus ke langit. dan bermain-main di tempat yang dangkal. Saya tidak keberatan lagi. Takuan mengangguk acuh tak acuh.." la pun mengeluarkan suling itu dari obi-nya dan mengulurkannya pada Takuan lewat atas api. Baru kemudian pangeran itu mengetahui bahwa teman bermainnya itu setan dalam bentuk manusia. Masukkan sedikit kayu lagi. Ia menoleh pada Takuan." "Tapi kenapa tidak kaumainkan sendiri? Lebih baik aku mendengarkan saja. la membasahi pipit suling clan membulatkan jiwa untuk bermain. Pada malam ketiga ini. Angsa liar yang selalu bermigrasi ke Jepang pada musim gugur dan pulang pada musim semi kini tampak dalam perjalanan kembali ke utara. Sudah berlusin-lusin suling aku mainkan. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. dan menemukannya di tingkat atas gerbang itu. malahan juga memainkannya sendiri. Namun tak pernah Takuan membayangkan bahwa Otsu akan menolak meminjamkannya. diselarasi oleh suling lain. lihatlah. Otsu yang mewakili kekuatan dan keluhuran seni." "Kenapa?" "Karena saya akan menangis. seperti gemericik kali kecil. "Apinya mati.property of: CROSSFiRE. Dengan santun sekali lagi ia mengingkari bahwa ia cakap bermain. Otsu selalu merindukan orangtua yang tidak pernah dikenalnya dan mereka pun merindukannya.." kata Otsu merendah. "Jadi. Ebook by Kang Zusi . dan saya tak dapat main suling kalau saya menangis. "Ya. Mereka bertukar suling dan bermain musik bersama sepanjang malam. aku tak akan merusakkannya. untuk pertama kali bulan indah berkilau-kilau di langit. "Apa kau menangis?" Otsu tetap diam." la memutar ke samping dan memelukkan tangannya ke lutut. "Maaf aku telah mengingatkan masa lalu padamu." Dan ia pun merasa kasihan pada Otsu. kalau begitu kamulah yang memainkannya. Bukan maksudku mengganggumu. "Baiklah. Otsu. Ayolah. Ia asyik mendengarkan dengan mata tertutup. "Boleh kulihat?" tanya Takuan. Ia selalu menyimpan suling itu dekat tubuhnya. Inc. Tubuh biarawan yang seperti bayangan itu tampak seperti batu karang yang telah berguling turun dari sisi bukit dan menetap di dataran. menegakkan leher kimononya dan membungkuk ke arah suling yang terletak di depannya. Suara basah suling mulai mengalun. Suling itu terbungkus dalam kain brokat yang sudah tua dan aus." "Keras kepala!" "Biar saya keras kepala. Yang ada hanyalah alam semesta yang besar dan diam terselimut malam. Kainnya sobek-sobek. Pangeran mencari-cari pemain suling itu. merupakan suara mereka. netcafe. dia menangis kalau memainkannya!" pikir Takuan. merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam. meletakkan barang pusaka yang dipujanya itu ke bibir.

Ke sinilah. beberapa waktu lamanya." "Tidak suka?" "Saya tak mau sekarang. la mengunyah lahap. Takezo mengedip. Biarawan itu tidak bicara. Takezo sekali-sekali mengembus makanan yang masih panas itu dan melahapnya dengan suapan besar-besar. Sambil membuka tutup kuali. --Setan pun tergerak hatinya oleh musik. Tangannya gemetar dan giginya gemerincing mengenai tepi mangkuk. Tapi kau berkeras menyeret dirimu ke dalam neraka pribadimu sendiri. yang secara tak sadar dipeluknya lebih erat lagi. Datanglah ke dekat api sini dan hangatkan badanmu. "Enak. Dia mendengarkan kau main suling. "Kemarilah. Diam-diam ia mengangkat tangan clan melambaikan salam. Takezo?" Takezo mengangguk dan untuk pertama kali ia menyeringai. dan minuman. netcafe. Butir-butir keringat muncul di dahi." Sesudah sekian lama berkeliaran di pegunungan. Takuan menggelindingkan sebuah batu karang ke dekat api clan menepuk punggung Takezo. la merasa seakan-akan jaring yang dengan hatihati direntangkannya telah sobek clan ikan pun lolos. yang tidak dapat begitu saja diabaikan. "Di sini banyak makanan. Ditatapnya Takezo semantap tatapan Takezo padanya. memang hampir tidak dapat kau mendengar suara akal sehat." desak Takuan. makanan. la melompat seperti kijang yang terperanjat dan lari." katanya. betapa dalam dia akan terpengaruh bunyi suling yang dimainkan gadis cantik ini!" Ia ingin menangis. Dan tiba-tiba terlihat gerakan di rumput. bahkan juga simpati manusia. geletar itu tidak terkendalikan lagi. Sekalipun terputus-putus oleh sedu sedan tertahan. Karena lapar yang luar biasa. "apalagi manusia yang punya lima macam nafsu. Takezo mendadak duduk. memperlihatkan sederetan gigi yang sempurna putihnya. Takuan berkata. clan mari kita bicara. hingga sukar membedakannya dari alat musik yang dimainkannya. ia takut sake akan Ebook by Kang Zusi ." Otsu menoleh. ya?" tanya biarawan itu sambil meletakkan sumpitnya. datang ke dekat api sini. katanya. "Hai. kemudian sambil menjerit ia melemparkan sulingnya ke sosok hitam itu. "Takezo ada di sana tadi. Ketika cahaya api sedikit demi sedikit surut. ia berhenti dan tegak diam. la melompat dan memanggil sekuat paru-parunya. Katanya. Jaraknya tidak lebih dari lima atau enam meter dari api. Sedikit demi sedikit di sudut-sudut mata Takuan muncul kerut-merut yang menandai mulainya senyuman bersahabat. "Pak Takuan. kamu yang di sana! Tentu dingin rasanya di tengah embun. agaknya terhambat oleh semacam rasa malu di dalam dirinya. Mau coba sedikit." Sunyi lagi. sedikit terpesona." Otsu terkejut dan berhenti bermain. "Bagaimana kalau mencoba sake?" "Saya tak mau sake. Adegan penuh kedamaian ini menghapuskan rasa takut Takezo. Pelarian itu berhenti seakan terpaku di tanah. Sudahlah. di sekitar anak rambutnya. Otsu memasukkan kentang ke dalam mangkuk clan memberikannya kepada Takezo. tapi air matanva tidak keluar. Dalam keadaanmu sekarang. "dan kita dapat saling tukar pikiran. Air mata menuruni wajahnya. ia keluarkan kentang itu. Tapi aku tak akan berdebat lagi denganmu." Otsu meletakkan kuali di atas api. Aku pun sudah lapar. Otsu tidak dapat memandang langsung kepada teman bekas tunangannya itu. Kau mengukuhi pandangan yang cukup menyesatkan tentang dunia ini. dan ia beringsut mendekat. Inc. la memandang langsung ke benda hitam itu. Napasnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah. terasa lagu itu bagai berlanjut terus untuk selamanya. "Takezo. "Takezo! Berhenti!" Di dalam suara itu terasa ada kekuatan yang perkasa. "Manis sekali dan empuk." Menyusul sunyi penuh tanda tanya. Takuan sama kagetnya seperti Takezo karena jeritan Otsu. "Di manakah engkau!" Apakah jeritan ini tidak tercampur rasa benci yang sangat dari seorang perawan yang ditinggalkan dan dikhianati lelaki tak setia? Otsu agaknya sudah mabuk oleh musik dan tenggelam dalam emosinya. Mari kita bicara." la tusukkan ujung sumpitnya ke kentang. "Duduklah di sini. Wajahnya yang gelap memperlihatkan ekspresi aneh. Malahan kami juga punya sake. Disilangkannya tangannya pelan-pelan ke dada. la membuka lipatan tangannya dan memberikan isyarat kepada Takezo." pikir Takuan. la begitu menyatu dalam musiknya. panaskan kentang rebus yang kaubuat tadi. Kepala Takuan mendongak. la memandang Takuan dengan mata curiga. Datanglah ke dekat api ini. "Kemarilah!" Mendengar kata-kata itu. Wajahnya terbenam lebih dalam lagi di antara lututnya. pipi Otsu berubah jadi merah tua. "Rupanya sudah matang. Kami bukan musuhmu. Terdengar seperti binatang yang sedang melata. dan Takuan meletakkan guci sake di dekat api untuk menghangatkannya.property of: CROSSFiRE. clan ia masukkan ke dalam mulutnya. Memang itu Takezo. Ketika hampir berada di atas mereka. Kedua orang itu tampaknya bahkan menyatu dalam tarikan napas mereka. Mengerikan. Otsu. kekuatan yang memerintah. la merasa seolah-olah berada di dekat binatang liar tak terantai. apa kau tidak membuat kesalahan besar? Ada tempat yang menyediakan api. Katanya. dan menoleh ke belakang. apa Bapak bicara sendiri lagi?" "Apa kau tidak lihat?" tanya Takuan sambil menuding. Apakah ia sedang memanggil ibu dan ayahnya? Apakah bunyi-bunyi yang mendaki langit itu betul-betul melantunkan.

"Apa engkau tidak mesti mulai memikirkan nasib wanita yang baik itu? Sudah demikian banyak yang dilakukannya untukmu. netcafe. "Bagaimana pendapatmu? Kalau kau akan ditangkap. "Orang bebal tak bertanggung jawab! Orang bodoh tak kenal terima kasih. sakit. Dan bagaimana dengan kewajibanmu melanjutkan nama ayahmu. berikan ke sini tali itu. Sambil berputar langsung menghadap Takezo ia pun berkata. seperti bola kertas kecil. menggeleng-geleng marah." Ketika mengembalikan mangkuk kepada Otsu. tapi dari antara dua itu. "Terima kasih untuk makanan ini. Takuan tiba-tiba mengepalkan tinjunya clan menghantam keras-keras rahang Takezo. tapi sebelumnva akan kubunuh dulu perempuan Hon'iden tua itu dan serdadu-serdadu Himeji. terhadap hukum provinsi. Cepat berikan tali itu!" Takezo diam menelungkup di tanah. Inc. tapi pada akhirnya apa engkau bisa betul-betul menang?" "Apa maksudmu.property of: CROSSFiRE. Batas waktu yang diberikan pada Takuan sudah habis. kami datang kemari untuk menangkapmu." Takezo tidak memperlihatkan sikap kaget secara khusus." rengek pelarian itu. "Ya. Namun Takezo hanya terbaring pasif. Hari itu hari perhitungan. bisa saja Takezo menendang Takuan ke udara. kali ini hingga Takezo jatuh ke tanah. Takuan melanjutkan dengan nada lunak. "Terus terang saja. Saya merasa hangat sekarang." Pertanyaan Takezo itu mengejutkan Otsu. dan matanya basah. Takezo pun terhuyung-huyung oleh pukulan itu. "Sakit?" tanyanya sengit." rintih Takezo. Apa yang akan kaulakukan untuknya? Dia dikurung di benteng Hinagura!" Takezo tak dapat menjawab. tunggu apa lagi? Bawa ke sini tali itu! Takezo sudah tahu aku akan mengikatnya. sekalipun agaknya ia ragu-ragu menerima ucapan Takuan itu demikian saja. Takuan pun dengan mudah menduduki punggungnya. aku dapat menang itu?" "Maksudku. Tidak ada alasan bagimu untuk takut atau kasihan padanya. seakan-akan akhirnya ia menyerah pada suatu hukum alam yang tak kelihatan. sekalipun sebelumnya ia berketetapan untuk membebaskan kakaknya. "Sinting!" guntur suara biarawan itu." "Apa sudah cukup?" "Sudah. Kalau sakit. Segera ia berkata dengan cukup sopan. Otsu. Karena terkejut. la tersedu-sedu sedih. tapi tali cinta. apakah engkau dapat berhasil bertahan terhadap rakyat yang membencimu.. membuatnya sakit. Takuan menyadari bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba. akulah yang melakukannya atas nama mereka. Apa. artinya kau masih punya sedikit darah manusia dalam nadimu. Mereka berdua pun tahu itu... Ini bukan tali kekuasaan. aku. dan terhadap musuhmu terbesar. tapi sebelum sempat pulih dari pukulan itu ia sudah menerima pukulan lain di sisi lain. Shimmen Munisai? Apa engkau sudah lupa bahwa nama itu berasal dari keluarga Hirata. tidak tahu. Aku mengerti bahwa engkau bertekad untuk bertahan sampai mati. Karena ayah-ibumu dan nenek moyangmu tak ada di sini untuk menghukummu. "Dengar dulu sebentar. bagian 3 Pohon Kriptomeria Tua SEKALIPUN pagi itu bukan saat biasanya lonceng kuil dibunyikan.. Dia sudah siap. tetapi Takuan menyelamatkannya dengan langsung mengatakan. tidak!" kata Takezo. apa bedanya sekarang ini?" Melihat itu. Bahunya yang tajam mencuat ke atas ketika berguncang bersama gemetarnya tubuhnya yang kurus. juga semua orang yang kubenci! Akan kubunuh orang sebanyak vang aku bisa!" "Dan apa yang hendak kaulakukan untuk kakak perempuanmu?" „Ha …” "Ogin. ia bertanya." "Tidak. "Bagus. ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi. namun gema suara lonceng yang berat teratur itu terdengar mendayu-dayu di seluruh kampung dan menggaung sampai jauh ke pegunungan. Kemudian ganti la memandang kedua orang itu. kaki dan tangannya terulur. tidak berusaha bergerak. Penduduk kampung bergegas Ebook by Kang Zusi . "Aku. dirimu sendiri?" -Aku tahu aku sudah kalah. "Kenapa kau datang kemari? Kemarin malam kulihat juga apimu.. la diam saja dan menundukkan kepala. Kalau mau melawan. Wajahnya berubah penuh kesedihan. clan ia tak siap dengan jawaban. Terimalah ini!" Biarawan itu pun memukulnya lagi.kemanusiaan. terima kasih. Nah. apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum.. "Akhirnya aku akan terbunuh. bahkan selanjutnya dari wangsa Akamatsu dari Harima yang terkenal itu?" Takezo menutup mukanya dengan kedua tangannya yang hitam dan kini berkuku panjang itu.

penduduk Miyamoto." serunya. suarasuara marah dan tak sabaran terdengar dari belakang. "Dengar. Yang lain mendesakkan diri ke depan untuk menyentuh tangan atau jubahnya. Takuan pun segera menjadi pahlawan. kemudian menoleh pada orang-orang kampung. dia sampai kemari ini tanpa perkelahian. tak percaya aku! Tanpa senjata? Tak mungkin!" Orang membanjir ke Shippoji clan memandang ternganga ke arah penjahat yang relah tertangkap itu. Tapi kalau aku berhasil. aku yakin kalian pernah melihatnya. tapi hukum alam. adalah kalau aku tidak membawa pulang pelarian itu dalam tiga hari. Baiklah. Ada yang mau kukatakan kepada kalian. Takuan pun duduk sedikit ke atas tangga sambil bertelekan pada sikunya. si orang lembek ini. Tapi kalian mesti menghormati hukum. Ebook by Kang Zusi . ia mengangkat ranting pohon itu. Seakan-akan untuk mengecilkan reaksi mereka yang dibesar-besarkan itu. Beberapa orang menahan napas dan terengah-engah melihat pemandangan itu. "Mesti kita bunuh dia! Dia tak berguna. Sambil mengacungkan ranting pohon arbei ke udara ia pun berteriak. Orang yang melanggar hukum alam akhirnya akan kalah. Satu orang berteriak. dia akan jadi kutukan buat kampung ini. dan pekiknya. kan? Sebetulnya. Bukan aku yang melaksanakannya. "Nah. "Bunuh dia! Bunuh dia!" Pada saat itu. Tak salah lagi. Takuan pun menarik diri dari kerumunan itu dan mengangkat tangan untuk menenangkan mereka. Sampai di tangga. Yang lain lagi berlutut di kakinya. atau kita lepaskan?" Terdengar suara heboh tanda tak setuju dengan gagasan untuk melepaskan Takezo. dan menyeringai dengan sikap bersahabat. Dia tidak begitu mengerikan. dia jahat! Kalau kita biarkan hidup." lanjut Takuan." "Bantuan apa?" terdengar pertanyaan dari kerumunan yang ingin tahu. untuk melihat apakah Takuan berhasil melakukan tugas yang mustahil itu. Tentara akan segera pergi!" Bagi orang kampung yang biasa ditakut-takuti itu." Selagi Takuan berhenti bicara dan tampaknya sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. "Aku tidak keberatan. Ngeri oleh sikap mendewakan diri ini. Hukum itulah yang harus kalian hormati. memuakkan!" Dan ia pun menyabetkan ranting di tangannya beberapa kali kepada Takezo. Berita keberhasilannya menyebar seperti api liar. seakan-akan mereka sedang menyaksikan wajah jin Gunung Oe yang ditakuti. "Kamu makhluk rendah. Akan kita bunuh dia. aku akan menggantung diri di potion kriptomeria besar itu. "sekarang kalian dapat kembali ke ladang kalian dengan damai." Tepik sorak orang banyak pun mereda. binatang yang ditakuti ini sudah ada di sini dalam keadaan hidup. la diikat seperti binatang ke pagar tangga di depan bangunan suci utama. "Orang-orang Miyamoto. netcafe. "Takezo sudah tertangkap!" "Betul? Siapa yang menangkap?" "Takuan!" "Ah. "Bukan aku yang berjasa atas penangkapan Takezo. kepala hampir menyentuh tanah di halaman kuil." Orang banyak mulai berbisik-bisik. ia membelalak pada Takezo sejenak. dan pelindung dari yang jahat. "Cuma ini: apa yang akan kita lakukan terhadap Takezo sekarang? Janjiku kepada wakil Keluarga Ikeda. Inc. Takezo menyeringai kesakitan. Aku membutuhkan bantuan kalian. Beberapa orang membungkuk rendah. seorang perempuan tua mendesakkan diri ke depan dan menyingkirkan orang-orang lelaki yang badannya dua kali lebih besar darinya dengan tusukan-tusukan tajam sikunya. Biarawan!" "Kami hanya memberikan penghargaan yang pada tempatnya!" "Lupakan hukum itu. sampai akhirnya la kehabisan napas dan tangannya jatuh ke samping tubuhnya. kalau begitu apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seperti kalian lihat. menuju bukit. dialah Osugi si pemarah itu. pembebas. "Aku tak akan puas kalau dia hanya dibunuh! Biar dia menderita dulu! Lihat saja mukanya yang mengerikan itu!" Sambil kembali menoleh kepada tawanan.property of: CROSSFiRE. sesuatu yang penting. Kami mau berterima kasih pada Anda!" "Nah." "Jangan melucu begitu! Anda yang menangkapnya. kalau begitu berterima kasihlah padaku. sudahlah. yang sudah. akulah yang menentukan nasibnya. "Kami tahu!" Takuan kembali mengambil sikap hakim. dan sekarang ini ada sesuatu yang sangat penting. bukan alam!" "Jangan merendahkan diri. yang hendak kuminta dari kalian.

"Apa yang Ibu inginkan dariku?" tanya biarawan itu. Bagaimana kalau dia diikatkan ke cabang pohon kriptomeria itu beberapa hari: Kita dapat mengikat tangan dan kakinya. Lalu tahanlah dia kalau kau bisa!" "Tunggu dulu." Ia meminta kepada khalayak. "Dia sudah terikat. kau pasti akan menerima uang yang sudah ditawarkan pemerintah sebagai hadiah. Apa tak akan lebih baik kalau kelak Ibu mengangkat menantu lelaki Ibu sebagai ahli waris dan memberikan padanya nama Hon'iden yang terhormat itu?" "Berani betul kamu berkata seperti itu!" Tiba-tiba janda bangsawan yang sombong itu meledak sedu sedannya. Kemarahannya sedang menjulang. tidak cukup membunuhnya seketika. kuperingatkan." "Diam kamu!" perintah Kapten. kemudian kepada Osugi. Bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . Beri aku kesempatan. Biarawan!" kata Kapten memperingatkan. Tiap kali tawa itu seperti akan berhenti. Aku mengundang mereka kemari justru untuk dengan cepat membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap Takezo. Nasib tawanan ini tidak lagi menjadi kepentinganmu. Kapten bungkam. sebetulnya cuma kroco belaka. "Matahachi itu. tapi tak seorang pun mau pergi. Menghadap kepada khalayak. kan?" • "Kepalanya untukmu! Tak bakalan! Urusan kependetaan antara lain memimpin upacara pemakaman. "Kenapa?" "Ya. dan akhirnya kepada orang banyak." Di dahi samurai itu bermunculan titik-titik keringat. Hukumannya tidak bisa ditentukan oleh rakyat. Orang itu si Jenggot Jarang. adalah kewajibanku untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan ini. Takuan tidak tahan untuk tidak mengejeknya. la mulai meludah dan menggerutu. dan tawanya pun pecah lagi. tapi lalu meningkat lagi. "Kau tak perlu bicara dalam soal ini. Cuma. Cepat!" Terdengar kaki-kaki diseret. "Shimmen Takezo ini tidak hanya sudah melakukan kejahatan-kejahatan berat dan serius terhadap hukum provinsi.. "Perhatikan tingkahmu. Inc." balas Takuan. la pun berkata dengan suara menggelegar. Kerumunan orang terbelah menjadi dua seperti kain sobek. "Padahal tanpa Matahachi tak ada yang akan meneruskan nama keluarga kami!" "Yah. Dengarlah! Kau bisa membunuh Takezo sendiri. ia pun mengangkat jari menyuruhnya diam. "Omong kosong!" Melihat si Jenggot Jarang sudah siap menjawab.. Memang tak ada orang yang mengerti dia. Aku punya hak untuk membalas dendam. "Dialah yang menyesatkan anakku. kita harus menyiksanya dulu. Sebetulnya dia tidak jelek. "Biarkan aku yang memutuskan. Tangannya tertumpang di pedang. biarawan itu mengambil sikap sungguhsungguh lagi. Ini. itu akan memberikan nama jelek pada kami para pendeta. apa kau bermaksud melanggar persetujuan kita dan tidak memenuhi janjimu yang suci? Kalau benar demikian. Apa yang akan kita lakukan? Perempuan itu bilang." Walau tangan samurai itu sudah mencengkeram gagang pedang. Tak boleh dia dilepaskan. karena. dan berikan jawabannya padaku. Aku tahu apa yang mesti dilakukan terhadapnya!" Tepat pada saat itu satu teriakan keras dan marah menghentikan perempuan itu. dan dia akan merasakan cuaca siang dan malam. "Aku tak peduli dengan pendapatmu. seolah akan melepaskan belenggu tawanan itu. tapi tertawa terpingkal-pingkal. "Ada apa di sini? Ini bukan pertunjukan ekstra! Pergi semua dari sini! Kembali kerja. buah hatiku itu.. Tidak usah kau menyusahkan diri." Badan Osugi berguncang hrbat. dia yang membuat anakku jadi brengsek seperti dia sendiri.. Jenggot Jarang. kalau boleh aku mengatakannya.. "Tak ada alasan mengusir orang-orang baik ini. Kalian dapat menyelesaikan perkelahian itu berdua. dan ia menunjuk Takezo.. Tapi sebagai wakil resmi Yang Dipertuan Terumasa.. Dia harus dikembalikan kepada pemerintah!" Takuan menggelengkan kepala. "Kalian sudah dengar apa kataku! Ayo jalan! Apa yang kalian tunggu?" Ia melangkah dengan sikap mengancam ke arah mereka.." la berdiri tegak dan membelalak kepada Takuan. Memikirkan dia pun tak perlu. Kapten mulai mencari-cari alasan. "Dan kalau kulepaskan dia akan kusuruh dia pertama-tama menyerangmu. "Takuan. Burung-burung gagak barangkali akan mematuk bola-bola matanya. dan kuil-kuil akan bangkrut dalam waktu singkat.." Kemarahannya timbul lagi. "Tidak!" sela Takuan.. "Tunggu. "Kuminta kalian bicarakan hal ini sekali lagi di antara kalian." la hampir menggagap. akan kulepaskan Takezo sekarang juga di tempat ini!" Terengah-engah orang kampung serentak mulai menyingkir. Pulang. berikan kepalanya padaku untuk kubawa pulang. dan orang yang baru datang itu pun berjalan cepat ke depan. Adil. Tapi membuang mayat atau bagian-bagiannya. betul tidak? Tak seorang pun akan mempercayakan mayat keluarga mereka. "Apanya yang lucu? Hah? Kaupikir semua ini lelucon?" "Tingkahku?" ulang Takuan. sebentar saja!" "Aku sudah memegang janjiku. Orang-orang yang ada di depan mundur dengan mata melotot. netcafe. kalau kami hanya akan membuangnya. dia juga pelarian dari Sekigahara. "Bukan itu yang sudah kausetujui!" Merasa martabatnya terancam. sementara Osugi menoleh kepada Takuan dengan pandangan mengancam. "Siap?" tanya Takuan sambil menjangkau tali yang mengikat Takezo." Takuan terus berlalu. "Karena pembunuh inilah hidup anakku hancur." Takuan tidak berusaha menjawab.property of: CROSSFiRE. "Tingkahku? Dengar. dan ia menjerit. ini pedangku. Cuma akan bikin kesulitan lagi. karena.

Katakata Takuan masuk langsung ke dalam hatinya. sesaat Otsu ragu-ragu sebelum menyambut perempuan tua itu dan meletakkan bantal tempat duduk. tapi pembantu pendeta tidak menyuguhkan minuman. Sesuatu yang harus ada. Kesepian berarti merasa kekurangan sesuatu. Otsu mulai merasakan kesenduan yang aneh dan amat sangat apabila ia berada sendirian di dalam kamar. Orang-orang di sekitarnya maupun keramahan hidup di kuil tidak dapat meredakan perasaan terpencil yang sekarang ia rasakan. Beberapa potong tali disambung-sambungkan menjadi satu.. Duduk bertopang dagu menghadap meja rendah di dekat jendela. Terkejut dari lamunannya. Kecuali Osugi. Diam-diam pintu di belakangnya bergeser terbuka. ia menimbangnimbang perasaannya setengah hari lamanya. kepalanya tertunduk tanpa kata-kata. "Aku ingin bicara tentang Matahachi. Tapi menyuarakan perasaannya itu sama sekali tidak meredakan kebenciannya kepada Matahachi. Sesudah memutuskan hukuman untuk Takezo. Karena takutnya. Tapi kupikir kita harus menggantungnya seminggu lamanya-o. Tapi ambilkan dulu teh untukku. ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup. Itulah yang ia rindukan. la merasa pengalaman ini telah memberikan pemahaman ke dalam hatinya sendiri.. Bukan di luar. Osugi langsung duduk." "Betul?" kata Otsu dingin. hingga mulamula tak seorang pun dapat menjawab. Jadi!" Ia memegang tall yang sudah dilepasnya dari pagar. tapi rupanya Matahachi masih hidup dan tinggal di provinsi lain." kata perempuan tua itu tanpa pendahuluan lagi. sekiranya ia punya seorang teman! la tidak membutuhkan banyak. Otsu duduk kembali. Satu orang yang dapat disandarinya. Satu orang yang kuat dan sepenuhnya dapat dipercayai. dan diseretnya Takezo seperti seekor anjing menuju pohon. sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan. Namun ia merasa lebih sepi kini daripada sewaktu tiga hari lamanya berada di sisi bukit terpencil. "Takuan. Tapi yang jelas. menghangatkan dan meneranginya." jawab Otsu. Tanpa menunggu kata-kata tuan rumah. Memang selalu ada suling itu. Apa pun yang terjadi nanti. tapi waktu itu ada juga Takuan. Namun kegembiraan karena telah menangkap "binatang liar" itu tidak juga usai." Tanpa panjang kata. di sinilah kamu sembunyi! Duduk di sini dan membiarkan hari lewat sia-sia!" Tubuh Osugi muncul di pintu. yang mengatakan. "Tentu saja bodoh kalau aku percaya kata-kata Takezo si tukang bohong itu. ia pun berdiri. Sadar akan penemuan ini. Karena harus mondar-mandir ke kampung untuk menyampaikan ini-itu. Baik. Usul biarawan itu terdengar sangat kejam oleh para pendengarnya. netcafe. bukan sekadar hidup yang mengamati. Inc." Osugi memulai dengan nada-nada megah. lebih! Biar dia tergantung di sana sepuluh atau dua puluh hari. Takuan tidak sama sekali berada di luar dirinya. ia membungkuk rendah di hadapan perempuan tua jelek itu. Sekembalinya ke kuil dari pegunungan itu. tapi di dalam diri seseorang. Kemudian sampailah ia kepada kesadaran polos bahwa ia kesepian karena Takuan tidak ada di dekatnya. tidak. Kepalanya berdenyut. dan diikat erat. hampir sepanjang waktu Takuan rapat di kamar tamu dengan samurai Himeji. Takuan tak punya waktu lagi untuk duduk bercakap-cakap dengan Otsu seperti yang ia lakukan di pegunungan itu. Ia menyadari. Di dapur kuil. Oh. tak berperikemanusiaan.. Darah yang bergejolak di dalam nadinya membuat pelipisnya biru. "Ya. dan dengan penuh semangat semua orang ikut serta dalam kesenangan itu. la membutuhkan keakraban clan rasa kebersamaan.property of: CROSSFiRE. "Aku tak yakin. pepohonan. Ia bertanya-tanya kenapa demikian. dan kabut. kesepian ternyata seperti rasa lapar. Satu saja yang mengenalnya dengan baik. Takezo dinaikkan ke sebuah cabang. namun tak tahu ia apakah itu. "Ah ha! Jadi. sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah. Takuan pun mengangguk. pendeta yang bertindak sebagai pelindungmu di sini sudah menyetujui perkawinanmu dengan anakku. Api atau lampu mana pun tak dapat menandingi. Kesadaran datang bagai wahyu. Lalu aku sendiri akan datang memberikan pukulan maut. Di pegunungan yang ada hanya kesunyian. la memiliki segala yang menyenangkan di rumah. Dalam keadaan terikat. Tapi pada saat seorang gadis mencapai umur enam belas tahun. hanya berteman Takuan. aku percaya kamu tak punya pikiran buat melanggar janji. "Semua memuakkan!" katanya keras. api untuk memasak makan malam menyala terang. hingga beberapa orang yang berhati lunak merasa sedikit kasihan kepadanya. tapi pikirannya masih terus digeluti oleh masalah itu. itulah yang ia dambakan sekali sampai ia hampir gila. Aku baru saja bicara dengan Takuan dan samurai Himeji itu. dan keluarga Hon'iden sudah menerimamu sebagai istri anakku. Tawanan itu berjalan tanpa perlawanan. Tenggorokanku kering!" Otsu menurut dan mengambilkan teh. la tampak begitu menyesal. gagasanmu itu menunjukkan kau sungguh-sungguh bijaksana. "Karena kau sudah mengakui ada hubungan di antara kita. ada satu hal kecil yang ingin kubicarakan denganmu. ada soalsoal clan hal-hal tak menentu di dalam dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebatang bambu. Tinggal sendirian bukanlah hal baru baginya. Bu. "Menantuku yang baik. yang nyata. Dan lagi di sekitar kuil selalu ada beberapa orang. Air matanya tumpah ke meja kecil yang dipernis itu. "Baik." Ebook by Kang Zusi .

Mengerti?" "Ya." "Dari siapa?" Ebook by Kang Zusi . Si penulis akan memperistrinya. Tapi..." Otsu berusaha menarik tangannya. waktu kepala Takezo sudah terpisah dari badannya. "Rupanya mereka sedang melakukan penyelidikan tentang kejadian di sini. Dia tak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan. jangan-jangan air matanya membanjir.. Tanpa menghiraukan bingungnya gadis itu. Aku khawatir. la takut bicara lagi. aku perlu bantuanmu. Mata yang menyambutnya ternyata mata Kapten. aku bisa mengatakan telah melaksanakan tugas dengan penuh kehormatan. menangkap tangan Otsu dan meremasnya keraskeras." "Tapi saya. dan pergi seketika itu juga. apa yang hendak dilakukan biarawan yang tak bisa diduga itu atas Takezo. begitu..property of: CROSSFiRE. Kamu tak bisa tinggal di dua tempat sekaligus." Otsu tak berdaya untuk membantah. kalau begitu jangan membuang-buang waktu lagi! Kumpulkan barang-barangmu!" "Sekarang juga? Apa tidak lebih baik menunggu?" "Tunggu apa?" "Sampai. Barang itu ternyata lebih dari sekadar surat." katanya.. menjahit lurus keliman. Dan karena menantuku juga repot dengan keluarganya sendiri. "tapi aku baru saja terima perintah dari Himeji untuk pulang.Takuan memanggil. kau belum makan?" Otsu mengenakan sandal dan keluar. sayang sekali." "Apa kamu mau bilang keberatan? Apa kamu tak ingin tinggal di rumahku? Kebanyakan gadis-gadis akan melompat mendapat kesempatan itu!" "Bukan." "Sama sekali jangan!" Nada Osugi terdengar pasti. Siang dan malam. "Aku masih belum merasa pasti. dan baca kemudian kalau tak ada orang melihatmu. itu sebabnya aku datang kemari. Ibu tidak keberatan saya tinggal di sini?" "Sementara tidak. "Dan ada satu hat lagi. "Baiklah kalau begitu. dan Otsu akan hidup di tengah kekayaan dan kemuliaan selama hidupnya. "Rasanya saya tak ingin makan. la mengangkat kepala dengan angkuhnya. ke jalanan.." "0. Ketika jendela dibuka.. Kalau kamu tidak khusus berjaga malam hari.. aku perlu mengatur supaya kamu belajar melakukan pekerjaan ladang. Kupikir kau ada di pihakku. "Surat. Aku ingin kamu mengawasi baik-baik kedua orang itu." "Apa yang kaupegang itu?" . Kepalanya masih berdenyut. "Kalau saja aku bisa memperoleh kepala Takezo. bukan itu. "Kau sudah berbuat baik padaku. Pembicaraan tentang Matahachi itu membuat dadanya sesak. Aku akan mendapat nama baik." "Lain lagi?" "Ya. Otsu ingin tertawa terbahak-bahak. Tak ada berita kapan Matahachi kembali." "Nah. Namun isi tulisannya sendiri cukup jelas: ia minta Otsu memotong kepala Takezo dalam beberapa hari itu dan membawanya ke Himeji. nama yang menurut pengakuan si penulis sendiri termasuk salah satu prajurit paling ternama di daerah itu. tapi. Ketika ia selesai membaca. "Kamu tahu omongan orang. sampai Matahachi kembali. netcafe. Tugasku menjaga supaya kamu tidak berlaku tak senonoh." "0." "Jangan sampai lupa!" salak Osugi seraya mendesis keluar dari ruangan itu. Otsu dapat mendengarnya bergegas menuruni tangga. Tapi Takuan yang gila dan keras kepala itu tidak membiarkan aku memilikinya. "Otsu. tak bisa aku terlalu banyak memaksanya.. Mereka bisa bersekongkol!" "Jadi. Kepala saya sakit. Suara lelaki memanggil pelan. karena di dalamnya terdapat sepotong besar uang emas. tak bisa diketahui apa yang mungkin dilakukan Takuan." jelasnya. sampai kita yakin bahwa Takezo mati.. Surat itu ditandatangani oleh "Aoki Tanzaemon". "Kamu tak akan melakukan hal seperti itu." "Siapa lagi yang bisa masuk rumah Hon'iden. tapi cengkeraman kapten itu terlalu kuat. ia tersentak mundur karena kagetnya. dan berlaku seperti nyonya bangsawan. Ambil surat ini.. Kapten mengulurkan tangan. Sementara itu. Karena itu aku ingin kamu tinggalkan kuil ini dan menetap bersamaku. kalau bukan istri Matahachi?" "Tak tahu saya. tapi ia terlalu murka waktu itu." kata Osugi. Inc. seakan-akan sudah lama menanti kesempatan. muncullah sebuah bayangan di jendela yang tertutup kertas itu. kan? Kamu datang dengan barangbarangmu ke rumah keluarga Hon'iden nanti. Jadi. aku gembira!" Ia berbicara seolah-olah menangguhkan suatu pertemuan. kan?" Otsu mengeluh pelan. Pekerjaanku banyak sekali. "Otsu! Otsu!" Karena berharap orang itu Takuan.. Tak dapat kukerjakan sendiri.. Sesudah itu. "Bisa-bisa kamu mulai memikirkan lelaki lain. memelihara ulat sutra. "Eh." Kapten memasukkan surat itu ke tangan Otsu. saya mengerti. Otsu tak lagi memandang bentuk bayangannya dan langsung bergegas membuka jendela.

Takezo?" Ketika Takuan menjeling untuk melihat ke atas pohon. kalau aku memang harus mati lebih baik kaupilih cara menghukumku daripada Ebook by Kang Zusi . cocok betul buatku." "Musim semi sudah hampir lewat. Biarawan itu tertawa." "Langsung saja pada soalnya. di mana terdapat kotak derma. Takezo.property of: CROSSFiRE. Sudah terlambat untuk menyesal. Saya bisa ditagih kemudian hari." "Kau mungkin benar. ya? Akan hujan malam ini barangkali. Aku betul-betul bodoh membiarkan kau menangkapku." "Dengar. netcafe.. "Barang ini cukup besar nilainya." kata Otsu. "Biarawan babi kamu! Penipu kotor! Coba berdiri di bawah sini! Ada yang mau kukatakan padamu!" Angin menerpa deras cabang-cabang pohon itu. dan kau tahu itu!" "Kalau begitu. bajingan! Kau menyuruhku percaya padamu. terdengar panggilan dari cabang-cabangnya di atas. Tapi biar bagaimanapun kau tidak melakukannya." "Itu bukan persamaan yang sangat menyanjung. "Kalau aku takut mati. aku bisa dengan mudah melumatkanmu seperti ketimun dengan sebelah kakiku." "Tapi kalau hujan itu lebat. sebagai tanda hormat kepada sang Budha. Tapi kemudian ia berubah pikiran. hai. jadi lebih baik kau meninggalkan jalan pikiran itu. hingga seorang gadis dia minta menggantikannya memotong kepala. "Kenapa kau melakukan lm?" bungkah jerami itu menjerit." Tanpa protes lagi Otsu memasukkan mata uang itu ke dalam obi-nya." "Kalau aku mau melawanmu di gunung itu. dan sang Budha menyerahkannya kepadamu. Cuma akan bikin sulit. apa yang akan terjadi dengan Takezo?" "Hmmm." "Jangan menggeliat terlalu banyak. Suara Takezo terdengar patah-patah dan putus-putus. habis perkara! Kupikir.. akan kukatakan dengan cara lain: aku pandai dan kamu bodoh. Kubiarkan kau menangkapku karena kupikir kau lain dart yang lain. hingga dia menuliskannya. Sebelum memasukkan mata uang itu ke dalamnya. karena kau tahu akan segera mati. Dan demikian bodohnya. Aku berani mengatakan. Surat ini sungguh surat yang lucu! Sesungguhnya dunia kita ini beruntung karena diberkati dengan samurai yang demikian terkemuka dan jujur! Dia demikian berani. sampai-sampai mencoba menyuapmu dengan cinta dan uang sekaligus. Sungguh menjijikkan. itu sangat tak pantas. Simpanlah untuk keberuntunganmu." "Ini. Baru saja kedua orang itu menoleh ke arah pohon kriptomeria. Sudah berabad-abad lamanya tidak hujan. sambil menengadah ke langit. Nak. Kita membutuhkannya untuk membersihkan semua bunga mati. melainkan sangat marah." "Surat itu tidak merisaukan saya. • "Takuan! Takuan!" "Apa? Kamu yang memanggilku. "Kulihat kau masih segar bugar. Bagus. Otsu tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum.. "Kalau dipikir sekali lagi. Kemudian. Inc. termasuk menghilangkan kebosanan orang. lebih baik ini kausimpan." "Kau mengecohku dengan khotbahmu yang muluk-muluk. kenapa pula aku mesti diam saja ketika kau mengikatku?" "Kau melakukan itu karena aku kuat dan kamu lemah!" "Itu bohong. dan ingin menyelidiki. monyet pohon! Itu tak baik buatmu. Kuharap itu bukan sekadar daya palsu." "Saya tak mau. Takuan!" "Aku dengarkan. Ini sudah menjadi persembahan bagi sang Budha. tapi kau berkhianat." "Cuma buat mengisi waktu?" "Itu alasan yang sama baiknya dengan alasan yang lain. "tapi apa yang akan saya lakukan dengan uang ini?" Ia menyerahkan kepingan emas itu kepada Takuan." kata Takuan sambil menimbang-nimbang barang itu dengan tangannya. Lupakan yang sudah terjadi. "Kasihan! Dia begitu putus asa. Otsu." "Jangan khawatir." "Emas ini bukan lagi milik Aoki Tanzaemon. ia berkata. Daun-daun berguguran di sekitar pohon dan mengenai wajah Takuan yang menengadah. Aku pintar membuang uang. Bukan mau campur tangan!" "Apa Bapak mau lihat?" "Kalau kau tidak keberatan. ini tak akan mengganggu. Dan terus terang. Saya tidak keberatan sama sekali. Lebih baik saya berpura-pura tak pernah melihatnya. kalau memang masih ada sisa darahmu." "Diam kamu!" teriak Takezo." kata Takuan tak sabar." Otsu menyerahkan surat itu. "Bapak ini mau campur tangan saja!" "Ingin tahu. Takezo pun menghujankan kutukan-kutukannya. "Angin. cuma bikin kau berdarah. Takezo. Aku tak mengira akan dihina seperti ini. clan sesudah membacanya Takuan pun tertawa dengan riangnya. yang tidak segar-bugar. "Kenapa tidak kaupenggal saja kepalaku." Takuan pun pergi ke depan kuil. "Itulah yang merisaukan saya." Takuan termenung. ia sentuhkan uang itu ke dahinya. jadi sudah waktunya turun hujan lebat.

akhirnya ia akan melunakkan dan meringankan hukuman itu. walau kau mempelajari hakikat hidup ini sudah terlambat sekali. Walau kau seorang biarawan." "Kebetulan itulah satu-satunya kelemahanku." "Saya tak mau!" "Jangan kamu keras kepala lagi. Padahal tidak begitu! Kau merasa yakin bahwa tindak kesetiaanmu itu benar. apa pula ini? Apa teman seperjuanganku sudah berbalik melawanku?" "Kasihan. la merasakan kehangatan aneh pada pohon ini. Orang kampung percaya bahwa kalaupun biarawan itu mengikat Takezo sementara waktu. Kalau Bapak bermaksud membunuh dia. waktu dia mengatakan percaya pada Bapak dan membiarkan Bapak menangkapnya tanpa perlawanan. "Diam kamu!" kata Takuan dengan sikap brutal. atau akan kugantung juga kamu bersama dia di sana. mereka manusia. Saya dengar semuanya. tidak seperti biasanya. Sampai saat ini Otsu terbawa arus pendapat orang banyak." "Lho. saya tak mau. Bagaimana Bapak bisa begitu kejam pada orang yang mempertahankan diri pun tak bisa? Bapak kan orang saleh. seluruh dunia ini tentunya jahat luar biasa. bunuh saja. Tidak betul kalau Bapak menertawakan kesengsaraannya selagi dia terbaring setengah mati di sana." "0. Paling tidak.. "Tapi omong-omong. berpikir pun kamu tak bisa. netcafe." "Itukah kesalahanmu satu-satunya. Takezo. Takezo?" "Babi kamu! Tak akan kulupakan perbuatanmu ini!" "Kau akan segera lupa segalanya. temanku yang terbaik. diam kamu. memang aku mengerti. Kewajibankulah untuk datang menyampaikan kepada perempuan setan tua itu apa yang terjadi dengan Matahachi. ada orang bernama Takuan Soho yang mengatakan hal ini padamu. sungguh saya benci pada Bapak. kenapa tidak kaucoba memikirkan masa lalu sedikit?" "0.. hai. tapi Matahachi temanku." Otsu yang selama itu berdiri terpaku tidak jauh dari situ datang berlarilari dan menyerang Takuan dengan suara nyaring. Dalam batang itu la merasakan darah Takezo beredar. bagaimana pemandangan dari atas. "Perempuan tak tahu apa-apa soal ini. tanpa memiliki gambaran nyata tentang manusianya sendiri.property of: CROSSFiRE. habis perkara! Takezo sudah pasrah untuk mati." "Kalau begitu. pandir! Susahnya. Inc. Otsu. demikian besar hingga sepuluh orang tidak dapat mencakupnya dengan rentangan tangan. ini sudah keterlaluan! Saya dengar. katakan pada mereka bahwa tepat sebelum kau mati. Jauh lebih mengerti daripada kamu!" "Rasanya lebih baik kalau orang-orang kampung itu yang menangkapku. Perhatikan dunia manusia." seru Takuan sambil menyikut Otsu dengan keras. Apakah yang membuat orang banyak itu membencinya seperti iblis dan memburunya seperti binatang? Ebook by Kang Zusi . sekarang! Pergi. Tahan mulutmu." "Itu tidak berperikemanusiaan. hukumlah dia! Bunuh dia! Sekarang. Saya sudah ikut Bapak ke pegunungan dan tinggal di sana tiga hari tiga malam. mengalir turun dari penjaranya yang genting di cabang-cabang pohon di atas itu. terbuai olehnya. Takuan Soho yang akan menghukum Takezo dengan hukuman yang menurut dia cocok. Dan kalau tak ada seorang pun yang dapat la percayai. Takezo? Apa segala yang pernah kau lakukan itu bukan kesalahan? Selagi kau di atas. hingga disambarnya dada Takuan dengan kalut." "Tidak. Kau rupanya salah mengerti. Biarlah dia mati dengan damai!" Begitu berangnya Otsu. Jadi. cobalah pandang dunia luas di sekitarmu. Kemudian. Sekarang Takuan mengaku bahwa kelemahannya adalah menikmati Takezo menderita! Otsu menggigil melihat kebuasan manusia ini. menertawakan orang-orang tolol macam dia. Perbuatan berani semata-mata seakan-akan dapat membuatmu menjadi samurai. Pak! Kalau mendengar Bapak bicara seperti itu. munafik! Aku tidak malu! Ibu Matahachi boleh menyebutku apa saja semaunya. "Tapi saya mesti dikasih kesempatan bicara juga. Apa itu pelanggaran atas tata krama prajurit?" "Bukan itu soalnya. kalau kau sampai di dunia sana clan bersatu dengan nenek moyangmu. katamu kau mengerti juga Jalan Samurai. Batangnya kuno dan besar. tak mau!" pekik Otsu." "Pergi dari sini. kalau Takuan yang ia percayai dengan sepenuh hati saja dapat menjadi orang yang tak berhati. Sebelum kau berubah jadi daging kering. Mereka akan girang sekali mengetahui bahwa kau sudah memperoleh bimbingan yang begitu baik. hingga yang kaudapat untuk keluargamu hanyalah aib. dan sekali lagi belum lama mi. orang sesat yang malang. di mana kau berada? Tertangkap dalam perangkap yang kaupasang sendiri!" Takuan berhenti sebentar. Dan sekarang. Sungguh ia mirip anak seorang samurai! Sungguh ia berani! Ketika Takuan pertama kali mengikatnya. la menempelkan muka dan dadanya ke batang pohon dan mulai meratap. semakin kau merugikan dirimu clan semua orang lain. Takezo dapat menangis. atau mestinya begitu! Takezo benar. clan ubahlah cara berpikirmu yang cuma mementingkan diri sendiri. Otsu melihat kelemahan Takezo. "Pak Takuan. bukan?" "Tak ada hubungannya itu. membiarkan orang banyak yang haus darah itu melakukannya. itulah satu-satunya sebab kenapa aku menerobos rintangan dan datang kemari. Otsu sudah tertelungkup di pohon. tinggalkan aku sendiri. tapi apa yang dia lakukan? Dia mencoba menghasut orang banyak untuk menyiksaku! Membawa berita untuknya tentang anak yang disayanginya. Begitu sadar. Semakin kau yakin. Tak pernah ia membayangkan bahwa Takuan bisa demikian kejam.

Angin bersiul keras lewat cabang-cabang atas yang berayun-ayun lebar ke sana kemari. dan serunya. Diam-diam ia berdoa agar hidup Takezo terselamatkan. Air yang melimpah dari talang menimbulkan selokan-selokan yang dalam di tanah ketika menderas menuruni bukit. "Kita basah kuyup nanti. Serta-merta ia memanggil namanya. "Kalau dia terus kehujanan. tapi tak dapat melihatnya karena badai. "Tolong! Pencuri! Pencuri di bawah lantai! Tangkap!" Otsu merangkak ke luar menuju badai lagi dan mundur kalah. "Saya-Otsu!" "Kenapa masih di luar saja?" Takuan cepat membuka pintu dan memandang Otsu keheranan. langit menangis juga. tapi Otsu menariknya kembali. Punggung dan bahu Otsu naik-turun karena sedu sedannya. Saya akan berterima kasih pada Bapak untuk selama-lamanya. Timbul kecurigaan dalam benaknya. Saya mohon. hujan jadi tak berarti lagi." mohon Otsu mendekati pintu. la membuka mata dan menyemburkan api. Akhirnya dalam ledakan kemarahan ia pun melompat keluar clan tempat tidur. la berjalan berputar-putar mengelilingi pangkal potion dan berkali-kali memandang ke Takezo. karena itu ayo masuk. "Pak Takuan!" pekiknya. clan kelihatannya akan datang badai besar. Inc. "Saya mohon. Pak. Bangunan dapur dan petak pendeta di belakang kuil utama tertutup rapat. sekalipun kimononya yang basah kuyup sudah menempel ke kulitnya dan ia kedinginan sampai ke tulang sumsum. Tapi ia belum menyerah. Pak! 0. la sudah sampai di pintu kamar Takuan dan mulai menggedor-gedornya sekuat tenaga. Ketika pikirannya tertuju kepada Takezo." la pun berlutut di lumpur dan mengangkat kedua tangannya memohon. Ini soal paling penting di dunia buat saya! Pak. "pasti dia mati sebelum pagi. "Saya motion. "Angin makin keras. Sekalipun air sudah mengaliri punggungnya. namun hujan menyiram Takuan juga. Saya datang untuk minta tolong." Kemudian nada ejekan itu hilang dari suaranya.property of: CROSSFiRE. Pak. tapi saya minta. "Aku mau tidur. sungguh Bapak binatang! Jahanam tak berhati dan berdarah dingin!" Untuk sesaat lamanya biarawan itu mendengarkan saja dengan sabar tanpa menjawab. la merangkak di bawah rumah sampai mencapai tempat yang menurut perkiraannya tempat tidur Takuan. Otsu. "Ayolah." "Tolong. tapi Bapak mesti menolongnya! Ayolah. Otsu tidak juga beranjak. Tidak terpikir olehnya kenapa ia mesti menderita semata-mata karena Takezo menderita. Oh. Pak Takuan. Pintu pun mengatup keras. Batu Karang dan Pohon Ebook by Kang Zusi . apa Bapak dengar suara saya? Jawab. la menggosokkan pipinya yang basah oleh air mata ke kulit pohon. "Cepat masuk!" serunya sambil langsung mencengkeram lengan Otsu. netcafe. Saya mohon. Otsu! Kau ini bayi cengeng! Kau menangis." Otsu tidak menjawab. "Tidur sana! Sekarang juga! Badanmu lemah! Dan berada di luar pada cuaca seperti ini sama saja dengan bunuh diri. "Tidak. jangan-jangan ia dianggap salah seorang anggota keluarga Hon'iden. Otaknya dipenuhi gambaran yang baru terbentuk tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki. Dengan tangan masih diacungkan ke depan la tampak seperti seorang penganut Budha yang sedang menjalani latihan ketahanan dengan berdiri di bawah air terjun dingin. Tapi Otsu tetap tidak menyerah. Titik-titik air besar jatuh di leher kimononya dan mengalir menuruni punggung. "Saya sembah Bapak. Titik-titik hujan menimbulkan titik-titik putih saat menghunjam tanah. Takuan berlari ke tempat berteduh di kuil. la tak sanggup pergi. tolong. Bapak. turunkanlah dia. Dan aku nasihati kamu tidur juga. tapi tidak ada jawaban." Suaranya seperti es. atau sekadar orang kampung yang memusuhinya. sebagian terdorong angin yang menggila. turunkan dia dari pohon itu!" "Apa? Tak akan aku melakukannya!" kata Takuan bersikeras. seperti pintu-pintu bangunan suci tempat penyimpanan Budha yang rahasia. "Semua ini salahmu. Masih bergayut erat pada batang pohon." demikian pikirnya putus asa. selamatkan dia!" Takuan diam. bukan untuk mengeringkan badan. Jangan buang-buang air matamu untuk orang yang biar bagaimanapun akan mati! Ayo!" Sambil menutupkan ujung kimononya ke kepala. apa tak ada orang di dunia ini yang dapat menyelamatkan dia?" Ia berlari sekencang-kencangnya. tapi tindakan Otsu itu membuatnya tak bisa tidur. la menarik keluh panjang. "Tentang saya sendiri tak usah dipikirkan. "Siapa?" terdengar suara Takuan dari dalam. la panggili Takuan lagi. Akan saya lakukan apa saja untuk Bapak. membuat dingin tulang punggungnya. Dalam beberapa saat saja hujan deras turun. Matanya terpejam erat." seru Takuan sambil memayungi kepalanya dengan tangan. Pak! Bapak tak bisa membiarkannya mati-tak bisa!" Bunyi air yang menderas hampir menenggelamkan suaranya yang bercampur tangis. Bangunan itu memiliki tepi atap yang panjang.

Tanpa menanti jawaban. "Tentunya sudah tak mungkin dia hidup lagi. Matahari panas melecut bumi dengan garangnya. kecuali apabila dibuka oleh pembantu pendeta. biarawan bajingan?" terdengar jawaban garang." Suara Takuan melemah. PAGI harinya. "Menunduk dia seperti gombal basah. Paling tidak. netcafe. "Oh. Malam tiba. dan titik-titik embun yang berkelipan jatuh. Takuan kembali ke kamar dan tinggal di situ sampai malam. kau butuh lima atau enam hari lagi. Jadi. di bangunan yang sama." "Tapi saya yakin Ibu tahu. Mengerikan sekali hujan kemarin. Ketika akhirnya selesai. Kamar Otsu tidak jauh dari kamarnya. Bagaimana mungkin dia mengawini seseorang. tidak! Tidak secepat itu! Orang mesti hati-hati menghadapi hal-hal seperti itu. Titiktitik keringat muncul di atas rambutnya dan menyatu menjadi alur-alur keringat yang mengalir langsung menuruni hidungnya yang lurus. dan ia memandang ke langit. Ibu. tentu saja Otsu!" "Otsu? Kenapa Ibu sebut dia menantu Ibu? Dia belum masuk keluarga Hon'iden. "Takezo!" panggilnya. la menendang-nendang dan menjerit-jerit. bulan bersinar terang. dia masih hidup?" kata Osugi tak percaya. sebagai istri Matahachi. bertopang tongkat kayu arbei. untuk ukuran orang yang sudah mau mati." kata Takuan sendiri. Di sana ia menatap ke atas lama-lama. seperti lubang yang dibuat dengan rapi di langit. ya?" "Ya. Pendeta melancarkan cacian keras kepadanya. Matanya yang seperti jarum menciut dalam cahaya matahari yang menyilaukan. Mataharilah yang bisa membunuh." katanya dengan harapan baru." "O. Hanya sedikit orang kampung yang berjalan tanpa mengenakan caping pelindung." Osugi tersenyum licik. Mungkin dia tak punya tenaga lagi buat menjawab. "Takuan. Inc. "Takezo! Takezo!" "Apa maumu. Ketika orang menemukan Otsu dalam keadaan setengah mati di tengah hujan malam sebelumnya. "Keras juga suaramu. ya?" "Lupakan omongan tetek-bengek ini. tapi aku punya rencana memasukkannya segera. mengenakan bakiak. mestinya tadi aku menyangka begitu. tak mungkin." "O ya." gerutu perempuan tua itu. gelandangan! Ini tak ada hubungannya denganmu! Katakan saja." panggilnya. barangkali dia akan terbang ke bawah dan berusaha menggigitku. Tapi omong-omong.property of: CROSSFiRE. Tolonglah Anda panggilkan. bagaimana mungkin saya memanggilnya?" "Panggil dia. tapi kali itu la tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya." "Terima kasih. saya tak kenal namanya. karena sudah tak sabar ingin mengetahui nasib korbannya. la mengangkat tangan untuk melindungi matanya clan sesaat ia pun lega sedikit. "Saya pikir itu artinya dia masih bernapas. di mana Otsu!" "Rasanya masih di tempat tidur. seakan-akan kesurupan. Takuan meletakkan buku yang sedang dibacanya. biarawan anjing kampung kotor! Akan kutunjukkan apa yang aku bisa. bagaimana perutmu? Cukup kosong. orang terpaksa menyeretnya masuk dan memaksanya minum sedikit teh." "Menantu Ibu? Saya tak pernah bertemu dengannya." "Baiklah. Yakin kau betul-betul bukan seekor ikan atau sejenis monster laut? Kalau begini caranya." "Sukar dibayangkan." "Saya belum lihat burung gagak mematuk mukanya. "Siapa pula yang Ibu bicarakan ini?" "Lho." "Maksud Anda. "Indah sekali bulan itu! Kau beruntung dapat melihatnya dari tempat yang begitu menguntungkan. setengah kepada dirinya. Takuan orang yang selalu waspada." la pun menjulurkan lehernya dan mengintip ke dalam ruangan. kataku!" ulang Osugi tak sabaran. ia berjalan tertatih-tatih ke kampung. dan seketika ia menolehkan mukanya yang keriput itu ke pohon kriptomeria tua. Kalau kupotong kepalamu sekarang juga. "apa Takezo tetap hidup kena badai itu?" Biarawan itu muncul di beranda. angin clan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak. tapi ia duduk bisu bersandar di dinding. dan keluar ke halaman. potong kepalaku. kalau orang itu tidak ada?" Osugi jadi lebih naik darah lagi. Jauh di atas kepalanya satu cabang bergoyang. Bertentangan sekali dengan malam sebelumnya. Pagi harinya ia demam hebat. Beberapa kali pembantu membawakan obat atau mangkuk tanah berisi bubur betas kental. kan?" "Belum. Takuan. Orang terpelajar seperti Anda pasti lebih tahu daripada saya tentang hal-hal seperti itu. dan tiba di pintu Takuan dalam keadaan haus dan kehabisan napas. ia sudah balik kanan dan berjalan menuju bawah pohon. Apa kamu tidak harus mengawasinya kalau siang?" tanyanya mengandung tuduhan. Pintunya tertutup juga sepanjang hari. la tidak memperhatikannya. Osugi mendaki bukit menuju kuil. "Saya tak melihat menantu saya di manamana. hampir tidak dapat mengangkat kepala untuk makan buburnya. pandangilah aku. jadi mestinya dia capek juga slang hari. "Aku memang menyuruhnya mengawasi Takezo malam hari. "Dengar." kata Takuan tersenyum. "Kasihan. Tubuh manusia mampu menahan banyak lecutan. habis perkara. Ketika semua orang sedang tidur nyenyak. tidak terlalu sukar satu-dua malam menahan hujan yang terderas pun. kalau aku mau!" Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya mulailah ia menggoyangkan Ebook by Kang Zusi . "Bisa bikin mati.

Kalau kau mencoba. netcafe. Kau cuma melelahkan dirimu. Takuan. Tubuhmu terlalu kuat. Kalau kalah. Tapi untunglah jarang manusia mesti bergulat dengan macan." Suara Takuan kini ganti jadi sedikit bernada petuah. hingga hampir patah cabang yang menjadi gantungannya. Apa kau tak bisa lihat perbedaan antara kau dan aku?" "Ya. aku akan tinggal di bawah sini. kalau aku mencoba menangkapmu dengan kekuatan. Tingkah lakumu sampai sekarang ini tidak lebih dari keberanian binatang. Kau dilahirkan dengan kekuatan fisik dan keuletan. Kau penipu dan pengecut!" "0. terbuat dari apakah kau ini! Orang zaman sekarang menyangka bahwa mampu menahan marah adalah tanda kebijaksanaan dan kepribadian. Susahnya. kemudian memberikan nasihat persahabatan. "Pikirkan satu malam lagi. Takezo. Itu bukan jenis keberanian yang menciptakan seorang samurai. Jangan menahan-nahan diri. "Itulah yang kumaksud. apalagi membuat penyok alam semesta ini. Kau berhasil menguasai beberapa ciri kurang baik dari Jalan Samurai." Takezo memperdengarkan erangan keras. tak bakalan kau bisa mematahkan satu pun cabang pohon ini. tidak lebih baik daripada babi hutan atau serigala. Teruskan! Rasakan kekuatanmu sepenuhpenuhnya. Tapi coba lihat. kalau kukatakan kau ini payah. "Sayang. Takezo! Makin gila kamu. "Aku akan langsung ke lehermu!" Takezo berjuang terus. Keberanian sejati mengenal rasa takut. Mereka memiliki lebih banyak semangat daripada orang-orang tua. Dan mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyerahkannya. tapi kena diakali dan dibikin bungkam. "Kurasa kekuatan itu lebih baik digunakan bekerja untuk kebaikan negeri. Dia tahu bagaimana takut pada apa yang harus ditakuti. Namun Takuan tetap tenang. Inc. "Dengar. Takuan bangkit pelan-pelan dan berhati-hati. sedangkan kau terbaring di atas situ tanpa daya. kau lebih mirip binatang. Tapi maaf saja. Sesudah itu. belum lagi orangorang biasa yang sederhana. atau agak berpura-pura bodoh. Apa kau yakin bisa mengerjakannya tanpa membunuh dirimu sendiri. kenyataannya kamu itu lemah. kau tidak bakal berhasil. Kulit kayu dan dedaunan menghujani orang yang di bawah. tapi kau tidak berusaha mencapai pengetahuan atau kebajikan. kalah sajalah. dan mereka harus menunjukkannya. tapi menurut pendapatku mereka itu bodoh. Ini pertarungan tak adil. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan. Takezo! Memang baik marah seperti kau sekarang ini." Tetap tak ada jawaban. Orang bicara tentang bagaimana mencampurkan Jalan Pengetahuan dengan Jalan Samurai. Takezo." "Pada akhirnya tak ada bedanya. Takezo! Seluruh pohon bergoyang. Suka atau tidak. sayang sekali! Biarpun kau dilahirkan sebagai manusia. sekarang aku duduk di batu karang ini. akan kupotong kepalamu seperti kauminta. menanti. tunggu! Kalau aku memang mesti mengunyah tali ini dengan gigi telanjang. Kau mesti mencoba berbuat sesuatu untuk orang lain. Kegelapan itu pun diam. di mana kau sekarang!" "Tak ada yang perlu kumalukan. Ia sadar bahwa biarawan itu benar." Tak ada petunjuk bahwa Takezo masih mendengarkan." ancam Takezo. tanpa pernah menjadi manusia sebenarnya! Sungguh sia-sia!" "Kausebut dirimu sendiri manusia?" Takezo meludah.property of: CROSSFiRE. "Itulah yang dinamakan semangat. makin baik!" "Tunggu. Takezo. tapi kau kurang pengetahuan dan kebijaksanaan. aku akan mengunyahnya supaya aku dapat menangkapmu dan mempreteli anggota tubuhmu!" "Itu janji atau ancaman? Kalau menurutmu kau memang dapat melakukannya. Biarawan itu dengan tenang mengusap bahunya. "Kenapa kau tidak menyerah saja. Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah daripada manusia. Beberapa waktu kemudian. orang barbar! Kau percaya betul dengan kekuatan kasarmu sendiri. sediam batu karang yang diduduki Takuan. yang sopan santun. Takuan memandang terus sejenak. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan." la meninggalkan tempat itu dengan langkahlangkah panjang penuh pikiran. Aku benci melihat orang muda yang menahan diri." "Sebentar lagi. Hanya ada satu jalan. tunjukkan bahwa kau manusia sejati. Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. Sungguh menyedihkan bahwa seorang pemuda tampan seperti kau mesti menemui ajal di sini. Takezo. Kemarahan karena tetek-bengek emosional yang tak ada artinya adalah untuk perempuan. Mati dengan penuh kemuliaan. dan mengira kau tak ada tandingannya di dunia ini. Ebook by Kang Zusi . Kemarahan lelaki sejati adalah ungkapan kemarahan moral. karena dia lebih pandai." Pohon itu diam. biarpun sudah sedikit telat untuk mulai sekarang. dan apa gunanya untukmu? Biar kau menggeliatgeliat seperti apa pun. sebelum tali itu putus?" "Diam!" pekik Takezo parau. padahal kalau dicampurkan dengan balk keduanya itu bukan dua-keduanya itu satu. tapi tali besar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. bukan lelaki. mengempaskan bobot tubuhnya ke atas ke bawah. kepala menunduk. ia pun menengadah lagi. badannya sehebat-hebatnya. Tapi kau curang. Kemarahanmu itu tidak lebih dari kedengkian pribadi. dan ketika selesai. suara Takezo mendering keras clan terasa mendesak. Belum lagi dua puluh langkah. kau akan punya kesempatan menggerakkan dewa-dewa atau bahkan alam semesta. tidak kulihat tanah bergetar. "Kau memang betul-betul kuat. jenis keberanian yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Kau bukannya kena hajar. Takezo. sungguh gila aku. Kemarahannya sudah lewat. "Itu sama saja dengan yang kaunamakan keberanianmu itu. tunjukkan pada kami.

Mengikuti nasihat biarawan itu." "Mari kita lekas pergi dari sini." Tubuhnya mengejang-ngejang karena sedu sedan. Aku mau pergi.. "Otsu?" "Ya. "O-o-h-h. "Aku mau jadi orang yang lebih baik. Takezo! Kita dapat saling menolong!" Otsu sudah mengenakan pakaian perjalanan. tapi akibatnya. pelan-pelan. Wajah itu bicara.. Aku sadar sekarang. kemudian ucapnya. la lupakan kehidupan dan kematian. Apa kau mau mendengar lebih banyak lagi? Apa kau akhirnya mulai berpikir?" "Takuan! Selamatkan aku!" Teriakan minta tolong Takezo itu keras dan sedih. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. dan semua miliknya sudah bergantung pada bahunya. "Apa maumu sekarang?" "Kembalilah. Kalau ada yang menemukan kita di sini." Otsu berjalan terpincang-pincang." Otsu menghunus belati kecilnya. dalam sebuah kantong kain kecil.. Hadapilah maut dengan berani dan tenang. betapa penting dan istimewanya lahir sebagai manusia. Itulah hidup. aku tak ingin lagi memikirkan itu. Inc. matilah dengan layak. la pun dapat mendengar potongan-potongan kulit pohon berguguran ke tanah. Tentu saja aku kasihan padamu. Cabang pohon itu mulai bergetar. berputar di udara clan jatuh ke tanah. Takuan!" teriak Takezo. tolong!" Biarawan itu menggelengkan kepala. tapi aku tak dapat melepaskan tali itu.. "Ini aku!" katanya dengan keluguan kanakkanak. Otsu mencoba mendukung seluruh bobot Takezo. tapi aku mengerti apa artinya hidup. namun ia menjejakkan kaki di tanah mantap-mantap. entah siapa. Aku akan menolongmu. Sejenak kemudian ia merasa ada orang di pangkal pohon." "Akhirnya kau sadar. Tubuh Takezo hampir tak bisa dibedakan dari dahan tempatnya terikat. "Takuan. menggeliat kesakitan. "Cepat putuskan tali! Apa lagi yang kautunggu? Potong!" "Takkan makan waktu lama. dan serunya. hidupku hanya tinggal terikat pada pohon ini! Tak dapat aku menghapuskan apa-apa yang telah kulakukan. "Tunggu!" Takuan menoleh. Dan pada saat aku sadar. lalu lepas terpelanting." la berhenti sedetik-dua. dingin sekali. mencoba lagi. Terasa ia tidak begitu cakap. Kau tak bisa mengulangnya. dan di bawah sejuta bintang kecil ia terbaring diam. oh. Aku hampir mati... Kalau aku tinggal di sini. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini." "Mm. dan melakukan semuanya baik-baik. dan Takezo tidak berteriak lagi. mendekap batang pohon yang lebar itu dan berusaha setengah mati naik ke dahan terendah. Beberapa menit berlalu sebelum rasa berdenyut pada kaki-tangan Takezo mereda dan ia dapat melenturkan ototototnya. Hanya matanya yang hidup dan tampak bersemangat. karena bukan aku yang mengikatkannya. Segalanya! Kau tak bisa mengembalikan kepalamu di tempatnya sesudah musuh memenggalnya. Takezo berdiri. Untuk pertama kali dalam hidupmu kau bicara sebagai manusia.. Begitulah adanya." "Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?" "Ya. Takezo merangkulnya clan membantunya berdiri. ketika Takezo tergelincir. Itu hukum alam. Kau sendirilah yang mengikatkannya. Aku punya alasan sendiri. dan ia yakin bahwa tangan-tangan itu jauh lebih terkelupas daripada pohonnya.. Takezo dapat mendengarkan bagaimana si pemanjat itu tergelincir hampir di tiap usahanya untuk naik.property of: CROSSFiRE. Takezo. Takezo. Takezo. Kepalanya pusing karena jatuh dari ketinggian sepuluh meter. dengan wajah damai!" Gemeratak sandal Takuan menghilang di kejauhan. Suara terengah-engah membisikkan namanya. tidak apa-apa." erangnya. aku. "Ada yang patah?" "Entah. dan dalam sekejap mata ia sudah meretas ikatan tahanan itu. Segala yang terjadi adalah untuk selamanya. Otsu merangkak." "Aku tak mau mati.. Angin malam berdesir melintas pohon. Tetapi si pemanjat meneruskan usahanya dengan tabah... mencoba berkali-kali lagi menempel pada pohon. jadi barangkali lukamu tidak seberapa. Aku. celaka nanti. Kedua tubuh itu saling bergayutan. netcafe. seperti dua ekor Ebook by Kang Zusi . Aku.. diam-diam." "Kau sendiri bagaimana? Tidak apa-apa?" "Ya. "Aku hidup! Aku betulbetul hidup!" "Tentu saja kau hidup!" "Itu bukan 'tentu saja'. Dengan susah payah Takezo membuka mata dan ternyata ia berhadapan dengan kerangka... Takuan telah pergi.. Ucapkan doa dan berharaplah ada orang yang mau mendengarkan. dan Takezo mengikutinya. Orang itu. tapi rasanya aku masih bisa jalan. dan badannya lemah dan kaku. Itu di luar kekuasaanku. "Aku mau hidup. aku. aku mohon! Tolonglah aku. seakan-akan seluruh pohon itu menangis.. sampai akhirnya dahan yang pertama dapat dicapai. ia menutup mata yang baru saja mengalami kesadaran luar biasa dan melupakan segalanya." "Kita jatuh menimpa cabang-cabang itu. la merasa dingin. Otsu pun terperosok bersama. Dan demi nenek moyangmu. ayo kita lari! Aku dengar kau memekik ingin sekali hidup. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan nasihat padamu. "Maaf. Kemudian sosok itu naik dengan agak mudah ke tempat Takezo terbaring dalam keadaan kehabisan tenaga.

Nenek belum tahu? Takezo lari!" "Lari!" Dan kipas pun jatuh ke api. Otsu menggenggam tangan Takezo. aku akan ikut." Akibat berita itu sungguh penuh warna. Begitu ia sadar." "Kau yakin betul?" "Ya." "Di mana kita ini?" "Di puncak Celah Nakayama. bersama Otsu. dan sejumlah petani penyewa. Dia hilang juga. netcafe. Hadiah kehidupan Otsu adalah kue bakpao yang dipadati kacang manis. sumpah! Semua orang bilang begitu. Awan yang kemerah-merahan pagi itu membuat pipi mereka berwarna merah muda. diam terpukau. kau ingat apa kata Nenek kalau orang bohong?" "Ini betul. aku lupa. Dan di kuil orang mencari Otsu. Kutunggu kau di sana. Otsu mengangkat kepala untuk memperhatikannya. terpincang-pincang dalam diam. "Kalau hari terang. Segera wajah itu seolah-olah kehilangan darah. Mata Takezo melebar." "Hinagura? Kenapa?" "Di sana kakak perempuanku dikurung. "Nek! Nenek!" Sambil menghapus hidung dengan punggung tangan. Talinya putus." Dengan jawaban anggukan kecil. Kita hampir sampai perbatasan provinsi. la melongok ke dapur dan katanya ribut. pergilah! Tapi kalau aku tahu kau akan meninggalkan aku. "Perbatasan! Betul. ketika Otsu berteriak. "Kalau memang itu yang kaurasakan. Inc. "Heita!" "Ya?" "Lari secepat-cepatnya. sedemikian rupa hingga Heita mengerut ketakutan. Takezo berangkat tanpa banyak berkatakata lagi. kepala Takezo pun menjadi pusing." pikirnya berulang-ulang." kata Otsu.property of: CROSSFiRE. sejumlah orang kampung sudah datang. Sebelum Heita sampai di gerbang. Muka Osugi memutih. Terasa berjam-jam lamanya." Mendengar kata makanan. Nek. Jemput ayahmu. lalu pergilah ke pinggir kali dan panggil Paman Gon! Cepat!" Suara Osugi menggeletar. keadaan jadi menyiksa.. "Aku hidup. Mereka berjalan sedapat-dapatnya. aku akan pergi ke Himeji dan menanti. "akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian. Takezo tiba-tiba menyadari bahwa perutnya yang kisut kejang kesakitan. dan rasa laparnya berganti menjadi tenang karena kenyang. sehat walafiat. sebelum akhirnya Otsu dapat membuka kantongnya dan mengeluarkaan makanan. la bergegas menyusuri pegunungan yang membujur dari celah itu ke pegunungan di kejauhan. "Kau pasti akan datang. tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!" "Tapi aku tak bisa!" "Ingatlah"-Otsu mencengkeram tangan Takezo erat-erat-"suka atau tidak. sambil berseru. Paman Gon. kalau ada waktu." mohonnya. la bersumpah sejak saat itu akan hidup secara berbeda sama sekali. Kediaman yang lama kemudian baru terpecahkan. penuh bayang-bayang nyala kipasnya yang terbakar itu. Semua orang lari ke sana kernari berteriakteriak. serangga rapuh terluka sedang berjalan di udara dingin musim gugur. kan?" "Tentu." "Baiklah. "Kau tentunya kelaparan." Otsu tersenyum lemah. di pinggiran Himeji. Kalau kau berusaha menyelamatkan Ogin. Ebook by Kang Zusi ." "Apa lagi yang dapat kulakukan? Membiarkan dia dl benteng sana?" Dengan pandangan menghunjam. "Takezo. Takezo." Otsu kelihatan khawatir. biar sampai seratus atau seribu hari. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. Nek. kalau sudah bertekad. Mereka ramai berbicara sendiri." kata Takezo langsung setuju. Ketika Takezo bisa memandang wajah Otsu dengan lebih jelas. Di antara mereka terdapat menantu lelaki Osugi." "Heita. sanak keluarga yang lain. hampir tidak memperhatikan cucunya. "Apa katamu?" "Pagi ini dia tak ada di pohon. Sementara itu di kampung." Otsu memandang wajah Takezo dengan tajam. sampai tubuh Takezo menyatu dengan pemandangan. "Mengagumkan memang apa yang dapat dilakukan orang. Aku harus mengeluarkannya dari sana. Kukira aku terpaksa mengucapkan selamat tinggal. Ketika rasa manis kue itu menurun lembut dalam kerongkongannya. "Apa sih ribut-ribut ini?" "Nek. "Nek. cucu Osugi berlari-lari naik ke rumah besar Hon'iden." "Apa betul sudah begitu jauh?" "Ya. apa Nenek sudah dengar? Ada kejadian hebat!" Osugi yang sedang berdiri di depan tungku dan menghidupkan api dengan kipas. Jari-jari yang memegang kue itu bergetar. Aku harus pergi ke Hinagura. Kau tidak makan apa-apa berhari-hari. Tapi. tak akan aku meninggalkan Miyamoto.. yang berubah warna dari merah ke biru dan lembayung. terasa olehnya seperti mimpi bahwa ia kini duduk di sini. kita harus sangat hati-hati. "Lihat! Sudah mulai terang di arah Harima." "Aku menunggu di Jembatan Hanada.

dan menoleh ke sekitar. mereka beriring-iring menuju Celah Nakayama. Otsu "setan". "Kami berdua sependapat mengenai segala sesuatu yang sudah kusumpahkan tadi. tapi itu akan makan waktu. Di situ ia ikatkan tall sandal baik-baik pada pergelangan kakinya. apa ada alasan kenapa kami berdua. "Kalau perempuan tua itu pergi. la melukiskan Takezo sebagai seorang "penjahat". Paman Gon an aku sudah cukup tua untuk pensiun. Inc. Mereka berbaris di depannya. biarpun misalnya aku terpaksa mengikat lehernya clan menyeretnya pulang." Osugi mengangguk setuju. aku akan mengejar dan menghukum perempuan kurang ajar yang sudah mencoreng nama kita dengan lumpur. darahnya pun mendidih. Otsu lari juga. Perempuan tua yang keras kepala itu memang bermaksud bertindak. "nama nenek moyang kami akan ternoda. Osugi maju ke hadapan pejabat itu dan bertanya. Baru sesudah itu dia akan mencari seorang istri yang seratus kali lebih baik dari Otsu dan menghapuskan aib ini selamanya. "Kalau tidak kami selesaikan soal ini sekarang. yaitu saya sendiri dan Paman Gon. Aku tak ingin mendengar ada di antara kalian yang menelantarkan ulat sutra atau membiarkan rumput tumbuh liar di ladang. ia selipkan pedang pendek itu dalam obi-nya. Mereka belum dapat melakukan sesuatu. tapi ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. dan mengaturnya supaya dia mendapat hukuman setimpal." Osugi segera bertindak. "Nek!" seru seseorang akhirnya. Aku juga mengucapkan dua sumpah. Dan kami tak akan pernah bisa menegakkan kepala." Ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorai. "Apa Nenek belum dengar?" "Aku akan datang segera ke sana. "Akan kuburu sendiri perempuan jalang yang tak kenal malu itu. "Satu. Sesudah menyampaikan doa permohonan dengan diam. la berkata. dan pergilah ia ke pintu gerbang. Mereka butuh petunjuk." terdengar jawabannya. biarpun menghabiskan waktu dua-tiga tahun tanpa melakukan apa-apa. Ketika aku mengambil pedang pendek ini. netcafe. "Sekarang ini. dan dia juga sudah bertekad untuk melaksanakan sumpah itu. la kenakan pakaian yang cocok untuk memburu orang. "Jadi. Kemudian kelihatannya ia hendak mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengharukan. Karena itu mereka berdiri saja di sana dengan gelisah. memandang penuh perhatian kepada mulutnya yang berbibir tipis clan giginya yang besar merongos. kita harus pergi juga. la sudah berjalan cepat di jalan. Selama aku pergi. seorang lelaki mengucapkan sesuatu yang kedengaran seperti erangan. "Mereka sudah berhasil lolos!" seru seseorang. ia mengangkat kepala. Barangkali la dapat melakukan penyelidikan di Himeji dan memintakan izin khusus untuk menyeberang perbatasan bagi mereka. salah satu pusaka Hon'iden yang paling berharga. aku berlutut di depan tanda peringatan nenek moyang kita dan mengucapkan selamat berpisah secara resmi pada mereka. menantuku akan mengambil alih jabatanku sebagai kepala keluarga. dan akan kulaksanakan. menarik lacinya dan mengeluarkan senjata simpanannya. memandang kosong ke arah rumah. Bersenjatakan tongkat. dan Takuan "gila". Ebook by Kang Zusi . tapi ia berusaha mengendalikan dirinya dengan berlutut di depan altar keluarga. Hukum adalah hukum. Selama itu kalian harus berjanji untuk bekerja keras seperti biasanya." lanjutnya." Rahangnya mengatup. "Kalian semua tenang saja." ucapnya dengan nada pendek-pendek." Semua sanak keluarga dan penyewa pun berdiri dan serentak mengikuti bunda mereka yang gagah berani itu. aku harus memastikan-bahkan sampai mati-apakah anakku Matahachi masih hidup. Tapi akhirnya ia hanya menyuruh para pengikutnya berkumpul dengan singkat. akan kubawa dia pulang untuk melanjutkan nama keluarga. Kekecewaan mereka ditambah lagi dengan penjelasan seorang pejabat perbatasan bahwa rombongan sebesar itu tidak bisa lewat. biarpun terpaksa menjelajahi negeri ini. "Semuanya akan beres. ya?" "Dan Takuan juga tidak kelihatan lagi!" "Pasti mereka kerja sama. Tenang ia membuka tutup peti pedang. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang kampung. Yang kedua. supaya orang kampung sekali lagi mengakui keluarga kita sebagai keluarga yang mulia dan terhormat. Osugi menatap tajam menantunya." Pejabat itu mengatakan dapat memahami keadaan sulit tersebut. Paman Gon maju ke depan clan memohon dengan sangat kepada pejabat itu. "Tak usah kalian bingung. dan tunggu. barulah akhirnya seorang dari antara orang banyak itu memperdengarkan suaranya. Dia punya kewajiban tidak hanya kepadaku dan kepada mereka yang sudah pergi. tapi sudah terlambat. tanpa berhenti untuk istirahat. Keheningan penuh pesona yang menyambutnya ketika ia mendekati gerbang jelas menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah tahu untuk apa ia berpakaian demikian." "Apa yang dilakukan perempuan tua itu nanti? Kehormatan keluarganya jadi taruhan!" Menantu Osugi dan Paman Gon yang membawa lembing turun-temurun dari nenek moyang. Bahkan keluarga Hon'iden bisa terpaksa meninggalkan tanahnya. Ketika ia mengetahui bahwa berita mengerikan itu benar. dan sambil membuat tombak bambu dalam perjalanan." jelasnya. Sejak sebelum berangkat pun aku sudah membayangkan ini akan terjadi. membuka mata. Ketika mereka semua sudah diam. Mereka sampai di sana tepat sebelum tengah hari. tapi juga kepada kalian. Aku bersumpah melakukan ini. dan ia lebih dari siap untuk membalas dendam atas penghinaan terhadap keluarganya. Sesudah berunding dengan sanak saudara dan petani penyewa. menanti Osugi keluar memberikan perintah-perintahnya. "Kalau begitu.property of: CROSSFiRE. Orang banyak itu pun menggelegak marahnya. Dan kalau dia masih hidup. tidak bisa jalan terus?" "Sampai lima orang bisa diizinkan.

Mereka semua membayangkan Takezo sebagai orang gila yang baru mencium bau darah saja sudah menyerang dan membunuh. sedangkan Osugi sepuluh tahun lebih tua. pasti. Tadinya mereka mengira masih mempunyai waktu beberapa jam lagi. Kita terpaksa tidur di tikar bau di penginapan kusir kuda beban di Shingu. betul! Aku ingat. mencari sandal dan topi. menuju jalan Harima. sampai gelembung-gelembung air tidak naik lagi ke permukaan. Rambutnya tak lebih dari yang pernah kukenal waktu dia bayi." kata Gonroku sambil berjalan di belakang Osugi seperti anjing yang sedang dihukum. "Sebentar. Aku harus berhenti nanti. "Kalau Ibu jatuh sakit. Ebook by Kang Zusi . "Perempuan tua itu betul-betul berani. Seorang lelaki lain mencorongkan tangannya dan berseru. "Jaga diri baik-baik. Namanya Warung Teh Mikazuki." Ketika Osugi sudah tak dapat lagi mendengar suara orang-orang itu. Mereka menyerukan salam perpisahan dan memandangi pasangan tua itu memulai perjalanannya ke timur. tapi itu tidak bikin aku takut! Dia itu cuma anak bandel." katanya." "Kita butuh tidur justru sekarang ini. Nama keluarganya Fuchikawa. Paman Gon hidup dengan berburu. Orang-orang itu rupanya bimbang untuk membiarkan mereka berdua pergi sendiri. "Aku tidak butuh bantuan apa-apa. dengan sendirinya ia sangat prihatin dan bingung oleh peristiwa-peristiwa yang baru terjadi itu. meskipun tidak tidur sama sekali barangkali lebih balk. Osugi berkata. la memang gampang ditakut-takuti Osugi. Nek. Sekarang sudah kusampaikan pada kalian apa yang akan kulakukan. ya?" kata seseorang. Inc. maaf. tapi di masa mudanya ia samurai. Tak seorang pun mencoba menghentikannya lagi. "Biar bagaimana kita akan mati sebelum orang orang muda itu." Ketika sampai di warung teh itu." kata Gonroku sambil bangkit mencekau topi jerami yang barusan dibelinya. Bau obat-obatan memenuhi udara. Aku masih dapat mengakali seorang dua orang musuh. Mereka berangkat menuruni bukit yang cukup terjal. "Nek. karena terkejut melihat sesosok tubuh yang terbaring di lantai. Hari pertama mengejar kehormatan keluarga yang hilang. sekilas ia memandang lewat jendela samping ke bagian dalam warung teh yang samar-samar itu." "Ada apa?" "Aku mau mengisi tabung bambu ini dengan air minum" Gonroku berjalan ke belakang rumah dan mencelupkan tabungnya ke kali yang mengalir jernih.dan aku tak akan mau." Orang ketiga berseru khawatir. Ha! Semua orang berpendapat Takezo sangat kuat. Tak ada lagi yang mesti kalian lakukan sekarang kecuali pulang." jawab Paman Gon yakin. "Takano terlalu jauh kalau dicapai malam hari. Tiba-tiba ia pun terhenti. Gonroku tak dapat melihat wajah orang itu. Aku tak sebanding dengan dia dalam kekuatan tubuh. karena hari-hari memang bertambah panjang bersama datangnya musim panas berarti lebih banyak waktu untuk melakukan pencarian. tapi aku belum kehilangan akalku. Mereka minum sedikit teh dan beristirahat sebentar. seperti anak-anak. tapi ia lebih tahu cara mengendalikan perempuan itu daripada kebanyakan orang lain. ia menoleh pada Paman Gon. kirim suruhan ke kampung. menuruni sisi gunung. heranlah mereka melihat matahari sudah mulai terbenam. Jadi." "Ada warung teh kira-kira setengah jalan turun bukit ini. pulanglah clan urus semuanya sampai kami kembali." nasihat Gon. Sebagai paman Matahachi. Sampai sekarang pun kulitnya masih merah sehat dan rambutnya sehitam biasanya. “Apa?" "Nenek sempat memikirkan pakaian perjalanan. Paman Gon juga belum pikun. tapi aku sendiri cuma memakai pakaian sehari-hari. namanya sendiri. "Pejabat itu mengatakan lima orang bisa lewat." "Nenek benar sekali. tapi dapat melihat rambut hitam yang terburai ke sana kemari di atas bantal. Dalam perjalanan kembali ke jalan di depan. karena jelas kedua orang itu bukan tandingan Takezo apabila mereka menemukannya." "Ada apa?" "Kelihatannya ada orang sakit di dalam. "Dan aku akan melaksanakannya." Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya keras-keras." katanya lagi sambil menudingkan jari telunjuknya ke hidung. seperti orang lain juga. Aku tak pernah dibantu." Gonroku lekas-lekas minta maaf. Menurut ceritanya sendiri." "Ya. Gon adalah singkatan Gonroku. "Apa tidak lebih baik kalau Ibu membawa tiga pemuda?" saran seseorang." la mengusir mereka dan pergi menuju perbatasan. netcafe. Ayo kita jalan. "Paman Gon." "Maaf.property of: CROSSFiRE. ia pernah terlibat dalam banyak pertempuran berdarah. "Tapi tunggu sebentar. lekas!" seru Osugi tak sabaran. "Jangan sampai jatuh. kan? Aku yakin mereka menjual barang yang kubutuhkan. Ketika mengeluarkan uang. Mengerti?" Paman Gon hampir lima puluh tahun umurnya. "Apa itu luar biasa? Perhatianmu ini gampang teralih. Jalan yang sehari-harinya dilalui kuda-kuda beban dari tambang perak itu penuh dengan lubang. berselimut tikar jerami.

jangan! Anda mesti menjemput dokter. "Oh. jangan berani-berani kau mengajariku! Jalan ini bisa kulalui dengan mata tertutup. dan lagi kakinya kaki gadis. terima kasih." "O. "Tunggu. "Tak ada di sini. Tak tahu ia sudah berapa lama terbaring di kamar belakang itu. la mengangkat tangan clan menuding." Keningnya mengerut. tapi sesudah Takezo meninggalkannya ia hanya dapat berjalan sedikit sebelum akhirnya mulai menyerah pada rasa sakit clan lelah." Paman Gon sementara itu sudah berbalik." "Jangan. Tapi tidak juga dia membaik. Tak lama kemudian mereka berdua terengah-engah kehabisan napas. "Lihat di sana!" serunya. tapi jangan potong kepalanya sebelum aku sempat kasih dia sedikit pendapatku. Gadis yang sakit itu lebih penting daripada tasbih saya. Katanya dia datang dari Miyamoto. yang sudah berdiri di luar. Kelihatannya cukup gawat." "O." kata Paman Gon. Tak seorang pun bicara. Otsu. Osugi pun segera menyusul. Sebaliknya." Kening Osugi sekarang ikut berkerut. dia tak jauh mendahului kita. ia sudah benar-benar tidak tahan." "Apa istri Anda sakit?" "O. Kejar. "Aku tidak lihat apa-apa. Inc. Biar kami sendiri kembali mengambilnya. sekitar enam belas. Dan ke mana Anda akan pergi?" "Tatsuno. tidak. Badannya panas sekali karena demam. Pasti itu Otsu! Otsu sebetulnya belum sembuh benar dari demam yang menyerangnya pada malam ia diseret masuk dari tengah badai itu. Aku ingat sekarang-tadi kutaruh di atas bangku. "Apa dia lari?" "Tentu saja lari! Kita sudah kasih dia kesempatan lari. dan sangat ramping?" "Ya. Tapi pandangan kecewa tergambar pada wajahnya. menyiramkan air yang sudah diciduk tadi lewat lubang sempit ke muka perempuan tua itu dan berlari kencang menuruni bukit seperti burung di tengah angin. Dia sakit. Osugi berlari ke luar dan memaki-maki. karena banyak ribut itu. air." kata tukang warung seraya membalikkan kudanya. lalu mengaduk bara dan memasukkan sedikit kayu untuk sedikit menerangi ruangan. netcafe. kecuali di sana." keluh perempuan tua itu dengan suara yang menurutnya hanya bisikan. dan berkali-kali meminta air dalam igauannya. celaka. Ketika sampai di warung teh itu. Biarpun naik kuda." Osugi pun mengedip pada Gonroku dan mulai menggerayangi obi-nya. Pelan-pelan la berhasil merangkak ke situ. Begitu selesai berbicara dengan pemilik warung teh yang baik budi itu. tidak apalah. "Apa tak bisa kaukejar?" Paman Gon mengarahkan pandangannya ke sosok tubuh yang seperti' kijang terbang di kejauhan. Osugi segera menyusulnya.property of: CROSSFiRE. Sebentar lagi dia pasti terkejar olehku. Nek!" "Dia pasti di sini! Tak mungkin dia pergi!" Hampir seketika itu juga Osugi pun melihat pintu kamar belakang terbuka. sampai lengan baju dan kimononya mengembung di belakangnya. Gon. la dapat melupakan sakitnya ketika beberapa jam berada bersama Takezo. "Itu dia. "Sebentar saya ambilkan. Gon." "Malam begini?" "Tidak ada dokter. tapi ketika ia mengulurkan tangan untuk memegang ciduk bambu di sampingnya. keadaannya jauh lebih buruk." la menarik dagunya dan langsung berlari." Ebook by Kang Zusi . Beberapa waktu kemudian Otsu sudah lupa bahwa tukang warung pernah bicara dengannya. "Gon. "Kalau istri saya sendiri atau salah seorang anak saya. Karena tak ada jawaban. "0." Mereka menoleh. didengarnya tirai hujan jatuh ke tanah di belakangnya. orang sinting tua!" Pada saat itu terdengar suara yang menyapa mereka dari belakang. jadi saya tawarkan kamar belakang buat berbaring. dan tampaklah oleh mereka pemilik warung teh itu menunggang kudanya. orang yang baru datang buat istirahat. "kau boleh menggunakan pedang. ya. ketika la berseru. "Apa gadis itu sekitar enam belas tahun. "Ya." Osugi menghentikan jalannya. la merasa mulutnya penuh duri. "Anda berdua ini cekatan sekali. Kau sendiri yang mesti hati-hati. "Air. "Ketika dia istirahat badannya mulai menggigil. Osugi dan Paman Gon menerobos dari tempat tirai terbuka itu. melangkah cepat mendaki bukit. baru tengah malam saya akan sampai. "Apa itu gadis yang ada di kamar belakang Anda? Kebetulan saya melihatnya tadi sekilas. kejar!" . Warung teh itu memang tak lebih dari gubuk pegunungan." jawab Gon yang waktu itu sedang menuju kamar perapian. Tapi berat rasanya kalau buat orang lain. Sebelum pergi. kami baru saja istirahat di tempat Anda. Mana kau menjatuhkan tirai segala!" Wajah perempuan tua itu sudah berubah bentuk karena berang. Saya merasa harus berbuat sesuatu. tukang warung menjenguknya dan mendesaknya supaya bertahan. kan? Jangan khawatir. ketinggalan di warung teh itu!" "Apa yang ketinggalan?" "Tasbih. ia pun menegakkan badan dengan kedua sikunya dan menjulurkan leher ke arah tempayan air yang ada di luar pintu. saya kira." kata pemilik warung. minta air!" serunya lemah. Mulutnya kering. "0." teriaknya. clan tidak suatu pun dapat mencegah orang mengangkat satu atau seluruh tirai yang tak terikat itu. "Paman Gon.

"Tukang sihir tua!" teriak Paman Gon marah. Sebuah rencana mulai terbentuk. tapi ia sudah melihat bahwa gerbang-gerbang itu ditutup dan dikunci sebelum matahari terbenam. "Aku sudah kehilangan keberanian. la tidak merasa seperti binatang. Keadaannya tidak begitu membesarkan hati. Tak ada gerbang di bagian belakang. Takezo menghentikan pesta unggas mentah itu dan menyorotkan pandangan kejam ke arah para calon penangkapnya. merangkakrangkak. Inc. Tepat sebelum kegelapan menyelimuti. la membayangkan di bawah salah satu atap itulah kakak perempuannya dipenjarakan. Kukira tidak terlalu dalam. Yang la perlukan bukan hanya masuknya." Ia merasa terhina dan tak berdaya. Pikirannya sudah sampai pada keyakinan bahwa la dapat membikin lumpuh lima puluh atau seratus serdadu yang mengawal benteng itu. clan agaknya tempat itu tidak dikawal ketat. Rintangan alam itu bisa menjadi samaran. ke benteng Hinagura. la menduga tembakan itu percobaan untuk melihat. "Seminggu yang lalu aku bahkan tidak berpikir sempat lolos dalam keadaan hidup. Begitu dilemparnya burung itu pun jatuh. la paham sekarang." Belum lagi la sampai pada kesimpulan ini. berlari langsung ke arah gerbang benteng. dikoyaknya dan dibenamkannya giginya ke dalam daging yang hangat itu. seakan terkunci. Terpaksa kembali ke warung teh buat ambil obor. dan dalam sekejap ia sendiri sudah menerobos. bukan itu. la sudah melihat makan malamnya melayang di atas kepala. Berkali-kali ia mencela dirinya sendiri. Ebook by Kang Zusi . yang baru saja la peroleh dengan penuh penderitaan." Ketika ia sedang berlutut memandang ke dalam jurang. Yang lebih buruk lagi. "Itu Takezo! Takezo dari Miyamoto!" "Dia berbahaya! Jangan sepelekan dia!" satu orang lagi mengingatkan. lain sekali dengan ganas. cahaya matahari sore mulai mengabur di belakang puncak pegunungan barat. "Ya-a-h-h!" pekiknya sambil mengambil sebuah batu besar dan melontarkannya ke baris depan dinding manusia itu. Ia menatap langit terang yang cantik. sedangkan di depan. dan ia ragu-ragu mendekati benteng itu. "Ada apa?" teriak Osugi yang menyusulnya. beberapa inci dari jemari kakinya. Agaknya tak ada cara yang mudah untuk mendekati benteng itu. pikir Takezo sedih. Di seberang lembah sana ia melihat kerumunan orang banyak bergerak ke sana kemari di dalam benteng. dipoles clan disempurnakan. Berani. lebih dari dua puluh serdadu bergerak ribut mencari posisi clan mengepungnya. Hampir seketika itu juga mereka buyar. "Kalau malam tiba. Tak pernah aku seperti ini. Tidak. Manusia berani yang sudah melampaui kesembronoan remajanya. pasti membahayakan hidupku sendiri dan hidupnya. tapi dengan sengaja ia diam tak bergerak di tempatnya. "Dia terjun ke situ?" "Ya. "Sekalipun aku mengambil jalan terbaik. bukan sikap pengecut. Jadi. sekalipun artinya ia harus melanggar untuk terakhir kalinya pengetahuan diri yang sangat berharga. ia merasa seperti seorang manusia. jalan masuk benteng itu dilindungi dengan baik oleh gerbang ganda. la merasakan ketenangan baru. Begitu posisi rapi. "Apa yang kautunggu. perasaan damai. Satu orang berseru. tolol?" dan menyodoknya dengan keras. Jelas mereka telah melihatnya. sebatang anak panah mendesis ke arahnya dan menancap di tanah. Terdengar bunyi kaki-kaki yang mencoba mencari pijakan. Paman Gon tiba-tiba memekik kaget dan jatuh tengkurap. Tak ada jalan." Osugi pun melihat ke sana. Rasanya perasaan itu mengalir di dadanya seperti sungai yang lembut. Osugi berteriak. namun belum juga la dapat menyusun rencana untuk mengeluarkan kakaknya." Ia pun menggelengkan kepala. netcafe. la sudah duduk di situ sejak matahari terbit sampai matahari terbenam sehari sebelumnya clan sepanjang hari ini. Tak bisa. Pandangan yang biasa diperlihatkan oleh binatang ketika terganggu di tengah makannya. tapi juga keluarnya. ia bangkit dan memungut sebuah batu. yang warnanya saja rasanya sudah merupakan keajaiban. keadaan itu memaksanya melakukan serangan malam. tapi terlalu gelap. mereka berdua nantinya akan terpaksa melarikan din menyeberangi dataran rata yang tidak ditumbuhi sebatang pohon pun untuk berlindung. reaksinya. "Cobalah turun sendiri! Biar tahu sendiri rasanya!" Takezo duduk di atas batu besar sambil melipat tangan dan memandang ke seberang lembah. aku akan menyeberangi lembah dan memanjat karang di sebelah sana.property of: CROSSFiRE." Setengah hari kemudian tangannya masih tetap terlipat di dada. Hidup yang diberikan padanya adalah sesuatu yang harus dihargai clan dijunjung. mereka memperdengarkan teriakan perang. Selagi ia makan. "Bagaimana mungkin aku jadi begini pengecut?" tanyanya pada diri sendiri. tak ada sasaran yang lebih baik dari itu. tapi ia masih terus mempertimbangkan letak tanah. Tepat di depan mereka ternganga jurang terjal penuh bambu. Ia mengkhawatirkan sesuatu yang tak dapat dirumuskannya. Barangkali berhadapan dengan maut membikin orang jadi pengecut. Batu itu menjadi merah oleh darah. Namun ia tidak dapat membiarkan kakak perempuannya ditahan. Pada hari tak berawan seperti ini. clan akhirnya berhenti di dasar jurang. Di belakang benteng terdapat parit dalam. dan sekarang ia bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. Setiap usaha untuk mendobraknya pasti membunyikan tanda bahaya berupa anak genta dari kayu yang ingar-bingar bunyinya itu. la bermaksud terus duduk sampai ia mendapatkan rencana itu. Tak lama kemudian. "Lihat itu ke bawah. Ia menarik pelajaran yang dengan segala jerih payah diberikan oleh Takuan.

sekalipun janjinya pada Otsu bukanlah satu-satunya alasan kenapa ia ke Himeji. teriakan-teriakannya yang serak menjadi hampir tak bisa dimengerti. la membidik sebaik-baiknya. di maim. "Berhenti!" serunya sambil melemparkan tiang gerbang yang bernoda darah itu ke kaki makhluk seperti musang tersebut. seperti pengemis. Mata Takezo sama sekali tak melihat. dengan hati-hati membenamkan topi clan menyembunyikan wajahnya. terbang ke segala jurusan. "Apa yang dia lakukan?" "Ke mana perginya orang sinting itu?" "Dia gila!" Takezo terbang seperti capung yang keranjingan. la mengangkat kepala dengan tegas... sebuah menempel seperti jarum jahit raksasa di kimononya. ia biasa melakukan pesiar singkat sekitar kota. lebih balk kalau begitu. Takezo meluncur menuruni jurang. "Ogin!" teriak Takezo sambil berlari ke bagian belakang benteng. maupun para pengawal di gerbang kedua. baru seminggu berlalu sejak gadis itu bersumpah akan menanti di situ-bukan seratus hari. Kekuatan yang kasar dalam permainan anak-anak. baiinw<m hocloh.. Ketika Takezo melompat ke arahnya. netcafe. Satu demi satu ia gedor pintu-pintu itu dengan tiang gerbang. Gema tembakan senapan itu meraung ke seberang lembah. Tapi kalau kau bohong. dan merasa yakin bahwa tak seorang pun mengenalinya. Namun ketika mereka sampai di gerbang luar. "Apa semua ini tipu daya?" pikirnya panik.. ia pun semakin tergoda untuk mondarmandir." Ia tatap gedung-gedung itu dengan mata menyala. Takezo menampar keras pipinya. dan tampak olehnya Takuan datang mendekat sambil berseru.property of: CROSSFiRE. Kemudian ia berbalik kepada para pengejarnya. sambil terus memanggilmanggil kakak perempuannya. ia guncangkan matimatian. Kemudian ia menghilang ke dalam bayangan sel-sel yang mesum. "Diapakan dia? Katakan di mana dia.. Yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang besar dan hitam menyerangnya. dengan anyaman jerami. sampai tercerabut dari tanah. yang sebetulnya sebuah perangkap. Dengan kekuatan yang hampir-hampir di luar kekuatan manusia.." Lahirnya Musashi TAKEZO menanti di pinggiran kota Himeji. la sedang berada di dekat pusat kota pada suatu hari. Sekarang ia berada di antara kedua gerbang. Sumpah!" "Nah. pantang ia melanggarnya. Langkah-langkah kaki terdengar di belakangnya. aku akan kembali khusus mencarimu!" Serdadu-serdadu itu merapat lagi. dan seperti biasa di hadapan biarawan ini ia merasa sedikit rendah diri. Takezo menggigit kuku ibu jarinya dan memandang anak-anak panah itu melaju lewat. kalau tidak kubunuh kau!" "Dia. Kemarin dulu dia dibawa pergi.. la tak tahu jumlah mereka. "Ogin!" Setelah gagal mengetahui tempat kakak perempuannya.. Takezo. la pun harus menemukan di mana orang menahan Ogin. ku."' "Himeji?" „I.. Akhirnya di dalam bayangan salah satu sel kecil dan kotor. "Takezo! Tunggu!" Takezo terperanjat." Takezo mencekau rambut orang yang menangis tersedu-sedu itu. Di belakangnya terdengar ledakan keras. Orang-orang itu ternganga. dan sementara berlari petikan-petikan ajaran Takuan pun melintas dalam kepalanya.. ini aku. Setengah lusin anak panah terbang melewatinya. Takezo mengangkat orang itu dan melemparkannya ke arah mereka.. kadang-kadang bersembunyi di bawah Jembatan Hanada. Ayam-ayam pengawal berkaok-kaok menyelamatkan hidup.. betul. dan dalam sekejap mata sudah melompatinya.. tapi lebih sering berdiri di jembatan clan diamdiam memperhatikan orang-orang lewat. "Betul. orang itu mulai menangis tak kenal malu.. Ebook by Kang Zusi . pagar. la tak dapat melihat serdadu yang mengejarnya. la sangat risau bahwa Otsu belum juga muncul. lalu la hantam benda tak berbentuk itu dengan tiang gerbang. ketika didengarnya suara orang memanggil namanya. Hidup itu berharga. Takezo sudah melompat naik." "Di mana. dia tidak di sini. "Belajarlah takut pada apa yang menakutkan. "Ogin.. la menyangka penyamarannya sudah aman. bahkan juga Takuan. ia melihat seorang lelaki mencoba menyelinap.. dikejar para serdadu yang memperdengarkan teriakanteriakan perang. Apabila sedang tidak berada di dekat jembatan itu. ia merenggut sebuah tiang di gerbang dalam. Perintah dari puri. Sekali Takezo membuat janji. Punyailah kekuatan prajurit sejati. Inc. y y ya „ "Kalau kau bohong. tapi seribu. keberanian yang nyata. Tetapi bersamaan dengan berlalunya waktu.. terbang ke udara dan jatuh berantakan ke tanah. la bahkan tak sadar ketika merobohkan dengan satu pukulan saja seorang penjaga yang mencoba melompatinya. "Mana kakakku?" raungnya. kemudian tiba-tiba ia menuju pagar. kekuatan binatang yang tak berakal. Sejumlah besar lembing dan pedang berantakan.

" jawabnya terang. Takuan mendahuluinya menyeberangi jembatan lengkung lebar yang membentang hingga parit luar. Takuan dapat merasakan keraguannya. dengan sikap hormat mendengarkan. Ia mengangguk dan berkata sopan. tapi tak ada satu bukti pun untuk membenarkan dugaannya itu. Buktinya ia tidak memerlukan penunjuk jalan ataupun petunjuk. Ini puri seorang daimyo. Takezo menengadah cepat dan melihat wajah orang terkenal itu. Segalanya sederhana dan tidak mahal. Takuan. kepalanya tercukur bersih. setidak-tidaknya mereka dapat mati bersama. Kerongkongan Takezo jadi kering. tapi sekali lagi ia merasa tanpa daya menghadapi orang istimewa ini. Biarawan itu menangkap pergelangan tangannya." Takuan melewati gerbang kedua menuju bangunan tengah. Dengan isyarat tak sabar la mendesak Takezo maju terus. Kalau ia tertangkap di sana. Walaupun tidak menoleh. melainkan juga sepasang pedang samurai panjang dan pendek. memang tak ada orang lain yang cukup dicintainya yang dapat diajaknya berbagi saat-saat akhir hidup yang berharga ini. "Ya. kenapa puri itu disebut "Puri Bangau Putih". O. mengulur waktu dan memperhatikan sekitarnya. yang tak ada perasaan hormat khusus ataupun perasaan kagum kepada daimyo itu. Kapten tidak menyentuh orang yang jadi tanggungannya. Bagus sekali Anda menyelamatkannya. seperti kau tahu betul. kepalanya tertunduk dan tangannya terletak rata di atas lutut. Takezo ikut tanpa berkata-kata. Di sini serdadu-serdadu memandang lebih cermat dan waspada lagi. Ia diperlakukan sebagai manusia lagi. seperti burung besar angkuh yang turun dari langit. dan noda-noda gelap bekas cacar menaburi wajahnya. "Hati-hati. dan Kapten memerintahkannya membasuh badan." jawab biarawan itu sambil membungkuk hormat. clan siap untuk berkelahi begitu ada perintah. Kalau kau menggodanya. apabila tidak sedang mengatur strategi. la dapat melihat sekarang. Saat itu punggung Takezo pun mengejang." Satu jam kemudian Takezo sudah duduk di kebun di luar beranda. "Keluarga Shimmen adalah cabang keluarga Akamatsu.property of: CROSSFiRE. "Susahnya. tak sangsi lagi banyak orang berguna akan diselamatkan. tapi tak ada yang kurang. Tak terpikir olehnya ke mana mereka pergi. Sebarisan pengawal berdiri tegak di depan gerbang besi. mereka mendekati gerbang kedua. Kalaupun mereka harus mati. Bangunan megah itu berdiri di atas kubu batu yang sangat besar. itu dia. namun demikian ia merasa malu karena telah mendatangkan aib besar kepada nenek Ebook by Kang Zusi . dan ingin ia mengangkat kain katun bersih itu ke wajahnya dan menggosokkannya ke pipi serta menghirup bau segarnya. Baru sekali itu ia kehabisan kata. di mana terletak kediaman daimyo. klan Akamatsu Masanori. kenapa demikian. semua orangku menyangka bahwa satu-satunya tugas mereka adalah mengikat orang atau memenggal kepalanya. "Aku sudah menangkapnya. "Wajahnya cakap. Atau barangkali ke kamar bawah tanah di dalam puri. Ia berbalik dan masuk rumah mandi. "Itu dia?" tanyanya kepada Takuan sambil menudingkan kipas lipatnya. karena ia ingat benar akan waktu mandi terakhir kali di rumah Osugi. Seperti banyak puri lain pada zaman itu. "Jadi. Ia melipat tangan dan mencoba berpikir." Takezo ikut tanpa melawan. Puri Himeji muncul di hadapan matanya. Ikeda Terumasa. dan tak seorang pun mengganggu jalannya. "Ya. ingat akan perangkap yang untung berhasil diterobosnya. ia mengenakan juga tutup kepala dan kain sutra longgar yang sesuai dengan lingkungannya. Tubuhnya pendek. Cahaya matahari yang memantulkan lembinglembing terhunus membuat Takezo sekejap ragu-ragu lewat. Inc. Ia heran." ucapnya. kemudian dengan hormat menunduk kembali. Lewat menara gerbang. Dia anak macan yang bertaring. Nada gawat yang ada dalam suaranya itu mustahil diabaikan. di mana seorang daimyo dapat menikmati kenikmatan hidup. rintahnya. sekiranya aku memiliki banyak anak buah seperti Anda di sini. Bukan pada saya. la berharap ia benar. ia belum terbiasa akan kemewahan perdamaian. Selamanya ia menganggap dirinya kambing hitam keluarga Shimmen. la hanya minta Takezo mengikutinya. menyandarkan diri pada tangan kursi dan memandang ke luar. "Saya letakkan di sini. "Dan jangan bikin ribut. Ia merdeka sekarang dan sepanjang pengetahuannya mereka berjalan langsung kembali ke pohon gila di Miyamoto itu. la hampir tidak mengangkat kepala waktu berjalan. yang dipertuan di puri itu." Daimyo itu mengeluh. Takuan memanggil kapten pengawal. Dia masih liar. Perlengkapan itu mencakup tidak hanya kipas lipat dan kertas tisu. netcafe. Tuan. tapi ia menambahkan. Sambil menyerahkan Takezo. Rupanya ia kenal baik jalan di situ. la menduga kakaknya ditahan di dalam salah satu benteng. dan dunia akan menjadi lebih baik karenanya. "Ayo ikut aku. pernah menjadi yang dipertuan di puri mi. namamu Shimmen Takezo?" tanya Yang Dipertuan Ikeda. dia akan menggigit. Sulit bagi penghuninya untuk dapat santai dan menerima kenyataan bahwa negeri telah berhasil dipersatukan." Takezo hampir menangis. Walau tidak mengenakan pakaian paling resmi. Sudah lama aku mencarimu. Anda dapat memakainya kalau nanti keluar. Segera mereka sampai di rumah mandi." "Dia berutang nyawa pada Tuan." perintahnya. Segera kemudian seorang pembantu datang membawa kimono katun hitam hakama. dan Anda tahu itu. Segalanya begitu damai-sebuah pulau ketenangan." "Tidak betul itu. biarawan itu menasihati orang tersebut untuk memperlakukan Takezo baik-baik sebagaimana diinstruksikan sebelumnya. Sesuai perintah Takuan. ke kebun.

"Apa betul pembantuku Aoki Tanzaemon tanpa izinku berjanji. Inc." Apabila matanya sudah kabur karena lelah. Barang siapa mengenal langit dan bumi. "Bagus!" Jelas hubungan mereka baik sekali. Di situ tak ada kalender. Tentu aku tak akan mengizinkan dia pergi tanpa hukuman. dua-duanya pengikut Zen. aku simpulkan Anda sudah punya usul. ia membacanya keras berulangulang. Ada bagian yang terpencil. "Barang siapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya. yang terbaik adalah menempatkan tawanan ini dalam-akan kita namakan apa itu?--'keadaan serba kurang' untuk sementara waktu." "Nah. Takuan. seperti nyanyian. Menara utama benteng di atas itu selalu gelap gulita. "Sesudah mengantarnya ke petak baru itu nanti." lanjut Terumasa dengan nada lebih keras. kalau Anda berhasil menangkap orang ini. Ini adalah cermin kekuasaan dan martabat Anda. kita harus menaruh lampu di sana. Sekeliling meja bertumpuk-tumpuk buku. tapi aku menginginkan pembenaran Anda. Sekalipun tubuhnya pendek-hampir tidak sampai satu setengah meter-kehadirannya seakanakan memenuhi puri yang bertingkat banyak itu. apa yang dikatakan Takuan pada Aoki Tanzaemon di kuil malam hari dulu itu benar. Karena dia bawahan langsungku." Sambil menoleh kepada Takuan ia bertanya. bentuk hukuman apa yang akan diambil. Sekarang kamar itu kubiarkan sebagaimana adanya.property of: CROSSFiRE." "Aku sudah bertanya padanya. la kaya karsa dan membatasi kemungkinan. Aku menunggu. Takezo?" Tidak kedengaran Takezo berkuik. Tuan. bahkan hampir-hampir bersaudara. Buku-buku tentang Zen. walaupun aku yang dipertuan di tanah ini. Di situlah terletak kamar yang ada hantunya itu. Semua pesuruhku menolak untuk masuk dan para pembantu selalu menghindarinya. Kalau minyak hampir habis dan sumbu lampu memercik. sebagian dalam bahasa Jepang. orang suka berpikir demikian. Nah. dimatikannya saja lampu itu. Ada yang dapat menerobos. "Ya. apakah menurut pendapat Anda saya berbohong?" "Tentu saja tidak. aku telah kehilangan hakku menghukum Takezo dengan hukuman yang cocok. apa yang akan kita lakukan kepadanya?" "Saya pikir. tidak betul. Menurut saya. " "Kalau Anda mengizinkan saya menggunakan kamar itu. Takezo benar-benar tenggelam Ebook by Kang Zusi . tak ada musim semi. Karena itu. Datanglah nanti. Bagian ilmu medan dalam buku Seni Perang karangan Sun-tzu terbuka di meja rendah di hadapannya. ketika ia hendak pergi." "Kalau begitu. moyangnya dan nama keluarganya. ia senantiasa menang dengan mudah. Jadi." Terumasa lalu mengundurkan diri ke bagian dalam kediamannya. sebagian lagi dalam bahasa Cina." kata Terumasa pada si biarawan. Kaudengar itu. nampak sangat bersahabat. dan berjilid-jilid tentang sejarah Jepang. tak ada bunyi kehidupan keseharian. karena kamar itu selamanya tidak terpakai. "O. akan saya simpan Takezo di sana sampai saya siap memaafkannya. dan akan kubuktikan bahwa aku bukan lagi sekadar serdadu yang tak tahu adat." Apabila terbaca olehnya bagian yang sangat menarik seperti di bawah ini." "Kalau begitu. netcafe. kalau Anda. tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Tanzaemon sudah mengaku. sebaiknya Anda ikut aku ke warung teh. Sun-tzu berkata: "Inilah yang penting diketahui tentang medan. Wajahnya serasa terbakar. dan katanya." "Hmm. Hanya ada sebuah lampu kecil yang menerangi pipi pucat cekung Takezo. tetapi Terumasa mulai tertawa. apa Anda bermaksud sekali lagi memperlihatkan ketidakmahiran Anda dalam upacara minum teh?" "Ah. tapi terserah Anda. Karenanya Sun-tzu berkata. Takuan dan Terumasa. memiliki kamar yang tak pernah berlampu dalam puri?" "Tak pernah aku berpikir demikian. Anda dapat memutuskan dan memberikan hukuman?" "Saya kira Anda dapat mengetahui hal itu dengan langsung bertanya pada Tanzaemon." "Karenanya." "Tapi apakah menurut pendapat Anda tidak rendah bagi kemuliaan salah seorang prajurit terkuat dalam lingkungan Tokugawa. karena tak ada alasan untuk membukanya. Ada yang membatasi." "Bagus. Itulah justru yang saya pikirkan. Sudah cukup lama dia hidup dalam kegelapan semata. Ikeda Terumasa. tak ada musim gugur. Ada yang memungkinkan gerak laju. Ada jarak yang harus diperhitungkan. sumpahnya pada Anda berarti sumpahku. aku terpaksa menghukummu. ia menang atas segalanya. Hari-hari ini aku sudah betul-betul mulai tahu seluk-beluknya. Barang siapa mengenal seni perang." "Dan bagaimana usul Anda untuk melakukan itu?" "Saya yakin di puri ini ada sebuah kamar tertutup yang sudah lama didesas-desuskan ada hantunya?" "Betul. ia mencucinya dengan air sejuk dari mangkuk kecil yang selalu ada di sampingnya. "Yang kauperbuat itu tak dapat diampuni.

Kemungkinan besar kau benar. Kau akan membutuhkannya apabila nanti memasuki dunia dan menggabungkan diri dengan sesamamu. "Aku mengerti maksudmu. Seorang pendeta terkenal zaman kuno pernah berkata. ternyata kau sudah betul-betul bisa bicara seperti manusia! Bagus! Hari ini kau boleh meninggalkan tempat ini. hati saya serasa melihat lebih banyak daripada sebelumnya. Mereka tewas binasa. Kita tidak dalam suasana damai. tentunya kau sudah jadi sekarang." Takuan membawa Takezo sebagaimana adanya menghadap Yang Dipertuan Ikeda. Terumasa tidak membuang-buang waktu dan meminta Takezo menjadi bawahannya." ia melanjutkan dengan pandangan saksama. seperti kata semua orang. "hantu-hantu barangkali akan mulai muncul dalam kamar tertutup itu tiap malam. tapi ia merasa belum waktunya mengabdi pada seorang daimyo. barangkali juga pemberontakan. artinya musim dingin. Kalau udara panas. Takezo menarik lengan kimono biarawan itu dan menariknya masuk kamar. maka itulah musim semi tahun ketiga la berada di dalam rahim itu. Tak lama sesudah datangnya burung itu. Ebook by Kang Zusi . kau baik-baik saja?" Kepala Takuan yang sudah dikenalnya itu muncul di puncak tangga. la meratap dan mengerang. tapi bukan. ataukah kamar penuh cahaya. mereka sudah merasuki saya. "Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. nenek moyang saya. Ketika saya keluar. "Kau boleh membaca sebanyak kau suka. Hari-hari ditelan derita." katanya. seakan-akan berkabung. dan kalau saya tinggal di puri ini. saya anggota wangsa yang sama. tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup." "Hmm. "Dan kalau saya mengabdi di puri ini. Takezo menolak." katanya pada dirinya sendiri. apa yang Bapak maksudkan." "Melihat noda-noda itu. hantu-hantu bisa bangkit dan mencoba meraih saya. memukul dan menendang." "Kenapa? Apa hantu-hantu itu menemanimu?" "Kalau Tuan membawa lampu dan memeriksa kamar itu dengan saksama. netcafe. Jiwa mereka begitu saja tersapu angin musim gugur. "Dan apa yang sudah kulakukan selama dua puluh satu tahun ini?" Kadang-kadang kenangan tentang tahun-tahun lalu itu menekan dirinya tak hentihentinya dan merundungnya dengan kesedihan. terdengar suara bertanya. Disergap rasa sesal." "Saya berterima kasih atas kebaikan Bapak." Terumasa mengangguk." kata Takuan. tapi mereka wangsa yang perkasa. Lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. kali ini kedengaran aneh. Namun ia hampir merasa pasti bahwa kalau nanti burung layang-layang datang bersarang lagi dalam lubang-lubang penyimpanan senapan yang tertutup papan dalam menara itu. Lain dari itu tidak banyak yang diketahuinya. Tapi mereka dapat menimbulkan kemelut. Apabila derita itu mereda. karena tidak menggoda saya untuk membalas dendam nenek moyang saya. Sesudah saling mengucapkan salam dan basa-basi. dan kadangkadang ia tersedu-sedan bagai bayi. ia kehabisan tenaga dan gairah hidup. Sesudah menempuh masa persiapan selama ini. Bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih pada Takuan?" "Terima kasih?" kata Takuan tak percaya. Kalau udara dingin. Tuan akan melihat bercakbercak hitam memerciki pintu-pintu dan tiang-tiangnya. "Aku akan berumur dua puluh satu tahun. Memang lebih baik kalau kau meninggalkan puri ini. lembap dan pengap. dan musim tak ada sangkut-pautnya dengan hidupnya.property of: CROSSFiRE. Lalu ia tertawa. Penjelasan datang pada saya di kamar itu: siapa saya ini. demikian dijelaskannya. hampirhampir menyakitkan telinga. Semua itu dipinjam dari koleksi Yang Dipertuan Ikeda. terutama suara manusia ini. Darah saya mendidih memikirkan bagaimana nenek moyang saya yang pernah menguasai seluruh wilayah ini berakhir dengan kebinasaan. Dalam batas tertentu. Kegembiraannya meluap mendengar suara manusia lain. "Aku baru pulang dari perjalanan. ia berkata. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu. bahkan pertumpahan darah lagi. ketika mereka mempertahankan puri ini. saya jadi naik pitam. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan. Akhirnya suatu hari ia mendengar burung layang-layang kembali ke bawah atap menara itu. kemungkinan besar darah yang dicurahkan oleh orang-orang Akamatsu. ia pun merintih. tapi sekarang untuknya disediakan tempat di beranda. Sekali lagi musim semi terbang dari seberang lautan. Pesuruh-pesuruh yang membawakannya makanan tidak sekali pun pernah mengucapkan kata-kata. Saya berutang budi pada semua penduduk di daerah ini. "Walau tak ada yang dapat kauajak bercakapcakap kecuali dirimu sendiri. dan mereka dapat dibangkitkan. Rambutnya berantakan dan hatinya hancur. "Darah yang sama mengalir juga dalam nadi saya. Kelihatannya seperti lak. Udara tetap sama. Saya paham sekarang. Itu darah manusia. Dalam pertemuan sebelumnya ia didudukkan di kebun. Terserah padamu. Ketika Takuan menjatuhkan hukuman kurungan. apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan. peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal. Dan kalau kau pergi." Sejak itu Takezo berhenti menghitung hari. Inc. musim panas. pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. dalam buku pelajaran ini. Saya terbenam dalam kitab-kitab suci dan membaca beribu-ribu jilid buku. Terkejut dan terlampau terharu hingga tak dapat mengeluarkan kata-kata. "Walau saya orang tak berharga. "Ini sudah tahun ketigamu di sini. "Takezo. la merasa mendapat kehormatan besar. Tapi pandanglah lebih saksama.

. "Dia ingin sekali ketemu kau. Suatu kali nanti. "Apa tak ada yang ingin kaujumpai?" "Siapa?" "Ogin?" "Apa dia masih hidup?" tanyanya heran. Saya sudah mati. Takuan membungkuk. Gerak-geriknya yang indah menciptakan dunia kegembiraan khayali. ternyata Ogin enggan pulang. la memang ahli. katanya. Katanya. Tepat sekali. dan akhirnya Takuan bangkit berdiri. segalanya mesti baru pada hari kelahiranmu ini. Dalam tidurnya pun tak pernah ia melupakan kakak perempuannya yang lembut." Takuan berbalik. "Bapak tidak hanya menyelamatkan saya." Tangan Takezo langsung jatuh ke lantai. netcafe." Terumasa yang sedang sangat senang perasaannya. Aku bilang padanya tiga tahun lalu bahwa dia mesti menganggapmu sudah mati." seru Takuan." kata Terumasa. "Apa kau tak ingin bertemu dengannya?" tanya Takuan. Takuan bercerita bahwa ketika Musashi menyerang benteng Hinagura tiga tahun lalu. tapi saya harap Bapak dapat memahaminya. Sebaiknya namanya Miyamoto. Yang harus saya lakukan sekarang adalah mengambil langkah pasti ke muka. ke masa depan.. Mendengar kabarnya saja dari Bapak sudah sama baiknya dengan menemuinya. Kita mesti minum untuk merayakannya. karena dalam arti tertentu kau memang sudah mati. sementara acara minum berjalan terus." "Tidak. begitu. Musashi memperlihatkan gelagat hendak minta diri. Ketika mereka sampai di wilayah kota di luar dinding puri." "Takuan!" Ikeda tertawa. ya." "Aku tahu. barangkali akan saya perlukan waktu untuk bersantai dan menoleh ke belakang. Tapi bukan sekarang. Musashi mengawali hidup baru. Saya terima." Mereka berpindah ke kamar lain. mengangguk bergairah. "Bagaimana kalau namamu dibaca seperti huruf Cina 'Musashi' dan bukan 'Takezo'? Kau bisa tetap menulis namamu seperti sebelumnya. menarikan satu tarian kuno. Bapak sungguh orang yang penuh kasih kepada orang lain. sejak saat ini. Kalau saya sudah mendapat kemajuan dalam pengetahuan dan penyempurnaan diri yang sedang saya can ini." "O. "Inilah pertama kali Anda mengucapkan dua kali terima kasih padaku untuk satu hal saja!" "Benar. kalau saya tidak terbunuh di perjalanan. sebut dirimu Miyamoto.property of: CROSSFiRE. Pak. Ia memilih tinggal dengan seorang sanak di sebuah kampung di daerah Sayo." katanya penuh haru. clan Takezo serta Takuan mengawani Yang Dipertuan sampai larut malam. Ebook by Kang Zusi . "tapi Bapak pun sudah memperhatikan kesejahteraan Ogin. rasanya tidak." perintahnya. Aku gembira melihat kau bersungguh-sungguh dalam tujuanmu. mari kita usahakan sungguh-sungguh untuk bersua lagi. hingga dia tak akan lupa tempat kelahirannya. dan saya sungguh-sungguh lahir kembali. Teruslah ikuti jalan pikiranmu." "Salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih padaku adalah dengan membiarkan aku mengantarmu ke kakakmu. Hari berikutnya mereka berdua meninggalkan puri. "Tapi karena dia hendak pergi sendiri-dan menurut Anda sudah dilahirkan kembali-dia harus mempunyai nama baru. Takezo yang kini bernama Musashi memandang penuh kagum. Mereka disertai beberapa pembantu Terumasa. "Sediakan untuknya uang dan pakaian yang sesuai. hidup dalam disiplin clan latihan seni bela diri. Saya belum lagi menemukan jalan yang hendak saya tempuh. Tuan. kita akan bertemu lagi. Kalau ada kesempatan." "Biarlah dia mengembara dulu sementara masih muda. hormat dan gembira. walau cuma beberapa menit. Sekarang ia sudah senang tinggal di sana. la berketetapan menjelajahi pedesaan. Saya kira tak akan dapat saya mengucapkan terima kasih atas apa-apa yang telah Bapak perbuat itu. Sekalipun tak ada tuduhan terhadapnya. saya tak akan menemuinya. Dan waktu berpisah sudah tiba. tapi ke mana? Apa kau bermaksud kembali ke Miyamoto? Dan hidup di sana?" Takezo tersenyum tanpa suara. Jadi." Musashi menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya di depan kepala. itu tidak akan terulang lagi. yang tak lain dari Takezo yang lama. nama yang bagus sekali. "Baiklah. "Baik. Dengan telapak tangan tertelungkup ia membungkuk dalam dan lama." "Aku mengerti." "Kau pasti ingin bertemu dengannya sendiri." "Sukar saya meneruskannya dalam kata-kata. "Saya ingin mengembara sekehendak hati saya untuk sementara. tapi si biarawan menarik lengan kimononya. Tapi aku bilang juga padanya." "Ya." "Saya mengucapkan selamat berpisah sekarang." Takuan menyeringai. seperti yang ia lakukan kalau berdoa di depan patung sang Budha. yang sudah demikian lama ia anggap seperti ibunya sendiri." "Dan kau mesti mengubah nama kecilmu juga. "Miyamoto Musashi! Nama yang bagus. bahwa tiga tahun kemudian aku akan mengantarkan adik lelaki yang baru. tidak. Selama tiga tahun di dalam kurungan itu la telah bertekad menguasai Seni Perang." "Tidak. Ogin memang sudah dilepaskan. Takezo. sake dihidangkan. Inc. "Izinkan saya mengucapkan teirma kasih atas kebaikan hati Anda pada anak ini." jawab Yang Dipertuan sambil menoleh kepada Takuan. Takuan punya rencana-rencana sendiri. Rasanya bukan sekarang saatnya kembali ke masa lalu.

Musashi terengah-engah kaget. "O. Mata Musashi menyipit karena terang matahari. dan tak ada waktu buat menjelaskan. Aoki Tanzaemon." Tak bisa Musashi menyembunyikan pikiran-pikiran itu dari wajahnya. Aku mesti mengingatkanmu bahwa Osugi dan Paman Gon meninggalkan Miyamoto mencarimu dan Otsu tiga tahun lalu. bukan untuk pelesir!" "Aku tak akan menghalangi jalanmu. Inc." perintah Musashi.'" Otsu lebih keras menarik kimono Musashi dan bergayut seperti anak-anak. Biar mereka sudah tua. Aku menunggu di sini sejak dua puluh hari sejak kita berpisah di Celah Nakayama itu. Aku sedang tergesa-gesa dan kau tak mau melepaskan aku sebelum aku berjanji." la menunjuk toko anyaman di ujung jembatan. tapi rasanya mereka tak akan betul-betul menyulitkanmu." pikirnya." Bagaimanapun. tapi samurai yang baik itu sudah membikin cemar dirinya sendiri." Musashi tersenyum. Aku akan menganggapnya jiwaku. kan? Kau tidak lupa nama jembatan ini? Apa kau lupa janjiku akan menanti di sini berapa pun lamanya?" "Kau menanti di sini tiga tahun lamanya?" Musashi terpana. Pasti dia juga sedang mengembara. dan dengan belajar menguasainya aku akan berjuang memperbaiki diriku. Bisa saja mereka berbuat sesuatu yang tak akan mengenakkan. Barangkali tak ada hubungannya dengan apa yang kita katakan atau kita perbuat." "Tidak." "Itu berabad-abad lalu. Langkah kakinya tetap tegap. "0. Takuan mengikuti Jalan Zen. Hari ini hari kesembilan ratus tujuh puluh. bagaimana mungkin seorang lelaki menguasai Jalan Samurai. Mereka bertekad takkan pulang sebelum dapat membalas dendam. melangkah." seru Musashi kepadanya. Berhati-hatilah menempuh jalan itu. Hampir saja aku terbunuh." "Saya akan berusaha sebaik-baiknya. jalan asing yang harus ditempuh semua orang. Belum lagi jauh-sesungguhnya ia baru berada di pinggiran Himejiseorang perempuan datang berlari-lari ke arahnya dari sisi lain Jembatan Hanada. tidak. Jadi. karena tak ada pilihan lain. Dan aku siap menahan beberapa kesulitan. dan aku sudah memenuhi janjiku dengan setia. "Tidak. Saat itu ia sedang bergegas menghindarkan pikiran tentang kakak perempuannya yang demikian ingin ia temui dan demikian kuat ia rindukan. jalanmu bukan jalan yang mudah. mereka masih berusaha menelusuri jejakmu. "Ikut? Ikut ke mana?" tanyanya blak-blakan. dan mereka berbaik hati menerimaku sebagai semacam pembantu. Otsu. Akibatnya dia dipecat untuk selamanya dari pekerjaannya oleh Yang Dipertuan Ikeda. tentu saja Musashi tak punya maksud untuk mengajaknya atau siapa pun. "Ya. itu bukan pikiranku. Masalah-masalah itu berkecamuk dalam pikirannya yang gelisah." "Bukan itu soalnya. Waktu itu aku tidak serius. la sendiri terus di persimpangan jalan sambil memperhatikan bagaimana sosok biarawan itu semakin mengecil. kalau selamanya dicampuri oleh perempuan. Belum lagi terlambat. "Aku boleh ikut kamu. tapi kemudian berhenti. Lanjutnya. matanya penuh dengan gairah muda dan harapan. aku tak mau! Kau bohong. Mungkin kau tak pernah kenal namanya." Takuan berbalik dan berjalan ke barat. sampai akhirnya tidak kelihatan lagi. mencoba menduga pikirannya. Ia mendesak Musashi ke Ebook by Kang Zusi . tapi dialah yang bertanggung jawab ketika kau diburu-buru. la tidak menoleh lagi. tidak betul." teriak Otsu. gadis ini masih tunangan Matahachi. "Kuceritakan riwayatku kepada orang-orang di sana. ya. ya. kau tidak lupa. ada lagi. "Apa dayaku? Bagaimana mungkin aku berhasil mencari kebenaran dan pengetahuan. "Satu-satunya barang di dunia ini yang harus jadi andalanku. netcafe. demikian pikirnya. "Lepaskan bajuku. Dari waktu ke waktu ia mengangkat tepi topi anyamannya dan menatap jalan ke masa depan." Ia menatap wajah Musashi. Aku iyakan saja. sebuah kedai kecil khas di pinggir jalan raya yang menjual cenderamata. dan aku akan mengikuti Jalan Pedang. oleh siapa pun? Lagi pula. "Nah." "Aku harus menempuh perjalanan panjang dan berat. aku bisa tinggal di sana dan menantimu. 'Lihat Musashi itu: dia butuh seorang inang buat menjaganya.property of: CROSSFiRE. ia berjalan ke timur. rasanya sudah semuanya." "Beberapa? Hanya beberapa?" "Berapa pun banyaknya. Dan lagi. "Baik-baik di jalan. bukan?" Sesungguhnya. ia masih muda. Jangan terlalu dipikirkan. Tapi aku berhasil lolos. tidak! Tidak betul yang kaukatakan itu. Kau berjanji akan mengajakku. Osugi dan Paman Gon menyusulku tepat saat kau pergi." Takuan jadi murung. kalau perempuan membuntutinya terus? Apa tidak lucu? Orang akan mengatakan. "Musashi. itu pikiranmu. untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bijaksana. Kata-kata Otsu bernada teguran. Aku harus menjadikan diriku manusia yang lebih baik dari dirinya. "Sekarang cuma ada pedang ini. Aku pergi. "Ah. Waktu itu aku sakit dan harus beristirahat. "Takezo." "Kapan aku membohongimu?" "Di celah gunung itu. sekali lagi sendirian. dan berjanji pada diri sendiri. Kemudian. "Aku akan hidup dengan aturannya." Ia letakkan tangannya ke gagang senjata. akhirnya kau muncul juga!" teriak Otsu sambil mencekau lengan kimononya. "Ke mana saja kau pergi.

kemudian diputus cintanya oleh tunangannya. kemudian ia menatap mata Otsu. Otsu. Sesudah itu aku tidak melihatnya lagi sampai kemarin. pagar jembatan. akan pernahkah la bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Apakah maksud Takuan hubungan antara lelaki dan wanita itu harus dipecahkan oleh orang-orang yang bersangkutan saja? Apakah menurutnya tidak ada aturan yang dapat diterapkan seperti halnya dalam Seni Perang? Tidak ada strategi yang aman. Sekali lagi ia terpukau oleh perhatian Takuan terhadap sesama manusia yang mencakup segalanya dan sepenuhnya bebas dari sikap mementingkan diri sendiri. engkau tak akan pernah bahagia. apa jeleknya? Engkau pun tak akan merasa aku ada di situ. Sebentar aku kembali. Inc. Miyamoto Musashi. Aku berpikir. "Maafkan aku. la menatap ke bawah. "Lepaskan! Orang-orang memandangi kita!" "Biar saja! Waktu kau terikat di pohon itu. agar tidak tersangkut dalam persoalan antara dia dan Otsu. dan betapa kerdil ia menyangka bahwa biarawan itu hanya punya rasa cinta khusus kepadanya seorang. aku boleh ikut?" mohonnya. Pertama ia ditinggalkan selagi bayi. tapi ternyata air mata menggagalkannya. dan Musashi sangat memikirkannya. Aku menjerit dan berteriak. netcafe." "Bicaramu membuat aku merasa lebih dekat padamu daripada kapan pun. Aku berjanji. Pak Takuan menyelamatkan aku. Bahkan Takuan pun mengundurkan diri. "Maaf. "Otsu. 'Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. Aku cuma perlu datang dan menjelaskan soalnya. aku sudah dengar. "Kalau begitu. Aku mau membaktikan diriku pada latihan dan disiplin. Tiga tahun lamanya aku tinggal dalam lubang lembap. karena dalam bergunung-gunung buku yang telah dibacanya bertahun-tahun itu." Musashi membungkuk dan menyibakkan rambut Otsu dari wajahnya dengan kedua belah tangan. Kau tidak menyangkal hal ini. "Pemilik toko sudah berjanji membolehkan aku pergi kapan saja kuinginkan. hingga dua kali kauminta aku memotong tali itu. aku terkurung dalam menara puri. pikirkanlah lagi." "Ya. Lupakanlah. tidak ada satu kata pun yang membahas situasi yang dihadapinya sekarang. kan?" Otsu berusaha mengemukakan alasan yang logis. Kalau engkau memilih mengikatkan hidupmu padaku. dan kemudian mengemasi barang-barangku. Apa kau ingin kita jadi tontonan buat orang-orang yang suka ikut campur?" Otsu melepaskan lengan baju Musashi dan jatuh tersedu-sedu ke pagar jembatan." "Engkau tahu?" "Pak Takuan bilang padaku.property of: CROSSFiRE. sekalipun dari luar ia tampak lebih tenang." Musashi sadar ia hanya memperburuk keadaan. Selama aku tidak mencampuri latihanmu. Hanya ada kesukaran. Dia juga yang menolongku mendapatkan pekerjaan di sini. kan? Tunggu saja di sini." katanya. sebentar aku kembali." "Takuan? Dia menceritakan segalanya?" "Kukira begitu." Kata-kata Takuan kepada Otsu itu kini memberati pikirannya. Otsu memandang wajah Musashi yang kini tampak jauh dan tenang. Aku akan marah sekali kalau kau pergi diam-diam. yang takkan kuperoleh lagi sampai akhir hidupku. "Dengar. Padahal kebesaran jiwanya mencakup Ogin. Engkau tidak berutang apa pun padaku. dan siapa saja yang membutuhkan. Otsu. Aku baru menjadi orang baru. Aku tak dapat membawamu. dan kesukaran itu tidak akan berkurang. Rambutnya yang berkilauan menutupi wajahnya. Kau begitu gembira. suatu masalah yang hanya dapat dipecahkan Musashi sendiri? Tenggelam dalam renungan. tapi lidahnya kelu. Sekarang aku yakin diriku benar. "Beres. Aku membaca buku." Otsu berlari ke arah toko anyaman." gumam Otsu. Aku punya nama baru sekarang." Musashi tetap diam. di toko cenderamata. Itu tiga tahun lalu. Aku sudah menemukan pria terbaik. "Mestinya aku tak boleh bicara seperti itu. Terpikir oleh Musahi akan mengabaikan saja semuanya itu dan lari ke arah yang bertentangan." Musashi tak dapat menjawab lagi. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkannya. "Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. yang menurut pendapatnya dapat dibantunya. Keinginan Ebook by Kang Zusi . "Jadi. betapa jauh jalan yang harus kutempuh. aku ikut saja. "Aku tak akan mengganggumu. Dulu aku jatuh pingsan di dasar jurang dekat Warung Teh Mikazuki. tapi dia berkata. dan orang-orang memandangi kita.. "Aku minta. "Ini tengah hari benderang." Musashi menggenggam tangan Otsu yang putih mungil dan tertumpang di atas pagar jembatan itu." "Apanya yang mesti dipikirkan?" "Sudah kukatakan." katanya lembut. Waktu itu aku melarikan diri dari Osugi dan Paman Gon. Aku ingin memanfaatkan setiap saat dalam tiap hariku untuk bekerja memperbaiki diri. dan sekarang ini! Musashi tahu Otsu sendirian di dunia ini. "Lepaskan!" katanya memutuskan. Tiga tahun lamanya aku bahkan tak pernah melihat matahari. Bahkan keadaan semakin lama akan semakin sukar saja. ketika dia datang dan minum teh." katanya sedih. Musashi pun sadar betapa sempit pandangannya selama ini. aku tanya apa kau butuh pertolonganku. Ini beban yang tak siap dipikulnya. Aku sadar sekarang. jadi siapa yang tahu bagaimana akhirnya?"' Musashi menurunkan tangannya dan memandang ke jalan yang menuju barat. Dan tiba-tiba fajar merekah. "Selama kau menanti sampai hari ini. tidak ada jalan untuk menang? Atau apakah ini yang dimaksud cobaan bagi Musashi. la bertanya dalam hati.. ke air yang mengalir di bawah jembatan. Aku baru paham apa artinya menjadi manusia.

Otsu menghilang ke dalam toko. Kemudian terpandang olehnya bagian pagar jembatan. yang tak kenal hari esok. Tapi Musashi tak nampak lagi. dan topi besar perjalanan yang terikat di bawah dagu dengan pita merah tua. Di Jepang. demikian ada padanya. Segera saja potongan-potongan kecil kayu jembatan mengapung di air yang mengalir. Tokugawa Ieyasu telah memerintah sebagai shogun dua tahun lamanya. Nobunaga bunuh diri di Kyoto pada umur empat puluh delapan. Di situ tertulis jelas pesan yang digoreskan dengan ujung belati. kacau dan bingung.property of: CROSSFiRE. dan serunya. Kalau ia memang mau melarikan diri. pembalut kaki kuning muda. dan Musashi asal mengangguk saja. Perang saudara selama lebih dari seratus tahun telah demikian mewarnai pandangan hidup rakyat. Tak pernah ia tampak begitu cantik. netcafe. Tapi hanya sedikit orang yang yakin bahwa perdamaian itu akan kekal. Kalah dalam suatu pertempuran kecil dengan salah seorang jenderalnya sendiri. Otsu muncul kembali di jembatan. Puas mendapatkan isyarat ini. Ebook by Kang Zusi . Suasana umumnya riang dan penuh pesta. tapi tubuhnya masih terbelenggu oleh lesung pipit yang manis dan mata Otsu yang memohon. hingga mereka beranggapan bahwa ketenangan yang sedang berlangsung itu rapuh belaka dan bakal berumur pendek.. Lentera di jalan-jalan Kyoto dan Osaka bersinar terang sebagaimana pada masa kejayaan zaman ke-shogun-an Ashikaga.. mengenakan sandal jerami baru. tapi kakinya tak mau bergerak. Jenderal terkenal Oda Nobunaga. perang yang tak kenal henti antara para daimyo pada pokoknya sudah lewat. Ibu kota memang berkembang. kesadaran orang mengenai hidup yang hanya selintas terdapat pada orang kebanyakan maupun pada golongan elite. pada awal abad tujuh belas. tak seorang pun di dunia ini yang begitu mencintainya. tempat asal jatuhnya potongan-potongan kayu tadi. Alangkah manisnya anak itu! Jelas baginya. Otsu berteriak terkejut dan menangis sejadi-jadinya. sekitar dua dasawarsa kemudian. mencengkeram pagar jembatan dengan kerasnya. inilah saatnya. Hatinya mengatakan demikian. Maafkan aku MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 2 : A I R bagian 4 Perguruan Yoshioka HIDUP hari ini. melihat ke dalam air. Dan ia pun bukan tidak menyukai Otsu. tetapi ketegangan akibat tidak diketahuinya berapa lama keadaan itu akan berlangsung lebih merangsang keinginan rakyat untuk bersuka ria. la memandang ke langit. "Maafkan aku. Tahun 1605. yang menyerangnya secara mendadak dalam usaha balas dendam. Otsu menoleh ke belakang. jangan coba-coba pergi diam-diam!" la tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Toyotomi Hideyoshi dalam mempersatukan Jepang. "Ingat. kecuali kakak perempuannya. Inc. menyimpulkan pandangan ini dalam sebuah sajak pendek: Umur manusia yang lima puluh tahun Tidak lebih dari impian maya Dalam perjalanan lewat Perpindaban perpindahan abadi..

jenis orang pertama yang melihat tumpahnya darah pada saat pertarungan senjata meletus. Sering orang mengatakan bahwa Hideyori memiliki cukup banyak puri dan emas hingga bisa membeli semua samurai tak bertuan atau ronin di negeri itu. Sebagian mengenakan pedang kayo sebagai pelengkap pedang baja yang biasa. adalah anak Hideyoshi. Mereka memasang taruhan yang jumlahnya sama untuk kemenangan kedua belah pihak." "Mari kita bersuka ria selagi bisa!" Kehidupan malam yang sibuk dan tempat-tempat hiburan yang semakin meriah merupakan bukti nyata bahwa kebanyakan penduduk memang melakukannya. Mereka menyanyikan lagulagu mesum clan tertawa-tawa antara sesamanya. Tetapi bersamaan dengan datangnya damai. seakan selamanya berada di ambang letusan kemarahan. "Kenapa tidak kita coba tempat lain yang baru. Sebuah papan kayu yang sudah hitam warnanya karena usia. tapi semua orang tahu bahwa perjalanannya ke barat itu akan lebih dari sekadar kunjungan kesopanan. Mereka tampak kuat. Instruktur Militer bagi para Shogun Ashikaga. alat musik yang belum lama populer. Perempuan-perempuan malang yang dibeli secara berkelompok itu memetik shamisen. Di samping mereka berdiri tembok panjang berplester putih yang berakhir pada sebuah gerbang mengesankan dan beratap mengagumkan. jika ia mau. netcafe. penerus Nobunaga. Hidetada. Rumah-rumah rapuh tersebar di sana-sini. Mereka pun berbaik-baik dengan Hideyori maupun shogun untuk mengamankan diri.property of: CROSSFiRE. Gadis-gadis dari Provinsi Tamba dengan muka berpupur sembarangan menyiuli calon pelanggan. Inc. Ada desas-desus bahwa shogun baru akan segera mengunjungi Kyoto untuk menyatakan hormatnya kepada Kaisar. ia menoleh ke belakang dan katanya kepada Ebook by Kang Zusi . Di antaranya adalah sekelompok samurai yang kini sedang berjalan membelok masuk Jalan Shijo. dan sebagian lagi membawa lembing." "Lentera-lentera jalan ini bisa padam besok. di mana tak ada orang mengenal Tuan Muda atau salah seorang dari kita?" Sambil berteriak-teriak dan ribut tak keruan. "Perang pasti pecah. Spekulasi kosong mengenai masa depan politik negeri itu merupakan bahan utama pergunjingan di udara Kyoto. Hideyori masih bersemayam di Puri Osaka. Banyak penguasa feodal lainnya juga mengetahui hal ini. Begitu mereka memasuki daerah pelacuran. terjadilah. nilainya pun melonjak. Hideyoshi telah berbuat sebisa-bisanya agar kekuasaan tetap berada di tangan keluarga Toyotomi sampai Hideyori cukup umur." "Tinggal masalah waktu. Nama tuan muda itu Yoshioka Seijuro. Bertahun-tahun tanah itu kosong dan penuh ditumbuhi rumput. malahan mengizinkannya menikmati penghasilan tahunan yang besar jumlahnya. Ieyasu secara resmi sudah mengundurkan diri dari kedudukan shogun. Kimono cokelat tua yang bagus potongannya menutup tubuhnya yang jangkung. benar-benar lambang kehancuran perang. Tuan Muda?" tanya mereka beramai-ramai sambil mengelilingi guru mereka. Sekalipun masih memegang kekuasaan. memuat tulisan yang hampir tak terbaca lagi: Yoshioka Kempo dari Kyoto. Wajah mereka sekeras batu dan mata mereka penuh ancaman. ia sadar bahwa Osaka merupakan ancaman besar. ia menyerahkan gelarnya kepada anak lelakinya yang ketiga. tetapi pemenang di Sekigahara adalah Ieyasu." "Kenapa mesti pusing? Apa yang terjadi. "Ke mana kita pergi malam ini. Meskipun Ieyasu tidak menying-kirkannya. tirai-tirai merah dan kuning pucat tergantung melengkung di pintu masuk. Toyotomi Hideyori." yang lain menyela." "Barangkali dia benar. Saingan terbesarnya yang potensial. "Ke mana lagi kalau bukan ke tempat kemarin malam?" jawab sang guru dengan muram. Selagi masih cukup kuat untuk menguasai daimyo lain dan mempertahankan hak keluarga untuk berkuasa. Di situ kupu-kupu malam menjalankan usahanya. cepat atau lambat. Mereka masuk daerah yang berpenerangan balk di sepanjang tepi Sungai Kamo. Kedelapan samurai muda itu kelihatannya selesai berlatih pedang terus-menerus sepanjang hari. "Ah! Perempuan-perempuan itu semuanya jatuh hati kepada Tuan! Mereka hampir tidak memandang kami. tampaknya mereka benar-benar tenggelam dalam persoalan ke mana akan pergi minum dan melacur. Tempat ini bisa menjadi titik kumpul yang mungkin dipakai untuk perlawanan.

Perhatian yang ditunjukkan orang kepadanya membuat detak darahnya berpacu. lalu ia berdiri menanti orang yang disuruh itu pergi melewati lentera-lentera dan orang-orang yang sedang bersuka ria. Jadi." "Ya. perempuan-perempuan itu semua melongok dari pintu. "Tapi itu justru menarik perhatian. sebelum Toji dapat membuka mulut. "Oh. Ia menoleh dan memerintahkan salah seorang untuk mencari topi yang dimaksud. belikan aku topi anyaman. tapi tidak menyembunyikan hiasannya. Warna itu populer sekali di sini. "Menyembunyikan wajah. sedang menggoda dan sekaligus menjilat tuannya. "Mudah sekali. Jilatan pengiringnya tak kalah ampuhnya dengan cumbuan perempuan." ucap Toji. salah seorang dari kelompoknya. wah. "Hei. dan barangkali dari keluarga kaya." "Anda membutuhkannya bukan untuk di sini. "Anda lebih tampak seperti orang yang tahu mode. Semua perempuan di sini tahu bahwa kalau Anda menyembunyikan wajah dengan topi. "Dengan topi itu. betul-betul tak mungkin sekarang untuk tidak singgah. "Aku mesti lebih hati-hati. ia selalu suka pamer." "Yang dapat menyembunyikan wajah Anda?" "Ya. netcafe." Seijuro menanggapi ajakan-ajakan menggoda ini dengan berusaha kelihatan lebih tinggi dan lebih mulia lagi. "Semua orang tahu. Inc. "Aku tak suka orang melihat anak Yoshioka Kempo berkeliaran di tempat seperti ini. Tapi seperti kaukatakan. saya kira. berhasil dibujuk Toji untuk menginjakkan kaki di daerah itu. bukan?" jawab Gion Toji. "Kenapa Anda menyembunyikan wajah? Anda tidak bisa mengecoh siapa pun. Sikap ini diambilnya belum lama setelah ia. orang dari Perguruan Yoshioka suka memakai warna cokelat tua." "Ayo. Tentunya dia memang ingin dikenali. ia memancarkan kemuliaan dan kelas yang memang pantas bagi anak keluarga kaya. Seijuro memang memiliki tubuh yang bagus. tampan! Kenapa sembunyi di bawah topi jelek?" "Ayolah kemari! Saya ingin lihat yang di bawahnya. tapi itu salah satu di antaranya. untuk pertama kalinya. Namanya 'warna Yoshioka'. tapi mereka tidak mengenakan hiasan tiga lingkaran pada kimononya. Dengan dua sarung pedang bersemir mengilat yang tergantung di sisinya. dan ia masih malu dilihat orang di sana. itu tuan dari Jalan Shijo!" ujar salah seorang perempuan itu." Tanpa jilatan Toji pun. tak pernah ia kekurangan uang. Terlahir sebagai anak tertua pemain pedang terkenal. Biar kami melihat. Ketika orang yang disuruh itu kembali. Masih ada rasa malu yang disembunyikannya. Saat itu juga sebuah tangan dari belakang kisi-kisi terulur dan menarik pakaian itu." Seijuro menunduk memandang lengan kimononya. "Wah. sebagaimana biasa." Toji tertawa." Ebook by Kang Zusi . "Lihat. "Aku takkan minta kalau tidak membutuhkannya di sini!" decap Seijuro tak sabar. pura-pura tersinggung.property of: CROSSFiRE." Sambil menoleh kepada yang lain-lain. Maka tak ada topi jerami yang dapat menghentikan perempuanperempuan itu menegurnya ketika ia lewat. jangan malu-malu. menyokong kesombongannya seperti racun yang manis. supaya dapat benar-benar melihatnya. Sebagai anak manja dari keluarga kaya. Seijuro mengenakan topi dan merasa lebih santai. tentunya Anda dari keluarga baik-baik." kata perempuan itu." "Betul." "Bagaimana perempuan itu bisa tahu siapa aku?" geram Seijuro kepada Toji." katanya. "Toji. banyak orang lain yang memakainya juga. tapi sampai waktu belum lama berselang ia tak kenal dengan sisi buruk kehidupan ini." Toji. Tentu saja ada alasan lain kenapa mereka suka pada Anda. ia melanjutkan jilatannya secara tak langsung." kata Toji. Yoshioka Kempo.

Ueda tua bilang. itu adil!" Pertandingan pun dimulai. Kulihat kimono berlengan panjang. terima kasih. Ueda Ryohei yang menjadi tandingan Toji dalam permainan pedang berteriak." Dan satu sloki lagi terbang. Ryohei! Menarilah. tapi tak bisa kau menghabiskan ini?" "Tentu saja bisa.property of: CROSSFiRE. tapi kalian takkan menemukan uban dalam rambutku. pagar bambu. beberapa orang di antaranya sudah mulai muntah." kata Ryohei. Gambar-gambar kampungan dan bunga-bungaan disusun morat-marit. sedang lainlainnya tak bisa bergerak lagi dan hanya melotot kosong dengan mata merah. "Kau menari. perempuan!" raung Toji. Gadis yang kulihat kemarin Tak ada lagi hari ini." "Kau menyemirnya barangkali. Tapi kalau aku minum. "Semaumulah. Lemparkan ke sini!" Sloki sake pun melayang di udara." "Lepaskan. "Memang aku lebih lama dari yang lain-lain belajar di perguruan ini. Di balik pagar bambu." kata Seijuro yang tampak tak enak. memberengutkan muka. seorang siswa mengangkat mangkuk sake yang besar untuk rekannya. pagar bambu. dan diambilnya sapu. dan mulailah mereka. maju ke depan dan minum satu sloki sebagai hukuman!" "Susah-susah amat. hiasannya tanpa selera sama sekali. "Aku tak suka disebut tua. dan tunjukkan kau masih muda. Lihat!" Ryohei pergi ke sudut beranda. Namun yang lain-lain tidak memperhatikan joroknya lingkungan. kami akan masuk!" Para siswa itu pun berkerumun masuk ke bawah tirai warung. Di situ diikatkannya celemek merah milik pelayan ke belakang kepalanya.. Inc. sedangkan satu orang mendentang-dentangkan penjepit api ke pinggir anglo. kau juga mesti!" "Ya." "Siapa yang mengatakan itu. "He. "Bagaimana kalau minum ini sekali teguk?" "Tidak. mengetuk-ngetuk piring secara berirama dengan sumpitnya. "Dan ini balasannya. Kimono berlengan panjang di salju. dan perempuan-perempuan melanjutkannya dengan iringan shamisen. hingga sukar bagi Seijuro untuk merasa senang. netcafe." "Boleh. "tapi suruh perempuan ini melepaskan lengan bajuku." "Terima kasih? Katanya kau samurai. "Beliau bilang. Mereka minum seperti kuda di palungan. ditusukkannya kembang prem ke dalam simpulnya. Toji pun membungkuk. Ebook by Kang Zusi . yang juga memesan beberapa penganan pilihan. keluarkan perempuan!" kata yang lain-lain serentak menirukan suara Ryohei. Kamar yang mereka masuki itu.. "Keluarkan sake!" perintah Toji.. Katanya. Toji!" Ia mengajak mereka semua menggabungkan diri. "Lihat! Dia mau menarikan tarian Perawan Hida! Mari kita dengarkan nyanyiannya juga. Tenggelam dalam tepuk tangan sesudah bait pertama. siapa yang menari!" Seijuro berseru. dan sake mengucur dart sudut-sudut mulut mereka. "Hei. Gadis yang kulihat hari ini Takkan datang lagi esok hari. "Keluarkan perempuan!" Perintah itu diberikan dengan nada yang sama masamnya dengan nada yang dipakai Toji untuk memesan makanan dan minuman. Tak tahulah apa yang terjadi esok. Sesudah makanan datang. Aku ingin mencumbunya hari ini Di sebuah sudut. Kira-kira sejam kemudian.

Kyushu-di seluruh negeri ini." Beberapa sloki sake lagi dituangkan untuk mereka yang berkelahi. "Berhenti kalian!" Keduanya melompat. Melihat ini. Ada perguruan lain di samping delapan yang ada di Kyoto ini. Si penghasut sekali lagi memuji-muji dirinya dan lain-lainnya. tidak hanya di Kyoto.property of: CROSSFiRE. dan Perguruan Yoshioka ini tidak lagi yang terbesar. Satu orang yang punya kebiasaan bicara keras. Gion Toji dan Ueda Ryohei. menyatakan." sedannya. berani-berani memberi peringatan?" Murid yang tersinggung itu meninju dada lawannya hingga terjatuh." "Apa istimewanya mereka itu?" "Maksudku. Bicaranya tersendat-sendat. provinsi-provinsi dalam.. mempertahankan pendapatnya. Echizen. kita tidak boleh merasa kita ini satu-satunya pemain pedang di dunia." "Aku tak percaya kalau kelakuan mereka seperti itu.. netcafe. Dan jangan lupa Ito Ittosai di Shirakawa. tapi kau mengecilkan Gaya Yoshioka Kempo?" "Aku tidak mengecilkannya! Sekarang ini tidak seperti dulu. cegukan. Hups!" Seorang anggota perguruan yang duduk dekat Seijuro tertawa. Percayalah. nama baik Yoshioka Kempo akhirnya akan runtuh. Inilah cara mereka bergembira. "Kalau orang terus menyemburkan jilatan. Sekarang jauh lebih banyak orang yang mempraktekkan Jalan Pedang. ketika guru mengajar para shogun dan dianggap pemain pedang terbesar. "Kau anggota perguruan ini. Inc. tapi kau takut pada perguruan lain!" "Siapa yang takut? Aku cuma ingin kita menjaga diri dari rasa puas diri. "Kau ingin berkelahi?" geram orang yang jatuh. dan mencoba meredakan kemarahan mereka. kenapa pula mesti membohongi diri sendiri?" "Pengecut! Kau pura-pura jadi samurai. "Aku cuma mengemukakan pendapat untuk kebaikan perguruan ini." "Tentu. dan akhirnya keadaan normal kembali. memisahkan yang berkelahi. ada yang benar-benar mengerti teknikteknik Delapan Gaya Kyoto? Kalau ada-hik-ingin aku ketemu dengannya. provinsiprovinsi barat. "Apakah Anda tidak menikmati pesta ini?" "Ah. di luar Tuan Muda. Ketenaran Yoshioka Kempo tidak berarti Tuan Muda dan kita semua ini pemain-pemain pedang terbesar masa kini." "Bajingan picik kamu!" seru seorang yang merasa tersinggung harga dirinya.. "Maju!" "Begini?" jawab si pengecam dengan tajam sambil bangkit." Ebook by Kang Zusi . Di Kyoto saja ada Perguruan Toda Seigen di Kurotani." Murid-murid senior. "Apakah di negeri ini. "Dia mengumbar jilatan karena Tuan Muda ada di sini. dan Ogasawara Genshinsai di Kitano. "Ya. Ayo. sedang si pengecam. Apa mereka itu betul-betul menikmatinya? Rasanya tidak." "Tapi siapa kau ini. "Tenang!" "Kami semua mengerti perasaan kalian. Itu sama sekali tidak benar. tapi juga di Edo. runtuh!" Hanya Seijuro yang tetap paling tenang. sambil menangis memeluk Ryohei. dan semakin lantang bicaranya kalau makin banyak minumnya. Toji berkata. menengahi. walaupun tidak menerima siswa. Hitachi.

" la gelisah sedikit. "Masih terlalu sepi di sini. bagus. Saya akan menyusul beberapa menit lagi. Suatu peristiwa yang masih segar tersimpan dalam kenangan banyak orang. padahal di rumah sendiri mereka sama sekali menolak mengulurkan tangan. seorang perempuan sedang berdiri berjinjit. dan padang miskantus. "Saya heran." Seijuro tampak sangat lega dan segera saja setuju. Tempat ini berada dekat Kayahara. kenapa sebagian lelaki bisa begitu suka menolong dan penuh perhatian bila sedang mengunjungi tempat seperti mi. regent Hidetsugu yang kejam. Itu sebabnya saya giring mereka kemari-murah. "Ya. dan melakukan selusin pekerjaan kecil lain yang tak terbayang akan mereka lakukan di rumah sendiri." "Ha! Lancang kamu." "Di sana memang jauh lebih baik. Seijuro berkata. Ayo ambilkan lap. "Aku ingin pergi ke tempat kemarin malam. mengeluarkan bantal-bantal sendiri. Tuan Muda. di seberang jembatan kecil di Jalan Sanjo. "Cukup?" tanya Toji. kenapa Oko lama betul. tak jauh dari situ." kata Oko kaget." "Mari kita pergi diam-diam. Ia berdiri mencari tahu. dan rambutnya yang baru dikeramas tergerai di sekitar wajahnya. Punggungnya tegak di bawah tepi atap. Inc. dan mempersilakan tuannya masuk. Tak seorang pun melihat. Untaian rambut dan cahaya lentera menimbulkan bayang-bayang yang terus berubah-ubah di kedua tangannya yang terulur. tumpah sebagian." Ketika akhirnya ketidaksabaran itu berubah jadi kegelisahan. menghampar halaman luas Zuisenin. Dia malahan tidak membawakan kita teh. Begitu duduk. ia tidak dapat lagi duduk tenang. "Oko! Biar kugantungkan lampunya." Ketika orang itu mendekat ternyata bukan Seijuro. Di sebelah selatan. Biar Ryohei mengurus orang-orang ini. gundik-gundik. Waktu melangkah ke beranda." Tetapi Toji melirik lentera itu." "Saya buka pintu ke beranda. Di bawah beranda sempit itu berdesir air Sungai Takase. Semerbak kembang prem mengambang di angin petang. Toji berpura-pura tidak mendengar.property of: CROSSFiRE." "Anda pura-pura pergi ke belakang." kata Toji. Di mana saja perempuanperempuan sembunyi? Rupanya tak ada pelanggan lain malam ini. dan anak-anak kemenakannya." "Lihat. Giring-giring kecil pada obi-nya berdering ketika ia berseru. dan ia menurunkannya untuk menyalakannya kembali. Tadinya saya kira Anda memang ingin pergi ke sana. tapi di sana cuma buang-buang uang saja kalau membawa gerombolan orang bebal ini. Oko heran. "Awas! Bisa tumpah teh ini!" "Kenapa kau begitu lambat? Tuan Muda di sini. Di luar rumah. Ini salahmu. menganggapnya miring. ya? Di mana Oko?" Ebook by Kang Zusi . "Tunggu." "Oh." Seijuro menghilang dengan lihainya. mencoba menggantungkan kembali lentera ke pakunya. kenapa teh tidak dihidangkan. Angin mengembus lilin lentera itu. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Saya sendiri sudah bosan di sini. Di sini pasukan Toyotomi Hideyoshi membantai istri. Terima kasih. "Tenang sekali di sini." "Maksud Anda Yomogi?" "Ya. dan menggantungkannya kembali. hampir saja ia bertumbukan dengan Akemi yang sedang membawa baki berpernis emas. Toji jadi gugup. netcafe. Sering kali mereka membuka dan menutup jendela sendiri. Kurasa kau suka dia. jajaran hitam Teramachi atau "Kota Kumpulan Kuil". tapi Toji.

property of: CROSSFiRE." Akemi mengambil sejumput tembakau dari sebuah kotak kecil dari kerang mutiara dan memasukkannya ke dalam pipa dengan jari-jarinya yang mungil dan molek." Seijuro berpura-pura acuh tak acuh. "Anda ingin merokok?" tanyanya sopan. asalkan kau duduk lagi. ia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Akemi dan menariknya." Ia merasa jengah. tapi tidak menjawabnya. "Oh. Terima kasih atas kedatangan Anda. "Tak usah lari." Toji minggir. "Baik. Kukira dia sering datang kemari tanpa aku. Seijuro memegang pipa itu dengan kaku. kau dengan aku." "Tapi aku yakin! Betul-betul yakin! Pertemuan yang menyenangkan. Ketika Akemi berdiri." "Memang." "Saya betul-betul tidak tahu. dan Akemi masuk kamar menyalami tamunya. Biarkan aku lewat. aku akan merokok. ya!" katanya. memandang ke samping." Berusaha selugu mungkin. "Selamat malam. pahit." "Jadi. Inc. siang hari kami sibuk sekali. Akemi mengikik. Akemi menyingkirkan tangan itu dengan santun. "Toji ke mana?" "Barangkali di kamar Ibu. dia belum selesai?" "Ya. "Apanya yang lucu? Kupikir ibumu suka dia juga. Seijuro meletakkan tangannya ke tangan Akemi yang terletak di pangkuan. "Rasanya tembakau baru-baru ini dilarang. Paling tidak. kamu. dan katanya. "Aku tak akan menyakitimu." "Lepaskan!" protes Akemi. Terima kasih atas yang semalam." "Siang? Siapa yang datang siang-siang?" "Itu bukan urusanmu." Ebook by Kang Zusi ." "Rupanya dia suka Oko." katanya. tetapi tindakan ini malah membuat Seijuro menjadi lebih berani. "Berhias tentu saja. Akemi. ya? Dua pasangan bahagia-ibumu dengan Toji. begitulah kelihatannya." "Saya nyalakan apinya. tapi semua orang masih juga merokok." "Baiklah. "Hmm. Kemudian diselipkannya pipa itu ke mulut Seijuro. Betul?" Akemi tertawa. Dari baki itu Akemi menurunkan guci yang menyerupai pedupaan dan meletakkan di atasnya sebuah pipa yang bagian pengisap dan kepalanya terbuat dari keramik. netcafe. Karena tidak terbiasa.

semakin merah tua mukanya. "Sake. Ia memeluk pinggang Tuan Muda. Kelihatannya baru sekitar enam betas atau tujuh belas. Ia berhenti menyanyi. Malam ini. Oko muncul begitu saja di belakangnya. Oko berkata.." kata Oko. Saya cuma mau ambil sake. "Tuan lihat sendiri. "Betul? Oh." Dengan pandangan mengancam. Inc." Seijuro mencoba menggosokkan pipinya ke wajah Akemi yang tertunduk. berlari lewat ruang depan. ketika saya umur enam betas. "Tukang bual! Kau jangan bikin kami bosan di sini. tapi tak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis itu. dan tanyanya." "Tapi kalau saya tidak ambil." kata Toji sambil menggeser bantalnya ke dekat meja. "Ibu! Ibu!" Seijuro melepaskannya." Bahkan di malam yang tergelap pun Tak hilang jalanku. bagaimanapun dia memang sudah dua puluh satu tahun. "Aku pulang sekarang. Oko minta pertolongan Toji." "Ibu di kamar lain. Melihat betapa kecewanya Seijuro. Biarlah ia berawan. Waktu itu tahun pertempuran di Sekigahara. Tak tahu apa yang hendak dilakukannya." "Apa?" "Oh. Seijuro yang selama ini duduk diam sambil menyandarkan dahi di tangan kini tergugah lagi. dan bersama-sama mereka membujuk Seijuro untuk kembali duduk. dan Akemi lari ke belakang rumah. dan tampak rambut Oko sudah rapi dan riasannya sudah beres. "Akemi. saya senang sekali. "Tingkahnya seperti anak kecil saja. Toji?" "Aku tak yakin." Sambil cemberut sedikit. dan katanya. "Tuan Muda. Oko membawakan sake dan mencoba menggembirakan Seijuro. dan katanya. netcafe. gadis itu pun melontarkan senyuman. Pergi sana ambil shamisen-mu. Tapi oh! Betapa kau memikatku! "Yah." kata Toji. Ketika kembali. kemudian Toji mendatangkan kembali Akemi ke kamar itu. Saya ingin tetap umur enam belas selamanya. sedang asyik ngobrol dengan Toji.property of: CROSSFiRE. Kalau berawan. Dia begitu kecil. "Akemi. Bu. Teruskanlah.. Ibu marah.." Akemi tiba-tiba jadi kembali hidup seperti ikan." kata Akemi patuh." katanya sambil menangkupkan tangannya ke dada." "Dua puluh satu? Tak kukira sudah setua itu. tapi Akemi mengelak dan berteriak-teriak meminta tolong." "Aku tak mau sake. Menyembunyikan bulan Yang hanya terlihat lewat air mataku. Akemi berdiri dan pergi mengambil alat musiknya." "Ya. Ia kesepian. tuang sedikit sake untuk Tuan Muda. "Tapi dia sudah dua puluh satu umurnya. Tapi betul. Sesuatu yang indah terjadi. Seijuro jadi gundah. ia mulai bermain dan menyanyi." dan turun ke gang luar. ia menggerutu keras. Semakin jauh ia melangkah." "Itulah daya tariknya-dia masih muda. mau ke mana? Tuan Muda belum mau pulang. ayo minum sake samaEbook by Kang Zusi . kan?" Entah dari mana datangnya. "Saya tak bisa menceritakan pada siapa pun. tapi kelihatannya ia lebih cenderung menghibur diri sendiri daripada menyenangkan hati para tamu. "Anda paham.

" Ia mengulurkan sloki pada Akemi dan mengisinya dari tempat pemanasannya. sloki demi sloki. Inc. netcafe. Baik Oko maupun Akemi tampak cerah dan gembira. Akan susah jadinya kalau Akemi menolak. menantikan Oko. Sambil semakin mendekati Oko. Gadis yang tampaknya berumur enam belas tahun. Akhirnya pelupuk mata Toji menjadi berat dan berlayarlah ia ke alam mimpi. Toji mengambil kamar sebelahnya. Akemi?" Toji mengedip pada Oko. berarti ia ingin tidur dengan Akemi." jawab Toji." "Tapi ini benar-benar menyenangkan!" kata Seijuro yang kini betul-betul merasa senang. " Tak ada penerangan di kamar itu. berpikir. Sudah siang ketika ia bangun esok harinya. kemudian menuntun Oko ke kamar lain. dengan bibir yang tidak pernah dicium dan mata yang memejam malu. "Ada langganan lain?" Oko mengangguk. wajahnya masam. di belakang. "Bisa juga kau minum. Oko menempelkan jarinya ke pipi yang berbedak tebal itu. Ke mana saja perginya sake itu dalam tubuh mungil itu? "Anda sebaiknya berhenti saja. ya. tapi. "Anda dapat tinggal di sini selama Anda maubetul kan. dan keluarganya punya banyak uang.property of: CROSSFiRE. Oko lama tidak juga muncul. Akemi mereguknya tanpa menolak-nolak lagi dan cepat menyerahkan kembali sloki itu pada Seijuro. aku juga pikir begitu. "Apa itu?" tanya Toji. ini tawaran menarik. Karena merasa suaranya sudah terdengar aneh.. katanya. sama. ia mengambil sloki lain yang lebih besar. Seijuro agak heran. Toji bertanya. Dari segala segi. Tapi tentu saja perasaan seorang ibulah yang terpenting dalam hal-hal seperti itu-atau dengan kata lain. Sebaiknya biarkan dia main shamisen saja. anak itu dapat minum semalam suntuk tanpa mabuk. di mana ia mulai berbisik-bisik cepat. ternyata dapat mereguk sake seperti lelaki. dan selama setengah jam sesudah itu ia terus menandingi Seijuro. Seijuro kagum. bisiknya. Seijuro sudah bangun dan sedang minum di kamar yang menghadap sungai. Dengan seenaknya Toji meletakkan tangan ke bahu Oko. yang diteguk lagi dengan cekatan." Keduanya lalu mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke kamar Seijuro. Malam ini aku tidak pulang. "Ya." kata Oko pada Seijuro. Rupanya karena tak puas dengan ukuran sloki itu." "Nah. Pokoknya jadi! Kami berdua akan menginap disini. berapa bayarannya? "Nah?" desak Toji mendadak. tidur nyenyak." "Tak ada tapi-tapian. "Anda tak apa-apa? Tidak kebanyakan minum?" "Tak apa-apa. Ia mengatakan pada Oko bahwa kalau Tuan Muda sudah demikian bersemangat. dan mendapati Seijuro seorang diri. "Nanti. Ebook by Kang Zusi . Ayahnya punya murid yang jumlahnya lebih banyak daripada murid siapa pun di negeri ini. Mereka sedang membujuk Seijuro agar mau berjanji. dia belum kawin. pikirlah!" desak Toji. "Bukan pasangan yang jelek! Dia guru seni bela diri yang terkenal. Seijuro menawarkan lagi pada Akemi. ya?" Selesai meneguk bagiannya. Dan lagi. merebahkan diri di kasur jerami.. Toji!" "Bisa saja. "Entah kenapa. kemudian meletakkan bibirnya yang basah ke telinga Toji. Justru pada waktu itu terdengar suara keras di kamar sebelah. seolah-olah mereka telah lupa malam sebelumnya. katanya. Ia berbaring di sana sambil mengetukngetukkan jarinya ke tatami.

memancarkan bau sake. pedangnya terletak sembarangan di atas perutnya.." Dari gang rumah. Diciptakan oleh seorang biarawati bernama Okuni di Kuil Izumo. mendecap mengecamnya. dan juga tak ingin berurusan dengannya. Masing-masing berusaha mencapai taraf kepribadian sendiri dengan menambahkan tari-tarian dan lagu-lagu daerah yang istimewa ke dalam repertoarnya. Toji membuka pintu. disambut oleh raungan kemarahan. Ia seakan mendengar bunyi pedang kayu dan detak gaganggagang lembing. "Tunggu!" kata orang itu dengan kasar sambil bangkit sedikit. Seijuro duduk memandang ke luar pintu." "Mereka sudah begitu gembira! Mereka akan marah besar kalau kita ingkar janji. netcafe. Tuan akan ajak kami?" "Baiklah. Di daerah ramai sepanjang sungai itu berdiri panggung berderet-deret. Saya tidak tahu di sini ada tamu. Toji tidak tahu siapa orang itu. lain sekali dengan kamar-kamar depan yang menyenangkan. Sudah lewat tengah hari. kamar itu beralas tikar rombeng. Siapkan beberapa kotak makan siang dan bawa juga sedikit sake. "Toji. Di sebelahnya lagi terdapat kamar kecil yang suram. Para aktris itu sebagian besar mulai sebagai wanita malam.. Di bawah jembatan kecil di Jalan Sanjo perempuan-perempuan sedang mengelantang kain di sungai. Denshichiro. "Apa kedua orang itu belum juga siap?" tanyanya kesal." "Aku bukan tamu!" pekik orang itu ke langit-langit. Di sana kelompokkelompok pemain wanita berlomba-lomba memikat penonton. Namun kini sesudah naik panggung. karena kedua wanita itu tidak kelihatan. sudah tak ingin lagi ia melihat Kabuki. Banyak di antara mereka menggunakan nama pria. tidak tembus matahari dan berbau apak kain seprai. Kepopulerannya menyebabkan banyak orang lain meniru. Toji. yang merasa jengkel karena pengalaman malam sebelumnya.property of: CROSSFiRE. Ia tidak berusaha bangun. mereka biasa dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di rumahrumah orang paling kaya di ibu kota. maaf. "Maaf. "Siapa itu?" Melompat mundur. "Aku tidak betul-betul ingin membawa mereka itu melihat Kabuki. Seorang samurai jorok tergeletak di lantai. Alangkah herannya ia. mengenakan pakaian pria. seperti malam dengan siang bedanya. Saya akan menyuruh mereka buru-buru. "Jadi. dan membalik pergi. Mari kita pulang. terbaring saja di situ setengah sadar." katanya." katanya cepat. dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang menggetarkan sebagai prajurit yang gagah berani." gerutunya." Mereka bicara tentang Kabuki Okuni yang sedang mengadakan pertunjukan di tepi sungai di Jalan Shijo. tiba-tiba mereka mulai ribut soal apa rambutnya sudah benar atau obi-nya sudah lurus? Brengsek betul!" Pikiran Seijuro melayang ke perguruannya. "Oh. "tapi kenapa justru waktu kita sudah siap berangkat. Toji menatap ke dalam kamar sempit yang gelap itu. Inc. "Ke mana pula mereka itu?" tanyanya tak habis pikir." "Sesudah Tuan berjanji?" "Yaaa. Toji melayangkan pandang ke kamar tempat pakaian para wanita itu berserakan. Telapak kakinya yang kotor menghadap muka Toji. tidak bersemangat seperti biasanya. Kabuki adalah tarian jenis baru yang disertai kata-kata dan musik. mengganggu. pria-pria berkuda mondar-mandir di jembatan. yang sedang digemari orang di ibu kota. "Memang menarik membawa perempuan ke luar. pasti adiknya. Toji berkata. Di kamar sebelah pun mereka tak ada. kita pergi. Lebam karena minum dan lelah karena menanti. pakaian dan penampilannya tak bisa disangsikan lagi menunjukkan bahwa ia salah seorang ronin yang sering kelihatan bergelandangan di jalan-jalan. "Tutup pintu!" Ebook by Kang Zusi . Apa kata para siswanya tentang ketidakhadirannya? Tidak sangsi lagi.

"Suami macam apa yang mau jalan bersama lelaki lain yang sedang mengejar-ngejar istrinya?" tanyanya pahit. Inc. Kaubilang tak bisa makan ini. aku tidak minta kau tinggal terus di sini. Nah. Badannya pun mulai gemetar. dan tidak lagi menjadi lelaki sejati? Apakah lebih buruk merana di dalam penjara daripada menderita di sini. Toji pun melakukan apa yang diminta. "Kenapa tidak?" katanya kejam. Seakan-akan sedang mengomeli anak kecil. Matahachi tetap diam dengan muka cemberut.property of: CROSSFiRE. jadilah buruh. muncullah Oko. tutup itu. Mana yang lebih baik? Menjadi tawanan. Mengeluh apa lagi?" "Aku sudah bilang mau pergi dan kerja! Aku sudah bilang. ia merasa beruntung telah menemukan orang yang akan mencintai dan mengurusnya. Matanya menyala marah. Tapi lama sesudah mereka tidak kelihatan." Mulut Matahachi mencibir muak. "Tutup apa?" "Tutup kedai minummu. ia masih juga menatap pintu. kau dilahirkan sebagai orang goblok. "Ini omongan apa? Apa maksudmu antara aku dan Toji ada apa-apa?" "Siapa bilang ada apa-apa?" "Kata-katamu itu yang bilang. "Tapi kau membuatku muak!" desisnya. kenapa tidak bertindak seperti suami? Siapa menurutmu yang memberimu makan. Tapi itu tak cukup baik buatmu. Akemi. mencekal kimono Oko. Kaget oleh kekasaran itu. atau menjadi piaraan seorang janda jalang. tak bisa memakai itu. Oko dan Akemi berpaling meninggalkannya. dan kau mulai membuka kedai minum yang busuk ini. "Tak mau ikut kami?" "Ke mana?" "Lihat Kabuki Okuni. Dandanannya habis-habisan. minum sake dan malas-malasan. ya. "Siapa yang kausebut orang gila? Apa maksudmu bicara begitu pada suamimu?" Oko melepaskan diri darinya. tutup itu!" pekiknya. "Katanya kamu lelaki!" Walaupun Oko melontarkan kata-kata itu dengan penuh kejijikan. tak bisa tinggal di rumah kecil yang kotor-tak ada yang kausukai. jelas ingin kelihatan sebagai nyonya besar. hidup sendiri saja! Susahnya. dan selalu menjadi Ebook by Kang Zusi . kapan saja!" Selagi Matahachi berusaha menahan air mata kemarahan. "Kau selalu cemburu tanpa alasan! Ayo. Cukup untuk kita bertiga. netcafe. ia berkata pada Matahachi." Matahachi tidak menjawab lagi. mau makan apa besok?" "Aku bisa dapat cukup uang untuk hidup kita. Begitu Toji pergi. dalam kegelapan. Ketika Oko menyembunyikannya di rumahnya dekat Gunung Ibuki dulu itu." "Dan kalau kututup. Mestinya kau tetap tinggal di Mimasaka! Percayalah. Kau cuma menggantungkan diri padaku. kenapa tidak pergi saja? Sana. dan katanya. dan selamanya kau akan jadi orang goblok. "Nah. biar dengan menyeret batu karang. tapi kalau begitu. Kau bebas pergi. bertanya. Lalu tidak kaubolehkan aku melakukan kerja yang jujur. Oko merasa wajahnya bagai disiram air dingin. marah apa lagi sekarang?" Akemi yang baru saja berdiri di belakang ibunya." Matahachi mengulurkan tangan. menyeret batu pun aku mau buat dinding puri. dan pergi." "Kalau ingin angkat batu atau potong kayu. Tapi sekarang rasanya sama saja seperti ditangkap musuh. gelandangan tak berguna?" "Heh!" "Kau hampir tidak menghasilkan apa-apa sejak kita meninggalkan Provinsi Omi. atau yang lain. Kita jangan buang-buang waktu untuk orang gila ini. "Kalau kau seorang suami.

ibu dan anak perempuannya. "Kelihatannya sudah seperti musim semi!" "Orang bilang shogun sebentar lagi akan datang ke ibu kota.. Di luar. kalian berdua tentunya dapat uang banyak. namun telah dibiarkannya sundal berbedak dan bernafsu garang ini menurunkan derajatnya hingga sama tingkatannya dengan dia. Dia pikir dia sudah di tempat pertunjukan. menjual kepada mereka pesona yang dahulu dicurahkan kepadanya. Paman Gon juga. aku sudah mendengarnya. Umurmu baru dua puluh dua. Baiklah. Kepalanya sakit karena bingung. Ia sadar bahwa cara hidupnya beberapa tahun belakangan ini telah membuatnya kehilangan kemampuan berpikir dengan jelas. Ia tahu bahwa jalan satusatunya untuk keluar dari hidup sekarat ini adalah meninggalkan segalanya dan kembali kepada aspirasi masa mudanya. Dan semua itu demi sundal tua itu! pikirnya. sasaran hinaan perempuan pemberang? Dulu ia pernah punya harapan besar pada masa depan. namun. Ebook by Kang Zusi . aku pergi!" demikian kilahnya." Langkah-langkah kaki dan suara-suara orang itu mengambang sampai Yomogi." "Kenapa? Apa samurai dari Edo tak suka main?" "Mereka terlalu kurang ajar.. Bagaimana ia dapat menahan diri? Istrinya menghabiskan malam-malamnya menghibur lelaki lain. Ia pun muak dengan dirinya sendiri. Saudara perempuannya juga. iparnya juga. Bunga-bunga berkembang di tepi sungai dan burung-burung erkicau menyambut datangnya musim semi. Bawakan topi Tuan Muda ini. Dengan mata masih merah karena marah. Tinggal diam di dalam kamar gelap ini. ia begitu marah pada kelemahannya sendiri yang seperti pengecut itu. sepertibiasa. Inc. bukankah itu musik Kabuki? Aku mendengar suara giring-giring. Kau masih muda. saya yakin tidak. "Dia bilang pergi. Matahachi mencuri pandang dari jendela pada keempat orang yang bahagia itu. oh. Ia merasa pemandangan itu sangat menghinanya.property of: CROSSFiRE. Pergilah dan lakukan sesuatu sendiri. "Sundal!" Matahachi menggigil karena berang. Mereka semua begitu baik padanya." "Tapi. "Sungguh tolol aku ini! Sungguh aku si tolol gila. karena itu ia sekali lagi menjatuhkan diri di tatami di kamar yang gelap itu sambil mengutuki dirinya. goblok!" Matahachi memukul-mukul kepalanya dengan tinjunya. netcafe. "Apa kerjamu di sini? Apa tak ada lagi harga dirimu? Bagaimana mungkin kau membiarkan segalanya seperti itu? Idiot! Lakukanlah sesuatu!" Kata-kata itu ditujukan pada diri sendiri. tak mau ia berangkat. Bu. Lonceng di Shippoji tentunya berdentang hari ini." Ia merasa tak bisa tinggal lebih lama lagi dalam rumah kosong dan lengang itu. "Anjing betina busuk!" Air mata meluap langsung dari dasar hatinya.. disertai kedua tamu yang bermalam itu sudah berjalan sambil mengobrol dengan riangnya. Seperti dentangnya pada hari-hari lain. Kalau dia datang nanti. ya?" "Ah. tapi entah kenapa. Kenapa." "Ibu. tidak.. Dan Sungai Aida menghilir menyusuri alurnya. "Buat apa duduk di sini menggemerutukkan gigi." "Coba dengar anak ini! Dia selalu seperti itu. tak ada yang dapat dilakukannya kecuali minum. Ia harus menemukan jalannya yang telah hilang. Namun. Juga suling. sedang di siang hari tak ada semangat untuk pergi. kenapakah ia dulu tidak kembali ke Miyamoto? Kenapa ia tidak kembali kepada Otsu? Ibunya ada di Miyamoto. Malam ia tak dapat tidur." "Sudahlah.

Persoalannya adalah. netcafe. Sambil menggigit bibir. Sekarang. ia sorongkan kaki ke sandalnya yang kotor dan keluar lewat pintu dapur. Dengan kecewa Matahachi menjatuhkan diri ke atas pakaian yang masih tersebar di lantai. pemuda berpakaian sutra yang dari rasa saja dapat membedakan sake Nada dari bikinan setempat. tapi dalam semangat ia cabul dan pendengki. ia tersenyum kecil dan berpura-pura tidak acuh sama sekali. hingga mustahil baginya untuk menemui gadis itu lagi. Sejauh ini belum ada masalah. timbul padanya kenangan pedih akan Otsu. oh. aku seorang lelaki. peti laci. ketika sudah terlambat. sekalipun perempuan itu sudah hampir empat puluh tahun. Jenis pesona jahat apakah yang mengikatnya di sini? Apakah perempuan itu setan yang menyamar? Perempuan itu bisa memakinya. tapi karena kebiasaan. Di luar Kyoto. "Aku butuh uang. berbeda sekali dengan Matahachi sederhana yang compang-camping. Dengan senang hati ia akan bersedia berlutut dan mengangkat tangan memohon di hadapannya jika kiranya gadis itu man memaafkannya. "Aku pasti akan butuh uang. Satu-satunya barang yang sungguh-sungguh miliknya dan tidak dapat ia tinggalkan adalah pedangnya. Ia berdiri tak bergerak-gerak dalam angin musim semi yang menyegarkan. penga-lamannya hanya meliputi kehidupan di kampung dan satu pertempuran. segalanya menjadi jelas baginya." pikirnya sedih. bersumpah bahwa ia cuma beban. Namun ini belum cerita seluruhnya. bibirnya itu. ia pun melompat bangkit. di sekitar obi Nishijinnya. Ada daya tarik ajaib yang mengikatnya. Ketika Oko pertama kali mendengar tentang gadis itu. "Aku akan pergi sekarang!" Sesudah menjatuhkan pukulan kemarahan terakhir ke kepalanya. Sesudah lama berpisah. Lagi pula. yang pernah ikut pertempuran di Sekigahara. Tapi ia sudah putus dengan Otsu." Ia langsung menuju kamar Oko. Tentu saja seharusnya ia sudah dapat mengira-ngira bahwa Oko bukanlah jenis perempuan yang tidak bakal mengambil tindakan berjaga-jaga terhadap hal-hal seperti ini. ia berkata dengan penuh kepastian. tapi kemudian di tengah malam ia akan meleleh seperti madu dan mengatakan bahwa semua itu cuma gurauan dan ia sama sekali tidak bermaksud demikian. "Tapi akan kulakukan!" janjinya. menyuruhnya enyah. Dan ketika akhirnya Ebook by Kang Zusi . dan tak ada sesungguhnya yang mengikatnya di rumah ini. Inc. Bau Oko mengambang seperti kabut tebal di sekitar pakaian dalamnya yang terbuat dari sutra merah. tanpa diduga-duga. Dalam umur ia masih muda. menonton tari-tarian Kabuki di samping Toji. Bukan cahaya menyilaukan yang menahannya. "Semuanya gara-gara perempuan ini. "Sundal iblis!" teriaknya. "Biar bagaimana. bibir merah cemerlang yang sama merangsangnya dengan bibir anaknya. apabila mereka bertengkar. dan pekiknya. melambaikan pedang bagai seorang jenderal yang menang perang. padahal sebetulnya ia sangat cemburu. dan di sekitar kimononya yang celupan Momoyama. malas dan penggerutu. Ia pun membayangkan kulitnya yang putih dan wajahnya yang kenes merangsang. Yang paling parah adalah bahwa hidupnya yang aneh dengan perempuan yang lebih tua itu telah merampas kebeliaannya. gagang cermin. digeledahnya kotak-kotak kosmetik. mestinya ia tidak memberitahukan apa-apa tentang Otsu kepada Oko. ke mana ia pergi? Pada saat itulah terasa oleh Matahachi betapa dunia ini bagai lautan luas yang bergejolak. Terbayang olehnya. Pikiran-pikiran pahit dan kejam bangkit langsung dari isi perutnya. suatu pikiran lain mendadak datang dan membuatnya bergegas sepeti anak anjing. dan apa saja yang terpikir olehnya. Pada dasarnya Matahachi tak punya nyali untuk dilihat Oko dan Akemi bekerja sebagai buruh harian." katanya pada diri sendiri. "Aku akan pergi dari sini hari ini juga!" Ia mendengar sendiri suaranya tertahan karena menyadari bahwa tak ada orang lain yang akan menahannya pergi. ia selalu mengungkit soal itu dan mendesak agar Matahachi menulis surat untuk memutuskan pertunangannya. pulang kembali melalui pintu dapur. kini Oko sedang berada di lapangan pertunjukan di tepi sungai. Selagi terombang-ambing oleh situasi.property of: CROSSFiRE. tiada pegangan tempat bergayut. Kemudian. maka cepat-cepat ia selipkan pedang itu dalam obi-nya. Ia sudah di luar rumah! Tapi mau apa sekarang? Kedua kaki itu berhenti. Ia obrak-abrik tempat itu. Ia telah menjadi malas dan lembek.. menelantarkannya demikian rupa. barulah ia dapat memahami kemurnian dan bakti gadis ini. tapi tak ada uang sama sekali. yang telah berjanji akan menantikannya. Kemudian." Sebetulnya ia dapat menderap keluar lewat pintu depan..

dirobek-robeknya. Inc." Dokter mendeham dan pergi. dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih." Kembali dilanda kemarahan. "Aku sudah membuang semua itu untuk. "Mereka tentunya di sini! Saya tahu. Tak seorang pun beranjak pergi. untuk. Hari sudah senja. "Saya tahu Seijuro tak ada di sini. Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk. sedangkan sebagian kecil di kamar samping. Tanah di sana pun kini agaknya hangat dan menyenangkan.." kata suara itu. Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai kayu. wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi. Dia menunggu Tuan Muda kembali dan menolak pergi sebelum mendapat kesempatan menghadapinya. Matahachi menyetujui dan melakukannya. Ebook by Kang Zusi . netcafe. Tak pernah sebelumnya pusat seni bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas. dikeluarkannya semua pakaian Oko dari peti-peti pakaian. "Maafkan. sanak keluarganya.. Senyap bagai kuburan..." Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang pintu masuk. "Lalu apa pikir Otsu tentang diriku?" rintih Matahachi dengan sedih. dan tanpa perasaan sama sekali menyampaikan surat resmi itu melalui seorang pesuruh yang tidak dikenal. Apakah Tuan Muda dan Toji ada di sini?" "Bagaimana aku tahu?" jawab Matahachi pedas. Perlahan-lahan kemudian sadarlah ia bahwa ada orang memanggil dari pintu depan. lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana. Ingin ia memanggil ibunya. biasanya mereka sudah berangkat pulang atau pergi minum. Sekali lagi terbayang olehnya pegunungan dan sungai di Mimasaka. Ini menyangkut nama baik Keluarga Yoshioka. "Tak akan bisa lagi aku pulang!" pikirnya. Bayangan wajah Otsu yang masih polos itu tergambar di depan matanyawajah yang penuh gugatan." "Pergi sana! Jangan ganggu aku!" "Tapi apa tak bisa setidak-tidaknya Anda menyampaikan berita ini pada mereka? Tolonglah katakan bahwa seorang pemain pedang bernama Miyamoto Musashi sudah datang di perguruan.property of: CROSSFiRE. perempuan itu secara tak tahu malu melampirkan satu surat dengan tulisannya sendiri yang jelas bergaya perempuan. dan yah. Di depan perguruan itu. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?" "Sedang dicari. memang tidak pantas mengganggu mereka selagi sedang mencari kesenangan. Suasana itu hanya dipecahkan oleh derit gerbang depan yang sesekali berbunyi. Tolonglah sampaikan pada mereka supaya lekas-lekas pulang!" "Miyamoto? Miyamoto?" Roda Keberuntungan HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. Mereka semua begitu baik. kemudian serpihanserpihan dan sobekan-sobekan itu dihamburkannya di seluruh rumah. Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan. Barangkali sebentar lagi kembali. Lidah-lidah berdecap putus asa. tak seorang pun dari kami dapat mengunggulinya. tapi ada satu kejadian yang sangat penting. "Saya dari Perguruan Yoshioka. "Diakah itu?" "Apa Tuan Muda sudah kembali?" "Belum.

seorang pencelup kain. sembilan belas. hingga bisa masuk sekolah itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil. Memang ia memiliki banyak kekurangan. mohon diizinkan masuk. hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya. dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri. bermalas-malasan. ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto. datang dari Miyamoto di Mimasaka. tapi sebenarnya ia belum benar-benar mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. Para siswa datang ke sekolah itu karena di bawah pimpinan Kempo. tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur. dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal. Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di negeri ini. tetapi orang itu beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal namanya saja. tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo. Kempo adalah seorang ahli besar. Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri. dan guru pertama. yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang. mereka pun terbahak-bahak. dengan siswa yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto. pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya. tapi mengakui bahwa mungkin juga ia keliru. Ketika ditanya macam apa orang itu. ini barangkali berarti ia seorang shugyosha. orang yang kearifannya setara dengan keterampilannya.83 meter tingginya. poloskah atau berpola kembang. Keluarga Yoshioka tidak lagi memperoleh tunjangan resmi. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen. kira-kira 1. setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal. Kalau orang itu hanya minta makan. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding. Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujur dan tidak dibuat-buat. Seijuro dan Denshichiro. Sekalipun kedua anaknya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh belas. salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu. melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. tidak masalah. Pesuruh merasa mencium bau orang itu. Oleh karena itu. Pesuruh dengan senang hati menirukannya untuk para pendengarnya. dan dua puluh. dan "karena alasan-alasan pribadi" ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan pada umur delapan belas. Yoshioka Kempo. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit. Rambutnya yang tidak disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan.property of: CROSSFiRE. yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. Inc. dan hanya bermainmain. Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan orang di dalamnya. umur dua puluh satu atau dua puluh dua. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada. dan waktu pun melangkahi mereka. Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur. sedangkan pakaiannya begitu kotor. Menjelang tengah hari. Teknik pedang pendeknya kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. menerima latihan sekeras ayahnya. salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu. Namun demikian. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang. pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin. mereka telah mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya. Sepanjang tahun sebelum itu. dan menurut pendapat beberapa orang itulah sebab dari kelemahan mereka. netcafe. dan kemudian memungut pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu. Sesudah mempelajari cara menggunakan tombak-kapak dari salah seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan Seni Pedang Gaya Kyoto. yang sama merasa geli seperti yang lain-lain. ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan. Seijuro biasa dipanggil "Tuan Muda". Ebook by Kang Zusi . dan kelihatannya agak bodoh. adalah orang yang jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya. tapi itulah tujuannya. ia hanya sendirian tinggal di pegunungan. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut. Pesuruh. tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut. gaya apa yang dipakainya dan siapa nama gurunya. Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu. keluarga itu sedikit demi sedikit telah berhasil memupuk kekayaan besar. akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek.

" dan ia menolak untuk bertempur lagi. satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati. tidak mengandung kekakuan seperti jawabanjawaban sebelumnya. caranya menjawab kali ini sangat jelas. Kedua orang itu tewas. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya bercampur takjub. kalaupun mereka semua harus terbunuh. tapi ia menyatakan. "Apa arti semua ini?" Nada bicaranya gusar seperti biasa. Sesudah ragu-ragu sebentar. seakan-akan baru saja keluar dari air terjun yang dingin. "Apa yang terjadi di sini?" tanya Toji. tak ada rasa kuatir padanya tentang jatuhnya korban. para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit. Sesudah kekalahan kesekian kali. tak ada bedanya. para siswa berubah jadi ingin membunuh. membawa serta kehormatan Perguruan Yoshioka. kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh. Musashi memberikan jawaban. Terserah kepadanya untuk mengembalikan kehormatan perguruan. kemudian melemparkannya ke luar. Tak lama sesudah dokter pergi. dan pedang kayo Musashi bergelimang darah. Nab. Tangannya putus. "Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum Seijuro kembali. Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu. Keduanya pucat. tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo"." Menurut pesuruh. atas permintaannya sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. Orang itu tentunya sudah sinting. suara-suara yang memekikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan selusin orang masuk kamar belakang. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar sebagai pihak yang kalah. Baik untuk yang pertama maupun yang kedua. para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar dan memanggil dokter. "Suruh dia masuk!" Itulah awal mulanya. tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup.property of: CROSSFiRE. "Kalau Tuan Muda sudah kembali. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu. Para siswa memberikan jalan bagi Seijuro dan Toji." Ebook by Kang Zusi . "Kau yang mesti menjelaskan apa yang sedang terjadi. sudah waktunya menghentikan percekcokan." "Cukup!" teriak Toji sambil menyerang orang itu. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. akhirnya satu orang berkata. Karena tak ada pilihan lain." "Ketika Tuan Kempo masih hidup. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan dengan tangan. saya berjanji tak akan menuntut balas. dan kami pergi ke Kabuki. apakah Anda membuang tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. dan katanya. Sejak tantangannya diterima. Untuk memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu. netcafe. atau kupotong nanti. Apa maksudmu bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?" "Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bangkit dari kuburnya. Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu. Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. kali ini dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah pertandingan nanti." "Jaga lidahmu. "Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit. "Kalau kebetulan saya terbunuh. Beberapa orang luka parah. Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang mati melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji. dan satu demi satu pula mereka kalah secara memalukan. wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap. Inc.

dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. mereka benarbenar saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. Menyusullah bisik-bisik lama. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan prajurit itu tetap dihargai. kehormatan pribadi mereka sendiri. Itu tindakan yang terlampau riskan. yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. krisis yang mengancam perguruan akan berat luar biasa. jauh dari pendengaran Seijuro. bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir. baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota. tapi Seijuro tidak dapat diredakan. Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan. yaitu kehormatan perguruan. lemah." kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang kebun. "Aku tak setuju dengan tindakan seperti itu! Itu pengecut. melainkan juga menyadari benar kekurangan Seijuro sebagai seorang pejuang. dan dipegangnya tegak di samping. "Serahkan pada kami. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri. Pada umumnya ada anggapan bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja ayahnya. hal pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan. hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi yang memadai bagi suatu negeri yang damai. lalu menyergapnya?" "Tenanglah. Sebagai golongan. Konsultasi diam-diam itu berpusat pada Toji dan murid-murid senior lain perguruan itu. Mulutnya kering karena tegang. Meski berlangsung seru. Kebanyakan orang itu berpendapat. Tindakan itu merupakan celaan yang seterang-terangnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi. "Di mana orang itu?" tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit. orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah yang tak kenal malu. dan katanya keras. sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar Seijuro. Seijuro tampak semakin berang.property of: CROSSFiRE. para anggota keluarga dan beberapa orang lain menggabungkan diri. justru loyo. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan para muridnya. dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya menghadapi Musashi satu lawan satu. kehormatan guru. Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat. begitu banyak yang hadir di situ. sebuah mimbar kecil. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu. Maka Toji pun mengungguli suaranya. memperbincangkan apa yang harus diperbuat. "Mengakali dia?" Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata. "Panggil dia!" perintah Seijuro. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka takut pada seorang prajurit tak dikenal. sampai akhirnya ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Pada saat itu. Sekalipun tidak terpelajar." Toji memohon. perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat. sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai. Tak lama kemudian. tetapi Toji dan Ryohei menyuruh mereka menanti. dan katanya. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise. Bagi samurai zaman itu. Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan." Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu. Dua orang sudah tewas dan beberapa orang terluka. dan kehabisan tenaga. Kami yang akan mengurus. maka ia pun menjadi orang yang berwatak sangat santai. walaupun tidak diucapkan. "Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu. tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius. Sayang sekali. dan menyembunyikan diri. tapi Seijuro terus juga membangkang. hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompokkelompok. Pemerintah sampai hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang. Ia pun duduk di tempat guru. bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. "Kami sudah mencapai kesimpulan. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan. dan ini besar artinya dalam menjamin ketenteraman. dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang. kebetulan hari itu Seijuro sedang kehilangan semangat juangnya. waktu itu juga dan di tempat itu juga. ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima. tidak banyak yang perlu dikuatirkan. Toji mendekati Seijuro. Inc." Ebook by Kang Zusi . Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. netcafe.

jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih dari setengahnya. "Dia tak ada!" "Kamar kosong!" Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya. Inc. dan masih ada cangkir teh yang belum disentuh. dengan mengambil langkah itu. Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. Diam-diam. berarti para muridnya menilai rendah kemampuannya. ia telah memperoleh latihan sebagai seorang samurai. namun ia sama sekali tidak merasa senang. diam-diam saling menanyakan. Menurut pengertiannya. Lampu masih menyala.property of: CROSSFiRE. bantalan yang tadi didudukinya masih di sana. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu. Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar." kata Toji tegas. menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan kepada mereka sedang apakah Musashi. Memang sudah lama juga dia menanti. Seijuro tetap duduk." kata Toji berbohong. Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri. "Dia sama sekali tak dikenal di ibu kota. bukan? Hanya satu yang penting. dia sudah mati sekarang. barangkali dia sudah tertidur. dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan. "Apa menurutmu aku. berseru. ke arah pintu belakang dan ke kamar-kamar dalam. Namun Seijuro tak juga bisa menerima. Setiap orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya. Sambil bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam keadaan siap tempur. membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama. anglo masih menyala dengan baik. "Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh kehormatan dengan mengalahkan dia. Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu. "Di pihak lain. yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup. akan kalah dengan si Musashi atau siapa pun namanya itu?" "Oh. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak meninggalnya ayahnya. Seijuro pun bangkit dan berdiri dekat jendela. mereka menghilang ke kebun. seperti kucing. tidak. Karena tak dapat duduk tenang. "Musashi! Maaf membiarkanmu lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?" Karena tak ada jawaban. kita tak dapat menangguhkannya lagi. Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu. "Mm." Belum selesai mereka beradu pendapat. Sekalipun dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu. karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka juga sama inginnya membantai mereka. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di hadapan mereka. Agaknya itulah yang terjadi. dan ini membuatnya sangat sedih. Yoshioka Seijuro. sama sekali tidak begitu. orang-orang yang seharusnya menyerbu ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghadapi gelandangan kurang ajar seperti itu. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. lalu memadamkan lampu. tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan kami cukup hati-hati. Mereka pun bertukar pandang. ketika seseorang membawakan lampu. "Tuan Muda. Mati-matian sekarang ia mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. netcafe. Tapi Musashi tak ada! Ebook by Kang Zusi . kemudian menerjang ke arah pintu. Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi. Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama. Lagi pula. kalau tidak. Apa pun kekurangan Toji. Betul begitu!" Orang-orang itu menanti dengan gelisah. Ia pun melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. dia sudah membuktikan dirinya cerdik. terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. tapi dia seorang pendekar hebat. siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya. Mendengar bunyi itu. "Mestinya begitu. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang menyerukan serang.

" Matahachi menurunkan pedangnya. melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di ujung lorong. Sosok itu berlari seperti kelinci. dan mereka pun berangkat. belakang. Paling tidak. "Hei. Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari sejam sebelum itu. papan-papan lantai ini sudah lepas. "Sudah kalian tangkap?" tanyanya. netcafe. "Apa dia pemilik Yornogi?" "Tidak. Orang yang terkepung itu memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. kau benar! Bukan Musashi!" Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan. juga lolongan menantang. Rupanya dia cuma semacam benalu. dan samping. tapi segera kembali ke kamarnya lagi. satu orang memekik. Inc. "Pengecut!" "Mau lari. memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat. satu sosok melejit keluar dari bayangan. Ebook by Kang Zusi . Satu orang berlari ke beranda. bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul." Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama.property of: CROSSFiRE. orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu. dan orang-orang itu pun berdiri. Matahachi tenang-tenang merapikan rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya. ketika orang keempat datang berlari dan berseru. "Uh." "Belum lama lampu itu tadi dirapikan." "Kelihatannya memang mencurigakan. Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru. Dari. Namun para penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi. "Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar. "Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi. "Apa maksudmu dia tidak kelihatan. Kau kenal dia?" "Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi. Sekarang kita berpencar saja dan jalan." Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga. menyeberang jalan. kita bisa tahu di mana dia tinggal. Dalam sekejap ketiga orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!" "Kejar dia!" Kalau Musashi memang melarikan diri. mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. "Dari sini dia pergi! Lihat. dan katanya heran. nyonya rumah mengatakan padaku bukan. ya?" "Sesudah tindakanmu hari ini?" Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras." Terdengar suara-suara mengiakan. dan masuk lorong gelap di sisi lain. "Ini orang yang kalian kejar?" "Ya. Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?" Tapi Toji sudah mulai bergerak. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada mereka. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran Honnoji. pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat kehilangan semangat. Baru saja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan. seperti angin?" satu orang bertanya dengan nada mencemooh. Toji sampai di tempat kejadian. "Itu dia!" Dekat gerbang belakang.

dan tidak jauh dari situ seekor anjing menggonggong. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu. Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu. jalan itu semerbak oleh bau ikan asin yang dibakar di atas arang. "Kau pergi meninggalkan istri dan anak kelaparan. Ketika orang terakhir lewat. dan Ebook by Kang Zusi . Perempuan itu akhirnya berhasil mengejar suaminya. Tiap kali menendang.. Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk. Tapi kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya. kemungkinan mereka akan membunuhnya." Berhadapan dan Mundur SEPANJANG jalan setapak berbatu yang menuju Kuil Kiyomizudera berdiri sederetan rumah kumuh dengan atap papan yang tersusun seperti gigi rusak. "Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. Orang itu berhenti." Sesudah menyampaikan peringatan itu. lalu datang lagi merangkak seperti cacing!" Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak menangis. rambutnya awut-awutan dan payudaranya tergantung-gantung seperti tetek sapi. orang itu pun lari. Seorang lelaki umur sekitar lima puluh tahun. kan?" "Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?" "Ah." Maka disurukkannya tangannya ke dalam obi." gumamnya. Matahachi mendekatinya.. Aku cuma heran." "Nah. ia pun merasa melihat wajah Takezo di hadapannya.. Ya. Di bawah sinar matahari siang yang panas. "Ada apa?" tanyanya. netcafe. menangkap gelung rambutnya. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku. ia pun berseru kepadanya. orang udik?" jeritnya serak. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus. "Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan menjadi pemain pedang." "Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?" "Ya. dan sekali-sekali berhenti untuk memandang bintang-bintang. lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau tidak.property of: CROSSFiRE. demikian tuanya hingga lumut sudah menumbuhi tepi-tepi atapnya. "Ini bukan waktu yang tepat. Sebuah piring melayang keluar dari pintu salah satu gubuk bobrok itu dan pecah berantakan di jalan. tidak. "Apa kaubilang. Menghadapi parit Honnoji. ingin aku memperingatkannya. kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini. menyusul terhuyung ke luar. yang agaknya seorang pekerja tangan. dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. dan tanyanya." "Kukira 'Musashi' itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan 'Takezo'. Sekejap kemudian menyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki. Di mana dia berada kira-kira? Paling tidak. "Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?" "Mana aku tahu?" "Apa kira-kira seumurku?" "Kira-kira begitu. "Pasti dialah itu!" demikian kesimpulannya. sementara orang-orang itu lewat berlarian. Inc.

kakinya yang telanjang. terutama jika itu adalah keterampilan yang tidak dikuasainya. tuan yang di sana! Ronin!' "Maksud Anda. berarti negeri itu berada dalam keadaan memprihatinkan. Tergugah oleh keberhasilannya. orang itu adalah pemikul joli. Memikirkan keterampilan. Hidup ini agaknya tidak semudah kelihatannya. Di sebuah sudut toko itu. dan sudah lama menjadi tempat berkumpulnya jenderal-jenderal ternama dan prajurit-prajurit legendaris? Namun selama berada di sana. apa nama Tuan Miyamoto?" "Ya. Sesuatu yang bertentangan sekali dengan kesungguh-an para tukang tembikar pada pekerjaan mereka adalah hina-dinanya pondok papan mereka. Baik dalam hal yang pertama maupun kedua. ia sudah berdiri di luar. "Tuan. karena dalam tiga minggu terakhir itu ia telah mengunjungi pusat-pusat latihan terkenal lain di Kyoto disamping Perguruan Yoshioka. Musashi melihatnya memasuki rumah yang nampaknya warung teh. dan mulailah ia mendaki lereng terjal Kiyomizudera. orang sinting tua?" Para tetangga bergegas datang dan mencoba melerai. sloki sake. Konsentrasi mereka sungguh bulat. Bukankah kota itu ibu kota kekaisaran dan dahulu menjadi pusat ke-shogun-an Ashikaga. Sewaktu melewati daerah itu tadi. jika ia ingat bagaimana ia mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya itu. Inc. ia Ebook by Kang Zusi . di sebuah meja panjang darurat yang terbuat dari papan pintu tua. Musashi sebetulnya ingin mencoba bekerja dengan tanah liat itu. Dari balik jenggotnya ia berkata. Melihat betapa cekatan orang itu menggerakkan jari-jarinya clan memainkan kape-nya. Beberapa waktu sebelum pecahnya pertengkaran keluarga itu. ingat akan bahaya puas diri. cukup sopan untuk orang yang kedudukannya serendah itu. Tetapi sekarang. berderet-deret piring. Dua lelaki yang ada di dalam tidak menyadari kehadirannya. dan kesetiaan yang dicurahkan untuk membuat barang-barang semurah itu.. "Hei. dan tongkat yang dibawanya. Musashi tersenyum ironis dan membalikkan badan menuju toko barang tembikar. Sebaliknya. hanya kekecewaan yang diperolehnya di setiap perguruan itu.property of: CROSSFiRE. Terpikir oleh Musashi. saya?" tanya Musashi sambil menoleh. "Sekarang mau pergi ke mana kamu. Dalam hati ia merasa sangat hormat kepada orang-orang tua bergelimang tanah liat yang sedang bekerja pada rodanya itu. paling tidak ia akan dapat membuat mangkuk teh sederhana. mereka seakan-akan sudah menyatu dengan tanah liat itu. Keinginannya semula adalah melihat Kyoto sebagai tempat penuh orang yang telah menguasai seni bela diri. tak dapat ia menetapkan apakah itu disebabkan ia yang bagus atau lawanlawannya yang jelek. Sekalipun selalu memenangkan pertandingan. bahkan kemampuan melakukan tugas yang sederhana dengan baik. Belum lagi jauh. dan sempat bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia tidak terlampau kritis terhadap diri sendiri semenjak dikurung di Himeji dulu. seni. Musashi pun merasa jalannya sendiri masih panjang. Ia merasa menghargai teknik. Melihat pakaian katunnya yang berlapis.. clan kendi. menurut pendapatnya. mengamati para pembuat tembikar dengan kegairahan kanak-kanaknya. Pikiran itu sungguh pikiran yang menyadarkan. mulai memukulinya. Namun justru pada waktu itu salah seorang tukang tembikar yang umurnya hampir enam puluh tahun mulai membuat mangkuk teh." "Terima kasih." Orang itu pun membalik dan turun ke Bukit Chawan. Barangbarang itu dijual untuk tanda mata dengan harga dua puluh atau tiga puluh sen saja kepada orang-orang yang pergi atau datang dari kuil. ia pun merasa bersalah dan patut dihukum. netcafe. apakah mereka selalu dapat makan cukup. terdengar suara memanggilnya dari bawah. Karena mata mereka terpaku kepada pekerjaan. belum pernah ia menemukan satu pun pusat latihan yang mengajarkan kepadanya sesuatu yang benar-benar pantas diberi ucapan terima kasih. Musashi pun sadar bahwa ia terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. "Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu saja. Hari-hari itu sering kali ia merasa amat kagum pada kerja orang lain. kalau para samurai yang dijumpainya itu memang gambaran dari samurai masa kini." demikian kagumnya. konsentrasi. Sejak kecil ia menyukai pekerjaan tangan. ia pun sampai kepada pemikiran untuk merasa bangga akan keahliannya.

Namun sekarang ia merasa hal itu tidak lagi menggelikan. tampak olehnya orang-orang di belakangnya itu berhenti. karena aku lahir sebagai manusia. dan jalan Pedang adalah jalan yang telah dipilihnya. wajah pemikul joli muncul kembali di bawah tebing karang. tapi karena tak seorang pun muncul. Sekarang rakyat hanya menginginkan perdamaian yang telah begitu lama mereka rindukan. Jadikanlah dia pemain pedang terbesar di negeri ini. Sementara ia duduk merangkul lutut. tapi ada beberapa persamaan. ia pun puas karena telah menemukan hubungan antara seni bela diri dan visinya mengenai kebesaran. Merenungkan perjuangan panjang yang harus ditempuh Tokugawa Ieyasu dalam mengubah keinginan itu menjadi kenyataan. Dengan bergandengan tangan dan mengacung-acungkan tongkat. jalan menuju kebesaran itu kini tidak lagi terletak dalam memenangkan perang. siapa yang kini telah menyuruh salah seorang dari mereka itu untuk menanyakan namanya. dua pemberontak bernama Taira no Masakado dan Fujiwara no Sumitomo yang sama-sama ambisius telah bergabung dan bersepakat. Aku mau menempuhnya. kalau menang perang. dan di tiap kuil ia membungkukkan badan dan mengucapkan dua doa. Ieyasu sudah mengatur segala hal. Pemikul joli tadi pun mempunyai impiannya sendiri. Memang terlambat aku menempuh jalan yang dilalui Nobunaga atau Hideyoshi. sambil mencoba mengabaikan mereka. tidak lagi ada keperluan akan perang-perang berdarah. Musashi pun sadar sekali lagi. Tak dapat ia memperkirakan. bergejolaklah ambisi yang sederhana namun kuat dalam dadanya yang masih muda. Ia memiliki pedang.property of: CROSSFiRE. Walaupun ia tahu dapat membereskan mereka dengan cepat. tak ada gunanya ribut dengan gerombolan Ebook by Kang Zusi . Ia pun berdiri dulu di sana sebentar. atau biarlah dia mati. Sementara ia duduk tenggelam dalam pemikiran itu." pikirnya. Pada saat memperoleh pemahaman mendalam itu. yang tergantung pada blandar pintu masuk kuil. Kiranya bagus juga menjadi seorang Hideyoshi atau Ieyasu. netcafe. tentang visi mereka untuk mempersatukan Jepang dan tentang banyak pertempuran yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan itu. Inc. Impian yang dimilikinya lain jenisnya. waktu itu ia berpendapat alangkah bodoh dan tidak realistis sekiranya mereka percaya bisa melaksanakan rencana gila-gilaan semacam itu. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sebaiknya menakut-nakuti mereka dengan teriakan perang." Sampai di tepi tebing karang ia jatuhkan topi anyaman yang dipakainya ke tanah dan duduk. Tetapi tak lama kemudian ia melihat jalannya tercegat. siapa pun yang telah menyuruh itu pasti akan segera datang menemuinya." Sesaat ia singkirkan gagasan-gagasan itu dari pikirannya dan mencoba meninjau keadaan dirinya secara objektif. Tak seorang pun dapat menghentikanku melakukan itu. memang melihat satu rombongan besar kuli dan pemikul joli sedang berdiri di sana-sini di bawah sinar matahari. "Sisa hidupku masih ada di hadapanku. Dari situ ia dapat memandang seluruh kota Kyoto. Seorang dari mereka menyeringai memperlihatkan giginya dan memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi rupanya "sedang memperhatikan tanda peringatan atau entah apa". siapa lagi yang dapat? Saat itu Musashi pun membayangkan bagaimana ia dapat menciptakan tempatnya sendiri di dunia ini. Ia berpikir tentang Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi. mereka akan membagi Jepang di antara mereka berdua. Kalau orang muda tidak dapat menggantungkan cita-cita besar dalam jiwanya. clan serunya. Tetapi jelas. Di sepanjang jalan itu ia berhenti menjenguk kuil-kuil terkenal. Doa pertama: "Lindungilah kakak perempuanku dari bahaya. "Ini zaman baru. tetapi zaman tidak lagi membutuhkan orang-orang dengan bakat seperti mereka. "Aku ingin menempuh hidup yang berarti. Musashi yang kini berada di depan tangga Hongando memang sedang menengadah memperhatikan tanda peringatan yang sudah dimakan cuaca. Sukar memastikan kebenaran cerita itu. juga seni pedang yang dikuasainya dalam hubungan kehadirannya sebagai manusia." Ia pernah membaca bahwa pada abad sepuluh. "Itu dia di sana!" Musashi memandang ke bawah. Ia pun bangkit. Mereka mulai mendaki bukit menuju ke arahnya. la menudingkan tongkat bambunya kepada Musashi. tapi ia mengira. ia berjalan terus mendaki bukit. ke arah kuli-kuli yang sedang bergerak ke sana kemari sambil berteriakteriak. sejumlah besar orang telah mengepungnya dari jauh. tapi masih dapat aku memimpikan dunia yang harus kutaklukkan sendiri. Di Kyoto yang terhampar di bawah sana kehidupan tidak lagi soal untung-untungan. betapa susahnya berpegang teguh pada cita-cita." Yang kedua: "Ujilah Musashi yang hina ini dengan kesulitan. Ketika ia menoleh. yang penting sejak sekarang dan untuk seterusnya adalah pedangnya dan masyarakat sekitarnya. ia kembali mendaki. Bagi Musashi. tapi Musashi ingat.

ia berkata. Pekarangan dalam gerbang barat kuil itu dengan segera penuh orang. "Pastikan dulu apa Anda sudah betul-betul siap." salah seorang kuli pikul mengingatkan. "Sekarang jaga jangan sampai kau bingung." nasihat yang lain." kata yang lain. kan?" Pakaian dan sepatu kedua orang itu mengesankan seolah-olah mereka hendak menghabiskan sisa hidupnya dalam perjalanan. "Ini dia datang!" salah seorang kuli berteriak. Ada memang nenek-nenek tua yang betul-betul gagah berani. Tenang saja kamu!" Untuk memelopori. Saban hari selalu dia berdoa di kuil ini selama hampir dua bulan. "Orangnya tampak tangguh. "Siapa menganggap ini lucu? Ini bukan bahan tertawaan. Dari arah Bukit Sannen kedengaran nyanyian berirama pengatur langkah oleh orang-orang yang membawa beban. "Di sini saja. dan salah seorang penonton mulai tertawa terkekeh." "Tapi dia sudah begitu tua! Malah pengiringnya juga sudah goyah kakinya! Mestinya ada alasan kuat. Paman Gon menangkupkan kedua tangannya dan berbuat demikian pula. dia malah di sini menggantikan anaknya menuntut balas atas penghinaan terhadap keluarganya.property of: CROSSFiRE. Sementara para pekerja memberikan dorongan dan dukungan bagi Osugi. "Itu di sana. netcafe." "Orang-orang samurai ini lain dengan kita. "Pada umur seperti itu. barangkali ada kekeliruan." kata kuli yang lain. Melulu karena itu saja patutlah dia kita hormati. bermain dengan cucu-cucunya. Kalau demikian. orang sinting! Jauh-jauh perempuan tua ini datang dari Mimasaka untuk mencari manusia sampah yang melarikan istri anaknya. Kesan Musashi adalah mereka sedang saling merangsang semangat. Paman Gon membasahi gagang pedangnya dengan ludah. dan akhirnya hari ini orang itu muncul. mereka membentuk kelompok-kelompok di luar lingkaran kuli-kuli yang mengepung Musashi. tapi tak mungkin dia belajar banyak. Suara itu makin lama makin dekat. "Apa perempuan tua ini betul-betul mau menantang duel ronin itu?" "Kelihatannya begitu. mengapa mereka mencoba menghadapi orang yang begitu jauh lebih muda. tak sampai sepuluh langkah dari Musashi. dan sekarang para pendeta. Penuh rasa ingin tahu. Lagi pula. "Tenang saja. Dan punggung pengusungnya Osugi melambaikan tangan dengan gerakan cepat. Sesudah minum seteguk besar." "Tentulah sekitar permusuhan keluarga!" "Lihat tuh! Dia memarahi lelaki tua itu. perempuan tua ini mestinya dapat hidup senang di rumah. Ia pun berdiri saja di sana dengan sabar. "Kali ini kita takkan membiarkannya lepas. sambil membaca dan membaca sekali lagi kata-kata pada tanda peringatan itu: "Kaul sejati". peziarah. dan tukang jualan menajamkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. lalu mulai menggerak-gerakkan bibir. sampai akhirnya dua orang memasuki pekarangan kuil dengan menggendong seorang perempuan tua dan seorang samurai desa yang tampak agak lelah. Takezo itu cuma manusia jerami. Mereka pun mulai bicara antara sesamanya dengan suara tertahan-tahan." Si pengusung melipat kakinya dan Osugi pun melompat sigap ke tanah sambil mengucapkan terima kasih. Sembari menoleh kepada Paman Gon. "Mana dia?" seru Osugi. Inc. ia mengeluarka tasbihnya dan memejamkan mata. Salah seorang kuli pikul menjawab. tapi tidak. lambat atau cepat mereka akan bubar. Diilhami oleh semangat keagamaannya. Seketika itu juga salah seorang kuli memutar badan dan katanya menantang." Ebook by Kang Zusi . Pemandangan itu ternyata agak terlampau melodramatis." Seorang kuli berlari datang membawa segayung air untuk Osugi. dan kedua orang itu pun menerobos lingkaran manusia tersebut. Tanpa memperhatikan Musashi atau orang banyak yang memandangnya. ia pun langsung menuju tangga depan Hongando dan duduk di tangga. dan katanya. pekerja kasar itu. para penonton merasa cemas. sebab tak ada yang perlu dibingungkan. Osugi menyerahkan gayung itu kepada Paman Gon dan berkata tegas kepadanya." dan menuding bangga ke arah kuil. Bisa saja dia belajar sedikit cara memakai pedang.

sambil meletakkan tangan kirinya ke pedang pendek di pinggangnya. tapi tidak takut berkelahi. Betul-betul tak tahu ia bagaimana akan menjawab. sungguh! Sudah tua. Tak satu orang pun tidak berada di pihak Osugi. Dia punya semangat. "Takezo!" seru Osugi keras. Paman Gon yang berdiri di samping Osugi memilih saat itu untuk mengambil sikap menyerang. Kalau kami berdua nanti terbunuh. sebelum pedang dihunus. "Minggir kau!" Osugi menoleh kepadanya dengan marah. Di luar itu aku tak butuh omongan kalian. kemudian memandang para pemikul dan mendecap merah. Namun demikian. Sebetulnya ingin ia mengabaikan saja perempuan itu sama sekali. tapi ia sangat tersinggung oleh pembicaraan para kuli yang tersebar di tengah orang banyak itu.property of: CROSSFiRE. ia sungguh bingung mengenai apa yang hendak diperbuat di sini. kalian yang mengirim mayat kami kembali ke Miyamoto. Bagaimana kita mesti menjawab tantangan seorang perempuan tua yang sudah reyot dan seorang samurai yang sudah kisut wajahnya? Musashi tetap diam memandang. sukarlah baginya mengekang kekesalan terhadap rasa benci yang disimpan keluarga Hon'iden terhadapnya selama ini. jadi kenapa kamu tidak menjawab? Kudengar kau sudah mengambil nama baru yang bagus-Miyamoto Musashi. Selama itu Musashi hanya berdiri tak bergerak. "Bersikaplah jantan! Beri kesempatan perempuan ini membunuhmu!" cemooh yang lain. Lagi pula. Sekarang doa kami di Kiyomizudera sudah memasukkanmu dalam genggaman kami. ha!" Leher keriput itu menggetar selagi ia tertawa. clan sambil mendongakkan kepala ke depan ia pun meneriakkan tantangan. Ia ingat peringatan Takuan di Himeji bahwa ia kemungkinan akan bertemu dengan Osugi. dan kami selalu mencarimu selama ini. hanya karena kau mengubah nama? Bodoh sekali! Dewa-dewa di langit sudah memimpinku menemukanmu. betul? Tapi bagiku tetap saja kamu Takezo! Ha. Osugi memasukkan tasbih ke dalam kimononya dan keheningan pun mencekam pekarangan kuil. Agaknya ia mau membunuh Musashi dengan kata-kata. Beberapa penonton mulai mendorong kuli-kuli itu maju. netcafe. Sekali lagi Musahi tidak menjawab. "Kita bukan membantu dia karena dia memberi kita uang." "Kau benar! Tapi mari kita lakukan sekarang saja! Tak dapat kita berdiri saja di sini dan membiarkan dia terbunuh. atau kau berhasil lagi tetap hidup!" Dengan suaranya yang sudah layu." Ketika orang banyak mengetahui sebab-sebab Osugi berada di situ. Membantu pihak yang lemah itu benar! Kalau nanti dia kalah. Dan nenek moyang orang Hon'iden juga beserta kita! Tak ada yang perlu ditakutkan. orang sinting tua? Kau sendiri yang menggigil!" "Tidak apa! Bodisatwa kuil ini akan melindungi kita!" "Betul. sekarang ini. kegairahan pun meningkat. dan aku tahu dewa-dewa pasti berbuat begitu. Perempuan itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepala. suatu salah paham yang dapat dengan mudah dijelaskan. jika saja Matahachi ada. "Apa kaukira dapat mencegahku mencari jejakmu. "Takezo itu selamanya namamu di kampung. ha. Menurutku." Ebook by Kang Zusi . ia pun bergerak beberapa langkah mendekati Musashi. "Sudah empat tahun kau selalu meloloskan diri. tapi tak bakal aku kalah dengan orang macam kamu! Siap-siap saja kau mati!" Sambil menarik pedangnya ia pun berteriak kepada Osugi. Tak gentar oleh hal itu. "Takezo!" katanya lagi. Ayo sekarang berkelahi! Akan kita lihat. Bahkan ketika Osugi memanggil namanya pun ia berbuat seolah-olah tidak mendengarnya. Paman Gon. Orang ketiga mengatakan. Inc. Memang aku sudah tua. mari kita hadapi sendiri ronin itu. kita mesti membantunya sedapat-dapatnya. apa kubawa kepalamu pulang. juga bantuan kalian!" Sambil menarik pedang pendeknya setengah jalan dari sarungnya. Ia tak dapat menjawab. pikirannya serba ragu. Seluruh perkara itu tidak lebih dari soal kecil Miyamoto. "Diam kalian! Kalian cuma saksi. "Lihat bajingan itu! Dia takut!" seorang kuli berseru. Paman Gon pun mengeluarkan tantangannya sendiri. "Apa maksudmu.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Takezo! Maju dan ayo berkelahi!" "Apa yang kau tunggu?" Musashi tidak beranjak. Ia berdiri saja seperti orang bisu-tuli, memandang dua orang tua itu dan pedang mereka yang sudah terhunus. Osugi berteriak, "Ada apa, Takezo! Kau takut?" Ia pun maju dengan badan dimiringkan dan siap menyerang, tapi tiba-tiba ia terantuk batu dan jatuh ke depan, mendarat tengkurap hampir di kaki Musashi. Orang banyak terkesiap, dan seseorang menjerit, "Bisa terbunuh dia!" "Cepat selamatkan dia!" Tetapi Paman Gon hanya menatap muka Musashi, terlalu takjub, hingga tak dapat bergerak. Kemudian perempuan tua itu mengejutkan semua orang, karena ia mencekal lagi pedangnya dan berjalan kembali ke sisi Paman Gon, lalu kembali mengambil sikap menantang. "Kenapa kamu, orang udik?" teriak Osugi. "Apa pedang di tanganmu itu cuma hiasan? Apa tak tahu kamu menggunakannya?" Wajah Musashi seperti topeng, tapi akhirnya ia pun berkata dengan suara mengguntur, "Aku tak dapat melakukannya." Mulailah ia berjalan ke arah mereka, dan Paman Gon dan Osugi pun seketika undur ke sisi masing-masing. "Ke-ke mana kamu pergi, Takezo?" "Tak bisa aku menggunakan pedangku." "Berhenti! Kenapa tidak berhenti dan berkelahi?" "Sudah kukatakan! Tak bisa aku!" Ia berjalan terus ke depan, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia langsung melintasi orang banyak, tanpa sekali pun membelok. Begitu tersadar kembali, Osugi pun berteriak, "Dia lari! Jangan biarkan dia lolos!" Orang banyak pun sekarang bergerak mengepung Musashi, tapi ketika mereka kira telah mengimpitnya, ternyata ia tidak lagi di sana. Bukan main bingungnya mereka. Mata mereka menyala keheranan, tapi kemudian jadi tertegun. Mereka pun memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan terus juga hilir-mudik sampai matahari tenggelam, mencari dengan kalutnya di bawah lantai-lantai bangunan kuil dan di tengah hutan untuk menemukan mangsa mereka yang telah lenyap itu. Kemudian, ketika orang pulang lewat lereng bukit-bukit Sannen dan Chawan yang gelap, seseorang bersumpah telah melihat Musashi melompat, ringan bagai kucing ke atas dinding setinggi hampir dua meter di gerbang barat dan menghilang. Tak seorang pun percaya, terutama Osugi dan Paman Gon.

Peri Air
DI sebuah dusun sebelah barat laut Kyoto, dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Hujan salah musim menembus atap lalang. Tempat itu semacam tanah tak bertuan yang terletak antara kota dan daerah pertanian. Kemiskinannya demikian sarat, hingga waktu senja asap api dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sebuah topi anyaman tergantung di bawah tepian atap sebuah rumah kecil. Rumah itu bertuliskan hurufhuruf tebal dan kasar, menyatakan rumah itu sebuah penginapan, walau dari jenis yang termurah. Musafir yang berhenti di situ hanya orang-orang melarat yang cuma menyewa lantai. Untuk sewa kasur jerami, mereka harus bayar lagi. Hanya sedikit yang dapat membeli kemewahan itu. Di dapur yang kotor lantainya, di samping pintu masuk, seorang anak lelaki melongok dengan tangan bertumpu pada tatami kamar sebelah yang lebih tinggi letaknya. Di tengah kamar itu terdapat perapian yang hampir man. "Halo!... Selamat malam!... Ada orang di sini?" Ia anak suruhan toko minuman, sebuah tempat kotor lain di jalan itu. Melihat orangnya, suara anak itu terlalu keras kedengarannya. Umurnya. tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya yang basah oleh hujan dan menjurai menutupi telinga membuat ia tampak tak lebih besar dari peri air dalam lukisan khayal. Pakaiannya pun sesuai untuk peran itu: kimono yang hanya sampai paha dengan lengan berbentuk tabung, dan seutas tali besar pengganti obi. Lumpur yang memercik tidak mengotori punggung ketika ia berlari dengan bakiaknya. "Kamu itu, Jo?" seru pak tua pemilik penginapan dari kamar belakang. "Ya. Bapak mau menyuruh saya ambil sake?" "Tidak hari ini. Tamuku belum kembali. Aku belum butuh." "Kalau dia kembali, tentunya dia perlu sake. Akan saya bawakan nanti, sejumlah biasanya." "Kalau dia kembali, nanti aku ambil sendiri." Enggan pergi tanpa membawa pesanan, anak itu pun bertanya, "Apa yang Bapak kerjakan?" "Aku lagi nulis surat; akan kukirimkan lewat kuda beban ke Kurama besok. Tapi ini sedikit sukar. Dan punggungku pun sakit. Diamlah, jangan ganggu aku." "Oh, lucu juga. Bapak sudah begitu tua, sampai sudah mulai bungkuk, tapi masih belum bisa menulis!" "Cukup! Kalau sampai kudengar kamu lancang lagi, kuambilkan pentung kayu api." "Mau saya tuliskan?" "Sok bisa kamu!" "Bisa," ucap anak itu sambil masuk kamar. la memandang surat itu dari atas bahu orang tua itu, dan pecahlah tawanya. "Bapak mau nulis 'kentang', ya? Huruf yang Bapak tulis itu artinya 'tongkat'." "Diam!" "Saya akan diam, kalau Bapak suruh. Tapi tulisan Bapak itu salah. Bapak mau mengirim kentang atau tongkat kepada teman-teman Bapak?" "Kentang." Anak itu pun membaca sedikit lebih lama, kemudian katanya, "Ah, ini kurang baik. Tak ada yang dapat menduga maksud surat ini, kecuali Bapak sendiri." "Nah, kalau kamu memang pintar, coba kamu yang tulis." "Baik. Sekarang katakan apa yang mau Bapak tuliskan." Jotaro duduk dan mengambil kuas. "Keledai kikuk kamu!" ucap orang tua itu. "Kenapa Bapak sebut saya kikuk? Bapak sendiri yang tak bisa menulis!" "Hidungmu menetesi kertas." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Oh, maaf. Tapi Bapak boleh berikan ini pada saya untuk bayarannya." Ia membuang ingusnya dengan kertas yang sudah kotor itu. "Sekarang, apa yang mau Bapak katakan?" Dengan pegangan kuas yang mantap, anak itu menulis dengan lancarnya apa-apa yang didiktekan orang tua itu. Baru saja surat itu selesai ditulis, tamu pulang, dan begitu saja melemparkan karung arang yang baru diambilnya di suatu tempat dan tadi dibawa di atas kepalanya. Musashi berhenti di pintu dan memeras air dari lengan bajunya, dan gerutunya, "Kukira inilah akhir musim bunga prem." Lebih dari dua puluh hari Musashi berada di situ. Penginapan itu telah terasa seperti rumahnya. Ia memandang ke luar, ke arah pohon di dekat gerbang depan. Bunga-bunga mesh muda menyambutnya tiap pagi semenjak ia datang. Daun bunga jatuh berserakan di lumpur. Ketika masuk dapur, ia heran melihat anak toko sake itu duduk akrab dengan pemilik penginapan. Karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, diam-diam ia berdiri di belakang orang tua itu dan mengintip dari atas bahunya. Jotaro menengadah ke wajah Musashi, kemudian buru-buru menyembunyikan kuas dan kertas di belakangnya. "Tidak boleh memata-matai orang macam itu," keluhnya. "Lihat, dong," kata Musashi mengganggu. "Jangan," kata Jotaro menggeleng. "Ayolah tunjukkan," kata Musashi. "Asal Kakak mau beli sake." "Oh, jadi itu yang kamu mainkan, ya? Baik, aku beli." "Lima gelas?' "Tidak sebanyak itu yang kubutuhkan." "Tiga gelas?" "Masih kebanyakan." "Kalau begitu, berapa? Jangan kikir, ah!" "Kikir? Kau tahu, aku cuma pemain pedang miskin. Kaukira aku banyak uang buat dihamburkan?" "Balk. Saya yang menakarnya sendiri nanti. Saya beri seharga uangmu. Tapi janji, Kakak mesti mendongengkan beberapa cerita." Tawar-menawar berakhir. Jotaro berkecipak dengan riangnya menempuh hujan. Musashi memungut surat itu dan membacanya. Sesaat-dua saat kemudian ia menoleh kepada pemilik penginapan, dan tanyanya, "Betul-betul dia yang menulis ini?" "Ya. Mengagumkan, ya? Kelihatannya pintar sekali anak itu." Sementara Musashi pergi ke sumur, mandi air dingin dan mengenakan pakaian kering, orang itu menggantungkan kuali di atas api dan mengeluarkan acar serta mangkuk nasi. Musashi kembali dan duduk dekat perapian. "Apa pula kerja bajingan kecil itu?" gerutu pemilik penginapan. "Lama sekali dia ambil sake." "Berapa umur anak itu?" "Sebelas, kalau tak salah. Pernah dikatakannya." "Terlalu dewasa untuk anak seusianya, bukan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Mm. Mungkin karena dia bekerja di toko sake ini sejak umur tujuh tahun. Di situ dia bertemu dengan segala macam orang-kusir kereta, pembuat kertas di ujung jalan sana, para musafir, dan siapa saja." "Saya heran, bagaimana dia bisa menulis begitu baik." "Apa memang baik betul?" "Ya, tulisannya memang ada sifat kekanakannya, tapi ada juga-apa, ya, namanya-semacam sifat terus terang yang menggugah. Sekiranya saya sedang memikirkan seorang pemain pedang, bisa saya katakan tulisan itu memperlihatkan keluasan spiritual. Anak itu nantinya bisa jadi orang." "Maksud Anda?" "Maksud saya, menjadi manusia sejati." "Oh?" Orang tua itu pun mengerutkan kening, mengangkat tutup kuali, dan meneruskan gerutuannya. "Belum juga kembali. Saya berani bertaruh, dia lagi ngeluyur sekarang." Baru saja ia hendak mengenakan sandal untuk pergi mengambil sake itu sendiri, Jotaro kembali. "Ke mana saja kamu?" tanyanya pada anak itu. "Kau bikin tamuku ini lama menunggu." "Saya tak bisa apa-apa. Ada pembeli datang ke toko, mabuk sekali. Saya dipegangnya erat-erat, dan ditanyai macam-macam." "Pertanyaan apa?" "Dia tanya tentang Miyamoto Musashi." "Dan kamu mengoceh, kan?" "Tak ada salahnya, kalaupun saya ngoceh. Semua orang di sini tahu apa yang terjadi di Kiyomizudera hari itu. Perempuan sebelah rumah dan anak tukang pernis, keduanya ada di kuil hari itu. Mereka lihat sendiri kejadiannya." "Tak usah lagi kamu bicara itu!" kata Musashi, hampir-hampir dengan nada memohon. Anak yang bermata tajam itu menaksir sikap Musashi, dan tanyanya, "Boleh saya tinggal di sini sebentar dan bicara dengan Kakak?" Dan mulailah ia membasuh kaki dan bersiap-siap masuk kamar perapian. "Aku sih boleh saja, kalau majikanmu tidak keberatan." "Oh, dia tidak butuh saya sekarang." "Baiklah." "Akan saya panaskan sake Kakak. Saya mahir sekali soal itu." Ia memasukkan guci sake ke dalam abu hangat di sekitar api, dan tak lama kemudian ia pun menyatakan sudah siap. "Cepat, ya?" kata Musashi dengan nada menghargai. "Kakak senang sake?" "Ya." "Tapi karena miskin, saya kira Kakak tak banyak minum, ya?" "Betul." "Tadinya saya mengira orang yang pintar dalam seni bela diri dapat mengabdi tuan-tuan besar dengan gaji Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

besar. Seorang pengunjung toko pernah bilang pada saya, Tsukahara Bokuden selalu berkeliling dengan tujuh puluh atau delapan puluh pesuruh, dan mendapat penggantian kuda dan burung elang juga." "Itu betul." "Dan saya mendengar prajurit kenamaan, bernama Yagyu, yang mengabdi Keluarga Tokugawa, mempunyai pendapatan lima puluh ribu gantang padi." "Itu betul juga." "Kalau begitu, kenapa Kakak begitu miskin?" "Aku masih belajar." "Mesti umur berapa dulu, sebelum Kakak punya banyak pengikut?" "Tak tahu aku, apa akan punya pengikut." "Kenapa? Apa Kakak kurang pandai?" "Kamu sudah dengar apa yang dikatakan orang yang melihatku di kuil. Bagaimana juga kamu menilainya, aku lari waktu itu." "Itulah yang dikatakan semua orang; kata mereka, shugyosha di penginapan itu—yaitu Kakak—orang lemah. Tapi sungguh jengkel saya mendengarkan mereka itu." Bibir Jotaro mengatup menjadi garis lurus. "Ha, ha! Kenapa pula kamu risau? Mereka tidak bicara tentang dirimu." "Yah, tapi saya kasihan pada Kakak. Kakak tahu, anak pembuat kertas, anak tukang kaleng, dan beberapa pemuda itu kadang-kadang berkumpul di belakang toko pernis buat latihan main pedang. Kenapa Kakak tidak berkelahi dengan salah seorang dari mereka dan mengalahkannya?" "Baiklah. Kalau itu yang kaukehendaki, akan kulakukan." Musashi merasa sukar menolak apa saja yang diminta anak itu. Sebagian karena ia sendiri dalam banyak hal masih kanak-kanak dalam hatinya, dan karena itu bersimpati kepada Jotaro. Selamanya ia mencari, sebagian besar secara tak sadar, pengganti kasih sayang keluarga yang semenjak kanak-kanak tak pernah dimilikinya. "Mari kita bicara soal lain saja," katanya. "Di mana kamu lahir?" "Di Himeji." "Oh, jadi kamu dari Harima." "Ya, dan Kakak dari Mimasaka, ya? Ada orang mengatakan demikian." "Betul. Apa kerja ayahmu?" "Dia dulu samurai. Samurai yang betul-betul setia pada kebaikan!" Semula Musashi tampak kaget, tapi baginya jawaban itu telah membikin jelas beberapa persoalan, walaupun sama sekali bukan soal betapa baiknya anak itu menulis. Ia menanyakan nama ayah anak itu. "Namanya Aoki Tanzaemon. Dulu dia punya gaji dua ribu lima ratus gantang padi, tapi ketika saya umur tujuh tahun, dia tinggalkan kerjanya dan pergi ke Kyoto sebagai ronin. Sesudah semua uangnya habis, dia tinggalkan saya di toko sake itu dan pergi ke kuil untuk menjadi biarawan. Tapi saya tak man tinggal di toko itu. Saya ingin menjadi samurai seperti ayah saya, dan saya ingin belajar main pedang seperti Kakak. Apa bukan jalan terbaik menjadi samurai?" Anak itu berhenti, kemudian melanjutkan dengan sungguh-sungguh. "Saya ingin menjadi pengikut Kakak— keliling negeri, belajar dengan Kakak. Apa Kakak tak mau mengajak saya jadi murid?" Selesai mengungkapkan maksudnya itu, Jotaro pun memperlihatkan wajah yang jelas-jelas mencerminkan tekadnya untuk tidak mendapat jawaban tidak. Tentu saja ia tidak tahu bahwa orang tempatnya memohon Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

itu adalah orang yang telah menjadi sebab ayahnya mendapat kesulitan bertubi-tubi. Adapun Musashi, ia tak dapat menolak permintaan itu mentah-mentah. Namun yang benar-benar dipikirkannya bukan soal mengatakan ya atau tidak, melainkan tentang Aoki Tanzaemon dan nasibnya yang tidak beruntung. Dalam hal ini tak bisa tidak ia bersimpati pada orang itu. Jalan Samurai memang perjudian tanpa henti, dan seorang samurai harus siap sepanjang waktu untuk membunuh atau dibunuh. Memikirkan contoh perubahan hidup ini, Musashi menjadi sedih dan efek sake yang diminumnya lenyap secara tiba-tiba. Ia merasa kesepian. Jotaro mendesak terus. Ketika pemilik penginapan mencoba menyuruhnya meninggalkan Musashi, ia menjawab secara kurang ajar, lalu melipatgandakan usahanya. Dipegangnya pergelangan tangan Musashi erat-erat, kemudian dipeluknya, dan akhirnya ia berurai air mata. Karena tak melihat jalan lain, Musashi pun berkata, "Baiklah, baiklah, cukup. Kau boleh menjadi pengikutku, asal kau pergi dan bicara dulu dengan majikanmu." Karena akhirnya terpenuhi keinginannya, Jotaro lari menderap ke toko sake. Pagi berikutnya Musashi bangun pagi-pagi, berpakaian, dan berkata kepada pemilik penginapan, "Tolong siapkan kotak makan siang untuk saya. Saya senang tinggal di sini beberapa minggu ini, tapi saya pikir saya harus terus pergi ke Nara sekarang." "Begitu cepat?" tanya pemilik penginapan yang tidak mengharapkan tamunya pergi begitu mendadak. "Apa karena anak itu terus mendesak Anda?" "Oh, tidak, bukan salah dia. Saya memang sudah lama bermaksud pergi ke Nara-bertemu dengan pemainpemain tombak terkenal di Hozoin. Saya harap dia tidak terlalu menyulitkan Bapak, kalau dia tahu saya sudah pergi." "Jangan kuatir. Dia masih anak-anak. Dia akan menjerit dan memekik sebentar, kemudian akan melupakannya sama sekali." "Dan lagi, tak mungkin rasanya tukang sake itu akan mengizinkannya pergi," kata Musashi ketika sudah turun ke jalan. Badai sudah lewat, seakan-akan tersapu bersih, dan angin sepoi-sepoi mengelus kulit Musashi dengan lembut, berlainan sekali dengan angin ganas sehari sebelumnya. Sungai Kamo naik, airnya berlumpur. Di salah satu ujung jembatan kayu di Jalan Sanjo, samurai memeriksa orang-orang yang datang dan pergi. Ketika Musashi bertanya kenapa ada inspeksi itu, ia mendapat jawaban, karena akan datang kunjungan shogun baru. Barisan depan kaum feodal berpengaruh dan juga feodal-feodal kecil sudah datang. Langkah-langkah sedang diambil untuk menyingkirkan samurai tak bertuan dan berbahaya ke luar kota. Musashi juga seorang ronin, tapi ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan ia dibolehkan lewat. Pengalaman memaksanya memikirkan statusnya sendiri sebagai prajurit tak bertuan yang mengembara, tak terikat ikrar kepada Tokugawa ataupun para saingannya di Osaka. Ketika berangkat ke Sekigahara dan berpihak pada pasukan Osaka melawan kaum Tokugawa, itu soal warisan. Soalnya adalah kesetiaan ayahnya yang tidak pernah berubah semenjak ia mengabdi pada Yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Toyotomi Hideyoshi sudah meninggal dua tahun sebelum pertempuran. Para pendukungnya, yang setia kepada anaknya, membentuk fraksi Osaka. Di Miyamoto, Hideyoshi dianggap pahlawan terbesar. Musashi ingat betapa dahulu ia duduk di dekat perapian, mendengarkan cerita-cerita tentang kegagahan prajurit besar itu semasa ia kanak-kanak. Gambaran ini semakin terbentuk di masa remajanya dan terus merasuk dalam dirinya. Sekarang pun, apabila didesak untuk mengatakan pihak mana yang dipilihnya, barangkali ia akan mengatakan Osaka. Sejak itu Musashi mulai paham, dan sekarang ia menyadari bahwa tindakan-tindakannya pada umur tujuh belas itu kurang pertimbangan dan tanpa hasil. Untuk orang yang hendak mengabdi kepada tuannya dengan setia, tidaklah cukup hanya dengan melompat membabi-buta ke tengah keributan dan mengacungkan lembing. Ia harus melewati jalan panjang menuju maut. "Kalau seorang samurai mati sambil mengucapkan doa bagi kemenangan tuannya, berarti dia telah melakukan sesuatu yang indah dan bermakna," demikian jalan pikiran Musashi sekarang. Tetapi pada waktu itu ia maupun Matahachi tidak memiliki rasa setia. Yang mereka hausi hanyalah kemasyhuran dan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kemuliaan, atau lebih tepat lagi, usaha memperoleh penghidupan tanpa pengorbanan. Sungguh ganjil dulu mereka dapat berpikir seperti itu. Sesudah belajar dari Takuan bahwa hidup adalah permata yang harus ditimang-timang, Musashi sadar bahwa waktu itu mereka tidak hanya menyia-nyiakan, bahkan juga tanpa pikir panjang mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Secara harafiah mereka mempertaruhkan segala yang dipunyai, dengan harapan akan memperoleh gaji tetap yang tak berarti sebagai samurai. Merenungkan masa lalu itu ia heran, bagaimana mungkin ia bertindak demikian tolol. Musashi melihat bahwa kini ia sudah mendekati Daigo, bagian selatan kota. Karena keringatnya mengucur, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Dari jauh didengarnya suara berseru-seru, "Tunggu! Tunggu!" Ketika menatap jalan gunung yang curam itu, tampaklah olehnya sosok si peri air kecil Jotaro, yang sedang berlari sekuat-kuatnya. Pandangan mata anak itu menghunjam marah ke mata Musashi. "Kakak bohong!" seru Jotaro. "Kenapa Kakak lakukan itu!" Napasnya megap-megap karena berlari dan wajahnya merah. Ia berbicara dengan sikap bermusuhan, meski kelihatan hampir menangis. Musashi hampir tertawa melihat pakaiannya. Anak itu membuang pakaian kerja sehari sebelumnya, dan menggantinya dengan kimono biasa. Tapi kimono itu dua kali lebih kecil dari badannya, hingga roknya hampir tak sampai lututnya dan lengannya hanya sampai siku. Pada pinggangnya tergantung pedang kayu yang lebih panjang dari tinggi badannya, dan di punggungnya tergantung topi anyaman sebesar payung. Selagi masih berseru-seru kepada Musashi karena sudah meninggalkannya, ia berurai air mata. Maka Musashi mendekapnya dan berusaha menyenangkan hatinya, tapi anak itu terus juga rnelolong. Agaknya karena merasa bahwa di pegunungan tak ada orang, ia dapat melepaskan perasaannya. Akhirnya Musashi berkata, "Kau senang berlaku seperti bayi cengeng?" "Saya tak peduli!" sedan Jotaro. "Kakak orang dewasa, tapi Kakak membohongi saya. Kakak bilang mau menerima saya jadi pengikut, tapi Kakak meninggalkan saya. Apa orang dewasa memang suka begitu?" "Maafkan aku," kata Musashi. Permintaan maaf yang sederhana ini mengubah tangis anak itu menjadi rengekan. "Diam sekarang," kata Musashi. "Aku tidak bermaksud berbohong padamu, tapi kamu kan masih ada ayah, dan kamu punya majikan? Aku tak bisa membawamu, kecuali kalau majikanmu menyetujui. Kuminta kamu pergi bicara dengannya, bukan? Kurasa waktu itu dia tak akan setuju." "Kenapa Kakak tidak tunggu sampai mendapat jawabannya, paling tidak?" "Itu sebabnya aku minta maaf padamu sekarang. Apa betul kamu membicarakannya dengan dia?" "Ya." Jotaro mengendalikan sedu-sedannya, kemudian ia tarik dua lembar daun dari sebuah pohon. Dengan daun itu ia membuang ingusnya. "Dan apa katanya?" "Dia bilang saya boleh pergi." "Lalu?" "Dia bilang, tak ada prajurit terhormat atau perguruan yang mau menerima anak seperti saya. Tapi karena samurai di penginapan itu orang lemah, tentunya dia orang yang tepat untuk saya. Katanya, barangkali saja Kakak dapat memakai saya untuk membawakan barang, dan dia memberi saya pedang kayu ini sebagai hadiah perpisahan." Musashi tersenyum mendengar jalan pikiran orang itu. "Sudah itu," kata anak itu melanjutkan, "saya pergi ke penginapan. Orang tua itu tak ada, jadi saya pinjam saja topinya dari sangkutannya di bawah pinggiran atap."

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tapi itu kan papan nama tempat itu? Di situ tertulis 'Penginapan'." "Ah, biar saja. Saya butuh topi, siapa tahu hujan." Jelaslah dari sikap Jotaro bahwa segala janji dan sumpah yang diperlukan telah dilaksanakan. Sekarang ia menjadi murid Musashi. Merasakan hal ini, Musashi terpaksa menerima kenyataan bahwa ia kurang-lebih sudah terikat pada anak itu. Tapi terpikir juga olehnya bahwa ini semua demi kebaikan. Memang, ketika ia merenungkan peranannya sendiri dalam peristiwa hilangnya status Tanzaemon, ia menyimpulkan bahwa barangkali ia mesti berterima kasih atas kesempatan yang diperolehnya untuk membentuk masa depan anak ini. Itulah agaknya yang harus dilakukannya. Sesudah tenang dan tenteram, Jotaro tiba-tiba ingat akan sesuatu dan merogoh kimononya. "Saya hampir lupa. Ada sesuatu untuk Kakak. Ini dia." ia mengeluarkan sepucuk surat. Memandang surat itu dengan rasa ingin tahu, Musashi bertanya, "Di mana kamu mendapatkannya?"' "Kakak ingat, tadi malam saya bilang ada seorang ronin minum di toko, dan mengajukan banyak pertanyaan." "Ya." "Waktu saya pulang, dia masih ada di sana. Dia terus juga bertanya tentang Kakak. Dia tukang minum jugasatu botol penuh sake diminumnya sendiri! Kemudian dia menulis surat ini dan minta saya memberikannya pada Kakak." Musashi menelengkan kepala keheranan, lalu membuka meterai surat tersebut. Mula-mula ia melihat bagian bawahnya, dan tahulah ia bahwa surat itu dari Matahachi yang memang dalam keadaan mabuk. Hurufhurufnya pun tampak agak mabuk. Membaca gulungan itu, Musashi tercengkeram nostalgia dan kesedihan menjadi satu. Tidak saja karena tulisan itu kalut, tapi juga karena pesan yang disampaikannya pun melantur dan tidak pasti. Sejak meninggalkanmu di Gunung Ibuki, aku tak lupa desa kita. Dan tak lupa aku pada teman lamaku. Kebetulan kudengar namamu di Perguruan Yoshioka. Waktu itu aku bingung dan tak bisa memutuskan, apa aku harus menjumpaimu. Sekarang aku di toko sake. Aku banyak minum. Sampai di situ maknanya cukup jelas, tapi mulai dari situ surat itu sukar diikuti maksudnya. Semenjak berpisah denganmu, aku terkurung dalam sangkar nafsu, dan kemalasan memakan tulangku. Lima tahun lamanya aku menghabiskan waktu dalam keadaan setengah sadar, tanpa melakukan sesuatu. Di ibu kota, kau sekarang terkenal sebagai pemain pedang. Aku minum untukmu! Beberapa orang mengatakan Musashi pengecut, bisanya cuma lari. Beberapa lagi bilang kau pemain pedang yang tak ada tandingannya. Tak peduli aku mana yang benar. Aku cuma senang bahwa pedangmu sudah bikin orang ibu kota bicara tentangmu. Kau cakap. Kau mesti bisa menempuh jalanmu lewat pedang. Tapi kalau aku menoleh ke belakang, aku heran dengan diriku, seperti sekarang ini. Aku memang orang sinting! Bagaimana mungkin orang sial macam aku ini bertemu dengan teman bijaksana seperti kamu tanpa mati karena malu? Tapi nanti dulu! Hidup ini panjang, dan terlalu dini sekarang untuk dikatakan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tak ingin bertemu denganmu sekarang, tapi akan tiba waktunya, aku mau bertemu. Aku berdoa untuk kesehatanmu. Kemudian menyusul tambahan yang ditulis cepat bagai cakar ayam, yang isinya panjang-lebar, memberitakan kepadanya bahwa Perguruan Yoshioka memandang sangat serius kejadian yang baru lalu itu, dan bahwa mereka sedang mencarinya ke mana-mana; karena itu ia mesti hati-hati dengan tindakannya. Tambahan itu berakhir dengan: Kau tak boleh mati sekarang, karena kau baru mulai menciptakan nama. Kalau nanti aku pun sudah melakukan sesuatu untuk diriku, ingin aku bertemu denganmu dan bicara tentang masa lalu. Jagalah dirimu, tetaplah hidup, supaya kau bisa mengilhami diriku. Tidak sangsi lagi Matahachi punya maksud baik, tapi ada sesuatu yang tak beres dengan sikapnya. Kenapa ia mesti menyanjung Musashi sedemikian rupa dan berikutnya bicara sedemikian rupa tentang kegagalankegagalan sendiri? "Yah," Musashi heran, "apa tak bisa dia sekadar menulis bahwa sudah lama waktu berlalu, dan kenapa kita tidak bertemu dan ngobrol sepuasnya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Jo, apa kau menanyakan alamat orang ini?" "Tidak." "Apa dia sering datang ke sana?" "Tidak, ini yang pertama kali." Terpikir oleh Musashi bahwa kalau ia tahu di mana Matahachi tinggal, pasti ia akan kembali ke Kyoto sekarang juga untuk bertemu dengannya. Ingin ia bicara dengan kawan masa kecilnya itu, mencoba menyadarkannya, membangkitkan kembali semangat yang pernah dimilikinya. Karena ia masih menganggap Matahachi sebagai temannya, ingin ia menariknya keluar dari suasana hatinya yang sekarang, yang jelas cenderung menghancurkan diri sendiri. Tentu saja ia juga ingin Matahachi menjelaskan kepada ibunya betapa salah perbuatan ibunya itu. Kedua orang itu berjalan terus dalam diam. Mereka menuruni Gunung Daigo. Persimpangan Rokujizo sudah tampak di bawah mereka. Mendadak Musashi menoleh kepada anak itu, clan katanya, "Jo, aku mau minta tolong." "Apa?" "Menyampaikan pesanku." "Ke mana?" "Kyoto." "Itu berarti balik kanan dan kembali ke tempat yang baru saja saya tinggalkan." "Betul. Aku ingin kamu menyampaikan suratku kepada Perguruan Yoshioka di Jalan Shijo." Dengan kecewa Jotaro menendang batu dengan jari kakinya. "Tak mau, ya?" tanya Musashi sambil menatap anak itu. Jotaro menggelengkan kepala tak menentu. "Saya tidak keberatan, tapi apa Kakak menyuruh saya ini buat menyingkirkan saya?" Kecurigaan anak itu membuat Musashi merasa bersalah, karena bukankah ia sendiri yang telah menghilangkan kepercayaan itu pada orang dewasa? "Tidak!" katanya tegas. "Seorang samurai tidak berbohong. Maafkan aku atas kejadian pagi tadi. Itu cuma kesalahan." "Baik, saya pergi." Mereka masuk warung teh di persimpangan yang dikenal dengan nama Rokuamida, memesan teh, dan makan siang. Kemudian Musashi menulis surat yang dialamatkan kepada Yoshioka Seijuro: Saya mendapat kabar bahwa Anda dan murid-murid Anda sedang mencari saya. Sekarang saya berada di jalan raya Yamato, karena saya bermaksud mengadakan perjalanan keliling di kawasan Iga dan Ise sekitar setahun lamanya untuk melanjutkan pelajaran saya dalam ilmu pedang. Saya tak ingin mengubah rencana waktu ini, tapi karena saya sama kecewanya dengan Anda berhubung tidak dapat bertemu dengan Anda selama kunjungan saya ke perguruan Anda, maka ingin saya memberitahukan bahwa saya pasti akan kembali ke ibu kota pada bulan pertama atau kedua tahun depan. Dari sekarang sampai waktu itu saya berharap akan dapat memperbaiki teknik saya sebaikbaiknya. Saya percaya Anda sendiri tak akan mengabaikan latihan Anda. Akan merupakan aib besar jika Perguruan Yoshioka Kempo yang sedang mekar itu harus menderita kekalahan kedua seperti kekalahan di waktu lalu. Sebagai penutup, saya sampaikan harapan penuh hormat agar Anda selalu dalam keadaan sehat walafiat. Shimmen Miyamoto Musashi Masana. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Surat itu memang sopan, namun jelas nampak keyakinan Musashi pada diri sendiri. Sesudah mengubah alamat surat itu agar tidak hanya mencakup Seijuro saja, melainkan juga semua murid di sekolah itu, ia letakkan kuasnya dan ia serahkan surat itu kepada Jotaro. "Apa bisa saya masukkan saja surat ini di perguruan itu, lalu pergi?" tanya anak itu. "Tidak. Kamu mesti menyapa dulu di pintu depan, lalu menyerahkan surat itu langsung kepada pembantu di sana." "Baik." "Ada hal lain lagi yang harus kamu lakukan, tapi barangkali agak sukar." "Apa?" "Apakah kamu dapat menemukan orang yang memberikan surat padamu itu? Namanya Hon'iden Matahachi. Dia teman lamaku." "Oh, itu sama sekali tidak sukar." "Betul? Bagaimana caramu?" "Ah, saya tanyakan saja di semua toko minuman." Musashi tertawa. "Boleh juga pikiranmu itu. Tapi menurut surat Matahachi itu, dia kenal orang di Perguruan Yoshioka. Kupikir lebih cepat kalau tanya tentang dia di sana." "Apa yang harus saya lakukan kalau sudah menemukan dia?" "Aku ingin kamu menyampaikan pesan. Katakan padanya, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti, tiap pagi aku akan ke jembatan besar di Jalan Gojo menantikan dia. Suruh dia datang menemuiku pada salah satu hari itu." "Cuma itu?" "Ya, tapi sampaikan juga kepadanya bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya." "Baik, saya mengerti. Lalu Kakak ada di mana, kalau saya kembali nanti?" "Kuterangkan sekarang. Kalau nanti aku sampai Nara, akan kuatur supaya kamu dapat mengetahui tempatku dengan bertanya di Hozoin. Hozoin adalah kuil terkenal karena permainan lembingnya." "Sungguh?" "Ha, ha! Kamu masih curiga, ya? Jangan kuatir. Kalau aku tidak memenuhi janjiku kali ini, boleh kamu memotong kepalaku." Musashi masih juga tertawa ketika meninggalkan warung teh. la berangkat menuju Nara, sedangkan Jotaro ke arah yang berlawanan, ke arah Kyoto. Di persimpangan jalan itu bercampur aduk orang banyak yang mengenakan topi anyaman, burung layanglayang, dan kuda-kuda meringkik. Sementara melintasi gerombolan orang banyak itu, Jotaro menoleh ke belakang dan melihat Musashi masih berdiri di tempat semula dan memperhatikannya. Mereka tersenyum dari jauh sebagai tanda perpisahan, lalu masing-masing menempuh jalannya sendiri.

bagian 5

Angin Musim Semi
DI tepi Sungai Takase, Akemi mencuci sepotong kain sambil menyanyikan lagu yang dipelajarinya di Kabuki Okuni. Setiap kali ia menarik kain berpola kembang itu, tercipta bayangan bunga ceri yang terbang berputarputar. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Angin cinta Menyentak-nyentak lengan kimonoku. Oh, lengan jadi terasa berat! Apakah angin cinta itu berat? Jotaro berdiri di atas tanggul. Matanya yang lincah mengamati pemandangan, dan ia tersenyum ramah, dan ia tersenyum ramah. "Bagus nyanyinya, Bi," serunya. "Apa?" tanya Akemi. Ia memandang anak yang seperti orang cebol mengenakan pedang kayu panjang dan topi anyaman besar itu. "Kamu siapa?" tanyanya. "Dan apa maksudmu memanggilku Bibi? Aku masih muda!" "Baik, gadis manis! Bagaimana kalau begitu?" "Diam kamu!" kata Akemi tertawa. "Kau masih terlalu kecil buat merayu. Lebih baik kau buang ingusmu." "Saya cuma mau tanya sedikit." "Oh, oh!" teriak Akemi ketakutan. "Kainku!" "Sebentar saya ambilkan." Jotaro mengejar kain itu dari tepi sungai, kemudian memancingnya dari air dengan pedangnya. Paling tidak, pedang ini bisa dipakai buat keadaan seperti ini, demikian pikirnya. Akemi mengucapkan terima kasih, lalu bertanya, apa yang hendak ditanyakan Jotaro. "Apa ada warung teh di sekitar sini yang namanya Yomogi?" Oh, ya, itu rumahku, di sana itu." "Oh, senang sekali aku mendengarnya! Lama sekali aku mencarinya." "Kenapa? Kamu datang dari mana?" "Dari jalan itu," jawab Jotaro sambil menuding tak jelas. "Dari mana itu kira-kira?" Jotaro ragu-ragu. "Aku sendiri tidak begitu yakin." Akemi terkikik. "Tak apalah. Tapi kenapa kamu tertarik pada warung teh kami?" "Saya mencari orang yang namanya Hon'iden Matahachi. Orang Perguruan Yoshioka bilang, kalau saya pergi ke Yomogi, saya akan menemukannya." “Dia tidak di situ." "Bohong!" "Tidak. Betul. Dulu dia memang tinggal dengan kami, tapi dia sudah pergi beberapa waktu lalu." "Ke mana?" "Aku tidak tahu." "Tapi orang serumahmu pasti ada yang tahu." "Tidak. Ibuku juga tidak tahu. Dia minggat." "Oh." Anak itu memerosotkan badannya dan menatap air dengan gelisah. "Sekarang apa yang mesti kulakukan?" keluhnya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Siapa yang menyuruhmu kemari?" "Guruku." "Siapa gurumu?" "Namanya Miyamoto Musashi." "Apa kamu membawa surat?" "Tidak," kata Jotaro sambil menggeleng. "Bagus sekali kamu jadi suruhan! Tak tahu dari mana datang, dan tidak membawa surat pula." "Tapi saya membawa pesan." "Pesan apa itu? Barangkali orang itu tak akan kembali lagi, tapi kalau dia kembali akan kusampaikan pesanmu itu." "Saya kira tak boleh saya mengatakannya. Ya, kan?" "Jangan tanya aku. Putuskan olehmu sendiri." "Kalau begitu, barangkali juga boleh. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan Matahachi. Dia minta saya menyampaikan pada Matahachi bahwa dia akan menanti di jembatan besar Jalan Gojo tiap pagi, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti. Matahachi mesti menjumpai dia di sana, di salah satu hari itu." Akemi pecah ketawanya, tak dapat dikendalikan lagi. "Tak pernah aku mendengar pesan seperti itu! Jadi, maksudmu, sekarang dia mengirim pesan, minta Matahachi menjumpainya tahun depan? Gurumu itu mestinya sama anehnya dengan kamu! Ha, Ha!" Sikap mencemooh tampak pada wajah Jotaro, dan bahunya tegang karena marah. "Apanya yang lucu?" Akhirnya Akemi berhasil menghentikan tawanya. "Jadi, sekarang kamu marah, ya?" "Tentu saja. Saya minta tolong dengan sopan, tapi kamu ketawa seperti orang gila." "Maaf, aku betul-betul minta maaf. Aku tak akan ketawa lagi. Dan kalau Matahachi kembali, akan kusampaikan pesan itu kepadanya. "Janji?" "Ya, aku bersumpah." Sambil menggigit bibir untuk menghindari senyum, Akemi bertanya, "Siapa namanya tadi? Orang yang menyuruhmu menyampaikan pesan itu?" "Ingatanmu tidak begitu baik rupanya. Namanya Miyamoto Musashi." "Bagaimana kamu menuliskan Musashi itu?" Jotaro mengambil bilah bambu, lalu mengguratkan dua huruf di pasir. "Lho, itu huruf-huruf yang bunyinya Takezo!" ucap Akemi. "Namanya bukan Takezo, tapi Musashi." "Ya, tapi bisa juga dibaca Takezo." "Kamu keras kepala rupanya, ya?" decap Jotaro sambil melemparkan bilah bambu itu ke sungai. Akemi menatap tajam-tajam huruf-huruf di pasir itu, dan tenggelam dalam renungan. Akhirnya ia menengadah memandang Jotaro, mengamat-amatinya dari kepala sampai jari kaki, lalu tanyanya dengan suara lembut, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa ini bukan Musashi dari daerah Yoshino di Mimasaka?" "Ya. Saya dari Harima. Dia dari Kampung Miyamoto di Provinsi Mimasaka, tak jauh dari sana." "Apa orangnya tinggi, kelihatan jantan? Dan apa bagian atas kepalanya tidak dicukur?" "Ya. Bagaimana kamu bisa tahu?" "Aku ingat dia pernah cerita, ketika masih kecil dia bisulan di puncak kepalanya. Kalau dia mencukurnya seperti biasa dilakukan samurai, akan kelihatan bekas lukanya yang buruk." "Pernah cerita? Kapan?" "Oh, sudah lima tahun lalu." "Jadi, kamu sudah begitu lama kenal guru saya?" Akemi tidak menjawab. Kenangan hari-hari itu membangkitkan kenikmatan di dalam hatinya, hingga bicara pun jadi sukar. Yakin dari berita kecil vang disampaikan anak itu bahwa Musashi adalah Takezo, ia jadi tercengkeram hasrat untuk bertemu Musashi kembali. Ia sudah melihat cara hidup ibunya, dan ia juga sudah melihat Matahachi semakin memburuk perkembangannya. Sejak semula ia lebih menyukai Takezo. Dan semenjak itu semakin yakin ia akan benarnya pilihan atas Takezo. Ia gembira karena masih sendiri. Takezo. Ia begitu lain dari Matahachi. Sering kali ia mengambil sikap tidak menghanyutkan diri dengan para leaki yang selalu minum di warung tehnya. Ia mencemooh mereka dan terus berpegang teguh pada gambarannya tentang Takezo. Jauh di lubuk hatinya ia selalu bermimpi akan menemukan Takezo kembali. Takezo, hanya Takezo-lah kekasih di dalam hatinya, ketika ia menyanyikan lagu-lagu cinta untuk dirinya sendiri. Karena tugasnya selesai, Jotaro berkata, "Nah, lebih baik saya pergi sekarang. Kalau kamu bertemu dengan Matahachi, betul-betullah sampaikan apa yang sudah saya katakan tadi." Ia pergi, menderap sepanjang puncak tanggul sempit itu. Kereta sapi itu penuh bermuatan karung-karung yang barangkali berisi betas, kacang merah, atau hasil bumi setempat yang lain. Di puncak tumpukan ada tulisan yang menyatakan bahwa barang itu sumbangan kaum Budhis yang setia untuk Kofukuji yang agung di Nara. Jotaro kenal kuil itu karena namanya identik dengan Nara. Wajah Jotaro menyala menyatakan kegembiraan kanak-kanaknya. Dikejarnya kendaraan itu, lalu naiklah ia ke atasnya. Jika ia menghadap ke belakang, masih ada cukup ruangan untuk duduk. Dan sebagai tambahan kenikmatan, ada pula karung-karung buat bersandar. Di kiri-kanan jalan, bukit-bukit landai terselimut barisan semak teh yang rapi. Pohon-pohon ceri mulai berbunga, dan para petani sudah membajak gerst-sejenis gandum. Mereka pasti berharap agar tahun itu ladang terhindar dari pijakan para serdadu dan kuda. Perempuan-perempuan berlutut di pinggir kali, mencuci sayur-sayuran. Jalan raya Yamato terasa damai. "Untung sekali!" pikir Jotaro sambil bersandar dan bersantai. Karena enaknya tempat itu, ia selalu tergoda untuk tidur, tapi ia harus berpikir dua kali. Karena takut kereta akan sampai di Nara selagi ia masih tidur, maka ia merasa bersyukur setiap roda kereta menggilas batu dan berguncang. Itu membantu matanya tetap terbuka. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada berjalan terus seperti ini menuju tujuannya. Di luar sebuah kampung, Jotaro dengan malas meraih dan memetik selembar daun dari pohon kamelia. Diletakkannya daun itu di atas lidahnya dan mulailah ia menyiulkan sebuah lagu. Kusir kereta menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Karena siulan terus juga berbunyi, ia menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, dan berkali-kali lagi. Akhirnya dihentikannya kereta, dan pergilah ia memutar ke belakang. Melihat Jotaro, ia marah bukan kepalang. Pukulan tinju yang dijatuhkannya demikian keras, hingga anak itu berteriak kesakitan. "Apa kerjamu di sini?" gertaknya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tak apa-apa, kan?" "Enak saja kau!" "Kenapa? Bapak kan tidak menariknya sendiri?" "Oh, bajingan kurang ajar kamu!" seru tukang kereta sambil melontarkan Joraro ke tanah, seperti bola. Jotaro terpelanting dan kemudian terguling ke pangkal sebatang pohon. Kereta berjalan kembali, bunyi rodanya gemeretak, seakan-akan menertawakannya. Ketika Jotaro sadar kembali, ia mulai mencari-cari dengan teliti di tanah sekitarnya. Ia sadar tabung bambu berisi jawaban dari Perguruan Yoshioka untuk Musashi hilang. Tadi barang itu Ia gantungkan di leher dengan seutas tali, tapi sekarang lenyap. Ketika anak itu sangat kebingungan dan sedikit demi sedikit melebarkan wilayah pencariannya, seorang perempuan muda berpakaian perjalanan berhenti memperhatikannya; ia bertanya, "Kamu kehilangan sesuatu, ya?" Jotaro memandang wajahnya yang sebagian tertutup topi bertepi lebar, mengangguk, dan kembali mencari. "Kamu kehilangan uang?" Karena terlampau asyik, Jotaro tidak begitu memperhatikan pertanyaan itu, dan hanya memperdengarkan gerutuan tak senang. "Apa tabung bambu yang panjangnya kira-kira satu kaki dan bertali?" Jotaro tersentak. "Ya! Bagaimana Kakak bisa tahu?" "Jadi, kamulah yang diteriak-teriaki kusir-kusir dekat Mampukuji tadi, karena mengganggu kuda mereka!" "Ah-h-h... ya "

"Waktu kamu ketakutan dan lari, tali itu tentunya putus. Tabung itu jatuh di jalan, dan samurai yang sedang bicara dengan kusir-kusir tadi itu mengambilnya. Lebih baik kamu kembali menanyakan kepadanya." "Betul begitu?" "Tentu." "Terima kasih." Tapi baru saja ia hendak berlari, perempuan muda itu memanggilnya. "Tunggu! Tak perlu kamu kembali ke sana. Kulihat samurai itu berjalan kemari. Itu, yang memakai hakama lapangan." Ia menuding orang itu. Jotaro berhenti dan menanti dengan mata terbuka lebar. Samurai itu seorang lelaki yang mengesankan, berumur sekitar empat puluh tahun. Segala sesuatu yang ada padanya sedikit lebih besar dan yang biasa-tingginya, jenggotnya yang hitam legam, bahunya yang lebar, dadanya yang padat. la mengenakan kaus kaki kulit dan sandal jerami, dan apabila berjalan langkahlangkahnya yang mantap seakan memadatkan tanah. Dari pandangan sekilas, Jotaro merasa pasti bahwa orang itu prajurit besar yang mengabdi kepada salah seorang daimyo yang sangat penting, dan ia takut menyapanya. Untunglah samurai itu yang bicara dulu memanggilnya. "Apa bukan kamu anak nakal yang menjatuhkan tabung bambu ini di depan Mampukuji?" tanvanva. "Oh, betul! Tuan menemukannya!" "Apa tak bisa kamu mengucapkan terima kasih?" "Maaf. Terima kasih, Tuan!" "Aku yakin ada surat penting di dalamnya. Kalau tuanmu menyuruh kamu, jangan kamu berhenti sepanjang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

jalan mengganggu kuda, membonceng-bonceng, atau bermalas-malas di pinggir jalan." "Ya, Tuan. Apa Tuan melihat isinya?" "Sudah sewajarnya, kalau kita menemukan sesuatu, kita memeriksanya dan mengembalikannya kepada pemiliknya, tapi aku tidak merusak meterai surat itu. Sekarang, sesudah barang itu di tanganmu lagi, coba periksa dan lihat, apa masih baik keadaannya." Jotaro membuka tutup tabung dan melihat ke dalamnya. Puas karena surat itu masih ada, digantungkannya tabung itu kembali ke lehernya, dan ia bersumpah tak akan melepaskannya untuk kedua kali. Perempuan muda itu tampak sama puasnya dengan Jotaro. "Baik sekali Tuan telah menemukan barang itu," katanya kepada si samurai, untuk memperbaiki sikap Jotaro yang tidak mampu menyatakan terima kasih dengan baik. Samurai berjenggot itu mulai berjalan lagi bersama mereka berdua. "Apa anak itu bersamamu?" tanyanya kepada perempuan itu. "Oh, tidak. Belum pernah saya bertemu dengan dia." Samurai itu tertawa. "Kupikir tadi kamu dan dia pasangan yang agak aneh. Anak itu seperti setan kecil yang lucu; apalagi ada kata 'Penginapan' pada topinya." "Barangkali kepolosan kanak-kanaknya itu yang membuat dia begitu menarik. Saya suka dia juga." Sambil menoleh kepada Jotaro, ia bertanya, "Mau ke mana kamu?" Karena berjalan bersama kedua orang itu, semangat Jotaro naik lagi. "Saya akan pergi ke Nara, ke Kuil Hozoin." Sebuah benda panjang sempit yang terbungkus kain brokat emas dan tersimpan dalam obi gadis itu menarik perhatiannya. Sambil memperhatikannya, ia berkata, "Saya lihat Kakak membawa tabung surat juga. Hati-hati, jangan Kakak hilangkan." "Tabung surat? Apa maksudmu?" "Itu, dalam obi Kakak." Gadis itu pun tertawa. "Ini bukan tabung surat, tolol! Ini suling." "Suling?" Dengan mata menyala-nyala karena rasa ingin tahu, tanpa malu-malu Jotaro melongokkan kepala ke pinggang gadis itu untuk memeriksa benda tersebut. Tiba-tiba suatu perasaan aneh datang kepadanya. Ia mundur dan seperti mengamat-amati gadis itu. Anak-anak pun mempunyai selera terhadap kecantikan wanita, atau setidak-tidaknya mengerti secara naluriah, apakah wanita itu murni atau tidak. Jotaro terkesan sekali akan kecantikan gadis itu, dan ia menghargainya. Terasa olehnya sebagai keberuntungan tak terukir bahwa sekarang ia berjalan bersama orang yang begitu molek. Hatinya pun berdentum, dan ia merasa pusing. "Oh. Suling... Apa Bibi bisa main suling?" tanyanya. Kemudian, karena ingat akan reaksi Akemi terhadap kata "Bibi" itu, ia cepat-cepat mengubah pertanyaannya, "Siapa nama Kakak?" Gadis itu tertawa dan melemparkan pandangan senang kepada si samurai lewat kepala anak itu. Prajurit yang seperti beruang itu ikut tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih kuat di belakang jenggotnya. "Kamu anak baik, kan? Kalau kamu ingin tahu nama orang lain, yang sopan adalah kamu menyebutkan dulu namamu." "Nama saya Jotaro." Jawaban ini menimbulkan ketawa lebih banyak lagi. "Itu tidak adil!" teriak Jotaro. "Tuan menyuruh saya menyebutkan nama saya, tapi saya belum tahu nama Tuan. Siapa nama Tuan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Namaku Shoda," kata samurai itu. "Itu tentunya nama keluarga. Lalu nama Tuan yang lain apa?" "Terpaksa aku minta diizinkan hanya menyebut nama itu." Dengan berani Jotaro menoleh kepada gadis itu, dan katanya, "Sekarang giliran Kakak. Kami sudah menyebutkan nama kami. Kurang sopan kalau Kakak tidak menyebutkan nama Kakak." "Nama saya Otsu." "Otsu?" Jotaro mengulang. la kelihatan puas sebentar, tapi kemudian mengoceh lagi. "Kenapa ke manamana Kakak menyimpan suling dalam obi?" "Oh, aku butuh suling ini buat mencari makan." "Jadi, Kakak ini pemain suling?" "Sebetulnya aku tidak yakin apa ada pemain suling profesional, tapi uang yang kudapat dengan main suling ini bisa buat melakukan perjalanan-perjalanan jauh macam ini. Bolehlah kamu menyebut itu pekerjaanku." "Apa musik yang Kakak mainkan seperti musik yang sudah saya dengar di Gion dan Kuil Kamo? Musik untuk tari-tarian suci?" "Tidak." "Apa musik buat jenis tarian yang lain-misalnya Kabuki?" "Tidak." "Kalau begitu, musik jenis apa?" "Oh, lagu-lagu biasa saja." Sementara itu si samurai bertanya-tanya dalam hati mengenai pedang kayu panjang milik Jotaro itu. "Apa yang kamu pasang di pinggangmu itu?" tanyanya. "Apa Tuan tak kenal pedang kayu kalau Tuan melihatnya? Saya pikir Tuan ini samurai." "Ya, aku memang samurai. Cuma aku heran melihat pedang begitu kamu bawa. Kenapa kamu membawanya?" "Saya mau belajar ilmu pedang." "Oh, jadi kamu belajar sekarang? Apa kamu sudah punya guru?" "Punya." "Apa dia yang akan menerima surat itu?" „ Ya. " "Kalau dia itu gurumu, tentunya dia ahli yang sejati." "Dia sama sekali tidak sebaik itu." "Apa maksudmu?" "Semua orang bilang dia lemah." "Apa kamu tidak keberatan punya guru lemah?"

Ebook by Kang Zusi

"Silakan masuk. sementara teman-temannya duduk. Banyak lagi yang dapat saya Ebook by Kang Zusi . Ia sedang melayani para langganan yang duduk berkeliling di bangku. Kalau Nona yakin ada teman untuk tinggal di sana. "Misalnya. dlan katanya. Ada seorang ronin yang sudah sekitar satu tahun saya cari. Begitu kue datang. seakan hendak pecah menjadi senyuman. Kalau tidak. kalau seorang wanita muda mengadakan perjalanan sendiri ke Nara. "Senang sekali bertemu dengan anggota Keluarga Yagyu!" serunya. netcafe. lalu Sengoku Soya kabarnya berada di luar Horyuji. "Apa Nara masih jauh dari sini?" "Masih." Jembatan Uji mulai tampak. tidak banyak berita yang terdengar. "Lupakan keinginan itu sama sekali. "Apa kamu sudah mempelajari beberapa teknik?" "Belum bisa dikatakan begitu. Sesudah Pertempuran Sekigahara. Walau jika dihitung juga tuan-tuan tanah feodal yang semenjak itu diizinkan menetap kembali dengan gaya yang lebih sederhana. Tapi terpikir juga oleh saya. saya belum tahu. lalu bercerita kepada mereka mengenai apa yang diketahuinya tentang keadaan Nara. Sambil menghirup teh. seorang tua yang sangat sopan memegang sebuah ketel teh besar. saya punya rencana ke sana. Bisa sediakan kue manis buat anak ini?" Jotaro tetap berdiri. walaupun saya akui. Sambil menoleh ke Otsu." Shoda pun segera menyambung. maka setidak-tidaknya ada delapan puluh daimyo dengan penghasilan seluruhnya sekitar dua puluh juta gantang yang telah dicabut hak miliknya. Lalu.000 atau 130. Saya belum lagi belajar apa-apa. "Sanada Yukimura yang terkenal itu bersembunyi di Gunung Kudo. Wilayah sekitar Nara dan Gunung Koya penuh kuil. "Tidak.000 orang samurai kehilangan jabatannya. Orang yang cepat jalannya pun barangkali takkan sampai lebih jauh dari Kizu sebelum matahari terbenam. jadi tak ada bedanya." Samurai itu hampir tak dapat menahan rasa geli. Melihat Shoda. silakan!" "Kami mau istirahat sebentar di sini. Otsu bertanya kepada orang tua itu. "Bicara dengan kamu ini bikin jalan lebih pendek. orang-orang Tokugawa menyita tanah-tanah milik yang seluruhnya menghasilkan 33 juta gantang padi tiap tahun. Inc. dan Ban Dan'emon di Kofukuji. karena merupakan tempat sembunyi yang ideal. samuraisamurai yang kini tak punya penghasilan dan sedikit saja punya harapan akan memperoleh pekerjaan lain. ia menyalaminya dengan hangat. Menurut perkiraan kebanyakan orang." Tawa samurai itu pun akhirnya pecah berderai-derai. Padahal kenyataannya kota itu tidak lagi seperti itu." kata orang tua itu. di mana banyak kuil berwarna-warni dan rusarusa jinak-sebuah tempat yang tidak terganggu oleh perang atau kelaparan. "Oh. sedangkan dia belum tahu akan menginap di mana?" Mendengar pertanyaan itu. Rupanya kebanyakan orang mendapat kesan bahwa ibu kota lama itu tempat yang tenang. Nona sendiri man pergi ke mana?" "Ke Nara. ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. Sebagai pemenang. karena itu sukar bagi angkatan bersenjata Tokugawa untuk mengadakan perondaan. Kebanyakan anggota partisan Osaka dari Tentara Barat dan Osaka. orang tua itu membelalakkan matanya. Baginya duduk dan beristirahat itu membosankan. Kalau dihitung untuk setiap lima ratus gantang padi ada tiga samurai yang telah dihentikan dari tempat kerjanya dan dipaksa bersembunyi di berbagai provinsi lain-terhitung keluarga dan pesuruhnya-maka jumlah mereka seluruhnya tidak akan kurang dari 100.property of: CROSSFiRE.000 orang. itu lain soal. 120. tapi tepatnya Nara bagian mana. berapa banyak ronin dari pihak yang kalah telah datang bersembunyi di sana. Dengan semakin berkembangnya kekuasaan ke-shogun-an Tokugawa dari tahun ke tahun. apa menurut Bapak cukup aman hari-hari ini. damai. tak tahulah orang. bahkan bermaksud saja jangan!" katanya pasti. disangsikan apakah para pelarian itu akan dapat lagi memperoleh penghidupan terang-terangan dengan pedangnya. Mulutnya menggetar. para pelarian berbondongbondong bergerak ke sana. Di bawah tepi atap sebuah warung teh. tetapi matanya tetap muram. Saya juga tidak pandai main pedang." Pemilik warung menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri. dan karena menurut pendengaran saya banyak ronin berkumpul di Nara sekarang ini. Nara bisa jadi tempat yang sangat berbahaya. Anak perempuan seperti Anda mesti menginap di Taga atau Ide. ia segera mengambilnya dan larilah ia ke bukit rendah di belakang warung teh. "Nona ini sudah beberapa bulan mencari seseorang. Juga.

dia ahli upacara minum teh yang berselera sederhana. "Nama lengkapku Shoda Kizaemon. orang-orang yang akan dibunuh dengan seketika kalau mereka menunjukkan diri. Dapat dipahami kalau para pemain pedang dari seluruh negeri akan datang ke pintu gerbangnya. Ketika kau berkata kau hidup dari main suling. Tergerak oleh ceritanya sendiri. "Kamu lebih baik ikut dia. Dia menderita kebosanan luar biasa. dan aku mengabdi kepada Keluarga Yagyu. bukan?" "Ya. terpikir olehku. di situ bahkan akan ada daftar tamu. pergi ke sana sama halnya dengan menuangkan minyak ke kimono dan menceburkan dirt ke dalam api. saya mau ke sana. atau mengganggu ketenteraman. Tak ada tawaran lain yang lebih baik dari itu. Apa kamu bisa naik kuda?" Ebook by Kang Zusi . Otsu. Alangkah bahagianya kalau dalam daftar itu dapat ia temukan nama Miyamoto Musashi! Terutama karena memikirkan kemungkinan itu. Sesudah pensiun." "Kamu mau? Bagus sekali! Terima kasih sekali. dan sebagai gantinya kau pergi denganku ke tanah Koyagyu?" Karena merasa wajib memberikan keterangan lebih banyak tentang dirinya. Inc. ia berkata riang.. aku memang ragu-ragu mengatakan ini. "Kalau menurut pendapat Tuan tak ada halangan apa-apa.. keadaan mereka demikian sulit. sebutkan. Khususnya Sekishusai. Tidak ada keluarga yang lebih besar di Jepang ini daripada Keluarga Yagyu. netcafe." Otsu sadar bahwa pergi ke Koyagyu lebih memberikan harapan. akan senang sekali dia kalau kamu ada di dekatnya dan sekali-sekali main untuknya. tak akan ia berpikir panjang mengenai bahayanya. la sekadar berjalan ke arah Nara-tak ada bedanya dengan pengembaraannya ke berbagai tempat lain. Menurut pendapat orang tua itu. Otsu merasa beruntung. Kota Nara yang dahulu tenang itu kini berubah menjadi sarang penjahat nekat. karena mereka semua sedikit banyak punya prestise dan dapat hidup sendiri dengan keluarganya." "Jangan panjang-panjang kamu memikirkan soal itu. Namun ia merasa sukar menjawab tawaran itu. hingga kalau bisa pedang pun akan mereka jual. Kebetulan tuanku yang sudah berumur delapan puluh tahun tidak lagi aktif. Tapi sayangnya la betul-betul tak punya alasan untuk terus. semenjak Musashi meninggalkannya di Jembatan Himeji. "Barangkali kamu tahu. yaitu Yang Dipertuan dari Tajima. pemilik warung teh menutup ceritanya dengan minta amat sangat pada Otsu untuk mengubah maksudnya. berjudi. tenang. Keluarga Yagyu itu lain sekali dengan daimyo lain. Diundang ke Koyagyu saja sudah merupakan kehormatan.. Tetapi yang mempersulit keadaan adalah para samurai miskin yang berkeliaran di jalan-jalan belakang kota. Melihat kebingungan pada wajahnya. Melihat Otsu masih juga diam. Shoda berkata. "Tak suka kamu ke sana?" "Bukan itu soalnya. Jangan sampai tidak diterima tawaran itu!" Mendengar bahwa Kizaemon adalah pejabat dalam Keluarga Yagyu yang termasyhur itu. pulang dari Sekigahara. Untuk gadis manis seperti Otsu. dengan harapan kerusakan yang mereka datangkan itu akan membuat angkatan bersenjata Osaka bangkit dan mengangkat senjata. Apa kau suka kerja begitu?" Orang tua itu segera menimpali dengan pernyataan setuju. yang dipertuan dari Koyagyu yang sudah tua itu adalah Yagyu Muneyoshi yang agung. ia memakai nama Sekishusai. apa seorang perempuan dapat jalan sejauh itu sebelum malam datang. tapi aku ragu. dan meyakinkan Otsu bahwa maksudnya itu terhormat. dia langsung dipanggil ke Edo dan ditunjuk menjadi instruktur dalam rumah tangga shogun. Sejak meninggalnya Yoshioka Kempo. "Tadi kaubilang namamu Otsu." Semua itu orang-orang yang punya nama. Satu-satunya harapan mereka untuk masa depan adalah kalau perang pecah lagi. Munenori. Dia akan lebih terganggu oleh sifat malu-malumu itu daripada bayanganmu bahwa kamu kurang terampil. karena besar dugaannya. Cuma saya takut. Kizaemon bertanya. berapa pun kecilnya. ia melanjutkan. Kalau sekiranya ada sedikit saja petunjuk bahwa Musashi kemungkinan berada di Nara. Segera setelah ahli warisnya. Hmm. orang itu bukanlah samurai biasa. keadaan tidak begitu jelek kalau hanya para ronin terkenal itu yang menyembunyikan diri. nanti permainan saya tidak cukup baik untuk orang seperti Yagyu Muneyoshi. daripada berkeliaran tanpa tujuan ke Nara." desaknya. Keluarga Yagyu dianggap banyak orang sebagai eksponen terbesar dalam seni perang di negeri ini. tapi kenapa tidak kau batalkan saja maksudmu pergi ke Nara itu. Otsu kini merasa ragu-ragu dan duduk diam sebentar. Setengahnya lalu mulai berkelahi.property of: CROSSFiRE." "Nah.

. "ilmu pedang itu sekarang cuma iseng-iseng. Kita dapat bertemu dengan lima atau sepuluh orang dari mereka yang berkeliaran di jalan ini setiap hari.. mereka bisa lebih kuat daripada pasukan Yang Dipertuan sendiri. dan katanya. bahwa jika orang cakap bermain pedang." Kizaemon membungkuk ke bawah tepi atap dan mengangkat tangan ke arah jembatan. ya? Apa di sana gurumu tinggal?" "Saya tidak tahu betul." sela tukang kuda. kalau saya pergi ke sana. Tukang kuda yang menanti di sana datang berlari-lari membawa kuda. Mereka tak punya cukup uang untuk makan. kami berangkat. la tidak tahu nama permainan itu. netcafe.property of: CROSSFiRE." "Apa gaya gurumu itu?" "Saya tidak tahu. dan Jotaro menjawab bahwa di sebuah semak di bukit itu terdapat banyak orang sedang main. karena entah dari mana mereka itu mendengar.. Jotaro melihat mereka dari bukit di belakang warung teh." jawab tukang kuda." "Saya dengar Koga juga penuh dengan mereka itu. Cukup setia juga kamu." "Ya. "Yang berjudi itu termasuk yang baik-baik. apa yang dilakukannya tadi. tapi kamu tak tahu gayanya?" "Tuan. Ebook by Kang Zusi . orang akan menunjukkan pada saya. Inc. Kizaemon bertanya kepadanya. tapi dia bilang. "Banyak lagi lainnya yang menjadi tukang culik dan peras." "Betul. Memalukan!" "Oh." "Mereka tertarik. Kaubilang akan pergi ke Hozoin tadi. "Apa sudah mau berangkat? "Ya. di mana dia. Yamato. tapi kelihatannya menarik. Itu semua karena jauh lebih banyak ronin yang mengajar dibanding dahulu." kata Kizaemon menyetujui. jadi mereka itu berjudi untuk mata pencaharian?" tanya Kizaemon. dan serunya. sampai tak ada orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan mereka." "Kenapa Yang Dipertuan daerah ini tidak menangkap atau mengusir mereka?" "Jumlah mereka terlalu banyak-jauh lebih banyak daripada yang dapat dihadapi." sela Jotaro." "Tunggu saya!" Mereka sudah setengah jalan menyeberang Jembatan Uji ketika Jotaro menyusul. dan Kii bergabung jadi satu. "tapi di antara mereka tentunya ada orangorang yang baik." "Itu cuma sebagian sebabnya. "Maka itu kamu membela mereka. karena itu mereka memikat musafir untuk main dengan mereka dan mengakali segala milik mereka." "Kamu muridnya." "Bapak ini begitu terus bicaranya tentang ronin. Tukang kuda tertawa. Mereka begitu kasar. Mereka bertekad bertahan terus sampai perang berikutnya. Kalau semua ronin dari Kawachi. "Bisa. "Itu ronin-ronin jembel yang sedang berjudi. sedangkan ia sendiri berjalan di sampingnya. "Guru saya seorang ronin!" Kizaemon tertawa. Semua orang mempelajarinya. Kizaemon menyuruh Otsu naik ke atasnya. Mereka datang dari Tsutsui.

lalu melompat ke tengah perahu tambangan kecil. Mereka berada di lembah. yang mengira Otsu akan pergi bersamanya. sedangkan aku sendiri banyak jalan. Musashi tidak mengalami kesulitan mencari arah Bukit Abura. Coba. Di sini pula terdapat sisa-sisa kebesaran zaman Nara-reruntuhan sebuah kuil. sudah cukup untuk dianggap penipu. Pohon-pohon kriptomeria telah menempuh musim dingin dengan selamat. Mengerikan kalau kita memikirkannya. Kita melihat banyak orang macam itu. aku lupa bilang tadi." "Jalan pintas untuk menjadi kaya. ya?" "Tepat. "Mestinya sudah sejak tadi aku tahu bakal sendiri lagi." Jotaro tampak terenyak. tapi menganggap tempat itu sama saja seperti kuil-kuil yang lain. tapi sudah membayang-kan dirinya prajurit besar. ia menoleh ke belakang. di atas pepohonan itu tampak lekuk-lekuk feminin Gunung Kasuga. Barangkali dia mengira bahwa dia hanya harus belajar memukul orang dengan pedang itu untuk menjadi manusia sejati. nanti kamu kehilangan tabung bambu lagi. "Apa ini? Coba." Kemarahan Jotaro sekilas bangkit." Ia memungut sebuah batu dan dilemparkannya batu itu bersilantar di permukaan air. "Tapi siapa yang Kakak cari itu?" canyanya. Yang lain-lain memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam." kata Otsu tersenyum. Tetapi sekarang yang tertinggal dari semua itu hanyalah serakan batu pondasi yang mengintip dari balik lumut dan rerumputan. "O ya. jadi lebih baik kamu buru-buru. "Di sini kita berpisah. "Jaga baik-baik dirimu. akhir-akhirnya kebanyakan mereka itu akan kelaparan. Warna daun-daunnya sedang gelap-gelapnya. Akhirnya mereka sampai di pangkalan perahu tambangan di Sungai Kizu. Otsu melambaikan selamat berpisah. kalau berani mengatakan begitu!" "Coba dengar! Masih seperti kutu membawa cungkil gigi. Tempat itu juga terkenal di antara penduduk setempat." "Otsu?" kata Jotaro. "Hei. Jotaro merajuk diam. "Orang macam apa?" Tanpa menjawab. Gunung-gunung di kejauhan masih terang Ebook by Kang Zusi . Hozoin MURID seni bela diri umumnya mengenal Hozoin." "Tidak lagi! Tak usah menguatirkan saya!" Mereka berjalan terus. itulah tempat tinggal jin-jin. dan kini bermandikan hujan awal musim semi. sebentar lagi gelap. Pendeknya. Dan jangan buang waktu di jalan. karena di sana terdapat kuil-kuil lain yang bersarang di tengah hutan. yaitu Kuil Ganrin'in. Jotaro. Inc. "Tapi kita akan bertemu lagi hari-hari ini. daimyo akan berlomba-lomba menyewanya dengan bayaran empat atau lima ribu gantang setahun. Kuil itu terletak di Bukit Abura. netcafe." Kizaemon tertawa. dan sedihnya." Jotaro kelihatan tak ingin bergerak." kata Otsu. dan sedikit demi sedikit ditelan oleh awal bayangbayang gunung. di sisi bagian sungai yang tiba-tiba menyempit. di tengah hutan kriptomeria yang luas dan lebat. Ketika perahu yang menjadi merah warnanya oleh matahari petang itu sudah setengah jalan menyeberangi sungai. dan reruntuhan rumah mandi umum raksasa yang dibangun oleh Ratu Komyo untuk orang miskin. "Aku sudah memutuskan pergi dengan Tuan ini ke puri di Koyagyu. Nah. Jotaro berlari sepanjang tepi sungai. Rumahmu jalanan. Yang berani menganggap dirinya murid serius. anak sekecil ini pun sudah pegang pedang kayu. Bersamaan dengan tibanya senja. tapi begitu sampai di sana ia berdiri memandang ke sekitar dengan kagumnya. jangan marah. sekalipun aneh juga bahwa hanya sedikit orang yang kenal Gudang Shosoin yang justru lebih penting karena koleksi benda-benda seni kuno yang tak ternilai harganya.property of: CROSSFiRE. Masih dapat ia mengenali kuda Otsu dan Kizaemon di jalan Kuil Kasagi.

" kata biarawan itu dengan nada menghina. jumlah calon prajurit telah mencapai angka yang oleh Hozoin pun sudah dianggap mengganggu. Walaupun sadar dianggap enteng oleh orang itu. Menurut yang saya dengar. Musashi mendatangi setiap gerbang untuk memeriksa papan namanya. Ia hanya duduk dan membuat gerakan-gerakan yang tak dapat dimengerti dengan mulutnya yang sudah ompong. tapi saya tak melihat alasannya kalau orang yang anggota badannya baik dan lurus mesti pergi ke sana untuk dikutungi." simpul biarawan itu sesudah menjelaskan semuanya. walaupun dia sudah punya banyak murid. Inshun Ebook by Kang Zusi . Seni bela diri hanya sampingan. "Saya sudah mendengar tentang In'ei. tak dapat Anda mempelajari sesuatu. Inc. kepala biara itu tertarik pada seni bela diri dan akhirnya mulai belajar ilmu pedang sebagai pelengah waktu. Inshun. Anda barangkali tak dapat bertemu dengan gurunya. dan saya tahu bahwa yang Anda katakan itu benar. sering kali mengunjungi Yagyu Muneyoshi. Kakuzenbo In'ei. Menurut biarawan itu. kepala biara yang dulu. Pada waktu menerima tamu pun ia sudah tidak dapat melakukan percakapan." "Kenapa?" "Berbahaya. netcafe. "tak banyak faedahnya Anda pergi ke sana. Betul?" "Di belakang kuil ini. Kelihatannya ia tidak dapat menangkap apa pun yang dikatakan orang kepadanya. demikianlah kira-kira. "Boleh saya bertanya?" "Tentang apa?" "Kuil ini namanya Ozoin?" "Ya. oleh sinar matahari. Pikiran Musashi demikian penuh oleh Hozoin. dan katanya. Anda mau ke sana buat bertanding?" "Ya. Hozoin ada di Bukit Abura. Perhatian utamanya terletak pada agama. In'ei sekarang berumur delapan puluh empat tahun dan sudah sepenuhnya pikun." Biarawan itu tegap tubuhnya. Hozoin adalah kuil Zen yang tak ada hubungan-nya dengan Nichiren. seperti ditunjukkan oleh namanya. Musashi melepas topi. mula-mula ia salah baca. tidak pernah dia menolak memberikan pelajaran pada siapa pun yang datang kepadanya. seorang biarawan muda yang baru kembali ke Ozoin melewatinya dan menatapnya penuh curiga. dan kalaupun Anda bertemu dengannya.property of: CROSSFiRE. Tapi saya mendengar juga bahwa seorang pendeta yang namanya Inshun telah mengambil alih kedudukannya dan menggantikannya. "Tak ada apa-apanya desas-desus itu. Musashi mendesak terus." Sikap kasar orang itu menunjukkan bahwa ia ingin Musashi lekas pergi." "Oh. Saya bisa mengerti kalau orang yang dilahirkan pincang pergi ke situ untuk diluruskan kakinya. seperti yang tertulis di papan itu. "Jadi. Sepanjang pengetahuannya. Lalu ia mengembangkan cara-cara baru dalam menggunakan lembing. Karena hubungannya dengan Muneyoshi dan dengan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. dan sepengetahuan Musashi inilah yang menjadi cikal-bakal Gaya Hozoin yang sangat dihargai orang. karena hanya huruf pertama. teman Muneyoshi. Kuil itu tempat suci untuk cahaya Hukum Sang Budha. Soal lembing sudah dilupakannya sama sekali. begitulah. pergi juga ia ke dalam untuk melihat. agak lain daripada biarawan Nichiren biasa. Orang bilang dia masih belajar. hingga ketika ia melihat papan nama Kuil Ozoin. Selagi ia berdiri di sana. Ia hampir tidak pernah menjumpai siapa pun." "Kalau begitu dengarkan nasihat saya: Lupakan saja. tapi dia sudah paham semua rahasia Gaya Hozoin. yang berlainan. Ozoin rupanya milik Sekte Nichiren. yaitu "0". Sekalipun di antara kuil-kuil itu tak ada yang mirip dengan yang dicarinya." "Kata orang. Walaupun kemudian ia segera menyadari kesalahannya.

hingga rasanya kurang sopan mengganggunya. tapi orang tua itu rupanya demikian tenggelam dalam pekerjaannya. dan kebun sayur-sayuran yang luasnya sekitar satu ekar. Ini bukan mimpi di siang bolong. Karena itu dia mengajarkan pada Inshun rahasia-rahasia permainan lembing yang pernah dia pelajari dari In'ei. namun rasa ingin tahunya masih belum reda. dan bawang." dan memberikan isyarat ke kanan pintu masuk. tapi aku ingin tahu. Lebih baik memutar ke kiri atau ke kanan?" "Tak perlu memutar. Di kanan-kirinya terdapat sekitar sepuluh pasang sandal yang usang dan Ebook by Kang Zusi . mirip sekali dengan wilayah di sekitar rumah seorang petani kaya. Di situ terdapat gudang kayu. kagum oleh kekuatan yang baru saja menyerangnya. Melihat ada sebuah gong besar di samping pintu masuk.. Sambil membungkuk mencangkul. netcafe. maksudnya secara tak langsung adalah supaya Musashi membasuh kakinya dulu. rades." kata Musashi." "Tadi Anda bilang tempatnya di belakang ini. Akhirnya sampailah ia di depan Hozoin.. sebetulnya murid kepala biara Ozoin. Orangnya besar dan berotot. "Silakan masuk. sudah sejauh ini saya pergi. dilihatnya punggung yang bungkuk itu masih menghadapnya dan cangkul itu masih juga meneruskan iramanya yang tak terputus-putus. Di situ terdapat sebuah tong penuh air yang disalurkan lewat pipa bambu. Ia benar-benar merasakan kekuatan misterius itu menghunjam tubuhnya. Seorang pendeta datang ke pintu. Musashi berjalan melewati dapur kuil itu ke belakang pekarangan.property of: CROSSFiRE. Kecuali dentang cangkul yang mengenai batu-batuan. ia lihat di satu sisi seorang tua yang sedang mencangkuli sayursayuran. ia berpikir.. keadaan betul-betul sepi. Sambil menanti munculnya seorang pembantu. begitu. ia hanya melontarkan pandangan selintas. Karena dari hari ke hari terbiasa menerima kunjungan orang-orang seperti Musashi. Yang kelihatan oleh Musashi pada orang itu hanyalah sepasang alisnya yang putih saiju. Di sebelah kebun itu ia melihat Hozoin. ia memukulnya. tapi jawaban satu-satunya yang diperolehnya adalah gema dari pepohonan di sekitar. Inc. Jauh lebih cepat jalan terus lewat kuil kami ini. Walaupun orang itu tidak bergerak ataupun berbicara. pasti ia komandan batalion. ia memandang baik-baik lempengan cangkulnya. la hampir berbicara." "Tentu. Ketika ia menoleh. Hampir seketika itu juga teriakan jawaban terdengar dari dalam kuil.. dan katanya. Takkan salah lagi." Sesudah mengucapkan terima kasih kepadanya. "Anda shugyosha?" "Ya. gudang empleng kacang. Ia berseru dua kali lagi. Namun ketika Musashi berlalu tanpa mengucapkan sesuatu. "Inshun mestinya masih muda. "Tapi Anda masih juga ingin ke sana?" "Yah." "Oh. "Apa arti semua ini?" demikian ia terheran-heran." "Ada keperluan apa ke sini?" "Saya ingin bertemu dengan Guru. Musashi menyimpulkan bahwa orang tua itu biarawan Ozoin. Sekiranya ia salah seorang prajurit pendeta Gunung Hiei." Pendeta itu berkata. kepala biara kami merasa sayang jika reputasi Hozoin tersia-sia begitu saja. Sesudah In'ei mulai memperlihatkan tanda-tanda ketuaan. Seluruh tubuhnya terasa panas. dan kemudian dia atur pula agar Inshun menjadi kepala biara. tiba-tiba sadarlah ia bahwa orang itu sedang menatap kakinya dari sudut matanya." Kejadian di halaman itu masih terus menghantui pikirannya. Biarawan muda itu tadi mengatakan In'ei sudah pikun dan sudah lupa sama sekali akan tombak. dan ia meloncat ketakutan ke udara. Selagi berjalan di tanah lunak di antara baris-baris lobak. seolah-olah baru saja lolos dari pukulan pedang atau tombak yang mematikan. Musashi merasa diserang dengan kekuatan yang mengerikan-suatu kekuatan yang seperti kilat membelah awan..

demikian juga contoh-contoh yang diberikan oleh para pendahulu di negeri ini. tanpa menyebutkan nama gurunya." Bicaranya seolah-olah sedang mengajar seorang anak. la belajar menggunakan pentung dengan pimpinan ayahnya." Karena ada maksud belajar dengan sungguh-sungguh. maka saya membebaskan kuil dari segala tanggung jawab. "tapi tidak terlalu rajin mempelajarinya. dan dipersilakan masuk ke kamar tunggu. Lewat jendela ia dapat melihat daundaun lebar pohon pisang. Silakan." Musashi membuka buku itu dan memperhatikan nama-nama di dalamnya. ketika ia duduk di sebuah sudut. "Silakan tulis nama Anda. Disamping itu ada beberapa samurai yang hanya menjadi peninjau." "Mm. tetapi para murid yang kini duduk di lantai itu hanya menggunakan tongkat latihan dari kayu ek panjang. dan gaya apa yang Anda gunakan. bahu. Ia menutupnya dengan mengatakan. Semuanya dengan saksama memperhatikan dua pemain tombak yang sedang melakukan latihan pertandingan. dan cat dasar Cina putih pada kerangka lubang angin. Sebelum Anda melanjutkan. tantangan akan diterima. Belum pernah Musashi melihat tiang-tiang yang demikian besar kelilingnya. Ketika muncul kembali. dan membaca persyaratan yang tadi ia lewati. dan seluruh tubuhnya-kaki. Pendeta itu tentu saja sangat tertarik pada hal ini. Di situ ada juga murid pendeta yang sama jumlahnya. "Saya setuju. seorang pendeta yang sikapnya angkuh luar biasa. maka ia berguru pada segala yang ada di alam semesta ini. Satu orang yang agaknya salah seorang dari yang datang hari itu menyam-butnya. barangkali lebih baik Anda membaca dulu apa yang tertulis di awal buku tamu itu. Di situ ia diminta menanti. kertas emas. Jawaban Musashi sama dengan yang pernah diberikannya di Perguruan Yoshioka. Tongkat kayu ek yang dipegangnya tegak lurus itu panjangnya paling tidak sepuluh kaki. "Berikutnya!" terdengar panggilan orang yang duduk di lantai. tapi semenjak zaman guru kami yang pertama. Musashi melihat pahanya membengkak sampai sebesar batang pohon. kotor. bahkan bisa juga mematikan. Musashi menuliskan keterangan yang diminta. Orang itu tak dapat lagi duduk. Katanya. Lengan jubahnya diikatkan ke belakang. di mana Anda pernah belajar. membukanya. Masing-masing ditulis di bawah tanggal berkunjungnya seorang samurai atau murid. Menurut papan pemberitahuan di dinding." kata Musashi sambil menyeringai sedikit—memang itu sudah sewajarnya bagi orang yang berniat menjadi prajurit. Namun pukulan di sini bisa terasa sangat sakit. Inc. Bau dupa mengambang di udara. Kalah. Selain sikap kasar si raksasa yang telah mengantarnya masuk itu. dan bahkan dahinya seolah terdiri atas otot-otot menggelembung. Pertarungan di sini berlangsung kasar. dan ia juga melihat bekas-bekas cat. menurut penglihatan Musashi tak ada suatu pun yang menunjukkan bahwa ada yang luar biasa di kuil yang satu ini. manakala saya mendapat cedera badaniah ataupun terbunuh. Menuruti gaya masukan yang terakhir. la mengikat lengan Ebook by Kang Zusi . "Baiklah. Bunyinya: Karena saya datang kemari dengan tujuan belajar. Hozoin terkenal di manamana karena permainan tombaknya. dan tidak ada perkecualian. Anda barangkali sudah tahu. "Saya masih dalam taraf belajar. Salah seorang yang berlatih terlontar ke udara dan berjalan terpincangpincang kembali ke tempat duduk. Ia bukan tamu satu-satunya di situ.property of: CROSSFiRE. netcafe. Kakinya yang luka dijulurkannya ke depan. Para biarawan tentunya telah mengorbankan sebuah ruangan kuliah atau bangunan besar lain untuk membuat dojo itu." Dojo itu besar sekali. Semua itu hal-hal yang tidak biasa ditemukan dalam ruang latihan biasa." Musashi mengambil buku itu. dan menjatuhkan diri dengan susah payah pada sebelah lututnya. pendeta itu menyerahkan daftar tamu dan kotak tinta kepadanya. Judul buku tamu itu: "Daftar Orang-orang yang Mengunjungi Kuil Ini untuk Belajar Pramugara Hozoin. Lebih dari sepuluh calon prajurit duduk di kamar tunggu. jika seseorang ingin bertarung dengan tombak bertulang. tangan. Tak seorang pun melontarkan pandangan kepada Musashi. Musashi mengikuti pendeta itu menyusuri lorong yang lebar dan gelap.

karena para penantang selalu dapat dijatuhkan oleh salah seorang dari mereka ini. Inc. Agon yang congkak itu telah menyingkir dari lantai dan waktu itu sedang bercakap-cakap dan tertawa bersemangat dengan sekelompok pendeta. kelihatan sedikit heran. Dengan cepat ia mengambil sikap menyerang. Ia mencengkeram tongkat kayu hitam mengilat itu. "Agon." "Apa pula itu artinya?" "Artinya. Terdengar tawa kering di luar jendela. tapi mengangkat kepala dari lantai pun ia sudah tak sanggup. Satu suara mengatakan." "Bagaimana kalau Anda?" "Kalau Anda tidak keberatan.. saya sedia bertarung. tapi baru saja mereka selesai menghormat. Selesai sudah. lembing Agon yang tidak bermata logam itu langsung melesak tembus. pandangan bosan tampak kembali pada wajahnya. tetap dengan wajah masam. Ia berdiri diam. lalu berjalan acuh tak acuh ke tengah lantai. kembali mendekati Musashi." "Teruskan saja. "Yow-w-w!" Pekik kemenangannya menggema seram di seluruh ruangan ketika ia mencabut tombaknya dan mulai menari. Mereka membungkuk seperti kebiasaan. Katanya malas. bukan berjalan. jangan hari ini. "Tidak. "Tidak ada lagi?" lenguh Agon yang memegang tombak latihannya mendatar. salah seorang murid senior yang dikenal sebagai "Tujuh Pilar Hozoin". kemudian tampak di ambang jendela kepala mengilat dan sepasang alis seputih Ebook by Kang Zusi . tapi sekalipun kayu baru itu liar. Pramugara berotot itu pun mencocokkan daftar tamu dengan wajah orang-orang yang sedang menanti. Ia menatap penantang terakhir itu dengan galak. "Yah-h-h!" Sambil memekik seperti burung garuda yang sedang berang. Penantangnya sudah kalah. tapi orang-orang yang duduk di sekitarnya mengatakan bukan. "Siap!" teriak Agon." Agon mengalah. Pendeta berdiri tak bergerak ketika si penantang pergi ke dinding. Orang itu Agon. "Gantikan saya. Saya datang lagi nanti. Dua murid si pendeta keluar dan menyeretnya pergi pada lengan dan pinggang kimononya. Semula Musashi mengira orang itu Inshun. guru generasi kedua. kimononya dengan tali kulit dan berjalan menuju tempat latihan. Ia belum mati. "Siapa kamu?" lenguhnya.. "Berikutnya. orang bebal. Agon memandang ke jendela. si pendeta sudah memperdengarkan raungan anjing liar. Tawa itu terdengar terus." serunya. dan menyerang ke jurusan lain. Uap mengepul dari tubuhnya yang terselimut Ia mengambil posisi agak jauh. tapi ketika penantang baru muncul. ia menderas ke arah dinding belakang dan dengan bengis menghunjamkan tombaknya ke bagian dinding yang dipergunakan untuk berlatih. dan datang menghadapinya. "Tinggal seorang lagi. lihat! Bukan papan yang kamu hadapi." Tanpa mengendurkan sikapnya. Ia menunjuk seorang di antaranya. Papan-papan di situ baru saja diganti. yang agaknya sudah dikenalnya betul. Musashi maju bersenjatakan pedang kayu. "Berikutnya!" seru si pendeta lagi. jangan tolol! Lihat.property of: CROSSFiRE. Di lantai yang ditinggalkannya berceceran ludah bercampur darah." Semua mata menatap Musashi ketika ia bangkit. membelakangi Musashi. kembali pada posisi semula. dan bersamaan dengan itu ia menjatuhkan tongkatnya sekuat-kuatnya ke tengkorak si penantang. memilih tombak-kampak. Mereka bilang Inshun sendiri tidak pernah bertarung.." desak mereka. netcafe.

tapi saya minta maaf atas terjadinya musibah tadi. "Tak baik buatmu. Dalam sedetik yang menentukan itu Musashi menangkis dan sekaligus melancarkan serangan balasan.. barangkali untuk mengibaskan kata-kara peringatan orang tua itu. tangan dan dadanya berlumuran darah. Sergapan yang dilancarkan Agon diiringi pekik tajam. Bapak sungguh baik hati. Jadi. Kali ini tidak. "Saya berterima kasih atas latihan baik yang saya terima hari ini. Musashi bertanya untuk basa-basi. tetapi Musashi tetap tak bergerak. Peringatan orang tua itu hanya berpengaruh pada genggaman senjata Agon yang agak mengendur. seakan-akan keduanya itu digantungkan di sana oleh seorang pedagang barang antik. saya bertindak atas namanya.. Masuklah lagi. Sementara Agon mengetatkan genggaman tombaknya." kata Musashi membungkukkan kepala. ia tampak terganggu sekali. dan serunya. sebuah sel sederhana persegi empat. Berulang-ulang ia mengganti posisi dalam usaha memancing Musashi." Musashi yang juga menoleh ke jendela itu. ia tampak hampir biasa saja. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakannya. dan bila ia melompat. "Kalau obat dapat menyelamatkannya. orang tua itu berkata.." Ebook by Kang Zusi . tapi dia sedang dalam perjalanan. tapi karena hadannya sedikit lebih kecil dari lawannya dan tidak begitu berotot. Sambil menoleh Musashi menjawab. melihat bahwa wajah di jendela itu wajah orang tua yang tadi dilihatnya ketika menuju Hozoin. "Anda siap?" Basa-basi ini malah membikin Agon meradang. Biarkan saja orang itu menanti sampai lusa. Tak ada yang aneh pada sikapnya. Apakah kata-kata itu masih menempel? Apakah ia mencoba membuangnya ke luar pikirannya? Apa pun alasannya. Perbedaan terbesar adalah pada matanya.property of: CROSSFiRE. kepala itu sudah lenyap. atau begitulah kelihatannya. Agon. tidak akan aku mencoba menghentikannya tadi." "Oh. tapi begitu matanya bertatap pandang dengan mata Musashi. barangkali untuk mengibaskan keringat yang mengucur dari dahinya. netcafe. jika Inshun sudah kembali." Ia mengantar Musashi ke sebuah kamar di belakang ruangan latihan. salju. Orang tua itu mengikutinya. Musashi berdiri diam sepenuhnya. Mata Musashi setajam mata burung. Musashi berjalan ke pintu depan dan mengenakan sandalnya. "Hai!" katanya. beberapa orang menginjak tombak latihan dan jatuh tertelungkup. menggeletar seperti cahaya bulan di atas gelombang samudra. Ia memegang pedang lurus ke depan dengan kedua belah tangannya. Kelihatan seolah kedua kakinya berada di lantai dan di udara sekaligus. Pintu merupakan satu-satunya jalan ke luar. lompatannya bukan main ringannya. Dalam suasana kacau-balau itu. Agon menggelengkan kepala. Goblok!" Tak seorang pun memperhatikan Musashi. ia menyumpah ke arah jendela yang kini kosong dan melupakan nasihat yang diterimanya. "Apa yang terjadi?" Para rekan pendeta Agon bergegas maju ke depan dan mengerumuninya dalam bentuk lingkaran hitam. Wajahnya masam. "Obat! Ambil obat! Cepat!" "Kalian tidak membutuhkan obat lagi. dan baru kembali dalam dua atau tiga hari ini. Inc. Seorang pendeta bangkit berdiri." Itu ucapan orang tua yang masuk dari pintu depan dan cepat menilai keadaan. sedangkan biji matanya seperti batu koral terang bergurat darah. Otot-ototnya seperti baja. Sesudah mereka duduk. Tapi baru saja ia sadar. "Sebetulnya lebih layak kalau Kepala Biara datang menyambut Anda. "Ya?" "Saya mau bicara sedikit dengan Anda.

bukan?" "Ya.property of: CROSSFiRE. Demikian kuat semangat juang dan ambisimu. kau merasakan sikap permusuhanku. "Kalau yang lewat itu cuma salah seorang dari petani desa ini." "Bagaimana?" tanya Musashi bingung. Benar. Saya merasa ada hawa pembunuhan dalam pandangan Bapak." "Apa namamu Miyamoto Musashi?" "Betul. kau melompat menyingkir. ketika ia menduga orang itu bukan orang biasa. seakan-akan Bapak sedang mencari tempat lemah dalam tubuh saya untuk diserang. Saya masih selalu berbuat kesalahan. tidak! Saya masih belum matang. "Kau ingat. tadi kau lewat kebun sayur tempat aku bekerja?" "Ya. Musashi benar. "Kenapa? Hal seperti itu memang kadang-kadang terjadi. tapi sudah kutangkap apa yang dinamakan 'hawa pembunuh' itu di udara. Inc. " Jadi. Sejak itu saya mengambil sejumlah pelajaran dari samurai yang lebih tua di berbagai provinsi." "Bukan itu yang kumaksud. Waktu itu aku merasa harus siap mempertahankan diri." Orang tua itu tertawa. Kau mesti mengendalikannya. Ia memejamkan mata. Sikapnya kepada orang tua bungkuk itu Ebook by Kang Zusi . Tak usah itu menggelisahkan Anda. Saya juga menghabiskan sejumlah waktu mengitari pedesaan. Saya menganggap semua itu guru juga. "Dia mati?" Lalu kepada diri sendiri Musashi berkata." "Kenapa begitu?" "Wah. Sekarang ia merasakan pendeta itu guru. "Anak muda!" "Ya." "Ketika melihatku. "Padahal yang terjadi justru sebaliknya. walaupun perhatian Bapak kelihatannya terpusat ke tanah." "Kamu rupanya memiliki sikap yang tepat. Anda harus siap menerimanya sebelum Anda mulai bertarung. Tapi kamu begitu kuat! Terlalu amat kuat!" Merasa sedang dipuji. dan katanya. terjadi lagi sekarang." Sekali lagi pedang kayunya membunuh orang. Pak. Kau masih lima puluh kaki jauhnya dariku. saya bayangkan waktu itu Bapak bisa menggunakan cangkul Bapak sebagai senjata dan menghantam kaki saya. sehingga muncul dalam setiap langkah yang kau ambil. Dalam hati ia menyerukan nama Sang Budha. netcafe. Kekuatanmu itulah yang menjadi masalah. seluruh tubuh saya terasa terpaku oleh pandangan Bapak. Juga. Kurasakan itu di ujung cangkulku. dan ia sendiri murid. seperti yang biasa dilakukannya dahulu dalam kejadian serupa. belajar di gunung-gunung dan sungai-sungai. mesti lebih lemah. Ayah saya mengajari saya menggunakan pentung ketika saya masih kecil. "Jadi. wajah Musashi memerah. sekalipun mereka belum bersapa kata. Embusan napasnya terasa seperti angin dingin pada wajah Musashi." "Bagaimana luka Agon?" "Dia terbunuh seketika. tapi itu hanya pantulan sikapmu sendiri." "Siapa gurumu belajar seni bela diri?" "Saya tak pernah punya guru dalam arti biasa. aku sendiri tak akan lebih dari seorang tua yang sedang mengurus sayur-sayuran. "Oh." kata orang tua itu.

teh. Aku Kepala Biara Ozoin." Nikkan menggeleng mencela." "Kalau demikian." "Oh. Mereka membuat acarnya sendiri yang disebut acar Hozoin. "Itu buang-buang waktu. Baru ia menggigit acar itu. Namaku Nikkan. Ia melengos. atau barangkali tombak di dekat ambang pintu itu yang hendak melayang ke arahnya. saya ingin tahu. Tapi belakangan aku punya pikiran lain. dan karena dia mempelajari seni tombak. Ia baru mengendurkan pandangannya ketika seorang pendeta muda masuk dan berbisik kepadanya." perintahnya. Tak ada yang bisa dipelajari di sini. ada perasaan mencengkamnya bahwa tinju Takuan hendak menghantamnya lagi. menjadi hormat. Tapi kaum pendeta tidak seharusnya menggunakan senjata. karena itu tak usah merasa telah merepotkan. Kau akan merasakannya enak juga. dapat dianggap demikian. Tawa Nikkan pun berderai-derai seperti derak papan sekering tulang." "Aku teman lama In'ei. bukan karena semangat keagamaannya.property of: CROSSFiRE. perhatikan aku." Nikkan menaikkan bahunya. Sudah biasa bagi Hozoin menyuguhkannya pada semua orang yang datang kemari untuk belajar. Pandang mataku. Tak ada orang lain lagi yang kuajari." "Ya." "Jadi. dan menatap Musashi. lalu berangsur-angsur berubah menjadi biru langit yang bening. "Kusuguhkan nasi. "Mau lagi?" "Tidak. terima kasih." Sementara Musashi mengambil sumpit. Nikkan menyendok nasi dari wadah itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk. mula-mula dengan nyala warna merah merjan. "Bawa sini. yaitu mentimun yang diisi kemangi dan cabe merah. aku bukan dari Kuil Hozoin. Sudah cukup banyak. ataukah jawaban atas sesuatu yang ia keluarkan sendiri. apakah Bapak mengizinkan saya tinggal di kuil Bapak sampai Inshun kembali?" "Apa kau berniat menantangnya?" "Yah. Sementara Musashi ganti memandangnya. Ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi dengan teh dan dua acar. kuputuskan untuk belajar bersamanya. biji mata Nikkan bersinar. ketika menghadapi Agon. lalu memberikannya kepada Musashi. ia merasa mata Nikkan yang tajam itu terarah lagi kepadanya. memajukan sedikit kepalanya. Matanya seolah-olah melompat dari ceruknya. dan acar. Nikkan bertanya." "Apa betul demikian?" "Sudah kaulihat seni tombak Hozoin tadi. Cahaya mata itu membakar dan menumpulkan pikiran Musashi. Inshun yang jadi kepala biara ini murid Bapak. Inc. Segera pendeta muda itu kembali membawa baki dan wadah nasi dari kayu yang bulat bentuknya." Ebook by Kang Zusi . Sekarang tidak pernah lagi kusentuh senjata itu. netcafe. Boleh saya menanyakan nama Bapak dan kedudukan Bapak di kuil ini?" "Oh. ingin saya melihat bagaimana guru terkemuka itu memainkan tombak. Karena itu aku mengajarkannya kepada Inshun. Tapi kali ini tak dapat ia menyatakan apakah daya tembus mata itu berasal dari dalam diri si pendeta. Namun ada yang merasa sayang sekali kalau Gaya Hozoin itu lenyap. Apa lagi yang perlu disaksikan? Kalau ingin belajar lebih banyak. dan rasanya sayang bahwa Hozoin jadi terkenal justru karena seni bela dirinya. selama saya berada di sini. "Saya mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang Bapak berikan.

karena ingat Jotaro. Gadis yang menuangkan tehnya bertanya sopan. Kenapa? Apa aku menang secara lahir. Agaknya itu tempat tinggal biasa yang kadang-kadang menerima tamu. "Ini bukti aku kalah. gadis itu sudah menderap pergi. Rumah pondokan itu terdapat di lorong yang tenang. jadi tak usah susah-susah memberi tip atau apa pun. mengetuk pintu pelanpelan. "Di mana Tuan mau menginap malam ini?" Karena tidak kenal daerah itu. hanya untuk kalah secara batin?" Tiba-tiba. "Aku sudah diungguli!" Dalam cahaya remang-remang terlihat olehnya bayang-bayang sekejap melintasi jalannya. Namanya Jotaro. di mana lampu-lampu masih menyala. Kalau dia datang. duduk dan memesan satu piring penuh. yaitu kementahan yang dirasakannya di hadapan Nikkan. Di situ Musashi akan diterima dengan senang hati. Dan itu tidak merupakan satusatunya sengatan yang dirasakannya. Walaupun ia sudah menang melawan Agon. wilayah antara Kolam Sarusawa dan bagian hilir Sungai Sai telah dibangun dengan mantapnya. agar Jotaro dapat menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah penginapan di sana. "Ada apa? Ada yang lupa?" "Ya. Di sana sekarang terdapat bangunan campur aduk. Besok atau lusa akan datang satu orang mencari saya kemari. ia memutar langkah kembali menuju Hozoin. Ia bingung di mana mesti tinggal. "Yang datang itu anak lelaki. Ia menyebutkan namanya dan pendeta yang berjaga di pintu melongokkan kepala. namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya." demikian gerutunya ketika ia berjalan pelan-pelan melintasi rumpun kriptomeria. tapi aku tinggalkan tempat itu dengan perasaan kalah. rumah-rumah penginapan. dan toko-toko baru. agaknya ia istri pemilik toko. Selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini. Musashi segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjelaskan keadaan dirinya dan sekalian minta nasihatnya." Karena jawaban itu acuh tak acuh. ia merasa lapar lagi. karena ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa bagaimanapun ia sudah kalah. Dia masih kecil. Usahanya berjualan bakpau maju pesat. Ketika pesanan datang. kemudian menoleh kepada Musashi. Tanpa menantikan jawaban Musashi lagi. rasa kue itu dapat dinikmatinya dengan senang. Lagi pula ia ingin memilih tempat yang tidak terlampau jauh dari jalan yang banyak ditempuh orang. Ia kembali lagi bersama seorang wanita yang masih agak muda. tapi ia harus hati-hati mengeluarkan uang. Aku bahkan lupa meninggalkan pesan untuk Jotaro. karena itu tolong disampaikan pesan ini baik-baik kepadanya. tidak jauh dari restoran." Ebook by Kang Zusi . "Kalau bicara soal kekuatan fisik." Sesudah pergi pun sengatan cabe merah di lidah itulah yang terutama mengingatkan Musashi kepada rasa acar itu. "Aku kalah. dan waktu itu sedang berlangsung perluasan tokonya ke arah Kolam Sarusawa. tapi ketika tercium olehnya bau bakpau itu. Inc." "Baik. saya mohon disampaikan kepadanya bahwa saya tinggal di daerah Kolam Sarusawa. Musashi berhenti di tengah hutan lampu di daerah paling ramai. "Bagaimana rasa acarnya?" "Enak sekali." Musashi kembali menempuh jalan yang tadi ditempuhnya sambil menggerutu.property of: CROSSFiRE. Musashi merasa perlu menambahkan. "Ini rumah kakak perempuan saya. aku menang. Berlainan dengan acar pedas di Hozoin. Dia harus menanyakan saya di rumah-rumah penginapan yang ada di sana. Baru-baru ini Okubo Nagayasu datang memerintah kota itu atas nama Keluarga Tokugawa dan mendirikan kantor-kantor pemerintahan di dekat sana. ia melihat bahwa nama Lin dicetakkan di bagian bawah kue. Si nyonya tak beralis itu mengantar Musashi. yang terbesar dari semuanya? Itulah persoalan yang terus merundungnya siang dan malam. Ia baru saja makan di kuil. Bayang-bayang segerombolan kecil rusa yang ketakutan oleh langkah kakinya. netcafe. terima kasih. Ia masuk toko itu. Bagaimana mungkin ia menjadi pemain pedang besar. Alisnya yang dicukur menunjukkan bahwa ia sudah menikah. dan katanya pelan. dan katanya sambil lalu. Aku dikalahkan oleh kepala biara tua itu!" Kekesalan Musashi berlanjut terus. Gadis itu mengatakan bahwa salah seorang sanak pemilik toko itu mempunyai rumah pondokan. Pertemuan hari ini telah membuatnya betul-betul murung. Di tengah kota berdiri bangunan milik seorang Cina yang kabarnya adalah turunan Lin Ho-ching.

"Nyonya menerima orang seperti saya ini supaya saya dapat bertindak selaku pengawal. Hanya ada satu hal yang saya minta. Pagi berikutnya ia mengatakan kepada pelayan itu. ia menjawab sambil tertawa. "Semua orang yang kami kenal bicara tentang itu. "Akan ada orang datang mencari saya. Jarang ada pemandangan seperti itu!" Yang lain melanjutkan dengan nada yang sama. Pelayan keluar dari rumah. "Tak pernah saya melihat yang seperti itu dalam hidup saya. Pelayan merasa puas dan mengantar Musashi ke lantai kedua. Sesudah makan. banyak ronin yang kurang berpendidikan di sekitar sini. yang segera datang sendiri berkunjung." "Kalau Anda tidak keberatan. Maka ia bertanya kepada pelayan. Dan bukan orang biasa yang dilumpuhkannya. Saya takut kalau tak ada lelaki di rumah ini. mereka mencurahkan kata-kata jilatan. Nyonya rumah itu wanita berpakaian apik berumur sekitar tiga puluh tahun. Duduk di lantai mengitarinya. Operasi ini mereka namakan "kunjungan pada para janda." "Saya mengerti sepenuhnya. Apa keberatan kalau saya menginap sehari-dua hari sampai dia datang?" "Tentu saja tidak. Banyak di antara samurai miskin tidak cukup puas dengan barang-barang hiburan itu." "Dengan kata lain. Musashi mandi dan pergi tidur. Inc. kenapa rumah sebaik itu menerima tumpangan." "Ya. walaupun diprotes oleh pelayan. "seperti saya katakan tadi. di rumah ini tak ada lelaki. Jotaro tidak muncul hari itu. Anda tentu pemain pedang terbesar di negeri ini!" "Dan masih begitu muda lagi!" "Tak sangsi lagi. Musashi segera tahu bahwa mereka sebagian dari orang-orang yang hadir di Hozoin ketika la membunuh Agon. karena itu apakah Nyonya dapat memasang tanda yang memuat nama saya di luar gerbang sana?" Janda itu sama sekali tidak keberatan mengumumkan kepada orang banyak. dan begitu saja dia langsung melumpuhkan salah satu dari Tujuh Pilar. Saya harap Nyonya merasa aman. Semua ronin bertanya-tanya. berkulit indah. siapa orang yang namanya Miyamoto Musashi ini. Sekali bentak saja dia sudah muntah darah. Bayangkan saja! Seorang tamu tak dikenal datang. Hari itu hari buruk buat nama baik Hozoin. dan kedua orang itu saling berbisik beberapa waktu lamanya. "Saya yakin belum pernah hal semacam itu terjadi di Hozoin. tapi hari berikutnya Musashi menerima kunjungan rombongan tiga samurai. sampai ketika ia hampir tertidur. Ketika Musashi mencoba memuaskan rasa ingin tahunya dan bertanya kenapa nyonya itu menerima orang menginap. Mereka memeras keterangan dari pemudapemuda setempat dan menyerang rumah-rumah yang tak ada lelakinya. tapi persoalan itu masih terus terpikir olehnya. namanya Kanze. tapi yang ditanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. betul?" "Yah. netcafe. maka dengan patuhnya ia menuliskan nama "Miyamoto Musashi" pada secarik kertas yang kemudian ditempelkannya di tiang gerbang." kata Musashi. selama saya di sini. kenapa dengan kecakapan Anda yang demikian Anda hanya jadi ronin? Suatu pemborosan bakat bahwa Anda tidak mengabdi kepada seorang daimyo!" Ebook by Kang Zusi ." jawab pelayan tanpa bertanya lagi kepada nyonya rumah. saya janda-suami saya dulu aktor No. Saya harap Tuan dapat merasa bebas tinggal di sini. "Kalau mau terus terang." kata nyonya itu tersenyum.property of: CROSSFiRE. seolah-olah mereka telah mengenalnya sepanjang hidupnya. Ia heran. Mereka langsung naik dan masuk ke kamar Musashi." Ia selanjutnya menjelaskan bahwa jalan-jalan penuh toko minuman dan pelacur. Ketiganya memaksa masuk. Saya menantikan seorang tamu. dan lembut. Kamar dan perlengkapan kamar itu terlalu baik untuk sebuah rumah penginapan biasa. selama Tuan suka." kata yang seorang. Maklum. bahwa ada lelaki di rumahnya. hingga Musashi merasa sedikit kurang enak. tapi Agon yang mengerikan itu sendiri. saya ingin bertanya. Dan Anda akan menjadi lebih baik lagi nantinya.

Namun mereka merasa butuh orang lain. Nyonya rumah yang masih muda berusaha menyuguhkan makanan yang enak dan sake yang baik mutunya kepada Musashi. dan tukasnya. bukan dengan pedang saya!" "Apa itu?" mereka bertiga memprotes. seperti malam-malam sebelumnya. sedangkan seorang lagi menjadi merah karena marah. dan dalam acara makan itu ia minum sampai setengah mabuk. orang-orang sinting? Saya ini samurai. Tapi untuk menyelamatkan muka. Malu mendapat pujian demikian melimpah." kata orang ketiga sambil tertawa kecil. dan berusaha keras menimbulkan kesan bahwa urusan dengan Musashi belum selesai. samurai yang betul-betul kuat kemungkinan akan datang dan mengalahkan mereka semua. biarpun saya akan kelaparan karena itu." Musashi heran. "Saya kira Anda sekalian datang kemari karena ada urusan dengan saya. Yasubei berkata.property of: CROSSFiRE. netcafe. "Kenapa tidak tertarik?" Watak muda Musashi meletus. Malam itu. Orang yang di sebelahnya berkata. mereka tidak hanya akan membagi dengannya keuntungan mereka. Sekarang enyah dari sini!" Mulut salah seorang dari orang-orang itu memerot menjadi mata kayu yang keji. Begini. "Saya Otomo Banryu. "Kalau itu yang Anda sekalian inginkan. dan sebaliknya. karena kalau hanya mereka bertiga. "Saya bukan penjudi!" katanya berang. Ebook by Kang Zusi . Tapi ketika mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda akan mengubah pokok pembicaraan." kata yang pertama. Ini bukan permainan atau hal lain serupa itu. kalian tak mengerti. karena terhina oleh sindiran Musashi. Musashi makan di bawah bersama keluarga. dan serunya. Dengan cara itu. Itu berarti uang yang mereka peroleh dengan susah payah akan hilang percuma. Saya tidak tertarik. Mereka berhenti agak lama hanya waktu menghirup teh dan melahap kue dengan rakusnya. dan prospeknya kelihatannya baik sekali. ia mengambil prakarsa dengan menanyakan nama mereka. maaf. tak ada yang mesti dibicarakan. dan saya banyak punya rencana untuk masa depan. Saya menguasai Gaya Bokuden." "Kenapa tidak?" tanya Dampachi. karena itu ketika pembicaraan berhenti lagi. dan kami ingin bicara dengan Anda soal itu. Musashi yang paling tepat bagi mereka. tapi segera kemudian ia lelah. Sambil maju cepat ke depan. Jelaslah ia tidak akan mengetahui sesuatu kalau ia tidak bertanya. Untuk sementara ia mendengarkan saja dengan muka tenang. Mereka menyimpulkan. mereka tinggalkan tempat itu dengan ribut. Kalau ia mau menggabungkan diri dengan mereka. nama saya Yamazoe Dampachi. Saya mengabdi kepada Yang Dipertuan Gamo. "Memang kami ada urusan dengan Anda." "Saya Yasukawa Yasubei. Inc. "Saya belum pernah jadi apa-apa kecuali ronin. ia dapat dengan mudah memperoleh uang cepat. karena menurut pikirnya lambat atau cepat semangat mereka itu akan menurun." Mereka pura-pura terkejut mendengar apa yang dikemukakan Musashi. kami punya rencana mengadakan 'hiburan' umum di kaki Gunung Kasuga." Ia melanjutkan bahwa arena sudah didirikan. Musashi mengalihkan pandangan dari kanan ke kiri. ia berkata. "O. dan sekaligus memberikan kesempatan pada mereka untuk bertaruh. untuk perjalanannya yang akan datang. dan saya bermaksud tetap menjadi samurai. tapi segera mereka membenarkan bahwa mereka memang datang untuk apa yang mereka anggap sebagai misi yang sangat penting. "Apa maksud Anda dengan itu?" "Jadi. melainkan juga membayar makanan dan penginapan Musashi selama pertandingan berlangsung. seperti ayah saya. kenapa mereka membuang waktu untuk omongan yang tak ada artinya itu. Kami ingin mengadakan serangkaian pertandingan yang akan memberikan pelajaran pada rakyat tentang seni bela diri. "Dan saya makan dengan sumpit. karena ia merasa bebas dari kekuatiran selama Musashi diam di sana. memberengut. hingga remahremahnya berceceran ke pangkuan mereka dan ke lantai. Musashi senang juga mendengar bujukan mereka itu. bulan tampak putih dan sedikit berawan. "Kamu pasti akan menyesal!" Mereka tahu benar bahwa mereka bertiga jadi satu pun bukan tandingan Musashi.

"Oh. "Apa sulit menemukan aku?" "Sulit! Hampir saya putus asa. dia pasti ambruk dan jatuh berantakan!" Bunyi langkah kaki di tangga mengganggu renungannya. tapi ia sangat kecewa terhadap dirinya sendiri.property of: CROSSFiRE. Dan sesudah aku pergi. bahkan juga yang sampai terbunuh atau setengah terbunuh. Barangkali dia memandang mudanya umurku. Bukan ia ingin mencelakakan Nikkan. "Apa betul diriku kurang baik?" tanyanya sedih kepada diri sendiri. Ia menyambut si anak dengan tangan terbuka. Inc." pikir Musashi." Pada waktu-waktu seperti ini. Tak bisa tidak. Sebelum itu tak pernah ia susah-susah memikirkan persoalan. karena ia tidak dapat menduga maknanya. Karena selama ini belajar ilmu pedang tanpa guru. "Sungguh memalukan. Dan ini tidak hanya mengenai seni pedang. Anak itu menjatuhkan diri ke lantai dan langsung meluruskan kedua kakinya yang kotor. kenekatan di dalam dirinya sudah dijinakkan. dan ia selalu berpikir kapan dapat mengalahkan mereka. bagaimana caranya menghadapi pandangan yang menakutkan itu tanpa mengelak. Apakah kekuatan itu bukan dasar terpenting seorang prajurit? Apakah bukan itu yang membuat seorang prajurit unggul atas prajurit lain? Bagaimana bisa Nikkan menyebutnya sebagai suatu kekurangan? "Barangkali. dan memilih bicara berteka-teki untuk membingungkan aku dan menyenangkan hatinya sendiri. bisa lambat tindakannya. Benar. Apakah pendeta itu benar-benar dapat memahaminya. Pembantu muncul diiringi Jotaro yang kulitnya jadi lebih hitam lagi oleh debu yang menempel pada badannya selama perjalanan. Dahulu ia hanya bertindak atas dasar naluri. Nikkan mengatakan ia terlampau kuat. ia menggeletakkan diri di lantai." Ebook by Kang Zusi . tapi mereka bilang tidak kenal Kakak sama sekali. ataukah hanya mendugaduga? "Pengetahuan yang berasal dari buku itu tidak ada gunanya buat prajurit. sebelum dapat menerimanya. netcafe. Ia mencengkeram rambutnya dan memeras otak bagaimana caranya mengungguli Nikkan. capeknya!" keluhnya. Musuh-musuh yang telah dikalahkannya. Kembali ke kamarnya. Namun Nikkan mengatakan ia "terlalu kuat". Tapi ia tidak dapat melupakan siapa pun yang berhasil lebih baik daripada dirinya. "Kalau orang terlalu menggubris apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain. sekarang ia harus memahami setiap hal-hal kecil. Inilah yang membuat pikirannya terus bekerja keras. Sekiranya Nikkan sejenak saja menutup mata dan salah langkah. apabila sesuatu terjadi. Musashi benar-benar senang mendapat hiburan dengan datangnya teman kecilnya itu. tapi sekarang. "bangsat tua itu mempermainkan diriku. Segera kemudian pikirannya pun terhenti pada Nikkan. atau dalam hal ini siapa pun yang rasanya mengunggulinya." katanya pada diri sendiri. seperti yang dipancarkan pendeta tua itu. Musashi menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Nikkan bukan kekuatan fisik." demikian ia meyakinkan dirinya kembali. ia kurang bisa menilai kekuatannya sendiri secara objektif. tapi juga mengenai cara memandang manusia dan masyarakat. tapi rambutnya yang seperti rambut peri itu putih oleh debu. selalu menghilang dari pikirannya seperti buih. Musashi bertanya-tanya apakah bijaksana membaca segala macam buku di Puri Himeji itu. Dua hari lamanya persoalan itu menggerogotinya. sehingga harus belajar menjadi lebih lemah. ia ragu. tidak dapat ia beristirahat sebelum ditemukannya penjelasan yang memuaskan kecerdasannya. melainkan semangat juang liar yang menyertai kelahirannya. Sudah di seluruh tempat saya mencari!" "Apa kamu tidak bertanya di Hozoin?" "Ya. Mungkin saja. "Memalukan!" ulangnya. Orang-orang seperti itu terus menetap dalam pikirannya seperti roh yang hidup. dia tertawa senang.

Tak tahulah saya. Beberapa kali sudah. karena ia bermaksud meneruskan perjalanan. Seijuro pasti akan menjadikan Musashi bahan tertawaan di Kyoto. Pagi tiba. Dan tentu saja. Dan yang menyenangkannya itu bukan hanya nilai-nilai keindahan mereka. Sekarang pergi mandi sana. sebelum hidup menetap. Tak lama kemudian angan-angan itu buyar. "Tidak. Anak itu bangun bersama burung layang-layang. yang kemudian diberikannya kepada Musashi. "Bahkan khusus kukatakan pada mereka." "Bagus. ia pun menyerah kepada lelah. padahal ia tinggal di situ hanya selama dua hari. seperti Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. aku senang kamu sudah melakukan semua itu." Musashi mengeluarkan surat itu dari tabungnya dan membacanya. jadi kalau Anda tidak menerimanya. Isinya menyatakan bahwa Seijuro mengharapkan berlangsungnya "pertandingan kedua". Saya harap betul. padahal jelas yang terjadi akan lebih lagi. ketika ia kesepian atau sedang gundah. Musashi pun bangun pagi. "Oh. akan sia-sia saja kerja saya. maka remah-remah hangus itu pun berterbangan ke udara. Saya banyak punya kimono lama dan pakaian No peninggalan suami saya. supaya cocok untuk Anda. Pakaian itu terlalu mahal baginya." la membawa pakaian. Yang akan terjadi adalah pertarungan sampai mati. Ia ingin menjadi tuan yang baik dan menikmati kehangatan dan kesenangan hidup keluarga. Sekalipun gadis itu sekarang merupakan makhluk masa lalu yang jauh. tetapi janda itu berkeras. apa Anda menyukainya. Selama beberapa tahun berpikir semata-mata tentang Jalan Samurai. Kalau itu terjadi. Anda tidak menolak. "Saya jahit pakaian ini untuk Anda sebagai hadiah perpisahan-sebuah kimono dengan jubah pendek. mulutnya ternganga. dan katanya dengan nada menyesali. janda itu muncul. netcafe. kamu bisa menemukan aku dekat Kolam Sarusawa. Seijuro bicara tentang "pertandingan". Segera saja ia tertidur dengan nyenyaknya. agak resah juga ia memikirkan bahwa tahun yang akan datang kemungkinan ia akan benar-benar mati. Omongan besar ini disampaikan dengan tulisan tangan kaku yang agaknya dibuat orang lain. ia tetap perjaka. kenangan samar-samar saja tentang gadis itu sudah dapat menyegarkannya kembali. Jika Musashi tidak muncul seperti dijanjikan tahun berikutnya. dan tak pernah tahu di waktu pagi apakah ia akan terus hidup menyaksikan jatuhnya malam. demikian pikirnya. Saya sudah mengubahnya. ia belum melakukan satu pun dari hal-hal yang biasa dilakukan orang dalam perjalanan hidupnya. Anda mesti menerimanya. sebetulnya terlalu pagi ia punya pikiran ingin memiliki pegawai sendiri dalam jumlah besar. Dan lagi pakaian ini tidak begitu luar biasa. Dan bukan itu saja." "Ini jawaban dari Perguruan Yoshioka itu. Pertama-tama ia menyimpan keinginan menyala-nyala untuk menjadi pemain pedang besar. dan itu bukan tidak wajar. sudah mandi. yang akan menuntun kudakudanya atau membawa burung elangnya. ia merasa sangat terikat kepadanya. dengan istri yang baik dan pelayan-pelayan setia. mereka juga menggetarkannya secara fisik. seperti kupu-kupu hitam. tapi saya harap Anda memakainya. akibat surat yang menghina ini. Jotaro datang kembali.property of: CROSSFiRE. Ia ingin juga memiliki rumah yang pantas. "Saya tak dapat menemukan Hon'iden Matahachi. Begitu banyak hal yang masih ingin ia lakukan. dapat disimpulkan bahwa ia sudah kehilangan nyali. Pada umurnya sekarang. Musashi merobek-robek surat itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan membakarnya. "Anda rupanya buruburu akan pergi." Musashi memandang heran. kenyang. Musashi menidurkannya ke tempat tidur. Ia mencoba menolaknya. siapakah di antara kedua jago itu yang akan menjadi abu? Musashi menganggap sudah sewajarnya seorang prajurit harus puas dengan hidup dari hari ke hari. mereka kenal betul!" Mata Musashi menyipit. Tapi baiklah. dan bangga karena sudah melaksanakan kewajiban dengan berhasil. Nanti mereka kasih kamu makan di bawah. bukan Seijuro. Namun terpesona juga ia melihat sebagian wanita di jalan-jalan Kyoto dan Nara. Pikirannya pun melayang kepada Otsu. Lebih baik kalau Anda memilikinya." Ebook by Kang Zusi . Barang-barang itu tak ada gunanya buat saya. Sebegitu jauh. Tahun depan. Inc. Ketika ia sedang berpakaian. Tak lama sesudah bersila dan mengatur tangan di pangkuan. Namun demikian." Jotaro menyerahkan tabung bambu itu kepada Musashi. diam-diam ingin juga ia mengalami percintaan menyalanyala. jadi saya minta orang di rumahnya menyampaikan pesan kepadanya.

"siapa yang mau kimono lama?" "Apa ada yang sungguh kamu inginkan?" Anak itu lari ke dinding kamar tunggu dan mencopot topeng No dari sangkutannya. Senyuman bulan sabit yang disertai lengkungan ke atas pada bagian kiri wajah putih itu sungguh angker. Tadi saya janji akan merawatnya. "Seharusnya kamu sudah senang mendapat kesempatan mengikuti tuanmu yang gagah. Ia tidak tahu kenapa kelakar Jotaro menimbulkan akibat sedemikian padanya. Yang ganjil padanya hanyalah karena salah satu ujung mulutnya melengkung tajam ke atas." "Ah. Kelimannya dari kain brokat emas. dikejar janda itu. Sebentar kemudian Jotaro kembali naik tangga pelan-pelan. siap mencacinya sehebat-hebatnya. Jotaro tampak iri. mulailah ia memahaminya." "Bohong! Turun sana. yang cantik namun penuh pesona. lapisannya dari kain krep sutra." Ebook by Kang Zusi . Musashi berkaca. Si pengukir telah memasukkan sesuatu yang sifatnya setani dalam ciptaannya. Musashi kagum akan selera bagus anak itu. tahulah Musashi bahwa bahan sutranya dari mutu yang baik sekali. Akan saya ambil!" Musashi berusaha juga menangkapnya. Ia pergi ke belakang Musashi dan mengangkat kimono itu supaya Musashi dapat memasukkan tangannya. katanya. Tetap duduk. Tetapi kalau biasanya topeng jenis ini dicat titik-titik warna biru mengerikan. boleh saya ambil! Dia berikan pada saya. "Apa guna topeng ini buat Ibu? Sudah jadi milik saya sekarang. "Saya sendiri mau Ibu kasih apa?" Janda itu tertawa. "Booo!" dan menyorongkan topeng itu ke hadapannya. boleh saya memilikinya. Selagi mengenakan kimono itu." "Tapi dia sudah memberikannya pada saya! Waktu mau saya kembalikan. Tentunya diimpor dari Cina. melainkan potret perempuan gila yang nyata dan hidup. netcafe. dan kini ia membelaikan topeng itu dengan mesranya ke pipi. Jelaslah bukan wajah khayalan yang diciptakan sang seniman. "Kalau mau berangkat. mengandung setan." kata janda itu tegas." kata Jotaro. tetapi Jotaro memasukkan topeng itu ke dalam kimononya. karena ia merasa kaget dan malu oleh kelakuan muridnya. dan tali pengikatnya terbuat dari kulit dicelup warna ungu. Tapi ketika mengawasi topeng itu dalam cahaya remang-remang. Musashi duduk menghadap pintu. Wajah yang diukir sangat halus itu wajah jin perempuan. Jotaro menghindari jangkauan janda itu dan mengenakan topeng itu pada kepalanya dan menari sekeliling kamar sambil berseru-seru melawan. "Kelihatan cocok sekali untuk Anda!" ucap janda itu. Inc. "Kenapa belum kamu kembalikan topeng itu? Buat apa kamu barang macam itu?" "Tapi dia bilang. tapi umurnya tentulah sudah dua atau tiga abad. dan ia merasa lebih malu lagi dari sebelumnya. Jubah tak berlengan itu bagus sekali.property of: CROSSFiRE." gerutu Jotaro. kalau saya memang ingin sekali. "Oh. Tapi ketika masuk. mengerikan sekali. Janda itu memang tertawa. Sukar diketahui siapa pembuatnya. maka topeng ini adalah wajah gadis cantik dan anggun. anak itu berteriak. sama sekali tidak marah. mari kita berangkat. ini!" Ia mendambakan barang itu sejak pertama kali mengamatinya malam sebelumnya. tapi jelas kelihatan ia tidak ingin berpisah dengan topeng itu. dan kembalikan padanya. dan tiba-tiba katanya kepada janda itu. dan jelas pernah dipakai dalam pertunjukan-pertunjukan No. lalu turun tangga. Ia sendiri merasa topeng itu mengagumkan buatannya. otot-ototnya menjadi tegang dan lututnya beralih-alih letak tanpa disadarinya. Cuma dia pesan supaya saya merawatnya baik-baik. dia bilang. "Ya. itu tak boleh kamu miliki. Musashi sangat terkejut. berusaha merebut topeng tersebut.

Suami saya kenal salah seorang pendeta itu dan sudah bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi. akan meninggalkan Nara hari ini. Barangkali merekalah sumber segalanya ini. Rasanya tidak mengherankan jika orang seperti mereka lalu memasang poster-poster yang sifatnya menghina dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak bahwa dialah yang melakukan itu." Dengan dahi bercucuran keringat Musashi memandang ke langit." kata Musashi datar. menurut Ibu. "Tidak. ia lebih berat melihat Musashi pergi daripada kehilangan topeng itu. "Ya. kapan saja ia berada di Nara. Ingin ia berbuat sesuatu untuk membalasnya. netcafe. Lebih dari sepuluh orang membawa tombak dan mengendap menanti Anda di Dataran Hannya. Kata janda muda itu. kalau itu kekeliruan.. merenung." "Nah. makin terpikir oleh saya bahwa saya lebih bahagia tanpa topeng itu. Tak usahlah begitu keras terhadap dia. Karena sudah ingin pergi. Menurut pendapatnya. entah bagaimana caranya?" "Tidak. Anda tak bisa pergi sekarang. Ia menyandangkan tas perjalanannya ke punggung. Ia turun tangga untuk meminta maaf atas kekurangajaran Jotaro dan mencoba mengembalikan topeng itu. mengambil topi anyaman. Apa Anda bicara jelek tentang kuil itu. Mengerikan!" Suara perempuan itu gemetar. Musashi selesai mengikatkan sandalnya. Katanya mereka akan menangkap Anda dan mengembalikan Anda ke Hozoin. Pendeta mengatakan orang yang tinggal di sini beberapa hari terakhir ini." "Oh?" "Ya. tetapi kali itu Jotaro sudah mengenakan sandal jeraminya dan sudah berada di luar. maka ia sekali lagi berusaha mengembalikannya. Musashi sedang mengikatkan tali sandalnya ketika istri pembuat kue bakpau itu datang berlari-lari. tak perlu Anda pergi ke sana dan terbunuh karenanya. Mereka bilang banyak ronin ikut juga berkumpul. dan kemudian topeng yang agaknya sangat dihargai janda itu." kata nyonya itu kehabisan napas. dan teringatlah ia betapa marah ketiga ronin itu ketika ia menolak tawaran bisnis mereka. tapi mereka pergi ke jurusan itu. karena sudah membunuh seorang dari mereka. Namun janda itu mengatakan. "Oh. dan Kepala Biara. Saya minta Anda balik ke atas. ikut juga dengan mereka. Dengan sangat ia minta Musashi untuk menanti sampai malam berikutnya. Lagi pula dia ingin sekali memilikinya. menanti dekat gerbang dengan pandangan puas.property of: CROSSFiRE. dan para pendeta akan mencegatnya di jalan. itu berarti Anda bergendang paha. mereka bilang. Makin saya timbang. dan sambil menghadap Ebook by Kang Zusi ." "Saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Inc. tetapi janda itu rupaya tidak butuh uang-apalagi uang dalam jumlah kecil yang dapat disisihkan Musashi-sedangkan di antara miliknya yang tak seberapa itu tak ada yang sesuai untuk hadiah. "Ada apa? Apa yang mengerikan?" "Pendeta-pendeta Hozoin mendengar bahwa Anda akan berangkat hari mi. atau menghina mereka. Semua itu kekeliruan." Musashi menduga topeng itu memiliki makna tertentu bagi si janda. Mendadak sontak la berdiri. Musashi mengalah pada kebaikan janda itu dan menerima hadiahnya. seakan-akan ada setan yang menakutkan hendak menyerangnya. "Mau kuapakan kamu!" Musashi merasa malu.. "saya senang sekali Anda belum berangkat.." Wajah perempuan itu mengerinyut takut. Menurut mereka. Beberapa penduduk mengatakan yang ikut tidak hanya pendeta." "Nah. yaitu orang yang namanya Miyamoto. pendeta-pendeta itu naik darah karena Anda sudah menyewa orang untuk memasang banyak poster dengan sajak-sajak yang isinva menertawakan Hozoin. Inshun. dan tenang-tenang mengangkat kepala. akan lebih aman kalau Musashi mencoba pergi diam-diam hari berikutnya. "Saya pergi sekarang." katanya. Ia berusaha meyakinkan Musashi bahwa meninggalkan Nara pagi itu sama saja dengan bunuh diri. karena pertama ia menerima kimono itu. "Jadi. dan beberapa kali ia minta kepada Musashi untuk datang kembali dan tinggal di sana. mereka bermaksud menemui saya di Dataran Hannya?" "Saya tidak tahu pasti di mana.

" jelasnya. Di atasnya langit yang damai. saya pergi sekarang. ia juga akan berbuat demikian. Dapat saja mereka masuk salah satu kuil yang banyak jumlahnya di sepanjang jalan itu dan menanti kesempatan yang baik.property of: CROSSFiRE. Bahwa ia dan Musashi sedang berjalan langsung menuju tempat pencegatan para jago tombak Hozoin baginya betul-betul tak masuk akal. Itu sudah tentu lebih masuk akal. tapi bukan karena menyesal akan berangkat. Ketika ia berjalan menuju gerbang. apakah Musashi bermaksud meminta maaf kepada para pendeta itu. Jo! Ucapkan terima kasih pada Ibu. Ketika Musashi melanjutkan bicaranya. dan anak itu merasa lebih kecil hati lagi." "Tidak. bagian 6 Dataran Hannya JOTARO berjalan sedih pelan-pelan di belakang gurunya. Inc. Pikiran bahwa jago-jago tombak jahat Hozoin akan menyerang Musashi itulah yang sangat mematahkan semangatnya. "Anda lebih aman di sini. Memang Jotaro belum betul-betul kenal Musashi. Ingin ia mengetahui. Jo? Sepertinya kita sedang berjalan diiringi lagu burung bulbul. "pasti akan timbul kesulitan di rumah Ibu." "Saya tak peduli. Jotaro sudah memutuskan. kataku." Dengan patuhnya anak itu membungkuk dan melakukan hal yang disuruhkan kepadanya." desak janda itu. Saya tak ingin hal itu terjadi. anak itu terkejut. Alisnya naik ke atas dan tubuhnya jadi tegang. Musashi memandang ke langit juga. Di sebelah kanan. Karena merasa barangkali mukanya pucat akibat takut. Hatinya yang masih muda itu penuh kemurungan dan firasat. Sekarang bukan waktunya berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. "Nyaman. Lewat baris-baris pohon kriptomeria di sepanjang jalan. janda itu mengikutinya sambil menangis dan memohon kepadanya agar tidak pergi. kalau Musashi minta maaf pada mereka. Burung-burung gagak hitam yang dilihatnya sepanjang jalan ikut menimbulkan rasa ngeri padanya. ia menatapkan matanya dengan berani ke langit. mereka dapat melihat dataran yang melandai berombak-ombak menuju Bukit Hannya. dan karena tak ingin kelihatan kekanak-kanakan. "Burung bulbul. kata-kata yang diucapkannya bernada gembira seperti biasanya. mereka melihat puncak-puncak Gunung Mikasa. bukan. Di Kyoto ia mendengar bahwa tuannya itu lemah dan pengecut. kedua perempuan itu ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati mereka. sekalipun tak pernah ia berbuat salah kepada mereka. di jalan yang lembap dan teduh di dekat Todaiji. netcafe. Banyak tempat untuk bersembunyi kalau bermaksud demikian. "Jotaro!" Mendengar namanya dipanggil." "Apa?" tanya anak itu kaget. karena takut setiap langkah yang diambilnya akan semakin mendekatkan mereka kepada maut. "Kalau saya menginap semalam lagi. Ia kelihatannya patah semangat. sebutir embun yang menjatuhi kerahnya hampir saja membuatnya berteriak." Ebook by Kang Zusi . Nara sudah jauh mereka tinggalkan. Ibu sudah begitu baik pada saya. Sebelum itu.

" demikian ia memohon. Ia tak dapat percaya sepatah kata pun. aku harus menang! Segalanya akan beres nanti. Jotaro menyerah dan duduk. Tapi. bisa saja dalam beberapa menit lagi tiba-tiba anak itu menjadi sebatang kara di tempat yang asing. tak bakal kamu jadi samurai. dan sambil mengangkangkan kakinya ia menghadapi anak itu." "Nah. seperti bendungan jebol. "Betul. Ebook by Kang Zusi . "Lebih baik kau tinggal di sini. ayolah. Ia ingin memanggil. Kamu anak samurai. Ia harus siap menghadapi mereka. Tak dapat ia mengusir firasat yang dirasakannya bahwa mereka berdua segera akan berpisah untuk selamanya. Mata yang pernah nyalang gembira ketika mengejuti Musashi dengan topeng itu kini tampak gelisah dan sedih. Ada beberapa ekor di sekitar tempat ini. Ia merasa dapat melihat anak kecil yang malang dan ketakutan itu melalui tengkuknya. burung bulbul." Jotaro pun pecahlah tangisnya. Kita tak akan lari. walaupun sedu-sedan Jotaro menggema di telinganya." Jotaro tidak sedikit pun senang mendengar kata-kata itu. mukanya kelihatan kaget. ya?" kata Musashi. Apalagi Musashi terkenal sebagai orang lemah. Musashi sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran. Inc. ya. seperti aku ketika seumur kamu. "Apa pula ini? Kaubilang mau belajar Jalan Samurai? Kalau nanti aku menerobos dan lari. dan ucapnya. seakan-akan ia sedang tersedak. Jotaro terkena batunya dan tiba-tiba berhenti menangis dan berdiri regak. "Oh. Ia suka pada Jotaro dan kasihan kepadanya." Sesudah mengusap air mata. "Pikirkan saya. Kemudian ia berjongkok di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ.. kan?" Musashi dapat melihat dari pucatnya bibir anak itu bahwa ia sedih sekali. "Ayo kita lari!" "Bukan begitu cara samurai bicara! Kau mau jadi yang begitu.." Mendengar kepastian dalam nada Musashi itu. Air mata kotor meleleh di pipinya ketika ia menghapus matanya yang merah bengkak dengan kedua tangannya. Kenapa kamu tidak kembali saja ke toko sake itu?" Dengan tegas dan agak keras ditolaknya anak itu. Jotaro mencengkeram lengan kimono Musashi. Kamu tak punya orangtua yang akan mengurusmu." "Kalau begitu. Air mata meleleh di pipinya. netcafe. "Aku samurai. Dilihatnya gurunya berjalan terus menuju Bukit Hannya. Hanya nyanyian burung bulbul dingin saja yang terdengar oleh telinganya. Punggung tangannya diusapkannya ke mata. Dari sana akan tampak segala yang terjadi. menutup muka dengan tangan. Tapi sekarang kau pergi ke bukit kecil di sana itu. tapi dilawannya dorongan keinginan itu. Ia merasa kasihan. ia sangsi apakah Musashi akan dapat mengalahkan mereka satu-satu. "Kalau kau jalan terus. lalu apa sekarang?" Jataro tidak menjawab.property of: CROSSFiRE. ya?" "Saya takut! Saya tak mau mati!" Dengan tangan gemetar ia menariki lengan kimono Musashi agar kembali. "Jangan kuatir!" kata Musashi. dan ia menyesali telah membawanya serta. "Ayolah pergi dari sini. Tak ada alasan buatmu untuk membahayakan diri sendiri. "Jangan nangis lagi! Kalau begitu kelakuanmu. mumpung masih bisa!" "Kalau kamu bicara seperti itu. "Aku tak mau kalah. Jotaro merupakan gangguan baginya sekarang." kata Musashi. dan menggeretakkan giginya. dan perhatikan dari sana. "Kita sudah dekat Bukit Hannya. Musashi tidak menoleh. dan bahunya menggeletar. Suaranya pun jadi tajam. apalagi semuanya sekaligus. Tangisnya ditambah pula dengan sentakan-sentakan kecil. Karena tahu bahwa para jago tombak Hozoin itu lebih dari sepuluh orang jumlahnya. Betapapun. aku jadi ingin lari juga. kau mesti ikut lari ke jurusan yang sama. Apa yang kita tunggu?" "Tidak!" Musashi membalikkan badan. Kalau aku terbunuh. kau kembali ke toko sake di Kyoto. Sebaliknya ia paksa dirinya tinggal diam beberapa menit lamanya. kau bisa terluka. tetapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan anak-anak. Para jago tombak sudah menanti dengan satu tujuan: membunuhnya.

Musashi melihat asap api berwarna cokelat mengepul di belakang sebuah bukit rendah. dan jalan pun ikut naik dan turun. "Kuharap engkau bisa melupakannya. itu tidak jauh dari Lembah Yagyu?" "Tidak. Kalau kau suka. Musashi hanyalah seorang ronin provinsi yang tidak akan lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun umurnya. Tapi biar bagaimana. Di jalan yang memecah menuju Gunung Mikasa. tapi kau mesti singgah di sana dan melihat keadaannya." Selama itu Dampachi terus menempel di sisi kiri Musashi. Dan Dampachi masih jauh dari siap untuk mengakui bahwa orang seumur dan dengan status seperti Musashi itu dapat lebih baik dari dirinya. "Apa itu?" tanyanya. Garis langit di sana-sini diselingi pohon kriptomeria tunggal atau pinus hitam Cina Namun di sana-sini dataran itu menaik lembut. namun ia menyambut juga dengan sungguhsungguh." "Ada kemungkinan." Dampachi sendiri belum begitu tahu bagaimana harus bersikap terhadap Musashi. Engkau mesti pergi ke sana nanti. "Hei.property of: CROSSFiRE." "Di situlah kuil Yang Dipertuan Yagyu. tidak jauh. dekat Kuil Kasagidera. mengingat hal itu saja sudah membuat tulang punggungnya dingin. aku bisa tanya. Dan kau?" "Oh. ada pekerjaan di Tsukigase. Musashi! Mau ke mana?" Musashi dapat mengenali orang yang datang ke arahnya itu. Musashi menuding. Dampachi berkata. dan anaknya Munenori ada di Edo. apa perlunya teman baginya? Pohon-pohon mulai menjarang. "Apa yang apa?" "Asap di sana itu. Ia memang sangat terkesan oleh apa yang disaksikannya di Hazoin. "Rencananya lewat Iga ke jalan raya Ise. "Aku senang bertemu denganmu. Walaupun Musashi segera merasa bahwa tujuan Dampachi adalah menjebaknya. "Apa menurutmu tidak begitu?" "Mencurigakan? Mencurigakan bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . Ya. Semua itu kekeliruan. dan selagi bicara jelas ia memperhatikan wajah Musashi sebaik-baiknya. netcafe. seorang lelaki mengangkat tangan menyapanya. wajahnya sendiri mengeras. kan?" "Ya." "Kalau tak salah. dan ketika ia memandang wajah Musashi." Nada bicaranya wrlalu sopan. Ia mendapati dirinya sudah berada di tengah dataran terbuka. Kebetulan aku kenal seorang tukang senjata di Tsukigase yang bekerja pada Keluarga Yagyu." "Tak yakin aku bahwa Yang Dipertuan Yagyu mau memberikan pelajaran kepada musafir seperti diriku. Dia Yamazoe Dampachi. "Asap di sana itu mencurigakan. "Mau ke mana?" tanyanya lagi." katanya. dalam keadaan belum matang seperti sekarang. Di dekat kaki Bukit Hannya. Tentu saja lebih baik kalau kau punya pengantar. ia hanya bisa mengandalkan diri kepada pedang dan tak tahu ia apa yang bakal terjadi esok-jadi. Sebuah datarannya agak tinggi dan pegunungan di kejauhan sana. Melindungi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup beratnya. Inc." Dataran itu menghampar luas beberapa mil jauhnya. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali urusan kemarin itu. Yang Dipertuan Muneyoshi sekarang hidup pensiun sebagai ahli upacara minum teh. apa dia mau memperkenalkanmu.

"Aku diberitahu bahwa kau datang ketika aku sedang pergi. mencurigakan. sementara para pendeta Hozoin menatap Musashi dengan pandangan mengancam. Setengahnya pendeta. bagaimana Yamazoe sudah terbantai. Kedua belah pihak menyadari semakin mendekatnya maut. Musashi dapat mengenali pengikut Dampachi. Musashi merasa otot-ototnya menegang selagi mendaki. "Yah. Karena perhatiannya tertuju pada jari Musashi. ia tak sadar bahwa Musashi sudah menarik pedangnya. Para ronin membentuk setengah lingkaran. hingga mereka dapat menyaksikan pertunjukan itu dan sekaligus mencegah Musashi melarikan diri. yaitu Yasukawa Yasubei dan Otomo Banryu. Sekalipun angin musim semi bertiup lembut ke kulitnya. mereka malah cuma duduk-duduk mengitari api dan membiarkan Musashi yang menantang. Dampachi tersengal-sengal terkena hantaman Musashi. Bunyi orang bersuit melengking memecahkan kesunyian dataran itu. Mereka tadi sedang bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Ronin itu melolong berang. Dari puncak bukit ia melihat ke bawah. Benar?" "Tidak!" seru Musashi." Kata-kata itu seperti menuangkan minyak ke dalam nyala api. karena Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan lari atau mengundurkan diri. Semuanya ada sekitar tiga puluh orang. Mereka menyusun diri menghadapi pertempuran. ke arah api yang menyala. Seorang pendeta di ujung barisan memberikan isyarat. Kau mengejek kami dengan memasang poster-poster di seluruh kota. "Dia datang!" kata yang lain membeo. berkilat-kilat penuh kesengitan. Namun tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang diserang. dan optimisme mereka tak tergoyahkan. Sekarang semua bangkit berdiri. Wajah Musashi menjadi pucat pasi. Ketika Musashi tampak. Ia sedang memilih korbannya. Ia berjalan langsung ke arah bukit itu. Sekonyong-konyong ia menyapukan jarinya ke tubuh Dampachi.property of: CROSSFiRE. dan setengahnya lagi ronin yang sukar dilukiskan. dan tanpa merusak formasi mereka menderas mengepung Musashi dari kanan. Kau mesti menimbang segala sesuatu dengan pikiran dan jiwamu. Tanpa menghiraukan pemimpinnya. dan tiba-tiba sadarlah mereka bahwa pertempuran sudah dimulai. Pedang yang ditudingkan Musashi ke tanah berkilauan oleh sinar matahari. dan mendarat dengan wajah ke bawah." kata Musashi tajam. Dari kejauhan terdengar teriakan tanda bahaya. "Dia datang!" seru seorang dari kedua orang yang tadi lari menggabungkan diri dengan yang lain-lain. Darah segar menetes dari ujungnya. Inc. Tubuhnya melambung. lalu keduanya memutar badan dan angkat kaki. melayang ke depan. Yasukawa dan Otomo bicara cepat. Namun tindakan jaga-jaga itu ternyata tidak perlu. Jumlah mereka yang besar memberikan keyakinan. seperti setansetan neraka. Pelan-pelan. ia maju. seperti pandangan matamu sekarang ini. Mereka tampak aneh. Dampachi tak akan bangkit lagi. Lalu kau secara terbuka menghina kehormatan Hozoin. Seorang memekik. Semua pendeta itu membawa tombak. Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. tangan diacung-acungkan di udara. dan kau membunuh Agon. seakan-akan siap menerkam setiap saat. Mereka melihat pedang yang bernoda darah. menjelaskan dengan gerak-gerik cepat. Sebaliknya. Lewat matanya menyorot mata dewa pembalasan dendam. langkah demi langkah. ia berjalan mantap dan langsung ke arah mereka. "Kalau kau memang pendeta. Dengan lengan baju hitam tersingsing mereka siap beraksi dengan tekad membalas kematian Agon dan memulihkan kehormatan kuil. terdengar hiruk-pikuk hebat tanpa kata di tengah gerombolan itu. "Musashi! Aku Inshun. para Ebook by Kang Zusi . kau tidak boleh hanya percaya pada yang kau lihat dan kau dengar." seru pendeta itu. Dua orang muncul di puncak bukit. Baik kaum ronin maupun kaum pendeta tidak setegang Musashi. netcafe. Bukannya menantang Musashi.

dan mengayun-ayunkan pedang ke udara. adalah sebuah bukit kecil. Terdengar bunyi seperti letupan sumbat botol. Ia menjadi tiupan angin pusaran yang menerjang kawanan ronin. aku mohon. tak akan dilayaninya orang sebanyak itu sekaligus! Oh. dan tanah pun merah oleh darah. Tapi ternyata para pendeta itu hanya berdiri diam tak bergerak. mereka semua mundur selangkah. dan ronin yang masih hidup bertebaran di mana-mana. Darah dan otak berpercikan dari pedangnya. sampai pada apa yang dipelajarinya di Sekigahara. seperti jago aduan. semua yang selalu dikatakan orang padaku tentang benar dan salah itu bohong! Kalian tak bisa membiarkan dia terbunuh! Kalau kalian biarkan. ia lihat usahanya itu tak ada hasil. dengan topinya dan topeng di sampingnya. "Baik! Siapa di antara kalian akan maju dahulu?" Kecuali dua-tiga orang. Inc. Singkatnya pertarungan dihitung salah seorang pendeta dengan tankan dan embusan napasnya. dan membiarkan orang baik terbunuh? Kalau memang begitu. tetapi lolongan yang benar-benar membekukan darah. mereka mendesak para pendeta untuk bertindak. Beberapa ronin yang masih tinggal pun bermandikan darah kental. Dari situ ia memperhatikan pemandangan di sekitar api di kejauhan itu. Hampir sepanjang waktu itu Musashi tidak sadar benar. Tuhan yang di surga.property of: CROSSFiRE. dewa-dewa langit. apa yang sedang diperbuatnya. Biasanya dia lunak dan lembut. Tolonglah dia!" Walaupun Musashi memerintahkannya pergi. aku mohon. Oh. bantulah dia! Guruku di dataran sana tak berdaya. di mana tubuh dan jiwanya terpusat hanya pada pedangnya yang semeter panjangnya. Musashi tiba-tiba menghadap mereka dan berseru. pendeta mulai berteriak-teriak. Kelemahan mereka telah menyebabkan Musashi menyerang mereka lebih dahulu. dan mulailah ia marah. lindungilah dia. Dia tentunya gila. Kemudian terdengar suara mengerikanbukan teriakan perang. karena kalah jumlah. karena masingmasing yakin bahwa mata setan Musashi mengarah kepadanya. Sementara pertarungan berlangsung. Ia seperti kesurupan. teori-teori yang pernah didengarnya di berbagai perguruan seni pedang. sedangkan gaung di dalam tubuhnya sendiri menjadi petunjuk bahwa ia sedang bertumbukan dengan tulang manusia. Tak lama kemudian mereka saling menyerang ke segala jurusan dan saling melukai. Jotaro tenggelam dalam doa. serta pelajaran-pelajaran yang diberikan kepadanya oleh pegunungan dan pepohonan-semuanya itu serentak bermain dalam gerak cepat tubuhnya. Pedang Musashi mendesing ke sana kemari di udara. dalam mimpi penuh pembunuhan. "Hachiman! Kompira! Dewa Kuil Kasuga! Lihat! Guruku langsung menyongsong musuh. Karena yakin para ronin cuma bermulut besar dan tak berani berkelahi. Mereka didukung penuh semangat oleh kaum ronin yang telah menyusun diri dalam formasi rapat di sebelah kiri Musashi. yang karena kebingungan menjadi sasaran empuk serangan pedangnya. Dalam sekejap mata Musashi sudah menerpa seorang di antaranya. Pertarungan sudah selesai sebelum ia sempat mengambil napas kedua puluh. penuh dengan darah. Musashi basah kuyup oleh darah korbannya. "Apa sudah tak ada dewa di negeri ini? Apa akan kalian biarkan orangorang jahat menang. bukan untuk ambil bagian di dalamnya. Dia lemah. Tak disadarinya bahwa seluruh pengalaman hidupnya-mulai dari pengetahuan yang ditempatkan kepadanya oleh ayahnya. Mula-mula sekali mereka merapatkan diri dengan cukup baik. Saat ini dia bukan dirinya. Kaum ronin itu rupanya datang untuk menyaksikan penyembelihan besar-besaran. menyatakan tak ada gunanya berbicara. sementara Musashi dengan cepat membantai lima atau enam ronin serta membikin kacau yang lain-lain. tolonglah dia!" Sesudah berseru-seru kepada para dewa seratus kali atau lebih. Seorang di antara mereka menjerit. karena menurut pikiran mereka para pendeta akan segera datang menyelamatkan. Dua-tiga orang yang berani itu bersiap dengan pedang diacungkan. Tempat yang akhirnya dipilihnya untuk duduk. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya tertengadah ke langit. seraya mengumandangkan tantangan. bukan kutukan. tapi dia bukan orang jahat. dan bahkan udara. tak dapat ia pergi. akan kuludahi kalian!" Ebook by Kang Zusi . Tanah. memaki-maki. Sambil memekik-mekik. Ia memohon. "Ya. netcafe. tapi dia sedikit aneh sejak tadi pagi. Akhirnya ia berseru. Jari dan tangan berterbangan di udara. Kalau tidak. dan sudah saatnya kini bertempur.

memperlihatkan perkelahian yang demikian jelek. Mereka diiris. Letih dan sedikit pusing oleh pertarungan sebelumnya. tapi ia bertekad untuk mati dengan cemerlang. dicengkeramnya gagang pedangnya eraterat. Andalah ahli tombak itu. Dengan sedikit bingung ia hapus pedangnya dan la sarungkan. atau yang bengkok-tiap pendeta menggunakan jenis yang paling disukainya. karena ketika ia mengucapkan itu. mendadak ia mengubah lagu. tampak olehnya Jotaro sedang mengucurkan air mata puas. "Oh. ketika disadarinya bahwa darah yang tertumpah di dataran itu bukan darah gurunya. Setelah pertempuran berakhir. atau dibantai. lalu berkata dengan sikap sopan dan mulia. dan lempeng tombaknya pun sangat berbeda-beda-yang lancip. ditikam mulutnya. Inshun. Musashi gawat sekarang!" Lupa akan segalanya. Para pendeta bukannya melakukan serangan yang memang dinanti-nantikan itu ke arahnya. di tengah kancah. Kemudian sadarlah ia bahwa tangan dan kakinya ditarik-tarik orang. serangan itu tidak juga datang. Inc. netcafe. "Saya Inshun. Senjata mereka yang berkilauan bersuit-suit di udara. dan dirinya cemar juga oleh darah mengental. para pendeta Hozoin mulai menyerbu Musashi. kalau memang ia harus mati." sambung pendeta itu. yang berbentuk silang. doa-doanya pun berubah menjadi kutukan yang diarahkannya tidak hanya kepada musuh. dan itulah pertama kali ia melihat darah sebanyak itu." kata Musashi. tetapi takut maju!" Tapi yang terakhir itu terlalu dini diucapkannya. "Sayang saya tak ada ketika Anda mengunjungi kami baru-baru ini. semata-mata karena kecemasannya. ia merasa ringan dan pening. oh! Gawat kelihatannya. Para ronin yang tak menduga itu sia-sia saja mencoba mengerahkan para jago tombak agar melawan Musashi. sampai tak seorang pun di antaranya tetap hidup. Kepala mereka yang gundul itu membuat mereka tampak lebih barbar lagi.property of: CROSSFiRE. Pengalaman itu membuatnya sadar." "Jadi. Mereka ramai-ramai menyerang dia. Tetapi sungguh ia heran. tapi sesaat lamanya tak dapat ia mengucapkan kata-kata. Gagang pedang itu lengket oleh darah kental. juga oleh sikapnya yang tenang. tapi juga kepada dewa-dewa sendiri. melainkan menyerang bekas sekutunya seperti anjing gila. "Lihat! Guruku ternyata bukan orang lemah! Dia menghajar mereka!" Itulah pertama kali Jotaro menyaksikan orang bertempur seperti binatang. "Izinkan saya memperkenalkan diri. Musashi melompat mundur dan berdiri siap menantikan serangan muslihat. Setelah sesaat lamanya berubah menjadi seekor binatang yang tak berpikiran. Saya juga merasa malu bahwa murid saya. Tombak yang mereka bawa berlain-lainan. Sekarang hampir tak dapat ia menahan diri melihat kebuasan para pendeta itu dalam menyembelih ronin. Pembunuhan besar-besaran itu betulbetul sempurna dan sekaligus menunjukkan sifat haus darah. "Lihat dia! Dia bisa melawan! Bukan main serangan itu! Dan lihat pendeta-pendeta tolol itu. Kepala Biara. Kemudian. Kepala Biara mendekatinya. yang berbentuk kerucut. Dan ketika ia melihat ke bawah. yang papak." Kepala Biara itu jangkung dan berwajah cerah. Ketika dilihatnya Musashi terkepung. "Tentu Anda Miyamoto. dibelah dua. setelah melihat orangorang lain mengalami perubahan juga. sekarang ia pulih kembali pada keadaannya yang biasa. la merasa seolah berada di sana. dan sesaat kemudian para jago tombak itu segera beraksi. sementara para pendeta berpencar seperti tawon yang menghambur dari sarangnya. Kenapa para pendeta itu menyerang pendukung mereka? Dan kenapa demikian kejam? Baru beberapa saat sebelumnya ia berkelahi seperti binatang liar. Musashi tak percaya akan matanya. Hatinya berubah jungkir balik. yang cuma berbaris seperti gerombolan gagak berkaok-kaok. diiringi raungan gegap gempita. sampai mati. Kepala Biara Hozoin. Mereka mengejar para ronin yang telah melarikan diri dan menyerang mereka tanpa kenal ampun. Sementara mereka maju menyebar." Ebook by Kang Zusi . campuran darah dan keringat mengaburkan pandangannya. Agon. memberikan perintah menyerang. sementara para ronin menjerit-jerit memprotes. Hari ini mereka mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana teknik-teknik yang mereka asah dalam latihan dapat mereka gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya. Jotaro meluncur seperti bola api ke tengah kancah bencana yang sedang menghampiri itu. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda. Musashi agak terpengaruh oleh kehadirannya. ditusuk. Dan untuk pertama kali waktu itu la merasa santai.

Anda yang lambat. duduk bersama Inshun dan Musashi.." kata seseorang. Musashi memperoleh kesan bahwa ia tak akan mendapatkan keterangan apa pun.. Berangsur-angsur mereka semua berkumpul di sekitar api. untuk menyambut Nikkan dan pengiringnya. "Tadi saya pikir Anda dan orang-orang Anda datang kemari untuk menyerang saya. gagak-gagak sudah mencium bau darah. Para pendeta menyobek-nyobek secarik kain katun lebar menjadi potongan-potongan kecil dan menghapus lembing mereka. Ia masih belum dapat mengerti kenapa para pendeta itu kemudian melawan para ronin tak dapat ia mencari jawaban yang masuk akal. "Nab." "Bukan saya yang cepat. dan katanya. "bersihkan sebagian darah itu. Kemudian pimpinannya kembali ke tempat berdirinya Inshun. Dan mereka akan berebutan melahap makanan besar itu.. kecuali kalau ia bertanya." "Anda namakan semua ini 'bersih rumah'?" "Betul. para pendeta saling berbisik. Sudah berkaok-kaok mencari mayat mereka. karena sebelum ia dapat memutuskan cara yang cocok untuk menjawab nada sopan Inshun itu." kata Inshun sambil menuding ke arah kaki langit. Ia bahkan sedikit heran bahwa dirinya masih hidup. kawan-kawan. Ia memandang Inshun. Inc. "Lihat ke sana. "Tak apa-apa. kami memang tak perlu menganggap Anda sekutu. Pimpinan mereka menjawab. Saya yakin titik hitam di tepi dataran itu dia." kata kepala biara itu.property of: CROSSFiRE. "Seperti Bapak perintahkan. begitu kita pergi. "Tapi saya pikir lebih baik kita menanti dan mempersilakan Nikkan menjelaskan pada Anda. "Ayolah. di sisi lain dataran itu berkatalah seorang penunggang kuda kepada Nikkan. Terima kasih." Para pejabat berjalan ke sana kemari memeriksa mayat-mayat dan membuat beberapa catatan." "Kenapa burung-burung itu tidak turun?" "Mereka akan turun nanti. Mari kita periksa. sedangkan Jotaro menguntit di belakang. "Itu Guru Tua. "Akan kami kirim kemari orang dari kota untuk membersihkan semua ini. "Terima kasih atas kedatangan Tuan-tuan." Pada saat itu juga. menunjuk ke atas." Kemudian ia menoleh kepada para pejabat. Yang pertama dikatakan Nikkan adalah. Kelima penunggang kuda itu pejabat." "Anda lebih gesit daripada kuda." Inshun mengantarnya ke dekat api. dan membariskan diri dengan penuh upacara. Menyayangkan perbuatan Agon? Musashi merasa barangkali telinganya perlu dibersihkan. Dan mereka mulai mengobrol. Tak mengerti saya. seakan-akan menghadapi suatu acara suci." "Kenapa tidak? Saya lelaki. netcafe. "Aaa. Anda sekalian boleh merasa bebas meninggalkan segalanya ini sebagaimana Ebook by Kang Zusi ." Inshun tertawa. kenapa Anda sekalian memperlakukan saya seperti ini. seolah-olah tak suatu pun yang aneh telah terjadi. dan saya sudah bertekad mengirim sebanyak-banyaknya dari antara Anda sekalian ke negeri orang mati." Pendeta tua yang berjalan kaki sendiri itu melangkah menyamai para penunggang kuda yang sedang maju ke arah asap api. "Sudah kalian urus semuanya?" Inshun membungkuk dan menjawab." Para samurai melompat turun satu demi satu dari kuda. tapi tujuan kami yang sebenarnya hari ini adalah sedikit 'bersih rumah'. ia harus menghapuskan dahulu kekacauan dalam pikirannya. Ketika rombongan itu mendekat. Anda sekalian sudah melaksanakan kerja hebat. Anda butuh istirahat." Mereka membenarkan." Olok-olok mengerikan itu berlangsung terus dengan nada santai serupa. mundur mengambil jarak yang sesuai. "Anda cepat sekali berjalan kalau melihat umur Anda. Ia tetap diam sesaat lamanya.

lalu meninggalkan tempat itu. melarikan perempuan. Inc. "Saya bahkan tidak begitu mengerti. Pemerintah tak dapat mengendalikan mereka. Mereka masih asing dengan daerah ini. Kubicarakan rencana itu dengan Inshun. "Apakah pengalaman di sini memberikan pelajaran kepadamu?" tanya pendeta itu. "dan terpikir olehku. Bapak sudah berbuat baik sekali. terdengarlah hiruk-pikuk besar. memeras. dan anak itu gembira luar biasa. dan sekarang semua orang pun senang-para pendeta. Burung-burung gagak turun. ia melanjutkan: Ya. Nikkan berjalan ke sisi Musashi. "Maka kupertimbangkan hal itu sebentar. dan katanya ringan saja. dan para ronin mengambil keuntungan dari asingnya mereka itu dengan tempat inimencegati musafir yang tak berdosa. apa yang sudah terjadi ini. Sambil sekali-sekali melayangkan pukulan ke arah burung-burung. Inshun mengucapkan selamat tinggal pada Nikkan dan Musashi. Sekali-sekali Memang perlu bersih rumah Tidak hanya di Nara. Supaya musim semi dapat naik dari bumi. Sambil menggerutu karena bunyi ribut itu. "Padang ini bukan tempat untuk membungkuk. netcafe. Karena takut menyerangmu sendiri. Ebook by Kang Zusi . Ha. mengepakngepakkan sayap dengan riangnya. Cerita Nikkan itu telah menghapuskan sama sekali segala kesangsian dan rasa takut Jotaro. oh." Dengan itu kelima orang tersebut menaiki kembali kuda mereka dan pergi.property of: CROSSFiRE. Mereka berjanji segalanya akan dilaporkan padaku. ya. Begitulah juga poster-poster itu. Jotaro waktu itu mengenakan topengnya sambil tersenyum ajaib clan menudingkan pedang kayunya ke tubuh-tubuh yang berserakan. Nikkan memberitahu para pendeta bahwa tenaga mereka tidak diperlukan lagi. Pernyataan-pernyataan fitnah tentang kuil yang dituduhkan padamu itu pekerjaan mereka. Terkadang kami butuhkan bersih rumah. Mereka membungkuk dan meninggalkan tempat itu diam-diam." Musashi bangkit berdiri. Begitu orang-orang itu berangkat. sambil menari-nari seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya: Bersih rumah. ha!" Ada satu orang lagi yang senang bukan buatan. juga burung-burung gagak itu. "Para pejabat yang baru pergi tadi itu bekerja di bawah Okubo Nagayasu yang baru-baru ini dikirim kemari untuk memerintah Nara. Dia setuju menjalankan." perintah Nikkan. memasuki rumah-rumah janda-menimbulkan segala macam kesulitan. Kami bakar ladangan. "Bangkitlah. Ia menyanyikan lagu populer karangannya sendiri. burung gagak. berjudi. Memang kebiasaan alam Membikin baru semuanya. Kami bakar dedaunan. Apa Bapak dapat menceritakannya pada saya?" "Dengan senang hati." Musashi berlutut dan membungkuk dalam-dalam di depan pendeta tua itu." Mendengar itu Musashi tertawa. adanya. mereka membuat rencana yang menurut mereka jitu. "Maafkan kalau saya sudah melukai hati Anda beberapa hari lain. "Kau tahu Dampachi dan pengikutnya tak suka padamu." kata Kepala Biara. Sayalah yang harus berterima kasih. termasuk Dampachi dan Yasukawa. Musashi dan Nikkan menoleh memandangnya. Bersih rumah! Mendengar suaranya yang tak dibuat-buat ini. Terkadang kami butuhkan salju turun. agaknya dengan perkiraan aku bodoh. Para pendeta Hozoin-lah yang berkelahi untuk mereka." "Sama sekali tidak. tapi mereka sudah tahu bahwa ada sekitar lima belas pentolannya. ini kesempatan ideal untuk mengadakan 'bersih rumah' di Nara." jawab Nikkan. para pejabat.

"Jangan seperti orang tolol. Hari-hari ini mudah sekali kamu terbunuh. "Doa itu akan melindungi mereka." "Macam ini?" tanya Jotaro. Pendeta tua itu sudah menghilang. Ambil yang banyak!" "Baik. Pak!" Anak itu mengumpulkan batu-batu. Nikkan duduk dan menuliskan kata-kata Namu Myoho Renge-kyo." Musashi diam.property of: CROSSFiRE. tapi suatu kesalahan besar kalau kamu menyangka Jalan Samurai itu hanya terdiri atas pameran kekuatan. Kamu mesti mempelajari jalan yang ditempuh oleh Yagyu Sekishusai dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. pada tiap batu itu. ia menyatakan." Jotaro berdiri diam memandang wajah Kepala Biara. "Kamu sudah melaksanakan sesuatu hari ini. Tanah Perdikan Koyagyu LEMBAH Yagyu terletak di kaki Gunung Kasagi di sebelah timur Laut Nara. Karena kamu masih muda. Kemudian ia berikan batu-batu itu kembali pada anak itu dan ia perintahkan anak itu menyebarkannya di antara mayat-mayat. Musashi. "Sini. sama sekali belum. Nak!" seru Nikkan tajam. Pikirkan itu. Sesaat Musashi hanya menatap tubuh yang makin menjauh itu. doa suci sekte Nichiren. Kalau kamu mencontoh mereka dan mencoba mengikuti jalan yang sudah mereka tempuh. seperti kebiasaannya. dan putuskan sendiri bagaimana membawa diri nanti. Sementara Jotaro melakukan suruhannya. Tapi jangan terlalu banyak. Di awal abad ketujuh belas. Wahai. ia pun berangkat dengan kecepatan hebat. yang selama itu memandang ke tanah dan tenggelam dalam pemikiran." Dan sama mendadaknya dengan waktu ia datang. dan Yang Dipertuan Koizumi gurunya. Ebook by Kang Zusi . "Apa tak ada yang Bapak lupakan?" Ia menepuk-nepuk pedangnya selagi mengatakan itu. sebelum Musashi sempat mengucapkan terima kasih atau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya. "Tapi aku sendiri cenderung memiliki kesalahan yang sama. Sebab kalian bisa mabuk. kamu bisa mencapai kebenaran. Ambilkan beberapa batu. kemudian tiba-tiba ia melesat mengejarnya. "Jadi. kalian. Sekishusai dulu guruku. Juga sake merah pekat. "Satu satunya yang harus kuajarkan padamu adalah kamu terlalu kuat. macam itu. memungut sebuah batu yang terletak dekat kakinya dan mengacungkannya. saya akan senang jika mendapat sedikit nasihat dari Bapak. Kalau kamu terus juga membanggakan dirimu dengan kekuatanmu. Aku kembali ke Nara. Sekarang kalian berdua bisa jalan terus. kamu tak akan hidup sampai umur tiga puluh. netcafe. "Bapak belum memberikan petunjuk. Pak. "Ya. "Apa?" tanya Nikkan. Nikkan mengatupkan kedua tangannya dan menyanyikan bagian dari Sutra Bunga Teratai. tak dapat aku menyatakan kamu benar. tapi belum baik. kamu belum mengerti?" tanyanya. burung gagak! Berpestalah! Dan memilihlah! Sop langsung dari ceruk mata. "Ya. Selesai melakukan hal itu." Mulut Kepala Biara yang tak bergigi itu memperdengarkan tawa terbahakbahak yang terkenal itu. dan karena tak ada jalan untuk mengetahui kapan kita akan bertemu lagi. menengadah. karena itu aku tidak berhak bicara padamu tentang soal ini. "Bapak Pendeta!" panggilnya." Suara Nikkan tidak kedengaran lagi. Inc.

"Sejak meninggalkan Mimasaka. Betul. Namun. secara hati-hati ia menghindari keterlibatan serius dalam perang dan permusuhan antara tuan-tuan feodal di daerah-daerah lain. Tetapi tempat ini memang tempat kelahiran para pahlawan. Di perjalanan ia telah menyaksikan barang-barang peninggalan zaman Kemmu. sebuah puri yang menjadi lambang kemantapan pemerintah maupun pusat budaya daerah itu. Akhirnya Jotaro bertanya. kan?" "Ya. Seorang penyair pernah menuliskan bahwa di tempat lahirnya seorang pahlawan. sama dengan ketika ia yang mengurusnya. Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada para Yang Dipertuan Yagyu sendiri. Gunung-gunung dalam jajaran Kasagi tidak kurang indahnya pada waktu senja dibandingkan pada waktu matahari terbit. Rakyat wilayah itu. Kyoto dan Nara. di mana kuil-kuil kuno yang ternama dalam sejarah dan kesusastraan rakyat dibiarkan telantar. di pegunungan ini banyak terdapat pohon. dan tidak memedulikan pula siapa yang waktu itu memegang kekuasaan langsung. pegunungan." kata Musashi. Suaranya sejernih kristal. netcafe." "Lalu kenapa? Apanya yang lain?" "Pertama. dan sungaisungai biasanya segar dan jernih. Penguasa yang sekarang seorang tuan tanah desa yang baik. Unsur-unsur yang mengganggu tidak dibiarkan memasuki kehidupan masyarakat. dan burung-burung bulbul menyanyi dari musim melelehnya salju sampai musim datangnya angin ribut berguntur. seperti jernihnya air sungai gunung. Ia punya sejumlah anak dan cucu yang terampil. Di tengah masyarakat kecil itu berdiri Wisma Utama. baik fisik maupun mental. tapi di sini lain. "Apanya yang mengagumkan?" Baginya yang paling mengagumkan adalah kenapa Musashi berbicara sendiri. Di sini orang tidak melihat tanda-tanda kekurangan atau kemerosotan moral yang ada hubungannya dengan samurai bebas. Musashi datang ke daerah itu sekitar sepuluh hari sesudah terjadi pertempuran di Dataran Hannya. Ia menginap di penginapan setempat dengan maksud bersantai sementara." ulangnya beberapa kali. Ia terlalu besar untuk dilukiskan sebagai kampung semata-mata. Banyak di antara mereka yang asalnya petani. para pegawai pun orang-orang bangsawan. Singkatnya tempat itu merupakan tanah perdikan yang damai dan diperintah dengan cara yang bagus.property of: CROSSFiRE. yang mengingatkan orang kepada benteng kuno. demikian juga nenek moyang Yang Dipertuan. Ia menyebarkan kebudayaan di antara rakyatnya. Airnya murni dan bersih. juga pegawai-pegawai yang dapat dipercaya untuk membantu dan membimbing mereka. dan sepanjang waktu siap melindungi wilayahnya dengan taruhan nyawa. Dengan pakaian tidak resmi. namun tidak cukup berpenduduk atau ramai untuk dapat disebut kota. Inc. Yagyu Muneyoshi Sekishusai yang kini mengundurkan diri itu berdiam di sebuah rumah pegunungan kecil. tempat itu merupakan wilayah kediaman masyarakat kecil yang sejahtera. Kubu-kubu batu. pada suatu hari ia keluar berjalan-jalan dengan Jotaro. Orang bilang air itu air ideal untuk membuat teh. aku sudah mengunjungi Provinsi Settsu. tidak ada pasukan musuh yang membakar atau menebangi hutan. Jika tak ada pahlawan dilahirkan di Lembah Yagyu. mengelilingi Wisma Utama. sementara matanya mengembara memandang panenan di ladang dan para petani yang sedang bekerja. setidak-tidaknya untuk waktu yang sangat lama. Semua pohon di Yagyu ini tua. "Pohon? Di mana-mana ada pohon. kemudian menjadi pembantu yang setia dan cakap. tak berapa jauh di belakang Wisma Utama. tapi kemudian jadi menonjol karena pertempuran. Selanjutnya ia dapat dengan bebas menganggap bahwa rakyat diperintah dengan sebaik-baiknya. Di rumah besar itu. Itu berarti juga tidak pernah terjadi kelaparan. hidup senang di sana semenjak abad kesepuluh." Jotaro tertawa. Kembang prem Tsukigase tidak jauh turnbuhnya dari tempat itu. Ia tidak lagi memperlihatkan minat kepada pemerintahan setempat. Lingkungan itu sendiri memang tak kenal keburukan." Ebook by Kang Zusi . sebuah nama yang diwarisi dari zaman tanah perdikan. tetapi penduduk tempat itu sendiri menyebutnya Kambe Demesne. Ini berarti tidak pernah terjadi perang di sini. maka kata-kata penyair itu kosong saja kiranya. Kawachi dan Izumi. "Mengagumkan. dan belum pernah aku melihat tempat seperti ini. "Mengagumkan. bersamaan dengan itu. Tentu saja ia dapat disebut Kampung Kasagi. Wilayah ini sama sekali tidak mirip dengan Nara.

tidak hanya yang terjadi di luarnya. dan gandum yang baru tumbuh itu diinjak-injak bawahnya baik-baik untuk menguatkan akarnya dan membikin baik tumbuhnya. dia ingin pergi ke semua tempat yang dapat didatanginya clan mempelajari segala yang dapat dipelajarinya. Jalan di situ bagian dari jalan raya Iga. Pembantu yang mengikuti mereka ke kamar bertanya." keluh Jotaro. "Betul. Kakak datang kemari bukan untuk mengagumi pemandangan." Musashi berangkat ke kamar mandi. Sesudah mereka melihat apa-apa yang bisa dilihat di bagian luar Puri Koyagyu. Orang-orang yang berpikir demikian dan sudah puas hanya karena bisa makan dan punya tempat untuk tidur. sedangkan Jotaro yang merasa mendapat teman baru yang seumur dengannya lalu bertanya." "Rasanya tak ada yang istimewa." "Dan lagi. orang bisa menyangkanya anak lelaki. Seorang pelajar yang serius jauh lebih berkepentingan melatih pikirannya dan mendisiplinkan semangatnya daripada sekadar mengembangkan keterampilan perang." jawab gadis itu. dan banyak di antara orangorang yang berziarah ke Kuil Joruriji atau Kasagidera itu menginap di situ. hubungan mereka dengan yang dipertuan di wilayah mereka. Pada malam hari. maka selagi mereka berjalan itu ia terus memberikan jawaban-jawaban yang mengandung pemikiran dan serius. Pokoknya. "Siapa namamu?" "Tidak tahu aku. ya?" Kalau tidak melihat obi merahnya. Ia harus mempelajari segala macam hal—geografi. sedangkan pedang dan senapan dalam gudang senjata tetap tergosok dan berada dalam keadaan sebaik-baiknya. irigasi. dan tidak hanya memberikan jawaban setengah-setengah. perasaan rakyat. orang tua diperlakukan cukup hormat. Musashi mengetahui bahwa di bak mandi ada orang-orang Ebook by Kang Zusi . Anak-anak tumbuh sehat. sepuluh atau dua belas kuda beban selalu siap tertambat di pohon dekat pintu masuk atau di bawah tepi atap depan. Dan dengar itu! Apa tidak kau dengar bunyi roda pemintalan? Bunyi itu seperti berasal dari tiap rumah. dan hidup di sini normal. para petani tidak melihatnya dengan perasaan iri?" "Ada lagi?" "Seperti kaulihat." Musashi sadar bahwa kuliah ini barangkali hanya sedikit artinya bagi Jotaro. Inc. Ia tidak memperlihatkan ketidaksabaran mendengar banyaknya pertanyaan anak itu. mereka pulang ke penginapan. sedang pemuda dan pemudi tidak pergi ke tempat-tempat lain untuk mencari hidup yang tak menentu. Kakak mau melawan samurai dalam Keluarga Yagyu. tidak tahu nama sendiri. "Kalau mau." "Kocha. "Dia pukul aku!" pekik Jotaro. Di tempat itu hanya terdapat sebuah penginapan. Ladang di sini juga hijau." "Lucu nama itu. tapi ia merasa perlu bersikap jujur kepada anak itu." Jotaro tertawa. Aku berani bertaruh yang dipertuan daerah ini kaya. dan sesudah melihat dengan saksama segala sesuatu di sekitar lembah itu. tapi penginapan itu besar. Dan apa tidak kau lihat bahwa kalau musafir lewat dengan pakaian yang baik. sekarang bisa terus mandi. tingkah laku dan adat kebiasaan mereka. kan?" "Berkelahi itu bukan satu-satunya dalam Seni Perang.property of: CROSSFiRE. "Hanya itu?" "Tidak. netcafe. demikian Wisma Utama itu biasanya disebut orang. karena ia mengenakan celana pendaki gunung. Dari pakaian yang terlipat di lantai kamar tamu. Tanpa menantikan jawaban lagi ia mengatakan. "Gila kamu. "Apanya yang lucu?" tanya Kocha sambil meninju Jotaro. Ini berarti daerah ini makmur. banyak gadis muda kerja di ladang. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam purl. "Sudah jalan-jalan. kukira kau tak akan tertarik. sebenarnya cuma gelandangan.

Salah seorang dari mereka tentunya Denshichiro. dia memutuskan untuk tidak ambil risiko". tapi menurut Musashi mereka itu lucu. Yang manakah? "Aku kurang beruntung dengan acara mandi rupanya. atau cuma mengarang-ngarang?" "Ah." "Kalau Yang Dipertuan Yagyu mengirim pegawai untuk menyampaikan penolakan bertanding. "Siapa namanya-samurai dari Keluarga Yagyu itu?" "Kalau tak salah. dulu. Tetapi yang terjadi pada mereka adalah: selagi mereka mengawasi lautan terbuka luas. mereka berhenti bicara. Tubuh yang tingginya 180-an sentimeter itu menyebabkan air panas melimpah. Di sini. hal itu mengejutkan ketiga orang lainnya. yang terkenal di Ebook by Kang Zusi . Sekishusai sudah mengundurkan diri dan tak pernah lagi bertarung. lain. dia menyebut nama Shoda Kizaemon. jauh dari pusat politik dan ekonomi negeri. tanpa pakaian sama sekali. netcafe. pasti dia keluar dari pintu itu dan kembali seketika dengan pedang. di tempat lain. Dia tentu sudah mendengar tentang apa yang terjadi di perguruannya. Bagaimana pendapatmu. bahwa ia memutuskan untuk "tidak ambil risiko". para samurai tegap berpuluh-puluh tahun lamanya menempuh kehidupan pedesaan yang sehat dengan mempertahankan nilainilai kuno. Koyagyu menghasilkan Yagyu Muneyoshi. dan karena itu pula ia mengirimkan Shoda untuk melakukan kunjungan kehormatan ke penginapan. di Koyagyu. dan bahwa ia tidak mungkin "sebaik yang dikatakan orang".property of: CROSSFiRE. Karenanya Musashi menyimpulkan ketiga orang itu sedang dalam perjalanan pulang ke Kyoto. karena cara bicaranya halus dan berbau kota. yang tak dapat melihat apa yang terjadi di dunia luar. seakan-akan ada unsur asing telah menyerobot ke tengah mereka. pemuda-pemuda kota tersebut mengatakan bahwa Sekishusai "bijaksana"." Tapi ketiga orang itu tidak memperhatikannya. Hal itu mengingatkannya pada pepatah katak di dasar sumur. ada seekor katak yang dengan mantap tumbuh makin lama makin besar clan kuat. "Pertama. begitu tiba. Agaknya mereka orang kota. justru karena ini Sekishusai tidak membiarkan anak Kempo pergi tanpa menjawab suratnya. Anak-anak muda manja dari Kyoto ini punya kesempatan melihat apa yang terjadi di pusat segala sesuatu dan mengetahui apa yang terjadi di mana-mana. yang waktu itu sudah menyandarkan kepala ke tepi kolam dan menutup mata. Dari percakapan mereka diketahui. Gorozaemon dan Toshikatsu. di dasar sumur yang dalam. Agaknya Sekishusai pernah punya hubungan dengan Yoshioka Kempo. ' Bersama dengan berlalunya waktu. dulu Osugi menjebakku dengan mandi. mereka mengirim surat pada Keluarga Yagyu. Tak sangsi lagi. Seorang di antaranya langsung menatap Musashi. Musashi masuk ke dalam bak mandi umum itu sambil melenguh nikmat. Ada tiga orang sedang berbicara dengan riangnya. memperbaiki segi-segi mereka yang lemah dan semakin kukuh kelebihannya." "Menurut Shoda. Berangsur-angsur mereka menyambung kembali percakapan yang terputus. Yang jauh lebih mungkin adalah ketika dia mendengar anak kedua Keluarga Yoshioka menantangnya. Inc. seorang guru besar dalam seni bela diri. Kulit punggung mereka putih dan otot-otot mereka lentur. kupikir tidak betul. betul demikian. tentunya dia tidak sebaik yang dikatakan orang. Kalau dia tahu namaku Miyamoto. Ada juga anak-anak Muneyoshi yang lebih tua. yang kegagahannya diakui oleh Ieyasu sendiri." pikir Musashi sedih. mereka bertiga rasanya tidak memiliki apa pun selain kefasihan bicara. dan anaknya Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. Mereka membasuh diri di luar kolam. Ia sudah mendengar bahwa Denshichiro sedang mengadakan perjalanan ke Ise sewaktu ia singgah di Perguruan Yoshioka. Mereka rupanya puas sekali dengan diri mereka. Entah karena apa. dan sekarang. "Setidak-tidaknya dia cukup bijaksana dengan mengirim buah dan mengatakan dia berharap kita dapat menikmati persinggahan kita di sini. Berlawanan dengan apa yang sudah ia lihat di Puri Koyagyu dan keadaan penduduk daerah yang membikin iri hati itu." Yoshioka? Musashi mengangkat kepala dan membuka mata. Kadang-kadang ia merasa pepatah itu dapat berlaku sebaliknya. tapi ketika melihat tubuh Musashi yang berotot. Ia menanggalkan pakaiannya dan membuka pintu masuk kamar mandi yang beruap. ketika Kempo menjadi guru para shogun. aku bertemu dengan salah seorang Yoshioka. Mengomentari sikap Sekishusai itu.

tapi saya katakan. Jotaro dan pelayan saling pandang. Dalam hal kemasyhuran dan nama baik. Musashi baru akan memakinya. kemungkinan saja. Melihat kedudukannya yang rendah. dan mengguyur badan lagi dengan air panas. "Ya. "Uh. Inc. saya tidak bilang Tuan atau yang lain itu lemah. Musashi mengeringkan badan. dan aku akan memarahinya." Anak itu jadi semakin keras kepala. Sesudah mandi. Mereka makan tanpa bicara. "Pergi mandi sana!" "Saya tak suka mandi!" "Aku juga tak suka. kemudian diambilnya segenggam tanah liat. "Si tolol ini bilang Kakak lemah. Di sana ia temukan Kocha yang tampak seperti anak lelaki itu sedang menangis." "Memang enak. membasuh badan sepenuhnya.property of: CROSSFiRE. Ditanggalkannya ikat kepalanya. Musashi sibuk memikirkan maksud pribadinya untuk menemui Sekishusai. di Jepang tak ada yang lebih baik bermain pedang daripada yang dipertuan daerah ini." "Saya akan mandi di sungai besok pagi. dan mulailah ia menggosok kulit kepalanya. dari sudut yang lain. Ia pindah ke sudut tempat disalurkannya air ke dalam kamar itu. Memang tak boleh dia melakukan itu." kata Musashi bohong. yang masih juga mendongkol. Jo!" katanya keras." Musashi tertawa. ya. "haruslah dengan orang yang kuat. enak. sampai bau. Akhirnya anak itu tidak jadi mandi. Tetapi dalam hal kecakapan. Musashi merasa sedikit kasihan pada mereka. "Tapi kamu begitu berkeringat. dan cucunya Hyogo Toshitoshi yang prestasi-prestasi luar biasanya menyebabkan ia dapat menduduki jabatan yang besar gajinya di bawah Jenderal Kato Kiyomasa dari Higo yang termasyhur. Namun demikian. Anak bandel ini tadi membual bahwa Tuan pemain pedang terbesar di negeri ini." kata anak itu. Tak lama kemudian Kocha membawakan makan malam dengan baki. Keluarga Yagyu belum setara Keluarga Yoshioka. Jotaro sudah memprotes. Bagaimana kalau kita panggil gadis-gadis buat menuangkan sake kita?" "Gagasan bagus! Bagus. netcafe. seluruh negeri karena keberaniannya." "Kamu bilang!" "Tuan. hal itu bisa. Denshichiro dan temantemannya buta karena keangkuhan sendiri. perbedaan itu hanyalah masa lalu. bohong!" teriak Jotaro marah. Coba lihat. orang-orang Kyoto itu menyelesaikan mandi. barangkali usaha ini terlalu berlebihan. dia pukul saya!" "Ah. Itulah pertama kali selama berminggu-minggu ia bermewah-mewah dengan pencuci rambut yang baik. Ada manfaatnya membahayakan hidup ini. untuk melihat apakah aku dapat mengalahkan Yagyu yang bernama Ebook by Kang Zusi ." pikir Musashi. sesudah makin terbiasa dengan Musashi. Bahkan ia menyukai watak Jotaro itu. mengikat rambut. Saya tidak bilang begitu. "Oh. Kak. Sementara itu. Kuharap kamu memaafkan kami. begitu. "Kenapa kamu?" "Anak lelaki Tuan itu. tapi kemungkinan. sementara gadis itu menyediakan makanan. lalu dia mulai menampar pipi saya. karena Tuan sudah membunuh berlusin-lusin ronin di Dataran Hannya." "Itu tak benar. "Kalau aku beradu senjata dengan seseorang. tapi Musashi tidak begitu keberatan. bagus!" Ketiga orang itu selesai mengeringkan dirt dan pergi. dan kembali ke kamarnya.

karena ia punya pikiran seperti itu. dan sekiranya ia dulu membantu Nobunaga. Walaupun bukan salah seorang daimyo penting. ia mempertahankan penampilan dan tingkah laku samurai berpendidikan baik." pikir Musashi yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan. Sekalipun ia hidup hampir dalam bayangan Kyoto dan Osaka." Musashi sadar bahwa kebanyakan orang akan langsung menertawakannya. Ketajaman pandangannya yang dikagumi orang banyak itu memang merupakan satu faktor kelebihan. Namun ia belum meninggalkan Seni Perang itu sendiri. Mereka semua cenderung berpihak pada seseorang di suatu hari dan secara tak kenal malu meninggalkannya pada hari berikutnya. Bunyinya: Tak ada padaku cara cerdik Buat menempuh hidup. Yagyu pemilik puri. ia ambil bagian dalam beberapa perang besar. Anaknya dinas di istana shogun. Di zaman baru yang sedang terbit ini. Dalam ceruk kamar duduknya tergantung sajak yang ditulisnya sendiri. demi kepentingannya sendiri tanpa memikirkan kesopanan ataupun ketulusan—atau bahkan membantai sanak saudara sendiri yang mencampuri ambisi pribadi. Giginya masih lengkap dan matanya tajam luar biasa. "Ini merupakan ujian sejati. Sungguhpun misalnya Sekishusai tidak dilahirkan dalam keluarga seperti itu. "Aku akan hidup sampai seratus tahun.property of: CROSSFiRE. tetapi untuk dapat tetap tegak dalam zaman yang demikian bergolak. Aku hanya mengandalkan diri Pada Seni perang. Lainnya hidup sampai melebihi enam puluh tahun. netcafe. Tak ada gunanya mengikuti Jalan Pedang jika aku tak punya keberanian mencoba. Sekishusai pernah mengatakan. Pada zaman tidak menentu ini. termasuk pemberontakan Miyoshi dan pertempuranpertempuran yang menandai bangkit dan jatuhnya Keluarga Matsunaga dan Oda. besar itu. "Aku tak dapat berbuat seperti itu. "Keluarga Yagyu selamanya berumur panjang. Sekiranya ia menerima perlindungan Hideyoshi. Semenjak itu belum ada yang dapat mengubah tekadnya. hampir tak dapat dipercaya bahwa puri kecil ini berhasil tetap tegak secara lengkap. "Yang mati umur dua puluhan dan tiga puluhan biasanya terbunuh dalam pertempuran. seperti beruang di dalam gua. Pada umur empat puluh tujuh. "Aku sudah berbuat sebaik-baiknya dengan berkukuh pada tanah ini. kemungkinan ia bertabrakan dengan Hideyoshi. Sekiranya ia dulu membantu Yoshiaki. Ia lebih suka tinggal di Yagyu." Ini tidak dibesar-besarkan. hak miliknya mungkin dicabut oleh Ieyasu sesudah Pertempuran Sekigahara. namun ia menolak untuk terlibat dalam pertempuran yang sering terjadi pada pusat-pusat kekuasaan dan intrik itu. maupun permohonan yang berulang-ulang dari Nobunaga dan Hideyoshi untuk menggabungkan diri dengan mereka. dan ia merawat tanahnya yang berpenghasilan lima belas ribu gantang itu demikian rupa hingga nanti ia dapat menyerahkannya pada keturunannya dalam keadaan baik." ujar Sekishusai dengan sederhananya. jalan hidup dan terutama sikapnya setelah ia mencapai umur tua menyebabkan orang percaya bahwa ia akan dapat hidup sampai seratus tahun. Ia menulikan telinga terhadap desakan shogun Ashikaga Yoshiaki. Sementara itu. Sekishusai sendiri percaya benar akan hal ini. karena alasan-alasan pribadi ia memutuskan untuk meninggalkan peperangan. dan seluruh keluarganya mendalami tradisi kelas prajurit. Ebook by Kang Zusi . Inc. Bunga Peoni KEMULIAAN orang tua itu tumbuh bersama berlalunya waktu. merekalah yang mengendarai puncak waktu." demikian ia suka mengatakan. ia mungkin menjadi korban Nobunaga. hingga sekarang ia tak lain dari menyerupai derek megah." Di antara peperangan yang tak terhitung jumlahnya." demikian sering kali ia meyakinkan semua orang. Sekishusai harus memiliki kekuatan dalam yang tidak dimiliki oleh samurai biasa pada zamannya. ketika para pemimpin bangkit dan jatuh begitu cepat. Dan apa yang dikatakannya itu benar. sekalipun ia sedang makan nasi.

itu tak bisa. semuanya hasil tangan Yang Dipertuan Koizumi sendiri. Dengan ini lahirlah Gaya Yagyu. Hikida Bungoro dan Suzuki Ihaku waktu itu sedang mengembara mencari ahli seni perang. selalu disimpan di sebuah rak kamar Sekishusai bersama empat jilid buku pegangan teknik militer yang dihadiahkan kepadanya oleh Yang Dipertuan. dan selama itu Sekishusai belajar sepenuh hati bak seorang yang baru mulai. Yang Dipertuan Koizumi tinggal di Koyagyu selama enam bulan. "Oh. dan menyarankan agar mereka bertanding. dan Anda mesti mencoba mengusahakannya sampai sempurna. Ebook by Kang Zusi . dan akhirnya sampai pada jawaban yang memuaskan dirinya. dan minta Munenori ditunjuk menggantikannya. Ini dipelajarinya dari Yang Dipertuan Koizumi. pada hari ketiga Sekishusai memusatkan usahanya pada cara baru." Tanpa berpanjang-panjang lagi ia pun menyerang dan mengalahkan Sekishusai untuk ketiga kalinya. Ketika Yang Dipertuan Koizumi datang lagi berkunjung. Yang Dipertuan bersama dua kemenakannya. Pada ulang tahun meninggalnya Yang Dipertuan Koizumi. Pada gilirannya hal itu melahirkan cara hidup damai Sekishusai di umur tuanya. Sekishusai senang membuka-buka gulungan itu dan memeriksa isinya. Surat keterangan yang diberikan kepadanya oleh Yang Dipertuan Koizumi untuk membuktikan penguasaannya atas ilmu pedang Gaya Shinkage. Yang Dipertuan memperhatikannya dengan saksama sesaat lamanya. Ieyasu setuju. tetapi ia pun alat untuk mengendalikan diri. Yang Dipertuan Koizumi mengatakan. yang memungkinkan seorang pemimpin memerintah dengan bijaksana. Itu perlindungan terakhirku. akan sia-sia saja." Kemudian ia memberi Sekishusai sebuah tekateki Zen: "Apakah artinya main pedang tanpa pedang?" Bertahun-tahun lamanya Sekishusai merenungkannya. "Jangan. dan mulailah ia bertanding tepat sesuai yang dikatakannya. Kalau Anda melakukan itu. Dalam pertandingan pertama Koizumi menyebutkan di mana ia akan menyerang. "Jalan ilmu pedang saya masih belum sempurna. Sekishusai dan Koizumi melakukan pertandingan tiga hari berturut-turut.property of: CROSSFiRE. Kemudian diingatnya bahwa pada kesempatan itulah pertama kali ia melihat Seni Perang sejati." Kemudian ia menghadiahi Sekishusai surat keterangan dan buku pegangan empat jilid itu. Sekishusai tak pernah lupa menghaturkan persembahan makanan bagi semua harta milik yang sangat berharga itu. meninjaunya dari segala penjuru. Ia membawa serta anaknya yang kelima. karena ayahnya juga menurunkan pengetahuan taraf tinggi dalam Seni Perang. Warisan yang dibawa Munenori ke Edo itu lebih dari sekadar kecakapan hebat dalam seni bela diri. Melihat langkah baru itu. yang berumur dua puluh empat tahun. Koizumi hanya mengatakan. Karena harga dirinya terluka. dan pada suatu hari ia tiba di Hozoin. Menurut Sekishusai. yang sering dinamakan dewa pelindung rumah tangga Yagyu. tetapi memintanya menjadi guru dalam seni perang bagi Keluarga Tokugawa. Hari kedua terjadi hal yang sama. Yang Dipertuan Koizumi pertama kali datang ke Puri Koyagyu ketika Sekishusai berumur tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun dan masih meluap-luap ambisi militernya. ia merasa para pemain pedang itu turun dari langit dan bergabung dengannya di rumah pegunungan yang kecil itu. Gambar-gambar itu menunjukkan orang-orang yang sedang bertarung dan bermain pedang dalam segala posisi dan langkah yang mungkin. Itulah permulaan hubungan mereka. netcafe. Sekishusai menolak kehormatan itu dengan alasan umur. Ketika akhirnya mereka berpisah. Apabila Sekishusai memandang gambar-gambar itu. Anda sudah menemukan kebenaran. Anda masih muda. Munenori. Inc. mau tak mau Sekishusai merasa harus menerimanya dan keluar dari keterpencilan tenteram yang berpuluh tahun lamanya itu untuk melakukan kunjungan pertama ke istana shogun. Di samping gambaran tentang teknik-teknik pedang tersembunyi Gaya Shinkage. Sekishusai menyambutnya dengan mata jernih tak terusik. dan cucunya Hyogo yang waktu itu baru berumur enam belas. Tidak hentihentinya ia merasa kagum dapat menemukan betapa terampil gurunya memainkan kuas. Ketika diundang Ieyasu untuk mengunjungi Kyoto. dan In'ei pun menyampaikan pada Sekishusai tentang tamu itu. Ieyasu tidak hanya membenarkan prajurit tua yang patut dimuliakan itu dalam hal pemilikan tanah. saya akan melakukan ini. Itulah zaman ketika In'ei sering kali berkunjung ke Puri Koyagyu. kemudian katanya. buku pegangan itu berisi gambar-gambar ilustrasi. Sejak hari itu Sekishusai meninggalkan pendekatan congkak atas ilmu pedang. Bahkan dalam masa pensiunnya pun. Atas desakan kuat Sekishusai. Seni Perang memang alat untuk memerintah rakyat.

" "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar. Sambil mengatur letak terakhir bunga peoni tunggal yang dimasukkannya dalam jambangan buatan Iga. Saya sudah mendatangi mereka dan menyampaikan surat dan buah itu kepada mereka." "Sama sekali tidak." Otsu tampak terkejut. "Bagaimana pendapatmu? Apa susunan bungaku cukup hidup?" Otsu yang berdiri di belakang orang tua itu berkata. Ia melihat Otsu sangat disukai tuannya. Kini hampir sepanjang waktu ia mengenakan topi itu dan sangat menghargainya. tetapi ia selalu memintanya tinggal sedikit lebih lama. Aku bukan bangsawan Kyoto. seperti Tuan Ebook by Kang Zusi . Otsu tertawa. tapi hidup di tempat terpencil ini. gadis itu melakukan hal-hal kecil baginya. Saya cuma orang luar yang diundang bermain suling. sama seperti waktu dipetik. "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga. yang tak terpikirkan oleh orang lain. bunyi sulingnya yang indah mengalun itu sering kali terdengar sampai ke puri. dan tidak pernah mengganggu. "Bisa kau membuat sajak Jepang? Kalau bisa. sopan. "Ya." Otsu merasa orang tua yang cermat ini telah mengajarkan banyak hal yang perlu ia ketahui. Apa tidak lebih baik Tuan menghadap langsung kepada beliau daripada lewat saya?" "Kukira pendapatmu itu betul. diam-diam Kizaemon datang di pintu masuk rumah pegunungan itu dan memanggil Otsu. Tidak hanya dalam permainan suling ia amat menyenangkan. tapi di rumah kecil ini kamu orang khusus. aku lebih suka mendengar sajak-sajak sederhana tentang alam. netcafe. "Akan kuajarkan padamu upacara minum teh. dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru. ia merasa sangat beruntung. Mengerti tidak. Sekali-sekali gadis itu mengatakan hendak pergi dari situ. Lihat itu! Bungaku sama sekali tidak mati. Tuan jauh lebih dekat kepada beliau daripada saya. namun ia senang mendapat teman gadis yang dibawa Shoda Kizaemon untuk bermain suling baginya. Inc. Kizaemon mendapati orang tua itu di kamar teh. "Tolong sampaikan kepada Yang Dipertuan." katanya. Atau." Kizaemon senang dengan perubahan yang terjadi di situ. karena gadis itu penuh perhatian. Man'yoshu memang bagus dan apik. Sekishusai tinggal di rumah pegunungan karena ia tidak lagi menyukai puri yang mencolok dengan segala hiasannya yang rumit itu. Sudahlah. "Oh." "Kenapa?" "Tuan kan abdi utama di sini." demikian katanya. Sekishusai bertanya kepada Otsu. ini namanya terbalik. Soalnya cuma bagaimana menunjukkan semangat sewajarnya-bagaimana membuatnya tampak hidup. gadis itu juga menambahkan sentuhan kemudaan dan kewanitaan yang menyenangkan bagi rumah tangganya. "Apa betul Bapak menyusun bunga seperti menggunakan pedang?" "Ya. sampaikan kepada beliau. coba ajarkan padaku gaya sajak istana. semua itu cuma soal semangat. aku baru saja kembali dari menjalankan perintah. Permainan suling gadis itu pun sangat menyenangkan hatinya. Otsu keluar dan mempersilakan Kizaemon masuk." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang.property of: CROSSFiRE. Hampir seketika itu juga Otsu kembali untuk mengatakan bahwa Sekishusai minta Kizaemon masuk. "Jadi. kamu sudah kembali?" tanya Sekishusai. tapi Kizaemon ragu-ragu. Sekalipun ia mencintai hidup mengasingkan diri menurut ajaran Tao. Misalnya ia senang sekali ketika gadis itu membuatkannya topi kain kecil seperti yang biasa dipakai tukang teh. mengenakan topi kain buatan Otsu. Selagi Sekishusai dan Otsu bicara tentang susunan bunga. dan karena semua itu hanya diawali oleh pertemuan kebetulan saja di jalan raya. Pada malam-malam terang bulan." Sebagai gantinya. seakan-akan tak ada barang yang lebih dari itu di mana pun. Aku tidak menggunakan peraturan-misalnya bagaimana memilih bunga-bunga itu dengan ujung jari atau mencekiknya di leher.

Lagi pula. membawa surat." "Tampaknya anak-anak Yoshioka itu memang tak becus seperti yang dikatakan orang." "Aku benci orang seperti itu. Mari kita lihat apa jawabnya. Begitu saya kembali di sini. karena itu dia mendesakkan terus tantangannya. Tentang diriku. Kalau kamu hendak mengalahkannya. perintahkan. dan tidak ada orang sama sekali di sini?" "Sudah. tapi tak ingin aku membebani Munenori atau Hyogo dengan hal seperti itu. mereka itu cenderung mencoba dan memutar balik segala sesuatu untuk keuntungan sendiri. tak ada persoalan." Sambil mengalihkan pandangan kepada Otsu. tak usah buru-buru. netcafe. Sudah kukirim orang." kata Otsu. "Berikan ini padanya.. dan katakan kamu datang mewakili aku karena aku sedang pilek. seperti surat yang ditulis seorang ahli upacara minum teh. bahkan juga di lapisan masyarakat yang lebih tinggi." "Denshichiro ini rupanya terlalu percaya diri. "Oh. disertai sekuntum bunga peoni seperti yang ia susun dalam jambangan. dia punya hak untuk tidak ditolak masuk sini. ia melanjutkan. Di kandang kuda yang terletak di pekarangan luar puri itu." "Lancang benar orang tak tahu adat itu! Kenapa pula mereka begitu mengganggu?" Sekishusai tampak jengkel sekali." "Saya tak tahu apa. "Apa sudah kamu jelaskan bahwa Munenori ada di Edo. "Apa mereka sudah pergi?" "Belum. Kelihatannya keluarga itu merosot terus sejak itu. "Apa saya mesti pergi sekarang?" "Tidak. karena mereka telah datang di Yagyu ini. Isinya. seorang utusan datang dari penginapan. Anak-anak orang terkenal itu biasanya terlalu tinggi menilai dirinya. Walaupun kerudung sudah tidak model lagi di Kyoto. kemudian membiarkannya pergi membawa kekalahan. Hyogo di Kumamoto. Kalau dia memang ingin sekali datang. kami bertemu dia dua-tiga kali dan minum sake bersama-sama." "Oh. menyatakan tak bisa menerima mereka. barangkali saya sendiri yang akan melayani. Tukang kuda yang sedang sibuk bersih-bersih bertanya. Ayahnya memang orang yang punya watak." "Kalau begitu." Pagi berikutnya Otsu mengenakan kerudung panjang. Mereka juga mengatakan ingin bertemu dengan Tuan dan menyatakan hormat mereka.property of: CROSSFiRE. Besok pagi saja. Inc." "Baik. Orang muda itu rupanya menyangka karena dia anak Kempo. mereka akan datang besok. berpikir seperti itu saja pun jangan. Kalau mungkin.. Otsu kemungkinan orang yang tepat untuk itu. kamu pergi. Barangkali keliru mengirim orang lelaki untuk bertemu dengannya. dan menyerahkannya kepada Otsu. "Kupikir perempuan lebih baik." "Yang ada di Wataya itu Denshichiro." Sekishusai cepat menulis sepucuk surat sederhana. tak ada artinya menerima tantangannya. ya?" Ebook by Kang Zusi ." "Tidak. tak hendak mereka pergi sebelum melihat dojo. kamu mesti mengerti bahwa dia pasti akan mencoba menghancurkan nama baik kita di Kyoto. Bagi saya dia memang tidak mengesankan. Otsu meminjam kuda. mereka tetap saja memaksa. aku heran kalau dia mengesankan. Ketika aku pergi ke Kyoto bersama Yang Dipertuan Koizumi. namun perempuan-perempuan kelas atas dan menengah di daerah masih menghargainya. apa yang hendak kita lakukan?" "Yang terbaik adalah kalau kita mencoba meredakan hatinya dan membuatnya merasa bahwa dia diperlakukan sesuai perlakuan terhadap anak satu keluarga besar. Dari sudut pandang kita.

" "Saya datang kemari diutus oleh Yang Dipertuan Puri Koyagyu. Ia dapat mengendarai kuda dengan baik. Para petani di situ semuanya tahu bahwa seorang perempuan muda yang cantik datang untuk bermain suling bagi tuannya. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa seorang utusan telah datang dari puri. Memang. Saya pikir sekuntum bunga peoni yang putih bersih akan lebih menyenangkan bagi Anda daripada hidung ingusan seorang tua. Dia masih di sini.." Dalam waktu singkat selama ditinggalkan Kocha itu. "Mau menginap?" "Tidak. karena telah mengirimkan salam lewat surat dan bukannya menjumpai Anda sendiri. Para petani dan pekerja di ladang melambaikan tangan kepadanya." 'Tak apa-apa?" 'Tentu saja tidak. hubungan mereka dengan Sekishusai jauh lebih bersahabat daripada yang biasa terjadi antara tuan tanah dan para petani. Saya kirimkan bunga ini lewat tangan sekuntum bunga pula. Otsu telah membikin suasana jadi sedikit hiruk di antara para musafir. bersimpuh sedikit kaku. "Silakan masuk. kerudung cokelatnya yang kemerahan mengapung wrtiup angin di belakangnya. karena dalam waktu yang singkat di sana itu Otsu sudah cukup dikenal oleh rakyat setempat. "Selamat datang!" kata Kocha menyambutnya. sampai kemudian ia mengikuti Kocha dan menghilang dari pandangan. Saya suka kuda. dan dengan tangan lain mengendalikan kuda dengan terampilnya. "Ya. membuat para tamu yang hendak pergi berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh perhatian. dan keelokannya yang anggun dan jarang ditemui orang di pedesaan." Ia membaca gulungan yang tidak lebih dari sekaki panjangnya itu. atau hampir-hampir liar." "Saya temani?" "Tak usah. "Saya persilakan membaca surat ini sekarang juga. maaf." Ketika Otsu berkuda. Kamarnya berantakan. Inc. bukan?" "Silakan tunggu sebentar.. Kekaguman serta rasa hormat kepadanya pun menjalar kepada Otsu." kata Otsu sederhana. saya baca. ya. Kuda-kuda yang dulu biasa saya naiki di Mimasaka masih liar. silakan masuk. disuruh Tuan. yang waktu itu sibuk mengenakan legging dan sandal serta mengikatkan bawaannya ke punggung. ini suratnya? Ya. Bunyinya: Maafkan saya. netcafe. "Siapa itu?" tanya seorang. karena malam harinya mereka minum sampai larut.property of: CROSSFiRE. Sesampai di Wataya." "Ah. Melihat Otsu membawa bunga peoni putih. dengan sebelah tangan ia memegang surat dan bunga peoni yang sudah sedikit layu. saya datang dari Puri Koyagyu membawa surat untuk Yoshioka Denshichiro. saya harus pergi ke Wataya. "Oh. mereka menyangka utusan itu adalah orang yang datang hari sebelumnya. mereka pun terkejut. Otsu turun dan menambatkan kudanya ke pohon di halaman. tapi sayang sekali saya sedang sedikit pilek." Dengan wajah amat menyesal mereka meluruskan kimono dan duduk baik-baik. "Menurutmu siapa yang akan dia temui?" Kecantikan Otsu. dengan harapan bahwa Anda akan menerima maaf Ebook by Kang Zusi . Denshichiro dan teman-temannya baru saja bangun. sambil meletakkan surat dan bunga peoni itu di hadapan Denshichiro. Surat ditulis dengan tinta tipis dan menyebarkan sedikit bau teh.

kami ingin bertemu dengan beliau. beliau juga mengatakan. kemudian dengan wajah masam ia berkata. mengalahkannya dengan pedang. Karena tak seorang pun mengaguminya. beliau tidak memberikan pada kami pilihan lain kecuali menerima. dengan kecewa ia kembali ke kamar Musashi. Terus terang saja. Tubuh saya yang sudah sangat tua ini kini berada di luar kehidupan sehari-hari. Beliau minta saya menyampaikan maaf kepada Anda. ia dapat bertemu dengan Sekishusai.” ”Oh.” kata Kocha sambil mengulurkan tangan. atau kalau Anda naik kuda. saya. netcafe. Begitu sampai di lorong rumah. kami tak tahu apa-apa tentang teh. pertama. "Yah. “Mau pulang?” tanyanya." Dengan sikap muak yang tampak jelas sekali. Dengan janji akan menyampaikan pesan itu. dan kini beliau punya kebiasaan mengungkapkan banyak buah pikirannya dengan istilah-istilah upacara minum teh. tak ada gunanya mendesaknya menerima hadiah itu. “Ya. beliau merasa suguhan teh akan terasa kasar. tentu saja. sehingga bisa menimbulkan tawa di bibir orang-orang ibu kota kekaisaran. dan menyampaikan kepada Anda pula bahwa beliau berharap bertemu dengan Anda pada kesempatan lain nanti. Ia memandang ke arah puri dan berpikir keras tentang tujuannya: bagaimana caranya agar." "Beliau maksudkan ini sebagai tanda mata?" Denshichiro menundukkan mata seakan-akan terhina. Beliau mengatakan Anda dapat menggantungkannya di sudut joli Anda. Denshichiro menjawab. Maksud kami sebenarnya adalah menanyakan secara pribadi kesehatan Sekishusai dan membujuk beliau untuk memberikan pelajaran ilmu pedang pada kami. Otsu meninggalkan tempat itu dengan berat. Inc. Karena Munenori berada di Edo. seberat kalau ia mesti membuka perban dari luka yang terbuka. Kocha keluar dari kamar Musashi dan berlari mengejarnya. beliau ragu-ragu mengundang Anda datang ke rumah. kami punya peoni sendiri di Kyoto!" Kalau memang demikian perasaannya." Dan dikembalikannya bunga peoni itu kepada Otsu. Denshichiro mendengus jijik dan menggulung surat itu. sudah selesai urusan saya. Sesudah berpisah dengan Otsu. Saya sangsi akan memperlihatkan muka. "Kalau benar penangkapan saya. demikian kesimpulan Otsu. "Anda tak suka ini? Beliau merasa bunga ini akan menggembirakan dalam perjalanan. Karena marah. Sekishusai mengira yang kami inginkan adalah menyaksikan indahnya upacara minum teh. "Hanya ini?" tanyanya. mau. lalu ia membelok ke jurusan lain. bahwa kalau kami datang lagi nanti. cepat sekali." "Beliau mengerti benar soal itu.property of: CROSSFiRE. ia bertanya. Tolong sampaikan pada beliau. Tapi beliau sekarang sedang menghabiskan umur tuanya dengan menyendiri. tuan-tuan rumah itu hampir tidak melihat kepergian Otsu. Ini dari halaman puri. ya?” Melihat tangan Otsu. Ebook by Kang Zusi . Otsu tertawa pelan sendiri. karena kami berasal dari keluarga samurai. meskipun ingin minum teh dengan Anda. Mudah-mudahan Anda dapat tersenyum maklum kepada orang tua ini. dan kedua. "Tidak. Kocha pergi ke petak pembantu dan memperlihatkan bunga itu pada semua orang di sana.” “Oh. karena tak ada orang lain di sana kecuali prajurit-prajurit yang tak kenal enaknya teh. ha!" ucap Denshichiro seraya memperlihatkan wajah curiga. Boleh ambil kalau kamu suka.” “Ya. "Aneh! Sampaikan pada beliau." "Ha. Musashi duduk di jendela sambil bertopang dagu. “Apa itu bunga peoni? Saya baru tahu ada yang putih warnanya. Dipandangnya lantai hitam mengkilat yang menuju kamar tinggal Musashi. menggantungkannya di sadel.

karena dalam sekejap mata Musashi sudah menghunus pedang pendeknya.” “Baik. Ia tampak tenggelam sepenuhnya di situ. ia bertanya. kamu saja.” “Ini namanya peoni. ketika melihat gadis yang kebingungan itu. kilas baja dan bunyi pedang yang mendetak masuk kembali ke dalam sarungnya itu seakan-akan terjadi serentak.” kata Kocha sambil membawa jambangan itu keluar. Kalau kubelikan kamu kue nanti. mau kamu memaafkan aku? Biar bagaimana. ia sudah melepaskan bunga itu dan mencucurkan air mata. “Bunga?” Dan ditunjukkannya bunga peoni itu. Secara kebetulan mata Musashi tertuju pada pangkal batang peoni yang terpapas. "Kamu tahu. biar kupotong. saya akan ambil air. Nanti kalau kamu dirikan. memotong pangkal bunga yang ada di antara kedua tangan Kocha.” “Tidak. walaupun belum dapat ia memastikan apa gerangan yang memikat perhatiannya itu. memekik keras. “Hmm. “Tuan suka bunga?” tanya Kocha ketika masuk. peoni putih. dan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. bunga sudah bisa disusun sekarang." "Salah seorang samurai itu?" "Tidak. Lebih baik menyusunnya tanpa berpikir bagaimana jadinya. seorang perempuan muda. ia minta maaf dan membelai-belai kepalanya." "Siapa yang memberi?" "Orang dari puri. Akhirnya. Musashi memungut potongan batang bunga yang telah diirisnya dan mulai membandingkan ujungnya dengan ujung yang lain. tapi kurang berhasil. akan tampak pantas. Coba masukkan dalam jambangan. Inc. netcafe. Kepalanya miring terkejut. Bagi Kocha. Lalu kamu pikir bunga itu dari puri?" "Ya. Selesai membujuk gadis itu agar tidak menangis lagi. Minat yang hanya sambil lalu itu telah berubah menjadi pemikiran asyik ketika Kocha kembali. “Bawa kemari. Kocha meletakkan jambangan dalam ceruk kamar dan mencoba memasukkan bunga itu ke dalamnya. bagus ini.” “Betul? Kenapa tidak kamu masukkan jambangan di sana itu?” “Saya tak bisa menyusun bunga. Kocha membawa bunga itu dan menyampaikannya kepada Musashi.” kata Musashi.” “Tuan suka?” “Ya. Tanpa mencoba menghibur gadis yang ketakutan itu. siapa yang memotong bunga ini?" "Tidak." "Maaf aku sudah bikin kamu takut tadi. dia yang mengatakan. Sungguh ajaib. “Batangnya terlalu panjang." Ebook by Kang Zusi . Belum lagi sadar akan apa yang terjadi. Tuan saja yang menyusun.property of: CROSSFiRE." "Mm. Bunga ini pemberian orang.

"Bagaimanapun. Mulailah terbentuk di hadapan matanya bayangan seseorang. "Kamu!" seru Otsu. waktu kedua ujung potongan itu dibandingkan. Ia yakin potongan yang pertama tidak dibuat dengan gunting atau pisau. Dan karena Munenori maupun Hyogo tak ada di rumah. ia berkata. Memandang wajah Otsu dalam mata pikirannya itu menenangkan semangatnya dan menyejukkan sarafnya. apa gerangan makna yang tersembunyi di situ. "Anda kan Kakak yang main suling itu. maka taraf Keluarga Yagyu tentunya lebih tinggi lagi daripada yang kuduga. Sekali lagi ia mencoba mencari jalan untuk memperoleh izin masuk purl. netcafe. ketika tiba-tiba didengarnya pekikan parau di belakangnya." Namun selangkah demi selangkah ia pulih kembali dari perasaan itu. Siapa pun yang telah melakukannya. dan kelihatan olehnya seorang anak muncul dari rumpun pohon di kaki sebuah batu karang. bagus itu. sekadar untuk memenuhi keingintahuannya. betul. Tapi bagaimana ia bisa melakukannya? Biarpun seorang siswa sudah datang di ambang pintunya dan memperkenalkan diri baik-baik. aku dapat menjatuhkan diri ke kaki mereka dan menerima kekalahan dengan keanggunan. tak ada lagi yang mesti ditantang kecuali Sekishusai sendiri. kan? Lalu kenapa pakaianmu kamu tanggalkan?" Ebook by Kang Zusi . dan hanya hantaman yang sangat mantap saja dapat membuat irisan yang demikian bersih. Jotaro telanjang bulat. sebelum akhirnya memalingkan muka karena malu. tapi kilasan pedangnya itu membikin tubuhnya dingin sampai ke tulang sumsum. dengan guru saya. Pandangan matanya kembali ke bunga di dalam ceruk kamar. Ia bertanya pada diri sendiri. termasuk mati." "Menangis? Saya tidak menangis!" "Ya sudahlah. orang-orang Yagyu itu lawan yang layak. kemudian langsung memandang Otsu. Kamu bilang sedang belajar seni pedang. tapi karena anak-anak di wilayah itu terlampau pemalu untuk menyapa seorang perempuan muda seperti dirinya. karena secara tak sadar ia diingatkan oleh bunga itu." Sementara duduk memanas-manaskan keberaniannya. Sudah berapa lama kamu di sini?" "Baru kemarin datang. Sekalipun ia sendiri baru saja mencoba meniru potongan itu dengan pedangnya. Anak itu jelas datang untuk menemui Otsu. walaupun telanjang. "Anak kecil yang menangis di jalan raya Yamato itu. Batang bunga peoni itu lentur dan luwes. Tanpa malu." "Sendiri?" "Tidak.property of: CROSSFiRE. maka potongan itu hanya mungkin dilakukan dengan pedang. "Aku sama sekali belum siap." "O ya." Sebenarnya Kocha menyukai Musashi. Apa Kakak masih tinggal di sini?" Ia memandang kuda Otsu dengan sikap tak suka. Ia meninggalkan kamar itu dan tak ingin kembali sampai tugas benar-benar memaksanya. "Jika seorang samurai yang bekerja di kebun puri dapat melakukan potongan seperti itu. Ia menoleh. "Begini?" "Ya. bukanlah orang biasa. maka Otsu sengaja menghentikan kudanya. Otsu sendiri sedang dalam perjalanan pulang ke Puri Koyagyu. segera ia sadar bahwa potongan yang dilakukannya masih kalah jauh. belum tentu Sekishusai setuju bertanding. ia merasa dirinya jadi tambah bersemangat. Perbedaannya seperti patung Budha hasil ukiran ahli dan patung buatan tukang kebanyakan saja. Inc. Rambutnya basah dan pakaiannya digulung bulat terkepit di ketiaknya." Dan tiba-tiba saja keyakinan dirinya buyar. Kalaupun aku kalah nanti. Aku toh sudah memutuskan bersedia menghadapi apa pun. Pemilik penginapan itu cukup banyak bercerita. Musashi jauh lebih terpesona oleh potongan batang bunga yang delapan inci panjangnya itu daripada oleh bunga di ceruk kamar.

"Oh. Inc. Ketika dia membaca surat itu. ia pergi melapor ke Sekishusai. tapi jangan sampai kamu tampil seperti sekarang ini." "Lho." Sejenak kemudian. ia bertanya. "Apa anak Yoshioka itu memegang bunga itu dan melihatnya?" tanyanya." "Bukan berenang. "Jotaro. dan dibangun kembali kira-kira waktu Sekishusai berumur empat puluh tahun. seakan-akan teringat sesuatu. Saya tak suka tempat-tempat yang orangnya cerewet. keringat saya bau. mereka marah! Bagus! Biar mereka marah. datanglah ke tempatku di puri sekali-sekali. Kilau kayu yang terbentuk bertahun-tahun lamanya itu mencerminkan kekerasan orangorang yang telah memperoleh latihan di situ. "Apa bunga peoni itu kamu buang?" Otsu menjelaskan bahwa bunga itu telah ia berikan kepada pembantu di penginapan. Aku sedang disuruh." "Kalau begitu. netcafe. Keluarga Yoshioka itu boleh dikatakan sudah berakhir dengan matinya Kempo. katanya." "Kalau begitu. Tak ada gunanya dia ditemui. Dojo itu terletak di pekarangan luar puri. Sesudah mengembalikan kudanya ke kandang. saya mandi. ia sudah menyayangkannya." Otsu merasa lega. boleh." "Dia tidak memeriksanya atau mengatakan sesuatu tentangnya?" "Tidak. Bangunan itu pun cukup luas untuk dipakai sebagai barak para samurai di masa perang. "Ya. aku baru dari sana. Jadi." "Apa boleh saya datang?" Baru saja Otsu mengucapkan kata-kata itu. Sekishusai tertawa. dengan tekad!" demikian Shoda Kizaemon Ebook by Kang Zusi . Orang di sini bisa tertawa mendengar orang berenang musim begini." "Sayang sekali Kakak tidak bertemu kami." "Lalu?" "Dia cuma mengembalikannya pada saya. "Yang enteng! Bukan dengan ujung pedang! Dengan tekad. memang sudah benar aku menolak bertemu dengan dia.property of: CROSSFiRE. tapi katanya. Senyuman masih tampak pada wajahnya ketika ia mengendarai kudanya melewati gerbang puri. Bagaimana kalau kembali lagi dengan saya sekarang?" "Tak bisa sekarang. tak mau saya ke sana. Guru saya bilang." Otsu mendecap. "Mana mungkin saya terjun ke sungai dengan pakaian lengkap?" "Sungai? Tapi air sungai tentunya sedang membeku sekarang. Tak ada yang bisa mereka perbuat dengan itu. dan Sekishusai mengangguk setuju. Balok kekar yang dipergunakan untuk membangunnya memberikan kesan tak terhancurkan. karena itu saya ke sungai. "Di mana kamu tinggal?" "Di Wataya." Dojo Yagyu dapat dengan tepat dilukiskan: megah." "Dia tidak melihat batangnya?" "Setahu saya tidak. selamat berpisah!" kata Jotaro dan terus membalik untuk pergi. kalau begitu pendapat Kakak. "Jadi. "Ya.

yang sekalipun sudah setengah sadar dan mandi keringat. namun terus juga beradu. Pelatih kuda Yagyu. rata-rata samurai tahu bahwa bekerja pada Keluarga Yagyu bukanlah sesuatu yang mesti diterima enteng. Langkahhngkah diambil. dan orang-orang yang kini bekerja pada Yagyu adalah hasil saringan yang sangat cermat. Kimura Sukekuro. "Betul begitu?" Kemudian kepada pengawal. dan dijadikan sasaran caci-maki yang tidak sedikit. Semua itu ditambahnya dengan beberapa teknik pribadinya sendiri. dan keduanya bertemu lagi seperti api dengan api. "Hei. Sebetulnya benda itu tongkat kulit tak bergagang dan tak berpelindung tangan. Prajurit biasa dan tukang kuda pun orang-orang yang sudah lanjut dalam mempelajari seni pedang. Di bawah pengawasan Sekishusai sendiri ia kemudian mempelajari rahasia-rahasia Gaya Yagyu. "Ya. Tak perlu disebutkan lagi. terus begitu! Terus macam itu! Sama dengan yang tadi!" demikian Kizaemon mendorong para siswanya. kamu bawa anak ini kemari atas kehendak dia sendiri? Hei." jawab Jotaro sesuai dengan kenyataannya. Tongkat itu berupa kantong kulit panjang tipis yang diisi belahan-belahan bambu. Sebagai gantinya. Merobohkan lawan dengan memukul kakinya mendatar diperbolehkan. Inc. mereka menggunakan tongkat yang dibuat khusus untuk Gaya Shinkage. para samurai Yagyu belum diakui sebagai pemain pedang sebelum mereka membuktikan kesanggupannya menempuh cara hidup yang tak kenal ampun. Tidak ada batasan mengenai bagian tubuh mana yang dapat diserang oleh petarung. meraungkan perintah-perintah marah kcpada dua pemain pedang yang bercita-cita tinggi. namun kedua orang itu memilih tinggal di Yagyu. seorang pejabat lain yang relatif tak penting. para pemula tidak diizinkan menggunakan pedang kayu. yang walaupun dipekerjakan sebagai penjaga gudang. netcafe. kabarnya lawan tangguh Hyogo. yang di sana itu!" seru Kizaemon pada seorang pengawal yang lewat di luar. "Apa kerjamu dalam puri ini?" tanya Kizaemon tajam. mempelajari seni pedang sejak kanak-kanak dan dapat menggunakan sebuah senjata yang perkasa. "Kenapa kamu bawa dia kemari?" "Dia bilang mau bertemu Tuan. "Halo!" seru Jotaro dengan seramah-ramahnya. Tongkat ini kurang berbahaya dibandingkan dengan pedang kayu. Keluarga Yagyu yang kini mencapai puncak peruntungan itu sudah menghasilkan jajaran pemain pedang besar yang kelihatannya tanpa henti. Ia rupanya terkejut melihat Jotaro yang berjalan mengikuti samurai.property of: CROSSFiRE. Debuchi Magobei. Karena itu." "Maksudmu. Yang Dipertuan Echizen telah mencoba membujuk Debuchi untuk bekerja padanya. dan Keluarga Tokugawa dari Kii telah mencoba memikat Murata pergi dari situ. Kizaemon bertanya. Para pendatang baru jarang bertahan lama. namun masih dapat menghilangkan telinga atau mengubah hidung menjadi buah delima. meskipun keuntungan materilnya lebih kecil. Nak!" Ebook by Kang Zusi . "A-o-o-oh!" "Y-a-a-ah!" Di Yagyu. tidak pernah dipuji. Shoda Kizaemon duduk di podium yang ditinggikan sedikit dan mengenakan jubah dalam dan hakama. Para pemula diajar sangat keras. senjata disiapkan. Lagi pula. Shoda Kizaemon adalah pemain pedang yang sudah jadi dan telah menguasai Gaya Shinkage pada umur sangat muda. Kebiasaan yang berlaku di sini adalah tidak membiarkan orang meninggalkan tempat sebelum la hampir roboh. dan tidak ada peraturan yang melarang melabrak orang yang sudah jatuh. "Sekali lagi! Tadi itu salah sama sekali!" Sasaran cacian Kizaemon itu dua samurai Yagyu. juga seorang ahli seperti halnya Murata Yozo. dan kini ia dapat bicara dengan bangga tentang "Gaya Shoda Sejati". "Orang di pintu gerbang yang membawa saya masuk.

" Ia berhenti bicara. Kalau murid datang ke rumah ini. kalau begitu Tuan lihatlah surat ini. dan di sana ada tempat untuk menginap semalam-dua malam. Inc. anak bandel yang pintar sekali kamu. kemudian melanjutkan. Sebabnya aku tak perlu membaca surat itu. dia mendapat sedikit uang untuk bantuan dalam perjalanan." "Kenapa? Apa Tuan tak bisa baca?" Kizaemon mendengus. "Tidak. dia masuk lewat gerbang utama. apa tidak lebih sopan kalau membacanya?" "Murid di tempat ini meruap seperti nyamuk dan belatung." "Coba sini. karena itu akan kusebutkan padamu apa isi surat itu. Ebook by Kang Zusi . kan? Biar begitu. takkan dapat aku melakukan yang lain. kalau Tuan bisa baca. la menggelengkan kepala dan mengangkat bahu kanannya sedikit." "Kenapa tidak Tuan lihat surat ini? Mungkin isinya lain sekali dari yang Tuan duga. karena aku sudah tahu isinya. jadi tak perlu aku membacanya. Baik? Isinya." "Ini bukan tempat main.property of: CROSSFiRE. "Nah. netcafe. jangan sampai dikarakan Keluarga Yagyu dengan darah dingin menolak orang-orang yang datang bertamu kepada mereka. Ada papan nama tergantung di bangunan itu. dia akan sangat berterima kasih mendapat pelajaran di sini. Saya bawa surat dari guru saya. dia bebas untuk beristirahat sebentar. dia murid yang mengembara itu. Saya bukan anak pengemis!" "Kuakui kamu punya kecakapan menggunakan kata-kata. Kalau kusediakan waktu buat berlaku sopan pada mereka semua." "Oh. ingin walaupun hanya sesaat bersenang-senang di bawah bayangan guru terbesar di negeri ini. penulis ingin diizinkan melihat dojo yang sangat indah di sini." "Untuk apa?" Jotaro pun merasa menyesal telah melangkah demikian jauh. "Coba Tuan dengar!" "Ha?' "Tuan tak boleh menilai orang lain dari penampilannya. yang mesti kamu lakukan adalah memberikan surat itu kepada pengurus di Shin'indo-mengerti?" "Tidak!" kata Jotaro. kamu tak dapat memotong kepalaku. Tuan." Mata Jotaro membundar. Lalu apa yang akan Tuan lakukan nanti? Apa akan Tuan suruh saya memotong kepala Tuan?" "Tunggu dulu!" Kizaemon tertawa." "Nah." "Biar begitu. Kukira itulah kira-kira isi surat itu." "Tapi saya datang bukan buat bermain. "Minta kepada penjaga di sana supaya menjelaskan padamu semuanya. lalu terus ke gerbang tengah yang di sebelah kanannya ada bangunan yang namanya Shin'indo. Kalau murid itu minta kepada pengurus di sana. Pergi kamu dari sini. Kalau dia pergi. Sekarang." "Dari gurumu? Kamu pernah bilang. Tapi aku kasihan padamu. silakan baca. "Apa itu isi surat ini?" "Ya. dan untuk kepentingan semua pengikut yang akan menempuh Jalan Pedang. kan?" "Silakan Tuan lihat suratnya. seakan-akan sudah terlatih mengucapkan pidatonya. Wajah dan mulutnya yang merah di balik jenggotnya yang seperti paku itu tampak seperti bagian dalam buah berangan yang sudah pecah." "Tak perlu. "Ya.

"Surat ini ditandatangani oleh 'Shimmen Musashi'. dan dengan diam ia baca pesan Musashi." kata Debuchi. Shoda?" "Tidak. netcafe. Sekali lagi ia memandang batang peoni itu. "Aneh juga tulisan ini. kan?" "Kamu pintar sekali menggunakan lidahmu. Ia tidak sepenuhnya dapat memahami makna surat Musashi. dan tak ada permintaan untuk bertanding. namun ia tak dapat membedakan apakah ujung yang satu berlainan dengan ujung yang lain." "Ya." Jotaro cepat-cepat mengeluarkan batang peoni dari dalam kimononya. dan sekali lagi ia memeriksa kedua ujungnya baik-baik. Inc. Selagi membaca. ya. Hanya itu-tak ada disebutkan bahwa si penulis seorang murid. "Coba lihat ini. "Apa menurutmu Musashi yang sudah membantu para pendeta Hozoin membunuh semua jembel di Dataran Hannya itu? Tentunya dia!" Debuchi dan Murata berganti-ganti mengambil surat itu dan membacanya kembali. aku ingat. Tapi aku tidak melihat beliau memotongnya. Selesai membaca ia bertanya. dan saya merasa harus menemukan orang yang telah melakukan pemotongan itu. Aku akan membacanya. saya merasa mendapatkan suatu semangat khusus darinya. "Mari kita perlihatkan kepada Kimura. ini satu dari dua bunga yang beliau potong. dan rupanya hal ini cukup jelas bagi orang yang matanya memang Ebook by Kang Zusi . Wajahnya tampak agak heran. tapi la terpaksa mengaku tidak melihat beda kedua potongan itu. kalau kamu besar nanti. dan ketika ia memeriksa batang bunga itu." kata Kizaemon. "dan dia betul-betul dapat menyatakan bahwa batang ini sudah dipotong oleh seorang ahli. Tanpa mengatakan sesuatu. "Apa kamu bawa yang lain disamping surat ini?" "Oh. saya lupa! Saya mesti menyampaikan ini juga. siapakah di antara anggota rumah tangga Tuan yang sudah melakukannya. Debuchi yang kebetulan ada di kamar itu mengatakan. Apa bisa kamu melihat beda antara potongan di kedua ujung batang ini? Apa barangkali yang satu tampak lebih tajam?" Murata Yozo mengamat-amati batang bunga itu." "Kalau apa yang dinyatakan surat itu benar." Mereka pergi ke kantor di belakang bangunan itu dan mengajukan soal itu kepada rekan mereka di sana. Tiba-tiba ia menengadah dengan mata kaget. "Ya." "Nah. dan yang lain beliau suruh Otsu bawa ke Yoshioka bersama surat. Surat menyatakan lagi: Sesudah memasukkan bunga itu ke dalam jambangan. ia melihat bahwa potongan bunga itu dibuat oleh "orang yang bukan orang biasa"." kata Kizaemon. Beliau masukkan yang satu ke jambangan di kamar beliau.property of: CROSSFiRE. tapi kalau Tuan tidak berkeberatan menyampaikan kepada saya. "Ini salah satu bunga yang dipotong oleh Yang Dipertuan sendiri kemarin dulu." pikir Kizaemon. Kita harapkan. wajahnya menjadi sunguh-sungguh. kamu dapat berbuat sama dengan pedangmu. saya akan sangat berterima kasih kalau Tuan mengirimkan balasannya lewat anak yang membawa surat int. "Kelihatannya dia luar biasa." gumam Murata. ketika ia mulai membaca surat Musashi lagi. Guru Tua itu yang memotongnya sendiri. "Aku kagum dengan tekadmu untuk tidak membiarkan pesan gurumu tak disampaikan. Surat itu menjelaskan bahwa pelayan penginapan telah memberikan kepadanya sekuntum bunga yang katanya berasal dari puri. Kizaemon memeriksa kedua ujung batang itu." "Kenapa pula tidak? Tuan pejabat paling tinggi dalam Keluarga Yagyu. yang sementara itu sama kagumnya dengan mereka." katanya." Kizaemon melepaskan meterai surat itu. "Tulisannya memang berwatak. aku memang melihat beliau mengatur bunga. tentunya dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Persoalan ini bisa saja kelihatan remeh. "Murata!" panggilnya. Apa engkau tidak bersama beliau waktu itu.

Kocha memburunya dan mem perhatikan goresan-goresan di wajahnya dengan Ebook by Kang Zusi . dan Jotaro menutup mukanya dengan tangan dan buru-buru meninggalkan kamar. Kemungkinan besar Musashi dengan senang hati datang. Kim giliran Jotaro yang jadi marah. Jotaro menebaskan pedangnya ke kepala anjing. Suruh dia masuk. Kemudian. benar-benar dapat melihat. Ia menarik pedang kayunya dan mengancamnya ke kepala anjing. Bunga-bunga iris sudah berkembang di sana.. dan segera kemudian lolongan kesakitan anak itu sudah mengalahkan lolongan si anjing. seekor anjing hitam besar mencium baunya dan datang mengendusnya. menggigit obi-nya. tapi anjing itu terus menempelnya. "Anak itu ada di luar. Ingin aku bertemu dengannya. Anjing suka dengan permainan itu. Merasa mendapat teman baru. Sambil melepaskan diri ia gigit tepian kimono Jotaro dan ia tarik sekuat-kuatnya. dan bunga-bunga azalea liar mulai berkembang. katanya." Selagi duduk menulis jawaban. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang anjing itu. Sementara ia bicara. Anjing meloncat ke punggung anak itu. dan menjatuhkan Jotaro ke tanah. sedang hidungnya tampak seperti buah arbei masak." Musashi membuka surat Kizaemon. Musashi tidak mengajukan pertanyaan." sambung Murata. Kizaemon berkata. "Cukup sekian saja?" tanyanya. Sambil mengutuk. Ia melaporkan sudah melaksanakan tugasnya. anjing itu sudah menyerangnya lagi. hingga menarik perhatian para pengawal. melainkan menanyakan pendapat Kimura. Terima kasih. "Mari kita kirimkan jawaban sekarang juga. tapi karena ia tidak memberikan penjelasan. Tak sangsi lagi. dan Yang Dipertuan pasti tidak keberatan kalau beliau mendengar tentangnya. Ia mencoba meloloskan diri.. "Ya. namun tak ada alasan kenapa mereka tak dapat mengundangnya makan atau menikmati sake di Shin'indo. Jotaro menangkapnya lagi dan melemparkannya dua-tiga kali lagi. Jotaro duduk di depan Musashi dengan wajah puas. "Hm." Kata Debuchi. sekian saja. Anjing menganggapnya sungguhsungguh dan mulai menyalak keras-keras. sambil memegang kedua rahang anjing itu. pesta buat kita juga. ia pasti kesakitan. Inc. "Lamanya mereka itu." Beberapa menit sebelumnya Jotaro memang sudah menguap dan menggerutu. dan kita dapat juga meminta dia menceritakan peristiwa yang terjadi di Dataran Hannya. Mereka bisa mengadakan pesta kecil dan bicara tentang seni pedang dan hal-hal lain seperti itu. Kedengaran seperti pedang itu menghantam karang." Sementara itu." desaknya. Jotaro bicara dengan anjing itu dan menarik telinganya supaya maju mendekat." Namun Debuchi tak hendak melibatkan dirinya seorang. menyalak sekarang!" Perbuatan itu membuat si anjing marah. "Kamu kira apa aku ini? Tidak boleh kamu lakukan itu!" serunya. Darah mulai mengalir dari antara jari-jari yang menutup muka Jotaro.. Dengan begitu kita dapat mengecek soal itu. Gema salaknya memantul-mantul melintasi pegunungan. dan katanya. kemudian merangkum anjing itu dan melemparkannya. "Ayo kita bergulat. Kizaemon menepuk lututnya. Belum lagi Jotaro sempat berdiri. "Nah. "Ini jawaban mereka. Kimura menyatakan bahwa karena mereka tidak pernah menerima shugyosha. netcafe. Jotaro berkata. Beberapa goresan menyilangi muka anak itu. luka-lukanya mulai berdarah lagi." kata Jotaro sambil menyerahkan kepada Musashi surat Shoda Kizaemon serta menambahkan beberapa patah kata tentang pertemuannya dengan samurai itu. dan Jotaro dengan bingung mencoba melindungi wajahnya dengan kedua belah tangannya.property of: CROSSFiRE. bagian 7 Pembalasan Jotaro KEMBALI di penginapan. maka tidak dapat mereka menerimanya sebagai tamu di ruangan praktek." "Jadi. "Saran yang baik sekali.

property of: CROSSFiRE. Jerami berhamburan menutupi kepala mereka. Tangan mereka bersentuhan." "Anjing siapa?" "Salah satu anjing di puri. Tak seorang pun kelihatan. tapi aku suka kamu. dia sudah menggigit tukang-tukang rampas sampai mati!" Walaupun hubungan mereka berdua tidak begitu balk. di tengah malam. "Tuanmu barangkali akan segera pergi. dan diberinya Kocha beberapa pukulan keras di pantat." "Biar kita banyak berkelahi. "Kami masih akan tinggal di sini sebentar. "Aku ingin kamu bisa tinggal di sini setahun atau dua tahun. seperti wajah orang bijaksana dalam agama Kong-Hu-Cu." kata gadis itu mengaku. Musashi berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Aku yakin. dan dengan mengangkat kepala sedikit ia mencuri pandang pada tuannya. Kamu kan lelaki. Sekali. Oh. netcafe. menatap langit-langit dengan pemusatan penuh. geblek. apa bukan anjing Kishu yang besar hitam itu? Dia memang jahat. Jotaro bersikap sopan. "Kenapa mukamu itu?" tanyanya." "Tapi aku menghargai sekali jasamu. terus gigit lagi! Gigit lebih keras!" Jotaro memenuhi permintaannya dan menyentak-nyentak jari-jari gadis itu seperti anak anjing." "Kamu tidak keberatan?" "Tidak. dan perbuatan itu lucu kelihatannya. apa yang kalian lakukan ini? Kalian ini masih anak-anak!" Diseretnya mereka keluar pada tengkuknya." jawab Jotaro. Jotaro terbangun." "Tak apa-apa. Tanpa peringatan lagi ia menarik tangan Kocha dan menggigit jarinya. pandangan kuatir. ketika ayah Kocha datang mencari anaknya. Seterusnya hari itu Musashi sedikit sekali bicara dengan orang lain. tidak. takkan dapat kamu menandinginya. dan tak lama kemudian mereka sudah saling peluk." Keduanya lalu masuk gubuk tempat menyimpan makanan kuda. "Seekor anjing menyerangku." "Oh. ya?" tanyanya dengan nada kecewa. dan di sana mereka berbaring telentang di atas jerami. Kocha mengantar Jotaro ke kali dan menyuruhnya membasuh wajahnya. "He. Ia duduk saja dengan tangan terlipat dan berpikir. Sesudah gadis itu selesai menolongnya. biarpun kamu kuat. tanpa ada maksud lain. "Ohh!" "Sakit ya? Maaf. Kemudian ia pergi mengambil salep dan mengoleskannya ke wajah Jotaro. Gigit sekali lagi. Matahari bersinar lewat kembang persik merah muda. Jotaro membungkukan badan berulang-ulang untuk mengucapkan terima kasih." "Betul?" Bagian-bagian wajah Jotaro yang tidak terkena salep berubah menjadi merah tua. dan pipi Kocha jadi manyala. "Hentikan angguk-angguk itu. Ngeri melihat pemandangan itu. Ebook by Kang Zusi . "Aku suka kamu juga. ekspresinya berubah keras. Inc. dan rasa hangat menyengat tubuh Jotaro. berusaha meyakinkan Kocha.

Aku yakin kami sudah banyak mengganggu. sampai penginapan tidak kelihatan lagi. namun Musashi dapat melihat bahwa puri itu menekankan sekali pendidikan. kepala penginapan dan dua pelayan lain berbaris mengantar mereka." Musashi berhenti dan berdiri di depan gerbang. kedua kakinya dirapatkan. pohon-pohon besar memperdengarkan bunyi desir. menyembunyikan air matanya. Jotaro mengikuti dengan murung. ia menjawab tidak. Sesudah berjalan sebentar. sedang mengucapkan selamat berpisah pada Kocha. Disamping fungsi-fungsi lainnya. Ebook by Kang Zusi . Shin'indo merupakan tempat bagi para pemuda puri untuk mempelajari agama Kong-Hu-Cu. Itu tergantung perkembangan nanti. netcafe. Musashi berseru. dan saya datang kemari atas undangan Shoda. Beberapa waktu kemudian Musashi bertanya. mereka cepat-cepat saling memisahkan diri. Musashi berjalan terus tanpa berkata-kata dan tidak sekali pun menoleh ke belakang. Kocha bertanya. Karena tidak melihat anak itu." "Apa kita pergi ke puri itu?" "Ya. Kamar-kamar di sepanjang lorong yang menuju belakang bangunan itu semuanya didereti rak-rak buku." Pengawal itu memang sudah menantinya. Ketika ditanya apakah ia menghendaki makan malam." katanya sambil memberikan isyarat kepada Musashi untuk mengikutinya. Inc. atas pelayanan yang balk. Segala sesuatu dalam puri kelihatan diliputi sejarah. Walaupun takut kepada mata Musashi. Terima kasih. Sangat aneh bagi mereka bahwa kedua tamu itu berangkat tepat sebelum matahari tenggelam. "Selamat tinggal. Itu gerbangnya." "Itu. Kocha. Anak itu berada di bawah gudang. Sambil berdiri menganggur di sudut kamar. Ia menutupkan tangannya ke muka. dan seorang pengawal muncul. Musashi menoleh mencari Jotaro. Lampu-lampu mulai bermunculan dalam lembah itu. dan juru tulis datang membawanya. "Tuan tak akan pulang tidur malam ini?" "Tidak. "Mereka sedang menanti Anda. "Nama saya Musashi." kata Kocha. anak itu tak dapat tidak mencuri pandangnya ke belakang. saya sudah datang. Sambil menyerahkan surat dari Shoda Kizaemon ia berkata. "Apa kita belum sampai?" "Di mana?" "Di gerbang utama Puri Koyagyu. Hari berikutnya pun Musashi tetap menyendiri. "Selamat jalan. Tempat itu juga menjadi perpustakaan tanah perdikan tersebut. ia kembali ke penginapan." seru Jotaro sambil berlari ke sisi Musashi." rom "Jaga diri Tuan baik-baik. Selamat tinggal. Seberkas cahaya tunggal menyorot dari sebuah jendela persegi. Jotaro ketakutan. Sorenya Musashi menyuruh anak itu minta kuitansi mereka dan bersiap-siap berangkat. Sekalipun Keluarga Yagyu termasyhur berkat kecakapan militernya.property of: CROSSFiRE. Melihat Musashi mendekat. Di atas benteng yang ditumbuhi lumut. Minta tolong disampaikan kepadanya." kata Kocha. Kemungkinan gurunya sudah mendengar tentang bagaimana ia main dengan Kocha di dalam gubuk. Namun Musashi tidak mengatakan apa-apa. Di pintu gerbang." "Apa kita akan menginap di sana malam ini?" "Tak tahu aku.

"Di desa ini. bahkan dari lampu. sekadar memenangkan waktu. Sesudah ketiga orang lain memperkenalkan diri. Pengawal kembali beberapa menit kemudian. bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa potongan batang lunak dan kecil itu dibuat oleh guru pemain pedang. Musashi menggeser bantal bundar itu ke sebuah sudut dan bersandar pada tiang. "Siapakah Yagyu itu?" tanyanya dengan mata menantang. Kami semua terkesan oleh kemampuan Anda melihatnva. berwarna putih dan lembayung muda. Tapi malam ini aku akan maju selangkah ke depan dan meninggalkan Yagyu di belakang. Jotaro ditinggalkan di kamar tunggu pembantu. "Potongan itu bagus sekali!" Kimura mendekat. "Begitu. Kami berpendapat akan sangat membantu pendidikan kami di masa depan kalau Anda dapat menjelaskannya pada kami. dan Murata hampir bersamaan. "Dia pemain pedang. dari dinding. Bau wisteria yang manis itu mengambang di udara. Inc. Debuchi. Sake di situ merupakan hasil rebusan sendiri. "Selamat datang di Koyagyu. "Yang ingin saya ketahui adalah. Dari cahaya lampu rendah yang bersinar ke halaman ia dapat melihat lilitan tanaman wisteria yang sedang berkembang. "Kelihatannya Anda biasa juga minum." Karena belum tahu benar ke mana arah pembicaraan itu. Sungai agaknya mengalir di bawah bangunan. ya? Betul?" "Ya. Air terdengar berkericik di suatu tempat di halaman. Pada waktu memasuki sebuah rumah untuk pertama kali. agak seperti sirup. tak salah lagi!" kata Kizaemon.property of: CROSSFiRE. sikap sopan santun pengawalnya. Sesudah diajak. Dan segala sesuatu kelihatan terurus baik. yang lain-lain pun mendorongnya untuk merasa senang dan tidak berkukuh pada upacara. dan aku pun pemain pedang. terdengar olehnya bunyi air mengalir di bawah dirinya." kata Kizaemon. para pelayan mendatangkan berbaki-baki sake dan penganan. dan pemberian lampu yang cermat. "Kami sendiri tidak melihat ada hal khusus di situ." kata Kimura Sukekuro. kadang-kadang seorang tamu merasa sudah kenal baik dengan tempat itu dan para penghuninya. Musashi berkata. dan menawarkan untuk mengisi lagi mangkuknya. Namun tak lama kemudian terasa olehnya bahwa bunyi itu datang dari langit-langit. saya mendengar bahwa peoni yang Anda tanyakan kemarin dipotong sendiri oleh Yang Dipertuan puri ini. Dari bantalan pada tiang itu ia memandang ke sekeliling dengan hati bertanya-tanya. tapi kami harap Anda kerasan. "Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa dibutuhkan seorang jenius untuk mengenali jenius yang lain. kemudian meninggalkannya sendiri. Itulah semangat juang yang tak terpuaskan. kalau dinilai dari kerapian jalan dari gerbang sampai Shin'indo. Dalam hal ini kami sama. yang diterimanya dengan ucapan terima kasih." Ebook by Kang Zusi ." Musashi menepuk lututnya. damai." Shoda Kizaemon masuk ke kamar bersama Kimura. Sake malam itu cukup lezat. Debuchi." Dengan penuh kehangatan. Ia merasa sejuk dan santai. tapi tidak begitu lekas mendatangkan akibat kepadanya. Di perjalanan. melainkan karena ia masih terlalu muda untuk dapat menghargai kehalusan rasanya. ketika ia duduk di lantai kayu dalam kamar besar yang ditunjukkan kepadanya oleh pengawal. Bukannya ia membenci sake. sekalipun dalam suasana setenang itu. "Memang sudah saya duga!" serunya. Pengawal menyerahkan kepadanya bantalan bundar keras dari jerami. netcafe. Musashi pun mau menerima sedikit sake. pekat. "tak banyak yang dapat kami suguhkan." "Maaf. Namun jauh di dalam dirinya menindih suatu perasaan gelisah yang tak dapat ditekan." kata Kizaemon. Sesudah ia duduk tenang. la kaget mendengar dengkung katak. dan Murata. di sekitar menara utama. Musashi mendapat kesan itu sekarang. sekalipun ia tidak suka benar minuman itu." kata Kizaemon hangat. dan mengatakan kepada Musashi bahwa tuan rumah akan segera datang. Dengkung pertama tahun itu. "Omong-omong. dan dihidangkan dalam mangkukmangkuk besar gaya lama yang tinggi pegangannya. kami membiarkan Anda menanti. yang mengalir dalam nadinya.

Haruskah ia menyodok salah seorang dari tuan rumah itu supaya naik darah? Itu sukar kalau ia sendiri tidak sedang marah. sedangkan Musashi merasa sangat terpesona mendengarkannya. "Tentang perasaan Anda itu. Shoda dan Debuchi memilih tertawa. tentang peristiwa-peristiwa di provinsi-provinsi lain. mengagumi pembawaannya. cerita-cerita mereka terdengar bagai kebenaran yang pahit. kalau beliau sedang berkunjung. Sake pun diundurkan. sehitam tinta cumi-cumi. pernyataannya tentang keharusan mengujinya tidak dapat disangkal lagi merupakan tantangan. Tak seorang pun dari keempat orang itu mau kena provokasi untuk melakukan sesuatu yang kurang pikir. Mereka sudah mengamati fisiknya. ia sadar bahwa waktu berlalu dengan cepat. Dengan pedangnya sendiri ia ingin membuat Sekishusai. ia menghendaki bintang kemenangan yang cemerlang. "Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" pikir Musashi. tentang Pertempuran Sekigahara. dan sudah meninggalkan tanda pada Keluarga Yagyu." "Ayolah. itu artinya kita merasakannya." ulang Kizaemon. ia tak akan bertemu dengannya untuk selamanya." Karena sadar bahwa memprotes sanjungan itu tak akan dapat meloloskan dirinya. Tak ada cara lain. Baru menghabiskan tiga atau empat mangkuk sake saja. netcafe.property of: CROSSFiRE. Musashi memutuskan untuk mencebur sekalian. bapak agung seni perang yang disebut "naga kuno" itu." katanya. dan Kimura telah ambil bagian dalam pertempuran berdarah itu. Sikap kekanak-kanakan ini membuat mereka tertawa. Mendengar itu. Ia tak dapat menerima kalau ia harus meninggalkan tempat itu tanpa melaksanakan maksudnya. dan ekspresi matanya. kalau malam ini ia tidak bertemu dengan Sekishusai. Namun demikian. bertekuk lutut. tiba-tiba jalan peristiwa Ebook by Kang Zusi . terpaksa Anda sekalian mencabut pedang dan menghadapi saya dalam pertarungan." Asap lampu naik. "apa tidak bisa Anda menceritakannya lebih banyak? Anda tahu gedung Shin'indo ini dibangun dengan sengaja untuk kediaman Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. saling pandang dan tertawa. Kalau Anda sekalian menghendaki saya memperlihatkan apa yang saya maksudkan itu. Bagi Musashi. Dengkung katak terdengar lagi. Untuk memperoleh mahkota. tak ada yang khusus di sini-itu cuma terkaan yang mengena. dan ini membuat mereka cenderung mengguruinya. Tuan rumah tampaknya sangat menikmati percakapan itu. karena itu dengan sengaja ia beberapa kali mengatakan tidak sependapat dengan apa yang mereka katakan. Tanpa menanggapi tantangan itu. "Betul-betul tak ada cara lain untuk menjelaskannya. Kizaemon. ia ingin orang mengetahui bahwa Musashi pernah berkunjung ke tempat itu. kemudian tentang Zen. Sesudah menghirup sake lagi. yang tertua di antara mereka. Sekalipun Musashi berbicara tenang. jangan merendahkan diri. Inc. Saya cuma merasa begitu sesudah melihat potongan batang itu. dan bicara dengan cara kasar dan kurang ajar. Maka akhirnya Musashi pun nekat. Apakah mereka sudah mengenalinya sepenuhnya? Baru saja ia memikirkan hal itu. Tempat yang cocok bagi kami untuk mendengar kuliah dari Anda malam ini. yang dalam pertempuran berdarah itu berada di pihak lawan. Musashi berkata." "Merasa bagaimana?" Keempat siswa senior Keluarga Yagyu itu mencoba menganalisis Musashi sebagai seorang manusia dan sekaligus mengujinya. dan untuk sejarah. Kizaemon mengatakan sudah waktunya menghidangkan makanan terakhir." "Saya bukan merendahkan diri. seperti yang akan mereka lakukan juga terhadap orang asing lain. sudah pergi. mereka berbicara tentang pedang. yaitu gerst campur nasi. dan dalam hati ia tahu. ke udara malam yang tenang itu. wajah Musashi sudah jadi merah tembaga. Ini gedung penting dalam sejarah seni pedang. dan mereka memang menganggapnya demikian. Debuchi. Kizaemon dan Debuchi. "Ah. Karena malu. Tetapi cara Musashi memegang mangkuk sake dan sumpit itu bagaimanapun menunjukkan bahwa ia berpendidikan kampung. Semakin lama semakin jelas baginya bahwa ia mungkin terpaksa harus menggunakan akal licik. "Kalau kita merasakan sesuatu. dua-tiga kali ia menyentuh dahi dan pipinya.

" kata seseorang sedih. "Ya. Tak bisa dibantah bahwa salak anjing yang sepertinya datang dari lingkaran kedua puri itu sangat mengerikan. berlumuran darah dan tampak seperti anak setantangannya memegang pedang kayu. giginya menyeringai. "Ini anjing Yang Dipertuan. Sambil menoleh pada Kizaemon. netcafe. Darah mengucur dari mulutnya. "Saya tak bisa mengerti. Tepat seperti yang ditakutkannya. membelok tak terduga-duga." Baru saja ia pergi. Inc. Murata dan Kimura minta mengundurkan diri juga dan dengan sopan minta maaf kepada Musashi." Ia berangkat. Maka hatinya pun serasa terbang. Salak anjing itu jadi semakin mendesak. Jotaro berseru menantang. kalau berasal hanya dari seekor anjing saja. kakinya terjulur. Musashi. Kedengarannya terlalu keras dan mengerikan. dan Kimura. Apa Jotaro. anak yang datang dengan saya itu. Kalau salah satu anjing puri berbuat demikian. Ia terus menatap cahaya lampu kecil yang tak menyenangkan. seolaholah sedang menghitung gema suara yang tak wajar. Musashi menunjukkan wajah prihatin. juga mata-mata yang bergelandangan mencari sasaran empuk dan mudah dijadikan mangsa. saya yang melakukan!" Ebook by Kang Zusi . dia dibunuh. "Taro menyalak-biasanya tidak begitu salaknya." Taro anjing yang bermasalah dengan Jotaro. Kizaemon pun bangkit. saya tahu apa yang sudah terjadi. pesta ini terganggu. "Ya. Debuchi. Kizaemon tampak sangat terganggu. Dari pinggir luar lingkaran itu Musashi mengintip ke tempat terbuka di tengah. "Bajingan kecil kamu! Apa yang kau lakukan? Kau yang membunuh anjing ini?" Orang itu mengangkat tangannya dan menampar dengan berang. Silakan terus tanpa saya. kemudian ketika masuk kamar kembali. Di samping Murata. hampir merupakan tanda pasti bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak menguntungkan. "Kalian dengar?" tanya Kimura. tapi Musashi menghentikannya. katanya. Maafkan saya. membentuk lingkaran hitam. samurai mengatakan bahwa anak itu tak ditemukan di mana pun. ada sejumlah prajurit biasa dan pengawal. masih di kamar tunggu?" Mereka pun menujukan pertanyaan itu kepada samurai muda di depan Shin'indo." kata Musashi. Sambil membidangkan bahunya. Sesudah mencari-cari. Memang kedamaian yang dinikmati negeri itu belumlah mantap sehingga seorang daimyo dapat mengendurkan kewaspadaannya terhadap tanah-tanah perdikan yang berdekatan. Seorang samurai mendekati Jotaro dan pekiknya. ia berkata. giginya mengatup erat. Debuchi berkata.property of: CROSSFiRE. Ia rupanya berusaha memberikan peringatan tentang adanya bahaya. tapi dapat dielakkan Jotaro. Kizaemon berkomat-kamit dan memandang Musashi. Boleh saya pergi bersama Anda?" "Tentu. Masih ada prajurit-prajurit rusak yang suka melongok-longok untuk memuaskan ambisinya sendiri. Saya pikir ada yang tak beres. "Lebih baik saya lihat. katanva. semuanya berbicara dan berteriak-teriak." Sekitar tiga ratus meter dari dojo telah berkumpul sejumlah orang. "Tunggu. Matanya yang tak melihat lagi memantulkan cahaya obor. dan beberapa obor dinyalakan. "Saya pikir. Murata keluar ke beranda." Tak lagi dapat menahan diri. dan bahunya naik-turun akibat napasnya yang berat. Akhirnya terdengar raungan panjang dan sedih. "Mati dia. Jotaro ada di sana. Tapi barangkali ini penting. Di sampingnya terbaring Taro.

Yang Dipertuan Yorinori secara pribadi memberikan anak anjing itu kepada Munenori. Ia pun memukul. dan nasib dua orang samurai yang telah dibayar untuk mengurus anjing itu sekarang dalam bahaya. "Menyalaklah. "Kamu sudah membunuh anjing Tuan. Memang. Pukulan mendarat di sekitar telinganya. Kemudian ia ambil tongkat kayu ek dan ia hantamkan kuat-kuat ke tubuh anak itu. "Kamu mengaku?" "Ada sebabnya!" "Ha!" "Saya cuma membalas dendam. tapi pukulan itu tidak mengena. "Aku tak peduli. Pukulannya bisa membunuh anak itu jika mengena. "Kamu membunuh anjing itu. dan menyatakan bahwa ia wajib menghukum pembunuh anjing itu." "Apa?" Semua orang heran mendengar jawaban Jotaro. Bunyi berderak tajam Ebook by Kang Zusi . kamu tidak keberatan kalau aku memukul kamu juga sampai mati. Inc. tapi lolongan yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat liar mengerikan. Lalu ia ayunkan Jotaro berputarputar pada kerahnya dan dengan pandangan muram ia jatuhkan Jotaro ke tanah. bunuh aku!" "Nah. itu tidak betul!" Menurut pandangan Jotaro. netcafe. Jotaro mengangkat tangan meraba lukanya. Yang berhadapan dengan Jotaro itu seorang dari kedua samurai tersebut. tidak ada pilihan lain kecuali membunuh anjing itu. kan? Dan memang itu yang akan kulakukan. tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. biar kamu anak kecil. Apabila seorang dewasa marah. "Tutup mulut!" serunya sambil melayangkan tinjunya ke kepala Jotaro. Sekarang datang giliranmu! Berdiri kamu. supaya dapat aku membunuhmu! Menyalaklah! Gigit aku!" Jotaro mengatupkan giginya erat-erat. Kenapa saya dihukum? Orang dewasa mesti tahu. matilah kamu!" pekik perawat anjing mengamuk. karena luka yang kelihatan adalah aib besar bagi seorang samurai. sering ia menyesal di kemudian hari. dan ekspresi wajahnya pun tetap saja ekspresi kanak-kanak. Taro binatang kesayangan Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. kemudian menopang dirinya dengan sebelah tangan dan berjuang menegakkan diri sambil memegang pedang kayunya. Bukan hanya itu. Dan semuanya marah. penjahat kecil. ibunya sendiri yang melahirkannya ke dunia pun tak dapat menenteramkannya. dan Munenori merawatnya sendiri. ia cuma membela kehormatannya dan membahayakan hidupnya dalam melakukan hal itu. kamu sudah cukup besar untuk dapat membedakan anjing dan manusia. Ia telah bertahan dan bertekad tidak akan mundur. "Ayo. tapi apabila kemarahan anak-anak sudah bangkit. "Apa pula ini?" jeritnya. memandang orang banyak untuk meminta persetujuan. Untuk membela harga diri. Pembantaian binatang itu sudah pasti akan diperiksa dengan tuntas. Jadi.property of: CROSSFiRE. Air mukanya tidak meninggalkan ciri peri air." "Saya cuma membalas apa yang sudah dia perbuat. "Bunuh aku!" jeritnya. Nak! Menyalak seperti anjing!" perawat anjing itu berteriak. bagaimanapun ia mengharapkan dipuji atas perbuatannya yang berani itu. "Tutup mulutmu yang kurang ajar itu!" raung perawat anjing. Keempat orang yang belum lama sebelumnya menjamu Musashi itu tampak sedih. ia keturunan ras dari Raiko. anjing betina milik Yang Dipertuan Yorinori dari Kishu yang sangat disayanginya. Kali ini Jotaro tidak menghindar pada waktunya. Orang banyak mengangguk diam sebagai pernyataan setuju. Macam apa pula itu—membalas dendam kepada binatang yang bodoh!" Ia mencengkeram kerah Jotaro.

Dan kami berdua siap membayarnya. ia angkat anak itu ke atas kepala dan ia biarkan terus di sana. seolah-olah penopang yang mengganjalnya tiba-tiba diambil. Musashi tetap diam. Musashi bertindak. Tapi pertama-tama. "Nah. Musashi memekik. Sukar dikatakan. Orang Ebook by Kang Zusi . Orang banyak pun menggagap kaget dan mundur selangkah. ia mencakar selangkangan si perawat anjing dengan kukunya. tapi ia menghantam tanah diiringi suara lolongan. dan beberapa orang menyarankan untuk membunuhnya seketika itu juga dan di tempat itu juga. dan Murata semuanya mengerutkan kening. Apa orang itu sudah gila? Siapa pernah mendengar ada orang menggunakan manusia sebagai senjata pelawan manusia lain? Perawat anjing memandang bengong ketika Jotaro melayang di udara dan membentur dadanya. Tangannya turun. Tanpa senjata ia menutup mata dan secara membuta menyerang tubuh bagian depan musuh itu dan menguncikan gigi ke obi-nya. ia bukannya mengakui kejahatannya dan menerima hukuman. tak habis-habis heran mereka. kalau sekiranya ia mau sedikit saja berusaha meredakan perasaan para samurai Yagyu yang sedang kacau itu." Dengan nada berapi-api. maka seluruh kejadian itu akan berlalu dengan damai. dan dalam sekejap ia sudah menerobos dinding manusia yang kokoh itu dan meloncat ke tengah medan. Jotaro melentingkan diri dari dada orang itu. dan kalau Anda mau memeriksa dia." Jadi. Anda mesti memeriksa saya juga. ini anaknya!" Ia melemparkan Jotaro langsung kepada orang itu. Inc. Tetapi sikap Musashi mencegah terjadinya hal itu. Anak ini pembantu saya. namun pada waktu itu muncullah tongkat kayu ek lain. netcafe. Orang itu langsung rebah ke belakang. berjungkir balik di udara. "Saya sudah melihat semua ini dari permulaan. Sebuah tongkat kayu ek dan dua kaki itu membentuk sebuah relung di udara. dan saya pikir Anda keliru menindaknya. hai. Kimura. perawat anjing menjawab. kalian semua!" Mereka menatapnya dengan saksama ketika ia mengambil pedang kayu Jotaro dan menghadapi mereka dengan wajah memberengut menakutkan. "dengarkan. Nah. Ia rupanya sudah bertekad menciptakan gangguan yang lebih besar lagi. dan pedang kayu Jotaro terbang ke udara. izinkan saya mengatakan ini: kami tidak bermaksud membiarkan diri kami dibunuh seperti anjing. "Dan sekarang giliranmu. Kebanyakan mereka sudah tidak sadar bahwa Musashi tamu yang diundang. tangannya dilipatkan dan wajahnya tidak mengungkapkan sesuatu. Debuchi." kata Musashi. Dengan anggapan bahwa hidup itu berharga. "Kalian lihat?" pekik satu orang. apakah kepalanya yang telah membentur batu karang. Orang kedua menderap ke tengah lingkaran dan sudah hendak memverang Jotaro dari belakang. dan mendarat jadi onggokan sekitar empat meter jauhnya. Kami siap menghadapi kalian.property of: CROSSFiRE. Tanpa pikir lagi ia menangkis pukulan perawat anjing itu. samurai-samurai lain mulai memaki-maki Musashi. dan berguling seperti bola ke tempat yang jauhnya dua puluh atau tiga puluh kaki dari situ. bergema di telinga orang-orang yang berdiri menonton. "Kejahatan anak ini adalah kejahatan tuannya. atau tulang iganya yang patah. "Baik. "Siapa pula ronin gila ini?" Perkelahian kini tidak lagi hanya melibatkan perawat anjing. ia mengatakan. Shoda. dan langsung muntah darah. sedangkan si perawat anjing dengan sia-sia mengayun-ayunkan tongkatnya. setan kecil!" Ia mencengkeram obi Jotaro dengan kedua tangan. melainkan menantang mereka! Kalau pada waktu itu Musashi minta maaf untuk Jotaro dan bicara membelanya. "Pengecut!" pekiknya kepada orang kedua itu. Sambil menoleh kepada perawat anjing yang waktu itu kembali menggenggam tongkatnya. Kami periksa kalian berdua!" "Bagus! Kami berdua akan menghadapi Anda.

dan jika Musashi mati sekarang. tetapi saat itu juga terdengar teriakan berwibawa." Sementara mereka berempat mengepung Musashi. Ebook by Kang Zusi . "Dengarkan dia itu! Dia orang di luar hukum!" "Dia mata-mata! Ikat dia!" "Tidak. Kita sudah berpesta bersama dalam suasana bersahabat. dan pulanglah. Kami berempat akan mengambil alih tanggung jawab ini. Inc." kata Kizaemon. Kalau Anda siap. "Musashi. biarpun misalnya ia memiliki sayap. itu keterlaluan! Saya tidak bermaksud untuk mati. sinting macam apakah yang telah mereka undang datang ke puri itu? Mereka menyesal bahwa Musashi tidak berakal sehat. Musashi sadar bahwa tak ada di antara mereka yang bukan ahli pedang. katanya." Kimura menyela. dan berangsur-angsur mereka pun mengitari orang banyak itu. "Baiklah." Dengan enggan orang-orang itu bubar. "maaf terpaksa saya sampaikan kepada Anda bahwa rencana Anda telah gagal. langsung menuju menara utama. yang bersama Debuchi dan Murata berusaha mengendalikan orang banyak itu. Orang banyak itu sudah menggelegak darahnya. Yang pantas untuk Anda adalah bunuh diri. dan kalian terluka atau terbunuh. "Kami sudah mencoba memperlakukan Anda dengan pantas. sekarang kami akan menanti. netcafe." kata Debuchi. Anda mungkin seorang bajingan. "Tunggu!" Itulah suara Kizaemon. tetapi maknanya jelas seperti kristal. Sekarang tenanglah. Yakinlah bahwa tak ada hal buruk akan menimpa kalian. "Orang itu rupanya sudah merencanakan semua ini. kalau nanti kami mengambil tindakan. Mereka tidak berkonsultasi dengan Sekishusai. Saya kira ada orang yang menugaskan Anda memata-matai Puri Koyagyu ini atau sekadar menimbulkan kerusuhan. "Musashi!" panggil Debuchi sambil mencabut sedikit pedangnya dari sarungnya. Nadanya tenang." kata Kizaemon. tapi saya kira rencana itu tidak berhasil. "Jalan ke mana?" "Ke sel!" Musashi mengangguk dan mulai berjalan. "Jalan!" perintahnya.property of: CROSSFiRE. tidak akan dapat ia meloloskan diri. "Anda gagal. tapi Anda sudah memperlihatkan keberanian luar biasa dengan datang di puri ini hanya berteman anak itu. Anda dapat membuktikan bahwa Anda seorang samurai sejati!" Itu merupakan pemecahan ideal kiranya. tapi Anda justru mengambil keuntungan dari kami." Dan bahunya pun berguncang karena tertawa. Ia berdiri diam sambil menopangkan tangan ke bahu Jotaro. "Kalau kalian membiarkan dia menyesatkan kalian. Anjing itu memang penting. "Tak ada gunanya bicara lagi!" Ia pergi ke belakang Musashi dan mendorongnya. tetapi persoalan orang di luar hukum dengan para hakimnya. "Anda mengira saya akan membunuh diri sendiri? Oh. tetapi ke arah yang dipilihnya sendiri. meninggalkan keempat orang yang telah menjamu Musashi di Shin'indo itu. kita terpaksa mempertanggungjawabkannya kepada Yang Dipertuan. sementara Anda menyiapkan diri melakukan harakiri. Dalam keadaan terkepung demikian. seluruh kejadian akan dikubur bersama badan Musashi. dengan mata menatap tajam kepada Musashi. Sekarang persoalannya bukanlah tamu dengan tuan rumah. tidak untuk waktu lama. Tetapi Musashi punya pikiran lain. tapi tidak sepenting hidup manusia. kini ditambah lagi dengan tantangan Musashi. potong saja dia!" "Jangan biarkan dia lari!" Untuk sesaat lamanya tampak seolah Musashi dan Jotaro yang sudah kembali ke sisinya itu akan ditelan oleh lautan pedang.

kata "bertempur" terdengar begitu melodramatis hingga patut ditertawakan. "Apa pula ini? Mau ke mana kamu?" "Mau bertemu Yagyu Sekishusai. Kenangan tentang keberanian gurunya di Dataran Hannya datang kembali padanya." "Bertempur?" kata keempat orang itu bersama-sama. Yang dibicarakannya bukan hanya pertandingan pedang yang harus diselesaikan dengan keterampilan teknik semata-mata. "Aku seorang pemuda. tapi Musashi tak beranjak. memerintahkannya untuk menahan diri. Tanah di sekitar pohon-pohon pinus itu ditimbuni pasir putih yang digaruk baik-baik." "Apa?" Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa pemuda tak waras itu punya maksud yang demikian tak masuk akal. "Ini bukan jalan ke sel. Bagi keempat pegawai itu." "Kalau itu yang kauinginkan. tetapi temannya yang lebih senior. dan aku sedang belajar seni perang. sebagai gantinya aku menantang seluruh puri ini untuk bertempur. Seperti kain kafan raksasa. Terdengar bunyi mengepak ketika seekor rajawali terbang ke arah mereka dari balik awan hitam yang menyelimuti Gunung Kasagi. Jotaro melejit dari bawah lengan kimono Musashi dan bersembunyi di balik pohon. "Ayo!" "Aku tak akan pergi!" "Kau mau melawan?" "Betul!" Kimura kehilangan kesabaran dan mulai menarik pedangnya. Balik!" "Tidak!" teriak Musashi. sebelum ia meluncur dengan ributnya dan turun ke atap gudang beras. Dengan lengan masih dipegang oleh Kizaemon dan Debuchi. kenapa kau tidak minta?" "Bukankah Sekishusai tak pernah bertemu dengan siapa pun. "Ke mana jalanmu ini?" teriak Kimura sambil melompat ke depan Musashi clan merentangkan tangan untuk menghalanginya." "Kalau begitu. Ia bertanya-tanya dalam hati. netcafe. Musashi menengadah ke langit. "Dan apa yang akan kaulakukan. Inc. dan tubuhnya membengkak karena gembira. Kizaemon dan Debuchi. Disuruhnya Jotaro pergi duduk di bawah pohon pinus di halaman. Yang dimaksudkan olehnya adalah perang total. Sel ada di belakangmu. Karena itu. di depan menara utama. di mana kedua pihak Ebook by Kang Zusi . bayangan burung itu menutupi bintangbintang dari pandangan mata. barangkali dia menolak meninggalkan istirahatnya.property of: CROSSFiRE. tetapi bagi Musashi kata itu cukup memadai untuk mengungkapkan pengertiannya mengenai apa yang bakal terjadi. Kizaemon dan Debuchi mengambil posisi di kedua sisi Musashi clan mencoba menariknya ke belakang dengan menarik lengannya. Ia menunduk memandang Jotaro yang masih bergayut di sisinya. dan tak pernah memberikan pelajaran kepada murid prajurit?" "Betul. apa lagi yang bisa kuperbuat selain menantangnya? Memang aku sadar bahwa kalaupun aku menantangnya. kalau sudah bertemu dengan beliau?" tanya Kizaemon. Salah satu tujuanku dalam hidup ini adalah menerima pelajaran dari guru Gaya Yagyu. apakah yang hendak diperbuat Musashi.

Musashi sama diamnya. Pedang Kimura ditempatkan sedikit lebih rendah dari dadanya. Tekad Musashi dalam hal ini kelihatan dengan jelas dari teguhnya tumitnya menghunjam ke bumi. "Bagus! Tak ada yang lebih kusukai daripada pertempuran! Tak dapat aku menyuguhkan dentam genderang atau dengung gong. tangannya memegang gagang pedang. Pertempuran sekarang ini sederhana saja. Untuk sesaat yang terjadi adalah pertempuran saraf. dan pekik mengguntur memenuhi ruangan kosong. Caranya mengelak dan menyusun kembali posisi sudah meyakinkan mereka bahwa ia lawan setanding Kimura. "Oh. bahu kanan maju ke depan dan sikunya di atas. Karena sadar bahwa Kimura menaksir jarak untuk dapat menebas dengan efektif. Mereka dapat saling berhubungan dengan baik sekali lewat mata. melainkan dari Jotaro yang waktu itu meloncat keluar dari tempatnya di belakang pohon pinus. Musashi terhuyung empat atau lima langkah ke arah Kimura. Matanya seperti dua batu putih yang digosok di tengah wajah yang kabur. Dan apa yang mereka lihat sampai sedemikian jauh. Debuchi dan Murata tidak berada dalam wilayah pertempuran. Ia tahu sekarang bahwa apa yang dimulai sebagai sesuatu yang agak tak berarti itu akan berubah menjadi bencana besar. ini pantas untuk ditonton. dan sambil menarik napas cepat ia menebaskan pedang ke arah sosok Musashi yang sedang terhuyung-huyung. mengangkat siku ke depan wajahnya. Secara serentak mereka bertiga mengepung Musashi. Segera kemudian jelaslah bahwa ia bernapas lebih cepat dan lebih gelisah daripada Musashi. Sekarang ia sudah kehilangan kesabaran. Pertempuran antara dua tentara bisa saja lain bentuknya. netcafe. Keempat orang itu merenungi wajah Musashi dan sekali lagi bertanyatanya. Kimura undur selangkah." kata Kizaemon pelan. Pedang tidak menyentuh apa pun kecuali udara dan pasir." Kimura-lah yang pertama kali tadi menyarankan agar mereka menghukum Musashi. Saar itu juga terdengar pekikan. Hasil pertarungan antara Musashi clan Kimura kini boleh dikatakan telah ditentukan. Ia berdiri tak bergerak. Sambil menendang sandal jeraminya ke udara dan menyingsingkan hakama-nya ia berkata. Bunyi gerutu pelan yang hampir tak terdengar dikeluarkan oleh Debuchi. berubah. tapi mereka terpaksa bertindak untuk mencegah terjadinya bencana. dalam kediaman penuh ketegangan. apakah Musashi masih memiliki akal sehat. "Ayo dorong!" desaknya. maka Musashi dengan sengaja menambah kecepatan langkahnya yang terhuyung itu. tapi keduanya mengambil posisi baru dan menyiapkan langkah bertahan. Kedua pihak dengan cepat melompat mundur. dorong dia kemari. Pemecahan terbaik adalah melepaskan diri mereka dari si penyerbu yang aneh dan tak punya keseimbangan ini secepat mungkin dan mencegah agar diri mereka tidak mendapat luka secara sia-sia. Tidak mudah mengakhiri semua itu. Tekad baja inilah yang membuat kata "bertempur" itu wajar diucapkan bibirnya. tapi kemudian ia mengendalikan diri dan berusaha bersabar. Di sini tidak diperlukan tukar kata. nyatalah bahwa Musashi seorang pejuang terampil. biarpun sedikit. Tapi sebelum salah satu pihak bergerak. dipisahkan oleh jarak tiga atau empat langkah. Akhirnya Kimura menerima tantangan itu. tapi hakikatnya sama saja. bukan dart Musashi. Walau enggan melakukan sesuatu yang dapat dinilai sebagai sikap pengecut. Inc. dan pada saat jatuhnya tebasan itu ia menjadi jauh lebih dekat kepada Kimura daripada yang diduga oleh Kimura. Pekik pertempuran itu Ebook by Kang Zusi . Shoda.property of: CROSSFiRE. Pada detik yang sama. Di sana mereka berdiri. namun sukar dilukiskan. kegelapan sekitar Kimura seperti goyah. "Biar aku yang membereskannya!" Saat itu juga Kizaemon dan Debuchi menolakkan Musashi ke depan. Segengggam pasir yang dilemparkannya itulah sumber dari bunyi aneh itu. Ia yakin Kizaemon dan Murata pun mengerti hat ini. Terdengar bunyi serupa bunyi pasir yang aneh ketika pedang itu mendesah di udara. yang berperang memusatkan segenap jiwa dan kecakapannya dan nasib mereka ditentukan. kecuali kalau langkahlangkah istimewa diambil. Satu orang lawan satu puri. pedang Musashi mengoyak udara seperti desing tali busur. tapi aku dapat menyuguhkan perkelahian. saling tatap penuh ancaman. Debuchi.

Lawan-lawan Musashi sebetulnya sedikit saja merasa enak memiliki keunggulan jumlah itu. Satu lawan empat. lupa akan musuh. manusia. Inc. Dari arah keempat lawannya yang tersusun di kedua sisinya. pedang Musashi menyampaikan kepadanya bahwa orang yang di sebelah kin telah menggerakkan sebelah kakinya seinci dua inci. Untuk sesaat ia kehilangan penguasaan diri. netcafe. Batinnya menjadi lumpuh. kata orang pikiran tentang mati akan mendesakkan diri ke dalam otak. dan lengannya yang tiba-tiba kelihatan itu membuatnya menyangka bahwa ia terluka. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menanti. Kimura menerjang ke depan. Angin bersiul turun dari puncak Gunung Kasagi. Mereka mengerti bahwa Musashi bukanlah jenis orang yang biasa dijumpai di dunia ini. Dari luar.property of: CROSSFiRE. Dengan memperdengarkan teriakan perang yang keluar dari pinggangnya. lupa akan hidup dan man. dan melihat Kimura sudah menghuyung ke tempat tadi ia berdiri. Namun Musashi merasa tidak berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Kizaemon pun tidak dapat membuat gerakan. lengan pedangnya seakan-akan menjelma enam atau tujuh kaki panjangnya. tidak hanya keluar dari mulutnya. tapi dari seluruh tubuhnya. Darahnya terasa seperti mau meletus dari setiap pori-porinya. dan sang musuh yang juga tanggap itu pun tidak membuat gerakan lebih lanjut untuk menyerang. tak dapat ia membuat gerakan. Ingin ia sebenarnyar agar lawan-lawannya bukan mengepungnya. "Aneh sekali orang ini!" pikirnya. Ia pun melakukan penyesuaian dalam meletakkan senjatanya. tiba-tiba berpaling. Ia yakin telah terluka. di depan dan di belakangnya. menjurus kepada perdarahan. dan langit-semuanya seperti sudah membeku jadi padat. dan Otsu-lah yang memainkannya. makin kurang menguntungkan keadaan baginya. Musashi merasa benar-benar hidup. Pedang. sintesa nyala api dan air? Tak ada lagi pasir dihamburkan ke udara. dan ia pun menjerit menyerukan nama dewa perang. tetapi menyebar dalam garis lurus-agar dapat dihadapinya satu per satu-tetapi ia tidak berhadapan dengan orang-orang amatir sekarang ini. "Kau ini lebih pintar bicara daripada berkelahi!" ejek Murata ketika ia dan Kizaemon berusaha menghadang Ebook by Kang Zusi . membikin terang pandangannya. Jauh di dasar hatinya ia mengenali bunyi ini. menyejukkan otaknya. Namun bersamaan dengan itu ia pun tidak merasa yakin akan mampu menang. terdengar bunyi mereguk dan mendesis. Tetapi justru pada waktu itu ke tengah kediaman tersebut mengalun bunyi yang sama sekali tak diduga-duga. Otot-otot Musashi menegang. tapi pada Musashi tak ada sedikit pun pikiran tentang maut. Musashi akan menyerang. dan darah seakan-akan menderas di dalam dirinya. perubahan itu hampir tidak dapat dilihat. Bunyi inilah yang telah memikatnya keluar dari persembunyian di Gunung Takateru dulu-bunyi yang telah menjatuhkannya ke tangan Takuan. Terdengar gemeresik pelan. Ia sadar terjadinya pembengkakan pada urat-urat nadinya. tanah. sekalipun tubuhnya jadi bertambah pekat dan titik-titik keringat berminyak berkilau-kilau di dahinya. Musashi sadar bahwa makin lama hal ini berlangsung. "Musashi!" seru Debuchi Magobei. tapi kepalanya sendiri sedingin es. tapi itu sudah cukup. Kelima orang itu membentuk tablo yang seakan-akan statis. sebelum salah seorang dari mereka mengubah kedudukan atas kehendak sendiri. dan berharap bahwa pada akhirnya salah seorang dari mereka akan mengambil langkah sementara yang keliru dan memberikan peluang kepadanya. ia lupa akan dirinya. Itulah suling Otsu. Kenyataannya. Ia melompat. Lengan kimono kirinya tersobek dari bahu sampai pergelangan tangan. yaitu bunyi alunan suling yang ditiup angin. pedang-pedang yang digenggam erat berkilau bercahaya. Seperti sungut kumbang. sedangkan dentang-dentang lonceng kuil yang tiba-tiba terdengar menggemakannya ke segala penjuru. seperti dikatakan oleh orang-orang Budha? Yaitu panas yang teramat sangat bergabung dengan dingin yang teramat sangat. Begitu nadanya menyerobot ke dalam telinga Musashi. Mereka tahu bahwa apabila seorang dari mereka memperlihatkan tanda sekecil apa pun bahwa mereka mengendurkan sikap. Angin terasa seperti bertiup melintasi kepalanya. Jotaro sudah menghilang. Pada saat-saat seperti itu. Inikah bunga seroja yang menyala.

sambil menghapus mata dengan tangannya. tentunya sesudah peristiwa itu gadis itu sangat membencinya! Oh. Aku cuma melakukan gerak mundur taktis. "Tak ada dia di sini." Ia berhenti dan mulai mengumpulkan ranting-ranting jatuhan yang kemudian ia patah-patahkan menjadi bilah-bilah pendek dengan lututnya." Hampir satu jam berlalu. Oh. ia meloncat ke dasar pant. Musashi. Tetapi Musashi waktu itu juga menendang tanah sekuat-kuatnya dan melompat demikian tinggi. tapi sudah itu diam. "Apa yang kubutuhkan dari seorang perempuan?" katanya mengolok-olok dirinya. gadis itu mengatakan kepadanya telah menantinya hampir seribu hari. Kemudian ia melompat berulang-ulang lagi. ia mulai bernapas teratur kembali. "Tak mungkin Otsu ada di Koyagyu ini!" katanya pada diri sendiri.. dan menyatakan bahwa ia dapat menahan kesukaran apa pun. Perbuatan Musashi lari dari Himeji itu merupakan pengkhianatan. Karena tidak mendengar kecipak air. Meskipun begitu. kemudian menghilang. mengatakan tidak dapat hidup tanpa dirinya dan tak ada lelaki lain baginya di dunia ini. Ia mulai berjalan pelan-pelan sepanjang dasar parit itu. Satu demi satu bilah-bilah itu ia masukkan ke celah-celah dinding batu Ebook by Kang Zusi . "Maafkan aku!" Kata-kata yang diukirnya di pagar jembatan itu kini keluar dari bibirnya. lalu berhenti dan melemparkan sebuah batu. ia membayangkan mata Otsu di tengah bintang-bintang di atasnya. dan tidak menoleh-noleh lagi. Satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah alunan suara suling yang manis di kejauhan. Air mata meleleh dari sudut-sudut matanya. Inc. Terkejut ia mendengar teriakan dari puncak parit. di situlah pertempuran dimulai. "Mereka sebut aku pengecut. Mungkin juga dia. dan katanya aku tak dapat berkelahi seperti lelaki! Tapi aku belum lagi menyerah." Sambil berdebat dengan dirinya. tak ada gunanya bertempur dengan keempat orang itu.. dan segera kemudian ia terbawa hanyut oleh kenangan: Otsu di celah perbatasan Mimasaka-Harima. Mereka tidak mengetahui tempatnya. bukan tak mungkin juga dia di sini. Kedengarannya seperti. "Pengecut!" "Musashi!" "Ayo berkelahi seperti lelaki!" Ketika Musashi sampai di tepi parit sekitar kuil dalam. Kalau aku bertemu dengan Sekishusai sendiri. Sebentar kemudian tulang-tulang iganya sudah berhenti naik-turun clan detak nadinya kembali normal. Ia bangkit berdiri dan menengadah memandang sosok hitam Puri Koyagyu. terdengar gemeretak rerantingan.property of: CROSSFiRE. sama sekali belum menyerah! Aku tidak melarikan diri. "Telingaku tentunya salah. lenyap ke dalam gelap. Kemudian di Jembatan Hanada di Himeji." Tiga atau empat obor kayu pinus menyala di antara pepohonan. Musashi menyuruk ke dalam pagar di dekat puncak parit clan meluncur cepat setengah jalan turun. netcafe. Ia jadi kecewa melihat dirinya menangis. dan akan menanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi-sampai ia tua dan putih rambutnya. Bukan itu sasaranku. Lalu minta dibawa serta.. "Bagaimanapun. tanpa membuat bunyi apa pun. tentunya ia menggigit bibir dan mengutuk sifat lelaki yang tak dapat didugaduga itu. dan di situ ia berbaring telentang di rumput. hingga mengenai cabang-cabang bawah pepohonan pinus. Ketika keringat sudah menyejuk. Burung-Burung Bulbul TIDAK mungkinlah untuk mengetahui berapa lama air hujan yang ada di dasar parit yang dalamnya tiga puluh kaki itu dapat menggenang.

Bintang-bintang sedang memudar dan bunga-bunga aster putih berayunayun." pikirnya. lalu memanjat ke luar parit. bersandar ke tiang. Keinginan untuk menemukan dan mengalahkan Sekishusai sekali lagi menjadi nafsu yang mengendalikan semuanya." Ia lapar. Musashi berjalan terus menembus hutan dan lembah. Sekali lagi Musashi merasa yakin bahwa di mana pun Jotaro waktu itu. Kadang-kadang ia merasa sudah tersesat di luar wilayah puri. "pasti seseorang datang ke gerbang ini. "Lambat atau cepat. Tak ada lagi kelelahan yang tersisa ia merasa lahir kembali. tapi itu gerakan yang sudah diperhitungkannya. Ada sesuatu pada lingkungan itu yang menghambatnya berbuat demikian. dan jatuh tertidur. akan kupergunakan pendekatan lain. mendaki bukit. tampak olehnya matahari merah cemerlang naik di atas pegunungan. ia tidak berada dalam bahaya. ia bermaksud." Ia duduk di bawah tepi atap gerbang. dan di atas tebing itu Gunung Kasagi. Cahaya siang datang. karena ia sekarang sadar bahwa tenaganya sudah habis. dan tenaga yang tertimbun di dalam anggota badannya menghendaki kegiatan. "Hari inilah harinya. Sebetulnya ia tidak begitu gundah memikirkan anak itu. dan entah kenapa ia teringat pada Jotaro. Tentunya ia tampak seperti orang gelandangan sekarang. setidaknya untuk malam itu. Di sebelah sana menjulang tebing. netcafe. Tak ia dengar lagi bunyi suling. melainkan ke satu tempat terpencil di wilayah luar. pepohonan yang bagus bentuknya dan rumput yang terawat balk pun menyatakan kepadanya bahwa ia telah menemukan tempat memencilkan diri itu. dipaksa oleh dorongan setani. ternyata tidak ada sesuatu pun yang terdengar. Ia mesti menguasai diri terlebih dahulu. Ia sudah mendengar dari pemilik penginapan itu bahwa Sekishusai mundur bukan ke salah satu lingkaran puri. Sepanjang malam ia mencari. ia kembali mengayun langkah ke arah selatan. seperti yang terdapat di tempat-tempat penganut Budha Zen menyendiri di pegunungan. kalau nanti menemukan rumah pegunungan itu. Ketika ia sudah hampir menjerit karena frustrasi. ia melihat jalan itu berkelok-kelok melintasi rumpun pohon. dan bagian dari latihan anak itu. Panas matahari telah menghidupkan kembali semangatnya. "Tak perlu buru-buru." katanya pada diri sendiri. Di dalam sana ia melihat rumpun bambu yang terselimut kabut pagi. tetapi ia masih menahan diri. Hari sudah mendekati fajar ketika ia berada di gerbang belakang puri. mau rasanya ia melihat hantu dalam bentuk Sekishusai.property of: CROSSFiRE. ketika sebutir embun besar jatuh dengan dinginnya ke lehernya dan membangunkannya. kepalanya dibasuh oleh angin pagi dan nyanyian burung bulbul. Tidak adanya obor lagi menunjukkan bahwa pencarian sudah dihentikan. mengitari rumpun bambu. ataukah karena ia melihat daun-daun bunga putih di tanah? Apa pun alasannya. Akhirnya. Dan itulah waktunya. Musashi membasuh wajah dan minum sekenyang-kenyangnya untuk ganti makan pagi. dan kemudian muncul dari bawah pagar dalam perjalanan menuju wilayah puri bawah. Barangkali ia telah memperlakukan anak itu terlalu kasar malam sebelumnya. bagus sekali. Anak itu dapat menjaga dirinya. Ketika mengintip lewat celah di pintu gerbang. Inc. ya. menjadi hantu utama yang terbentuk akibat hasratnya yang mahahebat untuk mendapat pengakuan dan kehormatan. akan menerobos masuk sambil mengucapkan tantangannya. dan ketika ia menggerakkan badan dari tidurnya. Kalau dia masih menolak menemuiku sebagai murid pengembara. dan ia gunakan sebagai tempat menapak. Ia mendengarkan suara sungai kecil yang mengalir menuruni sisi gunung. Air itu bagus. Sesaat ia mendapat perasaan samar-samar bahwa Jotaro memanggilnya. dengan rambut awut-awutan dan kimono berantakan. Ia bangkit. Tapi ketika jam demi jam berlalu. Sambil meregangkan badan. Terkaannya segera dibenarkan oleh sebuah gerbang beratap lalang dengan gaya yang disukai ahli upacara minum teh besar Sen no Rikyu. dinding batu. tapi kemudian potongan pant. ia berkata lirih. mengambil jalan memutar dalam pagar. di kaki lereng yang menjurus ke bagian tenggara purl. Sesaat ia tergiur untuk melompati pagar. tapi ketika ia berhenti dan mendengarkan lebih saksama. Ketika ia menggosok-gosok matanya dan menengadah. Apakah karena perawatan penuh cinta yang telah diberikan pada daerah itu. atau lumbung padi meyakinkannya kembali bahwa ia masih ada di dalam. hingga Musashi membayangkan bahwa mungkin itulah alasan utama Sekishusai Ebook by Kang Zusi . Tetapi tiba-tiba terpikir olehnya penampilannya sendiri. sebelum menampilkan diri kepada tuan di dalam itu. Barangkali ia kini sudah bermil-mil jauhnya. kepekaan penghuni tempat itu menembusnya hingga gejolak perasaan Musashi mereda.

"Jotaro! Di mana kamu?" Mendengar suaranya. Ia sendiri tidak lebih dari seorang prajurit tak bernama. dan ia merasa mantap dalam hati. angin dan bulan." kata Musashi pada diri sendiri. "Kalau tidak. dan jasa apakah. yang mungkin diperoleh dari mengalahkan orang yang sudah tidak menghargai kehormatan dan jasa? "Bagus juga aku membaca ini. dan mulailah ia berkeringat. kalau ada. Sekishusai bukan lagi pemain pedang terbesar di negeri ini. pikiran untuk menyerobot masuk mendatangi pertapa kuno itu kini terasa liar. tetapi juga bagi semua peristiwa dunia ini. Ia menepuk-nepuk rambutnya dan meluruskan kerahnya. hingga jaraknya tinggal beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. Inc. Ya. Hanya bunga dan burung. Otsu berlari turun. Dari kejauhan di atas bukit terdengar bunyi langkah-langkah cepat. Musashi mengintip lewat gerbang. Hanya burung-burung bulbul muda di ladang. Jadi. Namun karena ia tak tahu apa-apa tentang seni upacara minum teh. "Aku masih muda. Di sebelah kanan tertulis: Janganlah curiga. Ia basuh handuk tangannya di dalam sungai. Pikirannya terang. dan terlihatlah olehnya sepasang tanda peringatan di kedua sisi gerbang. ia membersihkan kotoran kukunya. Ia Ebook by Kang Zusi . aku akan menjadikan diriku orang yang setolol-tololnya!" Bersama dengan semakin tingginya matahari di langit. Keduanya ditulis dengan indah. maksudnya para pejabat puri. suling gadis itulah yang telah didengarnya! Haruskah ia menanti dan kemudian menjumpainya? Atau pergi saja? "Aku ingin bicara dengannya. hai para penulis. nyanyian burung bulbul mereda. yang akan memasuki gerbang ini. Mengganggu rumah tangganya akan merupakan pelanggaran besar. ia bertekad mengetuk pintu gerbang itu sebagai tamu yang sah. Orang tua itu menutup gerbangnya tidak hanya bagi para murid yang mengembara. baik itu hasratnya sendiri maupun hasrat orang lain. siapakah yang datang itu. Karena itu kemungkinan ketukan biasa tidak akan terdengar. Kemudian ia rapikan rambut dengan belati yang melekat pada pedangnya. dan sesudah menggosok tengkuk seluruhnya. Ia sudah meninggalkan sama sekali hasrat dunia. Akan dia yang menyukai purinya tertutup. "Terlalu muda! Orang ini ada di luar jangkauanku sama sekali. tetapi orang yang telah kembali kepada alam. Musashi bermaksud menampilkan diri sebaik-baiknya. bukan lagi penguasa tanah perdikan. Dan kehormatan apakah." gumamnya sambil menoleh ke sekitar. dan serunya. Karena Sekishusai tidak hanya pemilik Gaya Yagyu. netcafe." Keinginan untuk mengetuk gerbang pun menguap. Kemudian ia berlari kembali ke atas bukit. tak terbayang olehnya bahwa air semurni itulah yang menjadi cita-cita setiap ahli upacara minum teh. Maka dicarinya alat pengetuk." pikir Musashi. sekelompok burung kecil mengangkasa. seperti berbedanya bintang yang terkecil dengan bulan. Sajak itu ditujukan kepada para "penulis"." pikirnya. Musashi menjadi merah mukanya karena malu. memilih tempat ini untuk mengundurkan diri dari dunia. Dan di sebelah kiri: Takkan kautemukan pemain pedang di sini. Jantungnya berdebar-debar dan keyakinan dirinya terbang. "Kukira tadi dia ada di belakangku. dan tulisan yang berupa ukiran itu diisi dengan tanah liat kebiruan yang tampaknya seperti lapisan perunggu. "Aku harus!" Keragu-raguan mencengkamnya. bagi segala kemuliaan ataupun kesengsaraannya. Rumah itu cukup jauh letaknya di atas bukit. serta memperdengarkan teriakan terkejut. dan ia merasa sangat malu terhadap diri sendiri. Ternyata Otsu.property of: CROSSFiRE. Agaknya karena takut mendengar bunyi ribut itu. Kemudian Otsu berhenti dan membalik. tetapi juga salah satu orang besar di negeri itu. namun maknanya lebih dalam dari itu. yang menolak kesia-siaan hidup manusia. Ia berbeda dari Sekishusai.

property of: CROSSFiRE. saya cukup gentar juga. Ketika mendengar suling itu." "Tapi dia orang baik. karena sadar sedang membuang-buang waktu. netcafe. "Aku kan sudah bilang tadi." Tiba-tiba." Suara Otsu menjadi lunak. karena itu saya pikir kalau saya dapat minta maaf kepada Yang Dipertuan." "Saya juga sudah ikut. mengejar ayam pegar! Apa kamu lupa. Sekishusai malahan sudah melanggar peraturannya sendiri. kenapa pula Kakak mesti menangis hanya karena ada orang sedesa datang ke sini. dari bunyi suling itu saya dapat mengira-ngira di mana Kakak berada." "Tapi bagaimana Kakak bisa kenal dengan Musashi?" "Kami datang dari desa yang sama. saya kira. "Oh. sampai tak tahu saya. Katanya dia mau menemui orang yang sudah melakukan apa yang kamu katakan itu. Saya tak mengerti." Jotaro datang berlari-lari mendekati Otsu. apa yang mesti saya lakukan." katanya... Kita mesti mencari Musashi. Ketika saya katakan padanya saya sudah membunuh Taro. merasa muak karena telah kehilangan keyakinan." "Lucu. Tapi kabarnya mereka semua itu jagoan. Tak dapat ia bergerak dari tempat sembunyinya di dalam bayangan pepohonan itu. dia tidak mengamuk seperti yang lain-lain. Dalam matahari terang awal musim panas itu pipinya Ebook by Kang Zusi . tapi kemudian saya lihat ayam pegar. ya?" serunya. mesti mencari orang penting pagi ini?" "Ah." "Kedengarannya lain dengan kejadian tadi malam itu: kamu datang lari-lari ke kamarku dan langsung mau nangis saja. saya tak akan kuatir. dan kali ini terdengar balasannya. tidak betul. "Aku sedang memikirkan dia ketika aku main itu. Kalau soalnya cuma empat orang biasa lawan guru saya. kalau Kakak tak bisa ingat apa yang Kakak lakukan sendiri? Tapi biar bagaimana. Beberapa waktu kemudian Otsu memanggil kembali. Bahkan dia mungkin tahu yang main itu aku. Cuma. terutama sesudah kamu menyebut nama gurumu itu." "Saya tak melihat apa pentingnya itu. jangan pergi ke manamana." "Mana bisa begitu. jadi Kakak di sini. "Kita bisa bicara lagi nanti." "Aku juga begitu." Otsu tampak benar-benar riang. seperti bunga. "Saya di sini! Di mana Kakak?" seru Jotaro dari bagian atas rumpun. "Sekarang ada yang lebih penting dilakukan. Yang Dipertuan jadi terkejut juga. Cuma semuanya itu begitu cepat. tapi saya tidak kuatir dengan dia. Dia bukan orang yang gampang terluka. jadi saya mengejarnya. saya bukan mau menangis." "Cuma itu?" "Tentu saja cuma itu. saya pun ingat Kakak ada di puri ini." "Kalau kamu memang mendengarku main suling." "Tapi apa aku menangis lama?" "Bagaimana bisa Kakak ingat semua yang saya lakukan." "Ah. "Kan sudah kubilang kau ikut aku. Inc. Otsu bergegas pergi ke gerbang. "Di sini!" jawab Otsu." "Tapi sungguh pertunjukan besar yang kamu lakukan-menyerbu rumah orang dan menjerit-jerit tentang 'pertempuran' yang sedang terjadi. Musashi tentunya mendengar juga.

Ia ingin mengungkapkan bahwa jauh di dalam hatinya yang terbuat dari baja itu terdapat kelemahan. Waktu itu ia masih anak-anak yang sentimental. Ia ingin menarik kembali kata-kata yang diukirkannya di Jembatan Hanada itu. dan menceritakan semua kepadanya Betapa ia merindukan Otsu secara fisik. tubuh dai pikirannya membentuk keberanian untuk menghadapi apa pun. Atau setidak-tidaknya. "Lihat ini!" "Ah. di mana mereka dapat berduaan saja. cinta yang dirasakannya waktu itu hanyalah samar-samar dan sukar dipegang. Sekarang ia cukup kuat untuk mengaku bahwa semua perasaannya itu nyata.property of: CROSSFiRE. dan ada huruf yang bunyinya 'Lin'. "Milik Musashi?" ucap Otsu sambil berlari kembali mendapatkan Jotaro. Tersengal Otsu memutai badan dan melejit ke arah pepohonan. Ia dapat mendekapnya." . Ia mencium daun-daun muda. dan ingin ia membawa gadis itu ke suatu tempat. apa yang kamu lakukan itu? Ayo cepat!" "Tunggu!" seru Jotaro riang. sesuatu yang menyatakan kepadanya bahwa itu salah. "Saya ingat ini. satu jalan terang. Inc. manakah dirinya yang sebenarnya Seraya memperhatikan dari balik pohon dan tenggelam dalam keraguan itu ia seperti melihat dua jalan di hadapanya. Dan ketika menoleh ke belakang. namun ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak dapat menyerah kepada segala perasaan itu. bersinar seperti buah masak. Ia akan menyatakan kepada Otsu. itu kan cuma gombal tua yang kotor! Buat apa itu?" "Ini milik Musashi. Otsu yang ia lihat sekarang ini lain sekali dengan gadis yang duduk patah hati di beranda Kuil Shippoji dan memandang dunia luar dengan mata kosong." "Apa menurutmu Musashi ada di sini?" teriak Otsu sambil memandang bingung ke sekitarnya. Jotaro berdiri tegak sampai hampir setinggi gadis itu. Ini dari rumah janda tempat kami menginap di Nara Lihat ini: ada gambar daun mapel celupan di sini. yang sadar benar akan keyatimannya dan merasa agak benci dengan kenyataan itu. membelaikan pipinya ke pipi Otsu. "Ke mana Kakak pergi?" tanya Jotaro. dan kedua yang mengatakan kepadanya bahwa ia orang tolol. Sesudah mengenal Musashi dan mengaguminya. Ia tak bisa mengatakan. netcafe. Hal-hal yang dikatakan Otsu kepadanya di masa lampau kini kembal mengiang di telinganya." jawab Jotaro seraya membeberkan handuk tangan itu untuk dilihat Otsu. Sepanjang tahun yang dihabiskannya untuk mengembara mencari Musashi. Musashi yang sedang bersembunyi di antara pepohonan memperhatikannya baik-baik clan mengagumi kesehatan tubuhnya. dan yang lain jalan gelap. dan ia merasa kesegaran dedaunan itu mengisi paruparunya. Dirinya terpecah menjadi dua: pertama. dan ia melihat betapa kejam dan buruknya ia menolak cinta yang sederhana dan terus terang seperti yang diungkapkan Otsu. "Musashi baru saja lari!" Ebook by Kang Zusi . ia dapat menunjukkan kepada Otst bahwa ia pun dapat bersikap mesra. ia melihat Jotaro membungkuk mengambil sesuatu. dan dengan sekuat suaranya ia memekik. Musashi cepat menangkap daya hidup Otsu yang baru dan membuatnya bertambah cantik itu. ini miliknya. Karena tak tahu adanya Musashi. "Ya. "Sensei!" Di tengah rumpun terdengar bunyi gemeresik. Kalau tidak ada orang yang tahu. "Jotaro. diikuti anak itu. lahirlah cinta yang kini menetap di dalam dirinya dan memberikan arti pada hidupnya. Ini nama pemilik restoran bakpau di sana. Ia memang merasa sengsara. mencurahkan air mata yang ingin ia tangiskan. Perbedaannya adalah karena waktu itu Otsu tak punya orang yang dicintai. yang berseru kepada Otsu. Otsu berjalan beberapa langkah meninggalkan gerbang.

"Kenapa kamu tidak memanggilnya juga? Panggil dia! Panggil dia!" Jotaro bukannya melakukan yang disuruhkan Otsu. apa tujuan hidup Musashi dan kenapa Musashi menghindari dirinya. Ia tak percaya bahwa Musashi orang yang bisa berbohong kepada perempuan. sementara gemericik sungai menambah kesepian mereka. Sudah pernah ia melihat wajah itu. ia akan mengatakannya demikian. kenapa Musashi menganggapnya penghalang antara dirinya dan cita-citanya. "Ke mana?" "Ke situ. Otsu bersandar ke pohon berangan besar. Jotaro cepat menarik tangannya dan undur dengan ketakutan.property of: CROSSFiRE. Jotaro berlari mengikutinya. dan menatap wajah Otsu. Otsu berlari mengejar dengan sekuat kakinya. dengan matanya yang merah. Mereka berhenti dan berdiri di sana. tetapi kegembiraan sekilas yang dirasakannya segera digantikan oleh keprihatinan.." "Saya tak melihat dia. "Musashi!!" Tapi baru saja teriakan kalut itu keluar dari bibirnya. Ia mengingat kembali katakata Musashi dengan sedihnya. Kenapa Musashi mesti lari?" "Coba lihat itu!" "Ke mana?" "Ke sana!" Ia mengambil napas dalam-dalam. dan sepanjang kaki bukit itu menghampar jalan belakang dari Tsukigase ke Iga. Di sebelah hutan terdapat bukit rendah. dan sambil mengerahkan suara sekuat-kuatnya ia menjerit. sedih. Namun. ia terhuyung jatuh. netcafe. walau tidak yakin benar bahwa Otsu melihat Musashi. Namun ia tak bisa mengerti. serta hidung dan rahang yang seperti lilin. Sampai di jalan tersebut. tapi pandangan wajah Otsu menyatakan kepadanya. Awan putih menghampar kosong di atas mereka. tapi di luar itu keduanya serupa. Kenapa tekadnya itu mesti dilemahkan oleh kehadirannya? Ataukah itu cuma alasan? Apakah alasan sebenarnya karena Musashi tidak cukup mencintainya? Itulah yang barangkali lebih masuk akal. Pada mulut Otsu tidak ada bengkokan aneh ke atas. seperti anak-anak telantar. "Barangkali orang lain. Otsu terus mencelanya. merasa kehilangan. Jotaro menolongnya berdiri. alis yang seperti jarum. tapi kenyataannya di Jembatan Hanada Musashi mengatakan senang sekali kepadanya. Ia tahu. sejak pengalaman di Jembatan Hanada. Otsu dan Jotaro berlari sekuat kaki mereka sambil berteriak-teriak sampai parau. karena ia lari langsung masuk kaki perbukitan yang berhutan lebat. "Kita tak boleh menyerah! Dia tak akan kembali lagi kalau kita biarkan dia pergi sekarang! Panggil dia! Suruh dia kembali!" Ada sesuatu yang menolak dalam diri Jotaro. Otsu mulai memahami Musashi ketika melihatnya terikat di pohon di Shippoji itu. Itulah muka topeng! Topeng perempuan gila yang diberikan kepadanya oleh janda di Nara itu. "Itu Musashi!" teriak Jotaro. Jeritan mereka menggema melintasi peladangan. Ia heran. anak itu dapat dengan jelas melihat gurunya. Kalau Musashi tak ada minat kepadanya. "Kakak keliru!" pekik Jotaro. melainkan kelu karena terkejut. Inc. namun. Ebook by Kang Zusi .. dan air matanya mengucur sejadi-jadinya. tapi ia berteriak. dan ia mulai berteriak juga sekuat-kuatnya. Di ujung lembah mereka tidak melihat Musashi lagi.. dan marah. "Dia sudah gila! Dia tak berakal! Bagaimana mungkin dia meninggalkan saya seperti ini?" teriak Jotaro sambil mengentak-entakkan kakinya. hingga tak dapat mendengar teriakan mereka. Cintanya yang besar pada Musashi tak mampu menahan kepergian Musashi—walaupun untuk cinta itu ia bersedia mengorbankan segalanya. karena Musashi dengan cepat meningkatkan jarak yang memisahkan mereka. tak ada gunanya berdebat dengannya." "Di rumpun pohon sana itu!" Otsu melihat sosok tubuh Musashi.. tetapi Musashi sudah terlalu jauh di depan mereka. Ia sudah tahu itu. Maka mereka berlari kembali.

karena memiliki banyak harapan di masa depan. Pada waktu ini ia merasa tidak ada orang lain kecuali Musashi yang patut dibela atau diandalkannya. Ketika mendekati pohon berangan itu. apa pun yang terjadi. ada apa ini?" katanya. yang di antaranya berbunyi: Saya sangat beruntung akhir-akhir ini. ia akan mempercayainya sepenuhnya. ini datang seorang pendeta. Tetapi Musashi bukanlah Matahachi. la menjadi kegembiraan dalam umur tua saya. ia memandangnya dan melihat Otsu. Biarawan yang menuruni lereng di kejauhan itu tampak seperti turun dari atas awan dan tak ada hubungan apa pun dengan bumi ini. dan saudara lelaki Gorozaemon. tidak dapat Ia mengatakannya. biarpun hanya sepatah? Ini sungguh terlalu berat untuk ditanggung. yaitu orang-orang yang merasakan perlunya mempelajari peristiwaperistiwa kejiwaan maupun keterampilan teknik dalam seni perang. Kaum samurai yang bergerombol di sana lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan kaum biarawan Zen. Pada masa itu. transparan. Mendengar suaranya. tapi sekali ia percaya pada seseorang. yang tidak hanya dapat bermain suling dengan baik. saudara lelaki Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. dan pergi belajar sendiri. Saya sendiri sekarang memiliki tenaga seorang gadis muda dan cantik. dan dari sana ia mengirimkan surat menanyakan kesehatan Sekishusai dan Munenori. Sekishusai pun menyukai biarawan muda ini. Di antara samurai yang sering datang ke sana adalah Suzuki Ihaku. Menyenangkan luar biasa minum sake malam hari dengan iringan suling yang Ebook by Kang Zusi ." Otsu tidak memperhatikannya. Jotaro memandang ke jalan. "Takuan!" Dalam keadaannya sekarang ini. Pengkhianatan Matahachi telah mengajarkan kepadanya betapa seorang gadis harus berhati-hati dalam menilai lelaki. Apakah itu nasib atau bukan. namun bagi Takuan menemukan Otsu tidak lebih daripada pembenaran atas sesuatu yang telah ia curigai. dan ucapnya. Sangen'in yang dikenal dengan nama "Sektor Utara" Daitokuji termasyhur sebagai tempat berkumpul para samurai "luar biasa". dan ia telah membulatkan tekad untuk tidak menyesal berbuat demikian. ia melihat Takuan Soho sebagai penyelamat. saya pikir Anda dan dia banyak memiliki persamaan. banyak mendapat kemajuan. menjadi bunga yang berkembang di rumah. Yagyu Gorozaemon. yang kalau tidak berkat dirinya akan merupakan gubuk tua yang dingin dan layu. semakin ia tenggelam dalam cinta pada Musashi. Munenori cepat menyukai Takuan. dan keduanya bersahabat semenjak itu. dan salah satu hasilnya adalah kuil itu jadi dikenal sebagai wilayah pembibitan pemberontakan. Takuan sudah lama menjalin hubungan persahabatan dengan Keluarga Yagyu. Ia bertanya-tanya dalam hati. netcafe. Dengan matanya yang bengkak dan lebar karena kagum ia berseru. Otsu menengadah. Sekalipun melihat Takuan merupakan guncangan bagi Otsu. tetapi juga berbicara dengan saya.property of: CROSSFiRE. yaitu Munenori. Dengan semakin dekatnya siang. dan cucu saya yang telah meninggalkan pekerjaannya pada Yang Dipertuan Kato dari Higo. tetapi semangatnya yang dirobek-robek kesedihan menunjukkan bahwa tidak ada hidup sejati baginya di luar Musashi. "Lho. sikap dingin tertentu mencegah dirinya mempercayai banyak orang. Daun-daun pohon berangan bergetar. apakah ia tidak sedang bermimpi. Tapi kenapa Musashi tak dapat mengucapkan kata-kata. Kedatangannya bukan kebetulan. seakan-akan pohon itu sendiri mengerti dan bersimpati. dan bersama-sama kami menyiapkan teh. "Nah. Dan ia telah menerima jawaban panjang dari Sekishusai. Munenori sudah mendapat kedudukan dalam Keluarga Tokugawa di Edo. artinya samurai yang mencurahkan perhatiannya kepada pemikiran filsafat tentang makna hidup dan mati. dan bukan pula keajaiban. Daitokuji. dan mengarang sajak. Semakin marah. Sebagai anak yatim. Kewajibannya mencakup pembersihan dapur dan pembuatan empleng kacang. Baru-baru ini Takuan singgah beberapa waktu lamanya di Kuil Nansoji di Provinsi Izumi. langit di atas berubah menjadi biru tua. Karena ia mengatakan datang dari Mimasaka yang berdekatan dengan tempat kelahiran Anda dan dibesarkan di kuil yang bernama Shippoji. yang baginya mengesankan. Perkenalannya dengan mereka bermula ketika ia masih seorang biarawan muda di Kuil Sangen'in. Takuan berjumpa dengan Sekishusai dan menaruh rasa hormat yang besar kepada orang tua itu. ahli waris Keluarga Yagyu. Sesudah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Puri Koyagyu. Inc. menyusun bunga. Ia telah memutuskan akan hidup untuk Musashi.

." Takuan memperhatikan dengan saksama. Inc. "barangkali tak akan saya meninggalkan Shippoji. netcafe.. Takuan menjadi sungguh-sungguh.. Setidak-tidaknya bagi perempuan. lalu apa yang telah terjadi pagi itu. dan apakah kalau saya terus hidup akan mendatangkan ketidakbahagiaan padanya. Tapi seperti halnya terdapat kebenaran dalam Zen. Takuan mendengarkan cerita Otsu yang menyedihkan itu sambil mengangguk-angguk sabar. cinta itu satu hal yang jauh lebih serius daripada teka-teki sulit seorang pendeta Zen. sangat sukar bagi Takuan menolak andangan ini. Bagi seorang yang dibuai oleh cinta yang bermakna hidup atau mati." "Oh. saya tak mengerti apa yang Bapak maksudkan.property of: CROSSFiRE. Takuan mengajukan banyak pertanyaan pada Otsu. Kalau memang demikian. tapi itu karena dewa maut ncminjamkan tenaga kepadamu. namun ada suatu kekuatan dalam nada bicaranya." "Hati-hatilah. Ketika mereka bertiga berjalan menuju rumah Sekishusai. Sambil menggigit bibir. Menurut penangkapanku." "Dan apa itu artinya?" "Tak dapat saya mengatakannya pada Bapak. Otsu sudah berhenti berjalan dan kini memandang tanah. tidak. Otsu bersumpah tak akan mengatakan apa-apa lagi. seorang perempuan seperti saya ini hidup? Karena akan mendatangkan kerugian pada Musashi?" Ebook by Kang Zusi . sekiranya saya bermaksud menyerah. entah Takuan dapat memahaminya atau tidak." kata Otsu. " "Saya sudah memutuskan apa yang akan saya perbuat. baik permainannya. Seorang lelaki yang memiliki kemauan seperti yang kaumiliki ini pasti dapat melaksanakan sesuatu demi kebaikan negeri. " "Sava. "Sekiranya saya punya keraguan. apakah salah." kata Takuan tertawa. ada orang-orang yang bersedia mati demi cinta. Tak mungkin bagi orang yang tidak pernah jatuh cinta memahami apa yang dirasakannya. Otsu." "Nah. mencoba menjelaskan perasaannya kepada Takuan sama saja dengan Takuan mencoba menjelaskan Budhisme Zen kepada orang pandir.. saya harap Anda datang dan menikmati santapan ini bersama saya. Ketika Otsu selesai bercerita. tetapi dugaannya bahwa gadis yang dilukiskan dalam surat itu adalah Otsu. Tolol kamu. karena Takuan tidak pernah jatuh cinta. apakah hal ini akan menimbulkan kesulitan baginya. membuatnya bersungguh-sungguh menerimanya. Dalam keadaan bagaimanapun. kalau kau mau mati." "Kukira memang tak akan kamu mengerti. "Kukira kaum perempuan mampu memilih jalan hidup yang mustahil bagi kaum lelaki. Ia kelihatan berada dalam lembah keputusasaan. entah yang pandir dapat memahaminya atau tidak. tak ada bedanya ini dengan udara kosong. ia mengatakan. Baginya. Satu-satunya pertanyaan dalam pikiran saya adalah. kau menghendaki aku memberikan nasihat padamu tentang jalan yang harus kautempuh di masa depan. Ia menyampaikan kepada Takuan apa yang dilakukannya semenjak wrakhir kali mereka bertemu di Himeji dahulu.. "Kau mestinya dilahirkan sebagai laki-laki. yang memaksa Takuan melakukan penilaian kembali. tidak ada bedanya bunyi tepukan sebelah tangan. Otsu!" "Terhadap apa?" 'Di bawah matahari yang terang riang ini dewa maut sedang menariknarikmu. Otsu menjadi marah kembali. khususnva demi hal yang tak lebih dari cinta yang bertepuk sebelah rangan. dan karena Anda demikian dekat dengan tempat ini. Otsu." "Jadi. dan akhirnya bagaimana perasaannya terhadap Musashi. Saya masih bertekad menemui Musashi. saya harus melakukan sesuatu untuknya. dan Otsu menjawabnya tanpa bertele-tele. Pikirnya.

Bapak berusaha membantu. Daripada melihat kamu pergi memasuki dunia biasa dengan segala kesengsaraan dan kesulitannya.. Dan itu akan membuatmu lebih bahagia. Maka serunya kepada Otsu. karena sadar bahwa ia tidak berdaya menghadapi perempuan muda yang berkemauan keras ini. dan katanya. tapi jalan yang hendak kamu tempuh itu jalan kegelapan. Saya akan mengikuti guru saya. Di sini damai dan tenang. Saya tak bisa berbuat lain. memiliki anak-anak. ha! Terima kasih banyak. "Kamu boleh tertawa. biarawan itu sampai pada kesimpulan bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukannya. "Aku akan bicara dengan Sekishusai tentang itu. Kamu mesti tahu. tapi. dan katanya. "Saya tidak." "Ha. tidak ada. "Kamu juga. saya tak pernah bermaksud tinggal lama di sini." "Ah." "Jadi. di tengah pegunungan dan sungai-sungai ini. Otsu. "Tentang bagaimana kamu bisa hidup dan bahagia. ada." Takuan berdiri memperhatikan. Beliau tahu. kamu tak akan mempertimbangkannya kembali?" "Mempertimbangkan apa?" "Tinggal di Pegunungan Mimasaka itu indah. dan melihatmu lagi kamu sudah berbuat seperti semua perempuan lain. ada!" Takuan memasukkan tetesan daya terakhir ke dalam permohonan-nya. Pendeta cemerlang seperti Bapak tak akan dapat memahami perasaan perempuan!" "Tak bisa aku menjawab ini." "Saya mengerti. Inc. bukan? Dan aku berani mengatakan kamu tak akan dapat menangkapnya. Memang benar. aku lebih suka melihatmu hidup dalam kedamaian. Kekecewaan dan kesengsaraan yang tak bisa diselamatkan lagi. dan melakukan hal-hal yang juga dilakukan perempuan lain." "Oh." "Tidak pernah ada jalan terang bagi saya. sedangkan Otsu dan Jotaro menuruni jalan samping." Otsu melengos. Betapapun kamu mencintainya. tak usah kita bicara lagi. ya? Baiklah. sebelum pergi menuruti kehendak hati?" "Saya akan mengucapkan selamat tinggal dalam hati. tapi di sini juga indah." Ebook by Kang Zusi . perempuan bagiku merupakan teka-teki. Pak!" Takuan mengeluh. netcafe. "Apa kamu takkan mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. dan ia dekati gadis itu dan ia pegang tangannya.property of: CROSSFiRE. Kamu bisa mendapatkan suami yang baik di Koyagyu. yang demikian bertekad pergi membuta menempuh jalan yang telah dipilihnya. Jotaro." "Cobalah! Kuminta kamu mencoba!" Sambil menarik tangan gadis itu. dia masih lari. Nak!" Jotaro menggelengkan kepala dengan tegas. belum lama aku tidak melihatmu. Aku tidak bicara soal itu." "Saya lakukan ini bukan karena saya senang melakukannya. "Jangan putar balikkan apa-apa yang kukatakan.. Ia ingin sekali agar gadis itu mempercayainya." "Kegelapan?" "Kamu dibesarkan di dalam kuil. Saya mencintainya!" "Coba. dan hidup di sini sederhana. Kamu akan membuat tempat ini lebih baik. jadi Bapak tidak lihat. "Ayo pergi. ia memandang Jotaro. seperti juga burung-burung bulbul yang kita dengar sedang menyanyi itu." demikian ditawarkannya. bahwa jalan kegelapan dan keinginan itu hanya menjurus pada kekecewaan dan kesengsaraan. Diiringi kerjapan alisnya yang sedih. sejak saya lahir.

dianggap orang sebagai isyarat masa depan. Otsu berdiam diri di persimpangan. dari lagu-lagu rakyat. tak peduli dengan jalan kegelapan dan jalan terang itu. Di sekitar Momoyama sedang terjadi pergolakan." katanya. tapi saya mohon Bapak menyampaikan terima kasih saya dan ucapan selamat berpisah kepada beliau. apalagi seorang jenderal Osaka." kata Otsu. aku bahkan mulai berpikir sekarang bahwa pendeta-pendeta adalah orang gila. Kekuasaan yang sebenarnya berada di Fushimi." kata Otsu. tapi setidak-tidaknya kembalilah ke puri mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. sebutlah namaku. "Sang Budha sendiri pun berputus asa menyelamatkan perempuan." Ia segera berlari. Sebagian karena hubungan air yang langsung ini. "Saya pergi sekarang. Ke mana saja mereka pergi. Sedangkan di Fushimi setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang samurai Osaka. Takuan mengerut melihatnya. "Topeng saya tertinggal di sana. Perbenturan antara yang lama dan yang baru tampak di mana-mana. dan dari wajah para samurai telantar yang mencari pekerjaan. wajah yang akan ia saksikan sesudah Otsu menanggung derita dalam perjalanan panjangnya menelusuri jalan kegelapan. Jotaro bergayut pada lengan kimononya. mereka bertemu dengan orang-orang yang berduyun-duyun menuju neraka. Sungai Yodo melingkar mengelilingi sebuah bukit bernama Momoyama (daerah Puri Fushimi). dan katanya dengan sangat khidmat.property of: CROSSFiRE. Tapi Otsu tetap tak tergoyahkan. "Otsu. setiap gejolak politik di daerah Kyoto segera menimbulkan gemanya di Osaka. tepat seperti matahari yang sedang terbenam berteguh pada keindahannya yang perlahan menghilang. Itu kelihatan dari perahu-perahu yang hilir-mudik di sungai. "Tak ada lagi yang dapat kuperbuat. Pikirkan diriku. dan kembali menjadi teman lama yang pernah dikenalnya. netcafe. dan melangkah meninggalkan Takuan. ayo pergi! Sekarang!" Takuan menengadahkan mata ke awan-awan putih. dan secara naluriah merasa bahwa itulah wajah masa depan Otsu. lakukanlah apa yang kamu suka. dan panggillah namaku! Sementara ini. yang bisa kukatakan cuma. dan tingkah laku orang-orang di jalan raya. Kemudian Jotaro kembali berlari-lari mengenakan topeng. pergilah sejauh kau bisa. Puri Osaka yang dihuni oleh Hideyori dan ibunya. dan cobalah berhati-hati!" MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 3 : API bagian 8 Sasaki Kojiro TEPAT di selatan Kyoto. sekitar 20 mil ke sebelah barat daya. Pak." "Oh. masih terus berusaha bergayut pada sisa kekuasaan yang sudah pudar. "Nah. katanya. Yodogimi. kalau kau nanti mulai tenggelam dalam Enam Jalan Jahat atau Tiga Persimpangan. Batu-batu karang yang dimuntahkan dari perahu-perahu ke tepi sungai Ebook by Kang Zusi . kemudian mengalir terus melintasi Dataran Yamashiro ke arah benteng Puri Osaka. "Saya nyatakan hormat kepada Sekishusai di sini. Inc. saya lupa!" kata Jotaro terengah. Takuan diam. menjatuhkannya." "Selamat tinggal." "Oh." Takuan mengangkat kedua tangannya. Takuan sudah mengingatkannya akan bahaya yang mengintai dalam hidup yang hendak ditempuhnya dan mencoba meyakinkannya bahwa ada jalan lain untuk menemukan kebahagiaan. "Ya. Akan saya ambil dulu. Puri Fushimi sedang dibetulkan. karena Tokugawa Ieyasu memutuskan mengubah cara hidup yang telah berkembang di zaman Hideyoshi. yang dipilih Ieyasu sebagai tempat tinggalnya selama perjalanan-perjalanan jauhnya ke daerah Kansai. meratapi kegagalannya.

Memang bukan uangnya sendiri. adalah orang yang tidak membiarkan para penggarap Ebook by Kang Zusi . Alasan sebenarnya kenapa kuil itu diperbaiki tidak diketahui oleh pekerja rendahan. pasti ada alasannya. dan lalat langau—lambang-lambang kemakmuran." Lalat-lalat merubung kedua orang itu." "Kalau begitu. kehilangan warna lembut cahaya lenteranya di waktu senja. Segerombolan lain merubung dua ekor sapi jantan tak jauh dari situ. tapi kudengar Keluarga Tokugawa sedang membeli senapan dan amunisi kapal-kapal asing. sambil mengobrol tentang soal yang sedang menjadi buah bibir setiap orang. para petani harus diperbolehkan menggarap tanahnya—dengan sedikit sekali mengerjakan yang lain. menurut jalan pikiran Ieyasu. berdebu. Di Fushimi saja. Atap-atap rumah di desa itu berwarna abu-abu kering. Selama mereka dapat memenuhi kebutuhan remehnya. melainkan uang orang-orang yang bisa menjadi musuhnya. Kedua ekor binatang itu masih terpasang pada gerobak balok yang kosong. Kebanyakan batu itu besar. yang secara langsung atau tidak mendapat keuntungan juga dari pekerjaan umum yang besar itu. diam. kita boleh bertaruh. netcafe. Nagoya. Mereka harus dibuat masa bodoh terhadap politik dan diajar mengandalkan diri pada kekuasaan yang ada. Hikone. Orang-orang biasa macam kita ini tak mungkin tahu. kenapa Ieyasu mengawinkan cucu perempuannya. bahkan sekarang pun kebanyakan barangbarang itu berupa perbekalan militer. Batu-batu itu mendesis-desis terkena sinar matahari yang mendidih. Akibatnya kota di sekitar kuil tiba-tiba dibanjiri para penjaja. Salah satu cara Ieyasu untuk mengendalikan para daimyo adalah memerintahkan mereka menangani proyek bangunan. karena ia dapat menghamburkan uang seperti menyebarkan gula-gula kepada anak-anak. mereka berspekulasi tentang apa yang mungkin diperoleh di hari-hari mendatang. Suruga. bermalas-malasan di bawah sinar matahari. yang mengira Ieyasu akan tinggal di situ. cara ini membuat tuan-tuan feodal yang bersahabat terlampau sibuk untuk melunak. dan berliur mulutnya. para pengusaha besar menyimpulkan bahwa perbekalan militerlah yang paling menguntungkan. Tujuannya sebagian besar bersifat politik. dan para pedagang mengkhayal bahwa di atas ini semua akan ada kesempatan buat terjadinya perang lagi—yang akan lebih menguntungkan. dan selusin kota kuil yang lain lagi. Sebagai gantinya. Dalam panasnya tengah hari. pelacur. Dalam hal ini pun Ieyasu tidak mengecewakan mereka." "Memang kupikir begitu. Seekor jangkrik melesat berkelok-kelok dari sungai ke sebuah rumah kecil di dekat tepi sungai. "Kau pikir akan ada perang lagi?" "Kenapa tidak? Rasanya tak ada orang yang cukup kuat untuk memegang kontrol." "Kupikir kau benar. dua pekerja yang beruntung mendapat istirahat setengah jam dari kerja yang mematahkan tulang punggung itu berbaring telentang di permukaan sebuah batu besar yang lebar.property of: CROSSFiRE. apa yang ada dalam pikiran Ieyasu. dengan Hideyori?" "Mana aku tahu? Apa pun yang dia lakukan. hampir seribu pekerja dikerahkan memperluas gerigi batu di atas benteng. Jenderal-jenderal Osaka tampaknya sedang mengumpulkan semua ronin yang dapat mereka temukan. Bagi mereka tidak banyak bedanya siapa yang berkuasa. Sesudah menghitung dengan sipoa kolektifnya. sekaligus memaksa para daimyo yang melawan Ieyasu di Sekigahara berpisah dengan sebagian besar penghasilan mereka. Kerja pembangunan besar-besaran dilaksanakan juga di Edo. panas yang membakar mengingatkan orang pada hari-hari terpanas setelah musim hujan di awal musim panas. tenang. Tokoh-tokoh setempat tidak lagi diizinkan memerintah semaunya atau mengerahkan petani semaunya untuk kerja luar. Padahal perbaikan itu merupakan satu tahap saja dalam program pembangunan besarbesaran. Senhime. Dalam pertanian pun ia memperkenalkan sistem pengendalian baru. Penguasa yang berbudi. Masyarakat luas gembira dengan masa baik yang didatangkan Ieyasu. Walaupun waktu itu musim gugur menurut kalender. Barang-barang berlalu lintas dengan sibuknya. tak ada alasan untuk mengeluh. benar-benar menggunung. suatu bagian penting dari rencana pemerintahan Tokugawa. luasnya paling sedikit dua meter persegi dan tingginya sekitar satu meter. Penduduk kota dengan cepat melupakan hari-hari yang tenang pada masa kekuasaan Hideyoshi. Otsu. Karena tak ada yang cukup kuat untuk menolak. Dari sekarang. Tujuan lain pemerintah adalah memperoleh dukungan rakyat banyak. Barangkali tak boleh aku bicara keras-keras. Inc. Pohon-pohon liu di dekat jembatan berkilauan putih.

tak mungkinlah keadaan mereka lebih buruk dari yang sekarang. dan menjual tenaga sebagai buruh harian di Fushimi. "Semangka? Ya." Kecewa karena keberuntungan awalnya terhenti. Untuk sesaat kelihatan olehnya seolah sudah terlambat untuk mengadakan perubahan. "Siapa lagi?" "Kamu gila.property of: CROSSFiRE. sedangkan tangannya merangkul lutut. biasa berkeliling. Kekeliruannya yang pertama adalah pergi ke Sekigahara. Begitu muncul. teman-teman dekatnya masih mengenalnya. Bayangan kelelahan menyamarkan usia mudanya. sedangkan matanya yang hitam tidak memperlihatkan tanda-tanda kekuatan ataupun harapan. Tak seorang pun berpikir tentang apa yang bakal terjadi lima ratus tahun lagi. itu berarti menutup mata. Gerakan kecil itu saja sudah membuatnya kehabisan tenaga. dan membebaskan diri dari Warung Teh Yomogi. Aku dapat melakukan apa saja kalau aku mencoba!" Setiap orang bisa saja mengalami perasaan seperti itu. Pekerja itu kurus. Takezo. menjadi kepala Keluarga Hon'iden. menjadi suami seorang istri yang cantik. dan kakinya menyandar pada batu lain.. netcafe. lalu memberikannya kepada gadis itu. Mereka hanya memiliki harapan sederhana. sekaligus menjaga agar mereka tidak naik melebihi statusnya. Sedikit pun tak ada lagi tenaganya untuk mengambil kembali semangka yang terjatuh dari pangkuannya. Dan semenjak ia berakal sehat. di waktu seperti itu. dan membikin iri seluruh kampung. "Umurku baru dua puluh dua. meloncati jurang lima tahun lamanya. Apa pun yang terjadi.. kadang-kadang memikirkan bekas tunangannya itu merupakan hiburannya satu-satunya. gadis itu mendekati seorang pekerja muda. ia mengetahui bahwa Miyamoto Musashi yang meraih reputasi sebagai pemain pedang di ibu kota itu ternyata teman lamanya. ia pun berhasil menjual semangka pada beberapa lelaki yang sedang mengadu mata uang di bawah bayangan batu besar. ya? Kaukira kami punya uang buat semangka?" "Sini! Saya sih mau saja—kalau tanpa bayar. Karena ingat akan Otsu. Tak seorang pun. Sekalipun mereka berbicara tentang perang dan tentang kapan perang bisa meletus. Ketika ia menyandarkan diri kembali ke batu. matanya cekung. Dengan jemu ia memandang semangka itu. semakin sering ia memikirkan Otsu. maupun daimyo tidak sadar bahwa mereka dengan hati-hati sedang dijalinkan ke dalam sistem feodal yang akhirnya akan mengikat kaki dan tangan mereka. Dengan lesu ia menghitung beberapa keping mata uang kotor dalam telapak tangannya. dan Takezo. Yang kedua. Dengan riangnya ia beralih dari satu gerombolan ke gerombolan lain sambil berseru. Yang dimaksudkannya adalah orang-orang yang hendak dibalasnya: Oko. ia sudah berhenti minum. mulailah ia merindukan Otsu kembali. siapa beli semangka?" seru seorang anak perempuan petani yang setiap hari. Namun demikian. si Wajah Berpupur. makin cepat makin baik. dan mencoba menanggalkan sifat malas dan kebiasaan buruknya. tanah mati kelaparan. Tetapi mulanya ia tidak dapat menemukan pekerjaan yang cocok. "Kukira Otsu pasti membenciku sekarang. tapi dalam hal Matahachi. tunduk kepada janda yang menggairahkan itu.. ia mencondongkan badan ke samping dan mulai meludah ke rumput. Merasa mual. Sampailah ia pada keyakinan bahwa sekiranya bukan karena kedua peristiwa itu. Inc. yang sedang duduk di antara dua batu besar. Dialah Hon'iden Matahachi. Ebook by Kang Zusi . Guncangan keras ini segera disusul gelombang cemburu hebat. petani. Dengan kebijaksanaan inilah ia bermaksud mengabadikan kekuasaan Tokugawa. Apa gerangan yang sedang dia lakukan?" Dalam keadaan sekarang. "Babi!" gumamnya lemah. Disumpahinya dirinya sendiri karena selama lima tahun tidak mengikuti arus perubahan. sementara selama itu seorang perempuan yang lebih tua menanggung hidupnya. kecuali Ieyasu. "Semangka?" tanya gadis itu. Pada malam keberangkatannya. pemilik pedang kayu. namun rencana-rencana besar untuk menjaga perdamaian dan meningkatkan kemakmuran tidak berhubungan sama sekali dengan mereka. Ketika sifat Oko yang sebenarnya akhirnya ia pahami. Para pekerja di Puri Fushimi itu pun tidak memikirkan hari esok. Yaitu sekadar melewati hari itu. Ia bersandar pada batu yang satu. ia sudah ada di rumahnya di Miyamoto sekarang. walaupun tidak begitu menaruh harapan. sedangkan kulitnya merah sehat terbakar matahari. kepalanya merunduk murung. Baik orang kota. "Belum terlambat!" demikiari ia meyakinkan dirinya.

"Tak ada alasan. "Kembali kerja. Inc. telah mencatat beberapa syairnya dalam sebuah surat. Biar aku beristirahat di sini sekitar sejam. Yang Dipertuan Togoro. dan menunggunya selama itu? Sedikit kemungkinannya. "Akan kutunjukkan pada semua orang!" demikian pikirnya. manis menetes-netes itu. Yang Dipertuan. Tapi sepuluh tahun—tak mungkin! Tak akan lebih dari lima atau enam tahun! Dalam jangka waktu itu ia sudah mencapai sukses." "Oh. sa. biarpun sudah mengalami peristiwa dengan Oko. namun sekali lagi ia terserang gelombang pusing. Pada waktu itu ia akan kembali ke kampung. "Kenapa kamu beli semangka kalau kamu tak bisa makan semangka?" "Aku beli ini untuk kalian semua. kawan-kawan! Makan ini. membudakkan diri dengan tekun dari hari ke hari. dan akan kulakukan. Sekalipun kata-katanya jarang dituliskan. kenapa aku tak dapat memperoleh nama untuk diriku. meminta maaf kepada Otsu. sa. berapa sudah umur Otsu waktu itu. Lalu aku akan melakukan pembalasan. "Kukira itulah yang baik. Kaki tangan kita gemetar. Matahachi tak tahu sama sekali tentang apa yang belum lama itu terjadi di Mimasaka. Tiga puluh satu! Apakah Otsu akan tetap sendiri. "Itulah satu-satunya cara!" ucapnya. dan membujuknya untuk kawin. Matahachi yang bayar. atau paling banyak enam tahun. Batu itu maju dengan berat dan lambat." Para penghela batu besar yang tegap-tegap itu mencemoohkan kelunglaiannya.. bagus juga. Tarik ya! Seret ya! Tarik ya! Seret ya! Tuan kita bicara. seseorang melompat ke atas batu dan pekiknya. Justru pada waktu itu salah seorang teman kerjanya berdiri di seberang batu besar di depannya. ketika sebuah batu raksasa dipindahkan dengan pengumpil-pengumpil besar ke atas gelindingan dan diseret dengan tali-tali setebal lengan. karena aku tak bisa mengerjakan bagian kerjaku. hei. ei. kalian!" Samurai yang bertugas keluar dari sebuah gubuk memegang cambuk. membagi-bagi daging buah yang merah. Yang kubutuhkan sekarang cuma sepuluh tahun. yang bertanggung jawab atas pembangunan Puri Nagoya. Karangan sederhana seperti di bawah ini menjadi semacam mode di tengah masyarakat. Ei. Buat Tuan Yang Mulia. Segera kemudian terdengar lagu kerja para penghela batu di medan kerja itu. Aku dapat melakukan apa saja yang dilakukan Takezo! Aku dapat melakukan lebih dari itu. tua-muda. lagu-lagu berirama ini pun berkembang biak." Ia menatap semangka itu. Dengan ramainya pembangunan puri. walaupun dengan cara baik-baik saja. Hei. Tak dapat ia mengetahui bahwa khayalannya kosong.." jawab Matahachi. Agak bangga juga ia dapat bertahan di situ. "Hei. juga di antara para pekerja. Sambil menopangkan siku ke puncak batu besar lebar itu. Dari Awataguchi kita menariknya Menyeretnya batu demi batu-demi batu. Bau keringatnya menyebar ke atas tanah. sementara matahari menyengatnya dari musim panas sampai musim gugur.property of: CROSSFiRE. Tapi kita setia padanya-sampai mati. seperti gunung yang bergeser. Salah seorang bertanya. Di situ ia bekerja keras. tidak kurang dari Yang Dipertuan Hachisuka dari Awa. dan kilas cahaya tampak kembali pada matanya. "Kukira terlalu banyak aku terkena panas matahari. "Lima tahun. bukan apaapa!" Sengal-nya. yang tentunya tak ada kesempatan biarpun cuma menyentuh bahan-bahan bangunan. Air liur keluar dari mulutnya ketika ia mengguncang-guncangkan kepalanya. "Semua orang. Apa semangka itu busuk?" Matahachi terpaksa menampakkan senyuman lemah. Matahachi. netcafe. apa yang kau gumamkan sendiri? Mukamu kelihatan hijau. menyanyikan lagu ini. Begitu semangka habis. "Ini bukan apa-apa. jelas telah mengetahui syair-syair itu dari sebuah pesta." Buruh-buruh pun memecahkan semangka itu di sudut batu dan menyerbu-nya seperti semut. karena lagu ini bagian dari dunia mengambang yang kita tinggali!" Ebook by Kang Zusi ." Sepuluh tahun? Ia berhenti untuk menghitung. Penulisnya berkomentar. sekalipun sedang mau muntah. teman itu berseru.

ia pun mendudukkan diri di samping sebuah batu yang lebar rata. termasuk juga iringan semut yang sedang berbaris di situ. Sekarang benteng ini tidak hanya dibangun kembali." Ia kembali ke batunya sendiri. lagu-lagu bahagia dan gembira sering terdengar di tempat umum. Ia duduk membelakangi pendatang itu dan sekali-sekali muntah. dan pada halaman kedua ia mulai membuat diagram jalan-jalan dari belakang. Tampak olehnya seorang pemuda jangkung." jawab Matahachi. benteng. tetapi pada tahun-tahun makmur kekuasaan Hideyoshi. nyanyian yang spontan sifatnya cenderung memberikan tempat kepada musik yang digubah oleh para musisi yang mengabdi kepada para shogun. Kalau tidak kerja. "Tapi apa gunanya. juga sebagian paritnya. Inc. Kemudian hari. Dalam keadaan seorang diri. Sekalipun panas matahari menyengat langsung wajahnya. Calon prajurit itu membuat sketsa sepintas-lintas secara cepat. "Terima kasih. dan di pinggangnya tergantung satu bungkusan seperti yang biasa dibawa oleh shugyosha. dan nyanyian dengan katakata "tarik-ya" itu mendengung. seperti segerombolan lebah. "Lima tahun. Tepat sebelum Pertempuran Sekigahara. menderita kerusakan besar. melainkan juga diperkuat. Di bawah tepi topinya. "Hei. apa untungnya itu untukku? Aku kerja sehari penuh. Ia sedang memandang kerangka bangunan dengan penuh renungan dan sedang menaksir medannya. yang kudapat cuma cukup buat makan sehari. Kepala itu demam oleh suhu tinggi. namun lagu-lagu mereka benar-benar mencerminkan semangat zaman. kemudian sambil menopangkan kepala ke batu dengan sikunya. Orang lain tidak ada artinya sama sekali baginya." rintihnya. Ia mendekat dan memasukkan obat itu ke mulut Matahachi. tapi saya pusing. dan ia menengadah. Kaum buruh di Fushimi tidak sadar akan gema sosial lagu-lagu ini. aku tidak makan. ia tetap tak bergerak. ketika kerasnya kekuasaan Ieyasu mulai terasa. kini ia menjadi murung. dan mulailah ia menggambar. "Kenapa kamu?" "Panas ini. dan dua pekarangannya. dan kelihatannya tak mempan oleh panas yang tak menyenangkan itu. mengiang di telinganya. Umpamanya aku kerja keras. Ia buka alas di atas batu itu." Waktu itu dirasanya ada orang berdiri di dekatnya." "Apa kau mau istirahat lebih lama di sini?" "Ya. Matahachi meletakkan kepalanya ke tangan. matanya bergerak ke sana kemari dari puri ke lingkungan terdekatnya. Ebook by Kang Zusi . "Sebentar lagi kau sembuh." "Mau obat?" kata samurai itu sambil membuka kotak obat yang dipernis hitam dan menumpahkan pil-pil merah ke telapak tangannya. puri ini diserang oleh kesatuankesatuan Tentara Barat. Lagu-lagu populer pada zaman merosotnya ke-shogun-an Ashikaga pada umumnya bersifat dekaden dan kebanyakan dinyanyikan secara pribadi. Kasih tahu aku kalau nanti ada orang dating lemparkan saja kerikil atau yang lain. Ketika kekuasaan Tokugawa menjadi lebih kuat. Sesudah beberapa waktu. Ditiupnya pasir di atas batu itu. Sebuah emblem dalam bentuk kipas bertulang baja yang setengah terbuka." "Kalau begitu. Ia tidak melihat Matahachi yang waktu itu masih terlalu merana untuk peduli. ia kembali mengamati baikbaik lingkungan sekitar." katanya. duduk di situ. nada-nada itu kehilangan sebagian semangat gembiranya." "Sebetulnya lebih baik dari biasanya. Segera kemudian samurai itu tahu bahwa Matahachi sedang muntah. menghiasi bagian depan topinya.property of: CROSSFiRE. pegunungan di latar belakang. aku mau minta tolong. termasuk juga menara utama. dan mengeluarkan kuas dari kantong tulisnya dan buku tulis dari kimononya. apakah ada orang atau tidak di dekatnya. namun dengan perincian luas mengenai seluruh puri. dan kali-kali kecil. "Kau sedang kurang sehat rupanya. netcafe. Kepalanya tertutup topi anyaman kasar dalam-dalam. sungai." katanya. sehingga akan mengalahkan Benteng Hideyori di Osaka. Tinggi batu itu tepat sekali untuk meja tulis.

"Apa yang kamu lakukan ini?" serunya." "Apa dasarnya? Apa kamu perwira?" "Betul. "Uh-Oh!" ujar Matahachi pelan. Mereka semua mengajukan alasan macam itu." salaknya. Kedua orang itu tarik-menarik. "Awas kamu!" seru si inspektur." kata si inspektur. Tak peduli siapa kamu. Segera kemudian calon prajurit itu mengangkat tangan untuk mengusir lalat dari kerahnya yang berkeringat. jangan. dan si inspektur menatap kembali dengan marahnya sebentar. "Aku mau lihat dulu. Orang itu berdiri diam. memperbaiki kedudukannya. Kamu mesti menjawab beberapa pertanyaan. menginjaknya. Ia menengadah dengan mata terkejut. Calon prajurit itu menangkap pergelangan tangannya dan bangkit berdiri. supaya dapat memberikan peringatan." "Kupikir lebih baik aku menyimpannya. dan buku tulis sobek menjadi dua. seakan-akan menanti dilihat orang. berpakaian setengah zirah dan mengenakan sandal jerami. Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. Kini sudah terlambat. dan menarik lembing kapaknya. dan waktu itulah tampak olehnya si pengganggu itu. "Lebih baik kamu memberi penjelasan baik-baik. pegawai-pegawai bejat! Terlalu biasa kalian menakut-nakuti orang banyak. Inc." "Apa kelompokmu? Siapa komandanmu?" "Bukan urusanmu. yang kemudian berdiri di belakang pembuat sketsa itu." "He. tapi tibatiba saja muncul inspektur proyek. Ayo sini ikut aku!" "Jadi." "Oh. aku punya perintah untuk menyelidiki siapa saja di tempat ini yang kelihatan mencurigakan. "Kalau kamu tak mau ikut dengan sukarela." "Ini tugasku!" "Mengganggu urusan orang lain itu tugasmu?" "Kenapa? Apa tak boleh aku melihat?" "Orang bebal macam kamu tak bakal mengerti. Siapa kasih kamu izin membuat sketsa?" "Lho. Atau kuadukan kau. Apa salahnya?" "Tempat ini penuh mata-mata musuh. Tapi kau boleh tahu. Matahachi merasa bersalah karena tidak melihat pada waktunya. Inspektur itu menjatuhkan belahan buku tulis tersebut. kau menuduhku penjahat?" "Tutup mulutmu dan ikut aku. terpaksa aku mengikat dan menyeret-mu. tiap kali kalian membuka mulut besar itu!" "Diam kamu! Ayo ikut!" "Jangan kau coba-coba denganku!" Calon prajurit itu tetap tak mau menyerah. aku sedang membuat telaah tentang puri-puri dan ciri-ciri geografisnya buat rujukan masa depan. Si calon prajurit melompat mundur selangkah. Inspektur mengambil buku tulis itu dan mengacungkannya tinggi-tinggi. Entah dari mana datangnya. Nadi-nadi di dahinya menggelembung marah. "Kau tak punya hak. netcafe. jangan!" teriak calon prajurit itu hendak merebut buku tulisnya. kemudian mengulurkan tangan ke arah gambar.

tapi kata-kata itu kurang cepat waktunya untuk didengar si inspektur. Matahachi sungguh terpesona. tapi seorang penjaga melihatnya dan menjegalnya dengan tongkat berpaku. dan dengan ujung senjata itu ia banting si penjaga dengan kepala di bawah. lawannya sudah beraksi. sampai akhirnya seolah-olah ia terbang bersama angin. karena kepala si inspektur sudah menganga di atas batu. hingga tak seorang pun dari beratus-ratus buruh yang ada di sekitar tempat itu. dan mencoba menyelinap. Mata pengawas umum para tukang kayu dan pembelah kayu yang berdiri di puncak perancah tinggi. dan sekali lagi menyembunyikan mukanya yang mengerikan itu dari pandangan mata. yang terus melawan seperti binatang kena perangkap. Kemudian ia menoleh ke sekitar tenang-tenang. Belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan. Setelah menjatuhkan empat atau lima orang lagi dengan cara seperti itu. tapi ketika ia bersiap-siap menerobos lingkaran yang mengepungnya. Calon prajurit itu tidak terburu-buru melarikan diri. pengangkut tanah. hujan batu menimpanya dari segala jurusan. si calon prajurit cepat kembali kepada sikap tenang sepenuhnya." "Bunuh dia! Bunuh dia!" Para penghela batu. "Ada mata-mata! Mata-mata dari Osaka!" "Tak mau juga mereka itu belajar. Para pekerja melanjutkan kerja keras seperti lebah. Mungkinkah orang itu sudah terbiasa mem-bunuh dengan cara brutal seperti itu? Ataukah sifat darah dingin itu sekadar akibat ledakan kemarahan? Karena gentar yang sehebathebatnya. ia menarik pedang besarnya dan mengambil sikap menyerang. Sambil melolong keras ditangkapnya leher inspektur itu dengan sebelah tangan. Ia mengumpulkan dahulu bagian-bagian buku tulisnya yang robek-robek. ataupun orang-orang yang mengawasi pekerjaan mereka. lalu menyerang si penjaga. Ia merebut tongkat dari tangan penjaga. ia mengenakannya dengan hati-hati di kepala. kemudian dibantingnya ke sebuah batu besar. ia meneriakkan perintah. Ebook by Kang Zusi . Namun ada sepasang mata khusus yang menyaksikan semua itu. Teriakan-teriakan marah mengudara dari kerumunan orang banyak. Melihat calon prajurit itu melarikan diri. Sementara itu. Orang-orang yang hendak menangkapnya undur ketakutan. "Ada apa?" "Perkelahian lagi?" Yang lain-lain mendengar seruan untuk memegang senjata. dan segera kemudian berkepul debu kuning di dekat gerbang kayu benteng yang memisahkan wilayah pembangunan dengan kampung. Matahachi mulai mengucurkan keringat. Sesudah ditemukannya topi itu. yang semula minum teh di bawah perancah. Samurai itu berlari di belakang kereta sapi yang sedang keluar dari gerbang. Menurut terkaannya. Dari atas perancah pengawas terdengar teriakan. dan dengan tangan lain dicengkeramnya ujung bawah baju zirahnya. dan kelihatannya tidak berdagu. dan lain-lainnya berteriak-teriak seakan-akan "mata-mata" itu musuh pribadinya. Wajahnya yang kurus dan terbakar matahari itu bopeng. Barangkali karena bekas luka pedang yang dalam dan mencekung aneh bentuknya. "Orang udik tak berguna!" jeritnya. untuk mencari topinya yang terbang ketika ia melaksanakan lemparan hebat tadi. seperti semangka. Inc. Seluruh peristiwa itu terjadi demikian cepat. dan sekelompok serdadu. Kemudian pergilah ia dengan langkah cepat dan semakin cepat. yang memungkinkannya meninjau seluruh wilayah tersebut. sementara para pengawas yang bersenjatakan cambuk dan lembing kapak meneriakkan perintah-perintah ke punggung mereka yang berkeringat. dan menyerbu ke arah samurai tak berdagu itu. segera bergerak. sempat melihatnya. Matahachi berteriak ngeri sambil menutup muka dengan tangan untuk melindungi diri dari gumpalan-gumpalan benda encer merah yang melayang ke arahnya.property of: CROSSFiRE. orang itu belum lagi berumur tiga puluh. netcafe. "Jangan lepaskan dia!" Tanpa ragu-ragu lagi orang banyak itu menyerang si pelaku kejahatan.

tak apa-apa. Sikap mereka lebih kejam lagi. Seorang prajurit yang berbakat sederhana dapat mencapai sukses hanya dengan mengadakan perjalanan dari kuil satu ke kuil lain.. Kepalanya tergeletak miring di tanah. Padahal dia belum lagi tua. Seperti umumnya orang kebanyakan. Tangan orang itu menjulur seperti sirip penyu dan mencakar tanah. kaum buruh ini menganggap samurai pengembara tak berguna. Dalam lima menit saja wilayah pembangunan yang luas itu kembali seperti keadaan semula. dan panas yang menumpulkan pikiran-semuanya kembali biasa. padahal orang itu sudah sedemikian dekat dengan maut. Kengerian tiba-tiba menyadarkannya bahwa prajurit di depannya itu bergerak. Tali itu mengikatkannya pada sebuah batu besar. Dua pengawal berdiri di samping tubuh yang jatuh itu. ringkik kuda yang sudah setengah kacau karena panas matahari. dan jika lebih beruntung lagi ia dapat menerima penghasilan tetap dari seorang daimyo. Ingin tahu juga. Apakah ia benar-benar meratapi nasib orang itu. seluruh jalan pikirannya mulai dirasa betul-betul bodoh olehnya. "He. ataukah ia prihatin dengan kekaburan masa depannya sendiri? "Untuk orang yang mempunyai ambisi. tidak produktif. melecut mereka untuk memperbaiki statusnya dalam hidup." Ia memandang ke sekitar. hitam oleh kotoran dan darah kental. Ke manakah arah jalan yang ditempuh Musashi? Keinginan Matahachi untuk menyamai atau melebihi temannya semasa kanak-kanak memang belum mereda. Sekarang dia sekarat. Orang banyak melampiaskan kemarahan sepuas-puasnya. seakan-akan tak ada yang telah terjadi." Waktu itu adalah abad yang memacu harapan orang muda. terdengar oleh telinga. tapi kepalanya tidak dapat menangkap maksudnya atau makna peristiwa yang baru saja disaksikannya. ia dapat diambil oleh salah seorang bangsawan daerah. tapi agaknya ia lebih suka mengumpat para penyerangnya daripada menghindari batu-batu yang dilontarkan kepadanya." pikirnya. Bunga-bunga api yang berterbangan dari berbagai alat pemotong. Ia memang melawan mereka. Namun. Kemudian dalam sekejap segalanya berlalu. karena rasa benci yang dalam terhadap semua shugyosha. "Beberapa menit yang lalu dia masih sibuk membuat sketsa. Inc. dan tawon-tawon mulai terbang di sekitar rambutnya yang kusut." Matahachi tercengkam oleh kesangsian aneh. netcafe.. dari semua pemuda yang mulai dengan harapan-harapan tinggi itu." demikian pikirnya. jangan seperti orang kasar bodoh!" teriak samurai yang sudah terkepung itu." pikir Matahachi. Semutsemut sudah hampir menutup kedua tangan dan kakinya. dan hidup dari kedermawanan para pendeta." Ia merasa kasihan kepada samurai tak berdagu itu. hingga mengeluarkan suara pun tak bisa. Sementara Matahachi merenungkan samurai yang terbaring di depannya itu. dan terlihatlah olehnya Matahachi. Kalau beruntung. "Hei. yang mendorong mereka untuk mendambakan suatu impian. Semua itu seperti mimpi buruk yang tampak oleh mata. "jadi bisa kita tinggalkan dia di sini sampai hakim datang. Biar dia mati. dan sombong. "mestinya ada cara yang lebih baik untuk maju." kata salah seorang pengawal. Matahachi merasa heran. tapi tak dimengerti oleh otaknya. tetapi melihat prajurit yang berlumur darah itu. dan urutan pikirannya pun tiba-tiba berhenti. yang telah diikat dengan tali rami besar. sedangkan tulang keringnya yang putih menyembul dari tengah daging yang merah tua. Barangkali juga ia sudah mati. "Sudah sembilan puluh persen mati. Dengan lemah ia Ebook by Kang Zusi . mencoba menyuruh orang-orang itu berpikir dan menahan diri. kamu! Jaga orang ini. "Kalau dia belajar sungguh-sungguh. Sebelah kakinya menyembul aneh dari tengah sobekan panjang hakamanya. Jalan Pedang pun jadi tampak sia-sia dan tolol. kenapa para pengawal mengambil tindakan berjaga-jaga demikian rupa. pasti dia mempunyai ambisi besar dalam hidup. Selebihnya harus merasa puas dengan kepuasan yang dapat mereka peroleh dari pengetahuan bahwa citacita mereka sukar dan berbahaya." Matahachi mendengar kata-kata itu. abad ketika orang seperti Matahachi pun dapat berkhayal akan bangkit dari ketiadaan dan menjadi penguasa sebuah puri. Ya. Teriakan mereda. Darah merembes dari kulit kepalanya. hanya satu dalam seribu yang benar-benar mengakhiri usahanya dengan menemukan kedudukan dengan pendapatan memadai. "Orang sial. dari mana dia datang. Tidak sedikit para penonton yang tidak bersalah ikut terluka dalam perkelahian itu. dan mukanya masih memperlihatkan kemarahan. dan kaum buruh mulai kembali ke tempat kerja masing-masing.property of: CROSSFiRE. dan apa orangtuanya masih hidup. "Hidup ini begini rapuh.

pasti ia mengalami kesulitan hebat. Samurai yang terbaring di ambang kematian itu telah dikuasai oleh suatu kekuatan setani yang memungkinkan-nya jauh melebihi kekuatan manusia biasa. Hampir Matahachi tak percaya dengan matanya. saya bisa lihat dengan jelas. kulit di bawah kerah kimononya sudah berwarna biru kehitaman. "Apa tidak gelap di situ?" seru perempuan itu. sekalipun banyak orang menyombongkan diri memiliki kekuatan setara sepuluh atau dua puluh orang. "Kamu itu. kemudian masuk cepat ke kamarnya sendiri dan mengambil kimono dan pedang dari lemari. menyeret batu karang seberat hampir dua ratus kilogram yang menjadi tambatan tali pengikatnya. Ditengoknya dari balik sebuah batu. netcafe. ia memperlihatkan sebagian kulitnya yang putih dari balik pintu samping. dan serunya. hingga tak mungkin baginya membentuk kata-kata. "Tidak." "Apa tidak mandi? " "Tidak. Saya akan pergi. Kalau tertangkap menyimpan milik orang mati itu.property of: CROSSFiRE.." Sedikit demi sedikit mengertilah Matahachi bahwa orang itu mengatakan "tolong". ia dengar langkahlangkah kaki mendekat. Sebagian di antaranya bahkan masuk ke dalam lubang hidungnya yang sudah tersumbat keringan darah. sedangkan seharusnya ia mengingat-kan orang itu akan datangnya sang inspektur? Apakah memang sudah ditakdirkan itu terjadi? Matahachi mencoba-coba meraba bungkusan kain dalam obi orang mati itu. Isinya pastilah dapat mengungkapkan siapa orang itu dan dari mana ia datang. Kepalanya jatuh ke belakang dan napasnya berhenti. tetapi lidahnya sudah menjadi hitam dan kering." Ebook by Kang Zusi . mengangkat tubuhnya. dan tampaklah oleh Matahachi. Napasnya terdengar sebagai desisan yang merongga terputus-putus. dan tampak olehnya seorang samurai datang untuk mengambil mayat itu. Matanya yang menonjol dari ceruknya memandang dengan nada memohon kepada Matahachi.. Maka diambilnya bungkusan itu dan dimasukkannya cepat-cepat ke dalam kimononya sendiri. Ia mencoba mati-matian untuk berbicara." "Tak perlu. dan telah menunjukkan kebaikan hatinya dengan memberikan obat kepadanya. Orang itu bergerak sedikit demi sedikit di tanah. dan Matahachi menangkapnya sebagai ucapan "saya minta". Matahachi menduga bahwa permintaan orang itu di waktu sekarat adalah agar tanda mata yang ada padanya disampaikan pada keluarganya. Kenapa nasib telah membutakan mata Matahachi. Mendengar Matahachi ada di dalam rumah. menegakkan kepala. apakah akan memotong sedikit rambut orang itu untuk disampaikan kepada ibunya. dua kaki—sungguh suatu peragaan kekuatan seorang manusia super! Tak seorang pun manusia berotot atau tukang hela batu yang dapat melakukan itu. Apakah yang diinginkan orang itu darinya? Matahachi merasa dikejar-kejar oleh pikiran bahwa kini ia menanggung kewajiban. Istri pemilik toko sedang berada di samping rumah. Nanti saja. Di situlah terletak akhir air matanya dan kepastian mautnya. Maka ia mengendap rendah-rendah dan menyelinap dari bayangan batu yang satu ke bayangan batu yang lain dan meninggalkan tempat itu seperti seekor tikus ladang. Samurai itu sudah mendatanginya ketika ia sakit. Dua jam kemudian ia tiba di toko manisan tempat ia tinggal. "To-lo-lo-ng. Matahachi?" Matahachi menjawab dengan gerutuan keras. Lalu ia bersoal-jawab dengan dirinya sendiri. dan menarik tali tegang-tegang. kemudian ia ikatkan handuk yang sudah digulung di sekitar kepalanya dan bersiapsiap mengenakan sandal lagi. tapi ketika sedang menatap wajah yang mengerikan itu. Satu kaki." "Akan saya bawakan lampu. Namun mata orang itulah yang terutama berbicara. Maka lebih banyak lagi semut keluar dari dalam rumput untuk menjelajahi rambut yang memutih oleh debu itu. Kemudian terdengar bunyi lain yang tak jelas ucapannya. membasuh diri dengan air tempayan. Inc. Bunyi menggelegak terdengar dari tenggorokan orang sekarat itu.

dan terlihat olehnya sekelompok samurai datang dari seberang padang miskantus. pada dadu semua adalah kemungkinan. Bunga miskantus tegak setinggi bahunya. Ketika ia sudah lebih dekat. tampak bahwa pagar dan pintu gerbang rumah itu miring. Hati Matahachi jadi menggigil. Seperti halnya pada Matahachi. didapatinya si pemain memang anggota kelas itu. Kusembunyikan rasa senduku Dalam lipatan lengan kimonoku. Namun rumah itu tadinya tentu milik satu keluarga berada. dan bayangan dirinya di dinding makin besar. Orang itu bermain sederhana saja. Pemandangan di situ mengingatkannya pada sebagian sajak penyair Saigyo yang pernah ia pelajari di masa kanak-kanak: Saya dengar ada kenalan saya tinggal di Fushimi. Ia meringkuk di dekat rumah itu sambil membisikkan kata-kata yang sudah lama dilupakannya itu. Ketika melintas gerbang yang tampak murung itu. ia terus berjalan menempuh panjangnya ladang itu. Orang itu duduk di samping perapian. tampak olehnya rumah utama dan rumah kecil yang terpisah itu sudah hampir terkubur rumput liar. Mereka memasuki toko manisan itu dari depan dan belakang. duduk di kereta bertabir mewah yang sedang mendekati rumah itu dengan langkah megah. dan kabut yang turun melembapkan pakaiannya. Karena ingin menemukan tempat berbaring dan beristirahat. Segera sesudah merasa jauh dari jangkauan para pengejarnya. Aku harus melakukannya. Sementara serangga-serangga menyanyi. Tapi ke mana ia harus pergi? Suatu pilihan yang sukar. Tapi cobalah lihat diriku ini! Ebook by Kang Zusi . Beberapa menit kemudian ia menoleh ke belakang." Menurut jalan pikirannya. Biji-biji rumput menempel ke lengan kimononya. dan saya pergi berkunjung kepadanya. pendeta itu mengeluh dalam dan mulai meratap. dan di seberang sana tampak atap sebuah rumah. hingga Matahachi mendapat kesan bahwa ia cuma menaruh sedikit rasa bangga pada permainannya sendiri. Lebih-lebih karena ia yakin benar bahwa keberuntungan terletak di satu jurusan dan nasib malang di jurusan lain. Api yang baru dinyalakannya bertambah terang. Baru saja ia akan menyimpulkan rumah itu kosong. walaupun sudah layu. ia pun mulai merasa sengsara karena harus berjalan. Osaka? Kyoto? Nagoya? Edo? Ia tak punya seorang pun teman di tempat-tempat itu. tetapi halamannya demikian tertutup semak! Saya bahkan tak dapat melihat jalannya. Ia membayangkan seorang wanita istana cantik. Segera kemudian ia dengar ratapan merana shakuhachi. selama ia mengakui barang-barang itu bukan miliknya. Ingatan mengenai rasa muak yang dialaminya tengah hari itu kini hilang. agaknya dirusak badai yang belum lama menimpa. Aku cuma mengambilnya untuk disimpan. Rasanya ingin ia melempar dadu untuk memutuskan ke mana akan pergi. karena ada keanggunan tertentu. Atap rumah itu pun membutuhkan perbaikan. suling bambu yang biasa dimainkan pendeta pengemis apabila sedang mengemis di jalan-jalan. saya pun menggubah sajak ini: Menerobos rumput liar. dan tabir kabut petang mengambang di atasnya. netcafe. Ia merasa makin jauh ia berjalan. Ia bergegas keluar menuju ladang dan cepat menghindar dari rumah jembel itu. "Hampir saja aku celaka. Tak sangsi lagi mereka datang dari puri. Tulang keringnya gatal. kalau kita berumur empat puluh tahun. "Orang bilang. ratapan tunggal mengenai kesendirian dan sendunya musim gugur. tanpa banyak kembang. Serangga mendengungdengung di sekitarnya. yang hanya dimaksud untuk telinga sendiri. "Tapi aku tidak mencuri sesuatu." pikirnya. kita bebas dari godaan. tapi sekarang ia lapar bukan kepalang. makin dalam ia masuk ke rumpun miskantus. Kalau angin bertiup. Tepi pakaiannya yang basah melibat kakinya. Mudahlah ia menyelinap pergi dari situ. Ia memainkan lagu sedih. Ketika lagu berhenti. ia tidak merasa melakukan kejahatan. angin akan membawanya berembus. seberkas cahaya merah muncul dari dalam.property of: CROSSFiRE. Dia minta betul aku melakukannya. Tapi bersamaan dengan itu ia pun sadar bahwa ia tidak dapat lagi memperlihatkan diri di wilayah pembangunan itu. Ketika menengok ke dalam. Di halaman penuh embun Serangga yang hina pun berlagu. Inc. Tak seorang pun dapat melihatnya dari kejauhan.

Tak apa-apa kalau yang terbakar habis cuma rumah tua yang kosong itu. dan dalam cuaca buruk. Ia tersenyum lebar. P'u-hua. serta barang-barang yang biasa dibawa musafir. tak seorang pun mau memaafkan aku lagi. Ia bangun dan membukanya. di mana pun ia berada. langitlangit. dan tikar tatami yang membusuk. tak punya keluarga. mestinya yang dibicarakan itu orang-orang besar. Matahachi masuk kamar kosong itu." Karena dikiranya orang itu kurang waras. betapa besarnya bahaya api. "Oh. "Dia belum lagi tua. Kimononya polos dan kumal. yang menunjukkan bahwa ia pengikut guru Zen Cina. alangkah cerobohnya pendeta itu. "Pendeta-pendeta pengembara yang gila ini tak punya harta milik. yang digulungnya dan dibawanya ke mana saja ia pergi itu. Di dalam kuali itu ada sedikit bubur nasi. Pipi pendeta itu cekung. Bukan pola anggun kamar ataupun sisa-sisa jambangan berharga yang memikat perhatiannya. tetapi ia mengenakan juga baju jubah hitam. kemudian mengosongkan isi kuali nasi dan mengucapkan selamat kepada dirt sendiri karena perutnya sudah kenyang. kedudukan. Bungkusan itu berupa kain krep kotor yang dicelup dengan celupan kayu sappan merah tua. teringat olehnya bungkusan yang diambil-nya dari prajurit yang sekarat tadi.. Pendeta itu memungut shakuhachi-nya dan berjalan dengan lesu ke luar rumah. nama baik. Isinya pakaian dalam yang sudah dicuci bersih.property of: CROSSFiRE. terdengar dari dalamnya suara gemericik gembira. juga anak lelakiku. Sambil mengangguk-angguk mengantuk di samping perapian. di dekat lukisan dinding. bukan orang-orang tolol seperti aku ini." Sambil menegakkan shakuhachi di depannya dan mengganjalkan kedua tangan pada pipinya. Matahachi seperti melihat ada kumis menyerabut di bawah hidungnya yang kurus. Sambil melakukan itu terpikir olehnya. namun kurang pikir tentang hak milik orang lain. dan rambutnya tidak mengilat. apa yang harus kuperbuat?" rintih pendeta itu lagi sambil mengangkat matanya yang cekung ke langitlangit. Ha! Kalau orang berbicara bahwa kita menjadi bijaksana sesudah umur empat puluh. bahunya kelihatan lancip seperti bahu anjing liar. Empat puluh tujuh tahun! Dan masih saja aku tergoda angan-angan buruk dan kehilangan semuanya-pendapatan. Untuk apa? Cinta buta? "Memalukan—tak dapat lagi aku menghadapi arwah istriku. melainkan sebuah kuali logam yang sudah hitam dan sebuah guci sake bermulut sumbing di sebelahnya." Matahachi merangkak masuk kamar sebelah. Empat puluh tujuh ketika kuhancurkan nama baik keluargaku. Tepat sebelum berlayar ke alam tidur. "Sungguh orang aneh!" pikirnya. terbungkus dengan amat hati-hati dalam kertas minyak.. Bukan hanya itu. Cepat ia mengosongkan sake itu dengan beberapa tegukan panjang. Dalam cahaya api yang mengejap-ngejap. Mereka tak pernah berpikir. "Ketika urusan dengan Otsu itu terjadi. kalau soalnya menyangkut perempuan. hanya untuk menghangatkan bangkainya sendiri yang tak ada manfaatnya bagi siapa pun. dan ketika ia mengguncangkan guci itu. "Tapi ini ada yang menarik. ia mendengar dengung serangga yang seperti hujan datang dari ladang gelap di luar—tidak hanya dari ladang. Pundi-pundi itu terbuat dari kulit bercelup Ebook by Kang Zusi . merasa bersyukur atas nasib baiknya. lebih baik aku harus lebih berhati-hati. melainkan juga dari dinding. tetapi jijik dengan apa yang dilihatnya. tapi berdirinya sudah begitu goyah. tapi bagaimana kalau yang terbakar itu kuil kuno dari zaman Asuka atau Kamakura? Matahachi merasakan gejolak kemarahan yang jarang terjadi padanya. Ia mendengarkan. Inc. Sudah terlambat." pikirnya. Terdapat juga sebuah pundipundi yang seketika jatuh dari lipatan kain dengan denting nyaring. Sungguh gila tidak berhati-hati. tabirnya." gumamnya sambil menolehkan matanya ke arah ceruk kamar. terlambat. "Justru karena orang-orang seperti dia itu kuil-kuil kuno di Nara dan Gunung Koya begitu sering hancur. Daripada menganggap diri bijaksana karena usia. Telah kubiarkan anak lelakiku satusatunya mengurus diri sendiri di dunia yang brengsek ini. Tikar buluh tempat ia duduk. nyala api dari ranting-ranting patah mulai membakar lantai. Ketika pakaian dibuka. barangkali satusatunya harta rumah tangganya-tempat tidurnya. Matahachi merasa sedikit kasihan kepadanya. seperti yang biasa terjadi pada orang lapar mana pun. netcafe. menemukan kendi air. Matahachi meringkuk diam-diam. Karena tiupan angin malam. ia meneruskan. juga atapnya. Mereka bisa saja menyalakan api di ruang besar sebuah biara tua. ditemukannya sebuah benda yang ukuran dan bentuknya seperti gulungan surat. dan menuangkan isinya ke api.. sosok tubuh orang itu menimbulkan khayalan tentang setan-setan malam.

tetapi nama Kanemaki Jisai itu tak ada artinya sama sekali baginya. Bulan yang memancarkan sinar Ke air yang tiada Dalam sumur yang belum digali Menghasilkan manusia Tanpa bayangan ataupun bentuk Matahachi sadar bahwa ia memegang sertifikat yang diberikan kepada seorang murid yang telah mempelajari segala yang diajarkan gurunya. Ketika dibukanya kertas minyak yang membungkus barang yang panjang. tampak sebuah gulungan dililitkan pada sebuah gelindingan dengan kain brokat emas di ujungnya. yang telah menguasai Gaya Toda Seigen sejati dan telah mengundurkan diri ke sebuah kampung terpencil untuk menghabiskan masa tuanya sebagai orang tak dikenal. Ia pun tidak tahu bahwa Jisai seorang samurai yang baik sekali wataknya. Ia pasti akan dapat mengenali nama Ito Yagoro. dan sesudah itu menurunkan Metoda Seigen hanya kepada beberapa murid pilihan. "Ini uang orang lain.gaya kilat. bulan… Kinemaki Jisai. Bajing-bajing berkeliaran di mana-mana. bukan uangku.property of: CROSSFiRE. Tak Terhingga.Berlian. terdapat sebuah sajak. Inc." demikian ia mengingatkan dirinya. ia menghidupkan api kembali. Provinsi Echizen." pikirnya. Sungguh sayang dia mesti mati! Tapi aku jadi yakin sekarang. gaya perahu mengapung. Dikeluarkan di Kampung Jokyoji. Isinya emas dan perak dalam jumlah demikian banyak. hingga tangan Matahachi gemetar ketakutan. Secara rahasia . Lagu sedih yang agaknya mencari-cari sesuatu dan menyeru pada seseorang terus mendayu-dayu. dan pelan-pelan dibukanya.. tapi ia tidak tahu bahwa Jisai guru Ito. dan udara dingin pagi hari mengisyaratkan musim gugur sudah benarbenar dimulai. Matahachi membaca kembali nama pertama itu. bagian 9 Berkumpul kembali di Osaka LADANG itu diselimuti kabut kelabu. gaya roda. kemudian berjanji pada diri sendiri bahwa bagaimanapun ia akan melaksanakan misinya yang baru ini. Segera ia merasa bahwa gulungan itu mengandung rahasia penting. sementara gelombang pedih mengalun di atas desir ladang. apa pun macamnya gaya itu. SERTIFIKAT Dengan sumpah suci saya bersumpah telah menurunkan kepada Sasaki Kojiro tujuh metoda rahasia seni pedang Gaya Chujo berikut ini: Secara terang-terangan . Segera ia jatuh tertidur.. Usaka Demesne. kemudian membaringkan diri di dekat perapian. Dengan rasa ingin tahu yang besar diletakkannya gulungan itu di hadapannya. netcafe. "Sasaki Kojiro ini pasti samurai yang terbunuh di Fushimi hari ini. "Dia tentunya pemain pedang mahir yang patut mendapat hadiah surat keterangan untuk Gaya Chujo. pada bari. Betul sekali dugaanku. barangkali orang yang berasal dari tempat kelahirannya. Dari kejauhan terdengar bunyi shakuhachi pendeta tua itu. Olah Batin. yang dengan nama Ittosai telah menciptakan gaya main pedang yang terkenal dan sangat dikagumi. Untuk menghilangkan rasa dingin. Bunyinya. gaya bulat. murid Toda Seigen Di atas secarik kertas yang agaknya ditambahkan kemudian. dan di dapur tak berpintu pada rumah tak berpenghuni itu jejak-jejak rubah yang masih baru simpang siur di lantai. warna lembayung. Ebook by Kang Zusi ." Macahachi membacakan doa pendek kepada sang Budha untuk Sasaki Kojiro. Dia tentunya ingin aku menyampaikan ini pada seseorang.

Urat-urat nadi menggelembung pada wajahnya yang mengantuk itu ketika ia melompat berdiri. Ia tidur nyenyak. hidungnya mengerut." "Kamu mesti berbuat lebih dari itu!" "Apa yang mesti saya lakukan?" "Kembalikan nasi dan sake itu!" "Ah! Dua-duanya sudah dalam perut saya dan sudah memperpanjang hidup saya satu malam. Sebagai gantinya ada seorang asing di dekat perapian. Dungu kamu! Kaukira aku bisa berdiri saja diam-diam dan membiarkanmu mencuri makananku? Kuminta kembalikan barang itu!" Nada yang dipergunakannya mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal itu penuh paksaan. "Apa pula ini?" teriak Matahachi. Ia duduk di sana beberapa menit. Pendeta pengemis yang kembali dengan terhuyung-huyung sebelum matahari terbit membaringkan diri karena lelah di lantai kamar sepen.. kepalanya berbantalkan satu lengan dan air liur menetes dari mulutnya. Kimono dan jubahnya yang kotor basah oleh embun. "Jangan menendang macam itu!" "Oh. Maka jelaslah ke mana larinya sake itu. tapi buatku itu makanan sehari-hidup sehari!" Pendeta itu menggeram dan mencengkeram pergelangan tangan Matahachi. Sambil menggumam sendiri ia berjalan menyusuri gang panjang ke kamar perapian di bagian belakang rumah itu. Tak bisa saya mengembalikannya sekarang!" "Tapi aku mesti hidup juga. tetapi nasi adalah soal hidup dan mati." "Keledai kamu! Mungkin kamu menampik nasi sisa. kemudian menarik tangan dari bawah badannya dan dengan malas mengangkat kepala. dan berguncanglah tubuhnya oleh bersin hebat. kan? Paling banyak yang kudapat dari keliling-keliling main musik di pintu gerbang orang banyak itu cuma sedikit beras atau beberapa tetes sake. "Janganlah begitu kikir. Ditariknya lengan-nya keras-keras sampai lepas Ebook by Kang Zusi . "Buat apa pula mesti jengkel hanya karena sedikit nasi dan kurang dari setengah guci sake kelas tiga. Tetapi alangkah heran ia. kamu. dan suaranya bagi Matahachi terdengar seperti suara setan lapar yang langsung datang dari neraka. Tentu saja bukan hanya sake yang hilang. "Kamu. tendangan saja belum cukup! Siapa bilang kamu boleh masuk rumah ini dan mencuri nasi dan sakeku?" "Oh. lubang hidung dan matanya membuka lebar." kata Matahachi dengan sikap meremehkan. dan di sana-sini dikotori rumput yang menempel selagi ia mengembara seperti orang hilang melewati malam. "Takkan kulepaskan kamu begitu saja!" "Jangan seperti orang sinting begitu!" bentak Matahachi. tapi pendeta itu dapat menemukan jalannya tanpa kesulitan.. netcafe. Tangannya masih menggenggam shakuhachi. Di siang hari terdapat lebih banyak kamar di rumah itu daripada yang kelihatan waktu malam hari.!" gagap pendeta itu dan menendang sekali lagi. jadi nasi dan sake itu punyamu?" "Tentu saja punyaku!" "Maaf. Inc.. terbukti tak sedikit pun tertinggal bubur beras yang maksudnya untuk sarapan. Namun ia tidak berusaha menghapus ingus yang mengucur dari hidung ke kumisnya yang tipis.property of: CROSSFiRE.. sebelum akhirnya teringat bahwa ia masih menyimpan sedikit sake sisa malam sebelumnya. tapi Matahachi hanya berkomat-kamit sambil mengantuk. karena guci sake sudah tidak ada di tempat-nya. Sambil memekik seru ditendangnya si penidur itu sekuat-kuatnya. Ketika ia membuka matanya dan duduk. Setelah pemeriksaan cepat. tanpa sake ia masih tak apa-apa." "Maaf? Apa gunanya itu buatku?" "Saya minta maaf. Pendeta itu merah padam oleh amarah.

Sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. Matahachi tak berdaya. Matahachi jatuh telentang. Keluarkan kepalamu yang tolol itu. dengan menggunakan kekuatan Matahachi sendiri. "Kenapa aku jadi begini tolol!" Seperti halnya kekuatan yang baru saja dipakainya untuk berkelahi. Tapi sudah terlambat. Dan setiap kali menghantam. maka tak mungkin Matahachi menebaskan pedangnya. sikap mencela diri sendiri itu lebih hebat daripada yang dimiliki kebanyakan orang. dari cengkeraman. lain ia coba melontarkan orang itu dengan sentakan cepat. Biarpun tinjunya sakit dan napasnya sesak. lalu melepaskan korbannya. Muka orang tua itu tampak seperti hantu. Sambil meludah semulut penuh Matahachi bangkit berdiri. namun begitu kakinya menginjak lantai beranda yang lapuk. dan nafsu-nafsu jahatku lewat kelima lubangnya? Bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku terlibat dalam pertarungan hidup-mati hanya demi secuil makanan dan minuman? Dan dengan orang yang pantas menjadi anakku pula?" Belum pernah Matahachi melihat orang seperti ini. "Bajingan kamu!" salak Matahachi sambil menaksir kekuatan lawannya. lihat sekarang akibat ulahmu sendiri!" pekik Matahachi sambil mengayun pedang. Kepalanya tampak membengkak sampai sebesar tong. hukuman yang dijatuhkannya pada diri sendiri lebih banyak Ebook by Kang Zusi . Sampai sedemikian jauh. Ditangkapnya bagian depan kimono Matahachi dan dipukulinya kepala Matahachi. sebelah kakinya terayun-ayun masuk ke sebuah lubang. Pendeta itu menghujamkan kakinya mantap-mantap ke lantai. "Apa itu?" seru si pendeta tersengal-sengal. dan akan kubayar kamu dengan bunganya untuk ganti nasi dan minumanmu itu!" Si pendeta bukannya menjawab cacian itu. Si pendeta sudah siap menangkis serangan dengan shakuhachi-nya. Tapi alangkah terkejutnya ia karena tubuh yang kelaparan itu tidak beranjak. netcafe. Ia rupanya bermaksud menghantamkan dahinya sampai belah menjadi dua." "Oh. "Lihat tidak. Berkali-kali ia melompat mundur. Karena tiang-tiang dan galar-galar sudah lapuk. Matahachi berseru. tak dapat ia tidak menatap uang itu dengan heran. "Kenapa aku memainkan shakuhachi ini? Apa untuk mengusir khayalanku. "Coba lihat dirimu itu! Begitu melihat uang. Inc. terus saja berantakan. tapi beruntunglah ia karena pada detik itu keping-keping emas dan perak mulai berjatuhan dari kimononya. Suatu gerakan cekatan. Si pendeta melompat menyerang. Matahachi segera membebaskan kakinya dan melompat meloloskan diri. papanpapan berderak dan patah. seperti rengek orang yang sedang sekarat. terdengar teriakan sedih. "Sungguh aku keledai!" sambungnya. tapi terus juga ia mengayun tanpa kenal ampun dan tidak memberikan kesempatan kepada pendeta itu untuk memperoleh papas kembali. dan menyerang orang tua itu. sebagian besar dinding itu runtuh menghujani Matahachi dengan kotoran. "Nah. sungguh memalukan diriku!" lolong sang pendeta. Setiap kali ia mengelak. pelipis dan tubuhnya-mana raja yang dapat dikenai shakuhachi-nya. Setiap jatuhnya pukulan diikuti bunyi gemerincing mata uang yang jatuh ke lantai. dan dengan sekali tolak saja Matahachi pun terguling. dan dicengkeramnya rambut orang tua yang sudah jarang itu. Ayunan pedang tidak mengenai sasaran. Namun karena ia terusmenerus beralih kedudukan. sampai akhirnya berdebam menghantam dinding plester di sisi luar kamar sebelah. melainkan meletakkan wajahnya ke lantai dan mulai menangis. dan mulailah ia membenturbenturkan kepalanya pada tiang itu. dan ia rupanya sudah hampir pingsan. Rintihnya. Matahachi mengikutinya dengan membabi-buta. Orang tua itu menangis beberapa waktu lamanya. kemudian membenturkan kepala lagi ke tiang. Karena sebelah kakinya terjerat. "Apa belum juga sadar aku akan diriku? Pada umur ini? Juga sesudah terbuang dari masyarakat dan tenggelam sedalam-dalamnya?" Ia menoleh ke tiang hitam di sampingnya. tapi waktu itu orang tua itu sudah tidak marah lagi. ia menggeram keras. orang tua sinting? Tak perlu kamu naik darah cuma karena nasi dan sake sedikit saja. tetapi belum-belum ia sudah tersengal-sengal mencari udara.property of: CROSSFiRE. menghunus pedang. Lompatan itu tidak melenting. sikapku yang mementingkan diri sendiri. Ketika pendeta itu melompat ke kebun. kegairahanku. Uang bisa kubuang-buang! Ambillah kalau kau mau! Tapi sebagai gantinya kau mesti menerima kembali pukulan yang sudah kauberikan padaku. tapi katanya berbisa. Dan Matahachi pun terus berguling. Pendeta itu mencengkeram erat leher Matahachi dan tak hendak melepaskannya. kebodohanku. Akhirnya Matahachi celaka oleh kecerobohannya sendiri. Kemarahan Matahachi mereda sedikit.

" Karena merasa kasihan kepadanya. "Hentikan! Apaapaan kamu ini." "Kau rupanya dari provinsi barat. sekarang ia pandang uang itu dengan penuh kejijikan. sebelum aku membuang daging ini. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan hebat." "Mimasaka?" ulang si pendeta sambil menatap Matahachi. Aku cuma mengarang-ngarang. Kukira sekarang tampangku sudah tak pantas lagi." "Kalau begitu apa?" "Aku muak dengan diriku." pinta si pendeta. Aku mau memukul badanku yang jahat ini sampai mati dan menyuruh burungburung gagak memakannya. itu nama yang membawa kenang-kenangan. Matahachi memungut uang yang jatuh itu dan mencoba memasukkan sebagian ke tangan si pendeta.." Sampai di situ mendadak ia berhenti. main shakuhachi. Inc. "Kuberikan ini padamu." "Pasti ada." kata Matahachi.property of: CROSSFiRE. kataku!" Meskipun sebelum itu telah meledak kemarahannya gara-gara secuil bubur nasi. ya? Kentara dari tekanan katamu. Kehilangan kendali diri telah membuat diriku marah. kemudian tiba-tiba pula melanjutkan. Matahachi merasa berkewajiban mencegahnya menyiksa diri lebih lanjut." katanya dengan nada minta maaf." "Kalau begitu. Aku lahir di Himeji.. Sambil menundukkan diri di beranda. itu tidak betul. Ebook by Kang Zusi . "Hai! katanya. Aku kenal betul daerah itu. "Miyamoto? Oh. Lupakan bahwa aku pernah mengatakan sesuatu." Orang tua itu tampak santai. Kupikir kau dapat menamakan ini penyakit. "Tapi ada apa kau ini?" "Tak ada apa-apa. Anda pernah jadi samurai di tanah perdikan Himeji?" "Ya. "Sebagian karena kesalahanku. dan mencari sesuap nasi. "Ah." "Betul? Aku dari sana juga—Mimasaka. "Kukira tidak. katanya tenang. "Di mana di Mimasaka? " "Kampung Yoshino. netcafe." "Tapi kau berbuat aneh." "Kukira begitu. Aku tak perlu uang. dan barangkali kamu akan memaafkan aku. "Aku akan pergi ke kota." Ia berdiri. "Aku tak perlu uang. Sebentar kemudian darah mulai mengalir dari keningnya. Apa kau sakit?" "Tidak. Pernah aku bertugas jaga di Benteng Hinagura. Tepatnya Miyamoto." "Tak usahlah kamu kuatir. ia membalikkan badan dan masih terus berlutut." "Aku tak ingin!" teriak pendeta sambil cepat menarik tangannya. Namaku Aoki Tan. Aku ingin kuat dan jujur seperti orang lain. tapi tak mau aku mati seperti orang bebal yang bodoh. "Aneh juga kau ini. jumlahnya daripada pukulan yang dijatuhkannya kepada Matahachi." Sampai di situ ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ladang miskantus. katanya. tapi waktu itu aku menjadi semacam prajurit." "Biarkan aku sendiri.

Matahachi memutuskan untuk mengikutinya." Saran pemilik rumah penginapan itu tampaknya masuk akal. Di sebuah kota yang terbuka lebar seperti ini. kalau bukan mengambilnya dari kantong yang kubawa ini?" Sikap membenarkan diri sendiri yang sederhana itu demikian menyenangkan. Orang itu agaknya ronin. apakah orang itu tahu orang yang bernama Tomita Mondonosho di Puri Osaka. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang dia. netcafe. saya sudah pernah mendengar nama itu. Atau setidaknya pernah mengajarkannya. Namun di sini para jenderal yang menguasai Puri Osaka mencari ronin untuk dijadikan tentara. Akashi Kamon. Sesudah orang tua itu pergi. Sejauh yang dapat diketahuinya. asalkan tidak banyak. hingga semenjak hari itu mulailah ia menggunakan uang itu sedikit demi sedikit. Tinggallah kini persoalan surat keterangan Sasaki Kojiro. Akhirnya seorang samurai yang kebetulan dikenalnya di jalan memberikan titik terang. "Saya pernah mendengar tentang Jisai. para pejabat secara tulus-ikhlas melaksanakan kebijaksanaan pemerintah Tokugawa. sebelum mengembangkan gaya sendiri. dan ia bermaksud meninggalkan seluruh urusan itu. "Ya. Inc. Saya pikir. orang itu sampai barubaru ini masih tinggal di sebuah gubuk kecil di Shirakawa di sebelah timur Kyoto. tapi tak mungkinkah misalnya ia bekerja pada seorang daimyo? Matahachi tidak menemukan jawaban atas soal dari manakah asal orang itu. dan rumah penginapan. boleh jadi dia sudah kembali ke Echizen beberapa tahun yang lalu. adalah menemukan guru pedang Kanemaki Jisai. "Saya percaya dia cucu Toda Seigen. dan orang yang memberikan keterangan kepada Matahachi merasa cukup yakin bahwa orang itu keluarga yang sama dengan Seigen. Semua jawaban yang diperolehnya negatif. "aku pasti membutuhkan biaya. Kesibukan dan kegairahan kota itu menyulut kembali ambisinya dan menggelitik jiwa mudanya. tapi ketika Matahachi mulai mencari Ittosai. di tiap warung teh. dan beberapa waktu lamanya sudah tidak kelihatan lagi di Kyoto atau Osaka. itulah yang dia lakukan. Tentu saja tidak secara terang-terangan. Ya." demikian pikirnya. dan bahkan Chosokabe Morichika yang berbahaya. apakah benar sikapnya menawarkan uang yang berasal dari pundi-pundi samurai yang telah mati kepada pendeta itu? Tapi segera kemudian ia sudah dapat memecahkan dilema itu dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa mungkin tak ada salahnya meminjam uang itu sedikit. Ada yang bilang dia pergi ke timur dan menjadi pertapa di sebuah desa di Kozuke atau di tempat lain lagi. Karena itu pula ia tak tahu ke mana harus membawa surat itu. tapi kalau dia masih hidup. mulailah Matahachi berpikir-pikir." Mondonosho agaknya salah seorang guru Hideyori dalam seni perang. dan segera sesudah beres ia bertanya pada pemilik rumah penginapan. ia menemukan dirinya berada di jalan buntu lain lagi. yang pasti tahu segala sesuatu tentang Sasaki. Anda mesti pergi ke Puri Osaka dan bicara dengan orang yang namanya Tomita Mondonosho. Hideyori diam-diam menyediakan dana untuk para daimyo pelarian seperti Goto Matabei. rumah makan. pasti dia sudah sangat tua. Desas-desus sembarangan beredar di antara penduduk kota. dan pilihan apa lagi yang ada padaku. Bahkan tambahan keterangan bahwa Jisai murid yang diakui Toda Seigen tidak mendatangkan tanggapan." jawab pemilik rumah penginapan. yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan sempit di luar kota. Dalam perjalanan dari Fushimi ke Osaka. Orang mencari para pemuda seperti dirinya. demikian diputuskannya. namun cukup terbuka. Di Puri Fushimi. Setibanya di Osaka. "Anda bisa pergi ke Echizen dan mencari dia di sana. ia menyewa kamar di sebuah rumah penginapan murah di salah satu jalan ramai. Daripada mengadakan perjalanan begitu jauh hanya berpegangan dugaan. apa tidak lebih mudah menjumpai Ito Ittosai? Saya agak yakin dia mempelajari Gaya Chujo pada Jisai. Dia bukan instruktur pribadi Yang Dipertuan Hideyori. Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. "Kalau kusampaikan uang itu ke rumah orang yang mati itu seperti dimintanya. tapi dia memang mengajarkan ilmu pedang pada sejumlah samurai di puri itu. Walaupun kecewa karena tidak terangnya petunjuk yang pertama didapatnya itu. Dikatakan misalnya. kenapa pula ia menghabiskan waktu dengan mencari keluarga orang mati? Banyak hal dapat dilakukan di sini. tapi tidak ada jaminan apakah dia masih ada di sana. tapi sekarang sudah tidak tinggal lagi di sana. Matahachi bertanya apakah ada yang mengetahui tentang Jisai. Sanada Yukimura. Satu-satunya harapan. Tak lama kemudian tekad Matahachi pun merosot. hingga sudah umum diketahui ronin lebih diterima dan dapat hidup lebih baik di sini daripada di kota puri mana pun di negeri ini.

pasti kamu mendapat tempat. hingga tak ada satu pun celah yang dapat dilewatinya. untuk mencegah orang luar menengok ke dalam. dan dengan hati-hati memilih bahan yang cocok untuk cuaca di musim dingin yang sudah mendekat. Pakaian baru! Itulah yang dia perlukan." Ketika ia bertanya kepada pembuat sadel apakah ia tahu kedudukan seperti itu. "Dan batu-batu itu sudah disusun demikian rapat. meninggalkan jejak tetesan darah. Untuk pertama kalinya selama bertahuntahun ia merasa seberani dan setak-kenal-takut seperti ketika berangkat perang dulu. Tujuh atau delapan kios yang dikelilingi tikar jerami lusuh. kegembiraan. "Dunia ini dinding batu.. sedang uangnya tinggal separuh. dan makin lama ia makin yakin bahwa inilah tempat baginya. Tuan. Tetapi ia merasa sudah berlaku lebih baik daripada kapan pun sebelumnya. ia terus mencari seorang teman. ia akan bangkit membela nama baik mendiang Hideyoshi yang pernah bersikap dermawan kepadanya. seorang penghubung yang akan mengantarkannya ke kedudukan dengan gaji besar pada seorang daimyo besar. Sebetulnya Matahachi perlu mengendalikan diri untuk tetap hidup dalam batas-batas kemampuannya. Keberuntungan sedang mencarinya. Berulang-ulang ia merasa tergugah oleh cerita tentang samurai ini atau itu yang belum lama masih menyeret kotoran dari wilayah pembangunan." Namun kekecewaan ini selalu menyingkir. Inc. Sering ia pergi sepanjang malam. dan suasana musim dingin terusir oleh suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya diiringi suara gong bertalu-talu dan genderang berdentumdentum. Chosokabe telah mencukur kepalanya seperti pendeta Budha dan mengubah namanya menjadi Ichimusai "Manusia dengan impian tunggal". semuanya teguh dalam keyakinan bahwa apabila tiba saatnva. la merasa sehat dan hidup kembali. mengherankan juga gerombolan orang yang berbondong-bondong menelusuri jalan tampak tidak terburu-buru. Dua bulan lamanya Matahachi berkeliaran di Osaka.. Setiap hari baru adalah kebahagiaan. apabila semangat menghendakinya. Di pusat kota ada bidangbidang tanah kosong. Ia melihat apa yang ingin dilihatnya. "Apa yang kubicarakan ini? Memang begitulah kelihatannya. Ia yakin bahwa ia akan terantuk pada sebuah batu dan muncul bertimbun uang. Selamanya sukar masuknya. tapi sekali kutemukan peluang. karena ia percaya bahwa akhirnya nasib baik telah beralih kepadanya. kalau kita masih belum mendapat kesempatan. Sambil hidup bersenang-senang. Pada waktu lain ia merasakan sisa-sisa patah had yang dialaminya. dan waktu senja wanita-wanita berbaju lengan panjang dan berbedak tersenyum-senyum tolol seperti biri-biri. Di sinilah ia akan meraih kesempatan menuju sukses. Pada suatu petang terjadi perkelahian antara para pembeli sebuah warung sake yang menempatkan beberapa bangku di tepi jalan. Di bawah sinar matahari musim dingin pada bulan yang paling sibuk tahun itu. Kalau kamu mengajukan permohonan di puri. ia menyewa sebuah kamar kecil milik seorang tukang sadel di sekitar Parit Junkei dan mulai makan di luar. semua keluar dari kantong pribadi Hideyori. "Kamu muda dan kuat. termasuk gaji untuk para ronin-nya. netcafe." Tetapi menemukan pekerjaan yang tepat tidaklah semudah itu. karena menurut anggapannya hidup di sebuah rumah penginapan terlampau mahal. dan pagi-pagi benar rumput di situ putih oleh embun beku. berjalan bergerombol-gerombol sambil mengunyah penganan kacang panggang.property of: CROSSFiRE. Tukang-tukang teriak berlomba dengan suara lantang memikat orang lewat yang iseng untuk memasuki teater mereka yang rapuh. melintasi kota bersama dua puluh pegawai dan seekor kuda cadangan. Ia pun membeli pakaian lengkap yang baru. Bau kecap murah mengambang di udara. "Terima kasih. Didesas-desuskan bahwa biaya hidupnya. Bulan terakhir tahun itu Matahachi masih juga menganggur. dan pulang apabila ingin pulang. Lelaki-lelaki dengan kaki berbulu dan mulut penuh makanan meringkik seperti kuda di toko-toko. Belum lagi dapat dikatakan siapa yang menang. orang-orang yang berkelahi itu sudah balik kanan dan angkat kaki. berusaha memikat orang banyak dengan bendera-bendera kertas dan lembing yang dihias aneka warna bulu untuk mereklamekan pertunjukan yang sedang diadakan di dalam. namun sekarang sudah tampak mengendarai kuda dengan megahnya. Namun umum diketahui bahwa ada tujuh atau delapan ratus ronin bekerja padanya. Ini suatu pernyataan bahwa peristiwa dunia yang mengambang ini tidak lagi menjadi perhatiannya. Semakin siang jalan-jalan semakin berlumpur." kata penjual sake kepada Matahachi. dan secara pura-pura ia menghabiskan waktu dengan tingkah laku sembrono yang perlente. Sekalipun masih muda. tak gentar oleh semakin menipisnya uang samurai yang sudah mati itu. tukang sadel menjawab dengan penuh optimisme. Berkat penampilan Matahachi yang Ebook by Kang Zusi ." demikian pikirnya. Kemudian.

tapi kukira tak boleh aku menanyakan itu. sedangkan statusnya tidak cukup tinggi. "Kalau Tuan tak ada di sini. ya?" ucapnya bersahabat." "Terima kasih. tapi apa salahnya?" pikirnya. sementara menunggu punyamu dihangatkan.. "Ini akhir tahun.. tiba-tiba la bertanya. Aku juga teman Susukida Hayato Kanesuke. apanya yang tinggal? Cuma darah dingin. kelicikan. dan sebentar kemudian ronin itu mengangkat bahu." "Bagus!" Orang itu berdiri memegang guci sake. sepertinya lengan bajuku ini yang ditariknya. mereka melarikan diri. pihak mana yang akan kaupilih?" Disertai sikap ragu-ragu. jenderal ternama dari Puri Osaka. Kami akan berkumpul lagi harihari ini." "Bagus sekali cuaca bertahan begini. Tuan. "Ah. Matahachi suka melihat gayanya. Matahachi merasa puas dengan dirinya. Ia menghidangkan juga sejumlah makanan kecil sebagai tanda penghargaan. bawakan juga aku satu. Tapi ada saja yang datang lagi. kemudian pergi lagi. Matahachi menjawab. "Kalau orang lelaki tak boleh minum sekali-sekali. Sambil mengganjalkan kaki kanan ke lutut kirinya." Sesudah menyatakan penilaiannya itu. "Sungguh memalu-kan menjadi pemabuk. Mereka tinggal sebentar di sini. kemudian menghidangkan satu guci sake lagi pada Matahachi. dan sedikit saja kemampuan politik—maksudku yang dipunyainya itu cuma bakat politik tertentu. orang-orang kota yang sedang berkelahi itu melarikan diri. Barangkali kau pernah mendengar tentang Ban Dan'emon? Aku sahabatnya. Aku dari Gamo. "Sepuluh atau dua belas guci. oh." kata Matahachi. "Boleh coba ini punyaku. sedangkan Matahachi baru menghabiskan satu guci. Beberapa menit kemudian ia sudah menenggak lima guci. ingatlah ia akan sumpahnya untuk berhenti minum sebelum ia pergi bekerja di Fushimi.. Aku juga pernah bertemu dengan Ono Shurinosuke tiga atau empat kali.property of: CROSSFiRE. sekalipun ia tidak mengenakan jubah penutup kimono. "Osaka. pasti mereka sudah bikin pecah semua pinggan saya." Wajah Matahachi merah oleh minuman. Dan orang itu masih juga sadar. ia memperhatikan Matahachi dari bawah ke atas. Ketika mengangkat mangkuk. ya? Kulihat kamu duduk di sini menghadapi sake. menyilaukan." "Satu lagi. netcafe." Orang itu membungkuk beberapa kali. Menurutnya sake itu sudah dihangatkan sampai pada suhu yang tepat. dan samar-samar sadarlah ia betapa ia mulai minum lagi. dan katanya. dan ketika ia memandang marah kepada mereka dan mengancam akan membunuh keduanya kalau mereka menimbulkan kerusuhan di kios itu. "Secara pribadi aku mengharap Ishida Mitsunari yang menang di Sekigahara. Pedangnya yang panjang dan pendek tampak mengesankan. Kami pernah mengadakan perjalanan bersama ketika dia masih menjadi ronin." jawab orang itu asal saja. Ketika matanya sampai pada wajah Matahachi. ia pun tersenyum. Mari kita minum! Dari daerah mana. "Banyak sekali orang sekitar sini. yang biasanya tak ada pada orangorang militer. Namaku Akakabe Yasoma. "Siapa pula Ieyasu itu? Omong kosong saja kalau dia bisa mengabaikan tuntutan Hideyori dan ke sana kemari menyebut dirinya 'Maharaja Agung'. Inc. kalau sedang mau. "Hei. dan cepat!" serunya." "Halo." Akhirnya mulailah mereka bicara tentang situasi politik. dan ada sesuatu yang memikat dalam dirinya." Ia mengosongkan isi mangkuknva sekali teguk. Orang yang duduk diam di bangku di samping Matahachi juga seorang ronin." katanya keras. sebelum aku memberitahukan siapa diriku. Percekcokan meletus antara dua pekerja. tak tahulah aku." kata orang itu sambil mengangkat mangkuk.. Tanpa Honda Masazumi dan beberapa pendukung lamanya yang lain. "Engkau seorang dari kami. Bau harumnya mengambang di udara dan menarik-narikku kemari. "Halo. Orangorang kota cenderung menyingkir. sekitar leher kimono itu sangat kotor. Ebook by Kang Zusi . Orang itu kelihatan bersahabat. "Berapa banyak biasanya kau minum?" tanya Matahachi. "Ah. tapi dia terlalu berjiwa besar untuk mengorganisir para daimyo. "Kalau nanti Osaka bentrok dengan Edo lagi. kawan. katanya. tapi menurutku dia terlalu murung. Ia biasa minum juga.

"Saya sudah sering mendengar Sasaki Kojiro pemain pedang yang baik sekali. dan itulah yang membuat Anda berbeda. Sudah banyak kali saya mendengar nama Anda. adalah murid senior dari sekolah yang sama itu. Saya betul-betul terkejut." katanya beberapa kali. "Apa kau tahu Toda Seigen?" tanyanya. saya bahkan tak tahu siapa Anda.property of: CROSSFiRE. Inc. Aku cuma pemuda yang tak banyak kenal dengan dunia ini. Sekarang." "Oh. guruku pertapa Kanemaki Jisai yang agung dan tak mementingkan diri sendiri. begitu." Matahachi menjawab polos. berapa banyak pun bakat yang Anda punyai." "Ya. kau ini tentunya pemain pedang tulen. tapi Anda pemain pedang besar. Sekiranya Yasoma kebetulan teman atau kenalan Kojiro. Tubuhmu tampak terdisiplin. "Ito Yagoro. Andalah Sasaki Kojiro. "Orang yang menemukan Gaya Tomita?" "Aku pernah mendengar nama itu. "Maafkan saya. "Yah. Tapi sekarang belum sampai aku pada ritik itu. "Percaya tidak. sesudah saya pikirkan lagi. aku telah membaktikan diriku dengan tulus ikhlas kepada pedangku. yang telah menerima Gaya Tomita sejati dari Seigen dan kemudian mengem-bangkan Gaya Chujo. "Tak perlu engkau membungkuk seperti itu. "sebetulnya aku sudah dari tadi menyangka begitu." kata Yasoma. sebelum Anda menyatakan pada saya." Ebook by Kang Zusi . tak seorang pun akan mencari Anda." "Namaku Sasaki Kojiro. netcafe." "Nah." kata Matahachi dengan murah hati. tapi sudah terlambat. walaupun dia memang memiliki lebih banyak pengaruh politik daripada Kanesuke. diam sebentar." kata Matahachi dengan wajah sungguh-sungguh. kemudian tanyanya. jelaslah buat saya. Dan ia mulai menikmati permainan itu. aku selalu berpikir bahwa pada suatu hari aku akan terpaksa mencari seorang tuan untuk kuabdi." "Kalau begitu. Siapa namamu waktu kau mendapat latihan di bawah pimpinan Jisai? Maksudku. "Tapi saya pikir tidak betul kalau Anda tak punya kedudukan resmi. tak akan dapat kita bicara sebagai teman." Matahachi lega luar biasa. pencipta Gaya Itto. dan saya harus minta maaf karena tadi tidak berbicara lebih sopan. siapa sesungguhnya Anda. kalau pantas aku menanyakan hal ini. Yasoma sudah berlutut di tanah dan membungkuk dalam." jawab Matahachi. soal itu gampang sekali. "Kalau kau berkeras mengambil sikap resmi." "Oh." "Kenapa? Aku tak punya status dan kedudukan khusus. Cobalah pikir." "Tapi Anda tentunya tersinggung oleh bualan saya tadi itu. Anda punya nama baik yang didukung pedang. ia terpaksa berkelahi demi hidupnya. "Kau sendiri siapa?" Matahachi memang tidak mempercayai segala yang dikatakan orang itu. Matahachi terpikir akan menarik kembali segala keterangannya itu." "Betul. hingga tak banyak waktuku untuk bersahabat dengan orang banyak." "Apa betul begitu?" kata Yasoma heran. kalau Anda tetap diam. Tapi saya memang tak bisa tahu tadi. Tentu saja." Ia mundur. Tak ada lagi jalan kembali. Untuk sesaat yang penuh kegelisahan. Apakah itu berarti Anda tidak berminat menemukan kedudukan yang baik?" "Tidak. karena agaknya menimbang kembali apakah ia berbicara terlalu banyak." Ia memandang Matahachi baik-baik. dan terasa ada kemampuan padamu. namun ia merasa bahwa untuk sementara ia dipaksa kalah pengaruh.

tentu. Kalau orang memperhatikan dengan saksama. Dan kecil kemungkinan mereka akan bersusah payah melakukan penyelidikan. Yasoma tak akan menawarkan bantuan kepadanya. tentu." serunya sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari pundi-pundinya." kata Matahachi mengeluh. mencarikan kedudukan buat saya juga. Lagi pula. tapi kita tak dapat membicarakan soal macam itu di sini. adakah sesuatu yang benar-benar perlu dikuatirkan? Kojiro yang sebenarnya sudah mati. Tapi. Matahachi sendiri tak dapat menghindari perasaan bahwa ia telah tercebur langsung ke dalam suatu kancah." "Oh." kata Yasoma yang kelihatan lega sekali. Saya ingin dimasukkan Puri Osaka. Matahachi bangkit akan meninggalkan tempat itu.. di sana terdapat seribu rumah hiburan dengan perdagangan yang demikian berkembang. Yasoma berhenti. "Sudah saya katakan tadi. ia membawa Matahachi ke daerah yang supaya enak disebut Kota Pendeta Wanita. Tidak jauh dari sana terdapat parit kuil yang biasa dialiri air banjiran dari teluk. Ia memang ingin sekali mendapat pekerjaan. biarpun barangkali gajinya tidak banyak. hingga dalam satu malam saja dihabiskan seratus barel minyak lampu. Segera kemudian mereka sudah berada di sebuah daerah lain. netcafe. saya sudah minta teman saya." Sementara Yasoma bertambah gembira dengan prospek-prospek yang dihadapinya. tapi yang terbanyak kelihatan sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. seorang samurai kampungan dari Mimasaka. "aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau bicara dengan temanmu itu atas namaku. kemudian katanya." jawab Matahachi. Mari kita pergi ke tempat lain yang tenang. karena ia yang menyimpan surat keterangan yang merupakan satu-satunva pengenal orang yang telah mati itu. Kata orang. Orang cenderung menolak gagasan tentang penjualan seks. sementara Matahachi sedikit-sedikit meyakinkan dirinya bahwa rahasianya itu tidak akan diketahui orang. Semenjak saat ini. tapi ia takut membuat kesalahan kalau membawakan diri sebagal Sasaki Kojiro. "Banyak juga mereka. dan gigi yang sudah hitam. Tanpa surat keterangan itu tidak ada jalan bagi penguasa untuk mengetahui siapakah si ronin itu. "Bagaimana dengan usul saya itu?" "Oh. Susukida Kanesuke. Barangkali Yasoma akan memandang rendah kepadanya. kalau ia mengatakan bahwa ia Hon'iden Matahachi. kepala terbungkus kain penolak dingin. Kalau Anda suka. Daerah itu sebagian besar dihuni oleh perempuan yang tebal pupurnya. ujarnya. kalau Matahachi membayar rekeningnya juga. dan Matahachi satu-satunya orang yang mengetahui hal itu. Matahachi memang memperhatikan baik-baik. tetap mencoba dengan lesunya menggelitik hati lelaki yang berkumpul di sana. "Mana rekeningnya. tapi kalau kita lewatkan satu malam di musim Ebook by Kang Zusi . terlihat kutu ikan dan kepiting sungai yang merayap ke sana kemari di bawah jendelajendela menonjol dan lentera-lentera merah. di mana kita dapat tinggal berdua saja. Terus terang.property of: CROSSFiRE. saya akan senang melakukannya. Matahachi semula bermaksud membawa teman yang baru ditemukannya itu ke sebuah tempat minum yang mentereng. kalau bukan seorang "mata-mata" yang telah dilempari batu sampai matt? Maka. Sambil menyanyikan puji-pujian pada daerah lampu merah. dan akhirnya ia pun merasa sedikit kurang enak. yang meskipun dengan mata muram. Perempuanperempuan ini biasa mengarungi jalan-jalan. terbentuklah dengan pasti rencana berani dalam kepalanya: ia akan menjadi Sasaki Kojiro. karena keduanya itu mengingatkannya pada kalajengking pembawa maut. Saya yakin Kanesuke akan senang merekomendasikan orang seperti Anda kepada pihak berwenang di sana. dengan senang hati saya akan bicara dengannya. siapakah orang itu. dan Yasoma jadi bingung. beberapa jauh dari jalan-jalan utama itu." jawab Yasoma. Inc.. Tak bisa dihindari nama Sasaki Kojiro telah menimbulkan kesan kuat. Matahachi semula sedikit enggan. dan tidak akan mudah ia keluar dari sana. "Dan mereka ini lebih baik daripada pelayan warung teh atau gadis penyanyi di rumah sebelah yang kemungkinan mengawani Anda. Di antara mereka sekali-sekali memang tampak wajah yang manis. bersusah payah membela para wanita itu. Agaknya menurutnya wajar sekali. "Sekiranya Anda menghendaki saya membantu. Sebaliknya.. tapi Yasoma menyarankan untuk pergi ke tempat lain yang lebih murah dan lebih menarik. dan ini cuma sedikit saja dibesar-besarkan. tapi segera ia tertarik oleh kegembiraan suasana di situ.

semangat mudanya yang mentah berkata. Ayo kita pergi. "Aku tak mau lagi minum. Matahachi merasa dalam batas-batas tertentu ia telah mendapat ganti dari perlakuan terhadapnya ketika ia digusur ke kamar belakang di Yomogi itu. Matahachi dan Yasoma pergi melintasi kota. tapi sekarang.property of: CROSSFiRE." "Hmm. menuju salah satu wilayah pemukiman samurai yang lebih eksklusif. hingga ia tidak lagi mengajukan pertanyaan tentang apa yang dikatakan orang itu. ya?" "Kanesuke sudah dapat nama. Sebelum umur sekitar tiga puluh." Matahachi berpura-pura tidak mencurahkan perhatian pada apa yang dikatakan Yasoma. berarti Anda merendahkan diri sendiri. jalan-jalan yang terletak di dalam bayangan besar Puri Osaka itu cepat menjadi gelap. Anda akan melihat bahwa di dalam selokan dunia yang mengambang ini. Ini terjadi pada abad-abad ketika Taira jatuh ke tangan Minamoto. tahulah ia bahwa isinya sudah susut sampai sekitar sepertiga dari jumlah semula. dan Matahachi menyerahkan segalanya kepada Yasoma yang kelihatannya berpengalaman. banyak di antara sampah itu terdiri atas bunga-bunga yang sudah gugur. "saya akan bertemu dengan Kanesuke dan bicara dengannya supaya dia mempekerjakan Anda. Tapi sebelum itu. Akhirnya ia mengaku sudah cukup banyak minum. dan lagi tak bisa saya membicarakan keadaan Anda sebelum saya mendapat gagasan yang lebih baik tentang apa yang Anda kehendaki. Sebaliknya. bagaimana dengan soal uang?" "Oh. Ia tahu bagaimana memesan sake dan menghadapi gadis-gadis." "Sekarang. Ia betul-betul tanpa cela." kata Yasoma. tentu. Mereka berdiri membelakangi parit. Inc." Tapi Yasoma tak hendak pergi. "Yang gerbangnya pakai atap kurung itu?" "Bukan. sadar bahwa suap memang umum. Jadi. Namun ia merasa harus tetap acuh tak acuh." katanya. Sambil Ebook by Kang Zusi ... tak seorang pun pernah mendengar tentangnya. "Di sana rumah Susukida." Sementara malam datang. Matahachi merasa pengalaman itu sangat menyenang-kan." "Tak ada alasan menjual diri terlalu murah bagi Anda. Terlalu pagi sekarang ini." kata Yasoma. kalau kita pergi ke rumahnya. dan banyak di antaranya yang ayahnya pernah menjadi pegawai daimyo yang sudah kehilangan kekuasaan. "Aku pun akan tinggal di tempat seperti itu—tak lama lagi. Katanya. Bagaimana kalau saya katakan kepadanya bahwa Anda menginginkan upah dua ribu lima ratus gantang? Seorang samurai yang yakin dirinya baik. Dan mereka tak dapat betulbetul dipersalahkan karena sudah menjadi sundal. sementara angin dingin terusir akibat sake yang telah mereka masukkan he dalam tubuh sepanjang hari itu. Tetapi ia mulai merasa lunglai." "Aku tak akan minta upah terlalu besar sebagai permulaan." Mereka masuk sebuah rumah. kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa dia sama seperti wanita lain." kata Matahachi. namun pada tengah hari berikutnya Yasoma belum juga memperlihatkan kelelahan. besar. Anda tak boleh memberikan kesan bahwa Anda puas dengan jumlah berapapun. Ketika mengeluarkan pundi-pundi dari dadanya. selalu dibayar dan diperlakukan lebih baik. dingin dengan seorang dari mereka dan bicara dengannya tentang keluarganya dan sebagainya. netcafe. Mereka menginap di sana. Sesudah meninggalkan bordil itu. "Ada apa?" "Saya punya janji menemui Susukida Kanesuke. rumah sudut di sampingnya itu. Kalau Anda mengatakan bersedia menerima kedudukan seperti dulu. "Tinggallah dengan saya sampai malam. Sementara memandang rumah-rumah semayam para daimyo yang mengitari purl besar itu. Bukannya ia tidak percaya. "Sebagian dari mereka pernah menjadi gundik shogun. ia sudah demikian bulat mempercayai Yasoma. Seorang samurai sekaliber Anda ini dapat menerima jumlah berapa saja yang Anda sebut.

Kalau kelihatannya ada kesulitan. Saya berikan uang kepadanya untuk diberikan kepada orang yang namanya Susukida Kanesuke. angin terasa dingin dan banyak orang di sana. netcafe. ia berkata. ia mengikuti beberapa langkah." mohonnya. "Usahakan sebaikbaiknya. Anda bisa menanti saya. Matahachi merasa Yasoma tentunya sudah mengenal Kanesuke semenjak zaman ia kurang makmur." "Apa tak perlu kau membungkusnya?" "Tidak. tapi saya berani mengatakan. Mari kita ketemu lagi besok. Yasoma melambaikan tangan dan berjalan gagah melintasi gerbang rumah persemayaman itu sambil mengayunkan bahunya. "Tentunya ada yang menahannya." Matahachi lalu menjelaskan keadaannya sejelas-jelasnya. Matahachi mengatakan pada si penjual sake dengan agak malu. "Hanya ini yang kupunyai." "A-apa? Kenapa Anda berkata begitu?" "Oh." Sesudah menetapkan waktu pertemuan. Keyakinan betul-betul sudah melingkupinya. Dengan mudah saya dapat minta bantuan pada Ono atau Goto. Saya menunggu dia di sini untuk mengetahui hasilnya. tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. "Dia pasti datang hari ini. mengeluarkan seluruh isinya. Dia bukan satu-satunya orang berpengaruh di Osaka. Yasoma tetap tak tampak. Ia menanti sampai matahari terbenam. Hari ketiga. tapi tak melihat tanda-tanda Akakabe Yasoma." Tapi sekali lagi matahari tenggelam. Semua orang melakukannya. Ketika Yasoma pergi. Kalau mereka melihat orang Ebook by Kang Zusi . kan? Nanti orang-orang bisa curiga Anda akan melakukan sesuatu yang buruk." "Sungguh malang Anda! Anda bisa menunggu seratus tahun." 'Anda menanti seseorang?" "Ya. Malam itu ia bermimpi tentang masa depannya yang menyenangkan." "Yang paling baik kalau Anda menanti di warung sake tempat kita pertama kali bertemu. dan sangat terbuka. sambil menatap wajah orang banyak berlalu. Tak perlu malu. tidak." "Baik. Saya punya banyak koneksi. saya cuma harus menyimpan kembali uang ini dan mengembalikannya pada Anda. dia mengatakan pada Anda akan mencarikan kedudukan yang baik dan kemudian mencuri uang Anda?" "Dia bukan mencurinya." "Di mana?" "Datanglah ke tempat kosong. Saya jumpa dengan dia hari itu." Matahachi mengambil kembali sebagian kecil dari uang tunai itu. Hari sesudahnya Matahachi pergi lagi ke sana. Seperti hari sebelumnya. Kanesuke bukan satu-satunya orang di tempat ini yang menerima bayaran karena mencarikan kedudukan untuk seseorang. cukup sekali. Anda tak akan melihatnya lagi. "Jangan kuatir." "Kapan aku mendapat jawaban?" "Kita lihat nanti. "Si bajingan itu?" sengal penjual sake. tapi tentunya Anda tak hendak berdiri berangin-angin di sini.property of: CROSSFiRE. "Jadi. tempat orang mengadakan pertunjukan-pertunjukan tambahan itu. Inc. Karena sudah terkesan. "Saya di sini lagi. saya berjanji bertemu dengan orang yang namanya Akakabe Yasoma. Apa ini cukup?" "Oh. dia itu bajingan yang terkenal jahat! Daerah ini penuh benalu macam dia. Matahachi berjalan melintasi udara beku yang sedang mencair di tempat terbuka itu. mulailah ia merasa tidak tenang. tapi sesudah menyerahkan selebihnya. Pada waktu yang ditentukan. tentu." pikirnya bermurah hati.

kamu mesti bayar buat tempat duduk." "Saya datang bukan untuk main." "Apa kerjamu di sini kalau tak mau main?" "Aku mencari Yasoma." "Kenapa tak mau cari di tempat lain lagi?" "Aku sudah minta maaf tadi. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dikelilingi tenda. tak mungkin aku tinggal hidup di Osaka sehari saja. mereka pun menerkamnya. macam apa wataknya. "Aku jadi sadar. netcafe. "Yang mana kios tukang sulap itu?" Rumah yang dituding orang itu dikelilingi pagar bambu runcing. dan bendera-bendera yang terpasang di dekat gerbang kayu mengumumkan namanama beberapa artis sulap terkenal. Semua mata menoleh kepada Matahachi. dan orang itu membiarkannya masuk." kata Matahachi sambil lekas-lekas keluar. Tadinya saya mau memperingatkan Anda.property of: CROSSFiRE. serta tepuk tangan para penonton. di kios tukang sulap. Inc. tapi tak ingin saya ikut campur. Orang-orang jembel di tempat ini sering berkumpul di belakang sana untuk berjudi. melainkan kenyataan bahwa uangnya hilang. dan beserta uang itu hilang pula harapan-harapannya yang besar. dan main." "Aku tak punya uang. Saya pikir Anda akan tahu dari cara dia memandang dan bertindak. kemungkinan dia akan mencoba menggandakannya. "tapi Anda bisa mencoba bertanya di sana." "Tak ada uang! Begitu. cuma tunggu kesempatan menyikat uang. "Kalau ancaman dari orang-orang macam kau bisa bikin aku takut. "Berhenti!" perintah seorang dari para penjudi seraya berdiri dan meng-ikutinya. Maaf mengganggu. yang tampak sedikit polos." "Aku bukan pencuri! Tak boleh kamu menyebut begitu!" Matahachi mendorongkan gagang pedangnya ke depan. Kalau Yasoma mendapat uang. "Saya sangsi apakah akan ada gunanya. ya? Jadi. seorang pengintai bertanya kepadanya. orang berkaok-kaok untuk menarik pengunjung. dan di sana menemukan gerbang lain. Gunakan pedangmu kalau kau berani!" Ebook by Kang Zusi . Sekarang Anda sudah telanjur kehilangan uang. Kenapa?" "Apa menurut Anda dia akan datang?" "Mana aku tahu? Silakan duduk. Namun sesungguhnya bukan rasa malu itu yang mengganggu Matahachi." kata Matahachi sambil melompat bersemangat. Biar kamu tidak main. ya? Pencuri terkutuk. Dari balik tirai dan lembar-lembar tikar jerami yang mengitari pagar terdengar bunyi musik aneh bercampur suara para tukang sulap yang keras dan cepat. tapi terbuka atapnya. tapi perbuatan itu hanya membuat girang si penjudi. Ketika ia melongok ke dalam. "Goblok!" salaknya. "Tak bisa kamu pergi hanya dengan bilang minta maaf." "Terima kasih. Matahachi berjalan menikung ke belakang. "Apa Akakabe Yasoma ada di sini?" tanya Matahachi. dia tidak di sini akhir-akhir ini. Di depan. Ia mencoba meyakinkan Matahachi bahwa tidak memalukan ditipu pencuri-pencuri yang beroperasi di sana. "Yasoma?" ulang seorang penjudi dengan nada heran. itulah yang membuat darahnya mendidih. dan satu orang diam-diam menyedia-kan ruang kepadanya untuk duduk. Sayang sekali!" Orang itu bersimpati sekali pada Matahachi. Sekitar dua puluh orang yang semuanya dari jenis tak pernah puas. Ia memandang putus asa kepada orang banyak yang bergerak di sekitarnya. "Anda kemari mau berjudi?" Ia mengangguk. duduk melingkar bermain." kata penjual sake.

Orang itu melompat tegak ke udara.property of: CROSSFiRE. lebih baik aku melihat gambar. Matahachi melontarkan sebentuk mata uang dan langsung menerobos pintu masuk." "Itulah barangkali yang namanya tukang bual." "Tapi orang di luar itu bicaranya seolah-olah macan itu masih hidup. kan?" Samurai tua itu menjulurkan tangan ke atas pagar bambu dan meraba kulit itu. Jangan lewatkan macan ini!" Seruan yang diucapkannya itu terdengar ingar-bingar. telinganya pun tegak tak percaya. Dengan jalan menyuruk aari kawanan orang satu ke kawanan lain ia bisa bersembunyi. Nek. Tapi ternyata tidak. "Tentu saja mati. "Jadi. Osugi tidak gampang saja menerima hal itu. Mari kita lihat kecakapannya main pedang. ya?" "Apa kau tahu siapa aku?" "Kenapa pula mesti tahu?" "Aku Sasaki Kojiro. mencari binatang itu. ya?" kagum yang lain. "Besar. Tepat di depannya tergantung tirai bergambar macan besar pada pagar aambunya. dan seorang tukang teriak berdiri di atas kotak kosong sambil berseru-seru parau. "Jangan seperti orang tolol! Kalau macan ini bukan macan betulan. tanda di luar mesti mengatakan begitu juga. inilah yang dinamakan macan itu." Melihat orang itu sedang lengah. "Saksikan macan! Silakan masuk dan saksikan macan! Adakan perjalanan sejauh seribu mil! Macan ini. Ayo kita ambil uang kita kembali. "Paman Gon. "macan itu mati. Inc. berirama. Mendengar suara percakapan mereka." kata perempuan itu. aku bicara sungguh-sungguh!" "Oh. menyabetkannya melintang pantatnya. Kelihatannya mau mencabut pedang lawan kita. seperti cucian yang sedang dikeringkan pada papan kayu. kau bicara sungguh-sungguh. Aku tak senang." "Biar. Mereka tidak merasa kecewa bahwa makhluk itu ternyata tidak utuh dan tidak pula hidup. dan tiba-tiba terpandang olehnya seorang lelaki tua dan seorang perempuan." kata lelaki itu sambil tertawa kecil." "Jangan bikin ribut. Dia yang menciptakan Gaya Tomita. Pada pintu gerbang terdapat juga panji-panji dengan gambar acmbing bercabang dua dan kepala bermata ular. Sambil memonyongkan mulutnya ia memprotes. netcafe. dan menduga bahwa pengumuman itu saja akan membuat orang melarikan diri. "Anak anjing!" jeritnya. Mestinya menyenangkan juga. aku akan pergi sendiri. Kalau kau tak mau pergi. tapi setiap muka yang dilihatnya tampak sebagai muka salah seorang penjudi. Karena menurut pendapatnya ia tidak dapat menyembunyikan diri selamanya seperti itu. Para penonton menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar. lalu jawabnya murung. "Hei. Orang menertawakan kamu nanti. maka ia menoleh ke sekitar untuk mencari tempat berlindung yang lebih mantap. Di ujung tenda itu terpentang kulit macan besar." kata satu orang. ia melihat ke sana kemari." Matahachi menyatakan hal itu dengan penuh kebanggaan. "Kuperingatkan kau." Ketika ia mulai berjalan kembali Ebook by Kang Zusi . saudara-saudara. dengar kalian semua! Orang ini baru saja menyebut dirinya dengan nama yang hebat. Karena merasa relatif aman. Kalau yang akan kulihat cuma kulit macan. Matahachi menyelam ke tengah orang banyak. Matahachi tiba-tiba menarik pedangnya. Penjudi itu meludah dan kembali masuk kalangan. Ini cuma kulitnya. Matahachi berdiri agak di sisi kulit macan itu. ditangkap sendiri oleh jenderal besar Kato Kiyomasa di Korea. pengganti Toda Seigen dari Kampung Jokyoji di Echizen.

Osugi tiba bersama Paman Gon. Matahachi terus bertumbuk-tumbuk orang. "Matahachi!" teriaknya. Paman Gon pun melambai-lambaikan tangan dengan hebatnya. akan ku. ia pegang gagang pedang pendeknya serta menyeringaikan giginya. Tapi siapa yang menyuruh kalian. "A-apa katamu. Sambil mengusir mereka. Osugi mencekal kerah anaknya yang tak patut itu dan menyeretnya ke pekarangan kuil tak jauh dari sana. "Nek." Ia mencoba Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. tapi selalu dapat membebaskan diri kembali dan berlari terus. akan kuhadapi kalian semua!" "Kau berkelakar. "Kenapa kau lari? Kau kenapa? Matahachi! Matahachi!" Karena merasa tak dapat lagi menangkapnya. ke tengah orang banyak yang sudah bermandikan cahaya petang berwarna-warni. melalui para penonton lain. dan beberapa orang malahan sudah meludahinya. "Hei. "Berhenti. "Kenapa kalian serang orang ini?" "Dia pencuri!" "Dia bukan pencuri! Dia anakku. Matahachi merunduk. Beberapa menit lamanya Paman Gon hanya berdiri memandang dari gerbang kuil itu. anak seorang samurai. ya?" serunya. itu tak kusangkal. tapi kemudian ia mendekati mereka dan katanya. netcafe.. orang banvak itu pelan-pelan bubar. pencuri! Perampok! Tangkap dia!" Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya mengambil alih pengejaran. tapi terlambat. orang-orang bebal. Mereka kagum akan keberanian perempuan itu. Matahachi menoleh ke belakang dan melihat ibunya mengejarnya seperti perempuan gila. "Tahan dia di sana!" "Bajingan!" "Hajar dulu!" Orang banyak berhasil mengepung Matahachi. tunggu!" teriak Osugi.." "Anakmu?" "Ya. Paman Gon sudah melihatnya. dan kalian tak punya hak memukulnya. dan dengan sekuat paru-paru ia pun menjerit. ya? Siapa yang teriak 'pencuri' semenit lalu?" "Memang aku. Osugi menjulurkan lehernya yang keriput itu ke depan. dan kupikir. "Apa yang kalian lakukan ini?" teriaknya. Kalian hanya orang kota kebanyakan. Osugi yang sudah tidak begitu awas matanya itu menggagap. jangan perlakukan Matahachi seperti kanak-kanak lagi. Kalau kalian sentuh dia lagi. tapi dia lari. kalau aku berteriak 'pencuri'. Nak. dan orang-orang yang di depan segera menyerang Matahachi dengan tongkat bambu. Paman Gon?" "Apa kau tidak lihat? Matahachi berdiri di belakangmu itu!" "Tak mungkin!" "Dia di sana tadi. dia anakku. anakku akan berhenti lari. Aku seorang ibu yang setia. memukulnya? Itu tak patut!" Heran melihat perubahan haluan yang sekonyong-konyong ini. cepat menguasai keadaan dan balik mendamprat para penyerang Matahachi." "Di mana? Ke mana?" Keduanya berlari keluar dari gerbang kayu. Matahachi! Kamu. Inc. "Tunggu.

tapi ternyata di Osaka ini kau bergelandangan! Memalukan! Manusia tak tahu malu. Juga tentang bagai-mana ia kini menyesali dengan setulus-tulusnya apa yang telah ia lakukan. Sebagai ibunya... tidak. seandainya dia masih hidup. Karena tak dapat lagi menahan diri. "Betul-betul kularang kamu menyembunyikan apa pun. dan hidup darinya—sekalipun ia membencinyabeberapa tahun lamanya. "Kalau kau begitu malu dengan dirimu sendiri dan merasa sudah mempermalukan leluhurmu. Aku begitu kaget melihat Ibu. Melihat tindakan Osugi itu.. tanpa bantuanmu. tapi perempuan tua itu menepiskannya dengan kasar." Ia duduk resmi di tanah dan menunjuk tempat yang harus diduduki Matahachi. maka tak dapat aku pulang.. Aku akan menghukumnya. Maafkan aku. Inc." mohon Matahachi seperti bayi. kemudian ia terburuburu membetulkannya. Kalau kauteruskan juga. tapi hampir seketika itu juga ia menghentikan tangisnya. menarik tangan Osugi dari kerah Matahachi.property of: CROSSFiRE. "Maafkan aku. Matahachi. Paman Gon memohon. dari mana kau mendapat uang buat hidup?" Ebook by Kang Zusi . orang tak bisa berbuat lain daripada menyetujui pendapat itu. ia muntahkan seluruh ceritanya sampai sekecil-kecilnya: tentang bagaimana ia meloloskan diri dari Sekigahara. Bu! Aku minta maaf. Katanya mengejek. kepada ibumu yang sudah tua? Apa kau tidak tahu." "Jangan kuatir. "Jangan kamu ikut campur! Dia anakku. tentunya kau sudah berbuat tak baik selama ini. Tepat seperti yang dikatakannya. Semua itu meringankan dirinya. tak boleh kau bersikap begitu lunak. katanya.. Kalau ibu-ibu lain tentunya sudah menangis karena gembira. seperti melepas empedu dari dalam perut. tapi sikapnya yang selalu siap mengungkit persoalan tentang kewajiban terhadap leluhur itu membuat Matahachi tak betah. Ia sudah kehilangan keinginan untuk melawan. "Cukuplah itu. "Tak terpikir olehku bahwa kau masih hidup. tersangkut dengan Oko. dan aku belum lagi selesai!. Aku tahu yang kulakukan ini salah." gumam Paman Gon berkali-kali. Aku bukan bermaksud lari dari Ibu. Matahachi! Duduk kamu yang tegak! Pandang mukaku. Apa kau sudah mendapat kedudukan yang cukup upahnya?" "Ya. dan tanpa pikir lagi aku lari. Bu.. la mengangkat bahunya yang terkena kotoran." "Sudah kubilang simpan nasihatmu itu untuk diri sendiri. "Baik... Ia membanting Matahachi ke tanah dan membenturkan kepalanya ke sana. dan aku akan menghukumnya dengan hukuman yang menurutku cocok." kata Osugi. "Sekarang apa persisnya yang telah kaukerjakan sejak lari ke Sekigahara? Jelaskan dan jangan berhenti sampai aku sudah mendengar semua yang ingin kudengarkan. biar cuma sekali. Ibunya dapat kadang-kadang memanjakan. Kenapa kau tidak pulang menyatakan hormat kepada leluhur sebagaimana mestinya? Kenapa kau tak mau menunjukkan muka. Aku malu dengan cara hidupku. aku harus sekeras ayahnya. Kau ini lelaki. pasti akan rusak tabiat anak ini. sampai aku tak dapat menghadapi Ibu dan Paman Gon." kata Matahachi.. bersembunyi di Ibuki. orang kampung! Kau anakku!" Dan mulailah ia menampar anaknya.. Akan kuperlihatkan padamu!" Orang mengatakan makin tua seseorang makin sederhana dan makin langsung sikapnya. maka Osugi mendidih darahnya karena berang. "Sungguh aku terguncang oleh kelakuan-mu." "Kalau begitu. Hidung Osugi mengerut dan ia mulai menangis. aku tak punya kedudukan. "Maksudku." Ia menutup wajahnya dengan tangan. anak yang tak tahu diuntung. semua sanak keluarga kuatir dengan dirimu?" "Ibu. Ia memang takut kepada ibunya.. netcafe. Justru karena tahu sudah menelantarkan Ibu. aku takkan menyembunyikan apa pun. "Gagasan apa itu! Lari dari ibu sendiri! Kau bukan lahir dari selangkangan pohon." kata Matahachi menurut." Matahachi memulai.. seakan-akan Matahachi masih anak-anak. Osugi mendecapkan lidahnya. "Hmm. Kau diam saja dan urusi urusanmu sendiri!. dan ia merasa jauh lebih ringan sesudah melakukan pengakuan itu. dan berlutut. Terlalu bangga ia akan dirinya untuk memperlihatkan kelemahannya dan ia memperbaharui serangannya. Dan apa yang kaulakukan sekarang? Kelihatannya kau dapat pakaian bagus. manusia sampah. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dahulu.

Tapi kalau yang menjadi perhatian utama ibunya adalah kehormatan keluarga dan semangat samurai. Sekarang perhatikan." kata Osugi. Paman Gon! Biar bagaimana." katanya. "tanya Paman Ebook by Kang Zusi . juga waktu dia masih bayi. Ia menjelaskan bagaimana Keluarga Hon'iden dihinakan. "Ya. "Pedangku—aku mengajar main pedang. Lihat ini. dia lebih cerdas dan lebih mampu daripada Takezo dan anak-anak lelaki lain. tak perlu Ibu kuatir denganku." Ada nada kebenaran dalam cara ia mengatakannya dan hal itu menimbulkan akibat yang memang dikehendaki. netcafe. "Coba kulihat.property of: CROSSFiRE." Osugi mengangguk. "Tunggu sebentar. Tapi justru pada waktu itu tangan Matahachi terpeleset." katanya." Osugi memperlihatkan wajah bahagia. Karena masa laluku memalukan. itu? Itu nama perang. Otsu tidak mencintainya lagi. dan nama pada gulungan itu jadi kelihatan. aku takut mengaibkan leluhurku." Paman Gon mengangguk bersemangat. dan ia terpukau oleh gamblangnya cerita ibunya. karena itu aku akan bercerita. Tak ada salahnya dia tersesat sebentar. ya? Tidak heran kalau anakku menyediakan waktu buat menyempurnakan kecakapannya main pedang—meskipun menempuh hidup seperti sekarang ini." "Nama perang? Buat apa kamu memerlukan itu? Apa Hon'iden Matahachi tidak cukup untukmu?" "Ya. Ia merasa bersyukur melihat semangat perempuan tua itu naik lagi. Apa ini tidak hebat? Aku selamanya berpendapat. Ia hendak mengambil gulungan itu. hingga sementara berbicara ia mulai meludah-ludah." "Di daerah ini." kata Osugi. ia merasa mudah menjadi anak yang baik dan penurut." katanya. dia punya semangat yang benar!" "Matahachi. Untuk pertama kali. Kaudengar. tapi bagaimanapun terbawa juga ia oleh ceritanya sendiri." "Oh. Ini penting. Matahachi mengeluarkan sertifikat dan membuka gulungannya. "Sudah sewajarnya kalau kita mengetahui ini. "Bu. di bawah pimpinan siapa kau belajar ilmu pedang?" "Kanemaki Jisai. Karena ingin lebih menggembirakan ibunya lagi. tapi Matahachi mencekamnya. Osugi mengambil kesimpulan yang keliru bahwa kuliahnya tentang kehormatan dan semangat itu sudah mencapai hasil. Ia coba untuk bersikap tidak emosional. Jelas sekarang. lihat ini. begitu. bagaimana ia dan Paman Gon bertahun-tahun lamanya mencari Otsu dan Takezo. "Ya. Ia memilih kata-kata yang diperhitungkannya dapat memacu Matahachi untuk beraksi. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengarnya. "Betul begitu?" tanya Osugi penuh minat. "Kenapa 'Sasaki Kojiro'?" "Oh. Bu. "Main pedang." "Betul? Dia termasyhur. Matahachi mendengarkan dengan kepala tertunduk. Matahachi sendiri tergerak sedalam-dalamnya oleh hal lain: kalau benar yang dikatakan oleh ibunya. "Tapi sesudah kutimbang-timbang. Kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sudah terjadi di kampung. cahaya kegembiraan muncul pada wajah Osugi." Osugi dengan bersemangat mulai memberikan uraian tentang peristiwa yang telah terjadi di Miyamoto. lihat. Inc. "Bu. "Apa benar begitu?" tanyanya. ini betul-betul bagus. "Itu menunjukkan bahwa dia memang menyimpan darah leluhur Hon'iden dalam nadinya. dia anakku. bagus!" jawab Matahachi sesudah berpikir cepat. Pada waktu-waktu seperti ini. Paman Gon. "Kalau kaupikir itu bohong. Kukira jalan pikiran yang baik. kuputuskan untuk tidak menggunakan nama sendiri." kata Osugi." Demikian gembira perempuan itu. tapi ia menutup nama Sasaki itu dengan jempolnya. Melihat warna wajah Matahachi berubah. Matanya basah dan suaranya menjadi berat.

kenapa Paman Gon dan Ibu meninggalkan kampung? Kami mau membalas dendam pada mereka. "Ada apa?" tanya Paman Gon. kurang baik itu." tambah Osugi. dan mulailah ia bangkit dari tanah dengan susah payah. Bu! Ringan sekali! Jauh lebih ringan daripada batu!" Ebook by Kang Zusi ." "Baik. Paman Gon?" "Ya. "Kita mesti mencari rumah penginapan sekarang. ibunya mengipasi bunga api itu. Sebelum aku membunuh mereka. dan kau akan membuktikan itu pada setiap orang." "Ya. kau pun tak dapat kembali ke Miyamoto?" "Aku tak akan kembali. "Jangan kuatir. "Kaulihat sekarang. Tak ada nama yang lebih baik di seluruh daerah Yoshino daripada Hon' iden." Begitulah. Paman Gon. Bisa kau melakukan itu. aku tak dapat memperlihatkan muka lagi di kampung atau berdiri di depan tanda peringatan leluhur kita. Matahachi! Kau mengerti. "Paman Gon." "Kedengarannya kau tidak begitu bersemangat. Man kita mencarinya. Matahachi menggendongku. "Oh." "Oh. akhirnya ia kelihatan puas. ya? Lihat. Osugi menangis karena gembira. Semua orang mengatakan antara mereka sudah terjadi sesuatu. kau mengerti. Kau membersihkan dirimu sebagai seorang samurai. Matahachi melambung-lambungkan sedikit ibunya di punggungnya." "Wah. dia mendapat pertolongan dari Otsu untuk melarikan diri. jangan berdiri saja di situ. Inc. "Tanah ini dingin sekali. maka Takezo memikat Otsu untuk pergi dengannya. Bu. Perempuan jalang itu sudah meninggalkanmu dan lari bersama Takezo." "Dan ibumu yang sudah tua ini pun demikian. Perut dan pinggulku sakit." Kata-kata itu menimbulkan akibat paling buruk pada Matahachi. dan keduanya lalu lari sama-sama. Menyadari hal tersebut. kau bisa mengatakan. Dengan kata lain. Apa itu bukan gagasan yang baik. tak sangsi lagi. Paman Gon buka suara.property of: CROSSFiRE. Matahachi mengatakan. Matahachi? Mau kau melakukannya?" "Ya. Ada apa? Apa kau tidak merasa cukup kuat untuk membunuh Takezo?" "Tentu saja cukup kuat. kukira begitu. Apa tidak betul begitu. kau dapat jalan terus dan mencari istri. Paman Gon. Matahachi merasakan kegembiraan yang aneh. dan timbul reaksi baru terhadap kawan masa kecilnya itu. Nak? Kalau itu kita lakukan." protes Matahachi. netcafe." "Jadi. Aku akan selalu di samping-mu. dan menetap. Mereka musuh bebuyutan kita. dan juga mendapat nama baik." Ketika air mata jatuh ke leher Matahachi. Kau mesti membunuh kedua orang itu. Ketika Takezo diikat di atas pohon itu." Sementara berjalan. "Sudah berapa tahun lewat. Dia sudah bersumpah akan membalas dendam kepada Takezo dan Otsu. "Ringan. karena tahu kau tak akan kembali beberapa lama. Kecuali kita sudah membalas dendam. sakit rasanya!" teriaknya. kau mau menggendongku? Senang sekali aku!" Sambil memegang bahu anaknya. Di mana saja bisa. di mana kalian tinggal?" tanyanya. Matahachi. Apa wasirmu kumat lagi?" Untuk menunjukkan bakti seorang anak. Ibu." "Itu namanya anak baik. Gon. "Naiklah ke punggungku. ucapkan selamat pada anak ini." "Bukan itu soalnya." "Aku mengerti. Aku tak akan pernah kembali. "Mari kita bawa kepala mereka pulang ke kampung sebagai tanda mata buat orang banyak.

property of: CROSSFiRE. Terdapat juga sejumlah penumpang di kapal itu. tapi saya tak melihat buktinya. Memang riskan." "Anda benar." "Sama sekali tidak! Tiap orang bilang semua sedang menanjak di Sakai. dan sedikit uang cukuplah buat sebagian besar mereka itu. macam itulah. apa yang mereka peroleh dari hidup ini. bagian 10 Pemuda Tampan PULAU Awaji yang bermandikan matahari menghilang di kejauhan. sampai tidak dapat lagi bersantai dan menikmati hidup. habis pertempuran berikutnya." "Memang begitu juga pendapat saya." "Begitu. tapi kalau kita beruntung. Saya dengar mereka butuh pandai meriam. Masukilah perdagangan luar negeri. barang itu akan kembali lagi. kita mesti melakukan apa yang dilakukan oleh Naya 'Luzon' Sukezaemon atau Chaya Sukejiro. Inc. tapi cepat atau lambat mereka terpaksa mengenakan perlengkapan kulit dan bajanya." Ebook by Kang Zusi . ha!" "Dulu kalau penjarah pulang membawa rampasan. Sekalipun muatannya sebagian besar terdiri atas kertas dan bahan celup indigo. Setidaknya kita masih dapat melakukan apa yang kita inginkan. kita celup kembali atau cetak kembali barang-barang itu dan kita jual kembali kepada tentara. Kita bicara tentang kemewahan yang dapat dinikmati para daimyo." Percakapan di tengah kelompok lain adalah tentang bidang serupa. Kalau ingin benar-benar untung. Kapal yang beberapa kali sebulan berlayar antara Osaka dan Provinsi Awa di Shikoku itu sedang menyeberangi Laut Pedalaman dalam perjalanan ke Osaka. dari pandangan samurai. perlu juga kita bersenang-senang. berangsur-angsur digelapkan oleh kabut sore musim dingin. atau menguyahnya." "Ha. baunya yang khas menunjukkan bahwa ia membawa barang selundupan berupa tembakau. kita masih beruntung. lalu terbunuh. "Saya sendiri mensuplai perlengkapan perang-tiang bendera. Begitu sibuk mereka memikirkan kehormatan dan tata krama prajurit. saya kira sekarang samurai-samurai itu tahu bagaimana berhitung." "Saya dengar kurang tenaga kerja di sana.° kata orang yang lain." "Yang mesti kita lakukan cuma berpura-pura membungkuk kepada samurai. Pemerintah Tokugawa melarang rakyat mengisap. ya?" "Ya. padahal satusatunya kemungkinan sekarang ini adalah menjadi saudagar. mencium. Kemudian. banyak juga untungnya." "Ah. Kebanyakan mereka tidak kenal makanan yang baik. "Bagaimana kabarnya? Saya berani bertaruh. netcafe. pakaian zirah." "Kalau kita mau hidup di dunia ini. Kepak-kepak layar besar di tengah angin menenggelamkan bunyi ombak. "biarpun keadaan kita tidak begitu baik hari-hari mi. "Tak dapat lagi kita mendapat uang di dalam negeri. Sebagian besar pedagang yang sedang pulang atau untuk berdagang akhir tahun di Osaka." Seorang lelaki memandang ke arah samudera dan memuji-muji kekayaan negeri-negeri di seberang. Tapi jumlahnya tak seberapa sekarang. dan kita dapat mendandaninya dan menjualnya lagi. Saya kasihan pada mereka." "Apa tidak benar begitu? Kita mengeluh tentang masa yang buruk dan semua yang lain. betulbetul tidak percuma. Kadang-kadang ingin saya bertanya kepada samurai.

Tidak aneh lagi bahwa lelaki yang sudah berumur sekitar dua puluh lima tahun terus mengenakan pakaian seperti anak-anak umur lima belas atau enam belas tahun. dan ia kelihatan betul-betul kerasan di tengah pendeta pengembara. Apa dia terlatih?" tanya penumpang lain. "Kenapa pula kau ini menggeliat-geliat saja?" katanya tak sabaran sambil mengetuk-ngetuk tajam kepala monyet itu. Dan pada waktu waktu itu orangorang kota yang kaya itu kota yang kaya adalah orang-orang yang memiliki perangkat minum sake yang anggun dan peralatan perjalanan yang indah dan mahal. padahal jumlah itu sudah dianggap pendapatan besar oleh kebanyakan samurai. dan gelung rambutnya terikat pita ungu yang lain dari yang lain. pemuda itu pasti memikat perhatian orang. karena baik kimono maupun jubah merah pendek di atas kimononya itu betul-betul menarik perhatian. tetapi oleh para penjudi dilemparkan saja ke sana kemari seperti kerikil. saya menemukannya belum lama ini di pegunungan antara Tosa dan Awa." Sambil berbicara. dan para petani yang tak bercukur di kapal itu. sebuah permainan yang belum lama diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Portugis. ia mengenakan sandal jerami dan kaus kulit seperti yang dipakai semua orang. pakaian pada umumnya telah lebih berwarna-warni. Status sosial pemuda itu juga sukar dipastikan. seorang pendeta Kong Hu Cu. Mari kita main kartu kecil-kecilan buat menghabiskan waktu. ya?" "Memang tak banyak. apa yang mereka peroleh dari hidup ini—seorang pendeta pengembara. Kulit pemuda itu bercahaya penuh kebeliaan. Emas yang ada di meja sesungguhnya dapat menyelamatkan banyak desa dari bencana kelaparan.property of: CROSSFiRE. tapi sekarang ini tak semudah dulu menyebut umur seseorang dari pakaiannya. pemuda itu terus sibuk menangkapi kutu binatang itu. nyonya-nyonya dan pembantunya membawakan sake. Di lain pihak. Karena sedang dalam perjalanan." "Jadi. bibirnya merah sehat. netcafe. Rambut bagian depannya tidak bercukur. Seorang pemuda memangku sesuatu yang bulat bentuknya. "Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan-perjalanan begini. Sesudah kematian Hideyoshi. dan orang-orang mulai main umsummo. dan membiarkan rambut di ubun-ubunnya tidak dipotong. dan berkali-kali menyuruhnya. dengan taruhan yang sukar dipercaya. Kebanyakan mereka duduk di samping barang bawaan mereka dan memandang laut dengan sikap tak senang. sudah lama juga Anda miliki?" "Tidak. bukan ke tangan samurai. dan matanya terang. Inc. Anda menangkapnya sendiri?" "Ya. yaitu senjata Ebook by Kang Zusi . Jadi. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia masih kanak-kanak. tubuhnya kokoh kekar dan kekerasan yang dewasa memancar dari alisnya yang lebat dan lengkungan ke atas di kedua sudut matanya. dari situ tak dapat diambil sesuatu kesimpulan. Dengan mudah ia dapat diduga sebagai seorang ronin. berbulu lebat. Kalaupun tidak membawa monyet. "Ya. Permadani wol yang dihamparkan untuk duduk kelompok orang ini barang impor. Dengan naiknya Hideyoshi. kemewahan zaman Momoyama sebagian besar telah beralih ke tangan para saudagar. beberapa ronin. namun ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki status lebih tinggi." "Kalau begitu." Tirai pun digantungkan. tapi monyet-monyet yang lebih tua hampir saja merobek-robek saya." "Boleh. menyaksikan awal permainan kartu yang penuh lagak itu. para samurai compang-camping. dan beberapa prajurit profesional. Di antara para penumpang terdapat beberapa orang yang bisa saja ditanya oleh para saudagar kaya itu. pemain boneka. Sikap polos yang diperlihatkannya waktu la mencari kutu binatang itu menambah kesan umur mudanya. "Duduk yang tenang!" "Bagus sekali monyet kecil Anda itu. sebelum saya berhasil lari. Ini bukti bahwa mereka lebih kaya daripada penduduk lain. Bahkan seorang pedagang kecil pun biasanya lebih kaya daripada seorang samurai yang upahnya lima ribu gantang padi setahun.

"Halo. untuk meringankan beban kebosanan yang dialaminya." renungnya. Keuarga itu tidak lagi kaya. Toji mendekat dan mencoba membuka percakapan. Ia sudah rindu sekali berada lagi di tengah orang-orang yang dikenalnya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghabis-kan waktu. Sebenarnya rumah tangga yang dalam bahaya itu bukanlah rumah tangga Toji sendiri. Kyushu. Gion Toji yang berdiri beberapa jauh dari situ pun terkesan oleh senjata itu. Sering benar jawabannya berbunyi. besar. netcafe. walaupun Toji sungguh tulus dalam permohonannya. Ke Osaka. "Ya. pemuda itu membuka matanya sedikit dan katanya. makin hanyut ia dalam pemikiran bahwa kewajiban suci sekolah itulah untuk mengajarkan Gaya Kempo kepada sebanyak mungkin orang. akibat cara hidup Seijuro yang melebihi kemampuan." katanya. Perjalanan yang telah empat belas hari itu sungguh menjengkelkan. tidak banyak di antara mereka yang bersedia memberikan sokongan berarti atau berjanji akan memberikan uang sesuai dengan maklumat pendek itu. dan wajah yang muncul dalam pikirannya sekarang pun bukan wajah Seijuro." Ia mencoba mengingat-ingat wajah Oko. Dengan mengerahkan otaknya. dia pasti menjemputku di dermaga Osaka. Inc. Toji merasa bosan. Toji mengatakan bahwa persoalan itu mesti ia yang menangani. Sokongan yang dibawa pulang Toji hanya sebagian kecil saja dari jumlah yang sebelumnya dibayangkannya. ya?" Tanpa mengangkat kepala. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Karena merasa dialah yang mendorong keroyalan tuan muda itu. Ia iri pada pemuda yang sedang mencari kutu monyetnya itu. Biarpun semua milik keluarga dijual. dan Shikoku. apa pembawa surat itu tiba pada waktunya. dan buatannya amat indah. Segera kemudian ia sudah seperti duduk di bara hangat kembali. orang muda. tentunya kau dari Awa. tidak akan tersedia cukup dana untuk menutup rekening yang sudah menimbun. dan sebagian besar dari mereka sekarang menjadi samurai dengan kedudukan yang membuat orang iri. Seijuro menulis surat edaran untuk maksud itu. Di situ jumlah siswa yang jauh lebih besar akan dapat ditampung. sekarang ini bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif. atau lain lagi. yang bersifat sama juga. yang disandangnya di punggung dengan tali kulit. Senjata itu berupa pedang pertempuran yang panjang lurus. "Pedangmu luar biasa kelihatannya. Toji jadi terdiam untuk beberapa waktu. maka sekolah yang lebih besar dan menghasilkan sejumlah besar pemain pedang terlatih akan memuaskan kepentingan semua pihak. Hampir tiap orang yang berbicara dengan pemuda itu memuji bagusnya buatan pedang tersebut. Namun bahkan wajah Oko pun hanya dapat sekilas saja mengalihkan perhatiannya. Menurutnya. melelahkan." Kata-kata itu diucapkannya dengan sikap pasti. kalau saya berada di Kyoto lagi". Makin lama memikirkan hal itu. Dengan adanya segala macam orang yang berhasrat belajar seni perang dan para daimyo yang menginginkan sekali prajurit terlatih." "Apa keluargamu tinggal di sana?" "Tidak." "Kalau begitu. sampailah ia pada gagasan untuk membangun sekolah baru dan lebih besar di tanah kosong dekat Nishinotoin. Ia berjanji. dan lagi tak ada buahnya. Alasan di balik perjalanannya itu adalah keadaan keuangan Keluarga Yoshioka yang goyah. "Akan kita tinjau hal ini nanti. "Kalau tiba pada waktunya. Memang di berbagai wilayah feodal banyak orang pernah belajar di bawah pimpinan Kempo." "Tidak. dan dengan senjata itu Toji berangkat mengusahakan bantuan dari bekas-bekas siswa sekolah di daerah barat Honshu. tidak juga dari sana. ia semakin ingin tahu latar belakang pemiliknya. Rumah di Jalan Shijo sudah digadaikan. satu-satunya komentar Seijuro hanyalah. menghindar. Ebook by Kang Zusi . tapi kemudian mencoba lagi. entah dengan cara bagaimana akan membereskan soal-soal itu. "Akan saya tulis nanti pada Anda soal ini". melainkan wajah Oko. Menghadapi keadaan ini. "Ingin tahu juga aku.property of: CROSSFiRE. dan sudah dalam bahaya disita oleh para saudagar kreditor. Sementara menguap dan berpikir bahwa di Kyoto pun tidak sering terlihat pedang yang demikian tinggi mutunya. Namun ternyata. Yang lebih memburukkan keadaan adalah tunggakan-tunggakan akhir tahun yang sudah tak terhitung jumlahnya.

Di tempat asal saya. beliau memberikan pedang ini dan minta saya menjaganya betul. tiap hari saya latihan di sekitar Jembatan Kintai dengan menebasi sayap burung layang-layang dan menetaki cabang pohon liu. satu-satunya orang yang pernah diberinya sertifikat cuma Ito Yagoro Ittosai. "Oh. Gaya apa yang kaupelajari?" Dalam hal yang berkenaan dengan permainan pedang." Sambil senyum si pemuda menjawab yakin. tapi selamanya pedang ini dianggap buatannya. Jisai tidak. Toji tak dapat menyembunyikan perasaannya bahwa ia lebih unggul daripada anak ini. di Provinsi Suo." Walaupun sebelumnya pemuda itu pendiam." kata Toji mencela. namun dalam masalah yang disukainya ia dapat berbicara berpanjang-panjang. Saya lihat sekarang banyak orang terhuyung-huyung memakai pedang yang amat besar. bahkan dengan sukarela ia memberikan keterangan. karena pedang ini buatan Nagamitsu. dan mengembangkan Gaya Chujo. "Tapi cuma orang ahli yang dapat memakainya dengan mudah. tiba-tiba saya dipanggil pulang karena ibu saya akan meninggal. "Jisai jatuh sakit. Ini pedang pertempuran. biar panjangnya semeter atau bahkan lebih. Ketika mendengar kabar itu dari Kusanagi Tenki. menerima saya sebagai muridnya. Agaknya." gumamnya. ia terus mengoceh. Saya tak suka meniru. tapi saya bermaksud mencari pandai pedang yang baik di Osaka untuk menyetelnya kembali. Panjangnya cuma semeter. Dengan itu saya mengembangkan teknik sendiri. "Siapa saja harus dapat menggunakan pedang sepanjang ini. tampak bahwa wataknya lebih kuat daripada yang bisa disimpulkan melalui seleranya berpakaian. dan jawabnya." "Panjang sekali. dengan sedikit saja memperhatikan reaksi pendengarnya." "Tapi Gaya Tomita itu untuk pedang yang lebih pendek daripada pedang itu. "Ya. Setelah saya memutuskan untuk jadi orang kedua yang secara resmi diberi sertifikat. dan sesudah empat tahun saya belajar di bawah pimpinannya. dia mengatakan saya bisa jalan sendiri. Sebelum ibu saya meninggal." "Di mana rumahmu?" "Iwakuni." "Guru-guru desa memang semuanya gampang saja mengeluarkan sertifikat. supaya mudah saya menariknya dari pinggang. masa?" "Memang tak ada tanda tangannya pada ujungnya. Sesudah pulang itu. kalau saya mempelajari Gaya Tomita. pemuda itu berhenti bicara sesaat lamanya. ini pedang terkenal. "Gaya Tomita. saya Ebook by Kang Zusi . Dia tidak seperti itu." "Terlalu panjang. Sekali mulai. Pemuda itu melontarkan pandangan penuh tanya ke wajah Toji yang tampak puas diri. "Ketika saya berada di Suo itu. Matanya mendung dan merenung.property of: CROSSFiRE. Dari situ. si pemuda memperbaiki posisi duduknya menghadapi Toji dan menjawab ramah. Pada suatu ketika." "Orang-orang muda seperti kalian rupanya bangga dengan sifat memberontak. jadi saya putuskan menggunakan pedang panjang. Dan itu menyebabkan saya dikeluarkan dari sekolah. Orang menamakannya Galah Pengering." "Nagamitsu? Ah. Nyatanya. mereka balik kanan dan lari. Inc." "Memang pedang dapat dipakai. Dia juga sudah meninggalkan Gaya Tomita. saya betul-betul kerja keras. Dia bersimpati pada saya. Apa yang terjadi sesudah itu?" "Saya tinggalkan Desa Jokyoji di Echizen. dan pergi menemui Kanemaki Jisai." "Oh." kata Toji dengan gaya berwibawa. Tapi belum saya berhasil. karena senang senjatanya dipuji. tidak berarti saya harus mengguna-kan pedang pendek. netcafe. dan dari ceritanya tentang pengalaman-pengalamannya di masa lalu. ya?" "Tak tahulah. Memang tampak mengesankan. Guru saya menggunakan pedang pendek. tapi kalau sudah terdesak. pedang ini sudah lama menjadi milik keluarga saya.

"Anda dari Osaka?" "Tidak. dan bukankah ia masih seorang murid. yang intinya adalah bahwa ia telah menutup tempat semayam keluarganya di Suo. dan dia masih di sana ketika guru terbaring sakit di tempat tidur. Dia tidak hanya menginginkan saya menerimanya. tapi ia mempercayakan kepada Tenki sejumlah uang untuk orang muda itu." "Bagaimana kau bisa demikian yakin. tapi berbicara dengannya lebih baik daripada sendirian dan merasa bosan." Sejenak mereka berdua terdiam. Sudah pernah engkau mengunjungi tempat itu?" "Tidak. "Yoshioka memiliki rumah besar dan banyak nama baik. Orang muda itu sendiri berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk belajar dan melihat-lihat. "Perguruan Yoshioka kelihatannya sekarang berkembang pesat. Pertanyaan itu sendiri cukup polos. "Jadi. jadi menurut bayangan saya Kempo tentunya seorang pemain pedang besar.property of: CROSSFiRE. ia menoleh kepada Toji dan tanyanya. dan melalui suratmenyurat ia mempersiapkan diri bertemu dengan temannya Tenki pada musim semi. Toji sama sekali tidak terkesan oleh pemuda tampan yang emosional itu." Toji batuk-batuk untuk menekan tawanya. tapi Jisai mempertimbangkan pun tidak untuk memberikan sertifikat kepadanya. Tapi kata orang tak seorang pun dari anak-anaknya bisa menyamai tarafnya. anak tertua Yoshioka Kempo." katanya. melainkan juga berharap bertemu dengan saya dan memberikannya langsung pada saya. Pemuda itu melanjutkan cerita sentimentalnya. dia mengatakan pada kemenakannya itu akan memberikan sertifikat pada saya bersama buku metoda-metoda rahasia yang dimilikinya. Selesai dengan ceritanya. saya dari Kyoto. Toji bertanya. terbawa oleh bunyi ombak dan layar. beratus mil jauhnya dari Suo. Dengan wajah memerot dan nada menghinakan. Kalau ia tahu. Tenki sudah belajar di sekolah itu lama sebelum saya. tapi kalau nanti sampai Kyoto. dan buih air terbang ke kapal lewat bibir kapal. netcafe." jawabnya singkat. untuk melihat sampai seberapa kebolehannya. berpura-pura menaruh minat besar. bersama sertifikat dan buku rahasia tersebut. akhirnya ibu saya meninggal kira-kira pada waktu yang bersamaan. Tentu saja orang muda itu tidak mengetahui kedudukannya di perguruan tersebut. mendekati sikap merendahkan. di tengah jalan antara Kozuke dan Awa. "Jadi. "Saya dengar ada orang yang namanya Yoshioka Seijuro di sana. Apakah dia masih aktif?" Toji jadi ingin sedikit mempermainkannya. Tenki kemenakannya. Ia berpendapat tak mungkin ada sedemikian banyak ahli pedang yang mengembara berkeliling. kemudian menoleh lagi pada Toji. membuat seluruh langit berwarna keabu-abuan. Bukanlah ia sendiri hampir dua puluh tahun lamanya di Perguruan Yoshioka. tapi dia ada di Kozuke. Sekarang dialah yang ingin tertawa. "Kyoto?" gumamnya. "Oh. "Dan kukira engkau menduga dapat pergi tanpa cedera?" "Kenapa tidak?" tukas balik pemuda itu. Kurang kemungkinannya bahwa Jisai yang tidak memiliki sanak dekat itu meninggalkan banyak kekayaan. "Ya. Sudah lama ia muak dengan pemain-pemain pedang muda sesat yang berkeliaran ke sana kemari membualkan sertifikat dan buku-buku rahasianya. Kapal mulai oleng. Tenki diperkirakan sedang mengadakan perjalanan keliling untuk belajar. dan katanya. Sebelum mereka berjumpa pada hari yang telah ditentukan di Gunung Horaiji di Provinsi Mikawa. tapi hampir setiap orang rupanya menduga Keluarga Yoshioka akan berakhir dengan Seijuro dan Ebook by Kang Zusi . begitu." Mata orang muda itu pun basah oleh kenangannya. namun pandangan mata Toji memperlihat-kan sikap meninggikan diri. Saya tak percaya dengan segala yang saya dengar. sekalipun murid yang mempunyai banyak hak istimewa? Pemuda itu beralih tempat duduk dan memandang dengan saksama ke arah air yang kelabu. saya ingin bertanding dengan Seijuro. jadi tak mungkin saya berada di sampingnya sampai akhir hayatnya. Lagi pula. Sebaliknya. Inc." Awan-awan menyembunyikan matahari. ketika siang dan malam sama lamanya. dan tertawalah ia. tak sangsi lagi ia pasti menyesali apa yang baru dikatakannya. sebelum kau betul-betul berjumpa dengan mereka?" "Itulah yang dikatakan oleh samurai dari provinsi-provinsi lain. kau punya rencana memasuki dunia ini lewat seni bela diri?" kata Toji. Cepat sekali ia membenci keyakinan diri orang muda yang kurang ajar itu. betul-betul sedih dan menangis. dia meninggal waktu engkau tak ada di tempat?" "Ingin sekali saya pergi mendapatkannya begitu saya mendengar tentang sakitnya.

Toji sama sekali tidak merasa senang dengan keadaan itu.. sebelum kau membanggakan diri. Tapi cobalah engkau bercerita lebih banyak tentang dirimu. Toji melanjutkan.." "Orang muda!" kata Toji tajam." katanya dengan suara tenang yang tidak Ebook by Kang Zusi . Kalau kau meremehkan orang lain. dan jika sekarang ia terlibat dalam perkelahian. Untuk sesaat bahkan terpikir olehnya akan membuka identitasnya." kata Toji dengan nada bergaya. ya?" "Tidak. Inc. "Dari permulaan tadi aku sudah mendengar kau membangga-banggakan diri. tapi saya pikir itu perbuatan bodoh." "Dan kau melakukannya dengan pedang panjang besar itu?" "Betul." kata Toji." "Oh. Sambil menatap bibir Toji yang cemberut. "Tapi tak seorang pun di Kyoto suka mendengar Perguruan Yoshioka disepelekan. Kau membual tentang menetak burung layanglayang dan bicara tentang sertifikat Gaya Chujo. tapi lebih baik kau ingat bahwa tidak semua orang itu bodoh." Toji ingin sekali menyuruh pemuda itu menjaga lidahnya. "Tuan. Tapi masalahnya adalah aku Gion Toji. Pemuda itu mengikutinya tanpa mengatakan sesuatu. kalau kau dapat melakukan itu. kuperingatkan kau. tapi menggawatkan keadaan pada taraf itu akan membuatnya tampak sebagai pihak yang kalah. Pemuda itu menepuk punggungnya pelan. Maka dengan menampakkan diri sesantai mungkin ia menelekan sikunya ke susuran kapal dan memandang penuh perhatian ke pusaran biru hitam yang terbentuk di bawah kemudi." "Nah." Dan ketika orang muda itu tidak mengatakan sesuatu. terpaksa aku bertindak!" Waktu itu mereka sudah menarik perhatian penumpang-penumpang lain." "Ha! Tapi saya bukannya menyampaikan pikiran saya sendiri tadi itu. "Tak seorang pun keberatan mendengar seorang muda membanggakan kemampuannya. tapi jangan-lah sampai keterlaluan. netcafe. Toji yang telah menyatakan namanya dan mengagungkan statusnya berjalan dengan gayanya ke buritan kapal. sama sekali tidak. maka aku tak heran kalau Keluarga Yoshioka disepelekan. Oko menantinya apabila kapal masuk dermaga nanti." "Anda pikir kata-kata saya itu cuma bualan?" "Ya. Maka dengan seboleh-bolehnya menahan diri ia menjawab. Tadi kau mengatakan sudah menemukan cara membunuh burung layang-layang pada sayapnya?" "Ya. murid utama Yoshioka Seijuro. "Saya dapat melakukannya.property of: CROSSFiRE. tidak bakal engkau sampai ke mana-mana." Toji mendekat sambil membusungkan dadanya. Lebih baik kau melihat dulu baik-baik siapa yang kauajak bicara. saya tadi mengatakannya. Mendadak sontak terpikir olehnya bahwa Toji punya maksud tak baik terhadapnya. katanya. ia akan mengalami kesulitan dengan para pejabat kemudian. "Rupanya sekarang provinsiprovinsi penuh orang yang serbatahu." Pemuda itu tidak segera memberikan jawaban. jadi saya sudah bikin kesal Anda. sedang-kan para penumpang ternganga dari jarak yang aman. Denshichiro. betul. menggeram tentang kekurangajaran para pemuda zaman sekarang. dan aku tidak keberatan. Kalau sekali lagi kau mengeluarkan ucapan yang menghina Keluarga Yoshioka. tentunya tak sukar bagimu menetak salah seekor camar laut yang menukik ke kapal ini. "Apa?" "Apa kau tahu artinya 'samurai setengah matang'? Demi masa depanmu. "jika kau demikian hebat hingga dapat meremehkan Keluarga Yoshioka sebelum kau sendiri ke sana. Saya hanya mengulangi apa yang saya dengar." "Nah.

pasti. "Suruh burung camar terbang turun di depan saya.?" "Cobalah maju lima langkah lagi. Saya siap menebas burung-burung itu. "Tuan. katakan saja tak bisa. "Apa maumu?" "Tuan sudah menyebut saya seorang pembual di depan banyak orang yang tak dikenal." "Oh. dan bertanya apa yang dikehendaki pemuda itu. Kalau burung-burung itu tidak mendekat. akan saya tebas yang lain buat Tuan. sedangkan saya punya kehormatan yang harus saya junjung." "Hmm. akan saya lakukan. Tuan tertawa ketika saya katakan saya dapat menetak sayap burung layang-layang. tentu saja dapat dia menebasnya.. Kalau Tuan pikir lebih masuk akal saya memenggal kepala itu daripada membunuh camar laut yang tak bersalah. "Omong kosong apa pula ini? Kalau orang bisa membuat camar terbang di depannya. "Tapi jangan lupa. dan saya ingin Tuan menjadi saksinya." "Baiklah. Dengan marah ia berseru. Pemuda itu berhasil menganggapnya seekor keledai. Dengan sikap sangat sungguh-sungguh pemuda itu berkata. Saya merasa terpaksa melakukan apa yang sudah Tuan tantangkan pada saya untuk saya lakukan beberapa menit lalu. Toji menatap ingin tahu.. netcafe." "Akan saya terima kemungkinan itu. Sambil melakukan itu.. Inc. dan mendesak saya menebas burung camar. sedangkan pedang saya hanya satu meter panjangnya. apa itu akan meyakinkan Tuan bahwa saya tidak hanya omong?" "Ya. dengan senang hati. kalau saya bermaksud melakukan itu. ia memanggil nama Toji. tak akan saya berdiri menanti di sini." Toil tiba-tiba menyadari persamaan antara apa yang sedang terjadi itu dengan jalan cerita sebuah cerita lucu yang menurut kata orang diciptakan oleh pendeta Ikkyu." Toji datang mendekat sambil menggeram. Toji bertanya." "Laut menghampar beratus mil jauhnya. Kalau burung-burung itu tidak mendekat. Akan saya tunjukkan pada Tuan. mengungkapkan kemarahan ataupun kebencian. "Apa maksudmu sekarang?" "Saya cuma ingin Tuan mengizinkan saya memanfaatkan kepala Tuankepala yang sudah Tuan pakai mendesak saya membuktikan bahwa saya bukan hanya membanggakan diri." Ebook by Kang Zusi . Kalau tak bisa membunuh camar laut lewat sayap-sayapnya. ya?" "Jika saya tebas seekor. jika kau melakukan ini cuma demi kebanggaan dan kau gagal. ya." "Tapi Tuan mau jadi saksi?" "Oh. mana bisa sava menebasnya?" Sambil maju beberapa langkah." Pemuda itu mengambil posisi di atas lempeng timah di tengah dek belakang dan menggerakkan tangan ke pedangnya. Tak dapat lagi menahan sikap masa bodohnya." "Bagus sekali!" Toji tertawa mengejek.property of: CROSSFiRE. Toji tidak menjawab. berapa saja jumlahnya.. jadi aku tadi usul begitu." "Apa yang kutantangkan untuk kaulakukan?" "Tidak mungkin Tuan sudah lupa." "Seperti misalnya. "Itu namanya Cuma mau mencoba menyelamatkan diri. Toji berkata senang. kau akan benar-benar menjadi tertawaan." ulang orang muda itu." "Aku tak punya maksud mencegahmu. dan mintalah maaf.

Jelas ia sedang lengah. "Mengerti sekarang?" tanya pemuda itu sambil membalik. para penumpang lain semuanya memandang monyet yang waktu itu bertengger di puncak bang yang tingginya sepuluh meter. Inc. "A-a-apa?" teriak Toji sambil terhuyung ke belakang dan memegang kerahnya." "Bukan. dan ia menyelinap ke belakang penyiksanya. "Apa kau sudah gila?" teriak Toji. ia lihat pemuda itu sudah kembali ke tempat duduknya semula dan sedang mencari-cari sesuatu di dek. "Bajingan!" Kemarahan yang tidak tanggung-tanggung melanda hatinya. dan is meletakkan tangan ke atas kepalanya. dan ternyata pita yang mengikat rambutnya di belakang kepala sudah lepas. ia lihat sebuah benda yang tampak aneh. ke arah bagian dek yang diterangi matahari. dan sejauh yang ia ketahui. Gerakan itu demikian cepat." "Nah. ia sama sekali tidak cedera. Ia tidak yakin apakah sasarannya cukup baik untuk memotong gelung rambut orang itu saja tanpa mesh mengikutsertakan kepalanya." Selembar kartu melayang turun. seperti sebuah sikat kecil. karena justru pada saat itu pemuda itu mencabut pedang dari sarungnya dan mengayunkannya. tapi ia tak peduli. hingga pedang yang panjangnya satu meter itu rasanya tak lebih besar dari sebuah jarum." "Tak seorang pun mau memanjat. sedangkan kemarahan dalam hatinya hal lain lagi. Dengan tubuh membengkak merah dan napas berat ia menabahkan diri untuk menyerang. Sambil meludahi gagang pedang ia cengkeram gagang itu eraterat. "Ha. dia menguyahnya sekarang. "Apa pula ini? Kartunya tak cukup!" "Ke mana perginya?" "Lihat sana!" "Aku sudah lihat. dan katanya. sepertinya dia sedang membagikannya. tapi ia pemain pedang menakjubkan. "Di atas itu! Monyet itu yang mengambilnya!" Senang dengan hiburan yang lain daripada yang lain itu." Ketika mereka sedang berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan permadani. Salah seorang saudagar mengambilnya. Ketika mengangkat kepala dan melihat ke arah haluan. Ia memang masih muda." "Mesti ada yang naik mengambil kartu itu! Tak bisa kita main tanpa yang itu. mencuri kartu. "Mestinya dia masih menyimpan tiga atau empat lembar lagi. Secara refleks kepala Toji merunduk. "Bukan main monyet itu—mencuri kartu. netcafe. Toji kagum bahwa orang yang masih begitu muda dapat begitu hebat. dan Toji merasa bahwa kesempatan untuk membalas dendam tiba. seorang di antaranya kebetulan memandang ke atas. ha!" tawa seseorang. Suatu pikiran mengerikan bersarang di kepalanya. Untunglah kepalanya masih ada. Tapi justru pada waktu itu timbul keributan di antara para saudagar yang sedang bermain kartu. pemuda itu tidak berbohong atau menyuarakan bualan kosong." "Bagaimana kalau Kapten sendiri?" "Saya pikir dia dapat. kalau dia memang mau." Ebook by Kang Zusi . Toji jadi merah padam karena malu. Ketika ia memandang ke bawah. Tahulah ia sekarang. Gelungan rambutnya sudah hilang! Gelungan yang sangat dibanggakannya-kebanggaan tiap samurai! Dengan wajah mengerikan ia menyapukan tangan ke atas kepalanya. tapi hormat yang dirasakannya itu satu hal. dan pergi di antara tumpukan bagasi. Rambut yang tadi terikat pita itu memburai di seluruh permukaan kepalanya. ya.property of: CROSSFiRE.

Kalau tak ada yang memiliki monyet itu. dan mengambil uang itu." "Tapi perbuatan itu tidak begitu baik. Kapten menghilang turun dan masuk palka. karena sekalipun bertubuh kuat. saya akan mengambilnya. Untuk sesaat ia seperti hampir tergantunggantung." Tak seorang pun menjawab. "Stop. "Apa pemiliknya tak ada di sini?. Tapi ada keraguan dalam hati siapa pun bahwa Kapten siap menggunakanmya. netcafe. ia sudah memegang senapan dengan sumbu lambat yang sudah dinyalakan. orang muda itu mendorong laras senapan dari kedudukannya. pemilik monyet berseru. Namun pemuda itu hanya sedikit mengubah kedudukannva ke sisi dan berbuat seolah-olah tak suatu pun terjadi. lalu melenguh-lenguh seakanakan dia majikan atau guru mereka?" Ebook by Kang Zusi . kan?" "Saya sudah memberikan peringatan yang perlu!" "Bagaimana Tuan melakukannya?" "Apa kau tak punya mata dan telinga?" "Diam! Saya penumpang di kapal ini." Kapten mendengar usul itu. tapi dia tak mau. Beberapa penumpang mulai berbisik-bisik dengan sikap tak senang. Tetapi tembakan itu melenceng jauh. Pada detik terakhir. saya sudah mengimbau pemiliknya untuk menyatakan diri. ia pendek dibandingkan dengan pemuda tampan itu. Kalau nanti dia mengeluh menyatakan tidak mendengar saya. tapi sesudah sampai di sana rupanya tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya. tapi agaknya ia merasa bahwa sebagai pemimpin di kapal itu pertamatama ia harus menentukan tanggung jawab atas kejadian tersebut. "Rupanya monyet hidup di laut dan di darat. Tiba-tiba ia memperlihatkan giginva. "Mari kita tawarkan uang kepadanya. setuju menerimanya. Kapten!" Kali ini giliran Kapten berpura-pura tidak mendengar. tapi sejumlah orang yang mengetahui bahwa monyet itu milik si pemuda tampan menjeling penuh harap kepadanya. "Apa pula Tuan ini?" pekik si orang muda.. katanya. Pasti dia mau.property of: CROSSFiRE. sementara salah seorang saudagar menarik lengan baju Kapten dan mendesaknya untuk menembak. Wajah orang-orang dialihkan dari Kapten ke pemilik monyet. Monyet itu sedang menyenang-nyenangkan diri sepenuhnya. Ia menekan pelatuk. Tapi. tapi saya tak ingin ada keluhan nantinya. dan berlari ke ujung palang tiang. Seperti kita lihat. Para penumpang. Kapten sendiri mengetahui. Kapten mengangkat senapan dan membidik. jadilah saksi saya! Sebagai kapten. Sambil memekik berang. dan sebagian lagi mulai bertanya apakah orang itu bisu-tuli atau sekadar kurang ajar. Berdiri di atas tumpukan muatan. Dan lagi saya seorang samurai. Sambil meninggikan lagi suaranya. Di atas sana ira bermain dengan kartu itu dan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk menjengkelkan orang-orang di atas dek. saya kira kita dapat melakukan apa saja yang kita kehendaki.. Inc. Kapten memandang benci pada pemuda itu. saya minta saudara-saudara berdiri di pihak saya!" "Kami menjadi saksi Kapten!" teriak para saudagar yang waktu itu sudah hampir naik pitam. Para pemain kartu menggerutu dengki." Pemilik monyet bersandar pada sebuah muatan dan sedang berpikir keras. Kapten berbicara lagi. maka naiklah darahnya melihat pemuda itu tidak menjawab. seekor di antaranya sudah datang ke tempat kita. Kapten mencekal dada orang muda itu. dan senapan meletus dengan suara berdentam. para penumpang menunduk sambil menutup telinga dengan tangan. ia berseru kepada para penumpang. berceloteh. Karena dia tak bertuan. Apa Tuan kira saya mau menjawab kalau cuma seorang kapten kapal berdiri di depan para penumpang kapal. "Milik siapa monyet itu? Saya persilakan pemiliknya maju ke muka. Ketika muncul kembali. "Tuan mau menembak monyet yang tak bersalah dengan mainan Tuan itu?" "Betul.

kemudian diturunkan. lentera. sedangkan kita mengambil buahnya. netcafe. Selama dapat bergaya seperti raja. "Cuma karena tahu sedikit main pedang!" "Oh. Tugas kita sebagai rakyat adalah membiarkan mereka mengambil bunga." "Tempat kami tepat di depan Biara Sumiyoshi yang cukup besar untuk peziarah. Sedikit demi sedikit jarak antara suara-suara yang datang dari kapal dan suara-suara dari pantai memadu. Kau pasti mendengar. Inc. tali-tali dilontarkan dan tangga diturunkan pada tempatnya. minum sake. Disertai kecipak air berwarna putih. Biarpun kau tak suka dengan caraku bicara. "Siapa ke penginapan Kashiwaya!" Orang muda tadi menerobos orang banyak dengan monyet bertengger di bahunya. "Jangan kurang ajar kamu! Aku sudah mengulang peringatan tiga kali. tanpa memperhatikan para pencari pelanggan ataupun yang lainnya. Ia berjalan langsung dari dermaga. Tuan bisa dapat kamar yang indah. Lampu-lampu kemerahan berkelap-kelip di pantai dan ombak berdebur terus-menerus di latar belakang. Kerang Pelipur Lara PETANG hari. Tuan-tanpa bayar buat monyet. dengan pemandangan yang indah juga!" Tak seorang pun datang menjemput pemuda itu. mereka bahagia. "Ke tempat kami. Orang terakhir yang meninggalkan kapal adalah Gion Toji. tak bakal bisa dia pergi tanpa perkelahian. dan kendaraan. yang melempar-lemparkan emas di depan semua orang. disambut bau ikan yang meliputi segalanya. di sini!" Seperti ombak." "Tenanglah! Biar saja prajurit-prajurit itu menyangka mereka lebih baik daripada siapa pun. Saya sudah memperhatikan mereka. kau toh dapat memperlihatkan iktikad baik pada orang-orang yang merasa terganggu oleh monyetmu?" "Orang-orang mana? Yang Tuan maksud gerombolan pedagang yang sedang berjudi di belakang tirai itu?" "Jangan omong besar kamu! Mereka membayar tiga kali lipat dari yang lain. dan berbuat seolaholah pemilik kapal. Bagaimana kalau monyet itu betul-betul lari membawa kartu mereka? Saya tidak menyuruh berbuat demikian. "Dia pikir siapa dirinya?" geram seorang penumpang. Tak ada alasan saya untuk minta maaf!" Orang muda itu memandang tajam-tajam kepada para saudagar kaya dan menujukan tawanya yang keras mencemooh ke arah mereka. Wajahnya mengungkapkan perasaan yang betulEbook by Kang Zusi . waktu kapal memasuki pelabuhan Kizugawa. lentera-lentera kertas bertuliskan nama-nama berbagai penginapan melintasi dermaga menuju kapal. dan saya tak suka sama sekali pada mereka. para saudagar tetap mengurus agar barang mereka yang bergunung-gunung dihimpun dengan tertib. "Apa putra pendeta Biara Sumiyoshi ada di kapal?" "Apa ada pembawa surat?" "Guru! Kami ada di sini. Teriakan-teriakan bersemangat riuh bunyinya memenuhi udara. Tak seorang pun dari mereka yang tidak segera dikelilingi beberapa perempuan yang penuh hasrat membantu. untuk akhirnya dijemput oleh kelompok manusia. Dia cuma menirukan apa yang mereka lakukan." ' "Itu sama sekali tak mengubah diri mereka-saudagar-saudagar yang rendah kelasnya dan tak kenal tanggung jawab. kalau aku bukan cuma rakyat biasa.property of: CROSSFiRE. Buat apa uring-uringan karena kejadian kecil hari ini?" Sambil bercakap-cakap seperti ini. jangkar pun dijatuhkan. sementara para pencari pelanggan berlomba-lomba melakukan pekerjaannya.

Tak pernah dalam hidupnya ia mengalami hari yang lebih tidak menyenangkan daripada hari itu. Karena di sana betulbetul tidak ada orang." "Ada yang tidak beres? Kau tampak bingung. Tapi ia bukannya menangis." "Terima kasih. Ada joliku menunggu. "Oko! Jadi. tapi kupikir surat itu tidak sampai pada waktunya. dan tampak seakan air matanya akan mengalir. "Aku akan tinggal sendiri di mana saja!" lenguhnya." pinta Oko. Ayo kita pergi ke Sumiyoshi." Pandangan cemas melintasi wajah Toji. tapi kita masih akan punya kesempatan lain untuk bersama-sama. kemarahannya." "Aku mengerti. netcafe." kata Oko mencela sambil menatap ke depan. dan kerut-merutnya menampakkan diri dari balik pupur yang dimaksud untuk menyembunyikannya. wajah Oko terkena tiupan angin dingin selama menanti tadi. kan?" "Ya. Kepalanya terbungkus kerudung untuk menyembunyikan gelungan yang hilang dengan cara sangat memalukan itu. "Kalau kau pergi sendiri. maka Oko memeluk Toji." Ia menolak naik joli." kata Toji. minta aku menunggumu di sini." Ia merenggutkan lengan kimononya dari Oko dan bergegas pergi. "Lepaskan!" pekik Toji. Segala kemarahan yang telah bertumpuk dalam dirinya di kapal kini meledak. Sekalipun kepalanya juga terbungkus kerudung. Inc. Pipinya yang sejuk menempel pada pipi Toji. "Aku mohon.property of: CROSSFiRE. jangan bicara seperti itu!" mohon Oko. ia menukasnya telak dan menyebutnya goblok. Cuma sedikit mabuk laut. kenapa kauseret ikut orang-orang itu? Itu karena perasaanmu terhadapku lain dengan perasaanku terhadapmu!" "Sekarang kau mulai soal itu lagi. Waktu itu mereka berada di pasar ikan. Ketika Oko mencoba menjelaskan. "Aku tahu. orang-orang akan mengira ada sesuatu. Kalau banyak orang di sana." "Biar mereka mengira semaunya!" "Oh. di samping daerah pelabuhan. Semua orang menunggu di penginapan. "Semua orang? Apa maksudmu? Kupikir cuma kita berdua yang akan menghabiskan hari-hari menyenangkan di satu tempat yang tenang. "Suruh joli itu pergi! Bagaimana mungkin kau begitu bodoh? Kau ini sama sekali tak mengerti diriku." "Tak apa-apa." "Jalan sini. "Toji! Aku di sini!" seru Oko. kau datang juga. mencoba meredakar. dan berangsur-angsur kemarahan dan rasa frustrasinya mereda. "Ini cuma karena aku begitu kecewa. betul tak enak. dan sisiksisik ikan yang bertebaran di jalan berkelipan seperti kerang-kerangan perak kecil. Apa kau sudah pesan kamar buat kita?" "Ya." "Tapi dua-tiga hari ini—aku betul-betul mengharapkannya. bukan? Kau menulis. Semua toko sudah tutup. aku tidak pergi. dan berjalan marah lebih dulu. Bau pupur dan rambutnya yang manis menyusupi diri Toji. mencari penginapan yang baik." "Itu yang kauharapkan." "Kalau kau mengerti. melainkan mencoba sekali lagi memaksa Toji Ebook by Kang Zusi . tapi kain itu tak dapat menyembunyikan alisnya yang turun dan bibirnya yang cemberut.

"Apa katanya? Ada orang datang?" Ebook by Kang Zusi . Segera sesudah ia keluar dari ruangan." "Oh. dan sudah aus karena sering dipakai." Untuk menghormati hadirnya wanita di tempat itu. "saya senang mendengar itu. Tak ada orang mengeluarkan uang untuk berkelahi! Kami panggil kalian kemari supaya kami dapat minum dan bersenang-senang. lalu kembali ke dermaga. tapi kemudian satu orang menyarankan agar ia dan Akemi mengundurkan diri ke kamar lain. tapi bagaimanapun ia senang juga meninggalkan tempat itu. dan pesta berkembang pesat. dan ia merasa benci karena harus menyampaikan berita buruk pada mereka. "Jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol. Tindakan yang tidak terlalu halus untuk menyingkirkannya itu mendatangkan senyum sayu di wajahnya. netcafe. pesta pun dimulai dengan sesungguhnya. Semula mereka minum hanya untuk menghabiskan waktu. Di rumah penginapan. mengenakan kimono berlapis katun nyaman yang disediakan rumah penginapan. ketika kedua orang itu tidak juga muncul." Konsekuensi wajar dari pernyataan ini adalah pesanan sake. namun perasaan murungnya tidak juga membaik." katanya. Ketika pembawa surat datang membawa surat Toji. Suling dan shamisen yang mereka bawa sudah tua. "Apa tak ada gadis-gadis penyanyi di Sumiyoshi ini?" "Ide bagus! Apa salahnya kalau kita panggil tiga atau empat gadis manis?" Seijuro tampak ragu-ragu. Bagaimana mungkin ia memberikan penjelasan tentang hilangnya gelungan itu? Akhirnya ia menyadari bahwa tak ada jalan keluar. Satu hal. Toji terpaksa membenarkan bahwa dalam keadaan seperti itu tak banyak yang dapat diperbuat Oko. "Cepat atau lambat mereka berdua akan datang. dan tak lama kemudian beberapa gadis penyanyi dari kelas yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai "kebanggaan Tosamagawa" muncul di kebun di luar kamar. semangat meningkat. Inc. dan menyerahlah ia kepada nasib. Akhirnya rombongan yang menginap di penginapan Sumiyoshi itu berjumlah sepuluh orang. tapi dasar nasib. tentu saja ia berencana untuk datang ke Osaka sendirian. daripada minum dengan gerombolan orang kasar ini. Akan jauh lebih menyenangkan berada sendirian dalam kamar dengan Akemi dan kotatsu hangat. aku sungguh bahagia!" seru Oko." kata gadis itu dengan bijaksana. dan beberapa tubuh yang menggeletak menegakkan diri. "Baiklah. "Kenapa Tuan-tuan begini ribut?" tanya seorang di antara perempuan itu lancang. mendengarkan penjelasannya. malam itu juga Seijuro datang di Yomogi bersama enam atau tujuh orang muridnya. dan ia yakin bakal datang yang lebih buruk lagi. Tak lama kemudian." "Oh. beberapa tulang kering yang berambut pun ditarik masuk ke balik ujung kimono. bermutu rendah. Tapi yang jauh lebih ia takuti adalah bahwa ia terpaksa melepaskan kerudung dari kepalanya. Beberapa waktu kemudian. kalau itu yang kaukehendaki. Pesta sedang berjalan sehebat-hebatnya ketika seorang gadis muda masuk memberitahukan bahwa orang lelaki yang tiba dengan kapal dari Shikoku itu telah datang dengan temannya.property of: CROSSFiRE. satu orang berkata. baiklah. dan duduk menanti kembalinya Toji dan Oko. Seketika itu juga orang-orang itu memutuskan akan mengantar Oko ke Osaka dan minta Akemi datang bersama mereka. Seijuro dan lain-lainnya sudah mandi. Hari itu jelas bukan hari baik baginya. Musik dimulai." "Nah. di mana suasananya lebih tenang. pertanyaan pertama yang akan dilontarkan kepadanya adalah tentang hasil kampanye keliling yang telah dilakukannya. Suruh joli itu kemari. dan mangkukmangkuk sake bergerak mondar-mandir lebih cepat. tapi segera kemudian kaki mereka mulai membujur dengan nikmatnya. mereka semua sudah kurang-lebih melupakan Toji dan Oko. tapi saya harap betul Tuan-tuan sedikit tenang. Tak ada alasan untuk duduk di sini berpangku tangan. "Tuan-tuan datang kemari untuk minum atau bercekcok?" Orang yang menganggap dirinya pimpinan menyahut. "aku pergi denganmu. dan Akemi membocorkan pada mereka bahwa Toji akan datang. bagus! Mari kita nyanyikan lagu-lagu.

tapi pesta berjalan terus. ha. tapi semuanya tampak muram. Pukul sepuluh. "Hei. bahkan sesungguhnya mereka berdua diabaikan. dalam keadaan sudah tidak mabuk dan tenggelam dalam pembicaraan yang sangat serius. dia bilang orang yang namanya Toji datang. tapi terlambat. Kita harus menemukan orang yang membawa monyet itu dan memotong gelungannya. Dalam perjalanan. tapi sia-sia. "Ya. Apa kau mau menyebutku pembohong?" "Kita tak dapat membiarkan hal itu berlalu tanpa melakukan sesuatu. selagi kami duduk menunggu di sini. Toji jadi muak. Mereka duduk melingkar.. kelompok yang sama sudah berkumpul di pantai di belakang rumah penginapan. kemudian jatuh ke lantai bersama Toji pula. sebagian dengan dada dibidangkan. "Dari segi mana pun.property of: CROSSFiRE. Sambil memungut kerudungnya dan mengembalikannya ke tempatnya. sekarang ini masih belum terlambat." "Hebat! Bagus sekali! Toji tua yang baik itu datang. si biang keladi vang berbau sake datang terhuyung-huyung dan merangkulkan tangannya ke leher Toji. Ia panggil kembali gadis yang mengantar mereka dan minta dibawa ke kamar Seijuro." "Tapi persoalannya. si biang keladi telah menyambar kerudung itu dan kini ia menggenggamnya. ha! Cukuran baru rupanya!" "Di mana kaudapatkan itu?" Wajah Toji menjadi merah padam. netcafe. Ini persoalan yang menyangkut martabat seluruh Perguruan Yoshioka! Ada yang keberatan?" Biang keladi yang mabuk semalam itu kini menjadi letnan yang gagah berani. Kehormatan Perguruan Yoshioka sedang dipertaruhkan. Inc. Tunjukkan pada kami!" Dari lelucon ringan itu jelaslah bahwa tak seorang pun percaya pada Toji. tak apa-apa. ia menggagap. Sambil jatuh. Semua mata memandang langsung ke tempat bekas gelungan Toji. apakah benar begitu?" "Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Siapa itu Toji?" Masuknya Toji dengan Oko sama sekali tidak mengganggu acara itu. Setelah dibuat berpikir bahwa mereka semua berkumpul demi meyakinkan Toji bahwa semua itu diadakan untuk dia. yang mendorong Ebook by Kang Zusi . orang itu menginjak sebuah-dua buah baki. menendang beberapa guci sake. dan tak seorang pun bicara lagi tentang gelungan itu. Pagi berikutnya persoalan sudah lain sama sekali. tapi apa tindakan kita?" "Nah. sebagian lagi dengan tangan disilangkan. "Dia bawa pulang bisul untuk oleh-oleh!" "Tutup tempat yang busuk itu!" "Jangan cuma bicara.. Aku punya bisul. "Kerudungku!" sengal Toji. Kita harus bertindak!" "Tentu saja. Itu mestinya tak boleh kamu lakukan!" Toji mencoba melepaskan orang itu dari dirinya. diiringi napas tersengal bersama. Orang itu menariknya ke dalam kamar. semua orang tertawa terbahak-bahak." Tanpa kecuali. Tapi ketika mereka sedang masuk ke gang. Tangannya cepat memegang kepalanya. Toji!" katanya dengan nada malas. "Apa yang terjadi dengan kepalamu?" "Ha. Kita harus menunjukkan kepadanya bahwa bukan hanya kebanggaan Gion Toji yang tersangkut di sini. buruk keadaannya. "Ah. "Baru kembali? Kau tentunya bersenang-senang dengan Oko entah di mana. dan Toji meronta-ronta.

kecuali kalau kami bertindak cepat. dia dapat mendatangkan aib bagi perguruan yang menjadi pusat terbesar seni bela diri di negeri ini. berbicara sepatah dua patah kata dengan Seijuro. "Dan apa yang kamu lakukan di sini selama ini?" "Aku?" Akemi menjatuhkan pandangan matanya ke pasir indah di sekitar kakinya." "Apa yang dilakukannya?" "Sesuatu yang akan membikin malu nama Tuan Muda. Sekalipun waktu itu musim dingin. Dia membawa monyet. kalau memang benar demikian. "Aku mencari kerang laut." "Apa yang kalian cari?" "Seorang samurai muda dengan jambul panjang. Tapi segera mereka temukan bahwa Toji sudah bangun lebih pagi. Ia sampaikan pada mereka cerita lucu tentang pemotongan gelungan itu dan ia akhiri ceritanya dengan mengatakan. "Kalian ini selalu saja mencari perkelahian!" kata Akemi dengan nada tidak sependapat. Pendapat saya. matahari bersinar hangat dan bau laut memancar dari built ombak yang menghampar seperti rantai bunga mawar putih sejauh-jauh mata memandang. Namun ia gagal membangkitkan minat Akemi setitik pun. mengibaskan pasir yang menempel di kimono. Inc. Akemi yang bertelanjang kaki bermain di tepi air. ia bercerita tentang apa yang telah terjadi di kapal." Murid-murid Yoshioka cepat bebas dari mabuknya dan pergi mencari murid senior yang sulit diatur itu. untuk ditanyai tentang kejadian tersebut. ya?" "Kalian orang-orang lelaki ini menghabiskan waktu dengan mengejar hal-hal paling tolol. tapi kalau kita biarkan dia lolos. Ketika terbangun pagi itu. "Bukannya kami suka berkelahi. untuk menghilangkan sisa mabuk mereka." "Hah?" Dan dengan mata menyipit ia memandang Akemi curiga. Dengan mata terbuka lebar karena heran. "Bagaimana kalau kau ikut mencari denganku? Setiap orang mendapat bagian wilayah untuk diliput. Dan ketika mereka berada di tempat mandi. dan mulai beraksi. lalu bangkit berdiri. Tanpa mengetahui siapa mereka. Hal ini membenarkan tepatnya cerita itu.property of: CROSSFiRE. Ketika orang terakhir melewatinya. mereka memesan air hangat untuk mandi. Akemi memandang orangorang Yoshioka berlari ke arah yang berbeda-beda itu. "Samurai yang kehilangan rambutnya itu menyatakan diri sebagai murid terkemuka Keluarga Yoshioka di Kyoto. dan katanya. Dalam sidang perang di tepi pantai itu mereka menyepakati sebuah rencana. sementara ujung sarung pedang mereka mendongak-dongak ke udara. namun daripada mengejar Toji si pengecut. Contoh yang tepat buatmu." Ebook by Kang Zusi . orang-orangnya memasuki pertempuran. netcafe. Perempuan biasa menghamburkan waktu dengan cara-cara yang lebih gila daripada lelaki. kamu?" kata orang itu." "Buat apa mencarinya? Ada berjuta-juta kerang di seluruh tempat ini. kemudian langsung berangkat dengan Oko ke Kyoto sesudah makan pagi. ia berseru." "Dan bagaimana kalau benar begitu?" "Kamu gila. "Ke mana kalian semua ini pergi?" "Oh. memunguti kerang laut satu demi satu. keadaan Keluarga Yoshioka itu tentunya lebih buruk lagi dari yang dapat dibayangkan orang. mereka memutuskan lebih masuk akal menemukan pemuda tak dikenal yang membawa monyet itu dan membersihkan nama baik Yoshioka. seorang saudagar masuk. tapi langsung membuangnya kembali. Tidak jauh dari sana." Ia menyampaikan pada Akemi apa yang telah terjadi.

kita dapat melupakan segalanya. melainkan akan diselipkannya ke dalam lengan baju Seijuro. karena kenangan itu membuatnya ingin lari dan meloloskan diri ke dunia impian.property of: CROSSFiRE. Aku ingin melupakan semuanya. Jika sekiranya memang ada yang namanya kerang pelipur lara itu. dan ia tunjuk sebuah batu berukiran sebuah sajak kuno. Ia mengeluh. itu kan cuma dongeng. Pada waktu ini ia sedang merangkul lutut." "Oh? Dan apa betul ada kerang macam itu?" "Ada! Tapi orang bilang kita hanya dapat menemukannya di sini. Akan kutunjukkan nanti. barangkali sedikit sembrono. Ingatan akan Seijuro itu saja membuat hatinya dingin. Bagaimana kalau kamu tinggal saja di sini. dan merasa bimbang apakah akan berpegang teguh pada sejumlah kenangan yang didambakannya. dan juga air. Orang bilang akan sampai ke sana Kerang penyebabnya Lupa akan cinta Dengan bangga Akemi berkata. di pantai Sumiyoshi. Ia cenderung yakin bahwa Seijuro ada di dunia ini semata-mata untuk meruntuhkan masa mudanya. Dan memandang laut itu. Apabila sedang sedih. dan membayangkan alangkah baiknya hidup ini. Namanya pelipur lara. Ibu Akemi sama sekali tak mengira bahwa Akemi menyimpan pikiranpikiran putus asa semacam itu. salah satu kebohongan tak berguna yang disampaikan dengan puisi. Akemi sering mengira bahwa persoalan yang dihadapinya akan terpecahkan jika saja ia dapat melupakan masa lalu dan menikmati masa kini. bukan ia yang akan membawanya." Ditariknya pemuda yang enggan itu ke barisan pohon pinus. ayo pergi denganku. dan ia pun melesat sekencang-kencangnya. apalagi Seijuro. Air Laut Pedalaman yang biru tiba-tiba tampak begitu memikat. demikian diputuskannya. kalau saja Seijuro melupakan segala yang menyangkut dirinya. karena tahu besar kemungkinan Musashi telah sama sekali melupakannya. jika misalnya memang ada. Sekiranya kupunya waktu." -Tapi di Sumiyoshi ada juga bunga yang bikin kita lupa. Karena itulah aku mencarinya. keajaiban apa yang akan kaudapat?" "Mudah sekali. kemudian tiba-tiba ia ingat akan kewajibannya. Akan kutemukan ia di pantai Sumiyosbi. Tapi kenangan tentang Musashi yang sekali-sekali menjadi pelariannya sering juga menjadi sumber kesengsaraannya. hingga belum dapat barangkali ia menerima cinta Ebook by Kang Zusi . ia jadi ketakutan. Inc." "Nah. "Oh. netcafe." "Aku berani bertaruh tak ada barang macam itu!" "Ada! Kalau kamu tak percaya. "Lihat! Bukti apa lagi yang kamu perlukan?" "Ah. dan menghilang. Kalau kita masukkan satu ke dalam obi atau lengan baju kita. ia menghibur diri dengan memikirkan Musashi. maksudmu kamu mau lebih lalai daripada sekarang" "Ya. alangkah baiknya kalau ada cara yang dapat kupakai untuk menghapus wajahnya itu dari pikiranku!" pikirnya. Alangkah mudahnya berlari langsung masuk ke dalamnya. "Tapi aku mencari jenis kerang yang sangat khusus. tapi bagaimanapun masih kuncup yang belum berkembang. ataukah pada keinginan untuk melontarkan kenangan itu ke laut. "Jadi. ini bukan waktu untuk mainan anak-anak!" kata samurai itu mencela. Ada beberapa hal yang tak dapat kulupakan. Ketika Seijuro mendesaknya dengan pertanyaanpertanyaan cinta bercampur bujukan." Samurai itu tertawa. Semua orang di sekitarnya menganggap Akemi sangat bahagia. membantu mencari?" "Ah. Ia ragu-ragu akan menyerahkan diri seluruhnya kepada khayal. karena itu aku merasa tidak bahagia siang hari dan berbaring dengan mata melotot malam hari.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

seorang lelaki. Bagi Akemi, ibunya dan orang-orang lelaki yang datang ke warung teh itu sesuatu yang berada di luar dirinya. Pada waktu mereka hadir, ia tertawa berkelakar, menggemerincingkan giring-giringnya, dan mencibir bila perlu. Tapi bila sendirian, desah-desahnya muram dan gelap. Pikiran-pikiran Akemi terganggu oleh datangnya seorang pembantu rumah penginapan. Melihat ia berada di dekat prasasti batu, pembantu datang berlari, dan katanya, "Oh, di mana Nona tadi? Tuan Muda memanggilmanggil Nona, dan beliau kuatir sekali." Di rumah penginapan, Akemi menjumpai Seijuro sendirian menghangatkan kedua tangannya di bawah selimut merah yang menutup kotatsu. Kamar dalam keadaan tenang. Di halaman, angin lembut gemeresik lewat pohon-pohon pinus yang layu. "Kau keluar dalam udara dingin begini?" tanya Seijuro. "Apa maksudmu? Rasanya tidak dingin. Di pantai matahari terang." "Apa yang kaulakukan di sana?" "Mencari kerang laut." "Kau ini macam anak kecil." "Aku memang anak kecil." "Berapa kaukira umurmu pada hari ulang tahun yang akan datang?" "Tak ada artinya. Aku masih anak kecil. Apa salahnya?" "Banyak salahnya. Kau mesti memikirkan rencana-rencana ibumu untukm u.." "Ibuku? Dia tidak memikirkan aku. Dia sendiri yakin, dia masih muda." "Coba duduk sini." "Aku tak mau. Nanti aku kepanasan. Ingat tidak, aku masih muda." "Akemi!" Seijuro menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dirinya. "Tak ada orang lain di sini hari ini. Ibumu cukup bijaksana dengan kembali ke Kyoto." Akemi memandang mata Seijuro yang menyala, dan tubuhnya pun menegang. Secara tak sadar ia mundur, tapi Seijuro memegang pergelangan tangannya erat-erat. "Kenapa mau lari?" tanya Seijuro menuduh. "Aku tak mau lari." "Tak ada orang lain sekarang di sim. Ini kesempatan baik, bukan, Akemi?" "Kesempatan apa?" "Jangan keras kepala begitu! Sudah hampir setahun kita saling bertemu. Kau tahu perasaanku padamu. Oko sudah lama memberi izin. Dia bilang, kau tak mau menyerah karena caraku yang salah. Jadi, hari ini mari kita..." "Berhenti! Lepaskan tanganku! Lepaskan, kataku!" Tiba-tiba Akemi membung-kuk dan merendahkan kepala dengan malunya. "Jadi, biar bagaimana kamu tak mau?" "Berhenti! Lepaskan!"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sekalipun tangan Akemi sudah merah oleh cengkeramannya, Seijuro tetap tak mau melepaskannya. Tak mungkin gadis itu cukup kuat melawan teknik-teknik militer Delapan Perguruan Kyoto. Hari ini Seijuro lain dari biasanya. Sering ia mencari kesenangan dan hiburan dengan sake, tapi hari ini ia tak minum apa pun. "Kenapa kauperlakukan aku seperti ini, Akemi? Kau mau menghina aku?" "Tak mau aku bicara tentang itu! Kalau tidak kaulepaskan, aku menjerit!" "Menjeritlah. Tak ada yang akan mendengarmu. Rumah besar terlalu jauh dari sini, dan lagi, aku sudah bilang pada mereka supaya kita jangan diganggu." "Aku mau pergi dari sini." "Takkan kubiarkan." "Tubuhku bukan milikmu!" "Oh, jadi begitu perasaanmu? Lebih baik kautanyakan soal itu pada ibumu! Sudah cukup banyak aku membayar." "Oh, ibuku mungkin sudah menjualku, tapi aku belum menjual diriku! Lebih-lebih pada lelaki yang kupandang rendah, lebih dari maut sendiri!" "Apa?" pekik Seijuro sambil melontarkan selimut merah ke atas kepala Akemi. Akemi menjerit sekuat paru-parunya. "Menjeritlah, anak anjing! Jeritkan semua yang kaumau! Tak seorang pun akan datang." Di atas shoji, sinar matahari pucat berbaur dengan bayangan resah pohon-pohon pinus, seakan-akan tak sesuatu pun terjadi. Di luar, segalanya tenang kecuali pukulan ombak di kejauhan dan cicit burung-burung. Diam yang dalam mengiringi raungan Akemi yang teredam. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah pucat seperti mayat, Seijuro muncul di lorong luar, tangan kanannya memegang tangan kiri yang baret-baret berdarah. Tak lama sesudah itu pintu terbuka lagi dengan suara berdentam, dan Akemi muncul. Seijuro yang tangannya kini berbungkus handuk berseru kaget dan bergerak seakan hendak menghentikannya, tapi tidak cukup cepat. Gadis yang sudah setengah gila itu melarikan diri secepat kilat. Wajah Seijuro mengerut gundah, tapi ia tidak mengejar Akemi, sementara Akemi menyeberang halaman dan masuk bagian lain rumah penginapan. Tak lama kemudian senyuman tipis jahat tersungging di bibirnya. Senyuman kepuasan yang amat sangat.

bagian 11

Berlalunya Seorang Pahlawan
"Paman Gon!" " Apa? " "Paman capek?" "Ya, sedikit." "Kupikir begitu. Aku sendiri hampir mogok, tapi biara ini bagus sekali gedung-gedungnya, ya? Hei, apa ini bukan pohon jeruk yang disebut pohon rahasia Wakamiya Hachiman itu?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Rupanya." Barangkali inilah barang pertama dari delapan puluh kapal upeti yang disampaikan Raja Silla kepada Maharani Jingu, ketika maharani itu menaklukkan Korea." "Lihat kandang kuda-kuda suci itu! Apa bukan binatang yang elok itu? Pasti dia dapat nomor satu dalam pacuan kuda tahunan di Kamo." "Maksudmu yang putih itu?" "Ya. Hmm, apa bunyi papan nama itu?" "Katanya, air rebusan kacang yang dicampur makanan kuda kalau diminum bisa menghentikan teriakan dan kerotan gigi malam hari. Apa kau mau sedikit?" Paman Gon tertawa. "Jangan berbuat tolol macam itu!" Dan sambil menoleh ia bertanya, "Apa yang terjadi dengan Matahachi?" "Rupanya ngeluyur." "Oh, itu dia, istirahat dekat panggung tarian suci." Wanita tua itu mengangkat tangan memanggil anaknya. "Kalau kita lewat jalan itu, kita dapat melihat Tori Agung yang asli, tapi mari kita pergi ke Lentera Tinggi." Matahachi mengikuti dari belakang dengan malasnya. Semenjak ibunya menangkapnya di Osaka, ia selalu bersama mereka-jalan, jalan, dan sekali lagi jalan. Kesabarannya mulai menipis. Lima atau sepuluh hari melihat-lihat pemandangan mungkin bagus dan baik-baik saja, tapi ia takut memikirkan harus menyertai mereka membalas dendam. Sudah dicobanya meyakinkan mereka, bahwa berjalan bersama-sama seperti itu merupakan cara yang buruk. Lebih baik ia pergi mencari Musashi sendirian. Tapi ibunya tak hendak mendengarkan. "Sebentar lagi Tahun baru," ujarnya. "Dan Ibu ingin kau menyambutnya bersama Ibu. Sudah lama kita tidak bersama-sama merayakan Tahun Baru, dan ini barangkali kesempatan kita yang terakhir." Walaupun Matahachi tahu tak dapat menolak ibunya, ia telah membulatkan hati untuk meninggalkan mereka beberapa hari sesudah hari pertama Tahun Baru. Osugi dan Paman Gon barangkali kuatir takkan lama lagi hidup, karena itu mereka demikian tenggelam dalam agama, dan sedapat-dapatnya berhenti di setiap biara dan kuil dengan meninggalkan persembahan dan mengajukan permohonan panjang-panjang kepada para dewa dan Budha. Hampir seluruh hari ini mereka habiskan di Biara Sumiyoshi. Matahachi sudah kalut oleh rasa bosan, ia berjalan menyeret kaki dan cemberut. "Apa kamu tak bisa jalan lebih cepat?" tanya Osugi marah. Langkah Matahachi tidak berubah. Ia jengkel sekali pada ibunya, sama seperti jengkel ibunya kepadanya, dan gerutunya, "Ibu ini terus saja menyuruhku cepat dan tunggu! Cepat dan tunggu, cepat dan tunggu!" "Apa yang mesti Ibu lakukan pada anak lelaki macam kamu? Orang datang ke biara, sudah sewajarnya kalau dia berhenti dan berdoa kepada dewa-dewa. Belum pernah Ibu lihat kamu membungkuk kepada satu dewa atau Budha pun. Ingat-ingatlah kata-kata Ibu ini, kamu akan menyesal nanti. Kecuali itu, kalau kamu mau berdoa bersama kami, takkan lama kamu menunggu." "Menjengkelkan!" geram Matahachi. "Siapa yang menjengkelkan?" teriak Osugi berang. Dua-tiga hari pertama segalanya semanis madu antara mereka, tapi begitu Matahachi sudah terbiasa dengan ibunya lagi, mulailah ia tersinggung oleh segala yang dilakukan dan dikatakan ibunya. Ia memperolok-olok Osugi setiap kali ada kesempatan. Apabila malam tiba dan mereka kembali ke rumah penginapan, Osugi menyuruh Matahachi duduk di depannya dan kemudian mengkhotbahinya, yang membuat Matahachi jadi lebih murung lagi.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Bukan main pasangan ini!" keluh Paman Gon sendiri, sambil mencari-cari cara untuk meredakan kekesalan perempuan tua itu dan mengembalikan sedikit ketenangan pada wajah kemenakannya yang cemberut. Karena dirasanya akan terdengar khotbah lagi, ia bergerak memintasinya. "Oh," serunya riang. "Rasanya aku mencium bau enak! Orang menjual remis panggang di warung teh tepi pantai itu. Mari kita ke sana makan remis." Baik ibu maupun anak tidak memperlihatkan kegairahan, tapi Paman Gon berhasil membawa mereka ke warung tepi laut yang dipasangi kerai gelagah tipis itu. Sementara kedua orang itu duduk seenak-enaknya di bangku luar, Paman Gon masuk dan keluar lagi membawa sake. Sambil menawarkan mangkuk pada Osugi, katanya ramah, "Ini akan membikin Matahachi riang sedikit. Barangkali kau sedikit terlalu keras kepadanya." Osugi memalingkan muka, tukasnya, "Aku tak ingin minum apa-apa." Terjerat oleh sarang labah-labahnya sendiri, Paman Gon menawarkan mangkuk pada Matahachi. Matahachi masih marah-marah, dan segera mengosongkan tiga guci sake secepat-cepatnya, karena tahu benar hal itu akan membuat ibunya pucat kelabu. Ketika ia meminta guci keempat kepada Paman Gon, Osugi sampai pada batas kesabarannya. "Sudah cukup kamu minum!" omelnya. "Ini bukan piknik, dan kita rancang kemari bukan untuk mabuk! Kamu juga jaga dirimu, Paman Gon! kamu lebih tua daripada Matahachi, mestinya tahu." Paman Gon menjadi malu, seolah-olah ia sendiri yang minum, dan mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menggosokkan tangan ke wajah itu. "Ya, kau benar," katanya menurut. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan pergi beberapa langkah jauhnya. Lalu semuanya terjadi dengan sangat seru. Matahachi sudah menyinggung sedalam-dalamnya cinta dan keprihatinan ibunya, rasa cinta yang dahsyat, walau rapuh. Osugi tak peduli lagi apakah harus menanti sampai mereka kembali ke rumah penginapan. Dimarahinya Matahachi dengan garang, tak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Matahachi menatapnya dengan pandangan ingkar yang muram, sampai ibunya selesai. "Baik," katanya. "Jadi, Ibu sudah menyimpulkan, aku orang dusun yang tak tahu terima kasih dan tak punya rasa hormat diri, kan? Betul?" "Betul! Apa yang sudah kamu lakukan sampai sekarang, yang menunjukkan kamu punya rasa bangga atau hormat diri?" "Ibu, aku bukan orang tak berharga seperti yang Ibu pikir, tapi Ibu takkan tahu soal itu." "Oh, jadi Ibu tak bisa tahu? Coba dengar, Matahachi, tak seorang pun yang lebih mengenal anak daripada orangtuanya, dan kupikir hari kelahiranmu itulah hari buruk buat Keluarga Hon'iden!" "Lebih baik Ibu tunggu dan lihat! Aku masih muda. Suatu hari nanti, kalau Ibu sudah mati dan dikubur, Ibu akan menyesal sudah mengatakan itu." "Ha! Kuharap memang demikian, tapi aku sangsi apa akan bisa terjadi meski seratus tahun lagi. Sungguh menyedihkan, kalau dipikir-pikir." "Kalau Ibu sedih sekali punya anak seperti aku, tak banyak lagi gunanya aku ada di sini. Aku pergi!" Mendidih karena marah, ia bangkit berdiri dan berjalan pergi dengan langkah-langkah panjang dan mantap. Karena terkejut, perempuan tua itu mencoba memanggilnya kembali dengan suara bergetar memilukan. Tapi Matahachi tak menghiraukannya. Paman Gon yang sebetulnya dapat berlari dan mencoba menghentikannya hanya berdiri memandang tajam ke laut, agaknya kepalanya disibukkan oleh pikiran-pikiran lain. Osugi berdiri, kemudian duduk kembali. "Jangan mencoba menghentikannya," katanya sia-sia kepada Paman Gon. "Tak ada gunanya." Paman Gon menoleh kepadanya, tapi bukan menjawab, melainkan mengatakan, "Gadis di sana itu aneh Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sekali gerak-geriknya. Tunggu di sini sebentar!" Belum habis kata-kata itu diucapkan, ia sudah melemparkan capingnya ke bawah tepi atap warung dan berlari secepat anak panah ke air. "Goblok!!" teriak Osugi. "Ke mana kamu pergi? Matahachi..." Ia mengejar Paman Gon, tapi sekitar dua puluh meter dari warung itu kakinya terantuk gumpalan rumput laut dan ia jatuh tertelungkup. Sambil menggerutu marah ia bangun, wajah dan bahunya penuh dengan pasir. Ketika terlihat kembali Paman Gon, kedua matanya melotot seperti cermin. "Hei, orang tua goblok! Ke mana kamu pergi? Sudah kehilangan akal, ya?" jeritnya. Ia begitu kalang kabut, hingga tampaknya ia sendiri sudah gila. Ia lari kencang-kencang mengikuti Paman Gon, namun terlambat. Paman Gon sudah masuk air sampai setinggi lutut, dan terus ke tengah. Kelihatan la sudah hampir kesurupan, terselimut buih putih. Lebih jauh lagi di tengah laut kelihatan seorang gadis muda yang mati-matian berusaha masuk ke air dalam. Ketika Paman Gon pertama kali melihatnya, gadis itu masih berdiri dalam bayangan pohon-pohon pinus, memandang kosong ke laut, tapi kemudian tibatiba ia berlari menyeberang pasir dan masuk air, sementara rambutnya yang hitam berkibar di belakangnya. Air kini sudah sampai pinggangnya, dan dengan cepat ia mendekati titik terjal di dasar laut. Sambil mendekatinya, Paman Gon berseru-seru kalut, tapi gadis itu terus dengan tekadnya. Tiba-tiba tubuhnya menghilang diiringi bunyi aneh, meninggal-kan pusaran di permukaan. "Anak gila!" teriak Paman Gon. "Sudah nekat bunuh diri, ya?" Ia sendiri tenggelam ke bawah permukaan air, gelagapan. Osugi berlari ke sana kemari di tepian. Ketika dilihatnya kedua orang itu tenggelam, jeritannya berubah menjadi seruan-seruan lantang minta tolong. Sambil melambai-lambaikan tangan, berlari, dan jatuh-bangun ia memerintahkan orang-orang di pantai untuk menolong, seakan-akan merekalah penyebab terjadinya kecelakaan. "Selamatkan mereka, goblok! Cepat, kalau tidak mereka tenggelam." Beberapa menit kemudian, beberapa nelayan membawa tubuh mereka dan meletakkannya di atas pasir. "Bunuh diri karena cinta?" tanya seorang. "Kau berkelakar?" kata yang lain tertawa. Paman Gon berhasil mencekal obi gadis itu dan masih menggenggamnya, tapi baik ia maupun gadis itu sudah tidak bernapas lagi. Gadis itu menampilkan wajah aneh, karena sekalipun rambutnya kusut dan kacau, pupur dan lipstiknya tidak terhapus, dan ia tampak seakan masih hidup. Bahkan dengan giginya yang masih menggigit bibir bawah itu, mulutnya yang ungu seperti menampakan gerak tawa. "Saya pernah melihat gadis ini," seseorang berkata. "Apa bukan dia yang cari kerang di pantai belum lama ini?" "Ya, betul! Dia tinggal di penginapan sana itu." Dari arah rumah penginapan ada empat atau lima orang yang datang mendekat. Di antara mereka Seijuro yang dengan napas sesak menerobos kerumunan orang banyak itu. "Akemi!" teriaknya. Wajahnya menjadi pucat, tapi ia berdiri saja. "Apa bisa kita selamatkan dia?" "Tidak bisa, kalau Tuan cuma berdiri melongo." Para nelayan melepaskan cekalan Paman Gon, meletakkan kedua tubuh itu berdampingan. Mereka mulai menampar-nampar punggung kedua orang itu dan menekan-nekan perutnya. Akemi cepat sekali kembali bernapas. Karena ingin sekali menghindari tatapan mata para penonton, Seijuro menyuruh orang-orang dari rumah penginapan membawa Akemi pulang. "Paman Gon! Paman Gon!" panggil Osugi dengan mulut di telinga orang tua itu, berurai air mata. Akemi Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

dapat kembali hidup karena ia masih muda, tapi Paman Gon... Ia tidak hanya tua, tapi ia pun telah minum sake cukup banyak sebelum menyelamatkan gadis itu. Napasnya terhenti untuk selamanya. Seberapa banyak pun usaha Osugi tak akan dapat membukakan matanya kembali. Para nelayan menyerah, "Orang tua itu telah pergi." Osugi berhenti menangis cukup lama untuk berpaling kepada mereka, seakan-akan mereka musuh, bukan orang-orang yang telah membantu. "Apa maksud kalian? Kenapa dia mesti mati, sedangkan gadis muda itu dapat selamat?" Sikapnya menunjukkan seakan ia siap menyerang mereka secara fisik. Ditepiskannya orang-orang itu, dan katanya mantap, "Akan kuhidupkan dia kembali! Akan kutunjukkan pada kalian." Dan mulailah ia mencoba membangunkan Paman Gon dengan segala cara yang dapat dipergunakannya. Tekadnya itu menimbulkan air mata orang-orang yang menyaksikannya. Beberapa orang itu tinggal membantunya. Namun ia bukannya menghargai bantuan mereka, malahan memerintah mereka melakukan ini-itu seperti tenaga sewaan. Ia mengeluh bahwa mereka tidak menekan dengan cara yang benar, bahwa yang mereka lakukan takkkan ada hasilnya, ia memerintah mereka membuat api, dan ia menyuruh mereka pergi mencari obat. Apa pun yang ia lakukan, ia kerjakan dengan air muka semasam-masamnya. Bagi orang-orang di pantai itu, ia bukan sanak ataupun teman, melainkan sekadar orang asing, karena itu akhirnya orang yang paling bersimpati kepadanya pun menjadi marah. "Siapa sih perempuan tua jelek ini?" geram satu orang. "Hm! Tak tahu bedanya orang pingsan dan orang mati. Kalau dia bisa menghidupkannya lagi, biar saja." Tak lama kemudian, tinggallah Osugi sendirian dengan mayat itu. Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti, kabut bangkit dari laut, dan yang tertinggal dari hari itu hanyalah barisan awan jingga di dekat kaki langit. Osugi membuat api dan duduk di dekatnya, memeluk tubuh Paman Gon erat-erat. "Paman Gon. Oh, Paman Gon!" lolongnya. Ombak laut menggelap. Ia mencoba dan mencoba lagi mengembalikan kehangatan tubuh yang telah mati itu. Pandangan wajahnya menunjukkan betapa ia berharap sebentar lagi Paman Gon membuka mulut dan bicara dengannya. Ia kunyah beberapa pil dari kotak obat dalam obi-nya dan ia pindahkan kunyahan itu ke mulut Paman Gon. Ia peluk Paman Gon dan ia guncang-guncangkan. "Buka matamu, Paman Gon!" mohonnya. "Katakan sesuatu! Tak bisa kau pergi meninggalkan aku sendirian. Kita masih belum membunuh Musashi atau menghukum Otsu yang bejat itu." Di dalam rumah penginapan, Akemi terbaring dalam tidur yang resah. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak kepalanya yang demam itu di atas bantal, ia menggumam mengigau. Untuk sesaat Seijuro duduk di sampingnya, diam seribu bahasa, wajahnya lebih pucat daripada wajah Akemi. Ketika mengetahui penderitaan yang telah ditimpakannya kepada gadis itu, ia pun menderita. Ia sendiri yang dengan nafsu binatangnya memangsa gadis itu dan memuaskan birahinya. Sekarang ia duduk murung dan kaku, prihatin dengan denyut nadi dan napas gadis itu, dan berdoa semoga hidup yang untuk beberapa waktu lamanya meninggalkan gadis itu bisa dipulihkan kembali. Dalam satu hari yang singkat saja ia sekaligus menjadi binatang dan manusia yang berperasaan belas kasihan. Tetapi bagi Seijuro yang cenderung kepada ekstremitas, tingkah lakunya itu tidak terasa tidak konsisten. Matanya sedih dan sikap mulutnya rendah hati. Ia menatap Akemi dan berbisik, "Cobalah tenang, Akemi. Bukan cuma diriku seorang. Kebanyakan lelaki memang begitu.... Kau segera akan mengerti, walaupun kau tentunya dikejutkan oleh kekerasan cintaku." Sukarlah ditentukan, apakah kata-kata ini benar-benar ditujukan kepada gadis itu ataukah dimaksudkan untuk menenang-kan dirinya sendiri. Tapi ia terus juga menyuarakan perasaan itu berulang-ulang. Kegelapan dalam kamar itu pekat seperti tinta. Shoji yang tertutup kertas meredam bunyi angin dan ombak. Akemi bergerak, kedua tangannya yang putih menyelinap keluar dari bawah selimut. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak selimut itu, Akemi meng-gumam, "Tanggal berapa ini?" "Apa?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Berapa... berapa hari lagi... Tahun Baru?" "Tinggal tujuh hari lagi. Kau pasti sembuh sebelum waktu itu, dan kita akan kembali ke Kyoto." Direndahkannya wajahnya ke Akemi, tapi Akemi menolak-nya dengan telapak tangan. "Berhenti! Pergi! Aku tak suka padamu." Seijuro menarik diri, tapi kata-kata setengah gila menyembur dari bibir Akemi. "Orang tolol! Binatang!" Seijuro tinggal diam. "Kau binatang. Aku tak... aku tak ingin melihatmu." "Maafkan aku, Akemi, maafkan!" "Pergi dari sini! Jangan bicara padaku." Tangan Akemi melambai-lambai kacau dalam kegelapan. Seijuro menelan ludah dengan sedih, tapi terus juga me-mandanginya. "Tanggal... tanggal berapa?" Kali ini Seijuro tak menjawab. "Apa ini belum Tahun Baru?... Antara Tahun Baru dan tanggal tujuh.... Tiap hari.... Dia bilang akan ada di jembatan.... Kabar dari Musashi.... Tiap hari.... Jembatan Jalan Gojo.... Tak lama lagi Tahun Baru.... Aku mesti kembali ke Kyoto.... Kalau aku pergi ke jembatan itu, dia akan ada di sana." "Musashi?" tanya Seijuro heran. Gadis yang sedang mengigau itu terdiam. "Apa Musashi ini ... Miyamoto Musashi?" Seijuro menatap wajah Akemi, tapi Akemi tidak mengatakan apa-apa lagi. Kelopak matanya yang biru menutup. Ia tidur lelap. Daun-daun pinus kering mengetuk-ngetuk shoji. Seekor kuda meringkik. Cahaya muncul di seberang penyekat, dan suara seorang pelayan terdengar mengatakan, "Tuan Muda ada di sini." Buru-buru Seijuro masuk kamar sebelah, dengan hati-hati menutup pintu di belakangnya. "Siapa?" tanyanya. "Aku di sini." "Ueda Ryohei," terdengar jawabannya. Ryohei masuk dan duduk, masih dalam pakaian perjalanan lengkap dan penuh debu. Selagi mereka bertukar salam, Seijuro bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan orang itu datang. Karena seperti halnya Toji, Ryohei salah seorang siswa senior yang diperlukan di rumah, maka Seijuro takkan membawanya dalam perjalanan mendadak. "Kenapa datang kemari? Ada yang terjadi sepeninggalku?" tanya Seijuro. "Ya, dan saya harus minta Anda segera kembali." "Ada apa?" Ketika Ryohei memasukkan kedua tangannya ke dalam kimono dan meraba-raba, suara Akemi terdengar dari kamar sebelah. "Aku tak suka padamu!... Binatang!... Pergi!" Kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu penuh nada takut. Siapa pun akan mengira ia sedang terjaga dan dalam bahaya besar. Dengan terkejut Ryohei bertanya, "Siapa itu?" "Oh, itu? Akemi jatuh sakit ketika pulang. Dia demam, sekali-sekali dia sedikit mengigau." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu Akemi?" "Ya, tapi tak apalah. Aku ingin mendengar kenapa kau datang." Dari kantong perut di bawah kimononya akhirnya Ryohei mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Seijuro. "Ini," katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, kemudian mendekatkan lampu yang telah ditinggalkan oleh pelayan itu ke sisi Seijuro. "Hmm. Dari Miyamoto Musashi." "Ya!" kata Ryohei tegas. "Kau sudah membukanya?" "Ya. Saya sudah membicarakannya dengan yang lain-lain, dan kami memutus-kan bahwa kemungkinan surat ini penting, karena itu kami membuka dan mem-bacanya." Seijuro bukannya membaca sendiri isi surat itu, melainkan bertanya sedikit ragu, "Apa katanya?" Walau tak seorang pun berani menyebutkan persoalan kepadanya, namun di balik pikiran Seijuro sudah lama bersarang wujud Musashi. Walau demikian, ia sudah hampir meyakinkan dirinya bahwa ia tak akan bertemu lagi dengan orang itu. Surat yang tiba-tiba datang, tepat sesudah Akemi menyebut nama Musashi itu, membuat tulang punggung Seijuro panas dingin. Ryohei menggigit bibir, marah. "Akhirnya datang juga dia. Ketika dia pergi dengan omongan besar musim semi lalu, saya yakin dia takkan menjejakkan kaki lagi di Kyoto, tapi... coba Tuan bayangkan kesombongannya! Teruslah baca surat itu! Isinya tantangan, dan dia punya nyali pula menunjukkan tantangan pada seluruh Keluarga Yoshioka, dan menandatanganinya hanya dengan namanya sendiri. Dia pikir dia dapat menghadapi kita semua sendirian!" Musashi tidak menuliskan alamat untuk balasan surat, dan dalam surat pun tak ada isyarat tentang tempat ia berada. Tapi ia tidak melupakan janji yang telah ia tulis kepada Seijuro dan murid-muridnya, dan dengan surat kedua ini dadu telah dilemparkan. Ia mengumumkan perang pada Keluarga Yoshioka. Pertempuran akan terjadi, dan ini akan merupakan pertempuran habis-habisan-pertempuran di mana para samurai akan bertarung sampai mati untuk menjaga kehormatan dan memurnikan keterampilan mereka dengan pedang. Musashi mempertaruhkan hidupnya dan menantang Perguruan Yoshioka untuk melakukan hal yang sama. Apabila tiba waktunya, kata-kata dan keterampilan teknik yang mahir pun akan sedikit saja artinya. Sumber bahaya terbesar adalah bahwa Seijuro masih belum memahami kenyataan ini. Ia tidak melihat bahwa hari perhitungan sudah tiba, dan bahwa sekarang bukanlah saat untuk membuang-buang waktu dengan kesenangan-kesenangan kosong. Ketika surat itu tiba di Kyoto, di antara murid yang lebih teguh ada perasaan muak terhadap cara hidup Tuan Muda yang tidak berdisiplin itu. Mereka menggerutu marah karena ia tidak hadir justru pada saat yang demikian menentukan. Mereka gusar oleh penghinaan yang dilontarkan oleh ronin tunggal ini, dan menyesal bahwa Kempo tidak lagi hidup. Sesudah banyak membincang-kannya, mereka sepakat untuk menyampaikan keadaan itu kepada Seijuro dan memutuskan bahwa Seijuro mesti segera kembali ke Kyoto. Namun ketika surat sudah disampaikan sekarang, ternyata Seijuro hanya meletakkannya di pangkuan dan tak bergerak membukanya. Dengan perasaan jengkel yang tampak jelas, Ryohei bertanya, "Apa Anda tak merasa perlu membacanya?" "Apa? Oh, ini?" tanya Seijuro kosong. Ia membuka gulungan surat itu dan membacanya. Jari-jarinya mulai menggeletar tak terkendalikan lagi, suatu tanda ketidakmantapan yang disebabkan bukan oleh bahasa dan nada keras tantangan Musashi, melainkan oleh perasaan lemah dan perasaan rendah pada dirinya sendiri. Kata-kata penolakan kasar Akemi menghancurkan harga dirinya sebagai samurai. Belum pernah ia merasa demikian tanpa daya. Surat Musashi sederhana dan langsung, Apakah Anda dalam keadaan baik semenjak terakhir kali saya menyurati Anda. Sesuai dengan janji saya terdahulu, kini saya menulis untuk menanyakan di mana, pada hari apa, dan pada jam berapa kita akan bertemu. Saya tak punya pilihan khusus, dan saya bersedia melaksanakan pertandingan yang telah kita janjikan pada waktu dan tempat yang Anda tentukan. Saya mohon Anda memancangkan jawaban Anda di jembatan Jalan Gojo, sebelum hari ketujuh Tahun Baru. Saya percaya Anda telah menggosok ilmu pedang Anda sebagaimana biasa. Saya sendiri merasa bahwa sampai batas-batas tertentu telah mencapai perbaikan. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Shimmen Miyamota Musashi. Seijuro menjejalkan surat itu ke dalam kimononya, dan berdirl. "Aku akan kembali ke Kyoto sekarang," katanya. Kata-kata ini diucapkannya lebih karena perasaan sudah demikian kalut, hingga ia tidak dapat lagi tinggal di tempat itu lebih lama; jadi, bukan karena ketabahan. Ia harus pergi dan segera mungkin melupakan seluruh hari mengerikan itu. Disertai suasana hiruk-pikuk, pemilik rumah penginapan dipanggil dan diminta mengurus Akemi, suatu tugas yang diterimanya dengan perasaan enggan, sekalipun menerima uang Seijuro. "Akan kupakai kudamu," kata Seijuro pada Ryohei. Dan seperti seorang bandit yang sedang melarikan diri, ia melompat ke pelana dan melarikan kuda itu kencang-kencang melintasi baris-baris pohon gelap, meninggalkan Ryohei yang mengikutinya dengan berlari setengah mati.

Galah Pengering
"PEMUDA yang membawa monyet? Ya, dia memang kemari belum lama ini." "Apa Anda lihat, ke mana perginya?" "Ke sana, ke arah Jembatan Nojin. Tapi dia tidak menyeberangi jembatan-sepertinya dia masuk bengkel pandai pedang." Setelah berunding sebentar, murid-murid Yoshioka berangkat beramai-ramai, membuat orang yang memberikan keterangan itu menganga heran menyaksikan segala keributan tersebut. Walaupun waktu itu sudah lewat saat tutup bagi toko-toko sepanjang Parit Timur, toko pedang masih buka. Seorang dari orang-orang itu masuk, mengadakan pembicaraan dengan magang toko, kemudian keluar sambil berseru, "Temma! Dia menuju Temma!" Dan ke sanalah mereka berduyunduyun. Magang mengatakan bahwa ketika ia baru akan menutup daun jendela menjelang malam, seorang samurai berjambul panjang menurunkan monyet di dekat pintu depan, duduk di bangku dan minta bertemu dengan pandai pedang. Ketika kepadanya disampaikan bahwa pandai pedang sedang pergi, samurai itu mengatakan ingin menajamkan pedangnya, tapi pedang itu terlampau berharga untuk dipercayakan kepada orang lain di luar ahli pedang sendiri. Ia lalu mendesak minta melihat contoh-contoh karya pedang. Magang dengan sopan memperlihatkan kepadanya beberapa bilah pedang, tapi sesudah mengamati, yang diperlihatkan samurai itu tak lebih dari sikap muak. "Rupanya Anda sekalian di sini cuma mengerjakan senjata-senjata biasa," katanya kering. "Saya tidak yakin apakah akan menyerahkan pedang saya pada Anda. Pedang saya terlampau bagus, karya seorang pandai pedang Bizen. Namanya Galah Pengering. Lihat? Sempurna sekali." Ia mengangkat pedangnya, dan jelas dengan perasaan bangga. Tertarik akan bualan orang muda itu, si magang bergumam mengatakan bahwa satu-satunya ciri menonjol pedang itu adalah bentuknya yang panjang dan lurus. Samurai itu jelas sekali tersinggung karenanya, dan mendadak berdiri dan minta keterangan tentang bagaimana pergi ke pangkalan kapal tambangan Temma Kyoto. "Akan saya rawatkan pedang saya di Kyoto," tukasnya. "Semua pandai pedang Osaka yang sudah saya kunjungi rupanya hanya mengurusi barang rombengan prajurit biasa. Maaf, telah mengganggu." Ia berangkat dengan pandangan dingin. Cerita magang itu semakin membikin berang mereka. Itu bukti baru mengenai apa yang mereka anggap kecongkakan luar biasa orang muda itu. Jelas bagi mereka, pengalaman memotong gelungan Gion Toji membikin si pembual itu lebih congkak daripada sebelumnya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu pasti orang yang kita cari!" "Jadi, sudah kita temukan sekarang. Tertangkap dia sekarang." Orang-orang itu melanjutkan pengejaran tanpa satu kali pun berhenti untuk beristirahat, sekalipun matahari mulai terbenam. Mendekati dermaga Temma, seorang dari mereka berseru, "Ketinggalan kita!" Yang dimaksud adalah kapal terakhir hari itu. "Tidak mungkin." "Kenapa kaupikir kita sudah ketinggalan?" tanya yang lain. "Tidak lihat, ya? Di sana itu," kata orang yang pertama tadi, menuding dermaga. "Warung-warung teh sudah menumpuk bangkunya. Kapal tentunya sudah berangkat." Untuk sesaat mereka semua berdiri terpaku, kehilangan semangat. Kemudian, ketika mereka bertanya lagi pada orang lain, ternyata samurai itu memang sudah naik kapal terakhir. Mereka juga mendapat keterangan, kapal itu baru saja berangkat dan untuk beberapa lama tidak akan berhenti di perhentian berikut, Toyosaki. Kapal-kapal yang berjalan mudik ke Kyoto umumnya pelan. Maka mereka punya waktu banyak untuk menyusul kapal tambangan itu di Toyosaki, walaupun tanpa bergegas. Tahu akan hal ini, mereka memanfaatkan waktu dengan minum teh, makan kue betas, dan sedikit gula-gula murahan, sebelum berangkat dengan langkah cepat menempuh jalan sepanjang tepi sungai. Di hadapan sana, sungai tampak bagai seekor ular perak yang melenggok-lenggok ke kejauhan. Sungai Nakatsu dan Temma bergabung menjadi satu membentuk Sungai Yodo, di dekat percabangan ini cahaya berkelap-kelip di tengah sungai. "Itu kapalnya!" seru seseorang. Ketujuh orang itu bangkit semangatnya, dan segera mereka lupa akan udara dingin yang menembus kulit. Di ladang-ladang telanjang di tepi jalan, rumput merang kering yang tertutup embun beku berkilauan seperti pedang-pedang baja ramping. Angin seolah bermuatan es. Ketika jarak antara mereka dan cahaya mengapung itu memendek, mereka dapat melihat kapal itu dengan sangat jelas. Tanpa pikir lagi, seorang dari mereka berteriak, "Hei, yang di sana itu! Kurangi kecepatan!" "Kenapa?" terdengar balasan dari geladak. Jengkel karena perhatian orang jadi tertuju pada mereka, teman-temannya mengumpat orang yang besar mulut itu. Namun kapal berhenti juga di perhentian berikut. Sungguh suatu kebodohan besar, lebih dulu memberikan peringatan. Karena sudah telanjur, semua sependapat bahwa langkah terbaik adalah menuntut penumpang itu seketika itu juga. "Dia hanya sendirian. Jika kita tidak menantangnya sekarang juga, dia bisa curiga, melompat ke air, dan menyelamatkan diri." Sambil berjalan mengikuti jalan kapal, sekali lagi mereka berseru pada orang-orang yang ada di atas kapal. Sebuah suara berwibawa, yang tak sangsi lagi suara Kapten, meminta keterangan apa yang mereka kehendaki. "Rapatkan kapal ke tepi!" "Apa? Apa kalian gila?" terdengar jawabannya, disertai tawa parau. "Pinggirkan di sini!" "Mustahil" "Kalau begitu, kami tunggu Anda di perhentian berikut. Kami urusan dengan orang muda yang ada di kapal Anda. Pakai jambul bawa monyet. Katakan padanya, kalau dia punya hormat, dia mesti menampakkan diri. Dan kalau Anda membiarkan dia pergi, akan kami seret kalian semua ke darat." "Kapten, jangan jawab mereka!" mohon seorang penumpang. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa pun yang mereka katakan, abaikan saja," yang lain menasihati. "Mari jalan terus ke Moriguchi. Di sana ada pengawal." Kebanyakan penumpang berkumpul-kumpul ketakutan dan berbicara dengan suara ditekan. Orang yang berbicara dengan bebasnya kepada para samurai di pantai beberapa waktu lalu kini berdiri diam. Baginya dan bagi orang-orang lain, keselamatan mereka tergantung pada jarak antara kapal dan tepi sungai. Ketujuh orang itu tetap berada dekat kapal dengan lengan baju disingsingkan dan tangan dilekatkan ke pedang. Sekali mereka berhenti mendengarkan, agaknya mengharapkan jawaban atas tantangan mereka, tapi mereka tak men-dengar sesuatu. "Apa Anda tuli?" teriak seorang dari mereka. "Kami minta Anda menyampaikan kepada pembual muda itu supaya datang ke susuran." "Maksud Anda, saya?" teriak sebuah suara dari kapal. "Itu dia di sana, kurang ajar seperti biasanya!" Orang-orang itu menudingkan jari dan memandang ke kapal, sedangkan celoteh pelan para penumpang semakin hiruk-pikuk. Mereka itu setiap saat dapat melompat ke geladak. Orang muda berpedang panjang itu berdiri tegap di lambung kapal, giginya berkilauan seperti mutiara putih oleh pantulan sinar bulan. "Di kapal tak ada orang lain yang bawa monyet, jadi saya kira sayalah yang Anda cari. Siapa kalian, bromocorah malang? Gerombolan aktor lapar?" Ketika adu teriak semakin menghebat, kapal mendekati tanggul Kema yang memiliki tiang-tiang tambatan dan juga gudang. Ketujuh orang itu berlari maju untuk mengepung tempat mendarat, tapi belum lagi mereka sampai di sana, kapal sudah berhenti di tengah sungai dan mulai berputar beberapa kali. Wajah orang-orang Yoshioka jadi pucat kelabu. "Apa yang kaulakukan?" "Kalian tak bisa tinggal di situ selamanya!" "Sini kamu, atau kami akan datang ke situ." Ancaman-ancaman terus berlangsung, sampai akhirnya haluan kapal mulai bergerak ke tepi. Sebuah suara meraung di udara dingin, "Tutup mulut, orang-orang goblok! Kami akan mendarat! Lebih baik siapkan diri kalian untuk mempertahankan diri." Walaupun dicegah oleh penumpang-penumpang lain, orang muda itu tetap merebut galah orang kapal dan mendaratkan kapal tambangan itu. Ketujuh samurai segera berkerumun sekitar tempat yang akan disentuh haluan kapal, sementara tubuh yang menggerakkan kapal dengan galah itu semakin dekat dengan mereka. Tiba-tiba kecepatan kapal meningkat, dan orang muda itu menyerang mereka sebelum mereka mengetahuinya. Lunas kapal mencakar dasar sungai dan mereka undur serentak. Pada waktu itulah sebuah benda hitam bulat melayang melintasi gelagah dan menempelkan diri ke leher seorang di antara mereka. Sebelum mereka menyadari bahwa benda itu hanya seekor monyet, secara naluriah mereka semua mencabut pedang dan membabatkan ke udara kosong di sekitar mereka. Untuk menyembunyikan rasa malu, mereka saling meneriakkan perintah mendesak. Dengan harapan akan terhindar dari keributan, para penumpang menggerombol di sebuah sudut kapal. Aniaya yang diderita ketujuh orang di tepi sungai itu membesarkan hati mereka, sekalipun agak menimbulkan tanda tanya, tapi tak seorang pun berani bicara. Kemudian secara serentak semua kepala menoleh diiringi suara menggagap. Orang muda itu menancapkan galahnya ke dalam sungai dan melompat melintasi rumput mendoang, gerakannya lebih ringan daripada monyet tadi. Kejadian ini lebih mengacaukan lagi. Tanpa sempat menyusun diri kembali, orang-orang Yoshioka segera menyerang musuh mereka dalam satu barisan. Serangan demikian justru memberikan kedudukan menguntungkan bagi si orang muda untuk bertahan. Orang pertama sudah maju terlampau jauh untuk dapat mundur kembali, dan barulah ia menyadari kebodohan langkahnya. Pada saat itu segala keterampilan perang yang pernah dipelajarinya tak ada gunanya. Yang dapat diperbuatnya hanyalah memeringiskan gigi dan secara ngawur mengayun-ayunkan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pedang di depan dirinya. Sadar akan keuntungan psikologis yang dimilikinya, sosok pemuda tampan itu seakan tampak makin besar. Tangan kanannya di belakang mernegang gagang pedang, dan sikunya mencongak di atas bahunya. °Oh, jadi kalian dari Perguruan Yoshioka? Bagus. Saya memang merasa seperti sudah kenal kalian. Seorang dari kalian sudah berkenan mengizinkan saya memotong gelungannya. Rupanya itu tak cukup buat kalian. Apa kalian semua datang buat potong rambut? Kalau memang begitu, saya yakin dapat membantu kalian. Kebetulan sebentar lagi saya mesti menajamkan pedang ini, jadi sebaik-nya saya manfaatkan kesempatan ini." Ketika kata-kata itu berakhir, Galah Pengering pun membelah udara, dan kemudian membelah tubuh pemain pedang terdekat yang merunduk. Melihat kawannya terbantai demikian mudah, lumpuhlah otak mereka. Satu demi satu mereka mundur saling tunjang, seperti bola-bola yang saling ber-tumbukan. Dan mengambil keuntungan dari kedudukan mereka yang porak-poranda itu, si penyerang pun mengayunkan pedang ke samping, ke arah orang berikutnya, dan menjatuhkan pukulan demikian mantap hingga orang itu terjungkal ke rumput mendoang diiringi suara jeritan. Orang muda itu membelalakkan mata kepada lima orang sisanya, yang sementara itu menyusun diri di sekitarnya bagai daun bunga. Mereka saling meyakinkan bahwa taktik mereka kali itu cukup aman, dan keyakinan mereka pulih, sampai-sampai berani mengejek orang muda itu lagi. Namun kali ini kata-kata mereka gemetar dan palsu. Akhirnya, disertai teriakan keras, seorang dari mereka meloncat ke depan dan mengayunkan pedangnya. Ia yakin telah melakukan penebasan. Padahal ujung pedangnya masih dua kaki penuh jaraknya dari sasaran, dan kemudian mengakhiri gerak lengkungnya di sebuah batu karang dengan suara berdentang. Orang itu jatuh ke depan. Tubuhnya terbuka lebar untuk serangan. Orang muda itu bukannya membantai mangsa yang demikian mudahnya. Ia melompat ke samping dan mengayunkan pedang ke arah orang berikut. Jeritan perang masih mendering di udara, tapi ketiga orang lain sudah angkat kaki seribu. Dengan wajah kejam, orang muda itu berdiri memegang pedang dengan kedua tangannya. "Pengecut!" pekiknya. "Kembali ke sini dan ayo berkelahi! Apa ini Gaya Yoshioka yang kalian banggakan itu? Menantang seseorang, lalu melarikan diri? Tidak heran, Perguruan Yoshioka menjadi bahan tertawaan." Bagi samurai mana pun yang punya harga diri, penghinaan seperti itu lebih buruk daripada diludahi, tetapi bekas-bekas pengejar orang muda itu sudah terlampau sibuk berlari dan tidak memperhatikannya. Justru pada waktu itu dari sekitar tanggul terdengar dering giring-giring kuda. Sungai dan embun beku di ladang memantulkan cukup banyak cahaya bagi pemuda itu untuk melihat sosok tubuh di punggung kuda dan sosok tubuh lain berlari-lari di belakangnya. Sekalipun napas beku mengepulngepul dari lubang hidungnya, mereka kelihatan tidak memperhatikan dinginnya udara dan terus melaju ke depan. Ketiga samurai yang melarikan diri hampir saja bertumbukan dengan kuda, ketika penunggang kuda itu mendadak sontak mengekang kudanya. Kenal akan ketiga orang itu, Seijuro memberengut berang. "Apa yang kalian lakukan di sini?" salaknya. "Ke mana kalian lari?" "Oh... oh, Tuan Muda!" seorang dari mereka menggagap. Ueda Ryohei yang muncul dari balik kuda itu menyerang mereka. "Apa artinya ini? Kalian mestinya mengawal Tuan Muda, gerombolan tolol! Rupanya kalian terlalu sibuk ribut sesudah minum lagi, ya?" Ketiga orang itu dengan marah memuntahkan cerita tentang bagaimana mereka mempertahankan kehormatan Perguruan Yoshioka dan gurunya, dan betapa mereka mengalami kegagalan berhadapan dengan samurai muda yang seperti setan itu. Jadi, mereka bukannya berkelahi karena mabuk. "Lihat itu!" teriak seorang dari mereka. "Dia datang kemari." Mata-mata yang ketakutan memperhatikan musuh yang mendekat. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Diam kalian!" perintah Ryohei dengan suara muak. "Terlalu banyak kalian bicara. Bagus sekali kalian melindungi kehormatan perguruan. Tak bakal kita bisa menebus dengan perbuatan macam itu. Minggir semua! Aku yang akan menghadapinya sendiri." Ia mengambil jurus menantang, dan menanti. Pemuda itu menuju ke arah mereka. "Berhenti kalian, dan ayo berkelahi!" teriaknya. "Apa lari itu seni bela diri Yoshioka? Secara pribadi tak ingin saya membunuh kalian, tapi Galah Pengering saya masih haus. Karena kalian pengecut, paling sedikit yang dapat kalian lakukan adalah meninggalkan kepala kalian." Ia lari menyusur tanggul dengan langkah-langkah besar dan yakin, dan kelihatan akan melompati kepala Ryohei yang waktu itu sudah meludah ke tangan dan menggenggam kembali pedangnya penuh kemantapan. Pada saat itulah pemuda itu terbang, sedangkan Ryohei mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga, mengangkat pedang ke atas jubah warna emas pemuda itu dan menebaskannya dengan ganas, tapi gagal. Pemuda itu mendadak menghentikan gerakan, menoleh, dan teriaknya. "Apa ini? Orang baru?" Ryohei terhuyung ke depan, terbawa oleh kecepatan ayunannya, dan pemuda itu menyapunya tanpa ampun lagi. Sepanjang hidupnya belum pernah Ryohei menyaksikan pukulan yang demikian hebat. Ia memang berhasil mengelakkan-nya pada waktunya, tapi terjungkal juga ia ke sawah. Untung baginya, karena tanggul itu cukup rendah dan sawah itu membeku. tapi ketika jatuh ia kehilangan senjatanya, dan dengan itu keyakinannya pula. Ketika ia merangkak kembali ke atas, pemuda itu sedang bergerak dengan kekuatan dan kecepatan seekor macan yang sedang marah, memporak-porandakan ketiga murid itu dengan kilasan pedangnya dan sedang mendekati Seijuro. Seijuro belum lagi merasa ngeri. Menurut pikirannya, segalanya akan berlalu sebelum ia sendiri terlibat. Tapi sekarang bahaya menyerang langsung dirimya dalam bentuk pedang yang tamak. Terdorong oleh suatu ilham yang tiba-tiba datang, ia berteriak, "Ganryu! Tunggu!" ia lepaskan sebelah kakinya dari sanggurdi, ia naikkan ke pelana, dan berdirilah ia lurus-lurus. Kuda melompat ke depan, ke arah kepala pemuda itu, sedangkan Seijuro terbang ke belakang, mendarat dengan kedua kakinya sekitar tiga langkah jauhnya. "Bukan main!" teriak orang muda itu kagum sekali, lalu mendekati Seijuro. "Biarpun kau musuhku, perbuatan tadi betul-betul bagus! Kau tentunya Seijuro sendiri. Jaga dirimu!" Mata pedang panjang itu menjadi perwujudan semangat juang. Ia semakin mendekati Seijuro, namun sekalipun memiliki kelemahan-kelemahan, Seijuro adalah anak Kempo. Ia dapat menghadapi bahaya itu dengan tenang. Kepada pemuda itu ia berkata yakin, "Kau Sasaki Kojiro dari Iwakuni. Benar seperti dugaanmu, aku Yoshioka Seijuro. Tak ada keinginanku berkelahi denganmu. Kalau benar-benar perlu, kita dapat mengundurkannya pada waktu lain. Sekarang ini aku cuma ingin mengetahui, apa sebab semua ini. Singkirkan pedangmu." Ketika Seijuro menyebutnya Ganryu, pemuda itu jelas tidak mendengarnya. Tapi sekarang, disebut Sasaki Kojiro itu ia pun terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?" tanyanya. Seijuro menampar paha. "Aku tahu! Aku cuma menduga, tapi dugaanku betul!" Kemudian ia maju ke depan, dan katanya, "Senang sekali bertemu denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentangmu." "Dari siapa?" tanya Kojiro. "Dari teman seniormu, Ito Yagoro." "Oh, jadi kau ini temannya?" "Ya. Sampai musim gugur lalu dia memiliki tempat pertapaan di Bukit Kagura di Shirakawa, dan aku sering mengunjunginya di sana. Dia beberapa kali juga berkunjung ke rumahku." Kojiro tersenyum. "Kalau begitu, ini tampaknya bukan pertemuan yang pertama lagi, ya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tidak. Ittosai agak sering menyebutmu. Dia mengatakan ada satu orang dari Iwakuni bernama Sasaki yang sudah mempelajari gaya Toda Seigen, dan kemudian belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Dia mengatakan padaku, Sasaki murid termuda di perguruan Jisai, tapi suatu hari nanti akan menjadi satusatunya pemain pedang yang dapat menantang Ittosai." "Tapi aku masih belum mengerti, bagaimana bisa Anda mengetahui ini begitu cepat." "Nah, Anda muda dan cocok dengan gambaran itu. Melihat Anda mengguna-kan pedang panjang itu, aku ingat Anda disebut juga Ganryu—'Pohon Dedalu di Tepi Sungai'. Aku lalu mendapat firasat, tentu Anda-lah itu, dan aku benar." Sementara Kojiro mencecap gembira, matanya menoleh memandang pedangnya yang masih berdarah, yang mengingatkan kepadanya bahwa telah terjadi perkelahian, dan itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mereka akan menyelesaikan urusan itu. Namun nyatanya ia dan Seijuro telah bertemu demikian baik, hingga saling pengertian pun segera tercapai, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan bahu-membahu seperti sahabat lama. Di belakang mereka berjalan Ryohei dan tiga murid yang kesal hati. Rombongan kecil itu berjalan menuju Kyoto. Kojiro berkata, "Dari semula aku tak mengerti, gara-gara apa perkelahian itu tadi. Aku tak punya soal dengan mereka." Pikiran Seijuro tertuju kepada tingkah laku Gion Toji baru-baru itu. "Aku muak dengan Toji," katanya. "Kalau aku kembali nanti, akan kupanggil dia supaya bercerita. Kuharap Anda tidak menganggap aku dendam terhadap Anda. Aku betul-betul malu melihat orang-orang perguruanku kurang baik disiplinnya." "Nah, Anda sudah lihat sendiri, orang macam apa aku ini," jawab Kojiro. "Bicaraku terlalu besar, dan aku selalu siap berkelahi dengan siapa saja. Murid-murid Anda bukan satu-satunya orang yang mesti dipersalahkan. Bahkan kukira Anda mesti memberikan pujian pada mereka karena telah berusaha mempertahankan nama baik perguruan. Sayang mereka itu tidak seberapa sebagai pejuang, tapi setidaktidaknya mereka sudah mencoba. Aku sedikit kasihan pada mereka." "Aku yang mesti dipersalahkan," kata Seijuro polos. Wajahnya menampakkan rasa sakit yang sebenarbenarnya. "Mari kita lupakan semuanya." "Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku." Bersatunya kedua orang itu mendatangkan kelegaan pada yang lain-lain. Siapa menyangka bahwa anak lelaki yang tampan dan tumbuh lebih besar dari seharusnya ini Sasaki Kojiro yang besar, yang oleh Ittosai dipuji-puji? ("Keajaiban Iwakuni", begitulah yang dikatakannya). Tidak mengherankan kalau karena ketidaktahuannya, Toji tergoda untuk mempermainkannya sedikit. Dan tidak mengherankan bahwa akhirnya ia sendiri yang jadi tampak konyol. Ryohei dan ketiga orang temannya menggigil kalau ingat betapa mereka hampir kena berondong Galah Pengering. Kini mata mereka telah terbuka. Melihat bidangnya bahu dan tegapnya punggung Kojiro itu mereka heran, bagaimana mungkin mereka telah berlaku demikian bodoh dengan menyepelekannya. Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di tempat perhentian kapal. Mayat-mayat sudah membeku, dan ketiga orang itu ditugaskan menguburnya, sedangkan Ryohei pergi mencari kuda. Kojiro pergi bersiul-siul memanggil monyetnya. Tiba-tiba monyet itu muncul entah dari mana dan melompat ke bahu tuannya. Seijuro tidak hanya mendesak Kojiro datang ke perguruannya di Jalan Shijo dan tinggal di sana sejenak, tapi juga menawarkan kudanya. Kojiro menolak. "Kurang baik," katanya. Sikap hormatnya tidak seperti biasa. "Aku cuma seorang ronin muda, sedangkan Anda guru sebuah perguruan besar, putra seorang terhormat, pemimpin beratus-ratus pengikut." Sambil memegang kendali, ia melanjutkan, "Silakan, Andalah yang naik. Aku memegang kendali ini saja. Lebih mudah jalan begini. Kalau memang tidak keberatan, aku menerima tawaran Anda tinggal dengan Anda sebentar di Kyoto." Dengan sikap sopan santun yang sama, Seijuro berkata, "Nah, kalau begitu, aku naik sekarang, dan kalau kaki Anda lelah nanti, kita dapat bertukar tempat." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seijuro merasa ada baiknya pemain pedang seperti Sasaki Kojiro itu berada di sampingnya, pada saat ia terpaksa bertarung dengan Miyamoto Musashi pada permulaan Tahun Baru.

Gunung Rajawali
PADA tahun 1550-an dan 1560-an, pemain-pemain pedang besar yang paling terkenal di Jepang Timur adalah Tsukahara Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, sedangkan saingannya di Honshu Tengah adalah Yoshioka Kempo dari Kyoto dan Yagyu Muneyoshi dari Yamato. Disamping itu ada Yang Dipertuan Kitabatake Tomonori dari Kuwana. seorang guru seni bela diri dan gubernur terkemuka. Lama sesudah ia meninggal, orang Kuwana masih berbicara tentang dirinya dengan rasa cinta, karena bagi mereka ia melambangkan hakikat pemerintahan yang baik dan kemakmuran. Ketika Kitabatake masih belajar di bawah pimpinan Bokuden, yang terakhir ini menurunkan kepadanya Ilmu Pedang Tertinggi, yaitu rahasia tertinggi di antara jurus-jurus rahasia miliknya. Anak Bokuden, Tsukuhara Hikoshiro, mewarisi nama dan tanah milik ayahnya, tapi tidak mendapat warisan jurus rahasia itu. Itulah sebabnya mengapa Gaya Bokuden bukannya menyebar di timur, di mana Hikoshiro bergiat, melainkan di daerah Kuwana, di mana Kitabatake memerintah. Konon, sesudah meninggalnya Bokuden, Hikoshiro datang ke Kuwana untuk mencoba memperdayakan Kitabatake agar membukakan jurus rahasia itu. "Ayah saya," demikian kabarnya ia mengatakan, "dahulu mengajarkannya pada saya, dan saya diberitahu bahwa dia mengajarkannya juga pada Anda. Belakangan ini saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah yang diajarkan pada kita itu bukan barang yang sama. Karena rahasia-rahasia tertinggi dalam aliran kita jadi kepentingan bersama, apakah tidak sebaiknya kita membandingkan apa yang telah kita pelajari?" Kitabatake segera menyadari maksud kurang baik pewaris Bokuden itu. namun ia cepat menyetujui memberikan demonstrasi. Rahasia yang diketahui Hikoshiro waktu itu hanyalah bentuk luar Ilmu Pedang Tertinggi, dan bukan rahasia yang paling dalam. Maka Kitabatake tetap merupakan satu-satunya guru Gaya Bokuden sejati, dan untuk mempelajarinya para murid harus pergi ke Kuwana. Di sebelah timur, Hikoshiro menurunkan kulit kosong lancung keterampilan ayahnya sebagai ajaran yang asli: suatu bentuk tanpa inti. Atau demikianlah setidak-tidaknya cerita yang disampaikan pada setiap musafir yang kebetulan menginjakkan kaki di daerah Kuwana. Bukan cerita yang jelek, karena cerita-cerita seperti itu memang beredar, dan karena didasarkan pada fakta, maka cerita itu lebih dapat diterima dan kurang ngawur dibandingkan lautan cerita rakyat setempat yang disampaikan orang untuk menegaskan kembali keunikan kota-kota dan provinsi-provinsi yang mereka cintai. Musashi yang sedang menuruni Gunung Tarusaka dalam perjalanan dari kota Kuwana mendengar cerita itu dari tukang kudanya. Ia mengangguk, dan katanya sopan, "Betul begitu? Menarik sekali!" Waktu itu pertengahan bulan terakhir. Sekalipun iklim Ise relatif hangat, namun angin yang berembus dari Teluk Nako dingin menggigit. Ia hanya mengenakan kimono tipis. Pakaian dalamnya dari katun dan jubah tak berlengan. Berarti pakaian yang terlalu tipis untuk ukuran mana pun. Dan lagi jelas tampak kotor. Wajahnya bukan lagi berwarna perunggu, melainkan hitam terbakar matahari. Di atas kepalanya yang termakan cuaca, topi anyamannya yang sudah aus dan berumbai tampak berlebihan. Sekiranya ia membuang barang itu di jalan, tak seorang pun akan bersusah payah memungutnya. Rambutnya yang sudah berhari-hari tak dicuci, diikat ke belakang, tapi tetap masih seperti sarang burung. Apa pun yang dilakukannya selama enam bulan terakhir itu, menyebabkan kulitnya tampak seperti kulit yang tersamak baik. Matanya bersinar seperti mutiara putih di tengah lingkungannya yang segelap arang. Tukang kuda sudah kuatir semenjak membawa penunggang kuda yang acak-acakan itu. Ia sangsi apakah akan menerima upah, dan yakin tak akan mendapat muatan pulang dari tempat jauh di tengah pegunungan itu. "Tuan," katanya agak takut-takut. "Mm?" "Kita akan sampai Yokkaichi sebelum tengah hari, dan sampai Kameyama petang hari. Sebelum sampai Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Desa Ujii, hari pasti sudah tengah malam." "Mm." "Tak apa-apa?" "Mm." Musashi waktu itu lebih tertarik pada pemandangan teluk daripada berbicara, hingga tukang kuda itu tidak memperoleh jawaban lebih dari anggukan kepala dan kata "Mm" yang tak berisi pendapat itu. Tukang kuda mencoba lagi. "Ujii tak lebih dari dukuh kecil sekitar delapan mil masuk pegunungan dari punggung Gunung Suzuka. Bagaimana ceritanya sampai Tuan pergi ke tempat macam itu?" "Saya pergi untuk menemui seseorang." "Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali petani dan penebang kayu." "Di Kuwana saya dengar ada satu orang yang pandai sekali main rantaipeluru-sabit." "Saya kira Shishido." "Itu dia. Namanya Shishido apa?" "Shishido Baiken." "Ya." "Dia pandai besi, biasa bikin sabit besar. Saya ingat pernah mendengar dia mahir sekali bikin senjata itu. Apa Tuan belajar seni bela diri?" "Mm." "Oh, kalau begitu, daripada menemui Baiken, saya sarankan Tuan pergi ke Matsuzaka. Beberapa pemain pedang terbaik Provinsi Ise tinggal di sana." "Siapa misalnya?" "Misalnya, Mikogami Tanzen." Musashi mengangguk. "Ya, saya pernah dengar." Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan ini memberikan kesan bahwa ia kenal betul kemampuan-kemampuan besar Mikogami. Sampai kota kecil Yokkaichi, ia berjalan terpincang-pincang kesakitan menuju sebuah warung, dan di situ ia memesan makan siang dan duduk makan. Kura-kura sebelah kakinya terbalut, karena telapak kakinya luka bernanah. Itulah sebabnya ia memilih menyewa kuda dan bukan berjalan. Walaupun biasanya ia selalu berhati-hati dengan tubuhnya, beberapa hari sebelumnya, di kota pelabuhan ramai Narumi terinjak olehnya papan berpaku. Kakinya yang merah bengkak itu tampak seperti kesemek asin, dan sejak kemarin ia demam. Menurut jalan pikirannya, ia bertempur dengan sebuah paku, dan paku itu menang. Sebagai murid bela diri, ia merasa malu membiarkan dirinya kena paku tanpa sadar. "Apa tak ada jalan buat melawan musuh macam itu?" tanyanya beberapa kali kepada dirinya. "Paku itu mencongak ke atas dan kelihatan jelas. Aku menginjaknya karena aku setengah tertidur-tidak, aku buta, karena semangatku belum lagi aktif di seluruh tubuhku. Lebih dan itu, aku membiarkan paku itu menembus dalam, dan ini terbukti gerak reflekku lamban. Sekiranya aku menguasai sepenuhnya diriku, pasti aku sudah melihat paku itu begitu sandalku menyentuhnya." Persoalan yang dihadapinya adalah ketidakmatangan, demikian kesimpulannya. Tubuhnya dan pedangnya masih belum menjadi satu. Sekalipun kedua tangannya jadi semakin kuat dari hari ke hari, semangatnya dan bagian lain tubuhnya tidak selaras. Dalam kerangka pikiran yang mengecam diri pribadi ini, hal itu terasa olehnya sebagai kelainan yang melumpuhkan. Namun demikian, ia tidak merasa membuang-buang waktu saja enam bulan lalu itu. Sesudah melarikan diri dari Yagyu, pertama-tama ia pergi ke Iga, kemudian ke jalan raya Omi, lalu menjelajahi Provinsi Mino dan Ebook by Kang Zusi

ia akan tertawa dan katanya. tapi ia pun bisa menjadi besar! Apabila kesangsian terhadap diri sendiri sudah mengancam akan menenggelamkannya. ia menjadi sadar sesadar-sadarnya akan ketidakmampuannya bicara tentang Jalan Kesempurnaan. di setiap ngarai gunung. Lebih mengguncangkan lagi apabila ia memikirkan betapa mentah dan tak layak dirinya dibandingkan dengan Sekhishusai. Owari. Inc. Mungkin saja ada orang-orang lain yang sekarang ini jauh lebih besar daripadanya. Tidak sukar menemukan pemain-pemain pedang cakap. Namun demikian. Memikirkan guru Yagyu tua itu membuatnya sinting dan sekaligus sedih." pikir Musashi. seyakin-yakinnya. dan dari hari kehari ia menemukan betapa paniang dan sukarnya jalan menuju kemanusiaan sejati. Yang penting bukan bicara atau berspekulasi. tubuhnya penuh cakaran dan luka memar. Dan pencarian ujian atas keberanian inilah yang selalu membawanya turun dari pegunungan. Musashi menjadi yakin akan hal itu. sehingga giginya yang putih seakan-akan tidak berasal dari dunia. Dan Musashi berkata pada diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah soal logika. Tak ingat lagi ia. tentang Seni Bela Diri atau yang lain lagi dengan penuh keyakinan. bahkan terlalu penuh. dunia yang pernah dikiranya penuh orang bodoh itu kelihatannya besar menakutkan. "Sebentar lagi akan kuikat Takuan di pohon itu juga." Tapi tidak. sesuatu yang tak dapat ditemukan tersembunyi di kota ataupun di ngarai. dan meledak-ledak dengan hasrat menjumpai lawan yang berarti. Kalau sisi praktis dirinya mengingatkan ia betapa Takuan sudah jauh lebih lanjut menempuh jalan itu dibandingkan dengannya. Gaya hidupnya di sana tampak jelas dari penampilannya ketika kembali ke peradaban-pipinya secekung pipi rusa. pikirannya selalu kembali kepada Takuan. hampir-hampir keangkuhan. Pedang bukan logika. dan sekiranya pada akhirnya ia dapat mengikat Takuan di atas pohon dan menguliahinya. melainkan beraksi. Perasaan itu aneh. walaupun aneh. Selama perjalanannya. Di setiap kota. masih ada waktu untuk melihat apakah Shishido Baiken sungguh seorang manusia sejati. apa yang dapat dikatakan oleh Takuan? Sudah pasti ia akan berteriak girang dan menyatakan. "Bodoh kamu! Kau makin maju. rambutnya kering dan kaku karena berjam-jam tersiram air terjun dingin. "Bagus sekali! Aku bahagia sekarang. tapi menemukan seorang manusia sejati tidaklah mudah. Kadangkadang ia merasa sudah mencapainya. tapi masih bodoh!" Bagaimana persisnya kata-kata tidaklah menjadi persoalan benar." Manakala Musashi memikirkan Takuan. Ia cuma ingin menunjukkan bahwa taraf yang dapat dicapai seseorang melalui Jalan Pedang lebih tinggi daripada yang dapat dicapai dengan mempraktekkan Zen. Persoalannya Musashi merasa. karena tak sangsi lagi dialah pribadi yang otentik. suatu kenangan psikologis akan saat ia terikat erat pada cabang pohon kriptomeria. maka Musashi biasa langsung pergi ke pegunungan dan hidup dengan dirinya dalam kesendirian itu. Di dalam. netcafe. Pada waktu-waktu seperti ini. Musashi telah menempuh jalannya sendiri. Dunia ini memang penuh orang. Dalam sepuluh hari yang masih tersisa sebelum ia memenuhi janjinya di Kyoto. Tentu saja bisa terjadi bahwa segala sesuatu tidak berlangsung tepat seperti yang direncanakan. Yang sukar ditemukan adalah manusia sejati. semacam utang terhadap biarawan itu. Musashi tersenyum memikirkan kemungkinan bahwa pada suatu hari nanti ia akan ganti menguasai biarawan eksentrik itu. "Tunggulah!" sumpah Musashi. maka khayalan itu pun lenyap. Ia jadi demikian kotor akibat tidur di tanah. Sebagai Takuan. bahwa menghantam kepala Takuan dengan keunggulan pribadinya merupakan suatu keharusan.property of: CROSSFiRE. ataukah sekadar cacing pemakan nasi juga. sejenis rasa nyeri menyebar dari pergelangan tangannya ke seluruh tubuhnya. "Setidaknya aku beruntung telah mengenal seorang manusia sejati. yang unik. Takuan tak akan pernah bersikap langsung macam itu. yang demikian banyaknya menghuni bumi ini? Ebook by Kang Zusi . Ia dalam perjalanannya sekarang karena ingin tahu apakah ahli rantaipeluru-sabit Kuwana itu memang cakap. Khayalan itu cukup polos. dengan berapa banyak prajurit ia telah berbentrokan. ia berusaha menguasai Jalan Pedang yang sejati. "Kukira aku beruntung. Aku harus membuat pengalaman mengenal dia itu membuahkan sesuatu. ia menyala penuh keyakinan. sampai terasa menyakitkan dan semangatnya mengendur. mengkhotbahkan jalan hidup sejati kepadanya!" Bukannya ia benci kepada Takuan atau punya hasrat membalas dendam. tapi rahasianya tetap saja sukar ditangkap. tapi sekiranya ia memang mendapat kemajuan besar. dan aku akan duduk di tanah. Namun semua itu hanyalah permukaan semata. Jumlahnya berlusin-lusin dan semuanya pemain pedang yang terlatih baik dan dari kelas tinggi.

Atas perintah Musashi. Esok harinya ia akan dapat turun dari Celah Suzuka. dan jika beruntung ia dapat mengambil penumpang kembali di jalan. Menurut renungannya. tukang kuda membuka pintu dan masuk. siapa pun di antara petani setempal dapat mengantar mereka ke rumahnya. "Kalau begitu. tapi ternyata ia pergi ke tikar tempat tidur seorang bayi. ia belum pernah melihatnya. tapi pada waktu malam seperti itu seluruh desa sedang tidur. Ia datang ke desa terpencil ini bukan untuk dipermainkan oleh seorang perempuan. dikatakannya bahwa tukang kuda itu bebas untuk pergi. Kemudian ia duduk di atas tunggul pohon di samping dapur api dan mengamati sekitarnyadari daerah penuangan best yang menghitam sampai ruangan tempat tinggal yang berkamar tiga. "Saya membawa seseorang dari jauh untuk bertemu dengan suami Nyonya. Ia perkirakan itulah senjatanya. "Kukira kau ini samurai muda lain lagi yang datang kemari buat dibikin berlumuran darah oleh suamiku. Mari kita lihat. Kerutan keningnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah lebih dari cukup menjumpai shugyosha dan sudah tahu bagaimana menghadapi mereka. Maka berkilau-kilaulah matanya karena rasa ingin tahu. Musashi sependapat dengannya. Larut malam barulah ia sampai di tujuannya. "Siapa pula ini?" tanyanya. "Selamat malam. Nyonya! Oh! Nyonya ada api. Pada sebuah papan yang dipakukan ke dinding tergantung sekitar sepuluh senjata rantai-peluru-sabit. Kami baru saja sampai. jauh di pegunungan itu. Mereka berada di sebuah lembah yang tertutup tiga sisinya. Jalan mana pun terpaksa mendaki pegunungan yang tertimbun salju setinggi lutut. Tuan." Ia tertawa riang. Api menyala di dapur api dan seorang perempuan yang membelakangi api sedang menumbuk-numbuk kain. Ia jengkel sekali. Dengan nada angkuh ia berkata kepada Musashi." Perempuan itu memandang masam ke arah Musashi." "Ke rumah Shishido Baiken?" "Ya. Perempuan itu terlompat karena tukang kuda yang mendadak masuk itu. Saya tukang kuda dari Kuwana. Alasannya yang lain mengadakan perjalanan kemari adalah karena ia berpendapat seorang murid semacam dirinya haruslah berkenalan dengan segala jenis senjata. dan menghentikan pekerjaannya. Perempuan ini lebih gawat daripada kebanyakan istri. karena terus terang saja. apa kita dapat menemukannya. udara dingin mendekati bunyi itu. netcafe. cuaca waktu itu terlalu dingin dan gelap untuk mencoba kembali sebelum matahari terbit.property of: CROSSFiRE. Karena tak ingin melukai perasaannya. Suamiku sedang pergi." "Ya. Di depan terdapat timbunan logam tua: dan sisi bawah ujung atap hitam oleh asap." kata tukang kuda sambil memanaskan kedua tangannya. Musashi tidak tertawa. Musashi mengira ia akan membawakan teh. jadi kamu tak perlu kuatir cerbunuh. semua perempuan cenderung keterlaluan melebihkan status suaminya... "Tutup pintu! Bayiku bisa masuk angin kalau udara dingin itu masuk. Satu-satunya tanda kehidupan adalah bunyi godam yang secara teratur menghantam blok. "ayolah ikut saya. saya jelaskan. "Saya kecewa suami Nyonya tidak ada. lalu mengangkat anak itu dan menyusuinya. "Tunggu sebentar. Bagus sekali!" Tukang kuda langsung menuju dapur api itu. Perempuan yang umurnya sekitar tiga puluh tahun dan agak manis itu meletakkan palunya dan kembali ke daerah tempat tinggal." Karena Baiken membuka bengkel. tapi.." Musashi membungkuk dan mematuhi perintah itu." kata Musashi. Inc. Kalau betul begitu. Ia rupanya mengira suaminya orang terhebat di bumi ini. akhirnya mereka melihat cahaya. Sesudah mengucapkan terima kasih. si tukang kuda lebih suka mengawani Musashi ke rumah yang dicarinya dan menginap di bawah tepi atap. Kepada Musashi ia berkata. kamu beruntung. Musashi berkata. seperti kepada anak kecil. Sesudah berjalan melintas. tapi karena sudah larut." "Terima kasih. Bagaimanapun. Ke mana dia pergi?" Ebook by Kang Zusi . Ternyata itu rumah pandai besi.

tukang kuda menyatakan dengan suara gumam bahwa mereka itu keluarga yang ditugaskan mengawal Biara Ise. Sambil bersandar ke dinding dan menghangatkan diri pada panas api. Sesudah membersihkan dinding. la memandang dengan mulut menganga. tidaklah sukar memotong kepala lawan. ha! Kamu sudah datang di Ise." pikir Musashi. "Kalau perempuan ini dapat mengambil jurus demikian mengesankan. ia mengambil jurus dan menimbang-nimbang gerakan yang diperlukannya. seperti mata sabit. dan. "suaminya tentunya benar-benar patut dilihat. ya. Ia mencuci pecah belah atau bersiap memasak sesuatu. orang yang bersenjata pedang bisa menebasmu tanpa kesulitan sama sekali." Maka hampir tak sabar lagi ia ingin menjumpai Baiken. Di lekuk yang dalam pada salah satu sisi batang logam itu tampak punggung pisau. setengah pada diri sendiri." "Di mana itu?" "Ha. bahkan cantik." katanya. tak akan sukar menemukan tempat mereka itu. "Yah. dan ketika Musashi minta dibolehkan memeriksanya. Perempuan itu mengambil jurus tersebut hanya sesaat. Pagi-pagi. lalu melingkarkan diri di tikar dekat api dan tidur. magang pandai besi itu bangun dan membuka luar bengkel. Ketika menyusui bayinya tadi. Musashi bertanya. itu nakal Dan bikin ibunya nangis juga. Ujungnya memakai cincin tempat menyangkutkan rantai. dan umpatnya. "Kalau kamu memegangnya begitu. ia kembali sibuk dengan pekerjaan di dekat bak cuci. "Bukan begitu! Salah sekali!" Sambil menjejalkan buah dadanya kembali ke dalam kimononya. Kalau ini benar. "Saya dengar orang banyak menggunakannya sekarang ini." Ia merebut senjata itu dari tangan Musashi dan memperlihatkan padanya bagaimana cara berdiri. Bayi jaga dan nangis. tapi sekarang sesudah siap tempur ia tampak gagah. kira-kira seperti itulah." Senjata di tangannya itu terdiri atas satu batang logam yang panjangnya 60 cm (yang dengan mudah dapat disimpan di dalam obi). "Ke rumah Arakida. Musashi tak suka melihat seorang perempuan mengambil jurus tempur dengan senjata yang demikian brutal. tapi belum tahu Keluarga Arakida?" Waktu itu bayi di dadanya mulai rewel." katanya sambil melipatkan kembali pisau itu ke dalam gagangnya dan menggantungkan senjata itu ke sangkutannya. Ia mengambil keputusan untuk mencarinya. yang cukup kokoh untuk memecahkan tengkorak manusia. benda itu melenting ke samping. setidak-tidaknya ia bisa mempelajari sesuatu dari memperhatikan senjatasenjata pandai besi itu. tapi perempuan itu jelas tak punya keinginan melakukannya.property of: CROSSFiRE. "Jadi. tamunya. Sementara memperhatikan. bermartabat. Di ujung lain rantai itu terdapat peluru logam yang berat. dan tanpa menghiraukan. perempuan itu tampak betul-betul seperti sapi. inilah macamnya. Karena menurut pikirannya. demikian pikir Musashi. netcafe. Musashi melihat bahwa pada pedang berwarna biru kehitaman seperti punggung ikan makerel itu terdapat tulisan yang bunyinya. dan menggerutu lagi. "Kukira begini memegangnya. Pegang begini." kata Musashi seraya memegang sabit itu dengan tangan kiri dan rantai dengan tangan kanan. Perempuan itu mengalihkan matanya dari tempat tidur bayinya unruk memperhatikan. Ketika ia menarik benda itu dengan kukunya. "Apa ini senjata yang digunakan begitu fasihnya oleh suami Nyonya?" Perempuan itu menggerutu. Puas karena telah Ebook by Kang Zusi . Tidurlah. ia mendekat ke tempat Musashi berdiri. ia mengangguk. "Gaya Shishido Yaegaki". Dengan senjata itu. perempuan itu menyanyikan lagu buaian dalam logat setempat. Sambil membayangkan seorang musuh di hadapannya. Musashi bangun juga dan minta kepada tukang kuda agar membawanya ke Yamada. Inc. Musashi ingin melihatnya menggunakan alat itu lagi. kota terdekat dengan Biara Ise. dan pelan-pelan ia bertanya kepada tukang kuda mengenai Keluarga Arakida. Musashi menurunkan satu senjata dari sangkutannya. tidurlah Bayi tidur sungguh manis.

Ia bertanya pada diri sendiri. "Namun tak berdaya aku dalam genggamannya. Menjulang di atas pegunungan di antara kedua gunung itu tampak sebuah puncak yang menatap dengan pandangan merendahkan kepada gunung-gunung di sekitarnya. Sibuk mengurusi kakinya. netcafe. Jawaban yang datang menyatakan bahwa tentunya telah terjadi kekeliruan. baginya sungguh baru dan memaksanya untuk berpikir. dibayar hari sebelumnya. Ia memaksa dirinya duduk bersimpuh dalam gaya resmi. Selain bisul yang pernah dipunyainya di kepala semasa kanak-kanak. ia berjanji menjumpai Matahachi di jembatan Jalan Gojo. Ia tak dapat menolak sekarang dengan alasan kaki sakit. Kakinya tampak seperti gumpalan tahu besar membengkak. Sejumlah pohon yang tumbang oleh badai musim gugur masih menggeletak di tempat tumbangnya. apakah Shishido Baiken tinggal di sana. Disamping itu. Ia menghadap jendela. Orang itu berani bersumpah bahwa keluarganya telah menggunakannya beberapa generasi. "Tak bisa aku hanya tinggal di sini membuang-buang waktu!" Dalam keadaan terbaring dengan perasaan jengkel itu. Ampas tahu ia masukkan dalam kantong kain. "Itu burung rajawali. Mestinya ia langsung ke Kyoto. Tak seorang pun yang namanya demikian ada di sana. Cukup lama waktu berlalu. dan rasanya sudah seberat balok kayu." Sampai sekarang ia menduga musuh-musuhnya akan selalu datang dari luar. dan menatap pula kepada Musash dengan kurang ajarnya. Namun bengkak tidak juga surut. Inc. Hampir-hampir pingsan. pemain pedang tua yang mirip dengan puncak angkuh ini." pikir Musashi. sebelum akhirnya warna merah pada wajahnya mulai berkurang dan kepalanya mendingin sedikit. Namun tak ada perbaikan. Malam itu kakinya ia bungkus di bawah selimut. ia menyerahkan pada mereka untuk memilih salah satu hari dalam minggu pertama Tahun Baru. Bahkan lebih buruk lagi bahwa bau tahu itu memualkan. Warung-warung teh di situ tampak sangat sepi. "Tinggal berapa hari lagi tahun ini?" demikian ia bertanya-tanya. Penampilan puncak gunung yang congkak itu menyinggung perasaannya. Hanya sedikit orang berjalan. Ketika membuka mata. Karena kecewa. maka kenyataan bahwa ia dibikin lumpuh oleh musuh dari dalam. Demamnya menanjak dan rasa nyerinya tak tertahankan lagi. Pengalaman itu menyebabkan ia berpikir. tulang-tulang rusuknya terasa seperti menekan jantungnya dan dadanya terasa mengerut. Petang hari mereka sudah sampai di jalan panjang berapit pohon yang menuju biara itu. tanpa mengetahui bahwa namanva memang Gunung Rajawali. Maka terpikirlah olehnya Yagyu Sekishusai. dan jalan itu sendiri dalam keadaan buruk. tukang kuda segera menyetujui. Gayanya yang sombong itu mengejeknya. Musashi mengalihkan perhatian kepada kakinya yang luka. dan sedikit ke timur Gunung Asama. Ebook by Kang Zusi . Di seberang pepohonan terlihat olehnya Gunung Mai. Dari rumah penginapan di Yamada. Ia gusar karena tinggal beberapa hari lagi waktu yang tersisa baginya untuk berada di Kyoto. hingga semangat juangnya sekali lagi tergelitik. yang dalam semalam itu sudah sangat membengkak. "Kalau menendang ini saja aku tak dapat. apakah setan akan menyerah pada kegigihannya yang pantang menyerah itu. dan ia rendam kakinya dalam air itu." demikian pikirnya. Musashi mengirim seorang pesuruh untuk bertanya ke rumah Arakida. termasuk mengoleskan obat seperti minyak pemberian pemilik rumah penginapan. bagaimana bisa aku mengalahkan seluruh Keluarga Yoshioka?" Ia membayangkan akan menghimpit dan mencekik setan di dalam dirinya. menurut ingatannya tak pernah ia sakit. ia peras sampai keluar airnya. menertawakan kelemahan dan kekerdilannya. tampaklah di hadapannya hutan sekitar Biara Ise. Sakit rasanya. bahkan juga untuk musim dingin. "Sakit adalah sejenis musuh yang paling jahat. Dalam surat tantangan yang dikirimkannya kepada Sekolah Yoshioka dari Nagoya. ia mengeluh atas kebodohannya telah menyeleweng pergi ke Ise. Lama-kelamaan mulai kelihatan olehnya bahwa puncak itu memang Sekishusai yang sedang memandang kepadanya dan atas awan-awan. tapi dengan menutup mata. Tidak pernah dalam hidupnya ia terbaring tiga hari lamanya. sakit sekali. Pagi berikutnya dengan putus asa ia cobakan resep-resep lain. ia tendang selimut dari kakinya yang bengkak.property of: CROSSFiRE. Sepanjang hari berikutnya ia gunakan untuk menerapkan obat yang pernah didengarnya.

pada hakikatnya. membujuk. ia tarik kaki yang besar bulat itu dari bawah dirinya dan ia tatap. dan ia pun lari. walaupun tiap kali menyeret kaki sial itu ia mengutuk pelan. Ingatan tentang bau bedak putih yang tajam tentu saja sudah dapat membuat detak nadinya menggebu. Kadang-kadang ia merasa seolah tubuhnya tiba-tiba akan pecah berantakan. "Aku mau pergi dari sini! Mana rekening! Sediakan makanan-nasi gorengdan bawakan aku tiga pasang sandal jerami yang berat!" Sebentar kemudian ia sudah ada di jalan. Setiap langkah yang diambilnya berarti tikaman derita di kepala. seperti batu karang. terpincang-pincang melewati lapangan pasar. Ia merasakan suasana suci dalam tumbuh-tumbuhan. mencengkeram tangannya. biar saya gosoki!" Mereka menarik-narik pakaiannya. Mengangkat kaki yang luka itu saja menghabiskan seluruh tenaga yang dapat ia kerahkan. sekalipun kulitnya tersengat oleh angin dingin. Bibirnya memerah. Inc. Tidak mungkin bagi Musashi mengabaikan perempuan. Tapi sekarang sedikit saja yang mengingatkan orang bahwa tempat itu tempat lahir para pahlawan. Tanpa dikehendakinya. Ebook by Kang Zusi . Ia sudah tahu ketika meninggalkan rumah penginapan itu bahwa ini akan merupakan siksaan baginya. Akhirnya ia tak peduli lagi dengan segala macam topeng harga diri. Tubuhnya menyala demam. demikian pikirnya sedih. Sekarang rempat itu lebih mirip bordil terbuka yang didereti warung-warung teh dan dikerumuni perempuan. yang berasal dari telapak kaki. Menyeberangi Sungai Isuzu dan memasuki pekarangan biara itu mendatangkan perubahan suasana yang menyenangkan. dan bau rambutnya menyengat karena keringat. tapi melarikan diri dari mereka dalam keadaan hampir tak dapat berjalan itu sama saja dengan menyeberangi kancah logam cair panas. Apakah itu. apabila tubuhnya menyala oleh birahi. sambil merintih pelan kesakitan dan memegangi kaki dengan kedua tangannya. Dengan suara keras ia panggil pesuruh. Bukannya ia berkhayal. sepanjang malam ia gelisah. pasti tak terasa sakit lagi. "Di mana saja semua orang ini?" pekiknya. dan ia minta maaf pada sebagian dan mereka. Rangsangan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan yang mencakar-cakar itu lama baru bisa reda. pahlawan "Cerita Perang Hogen". Lama ia duduk di sana tak bergerak-gerak. Di situlah tentunya dilahirkan prajurit terkenal Tairo no Tadakiyo. Semua itu hanya membikin perempuan-perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh. bahkan ia tak mau berhenti memungut topinya ketika topi itu terlepas dari kepalanya. dan ia bermaksud mengatasinya. Lebih banyak perempuan penggoda berdiri di sepanjang jalan itu daripada pohon. Selagi memandang gunung itu. dan usaha mental macam apa pun darinya takkan dapat menenangkannya.property of: CROSSFiRE. Itu ancaman yang lebih besar dibandingkan dengan musuh yang berdiri dengan pedang terhunus di hadapannya. "Lelaki tampan takkan sampai ke mana-mana dengan mengerutkan dahi macam itu!" Musashi menjadi merah mukanya dan menghuyungkan diri dengan membuta. Tak hendak ia menerima kenyataan bahwa kaki itu benar-benar sebagian dari dirinya. bahkan juga dalam suara burung-burung. tapi segera kemudian rasa nyeri mendesak kembali ke dalam kesadarannya. serangan tangan-tangan putih itu menjadi gencar. ia pukul tatami dengan tinjunya. Belakangan. Maka suara-suara mengikik mengikutinya di antara pepohonan di luar kota itu. untuk sementara ia lupa akan kakinya. Betul-betul ia tak tahu bagaimana mengatasinya. sambil mencumbu. Ketika seorang dari mereka mengatakan bahwa Musashi "semungil anak macan tutul!". tangannya jadi selengket madu. dan menggoda. Ketika tidak cepat muncul. pohon-pohonan. Hari ini kakinya memaksanya melepaskan pikiran tentang perempuan. dan dengan sopan menyatakan menyesal pada yang lain. Sekiranya ia hantamkan kakinya ke api bengkel pandai besi itu. "Kenapa kakimu?" "Apa mau saya obati?" "Sini. Ia rebah di akar sebatang pohon kriptomeria besar. tak dapat ia mengatakan. Sama sekali tak bisa ia bertahan terhadap serangan macam itu. Bagaimanapun ia sudah berhasil tetap mengendalikan diri. menggenggam tangannya. netcafe. Untuk sampai ke biara itu. Musashi betul-betul harus berjuang melintasi mereka sambil merengut dan menghindari pandangan mereka yang tak sopan itu. Mereka memanggil-maggil orang lewat dan mencekal lengan baju calon-calon korban yang lewat. Bahkan Otsu yang polos itu pun kadang-kadang menjadi khayalnya yang penuh nafsu. tapi ia ada di sana.

Musashi hanya mau membereskan pertempuran dengan kemenangan heroik. semangat Musashi pekat dan berdetak penuh daya hidup. Kira-kira sejam kemudian. Merasa sudah mantap. Tertarik oleh bunyi damai ini Musashi mencoba berdiri. tapi tak melihat seorang pun. Pendeta yang lewat bisa-bisa menduga ia sudah gila dan mengusirnya. walau tubuhnya yang enggan itu menolak setiap gerak. Tidak berapa jauh. Wisma Para Perawan ini dihuni gadis-gadis muda yang mengabdi kepada dewa-dewa. mencemplungkan diri ke sungai suci itu penting. Musashi mendekati pintu belakang bangunan itu. Yang menggerakkannya adalah kebutuhan spiritual. Menghadapi kemungkinan seperti ini. kalau itu cocok buat mereka. seperti seekor burung kecil. Mereka akan mengerahkan setiap daya yang ada pada mereka terhadapnya. walau tidak kehilangan keseimbangan menghadapi mati merupakan keadaan mental yang tinggi tarafnya. ia melepaskan pedang dan bungkusan dari punggungnya. Bagi Musashi. entah di mana. tidak lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh mil. dan Musashi tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawanya ia harus menggunakan muslihat. Sesudah mencapai dinding tanah gedung biara. Kyoto tidak jauh. demikian kata legenda itu. Merasa lega karena tidak harus memberikan keterangan tentang dirinya. ia memancing di Sungai Isuzu yang suci dan menggunakan burung elang pemburu untuk menangkap burung-burung kecil di hutan suci itu. Memenangkan perkelahian hidup atau mati dengan segala kekuatan tidaklah lebih dari naluri binatang. Sambil menggigit bibir ia memaksakan diri berdiri. bagaimana mungkin ia bertahan terhadap halangan-halangan yang lebih mengancam hidup? Dan pada saat ini persoalannya bukanlah kemungkinan masa depan yang abstrak. mencelupkan kepala dan memurnikan diri. Ketika akhirnya ia melompat ke atas batu. dan dengan mata nyalang ia pandang kehampaan di sekitarnya. seorang pemanah bernama Nikki Yoshinaga dahulu kala menyerang dan menduduki sebagian wilayah Biara Ise. helai rambut di sepanjang dahinya kaku menjadi kerat-kerat es. Ia angkatkan kepala. samurai pada umumnya pasti akan bicara tentang "berkelahi dengan segala tenaga" atau "siap menghadapi maut". netcafe. Biarlah orang lain gugur secara heroik. bertelanjang bulat. sesungguhnya tidaklah begitu sukar menghadapi maut. Lewat rintihan pohon-pohon besar yang suram dan tak henti-hentinya terdengar di hutan suci itu telinga Musashi menangkap bunyi lain. melainkan kemungkinan menghadapi Yoshioka Seijuro yang sangat nyata. Mereka tahu bahwa mereka tak punya pilihan lain kecual membunuhnya. Kendati dilanda nyeri dan derita fisik. berkecipak. Mereka harus berbuat demikian untuk menyelamatkan muka. Seberkas cahaya bersinar lewat jendelanya yang berkisi-kisi. Di sana ia diam. ia pecahkan es di permukaan sungai dan ia ceburkan dirinya ke air dingin itu. sampai kakinya terobati. ia bisa sampai di sana dalam tiga hari. Semua itu diikat bersama dan digantungkannya pada sangkutan di dinding dalam. dan kebutuhan yang sangat dalam. sementara suara anak-anak yang halus menvanyikan doa suci. bahkan bodoh. Namun waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri secara spiritual Ebook by Kang Zusi . Musashi tidak takut mati. Inc. Untung tak seorang pun ada di sekitar. bukan sekadar hidup. kalau ia sudah tahu bahwa la harus mati. Dalam keadaan tanpa beban itu ia letakkan kedua tangannya di pinggul dan ia berjalan terpincang-pincang kembali ke Sungai Isuzu. ia menjadi gila sama sekali. Karena melakukan penjarahan yang melanggar kesucian ini. dan ia mencoba membangun keyakinan untuk berbuat demikian. diraihnya dinding itu dengan kedua tangan dan berusaha merayap dengan gerakan kepiting yang kaku. Di sini mereka berlatih memainkan alat-alat musik kuno dan belajar menarikan tari-tarian suci yang diciptakan berabad-abad sebelumnya. seruling dan buluh menyuarakan musik kuno. Kenapakah ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melarikan diri dari rumah penginapan itu? Orang normal mana pun akan tetap tinggal di sana tenang-tenang. beserta seluruh pengikutnya. Kalau tubuhnya tak dapat menahan dingin. Lagi pula. Musik itu berasal dari bangunan yang agak lebih jauh letaknya. Kalau ia dapat menjaga langkah. bahwa seorang dewasa membiarkan dirinya dikuasai ketidaksabaran? Namun bukan ketidaksabaran itu semata-mata yang menggerakkannya. dan membasuh badan. Apakah itu tidak kekanakkanakan. tapi menurut jalan pikiran Musashi semua itu omong kosong belaka. Sementara ia mengeringkan diri dan mengenakan pakaian. Menurut legenda Ise.property of: CROSSFiRE. tapi tujuannya memang mutlak. ia dapat melakukan lompatan itu dengan ringannya. musik persembahan bagi para dewa. Ia berhenti dan memandang ke dalam. Musashi yang berbuat seperti orang itu dapat dengan mudah dikira hantu orang gila itu.

menimpa belukar di bawah. setengah memanjat setengah berayun. Musashi memandang batu karang itu. Setiap langkah. setiap napas. Demikian pekat tegangan yang dialaminya. "Hampir sampai. es—musuh-musuh yang mencoba mati-matian menyeretnya mundur. Ia merasa bahwa jauh di dalam dirinya terdapat kelemahan. menyeretnya mundur. Wajahnya semerah wajah setan. hingga jantungnya serasa akan naik dan meledak dari mulutnya. Di seberang tempat bernama Ichinose terdapat jurang yang panjangnya lima atau enam ratus meter. yaitu karena ia tahu dirinya belum matang. Majulah ia menentang perlawanan rumput liar." Alangkah mudah dikatakan. penuh dengan tebing terjal dan riam. dan itu mengecewakannya. Puncak gunung menatap dingin kepadanya. tiga ratus—ia kini di tengah awan-awan. batu-batu kecil menghujan. lalu berhenti. dan seperti manusia primitif ia merangkak ke atas batu-batu besar dan bersusah payah menerobos semak-semak rimbun di ngarai yang dalam. aku harus menang!" Sambil berjalan terpincangpincang memudiki Sungai Isuzu. dan katanya tanpa khayal. Setiap kali ia merasa sudah ada pijakan itu. dan kini puncaknya melanjutkan ejekan itu. Apabila ia membandingkan dirinya dengan Nikkan atau Sekishusai atau Takuan. Gunung itu Sekishusai. Maka semangat Musashi yang tak kenal menyerah betul-betul tersengat oleh keunggulan Sekishusai. tapi alangkah sukar dicapai! Karena "sedikit lagi" itulah yang membedakan pedang kemenangan dengan pedang yang kalah. Seluruh dunia terhampar di bawahnya: hutan besar yang memagari tempat suci. tidaklah dapat ditakar. Gunung Asama. Tubuhnya bergetar ketika ia memekik. mendesir-desir. lalu berhenti lagi. Berpegangan pada tumbuhan menjalar yang kuat. la hanya dapat memanjat beberapa kaki. merupakan tantangan. Musashi memeluk permukaan puncak yang merah warnanya itu sambil mencari-cari pijakan kaki. untuk menunjukkan kepadanya bahwa Musashi dapat dan harus menang. setelah dekat ke puncak tertinggi. "Aku harus menang!" Ia melintasi air terjun yang tenang dan beku. bahkan ia melahap udara dengan pori-porinya. Di ujungnya menjulang tebing yang hampir terjal. di seberang belukar jarang yang berselimut kabut malam. dari bawah ia tampak seperti tergantung di awang-awang tanpa berat. Kini. tampak olehnva kaki Gunung Rajawali. menginjak-injak seenaknya kepala Sekishusai. tak dapat ia mengelak dari kebenaran sederhana ini: ia masih hijau! Analisis yang dilakukannya sendiri atas kemampuan dan sifat-sifat dirinya tidak hanya mengungkapkan kelemahan di beberapa bidang. kampung nelayan Toba. Inc. yang sebelumnya tak banyak ditempuh orang. Hanya dengan mengerahkan segala tenaga. Gunung Mae. bahwa ia masih jauh dari seorang manusia yang lengkap dan sempurna. melainkan juga kekurangan dalam bidang-bidang lain.property of: CROSSFiRE. "Aku harus menang. pohon. "Sedikit lagi!" "Sedikit lagi. dua ratus. beberapa kaki. netcafe. Sesampainya di puncak karang meledaklah pekik kemenangan darinya. Seratus kaki. Napasnya terengah-engah. Apakah secara mental ia sudah siap? Apakah pikiran dan semangatnya sudah benarbenar satu? Musashi belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini secara positif. Dulu ia tertawa ketika Musashi terbaring di tempat tidur. seolah disangga oleh suatu gaya berat terbalik. Darahnya yang belum lama ini kedinginan kini mendidih dan tubuhnya mengepul ketika keringat yang keluar dari pori-porinya berjumpa dengan udara dingin. Dari sana terlihat olehnya aliran sungai yang putih dan pesisir perak sepanjang pantai Futamigaura." Ia gembira melihat tak ada rintangan tak tertembus di sini. hingga ikan forsel pun tak dapat melintasinya. ia sadar. jalur putih yang tentunya sungai. baru ia dapat maju selangkah. ia pegang teguh hidupnya tercinta. Berangsur-angsur terbentuklah tujuan dalam dirinya: mendaki sampai puncak dan melampiaskan dendam. Ebook by Kang Zusi . dan lautan terbuka luas. Dan di hadapannya." pikirnya. Satu saja gerakan keliru akan membuatnya melayang ke riam karang dan batu-batu besar. Serangan itu menindasnya. ia memekik lagi agar semua pohon di hutan suci itu mendengar. Orang bilang hanya monyet dan peri dapat memanjatnva. "Ini dia jalan ke Gunung Rajawali. ia mulai mendaki permukaan batu karang. Apabila awan-awan itu bersibak. bahwa ia belum mencapai taraf pikiran seorang guru sejati. itu pun dengan bergayut pada batu dan tumbuhan menjalar.

Untuk menarikan tari-tarian keagamaan. "Aku sekarang berdiri di atas kepala rajawali!" Matahari pagi yang baru muncul menyinarkan cahaya kemerahan kepadanya dan kepada gunung itu. Napas Musashi terhenti. dan ia jadi ingin sekali tidur. "Punya siapa itu menurutmu?" Ebook by Kang Zusi . Permukaan gunung yang kasar mulai terasa seperti kulit ibunya. Musashi merasa bahwa kegembiraan yang tak terlukiskan membengkak memenuhi seluruh dirinya. Nikkan! Dan untukmu. Karena bau keringat. Di sana mereka belajar tata bahasa dan berlatih menulis sajak. "Apa itu?" dan menuding bungkusan serta pedang yang terikat di sana. tapi seolah-olah heran melihat mahluk ini mencakarnya. Takuan!" Ia panjati kepala berhala-berhala itu. ia injak-injak dan ia tunjukkan pada mereka siapa yang terbaik di antara mereka. Sekelompok gadis menghambur keluar dari pintu belakang. Di tengah kemurnian angkasa yang mengitarinya. Ketika akhirnya ia mengangkat kepala. Inc. bagian 12 Ngengat di Musim Dingin TIAP hari. para superman yang telah menyebabkannya datang kemari. Tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat kini tersatukan dengan permukaan gunung. "Satu untukmu. netcafe. para superman yang harus dan akan ditaklukkannya. di perbatasan antara langit dan bumi. Angin di puncak tertinggi menghujani punggungnya dengan pasir dan batu. Tapi dalam hatinya ia menyanyikan lagu kegembiraan meluap. Di sinilah pertandingan akan ditentukan. Mendadak ia ingin melompat dan melejit ke sana kemari seperti ikan mino di sungai. dan Musashi tahu itu. matanya terpejam tak berani bergerak. ia memandang ke segala jurusan. mengancam meniupnya bersama batu karang dan segalanya. seakan seseorang menepukkan tangan ke mukanya. Dan setelah meluruskan badan. bajingan!" Dengan segala daya yang ada padanya ia kutuki raksasaraksasa yang dihormatinya. Di sinilah. dan cahaya fajar tiba-tiba tampak di tengah lautan awan putih di bawahnya. angin berembus. Sekishusai! Untukmu. demikian dikatakannya kepada dirinya. Sementara ia bergayut pada batu karang itu. para gadis yang hidup di Wisma Perawan dengan buku di tangan pergi ke ruang belajar di rumah Arakida.property of: CROSSFiRE. sesudah menyelesaikan kewajiban di biara. membubunglah napas kemanusiaan—napas manis kegelapan yang telah terhalau. dan waktu itu tampak olehnya seolah seember penuh nanah kekuningan merembes dari kakinya yang cedera. yang pada malam sebelumnya digantungkan Musashi. Semangat manusia dan gunung kini sedang melaksanakan karya cipta yang agung di keluasan alam tak terbatas di waktu fajar. maka sebagai pemain pedang pasti pada suatu hari ia akan terbunuh. ia dan gunung itu kini satu. tidurlah ia dengan damai. begitu daya kemauannya yang sudah menegang itu mendetak seperti tali busur. Kalau tubuh dan daya kemauannya melemah. "Berhasil! Aku menang!" Begitu ia sadar telah mencapai puncak. Ia mencari-cari pijakan lain. pikirannya pun semurni dan sejernih kristal. Dan dalam selimut kegembiraan meluap yang surgawi itu. Tapi justru pada waktu itu sebutir batu di bawah ibu jari kakinya terlepas dan membuatnya sadar kembali. ia mulai samar-samar merasa sedang bersarang di dada ibunya. "Ini untukmu. dan tiba-tiba seorang di antaranya berseru. gunung itu menggertak dan meludahkan longsoran batu kerikil dan pasir. Tapi sekarang mereka berkimono lengan pendek dan berhakama katun putih. Kemudian tiba-tiba ia sudah tengkurap. yang biasa mereka kenakan pada waktu belajar atau melakukan pekerjaan rumah tangga. mereka mengenakan kimono sutra putih dengan celana bertepi lebar merah tua yang disebut hakama. "Tak ada apa pun lagi di atasku!" teriaknya. sementara ia merentangkan tangannya yang berotot dan liar ke langit. Ia pandang kakinya yang terhujam teguh ke puncak tertinggi. "Ini dia! Hampir sampai!" Dengan kaki-tangan kejang dan sakit. kembali ia mencakar gunung itu.

Inc. angin yang menakutkan dan lain dari biasanya bersiul di antara pepohonan yang tak berdaun. Omi. mereka putuskan untuk menetap selama menanti musim dingin. Terpikir oleh Otsu. sesudah mondar-mandir di Jalan Iga. Juga. Yang tinggal di asrama itu hanyalah perempuan tua juru masak dan seorang gadis yang sakit. dan sebanyak-banyaknya sekitar dua puluh. Mengangkat barang itu ia merasa heran. yang umurnya sekurang-kurangnya tiga betas atau empat betas tahun. Ayo belajar sana." Mereka berpandangan dan menahan napas. "Jotaro! Jo-o-ota-ro-o-o!" Ebook by Kang Zusi . barangkali Jotaro di sana sedang menyapu pekarangan dengan sapu bambunya. Jotaro sebetulnya menjadi penghalang Otsu menerima jabatan itu. slang hari Jotaro menyapu pekarangan suci dan malam hari menginap di gudang kayu Keluarga Arakida. hampir saja barang-barang itu terjatuh karena beratnya. seakan-akan menemukan begal itu sendiri yang berikat kepala kulit dan sedang tidur slang." "Ha? Lebih baik itu kalian bawa ke rumah Arakida. panggilnya. karena akan sukar berjalan menerobos pegunungan selagi ada salju. ia pun menerima. tergantung di dinding belakang. netcafe. Keduanya di sana. kedamaian hutan tempat suci itu telah mengimbaunya. "Barang-barang siapa yang tergantung di sini ini?" tanya Otsu kepada juru masak. bagaimana kaum pria biasa berjalan membawa beban seberat itu. Seberkas asap naik dari sebuah belukar di kejauhan. yang sebagai pemimpin upacara resmi menduduki tempat kedua sesudah pendeta kepala. dan jangan buangbuang waktu lagi. Coba lihat sini!" Otsu meletakkan kuas tulisnya di meja dan menjulurkan kepala ke luar jendela." kata Otsu.property of: CROSSFiRE. melainkan karena berminat mempelajari musik kuno. hari-hari itu patuh sekali dan dengan penuh tanggung jawab menyesuaikan diri dengan pekerjaan. bisa juga pencuri yang meninggalkannya di sini." "Sudah pasti." saran seorang di antaranya. Akhirnya keputusan yang mereka ambil adalah." "Ah. justru pada umur ketika anak-anak lelaki hanya senang bermain dan menyenang-nyenangkan diri. "Sensei! Sensei! Ada yang aneh di bawah sini. Semula Otsu memberikan pelajaran suling di daerah Toba. "Barangkali kita mesti memberitahu Otsu. Ketika Otsu melintasi halaman biara. gadis-gadis itu sudah pergi. jangan! Kami takut memegangnya. Otsu dan Jotaro datang ke tempat itu dua bulan sebelumnya. Otsu berlari menyusuri jalan setapak melintas belukar. Juru masak tentu saja tidak tahu. dan Mino mencari Musashi. Ketika ia turun membawa bungkusan dan pedang itu. "Mestinya punya samurai. dan lagi ia ingin tinggal beberapa waktu lamanya bersama gadisgadis di tempat suci itu. "Ada pencuri meninggalkan pedang dan bungkusan. dan sambil mencengkeram barang bawaannya. Sesampai di Ise. bukan karena ingin mengajar. sekalipun umurnya masih muda. "Ada apa?" tanyanya. Ketika Arakida meminta Otsu datang ke biara untuk mengajar gadis-gadis itu." "Tidak." "Itu namanya ribut tak keruan saja. "Biar kubawa ke rumah Arakida. tapi kemudian ia menarik minat kepala Keluarga Arakida. dan dengan persetujuan bersama mereka berlari kembali ke asrama dan berseru dari bawah susuran tangga di luar kamar Otsu. ia merasa senang bahwa Jotaro yang wataknya sukar diubah. Ia berhenti dan tersenyum. karena ada larangan menerima lelaki tinggal di asrama anak-anak perempuan. musik suci. Bunyi itu terdengar lagi." Begitu Otsu turun dari kamarnya. Bunyi gemeretak keras yang didengarnya itu mirip bunyi cabang pohon yang patah.

" "Tak ada orang yang keberatan dengan latihanmu." gerutu Jotaro dengan wajah jengkel. jadi Kakak mendengar kuliah itu juga?" "Tentu saja." "Oh. tak ada salahnya mematahkan dahan yang sudah mati. Tak ada salahnya kalau memang sudah mati. suci buat dewi leluhur kita semua. apa Nobunaga." "Membeokan apa yang dikatakan Pak Arakida tak ada artinya buatku. tapi apa indahnya menguasai negeri kalau menurut kita." "Tanya apa?" "Kalau kebun ini begitu penting. "Wah." kata Otsu menyela. Apa kau sudah lupa. bahwa di sini dilarang merusak pohon-pohonan. apa puri di Osaka itu tidak putih menyilaukan kalau kita lihat dari Samudra di Settsu? Apa Tokugawa Ieyasu tidak membangun purl-puri yang lebih megah di Fushimi dan selusin tempat lain? Apa rumah-rumah baru daimyo dan saudagar-saudagar kaya di Kyoto dan Osaka tidak mengilat karena perhiasan emasnya? Apa ahli-ahli upacara teh Rikyu dan Kobori Enshu tidak mengatakan bahwa secercah kotoran di halaman warung teh bisa merusak aroma teh? "Kebun ini sedang runtuh. kan?" "Itu kalau tidak di sini!" "Itu yang Kakak ketahui! Coba sekarang aku mau tanya. Waktu aku mendengarkan dia bicara. kakak ini tadi. kalau begitu aku tak pernah bisa menang." "Dia memang benar." "Ah. tapi bukan di sini Jotaro. "Bagaimana bisa Kakak mengatakan tempat ini penting? Coba." "Tidak begitu jelek kalau cuma rumput liar. Membiarkannya rusak seperti ini sama saja dengan membiarkan rumput liar tumbuh dalam jiwa. kenapa kaulakukan? Kalau Pak Arakida menangkap basah kamu. "Ya-a-a?" terdengar jawaban gagah. memegang dagu Jotaro dan mengangkat wajahnya. Lihat ke sana itu. "Yang kaukatakan itu cuma jiplakan kuliah Pak Arakida. "Apa kerjamu dengan pedang kayu itu? Dan pakai pakaian kerja putih lagi. dan pohon-pohon yang dirobohkan badai bergeletakan saja seperti waktu robohnya. Hideyoshi. melukai. Aku tak setuju dengan cara itu. biarpun yang dikatakannya itu benar. atau membunuh binatang? Memalukan kalau orang yang bekerja di sini mematahkan cabang-cabang pohon dengan pedang kayu. Latihan dengan pohon-pohon. Ini wilayah suci.property of: CROSSFiRE. Aku tahu mereka tentunya orang penting. dan Ieyasu itu betul-betul orang besar." kata Otsu tajam. netcafe. tapi lihat pohon-pohon itu. Inc. di mana kau sekarang? Halaman ini lambang kedamaian dan kemurnian." "Aku sedang latihan." "Kupikir kau sedang kerja tadi. Pohon-pohon yang disambar petir itu dibiarkan saja mati. Coba. Sebentar saja Otsu sudah mendengar langkah Jotaro. "Oh. Burung-burung mematuki atap bangunan sampai bocor. "Kalau sudah tahu. Di mana-mana begitu. kenapa orang tidak merawatnya lebih baik?" "Memang sayang sekali mereka tidak merawatnya baik-baik. Dan tak ada orang memperbaiki lentera kalau rusak." Ebook by Kang Zusi . Tapi ketika anak itu sudah berhenti di depannya. kitalah satu-satunya orang yang berarti. aku jadi berpikir. sudah tahu aku semua itu. pasti kita mendapat kesulitan!" "Menurutku. yang kerja di sini cuma aku dan tiga atau empat lelaki tua! Padahal. coba lihat berapa luasnya?" "Jotaro!" kata Otsu. ia hanya mengatakan.

Dalam hal tertentu. ia tak pernah bisa mengusir rasa rindu kepada Musashi dari hatinya. Dua puluh tujuh kali Ujitsune mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk membetulkan bangunan-bangunan suci. waktu sudah dewasa orang suka lupa bahwa mereka berutang sumber hidup kepada leluhurnya. dan para prajurit begitu sibuk dengan pertumpahan darah. sesaat kupikir yang dia maksud guruku.. kan?" .." jawab anak itu kesal sambil menggigit jari telunjuknya. "Sensei" Seorang di antara gadis tempat suci datang berlari-lari." "Bagaimana buruknya?" "Kau pernah mendengar tentang Perang Onin. "Apa yang kamu perhatikan?" "Ah. Inc." "Maksud Kakak pertempuran yang terkenal antara Keluarga Yaman dan Kosokawa?" "Ya. Berani sumpah. Pedang panjang ini besar sekali. "Pak Arakida memanggil Sensei. tapi bungkusan yang dibawanya menghalanginya. Jotaro melompat ke udara sambil tertawa dan bertepuk tangan. ini mesti berat. "Waktu gadis itu memanggil 'guru'. kan?" "Anak bandel kau ini!" ujar Otsu sambil tertawa sendiri. Walaupun demikian. Shogun-shogun Ashikaga jauh lebih buruk. sampai mereka tak peduli dengan apa yang terjadi. Matahari musim dingin bersinar melalui pohon-pohon. mereka sudah memperbaiki istana kaisar di Kyoto dan mencoba mem-bahagiakan rakyat." "Ah. dan uang tak cukup untuk melanjutkan upacara-upacara kuno dan ritus-ritus suci. Otsu kasihan pada biarawan itu dan pada ketidaktahuannya akan makna cinta. tapi istana kaisar terlalu miskin. Waktu itulah. "Sekarang siapa yang membeo Pak Arakida? Kakak pikir aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. Takuan orang yang begitu tanpa perasaan.. tak apa-apa. berdetap-detap bunyi sandal jeraminya. Ebook by Kang Zusi . kenapa pula ia menyinggung Musashi? Sekalipun sudah mendapat nasihat Takuan. Rakyat biasa tidak mendapatkan kedamaian sedikit pun. "Tapi Nobunaga dan Hideyoshi itu tak seburuk orang-orang lain. "Ini cerita sedih. sampai akhirnya berhasil mendirikan tempat suci baru. Ingin sebetulnya ia menampar Jotaro." "Ke-shogun-an Ashikaga begitu tidak cakap.property of: CROSSFiRE. Mata Jotaro memandang seolah melihat hantu di antara bercak-bercak cahaya matahari. "Jangan sentuh! Tak tahu kita punya siapa ini. ke-shogun-an terlalu lemah. mereka tetap patut mendapat pujian. Maka sambil terus tersenyum ia tatap saja anak lelaki itu. Ujitsune pergi berkeliling juga memperjuangkan cita-citanya. gadis itu memutar badan dan berlari kembali. netcafe. dan ranting-ranting berayun-ayun seperti ombak kecil. sama seperti kita semua berutang hidup kepada Dewi Ise. "Ada apa?" tanya Otsu. bukan? Tapi kalau kita pikirkan. dan tak seorang pun punya perhatian sungguh-sungguh terhadap negeri secara keseluruhan. ya?" Dan air liur Jotaro mengucur. Para prajurit selamanya saling perang untuk memperebutkan lebih banyak wilayah. Arakida Ujitsune menjadi pendeta kepala Tempat Suci Ise. Jotaro menoleh ke sekitar dengan terheran-heran. lebih seratus tahun lalu." Hampir tanpa berhenti. Waktu itulah Jotaro melihat bungkusan yang lain dari yang lain." Puas karena sudah mendapat pidato panjang berapi-api dari Otsu. Biarpun seandainya mereka melakukan halhal itu hanya untuk membenarkan tindakannya sendiri terhadap dirt sendiri dan orang-orang lain. aku kan tak akan bikin rusak! Aku cuma mau lihat. "Hm. Walaupun pernyataan Jotaro itu diucapkan dengan penuh kepolosan. "Punya siapa itu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan." Otsu tiba-tiba merasa sedih dan sedikit kesal. Paling tidak. sampai terus-menerus terjadi perang.

maka menurut pikirannya barangkali semangat masa lampau itu pada suatu hari akan tumbuh subur seperti pohon besar di hutan suci. "Saya di sini. Aku kan memanggil tadi. ia berlari mendekati Otsu. Kalau ia dapat mengajar anak-anak setempat mengenai masa lalu. dan kemudian dengan curiga memperhatikan kedua pedang itu. seorang gadis biara menyampaikan kepadanya bahwa Otsu sedang menanti. Bagaimana mungkin ia memimpikan membawa barang-barang milik Musashi? Karena merasa telah berbuat salah. tiap hari ia bicara pada anakanak itu tentang karya-karya klasik Tionghoa dan Catatan Tentang Hal-hal Kuno. apa yang dikehendaki Pak Arakida. Dan dengan air mata meleleh di pipi ia berjalan terus." serunya. sehingga apa yang terjadi di masa lalu yang jauh itu tak banyak berarti. mencari dan menemukannya. perasaan cinta itu tidak mengganggu. Tokugawa Ieyasu boleh menjadi shogun "penakluk orang barbar" yang mahakuasa. Pedang berat dan perabot usang itu tak berarti apa-apa baginya. Tanpa mengatakan sesuatu. Ketika Otsu sedang sibuk. Ia berharap anak-anak didiknya akhirnya akan menghargai buku-buku itu. mendengarkan pelajaran Arakida. bukan prajurit diktator yang tak tahu adat. Ketika anak-anak sudah menghambur keluar seperti kawanan lebah dan melejit cepat ke rumah masing-masing. tidak hanya untuk gadis-gadis biara. Hideyoshi boleh memegang kendali negeri dan menyatakan diri dengan wali. Di mana dia?" Otsu berada di luar. ia berjalan. tidak. "Bapak memanggil saya?" "Saya minta maaf terpaksa membiarkan engkau menunggu. Tapi jangan kuatir. orang-orang muda nantinya akan mengerti bahwa Dewi Matahari yang agunglah yang menjadi lambang cita-cita bangsa. Ia mengubah sebagian rumah itu menjadi sekolah. paling celaka. Kalau orang lain mungkin menyatakan bahwa daerah-daerah provinsi tak ada sangkut pautnya dengan nasib bangsa. "Pemuda biasa takkan datang kemari membawa barang-barang seperti itu." katanya. Dengan penuh keuletan dan pengabdian. sejarah tentang Jepang. Cinta itu seperti sakit gigi. dan yang paling menyengsarakan pastilah tak adanya kemampuan untuk memandang orang yang dirindukan. Ia coba memberikan kepada orang-orang muda itu sejenis pendidikan yang sekarang tidak terlalu populer: mempelajari sejarah Jepang Kuno yang di kota-kota besar dianggap tidak relevan. yang paling menggerek. ia tercengkam oleh keinginan yang amat sangat untuk menyusuri jalan-jalan raya lagi. Kalau ia bekerja keras dengan sabar. Ujitomi berjuang seorang diri menanamkan benih-benih kebudayaan yang lebih awal dan lebih tradisional di antara orangorang muda daerah biara itu. Jotaro ikut saja dengan sedih. "Betul. Baru ketika Otsu membelok masuk gerbang rumah Arakida." "Maaf. Sudah beberapa waktu ia berdiri di situ." Arakida Ujitomi menyebut tempat tinggalnya Wisma Belajar. Ia melakukan hal tersebut lebih dari sepuluh tahun lamanya. Arakida keluar dari ruang belajarnya yang luas dengan wajah sedikit berkeringat. agak jauh di belakang. Sejarah awal negeri ini berhubungan erat sekali dengan Biara Ise dan tanahtanahnya. Inc. "Kakak marah. tapi sebelum duduk ia menuding barang-barang yang dibawa Otsu dan bertanya apakah itu. ya? Karena kata-kataku?" "Oh. Aku mau tahu. dan tanyanya." Ebook by Kang Zusi . Menurutnya.property of: CROSSFiRE. netcafe." "Ini bukan salahmu. Di manakah dia? Dari segala kesedihan yang mungkin merundung mahluk hidup. tapi seperti halnya orangtuanya. Kembalilah kau bekerja. Tengah malam tentunya orang datang masuk pekarangan. Arakida berkata. Ujitomi memiliki pandangan lain. tapi apabila kenangan mendatanginya. Betul-betul aku minta maaf." Ia mengantar Otsu masuk kamar belajar pribadinya. "Dan malam kemarin barang itu belum ada di sana. Arakida melirik. anakanak muda tidak boleh salah membedakan bintang keberuntungan seorang pahlawan militer dengan matahari yang indah. Kak. meletakkan kepala ke dadanya dan mengucurkan air mata bahagia. Aku cuma merasa sedikit sedih. Sudah lupa sama sekali. melainkan juga untuk empat puluh atau lima puluh anak lain dari tiga daerah yang termasuk daerah Biara Ise. Otsu menjelaskan bagaimana ia sampai mendapat barng-barang itu. padahal sekarang zaman orang banyak cenderung menganggap nasib bangsa ini adalah nasib kelas prajurit. Silakan masuk. Sedikit bingung. tak apa-apa.

dan bisiknya. tentu. tapi kebaikan Bapak sendiri sudah merupakan bayaran buat saya. "Boleh. kan?" Karena sudah dipojokkan." "Apa saya sudah melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Bapak?" "Tak ada yang mengecewakanku." kata Arakida. dan gunakanlah untuk perjalanan. tapi aku ingin minta pertolonganmu. biar bagaimana. Aku tak suka. maka ia bertanya apakah Otsu berkenan menghentikan pelajaran suling itu dengan meninggalkan Wisma Perawan." Ia mengulurkan bungkusan yang berisi beberapa keping mata uang emas. aku ikut." "Terima kasih. terutama bagi Pak Arakida. katanya. bukan sebagai pengakuan kesalahan. bolehlah engkau menganggap uang ini sebagai bayaran atas jasamu. Otsu cepat menyetujui. untuk kebaikanku sendiri. sambil menjangkau rak buku kecil dan mengeluarkan sejumlah uang yang dibungkus kertas. "adalah menyampaikan bingkisan kepada Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro yang tinggal di Horikawa. Kemudian dengan wajah tak senang ia menggerutu. namun air mata marah membanjiri mata Otsu. Kebetulan aku sudah jemu menyapu kebun tua mereka ini. "Tak banyak. dialah yang mesti membayar untuk makanan dan penginapannya. Arakida rupanya tidak terlalu mementingkan soal itu." "Dengan senang hati saya melakukan permintaan Bapak itu. "Tak mungkin aku menerima uang darimu. tapi terimalah." kata Jotaro yang cepat mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan itu. Otsu akhirnya menyetujui dan mengucapkan terima kasih kepada Arakida. kau tahu sendiri bagaimana omongan orang. "Pertolongan yang kuminta padamu. dia memperingatkan diriku." Arakida menoleh kepada Jotaro. Namun sungguh merupakan pengalaman meremukkan hati dituduh tidak suci. tapi soalnya begini. aku tak ingin engkau tersinggung tentang ini. "Tidak. dan menyatakan bahwa ia akan pergi hari itu juga. Yang lebih tepat. katanya. yah. netcafe. tak perlu secepat itu sebetulnya. Otsu menolak menyentuhnya. hanya karena memberikan pelajaran suling kepada anak-anak gadis itu. "Bagaimana kalau uang ini kuberikan saja pada anak ini? Dia dapat membelikan apa-apa buat kalian berdua di perjalanan." Sekalipun nada bicara Arakida biasa saja.. "Ini barangkali kelakar samurai. Inc. Dengan wajah terkejut ia menyatakan pada Arakida bahwa ia tak pantas mendapat bayaran. Jadi. kalau kebetulan engkau pergi ke Kyoto. Dia bilang. kau memang bukan lagi benar-benar perawan. melainkan karena ia memang tak punya rencana tinggal terus di situ dan tak ingin menimbulkan kesulitan. Ia cuma terganggu bahwa orang membicarakan yang bukan-bukan." "Oh? Apa menurut pendapat Bapak seorang lelaki telah masuk Wisma Perawan?" "Ya. dan karena waktu itu akhir tahun "dan lain sebagainya itu". Dan justru itu yang ingin kukemukakan padamu." "Ini ada hadiah kecil. dan orang mengatakan menyimpan perempuan yang bukan perawan bersamasama gadis-gadis di Wisma Perawan itu bisa menodai tempat suci. Kyoto. Sekalipun ia benci kebohongan desas-desus itu. Seorang samurai menegurku karena memasukkan engkau ke asrama perawan—perawan suci. Tapi sesudah berpikir lagi ia memandang Otsu." Sambil berkata demikian. Cuma inilah. benar ia terbiasa menjumpai orang banyak. Kau sudah ke sana kemari dengan lelaki. karena itu barangkali sudah sewajarnya orang menganggapnya perempuan duniawi.." jawab Arakida. "Kalau Kakak pergi." kata Arakida. ia mengambil Ebook by Kang Zusi ." "Apa ini ada hubungannya dengan saya?" "Nah. padahal kenyataannya ia masih suci. Benar ia banyak mengadakan perjalanan ke manamana.property of: CROSSFiRE." Arakida berusaha meyakinkan Otsu. Sekarang kau jangan marah. benar ia mengembara dalam hidup ini membawa serta cinta lamanya. "Oh. demikianlah dikatakannya. ia cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan Arakida selama ia tinggal di sana. Jotaro yang tadi mengikuti Otsu memilih saat itu untuk menjengukkan kepalanya dari beranda.

dan jawabnya. "Tak usah sedih. "Lihat apinya itu. terpukau juga ia oleh apa yang dilihatnya. Kukira boleh. Beberapa di antara mereka menangis. Otsu sudah hafal dengan cara-cara Jotaro." ujarnya... "Belum juga Kakak siap? Kenapa ya. Selama dua bulan Otsu tinggal bersama mereka. Beliau ada rencana menulis komentar yang cocok dengan lukisan ini dan menghadiahkannya pada Kaisar. Karena komentar untuk lukisan itu belum lagi ditulis. dengan pedang kayu di pinggang. Sebetulnya ia sudah selesai berkemas. Apa engkau bersedia membawanya dan menjaga supaya lukisan-lukisan ini tak kena air atau minyak di jalan?" Ini tugas yang tak terduga-duga pentingnya. mereka saksikan di hadapan mereka gambaran kehidupan istana kekaisaran kuno dalam coretan kasar dan warna-warna indah serta sentuhan-sentuhan bubuk emas. tapi ketika Arakida membuka gulungan itu adegan demi adegan. seorang pesuruh masuk. Sementara itu. sebentar kemudian ia sudah bosan. Arakida mengangguk. sedangkan mata Jotaro melebar ketika ia membungkuk memperhatikannya lebih saksama. Dari jendela. jaga diri kalian baik-baik. Lukisan itu dibuat dengan Gaya Tosa dan bersumber pada seni Jepang klasik. "Kelihatan seperti menyala betulan. dan dia jalan duluan.." tegur Otsu. tapi gadis-gadis itu tak hendak melepaskannya. "Aku sudah siap. "Yang Dipertuan Karasumaru minta padaku dua tahun lalu untuk melukis ini. mereka telah menganggapnya sebagai kakak sendiri. Saya akan datang berkunjung hari-hari ini. Tapi sebaiknya suruh orang itu membuat surat tanda terima. karena melihat keadaannya kecil kemungkinannya ia akan kembali lagi." Selagi mereka menatapkan mata dengan penuh kekaguman. tapi sebelum membungkus dan memeterai gulungan itu. dan semula Otsu ragu-ragu menerimanya. dan sejenak kemudian ia menyatakan setuju. Di sana Jotaro tidak segera tampak. namun tak ada jawaban. Tapi kurang pantas kalau ia menolaknya. Ia kelihatan bangga akan karyanya. Mendengar guru suling mereka akan pergi. "Apa betul?" "Sensei betul akan pergi?" "Sensei takkan kembali lagi?" Dari seberang asrama. Dalam usahanya meloloskan diri. mereka tidak mengetahui cerita apa yang dilukiskan di situ. Akhirnya seorang dari mereka mengusulkan agar mereka semua mengantar Otsu sampai jembatan suci di seberang Sungai Isuzu. "Ya-ya. siap menyampaikan sesuatu kepada Arakida dengan suara pelan sekali. Barangkali gadis-gadis itu pun menerkanya demikian. ia berkata menghibur gadis-gadis itu. Kotak yang terbungkus kain berisi gulungan disandang melintang di punggung. "Apa belum juga siap?" serunya lagi. perempuan begitu lama kalau berpakaian dan berkemas?" Waktu itu ia berjemur di pekarangan sambil menguap. gadis-gadis Wisma Perawan pun jadi sedih." jawab Otsu." Dan ia menyerahkan bungkusan dan dua bilah pedang yang tadi dibawa Otsu. dan ia sendiri ingin melayangkan pandangan terakhir sebelum berpisah dengan karya itu." Ia duduk dan mulai membuka lukisan itu di lantai di hadapannya. Mereka mengerumuninya dan mengantarnya ke luar. tanpa perasaan kuatir ia berkata. netcafe. karena itu mereka tampak murung ketika berkumpul mengerumuni Otsu. dua gulungan dari rak yang sudah goyang di dinding. Kemudian Arakida mengeluarkan kotak dan kertas minyak." Tak enak juga ia bahwa yang dikatakannya itu tidak benar. "Ah. Akhirnya lukisan-lukisan ini selesai. Otsu balas berteriak. "Barangkali dia capek menunggu. "Tapi barangkali ada baiknya kutunjukkan dulu padamu lukisan ini.property of: CROSSFiRE. karena itu mereka corongkan tangan di mulut dan mereka panggil namanya. Inc. ya?" "Jangan sentuh. Otsu tersengal melihat keindahan gulungan itu. "Lihat saja. Apa lagi yang ditunggu?" Ia sudah menanggalkan jubah putih dan kembali mengenakan kimono pendek yang biasa. cepat sekali!" "Aku selalu cepat!" jawab Jotaro pedas. Itu sebabnya aku tak ingin mempercayakan-nya kepada pembawa surat biasa atau orang istana." "Anak brengsek!" ucap seorang gadis. katanya. Tapi memang dasar tidak sabaran. Walaupun Jotaro tak pernah mendapat pelajaran seni. Ebook by Kang Zusi . Jotaro berteriak. "Sebentar lagi slap.

Mereka cuma sayang melihat aku pergi. "keliru." Ebook by Kang Zusi . kan? Tadi kulihat di jalan raya Toba sana itu ada orang yang mirip guruku. Sambil menangkupkan tangan satu kali. sekalipun Jotaro sendiri patah hati. "Apa saja kerja mereka ini di sini? Apa akan pergi dengan kita?" "Tentu saja tidak. katanya. Ke mana pun mereka pergi." panggil seorang di antaranya. tapi ada yang bilang. Karena itulah sekarang Otsu tidak sekesal biasanya. kita akan marah terus sepanjang jalan. Inc. Hal seperti ini sering terjadi berlusin-lusin kali. tapi sekarang Kakak berangkat tanpa aku!" "Tapi tadi kamu tak ada di tempat!" ujar Otsu. Tingkah Jotaro membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal. karena dia pincang.property of: CROSSFiRE. Ia memang membelok ke Gerbang Tamagushi untuk menyatakan hormat ke kuil pusat." "Oh. netcafe. tapi gadis-gadis itu menyodok punggungnya dan bertanya kepadanya kenapa ia tidak mencontoh yang dilakukan Otsu. tapi jangan lalu uring-uringan karena aku jalan dulu. apa betul dia." Ingat akan percakapannya dengan Arakida. Aku lari buat melihatnya. ada apa sih sebetulnya?" katanya memberengut. Tahu tidak. dia anak Sensei. kalau Otsu dan Jotaro mengadakan perjalanan. "Aku?" tanya anak itu tak percaya. betapa baiknya mereka. Dengan harapan menjulang tinggi." "Aku tahu. ia menundukkan kepala ke arah tempat suci itu dan beberapa saat lamanya mengambil sikap berdoa diam. "Tadi Kakak suruh aku menunggu berabad-abad." "Tak boleh kau bicara begitu." kata Jotaro. Kini. tapi kemudian ia menghibur diri dengan pendapat bahwa yang dikatakan orang lain tak berarti. mereka mengejar untuk memastikannya. meniru gaya kata-kata Otsu. Tak ada hari tanpa menyaksikan cahaya harapan. dan gadis-gadis itu pulih kembali semangatnya. "Tapi mestinya Kakak bisa mencariku." "Orang yang seperti Musashi?" "Ya. "Sensei. begitu!" gumam Jotaro. yang disusul kekecewaan. Nah. tenanglah sekarang. "Apa dia anak Sensei?" "Anakku? Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? Tahun depan aku belum lagi dua puluh satu. kalau kita memulai perjalanan dengan kesal. "Sayang sekali kau keliru." Ia puas melihat dari kejauhan. "Aku tak ingin membungkuk pada tempat suci tua mana pun. wajah Otsu memerah. dan tanyanya. Kupikir aku akan menjumpaimu di jembatan. "Oh. "Hei. Sambil menertawakan kejadian itu. Seorang lagi tiba-tiba memandang Otsu. orang bilang. mereka melihat orang yang mengingatkan keduanya kepada Musashi-orang yang lewat jendela. samurai di perahu yang baru saja berangkat. jadi baik sekali mereka mengawani kita sampai jembatan." Walaupun kelihatan puas. Apa tampangku begitu tua dan pantas punya anak sebesar itu?" "Tidak. tapi akhirnya hanya saling pandang dengan sedih. selama Musashi setia kepadanya. ronin yang menunggang kuda. Kau bisa kena hukum suatu hari nanti." kata Otsu tenang. Aku mendekati sampai barisan pohon itu dan melihat orang itu baik-baik dari belakang. itu bukan jalan ke jembatan. tapi ternyata bukan dia. sesudah Jotaro menggabungkan diri dengan rombongan. Jotaro masih juga melengos dan melontarkan pandangan kasar kepada gadisgadis yang berarak-arak di belakang." Selamanya seperti itu saja. Pada waktu itu Jotaro datang berlari-lari mendapatkan mereka." "Tolol rasanya membungkuk macam itu. "Dia pikir tak boleh meninggalkan tempat ini tanpa ucapan selamat berpisah kepada dewi. tapi tak mungkin orang itu Musashi. musafir yang samar-samar kelihatan dalam joli. kesedihan karena perpisahan menjadi surut.

lalu ia mulai melangkah dengan hati-hati. tapi Otsu mencuri pandang kepadanya." "Tidak percaya. "Betul-betul kau mesti berdoa. Kaki itu kembali pada ukuran semula. Sampai di sana ia menghadap tempat suci. Tukang perahu itu menawarkan tamasya perahu ke pulau-pulau lepas pantai.property of: CROSSFiRE. Inc. dan dengan cara yang sangat kekanak-kanakan ia membungkuk dalam-dalam secepat kilat. Keistimewaan warung itu adalah siput laut yang dihidangkan mendidih bersama kerangnya. kalau begitu kenapa kau tidak menyatakan hormat?" "Sebab aku tak mau.." "Baiklah. hampir tak dapat ia percaya bahwa demam maupun bengkaknya akhirnya lenyap. kaget oleh kekasaran Jotaro. Musashi sedang sibuk menanggalkan perban bernanah dari kakinya. mereka semua melihat. sedikit saja ia merasa sakit. "Dia sebut kami perempuan sinting. Kincir Mainan MUSASHI duduk di beranda sempit sebuah warung makanan laut yang menghadap ke laut. "Jahat sekali!" ujar salah seorang gadis. "Apanya yang tolol. "Apa yang terjadi?" tanyanya "Kalian kelihatan kesal. "Tukang tambangan menanyakan Tuan. lalu ia menurunkan kakinya yang rawan itu ke pasir dan berjalanlah ia ke pesisir untuk membasuhnya. menunjukkan hormat kepada Dewi Matahari? Dia tak seperti dewa-dewa kecil yang dipuja orang di kota-kota itu. Dengan lambaian tangan diusirnya tukang perahu dan penyelam. ia nantikan gadis warung yang telah ia suruh membelikan kaus kulit dan sandal baru. ya?" "Diam. supaya tidak melihat kamu. Jotaro. Waktu itu Otsu sudah selesai sembahyang dan datang kembali ke dekat mereka." Salah seorang gadis mengungkapkan." "Kau tahu itu tidak baik. Waktu gadis itu kembali. tapi tak lagi seperti sebelumnya. Apa bukan Tuan yang punya rencana menyeberang ke Ominato?" "Ya. dikenakannya keduanya. netcafe." "Aku tak tahu!" "Nah. sedangkan kedua perempuan mencoba membujuknya membeli siput laut. kalian semua perempuan sinting!" "Aduh.. Sesudah menderita demikian hebat akibat luka itu. Sekalipun kulitnya menjadi putih dan mengerut. Jotaro berlari ke arah Gerbang Tamagushi. cuma karena kami menyuruhnya membungkuk kepada dewi. Jalannya masih sedikit pincang. Kembali di beranda. Dua perempuan penyelam dengan keranjang berisi kerang sorban yang baru saja ditangkap dan seorang tukang perahu berdiri dekat beranda. Saya kira ada perahu yang jalan teratur dari sini ke Tsu." Ebook by Kang Zusi ." tegur Otsu. aduh!" seru gadis-gadis itu serentak." "Buat apa?" "Apa kau sendiri tak pernah cerita? Waktu Musashi akan dibunuh pendeta-pendeta dari Hozoin itu kau mengangkat tanganmu dan berdoa sekeras-kerasnya! Kenapa di sini tak bisa kamu berdoa?" "Tapi. Orang tua yang memasak siput memandangnya. kami akan membalikkan badan." Mereka pun membelakanginya.

" "Tapi ingin rasanya berhenti. Kita bisa sampai rumah sebelum malam tiba. netcafe. Jelas ia magang pandai besi. Peralihan dari sakit menjadi sehat itu meningkatkan semangatnya. Begitu meninggalkan perahu. Ingin sekali ia terus berlari. Pipi anak itu hitam oleh jelaga dan ia membawa palu godam. yang menuju Owari. Si magang sekali lagi kehilangan penglihatan atas tuannya dan dengan cemas mencari-carinya di tengah orang banyak. membawa pentung pendek di pinggang. tapi ia masih mendapat tempat. "Sungguh iri saya pada Tuan." mohon anak itu. "Jelas Tuan tak punya kewajiban bayar utang akhir tahun.property of: CROSSFiRE. "Iwa!" serunya memanggil anak itu. "Diam!" "Apa tak bisa kita bermalam di Tsu?" "Masih terang sekarang ini. "Tunggu sebentar. Kalau bukan karena anak lelaki yang mengikutinya. Kalau ia pergi ke Matsuzaka." "Tinggal berapa hari lagi akhir tahun ini?" Orang tua itu tertawa." katanya. sampai akhirnya orang itu muncul dari sebuah toko mainan. kupecahkan tengkorakmu. ia turun di Tsu. ya? Lain kali. Inc. Perahu tambang sudah penuh. dan makin lama makin cepat.. dan perahu meluncur di permukaan Teluk Ise yang seperti kaca itu. °Ya.arna-warni. makin lama makin jauh. Di seberang teluk." "Jangan omong kosong!" Jalan masuk kota itu diapit barisan toko cindera mata dan penuh pencari pelanggan rumah penginapan. Perjalanan begini harusnya dinikmati." "Senang sekali jadi orang muda!" Musashi lari berderap ke pangkalan perahu tambang. "Memang ada. ia berpindah ke perahu yang lebih besar." "Ketinggalan alat yang jadi penghidupanmu. mungkin ia mendapat kesempatan bertemu dengan pemain pedang Mikogami Tenzen yang luar biasa itu. Tapi tidak. tapi yang menjadikannya jauh lebih bahagia adalah pengalaman spiritual yang telah didapatnya pagi itu. Hari ini tanggal dua puluh empat. Wajahnya gelap seperti Musashi dan bopeng-bopeng. di Ominato. Layar-layar menangkap angin." Ebook by Kang Zusi . Kelihatannya umurnya empat puluh dua atau empat puluh tiga tahun. terlalu cepat untuk itu. jalan raya Yamada. Pak!" "Ayolah jalan terus!" "Palu saya ketinggalan di perahu. Dan seperti direncanakannya. dan Matsuzaka. ia perhatikan ada seorang lelaki berjalan di depannya.. membawa sebuah kincir mainan yang bem. Pak. kalau kamu lupa lagi. seperti halnya kota-kota pelabuhan lain." "Pak. Orang itu mengenakan juga pedang pendek bersarung kulit. sedangkan rambutnya yang kemerahan digelung ke belakang." "Dan kukira itu bikin kamu bangga. Musashi berdiri berdesakan dengan penumpang-penumpang lain dan memandang tenang ke seberang air di sebelah kiri-ke arah pasar lama. Pentung itu berlilit rantai dan di ujung rantai terdapat peluru.. dan ada juga perahu-perahu ke Yokkaichi dan Kuwana. orang itu bisa disangka bromocorah. ya?" "Akan saya ambil sekarang." "Betul? Saya kira sudah lebih kemudian.

"Apa engkau yang tinggal di penginapan Yamada dan ingin bertarung denganku?" "Bagaimana Anda bisa dengar itu?" "Kau menyuruh orang ke rumah Arakida untuk mencariku. Saya calon prajurit. ha! Tapi katamu tadi sudah ketemu istriku?" "Ya. orang itu ingin memandang anaknya menyeringai girang waktu ia menyerahkan barang itu." gumam orang itu. Setiap kali ia hendak membelok. begitu?" kata Baiken. Belum lama saya ke rumah Anda di Ujii dan bertemu dengan istri Anda. tapi pertemuan yang kebetulan ini demikian menggodanya. Kedua orang itu melintasi kota puri. tapi begitu engkau melihatnya. ke Umehata. jangan sampai pecah! Simpan dalam kerahmu. dan katanya dengan nada ramah. tapi aku tidak tinggal di rumahnya." "Ha. "Oh. Agaknya jalan yang akan ditempuh Baiken pulang ke rumahnya. kemudian melambatkan jalan lagi sambil mendengarkan percakapan mereka. Menjawab ucapan Baiken yang merendahkan itu. ia bertanya. Dan Anda siapa?" "Nama saya Miyamoto Musashi. kemudian ke jalan gunung yang menuju Suzuka. Musashi menyimpulkan orang itu memang Baiken. Saya memang sudah banyak belajar dari istri Anda." "Nah. Ia mendekat. Pelajaran ini diperkuat oleh pengalaman-pengalamannya di Hozoin dan Puri Koyagyu. Kalau digabungkan dengan potongan-potongan percakapan yang kebetulan didengarnya. kecuali aku. Terpikir oleh Musashi. Rupanya nasib mempertemukan kita di sini. Dengan wajah yang tiba-tiba menyatakan paham. istri orang ini sudah berkesan amat sok menguasai. karena itu ia gunakan akal kecil untuk mendapat kepastian. Takuan telah mengajarkan kepadanya pelajaran pertama dalam hidup ini. Musashi cukup yakin bahwa dari apa yang dilihatnya ia sudah dapat mengukur kemampuan orang ini. Tentu saja aku dapat memperlihatkan lebih banyak lagi daripada yang diperlihatkan istriku." "Hadiah buat bayi Bapak?" '"Mm. begitu engkau sampai di jalan ke dunia lain. Sebetulnya Musashi bermaksud langsung pergi ke Kyoto. yaitu bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang kemungkinan lebih baik dari diri kita. itu mestinya cukup buatmu. tapi karena saya sudah beruntung bertemu dengan Anda. begitu. apakah Bapak ini Shishido Baiken. mereka membelok juga di depannya." Bagi Musashi. tapi orang ini sendiri benar-benar angkuh. begitu. ia ingin mengukur lawan itu dari segala segi. saya akan berterima kasih kalau Anda mau lebih banyak menerangkan senjata yang Anda pergunakan. Kupinjam tempat kerja di desa. Dan dia mendemonstrasikan satu jurus Yaegaki pada saya. Sesudah beberapa hari pergi melaksanakan tugas. namun ia tak bisa memperoleh kepastian. namun ia mengingatkan diri untuk tidak terburu-buru." Ebook by Kang Zusi . Dan hati-hati.property of: CROSSFiRE. netcafe. Inc. Sementara meletakkan landasan bagi dirinya. "Kembali ke Umehata?" Tapi jawaban orang itu kaku." "Oh. Sebelum ia membiarkan rasa bangga dan keyakinan mengkhianatinya dan menyebabkannya menyepelekan lawan. Jadinya seolah kedua orang itu menuntun arah jalan Musashi. Ia berpura-pura tidak memperhatikan mereka. "Bawa ini. Tak ada alasan buat mengikutiku. barangkali pandai besi itu Shishido Baiken." "Oh. sekalipun kadang-kadang hal itu bisa memberikan kesan pengecut atau tunduk kepada musuh. dengan sikap hormat yang sesuai dengan umurnya ia berkata. Itu pekerjaan yang tak bisa dilakukan orang lain." "Memang. Saya dengar Anda ahli rantai-peluru-sabit. dan berjalan di depan mereka sebentar. ia akan tetap bersikap ramah." °Waktu itu aku sedang melakukan tugas untuk Arakida. "Ya. kan?" "Ya. Kenapa?" "Dari tadi saya bertanya dalam hati.

Nak. dan sekarang Bapak pulang. Iwa berlari mendahului untuk menyampaikan kedatangan mereka. dan ketika mereka tiba di rumah itu." Dalam sekejap mata saja si bapak sudah tidak lagi menjadi contoh keangkuhan. dan mangkuk nasi di tikar jerami di depan Musashi." Musashi mendekat ke ambang pintu kamar perapian serta menerima mangkuk berisi minuman dan menghirupnya." Senja hari mereka sampai di kaki Gunung Suzuka.. "Mari saya tuangkan buat Anda. "Bapak pergi. ketika makan malam siap." "Tak usah. Asam rasanya." jawab perempuan itu cemberut. Inc. ini Bapak." "Kau boleh tinggal." Istri orang itu masuk dan meletakkan sup. kasih orang itu makan.. Ia menghangatkan sake di perapian dengan suaminya. Tapi aku bukan pengusaha penginapan. baik. supit." panggil Baiken. "Berapa umurmu?" "Dua puluh dua. katanya. itu dia. "Apa kau minum sake?" "Saya bukan tak suka sake. menggendong bayinya yang memegang kincir mainan. "Nanti dulu. apa yang barusan kaukatakan? Namamu. ia memperlihatkan senyum kebapakan." Mata Baiken yang semula mengembara ke jurusan lain kini berayun kembali kepada Musashi dan mengamat-amatinya kembali dari kepala sampai jari kaki. acar. tanpa memperhatikan Musashi. Desa kecil yang dipayungi awan merah itu tampak setenang danau. sudah ada." "Nah." "Terima kasih. "Kalau yang engkau inginkan itu bicara.property of: CROSSFiRE." Ia memandang Musashi sesaat. Selesai meneguk. menghangatkan diri di dekat api. dan bertanya. Suami-istri itu menghilang ke dalam dan duduk. "Lihat. kalau kau bersedia tidur di bengkel bersama Iwa." celotehnya sambil mengangkat sebelah tangan dan menari-narikan jarijarinya. Bermalam. dan kami tak punya tilam ekstra. "Ini. ia kembalikan mangkuk itu kepada Baiken. minum semangkuk. Apa kau punya rencana menginap di penginapan dekat perbatasan?" "Itulah yang tadinya saya maksudkan. la bahkan tidak melepas sandalnya. Ebook by Kang Zusi . siapa namamu tadi?" "Miyamoto Musashi" "Bagaimana engkau menuliskan Musashi?" "Ditulis sama dengan Takezo. Musashi duduk di ruang bengkel yang berlantai tanah. Lihat. Akhirnya. lihat. istri Baiken menanti di bawah ujung atap. Baiken ingat akan tamunya. "Baru kemarin dia dari sini. "Oh ya." "Asal dari mana?" "Mimasaka." katanya kepada istrinya. hanya bicara tentang bayi dan soal-soal rumah tangga. "Orang muda. netcafe. kecuali kalau Anda berkenan menerima saya menginap semalam lagi. lihat!" dekut perempuan itu.

Kami ada di garis depan waktu itu. karena rendahnya ambang pintu. menunggu sembuhnya lukaluka. "Makanlah!" katanya tanpa basa-basi. entah di mana." kata Baiken dan cepat menangkap pergelangan Musashi. Sekarang!" "Kenapa mesti minum begitu banyak malam ini?" "Percakapan kami menarik." Mendengar ini.property of: CROSSFiRE. tidak." "Apakah Anda pernah di kamp Ukita juga?" "Aku tinggal di Yasugawa waktu itu. "Mestinya kita sudah berjumpa di pertempuran itu. Inc." "Lalu apa yang terjadi dengan temanmu itu?" "Saya tak pernah lihat dia lagi sejak itu. dan aku pergi perang dengan rombongan samurai dari sana. aku tahu banyak hal. netcafe. "Ini bukan waktu makan. "Oh. begitu? Kalau begitu. "Tak ada lagi yang lain. "Tidak. "Aku minta lagi." "Oh. "Artinya namamu Takezo waktu engkau muda?" "Ya. "Bagaimana Anda bisa tahu?" tanyanya pelan. "Terima kasih. dengan anak lain seumurmu?" Kini Musashi yang mendapat giliran terkejut. Pak?" tanya anak itu." jawab Musashi. pinjam sebotol sake." katanya sambil memungut supitnya. Musashi merasa lebih senang pada orang itu." Musashi sudah cukup minum. "Panas rasanya sekarang. sake itu!" Sambil menuangkan semangkuk lagi untuk Musashi. Baiken menanti beberapa tarikan napas." Baiken memberitahu istrinya bahwa sake mereka habis. Itulah penghabisan kali saya melihatnya. Aku di Sekigahara juga waktu itu." "Sejak pertempuran itu?" "Tidak tepat sejak itu. Baiken sendiri tiba-tiba kelihatan lebih akrab." "Waktu umurmu sekitar itu. "Kalau Anda tidak keberatan. Istri Baiken sudah di tempat tidur dengan bayinya." "Tapi sake tak ada lagi. Kami tinggal sementara waktu di sebuah rumah di Ibuki. Ia membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya sambil membungkuk. "Pergi ke rumah Onosaku. "Ada apa. saya akan makan. apa kebetulan engkau tidak berada di pertempuran Sekigahara. ia bertanya biasa saja." "Apa engkau masih bernama begitu waktu umur sekitar tujuh belas?" "Ya. barangkali kita pernah bertemu. seolah pada diri sendiri. kemudian katanya." jawabnya. tunggu. dan berpisah di situ." kata pandai besi itu." "Iwa!" panggil Baiken lewat papan rapuh di sudut bengkel. Ebook by Kang Zusi . "Kupikir aku pernah melihatmu. Aku perlu sake lagi.

Aku sudah mintakan sake." Kaki sang istri sudah enak dan hangat sekarang. "Selimutnya sudah tua. "Pedang dapat dipergunakan dengan satu tangan. selama kau mau. "Bangun!" seru Baiken kepada istrinya. Dia bilang mau tidur sampai siang." "Ah. lalu bicara panjang-lebar tentang rantai-peluru-sabit serta cara-cara penggunaannya yang terbaik dalam pertempuran yang sebenar-benarnya." Sambil mengubah kedudukan. sebelum menyerang langsung. ada air panas di atas api buat bikin teh. Musashi sendiri sudah jauh melewati batas kemampuannya dan sudah lebih mabuk dari yang pernah dialaminya." Masih dalam keadaan duduk." "Kalau sake itu buat saya. "Biar tamu kita tidur di sini. Ia sudah tak sabar lagi untuk melepaskan kaus kulit dan Ebook by Kang Zusi . tongkat kayu. Kalau kau haus." Baiken terus bercerita pada Musashi tentang cara-cara melemparkan peluru. Bangun pasti tak menyenangkan. Ia berkata. lebih baik tak usah. "Kaubilang dia dapat tidur di bengkel dengan Iwa. netcafe. tapi api di ada dekatmu. Kerjakan yang kusuruh!" Perempuan itu bangkit dengan gusar dan berangkat ke kamar belakang. "Jangan membantah. Baiken menuangkannya sebagian ke guci pemanas dan meletakkannya di atas api. Kau dan aku tidur di kamar belakang. ayolah. Baiken mengambil bayinya yang tidur." Musashi tak dapat menjawab." Perempuan itu tak beranjak dari tempatnya. Baiken sudah cukup banyak minum. "Katamu kau ingin dengar lebih banyak tentang rantai-peluru-sabit. "dan barangkali capek karena perjalanan.. Tidur yang enak.. Kalau musuh mendatangi kita. Tak peduli macam apa senjata itu—pedang. Tidurlah. ada kemungkinan merebut senjata musuh dengan rantai. Sementara ia mendengarkan. ia selalu mendengarkan dengan seluruh tubuhnya." Ia sendiri pergi ke kamar belakang. Biar dia tidur sekarang. kemurungan wajahnya sudah hilang. kemudian kita hembalangkan bola ke mukanya. "Suami saya juga sudah mabuk sekali. Akan kuceritakan semuanya sekarang. ia meneruskan. jadi minumlah sedikit lagi. kita sabet senjatanya dengan rantai.. tentang kemungkinan menciptakan khayal penglihatan orang dengan mengubah gerakan rantai dan sabit. Ketika perempuan itu datang kembali untuk mengganti bantal. Rantai. "Tamu kita sudah capek..property of: CROSSFiRE. Sabit. senjata itu tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk mempertahankan diri. atau apa pun. dan katanya. tapi mari minum sedikit selagi bicara." desak Baiken. karena itu tidurlah yang enak. Itu satu cara.. "Bangun!" seru Baiken lebih keras. dan musuh tak berpedang lagi. kita pegang sabit dengan tangan kiri dan bola dengan tangan kanan. Dua belah tangan. "Berlainan dengan pedang. Rasanya saya tak bisa minum lagi. disentakkan tajam. Mendengar orang berbicara seperti ini." katanya. benih-benih pikiran lain terbentuk dalam kepalanya. Siapkan tempat tidur di sana." "Terima kasih. lembing. Musashi betul-betul terpesona. tentang miripnya rantai itu dengan ular. "Lihat. "Kalau ada jarak antara kita dan musuh. Besok saya sediakan sarapan yang enak dan panas. kita hadapi dia dengan mata sabit. Inc. tentang sepuluh atau lebih cerita turun-temurun mengenai senjata ini. Ia ingin menyerap segala seluk-beluknya. juga tentang semua cara rahasia dalam menggunakan senjata itu. hingga pertahanan musuh akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Juga." Ketika Iwa kembali membawa sake. dan mendesak Musashi minum lagi." gumamnya. sedangkan manusia punya dua tangan. Rantai dilontarkan dengan terampil." Botol sake yang kedua pun kosong. Baiken mendemonstrasikan satu jurus.

Pandangan matanya berhenti pada kincir mainan yang tergantung pada langit-langit di atasnya.. Dan sebuah tembok tanah yang dipayungi dahandahan yang menggelap ketika malam mendatang. lalu ia menyusuri tanggul batu yang panjang. "Pergi! Pulang sana ke rumahmu!" Suara itu suara Munisai yang menakutkan. seperti kembang buah pir. pantulan bara di perapian. Sake itu telah hilang pengaruhnya. dan menaikkan selimut. "Ada apa malam ini?" pikirnya.. Dengan rasa nostalgia samar-samar ia terus berbaring setengah tidur. dan bikin ibunya menangis juga.. semakin ketat ibunya memeluknya.." Kepala Musashi terasa seperti dilingkari ikat baja yang ketat.property of: CROSSFiRE. Ia merasa juga bau ibu dan anak itu masih menempel pada seprai. Ia sendiri bayi yang digendong seorang perempuan berkulit kuning berumur sekitar tiga puluh tahun... terpikir olehnya. Musashi membuka mata. Ia membuka mata dan memandang ke langit-langit. di tengah bunga mawar yang sedang berkembang. rasa kantuk sudah menguasainya. "Selamat malam.. Kenapakah pandai besi yang semula tampak hampir tidak sopan itu tiba-tiba jadi bersahabat dan memintakan sake lagi? Kenapakah istrinya yang tak enak sikapnya itu menjadi manis dan tiba-tiba mau membantu? Kenapa mereka memberikan tempat tidur yang hangat ini? Semua itu seperti tak terjelaskan." Sambil mengayunayunkannya dalam gendongan. Cuma dahinya yang tetap terbuka. Tampak sebuah tembok. jubahnya. ibunya menyanyi lembut. Dan si bayi memandang kagum air mata itu. Ibu Musashi bangkit pelan-pelan. tapi tubuhnya sendiri lebih panas lagi akibat minuman itu. langkah kakinya yang ringan dan lengket menyeberang tatami. tapi ia tak dapat tidak memikirkan Baiken. dan di situ ia tergeletak melolong sekuat paru-parunya. Dan ia mendengar kata-kata nyanyian menidurkan bayi. atau lebih tepat dikatakan melihat sebagian mimpi yang terus berulang-ulang. diterangi bunga-bunga api yang sekali-sekali melenting dari perapian. ". Dan itu suatu perintah.. pelipisnya berdentam-dentam sakit. Sering ia memikirkan ibunya. Karena tak dapat bicara. Bayi tidur itu manis." katanya. sebuah tembok batu panjang yang ditumbuhi tumbuhan menjalar. Air mata berkilauan di pipi ibunya. Cahaya lampu bersirur dari rumah itu. netcafe. Ia bertanya pada diri sendiri. Di dada ibunya ia menengadah ke wajah putih itu. barangkali ibunya seperti ibu itu. Segera kemudian terdengar tarikan napasnya yang dalam dan teratur. Tapi semakin bayi itu bertingkah. Ia menutup mata. tapi tak dapat menggambarkan wajahnya. Apabila ia melihat ibu lain. seorang perempuan-ibunyakah? atau perempuan lain lagi? mengganggu tidurnya dan membangunkannya lagi. tapi sebelum Musashi dapat memecahkan misteri itu. Kenangan masa kecil melompat-lompat dalam otaknya seperti seekor serangga. Pipinya yang basah disapukan ke pipi bayi itu. Tidurlah. Musashi tak dapat mengingat wajah ibunya. kenapa minum jauh lebih banyak dari biasanya. menarik napas dalam. Wajahnya yang tirus terawat baik tampak sedikit kebiruan. Serasa ia kembali berada di Mimasaka. bayi itu menggeliat dalam pelukan ibunya. mendengarkan lagu menidurkan bayi yang dinyanyikan istri pandai besi dalam dialek Ise. Perasaannya dahsyat. kelihatannya seperti mencoba menuliskan sesuatu dengan huruf-huruf cahaya. Istri Baiken mengundurkan diri diam-diam ke kamar belakang. atau ibumu?" Munisai memekik dari tepi sungai." Ia menyelam ke dalam selimut yang masih hangat. Musashi bermimpi. Ibunya tenggelam ke dasar sungai Bayinya dilontarkan ke tepi yang berkerikil.. "kau anak ayahmu. yang berasal dari dalam rumah. Ketika ia mulai tertidur lagi. Sambil menangis ia berlari masuk sungai dan berjalan terus ke tengah. ibunya. "Takezo. "Terima kasih banvak.. Ebook by Kang Zusi . kemudian diam-diam meniup lilin. mencoba mengatakan bahaya yang menghadang. Inc. Istri Baiken berdiri di pintu mengawasinya.. dan katanya. tidurlah. menatap kincir mainan itu. Di tengah hitamnya jelaga terlihat cahaya kemerahan. nakal. Perempuan itu tentunya ibunya.

Mana pun yang dia tempuh. Kejar dia!" "Lewat jalan mana. Kemudian. Orang yang memegang lembing menyingkapkan seprai. Dengan sabit di belakang tubuhnya. Baiken melontarkan pandangan bingung ke kamar. Musashi tahu. kenapa kau kusuruh jaga di sini? Dia lari! Pasti dia lewat sini tadi. Langkah-langkah kaki terdengar lirih. tapi dari mana? "Apa ini sarang penyamun?" begitu mula-mula ia bertanya pada diri sendiri. Terdengar bunyi pintu yang ditutupkan pelan-pelan. kulit dan tulangnya dapat merasakan bahwa seseorang atau sesuatu sedang mengancam hidupnya tahu bahwa apa pun bentuknya. Tapi.. dan angin tajam bertiup ke dalam. Kalau mereka pencuri betul. dia pasti belum jauh. "Beres. Segera seorang lagi berseru marah. apakah akan berbaring menunggu datangnya bahaya. dan terpandang olehnya kincir mainan berputar cepat. orang ketiga melompat masuk. ketika Musashi pelan-pelan menggulung tilam menjadi bentuk tubuh manusia. Musashi!" Tak ada jawaban atau gerakan datang dari tilam. tentunya mereka tahu ia tak punya apa-apa.property of: CROSSFiRE. seperti gumpalan asap. Diam-diam Musashi meletakkan kembali kepalanya ke bantal dan mencoba menduga apa yang sedang terjadi di rumah itu. dan sarafnya yang peka betul-betul tegang. Walaupun tak dapat menggambarkan sebabnya. "Dia tak ada. ancaman itu sangat dekat. Kincir mainan mulai berputar pelan-pelan. Ia ulurkan tangannya ke atas ambang pintu bengkel untuk mencari sandalnya. Kedua orang itu menatap seprai tempat tidur dan mendengarkan napas orang yang sedang tidur. dan mereka mempersamakan napas. Pintu bengkel yang menghadap jalan setapak yang menuju ke belakang rumah terbuka sekitar tiga kali lebarnva. Seorang lagi yang membawa lembing dan bergayut erat pada dinding mengendap ke bagian kaki tempat tidur. Pak?" tanya satu suara rendah bergairah." "Lari? Bagaimana dia bisa lari?" "Pakai tanya lagi? Keledai kepala besar!" Baiken kembali masuk rumah dan berjalan mondar-mandir dengan bingung. menurut Bapak?" Ebook by Kang Zusi . goblok? Menurutmu. "Cuma ada dua jalan yang mungkin dia ambil: ke jalan raya Tsu. Baiken berseru. ke bagian kaki tempat tidur. ataukah meloloskan diri sebelum tiba waktunya. Tapi tidak. "Ada pintu terbuka!" pekiknya. Orang itu Baiken sendiri yang memegang sabit dengan tangan kiri dan peluru dengan tangan kanan. Musashi merasa pasti. "Dia keluar dari sini!" "Apa kerja orang-orang tolol itu!" jerit Baiken sambil berlari ke luar. Kincir mainan itu mulai berputar lagi. dan kemudian sandal yang lain ke bawah seprai. sedangkan yang di bagian kaki melompat masuk bengkel dan membidikkan lembingnya ke benda terbaring itu. Tak ada yang aneh di situ. "Apa maksudmu. Ketiga mata orang itu bertemu. Inc. Ia selipkan mula-mula sebelah sandal. belum pernah ia melihat Baiken sebelumnya. netcafe. memang ia dibuat supaya berputar. tapi itu kalau ada angin! Maka Musashi bangun dan menajamkan pendengaran baik-baik." serunya. "Apa dia dendam padaku?" Itu pun rasanya tidak tepat.. Orang yang berada di bagian kepala tempat tidur menendang bantal ke udara. Ia laksana seekor serangga di bawah selembar daun. Dalam cahava api ia berputar seperti bunga yang terkena sihir. Di bawah tirai pendek di pintu muncul sepasang mata milik orang yang sedang merangkak masuk dengan pedang terhunus. "Bangun. baik di dalam maupun di luar rumah. Kincir mainan berhenti berputar. Baiken menatap berang. hidupnva dalam bahaya. Seluruh tubuhnya sudah terbiasa dengan perubahan sekecil apa pun di sekitarnya. Dari bawah ujung atap dan bayangan bermunculan sosok-sosok tubuh hitam. yang mencoba meramalkan cuaca di atasmya. Ia harus memutuskan dengan cepat.

kapan saja ada kesempatan. "Kalau kau temukan dia tembakkan bedil. Beberapa orang memungut bantal yang tadi ditendang dan meletakkannya di bawah kepalanya." "Tak usah kuatir soal itu. tapi masih punya gigi yang siap dipakai menggigit orang baik-baik. Sambil mencoba menenangkan bayinya. dan ia lakukan itu dengan cepat." Orang-orang yang dimaksud itu meminta maaf dengan wajah malu. netcafe. Pak. tapi kemudian dia mengatakan pernah di Sekigahara." Untuk mencoba melampiaskan kemurkaannya. Karena desakan waktu yang sedang mengalami perubahan. Begitu mata Baiken tertutup. tapi sekitar satu jam kemudian mereka kembali satu-satu dengan wajah murung. Mereka mengira akan mendapat makian pemimpinnya. Berbaringlah dan tidurlah. berceloteh antara sesamanya dengan kesal. Mestinya aku dapat menanganinya sendiri." Ia nyalakan api itu kembali dan ia masukkan lagi ranting-ranting kayu api. Seorang di antaranya yang membawa bedil tampak seperti pemburu lainnya. Ketika mereka mencoba menggembirakan hatinya. kemurkaan yang memenuhi dirinya diganti oleh dengkur keras. supaya mau pergi tidur. Melihat umurnya dan macamnya. Seorang dari orang-orang itu dengan sukarela men-datangkan sake dari rumahnya. "Bikin aku gila. Bapak sudah lakukan semua yang mungkin. Semula tak pernah terpikir olehku." "Apa ronin itu betul-betul anak yang sembunyi di rumah Oko empat tahun yang lalu?" "Mestinya begitu. Mereka semua orang-orang jembel—anak buah bromocorah seperti Tsujikaze Temma dari Ibuki dan Tsujikaze Kohei dari Yasugama. mereka menjadi petani. tapi tadinya kupikir aku mesti hati-hati. "Tak ada gunanya menangisinya sekarang. Segera kemudian minuman itu sudah panas." "Bajingan kecil busuk. Mereka mencoba membuat Baiken mabuk. dan mangkuk-mangkuk diedarkan. Baiken berseru. atau pemburu. sedangkan Tsujikaze Temma itu bukan pejuang kecil. Jisim saudarakulah yang membawanya kemari. istri Baiken mengingatkan suaminya bahwa sake tak ada lagi. "Aku ke Suzuka." "Lebih baik Bapak tidak memikirkannya lagi malam ini. Inc. Yang terdengar di rumah itu kini hanya bunyi penghuni yang tidur dan gerekan tikus ladang. aku yakin. yang membawa pedang pendek barangkali pembelah kayu.property of: CROSSFiRE." Mereka berangkat cepat-cepat. Kamu tutup jalan bawah itu!" Orang-orang yang ada di dalam bergabung dengan orang-orang yang ada di luar. Bisa juga mereka itu sekadar begundal di anak tangga terbawah dalam masyarakat bebas. Orang-orang saling mengangguk dan mengundurkan diri. yang sekarang menyebut dirinya Shishido Baiken. ia ambil sepotong kayu arang dan ia patahkan kayu itu dengan lututnya. semuanya bersenjata. dan namanya waktu itu Takezo. Pasti dialah itu. dan semua kumpul. Akhirnya ia berkata. "Ambil sake! Aku mau minum. bubar ke tengah kabut pagi buta. Baiken berkata. tapi Baiken hanya duduk memberengut karena pahitnya sake. tapi sampai di rumah mereka dapati Baiken duduk di lantai bengkel dengan mata tertunduk tanpa cahaya. Ebook by Kang Zusi . Orang-orang di luar inilah tadi yang gagal dalam tugas. Ketika berpisah. Percakapan hanya terjadi di sana-sini dan kedengaran murung. tidak menegur siapa pun atas kegagalan itu. menjadi rombongan campuran terdiri atas sekitar sepuluh orang. tukang. memang dia yang membunuh saudaraku." "Dia punya jimat! Pasti. "Mestinya tak usah aku membesarkan soal dengan mengerahkan begitu banyak bantuan dari kalian." Mereka semua membantunya ke tempat tidur. Dia sudah membunuh saudaraku.

Jalan yang aman. Mestikah Musashi membunuhnya? Kalau Musashi membiarkannya hidup. Tubuh manusia yang seperti asap itu tiba-tiba seperti muncul dari dinding. ia punya alasan untuk melakukannya. bagian 13 Kuda Terbang OTSU dan Jotaro tiba di perbatasan larut malam. kemudian melanjutkan perjalanan lagi sebelum kabut pagi menghilang. Lagi pula. Ia merasa sedikit iri berdiri di dekat keluarga yang sedang tidur ini. Itulah saat indah ketika semua benda bernyawa. Tidurlah yang nyenyak. ia akan terus mencari kesempatan melaksanakan balas dendam. merasa puas dan bangga karena hidup di dunia ini. kalau ia membunuh orang itu. "Saya minta maaf telah mengganggu kalian. netcafe. "Bukan main indahnya!" ujar Otsu. lagi pula waktu itu darahnya masih mendidih oleh demam pertempuran. Kincir mainan itu tidur juga. dan ia undur mengagumi hasil karyanya. Jotaro berkata senang. Sesudah menyelinap dari bawah seprai tadi ia membuka pintu luar dan mencampurkan diri dengan kayu api. Suatu kemenangan telak. Ketika Musashi membunuh Tsujikaze Temma dulu. Tak ada orang di depan kita. Tapi persoalan yang masih harus dijawab adalah. Sekiranya tak ada kertas pembungkus itu. sebelum akhirnya menemukan pemecahan yang kelihatannya paling tepat. Praktis ia sudah memenangkan pertarungan dengan Baiken. Ia bahkan merasa enggan meninggalkan tempat itu. menginap di sebuah rumah penginapan. kincir itu bisa terbangun pagi harinya dan berputar kencang menyaksikan kepala tuannya terjatuh dari bantal. "Kita berdua yang pertama di jalan ini. siapa tahu. Musashi muncul dari dinding. berpikir. Musashi berpikir keras sejenak. Di atasnya tergantung sebuah payung dan mantel-mantel jerami yang berat. adalah menyingkirkannya sekarang juga. karena dengkur Baiken bukan main kerasnya." Pelan-pelan ia membuka pintu luar dan pergi. Keadaan itu terasa lucu olehnya. dan ia menyeringai. Namun kini tak ada satu pun manfaat yang bisa ia peroleh dari mengambil nyawa pandai besi itu. pikir Musashi. Ia berhenti melihat bulatan emas besar itu. bahkan juga tumbuhan dan binatang. salah satu mantel hujan itu bergerak. Dalam hatinya ia berkata pada mereka. berdiri setumpuk kayu bakar." Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. Amandelnya bengkak. di samping tungku tanah besar. Inc. pelan dan lirih mengingsut ke dinding. Kini ia berjalan pelan-pelan melintasi bengkel dan memandang Baiken. Ia pergi ke dinding dekat kaki Baiken dan mengambil salah satu senjata pandai besi itu. ia mengamati wajah orang yang sedang tidur itu. Ia tampak penuh harapan dan keriangan. Dari Gunung Fudesute mereka berjalan ke Yonkenjaya. Kemudian dibungkuskannya secarik kertas lembap di sekitar mata sabit itu melintang di leher Baiken. Namun orang yang terbaring itu saudara Tsujikaze Temma dan sudah mencoba membunuhnya untuk menyenang-kan roh saudaranya yang telah mati—suatu sentimen yang mengagumkan untuk seorang bromocorah. Malam itu berkali-kali Musashi memikirkan ayah dan ibunya sendiri. Musashi tak satu langkah pun meninggalkan rumah itu. Di situ untuk pertama kali mereka merasakan hangatnya matahari terbit yang menyinari punggung. Di sudut gang yang menghubungkan ruang kerja dengan dapur. dan samar-samar tercium olehnya bau manis susu ibu. Sambil mengeluarkan mata sabit dari lekuknya. anaknya yang masih kecil nantinya akan menghabiskan hidupnya untuk berusaha membalas dendam kepada pembunuh ayahnya. apakah orang itu pantas dibunuh. Ia berdiri di sana sejenak. dan menutup dirinya dengan mantel hujan. sampai akhirnya tergantung pada paku. demikian pikir Musashi. Di dalam bayangan antara tungku dan dinding. tidak sangsi lagi.

"Kedengarannya bangga betul kamu. dan sambil mengayun-ayunkan bambu itu dengan khidmat ia berseru-seru dengan nada sama. Tertangkap basah sedang bermain seperti anak-anak. "Tak boleh kamu lari dari tuanmu. kan Kakak yang main tadi. Kalau begitu pendapatmu. dan cuma karena sudah gelap dan kita mesti buru-buru. "Semua membungkuk! Semua membungkuk kepada Yang Dipertuan!" Seorang lelaki memandang bertanya-tanya dari bawah ujung atap warung teh. Kita belum lagi tiga kilometer. Lihat itu! Orang di warung teh itu memandang kita terus." "Ah. Kalau kubiarkan bisa-bisa kamu makan lima kali sehari. Apa artinya?" "Oh. kenapa tidak kamu umpamakan dirimu seorang samurai besar yang sedang menunggang kuda dan memeriksa tanahmu yang luas? Aku akan jadi pembantumu. kan?" "Barangkali. itu lebih baik daripada berjalan di belakang joli atau kuda." "Mari kita kembali ke sana. Kalau lari." protes Jotaro." Ebook by Kang Zusi . Apa tak bisa? Bisa." "Buat apa?" "Aku lapar. aku akan jalan sepanjang hari im." "Mungkin. Pasti dikiranya kita sinting." "Jangan. banyak artinya." "Kalau begitu. Kita dapat menyewanya." "Kalau tak ada orang lain di jalan yang kujalani." Otsu memungut sebatang bambu. "Hari ini giliranku naik kuda. tapi kamu kan belum capek? Menyewa kuda itu membuang-buang uang saja." "Kalau begitu. bukan. terpaksa aku membunuhmu!" "Aku tak mau main lagi." "Tapi aku ingin naik kuda." "Anak-anak tak perlu naik kuda. "Oh. aku merasa jalan itu milikku. Senang rasanya menjadi orang pertama. tapi kamu yang mulai." "Apa menurutmu jalan ini lalu jadi lebih pendek?" "Oh. jangan begitu. Kakak bohong tadi bilang aku boleh naik kuda!" "Aku tidak bohong." "Sudah lapar?" "Apa tak bisa kita makan separuh kue nasi yang buat makan siang?" "Sabar. netcafe. wajah Otsu memerah dan ia berjalan terus secepat-cepatnya. ah!" "Lho. Tapi Kakak tak pernah lihat aku naik joli atau menaiki kuda seperti Kakak. bukan aku?" "Ya.property of: CROSSFiRE. Inc." "Kulihat ada kuda terikat di warung teh itu. tapi hari ini saja. sekarang masih terlalu pagi." "Memang betul. Mesti Kakak akui. itu kan cuma tadi malam. biar cuma pertama di jalan.

tak bakal aku naik kuda. "Hei. "Kalau begitu. kalau kau mau." "Bandel!" "Mana kudanya!" "Oh. "Pinjamkan dia untuk aku." Ketika mereka akan berangkat. Aku tak akan capek. mari kita sewa kuda sekarang. kalau tak ada tukang kuda ia dapat membayar uang di muka dan mengirimkan kuda pulang kembali dari Minakuchi bersama musafir yang pergi ke sini. Maka aku kuatir tidak mendapat kehormatan meminjamkannya kepada Tuan. Ayolah!" Karena merasa bahwa kalau terus begitu mereka akan kehilangan waktu yang sudah mereka hemat dengan berangkat pagi-pagi. Adapun warung yang baru mereka lewati itulah satu-satunya yang tampak oleh mereka. ya?" teriak orang itu sambil mengambil ranting menyala dari api di bawah tungku dan melemparkannya kepada anak itu. Sikap Otsu yang memohon itu melunakkan si orang tua." Otsu memihak Jotaro dan menyarankan.property of: CROSSFiRE. Ayolah. netcafe. jadi aku tak akan mendapat kehormatan menyewanya?" "Lancang kamu. bisa kaubawa dia ke Minakuchi. dan ia mengambil keputusan bahwa ia dapat mempercayai Otsu. Sambil meringkik membelah udara. Selagi ia melepaskan tali dan menuntun kuda itu ke pekarangan samping. Kalau mesti tunggu sampai lelah. biar kita jalan seratus hari atau seribu lima ratus kilo." Dan untuk mengimbangi nada bicara orang itu." "Kenapa tak bisa?" "Tak ada tukang yang membawanya. "Kakak kan tahu betul. Minta disiapkan sekarang juga. Begitu Jotaro merasa Otsu mengangguk setuju. atau juga ke Kusatsu. kuda itu mundur . Jotaro mulai lagi." jawab Jotaro kurang ajar. warungwarung itu terletak di berbagai tempat yang berlainan di lereng Gunung Fudesute dan Kutsutake. Jotaro berlari menjumpai pemilik warung. bisa diteruskan sampai Kusatsu. Inc. seperti ditunjukkan oleh nama Yonkenjaya itu. aku tak pernah capek. Ia melompat keluar dari warung sambil memuntahkan sumpah serapah dan berlari mendapatkan binatang itu. "Kupikir turunan liar dewa badai." "Kamu ini dewa badainya. Sambil menyerahkan tali kepada Otsu. "Oh. Bajingan!" jerit si pemilik. Cuma permintaanku. Walaupun di sekitar itu terdapat empat warung teh. kau pikir kuda itu buat disewakan? Kuda itu tidak disewakan. maka Otsu menyetujui. ia berlari kembali ke warung teh ia memang tidak menantikan anggukan Otsu. siapa di situ? Aku mau kuda! Keluarkan satu buatku!" Orang tua itu sedang menurunkan daun jendela. Jotaro menyahut.ian membenturkan punggungnya ke tiang. kemudian berhenti tiba-tiba. Ranting iru tidak mengenai Jotaro." "Tidak bisa. Ini lebih aman daripada kalau jalan ramai. Teriakan bernafsu anak itu mengejutkannya dan membangunkannya. Berapa sampai Minakuchi? Kalau tak begitu mahal. ujar Jotaro marah. "Apa saja ini! Buat apa memekik sekeras itu!" "Aku perlu kuda. "Apa pendapat Kakak tentang dia? Dia perlakukan aku Ebook by Kang Zusi . Dengan muka masam ia menggerutu. tapi menimpa kuda tua yang tertambat di bawah ujung atap. Tampangmu gila macam guntur. mumpung tak ada orang di depan kita. serunya. kirim dia kembali." "Tapi kamu ini anak siapa?" "Aku anak ibuku dan ayahku. karanva.

Jotaro memandang megah ke sekitar. Di tengah kabut putih mengasap itu terbentuk bayangan orang. sebelah sana perbatasan." "Apa menurut Kakak. dan dengan gerakan cepat merebut tali kekang dari tangan Otsu. "Dudukmu belum benar. menoleh kepada Otsu. Aku sedang mengejar orang yang namanya Miyamoto Musashi." "Jangan kuatir. hingga mereka dapat mengira-ngirakan penampilannya dan umurnya. jadi aku mesti jalan cepat kalau mau berhasil mengejar dia di Yasugawa. tapi kaki dan tangannya gemetar. lalu keduanya berangkat. Ingin sekali ia bertanya. wajahnya putih seperti mayat. kabut mengental menjadi bunga es pada cabang-cabang dan ranting-ranting pohon. "Hei. "Turun!" perintahnya sambil menatap Jotaro. Ebook by Kang Zusi . Ia masih mencengkeram bulu tengkuk kuda itu. netcafe." "Baiklah. Bibirnya menggeletar. Orang itu cepat mendekat ke samping Otsu. Hawa setani mengitari tubuhnya. tapi segera kemudian orang itu sudah cukup dekat. tapi leher orang itu berkelip-kelip seperti ular karena keringat. perbatasan Omi. "Siapa itu kira-kira?" tanya Jotaro. kuda tua lemah kaki ini bisa mengalahkan aku?" "Kamu kan belum bisa naik kuda?" "Siapa bilang tak bisa?" "Lalu macam apa pula ini.. diiringi langkah kaki berlari. "Perempuan!" "Ya?" kata Otsu lirih. katanya.." Sambil memegang tali kekang dengan satu tangan. tulang rusuknya mengembang dan mengempis. Sambil mencekal bulu tengkuknya. Barangkali dia lewat beberapa jam lalu. Dia lewat jalan ini sebelum fajar tadi." Orang itu bicara sangat cepat. kemudian warnanya. "Namaku Shishido Baiken. Tapi ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. naik dari belakang?" "Ah. Belum lagi seratus langkah. berhenti. Soal itu beres. bukan kamu!" Orang itu mendengus.property of: CROSSFiRE. tapi begitu dia lihat wajah manis. Dia bisa marah dan melemparkanmu. dong. Berikan kuda ini padaku. seakan bumi di bawahnya menguras seluruh darah tubuhnya. Semula mereka hanya dapat menangkap garis bentuknya saja. Mereka menghentikan kuda itu dan menoleh. Kudanya ini mendengarkan. Kuda itu berlari kecil mundur. ke dunia di bawahnya." "Hati-hati kamu. seakan-akan orang itu diikuti angin pusaran yang sedang mengamuk. Inc." katanya. mana boleh begitu! Aku yang menyewa kuda ini.. tapi kamu menyesal nanti. "Apa kita yang dipanggilnya?" tanya Otsu. mereka sudah mendengar pekik keras dari tengah kabut di belakang mereka. Otsu tegak diam. tolong dong!" "Brengsek!" Otsu memegang ketiak Jotaro dan menaikkannya ke punggung binatang itu. Aku tinggal di Desa Ujii di pegunungan. "Kakak jalan di depan. untuk memastikan apa yang didengarnya itu benar. Dalam udara dingin itu. Otsu melambaikan ucapan selamat berpisah kepada pemilik kuda dengan tangan satunya. kalau bicara tentang orang tua itu. seperti keledai. "Kamu bilang Musashi?" ucap Jotaro. Jotaro memekik.

kalian cuma seorang perempuan dan anak yang jalan sendiri. justru pada waktu ia tahu bahwa setidak-tidaknya mereka berada di jalan yang sama. Otsu kini tidak takut pada apa pun dan mengayunkan pedang itu ke samping." ulang Jotaro. panjangnya hampir tiga kaki. Tak jadi soal baginya. Baja berkilau cemerlang yang terulur dari tangan Otsu menggaruk tanah dan berhenti di belakang gadis itu. sambil berdiri pada kaki belakangnya. kujelaskan duduk perkaranya. satu-satunya cara bertahan yang teringat olehnya adalah meludahi muka Baiken. dan itulah yang dilakukannya berulang-ulang." "Apa maksudmu tak mau?" "Ini kudaku. Tapi memang tak ada soal menyerah dan membiarkan orang itu mengambil kuda. "Kamu tidak boleh berbuat begitu!" ia memukul dada Baiken dengan tenaga yang bahkan ia sendiri pun tak menduganya. Tapi karena bingung ia lupa sama sekali akan senjata itu. ia sadar bahwa pedang mengenai pantat kuda. Berhadapan dengan musuh yang lebih kuat daripada dirinya. Karena masih menghapus ludah dari wajahnya. marah oleh nada bicara anak itu. Tak peduli kamu terburu-buru atau tidak. makin banyak Musashi punya waktu untuk lari. kan." "Awas kau! Sikapku sudah baik sekali. tapi kami juga buru-buru. bukan tangan Otsu yang ia parut. Ketika Baiken menghindar. ke arah orang itu. ia berjuang untuk memperoleh kembali keseimbangannya. Tapi senjata itu senjata besar berlempeng lebar." jawab Jotaro geram. Baiken mencengkeram terus pergelangan tangan Otsu dan mencoba memperoleh kembali pedangnya. "Saya percaya Tuan memang buru-buru. Baginya soalnya bukanlah kuda itu. "Tak boleh dia ambil kuda ini. Baiken menjangkau sebelah kaki Jotaro dan menariknya turun. Disertai teriakan tak keruan. tidak adil kalau Tuan mencoba mengambil kuda ini dari kami. Sambil menggigit bibir dan kemudian menjerit. sehingga tak sengaja menghunus pedang dari sarungnya. Sambil mengutuk diri sendiri karena sikapnya yang tidak hati-hati. kan?" Otsu ingin memeluk anak itu. tapi waktu itu si kuda menyepak mereka berdua ke udara. Otsu jadi ngeri sekali. hingga tidak melihat geletar tubuh mereka. Tuan dapat menyewa salah satu kuda yang jalan naik-turun gunung ini dengan teratur. Musashi sedang dikejar makin lama ia dapat menghambat iblis ini. "Anjing!" salak orang itu. Jotaro yang mengetatkan cengkeramannya pada bulu tengkuk kuda itu tampak hanya sedikit lebih besar dari seekor kucu. Luka itu tidak dalam. Rasa takut akan terluka atau terbunuh oleh orang ini mendatangkan rasa asam dan kering dalam mulutnya. "Betul." "Betul. dan pada detik itulah tangan Otsu menangkap gagang pedangnya. tapi kuda itu memperdengarkan suara mengerikan. Ujung dua jari tangan kanannya jatuh ke tanah." "Aku tak mau turun. Baiken kehilangan ke-seimbangan. "Mestinya kamu sudah tahu. tidak setiap lelaki dapat menggunakannya. netcafe. berusaha mencengkeram pergelangan tangan Otsu. Inilah saatnya Jotaro mesti menggunakan pedang kayunya. apakah jarak antara Musahi dan dirinya akan bertambah juga. tapi mata pedang. "Aku tak mau. kuda meringkik keras dan terbang ke jalan seperti anak Ebook by Kang Zusi . Tapi tiba-tiba ia melolong kesakitan. Baiken melakukan kesalahan lebih besar lagi daripada malam sebelumnya." katanya. "Anak anjing!" teriak Baiken. tapi. Baiken demikian terburu-buru. "Ayo cepat! Kalau tidak kucambuk kamu!" Dan ia mengacungkan ujung tali kekang itu seperti cambuk.. tangan Otsu guncang dan ia terhuyung ke depan. Ia rasakan kedua tangannya terpilin sekilas dan darah hitam kemerahan menyembur ke wajahnya.. kami tak mau. Karena sebagian pedang itu sudah keluar dari sarungnya. Jotaro tetap menggeleng. Kemudian. Sambil memegang tangan yang berdarah itu ia melompat mundur. Inc.property of: CROSSFiRE. Setelah pusing sebentar. tetapi bagaimana mencegah orang jahat ini mengejar lebih cepat. Otsu?" sela Jotaro. Seperti dikatakan anak ini. kamu tak bisa mengambilnya. "Lebih baik aku mati daripada turun!" "Sudah bulat kamu tak mau melepaskan kuda ini?" tanya Baiken kasar. kemudian mundur dan menyepak dengan liarnya.

Pemimpin mereka cepat menjelaskan keadaan itu. Lima puluh atau enam puluh kaki di bawah sana sebatang sungai melintasi dasar lembah. Ia merasakan dekatnya maut. "Kalian bertiga turun sini!" "Ada apa?" "Turun sini cepat!" "Kalau kita buang waktu. dan menyeret-nya dari ujung karang. Sesaat kemudian ia melihat pedangnya di bawah sebatang pohon larch. Kalau kita cepat-cepat ke Yasugawa. Ebook by Kang Zusi ." "Biar. sementara Jotaro terus bergayut kuat-kuat pada punggungnya dan darah mencurah di belakangnya. Setengah berlari setengah meluncur ia menuruni tanggul di samping jalan. menuju lembah di kejauhan. Sampai di tempat berdirinya Baiken. mereka melihat Otsu. tapi kakinya tergelincir dan tubuhnya jatuh ke ujung karang terjal. menyerahkan diri kepada ruang terbuka di bawah. Di situ tubuh itu berayun-ayun seperti bandul jam. memeriksa bawah lantai dan dalam gudangnya. Tapi dia pergi ke sana atau menyeberang Gunung Tsuchi ke Minakuchi. seakan terjebak oleh pandangan ganas Baiken. tapi bukan itu yang dipikirkannya. mengangkatnya. panah lepas dari busurnya. Ia pusatkan pikiran pada satu-satunya bayangan dalam batinnya: Musashi." Ketiga orang itu sebagian orang-orang yang ikut melakukan pencarian sia-sia malam sebelumya. "Kau pikir kau bisa lolos sekarang?" Otsu menatap ke bawah. Tepat pada saat itu seorang begundalnya memanggil dari jalan. "Anjing!" teriaknya sambil mengulurkan tangan kiri dan memegang rambut Otsu. Ia menyerbu turun bukit dengan tenaga bagai tanah longsor dan segera dapat menguasai jarak yang memisahkan mereka. ia dapat meloloskan diri hanya dengan melepaskan pohon itu dan melemparkan diri. Kapan saja ia mau. Anehnya ia tidak takut. Seorang perempuan tua yang membungkuk di balik mesin pemintal dalam rumah memandangnya ketakutan. seorang samurai membangunkannva sebelum fajar. mereka dapat menyerbu menuruni lereng dengan kecepatan gerombolan babi hutan. Otsu jatuh ke bawah dan berpegangan pada akar-akar sebatang pohon. sedangkan matanya terpancang pada Otsu yang meringkuk di depannya. Semua jalan itu sampai Ishibe. Sesudah ia membenahi diri. "Tolol!" kata Baiken menghina. dan sekali sergap ia mengambilnya kembali. ke mata Baiken yang besar dan pedangnya yang berkilauan. Ia tahu tak dapat menangkap binatang yang menggila itu. "Apa kerja Bapak di sana? Sebaiknya kita cepat-cepat. Karena terbiasa berjalan melintasi pegunungan. Baiken terhuyung-huyung di udara penuh debu. "Hei!" raung Baiken. Kelihatan bercak-bercak salju terakhir. Setidaknya ia pasti tahu ke mana perginya Musashi. Ia menganggap lembah itu sebagai penyelamatnya. Ia seolah melihat Musashi seperti bulan bulat di langit penuh badai. karena itu denga