property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

MUSASHI
karya : EIJI YOSHIKAWA

Buku 1 : TANAH
bagian 1
Takezo terbaring di antara mayat-mayat itu. Ribuan jumlahnya. “Dunia sudah gila,” pikirnya samar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin musim gugur.” Ia sendiri seperti satu di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat mengangkatnya beberapa inci dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa begitu lemah. “Sudah berapa lama aku di sini?” ia bertanya-tanya. Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tangan untuk mengangkat tangan pun ia tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama tadi aku pingsan,” pikirnya sambil menggerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum begitu sadar bahwa dirinya sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya. Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya, kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan Sekigahara. Sekarang ini lewat tengah hari, tanggal lima belas bulan sembilan tahun 1600. Sekalipun topan telah berlalu, sekali-kali siraman hujan segar masih menimpa mayatmayat itu, termasuk wajah Takezo yang tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu. “Seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedangkan pikirannya seperti bayang-bayang igauan yang melintas. Pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu. Kobayakawa Hideaki, yang dikiranya sekutu, ternyata diam-diam telah bergabung dengan Tentara Timur. Ketika ia menyerang pasukan Ishida Mitsunari pada senja hari, jalan pertempuran pun berubah. Ia kemudian menyerang tentara panglima-panglima yang lain – Ukita, Shimazu, dan Konishi. Maka sempurnalah keruntuhan Tentara Barat. Hanya dalam setengah hari pertempuran sudah dapat dipastikan siapa yang sejak itu akan memerintah negeri. Dialah Tokugawa Ieyasu, daimyo Edo yang perkasa. Bayangan kakak perempuannya dan penduduk desa yang sudah tua-tua mengambang di depan matanya. “Aku akan mati,” pikirnya tanpa rona sedih. “Jadi, beginikah rasanya?” Dan ia pun merasa tertarik ke arah Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kedamaian maut, seperti anak-anak yang terpesona oleh nyala api. Tiba-tiba salah satu mayat yang dekat dengannya mengangkat kepala, “Takezo!” Bayang-bayang dalam kepala Takezo menghilang. Seolah terbangun dari mati, ia pun menoleh ke arah suara itu. Ia yakin itu suara teman karibnya. Dengan segenap kekuatan, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan ia paksakan keluar suara bisikan yang hampir tidak terdengar itu, karena kalah oleh titik-titik hujan. “Matahachi, kaukah itu?” Lalu ia rebah, terbaring diam, mendengarkan. “Takezo! Betul-betul kau masih hidup?” “Ya, hidup!” serunya, tiba-tiba keluar pongahnya. “Dan kau? Kau sebaiknya jangan mati juga. Jangan berani-berani!” Matanya lebar terbuka sekarang, dan senyuman tipis bermain di bibirnya. “Mana bisa aku mati! O, tidak!” Sambil terengah-engah karena merangkak menyeret badan dengan susah payah, Matahachi pun mendekati sahabatnya setapak demi setapak. Ditangkapnya tangan Takezo, tapi yang ia cengkeram dengan kelingkingnya sendiri hanyalah kelingking temannya itu. Sebagai sahabat, sejak kanak-kanak mereka sering mematrikan janji dengan cara itu. Ia pun lebih mendekat lagi, dan kemudian menggenggam tangan sahabatnya itu seluruhnya. “Sungguh aku tak percaya kau hidup juga! Tentunya hanya kita yang selamat!” “Jangan begitu terburu-buru! Aku belum mencoba berdiri.” “Mari kubantu. Ayo kita pergi dari sini!” Tapi tiba-tiba saja Takezo menarik Matahachi ke tanah dan menggeram, “Pura-pura mati! Celaka lagi!” Bumi pun mulai menderum seperti kawah gunung. Lewat tangan mereka berdua tampak angin pusaran sedang mendekat. Dan semakin mendekat. Baris-baris penunggang kuda sehitam jelaga meluncur langsung menuju mereka berdua. “Bajingan! Mereka kembali!” kata Matahachi sambil terus mengangkat lutut, seolah-olah bersiap melompat. Takezo langsung menangkap pergelangan kakinya, hingga hampir-hampir mematahkannya, serta merenggutnya ke bumi. Dalam sekejap mata, para penunggang kuda sudah terbang melewati mereka. Beratus-ratus kaki kuda yang berlumpur dan menyimpan maut mencongklang dalam formasi, menyepelekan para samurai yang sudah tewas. Sambil memperdengarkan pekikan-pekikan perang, dan dengan zirah serta senjata berdentingan, para penunggang kuda itu melaju terus. Matahachi berbaring menelungkup dengan mata terpejam, dengan harapan kosong semoga mereka tidak terinjak-injak, sedangkan Takezo menatap tanpa berkedip ke langit. Kuda-kuda itu begitu dekat dengan mereka, hingga mereka dapat mencium bau keringatnya. Kemudian semuanya berlalu. Secara ajaib mereka tidak terluka dan tidak dikenali, dan untuk beberapa menit lamanya keduanya tinggal diam tak percaya. “Selamat lagi!” kata Takezo sambil mengulurkan tangan kepada Matahachi. Masih merangkum bumi, pelanpelan Matahachi memutar kepala, memperlihatkan seringai lebar yang sedikit bergetar. “Ada yang berpihak pada kita, itu pasti,” katanya parau. Kedua sahabat itu saling bantu berdiri dengan susah payah. Pelan-pelan mereka melintasi medan pertempuran, menuju tempat aman di bukit-bukit berhutan, terpincang-pincang dan berangkulan. Di sana mereka rebah, dan sesudah beristirahat sebentar, mulailah mereka mencari-cari makanan. Dua hari mereka hidup dari buah berangan liar dan daun-daunan yang dapat dimakan di dalam lubang-lubang basah di Gunung Ibuki. Makanan itulah yang membuat mereka tidak mati kelaparan, tapi perut Takezo jadi sakit, dan usus Matahachi tersiksa. Tak ada makanan yang dapat mengenyangkannya, tak ada minuman yang dapat menghilangkan dahaganya, tapi ia merasa kekuatannya pulih kembali sedikit demi sedikit. Badai tanggal lima belas itu menandai akhir topan musim gugur. Kini hanya dua malam sesudahnya, bulan yang putih dingin sudah memandang muram ke bawah, dari langit yang tak berawan. Mereka berdua mengerti, betapa berbahayanya berada di jalan, dalam cahaya bulan terang. Bayangan mereka akan tampak seperti bayangan sasaran, yang dapat dengan jelas dilihat oleh patroli yang sedang mencari orang-orang yang berkeliaran. Keputusan untuk mengambil resiko itu datang dari Takezo. Melihat keadaan Matahachi yang begitu jelek – katanya lebih baik tertangkap daripada terus mencoba berjalan – agaknya memang tidak banyak pilihan lain. Mereka harus berjalan terus, tapi jelas pula bahwa mereka harus menemukan tempat untuk menyembunyikan diri dan beristirahat. Maka perlahan-lahan mereka pun berjalan menuju tempat yang menurut mereka adalah arah kecil Tarui. “Bisa kau bertahan?” Tanya Takezo berulang-ulang. Dilingkarkannya tangan temannya itu ke bahunya sendiri, untuk membantunya berjalan. “Kau baik-baik saja, kan?” Napas berat temannya itulah yang mengkhawatirkannya. “Mau beristirahat?” “Aku baik-baik saja.” Matahachi mencoba kedengaran berani, tapi wajahnya lebih pucat daripada bulan di atas mereka. Bahkan dengan lembing yang digunakannya sebagai tongkat pun hampir tidak dapat melangkahkan kaki. Beberapa kali ia meminta maaf merendah-rendah, “Maaf, Takezo. Aku tahu, akulah yang melambatkan jalan kita. Betul-betul aku minta maaf.” Beberapa kali pula Takezo hanya menjawab dengan kata-kata, “Lupakan itu.” Tapi akhirnya, ketika mereka sudah berhenti untuk beristirahat, ia pun menoleh kepada temannya dan cetusnya, “Coba dengar, akulah yang mestinya minta maaf. Pertama-tama, akulah yang menjerumuskanmu ke sini, ingat tidak? Kau ingat, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

bagaimana aku menyampaikan rencanaku padamu, bahwa akhirnya aku aku akan melakukan sesuatu yang bakal betul-betul mengesankan ayahku? Aku sungguh tak bisa menerima kenyataan bahwa sampai meninggalnya, Ayah tetap yakin aku tak akan pernah mencapai sesuatu. Aku ingin perlihatkan padanya! Ha!” Ayah Takezo, Munisai, dulu mengabdi pada yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Begitu Takezo mendengar bahwa Ishida Mitsunari sedang membentuk tentara, ia pun yakin bahwa kesempatan yang hanya sekali seumur hidup akhirnya datang baginya. Ayahnya seorang samurai. Apakah tidak sewajarnya kalau ia pun menjadi samurai? Ingin sekali ia memasuki kancah keributan, untuk membuktikan keberaniannya, untuk membikin berita tersebar seperti api kebakaran melintas dusun: ia telah memenggal jenderal musuh. Ia sangat ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang harus diperhitungkan, dihormati – bukan hanya sebagai perisau dusun. Takezo mengingatkan Matahachi tentang semua itu, dan Matahachi mengangguk. “Aku tahu. Aku tahu. Tapi aku merasa begitu juga. Bukan hanya kau.” Takezo melanjutkan, “Aku minta kau mengawaniku, karena kita memang selalu bersama-sama melakukan semuanya. Tapi perbuatan ibumu itu sungguh mengerikan! Dia berteriak-teriak mengatakan pada semua orang bahwa aku gila dan brengsek! Dan tunanganmu Otsu, saudara perempuanku, dan semua orang menangis. Katanya pemuda-pemuda dusun seharusnya tinggal di dusun. Ya, barangkali mereka benar juga. Kita ini anak laki-laki satu-satunya, dan kalau kita terbunuh, tidak ada yang melanjutkan nama keluarga. Tapi peduli apa? Apa begitu mestinya hidup?” Mereka berhasil menyelinap keluar dusun tanpa kelihatan orang, dan merasa yakin tidak ada lagi penghalang yang memisahkan mereka dengan kehormatan pertempuran. Namun ketika sampai di perkemahan Shimmen, mereka berhadapan dengan kenyataan perang. Mereka langsung diberitahu bahwa mereka tidak akan menjadi samurai dalam waktu singkat, bahkan tidak dalam beberapa minggu, tak peduli siapa ayah mereka. Bagi Ishida dan jenderal-jenderal lain, Takezo dan Matahachi hanyalah sepasang orang udik, tidak banyak lebihnya dari anak-anak yang kebetulan memegang sepasang lembing. Paling banyak yang dapat mereka peroleh adalah izin untuk tinggal di sana sebagai prajurit biasa. Tanggung jawab mereka, kalaupun dapat dinamakan demikian, hanyalah mengangkut senjata, periuk nasi, dan alatalat rumah tangga lainnya, memotong rumput, mempengaruhi geng-geng jalanan, dan sesekali bertugas sebagai pandu. “Samurai, ha!” kata Takezo. “Lelucon macam apa pula. Kepala jenderal! Mendekati samurai musuh saja tidak, apalagi jenderal. Tapi setidak-tidaknya semua itu sudah lewat. Sekarang apa yang mau kita lakukan? Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau itu kulakukan, bagaimana aku akan menghadapi ibumu dan Otsu?” “Takezo, aku tidak menyalahkanmu karena kita celaka. Bukan salahmu kita kalah. Kalaupun ada yang mesti disalahkan, Kobayakawa-lah orangnya. Kobayakawa yang bermuka dua itu. Betul-betul aku ingin menangkapnya. Akan kubunuh bangsat itu!” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berdiri di tepi dataran kecil, menyaksikan lautan miskantus yang serupa buluh, sudah berantakan dan patah-patah terkena badai. Tak ada rumah. Tak ada cahaya. Di sini pun banyak mayat, bergelimpangan seperti waktu jatuhnya. Kepala salah satu mayat itu tergeletak dalam rumput tinggi. Ada juga yang menengadah di sungai kecil. Lainnya lagi tersangkut dengan anehnya pada seekor kuda mati. Hujan telah membasuh darah, dan dalam sinar bulan daging mati itu tampak seperti sisik ikan. Di sekitar semua itu, yang terdengar hanyalah litani giring-giring dan jangkrik musim gugur yang sepi. Aliran air mata membentuk jalur putih menuruni wajah suram Matahachi, dan ia memperdengarkan keluhan seorang yang sakit parah. “Takezo, kalau aku mati, maukah kau mengurus Otsu?” “Apa yang kau omongkan ini?” “Aku merasa seperti mau mati.” Takezo membentaknya, “Nah, kalau memang itu yang kau rasakan, barang kali kau memang akan mati.” Ia jengkel, karena sesungguhnya ia ingin temannya itu lebih kuat, hingga ia sendiri dapat menyandarkan diri kepadanya sekali-kali, bukan secara fisik, melainkan sebagai pendorong. “Ayolah Matahachi! Jangan seperti bayi cengeng begitu.” “Kalau ibuku pasti ada yang mengurus, tapi Otsu, dia sendirian di dunia ini. Selamanya begitu. Kasihan aku padanya, Takezo. Berjanjilah kau akan mengurusnya, kalau aku tak ada.” “Kau mesti percaya pada diri sendiri! Tak ada orang mati karena mencret. Cepat atau lambat kita akan menemukan rumah, dan kalau kita sudah menemukan rumah itu, kutidurkan kau dan akan kudapatkan obat. Sekarang hentikan rengekan tentang mati itu!” Lebih jauh sedikit, sampailah mereka di tempat bertumpuknya tubuh-tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatan seolah satu divisi penuh telah disapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin. Mereka berhenti lagi, beristirahat. Selagi mereka mengatur napas, terdengar ada yang bergerak di antara mayat-mayat itu. Keduanya undur ketakutan, dan secara naluriah merundukkan badan dengan mata terbuka lebar dan perasaan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

diwaspadakan. Sosok tubuh itu membuat gerakan melejit cepat, seperti gerakan seekor kelinci yang terkejut. Dan ketika mata mereka sudah terpusat ke arahnya, terlihat oleh mereka orang yang entah siapa itu sedang berjongkok rendah. Semula mereka menduga ia seorang samurai yang tersesat, karena itu mereka menabahkan diri untuk menghadapi pertemuan yang berbahaya. Tapi alangkah kaget mereka, karena ternyata prajurit dahsyat itu hanyalah seorang gadis muda. Gadis itu agaknya berumur sekitar tiga belas atau empat belas tahun, mengenakan kimono dengan lengan digulung. Obi sempit yang membelit pinggangnya sudah bertambal-tambal di beberapa tempat, namun terbuat dari brokat emas. Di tengah himpunan mayat itu, ia betul-betul merupakan pemandangan yang ganjil. Ia melayangkan pandang dan menatap mereka dengan penuh kecurigaan, dengan mata kucing yang licik. Takezo dan Matahachi heran akan hal yang sama: apa yang menyebabkan gadis itu dating di malam buta itu? Sekejap keduanya hanya balas memandang gadis itu. Kemudian Takezo berkata, “Siapa kau?” Gadis itu mengerdip beberapa kali, berdiri, lalu enyah dari situ. “Stop!” seru Takezo. “aku cuma mau mengajukan satu pertanyaan padamu. Jangan pergi dulu!” Tapi gadis itu sudah pergi, seperti kilasan kilat di tengah malam. Dan bunyi giring-giring kecil pun menghilang ke dalam ngeri kegelapan. “Apa kemungkinan itu hantu?” renung Takezo keras, sementara ia memandang kosong ke dalam kabut tipis. Matahachi menggigil sedikit, tapi memaksakan diri tertawa. “Kalau ada hantu di sini, tentunya hantu serdadu-serdadu itu, kan?” “Sayang aku telah membikin takut gadis itu,” kata Takezo. “Tentunya ada dusun di dekat-dekat sini. Dan dia tentunya bisa memberikan petunjuk pada kita.” Mereka berjalan terus, mendaki bukit pertama dari dua bukit yang ada di hadapan mereka. Di cekungan sebelah sana terdapat paya-paya yang menghampar ke selatan Gunung Fuwa. Dan tampak cahaya, hanya setengah mil jauhnya. Ketika mendekati rumah pertanian itu, terasa oleh mereka bahwa rumah itu bukan sekedar rumah biasa. Kelihatan dari tembok tanah tebal yang mengelilinginya. Juga dari pintu gerbangnya yang boleh dikatakan megah. Atau setidaknya sisa-sisanya, karena pintu gerbang itu sudah tua dan sudah sangat memerlukan perbaikan. Takezo mendekati pintu dan mengetuk-ngetuk pelan. “Permisi!” Karena tidak ada jawaban, ia mencoba sekali lagi. “Maaf kami mengganggu pada jam seperti ini, tapi temanku ini sakit. Kami tak ingin menyusahkan – dia perlu istirahat sedikit.” Mereka mendengar orang berbisik-bisik di dalam, dan akhirnya terdengar bunyi orang berjalan ke pintu. “Kalian yang berkeliaran di Sekigahara, kan?” Suara itu datang dari seorang gadis muda. “Betul,” kata Takezo. “Kami bawahan Lord Shimmen dari Iga.” “Menyingkirlah! Kalau kalian ditemukan orang di sini, kami bisa celaka.” “Betul-betul kami minta maaf telah mengganggu seperti ini, tapi kami telah lama sekali berjalan. Temanku ini butuh sedikit istirahat, hanya itu, dan …” “Pergilah. Menyingkirlah!” “Baiklah, kalau memang itu yang Anda kehendaki. Tapi apa tak bisa temanku ini diberi obat? Perutnya sakit sekali sekali, hingga sukar bagi kami berjalan terus.” “Entahlah….” Beberapa waktu kemudian, mereka mendengar langkah-langkah kaki dan bunyi dering kecil menjauh ke dalam rumah, makin lama makin lemah. Baru pada waktu itulah mereka melihat wajah itu. Wajah itu tampak di jendela samping, wajah seorang wanita, dan wajah itu memperhatikan mereka terus. “Akemi,” serunya, “biar mereka masuk. Mereka prajurit biasa. Patroli Tokugawa tak akan membuang-buang waktu buat mereka. Mereka tak dikenal.” Akemi membuka pintu, dan wanita yang memperkenalkan diri sebagai Oko itu pun datang untuk mendengarkan cerita Takezo. Maka disetujuilah bahwa mereka tidur di lumbung. Untuk mengobati sakit perutnya, Matahachi mendapat tepung arang magnolia dan bubur beras encer dengan campuran bawang. Beberapa hari berturut-turut ia tidur terus-menerus, sedangkan Takezo duduk berjaga-jaga di sampingnya, sambil mengobati luka-luka peluru di pahanya dengan minuman keras murah. Pada suatu malam, kira-kira seminggu kemudian, Takezo dan Matahachi duduk mengobrol. “Mereka tentunya punya usaha tertentu,” kata Takezo. “Aku tak peduli dengan kerja keras mereka. Aku senang mereka telah menerima kita.” Tetapi rasa ingin tahu Takezo telah bangkit. “Ibunya belum begitu tua,” sambungnya. “Aneh, bahwa mereka berdua hidup sendiri di pegunungan ini.” “Hm. Apa menurut pendapatmu gadis itu agak mirip Otsu?” “Memang ada sesuatu padanya yang membuat aku ingat Otsu, tapi kukira mereka tidak betul-betul serupa. Keduanya manis, titik. Menurutpendapatmu, apa yang sedang dia lakukan waktu pertama kali kita Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

melihatnya itu? Merangkak-rangkak di antara mayat-mayat itu di tengah malam? Dan kelihatannya pekerjaan itu tidak mengganggunya sama sekali. Ha! Masih terbayang olehku hal itu. Wajahnya tenang dan tenteram, seperi boneka buatan Kyoto. Sungguh gambaran yang luar biasa!” Matahachi memberi isyarat pada Takezo untuk diam. “Ssst! Kudengar giring-giringnya.” Ketukan ringan Akemi di pintu terdengar seperti ketukan burung pelatuk. “Matahachi, Takezo,” panggilnya lembut. “Ya?” “Ini aku.” Takezo berdiri dan membuka kunci. Gadis itu membawa sebaki obat-obatan dan makanan, dan bertanya tentang kesehatan mereka. “Jauh lebih baik. Terima kasih untukmu. Juga untuk ibumu.” “Ibu bilang, biar kalian sudah sehat, kalian jangan bicara terlalu keras atau pergi keluar.” Takezo pun menjawab atas nama mereka berdua. “Kami minta maaf sudah membikin repot kalian.” “Oh, tidak apa-apa. Cuma kuminta kalian berhati-hati. Ishida Mitsunari dan beberapa jenderal lain belum tertangkap. Mereka mengawasi daerah ini dengan ketat, dan jalan-jalan penuh dengan pasukan Tokugawa.” “Betul?” “Makanya, biar kalian cuma prajrit biasa. Ibu bilang, kalau kami tertangkap menyembunyikan kalian, kami akan ditahan.” “Kami tak akan bikin rebut,” janji Takezo. “Malahan muka Matahachi akan kututup kain, kalau dia mendengkur terlalu keras.” Akemi tersenyum, membalikkan badan untuk pergi, dan katanya, “Selamat malam. Aku akan datang lagi besok pagi.” “Tunggu!” kata Matahachi. “Apa salahnya kau datang ke sini, bicara dengan kami sedikit?” “Tidak bisa.” “Kenapa?” “Ibu nanti marah.” “Peduli apa dengan ibumu? Berapa tahun umurmu?” “Enam belas.” “Kalau begitu, badanmu terlalu kecil, ya?” “Terima kasih atas komentar itu.” “Di mana ayahmu?” “Tidak punya lagi.” “Maaf. Lalu bagaimana kalian hidup?” “Kami bikin moxa.” “Obat yang dibakar di kulit buat menghilangkan sakit itu?” “Ya, moxa daerah ini terkenal. Musim semi kami memotong mugwort di Gunung Ibuki. Musim panas mengeringkannya, lalu musim gugur dan dingin membuatnya jadi moxa. Kami jual di Tarui. Orang datang dari mana-mana hanya untuk beli moxa itu.” “Kiranya kalian tidak butuh lelaki untuk mengerjakan itu.” “O, kalau itu yang ingin kalian ketahui, lebih baik aku pergi.” “Nanti dulu, sedikit lagi,” kata Takezo. “Ada satu pertanyaan lagi.” “Apa itu?” “Malam ketika kami datgn kemari itu, kami melihat seorang gadis di medan pertempuran, dan dia mirip sekali denganmu. Apa itu kau?” Akemi cepat membalikkan badan dan membuka pintu. “Apa kerjamu di sana?” Gadis itu membanting pintu di belakangnya. Dan ketika ia berjalan ke rumah itu, giring-giring kecil pun berdering dengan iramanya yang aneh dan sumbang

Sisir
Dengan tinggi sekitar 1,75 meter, Takezo cukup jangkung untuk orang sezamannya. Tubuhnya seperti tubuh kuda yang indah: kuat dan lentur, dengan kaki panjang berotot. Bibirnya penuh, berwarna merah tua, dan alisnya yang hitam tebal jadi tampak tidak lebat karena bentuknya yang indah. Karena jauh melampaui sudut-sudut luar matanya, alis itu pun menambah kejantanannya. Orang-orang kampung menyebutnya “anak tahun yang gemuk”, suatu ungkapan yang hanya dipakai untuk anak dengan badan lebih besar dari rata-rata. Sebutan itu jauh dari maksud menghina, tapi bagaimanapun membuatnya ada jarak dengan anakanak muda lain, dan itu membuatnya cukup malu pada masa kanak-kanaknya. Ungkapan itu tidak pernah dipergunakan untuk menggambarkan Matahachi, namun dapat pula dikenakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

padanya. Ia agak lebih pendeka dan pejal daripada Takezo, dadanya bidang dan besar, dan wajahnya bulat, memberikan kesan periang, kalau bukan sifat badut sejati. Matanya yang besar dan sedikit menonjol itu cenderung bergerak ketika ia berbicara, dan kebanyakan lulucon yang dibuat orang untuk merendahkannya berpusat pada kemiripannya dengan katak yang yak henti-hentinya berdengkung pada malam-malam musim panas. Kedua pemuda itu sedang berada di puncak usia pertumbuhan mereka, dan karenanya cepat pulih dari sebagian besar penyakit. Ketika luka-luka Takezo sudah sepenuhnya sembuh, Matahachi pun tidak dapat lagi menahan hambatan yang dirasakannya. Mulailah ia berjalan mondar-mandir di seputar lumbung, dan tak henti-hentinya mengeluh karena merasa terkurung. Tidak hanya sekali ia membuat kesalahan, dengan mengatakan bahwa ia merasa seperti jangkrik di dalam lubang yang gelap dan jangrik memang suka pada suasana hidup seperti itu. Matahachi tentunya telah mulai mengintip kedalam rumah, karena pada suatu hari ia mendekatkan mulutnya kepada teman seselnya itu, seolah hendak menyampaikan berita yang mengguncangkan dunia. “Tiap malam,” bisiknya genting, “janda itu membedaki mukanya dan mempercantik diri!” Muka Takezo pun jadi seperti anak umur dua belas tahun yang benci anak gadis, melihat pengkhianatan teman karibnya yang makin tertarik kepada “mereka” itu. Matahachi sudah menjadi pengkhianat kini, dan pandangan mata Takezo pun tidak salah lagi mengungkapkan kemuakan. Matahachi mulai kerap pergi ke rumah itu, duduk-duduk di dekat perapian bersama Akemi dan ibunya yang masih muda. Sesudah tiga atau empat hari mengobrol dan berkelakar dengan mereka, tamu yang ramah itu pun sudah menjadi anggota keluarga. Ia tidak kembali ke lumbung, juga pada malam hari, dan kalau kadang-kadang pulang, napasnya berbau sake. Ia mencoba membujuk Takezo datang ke rumah itu, dengan menyanyikan puji-pujian terhadap kehidupan yang baik, yang hanya beberapa meter jauhnya dari tempat itu. “Gila kau!” jawab Takezo gusar. “Kau bisa bikin kita terbunuh, atau setidaknya tertangkap. Kita ini sudah kalah, jadi gelandangan – apa kau belum juga mengerti? Kita mesti berhati-hati dan bersembunyi, sampai keadaan mereda.” Tapi dengan segera ia bosan mencoba mengajak temannya yang cinta kenikmatan itu untuk berpikiran sehat, dan mulailah ia menghentikan omongan temannya dengan jawaban-jawaban ringkas. “Aku tidak suka sake,” atau kadang-kadang, “Aku lebih suka di sini. Santai.” Tapi Takezo sendiri akhirnya mulai sinting juga. Ia merasa bosan bukan kepalang, dan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengalah. “Apa betul-betul aman?” tanyanya. “Maksudku sekitar sini? Apa tak ada tanda-tanda patroli? Apa kau yakin?” Maka, sesudah terkubur dua puluh hari lamanya dalam lumbung itu, akhirnya ia keluar seperti tawanan perang yang setengah kelaparan. Kulitnya tampak jernih pucat, seperti mayat, lebih-lebih ketika ia berdiri di samping temannya yang sudah terbakar matahari dan sake itu. Dipandangnya langit biru yang terang, dan sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, ia pun menguap dengan nikmatnya. Ketika mulutnya yang besar itu akhirnya menutup kembali, terlihatlah bahwa alisnya waktu itu mengait. Wajahnya tampak resah. “Matahachi,” katanya sungguh-sungguh, “kita terlalu memaksakan keinginan pada orang-orang ini. Mereka sekarang menghadapi resiko besar gara-gara kita di sini. Kupikir kita harus berusaha pulang sekarang.” “Kau benar,” kata Matahachi. “Tapi tak seorang pun dapat melewati rintangan itu tanpa pemeriksaan. Jalan ke Ise dan Kyoto tak bisa ditempuh, menurut janda itu. Katanya, kita mesti bertahan sampai salju turun. Gadis itu juga bilang begitu. Dia yakin mesti tetap bersembunyi. Dan kau tahu, dia selalu pergi ke manamana setiap hari.” “Kau bilang duduk di dekat api sambil minum itu bersembunyi?” “Tentu. Tahu tidak, apa yang sudah kulakukan? Beberap hari yang lalu orang-orang Tokugawa datang mengintai; mereka masih mencari Jenderal Ukita. Dan aku bisa melepaskan diri dari bajingan-bajingan itu hanya dengan keluar dan menyapa mereka.“ Mata Takezo membelalak tak percaya mendengar itu, sedangkan Matahachi tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya reda, ia pun melanjutkan. “Kau lebih selamat di tempat terbuka daripada meringkuk di lumbung, sambil mendengarkan langkah-langkah kaki orang dan dibikin gila olehnya. Inilah yang mau kukatakan padamu.” Matahachi tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Takezo mengangkat bahu. “Barangkali kau benar. Itu bisa jadi cara terbaik untuk mengatasi persoalan.” Takezo masih juga mengajukan persyaratan, tapi sesudah percakapan itu, ia pun ikut pergi ke rumah tersebut. Oko, yang agaknya senang kalau ada orang lain, terutama laki-laki, berusaha membuat mereka betul-betul kerasan. Namun sekali-kali ia membuat kedua pemuda itu terlonjak dengan sarannya agar seorang dari mereka mengawini Akemi. Tapi ini agaknya lebih membikin bingung Matahachi daripada Takezo. Takezo mengabaikan saja saran itu, atau menandinginya dengan kata-kata lucu. Waktu itu musim matsutake yang lezat dan harum, yang tumbuh di pangkal-pangkal pohon-pohon pinus, dan Takezo cukup terhibur mencari jamur-jamur besar di gunung yang berhutan, di belakang rumah itu. Sambil memegang keranjang, Akemi mencari jamur itu dari pohon ke pohon. Setiap kali tercium baunya, suaranya yang tanpa dosa itu pun menggema di tengah hutan. “Takezo, sini! Banyak di sini!” Dan kalau sedang mencari-cari di dekatnya, Takezo pun selalu menjawab, “Di sini juga banyak!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sinar matahari musim gugur menerobos tipis dan miring ke arah mereka, lewat ranting-ranting pinus. Babut daun pinus di tempat teduh yang sejuk di bawah pohon-pohonan itu bagaikan bunga mawar yang lunak berdebu. Setelah lelah, Akemi pun menantang Takezo sambil terkikik, “Mari kita lihat, siapa yang paling banyak!” “Aku!” jawab Takezo pasti. Mendengar itu, Akemi pun mulai memriksa keranjang Takezo. Hari ini tidak beda dengan hari-hari lain. “Ha, ha! Aku tahu!” teriak Akemi. Dengan rasa kemenangan penuh kegembiraan yang hanya bisa terjadi pada gadis semuda itu, dan tanpa kesadaran diri ataupun sikap sopan yang dibuat-buat, ia pun menunduk ke keranjang Takezo. “Yang banyak kau dapat itu jamur payung!” Lalu ia pun membuangi jamur beracun itu satu per satu, bukan sambil menghitungnya keras-keras, melainkan diiringi gerakan yang begitu pelan dan disengaja, hingga Takezo hampir tidak dapat mengabaikannya, sekalipun dengan mata terpejam, Akemi melontarkan masing-masing jamur itu sejauh-jauhnya. Selesai dengan tugas itu, ia pun menengadah dengan wajah membinarkan rasa puas diri. “Sekarang lihat, aku dapat jauh lebih banyak daripada kau!” “Sudah siang sekarang,” gumam Takezo. “Mari pulang.” “Kau marah karena kalah, kan?” Akemi pun berlari kencang seperti ayam pegar menuruni sisi bukit, tapi sekonyong-konyong ia berhenti, wajahnya dipenuhi rasa terkejut. Seorang lelaki raksasa datang lurus mendekat lewat belukar, setengah jalan menuruni lereng bukit; langkah-langkhanya panjang dan tenang, matanya yang tajam menatap langsung kepada gadis muda yang rapuh di hadapannya. Orang itu tampak primitif luar biasa. Segala sesuatu pada dirinya bernada perjuangan untuk tetap hidup, dan ia menampakkan ciri suka berkelahi: alis yang lebat dan ganas, dan bibir atas yang tebal melingkar; pedang berat, jubah zirah, dan kulit binatang melengkapi dirinya. “Akemi!” raungnya seraya mendekati gadis itu. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan giginya yang kuning melapuk, tapi wajah Akemi tetap saja menyiratkan kengerian belaka. “Apa ibumu yang hebat itu ada di rumah?” tanyanya dengan ejekan yang dibuat-buat. “Ya,” cicit Akemi. “Nah, kalau nanti kau pulang, ceritakan sesuatu padanya. Mau tidak?” Ejekan itu diucapkannya dengan sopan. “Ya.” Dan kini nadanya berubah kasar. “Katakan padanya, jangan mempermainkan aku dengan menimbun uang tanpa sepengetahuanku. Katakan aku akan datang segera untuk mengambil bagianku. Mengerti?’ Akemi diam saja. “Dia pikir barangkali aku tidak tahu, tapi orang yang dijuali barang-barang itu datang langsung padaku. Aku berani bertaruh, kau pergi juga ke Sekigahara, bukan, Nak?” “Ah, tidak!” protes Akemi lemah. “Ya, tak apalah. Cuma sampaikan padanya apa yang kukatakan tadi. Kalau dia main tidak jujur lagi, akan kutendang dia keluar dari daerah ini.” Ia menyorot gadis itu sesaat dengan matanya, kemudian pergi dengan lamban ke arah paya. Takezo mengalihkan matanya dari orang asing itu kepada Akemi, dengan penuh minat. “Siapa orang itu?” Dengan bibir masih menggeletar Akemi menjawab lesu, “Namanya Tsujikaze. Dia dari kampung Fuwa.” Suara Akemi hampir tak lebih dari bisikan. “Dia bandit, kan?” “Ya.” “Kenapa dia begitu marah?” Akemi berdiri saja tanpa menjawab. “Tak akan kuceritakan itu pada orang lain,” kata Takezo, mencoba meyakinkan Akemi. “Apa tak bisa kau menceritakannya padaku?” Akemi, yang jelas merasa tak senang, agaknya sedang mencari-cari kata. Dan tiba-tiba ia pun menyandarkan diri ke dada Takezo dan memohon, “Kau janji taka akan bercerita pada orang lain?” “Siapa yang akan kuceritai? Samurai Tokugawa?” “Ingat waktu kau pertama kali melihatku malam itu? Di Sekigahara?” “Tentu saja ingat.” “Nah, apa belum kau bayangkan, apa yang kulakukan waktu itu?” “Belum, aku belum pernah memikirkannya,” kata Takezo dengan wajah sungguh-sungguh. “Nah, waktu itu aku mencuri!” Lalu ia pun menatap Takezo dekat-dekat, untuk menaksir reaksi Takezo. “Mencuri?” “Sesudah pertempuran, aku pergi ke medan, mengambili barang-barang serdadu yang tewas: pedang, hiasan sarung pedang, kantong kemenyan –– apa saja yang dapat kami jual.” Ia memandang Takezo lagi untuk menangkap tanda-tanda sikap tidak setuju, tetapi wajah Takezo tidak memperlihatkannya sama sekali. “Pekerjaan itu mengerikan,” keluhnya kemudian, lalu berubah bersikap pragmatis, “tapi kami butuh uang untuk makan. Kalau aku bilang tak mau pergu, Ibu marah.” Matahari masih cukup tinggi di langit. Atas saran Akemi, Takezo duduk di rumput. Lewat pohon-pohon pinus, mereka dapat memandang ke bawah, ke rumah di tengah paya itu. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo mengangguk pada diri sendiri, seolah sedang membayangkan sesuatu. Sejenak kemudian ia berkata, “Kalau begitu, cerita tentang memotong mugwort dan membuat moxa itu bohong semuanya?” “O, tidak. Kami mengerjakan itu juga! Tapi selera Ibu begitu mahal. Tak mungkin kami dapat hidup dari moxa saja. Ketika ayahku masih hidup, kami tinggal di rumah terbesar di kampung ini, malahan boleh dibilang di tujuh dusun yang ada di Ibuki. Kami punya banyak pelayan, dan Ibu selalu punya barang-barang bagus. “Apa ayahmu pedagang?” “O, tidak. Dia pemimpin bandit setempat.” Mata Akemi bersinar penuh kebanggaan. Jelaslah, ia tidak lagi takut akan reaksi Takezo, dan kini ia melepaskan perasaan sebenarnya. Rahangnya mantap, tangannya yang kecil mengepal pada waktu bicara. “Tsujikaze Temma, orang yang baru kita jumpai tadi, itulah yang membunuhnya. Paling tidak, begitulah kata semua orang.” “Maksudmu, ayahmu dibunuh?” Sambil mengangguk diam, Akemi mulai menangis, sekalipun ia berusaha menahannya. Takezo merasa sesuatu yang berada jauh di dalam dirinya mulai mencair. Semula ia tidak menaruh simpati pada gadis itu. Sekalipun gadis itu lebih kebanyakan dari gadis yang sudah berumur enam belas tahun, namun bicaranya seperti wanita dewasa, dan sering kali ia membuat gerakan cepat yang membuat orang lain berjaga-jaga. Tapi ketika air mata mulai menitik dari bulu matanya yang panjang, tiba-tiba Takezo pun jadi meleleh oleh rasa kasihan. Ia ingin mendekap gadis itu untuk melindunginya. Gadis itu bukanlah gadis yang dibesarkan seperti biasa. Agaknya tak pernah ia pertanyakan, apakah di dunia ini tidak ada yang lebih mulia daripada pekerjaan ayahnya. Ibunya telah meyakinkannya bahwa tak ada salahnya melucuti mayat, bukan untuk makan, melainkan untuk hidup layak. Banyak pencuri sejati enggan melakukan pekerjaan itu. Selama bertahun-tahun berlangsungnya perselisihan kaum feodal, keadaan telah menjadikan semua manusia, sampai yang pemalas di pedesaan, terhanyut oleh cara hidup seperti ini. Orang banyak pun lebihkurang memang telah minta mereka melakukan hal itu. Ketika perang pecahn para penguasa militer setempat bahkan memanfaatkan jasa-jasa mereka dan memberikan imbalan melimpah pada mereka atas jasa membakar perbekalan musuh, menyebarkan desas-desus bohong, mencuri kuda dari kamp-kamp musuh, dan lain-lain hal seperti itu. Yang paling sering terjadi adalah jasa-jasa mereka dibeli orang. Tapi, sekalipun tidak dibeli, perang menawarkan banyak kesempatan. Di samping berkelaiaran di antara mayatmayat untuk mengumpulkan barang-barang berharga, kadang-kadang mereka berhasil mendapat hadiah dari menyerahkan kepala samurai yang kebetulan tersandung oleh mereka dan kemudian mereka pungut. Satu saja pertempuran besar sudah cukup bagi para pencuri bejat ini hidup senang enam bulan atau setahun. Pada waktu-waktu bergolak, petani atau pembelah kayu biasa pun sudah tahu mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang dan pertumpahan darah. Perkelahian di luar kampung sendiri sudah bisa membuat orang-orang sederhana ini meninggalkan pekerjaan, dan dengan cakapnya mereka menyesuaikan diri dengan situasi, dan menemukan cara untuk memunguti sisa-sisa hidup manusia lain, seperti burung pemakan bangkai. Sebagian karena gangguan inilah para penjarah professional menetapkan perlindungan keras atas wilayah masing-masing. Sudah menjadi peraturan keras bahwa para pemburu liar, yaitu perampok-perampok yang melanggar hak-hak yang telah dimiliki para penjahat kejam ini dapat dikenai pembalasan dendam. Akemi pun menggigil, dan katanya, “Apa akal kita? Orang-orang bayaran Temma sedang dalam perjalanan kemari sekarang. Aku tahu itu.” “Jangan khawatir,” kata Takezo meyakinkannya. “Kalau mereka nanti muncul, aku sendiri yang akan menyambut mereka.” Ketika mereka turun bukit, senja telah turun di atas paya itu, dan segalanya sunyi. Jejak asap api pemandian di rumah itu merayap di area puncak jajaran rumput mendong, seperti ular yang melenggoklenggok di langit. Oko sedang berdiri santai di pintu belakang, seusai melakukan riasan malam. Ketika melihat anak perempuannya datang bersama Takezo, ia pun berseru, “Akemi, apa kerjamu sampai begini larut?” Terasa benar tajamnya mata dan suaranya. Gadis itu pun segera tersadar, sesudah begitu lama ia berjalan dengan kepala kosong. Ia memang lebih peka terhadap suasana hati ibunya daripada apa pun di dunia ini. Ibunya telah menanamkan kepekaan ini dan telah berhasil memanfaatkannya, mengendalikan anak gadis itu seperti boneka, hanya dengan pandangan atau gerak-geriknya. Cepat-cepat Akemi menjauh dari sisi Takezo, dan dengan wajah memerah ia pun mendahului dan masuk rumah. Hari berikutnya, Akemi menyampaikan pada ibunya tentang Tsujikaze Temma. Oko naik pitam. “Kenapa tidak cepat-cepat kau ceritakan?” raungnya sambil menyeruduk ke sana kemari seperti perempuan gila, menarik-narik rambutnya, mengeluar-ngeluarkan barang dari laci dan lemari dan mengonggokkan semuanya di tengah kamar. “Matahachi! Takezo! Bantu aku! Semua ini mesti kita sembunyikan.” Matahachi menggeser sebuah papan yang ditunjukkan oleh Oko, lalu ia menempatkan diri di atas langitlangit. Tak banyak ruangan antara langit-langit dan kasau itu. Orang hampir tidak dapat merangkak di situ, tapi cukuplah itu untuk memenuhi kebutuhan Oko, dan terutama agaknya kebutuhan almarhum suaminya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Takezo berdiri di atas bangku, di antara ibu dan anak, dan mulai mengulurkan barang-barang itu satu persatu kepada Matahachi. Jika Takezo tidak mendengar cerita Akemi hari sebelumnya, tidak bakal ia tidak merasa kagum melihat keanekaragaman barang-barang yang sekarang dilihatnya. Takezo tahu ibu dan anak ini sudah lama melakukan pekerjaan itu, namun demikian sungguh mengagumkan. Betapa banyaknya barang yang mereka timbun. Ada belati, umbai lembing, lengan baju zirah, helm tanpa mahkota, kuil mini yang dapat dibawa-bawa, tasbih Budha, tiang bendera…. Bahkan ada sandal berlak berukir indah dan bertatah emas, perak, dan indung mutiara. Dari lubang di langit-langit, Matahachi mengintip keluar dengan wajah bingung. “Sudah semua?” “Tidak, ada satu lagi,” kata Oko seraya pergi cepat-cepat. Sesaat kemudian ia sudah kembali membawa sebilah pedang, satu seperempat meter panjangnya, dari kayu ek hitam. Takezo mulai mengeluarkan barang itu pada Matahachi, tetapi bobot, lengkung dan sempurnanya keseimbangan senjata itu demikian mengesankannya, sampai tak dapat ia melepaskannya. Ia pun menoleh kepada Oko dengan pandangan tersipu. “Apa tak bisa Ibu menghadiahkan ini padaku?” tanyanya dengan mata memancarkan kepasrahan. Ia memandang kakinya sendiri, seakan-akan hendak mengatakan bahwa ia memang belum melakukan sesuatu yahg pantas mendapat ganjaran pedang itu. “Apa kau betul-betul menginginkannya?” jawab nyonya itu dengan lembut, dengan nada seorang ibu. “Ya…ya… tentu!” Sekalipun wanita itu tidak benar-benar mengatakan Takezo boleh memilikinya, namun ia tersenyum, memperlihatkan dekik pipinya, dan tahulah Takezo bahwa pedang itu sudah menjadi miliknya. Matahachi melompat turun dari langit-langit, meledak oleh rasa iri. Ia pun meraba-raba pedang itu dengan tamaknya, membuat Oko tertawa. “Coba lihat, orang kecil ini merajuk karena tidak dapat hadiah!” Ia mencoba menenteramkan hati Matahachi dengan memberikan pundit-pundi kulit yang manis dan berbatu akik. Matahachi tidak tampak terlalu senang. Matanya terus tertuju kepada pedang kayu ek hitam itu. Perasaannya terluka, dan pundit-pindi itu hanya sedikit dapat menyembuhkan harga dirinya yang terluka. Keika suaminya masih hidup, Oko rupanya punya kebiasaan mandi uap secara santai tiap malam, merias diri, dan kemudian minum sedikit sake. Singkatnya, ia menghabiskan waktu untuk merias diri sebanyak yang dihabiskan geisha yang terbesar bayarannya. Ini bukanlah jenis kemewahan yang dapat dikembangkan oleh orang biasa, tetapi ia berkeras melakukannya, bahkan ia telah mengajar Akemi mengikuti kebiasaan yang sama itu, sekalipun gadis itu menganggapnya menjemukan, dan alasannya tidak dapat ia pahami. Oko tidak hanya suka senang; ia pun berketetapan untuk tetap muda selama-lamanya. Malam itu, selagi mereka duduk di sekitar perapian ceruk, Oko menuangkan sake untuk Matahachi dan mencoba meyakinkan Takezo untuk juga mencobanya. Ketika Takezo menolak, ia letakkan mangkuk itu ke tangan Takezo, ia tangkap pergelangan tangannya, dan ia paksa Takezo mengangkat mangkuk itu ke bibirnya. “Laki-laku sudah sewajarnya minum,” umpatnya. “Kalau kau tidak dapat melakukannya sendiri, akan kubantu.” Berulang kali Matahachi menatap Oko denga perasaan tak enak. Sada akan pandangan Matahachi itu, Oko bahkan semakin berani terhadap Takezo. Sambil meletakkan tangannya secara main-main di lutut Takezo, mulailah ia mendendangkan lagu cinta yang sedang popular. Sampai di sini, Matahachi pun merasa sudah sampai batas kesabarannya. Sambil tiba-tiba menoleh kepada Takezo, ia berucap, “Kita mesti lekas meneruskan perjalanan!” Ucapan ini mencapai sasarannya. “Tapi… tapi… ke mana kalian akan pergi?” Tanya Oko terbata-bata. “Kembali ke Miyamoto. Ibuku dan tunanganku tinggal di sana.” Oko hanya sekejap terkejut; sebentar kemudian ia sudah dapat menguasai dirinya kembali. Matanya menyempit, senyumnya membeku, dan suaranya menjadi getir. “Nah, harap dimaafkan karena aku telah menghambat kalian, telah menerima kalian, dan memberikan tempat pada kalian. Kalau memang ada gadis yang menanti kalian, lebih baik kalian lekas-lekas saja pulang. Jangan kiranya aku menahan kalian!” Sesudah menerima pedang ek hitam itu, Takezo tak pernah lagi terpisah darinya. Memegangnya saja merupakan kenikmatan yang tak terlukiskan baginya. Sering ia meremas gagang pedang itu erat-erat, atau menggesekkan sisinya yang tumpul pada telapak tangannya, hanya untuk merasakan betapa sesuai lengkung dengan panjangnya. Bila tidur ia dekap pedang itu ke tubuhnya. Sentuhan dingin permukaan kayu itu pada pipinya mengingatkannya pada lantai dojo, di mana ia pernah mempraktekkan teknik-teknik main pedang pada musim dingin. Alat yang hampir sempurna, dan sekaligus merupakan benda seni dan maut ini, membangkitkan kembali di dalam dirinya semangat tempur yang telah ia warisi dari ayahnya. Takezo mencintai ibunya, tetapi ibu itu telah meninggalkan ayahnya dan pergi ketika Takezo masih kecil, meninggalkannya sendirian dengan Munisai, seorang ayah yang gila tata tertib, yang tak tahu bagaimana memanjakan anak dalam suasana yang tidak menguntungkan seperti itu. Apabila ayahnya ada, anak itu selalu merasa kikuk dan ketakutan, tidak pernah merasa santai. Ketika berumur sembilan tahun, begitu besar hasratnya akan kata manis ibunya, hingga ia pernah melarikan diri dari rumah dan nekat pergi ke Propinsi Harima, tempat ibunya tinggal. Takezo tak pernah mengerti mengapa ibu dan ayahnya bercerai, dan pada umur sekian, penjelasan tentang itu pun tidak akan banyak menolong. Ibunya telah kawin dengan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

samurai lain, dan mendapat seorang anak lagi. Begitu pelarian kecil itu sampai di Harima, ia tidak membuang-buang waktu lagi untuk menemukan ibunya. Ibunya lalu membawanya ke daerah hutan di belakang kuil setempat, supaya tidak kelihatan orang, dan di sana sambil berurai air mata ia pun memeluk anaknya itu erat-erat dan menyuruhnya kembali kepada ayahnya. Takezo tak pernah melupakan adegan itu; setiap detailnya akan tetap hidup dalam kenangannya, sepanjang umurnya. Sebagai seorang samurai, tentu saja Munisai mengirimkan orang-orangnya untuk memperoleh kembali anaknya, begitu ia mengetahui anaknya hilang. Sudah jelas ke mana perginya anak itu. Takezo pun dikembalikan ke Miyamoto seperti seikat kayu bakar, diikat di punggung kuda yang tidak bersadel. Sebagai pembuka, Munisai menyebutnya anak bandel yang kurang ajar, dan dengan keberangan yang hampir mencapai histeris, ia sabet anaknya sampai ia tak kuat menyabet lagi. Takezo ingat lebih gamblang daripada apa pun di dunia ini, betapa sengit ultimatum ayahnya waktu itu. “Kalau sekali lagi kau pergi ke ibumu, tak akan kuakui kau sebagai anak.” Tidak lama sesudah kejadian itu. Takezo mendengar kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan meninggal. Kematian itu berakibat berubahnya Takezo dari seorang anak pendiam dan pemurung menjadi anak kampung yang jail. Munisai pun akhirnya menjadi takut. Ketika ia mendatangi anak itu dengan pentung, anak itu menantangnya dengan tongkat kayu. Satu-satunya orang yang bisa menandinginya adalah Matahachi, yang juga anak seorang samurai; semua anak lain tunduk pada perintah Takezo. Waktu ia berumur dua belas atau tiga belas tahun, badannya sudah hampir setinggi orang dewasa. Pada suatu kali, seorang pemain pedang pengembara bernama Arima Kihei menaikkan panji-panji berhias emas, dan menyatakan siap melawan siapa saja penantang dari kampung itu. Takezo berhasil membunuh orang itu tanpa kesukaran, dan mendapat pujian dari orang-orang kampung atas keberaniannya. Namun penghargaan itu singkat saja umurnya, karena bersamaan dengan bertambahnya umur, ia pun jadi semakin tak dapat dikendalikan dan brutal. Banyak orang yang menganggapnya sadis, dan apabila ia muncul di suatu tempat, orang pun segera menyingkir. Sikap Takezo terhadap mereka semakin menjelaskan sikap dingin mereka terhadapnya. Ketika ayahnya yang tetap keras dan kasar akhirnya meninggal, unsur kejam di dalam diri Takezo lebih membesar lagi. Kalau tidak karena kakak perempuannya, Ogin, Takezo barangkali sudah lebih tak bisa dikendalikan lagi dan telah diusir dari kampung oleh penduduk yang marah. Untunglah ia menyayangi kakaknya, dan karena tak tahan melihat air mata kakaknya, biasanya ia pun melakukan apa saja yang diminta kakaknya. Pergi perang bersama Matahachi merupakan titik balik bagi Takezo. Hal itu menunjukkan bahwa bagaimanapun ia mau merebut kedudukan di tengah masyarakat, sejajar dengan orang-orang lain. Tetapi kekalahan di Sekigahara sekonyong-konyong telah menghilangkan harapan-harapan seperti itu, dan ia pun mendapati dirinya sekali lagi tercebur ke dalam kenyataan gelap yang menurut anggapannya telah ia tinggalkan. Namun ia seorang pemuda yang diberkati sifat riang yang mulia, yang hanya dapat berkembang di zaman perjuangan. Selagi tidur, wakjahnya setenang wajah bayi, sama sekali tak terusik oleh pikiranpikiran hari esok. Memang ia mengalami juga mimpi-mimpi, baik di waktu tidur maupun terjaga, tapi tidak banyak ia mengalami kekecewaan yang sebenar-benarnya. Karena modalnya hanya sedikit, maka hanya sedikit pula ia kehilangan; sekalipun dalam makna tetentu ia sudah tercerabut, namu ia terbebaskan juga dari belenggu. Melihat napasnya yang dalam dan tetap, sementara ia memeluk erat pedang kayunya itu, barangkali Takezo sedang bermimpi; senyuman halus tersungging pada bibirnya, sedangkan bayangan kakak perempuannya yang lembut dan kota kelahirannya yang damai berpancaran turun seperti air terjun dari gunung, di hadapan matanya yang terpejam dan berbulu lebat itu, Oko menyelinap ke dalam kamarnya sambil membawa lampu. “Sungguh wajah yang damai,” bisik Oko dengan kagum, lalu ia pun mengulurkan tangan dan menyentuh sedikit bibir Takezo dengan jemarinya. Kemudian ia mematikan lampu dan berbaring di samping Takezo. Seraya meringkuk seperti kucing, sedikit demi sedikit ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Takezo, sementara wajahnya yang putih dan gaun malam warna-warni yang betul-betul terlampau muda untuknya itu terbenam dalam kegelapan. Yang kedengaran saat itu hanyalah titik-titik embun yang jatuh di ambang jendela. “Ingin tahu juga, apakah dia masih perjaka,” kagumnya sambil mengulurkan tangan untuk menyingkirkan pedang kayu itu. Tapi begitu ia menyentuh pedang itu, Takezo langsung berdiri dan berteriak, “Pencuri! Pencuri!” Oko terlempar ke lampu, hingga bahu dan dadanya luka, dan Takezo memelintir tangannya tanpa ampun lagi. Oko menjerit kesakitan. Karena kagetnya, Takezo pun melepaskannya. “O. jadi ini tadi Ibu? Aku pikir pencuri.” “Oooh,” rintih Oko. “Sakit!” “Maaf, aku tidak tahu.” “Kau ini tak kenal kekuatan badan sendiri. Hampir lepas tanganku.” “Aku sudah minta maaf. Mau apa Ibu di sini?” Oko tak menghiraukan pertanyaan Takezo yang polos itu; ia tidak merasakan lika tangannya; dicobanya melingkarkan anggota badannya itu ke leher Takezo, dan gumamnya, “Kau tak perlu minta maaf. Takezo Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

…” Ia pun menggosokkan punggung tangannya lembut-lembut ke pipi Takezo. “Hai! Apa pula ini? Apa Ibu gila?” teriak Takezo sambil meloloskan diri dari sentuhan wanita itu. “Jangan ribut begitu, tolol. Kau tahu perasaanku padamu.” Oko terus mencoba membelai Takezo, tapi Takezo menepak-nepaknya, seperti orang diserang gerombolan lebah. “Ya, dan aku sangat berterima kasih. Kami berdua tak akan melupakan betapa besar kebaikan Ibu, yang telah menerima kami dan segalanya itu.” “Maksudku bukan itu, Takezo. Aku bicara tentang perasaan wanitaku – tentang perasaan yang indah dan hangat terhadapmu.” “Tunggu dulu,” kata Takezo sambil melompat berdiri. “Akan kunyalakan lampu.” “Oh, bagaimana kau bisa begini kejam,” rengek Oko, dan bergerak lagi akan memeluk Takezo. “Jangan!” teriak Takezo marah. “Hentikan, sungguh! Hentikan!” Ada sesuatu dalam suara Takezo yang membuat Oko takut dan menghentikan serangannya, sesuatu yang tegas dan mantap. Takezo merasa tulang-tulangnya bergoyang dan giginya gemeretuk. Tidak pernah ia menghadapi lawan yang demikian berat. Bahkan ketika telentang di bawah kuda-kuda yang mencongklang lewat di Sekigahara, tak pernah jantungnya demikian berdentam. Ia pun duduk ngeri di sudut kamar “Kuminta ibu pergi dari sini,” mohonnya. “Kembalilah ke kamar ibu sendiri. Kalau tidak, akan kupanggil Matahachi. Akan kubangunkan seisi rumah!” Oko tidak beranjak. Ia duduk saja di kegelapan dengan napas berat, dan dengan mata menciut ia pun menatap Takezo. Ia tak mau ditolak. “Takezo,” gumamnya lagi. “Apa kau tidak memahami perasaanku?” Takezo tidak menjawab. “Tidak memahami?” “Ya, tapi apa Ibu memahami perasaanku: diserang selagi tidur, dibikin takut setengah mati, dan dianiaya seekor macan dalam gelap?” Kini giliran Oko yang diam. Dari kedalaman kerongkongannya keluar bisikan seperti suara geraman, dan ia pun mengucapkan setiap suku katanya ini dendam. “Begitu tega kau mempermalukan aku?” “Aku mempermalukan ibu?” “Ya ini sungguh membikin malu.” Keduanya begitu tegang waktu itu, hingga tak terdengar oleh mereka ketukan pintu, yang agaknya sudah berlangsung beberapa lama. Ketukan itu dipertegas lagi oleh teriakan-teriakan. “Ada apa di dalam? Apa kau tuli? Buka pintu!” Berkas cahaya tampak di celah daun jendela. Akemi terbangun. Kemudian langkah kaki Matahachi terdengar mendekat, dan suaranya berseru, “Ada apa?” Kemudian dari gang rumah, Akemi berseru resah, “Ibu! Apa Ibu di situ? Jawab, Bu!” Oko menyerobot cepat kembali ke kamarnya sendiri yang berdekatan dengan kamar Takezo. Ia menjawab dari situ. Orang-orang lelaki di luar rupanya mendobrak daun jendela dan menyerbu ke dalam. Sampai di kamat perapian, Oko melihat enam atau tujuh pasang bahu lebar menyerbu dapur yang berdekatan dan berlantai kotor. Letaknya agak di bawah, karena memang dibuat lebih rendah dari ruangan-ruangan lain. Seorang di antaranya berteriak, “Tsujikaze Temma di sini. Kasih lampu!” Orang-orang itu menyerobot masuk ke dalam ruang tamu. Mereka bahkan tidak melepas sandal, suatu tanda kekasaran yang sudah melekat. Mereka mulai melongok ke sana kemari –– ke lemari, ke laci-laci, ke bawah tatami jerami tebal tang menutup lantai. Temma mendudukkan diri denga megahnya di dekat perapian, sambil mengawasi kaki tangannya menggeldah ruangan-ruangan itu dengan sistematis. Ia betulbetul menikmati pekerjaan itu, tapi dengan segera ia bosan karena tidak melakukan apa-apa. “Terlalu lama!” geramnya sambil menghantamkan tinju ke tatami. “Kau pasti menyimpannya sebagian di sini. Di mana barang itu?” “Aku tak merngerti apa yang kau bicarakan,” jawab Oko sambil melipat dengan sabar kedua tangannya di perut. “Jangan bicara begitu, perempuan!” lenguh Temma. “Mana barang itu? Aku tahu barang itu ada di sini!” “Aku tak punya apa-apa!” “Tak punya?” “Tak punya.” “Kalau begitu, barangkali memang kau tidak memilikinya. Barangkali salah infrmasi yang kuterima….” Ia pun memandang Oko dengan tajam, sambil menarik-narik dan menggaruk-garuk jenggotnya. “Cukup, anakanak!” gunturnya. Sementara itu, Oko sudah duduk di kamar sebelah. Pintu dorongnya terbuka lebar, seakan-akan hendak mengatakan bahwa Temma dapat memeriksa terus tempat yang dicurigainya. “Oko,” panggil Temma kasar. “Apa maumu?” terdengar jawaban dingin “Bagaimana kalau minum sedikit?” “Mau sedikit air?” “Jangan paksa aku…,” ancam Temma memperingatkan. “Sake ada di sana. Minumlah kalau mau.” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

“Ai, Oko,” kata Temma melunak. Ia hampir-hampir mengagumi Oko karena sikap keras kepalanya yang dingin. “Jangan begitu. Aku sudah lama tak berkunjung. Apa begini caranya menyambut teman lama?” “Berkunjung!” “Sudahlah kau ikut bersalah juga. Sudah banyak yang kudengar tentang apa yang dilakukan ‘janda tukang moxa dari berbagai orang, sampai rasanya tak mungkin semua itu bohong. Kudengar kau menyuruh anakmu yang cantik itu memereteli mayat-mayat. Nah, kenapa dia mesti melakukan hal seperti itu?” “Tunjukkan padaku buktinya!” jerit Oko. “Mana buktinya!” “Kalau ada rencanaku menggalinya, mana mungkin aku mengingatkan Akemi sebelumnya? Kau tahu sendiri aturan permainannya. Ini wilayahku, dan aku harus memeriksa rumahmu. Kalau tidak, semua orang akan menyangka mereka bisa lepas begitu saja sesudah melakukan hal seperti itu. Kalau begitu, di mana nanti tempatku? Aku harus melindungi diriku, tahu!” Oko menatap Temma dalam kediaman baja, kepalanya setengah tertoleh kepadanya, sedangkan dagu dan hidungnya terangkat bangga. “Baiklah, akan kulepaskan kau kali ini. Tapi ingat, aku bersikap baik sekali kepadamu sekarang.” “Baik kepadaku? Siapa? Kau? Menggelikan!” “Oko,” bujuk Temma, “ke sinilah, dan tuangkan minuman untukku.” Tapi ketika Oko tidak juga memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak, ia pun meledak, “Anjing gila kau! Apa kau tidak tahu, kalau kau bersikap baik padaku, tidak bakal kau hidup seperti ini?” Temma mereda sedikit, kemudian nasihatnya, “Pikirlah dulu.” “Aku memang tenggelam dalam kebaikan hati Tuan,” terdengar jawaban yang berbisa. “Kau tak suka padaku?” “Coba jawab pertanyaan ini: Siapa yang membunuh suamimu? Aku yakin kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu, kan?” “Kalau kau mau membalas dendam pada pelakunya , aku akan membantumu dengan senang hati. Aku bisa membantu dengan jalan apa pun.” “Jangan berlagak bodoh!” “Apa maksudmu?” “Kau sudah banyak mendengar dari orang banyak. Apa mereka tidak mengatakan padamu bahwa kau sendirilah yang membunuhnya? Apa kau belum mendengar bahwa Tsujikaze Temma itulah pembunuhnya? Semua orang tahu. Boleh saja aku janda seorang bandit, tapi aku belum jatuh begitu rendah sampai mau main ke sana kemari dengan pembunuh suamiku.” “Kau rupanya memang harus mengatakannya: tak bisa kau membiarkan saja hal itu, ya!” Sambil tertawa, Temma mengosongkan sakenya dalam sekali teguk, dan menuang lagi. “Kau tahu, mestinya kau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Itu tak baik untuk kesehatanmu atau kesehatan anakmu yang manis!” “Aku akan mendidik Akemi dengan semestinya, dan sesudah dia kawin, aku akan kembali menghadapimu. Ingat kata-kataku ini!” Temma tertawa lagi hingga bahu dan seluruh tubuhnya berguncang. Setelah mereguk seluruh sake yang dapat ditemukannya, ia pun memberi isyarat kepada salah seorang kaki-tangannya yang ditempatkan di sudut dapur, tombaknya tegak sejajar dengan bahunya. “He, kau,” katanya dengan suara menggelegar, “geser papan langit-langit itu dengan pangkal tombakmu!” Orang itu tunduk pada perintah Temma. Ia mengitari kamar sambil menyodok-nyodok langit-langit, dan kekayaan Oko pun berjatuhan ke lantai, seperti hujan es. “Seperti sudah kuduga,” kata Temma sambil berdiri dengan kikuknya. “Coba lihat, anak-anak. Bukti! Dia telah melanggar peraturan, tak sangsi lagi. Bawa dia keluar dan kasih hukumannya!” Orang-orang itu pun berduyun-duyun ke kamar perapian, tapi sekonyong-konyong mereka terhenti. Oko berdiri mematung di pintu, seakan menantang mereka untuk menjamahnya. Temma, yang telah turun ke dapur, memanggil tak sabar, “Apa yang kalian tunggu? Bawa dia kemari!” Tak ada yang bergerak. Oko terus menatap orang-orang itu dari atas, dan orang-orang itu tetap saja seperti lumpuh. Temma pun memutuskan untuk mengambil alih. Sambil mendecapkan lidahnya ia mendekati Oko, tetapi ia pun tiba-tiba terhenti di depan pintu. Di belakang Oko, tidak kelihatan dari dapur, berdiri dua pemuda berwajah ganas. Takezo menggenggam rendah pedang kaunya, siap mematahkan tulang kering pendatang pertama atau siapa pun yang cukup bodoh untuk mengikutinya. Di pihak lain, Matahachi menggenggam pedang tinggi-tinggi, siap menebaskannya ke leher pertama yang berusaha menerobos pintu masuk. Akemi tidak kelihatan. “O, jadi begitu ya,” rintih Temma, yang tiba-tiba ingat adegan di sisi gunung. “Aku pernah lihat orang itu berjalan bersama Akemi beberapa hari yang lalu – yang memegang tongkat itu. Siapa yang satunya?” Matahachi ataupun Takezo tidak menjawab. Ini berarti mereka bermaksud menjawab dengan senjata. Ketegangan memuncak. “Mestinya tidak ada lelaki di rumah ini,” raung Temma. “Hai, kalian berdua… Kalian pasti dari Sekigahara! Hati-hatilah kalian – kuperingatkan kalian.” Kedua pemuda itu sama sekali tidak bergerak. “Tak ada di daerah ini yang tidak kenal nama Tsujikaze Temma! Akan kutunjukkan pada kalian, apa yang kami lakukan terhadap gelandangan!” Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sunyi. Temma memberi isyarat pada kaki-tangannya untuk menyingkir. Seorang di antaranya terjatuh ke perapian. Ia menjerit, dan ranting-ranting menyala yang kejatuhan tubuhnya menjadi bunga api ke langitlangit. Dalam beberapa detik saja, ruangan sudah penuh oleh asap. “Aarrrghh!” Temma menerjang ke ruangan itu, Matahachi pun menebaskan pedang dengan kedua tangannya, tapi orang tua itu terlalu cepat baginya, hingga tebasan itu mental mengenai sarung pedang Temma. Oko telah melarikan diri ke sudut terdekat, sementara Takezo menanti dengan edang kayu eknya yang terpasang horizontal. Ia mengincar kaki Temma, lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatan. Pedang itu mendecit di kegelapan, tapi tidak terdengar suara benturan. Manusia lembu itu telah melenting ke udara pada waktunya, dan ketika turun ia menerjang Takezo derngan kekuatan batu besar. Takezo merasa seakan berkelahi dengan seekor beruang. Inilah orang terkuat yang pernah dihadapinya, temma mencengkeram lehernya dan mendaratkan dua-tiga pukulan yang membuat tengkorak Takezo seperti pecah. Kemudian Takezo mendapat kesempatan lagi, sehingga Temma terlempar ke udara. Ia mendarat ke dinding, mengguncangkan rumah dan segala isinya. Ketika Takezo mengangakt pedang kayunya untuk dihantamkan ke kepala Takezo, bandit itu berkelit, langsung berdiri dan melarikan diri, dikejar oleh Takezo. Takezo sudah memutuskan untuk tidak membiarkan Temma lolos. Itu berbahaya. Hatinya sudah bulat. Kalau berhasil menangkap orang itu, ia takkan setengah-tengah membunuhnya. Ia akan memastikan benar bahwa tak ada sepenggal nafas pun tertinggal. Itulah sifat Takezo. Ia makhluk ekstrem. Waktu kecil pun sudah ada sifat primitif dalam darahnya, sifat yang mengingatkan orang pada prajuritu-prajurit ganas jepang kuno, sifat yang sekaligus liar dan murni. Sifat itu tak kenal cahaya peradaban ataupun tempaan pengetahuan. Tidak kenal pula sikap lunak. Itu ciri alamiah, suatu ciri yang membuat ayahnya tak bisa menyukai anak itu. Munisai telah mencoba dengan cara apa pun yang khas bagi golongan militer untuk mengatasi kebuasan anaknya dengan menghukumnya keras-keras dan sering-sering, tetapi akibatnya hanya membuat anak itu lebih liar, seperti celeng liar yang kebuasan sejatinya muncul pada waktu ketiadaan makanan. Semakin orang kampung menghinakan pemuda kasar itu, semakin ia bersikap seolah ia berkuasa atas mereka. Ketika anak alam itu sudah besar, ia pun mulai bosan dengan berlagak sebagai pemilik dusun itu. Terlampau mudah baginya mengancam orang-orang dusun yang sifatnya takut-takut. Ia mulai memimpikan hal-hal yang lebih besar. Sekigahara telah memberikan kepadanya pelajaran pertama tentang apa sebenarnya dunia ini. Impian-impian di masa muda porak-poranda – meski ia tak punya banyak impian. Baginya tidak ada yang namanya merenungkan kegagalan dalam usaha ‘sejati’ yang pertama ataupun mempertanyakan suramnya masa depan. Ia belum tahu arti disiplin pribadi, dan ia menerima seluruh bencana berdarah itu dengan tenang saja. Dan kini, kebetulan saja ia tertumbuk pada kakap yang sungguh besar – Tsujikaze Temma, pemimpin para bandit! Inilah lawan yang ia hasratkan bertanding di Sekigahara. “Pengecut!” bentaknya. “Jangan lari! Dan ayo lawan aku!” Takezo berlari seperti kilat, melintasi lapangan yang gelap kelam, sambil meneriakkan kata-kata ejekan. Sepuluh langkah di depannya Temma melarikan diri seperti terbang. Rambut Takezo menyapu telinganya. Ia merasa bahagia – lebih bahagia daripada kapan pun dalam hidupnya. Makin jauh ia berlari, makin dekat ia pada kegairahan binatang semata-mata. Maka ia pun melompat ke punggung Temma. Darah menyembur di ujung pedang kayu itu, dan jeritan yang membekukan darah mengoyak malam yang tenang. Tubuh bandit yang besdar dan berat itu jatuh ke bumi dengan suara yang berdebam dan terguling. Tengkoraknya hancur, matanya lepas dari ceruknya. Dua-tiga pukulan berat dijatuhkan lagi ke tubuh itu, dan tulang-tulang rusuk yang patah pun mencuat dari kulitnya. Takezo mengangkat tangan, menghapus banjir keringat yang turun dari keningnya. “Puas, Kapten?” tanyanya penuh kemenangan. Dengan sikap acuh tak acuh, kembalilah ia ke rumah. Orang yang tidak tahu kejadian barusan akan menyangka ia hanya keluar malam untuk jalan-jalan, sama sekali tanpa urusan di dunia ini. Ia merasa bebas, tidak menyesal karena tahu kalau orang itu yang menang, ia sendiri akan terbaring di sana, tanpa nyawa dan sendirian. Dari kegelapan terdengar suara Matahachi, “Takezo, kaukah itu?” “Ya,” jawab Takezo kering. “Ada apa?” Matahachi berlari mendekat dan katanya sambil terengah-engah, “Aku bunuh satu! Bagaimana denganmu?” “Aku bunuh satu juga.” Matahachi mengangkat pedangnya yang berlumuran darah sampai kepangan gagangnya. Sambil melebarkan bahunya, dengan penuh kebanggaan ia berkata, “Yang lain-lain lari. Bajingan-bajingan pencuri ini pengecut! Tak punya nyali! Cuma bias melawan mayat, ha! Ini baru perkelahian, ha-ha-ha!” Kedua pemuda itu penuh percikan darah kental, dan mereka puas seperti sepasang anak kucing yang makan kenyang. Sambil berkeciap senang, mereka pun menuju lampu yang tampak dari jauh. Takezo dengan pedang berdarah, Matahachi dengan pedang yang juga berdarah.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seekor kuda gelandangan melongokkan kepalanya ke jendela dan melihat-lihat sekitar rumah. Dengusnya membangunkan kedua orang yang sedang tidur. Sambil memaki binatang itu, Takezo menampar telak hidungnya. Matahachi meregangkan badan, menguap, berucap betapa enak tidurnya. “Matahachi sudah cukup tinggi,” kata Takezo. “Apa kau kira sudah sore?” “Tidak mungkin!” Sesudah tidur nyenyak, peristiwa-peristiwa malam sebelumnya sudah terlupakan sama sekali. Untuk kedua orang ini, yang ada hanya hari ini dan besok. Takezo berlari ke belakang rumah dan melepas baju sampai pinggang. Sambil merundukkan badan di sisi sungai gunung yang bersih dan sejuk itu ia memercikkan air ke wajahnya, membasahi rambutnya, dan membasuh dada dan punggungnya. Seraya menengadah ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, seakan-akan mencoba mereguk sinar matahari dan seluruh udara yang ada di langit. Masih mengantuk, Matahachi masuk ke kamar perapian. Ia mengucapkan selamat pagi kepada Oko dan Akemi dengan riang. “He, kenapa pula kalian, wanita-wanita yang manis ini, cemberut begitu?” “Apa betul begitu kelihatannya?” “Ya, betul sekali. Kelihatannya seperti kalian sedang berkabung. Apa yang mesti dirisaukan? Kami telah membunuh pembunuh suami ibu dan menghantam kaki-tangannya; mereka tidak akan lekas lupa.” Kekecewaan Matahachi tidak sukar diterka. Semula ia pikir janda dan anak gadisnya itu akan senang sekali mendengar berita kematian Temma. Memang malam sebelumnya Akemi bertepuk tangan gembira ketika pertama kali mendengar tentangnya. Tetapi Oko dari semula sudah tampak tidak enak, dan hari ini, ketika membungkuk kesal di dekat api, ia tampak lebih muram lagi. "Ada apa dengan Ibu?" tanya Matahachi. la berpendapat Oko adalah wanita yang paling sukar disenangkan hatinya di dunia ini. "Inilah balasannya!" katanya pada diri sendiri sambil mengambil teh pahit yang dituangkan Akemi untuknya dan berjongkok. Oko tersenyum lesu, iri kepada anak muda yang belum banyak mengecap asam garam kehidupan di dunia ini. "Matahachi," katanya letih, "kau rupanya belum mengerti. Temma punya beratus-ratus pengikut." "Tentu saja. Orang brengsek seperti dia selalu punya banyak pengikut. Kami tidak takut akan macam orang-orang yang ikut dengan orang seperti itu. Kalau kami dapat membunuh dial kenapa kami mesti takut kepada anak buahnya? Kalau mereka mencoba menyerang kami, Takezo dan aku akan..." "... tak berbuat apa-apa!" sela Oko. Matahachi membusungkan dadanya clan katanya, "Siapa bilang begitu? Datangkan mereka sebanyakbanyaknya! Mereka tak lebih dari serombongan cacing. Atau Ibu pikir Takezo dan aku ini pengecut? Mau merangkak mengundurkan diri? Ibu kira siapa kami ini?" "Kalian bukan pengecut, tapi kalian kekanak-kanakan! Bahkan terhadap aku! Temma punya adik lelaki bernama Tsujikaze Kohei, dan kalau dia datang mencari kalian, kalian berdua jadi satu pun tak akan punya kesempatan menang!" Ini bukan macam pembicaraan yang suka didengar oleh Matahachi, tapi sementara Oko meneruskan pembicaraannya ia mulai berpikir barangkali Oko ada benarnya. Tsujikaze Kohei agaknya memiliki gerombolan besar pengikut di sekitar Yasugawa di Kiso. Dan bukan hanya itu, ia ahli berkelahi dan luar biasa mahir dalam menangkap orang yang lepas dari tangkapannya. Sebegitu jauh belum ada orang yang dapat hidup normal sesudah Kohei secara terbuka menyatakan akan membunuhnya. Jalan pikiran Matahachi hanyalah, kalau orang menyerang kita di tempat terbuka, itu mudah. Tapi lain sekali halnya kalau orang itu menyerang selagi kita tidur nyenyak. , "Itulah kelemahanku," demikian diakuinya. "Aku tidur seperti orang mati” Sementara duduk bertopang dagu dan berpikir, Oko pun sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi yang dapat dilakukannya kecuali meninggalkan rumah itu beserta cara hidupnya dan pergi jauh dari situ. Ia pun bertanya pada Matahachi, apa yang hendak dilakukannya beserta Takezo. "Aku akan membicarakannya dengan dia" jawab Matahachi. "Ke mana pula dia pergi tadi?" Ia pun berjalan ke luar clan mencari ke sekitar situ, tapi Takezo tidak tampak di mana pun. Sejenak kemudian ia memayungi matanya dengan tangan, memandang ke kejauhan, dan melihat Takezo sedang menaiki kuda.

Pesta Bunga
PADA abad tujuh belas, jalan raya Mimasaka merupakan jalan utama. Jalan itu membentang dari Tatsuno di Provinsi Harima, berkelok-kelok melewati dataran yang dalam peribahasa dilukiskan sebagai "berbukitbukit". Seperti halnya pancang-pancang yang menandai perbatasan Mimasaka-Harima, jalan itu menelusuri rangkaian pegunungan yang seakan tanpa akhir. Para musafir yang muncul dari Celah Nakayama biasa memandang ke lembah Sungai Aida, dan di situ sering kali mereka terkejut melihat sebuah kampung yang cukup besar. Sebetulnya Miyamoto lebih tepat dinamakan perserakan dusun daripada sebuah kampung yang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sesungguhnya. Sekelompok rumah berderet di sepanjang sisi-sisi sungai, yang lain berkerumun jauh di atas perbukitan, dan yang lain lagi mengambil tempat di tengah dataran terbuka berbatu-batu, sehingga sukar dibajak. Jika dilihat secara keseluruhan, jumlah rumahrumah itu cukup memadai untuk suatu pemukiman pedesaan pada waktu itu. Sampai kira-kira setahun sebelum itu, Yang Dipertuan Shimmen dari Iga memiliki sebuah puri, tak sampai satu mil jauhnya dari sungai-sebuah puri kecil sebagaimana puri-puri lain, tapi puri yang memikat para tukang clan pedagang untuk selalu datang. Lebih jauh ke utara terdapat tambang perak Shikozaka yang kini sudah lewat zaman keemasannya, tapi dahulu pernah memiliki daya tarik bagi para penambang dan manamana. Para musafir yang bepergian dari Tottori ke Himeji atau dari Tajima ke Bizen lewat pegunungan itu biasanya menggunakan jalan raya tersebut, dan biasanya mereka juga singgah di Miyamoto. Miyamoto memiliki rona eksotik sebuah kampung yang sering dikunjungi oleh penduduk yang datang dari beberapa provinsi dan dapat membanggakan tidak hanya losmennya, melainkan juga toko pakaiannya. Rombongan perempuan malam juga berlabuh di sana. Leher mereka dipupur putih seperti mode waktu itu. Mereka biasa mondar-mandir di depan rumah usahanya, seperti kelelawar putih di bawah tepi atap. Itulah kota yang ditinggalkan oleh Takezo clan Matahachi untuk pergi berperang. Sambil memandang puncak-puncak atap Miyamoto, Otsu duduk melamun. Ia gadis lembut, berkulit terang clan berambut hitam mengilat, sosok tubuh dan anggota badannya indah dan kelihatan rapuh. Sosoknya itu menyiratkan kesan kudus, hampir-hampir seperti peri. Tidak seperti gadis-gadis petani yang tegap dan merah sehat, yang bekerja di sawah di bawah sana, gerak-gerik Otsu halus. Jalannya anggun, lehernya jenjang dan kepalanya tegak. Kini, selagi duduk di ujung emperan kuil Shippoji, ia tampak bagai patung porselen. Sebagai bayi temuan di kuil gunung ini, ia punya sifat menyendiri yang jarang ditemukan pada gadis umur enam belas tahun. Keengganannya bergaul dengan gadis-gadis lain seumurnya clan dari dunia kerja, membuat matanya memancarkan pandangan kontemplatif dan sungguh-sungguh tajam, yang cenderung menolak lelaki yang terbiasa dengan perempuan sembarangan. Matahachi, tunangannya, hanya satu tahun lebih tua darinya, dan sejak ia meninggalkan Miyamoto bersama Takezo pada musim panas sebelumnya, Otsu tidak mendengar kabar apa-apa tentangnya. Bahkan sampai bulan pertama dan kedua tahun baru ini la merindukan berita tentang Matahachi, namun kini bulan keempat sudah dekat, dan ia tidak lagi berani berharap. Dengan malas pandangannya mengawang ke awan-awan, dan pelan-pelan muncullah pikiran di kepalanya. Sebentar lagi sudah satu tahun penuh. "Saudara perempuan Takezo pun tidak mendengar berita tentang Takezo. Bodoh aku, kalau aku menyangka di antara mereka ada yang masih hidup." Sekali-kali ia mengucapkan kata-kata itu pada seseorang, dengan harapan atau dengan suara dan mata mengimbau, agar orang lain itu membantahnya dan memintanya untuk tidak berputus asa. Tapi tak seorang pun memperhatikan keluhannya. Bagi orang kampung yang bersahaja, yang sudah terbiasa dengan pasukan Tokugawa yang menduduki kuil Shimmen sederhana itu, tidak ada alasan lagi untuk menyimpulkan bahwa mereka masih hidup. Tak seorang pun anggota keluarga Yang Dipertuan Shimmen pulang dari Sekigahara, dan itu wajar sekali. Mereka keluarga samurai; mereka telah kalah. Tak akan mereka berkehendak memperlihatkan wajahnya kepada orangorang yang mengenalnya. Tapi bagaimana dengan prajurit biasa? Apakah tidak wajar kalau mereka pulang? Bukankah mereka sudah akan pulang lama berselang, kalau mereka memang masih hidup? "Kenapa," demikian tanya Otsu, entah untuk keberapa kalinya, "kenapa orang-orang pergi berperang?" Kini ia sudah bisa menikmati kesenduan duduk sendiri di emperan kuil clan merenungkan hal yang muskil itu. Ia dapat menyendiri berjam-jam lamanya di tempat itu, tenggelam dalam angan-angan murung. Tiba-tiba ada suara lelaki menyerbu pulau kedamaiannya. “Otsu!" Gelandangan yang telah membangunkan mereka dengan ringkiknya itu, berputar-putar di kaki gunung, bertelanjang punggung. "Seperti tak ada masalah di dunia ini baginya," kata Matahachi pada diri sendiri dengan rasa iri. Dengan tangan mencorong di depan mulut ia berseru, "Hei, Takezo! Pulang! Kita mesti bicara!" Sesaat kemudian mereka sama-sama berbaring di rumput sambil mengunyah-ngunyah rumput, membicarakan apa yang akan mereka lakukan kemudian. Matahachi berkata, "Jadi, menurut pendapatmu kita mesti pulang?" "Ya, memang begitu. Kita tak dapat tinggal dengan kedua wanita ini selamanya." "Ya, memang tidak." "Aku tak suka perempuan." Setidak-tidaknya itulah keyakinan Takezo. "Baik. Kalau begitu, ayo kita pergi." Matahachi berguling dan memandang ke langit. "Sekarang, sesudah bulat pikiran kita, ingin rasanya aku cepat-cepat pulang. Tiba-tiba aku menyadari sangat kehilangan Otsu. Sungguh aku ingin melihatnya segera. Lihat di atas itu! Ada awan yang bentuknya seperti raut muka Otsu. Lihat! Bagian itu seperti rambutnya sesudah dikeramas." Matahachi menjejak-jejak tanah sambil menunjuk langit. Mata Takezo mengikuti bayangan kuda menjauh, yang baru saja dilepaskannya. Seperti kebanyakan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pengembara yang diam di padang-padang, kuda gelandangan dianggapnya makhluk yang baik wataknya. Apabila kita tidak membutuhkannya lagi, ia pun tidak meminta apa-apa dari kita; begitu saja ia pergi sendiri ke tempat lain. Dari rumah, Akemi memanggil mereka makan malam. Mereka pun berdiri. "Ayo balapan!" teriak Takezo. "Ayo!" Matahachi menimpali. Akemi bertepuk tangan gembira ketika kedua pemuda itu sama-sama berlari melintasi rumput yang tinggi, meninggalkan awan debu di belakang mereka. Sesudah makan malam, Akemi termenung. la baru saja mendengar bahwa kedua orang itu telah memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Sungguh menyenangkan bahwa mereka tinggal di rumah itu, dan ia ingin hal itu berlangsung selamanya. "Tolol kau!" umpat ibunya. "Kenapa pula kau sedih?" Oko sedang mengatur riasannya, sama rumitnya seperti biasa. Sementara memaki anak gadisnya, ia pun menatap Takezo di dalam cermin. Takezo menangkap pandangannya, dan tiba-tiba teringatlah ia akan bau harum tajam wanita itu ketika menyerbu ke dalam kamarnya. Matahachi menurunkan guci sake besar dari sebuah rak, lalu mengempaskan diri di samping Takezo dan mulai mengisi sebuah botol pemanas kecil, seolah-olah ia adalah tuan rumah. Karena malam itu malam terakhir, mereka merencanakan untuk minum sepuas-puasnya. Oko pun agaknya mencurahkan perhatian khusus kepada wajahnya. "Jangan sampai ada setetes pun yang tak terminum!" katanya. "Tak ada gunanya menyisakan sesuatu untuk tikus-tikus di sini." "Atau cacing-cacing!" sambut Matahachi. Dalam waktu singkat mereka telah mengosongkan tiga guci besar. Oko menyandarkan badan pada Matahachi dan mulai membelainya sedemikian rupa, hingga Takezo memalingkan kepala karena malu. "Aku... aku... tak bisa berjalan," gumam Oko mabuk. Matahachi mengawalnya ke kasurnya, sementara kepala Oko tersandar berat ke bahunya. Sampai di sana, Oko menoleh pada Takezo dan katanya dengki, "Kau, Takezo, tidurlah sendirian. Kau suka tidur sendiri. Betul, kan?" Tanpa gumaman apa pun Takezo merebahkan diri asal saja. Ia sudah sangat mabuk, dan hari sudah larut malam. Ketika ia terbangun, hari telah tinggi. Begitu membuka mata, ia pun merasakannya. Terasa olehnya rumah itu kosong. Barang-barang yang hari sebelumnya ditumpukkan Oko dan Akemi untuk perjalanan telah hilang. Tidak ada pakaian, tak ada sandal-dan Matahachi pun tak kelihatan. la memanggil, tapi tak ada jawaban, clan ia pun tidak mengharapkannya lagi. Rumah yang kosong memancarkan suasananya sendiri. Tak ada orang di halaman, tak ada orang di belakang rumah, tak seorang pun di lumbung. Satu-satunya jejak teman-temannya hanyalah sisir merah terang yang tergeletak di samping mulut pipa air yang terbuka. "Matahachi babi!" katanya pada diri sendiri. Mencium bau sisir, kembali ia teringat bagaimana Oko mencoba menggodanya malam hari belum lama ini. "Inilah yang mengalahkan Matahachi," pikirnya. Memikirkan hal itu saja darahnya menggelegak. "Hai, tolol!" teriaknya keras. "Bagaimana dengan Otsu? Apa yang akan kauperbuat dengan dia? Apa tidak sudah terlalu sering dia kautinggalkan, babi?" Diinjaknya sisir merah itu. la ingin berteriak berang, bukan untuk diri sendiri, melainkan karena rasa kasihan pada Otsu, yang dapat dibayangkannya dengan jelas sedang menanti di kampung sana. Selagi ia duduk sedih di dapur, kuda gelandangan itu melongok tenang di pintu. Karena Takezo tidak menepuk hidungnya, ia pun pergi ke meja cuci dan dengan malasnya menjilati butir-butir padi yang menempel di sana. Otsu menoleh. Ia melihat seorang laki-laki bertampang muda datang mendekati dari sumur. Orang itu hanya mengenakan cawat yang hampir tidak dapat memenuhi fungsinya, dan kulitnya yang tertempa cuaca berkilau seperti emas redup patung Budha. Ia biarawan Zen yang tiga-empat tahun lalu datang ke tempat itu dari Provinsi Tajima. Sejak itu ia tinggal di kuil itu. "Akhirnya datang musim semi," kata biarawan itu, puas pada diri sendiri. "Musim semi suatu berkah, tapi berkah campuran. Begitu keadaan sedikit panas, kutu-kutu busuk itu pun melanda negeri. Mereka mencoba mengambil alih negeri, persis seperti Fujiwara no Michinaga, si bangsat lihai, anak buah seorang regent." Sebentar kemudian ia pun meneruskan monolog itu. "Aku baru saja mencuci pakaianku, tapi di mana akan kukeringkan jubah tua yang sudah compang-camping ini? Aku tak dapat menggantungkannya di pohon prem. Dosa besar sekali clan menghina alam, kalau aku menutup bunga-bunga itu. Cobalah pikir, aku orang yang punya selera, tapi aku tak dapat menemukan tempat menggantungkan jubah ini! Otsu! Pinjami aku kayu jemuran." Wajah Otsu memerah melihat biarawan bercawat cekak itu. Ia pun berseru, "Takuan! Bapak tak bisa ke mana-mana setengah telanjang begitu, sebelum pakaian Bapak kering!" "Kalau begitu, aku akan tidur. Bagaimana kalau begitu?" Ebook by Kang Zusi

yang kedengaran religius dan kekanak-kanakan sekaligus." Pada saat itu seekor tawon menyambar kepala Takuan. Sejenak kemudian Takuan pun terpekur. di lapangan bawah." "Mungkin saja. Bapak ini betul-betul mengerikan!" la pun berlari jauh ke depan. dan menyiksa diri dalam nyala api neraka? Kuharap setidak-tidaknya kau tak usah mengalami segalanya itu. Orang bisa mengira Bapak gila." Dan dengan wajah saleh ia pun melagukan sabda pertama sang Budha." • Otsu pun tertawa geli melihat lagak Takuan yang kurang pantas itu. Melihat celah dalam cawatnya yang longgar itu." Dengan harapan dapat menghindar. Takuan bertanya polos. "Sungguh damai di sini. lebih baik Bapak waspada terhadap tawon-tawon itu. saya tak bisa lagi membuang-buang waktu sepezti ini. Cuma. manusia dilahirkan tanpa pakaian. aster. Saya harus menyiapkan segala sesuatunya untuk besok. "Jangan marah. netcafe. Dan lagi temanteman lelakimu tak suka kalau kau terlalu banyak cemberut. lebih balk saya pergi sendiri. "Rasanya Anda benar. Bapak kelihatan lucu. "Di langit sana dan di bumi ini hanya aku yang suci. dan violet musim semi. dan di tengah lautan kupu-kupu yang sedang berterbangan mulailah ia mengayunkan sabitnya dengan gerakan setengah lingkaran." "Aku akan mengawanimu. Sekarang ia mengenakan kain pembalut besar." "Takuan.property of: CROSSFiRE. Kau perlu bantuan. Kain pembalutnya mengepak-ngepak liar ditiup angin. Sebuah keranjang ia sandangkan ke punggung. daripada berkhotbah. Jangan bergerak! Aku akan ambil teh untuk pengurapannya. tapi saya tidak menganggap itu alamiah. dan gaya reinkarnasinya pun seketika berganti dengan gerak tangan yang kacau." Takuan menganggukkan kepala sambil mendesah putus asa. Aku setuju. "Sebenarnya aku menanti saja sampai besok! Karena hari ini tanggal delapan. Aku cuma mau menyampaikan padamu ajaran sang Budha tentang nasib perempuan. Otsu. Namun sekonyong-konyong Otsu berhenti tertawa." desahnya. Kalau mereka menuangkan teh manis ke badanku. kau keliru! Sudah tugasku sebagai pendeta untuk mencampuri kehidupan orang banyak. kalau sendirian. "Kerjaan apa?" "Kerjaan apa? Apa Bapak sudah lupa juga? Pertunjukan pantomim Bapak tadi yang mengingatkan saya. lalu la pun menyelinap ke luar pintu samping." "Tanpa pakaian?" "Kau tak akan bisa memetik bunga secukupnya. Otsu meletakkan keranjangnya di tanah. berdiri saja baik-baik di situ. "Nah. memotong bungabunga itu di dekat akarnya. tapi tidak lebih sia-sia daripada urusan seorang pedagang. penjual pakaian. sang tawon menukik lagi." "Kenapa?" "Entahlah. Pendeta tua menyuruh saya mengambil bunga untuk menghias kuil bunga. bahkan bagi Otsu yang pendiam itu pun tak ada hari tanpa hiburan berupa apa yang dilakukannya atau dikatakannya. Bapak ini keterlaluan!" Sambil mengangkat satu tangannya ke langit dan satu lagi menunjuk tanah. bunga-bunga musim semi bermekaran di kedua tepi Sungai Aida." "Memang demikianlah yang terjadi selama ini. semacam yang biasa digunakan orang untuk membawa tilam. "Takuan. atau samurai." "Kalau begitu. Lagi pula. "Tentu saja tidak. dan tersesat dalam pusaran derita dan kemarahan. Dan malam ini saya harus membuat teh manis. Aku ini titisan Pangeran Sidharta. kalau kita dapat menghabiskan hidup kita di surga penuh bunga. Ketelanjangan itu sifat alamiahnya. hari ulang tahun sang Budha. Ia menjawab. "0. Otsu pun bergegas memutar ke belakang kuil. Ada ha1-hal penting yang harus saya kerjakan:' Sementaca ia memasukkakan kakinya yang putih kecil itu ke dalam sandal." Otsu secara berirama mengisi keranjangnya dengan bunga-bunga rumput yang kuning cemerlang. aku bisa berdiri saja seperti ini dan membiarkan orang-orang menunduk hormat padaku. Sejak datangnya Takuan Soho. akan kukejutkan mereka dengan menjilat bibirku. Golongan pendeta tidak bagus hubungannya dengan kaum Ebook by Kang Zusi ." "Nasib perempuan sama sekali bukan urusan Bapak!" "O. Takuan menirukan gaya patung kecil Budha yang setiap tahun sekali biasa diurapi para pemujanya dengan teh khusus. ini jenis pekerjaan yang suka mencampuri urusan orang." "Di mana kau mengambil bunga?" "Dekat sungai. "Aku bukannya bicara tentang tawon. tapi beberapa saat kemudian ia sudah melihat kembali Takuan menempel di belakangnya. jangan jalan di samping saya!" "Tapi sebelum ini tak pernah rasanya kau keberatan berjalan di samping seorang pria. seruni. kenapa kita semua ini lebih suka menangis. "Apa ini lebih cocok untukmu?" serunya sambil menyeringai. "Oh. Otsu! Kau tahu. dan Otsu pun tertawa terbahak-bahak. diikuti langkah-langkah panjang Takuan. Inc. "Bapak betul-betul mirip. la ambil sebuah sabit. Sudahlah. seperti sang Budha turun dari pegunungan Himalaya. lho!" "Tentu saja mirip. menderita. tukang kayu. nama yang diberikan kepadanya sesudah menjadi pendeta. Kemudian saya harus menyiapkan segalanya untuk upacara pengurapan." Delapan atau sembilan ratus meter di bawah kuil itu." Otsu pun melunak. apiun. aku hanya menggoda. Pekerjaan ini ada karena dibutuhkan.

melahirkan anak-anak yang lemah dan sentimental. kan? Bukankah dia pernah datang ke kuil denganmu?" Dan Takuan pun menjatuhkan sabitnya. Karena itulah aku di sini. itu berarti kau tak boleh diberahikan semata-mata oleh makhluk hidup. "Lihat tidak?" kata Takuan sambil mengibaskan tangannya. tapi. Utusan neraka. sang Budha sendiri lelaki. bukan? Di India kuno lelaki lebih dihormati dan perempuan kurang dihormati dibandingkan dengan di Jepang. dan di situlah kau mesti menelurkan anak-anak yang bagus dan sehat. Iblis-iblis perempuan menggodanya siang-malam." "Kalau ajaran agama itu hanya pikiran sehat." "Karena dia sudah bijaksana atau pikun?" "Jangan menghujat!" Takuan memperingatkan dengan tajam. itu tidak masuk akal. yaitu saudara perempuan yang patuh. dan pegang sabit ini. kita tak akan membutuhkan nabi-nabi untuk menyampaikannya pada kita. "Sementara Bapak bekerja. perempuan!" "Kan dari tadi Bapak yang terus bicara?" Takuan memejamkan mata." "Itu lucu!" "Masih ada kelanjutannya. saya akan lari ke rumah Ogin. Dengan sendirinya dia lalu tidak menghargai tinggi perempuan. "Biar kujelaskan sekarang." "Saudara perempuan yang patuh. Kalau diterapkan pada kehidupanmu." "Apa menurut Bapak.. jangan berkhotbah lagi. seorang gadis berumur dua puluh lima." "Tapi. wajahnya memperlihatkan sikap jemu." katanya sambil berpikir... "Yah." Tawa Otsu pun pecah. kalau kau memang tidak menginginkan bimbingan spiritual dariku. Bapak." "Dan menurut kitab suci Bapak. teman perempuan yang penuh kasih." Otsu mengangkat sabitnya tak sabar. "Takuan. Sekalipun begitu. " Dia mengatakan." "Kalau begitu." "Diam. dia duduk di bawah pohon bodhi. agama Budha mengajarkan bahwa perempuan itu jahat. "Aku ikut. Saya sedang tak senang bicara hari ini. Berulang-ulang dia memuji kebajikan mereka itu dan menasihatkan pada orang laki-laki untuk memperistri perempuan-perempuan jenis itu tadi." "Baiklah. Ogin. tidak lagi dianggap orang sedang mekar-mekarnya. dan pembantu yang tunduk. Inc. yang jadi milikmu. netcafe. perempuan. kalau dipikir-pikir." "Nah.property of: CROSSFiRE. "Dia barangkali akan menyuguhi kita teh. "Kawinlah dengan kebenaran." "Apa lelaki tidak menipu perempuan juga?" "Ya. Tapi kuminta kaudengarkan nasihat yang diberikan Nagarjuna pada perempuan.. seolah-olah mengerahkan kesabaran. "Bapak datang kemari ini untuk membantu saya memetik bunga atau tidak?" "Tentu saja. Otsu pun mengangguk lemah. "apa sih 'kebenaran' itu?" Takuan menjatuhkan kedua tangannya ke samping dan memandang ke tanah." katanya berpura-pura tersinggung. "aku sendiri tidak begitu yakin. ibu yang baik." kata Otsu tak sabar. tapi sama sekali tidak jelek tampangnya. 'Hai. Bahkan dia pun sampai mengagungkan empat jenis perempuan. karena itu bukan kebetulan bahwa kau dan aku selamanya berselisih." Karena sudah capek sekali berdebat dengan biarawan itu. kita hentikan saja omongan ini. selama kira-kira tiga ribu tahun. "Ada yang aku tahu pasti. perempuan. Ketika sang Budha masih muda. dan pembantu yang tunduk." "Ogin? Kakak perempuan Takezo itu? Aku sudah pernah melihatnya."' Otsu memandangnya dengan hampa. teman perempuan yang penuh kasih. kalau dia perempuan. Kenapa mesti menyerangku pribadi?" Otsu menghentikan ayunan sabitnya lagi.. Kau tahu. seperti juga sang Budha. Walaupun para calon cenderung mundur karena reputasi adik lelakinya. aku pun tak akan memaksakannya padamu. dan bersamasama mereka berjalan menyusuri sungai. itu.. tapi Ebook by Kang Zusi . tapi Takuan tidak mengacuhkannya. Bertahun-tahun aku menggeluti kitab suci. jangan kamu mengawini laki-laki. Aku sudah haus setengah mati. "Dan jangan lupa Bodisatwa Nagarjuna yang juga membenci-maksudku takut-pada perempuan.. sekali lagi Bapak memutarbalikkan semuanya untuk keuntungan diri sendiri!" "Komentar khas perempuan. karena dia memang maha pengampun. perempuan. di masa tuanya dia mengambil beberapa murid perempuan. "Takuan." "Dengan pakaian begitu?" Takuan berpura-pura tidak mendengar. untuk melihat apa dia sudah menyelesaikan obi yang akan saya pakai besok. kenapa perempuan itu jahat?" "Karena dia menipu lelaki. tapi harus mencari yang abadi. Saya lihat Bapak sudah menyusun semua itu untuk keuntungan lelaki. 'Hai." "Itu cukup wajar. ibu yang baik." bentaknya jengkel. Iblis. Kau mesti tetap di kampung. keadaannya akan sebaliknya?" "Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin seorang iblis dapat menjadi Budha?" "Takuan. kawin dengan kejujuran artinya kan tak boleh berkeinginan pergi ke kota." "Nasihat apa?" "Dia mengatakan. kawinlah dengan kebenaran.

Namanya Takuan Soho. Ketika ia kembali ke dalam. Munisai. Betul-betul minta maaf. Salah seorang pendeta mengatakan. Takuan. Pembawaan dan pendidikannya yang baik segera tampak oleh semua orang. bukan mandi!" Otsu pun tertawa sampai keluar air mata. tapi kadang-kadang aku merasa seperti kakaknya. mereka meninggalkan sayur-sayuran segar." "0. semata-mata karena ia ingin mengurus adik lelakinya lebih lama lagi. dan terlihat olehnya altar keluarga. dan jauh lebih besar dari yang diperlukan oleh seorang samurai biasa di pedesaan. dia!" "Ya.property of: CROSSFiRE. dikitari oleh tembok kotor yang tinggi. Keduanya dilekatkan di papan. dia biarawan hebat. begitulah paling tidak. belum! Kurasa mereka akan muncul hari-hari ini. Saya tak lihat. "Aaii! Dingin!" lengking Takuan sambil melompat. Dalam cahaya suram itu la melihat dua tulisan gelap yang dilukis sangat saksama dengan kuas. Rumah itu menghadap ke sungai." Otsu mengangkat kepala. "Ya. belum. Yang kotor itu. netcafe. Suatu kejadian yang bukan tidak umum di zaman yang penuh kekalutan. Segera sesudah kematiannya. Ogin. para pembantunya pun pergi. Inc. membersihkan kamar-kamar yang tidak dipakai. ingat tidak? Waktu dia sedang berjemur telungkup sambil memegang kepala. Air tumpah tepat di kepala Takuan yang sedang jongkok di bawah. lalu ia berlari melintasi kamar sebelah. "Oh. "Jangan katakan itu! Bikin sial! Mereka belum mati. Mau kaupakai besok. karena kau sudah mau bersusah payah. aku senang bisa membantu. selalu. Umur 17. di mana Munisai dahulu biasa mengajarkan seni perang. Sebagai hadiah atas kerjanya yang sangat baik. didirikan di atas pondasi batu. "Maaf. Aku sendiri tidak mimpi yang lain kecuali adikku. mengisi guciguci air. Rumah yang ditinggalinya dibangun oleh ayah mereka. denganku. ia pun terlompat ketika mendengar Otsu menyalaminya. ia pun membawakan Takuan teh yang sudah dinantikannya. ia kehilangan status dan mati sebagai orang miskin. dan dengan cara-cara lain yang tak terhitung jumlahnya mereka berusaha memelihara rumah tua itu. Dia bilang dia telah melatih kutu-kutu itu untuk menghiburnya. Aku baru menyelesaikan obi-mu. Bikin kaget aku saja. "Ogin. Bunga-bunga iris liar berkecambah dari atapnya. Tak puas dengan itu." "Ya." Otsu menggelengkan kepala keras-keras." "O." "Kain pembalut? Eksentrik. aku mulai melamun. dia. Ketika Ogin yang sedang menjahit di kamar dalam mendengar pintu belakang terbuka. Kalau tak ada kesibukan. memandang ke tanah. Roh Hon'iden Matahachi yang telah pergi. banyak yang masih sering singgah. Aku yakin mereka tewas di Sekigahara. Cuma mengundang yang jelek-jelek. ia dianugerahi hak utama menggunakan nama Shimmen. Sebetulnya aku bisa menjahitnya sendiri. tapi karena mereka semua orang asli Miyamoto. Karena sedang tenggelam dalam pekerjaannya." Sebagai tanda minta maaf. menuju beranda.. Umur sama. Ogin yang memandang tajam ke beranda itu bertanya. "Apa kau mimpi tentang Matahachi?" tanyanya lembut." Ebook by Kang Zusi . Itu kain pembalut. "Kusingkirkan barang-barang ini. dan dengan kalutnya ia mencoba mengeringkan rambut dengan salah satu ujung kain pembalutnya. Aku punya lebih banyak waktu dari yang kubutuhkan. Tapi apa lagi yang lain dari itu? Aku sudah pasrah. di atas piring kecil. Dahulu rumah itu megah. dicengkeramnya bunga dan mangkuk air. jangan bilang begitu!" Otsu pun berlari ke altar dan mencabut tulisan itu dari papannya. "Apa kau sudah mendapat kabar bahwa mereka terbunuh?" "Ah. ia menyangka yang datang adalah salah seorang dari bekas-bekas pembantu itu. Kenapa?" "Itu artinya dia sudah mati. tapi kini telah reyot. Kau pernah melihatnya." "Aneh ya. kan?" "Betul. Mereka juga senang mengobrol dengan anak perempuan Munisai. Ketika Munisai tak disukai lagi. dia mengatakan kutu-kutunya sedang mengadakan pertandingan gulat. dengan sesajian air clan bunga di depannya: Roh Shimmen Takezo yang telah pergi.. "Apa pula yang kaulakukan ini? Aku datang kemari mencari secangkir teh." Ogin memandang jahitannya. Apabila singgah. dia begitu tolol." kata Otsu resah. Di sana dilontarkannya bunga itu sejauhjauhnya clan dituangkannya air di pinggir sana." "Memang bukan. "Kamu rupanya. tak kurang orang yang melamarnya." katanya. tapi di kuil begitu banyak pekerjaan. Di atasnya menyala lilin." Air mata melelehi wajahnya ketika la mengembus lilin itu. Ketika kita bertanya kepadanya apa yang dilakukannya.." "Ogin. kini terlapisi seluruhnya oleh kotoran burung layang-layang putih. dan dinding dojo. biarpun kelihatannya begitu. menyapu jalanan. la menolak semua pinangan. aku mau mengucapkan terima kasih." "Apa yang dipakainya itu? Kelihatannya bukan jubah pendeta. ketika masih memegang tanggung jawab latihan militer keluarga Shimmen. "Siapa itu?" "Biarawan musafir yang tinggal di kuil. sampai tak ada waktu lagi. Berapa umurnya?" "Katanya tiga puluh satu tahun.

" "Itu dia. kesusahan Anda akan berkurang lima puluh kilo juga." Seraya berdiri di dekat beranda. setinggi kira-kira setengah meter. tapi setidak-tidaknya kalian dapat memberiku kue manis untuk teman minum teh ini. Inc. Tapi. dan di sana-sini wanita tua dengan kimono warna gelap menggandeng tangan cucu-cucu mereka. tapi tindakanmu jauh lebih kejam dan bengis daripadaku. ia memainkan kuas dengan terampilnya. Pada pagi hari orang-orang berduyun-duyun ke kuil: gadis-gadis dengan obi merah. Di dalam ruang itu ada sebuah kuil mini. Takuan berseru. "Kuil ini miskin. la menulis: Dengan cepat dan saksama. "Orang bilang jenderal-jenderal terkenal seperti Hosokawa dan orang-orang bangsawan macam Karasumaru sudah berulang-ulang mencoba meyakinkannya untuk tinggal menetap. Anda memakai sutra halus dan obi bersulam. tanpa apa-apa kecuali teh. Kita tak dapat selalu menilai orang dari tampangnya." "Memang begitu yang dikatakannya. dan kadang-kadang masih terdengar dentangnya sampai jauh lepas tengah hari. aku tak peduli.property of: CROSSFiRE. aku seperti itu?" Mata Takuan pun berseri-seri. netcafe." bisik seorang pemuda. ruang utama yang kecil penuh dengan umat. karena beberapa alasan. Sambil menuangkan minyak ia menghimbau mereka untuk memberikan sumbangan. penyakit. "Kalaupun kalian membicarakan yang jelek. Terutama Anda-anda yang kaya." "Barangkali menurut anggapannya kita ini yang aneh. Tak pernah aku tahu alasannya dari siapa pun. Patting ini berdiri di dalam semacam baskom dari tanah liar. "Dia diangkat menjadi pendeta tetap di Nansoji dan ditunjuk sebagai kepala biara Daitokuji dengan maklumat Kaisar. Itto dari Sennan. Tetapi para pemudanya kelihatannya lebih tertarik mencuri-curi pandang ke Otsu daripada mengikuti upacara keagamaan ini. Yaitu tanggal delapan bulan empat. Ketika menuliskan kata-kata pesona di atas kertas lima warna. maka tinggalkan sumbangan sebanyak yang Anda sanggup. "Aku bisa mendengar semua yang kalian bicarakan!" "Tapi rasanya kami tidak membicarakan yang jelek. dan satu deretan panjang orang suci lain yang terkenal." Di sebelah lain kuil bunga itu. sedangkan kau duduk merintihkan kekasihmu yang hilang. Mereka malahan sudah menawarkan membangun kuil untuknya dan menyumbangkan uang untuk perawatannya. Takuan berdiri di dekatnya. istri-istri pedagang dengan warna kimono yang lebih lembut. Pergi dari sana dia menjadi pengikut pendeta sarjana dari Daitokuji dan melakukan perjalanan bersamanya ke Kyoto dan Nara. Entah sejak kapan orang di daerah ini menganggap bahwa menggantungkan sajak bernada praktis itu di dinding akan melindungi mereka dari hama. Wajahnya memancarkan rona merah muda. Belakangan dia belajar dengan pimpinan Gudo dari Myoshinji. tiga hari sesudahnya dia melarikan diri. DI kuil Shippoji." jawab Otsu riang. Dia menghabiskan banyak sekali waktu untuk belajar!" "Barangkali itu sebabnya dia agak lain. Kemudian dia masuk kuil sekte Zen Rinzai. "Semakin cantik saja. kira-kira empat tahun kemudian. Orang-orang melewati patung itu sambil mengguyurkan teh manis ke kepalanya dengan menggunakan sendok besar dari bambu." kata Otsu. Pada hari yang sebaik-baiknya ini. "Dan kau sendiri? Kau kelihatannya saja tidak tega melukai seekor lalat. Jika Anda meninggalkan uang sebanyak lima puluh kilo. dan menghilang hari berikutnya. Kejam!" Di kuil Daishoji dan Shippoji lonceng berdentang-dentang. Anda pasti punya banyak kesusahan juga. Di dalam "kuil bunga" ini ada patting Budha berwarna hitam. "Mungkin saja. dan juga nasib siaL Otsu menuliskan sajak itu sudah berpuluh kali-ya. hingga pergelangan tangannya mulai berdenyut dan tulisan Ebook by Kang Zusi ." "Dari mana dia itu?" "Dia lahir di Provinsi Tajima. Dia bilang lebih suka mengembara di pedesaan seperti pengemis. Anda punya banyak uang. Atapnya dari daun-daun potion jeruk dan tiang-tiangnya dililit bunga-bunga liar." bisik pemuda lain. Dia sendiri tak pernah menceritakan masa lalunya. membawa minyak suci dan mengisikannya ke dalam tabung-tabung bambu kecil untuk dibawa pulang para pengunjung sebagai pembawa berkah. Saya tahu siapa Anda. sudah demikian seringnya." "O. seperti bunga-bunga yang ada di sekitarnya. betul begitu? Dan bagaimana saya bisa kejam dan bengis begitu?" "Kau meninggalkan aku di luar sini tanpa daya. Kurasa dia agak sinting. Otsu melanjutkan. Sekali-sekali ia mencelupkannya ke dalam kotak tinta berlak emas di sebelah sana. Ia mengenakan obi baru." "Berapa lama dia akan tinggal di sini?" "Mana bisa tahu? Dia biasa muncul suatu hari. dan mulai mempersiapkan diri menjadi pendeta ketika umur sepuluh tahun." Ogin menggelengkan kepala. hanya berteman kutu-kutunya." Otsu melanjutkan ceritanya. Tangannya yang satu menunjuk ke langit dan satunya lagi ke tanah. "Dia memang seperti itu sejak dulu. Lonceng mulai berdentang selewat subuh." "Apa maksudmu. "Dia ada di sini. kalau itu menghibur kalian. tapi dia tidak tertarik. Otsu duduk menghadap meja berplitur hitam. Jatuhlah hukuman bagi Para serangga yang menghabiskan panen.

dan sesudah panen la menebah butir-butirnya dengan menginjak-injaknya. tangannya mulai mencerminkan kelelahan. Sekalipun sudah hampir enam puluh tahun umurnya. Sore pada hari pesta bunga itu." jawab Takuan. "Dari mana kamu. tiap hari ia memimpin keluarga dan petani penyewanya ke ladang dan bekerja sama kerasnya dengan mereka. tidak?" "Tidak. kalau tidak. "Kenapa tidak?" "Otsu bilang. ia pun menegur Takuan. Itulah inti amal." "Saya suka perempuan sama dengan lelaki di belakangnya. yaitu meringankan mereka dari beban." "Mengatakan apa?" "Takezo." "Bapak ini mestinya salah seorang biarawan bejat yang selalu kami dengar ceritanya itu. tapi Bapak mendahulukan perempuan." Takuan terlalu sibuk mengumpulkan mata uang emas untuk menjawab. Dia membantu pesta. "Dan dia pakai obi yang bagus sekali. "Sini." "Aku bicara kepada mereka yang sudah terlalu banyak harta. Heita?" "Ya. Bapak terus menyuruh kami menunggu giliran. Hentikan sekarang juga. Kalau senja memaksanya berhenti bekerja. Itu jadi beban mereka. Pada malam hari. saya mesti lari pulang dan mengatakan pada Nenek. Hon'iden. Pendeta!" kata seorang pemuda yang mendapat peringatan karena mendesakkan diri ke tengah. netcafe. biasanya ia dapat ditemui sedang mengurus ulat sutranya. lalu melayangkan pandang kepada orang banyak. dari seberang kali. "Takuan. Heita?" tanyanya tajam." "Kamu bawa pulang teh manis dan mantra pengusir hama. Dia bilang. Mereka juga mengerjakan tanah. pelan-pelan. "Maksud Anda saya?" kata Takuan sambil menunjuk hidungnya. Napasnya masih terengah-engah.property of: CROSSFiRE." Ebook by Kang Zusi . "Dengan jalan pikiran itu. "Jangan berdesakan. "Ya. berudu! Kaukira aku tidak tahu kenapa kau di sini! Kau tidak datang untuk menghormat sang Budha atau membawa pulang kebaikan. Osugi menghentikan kerjanya di petak kebun murbei ketika melihat cucu lelakinya yang masih ingusan berlari-lari telanjang kaki melintas ladang. sini." Suara Osugi turun satu oktaf. seorang perempuan yang sangat keras kepala bernama Osugi. Di musim tanam ia mencangkul ladang." Mata perempuan tua yang biasanya tersembunyi di antara lipatan dan kerut-kerut itu kini terbelalak karena jengkel." "Otsu ada di sana?" "Ya. hingga tubuhnya yang hampir melipat dua itu nyaris tidak kelihatan. Inc. Sering kali yang dipanggulnya adalah ikatan daun murbei yang demikian banyak. antrelah." jawab anak itu girang." "Cukup." katanya kepada orang banyak yang berdesak-desak. ya?" "He-eh. "Dari kuil. akuilah sekarang betul. tidak usah repot dengan hama-hama itu." "Hei. "Betul? Betul-betul dia melihatnya. "Hentikanlah usaha merampok orang-orang ini. kan? Tak bakal kau mendapat perempuan. Setelah berhenti sejenak. bagian 2 Murka Janda Bangsawan KELUARGA Matahachi. Nek. anggota kebanggaan kelompok bangsawan desa yang masuk kelas samurai. saya betul-betul marah!" Untuk mengistirahatkan matanya. hentikan. Terlalu banyak Bapak mengambil. Otsu bilang melihat dia di pesta. pencuri biasa pun bisa jadi orang suci semuanya. Kau datang untuk bisa memandang Otsu lebih jelas! Nah. Kepala sesungguhnya dari keluarga itu adalah ibu Matahachi. kalau kau berlaku seperti orang kikir. Anda sekalian akan segera mendapat kesempatan mengosongkan pundi-pundi Anda." Wajah Otsu berubah merah tua. Tiba-tiba terpandang olehnya sesosok wajah. ada saja yang dapat ditemukannya untuk disandangkan ke punggungnya yang bungkuk dan diangkutnya pulang ke rumah. Otsu kembali menghentikan pekerjaannya.

dia melompat seperti kelinci ketakutan. Namun Osugi waktu itu sudah yakin benar akan pengkhianatan Takezo.. ketika Takezo datang. Betul?" "Ya. tak ada makan malam di rumah itu." "Tak usah. "Apa Matahachi sudah pulang? Apa dia sudah di sini?" Orang-orang itu terkejut. "Ah. seakan-akan berharap melihat anak lelakinya berdiri di belakangnya.. Karena semua orang masih melakukan pencarian. Saya lari ke luar untuk menanyai Takezo. Ogin kakak perempuannya." "Nenek mau ke mana?" "Pulang. dan berkata lagi.property of: CROSSFiRE. Kita mesti bertanya.. Dia tahu adiknya yang menyeret anakku pergi perang. Akhirnya berkatalah ia mengancam. dan suaranya meninggi menjadi jeritan." "Kalau begitu. dan memang tak seorang pun di kampung ini yang akan menerima Takezo. Berdua saja. Di sana ia menanti. Menjadi jelaslah baginya bahwa anak lelaki Shimmen. atau paling tidak tanda mata dari dia." Ebook by Kang Zusi . Akhirnya seorang dari mereka mengatakan "belum". "Dan lagi. Nek. menyusuri sisi luar kebun pit." Osugi menolak keras. kita mungkin menemukan Takezo di sana. saya pikir dia tak akan berbuat begitu. la mulai bertanya-tanya pada dirinya. dan tiap kali dirasanya ada orang mendekat. sekali lagi telah berbuat sesuatu yang tidak baik. "Tak ada alasan untukku ke sana. netcafe. Diperintahkannya mereka pergi ke semua arah untuk menemukan Matahachi. dan memandangnya seakan-akan la telah kehilangan akal. ia pun memutar badannya kembali." "Tapi ini bukan keadaan biasa. Tubuh kekar itu pun seperti lumpuh seketika. Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon ek. mari kita melihat ke sana. Saya melihatnya di tengah orang banyak di luar kuil. dia tak akan berbuat begitu! Aku kenal iblis itu! Dia tidak sebaik itu. Nenek tak perlu melakukan apa-apa. kenapa dia lari seperti itu." "Kau tidak lihat Matahachi?" "Tidak. Kalau Takezo kembali. Seperti sedang kesurupan ia keluar pelan-pelan dari rumah." kata Otsu meredakan. Biarpun dia harus meninggalkan Matahachi. Aku tunggu dia di sini. Waktu pun mengapung lewat tanpa terasa. Osugi pun akhirnya bergerak." "Lari?" tanya Osugi keheranan. Matahachi pasti pulang juga. Osugi melewatinya saja dan berlari langsung ke lumbung." katanya sekonyong-konyong." jawab Otsu. la menolak menerima jawaban "belum". Matahachi pasti kembali juga. Sejak dulu dia memang aneh." "Saya ikut. Sandalnya yang basah berdetapdetap berat di tanah. "ambili daun murbei ini. dan matanya menjadi kabur oleh air mata. Kalau Takezo kembali. Pada waktu matahari terbenam. Saya yang melakukan semua formalitas. Matahachi mestinya tak perlu bergaul dengannya. "Ah. yang pokok sekarang menemui Takezo secepatnya. tapi tak pernah sekali pun dia datang minta maaf atau menunjukkan sikap hormat. Ketika malam tiba dan masih juga belum ada berita. "Bangsat! Barangkali dia sudah meninggalkan Matahachi yang malang mati entah di mana. sedangkan pegunungan yang membayang di depan dan di belakang rumah terselimut kabut putih. la duduk seperti patung. "Heita. Melihat bayangan Otsu. menuju gerbang depan. kemudian mencuri-curi pulang dalam keadaan sehat walafiat. Sekarang pun." Wanita tua itu pun enyah. tapi perempuan tua itu seperti tidak mendengarnya. Saya lihat matanya sesaat. Seakan-akan. "Barangkali kau benar. kita pergi. Bau harum kembang pit mengambang di udara. si bangsat Takezo yang sempat dibencinya karena memikat Matahachi yang sangat disayanginya untuk pergi perang. semakin terbentuk kecurigaan yang mengerikan di dalam otaknya. pasti dia menyampaikan pesan untuk kita. "Otsu! Orang bilang kau melihat Takezo." Kata-kata Otsu terdengar gemetar karena tuduhan perempuan tua yang tergesa-gesa itu. kalau pergi ke rumah Ogin. Ayolah. ia berlari ke luar dan bertanya apakah mereka belum menemukan anaknya. Ketika tak dilihatnya seorang pun. kalau Nenek mau. Jangan nakal. seperti anak yatim. dan gadis itu berlari. kemudian dia hilang. ia pun mulai menyebut mereka semua dungu. masih dengan semangat tinggi ia meletakkan lilin di depan tanda peringatan nenek moyang suaminya. Masih di kejauhan ia sudah berseru pada mereka dengan agak histeris. "Saya pikir. "Tidak bisa dia sembunyi dariku!" Otsu tetap tenang. karena sudah terlalu lelah. Pengecut!" Osugi pun mulai gemetar karena berang. dia tidak memberitahu aku. Inc. la menggeleng-gelengkan kepala dengan mantapnya. di mana anak perempuannya dan beberapa petani penyewa sedang bekerja. Rumah pertanian yang dikitari pohon ek tua berbonggolbonggol itu adalah rumah yang besar. dan semakin ia bertanya. Heita. Kemudian ia pun kembali berperan sebagai komandan tertinggi. tapi ketika saya memanggil. tersembunyi dalam kegelapan. Sesosok tubuh terlihat mendekat. apa yang sudah terjadi." Kemarahan perempuan tua itu pun mereda sedikit. la sendiri tinggal di rumah. "Apa?" bentak Osugi yang sama sekali tidak reda marahnya. saya yakin. Ketika mereka terus memperlihatkan pandangan kosong. meninggalkan anak kecil itu sendirian. Kenapa aku harus pergi mendatanginya? Itu merendahkan martabat. tapi saya tak bisa mengerti." "Nek. Pelan-pelan ia menoleh. dan ia menjelaskan apa yang telah didengarnya dari Heita. Osugi pun memanggilnya.

la melompat berdiri. lidah saya sudah tergelincir tadi. Kalian pikir siapa aku ini?" Dan sesudah menelan napas sekali lagi. "Kau pasti tahu di mana dia!" "Saya sudah bilang tidak tahu!" protes Ogin. Osugi menerima desakan Otsu dengan segan-segan. Kemudian. kenapa kau yang menjadi kakak perempuannya tidak lekas menyuruhnya datang padaku? Aku muak dengan kalian berdua. Ogin sendiri yang keluar menyambut perempuan tua itu. paling tidak suruh setan kecil itu ke sini sekarang." "Bohong besar!" jerit Osugi. dan menyemburkan kata-kata." Cukup lama perempuan tua itu berhenti untuk mengatur napas.. Dia bersembunyi di sini. untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi dengan anak kesayanganku dan di mana dia sekarang-sekarang juga!" "Bagaimana saya bisa melakukan itu? Dia tak ada di sini. Dan karena kasihan kepadanya. Ebook by Kang Zusi . akulah ibu anak yang telah diseret pergi perang oleh pemuda sampah itu? Apa kau tidak tahu.. bawa Matahachi padaku. "Siapa yang Ibu maksud dengan 'setan kecil' itu?" tanya Ogin. tetapi bunyi berikutnya yang terdengar adalah pekikan yang menegakkan bulu roma. dan kalau dirasanya dia dapat pulang diamdiam sendiri dan beres semuanya. Basa-basi telah berakhir. Tubuhnya diapit perkamen yang tergantung dan satu karangan bunga. Dengan gaya seorang mertua yang sedang meradang ia pun melancarkan badai umpatan. Otsu melanjutkan berjalan ke pintu belakang sendirian. Suara manusia yang mirip sekali dengan lolongan binatang. "Kalau Takezo memang pulang. tapi Osugi mogok. ia pun menambahkan. keluarga Shimmen adalah bangsawan desa. dan kakinya tersimpuh rapi.property of: CROSSFiRE. Itu menurunkan derajat." jawab Ogin yang benar-benar terkejut." Melihat Osugi tak hendak beranjak. tidak. Karena malu mendengar adiknya disebut demikian. "Rasanya tidak pantas kalau kepala keluarga Hon'iden masuk rumah keluarga Shimmen dari pintu belakang. lalu Osugi langsung pada persoalan. Tentu saja ia sama inginnya dengan Otsu untuk mengetahui apa yang terjadi. di depan ceruk. Memperlakukan seorang perempuan tua tanpa sopan sama sekali. mereka mendapati gerbang itu terkunci. bukan. Kalau tak bisa. 'Setan kecil' itu Takezo. Tiba-tiba dari pintu yang terbuka ke beranda terdengar bunyi berderak. bahwa dia tidak langsung datang ke sini?" "Tapi betul dia tidak datang. untuk meluruskan perasaan-perasaan yang sudah terganggu. netcafe. dan Otsu mulai berdiri. clan kedua keluarga itu berasal dari wangsa Akamatsu beberapa generasi sebelumnya. "Aneh juga. Sampai di gerbang depan. Akhirnya lampu pun muncul di sebelah dalam gerbang. Mata Osugi berkilat. "Maafkan saya mengganggu Nona pada waktu seperti ini. la duduk dengan angkuhnya. Osugi pun mengubah taktiknya. Sebagaimana keluarga Hon'iden." Osugi yang duduk resmi di bantalan lantai." kata Ogin. mengharap setengah mati ayahnya masih hidup. "Oh. Otsu pun menjelaskan bahwa ia telah melihat Takezo dalam pesta. Nona sangat bermurah hati telah datang dan menyilakan saya masuk!" la pun cepat melewati Ogin dan langsung masuk rumah. diikuti bunyi kaki berlari. Hanya sampai di situlah keakraban mereka. "Apa artinya semua ini? Jadi. la pun berkenan mendengarkan katakata sambutan yang setulus-tulusnya dari Ogin. ia pun berkaok-kaok kembali. hingga tak mungkin terlihat cahaya lampu rumah. Matahachi itu ahli waris dan anggota terpenting keluarga Hon'iden? Adikmu yang membujuk anakku pergi dan terbunuh. "Saya mendengar kabar. Inc. Mereka menempati kedua tepi sungai yang berhadapan. bukan?" "Ah. Seperti bunglon. Senyuman palsunya lenyap ketika ia menatap perempuan muda di depannya. Saya ketularan orang-orang itu. setan kecil rumah ini sudah merangkak pulang. Saya minta dia dibawa kemari. tapi lebih baik ia mati daripada mengemis pada seorang Shimmen. saya yakin dia akan mengetuk pintu sebentar lagi. Kalau anakku mati. "Tangkap dia!" Kemudian terdengar bunyi lebih banyak kaki. diiringi kertak ranting-ranting dan gemeresik pohon bambu. menatap Ogin yang berlutut. ia pun menggigit bibirnya. dan diam-diam mereka selalu mengakui hak hidup masing-masing pihak. Pepohonan demikian lebat. tetapi urusan saya ini betul-betul tak bisa ditangguhkan. berarti adikmu yang membunuhnya. melipat tangan di pangkuan. Otsu hendak berjalan memutar ke pintu belakang. la pun membungkuk. Tapi kalau dia kembali seperti Ibu katakan itu. lalu lebih banyak lagi. "Lalu kau sendiri bagaimana? Sejak dia jelas berbuat tak pantas dengan pulang diam-diam sendirian." katanya sambil tertawa. Suaranya bergetar dan matanya basah oleh air mata. berlarian di sekitar rumah." Walaupun lidah Osugi terkenal tajam. "Ini pertama kali saya mendengarnya. apa kau ingin aku percaya kau belum dengar berita tentang dia? Apa kau tidak tahu. Rumah Ogin kira-kira satu mil jauhnya. kemudian matanya menyala kembali dalam keberangan. "Itu Takezo!" teriak Osugi. yang tibatiba berubah dari seorang perempuan buruk pembajak ladang menjadi seorang wanita bangsawan besar dan menyapa nyonya rumah dengan nada-nada tinggi. Seorang lelaki berteriak. jelas menahan diri. kedengkian yang tak disembunyisembunyikan ini terdengar bagai guncangan bagi Ogin yang halus. dan seperti utusan dewa-dewa ia pun segera menuju tempat yang paling terhormat di dalam ruangan itu. "Itulah nama yang diberikan orang kampung kepadanya.

Takezo bisa sekuat clan selicik binatang liar.. Sesudah ia memberikan keterangan ringkas. Bukan mayat Takezo atau Matahachi. Berita kematian Matahachi pun tidak dipercayainya. Osugi berbisik. Pedangnya terhunus. Tapi dia takkan dapat terus begitu selamanya." "Jadi. ia tentunya punya alasan yang baik. kalau saya katakan. Tak mengerti aku.. Darah segar masih mengalir dari mata dan hidungnya.property of: CROSSFiRE. menghapus-hapus wajah yang berurai air mata. sebelum terlibat. kemarahan Osugi tidak mereda. "Takezo yang berasal dari rumah itu. meninggalkan jejak-jejak berlumpur." katanya malu-malu. Kata-katanya agaknya sangat menyenangkan. "Aku tahu dia di sini!" katanya garang. mati." "Matahachi! Meninggal?" "Eh. "Saya tahu.. saya membuat rintangan di perbatasan Provinsi Harima untuk menyaring semua orang yang lewat. Otsu membawa lampu ke beranda dan berdiri di samping Osugi yang membelalak ketakutan ke arah mayat itu. di mana dua perempuan muda sedang duduk berkabung. Akan terasa tidak adil bagi Ogin. ada orang mati di situ!" katanya terbata-bata. seorang lelaki menyuruhnya berhenti. Kami mengira sesudah beberapa hari berjalan dia akan ambruk. Kami akan menangkapnya. mengepung rumah. "Ibu kan baru datang dari rumah Shimmen?" tanyanya. Samurai itu mengangguk-angguk tanda setuju. Mereka masuk ke kamar dalam. Tapi jumlah kami tak banyak. si Takezo!" "Saya dengar Takezo itu tidak begitu disukai di kampung ini. netcafe. menurut perasaan Otsu. Melihat tengkoraknya yang berantakan. saya akan melakukan segala yang mungkin untuk membantu Ibu membalas dendam. ada. Sesudah pertempuran." bentak Osugi sambil bersiap-siap pergi.. Tidak jauh dari rumah itu. Dia diperdaya setan kecil itu." "Disukai? Menggelikan. Karena merasa harus tinggal untuk menyenangkan hati Ogin. samurai itu mengumpulkan kelompoknya yang terdiri atas empat belas atau lima belas orang di belakang rumah Ogin.. aku tak akan melupakannya. terus terang. kalau la pergi sebelum memberikan salep kepada luka-luka itu. Kalaupun Ogin berdusta. "Saya kepala keluarga samurai di seberang kali. kepala keluarga Hon'iden belum begitu pikun hingga membutuhkan lampu untuk berjalan." dorong Osugi sambil berangkat pulang." la pun menuju pintu dan mendorongnya dengan keras. Belum pernah kau melihat penjahat seperti dia! Tak dapat kaubayangkan kesulitan yang kami alami dalam keluarga. "Ada. "Ketahuilah." "Setan?" "Itu. Tapi barangkali akan menjadi hiburan sedikit bagi Ibu dalam kesedihan Ibu. "sudah menembus rintangan dan lari ke Miyamoto. pastilah ia dibunuh dengan satu hantaman pedang kayu. "Itu sama terangnya dengan hidung di mukamu. dan dia baru saja membunuh seorang anak buah saya. Kami mengejarnya sampai tempat ini. Atas perintah pimpinan saya. Seorang pemuda yang mengenakan pelindung kaki telentang di tanah. "Semaumulah. dan memblokir semua pintu keluar. kenapa Takezo tidak muncul di Shippoji. "Siapa Anda ini?" "Saya dari garnisun Tokugawa. tapi anak saya pergi ke sana bukan karena ingin." Osugi memandang ragu-ragu. Menghadapi serdadu-serdadu itu Otsu ketakutan dan pucat lesi. tapi ingatlah. itulah pendapat saya semula. "Siapa yang melakukan ini?" Sambil menoleh cepat kepada Otsu. Saya. Dengan sopan Ogin menawarkan lentera. Perempuan tua itu sudah mengucapkan banyak kata keji. tapi mayat samurai yang tidak mereka kenali. ia berkata. karena Takezo melakukan perjalanan sendirian. "Tapi saya tak percaya samurai sekaliber Anda sulit menangkapnya.. tapi Osugi menolak keras." "Nah. "Ayo kita pulang. Tapi sementara itu. Lalu beberapa orang serdadu menyerbu ke dalam rumah." la pun melipat keliman kimononya." "Izinkanlah perempuan tua ini memberikan sedikit nasihat pada Anda. Inc. Tapi apa yang dilihatnya di luar membuat wajahnya yang sudah pucat itu menjadi lebih putih lagi. karena itulah tempat pertama yang akan digeledah tentara. sejak anak saya bergaul dengan dia. maka Otsu pun mengatakan kepada Osugi bahwa la akan menyusul kemudian. tapi. dan dengan bersemangat berkata." "Anak Ibu itu barangkali meninggal di Sekigahara. Namun Ogin yang bangga menjadi anak Ebook by Kang Zusi .. Ia jelas samurai profesional yang tidak bisa ditemukan di kampung itu." Sambil membungkuk ia pun membisikkan sesuatu ke telinga samurai itu. dan yang lebih penting lagi.” "Apa Ibu anggota keluarga Shimmen?" "Tentu saja bukan!" bentak Osugi sambil mengibaskan tangan sebagai tanda protes. meninggalkan rumah itu dan berjalan tegap menempuh kabut yang menebal. tapi sampai sekarang kami belum dapat menyusulnya." Dengan mengangguk-angguk sadarlah Osugi sekarang. Dia memang cukup ulet.." sambungnya sambil menunjuk. Ibu ini ibu Hon'iden Matahachi yang pergi dengan Shimmen Takezo ke Medan Sekigahara?" "Ya. kami pergi ke Puri Himeji. sebetulnya saya tidak begitu yakin.. kenapa kau mencoba menyembunyikan dia dariku. Tak lama sesudahnya. mereka pun melompati dinding." Otsu tak dapat memaksa dirinya pergi. "Gagasan bagus! Hebat!" "Jangan tanggung-tanggung melaksanakan tugas itu. dan tangan serta kakinya terlindung zirah. "Ya.. ia sadar bahwa Takezo barangkali tidak pulang ke rumah.

Tanpa ibu tempatnya mengadu. "Jangan bunuh saya!" jeritnya mengiba-iba. Tuan!" "Duduk!" Takezo melepaskan cengkeramannya dari lengan orang itu. "Kenapa semua orang kampung memusuhiku?" tanyanya. Dengan mata tenang dan tajam. tapi makhluk malang itu hendak lari. Takezo pun kembali berjalan. "Kenapa kau lari? Apa kau tidak kenal aku? Aku seorang dari kalian. la tahu bahwa ia tidak dapat mendekati satu pun dari kedua tempat itu. "Kau seorang dari mereka?" Orang itu mendadak berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti orang bisu-tuli "Tidak. la berdiri dan pandangannya nyalang. "Tunggu!" Dan ia mulai berlari. Atapnya muncul dari antara pepohonan." Setelah membulatkan tekad. langsung mereka lapor pada pengawal di gunung. Orang itu bukanlah tandingan Takezo.. netcafe. Orang itu merangkak-rangkak di tanah seperti anjing. Inc. dan orang kampung bergabung membentuk kelompok-kelompok pencari. serdadu-serdadu melihatnya. "Sukar sekali mengatakan pada Otsu alasan sebenarnya tunangannya tidak pulang. tidak sopan lari begitu saja dari orang yang dikenal tanpa mengucapkan salam!" "Y y-y-y-ya. Ternyata ia penduduk kampung yang datang ke pegunungan untuk membuat arang. ketika diam-diam ia pergi ke rumah kakak perempuannya. Sesudah itu tak ada lagi alasanku untuk berkeliaran di sini. samurai Tokugawa mencari-cari secara gencar sekali. la bertanya-tanya bagaimana kiranya pendapat Otsu tentangnya." "Apa mereka mengawasi Kuil Shippoji juga?" "Ya. Ketika didengarnya namanya dipanggil orang. seperti aku ini orang gila saja. Memang. Kali-kali kecil yang mengalir cepat dan bukit-bukit yang berombak-ombak di tempat tinggalnya sendiri pun seperti mengejek. Mereka merondai setiap jalan yang mungkin ditempuhnya. ia tak boleh mendekati kampung sebelum gelap. Sekali lagi ia terpaksa lari tanpa mendapat kesempatan bicara dengan siapa pun. la tatap dengan berangnya para penyerbu itu. Takezo tahu orang itu." "Akan saya jawab semuanya-tapi jangan bunuh saya! Saya punya istri dan keluarga. Shimmen Takezo dari Miyamoto. tidak. ia pun berteriak. Barangkali sebaiknya kusampaikan pada perempuan tua itu. Karena merasa orang sekampungnya sendiri menganggapnya musuh. Kau tahu kan. Apa betul bukit-bukit ini penuh serdadu?" "Ya. Pikirnya. Tapi tiba-tiba ia mendengar jeritan tertahan. ia pun mengayunkan pedang ek hitamnya hingga mendecit di udara. Takezo mencengkeram kerahnya dan menyeretnya kembali ke tempat terbuka. tidak ada pilihan lagi baginya kecuali melarikan diri." "Apa orang kampung memburuku lagi hari ini?" Diam. seperti seekor macan tutul mengejar mangsa yang kabur. walau tidak kenal. bukan memberikan hiburan. Munisai tetap tak gentar. Dengan sebuah karang besar ia pecahkan karang lain menjadi pecahan-pecahan kecil. tapi ia tahu.property of: CROSSFiRE." Sudah empat hari ia bersembunyi di Pegunungan Sanumo. Ia mulai curiga Otsu pun telah memusuhinya. ia telah membahayakan hidupnya. "Begitu melihatku. Kini. ia pun jadi serba sulit. lewat tabir kabut tengah hari. Karena tak ada sasaran nyata bagi kemarahannya. rumah yang didiami kakak perempuannya sendirian.. menebas cabang sebuah pohon besar. Disamping ingin menyelamatkan lehernya sendiri. Getah putih yang memancar dari luka pohon itu mengingatkannya akan air susu ibu yang sedang menyusui. kebetulan sekali ibu Matahachi ada di sana. Sejenak ia hanya berdiri di luar. dia nanti dapat pelanpelan menyampaikannya pada Otsu. "Jawab saja pertanyaan-pertanyaanku. ia dapat melihat rumah ayahnya. Marah karena dibenci dan ditakuti. Otsu pun akan mendapat kesulitan. Sambil melahap burung. Malam itu. tidak!" Ebook by Kang Zusi . Ketika ia memberanikan diri mendekati kuil itu pada hari lahir sang Budha. ia tahu kalau ia ditemukan orang di sana. menguik-nguik sambil tangannya memegangi kepala. hingga terpaksa Takezo menendang pantatnya dan berbuat seolah-olah hendak memukulnya dengan pedang kayunya. dan belum lagi selesai mencabuti bulunya ia sudah membenamkan gigi-giginya yang setengah kelaparan ke daging yang masih mentah dan hangat itu. lalu ia lemparkan sebuah di antaranya ke burung yang sedang terbang. tapi ketika sedang mengawasi kakak perempuannya lewat celah pintu. Dan cara mereka lari waktu melihatku itu. tampak dari tempat perlindungannya di pegunungan. dan dengan mudah terkejar. Betul! Kalau kujelaskan semua itu kepadanya.. yang ada di dunia ini hanya kesepian. menjelajahi pegunungan. "Bajingan! Binatang!" geramnya." "Tak ada yang mau membunuhmu. dikejar-kejar tanpa alasan. Sejak itu. ia mulai lagi berjalan. siapa saja yang melihatnya selalu berlari menghindar penuh ketakutan melintasi hutan. mencoba mengarang-ngarang penjelasan di mana Matahachi berada. Burung itu jatuh. Kuil Shippoji bersarang di bukit di bawahnya. sekalipun kuil itu penuh orang. Tak bakal aku memakanmu hidup-hidup.

Beberapa hari terakhir ini ia tidak makan apa-apa kecuali daging burung mentah dan umbut rumput. Tulang punggung pegunungan itu telah diwarnai bayang-bayang awan petang yang kelabu. Beberapa jam kemudian. Matanya pun menoleh ke jajaran pegunungan yang menandai perbatasan provinsi. Ada yang sudah terjadi dengan dia. "Kamar mandi?" kata Otsu. dan bahwa telah disebarkan perintah di kampung. perut Takezo pun bergolak memikirkan sifat pengecut manusia-sifat pengecut yang telah memaksa samurai mengusik seorang wanita malang tak berdaya. pahit rasanya. atau kuhancurkan tengkorakmu!" "Tunggu! Jangan! Saya akan bicara! Akan saya katakan semuanya!" Dengan tangan terlipat tanda memohon. dari Keluarga Shimmen. tepat di atas kepala Takezo. Bau makanan yang sedang dimasak mengambang di udara. di mana orang nampaknya mondar-mandir. "Tuduhan apa yang dijatuhkan atas kakak perempuanku?" Matanya berkilat-kilat oleh air mata. Keterangan tersebut membuat Takezo tegak bulu romanya. Tibatiba samurai itu menghampirinya dan merangkul Otsu dari belakang. Inc. Takezo mengenalnya sebagai salah seorang samurai dari Himeji. la harus berpikir. memegang wajahnya dengan kedua tangannya yang besar dan menyapukan bibirnya ke pipi Otsu. "Awas! Kedengarannya mencurigakan. Ternyata nasib baik. Jangan pura-pura bodoh." "Hinagura. Untuk meyakinkan diri bahwa yang didengarnya benar ia pun bertanya." jawab Otsu yang keluar membawa baki makan malam dan mulai menyeberang lorong." Sesudah memilih arah tindakannya. hingga tak berhasil memperdengarkan suara jelas. "Tak seorang pun dari kami tahu soal itu. itu harus. melainkan marah. Lonceng malam baru saja berhenti berdentang. "Bagaimana kalau ikut aku ke kamar mandi?" sarannya garang. "Apa salahnya?" bujuknya. "Apa itu?" terdengar suara. karena justru saat itu suara lelaki tepat di belakang Otsu terdengar bertanya. Bukan karena takut. la mengatakan bahwa tiap hari para serdadu mengerahkan orang kampung ke pegunungan. "Apa kau tak suka lelaki?" "Hentikan! Tak boleh begitu!" protes Otsu yang tak berdaya.property of: CROSSFiRE. Kakakku yang malang." ulang Takezo. Ogin. Perutnya kini berontak. "Aku harus menyelamatkan Ogin. mencari si pelarian. Samurai yang memaksa mereka. tapi saya tidak tahu apa itu betul. Kami takut pada Kepala Distrik. Takezo membiarkan orang itu pergi. Serdadu ini pun menutupkan tangannya ke Ebook by Kang Zusi . Dan sambil mencengkeram erat leher orang itu. kalau mencelakakan dia. "Kalau saja Otsu keluar. Aku tak 1amdak menyalahkan orang kampung yang mencoba menangkapku. pembuat arang itu gemetaran dan ia bercerita bahwa Ogin telah ditawan. yang menghubungkan kamar-kamar pendeta dengan kuil utama. dan tiap keluarga diminta menyediakan seorang pemuda dua hari sekali untuk keperluan itu. "Cukup!" teriak Takezo. ia pun berjalan tegak ke arah kampung dengan langkah-langkah jantan. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu. Jelas ia berpangkat tinggi. tapi ia begitu mual. ia pun bertanya. netcafe. kan? Jangan pura-pura lagi. cukup tinggi.. "Mana jalan ke kamar mandi?" Orang itu mengenakan kimono pinjaman dari kuil." "Di mana mereka menahan kakakku?" "Desas-desusnya mereka menahan dia di benteng Hinagura. dan dalam kesengsaraan itu ia pun menghirup napas keras-keras. juga dari dapur dan petak-petak pendeta.. "Hentikan! Lepaskan saya!" teriak Otsu. kembali Takezo mencuri-curi mendekati Shippoji. Kau tadi janji akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Melihat orang itu bergegas pergi karena senang hidupnya yang tak berarti itu selamat. Segera kemudian ia mengambil keputusan. "Mari saya tunjukkan. Hari sudah gelap dan cahaya lampu kelihatan menyorot dari kuil itu sendiri." Takezo cepat mengangkat pedangnya ke atas kepala orang itu. Kami cuma melakukan apa yang diperintahkan. la senang kini seorang diri lagi. menimbulkan bayangan tentang nasi dan sop mengepul. siap memukul. Akan kubunuh mereka semua. Apa anggapanku ini keliru?" Orang itu pun memberikan jawaban yang terlampau polos. selagi anak buahnya dan orang kampung harus menjelajahi sisi-sisi gunung siangmalam." la menurunkan baki dan mengantar orang itu menyusuri lorong. hingga dapat menginap di kuil dan menghabiskan waktu malamnya dengan makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Takezo mencoba memanggilnya. itu saja. tapi orang itu membalikkan badan Otsu. yang isinya setiap orang yang memberikan makanan atau perlindungan kepada Takezo otomatis akan dianggap anteknya. tapi tak berdinding. di mana tergantung handuk kecil. tapi aku yakin mereka tak akan mengapa-apakan kakak perempuanku. Ia pun meringkukkan badan tanpa bergerak-gerak di bawah lorong tinggi beratap. Kerongkongannya terasa panas ketika getah lambungnya naik. diikat dengan sabuk sempit." pikirnya. Sama sekali tidak tahu.. "Barangkali kucing. "Bagaimana dengan kakak perempuanku?" "Kakak perempuan mana?" "Kakak perempuanku.

dia masih segar bugar. Dalam keadaan itu. "Cukup panas?" "Cukup! Saya menjadi orang baru. "0. Di provinsi lain. "Lekas sana ke kamar mandi. Otsu mencoba melepaskan diri dan genggamannya dan memperdengarkan jeritan nyaring. di pintu masuk dapur besar berlantai kotor milik keluarga Hon'iden." sahut Takezo. awas. Kalau saya tahu begini macamnya. Takezo melompat ke lorong seperti kucing. sebentar lagi aku kasih kamu makan malam yang hangat dan enak. "Ada berita penting yang mau saya sampaikan pada Nenek. samurai itu pun jatuh telentang. dan dari hutan berbondong-bondong orang mulai berkumpul di pekarangan kuil. Ketika calon-calon penangkapnya sedang mengatur langkah di luar. Rasa takut apa pun yang mungkin dimilikinya hapus oleh rasa berangnya terhadap Osugi. "Sudah itu saya akan pergi entah ke mana. Osugi keluar rumah. Orang yang terjatuh itu berteriak. Tak lama kemudian menantu itu muncul kembali di gerbang. dan pentung. karena cuma itu yang saya tahu. jadi Ibu suruh dia mandi. wajah Osugi yang sudah berkeriput itu memucat melihat tamunya. bajingan-bajingan. jangan meninggalkan tempat ini. Di luar pintu ia melihat gerombolan orang bersenjata tongkat. la diikuti serombongan samurai dan barisan sukarela. tiba-tiba sekarang ia teringat bagaimana rasanya diperlakukan sebagai manusia. "Kau!" teriaknya. Osugi berjalan pelan keluar dari kamar belakang. Akan kuambilkan kimono dan pakaian dalam Matahachi untukmu. "Aku dijebak!" pekiknya. tapi suaranya tenggelam oleh bunyi air. "Bahaya sekali berdiri di siniorang bisa melihatmu. Buat hadiah selamat jalan. netcafe. "Tenang-tenang saja dan hangatkan badanmu. tak ada alasan lagi bagi saya untuk tinggal di sini. di mana lentera itu berayun-ayun. Dan lagi apa kau tak ingin mandi selagi aku menyiapkan makanan?" Takezo tak bisa bicara. Sekarang tenangtenang saja dan mandilah yang baik. dan kamar mandi itu pun kecil. tapi yang pasti tak akan kubiarkan kau pergi tanpa diberi makan enak dan cukup!" Sekali lagi Takezo tak dapat menjawab. Ketika pengejaran sedang sengit-sengitnya. Sesudah menjadi orang yang selalu curiga dan tidak mempercayai siapa saja. Dalam keadaan masih Ebook by Kang Zusi ." Dengan perasaan puas luar biasa karena telah bebas dari berita yang menjadi beban baginya. Saya tak bisa menyampaikannya sendiri. orang-orang itu pun merunduk dan bergerak hati-hati seperti kelompok katak ke arah api yang menyala terang di bawah kamar mandi. Sekejap tak berdaya. "Ya. Nasi belum matang. satu-satunya yang menurutnya barns dilakukan adalah menyerang daripada diserang. Tapi Takezo sudah pergi. Cerdik sekali." "Terima kasih. begitu." "Kasihan! Tunggu! Aku sedang masak tadi. Kemudian ia memberi isyarat pada Takezo. bagaimana?" seru Osugi riang. "Matahachi tidak mati. Dari kamar mandi. Saya yakin Nenek akan menerima saya!" la bicara lagi dua-tiga kali. "Mau pergi ke mana kau sekarang?" "Saya mesti masuk ke benteng Hinagura. Lonceng kuil mulai memberikan isyarat bahaya bahwa Takezo telah ditemukan. la mengangkat sebelah tangannya dan menghapus matanya. dan ia mengintip lewat celah pintu. ia sudah berdiri di tempat jauh. Inc. Pukulan itu keras. namun ia tak gentar. juga pada Otsu. "Itu dia! Itu Takezo! Dia di sini! Ayo tangkap dia!" Dari dalam kuil terdengar derap kaki dan raungan suara orang." geramnya. dan mendaratkan tinjunya ke kepala orang itu dari belakang. keluargamu dan keluarga kami selalu berdampingan sejak wangsa Akamatsu. Lupa akan bahaya. tapi masih terus berpegangan pada Otsu. Melongok ke dalam rumah berpenerangan suram itu ia berseru." "0. mestinya saya datang lebih cepat. Itu saja yang dapat saya sampaikan." la pun menyerahkan lentera itu pada Takezo dan menghilang ke belakang rumah. Saya minta Nenek menyampaikan berita ini pada Otsu. menyambut mereka dengan bisikan. lembing. dan Osugi tidak menjawab. kau seharusnya. "Baik. Hampir pada waktu itu juga menantu perempuannya meninggalkan rumah. disertai teriakan perang yang menakutkan." kata salah seorang dari mereka dengan kagum. Selain itu. kan?" "Berhari-hari saya tidak mendapat makanan yang pantas. Takezo sendiri hampir tidak ingat bagaimana ia menyelinap lewat jaring yang dengan cepat mengetat itu. Ia telanjang bulat. "Nenek!" "Siapa?" terdengar jawaban serak. lari melintasi halaman dan hilang ditelan malam. terdengar suara air berkecipak. "Kau pasti lapar. dengan tiba-tiba ia tendang pintu sampai terbuka dan ia pun melompat ke udara. Ia sudah tak peduli lagi dengan banyaknya mereka. Takezo." desak Osugi dengan nada seorang nenek." jawab Takezo sedih. seperti dalam keadaan yang lainlain juga. dan tak lama kemudian kelompok-kelompok pencari sekali lagi dikirimkan untuk menjelajahi perbukitan Sanumo. menyelamatkan Ogin. Dia tinggal bersama seorang perempuan. Tak ada waktu untuk berpikir. tapi perempuan itu memanggilnya kembali.property of: CROSSFiRE." kata Takezo buru-buru. bahwa tidak saya biarkan Matahachi mati. kehabisan napas. itu bagus sekali! Pasti kena dia kali ini!" Sesudah memecah diri menjadi dua kelompok. Menurut pendapatku. Sudah begitu lama tak seorang pun bersikap begitu baik kepadanya. Diterangi dari bawah oleh lentera kertas yang dipegangnya. ia segera pergi. mulut Otsu. "Nah. "Tak usah terkejut begitu. Saya cuma mau menyampaikan pada Nenek dan keluarga Nenek." Osugi memindahkan lentera dari tangan yang satu ke tangan yang lain untuk mengulur waktu. Ada sesuatu-sesuatu yang tak dapat dijelaskan-menggelitik naluri Takezo. Maka tegaklah bulu romanya.

tidak dapat tidak. Osugi dan keluarganya mengunci gerbang utama dan merintangi semua jalan masuk." Dikeluarkannya Ebook by Kang Zusi . sang kapten menyeringai. tapi sangat ingin tahu. Kepalanya tergeletak dalam rumpun rumput yang tinggi. Mereka ketakutan. Orang-orang yang melongo melihat pemandangan itu. Takuan sedang duduk di depan ruang utama. Tanpa melirik orang itu. Inc. Tangkai lembing sering dapat lebih jitu dipergunakan daripada matanya. Maka ia pun mengambil karang besar dan melontarkannya kepada orang-orang yang sudah memperlihatkan tanda-tanda mundur itu. dia lari masuk rumah!" seru seorang dari mereka. Tapi sejak malam orang itu mencoba memaksanya. membaca daftar hadiah yang dijanjikan itu. "Dia membunuh satu orang lagi!" seru satu orang kampung. tanpa tergesa-gesa Takezo mengenakan kimononya. "Ya. dekat pada pangkalnya. kau sedang pergi ketika pesuruh datang. juga lemari kimono yang besar. "Dari mana kau. dengan petunjuk pasukan Himeji. Mereka ketakutan setengah mati. dicengkeramnya dengan sebelah tangan. Sekitar sepuluh kali senjata Takezo mengenai tanah. Langit musim semi penuh dengan bintang. Berdiri di tengah atap." "Buat saya?" tanya Otsu tak percaya. Para pencari. Juga imbalan memadai untuk informasi apa pun yang bisa menghasilkan tertangkapnya Takezo. Di kaki bukit ia berpapasan dengan kapten yang menginap di kuil dan limaenam anak buahnya. karena itu dia tinggalkan surat itu padaku. "Lihat. Di kediaman Hon'iden berkecamuk suasana panik. Beberapa orang tertawa muram melihat ironi mencolok itu." "Belanja. Kumisnya seperti tali. Begitu saja diayunkannya senjata itu dan dihantamkannya pada siapa saja yang datang mendekat. ia tangkap dan rebut tangkai lembing pertama yang ditusukkan kepadanya. Itu yang paling tidak disukainya. menyusun rencana-rencana baru untuk menjerat pelarian itu. netcafe. ia pun merangkak keluar dari jendela kecil yang tinggi. Papan itu tergeletak melintang di tubuh yang basah oleh darah. karena tidak dari semula mengirim tiga-empat orang menyerbu kamar mandi. lalu ia menyerang ke sekitarnya seperti gasing yang berpusing. yang dipertuan di Puri Himeji. Wajah Otsu mengerut pucat ketika ia muncul dari tengah-tengah kerumunan. Namun jelas mereka telah lumpuh. Seni Perang PENCARIAN yang dilakukan setiap hari di pegunungan berlangsung terus. ia pun bergegas menuju kuil dan mencoba menghapus gambaran wajah orang mati yang terus terbayang di depan matanya. ketika Takuan melihatnya clan memanggil. Papan-papan besar dipasang di depan rumah kepala kampung dan di setiap persimpangan: pengumuman hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh Takezo. Pekiknya. melihatnya saja sudah membuat ia jijik. jelas akibat hantaman salah satu papan tanda hadiah. Akhirnya dilihatnyaa pakaian itu di sudut dapur. Melihat gadis itu. bermain dengan seekor anjing kampung. Tengkorak orang itu hancur. Otsu sejak semula tidak suka kepadanya. Pemberitahuan itu ditandatangani secara resmi oleh Ikeda Terumasa. Orang kampung terus datangpergi dan berkasak-kusuk antarsesamanya. "Mana pakaian saya? Kembalikan pakaian saya!" Di tempat itu berserakan pakaian kerja. la hanya menajamkan matanya dalam cahaya lampu samar-samar untuk menemukan pakaiannya sendiri yang compang-camping. Menyesal karena telah melihat. "Otsu. dan kerja pertanian pun mengendur. dan demikian erat hingga alisnya dan sudut-sudut matanya tertarik. Disobeknya sedikit kain ikat pinggang dengan giginya dan diikatnya rambutnya yang masih basah ke belakang. Senjata itu digenggamnya erat-erat. Otsu?" tanyanya dengan sikap akrab menyenangkan. Orang kampung tak dapat mengerjakan ladangnya atau merawat ulat sutranya. Kini mereka hanya dapat berteriak saling menyemangati. Dengan suara ingar-bingar Takezo mengacak-acak seluruh rumah. Ia mengambil pelajaran dari Sekigahara bahwa cara ini amat sangat efektif bagi orang yang kalah dalam jumlah. hampir bersamaan dengan keluarnya Osugi dan menantu perempuannya dari rumah ke halaman belakang. Mereka telah mendengar pembunuhan yang mengerikan itu dan sedang dalam perjalanan untuk menyelidikinya. dan begitu memperoleh pijakan kaki di atas tungku tanah yang besar. telanjang clan rambut terburai ke sana kemari. "Di mana? Siapa kali ini?" "Seorang samurai. Tapi Takezo tidak memperhatikannya." jawab Otsu pendek. dan senjata itu patah." Mayat itu ditemukan di dekat jalan setapak di luar kampung. Para penyerang terlambat sadar bahwa mereka telah membuat kesalahan besar. hingga pemiliknya terpental ke semak-semak. jangan-jangan Takezo datang membalas dendam.property of: CROSSFiRE. karena gagal menjerat Takezo. la pun bergegas mendaki anak tangga kuil. Otsu bergegas lewat agak jauh dari situ untuk menghindari binatang kotor itu. ada surat buatmu. Ketika la merangkak ke atas. Belum jelas siapa. kedua kakinya mencuat ke langit dalam kedudukan tak wajar. Tapi ternyata usaha mereka tidak membawa hasil. para pengejarnya yang sudah sama sekali bingung itu tinggal mengutuk dan saling menyesali.

Banyak sekali pekerjaan harus dilakukan untuk menyenangkan orang itu. la duduk terpukau. Sejak tahun lalu selalu ia menggunakan waktu luangnya dengan memintal benang sutra untuk pakaian itu.property of: CROSSFiRE. terpaksa kau mesti menutup mata kalau pergi ke mana-mana. saya takut!" kata Otsu memohon. Hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan pembantu itu. Yang pertama ditulis seorang wanita yang tak dikenal. ia pun menuntut kenikmatan yang sesuai dengan statusnya. "Belum juga ketemu? Mestinya di sini-sini saja. Sambil duduk di depan alat tenun. Inc. Matanya masih terbuka. Surat itu telah diinjak-injak seperti sepasang boneka jerami." "Kau tak perlu melihat hal-hal seperti itu. begitulah terkanya cepat. Takuan pun akhirnya membuka pintu kamar tenun." Tapi lama kelamaan ia pun bingung. Hari-hari ini aku selalu bertemu mayat. Mereka tak punya alasan sama sekali untuk membunuhnya. Takuan diam saja memandang kedua surat yang kusut dan sobek di tanah. yang jatuh ke pangkuannya bukannya satu. sebuah gulungan kecil dari lengan kimononya dan diserahkannya pada Otsu. dan saya memberikan kesaksian atas kebenaran penjelasan itu. makan malam si kapten terlambat. Jam-jam berlalu. Karenanya saya tidak akan berbicara terperinci." Pembantu kuil disuruh menuruni bukit untuk mencari Otsu sambil membawa lentera. Intinya tentu saja permintaan agar Otsu melupakan pertunangan dengannya dan agar menemukan suami lain. biarawan itu melintasi pekarangan kuil dan melewati kamar tenun beberapa kali. Kapten yang diserahi tugas melakukan pencarian merasa puas dapat memerintahkan orang-orangnya yang kelelahan itu tidur di hutan. Karena tak ingin mengganggu. Semua orang di dapur mulai bertanya-tanya di mana gerangan Otsu. Ha! Padahal tadinya kudengar kampung ini seperti surga kecil!" "Kenapa Takezo membunuh orang?" "Supaya mereka tidak membunuhnya. netcafe. Hormat saya. Beberapa kali pendeta kuil keluar lorong tinggi dan berseru kepada Takuan. salahlah kalau kita membiarkan saja hal itu. "Siapa yang mengirim?" bisiknya pada diri sendiri. karena "sukar" baginya menulis langsung kepada ibunya tentang persoalan itu. Tadi saya lihat orang mati menggeletak di rumput. Saya kira. "Kenapa kau tidak menyimpannya?" Ebook by Kang Zusi . Oko Surat satunya berisi tulisan cakar ayam Matahachi dan berisi penjelasan panjang yang menjemukan. Itu untuk Matahachi. seakan-akan menenun itu sendiri mendekatkan Matahachi padanya. dia rupanya masih memikirkan Anda. la sama sekali tidak memikirkan si kapten. tapi ketika ia sendiri kembali ke kuil pada senja hari. Surat itu jelas sudah menempuh jalan panjang sebelum sampai kepadanya. dan darah. Karena itu Matahachi dengan ini mengirimkan penjelasan. Meskipun begitu. Yang dikhawatirkannya adalah Otsu. Ikan segar dari kali harus disiapkan menurut petunjuk-petunjuknya. la merasa surat itu tentunya ditujukan pada orang lain. jadi kenapa pula dia mesti membiarkan mereka?" "Takuan. Matahachi menambahkan. la menenun setiap helainya dengan sangat cermat.. terlampau terguncang untuk dapat berteriak atau sekadar mengedip. melainkan dua surat. Katanya. Takuan pun pergi mencarinya. Harap lupakan Matahachi. Ketika segelnya dibuka. Sambil memanggil-manggil namanya. Saya sudah kawin dengan Matahachi dan menerimanya dalam keluarga saya. dan satu orang harus mengambil sake mutu terbaik dari salah satu rumah kampung. Otsu terkulai di atas alat tenun. mengenai semua alasan kenapa ia tidak mungkin pulang. Takuan memungutnya. Ada apa?" "Saya mual. Tapi kalau melihat keadaan sekarang. Kalau Otsu kebetulan bertemu dengan ibunya. Pada alat tenun terpasang secarik kain kimono lelaki yang belum selesai. ia menatap surat itu dengan saksama. Kuku-kuku jarinya yang memegang surat itu berubah sewarna dengan kulit orang mati yang dilihatnya kurang dari sejam sebelumnya. tentu saja. penuh dengan noda bekas jari dan titik air hujan. "Apa ini bukan yang dibawa pesuruh hari ini?" tanyanya lembut. Otsu menerima surat misterius itu clan pergi menyembunyikan diri di kamar tenun. "Apa yang mesti kita lakukan kalau dia datang kemari?" Mendung gelap bergumpal-gumpal di atas pegunungan. Bukan kebiasaan gadis itu untuk pergi tanpa memberitahu. Karena Otsu menghilang. tak mau la bersusah-susah melihat ke dalam. dan serunya. Bungkusannya sudah sobeksobek dan lusuh. Apa yang dilihatnya di dalam sungguh mengejutkannya. jelas dalam keadaan dirundung kesedihan. "Cepat temukan dia! Tamu kita bilang tak bisa minum sake kalau bukan Otsu yang menuangkan. "Kau kelihatan kurang sehat. seorang wanita yang sudah agak tua. Berulang kai ia baca alamatnya untuk mencari kesalahannya. ia diminta menyampaikan bahwa Matahachi masih hidup dan sehat. la merasa senang bahwa nantinya dapat menjahit semua bagian kain itu menjadi satu kimono lengkap. Karena pintu kamar itu tertutup.. serta tinggal di provinsi lain. ia akan berterima kasih apabila Otsu mau membantu. Saya menulis hanya untuk membenarkan apa yang tertulis dalam surat satunya. dan sebagian besar pekerjaan itu jatuh pada Otsu. la ingin pakaian itu kekal selamanya. Air mandi harus dipanaskan sepantasnya. Otsu merasa sumsum tulang punggungnya berubah menjadi es.

" jawab Takuan polos. Cinta kesendirian adalah tanda kebijaksanaan. Sambil memegang tangan Otsu ia pun berkata pada gadis itu. "Saya ini sungguh tidak sopan. tapi ada beberapa orang yang memang begitu pengaruhnya terhadapku." Takuan menepuk punggung Otsu. tidak keberatan. Di sebelah lampu.. bukan itu... "Sudah bertahun-tahun saya memperhatikan. "Ya. Itu kurang baik juga." Mata si kapten hampir saja melompat dari ceruknya. kalau begitu sulit juga. orang pandir jelek?" Takuan pun melipat kedua tangannya. tapi saya tidak keberatan di sini. atau menjadi serangga. Bagaimana saya mesti menjaga diri saya sendiri?" Kapten pun memekik sambil memegang pedangnya yang masih tersarung." bisik Otsu. Kalau begitu. "Apa!" "Apa Kapten sudah mengamati kumis Kapten? Maksud saya. umpamanya. dan sudut-sudut matanya yang melotot itu mulai turun. "Wah. Sekarang jangan pikirkan lagi." "Aku tidak keberatan. Ayo pulang. "Tapi aku keberatan. Dia manusia dari dunia ini. tapi kau sendiri. tapi dia selalu pergi kalau saya datang. tapi si Jenggot Jarang tua itu tak suka padaku." gertak si kapten. "Kapten memanggil saya?" Kapten menjawab pedas. aku akan mengawanimu. Biarawan itu dikira pembantu pendeta. Ia mengangkat matanya yang kosong dan memandang ke sekitar. yang di sana itu!" Takuan terus juga membaca.. Ayo. "Semua orang sudah setengah gila mengkhawatirkanmu. ya?" "Sama sekali tidak. jadi kau berutang budi padanya. aku pribadi berpendapat kau tak usah menghidangkan sake untuknya malam ini atau malam kapan pun. Pergi dari sini!" "Oh. "Sudah cukup aku diejek. Kau tak boleh tinggal terlalu lama di sini. goblok! Kau ini bikin rusak suasana. Ketika Takuan membantunya berdiri. dan sebabnya adalah hadirnya satu orang yang tidak dikehendakinya di kamar itu." Dengan enggan Otsu pun menurut. tidak banyak pendeta atau biarawan yang tampan. "Bapak.property of: CROSSFiRE. Aku tahu kau enggan." jawab Takuan bernada ejekan. "Jaga dirimu!" Takuan berdiri." "Kepala saya. maaf.. asal Bapak berjanji menemani saya. kepala saya sakit. aku jadi ingin sekali mengatakan bahwa kumis itu lucu sekali. "Keluar kamu. dan si kapten menudingnya sambil berteriak." "Oh.. Pendeta tua itu sudah hilang akal. kan?" "Ya. "Hmm. Akan saya minta Otsu menyingkirkannya. bodoh! Enyah dari mukaku!" "Baik. "Tamu bilang dia lebih suka seorang diri. "Otsu.. Tapi samurai juga begitu. "Oh." kata Takuan dan kembali membaca buku." "Bukan. Otsu.." Leher kapten yang merah itu pun menggembung dan matanya melotot. Dia percaya bahwa dia mesti menghidangkan anggur dan makanan agar Kapten senang selalu. Aku tahu perasaan itu kekanak-kanakan." "Tapi sava tak mau ke sana sendirian!" "Tapi Pendeta ada di sana. kenapa. ya. Sekarang giliranmu menerima akibatnya!" Ebook by Kang Zusi ." "Melihat buku itu saja aku sudah jengkel. Tapi pendeta itu lain pendapatnya. Soalnya karena saya bukan Wuk'ung yang suci dan dapat mengubah diri menjadi kepulan asap. Inc." "Baiklah. kamu! Aku tak ada urusan denganmu. la meluruskan topinya yang dari tadi sudah sangat miring. Otsu menggeleng lesu. Anda sendiri. la jadi sangat riang dan berkali-kali minta dituangkan sake lagi. kau mesti melayani Kapten. malam ini saja?" Takuan mengeluh. Kita tak boleh mengganggunya lagi." kata Takuan tenang sambil membungkuk. Sekalipun demikian.. la jadi tampak seperti ikan buntal. dia sudah menerima dan membesarkanmu. tidak sepenuhnya ia merasa senang. sampai Otsu menyodoknya." "Kenapa. ia menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata kepada Takuan dan berkata. apa tak bisa mereka meliburkan saya. apa Kapten sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk menatapnya dan menilainya secara objektif?" "Anak haram jadah!" teriak Kapten seraya mengambil pedang yang tersandar di dinding. "Hei." Ketika akhirnya Otsu muncul di petak pendeta.. asyik membaca buku yang terbuka di atas lututnya. lalu hinggap di baki Kapten. tapi kau betul-betul harus kerja. "Rasa sake jadi rusak karena ada orang membaca. "Lagi pula. saya kira. akan saya tutup buku saya.. kamu." "Ada apa rupanya?" "Siapa bilang Otsu mesti pergi denganmu. kapten yang sudah membongkok mabuk itu jadi gembira. "Saya akan pergi. Dia bukan orang yang dapat merebut rasa hormat atau dukungan daimyo bagi kuilnya lewat kebesaran jiwa semata-mata. Aku sendiri sudah mencari ke mana-mana. kamu. Segera kemudian mukanya jadi merah padam. Takuan duduk membungkuk seperti pengemis buta." Wajah Takuan menjadi sungguh-sungguh. Yang jelas.. Tiap kali aku melihat kumis konyol itu. katanya. netcafe. Baiklah. dan basuh mukamu. dan sambil memandang Kapten dengan sebelah matanya ia pun bertanya tenang." "Hmmm.

dia akan kaget. minta maaf pada Kapten. hingga tak dapat menutup mulutnya yang menganga. "Aku akan bicara sesukaku. Coba sekarang katakan Bapak menyesal. "Kalau kaupikir aku bohong. "Tak ada yang salah dengan otakku. Itu bukan prestasi besar. "Ayolah. kau adalah contoh korupsi yang klasik. makanya kusebut dia tolol. tapi apa yang kaulakukan? Setiap ada kesempatan. pengkhianat. Barangkali dia akan berkata. "Bukan begitu caranya bicara dengan prajurit." kata biarawan itu. Mabuknya pun sudah sedikit berkurang." Tapi Takuan sama sekali tidak mundur. Otsu. Bicaranya memang begitu dengan semua orang. Biar sukar buatmu melanjutkan bualan kurang ajar!" Dengan keberanian yang biasa dimiliki orang hanya karena memegang senjata. kaulahap makanan dan minuman orang lain yang diperoleh dengan susah payah. "Itu berarti Kapten mau memenggal kepala saya? Kalau begitu. sungguh!" Air mata bercucuran dari matanya. Kepala itu akan jatuh begitu saja ke lantai dan menggeletak di situ menertawakan Kapten. Kau mestinya melakukan misi resmi. tapi dua puluh hari dibuangnya hanya untuk menemukan tempat seorang pelarian yang sudah kecapekan dan setengah kelaparan. Kyoto. "Pertama-tama. Takuan jadi tertawa. "Apa pula bicara Bapak ini?" katanya dengan maksud mengendurkan perasaan dan melambatkan tindakan. Dia tolol. dan tidak tahu mau bertindak bagaimana. "Minggir. Tapi itu beban luar biasa buat petani. Apa gunanya buat Anda?" "Hah." mohonnya. Aku tak apa-apa. aku senang bisa Ebook by Kang Zusi . Otsu?" kata Takuan keberatan. hanya kepalamu yang datang menghadap hari ini? Di mana bagian badanmu yang lain?' "Pasti kau berminat mengetahui bahwa Yang Dipertuan Terumasa dan aku biasa bersama-sama ambil bagian dalam upacara minum teh di Myoshinji. Satu hal lagi. Apa maumu aku berdusta?" "Lebih baik jangan kauulangi. Kapten! Kau menutup mata pada kenyataan bahwa kau menarik para petani dari kerja yang menghasilkan makanan mereka sehari-hari. Itu fitnah besar terhadap pemerintah Tokugawa!" "Bukan pemerintah Tokugawa yang kukritik." guntur samurai itu. Barangkali malahan tak terpikir oleh kalian. kenapa kau bermalas-malasan di sini malam ini? Siapa yang memberimu hak bersantai pakai kimono yang manis dan enak. akan mengherankan sekali kalau dia dapat mengalahkanku!" "Jangan bergerak!" perintah Kapten. Apa kaupikir akan kubiarkan diriku dipenggal oleh orang tolol macam ini? Memang dia mengepalai berpuluh orang yang terampil bersenjata. "kalau begitu aku puas bila bisa membungkam mulutmu. Memang rasanya tak ada bedanya buat kalian para serdadu. untuk tujuan-tujuan pribadimu sendiri. Takuan! Jadi. tapi rupanya orang tak suka mendengarnya. yang bisa saja mencuri upah yang mestinya mereka terima. Inc." geram Kapten. "Minggir. tapi pejabat-pejabat birokrat seperti kamu yang berdiri antara daimyo dan rakyat jelata ini. netcafe. Kalau dia tak punya cukup akal buat menemukan Takezo. Aku berani mengatakan. lupakan saja. Kau bahkan tidak memikirkan sama sekali anak buahmu." Kegarangan si Jenggot Jarang menguap dalam sekejap. Apa kalian menyadari apa yang kalian lakukan terhadap mereka? Mereka tak bisa makan kalau kalian teruskan ini. Otsu! Biar kupotong pembantu pendeta bermulut besar ini menjadi dua!" Otsu menjatuhkan diri ke kaki Kapten dan memohon. sekalipun tampaknya ia masih belum dapat menilai apakah yang dikatakan Takuan itu benar atau tidak. Membosankan sekali. "Kapten cukup punya alasan untuk marah. bagaimana mereka terpaksa menelantarkan sama sekali kerja ladangnya untuk mengikuti perburuan angsa liar kalian yang berantakan itu. lebih baik kau duduk dulu. Otsu menengahi kedua orang itu. berusaha melindungi Takuan. Aku hanya mengemukakan kebenaran. "Kapten!" Tingkah laku Takuan yang asal saja itu membuatnya demikian berang. Mukanya membengkak menjadi warna lembayung ketika ia bergerak menarik pedangnya. clan kaugunakan kedudukanmu untuk mendapat penginapan yang paling menyenangkan. Takuan mendesak terus. tapi saya minta Kapten bersabar. "Sekarang cobalah potong kepalaku dan kirimkan kepada Yang Dipertuan Ikeda Terumasa! Percayalah. Tak bisa saya membayangkan hal yang lebih membosankan daripada memenggal kepala seorang biarawan." "Ha?" "Membosankan. ia pun tertawa terbahak-bahak jelek sekali dan maju dengan sikap mengancam. Dan tanpa upah pula! Sungguh memalukan!" "Jangan sembarangan kamu. la tampak lumpuh. "Apa katamu. hingga tangannya yang memegang sarung pedang bergetar hebat. "Apa bukan tugas samurai untuk mengabdi kepada atasan dengan jujur dan tak kenal lelah? Apa bukan tugas Kapten menunjukkan kebajikan kepada rakyat yang membanting tulang demi daimyo? Coba lihat diri sendiri. Dia tidak bermaksud apa-apa. nyaman dan hangat.property of: CROSSFiRE. dan aku bukannya melucu." Kini Kapten sudah demikian terpesona. Dia orang yang tidak begitu beres. 'Hai. berapa pun waktu yang kalian hamburkan buat mencari Takezo. Kauselimuti diri dengan kekuasaan atasanmu untuk menghamburkan tenaga rakyat jelata. mandi seenaknya dan minum sake sebelum tidur dengan layanan seorang gadis manis? Apa itu yang kausebut mengabdi kepada atasan?" Kapten itu bungkam. Kami berdua pun berkali-kali mengobrol lama dan hangat di Daitokuji.

kami berdua cukuplah. "Sudah dari semula kukatakan supaya jangan mengancamku. barangkali aku akan membawa serta Otsu. kira-kira sepuluh tahun lebih tua daripada Takuan. Banyak yang bisa dimakan pada musim ini. apa Anda merencanakan untuk menunggu sampai turun saiju? Kira-kira delapan bulan lagi?" "Tidak. Inc. karena itu kau mesti benar-benar memperhatikannya. makan. tolong tuangkan secangkir sake lagi untuk Kapten. Takezo beruntung. Kalau Anda tak setuju. dan barangkali juga kepala Anda. Menurut penglihatanku. Bukankah makin lama waktu itu. "Tapi tak ada yang lebih capek. kalau orang-orang yang menjadi korban tindakanmu di Miyamoto kebetulan datang selagi kami mengobrol sambil minum teh. "Tidak.. saya pikir tak bisa. Ya. tapi kalian para prajurit ini memang sama saja. padahal menurut pendapatku." "Tapi apa?" "Tapi kalau dihitung tenaga bantuan dari Himeji dan semua petani serta prajurit itu. Cacian lisan Takuan telah merendahkan orang yang lebih tua itu. aku terpaksa duduk lagi dan melihat saja Anda terus membuat kesalahan besar. akan kuceritakan hal lain. "Mari kita lupakan saja. Ini ada hubungannya dengan kerja resmimu. Kejadiannya barangkali akan berakhir dengan kau bunuh diri gara-gara ketidakmampuanmu. Yang ingin kubicarakan adalah bagaimana menangkap Takezo." "Tentu saja tidak bisa. "Kau tentu kenal dengan buku Seni Perang karangan Jenderal Sun-tzu. Sebagai hadiah. Dengan takut-takut ia berkata. Tapi tak ada gunanya membikin pusing Anda. saya telah berlaku terlalu kasar. Anda tidak mengenal Seni Perang. sampai salju jatuh. tapi jelas dari wajah mereka waktu itu bahwa kekuatan watak tak ada urusannya dengan umur." "Tentu saja aku juga tahu bahwa buat Anda tidak penting berapa lama dibutuhkan untuk menangkap orang itu. bahwa Anda tidak mengenal Seni Perang?" "Saya malu mengakuinya. tapi. saya tak mau lagi sake." Serdadu itu pun tampak seperti seorang anak yang akan menangis. Sekarang tinggal satu syarat lagi. dan keangkuhannya pun menguap. Bahkan menurut pendapatku Anda tidak menggunakan strategi sama sekali. Itulah yang harus Anda lakukan untuk melaksanakan perintah dan menjaga kehormatan Anda sebagai samurai. mungkin saja aku hanya seorang pendeta sederhana. Tapi pikir-pikir. Aku pribadi menawarkan diri untuk menangkap Takezo dalam tiga hari. tapi memang demikian. aku bisa membawakannya tepung soba lezat. Tidak hanya para petani. Sebaliknya. dan mengerling Otsu?" "Saya minta jangan membawa-bawa lagi soal itu. aku dapat melakukannya sendiri. makin lama Anda bisa tinggal di kuil ini. Anda orang yang tidak berpendidikan dan sama sekali tidak efektif. Anda bisa saja seorang pejabat.. hingga tampak menggelikan. Aku menyebutnya karena aku ingin memberikan satu pelajaran yang menggambarkan salah satu prinsip utama buku itu." Ebook by Kang Zusi . Dan lagi. itulah sebab terpenting kegagalan Anda yang memalukan." "Dan karena sekarang ini musim semi. Beliau suka sekali tepung itu. Dan inilah kekurangan kalian yang terbesar. tapi aku memahami Sun-tzu." Kapten yang sudah tak berdaya itu pun menurut. "Otsu.property of: CROSSFiRE. netcafe." "Seperti kukatakan tadi." "Anda main-main saja. Apa betul anggapanku. Terutama di depan Yang Dipertuan." "Anda menangkap dia?" "Apa Anda kira aku berkelakar?" "Tidak. yang bisa dibikin orang sini. yang merupakan karya klasik Cina tentang strategi militer? Aku yakin prajurit setarafmu kenal sekali dengan buku yang demikian penting. Aku mau menunjukkan kepadamu bagaimana menangkap Takezo tanpa kehilangan lagi anak buah atau menyebabkan orang kampung mendapat kesulitan lebih dari yang sudah kauberikan." la jadi begitu tertekan. aku tak dapat berbohong." "Aku paham betul." Kapten itu lelaki umur empat puluhan. Maaf. kesulitannya adalah Anda tidak menggunakan strategi yang sewajarnya. Aku hanya akan mengusulkan sesuatu. Saya tak tahu sama sekali bahwa Anda teman Yang Dipertuan Terumasa. tetapi juga penduduk kampung terlalu limgung dan ketakutan untuk melakukan pekerjaan yang biasa. Justru karena itu aku menawarkan diri menangkapnya untuk Anda." "Kalau begitu. Anda harus merasa malu. "Aku bersedia menganggap seluruh peristiwa ini sebagai rahasia. Karena itu tak akan kaget kalau aku sebut Anda tolol. dan tak ada yang paling tidak kusukai daripada mendatangi seorang daimyo. Tapi kalau pencarian di pegunungan sepanjang hari itu berjalan terus. tapi Takuan menahan diri untuk tidak lebih memojokkannya lagi." "Nah. lebih dari dua ratus orang sudah menjelajahi pegunungan itu hampir tiga minggu lamanya. para petani akan mengalami kesulitan besar. "Sekarang turunkan pedang itu. kan?" "Diam dulu! Apa menurut Anda." "Ya. tapi menyedihkan sekali. Saya minta Anda memaafkan saya." la menoleh pada sang gadis. Aku tidak membutuhkan bantuan. pergi bersamamu ke puri dan menghadap Yang Dipertuan sendiri. Kalian tak pernah berpikir tentang konsekuensi. Takuan Soho menghabiskan seluruh waktunya buat bikin lelucon?" "Maaf.

saat mereka berangkat.. dan bahkan bersedia menenggang Osugi yang dahsyat itu sebagai mertua tukang perintah. Anda dapat memutuskan apa hukumannya. Dengan pikiran itu. Ia mempercayai tunangannya itu. Seperti si kucing. tetapi Takuan berkeras tak ada yang mesti dikhawatirkan. Tetapi yang betul-betul paling khawatir adalah Otsu. ia mengangguk bijaksana dan mengatakan bahwa mulut manusia itu pintu bencana. ya. ia pun meregangkan anggota badannya sambil menguap lebar. o. seorang anteknya? Mungkinkah ia tahu di mana orang itu bersembunyi? Tapi kalaupun tidak tahu-rasanya memang tidak-apa salahnya memberinya kesempatan. namun munculnya Takuan akhirnya membuyarkan maksud itu dari kepalanya. ada kemungkinan ia sama sekali tidak waras. Bagaimana mungkin ia bisa yakin biarawan aneh ini tidak akan menipunya? Walau ia bicara lancar." "Apa? Senjata? Apa kita mesti bahwa pedang atau lembing. "Otsu. maksud Bapak beberapa kotak makan siang?" "Bukan. makanan yang enak." panggilnya. Takuan pun meminta agar Otsu beristirahat sebanyakbanyaknya menjelang malam hari berikutnya. Otsu sudah terlampau bingung untuk menolak. "Apa syaratnya?" tanya Kapten hati-hati. Kucing melompat turun dari emperan kuil. angin berbau wangi Ebook by Kang Zusi . sedangkan pegunungan yang di kejauhan lebih pucat daripada mika. mengamankan kembali lalu lintas di jalan raya. Pergi ke dapur sana. nyawanya sendiri tidaklah begitu penting. Apa saja yang enak bolehlah. Otsu sama sekali tidak tergerak untuk berbuat demikian. dewa perang. Hanya sehari sebelumnya surat selamat tinggal Matahachi melukainya. atau yang lain?" "Tentu saja tidak! Aku mau bawa bekal makanan. Wajah Otsu cekung." itulah nasihat praktis mereka. Matahari tenggelam dengan cepat. sungguh-sungguh gila!" "Bagaimana dia akan menangkapnya?" Jawaban-jawaban konyol clan ketawa mengejek pun terdengar. Kapten mengangguk tanda setuju." "Ada yang kamu lupa. Petang hari berikutnya Takuan masih tidur bersama kucing di sudut bangunan utama kuil. obat-obatan. akulah yang menentukan nasibnya." "0. Ketika Takuan kembali. lagi pula pilihan untuk tinggal di kuil clan selalu gelisah lebih buruk lagi dibanding dengan pergi. Yang lebih dipedulikannya adalah kemungkinan satu-satunya teman di dunia ini akan hilang juga karena usul tololnya. ketika ia menangis sendirian di kamar tenun." "Apa maksud Anda?" Kapten menarik-narik kumisnya. Lukanya lebih perih dibanding berita kematiannya. Otsu menegurnya dengan keras karena sikapnya yang terburu-buru itu. "lebih baik kita berangkat sekarang. demi Matahachi. tongkat. Setidaktidaknya barangkali ia dapat memetik hasil pada saat terakhir. pesuruh. Aku mau bawa nasi. bikin bungkusan yang besar. Mungkinkah ia teman Takezo. sedikit sake. Kepada siapa ia harus berpaling kini? Bagi Otsu yang sudah tercebur dalam kegelapan dan keputusasaan. sekadar untuk melihat apakah ia berhasil dengan rencana gilanya." Pagi harinya pembantu kuil dengan wajah sangat gelisah berlari ke dapur. Dan sekarang Takuan membuat perjanjian yang sinting. kertas minyak polonia. tapi karena alasan-alasan yang hampir tak dapat dimengertinya sendiri. la sangat tergoda untuk melakukan hal itu." Pegunungan dekat tempat itu kini lebih hitam dibanding pernis yang paling hitam. Kalau Anda menangkapnya.. tujuannya adalah meringankan beban kampung. clan. Sehari sebelumnya. Waktu itu musim semi sudah hampir usai. Otsu harus ikut tanpa mengeluh." "Sudah saya kemasi semuanya-sandal jerami. Takuan bahkan sudah berani bertukar sumpah dengan si Jenggot Jarang di hadapan altar Hachiman. Aku juga butuh kuali. ia mengambil pisau tajam dan mengiris-iris sampai lumat kain kimono yang sungguh-sungguh telah disulami jiwanya. tapi terdengar juga bisikan terpendam yang mengandung kekhawatiran. dan percaya penuh padanya. bumbu kacang. netcafe. Inc. maupun pembantu pendeta mencoba meyakinkannya untuk tidak pergi. la merasa putus asa dan sangat tertekan. Otsu tidak begitu memedulikan keselamatannya sendiri. la juga sudah bermaksud menghunjamkan bilah tajam itu ke dalam tenggorokannya. Katanya. Takuan merupakan titik terang dalam hidup ini. dan bayang-bayang malam yang pekat mulai menyelimuti celah-celah jajaran gunung yang menandai alur Sungai Aida. dan mencegah berlangsungnya terus pemborosan hidup manusia. Tapi bagaimana kalau Anda tidak dapat menemukannya dalam tiga hari?" "Aku akan gantung diri pada pohon kriptomeria di kebun itu. "Tidak!" "Tidak. Ketika berita itu sampai ke telinga pendeta kuil. "Apa Takuan sudah gila? Saya dengar dia berjanji mencari Takezo sendiri!" Mata orang-orang di dapur terbelalak. "Baiklah kalau begitu. dan akhirnya Takuan sendiri keluar ke beranda. Takuan menghiburnya dan meyakinkannya agar setuju menuangkan sake. pembalut kaki. Dan bawa pikulan. "Kalau aku berhasil membawa pulang pelarian itu. Baik pendeta. Sinar harapannya yang terakhir. Ia masih dapat merasakan hangatnya tangan kokoh biarawan itu ketika membimbingnya ke luar kamar tenun. "Pergi saja sembunyi. Mengingat jumlah nyawa yang dapat diselamatkan kalau Takezo bisa cepat ditangkap. Akal sehatnya menyatakan aneh kalau ia dan Takuan dapat menemukan tempat Takezo dalam waktu sesingkat itu. clan Takuan akhirnya menepuk punggungnya. Berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Terengah-engah ia berseru.property of: CROSSFiRE.

Kemudian aku menutup mata. "Maksud Bapak. dan keadaan langit." jawab Takuan." "Hati-hati! Awas kakimu!" seru Takuan tiba-tiba. "Di mana saja orang-orang ini? Tak seorang pun kulihat. supaya kita dapat sendirian saja tiga hari ini. atau alam semesta menyatu denganku?" Akhirnya ia kembali dan jelasnya. atau perut. Bukan Takezo. tapi pikulan itu jelas menyakitinya. netcafe. Otsu bertanya. kali-kali kecil yang bergabung menjadi Sungai Aida mengguntur dari batu ke batu. "Menurutku. pegunungan dengan dedaunan yang berkilat-kilat lemah oleh cahaya suram makin tampak seakan bermandikan hujan petang hari. "Oh!" teriak Otsu ketakutan. jadi ada namanya?" Ketika mereka sampai. yang setengahnya dataran terbuka." "Kalau begitu. Buku Perubahan asli milikku sendiri." Seratus kaki di bawah Takuan." "Buku Perubahan? Bapak tidak membawa buku. Bambu bergaris dan tumbuhan jalar wistaria menjerat kabut. "Takezo. Kenapa bicara soal jalan pada saya?" "Mari kita turunkan beban ini sebentar. tapi yang ada dalam diriku. Kalau nanti dia muncul. tapi malam itu tak seekor binatang pun kelihatan atau terdengar." "Kapten tidak memperlihatkan muka di kuil sepanjang hari tadi. ia memandang ke langit." "Apa kau capek?" "Tidak." "Orang menyebutnya padang rumput Itadori. "Malam yang bagus buat jalan-jalan. dan hangat. Ketenangan di situ hanya terpecahkan oleh angin musim semi yang hangat membelai rerumputan. "Bapak mau ke mana?" "Mau buang air." "Ah. Bunyi itu menderu menuju dirinya. ada yang mengatakan." la menunjuk ke puncak yang dekat." "Apa para petani itu yang memasangnya di sini buat menangkap Takezo?" "He-eh. aku membuka-buka Buku Perubahan. karena setiap kali ia memindahkannya dari bahu satu ke bahu lain. akan jatuh ke tanganku tepat seperti Jenderal Ts'ao dari Wei jatuh ke tangan Ch'u-ko K'ung-ming. aku yang lebih dulu Tak perlu kau menyusulku. atau di tempat lain. sia-sia saja mereka menempuh banyak kesulitan." Ketika mereka sudah menurunkan beban. Pokoknya." "Saya sih tidak keberatan jalan. "Kita berkemah di sini. dan menembus seluruh dirinya. dan sekarang aku tahu pasti tindakan apa yang akan kita ambil. Sudah jelas sekarang. "Otsu." jawab Takuan mantap. Ini tentunya Tsujinohara. "Bagaimana kita bisa menangkap Takezo kalau hanya duduk di sini?" "Dengan jaring pun kita dapat menangkap burung terbang tanpa mesti terbang sendiri. seakan-akan menghitung-hitung bintang. padang rumput itu ternyata sebuah dataran kecil yang melandai ke tenggara dan memberikan pemandangan indah daerah sekitar. Dia berjuang demi hidupnya." "Tapi kita belum memasang jaring sama sekali. penampilan air. Makin jauh Takuan dan Otsu meninggalkan kampung. "Apa yang kita lakukan di sini?" "Duduk. Cepat atau lambat dia akan muncul." ucap Takuan. aku memikirkan letak tanah." la menyeringai pada Otsu. Gunung Takateru?" "Aku tidak tahu namanya. nikmat rasanya!" katanya bersuka hati. "tapi mari kita jalan lebih jauh lagi sedikit." "Tapi dia belum pernah menemui siapa pun. Tapi kalau kita tidak hati-hati." "Bukan yang tertulis. Inc. Para petani biasa menggiring kuda dan lembunya ke sana untuk merumput. Takuan pergi menuju karang yang berdekatan. dia menyuruh pulang para pencari." "0. "Rasanya kurang begitu indah. dan dia sangat kuat. kita terpaksa jalan sepanjang malam ini. 'Pergi ke gunung di sana itu. Pak Takuan. Dia ada dalam hati. apa yang akan kita lakukan? Sesudah diburu orang banyak begitu lama." gerutu Otsu. saya bahkan tak tahu ke mana kita ini. "Ke mana kita pergi?" "Aku belum tahu. tampak berpikir sedikit. jangan khawatir. dan ketika aku membukanya. ya?" kata Takuan sambil menoleh ke belakang. kalau Bapak bicara soal itu. Sambil buang air kecil. musuh itu. apa menurutmu jurang ini tidak makin sempit?" "Tak tahulah saya. kita yang akan masuk kedalamnya. Apa Bapak yakin tidak kesurupan rubah atau yang lain?' Ebook by Kang Zusi . Mereka berjalan beriringan menembus kegelapan. ia pun menambahkan.property of: CROSSFiRE. masingmasing memikul ujung pikulan bambu yang digantungi bungkusan yang terikat baik-baik. "Ketika di sana tadi. tentunya dia nekat sekarang. langkahnya langsung terhenti." "Takuan. "Oh. Ketika berdiri di sana tadi. "Ada apa? ' Kenapa Bapak bikin takut saya?" "Jangan khawatir. tapi sisi belakang Sanumo sudah kita lewati beberapa waktu lalu. "Aku menyatu dengan alam semesta. Saya berani bertaruh. Memikirkan itu saja kaki saya sudah gemetar. saya jadi gugup dan tak bisa melangkah." Sesudah diam sekejap. Banyak wistaria dan perangkap semak sepanjang pinggir jalan ini." Habis meletakkan bungkusan itu ke tanah. Aku cuma mau mengingatkan kamu supaya jalan yang balk." "Apa yang kau khawatirkan? Kalaupun kita terperangkap. bagaimana caranya menangkap Takezo?" "0. memenuhi telinganya." jawab gadis itu.

" "Sebetulnya bukan salah mereka. akan kubikin dia menanggung hukuman paling buruk yang dapat kutemukan. terutama pada masa-masa yang tak menentu ini. Seluruh keadaan yang tak menguntungkan itu akibat satu hal saja: Takezo sama sekali tak punya akal sehat. Malam telah penuh. Apa saja. "Apa Bapak tidak dengar? Kedengaran bunyi gemeresik.property of: CROSSFiRE. Takuan mematahkan ranting-ranting kering dan membakarnya. Mereka takut kepada pemerintah. dia tak lebih dari binatang liar. Otsu kelihatan lega. netcafe. Tidak. bukan itu maksud saya." "Selama ini saya selalu menganggap Bapak orang baik. Otsu. keduanya hanya duduk diam menatap api. dan kemudian membunuhi orang-orang lain lagi. "Pak Takuan. pelan. Sesudah itu ya seperti bola salju yang menggelinding. Dia harus terus membunuh untuk melindungi hidupnya sendiri. tapi sebetulnya aku benci percakapan dengan diri sendiri. apa kau sedang sedih?" "Oh. Saya tak menyangka Bapak mengurusi hukumhukum daimyo itu. aku melihat gua dekat jalan. bahkan juga sanak mereka sendiri. Kalau Bapak memandang bintang-bintang itu lama-lama. orang di luar hukum. kan? Penguasa provinsi tidak boleh bermurah hati pada orang-orang macam Takezo. Kita dapat berteduh di sana sampai hujan berhenti. mereka itu orang-orang sederhana. Ia berkata lirih." "Kau tidak bicara yang sebenarnya!" kata Takuan tajam. "Ha. Meski sering melakukannya. Bapak sudah lihat sendiri bagaimana perasaan saya selama ini. saya setengah mati ketakutan!" Selama beberapa jam berikutnya." "Apa Bapak membencinya juga?" "Aku jijik! Aku tidak menyukai kebodohannya! Kalau aku penguasa di provinsi ini. Rubah takut api. dan Takuan membuat api. untuk pelajaran bagi orang banyak. Dan saya rasa tak ada orang yang betul-betul suka menginap di pegunungan seperti ini. mereka cuma berkepentingan melindungi diri sendiri. Sesudah perang Sekigahara. kenapa orang kampung begitu benci pada Takezo?" "Para penguasa itu yang membuat mereka membencinya." Otsu jadi tercenung. Lihat!" Dan tampaklah bayangan seekor monyet besar dan monyet kecil yang berayun-ayun di antara pepohonan. Takuan. Mereka harus menjaga ketenangan. mari bikin api. Bahkan selagi saya duduk di sini sambil merenung. Takezo selalu merasa dikejar-kejar musuh." "Jadi." Mereka mengumpulkan kayu kering. Tapi sesudah mendengarkan baik-baik beberapa saat lamanya. Mereka itu sama sekali tak berdaya. Bagaimanapun." "Oh. walaupun dia sendiri bagi sejumlah orang tak lebih dari seorang bajingan. Dia mestinya menggunakan otaknya sedikit. aku bisa lekas bebas. Tapi dialah yang memulai. pecahlah tawanya. menurut Bapak. "Api yang baik membuat gembira orang. Inc. kelihatan mereka bergerak. Dia sebetulnya tidak begitu cerdik. jadi kalau aku kesurupan. akan kusuruh orang mempreteli anggota badannya. betul tidak?" "Yang jelas menghangatkan. begitu takutnya." "Itulah barangkali yang dilakukan Takezo pada malam hari dan kalau udara buruk. kabur malam hari atau menyamar. Kau mesti memaafkan mereka karena mendahulukan kepentingan sendiri. Sambil menengadah ke langit berbintang. dan aku datang kemari justru dengan kekuasaan untuk melaksanakannya. Mestinya banyak tempat macam itu di seluruh gunung ini. Bergerak pelan. sampai kalau pemerintah yang menitahkan. dan itu tidak baik. "Uh. Di situ barangkali dia menyembunyikan diri selama ini. Kesimpulannya tak bisa lain bahwa seluruh dunia ini bergerak. dan duduk kembali. nasib saya pun berubah sedikit demi sedikit. Tapi. "Pikiran-pikiran itu memang betul masuk kepalamu." "Tapi bagaimana dengan samurai? Kenapa mereka ribut mempersoalkan orang tak penting macam Takezo?" "Karena dia lambang kekacauan. karena ini masalah mempertahankan diri." Mata Otsu sudah bengkak oleh asap. kamu. "Otsu. di pohon-pohon sana itu?" "Langkah-langkah kaki?" Takuan pun bersikap waspada. Semangat Otsu tampak naik. Tapi Takezo tidak begitu! Dia merasa harus masuk dan membunuh seorang pengawal.. Sedangkan diri saya hanya satu rink kecil di dalam semua itu-satu titik yang dikendalikan oleh kekuatan mengagumkan yang tak dapat saya lihat. seandainya sekarang ini turun hujan?" "Dalam perjalanan ke atas tadi. tapi ada pikiran lain yang jauh lebih khusus di otakmu. apa itu?" teriak Otsu sambil meloncat bangun dari tempatnya dekat api. "Saya pikir aneh sekali dunia ini..." "Memang. Merangkum segala-galanya. Yang mereka kehendaki sebetulnya cuma sekadar tidak diganggu. tapi di dasar hati ternyata Bapak sangat keras. Pikiran saya terasa berputar-putar dalam lingkaran. tapi tentunya dia cukup cerdik untuk berteduh dalam gua jika hujan." Ebook by Kang Zusi . Kesalahan besar pertamanya adalah menerobos rintangan di perbatasan. Semua bintang di kegelapan kosong di sana itu. Tiap kali api akan mati. Sesungguhnya. Tindakannya merugikan hukum dan ketertiban. seperti langkah-langkah kaki." "Barangkali. akan mereka halau orang-orang sekampungnya. "Kalau begitu. Apa yang akan kita lakukan. Yang baik harus diganjar dan yang jahat harus dihukum. apa yang kaupikirkan?" "Saya?" "Ya. ha! Itu kan cuma beberapa ekor monyet. Saya merasakannya.

" "Kenapa?" desak Takuan. biarawan itu terus memandang kosong ke api. Manusia hatinya tidak kuat. "Otsu. Aku tak akan merusaknya. kita ini kawan atau lawan." "Betul begitu? Bagaimana pikiran mereka?" "Saya marah betul. Kaupikir aku jelek? Lihatlah dia!" "Apa maksud Bapak?" "Matahachi itu.. aku betul-betul mengharapkan bahwa kau. tidak persis begitu. "Sudah larut sekarang. Coba kemarikan suling yang kausimpan dalam obi-mu itu. Inc. seakanakan baru melihatnya. Kemudian katanya. kupikir kau beruntung. seperti sedang menyusun pikirannya. Termasuk tentang perempuan Oko itu. Otsu pun melunak. dan kemudian suatu hari dia mengejutkanmu dengan surat seperti itu. tapi aku akan heran sekali kalau Takezo bisa menolak godaan untuk mendatangi kita clan menghangatkan diri dekat api. tapi belum lagi bisa memutuskan. apa yang harus dilakukannya. "Apa ruginya kalau aku memainkannya? Suling bertambah baik kalau imainkan. "Apa betul menurut Bapak dia akan muncul?" "Tentu saja!" "Tapi kenapa dia mau langsung masuk perangkap?" "Ah." Air mata Otsu bercucuran karena marahnya. Rasanya ingin menjerit!" Dan dengan marahnya ia pun menarik lengan kimononya dengan giginya. dan bertanya-tanya habis-habisan. hanya sifat manusia. mereka itu lemah. tak dapat maju atau mundur. Ini malahan bukan teoriku sendiri. Ini milik seorang ahli strategi. Dugaanku dia sedang bersembunyi di dalam bayangan kegelapan sekarang ini. Tapi setidak-tidaknya sekarang aku tahu. apa yang akan kaulakukan? Tak usahlah kaukatakan. Kau bisa saja menganggap itu wajar. "Suatu hari nanti akan saya temukan dia! Saya bersumpah. Takuan menatapnya dengan bergumam samar-samar. Otsu mulai merasa yakin akan hal ini." "Tapi. biar kumainkan sebentar. Otsu. "Aku minta maaf telah melanggar rahasia pribadimu.property of: CROSSFiRE. Tenang seperti biasanya. Kupikir sikapku itu keliru." "Betul? Tapi laknya tidak rusak!" "Aku membacanya sesudah melihatmu di kamar tenun itu. Ketika kaubilang tidak membutuhkannya. Kuharap dirimu yang manis dan polos itu dapat melewati semua tahap kehidupan tanpa cela dan tanpa luka. sebelum saya mengatakan langsung padanya pendapat saya tentang dia." Takuan menggelengkan kepala dan katanya." "Bapak jelek! Bagaimana mungkin Bapak melakukan itu! Dan buat membuang waktu pula!" "Untuk alasan apa sajalah. dulu maupun sekarang. Kenapa ia mempercayai orang gila yang mau bunuh diri ini? Tanpa menghiraukan tajamnya jawaban Otsu. sekadar membuang waktu.. itu saja. netcafe. pasti saya temukan! Saya tak akan berhenti. kukeluarkan surat-surat itu dan kubaca. "Apa?" Takuan menatap tanah. Apa yang bikin kau kelihatan setengah mati waktu itu." "Wanita tidak berpikir seperti itu." sambar Otsu dengan nada getir yang memang disengaja. 0. terutama kalau kesendirian itu disertai pengepungan tentara clan pengejaran dengan pedang. Tak pernah saya mengizinkan siapa pun menyentuhnya. tapi barangkali dia tidak merasa kalian berdua punya janji. Kalau kau kawin dengan dia. terhindar dari hal-hal yang jahat dan sikap muka dua di dunia ini. "Bukan. "Tak peduli kenapa!" teriak Otsu sambil menggeleng. Kau akan menceburkan diri ke laut dari karang yang terjal. ini bukan sekadar impian. "Sudah mulai. Takuan berkomat-kamit. Anak malang itu barangkali sedang dilanda keraguan." "Suling bambu saya?" "Ya. dan dia sedang bergelut dengannya. Aku senang semua itu sudah lewat sebelum sampai di situ. Otsu. Akhirnya ia bergumam. Otsu diam." Tapi kelihatannya angin nasib sudah sepenuhnya gila? Kadang-kadang orang yang tidak begitu beres otaknya dianggap jenius oleh orang lain. apa yang bikin banjir air mata itu." "Tidak." Melihat wajah biarawan yang tegang itu. ya?" Otsu tampak tercengang. "Aku perkirakan Shimmen Takezo berada dekat sekali di sini. hingga Otsu jadi merasa puas bahwa penolakan Takuan itu demikian pastinya. tak kenal tanggung jawab. Kesendirian bukan alamnya. "Aneh. Dengarkan. Aku telah membaca surat-surat yang kauterima itu. lebih dari orang-orang lain.. aku kenal kau." "Ya. ya?" "Apa yang dikomat-kamitkan?" "Aku baru saja menyadari bahwa Takezo harus segera muncul. Ebook by Kang Zusi . Lama-kelamaan kupikir lebih baik jalannya peristiwa justru seperti sekarang. tapi kemudian ketika aku ada di kamar kecil. Soalnya." "Apa itu bukan sekadar impian? Dia barangkali sama sekali tidak di dekat-dekat sini. memandang kita dengan mencuri-curi. begini." Ia berbicara demikian yakin. Tak mungkin. ya?" "Tentu saja! Sebentar lagi fajar. Takuan kemungkinan orang semacam itu. kumasukkan surat itu dalam lengan bajuku." Dan Otsu pun mencengkeramkan tangan kanannya kuat-kuat ke suling dalam obi-nya.

Nah. dan saya tak dapat main suling kalau saya menangis. Ketika ia belum lagi cukup umur untuk melihat cahaya matahari. dia menangis kalau memainkannya!" pikir Takuan." "Apa pun yang terjadi?" "Apa pun yang terjadi. "Ya." "Itu pun saya tak mau. Takuan tidak bicara apa-apa lagi." "Tapi kenapa tidak kaumainkan sendiri? Lebih baik aku mendengarkan saja. rendah. Saya tidak begitu pandai. tapi ia tak mengenal cinta asli orangtua. Takuan merasa dirinya berubah menjadi air mengalir yang berkecipak menyusuri jurang. Menurutnya hati itu sudah ditakdirkan untuk mati-matian merindukan apa yang tidak bisa diperolehnya. "Maaf aku telah mengingatkan masa lalu padamu. Kyoto." "Kenapa?" "Karena saya akan menangis. Kainnya sobek-sobek. Terdengar bunyi.property of: CROSSFiRE. "Apa kau menangis?" Otsu tetap diam. dan sekali-sekali larut di balik awan berkabut. Otsu. kalau begitu kamulah yang memainkannya. Mereka bertukar suling dan bermain musik bersama sepanjang malam. Takuan mengangguk acuh tak acuh. dan bermain-main di tempat yang dangkal. suling itu bukan sekadar gambaran tentang ibu dan ayah yang tak pernah dilihatnya. "Jadi. "Boleh kulihat?" tanya Takuan. sambil memainkan sulingnya." Takuan pun mengalah. talinya rantas. Ketika nada-nada tinggi terdengar. Ia asyik mendengarkan dengan mata tertutup. menegakkan leher kimononya dan membungkuk ke arah suling yang terletak di depannya. aku tak akan merusakkannya. meloncat-loncat bersama awan-awan. Bukan maksudku mengganggumu. "Betul. dan ditinggalkan seperti anak kucing telantar di emperan Kuil Shippoji. Dengan santun sekali lagi ia mengingkari bahwa ia cakap bermain. meratapi ketidakabadian dunia ini. Otsu selalu merindukan orangtua yang tidak pernah dikenalnya dan mereka pun merindukannya. Otsu. la tampak berbeda dari Otsu yang biasanya. la merasa kasihan akan sifat gigih bercampur keras kepala yang khas anak yatim. Bunyi bumi dan gaung langit bercampur dan berubah menjadi rintihan sayu angin yang berembus melintas pepohonan cemara. Tubuh biarawan yang seperti bayangan itu tampak seperti batu karang yang telah berguling turun dari sisi bukit dan menetap di dataran. Yang ada hanyalah alam semesta yang besar dan diam terselimut malam. Otsu yang mewakili kekuatan dan keluhuran seni." Takuan berpikir. tetapi juga ." la pun mengeluarkan suling itu dari obi-nya dan mengulurkannya pada Takuan lewat atas api." bisik Otsu. Takuan pun teringat akan legenda Pangeran Hiromasa yang sedang bercengkerama pada suatu malam terang bulan di Gerbang Suzaku." la berlutut dengan sikap formal di atas rumput. "tapi akan saya coba.. Otsu. Sudah berlusin-lusin suling aku mainkan. Baru kemudian pangeran itu mengetahui bahwa teman bermainnya itu setan dalam bentuk manusia. wajahnya yang putih menoleh sedikit ke samping. lihatlah. ia merasa semangatnya terembus ke langit. Ia selalu menyimpan suling itu dekat tubuhnya. Suara basah suling mulai mengalun. Namun tak pernah Takuan membayangkan bahwa Otsu akan menolak meminjamkannya. Mainkanlah untukku sedikit. Ambillah suling ini dan mainkanlah. "Apinya mati." Dan ia pun merasa kasihan pada Otsu. meletakkan barang pusaka yang dipujanya itu ke bibir. untuk pertama kali bulan indah berkilau-kilau di langit. Ia menoleh pada Takuan. Bangun dari lamunannya. merindukan cinta orangtua yang tidak pernah mereka kenyam. satusatunya gambaran yang pernah ia punyai tentang mereka. ada apa? Ada yang tidak beres?" Otsu tidak menjawab. Jemari pipih gadis itu menari di atas ketujuh lubang alat musik tersebut. Angsa liar yang selalu bermigrasi ke Jepang pada musim gugur dan pulang pada musim semi kini tampak dalam perjalanan kembali ke utara. Saya tidak keberatan lagi.. merupakan suara mereka. Pada malam ketiga ini." "Tidak apa-apa. dan menemukannya di tingkat atas gerbang itu." la memutar ke samping dan memelukkan tangannya ke lutut. "Baiklah. "Tidak heran dia begitu enggan meminjamkannya pada orang lain. "Mestinya saya tak boleh begitu keras kepala. Inc. diselarasi oleh suling lain. Buku-buku jarinya tampak seperti kurcaci yang sedang tenggelam dalam tarian lambat. aku pegang saja. netcafe. "Nah. malahan juga memainkannya sendiri." "Hmm. Suling itulah satu-satunya barang peninggalan orangtuanya baginya. Suling itu terbungkus dalam kain brokat yang sudah tua dan aus. Ebook by Kang Zusi . dan Takuan tahu betapa berharga barang itu untuknya. namun masih tampak keanggunan yang antik. la membasahi pipit suling clan membulatkan jiwa untuk bermain.." "Tidak. Pangeran mencari-cari pemain suling itu. Aku duduk saja di sini seperti ini. Ayolah. seperti gemericik kali kecil. Kadang-kadang suara kuak mereka terdengar di telinga kedua orang itu dari tengah awan-awan. Tapi ia pun sadar akan kehampaan yang ada dalam hati mereka yang tegar itu." "Keras kepala!" "Biar saya keras kepala." kata Otsu merendah. Takuan berkata. Masukkan sedikit kayu lagi.

Diam-diam ia mengangkat tangan clan melambaikan salam. Sekalipun terputus-putus oleh sedu sedan tertahan. yang secara tak sadar dipeluknya lebih erat lagi. clan mari kita bicara. Dalam keadaanmu sekarang. ia takut sake akan Ebook by Kang Zusi . Takezo mengedip. Napasnya mulai menunjukkan tanda-tanda lelah." Sunyi lagi. "Di sini banyak makanan. Memang itu Takezo. Wajahnya terbenam lebih dalam lagi di antara lututnya." katanya. apa Bapak bicara sendiri lagi?" "Apa kau tidak lihat?" tanya Takuan sambil menuding." pikir Takuan. "Kemarilah!" Mendengar kata-kata itu. Kami bukan musuhmu. "Takezo ada di sana tadi." la tusukkan ujung sumpitnya ke kentang. Dan tiba-tiba terlihat gerakan di rumput." "Tidak suka?" "Saya tak mau sekarang. Butir-butir keringat muncul di dahi. ya?" tanya biarawan itu sambil meletakkan sumpitnya. Otsu. Apakah ia sedang memanggil ibu dan ayahnya? Apakah bunyi-bunyi yang mendaki langit itu betul-betul melantunkan. "Di manakah engkau!" Apakah jeritan ini tidak tercampur rasa benci yang sangat dari seorang perawan yang ditinggalkan dan dikhianati lelaki tak setia? Otsu agaknya sudah mabuk oleh musik dan tenggelam dalam emosinya. ia berhenti dan tegak diam. Ditatapnya Takezo semantap tatapan Takezo padanya. Sudahlah. Sambil membuka tutup kuali. Biarawan itu tidak bicara. "Hai. Takezo mendadak duduk. beberapa waktu lamanya. Tangannya gemetar dan giginya gemerincing mengenai tepi mangkuk. memperlihatkan sederetan gigi yang sempurna putihnya. Jaraknya tidak lebih dari lima atau enam meter dari api. Mau coba sedikit. Takezo sekali-sekali mengembus makanan yang masih panas itu dan melahapnya dengan suapan besar-besar." Otsu terkejut dan berhenti bermain. Takezo?" Takezo mengangguk dan untuk pertama kali ia menyeringai. Otsu tidak dapat memandang langsung kepada teman bekas tunangannya itu. Ke sinilah. kemudian sambil menjerit ia melemparkan sulingnya ke sosok hitam itu. Kedua orang itu tampaknya bahkan menyatu dalam tarikan napas mereka. datang ke dekat api sini. terasa lagu itu bagai berlanjut terus untuk selamanya. la membuka lipatan tangannya dan memberikan isyarat kepada Takezo." Otsu menoleh. Wajahnya yang gelap memperlihatkan ekspresi aneh. Ketika hampir berada di atas mereka. Mari kita bicara. "apalagi manusia yang punya lima macam nafsu. dan minuman. Sedikit demi sedikit di sudut-sudut mata Takuan muncul kerut-merut yang menandai mulainya senyuman bersahabat. sedikit terpesona. Takuan berkata. la memandang Takuan dengan mata curiga. dan Takuan meletakkan guci sake di dekat api untuk menghangatkannya. di sekitar anak rambutnya. --Setan pun tergerak hatinya oleh musik. la memandang langsung ke benda hitam itu. Kau mengukuhi pandangan yang cukup menyesatkan tentang dunia ini. dan menoleh ke belakang. pipi Otsu berubah jadi merah tua. panaskan kentang rebus yang kaubuat tadi. "dan kita dapat saling tukar pikiran. Disilangkannya tangannya pelan-pelan ke dada. Dia mendengarkan kau main suling.property of: CROSSFiRE. Tapi aku tak akan berdebat lagi denganmu. "Duduklah di sini. "Enak. agaknya terhambat oleh semacam rasa malu di dalam dirinya. la melompat seperti kijang yang terperanjat dan lari. Mengerikan. hingga sukar membedakannya dari alat musik yang dimainkannya. "Manis sekali dan empuk. Karena lapar yang luar biasa. "Rupanya sudah matang. Katanya. Datanglah ke dekat api ini. la melompat dan memanggil sekuat paru-parunya. kekuatan yang memerintah. Kepala Takuan mendongak. dan ia beringsut mendekat. geletar itu tidak terkendalikan lagi. la merasa seakan-akan jaring yang dengan hatihati direntangkannya telah sobek clan ikan pun lolos. la merasa seolah-olah berada di dekat binatang liar tak terantai. bahkan juga simpati manusia. Datanglah ke dekat api sini dan hangatkan badanmu. betapa dalam dia akan terpengaruh bunyi suling yang dimainkan gadis cantik ini!" Ia ingin menangis. clan ia masukkan ke dalam mulutnya. katanya. Pelarian itu berhenti seakan terpaku di tanah. "Takezo. Aku pun sudah lapar. la mengunyah lahap. yang tidak dapat begitu saja diabaikan." Sesudah sekian lama berkeliaran di pegunungan. Tapi kau berkeras menyeret dirimu ke dalam neraka pribadimu sendiri. "Takezo! Berhenti!" Di dalam suara itu terasa ada kekuatan yang perkasa. kamu yang di sana! Tentu dingin rasanya di tengah embun. tapi air matanva tidak keluar. Air mata menuruni wajahnya. makanan. "Pak Takuan. Takuan sama kagetnya seperti Takezo karena jeritan Otsu. memang hampir tidak dapat kau mendengar suara akal sehat. Inc. Ketika cahaya api sedikit demi sedikit surut." desak Takuan. apa kau tidak membuat kesalahan besar? Ada tempat yang menyediakan api. Terdengar seperti binatang yang sedang melata." Menyusul sunyi penuh tanda tanya. "Kemarilah. Adegan penuh kedamaian ini menghapuskan rasa takut Takezo. Katanya. Takuan menggelindingkan sebuah batu karang ke dekat api clan menepuk punggung Takezo. Malahan kami juga punya sake. la begitu menyatu dalam musiknya. Otsu memasukkan kentang ke dalam mangkuk clan memberikannya kepada Takezo. "Bagaimana kalau mencoba sake?" "Saya tak mau sake. ia keluarkan kentang itu. netcafe." Otsu meletakkan kuali di atas api.

apa tidak lebih baik kalau kau diikat dengan ikatan Hukum Budha? Peraturan daimyo itu hukum dan Hukum Budha pun hukum. Saya merasa hangat sekarang.kemanusiaan. ia bertanya. kami datang kemari untuk menangkapmu. Inc. apakah engkau dapat berhasil bertahan terhadap rakyat yang membencimu. Ini bukan tali kekuasaan." "Tidak. Takuan tiba-tiba mengepalkan tinjunya clan menghantam keras-keras rahang Takezo. dan terhadap musuhmu terbesar. Kemudian ganti la memandang kedua orang itu.." "Apa sudah cukup?" "Sudah.. Takezo pun terhuyung-huyung oleh pukulan itu. "Terima kasih untuk makanan ini. Dan bagaimana dengan kewajibanmu melanjutkan nama ayahmu.property of: CROSSFiRE.. "Orang bebal tak bertanggung jawab! Orang bodoh tak kenal terima kasih. Segera ia berkata dengan cukup sopan. tunggu apa lagi? Bawa ke sini tali itu! Takezo sudah tahu aku akan mengikatnya. "Bagaimana pendapatmu? Kalau kau akan ditangkap. Takuan melanjutkan dengan nada lunak." Takezo tidak memperlihatkan sikap kaget secara khusus. Cepat berikan tali itu!" Takezo diam menelungkup di tanah. tapi sebelum sempat pulih dari pukulan itu ia sudah menerima pukulan lain di sisi lain. tapi tali cinta." Pertanyaan Takezo itu mengejutkan Otsu. kaki dan tangannya terulur. dirimu sendiri?" -Aku tahu aku sudah kalah. Shimmen Munisai? Apa engkau sudah lupa bahwa nama itu berasal dari keluarga Hirata. seperti bola kertas kecil. akulah yang melakukannya atas nama mereka. Tidak ada alasan bagimu untuk takut atau kasihan padanya. tidak!" kata Takezo. berikan ke sini tali itu. la tersedu-sedu sedih. Bahunya yang tajam mencuat ke atas ketika berguncang bersama gemetarnya tubuhnya yang kurus. Kalau sakit. "Ya. "Kenapa kau datang kemari? Kemarin malam kulihat juga apimu. Nah. Apa. tapi pada akhirnya apa engkau bisa betul-betul menang?" "Apa maksudmu." rintih Takezo. Mereka berdua pun tahu itu. Dia sudah siap. sekalipun sebelumnya ia berketetapan untuk membebaskan kakaknya.. namun gema suara lonceng yang berat teratur itu terdengar mendayu-dayu di seluruh kampung dan menggaung sampai jauh ke pegunungan. sekalipun agaknya ia ragu-ragu menerima ucapan Takuan itu demikian saja.. apa bedanya sekarang ini?" Melihat itu. membuatnya sakit. Sambil berputar langsung menghadap Takezo ia pun berkata. Takuan pun dengan mudah menduduki punggungnya. Penduduk kampung bergegas Ebook by Kang Zusi . seakan-akan akhirnya ia menyerah pada suatu hukum alam yang tak kelihatan. Batas waktu yang diberikan pada Takuan sudah habis. "Sakit?" tanyanya sengit. Terimalah ini!" Biarawan itu pun memukulnya lagi. "Apa engkau tidak mesti mulai memikirkan nasib wanita yang baik itu? Sudah demikian banyak yang dilakukannya untukmu. juga semua orang yang kubenci! Akan kubunuh orang sebanyak vang aku bisa!" "Dan apa yang hendak kaulakukan untuk kakak perempuanmu?" „Ha …” "Ogin. tidak tahu. dan matanya basah. Kalau mau melawan. menggeleng-geleng marah.. "Sinting!" guntur suara biarawan itu. Apa yang akan kaulakukan untuknya? Dia dikurung di benteng Hinagura!" Takezo tak dapat menjawab. Aku mengerti bahwa engkau bertekad untuk bertahan sampai mati. Takuan menyadari bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba. kali ini hingga Takezo jatuh ke tanah. Namun Takezo hanya terbaring pasif. tapi sebelumnva akan kubunuh dulu perempuan Hon'iden tua itu dan serdadu-serdadu Himeji. aku. bisa saja Takezo menendang Takuan ke udara. terima kasih. tetapi Takuan menyelamatkannya dengan langsung mengatakan. aku dapat menang itu?" "Maksudku. la diam saja dan menundukkan kepala. artinya kau masih punya sedikit darah manusia dalam nadimu. "Terus terang saja." rengek pelarian itu. Otsu. bahkan selanjutnya dari wangsa Akamatsu dari Harima yang terkenal itu?" Takezo menutup mukanya dengan kedua tangannya yang hitam dan kini berkuku panjang itu. ikatan Budha-lah yang lebih lembut dan berperi. bagian 3 Pohon Kriptomeria Tua SEKALIPUN pagi itu bukan saat biasanya lonceng kuil dibunyikan. Karena ayah-ibumu dan nenek moyangmu tak ada di sini untuk menghukummu. netcafe. Wajahnya berubah penuh kesedihan. clan ia tak siap dengan jawaban. "Aku. "Akhirnya aku akan terbunuh. "Bagus." Ketika mengembalikan mangkuk kepada Otsu. terhadap hukum provinsi. tapi dari antara dua itu. Karena terkejut. Hari itu hari perhitungan. "Dengar dulu sebentar. sakit. tidak berusaha bergerak.

kan? Sebetulnya. dialah Osugi si pemarah itu. adalah kalau aku tidak membawa pulang pelarian itu dalam tiga hari. sesuatu yang penting. Aku membutuhkan bantuan kalian. Inc. Beberapa orang membungkuk rendah. "Bukan aku yang berjasa atas penangkapan Takezo. Ada yang mau kukatakan kepada kalian. Beberapa orang menahan napas dan terengah-engah melihat pemandangan itu. "Kamu makhluk rendah. aku yakin kalian pernah melihatnya. Yang lain mendesakkan diri ke depan untuk menyentuh tangan atau jubahnya. Sambil mengacungkan ranting pohon arbei ke udara ia pun berteriak. kalau begitu apa yang akan kita lakukan dengan dia? Seperti kalian lihat. seorang perempuan tua mendesakkan diri ke depan dan menyingkirkan orang-orang lelaki yang badannya dua kali lebih besar darinya dengan tusukan-tusukan tajam sikunya. "Dengar. yang hendak kuminta dari kalian. tak percaya aku! Tanpa senjata? Tak mungkin!" Orang membanjir ke Shippoji clan memandang ternganga ke arah penjahat yang relah tertangkap itu. suarasuara marah dan tak sabaran terdengar dari belakang. penduduk Miyamoto. tapi hukum alam. menuju bukit. Takuan pun segera menjadi pahlawan. pembebas." "Jangan melucu begitu! Anda yang menangkapnya. dia jahat! Kalau kita biarkan hidup. aku akan menggantung diri di potion kriptomeria besar itu." Tepik sorak orang banyak pun mereda. ia membelalak pada Takezo sejenak. "Aku tak akan puas kalau dia hanya dibunuh! Biar dia menderita dulu! Lihat saja mukanya yang mengerikan itu!" Sambil kembali menoleh kepada tawanan. kemudian menoleh pada orang-orang kampung. "Kami tahu!" Takuan kembali mengambil sikap hakim. Yang lain lagi berlutut di kakinya. "Takezo sudah tertangkap!" "Betul? Siapa yang menangkap?" "Takuan!" "Ah. Baiklah. dan menyeringai dengan sikap bersahabat. Tapi kalian mesti menghormati hukum. "Aku tidak keberatan. Kami mau berterima kasih pada Anda!" "Nah. Akan kita bunuh dia. si orang lembek ini. dia sampai kemari ini tanpa perkelahian. Orang yang melanggar hukum alam akhirnya akan kalah. dia akan jadi kutukan buat kampung ini. Takuan pun duduk sedikit ke atas tangga sambil bertelekan pada sikunya. dan pekiknya. akulah yang menentukan nasibnya. binatang yang ditakuti ini sudah ada di sini dalam keadaan hidup. atau kita lepaskan?" Terdengar suara heboh tanda tak setuju dengan gagasan untuk melepaskan Takezo. "Mesti kita bunuh dia! Dia tak berguna." Orang banyak mulai berbisik-bisik. Tapi kalau aku berhasil. Takuan pun menarik diri dari kerumunan itu dan mengangkat tangan untuk menenangkan mereka. Ngeri oleh sikap mendewakan diri ini. "Nah." lanjut Takuan. yang sudah. dan pelindung dari yang jahat. "Orang-orang Miyamoto. Biarawan!" "Kami hanya memberikan penghargaan yang pada tempatnya!" "Lupakan hukum itu. "Cuma ini: apa yang akan kita lakukan terhadap Takezo sekarang? Janjiku kepada wakil Keluarga Ikeda. Hukum itulah yang harus kalian hormati. Bukan aku yang melaksanakannya. bukan alam!" "Jangan merendahkan diri. Tentara akan segera pergi!" Bagi orang kampung yang biasa ditakut-takuti itu. dan sekarang ini ada sesuatu yang sangat penting." Selagi Takuan berhenti bicara dan tampaknya sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinannya. ia mengangkat ranting pohon itu.property of: CROSSFiRE. kalau begitu berterima kasihlah padaku. kepala hampir menyentuh tanah di halaman kuil. Seakan-akan untuk mengecilkan reaksi mereka yang dibesar-besarkan itu. sampai akhirnya la kehabisan napas dan tangannya jatuh ke samping tubuhnya. untuk melihat apakah Takuan berhasil melakukan tugas yang mustahil itu. Sampai di tangga. Dia tidak begitu mengerikan. la diikat seperti binatang ke pagar tangga di depan bangunan suci utama. Takezo menyeringai kesakitan. Satu orang berteriak." "Bantuan apa?" terdengar pertanyaan dari kerumunan yang ingin tahu. "Bunuh dia! Bunuh dia!" Pada saat itu. seakan-akan mereka sedang menyaksikan wajah jin Gunung Oe yang ditakuti." serunya. Ebook by Kang Zusi . Tak salah lagi. sudahlah. "sekarang kalian dapat kembali ke ladang kalian dengan damai. memuakkan!" Dan ia pun menyabetkan ranting di tangannya beberapa kali kepada Takezo. netcafe. Berita keberhasilannya menyebar seperti api liar.

sebetulnya cuma kroco belaka. "Kuminta kalian bicarakan hal ini sekali lagi di antara kalian. Dengarlah! Kau bisa membunuh Takezo sendiri. dan kuil-kuil akan bangkrut dalam waktu singkat. "Siap?" tanya Takuan sambil menjangkau tali yang mengikat Takezo. "Karena pembunuh inilah hidup anakku hancur. Tapi membuang mayat atau bagian-bagiannya. betul tidak? Tak seorang pun akan mempercayakan mayat keluarga mereka. Hukumannya tidak bisa ditentukan oleh rakyat. Cuma." Takuan tidak berusaha menjawab. sebentar saja!" "Aku sudah memegang janjiku. Adil. dan berikan jawabannya padaku. Menghadap kepada khalayak. karena. "Tak ada alasan mengusir orang-orang baik ini. Apa tak akan lebih baik kalau kelak Ibu mengangkat menantu lelaki Ibu sebagai ahli waris dan memberikan padanya nama Hon'iden yang terhormat itu?" "Berani betul kamu berkata seperti itu!" Tiba-tiba janda bangsawan yang sombong itu meledak sedu sedannya. ini pedangku. Memang tak ada orang yang mengerti dia. Beri aku kesempatan. Sebetulnya dia tidak jelek. Tapi sebagai wakil resmi Yang Dipertuan Terumasa. tapi tak seorang pun mau pergi. "Bukan itu yang sudah kausetujui!" Merasa martabatnya terancam. Tiap kali tawa itu seperti akan berhenti. Cuma akan bikin kesulitan lagi. "Kenapa?" "Ya.. Takuan tidak tahan untuk tidak mengejeknya. biarawan itu mengambil sikap sungguhsungguh lagi.. "Dan kalau kulepaskan dia akan kusuruh dia pertama-tama menyerangmu. Tangannya tertumpang di pedang. "Dia sudah terikat." Walau tangan samurai itu sudah mencengkeram gagang pedang." balas Takuan." Kemarahannya timbul lagi. kalau kami hanya akan membuangnya. Kalian dapat menyelesaikan perkelahian itu berdua. "Omong kosong!" Melihat si Jenggot Jarang sudah siap menjawab. Tak boleh dia dilepaskan. Aku mengundang mereka kemari justru untuk dengan cepat membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap Takezo. kuperingatkan. Pulang. itu akan memberikan nama jelek pada kami para pendeta. dia juga pelarian dari Sekigahara. "Tingkahku? Dengar. Biarawan!" kata Kapten memperingatkan. karena. Cepat!" Terdengar kaki-kaki diseret. Lalu tahanlah dia kalau kau bisa!" "Tunggu dulu. "Kau tak perlu bicara dalam soal ini. akan kulepaskan Takezo sekarang juga di tempat ini!" Terengah-engah orang kampung serentak mulai menyingkir. "Perhatikan tingkahmu. "Dialah yang menyesatkan anakku. tidak cukup membunuhnya seketika. Kapten mulai mencari-cari alasan. dan ia menunjuk Takezo.... netcafe.. "Ada apa di sini? Ini bukan pertunjukan ekstra! Pergi semua dari sini! Kembali kerja. Orang itu si Jenggot Jarang.. "Apanya yang lucu? Hah? Kaupikir semua ini lelucon?" "Tingkahku?" ulang Takuan. kemudian kepada Osugi. seolah akan melepaskan belenggu tawanan itu. Tidak usah kau menyusahkan diri. "Takuan. Inc. Apa yang akan kita lakukan? Perempuan itu bilang. berikan kepalanya padaku untuk kubawa pulang. "Apa yang Ibu inginkan dariku?" tanya biarawan itu. "Matahachi itu.property of: CROSSFiRE. Jenggot Jarang. dan dia akan merasakan cuaca siang dan malam." la berdiri tegak dan membelalak kepada Takuan." Takuan terus berlalu. Memikirkan dia pun tak perlu." "Diam kamu!" perintah Kapten. buah hatiku itu. adalah kewajibanku untuk mengambil tanggung jawab atas tawanan ini. Kerumunan orang terbelah menjadi dua seperti kain sobek. Nasib tawanan ini tidak lagi menjadi kepentinganmu. la pun berkata dengan suara menggelegar. la mulai meludah dan menggerutu. sementara Osugi menoleh kepada Takuan dengan pandangan mengancam. Aku tahu apa yang mesti dilakukan terhadapnya!" Tepat pada saat itu satu teriakan keras dan marah menghentikan perempuan itu. "Shimmen Takezo ini tidak hanya sudah melakukan kejahatan-kejahatan berat dan serius terhadap hukum provinsi. dan tawanya pun pecah lagi. Orang-orang yang ada di depan mundur dengan mata melotot. "Kalian sudah dengar apa kataku! Ayo jalan! Apa yang kalian tunggu?" Ia melangkah dengan sikap mengancam ke arah mereka. Kemarahannya sedang menjulang. tapi tertawa terpingkal-pingkal. Burung-burung gagak barangkali akan mematuk bola-bola matanya. dia yang membuat anakku jadi brengsek seperti dia sendiri. dan ia menjerit." Di dahi samurai itu bermunculan titik-titik keringat." la hampir menggagap. Aku punya hak untuk membalas dendam. "Tidak!" sela Takuan. kita harus menyiksanya dulu. "Tunggu. "Padahal tanpa Matahachi tak ada yang akan meneruskan nama keluarga kami!" "Yah. dan akhirnya kepada orang banyak. Kapten bungkam. apa kau bermaksud melanggar persetujuan kita dan tidak memenuhi janjimu yang suci? Kalau benar demikian. tapi lalu meningkat lagi.. "Biarkan aku yang memutuskan. ia pun mengangkat jari menyuruhnya diam. Ini. Dia harus dikembalikan kepada pemerintah!" Takuan menggelengkan kepala. dan orang yang baru datang itu pun berjalan cepat ke depan. Bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . kau pasti akan menerima uang yang sudah ditawarkan pemerintah sebagai hadiah." Ia meminta kepada khalayak... "Aku tak peduli dengan pendapatmu. kalau boleh aku mengatakannya. kan?" • "Kepalanya untukmu! Tak bakalan! Urusan kependetaan antara lain memimpin upacara pemakaman." Badan Osugi berguncang hrbat. Bagaimana kalau dia diikatkan ke cabang pohon kriptomeria itu beberapa hari: Kita dapat mengikat tangan dan kakinya.

Orang-orang di sekitarnya maupun keramahan hidup di kuil tidak dapat meredakan perasaan terpencil yang sekarang ia rasakan." Tanpa panjang kata. Air matanya tumpah ke meja kecil yang dipernis itu. Ia bertanya-tanya kenapa demikian.. lebih! Biar dia tergantung di sana sepuluh atau dua puluh hari. Takuan tak punya waktu lagi untuk duduk bercakap-cakap dengan Otsu seperti yang ia lakukan di pegunungan itu. yang nyata. tapi di dalam diri seseorang. Katakata Takuan masuk langsung ke dalam hatinya. Dan lagi di sekitar kuil selalu ada beberapa orang. kesepian ternyata seperti rasa lapar. la memiliki segala yang menyenangkan di rumah. pendeta yang bertindak sebagai pelindungmu di sini sudah menyetujui perkawinanmu dengan anakku. ia lebih mirip boneka jerami besar daripada seorang manusia hidup. dan keluarga Hon'iden sudah menerimamu sebagai istri anakku. Jadi!" Ia memegang tall yang sudah dilepasnya dari pagar. Sesudah memutuskan hukuman untuk Takezo. Sekembalinya ke kuil dari pegunungan itu. la membutuhkan keakraban clan rasa kebersamaan. "Ya. ia membungkuk rendah di hadapan perempuan tua jelek itu. tapi pikirannya masih terus digeluti oleh masalah itu. ia pun berdiri. ada soalsoal clan hal-hal tak menentu di dalam dirinya yang tidak dapat dijawab oleh sebatang bambu. Satu orang yang kuat dan sepenuhnya dapat dipercayai. Api atau lampu mana pun tak dapat menandingi. Takuan tidak sama sekali berada di luar dirinya. Terkejut dari lamunannya. kepalanya tertunduk tanpa kata-kata. tak berperikemanusiaan. "Takuan. la merasa pengalaman ini telah memberikan pemahaman ke dalam hatinya sendiri. "Karena kau sudah mengakui ada hubungan di antara kita. sekitar sepuluh meter tingginya dari tanah. Ia menyadari. itulah yang ia dambakan sekali sampai ia hampir gila. Usul biarawan itu terdengar sangat kejam oleh para pendengarnya. Sadar akan penemuan ini." "Betul?" kata Otsu dingin. ada satu hal kecil yang ingin kubicarakan denganmu. sesaat Otsu ragu-ragu sebelum menyambut perempuan tua itu dan meletakkan bantal tempat duduk. gagasanmu itu menunjukkan kau sungguh-sungguh bijaksana. netcafe. api untuk memasak makan malam menyala terang. "Semua memuakkan!" katanya keras. "Baik. sebelum akhirnya sampai pada satu kesimpulan. menghangatkan dan meneranginya. Osugi langsung duduk. ia menimbangnimbang perasaannya setengah hari lamanya. Satu saja yang mengenalnya dengan baik. bukan sekadar hidup yang mengamati. Lalu aku sendiri akan datang memberikan pukulan maut.. Beberapa potong tali disambung-sambungkan menjadi satu. Baik. Tapi pada saat seorang gadis mencapai umur enam belas tahun. tidak. Takezo dinaikkan ke sebuah cabang. di sinilah kamu sembunyi! Duduk di sini dan membiarkan hari lewat sia-sia!" Tubuh Osugi muncul di pintu. Kesepian berarti merasa kekurangan sesuatu. Duduk bertopang dagu menghadap meja rendah di dekat jendela. yang mengatakan. Di dapur kuil. Satu orang yang dapat disandarinya. "Aku ingin bicara tentang Matahachi. Tawanan itu berjalan tanpa perlawanan. Memang selalu ada suling itu. tapi waktu itu ada juga Takuan. Karena harus mondar-mandir ke kampung untuk menyampaikan ini-itu. "Aku tak yakin. la tampak begitu menyesal. pepohonan. hingga mulamula tak seorang pun dapat menjawab.property of: CROSSFiRE. dan diseretnya Takezo seperti seekor anjing menuju pohon." Osugi memulai dengan nada-nada megah. Bukan di luar. hanya berteman Takuan. "Ah ha! Jadi. sekiranya ia punya seorang teman! la tidak membutuhkan banyak. Bu. Kemudian sampailah ia kepada kesadaran polos bahwa ia kesepian karena Takuan tidak ada di dekatnya. Inc. Tinggal sendirian bukanlah hal baru baginya." Ebook by Kang Zusi . dan diikat erat. Kesadaran datang bagai wahyu. Tenggorokanku kering!" Otsu menurut dan mengambilkan teh. Itulah yang ia rindukan. Sesuatu yang harus ada. Diam-diam pintu di belakangnya bergeser terbuka. Di pegunungan yang ada hanya kesunyian.. Kepalanya berdenyut. Karena takutnya. aku percaya kamu tak punya pikiran buat melanggar janji. dan dengan penuh semangat semua orang ikut serta dalam kesenangan itu." jawab Otsu. Kecuali Osugi. "Tentu saja bodoh kalau aku percaya kata-kata Takezo si tukang bohong itu. Tapi ambilkan dulu teh untukku. Tapi menyuarakan perasaannya itu sama sekali tidak meredakan kebenciannya kepada Matahachi. Tapi yang jelas. Tapi kupikir kita harus menggantungnya seminggu lamanya-o. Apa pun yang terjadi nanti. Namun ia merasa lebih sepi kini daripada sewaktu tiga hari lamanya berada di sisi bukit terpencil. Otsu mulai merasakan kesenduan yang aneh dan amat sangat apabila ia berada sendirian di dalam kamar." kata perempuan tua itu tanpa pendahuluan lagi. Oh. hingga beberapa orang yang berhati lunak merasa sedikit kasihan kepadanya. tapi rupanya Matahachi masih hidup dan tinggal di provinsi lain. Aku baru saja bicara dengan Takuan dan samurai Himeji itu. tapi pembantu pendeta tidak menyuguhkan minuman. Namun kegembiraan karena telah menangkap "binatang liar" itu tidak juga usai. Otsu duduk kembali. Tanpa menunggu kata-kata tuan rumah. hampir sepanjang waktu Takuan rapat di kamar tamu dengan samurai Himeji. Takuan pun mengangguk. "Menantuku yang baik. Darah yang bergejolak di dalam nadinya membuat pelipisnya biru. namun tak tahu ia apakah itu. dan kabut. Dalam keadaan terikat.

Kamu tak bisa tinggal di dua tempat sekaligus. Suara lelaki memanggil pelan. Aku khawatir.. waktu kepala Takezo sudah terpisah dari badannya." Kapten memasukkan surat itu ke tangan Otsu." "0. dan Otsu akan hidup di tengah kekayaan dan kemuliaan selama hidupnya. Tugasku menjaga supaya kamu tidak berlaku tak senonoh. "Kau sudah berbuat baik padaku.." "0. Tapi. "Kamu tahu omongan orang. Inc. Tanpa menghiraukan bingungnya gadis itu. Ibu tidak keberatan saya tinggal di sini?" "Sementara tidak. karena di dalamnya terdapat sepotong besar uang emas." "Dari siapa?" Ebook by Kang Zusi .." jelasnya. Ketika jendela dibuka. "Dan ada satu hat lagi. Mereka bisa bersekongkol!" "Jadi." katanya. kau belum makan?" Otsu mengenakan sandal dan keluar." Otsu berusaha menarik tangannya. "Kalau saja aku bisa memperoleh kepala Takezo. Sesudah itu." kata Osugi. Tak dapat kukerjakan sendiri. aku perlu bantuanmu. Dia tak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan. "Kamu tak akan melakukan hal seperti itu. Kapten mengulurkan tangan." "Apa yang kaupegang itu?" . jangan-jangan air matanya membanjir. Tapi Takuan yang gila dan keras kepala itu tidak membiarkan aku memilikinya." "Apa kamu mau bilang keberatan? Apa kamu tak ingin tinggal di rumahku? Kebanyakan gadis-gadis akan melompat mendapat kesempatan itu!" "Bukan.. "Baiklah kalau begitu. la mengangkat kepala dengan angkuhnya. Barang itu ternyata lebih dari sekadar surat. "Aku masih belum merasa pasti.. tapi cengkeraman kapten itu terlalu kuat." "Tapi saya. Sementara itu. sampai Matahachi kembali. "Rupanya mereka sedang melakukan penyelidikan tentang kejadian di sini. aku gembira!" Ia berbicara seolah-olah menangguhkan suatu pertemuan. seakan-akan sudah lama menanti kesempatan." "Sama sekali jangan!" Nada Osugi terdengar pasti. memelihara ulat sutra. Pekerjaanku banyak sekali. tapi. sampai kita yakin bahwa Takezo mati." Otsu tak berdaya untuk membantah. kalau bukan istri Matahachi?" "Tak tahu saya. saya mengerti. sayang sekali. kan? Kamu datang dengan barangbarangmu ke rumah keluarga Hon'iden nanti. Ketika ia selesai membaca. Kepalanya masih berdenyut. Otsu tak lagi memandang bentuk bayangannya dan langsung bergegas membuka jendela." "Nah. tak bisa aku terlalu banyak memaksanya. begitu. Kepala saya sakit. Karena itu aku ingin kamu tinggalkan kuil ini dan menetap bersamaku. "Otsu! Otsu!" Karena berharap orang itu Takuan. Kupikir kau ada di pihakku. Dan karena menantuku juga repot dengan keluarganya sendiri. menangkap tangan Otsu dan meremasnya keraskeras. "Eh.Takuan memanggil. apa yang hendak dilakukan biarawan yang tak bisa diduga itu atas Takezo. netcafe... Surat itu ditandatangani oleh "Aoki Tanzaemon". aku perlu mengatur supaya kamu belajar melakukan pekerjaan ladang. kalau begitu jangan membuang-buang waktu lagi! Kumpulkan barang-barangmu!" "Sekarang juga? Apa tidak lebih baik menunggu?" "Tunggu apa?" "Sampai. ia tersentak mundur karena kagetnya. Pembicaraan tentang Matahachi itu membuat dadanya sesak. ke jalanan. muncullah sebuah bayangan di jendela yang tertutup kertas itu." "Siapa lagi yang bisa masuk rumah Hon'iden. nama yang menurut pengakuan si penulis sendiri termasuk salah satu prajurit paling ternama di daerah itu." "Lain lagi?" "Ya.property of: CROSSFiRE. kan?" Otsu mengeluh pelan. aku bisa mengatakan telah melaksanakan tugas dengan penuh kehormatan... Ambil surat ini.. dan pergi seketika itu juga. tapi ia terlalu murka waktu itu. Mengerti?" "Ya." "Jangan sampai lupa!" salak Osugi seraya mendesis keluar dari ruangan itu. la takut bicara lagi. dan berlaku seperti nyonya bangsawan. itu sebabnya aku datang kemari. tak bisa diketahui apa yang mungkin dilakukan Takuan. dan baca kemudian kalau tak ada orang melihatmu.. "Otsu.. menjahit lurus keliman. Jadi. Mata yang menyambutnya ternyata mata Kapten. Otsu dapat mendengarnya bergegas menuruni tangga. Aku akan mendapat nama baik. Aku ingin kamu mengawasi baik-baik kedua orang itu. Si penulis akan memperistrinya. Siang dan malam. Tak ada berita kapan Matahachi kembali. "Surat. "Rasanya saya tak ingin makan. Kalau kamu tidak khusus berjaga malam hari. Otsu ingin tertawa terbahak-bahak. Namun isi tulisannya sendiri cukup jelas: ia minta Otsu memotong kepala Takezo dalam beberapa hari itu dan membawanya ke Himeji. "Bisa-bisa kamu mulai memikirkan lelaki lain. bukan itu. "tapi aku baru saja terima perintah dari Himeji untuk pulang..

Dan demikian bodohnya. kalau aku memang harus mati lebih baik kaupilih cara menghukumku daripada Ebook by Kang Zusi . jadi sudah waktunya turun hujan lebat. kenapa pula aku mesti diam saja ketika kau mengikatku?" "Kau melakukan itu karena aku kuat dan kamu lemah!" "Itu bohong. "Kalau dipikir sekali lagi. Saya tidak keberatan sama sekali. Lebih baik saya berpura-pura tak pernah melihatnya. hingga seorang gadis dia minta menggantikannya memotong kepala.property of: CROSSFiRE. netcafe. monyet pohon! Itu tak baik buatmu. kalau memang masih ada sisa darahmu. ini tak akan mengganggu.. bajingan! Kau menyuruhku percaya padamu. Takezo pun menghujankan kutukan-kutukannya. Sudah berabad-abad lamanya tidak hujan. "Kenapa kau melakukan lm?" bungkah jerami itu menjerit. Biarawan itu tertawa. Tapi biar bagaimanapun kau tidak melakukannya." "Dengar." Takuan pun pergi ke depan kuil. Dan terus terang. Saya bisa ditagih kemudian hari. • "Takuan! Takuan!" "Apa? Kamu yang memanggilku. Bagus." kata Takuan tak sabar. "Kalau aku takut mati. Aku pintar membuang uang. Ini sudah menjadi persembahan bagi sang Budha. cocok betul buatku.. "Kasihan! Dia begitu putus asa." "Langsung saja pada soalnya. dan ingin menyelidiki. "tapi apa yang akan saya lakukan dengan uang ini?" Ia menyerahkan kepingan emas itu kepada Takuan. Kita membutuhkannya untuk membersihkan semua bunga mati. "Barang ini cukup besar nilainya. Otsu tidak bisa berbuat lain kecuali tersenyum. termasuk menghilangkan kebosanan orang. Sungguh menjijikkan. itu sangat tak pantas. Takezo. jadi lebih baik kau meninggalkan jalan pikiran itu. Simpanlah untuk keberuntunganmu. Takezo. ya? Akan hujan malam ini barangkali. lebih baik ini kausimpan." "Surat itu tidak merisaukan saya." "Itu bukan persamaan yang sangat menyanjung. "Biarawan babi kamu! Penipu kotor! Coba berdiri di bawah sini! Ada yang mau kukatakan padamu!" Angin menerpa deras cabang-cabang pohon itu." "Diam kamu!" teriak Takezo." Tanpa protes lagi Otsu memasukkan mata uang itu ke dalam obi-nya. Sudah terlambat untuk menyesal. Bukan mau campur tangan!" "Apa Bapak mau lihat?" "Kalau kau tidak keberatan. dan sang Budha menyerahkannya kepadamu. Tapi kemudian ia berubah pikiran. Nak." "Kalau aku mau melawanmu di gunung itu.. "Kenapa tidak kaupenggal saja kepalaku. Kuharap itu bukan sekadar daya palsu." "Tapi kalau hujan itu lebat. hingga dia menuliskannya." kata Otsu. Takuan!" "Aku dengarkan. habis perkara! Kupikir. cuma bikin kau berdarah." Otsu menyerahkan surat itu." "Kau mengecohku dengan khotbahmu yang muluk-muluk. "Itulah yang merisaukan saya." "Emas ini bukan lagi milik Aoki Tanzaemon. di mana terdapat kotak derma. Inc. Aku tak mengira akan dihina seperti ini. karena kau tahu akan segera mati. yang tidak segar-bugar. terdengar panggilan dari cabang-cabangnya di atas. "Bapak ini mau campur tangan saja!" "Ingin tahu. tapi kau berkhianat. akan kukatakan dengan cara lain: aku pandai dan kamu bodoh. Takezo?" Ketika Takuan menjeling untuk melihat ke atas pohon." Takuan termenung. Sebelum memasukkan mata uang itu ke dalamnya. Baru saja kedua orang itu menoleh ke arah pohon kriptomeria. Cuma akan bikin sulit." "Jangan khawatir. aku bisa dengan mudah melumatkanmu seperti ketimun dengan sebelah kakiku. Aku berani mengatakan. dan kau tahu itu!" "Kalau begitu. "Kulihat kau masih segar bugar. sampai-sampai mencoba menyuapmu dengan cinta dan uang sekaligus. "Angin. Lupakan yang sudah terjadi. ia sentuhkan uang itu ke dahinya." "Kau mungkin benar. Kemudian. Otsu. Kubiarkan kau menangkapku karena kupikir kau lain dart yang lain." "Saya tak mau." "Musim semi sudah hampir lewat." kata Takuan sambil menimbang-nimbang barang itu dengan tangannya. sambil menengadah ke langit." "Jangan menggeliat terlalu banyak. Aku betul-betul bodoh membiarkan kau menangkapku." "Cuma buat mengisi waktu?" "Itu alasan yang sama baiknya dengan alasan yang lain. clan sesudah membacanya Takuan pun tertawa dengan riangnya. Surat ini sungguh surat yang lucu! Sesungguhnya dunia kita ini beruntung karena diberkati dengan samurai yang demikian terkemuka dan jujur! Dia demikian berani. hai. apa yang akan terjadi dengan Takezo?" "Hmmm. Daun-daun berguguran di sekitar pohon dan mengenai wajah Takuan yang menengadah. Suara Takezo terdengar patah-patah dan putus-putus. ia berkata." "Ini. sebagai tanda hormat kepada sang Budha. melainkan sangat marah.

Dan kalau tak ada seorang pun yang dapat la percayai. Takezo? Apa segala yang pernah kau lakukan itu bukan kesalahan? Selagi kau di atas. Semakin kau yakin. ada orang bernama Takuan Soho yang mengatakan hal ini padamu. sekarang! Pergi. sungguh saya benci pada Bapak." "0. kalau Takuan yang ia percayai dengan sepenuh hati saja dapat menjadi orang yang tak berhati. la menempelkan muka dan dadanya ke batang pohon dan mulai meratap. habis perkara! Takezo sudah pasrah untuk mati. Tak pernah ia membayangkan bahwa Takuan bisa demikian kejam. waktu dia mengatakan percaya pada Bapak dan membiarkan Bapak menangkapnya tanpa perlawanan. Walau kau seorang biarawan. Tidak betul kalau Bapak menertawakan kesengsaraannya selagi dia terbaring setengah mati di sana. dan sekali lagi belum lama mi. berpikir pun kamu tak bisa. Jauh lebih mengerti daripada kamu!" "Rasanya lebih baik kalau orang-orang kampung itu yang menangkapku. Otsu. tanpa memiliki gambaran nyata tentang manusianya sendiri. tinggalkan aku sendiri. Perbuatan berani semata-mata seakan-akan dapat membuatmu menjadi samurai. menertawakan orang-orang tolol macam dia. katamu kau mengerti juga Jalan Samurai. bagaimana pemandangan dari atas. atau mestinya begitu! Takezo benar. Takezo.. tak mau!" pekik Otsu. "Tapi saya mesti dikasih kesempatan bicara juga. ini sudah keterlaluan! Saya dengar. itulah satu-satunya sebab kenapa aku menerobos rintangan dan datang kemari. temanku yang terbaik. membiarkan orang banyak yang haus darah itu melakukannya. Otsu melihat kelemahan Takezo. "Pak Takuan. diam kamu. tapi Matahachi temanku. la merasakan kehangatan aneh pada pohon ini. netcafe. kenapa tidak kaucoba memikirkan masa lalu sedikit?" "0. tapi apa yang dia lakukan? Dia mencoba menghasut orang banyak untuk menyiksaku! Membawa berita untuknya tentang anak yang disayanginya. Biarlah dia mati dengan damai!" Begitu berangnya Otsu. Inc. hukumlah dia! Bunuh dia! Sekarang. Kemudian. Dalam batang itu la merasakan darah Takezo beredar.property of: CROSSFiRE. Jadi. Saya sudah ikut Bapak ke pegunungan dan tinggal di sana tiga hari tiga malam." "Saya tak mau!" "Jangan kamu keras kepala lagi. walau kau mempelajari hakikat hidup ini sudah terlambat sekali. mengalir turun dari penjaranya yang genting di cabang-cabang pohon di atas itu." "Kebetulan itulah satu-satunya kelemahanku. hai." "Itukah kesalahanmu satu-satunya. Begitu sadar. "Perempuan tak tahu apa-apa soal ini. Saya dengar semuanya. clan ubahlah cara berpikirmu yang cuma mementingkan diri sendiri. Pak! Kalau mendengar Bapak bicara seperti itu." Otsu yang selama itu berdiri terpaku tidak jauh dari situ datang berlarilari dan menyerang Takuan dengan suara nyaring. saya tak mau. Sekarang Takuan mengaku bahwa kelemahannya adalah menikmati Takezo menderita! Otsu menggigil melihat kebuasan manusia ini. Apa itu pelanggaran atas tata krama prajurit?" "Bukan itu soalnya. Takuan Soho yang akan menghukum Takezo dengan hukuman yang menurut dia cocok. Perhatikan dunia manusia. bunuh saja. "Tapi omong-omong. Takezo?" "Babi kamu! Tak akan kulupakan perbuatanmu ini!" "Kau akan segera lupa segalanya. munafik! Aku tidak malu! Ibu Matahachi boleh menyebutku apa saja semaunya." "Itu tidak berperikemanusiaan. akhirnya ia akan melunakkan dan meringankan hukuman itu. mereka manusia. cobalah pandang dunia luas di sekitarmu. katakan pada mereka bahwa tepat sebelum kau mati. semakin kau merugikan dirimu clan semua orang lain. apa pula ini? Apa teman seperjuanganku sudah berbalik melawanku?" "Kasihan. Padahal tidak begitu! Kau merasa yakin bahwa tindak kesetiaanmu itu benar. kalau kau sampai di dunia sana clan bersatu dengan nenek moyangmu. Bagaimana Bapak bisa begitu kejam pada orang yang mempertahankan diri pun tak bisa? Bapak kan orang saleh." "Tidak. terbuai olehnya." "Kalau begitu. Sebelum kau berubah jadi daging kering. memang aku mengerti. Orang kampung percaya bahwa kalaupun biarawan itu mengikat Takezo sementara waktu. Otsu sudah tertelungkup di pohon. hingga disambarnya dada Takuan dengan kalut. Takezo dapat menangis." "Lho. atau akan kugantung juga kamu bersama dia di sana. pandir! Susahnya." seru Takuan sambil menyikut Otsu dengan keras. Kewajibankulah untuk datang menyampaikan kepada perempuan setan tua itu apa yang terjadi dengan Matahachi. Apakah yang membuat orang banyak itu membencinya seperti iblis dan memburunya seperti binatang? Ebook by Kang Zusi . Kalau Bapak bermaksud membunuh dia. Sungguh ia mirip anak seorang samurai! Sungguh ia berani! Ketika Takuan pertama kali mengikatnya. Dan sekarang." "Pergi dari sini. Sampai saat ini Otsu terbawa arus pendapat orang banyak. "Diam kamu!" kata Takuan dengan sikap brutal. Paling tidak.. seluruh dunia ini tentunya jahat luar biasa. Kau rupanya salah mengerti. tidak seperti biasanya. Tahan mulutmu. Mereka akan girang sekali mengetahui bahwa kau sudah memperoleh bimbingan yang begitu baik. Batangnya kuno dan besar. hingga yang kaudapat untuk keluargamu hanyalah aib. orang sesat yang malang. di mana kau berada? Tertangkap dalam perangkap yang kaupasang sendiri!" Takuan berhenti sebentar. bukan?" "Tak ada hubungannya itu. demikian besar hingga sepuluh orang tidak dapat mencakupnya dengan rentangan tangan.

atau sekadar orang kampung yang memusuhinya. tapi tindakan Otsu itu membuatnya tak bisa tidur. langit menangis juga. Matanya terpejam erat. Tapi ia belum menyerah. Sekalipun air sudah mengaliri punggungnya. tapi Otsu menariknya kembali. tapi tidak ada jawaban. seperti pintu-pintu bangunan suci tempat penyimpanan Budha yang rahasia." seru Takuan sambil memayungi kepalanya dengan tangan. "Semua ini salahmu. membuat dingin tulang punggungnya. Bangunan itu memiliki tepi atap yang panjang. "Ayolah. Titik-titik air besar jatuh di leher kimononya dan mengalir menuruni punggung. Angin bersiul keras lewat cabang-cabang atas yang berayun-ayun lebar ke sana kemari. sungguh Bapak binatang! Jahanam tak berhati dan berdarah dingin!" Untuk sesaat lamanya biarawan itu mendengarkan saja dengan sabar tanpa menjawab. Titik-titik hujan menimbulkan titik-titik putih saat menghunjam tanah. "Saya mohon. karena itu ayo masuk. "Pak Takuan!" pekiknya." Suaranya seperti es. turunkan dia dari pohon itu!" "Apa? Tak akan aku melakukannya!" kata Takuan bersikeras. "Aku mau tidur. Otsu! Kau ini bayi cengeng! Kau menangis. dan serunya. la membuka mata dan menyemburkan api. Inc. Akan saya lakukan apa saja untuk Bapak. Tapi Otsu tetap tidak menyerah. la tak sanggup pergi. Pak! 0. tapi Bapak mesti menolongnya! Ayolah. Ini soal paling penting di dunia buat saya! Pak. "Siapa?" terdengar suara Takuan dari dalam. Saya akan berterima kasih pada Bapak untuk selama-lamanya. "Saya-Otsu!" "Kenapa masih di luar saja?" Takuan cepat membuka pintu dan memandang Otsu keheranan. tolong. Dengan tangan masih diacungkan ke depan la tampak seperti seorang penganut Budha yang sedang menjalani latihan ketahanan dengan berdiri di bawah air terjun dingin. Pak. Otsu. Masih bergayut erat pada batang pohon. Saya mohon. Saya datang untuk minta tolong. "pasti dia mati sebelum pagi. "Tidak. tapi tak dapat melihatnya karena badai. Oh. "Saya motion. Jangan buang-buang air matamu untuk orang yang biar bagaimanapun akan mati! Ayo!" Sambil menutupkan ujung kimononya ke kepala. "Tidur sana! Sekarang juga! Badanmu lemah! Dan berada di luar pada cuaca seperti ini sama saja dengan bunuh diri. Akhirnya dalam ledakan kemarahan ia pun melompat keluar clan tempat tidur. Takuan berlari ke tempat berteduh di kuil. Otsu tidak juga beranjak. namun hujan menyiram Takuan juga. clan kelihatannya akan datang badai besar. "Kalau dia terus kehujanan. Punggung dan bahu Otsu naik-turun karena sedu sedannya. sekalipun kimononya yang basah kuyup sudah menempel ke kulitnya dan ia kedinginan sampai ke tulang sumsum. apa Bapak dengar suara saya? Jawab. Pintu pun mengatup keras. tapi saya minta. "Tolong! Pencuri! Pencuri di bawah lantai! Tangkap!" Otsu merangkak ke luar menuju badai lagi dan mundur kalah. "Kita basah kuyup nanti. Dalam beberapa saat saja hujan deras turun. Dan aku nasihati kamu tidur juga." Otsu tidak menjawab. Pak Takuan. Batu Karang dan Pohon Ebook by Kang Zusi . Timbul kecurigaan dalam benaknya. sebagian terdorong angin yang menggila." la pun berlutut di lumpur dan mengangkat kedua tangannya memohon. Pak! Bapak tak bisa membiarkannya mati-tak bisa!" Bunyi air yang menderas hampir menenggelamkan suaranya yang bercampur tangis. Serta-merta ia memanggil namanya." mohon Otsu mendekati pintu. Bapak. la merangkak di bawah rumah sampai mencapai tempat yang menurut perkiraannya tempat tidur Takuan. hujan jadi tak berarti lagi. jangan-jangan ia dianggap salah seorang anggota keluarga Hon'iden. la berjalan berputar-putar mengelilingi pangkal potion dan berkali-kali memandang ke Takezo. la menarik keluh panjang." Kemudian nada ejekan itu hilang dari suaranya. la panggili Takuan lagi. Diam-diam ia berdoa agar hidup Takezo terselamatkan. "Cepat masuk!" serunya sambil langsung mencengkeram lengan Otsu. la sudah sampai di pintu kamar Takuan dan mulai menggedor-gedornya sekuat tenaga. turunkanlah dia. Pak." demikian pikirnya putus asa. Bangunan dapur dan petak pendeta di belakang kuil utama tertutup rapat. Tidak terpikir olehnya kenapa ia mesti menderita semata-mata karena Takezo menderita.property of: CROSSFiRE. bukan untuk mengeringkan badan. "Tentang saya sendiri tak usah dipikirkan. "Saya sembah Bapak. "Angin makin keras. netcafe. Saya mohon. la menggosokkan pipinya yang basah oleh air mata ke kulit pohon. Ketika pikirannya tertuju kepada Takezo." "Tolong. Air yang melimpah dari talang menimbulkan selokan-selokan yang dalam di tanah ketika menderas menuruni bukit. Otaknya dipenuhi gambaran yang baru terbentuk tentang bagaimana seharusnya seorang lelaki. apa tak ada orang di dunia ini yang dapat menyelamatkan dia?" Ia berlari sekencang-kencangnya. selamatkan dia!" Takuan diam.

dan seketika ia menolehkan mukanya yang keriput itu ke pohon kriptomeria tua. Mengerikan sekali hujan kemarin.property of: CROSSFiRE. Osugi mendaki bukit menuju kuil. potong kepalaku. tak mungkin. tapi kali itu la tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Kamar Otsu tidak jauh dari kamarnya." gerutu perempuan tua itu. Apa kamu tidak harus mengawasinya kalau siang?" tanyanya mengandung tuduhan." "O ya. biarawan anjing kampung kotor! Akan kutunjukkan apa yang aku bisa. tapi aku punya rencana memasukkannya segera. setengah kepada dirinya. PAGI harinya. Ketika akhirnya selesai." "Menantu Ibu? Saya tak pernah bertemu dengannya. kau butuh lima atau enam hari lagi. Titiktitik keringat muncul di atas rambutnya dan menyatu menjadi alur-alur keringat yang mengalir langsung menuruni hidungnya yang lurus. Takuan orang yang selalu waspada. "Keras juga suaramu. Beberapa kali pembantu membawakan obat atau mangkuk tanah berisi bubur betas kental." panggilnya. angin clan hujan telah menghalau musim semi tanpa jejak. Malam tiba. kan?" "Belum." "Tapi saya yakin Ibu tahu. dan ia memandang ke langit. Jauh di atas kepalanya satu cabang bergoyang. ia sudah balik kanan dan berjalan menuju bawah pohon. seperti lubang yang dibuat dengan rapi di langit. Jadi. gelandangan! Ini tak ada hubungannya denganmu! Katakan saja. Tubuh manusia mampu menahan banyak lecutan. habis perkara. Tolonglah Anda panggilkan. Ketika orang menemukan Otsu dalam keadaan setengah mati di tengah hujan malam sebelumnya. Tapi omong-omong. "Saya tak melihat menantu saya di manamana." "Maksud Anda." "Sukar dibayangkan. barangkali dia akan terbang ke bawah dan berusaha menggigitku. saya tak kenal namanya. Bagaimana mungkin dia mengawini seseorang. Bertentangan sekali dengan malam sebelumnya. Hanya sedikit orang kampung yang berjalan tanpa mengenakan caping pelindung. untuk ukuran orang yang sudah mau mati. dan titik-titik embun yang berkelipan jatuh." Osugi tersenyum licik." Suara Takuan melemah. jadi mestinya dia capek juga slang hari. pandangilah aku. tidak terlalu sukar satu-dua malam menahan hujan yang terderas pun. "Siapa pula yang Ibu bicarakan ini?" "Lho. karena sudah tak sabar ingin mengetahui nasib korbannya. Takuan kembali ke kamar dan tinggal di situ sampai malam. Pendeta melancarkan cacian keras kepadanya. sebagai istri Matahachi. kalau aku mau!" Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya mulailah ia menggoyangkan Ebook by Kang Zusi . tentu saja Otsu!" "Otsu? Kenapa Ibu sebut dia menantu Ibu? Dia belum masuk keluarga Hon'iden. Ibu." "Terima kasih. di bangunan yang sama. dan keluar ke halaman. la mengangkat tangan untuk melindungi matanya clan sesaat ia pun lega sedikit. Inc. bulan bersinar terang. Takuan." la pun menjulurkan lehernya dan mengintip ke dalam ruangan. di mana Otsu!" "Rasanya masih di tempat tidur. Kalau kupotong kepalamu sekarang juga. orang terpaksa menyeretnya masuk dan memaksanya minum sedikit teh. hampir tidak dapat mengangkat kepala untuk makan buburnya." kata Takuan sendiri. tidak! Tidak secepat itu! Orang mesti hati-hati menghadapi hal-hal seperti itu. bagaimana mungkin saya memanggilnya?" "Panggil dia. ya?" "Ya. Matanya yang seperti jarum menciut dalam cahaya matahari yang menyilaukan. "Takezo!" panggilnya. "Dengar. kalau orang itu tidak ada?" Osugi jadi lebih naik darah lagi. "Takuan. Di sana ia menatap ke atas lama-lama." "O. la menendang-nendang dan menjerit-jerit. "Menunduk dia seperti gombal basah. "Kasihan. kataku!" ulang Osugi tak sabaran. "apa Takezo tetap hidup kena badai itu?" Biarawan itu muncul di beranda. Pintunya tertutup juga sepanjang hari. Pagi harinya ia demam hebat. mestinya tadi aku menyangka begitu. kecuali apabila dibuka oleh pembantu pendeta. Takuan meletakkan buku yang sedang dibacanya. mengenakan bakiak." katanya dengan harapan baru. Paling tidak. Ketika semua orang sedang tidur nyenyak. ia berjalan tertatih-tatih ke kampung. bagaimana perutmu? Cukup kosong. Matahari panas melecut bumi dengan garangnya. Yakin kau betul-betul bukan seekor ikan atau sejenis monster laut? Kalau begini caranya. Tanpa menanti jawaban. tapi ia duduk bisu bersandar di dinding." "Saya belum lihat burung gagak mematuk mukanya. Mungkin dia tak punya tenaga lagi buat menjawab. "Tentunya sudah tak mungkin dia hidup lagi. "Takezo! Takezo!" "Apa maumu. "Indah sekali bulan itu! Kau beruntung dapat melihatnya dari tempat yang begitu menguntungkan. Orang terpelajar seperti Anda pasti lebih tahu daripada saya tentang hal-hal seperti itu. "Bisa bikin mati. biarawan bajingan?" terdengar jawaban garang. bertopang tongkat kayu arbei. dia masih hidup?" kata Osugi tak percaya. dan tiba di pintu Takuan dalam keadaan haus dan kehabisan napas. "Oh. "Aku memang menyuruhnya mengawasi Takezo malam hari." "Baiklah. seakan-akan kesurupan. ya?" "Lupakan omongan tetek-bengek ini. "Saya pikir itu artinya dia masih bernapas. la tidak memperhatikannya. Mataharilah yang bisa membunuh. netcafe." kata Takuan tersenyum.

Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah daripada manusia. netcafe. tunjukkan pada kami. tapi kena diakali dan dibikin bungkam. Biarawan itu dengan tenang mengusap bahunya. Inc. Takezo! Makin gila kamu. Sesudah itu. kemudian memberikan nasihat persahabatan. belum lagi orangorang biasa yang sederhana. Tapi untunglah jarang manusia mesti bergulat dengan macan. Tapi coba lihat." "Sebentar lagi. tidak lebih baik daripada babi hutan atau serigala. Tapi kau curang. Tingkah lakumu sampai sekarang ini tidak lebih dari keberanian binatang. orang barbar! Kau percaya betul dengan kekuatan kasarmu sendiri. Takuan bangkit pelan-pelan dan berhati-hati. Ia sadar bahwa biarawan itu benar. Itu bukan jenis keberanian yang menciptakan seorang samurai. Takezo. menanti. Takezo. Kemarahanmu itu tidak lebih dari kedengkian pribadi. Takuan memandang terus sejenak." Suara Takuan kini ganti jadi sedikit bernada petuah. Dan mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menyerahkannya. Kau penipu dan pengecut!" "0." "Pada akhirnya tak ada bedanya. kalau kukatakan kau ini payah. suara Takezo mendering keras clan terasa mendesak. atau agak berpura-pura bodoh. sayang sekali! Biarpun kau dilahirkan sebagai manusia." Pohon itu diam. "Kenapa kau tidak menyerah saja. biarpun sudah sedikit telat untuk mulai sekarang. di mana kau sekarang!" "Tak ada yang perlu kumalukan. tanpa pernah menjadi manusia sebenarnya! Sungguh sia-sia!" "Kausebut dirimu sendiri manusia?" Takezo meludah. kau tidak bakal berhasil. Takezo! Seluruh pohon bergoyang. Ini pertarungan tak adil. Kau dilahirkan dengan kekuatan fisik dan keuletan. akan kupotong kepalamu seperti kauminta. aku akan tinggal di bawah sini." Tetap tak ada jawaban." Takezo memperdengarkan erangan keras. tapi tali besar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah. mengempaskan bobot tubuhnya ke atas ke bawah. Kau berhasil menguasai beberapa ciri kurang baik dari Jalan Samurai. tapi kau kurang pengetahuan dan kebijaksanaan. Jangan menahan-nahan diri. Aku benci melihat orang muda yang menahan diri. Takezo. Takezo! Memang baik marah seperti kau sekarang ini. Kalau kau mencoba. makin baik!" "Tunggu. Keberanian sejati mengenal rasa takut. jenis keberanian yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. bukan lelaki. Takezo. tapi menurut pendapatku mereka itu bodoh. Kau mesti mencoba berbuat sesuatu untuk orang lain. "Dengar. Teruskan! Rasakan kekuatanmu sepenuhpenuhnya. dan mengira kau tak ada tandingannya di dunia ini. Susahnya. Tubuhmu terlalu kuat. Takuan. terbuat dari apakah kau ini! Orang zaman sekarang menyangka bahwa mampu menahan marah adalah tanda kebijaksanaan dan kepribadian. Apa kau yakin bisa mengerjakannya tanpa membunuh dirimu sendiri. Orang bicara tentang bagaimana mencampurkan Jalan Pengetahuan dengan Jalan Samurai. Mati dengan penuh kemuliaan. dan mereka harus menunjukkannya. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan. karena dia lebih pandai. Kemarahan lelaki sejati adalah ungkapan kemarahan moral. sebelum tali itu putus?" "Diam!" pekik Takezo parau.property of: CROSSFiRE. apalagi membuat penyok alam semesta ini. tunjukkan bahwa kau manusia sejati. kau lebih mirip binatang. sungguh gila aku. dan ketika selesai. Kau bukannya kena hajar. Beberapa waktu kemudian. Takezo. sekarang aku duduk di batu karang ini. Namun Takuan tetap tenang. tak bakalan kau bisa mematahkan satu pun cabang pohon ini. aku akan mengunyahnya supaya aku dapat menangkapmu dan mempreteli anggota tubuhmu!" "Itu janji atau ancaman? Kalau menurutmu kau memang dapat melakukannya. sedangkan kau terbaring di atas situ tanpa daya. tapi kau tidak berusaha mencapai pengetahuan atau kebajikan. Mereka memiliki lebih banyak semangat daripada orang-orang tua. tunggu! Kalau aku memang mesti mengunyah tali ini dengan gigi telanjang. yang sopan santun. tidak kulihat tanah bergetar. "Itulah yang kumaksud. Ebook by Kang Zusi . Suka atau tidak. "Itu sama saja dengan yang kaunamakan keberanianmu itu." ancam Takezo. ia pun menengadah lagi. "Aku akan langsung ke lehermu!" Takezo berjuang terus. Kulit kayu dan dedaunan menghujani orang yang di bawah. hingga hampir patah cabang yang menjadi gantungannya. "Sayang. Hanya ada satu jalan. kenyataannya kamu itu lemah. kalah sajalah. sediam batu karang yang diduduki Takuan. kalau aku mencoba menangkapmu dengan kekuatan. "Pikirkan satu malam lagi. dan apa gunanya untukmu? Biar kau menggeliatgeliat seperti apa pun. Kemarahannya sudah lewat." la meninggalkan tempat itu dengan langkahlangkah panjang penuh pikiran. "Itulah yang dinamakan semangat. padahal kalau dicampurkan dengan balk keduanya itu bukan dua-keduanya itu satu. Apa kau tak bisa lihat perbedaan antara kau dan aku?" "Ya. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan. "Kau memang betul-betul kuat. kepala menunduk. Sungguh menyedihkan bahwa seorang pemuda tampan seperti kau mesti menemui ajal di sini. Kalau kalah. kau akan punya kesempatan menggerakkan dewa-dewa atau bahkan alam semesta. Tapi maaf saja. Belum lagi dua puluh langkah. Kegelapan itu pun diam. Dia tahu bagaimana takut pada apa yang harus ditakuti. badannya sehebat-hebatnya." Tak ada petunjuk bahwa Takezo masih mendengarkan. Kemarahan karena tetek-bengek emosional yang tak ada artinya adalah untuk perempuan. Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. Kau cuma melelahkan dirimu. "Kurasa kekuatan itu lebih baik digunakan bekerja untuk kebaikan negeri.

dan melakukan semuanya baik-baik. seperti dua ekor Ebook by Kang Zusi . sampai akhirnya dahan yang pertama dapat dicapai. Dan pada saat aku sadar. "Aku hidup! Aku betulbetul hidup!" "Tentu saja kau hidup!" "Itu bukan 'tentu saja'. tapi aku mengerti apa artinya hidup. Itu hukum alam. "Tunggu!" Takuan menoleh. Takezo.. Kemudian sosok itu naik dengan agak mudah ke tempat Takezo terbaring dalam keadaan kehabisan tenaga. Orang itu. Takezo! Kita dapat saling menolong!" Otsu sudah mengenakan pakaian perjalanan. Sejenak kemudian ia merasa ada orang di pangkal pohon." "Kita jatuh menimpa cabang-cabang itu. "Aku mau jadi orang yang lebih baik.. Aku punya alasan sendiri. la merasa dingin. Mengikuti nasihat biarawan itu. tolong!" Biarawan itu menggelengkan kepala." erangnya. Tubuh Takezo hampir tak bisa dibedakan dari dahan tempatnya terikat. celaka nanti. dan dalam sekejap mata ia sudah meretas ikatan tahanan itu." "Kau sendiri bagaimana? Tidak apa-apa?" "Ya. la pun dapat mendengar potongan-potongan kulit pohon berguguran ke tanah. mencoba lagi. karena bukan aku yang mengikatkannya. "Cepat putuskan tali! Apa lagi yang kautunggu? Potong!" "Takkan makan waktu lama. Aku mau pergi." "Lari? Kau akan melepas ikatanku dan membebaskan aku?" "Ya.. Ucapkan doa dan berharaplah ada orang yang mau mendengarkan. dan Takezo mengikutinya. Tetapi si pemanjat meneruskan usahanya dengan tabah.. aku. Dan demi nenek moyangmu. Takezo dapat mendengarkan bagaimana si pemanjat itu tergelincir hampir di tiap usahanya untuk naik. Kalau aku tinggal di sini.. Aku." Otsu menghunus belati kecilnya. mendekap batang pohon yang lebar itu dan berusaha setengah mati naik ke dahan terendah. Hadapilah maut dengan berani dan tenang. Segala yang terjadi adalah untuk selamanya. Takezo. Aku sadar sekarang. Hanya matanya yang hidup dan tampak bersemangat... jadi barangkali lukamu tidak seberapa. Kau sendirilah yang mengikatkannya. netcafe. ayo kita lari! Aku dengar kau memekik ingin sekali hidup. Takezo berdiri. pelan-pelan. seakan-akan seluruh pohon itu menangis. Dengan susah payah Takezo membuka mata dan ternyata ia berhadapan dengan kerangka. Otsu merangkak. dan di bawah sejuta bintang kecil ia terbaring diam. Suara terengah-engah membisikkan namanya.property of: CROSSFiRE. Aku juga tak tahan lagi diam di kampung ini. kemudian ucapnya. Takezo merangkulnya clan membantunya berdiri. Itu di luar kekuasaanku. Kepalanya pusing karena jatuh dari ketinggian sepuluh meter. betapa penting dan istimewanya lahir sebagai manusia." Tubuhnya mengejang-ngejang karena sedu sedan. tidak apa-apa. Takuan!" teriak Takezo. Inc. ia menutup mata yang baru saja mengalami kesadaran luar biasa dan melupakan segalanya. Aku hampir mati. Terasa ia tidak begitu cakap. Kalau ada yang menemukan kita di sini. Takezo. matilah dengan layak. dalam sebuah kantong kain kecil. Segalanya! Kau tak bisa mengembalikan kepalamu di tempatnya sesudah musuh memenggalnya. tapi aku tak dapat melepaskan tali itu. dan Takezo tidak berteriak lagi. Aku. "Otsu?" "Ya. hidupku hanya tinggal terikat pada pohon ini! Tak dapat aku menghapuskan apa-apa yang telah kulakukan. dan semua miliknya sudah bergantung pada bahunya." "Mari kita lekas pergi dari sini. Angin malam berdesir melintas pohon.. Kedua tubuh itu saling bergayutan. Beberapa menit berlalu sebelum rasa berdenyut pada kaki-tangan Takezo mereda dan ia dapat melenturkan ototototnya. aku. Cabang pohon itu mulai bergetar. Otsu pun terperosok bersama. Yang dapat kulakukan hanyalah memberikan nasihat padamu.. lalu lepas terpelanting.. la lupakan kehidupan dan kematian." la berhenti sedetik-dua. Wajah itu bicara. Begitulah adanya. oh." "Akhirnya kau sadar. Aku akan menolongmu. Takuan telah pergi.. dan ia yakin bahwa tangan-tangan itu jauh lebih terkelupas daripada pohonnya.. berputar di udara clan jatuh ke tanah. "Aku mau hidup. "O-o-h-h." Otsu berjalan terpincang-pincang. mencoba berkali-kali lagi menempel pada pohon. "Ada yang patah?" "Entah." "Aku tak mau mati. aku mohon! Tolonglah aku. "Apa maumu sekarang?" "Kembalilah. Aku cuma mau keluar dari tempat yang bodoh dan kejam ini.. Otsu mencoba mendukung seluruh bobot Takezo. Kau tak bisa mengulangnya. dengan wajah damai!" Gemeratak sandal Takuan menghilang di kejauhan. dan badannya lemah dan kaku. entah siapa. Apa kau mau mendengar lebih banyak lagi? Apa kau akhirnya mulai berpikir?" "Takuan! Selamatkan aku!" Teriakan minta tolong Takezo itu keras dan sedih. Untuk pertama kali dalam hidupmu kau bicara sebagai manusia. "Takuan.. "Ini aku!" katanya dengan keluguan kanakkanak. dingin sekali. namun ia menjejakkan kaki di tanah mantap-mantap. aku tak ingin lagi memikirkan itu.. ketika Takezo tergelincir. Itulah hidup. diam-diam. "Maaf. dan serunya. Tentu saja aku kasihan padamu." "Mm. tapi rasanya aku masih bisa jalan. tapi akibatnya. menggeliat kesakitan..

Sebelum Heita sampai di gerbang. sebelum akhirnya Otsu dapat membuka kantongnya dan mengeluarkaan makanan. aku akan ikut. bersama Otsu. Nek. "Lihat! Sudah mulai terang di arah Harima. Terasa berjam-jam lamanya. Kutunggu kau di sana. Wajah dan seluruh tubuhnya menyala oleh cinta. "Takezo. Hadiah kehidupan Otsu adalah kue bakpao yang dipadati kacang manis. sanak keluarga yang lain." kata Takezo langsung setuju. la melongok ke dapur dan katanya ribut. Muka Osugi memutih. "Kau pasti akan datang. Takezo berangkat tanpa banyak berkatakata lagi. kau ingat apa kata Nenek kalau orang bohong?" "Ini betul." pikirnya berulang-ulang. sambil berseru. Takezo." Otsu memandang wajah Takezo dengan tajam. Kediaman yang lama kemudian baru terpecahkan. Aku harus pergi ke Hinagura. "Perbatasan! Betul. "Apa sih ribut-ribut ini?" "Nek. cucu Osugi berlari-lari naik ke rumah besar Hon'iden. Di antara mereka terdapat menantu lelaki Osugi. Mereka berjalan sedapat-dapatnya." "Aku menunggu di Jembatan Hanada. biar sampai seratus atau seribu hari. sejumlah orang kampung sudah datang. netcafe." kata Otsu. la bersumpah sejak saat itu akan hidup secara berbeda sama sekali. Dia hilang juga." Akibat berita itu sungguh penuh warna. Kalau kau berusaha menyelamatkan Ogin. Aku harus mengeluarkannya dari sana. "Heita!" "Ya?" "Lari secepat-cepatnya." "Baiklah. kita harus sangat hati-hati." "Apa betul sudah begitu jauh?" "Ya." Dengan jawaban anggukan kecil. diam terpukau. "Apa katamu?" "Pagi ini dia tak ada di pohon. kan?" "Tentu." "Hinagura? Kenapa?" "Di sana kakak perempuanku dikurung. Nenek belum tahu? Takezo lari!" "Lari!" Dan kipas pun jatuh ke api. Dan di kuil orang mencari Otsu. Otsu menggenggam tangan Takezo. serangga rapuh terluka sedang berjalan di udara dingin musim gugur. Semua orang lari ke sana kernari berteriakteriak.property of: CROSSFiRE. la bergegas menyusuri pegunungan yang membujur dari celah itu ke pegunungan di kejauhan. Segera wajah itu seolah-olah kehilangan darah." Mendengar kata makanan." "Heita. Paman Gon. dan sejumlah petani penyewa. aku akan pergi ke Himeji dan menanti. "Kau tentunya kelaparan. Sementara itu di kampung. Talinya putus. apa Nenek sudah dengar? Ada kejadian hebat!" Osugi yang sedang berdiri di depan tungku dan menghidupkan api dengan kipas. "Nek. "Kalau memang itu yang kaurasakan. dan rasa laparnya berganti menjadi tenang karena kenyang. kalau sudah bertekad. yang berubah warna dari merah ke biru dan lembayung. penuh bayang-bayang nyala kipasnya yang terbakar itu. Jemput ayahmu. "Mengagumkan memang apa yang dapat dilakukan orang. Tapi." Otsu tersenyum lemah. "Aku hidup.. di pinggiran Himeji. sampai tubuh Takezo menyatu dengan pemandangan. Awan yang kemerah-merahan pagi itu membuat pipi mereka berwarna merah muda. Inc.. Nek. "akan kukatakan padamu bagaimana perasaanku kemudian. sehat walafiat. Ketika rasa manis kue itu menurun lembut dalam kerongkongannya." "Kau yakin betul?" "Ya. sumpah! Semua orang bilang begitu. aku lupa." Otsu kelihatan khawatir. tak akan aku meninggalkan Miyamoto. tapi kuminta jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bawa aku ke mana saja kau pergi!" "Tapi aku tak bisa!" "Ingatlah"-Otsu mencengkeram tangan Takezo erat-erat-"suka atau tidak. Jari-jari yang memegang kue itu bergetar. lalu pergilah ke pinggir kali dan panggil Paman Gon! Cepat!" Suara Osugi menggeletar. Takezo tiba-tiba menyadari bahwa perutnya yang kisut kejang kesakitan. Mata Takezo melebar. Ketika Takezo bisa memandang wajah Otsu dengan lebih jelas." mohonnya. ketika Otsu berteriak. keadaan jadi menyiksa. "Nek! Nenek!" Sambil menghapus hidung dengan punggung tangan. terasa olehnya seperti mimpi bahwa ia kini duduk di sini. sedemikian rupa hingga Heita mengerut ketakutan. "Kalau hari terang. Kukira aku terpaksa mengucapkan selamat tinggal. Otsu mengangkat kepala untuk memperhatikannya. Ebook by Kang Zusi ." "Di mana kita ini?" "Di puncak Celah Nakayama. pergilah! Tapi kalau aku tahu kau akan meninggalkan aku." "Apa lagi yang dapat kulakukan? Membiarkan dia dl benteng sana?" Dengan pandangan menghunjam. hampir tidak memperhatikan cucunya. Mereka ramai berbicara sendiri. kepala Takezo pun menjadi pusing. terpincang-pincang dalam diam. kalau ada waktu. Begitu ia sadar. Kau tidak makan apa-apa berhari-hari. Kita hampir sampai perbatasan provinsi.

Kekecewaan mereka ditambah lagi dengan penjelasan seorang pejabat perbatasan bahwa rombongan sebesar itu tidak bisa lewat. Karena itu mereka berdiri saja di sana dengan gelisah. Dan kalau dia masih hidup. Inc. Hukum adalah hukum. Baru sesudah itu dia akan mencari seorang istri yang seratus kali lebih baik dari Otsu dan menghapuskan aib ini selamanya." jelasnya. Dia punya kewajiban tidak hanya kepadaku dan kepada mereka yang sudah pergi. tapi juga kepada kalian. Perempuan tua yang keras kepala itu memang bermaksud bertindak. Ketika aku mengambil pedang pendek ini. Ebook by Kang Zusi . Ketika ia mengetahui bahwa berita mengerikan itu benar." ucapnya dengan nada pendek-pendek. mereka beriring-iring menuju Celah Nakayama. Kami akan menjadi bahan tertawaan orang kampung." "Apa yang dilakukan perempuan tua itu nanti? Kehormatan keluarganya jadi taruhan!" Menantu Osugi dan Paman Gon yang membawa lembing turun-temurun dari nenek moyang. biarpun menghabiskan waktu dua-tiga tahun tanpa melakukan apa-apa. dan dia juga sudah bertekad untuk melaksanakan sumpah itu. darahnya pun mendidih. kita harus pergi juga. dan pergilah ia ke pintu gerbang. Kemudian kelihatannya ia hendak mengucapkan kata-kata perpisahan yang mengharukan. la kenakan pakaian yang cocok untuk memburu orang. "Nek!" seru seseorang akhirnya. "Kalau tidak kami selesaikan soal ini sekarang. Dan kami tak akan pernah bisa menegakkan kepala. Barangkali la dapat melakukan penyelidikan di Himeji dan memintakan izin khusus untuk menyeberang perbatasan bagi mereka. memandang kosong ke arah rumah. tapi itu akan makan waktu. netcafe. aku berlutut di depan tanda peringatan nenek moyang kita dan mengucapkan selamat berpisah secara resmi pada mereka. Otsu "setan". Aku juga mengucapkan dua sumpah. Aku tak ingin mendengar ada di antara kalian yang menelantarkan ulat sutra atau membiarkan rumput tumbuh liar di ladang." terdengar jawabannya. Aku bersumpah melakukan ini. Tapi akhirnya ia hanya menyuruh para pengikutnya berkumpul dengan singkat. yaitu saya sendiri dan Paman Gon. ya?" "Dan Takuan juga tidak kelihatan lagi!" "Pasti mereka kerja sama. dan menoleh ke sekitar. Selama itu kalian harus berjanji untuk bekerja keras seperti biasanya. "Jadi. seorang lelaki mengucapkan sesuatu yang kedengaran seperti erangan. "Semuanya akan beres. Yang kedua. ia mengangkat kepala. apa ada alasan kenapa kami berdua. "Kami berdua sependapat mengenai segala sesuatu yang sudah kusumpahkan tadi. membuka mata. Selama aku pergi. "Kalau begitu. "Kalian semua tenang saja. barulah akhirnya seorang dari antara orang banyak itu memperdengarkan suaranya. tapi ia tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. dan akan kulaksanakan. Mereka berbaris di depannya. "Mereka sudah berhasil lolos!" seru seseorang. dan ia lebih dari siap untuk membalas dendam atas penghinaan terhadap keluarganya. tidak bisa jalan terus?" "Sampai lima orang bisa diizinkan." Pejabat itu mengatakan dapat memahami keadaan sulit tersebut. Osugi menatap tajam menantunya. memandang penuh perhatian kepada mulutnya yang berbibir tipis clan giginya yang besar merongos. Mereka butuh petunjuk. ia selipkan pedang pendek itu dalam obi-nya. Bersenjatakan tongkat. Ketika mereka semua sudah diam. Sesudah berunding dengan sanak saudara dan petani penyewa. Osugi maju ke hadapan pejabat itu dan bertanya. biarpun terpaksa menjelajahi negeri ini." Rahangnya mengatup. dan Takuan "gila". Mereka sampai di sana tepat sebelum tengah hari. dan tunggu. menarik lacinya dan mengeluarkan senjata simpanannya. la sudah berjalan cepat di jalan. la berkata. tapi sudah terlambat. Sejak sebelum berangkat pun aku sudah membayangkan ini akan terjadi. "Apa Nenek belum dengar?" "Aku akan datang segera ke sana. dan mengaturnya supaya dia mendapat hukuman setimpal. akan kubawa dia pulang untuk melanjutkan nama keluarga. biarpun misalnya aku terpaksa mengikat lehernya clan menyeretnya pulang. supaya orang kampung sekali lagi mengakui keluarga kita sebagai keluarga yang mulia dan terhormat. Otsu lari juga. la melukiskan Takezo sebagai seorang "penjahat". "Akan kuburu sendiri perempuan jalang yang tak kenal malu itu. menantuku akan mengambil alih jabatanku sebagai kepala keluarga. "nama nenek moyang kami akan ternoda. Sesudah menyampaikan doa permohonan dengan diam." lanjutnya." Osugi mengangguk setuju. "Sekarang ini. "Tak usah kalian bingung. aku harus memastikan-bahkan sampai mati-apakah anakku Matahachi masih hidup." Ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Paman Gon maju ke depan clan memohon dengan sangat kepada pejabat itu. menanti Osugi keluar memberikan perintah-perintahnya. Orang banyak itu pun menggelegak marahnya. Bahkan keluarga Hon'iden bisa terpaksa meninggalkan tanahnya. aku akan mengejar dan menghukum perempuan kurang ajar yang sudah mencoreng nama kita dengan lumpur. tanpa berhenti untuk istirahat. "Kalau perempuan tua itu pergi. tapi ia berusaha mengendalikan dirinya dengan berlutut di depan altar keluarga. Mereka belum dapat melakukan sesuatu. Di situ ia ikatkan tall sandal baik-baik pada pergelangan kakinya." Semua sanak keluarga dan penyewa pun berdiri dan serentak mengikuti bunda mereka yang gagah berani itu. Paman Gon an aku sudah cukup tua untuk pensiun. "Satu." Osugi segera bertindak. dan sambil membuat tombak bambu dalam perjalanan.property of: CROSSFiRE. Keheningan penuh pesona yang menyambutnya ketika ia mendekati gerbang jelas menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah tahu untuk apa ia berpakaian demikian. Tenang ia membuka tutup peti pedang. salah satu pusaka Hon'iden yang paling berharga.

lekas!" seru Osugi tak sabaran.property of: CROSSFiRE. Aku masih dapat mengakali seorang dua orang musuh. Gonroku tak dapat melihat wajah orang itu. Jadi." katanya. "Jaga diri baik-baik. Ayo kita jalan. Namanya Warung Teh Mikazuki." Ketika sampai di warung teh itu. "Dan aku akan melaksanakannya. heranlah mereka melihat matahari sudah mulai terbenam. "Apa tidak lebih baik kalau Ibu membawa tiga pemuda?" saran seseorang. kirim suruhan ke kampung. karena terkejut melihat sesosok tubuh yang terbaring di lantai. Nek. ia menoleh pada Paman Gon.dan aku tak akan mau. Paman Gon juga belum pikun. tapi dapat melihat rambut hitam yang terburai ke sana kemari di atas bantal. "Pejabat itu mengatakan lima orang bisa lewat. Ketika mengeluarkan uang." nasihat Gon. menuju jalan Harima. tapi di masa mudanya ia samurai. Aku harus berhenti nanti." la mengusir mereka dan pergi menuju perbatasan. Ha! Semua orang berpendapat Takezo sangat kuat. Tak ada lagi yang mesti kalian lakukan sekarang kecuali pulang." "Ada apa?" "Aku mau mengisi tabung bambu ini dengan air minum" Gonroku berjalan ke belakang rumah dan mencelupkan tabungnya ke kali yang mengalir jernih. Sekarang sudah kusampaikan pada kalian apa yang akan kulakukan. Nama keluarganya Fuchikawa." Ketika Osugi sudah tak dapat lagi mendengar suara orang-orang itu. la memang gampang ditakut-takuti Osugi. Tadinya mereka mengira masih mempunyai waktu beberapa jam lagi. "Jangan sampai jatuh. sampai gelembung-gelembung air tidak naik lagi ke permukaan. Sebagai paman Matahachi." kata Gonroku sambil bangkit mencekau topi jerami yang barusan dibelinya. Sampai sekarang pun kulitnya masih merah sehat dan rambutnya sehitam biasanya. Mereka minum sedikit teh dan beristirahat sebentar. Dalam perjalanan kembali ke jalan di depan." "Ada apa?" "Kelihatannya ada orang sakit di dalam. tapi ia lebih tahu cara mengendalikan perempuan itu daripada kebanyakan orang lain. Rambutnya tak lebih dari yang pernah kukenal waktu dia bayi. Bau obat-obatan memenuhi udara. Paman Gon hidup dengan berburu. Jalan yang sehari-harinya dilalui kuda-kuda beban dari tambang perak itu penuh dengan lubang. Mereka berangkat menuruni bukit yang cukup terjal." "Kita butuh tidur justru sekarang ini. tapi aku sendiri cuma memakai pakaian sehari-hari. karena jelas kedua orang itu bukan tandingan Takezo apabila mereka menemukannya. "Nek. "Kalau Ibu jatuh sakit. Aku tak sebanding dengan dia dalam kekuatan tubuh. mencari sandal dan topi. meskipun tidak tidur sama sekali barangkali lebih balk. maaf. netcafe. sekilas ia memandang lewat jendela samping ke bagian dalam warung teh yang samar-samar itu. "Apa itu luar biasa? Perhatianmu ini gampang teralih. pasti. "Tapi tunggu sebentar. Mereka menyerukan salam perpisahan dan memandangi pasangan tua itu memulai perjalanannya ke timur. "Aku tidak butuh bantuan apa-apa. kan? Aku yakin mereka menjual barang yang kubutuhkan." Gonroku lekas-lekas minta maaf." kata Gonroku sambil berjalan di belakang Osugi seperti anjing yang sedang dihukum. Hari pertama mengejar kehormatan keluarga yang hilang. Mereka semua membayangkan Takezo sebagai orang gila yang baru mencium bau darah saja sudah menyerang dan membunuh. "Sebentar. pulanglah clan urus semuanya sampai kami kembali. “Apa?" "Nenek sempat memikirkan pakaian perjalanan. Kita terpaksa tidur di tikar bau di penginapan kusir kuda beban di Shingu. "Perempuan tua itu betul-betul berani." Orang ketiga berseru khawatir. berselimut tikar jerami. "Biar bagaimana kita akan mati sebelum orang orang muda itu. tapi aku belum kehilangan akalku. tapi itu tidak bikin aku takut! Dia itu cuma anak bandel. "Paman Gon. Ebook by Kang Zusi . Gon adalah singkatan Gonroku. Aku tak pernah dibantu." "Maaf. Seorang lelaki lain mencorongkan tangannya dan berseru. dengan sendirinya ia sangat prihatin dan bingung oleh peristiwa-peristiwa yang baru terjadi itu. ia pernah terlibat dalam banyak pertempuran berdarah." "Nenek benar sekali." Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya keras-keras. Osugi berkata. Menurut ceritanya sendiri. karena hari-hari memang bertambah panjang bersama datangnya musim panas berarti lebih banyak waktu untuk melakukan pencarian." katanya lagi sambil menudingkan jari telunjuknya ke hidung. menuruni sisi gunung. Tiba-tiba ia pun terhenti. seperti anak-anak. betul! Aku ingat. Mengerti?" Paman Gon hampir lima puluh tahun umurnya. sedangkan Osugi sepuluh tahun lebih tua." "Ada warung teh kira-kira setengah jalan turun bukit ini. Orang-orang itu rupanya bimbang untuk membiarkan mereka berdua pergi sendiri. ya?" kata seseorang. namanya sendiri." jawab Paman Gon yakin. "Takano terlalu jauh kalau dicapai malam hari. seperti orang lain juga." "Ya. Inc. Tak seorang pun mencoba menghentikannya lagi.

" Osugi menghentikan jalannya." Mereka menoleh. Tak lama kemudian mereka berdua terengah-engah kehabisan napas. tapi ketika ia mengulurkan tangan untuk memegang ciduk bambu di sampingnya." Kening Osugi sekarang ikut berkerut.property of: CROSSFiRE. "Aku tidak lihat apa-apa. tapi jangan potong kepalanya sebelum aku sempat kasih dia sedikit pendapatku. karena banyak ribut itu. Dan ke mana Anda akan pergi?" "Tatsuno. Sebentar lagi dia pasti terkejar olehku. "Apa itu gadis yang ada di kamar belakang Anda? Kebetulan saya melihatnya tadi sekilas. "Itu dia. Nek!" "Dia pasti di sini! Tak mungkin dia pergi!" Hampir seketika itu juga Osugi pun melihat pintu kamar belakang terbuka. Gon. "Apa dia lari?" "Tentu saja lari! Kita sudah kasih dia kesempatan lari. tukang warung menjenguknya dan mendesaknya supaya bertahan. Sebelum pergi. Dia sakit. Warung teh itu memang tak lebih dari gubuk pegunungan. orang yang baru datang buat istirahat." Keningnya mengerut." teriaknya." "Jangan. dan lagi kakinya kaki gadis." la menarik dagunya dan langsung berlari. kecuali di sana. Osugi berlari ke luar dan memaki-maki. Katanya dia datang dari Miyamoto. Ketika sampai di warung teh itu. ya. "Air." kata pemilik warung." "Malam begini?" "Tidak ada dokter. kami baru saja istirahat di tempat Anda. Mana kau menjatuhkan tirai segala!" Wajah perempuan tua itu sudah berubah bentuk karena berang. Kelihatannya cukup gawat. Biarpun naik kuda. Badannya panas sekali karena demam. clan tidak suatu pun dapat mencegah orang mengangkat satu atau seluruh tirai yang tak terikat itu. "Kalau istri saya sendiri atau salah seorang anak saya. "Ya. Saya merasa harus berbuat sesuatu. lalu mengaduk bara dan memasukkan sedikit kayu untuk sedikit menerangi ruangan. baru tengah malam saya akan sampai. kan? Jangan khawatir. tidak apalah. Biar kami sendiri kembali mengambilnya. keadaannya jauh lebih buruk. Osugi pun segera menyusul. "Tak ada di sini. "0. kejar!" . Gadis yang sakit itu lebih penting daripada tasbih saya. ia sudah benar-benar tidak tahan. dan tampaklah oleh mereka pemilik warung teh itu menunggang kudanya. terima kasih. "0. jangan! Anda mesti menjemput dokter. dan sangat ramping?" "Ya. air. menyiramkan air yang sudah diciduk tadi lewat lubang sempit ke muka perempuan tua itu dan berlari kencang menuruni bukit seperti burung di tengah angin. netcafe. "Gon. Tapi pandangan kecewa tergambar pada wajahnya. Tapi tidak juga dia membaik. saya kira. "Anda berdua ini cekatan sekali. dia tak jauh mendahului kita. Tapi berat rasanya kalau buat orang lain. orang sinting tua!" Pada saat itu terdengar suara yang menyapa mereka dari belakang." "Apa istri Anda sakit?" "O. didengarnya tirai hujan jatuh ke tanah di belakangnya. Begitu selesai berbicara dengan pemilik warung teh yang baik budi itu. yang sudah berdiri di luar. Sebaliknya. Osugi dan Paman Gon menerobos dari tempat tirai terbuka itu." Osugi pun mengedip pada Gonroku dan mulai menggerayangi obi-nya. minta air!" serunya lemah. jadi saya tawarkan kamar belakang buat berbaring. jangan berani-berani kau mengajariku! Jalan ini bisa kulalui dengan mata tertutup. celaka." "O. "Apa gadis itu sekitar enam belas tahun." Paman Gon sementara itu sudah berbalik. Tak seorang pun bicara." Ebook by Kang Zusi . Mulutnya kering. Kejar. sekitar enam belas. "Tunggu. Pasti itu Otsu! Otsu sebetulnya belum sembuh benar dari demam yang menyerangnya pada malam ia diseret masuk dari tengah badai itu. tapi sesudah Takezo meninggalkannya ia hanya dapat berjalan sedikit sebelum akhirnya mulai menyerah pada rasa sakit clan lelah. Kau sendiri yang mesti hati-hati. la mengangkat tangan clan menuding. sampai lengan baju dan kimononya mengembung di belakangnya. Otsu." keluh perempuan tua itu dengan suara yang menurutnya hanya bisikan. "Apa tak bisa kaukejar?" Paman Gon mengarahkan pandangannya ke sosok tubuh yang seperti' kijang terbang di kejauhan. Inc. tidak." "O. "Ketika dia istirahat badannya mulai menggigil. dan berkali-kali meminta air dalam igauannya. Osugi segera menyusulnya." kata Paman Gon. "Lihat di sana!" serunya. Tak tahu ia sudah berapa lama terbaring di kamar belakang itu. la merasa mulutnya penuh duri. ia pun menegakkan badan dengan kedua sikunya dan menjulurkan leher ke arah tempayan air yang ada di luar pintu. Beberapa waktu kemudian Otsu sudah lupa bahwa tukang warung pernah bicara dengannya. Gon. Karena tak ada jawaban. la dapat melupakan sakitnya ketika beberapa jam berada bersama Takezo. Aku ingat sekarang-tadi kutaruh di atas bangku. Pelan-pelan la berhasil merangkak ke situ. "Sebentar saya ambilkan." kata tukang warung seraya membalikkan kudanya. ketika la berseru." jawab Gon yang waktu itu sedang menuju kamar perapian. "Oh. "Paman Gon. "kau boleh menggunakan pedang. melangkah cepat mendaki bukit. ketinggalan di warung teh itu!" "Apa yang ketinggalan?" "Tasbih.

Satu orang berseru. sebatang anak panah mendesis ke arahnya dan menancap di tanah. Ia menarik pelajaran yang dengan segala jerih payah diberikan oleh Takuan. Hidup yang diberikan padanya adalah sesuatu yang harus dihargai clan dijunjung. "Cobalah turun sendiri! Biar tahu sendiri rasanya!" Takezo duduk di atas batu besar sambil melipat tangan dan memandang ke seberang lembah. dan dalam sekejap ia sendiri sudah menerobos. clan akhirnya berhenti di dasar jurang. aku akan menyeberangi lembah dan memanjat karang di sebelah sana. "Sekalipun aku mengambil jalan terbaik. Manusia berani yang sudah melampaui kesembronoan remajanya. tolol?" dan menyodoknya dengan keras. Paman Gon tiba-tiba memekik kaget dan jatuh tengkurap. Namun ia tidak dapat membiarkan kakak perempuannya ditahan. Pikirannya sudah sampai pada keyakinan bahwa la dapat membikin lumpuh lima puluh atau seratus serdadu yang mengawal benteng itu. Kukira tidak terlalu dalam. Terdengar bunyi kaki-kaki yang mencoba mencari pijakan. Rintangan alam itu bisa menjadi samaran. Berkali-kali ia mencela dirinya sendiri. tapi juga keluarnya. Osugi berteriak. tapi dengan sengaja ia diam tak bergerak di tempatnya. ke benteng Hinagura. tak ada sasaran yang lebih baik dari itu. yang baru saja la peroleh dengan penuh penderitaan." Belum lagi la sampai pada kesimpulan ini. Barangkali berhadapan dengan maut membikin orang jadi pengecut. "Bagaimana mungkin aku jadi begini pengecut?" tanyanya pada diri sendiri. dipoles clan disempurnakan. Tepat sebelum kegelapan menyelimuti. namun belum juga la dapat menyusun rencana untuk mengeluarkan kakaknya." Setengah hari kemudian tangannya masih tetap terlipat di dada. Begitu dilemparnya burung itu pun jatuh. dan ia ragu-ragu mendekati benteng itu. Keadaannya tidak begitu membesarkan hati. tapi ia masih terus mempertimbangkan letak tanah. la bermaksud terus duduk sampai ia mendapatkan rencana itu. la paham sekarang. pikir Takezo sedih. merangkakrangkak. Yang la perlukan bukan hanya masuknya. "Apa yang kautunggu. Tak pernah aku seperti ini. tapi ia sudah melihat bahwa gerbang-gerbang itu ditutup dan dikunci sebelum matahari terbenam. perasaan damai. Di seberang lembah sana ia melihat kerumunan orang banyak bergerak ke sana kemari di dalam benteng. Terpaksa kembali ke warung teh buat ambil obor. "Ada apa?" teriak Osugi yang menyusulnya." Ia pun menggelengkan kepala. "Itu Takezo! Takezo dari Miyamoto!" "Dia berbahaya! Jangan sepelekan dia!" satu orang lagi mengingatkan. Di belakang benteng terdapat parit dalam. Yang lebih buruk lagi. sekalipun artinya ia harus melanggar untuk terakhir kalinya pengetahuan diri yang sangat berharga. Jelas mereka telah melihatnya. "Kalau malam tiba. "Dia terjun ke situ?" "Ya. mereka berdua nantinya akan terpaksa melarikan din menyeberangi dataran rata yang tidak ditumbuhi sebatang pohon pun untuk berlindung. la tidak merasa seperti binatang. jalan masuk benteng itu dilindungi dengan baik oleh gerbang ganda. la merasakan ketenangan baru. Ebook by Kang Zusi . la sudah duduk di situ sejak matahari terbit sampai matahari terbenam sehari sebelumnya clan sepanjang hari ini. lebih dari dua puluh serdadu bergerak ribut mencari posisi clan mengepungnya. sedangkan di depan. Rasanya perasaan itu mengalir di dadanya seperti sungai yang lembut. clan agaknya tempat itu tidak dikawal ketat. Begitu posisi rapi. Tak ada jalan. Agaknya tak ada cara yang mudah untuk mendekati benteng itu." Osugi pun melihat ke sana. yang warnanya saja rasanya sudah merupakan keajaiban. "Tukang sihir tua!" teriak Paman Gon marah. Ia mengkhawatirkan sesuatu yang tak dapat dirumuskannya. Hampir seketika itu juga mereka buyar. pasti membahayakan hidupku sendiri dan hidupnya. keadaan itu memaksanya melakukan serangan malam. dikoyaknya dan dibenamkannya giginya ke dalam daging yang hangat itu. Ia menatap langit terang yang cantik. mereka memperdengarkan teriakan perang. "Lihat itu ke bawah. beberapa inci dari jemari kakinya. Takezo menghentikan pesta unggas mentah itu dan menyorotkan pandangan kejam ke arah para calon penangkapnya. Pandangan yang biasa diperlihatkan oleh binatang ketika terganggu di tengah makannya. bukan sikap pengecut. ia bangkit dan memungut sebuah batu. reaksinya. Tak ada gerbang di bagian belakang.property of: CROSSFiRE. netcafe. seakan terkunci. Selagi ia makan. Pada hari tak berawan seperti ini. Tidak. tapi terlalu gelap. "Aku sudah kehilangan keberanian. la membayangkan di bawah salah satu atap itulah kakak perempuannya dipenjarakan. Berani. Sebuah rencana mulai terbentuk. bukan itu. "Seminggu yang lalu aku bahkan tidak berpikir sempat lolos dalam keadaan hidup." Ia merasa terhina dan tak berdaya. berlari langsung ke arah gerbang benteng. Inc. lain sekali dengan ganas. Tepat di depan mereka ternganga jurang terjal penuh bambu. Batu itu menjadi merah oleh darah. "Ya-a-h-h!" pekiknya sambil mengambil sebuah batu besar dan melontarkannya ke baris depan dinding manusia itu. Tak bisa. cahaya matahari sore mulai mengabur di belakang puncak pegunungan barat. ia merasa seperti seorang manusia. Setiap usaha untuk mendobraknya pasti membunyikan tanda bahaya berupa anak genta dari kayu yang ingar-bingar bunyinya itu." Ketika ia sedang berlutut memandang ke dalam jurang. la menduga tembakan itu percobaan untuk melihat. la sudah melihat makan malamnya melayang di atas kepala. Tak lama kemudian. dan sekarang ia bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. Jadi.

Takezo sudah melompat naik. Langkah-langkah kaki terdengar di belakangnya. la menyangka penyamarannya sudah aman. kekuatan binatang yang tak berakal.. ia merenggut sebuah tiang di gerbang dalam. Takezo menggigit kuku ibu jarinya dan memandang anak-anak panah itu melaju lewat. sampai tercerabut dari tanah. "Ogin!" teriak Takezo sambil berlari ke bagian belakang benteng. dan merasa yakin bahwa tak seorang pun mengenalinya. dia tidak di sini. "Mana kakakku?" raungnya.. Inc.. Sekali Takezo membuat janji. "Belajarlah takut pada apa yang menakutkan. ia guncangkan matimatian. ku." "Di mana. terbang ke udara dan jatuh berantakan ke tanah.. Ketika Takezo melompat ke arahnya. sambil terus memanggilmanggil kakak perempuannya. dan dalam sekejap mata sudah melompatinya. pagar. Kemudian ia berbalik kepada para pengejarnya. yang sebetulnya sebuah perangkap.." Ia tatap gedung-gedung itu dengan mata menyala. Sumpah!" "Nah. la mengangkat kepala dengan tegas. Takezo.. lalu la hantam benda tak berbentuk itu dengan tiang gerbang. la membidik sebaik-baiknya. "Betul. tapi seribu. Setengah lusin anak panah terbang melewatinya.. dengan anyaman jerami. "Takezo! Tunggu!" Takezo terperanjat. ia melihat seorang lelaki mencoba menyelinap. baru seminggu berlalu sejak gadis itu bersumpah akan menanti di situ-bukan seratus hari.. Satu demi satu ia gedor pintu-pintu itu dengan tiang gerbang.. Tapi kalau kau bohong.. Yang diketahuinya hanyalah sesuatu yang besar dan hitam menyerangnya." Lahirnya Musashi TAKEZO menanti di pinggiran kota Himeji. maupun para pengawal di gerbang kedua. Ayam-ayam pengawal berkaok-kaok menyelamatkan hidup. la sedang berada di dekat pusat kota pada suatu hari. Kemudian ia menghilang ke dalam bayangan sel-sel yang mesum. Sejumlah besar lembing dan pedang berantakan. la tak dapat melihat serdadu yang mengejarnya. orang itu mulai menangis tak kenal malu. Tetapi bersamaan dengan berlalunya waktu. y y ya „ "Kalau kau bohong. Ebook by Kang Zusi . netcafe.. ia biasa melakukan pesiar singkat sekitar kota. Perintah dari puri. terbang ke segala jurusan. Punyailah kekuatan prajurit sejati. kadang-kadang bersembunyi di bawah Jembatan Hanada." Takezo mencekau rambut orang yang menangis tersedu-sedu itu. bahkan juga Takuan. Kekuatan yang kasar dalam permainan anak-anak. "Ogin!" Setelah gagal mengetahui tempat kakak perempuannya. pantang ia melanggarnya."' "Himeji?" „I. Kemarin dulu dia dibawa pergi. "Apa semua ini tipu daya?" pikirnya panik. teriakan-teriakannya yang serak menjadi hampir tak bisa dimengerti. Takezo meluncur menuruni jurang.. la tak tahu jumlah mereka.. tapi lebih sering berdiri di jembatan clan diamdiam memperhatikan orang-orang lewat.. Takezo menampar keras pipinya.. la bahkan tak sadar ketika merobohkan dengan satu pukulan saja seorang penjaga yang mencoba melompatinya. Akhirnya di dalam bayangan salah satu sel kecil dan kotor. aku akan kembali khusus mencarimu!" Serdadu-serdadu itu merapat lagi. lebih balk kalau begitu. kemudian tiba-tiba ia menuju pagar. dan tampak olehnya Takuan datang mendekat sambil berseru. Mata Takezo sama sekali tak melihat. "Ogin. dan seperti biasa di hadapan biarawan ini ia merasa sedikit rendah diri. Di belakangnya terdengar ledakan keras. sekalipun janjinya pada Otsu bukanlah satu-satunya alasan kenapa ia ke Himeji. Orang-orang itu ternganga. Takezo mengangkat orang itu dan melemparkannya ke arah mereka.property of: CROSSFiRE. betul.. Apabila sedang tidak berada di dekat jembatan itu. "Apa yang dia lakukan?" "Ke mana perginya orang sinting itu?" "Dia gila!" Takezo terbang seperti capung yang keranjingan. keberanian yang nyata. Sekarang ia berada di antara kedua gerbang. Namun ketika mereka sampai di gerbang luar. ketika didengarnya suara orang memanggil namanya. la pun harus menemukan di mana orang menahan Ogin. "Berhenti!" serunya sambil melemparkan tiang gerbang yang bernoda darah itu ke kaki makhluk seperti musang tersebut. ia pun semakin tergoda untuk mondarmandir. di maim. baiinw<m hocloh. Dengan kekuatan yang hampir-hampir di luar kekuatan manusia. sebuah menempel seperti jarum jahit raksasa di kimononya. dikejar para serdadu yang memperdengarkan teriakanteriakan perang. dan sementara berlari petikan-petikan ajaran Takuan pun melintas dalam kepalanya.. Gema tembakan senapan itu meraung ke seberang lembah. Hidup itu berharga. kalau tidak kubunuh kau!" "Dia. "Diapakan dia? Katakan di mana dia. seperti pengemis. ini aku. la sangat risau bahwa Otsu belum juga muncul. dengan hati-hati membenamkan topi clan menyembunyikan wajahnya.

rintahnya. Saat itu punggung Takezo pun mengejang. dan Kapten memerintahkannya membasuh badan. Segera mereka sampai di rumah mandi. Takuan memanggil kapten pengawal. "Keluarga Shimmen adalah cabang keluarga Akamatsu. dia akan menggigit. seperti burung besar angkuh yang turun dari langit.property of: CROSSFiRE. tak sangsi lagi banyak orang berguna akan diselamatkan. Ikeda Terumasa. Ia diperlakukan sebagai manusia lagi. Tubuhnya pendek. Takuan. Lewat menara gerbang. la dapat melihat sekarang. di mana seorang daimyo dapat menikmati kenikmatan hidup. dan Anda tahu itu. dan tak seorang pun mengganggu jalannya. dan noda-noda gelap bekas cacar menaburi wajahnya. Seperti banyak puri lain pada zaman itu." perintahnya. Kalaupun mereka harus mati." "Tidak betul itu. Perlengkapan itu mencakup tidak hanya kipas lipat dan kertas tisu. Dia anak macan yang bertaring. la hanya minta Takezo mengikutinya. melainkan juga sepasang pedang samurai panjang dan pendek. Walaupun tidak menoleh. "Jadi. Sudah lama aku mencarimu. netcafe." Daimyo itu mengeluh. karena ia ingat benar akan waktu mandi terakhir kali di rumah Osugi. Ia mengangguk dan berkata sopan. Sambil menyerahkan Takezo. Ini puri seorang daimyo. Puri Himeji muncul di hadapan matanya. la menduga kakaknya ditahan di dalam salah satu benteng. di mana terletak kediaman daimyo. Bukan pada saya. "Aku sudah menangkapnya. Sebarisan pengawal berdiri tegak di depan gerbang besi. menyandarkan diri pada tangan kursi dan memandang ke luar. Takuan mendahuluinya menyeberangi jembatan lengkung lebar yang membentang hingga parit luar. Sulit bagi penghuninya untuk dapat santai dan menerima kenyataan bahwa negeri telah berhasil dipersatukan. semua orangku menyangka bahwa satu-satunya tugas mereka adalah mengikat orang atau memenggal kepalanya. Dengan isyarat tak sabar la mendesak Takezo maju terus. "Ya. pernah menjadi yang dipertuan di puri mi." Takuan melewati gerbang kedua menuju bangunan tengah. "Itu dia?" tanyanya kepada Takuan sambil menudingkan kipas lipatnya. yang tak ada perasaan hormat khusus ataupun perasaan kagum kepada daimyo itu. Selamanya ia menganggap dirinya kambing hitam keluarga Shimmen. Ia merdeka sekarang dan sepanjang pengetahuannya mereka berjalan langsung kembali ke pohon gila di Miyamoto itu. mereka mendekati gerbang kedua. klan Akamatsu Masanori. namamu Shimmen Takezo?" tanya Yang Dipertuan Ikeda. Dia masih liar. seperti kau tahu betul. Kalau ia tertangkap di sana. mengulur waktu dan memperhatikan sekitarnya. "Hati-hati. Ia melipat tangan dan mencoba berpikir. Tak terpikir olehnya ke mana mereka pergi. "Dan jangan bikin ribut. kepalanya tercukur bersih. O. kenapa puri itu disebut "Puri Bangau Putih"." Satu jam kemudian Takezo sudah duduk di kebun di luar beranda. namun demikian ia merasa malu karena telah mendatangkan aib besar kepada nenek Ebook by Kang Zusi . "Ayo ikut aku. Rupanya ia kenal baik jalan di situ. la berharap ia benar. "Susahnya. Baru sekali itu ia kehabisan kata. "Wajahnya cakap. tapi tak ada yang kurang. kemudian dengan hormat menunduk kembali. Atau barangkali ke kamar bawah tanah di dalam puri. ia belum terbiasa akan kemewahan perdamaian. Inc. dan dunia akan menjadi lebih baik karenanya. Nada gawat yang ada dalam suaranya itu mustahil diabaikan. Biarawan itu menangkap pergelangan tangannya. Cahaya matahari yang memantulkan lembinglembing terhunus membuat Takezo sekejap ragu-ragu lewat. la hampir tidak mengangkat kepala waktu berjalan. tapi tak ada satu bukti pun untuk membenarkan dugaannya itu. Buktinya ia tidak memerlukan penunjuk jalan ataupun petunjuk. Ia heran." jawab biarawan itu sambil membungkuk hormat. memang tak ada orang lain yang cukup dicintainya yang dapat diajaknya berbagi saat-saat akhir hidup yang berharga ini. clan siap untuk berkelahi begitu ada perintah." Takezo hampir menangis. Ia berbalik dan masuk rumah mandi. Segalanya begitu damai-sebuah pulau ketenangan. sekiranya aku memiliki banyak anak buah seperti Anda di sini. yang dipertuan di puri itu. apabila tidak sedang mengatur strategi. setidak-tidaknya mereka dapat mati bersama. Takuan dapat merasakan keraguannya. Takezo ikut tanpa berkata-kata. itu dia. dengan sikap hormat mendengarkan. ia mengenakan juga tutup kepala dan kain sutra longgar yang sesuai dengan lingkungannya. Walau tidak mengenakan pakaian paling resmi. "Saya letakkan di sini. ingat akan perangkap yang untung berhasil diterobosnya. Di sini serdadu-serdadu memandang lebih cermat dan waspada lagi. Kapten tidak menyentuh orang yang jadi tanggungannya. Bagus sekali Anda menyelamatkannya. kenapa demikian. ke kebun." jawabnya terang. Anda dapat memakainya kalau nanti keluar. Bangunan megah itu berdiri di atas kubu batu yang sangat besar. Takezo menengadah cepat dan melihat wajah orang terkenal itu. Tuan. tapi ia menambahkan. Segera kemudian seorang pembantu datang membawa kimono katun hitam hakama." ucapnya. kepalanya tertunduk dan tangannya terletak rata di atas lutut. Kerongkongan Takezo jadi kering. biarawan itu menasihati orang tersebut untuk memperlakukan Takezo baik-baik sebagaimana diinstruksikan sebelumnya. Sesuai perintah Takuan." "Dia berutang nyawa pada Tuan. Kalau kau menggodanya. Segalanya sederhana dan tidak mahal. "Ya. tapi sekali lagi ia merasa tanpa daya menghadapi orang istimewa ini." Takezo ikut tanpa melawan. dan ingin ia mengangkat kain katun bersih itu ke wajahnya dan menggosokkannya ke pipi serta menghirup bau segarnya.

Menara utama benteng di atas itu selalu gelap gulita. Ini adalah cermin kekuasaan dan martabat Anda. netcafe. Sekalipun tubuhnya pendek-hampir tidak sampai satu setengah meter-kehadirannya seakanakan memenuhi puri yang bertingkat banyak itu. Takuan. Barang siapa mengenal seni perang. ia menang atas segalanya. moyangnya dan nama keluarganya. Ada yang dapat menerobos." "Tapi apakah menurut pendapat Anda tidak rendah bagi kemuliaan salah seorang prajurit terkuat dalam lingkungan Tokugawa. Ikeda Terumasa. Sun-tzu berkata: "Inilah yang penting diketahui tentang medan. Wajahnya serasa terbakar. "Ya. tidak betul. dan berjilid-jilid tentang sejarah Jepang. Ada jarak yang harus diperhitungkan. akan saya simpan Takezo di sana sampai saya siap memaafkannya. " "Kalau Anda mengizinkan saya menggunakan kamar itu. kalau Anda. Hanya ada sebuah lampu kecil yang menerangi pipi pucat cekung Takezo. orang suka berpikir demikian. Ada yang memungkinkan gerak laju. "Apa betul pembantuku Aoki Tanzaemon tanpa izinku berjanji." kata Terumasa pada si biarawan." Sambil menoleh kepada Takuan ia bertanya. dan katanya. Semua pesuruhku menolak untuk masuk dan para pembantu selalu menghindarinya. Takezo benar-benar tenggelam Ebook by Kang Zusi . aku telah kehilangan hakku menghukum Takezo dengan hukuman yang cocok. Menurut saya." "Nah. tak ada bunyi kehidupan keseharian. bentuk hukuman apa yang akan diambil. Takezo?" Tidak kedengaran Takezo berkuik. ia mencucinya dengan air sejuk dari mangkuk kecil yang selalu ada di sampingnya. Aku menunggu. Sekeliling meja bertumpuk-tumpuk buku. Barang siapa mengenal langit dan bumi. kita harus menaruh lampu di sana. sebaiknya Anda ikut aku ke warung teh. Anda dapat memutuskan dan memberikan hukuman?" "Saya kira Anda dapat mengetahui hal itu dengan langsung bertanya pada Tanzaemon. kalau Anda berhasil menangkap orang ini. Ada bagian yang terpencil." Apabila terbaca olehnya bagian yang sangat menarik seperti di bawah ini. Tanzaemon sudah mengaku. sebagian lagi dalam bahasa Cina. tak ada musim semi. apa Anda bermaksud sekali lagi memperlihatkan ketidakmahiran Anda dalam upacara minum teh?" "Ah." Terumasa lalu mengundurkan diri ke bagian dalam kediamannya. memiliki kamar yang tak pernah berlampu dalam puri?" "Tak pernah aku berpikir demikian. ketika ia hendak pergi. Karena dia bawahan langsungku. "Sesudah mengantarnya ke petak baru itu nanti. sumpahnya pada Anda berarti sumpahku. yang terbaik adalah menempatkan tawanan ini dalam-akan kita namakan apa itu?--'keadaan serba kurang' untuk sementara waktu." Apabila matanya sudah kabur karena lelah. aku terpaksa menghukummu. ia membacanya keras berulangulang. Datanglah nanti." "Kalau begitu. Tentu aku tak akan mengizinkan dia pergi tanpa hukuman. Jadi." "Aku sudah bertanya padanya. tapi aku menginginkan pembenaran Anda. "O. dan akan kubuktikan bahwa aku bukan lagi sekadar serdadu yang tak tahu adat. sebagian dalam bahasa Jepang. tak ada musim gugur. Karena itu. "Yang kauperbuat itu tak dapat diampuni. Karenanya Sun-tzu berkata. Sekarang kamar itu kubiarkan sebagaimana adanya." lanjut Terumasa dengan nada lebih keras. ia senantiasa menang dengan mudah. Hari-hari ini aku sudah betul-betul mulai tahu seluk-beluknya. Kaudengar itu. seperti nyanyian.property of: CROSSFiRE." "Karenanya. Di situ tak ada kalender. Inc. Ada yang membatasi." "Dan bagaimana usul Anda untuk melakukan itu?" "Saya yakin di puri ini ada sebuah kamar tertutup yang sudah lama didesas-desuskan ada hantunya?" "Betul. tetapi Terumasa mulai tertawa. Takuan dan Terumasa. "Barang siapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya. karena tak ada alasan untuk membukanya. walaupun aku yang dipertuan di tanah ini. "Bagus!" Jelas hubungan mereka baik sekali. Di situlah terletak kamar yang ada hantunya itu. tapi terserah Anda. Bagian ilmu medan dalam buku Seni Perang karangan Sun-tzu terbuka di meja rendah di hadapannya. karena kamar itu selamanya tidak terpakai. Nah." "Bagus. bahkan hampir-hampir bersaudara. Tuan. tak akan serampangan ia dalam gerakannya. nampak sangat bersahabat. aku simpulkan Anda sudah punya usul. apa yang dikatakan Takuan pada Aoki Tanzaemon di kuil malam hari dulu itu benar. apakah menurut pendapat Anda saya berbohong?" "Tentu saja tidak. Sudah cukup lama dia hidup dalam kegelapan semata. Kalau minyak hampir habis dan sumbu lampu memercik." "Hmm. Itulah justru yang saya pikirkan. dua-duanya pengikut Zen. la kaya karsa dan membatasi kemungkinan." "Kalau begitu. apa yang akan kita lakukan kepadanya?" "Saya pikir. dimatikannya saja lampu itu. Buku-buku tentang Zen.

Ebook by Kang Zusi . karena tidak menggoda saya untuk membalas dendam nenek moyang saya. saya jadi naik pitam. ketika mereka mempertahankan puri ini. Dalam pertemuan sebelumnya ia didudukkan di kebun. dan kalau saya tinggal di puri ini. Saya berutang budi pada semua penduduk di daerah ini. seperti kata semua orang. maka itulah musim semi tahun ketiga la berada di dalam rahim itu. Kelihatannya seperti lak. ia kehabisan tenaga dan gairah hidup. "Kau boleh membaca sebanyak kau suka. Kemungkinan besar kau benar. Sekali lagi musim semi terbang dari seberang lautan. Lalu ia tertawa. Dalam batas tertentu." "Melihat noda-noda itu. demikian dijelaskannya. Jiwa mereka begitu saja tersapu angin musim gugur. terutama suara manusia ini. Akhirnya suatu hari ia mendengar burung layang-layang kembali ke bawah atap menara itu." Terumasa mengangguk. ataukah kamar penuh cahaya. musim panas. Lain dari itu tidak banyak yang diketahuinya. saya anggota wangsa yang sama." katanya pada dirinya sendiri. Inc. seakan-akan berkabung. ia berkata. "Dan kalau saya mengabdi di puri ini. barangkali juga pemberontakan. dalam buku pelajaran ini. dan kadangkadang ia tersedu-sedan bagai bayi. tapi mereka wangsa yang perkasa. apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan. tapi ia merasa belum waktunya mengabdi pada seorang daimyo. Saya terbenam dalam kitab-kitab suci dan membaca beribu-ribu jilid buku. Sesudah saling mengucapkan salam dan basa-basi. Tak lama sesudah datangnya burung itu. Kegembiraannya meluap mendengar suara manusia lain. ia pun merintih. la meratap dan mengerang. kemungkinan besar darah yang dicurahkan oleh orang-orang Akamatsu." Sejak itu Takezo berhenti menghitung hari. tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Rambutnya berantakan dan hatinya hancur. Darah saya mendidih memikirkan bagaimana nenek moyang saya yang pernah menguasai seluruh wilayah ini berakhir dengan kebinasaan. Seorang pendeta terkenal zaman kuno pernah berkata. Kalau udara panas. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu. Mereka tewas binasa. pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. "Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. "Ini sudah tahun ketigamu di sini. Takezo menarik lengan kimono biarawan itu dan menariknya masuk kamar. Saya paham sekarang. Udara tetap sama. Namun ia hampir merasa pasti bahwa kalau nanti burung layang-layang datang bersarang lagi dalam lubang-lubang penyimpanan senapan yang tertutup papan dalam menara itu. Penjelasan datang pada saya di kamar itu: siapa saya ini. tentunya kau sudah jadi sekarang. Hari-hari ditelan derita. la merasa mendapat kehormatan besar. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan." katanya. "Walau saya orang tak berharga. Dan kalau kau pergi. Tapi pandanglah lebih saksama. "Aku mengerti maksudmu. Terkejut dan terlampau terharu hingga tak dapat mengeluarkan kata-kata. "Takezo. Kita tidak dalam suasana damai. apa yang Bapak maksudkan. kau baik-baik saja?" Kepala Takuan yang sudah dikenalnya itu muncul di puncak tangga. kali ini kedengaran aneh. Lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. ternyata kau sudah betul-betul bisa bicara seperti manusia! Bagus! Hari ini kau boleh meninggalkan tempat ini. peluklah dengan erat pencerahan yang telah kaubayar mahal. Terumasa tidak membuang-buang waktu dan meminta Takezo menjadi bawahannya." kata Takuan. Sesudah menempuh masa persiapan selama ini. tapi sekarang untuknya disediakan tempat di beranda. "Darah yang sama mengalir juga dalam nadi saya. "Dan apa yang sudah kulakukan selama dua puluh satu tahun ini?" Kadang-kadang kenangan tentang tahun-tahun lalu itu menekan dirinya tak hentihentinya dan merundungnya dengan kesedihan.property of: CROSSFiRE. tapi bukan. Terserah padamu. Apabila derita itu mereda. terdengar suara bertanya. Semua itu dipinjam dari koleksi Yang Dipertuan Ikeda. Kau akan membutuhkannya apabila nanti memasuki dunia dan menggabungkan diri dengan sesamamu. lembap dan pengap. hantu-hantu bisa bangkit dan mencoba meraih saya. "hantu-hantu barangkali akan mulai muncul dalam kamar tertutup itu tiap malam. Takezo menolak." Takuan membawa Takezo sebagaimana adanya menghadap Yang Dipertuan Ikeda. netcafe. bahkan pertumpahan darah lagi. dan musim tak ada sangkut-pautnya dengan hidupnya. hati saya serasa melihat lebih banyak daripada sebelumnya. Memang lebih baik kalau kau meninggalkan puri ini. nenek moyang saya. "Aku akan berumur dua puluh satu tahun. hampirhampir menyakitkan telinga. dan mereka dapat dibangkitkan. Kalau udara dingin. Ketika Takuan menjatuhkan hukuman kurungan. "Walau tak ada yang dapat kauajak bercakapcakap kecuali dirimu sendiri. Pesuruh-pesuruh yang membawakannya makanan tidak sekali pun pernah mengucapkan kata-kata." ia melanjutkan dengan pandangan saksama." "Hmm. memukul dan menendang. "Aku baru pulang dari perjalanan." "Saya berterima kasih atas kebaikan Bapak. mereka sudah merasuki saya. Bagaimana saya harus mengucapkan terima kasih pada Takuan?" "Terima kasih?" kata Takuan tak percaya. Ketika saya keluar. Tuan akan melihat bercakbercak hitam memerciki pintu-pintu dan tiang-tiangnya. Disergap rasa sesal. Itu darah manusia. Tapi mereka dapat menimbulkan kemelut. artinya musim dingin." "Kenapa? Apa hantu-hantu itu menemanimu?" "Kalau Tuan membawa lampu dan memeriksa kamar itu dengan saksama.

walau cuma beberapa menit. Pak.. "Baiklah. kalau saya tidak terbunuh di perjalanan. Tuan. "Miyamoto Musashi! Nama yang bagus. segalanya mesti baru pada hari kelahiranmu ini. dan akhirnya Takuan bangkit berdiri. Suatu kali nanti. Inc. tidak. Bapak sungguh orang yang penuh kasih kepada orang lain. dan saya sungguh-sungguh lahir kembali. "Inilah pertama kali Anda mengucapkan dua kali terima kasih padaku untuk satu hal saja!" "Benar." Tangan Takezo langsung jatuh ke lantai." "Kau pasti ingin bertemu dengannya sendiri. "Bapak tidak hanya menyelamatkan saya." "Ya. sake dihidangkan. ke masa depan. tapi si biarawan menarik lengan kimononya. Dan waktu berpisah sudah tiba. "Apa tak ada yang ingin kaujumpai?" "Siapa?" "Ogin?" "Apa dia masih hidup?" tanyanya heran. Sekalipun tak ada tuduhan terhadapnya." jawab Yang Dipertuan sambil menoleh kepada Takuan. tapi ke mana? Apa kau bermaksud kembali ke Miyamoto? Dan hidup di sana?" Takezo tersenyum tanpa suara. la berketetapan menjelajahi pedesaan. Mereka disertai beberapa pembantu Terumasa." Mereka berpindah ke kamar lain. Dalam tidurnya pun tak pernah ia melupakan kakak perempuannya yang lembut." seru Takuan. Aku bilang padanya tiga tahun lalu bahwa dia mesti menganggapmu sudah mati." "Tidak. Aku gembira melihat kau bersungguh-sungguh dalam tujuanmu. clan Takezo serta Takuan mengawani Yang Dipertuan sampai larut malam. Tapi bukan sekarang. Ebook by Kang Zusi . katanya. Takuan bercerita bahwa ketika Musashi menyerang benteng Hinagura tiga tahun lalu. menarikan satu tarian kuno. "Bagaimana kalau namamu dibaca seperti huruf Cina 'Musashi' dan bukan 'Takezo'? Kau bisa tetap menulis namamu seperti sebelumnya. sementara acara minum berjalan terus. hidup dalam disiplin clan latihan seni bela diri. hingga dia tak akan lupa tempat kelahirannya." "Salah satu cara untuk mengucapkan terima kasih padaku adalah dengan membiarkan aku mengantarmu ke kakakmu." Takuan menyeringai. bahwa tiga tahun kemudian aku akan mengantarkan adik lelaki yang baru." kata Terumasa. Kita mesti minum untuk merayakannya." "Aku tahu. "tapi Bapak pun sudah memperhatikan kesejahteraan Ogin. Musashi mengawali hidup baru. tapi saya harap Bapak dapat memahaminya. itu tidak akan terulang lagi. barangkali akan saya perlukan waktu untuk bersantai dan menoleh ke belakang. ternyata Ogin enggan pulang. rasanya tidak. seperti yang ia lakukan kalau berdoa di depan patung sang Budha." Takuan berbalik. ya. Dengan telapak tangan tertelungkup ia membungkuk dalam dan lama. yang tak lain dari Takezo yang lama." "Biarlah dia mengembara dulu sementara masih muda. Jadi. Mendengar kabarnya saja dari Bapak sudah sama baiknya dengan menemuinya. Gerak-geriknya yang indah menciptakan dunia kegembiraan khayali. "Dia ingin sekali ketemu kau. Tepat sekali. Katanya. nama yang bagus sekali. Sebaiknya namanya Miyamoto. "Apa kau tak ingin bertemu dengannya?" tanya Takuan. Yang harus saya lakukan sekarang adalah mengambil langkah pasti ke muka." "Saya mengucapkan selamat berpisah sekarang. Takuan membungkuk. Takuan punya rencana-rencana sendiri. Ia memilih tinggal dengan seorang sanak di sebuah kampung di daerah Sayo. Takezo. Ogin memang sudah dilepaskan." "Aku mengerti. Rasanya bukan sekarang saatnya kembali ke masa lalu. la memang ahli. "Baik. Kalau ada kesempatan. netcafe. kita akan bertemu lagi. yang sudah demikian lama ia anggap seperti ibunya sendiri." "Dan kau mesti mengubah nama kecilmu juga." "Sukar saya meneruskannya dalam kata-kata. "Saya ingin mengembara sekehendak hati saya untuk sementara." Terumasa yang sedang sangat senang perasaannya. Hari berikutnya mereka berdua meninggalkan puri." perintahnya. Takezo yang kini bernama Musashi memandang penuh kagum." Musashi menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya di depan kepala. "Sediakan untuknya uang dan pakaian yang sesuai. Ketika mereka sampai di wilayah kota di luar dinding puri. sebut dirimu Miyamoto.property of: CROSSFiRE. Sekarang ia sudah senang tinggal di sana. "Izinkan saya mengucapkan teirma kasih atas kebaikan hati Anda pada anak ini. Musashi memperlihatkan gelagat hendak minta diri. hormat dan gembira. Saya belum lagi menemukan jalan yang hendak saya tempuh. Kalau saya sudah mendapat kemajuan dalam pengetahuan dan penyempurnaan diri yang sedang saya can ini. "Tapi karena dia hendak pergi sendiri-dan menurut Anda sudah dilahirkan kembali-dia harus mempunyai nama baru. saya tak akan menemuinya. mari kita usahakan sungguh-sungguh untuk bersua lagi. Selama tiga tahun di dalam kurungan itu la telah bertekad menguasai Seni Perang. Teruslah ikuti jalan pikiranmu." "Tidak. karena dalam arti tertentu kau memang sudah mati." "O." "Takuan!" Ikeda tertawa. Saya terima. begitu. mengangguk bergairah. Saya kira tak akan dapat saya mengucapkan terima kasih atas apa-apa yang telah Bapak perbuat itu. sejak saat ini. Saya sudah mati. Tapi aku bilang juga padanya.." katanya penuh haru.

mereka masih berusaha menelusuri jejakmu." Tak bisa Musashi menyembunyikan pikiran-pikiran itu dari wajahnya. Hari ini hari kesembilan ratus tujuh puluh. kalau perempuan membuntutinya terus? Apa tidak lucu? Orang akan mengatakan. sebuah kedai kecil khas di pinggir jalan raya yang menjual cenderamata. Kata-kata Otsu bernada teguran. Saat itu ia sedang bergegas menghindarkan pikiran tentang kakak perempuannya yang demikian ingin ia temui dan demikian kuat ia rindukan." "Kapan aku membohongimu?" "Di celah gunung itu. ya. kan? Kau tidak lupa nama jembatan ini? Apa kau lupa janjiku akan menanti di sini berapa pun lamanya?" "Kau menanti di sini tiga tahun lamanya?" Musashi terpana. Ia mendesak Musashi ke Ebook by Kang Zusi . dan berjanji pada diri sendiri. Jangan terlalu dipikirkan. Lanjutnya. ia berjalan ke timur." Ia letakkan tangannya ke gagang senjata. bagaimana mungkin seorang lelaki menguasai Jalan Samurai. dan aku akan mengikuti Jalan Pedang. karena tak ada pilihan lain. "Ah. sampai akhirnya tidak kelihatan lagi. rasanya sudah semuanya. Masalah-masalah itu berkecamuk dalam pikirannya yang gelisah. untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bijaksana. Langkah kakinya tetap tegap. "Ya. tidak betul. "Baik-baik di jalan. melangkah. aku bisa tinggal di sana dan menantimu. bukan?" Sesungguhnya. Aku sedang tergesa-gesa dan kau tak mau melepaskan aku sebelum aku berjanji. netcafe. Kemudian. Hampir saja aku terbunuh. sekali lagi sendirian. Osugi dan Paman Gon menyusulku tepat saat kau pergi. Barangkali tak ada hubungannya dengan apa yang kita katakan atau kita perbuat. dan aku sudah memenuhi janjiku dengan setia. tapi dialah yang bertanggung jawab ketika kau diburu-buru. "Musashi. Dan lagi. la sendiri terus di persimpangan jalan sambil memperhatikan bagaimana sosok biarawan itu semakin mengecil. "Sekarang cuma ada pedang ini." Takuan jadi murung. Belum lagi terlambat. "Ke mana saja kau pergi." pikirnya. la tidak menoleh lagi. itu pikiranmu. Waktu itu aku tidak serius. Musashi terengah-engah kaget. "Apa dayaku? Bagaimana mungkin aku berhasil mencari kebenaran dan pengetahuan. oleh siapa pun? Lagi pula. Bisa saja mereka berbuat sesuatu yang tak akan mengenakkan." "Tidak. tapi kemudian berhenti. Berhati-hatilah menempuh jalan itu." "Saya akan berusaha sebaik-baiknya." seru Musashi kepadanya." Takuan berbalik dan berjalan ke barat." teriak Otsu." perintah Musashi. Belum lagi jauh-sesungguhnya ia baru berada di pinggiran Himejiseorang perempuan datang berlari-lari ke arahnya dari sisi lain Jembatan Hanada. "0. Aku harus menjadikan diriku manusia yang lebih baik dari dirinya. Aku iyakan saja. "Aku boleh ikut kamu. Dari waktu ke waktu ia mengangkat tepi topi anyamannya dan menatap jalan ke masa depan. Waktu itu aku sakit dan harus beristirahat. Mereka bertekad takkan pulang sebelum dapat membalas dendam. "Lepaskan bajuku. tapi rasanya mereka tak akan betul-betul menyulitkanmu. Aoki Tanzaemon. "O." "Bukan itu soalnya. Kau berjanji akan mengajakku. Aku menunggu di sini sejak dua puluh hari sejak kita berpisah di Celah Nakayama itu. dan mereka berbaik hati menerimaku sebagai semacam pembantu." Musashi tersenyum. demikian pikirnya. Biar mereka sudah tua. akhirnya kau muncul juga!" teriak Otsu sambil mencekau lengan kimononya. aku tak mau! Kau bohong. Mungkin kau tak pernah kenal namanya. jalan asing yang harus ditempuh semua orang. "Satu-satunya barang di dunia ini yang harus jadi andalanku. gadis ini masih tunangan Matahachi. "Tidak." "Itu berabad-abad lalu. Inc. Akibatnya dia dipecat untuk selamanya dari pekerjaannya oleh Yang Dipertuan Ikeda. "Aku akan hidup dengan aturannya. tapi samurai yang baik itu sudah membikin cemar dirinya sendiri. tentu saja Musashi tak punya maksud untuk mengajaknya atau siapa pun. Aku akan menganggapnya jiwaku. kau tidak lupa. ia masih muda. "Takezo. "Ikut? Ikut ke mana?" tanyanya blak-blakan. tidak! Tidak betul yang kaukatakan itu." "Beberapa? Hanya beberapa?" "Berapa pun banyaknya. Aku pergi. dan dengan belajar menguasainya aku akan berjuang memperbaiki diriku. bukan untuk pelesir!" "Aku tak akan menghalangi jalanmu. Jadi. itu bukan pikiranku. ada lagi." Ia menatap wajah Musashi. Dan aku siap menahan beberapa kesulitan. Otsu. jalanmu bukan jalan yang mudah." la menunjuk toko anyaman di ujung jembatan. Tapi aku berhasil lolos." "Aku harus menempuh perjalanan panjang dan berat. Aku mesti mengingatkanmu bahwa Osugi dan Paman Gon meninggalkan Miyamoto mencarimu dan Otsu tiga tahun lalu." Bagaimanapun. tidak. kalau selamanya dicampuri oleh perempuan. dan tak ada waktu buat menjelaskan. "Kuceritakan riwayatku kepada orang-orang di sana. Takuan mengikuti Jalan Zen.property of: CROSSFiRE. matanya penuh dengan gairah muda dan harapan. 'Lihat Musashi itu: dia butuh seorang inang buat menjaganya. ya. mencoba menduga pikirannya.'" Otsu lebih keras menarik kimono Musashi dan bergayut seperti anak-anak. Mata Musashi menyipit karena terang matahari. Pasti dia juga sedang mengembara. "Nah.

tapi ternyata air mata menggagalkannya. engkau tak akan pernah bahagia. akan pernahkah la bertemu lagi dengan orang yang telah menyelamatkan hidupnya. Rambutnya yang berkilauan menutupi wajahnya. Bahkan keadaan semakin lama akan semakin sukar saja. "Otsu. Selama aku tidak mencampuri latihanmu." Musashi tak dapat menjawab lagi. Aku berjanji. dan kesukaran itu tidak akan berkurang. sekalipun dari luar ia tampak lebih tenang. Aku baru paham apa artinya menjadi manusia. "Maaf. tidak ada jalan untuk menang? Atau apakah ini yang dimaksud cobaan bagi Musashi. ke air yang mengalir di bawah jembatan. Dulu aku jatuh pingsan di dasar jurang dekat Warung Teh Mikazuki. Aku berpikir. tidak ada satu kata pun yang membahas situasi yang dihadapinya sekarang. 'Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. Tiga tahun lamanya aku tinggal dalam lubang lembap. Tiga tahun lamanya aku bahkan tak pernah melihat matahari. netcafe. Aku baru menjadi orang baru. "Pemilik toko sudah berjanji membolehkan aku pergi kapan saja kuinginkan. Pak Takuan menyelamatkan aku. apa jeleknya? Engkau pun tak akan merasa aku ada di situ." Musashi menggenggam tangan Otsu yang putih mungil dan tertumpang di atas pagar jembatan itu. Dan tiba-tiba fajar merekah. aku sudah dengar. agar tidak tersangkut dalam persoalan antara dia dan Otsu. Aku mau membaktikan diriku pada latihan dan disiplin. "Dengar. Kau begitu gembira. betapa jauh jalan yang harus kutempuh. Ini beban yang tak siap dipikulnya. "Ini tengah hari benderang. Aku tak dapat membawamu. pagar jembatan. aku boleh ikut?" mohonnya. Kalau engkau memilih mengikatkan hidupmu padaku. Sekali lagi ia terpukau oleh perhatian Takuan terhadap sesama manusia yang mencakup segalanya dan sepenuhnya bebas dari sikap mementingkan diri sendiri. Aku sadar sekarang. Itu tiga tahun lalu. Sesudah itu aku tidak melihatnya lagi sampai kemarin.property of: CROSSFiRE. kemudian ia menatap mata Otsu. Aku cuma perlu datang dan menjelaskan soalnya. Aku membaca buku. jadi siapa yang tahu bagaimana akhirnya?"' Musashi menurunkan tangannya dan memandang ke jalan yang menuju barat." Musashi membungkuk dan menyibakkan rambut Otsu dari wajahnya dengan kedua belah tangan. Aku sudah menemukan pria terbaik. Otsu. pikirkanlah lagi. Pertama ia ditinggalkan selagi bayi. aku terkurung dalam menara puri. "Jadi. la menatap ke bawah." "Takuan? Dia menceritakan segalanya?" "Kukira begitu. Aku ingin memanfaatkan setiap saat dalam tiap hariku untuk bekerja memperbaiki diri. suatu masalah yang hanya dapat dipecahkan Musashi sendiri? Tenggelam dalam renungan. karena dalam bergunung-gunung buku yang telah dibacanya bertahun-tahun itu. sebentar aku kembali.. Apa kau ingin kita jadi tontonan buat orang-orang yang suka ikut campur?" Otsu melepaskan lengan baju Musashi dan jatuh tersedu-sedu ke pagar jembatan. Otsu. "Selama kau menanti sampai hari ini. "Aku minta. yang takkan kuperoleh lagi sampai akhir hidupku. dan betapa kerdil ia menyangka bahwa biarawan itu hanya punya rasa cinta khusus kepadanya seorang. "Kalau begitu. tapi lidahnya kelu. Padahal kebesaran jiwanya mencakup Ogin." Musashi tetap diam. tapi dia berkata. "Beres. Miyamoto Musashi." gumam Otsu. yang menurut pendapatnya dapat dibantunya. Engkau tidak berutang apa pun padaku. Musashi pun sadar betapa sempit pandangannya selama ini. "Lepaskan!" katanya memutuskan. dan sekarang ini! Musashi tahu Otsu sendirian di dunia ini." Otsu berlari ke arah toko anyaman. ketika dia datang dan minum teh. "Mestinya aku tak boleh bicara seperti itu. Aku punya nama baru sekarang." "Apanya yang mesti dipikirkan?" "Sudah kukatakan. dan siapa saja yang membutuhkan. Sekarang aku yakin diriku benar. "Aku tak akan mengganggumu. di toko cenderamata. "Lepaskan! Orang-orang memandangi kita!" "Biar saja! Waktu kau terikat di pohon itu." "Bicaramu membuat aku merasa lebih dekat padamu daripada kapan pun. Kau tidak menyangkal hal ini." Kata-kata Takuan kepada Otsu itu kini memberati pikirannya. Lupakanlah." "Ya. kan?" Otsu berusaha mengemukakan alasan yang logis. Sebentar aku kembali. Dia juga yang menolongku mendapatkan pekerjaan di sini. la bertanya dalam hati. Waktu itu aku melarikan diri dari Osugi dan Paman Gon." Musashi sadar ia hanya memperburuk keadaan. Apakah maksud Takuan hubungan antara lelaki dan wanita itu harus dipecahkan oleh orang-orang yang bersangkutan saja? Apakah menurutnya tidak ada aturan yang dapat diterapkan seperti halnya dalam Seni Perang? Tidak ada strategi yang aman. Aku menjerit dan berteriak." "Engkau tahu?" "Pak Takuan bilang padaku. hingga dua kali kauminta aku memotong tali itu. "Soalnya adalah soal antara lelaki dan perempuan. dan Musashi sangat memikirkannya. aku tanya apa kau butuh pertolonganku." katanya lembut. Keinginan Ebook by Kang Zusi ." katanya. aku ikut saja. dan orang-orang memandangi kita. Terpikir oleh Musahi akan mengabaikan saja semuanya itu dan lari ke arah yang bertentangan.. Otsu memandang wajah Musashi yang kini tampak jauh dan tenang. Bahkan Takuan pun mengundurkan diri." katanya sedih. kan? Tunggu saja di sini. Hanya ada kesukaran. Aku akan marah sekali kalau kau pergi diam-diam. dan kemudian mengemasi barang-barangku. Aku tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkannya. "Maafkan aku. Inc. kemudian diputus cintanya oleh tunangannya.

jangan coba-coba pergi diam-diam!" la tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. tapi kakinya tak mau bergerak. Kalau ia memang mau melarikan diri. Tahun 1605. inilah saatnya. mencengkeram pagar jembatan dengan kerasnya. menyimpulkan pandangan ini dalam sebuah sajak pendek: Umur manusia yang lima puluh tahun Tidak lebih dari impian maya Dalam perjalanan lewat Perpindaban perpindahan abadi. Kalah dalam suatu pertempuran kecil dengan salah seorang jenderalnya sendiri. hingga mereka beranggapan bahwa ketenangan yang sedang berlangsung itu rapuh belaka dan bakal berumur pendek. dan serunya. Alangkah manisnya anak itu! Jelas baginya. sekitar dua dasawarsa kemudian. la memandang ke langit. Di Jepang. melihat ke dalam air. Perang saudara selama lebih dari seratus tahun telah demikian mewarnai pandangan hidup rakyat. perang yang tak kenal henti antara para daimyo pada pokoknya sudah lewat.. Otsu menghilang ke dalam toko. pada awal abad tujuh belas. Hatinya mengatakan demikian. kacau dan bingung. Di situ tertulis jelas pesan yang digoreskan dengan ujung belati. Ibu kota memang berkembang. Inc. Lentera di jalan-jalan Kyoto dan Osaka bersinar terang sebagaimana pada masa kejayaan zaman ke-shogun-an Ashikaga. pembalut kaki kuning muda. netcafe. Tapi hanya sedikit orang yang yakin bahwa perdamaian itu akan kekal. Segera saja potongan-potongan kecil kayu jembatan mengapung di air yang mengalir. tak seorang pun di dunia ini yang begitu mencintainya.. dan topi besar perjalanan yang terikat di bawah dagu dengan pita merah tua. Otsu menoleh ke belakang. Kemudian terpandang olehnya bagian pagar jembatan. "Maafkan aku. Tak pernah ia tampak begitu cantik. "Ingat. Otsu berteriak terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Jenderal terkenal Oda Nobunaga. demikian ada padanya. kecuali kakak perempuannya. Tapi Musashi tak nampak lagi. dan Musashi asal mengangguk saja. tetapi ketegangan akibat tidak diketahuinya berapa lama keadaan itu akan berlangsung lebih merangsang keinginan rakyat untuk bersuka ria. Dan ia pun bukan tidak menyukai Otsu. tapi tubuhnya masih terbelenggu oleh lesung pipit yang manis dan mata Otsu yang memohon. Otsu muncul kembali di jembatan. yang menyerangnya secara mendadak dalam usaha balas dendam. Maafkan aku MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 2 : A I R bagian 4 Perguruan Yoshioka HIDUP hari ini. tempat asal jatuhnya potongan-potongan kayu tadi. Tokugawa Ieyasu telah memerintah sebagai shogun dua tahun lamanya. yang tak kenal hari esok.property of: CROSSFiRE. mengenakan sandal jerami baru. Nobunaga bunuh diri di Kyoto pada umur empat puluh delapan. Ebook by Kang Zusi .. yang telah meletakkan dasar-dasar bagi Toyotomi Hideyoshi dalam mempersatukan Jepang. Puas mendapatkan isyarat ini. kesadaran orang mengenai hidup yang hanya selintas terdapat pada orang kebanyakan maupun pada golongan elite. Suasana umumnya riang dan penuh pesta.

Ada desas-desus bahwa shogun baru akan segera mengunjungi Kyoto untuk menyatakan hormatnya kepada Kaisar. Saingan terbesarnya yang potensial. Hideyori masih bersemayam di Puri Osaka. tampaknya mereka benar-benar tenggelam dalam persoalan ke mana akan pergi minum dan melacur. Di antaranya adalah sekelompok samurai yang kini sedang berjalan membelok masuk Jalan Shijo.property of: CROSSFiRE. cepat atau lambat. alat musik yang belum lama populer. jenis orang pertama yang melihat tumpahnya darah pada saat pertarungan senjata meletus. Di samping mereka berdiri tembok panjang berplester putih yang berakhir pada sebuah gerbang mengesankan dan beratap mengagumkan. memuat tulisan yang hampir tak terbaca lagi: Yoshioka Kempo dari Kyoto. tirai-tirai merah dan kuning pucat tergantung melengkung di pintu masuk. Mereka menyanyikan lagulagu mesum clan tertawa-tawa antara sesamanya. ia menyerahkan gelarnya kepada anak lelakinya yang ketiga." "Mari kita bersuka ria selagi bisa!" Kehidupan malam yang sibuk dan tempat-tempat hiburan yang semakin meriah merupakan bukti nyata bahwa kebanyakan penduduk memang melakukannya. Sebagian mengenakan pedang kayo sebagai pelengkap pedang baja yang biasa. Hidetada. Meskipun Ieyasu tidak menying-kirkannya. Begitu mereka memasuki daerah pelacuran. Mereka masuk daerah yang berpenerangan balk di sepanjang tepi Sungai Kamo. Sekalipun masih memegang kekuasaan." "Barangkali dia benar. jika ia mau. penerus Nobunaga. Wajah mereka sekeras batu dan mata mereka penuh ancaman. terjadilah. Toyotomi Hideyori. Instruktur Militer bagi para Shogun Ashikaga. Mereka tampak kuat. Perempuan-perempuan malang yang dibeli secara berkelompok itu memetik shamisen. Banyak penguasa feodal lainnya juga mengetahui hal ini. malahan mengizinkannya menikmati penghasilan tahunan yang besar jumlahnya. adalah anak Hideyoshi. Selagi masih cukup kuat untuk menguasai daimyo lain dan mempertahankan hak keluarga untuk berkuasa. Tetapi bersamaan dengan datangnya damai. "Ke mana kita pergi malam ini." yang lain menyela. Tuan Muda?" tanya mereka beramai-ramai sambil mengelilingi guru mereka. Sering orang mengatakan bahwa Hideyori memiliki cukup banyak puri dan emas hingga bisa membeli semua samurai tak bertuan atau ronin di negeri itu. benar-benar lambang kehancuran perang." "Kenapa mesti pusing? Apa yang terjadi. "Ah! Perempuan-perempuan itu semuanya jatuh hati kepada Tuan! Mereka hampir tidak memandang kami. Rumah-rumah rapuh tersebar di sana-sini. seakan selamanya berada di ambang letusan kemarahan. "Kenapa tidak kita coba tempat lain yang baru. ia menoleh ke belakang dan katanya kepada Ebook by Kang Zusi . di mana tak ada orang mengenal Tuan Muda atau salah seorang dari kita?" Sambil berteriak-teriak dan ribut tak keruan. Sebuah papan kayu yang sudah hitam warnanya karena usia." "Tinggal masalah waktu. ia sadar bahwa Osaka merupakan ancaman besar. Mereka memasang taruhan yang jumlahnya sama untuk kemenangan kedua belah pihak. Gadis-gadis dari Provinsi Tamba dengan muka berpupur sembarangan menyiuli calon pelanggan. Tempat ini bisa menjadi titik kumpul yang mungkin dipakai untuk perlawanan. Kimono cokelat tua yang bagus potongannya menutup tubuhnya yang jangkung. Hideyoshi telah berbuat sebisa-bisanya agar kekuasaan tetap berada di tangan keluarga Toyotomi sampai Hideyori cukup umur. Nama tuan muda itu Yoshioka Seijuro. Mereka pun berbaik-baik dengan Hideyori maupun shogun untuk mengamankan diri." "Lentera-lentera jalan ini bisa padam besok. Bertahun-tahun tanah itu kosong dan penuh ditumbuhi rumput. Kedelapan samurai muda itu kelihatannya selesai berlatih pedang terus-menerus sepanjang hari. nilainya pun melonjak. Di situ kupu-kupu malam menjalankan usahanya. dan sebagian lagi membawa lembing. tetapi pemenang di Sekigahara adalah Ieyasu. "Perang pasti pecah. "Ke mana lagi kalau bukan ke tempat kemarin malam?" jawab sang guru dengan muram. Ieyasu secara resmi sudah mengundurkan diri dari kedudukan shogun. netcafe. tapi semua orang tahu bahwa perjalanannya ke barat itu akan lebih dari sekadar kunjungan kesopanan. Spekulasi kosong mengenai masa depan politik negeri itu merupakan bahan utama pergunjingan di udara Kyoto. Inc.

"Dengan topi itu. sebagaimana biasa. Seijuro mengenakan topi dan merasa lebih santai. "Toji. "Semua orang tahu. Terlahir sebagai anak tertua pemain pedang terkenal. Sikap ini diambilnya belum lama setelah ia. Saat itu juga sebuah tangan dari belakang kisi-kisi terulur dan menarik pakaian itu." "Yang dapat menyembunyikan wajah Anda?" "Ya. Inc." "Betul." ucap Toji." "Ayo. Jilatan pengiringnya tak kalah ampuhnya dengan cumbuan perempuan. lalu ia berdiri menanti orang yang disuruh itu pergi melewati lentera-lentera dan orang-orang yang sedang bersuka ria. tentunya Anda dari keluarga baik-baik. itu tuan dari Jalan Shijo!" ujar salah seorang perempuan itu. Yoshioka Kempo. sebelum Toji dapat membuka mulut. Ketika orang yang disuruh itu kembali. "Hei. "Anda lebih tampak seperti orang yang tahu mode. dan barangkali dari keluarga kaya. "Oh. bukan?" jawab Gion Toji.property of: CROSSFiRE. "Kenapa Anda menyembunyikan wajah? Anda tidak bisa mengecoh siapa pun. "Tapi itu justru menarik perhatian." Toji. untuk pertama kalinya. ia melanjutkan jilatannya secara tak langsung. Jadi. Masih ada rasa malu yang disembunyikannya. Semua perempuan di sini tahu bahwa kalau Anda menyembunyikan wajah dengan topi." katanya. betul-betul tak mungkin sekarang untuk tidak singgah. Biar kami melihat. "Wah." Tanpa jilatan Toji pun. banyak orang lain yang memakainya juga. "Lihat. "Aku mesti lebih hati-hati. "Menyembunyikan wajah. tampan! Kenapa sembunyi di bawah topi jelek?" "Ayolah kemari! Saya ingin lihat yang di bawahnya." Seijuro menunduk memandang lengan kimononya. pura-pura tersinggung." "Ya. ia selalu suka pamer." Sambil menoleh kepada yang lain-lain." Ebook by Kang Zusi . Perhatian yang ditunjukkan orang kepadanya membuat detak darahnya berpacu. tapi sampai waktu belum lama berselang ia tak kenal dengan sisi buruk kehidupan ini." "Anda membutuhkannya bukan untuk di sini. Sebagai anak manja dari keluarga kaya." kata Toji. sedang menggoda dan sekaligus menjilat tuannya. saya kira. ia memancarkan kemuliaan dan kelas yang memang pantas bagi anak keluarga kaya. Tentu saja ada alasan lain kenapa mereka suka pada Anda. berhasil dibujuk Toji untuk menginjakkan kaki di daerah itu. Namanya 'warna Yoshioka'. Tentunya dia memang ingin dikenali. tak pernah ia kekurangan uang. Tapi seperti kaukatakan. Seijuro memang memiliki tubuh yang bagus. Dengan dua sarung pedang bersemir mengilat yang tergantung di sisinya. tapi tidak menyembunyikan hiasannya. Warna itu populer sekali di sini." Seijuro menanggapi ajakan-ajakan menggoda ini dengan berusaha kelihatan lebih tinggi dan lebih mulia lagi." kata perempuan itu. dan ia masih malu dilihat orang di sana. "Aku tak suka orang melihat anak Yoshioka Kempo berkeliaran di tempat seperti ini. jangan malu-malu. tapi itu salah satu di antaranya. supaya dapat benar-benar melihatnya. tapi mereka tidak mengenakan hiasan tiga lingkaran pada kimononya. Ia menoleh dan memerintahkan salah seorang untuk mencari topi yang dimaksud. orang dari Perguruan Yoshioka suka memakai warna cokelat tua. "Mudah sekali. "Aku takkan minta kalau tidak membutuhkannya di sini!" decap Seijuro tak sabar. perempuan-perempuan itu semua melongok dari pintu. wah. salah seorang dari kelompoknya." "Bagaimana perempuan itu bisa tahu siapa aku?" geram Seijuro kepada Toji. netcafe." Toji tertawa. menyokong kesombongannya seperti racun yang manis. Maka tak ada topi jerami yang dapat menghentikan perempuanperempuan itu menegurnya ketika ia lewat. belikan aku topi anyaman.

" Dan satu sloki lagi terbang. hingga sukar bagi Seijuro untuk merasa senang. "Dan ini balasannya.. Ebook by Kang Zusi . kau juga mesti!" "Ya. terima kasih." "Siapa yang mengatakan itu. Kira-kira sejam kemudian. Katanya. Di situ diikatkannya celemek merah milik pelayan ke belakang kepalanya. Inc. "He. beberapa orang di antaranya sudah mulai muntah. dan perempuan-perempuan melanjutkannya dengan iringan shamisen. maju ke depan dan minum satu sloki sebagai hukuman!" "Susah-susah amat. "tapi suruh perempuan ini melepaskan lengan bajuku. tapi kalian takkan menemukan uban dalam rambutku. Di balik pagar bambu. seorang siswa mengangkat mangkuk sake yang besar untuk rekannya. Kulihat kimono berlengan panjang. Mereka minum seperti kuda di palungan. pagar bambu. Lemparkan ke sini!" Sloki sake pun melayang di udara. Gambar-gambar kampungan dan bunga-bungaan disusun morat-marit. pagar bambu. Tenggelam dalam tepuk tangan sesudah bait pertama. tapi tak bisa kau menghabiskan ini?" "Tentu saja bisa. Sesudah makanan datang. Tak tahulah apa yang terjadi esok." "Boleh. Ueda tua bilang. Lihat!" Ryohei pergi ke sudut beranda. "Semaumulah. Gadis yang kulihat kemarin Tak ada lagi hari ini. Ueda Ryohei yang menjadi tandingan Toji dalam permainan pedang berteriak. ditusukkannya kembang prem ke dalam simpulnya. sedangkan satu orang mendentang-dentangkan penjepit api ke pinggir anglo.. itu adil!" Pertandingan pun dimulai. "Memang aku lebih lama dari yang lain-lain belajar di perguruan ini.property of: CROSSFiRE. Tapi kalau aku minum. dan tunjukkan kau masih muda. "Hei." "Kau menyemirnya barangkali. "Kau menari. "Lihat! Dia mau menarikan tarian Perawan Hida! Mari kita dengarkan nyanyiannya juga. Ryohei! Menarilah. keluarkan perempuan!" kata yang lain-lain serentak menirukan suara Ryohei.. Gadis yang kulihat hari ini Takkan datang lagi esok hari." "Terima kasih? Katanya kau samurai. "Beliau bilang. sedang lainlainnya tak bisa bergerak lagi dan hanya melotot kosong dengan mata merah. Kamar yang mereka masuki itu. dan sake mengucur dart sudut-sudut mulut mereka. perempuan!" raung Toji. mengetuk-ngetuk piring secara berirama dengan sumpitnya. dan mulailah mereka. Toji!" Ia mengajak mereka semua menggabungkan diri. kami akan masuk!" Para siswa itu pun berkerumun masuk ke bawah tirai warung. "Aku tak suka disebut tua. memberengutkan muka. Toji pun membungkuk. yang juga memesan beberapa penganan pilihan." kata Seijuro yang tampak tak enak. siapa yang menari!" Seijuro berseru. "Keluarkan perempuan!" Perintah itu diberikan dengan nada yang sama masamnya dengan nada yang dipakai Toji untuk memesan makanan dan minuman. Kimono berlengan panjang di salju. Aku ingin mencumbunya hari ini Di sebuah sudut. "Keluarkan sake!" perintah Toji. "Bagaimana kalau minum ini sekali teguk?" "Tidak. dan diambilnya sapu. Namun yang lain-lain tidak memperhatikan joroknya lingkungan. hiasannya tanpa selera sama sekali. netcafe." kata Ryohei." "Lepaskan.

memisahkan yang berkelahi. sedang si pengecam. Satu orang yang punya kebiasaan bicara keras.. dan semakin lantang bicaranya kalau makin banyak minumnya. kita tidak boleh merasa kita ini satu-satunya pemain pedang di dunia. Ada perguruan lain di samping delapan yang ada di Kyoto ini. Toji berkata. "Apakah Anda tidak menikmati pesta ini?" "Ah. "Berhenti kalian!" Keduanya melompat. cegukan. provinsi-provinsi dalam. "Aku cuma mengemukakan pendapat untuk kebaikan perguruan ini. Itu sama sekali tidak benar. dan Ogasawara Genshinsai di Kitano. Percayalah. Si penghasut sekali lagi memuji-muji dirinya dan lain-lainnya. tidak hanya di Kyoto. "Kalau orang terus menyemburkan jilatan. Inilah cara mereka bergembira. Bicaranya tersendat-sendat." "Tentu." Beberapa sloki sake lagi dituangkan untuk mereka yang berkelahi. "Maju!" "Begini?" jawab si pengecam dengan tajam sambil bangkit. runtuh!" Hanya Seijuro yang tetap paling tenang." "Tapi siapa kau ini. "Dia mengumbar jilatan karena Tuan Muda ada di sini. Kyushu-di seluruh negeri ini. Hups!" Seorang anggota perguruan yang duduk dekat Seijuro tertawa. tapi kau mengecilkan Gaya Yoshioka Kempo?" "Aku tidak mengecilkannya! Sekarang ini tidak seperti dulu. Hitachi. kenapa pula mesti membohongi diri sendiri?" "Pengecut! Kau pura-pura jadi samurai." sedannya.property of: CROSSFiRE. sambil menangis memeluk Ryohei." "Bajingan picik kamu!" seru seorang yang merasa tersinggung harga dirinya. menengahi. Sekarang jauh lebih banyak orang yang mempraktekkan Jalan Pedang. di luar Tuan Muda. "Apakah di negeri ini. provinsiprovinsi barat. mempertahankan pendapatnya. tapi kau takut pada perguruan lain!" "Siapa yang takut? Aku cuma ingin kita menjaga diri dari rasa puas diri. Di Kyoto saja ada Perguruan Toda Seigen di Kurotani. walaupun tidak menerima siswa.. Inc. Apa mereka itu betul-betul menikmatinya? Rasanya tidak. "Kau ingin berkelahi?" geram orang yang jatuh." "Apa istimewanya mereka itu?" "Maksudku. "Ya. Dan jangan lupa Ito Ittosai di Shirakawa. nama baik Yoshioka Kempo akhirnya akan runtuh. Melihat ini. netcafe." Ebook by Kang Zusi . Ayo." Murid-murid senior. "Kau anggota perguruan ini. tapi juga di Edo. dan Perguruan Yoshioka ini tidak lagi yang terbesar. Gion Toji dan Ueda Ryohei.. ada yang benar-benar mengerti teknikteknik Delapan Gaya Kyoto? Kalau ada-hik-ingin aku ketemu dengannya. ketika guru mengajar para shogun dan dianggap pemain pedang terbesar. "Tenang!" "Kami semua mengerti perasaan kalian." "Aku tak percaya kalau kelakuan mereka seperti itu. dan akhirnya keadaan normal kembali. menyatakan. Ketenaran Yoshioka Kempo tidak berarti Tuan Muda dan kita semua ini pemain-pemain pedang terbesar masa kini. Echizen. dan mencoba meredakan kemarahan mereka. berani-berani memberi peringatan?" Murid yang tersinggung itu meninju dada lawannya hingga terjatuh.

" "Lihat. Angin mengembus lilin lentera itu. dan menggantungkannya kembali. Di sebelah selatan. "Tenang sekali di sini. Giring-giring kecil pada obi-nya berdering ketika ia berseru. tak jauh dari situ. hampir saja ia bertumbukan dengan Akemi yang sedang membawa baki berpernis emas. Ayo ambilkan lap. gundik-gundik. "Cukup?" tanya Toji. di seberang jembatan kecil di Jalan Sanjo." "Oh." Seijuro menghilang dengan lihainya." Ketika orang itu mendekat ternyata bukan Seijuro. "Saya heran. "Oko! Biar kugantungkan lampunya. Suatu peristiwa yang masih segar tersimpan dalam kenangan banyak orang. Tak seorang pun melihat. menganggapnya miring." "Saya buka pintu ke beranda. Di bawah beranda sempit itu berdesir air Sungai Takase. Oko heran. dan padang miskantus. dan melakukan selusin pekerjaan kecil lain yang tak terbayang akan mereka lakukan di rumah sendiri." "Anda pura-pura pergi ke belakang. Saya akan menyusul beberapa menit lagi." la gelisah sedikit. Terima kasih. Biar Ryohei mengurus orang-orang ini. Toji berpura-pura tidak mendengar. Di luar rumah. kenapa Oko lama betul. mengeluarkan bantal-bantal sendiri. Di sini pasukan Toyotomi Hideyoshi membantai istri. "Tunggu." "Mari kita pergi diam-diam. Ia berdiri mencari tahu. Untaian rambut dan cahaya lentera menimbulkan bayang-bayang yang terus berubah-ubah di kedua tangannya yang terulur. menghampar halaman luas Zuisenin. Dia malahan tidak membawakan kita teh. ya? Di mana Oko?" Ebook by Kang Zusi . tumpah sebagian." kata Oko kaget. Begitu duduk. tapi di sana cuma buang-buang uang saja kalau membawa gerombolan orang bebal ini." "Ha! Lancang kamu." kata Toji. bagus. Di mana saja perempuanperempuan sembunyi? Rupanya tak ada pelanggan lain malam ini. "Awas! Bisa tumpah teh ini!" "Kenapa kau begitu lambat? Tuan Muda di sini. tapi Toji. Inc. Kurasa kau suka dia. ia tidak dapat lagi duduk tenang. kenapa sebagian lelaki bisa begitu suka menolong dan penuh perhatian bila sedang mengunjungi tempat seperti mi." "Maksud Anda Yomogi?" "Ya. dan rambutnya yang baru dikeramas tergerai di sekitar wajahnya. Toji jadi gugup. netcafe. Waktu melangkah ke beranda. Sering kali mereka membuka dan menutup jendela sendiri. Tadinya saya kira Anda memang ingin pergi ke sana. Itu sebabnya saya giring mereka kemari-murah. dan ia menurunkannya untuk menyalakannya kembali. Semerbak kembang prem mengambang di angin petang. seorang perempuan sedang berdiri berjinjit. padahal di rumah sendiri mereka sama sekali menolak mengulurkan tangan." Ketika akhirnya ketidaksabaran itu berubah jadi kegelisahan. Ini salahmu. dan anak-anak kemenakannya.property of: CROSSFiRE. Seijuro berkata. Punggungnya tegak di bawah tepi atap. "Aku ingin pergi ke tempat kemarin malam. Tuan Muda." "Di sana memang jauh lebih baik. "Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih tenang? Saya sendiri sudah bosan di sini." Seijuro tampak sangat lega dan segera saja setuju. jajaran hitam Teramachi atau "Kota Kumpulan Kuil". "Masih terlalu sepi di sini. "Ya. dan mempersilakan tuannya masuk. mencoba menggantungkan kembali lentera ke pakunya." Tetapi Toji melirik lentera itu. kenapa teh tidak dihidangkan. Tempat ini berada dekat Kayahara. regent Hidetsugu yang kejam.

" Ia merasa jengah." Toji minggir. Karena tidak terbiasa." "Memang. "Berhias tentu saja." "Tapi aku yakin! Betul-betul yakin! Pertemuan yang menyenangkan. tapi semua orang masih juga merokok. "Rasanya tembakau baru-baru ini dilarang. dan katanya. Kukira dia sering datang kemari tanpa aku. Akemi. "Hmm. "Selamat malam. "Toji ke mana?" "Barangkali di kamar Ibu. aku akan merokok. ya!" katanya. Ketika Akemi berdiri. "Aku tak akan menyakitimu. kamu. Akemi mengikik." katanya. Betul?" Akemi tertawa. tetapi tindakan ini malah membuat Seijuro menjadi lebih berani. "Baik." Berusaha selugu mungkin.property of: CROSSFiRE. "Anda ingin merokok?" tanyanya sopan. kau dengan aku." "Saya betul-betul tidak tahu." "Siang? Siapa yang datang siang-siang?" "Itu bukan urusanmu." "Lepaskan!" protes Akemi. Dari baki itu Akemi menurunkan guci yang menyerupai pedupaan dan meletakkan di atasnya sebuah pipa yang bagian pengisap dan kepalanya terbuat dari keramik. tapi tidak menjawabnya. asalkan kau duduk lagi. "Tak usah lari. netcafe." Akemi mengambil sejumput tembakau dari sebuah kotak kecil dari kerang mutiara dan memasukkannya ke dalam pipa dengan jari-jarinya yang mungil dan molek. "Oh." "Baiklah." "Saya nyalakan apinya. Seijuro memegang pipa itu dengan kaku. Paling tidak. Kemudian diselipkannya pipa itu ke mulut Seijuro. Terima kasih atas kedatangan Anda. dia belum selesai?" "Ya." Seijuro berpura-pura acuh tak acuh." Ebook by Kang Zusi . dan Akemi masuk kamar menyalami tamunya. ia melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Akemi dan menariknya." "Rupanya dia suka Oko. Terima kasih atas yang semalam. pahit. begitulah kelihatannya. Seijuro meletakkan tangannya ke tangan Akemi yang terletak di pangkuan. Inc." "Jadi. memandang ke samping. Akemi menyingkirkan tangan itu dengan santun. siang hari kami sibuk sekali. "Apanya yang lucu? Kupikir ibumu suka dia juga. Biarkan aku lewat. ya? Dua pasangan bahagia-ibumu dengan Toji.

Tapi oh! Betapa kau memikatku! "Yah. gadis itu pun melontarkan senyuman. Seijuro jadi gundah. "Aku pulang sekarang. berlari lewat ruang depan. ia menggerutu keras. "Tuan Muda. Oko muncul begitu saja di belakangnya. dan katanya.. Semakin jauh ia melangkah. Melihat betapa kecewanya Seijuro. Tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Waktu itu tahun pertempuran di Sekigahara. "Akemi." Bahkan di malam yang tergelap pun Tak hilang jalanku. Ia berhenti menyanyi. sedang asyik ngobrol dengan Toji." "Dua puluh satu? Tak kukira sudah setua itu.property of: CROSSFiRE. ia mulai bermain dan menyanyi.. ketika saya umur enam betas. saya senang sekali. "Anda paham. Saya ingin tetap umur enam belas selamanya." Sambil cemberut sedikit. Ia kesepian. Menyembunyikan bulan Yang hanya terlihat lewat air mataku. Teruskanlah." "Ya. Ibu marah. "Sake. ayo minum sake samaEbook by Kang Zusi . mau ke mana? Tuan Muda belum mau pulang. Oko membawakan sake dan mencoba menggembirakan Seijuro. dan tanyanya. "Betul? Oh. "Saya tak bisa menceritakan pada siapa pun." Dengan pandangan mengancam. "Akemi." kata Toji. Dia begitu kecil. Saya cuma mau ambil sake. Tapi betul. Ia memeluk pinggang Tuan Muda." "Apa?" "Oh. dan katanya." kata Akemi patuh. tapi Akemi mengelak dan berteriak-teriak meminta tolong. Akemi berdiri dan pergi mengambil alat musiknya." "Aku tak mau sake. "Ibu! Ibu!" Seijuro melepaskannya. netcafe. "Tingkahnya seperti anak kecil saja. Toji?" "Aku tak yakin. Inc. Bu. "Tapi dia sudah dua puluh satu umurnya. dan Akemi lari ke belakang rumah. Sesuatu yang indah terjadi. Kelihatannya baru sekitar enam betas atau tujuh belas." Seijuro mencoba menggosokkan pipinya ke wajah Akemi yang tertunduk. kemudian Toji mendatangkan kembali Akemi ke kamar itu. tapi tak ingin memaksakan kehendaknya pada gadis itu." "Tapi kalau saya tidak ambil. bagaimanapun dia memang sudah dua puluh satu tahun." kata Oko. kan?" Entah dari mana datangnya. dan tampak rambut Oko sudah rapi dan riasannya sudah beres.. "Tuan lihat sendiri. "Tukang bual! Kau jangan bikin kami bosan di sini. Malam ini. dan bersama-sama mereka membujuk Seijuro untuk kembali duduk." katanya sambil menangkupkan tangannya ke dada. Ketika kembali. semakin merah tua mukanya." Akemi tiba-tiba jadi kembali hidup seperti ikan. Kalau berawan. Seijuro yang selama ini duduk diam sambil menyandarkan dahi di tangan kini tergugah lagi. Oko berkata." "Ibu di kamar lain. tuang sedikit sake untuk Tuan Muda. Oko minta pertolongan Toji. tapi kelihatannya ia lebih cenderung menghibur diri sendiri daripada menyenangkan hati para tamu." "Itulah daya tariknya-dia masih muda. Pergi sana ambil shamisen-mu." dan turun ke gang luar. Biarlah ia berawan." kata Toji sambil menggeser bantalnya ke dekat meja.

Toji mengambil kamar sebelahnya. katanya. Pokoknya jadi! Kami berdua akan menginap disini. pikirlah!" desak Toji. Seijuro sudah bangun dan sedang minum di kamar yang menghadap sungai. berapa bayarannya? "Nah?" desak Toji mendadak. tidur nyenyak. Toji!" "Bisa saja. ya. " Tak ada penerangan di kamar itu. menantikan Oko. dan selama setengah jam sesudah itu ia terus menandingi Seijuro. dengan bibir yang tidak pernah dicium dan mata yang memejam malu. Sambil semakin mendekati Oko. merebahkan diri di kasur jerami. Ayahnya punya murid yang jumlahnya lebih banyak daripada murid siapa pun di negeri ini. Seijuro kagum. bisiknya. anak itu dapat minum semalam suntuk tanpa mabuk. Akan susah jadinya kalau Akemi menolak. "Apa itu?" tanya Toji.. Gadis yang tampaknya berumur enam belas tahun. Sebaiknya biarkan dia main shamisen saja. Malam ini aku tidak pulang. Dan lagi. Oko menempelkan jarinya ke pipi yang berbedak tebal itu. "Ya. Dengan seenaknya Toji meletakkan tangan ke bahu Oko." "Tapi ini benar-benar menyenangkan!" kata Seijuro yang kini betul-betul merasa senang. Baik Oko maupun Akemi tampak cerah dan gembira. ini tawaran menarik. "Anda tak apa-apa? Tidak kebanyakan minum?" "Tak apa-apa. Rupanya karena tak puas dengan ukuran sloki itu. dan keluarganya punya banyak uang. di belakang. Tapi tentu saja perasaan seorang ibulah yang terpenting dalam hal-hal seperti itu-atau dengan kata lain. Seijuro menawarkan lagi pada Akemi. ternyata dapat mereguk sake seperti lelaki. Justru pada waktu itu terdengar suara keras di kamar sebelah. "Bukan pasangan yang jelek! Dia guru seni bela diri yang terkenal. Ke mana saja perginya sake itu dalam tubuh mungil itu? "Anda sebaiknya berhenti saja. dan mendapati Seijuro seorang diri. kemudian menuntun Oko ke kamar lain. Seijuro agak heran. "Nanti. kemudian meletakkan bibirnya yang basah ke telinga Toji. berpikir." "Nah. Inc. berarti ia ingin tidur dengan Akemi. Akhirnya pelupuk mata Toji menjadi berat dan berlayarlah ia ke alam mimpi.. dia belum kawin. Ia mengatakan pada Oko bahwa kalau Tuan Muda sudah demikian bersemangat. Karena merasa suaranya sudah terdengar aneh. "Ada langganan lain?" Oko mengangguk. Oko lama tidak juga muncul. Ebook by Kang Zusi . di mana ia mulai berbisik-bisik cepat. Mereka sedang membujuk Seijuro agar mau berjanji. netcafe. Toji bertanya. ia mengambil sloki lain yang lebih besar. wajahnya masam. "Anda dapat tinggal di sini selama Anda maubetul kan. "Bisa juga kau minum. Sudah siang ketika ia bangun esok harinya. Akemi mereguknya tanpa menolak-nolak lagi dan cepat menyerahkan kembali sloki itu pada Seijuro. tapi. katanya. "Entah kenapa." jawab Toji. ya?" Selesai meneguk bagiannya. Ia berbaring di sana sambil mengetukngetukkan jarinya ke tatami." kata Oko pada Seijuro." "Tak ada tapi-tapian." Ia mengulurkan sloki pada Akemi dan mengisinya dari tempat pemanasannya." Keduanya lalu mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke kamar Seijuro. yang diteguk lagi dengan cekatan. aku juga pikir begitu. sloki demi sloki. seolah-olah mereka telah lupa malam sebelumnya.property of: CROSSFiRE. sama. Dari segala segi. Akemi?" Toji mengedip pada Oko.

"Jadi. Banyak di antara mereka menggunakan nama pria. Siapkan beberapa kotak makan siang dan bawa juga sedikit sake. dan membalik pergi. Sudah lewat tengah hari. Ia tidak berusaha bangun. Saya tidak tahu di sini ada tamu." "Mereka sudah begitu gembira! Mereka akan marah besar kalau kita ingkar janji. pedangnya terletak sembarangan di atas perutnya. tidak tembus matahari dan berbau apak kain seprai. "Aku tidak betul-betul ingin membawa mereka itu melihat Kabuki. pakaian dan penampilannya tak bisa disangsikan lagi menunjukkan bahwa ia salah seorang ronin yang sering kelihatan bergelandangan di jalan-jalan. Masing-masing berusaha mencapai taraf kepribadian sendiri dengan menambahkan tari-tarian dan lagu-lagu daerah yang istimewa ke dalam repertoarnya. Alangkah herannya ia. mendecap mengecamnya. Di bawah jembatan kecil di Jalan Sanjo perempuan-perempuan sedang mengelantang kain di sungai. Kabuki adalah tarian jenis baru yang disertai kata-kata dan musik. Mari kita pulang. Inc. Kepopulerannya menyebabkan banyak orang lain meniru. "Oh. "tapi kenapa justru waktu kita sudah siap berangkat." Dari gang rumah. Toji menatap ke dalam kamar sempit yang gelap itu. lain sekali dengan kamar-kamar depan yang menyenangkan. "Ke mana pula mereka itu?" tanyanya tak habis pikir. "Apa kedua orang itu belum juga siap?" tanyanya kesal. "Maaf. kamar itu beralas tikar rombeng. Lebam karena minum dan lelah karena menanti. Diciptakan oleh seorang biarawati bernama Okuni di Kuil Izumo. memancarkan bau sake." "Aku bukan tamu!" pekik orang itu ke langit-langit. Toji. Apa kata para siswanya tentang ketidakhadirannya? Tidak sangsi lagi. "Tunggu!" kata orang itu dengan kasar sambil bangkit sedikit. terbaring saja di situ setengah sadar. "Toji. Di daerah ramai sepanjang sungai itu berdiri panggung berderet-deret. dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang menggetarkan sebagai prajurit yang gagah berani. Di kamar sebelah pun mereka tak ada. Saya akan menyuruh mereka buru-buru. maaf. dan juga tak ingin berurusan dengannya.property of: CROSSFiRE.. Denshichiro. Di sebelahnya lagi terdapat kamar kecil yang suram. seperti malam dengan siang bedanya. Toji berkata. tidak bersemangat seperti biasanya. Para aktris itu sebagian besar mulai sebagai wanita malam. sudah tak ingin lagi ia melihat Kabuki. Toji melayangkan pandang ke kamar tempat pakaian para wanita itu berserakan. tiba-tiba mereka mulai ribut soal apa rambutnya sudah benar atau obi-nya sudah lurus? Brengsek betul!" Pikiran Seijuro melayang ke perguruannya. Di sana kelompokkelompok pemain wanita berlomba-lomba memikat penonton. netcafe. Telapak kakinya yang kotor menghadap muka Toji. yang sedang digemari orang di ibu kota. pria-pria berkuda mondar-mandir di jembatan. Tuan akan ajak kami?" "Baiklah. karena kedua wanita itu tidak kelihatan. yang merasa jengkel karena pengalaman malam sebelumnya. pasti adiknya. Namun kini sesudah naik panggung. Seijuro duduk memandang ke luar pintu. Ia seakan mendengar bunyi pedang kayu dan detak gaganggagang lembing. "Memang menarik membawa perempuan ke luar." Mereka bicara tentang Kabuki Okuni yang sedang mengadakan pertunjukan di tepi sungai di Jalan Shijo." "Sesudah Tuan berjanji?" "Yaaa. Seorang samurai jorok tergeletak di lantai. "Tutup pintu!" Ebook by Kang Zusi ." gerutunya. Toji tidak tahu siapa orang itu.." katanya. disambut oleh raungan kemarahan." katanya cepat. mengganggu. kita pergi. Toji membuka pintu. "Siapa itu?" Melompat mundur. mereka biasa dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di rumahrumah orang paling kaya di ibu kota. mengenakan pakaian pria.

tutup itu. Matahachi tetap diam dengan muka cemberut. atau menjadi piaraan seorang janda jalang." Mulut Matahachi mencibir muak. "Kalau kau seorang suami. Cukup untuk kita bertiga. Tapi sekarang rasanya sama saja seperti ditangkap musuh. "Ini omongan apa? Apa maksudmu antara aku dan Toji ada apa-apa?" "Siapa bilang ada apa-apa?" "Kata-katamu itu yang bilang. bertanya. menyeret batu pun aku mau buat dinding puri. Dandanannya habis-habisan. Seakan-akan sedang mengomeli anak kecil." Matahachi tidak menjawab lagi. kapan saja!" Selagi Matahachi berusaha menahan air mata kemarahan." "Dan kalau kututup.property of: CROSSFiRE. Kita jangan buang-buang waktu untuk orang gila ini. jelas ingin kelihatan sebagai nyonya besar. kenapa tidak bertindak seperti suami? Siapa menurutmu yang memberimu makan. gelandangan tak berguna?" "Heh!" "Kau hampir tidak menghasilkan apa-apa sejak kita meninggalkan Provinsi Omi. Kaget oleh kekasaran itu. dalam kegelapan. dan selamanya kau akan jadi orang goblok. atau yang lain. marah apa lagi sekarang?" Akemi yang baru saja berdiri di belakang ibunya. "Tak mau ikut kami?" "Ke mana?" "Lihat Kabuki Okuni. minum sake dan malas-malasan. "Siapa yang kausebut orang gila? Apa maksudmu bicara begitu pada suamimu?" Oko melepaskan diri darinya." "Kalau ingin angkat batu atau potong kayu. Mengeluh apa lagi?" "Aku sudah bilang mau pergi dan kerja! Aku sudah bilang. ia masih juga menatap pintu. aku tidak minta kau tinggal terus di sini. biar dengan menyeret batu karang. Ketika Oko menyembunyikannya di rumahnya dekat Gunung Ibuki dulu itu. Lalu tidak kaubolehkan aku melakukan kerja yang jujur. Oko merasa wajahnya bagai disiram air dingin. "Nah. netcafe. mencekal kimono Oko. Kau cuma menggantungkan diri padaku. tak bisa memakai itu. Inc. tapi kalau begitu. Kau bebas pergi. tak bisa tinggal di rumah kecil yang kotor-tak ada yang kausukai. muncullah Oko. ia merasa beruntung telah menemukan orang yang akan mencintai dan mengurusnya. hidup sendiri saja! Susahnya. Toji pun melakukan apa yang diminta. Mana yang lebih baik? Menjadi tawanan. Matanya menyala marah. ya. dan pergi. kau dilahirkan sebagai orang goblok. "Katanya kamu lelaki!" Walaupun Oko melontarkan kata-kata itu dengan penuh kejijikan. kenapa tidak pergi saja? Sana. Oko dan Akemi berpaling meninggalkannya. Mestinya kau tetap tinggal di Mimasaka! Percayalah. Tapi itu tak cukup baik buatmu. Tapi lama sesudah mereka tidak kelihatan. Akemi. Nah. dan selalu menjadi Ebook by Kang Zusi . dan kau mulai membuka kedai minum yang busuk ini. "Tutup apa?" "Tutup kedai minummu. "Kenapa tidak?" katanya kejam. "Tapi kau membuatku muak!" desisnya." Matahachi mengulurkan tangan. "Kau selalu cemburu tanpa alasan! Ayo. Kaubilang tak bisa makan ini. ia berkata pada Matahachi. "Suami macam apa yang mau jalan bersama lelaki lain yang sedang mengejar-ngejar istrinya?" tanyanya pahit. mau makan apa besok?" "Aku bisa dapat cukup uang untuk hidup kita. Badannya pun mulai gemetar. dan tidak lagi menjadi lelaki sejati? Apakah lebih buruk merana di dalam penjara daripada menderita di sini. dan katanya. tutup itu!" pekiknya. jadilah buruh. Begitu Toji pergi.

Ia merasa pemandangan itu sangat menghinanya. karena itu ia sekali lagi menjatuhkan diri di tatami di kamar yang gelap itu sambil mengutuki dirinya. saya yakin tidak. aku sudah mendengarnya. Dia pikir dia sudah di tempat pertunjukan. aku pergi!" demikian kilahnya. Dan semua itu demi sundal tua itu! pikirnya. namun. Kalau dia datang nanti. kenapakah ia dulu tidak kembali ke Miyamoto? Kenapa ia tidak kembali kepada Otsu? Ibunya ada di Miyamoto. Ia pun muak dengan dirinya sendiri. netcafe. tak mau ia berangkat. sepertibiasa." "Coba dengar anak ini! Dia selalu seperti itu. Bagaimana ia dapat menahan diri? Istrinya menghabiskan malam-malamnya menghibur lelaki lain. Umurmu baru dua puluh dua." Langkah-langkah kaki dan suara-suara orang itu mengambang sampai Yomogi. oh.. Di luar. Kau masih muda. sasaran hinaan perempuan pemberang? Dulu ia pernah punya harapan besar pada masa depan." "Sudahlah. ya?" "Ah." Ia merasa tak bisa tinggal lebih lama lagi dalam rumah kosong dan lengang itu. Seperti dentangnya pada hari-hari lain.property of: CROSSFiRE. Bawakan topi Tuan Muda ini. Paman Gon juga. Lonceng di Shippoji tentunya berdentang hari ini. Kepalanya sakit karena bingung.. Kenapa." "Kenapa? Apa samurai dari Edo tak suka main?" "Mereka terlalu kurang ajar. Bunga-bunga berkembang di tepi sungai dan burung-burung erkicau menyambut datangnya musim semi. sedang di siang hari tak ada semangat untuk pergi. "Sundal!" Matahachi menggigil karena berang. "Buat apa duduk di sini menggemerutukkan gigi. tidak. Malam ia tak dapat tidur." "Tapi. Dengan mata masih merah karena marah... "Kelihatannya sudah seperti musim semi!" "Orang bilang shogun sebentar lagi akan datang ke ibu kota. Matahachi mencuri pandang dari jendela pada keempat orang yang bahagia itu." "Ibu. Tinggal diam di dalam kamar gelap ini. menjual kepada mereka pesona yang dahulu dicurahkan kepadanya. Baiklah. kalian berdua tentunya dapat uang banyak. bukankah itu musik Kabuki? Aku mendengar suara giring-giring. tapi entah kenapa. Saudara perempuannya juga. Ia sadar bahwa cara hidupnya beberapa tahun belakangan ini telah membuatnya kehilangan kemampuan berpikir dengan jelas. Mereka semua begitu baik padanya. Inc. Namun. namun telah dibiarkannya sundal berbedak dan bernafsu garang ini menurunkan derajatnya hingga sama tingkatannya dengan dia. "Apa kerjamu di sini? Apa tak ada lagi harga dirimu? Bagaimana mungkin kau membiarkan segalanya seperti itu? Idiot! Lakukanlah sesuatu!" Kata-kata itu ditujukan pada diri sendiri. iparnya juga. Juga suling. "Anjing betina busuk!" Air mata meluap langsung dari dasar hatinya. "Dia bilang pergi. "Sungguh tolol aku ini! Sungguh aku si tolol gila. disertai kedua tamu yang bermalam itu sudah berjalan sambil mengobrol dengan riangnya. tak ada yang dapat dilakukannya kecuali minum. Pergilah dan lakukan sesuatu sendiri. Ia harus menemukan jalannya yang telah hilang. Bu. Ebook by Kang Zusi . goblok!" Matahachi memukul-mukul kepalanya dengan tinjunya. Dan Sungai Aida menghilir menyusuri alurnya. ibu dan anak perempuannya. ia begitu marah pada kelemahannya sendiri yang seperti pengecut itu. Ia tahu bahwa jalan satusatunya untuk keluar dari hidup sekarat ini adalah meninggalkan segalanya dan kembali kepada aspirasi masa mudanya.

Ada daya tarik ajaib yang mengikatnya. dan apa saja yang terpikir olehnya. Sesudah lama berpisah. bibir merah cemerlang yang sama merangsangnya dengan bibir anaknya. bibirnya itu. menelantarkannya demikian rupa. tiada pegangan tempat bergayut. menonton tari-tarian Kabuki di samping Toji. Jenis pesona jahat apakah yang mengikatnya di sini? Apakah perempuan itu setan yang menyamar? Perempuan itu bisa memakinya. Ketika Oko pertama kali mendengar tentang gadis itu. Di luar Kyoto. tapi dalam semangat ia cabul dan pendengki. Bukan cahaya menyilaukan yang menahannya. "Tapi akan kulakukan!" janjinya. "Aku akan pergi sekarang!" Sesudah menjatuhkan pukulan kemarahan terakhir ke kepalanya. Ia pun membayangkan kulitnya yang putih dan wajahnya yang kenes merangsang." Ia langsung menuju kamar Oko.. yang telah berjanji akan menantikannya." Sebetulnya ia dapat menderap keluar lewat pintu depan. tapi karena kebiasaan. bersumpah bahwa ia cuma beban. ia selalu mengungkit soal itu dan mendesak agar Matahachi menulis surat untuk memutuskan pertunangannya. ia tersenyum kecil dan berpura-pura tidak acuh sama sekali. Namun ini belum cerita seluruhnya. Persoalannya adalah. berbeda sekali dengan Matahachi sederhana yang compang-camping. kini Oko sedang berada di lapangan pertunjukan di tepi sungai. Satu-satunya barang yang sungguh-sungguh miliknya dan tidak dapat ia tinggalkan adalah pedangnya. ia pun melompat bangkit. yang pernah ikut pertempuran di Sekigahara.. Ia telah menjadi malas dan lembek. Inc. aku seorang lelaki.property of: CROSSFiRE. suatu pikiran lain mendadak datang dan membuatnya bergegas sepeti anak anjing. maka cepat-cepat ia selipkan pedang itu dalam obi-nya. dan tak ada sesungguhnya yang mengikatnya di rumah ini. tapi tak ada uang sama sekali. peti laci. gagang cermin. "Semuanya gara-gara perempuan ini. "Biar bagaimana. malas dan penggerutu. ia sorongkan kaki ke sandalnya yang kotor dan keluar lewat pintu dapur. dan di sekitar kimononya yang celupan Momoyama. dan pekiknya." katanya pada diri sendiri. Bau Oko mengambang seperti kabut tebal di sekitar pakaian dalamnya yang terbuat dari sutra merah. padahal sebetulnya ia sangat cemburu. apabila mereka bertengkar. Dengan kecewa Matahachi menjatuhkan diri ke atas pakaian yang masih tersebar di lantai. segalanya menjadi jelas baginya. Kemudian. sekalipun perempuan itu sudah hampir empat puluh tahun. Selagi terombang-ambing oleh situasi. "Aku butuh uang. netcafe. Dan ketika akhirnya Ebook by Kang Zusi . ia berkata dengan penuh kepastian. pulang kembali melalui pintu dapur. Yang paling parah adalah bahwa hidupnya yang aneh dengan perempuan yang lebih tua itu telah merampas kebeliaannya. Tapi ia sudah putus dengan Otsu. Lagi pula." pikirnya sedih. hingga mustahil baginya untuk menemui gadis itu lagi. "Aku pasti akan butuh uang. Kemudian. di sekitar obi Nishijinnya. tapi kemudian di tengah malam ia akan meleleh seperti madu dan mengatakan bahwa semua itu cuma gurauan dan ia sama sekali tidak bermaksud demikian. tanpa diduga-duga. Tentu saja seharusnya ia sudah dapat mengira-ngira bahwa Oko bukanlah jenis perempuan yang tidak bakal mengambil tindakan berjaga-jaga terhadap hal-hal seperti ini. ke mana ia pergi? Pada saat itulah terasa oleh Matahachi betapa dunia ini bagai lautan luas yang bergejolak. "Aku akan pergi dari sini hari ini juga!" Ia mendengar sendiri suaranya tertahan karena menyadari bahwa tak ada orang lain yang akan menahannya pergi. digeledahnya kotak-kotak kosmetik. Sambil menggigit bibir. oh. melambaikan pedang bagai seorang jenderal yang menang perang. Ia obrak-abrik tempat itu. Terbayang olehnya. "Sundal iblis!" teriaknya. mestinya ia tidak memberitahukan apa-apa tentang Otsu kepada Oko. Ia berdiri tak bergerak-gerak dalam angin musim semi yang menyegarkan. Ia sudah di luar rumah! Tapi mau apa sekarang? Kedua kaki itu berhenti. ketika sudah terlambat. timbul padanya kenangan pedih akan Otsu. Pikiran-pikiran pahit dan kejam bangkit langsung dari isi perutnya. Sekarang. Pada dasarnya Matahachi tak punya nyali untuk dilihat Oko dan Akemi bekerja sebagai buruh harian. Sejauh ini belum ada masalah. pemuda berpakaian sutra yang dari rasa saja dapat membedakan sake Nada dari bikinan setempat. menyuruhnya enyah. Dalam umur ia masih muda. penga-lamannya hanya meliputi kehidupan di kampung dan satu pertempuran. barulah ia dapat memahami kemurnian dan bakti gadis ini. Dengan senang hati ia akan bersedia berlutut dan mengangkat tangan memohon di hadapannya jika kiranya gadis itu man memaafkannya.

Murid-murid yang biasanya bersemangat kini duduk berkeliling dalam keputusasaan yang mengenaskan. Sekali lagi terbayang olehnya pegunungan dan sungai di Mimasaka. Ini menyangkut nama baik Keluarga Yoshioka. Inc. "Lalu apa pikir Otsu tentang diriku?" rintih Matahachi dengan sedih. tak seorang pun dari kami dapat mengunggulinya.. Senyap bagai kuburan. Tak pernah sebelumnya pusat seni bela diri yang bernama besar ini menderita penghinaan yang begitu tandas. "Mereka tentunya di sini! Saya tahu." Dokter mendeham dan pergi. "Saya tahu Seijuro tak ada di sini. Suasana itu hanya dipecahkan oleh derit gerbang depan yang sesekali berbunyi." Ini diucapkan oleh seorang lelaki yang sudah setengah sore itu bersandar putus asa pada tiang pintu masuk. untuk. Tak seorang pun beranjak pergi. sanak keluarganya. dikeluarkannya semua pakaian Oko dari peti-peti pakaian. dan pelupuk mereka melelehkan air mata pedih. kemudian serpihanserpihan dan sobekan-sobekan itu dihamburkannya di seluruh rumah. sedangkan sebagian kecil di kamar samping. Perlahan-lahan kemudian sadarlah ia bahwa ada orang memanggil dari pintu depan. "Tak akan bisa lagi aku pulang!" pikirnya. Ebook by Kang Zusi . "Saya dari Perguruan Yoshioka. Sebagian besar dari mereka ada di kamar depan yang berlantai kayu. biasanya mereka sudah berangkat pulang atau pergi minum. dan yah. Lidah-lidah berdecap putus asa. netcafe." "Pergi sana! Jangan ganggu aku!" "Tapi apa tak bisa setidak-tidaknya Anda menyampaikan berita ini pada mereka? Tolonglah katakan bahwa seorang pemain pedang bernama Miyamoto Musashi sudah datang di perguruan. memang tidak pantas mengganggu mereka selagi sedang mencari kesenangan. Mereka semua begitu baik.property of: CROSSFiRE.. Dia menunggu Tuan Muda kembali dan menolak pergi sebelum mendapat kesempatan menghadapinya. Apakah Tuan Muda dan Toji ada di sini?" "Bagaimana aku tahu?" jawab Matahachi pedas. dan tanpa perasaan sama sekali menyampaikan surat resmi itu melalui seorang pesuruh yang tidak dikenal. Hari sudah senja. "Diakah itu?" "Apa Tuan Muda sudah kembali?" "Belum. "Aku sudah membuang semua itu untuk. "Maafkan.. Dokter keluar dari kamar belakang dan berkata kepada orang yang bersandar di pintu masuk. Tolonglah sampaikan pada mereka supaya lekas-lekas pulang!" "Miyamoto? Miyamoto?" Roda Keberuntungan HARI itu adalah hari aib yang tak terlupakan bagi Perguruan Yoshioka. perempuan itu secara tak tahu malu melampirkan satu surat dengan tulisannya sendiri yang jelas bergaya perempuan. Dan setiap kali pula orang-orang itu lebih dalam lagi terbenam dalam rawa kemuraman. Barangkali sebentar lagi kembali. Matahachi menyetujui dan melakukannya. wajah mereka murung dan buku-buku jari mereka yang putih mencerminkan penderitaan dan frustrasi." kata suara itu. dirobek-robeknya. Bayangan wajah Otsu yang masih polos itu tergambar di depan matanyawajah yang penuh gugatan. Tapi apa Anda tidak tahu di mana dia?" "Sedang dicari." Kembali dilanda kemarahan. Di depan perguruan itu.. lilin altar pemujaan Hachiman dikitari lingkaran sinar yang melantunkan bencana. Tanah di sana pun kini agaknya hangat dan menyenangkan. Ingin ia memanggil ibunya. tapi ada satu kejadian yang sangat penting.

salah seorang pesuruh datang ke dojo untuk melaporkan bahwa seorang yang menamakan dirinya Musashi berdiri di pintu. Tetapi sebenarnya sekolah yang menduduki taraf puncak di bidang seni pedang itu tinggal namanya saja. ahli hakikat Delapan Gaya Kyoto. Para siswa datang ke sekolah itu karena di bawah pimpinan Kempo. akhirnya ia menemukan cara baru memainkan pedang pendek. Sesudah mempelajari cara menggunakan tombak-kapak dari salah seorang prajurit-pendeta yang cakap di Kurama dan kemudian mendalami Delapan Seni Pedang Gaya Kyoto. Sepanjang tahun sebelum itu. Gaya Yoshioka telah menjadi demikian termasyhur. dengan siswa yang jumlahnya lebih besar daripada perguruan mana pun di Kyoto. datang dari Miyamoto di Mimasaka. Pesuruh mengakui bahwa semua itu merupakan jawaban yang jujur dan tidak dibuat-buat. seorang pencelup kain. Pesuruh dengan senang hati menirukannya untuk para pendengarnya. sedang yang lain-lain mengatakan mereka harus melihat dulu. ia hanya sendirian tinggal di pegunungan. Keluarga Yoshioka tidak lagi memperoleh tunjangan resmi. tapi itulah tujuannya. Tapi ketika orang-orang mendengar bahwa pengganggu bulukan itu datang ke gerbang besar untuk menantang Yoshioka Seijuro yang termasyhur itu bertanding. salah seorang dari para samurai yang banyak jumlahnya waktu itu. Beberapa orang berpendapat lebih baik mengusirnya saja tanpa banyak ribut. tapi mengakui bahwa mungkin juga ia keliru. Dunia dl luar dinding perguruan yang putih besar ini telah berubah lebih dari yang disadari oleh kebanyakan orang di dalamnya. dan akan berusaha meniru Yoshioka Kempo yang agung dengan menciptakan gayanya sendiri. tidak dapat ia menyebutkan suatu aliran khusus atau nama seorang guru. dan guru pertama. ini barangkali berarti ia seorang shugyosha. kesan umum yang didapat pesuruh itu adalah bahwa orang yang namanya Musashi itu jelas janggal hadir di Perguruan Yoshioka tersebut. keluarga itu sedikit demi sedikit telah berhasil memupuk kekayaan besar. Seijuro biasa dipanggil "Tuan Muda". ia pun menciptakan gaya yang sepenuhnya orisinal. Sesudah runtuhnya ke-shogun-an Ashikaga tiga dasawarsa sebelum itu. dan untuk itulah ia berhasrat bekerja dengan sepenuh hati dan jiwanya. Selain itu ia memiliki bangunan besar di Jalan Shijo. Kyoto waktu itu adalah kota terbesar di negeri ini. Kempo memulai hidup hanya sebagai pedagang. Kalau orang itu hanya minta makan. Inc. umur dua puluh satu atau dua puluh dua. pesuruh menjawab bahwa orang itu seorang ronin. Tak seorang pun akan membantah bahwa pendiri. Kempo adalah seorang ahli besar. netcafe. melulu berguru pada pepohonan dan keheningan gunung. setelah bertanding dengan seorang pemain pedang pedesaan yang tak dikenal. tetapi orang itu beraksen kampung dan hampir tiap kata ia ucapkan dengan menggagap. dan menurut pendapat beberapa orang itulah sebab dari kelemahan mereka. Hari ini mata mereka terbuka oleh kekalahan yang memalukan. sedangkan pakaiannya begitu kotor. tapi sebenarnya ia belum benar-benar mencapai taraf keterampilan yang dapat memikat banyak pengikut. hingga susah ditentukan hitam atau cokelatkah warnanya. Memang ia memiliki banyak kekurangan. kira-kira 1. mohon diizinkan masuk. Teknik pedang pendeknya kemudian dipergunakan oleh shogun-shogun Ashikaga yang mendatangkannya sebagai guru resmi. tetapi pada masa hidup Kempo yang hemat. sembilan belas. Rambutnya yang tidak disisir setidak-tidaknya satu tahun diikat sembarangan saja dengan kain gombal yang kemerah-merahan. menerima latihan sekeras ayahnya. Tamu itu menyandang kantong kulit beranyam yang biasa disebut orang tas belajar prajurit. adalah orang yang jauh lebih besar daripada Seijuro atau adik lelakinya. dan "karena alasan-alasan pribadi" ia pun menenggelamkan diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan pada umur delapan belas. Pesuruh merasa mencium bau orang itu. Seijuro dan Denshichiro. Tapi di masa depan ia berharap akan mempelajari ajaran-ajaran Kiichi Hogen. tetapi dari tak henti-henti mengulang irama dan gerak pencelupan anti luntur. dan kelihatannya agak bodoh. hingga bisa masuk sekolah itu saja sudah berarti diakui oleh masyarakat sebagai prajurit terampil. Yoshioka Kempo. dan kemudian memungut pelajaran dari prajurit mana saja yang lewat di kampungnya. poloskah atau berpola kembang.property of: CROSSFiRE. yang sama merasa geli seperti yang lain-lain. Sekalipun kedua anaknya. Meninggalkan rumah ketika berumur tujuh belas.83 meter tingginya. yang kerjanya mengembara dan menghabiskan waktu di luar tidurnya untuk mempelajari seni pedang. gaya apa yang dipakainya dan siapa nama gurunya. Menjelang tengah hari. yang menurut keputusannya akan dinamakannya Gaya Miyamoto. dan hanya bermainmain. Bertahun-tahun mereka telah menepuk dada. dan waktu pun melangkahi mereka. tidak masalah. mereka telah mewarisi kekayaan yang besar dan kemasyhuran ayahnya. Ebook by Kang Zusi . Oleh karena itu. Pesuruh. bermalas-malasan. mereka pun terbahak-bahak. pergi dan kembali lagi dengan kabar bahwa tamu itu sewaktu masih kanak-kanak belajar menggunakan pentung dari ayahnya. Ketika ditanya macam apa orang itu. Namun demikian. orang yang kearifannya setara dengan keterampilannya. dan dua puluh. dan mereka pun sekali lagi terpingkal-pingkal.

Ketika yang lain-lain campur tangan pula dan mencoba memisahkan serta menenangkan kedua orang itu. membawa serta kehormatan Perguruan Yoshioka. satu suara berat karena beban sakit terdengar sedikit mengungguli suara percekcokan itu. kemudian melemparkannya ke luar. "Lantas mau apa? Tuan Muda ingin bersenang-senang sedikit. Namun pada pertandingan pertama saja juara perguruanlah yang keluar sebagai pihak yang kalah. Terserah kepadanya untuk mengembalikan kehormatan perguruan. dan kami pergi ke Kabuki. atas permintaannya sendiri ia dipersilakan masuk ke sebuah kamar untuk menunggu. "Kau yang mesti menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seorang samurai yang berlutut dengan wajah tercekam di camping bantal salah seorang kawannya yang mati melontarkan pandangan penuh tuduhan kepada Toji. "Apa arti semua ini?" Nada bicaranya gusar seperti biasa. Satu demi satu yang lain-lain pun menerima tantangan orang asing itu. Untuk memberikan sedikit ajaran kepada orang sombong itu. Sesudah kekalahan kesekian kali." "Cukup!" teriak Toji sambil menyerang orang itu. Kau yang membawa Tuan Muda minum-minum. kali ini dengan pertanyaan apakah tamu itu sudah menunjuk orang untuk mengambil mayatnya sesudah pertandingan nanti. tak ada hari lewat tanpa dia ada di dojo". "Kalau kebetulan saya terbunuh. Menyatakan tujuannya menciptakan gaya sendiri benar-benar gila. Tangannya putus. Beberapa orang luka parah. Para siswa memberikan jalan bagi Seijuro dan Toji. Ronin itu tidak boleh meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. para siswa menyangka mereka akan berhasil menyayat pendatang baru itu sedikit. Orang itu tentunya sudah sinting. para siswa menyuruh pesuruh keluar lagi. Musashi memberikan jawaban. Nab. Tak lama sesudah dokter pergi. tapi ia menyatakan. Musashi sendirilah yang mengakhiri pertumpahan darah itu." "Jaga lidahmu. tidak mengandung kekakuan seperti jawabanjawaban sebelumnya.property of: CROSSFiRE. "Apa yang terjadi di sini?" tanya Toji. "Suruh dia masuk!" Itulah awal mulanya. "Tak ada gunanya melanjutkan ini sebelum Seijuro kembali. atau kupotong nanti. tak ada rasa kuatir padanya tentang jatuhnya korban. akhirnya satu orang berkata. Langkah-langkah kaki bergegas melintas dojo dan masuk ke kamar mati. Baru pada waktu itulah satu orang tersadar dan memanggil dokter. seakan-akan baru saja keluar dari air terjun yang dingin. saya berjanji tak akan menuntut balas. kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh." dan ia menolak untuk bertempur lagi. tak ada bedanya. kalaupun mereka semua harus terbunuh. Karena tak ada pilihan lain. Baik untuk yang pertama maupun yang kedua. apakah Anda membuang tubuh saya ke Gunung Toribe atau melemparkannya ke Sungai Kamo bersama sampah. tak akan mereka membiarkan orang gila biadab ini pergi dalam keadaan hidup. wajah mereka kelabu dan napas mereka tidak tetap. dan pedang kayo Musashi bergelimang darah. Apa maksudmu bicara demikian di depannya? Kaupikir siapa kau ini?" "Apa untuk melihat Kabuki saja dia mesti tinggal di luar sepanjang malam? Bisa-bisa Tuan Kempo bangkit dari kuburnya. "Kalau Tuan Muda sudah kembali. para siswa berubah jadi ingin membunuh. Mereka mengerumuni kedua samurai itu dengan sikap tak percaya bercampur takjub. Sesudah ragu-ragu sebentar." "Ketika Tuan Kempo masih hidup." Ebook by Kang Zusi . suara-suara yang memekikkan nama dua orang yang terluka menyebabkan selusin orang masuk kamar belakang. caranya menjawab kali ini sangat jelas. sudah waktunya menghentikan percekcokan. dan satu demi satu pula mereka kalah secara memalukan. netcafe. Kedua orang itu tewas. Keduanya pucat. Hanya sedikit kulit yang masih menghubungkan pergelangan dengan tangan. dan katanya." Menurut pesuruh. Sejak tantangannya diterima. Inc.

Sayang sekali. lalu menyergapnya?" "Tenanglah. dan bersiap-siap menerima salam dari Musashi. Inc. tetapi Toji dan Ryohei menyuruh mereka menanti. yaitu kehormatan perguruan. para anggota keluarga dan beberapa orang lain menggabungkan diri. Bagaimana kalau sampai kedengaran orang bahwa Perguruan Yoshioka takut pada seorang prajurit tak dikenal. "Panggil dia!" perintah Seijuro. Pagi itu ia sudah meninggalkan rumah dengan teman-temannya ke Ise. Itu tindakan yang terlampau riskan. "Mengakali dia?" Toji mencoba meredakan dengan gerakan mata. kehormatan pribadi mereka sendiri. Meski berlangsung seru. Dipilihnya salah satu pedang kayu yang disodorkan para muridnya. "Kami sudah mencapai kesimpulan. Mulutnya kering karena tegang. sebagian besar dari mereka berkumpul di sekitar Seijuro. dan bahkan tidak merasa perlu berpesan kapan akan pulang. Tak lama kemudian. dan dipegangnya tegak di samping. Sekalipun tidak terpelajar. Dua orang sudah tewas dan beberapa orang terluka. mereka benarbenar saling berlomba mencari jalan untuk mati lebih dulu dalam mempertahankannya. tidak banyak yang perlu dikuatirkan. baik oleh kaum petani maupun orang-orang kota. hingga tak ada waktu untuk menyusun sistem administrasi yang memadai bagi suatu negeri yang damai. Maka Toji pun mengungguli suaranya. waktu itu juga dan di tempat itu juga. maka ia pun menjadi orang yang berwatak sangat santai. Konsultasi diam-diam itu berpusat pada Toji dan murid-murid senior lain perguruan itu. Ketika mereka sadar kembali sesudah menderita guncangan kekalahan itu. jauh dari pendengaran Seijuro. dan katanya keras. melainkan juga menyadari benar kekurangan Seijuro sebagai seorang pejuang." Ebook by Kang Zusi . begitu banyak yang hadir di situ. "Serahkan pada kami. dan ini besar artinya dalam menjamin ketenteraman. "Aku tak setuju dengan tindakan seperti itu! Itu pengecut. Pendapat umum mengenai mana tindakan terhormat dan mana yang tidak telah memungkinkan rakyat mengatur diri sendiri. ia yang seharusnya berada dalam keadaan prima. Seijuro tampak semakin berang. tapi Seijuro terus juga membangkang." Toji memohon. orang-orang dari Perguruan Yoshioka sama sekali bukan orang-orang rendah yang tak kenal malu. Pada umumnya ada anggapan bahwa ia lebih cocok untuk melanjutkan kerja ayahnya. Kalau Seijuro pun menderita kekalahan. Pemerintah sampai hari-hari terakhir terlampau sibuk dengan perang." Mendengar laporan yang disampaikan dengan bisikan itu. walaupun tidak diucapkan. justru loyo. krisis yang mengancam perguruan akan berat luar biasa. bahkan Kyoto pun hanya diatur dengan seperangkat peraturan yang longgar dan bersifat tambal sulam. Beberapa di antara yang luka menjerit dan memukul-mukul lantai. hal pertama yang terpikir oleh mereka adalah kehormatan. Kebanyakan orang itu berpendapat. kebetulan hari itu Seijuro sedang kehilangan semangat juangnya. tapi Seijuro tidak dapat diredakan. Ia pun duduk di tempat guru. Menyusullah bisik-bisik lama. Tindakan itu merupakan celaan yang seterang-terangnya terhadap mereka yang belum menghadapi pedang Musashi. Toji mendekati Seijuro. Kami yang akan mengurus. hingga kerumunan itu terpecah dalam kelompokkelompok. Pada saat itu. sampai akhirnya ia pun tersengal-sengal dan hampir tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. "Dia di kamar kecil di samping kamar terima tamu. perdebatan dapat diselesaikan dalam waktu cukup singkat. netcafe. Toh pentingnya kehormatan pribadi bagi golongan prajurit itu tetap dihargai. sekalipun hanya dengan undangundang yang tidak memadai. memperbincangkan apa yang harus diperbuat. dan mereka pun menyimpulkan bahwa tidak bijaksana membiarkannya menghadapi Musashi satu lawan satu. sebuah mimbar kecil. yang terpenting di dunia ini adalah kehormatan. lemah." kata seorang murid sambil menunjuk ke seberang kebun. Sebagai golongan. bahwa jika waktu itu Denshichiro hadir. Bagi samurai zaman itu. dan menyembunyikan diri. dan kehabisan tenaga. Tiga-empat orang menerima perintah dan mulai meninggalkan tempat. "Di mana orang itu?" tanyanya seraya mengikatkan lengan kimononya dengan tali kulit. kehormatan guru. Sebagian besar tidak hanya memprihatinkan nasib perguruan.property of: CROSSFiRE. dan katanya. Dengan menyingkirkan permusuhan perseorangan. tapi karena ia anak kedua dan tidak mempunyai tanggung jawab serius.

bukan? Hanya satu yang penting. "Mm. jumlah orang yang berada di dalam ruangan sudah berkurang lebih dari setengahnya. "Mestinya begitu. ketika seseorang membawakan lampu. netcafe. Akhirnya Toji yang licik dan persis berada di luar kamar Musashi. Itulah satu-satunya cahaya yang ada di sekitar tempat itu. Sekalipun dalam batas-batas tertentu ia puas karena tidak harus bertempur melawan orang asing itu. mereka menghilang ke kebun. Setiap orang yang mencoba hidup sebagai prajurit pasti mengetahuinya. diam-diam saling menanyakan. seperti kucing. terlepas dari lekuknya akibat hantaman itu. Banyak juga mata lain mengintip ke arah yang sama. Mungkinkah dia sekadar duduk diam di kamar itu? Pengepungan kami cukup hati-hati. Ia pun melonggarkan pedang dalam sarungnya dan menaikkan lengan kimononya. barangkali dia sudah tertidur. namun ia sama sekali tidak merasa senang. anglo masih menyala dengan baik. ia telah memperoleh latihan sebagai seorang samurai. Tapi dalam beberapa detik saja seseorang menyerukan serang. orang-orang yang seharusnya menyerbu ke dalam kamar secara tak sengaja mundur selangkah. "Tuan Muda. Memang sudah lama juga dia menanti. yaitu tidak membiarkan dia pergi dalam keadaan hidup. tidak. Kedudukan Anda terlalu tinggi untuk menghadapi gelandangan kurang ajar seperti itu. Diam-diam. dan secara hampir tidak kelihatan menghilang ke kegelapan. Para penyerang meletakkan pedangnya di tanah di hadapan mereka. dengan mengambil langkah itu. membiarkan lampu menyala untuk membuat orang-orang ini kehilangan kewaspadaan dan tinggal menanti serangan pertama. dia sudah mati sekarang. Namun Seijuro tak juga bisa menerima. Yoshioka Seijuro. Musashi masih duduk di sana sejenak sebelum itu. "Cuma kami tak percaya Anda dapat memperoleh kehormatan dengan mengalahkan dia. bantalan yang tadi didudukinya masih di sana. "Dia tak ada!" "Kamar kosong!" Suara-suara yang mencerminkan pulihnya keberanian pun terdengar menggerutu menyatakan tak percaya. Mendengar bunyi itu. kita tak dapat menangguhkannya lagi. akan kalah dengan si Musashi atau siapa pun namanya itu?" "Oh." kata Toji tegas. siapa yang pertama-tama akan maju menyerbu dan mempertaruhkan nyawanya. "Di pihak lain. dan semua pintu lain dalam kamar itu pun gemerantang terbuka." Belum selesai mereka beradu pendapat. Agaknya itulah yang terjadi. Menurut pengertiannya. Apa pun kekurangan Toji." kata Toji berbohong. menahan napas dan mendengarkan baik-baik setiap bunyi yang dapat mengungkapkan kepada mereka sedang apakah Musashi. kemudian menerjang ke arah pintu. sama sekali tidak begitu. tapi dia tentunya merasa bahwa orang banyak sedang mendesaknya sekarang. Tapi Musashi tak ada! Ebook by Kang Zusi . Betul begitu!" Orang-orang itu menanti dengan gelisah. Lewat pintu-pintu kamar Musashi yang tertutup kertas ia dapat melihat cahaya lampu yang berkelap-kelip lembut. berseru. lalu memadamkan lampu. Mereka pun bertukar pandang. Lagi pula. Karena tak dapat duduk tenang. "Musashi! Maaf membiarkanmu lama menunggu! Boleh aku bertemu sebentar?" Karena tak ada jawaban. tidak ada alasan kenapa orang di luar rumah ini mesti tahu soal itu. Rumah itu semakin dingin dan senyap seperti dasar sumur. Sambil bersumpah tak akan membiarkan Musashi meloloskan diri. "Apa menurutmu aku. Toji pun memberikan isyarat ke kanan dan ke kiri. dan masih ada cangkir teh yang belum disentuh. Kemungkinan dia sedang berdiri di sana dalam keadaan siap tempur. "Dia sama sekali tak dikenal di ibu kota. Bagian bawah pintu bergeser sekitar dua kaki ke dalam kamar. tapi dia seorang pendekar hebat. karena orang yang menjadi sasaran nafsu membunuh mereka juga sama inginnya membantai mereka. berarti para muridnya menilai rendah kemampuannya. Inc. dia sudah membuktikan dirinya cerdik. Mati-matian sekarang ia mencoba membayang-bayangkan apa yang mungkin diperbuat Musashi. Ia pun terkenang bagaimana ia telah mengabaikan latihan sejak meninggalnya ayahnya.property of: CROSSFiRE. Toji menyimpulkan bahwa Musashi memang sudah siap menanti serangan. Seijuro tetap duduk. kalau tidak. dan ini membuatnya sangat sedih. Seijuro pun bangkit dan berdiri dekat jendela. ke arah pintu belakang dan ke kamar-kamar dalam. Lampu masih menyala.

Baru saja mereka berduyun-duyun keluar dari gerbang depan. "Itu dia!" Dekat gerbang belakang. dan katanya heran. "Pengecut!" "Mau lari. belakang. dan samping. Orang yang terkepung itu memperoleh kembali kekuatannya dan membalik menghadapi para penangkapnya. Apa kerjanya di dekat-dekat gerbang ini? Memata-matai?" Tapi Toji sudah mulai bergerak." "Belum lama lampu itu tadi dirapikan. "Apa dia pemilik Yornogi?" "Tidak. Paling tidak. Tepat waktu itu satu orang yang selama itu celingukan di kamar kecil berseru. dan orang-orang itu pun berdiri. Dalam sekejap ketiga orang yang menjambak tengkuknya terjerembap ke tanah. "Ini orang yang kalian kejar?" "Ya. kau benar! Bukan Musashi!" Selagi mereka berdiri di sana dengan kebingungan. seperti angin?" satu orang bertanya dengan nada mencemooh. satu orang memekik. menyeberang jalan. Tak ada jalan baginya untuk pergi tanpa terlihat. Rupanya dia cuma semacam benalu. bawah beranda dan dari tempat-tempat gelap di kebun para murid dan pesuruh pun berkumpul. Ia memang pergi ke kamar kecil kurang dari sejam sebelum itu. Satu orang berlari ke beranda. Pedang orang itu sudah mau ditebaskan kepada mereka. ketika orang keempat datang berlari dan berseru. Toji sampai di tempat kejadian. "Uh. Sekarang kita berpencar saja dan jalan. satu sosok melejit keluar dari bayangan." Matahachi menurunkan pedangnya. Kau kenal dia?" "Baru tadi siang aku melihatnya di Warung Teh Yomogi. pasti dalam hatinya ia seorang pengecut! Jalan pikiran ini mengobarkan kembali semangat para pengejarnya yang beberapa lama sebelumnya sudah sangat kehilangan semangat. "Tunggu! Salah! Ini bukan orang yang kita kejar. Tak mungkin dia sudah pergi jauh!" "Kejar dia!" Kalau Musashi memang melarikan diri.property of: CROSSFiRE. kita bisa tahu di mana dia tinggal. "Sudah kalian tangkap?" tanyanya. nyonya rumah mengatakan padaku bukan. mengentakkan kaki dengan marah dan memaki-maki orang yang menjaga kamar yang kecil itu. dan masuk lorong gelap di sisi lain. Ebook by Kang Zusi . dan mereka pun berangkat. juga lolongan menantang. Dua-tiga orang murid berhasil mengejarnya antara Kuyado dan puing-puing kebakaran Honnoji. tapi segera kembali ke kamarnya lagi. "Dari sini dia pergi! Lihat. Sosok itu berlari seperti kelinci. Namun para penjaga tetap menyatakan bahwa Musashi tak mungkin pergi. Inc. orang lain-bukan orang yang bikin ribut itu. ya?" "Sesudah tindakanmu hari ini?" Terdengar bunyi tonjokan dan tendangan keras. netcafe. papan-papan lantai ini sudah lepas. Dari. "Kalau kita menghabiskan waktu dengan dial kita akan kehilangan Musashi. "Apa maksudmu dia tidak kelihatan." Toji memperhatikan tangkapan itu dengan lebih saksama. melenceng ke satu sisi ketika hampir mencapai dinding di ujung lorong. memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi sudah pergi." "Kelihatannya memang mencurigakan." Terdengar suara-suara mengiakan. Matahachi tenang-tenang merapikan rambutnya yang kusut clan meratakan kimononya." Sementara mereka memandangnya dengan diam dan curiga. "Hei.

ia pun merasa melihat wajah Takezo di hadapannya. Matahachi lalu berjalan pelan-pelan di samping parit gelap itu. Sekejap kemudian menyusul pula istrinya yang bertelanjang kaki. netcafe. "Pasti dialah itu!" demikian kesimpulannya. kau bisa mendapat kesulitan besar hari-hari ini. Ketika orang terakhir lewat.. Aku cukup punya harga diri dan takkan membiarkan dia memandang rendah kepadaku." Maka disurukkannya tangannya ke dalam obi. Perempuan itu akhirnya berhasil mengejar suaminya. orang itu pun lari. Di bawah sinar matahari siang yang panas. Aku cuma heran. dan mulailah ia menendang-nendang sebuah batu dengan jari sandalnya. Orang itu berhenti. dan tanyanya. menangkap gelung rambutnya. Menghadapi parit Honnoji. dan tidak jauh dari situ seekor anjing menggonggong. dan sekali-sekali berhenti untuk memandang bintang-bintang. Matahachi mendekatinya. lalu datang lagi merangkak seperti cacing!" Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak menangis." "Nah. "Berapa umur orang yang namanya Musashi itu?" "Mana aku tahu?" "Apa kira-kira seumurku?" "Kira-kira begitu. yang agaknya seorang pekerja tangan. lain kali apa tidak lebih baik kau jauh-jauh saja dari tempat-tempat yang bukan tempatmu? Kalau tidak." Berhadapan dan Mundur SEPANJANG jalan setapak berbatu yang menuju Kuil Kiyomizudera berdiri sederetan rumah kumuh dengan atap papan yang tersusun seperti gigi rusak.property of: CROSSFiRE. ia pun berseru kepadanya. Boleh jadi dia lain sekali dengan dahulu. Sebuah piring melayang keluar dari pintu salah satu gubuk bobrok itu dan pecah berantakan di jalan. kemungkinan mereka akan membunuhnya. demikian tuanya hingga lumut sudah menumbuhi tepi-tepi atapnya. Tapi kalau gerombolan Yoshioka itu berhasil mengejarnya. "Ini bukan waktu yang tepat. menyusul terhuyung ke luar. Matahachi berdiri diam dengan kepala menunduk." gumamnya. "Kau pergi meninggalkan istri dan anak kelaparan. Ya. Tiap kali menendang. Inc. orang udik?" jeritnya serak. dan Ebook by Kang Zusi ." "Apa dia dari Desa Miyamoto di Provinsi Mimasaka?" "Ya. rambutnya awut-awutan dan payudaranya tergantung-gantung seperti tetek sapi. ingin aku memperingatkannya. Seorang lelaki umur sekitar lima puluh tahun. "Dia tentunya sudah mengubah namanya menjadi Musashi dan menjadi pemain pedang. "Ada apa?" tanyanya." "Kukira 'Musashi' itu cara lain untuk membaca dua huruf yang bisa dipakai menuliskan 'Takezo'. "Apa kaubilang. jalan itu semerbak oleh bau ikan asin yang dibakar di atas arang. "Aku akan malu kepadanya kalau dia melihatku dalam keadaan seperti ini. sementara orang-orang itu lewat berlarian. tidak. Di mana dia berada kira-kira? Paling tidak. kan?" "Kenapa kau menanyakan sernua itu? Apa dia temanmu?" "Ah.. Ia rupanya tidak mempunyai tujuan khusus." Sesudah menyampaikan peringatan itu..

orang sinting tua?" Para tetangga bergegas datang dan mencoba melerai.property of: CROSSFiRE." "Terima kasih. Sejak kecil ia menyukai pekerjaan tangan. hanya kekecewaan yang diperolehnya di setiap perguruan itu.. Musashi tersenyum ironis dan membalikkan badan menuju toko barang tembikar. Inc. bahkan kemampuan melakukan tugas yang sederhana dengan baik. orang itu adalah pemikul joli. paling tidak ia akan dapat membuat mangkuk teh sederhana. Memikirkan keterampilan. Di sebuah sudut toko itu. karena dalam tiga minggu terakhir itu ia telah mengunjungi pusat-pusat latihan terkenal lain di Kyoto disamping Perguruan Yoshioka. Baik dalam hal yang pertama maupun kedua. Hari-hari itu sering kali ia merasa amat kagum pada kerja orang lain. Musashi melihatnya memasuki rumah yang nampaknya warung teh." demikian kagumnya. Dalam hati ia merasa sangat hormat kepada orang-orang tua bergelimang tanah liat yang sedang bekerja pada rodanya itu. Musashi pun sadar bahwa ia terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. dan kesetiaan yang dicurahkan untuk membuat barang-barang semurah itu. Musashi pun merasa jalannya sendiri masih panjang. Tetapi sekarang. Dari balik jenggotnya ia berkata. jika ia ingat bagaimana ia mencapai taraf kesempurnaan dalam seni pedang yang diinginkannya itu. Musashi sebetulnya ingin mencoba bekerja dengan tanah liat itu. konsentrasi. dan tongkat yang dibawanya. menurut pendapatnya. Konsentrasi mereka sungguh bulat. apakah mereka selalu dapat makan cukup. Bukankah kota itu ibu kota kekaisaran dan dahulu menjadi pusat ke-shogun-an Ashikaga. apa nama Tuan Miyamoto?" "Ya. Sewaktu melewati daerah itu tadi. "Ternyata diperlukan banyak teknik untuk membuat barang sederhana itu saja. berarti negeri itu berada dalam keadaan memprihatinkan. terdengar suara memanggilnya dari bawah. mengamati para pembuat tembikar dengan kegairahan kanak-kanaknya. Melihat pakaian katunnya yang berlapis. cukup sopan untuk orang yang kedudukannya serendah itu. sloki sake. kalau para samurai yang dijumpainya itu memang gambaran dari samurai masa kini. ia pun sampai kepada pemikiran untuk merasa bangga akan keahliannya. netcafe. tuan yang di sana! Ronin!' "Maksud Anda. dan mulailah ia mendaki lereng terjal Kiyomizudera. clan kendi. Pikiran itu sungguh pikiran yang menyadarkan. berderet-deret piring. mereka seakan-akan sudah menyatu dengan tanah liat itu." Orang itu pun membalik dan turun ke Bukit Chawan. ingat akan bahaya puas diri. Sesuatu yang bertentangan sekali dengan kesungguh-an para tukang tembikar pada pekerjaan mereka adalah hina-dinanya pondok papan mereka. ia Ebook by Kang Zusi . terutama jika itu adalah keterampilan yang tidak dikuasainya. Ia merasa menghargai teknik. "Hei. tak dapat ia menetapkan apakah itu disebabkan ia yang bagus atau lawanlawannya yang jelek. dan sempat bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia tidak terlampau kritis terhadap diri sendiri semenjak dikurung di Himeji dulu. kakinya yang telanjang. Namun justru pada waktu itu salah seorang tukang tembikar yang umurnya hampir enam puluh tahun mulai membuat mangkuk teh. Barangbarang itu dijual untuk tanda mata dengan harga dua puluh atau tiga puluh sen saja kepada orang-orang yang pergi atau datang dari kuil. Beberapa waktu sebelum pecahnya pertengkaran keluarga itu. "Tuan. Melihat betapa cekatan orang itu menggerakkan jari-jarinya clan memainkan kape-nya. ia sudah berdiri di luar. Belum lagi jauh. Keinginannya semula adalah melihat Kyoto sebagai tempat penuh orang yang telah menguasai seni bela diri. Terpikir oleh Musashi. saya?" tanya Musashi sambil menoleh. ia pun merasa bersalah dan patut dihukum. Dua lelaki yang ada di dalam tidak menyadari kehadirannya. Karena mata mereka terpaku kepada pekerjaan.. Sekalipun selalu memenangkan pertandingan. Tergugah oleh keberhasilannya. mulai memukulinya. "Sekarang mau pergi ke mana kamu. seni. dan sudah lama menjadi tempat berkumpulnya jenderal-jenderal ternama dan prajurit-prajurit legendaris? Namun selama berada di sana. belum pernah ia menemukan satu pun pusat latihan yang mengajarkan kepadanya sesuatu yang benar-benar pantas diberi ucapan terima kasih. Hidup ini agaknya tidak semudah kelihatannya. di sebuah meja panjang darurat yang terbuat dari papan pintu tua. Sebaliknya.

"Itu dia di sana!" Musashi memandang ke bawah." pikirnya. Musashi pun sadar sekali lagi. Ketika ia menoleh. Pemikul joli tadi pun mempunyai impiannya sendiri. Aku mau menempuhnya. karena aku lahir sebagai manusia. Jadikanlah dia pemain pedang terbesar di negeri ini. Ia memiliki pedang. Tetapi jelas. Merenungkan perjuangan panjang yang harus ditempuh Tokugawa Ieyasu dalam mengubah keinginan itu menjadi kenyataan. Sementara ia duduk tenggelam dalam pemikiran itu. Sukar memastikan kebenaran cerita itu. Impian yang dimilikinya lain jenisnya. Dengan bergandengan tangan dan mengacung-acungkan tongkat. Ia merasa gelisah dan bertanya-tanya dalam hati apakah ia sebaiknya menakut-nakuti mereka dengan teriakan perang. tidak lagi ada keperluan akan perang-perang berdarah. Ia pun bangkit. tak ada gunanya ribut dengan gerombolan Ebook by Kang Zusi . tapi ia mengira. Tetapi tak lama kemudian ia melihat jalannya tercegat. Bagi Musashi. Musashi yang kini berada di depan tangga Hongando memang sedang menengadah memperhatikan tanda peringatan yang sudah dimakan cuaca. la menudingkan tongkat bambunya kepada Musashi. "Aku ingin menempuh hidup yang berarti. Di Kyoto yang terhampar di bawah sana kehidupan tidak lagi soal untung-untungan." Sesaat ia singkirkan gagasan-gagasan itu dari pikirannya dan mencoba meninjau keadaan dirinya secara objektif. tetapi zaman tidak lagi membutuhkan orang-orang dengan bakat seperti mereka. Dari situ ia dapat memandang seluruh kota Kyoto. tapi masih dapat aku memimpikan dunia yang harus kutaklukkan sendiri. atau biarlah dia mati. bergejolaklah ambisi yang sederhana namun kuat dalam dadanya yang masih muda. tapi Musashi ingat. kalau menang perang. betapa susahnya berpegang teguh pada cita-cita.property of: CROSSFiRE." Ia pernah membaca bahwa pada abad sepuluh. memang melihat satu rombongan besar kuli dan pemikul joli sedang berdiri di sana-sini di bawah sinar matahari. tentang visi mereka untuk mempersatukan Jepang dan tentang banyak pertempuran yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan itu. ia kembali mendaki. mereka akan membagi Jepang di antara mereka berdua. Ia pun berdiri dulu di sana sebentar. Sementara ia duduk merangkul lutut. dua pemberontak bernama Taira no Masakado dan Fujiwara no Sumitomo yang sama-sama ambisius telah bergabung dan bersepakat. Namun sekarang ia merasa hal itu tidak lagi menggelikan. Kiranya bagus juga menjadi seorang Hideyoshi atau Ieyasu. siapa pun yang telah menyuruh itu pasti akan segera datang menemuinya. sambil mencoba mengabaikan mereka. ia berjalan terus mendaki bukit. Inc. Kalau orang muda tidak dapat menggantungkan cita-cita besar dalam jiwanya. yang penting sejak sekarang dan untuk seterusnya adalah pedangnya dan masyarakat sekitarnya. Sekarang rakyat hanya menginginkan perdamaian yang telah begitu lama mereka rindukan. wajah pemikul joli muncul kembali di bawah tebing karang. Doa pertama: "Lindungilah kakak perempuanku dari bahaya. Seorang dari mereka menyeringai memperlihatkan giginya dan memberitahukan kepada yang lain-lain bahwa Musashi rupanya "sedang memperhatikan tanda peringatan atau entah apa". netcafe. Mereka mulai mendaki bukit menuju ke arahnya. tapi karena tak seorang pun muncul." Sampai di tepi tebing karang ia jatuhkan topi anyaman yang dipakainya ke tanah dan duduk. sejumlah besar orang telah mengepungnya dari jauh. dan jalan Pedang adalah jalan yang telah dipilihnya. Tak seorang pun dapat menghentikanku melakukan itu. Di sepanjang jalan itu ia berhenti menjenguk kuil-kuil terkenal. yang tergantung pada blandar pintu masuk kuil. "Ini zaman baru. Memang terlambat aku menempuh jalan yang dilalui Nobunaga atau Hideyoshi. Tak dapat ia memperkirakan. juga seni pedang yang dikuasainya dalam hubungan kehadirannya sebagai manusia. tampak olehnya orang-orang di belakangnya itu berhenti." Yang kedua: "Ujilah Musashi yang hina ini dengan kesulitan. dan di tiap kuil ia membungkukkan badan dan mengucapkan dua doa. Pada saat memperoleh pemahaman mendalam itu. waktu itu ia berpendapat alangkah bodoh dan tidak realistis sekiranya mereka percaya bisa melaksanakan rencana gila-gilaan semacam itu. Ieyasu sudah mengatur segala hal. Ia berpikir tentang Oda Nobunaga dan Toyotomi Hideyoshi. siapa yang kini telah menyuruh salah seorang dari mereka itu untuk menanyakan namanya. jalan menuju kebesaran itu kini tidak lagi terletak dalam memenangkan perang. tapi ada beberapa persamaan. ia pun puas karena telah menemukan hubungan antara seni bela diri dan visinya mengenai kebesaran. ke arah kuli-kuli yang sedang bergerak ke sana kemari sambil berteriakteriak. siapa lagi yang dapat? Saat itu Musashi pun membayangkan bagaimana ia dapat menciptakan tempatnya sendiri di dunia ini. "Sisa hidupku masih ada di hadapanku. Walaupun ia tahu dapat membereskan mereka dengan cepat. clan serunya.

Paman Gon menangkupkan kedua tangannya dan berbuat demikian pula. peziarah. Pemandangan itu ternyata agak terlampau melodramatis. "Pastikan dulu apa Anda sudah betul-betul siap. Salah seorang kuli pikul menjawab. Lagi pula." salah seorang kuli pikul mengingatkan." kata yang lain. orang sinting! Jauh-jauh perempuan tua ini datang dari Mimasaka untuk mencari manusia sampah yang melarikan istri anaknya. perempuan tua ini mestinya dapat hidup senang di rumah. Kesan Musashi adalah mereka sedang saling merangsang semangat. Paman Gon membasahi gagang pedangnya dengan ludah." Ebook by Kang Zusi . Dan punggung pengusungnya Osugi melambaikan tangan dengan gerakan cepat. lambat atau cepat mereka akan bubar. Ia pun berdiri saja di sana dengan sabar. netcafe. Sesudah minum seteguk besar. tapi tak mungkin dia belajar banyak. "Ini dia datang!" salah seorang kuli berteriak." nasihat yang lain. Osugi menyerahkan gayung itu kepada Paman Gon dan berkata tegas kepadanya. "Kali ini kita takkan membiarkannya lepas. Sementara para pekerja memberikan dorongan dan dukungan bagi Osugi. Seketika itu juga salah seorang kuli memutar badan dan katanya menantang. kan?" Pakaian dan sepatu kedua orang itu mengesankan seolah-olah mereka hendak menghabiskan sisa hidupnya dalam perjalanan. tapi tidak. dan tukang jualan menajamkan mata untuk melihat apa yang sedang terjadi." dan menuding bangga ke arah kuil. dan kedua orang itu pun menerobos lingkaran manusia tersebut." "Tentulah sekitar permusuhan keluarga!" "Lihat tuh! Dia memarahi lelaki tua itu. "Pada umur seperti itu. lalu mulai menggerak-gerakkan bibir." Seorang kuli berlari datang membawa segayung air untuk Osugi. pekerja kasar itu. ia mengeluarka tasbihnya dan memejamkan mata. mengapa mereka mencoba menghadapi orang yang begitu jauh lebih muda. mereka membentuk kelompok-kelompok di luar lingkaran kuli-kuli yang mengepung Musashi. dan akhirnya hari ini orang itu muncul. bermain dengan cucu-cucunya. "Apa perempuan tua ini betul-betul mau menantang duel ronin itu?" "Kelihatannya begitu. dan salah seorang penonton mulai tertawa terkekeh.property of: CROSSFiRE. dan sekarang para pendeta. "Itu di sana. Suara itu makin lama makin dekat. "Mana dia?" seru Osugi. Inc. Mereka pun mulai bicara antara sesamanya dengan suara tertahan-tahan. Takezo itu cuma manusia jerami. "Tenang saja. Tenang saja kamu!" Untuk memelopori. dan katanya. ia pun langsung menuju tangga depan Hongando dan duduk di tangga. "Orangnya tampak tangguh." Si pengusung melipat kakinya dan Osugi pun melompat sigap ke tanah sambil mengucapkan terima kasih. ia berkata. barangkali ada kekeliruan." kata kuli yang lain. Dari arah Bukit Sannen kedengaran nyanyian berirama pengatur langkah oleh orang-orang yang membawa beban. Melulu karena itu saja patutlah dia kita hormati. Ada memang nenek-nenek tua yang betul-betul gagah berani. sambil membaca dan membaca sekali lagi kata-kata pada tanda peringatan itu: "Kaul sejati". "Sekarang jaga jangan sampai kau bingung." "Orang-orang samurai ini lain dengan kita. Saban hari selalu dia berdoa di kuil ini selama hampir dua bulan. Diilhami oleh semangat keagamaannya. Tanpa memperhatikan Musashi atau orang banyak yang memandangnya. para penonton merasa cemas. Bisa saja dia belajar sedikit cara memakai pedang. sebab tak ada yang perlu dibingungkan. sampai akhirnya dua orang memasuki pekarangan kuil dengan menggendong seorang perempuan tua dan seorang samurai desa yang tampak agak lelah. "Siapa menganggap ini lucu? Ini bukan bahan tertawaan. Sembari menoleh kepada Paman Gon. Pekarangan dalam gerbang barat kuil itu dengan segera penuh orang." "Tapi dia sudah begitu tua! Malah pengiringnya juga sudah goyah kakinya! Mestinya ada alasan kuat. "Di sini saja. Kalau demikian. dia malah di sini menggantikan anaknya menuntut balas atas penghinaan terhadap keluarganya. Penuh rasa ingin tahu. tak sampai sepuluh langkah dari Musashi.

"Apa maksudmu. atau kau berhasil lagi tetap hidup!" Dengan suaranya yang sudah layu. juga bantuan kalian!" Sambil menarik pedang pendeknya setengah jalan dari sarungnya. Seluruh perkara itu tidak lebih dari soal kecil Miyamoto." Ebook by Kang Zusi . "Takezo!" katanya lagi. kalian yang mengirim mayat kami kembali ke Miyamoto. sebelum pedang dihunus. ha. "Minggir kau!" Osugi menoleh kepadanya dengan marah. tapi ia sangat tersinggung oleh pembicaraan para kuli yang tersebar di tengah orang banyak itu. jadi kenapa kamu tidak menjawab? Kudengar kau sudah mengambil nama baru yang bagus-Miyamoto Musashi. dan kami selalu mencarimu selama ini. Beberapa penonton mulai mendorong kuli-kuli itu maju. "Takezo!" seru Osugi keras. hanya karena kau mengubah nama? Bodoh sekali! Dewa-dewa di langit sudah memimpinku menemukanmu. Betul-betul tak tahu ia bagaimana akan menjawab. "Bersikaplah jantan! Beri kesempatan perempuan ini membunuhmu!" cemooh yang lain. mari kita hadapi sendiri ronin itu. Sebetulnya ingin ia mengabaikan saja perempuan itu sama sekali. ia pun bergerak beberapa langkah mendekati Musashi. Ayo sekarang berkelahi! Akan kita lihat. Paman Gon pun mengeluarkan tantangannya sendiri. sukarlah baginya mengekang kekesalan terhadap rasa benci yang disimpan keluarga Hon'iden terhadapnya selama ini. Kalau kami berdua nanti terbunuh. Menurutku. Lagi pula. dan aku tahu dewa-dewa pasti berbuat begitu." "Kau benar! Tapi mari kita lakukan sekarang saja! Tak dapat kita berdiri saja di sini dan membiarkan dia terbunuh. kita mesti membantunya sedapat-dapatnya. kemudian memandang para pemikul dan mendecap merah. "Sudah empat tahun kau selalu meloloskan diri. sambil meletakkan tangan kirinya ke pedang pendek di pinggangnya. Tak gentar oleh hal itu. apa kubawa kepalamu pulang. Memang aku sudah tua. Bagaimana kita mesti menjawab tantangan seorang perempuan tua yang sudah reyot dan seorang samurai yang sudah kisut wajahnya? Musashi tetap diam memandang.property of: CROSSFiRE. Membantu pihak yang lemah itu benar! Kalau nanti dia kalah. "Takezo itu selamanya namamu di kampung. "Lihat bajingan itu! Dia takut!" seorang kuli berseru. netcafe. "Diam kalian! Kalian cuma saksi. tapi tak bakal aku kalah dengan orang macam kamu! Siap-siap saja kau mati!" Sambil menarik pedangnya ia pun berteriak kepada Osugi. jika saja Matahachi ada. Dan nenek moyang orang Hon'iden juga beserta kita! Tak ada yang perlu ditakutkan. Paman Gon. suatu salah paham yang dapat dengan mudah dijelaskan. pikirannya serba ragu. orang sinting tua? Kau sendiri yang menggigil!" "Tidak apa! Bodisatwa kuil ini akan melindungi kita!" "Betul. Bahkan ketika Osugi memanggil namanya pun ia berbuat seolah-olah tidak mendengarnya. Perempuan itu mengedipkan mata dan menggelengkan kepala. ha!" Leher keriput itu menggetar selagi ia tertawa. Di luar itu aku tak butuh omongan kalian. "Kita bukan membantu dia karena dia memberi kita uang. Agaknya ia mau membunuh Musashi dengan kata-kata. Inc. betul? Tapi bagiku tetap saja kamu Takezo! Ha." Ketika orang banyak mengetahui sebab-sebab Osugi berada di situ. Selama itu Musashi hanya berdiri tak bergerak. Sekali lagi Musahi tidak menjawab. Namun demikian. "Apa kaukira dapat mencegahku mencari jejakmu. Orang ketiga mengatakan. kegairahan pun meningkat. clan sambil mendongakkan kepala ke depan ia pun meneriakkan tantangan. Dia punya semangat. Sekarang doa kami di Kiyomizudera sudah memasukkanmu dalam genggaman kami. sungguh! Sudah tua. sekarang ini. Tak satu orang pun tidak berada di pihak Osugi. Ia ingat peringatan Takuan di Himeji bahwa ia kemungkinan akan bertemu dengan Osugi. Osugi memasukkan tasbih ke dalam kimononya dan keheningan pun mencekam pekarangan kuil. Paman Gon yang berdiri di samping Osugi memilih saat itu untuk mengambil sikap menyerang. ia sungguh bingung mengenai apa yang hendak diperbuat di sini. tapi tidak takut berkelahi. Ia tak dapat menjawab.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Takezo! Maju dan ayo berkelahi!" "Apa yang kau tunggu?" Musashi tidak beranjak. Ia berdiri saja seperti orang bisu-tuli, memandang dua orang tua itu dan pedang mereka yang sudah terhunus. Osugi berteriak, "Ada apa, Takezo! Kau takut?" Ia pun maju dengan badan dimiringkan dan siap menyerang, tapi tiba-tiba ia terantuk batu dan jatuh ke depan, mendarat tengkurap hampir di kaki Musashi. Orang banyak terkesiap, dan seseorang menjerit, "Bisa terbunuh dia!" "Cepat selamatkan dia!" Tetapi Paman Gon hanya menatap muka Musashi, terlalu takjub, hingga tak dapat bergerak. Kemudian perempuan tua itu mengejutkan semua orang, karena ia mencekal lagi pedangnya dan berjalan kembali ke sisi Paman Gon, lalu kembali mengambil sikap menantang. "Kenapa kamu, orang udik?" teriak Osugi. "Apa pedang di tanganmu itu cuma hiasan? Apa tak tahu kamu menggunakannya?" Wajah Musashi seperti topeng, tapi akhirnya ia pun berkata dengan suara mengguntur, "Aku tak dapat melakukannya." Mulailah ia berjalan ke arah mereka, dan Paman Gon dan Osugi pun seketika undur ke sisi masing-masing. "Ke-ke mana kamu pergi, Takezo?" "Tak bisa aku menggunakan pedangku." "Berhenti! Kenapa tidak berhenti dan berkelahi?" "Sudah kukatakan! Tak bisa aku!" Ia berjalan terus ke depan, tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia langsung melintasi orang banyak, tanpa sekali pun membelok. Begitu tersadar kembali, Osugi pun berteriak, "Dia lari! Jangan biarkan dia lolos!" Orang banyak pun sekarang bergerak mengepung Musashi, tapi ketika mereka kira telah mengimpitnya, ternyata ia tidak lagi di sana. Bukan main bingungnya mereka. Mata mereka menyala keheranan, tapi kemudian jadi tertegun. Mereka pun memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan terus juga hilir-mudik sampai matahari tenggelam, mencari dengan kalutnya di bawah lantai-lantai bangunan kuil dan di tengah hutan untuk menemukan mangsa mereka yang telah lenyap itu. Kemudian, ketika orang pulang lewat lereng bukit-bukit Sannen dan Chawan yang gelap, seseorang bersumpah telah melihat Musashi melompat, ringan bagai kucing ke atas dinding setinggi hampir dua meter di gerbang barat dan menghilang. Tak seorang pun percaya, terutama Osugi dan Paman Gon.

Peri Air
DI sebuah dusun sebelah barat laut Kyoto, dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Hujan salah musim menembus atap lalang. Tempat itu semacam tanah tak bertuan yang terletak antara kota dan daerah pertanian. Kemiskinannya demikian sarat, hingga waktu senja asap api dapur hanya mengepul dari beberapa rumah saja.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sebuah topi anyaman tergantung di bawah tepian atap sebuah rumah kecil. Rumah itu bertuliskan hurufhuruf tebal dan kasar, menyatakan rumah itu sebuah penginapan, walau dari jenis yang termurah. Musafir yang berhenti di situ hanya orang-orang melarat yang cuma menyewa lantai. Untuk sewa kasur jerami, mereka harus bayar lagi. Hanya sedikit yang dapat membeli kemewahan itu. Di dapur yang kotor lantainya, di samping pintu masuk, seorang anak lelaki melongok dengan tangan bertumpu pada tatami kamar sebelah yang lebih tinggi letaknya. Di tengah kamar itu terdapat perapian yang hampir man. "Halo!... Selamat malam!... Ada orang di sini?" Ia anak suruhan toko minuman, sebuah tempat kotor lain di jalan itu. Melihat orangnya, suara anak itu terlalu keras kedengarannya. Umurnya. tak lebih dari sepuluh atau sebelas tahun. Rambutnya yang basah oleh hujan dan menjurai menutupi telinga membuat ia tampak tak lebih besar dari peri air dalam lukisan khayal. Pakaiannya pun sesuai untuk peran itu: kimono yang hanya sampai paha dengan lengan berbentuk tabung, dan seutas tali besar pengganti obi. Lumpur yang memercik tidak mengotori punggung ketika ia berlari dengan bakiaknya. "Kamu itu, Jo?" seru pak tua pemilik penginapan dari kamar belakang. "Ya. Bapak mau menyuruh saya ambil sake?" "Tidak hari ini. Tamuku belum kembali. Aku belum butuh." "Kalau dia kembali, tentunya dia perlu sake. Akan saya bawakan nanti, sejumlah biasanya." "Kalau dia kembali, nanti aku ambil sendiri." Enggan pergi tanpa membawa pesanan, anak itu pun bertanya, "Apa yang Bapak kerjakan?" "Aku lagi nulis surat; akan kukirimkan lewat kuda beban ke Kurama besok. Tapi ini sedikit sukar. Dan punggungku pun sakit. Diamlah, jangan ganggu aku." "Oh, lucu juga. Bapak sudah begitu tua, sampai sudah mulai bungkuk, tapi masih belum bisa menulis!" "Cukup! Kalau sampai kudengar kamu lancang lagi, kuambilkan pentung kayu api." "Mau saya tuliskan?" "Sok bisa kamu!" "Bisa," ucap anak itu sambil masuk kamar. la memandang surat itu dari atas bahu orang tua itu, dan pecahlah tawanya. "Bapak mau nulis 'kentang', ya? Huruf yang Bapak tulis itu artinya 'tongkat'." "Diam!" "Saya akan diam, kalau Bapak suruh. Tapi tulisan Bapak itu salah. Bapak mau mengirim kentang atau tongkat kepada teman-teman Bapak?" "Kentang." Anak itu pun membaca sedikit lebih lama, kemudian katanya, "Ah, ini kurang baik. Tak ada yang dapat menduga maksud surat ini, kecuali Bapak sendiri." "Nah, kalau kamu memang pintar, coba kamu yang tulis." "Baik. Sekarang katakan apa yang mau Bapak tuliskan." Jotaro duduk dan mengambil kuas. "Keledai kikuk kamu!" ucap orang tua itu. "Kenapa Bapak sebut saya kikuk? Bapak sendiri yang tak bisa menulis!" "Hidungmu menetesi kertas." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Oh, maaf. Tapi Bapak boleh berikan ini pada saya untuk bayarannya." Ia membuang ingusnya dengan kertas yang sudah kotor itu. "Sekarang, apa yang mau Bapak katakan?" Dengan pegangan kuas yang mantap, anak itu menulis dengan lancarnya apa-apa yang didiktekan orang tua itu. Baru saja surat itu selesai ditulis, tamu pulang, dan begitu saja melemparkan karung arang yang baru diambilnya di suatu tempat dan tadi dibawa di atas kepalanya. Musashi berhenti di pintu dan memeras air dari lengan bajunya, dan gerutunya, "Kukira inilah akhir musim bunga prem." Lebih dari dua puluh hari Musashi berada di situ. Penginapan itu telah terasa seperti rumahnya. Ia memandang ke luar, ke arah pohon di dekat gerbang depan. Bunga-bunga mesh muda menyambutnya tiap pagi semenjak ia datang. Daun bunga jatuh berserakan di lumpur. Ketika masuk dapur, ia heran melihat anak toko sake itu duduk akrab dengan pemilik penginapan. Karena ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, diam-diam ia berdiri di belakang orang tua itu dan mengintip dari atas bahunya. Jotaro menengadah ke wajah Musashi, kemudian buru-buru menyembunyikan kuas dan kertas di belakangnya. "Tidak boleh memata-matai orang macam itu," keluhnya. "Lihat, dong," kata Musashi mengganggu. "Jangan," kata Jotaro menggeleng. "Ayolah tunjukkan," kata Musashi. "Asal Kakak mau beli sake." "Oh, jadi itu yang kamu mainkan, ya? Baik, aku beli." "Lima gelas?' "Tidak sebanyak itu yang kubutuhkan." "Tiga gelas?" "Masih kebanyakan." "Kalau begitu, berapa? Jangan kikir, ah!" "Kikir? Kau tahu, aku cuma pemain pedang miskin. Kaukira aku banyak uang buat dihamburkan?" "Balk. Saya yang menakarnya sendiri nanti. Saya beri seharga uangmu. Tapi janji, Kakak mesti mendongengkan beberapa cerita." Tawar-menawar berakhir. Jotaro berkecipak dengan riangnya menempuh hujan. Musashi memungut surat itu dan membacanya. Sesaat-dua saat kemudian ia menoleh kepada pemilik penginapan, dan tanyanya, "Betul-betul dia yang menulis ini?" "Ya. Mengagumkan, ya? Kelihatannya pintar sekali anak itu." Sementara Musashi pergi ke sumur, mandi air dingin dan mengenakan pakaian kering, orang itu menggantungkan kuali di atas api dan mengeluarkan acar serta mangkuk nasi. Musashi kembali dan duduk dekat perapian. "Apa pula kerja bajingan kecil itu?" gerutu pemilik penginapan. "Lama sekali dia ambil sake." "Berapa umur anak itu?" "Sebelas, kalau tak salah. Pernah dikatakannya." "Terlalu dewasa untuk anak seusianya, bukan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Mm. Mungkin karena dia bekerja di toko sake ini sejak umur tujuh tahun. Di situ dia bertemu dengan segala macam orang-kusir kereta, pembuat kertas di ujung jalan sana, para musafir, dan siapa saja." "Saya heran, bagaimana dia bisa menulis begitu baik." "Apa memang baik betul?" "Ya, tulisannya memang ada sifat kekanakannya, tapi ada juga-apa, ya, namanya-semacam sifat terus terang yang menggugah. Sekiranya saya sedang memikirkan seorang pemain pedang, bisa saya katakan tulisan itu memperlihatkan keluasan spiritual. Anak itu nantinya bisa jadi orang." "Maksud Anda?" "Maksud saya, menjadi manusia sejati." "Oh?" Orang tua itu pun mengerutkan kening, mengangkat tutup kuali, dan meneruskan gerutuannya. "Belum juga kembali. Saya berani bertaruh, dia lagi ngeluyur sekarang." Baru saja ia hendak mengenakan sandal untuk pergi mengambil sake itu sendiri, Jotaro kembali. "Ke mana saja kamu?" tanyanya pada anak itu. "Kau bikin tamuku ini lama menunggu." "Saya tak bisa apa-apa. Ada pembeli datang ke toko, mabuk sekali. Saya dipegangnya erat-erat, dan ditanyai macam-macam." "Pertanyaan apa?" "Dia tanya tentang Miyamoto Musashi." "Dan kamu mengoceh, kan?" "Tak ada salahnya, kalaupun saya ngoceh. Semua orang di sini tahu apa yang terjadi di Kiyomizudera hari itu. Perempuan sebelah rumah dan anak tukang pernis, keduanya ada di kuil hari itu. Mereka lihat sendiri kejadiannya." "Tak usah lagi kamu bicara itu!" kata Musashi, hampir-hampir dengan nada memohon. Anak yang bermata tajam itu menaksir sikap Musashi, dan tanyanya, "Boleh saya tinggal di sini sebentar dan bicara dengan Kakak?" Dan mulailah ia membasuh kaki dan bersiap-siap masuk kamar perapian. "Aku sih boleh saja, kalau majikanmu tidak keberatan." "Oh, dia tidak butuh saya sekarang." "Baiklah." "Akan saya panaskan sake Kakak. Saya mahir sekali soal itu." Ia memasukkan guci sake ke dalam abu hangat di sekitar api, dan tak lama kemudian ia pun menyatakan sudah siap. "Cepat, ya?" kata Musashi dengan nada menghargai. "Kakak senang sake?" "Ya." "Tapi karena miskin, saya kira Kakak tak banyak minum, ya?" "Betul." "Tadinya saya mengira orang yang pintar dalam seni bela diri dapat mengabdi tuan-tuan besar dengan gaji Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

besar. Seorang pengunjung toko pernah bilang pada saya, Tsukahara Bokuden selalu berkeliling dengan tujuh puluh atau delapan puluh pesuruh, dan mendapat penggantian kuda dan burung elang juga." "Itu betul." "Dan saya mendengar prajurit kenamaan, bernama Yagyu, yang mengabdi Keluarga Tokugawa, mempunyai pendapatan lima puluh ribu gantang padi." "Itu betul juga." "Kalau begitu, kenapa Kakak begitu miskin?" "Aku masih belajar." "Mesti umur berapa dulu, sebelum Kakak punya banyak pengikut?" "Tak tahu aku, apa akan punya pengikut." "Kenapa? Apa Kakak kurang pandai?" "Kamu sudah dengar apa yang dikatakan orang yang melihatku di kuil. Bagaimana juga kamu menilainya, aku lari waktu itu." "Itulah yang dikatakan semua orang; kata mereka, shugyosha di penginapan itu—yaitu Kakak—orang lemah. Tapi sungguh jengkel saya mendengarkan mereka itu." Bibir Jotaro mengatup menjadi garis lurus. "Ha, ha! Kenapa pula kamu risau? Mereka tidak bicara tentang dirimu." "Yah, tapi saya kasihan pada Kakak. Kakak tahu, anak pembuat kertas, anak tukang kaleng, dan beberapa pemuda itu kadang-kadang berkumpul di belakang toko pernis buat latihan main pedang. Kenapa Kakak tidak berkelahi dengan salah seorang dari mereka dan mengalahkannya?" "Baiklah. Kalau itu yang kaukehendaki, akan kulakukan." Musashi merasa sukar menolak apa saja yang diminta anak itu. Sebagian karena ia sendiri dalam banyak hal masih kanak-kanak dalam hatinya, dan karena itu bersimpati kepada Jotaro. Selamanya ia mencari, sebagian besar secara tak sadar, pengganti kasih sayang keluarga yang semenjak kanak-kanak tak pernah dimilikinya. "Mari kita bicara soal lain saja," katanya. "Di mana kamu lahir?" "Di Himeji." "Oh, jadi kamu dari Harima." "Ya, dan Kakak dari Mimasaka, ya? Ada orang mengatakan demikian." "Betul. Apa kerja ayahmu?" "Dia dulu samurai. Samurai yang betul-betul setia pada kebaikan!" Semula Musashi tampak kaget, tapi baginya jawaban itu telah membikin jelas beberapa persoalan, walaupun sama sekali bukan soal betapa baiknya anak itu menulis. Ia menanyakan nama ayah anak itu. "Namanya Aoki Tanzaemon. Dulu dia punya gaji dua ribu lima ratus gantang padi, tapi ketika saya umur tujuh tahun, dia tinggalkan kerjanya dan pergi ke Kyoto sebagai ronin. Sesudah semua uangnya habis, dia tinggalkan saya di toko sake itu dan pergi ke kuil untuk menjadi biarawan. Tapi saya tak man tinggal di toko itu. Saya ingin menjadi samurai seperti ayah saya, dan saya ingin belajar main pedang seperti Kakak. Apa bukan jalan terbaik menjadi samurai?" Anak itu berhenti, kemudian melanjutkan dengan sungguh-sungguh. "Saya ingin menjadi pengikut Kakak— keliling negeri, belajar dengan Kakak. Apa Kakak tak mau mengajak saya jadi murid?" Selesai mengungkapkan maksudnya itu, Jotaro pun memperlihatkan wajah yang jelas-jelas mencerminkan tekadnya untuk tidak mendapat jawaban tidak. Tentu saja ia tidak tahu bahwa orang tempatnya memohon Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

itu adalah orang yang telah menjadi sebab ayahnya mendapat kesulitan bertubi-tubi. Adapun Musashi, ia tak dapat menolak permintaan itu mentah-mentah. Namun yang benar-benar dipikirkannya bukan soal mengatakan ya atau tidak, melainkan tentang Aoki Tanzaemon dan nasibnya yang tidak beruntung. Dalam hal ini tak bisa tidak ia bersimpati pada orang itu. Jalan Samurai memang perjudian tanpa henti, dan seorang samurai harus siap sepanjang waktu untuk membunuh atau dibunuh. Memikirkan contoh perubahan hidup ini, Musashi menjadi sedih dan efek sake yang diminumnya lenyap secara tiba-tiba. Ia merasa kesepian. Jotaro mendesak terus. Ketika pemilik penginapan mencoba menyuruhnya meninggalkan Musashi, ia menjawab secara kurang ajar, lalu melipatgandakan usahanya. Dipegangnya pergelangan tangan Musashi erat-erat, kemudian dipeluknya, dan akhirnya ia berurai air mata. Karena tak melihat jalan lain, Musashi pun berkata, "Baiklah, baiklah, cukup. Kau boleh menjadi pengikutku, asal kau pergi dan bicara dulu dengan majikanmu." Karena akhirnya terpenuhi keinginannya, Jotaro lari menderap ke toko sake. Pagi berikutnya Musashi bangun pagi-pagi, berpakaian, dan berkata kepada pemilik penginapan, "Tolong siapkan kotak makan siang untuk saya. Saya senang tinggal di sini beberapa minggu ini, tapi saya pikir saya harus terus pergi ke Nara sekarang." "Begitu cepat?" tanya pemilik penginapan yang tidak mengharapkan tamunya pergi begitu mendadak. "Apa karena anak itu terus mendesak Anda?" "Oh, tidak, bukan salah dia. Saya memang sudah lama bermaksud pergi ke Nara-bertemu dengan pemainpemain tombak terkenal di Hozoin. Saya harap dia tidak terlalu menyulitkan Bapak, kalau dia tahu saya sudah pergi." "Jangan kuatir. Dia masih anak-anak. Dia akan menjerit dan memekik sebentar, kemudian akan melupakannya sama sekali." "Dan lagi, tak mungkin rasanya tukang sake itu akan mengizinkannya pergi," kata Musashi ketika sudah turun ke jalan. Badai sudah lewat, seakan-akan tersapu bersih, dan angin sepoi-sepoi mengelus kulit Musashi dengan lembut, berlainan sekali dengan angin ganas sehari sebelumnya. Sungai Kamo naik, airnya berlumpur. Di salah satu ujung jembatan kayu di Jalan Sanjo, samurai memeriksa orang-orang yang datang dan pergi. Ketika Musashi bertanya kenapa ada inspeksi itu, ia mendapat jawaban, karena akan datang kunjungan shogun baru. Barisan depan kaum feodal berpengaruh dan juga feodal-feodal kecil sudah datang. Langkah-langkah sedang diambil untuk menyingkirkan samurai tak bertuan dan berbahaya ke luar kota. Musashi juga seorang ronin, tapi ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan ia dibolehkan lewat. Pengalaman memaksanya memikirkan statusnya sendiri sebagai prajurit tak bertuan yang mengembara, tak terikat ikrar kepada Tokugawa ataupun para saingannya di Osaka. Ketika berangkat ke Sekigahara dan berpihak pada pasukan Osaka melawan kaum Tokugawa, itu soal warisan. Soalnya adalah kesetiaan ayahnya yang tidak pernah berubah semenjak ia mengabdi pada Yang Dipertuan Shimmen dari Iga. Toyotomi Hideyoshi sudah meninggal dua tahun sebelum pertempuran. Para pendukungnya, yang setia kepada anaknya, membentuk fraksi Osaka. Di Miyamoto, Hideyoshi dianggap pahlawan terbesar. Musashi ingat betapa dahulu ia duduk di dekat perapian, mendengarkan cerita-cerita tentang kegagahan prajurit besar itu semasa ia kanak-kanak. Gambaran ini semakin terbentuk di masa remajanya dan terus merasuk dalam dirinya. Sekarang pun, apabila didesak untuk mengatakan pihak mana yang dipilihnya, barangkali ia akan mengatakan Osaka. Sejak itu Musashi mulai paham, dan sekarang ia menyadari bahwa tindakan-tindakannya pada umur tujuh belas itu kurang pertimbangan dan tanpa hasil. Untuk orang yang hendak mengabdi kepada tuannya dengan setia, tidaklah cukup hanya dengan melompat membabi-buta ke tengah keributan dan mengacungkan lembing. Ia harus melewati jalan panjang menuju maut. "Kalau seorang samurai mati sambil mengucapkan doa bagi kemenangan tuannya, berarti dia telah melakukan sesuatu yang indah dan bermakna," demikian jalan pikiran Musashi sekarang. Tetapi pada waktu itu ia maupun Matahachi tidak memiliki rasa setia. Yang mereka hausi hanyalah kemasyhuran dan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

kemuliaan, atau lebih tepat lagi, usaha memperoleh penghidupan tanpa pengorbanan. Sungguh ganjil dulu mereka dapat berpikir seperti itu. Sesudah belajar dari Takuan bahwa hidup adalah permata yang harus ditimang-timang, Musashi sadar bahwa waktu itu mereka tidak hanya menyia-nyiakan, bahkan juga tanpa pikir panjang mengorbankan milik mereka yang paling berharga. Secara harafiah mereka mempertaruhkan segala yang dipunyai, dengan harapan akan memperoleh gaji tetap yang tak berarti sebagai samurai. Merenungkan masa lalu itu ia heran, bagaimana mungkin ia bertindak demikian tolol. Musashi melihat bahwa kini ia sudah mendekati Daigo, bagian selatan kota. Karena keringatnya mengucur, ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Dari jauh didengarnya suara berseru-seru, "Tunggu! Tunggu!" Ketika menatap jalan gunung yang curam itu, tampaklah olehnya sosok si peri air kecil Jotaro, yang sedang berlari sekuat-kuatnya. Pandangan mata anak itu menghunjam marah ke mata Musashi. "Kakak bohong!" seru Jotaro. "Kenapa Kakak lakukan itu!" Napasnya megap-megap karena berlari dan wajahnya merah. Ia berbicara dengan sikap bermusuhan, meski kelihatan hampir menangis. Musashi hampir tertawa melihat pakaiannya. Anak itu membuang pakaian kerja sehari sebelumnya, dan menggantinya dengan kimono biasa. Tapi kimono itu dua kali lebih kecil dari badannya, hingga roknya hampir tak sampai lututnya dan lengannya hanya sampai siku. Pada pinggangnya tergantung pedang kayu yang lebih panjang dari tinggi badannya, dan di punggungnya tergantung topi anyaman sebesar payung. Selagi masih berseru-seru kepada Musashi karena sudah meninggalkannya, ia berurai air mata. Maka Musashi mendekapnya dan berusaha menyenangkan hatinya, tapi anak itu terus juga rnelolong. Agaknya karena merasa bahwa di pegunungan tak ada orang, ia dapat melepaskan perasaannya. Akhirnya Musashi berkata, "Kau senang berlaku seperti bayi cengeng?" "Saya tak peduli!" sedan Jotaro. "Kakak orang dewasa, tapi Kakak membohongi saya. Kakak bilang mau menerima saya jadi pengikut, tapi Kakak meninggalkan saya. Apa orang dewasa memang suka begitu?" "Maafkan aku," kata Musashi. Permintaan maaf yang sederhana ini mengubah tangis anak itu menjadi rengekan. "Diam sekarang," kata Musashi. "Aku tidak bermaksud berbohong padamu, tapi kamu kan masih ada ayah, dan kamu punya majikan? Aku tak bisa membawamu, kecuali kalau majikanmu menyetujui. Kuminta kamu pergi bicara dengannya, bukan? Kurasa waktu itu dia tak akan setuju." "Kenapa Kakak tidak tunggu sampai mendapat jawabannya, paling tidak?" "Itu sebabnya aku minta maaf padamu sekarang. Apa betul kamu membicarakannya dengan dia?" "Ya." Jotaro mengendalikan sedu-sedannya, kemudian ia tarik dua lembar daun dari sebuah pohon. Dengan daun itu ia membuang ingusnya. "Dan apa katanya?" "Dia bilang saya boleh pergi." "Lalu?" "Dia bilang, tak ada prajurit terhormat atau perguruan yang mau menerima anak seperti saya. Tapi karena samurai di penginapan itu orang lemah, tentunya dia orang yang tepat untuk saya. Katanya, barangkali saja Kakak dapat memakai saya untuk membawakan barang, dan dia memberi saya pedang kayu ini sebagai hadiah perpisahan." Musashi tersenyum mendengar jalan pikiran orang itu. "Sudah itu," kata anak itu melanjutkan, "saya pergi ke penginapan. Orang tua itu tak ada, jadi saya pinjam saja topinya dari sangkutannya di bawah pinggiran atap."

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tapi itu kan papan nama tempat itu? Di situ tertulis 'Penginapan'." "Ah, biar saja. Saya butuh topi, siapa tahu hujan." Jelaslah dari sikap Jotaro bahwa segala janji dan sumpah yang diperlukan telah dilaksanakan. Sekarang ia menjadi murid Musashi. Merasakan hal ini, Musashi terpaksa menerima kenyataan bahwa ia kurang-lebih sudah terikat pada anak itu. Tapi terpikir juga olehnya bahwa ini semua demi kebaikan. Memang, ketika ia merenungkan peranannya sendiri dalam peristiwa hilangnya status Tanzaemon, ia menyimpulkan bahwa barangkali ia mesti berterima kasih atas kesempatan yang diperolehnya untuk membentuk masa depan anak ini. Itulah agaknya yang harus dilakukannya. Sesudah tenang dan tenteram, Jotaro tiba-tiba ingat akan sesuatu dan merogoh kimononya. "Saya hampir lupa. Ada sesuatu untuk Kakak. Ini dia." ia mengeluarkan sepucuk surat. Memandang surat itu dengan rasa ingin tahu, Musashi bertanya, "Di mana kamu mendapatkannya?"' "Kakak ingat, tadi malam saya bilang ada seorang ronin minum di toko, dan mengajukan banyak pertanyaan." "Ya." "Waktu saya pulang, dia masih ada di sana. Dia terus juga bertanya tentang Kakak. Dia tukang minum jugasatu botol penuh sake diminumnya sendiri! Kemudian dia menulis surat ini dan minta saya memberikannya pada Kakak." Musashi menelengkan kepala keheranan, lalu membuka meterai surat tersebut. Mula-mula ia melihat bagian bawahnya, dan tahulah ia bahwa surat itu dari Matahachi yang memang dalam keadaan mabuk. Hurufhurufnya pun tampak agak mabuk. Membaca gulungan itu, Musashi tercengkeram nostalgia dan kesedihan menjadi satu. Tidak saja karena tulisan itu kalut, tapi juga karena pesan yang disampaikannya pun melantur dan tidak pasti. Sejak meninggalkanmu di Gunung Ibuki, aku tak lupa desa kita. Dan tak lupa aku pada teman lamaku. Kebetulan kudengar namamu di Perguruan Yoshioka. Waktu itu aku bingung dan tak bisa memutuskan, apa aku harus menjumpaimu. Sekarang aku di toko sake. Aku banyak minum. Sampai di situ maknanya cukup jelas, tapi mulai dari situ surat itu sukar diikuti maksudnya. Semenjak berpisah denganmu, aku terkurung dalam sangkar nafsu, dan kemalasan memakan tulangku. Lima tahun lamanya aku menghabiskan waktu dalam keadaan setengah sadar, tanpa melakukan sesuatu. Di ibu kota, kau sekarang terkenal sebagai pemain pedang. Aku minum untukmu! Beberapa orang mengatakan Musashi pengecut, bisanya cuma lari. Beberapa lagi bilang kau pemain pedang yang tak ada tandingannya. Tak peduli aku mana yang benar. Aku cuma senang bahwa pedangmu sudah bikin orang ibu kota bicara tentangmu. Kau cakap. Kau mesti bisa menempuh jalanmu lewat pedang. Tapi kalau aku menoleh ke belakang, aku heran dengan diriku, seperti sekarang ini. Aku memang orang sinting! Bagaimana mungkin orang sial macam aku ini bertemu dengan teman bijaksana seperti kamu tanpa mati karena malu? Tapi nanti dulu! Hidup ini panjang, dan terlalu dini sekarang untuk dikatakan apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tak ingin bertemu denganmu sekarang, tapi akan tiba waktunya, aku mau bertemu. Aku berdoa untuk kesehatanmu. Kemudian menyusul tambahan yang ditulis cepat bagai cakar ayam, yang isinya panjang-lebar, memberitakan kepadanya bahwa Perguruan Yoshioka memandang sangat serius kejadian yang baru lalu itu, dan bahwa mereka sedang mencarinya ke mana-mana; karena itu ia mesti hati-hati dengan tindakannya. Tambahan itu berakhir dengan: Kau tak boleh mati sekarang, karena kau baru mulai menciptakan nama. Kalau nanti aku pun sudah melakukan sesuatu untuk diriku, ingin aku bertemu denganmu dan bicara tentang masa lalu. Jagalah dirimu, tetaplah hidup, supaya kau bisa mengilhami diriku. Tidak sangsi lagi Matahachi punya maksud baik, tapi ada sesuatu yang tak beres dengan sikapnya. Kenapa ia mesti menyanjung Musashi sedemikian rupa dan berikutnya bicara sedemikian rupa tentang kegagalankegagalan sendiri? "Yah," Musashi heran, "apa tak bisa dia sekadar menulis bahwa sudah lama waktu berlalu, dan kenapa kita tidak bertemu dan ngobrol sepuasnya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Jo, apa kau menanyakan alamat orang ini?" "Tidak." "Apa dia sering datang ke sana?" "Tidak, ini yang pertama kali." Terpikir oleh Musashi bahwa kalau ia tahu di mana Matahachi tinggal, pasti ia akan kembali ke Kyoto sekarang juga untuk bertemu dengannya. Ingin ia bicara dengan kawan masa kecilnya itu, mencoba menyadarkannya, membangkitkan kembali semangat yang pernah dimilikinya. Karena ia masih menganggap Matahachi sebagai temannya, ingin ia menariknya keluar dari suasana hatinya yang sekarang, yang jelas cenderung menghancurkan diri sendiri. Tentu saja ia juga ingin Matahachi menjelaskan kepada ibunya betapa salah perbuatan ibunya itu. Kedua orang itu berjalan terus dalam diam. Mereka menuruni Gunung Daigo. Persimpangan Rokujizo sudah tampak di bawah mereka. Mendadak Musashi menoleh kepada anak itu, clan katanya, "Jo, aku mau minta tolong." "Apa?" "Menyampaikan pesanku." "Ke mana?" "Kyoto." "Itu berarti balik kanan dan kembali ke tempat yang baru saja saya tinggalkan." "Betul. Aku ingin kamu menyampaikan suratku kepada Perguruan Yoshioka di Jalan Shijo." Dengan kecewa Jotaro menendang batu dengan jari kakinya. "Tak mau, ya?" tanya Musashi sambil menatap anak itu. Jotaro menggelengkan kepala tak menentu. "Saya tidak keberatan, tapi apa Kakak menyuruh saya ini buat menyingkirkan saya?" Kecurigaan anak itu membuat Musashi merasa bersalah, karena bukankah ia sendiri yang telah menghilangkan kepercayaan itu pada orang dewasa? "Tidak!" katanya tegas. "Seorang samurai tidak berbohong. Maafkan aku atas kejadian pagi tadi. Itu cuma kesalahan." "Baik, saya pergi." Mereka masuk warung teh di persimpangan yang dikenal dengan nama Rokuamida, memesan teh, dan makan siang. Kemudian Musashi menulis surat yang dialamatkan kepada Yoshioka Seijuro: Saya mendapat kabar bahwa Anda dan murid-murid Anda sedang mencari saya. Sekarang saya berada di jalan raya Yamato, karena saya bermaksud mengadakan perjalanan keliling di kawasan Iga dan Ise sekitar setahun lamanya untuk melanjutkan pelajaran saya dalam ilmu pedang. Saya tak ingin mengubah rencana waktu ini, tapi karena saya sama kecewanya dengan Anda berhubung tidak dapat bertemu dengan Anda selama kunjungan saya ke perguruan Anda, maka ingin saya memberitahukan bahwa saya pasti akan kembali ke ibu kota pada bulan pertama atau kedua tahun depan. Dari sekarang sampai waktu itu saya berharap akan dapat memperbaiki teknik saya sebaikbaiknya. Saya percaya Anda sendiri tak akan mengabaikan latihan Anda. Akan merupakan aib besar jika Perguruan Yoshioka Kempo yang sedang mekar itu harus menderita kekalahan kedua seperti kekalahan di waktu lalu. Sebagai penutup, saya sampaikan harapan penuh hormat agar Anda selalu dalam keadaan sehat walafiat. Shimmen Miyamoto Musashi Masana. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Surat itu memang sopan, namun jelas nampak keyakinan Musashi pada diri sendiri. Sesudah mengubah alamat surat itu agar tidak hanya mencakup Seijuro saja, melainkan juga semua murid di sekolah itu, ia letakkan kuasnya dan ia serahkan surat itu kepada Jotaro. "Apa bisa saya masukkan saja surat ini di perguruan itu, lalu pergi?" tanya anak itu. "Tidak. Kamu mesti menyapa dulu di pintu depan, lalu menyerahkan surat itu langsung kepada pembantu di sana." "Baik." "Ada hal lain lagi yang harus kamu lakukan, tapi barangkali agak sukar." "Apa?" "Apakah kamu dapat menemukan orang yang memberikan surat padamu itu? Namanya Hon'iden Matahachi. Dia teman lamaku." "Oh, itu sama sekali tidak sukar." "Betul? Bagaimana caramu?" "Ah, saya tanyakan saja di semua toko minuman." Musashi tertawa. "Boleh juga pikiranmu itu. Tapi menurut surat Matahachi itu, dia kenal orang di Perguruan Yoshioka. Kupikir lebih cepat kalau tanya tentang dia di sana." "Apa yang harus saya lakukan kalau sudah menemukan dia?" "Aku ingin kamu menyampaikan pesan. Katakan padanya, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti, tiap pagi aku akan ke jembatan besar di Jalan Gojo menantikan dia. Suruh dia datang menemuiku pada salah satu hari itu." "Cuma itu?" "Ya, tapi sampaikan juga kepadanya bahwa aku ingin sekali bertemu dengannya." "Baik, saya mengerti. Lalu Kakak ada di mana, kalau saya kembali nanti?" "Kuterangkan sekarang. Kalau nanti aku sampai Nara, akan kuatur supaya kamu dapat mengetahui tempatku dengan bertanya di Hozoin. Hozoin adalah kuil terkenal karena permainan lembingnya." "Sungguh?" "Ha, ha! Kamu masih curiga, ya? Jangan kuatir. Kalau aku tidak memenuhi janjiku kali ini, boleh kamu memotong kepalaku." Musashi masih juga tertawa ketika meninggalkan warung teh. la berangkat menuju Nara, sedangkan Jotaro ke arah yang berlawanan, ke arah Kyoto. Di persimpangan jalan itu bercampur aduk orang banyak yang mengenakan topi anyaman, burung layanglayang, dan kuda-kuda meringkik. Sementara melintasi gerombolan orang banyak itu, Jotaro menoleh ke belakang dan melihat Musashi masih berdiri di tempat semula dan memperhatikannya. Mereka tersenyum dari jauh sebagai tanda perpisahan, lalu masing-masing menempuh jalannya sendiri.

bagian 5

Angin Musim Semi
DI tepi Sungai Takase, Akemi mencuci sepotong kain sambil menyanyikan lagu yang dipelajarinya di Kabuki Okuni. Setiap kali ia menarik kain berpola kembang itu, tercipta bayangan bunga ceri yang terbang berputarputar. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Angin cinta Menyentak-nyentak lengan kimonoku. Oh, lengan jadi terasa berat! Apakah angin cinta itu berat? Jotaro berdiri di atas tanggul. Matanya yang lincah mengamati pemandangan, dan ia tersenyum ramah, dan ia tersenyum ramah. "Bagus nyanyinya, Bi," serunya. "Apa?" tanya Akemi. Ia memandang anak yang seperti orang cebol mengenakan pedang kayu panjang dan topi anyaman besar itu. "Kamu siapa?" tanyanya. "Dan apa maksudmu memanggilku Bibi? Aku masih muda!" "Baik, gadis manis! Bagaimana kalau begitu?" "Diam kamu!" kata Akemi tertawa. "Kau masih terlalu kecil buat merayu. Lebih baik kau buang ingusmu." "Saya cuma mau tanya sedikit." "Oh, oh!" teriak Akemi ketakutan. "Kainku!" "Sebentar saya ambilkan." Jotaro mengejar kain itu dari tepi sungai, kemudian memancingnya dari air dengan pedangnya. Paling tidak, pedang ini bisa dipakai buat keadaan seperti ini, demikian pikirnya. Akemi mengucapkan terima kasih, lalu bertanya, apa yang hendak ditanyakan Jotaro. "Apa ada warung teh di sekitar sini yang namanya Yomogi?" Oh, ya, itu rumahku, di sana itu." "Oh, senang sekali aku mendengarnya! Lama sekali aku mencarinya." "Kenapa? Kamu datang dari mana?" "Dari jalan itu," jawab Jotaro sambil menuding tak jelas. "Dari mana itu kira-kira?" Jotaro ragu-ragu. "Aku sendiri tidak begitu yakin." Akemi terkikik. "Tak apalah. Tapi kenapa kamu tertarik pada warung teh kami?" "Saya mencari orang yang namanya Hon'iden Matahachi. Orang Perguruan Yoshioka bilang, kalau saya pergi ke Yomogi, saya akan menemukannya." “Dia tidak di situ." "Bohong!" "Tidak. Betul. Dulu dia memang tinggal dengan kami, tapi dia sudah pergi beberapa waktu lalu." "Ke mana?" "Aku tidak tahu." "Tapi orang serumahmu pasti ada yang tahu." "Tidak. Ibuku juga tidak tahu. Dia minggat." "Oh." Anak itu memerosotkan badannya dan menatap air dengan gelisah. "Sekarang apa yang mesti kulakukan?" keluhnya. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Siapa yang menyuruhmu kemari?" "Guruku." "Siapa gurumu?" "Namanya Miyamoto Musashi." "Apa kamu membawa surat?" "Tidak," kata Jotaro sambil menggeleng. "Bagus sekali kamu jadi suruhan! Tak tahu dari mana datang, dan tidak membawa surat pula." "Tapi saya membawa pesan." "Pesan apa itu? Barangkali orang itu tak akan kembali lagi, tapi kalau dia kembali akan kusampaikan pesanmu itu." "Saya kira tak boleh saya mengatakannya. Ya, kan?" "Jangan tanya aku. Putuskan olehmu sendiri." "Kalau begitu, barangkali juga boleh. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan Matahachi. Dia minta saya menyampaikan pada Matahachi bahwa dia akan menanti di jembatan besar Jalan Gojo tiap pagi, dari hari pertama sampai hari ketujuh tahun baru nanti. Matahachi mesti menjumpai dia di sana, di salah satu hari itu." Akemi pecah ketawanya, tak dapat dikendalikan lagi. "Tak pernah aku mendengar pesan seperti itu! Jadi, maksudmu, sekarang dia mengirim pesan, minta Matahachi menjumpainya tahun depan? Gurumu itu mestinya sama anehnya dengan kamu! Ha, Ha!" Sikap mencemooh tampak pada wajah Jotaro, dan bahunya tegang karena marah. "Apanya yang lucu?" Akhirnya Akemi berhasil menghentikan tawanya. "Jadi, sekarang kamu marah, ya?" "Tentu saja. Saya minta tolong dengan sopan, tapi kamu ketawa seperti orang gila." "Maaf, aku betul-betul minta maaf. Aku tak akan ketawa lagi. Dan kalau Matahachi kembali, akan kusampaikan pesan itu kepadanya. "Janji?" "Ya, aku bersumpah." Sambil menggigit bibir untuk menghindari senyum, Akemi bertanya, "Siapa namanya tadi? Orang yang menyuruhmu menyampaikan pesan itu?" "Ingatanmu tidak begitu baik rupanya. Namanya Miyamoto Musashi." "Bagaimana kamu menuliskan Musashi itu?" Jotaro mengambil bilah bambu, lalu mengguratkan dua huruf di pasir. "Lho, itu huruf-huruf yang bunyinya Takezo!" ucap Akemi. "Namanya bukan Takezo, tapi Musashi." "Ya, tapi bisa juga dibaca Takezo." "Kamu keras kepala rupanya, ya?" decap Jotaro sambil melemparkan bilah bambu itu ke sungai. Akemi menatap tajam-tajam huruf-huruf di pasir itu, dan tenggelam dalam renungan. Akhirnya ia menengadah memandang Jotaro, mengamat-amatinya dari kepala sampai jari kaki, lalu tanyanya dengan suara lembut, Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa ini bukan Musashi dari daerah Yoshino di Mimasaka?" "Ya. Saya dari Harima. Dia dari Kampung Miyamoto di Provinsi Mimasaka, tak jauh dari sana." "Apa orangnya tinggi, kelihatan jantan? Dan apa bagian atas kepalanya tidak dicukur?" "Ya. Bagaimana kamu bisa tahu?" "Aku ingat dia pernah cerita, ketika masih kecil dia bisulan di puncak kepalanya. Kalau dia mencukurnya seperti biasa dilakukan samurai, akan kelihatan bekas lukanya yang buruk." "Pernah cerita? Kapan?" "Oh, sudah lima tahun lalu." "Jadi, kamu sudah begitu lama kenal guru saya?" Akemi tidak menjawab. Kenangan hari-hari itu membangkitkan kenikmatan di dalam hatinya, hingga bicara pun jadi sukar. Yakin dari berita kecil vang disampaikan anak itu bahwa Musashi adalah Takezo, ia jadi tercengkeram hasrat untuk bertemu Musashi kembali. Ia sudah melihat cara hidup ibunya, dan ia juga sudah melihat Matahachi semakin memburuk perkembangannya. Sejak semula ia lebih menyukai Takezo. Dan semenjak itu semakin yakin ia akan benarnya pilihan atas Takezo. Ia gembira karena masih sendiri. Takezo. Ia begitu lain dari Matahachi. Sering kali ia mengambil sikap tidak menghanyutkan diri dengan para leaki yang selalu minum di warung tehnya. Ia mencemooh mereka dan terus berpegang teguh pada gambarannya tentang Takezo. Jauh di lubuk hatinya ia selalu bermimpi akan menemukan Takezo kembali. Takezo, hanya Takezo-lah kekasih di dalam hatinya, ketika ia menyanyikan lagu-lagu cinta untuk dirinya sendiri. Karena tugasnya selesai, Jotaro berkata, "Nah, lebih baik saya pergi sekarang. Kalau kamu bertemu dengan Matahachi, betul-betullah sampaikan apa yang sudah saya katakan tadi." Ia pergi, menderap sepanjang puncak tanggul sempit itu. Kereta sapi itu penuh bermuatan karung-karung yang barangkali berisi betas, kacang merah, atau hasil bumi setempat yang lain. Di puncak tumpukan ada tulisan yang menyatakan bahwa barang itu sumbangan kaum Budhis yang setia untuk Kofukuji yang agung di Nara. Jotaro kenal kuil itu karena namanya identik dengan Nara. Wajah Jotaro menyala menyatakan kegembiraan kanak-kanaknya. Dikejarnya kendaraan itu, lalu naiklah ia ke atasnya. Jika ia menghadap ke belakang, masih ada cukup ruangan untuk duduk. Dan sebagai tambahan kenikmatan, ada pula karung-karung buat bersandar. Di kiri-kanan jalan, bukit-bukit landai terselimut barisan semak teh yang rapi. Pohon-pohon ceri mulai berbunga, dan para petani sudah membajak gerst-sejenis gandum. Mereka pasti berharap agar tahun itu ladang terhindar dari pijakan para serdadu dan kuda. Perempuan-perempuan berlutut di pinggir kali, mencuci sayur-sayuran. Jalan raya Yamato terasa damai. "Untung sekali!" pikir Jotaro sambil bersandar dan bersantai. Karena enaknya tempat itu, ia selalu tergoda untuk tidur, tapi ia harus berpikir dua kali. Karena takut kereta akan sampai di Nara selagi ia masih tidur, maka ia merasa bersyukur setiap roda kereta menggilas batu dan berguncang. Itu membantu matanya tetap terbuka. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya daripada berjalan terus seperti ini menuju tujuannya. Di luar sebuah kampung, Jotaro dengan malas meraih dan memetik selembar daun dari pohon kamelia. Diletakkannya daun itu di atas lidahnya dan mulailah ia menyiulkan sebuah lagu. Kusir kereta menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apa-apa. Karena siulan terus juga berbunyi, ia menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, dan berkali-kali lagi. Akhirnya dihentikannya kereta, dan pergilah ia memutar ke belakang. Melihat Jotaro, ia marah bukan kepalang. Pukulan tinju yang dijatuhkannya demikian keras, hingga anak itu berteriak kesakitan. "Apa kerjamu di sini?" gertaknya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tak apa-apa, kan?" "Enak saja kau!" "Kenapa? Bapak kan tidak menariknya sendiri?" "Oh, bajingan kurang ajar kamu!" seru tukang kereta sambil melontarkan Joraro ke tanah, seperti bola. Jotaro terpelanting dan kemudian terguling ke pangkal sebatang pohon. Kereta berjalan kembali, bunyi rodanya gemeretak, seakan-akan menertawakannya. Ketika Jotaro sadar kembali, ia mulai mencari-cari dengan teliti di tanah sekitarnya. Ia sadar tabung bambu berisi jawaban dari Perguruan Yoshioka untuk Musashi hilang. Tadi barang itu Ia gantungkan di leher dengan seutas tali, tapi sekarang lenyap. Ketika anak itu sangat kebingungan dan sedikit demi sedikit melebarkan wilayah pencariannya, seorang perempuan muda berpakaian perjalanan berhenti memperhatikannya; ia bertanya, "Kamu kehilangan sesuatu, ya?" Jotaro memandang wajahnya yang sebagian tertutup topi bertepi lebar, mengangguk, dan kembali mencari. "Kamu kehilangan uang?" Karena terlampau asyik, Jotaro tidak begitu memperhatikan pertanyaan itu, dan hanya memperdengarkan gerutuan tak senang. "Apa tabung bambu yang panjangnya kira-kira satu kaki dan bertali?" Jotaro tersentak. "Ya! Bagaimana Kakak bisa tahu?" "Jadi, kamulah yang diteriak-teriaki kusir-kusir dekat Mampukuji tadi, karena mengganggu kuda mereka!" "Ah-h-h... ya "

"Waktu kamu ketakutan dan lari, tali itu tentunya putus. Tabung itu jatuh di jalan, dan samurai yang sedang bicara dengan kusir-kusir tadi itu mengambilnya. Lebih baik kamu kembali menanyakan kepadanya." "Betul begitu?" "Tentu." "Terima kasih." Tapi baru saja ia hendak berlari, perempuan muda itu memanggilnya. "Tunggu! Tak perlu kamu kembali ke sana. Kulihat samurai itu berjalan kemari. Itu, yang memakai hakama lapangan." Ia menuding orang itu. Jotaro berhenti dan menanti dengan mata terbuka lebar. Samurai itu seorang lelaki yang mengesankan, berumur sekitar empat puluh tahun. Segala sesuatu yang ada padanya sedikit lebih besar dan yang biasa-tingginya, jenggotnya yang hitam legam, bahunya yang lebar, dadanya yang padat. la mengenakan kaus kaki kulit dan sandal jerami, dan apabila berjalan langkahlangkahnya yang mantap seakan memadatkan tanah. Dari pandangan sekilas, Jotaro merasa pasti bahwa orang itu prajurit besar yang mengabdi kepada salah seorang daimyo yang sangat penting, dan ia takut menyapanya. Untunglah samurai itu yang bicara dulu memanggilnya. "Apa bukan kamu anak nakal yang menjatuhkan tabung bambu ini di depan Mampukuji?" tanvanva. "Oh, betul! Tuan menemukannya!" "Apa tak bisa kamu mengucapkan terima kasih?" "Maaf. Terima kasih, Tuan!" "Aku yakin ada surat penting di dalamnya. Kalau tuanmu menyuruh kamu, jangan kamu berhenti sepanjang Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

jalan mengganggu kuda, membonceng-bonceng, atau bermalas-malas di pinggir jalan." "Ya, Tuan. Apa Tuan melihat isinya?" "Sudah sewajarnya, kalau kita menemukan sesuatu, kita memeriksanya dan mengembalikannya kepada pemiliknya, tapi aku tidak merusak meterai surat itu. Sekarang, sesudah barang itu di tanganmu lagi, coba periksa dan lihat, apa masih baik keadaannya." Jotaro membuka tutup tabung dan melihat ke dalamnya. Puas karena surat itu masih ada, digantungkannya tabung itu kembali ke lehernya, dan ia bersumpah tak akan melepaskannya untuk kedua kali. Perempuan muda itu tampak sama puasnya dengan Jotaro. "Baik sekali Tuan telah menemukan barang itu," katanya kepada si samurai, untuk memperbaiki sikap Jotaro yang tidak mampu menyatakan terima kasih dengan baik. Samurai berjenggot itu mulai berjalan lagi bersama mereka berdua. "Apa anak itu bersamamu?" tanyanya kepada perempuan itu. "Oh, tidak. Belum pernah saya bertemu dengan dia." Samurai itu tertawa. "Kupikir tadi kamu dan dia pasangan yang agak aneh. Anak itu seperti setan kecil yang lucu; apalagi ada kata 'Penginapan' pada topinya." "Barangkali kepolosan kanak-kanaknya itu yang membuat dia begitu menarik. Saya suka dia juga." Sambil menoleh kepada Jotaro, ia bertanya, "Mau ke mana kamu?" Karena berjalan bersama kedua orang itu, semangat Jotaro naik lagi. "Saya akan pergi ke Nara, ke Kuil Hozoin." Sebuah benda panjang sempit yang terbungkus kain brokat emas dan tersimpan dalam obi gadis itu menarik perhatiannya. Sambil memperhatikannya, ia berkata, "Saya lihat Kakak membawa tabung surat juga. Hati-hati, jangan Kakak hilangkan." "Tabung surat? Apa maksudmu?" "Itu, dalam obi Kakak." Gadis itu pun tertawa. "Ini bukan tabung surat, tolol! Ini suling." "Suling?" Dengan mata menyala-nyala karena rasa ingin tahu, tanpa malu-malu Jotaro melongokkan kepala ke pinggang gadis itu untuk memeriksa benda tersebut. Tiba-tiba suatu perasaan aneh datang kepadanya. Ia mundur dan seperti mengamat-amati gadis itu. Anak-anak pun mempunyai selera terhadap kecantikan wanita, atau setidak-tidaknya mengerti secara naluriah, apakah wanita itu murni atau tidak. Jotaro terkesan sekali akan kecantikan gadis itu, dan ia menghargainya. Terasa olehnya sebagai keberuntungan tak terukir bahwa sekarang ia berjalan bersama orang yang begitu molek. Hatinya pun berdentum, dan ia merasa pusing. "Oh. Suling... Apa Bibi bisa main suling?" tanyanya. Kemudian, karena ingat akan reaksi Akemi terhadap kata "Bibi" itu, ia cepat-cepat mengubah pertanyaannya, "Siapa nama Kakak?" Gadis itu tertawa dan melemparkan pandangan senang kepada si samurai lewat kepala anak itu. Prajurit yang seperti beruang itu ikut tertawa, memperlihatkan barisan giginya yang putih kuat di belakang jenggotnya. "Kamu anak baik, kan? Kalau kamu ingin tahu nama orang lain, yang sopan adalah kamu menyebutkan dulu namamu." "Nama saya Jotaro." Jawaban ini menimbulkan ketawa lebih banyak lagi. "Itu tidak adil!" teriak Jotaro. "Tuan menyuruh saya menyebutkan nama saya, tapi saya belum tahu nama Tuan. Siapa nama Tuan?" Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Namaku Shoda," kata samurai itu. "Itu tentunya nama keluarga. Lalu nama Tuan yang lain apa?" "Terpaksa aku minta diizinkan hanya menyebut nama itu." Dengan berani Jotaro menoleh kepada gadis itu, dan katanya, "Sekarang giliran Kakak. Kami sudah menyebutkan nama kami. Kurang sopan kalau Kakak tidak menyebutkan nama Kakak." "Nama saya Otsu." "Otsu?" Jotaro mengulang. la kelihatan puas sebentar, tapi kemudian mengoceh lagi. "Kenapa ke manamana Kakak menyimpan suling dalam obi?" "Oh, aku butuh suling ini buat mencari makan." "Jadi, Kakak ini pemain suling?" "Sebetulnya aku tidak yakin apa ada pemain suling profesional, tapi uang yang kudapat dengan main suling ini bisa buat melakukan perjalanan-perjalanan jauh macam ini. Bolehlah kamu menyebut itu pekerjaanku." "Apa musik yang Kakak mainkan seperti musik yang sudah saya dengar di Gion dan Kuil Kamo? Musik untuk tari-tarian suci?" "Tidak." "Apa musik buat jenis tarian yang lain-misalnya Kabuki?" "Tidak." "Kalau begitu, musik jenis apa?" "Oh, lagu-lagu biasa saja." Sementara itu si samurai bertanya-tanya dalam hati mengenai pedang kayu panjang milik Jotaro itu. "Apa yang kamu pasang di pinggangmu itu?" tanyanya. "Apa Tuan tak kenal pedang kayu kalau Tuan melihatnya? Saya pikir Tuan ini samurai." "Ya, aku memang samurai. Cuma aku heran melihat pedang begitu kamu bawa. Kenapa kamu membawanya?" "Saya mau belajar ilmu pedang." "Oh, jadi kamu belajar sekarang? Apa kamu sudah punya guru?" "Punya." "Apa dia yang akan menerima surat itu?" „ Ya. " "Kalau dia itu gurumu, tentunya dia ahli yang sejati." "Dia sama sekali tidak sebaik itu." "Apa maksudmu?" "Semua orang bilang dia lemah." "Apa kamu tidak keberatan punya guru lemah?"

Ebook by Kang Zusi

Lalu. tak tahulah orang. itu lain soal. berapa banyak ronin dari pihak yang kalah telah datang bersembunyi di sana. Mulutnya menggetar. Orang yang cepat jalannya pun barangkali takkan sampai lebih jauh dari Kizu sebelum matahari terbenam. Begitu kue datang. netcafe. dan Ban Dan'emon di Kofukuji. saya punya rencana ke sana." Pemilik warung menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri. Rupanya kebanyakan orang mendapat kesan bahwa ibu kota lama itu tempat yang tenang. Melihat Shoda. Baginya duduk dan beristirahat itu membosankan.000 atau 130. Kalau Nona yakin ada teman untuk tinggal di sana.property of: CROSSFiRE. "Tidak. di mana banyak kuil berwarna-warni dan rusarusa jinak-sebuah tempat yang tidak terganggu oleh perang atau kelaparan." Jembatan Uji mulai tampak. disangsikan apakah para pelarian itu akan dapat lagi memperoleh penghidupan terang-terangan dengan pedangnya. dan karena menurut pendengaran saya banyak ronin berkumpul di Nara sekarang ini. "Lupakan keinginan itu sama sekali." kata orang tua itu. seakan hendak pecah menjadi senyuman. Kebanyakan anggota partisan Osaka dari Tentara Barat dan Osaka. orang tua itu membelalakkan matanya. Saya juga tidak pandai main pedang. ia segera mengambilnya dan larilah ia ke bukit rendah di belakang warung teh. tetapi matanya tetap muram. Sebagai pemenang. saya belum tahu." Tawa samurai itu pun akhirnya pecah berderai-derai. kalau seorang wanita muda mengadakan perjalanan sendiri ke Nara. ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. silakan!" "Kami mau istirahat sebentar di sini. tidak banyak berita yang terdengar. jadi tak ada bedanya. samuraisamurai yang kini tak punya penghasilan dan sedikit saja punya harapan akan memperoleh pekerjaan lain. Ia sedang melayani para langganan yang duduk berkeliling di bangku. Wilayah sekitar Nara dan Gunung Koya penuh kuil. sementara teman-temannya duduk. orang-orang Tokugawa menyita tanah-tanah milik yang seluruhnya menghasilkan 33 juta gantang padi tiap tahun. ia menyalaminya dengan hangat.000 orang. lalu Sengoku Soya kabarnya berada di luar Horyuji." Samurai itu hampir tak dapat menahan rasa geli. Di bawah tepi atap sebuah warung teh. "Sanada Yukimura yang terkenal itu bersembunyi di Gunung Kudo. Walau jika dihitung juga tuan-tuan tanah feodal yang semenjak itu diizinkan menetap kembali dengan gaya yang lebih sederhana. "Bicara dengan kamu ini bikin jalan lebih pendek.000 orang samurai kehilangan jabatannya. Sambil menoleh ke Otsu. Banyak lagi yang dapat saya Ebook by Kang Zusi . walaupun saya akui. tapi tepatnya Nara bagian mana. sedangkan dia belum tahu akan menginap di mana?" Mendengar pertanyaan itu. "Apa kamu sudah mempelajari beberapa teknik?" "Belum bisa dikatakan begitu. Nara bisa jadi tempat yang sangat berbahaya. "Oh. apa menurut Bapak cukup aman hari-hari ini. Kalau dihitung untuk setiap lima ratus gantang padi ada tiga samurai yang telah dihentikan dari tempat kerjanya dan dipaksa bersembunyi di berbagai provinsi lain-terhitung keluarga dan pesuruhnya-maka jumlah mereka seluruhnya tidak akan kurang dari 100. Nona sendiri man pergi ke mana?" "Ke Nara. Menurut perkiraan kebanyakan orang. "Apa Nara masih jauh dari sini?" "Masih. damai. para pelarian berbondongbondong bergerak ke sana. "Silakan masuk. "Senang sekali bertemu dengan anggota Keluarga Yagyu!" serunya. Otsu bertanya kepada orang tua itu. Anak perempuan seperti Anda mesti menginap di Taga atau Ide. Sambil menghirup teh. Ada seorang ronin yang sudah sekitar satu tahun saya cari. Saya belum lagi belajar apa-apa. karena itu sukar bagi angkatan bersenjata Tokugawa untuk mengadakan perondaan. maka setidak-tidaknya ada delapan puluh daimyo dengan penghasilan seluruhnya sekitar dua puluh juta gantang yang telah dicabut hak miliknya. Sesudah Pertempuran Sekigahara." Shoda pun segera menyambung. seorang tua yang sangat sopan memegang sebuah ketel teh besar. Kalau tidak. "Misalnya. Dengan semakin berkembangnya kekuasaan ke-shogun-an Tokugawa dari tahun ke tahun. "Nona ini sudah beberapa bulan mencari seseorang. karena merupakan tempat sembunyi yang ideal. 120. lalu bercerita kepada mereka mengenai apa yang diketahuinya tentang keadaan Nara. Juga. bahkan bermaksud saja jangan!" katanya pasti. Tapi terpikir juga oleh saya. Padahal kenyataannya kota itu tidak lagi seperti itu. Bisa sediakan kue manis buat anak ini?" Jotaro tetap berdiri. Inc. dlan katanya.

Kizaemon bertanya. pemilik warung teh menutup ceritanya dengan minta amat sangat pada Otsu untuk mengubah maksudnya. "Tadi kaubilang namamu Otsu. Shoda berkata. Tapi sayangnya la betul-betul tak punya alasan untuk terus. Tak ada tawaran lain yang lebih baik dari itu. dan meyakinkan Otsu bahwa maksudnya itu terhormat. Kalau sekiranya ada sedikit saja petunjuk bahwa Musashi kemungkinan berada di Nara. Kebetulan tuanku yang sudah berumur delapan puluh tahun tidak lagi aktif. berapa pun kecilnya. yang dipertuan dari Koyagyu yang sudah tua itu adalah Yagyu Muneyoshi yang agung. tenang. Melihat Otsu masih juga diam." "Nah. Melihat kebingungan pada wajahnya. Otsu kini merasa ragu-ragu dan duduk diam sebentar. Inc. apa seorang perempuan dapat jalan sejauh itu sebelum malam datang." desaknya. Segera setelah ahli warisnya. tapi aku ragu. akan senang sekali dia kalau kamu ada di dekatnya dan sekali-sekali main untuknya. Sesudah pensiun. la sekadar berjalan ke arah Nara-tak ada bedanya dengan pengembaraannya ke berbagai tempat lain. ia melanjutkan. ia berkata riang. Jangan sampai tidak diterima tawaran itu!" Mendengar bahwa Kizaemon adalah pejabat dalam Keluarga Yagyu yang termasyhur itu." Semua itu orang-orang yang punya nama. keadaan mereka demikian sulit. Apa kamu bisa naik kuda?" Ebook by Kang Zusi . daripada berkeliaran tanpa tujuan ke Nara. Hmm. "Kamu lebih baik ikut dia." Otsu sadar bahwa pergi ke Koyagyu lebih memberikan harapan.. Keluarga Yagyu itu lain sekali dengan daimyo lain. "Barangkali kamu tahu. netcafe. tak akan ia berpikir panjang mengenai bahayanya. tapi kenapa tidak kau batalkan saja maksudmu pergi ke Nara itu. dia ahli upacara minum teh yang berselera sederhana. dengan harapan kerusakan yang mereka datangkan itu akan membuat angkatan bersenjata Osaka bangkit dan mengangkat senjata. Dia akan lebih terganggu oleh sifat malu-malumu itu daripada bayanganmu bahwa kamu kurang terampil. berjudi.property of: CROSSFiRE. Setengahnya lalu mulai berkelahi." "Jangan panjang-panjang kamu memikirkan soal itu. "Kalau menurut pendapat Tuan tak ada halangan apa-apa. Kota Nara yang dahulu tenang itu kini berubah menjadi sarang penjahat nekat. ia memakai nama Sekishusai. saya mau ke sana. Otsu." "Kamu mau? Bagus sekali! Terima kasih sekali. Diundang ke Koyagyu saja sudah merupakan kehormatan. Menurut pendapat orang tua itu. Munenori. "Nama lengkapku Shoda Kizaemon. semenjak Musashi meninggalkannya di Jembatan Himeji. karena mereka semua sedikit banyak punya prestise dan dapat hidup sendiri dengan keluarganya. hingga kalau bisa pedang pun akan mereka jual. aku memang ragu-ragu mengatakan ini. Dia menderita kebosanan luar biasa. di situ bahkan akan ada daftar tamu. "Tak suka kamu ke sana?" "Bukan itu soalnya. Sejak meninggalnya Yoshioka Kempo. Alangkah bahagianya kalau dalam daftar itu dapat ia temukan nama Miyamoto Musashi! Terutama karena memikirkan kemungkinan itu. Tergerak oleh ceritanya sendiri. orang-orang yang akan dibunuh dengan seketika kalau mereka menunjukkan diri. Tetapi yang mempersulit keadaan adalah para samurai miskin yang berkeliaran di jalan-jalan belakang kota. yaitu Yang Dipertuan dari Tajima. Dapat dipahami kalau para pemain pedang dari seluruh negeri akan datang ke pintu gerbangnya. sebutkan. atau mengganggu ketenteraman. Keluarga Yagyu dianggap banyak orang sebagai eksponen terbesar dalam seni perang di negeri ini. pergi ke sana sama halnya dengan menuangkan minyak ke kimono dan menceburkan dirt ke dalam api. nanti permainan saya tidak cukup baik untuk orang seperti Yagyu Muneyoshi. dan sebagai gantinya kau pergi denganku ke tanah Koyagyu?" Karena merasa wajib memberikan keterangan lebih banyak tentang dirinya.. Ketika kau berkata kau hidup dari main suling. Otsu merasa beruntung. keadaan tidak begitu jelek kalau hanya para ronin terkenal itu yang menyembunyikan diri. pulang dari Sekigahara. Namun ia merasa sukar menjawab tawaran itu.. Cuma saya takut. Satu-satunya harapan mereka untuk masa depan adalah kalau perang pecah lagi. bukan?" "Ya. Untuk gadis manis seperti Otsu. Khususnya Sekishusai. karena besar dugaannya. Tidak ada keluarga yang lebih besar di Jepang ini daripada Keluarga Yagyu. dia langsung dipanggil ke Edo dan ditunjuk menjadi instruktur dalam rumah tangga shogun. dan aku mengabdi kepada Keluarga Yagyu. Apa kau suka kerja begitu?" Orang tua itu segera menimpali dengan pernyataan setuju. terpikir olehku. orang itu bukanlah samurai biasa.

Mereka tak punya cukup uang untuk makan. Ebook by Kang Zusi . Kaubilang akan pergi ke Hozoin tadi. dan Kii bergabung jadi satu. "Apa sudah mau berangkat? "Ya. tapi kelihatannya menarik." "Kamu muridnya. Mereka datang dari Tsutsui. netcafe. la tidak tahu nama permainan itu. Mereka bertekad bertahan terus sampai perang berikutnya. Tukang kuda yang menanti di sana datang berlari-lari membawa kuda. sampai tak ada orang yang dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan mereka. kami berangkat. Jotaro melihat mereka dari bukit di belakang warung teh. Semua orang mempelajarinya. tapi kamu tak tahu gayanya?" "Tuan." jawab tukang kuda. karena entah dari mana mereka itu mendengar. "ilmu pedang itu sekarang cuma iseng-iseng. orang akan menunjukkan pada saya." kata Kizaemon menyetujui. "Yang berjudi itu termasuk yang baik-baik. Inc. mereka bisa lebih kuat daripada pasukan Yang Dipertuan sendiri." "Apa gaya gurumu itu?" "Saya tidak tahu. Tukang kuda tertawa. dan Jotaro menjawab bahwa di sebuah semak di bukit itu terdapat banyak orang sedang main." sela tukang kuda.." sela Jotaro." "Itu cuma sebagian sebabnya." "Tunggu saya!" Mereka sudah setengah jalan menyeberang Jembatan Uji ketika Jotaro menyusul. "tapi di antara mereka tentunya ada orangorang yang baik. karena itu mereka memikat musafir untuk main dengan mereka dan mengakali segala milik mereka. Mereka begitu kasar.. Kizaemon bertanya kepadanya." "Saya dengar Koga juga penuh dengan mereka itu. "Bisa. di mana dia." "Bapak ini begitu terus bicaranya tentang ronin.. Itu semua karena jauh lebih banyak ronin yang mengajar dibanding dahulu. "Guru saya seorang ronin!" Kizaemon tertawa." Kizaemon membungkuk ke bawah tepi atap dan mengangkat tangan ke arah jembatan. Memalukan!" "Oh. apa yang dilakukannya tadi." "Betul. dan katanya. kalau saya pergi ke sana. Cukup setia juga kamu." "Ya. sedangkan ia sendiri berjalan di sampingnya. Yamato. ya? Apa di sana gurumu tinggal?" "Saya tidak tahu betul. tapi dia bilang.property of: CROSSFiRE. Kizaemon menyuruh Otsu naik ke atasnya." "Mereka tertarik. jadi mereka itu berjudi untuk mata pencaharian?" tanya Kizaemon." "Kenapa Yang Dipertuan daerah ini tidak menangkap atau mengusir mereka?" "Jumlah mereka terlalu banyak-jauh lebih banyak daripada yang dapat dihadapi. bahwa jika orang cakap bermain pedang. "Banyak lagi lainnya yang menjadi tukang culik dan peras. Kalau semua ronin dari Kawachi. dan serunya. Kita dapat bertemu dengan lima atau sepuluh orang dari mereka yang berkeliaran di jalan ini setiap hari. "Itu ronin-ronin jembel yang sedang berjudi. "Maka itu kamu membela mereka.

" Jotaro kelihatan tak ingin bergerak. netcafe. anak sekecil ini pun sudah pegang pedang kayu. "Jaga baik-baik dirimu. "O ya. sebentar lagi gelap. Pohon-pohon kriptomeria telah menempuh musim dingin dengan selamat." "Otsu?" kata Jotaro. Musashi tidak mengalami kesulitan mencari arah Bukit Abura." kata Otsu. dan sedihnya." Kizaemon tertawa. Kuil itu terletak di Bukit Abura. Ketika perahu yang menjadi merah warnanya oleh matahari petang itu sudah setengah jalan menyeberangi sungai. sudah cukup untuk dianggap penipu. aku lupa bilang tadi. "Aku sudah memutuskan pergi dengan Tuan ini ke puri di Koyagyu. Di sini pula terdapat sisa-sisa kebesaran zaman Nara-reruntuhan sebuah kuil. Warna daun-daunnya sedang gelap-gelapnya. sedangkan aku sendiri banyak jalan. Bersamaan dengan tibanya senja. di sisi bagian sungai yang tiba-tiba menyempit." Kemarahan Jotaro sekilas bangkit. akhir-akhirnya kebanyakan mereka itu akan kelaparan." "Jalan pintas untuk menjadi kaya. Inc. Jotaro berlari sepanjang tepi sungai. kalau berani mengatakan begitu!" "Coba dengar! Masih seperti kutu membawa cungkil gigi. Tetapi sekarang yang tertinggal dari semua itu hanyalah serakan batu pondasi yang mengintip dari balik lumut dan rerumputan. dan sedikit demi sedikit ditelan oleh awal bayangbayang gunung. Dan jangan buang waktu di jalan. di tengah hutan kriptomeria yang luas dan lebat." kata Otsu tersenyum. "Tapi siapa yang Kakak cari itu?" canyanya. Coba. dan reruntuhan rumah mandi umum raksasa yang dibangun oleh Ratu Komyo untuk orang miskin. "Orang macam apa?" Tanpa menjawab. itulah tempat tinggal jin-jin. Pendeknya. Mereka berada di lembah. Hozoin MURID seni bela diri umumnya mengenal Hozoin. jangan marah. yaitu Kuil Ganrin'in. "Apa ini? Coba. Masih dapat ia mengenali kuda Otsu dan Kizaemon di jalan Kuil Kasagi. Otsu melambaikan selamat berpisah. Yang berani menganggap dirinya murid serius. tapi sudah membayang-kan dirinya prajurit besar." "Tidak lagi! Tak usah menguatirkan saya!" Mereka berjalan terus. Nah. daimyo akan berlomba-lomba menyewanya dengan bayaran empat atau lima ribu gantang setahun. tapi begitu sampai di sana ia berdiri memandang ke sekitar dengan kagumnya. "Hei. nanti kamu kehilangan tabung bambu lagi. Yang lain-lain memandang matahari yang pelan-pelan tenggelam. ia menoleh ke belakang. yang mengira Otsu akan pergi bersamanya. karena di sana terdapat kuil-kuil lain yang bersarang di tengah hutan. Jotaro merajuk diam. Jotaro. Barangkali dia mengira bahwa dia hanya harus belajar memukul orang dengan pedang itu untuk menjadi manusia sejati. sekalipun aneh juga bahwa hanya sedikit orang yang kenal Gudang Shosoin yang justru lebih penting karena koleksi benda-benda seni kuno yang tak ternilai harganya. lalu melompat ke tengah perahu tambangan kecil. "Di sini kita berpisah. Rumahmu jalanan. Kita melihat banyak orang macam itu. "Tapi kita akan bertemu lagi hari-hari ini. Mengerikan kalau kita memikirkannya. Gunung-gunung di kejauhan masih terang Ebook by Kang Zusi ." Ia memungut sebuah batu dan dilemparkannya batu itu bersilantar di permukaan air. di atas pepohonan itu tampak lekuk-lekuk feminin Gunung Kasuga. dan kini bermandikan hujan awal musim semi. ya?" "Tepat. jadi lebih baik kamu buru-buru." Jotaro tampak terenyak. tapi menganggap tempat itu sama saja seperti kuil-kuil yang lain. Akhirnya mereka sampai di pangkalan perahu tambangan di Sungai Kizu. Tempat itu juga terkenal di antara penduduk setempat.property of: CROSSFiRE. "Mestinya sudah sejak tadi aku tahu bakal sendiri lagi.

Pada waktu menerima tamu pun ia sudah tidak dapat melakukan percakapan. Pikiran Musashi demikian penuh oleh Hozoin. Saya bisa mengerti kalau orang yang dilahirkan pincang pergi ke situ untuk diluruskan kakinya. yang berlainan." "Kenapa?" "Berbahaya. karena hanya huruf pertama. Betul?" "Di belakang kuil ini. Seni bela diri hanya sampingan. "tak banyak faedahnya Anda pergi ke sana. tak dapat Anda mempelajari sesuatu. walaupun dia sudah punya banyak murid. Kuil itu tempat suci untuk cahaya Hukum Sang Budha. dan katanya. netcafe. Hozoin ada di Bukit Abura. seperti ditunjukkan oleh namanya. Ozoin rupanya milik Sekte Nichiren." simpul biarawan itu sesudah menjelaskan semuanya. In'ei sekarang berumur delapan puluh empat tahun dan sudah sepenuhnya pikun. kepala biara itu tertarik pada seni bela diri dan akhirnya mulai belajar ilmu pedang sebagai pelengah waktu. oleh sinar matahari. sering kali mengunjungi Yagyu Muneyoshi. mula-mula ia salah baca. Walaupun sadar dianggap enteng oleh orang itu. "Boleh saya bertanya?" "Tentang apa?" "Kuil ini namanya Ozoin?" "Ya." "Kalau begitu dengarkan nasihat saya: Lupakan saja. Anda barangkali tak dapat bertemu dengan gurunya. Selagi ia berdiri di sana. Inc. teman Muneyoshi. Karena hubungannya dengan Muneyoshi dan dengan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. agak lain daripada biarawan Nichiren biasa. dan sepengetahuan Musashi inilah yang menjadi cikal-bakal Gaya Hozoin yang sangat dihargai orang. dan kalaupun Anda bertemu dengannya. Sekalipun di antara kuil-kuil itu tak ada yang mirip dengan yang dicarinya. "Saya sudah mendengar tentang In'ei. Ia hanya duduk dan membuat gerakan-gerakan yang tak dapat dimengerti dengan mulutnya yang sudah ompong. yaitu "0". "Tak ada apa-apanya desas-desus itu. Tapi saya mendengar juga bahwa seorang pendeta yang namanya Inshun telah mengambil alih kedudukannya dan menggantikannya. Kakuzenbo In'ei." kata biarawan itu dengan nada menghina.property of: CROSSFiRE. Musashi melepas topi. kepala biara yang dulu. Inshun Ebook by Kang Zusi . begitulah. Soal lembing sudah dilupakannya sama sekali." Sikap kasar orang itu menunjukkan bahwa ia ingin Musashi lekas pergi." "Kata orang. "Jadi. dan saya tahu bahwa yang Anda katakan itu benar. pergi juga ia ke dalam untuk melihat. seorang biarawan muda yang baru kembali ke Ozoin melewatinya dan menatapnya penuh curiga. Musashi mendatangi setiap gerbang untuk memeriksa papan namanya. tapi dia sudah paham semua rahasia Gaya Hozoin. Walaupun kemudian ia segera menyadari kesalahannya. tidak pernah dia menolak memberikan pelajaran pada siapa pun yang datang kepadanya. Musashi mendesak terus. demikianlah kira-kira. Ia hampir tidak pernah menjumpai siapa pun. Menurut biarawan itu. Kelihatannya ia tidak dapat menangkap apa pun yang dikatakan orang kepadanya. Hozoin adalah kuil Zen yang tak ada hubungan-nya dengan Nichiren. Anda mau ke sana buat bertanding?" "Ya. hingga ketika ia melihat papan nama Kuil Ozoin. Perhatian utamanya terletak pada agama. Menurut yang saya dengar." Biarawan itu tegap tubuhnya. tapi saya tak melihat alasannya kalau orang yang anggota badannya baik dan lurus mesti pergi ke sana untuk dikutungi. seperti yang tertulis di papan itu. Sepanjang pengetahuannya. Inshun. jumlah calon prajurit telah mencapai angka yang oleh Hozoin pun sudah dianggap mengganggu. Lalu ia mengembangkan cara-cara baru dalam menggunakan lembing. Orang bilang dia masih belajar." "Oh.

Akhirnya sampailah ia di depan Hozoin." Kejadian di halaman itu masih terus menghantui pikirannya. dan ia meloncat ketakutan ke udara. kepala biara kami merasa sayang jika reputasi Hozoin tersia-sia begitu saja. Walaupun orang itu tidak bergerak ataupun berbicara. Biarawan muda itu tadi mengatakan In'ei sudah pikun dan sudah lupa sama sekali akan tombak. dan kemudian dia atur pula agar Inshun menjadi kepala biara. Di situ terdapat sebuah tong penuh air yang disalurkan lewat pipa bambu. Lebih baik memutar ke kiri atau ke kanan?" "Tak perlu memutar. seolah-olah baru saja lolos dari pukulan pedang atau tombak yang mematikan. tapi aku ingin tahu. ia berpikir.property of: CROSSFiRE. Takkan salah lagi. dan bawang. "Apa arti semua ini?" demikian ia terheran-heran." "Tadi Anda bilang tempatnya di belakang ini. keadaan betul-betul sepi. maksudnya secara tak langsung adalah supaya Musashi membasuh kakinya dulu. dilihatnya punggung yang bungkuk itu masih menghadapnya dan cangkul itu masih juga meneruskan iramanya yang tak terputus-putus. begitu. Selagi berjalan di tanah lunak di antara baris-baris lobak. gudang empleng kacang. "Silakan masuk. Sekiranya ia salah seorang prajurit pendeta Gunung Hiei. Yang kelihatan oleh Musashi pada orang itu hanyalah sepasang alisnya yang putih saiju. dan katanya. Melihat ada sebuah gong besar di samping pintu masuk. Sambil menanti munculnya seorang pembantu. Seorang pendeta datang ke pintu. hingga rasanya kurang sopan mengganggunya. Karena dari hari ke hari terbiasa menerima kunjungan orang-orang seperti Musashi. Namun ketika Musashi berlalu tanpa mengucapkan sesuatu. Di kanan-kirinya terdapat sekitar sepuluh pasang sandal yang usang dan Ebook by Kang Zusi .. Jauh lebih cepat jalan terus lewat kuil kami ini." "Tentu. Sesudah In'ei mulai memperlihatkan tanda-tanda ketuaan. Ia benar-benar merasakan kekuatan misterius itu menghunjam tubuhnya." dan memberikan isyarat ke kanan pintu masuk. pasti ia komandan batalion. Karena itu dia mengajarkan pada Inshun rahasia-rahasia permainan lembing yang pernah dia pelajari dari In'ei. Hampir seketika itu juga teriakan jawaban terdengar dari dalam kuil." Sesudah mengucapkan terima kasih kepadanya.. kagum oleh kekuatan yang baru saja menyerangnya. rades. sudah sejauh ini saya pergi. Di situ terdapat gudang kayu. Di sebelah kebun itu ia melihat Hozoin. "Anda shugyosha?" "Ya. sebetulnya murid kepala biara Ozoin. tapi orang tua itu rupanya demikian tenggelam dalam pekerjaannya. Musashi menyimpulkan bahwa orang tua itu biarawan Ozoin. tiba-tiba sadarlah ia bahwa orang itu sedang menatap kakinya dari sudut matanya. ia hanya melontarkan pandangan selintas. ia memukulnya. Inc. Ini bukan mimpi di siang bolong. "Inshun mestinya masih muda. namun rasa ingin tahunya masih belum reda. Musashi berjalan melewati dapur kuil itu ke belakang pekarangan. Seluruh tubuhnya terasa panas. Orangnya besar dan berotot. ia memandang baik-baik lempengan cangkulnya." "Oh. Musashi merasa diserang dengan kekuatan yang mengerikan-suatu kekuatan yang seperti kilat membelah awan.. Ia berseru dua kali lagi.. la hampir berbicara. tapi jawaban satu-satunya yang diperolehnya adalah gema dari pepohonan di sekitar. Sambil membungkuk mencangkul." kata Musashi. netcafe." "Ada keperluan apa ke sini?" "Saya ingin bertemu dengan Guru. Ketika ia menoleh. "Tapi Anda masih juga ingin ke sana?" "Yah. dan kebun sayur-sayuran yang luasnya sekitar satu ekar." Pendeta itu berkata. ia lihat di satu sisi seorang tua yang sedang mencangkuli sayursayuran. mirip sekali dengan wilayah di sekitar rumah seorang petani kaya.. Kecuali dentang cangkul yang mengenai batu-batuan.

Pertarungan di sini berlangsung kasar. Semuanya dengan saksama memperhatikan dua pemain tombak yang sedang melakukan latihan pertandingan. tapi semenjak zaman guru kami yang pertama. Tongkat kayu ek yang dipegangnya tegak lurus itu panjangnya paling tidak sepuluh kaki. demikian juga contoh-contoh yang diberikan oleh para pendahulu di negeri ini. Selain sikap kasar si raksasa yang telah mengantarnya masuk itu. Ia menutupnya dengan mengatakan. dan membaca persyaratan yang tadi ia lewati. dan bahkan dahinya seolah terdiri atas otot-otot menggelembung. Di situ ia diminta menanti. bahkan bisa juga mematikan. Belum pernah Musashi melihat tiang-tiang yang demikian besar kelilingnya. tanpa menyebutkan nama gurunya. "tapi tidak terlalu rajin mempelajarinya. "Saya masih dalam taraf belajar. menurut penglihatan Musashi tak ada suatu pun yang menunjukkan bahwa ada yang luar biasa di kuil yang satu ini. bahu. Disamping itu ada beberapa samurai yang hanya menjadi peninjau. dan seluruh tubuhnya-kaki. tantangan akan diterima. tetapi para murid yang kini duduk di lantai itu hanya menggunakan tongkat latihan dari kayu ek panjang." Musashi membuka buku itu dan memperhatikan nama-nama di dalamnya." Dojo itu besar sekali. Katanya. Ia bukan tamu satu-satunya di situ." kata Musashi sambil menyeringai sedikit—memang itu sudah sewajarnya bagi orang yang berniat menjadi prajurit. "Baiklah. kertas emas. Inc. manakala saya mendapat cedera badaniah ataupun terbunuh. di mana Anda pernah belajar. ketika ia duduk di sebuah sudut." Karena ada maksud belajar dengan sungguh-sungguh. Orang itu tak dapat lagi duduk. dan ia juga melihat bekas-bekas cat. Sebelum Anda melanjutkan. tangan. dan menjatuhkan diri dengan susah payah pada sebelah lututnya. Musashi mengikuti pendeta itu menyusuri lorong yang lebar dan gelap. jika seseorang ingin bertarung dengan tombak bertulang. maka saya membebaskan kuil dari segala tanggung jawab. Tak seorang pun melontarkan pandangan kepada Musashi. Bau dupa mengambang di udara. Judul buku tamu itu: "Daftar Orang-orang yang Mengunjungi Kuil Ini untuk Belajar Pramugara Hozoin. Menuruti gaya masukan yang terakhir. Hozoin terkenal di manamana karena permainan tombaknya. Di situ ada juga murid pendeta yang sama jumlahnya. la belajar menggunakan pentung dengan pimpinan ayahnya. "Silakan tulis nama Anda. Namun pukulan di sini bisa terasa sangat sakit. Silakan. Lebih dari sepuluh calon prajurit duduk di kamar tunggu. Anda barangkali sudah tahu. Para biarawan tentunya telah mengorbankan sebuah ruangan kuliah atau bangunan besar lain untuk membuat dojo itu." "Mm. dan cat dasar Cina putih pada kerangka lubang angin. Bunyinya: Karena saya datang kemari dengan tujuan belajar. Kakinya yang luka dijulurkannya ke depan. Ketika muncul kembali. Salah seorang yang berlatih terlontar ke udara dan berjalan terpincangpincang kembali ke tempat duduk. Kalah. membukanya. dan tidak ada perkecualian.property of: CROSSFiRE. netcafe." Bicaranya seolah-olah sedang mengajar seorang anak. Satu orang yang agaknya salah seorang dari yang datang hari itu menyam-butnya. pendeta itu menyerahkan daftar tamu dan kotak tinta kepadanya." Musashi mengambil buku itu. la mengikat lengan Ebook by Kang Zusi . kotor. Menurut papan pemberitahuan di dinding. Musashi melihat pahanya membengkak sampai sebesar batang pohon. Semua itu hal-hal yang tidak biasa ditemukan dalam ruang latihan biasa. Jawaban Musashi sama dengan yang pernah diberikannya di Perguruan Yoshioka. dan gaya apa yang Anda gunakan. "Saya setuju. dan dipersilakan masuk ke kamar tunggu. Musashi menuliskan keterangan yang diminta. "Berikutnya!" terdengar panggilan orang yang duduk di lantai. Masing-masing ditulis di bawah tanggal berkunjungnya seorang samurai atau murid. Lewat jendela ia dapat melihat daundaun lebar pohon pisang. Pendeta itu tentu saja sangat tertarik pada hal ini. seorang pendeta yang sikapnya angkuh luar biasa. barangkali lebih baik Anda membaca dulu apa yang tertulis di awal buku tamu itu. maka ia berguru pada segala yang ada di alam semesta ini. Lengan jubahnya diikatkan ke belakang.

kembali pada posisi semula. "Tidak." Tanpa mengendurkan sikapnya. bukan berjalan. "Agon. "Siap!" teriak Agon. tapi mengangkat kepala dari lantai pun ia sudah tak sanggup. lembing Agon yang tidak bermata logam itu langsung melesak tembus. jangan tolol! Lihat. Ia mencengkeram tongkat kayu hitam mengilat itu. Pramugara berotot itu pun mencocokkan daftar tamu dengan wajah orang-orang yang sedang menanti. Katanya malas. guru generasi kedua. memilih tombak-kampak. Papan-papan di situ baru saja diganti. salah seorang murid senior yang dikenal sebagai "Tujuh Pilar Hozoin". Selesai sudah. lihat! Bukan papan yang kamu hadapi. tapi sekalipun kayu baru itu liar. ia menderas ke arah dinding belakang dan dengan bengis menghunjamkan tombaknya ke bagian dinding yang dipergunakan untuk berlatih. tetap dengan wajah masam. tapi baru saja mereka selesai menghormat. Satu suara mengatakan. lalu berjalan acuh tak acuh ke tengah lantai. karena para penantang selalu dapat dijatuhkan oleh salah seorang dari mereka ini. Dengan cepat ia mengambil sikap menyerang. jangan hari ini.." "Apa pula itu artinya?" "Artinya. membelakangi Musashi. "Siapa kamu?" lenguhnya. kembali mendekati Musashi." Agon mengalah. orang bebal." Semua mata menatap Musashi ketika ia bangkit. Semula Musashi mengira orang itu Inshun. Inc. Saya datang lagi nanti. "Tidak ada lagi?" lenguh Agon yang memegang tombak latihannya mendatar. Orang itu Agon." "Teruskan saja. Ia belum mati. Dua murid si pendeta keluar dan menyeretnya pergi pada lengan dan pinggang kimononya. Terdengar tawa kering di luar jendela. dan menyerang ke jurusan lain." serunya.property of: CROSSFiRE. "Yow-w-w!" Pekik kemenangannya menggema seram di seluruh ruangan ketika ia mencabut tombaknya dan mulai menari. dan bersamaan dengan itu ia menjatuhkan tongkatnya sekuat-kuatnya ke tengkorak si penantang. kemudian tampak di ambang jendela kepala mengilat dan sepasang alis seputih Ebook by Kang Zusi . si pendeta sudah memperdengarkan raungan anjing liar. "Gantikan saya." desak mereka. Ia menatap penantang terakhir itu dengan galak. Uap mengepul dari tubuhnya yang terselimut Ia mengambil posisi agak jauh. "Tinggal seorang lagi. Ia menunjuk seorang di antaranya. "Yah-h-h!" Sambil memekik seperti burung garuda yang sedang berang. netcafe. tapi ketika penantang baru muncul. "Berikutnya!" seru si pendeta lagi." "Bagaimana kalau Anda?" "Kalau Anda tidak keberatan. kelihatan sedikit heran.. Ia berdiri diam. Mereka membungkuk seperti kebiasaan. Agon yang congkak itu telah menyingkir dari lantai dan waktu itu sedang bercakap-cakap dan tertawa bersemangat dengan sekelompok pendeta. saya sedia bertarung. Penantangnya sudah kalah.. Di lantai yang ditinggalkannya berceceran ludah bercampur darah. Tawa itu terdengar terus. Agon memandang ke jendela. Pendeta berdiri tak bergerak ketika si penantang pergi ke dinding. kimononya dengan tali kulit dan berjalan menuju tempat latihan. "Berikutnya. pandangan bosan tampak kembali pada wajahnya. Musashi maju bersenjatakan pedang kayu. dan datang menghadapinya. tapi orang-orang yang duduk di sekitarnya mengatakan bukan. yang agaknya sudah dikenalnya betul. Mereka bilang Inshun sendiri tidak pernah bertarung.

Otot-ototnya seperti baja. "Tak baik buatmu. Inc. dan serunya. Bapak sungguh baik hati. "Kalau obat dapat menyelamatkannya. tapi karena hadannya sedikit lebih kecil dari lawannya dan tidak begitu berotot. netcafe. Dalam sedetik yang menentukan itu Musashi menangkis dan sekaligus melancarkan serangan balasan. Musashi berdiri diam sepenuhnya. Perbedaan terbesar adalah pada matanya. Musashi berjalan ke pintu depan dan mengenakan sandalnya. Biarkan saja orang itu menanti sampai lusa. saya bertindak atas namanya. "Obat! Ambil obat! Cepat!" "Kalian tidak membutuhkan obat lagi." Musashi yang juga menoleh ke jendela itu. ia tampak terganggu sekali. Sergapan yang dilancarkan Agon diiringi pekik tajam." Ia mengantar Musashi ke sebuah kamar di belakang ruangan latihan. Tak ada yang aneh pada sikapnya. melihat bahwa wajah di jendela itu wajah orang tua yang tadi dilihatnya ketika menuju Hozoin. tetapi Musashi tetap tak bergerak. Pintu merupakan satu-satunya jalan ke luar. lompatannya bukan main ringannya. jika Inshun sudah kembali. barangkali untuk mengibaskan kata-kara peringatan orang tua itu. "Ya?" "Saya mau bicara sedikit dengan Anda. Peringatan orang tua itu hanya berpengaruh pada genggaman senjata Agon yang agak mengendur. Seorang pendeta bangkit berdiri. Musashi bertanya untuk basa-basi. Ia memegang pedang lurus ke depan dengan kedua belah tangannya. ia menyumpah ke arah jendela yang kini kosong dan melupakan nasihat yang diterimanya." Itu ucapan orang tua yang masuk dari pintu depan dan cepat menilai keadaan. barangkali untuk mengibaskan keringat yang mengucur dari dahinya. Sambil menoleh Musashi menjawab. Goblok!" Tak seorang pun memperhatikan Musashi.property of: CROSSFiRE. Kali ini tidak. "Saya berterima kasih atas latihan baik yang saya terima hari ini. Apakah kata-kata itu masih menempel? Apakah ia mencoba membuangnya ke luar pikirannya? Apa pun alasannya. Dalam suasana kacau-balau itu. sebuah sel sederhana persegi empat. seakan-akan keduanya itu digantungkan di sana oleh seorang pedagang barang antik. atau begitulah kelihatannya. menggeletar seperti cahaya bulan di atas gelombang samudra.. Wajahnya masam. salju. dan baru kembali dalam dua atau tiga hari ini. Mata Musashi setajam mata burung. Karena tak ada lagi yang bisa dikerjakannya. kepala itu sudah lenyap." Ebook by Kang Zusi .. beberapa orang menginjak tombak latihan dan jatuh tertelungkup. "Hai!" katanya. tangan dan dadanya berlumuran darah. tapi dia sedang dalam perjalanan. Berulang-ulang ia mengganti posisi dalam usaha memancing Musashi. Tapi baru saja ia sadar. sedangkan biji matanya seperti batu koral terang bergurat darah. tapi saya minta maaf atas terjadinya musibah tadi. Agon. Sementara Agon mengetatkan genggaman tombaknya.. "Apa yang terjadi?" Para rekan pendeta Agon bergegas maju ke depan dan mengerumuninya dalam bentuk lingkaran hitam. Agon menggelengkan kepala. tidak akan aku mencoba menghentikannya tadi. Jadi. ia tampak hampir biasa saja." kata Musashi membungkukkan kepala. Masuklah lagi. dan bila ia melompat. orang tua itu berkata. "Sebetulnya lebih layak kalau Kepala Biara datang menyambut Anda. Sesudah mereka duduk. Kelihatan seolah kedua kakinya berada di lantai dan di udara sekaligus. tapi begitu matanya bertatap pandang dengan mata Musashi. Orang tua itu mengikutinya." "Oh. "Anda siap?" Basa-basi ini malah membikin Agon meradang.

" Jadi. netcafe. Sekarang ia merasakan pendeta itu guru. Saya masih selalu berbuat kesalahan." "Apa namamu Miyamoto Musashi?" "Betul. Tak usah itu menggelisahkan Anda. seakan-akan Bapak sedang mencari tempat lemah dalam tubuh saya untuk diserang." "Bagaimana?" tanya Musashi bingung. Embusan napasnya terasa seperti angin dingin pada wajah Musashi. dan ia sendiri murid. bukan?" "Ya. tadi kau lewat kebun sayur tempat aku bekerja?" "Ya." "Siapa gurumu belajar seni bela diri?" "Saya tak pernah punya guru dalam arti biasa. dan katanya. sekalipun mereka belum bersapa kata. "Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Musashi benar. Saya merasa ada hawa pembunuhan dalam pandangan Bapak." "Bagaimana luka Agon?" "Dia terbunuh seketika. Anda harus siap menerimanya sebelum Anda mulai bertarung. mesti lebih lemah. Juga." Sekali lagi pedang kayunya membunuh orang. Demikian kuat semangat juang dan ambisimu. Saya juga menghabiskan sejumlah waktu mengitari pedesaan. tidak! Saya masih belum matang. Sejak itu saya mengambil sejumlah pelajaran dari samurai yang lebih tua di berbagai provinsi. "Kalau yang lewat itu cuma salah seorang dari petani desa ini." "Kamu rupanya memiliki sikap yang tepat. Dalam hati ia menyerukan nama Sang Budha. seperti yang biasa dilakukannya dahulu dalam kejadian serupa." kata orang tua itu. "Jadi. Kau mesti mengendalikannya. Waktu itu aku merasa harus siap mempertahankan diri. "Kau ingat. Benar. Ayah saya mengajari saya menggunakan pentung ketika saya masih kecil. saya bayangkan waktu itu Bapak bisa menggunakan cangkul Bapak sebagai senjata dan menghantam kaki saya. kau melompat menyingkir. kau merasakan sikap permusuhanku. "Oh. walaupun perhatian Bapak kelihatannya terpusat ke tanah. Saya menganggap semua itu guru juga. ketika ia menduga orang itu bukan orang biasa." "Ketika melihatku. belajar di gunung-gunung dan sungai-sungai. Inc. Kurasakan itu di ujung cangkulku. aku sendiri tak akan lebih dari seorang tua yang sedang mengurus sayur-sayuran." "Bukan itu yang kumaksud. Ia memejamkan mata. tapi itu hanya pantulan sikapmu sendiri. "Anak muda!" "Ya. Kau masih lima puluh kaki jauhnya dariku. "Dia mati?" Lalu kepada diri sendiri Musashi berkata." Orang tua itu tertawa. Pak. Tapi kamu begitu kuat! Terlalu amat kuat!" Merasa sedang dipuji. seluruh tubuh saya terasa terpaku oleh pandangan Bapak. Kekuatanmu itulah yang menjadi masalah. terjadi lagi sekarang. sehingga muncul dalam setiap langkah yang kau ambil. tapi sudah kutangkap apa yang dinamakan 'hawa pembunuh' itu di udara. "Kenapa? Hal seperti itu memang kadang-kadang terjadi." "Kenapa begitu?" "Wah. wajah Musashi memerah.property of: CROSSFiRE. Sikapnya kepada orang tua bungkuk itu Ebook by Kang Zusi .

netcafe. teh." "Apa betul demikian?" "Sudah kaulihat seni tombak Hozoin tadi. dapat dianggap demikian. ingin saya melihat bagaimana guru terkemuka itu memainkan tombak. Namaku Nikkan. saya ingin tahu. Ketika ia sudah menghabiskan semangkuk nasi dengan teh dan dua acar. memajukan sedikit kepalanya. aku bukan dari Kuil Hozoin." Nikkan menaikkan bahunya. dan karena dia mempelajari seni tombak. Ia baru mengendurkan pandangannya ketika seorang pendeta muda masuk dan berbisik kepadanya. lalu berangsur-angsur berubah menjadi biru langit yang bening." perintahnya. Nikkan menyendok nasi dari wadah itu dan memasukkannya ke dalam mangkuk. yaitu mentimun yang diisi kemangi dan cabe merah. Nikkan bertanya. atau barangkali tombak di dekat ambang pintu itu yang hendak melayang ke arahnya. "Kusuguhkan nasi. ada perasaan mencengkamnya bahwa tinju Takuan hendak menghantamnya lagi. Tapi kaum pendeta tidak seharusnya menggunakan senjata." Sementara Musashi mengambil sumpit. Namun ada yang merasa sayang sekali kalau Gaya Hozoin itu lenyap. perhatikan aku. Kau akan merasakannya enak juga. dan acar. "Mau lagi?" "Tidak." "Oh. Pandang mataku. Baru ia menggigit acar itu. Tak ada orang lain lagi yang kuajari. Karena itu aku mengajarkannya kepada Inshun. ketika menghadapi Agon.property of: CROSSFiRE. Boleh saya menanyakan nama Bapak dan kedudukan Bapak di kuil ini?" "Oh. kuputuskan untuk belajar bersamanya. Tapi kali ini tak dapat ia menyatakan apakah daya tembus mata itu berasal dari dalam diri si pendeta. Inshun yang jadi kepala biara ini murid Bapak. Mereka membuat acarnya sendiri yang disebut acar Hozoin." Nikkan menggeleng mencela. biji mata Nikkan bersinar. lalu memberikannya kepada Musashi. Sudah biasa bagi Hozoin menyuguhkannya pada semua orang yang datang kemari untuk belajar." "Ya. ataukah jawaban atas sesuatu yang ia keluarkan sendiri. Sudah cukup banyak. bukan karena semangat keagamaannya. selama saya berada di sini. Apa lagi yang perlu disaksikan? Kalau ingin belajar lebih banyak. Tapi belakangan aku punya pikiran lain." "Aku teman lama In'ei. terima kasih. Ia melengos. karena itu tak usah merasa telah merepotkan. dan menatap Musashi. Tawa Nikkan pun berderai-derai seperti derak papan sekering tulang." "Jadi." "Kalau demikian. menjadi hormat. "Bawa sini. Sementara Musashi ganti memandangnya. "Saya mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang Bapak berikan. Matanya seolah-olah melompat dari ceruknya. Aku Kepala Biara Ozoin. Segera pendeta muda itu kembali membawa baki dan wadah nasi dari kayu yang bulat bentuknya. ia merasa mata Nikkan yang tajam itu terarah lagi kepadanya. mula-mula dengan nyala warna merah merjan. Tak ada yang bisa dipelajari di sini. Inc. "Itu buang-buang waktu. Cahaya mata itu membakar dan menumpulkan pikiran Musashi." Ebook by Kang Zusi . apakah Bapak mengizinkan saya tinggal di kuil Bapak sampai Inshun kembali?" "Apa kau berniat menantangnya?" "Yah. Sekarang tidak pernah lagi kusentuh senjata itu. dan rasanya sayang bahwa Hozoin jadi terkenal justru karena seni bela dirinya.

wilayah antara Kolam Sarusawa dan bagian hilir Sungai Sai telah dibangun dengan mantapnya. Musashi segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menjelaskan keadaan dirinya dan sekalian minta nasihatnya. yang terbesar dari semuanya? Itulah persoalan yang terus merundungnya siang dan malam. Ia menyebutkan namanya dan pendeta yang berjaga di pintu melongokkan kepala. mengetuk pintu pelanpelan." demikian gerutunya ketika ia berjalan pelan-pelan melintasi rumpun kriptomeria. Kalau dia datang. "Aku sudah diungguli!" Dalam cahaya remang-remang terlihat olehnya bayang-bayang sekejap melintasi jalannya. Ia kembali lagi bersama seorang wanita yang masih agak muda. Besok atau lusa akan datang satu orang mencari saya kemari.property of: CROSSFiRE. "Yang datang itu anak lelaki. jadi tak usah susah-susah memberi tip atau apa pun. agar Jotaro dapat menemukannya dengan mudah. Di sana sekarang terdapat bangunan campur aduk. tapi ia harus hati-hati mengeluarkan uang. hanya untuk kalah secara batin?" Tiba-tiba. Dia harus menanyakan saya di rumah-rumah penginapan yang ada di sana. dan katanya sambil lalu. Di situ Musashi akan diterima dengan senang hati. Musashi berhenti di tengah hutan lampu di daerah paling ramai." Ebook by Kang Zusi . Ada banyak rumah penginapan di sana. Tanpa menantikan jawaban Musashi lagi. netcafe. namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Musashi merasa perlu menambahkan. "Ini bukti aku kalah. karena ia meninggalkan tempat itu dengan keyakinan bahwa bagaimanapun ia sudah kalah. "Di mana Tuan mau menginap malam ini?" Karena tidak kenal daerah itu. Inc. Ia bingung di mana mesti tinggal. Baru-baru ini Okubo Nagayasu datang memerintah kota itu atas nama Keluarga Tokugawa dan mendirikan kantor-kantor pemerintahan di dekat sana. Kenapa? Apa aku menang secara lahir. Dan itu tidak merupakan satusatunya sengatan yang dirasakannya. Usahanya berjualan bakpau maju pesat. Di tengah kota berdiri bangunan milik seorang Cina yang kabarnya adalah turunan Lin Ho-ching. Selama sekitar dua puluh tahun terakhir ini. "Ada apa? Ada yang lupa?" "Ya. tapi aku tinggalkan tempat itu dengan perasaan kalah. rasa kue itu dapat dinikmatinya dengan senang. Aku dikalahkan oleh kepala biara tua itu!" Kekesalan Musashi berlanjut terus. saya mohon disampaikan kepadanya bahwa saya tinggal di daerah Kolam Sarusawa. kemudian menoleh kepada Musashi. dan waktu itu sedang berlangsung perluasan tokonya ke arah Kolam Sarusawa. yaitu kementahan yang dirasakannya di hadapan Nikkan. Rumah pondokan itu terdapat di lorong yang tenang. Berlainan dengan acar pedas di Hozoin. Dia masih kecil. terima kasih. "Bagaimana rasa acarnya?" "Enak sekali. rumah-rumah penginapan. "Aku kalah. Ia masuk toko itu. dan katanya pelan." Musashi kembali menempuh jalan yang tadi ditempuhnya sambil menggerutu. Bayang-bayang segerombolan kecil rusa yang ketakutan oleh langkah kakinya. ia merasa lapar lagi. duduk dan memesan satu piring penuh. Ketika pesanan datang. "Ini rumah kakak perempuan saya. Lagi pula ia ingin memilih tempat yang tidak terlampau jauh dari jalan yang banyak ditempuh orang. ia memutar langkah kembali menuju Hozoin." Sesudah pergi pun sengatan cabe merah di lidah itulah yang terutama mengingatkan Musashi kepada rasa acar itu. Bagaimana mungkin ia menjadi pemain pedang besar. ia melihat bahwa nama Lin dicetakkan di bagian bawah kue. gadis itu sudah menderap pergi. Ia baru saja makan di kuil. agaknya ia istri pemilik toko." Karena jawaban itu acuh tak acuh. Aku bahkan lupa meninggalkan pesan untuk Jotaro. tidak jauh dari restoran." "Baik. Walaupun ia sudah menang melawan Agon. dan toko-toko baru. Alisnya yang dicukur menunjukkan bahwa ia sudah menikah. di mana lampu-lampu masih menyala. karena itu tolong disampaikan pesan ini baik-baik kepadanya. Gadis yang menuangkan tehnya bertanya sopan. tapi ketika tercium olehnya bau bakpau itu. Pertemuan hari ini telah membuatnya betul-betul murung. aku menang. Agaknya itu tempat tinggal biasa yang kadang-kadang menerima tamu. karena ingat Jotaro. Gadis itu mengatakan bahwa salah seorang sanak pemilik toko itu mempunyai rumah pondokan. Namanya Jotaro. Si nyonya tak beralis itu mengantar Musashi. "Kalau bicara soal kekuatan fisik.

"seperti saya katakan tadi. "Kalau mau terus terang. walaupun diprotes oleh pelayan. "Nyonya menerima orang seperti saya ini supaya saya dapat bertindak selaku pengawal. kenapa dengan kecakapan Anda yang demikian Anda hanya jadi ronin? Suatu pemborosan bakat bahwa Anda tidak mengabdi kepada seorang daimyo!" Ebook by Kang Zusi . "Akan ada orang datang mencari saya. saya ingin bertanya. Saya menantikan seorang tamu. Saya harap Nyonya merasa aman. dan begitu saja dia langsung melumpuhkan salah satu dari Tujuh Pilar. Ia heran. di rumah ini tak ada lelaki." kata yang seorang. kenapa rumah sebaik itu menerima tumpangan. seolah-olah mereka telah mengenalnya sepanjang hidupnya. Kamar dan perlengkapan kamar itu terlalu baik untuk sebuah rumah penginapan biasa. ia menjawab sambil tertawa. mereka mencurahkan kata-kata jilatan. Sesudah makan." "Kalau Anda tidak keberatan. netcafe. "Tak pernah saya melihat yang seperti itu dalam hidup saya. tapi yang ditanya hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Bayangkan saja! Seorang tamu tak dikenal datang." kata Musashi." jawab pelayan tanpa bertanya lagi kepada nyonya rumah. dan lembut. saya janda-suami saya dulu aktor No. tapi persoalan itu masih terus terpikir olehnya. "Semua orang yang kami kenal bicara tentang itu. Inc. Jarang ada pemandangan seperti itu!" Yang lain melanjutkan dengan nada yang sama. maka dengan patuhnya ia menuliskan nama "Miyamoto Musashi" pada secarik kertas yang kemudian ditempelkannya di tiang gerbang. betul?" "Yah. Maklum. Mereka memeras keterangan dari pemudapemuda setempat dan menyerang rumah-rumah yang tak ada lelakinya. Musashi segera tahu bahwa mereka sebagian dari orang-orang yang hadir di Hozoin ketika la membunuh Agon. Anda tentu pemain pedang terbesar di negeri ini!" "Dan masih begitu muda lagi!" "Tak sangsi lagi. Dan bukan orang biasa yang dilumpuhkannya. Semua ronin bertanya-tanya." "Saya mengerti sepenuhnya. Hari itu hari buruk buat nama baik Hozoin. Banyak di antara samurai miskin tidak cukup puas dengan barang-barang hiburan itu. Operasi ini mereka namakan "kunjungan pada para janda. Saya takut kalau tak ada lelaki di rumah ini. Duduk di lantai mengitarinya." "Ya. Musashi mandi dan pergi tidur. Pelayan keluar dari rumah." "Dengan kata lain. yang segera datang sendiri berkunjung. hingga Musashi merasa sedikit kurang enak. karena itu apakah Nyonya dapat memasang tanda yang memuat nama saya di luar gerbang sana?" Janda itu sama sekali tidak keberatan mengumumkan kepada orang banyak. Nyonya rumah itu wanita berpakaian apik berumur sekitar tiga puluh tahun. namanya Kanze. Saya harap Tuan dapat merasa bebas tinggal di sini. siapa orang yang namanya Miyamoto Musashi ini. bahwa ada lelaki di rumahnya. tapi hari berikutnya Musashi menerima kunjungan rombongan tiga samurai. Ketiganya memaksa masuk. banyak ronin yang kurang berpendidikan di sekitar sini. Jotaro tidak muncul hari itu. Pelayan merasa puas dan mengantar Musashi ke lantai kedua. selama saya di sini. selama Tuan suka. Mereka langsung naik dan masuk ke kamar Musashi. sampai ketika ia hampir tertidur. Hanya ada satu hal yang saya minta." Ia selanjutnya menjelaskan bahwa jalan-jalan penuh toko minuman dan pelacur. Dan Anda akan menjadi lebih baik lagi nantinya. "Saya yakin belum pernah hal semacam itu terjadi di Hozoin. Ketika Musashi mencoba memuaskan rasa ingin tahunya dan bertanya kenapa nyonya itu menerima orang menginap." kata nyonya itu tersenyum. Pagi berikutnya ia mengatakan kepada pelayan itu. dan kedua orang itu saling berbisik beberapa waktu lamanya. tapi Agon yang mengerikan itu sendiri. berkulit indah. Sekali bentak saja dia sudah muntah darah. Maka ia bertanya kepada pelayan. Apa keberatan kalau saya menginap sehari-dua hari sampai dia datang?" "Tentu saja tidak.property of: CROSSFiRE.

melainkan juga membayar makanan dan penginapan Musashi selama pertandingan berlangsung. dan saya bermaksud tetap menjadi samurai." Ia melanjutkan bahwa arena sudah didirikan. dan dalam acara makan itu ia minum sampai setengah mabuk. kami punya rencana mengadakan 'hiburan' umum di kaki Gunung Kasuga. mereka tinggalkan tempat itu dengan ribut. Begini. "Saya bukan penjudi!" katanya berang. Ini bukan permainan atau hal lain serupa itu. "Memang kami ada urusan dengan Anda. netcafe. Musashi senang juga mendengar bujukan mereka itu." kata yang pertama. bukan dengan pedang saya!" "Apa itu?" mereka bertiga memprotes. dan serunya. Mereka berhenti agak lama hanya waktu menghirup teh dan melahap kue dengan rakusnya. Jelaslah ia tidak akan mengetahui sesuatu kalau ia tidak bertanya. Kalau ia mau menggabungkan diri dengan mereka. dan sekaligus memberikan kesempatan pada mereka untuk bertaruh. Malam itu. karena itu ketika pembicaraan berhenti lagi. "Apa maksud Anda dengan itu?" "Jadi. Kami ingin mengadakan serangkaian pertandingan yang akan memberikan pelajaran pada rakyat tentang seni bela diri. ia berkata.property of: CROSSFiRE. "Saya kira Anda sekalian datang kemari karena ada urusan dengan saya. karena menurut pikirnya lambat atau cepat semangat mereka itu akan menurun. Saya menguasai Gaya Bokuden." Mereka pura-pura terkejut mendengar apa yang dikemukakan Musashi. Musashi makan di bawah bersama keluarga. Saya tidak tertarik. seperti malam-malam sebelumnya. Itu berarti uang yang mereka peroleh dengan susah payah akan hilang percuma. kenapa mereka membuang waktu untuk omongan yang tak ada artinya itu. bulan tampak putih dan sedikit berawan. "O. Ebook by Kang Zusi . dan saya banyak punya rencana untuk masa depan. "Saya belum pernah jadi apa-apa kecuali ronin. Sambil maju cepat ke depan. Sekarang enyah dari sini!" Mulut salah seorang dari orang-orang itu memerot menjadi mata kayu yang keji. ia mengambil prakarsa dengan menanyakan nama mereka. kalian tak mengerti. sedangkan seorang lagi menjadi merah karena marah. tapi segera mereka membenarkan bahwa mereka memang datang untuk apa yang mereka anggap sebagai misi yang sangat penting. tak ada yang mesti dibicarakan. Namun mereka merasa butuh orang lain. Mereka menyimpulkan. seperti ayah saya. Dengan cara itu. ia dapat dengan mudah memperoleh uang cepat. Yasubei berkata. dan sebaliknya. orang-orang sinting? Saya ini samurai. nama saya Yamazoe Dampachi. untuk perjalanannya yang akan datang. biarpun saya akan kelaparan karena itu. karena terhina oleh sindiran Musashi. hingga remahremahnya berceceran ke pangkuan mereka dan ke lantai. Orang yang di sebelahnya berkata. memberengut. "Kamu pasti akan menyesal!" Mereka tahu benar bahwa mereka bertiga jadi satu pun bukan tandingan Musashi. mereka tidak hanya akan membagi dengannya keuntungan mereka. Nyonya rumah yang masih muda berusaha menyuguhkan makanan yang enak dan sake yang baik mutunya kepada Musashi. Tapi untuk menyelamatkan muka. Malu mendapat pujian demikian melimpah. karena ia merasa bebas dari kekuatiran selama Musashi diam di sana. samurai yang betul-betul kuat kemungkinan akan datang dan mengalahkan mereka semua. Inc. Tapi ketika mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda akan mengubah pokok pembicaraan. Musashi mengalihkan pandangan dari kanan ke kiri. "Kalau itu yang Anda sekalian inginkan. maaf. Musashi yang paling tepat bagi mereka." "Saya Yasukawa Yasubei. dan tukasnya." kata orang ketiga sambil tertawa kecil. Saya mengabdi kepada Yang Dipertuan Gamo. Untuk sementara ia mendengarkan saja dengan muka tenang. "Dan saya makan dengan sumpit. tapi segera kemudian ia lelah. dan berusaha keras menimbulkan kesan bahwa urusan dengan Musashi belum selesai." Musashi heran. "Saya Otomo Banryu." "Kenapa tidak?" tanya Dampachi. dan kami ingin bicara dengan Anda soal itu. karena kalau hanya mereka bertiga. "Kenapa tidak tertarik?" Watak muda Musashi meletus. dan prospeknya kelihatannya baik sekali.

sehingga harus belajar menjadi lebih lemah. Segera kemudian pikirannya pun terhenti pada Nikkan. bagaimana caranya menghadapi pandangan yang menakutkan itu tanpa mengelak. "Apa betul diriku kurang baik?" tanyanya sedih kepada diri sendiri. dan memilih bicara berteka-teki untuk membingungkan aku dan menyenangkan hatinya sendiri. Ia mencengkeram rambutnya dan memeras otak bagaimana caranya mengungguli Nikkan. ataukah hanya mendugaduga? "Pengetahuan yang berasal dari buku itu tidak ada gunanya buat prajurit. Sebelum itu tak pernah ia susah-susah memikirkan persoalan. Dan sesudah aku pergi. Benar. capeknya!" keluhnya. Musuh-musuh yang telah dikalahkannya." Pada waktu-waktu seperti ini." pikir Musashi. Tak bisa tidak. Orang-orang seperti itu terus menetap dalam pikirannya seperti roh yang hidup. Musashi benar-benar senang mendapat hiburan dengan datangnya teman kecilnya itu." Ebook by Kang Zusi . dia tertawa senang. Dan ini tidak hanya mengenai seni pedang. tapi ia sangat kecewa terhadap dirinya sendiri. Musashi bertanya-tanya apakah bijaksana membaca segala macam buku di Puri Himeji itu. Inc. tapi rambutnya yang seperti rambut peri itu putih oleh debu. Apakah kekuatan itu bukan dasar terpenting seorang prajurit? Apakah bukan itu yang membuat seorang prajurit unggul atas prajurit lain? Bagaimana bisa Nikkan menyebutnya sebagai suatu kekurangan? "Barangkali. ia menggeletakkan diri di lantai. Pembantu muncul diiringi Jotaro yang kulitnya jadi lebih hitam lagi oleh debu yang menempel pada badannya selama perjalanan. Dahulu ia hanya bertindak atas dasar naluri. Bukan ia ingin mencelakakan Nikkan. melainkan semangat juang liar yang menyertai kelahirannya. Barangkali dia memandang mudanya umurku. tapi juga mengenai cara memandang manusia dan masyarakat. tidak dapat ia beristirahat sebelum ditemukannya penjelasan yang memuaskan kecerdasannya. Musashi menyimpulkan bahwa yang dibicarakan Nikkan bukan kekuatan fisik. "Memalukan!" ulangnya.property of: CROSSFiRE. atau dalam hal ini siapa pun yang rasanya mengunggulinya. ia kurang bisa menilai kekuatannya sendiri secara objektif. Namun Nikkan mengatakan ia "terlalu kuat". tapi mereka bilang tidak kenal Kakak sama sekali. netcafe. "Apa sulit menemukan aku?" "Sulit! Hampir saya putus asa. apabila sesuatu terjadi. selalu menghilang dari pikirannya seperti buih. "Kalau orang terlalu menggubris apa yang dipikirkan atau dilakukan orang lain. kenekatan di dalam dirinya sudah dijinakkan. Inilah yang membuat pikirannya terus bekerja keras. "Sungguh memalukan. Tapi ia tidak dapat melupakan siapa pun yang berhasil lebih baik daripada dirinya. Dua hari lamanya persoalan itu menggerogotinya. tapi sekarang." katanya pada diri sendiri. Karena selama ini belajar ilmu pedang tanpa guru. seperti yang dipancarkan pendeta tua itu. dia pasti ambruk dan jatuh berantakan!" Bunyi langkah kaki di tangga mengganggu renungannya. Ia menyambut si anak dengan tangan terbuka. dan ia selalu berpikir kapan dapat mengalahkan mereka. Sekiranya Nikkan sejenak saja menutup mata dan salah langkah. bisa lambat tindakannya. karena ia tidak dapat menduga maknanya. "bangsat tua itu mempermainkan diriku. ia ragu. bahkan juga yang sampai terbunuh atau setengah terbunuh. Mungkin saja. sebelum dapat menerimanya. Sudah di seluruh tempat saya mencari!" "Apa kamu tidak bertanya di Hozoin?" "Ya. Kembali ke kamarnya. Anak itu menjatuhkan diri ke lantai dan langsung meluruskan kedua kakinya yang kotor. Apakah pendeta itu benar-benar dapat memahaminya." demikian ia meyakinkan dirinya kembali. sekarang ia harus memahami setiap hal-hal kecil. "Oh. Nikkan mengatakan ia terlampau kuat.

mereka juga menggetarkannya secara fisik. padahal jelas yang terjadi akan lebih lagi. Tapi baiklah. Barang-barang itu tak ada gunanya buat saya. yang kemudian diberikannya kepada Musashi. mulutnya ternganga. maka remah-remah hangus itu pun berterbangan ke udara.property of: CROSSFiRE. Tak lama sesudah bersila dan mengatur tangan di pangkuan. akibat surat yang menghina ini. demikian pikirnya. padahal ia tinggal di situ hanya selama dua hari. Sekarang pergi mandi sana. aku senang kamu sudah melakukan semua itu. Seijuro pasti akan menjadikan Musashi bahan tertawaan di Kyoto. Omongan besar ini disampaikan dengan tulisan tangan kaku yang agaknya dibuat orang lain. Dan lagi pakaian ini tidak begitu luar biasa. dengan istri yang baik dan pelayan-pelayan setia. karena ia bermaksud meneruskan perjalanan. dan katanya dengan nada menyesali. akan sia-sia saja kerja saya. Ketika ia sedang berpakaian. Pagi tiba. Tahun depan. Segera saja ia tertidur dengan nyenyaknya." "Bagus. Pikirannya pun melayang kepada Otsu. Beberapa kali sudah. Musashi merobek-robek surat itu menjadi sobekan-sobekan kecil dan membakarnya. Kalau itu terjadi. Inc. yang akan menuntun kudakudanya atau membawa burung elangnya. "Anda rupanya buruburu akan pergi. Jika Musashi tidak muncul seperti dijanjikan tahun berikutnya." Musashi memandang heran. Pada umurnya sekarang. Tak tahulah saya. dan itu bukan tidak wajar. Saya harap betul. "Tidak. apa Anda menyukainya. Ia ingin menjadi tuan yang baik dan menikmati kehangatan dan kesenangan hidup keluarga. "Bahkan khusus kukatakan pada mereka. netcafe. kamu bisa menemukan aku dekat Kolam Sarusawa. kenangan samar-samar saja tentang gadis itu sudah dapat menyegarkannya kembali. Sebegitu jauh. Namun terpesona juga ia melihat sebagian wanita di jalan-jalan Kyoto dan Nara. "Saya jahit pakaian ini untuk Anda sebagai hadiah perpisahan-sebuah kimono dengan jubah pendek. Musashi pun bangun pagi. Dan yang menyenangkannya itu bukan hanya nilai-nilai keindahan mereka. jadi saya minta orang di rumahnya menyampaikan pesan kepadanya. Isinya menyatakan bahwa Seijuro mengharapkan berlangsungnya "pertandingan kedua". Sekalipun gadis itu sekarang merupakan makhluk masa lalu yang jauh. Anda tidak menolak. Namun demikian. sebetulnya terlalu pagi ia punya pikiran ingin memiliki pegawai sendiri dalam jumlah besar." "Ini jawaban dari Perguruan Yoshioka itu. janda itu muncul. ketika ia kesepian atau sedang gundah. Lebih baik kalau Anda memilikinya. ia belum melakukan satu pun dari hal-hal yang biasa dilakukan orang dalam perjalanan hidupnya. Pakaian itu terlalu mahal baginya. Nanti mereka kasih kamu makan di bawah. Anda mesti menerimanya. mereka kenal betul!" Mata Musashi menyipit. ia merasa sangat terikat kepadanya. supaya cocok untuk Anda. ia tetap perjaka." Ebook by Kang Zusi . Saya sudah mengubahnya. "Saya tak dapat menemukan Hon'iden Matahachi." la membawa pakaian. ia pun menyerah kepada lelah. kenyang. Jotaro datang kembali. Seijuro bicara tentang "pertandingan". Pertama-tama ia menyimpan keinginan menyala-nyala untuk menjadi pemain pedang besar. Tak lama kemudian angan-angan itu buyar. "Oh. Ia ingin juga memiliki rumah yang pantas. sudah mandi. dan bangga karena sudah melaksanakan kewajiban dengan berhasil. Ia mencoba menolaknya. Begitu banyak hal yang masih ingin ia lakukan. Musashi menidurkannya ke tempat tidur. sebelum hidup menetap. Dan tentu saja." Jotaro menyerahkan tabung bambu itu kepada Musashi. siapakah di antara kedua jago itu yang akan menjadi abu? Musashi menganggap sudah sewajarnya seorang prajurit harus puas dengan hidup dari hari ke hari. diam-diam ingin juga ia mengalami percintaan menyalanyala. Selama beberapa tahun berpikir semata-mata tentang Jalan Samurai. agak resah juga ia memikirkan bahwa tahun yang akan datang kemungkinan ia akan benar-benar mati." Musashi mengeluarkan surat itu dari tabungnya dan membacanya. Dan bukan itu saja. dapat disimpulkan bahwa ia sudah kehilangan nyali. seperti Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. bukan Seijuro. seperti kupu-kupu hitam. jadi kalau Anda tidak menerimanya. dan tak pernah tahu di waktu pagi apakah ia akan terus hidup menyaksikan jatuhnya malam. Yang akan terjadi adalah pertarungan sampai mati. Saya banyak punya kimono lama dan pakaian No peninggalan suami saya. tetapi janda itu berkeras. tapi saya harap Anda memakainya. Anak itu bangun bersama burung layang-layang.

berusaha merebut topeng tersebut. netcafe. Jubah tak berlengan itu bagus sekali. siap mencacinya sehebat-hebatnya. Sebentar kemudian Jotaro kembali naik tangga pelan-pelan." "Ah. Selagi mengenakan kimono itu. itu tak boleh kamu miliki. karena ia merasa kaget dan malu oleh kelakuan muridnya. Tetap duduk. tahulah Musashi bahwa bahan sutranya dari mutu yang baik sekali." gerutu Jotaro. Jotaro tampak iri. "Booo!" dan menyorongkan topeng itu ke hadapannya. Musashi kagum akan selera bagus anak itu. Musashi sangat terkejut. dan tali pengikatnya terbuat dari kulit dicelup warna ungu. mari kita berangkat. mengerikan sekali. yang cantik namun penuh pesona. dikejar janda itu. dan jelas pernah dipakai dalam pertunjukan-pertunjukan No. Tapi ketika mengawasi topeng itu dalam cahaya remang-remang. boleh saya memilikinya. Musashi berkaca. "Seharusnya kamu sudah senang mendapat kesempatan mengikuti tuanmu yang gagah. Musashi duduk menghadap pintu. Jotaro menghindari jangkauan janda itu dan mengenakan topeng itu pada kepalanya dan menari sekeliling kamar sambil berseru-seru melawan. maka topeng ini adalah wajah gadis cantik dan anggun. lalu turun tangga. boleh saya ambil! Dia berikan pada saya. Tapi ketika masuk. Inc." "Tapi dia sudah memberikannya pada saya! Waktu mau saya kembalikan. kalau saya memang ingin sekali. Sukar diketahui siapa pembuatnya. "Oh. Senyuman bulan sabit yang disertai lengkungan ke atas pada bagian kiri wajah putih itu sungguh angker. Akan saya ambil!" Musashi berusaha juga menangkapnya. Wajah yang diukir sangat halus itu wajah jin perempuan. dan kembalikan padanya. Ia sendiri merasa topeng itu mengagumkan buatannya. tapi jelas kelihatan ia tidak ingin berpisah dengan topeng itu. "Kelihatan cocok sekali untuk Anda!" ucap janda itu. Jelaslah bukan wajah khayalan yang diciptakan sang seniman. mengandung setan. anak itu berteriak. Tentunya diimpor dari Cina. "Kenapa belum kamu kembalikan topeng itu? Buat apa kamu barang macam itu?" "Tapi dia bilang. dan tiba-tiba katanya kepada janda itu. "Saya sendiri mau Ibu kasih apa?" Janda itu tertawa. Ia tidak tahu kenapa kelakar Jotaro menimbulkan akibat sedemikian padanya. sama sekali tidak marah. "Kalau mau berangkat." kata janda itu tegas. melainkan potret perempuan gila yang nyata dan hidup. "Ya. "siapa yang mau kimono lama?" "Apa ada yang sungguh kamu inginkan?" Anak itu lari ke dinding kamar tunggu dan mencopot topeng No dari sangkutannya. ini!" Ia mendambakan barang itu sejak pertama kali mengamatinya malam sebelumnya. Tadi saya janji akan merawatnya. lapisannya dari kain krep sutra." Ebook by Kang Zusi ." "Bohong! Turun sana. Kelimannya dari kain brokat emas. tapi umurnya tentulah sudah dua atau tiga abad. Si pengukir telah memasukkan sesuatu yang sifatnya setani dalam ciptaannya. Janda itu memang tertawa. Cuma dia pesan supaya saya merawatnya baik-baik. katanya.property of: CROSSFiRE. tetapi Jotaro memasukkan topeng itu ke dalam kimononya. Yang ganjil padanya hanyalah karena salah satu ujung mulutnya melengkung tajam ke atas. Tetapi kalau biasanya topeng jenis ini dicat titik-titik warna biru mengerikan. otot-ototnya menjadi tegang dan lututnya beralih-alih letak tanpa disadarinya. "Apa guna topeng ini buat Ibu? Sudah jadi milik saya sekarang. Ia pergi ke belakang Musashi dan mengangkat kimono itu supaya Musashi dapat memasukkan tangannya. dia bilang. dan kini ia membelaikan topeng itu dengan mesranya ke pipi. mulailah ia memahaminya." kata Jotaro. dan ia merasa lebih malu lagi dari sebelumnya.

"Saya pergi sekarang. mereka bermaksud menemui saya di Dataran Hannya?" "Saya tidak tahu pasti di mana." kata nyonya itu kehabisan napas. Namun janda itu mengatakan. ikut juga dengan mereka. Tak usahlah begitu keras terhadap dia." "Oh?" "Ya. ia lebih berat melihat Musashi pergi daripada kehilangan topeng itu. netcafe. dan kemudian topeng yang agaknya sangat dihargai janda itu." kata Musashi datar. Kata janda muda itu. Inshun. akan lebih aman kalau Musashi mencoba pergi diam-diam hari berikutnya. "Ada apa? Apa yang mengerikan?" "Pendeta-pendeta Hozoin mendengar bahwa Anda akan berangkat hari mi. kalau itu kekeliruan." Dengan dahi bercucuran keringat Musashi memandang ke langit.property of: CROSSFiRE. Menurut mereka. menurut Ibu. menanti dekat gerbang dengan pandangan puas." "Nah. merenung." katanya. "Oh. "Jadi. Pendeta mengatakan orang yang tinggal di sini beberapa hari terakhir ini. dan teringatlah ia betapa marah ketiga ronin itu ketika ia menolak tawaran bisnis mereka. Ia menyandangkan tas perjalanannya ke punggung. "Mau kuapakan kamu!" Musashi merasa malu. Musashi mengalah pada kebaikan janda itu dan menerima hadiahnya.. yaitu orang yang namanya Miyamoto. Ingin ia berbuat sesuatu untuk membalasnya. Musashi selesai mengikatkan sandalnya. pendeta-pendeta itu naik darah karena Anda sudah menyewa orang untuk memasang banyak poster dengan sajak-sajak yang isinva menertawakan Hozoin. Suami saya kenal salah seorang pendeta itu dan sudah bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi. dan para pendeta akan mencegatnya di jalan." Musashi menduga topeng itu memiliki makna tertentu bagi si janda. dan beberapa kali ia minta kepada Musashi untuk datang kembali dan tinggal di sana." "Saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. "Ya.. Lagi pula dia ingin sekali memilikinya. Mendadak sontak la berdiri. Beberapa penduduk mengatakan yang ikut tidak hanya pendeta." Wajah perempuan itu mengerinyut takut.. entah bagaimana caranya?" "Tidak. tetapi janda itu rupaya tidak butuh uang-apalagi uang dalam jumlah kecil yang dapat disisihkan Musashi-sedangkan di antara miliknya yang tak seberapa itu tak ada yang sesuai untuk hadiah. Mengerikan!" Suara perempuan itu gemetar. Mereka bilang banyak ronin ikut juga berkumpul. mereka bilang. Dengan sangat ia minta Musashi untuk menanti sampai malam berikutnya. makin terpikir oleh saya bahwa saya lebih bahagia tanpa topeng itu. Ia berusaha meyakinkan Musashi bahwa meninggalkan Nara pagi itu sama saja dengan bunuh diri. Apa Anda bicara jelek tentang kuil itu. karena sudah membunuh seorang dari mereka. atau menghina mereka. kapan saja ia berada di Nara. tetapi kali itu Jotaro sudah mengenakan sandal jeraminya dan sudah berada di luar. dan tenang-tenang mengangkat kepala. "saya senang sekali Anda belum berangkat. akan meninggalkan Nara hari ini. tapi mereka pergi ke jurusan itu. Anda tak bisa pergi sekarang. Rasanya tidak mengherankan jika orang seperti mereka lalu memasang poster-poster yang sifatnya menghina dan kemudian menyebarkan kepada orang banyak bahwa dialah yang melakukan itu." "Nah. seakan-akan ada setan yang menakutkan hendak menyerangnya. mengambil topi anyaman. "Tidak. dan Kepala Biara. Saya minta Anda balik ke atas. Ia turun tangga untuk meminta maaf atas kekurangajaran Jotaro dan mencoba mengembalikan topeng itu. Lebih dari sepuluh orang membawa tombak dan mengendap menanti Anda di Dataran Hannya. dan sambil menghadap Ebook by Kang Zusi . Karena sudah ingin pergi. Semua itu kekeliruan. Musashi sedang mengikatkan tali sandalnya ketika istri pembuat kue bakpau itu datang berlari-lari. karena pertama ia menerima kimono itu. Barangkali merekalah sumber segalanya ini. itu berarti Anda bergendang paha. tak perlu Anda pergi ke sana dan terbunuh karenanya. Makin saya timbang. maka ia sekali lagi berusaha mengembalikannya. Katanya mereka akan menangkap Anda dan mengembalikan Anda ke Hozoin. Inc. Menurut pendapatnya.

Jotaro sudah memutuskan. Ingin ia mengetahui. dan anak itu merasa lebih kecil hati lagi. Lewat baris-baris pohon kriptomeria di sepanjang jalan. mereka dapat melihat dataran yang melandai berombak-ombak menuju Bukit Hannya. Di atasnya langit yang damai. Jo? Sepertinya kita sedang berjalan diiringi lagu burung bulbul. "Burung bulbul. kedua perempuan itu ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati mereka. mereka melihat puncak-puncak Gunung Mikasa. "Jotaro!" Mendengar namanya dipanggil. sebutir embun yang menjatuhi kerahnya hampir saja membuatnya berteriak. karena takut setiap langkah yang diambilnya akan semakin mendekatkan mereka kepada maut. Alisnya naik ke atas dan tubuhnya jadi tegang. Karena merasa barangkali mukanya pucat akibat takut. "Anda lebih aman di sini." "Apa?" tanya anak itu kaget." desak janda itu. Bahwa ia dan Musashi sedang berjalan langsung menuju tempat pencegatan para jago tombak Hozoin baginya betul-betul tak masuk akal." "Saya tak peduli." "Tidak. sekalipun tak pernah ia berbuat salah kepada mereka." jelasnya. kataku. Jo! Ucapkan terima kasih pada Ibu. Itu sudah tentu lebih masuk akal. di jalan yang lembap dan teduh di dekat Todaiji. saya pergi sekarang. Dapat saja mereka masuk salah satu kuil yang banyak jumlahnya di sepanjang jalan itu dan menanti kesempatan yang baik. Memang Jotaro belum betul-betul kenal Musashi. Pikiran bahwa jago-jago tombak jahat Hozoin akan menyerang Musashi itulah yang sangat mematahkan semangatnya. Ketika Musashi melanjutkan bicaranya. kata-kata yang diucapkannya bernada gembira seperti biasanya. "Nyaman. dan karena tak ingin kelihatan kekanak-kanakan. bagian 6 Dataran Hannya JOTARO berjalan sedih pelan-pelan di belakang gurunya. Ia kelihatannya patah semangat. Sekarang bukan waktunya berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. janda itu mengikutinya sambil menangis dan memohon kepadanya agar tidak pergi. ia menatapkan matanya dengan berani ke langit. bukan." Dengan patuhnya anak itu membungkuk dan melakukan hal yang disuruhkan kepadanya. Banyak tempat untuk bersembunyi kalau bermaksud demikian. Musashi memandang ke langit juga. Saya tak ingin hal itu terjadi. Ibu sudah begitu baik pada saya. apakah Musashi bermaksud meminta maaf kepada para pendeta itu. Sebelum itu. "pasti akan timbul kesulitan di rumah Ibu. tapi bukan karena menyesal akan berangkat. Nara sudah jauh mereka tinggalkan. Di sebelah kanan. Inc. anak itu terkejut. netcafe. Ketika ia berjalan menuju gerbang." Ebook by Kang Zusi . Hatinya yang masih muda itu penuh kemurungan dan firasat. "Kalau saya menginap semalam lagi. Burung-burung gagak hitam yang dilihatnya sepanjang jalan ikut menimbulkan rasa ngeri padanya.property of: CROSSFiRE. kalau Musashi minta maaf pada mereka. ia juga akan berbuat demikian. Di Kyoto ia mendengar bahwa tuannya itu lemah dan pengecut.

"Pikirkan saya.. bisa saja dalam beberapa menit lagi tiba-tiba anak itu menjadi sebatang kara di tempat yang asing. seakan-akan ia sedang tersedak. Air mata kotor meleleh di pipinya ketika ia menghapus matanya yang merah bengkak dengan kedua tangannya. dan ucapnya. "Kita sudah dekat Bukit Hannya. Musashi sendiri sudah mulai kehilangan kesabaran. Sebaliknya ia paksa dirinya tinggal diam beberapa menit lamanya. "Kalau kau jalan terus. netcafe. Apa yang kita tunggu?" "Tidak!" Musashi membalikkan badan. seperti aku ketika seumur kamu. Ia tak dapat percaya sepatah kata pun. dan bahunya menggeletar. Jotaro terkena batunya dan tiba-tiba berhenti menangis dan berdiri regak. kan?" Musashi dapat melihat dari pucatnya bibir anak itu bahwa ia sedih sekali. Mata yang pernah nyalang gembira ketika mengejuti Musashi dengan topeng itu kini tampak gelisah dan sedih. "Ayo kita lari!" "Bukan begitu cara samurai bicara! Kau mau jadi yang begitu.. kau mesti ikut lari ke jurusan yang sama. Kita tak akan lari." kata Musashi. Kamu tak punya orangtua yang akan mengurusmu. ia sangsi apakah Musashi akan dapat mengalahkan mereka satu-satu. tapi dilawannya dorongan keinginan itu. Tak dapat ia mengusir firasat yang dirasakannya bahwa mereka berdua segera akan berpisah untuk selamanya. burung bulbul. Kamu anak samurai." Jotaro tidak sedikit pun senang mendengar kata-kata itu. dan sambil mengangkangkan kakinya ia menghadapi anak itu. Ia merasa kasihan. dan menggeretakkan giginya. kau bisa terluka. dan perhatikan dari sana." "Nah. Ia ingin memanggil." Jotaro pun pecahlah tangisnya. "Betul. tetapi sekarang ini bukan waktunya memikirkan anak-anak. Musashi tidak menoleh. mukanya kelihatan kaget. Kalau aku terbunuh. Dari sana akan tampak segala yang terjadi. ya?" "Saya takut! Saya tak mau mati!" Dengan tangan gemetar ia menariki lengan kimono Musashi agar kembali. Ia merasa dapat melihat anak kecil yang malang dan ketakutan itu melalui tengkuknya. Jotaro mencengkeram lengan kimono Musashi. Ia suka pada Jotaro dan kasihan kepadanya. Tapi. tak bakal kamu jadi samurai. dan ia menyesali telah membawanya serta. Suaranya pun jadi tajam. Ia harus siap menghadapi mereka. Hanya nyanyian burung bulbul dingin saja yang terdengar oleh telinganya. Kenapa kamu tidak kembali saja ke toko sake itu?" Dengan tegas dan agak keras ditolaknya anak itu. Kemudian ia berjongkok di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ. Inc. menutup muka dengan tangan. aku harus menang! Segalanya akan beres nanti. Dilihatnya gurunya berjalan terus menuju Bukit Hannya. ya. "Jangan nangis lagi! Kalau begitu kelakuanmu. Tangisnya ditambah pula dengan sentakan-sentakan kecil. Tapi sekarang kau pergi ke bukit kecil di sana itu. Betapapun. "Ayolah pergi dari sini. aku jadi ingin lari juga. Tak ada alasan buatmu untuk membahayakan diri sendiri. ayolah. "Aku tak mau kalah. "Aku samurai. Jotaro menyerah dan duduk. "Lebih baik kau tinggal di sini." Sesudah mengusap air mata. kau kembali ke toko sake di Kyoto. Jotaro merupakan gangguan baginya sekarang. Air mata meleleh di pipinya. "Jangan kuatir!" kata Musashi. Ebook by Kang Zusi . ya?" kata Musashi. Para jago tombak sudah menanti dengan satu tujuan: membunuhnya. Karena tahu bahwa para jago tombak Hozoin itu lebih dari sepuluh orang jumlahnya." Mendengar kepastian dalam nada Musashi itu. Apalagi Musashi terkenal sebagai orang lemah. "Apa pula ini? Kaubilang mau belajar Jalan Samurai? Kalau nanti aku menerobos dan lari.property of: CROSSFiRE. seperti bendungan jebol. Ada beberapa ekor di sekitar tempat ini. walaupun sedu-sedan Jotaro menggema di telinganya. lalu apa sekarang?" Jataro tidak menjawab. apalagi semuanya sekaligus. Punggung tangannya diusapkannya ke mata. "Oh." demikian ia memohon. mumpung masih bisa!" "Kalau kamu bicara seperti itu." "Kalau begitu.

Kalau kau suka. ia hanya bisa mengandalkan diri kepada pedang dan tak tahu ia apa yang bakal terjadi esok-jadi. Dia Yamazoe Dampachi. Sebuah datarannya agak tinggi dan pegunungan di kejauhan sana. Dan kau?" "Oh. "Asap di sana itu mencurigakan. Musashi melihat asap api berwarna cokelat mengepul di belakang sebuah bukit rendah. apa dia mau memperkenalkanmu." "Tak yakin aku bahwa Yang Dipertuan Yagyu mau memberikan pelajaran kepada musafir seperti diriku. Ia memang sangat terkesan oleh apa yang disaksikannya di Hazoin. dalam keadaan belum matang seperti sekarang." Nada bicaranya wrlalu sopan. "Apa menurutmu tidak begitu?" "Mencurigakan? Mencurigakan bagaimana?" Ebook by Kang Zusi . Musashi hanyalah seorang ronin provinsi yang tidak akan lebih dari dua puluh satu atau dua puluh dua tahun umurnya. "Apa yang apa?" "Asap di sana itu. Di dekat kaki Bukit Hannya. namun ia menyambut juga dengan sungguhsungguh. Musashi! Mau ke mana?" Musashi dapat mengenali orang yang datang ke arahnya itu. dan ketika ia memandang wajah Musashi. Di jalan yang memecah menuju Gunung Mikasa." katanya. Dan Dampachi masih jauh dari siap untuk mengakui bahwa orang seumur dan dengan status seperti Musashi itu dapat lebih baik dari dirinya. Ia mendapati dirinya sudah berada di tengah dataran terbuka. itu tidak jauh dari Lembah Yagyu?" "Tidak. Melindungi diri sendiri saja sudah lebih dari cukup beratnya. Yang Dipertuan Muneyoshi sekarang hidup pensiun sebagai ahli upacara minum teh. dan jalan pun ikut naik dan turun. Ya. Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali urusan kemarin itu. "Kuharap engkau bisa melupakannya. Tentu saja lebih baik kalau kau punya pengantar. "Hei." Selama itu Dampachi terus menempel di sisi kiri Musashi. apa perlunya teman baginya? Pohon-pohon mulai menjarang. Kebetulan aku kenal seorang tukang senjata di Tsukigase yang bekerja pada Keluarga Yagyu." "Kalau tak salah. "Aku senang bertemu denganmu. dekat Kuil Kasagidera. Semua itu kekeliruan. Dampachi berkata. dan selagi bicara jelas ia memperhatikan wajah Musashi sebaik-baiknya. Tapi biar bagaimana. "Rencananya lewat Iga ke jalan raya Ise. netcafe. tidak jauh. "Apa itu?" tanyanya." "Ada kemungkinan." Dataran itu menghampar luas beberapa mil jauhnya. Engkau mesti pergi ke sana nanti. ada pekerjaan di Tsukigase.property of: CROSSFiRE. kan?" "Ya. dan anaknya Munenori ada di Edo." "Di situlah kuil Yang Dipertuan Yagyu. Musashi menuding. aku bisa tanya. mengingat hal itu saja sudah membuat tulang punggungnya dingin. "Mau ke mana?" tanyanya lagi." Dampachi sendiri belum begitu tahu bagaimana harus bersikap terhadap Musashi. Garis langit di sana-sini diselingi pohon kriptomeria tunggal atau pinus hitam Cina Namun di sana-sini dataran itu menaik lembut. tapi kau mesti singgah di sana dan melihat keadaannya. Walaupun Musashi segera merasa bahwa tujuan Dampachi adalah menjebaknya. seorang lelaki mengangkat tangan menyapanya. wajahnya sendiri mengeras. Inc.

Kau mesti menimbang segala sesuatu dengan pikiran dan jiwamu. Mereka tadi sedang bermalas-malasan di bawah sinar matahari. Semuanya ada sekitar tiga puluh orang. Namun tak seorang pun ingin menjadi orang pertama yang diserang. Mereka tampak aneh. "Yah. lalu keduanya memutar badan dan angkat kaki. ia berjalan mantap dan langsung ke arah mereka. Ronin itu melolong berang. seakan-akan siap menerkam setiap saat. Karena perhatiannya tertuju pada jari Musashi. Kau mengejek kami dengan memasang poster-poster di seluruh kota. Yasukawa dan Otomo bicara cepat. Benar?" "Tidak!" seru Musashi. Baik kaum ronin maupun kaum pendeta tidak setegang Musashi." Kata-kata itu seperti menuangkan minyak ke dalam nyala api. dan tiba-tiba sadarlah mereka bahwa pertempuran sudah dimulai. Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. ia tak sadar bahwa Musashi sudah menarik pedangnya. Lalu kau secara terbuka menghina kehormatan Hozoin. Musashi dapat mengenali pengikut Dampachi. netcafe. Jumlah mereka yang besar memberikan keyakinan." seru pendeta itu. ia maju. Sekonyong-konyong ia menyapukan jarinya ke tubuh Dampachi. "Musashi! Aku Inshun. Pelan-pelan. "Dia datang!" seru seorang dari kedua orang yang tadi lari menggabungkan diri dengan yang lain-lain. dan tanpa merusak formasi mereka menderas mengepung Musashi dari kanan. menjelaskan dengan gerak-gerik cepat. berkilat-kilat penuh kesengitan. seperti setansetan neraka. Setengahnya pendeta. sementara para pendeta Hozoin menatap Musashi dengan pandangan mengancam. dan mendarat dengan wajah ke bawah. "Aku diberitahu bahwa kau datang ketika aku sedang pergi.property of: CROSSFiRE. para Ebook by Kang Zusi . Bukannya menantang Musashi. Tubuhnya melambung. Sebaliknya. mencurigakan. Bunyi orang bersuit melengking memecahkan kesunyian dataran itu. Dampachi tak akan bangkit lagi. dan kau membunuh Agon. ke arah api yang menyala. Dampachi tersengal-sengal terkena hantaman Musashi. hingga mereka dapat menyaksikan pertunjukan itu dan sekaligus mencegah Musashi melarikan diri. Sekarang semua bangkit berdiri. Mereka melihat pedang yang bernoda darah. Kedua belah pihak menyadari semakin mendekatnya maut. langkah demi langkah. "Kalau kau memang pendeta. Mereka menyusun diri menghadapi pertempuran. yaitu Yasukawa Yasubei dan Otomo Banryu. Ketika Musashi tampak. Seorang memekik. Sekalipun angin musim semi bertiup lembut ke kulitnya. Namun tindakan jaga-jaga itu ternyata tidak perlu. Pedang yang ditudingkan Musashi ke tanah berkilauan oleh sinar matahari." kata Musashi tajam. Lewat matanya menyorot mata dewa pembalasan dendam. kau tidak boleh hanya percaya pada yang kau lihat dan kau dengar. "Dia datang!" kata yang lain membeo. Para ronin membentuk setengah lingkaran. Ia berjalan langsung ke arah bukit itu. karena Musashi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan lari atau mengundurkan diri. Seorang pendeta di ujung barisan memberikan isyarat. bagaimana Yamazoe sudah terbantai. dan optimisme mereka tak tergoyahkan. seperti pandangan matamu sekarang ini. mereka malah cuma duduk-duduk mengitari api dan membiarkan Musashi yang menantang. Wajah Musashi menjadi pucat pasi. Dari kejauhan terdengar teriakan tanda bahaya. Semua pendeta itu membawa tombak. terdengar hiruk-pikuk hebat tanpa kata di tengah gerombolan itu. tangan diacung-acungkan di udara. Dengan lengan baju hitam tersingsing mereka siap beraksi dengan tekad membalas kematian Agon dan memulihkan kehormatan kuil. Tanpa menghiraukan pemimpinnya. Musashi merasa otot-ototnya menegang selagi mendaki. melayang ke depan. Dari puncak bukit ia melihat ke bawah. dan setengahnya lagi ronin yang sukar dilukiskan. Ia sedang memilih korbannya. Inc. Darah segar menetes dari ujungnya. Dua orang muncul di puncak bukit.

ia lihat usahanya itu tak ada hasil. sementara Musashi dengan cepat membantai lima atau enam ronin serta membikin kacau yang lain-lain. semua yang selalu dikatakan orang padaku tentang benar dan salah itu bohong! Kalian tak bisa membiarkan dia terbunuh! Kalau kalian biarkan. Akhirnya ia berseru. Terdengar bunyi seperti letupan sumbat botol. Seorang di antara mereka menjerit. Tak disadarinya bahwa seluruh pengalaman hidupnya-mulai dari pengetahuan yang ditempatkan kepadanya oleh ayahnya. Saat ini dia bukan dirinya. akan kuludahi kalian!" Ebook by Kang Zusi . mereka semua mundur selangkah. dan membiarkan orang baik terbunuh? Kalau memang begitu. Pedang Musashi mendesing ke sana kemari di udara. Musashi tiba-tiba menghadap mereka dan berseru. memaki-maki. Pertarungan sudah selesai sebelum ia sempat mengambil napas kedua puluh. dan mengayun-ayunkan pedang ke udara. tapi dia bukan orang jahat. dewa-dewa langit. Sementara pertarungan berlangsung. menyatakan tak ada gunanya berbicara. Singkatnya pertarungan dihitung salah seorang pendeta dengan tankan dan embusan napasnya. seperti jago aduan. Dia lemah. dan bahkan udara. yang karena kebingungan menjadi sasaran empuk serangan pedangnya. Tolonglah dia!" Walaupun Musashi memerintahkannya pergi. Mereka didukung penuh semangat oleh kaum ronin yang telah menyusun diri dalam formasi rapat di sebelah kiri Musashi. teori-teori yang pernah didengarnya di berbagai perguruan seni pedang. di mana tubuh dan jiwanya terpusat hanya pada pedangnya yang semeter panjangnya. sampai pada apa yang dipelajarinya di Sekigahara. Ia seperti kesurupan. tolonglah dia!" Sesudah berseru-seru kepada para dewa seratus kali atau lebih. netcafe. Jari dan tangan berterbangan di udara. tak akan dilayaninya orang sebanyak itu sekaligus! Oh. penuh dengan darah. Tapi ternyata para pendeta itu hanya berdiri diam tak bergerak. Dua-tiga orang yang berani itu bersiap dengan pedang diacungkan. dan tanah pun merah oleh darah. serta pelajaran-pelajaran yang diberikan kepadanya oleh pegunungan dan pepohonan-semuanya itu serentak bermain dalam gerak cepat tubuhnya. Musashi basah kuyup oleh darah korbannya. Dari situ ia memperhatikan pemandangan di sekitar api di kejauhan itu. aku mohon. bantulah dia! Guruku di dataran sana tak berdaya. Kelemahan mereka telah menyebabkan Musashi menyerang mereka lebih dahulu. Karena yakin para ronin cuma bermulut besar dan tak berani berkelahi. dengan topinya dan topeng di sampingnya. Tuhan yang di surga. tak dapat ia pergi. aku mohon. Sambil memekik-mekik. "Apa sudah tak ada dewa di negeri ini? Apa akan kalian biarkan orangorang jahat menang. Tanah. lindungilah dia. Dia tentunya gila. tapi dia sedikit aneh sejak tadi pagi. karena masingmasing yakin bahwa mata setan Musashi mengarah kepadanya. Tak lama kemudian mereka saling menyerang ke segala jurusan dan saling melukai. karena kalah jumlah. Kaum ronin itu rupanya datang untuk menyaksikan penyembelihan besar-besaran. Dalam sekejap mata Musashi sudah menerpa seorang di antaranya. Hampir sepanjang waktu itu Musashi tidak sadar benar. "Baik! Siapa di antara kalian akan maju dahulu?" Kecuali dua-tiga orang. dalam mimpi penuh pembunuhan. bukan kutukan. adalah sebuah bukit kecil. seraya mengumandangkan tantangan. Beberapa ronin yang masih tinggal pun bermandikan darah kental. dan ronin yang masih hidup bertebaran di mana-mana. Kalau tidak. Tempat yang akhirnya dipilihnya untuk duduk. Mula-mula sekali mereka merapatkan diri dengan cukup baik. "Hachiman! Kompira! Dewa Kuil Kasuga! Lihat! Guruku langsung menyongsong musuh. pendeta mulai berteriak-teriak. Jotaro tenggelam dalam doa. apa yang sedang diperbuatnya.property of: CROSSFiRE. Biasanya dia lunak dan lembut. karena menurut pikiran mereka para pendeta akan segera datang menyelamatkan. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya tertengadah ke langit. Ia menjadi tiupan angin pusaran yang menerjang kawanan ronin. Ia memohon. sedangkan gaung di dalam tubuhnya sendiri menjadi petunjuk bahwa ia sedang bertumbukan dengan tulang manusia. dan sudah saatnya kini bertempur. mereka mendesak para pendeta untuk bertindak. Oh. tetapi lolongan yang benar-benar membekukan darah. Darah dan otak berpercikan dari pedangnya. bukan untuk ambil bagian di dalamnya. dan mulailah ia marah. "Ya. Kemudian terdengar suara mengerikanbukan teriakan perang. Inc.

Letih dan sedikit pusing oleh pertarungan sebelumnya. yang berbentuk kerucut. melainkan menyerang bekas sekutunya seperti anjing gila. Dengan sedikit bingung ia hapus pedangnya dan la sarungkan. "Sayang saya tak ada ketika Anda mengunjungi kami baru-baru ini. "Lihat! Guruku ternyata bukan orang lemah! Dia menghajar mereka!" Itulah pertama kali Jotaro menyaksikan orang bertempur seperti binatang. "Lihat dia! Dia bisa melawan! Bukan main serangan itu! Dan lihat pendeta-pendeta tolol itu. sampai mati. ia merasa ringan dan pening. dan lempeng tombaknya pun sangat berbeda-beda-yang lancip. setelah melihat orangorang lain mengalami perubahan juga. Hatinya berubah jungkir balik. Ketika dilihatnya Musashi terkepung. tapi juga kepada dewa-dewa sendiri. mendadak ia mengubah lagu." Kepala Biara itu jangkung dan berwajah cerah. Inshun. Dan untuk pertama kali waktu itu la merasa santai. tetapi takut maju!" Tapi yang terakhir itu terlalu dini diucapkannya. dibelah dua. para pendeta Hozoin mulai menyerbu Musashi. tapi sesaat lamanya tak dapat ia mengucapkan kata-kata. diiringi raungan gegap gempita. Para ronin yang tak menduga itu sia-sia saja mencoba mengerahkan para jago tombak agar melawan Musashi. "Tentu Anda Miyamoto. netcafe. atau yang bengkok-tiap pendeta menggunakan jenis yang paling disukainya. "Oh." sambung pendeta itu. yang papak. tapi ia bertekad untuk mati dengan cemerlang. Kepala Biara mendekatinya. Setelah sesaat lamanya berubah menjadi seekor binatang yang tak berpikiran." "Jadi. campuran darah dan keringat mengaburkan pandangannya. oh! Gawat kelihatannya. Musashi melompat mundur dan berdiri siap menantikan serangan muslihat. yang cuma berbaris seperti gerombolan gagak berkaok-kaok. sementara para ronin menjerit-jerit memprotes. sekarang ia pulih kembali pada keadaannya yang biasa. Suatu kehormatan bertemu dengan Anda. Pengalaman itu membuatnya sadar. sampai tak seorang pun di antaranya tetap hidup. Setelah pertempuran berakhir. sementara para pendeta berpencar seperti tawon yang menghambur dari sarangnya. semata-mata karena kecemasannya. Tombak yang mereka bawa berlain-lainan. dan dirinya cemar juga oleh darah mengental. Kepala mereka yang gundul itu membuat mereka tampak lebih barbar lagi. Musashi gawat sekarang!" Lupa akan segalanya. Kemudian. Musashi agak terpengaruh oleh kehadirannya. tampak olehnya Jotaro sedang mengucurkan air mata puas. Sementara mereka maju menyebar. Pembunuhan besar-besaran itu betulbetul sempurna dan sekaligus menunjukkan sifat haus darah. Musashi tak percaya akan matanya. Sekarang hampir tak dapat ia menahan diri melihat kebuasan para pendeta itu dalam menyembelih ronin. Kemudian sadarlah ia bahwa tangan dan kakinya ditarik-tarik orang. Andalah ahli tombak itu. di tengah kancah. "Saya Inshun. Para pendeta bukannya melakukan serangan yang memang dinanti-nantikan itu ke arahnya. memberikan perintah menyerang. Agon. dicengkeramnya gagang pedangnya eraterat. dan sesaat kemudian para jago tombak itu segera beraksi. yang berbentuk silang. serangan itu tidak juga datang. Mereka diiris. ditusuk. memperlihatkan perkelahian yang demikian jelek. karena ketika ia mengucapkan itu. Mereka mengejar para ronin yang telah melarikan diri dan menyerang mereka tanpa kenal ampun. ketika disadarinya bahwa darah yang tertumpah di dataran itu bukan darah gurunya. Gagang pedang itu lengket oleh darah kental." kata Musashi. lalu berkata dengan sikap sopan dan mulia. ditikam mulutnya. la merasa seolah berada di sana." Ebook by Kang Zusi . Jotaro meluncur seperti bola api ke tengah kancah bencana yang sedang menghampiri itu. Senjata mereka yang berkilauan bersuit-suit di udara. Tetapi sungguh ia heran. Kepala Biara. kalau memang ia harus mati. Mereka ramai-ramai menyerang dia. Saya juga merasa malu bahwa murid saya. Dan ketika ia melihat ke bawah. Kepala Biara Hozoin. Hari ini mereka mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana teknik-teknik yang mereka asah dalam latihan dapat mereka gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya. dan itulah pertama kali ia melihat darah sebanyak itu. "Izinkan saya memperkenalkan diri. juga oleh sikapnya yang tenang.property of: CROSSFiRE. Inc. atau dibantai. doa-doanya pun berubah menjadi kutukan yang diarahkannya tidak hanya kepada musuh. Kenapa para pendeta itu menyerang pendukung mereka? Dan kenapa demikian kejam? Baru beberapa saat sebelumnya ia berkelahi seperti binatang liar.

" "Bukan saya yang cepat. Anda sekalian boleh merasa bebas meninggalkan segalanya ini sebagaimana Ebook by Kang Zusi . netcafe. "Seperti Bapak perintahkan. duduk bersama Inshun dan Musashi. untuk menyambut Nikkan dan pengiringnya.. Saya yakin titik hitam di tepi dataran itu dia. Ia bahkan sedikit heran bahwa dirinya masih hidup. para pendeta saling berbisik. begitu kita pergi. "Ayolah. "bersihkan sebagian darah itu. "Anda cepat sekali berjalan kalau melihat umur Anda." "Anda namakan semua ini 'bersih rumah'?" "Betul. menunjuk ke atas." "Kenapa burung-burung itu tidak turun?" "Mereka akan turun nanti." Para samurai melompat turun satu demi satu dari kuda. Tak mengerti saya. Berangsur-angsur mereka semua berkumpul di sekitar api." kata Inshun sambil menuding ke arah kaki langit." Inshun mengantarnya ke dekat api. kenapa Anda sekalian memperlakukan saya seperti ini. ia harus menghapuskan dahulu kekacauan dalam pikirannya. "Tadi saya pikir Anda dan orang-orang Anda datang kemari untuk menyerang saya. Anda butuh istirahat. "Terima kasih atas kedatangan Tuan-tuan. "Nab." Kemudian ia menoleh kepada para pejabat. Anda sekalian sudah melaksanakan kerja hebat. mundur mengambil jarak yang sesuai. Yang pertama dikatakan Nikkan adalah. "Aaa. kecuali kalau ia bertanya. dan membariskan diri dengan penuh upacara. Dan mereka akan berebutan melahap makanan besar itu. dan saya sudah bertekad mengirim sebanyak-banyaknya dari antara Anda sekalian ke negeri orang mati. "Tak apa-apa.." kata seseorang. "Akan kami kirim kemari orang dari kota untuk membersihkan semua ini." Mereka membenarkan. Para pendeta menyobek-nyobek secarik kain katun lebar menjadi potongan-potongan kecil dan menghapus lembing mereka. kawan-kawan. Ia memandang Inshun." "Anda lebih gesit daripada kuda. dan katanya. Musashi memperoleh kesan bahwa ia tak akan mendapatkan keterangan apa pun. Menyayangkan perbuatan Agon? Musashi merasa barangkali telinganya perlu dibersihkan." Pendeta tua yang berjalan kaki sendiri itu melangkah menyamai para penunggang kuda yang sedang maju ke arah asap api. tapi tujuan kami yang sebenarnya hari ini adalah sedikit 'bersih rumah'. Mari kita periksa. di sisi lain dataran itu berkatalah seorang penunggang kuda kepada Nikkan. "Tapi saya pikir lebih baik kita menanti dan mempersilakan Nikkan menjelaskan pada Anda. Kemudian pimpinannya kembali ke tempat berdirinya Inshun. seolah-olah tak suatu pun yang aneh telah terjadi." Para pejabat berjalan ke sana kemari memeriksa mayat-mayat dan membuat beberapa catatan.property of: CROSSFiRE." Pada saat itu juga. Inc. "Sudah kalian urus semuanya?" Inshun membungkuk dan menjawab. Pimpinan mereka menjawab." kata kepala biara itu. Sudah berkaok-kaok mencari mayat mereka. Terima kasih. Dan mereka mulai mengobrol. "Lihat ke sana." Inshun tertawa." "Kenapa tidak? Saya lelaki. Ketika rombongan itu mendekat. "Itu Guru Tua. Anda yang lambat.. Kelima penunggang kuda itu pejabat." Olok-olok mengerikan itu berlangsung terus dengan nada santai serupa. sedangkan Jotaro menguntit di belakang. seakan-akan menghadapi suatu acara suci. Ia masih belum dapat mengerti kenapa para pendeta itu kemudian melawan para ronin tak dapat ia mencari jawaban yang masuk akal. kami memang tak perlu menganggap Anda sekutu. Ia tetap diam sesaat lamanya. gagak-gagak sudah mencium bau darah. karena sebelum ia dapat memutuskan cara yang cocok untuk menjawab nada sopan Inshun itu.

Sambil sekali-sekali melayangkan pukulan ke arah burung-burung. Kubicarakan rencana itu dengan Inshun. oh. Ebook by Kang Zusi . memeras. Nikkan berjalan ke sisi Musashi. "Apakah pengalaman di sini memberikan pelajaran kepadamu?" tanya pendeta itu. lalu meninggalkan tempat itu. terdengarlah hiruk-pikuk besar. ini kesempatan ideal untuk mengadakan 'bersih rumah' di Nara." perintah Nikkan. termasuk Dampachi dan Yasukawa. dan para ronin mengambil keuntungan dari asingnya mereka itu dengan tempat inimencegati musafir yang tak berdosa. Supaya musim semi dapat naik dari bumi. "Saya bahkan tidak begitu mengerti. "dan terpikir olehku. apa yang sudah terjadi ini. Nikkan memberitahu para pendeta bahwa tenaga mereka tidak diperlukan lagi. memasuki rumah-rumah janda-menimbulkan segala macam kesulitan. Terkadang kami butuhkan bersih rumah." kata Kepala Biara. para pejabat. Bapak sudah berbuat baik sekali. Inc. Para pendeta Hozoin-lah yang berkelahi untuk mereka. "Bangkitlah. ia melanjutkan: Ya. ya. Sayalah yang harus berterima kasih. dan anak itu gembira luar biasa. adanya.property of: CROSSFiRE. netcafe." Dengan itu kelima orang tersebut menaiki kembali kuda mereka dan pergi. dan katanya ringan saja. Sekali-sekali Memang perlu bersih rumah Tidak hanya di Nara. agaknya dengan perkiraan aku bodoh. berjudi. Sambil menggerutu karena bunyi ribut itu." jawab Nikkan. Begitulah juga poster-poster itu. melarikan perempuan. Memang kebiasaan alam Membikin baru semuanya. "Maafkan kalau saya sudah melukai hati Anda beberapa hari lain. "Para pejabat yang baru pergi tadi itu bekerja di bawah Okubo Nagayasu yang baru-baru ini dikirim kemari untuk memerintah Nara. Kami bakar ladangan. Pernyataan-pernyataan fitnah tentang kuil yang dituduhkan padamu itu pekerjaan mereka. dan sekarang semua orang pun senang-para pendeta. Ia menyanyikan lagu populer karangannya sendiri. Mereka berjanji segalanya akan dilaporkan padaku. Mereka masih asing dengan daerah ini. juga burung-burung gagak itu." Mendengar itu Musashi tertawa. Ha. "Kau tahu Dampachi dan pengikutnya tak suka padamu. "Maka kupertimbangkan hal itu sebentar. mengepakngepakkan sayap dengan riangnya. Burung-burung gagak turun. mereka membuat rencana yang menurut mereka jitu." Musashi bangkit berdiri. Jotaro waktu itu mengenakan topengnya sambil tersenyum ajaib clan menudingkan pedang kayunya ke tubuh-tubuh yang berserakan. Karena takut menyerangmu sendiri. Bersih rumah! Mendengar suaranya yang tak dibuat-buat ini. Apa Bapak dapat menceritakannya pada saya?" "Dengan senang hati. Musashi dan Nikkan menoleh memandangnya." Musashi berlutut dan membungkuk dalam-dalam di depan pendeta tua itu. Pemerintah tak dapat mengendalikan mereka. Cerita Nikkan itu telah menghapuskan sama sekali segala kesangsian dan rasa takut Jotaro. ha!" Ada satu orang lagi yang senang bukan buatan. Begitu orang-orang itu berangkat. sambil menari-nari seperti burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya: Bersih rumah. "Padang ini bukan tempat untuk membungkuk. Inshun mengucapkan selamat tinggal pada Nikkan dan Musashi. burung gagak. Dia setuju menjalankan. tapi mereka sudah tahu bahwa ada sekitar lima belas pentolannya. Kami bakar dedaunan." "Sama sekali tidak. Terkadang kami butuhkan salju turun. Mereka membungkuk dan meninggalkan tempat itu diam-diam.

"Apa?" tanya Nikkan. "Jangan seperti orang tolol. "Bapak Pendeta!" panggilnya. Tanah Perdikan Koyagyu LEMBAH Yagyu terletak di kaki Gunung Kasagi di sebelah timur Laut Nara. tapi suatu kesalahan besar kalau kamu menyangka Jalan Samurai itu hanya terdiri atas pameran kekuatan. Ambilkan beberapa batu.property of: CROSSFiRE. dan putuskan sendiri bagaimana membawa diri nanti. kemudian tiba-tiba ia melesat mengejarnya. kalian. yang selama itu memandang ke tanah dan tenggelam dalam pemikiran. kamu tak akan hidup sampai umur tiga puluh. Kalau kamu terus juga membanggakan dirimu dengan kekuatanmu." Musashi diam. Nikkan duduk dan menuliskan kata-kata Namu Myoho Renge-kyo. Musashi. ia pun berangkat dengan kecepatan hebat. Ebook by Kang Zusi . Pikirkan itu. Tapi jangan terlalu banyak. Karena kamu masih muda. macam itu. Aku kembali ke Nara. "Ya. Kalau kamu mencontoh mereka dan mencoba mengikuti jalan yang sudah mereka tempuh. Inc. Sekishusai dulu guruku. "Sini. tapi belum baik." Dan sama mendadaknya dengan waktu ia datang. Kamu mesti mempelajari jalan yang ditempuh oleh Yagyu Sekishusai dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Pak!" Anak itu mengumpulkan batu-batu. kamu bisa mencapai kebenaran." Suara Nikkan tidak kedengaran lagi. Nikkan mengatupkan kedua tangannya dan menyanyikan bagian dari Sutra Bunga Teratai. "Apa tak ada yang Bapak lupakan?" Ia menepuk-nepuk pedangnya selagi mengatakan itu. netcafe. "Bapak belum memberikan petunjuk." Mulut Kepala Biara yang tak bergigi itu memperdengarkan tawa terbahakbahak yang terkenal itu. Di awal abad ketujuh belas. Ambil yang banyak!" "Baik. "Doa itu akan melindungi mereka. Juga sake merah pekat. dan Yang Dipertuan Koizumi gurunya. kamu belum mengerti?" tanyanya. Sementara Jotaro melakukan suruhannya. seperti kebiasaannya. Sesaat Musashi hanya menatap tubuh yang makin menjauh itu. Sebab kalian bisa mabuk. ia menyatakan. sama sekali belum." "Macam ini?" tanya Jotaro. tak dapat aku menyatakan kamu benar. Hari-hari ini mudah sekali kamu terbunuh. pada tiap batu itu. Wahai. menengadah. "Kamu sudah melaksanakan sesuatu hari ini. Sekarang kalian berdua bisa jalan terus. memungut sebuah batu yang terletak dekat kakinya dan mengacungkannya. dan karena tak ada jalan untuk mengetahui kapan kita akan bertemu lagi. burung gagak! Berpestalah! Dan memilihlah! Sop langsung dari ceruk mata. karena itu aku tidak berhak bicara padamu tentang soal ini. Nak!" seru Nikkan tajam. Pendeta tua itu sudah menghilang." Jotaro berdiri diam memandang wajah Kepala Biara. "Satu satunya yang harus kuajarkan padamu adalah kamu terlalu kuat. Pak. "Jadi. saya akan senang jika mendapat sedikit nasihat dari Bapak. "Ya. "Tapi aku sendiri cenderung memiliki kesalahan yang sama. doa suci sekte Nichiren. Selesai melakukan hal itu. Kemudian ia berikan batu-batu itu kembali pada anak itu dan ia perintahkan anak itu menyebarkannya di antara mayat-mayat. sebelum Musashi sempat mengucapkan terima kasih atau membuat janji untuk bertemu lagi dengannya.

dan belum pernah aku melihat tempat seperti ini. Orang bilang air itu air ideal untuk membuat teh. Suaranya sejernih kristal. Ia tidak lagi memperlihatkan minat kepada pemerintahan setempat." ulangnya beberapa kali. Yagyu Muneyoshi Sekishusai yang kini mengundurkan diri itu berdiam di sebuah rumah pegunungan kecil. netcafe. Kembang prem Tsukigase tidak jauh turnbuhnya dari tempat itu. seperti jernihnya air sungai gunung. Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada para Yang Dipertuan Yagyu sendiri. juga pegawai-pegawai yang dapat dipercaya untuk membantu dan membimbing mereka. setidak-tidaknya untuk waktu yang sangat lama. Itu berarti juga tidak pernah terjadi kelaparan. kemudian menjadi pembantu yang setia dan cakap. Dengan pakaian tidak resmi." "Lalu kenapa? Apanya yang lain?" "Pertama. Ia terlalu besar untuk dilukiskan sebagai kampung semata-mata." Jotaro tertawa. Singkatnya tempat itu merupakan tanah perdikan yang damai dan diperintah dengan cara yang bagus. Semua pohon di Yagyu ini tua. Di sini orang tidak melihat tanda-tanda kekurangan atau kemerosotan moral yang ada hubungannya dengan samurai bebas. Di perjalanan ia telah menyaksikan barang-barang peninggalan zaman Kemmu. "Pohon? Di mana-mana ada pohon. Seorang penyair pernah menuliskan bahwa di tempat lahirnya seorang pahlawan.property of: CROSSFiRE. secara hati-hati ia menghindari keterlibatan serius dalam perang dan permusuhan antara tuan-tuan feodal di daerah-daerah lain. Selanjutnya ia dapat dengan bebas menganggap bahwa rakyat diperintah dengan sebaik-baiknya. tidak ada pasukan musuh yang membakar atau menebangi hutan. baik fisik maupun mental. Ia punya sejumlah anak dan cucu yang terampil. dan burung-burung bulbul menyanyi dari musim melelehnya salju sampai musim datangnya angin ribut berguntur. "Apanya yang mengagumkan?" Baginya yang paling mengagumkan adalah kenapa Musashi berbicara sendiri. Jika tak ada pahlawan dilahirkan di Lembah Yagyu. Ia menyebarkan kebudayaan di antara rakyatnya. Ini berarti tidak pernah terjadi perang di sini. dan sungaisungai biasanya segar dan jernih. tempat itu merupakan wilayah kediaman masyarakat kecil yang sejahtera. sebuah nama yang diwarisi dari zaman tanah perdikan. Betul. "Mengagumkan. Wilayah ini sama sekali tidak mirip dengan Nara. tapi kemudian jadi menonjol karena pertempuran. Unsur-unsur yang mengganggu tidak dibiarkan memasuki kehidupan masyarakat. Di rumah besar itu. demikian juga nenek moyang Yang Dipertuan. dan tidak memedulikan pula siapa yang waktu itu memegang kekuasaan langsung. tetapi penduduk tempat itu sendiri menyebutnya Kambe Demesne. "Mengagumkan. Airnya murni dan bersih. Kubu-kubu batu. tapi di sini lain. sama dengan ketika ia yang mengurusnya. Di tengah masyarakat kecil itu berdiri Wisma Utama. Namun. sementara matanya mengembara memandang panenan di ladang dan para petani yang sedang bekerja." kata Musashi. Rakyat wilayah itu. Lingkungan itu sendiri memang tak kenal keburukan. pegunungan. bersamaan dengan itu. aku sudah mengunjungi Provinsi Settsu. pada suatu hari ia keluar berjalan-jalan dengan Jotaro. di mana kuil-kuil kuno yang ternama dalam sejarah dan kesusastraan rakyat dibiarkan telantar. mengelilingi Wisma Utama. Penguasa yang sekarang seorang tuan tanah desa yang baik. Tetapi tempat ini memang tempat kelahiran para pahlawan. "Sejak meninggalkan Mimasaka. Akhirnya Jotaro bertanya. Kyoto dan Nara. para pegawai pun orang-orang bangsawan. Gunung-gunung dalam jajaran Kasagi tidak kurang indahnya pada waktu senja dibandingkan pada waktu matahari terbit. hidup senang di sana semenjak abad kesepuluh. Musashi datang ke daerah itu sekitar sepuluh hari sesudah terjadi pertempuran di Dataran Hannya. maka kata-kata penyair itu kosong saja kiranya. Inc. Ia menginap di penginapan setempat dengan maksud bersantai sementara." Ebook by Kang Zusi . Banyak di antara mereka yang asalnya petani. namun tidak cukup berpenduduk atau ramai untuk dapat disebut kota. Kawachi dan Izumi. Tentu saja ia dapat disebut Kampung Kasagi. tak berapa jauh di belakang Wisma Utama. kan?" "Ya. sebuah puri yang menjadi lambang kemantapan pemerintah maupun pusat budaya daerah itu. di pegunungan ini banyak terdapat pohon. yang mengingatkan orang kepada benteng kuno. dan sepanjang waktu siap melindungi wilayahnya dengan taruhan nyawa.

tapi penginapan itu besar. sebenarnya cuma gelandangan. mereka pulang ke penginapan. "Hanya itu?" "Tidak. "Gila kamu. Seorang pelajar yang serius jauh lebih berkepentingan melatih pikirannya dan mendisiplinkan semangatnya daripada sekadar mengembangkan keterampilan perang. "Apanya yang lucu?" tanya Kocha sambil meninju Jotaro. Ia tidak memperlihatkan ketidaksabaran mendengar banyaknya pertanyaan anak itu. Pada malam hari. maka selagi mereka berjalan itu ia terus memberikan jawaban-jawaban yang mengandung pemikiran dan serius. karena ia mengenakan celana pendaki gunung. "Siapa namamu?" "Tidak tahu aku. "Kalau mau. demikian Wisma Utama itu biasanya disebut orang. Inc. Tanpa menantikan jawaban lagi ia mengatakan. Ia harus mempelajari segala macam hal—geografi. Sesudah mereka melihat apa-apa yang bisa dilihat di bagian luar Puri Koyagyu. tidak tahu nama sendiri. sedangkan pedang dan senapan dalam gudang senjata tetap tergosok dan berada dalam keadaan sebaik-baiknya. Ladang di sini juga hijau. Dan dengar itu! Apa tidak kau dengar bunyi roda pemintalan? Bunyi itu seperti berasal dari tiap rumah. ya?" Kalau tidak melihat obi merahnya. Kakak mau melawan samurai dalam Keluarga Yagyu. sedang pemuda dan pemudi tidak pergi ke tempat-tempat lain untuk mencari hidup yang tak menentu." jawab gadis itu." "Kocha. Kakak datang kemari bukan untuk mengagumi pemandangan.property of: CROSSFiRE." "Lucu nama itu. kukira kau tak akan tertarik." Musashi berangkat ke kamar mandi." Musashi sadar bahwa kuliah ini barangkali hanya sedikit artinya bagi Jotaro. sepuluh atau dua belas kuda beban selalu siap tertambat di pohon dekat pintu masuk atau di bawah tepi atap depan." "Rasanya tak ada yang istimewa. dia ingin pergi ke semua tempat yang dapat didatanginya clan mempelajari segala yang dapat dipelajarinya. netcafe." Jotaro tertawa. tapi ia merasa perlu bersikap jujur kepada anak itu. Musashi mengetahui bahwa di bak mandi ada orang-orang Ebook by Kang Zusi . orang bisa menyangkanya anak lelaki. Pembantu yang mengikuti mereka ke kamar bertanya. perasaan rakyat. tidak hanya yang terjadi di luarnya. Orang-orang yang berpikir demikian dan sudah puas hanya karena bisa makan dan punya tempat untuk tidur. "Dia pukul aku!" pekik Jotaro. Pokoknya. dan hidup di sini normal. Jalan di situ bagian dari jalan raya Iga. orang tua diperlakukan cukup hormat." "Dan lagi. dan sesudah melihat dengan saksama segala sesuatu di sekitar lembah itu. "Betul. hubungan mereka dengan yang dipertuan di wilayah mereka. Dan apa tidak kau lihat bahwa kalau musafir lewat dengan pakaian yang baik. Di tempat itu hanya terdapat sebuah penginapan. Anak-anak tumbuh sehat. dan gandum yang baru tumbuh itu diinjak-injak bawahnya baik-baik untuk menguatkan akarnya dan membikin baik tumbuhnya. Ini berarti daerah ini makmur. para petani tidak melihatnya dengan perasaan iri?" "Ada lagi?" "Seperti kaulihat. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam purl. Dari pakaian yang terlipat di lantai kamar tamu." keluh Jotaro. dan tidak hanya memberikan jawaban setengah-setengah. banyak gadis muda kerja di ladang. tingkah laku dan adat kebiasaan mereka. sekarang bisa terus mandi. kan?" "Berkelahi itu bukan satu-satunya dalam Seni Perang. irigasi. "Sudah jalan-jalan. dan banyak di antara orangorang yang berziarah ke Kuil Joruriji atau Kasagidera itu menginap di situ. Aku berani bertaruh yang dipertuan daerah ini kaya. sedangkan Jotaro yang merasa mendapat teman baru yang seumur dengannya lalu bertanya.

begitu tiba. Sekishusai sudah mengundurkan diri dan tak pernah lagi bertarung. Mereka rupanya puas sekali dengan diri mereka. Ia menanggalkan pakaiannya dan membuka pintu masuk kamar mandi yang beruap. dan sekarang. bahwa ia memutuskan untuk "tidak ambil risiko". seorang guru besar dalam seni bela diri. Kadang-kadang ia merasa pepatah itu dapat berlaku sebaliknya. ketika Kempo menjadi guru para shogun. "Pertama. Ia sudah mendengar bahwa Denshichiro sedang mengadakan perjalanan ke Ise sewaktu ia singgah di Perguruan Yoshioka. Berangsur-angsur mereka menyambung kembali percakapan yang terputus. pemuda-pemuda kota tersebut mengatakan bahwa Sekishusai "bijaksana"." pikir Musashi sedih. di dasar sumur yang dalam. tapi ketika melihat tubuh Musashi yang berotot. Mereka membasuh diri di luar kolam. Agaknya mereka orang kota. tanpa pakaian sama sekali. Bagaimana pendapatmu. betul demikian. para samurai tegap berpuluh-puluh tahun lamanya menempuh kehidupan pedesaan yang sehat dengan mempertahankan nilainilai kuno. yang waktu itu sudah menyandarkan kepala ke tepi kolam dan menutup mata. dia memutuskan untuk tidak ambil risiko". dan bahwa ia tidak mungkin "sebaik yang dikatakan orang". tapi menurut Musashi mereka itu lucu. jauh dari pusat politik dan ekonomi negeri." Yoshioka? Musashi mengangkat kepala dan membuka mata. justru karena ini Sekishusai tidak membiarkan anak Kempo pergi tanpa menjawab suratnya. di Koyagyu. lain." Tapi ketiga orang itu tidak memperhatikannya. Mengomentari sikap Sekishusai itu. mereka mengirim surat pada Keluarga Yagyu. Yang manakah? "Aku kurang beruntung dengan acara mandi rupanya. Inc. dulu Osugi menjebakku dengan mandi. ' Bersama dengan berlalunya waktu. kupikir tidak betul. netcafe. Dia tentu sudah mendengar tentang apa yang terjadi di perguruannya. yang kegagahannya diakui oleh Ieyasu sendiri. dia menyebut nama Shoda Kizaemon. Tak sangsi lagi." "Menurut Shoda. mereka berhenti bicara. tentunya dia tidak sebaik yang dikatakan orang. hal itu mengejutkan ketiga orang lainnya. Dari percakapan mereka diketahui. karena cara bicaranya halus dan berbau kota. Anak-anak muda manja dari Kyoto ini punya kesempatan melihat apa yang terjadi di pusat segala sesuatu dan mengetahui apa yang terjadi di mana-mana. aku bertemu dengan salah seorang Yoshioka." "Kalau Yang Dipertuan Yagyu mengirim pegawai untuk menyampaikan penolakan bertanding. Tubuh yang tingginya 180-an sentimeter itu menyebabkan air panas melimpah. Gorozaemon dan Toshikatsu. Kulit punggung mereka putih dan otot-otot mereka lentur. dan anaknya Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. dulu. Salah seorang dari mereka tentunya Denshichiro. Koyagyu menghasilkan Yagyu Muneyoshi. di tempat lain. Tetapi yang terjadi pada mereka adalah: selagi mereka mengawasi lautan terbuka luas. Entah karena apa. Seorang di antaranya langsung menatap Musashi. Berlawanan dengan apa yang sudah ia lihat di Puri Koyagyu dan keadaan penduduk daerah yang membikin iri hati itu. Hal itu mengingatkannya pada pepatah katak di dasar sumur. Ada tiga orang sedang berbicara dengan riangnya. Karenanya Musashi menyimpulkan ketiga orang itu sedang dalam perjalanan pulang ke Kyoto. yang terkenal di Ebook by Kang Zusi . Yang jauh lebih mungkin adalah ketika dia mendengar anak kedua Keluarga Yoshioka menantangnya. ada seekor katak yang dengan mantap tumbuh makin lama makin besar clan kuat. Di sini. Kalau dia tahu namaku Miyamoto.property of: CROSSFiRE. memperbaiki segi-segi mereka yang lemah dan semakin kukuh kelebihannya. atau cuma mengarang-ngarang?" "Ah. "Setidak-tidaknya dia cukup bijaksana dengan mengirim buah dan mengatakan dia berharap kita dapat menikmati persinggahan kita di sini. pasti dia keluar dari pintu itu dan kembali seketika dengan pedang. Musashi masuk ke dalam bak mandi umum itu sambil melenguh nikmat. Agaknya Sekishusai pernah punya hubungan dengan Yoshioka Kempo. mereka bertiga rasanya tidak memiliki apa pun selain kefasihan bicara. seakan-akan ada unsur asing telah menyerobot ke tengah mereka. yang tak dapat melihat apa yang terjadi di dunia luar. Ada juga anak-anak Muneyoshi yang lebih tua. dan karena itu pula ia mengirimkan Shoda untuk melakukan kunjungan kehormatan ke penginapan. "Siapa namanya-samurai dari Keluarga Yagyu itu?" "Kalau tak salah.

dan cucunya Hyogo Toshitoshi yang prestasi-prestasi luar biasanya menyebabkan ia dapat menduduki jabatan yang besar gajinya di bawah Jenderal Kato Kiyomasa dari Higo yang termasyhur. Jotaro dan pelayan saling pandang. karena Tuan sudah membunuh berlusin-lusin ronin di Dataran Hannya. Inc. Musashi sibuk memikirkan maksud pribadinya untuk menemui Sekishusai." pikir Musashi. dan mulailah ia menggosok kulit kepalanya. Kuharap kamu memaafkan kami. mengikat rambut. "Tapi kamu begitu berkeringat. membasuh badan sepenuhnya. "Uh. Denshichiro dan temantemannya buta karena keangkuhan sendiri. Anak bandel ini tadi membual bahwa Tuan pemain pedang terbesar di negeri ini. Musashi merasa sedikit kasihan pada mereka. dan kembali ke kamarnya. dari sudut yang lain. Kak. Jotaro sudah memprotes. dan aku akan memarahinya. kemudian diambilnya segenggam tanah liat. orang-orang Kyoto itu menyelesaikan mandi. sementara gadis itu menyediakan makanan. di Jepang tak ada yang lebih baik bermain pedang daripada yang dipertuan daerah ini. Akhirnya anak itu tidak jadi mandi. Namun demikian.property of: CROSSFiRE. hal itu bisa." Anak itu jadi semakin keras kepala. Dalam hal kemasyhuran dan nama baik. dia pukul saya!" "Ah. "haruslah dengan orang yang kuat. lalu dia mulai menampar pipi saya. untuk melihat apakah aku dapat mengalahkan Yagyu yang bernama Ebook by Kang Zusi ." "Memang enak. Melihat kedudukannya yang rendah. Bagaimana kalau kita panggil gadis-gadis buat menuangkan sake kita?" "Gagasan bagus! Bagus. enak. kemungkinan saja. Keluarga Yagyu belum setara Keluarga Yoshioka. "Pergi mandi sana!" "Saya tak suka mandi!" "Aku juga tak suka. Ada manfaatnya membahayakan hidup ini. Bahkan ia menyukai watak Jotaro itu. Sementara itu. "Oh. Ia pindah ke sudut tempat disalurkannya air ke dalam kamar itu. begitu. bohong!" teriak Jotaro marah. tapi saya katakan. "Kalau aku beradu senjata dengan seseorang. yang masih juga mendongkol. Ditanggalkannya ikat kepalanya. Di sana ia temukan Kocha yang tampak seperti anak lelaki itu sedang menangis. Sesudah mandi. Tetapi dalam hal kecakapan. "Kenapa kamu?" "Anak lelaki Tuan itu. "Si tolol ini bilang Kakak lemah." "Kamu bilang!" "Tuan. Musashi mengeringkan badan. Memang tak boleh dia melakukan itu. seluruh negeri karena keberaniannya." "Itu tak benar. "Ya. Tak lama kemudian Kocha membawakan makan malam dengan baki. tapi Musashi tidak begitu keberatan. Coba lihat. Musashi baru akan memakinya. ya. dan mengguyur badan lagi dengan air panas. Saya tidak bilang begitu. netcafe." kata anak itu. sampai bau. Itulah pertama kali selama berminggu-minggu ia bermewah-mewah dengan pencuci rambut yang baik. tapi kemungkinan. Mereka makan tanpa bicara." "Saya akan mandi di sungai besok pagi. barangkali usaha ini terlalu berlebihan." kata Musashi bohong. perbedaan itu hanyalah masa lalu." Musashi tertawa. saya tidak bilang Tuan atau yang lain itu lemah. Jo!" katanya keras. bagus!" Ketiga orang itu selesai mengeringkan dirt dan pergi. sesudah makin terbiasa dengan Musashi.

dan ia merawat tanahnya yang berpenghasilan lima belas ribu gantang itu demikian rupa hingga nanti ia dapat menyerahkannya pada keturunannya dalam keadaan baik. besar itu. Di zaman baru yang sedang terbit ini. Tak ada gunanya mengikuti Jalan Pedang jika aku tak punya keberanian mencoba. ia mempertahankan penampilan dan tingkah laku samurai berpendidikan baik. Lainnya hidup sampai melebihi enam puluh tahun. maupun permohonan yang berulang-ulang dari Nobunaga dan Hideyoshi untuk menggabungkan diri dengan mereka." Di antara peperangan yang tak terhitung jumlahnya. Ketajaman pandangannya yang dikagumi orang banyak itu memang merupakan satu faktor kelebihan. Bunga Peoni KEMULIAAN orang tua itu tumbuh bersama berlalunya waktu. Giginya masih lengkap dan matanya tajam luar biasa. Dan apa yang dikatakannya itu benar. Dalam ceruk kamar duduknya tergantung sajak yang ditulisnya sendiri. hampir tak dapat dipercaya bahwa puri kecil ini berhasil tetap tegak secara lengkap. karena ia punya pikiran seperti itu. merekalah yang mengendarai puncak waktu. "Yang mati umur dua puluhan dan tiga puluhan biasanya terbunuh dalam pertempuran. Namun ia belum meninggalkan Seni Perang itu sendiri. Ia lebih suka tinggal di Yagyu. namun ia menolak untuk terlibat dalam pertempuran yang sering terjadi pada pusat-pusat kekuasaan dan intrik itu. hak miliknya mungkin dicabut oleh Ieyasu sesudah Pertempuran Sekigahara. kemungkinan ia bertabrakan dengan Hideyoshi. "Aku akan hidup sampai seratus tahun. Ia menulikan telinga terhadap desakan shogun Ashikaga Yoshiaki. sekalipun ia sedang makan nasi. Bunyinya: Tak ada padaku cara cerdik Buat menempuh hidup. termasuk pemberontakan Miyoshi dan pertempuranpertempuran yang menandai bangkit dan jatuhnya Keluarga Matsunaga dan Oda. demi kepentingannya sendiri tanpa memikirkan kesopanan ataupun ketulusan—atau bahkan membantai sanak saudara sendiri yang mencampuri ambisi pribadi. karena alasan-alasan pribadi ia memutuskan untuk meninggalkan peperangan. Pada zaman tidak menentu ini. seperti beruang di dalam gua. Sekalipun ia hidup hampir dalam bayangan Kyoto dan Osaka. Sekishusai harus memiliki kekuatan dalam yang tidak dimiliki oleh samurai biasa pada zamannya. "Keluarga Yagyu selamanya berumur panjang. Sekishusai sendiri percaya benar akan hal ini. Sekiranya ia dulu membantu Yoshiaki." demikian ia suka mengatakan." Musashi sadar bahwa kebanyakan orang akan langsung menertawakannya. Sementara itu. netcafe." Ini tidak dibesar-besarkan. "Ini merupakan ujian sejati. ketika para pemimpin bangkit dan jatuh begitu cepat. Ebook by Kang Zusi . tetapi untuk dapat tetap tegak dalam zaman yang demikian bergolak. Walaupun bukan salah seorang daimyo penting. "Aku tak dapat berbuat seperti itu. Mereka semua cenderung berpihak pada seseorang di suatu hari dan secara tak kenal malu meninggalkannya pada hari berikutnya. Sekiranya ia menerima perlindungan Hideyoshi. Aku hanya mengandalkan diri Pada Seni perang. Sekishusai pernah mengatakan." ujar Sekishusai dengan sederhananya. Anaknya dinas di istana shogun. jalan hidup dan terutama sikapnya setelah ia mencapai umur tua menyebabkan orang percaya bahwa ia akan dapat hidup sampai seratus tahun. dan seluruh keluarganya mendalami tradisi kelas prajurit.property of: CROSSFiRE. hingga sekarang ia tak lain dari menyerupai derek megah." demikian sering kali ia meyakinkan semua orang. Inc. "Aku sudah berbuat sebaik-baiknya dengan berkukuh pada tanah ini. Pada umur empat puluh tujuh." pikir Musashi yang sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan. Sungguhpun misalnya Sekishusai tidak dilahirkan dalam keluarga seperti itu. Semenjak itu belum ada yang dapat mengubah tekadnya. Yagyu pemilik puri. dan sekiranya ia dulu membantu Nobunaga. ia mungkin menjadi korban Nobunaga. ia ambil bagian dalam beberapa perang besar.

Atas desakan kuat Sekishusai. Sekishusai menolak kehormatan itu dengan alasan umur. dan minta Munenori ditunjuk menggantikannya. Ketika akhirnya mereka berpisah. saya akan melakukan ini. Pada ulang tahun meninggalnya Yang Dipertuan Koizumi. "Jalan ilmu pedang saya masih belum sempurna. karena ayahnya juga menurunkan pengetahuan taraf tinggi dalam Seni Perang. Melihat langkah baru itu. dan cucunya Hyogo yang waktu itu baru berumur enam belas. Pada gilirannya hal itu melahirkan cara hidup damai Sekishusai di umur tuanya. meninjaunya dari segala penjuru. Menurut Sekishusai. "Oh. dan selama itu Sekishusai belajar sepenuh hati bak seorang yang baru mulai. Koizumi hanya mengatakan. Kemudian diingatnya bahwa pada kesempatan itulah pertama kali ia melihat Seni Perang sejati. Itulah zaman ketika In'ei sering kali berkunjung ke Puri Koyagyu. dan In'ei pun menyampaikan pada Sekishusai tentang tamu itu. Ieyasu setuju. Ebook by Kang Zusi . dan menyarankan agar mereka bertanding. yang berumur dua puluh empat tahun. Hari kedua terjadi hal yang sama. Dengan ini lahirlah Gaya Yagyu. akan sia-sia saja. Yang Dipertuan Koizumi mengatakan. Dalam pertandingan pertama Koizumi menyebutkan di mana ia akan menyerang. "Jangan. Ini dipelajarinya dari Yang Dipertuan Koizumi. Sekishusai menyambutnya dengan mata jernih tak terusik." Tanpa berpanjang-panjang lagi ia pun menyerang dan mengalahkan Sekishusai untuk ketiga kalinya. Yang Dipertuan Koizumi tinggal di Koyagyu selama enam bulan. tetapi memintanya menjadi guru dalam seni perang bagi Keluarga Tokugawa. dan mulailah ia bertanding tepat sesuai yang dikatakannya. Itulah permulaan hubungan mereka. yang memungkinkan seorang pemimpin memerintah dengan bijaksana. Inc. yang sering dinamakan dewa pelindung rumah tangga Yagyu. itu tak bisa. dan Anda mesti mencoba mengusahakannya sampai sempurna. Karena harga dirinya terluka. Ketika Yang Dipertuan Koizumi datang lagi berkunjung. Ieyasu tidak hanya membenarkan prajurit tua yang patut dimuliakan itu dalam hal pemilikan tanah." Kemudian ia menghadiahi Sekishusai surat keterangan dan buku pegangan empat jilid itu. Yang Dipertuan bersama dua kemenakannya. dan pada suatu hari ia tiba di Hozoin. Munenori. Surat keterangan yang diberikan kepadanya oleh Yang Dipertuan Koizumi untuk membuktikan penguasaannya atas ilmu pedang Gaya Shinkage. pada hari ketiga Sekishusai memusatkan usahanya pada cara baru.property of: CROSSFiRE. kemudian katanya. Warisan yang dibawa Munenori ke Edo itu lebih dari sekadar kecakapan hebat dalam seni bela diri. buku pegangan itu berisi gambar-gambar ilustrasi. Ia membawa serta anaknya yang kelima. Kalau Anda melakukan itu. Di samping gambaran tentang teknik-teknik pedang tersembunyi Gaya Shinkage. selalu disimpan di sebuah rak kamar Sekishusai bersama empat jilid buku pegangan teknik militer yang dihadiahkan kepadanya oleh Yang Dipertuan." Kemudian ia memberi Sekishusai sebuah tekateki Zen: "Apakah artinya main pedang tanpa pedang?" Bertahun-tahun lamanya Sekishusai merenungkannya. Anda sudah menemukan kebenaran. Sejak hari itu Sekishusai meninggalkan pendekatan congkak atas ilmu pedang. ia merasa para pemain pedang itu turun dari langit dan bergabung dengannya di rumah pegunungan yang kecil itu. tetapi ia pun alat untuk mengendalikan diri. Sekishusai senang membuka-buka gulungan itu dan memeriksa isinya. Yang Dipertuan memperhatikannya dengan saksama sesaat lamanya. Tidak hentihentinya ia merasa kagum dapat menemukan betapa terampil gurunya memainkan kuas. Bahkan dalam masa pensiunnya pun. dan akhirnya sampai pada jawaban yang memuaskan dirinya. semuanya hasil tangan Yang Dipertuan Koizumi sendiri. Sekishusai dan Koizumi melakukan pertandingan tiga hari berturut-turut. Apabila Sekishusai memandang gambar-gambar itu. Gambar-gambar itu menunjukkan orang-orang yang sedang bertarung dan bermain pedang dalam segala posisi dan langkah yang mungkin. mau tak mau Sekishusai merasa harus menerimanya dan keluar dari keterpencilan tenteram yang berpuluh tahun lamanya itu untuk melakukan kunjungan pertama ke istana shogun. Anda masih muda. netcafe. Seni Perang memang alat untuk memerintah rakyat. Sekishusai tak pernah lupa menghaturkan persembahan makanan bagi semua harta milik yang sangat berharga itu. Ketika diundang Ieyasu untuk mengunjungi Kyoto. Itu perlindungan terakhirku. Yang Dipertuan Koizumi pertama kali datang ke Puri Koyagyu ketika Sekishusai berumur tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun dan masih meluap-luap ambisi militernya. Hikida Bungoro dan Suzuki Ihaku waktu itu sedang mengembara mencari ahli seni perang.

gadis itu melakukan hal-hal kecil baginya. Sekishusai tinggal di rumah pegunungan karena ia tidak lagi menyukai puri yang mencolok dengan segala hiasannya yang rumit itu. dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru. Sekishusai bertanya kepada Otsu. "Akan kuajarkan padamu upacara minum teh. Misalnya ia senang sekali ketika gadis itu membuatkannya topi kain kecil seperti yang biasa dipakai tukang teh. Kini hampir sepanjang waktu ia mengenakan topi itu dan sangat menghargainya. kamu sudah kembali?" tanya Sekishusai. Tuan jauh lebih dekat kepada beliau daripada saya." Otsu tampak terkejut. mengenakan topi kain buatan Otsu. tapi di rumah kecil ini kamu orang khusus. Tidak hanya dalam permainan suling ia amat menyenangkan. "Bagaimana pendapatmu? Apa susunan bungaku cukup hidup?" Otsu yang berdiri di belakang orang tua itu berkata." Sebagai gantinya." katanya. coba ajarkan padaku gaya sajak istana. Otsu tertawa. Man'yoshu memang bagus dan apik. tapi hidup di tempat terpencil ini. Sekalipun ia mencintai hidup mengasingkan diri menurut ajaran Tao. Selagi Sekishusai dan Otsu bicara tentang susunan bunga. sama seperti waktu dipetik. Sudahlah. aku lebih suka mendengar sajak-sajak sederhana tentang alam. gadis itu juga menambahkan sentuhan kemudaan dan kewanitaan yang menyenangkan bagi rumah tangganya. Lihat itu! Bungaku sama sekali tidak mati. diam-diam Kizaemon datang di pintu masuk rumah pegunungan itu dan memanggil Otsu." Kizaemon senang dengan perubahan yang terjadi di situ. Inc. semua itu cuma soal semangat. Mengerti tidak. yang tak terpikirkan oleh orang lain. Soalnya cuma bagaimana menunjukkan semangat sewajarnya-bagaimana membuatnya tampak hidup. sopan. Atau. Saya sudah mendatangi mereka dan menyampaikan surat dan buah itu kepada mereka. sampaikan kepada beliau. "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga. dan tidak pernah mengganggu. dan karena semua itu hanya diawali oleh pertemuan kebetulan saja di jalan raya. "Tolong sampaikan kepada Yang Dipertuan. Permainan suling gadis itu pun sangat menyenangkan hatinya. Ia melihat Otsu sangat disukai tuannya." Otsu merasa orang tua yang cermat ini telah mengajarkan banyak hal yang perlu ia ketahui. ia merasa sangat beruntung. "Bisa kau membuat sajak Jepang? Kalau bisa. netcafe. namun ia senang mendapat teman gadis yang dibawa Shoda Kizaemon untuk bermain suling baginya.property of: CROSSFiRE. Sekali-sekali gadis itu mengatakan hendak pergi dari situ." "Kenapa?" "Tuan kan abdi utama di sini. tapi Kizaemon ragu-ragu. Apa tidak lebih baik Tuan menghadap langsung kepada beliau daripada lewat saya?" "Kukira pendapatmu itu betul. Kizaemon mendapati orang tua itu di kamar teh. bunyi sulingnya yang indah mengalun itu sering kali terdengar sampai ke puri. Sambil mengatur letak terakhir bunga peoni tunggal yang dimasukkannya dalam jambangan buatan Iga. Aku bukan bangsawan Kyoto. Aku tidak menggunakan peraturan-misalnya bagaimana memilih bunga-bunga itu dengan ujung jari atau mencekiknya di leher. ini namanya terbalik. seakan-akan tak ada barang yang lebih dari itu di mana pun." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar. Saya cuma orang luar yang diundang bermain suling." "Sama sekali tidak. karena gadis itu penuh perhatian. "Jadi. Pada malam-malam terang bulan. "Apa betul Bapak menyusun bunga seperti menggunakan pedang?" "Ya. tetapi ia selalu memintanya tinggal sedikit lebih lama. Otsu keluar dan mempersilakan Kizaemon masuk. "Oh. "Ya." demikian katanya. Hampir seketika itu juga Otsu kembali untuk mengatakan bahwa Sekishusai minta Kizaemon masuk. aku baru saja kembali dari menjalankan perintah. seperti Tuan Ebook by Kang Zusi .

Lagi pula. Kalau mungkin." "Tampaknya anak-anak Yoshioka itu memang tak becus seperti yang dikatakan orang. Otsu meminjam kuda. "Kupikir perempuan lebih baik. Orang muda itu rupanya menyangka karena dia anak Kempo. Tentang diriku. apa yang hendak kita lakukan?" "Yang terbaik adalah kalau kita mencoba meredakan hatinya dan membuatnya merasa bahwa dia diperlakukan sesuai perlakuan terhadap anak satu keluarga besar. Hyogo di Kumamoto. Besok pagi saja." Pagi berikutnya Otsu mengenakan kerudung panjang." "Denshichiro ini rupanya terlalu percaya diri." "Aku benci orang seperti itu." "Yang ada di Wataya itu Denshichiro.. Otsu kemungkinan orang yang tepat untuk itu. karena itu dia mendesakkan terus tantangannya. disertai sekuntum bunga peoni seperti yang ia susun dalam jambangan. "Oh. tak ada artinya menerima tantangannya. berpikir seperti itu saja pun jangan. bahkan juga di lapisan masyarakat yang lebih tinggi." Sekishusai cepat menulis sepucuk surat sederhana. seperti surat yang ditulis seorang ahli upacara minum teh. netcafe. ya?" Ebook by Kang Zusi . kemudian membiarkannya pergi membawa kekalahan." "Tidak. dan tidak ada orang sama sekali di sini?" "Sudah. Bagi saya dia memang tidak mengesankan. Kalau kamu hendak mengalahkannya." Sambil mengalihkan pandangan kepada Otsu. Di kandang kuda yang terletak di pekarangan luar puri itu. "Apa sudah kamu jelaskan bahwa Munenori ada di Edo. kami bertemu dia dua-tiga kali dan minum sake bersama-sama. dan menyerahkannya kepada Otsu." "Oh. kamu mesti mengerti bahwa dia pasti akan mencoba menghancurkan nama baik kita di Kyoto. Ketika aku pergi ke Kyoto bersama Yang Dipertuan Koizumi. karena mereka telah datang di Yagyu ini.property of: CROSSFiRE. kamu pergi. Mari kita lihat apa jawabnya. dan katakan kamu datang mewakili aku karena aku sedang pilek. Barangkali keliru mengirim orang lelaki untuk bertemu dengannya. menyatakan tak bisa menerima mereka. aku heran kalau dia mengesankan. Tukang kuda yang sedang sibuk bersih-bersih bertanya. Begitu saya kembali di sini. ia melanjutkan. dia punya hak untuk tidak ditolak masuk sini. tak ada persoalan. seorang utusan datang dari penginapan. "Berikan ini padanya. namun perempuan-perempuan kelas atas dan menengah di daerah masih menghargainya. Anak-anak orang terkenal itu biasanya terlalu tinggi menilai dirinya. Sudah kukirim orang. "Apa mereka sudah pergi?" "Belum. barangkali saya sendiri yang akan melayani. mereka tetap saja memaksa. Dari sudut pandang kita." "Saya tak tahu apa. tak hendak mereka pergi sebelum melihat dojo. Mereka juga mengatakan ingin bertemu dengan Tuan dan menyatakan hormat mereka. Kalau dia memang ingin sekali datang. Ayahnya memang orang yang punya watak." "Lancang benar orang tak tahu adat itu! Kenapa pula mereka begitu mengganggu?" Sekishusai tampak jengkel sekali." "Kalau begitu.. Walaupun kerudung sudah tidak model lagi di Kyoto." kata Otsu. mereka akan datang besok. Inc. mereka itu cenderung mencoba dan memutar balik segala sesuatu untuk keuntungan sendiri. membawa surat. perintahkan. tapi tak ingin aku membebani Munenori atau Hyogo dengan hal seperti itu. tak usah buru-buru. Kelihatannya keluarga itu merosot terus sejak itu." "Baik. "Apa saya mesti pergi sekarang?" "Tidak. Isinya.

Kekaguman serta rasa hormat kepadanya pun menjalar kepada Otsu. ya. Inc. dan keelokannya yang anggun dan jarang ditemui orang di pedesaan. sampai kemudian ia mengikuti Kocha dan menghilang dari pandangan. saya harus pergi ke Wataya. karena dalam waktu yang singkat di sana itu Otsu sudah cukup dikenal oleh rakyat setempat. "Siapa itu?" tanya seorang." Ketika Otsu berkuda. Saya kirimkan bunga ini lewat tangan sekuntum bunga pula." "Saya temani?" "Tak usah. disuruh Tuan. mereka menyangka utusan itu adalah orang yang datang hari sebelumnya. hubungan mereka dengan Sekishusai jauh lebih bersahabat daripada yang biasa terjadi antara tuan tanah dan para petani." Ia membaca gulungan yang tidak lebih dari sekaki panjangnya itu. tapi sayang sekali saya sedang sedikit pilek.. "Mau menginap?" "Tidak. Para petani dan pekerja di ladang melambaikan tangan kepadanya.. membuat para tamu yang hendak pergi berbisik-bisik dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa seorang utusan telah datang dari puri. "Saya persilakan membaca surat ini sekarang juga. saya baca. Melihat Otsu membawa bunga peoni putih. Surat ditulis dengan tinta tipis dan menyebarkan sedikit bau teh. "Silakan masuk. yang waktu itu sibuk mengenakan legging dan sandal serta mengikatkan bawaannya ke punggung. "Selamat datang!" kata Kocha menyambutnya. dan dengan tangan lain mengendalikan kuda dengan terampilnya. sambil meletakkan surat dan bunga peoni itu di hadapan Denshichiro. kerudung cokelatnya yang kemerahan mengapung wrtiup angin di belakangnya. dengan sebelah tangan ia memegang surat dan bunga peoni yang sudah sedikit layu." Dengan wajah amat menyesal mereka meluruskan kimono dan duduk baik-baik." Dalam waktu singkat selama ditinggalkan Kocha itu. bersimpuh sedikit kaku. Saya suka kuda. Ia dapat mengendarai kuda dengan baik. Sesampai di Wataya. Denshichiro dan teman-temannya baru saja bangun. Bunyinya: Maafkan saya. Otsu telah membikin suasana jadi sedikit hiruk di antara para musafir. netcafe. dengan harapan bahwa Anda akan menerima maaf Ebook by Kang Zusi . mereka pun terkejut. Dia masih di sini. karena malam harinya mereka minum sampai larut." "Ah. Memang." 'Tak apa-apa?" 'Tentu saja tidak. Saya pikir sekuntum bunga peoni yang putih bersih akan lebih menyenangkan bagi Anda daripada hidung ingusan seorang tua. ini suratnya? Ya. atau hampir-hampir liar." "Saya datang kemari diutus oleh Yang Dipertuan Puri Koyagyu. "Ya. Otsu turun dan menambatkan kudanya ke pohon di halaman. Para petani di situ semuanya tahu bahwa seorang perempuan muda yang cantik datang untuk bermain suling bagi tuannya." kata Otsu sederhana. Kuda-kuda yang dulu biasa saya naiki di Mimasaka masih liar. maaf. silakan masuk. saya datang dari Puri Koyagyu membawa surat untuk Yoshioka Denshichiro. Kamarnya berantakan. "Menurutmu siapa yang akan dia temui?" Kecantikan Otsu. karena telah mengirimkan salam lewat surat dan bukannya menjumpai Anda sendiri.property of: CROSSFiRE. bukan?" "Silakan tunggu sebentar. "Oh.

dan menyampaikan kepada Anda pula bahwa beliau berharap bertemu dengan Anda pada kesempatan lain nanti." "Ha. Kocha pergi ke petak pembantu dan memperlihatkan bunga itu pada semua orang di sana. "Kalau benar penangkapan saya. Ini dari halaman puri. Tubuh saya yang sudah sangat tua ini kini berada di luar kehidupan sehari-hari. Musashi duduk di jendela sambil bertopang dagu." Dan dikembalikannya bunga peoni itu kepada Otsu.property of: CROSSFiRE. pertama. atau kalau Anda naik kuda. ya?” Melihat tangan Otsu. Ia memandang ke arah puri dan berpikir keras tentang tujuannya: bagaimana caranya agar. dan kini beliau punya kebiasaan mengungkapkan banyak buah pikirannya dengan istilah-istilah upacara minum teh." "Beliau mengerti benar soal itu. kami tak tahu apa-apa tentang teh. menggantungkannya di sadel. "Hanya ini?" tanyanya. kemudian dengan wajah masam ia berkata. Inc. beliau ragu-ragu mengundang Anda datang ke rumah. "Aneh! Sampaikan pada beliau. Tapi beliau sekarang sedang menghabiskan umur tuanya dengan menyendiri. sudah selesai urusan saya. netcafe. Kocha keluar dari kamar Musashi dan berlari mengejarnya. mengalahkannya dengan pedang. bahwa kalau kami datang lagi nanti. Beliau minta saya menyampaikan maaf kepada Anda.” ”Oh. “Apa itu bunga peoni? Saya baru tahu ada yang putih warnanya. tak ada gunanya mendesaknya menerima hadiah itu. karena tak ada orang lain di sana kecuali prajurit-prajurit yang tak kenal enaknya teh. Maksud kami sebenarnya adalah menanyakan secara pribadi kesehatan Sekishusai dan membujuk beliau untuk memberikan pelajaran ilmu pedang pada kami." "Beliau maksudkan ini sebagai tanda mata?" Denshichiro menundukkan mata seakan-akan terhina. “Mau pulang?” tanyanya. beliau juga mengatakan. Terus terang saja. Otsu tertawa pelan sendiri." Dengan sikap muak yang tampak jelas sekali. Denshichiro menjawab. Denshichiro mendengus jijik dan menggulung surat itu. Dengan janji akan menyampaikan pesan itu. demikian kesimpulan Otsu. sehingga bisa menimbulkan tawa di bibir orang-orang ibu kota kekaisaran. Saya sangsi akan memperlihatkan muka. Tolong sampaikan pada beliau. cepat sekali. meskipun ingin minum teh dengan Anda. Karena tak seorang pun mengaguminya.” kata Kocha sambil mengulurkan tangan. Karena marah. "Tidak. dan kedua. lalu ia membelok ke jurusan lain. Beliau mengatakan Anda dapat menggantungkannya di sudut joli Anda. ha!" ucap Denshichiro seraya memperlihatkan wajah curiga. “Ya. tentu saja. ia bertanya. saya. "Anda tak suka ini? Beliau merasa bunga ini akan menggembirakan dalam perjalanan.” “Oh. Mudah-mudahan Anda dapat tersenyum maklum kepada orang tua ini. beliau merasa suguhan teh akan terasa kasar. Boleh ambil kalau kamu suka. beliau tidak memberikan pada kami pilihan lain kecuali menerima. Karena Munenori berada di Edo. kami punya peoni sendiri di Kyoto!" Kalau memang demikian perasaannya. kami ingin bertemu dengan beliau.” “Ya. dengan kecewa ia kembali ke kamar Musashi. Sesudah berpisah dengan Otsu. Sekishusai mengira yang kami inginkan adalah menyaksikan indahnya upacara minum teh. karena kami berasal dari keluarga samurai. mau. ia dapat bertemu dengan Sekishusai. seberat kalau ia mesti membuka perban dari luka yang terbuka. Dipandangnya lantai hitam mengkilat yang menuju kamar tinggal Musashi. Ebook by Kang Zusi . "Yah. tuan-tuan rumah itu hampir tidak melihat kepergian Otsu. Begitu sampai di lorong rumah. Otsu meninggalkan tempat itu dengan berat.

memekik keras. “Tuan suka bunga?” tanya Kocha ketika masuk. kamu saja.property of: CROSSFiRE." "Salah seorang samurai itu?" "Tidak. Coba masukkan dalam jambangan. Tanpa mencoba menghibur gadis yang ketakutan itu. siapa yang memotong bunga ini?" "Tidak." "Maaf aku sudah bikin kamu takut tadi. ia bertanya. ia sudah melepaskan bunga itu dan mencucurkan air mata. Bagi Kocha. walaupun belum dapat ia memastikan apa gerangan yang memikat perhatiannya itu. tapi kurang berhasil. bagus ini. ketika melihat gadis yang kebingungan itu. Nanti kalau kamu dirikan. Akhirnya. bunga sudah bisa disusun sekarang. saya akan ambil air.” “Betul? Kenapa tidak kamu masukkan jambangan di sana itu?” “Saya tak bisa menyusun bunga. Secara kebetulan mata Musashi tertuju pada pangkal batang peoni yang terpapas. Inc. “Hmm. biar kupotong. memotong pangkal bunga yang ada di antara kedua tangan Kocha. dia yang mengatakan.” kata Kocha sambil membawa jambangan itu keluar.” “Tuan suka?” “Ya. ia minta maaf dan membelai-belai kepalanya. “Bunga?” Dan ditunjukkannya bunga peoni itu. mau kamu memaafkan aku? Biar bagaimana. Lalu kamu pikir bunga itu dari puri?" "Ya. Selesai membujuk gadis itu agar tidak menangis lagi. Belum lagi sadar akan apa yang terjadi." Ebook by Kang Zusi . Musashi memungut potongan batang bunga yang telah diirisnya dan mulai membandingkan ujungnya dengan ujung yang lain. Ia tampak tenggelam sepenuhnya di situ. "Kamu tahu." "Siapa yang memberi?" "Orang dari puri.” “Ini namanya peoni. Tuan saja yang menyusun. peoni putih.” “Baik. Bunga ini pemberian orang. Sungguh ajaib. netcafe." "Mm.” kata Musashi. “Bawa kemari. dan memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. karena dalam sekejap mata Musashi sudah menghunus pedang pendeknya. Kepalanya miring terkejut. akan tampak pantas. Kalau kubelikan kamu kue nanti. Minat yang hanya sambil lalu itu telah berubah menjadi pemikiran asyik ketika Kocha kembali. “Batangnya terlalu panjang. Kocha meletakkan jambangan dalam ceruk kamar dan mencoba memasukkan bunga itu ke dalamnya. kilas baja dan bunyi pedang yang mendetak masuk kembali ke dalam sarungnya itu seakan-akan terjadi serentak. Kocha membawa bunga itu dan menyampaikannya kepada Musashi. Lebih baik menyusunnya tanpa berpikir bagaimana jadinya.” “Tidak. seorang perempuan muda.

Musashi jauh lebih terpesona oleh potongan batang bunga yang delapan inci panjangnya itu daripada oleh bunga di ceruk kamar. waktu kedua ujung potongan itu dibandingkan. walaupun telanjang. "Bagaimanapun. ia merasa dirinya jadi tambah bersemangat. Inc." Sebenarnya Kocha menyukai Musashi. aku dapat menjatuhkan diri ke kaki mereka dan menerima kekalahan dengan keanggunan. Sekali lagi ia mencoba mencari jalan untuk memperoleh izin masuk purl. karena secara tak sadar ia diingatkan oleh bunga itu. Ia yakin potongan yang pertama tidak dibuat dengan gunting atau pisau. ketika tiba-tiba didengarnya pekikan parau di belakangnya. Ia menoleh. "Anak kecil yang menangis di jalan raya Yamato itu. "Begini?" "Ya. Pemilik penginapan itu cukup banyak bercerita. betul. sekadar untuk memenuhi keingintahuannya. kemudian langsung memandang Otsu. termasuk mati. "Jika seorang samurai yang bekerja di kebun puri dapat melakukan potongan seperti itu. Dan karena Munenori maupun Hyogo tak ada di rumah. netcafe. sebelum akhirnya memalingkan muka karena malu." "Menangis? Saya tidak menangis!" "Ya sudahlah. Apa Kakak masih tinggal di sini?" Ia memandang kuda Otsu dengan sikap tak suka. Perbedaannya seperti patung Budha hasil ukiran ahli dan patung buatan tukang kebanyakan saja. tapi karena anak-anak di wilayah itu terlampau pemalu untuk menyapa seorang perempuan muda seperti dirinya. ia berkata. maka potongan itu hanya mungkin dilakukan dengan pedang. Kalaupun aku kalah nanti." Sementara duduk memanas-manaskan keberaniannya. segera ia sadar bahwa potongan yang dilakukannya masih kalah jauh. bagus itu. tapi kilasan pedangnya itu membikin tubuhnya dingin sampai ke tulang sumsum. tak ada lagi yang mesti ditantang kecuali Sekishusai sendiri. dengan guru saya. bukanlah orang biasa." Dan tiba-tiba saja keyakinan dirinya buyar. Anak itu jelas datang untuk menemui Otsu. Pandangan matanya kembali ke bunga di dalam ceruk kamar. "Anda kan Kakak yang main suling itu. kan? Lalu kenapa pakaianmu kamu tanggalkan?" Ebook by Kang Zusi . belum tentu Sekishusai setuju bertanding. Batang bunga peoni itu lentur dan luwes. dan kelihatan olehnya seorang anak muncul dari rumpun pohon di kaki sebuah batu karang. "Aku sama sekali belum siap. Rambutnya basah dan pakaiannya digulung bulat terkepit di ketiaknya. maka Otsu sengaja menghentikan kudanya. Tapi bagaimana ia bisa melakukannya? Biarpun seorang siswa sudah datang di ambang pintunya dan memperkenalkan diri baik-baik." "Sendiri?" "Tidak. Memandang wajah Otsu dalam mata pikirannya itu menenangkan semangatnya dan menyejukkan sarafnya." Namun selangkah demi selangkah ia pulih kembali dari perasaan itu. Sekalipun ia sendiri baru saja mencoba meniru potongan itu dengan pedangnya." "O ya. "Kamu!" seru Otsu. Tanpa malu. Otsu sendiri sedang dalam perjalanan pulang ke Puri Koyagyu. Sudah berapa lama kamu di sini?" "Baru kemarin datang. Aku toh sudah memutuskan bersedia menghadapi apa pun. apa gerangan makna yang tersembunyi di situ.property of: CROSSFiRE. Jotaro telanjang bulat. Ia bertanya pada diri sendiri. orang-orang Yagyu itu lawan yang layak. Kamu bilang sedang belajar seni pedang. dan hanya hantaman yang sangat mantap saja dapat membuat irisan yang demikian bersih. Ia meninggalkan kamar itu dan tak ingin kembali sampai tugas benar-benar memaksanya. Mulailah terbentuk di hadapan matanya bayangan seseorang. maka taraf Keluarga Yagyu tentunya lebih tinggi lagi daripada yang kuduga. Siapa pun yang telah melakukannya.

"Di mana kamu tinggal?" "Di Wataya. "Ya. Sekishusai tertawa. Aku sedang disuruh. ia sudah menyayangkannya. saya mandi. dan Sekishusai mengangguk setuju. boleh. Dojo itu terletak di pekarangan luar puri." Otsu mendecap." "Lho." "Kalau begitu. tapi jangan sampai kamu tampil seperti sekarang ini. "Ya. Keluarga Yoshioka itu boleh dikatakan sudah berakhir dengan matinya Kempo." "Apa boleh saya datang?" Baru saja Otsu mengucapkan kata-kata itu. Guru saya bilang." "Dia tidak memeriksanya atau mengatakan sesuatu tentangnya?" "Tidak. tak mau saya ke sana." Dojo Yagyu dapat dengan tepat dilukiskan: megah. seakan-akan teringat sesuatu. Kilau kayu yang terbentuk bertahun-tahun lamanya itu mencerminkan kekerasan orangorang yang telah memperoleh latihan di situ. "Oh. "Apa bunga peoni itu kamu buang?" Otsu menjelaskan bahwa bunga itu telah ia berikan kepada pembantu di penginapan. aku baru dari sana. keringat saya bau. Orang di sini bisa tertawa mendengar orang berenang musim begini. karena itu saya ke sungai. dengan tekad!" demikian Shoda Kizaemon Ebook by Kang Zusi . Sesudah mengembalikan kudanya ke kandang. dan dibangun kembali kira-kira waktu Sekishusai berumur empat puluh tahun. Tak ada gunanya dia ditemui. Jadi. datanglah ke tempatku di puri sekali-sekali. Tak ada yang bisa mereka perbuat dengan itu." "Sayang sekali Kakak tidak bertemu kami.property of: CROSSFiRE." "Dia tidak melihat batangnya?" "Setahu saya tidak. "Jadi. mereka marah! Bagus! Biar mereka marah. selamat berpisah!" kata Jotaro dan terus membalik untuk pergi. "Apa anak Yoshioka itu memegang bunga itu dan melihatnya?" tanyanya. netcafe. ia pergi melapor ke Sekishusai. Balok kekar yang dipergunakan untuk membangunnya memberikan kesan tak terhancurkan." Sejenak kemudian. kalau begitu pendapat Kakak. Senyuman masih tampak pada wajahnya ketika ia mengendarai kudanya melewati gerbang puri. "Yang enteng! Bukan dengan ujung pedang! Dengan tekad. "Mana mungkin saya terjun ke sungai dengan pakaian lengkap?" "Sungai? Tapi air sungai tentunya sedang membeku sekarang. Bangunan itu pun cukup luas untuk dipakai sebagai barak para samurai di masa perang. "Jotaro." "Bukan berenang. tapi katanya. Bagaimana kalau kembali lagi dengan saya sekarang?" "Tak bisa sekarang. katanya. memang sudah benar aku menolak bertemu dengan dia. Saya tak suka tempat-tempat yang orangnya cerewet. ia bertanya. Ketika dia membaca surat itu." Otsu merasa lega." "Lalu?" "Dia cuma mengembalikannya pada saya. Inc." "Kalau begitu.

dan tidak ada peraturan yang melarang melabrak orang yang sudah jatuh. Tak perlu disebutkan lagi. Tidak ada batasan mengenai bagian tubuh mana yang dapat diserang oleh petarung. dan keduanya bertemu lagi seperti api dengan api." jawab Jotaro sesuai dengan kenyataannya. Karena itu. Kizaemon bertanya. Yang Dipertuan Echizen telah mencoba membujuk Debuchi untuk bekerja padanya. dan orang-orang yang kini bekerja pada Yagyu adalah hasil saringan yang sangat cermat. dan dijadikan sasaran caci-maki yang tidak sedikit. para samurai Yagyu belum diakui sebagai pemain pedang sebelum mereka membuktikan kesanggupannya menempuh cara hidup yang tak kenal ampun. seorang pejabat lain yang relatif tak penting. Sebetulnya benda itu tongkat kulit tak bergagang dan tak berpelindung tangan. "A-o-o-oh!" "Y-a-a-ah!" Di Yagyu. yang di sana itu!" seru Kizaemon pada seorang pengawal yang lewat di luar. namun masih dapat menghilangkan telinga atau mengubah hidung menjadi buah delima. Semua itu ditambahnya dengan beberapa teknik pribadinya sendiri. Shoda Kizaemon duduk di podium yang ditinggikan sedikit dan mengenakan jubah dalam dan hakama. meskipun keuntungan materilnya lebih kecil. "Orang di pintu gerbang yang membawa saya masuk. Para pendatang baru jarang bertahan lama. yang sekalipun sudah setengah sadar dan mandi keringat. tidak pernah dipuji. dan kini ia dapat bicara dengan bangga tentang "Gaya Shoda Sejati". Nak!" Ebook by Kang Zusi ." "Maksudmu. Tongkat ini kurang berbahaya dibandingkan dengan pedang kayu. namun terus juga beradu. dan Keluarga Tokugawa dari Kii telah mencoba memikat Murata pergi dari situ. Lagi pula. rata-rata samurai tahu bahwa bekerja pada Keluarga Yagyu bukanlah sesuatu yang mesti diterima enteng. "Hei. Langkahhngkah diambil. meraungkan perintah-perintah marah kcpada dua pemain pedang yang bercita-cita tinggi. Kebiasaan yang berlaku di sini adalah tidak membiarkan orang meninggalkan tempat sebelum la hampir roboh. Shoda Kizaemon adalah pemain pedang yang sudah jadi dan telah menguasai Gaya Shinkage pada umur sangat muda. senjata disiapkan. "Betul begitu?" Kemudian kepada pengawal. netcafe. Kimura Sukekuro. "Halo!" seru Jotaro dengan seramah-ramahnya. kamu bawa anak ini kemari atas kehendak dia sendiri? Hei. Para pemula diajar sangat keras. kabarnya lawan tangguh Hyogo. Pelatih kuda Yagyu. "Ya. Tongkat itu berupa kantong kulit panjang tipis yang diisi belahan-belahan bambu. Prajurit biasa dan tukang kuda pun orang-orang yang sudah lanjut dalam mempelajari seni pedang. Inc. para pemula tidak diizinkan menggunakan pedang kayu. Debuchi Magobei. "Sekali lagi! Tadi itu salah sama sekali!" Sasaran cacian Kizaemon itu dua samurai Yagyu. Di bawah pengawasan Sekishusai sendiri ia kemudian mempelajari rahasia-rahasia Gaya Yagyu. mereka menggunakan tongkat yang dibuat khusus untuk Gaya Shinkage. Sebagai gantinya. Merobohkan lawan dengan memukul kakinya mendatar diperbolehkan. mempelajari seni pedang sejak kanak-kanak dan dapat menggunakan sebuah senjata yang perkasa. Keluarga Yagyu yang kini mencapai puncak peruntungan itu sudah menghasilkan jajaran pemain pedang besar yang kelihatannya tanpa henti. "Kenapa kamu bawa dia kemari?" "Dia bilang mau bertemu Tuan. "Apa kerjamu dalam puri ini?" tanya Kizaemon tajam. yang walaupun dipekerjakan sebagai penjaga gudang.property of: CROSSFiRE. juga seorang ahli seperti halnya Murata Yozo. terus begitu! Terus macam itu! Sama dengan yang tadi!" demikian Kizaemon mendorong para siswanya. namun kedua orang itu memilih tinggal di Yagyu. Ia rupanya terkejut melihat Jotaro yang berjalan mengikuti samurai.

"Ya. karena aku sudah tahu isinya. dia mendapat sedikit uang untuk bantuan dalam perjalanan. Ebook by Kang Zusi . jadi tak perlu aku membacanya." "Coba sini. Kukira itulah kira-kira isi surat itu. karena itu akan kusebutkan padamu apa isi surat itu. Pergi kamu dari sini. dan di sana ada tempat untuk menginap semalam-dua malam. kemudian melanjutkan." "Ini bukan tempat main." "Biar begitu." "Kenapa tidak Tuan lihat surat ini? Mungkin isinya lain sekali dari yang Tuan duga. Tapi aku kasihan padamu. Ada papan nama tergantung di bangunan itu. anak bandel yang pintar sekali kamu. "Minta kepada penjaga di sana supaya menjelaskan padamu semuanya. dia murid yang mengembara itu." Mata Jotaro membundar. Kalau murid datang ke rumah ini. "Apa itu isi surat ini?" "Ya. kalau Tuan bisa baca. penulis ingin diizinkan melihat dojo yang sangat indah di sini. Saya bawa surat dari guru saya. Saya bukan anak pengemis!" "Kuakui kamu punya kecakapan menggunakan kata-kata. Kalau dia pergi. kamu tak dapat memotong kepalaku." "Oh. Inc. Sebabnya aku tak perlu membaca surat itu. Tuan. seakan-akan sudah terlatih mengucapkan pidatonya. la menggelengkan kepala dan mengangkat bahu kanannya sedikit. apa tidak lebih sopan kalau membacanya?" "Murid di tempat ini meruap seperti nyamuk dan belatung." "Tak perlu. dia masuk lewat gerbang utama. Kalau kusediakan waktu buat berlaku sopan pada mereka semua. Baik? Isinya. yang mesti kamu lakukan adalah memberikan surat itu kepada pengurus di Shin'indo-mengerti?" "Tidak!" kata Jotaro. kalau begitu Tuan lihatlah surat ini.property of: CROSSFiRE. netcafe. dan untuk kepentingan semua pengikut yang akan menempuh Jalan Pedang. silakan baca. jangan sampai dikarakan Keluarga Yagyu dengan darah dingin menolak orang-orang yang datang bertamu kepada mereka. "Nah. Sekarang. "Coba Tuan dengar!" "Ha?' "Tuan tak boleh menilai orang lain dari penampilannya. kan?" "Silakan Tuan lihat suratnya." "Untuk apa?" Jotaro pun merasa menyesal telah melangkah demikian jauh. ingin walaupun hanya sesaat bersenang-senang di bawah bayangan guru terbesar di negeri ini." "Dari gurumu? Kamu pernah bilang." Ia berhenti bicara. kan? Biar begitu." "Kenapa? Apa Tuan tak bisa baca?" Kizaemon mendengus. "Tidak. Kalau murid itu minta kepada pengurus di sana. Lalu apa yang akan Tuan lakukan nanti? Apa akan Tuan suruh saya memotong kepala Tuan?" "Tunggu dulu!" Kizaemon tertawa. lalu terus ke gerbang tengah yang di sebelah kanannya ada bangunan yang namanya Shin'indo." "Nah. Wajah dan mulutnya yang merah di balik jenggotnya yang seperti paku itu tampak seperti bagian dalam buah berangan yang sudah pecah." "Tapi saya datang bukan buat bermain. dia akan sangat berterima kasih mendapat pelajaran di sini. dia bebas untuk beristirahat sebentar. takkan dapat aku melakukan yang lain.

dan dengan diam ia baca pesan Musashi." Jotaro cepat-cepat mengeluarkan batang peoni dari dalam kimononya. Sekali lagi ia memandang batang peoni itu. dan saya merasa harus menemukan orang yang telah melakukan pemotongan itu. Selagi membaca. Kizaemon memeriksa kedua ujung batang itu. tapi kalau Tuan tidak berkeberatan menyampaikan kepada saya. Tapi aku tidak melihat beliau memotongnya. Inc. Selesai membaca ia bertanya. "Apa kamu bawa yang lain disamping surat ini?" "Oh." kata Kizaemon. ya. Surat itu menjelaskan bahwa pelayan penginapan telah memberikan kepadanya sekuntum bunga yang katanya berasal dari puri. Apa bisa kamu melihat beda antara potongan di kedua ujung batang ini? Apa barangkali yang satu tampak lebih tajam?" Murata Yozo mengamat-amati batang bunga itu. aku ingat. saya akan sangat berterima kasih kalau Tuan mengirimkan balasannya lewat anak yang membawa surat int. dan tak ada permintaan untuk bertanding. dan ketika ia memeriksa batang bunga itu." Kizaemon melepaskan meterai surat itu. saya lupa! Saya mesti menyampaikan ini juga. dan yang lain beliau suruh Otsu bawa ke Yoshioka bersama surat. ia melihat bahwa potongan bunga itu dibuat oleh "orang yang bukan orang biasa". "Tulisannya memang berwatak. kamu dapat berbuat sama dengan pedangmu." "Nah.property of: CROSSFiRE. "Mari kita perlihatkan kepada Kimura. "Ya. ini satu dari dua bunga yang beliau potong. Tanpa mengatakan sesuatu. "Apa menurutmu Musashi yang sudah membantu para pendeta Hozoin membunuh semua jembel di Dataran Hannya itu? Tentunya dia!" Debuchi dan Murata berganti-ganti mengambil surat itu dan membacanya kembali. "Surat ini ditandatangani oleh 'Shimmen Musashi'. siapakah di antara anggota rumah tangga Tuan yang sudah melakukannya. Hanya itu-tak ada disebutkan bahwa si penulis seorang murid. tentunya dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui." pikir Kizaemon. Kita harapkan. tapi la terpaksa mengaku tidak melihat beda kedua potongan itu." "Kalau apa yang dinyatakan surat itu benar. Persoalan ini bisa saja kelihatan remeh. "dan dia betul-betul dapat menyatakan bahwa batang ini sudah dipotong oleh seorang ahli. kalau kamu besar nanti. "Aku kagum dengan tekadmu untuk tidak membiarkan pesan gurumu tak disampaikan. Tiba-tiba ia menengadah dengan mata kaget. yang sementara itu sama kagumnya dengan mereka." "Ya. Ia tidak sepenuhnya dapat memahami makna surat Musashi. "Aneh juga tulisan ini. kan?" "Kamu pintar sekali menggunakan lidahmu. namun ia tak dapat membedakan apakah ujung yang satu berlainan dengan ujung yang lain. ketika ia mulai membaca surat Musashi lagi." kata Kizaemon. wajahnya menjadi sunguh-sungguh. "Coba lihat ini. saya merasa mendapatkan suatu semangat khusus darinya. dan sekali lagi ia memeriksa kedua ujungnya baik-baik." "Kenapa pula tidak? Tuan pejabat paling tinggi dalam Keluarga Yagyu. Debuchi yang kebetulan ada di kamar itu mengatakan. Shoda?" "Tidak. Surat menyatakan lagi: Sesudah memasukkan bunga itu ke dalam jambangan. aku memang melihat beliau mengatur bunga. netcafe. "Kelihatannya dia luar biasa. Aku akan membacanya. Beliau masukkan yang satu ke jambangan di kamar beliau. dan rupanya hal ini cukup jelas bagi orang yang matanya memang Ebook by Kang Zusi . "Murata!" panggilnya. Guru Tua itu yang memotongnya sendiri. "Ini salah satu bunga yang dipotong oleh Yang Dipertuan sendiri kemarin dulu." Mereka pergi ke kantor di belakang bangunan itu dan mengajukan soal itu kepada rekan mereka di sana." gumam Murata." katanya." kata Debuchi. Apa engkau tidak bersama beliau waktu itu. Wajahnya tampak agak heran.

Kemungkinan besar Musashi dengan senang hati datang. maka tidak dapat mereka menerimanya sebagai tamu di ruangan praktek. "Cukup sekian saja?" tanyanya. Sambil mengutuk. anjing itu sudah menyerangnya lagi." Namun Debuchi tak hendak melibatkan dirinya seorang. Inc. Suruh dia masuk. "Ini jawaban mereka." "Jadi. dan bunga-bunga azalea liar mulai berkembang.. Gema salaknya memantul-mantul melintasi pegunungan." Sementara itu. pesta buat kita juga. Beberapa goresan menyilangi muka anak itu.. netcafe. "Ya. "Saran yang baik sekali. "Ayo kita bergulat. namun tak ada alasan kenapa mereka tak dapat mengundangnya makan atau menikmati sake di Shin'indo. sedang hidungnya tampak seperti buah arbei masak. seekor anjing hitam besar mencium baunya dan datang mengendusnya. luka-lukanya mulai berdarah lagi. dan kita dapat juga meminta dia menceritakan peristiwa yang terjadi di Dataran Hannya. melainkan menanyakan pendapat Kimura. Bunga-bunga iris sudah berkembang di sana. sekian saja. menggigit obi-nya. Kizaemon menepuk lututnya. Musashi tidak mengajukan pertanyaan." Musashi membuka surat Kizaemon. katanya. Ia mencoba meloloskan diri. Kimura menyatakan bahwa karena mereka tidak pernah menerima shugyosha. Jotaro bicara dengan anjing itu dan menarik telinganya supaya maju mendekat." desaknya. tapi anjing itu terus menempelnya. dan Yang Dipertuan pasti tidak keberatan kalau beliau mendengar tentangnya." Selagi duduk menulis jawaban. Darah mulai mengalir dari antara jari-jari yang menutup muka Jotaro. Dengan begitu kita dapat mengecek soal itu." Beberapa menit sebelumnya Jotaro memang sudah menguap dan menggerutu. Ingin aku bertemu dengannya. benar-benar dapat melihat. "Mari kita kirimkan jawaban sekarang juga. Jotaro berkata. Kemudian. "Lamanya mereka itu. Terima kasih. dan menjatuhkan Jotaro ke tanah. sambil memegang kedua rahang anjing itu. Anjing menganggapnya sungguhsungguh dan mulai menyalak keras-keras. Jotaro menebaskan pedangnya ke kepala anjing. Merasa mendapat teman baru. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang anjing itu. Sambil melepaskan diri ia gigit tepian kimono Jotaro dan ia tarik sekuat-kuatnya. "Kamu kira apa aku ini? Tidak boleh kamu lakukan itu!" serunya. kemudian merangkum anjing itu dan melemparkannya. Tak sangsi lagi. "Hm. Sementara ia bicara. Kizaemon berkata." sambung Murata. tapi karena ia tidak memberikan penjelasan. menyalak sekarang!" Perbuatan itu membuat si anjing marah. Ia menarik pedang kayunya dan mengancamnya ke kepala anjing. dan Jotaro menutup mukanya dengan tangan dan buru-buru meninggalkan kamar. dan katanya. "Nah. "Anak itu ada di luar. Mereka bisa mengadakan pesta kecil dan bicara tentang seni pedang dan hal-hal lain seperti itu. Kim giliran Jotaro yang jadi marah." Kata Debuchi. hingga menarik perhatian para pengawal." kata Jotaro sambil menyerahkan kepada Musashi surat Shoda Kizaemon serta menambahkan beberapa patah kata tentang pertemuannya dengan samurai itu. Jotaro menangkapnya lagi dan melemparkannya dua-tiga kali lagi. dan segera kemudian lolongan kesakitan anak itu sudah mengalahkan lolongan si anjing. Anjing suka dengan permainan itu. bagian 7 Pembalasan Jotaro KEMBALI di penginapan. Kocha memburunya dan mem perhatikan goresan-goresan di wajahnya dengan Ebook by Kang Zusi . dan Jotaro dengan bingung mencoba melindungi wajahnya dengan kedua belah tangannya.. Jotaro duduk di depan Musashi dengan wajah puas. Belum lagi Jotaro sempat berdiri. Anjing meloncat ke punggung anak itu. Ia melaporkan sudah melaksanakan tugasnya. Kedengaran seperti pedang itu menghantam karang.property of: CROSSFiRE. ia pasti kesakitan.

Jotaro terbangun. Jotaro bersikap sopan. "Hentikan angguk-angguk itu. "Aku ingin kamu bisa tinggal di sini setahun atau dua tahun. "Ohh!" "Sakit ya? Maaf. dan tak lama kemudian mereka sudah saling peluk." "Anjing siapa?" "Salah satu anjing di puri. di tengah malam. "Seekor anjing menyerangku. tidak. dan di sana mereka berbaring telentang di atas jerami. Tanpa peringatan lagi ia menarik tangan Kocha dan menggigit jarinya. Kemudian ia pergi mengambil salep dan mengoleskannya ke wajah Jotaro. netcafe. berusaha meyakinkan Kocha. "Kenapa mukamu itu?" tanyanya. "Tuanmu barangkali akan segera pergi. ya?" tanyanya dengan nada kecewa. Jotaro membungkukan badan berulang-ulang untuk mengucapkan terima kasih. pandangan kuatir. Sekali. Ebook by Kang Zusi . biarpun kamu kuat." kata gadis itu mengaku. Inc. ketika ayah Kocha datang mencari anaknya. Tangan mereka bersentuhan. dan perbuatan itu lucu kelihatannya. Tak seorang pun kelihatan. "He. Ia duduk saja dengan tangan terlipat dan berpikir. takkan dapat kamu menandinginya. "Aku suka kamu juga." "Oh. Seterusnya hari itu Musashi sedikit sekali bicara dengan orang lain." "Tak apa-apa. dan pipi Kocha jadi manyala. apa bukan anjing Kishu yang besar hitam itu? Dia memang jahat." Keduanya lalu masuk gubuk tempat menyimpan makanan kuda. Jerami berhamburan menutupi kepala mereka. Oh. Ngeri melihat pemandangan itu. tanpa ada maksud lain. apa yang kalian lakukan ini? Kalian ini masih anak-anak!" Diseretnya mereka keluar pada tengkuknya. Kamu kan lelaki. terus gigit lagi! Gigit lebih keras!" Jotaro memenuhi permintaannya dan menyentak-nyentak jari-jari gadis itu seperti anak anjing. Sesudah gadis itu selesai menolongnya. Aku yakin.property of: CROSSFiRE." "Kamu tidak keberatan?" "Tidak. Gigit sekali lagi. dan dengan mengangkat kepala sedikit ia mencuri pandang pada tuannya. ekspresinya berubah keras. Kocha mengantar Jotaro ke kali dan menyuruhnya membasuh wajahnya. menatap langit-langit dengan pemusatan penuh. dia sudah menggigit tukang-tukang rampas sampai mati!" Walaupun hubungan mereka berdua tidak begitu balk." "Betul?" Bagian-bagian wajah Jotaro yang tidak terkena salep berubah menjadi merah tua. dan diberinya Kocha beberapa pukulan keras di pantat. geblek." "Biar kita banyak berkelahi. dan rasa hangat menyengat tubuh Jotaro." jawab Jotaro. tapi aku suka kamu." "Tapi aku menghargai sekali jasamu. Musashi berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Matahari bersinar lewat kembang persik merah muda. seperti wajah orang bijaksana dalam agama Kong-Hu-Cu. "Kami masih akan tinggal di sini sebentar.

Sangat aneh bagi mereka bahwa kedua tamu itu berangkat tepat sebelum matahari tenggelam. Jotaro mengikuti dengan murung. pohon-pohon besar memperdengarkan bunyi desir. Karena tidak melihat anak itu. Kocha. Walaupun takut kepada mata Musashi. Seberkas cahaya tunggal menyorot dari sebuah jendela persegi. Disamping fungsi-fungsi lainnya. Sambil menyerahkan surat dari Shoda Kizaemon ia berkata. mereka cepat-cepat saling memisahkan diri. ia kembali ke penginapan. ia menjawab tidak. "Nama saya Musashi.property of: CROSSFiRE. "Mereka sedang menanti Anda. Kamar-kamar di sepanjang lorong yang menuju belakang bangunan itu semuanya didereti rak-rak buku. Itu gerbangnya. Di pintu gerbang." Musashi berhenti dan berdiri di depan gerbang. Shin'indo merupakan tempat bagi para pemuda puri untuk mempelajari agama Kong-Hu-Cu. Beberapa waktu kemudian Musashi bertanya. Sambil berdiri menganggur di sudut kamar. sedang mengucapkan selamat berpisah pada Kocha. Tempat itu juga menjadi perpustakaan tanah perdikan tersebut." "Apa kita akan menginap di sana malam ini?" "Tak tahu aku. Anak itu berada di bawah gudang. Terima kasih." kata Kocha. kepala penginapan dan dua pelayan lain berbaris mengantar mereka. Aku yakin kami sudah banyak mengganggu. Itu tergantung perkembangan nanti. dan saya datang kemari atas undangan Shoda. Di atas benteng yang ditumbuhi lumut. Jotaro ketakutan. Kemungkinan gurunya sudah mendengar tentang bagaimana ia main dengan Kocha di dalam gubuk. Ia menutupkan tangannya ke muka. Musashi menoleh mencari Jotaro." seru Jotaro sambil berlari ke sisi Musashi." rom "Jaga diri Tuan baik-baik. "Selamat tinggal. Melihat Musashi mendekat. netcafe." "Apa kita pergi ke puri itu?" "Ya." "Itu. menyembunyikan air matanya. dan seorang pengawal muncul. anak itu tak dapat tidak mencuri pandangnya ke belakang. Sesudah berjalan sebentar." katanya sambil memberikan isyarat kepada Musashi untuk mengikutinya." kata Kocha. Sorenya Musashi menyuruh anak itu minta kuitansi mereka dan bersiap-siap berangkat. Kocha bertanya. dan juru tulis datang membawanya. Hari berikutnya pun Musashi tetap menyendiri. Selamat tinggal. Lampu-lampu mulai bermunculan dalam lembah itu. Inc. saya sudah datang. atas pelayanan yang balk. sampai penginapan tidak kelihatan lagi. Sekalipun Keluarga Yagyu termasyhur berkat kecakapan militernya. Musashi berjalan terus tanpa berkata-kata dan tidak sekali pun menoleh ke belakang. "Tuan tak akan pulang tidur malam ini?" "Tidak. Namun Musashi tidak mengatakan apa-apa. namun Musashi dapat melihat bahwa puri itu menekankan sekali pendidikan. Ketika ditanya apakah ia menghendaki makan malam. "Selamat jalan. Ebook by Kang Zusi ." Pengawal itu memang sudah menantinya. Minta tolong disampaikan kepadanya. "Apa kita belum sampai?" "Di mana?" "Di gerbang utama Puri Koyagyu. Segala sesuatu dalam puri kelihatan diliputi sejarah. kedua kakinya dirapatkan. Musashi berseru.

dan Murata. sikap sopan santun pengawalnya. tapi tidak begitu lekas mendatangkan akibat kepadanya. "Begitu. "Dan kami sampai pada kesimpulan bahwa dibutuhkan seorang jenius untuk mengenali jenius yang lain. Dalam hal ini kami sama. Namun tak lama kemudian terasa olehnya bahwa bunyi itu datang dari langit-langit. la kaget mendengar dengkung katak." "Maaf. Dengkung pertama tahun itu. Sesudah ketiga orang lain memperkenalkan diri. dan pemberian lampu yang cermat. sekadar memenangkan waktu. Bukannya ia membenci sake. Di perjalanan." Karena belum tahu benar ke mana arah pembicaraan itu." kata Kizaemon hangat. Jotaro ditinggalkan di kamar tunggu pembantu. "Siapakah Yagyu itu?" tanyanya dengan mata menantang. tak salah lagi!" kata Kizaemon. Air terdengar berkericik di suatu tempat di halaman. Kami berpendapat akan sangat membantu pendidikan kami di masa depan kalau Anda dapat menjelaskannya pada kami." kata Kizaemon." Dengan penuh kehangatan. Musashi mendapat kesan itu sekarang." Ebook by Kang Zusi . saya mendengar bahwa peoni yang Anda tanyakan kemarin dipotong sendiri oleh Yang Dipertuan puri ini. Pengawal kembali beberapa menit kemudian. kemudian meninggalkannya sendiri. para pelayan mendatangkan berbaki-baki sake dan penganan. "Kami sendiri tidak melihat ada hal khusus di situ. Sake di situ merupakan hasil rebusan sendiri. melainkan karena ia masih terlalu muda untuk dapat menghargai kehalusan rasanya. kami membiarkan Anda menanti. Kami semua terkesan oleh kemampuan Anda melihatnva. netcafe. dan mengatakan kepada Musashi bahwa tuan rumah akan segera datang. Namun jauh di dalam dirinya menindih suatu perasaan gelisah yang tak dapat ditekan. "Dia pemain pedang. agak seperti sirup. Musashi berkata. Tapi malam ini aku akan maju selangkah ke depan dan meninggalkan Yagyu di belakang. Debuchi. yang diterimanya dengan ucapan terima kasih. "tak banyak yang dapat kami suguhkan. "Selamat datang di Koyagyu. bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa potongan batang lunak dan kecil itu dibuat oleh guru pemain pedang. dan aku pun pemain pedang. di sekitar menara utama. Dari cahaya lampu rendah yang bersinar ke halaman ia dapat melihat lilitan tanaman wisteria yang sedang berkembang. dan dihidangkan dalam mangkukmangkuk besar gaya lama yang tinggi pegangannya. sekalipun ia tidak suka benar minuman itu. "Yang ingin saya ketahui adalah. "Memang sudah saya duga!" serunya. "Omong-omong. bahkan dari lampu. yang mengalir dalam nadinya. Dari bantalan pada tiang itu ia memandang ke sekeliling dengan hati bertanya-tanya. ketika ia duduk di lantai kayu dalam kamar besar yang ditunjukkan kepadanya oleh pengawal. kalau dinilai dari kerapian jalan dari gerbang sampai Shin'indo. "Di desa ini. Pengawal menyerahkan kepadanya bantalan bundar keras dari jerami. Musashi pun mau menerima sedikit sake. Bau wisteria yang manis itu mengambang di udara. Itulah semangat juang yang tak terpuaskan. terdengar olehnya bunyi air mengalir di bawah dirinya. Sesudah ia duduk tenang. Sesudah diajak. "Potongan itu bagus sekali!" Kimura mendekat. dan Murata hampir bersamaan." kata Kimura Sukekuro. ya? Betul?" "Ya. Musashi menggeser bantal bundar itu ke sebuah sudut dan bersandar pada tiang. tapi kami harap Anda kerasan. Inc. Sungai agaknya mengalir di bawah bangunan. Debuchi." Musashi menepuk lututnya." kata Kizaemon. Pada waktu memasuki sebuah rumah untuk pertama kali. "Kelihatannya Anda biasa juga minum. yang lain-lain pun mendorongnya untuk merasa senang dan tidak berkukuh pada upacara." Shoda Kizaemon masuk ke kamar bersama Kimura. kadang-kadang seorang tamu merasa sudah kenal baik dengan tempat itu dan para penghuninya. Dan segala sesuatu kelihatan terurus baik. Ia merasa sejuk dan santai. dan menawarkan untuk mengisi lagi mangkuknya.property of: CROSSFiRE. berwarna putih dan lembayung muda. pekat. Sake malam itu cukup lezat. damai. sekalipun dalam suasana setenang itu. dari dinding.

" "Saya bukan merendahkan diri. itu artinya kita merasakannya. Kalau Anda sekalian menghendaki saya memperlihatkan apa yang saya maksudkan itu. sudah pergi. Namun demikian. yaitu gerst campur nasi. Mendengar itu. kalau malam ini ia tidak bertemu dengan Sekishusai. Untuk memperoleh mahkota. mereka berbicara tentang pedang. Sekalipun Musashi berbicara tenang. wajah Musashi sudah jadi merah tembaga. dan bicara dengan cara kasar dan kurang ajar. terpaksa Anda sekalian mencabut pedang dan menghadapi saya dalam pertarungan. "Tentang perasaan Anda itu. kemudian tentang Zen. Kizaemon dan Debuchi. ia sadar bahwa waktu berlalu dengan cepat. Musashi memutuskan untuk mencebur sekalian. ia tak akan bertemu dengannya untuk selamanya. "Betul-betul tak ada cara lain untuk menjelaskannya. Tanpa menanggapi tantangan itu. bapak agung seni perang yang disebut "naga kuno" itu. Inc. "apa tidak bisa Anda menceritakannya lebih banyak? Anda tahu gedung Shin'indo ini dibangun dengan sengaja untuk kediaman Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Karena malu. Mereka sudah mengamati fisiknya. dan untuk sejarah. Maka akhirnya Musashi pun nekat. tiba-tiba jalan peristiwa Ebook by Kang Zusi .property of: CROSSFiRE. yang tertua di antara mereka. Tetapi cara Musashi memegang mangkuk sake dan sumpit itu bagaimanapun menunjukkan bahwa ia berpendidikan kampung. Sesudah menghirup sake lagi. Kizaemon. sedangkan Musashi merasa sangat terpesona mendengarkannya. Semakin lama semakin jelas baginya bahwa ia mungkin terpaksa harus menggunakan akal licik." "Ayolah. dan Kimura telah ambil bagian dalam pertempuran berdarah itu." Karena sadar bahwa memprotes sanjungan itu tak akan dapat meloloskan dirinya. dan ekspresi matanya. kalau beliau sedang berkunjung. Ini gedung penting dalam sejarah seni pedang. Haruskah ia menyodok salah seorang dari tuan rumah itu supaya naik darah? Itu sukar kalau ia sendiri tidak sedang marah. seperti yang akan mereka lakukan juga terhadap orang asing lain. dua-tiga kali ia menyentuh dahi dan pipinya. pernyataannya tentang keharusan mengujinya tidak dapat disangkal lagi merupakan tantangan. Shoda dan Debuchi memilih tertawa. Saya cuma merasa begitu sesudah melihat potongan batang itu. Kizaemon mengatakan sudah waktunya menghidangkan makanan terakhir. Dengan pedangnya sendiri ia ingin membuat Sekishusai. netcafe. ia menghendaki bintang kemenangan yang cemerlang. Sikap kekanak-kanakan ini membuat mereka tertawa. dan dalam hati ia tahu. tentang peristiwa-peristiwa di provinsi-provinsi lain. yang dalam pertempuran berdarah itu berada di pihak lawan. jangan merendahkan diri. karena itu dengan sengaja ia beberapa kali mengatakan tidak sependapat dengan apa yang mereka katakan. ke udara malam yang tenang itu. Tak ada cara lain. Tuan rumah tampaknya sangat menikmati percakapan itu." "Merasa bagaimana?" Keempat siswa senior Keluarga Yagyu itu mencoba menganalisis Musashi sebagai seorang manusia dan sekaligus mengujinya. Tak seorang pun dari keempat orang itu mau kena provokasi untuk melakukan sesuatu yang kurang pikir. "Ah. bertekuk lutut. "Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" pikir Musashi. Ia tak dapat menerima kalau ia harus meninggalkan tempat itu tanpa melaksanakan maksudnya. mengagumi pembawaannya. Musashi berkata. ia ingin orang mengetahui bahwa Musashi pernah berkunjung ke tempat itu. sehitam tinta cumi-cumi." katanya. tak ada yang khusus di sini-itu cuma terkaan yang mengena." ulang Kizaemon. cerita-cerita mereka terdengar bagai kebenaran yang pahit. Bagi Musashi. "Kalau kita merasakan sesuatu. tentang Pertempuran Sekigahara. dan sudah meninggalkan tanda pada Keluarga Yagyu. saling pandang dan tertawa." Asap lampu naik. Tempat yang cocok bagi kami untuk mendengar kuliah dari Anda malam ini. dan mereka memang menganggapnya demikian. Sake pun diundurkan. Apakah mereka sudah mengenalinya sepenuhnya? Baru saja ia memikirkan hal itu. Dengkung katak terdengar lagi. dan ini membuat mereka cenderung mengguruinya. Debuchi. Baru menghabiskan tiga atau empat mangkuk sake saja.

Di samping Murata." Ia berangkat. dan beberapa obor dinyalakan. "Tunggu. "Ya." Tak lagi dapat menahan diri. masih di kamar tunggu?" Mereka pun menujukan pertanyaan itu kepada samurai muda di depan Shin'indo.property of: CROSSFiRE. Inc. Debuchi berkata. "Bajingan kecil kamu! Apa yang kau lakukan? Kau yang membunuh anjing ini?" Orang itu mengangkat tangannya dan menampar dengan berang. netcafe. seolaholah sedang menghitung gema suara yang tak wajar. semuanya berbicara dan berteriak-teriak. Jotaro ada di sana. dia dibunuh. Darah mengucur dari mulutnya. membelok tak terduga-duga. "Taro menyalak-biasanya tidak begitu salaknya. samurai mengatakan bahwa anak itu tak ditemukan di mana pun. Apa Jotaro. Ia terus menatap cahaya lampu kecil yang tak menyenangkan. Sambil membidangkan bahunya. anak yang datang dengan saya itu. katanva. Maafkan saya. Boleh saya pergi bersama Anda?" "Tentu. Seorang samurai mendekati Jotaro dan pekiknya. Maka hatinya pun serasa terbang. Ia rupanya berusaha memberikan peringatan tentang adanya bahaya. tapi Musashi menghentikannya. "Ini anjing Yang Dipertuan. hampir merupakan tanda pasti bahwa sedang terjadi sesuatu yang tak menguntungkan. Tapi barangkali ini penting. "Kalian dengar?" tanya Kimura. Masih ada prajurit-prajurit rusak yang suka melongok-longok untuk memuaskan ambisinya sendiri." Baru saja ia pergi. dan bahunya naik-turun akibat napasnya yang berat. kakinya terjulur. Memang kedamaian yang dinikmati negeri itu belumlah mantap sehingga seorang daimyo dapat mengendurkan kewaspadaannya terhadap tanah-tanah perdikan yang berdekatan. dan Kimura. "Lebih baik saya lihat. Kedengarannya terlalu keras dan mengerikan. tapi dapat dielakkan Jotaro. saya yang melakukan!" Ebook by Kang Zusi . Musashi menunjukkan wajah prihatin. Matanya yang tak melihat lagi memantulkan cahaya obor. Murata keluar ke beranda. Saya pikir ada yang tak beres. Di sampingnya terbaring Taro." kata Musashi. kemudian ketika masuk kamar kembali. "Mati dia. Silakan terus tanpa saya. Salak anjing itu jadi semakin mendesak. Tepat seperti yang ditakutkannya. "Saya pikir. kalau berasal hanya dari seekor anjing saja. katanya. juga mata-mata yang bergelandangan mencari sasaran empuk dan mudah dijadikan mangsa. Tak bisa dibantah bahwa salak anjing yang sepertinya datang dari lingkaran kedua puri itu sangat mengerikan. saya tahu apa yang sudah terjadi. ia berkata. Jotaro berseru menantang. giginya menyeringai. Musashi. pesta ini terganggu. Murata dan Kimura minta mengundurkan diri juga dan dengan sopan minta maaf kepada Musashi. "Ya. Dari pinggir luar lingkaran itu Musashi mengintip ke tempat terbuka di tengah. "Saya tak bisa mengerti." Taro anjing yang bermasalah dengan Jotaro. Akhirnya terdengar raungan panjang dan sedih. membentuk lingkaran hitam. Sambil menoleh pada Kizaemon." Sekitar tiga ratus meter dari dojo telah berkumpul sejumlah orang." kata seseorang sedih. Sesudah mencari-cari. giginya mengatup erat. Debuchi. Kizaemon pun bangkit. berlumuran darah dan tampak seperti anak setantangannya memegang pedang kayu. ada sejumlah prajurit biasa dan pengawal. Kizaemon tampak sangat terganggu. Kizaemon berkomat-kamit dan memandang Musashi. Kalau salah satu anjing puri berbuat demikian.

"Apa pula ini?" jeritnya. Ia pun memukul. dan Munenori merawatnya sendiri. penjahat kecil. "Kamu mengaku?" "Ada sebabnya!" "Ha!" "Saya cuma membalas dendam. Memang. karena luka yang kelihatan adalah aib besar bagi seorang samurai. Nak! Menyalak seperti anjing!" perawat anjing itu berteriak. bagaimanapun ia mengharapkan dipuji atas perbuatannya yang berani itu. supaya dapat aku membunuhmu! Menyalaklah! Gigit aku!" Jotaro mengatupkan giginya erat-erat. "Menyalaklah. bunuh aku!" "Nah. dan menyatakan bahwa ia wajib menghukum pembunuh anjing itu." "Saya cuma membalas apa yang sudah dia perbuat. Bunyi berderak tajam Ebook by Kang Zusi . matilah kamu!" pekik perawat anjing mengamuk. Dan semuanya marah. Macam apa pula itu—membalas dendam kepada binatang yang bodoh!" Ia mencengkeram kerah Jotaro. dan ekspresi wajahnya pun tetap saja ekspresi kanak-kanak. tapi apabila kemarahan anak-anak sudah bangkit. Bukan hanya itu. Yang Dipertuan Yorinori secara pribadi memberikan anak anjing itu kepada Munenori. Pukulan mendarat di sekitar telinganya. Ia telah bertahan dan bertekad tidak akan mundur. "Tutup mulut!" serunya sambil melayangkan tinjunya ke kepala Jotaro. sering ia menyesal di kemudian hari. "Aku tak peduli. Yang berhadapan dengan Jotaro itu seorang dari kedua samurai tersebut. "Tutup mulutmu yang kurang ajar itu!" raung perawat anjing. Jadi. kamu sudah cukup besar untuk dapat membedakan anjing dan manusia. ibunya sendiri yang melahirkannya ke dunia pun tak dapat menenteramkannya. Orang banyak mengangguk diam sebagai pernyataan setuju. Jotaro mengangkat tangan meraba lukanya. memandang orang banyak untuk meminta persetujuan. Kemudian ia ambil tongkat kayu ek dan ia hantamkan kuat-kuat ke tubuh anak itu.property of: CROSSFiRE. "Kamu sudah membunuh anjing Tuan. netcafe. Taro binatang kesayangan Yang Dipertuan Munenori dari Tajima. tapi pukulan itu tidak mengena. Kenapa saya dihukum? Orang dewasa mesti tahu. itu tidak betul!" Menurut pandangan Jotaro. tapi mereka tidak mengatakan apa-apa. Sekarang datang giliranmu! Berdiri kamu. "Ayo. kan? Dan memang itu yang akan kulakukan. Untuk membela harga diri. "Bunuh aku!" jeritnya. ia keturunan ras dari Raiko. Apabila seorang dewasa marah. Keempat orang yang belum lama sebelumnya menjamu Musashi itu tampak sedih. kemudian menopang dirinya dengan sebelah tangan dan berjuang menegakkan diri sambil memegang pedang kayunya. kamu tidak keberatan kalau aku memukul kamu juga sampai mati. biar kamu anak kecil. anjing betina milik Yang Dipertuan Yorinori dari Kishu yang sangat disayanginya. Inc. Air mukanya tidak meninggalkan ciri peri air." "Apa?" Semua orang heran mendengar jawaban Jotaro. "Kamu membunuh anjing itu. tapi lolongan yang keluar dari tenggorokannya terdengar sangat liar mengerikan. Pembantaian binatang itu sudah pasti akan diperiksa dengan tuntas. tidak ada pilihan lain kecuali membunuh anjing itu. dan nasib dua orang samurai yang telah dibayar untuk mengurus anjing itu sekarang dalam bahaya. Pukulannya bisa membunuh anak itu jika mengena. Lalu ia ayunkan Jotaro berputarputar pada kerahnya dan dengan pandangan muram ia jatuhkan Jotaro ke tanah. Kali ini Jotaro tidak menghindar pada waktunya. ia cuma membela kehormatannya dan membahayakan hidupnya dalam melakukan hal itu.

Sukar dikatakan. dan berguling seperti bola ke tempat yang jauhnya dua puluh atau tiga puluh kaki dari situ. Sebuah tongkat kayu ek dan dua kaki itu membentuk sebuah relung di udara. "Pengecut!" pekiknya kepada orang kedua itu. Orang banyak pun menggagap kaget dan mundur selangkah. ia mencakar selangkangan si perawat anjing dengan kukunya. Orang kedua menderap ke tengah lingkaran dan sudah hendak memverang Jotaro dari belakang. ini anaknya!" Ia melemparkan Jotaro langsung kepada orang itu. Dan kami berdua siap membayarnya. "dengarkan. dan kalau Anda mau memeriksa dia. Apa orang itu sudah gila? Siapa pernah mendengar ada orang menggunakan manusia sebagai senjata pelawan manusia lain? Perawat anjing memandang bengong ketika Jotaro melayang di udara dan membentur dadanya. "Kejahatan anak ini adalah kejahatan tuannya. Musashi tetap diam. atau tulang iganya yang patah. Tanpa senjata ia menutup mata dan secara membuta menyerang tubuh bagian depan musuh itu dan menguncikan gigi ke obi-nya. samurai-samurai lain mulai memaki-maki Musashi. Orang itu langsung rebah ke belakang. "Dan sekarang giliranmu. berjungkir balik di udara. bergema di telinga orang-orang yang berdiri menonton. seolah-olah penopang yang mengganjalnya tiba-tiba diambil. "Nah. kalian semua!" Mereka menatapnya dengan saksama ketika ia mengambil pedang kayu Jotaro dan menghadapi mereka dengan wajah memberengut menakutkan. kalau sekiranya ia mau sedikit saja berusaha meredakan perasaan para samurai Yagyu yang sedang kacau itu. dan pedang kayu Jotaro terbang ke udara. ia angkat anak itu ke atas kepala dan ia biarkan terus di sana. dan saya pikir Anda keliru menindaknya. dan langsung muntah darah. melainkan menantang mereka! Kalau pada waktu itu Musashi minta maaf untuk Jotaro dan bicara membelanya. Orang Ebook by Kang Zusi . dan Murata semuanya mengerutkan kening. Tangannya turun. Tetapi sikap Musashi mencegah terjadinya hal itu. dan mendarat jadi onggokan sekitar empat meter jauhnya. dan dalam sekejap ia sudah menerobos dinding manusia yang kokoh itu dan meloncat ke tengah medan. Kebanyakan mereka sudah tidak sadar bahwa Musashi tamu yang diundang. Debuchi. Jotaro melentingkan diri dari dada orang itu. Tapi pertama-tama. Musashi memekik. Tanpa pikir lagi ia menangkis pukulan perawat anjing itu. "Baik. tangannya dilipatkan dan wajahnya tidak mengungkapkan sesuatu." Dengan nada berapi-api. Anak ini pembantu saya.property of: CROSSFiRE. Ia rupanya sudah bertekad menciptakan gangguan yang lebih besar lagi. Sambil menoleh kepada perawat anjing yang waktu itu kembali menggenggam tongkatnya. netcafe. apakah kepalanya yang telah membentur batu karang. setan kecil!" Ia mencengkeram obi Jotaro dengan kedua tangan. sedangkan si perawat anjing dengan sia-sia mengayun-ayunkan tongkatnya. perawat anjing menjawab. "Siapa pula ronin gila ini?" Perkelahian kini tidak lagi hanya melibatkan perawat anjing. maka seluruh kejadian itu akan berlalu dengan damai. Kami periksa kalian berdua!" "Bagus! Kami berdua akan menghadapi Anda. Nah. izinkan saya mengatakan ini: kami tidak bermaksud membiarkan diri kami dibunuh seperti anjing. ia mengatakan. ia bukannya mengakui kejahatannya dan menerima hukuman. Inc." Jadi. hai. tak habis-habis heran mereka. "Kalian lihat?" pekik satu orang. Dengan anggapan bahwa hidup itu berharga. Shoda. Anda mesti memeriksa saya juga. dan beberapa orang menyarankan untuk membunuhnya seketika itu juga dan di tempat itu juga. "Saya sudah melihat semua ini dari permulaan. tapi ia menghantam tanah diiringi suara lolongan." kata Musashi. Kami siap menghadapi kalian. Musashi bertindak. namun pada waktu itu muncullah tongkat kayu ek lain. Kimura.

"Orang itu rupanya sudah merencanakan semua ini." Dan bahunya pun berguncang karena tertawa." Kimura menyela. Anda dapat membuktikan bahwa Anda seorang samurai sejati!" Itu merupakan pemecahan ideal kiranya. seluruh kejadian akan dikubur bersama badan Musashi. tapi Anda sudah memperlihatkan keberanian luar biasa dengan datang di puri ini hanya berteman anak itu." kata Kizaemon. "Musashi. Inc. "Jalan ke mana?" "Ke sel!" Musashi mengangguk dan mulai berjalan. "Kalau kalian membiarkan dia menyesatkan kalian. Anjing itu memang penting. kita terpaksa mempertanggungjawabkannya kepada Yang Dipertuan. Tetapi Musashi punya pikiran lain. Sekarang tenanglah. dan kalian terluka atau terbunuh. dan berangsur-angsur mereka pun mengitari orang banyak itu. Anda mungkin seorang bajingan. biarpun misalnya ia memiliki sayap. Yang pantas untuk Anda adalah bunuh diri. dan jika Musashi mati sekarang. yang bersama Debuchi dan Murata berusaha mengendalikan orang banyak itu. Yakinlah bahwa tak ada hal buruk akan menimpa kalian. meninggalkan keempat orang yang telah menjamu Musashi di Shin'indo itu." kata Debuchi. potong saja dia!" "Jangan biarkan dia lari!" Untuk sesaat lamanya tampak seolah Musashi dan Jotaro yang sudah kembali ke sisinya itu akan ditelan oleh lautan pedang. tetapi ke arah yang dipilihnya sendiri. Kita sudah berpesta bersama dalam suasana bersahabat. Dalam keadaan terkepung demikian. kini ditambah lagi dengan tantangan Musashi. Musashi sadar bahwa tak ada di antara mereka yang bukan ahli pedang. "Anda gagal. tidak untuk waktu lama. Mereka tidak berkonsultasi dengan Sekishusai. tapi saya kira rencana itu tidak berhasil. Sekarang persoalannya bukanlah tamu dengan tuan rumah. "Tak ada gunanya bicara lagi!" Ia pergi ke belakang Musashi dan mendorongnya. "Baiklah. "Musashi!" panggil Debuchi sambil mencabut sedikit pedangnya dari sarungnya. tidak akan dapat ia meloloskan diri. kalau nanti kami mengambil tindakan. "Kami sudah mencoba memperlakukan Anda dengan pantas. tetapi saat itu juga terdengar teriakan berwibawa. sinting macam apakah yang telah mereka undang datang ke puri itu? Mereka menyesal bahwa Musashi tidak berakal sehat." kata Kizaemon. tapi Anda justru mengambil keuntungan dari kami." Dengan enggan orang-orang itu bubar. sementara Anda menyiapkan diri melakukan harakiri. dan pulanglah. "Jalan!" perintahnya. "Anda mengira saya akan membunuh diri sendiri? Oh. Nadanya tenang. "Tunggu!" Itulah suara Kizaemon. Orang banyak itu sudah menggelegak darahnya. Kalau Anda siap. "maaf terpaksa saya sampaikan kepada Anda bahwa rencana Anda telah gagal." Sementara mereka berempat mengepung Musashi. katanya. Ebook by Kang Zusi . netcafe. Saya kira ada orang yang menugaskan Anda memata-matai Puri Koyagyu ini atau sekadar menimbulkan kerusuhan. "Dengarkan dia itu! Dia orang di luar hukum!" "Dia mata-mata! Ikat dia!" "Tidak. Kami berempat akan mengambil alih tanggung jawab ini. sekarang kami akan menanti.property of: CROSSFiRE. tetapi maknanya jelas seperti kristal. tapi tidak sepenting hidup manusia. dengan mata menatap tajam kepada Musashi. Ia berdiri diam sambil menopangkan tangan ke bahu Jotaro. langsung menuju menara utama. tetapi persoalan orang di luar hukum dengan para hakimnya. itu keterlaluan! Saya tidak bermaksud untuk mati.

Yang dibicarakannya bukan hanya pertandingan pedang yang harus diselesaikan dengan keterampilan teknik semata-mata. netcafe. Jotaro melejit dari bawah lengan kimono Musashi dan bersembunyi di balik pohon. barangkali dia menolak meninggalkan istirahatnya. Balik!" "Tidak!" teriak Musashi. Musashi menengadah ke langit. "Ini bukan jalan ke sel. Inc. "Ayo!" "Aku tak akan pergi!" "Kau mau melawan?" "Betul!" Kimura kehilangan kesabaran dan mulai menarik pedangnya." "Kalau begitu. Disuruhnya Jotaro pergi duduk di bawah pohon pinus di halaman. Kizaemon dan Debuchi. Seperti kain kafan raksasa. apa lagi yang bisa kuperbuat selain menantangnya? Memang aku sadar bahwa kalaupun aku menantangnya. Sel ada di belakangmu.property of: CROSSFiRE. Tanah di sekitar pohon-pohon pinus itu ditimbuni pasir putih yang digaruk baik-baik. dan tak pernah memberikan pelajaran kepada murid prajurit?" "Betul." "Apa?" Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa pemuda tak waras itu punya maksud yang demikian tak masuk akal. tapi Musashi tak beranjak. "Aku seorang pemuda. Terdengar bunyi mengepak ketika seekor rajawali terbang ke arah mereka dari balik awan hitam yang menyelimuti Gunung Kasagi. apakah yang hendak diperbuat Musashi." "Bertempur?" kata keempat orang itu bersama-sama. dan tubuhnya membengkak karena gembira. Kizaemon dan Debuchi mengambil posisi di kedua sisi Musashi clan mencoba menariknya ke belakang dengan menarik lengannya. Salah satu tujuanku dalam hidup ini adalah menerima pelajaran dari guru Gaya Yagyu. "Dan apa yang akan kaulakukan. Ia menunduk memandang Jotaro yang masih bergayut di sisinya. Bagi keempat pegawai itu. bayangan burung itu menutupi bintangbintang dari pandangan mata. di depan menara utama. kalau sudah bertemu dengan beliau?" tanya Kizaemon. Ia bertanya-tanya dalam hati. tetapi bagi Musashi kata itu cukup memadai untuk mengungkapkan pengertiannya mengenai apa yang bakal terjadi. di mana kedua pihak Ebook by Kang Zusi . Dengan lengan masih dipegang oleh Kizaemon dan Debuchi. Yang dimaksudkan olehnya adalah perang total." "Kalau itu yang kauinginkan. sebagai gantinya aku menantang seluruh puri ini untuk bertempur. tetapi temannya yang lebih senior. sebelum ia meluncur dengan ributnya dan turun ke atap gudang beras. memerintahkannya untuk menahan diri. dan aku sedang belajar seni perang. Karena itu. kenapa kau tidak minta?" "Bukankah Sekishusai tak pernah bertemu dengan siapa pun. kata "bertempur" terdengar begitu melodramatis hingga patut ditertawakan. Kenangan tentang keberanian gurunya di Dataran Hannya datang kembali padanya. "Ke mana jalanmu ini?" teriak Kimura sambil melompat ke depan Musashi clan merentangkan tangan untuk menghalanginya. "Apa pula ini? Mau ke mana kamu?" "Mau bertemu Yagyu Sekishusai.

berubah. Di sana mereka berdiri. dipisahkan oleh jarak tiga atau empat langkah. Debuchi. dalam kediaman penuh ketegangan. Pertempuran sekarang ini sederhana saja. Pedang tidak menyentuh apa pun kecuali udara dan pasir. netcafe. Hasil pertarungan antara Musashi clan Kimura kini boleh dikatakan telah ditentukan. maka Musashi dengan sengaja menambah kecepatan langkahnya yang terhuyung itu. tapi kemudian ia mengendalikan diri dan berusaha bersabar. saling tatap penuh ancaman. Debuchi dan Murata tidak berada dalam wilayah pertempuran. "Oh. Walau enggan melakukan sesuatu yang dapat dinilai sebagai sikap pengecut. dan pada saat jatuhnya tebasan itu ia menjadi jauh lebih dekat kepada Kimura daripada yang diduga oleh Kimura. Kimura undur selangkah. Tidak mudah mengakhiri semua itu. pedang Musashi mengoyak udara seperti desing tali busur. Karena sadar bahwa Kimura menaksir jarak untuk dapat menebas dengan efektif. dan pekik mengguntur memenuhi ruangan kosong. tapi aku dapat menyuguhkan perkelahian. Akhirnya Kimura menerima tantangan itu. Saar itu juga terdengar pekikan. Secara serentak mereka bertiga mengepung Musashi. Di sini tidak diperlukan tukar kata. Mereka dapat saling berhubungan dengan baik sekali lewat mata. Musashi terhuyung empat atau lima langkah ke arah Kimura. Pekik pertempuran itu Ebook by Kang Zusi . namun sukar dilukiskan. Keempat orang itu merenungi wajah Musashi dan sekali lagi bertanyatanya. Ia berdiri tak bergerak. kecuali kalau langkahlangkah istimewa diambil. Pemecahan terbaik adalah melepaskan diri mereka dari si penyerbu yang aneh dan tak punya keseimbangan ini secepat mungkin dan mencegah agar diri mereka tidak mendapat luka secara sia-sia.property of: CROSSFiRE. Dan apa yang mereka lihat sampai sedemikian jauh. "Bagus! Tak ada yang lebih kusukai daripada pertempuran! Tak dapat aku menyuguhkan dentam genderang atau dengung gong. Matanya seperti dua batu putih yang digosok di tengah wajah yang kabur. Untuk sesaat yang terjadi adalah pertempuran saraf. Tapi sebelum salah satu pihak bergerak. biarpun sedikit. Segera kemudian jelaslah bahwa ia bernapas lebih cepat dan lebih gelisah daripada Musashi." kata Kizaemon pelan. Segengggam pasir yang dilemparkannya itulah sumber dari bunyi aneh itu. Ia yakin Kizaemon dan Murata pun mengerti hat ini. "Biar aku yang membereskannya!" Saat itu juga Kizaemon dan Debuchi menolakkan Musashi ke depan. "Ayo dorong!" desaknya. tangannya memegang gagang pedang. tapi mereka terpaksa bertindak untuk mencegah terjadinya bencana. Kedua pihak dengan cepat melompat mundur. nyatalah bahwa Musashi seorang pejuang terampil. bahu kanan maju ke depan dan sikunya di atas. tapi hakikatnya sama saja. bukan dart Musashi. apakah Musashi masih memiliki akal sehat. Tekad baja inilah yang membuat kata "bertempur" itu wajar diucapkan bibirnya. Terdengar bunyi serupa bunyi pasir yang aneh ketika pedang itu mendesah di udara. Satu orang lawan satu puri. Pedang Kimura ditempatkan sedikit lebih rendah dari dadanya. tapi keduanya mengambil posisi baru dan menyiapkan langkah bertahan. Sekarang ia sudah kehilangan kesabaran. Pada detik yang sama. Inc. yang berperang memusatkan segenap jiwa dan kecakapannya dan nasib mereka ditentukan. Caranya mengelak dan menyusun kembali posisi sudah meyakinkan mereka bahwa ia lawan setanding Kimura. ini pantas untuk ditonton. Bunyi gerutu pelan yang hampir tak terdengar dikeluarkan oleh Debuchi. melainkan dari Jotaro yang waktu itu meloncat keluar dari tempatnya di belakang pohon pinus. Ia tahu sekarang bahwa apa yang dimulai sebagai sesuatu yang agak tak berarti itu akan berubah menjadi bencana besar. Sambil menendang sandal jeraminya ke udara dan menyingsingkan hakama-nya ia berkata. Tekad Musashi dalam hal ini kelihatan dengan jelas dari teguhnya tumitnya menghunjam ke bumi. dan sambil menarik napas cepat ia menebaskan pedang ke arah sosok Musashi yang sedang terhuyung-huyung. dorong dia kemari. Musashi sama diamnya. Shoda. Pertempuran antara dua tentara bisa saja lain bentuknya." Kimura-lah yang pertama kali tadi menyarankan agar mereka menghukum Musashi. kegelapan sekitar Kimura seperti goyah. mengangkat siku ke depan wajahnya.

sebelum salah seorang dari mereka mengubah kedudukan atas kehendak sendiri. Terdengar gemeresik pelan. Batinnya menjadi lumpuh. Musashi sadar bahwa makin lama hal ini berlangsung. seperti dikatakan oleh orang-orang Budha? Yaitu panas yang teramat sangat bergabung dengan dingin yang teramat sangat. Mereka tahu bahwa apabila seorang dari mereka memperlihatkan tanda sekecil apa pun bahwa mereka mengendurkan sikap. pedang Musashi menyampaikan kepadanya bahwa orang yang di sebelah kin telah menggerakkan sebelah kakinya seinci dua inci. ia lupa akan dirinya. tetapi menyebar dalam garis lurus-agar dapat dihadapinya satu per satu-tetapi ia tidak berhadapan dengan orang-orang amatir sekarang ini. dan sang musuh yang juga tanggap itu pun tidak membuat gerakan lebih lanjut untuk menyerang. makin kurang menguntungkan keadaan baginya. membikin terang pandangannya. dan lengannya yang tiba-tiba kelihatan itu membuatnya menyangka bahwa ia terluka. dan Otsu-lah yang memainkannya. Ia sadar terjadinya pembengkakan pada urat-urat nadinya. netcafe. Otot-otot Musashi menegang. manusia. Ia melompat. Namun Musashi merasa tidak berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Jotaro sudah menghilang. Kelima orang itu membentuk tablo yang seakan-akan statis. Begitu nadanya menyerobot ke dalam telinga Musashi. Lengan kimono kirinya tersobek dari bahu sampai pergelangan tangan. pedang-pedang yang digenggam erat berkilau bercahaya. Itulah suling Otsu. menyejukkan otaknya. kata orang pikiran tentang mati akan mendesakkan diri ke dalam otak. Untuk sesaat ia kehilangan penguasaan diri. dan melihat Kimura sudah menghuyung ke tempat tadi ia berdiri. sekalipun tubuhnya jadi bertambah pekat dan titik-titik keringat berminyak berkilau-kilau di dahinya. Ingin ia sebenarnyar agar lawan-lawannya bukan mengepungnya. tapi kepalanya sendiri sedingin es. Ia pun melakukan penyesuaian dalam meletakkan senjatanya. Satu lawan empat. dan darah seakan-akan menderas di dalam dirinya. sedangkan dentang-dentang lonceng kuil yang tiba-tiba terdengar menggemakannya ke segala penjuru. Seperti sungut kumbang. Jauh di dasar hatinya ia mengenali bunyi ini. lupa akan hidup dan man. Kizaemon pun tidak dapat membuat gerakan. Mereka mengerti bahwa Musashi bukanlah jenis orang yang biasa dijumpai di dunia ini. lupa akan musuh. Kimura menerjang ke depan. Pada saat-saat seperti itu. Ia yakin telah terluka.property of: CROSSFiRE. sintesa nyala api dan air? Tak ada lagi pasir dihamburkan ke udara. dan berharap bahwa pada akhirnya salah seorang dari mereka akan mengambil langkah sementara yang keliru dan memberikan peluang kepadanya. dan langit-semuanya seperti sudah membeku jadi padat. lengan pedangnya seakan-akan menjelma enam atau tujuh kaki panjangnya. Bunyi inilah yang telah memikatnya keluar dari persembunyian di Gunung Takateru dulu-bunyi yang telah menjatuhkannya ke tangan Takuan. Darahnya terasa seperti mau meletus dari setiap pori-porinya. "Aneh sekali orang ini!" pikirnya. tanah. yaitu bunyi alunan suling yang ditiup angin. tak dapat ia membuat gerakan. tiba-tiba berpaling. Namun bersamaan dengan itu ia pun tidak merasa yakin akan mampu menang. Lawan-lawan Musashi sebetulnya sedikit saja merasa enak memiliki keunggulan jumlah itu. perubahan itu hampir tidak dapat dilihat. Dari arah keempat lawannya yang tersusun di kedua sisinya. tapi pada Musashi tak ada sedikit pun pikiran tentang maut. di depan dan di belakangnya. Kenyataannya. Dari luar. tidak hanya keluar dari mulutnya. Inc. tapi dari seluruh tubuhnya. tapi itu sudah cukup. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menanti. dan ia pun menjerit menyerukan nama dewa perang. menjurus kepada perdarahan. "Musashi!" seru Debuchi Magobei. Musashi akan menyerang. Angin terasa seperti bertiup melintasi kepalanya. Musashi merasa benar-benar hidup. Angin bersiul turun dari puncak Gunung Kasagi. Tetapi justru pada waktu itu ke tengah kediaman tersebut mengalun bunyi yang sama sekali tak diduga-duga. terdengar bunyi mereguk dan mendesis. Dengan memperdengarkan teriakan perang yang keluar dari pinggangnya. Inikah bunga seroja yang menyala. "Kau ini lebih pintar bicara daripada berkelahi!" ejek Murata ketika ia dan Kizaemon berusaha menghadang Ebook by Kang Zusi . Pedang.

Ia mulai berjalan pelan-pelan sepanjang dasar parit itu. "Tak mungkin Otsu ada di Koyagyu ini!" katanya pada diri sendiri. dan akan menanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi-sampai ia tua dan putih rambutnya. Satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah alunan suara suling yang manis di kejauhan. Kemudian di Jembatan Hanada di Himeji. dan tidak menoleh-noleh lagi. lenyap ke dalam gelap. Tetapi Musashi waktu itu juga menendang tanah sekuat-kuatnya dan melompat demikian tinggi. Aku cuma melakukan gerak mundur taktis. Satu demi satu bilah-bilah itu ia masukkan ke celah-celah dinding batu Ebook by Kang Zusi . Kedengarannya seperti. tentunya sesudah peristiwa itu gadis itu sangat membencinya! Oh.. bukan tak mungkin juga dia di sini. netcafe. Mungkin juga dia.. "Apa yang kubutuhkan dari seorang perempuan?" katanya mengolok-olok dirinya. Bukan itu sasaranku. ia membayangkan mata Otsu di tengah bintang-bintang di atasnya. dan menyatakan bahwa ia dapat menahan kesukaran apa pun." Tiga atau empat obor kayu pinus menyala di antara pepohonan. Perbuatan Musashi lari dari Himeji itu merupakan pengkhianatan. Ketika keringat sudah menyejuk." Hampir satu jam berlalu. "Mereka sebut aku pengecut. gadis itu mengatakan kepadanya telah menantinya hampir seribu hari. Ia jadi kecewa melihat dirinya menangis. Musashi. terdengar gemeretak rerantingan. tanpa membuat bunyi apa pun. "Tak ada dia di sini. hingga mengenai cabang-cabang bawah pepohonan pinus. sambil menghapus mata dengan tangannya. Mereka tidak mengetahui tempatnya. Meskipun begitu. Lalu minta dibawa serta. ia meloncat ke dasar pant. tentunya ia menggigit bibir dan mengutuk sifat lelaki yang tak dapat didugaduga itu. Kemudian ia melompat berulang-ulang lagi. tapi sudah itu diam. Musashi menyuruk ke dalam pagar di dekat puncak parit clan meluncur cepat setengah jalan turun. mengatakan tidak dapat hidup tanpa dirinya dan tak ada lelaki lain baginya di dunia ini. Karena tidak mendengar kecipak air.. ia mulai bernapas teratur kembali. lalu berhenti dan melemparkan sebuah batu. "Maafkan aku!" Kata-kata yang diukirnya di pagar jembatan itu kini keluar dari bibirnya. kemudian menghilang. dan segera kemudian ia terbawa hanyut oleh kenangan: Otsu di celah perbatasan Mimasaka-Harima. Oh. Ia bangkit berdiri dan menengadah memandang sosok hitam Puri Koyagyu." Ia berhenti dan mulai mengumpulkan ranting-ranting jatuhan yang kemudian ia patah-patahkan menjadi bilah-bilah pendek dengan lututnya. "Telingaku tentunya salah. "Bagaimanapun.property of: CROSSFiRE. sama sekali belum menyerah! Aku tidak melarikan diri." Sambil berdebat dengan dirinya. Sebentar kemudian tulang-tulang iganya sudah berhenti naik-turun clan detak nadinya kembali normal. tak ada gunanya bertempur dengan keempat orang itu. Inc. dan katanya aku tak dapat berkelahi seperti lelaki! Tapi aku belum lagi menyerah. "Pengecut!" "Musashi!" "Ayo berkelahi seperti lelaki!" Ketika Musashi sampai di tepi parit sekitar kuil dalam. Kalau aku bertemu dengan Sekishusai sendiri. Burung-Burung Bulbul TIDAK mungkinlah untuk mengetahui berapa lama air hujan yang ada di dasar parit yang dalamnya tiga puluh kaki itu dapat menggenang. dan di situ ia berbaring telentang di rumput. di situlah pertempuran dimulai. Air mata meleleh dari sudut-sudut matanya. Terkejut ia mendengar teriakan dari puncak parit.

mau rasanya ia melihat hantu dalam bentuk Sekishusai. Bintang-bintang sedang memudar dan bunga-bunga aster putih berayunayun. dan entah kenapa ia teringat pada Jotaro. Dan itulah waktunya. ia tidak berada dalam bahaya. ternyata tidak ada sesuatu pun yang terdengar. Hari sudah mendekati fajar ketika ia berada di gerbang belakang puri. bagus sekali.property of: CROSSFiRE. Akhirnya. Tetapi tiba-tiba terpikir olehnya penampilannya sendiri. Panas matahari telah menghidupkan kembali semangatnya. "Lambat atau cepat. dinding batu. akan kupergunakan pendekatan lain. Tidak adanya obor lagi menunjukkan bahwa pencarian sudah dihentikan. akan menerobos masuk sambil mengucapkan tantangannya. bersandar ke tiang." katanya pada diri sendiri. Ketika mengintip lewat celah di pintu gerbang." pikirnya. Ada sesuatu pada lingkungan itu yang menghambatnya berbuat demikian. Ia mesti menguasai diri terlebih dahulu. Kadang-kadang ia merasa sudah tersesat di luar wilayah puri. tapi kemudian potongan pant. sebelum menampilkan diri kepada tuan di dalam itu. setidaknya untuk malam itu. Tak ada lagi kelelahan yang tersisa ia merasa lahir kembali. hingga Musashi membayangkan bahwa mungkin itulah alasan utama Sekishusai Ebook by Kang Zusi . netcafe. dan kemudian muncul dari bawah pagar dalam perjalanan menuju wilayah puri bawah. Musashi membasuh wajah dan minum sekenyang-kenyangnya untuk ganti makan pagi. ia berkata lirih. Sebetulnya ia tidak begitu gundah memikirkan anak itu. dan di atas tebing itu Gunung Kasagi. Sepanjang malam ia mencari. Tentunya ia tampak seperti orang gelandangan sekarang. dan tenaga yang tertimbun di dalam anggota badannya menghendaki kegiatan. mendaki bukit. kepalanya dibasuh oleh angin pagi dan nyanyian burung bulbul. Barangkali ia telah memperlakukan anak itu terlalu kasar malam sebelumnya. Tapi ketika jam demi jam berlalu. dengan rambut awut-awutan dan kimono berantakan. Sambil meregangkan badan. melainkan ke satu tempat terpencil di wilayah luar. ia bermaksud." Ia duduk di bawah tepi atap gerbang. menjadi hantu utama yang terbentuk akibat hasratnya yang mahahebat untuk mendapat pengakuan dan kehormatan. dan ketika ia menggerakkan badan dari tidurnya. pepohonan yang bagus bentuknya dan rumput yang terawat balk pun menyatakan kepadanya bahwa ia telah menemukan tempat memencilkan diri itu. Ia bangkit. Sesaat ia mendapat perasaan samar-samar bahwa Jotaro memanggilnya. Di dalam sana ia melihat rumpun bambu yang terselimut kabut pagi. atau lumbung padi meyakinkannya kembali bahwa ia masih ada di dalam. "pasti seseorang datang ke gerbang ini. ia kembali mengayun langkah ke arah selatan. dipaksa oleh dorongan setani. Apakah karena perawatan penuh cinta yang telah diberikan pada daerah itu. Anak itu dapat menjaga dirinya. mengitari rumpun bambu. Terkaannya segera dibenarkan oleh sebuah gerbang beratap lalang dengan gaya yang disukai ahli upacara minum teh besar Sen no Rikyu. dan ia gunakan sebagai tempat menapak. Ketika ia sudah hampir menjerit karena frustrasi. Ia sudah mendengar dari pemilik penginapan itu bahwa Sekishusai mundur bukan ke salah satu lingkaran puri. "Tak perlu buru-buru. Air itu bagus. Inc. Sesaat ia tergiur untuk melompati pagar. mengambil jalan memutar dalam pagar. Tak ia dengar lagi bunyi suling. dan jatuh tertidur. ia melihat jalan itu berkelok-kelok melintasi rumpun pohon. Cahaya siang datang. Musashi berjalan terus menembus hutan dan lembah. lalu memanjat ke luar parit. karena ia sekarang sadar bahwa tenaganya sudah habis. seperti yang terdapat di tempat-tempat penganut Budha Zen menyendiri di pegunungan." Ia lapar. tapi ketika ia berhenti dan mendengarkan lebih saksama. kalau nanti menemukan rumah pegunungan itu. Keinginan untuk menemukan dan mengalahkan Sekishusai sekali lagi menjadi nafsu yang mengendalikan semuanya. ketika sebutir embun besar jatuh dengan dinginnya ke lehernya dan membangunkannya. tapi itu gerakan yang sudah diperhitungkannya. Sekali lagi Musashi merasa yakin bahwa di mana pun Jotaro waktu itu. dan bagian dari latihan anak itu. Di sebelah sana menjulang tebing. Barangkali ia kini sudah bermil-mil jauhnya. Ia mendengarkan suara sungai kecil yang mengalir menuruni sisi gunung. tampak olehnya matahari merah cemerlang naik di atas pegunungan. kepekaan penghuni tempat itu menembusnya hingga gejolak perasaan Musashi mereda. Kalau dia masih menolak menemuiku sebagai murid pengembara. tetapi ia masih menahan diri. di kaki lereng yang menjurus ke bagian tenggara purl. ya. Ketika ia menggosok-gosok matanya dan menengadah. ataukah karena ia melihat daun-daun bunga putih di tanah? Apa pun alasannya. "Hari inilah harinya.

Dari kejauhan di atas bukit terdengar bunyi langkah-langkah cepat. Dan kehormatan apakah. pikiran untuk menyerobot masuk mendatangi pertapa kuno itu kini terasa liar. tetapi juga bagi semua peristiwa dunia ini." kata Musashi pada diri sendiri. namun maknanya lebih dalam dari itu. Hanya burung-burung bulbul muda di ladang. Ia berbeda dari Sekishusai. "Kalau tidak. Ia menepuk-nepuk rambutnya dan meluruskan kerahnya. hingga jaraknya tinggal beberapa meter saja dari tempatnya berdiri. ia membersihkan kotoran kukunya. Ia basuh handuk tangannya di dalam sungai. Ya. Kemudian ia rapikan rambut dengan belati yang melekat pada pedangnya. maksudnya para pejabat puri. Karena Sekishusai tidak hanya pemilik Gaya Yagyu. serta memperdengarkan teriakan terkejut. dan sesudah menggosok tengkuk seluruhnya. Kemudian Otsu berhenti dan membalik. Di sebelah kanan tertulis: Janganlah curiga. yang mungkin diperoleh dari mengalahkan orang yang sudah tidak menghargai kehormatan dan jasa? "Bagus juga aku membaca ini. Hanya bunga dan burung. Musashi bermaksud menampilkan diri sebaik-baiknya. memilih tempat ini untuk mengundurkan diri dari dunia. Sekishusai bukan lagi pemain pedang terbesar di negeri ini. Inc. dan jasa apakah. Keduanya ditulis dengan indah. ia bertekad mengetuk pintu gerbang itu sebagai tamu yang sah. angin dan bulan. suling gadis itulah yang telah didengarnya! Haruskah ia menanti dan kemudian menjumpainya? Atau pergi saja? "Aku ingin bicara dengannya. netcafe. tetapi orang yang telah kembali kepada alam. dan ia merasa sangat malu terhadap diri sendiri. Akan dia yang menyukai purinya tertutup. yang akan memasuki gerbang ini. Karena itu kemungkinan ketukan biasa tidak akan terdengar. nyanyian burung bulbul mereda. Jadi. Ternyata Otsu. Musashi mengintip lewat gerbang. Ia Ebook by Kang Zusi . Rumah itu cukup jauh letaknya di atas bukit. Ia sudah meninggalkan sama sekali hasrat dunia.property of: CROSSFiRE. Jantungnya berdebar-debar dan keyakinan dirinya terbang. "Jotaro! Di mana kamu?" Mendengar suaranya. Mengganggu rumah tangganya akan merupakan pelanggaran besar. bukan lagi penguasa tanah perdikan. Agaknya karena takut mendengar bunyi ribut itu. Pikirannya terang. Namun karena ia tak tahu apa-apa tentang seni upacara minum teh. "Terlalu muda! Orang ini ada di luar jangkauanku sama sekali. bagi segala kemuliaan ataupun kesengsaraannya. Dan di sebelah kiri: Takkan kautemukan pemain pedang di sini. dan serunya. yang menolak kesia-siaan hidup manusia. Orang tua itu menutup gerbangnya tidak hanya bagi para murid yang mengembara. Kemudian ia berlari kembali ke atas bukit. dan mulailah ia berkeringat. siapakah yang datang itu. tak terbayang olehnya bahwa air semurni itulah yang menjadi cita-cita setiap ahli upacara minum teh. dan tulisan yang berupa ukiran itu diisi dengan tanah liat kebiruan yang tampaknya seperti lapisan perunggu. baik itu hasratnya sendiri maupun hasrat orang lain. dan terlihatlah olehnya sepasang tanda peringatan di kedua sisi gerbang." pikir Musashi. Otsu berlari turun." gumamnya sambil menoleh ke sekitar. Sajak itu ditujukan kepada para "penulis". Maka dicarinya alat pengetuk. "Aku masih muda. Ia sendiri tidak lebih dari seorang prajurit tak bernama. seperti berbedanya bintang yang terkecil dengan bulan. Musashi menjadi merah mukanya karena malu. hai para penulis. "Aku harus!" Keragu-raguan mencengkamnya. "Kukira tadi dia ada di belakangku. aku akan menjadikan diriku orang yang setolol-tololnya!" Bersama dengan semakin tingginya matahari di langit. tetapi juga salah satu orang besar di negeri itu." Keinginan untuk mengetuk gerbang pun menguap. dan ia merasa mantap dalam hati." pikirnya. sekelompok burung kecil mengangkasa. kalau ada.

karena itu saya pikir kalau saya dapat minta maaf kepada Yang Dipertuan. saya tak akan kuatir. tapi kemudian saya lihat ayam pegar. dia tidak mengamuk seperti yang lain-lain. saya cukup gentar juga. Yang Dipertuan jadi terkejut juga. "Aku kan sudah bilang tadi. Dalam matahari terang awal musim panas itu pipinya Ebook by Kang Zusi . tapi saya tidak kuatir dengan dia. netcafe." "Cuma itu?" "Tentu saja cuma itu." katanya. apa yang mesti saya lakukan. dari bunyi suling itu saya dapat mengira-ngira di mana Kakak berada. Beberapa waktu kemudian Otsu memanggil kembali. "Saya di sini! Di mana Kakak?" seru Jotaro dari bagian atas rumpun." "Mana bisa begitu. "Sekarang ada yang lebih penting dilakukan. "Aku sedang memikirkan dia ketika aku main itu." "Tapi dia orang baik. Cuma. Otsu bergegas pergi ke gerbang. Dia bukan orang yang gampang terluka. dan kali ini terdengar balasannya. "Kita bisa bicara lagi nanti. "Kan sudah kubilang kau ikut aku. jadi saya mengejarnya. kenapa pula Kakak mesti menangis hanya karena ada orang sedesa datang ke sini. mengejar ayam pegar! Apa kamu lupa." "Lucu." Suara Otsu menjadi lunak." Jotaro datang berlari-lari mendekati Otsu. Katanya dia mau menemui orang yang sudah melakukan apa yang kamu katakan itu." "Tapi sungguh pertunjukan besar yang kamu lakukan-menyerbu rumah orang dan menjerit-jerit tentang 'pertempuran' yang sedang terjadi.. "Oh. Musashi tentunya mendengar juga." "Saya juga sudah ikut. sampai tak tahu saya. Kalau soalnya cuma empat orang biasa lawan guru saya. "Di sini!" jawab Otsu. terutama sesudah kamu menyebut nama gurumu itu. Ketika mendengar suling itu. mesti mencari orang penting pagi ini?" "Ah. Tak dapat ia bergerak dari tempat sembunyinya di dalam bayangan pepohonan itu. jadi Kakak di sini." "Aku juga begitu. ya?" serunya." "Tapi apa aku menangis lama?" "Bagaimana bisa Kakak ingat semua yang saya lakukan." "Kalau kamu memang mendengarku main suling.. karena sadar sedang membuang-buang waktu. Ketika saya katakan padanya saya sudah membunuh Taro. Tapi kabarnya mereka semua itu jagoan. seperti bunga. saya bukan mau menangis. Sekishusai malahan sudah melanggar peraturannya sendiri.property of: CROSSFiRE." "Saya tak melihat apa pentingnya itu." "Kedengarannya lain dengan kejadian tadi malam itu: kamu datang lari-lari ke kamarku dan langsung mau nangis saja. kalau Kakak tak bisa ingat apa yang Kakak lakukan sendiri? Tapi biar bagaimana. Kita mesti mencari Musashi." Tiba-tiba. Cuma semuanya itu begitu cepat." "Ah. merasa muak karena telah kehilangan keyakinan. tidak betul." Otsu tampak benar-benar riang. jangan pergi ke manamana." "Tapi bagaimana Kakak bisa kenal dengan Musashi?" "Kami datang dari desa yang sama. saya pun ingat Kakak ada di puri ini. saya kira. Inc. Bahkan dia mungkin tahu yang main itu aku. Saya tak mengerti.

Ia tak bisa mengatakan. mencurahkan air mata yang ingin ia tangiskan. Ia memang merasa sengsara. Ini dari rumah janda tempat kami menginap di Nara Lihat ini: ada gambar daun mapel celupan di sini. di mana mereka dapat berduaan saja. dan yang lain jalan gelap. dan ingin ia membawa gadis itu ke suatu tempat. Sesudah mengenal Musashi dan mengaguminya. ini miliknya. dan ia melihat betapa kejam dan buruknya ia menolak cinta yang sederhana dan terus terang seperti yang diungkapkan Otsu. "Milik Musashi?" ucap Otsu sambil berlari kembali mendapatkan Jotaro. Inc. Tersengal Otsu memutai badan dan melejit ke arah pepohonan. dan ada huruf yang bunyinya 'Lin'. Otsu berjalan beberapa langkah meninggalkan gerbang. Ia ingin menarik kembali kata-kata yang diukirkannya di Jembatan Hanada itu. yang berseru kepada Otsu." jawab Jotaro seraya membeberkan handuk tangan itu untuk dilihat Otsu. Ia akan menyatakan kepada Otsu. "Ya. cinta yang dirasakannya waktu itu hanyalah samar-samar dan sukar dipegang. dan kedua yang mengatakan kepadanya bahwa ia orang tolol. Ia dapat mendekapnya. Dirinya terpecah menjadi dua: pertama. Kalau tidak ada orang yang tahu. Musashi cepat menangkap daya hidup Otsu yang baru dan membuatnya bertambah cantik itu. "Lihat ini!" "Ah. itu kan cuma gombal tua yang kotor! Buat apa itu?" "Ini milik Musashi. bersinar seperti buah masak. yang sadar benar akan keyatimannya dan merasa agak benci dengan kenyataan itu. Waktu itu ia masih anak-anak yang sentimental. "Ke mana Kakak pergi?" tanya Jotaro.property of: CROSSFiRE. Otsu yang ia lihat sekarang ini lain sekali dengan gadis yang duduk patah hati di beranda Kuil Shippoji dan memandang dunia luar dengan mata kosong. tubuh dai pikirannya membentuk keberanian untuk menghadapi apa pun. ia dapat menunjukkan kepada Otst bahwa ia pun dapat bersikap mesra. "Saya ingat ini. dan ia merasa kesegaran dedaunan itu mengisi paruparunya. membelaikan pipinya ke pipi Otsu. Jotaro berdiri tegak sampai hampir setinggi gadis itu. diikuti anak itu. dan dengan sekuat suaranya ia memekik. Sepanjang tahun yang dihabiskannya untuk mengembara mencari Musashi. "Sensei!" Di tengah rumpun terdengar bunyi gemeresik. Ia ingin mengungkapkan bahwa jauh di dalam hatinya yang terbuat dari baja itu terdapat kelemahan. "Jotaro." "Apa menurutmu Musashi ada di sini?" teriak Otsu sambil memandang bingung ke sekitarnya. apa yang kamu lakukan itu? Ayo cepat!" "Tunggu!" seru Jotaro riang." . lahirlah cinta yang kini menetap di dalam dirinya dan memberikan arti pada hidupnya. dan menceritakan semua kepadanya Betapa ia merindukan Otsu secara fisik. manakah dirinya yang sebenarnya Seraya memperhatikan dari balik pohon dan tenggelam dalam keraguan itu ia seperti melihat dua jalan di hadapanya. Atau setidak-tidaknya. netcafe. sesuatu yang menyatakan kepadanya bahwa itu salah. satu jalan terang. Perbedaannya adalah karena waktu itu Otsu tak punya orang yang dicintai. Hal-hal yang dikatakan Otsu kepadanya di masa lampau kini kembal mengiang di telinganya. Ia mencium daun-daun muda. Karena tak tahu adanya Musashi. Dan ketika menoleh ke belakang. "Musashi baru saja lari!" Ebook by Kang Zusi . ia melihat Jotaro membungkuk mengambil sesuatu. namun ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak dapat menyerah kepada segala perasaan itu. Ini nama pemilik restoran bakpau di sana. Musashi yang sedang bersembunyi di antara pepohonan memperhatikannya baik-baik clan mengagumi kesehatan tubuhnya. Sekarang ia cukup kuat untuk mengaku bahwa semua perasaannya itu nyata.

. sementara gemericik sungai menambah kesepian mereka. "Musashi!!" Tapi baru saja teriakan kalut itu keluar dari bibirnya. "Kita tak boleh menyerah! Dia tak akan kembali lagi kalau kita biarkan dia pergi sekarang! Panggil dia! Suruh dia kembali!" Ada sesuatu yang menolak dalam diri Jotaro. Awan putih menghampar kosong di atas mereka. Sudah pernah ia melihat wajah itu. walau tidak yakin benar bahwa Otsu melihat Musashi. anak itu dapat dengan jelas melihat gurunya. Inc. "Barangkali orang lain. "Kenapa kamu tidak memanggilnya juga? Panggil dia! Panggil dia!" Jotaro bukannya melakukan yang disuruhkan Otsu. Otsu mulai memahami Musashi ketika melihatnya terikat di pohon di Shippoji itu. netcafe. Kalau Musashi tak ada minat kepadanya. Maka mereka berlari kembali. tapi kenyataannya di Jembatan Hanada Musashi mengatakan senang sekali kepadanya. Otsu berlari mengejar dengan sekuat kakinya. dengan matanya yang merah. ia terhuyung jatuh. Jeritan mereka menggema melintasi peladangan. "Kakak keliru!" pekik Jotaro.property of: CROSSFiRE. "Itu Musashi!" teriak Jotaro.. dan menatap wajah Otsu. Namun. tetapi Musashi sudah terlalu jauh di depan mereka. Namun ia tak bisa mengerti." "Di rumpun pohon sana itu!" Otsu melihat sosok tubuh Musashi. hingga tak dapat mendengar teriakan mereka. dan sepanjang kaki bukit itu menghampar jalan belakang dari Tsukigase ke Iga. Di sebelah hutan terdapat bukit rendah. Otsu bersandar ke pohon berangan besar. karena ia lari langsung masuk kaki perbukitan yang berhutan lebat. karena Musashi dengan cepat meningkatkan jarak yang memisahkan mereka. tak ada gunanya berdebat dengannya. Ia heran. kenapa Musashi menganggapnya penghalang antara dirinya dan cita-citanya. Ia tahu. dan sambil mengerahkan suara sekuat-kuatnya ia menjerit. Ia tak percaya bahwa Musashi orang yang bisa berbohong kepada perempuan. Jotaro berlari mengikutinya. sejak pengalaman di Jembatan Hanada. Pada mulut Otsu tidak ada bengkokan aneh ke atas. dan ia mulai berteriak juga sekuat-kuatnya. dan marah. Di ujung lembah mereka tidak melihat Musashi lagi. Jotaro cepat menarik tangannya dan undur dengan ketakutan. alis yang seperti jarum. Kenapa tekadnya itu mesti dilemahkan oleh kehadirannya? Ataukah itu cuma alasan? Apakah alasan sebenarnya karena Musashi tidak cukup mencintainya? Itulah yang barangkali lebih masuk akal. Jotaro menolongnya berdiri. "Dia sudah gila! Dia tak berakal! Bagaimana mungkin dia meninggalkan saya seperti ini?" teriak Jotaro sambil mengentak-entakkan kakinya. tapi di luar itu keduanya serupa. Ia sudah tahu itu.. namun. tapi pandangan wajah Otsu menyatakan kepadanya. melainkan kelu karena terkejut." "Saya tak melihat dia. Kenapa Musashi mesti lari?" "Coba lihat itu!" "Ke mana?" "Ke sana!" Ia mengambil napas dalam-dalam.. "Ke mana?" "Ke situ. merasa kehilangan. serta hidung dan rahang yang seperti lilin. Ia mengingat kembali katakata Musashi dengan sedihnya. Sampai di jalan tersebut. Cintanya yang besar pada Musashi tak mampu menahan kepergian Musashi—walaupun untuk cinta itu ia bersedia mengorbankan segalanya. Otsu dan Jotaro berlari sekuat kaki mereka sambil berteriak-teriak sampai parau. dan air matanya mengucur sejadi-jadinya. tetapi kegembiraan sekilas yang dirasakannya segera digantikan oleh keprihatinan. Otsu terus mencelanya. Itulah muka topeng! Topeng perempuan gila yang diberikan kepadanya oleh janda di Nara itu. ia akan mengatakannya demikian. apa tujuan hidup Musashi dan kenapa Musashi menghindari dirinya. Mereka berhenti dan berdiri di sana. sedih. seperti anak-anak telantar. tapi ia berteriak. Ebook by Kang Zusi .

tetapi semangatnya yang dirobek-robek kesedihan menunjukkan bahwa tidak ada hidup sejati baginya di luar Musashi. Sebagai anak yatim. Pengkhianatan Matahachi telah mengajarkan kepadanya betapa seorang gadis harus berhati-hati dalam menilai lelaki. dan keduanya bersahabat semenjak itu. Takuan sudah lama menjalin hubungan persahabatan dengan Keluarga Yagyu. Dengan matanya yang bengkak dan lebar karena kagum ia berseru. karena memiliki banyak harapan di masa depan.property of: CROSSFiRE. Pada waktu ini ia merasa tidak ada orang lain kecuali Musashi yang patut dibela atau diandalkannya." Otsu tidak memperhatikannya. Saya sendiri sekarang memiliki tenaga seorang gadis muda dan cantik. yaitu orang-orang yang merasakan perlunya mempelajari peristiwaperistiwa kejiwaan maupun keterampilan teknik dalam seni perang. Kaum samurai yang bergerombol di sana lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan kaum biarawan Zen. "Lho. Munenori sudah mendapat kedudukan dalam Keluarga Tokugawa di Edo. biarpun hanya sepatah? Ini sungguh terlalu berat untuk ditanggung. saya pikir Anda dan dia banyak memiliki persamaan. netcafe. Pada masa itu. ahli waris Keluarga Yagyu. Sekalipun melihat Takuan merupakan guncangan bagi Otsu. sikap dingin tertentu mencegah dirinya mempercayai banyak orang. Kedatangannya bukan kebetulan. Otsu menengadah. apakah ia tidak sedang bermimpi. Jotaro memandang ke jalan. Karena ia mengatakan datang dari Mimasaka yang berdekatan dengan tempat kelahiran Anda dan dibesarkan di kuil yang bernama Shippoji. dan pergi belajar sendiri. dan bersama-sama kami menyiapkan teh. transparan. tapi sekali ia percaya pada seseorang. dan saudara lelaki Gorozaemon. "Nah. Mendengar suaranya. Daitokuji. yang baginya mengesankan. saudara lelaki Yang Dipertuan Koizumi dari Ise. Menyenangkan luar biasa minum sake malam hari dengan iringan suling yang Ebook by Kang Zusi . Munenori cepat menyukai Takuan. Dengan semakin dekatnya siang. Dan ia telah menerima jawaban panjang dari Sekishusai. dan ucapnya. Semakin marah. namun bagi Takuan menemukan Otsu tidak lebih daripada pembenaran atas sesuatu yang telah ia curigai. Kewajibannya mencakup pembersihan dapur dan pembuatan empleng kacang. la menjadi kegembiraan dalam umur tua saya. Yagyu Gorozaemon. ia akan mempercayainya sepenuhnya. tetapi juga berbicara dengan saya. yang kalau tidak berkat dirinya akan merupakan gubuk tua yang dingin dan layu. ini datang seorang pendeta. menjadi bunga yang berkembang di rumah. Sangen'in yang dikenal dengan nama "Sektor Utara" Daitokuji termasyhur sebagai tempat berkumpul para samurai "luar biasa". Baru-baru ini Takuan singgah beberapa waktu lamanya di Kuil Nansoji di Provinsi Izumi. Apakah itu nasib atau bukan. Sesudah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Puri Koyagyu. Inc. semakin ia tenggelam dalam cinta pada Musashi. dan mengarang sajak. menyusun bunga. apa pun yang terjadi. Daun-daun pohon berangan bergetar. Perkenalannya dengan mereka bermula ketika ia masih seorang biarawan muda di Kuil Sangen'in. Biarawan yang menuruni lereng di kejauhan itu tampak seperti turun dari atas awan dan tak ada hubungan apa pun dengan bumi ini. dan dari sana ia mengirimkan surat menanyakan kesehatan Sekishusai dan Munenori. yang di antaranya berbunyi: Saya sangat beruntung akhir-akhir ini. Di antara samurai yang sering datang ke sana adalah Suzuki Ihaku. ia memandangnya dan melihat Otsu. yaitu Munenori. banyak mendapat kemajuan. Tapi kenapa Musashi tak dapat mengucapkan kata-kata. langit di atas berubah menjadi biru tua. dan bukan pula keajaiban. yang tidak hanya dapat bermain suling dengan baik. dan salah satu hasilnya adalah kuil itu jadi dikenal sebagai wilayah pembibitan pemberontakan. Takuan berjumpa dengan Sekishusai dan menaruh rasa hormat yang besar kepada orang tua itu. ia melihat Takuan Soho sebagai penyelamat. Ia bertanya-tanya dalam hati. artinya samurai yang mencurahkan perhatiannya kepada pemikiran filsafat tentang makna hidup dan mati. ada apa ini?" katanya. dan cucu saya yang telah meninggalkan pekerjaannya pada Yang Dipertuan Kato dari Higo. Ia telah memutuskan akan hidup untuk Musashi. tidak dapat Ia mengatakannya. "Takuan!" Dalam keadaannya sekarang ini. Ketika mendekati pohon berangan itu. dan ia telah membulatkan tekad untuk tidak menyesal berbuat demikian. Sekishusai pun menyukai biarawan muda ini. Tetapi Musashi bukanlah Matahachi. seakan-akan pohon itu sendiri mengerti dan bersimpati.

Pikirnya. Bagi seorang yang dibuai oleh cinta yang bermakna hidup atau mati." kata Otsu. Otsu." kata Takuan tertawa. Sambil menggigit bibir. Otsu menjadi marah kembali. Otsu. "Kukira kaum perempuan mampu memilih jalan hidup yang mustahil bagi kaum lelaki. khususnva demi hal yang tak lebih dari cinta yang bertepuk sebelah rangan. dan apakah kalau saya terus hidup akan mendatangkan ketidakbahagiaan padanya. ia mengatakan. dan akhirnya bagaimana perasaannya terhadap Musashi. Ia kelihatan berada dalam lembah keputusasaan.property of: CROSSFiRE.. apakah hal ini akan menimbulkan kesulitan baginya. Inc. "barangkali tak akan saya meninggalkan Shippoji. Tolol kamu." "Nah." "Jadi.. tidak. yang memaksa Takuan melakukan penilaian kembali. " "Sava. saya harap Anda datang dan menikmati santapan ini bersama saya. "Sekiranya saya punya keraguan. "Kau mestinya dilahirkan sebagai laki-laki. dan karena Anda demikian dekat dengan tempat ini." "Hati-hatilah. karena Takuan tidak pernah jatuh cinta. entah yang pandir dapat memahaminya atau tidak. Takuan mengajukan banyak pertanyaan pada Otsu. mencoba menjelaskan perasaannya kepada Takuan sama saja dengan Takuan mencoba menjelaskan Budhisme Zen kepada orang pandir. Setidak-tidaknya bagi perempuan. dan Otsu menjawabnya tanpa bertele-tele.. Ketika Otsu selesai bercerita. seorang perempuan seperti saya ini hidup? Karena akan mendatangkan kerugian pada Musashi?" Ebook by Kang Zusi .. Takuan menjadi sungguh-sungguh. Otsu bersumpah tak akan mengatakan apa-apa lagi. Dalam keadaan bagaimanapun. Seorang lelaki yang memiliki kemauan seperti yang kaumiliki ini pasti dapat melaksanakan sesuatu demi kebaikan negeri. apakah salah. Menurut penangkapanku. Tapi seperti halnya terdapat kebenaran dalam Zen." "Oh. kalau kau mau mati. sekiranya saya bermaksud menyerah. baik permainannya. saya tak mengerti apa yang Bapak maksudkan. namun ada suatu kekuatan dalam nada bicaranya. Tak mungkin bagi orang yang tidak pernah jatuh cinta memahami apa yang dirasakannya." "Dan apa itu artinya?" "Tak dapat saya mengatakannya pada Bapak." Takuan memperhatikan dengan saksama. lalu apa yang telah terjadi pagi itu. tapi itu karena dewa maut ncminjamkan tenaga kepadamu. tak ada bedanya ini dengan udara kosong.. sangat sukar bagi Takuan menolak andangan ini. cinta itu satu hal yang jauh lebih serius daripada teka-teki sulit seorang pendeta Zen. ada orang-orang yang bersedia mati demi cinta. netcafe. tetapi dugaannya bahwa gadis yang dilukiskan dalam surat itu adalah Otsu. kau menghendaki aku memberikan nasihat padamu tentang jalan yang harus kautempuh di masa depan. saya harus melakukan sesuatu untuknya. Otsu!" "Terhadap apa?" 'Di bawah matahari yang terang riang ini dewa maut sedang menariknarikmu. Ia menyampaikan kepada Takuan apa yang dilakukannya semenjak wrakhir kali mereka bertemu di Himeji dahulu. tidak ada bedanya bunyi tepukan sebelah tangan. Kalau memang demikian." "Kukira memang tak akan kamu mengerti. membuatnya bersungguh-sungguh menerimanya. Takuan mendengarkan cerita Otsu yang menyedihkan itu sambil mengangguk-angguk sabar. Satu-satunya pertanyaan dalam pikiran saya adalah. Otsu sudah berhenti berjalan dan kini memandang tanah. Ketika mereka bertiga berjalan menuju rumah Sekishusai. " "Saya sudah memutuskan apa yang akan saya perbuat. Saya masih bertekad menemui Musashi. entah Takuan dapat memahaminya atau tidak. Baginya.

ia memandang Jotaro." "Jadi. Betapapun kamu mencintainya. sejak saya lahir. Otsu. ha! Terima kasih banyak." "Ah. dan ia dekati gadis itu dan ia pegang tangannya. belum lama aku tidak melihatmu.. Pak!" Takuan mengeluh. perempuan bagiku merupakan teka-teki. "Kamu boleh tertawa. bahwa jalan kegelapan dan keinginan itu hanya menjurus pada kekecewaan dan kesengsaraan. tak usah kita bicara lagi." Ebook by Kang Zusi . dia masih lari. "Saya tidak.property of: CROSSFiRE." "Tidak pernah ada jalan terang bagi saya." "Cobalah! Kuminta kamu mencoba!" Sambil menarik tangan gadis itu. memiliki anak-anak. "Aku akan bicara dengan Sekishusai tentang itu. karena sadar bahwa ia tidak berdaya menghadapi perempuan muda yang berkemauan keras ini. di tengah pegunungan dan sungai-sungai ini. Beliau tahu. tapi. "Kamu juga. Di sini damai dan tenang." demikian ditawarkannya. Nak!" Jotaro menggelengkan kepala dengan tegas. netcafe. ya? Baiklah. Kamu bisa mendapatkan suami yang baik di Koyagyu.. Pendeta cemerlang seperti Bapak tak akan dapat memahami perasaan perempuan!" "Tak bisa aku menjawab ini. Saya tak bisa berbuat lain. dan katanya. dan katanya. Kamu mesti tahu. "Ayo pergi. dan melakukan hal-hal yang juga dilakukan perempuan lain. Kekecewaan dan kesengsaraan yang tak bisa diselamatkan lagi." "Oh. Dan itu akan membuatmu lebih bahagia. seperti juga burung-burung bulbul yang kita dengar sedang menyanyi itu. Saya mencintainya!" "Coba. Inc. Saya akan mengikuti guru saya. Daripada melihat kamu pergi memasuki dunia biasa dengan segala kesengsaraan dan kesulitannya. bukan? Dan aku berani mengatakan kamu tak akan dapat menangkapnya. tapi jalan yang hendak kamu tempuh itu jalan kegelapan. biarawan itu sampai pada kesimpulan bahwa tak ada lagi yang dapat dilakukannya. sedangkan Otsu dan Jotaro menuruni jalan samping. Aku tidak bicara soal itu." "Saya mengerti. dan hidup di sini sederhana." Takuan berdiri memperhatikan." "Saya lakukan ini bukan karena saya senang melakukannya. tapi di sini juga indah. aku lebih suka melihatmu hidup dalam kedamaian. ada. yang demikian bertekad pergi membuta menempuh jalan yang telah dipilihnya. Bapak berusaha membantu. "Jangan putar balikkan apa-apa yang kukatakan. Jotaro. Kamu akan membuat tempat ini lebih baik. Ia ingin sekali agar gadis itu mempercayainya. tidak ada." "Ha." Otsu melengos." "Kegelapan?" "Kamu dibesarkan di dalam kuil. dan melihatmu lagi kamu sudah berbuat seperti semua perempuan lain. Memang benar. sebelum pergi menuruti kehendak hati?" "Saya akan mengucapkan selamat tinggal dalam hati. "Tentang bagaimana kamu bisa hidup dan bahagia. "Apa kamu takkan mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. kamu tak akan mempertimbangkannya kembali?" "Mempertimbangkan apa?" "Tinggal di Pegunungan Mimasaka itu indah. Maka serunya kepada Otsu. jadi Bapak tidak lihat. ada!" Takuan memasukkan tetesan daya terakhir ke dalam permohonan-nya. Diiringi kerjapan alisnya yang sedih. saya tak pernah bermaksud tinggal lama di sini.

Tapi Otsu tetap tak tergoyahkan." kata Otsu. tapi saya mohon Bapak menyampaikan terima kasih saya dan ucapan selamat berpisah kepada beliau. "Ya. masih terus berusaha bergayut pada sisa kekuasaan yang sudah pudar. yang dipilih Ieyasu sebagai tempat tinggalnya selama perjalanan-perjalanan jauhnya ke daerah Kansai." "Oh. Takuan diam. Batu-batu karang yang dimuntahkan dari perahu-perahu ke tepi sungai Ebook by Kang Zusi . aku bahkan mulai berpikir sekarang bahwa pendeta-pendeta adalah orang gila. meratapi kegagalannya. "Tak ada lagi yang dapat kuperbuat. Sedangkan di Fushimi setiap patah kata yang diucapkan oleh seorang samurai Osaka. Ke mana saja mereka pergi. Akan saya ambil dulu. dan melangkah meninggalkan Takuan. Di sekitar Momoyama sedang terjadi pergolakan. dan dari wajah para samurai telantar yang mencari pekerjaan. apalagi seorang jenderal Osaka. Takuan sudah mengingatkannya akan bahaya yang mengintai dalam hidup yang hendak ditempuhnya dan mencoba meyakinkannya bahwa ada jalan lain untuk menemukan kebahagiaan." "Selamat tinggal. Otsu berdiam diri di persimpangan. "Saya nyatakan hormat kepada Sekishusai di sini. mereka bertemu dengan orang-orang yang berduyun-duyun menuju neraka. dan panggillah namaku! Sementara ini. dan cobalah berhati-hati!" MUSASHI karya : EIJI YOSHIKAWA Buku 3 : API bagian 8 Sasaki Kojiro TEPAT di selatan Kyoto. Itu kelihatan dari perahu-perahu yang hilir-mudik di sungai. tepat seperti matahari yang sedang terbenam berteguh pada keindahannya yang perlahan menghilang. "Otsu. dan tingkah laku orang-orang di jalan raya. karena Tokugawa Ieyasu memutuskan mengubah cara hidup yang telah berkembang di zaman Hideyoshi. "Nah. Takuan mengerut melihatnya. Jotaro bergayut pada lengan kimononya. Perbenturan antara yang lama dan yang baru tampak di mana-mana. Kekuasaan yang sebenarnya berada di Fushimi. ayo pergi! Sekarang!" Takuan menengadahkan mata ke awan-awan putih. kalau kau nanti mulai tenggelam dalam Enam Jalan Jahat atau Tiga Persimpangan. dan kembali menjadi teman lama yang pernah dikenalnya. dari lagu-lagu rakyat. yang bisa kukatakan cuma." "Oh." kata Otsu. pergilah sejauh kau bisa. "Sang Budha sendiri pun berputus asa menyelamatkan perempuan. Pikirkan diriku. wajah yang akan ia saksikan sesudah Otsu menanggung derita dalam perjalanan panjangnya menelusuri jalan kegelapan. Inc. Puri Osaka yang dihuni oleh Hideyori dan ibunya. sekitar 20 mil ke sebelah barat daya. kemudian mengalir terus melintasi Dataran Yamashiro ke arah benteng Puri Osaka. dan secara naluriah merasa bahwa itulah wajah masa depan Otsu. Yodogimi. lakukanlah apa yang kamu suka. dianggap orang sebagai isyarat masa depan. Sungai Yodo melingkar mengelilingi sebuah bukit bernama Momoyama (daerah Puri Fushimi)." Ia segera berlari. Kemudian Jotaro kembali berlari-lari mengenakan topeng. "Topeng saya tertinggal di sana. menjatuhkannya. katanya. Sebagian karena hubungan air yang langsung ini. tak peduli dengan jalan kegelapan dan jalan terang itu. Pak. sebutlah namaku." katanya. netcafe. dan katanya dengan sangat khidmat. tapi setidak-tidaknya kembalilah ke puri mengucapkan selamat tinggal pada Sekishusai. Puri Fushimi sedang dibetulkan. setiap gejolak politik di daerah Kyoto segera menimbulkan gemanya di Osaka. "Saya pergi sekarang. saya lupa!" kata Jotaro terengah." Takuan mengangkat kedua tangannya.property of: CROSSFiRE.

Memang bukan uangnya sendiri. Kerja pembangunan besar-besaran dilaksanakan juga di Edo. Di Fushimi saja. Seekor jangkrik melesat berkelok-kelok dari sungai ke sebuah rumah kecil di dekat tepi sungai. dua pekerja yang beruntung mendapat istirahat setengah jam dari kerja yang mematahkan tulang punggung itu berbaring telentang di permukaan sebuah batu besar yang lebar. Karena tak ada yang cukup kuat untuk menolak. tenang. Alasan sebenarnya kenapa kuil itu diperbaiki tidak diketahui oleh pekerja rendahan. Mereka harus dibuat masa bodoh terhadap politik dan diajar mengandalkan diri pada kekuasaan yang ada. Inc. Selama mereka dapat memenuhi kebutuhan remehnya. dengan Hideyori?" "Mana aku tahu? Apa pun yang dia lakukan. panas yang membakar mengingatkan orang pada hari-hari terpanas setelah musim hujan di awal musim panas. tapi kudengar Keluarga Tokugawa sedang membeli senapan dan amunisi kapal-kapal asing. para pengusaha besar menyimpulkan bahwa perbekalan militerlah yang paling menguntungkan. pelacur. Salah satu cara Ieyasu untuk mengendalikan para daimyo adalah memerintahkan mereka menangani proyek bangunan. sekaligus memaksa para daimyo yang melawan Ieyasu di Sekigahara berpisah dengan sebagian besar penghasilan mereka. Otsu." Lalat-lalat merubung kedua orang itu. Masyarakat luas gembira dengan masa baik yang didatangkan Ieyasu. Sebagai gantinya. Kebanyakan batu itu besar. Penguasa yang berbudi. Dalam hal ini pun Ieyasu tidak mengecewakan mereka. dan para pedagang mengkhayal bahwa di atas ini semua akan ada kesempatan buat terjadinya perang lagi—yang akan lebih menguntungkan. Dalam pertanian pun ia memperkenalkan sistem pengendalian baru. Hikone. Atap-atap rumah di desa itu berwarna abu-abu kering. dan selusin kota kuil yang lain lagi. adalah orang yang tidak membiarkan para penggarap Ebook by Kang Zusi . kenapa Ieyasu mengawinkan cucu perempuannya. Jenderal-jenderal Osaka tampaknya sedang mengumpulkan semua ronin yang dapat mereka temukan." "Kalau begitu. Tujuan lain pemerintah adalah memperoleh dukungan rakyat banyak. tak ada alasan untuk mengeluh. Padahal perbaikan itu merupakan satu tahap saja dalam program pembangunan besarbesaran. Kedua ekor binatang itu masih terpasang pada gerobak balok yang kosong. yang mengira Ieyasu akan tinggal di situ. Senhime. Nagoya. Dari sekarang. kehilangan warna lembut cahaya lenteranya di waktu senja. dan berliur mulutnya. melainkan uang orang-orang yang bisa menjadi musuhnya. Sesudah menghitung dengan sipoa kolektifnya. apa yang ada dalam pikiran Ieyasu. Akibatnya kota di sekitar kuil tiba-tiba dibanjiri para penjaja. luasnya paling sedikit dua meter persegi dan tingginya sekitar satu meter. Barangkali tak boleh aku bicara keras-keras. Pohon-pohon liu di dekat jembatan berkilauan putih. hampir seribu pekerja dikerahkan memperluas gerigi batu di atas benteng. "Kau pikir akan ada perang lagi?" "Kenapa tidak? Rasanya tak ada orang yang cukup kuat untuk memegang kontrol. Barang-barang berlalu lintas dengan sibuknya.property of: CROSSFiRE. netcafe. suatu bagian penting dari rencana pemerintahan Tokugawa. menurut jalan pikiran Ieyasu. para petani harus diperbolehkan menggarap tanahnya—dengan sedikit sekali mengerjakan yang lain." "Kupikir kau benar. bermalas-malasan di bawah sinar matahari. diam." "Memang kupikir begitu. benar-benar menggunung. Bagi mereka tidak banyak bedanya siapa yang berkuasa. kita boleh bertaruh. Penduduk kota dengan cepat melupakan hari-hari yang tenang pada masa kekuasaan Hideyoshi. karena ia dapat menghamburkan uang seperti menyebarkan gula-gula kepada anak-anak. sambil mengobrol tentang soal yang sedang menjadi buah bibir setiap orang. Walaupun waktu itu musim gugur menurut kalender. Dalam panasnya tengah hari. Segerombolan lain merubung dua ekor sapi jantan tak jauh dari situ. cara ini membuat tuan-tuan feodal yang bersahabat terlampau sibuk untuk melunak. Tujuannya sebagian besar bersifat politik. dan lalat langau—lambang-lambang kemakmuran. bahkan sekarang pun kebanyakan barangbarang itu berupa perbekalan militer. pasti ada alasannya. yang secara langsung atau tidak mendapat keuntungan juga dari pekerjaan umum yang besar itu. mereka berspekulasi tentang apa yang mungkin diperoleh di hari-hari mendatang. Tokoh-tokoh setempat tidak lagi diizinkan memerintah semaunya atau mengerahkan petani semaunya untuk kerja luar. Batu-batu itu mendesis-desis terkena sinar matahari yang mendidih. Orang-orang biasa macam kita ini tak mungkin tahu. Suruga. berdebu.

yang sedang duduk di antara dua batu besar. teman-teman dekatnya masih mengenalnya. sementara selama itu seorang perempuan yang lebih tua menanggung hidupnya. dan membikin iri seluruh kampung. Ketika ia menyandarkan diri kembali ke batu. Merasa mual. itu berarti menutup mata. Apa pun yang terjadi. ya? Kaukira kami punya uang buat semangka?" "Sini! Saya sih mau saja—kalau tanpa bayar. kadang-kadang memikirkan bekas tunangannya itu merupakan hiburannya satu-satunya. "Kukira Otsu pasti membenciku sekarang. Pada malam keberangkatannya. mulailah ia merindukan Otsu kembali. Mereka hanya memiliki harapan sederhana. Pekerja itu kurus. lalu memberikannya kepada gadis itu. sekaligus menjaga agar mereka tidak naik melebihi statusnya. Gerakan kecil itu saja sudah membuatnya kehabisan tenaga. Guncangan keras ini segera disusul gelombang cemburu hebat. si Wajah Berpupur. ia sudah ada di rumahnya di Miyamoto sekarang. Dengan jemu ia memandang semangka itu. Begitu muncul. ia mencondongkan badan ke samping dan mulai meludah ke rumput. Para pekerja di Puri Fushimi itu pun tidak memikirkan hari esok. petani. Ketika sifat Oko yang sebenarnya akhirnya ia pahami. sedangkan matanya yang hitam tidak memperlihatkan tanda-tanda kekuatan ataupun harapan. maupun daimyo tidak sadar bahwa mereka dengan hati-hati sedang dijalinkan ke dalam sistem feodal yang akhirnya akan mengikat kaki dan tangan mereka. Dengan lesu ia menghitung beberapa keping mata uang kotor dalam telapak tangannya. tanah mati kelaparan.. Untuk sesaat kelihatan olehnya seolah sudah terlambat untuk mengadakan perubahan. tapi dalam hal Matahachi. kepalanya merunduk murung. Baik orang kota. Inc. kecuali Ieyasu. sedangkan kulitnya merah sehat terbakar matahari. Aku dapat melakukan apa saja kalau aku mencoba!" Setiap orang bisa saja mengalami perasaan seperti itu. Kekeliruannya yang pertama adalah pergi ke Sekigahara. netcafe. Sampailah ia pada keyakinan bahwa sekiranya bukan karena kedua peristiwa itu. dan mencoba menanggalkan sifat malas dan kebiasaan buruknya. tunduk kepada janda yang menggairahkan itu. Yaitu sekadar melewati hari itu. Namun demikian. walaupun tidak begitu menaruh harapan. ia mengetahui bahwa Miyamoto Musashi yang meraih reputasi sebagai pemain pedang di ibu kota itu ternyata teman lamanya. ia sudah berhenti minum." Kecewa karena keberuntungan awalnya terhenti. dan kakinya menyandar pada batu lain. "Babi!" gumamnya lemah. Disumpahinya dirinya sendiri karena selama lima tahun tidak mengikuti arus perubahan. dan membebaskan diri dari Warung Teh Yomogi. tak mungkinlah keadaan mereka lebih buruk dari yang sekarang. "Belum terlambat!" demikiari ia meyakinkan dirinya. ia pun berhasil menjual semangka pada beberapa lelaki yang sedang mengadu mata uang di bawah bayangan batu besar. pemilik pedang kayu. Tak seorang pun berpikir tentang apa yang bakal terjadi lima ratus tahun lagi. Tetapi mulanya ia tidak dapat menemukan pekerjaan yang cocok. gadis itu mendekati seorang pekerja muda. Yang kedua. di waktu seperti itu. Bayangan kelelahan menyamarkan usia mudanya. "Semangka? Ya. "Umurku baru dua puluh dua. makin cepat makin baik. Yang dimaksudkannya adalah orang-orang yang hendak dibalasnya: Oko. Sekalipun mereka berbicara tentang perang dan tentang kapan perang bisa meletus. "Semangka?" tanya gadis itu. biasa berkeliling. Dan semenjak ia berakal sehat. matanya cekung. Dengan riangnya ia beralih dari satu gerombolan ke gerombolan lain sambil berseru. Takezo. menjadi kepala Keluarga Hon'iden. Tak seorang pun. siapa beli semangka?" seru seorang anak perempuan petani yang setiap hari. "Siapa lagi?" "Kamu gila. Sedikit pun tak ada lagi tenaganya untuk mengambil kembali semangka yang terjatuh dari pangkuannya. Karena ingat akan Otsu. dan Takezo. menjadi suami seorang istri yang cantik. Ia bersandar pada batu yang satu. Dialah Hon'iden Matahachi. Dengan kebijaksanaan inilah ia bermaksud mengabadikan kekuasaan Tokugawa.property of: CROSSFiRE.. meloncati jurang lima tahun lamanya. sedangkan tangannya merangkul lutut. Ebook by Kang Zusi .. semakin sering ia memikirkan Otsu. dan menjual tenaga sebagai buruh harian di Fushimi. namun rencana-rencana besar untuk menjaga perdamaian dan meningkatkan kemakmuran tidak berhubungan sama sekali dengan mereka. Apa gerangan yang sedang dia lakukan?" Dalam keadaan sekarang.

dan kilas cahaya tampak kembali pada matanya. ei. "Akan kutunjukkan pada semua orang!" demikian pikirnya. "Kenapa kamu beli semangka kalau kamu tak bisa makan semangka?" "Aku beli ini untuk kalian semua. bagus juga. seseorang melompat ke atas batu dan pekiknya. "Lima tahun." Para penghela batu besar yang tegap-tegap itu mencemoohkan kelunglaiannya. telah mencatat beberapa syairnya dalam sebuah surat. berapa sudah umur Otsu waktu itu. Lalu aku akan melakukan pembalasan. Ei. tua-muda. Yang Dipertuan Togoro. jelas telah mengetahui syair-syair itu dari sebuah pesta. manis menetes-netes itu. Justru pada waktu itu salah seorang teman kerjanya berdiri di seberang batu besar di depannya. kawan-kawan! Makan ini. Dari Awataguchi kita menariknya Menyeretnya batu demi batu-demi batu. sementara matahari menyengatnya dari musim panas sampai musim gugur. sa." Sepuluh tahun? Ia berhenti untuk menghitung. menyanyikan lagu ini. Tapi sepuluh tahun—tak mungkin! Tak akan lebih dari lima atau enam tahun! Dalam jangka waktu itu ia sudah mencapai sukses. Salah seorang bertanya. Begitu semangka habis. "Itulah satu-satunya cara!" ucapnya. tidak kurang dari Yang Dipertuan Hachisuka dari Awa. Kaki tangan kita gemetar. biarpun sudah mengalami peristiwa dengan Oko. apa yang kau gumamkan sendiri? Mukamu kelihatan hijau. Biar aku beristirahat di sini sekitar sejam." Ia menatap semangka itu. dan membujuknya untuk kawin. "Semua orang. membagi-bagi daging buah yang merah. Sambil menopangkan siku ke puncak batu besar lebar itu.. Tapi kita setia padanya-sampai mati. yang bertanggung jawab atas pembangunan Puri Nagoya. Hei. meminta maaf kepada Otsu. "Kukira itulah yang baik. netcafe. Matahachi. Karangan sederhana seperti di bawah ini menjadi semacam mode di tengah masyarakat. Bau keringatnya menyebar ke atas tanah. Matahachi yang bayar. yang tentunya tak ada kesempatan biarpun cuma menyentuh bahan-bahan bangunan." jawab Matahachi. hei. "Kukira terlalu banyak aku terkena panas matahari. Air liur keluar dari mulutnya ketika ia mengguncang-guncangkan kepalanya. karena lagu ini bagian dari dunia mengambang yang kita tinggali!" Ebook by Kang Zusi . Buat Tuan Yang Mulia. Pada waktu itu ia akan kembali ke kampung. ketika sebuah batu raksasa dipindahkan dengan pengumpil-pengumpil besar ke atas gelindingan dan diseret dengan tali-tali setebal lengan. walaupun dengan cara baik-baik saja. Di situ ia bekerja keras. karena aku tak bisa mengerjakan bagian kerjaku. Dengan ramainya pembangunan puri. Tarik ya! Seret ya! Tarik ya! Seret ya! Tuan kita bicara. dan akan kulakukan. "Hei. membudakkan diri dengan tekun dari hari ke hari. Inc. sekalipun sedang mau muntah.property of: CROSSFiRE. Penulisnya berkomentar. Batu itu maju dengan berat dan lambat. kenapa aku tak dapat memperoleh nama untuk diriku. Matahachi tak tahu sama sekali tentang apa yang belum lama itu terjadi di Mimasaka. lagu-lagu berirama ini pun berkembang biak. Segera kemudian terdengar lagu kerja para penghela batu di medan kerja itu. Yang kubutuhkan sekarang cuma sepuluh tahun. Tak dapat ia mengetahui bahwa khayalannya kosong." "Oh. "Ini bukan apa-apa. Apa semangka itu busuk?" Matahachi terpaksa menampakkan senyuman lemah. "Kembali kerja." Buruh-buruh pun memecahkan semangka itu di sudut batu dan menyerbu-nya seperti semut. atau paling banyak enam tahun. teman itu berseru. dan menunggunya selama itu? Sedikit kemungkinannya. sa. juga di antara para pekerja. namun sekali lagi ia terserang gelombang pusing. Sekalipun kata-katanya jarang dituliskan. Agak bangga juga ia dapat bertahan di situ. Yang Dipertuan. "Tak ada alasan. kalian!" Samurai yang bertugas keluar dari sebuah gubuk memegang cambuk.. seperti gunung yang bergeser. Tiga puluh satu! Apakah Otsu akan tetap sendiri. bukan apaapa!" Sengal-nya. Aku dapat melakukan apa saja yang dilakukan Takezo! Aku dapat melakukan lebih dari itu.

dan mengeluarkan kuas dari kantong tulisnya dan buku tulis dari kimononya. "Kau sedang kurang sehat rupanya. nyanyian yang spontan sifatnya cenderung memberikan tempat kepada musik yang digubah oleh para musisi yang mengabdi kepada para shogun. Tepat sebelum Pertempuran Sekigahara. Kemudian hari. Ketika kekuasaan Tokugawa menjadi lebih kuat. namun dengan perincian luas mengenai seluruh puri. lagu-lagu bahagia dan gembira sering terdengar di tempat umum. ia tetap tak bergerak. dan nyanyian dengan katakata "tarik-ya" itu mendengung. "Lima tahun. Calon prajurit itu membuat sketsa sepintas-lintas secara cepat." Ia kembali ke batunya sendiri. Sebuah emblem dalam bentuk kipas bertulang baja yang setengah terbuka. apa untungnya itu untukku? Aku kerja sehari penuh." "Sebetulnya lebih baik dari biasanya. aku tidak makan. "Terima kasih. puri ini diserang oleh kesatuankesatuan Tentara Barat. dan ia menengadah. tetapi pada tahun-tahun makmur kekuasaan Hideyoshi. termasuk juga iringan semut yang sedang berbaris di situ. ia kembali mengamati baikbaik lingkungan sekitar. duduk di situ. Orang lain tidak ada artinya sama sekali baginya. Kasih tahu aku kalau nanti ada orang dating lemparkan saja kerikil atau yang lain. dan kelihatannya tak mempan oleh panas yang tak menyenangkan itu. Di bawah tepi topinya. benteng." rintihnya. ia pun mendudukkan diri di samping sebuah batu yang lebar rata. ketika kerasnya kekuasaan Ieyasu mulai terasa. sungai. Ia duduk membelakangi pendatang itu dan sekali-sekali muntah. Ditiupnya pasir di atas batu itu. Matahachi meletakkan kepalanya ke tangan." katanya. termasuk juga menara utama. Kepalanya tertutup topi anyaman kasar dalam-dalam. Sekarang benteng ini tidak hanya dibangun kembali." katanya. dan kali-kali kecil. nada-nada itu kehilangan sebagian semangat gembiranya. Ia buka alas di atas batu itu. Inc." jawab Matahachi. Dalam keadaan seorang diri. menghiasi bagian depan topinya. dan dua pekarangannya. Ia mendekat dan memasukkan obat itu ke mulut Matahachi. Kalau tidak kerja. Ia sedang memandang kerangka bangunan dengan penuh renungan dan sedang menaksir medannya." "Kalau begitu. matanya bergerak ke sana kemari dari puri ke lingkungan terdekatnya. netcafe. yang kudapat cuma cukup buat makan sehari. Kepala itu demam oleh suhu tinggi. Umpamanya aku kerja keras." "Mau obat?" kata samurai itu sambil membuka kotak obat yang dipernis hitam dan menumpahkan pil-pil merah ke telapak tangannya. menderita kerusakan besar. "Sebentar lagi kau sembuh. Lagu-lagu populer pada zaman merosotnya ke-shogun-an Ashikaga pada umumnya bersifat dekaden dan kebanyakan dinyanyikan secara pribadi. Kaum buruh di Fushimi tidak sadar akan gema sosial lagu-lagu ini. dan mulailah ia menggambar. seperti segerombolan lebah. Ebook by Kang Zusi . pegunungan di latar belakang. melainkan juga diperkuat. Sekalipun panas matahari menyengat langsung wajahnya. Tinggi batu itu tepat sekali untuk meja tulis. Segera kemudian samurai itu tahu bahwa Matahachi sedang muntah. "Tapi apa gunanya. aku mau minta tolong. mengiang di telinganya. sehingga akan mengalahkan Benteng Hideyori di Osaka. namun lagu-lagu mereka benar-benar mencerminkan semangat zaman. Ia tidak melihat Matahachi yang waktu itu masih terlalu merana untuk peduli." Waktu itu dirasanya ada orang berdiri di dekatnya. Tampak olehnya seorang pemuda jangkung. juga sebagian paritnya. tapi saya pusing. apakah ada orang atau tidak di dekatnya. kini ia menjadi murung. dan pada halaman kedua ia mulai membuat diagram jalan-jalan dari belakang. dan di pinggangnya tergantung satu bungkusan seperti yang biasa dibawa oleh shugyosha." "Apa kau mau istirahat lebih lama di sini?" "Ya. "Hei.property of: CROSSFiRE. Sesudah beberapa waktu. kemudian sambil menopangkan kepala ke batu dengan sikunya. "Kenapa kamu?" "Panas ini.

pegawai-pegawai bejat! Terlalu biasa kalian menakut-nakuti orang banyak. jangan." "Apa dasarnya? Apa kamu perwira?" "Betul. dan waktu itulah tampak olehnya si pengganggu itu. Inspektur itu menjatuhkan belahan buku tulis tersebut. dan si inspektur menatap kembali dengan marahnya sebentar. seakan-akan menanti dilihat orang. supaya dapat memberikan peringatan. Orang itu berdiri diam. Siapa kasih kamu izin membuat sketsa?" "Lho. Nadi-nadi di dahinya menggelembung marah." "He. Ia menengadah dengan mata terkejut. berpakaian setengah zirah dan mengenakan sandal jerami. Kamu mesti menjawab beberapa pertanyaan. memperbaiki kedudukannya. kemudian mengulurkan tangan ke arah gambar. tapi tibatiba saja muncul inspektur proyek. Ebook by Kang Zusi . Ayo sini ikut aku!" "Jadi. Apa salahnya?" "Tempat ini penuh mata-mata musuh.property of: CROSSFiRE. "Uh-Oh!" ujar Matahachi pelan. dan buku tulis sobek menjadi dua. aku punya perintah untuk menyelidiki siapa saja di tempat ini yang kelihatan mencurigakan. kau menuduhku penjahat?" "Tutup mulutmu dan ikut aku. Kedua orang itu tarik-menarik. Inspektur mengambil buku tulis itu dan mengacungkannya tinggi-tinggi." "Oh." kata si inspektur." "Ini tugasku!" "Mengganggu urusan orang lain itu tugasmu?" "Kenapa? Apa tak boleh aku melihat?" "Orang bebal macam kamu tak bakal mengerti. "Lebih baik kamu memberi penjelasan baik-baik. Tapi kau boleh tahu. aku sedang membuat telaah tentang puri-puri dan ciri-ciri geografisnya buat rujukan masa depan. "Awas kamu!" seru si inspektur. dan menarik lembing kapaknya. Calon prajurit itu menangkap pergelangan tangannya dan bangkit berdiri." "Kupikir lebih baik aku menyimpannya. yang kemudian berdiri di belakang pembuat sketsa itu. Matahachi merasa bersalah karena tidak melihat pada waktunya. menginjaknya. Entah dari mana datangnya. Mereka semua mengajukan alasan macam itu. "Apa yang kamu lakukan ini?" serunya. Si calon prajurit melompat mundur selangkah." "Apa kelompokmu? Siapa komandanmu?" "Bukan urusanmu. Atau kuadukan kau. netcafe." salaknya. jangan!" teriak calon prajurit itu hendak merebut buku tulisnya. terpaksa aku mengikat dan menyeret-mu. "Kalau kamu tak mau ikut dengan sukarela. tiap kali kalian membuka mulut besar itu!" "Diam kamu! Ayo ikut!" "Jangan kau coba-coba denganku!" Calon prajurit itu tetap tak mau menyerah. Segera kemudian calon prajurit itu mengangkat tangan untuk mengusir lalat dari kerahnya yang berkeringat. Tak peduli siapa kamu. Kini sudah terlambat. "Kau tak punya hak. "Aku mau lihat dulu. Inc.

pengangkut tanah. tapi kata-kata itu kurang cepat waktunya untuk didengar si inspektur. segera bergerak. dan kelihatannya tidak berdagu. tapi seorang penjaga melihatnya dan menjegalnya dengan tongkat berpaku. hingga tak seorang pun dari beratus-ratus buruh yang ada di sekitar tempat itu. sempat melihatnya. Teriakan-teriakan marah mengudara dari kerumunan orang banyak. kemudian dibantingnya ke sebuah batu besar. "Jangan lepaskan dia!" Tanpa ragu-ragu lagi orang banyak itu menyerang si pelaku kejahatan. lawannya sudah beraksi. ia menarik pedang besarnya dan mengambil sikap menyerang. Para pekerja melanjutkan kerja keras seperti lebah. "Ada mata-mata! Mata-mata dari Osaka!" "Tak mau juga mereka itu belajar. hujan batu menimpanya dari segala jurusan. tapi ketika ia bersiap-siap menerobos lingkaran yang mengepungnya. Sesudah ditemukannya topi itu. "Ada apa?" "Perkelahian lagi?" Yang lain-lain mendengar seruan untuk memegang senjata. Kemudian ia menoleh ke sekitar tenang-tenang. Melihat calon prajurit itu melarikan diri. Mata pengawas umum para tukang kayu dan pembelah kayu yang berdiri di puncak perancah tinggi. "Orang udik tak berguna!" jeritnya. Namun ada sepasang mata khusus yang menyaksikan semua itu. sampai akhirnya seolah-olah ia terbang bersama angin. ia mengenakannya dengan hati-hati di kepala. Matahachi berteriak ngeri sambil menutup muka dengan tangan untuk melindungi diri dari gumpalan-gumpalan benda encer merah yang melayang ke arahnya. dan segera kemudian berkepul debu kuning di dekat gerbang kayu benteng yang memisahkan wilayah pembangunan dengan kampung. Ebook by Kang Zusi . Ia merebut tongkat dari tangan penjaga. Calon prajurit itu tidak terburu-buru melarikan diri. Sambil melolong keras ditangkapnya leher inspektur itu dengan sebelah tangan. karena kepala si inspektur sudah menganga di atas batu. orang itu belum lagi berumur tiga puluh. dan sekelompok serdadu. yang semula minum teh di bawah perancah. Menurut terkaannya. Sementara itu. Ia mengumpulkan dahulu bagian-bagian buku tulisnya yang robek-robek. ia meneriakkan perintah. si calon prajurit cepat kembali kepada sikap tenang sepenuhnya. seperti semangka. lalu menyerang si penjaga. Samurai itu berlari di belakang kereta sapi yang sedang keluar dari gerbang. Inc. dan mencoba menyelinap." "Bunuh dia! Bunuh dia!" Para penghela batu. Belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan. Mungkinkah orang itu sudah terbiasa mem-bunuh dengan cara brutal seperti itu? Ataukah sifat darah dingin itu sekadar akibat ledakan kemarahan? Karena gentar yang sehebathebatnya. Seluruh peristiwa itu terjadi demikian cepat. dan dengan ujung senjata itu ia banting si penjaga dengan kepala di bawah. dan lain-lainnya berteriak-teriak seakan-akan "mata-mata" itu musuh pribadinya. ataupun orang-orang yang mengawasi pekerjaan mereka. sementara para pengawas yang bersenjatakan cambuk dan lembing kapak meneriakkan perintah-perintah ke punggung mereka yang berkeringat. Matahachi mulai mengucurkan keringat. dan menyerbu ke arah samurai tak berdagu itu. dan dengan tangan lain dicengkeramnya ujung bawah baju zirahnya. Kemudian pergilah ia dengan langkah cepat dan semakin cepat. yang terus melawan seperti binatang kena perangkap. Setelah menjatuhkan empat atau lima orang lagi dengan cara seperti itu.property of: CROSSFiRE. Wajahnya yang kurus dan terbakar matahari itu bopeng. Orang-orang yang hendak menangkapnya undur ketakutan. Dari atas perancah pengawas terdengar teriakan. untuk mencari topinya yang terbang ketika ia melaksanakan lemparan hebat tadi. Matahachi sungguh terpesona. netcafe. yang memungkinkannya meninjau seluruh wilayah tersebut. Barangkali karena bekas luka pedang yang dalam dan mencekung aneh bentuknya. dan sekali lagi menyembunyikan mukanya yang mengerikan itu dari pandangan mata.

Seorang prajurit yang berbakat sederhana dapat mencapai sukses hanya dengan mengadakan perjalanan dari kuil satu ke kuil lain.. Inc. Dua pengawal berdiri di samping tubuh yang jatuh itu. Ia memang melawan mereka. tapi tak dimengerti oleh otaknya. Sementara Matahachi merenungkan samurai yang terbaring di depannya itu. terdengar oleh telinga. Barangkali juga ia sudah mati. seluruh jalan pikirannya mulai dirasa betul-betul bodoh olehnya. Sekarang dia sekarat. ataukah ia prihatin dengan kekaburan masa depannya sendiri? "Untuk orang yang mempunyai ambisi. Orang banyak melampiaskan kemarahan sepuas-puasnya. ringkik kuda yang sudah setengah kacau karena panas matahari. Selebihnya harus merasa puas dengan kepuasan yang dapat mereka peroleh dari pengetahuan bahwa citacita mereka sukar dan berbahaya. dan hidup dari kedermawanan para pendeta. pasti dia mempunyai ambisi besar dalam hidup. "Hei. kamu! Jaga orang ini. dan terlihatlah olehnya Matahachi." pikirnya. Tidak sedikit para penonton yang tidak bersalah ikut terluka dalam perkelahian itu. tapi agaknya ia lebih suka mengumpat para penyerangnya daripada menghindari batu-batu yang dilontarkan kepadanya. jangan seperti orang kasar bodoh!" teriak samurai yang sudah terkepung itu. Bunga-bunga api yang berterbangan dari berbagai alat pemotong. karena rasa benci yang dalam terhadap semua shugyosha. melecut mereka untuk memperbaiki statusnya dalam hidup. "Sudah sembilan puluh persen mati. hingga mengeluarkan suara pun tak bisa. padahal orang itu sudah sedemikian dekat dengan maut. Seperti umumnya orang kebanyakan. Kalau beruntung. sedangkan tulang keringnya yang putih menyembul dari tengah daging yang merah tua. ia dapat diambil oleh salah seorang bangsawan daerah. Namun. Teriakan mereda. dan kaum buruh mulai kembali ke tempat kerja masing-masing.property of: CROSSFiRE." Waktu itu adalah abad yang memacu harapan orang muda. tetapi melihat prajurit yang berlumur darah itu. netcafe. Kemudian dalam sekejap segalanya berlalu." Ia memandang ke sekitar.. yang mendorong mereka untuk mendambakan suatu impian." kata salah seorang pengawal." Ia merasa kasihan kepada samurai tak berdagu itu. Ke manakah arah jalan yang ditempuh Musashi? Keinginan Matahachi untuk menyamai atau melebihi temannya semasa kanak-kanak memang belum mereda. dan panas yang menumpulkan pikiran-semuanya kembali biasa. Darah merembes dari kulit kepalanya. dari mana dia datang. "He." demikian pikirnya. Biar dia mati." Matahachi mendengar kata-kata itu." Matahachi tercengkam oleh kesangsian aneh. dan sombong. Sikap mereka lebih kejam lagi. kenapa para pengawal mengambil tindakan berjaga-jaga demikian rupa. Semua itu seperti mimpi buruk yang tampak oleh mata. Kepalanya tergeletak miring di tanah. kaum buruh ini menganggap samurai pengembara tak berguna. mencoba menyuruh orang-orang itu berpikir dan menahan diri. abad ketika orang seperti Matahachi pun dapat berkhayal akan bangkit dari ketiadaan dan menjadi penguasa sebuah puri. tidak produktif. "jadi bisa kita tinggalkan dia di sini sampai hakim datang. dan jika lebih beruntung lagi ia dapat menerima penghasilan tetap dari seorang daimyo. Apakah ia benar-benar meratapi nasib orang itu. tak apa-apa. dan mukanya masih memperlihatkan kemarahan. seakan-akan tak ada yang telah terjadi. "mestinya ada cara yang lebih baik untuk maju. hanya satu dalam seribu yang benar-benar mengakhiri usahanya dengan menemukan kedudukan dengan pendapatan memadai. "Kalau dia belajar sungguh-sungguh. Kengerian tiba-tiba menyadarkannya bahwa prajurit di depannya itu bergerak. Tangan orang itu menjulur seperti sirip penyu dan mencakar tanah. dan apa orangtuanya masih hidup. Jalan Pedang pun jadi tampak sia-sia dan tolol. tapi kepalanya tidak dapat menangkap maksudnya atau makna peristiwa yang baru saja disaksikannya. Ya. Dalam lima menit saja wilayah pembangunan yang luas itu kembali seperti keadaan semula." pikir Matahachi. "Beberapa menit yang lalu dia masih sibuk membuat sketsa. yang telah diikat dengan tali rami besar. Padahal dia belum lagi tua. "Hidup ini begini rapuh. Sebelah kakinya menyembul aneh dari tengah sobekan panjang hakamanya. Dengan lemah ia Ebook by Kang Zusi . Semutsemut sudah hampir menutup kedua tangan dan kakinya. dari semua pemuda yang mulai dengan harapan-harapan tinggi itu. Tali itu mengikatkannya pada sebuah batu besar. dan tawon-tawon mulai terbang di sekitar rambutnya yang kusut. Matahachi merasa heran. dan urutan pikirannya pun tiba-tiba berhenti. hitam oleh kotoran dan darah kental. "Orang sial. Ingin tahu juga.

Kenapa nasib telah membutakan mata Matahachi. Di situlah terletak akhir air matanya dan kepastian mautnya. Ditengoknya dari balik sebuah batu. dan Matahachi menangkapnya sebagai ucapan "saya minta". Mendengar Matahachi ada di dalam rumah. ia memperlihatkan sebagian kulitnya yang putih dari balik pintu samping.property of: CROSSFiRE. saya bisa lihat dengan jelas. Maka lebih banyak lagi semut keluar dari dalam rumput untuk menjelajahi rambut yang memutih oleh debu itu. sedangkan seharusnya ia mengingat-kan orang itu akan datangnya sang inspektur? Apakah memang sudah ditakdirkan itu terjadi? Matahachi mencoba-coba meraba bungkusan kain dalam obi orang mati itu. ia dengar langkahlangkah kaki mendekat. Maka ia mengendap rendah-rendah dan menyelinap dari bayangan batu yang satu ke bayangan batu yang lain dan meninggalkan tempat itu seperti seekor tikus ladang. Sebagian di antaranya bahkan masuk ke dalam lubang hidungnya yang sudah tersumbat keringan darah. hingga tak mungkin baginya membentuk kata-kata. Maka diambilnya bungkusan itu dan dimasukkannya cepat-cepat ke dalam kimononya sendiri. dan serunya. Matanya yang menonjol dari ceruknya memandang dengan nada memohon kepada Matahachi. Inc. Isinya pastilah dapat mengungkapkan siapa orang itu dan dari mana ia datang. menyeret batu karang seberat hampir dua ratus kilogram yang menjadi tambatan tali pengikatnya. "Apa tidak gelap di situ?" seru perempuan itu. Kepalanya jatuh ke belakang dan napasnya berhenti. Dua jam kemudian ia tiba di toko manisan tempat ia tinggal. Napasnya terdengar sebagai desisan yang merongga terputus-putus." Ebook by Kang Zusi . Matahachi menduga bahwa permintaan orang itu di waktu sekarat adalah agar tanda mata yang ada padanya disampaikan pada keluarganya. Apakah yang diinginkan orang itu darinya? Matahachi merasa dikejar-kejar oleh pikiran bahwa kini ia menanggung kewajiban.. apakah akan memotong sedikit rambut orang itu untuk disampaikan kepada ibunya. "Kamu itu. "Tidak. pasti ia mengalami kesulitan hebat. Nanti saja. Samurai yang terbaring di ambang kematian itu telah dikuasai oleh suatu kekuatan setani yang memungkinkan-nya jauh melebihi kekuatan manusia biasa. tapi ketika sedang menatap wajah yang mengerikan itu. kemudian ia ikatkan handuk yang sudah digulung di sekitar kepalanya dan bersiapsiap mengenakan sandal lagi. sekalipun banyak orang menyombongkan diri memiliki kekuatan setara sepuluh atau dua puluh orang. dan tampaklah oleh Matahachi." "Akan saya bawakan lampu. tetapi lidahnya sudah menjadi hitam dan kering." Sedikit demi sedikit mengertilah Matahachi bahwa orang itu mengatakan "tolong". membasuh diri dengan air tempayan. Namun mata orang itulah yang terutama berbicara. "To-lo-lo-ng. Ia mencoba mati-matian untuk berbicara. Matahachi?" Matahachi menjawab dengan gerutuan keras. Saya akan pergi. dua kaki—sungguh suatu peragaan kekuatan seorang manusia super! Tak seorang pun manusia berotot atau tukang hela batu yang dapat melakukan itu.. Kemudian terdengar bunyi lain yang tak jelas ucapannya. Orang itu bergerak sedikit demi sedikit di tanah. kulit di bawah kerah kimononya sudah berwarna biru kehitaman. mengangkat tubuhnya. Hampir Matahachi tak percaya dengan matanya. kemudian masuk cepat ke kamarnya sendiri dan mengambil kimono dan pedang dari lemari. menegakkan kepala. Kalau tertangkap menyimpan milik orang mati itu. netcafe. Lalu ia bersoal-jawab dengan dirinya sendiri." "Apa tidak mandi? " "Tidak. Bunyi menggelegak terdengar dari tenggorokan orang sekarat itu. Satu kaki. Samurai itu sudah mendatanginya ketika ia sakit. dan menarik tali tegang-tegang. dan telah menunjukkan kebaikan hatinya dengan memberikan obat kepadanya. dan tampak olehnya seorang samurai datang untuk mengambil mayat itu. Istri pemilik toko sedang berada di samping rumah." "Tak perlu.

Ketika melintas gerbang yang tampak murung itu. ia pun mulai merasa sengsara karena harus berjalan. pada dadu semua adalah kemungkinan. Rasanya ingin ia melempar dadu untuk memutuskan ke mana akan pergi. Mereka memasuki toko manisan itu dari depan dan belakang. Orang itu duduk di samping perapian. Baru saja ia akan menyimpulkan rumah itu kosong. tapi sekarang ia lapar bukan kepalang. Tepi pakaiannya yang basah melibat kakinya. Ketika menengok ke dalam. Pemandangan di situ mengingatkannya pada sebagian sajak penyair Saigyo yang pernah ia pelajari di masa kanak-kanak: Saya dengar ada kenalan saya tinggal di Fushimi. Ia merasa makin jauh ia berjalan. dan kabut yang turun melembapkan pakaiannya. dan saya pergi berkunjung kepadanya. Kalau angin bertiup. Aku cuma mengambilnya untuk disimpan. Inc. karena ada keanggunan tertentu. duduk di kereta bertabir mewah yang sedang mendekati rumah itu dengan langkah megah. Hati Matahachi jadi menggigil. tetapi halamannya demikian tertutup semak! Saya bahkan tak dapat melihat jalannya. suling bambu yang biasa dimainkan pendeta pengemis apabila sedang mengemis di jalan-jalan. hingga Matahachi mendapat kesan bahwa ia cuma menaruh sedikit rasa bangga pada permainannya sendiri. dan di seberang sana tampak atap sebuah rumah. Api yang baru dinyalakannya bertambah terang. agaknya dirusak badai yang belum lama menimpa. Lebih-lebih karena ia yakin benar bahwa keberuntungan terletak di satu jurusan dan nasib malang di jurusan lain. Tapi ke mana ia harus pergi? Suatu pilihan yang sukar. kita bebas dari godaan. "Hampir saja aku celaka. Aku harus melakukannya. Sementara serangga-serangga menyanyi. Seperti halnya pada Matahachi. makin dalam ia masuk ke rumpun miskantus. ia tidak merasa melakukan kejahatan. Mudahlah ia menyelinap pergi dari situ. seberkas cahaya merah muncul dari dalam. ia terus berjalan menempuh panjangnya ladang itu. Ia membayangkan seorang wanita istana cantik. Osaka? Kyoto? Nagoya? Edo? Ia tak punya seorang pun teman di tempat-tempat itu. Tapi cobalah lihat diriku ini! Ebook by Kang Zusi . Namun rumah itu tadinya tentu milik satu keluarga berada. Ia meringkuk di dekat rumah itu sambil membisikkan kata-kata yang sudah lama dilupakannya itu. Ingatan mengenai rasa muak yang dialaminya tengah hari itu kini hilang. ratapan tunggal mengenai kesendirian dan sendunya musim gugur. dan bayangan dirinya di dinding makin besar. yang hanya dimaksud untuk telinga sendiri. Tapi bersamaan dengan itu ia pun sadar bahwa ia tidak dapat lagi memperlihatkan diri di wilayah pembangunan itu. tampak olehnya rumah utama dan rumah kecil yang terpisah itu sudah hampir terkubur rumput liar. Karena ingin menemukan tempat berbaring dan beristirahat. didapatinya si pemain memang anggota kelas itu." pikirnya. Bunga miskantus tegak setinggi bahunya. dan terlihat olehnya sekelompok samurai datang dari seberang padang miskantus. Orang itu bermain sederhana saja. tampak bahwa pagar dan pintu gerbang rumah itu miring. Tak sangsi lagi mereka datang dari puri. Di halaman penuh embun Serangga yang hina pun berlagu. saya pun menggubah sajak ini: Menerobos rumput liar. dan tabir kabut petang mengambang di atasnya. selama ia mengakui barang-barang itu bukan miliknya. Ia bergegas keluar menuju ladang dan cepat menghindar dari rumah jembel itu. Ketika lagu berhenti. Kusembunyikan rasa senduku Dalam lipatan lengan kimonoku. walaupun sudah layu. Atap rumah itu pun membutuhkan perbaikan. Segera sesudah merasa jauh dari jangkauan para pengejarnya. Serangga mendengungdengung di sekitarnya. Dia minta betul aku melakukannya. Beberapa menit kemudian ia menoleh ke belakang. "Tapi aku tidak mencuri sesuatu. "Orang bilang. Tulang keringnya gatal. netcafe. Ketika ia sudah lebih dekat. pendeta itu mengeluh dalam dan mulai meratap. Segera kemudian ia dengar ratapan merana shakuhachi.property of: CROSSFiRE. Tak seorang pun dapat melihatnya dari kejauhan. kalau kita berumur empat puluh tahun." Menurut jalan pikirannya. Ia memainkan lagu sedih. tanpa banyak kembang. angin akan membawanya berembus. Biji-biji rumput menempel ke lengan kimononya.

Bungkusan itu berupa kain krep kotor yang dicelup dengan celupan kayu sappan merah tua. seperti yang biasa terjadi pada orang lapar mana pun. Ia mendengarkan. Cepat ia mengosongkan sake itu dengan beberapa tegukan panjang. Ia tersenyum lebar. yang digulungnya dan dibawanya ke mana saja ia pergi itu. Dalam cahaya api yang mengejap-ngejap. dan rambutnya tidak mengilat. tabirnya. hanya untuk menghangatkan bangkainya sendiri yang tak ada manfaatnya bagi siapa pun.property of: CROSSFiRE. Pipi pendeta itu cekung. melainkan juga dari dinding. nama baik. tetapi jijik dengan apa yang dilihatnya. netcafe. apa yang harus kuperbuat?" rintih pendeta itu lagi sambil mengangkat matanya yang cekung ke langitlangit. dan ketika ia mengguncangkan guci itu. Telah kubiarkan anak lelakiku satusatunya mengurus diri sendiri di dunia yang brengsek ini. "Ketika urusan dengan Otsu itu terjadi. Mereka bisa saja menyalakan api di ruang besar sebuah biara tua. betapa besarnya bahaya api. "Oh. langitlangit. Di dalam kuali itu ada sedikit bubur nasi. namun kurang pikir tentang hak milik orang lain. Tak apa-apa kalau yang terbakar habis cuma rumah tua yang kosong itu. tak punya keluarga. Ketika pakaian dibuka. Terdapat juga sebuah pundipundi yang seketika jatuh dari lipatan kain dengan denting nyaring. Tepat sebelum berlayar ke alam tidur. kemudian mengosongkan isi kuali nasi dan mengucapkan selamat kepada dirt sendiri karena perutnya sudah kenyang. mestinya yang dibicarakan itu orang-orang besar. Matahachi masuk kamar kosong itu. Ha! Kalau orang berbicara bahwa kita menjadi bijaksana sesudah umur empat puluh. Untuk apa? Cinta buta? "Memalukan—tak dapat lagi aku menghadapi arwah istriku. Tikar buluh tempat ia duduk. "Tapi ini ada yang menarik." gumamnya sambil menolehkan matanya ke arah ceruk kamar. merasa bersyukur atas nasib baiknya. terdengar dari dalamnya suara gemericik gembira." Karena dikiranya orang itu kurang waras. di mana pun ia berada. juga atapnya. sosok tubuh orang itu menimbulkan khayalan tentang setan-setan malam. dan menuangkan isinya ke api. tapi bagaimana kalau yang terbakar itu kuil kuno dari zaman Asuka atau Kamakura? Matahachi merasakan gejolak kemarahan yang jarang terjadi padanya. teringat olehnya bungkusan yang diambil-nya dari prajurit yang sekarat tadi. Ia bangun dan membukanya. Bukan hanya itu. Pendeta itu memungut shakuhachi-nya dan berjalan dengan lesu ke luar rumah. Daripada menganggap diri bijaksana karena usia. Mereka tak pernah berpikir. dan tikar tatami yang membusuk. Sungguh gila tidak berhati-hati. tapi berdirinya sudah begitu goyah. serta barang-barang yang biasa dibawa musafir. nyala api dari ranting-ranting patah mulai membakar lantai. dan dalam cuaca buruk.. Empat puluh tujuh ketika kuhancurkan nama baik keluargaku. Inc. Bukan pola anggun kamar ataupun sisa-sisa jambangan berharga yang memikat perhatiannya. bukan orang-orang tolol seperti aku ini. tak seorang pun mau memaafkan aku lagi. terlambat. barangkali satusatunya harta rumah tangganya-tempat tidurnya. bahunya kelihatan lancip seperti bahu anjing liar. "Dia belum lagi tua. Sambil mengangguk-angguk mengantuk di samping perapian. Matahachi meringkuk diam-diam. Empat puluh tujuh tahun! Dan masih saja aku tergoda angan-angan buruk dan kehilangan semuanya-pendapatan. menemukan kendi air. Karena tiupan angin malam. Pundi-pundi itu terbuat dari kulit bercelup Ebook by Kang Zusi . "Sungguh orang aneh!" pikirnya. P'u-hua. di dekat lukisan dinding. "Pendeta-pendeta pengembara yang gila ini tak punya harta milik. Matahachi seperti melihat ada kumis menyerabut di bawah hidungnya yang kurus." Sambil menegakkan shakuhachi di depannya dan mengganjalkan kedua tangan pada pipinya. lebih baik aku harus lebih berhati-hati. juga anak lelakiku." Matahachi merangkak masuk kamar sebelah. yang menunjukkan bahwa ia pengikut guru Zen Cina. terbungkus dengan amat hati-hati dalam kertas minyak. alangkah cerobohnya pendeta itu. tetapi ia mengenakan juga baju jubah hitam. melainkan sebuah kuali logam yang sudah hitam dan sebuah guci sake bermulut sumbing di sebelahnya. kalau soalnya menyangkut perempuan. ia mendengar dengung serangga yang seperti hujan datang dari ladang gelap di luar—tidak hanya dari ladang." pikirnya. ia meneruskan. Kimononya polos dan kumal. kedudukan. Matahachi merasa sedikit kasihan kepadanya. Isinya pakaian dalam yang sudah dicuci bersih. Sambil melakukan itu terpikir olehnya.. ditemukannya sebuah benda yang ukuran dan bentuknya seperti gulungan surat.. "Justru karena orang-orang seperti dia itu kuil-kuil kuno di Nara dan Gunung Koya begitu sering hancur. Sudah terlambat.

Bunyinya. Segera ia merasa bahwa gulungan itu mengandung rahasia penting. Ia pun tidak tahu bahwa Jisai seorang samurai yang baik sekali wataknya. hingga tangan Matahachi gemetar ketakutan. apa pun macamnya gaya itu. warna lembayung. yang dengan nama Ittosai telah menciptakan gaya main pedang yang terkenal dan sangat dikagumi. dan di dapur tak berpintu pada rumah tak berpenghuni itu jejak-jejak rubah yang masih baru simpang siur di lantai." Macahachi membacakan doa pendek kepada sang Budha untuk Sasaki Kojiro. yang telah menguasai Gaya Toda Seigen sejati dan telah mengundurkan diri ke sebuah kampung terpencil untuk menghabiskan masa tuanya sebagai orang tak dikenal. SERTIFIKAT Dengan sumpah suci saya bersumpah telah menurunkan kepada Sasaki Kojiro tujuh metoda rahasia seni pedang Gaya Chujo berikut ini: Secara terang-terangan . Usaka Demesne. Provinsi Echizen. tetapi nama Kanemaki Jisai itu tak ada artinya sama sekali baginya. pada bari. Ketika dibukanya kertas minyak yang membungkus barang yang panjang. terdapat sebuah sajak. dan udara dingin pagi hari mengisyaratkan musim gugur sudah benarbenar dimulai. Segera ia jatuh tertidur. gaya roda. barangkali orang yang berasal dari tempat kelahirannya. Secara rahasia . kemudian membaringkan diri di dekat perapian.property of: CROSSFiRE. tampak sebuah gulungan dililitkan pada sebuah gelindingan dengan kain brokat emas di ujungnya. Dia tentunya ingin aku menyampaikan ini pada seseorang. tapi ia tidak tahu bahwa Jisai guru Ito.. Betul sekali dugaanku.Berlian. Olah Batin. bukan uangku. Ebook by Kang Zusi . dan pelan-pelan dibukanya. Isinya emas dan perak dalam jumlah demikian banyak. "Sasaki Kojiro ini pasti samurai yang terbunuh di Fushimi hari ini. "Dia tentunya pemain pedang mahir yang patut mendapat hadiah surat keterangan untuk Gaya Chujo. Tak Terhingga.gaya kilat. gaya perahu mengapung. "Ini uang orang lain. sementara gelombang pedih mengalun di atas desir ladang. murid Toda Seigen Di atas secarik kertas yang agaknya ditambahkan kemudian." pikirnya. Matahachi membaca kembali nama pertama itu. Untuk menghilangkan rasa dingin." demikian ia mengingatkan dirinya. Dikeluarkan di Kampung Jokyoji. Ia pasti akan dapat mengenali nama Ito Yagoro. Bajing-bajing berkeliaran di mana-mana. Inc. Sungguh sayang dia mesti mati! Tapi aku jadi yakin sekarang. bulan… Kinemaki Jisai. Dengan rasa ingin tahu yang besar diletakkannya gulungan itu di hadapannya. bagian 9 Berkumpul kembali di Osaka LADANG itu diselimuti kabut kelabu. Bulan yang memancarkan sinar Ke air yang tiada Dalam sumur yang belum digali Menghasilkan manusia Tanpa bayangan ataupun bentuk Matahachi sadar bahwa ia memegang sertifikat yang diberikan kepada seorang murid yang telah mempelajari segala yang diajarkan gurunya. Dari kejauhan terdengar bunyi shakuhachi pendeta tua itu. dan sesudah itu menurunkan Metoda Seigen hanya kepada beberapa murid pilihan.. netcafe. Lagu sedih yang agaknya mencari-cari sesuatu dan menyeru pada seseorang terus mendayu-dayu. kemudian berjanji pada diri sendiri bahwa bagaimanapun ia akan melaksanakan misinya yang baru ini. gaya bulat. ia menghidupkan api kembali.

"Kamu. hidungnya mengerut. Ketika ia membuka matanya dan duduk." "Kamu mesti berbuat lebih dari itu!" "Apa yang mesti saya lakukan?" "Kembalikan nasi dan sake itu!" "Ah! Dua-duanya sudah dalam perut saya dan sudah memperpanjang hidup saya satu malam. Tangannya masih menggenggam shakuhachi. dan di sana-sini dikotori rumput yang menempel selagi ia mengembara seperti orang hilang melewati malam. Setelah pemeriksaan cepat.. Tak bisa saya mengembalikannya sekarang!" "Tapi aku mesti hidup juga. dan berguncanglah tubuhnya oleh bersin hebat." kata Matahachi dengan sikap meremehkan. Pendeta pengemis yang kembali dengan terhuyung-huyung sebelum matahari terbit membaringkan diri karena lelah di lantai kamar sepen. kepalanya berbantalkan satu lengan dan air liur menetes dari mulutnya.property of: CROSSFiRE. Ia tidur nyenyak. Sambil memekik seru ditendangnya si penidur itu sekuat-kuatnya. tetapi nasi adalah soal hidup dan mati. Kimono dan jubahnya yang kotor basah oleh embun. tapi buatku itu makanan sehari-hidup sehari!" Pendeta itu menggeram dan mencengkeram pergelangan tangan Matahachi. Ia duduk di sana beberapa menit. Sebagai gantinya ada seorang asing di dekat perapian... Namun ia tidak berusaha menghapus ingus yang mengucur dari hidung ke kumisnya yang tipis. Sambil menggumam sendiri ia berjalan menyusuri gang panjang ke kamar perapian di bagian belakang rumah itu. tanpa sake ia masih tak apa-apa.!" gagap pendeta itu dan menendang sekali lagi. "Apa pula ini?" teriak Matahachi." "Keledai kamu! Mungkin kamu menampik nasi sisa. Inc. tendangan saja belum cukup! Siapa bilang kamu boleh masuk rumah ini dan mencuri nasi dan sakeku?" "Oh. Pendeta itu merah padam oleh amarah. kemudian menarik tangan dari bawah badannya dan dengan malas mengangkat kepala. karena guci sake sudah tidak ada di tempat-nya. "Jangan menendang macam itu!" "Oh. tapi Matahachi hanya berkomat-kamit sambil mengantuk. kamu. lubang hidung dan matanya membuka lebar. "Takkan kulepaskan kamu begitu saja!" "Jangan seperti orang sinting begitu!" bentak Matahachi. Tetapi alangkah heran ia. "Buat apa pula mesti jengkel hanya karena sedikit nasi dan kurang dari setengah guci sake kelas tiga. terbukti tak sedikit pun tertinggal bubur beras yang maksudnya untuk sarapan." "Maaf? Apa gunanya itu buatku?" "Saya minta maaf. Tentu saja bukan hanya sake yang hilang. Maka jelaslah ke mana larinya sake itu. Ditariknya lengan-nya keras-keras sampai lepas Ebook by Kang Zusi . netcafe. dan suaranya bagi Matahachi terdengar seperti suara setan lapar yang langsung datang dari neraka. Di siang hari terdapat lebih banyak kamar di rumah itu daripada yang kelihatan waktu malam hari. kan? Paling banyak yang kudapat dari keliling-keliling main musik di pintu gerbang orang banyak itu cuma sedikit beras atau beberapa tetes sake. "Janganlah begitu kikir. Dungu kamu! Kaukira aku bisa berdiri saja diam-diam dan membiarkanmu mencuri makananku? Kuminta kembalikan barang itu!" Nada yang dipergunakannya mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal itu penuh paksaan. jadi nasi dan sake itu punyamu?" "Tentu saja punyaku!" "Maaf. tapi pendeta itu dapat menemukan jalannya tanpa kesulitan.. Urat-urat nadi menggelembung pada wajahnya yang mengantuk itu ketika ia melompat berdiri. sebelum akhirnya teringat bahwa ia masih menyimpan sedikit sake sisa malam sebelumnya.

Si pendeta sudah siap menangkis serangan dengan shakuhachi-nya. tetapi belum-belum ia sudah tersengal-sengal mencari udara. hukuman yang dijatuhkannya pada diri sendiri lebih banyak Ebook by Kang Zusi . sebelah kakinya terayun-ayun masuk ke sebuah lubang. Sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. netcafe. Sambil meludah semulut penuh Matahachi bangkit berdiri. Keluarkan kepalamu yang tolol itu. Biarpun tinjunya sakit dan napasnya sesak. Akhirnya Matahachi celaka oleh kecerobohannya sendiri. Ditangkapnya bagian depan kimono Matahachi dan dipukulinya kepala Matahachi. "Sungguh aku keledai!" sambungnya. maka tak mungkin Matahachi menebaskan pedangnya. Karena sebelah kakinya terjerat. dengan menggunakan kekuatan Matahachi sendiri. Matahachi berseru. Setiap jatuhnya pukulan diikuti bunyi gemerincing mata uang yang jatuh ke lantai. "Apa belum juga sadar aku akan diriku? Pada umur ini? Juga sesudah terbuang dari masyarakat dan tenggelam sedalam-dalamnya?" Ia menoleh ke tiang hitam di sampingnya. kemudian membenturkan kepala lagi ke tiang. "Lihat tidak. dan menyerang orang tua itu. menghunus pedang. Muka orang tua itu tampak seperti hantu. orang tua sinting? Tak perlu kamu naik darah cuma karena nasi dan sake sedikit saja. terdengar teriakan sedih. "Nah. dan dicengkeramnya rambut orang tua yang sudah jarang itu. sikapku yang mementingkan diri sendiri. sebagian besar dinding itu runtuh menghujani Matahachi dengan kotoran. tapi katanya berbisa. dan ia rupanya sudah hampir pingsan. melainkan meletakkan wajahnya ke lantai dan mulai menangis. Dan Matahachi pun terus berguling. Ia rupanya bermaksud menghantamkan dahinya sampai belah menjadi dua. tapi terus juga ia mengayun tanpa kenal ampun dan tidak memberikan kesempatan kepada pendeta itu untuk memperoleh papas kembali. sampai akhirnya berdebam menghantam dinding plester di sisi luar kamar sebelah. dan dengan sekali tolak saja Matahachi pun terguling. Kepalanya tampak membengkak sampai sebesar tong. Inc. tak dapat ia tidak menatap uang itu dengan heran. lain ia coba melontarkan orang itu dengan sentakan cepat. dan akan kubayar kamu dengan bunganya untuk ganti nasi dan minumanmu itu!" Si pendeta bukannya menjawab cacian itu. Kemarahan Matahachi mereda sedikit. dari cengkeraman. kebodohanku. tapi waktu itu orang tua itu sudah tidak marah lagi. sikap mencela diri sendiri itu lebih hebat daripada yang dimiliki kebanyakan orang. Sampai sedemikian jauh. terus saja berantakan. Matahachi jatuh telentang. dan mulailah ia membenturbenturkan kepalanya pada tiang itu. Ayunan pedang tidak mengenai sasaran. papanpapan berderak dan patah. seperti rengek orang yang sedang sekarat.property of: CROSSFiRE. Suatu gerakan cekatan. kegairahanku. pelipis dan tubuhnya-mana raja yang dapat dikenai shakuhachi-nya. Orang tua itu menangis beberapa waktu lamanya. Berkali-kali ia melompat mundur. Dan setiap kali menghantam. namun begitu kakinya menginjak lantai beranda yang lapuk. Matahachi segera membebaskan kakinya dan melompat meloloskan diri. Tapi sudah terlambat. dan nafsu-nafsu jahatku lewat kelima lubangnya? Bagaimana mungkin aku mengizinkan diriku terlibat dalam pertarungan hidup-mati hanya demi secuil makanan dan minuman? Dan dengan orang yang pantas menjadi anakku pula?" Belum pernah Matahachi melihat orang seperti ini. Rintihnya. lalu melepaskan korbannya. Ketika pendeta itu melompat ke kebun. "Bajingan kamu!" salak Matahachi sambil menaksir kekuatan lawannya. sungguh memalukan diriku!" lolong sang pendeta. "Kenapa aku memainkan shakuhachi ini? Apa untuk mengusir khayalanku. Matahachi tak berdaya. Pendeta itu mencengkeram erat leher Matahachi dan tak hendak melepaskannya. tapi beruntunglah ia karena pada detik itu keping-keping emas dan perak mulai berjatuhan dari kimononya. Matahachi mengikutinya dengan membabi-buta. "Coba lihat dirimu itu! Begitu melihat uang. ia menggeram keras. Uang bisa kubuang-buang! Ambillah kalau kau mau! Tapi sebagai gantinya kau mesti menerima kembali pukulan yang sudah kauberikan padaku. Si pendeta melompat menyerang. Pendeta itu menghujamkan kakinya mantap-mantap ke lantai. "Apa itu?" seru si pendeta tersengal-sengal. "Kenapa aku jadi begini tolol!" Seperti halnya kekuatan yang baru saja dipakainya untuk berkelahi. Namun karena ia terusmenerus beralih kedudukan. Tapi alangkah terkejutnya ia karena tubuh yang kelaparan itu tidak beranjak. lihat sekarang akibat ulahmu sendiri!" pekik Matahachi sambil mengayun pedang. Lompatan itu tidak melenting." "Oh. Setiap kali ia mengelak. Karena tiang-tiang dan galar-galar sudah lapuk.

Ebook by Kang Zusi ." "Betul? Aku dari sana juga—Mimasaka. Lupakan bahwa aku pernah mengatakan sesuatu. sekarang ia pandang uang itu dengan penuh kejijikan." "Kalau begitu apa?" "Aku muak dengan diriku." "Kukira begitu. tapi tak mau aku mati seperti orang bebal yang bodoh." Ia berdiri. katanya. Inc." "Kau rupanya dari provinsi barat. Matahachi merasa berkewajiban mencegahnya menyiksa diri lebih lanjut. "Kuberikan ini padamu. tapi waktu itu aku menjadi semacam prajurit. kataku!" Meskipun sebelum itu telah meledak kemarahannya gara-gara secuil bubur nasi." "Biarkan aku sendiri. "Tapi ada apa kau ini?" "Tak ada apa-apa.. "Hentikan! Apaapaan kamu ini." Sampai di situ mendadak ia berhenti. ia membalikkan badan dan masih terus berlutut. Namaku Aoki Tan. Kehilangan kendali diri telah membuat diriku marah. "Aneh juga kau ini." "Mimasaka?" ulang si pendeta sambil menatap Matahachi. ya? Kentara dari tekanan katamu.. Sebentar kemudian darah mulai mengalir dari keningnya.property of: CROSSFiRE." "Pasti ada. itu nama yang membawa kenang-kenangan. dan barangkali kamu akan memaafkan aku. Aku ingin kuat dan jujur seperti orang lain. Apa kau sakit?" "Tidak. "Miyamoto? Oh." kata Matahachi. "Ah. "Di mana di Mimasaka? " "Kampung Yoshino." "Aku tak ingin!" teriak pendeta sambil cepat menarik tangannya." Karena merasa kasihan kepadanya. sebelum aku membuang daging ini." Sampai di situ ia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju ladang miskantus. Anda pernah jadi samurai di tanah perdikan Himeji?" "Ya. Aku mau memukul badanku yang jahat ini sampai mati dan menyuruh burungburung gagak memakannya. dan mencari sesuap nasi. kemudian tiba-tiba pula melanjutkan." "Kalau begitu. itu tidak betul. Tepatnya Miyamoto." "Tapi kau berbuat aneh. Kukira sekarang tampangku sudah tak pantas lagi. Matahachi memungut uang yang jatuh itu dan mencoba memasukkan sebagian ke tangan si pendeta. Sambil menundukkan diri di beranda. jumlahnya daripada pukulan yang dijatuhkannya kepada Matahachi. "Sebagian karena kesalahanku. Aku cuma mengarang-ngarang." katanya dengan nada minta maaf. Aku lahir di Himeji. "Aku akan pergi ke kota. Pernah aku bertugas jaga di Benteng Hinagura. Aku tak perlu uang. katanya tenang. "Kukira tidak. Kupikir kau dapat menamakan ini penyakit. "Aku tak perlu uang." pinta si pendeta. netcafe. Aku kenal betul daerah itu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan hebat. main shakuhachi." "Tak usahlah kamu kuatir." Orang tua itu tampak santai. "Hai! katanya.

asalkan tidak banyak. kenapa pula ia menghabiskan waktu dengan mencari keluarga orang mati? Banyak hal dapat dilakukan di sini. Matahachi bertanya apakah ada yang mengetahui tentang Jisai. Hideyori diam-diam menyediakan dana untuk para daimyo pelarian seperti Goto Matabei. pasti dia sudah sangat tua.property of: CROSSFiRE. rumah makan. Orang itu agaknya ronin. Tentu saja tidak secara terang-terangan. dan pilihan apa lagi yang ada padaku. "Anda bisa pergi ke Echizen dan mencari dia di sana. Ya. "aku pasti membutuhkan biaya. Orang mencari para pemuda seperti dirinya. saya sudah pernah mendengar nama itu. tapi tidak ada jaminan apakah dia masih ada di sana. Tinggallah kini persoalan surat keterangan Sasaki Kojiro. mulailah Matahachi berpikir-pikir. Tak lama kemudian tekad Matahachi pun merosot. dan beberapa waktu lamanya sudah tidak kelihatan lagi di Kyoto atau Osaka. namun cukup terbuka. Dikatakan misalnya. Akashi Kamon. Sanada Yukimura. demikian diputuskannya. "Ya. netcafe. tapi ketika Matahachi mulai mencari Ittosai. Dia bukan instruktur pribadi Yang Dipertuan Hideyori. Anda mesti pergi ke Puri Osaka dan bicara dengan orang yang namanya Tomita Mondonosho. apakah benar sikapnya menawarkan uang yang berasal dari pundi-pundi samurai yang telah mati kepada pendeta itu? Tapi segera kemudian ia sudah dapat memecahkan dilema itu dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa mungkin tak ada salahnya meminjam uang itu sedikit. tapi dia memang mengajarkan ilmu pedang pada sejumlah samurai di puri itu. dan bahkan Chosokabe Morichika yang berbahaya. orang itu sampai barubaru ini masih tinggal di sebuah gubuk kecil di Shirakawa di sebelah timur Kyoto. Bahkan tambahan keterangan bahwa Jisai murid yang diakui Toda Seigen tidak mendatangkan tanggapan. "Saya pernah mendengar tentang Jisai. Di sebuah kota yang terbuka lebar seperti ini. dan ia bermaksud meninggalkan seluruh urusan itu. dan orang yang memberikan keterangan kepada Matahachi merasa cukup yakin bahwa orang itu keluarga yang sama dengan Seigen. Kesibukan dan kegairahan kota itu menyulut kembali ambisinya dan menggelitik jiwa mudanya. yang pasti tahu segala sesuatu tentang Sasaki." Saran pemilik rumah penginapan itu tampaknya masuk akal. apa tidak lebih mudah menjumpai Ito Ittosai? Saya agak yakin dia mempelajari Gaya Chujo pada Jisai. Kalau Anda ingin tahu lebih banyak tentang dia. Desas-desus sembarangan beredar di antara penduduk kota. hingga semenjak hari itu mulailah ia menggunakan uang itu sedikit demi sedikit. tapi sekarang sudah tidak tinggal lagi di sana. dan rumah penginapan. tapi kalau dia masih hidup. ia menemukan dirinya berada di jalan buntu lain lagi. Sejauh yang dapat diketahuinya. Ada yang bilang dia pergi ke timur dan menjadi pertapa di sebuah desa di Kozuke atau di tempat lain lagi. Sesudah orang tua itu pergi. Satu-satunya harapan. Di Puri Fushimi. Akhirnya seorang samurai yang kebetulan dikenalnya di jalan memberikan titik terang. Atau setidaknya pernah mengajarkannya. kalau bukan mengambilnya dari kantong yang kubawa ini?" Sikap membenarkan diri sendiri yang sederhana itu demikian menyenangkan." Mondonosho agaknya salah seorang guru Hideyori dalam seni perang. Namun di sini para jenderal yang menguasai Puri Osaka mencari ronin untuk dijadikan tentara. Dalam perjalanan dari Fushimi ke Osaka. itulah yang dia lakukan. Ebook by Kang Zusi . "Saya percaya dia cucu Toda Seigen. Setibanya di Osaka. Daripada mengadakan perjalanan begitu jauh hanya berpegangan dugaan. tapi tak mungkinkah misalnya ia bekerja pada seorang daimyo? Matahachi tidak menemukan jawaban atas soal dari manakah asal orang itu. yang sekarang tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan sempit di luar kota." demikian pikirnya. dan segera sesudah beres ia bertanya pada pemilik rumah penginapan. adalah menemukan guru pedang Kanemaki Jisai. di tiap warung teh. Karena itu pula ia tak tahu ke mana harus membawa surat itu. boleh jadi dia sudah kembali ke Echizen beberapa tahun yang lalu. para pejabat secara tulus-ikhlas melaksanakan kebijaksanaan pemerintah Tokugawa. Walaupun kecewa karena tidak terangnya petunjuk yang pertama didapatnya itu. "Kalau kusampaikan uang itu ke rumah orang yang mati itu seperti dimintanya. Semua jawaban yang diperolehnya negatif. Matahachi memutuskan untuk mengikutinya. Saya pikir. sebelum mengembangkan gaya sendiri. apakah orang itu tahu orang yang bernama Tomita Mondonosho di Puri Osaka. ia menyewa kamar di sebuah rumah penginapan murah di salah satu jalan ramai. hingga sudah umum diketahui ronin lebih diterima dan dapat hidup lebih baik di sini daripada di kota puri mana pun di negeri ini. Inc." jawab pemilik rumah penginapan.

Keberuntungan sedang mencarinya. Tuan. dan pulang apabila ingin pulang. Untuk pertama kalinya selama bertahuntahun ia merasa seberani dan setak-kenal-takut seperti ketika berangkat perang dulu. kalau kita masih belum mendapat kesempatan. orang-orang yang berkelahi itu sudah balik kanan dan angkat kaki. dan suasana musim dingin terusir oleh suara para pedagang yang menjajakan barang dagangannya diiringi suara gong bertalu-talu dan genderang berdentumdentum." Ketika ia bertanya kepada pembuat sadel apakah ia tahu kedudukan seperti itu.. Kemudian. namun sekarang sudah tampak mengendarai kuda dengan megahnya. Sekalipun masih muda. Semakin siang jalan-jalan semakin berlumpur. Pada suatu petang terjadi perkelahian antara para pembeli sebuah warung sake yang menempatkan beberapa bangku di tepi jalan. dan dengan hati-hati memilih bahan yang cocok untuk cuaca di musim dingin yang sudah mendekat. Ia melihat apa yang ingin dilihatnya. Tetapi ia merasa sudah berlaku lebih baik daripada kapan pun sebelumnya. meninggalkan jejak tetesan darah. "Dunia ini dinding batu. Kalau kamu mengajukan permohonan di puri. Namun umum diketahui bahwa ada tujuh atau delapan ratus ronin bekerja padanya. apabila semangat menghendakinya. karena menurut anggapannya hidup di sebuah rumah penginapan terlampau mahal. pasti kamu mendapat tempat." kata penjual sake kepada Matahachi. Belum lagi dapat dikatakan siapa yang menang. Pakaian baru! Itulah yang dia perlukan. tak gentar oleh semakin menipisnya uang samurai yang sudah mati itu. "Terima kasih. Berkat penampilan Matahachi yang Ebook by Kang Zusi . Di sinilah ia akan meraih kesempatan menuju sukses. "Apa yang kubicarakan ini? Memang begitulah kelihatannya. Bau kecap murah mengambang di udara. la merasa sehat dan hidup kembali. Sering ia pergi sepanjang malam." Tetapi menemukan pekerjaan yang tepat tidaklah semudah itu.property of: CROSSFiRE. Di pusat kota ada bidangbidang tanah kosong. karena ia percaya bahwa akhirnya nasib baik telah beralih kepadanya. semua keluar dari kantong pribadi Hideyori. seorang penghubung yang akan mengantarkannya ke kedudukan dengan gaji besar pada seorang daimyo besar. dan waktu senja wanita-wanita berbaju lengan panjang dan berbedak tersenyum-senyum tolol seperti biri-biri. Sambil hidup bersenang-senang. Didesas-desuskan bahwa biaya hidupnya. Sebetulnya Matahachi perlu mengendalikan diri untuk tetap hidup dalam batas-batas kemampuannya. "Dan batu-batu itu sudah disusun demikian rapat. Ia pun membeli pakaian lengkap yang baru. Chosokabe telah mencukur kepalanya seperti pendeta Budha dan mengubah namanya menjadi Ichimusai "Manusia dengan impian tunggal". kegembiraan. Pada waktu lain ia merasakan sisa-sisa patah had yang dialaminya. Lelaki-lelaki dengan kaki berbulu dan mulut penuh makanan meringkik seperti kuda di toko-toko. Selamanya sukar masuknya." Namun kekecewaan ini selalu menyingkir. ia menyewa sebuah kamar kecil milik seorang tukang sadel di sekitar Parit Junkei dan mulai makan di luar. Setiap hari baru adalah kebahagiaan. semuanya teguh dalam keyakinan bahwa apabila tiba saatnva. Di bawah sinar matahari musim dingin pada bulan yang paling sibuk tahun itu. ia terus mencari seorang teman. Ia yakin bahwa ia akan terantuk pada sebuah batu dan muncul bertimbun uang. dan pagi-pagi benar rumput di situ putih oleh embun beku. Inc. Tujuh atau delapan kios yang dikelilingi tikar jerami lusuh. Berulang-ulang ia merasa tergugah oleh cerita tentang samurai ini atau itu yang belum lama masih menyeret kotoran dari wilayah pembangunan. Bulan terakhir tahun itu Matahachi masih juga menganggur. untuk mencegah orang luar menengok ke dalam." demikian pikirnya. berusaha memikat orang banyak dengan bendera-bendera kertas dan lembing yang dihias aneka warna bulu untuk mereklamekan pertunjukan yang sedang diadakan di dalam.. Dua bulan lamanya Matahachi berkeliaran di Osaka. melintasi kota bersama dua puluh pegawai dan seekor kuda cadangan. tukang sadel menjawab dengan penuh optimisme. dan makin lama ia makin yakin bahwa inilah tempat baginya. hingga tak ada satu pun celah yang dapat dilewatinya. ia akan bangkit membela nama baik mendiang Hideyoshi yang pernah bersikap dermawan kepadanya. sedang uangnya tinggal separuh. termasuk gaji untuk para ronin-nya. tapi sekali kutemukan peluang. Ini suatu pernyataan bahwa peristiwa dunia yang mengambang ini tidak lagi menjadi perhatiannya. berjalan bergerombol-gerombol sambil mengunyah penganan kacang panggang. mengherankan juga gerombolan orang yang berbondong-bondong menelusuri jalan tampak tidak terburu-buru. netcafe. "Kamu muda dan kuat. Tukang-tukang teriak berlomba dengan suara lantang memikat orang lewat yang iseng untuk memasuki teater mereka yang rapuh. dan secara pura-pura ia menghabiskan waktu dengan tingkah laku sembrono yang perlente.

Sambil mengganjalkan kaki kanan ke lutut kirinya. Tapi ada saja yang datang lagi. "Sepuluh atau dua belas guci." Orang itu membungkuk beberapa kali. Orang yang duduk diam di bangku di samping Matahachi juga seorang ronin. dan ada sesuatu yang memikat dalam dirinya. Mereka tinggal sebentar di sini.. netcafe. "Ini akhir tahun. kelicikan. "Kalau nanti Osaka bentrok dengan Edo lagi." "Bagus!" Orang itu berdiri memegang guci sake. Ketika mengangkat mangkuk. Bau harumnya mengambang di udara dan menarik-narikku kemari. jenderal ternama dari Puri Osaka." jawab orang itu asal saja. Mari kita minum! Dari daerah mana. kemudian menghidangkan satu guci sake lagi pada Matahachi. "Siapa pula Ieyasu itu? Omong kosong saja kalau dia bisa mengabaikan tuntutan Hideyori dan ke sana kemari menyebut dirinya 'Maharaja Agung'. Dan orang itu masih juga sadar. "Sungguh memalu-kan menjadi pemabuk. "Banyak sekali orang sekitar sini. Orang itu kelihatan bersahabat. "Boleh coba ini punyaku." katanya keras. Matahachi merasa puas dengan dirinya. ya?" ucapnya bersahabat. dan ketika ia memandang marah kepada mereka dan mengancam akan membunuh keduanya kalau mereka menimbulkan kerusuhan di kios itu. dan sedikit saja kemampuan politik—maksudku yang dipunyainya itu cuma bakat politik tertentu.. "Berapa banyak biasanya kau minum?" tanya Matahachi. Ia biasa minum juga. ia memperhatikan Matahachi dari bawah ke atas. "Secara pribadi aku mengharap Ishida Mitsunari yang menang di Sekigahara. menyilaukan. oh. tapi apa salahnya?" pikirnya. "Kalau orang lelaki tak boleh minum sekali-sekali." kata Matahachi. Matahachi menjawab. dan katanya. sebelum aku memberitahukan siapa diriku. Aku dari Gamo. Ebook by Kang Zusi . Ketika matanya sampai pada wajah Matahachi. tiba-tiba la bertanya. Aku juga pernah bertemu dengan Ono Shurinosuke tiga atau empat kali." Wajah Matahachi merah oleh minuman. Kami akan berkumpul lagi harihari ini.. Barangkali kau pernah mendengar tentang Ban Dan'emon? Aku sahabatnya. ia pun tersenyum. katanya." "Terima kasih." "Bagus sekali cuaca bertahan begini. dan cepat!" serunya. yang biasanya tak ada pada orangorang militer." Sesudah menyatakan penilaiannya itu.property of: CROSSFiRE. "Osaka." kata orang itu sambil mengangkat mangkuk. Beberapa menit kemudian ia sudah menenggak lima guci." Akhirnya mulailah mereka bicara tentang situasi politik. Matahachi suka melihat gayanya. sementara menunggu punyamu dihangatkan. pasti mereka sudah bikin pecah semua pinggan saya. Ia menghidangkan juga sejumlah makanan kecil sebagai tanda penghargaan. tapi dia terlalu berjiwa besar untuk mengorganisir para daimyo. pihak mana yang akan kaupilih?" Disertai sikap ragu-ragu. Menurutnya sake itu sudah dihangatkan sampai pada suhu yang tepat. tak tahulah aku. Kami pernah mengadakan perjalanan bersama ketika dia masih menjadi ronin. sekalipun ia tidak mengenakan jubah penutup kimono. Aku juga teman Susukida Hayato Kanesuke. "Hei. Inc. kawan. Tuan. "Ah." "Satu lagi.. kalau sedang mau. tapi menurutku dia terlalu murung. kemudian pergi lagi. sepertinya lengan bajuku ini yang ditariknya. apanya yang tinggal? Cuma darah dingin. sedangkan Matahachi baru menghabiskan satu guci. Orangorang kota cenderung menyingkir. dan sebentar kemudian ronin itu mengangkat bahu. "Engkau seorang dari kami." "Halo. Tanpa Honda Masazumi dan beberapa pendukung lamanya yang lain. dan samar-samar sadarlah ia betapa ia mulai minum lagi. Percekcokan meletus antara dua pekerja." Ia mengosongkan isi mangkuknva sekali teguk. sekitar leher kimono itu sangat kotor. tapi kukira tak boleh aku menanyakan itu. "Ah. mereka melarikan diri. Pedangnya yang panjang dan pendek tampak mengesankan. ya? Kulihat kamu duduk di sini menghadapi sake. "Halo. sedangkan statusnya tidak cukup tinggi. "Kalau Tuan tak ada di sini. Namaku Akakabe Yasoma. orang-orang kota yang sedang berkelahi itu melarikan diri. bawakan juga aku satu. ingatlah ia akan sumpahnya untuk berhenti minum sebelum ia pergi bekerja di Fushimi.

"Kau sendiri siapa?" Matahachi memang tidak mempercayai segala yang dikatakan orang itu." "Nah. Apakah itu berarti Anda tidak berminat menemukan kedudukan yang baik?" "Tidak." kata Yasoma. Dan ia mulai menikmati permainan itu." kata Matahachi dengan murah hati. Cobalah pikir." Matahachi menjawab polos. kemudian tanyanya. Tapi saya memang tak bisa tahu tadi. tak seorang pun akan mencari Anda. dan itulah yang membuat Anda berbeda. yang telah menerima Gaya Tomita sejati dari Seigen dan kemudian mengem-bangkan Gaya Chujo. adalah murid senior dari sekolah yang sama itu. karena agaknya menimbang kembali apakah ia berbicara terlalu banyak. "Tapi saya pikir tidak betul kalau Anda tak punya kedudukan resmi. Andalah Sasaki Kojiro. Sudah banyak kali saya mendengar nama Anda. Aku cuma pemuda yang tak banyak kenal dengan dunia ini. namun ia merasa bahwa untuk sementara ia dipaksa kalah pengaruh. "Saya sudah sering mendengar Sasaki Kojiro pemain pedang yang baik sekali. ia terpaksa berkelahi demi hidupnya. Sekarang." "Ya." "Oh. Untuk sesaat yang penuh kegelisahan. Sekiranya Yasoma kebetulan teman atau kenalan Kojiro. soal itu gampang sekali. Tak ada lagi jalan kembali. berapa banyak pun bakat yang Anda punyai. "Tak perlu engkau membungkuk seperti itu." "Betul. begitu. dan terasa ada kemampuan padamu." Ebook by Kang Zusi . "Yah. Saya betul-betul terkejut. Siapa namamu waktu kau mendapat latihan di bawah pimpinan Jisai? Maksudku." "Oh." katanya beberapa kali. walaupun dia memang memiliki lebih banyak pengaruh politik daripada Kanesuke." Ia mundur. kau ini tentunya pemain pedang tulen. kalau Anda tetap diam. sebelum Anda menyatakan pada saya. Tapi sekarang belum sampai aku pada ritik itu. dan saya harus minta maaf karena tadi tidak berbicara lebih sopan. hingga tak banyak waktuku untuk bersahabat dengan orang banyak. Tentu saja. "sebetulnya aku sudah dari tadi menyangka begitu. Anda punya nama baik yang didukung pedang." "Apa betul begitu?" kata Yasoma heran. pencipta Gaya Itto." Matahachi lega luar biasa. "Orang yang menemukan Gaya Tomita?" "Aku pernah mendengar nama itu." "Kenapa? Aku tak punya status dan kedudukan khusus. aku telah membaktikan diriku dengan tulus ikhlas kepada pedangku.property of: CROSSFiRE. sesudah saya pikirkan lagi. "Ito Yagoro. aku selalu berpikir bahwa pada suatu hari aku akan terpaksa mencari seorang tuan untuk kuabdi." kata Matahachi dengan wajah sungguh-sungguh." Ia memandang Matahachi baik-baik. Inc. "Maafkan saya. "Kalau kau berkeras mengambil sikap resmi. Tubuhmu tampak terdisiplin." "Namaku Sasaki Kojiro. Yasoma sudah berlutut di tanah dan membungkuk dalam. siapa sesungguhnya Anda. kalau pantas aku menanyakan hal ini." "Tapi Anda tentunya tersinggung oleh bualan saya tadi itu. guruku pertapa Kanemaki Jisai yang agung dan tak mementingkan diri sendiri. tapi sudah terlambat. "Percaya tidak." "Kalau begitu. netcafe. Matahachi terpikir akan menarik kembali segala keterangannya itu. diam sebentar. tak akan dapat kita bicara sebagai teman. tapi Anda pemain pedang besar." jawab Matahachi. saya bahkan tak tahu siapa Anda. "Apa kau tahu Toda Seigen?" tanyanya. jelaslah buat saya.

Agaknya menurutnya wajar sekali. "Mana rekeningnya. "Bagaimana dengan usul saya itu?" "Oh. beberapa jauh dari jalan-jalan utama itu. Matahachi sendiri tak dapat menghindari perasaan bahwa ia telah tercebur langsung ke dalam suatu kancah. tapi Yasoma menyarankan untuk pergi ke tempat lain yang lebih murah dan lebih menarik. Kalau Anda suka." Sementara Yasoma bertambah gembira dengan prospek-prospek yang dihadapinya. Orang cenderung menolak gagasan tentang penjualan seks. Yasoma berhenti.. Tak bisa dihindari nama Sasaki Kojiro telah menimbulkan kesan kuat." kata Yasoma yang kelihatan lega sekali. tetap mencoba dengan lesunya menggelitik hati lelaki yang berkumpul di sana. Tapi. dan Matahachi satu-satunya orang yang mengetahui hal itu. kemudian katanya.property of: CROSSFiRE. Yasoma tak akan menawarkan bantuan kepadanya. tapi ia takut membuat kesalahan kalau membawakan diri sebagal Sasaki Kojiro. adakah sesuatu yang benar-benar perlu dikuatirkan? Kojiro yang sebenarnya sudah mati. hingga dalam satu malam saja dihabiskan seratus barel minyak lampu." serunya sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari pundi-pundinya. Matahachi bangkit akan meninggalkan tempat itu. "aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau bicara dengan temanmu itu atas namaku. Saya yakin Kanesuke akan senang merekomendasikan orang seperti Anda kepada pihak berwenang di sana. Barangkali Yasoma akan memandang rendah kepadanya. siapakah orang itu. ujarnya. tapi yang terbanyak kelihatan sudah berumur lebih dari empat puluh tahun. Di antara mereka sekali-sekali memang tampak wajah yang manis. netcafe. dan gigi yang sudah hitam. tentu. Saya ingin dimasukkan Puri Osaka.. Sebaliknya. kepala terbungkus kain penolak dingin. "Banyak juga mereka. Kalau orang memperhatikan dengan saksama. Ia memang ingin sekali mendapat pekerjaan. Matahachi memang memperhatikan baik-baik. kalau bukan seorang "mata-mata" yang telah dilempari batu sampai matt? Maka. dan Yasoma jadi bingung. Lagi pula. mencarikan kedudukan buat saya juga. Matahachi semula bermaksud membawa teman yang baru ditemukannya itu ke sebuah tempat minum yang mentereng. Inc. karena keduanya itu mengingatkannya pada kalajengking pembawa maut. ia membawa Matahachi ke daerah yang supaya enak disebut Kota Pendeta Wanita. Terus terang. Segera kemudian mereka sudah berada di sebuah daerah lain. Mari kita pergi ke tempat lain yang tenang. Sambil menyanyikan puji-pujian pada daerah lampu merah. Matahachi semula sedikit enggan. Tanpa surat keterangan itu tidak ada jalan bagi penguasa untuk mengetahui siapakah si ronin itu. sementara Matahachi sedikit-sedikit meyakinkan dirinya bahwa rahasianya itu tidak akan diketahui orang." jawab Yasoma. tapi kalau kita lewatkan satu malam di musim Ebook by Kang Zusi . tapi segera ia tertarik oleh kegembiraan suasana di situ. tapi kita tak dapat membicarakan soal macam itu di sini. seorang samurai kampungan dari Mimasaka. Semenjak saat ini. yang meskipun dengan mata muram. Tidak jauh dari sana terdapat parit kuil yang biasa dialiri air banjiran dari teluk. kalau ia mengatakan bahwa ia Hon'iden Matahachi. Dan kecil kemungkinan mereka akan bersusah payah melakukan penyelidikan." "Oh. karena ia yang menyimpan surat keterangan yang merupakan satu-satunva pengenal orang yang telah mati itu. dengan senang hati saya akan bicara dengannya. terlihat kutu ikan dan kepiting sungai yang merayap ke sana kemari di bawah jendelajendela menonjol dan lentera-lentera merah. biarpun barangkali gajinya tidak banyak. terbentuklah dengan pasti rencana berani dalam kepalanya: ia akan menjadi Sasaki Kojiro. bersusah payah membela para wanita itu. di mana kita dapat tinggal berdua saja. Daerah itu sebagian besar dihuni oleh perempuan yang tebal pupurnya. "Sekiranya Anda menghendaki saya membantu. tentu." kata Matahachi mengeluh." jawab Matahachi. dan akhirnya ia pun merasa sedikit kurang enak. Susukida Kanesuke. Perempuanperempuan ini biasa mengarungi jalan-jalan. Kata orang. saya sudah minta teman saya.. saya akan senang melakukannya. dan ini cuma sedikit saja dibesar-besarkan. dan tidak akan mudah ia keluar dari sana. kalau Matahachi membayar rekeningnya juga. "Dan mereka ini lebih baik daripada pelayan warung teh atau gadis penyanyi di rumah sebelah yang kemungkinan mengawani Anda. di sana terdapat seribu rumah hiburan dengan perdagangan yang demikian berkembang. "Sudah saya katakan tadi.

Katanya. dan lagi tak bisa saya membicarakan keadaan Anda sebelum saya mendapat gagasan yang lebih baik tentang apa yang Anda kehendaki. Sambil Ebook by Kang Zusi . banyak di antara sampah itu terdiri atas bunga-bunga yang sudah gugur. Jadi. Matahachi merasa pengalaman itu sangat menyenang-kan. Tetapi ia mulai merasa lunglai. Mereka menginap di sana. "Tinggallah dengan saya sampai malam. netcafe. Sesudah meninggalkan bordil itu.. selalu dibayar dan diperlakukan lebih baik. Ini terjadi pada abad-abad ketika Taira jatuh ke tangan Minamoto." "Sekarang." "Hmm." Sementara malam datang. sadar bahwa suap memang umum. "Aku pun akan tinggal di tempat seperti itu—tak lama lagi. Ia betul-betul tanpa cela. Kalau Anda mengatakan bersedia menerima kedudukan seperti dulu. Sementara memandang rumah-rumah semayam para daimyo yang mengitari purl besar itu. Namun ia merasa harus tetap acuh tak acuh. Matahachi merasa dalam batas-batas tertentu ia telah mendapat ganti dari perlakuan terhadapnya ketika ia digusur ke kamar belakang di Yomogi itu. dan Matahachi menyerahkan segalanya kepada Yasoma yang kelihatannya berpengalaman." kata Yasoma. Ia tahu bagaimana memesan sake dan menghadapi gadis-gadis. Ayo kita pergi. namun pada tengah hari berikutnya Yasoma belum juga memperlihatkan kelelahan. tentu. kalau kita pergi ke rumahnya. kemungkinan besar kita akan menemukan bahwa dia sama seperti wanita lain. tak seorang pun pernah mendengar tentangnya." katanya. ya?" "Kanesuke sudah dapat nama. menuju salah satu wilayah pemukiman samurai yang lebih eksklusif. Ketika mengeluarkan pundi-pundi dari dadanya. berarti Anda merendahkan diri sendiri." "Aku tak akan minta upah terlalu besar sebagai permulaan.property of: CROSSFiRE. Seorang samurai sekaliber Anda ini dapat menerima jumlah berapa saja yang Anda sebut. Sebelum umur sekitar tiga puluh." kata Yasoma. Bagaimana kalau saya katakan kepadanya bahwa Anda menginginkan upah dua ribu lima ratus gantang? Seorang samurai yang yakin dirinya baik." kata Matahachi." Mereka masuk sebuah rumah. Mereka berdiri membelakangi parit." Matahachi berpura-pura tidak mencurahkan perhatian pada apa yang dikatakan Yasoma." Tapi Yasoma tak hendak pergi. Sebaliknya. bagaimana dengan soal uang?" "Oh. "Ada apa?" "Saya punya janji menemui Susukida Kanesuke. "saya akan bertemu dengan Kanesuke dan bicara dengannya supaya dia mempekerjakan Anda. rumah sudut di sampingnya itu. Anda tak boleh memberikan kesan bahwa Anda puas dengan jumlah berapapun. semangat mudanya yang mentah berkata. ia sudah demikian bulat mempercayai Yasoma. dan banyak di antaranya yang ayahnya pernah menjadi pegawai daimyo yang sudah kehilangan kekuasaan. Dan mereka tak dapat betulbetul dipersalahkan karena sudah menjadi sundal. "Yang gerbangnya pakai atap kurung itu?" "Bukan. Tapi sebelum itu. Inc.. hingga ia tidak lagi mengajukan pertanyaan tentang apa yang dikatakan orang itu. jalan-jalan yang terletak di dalam bayangan besar Puri Osaka itu cepat menjadi gelap. Akhirnya ia mengaku sudah cukup banyak minum. sementara angin dingin terusir akibat sake yang telah mereka masukkan he dalam tubuh sepanjang hari itu. tapi sekarang. Bukannya ia tidak percaya. besar. Matahachi dan Yasoma pergi melintasi kota. "Di sana rumah Susukida. "Sebagian dari mereka pernah menjadi gundik shogun. tahulah ia bahwa isinya sudah susut sampai sekitar sepertiga dari jumlah semula. "Aku tak mau lagi minum. Anda akan melihat bahwa di dalam selokan dunia yang mengambang ini. dingin dengan seorang dari mereka dan bicara dengannya tentang keluarganya dan sebagainya." "Tak ada alasan menjual diri terlalu murah bagi Anda. Terlalu pagi sekarang ini.

"Si bajingan itu?" sengal penjual sake. sambil menatap wajah orang banyak berlalu. Matahachi merasa Yasoma tentunya sudah mengenal Kanesuke semenjak zaman ia kurang makmur. Kalau mereka melihat orang Ebook by Kang Zusi . Kanesuke bukan satu-satunya orang di tempat ini yang menerima bayaran karena mencarikan kedudukan untuk seseorang. Tak perlu malu. mengeluarkan seluruh isinya. Hari ketiga. Anda tak akan melihatnya lagi." 'Anda menanti seseorang?" "Ya. Semua orang melakukannya." mohonnya." Tapi sekali lagi matahari tenggelam. Apa ini cukup?" "Oh. angin terasa dingin dan banyak orang di sana. dia mengatakan pada Anda akan mencarikan kedudukan yang baik dan kemudian mencuri uang Anda?" "Dia bukan mencurinya. Anda bisa menanti saya. ia mengikuti beberapa langkah. cukup sekali. Ketika Yasoma pergi." "Baik. Saya menunggu dia di sini untuk mengetahui hasilnya. netcafe. "Jangan kuatir. Saya punya banyak koneksi. tapi saya berani mengatakan. Seperti hari sebelumnya. tapi tak melihat tanda-tanda Akakabe Yasoma. Malam itu ia bermimpi tentang masa depannya yang menyenangkan." "Yang paling baik kalau Anda menanti di warung sake tempat kita pertama kali bertemu. Matahachi berjalan melintasi udara beku yang sedang mencair di tempat terbuka itu. tempat orang mengadakan pertunjukan-pertunjukan tambahan itu. "Hanya ini yang kupunyai. Yasoma melambaikan tangan dan berjalan gagah melintasi gerbang rumah persemayaman itu sambil mengayunkan bahunya. "Dia pasti datang hari ini." "Apa tak perlu kau membungkusnya?" "Tidak. "Jadi. Ia menanti sampai matahari terbenam. Yasoma tetap tak tampak." pikirnya bermurah hati. saya berjanji bertemu dengan orang yang namanya Akakabe Yasoma." "A-apa? Kenapa Anda berkata begitu?" "Oh.property of: CROSSFiRE. tidak. dia itu bajingan yang terkenal jahat! Daerah ini penuh benalu macam dia. Pada waktu yang ditentukan. Dengan mudah saya dapat minta bantuan pada Ono atau Goto. "Usahakan sebaikbaiknya. dan sangat terbuka. tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. Dia bukan satu-satunya orang berpengaruh di Osaka." Matahachi lalu menjelaskan keadaannya sejelas-jelasnya. Kalau kelihatannya ada kesulitan." Sesudah menetapkan waktu pertemuan. mulailah ia merasa tidak tenang. Mari kita ketemu lagi besok. Hari sesudahnya Matahachi pergi lagi ke sana. "Tentunya ada yang menahannya. Keyakinan betul-betul sudah melingkupinya." Matahachi mengambil kembali sebagian kecil dari uang tunai itu." "Sungguh malang Anda! Anda bisa menunggu seratus tahun. tapi sesudah menyerahkan selebihnya. kan? Nanti orang-orang bisa curiga Anda akan melakukan sesuatu yang buruk. Saya jumpa dengan dia hari itu. Inc. Matahachi mengatakan pada si penjual sake dengan agak malu." "Kapan aku mendapat jawaban?" "Kita lihat nanti." "Di mana?" "Datanglah ke tempat kosong. Saya berikan uang kepadanya untuk diberikan kepada orang yang namanya Susukida Kanesuke. Karena sudah terkesan. tapi tentunya Anda tak hendak berdiri berangin-angin di sini. tentu. "Saya di sini lagi. saya cuma harus menyimpan kembali uang ini dan mengembalikannya pada Anda. ia berkata.

Biar kamu tidak main. Tadinya saya mau memperingatkan Anda. "Aku jadi sadar." "Tak ada uang! Begitu." kata Matahachi sambil melompat bersemangat. Semua mata menoleh kepada Matahachi. ya? Jadi. "Anda kemari mau berjudi?" Ia mengangguk. tapi terbuka atapnya. "Tak bisa kamu pergi hanya dengan bilang minta maaf. cuma tunggu kesempatan menyikat uang." "Saya datang bukan untuk main.property of: CROSSFiRE. tak mungkin aku tinggal hidup di Osaka sehari saja. Saya pikir Anda akan tahu dari cara dia memandang dan bertindak. tapi perbuatan itu hanya membuat girang si penjudi. seorang pengintai bertanya kepadanya. "Yasoma?" ulang seorang penjudi dengan nada heran." "Apa kerjamu di sini kalau tak mau main?" "Aku mencari Yasoma. "Berhenti!" perintah seorang dari para penjudi seraya berdiri dan meng-ikutinya. Sekarang Anda sudah telanjur kehilangan uang. netcafe. Matahachi berjalan menikung ke belakang. Ia mencoba meyakinkan Matahachi bahwa tidak memalukan ditipu pencuri-pencuri yang beroperasi di sana. Maaf mengganggu. Gunakan pedangmu kalau kau berani!" Ebook by Kang Zusi . Inc. Orang-orang jembel di tempat ini sering berkumpul di belakang sana untuk berjudi. "Goblok!" salaknya. dan bendera-bendera yang terpasang di dekat gerbang kayu mengumumkan namanama beberapa artis sulap terkenal. Ia memandang putus asa kepada orang banyak yang bergerak di sekitarnya. dan main." "Aku bukan pencuri! Tak boleh kamu menyebut begitu!" Matahachi mendorongkan gagang pedangnya ke depan. Ketika ia melongok ke dalam. Di depan. dan satu orang diam-diam menyedia-kan ruang kepadanya untuk duduk. ya? Pencuri terkutuk. Namun sesungguhnya bukan rasa malu itu yang mengganggu Matahachi. "Saya sangsi apakah akan ada gunanya. duduk melingkar bermain. di kios tukang sulap. "Kalau ancaman dari orang-orang macam kau bisa bikin aku takut. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang dikelilingi tenda. Kalau Yasoma mendapat uang. "tapi Anda bisa mencoba bertanya di sana." "Kenapa tak mau cari di tempat lain lagi?" "Aku sudah minta maaf tadi. Dari balik tirai dan lembar-lembar tikar jerami yang mengitari pagar terdengar bunyi musik aneh bercampur suara para tukang sulap yang keras dan cepat. dan orang itu membiarkannya masuk." kata Matahachi sambil lekas-lekas keluar. Sekitar dua puluh orang yang semuanya dari jenis tak pernah puas. "Apa Akakabe Yasoma ada di sini?" tanya Matahachi. "Yang mana kios tukang sulap itu?" Rumah yang dituding orang itu dikelilingi pagar bambu runcing. Sayang sekali!" Orang itu bersimpati sekali pada Matahachi. kamu mesti bayar buat tempat duduk. kemungkinan dia akan mencoba menggandakannya. orang berkaok-kaok untuk menarik pengunjung. dan beserta uang itu hilang pula harapan-harapannya yang besar. mereka pun menerkamnya. yang tampak sedikit polos." kata penjual sake. dan di sana menemukan gerbang lain. macam apa wataknya. dia tidak di sini akhir-akhir ini. Kenapa?" "Apa menurut Anda dia akan datang?" "Mana aku tahu? Silakan duduk. tapi tak ingin saya ikut campur. melainkan kenyataan bahwa uangnya hilang." "Terima kasih." "Aku tak punya uang. itulah yang membuat darahnya mendidih. serta tepuk tangan para penonton.

" Ketika ia mulai berjalan kembali Ebook by Kang Zusi ." kata satu orang. netcafe. Matahachi melontarkan sebentuk mata uang dan langsung menerobos pintu masuk. pengganti Toda Seigen dari Kampung Jokyoji di Echizen. dengar kalian semua! Orang ini baru saja menyebut dirinya dengan nama yang hebat. Orang itu melompat tegak ke udara. Kalau yang akan kulihat cuma kulit macan. Di ujung tenda itu terpentang kulit macan besar. Jangan lewatkan macan ini!" Seruan yang diucapkannya itu terdengar ingar-bingar. lebih baik aku melihat gambar. Mestinya menyenangkan juga. kan?" Samurai tua itu menjulurkan tangan ke atas pagar bambu dan meraba kulit itu." kata lelaki itu sambil tertawa kecil." "Jangan bikin ribut. Nek. Pada pintu gerbang terdapat juga panji-panji dengan gambar acmbing bercabang dua dan kepala bermata ular. "Anak anjing!" jeritnya. Sambil memonyongkan mulutnya ia memprotes. telinganya pun tegak tak percaya. "Tentu saja mati. Aku tak senang.property of: CROSSFiRE. "Jadi. Matahachi menyelam ke tengah orang banyak. ya?" kagum yang lain. "Kuperingatkan kau." "Itulah barangkali yang namanya tukang bual. Orang menertawakan kamu nanti. menyabetkannya melintang pantatnya." "Biar. "Jangan seperti orang tolol! Kalau macan ini bukan macan betulan. ya?" "Apa kau tahu siapa aku?" "Kenapa pula mesti tahu?" "Aku Sasaki Kojiro. tapi setiap muka yang dilihatnya tampak sebagai muka salah seorang penjudi. kau bicara sungguh-sungguh. Mereka tidak merasa kecewa bahwa makhluk itu ternyata tidak utuh dan tidak pula hidup. saudara-saudara. Para penonton menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar. Ayo kita ambil uang kita kembali. Kelihatannya mau mencabut pedang lawan kita. Tepat di depannya tergantung tirai bergambar macan besar pada pagar aambunya. Ini cuma kulitnya. dan menduga bahwa pengumuman itu saja akan membuat orang melarikan diri. "Paman Gon. dan tiba-tiba terpandang olehnya seorang lelaki tua dan seorang perempuan. lalu jawabnya murung. "Saksikan macan! Silakan masuk dan saksikan macan! Adakan perjalanan sejauh seribu mil! Macan ini. "Hei. Penjudi itu meludah dan kembali masuk kalangan. Matahachi berdiri agak di sisi kulit macan itu. Inc." Melihat orang itu sedang lengah. ditangkap sendiri oleh jenderal besar Kato Kiyomasa di Korea. Karena menurut pendapatnya ia tidak dapat menyembunyikan diri selamanya seperti itu. Dia yang menciptakan Gaya Tomita. ia melihat ke sana kemari. Matahachi tiba-tiba menarik pedangnya. tanda di luar mesti mengatakan begitu juga. Dengan jalan menyuruk aari kawanan orang satu ke kawanan lain ia bisa bersembunyi. "macan itu mati. berirama. "Besar. aku akan pergi sendiri. Mendengar suara percakapan mereka. aku bicara sungguh-sungguh!" "Oh. Karena merasa relatif aman." kata perempuan itu. Tapi ternyata tidak. Osugi tidak gampang saja menerima hal itu. seperti cucian yang sedang dikeringkan pada papan kayu. dan seorang tukang teriak berdiri di atas kotak kosong sambil berseru-seru parau. maka ia menoleh ke sekitar untuk mencari tempat berlindung yang lebih mantap. mencari binatang itu." Matahachi menyatakan hal itu dengan penuh kebanggaan. Kalau kau tak mau pergi." "Tapi orang di luar itu bicaranya seolah-olah macan itu masih hidup. inilah yang dinamakan macan itu. Mari kita lihat kecakapannya main pedang.

"Apa yang kalian lakukan ini?" teriaknya. itu tak kusangkal. pencuri! Perampok! Tangkap dia!" Seketika itu juga orang-orang di sekitarnya mengambil alih pengejaran. tapi dia lari. Tapi siapa yang menyuruh kalian." Ia mencoba Ebook by Kang Zusi . melalui para penonton lain. Matahachi terus bertumbuk-tumbuk orang. akan ku. netcafe. Osugi tiba bersama Paman Gon. akan kuhadapi kalian semua!" "Kau berkelakar. Mereka kagum akan keberanian perempuan itu. dan beberapa orang malahan sudah meludahinya. ia pegang gagang pedang pendeknya serta menyeringaikan giginya. Paman Gon pun melambai-lambaikan tangan dengan hebatnya. Beberapa menit lamanya Paman Gon hanya berdiri memandang dari gerbang kuil itu." "Di mana? Ke mana?" Keduanya berlari keluar dari gerbang kayu. tapi terlambat. "Hei. dan kupikir. kalau aku berteriak 'pencuri'. Paman Gon sudah melihatnya. cepat menguasai keadaan dan balik mendamprat para penyerang Matahachi. "Nek. "Berhenti. ke tengah orang banyak yang sudah bermandikan cahaya petang berwarna-warni. memukulnya? Itu tak patut!" Heran melihat perubahan haluan yang sekonyong-konyong ini.. Aku seorang ibu yang setia. "Matahachi!" teriaknya. Kalian hanya orang kota kebanyakan. anakku akan berhenti lari. ya?" serunya. tunggu!" teriak Osugi. orang-orang bebal. Osugi menjulurkan lehernya yang keriput itu ke depan. dan orang-orang yang di depan segera menyerang Matahachi dengan tongkat bambu. Osugi yang sudah tidak begitu awas matanya itu menggagap.property of: CROSSFiRE. Kalau kalian sentuh dia lagi. tapi kemudian ia mendekati mereka dan katanya. "Kenapa kau lari? Kau kenapa? Matahachi! Matahachi!" Karena merasa tak dapat lagi menangkapnya. Nak. "A-apa katamu. tapi selalu dapat membebaskan diri kembali dan berlari terus. orang banvak itu pelan-pelan bubar. Inc. dia anakku. "Kenapa kalian serang orang ini?" "Dia pencuri!" "Dia bukan pencuri! Dia anakku. anak seorang samurai. Matahachi! Kamu.. "Tunggu. jangan perlakukan Matahachi seperti kanak-kanak lagi. Sambil mengusir mereka. Matahachi merunduk. ya? Siapa yang teriak 'pencuri' semenit lalu?" "Memang aku. Osugi mencekal kerah anaknya yang tak patut itu dan menyeretnya ke pekarangan kuil tak jauh dari sana. dan kalian tak punya hak memukulnya. dan dengan sekuat paru-paru ia pun menjerit. Paman Gon?" "Apa kau tidak lihat? Matahachi berdiri di belakangmu itu!" "Tak mungkin!" "Dia di sana tadi. "Tahan dia di sana!" "Bajingan!" "Hajar dulu!" Orang banyak berhasil mengepung Matahachi." "Anakmu?" "Ya. Matahachi menoleh ke belakang dan melihat ibunya mengejarnya seperti perempuan gila.

"Jangan kamu ikut campur! Dia anakku. tapi perempuan tua itu menepiskannya dengan kasar. "Kalau kau begitu malu dengan dirimu sendiri dan merasa sudah mempermalukan leluhurmu." kata Matahachi. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dahulu. ia muntahkan seluruh ceritanya sampai sekecil-kecilnya: tentang bagaimana ia meloloskan diri dari Sekigahara. Justru karena tahu sudah menelantarkan Ibu. tapi hampir seketika itu juga ia menghentikan tangisnya. dan tanpa pikir lagi aku lari." Matahachi memulai. Kau ini lelaki. "Sungguh aku terguncang oleh kelakuan-mu. Paman Gon memohon." "Kalau begitu.. Hidung Osugi mengerut dan ia mulai menangis. Inc. "Hmm." Ia menutup wajahnya dengan tangan.. seperti melepas empedu dari dalam perut. Aku bukan bermaksud lari dari Ibu. manusia sampah.. Kau diam saja dan urusi urusanmu sendiri!. tersangkut dengan Oko. tak boleh kau bersikap begitu lunak. Ia memang takut kepada ibunya. aku harus sekeras ayahnya. "Gagasan apa itu! Lari dari ibu sendiri! Kau bukan lahir dari selangkangan pohon. Ia membanting Matahachi ke tanah dan membenturkan kepalanya ke sana. seakan-akan Matahachi masih anak-anak. menarik tangan Osugi dari kerah Matahachi. "Cukuplah itu. Matahachi! Duduk kamu yang tegak! Pandang mukaku. "Maafkan aku.property of: CROSSFiRE. Katanya mengejek. bersembunyi di Ibuki. kemudian ia terburuburu membetulkannya. Aku malu dengan cara hidupku. Melihat tindakan Osugi itu. Bu! Aku minta maaf. tentunya kau sudah berbuat tak baik selama ini. Apa kau sudah mendapat kedudukan yang cukup upahnya?" "Ya. maka tak dapat aku pulang. semua sanak keluarga kuatir dengan dirimu?" "Ibu." gumam Paman Gon berkali-kali. aku tak punya kedudukan. "Baik. Matahachi. Kalau kauteruskan juga." Ia duduk resmi di tanah dan menunjuk tempat yang harus diduduki Matahachi. biar cuma sekali. Aku akan menghukumnya. Karena tak dapat lagi menahan diri... "Betul-betul kularang kamu menyembunyikan apa pun. "Sekarang apa persisnya yang telah kaukerjakan sejak lari ke Sekigahara? Jelaskan dan jangan berhenti sampai aku sudah mendengar semua yang ingin kudengarkan." kata Matahachi menurut. tanpa bantuanmu. aku takkan menyembunyikan apa pun. Kalau ibu-ibu lain tentunya sudah menangis karena gembira. katanya. dan aku belum lagi selesai!." "Sudah kubilang simpan nasihatmu itu untuk diri sendiri. tidak. Ibunya dapat kadang-kadang memanjakan. kepada ibumu yang sudah tua? Apa kau tidak tahu." kata Osugi. tapi ternyata di Osaka ini kau bergelandangan! Memalukan! Manusia tak tahu malu.. maka Osugi mendidih darahnya karena berang. dan hidup darinya—sekalipun ia membencinyabeberapa tahun lamanya. seandainya dia masih hidup." "Jangan kuatir. Aku begitu kaget melihat Ibu.. Maafkan aku. orang tak bisa berbuat lain daripada menyetujui pendapat itu. tapi sikapnya yang selalu siap mengungkit persoalan tentang kewajiban terhadap leluhur itu membuat Matahachi tak betah.. Kenapa kau tidak pulang menyatakan hormat kepada leluhur sebagaimana mestinya? Kenapa kau tak mau menunjukkan muka. dan berlutut. pasti akan rusak tabiat anak ini. sampai aku tak dapat menghadapi Ibu dan Paman Gon. netcafe. la mengangkat bahunya yang terkena kotoran.. "Tak terpikir olehku bahwa kau masih hidup. Aku tahu yang kulakukan ini salah. Dan apa yang kaulakukan sekarang? Kelihatannya kau dapat pakaian bagus." mohon Matahachi seperti bayi.. dan ia merasa jauh lebih ringan sesudah melakukan pengakuan itu. Tepat seperti yang dikatakannya. Ia sudah kehilangan keinginan untuk melawan. Akan kuperlihatkan padamu!" Orang mengatakan makin tua seseorang makin sederhana dan makin langsung sikapnya.. Juga tentang bagai-mana ia kini menyesali dengan setulus-tulusnya apa yang telah ia lakukan. orang kampung! Kau anakku!" Dan mulailah ia menampar anaknya.. anak yang tak tahu diuntung. Semua itu meringankan dirinya. Terlalu bangga ia akan dirinya untuk memperlihatkan kelemahannya dan ia memperbaharui serangannya. Osugi mendecapkan lidahnya. dan aku akan menghukumnya dengan hukuman yang menurutku cocok. "Maksudku. dari mana kau mendapat uang buat hidup?" Ebook by Kang Zusi . Sebagai ibunya. Bu.

dia lebih cerdas dan lebih mampu daripada Takezo dan anak-anak lelaki lain. lihat ini. "Kenapa 'Sasaki Kojiro'?" "Oh. "tanya Paman Ebook by Kang Zusi ." Osugi mengangguk. Matahachi mendengarkan dengan kepala tertunduk." "Betul? Dia termasyhur. Ia merasa bersyukur melihat semangat perempuan tua itu naik lagi. bagaimana ia dan Paman Gon bertahun-tahun lamanya mencari Otsu dan Takezo. Kau tidak tahu apa pun tentang apa yang sudah terjadi di kampung." katanya. kuputuskan untuk tidak menggunakan nama sendiri. Kaudengar. Paman Gon! Biar bagaimana. lihat." "Nama perang? Buat apa kamu memerlukan itu? Apa Hon'iden Matahachi tidak cukup untukmu?" "Ya. Otsu tidak mencintainya lagi. ini betul-betul bagus. tapi bagaimanapun terbawa juga ia oleh ceritanya sendiri." kata Osugi." Osugi memperlihatkan wajah bahagia. dan nama pada gulungan itu jadi kelihatan. Ini penting. Lihat ini. Melihat warna wajah Matahachi berubah. cahaya kegembiraan muncul pada wajah Osugi. Ia coba untuk bersikap tidak emosional. Bu. "Pedangku—aku mengajar main pedang. Karena ingin lebih menggembirakan ibunya lagi. karena itu aku akan bercerita. "Ya. tak perlu Ibu kuatir denganku. Ia hendak mengambil gulungan itu. Kukira jalan pikiran yang baik. Karena masa laluku memalukan." katanya. "Ya. "Sudah sewajarnya kalau kita mengetahui ini. "Main pedang. Ia memilih kata-kata yang diperhitungkannya dapat memacu Matahachi untuk beraksi. Paman Gon. netcafe. tapi ia menutup nama Sasaki itu dengan jempolnya. ya? Tidak heran kalau anakku menyediakan waktu buat menyempurnakan kecakapannya main pedang—meskipun menempuh hidup seperti sekarang ini." Paman Gon mengangguk bersemangat. "Tunggu sebentar. "Bu. Sekarang perhatikan." Demikian gembira perempuan itu. "Kalau kaupikir itu bohong." Ada nada kebenaran dalam cara ia mengatakannya dan hal itu menimbulkan akibat yang memang dikehendaki. Tapi kalau yang menjadi perhatian utama ibunya adalah kehormatan keluarga dan semangat samurai. bagus!" jawab Matahachi sesudah berpikir cepat. dia punya semangat yang benar!" "Matahachi. Untuk pertama kali. Tapi justru pada waktu itu tangan Matahachi terpeleset. Tak ada salahnya dia tersesat sebentar." katanya. Jelas sekarang. ia merasa mudah menjadi anak yang baik dan penurut. di bawah pimpinan siapa kau belajar ilmu pedang?" "Kanemaki Jisai. Inilah untuk pertama kalinya ia mendengarnya. "Tapi sesudah kutimbang-timbang. hingga sementara berbicara ia mulai meludah-ludah. Pada waktu-waktu seperti ini. dan ia terpukau oleh gamblangnya cerita ibunya. tapi Matahachi mencekamnya. "Apa benar begitu?" tanyanya." Osugi dengan bersemangat mulai memberikan uraian tentang peristiwa yang telah terjadi di Miyamoto.property of: CROSSFiRE. "Coba kulihat. Inc. Matahachi sendiri tergerak sedalam-dalamnya oleh hal lain: kalau benar yang dikatakan oleh ibunya. Osugi mengambil kesimpulan yang keliru bahwa kuliahnya tentang kehormatan dan semangat itu sudah mencapai hasil. "Itu menunjukkan bahwa dia memang menyimpan darah leluhur Hon'iden dalam nadinya. Ia menjelaskan bagaimana Keluarga Hon'iden dihinakan." kata Osugi. Matahachi mengeluarkan sertifikat dan membuka gulungannya. "Bu. Apa ini tidak hebat? Aku selamanya berpendapat." "Oh. begitu. aku takut mengaibkan leluhurku." "Di daerah ini. juga waktu dia masih bayi." kata Osugi. dia anakku. "Betul begitu?" tanya Osugi penuh minat. Matanya basah dan suaranya menjadi berat. itu? Itu nama perang.

" Kata-kata itu menimbulkan akibat paling buruk pada Matahachi. kau mau menggendongku? Senang sekali aku!" Sambil memegang bahu anaknya. Bu. Matahachi mengatakan." "Kedengarannya kau tidak begitu bersemangat. ya? Lihat. Man kita mencarinya." "Wah. Aku akan selalu di samping-mu. netcafe. "Kita mesti mencari rumah penginapan sekarang. dan mulailah ia bangkit dari tanah dengan susah payah. Ketika Takezo diikat di atas pohon itu. "Tanah ini dingin sekali. Matahachi." "Aku mengerti. dan juga mendapat nama baik. "Oh. "Kaulihat sekarang. dia mendapat pertolongan dari Otsu untuk melarikan diri." "Oh. dan menetap." Sementara berjalan. Nak? Kalau itu kita lakukan. Di mana saja bisa." "Ya. Dia sudah bersumpah akan membalas dendam kepada Takezo dan Otsu." Ketika air mata jatuh ke leher Matahachi. Matahachi menggendongku. kenapa Paman Gon dan Ibu meninggalkan kampung? Kami mau membalas dendam pada mereka. Dengan kata lain. tak sangsi lagi. Tak ada nama yang lebih baik di seluruh daerah Yoshino daripada Hon' iden. Kau membersihkan dirimu sebagai seorang samurai. kau bisa mengatakan. Gon. Sebelum aku membunuh mereka. Kecuali kita sudah membalas dendam. "Mari kita bawa kepala mereka pulang ke kampung sebagai tanda mata buat orang banyak. dan keduanya lalu lari sama-sama. akhirnya ia kelihatan puas. Menyadari hal tersebut. Matahachi melambung-lambungkan sedikit ibunya di punggungnya. Bu! Ringan sekali! Jauh lebih ringan daripada batu!" Ebook by Kang Zusi . Apa wasirmu kumat lagi?" Untuk menunjukkan bakti seorang anak. "Paman Gon. aku tak dapat memperlihatkan muka lagi di kampung atau berdiri di depan tanda peringatan leluhur kita. sakit rasanya!" teriaknya.property of: CROSSFiRE. Bisa kau melakukan itu. "Sudah berapa tahun lewat. Paman Gon." tambah Osugi." "Baik. Apa tidak betul begitu. karena tahu kau tak akan kembali beberapa lama. Matahachi? Mau kau melakukannya?" "Ya. Kau mesti membunuh kedua orang itu. di mana kalian tinggal?" tanyanya. Aku tak akan pernah kembali. dan timbul reaksi baru terhadap kawan masa kecilnya itu. "Ada apa?" tanya Paman Gon. Ada apa? Apa kau tidak merasa cukup kuat untuk membunuh Takezo?" "Tentu saja cukup kuat. ibunya mengipasi bunga api itu." "Dan ibumu yang sudah tua ini pun demikian. "Ringan. kau mengerti. ucapkan selamat pada anak ini. kurang baik itu. "Jangan kuatir. Matahachi merasakan kegembiraan yang aneh." Begitulah. Ibu. jangan berdiri saja di situ. dan kau akan membuktikan itu pada setiap orang. Paman Gon?" "Ya. Mereka musuh bebuyutan kita. Paman Gon buka suara. kau pun tak dapat kembali ke Miyamoto?" "Aku tak akan kembali." "Jadi. Perempuan jalang itu sudah meninggalkanmu dan lari bersama Takezo." "Itu namanya anak baik. Semua orang mengatakan antara mereka sudah terjadi sesuatu. Matahachi! Kau mengerti. "Naiklah ke punggungku." "Bukan itu soalnya." protes Matahachi. Inc. Paman Gon. kukira begitu. kau dapat jalan terus dan mencari istri. Osugi menangis karena gembira. Apa itu bukan gagasan yang baik. maka Takezo memikat Otsu untuk pergi dengannya. Perut dan pinggulku sakit.

sampai tidak dapat lagi bersantai dan menikmati hidup." "Begitu. baunya yang khas menunjukkan bahwa ia membawa barang selundupan berupa tembakau. "biarpun keadaan kita tidak begitu baik hari-hari mi. kita celup kembali atau cetak kembali barang-barang itu dan kita jual kembali kepada tentara. Kemudian. kita masih beruntung. pakaian zirah." "Ha. lalu terbunuh." Percakapan di tengah kelompok lain adalah tentang bidang serupa. "Tak dapat lagi kita mendapat uang di dalam negeri. Kalau ingin benar-benar untung. Saya dengar mereka butuh pandai meriam. macam itulah. tapi cepat atau lambat mereka terpaksa mengenakan perlengkapan kulit dan bajanya. Sekalipun muatannya sebagian besar terdiri atas kertas dan bahan celup indigo." "Saya dengar kurang tenaga kerja di sana. Inc. Kapal yang beberapa kali sebulan berlayar antara Osaka dan Provinsi Awa di Shikoku itu sedang menyeberangi Laut Pedalaman dalam perjalanan ke Osaka. Masukilah perdagangan luar negeri." Seorang lelaki memandang ke arah samudera dan memuji-muji kekayaan negeri-negeri di seberang. dari pandangan samurai." "Ah. Pemerintah Tokugawa melarang rakyat mengisap." "Kalau kita mau hidup di dunia ini. bagian 10 Pemuda Tampan PULAU Awaji yang bermandikan matahari menghilang di kejauhan." "Apa tidak benar begitu? Kita mengeluh tentang masa yang buruk dan semua yang lain. dan kita dapat mendandaninya dan menjualnya lagi. tapi kalau kita beruntung. Memang riskan." "Yang mesti kita lakukan cuma berpura-pura membungkuk kepada samurai. dan sedikit uang cukuplah buat sebagian besar mereka itu. Tapi jumlahnya tak seberapa sekarang. banyak juga untungnya. netcafe. padahal satusatunya kemungkinan sekarang ini adalah menjadi saudagar. habis pertempuran berikutnya. Kadang-kadang ingin saya bertanya kepada samurai.° kata orang yang lain. Begitu sibuk mereka memikirkan kehormatan dan tata krama prajurit. betulbetul tidak percuma. "Bagaimana kabarnya? Saya berani bertaruh." "Sama sekali tidak! Tiap orang bilang semua sedang menanjak di Sakai. tapi saya tak melihat buktinya. Kepak-kepak layar besar di tengah angin menenggelamkan bunyi ombak. Setidaknya kita masih dapat melakukan apa yang kita inginkan. ya?" "Ya. ha!" "Dulu kalau penjarah pulang membawa rampasan. atau menguyahnya.property of: CROSSFiRE. mencium. Terdapat juga sejumlah penumpang di kapal itu. Kebanyakan mereka tidak kenal makanan yang baik. barang itu akan kembali lagi. berangsur-angsur digelapkan oleh kabut sore musim dingin. apa yang mereka peroleh dari hidup ini. "Saya sendiri mensuplai perlengkapan perang-tiang bendera." Ebook by Kang Zusi ." "Memang begitu juga pendapat saya. perlu juga kita bersenang-senang." "Anda benar. saya kira sekarang samurai-samurai itu tahu bagaimana berhitung. Sebagian besar pedagang yang sedang pulang atau untuk berdagang akhir tahun di Osaka. Saya kasihan pada mereka. kita mesti melakukan apa yang dilakukan oleh Naya 'Luzon' Sukezaemon atau Chaya Sukejiro. Kita bicara tentang kemewahan yang dapat dinikmati para daimyo.

bukan ke tangan samurai." Tirai pun digantungkan. dan ia kelihatan betul-betul kerasan di tengah pendeta pengembara. dan gelung rambutnya terikat pita ungu yang lain dari yang lain. tetapi oleh para penjudi dilemparkan saja ke sana kemari seperti kerikil. ia mengenakan sandal jerami dan kaus kulit seperti yang dipakai semua orang. Tidak aneh lagi bahwa lelaki yang sudah berumur sekitar dua puluh lima tahun terus mengenakan pakaian seperti anak-anak umur lima belas atau enam belas tahun. Bahkan seorang pedagang kecil pun biasanya lebih kaya daripada seorang samurai yang upahnya lima ribu gantang padi setahun. dan matanya terang. Seorang pemuda memangku sesuatu yang bulat bentuknya. yaitu senjata Ebook by Kang Zusi . dan membiarkan rambut di ubun-ubunnya tidak dipotong. Kebanyakan mereka duduk di samping barang bawaan mereka dan memandang laut dengan sikap tak senang. "Kenapa pula kau ini menggeliat-geliat saja?" katanya tak sabaran sambil mengetuk-ngetuk tajam kepala monyet itu. tapi sekarang ini tak semudah dulu menyebut umur seseorang dari pakaiannya. Kalaupun tidak membawa monyet. Ini bukti bahwa mereka lebih kaya daripada penduduk lain. netcafe." "Jadi. bibirnya merah sehat." "Boleh. karena baik kimono maupun jubah merah pendek di atas kimononya itu betul-betul menarik perhatian. para samurai compang-camping. nyonya-nyonya dan pembantunya membawakan sake. apa yang mereka peroleh dari hidup ini—seorang pendeta pengembara. Apa dia terlatih?" tanya penumpang lain. pakaian pada umumnya telah lebih berwarna-warni. tubuhnya kokoh kekar dan kekerasan yang dewasa memancar dari alisnya yang lebat dan lengkungan ke atas di kedua sudut matanya. dan berkali-kali menyuruhnya. Di lain pihak. dari situ tak dapat diambil sesuatu kesimpulan. Pakaiannya menunjukkan bahwa ia masih kanak-kanak. seorang pendeta Kong Hu Cu. Dengan naiknya Hideyoshi. ya?" "Memang tak banyak. menyaksikan awal permainan kartu yang penuh lagak itu. Permadani wol yang dihamparkan untuk duduk kelompok orang ini barang impor. Karena sedang dalam perjalanan. dan para petani yang tak bercukur di kapal itu. beberapa ronin. Inc. kemewahan zaman Momoyama sebagian besar telah beralih ke tangan para saudagar. Mari kita main kartu kecil-kecilan buat menghabiskan waktu. padahal jumlah itu sudah dianggap pendapatan besar oleh kebanyakan samurai. dan orang-orang mulai main umsummo.property of: CROSSFiRE. dengan taruhan yang sukar dipercaya. pemuda itu terus sibuk menangkapi kutu binatang itu. Di antara para penumpang terdapat beberapa orang yang bisa saja ditanya oleh para saudagar kaya itu. namun ada sesuatu yang mengisyaratkan bahwa ia memiliki status lebih tinggi. Sikap polos yang diperlihatkannya waktu la mencari kutu binatang itu menambah kesan umur mudanya. tapi monyet-monyet yang lebih tua hampir saja merobek-robek saya. sebelum saya berhasil lari. sebuah permainan yang belum lama diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Portugis. Status sosial pemuda itu juga sukar dipastikan. pemuda itu pasti memikat perhatian orang." "Kalau begitu. berbulu lebat. sudah lama juga Anda miliki?" "Tidak. "Duduk yang tenang!" "Bagus sekali monyet kecil Anda itu. "Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan-perjalanan begini. Emas yang ada di meja sesungguhnya dapat menyelamatkan banyak desa dari bencana kelaparan. Jadi. "Ya. Dan pada waktu waktu itu orangorang kota yang kaya itu kota yang kaya adalah orang-orang yang memiliki perangkat minum sake yang anggun dan peralatan perjalanan yang indah dan mahal. Anda menangkapnya sendiri?" "Ya. Rambut bagian depannya tidak bercukur. saya menemukannya belum lama ini di pegunungan antara Tosa dan Awa. Dengan mudah ia dapat diduga sebagai seorang ronin. Sesudah kematian Hideyoshi." Sambil berbicara. dan beberapa prajurit profesional. pemain boneka. Kulit pemuda itu bercahaya penuh kebeliaan.

Gion Toji yang berdiri beberapa jauh dari situ pun terkesan oleh senjata itu. Sering benar jawabannya berbunyi. Di situ jumlah siswa yang jauh lebih besar akan dapat ditampung. Biarpun semua milik keluarga dijual. dan lagi tak ada buahnya. Seijuro menulis surat edaran untuk maksud itu. "Kalau tiba pada waktunya." renungnya. tidak banyak di antara mereka yang bersedia memberikan sokongan berarti atau berjanji akan memberikan uang sesuai dengan maklumat pendek itu. ia semakin ingin tahu latar belakang pemiliknya. apa pembawa surat itu tiba pada waktunya. Toji mendekat dan mencoba membuka percakapan. dan Shikoku. dan wajah yang muncul dalam pikirannya sekarang pun bukan wajah Seijuro. dan dengan senjata itu Toji berangkat mengusahakan bantuan dari bekas-bekas siswa sekolah di daerah barat Honshu. Ke Osaka. Perjalanan yang telah empat belas hari itu sungguh menjengkelkan. tidak akan tersedia cukup dana untuk menutup rekening yang sudah menimbun. netcafe. Alasan di balik perjalanannya itu adalah keadaan keuangan Keluarga Yoshioka yang goyah. atau lain lagi. "Halo." "Kalau begitu. "Ingin tahu juga aku. yang bersifat sama juga. ya?" Tanpa mengangkat kepala. makin hanyut ia dalam pemikiran bahwa kewajiban suci sekolah itulah untuk mengajarkan Gaya Kempo kepada sebanyak mungkin orang. Makin lama memikirkan hal itu. "Akan kita tinjau hal ini nanti. Sokongan yang dibawa pulang Toji hanya sebagian kecil saja dari jumlah yang sebelumnya dibayangkannya. Ebook by Kang Zusi . Ia berjanji. Keuarga itu tidak lagi kaya. Ia iri pada pemuda yang sedang mencari kutu monyetnya itu. "Ya. dia pasti menjemputku di dermaga Osaka. Dengan mengerahkan otaknya. Namun bahkan wajah Oko pun hanya dapat sekilas saja mengalihkan perhatiannya. tentunya kau dari Awa. akibat cara hidup Seijuro yang melebihi kemampuan. sampailah ia pada gagasan untuk membangun sekolah baru dan lebih besar di tanah kosong dekat Nishinotoin. dan sebagian besar dari mereka sekarang menjadi samurai dengan kedudukan yang membuat orang iri. yang disandangnya di punggung dengan tali kulit. menghindar." "Tidak. "Akan saya tulis nanti pada Anda soal ini"." Ia mencoba mengingat-ingat wajah Oko. Toji merasa bosan. Dengan adanya segala macam orang yang berhasrat belajar seni perang dan para daimyo yang menginginkan sekali prajurit terlatih. Inc. Toji mengatakan bahwa persoalan itu mesti ia yang menangani. Menghadapi keadaan ini.property of: CROSSFiRE. dan sudah dalam bahaya disita oleh para saudagar kreditor. tidak juga dari sana. melainkan wajah Oko. Yang lebih memburukkan keadaan adalah tunggakan-tunggakan akhir tahun yang sudah tak terhitung jumlahnya." katanya." Kata-kata itu diucapkannya dengan sikap pasti. "Pedangmu luar biasa kelihatannya. tapi kemudian mencoba lagi. Segera kemudian ia sudah seperti duduk di bara hangat kembali. Menurutnya. Sementara menguap dan berpikir bahwa di Kyoto pun tidak sering terlihat pedang yang demikian tinggi mutunya. Namun ternyata. satu-satunya komentar Seijuro hanyalah. untuk meringankan beban kebosanan yang dialaminya. entah dengan cara bagaimana akan membereskan soal-soal itu. Memang di berbagai wilayah feodal banyak orang pernah belajar di bawah pimpinan Kempo. dan buatannya amat indah. Senjata itu berupa pedang pertempuran yang panjang lurus. Hampir tiap orang yang berbicara dengan pemuda itu memuji bagusnya buatan pedang tersebut." "Apa keluargamu tinggal di sana?" "Tidak. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Karena merasa dialah yang mendorong keroyalan tuan muda itu. besar. Rumah di Jalan Shijo sudah digadaikan. maka sekolah yang lebih besar dan menghasilkan sejumlah besar pemain pedang terlatih akan memuaskan kepentingan semua pihak. Kyushu. walaupun Toji sungguh tulus dalam permohonannya. Ia sudah rindu sekali berada lagi di tengah orang-orang yang dikenalnya. Toji jadi terdiam untuk beberapa waktu. kalau saya berada di Kyoto lagi". pemuda itu membuka matanya sedikit dan katanya. Sebenarnya rumah tangga yang dalam bahaya itu bukanlah rumah tangga Toji sendiri. melelahkan. sekarang ini bukan zamannya lagi untuk bersikap eksklusif. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghabis-kan waktu. orang muda.

Dari situ. karena senang senjatanya dipuji." kata Toji mencela. Inc. netcafe. mereka balik kanan dan lari. menerima saya sebagai muridnya. "Ketika saya berada di Suo itu. "Ya." "Memang pedang dapat dipakai. Toji tak dapat menyembunyikan perasaannya bahwa ia lebih unggul daripada anak ini. Apa yang terjadi sesudah itu?" "Saya tinggalkan Desa Jokyoji di Echizen. Nyatanya. dengan sedikit saja memperhatikan reaksi pendengarnya. pemuda itu berhenti bicara sesaat lamanya. dan pergi menemui Kanemaki Jisai. Orang menamakannya Galah Pengering. Ini pedang pertempuran. "Jisai jatuh sakit. "Siapa saja harus dapat menggunakan pedang sepanjang ini. Dan itu menyebabkan saya dikeluarkan dari sekolah. saya Ebook by Kang Zusi ." "Guru-guru desa memang semuanya gampang saja mengeluarkan sertifikat." "Terlalu panjang. dan jawabnya." gumamnya. ini pedang terkenal. tidak berarti saya harus mengguna-kan pedang pendek. Memang tampak mengesankan.property of: CROSSFiRE. Tapi belum saya berhasil. Guru saya menggunakan pedang pendek. satu-satunya orang yang pernah diberinya sertifikat cuma Ito Yagoro Ittosai. Saya tak suka meniru. "Gaya Tomita. Sebelum ibu saya meninggal. dan dari ceritanya tentang pengalaman-pengalamannya di masa lalu. biar panjangnya semeter atau bahkan lebih. saya betul-betul kerja keras." "Di mana rumahmu?" "Iwakuni." "Panjang sekali. tapi selamanya pedang ini dianggap buatannya. Saya lihat sekarang banyak orang terhuyung-huyung memakai pedang yang amat besar. Dia juga sudah meninggalkan Gaya Tomita. Dengan itu saya mengembangkan teknik sendiri. dia mengatakan saya bisa jalan sendiri." kata Toji dengan gaya berwibawa. Jisai tidak. Setelah saya memutuskan untuk jadi orang kedua yang secara resmi diberi sertifikat. "Oh. beliau memberikan pedang ini dan minta saya menjaganya betul. dan mengembangkan Gaya Chujo. karena pedang ini buatan Nagamitsu. tapi kalau sudah terdesak." Sambil senyum si pemuda menjawab yakin. Sekali mulai. tiba-tiba saya dipanggil pulang karena ibu saya akan meninggal. Di tempat asal saya." "Orang-orang muda seperti kalian rupanya bangga dengan sifat memberontak. bahkan dengan sukarela ia memberikan keterangan. di Provinsi Suo. masa?" "Memang tak ada tanda tangannya pada ujungnya. Pada suatu ketika. Gaya apa yang kaupelajari?" Dalam hal yang berkenaan dengan permainan pedang. Panjangnya cuma semeter." "Oh. jadi saya putuskan menggunakan pedang panjang. kalau saya mempelajari Gaya Tomita. ia terus mengoceh. "Tapi cuma orang ahli yang dapat memakainya dengan mudah." "Tapi Gaya Tomita itu untuk pedang yang lebih pendek daripada pedang itu. tampak bahwa wataknya lebih kuat daripada yang bisa disimpulkan melalui seleranya berpakaian. namun dalam masalah yang disukainya ia dapat berbicara berpanjang-panjang. Ketika mendengar kabar itu dari Kusanagi Tenki. Agaknya. dan sesudah empat tahun saya belajar di bawah pimpinannya." "Nagamitsu? Ah. tiap hari saya latihan di sekitar Jembatan Kintai dengan menebasi sayap burung layang-layang dan menetaki cabang pohon liu. supaya mudah saya menariknya dari pinggang. si pemuda memperbaiki posisi duduknya menghadapi Toji dan menjawab ramah. ya?" "Tak tahulah. Dia bersimpati pada saya. tapi saya bermaksud mencari pandai pedang yang baik di Osaka untuk menyetelnya kembali. Sesudah pulang itu. pedang ini sudah lama menjadi milik keluarga saya. Matanya mendung dan merenung." Walaupun sebelumnya pemuda itu pendiam. Pemuda itu melontarkan pandangan penuh tanya ke wajah Toji yang tampak puas diri. Dia tidak seperti itu.

terbawa oleh bunyi ombak dan layar. Bukanlah ia sendiri hampir dua puluh tahun lamanya di Perguruan Yoshioka. di tengah jalan antara Kozuke dan Awa. tapi berbicara dengannya lebih baik daripada sendirian dan merasa bosan. Orang muda itu sendiri berencana menghabiskan waktu di Kyoto untuk belajar dan melihat-lihat. begitu. ketika siang dan malam sama lamanya. "Anda dari Osaka?" "Tidak. Pertanyaan itu sendiri cukup polos. "Jadi. Tenki kemenakannya. tak sangsi lagi ia pasti menyesali apa yang baru dikatakannya. netcafe. Ia berpendapat tak mungkin ada sedemikian banyak ahli pedang yang mengembara berkeliling. sekalipun murid yang mempunyai banyak hak istimewa? Pemuda itu beralih tempat duduk dan memandang dengan saksama ke arah air yang kelabu. Toji sama sekali tidak terkesan oleh pemuda tampan yang emosional itu. beratus mil jauhnya dari Suo. akhirnya ibu saya meninggal kira-kira pada waktu yang bersamaan. saya ingin bertanding dengan Seijuro. Kapal mulai oleng. namun pandangan mata Toji memperlihat-kan sikap meninggikan diri.property of: CROSSFiRE. Kalau ia tahu. yang intinya adalah bahwa ia telah menutup tempat semayam keluarganya di Suo. tapi ia mempercayakan kepada Tenki sejumlah uang untuk orang muda itu. Toji bertanya. Lagi pula. kau punya rencana memasuki dunia ini lewat seni bela diri?" kata Toji. Dia tidak hanya menginginkan saya menerimanya. Tenki sudah belajar di sekolah itu lama sebelum saya. tapi kalau nanti sampai Kyoto. melainkan juga berharap bertemu dengan saya dan memberikannya langsung pada saya. Cepat sekali ia membenci keyakinan diri orang muda yang kurang ajar itu. Tenki diperkirakan sedang mengadakan perjalanan keliling untuk belajar. tapi Jisai mempertimbangkan pun tidak untuk memberikan sertifikat kepadanya. "Kyoto?" gumamnya. Tapi kata orang tak seorang pun dari anak-anaknya bisa menyamai tarafnya. betul-betul sedih dan menangis. ia menoleh kepada Toji dan tanyanya. dia mengatakan pada kemenakannya itu akan memberikan sertifikat pada saya bersama buku metoda-metoda rahasia yang dimilikinya." "Bagaimana kau bisa demikian yakin. dia meninggal waktu engkau tak ada di tempat?" "Ingin sekali saya pergi mendapatkannya begitu saya mendengar tentang sakitnya." Sejenak mereka berdua terdiam. dan bukankah ia masih seorang murid. Apakah dia masih aktif?" Toji jadi ingin sedikit mempermainkannya. untuk melihat sampai seberapa kebolehannya. tapi hampir setiap orang rupanya menduga Keluarga Yoshioka akan berakhir dengan Seijuro dan Ebook by Kang Zusi . Sebaliknya. dan dia masih di sana ketika guru terbaring sakit di tempat tidur." Mata orang muda itu pun basah oleh kenangannya. Saya tak percaya dengan segala yang saya dengar. Pemuda itu melanjutkan cerita sentimentalnya. Selesai dengan ceritanya." Awan-awan menyembunyikan matahari. membuat seluruh langit berwarna keabu-abuan. dan katanya. jadi tak mungkin saya berada di sampingnya sampai akhir hayatnya." katanya." Toji batuk-batuk untuk menekan tawanya. "Oh. dan tertawalah ia. Kurang kemungkinannya bahwa Jisai yang tidak memiliki sanak dekat itu meninggalkan banyak kekayaan. "Jadi. "Yoshioka memiliki rumah besar dan banyak nama baik." jawabnya singkat. sebelum kau betul-betul berjumpa dengan mereka?" "Itulah yang dikatakan oleh samurai dari provinsi-provinsi lain. anak tertua Yoshioka Kempo. Dengan wajah memerot dan nada menghinakan. jadi menurut bayangan saya Kempo tentunya seorang pemain pedang besar. saya dari Kyoto. dan buih air terbang ke kapal lewat bibir kapal. Sudah pernah engkau mengunjungi tempat itu?" "Tidak. bersama sertifikat dan buku rahasia tersebut. berpura-pura menaruh minat besar. "Ya. "Perguruan Yoshioka kelihatannya sekarang berkembang pesat. Sebelum mereka berjumpa pada hari yang telah ditentukan di Gunung Horaiji di Provinsi Mikawa. Inc. tapi dia ada di Kozuke. Sudah lama ia muak dengan pemain-pemain pedang muda sesat yang berkeliaran ke sana kemari membualkan sertifikat dan buku-buku rahasianya. Tentu saja orang muda itu tidak mengetahui kedudukannya di perguruan tersebut. "Saya dengar ada orang yang namanya Yoshioka Seijuro di sana. "Dan kukira engkau menduga dapat pergi tanpa cedera?" "Kenapa tidak?" tukas balik pemuda itu. kemudian menoleh lagi pada Toji. Sekarang dialah yang ingin tertawa. mendekati sikap merendahkan. dan melalui suratmenyurat ia mempersiapkan diri bertemu dengan temannya Tenki pada musim semi.

Pemuda itu menepuk punggungnya pelan." "Orang muda!" kata Toji tajam. maka aku tak heran kalau Keluarga Yoshioka disepelekan. menggeram tentang kekurangajaran para pemuda zaman sekarang. "Saya dapat melakukannya. Tapi cobalah engkau bercerita lebih banyak tentang dirimu." kata Toji. kuperingatkan kau. Pemuda itu mengikutinya tanpa mengatakan sesuatu." katanya dengan suara tenang yang tidak Ebook by Kang Zusi . saya tadi mengatakannya. Oko menantinya apabila kapal masuk dermaga nanti. Toji yang telah menyatakan namanya dan mengagungkan statusnya berjalan dengan gayanya ke buritan kapal. Kau membual tentang menetak burung layanglayang dan bicara tentang sertifikat Gaya Chujo." "Nah. jadi saya sudah bikin kesal Anda. Toji melanjutkan. tidak bakal engkau sampai ke mana-mana. Saya hanya mengulangi apa yang saya dengar. ia akan mengalami kesulitan dengan para pejabat kemudian. tapi lebih baik kau ingat bahwa tidak semua orang itu bodoh. Inc." Pemuda itu tidak segera memberikan jawaban. "Dari permulaan tadi aku sudah mendengar kau membangga-banggakan diri." "Anda pikir kata-kata saya itu cuma bualan?" "Ya.property of: CROSSFiRE. tapi saya pikir itu perbuatan bodoh. Sambil menatap bibir Toji yang cemberut. terpaksa aku bertindak!" Waktu itu mereka sudah menarik perhatian penumpang-penumpang lain. "Apa?" "Apa kau tahu artinya 'samurai setengah matang'? Demi masa depanmu. dan jika sekarang ia terlibat dalam perkelahian." Dan ketika orang muda itu tidak mengatakan sesuatu. dan aku tidak keberatan. Maka dengan seboleh-bolehnya menahan diri ia menjawab. Tapi masalahnya adalah aku Gion Toji. "jika kau demikian hebat hingga dapat meremehkan Keluarga Yoshioka sebelum kau sendiri ke sana." kata Toji dengan nada bergaya. Tadi kau mengatakan sudah menemukan cara membunuh burung layang-layang pada sayapnya?" "Ya. katanya. "Tuan. "Tapi tak seorang pun di Kyoto suka mendengar Perguruan Yoshioka disepelekan." Toji ingin sekali menyuruh pemuda itu menjaga lidahnya. tentunya tak sukar bagimu menetak salah seekor camar laut yang menukik ke kapal ini. tapi menggawatkan keadaan pada taraf itu akan membuatnya tampak sebagai pihak yang kalah." "Ha! Tapi saya bukannya menyampaikan pikiran saya sendiri tadi itu. sebelum kau membanggakan diri. "Tak seorang pun keberatan mendengar seorang muda membanggakan kemampuannya. Untuk sesaat bahkan terpikir olehnya akan membuka identitasnya. tapi jangan-lah sampai keterlaluan.." "Dan kau melakukannya dengan pedang panjang besar itu?" "Betul.. netcafe." "Oh. Kalau sekali lagi kau mengeluarkan ucapan yang menghina Keluarga Yoshioka." "Nah. Mendadak sontak terpikir olehnya bahwa Toji punya maksud tak baik terhadapnya. "Rupanya sekarang provinsiprovinsi penuh orang yang serbatahu. Lebih baik kau melihat dulu baik-baik siapa yang kauajak bicara. Denshichiro. murid utama Yoshioka Seijuro. ya?" "Tidak. Maka dengan menampakkan diri sesantai mungkin ia menelekan sikunya ke susuran kapal dan memandang penuh perhatian ke pusaran biru hitam yang terbentuk di bawah kemudi. sedang-kan para penumpang ternganga dari jarak yang aman. sama sekali tidak. betul. kalau kau dapat melakukan itu." Toji mendekat sambil membusungkan dadanya. Kalau kau meremehkan orang lain. Toji sama sekali tidak merasa senang dengan keadaan itu.

?" "Cobalah maju lima langkah lagi. pasti. Kalau burung-burung itu tidak mendekat. akan saya tebas yang lain buat Tuan. katakan saja tak bisa.property of: CROSSFiRE. jika kau melakukan ini cuma demi kebanggaan dan kau gagal. Dengan marah ia berseru. "Tuan. Tuan tertawa ketika saya katakan saya dapat menetak sayap burung layang-layang. Toji berkata senang." Ebook by Kang Zusi ." "Akan saya terima kemungkinan itu." Pemuda itu mengambil posisi di atas lempeng timah di tengah dek belakang dan menggerakkan tangan ke pedangnya. Toji menatap ingin tahu. "Omong kosong apa pula ini? Kalau orang bisa membuat camar terbang di depannya. dan mintalah maaf. netcafe. berapa saja jumlahnya." "Tapi Tuan mau jadi saksi?" "Oh. dan bertanya apa yang dikehendaki pemuda itu. "Tapi jangan lupa.. jadi aku tadi usul begitu. kau akan benar-benar menjadi tertawaan.." "Apa yang kutantangkan untuk kaulakukan?" "Tidak mungkin Tuan sudah lupa. Inc." ulang orang muda itu. dan saya ingin Tuan menjadi saksinya. "Apa maumu?" "Tuan sudah menyebut saya seorang pembual di depan banyak orang yang tak dikenal. Kalau Tuan pikir lebih masuk akal saya memenggal kepala itu daripada membunuh camar laut yang tak bersalah." "Seperti misalnya." "Aku tak punya maksud mencegahmu. mengungkapkan kemarahan ataupun kebencian. kalau saya bermaksud melakukan itu. sedangkan pedang saya hanya satu meter panjangnya. Kalau tak bisa membunuh camar laut lewat sayap-sayapnya." "Baiklah. Akan saya tunjukkan pada Tuan. ia memanggil nama Toji. dengan senang hati. ya?" "Jika saya tebas seekor. dan mendesak saya menebas burung camar. "Apa maksudmu sekarang?" "Saya cuma ingin Tuan mengizinkan saya memanfaatkan kepala Tuankepala yang sudah Tuan pakai mendesak saya membuktikan bahwa saya bukan hanya membanggakan diri." "Bagus sekali!" Toji tertawa mengejek. apa itu akan meyakinkan Tuan bahwa saya tidak hanya omong?" "Ya. tentu saja dapat dia menebasnya. Dengan sikap sangat sungguh-sungguh pemuda itu berkata. Saya siap menebas burung-burung itu. ya. Pemuda itu berhasil menganggapnya seekor keledai." Toji datang mendekat sambil menggeram. Saya merasa terpaksa melakukan apa yang sudah Tuan tantangkan pada saya untuk saya lakukan beberapa menit lalu. Kalau burung-burung itu tidak mendekat. "Itu namanya Cuma mau mencoba menyelamatkan diri. Toji tidak menjawab. akan saya lakukan. Sambil melakukan itu. mana bisa sava menebasnya?" Sambil maju beberapa langkah." "Oh." Toil tiba-tiba menyadari persamaan antara apa yang sedang terjadi itu dengan jalan cerita sebuah cerita lucu yang menurut kata orang diciptakan oleh pendeta Ikkyu." "Hmm." "Laut menghampar beratus mil jauhnya.. tak akan saya berdiri menanti di sini. "Suruh burung camar terbang turun di depan saya. sedangkan saya punya kehormatan yang harus saya junjung.. Tak dapat lagi menahan sikap masa bodohnya. Toji bertanya.

sedangkan kemarahan dalam hatinya hal lain lagi. Jelas ia sedang lengah. Inc. dan ternyata pita yang mengikat rambutnya di belakang kepala sudah lepas. "Bajingan!" Kemarahan yang tidak tanggung-tanggung melanda hatinya. tapi ia pemain pedang menakjubkan. ia lihat pemuda itu sudah kembali ke tempat duduknya semula dan sedang mencari-cari sesuatu di dek. karena justru pada saat itu pemuda itu mencabut pedang dari sarungnya dan mengayunkannya. sepertinya dia sedang membagikannya. netcafe. Ia memang masih muda." "Mesti ada yang naik mengambil kartu itu! Tak bisa kita main tanpa yang itu. "Apa pula ini? Kartunya tak cukup!" "Ke mana perginya?" "Lihat sana!" "Aku sudah lihat. Dengan tubuh membengkak merah dan napas berat ia menabahkan diri untuk menyerang. tapi hormat yang dirasakannya itu satu hal. ia sama sekali tidak cedera.property of: CROSSFiRE. seorang di antaranya kebetulan memandang ke atas. Sambil meludahi gagang pedang ia cengkeram gagang itu eraterat. Gelungan rambutnya sudah hilang! Gelungan yang sangat dibanggakannya-kebanggaan tiap samurai! Dengan wajah mengerikan ia menyapukan tangan ke atas kepalanya. "Ha. dan sejauh yang ia ketahui. Tapi justru pada waktu itu timbul keributan di antara para saudagar yang sedang bermain kartu. Gerakan itu demikian cepat. dan is meletakkan tangan ke atas kepalanya. hingga pedang yang panjangnya satu meter itu rasanya tak lebih besar dari sebuah jarum. ke arah bagian dek yang diterangi matahari. Salah seorang saudagar mengambilnya." Ketika mereka sedang berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan permadani. Ketika mengangkat kepala dan melihat ke arah haluan. mencuri kartu." "Bagaimana kalau Kapten sendiri?" "Saya pikir dia dapat." Selembar kartu melayang turun. kalau dia memang mau. ya. "A-a-apa?" teriak Toji sambil terhuyung ke belakang dan memegang kerahnya. para penumpang lain semuanya memandang monyet yang waktu itu bertengger di puncak bang yang tingginya sepuluh meter. Suatu pikiran mengerikan bersarang di kepalanya. Untunglah kepalanya masih ada. dia menguyahnya sekarang. Toji kagum bahwa orang yang masih begitu muda dapat begitu hebat. Ia tidak yakin apakah sasarannya cukup baik untuk memotong gelung rambut orang itu saja tanpa mesh mengikutsertakan kepalanya. "Bukan main monyet itu—mencuri kartu. ia lihat sebuah benda yang tampak aneh." "Bukan. tapi ia tak peduli. dan pergi di antara tumpukan bagasi. Tahulah ia sekarang. seperti sebuah sikat kecil. "Di atas itu! Monyet itu yang mengambilnya!" Senang dengan hiburan yang lain daripada yang lain itu." "Tak seorang pun mau memanjat. Secara refleks kepala Toji merunduk." "Nah. ha!" tawa seseorang. dan ia menyelinap ke belakang penyiksanya. "Mengerti sekarang?" tanya pemuda itu sambil membalik. Ketika ia memandang ke bawah. "Apa kau sudah gila?" teriak Toji. dan Toji merasa bahwa kesempatan untuk membalas dendam tiba. Toji jadi merah padam karena malu. pemuda itu tidak berbohong atau menyuarakan bualan kosong. "Mestinya dia masih menyimpan tiga atau empat lembar lagi. dan katanya. Rambut yang tadi terikat pita itu memburai di seluruh permukaan kepalanya." Ebook by Kang Zusi .

. lalu melenguh-lenguh seakanakan dia majikan atau guru mereka?" Ebook by Kang Zusi . Apa Tuan kira saya mau menjawab kalau cuma seorang kapten kapal berdiri di depan para penumpang kapal. sementara salah seorang saudagar menarik lengan baju Kapten dan mendesaknya untuk menembak. Kalau nanti dia mengeluh menyatakan tidak mendengar saya. tapi dia tak mau. Seperti kita lihat. Ketika muncul kembali. Kapten berbicara lagi. Kapten mengangkat senapan dan membidik. Berdiri di atas tumpukan muatan. Karena dia tak bertuan. saya sudah mengimbau pemiliknya untuk menyatakan diri. Sambil meninggikan lagi suaranya. "Mari kita tawarkan uang kepadanya. "Milik siapa monyet itu? Saya persilakan pemiliknya maju ke muka. Beberapa penumpang mulai berbisik-bisik dengan sikap tak senang. maka naiklah darahnya melihat pemuda itu tidak menjawab. Wajah orang-orang dialihkan dari Kapten ke pemilik monyet. dan sebagian lagi mulai bertanya apakah orang itu bisu-tuli atau sekadar kurang ajar. setuju menerimanya. saya kira kita dapat melakukan apa saja yang kita kehendaki. katanya. karena sekalipun bertubuh kuat. dan mengambil uang itu. "Rupanya monyet hidup di laut dan di darat. ia sudah memegang senapan dengan sumbu lambat yang sudah dinyalakan. Inc. Tiba-tiba ia memperlihatkan giginva. saya minta saudara-saudara berdiri di pihak saya!" "Kami menjadi saksi Kapten!" teriak para saudagar yang waktu itu sudah hampir naik pitam. dan senapan meletus dengan suara berdentam. berceloteh. Monyet itu sedang menyenang-nyenangkan diri sepenuhnya. tapi sejumlah orang yang mengetahui bahwa monyet itu milik si pemuda tampan menjeling penuh harap kepadanya. tapi saya tak ingin ada keluhan nantinya. orang muda itu mendorong laras senapan dari kedudukannya. "Tuan mau menembak monyet yang tak bersalah dengan mainan Tuan itu?" "Betul. Tetapi tembakan itu melenceng jauh. Kapten mencekal dada orang muda itu. "Stop. ia berseru kepada para penumpang. Untuk sesaat ia seperti hampir tergantunggantung. tapi agaknya ia merasa bahwa sebagai pemimpin di kapal itu pertamatama ia harus menentukan tanggung jawab atas kejadian tersebut.. Tapi ada keraguan dalam hati siapa pun bahwa Kapten siap menggunakanmya. Kapten!" Kali ini giliran Kapten berpura-pura tidak mendengar. dan berlari ke ujung palang tiang. Ia menekan pelatuk. saya akan mengambilnya. Kapten sendiri mengetahui." "Tapi perbuatan itu tidak begitu baik. Kalau tak ada yang memiliki monyet itu." Pemilik monyet bersandar pada sebuah muatan dan sedang berpikir keras. Kapten menghilang turun dan masuk palka. "Apa pemiliknya tak ada di sini?. Namun pemuda itu hanya sedikit mengubah kedudukannva ke sisi dan berbuat seolah-olah tak suatu pun terjadi. netcafe. Tapi." Tak seorang pun menjawab. pemilik monyet berseru.property of: CROSSFiRE." Kapten mendengar usul itu. kan?" "Saya sudah memberikan peringatan yang perlu!" "Bagaimana Tuan melakukannya?" "Apa kau tak punya mata dan telinga?" "Diam! Saya penumpang di kapal ini. Dan lagi saya seorang samurai. Di atas sana ira bermain dengan kartu itu dan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk menjengkelkan orang-orang di atas dek. jadilah saksi saya! Sebagai kapten. "Apa pula Tuan ini?" pekik si orang muda. seekor di antaranya sudah datang ke tempat kita. ia pendek dibandingkan dengan pemuda tampan itu. Para pemain kartu menggerutu dengki. Kapten memandang benci pada pemuda itu. tapi sesudah sampai di sana rupanya tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya. Sambil memekik berang. Pasti dia mau. para penumpang menunduk sambil menutup telinga dengan tangan. Pada detik terakhir. Para penumpang.

Kerang Pelipur Lara PETANG hari. Kau pasti mendengar. Lampu-lampu kemerahan berkelap-kelip di pantai dan ombak berdebur terus-menerus di latar belakang. tak bakal bisa dia pergi tanpa perkelahian." "Tenanglah! Biar saja prajurit-prajurit itu menyangka mereka lebih baik daripada siapa pun. Sedikit demi sedikit jarak antara suara-suara yang datang dari kapal dan suara-suara dari pantai memadu. dengan pemandangan yang indah juga!" Tak seorang pun datang menjemput pemuda itu. "Cuma karena tahu sedikit main pedang!" "Oh. dan saya tak suka sama sekali pada mereka. lentera-lentera kertas bertuliskan nama-nama berbagai penginapan melintasi dermaga menuju kapal. Orang terakhir yang meninggalkan kapal adalah Gion Toji. untuk akhirnya dijemput oleh kelompok manusia." "Tempat kami tepat di depan Biara Sumiyoshi yang cukup besar untuk peziarah.property of: CROSSFiRE. "Jangan kurang ajar kamu! Aku sudah mengulang peringatan tiga kali. Bagaimana kalau monyet itu betul-betul lari membawa kartu mereka? Saya tidak menyuruh berbuat demikian. sementara para pencari pelanggan berlomba-lomba melakukan pekerjaannya. Buat apa uring-uringan karena kejadian kecil hari ini?" Sambil bercakap-cakap seperti ini. "Dia pikir siapa dirinya?" geram seorang penumpang. waktu kapal memasuki pelabuhan Kizugawa. "Ke tempat kami. netcafe. Tak ada alasan saya untuk minta maaf!" Orang muda itu memandang tajam-tajam kepada para saudagar kaya dan menujukan tawanya yang keras mencemooh ke arah mereka. di sini!" Seperti ombak. "Siapa ke penginapan Kashiwaya!" Orang muda tadi menerobos orang banyak dengan monyet bertengger di bahunya. Tuan bisa dapat kamar yang indah. Teriakan-teriakan bersemangat riuh bunyinya memenuhi udara. Tuan-tanpa bayar buat monyet. Tugas kita sebagai rakyat adalah membiarkan mereka mengambil bunga. kau toh dapat memperlihatkan iktikad baik pada orang-orang yang merasa terganggu oleh monyetmu?" "Orang-orang mana? Yang Tuan maksud gerombolan pedagang yang sedang berjudi di belakang tirai itu?" "Jangan omong besar kamu! Mereka membayar tiga kali lipat dari yang lain. tali-tali dilontarkan dan tangga diturunkan pada tempatnya. Dia cuma menirukan apa yang mereka lakukan." ' "Itu sama sekali tak mengubah diri mereka-saudagar-saudagar yang rendah kelasnya dan tak kenal tanggung jawab. tanpa memperhatikan para pencari pelanggan ataupun yang lainnya. mereka bahagia. lentera. para saudagar tetap mengurus agar barang mereka yang bergunung-gunung dihimpun dengan tertib. "Apa putra pendeta Biara Sumiyoshi ada di kapal?" "Apa ada pembawa surat?" "Guru! Kami ada di sini. minum sake. kalau aku bukan cuma rakyat biasa. Biarpun kau tak suka dengan caraku bicara. dan berbuat seolaholah pemilik kapal. Selama dapat bergaya seperti raja. jangkar pun dijatuhkan. sedangkan kita mengambil buahnya. Disertai kecipak air berwarna putih. dan kendaraan. disambut bau ikan yang meliputi segalanya. Inc. kemudian diturunkan. Saya sudah memperhatikan mereka. Wajahnya mengungkapkan perasaan yang betulEbook by Kang Zusi . Ia berjalan langsung dari dermaga. yang melempar-lemparkan emas di depan semua orang. Tak seorang pun dari mereka yang tidak segera dikelilingi beberapa perempuan yang penuh hasrat membantu.

kau datang juga." "Aku mengerti. bukan? Kau menulis. dan kerut-merutnya menampakkan diri dari balik pupur yang dimaksud untuk menyembunyikannya. kenapa kauseret ikut orang-orang itu? Itu karena perasaanmu terhadapku lain dengan perasaanku terhadapmu!" "Sekarang kau mulai soal itu lagi.property of: CROSSFiRE. Apa kau sudah pesan kamar buat kita?" "Ya. Waktu itu mereka berada di pasar ikan. "Aku akan tinggal sendiri di mana saja!" lenguhnya. aku tidak pergi. dan berangsur-angsur kemarahan dan rasa frustrasinya mereda. orang-orang akan mengira ada sesuatu. Ada joliku menunggu. Ketika Oko mencoba menjelaskan. Sekalipun kepalanya juga terbungkus kerudung. Ayo kita pergi ke Sumiyoshi." "Tapi dua-tiga hari ini—aku betul-betul mengharapkannya. tapi kupikir surat itu tidak sampai pada waktunya. mencari penginapan yang baik." "Biar mereka mengira semaunya!" "Oh." "Jalan sini." pinta Oko. betul tak enak. Semua orang menunggu di penginapan." kata Oko mencela sambil menatap ke depan. netcafe." Ia merenggutkan lengan kimononya dari Oko dan bergegas pergi. "Aku tahu. "Aku mohon. Tak pernah dalam hidupnya ia mengalami hari yang lebih tidak menyenangkan daripada hari itu. minta aku menunggumu di sini. "Oko! Jadi. melainkan mencoba sekali lagi memaksa Toji Ebook by Kang Zusi . tapi kain itu tak dapat menyembunyikan alisnya yang turun dan bibirnya yang cemberut. Tapi ia bukannya menangis. kan?" "Ya." "Terima kasih. dan tampak seakan air matanya akan mengalir." Ia menolak naik joli. Kalau banyak orang di sana. Karena di sana betulbetul tidak ada orang. "Suruh joli itu pergi! Bagaimana mungkin kau begitu bodoh? Kau ini sama sekali tak mengerti diriku." Pandangan cemas melintasi wajah Toji. Kepalanya terbungkus kerudung untuk menyembunyikan gelungan yang hilang dengan cara sangat memalukan itu. jangan bicara seperti itu!" mohon Oko." "Kalau kau mengerti. Semua toko sudah tutup. Inc. dan berjalan marah lebih dulu. "Semua orang? Apa maksudmu? Kupikir cuma kita berdua yang akan menghabiskan hari-hari menyenangkan di satu tempat yang tenang. "Lepaskan!" pekik Toji." "Itu yang kauharapkan. "Toji! Aku di sini!" seru Oko. tapi kita masih akan punya kesempatan lain untuk bersama-sama. kemarahannya. di samping daerah pelabuhan. wajah Oko terkena tiupan angin dingin selama menanti tadi. "Kalau kau pergi sendiri. Bau pupur dan rambutnya yang manis menyusupi diri Toji. Segala kemarahan yang telah bertumpuk dalam dirinya di kapal kini meledak. "Ini cuma karena aku begitu kecewa. Cuma sedikit mabuk laut. maka Oko memeluk Toji. dan sisiksisik ikan yang bertebaran di jalan berkelipan seperti kerang-kerangan perak kecil." "Ada yang tidak beres? Kau tampak bingung." kata Toji. Pipinya yang sejuk menempel pada pipi Toji. mencoba meredakar. ia menukasnya telak dan menyebutnya goblok." "Tak apa-apa.

malam itu juga Seijuro datang di Yomogi bersama enam atau tujuh orang muridnya. pesta pun dimulai dengan sesungguhnya. "aku pergi denganmu. Tak lama kemudian. Suruh joli itu kemari. Suling dan shamisen yang mereka bawa sudah tua. Akan jauh lebih menyenangkan berada sendirian dalam kamar dengan Akemi dan kotatsu hangat. Hari itu jelas bukan hari baik baginya." "Nah. "Kenapa Tuan-tuan begini ribut?" tanya seorang di antara perempuan itu lancang. tapi saya harap betul Tuan-tuan sedikit tenang. dan sudah aus karena sering dipakai. bermutu rendah. Pesta sedang berjalan sehebat-hebatnya ketika seorang gadis muda masuk memberitahukan bahwa orang lelaki yang tiba dengan kapal dari Shikoku itu telah datang dengan temannya.property of: CROSSFiRE. dan mangkukmangkuk sake bergerak mondar-mandir lebih cepat." Untuk menghormati hadirnya wanita di tempat itu. Inc. Satu hal. Tindakan yang tidak terlalu halus untuk menyingkirkannya itu mendatangkan senyum sayu di wajahnya. Segera sesudah ia keluar dari ruangan. lalu kembali ke dermaga. tapi kemudian satu orang menyarankan agar ia dan Akemi mengundurkan diri ke kamar lain. semangat meningkat. dan ia yakin bakal datang yang lebih buruk lagi. tapi dasar nasib. Di rumah penginapan. namun perasaan murungnya tidak juga membaik. dan duduk menanti kembalinya Toji dan Oko. "saya senang mendengar itu. beberapa tulang kering yang berambut pun ditarik masuk ke balik ujung kimono. Toji terpaksa membenarkan bahwa dalam keadaan seperti itu tak banyak yang dapat diperbuat Oko. Tak ada orang mengeluarkan uang untuk berkelahi! Kami panggil kalian kemari supaya kami dapat minum dan bersenang-senang. Musik dimulai." Konsekuensi wajar dari pernyataan ini adalah pesanan sake. mereka semua sudah kurang-lebih melupakan Toji dan Oko. ketika kedua orang itu tidak juga muncul. dan tak lama kemudian beberapa gadis penyanyi dari kelas yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai "kebanggaan Tosamagawa" muncul di kebun di luar kamar. "Baiklah. "Apa katanya? Ada orang datang?" Ebook by Kang Zusi . Bagaimana mungkin ia memberikan penjelasan tentang hilangnya gelungan itu? Akhirnya ia menyadari bahwa tak ada jalan keluar. tapi bagaimanapun ia senang juga meninggalkan tempat itu. "Jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol. dan ia merasa benci karena harus menyampaikan berita buruk pada mereka. bagus! Mari kita nyanyikan lagu-lagu. "Apa tak ada gadis-gadis penyanyi di Sumiyoshi ini?" "Ide bagus! Apa salahnya kalau kita panggil tiga atau empat gadis manis?" Seijuro tampak ragu-ragu." katanya. Semula mereka minum hanya untuk menghabiskan waktu." "Oh." "Oh. tapi segera kemudian kaki mereka mulai membujur dengan nikmatnya. mendengarkan penjelasannya. di mana suasananya lebih tenang. "Cepat atau lambat mereka berdua akan datang. dan menyerahlah ia kepada nasib. satu orang berkata. dan Akemi membocorkan pada mereka bahwa Toji akan datang. Tapi yang jauh lebih ia takuti adalah bahwa ia terpaksa melepaskan kerudung dari kepalanya. aku sungguh bahagia!" seru Oko. mengenakan kimono berlapis katun nyaman yang disediakan rumah penginapan. Seijuro dan lain-lainnya sudah mandi. Seketika itu juga orang-orang itu memutuskan akan mengantar Oko ke Osaka dan minta Akemi datang bersama mereka. tentu saja ia berencana untuk datang ke Osaka sendirian. dan pesta berkembang pesat. Akhirnya rombongan yang menginap di penginapan Sumiyoshi itu berjumlah sepuluh orang. kalau itu yang kaukehendaki. netcafe. Tak ada alasan untuk duduk di sini berpangku tangan. pertanyaan pertama yang akan dilontarkan kepadanya adalah tentang hasil kampanye keliling yang telah dilakukannya. dan beberapa tubuh yang menggeletak menegakkan diri. baiklah. daripada minum dengan gerombolan orang kasar ini." kata gadis itu dengan bijaksana. "Tuan-tuan datang kemari untuk minum atau bercekcok?" Orang yang menganggap dirinya pimpinan menyahut. Beberapa waktu kemudian. Ketika pembawa surat datang membawa surat Toji.

"Kerudungku!" sengal Toji. "Ya. Siapa itu Toji?" Masuknya Toji dengan Oko sama sekali tidak mengganggu acara itu.property of: CROSSFiRE." "Hebat! Bagus sekali! Toji tua yang baik itu datang. yang mendorong Ebook by Kang Zusi . Itu mestinya tak boleh kamu lakukan!" Toji mencoba melepaskan orang itu dari dirinya. "Apa yang terjadi dengan kepalamu?" "Ha. "Baru kembali? Kau tentunya bersenang-senang dengan Oko entah di mana. kelompok yang sama sudah berkumpul di pantai di belakang rumah penginapan. Dalam perjalanan. ia menggagap. tak apa-apa. Toji jadi muak.. tapi terlambat. sebagian dengan dada dibidangkan. dan tak seorang pun bicara lagi tentang gelungan itu. sebagian lagi dengan tangan disilangkan. si biang keladi telah menyambar kerudung itu dan kini ia menggenggamnya. Semua mata memandang langsung ke tempat bekas gelungan Toji. ha! Cukuran baru rupanya!" "Di mana kaudapatkan itu?" Wajah Toji menjadi merah padam. si biang keladi vang berbau sake datang terhuyung-huyung dan merangkulkan tangannya ke leher Toji. dan Toji meronta-ronta. Inc. Kehormatan Perguruan Yoshioka sedang dipertaruhkan. Sambil jatuh. tapi semuanya tampak muram. Sambil memungut kerudungnya dan mengembalikannya ke tempatnya. diiringi napas tersengal bersama. tapi sia-sia. "Dia bawa pulang bisul untuk oleh-oleh!" "Tutup tempat yang busuk itu!" "Jangan cuma bicara. Apa kau mau menyebutku pembohong?" "Kita tak dapat membiarkan hal itu berlalu tanpa melakukan sesuatu. menendang beberapa guci sake. "Dari segi mana pun. Ini persoalan yang menyangkut martabat seluruh Perguruan Yoshioka! Ada yang keberatan?" Biang keladi yang mabuk semalam itu kini menjadi letnan yang gagah berani. Aku punya bisul. buruk keadaannya. Setelah dibuat berpikir bahwa mereka semua berkumpul demi meyakinkan Toji bahwa semua itu diadakan untuk dia. tapi pesta berjalan terus. Tunjukkan pada kami!" Dari lelucon ringan itu jelaslah bahwa tak seorang pun percaya pada Toji. Orang itu menariknya ke dalam kamar. Pukul sepuluh. tapi apa tindakan kita?" "Nah. Pagi berikutnya persoalan sudah lain sama sekali. kemudian jatuh ke lantai bersama Toji pula." "Tapi persoalannya.. selagi kami duduk menunggu di sini. bahkan sesungguhnya mereka berdua diabaikan. dalam keadaan sudah tidak mabuk dan tenggelam dalam pembicaraan yang sangat serius. orang itu menginjak sebuah-dua buah baki. Ia panggil kembali gadis yang mengantar mereka dan minta dibawa ke kamar Seijuro. semua orang tertawa terbahak-bahak. "Ah. sekarang ini masih belum terlambat. Tangannya cepat memegang kepalanya. netcafe. "Hei. Tapi ketika mereka sedang masuk ke gang. apakah benar begitu?" "Aku mendengar dengan telingaku sendiri. Kita harus menunjukkan kepadanya bahwa bukan hanya kebanggaan Gion Toji yang tersangkut di sini. Mereka duduk melingkar. dia bilang orang yang namanya Toji datang. ha. Toji!" katanya dengan nada malas. Kita harus bertindak!" "Tentu saja." Tanpa kecuali. Kita harus menemukan orang yang membawa monyet itu dan memotong gelungannya.

mereka memutuskan lebih masuk akal menemukan pemuda tak dikenal yang membawa monyet itu dan membersihkan nama baik Yoshioka. seorang saudagar masuk. Akemi yang bertelanjang kaki bermain di tepi air. Hal ini membenarkan tepatnya cerita itu. memunguti kerang laut satu demi satu." Ia menyampaikan pada Akemi apa yang telah terjadi. untuk ditanyai tentang kejadian tersebut." "Buat apa mencarinya? Ada berjuta-juta kerang di seluruh tempat ini. kalau memang benar demikian. ia bercerita tentang apa yang telah terjadi di kapal." "Dan bagaimana kalau benar begitu?" "Kamu gila. kecuali kalau kami bertindak cepat. untuk menghilangkan sisa mabuk mereka. Tapi segera mereka temukan bahwa Toji sudah bangun lebih pagi. Ketika terbangun pagi itu." "Apa yang dilakukannya?" "Sesuatu yang akan membikin malu nama Tuan Muda. "Samurai yang kehilangan rambutnya itu menyatakan diri sebagai murid terkemuka Keluarga Yoshioka di Kyoto." "Hah?" Dan dengan mata menyipit ia memandang Akemi curiga. Dengan mata terbuka lebar karena heran." Murid-murid Yoshioka cepat bebas dari mabuknya dan pergi mencari murid senior yang sulit diatur itu. Inc. matahari bersinar hangat dan bau laut memancar dari built ombak yang menghampar seperti rantai bunga mawar putih sejauh-jauh mata memandang. Pendapat saya. sementara ujung sarung pedang mereka mendongak-dongak ke udara. tapi langsung membuangnya kembali. "Bukannya kami suka berkelahi. "Bagaimana kalau kau ikut mencari denganku? Setiap orang mendapat bagian wilayah untuk diliput. Dia membawa monyet. Perempuan biasa menghamburkan waktu dengan cara-cara yang lebih gila daripada lelaki. "Kalian ini selalu saja mencari perkelahian!" kata Akemi dengan nada tidak sependapat. "Ke mana kalian semua ini pergi?" "Oh. Akemi memandang orangorang Yoshioka berlari ke arah yang berbeda-beda itu.property of: CROSSFiRE. keadaan Keluarga Yoshioka itu tentunya lebih buruk lagi dari yang dapat dibayangkan orang. tapi kalau kita biarkan dia lolos. kemudian langsung berangkat dengan Oko ke Kyoto sesudah makan pagi. Tanpa mengetahui siapa mereka. dan katanya. orang-orangnya memasuki pertempuran." Ebook by Kang Zusi . netcafe. dan mulai beraksi. Tidak jauh dari sana. Namun ia gagal membangkitkan minat Akemi setitik pun. "Dan apa yang kamu lakukan di sini selama ini?" "Aku?" Akemi menjatuhkan pandangan matanya ke pasir indah di sekitar kakinya. ia berseru. kamu?" kata orang itu. namun daripada mengejar Toji si pengecut. Contoh yang tepat buatmu. Dalam sidang perang di tepi pantai itu mereka menyepakati sebuah rencana. mengibaskan pasir yang menempel di kimono. Dan ketika mereka berada di tempat mandi. Ia sampaikan pada mereka cerita lucu tentang pemotongan gelungan itu dan ia akhiri ceritanya dengan mengatakan. "Aku mencari kerang laut. ya?" "Kalian orang-orang lelaki ini menghabiskan waktu dengan mengejar hal-hal paling tolol. mereka memesan air hangat untuk mandi. Sekalipun waktu itu musim dingin." "Apa yang kalian cari?" "Seorang samurai muda dengan jambul panjang. Ketika orang terakhir melewatinya. berbicara sepatah dua patah kata dengan Seijuro. lalu bangkit berdiri. dia dapat mendatangkan aib bagi perguruan yang menjadi pusat terbesar seni bela diri di negeri ini.

barangkali sedikit sembrono. Namanya pelipur lara. apalagi Seijuro." "Aku berani bertaruh tak ada barang macam itu!" "Ada! Kalau kamu tak percaya. Akemi sering mengira bahwa persoalan yang dihadapinya akan terpecahkan jika saja ia dapat melupakan masa lalu dan menikmati masa kini. karena itu aku merasa tidak bahagia siang hari dan berbaring dengan mata melotot malam hari. Ia ragu-ragu akan menyerahkan diri seluruhnya kepada khayal. "Tapi aku mencari jenis kerang yang sangat khusus." -Tapi di Sumiyoshi ada juga bunga yang bikin kita lupa. Karena itulah aku mencarinya. melainkan akan diselipkannya ke dalam lengan baju Seijuro. keajaiban apa yang akan kaudapat?" "Mudah sekali. dan ia tunjuk sebuah batu berukiran sebuah sajak kuno. Akan kutunjukkan nanti. Ia cenderung yakin bahwa Seijuro ada di dunia ini semata-mata untuk meruntuhkan masa mudanya. Air Laut Pedalaman yang biru tiba-tiba tampak begitu memikat. Bagaimana kalau kamu tinggal saja di sini.property of: CROSSFiRE. hingga belum dapat barangkali ia menerima cinta Ebook by Kang Zusi . kalau saja Seijuro melupakan segala yang menyangkut dirinya. kita dapat melupakan segalanya. "Jadi. Tapi kenangan tentang Musashi yang sekali-sekali menjadi pelariannya sering juga menjadi sumber kesengsaraannya. Ada beberapa hal yang tak dapat kulupakan. Orang bilang akan sampai ke sana Kerang penyebabnya Lupa akan cinta Dengan bangga Akemi berkata. Ia mengeluh. Inc. Ketika Seijuro mendesaknya dengan pertanyaanpertanyaan cinta bercampur bujukan. membantu mencari?" "Ah. Jika sekiranya memang ada yang namanya kerang pelipur lara itu. Ingatan akan Seijuro itu saja membuat hatinya dingin. karena kenangan itu membuatnya ingin lari dan meloloskan diri ke dunia impian. bukan ia yang akan membawanya. Akan kutemukan ia di pantai Sumiyosbi. dan membayangkan alangkah baiknya hidup ini. itu kan cuma dongeng. ayo pergi denganku. Ibu Akemi sama sekali tak mengira bahwa Akemi menyimpan pikiranpikiran putus asa semacam itu. dan menghilang." Samurai itu tertawa. dan merasa bimbang apakah akan berpegang teguh pada sejumlah kenangan yang didambakannya. "Lihat! Bukti apa lagi yang kamu perlukan?" "Ah. Alangkah mudahnya berlari langsung masuk ke dalamnya. ataukah pada keinginan untuk melontarkan kenangan itu ke laut. kemudian tiba-tiba ia ingat akan kewajibannya. Sekiranya kupunya waktu. netcafe. di pantai Sumiyoshi. "Oh. maksudmu kamu mau lebih lalai daripada sekarang" "Ya. dan ia pun melesat sekencang-kencangnya. Kalau kita masukkan satu ke dalam obi atau lengan baju kita. ia jadi ketakutan. ia menghibur diri dengan memikirkan Musashi." "Nah. Pada waktu ini ia sedang merangkul lutut. Semua orang di sekitarnya menganggap Akemi sangat bahagia. Apabila sedang sedih. demikian diputuskannya. ini bukan waktu untuk mainan anak-anak!" kata samurai itu mencela." Ditariknya pemuda yang enggan itu ke barisan pohon pinus. karena tahu besar kemungkinan Musashi telah sama sekali melupakannya. tapi bagaimanapun masih kuncup yang belum berkembang. jika misalnya memang ada. dan juga air. Aku ingin melupakan semuanya. salah satu kebohongan tak berguna yang disampaikan dengan puisi." "Oh? Dan apa betul ada kerang macam itu?" "Ada! Tapi orang bilang kita hanya dapat menemukannya di sini. Dan memandang laut itu. alangkah baiknya kalau ada cara yang dapat kupakai untuk menghapus wajahnya itu dari pikiranku!" pikirnya.

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

seorang lelaki. Bagi Akemi, ibunya dan orang-orang lelaki yang datang ke warung teh itu sesuatu yang berada di luar dirinya. Pada waktu mereka hadir, ia tertawa berkelakar, menggemerincingkan giring-giringnya, dan mencibir bila perlu. Tapi bila sendirian, desah-desahnya muram dan gelap. Pikiran-pikiran Akemi terganggu oleh datangnya seorang pembantu rumah penginapan. Melihat ia berada di dekat prasasti batu, pembantu datang berlari, dan katanya, "Oh, di mana Nona tadi? Tuan Muda memanggilmanggil Nona, dan beliau kuatir sekali." Di rumah penginapan, Akemi menjumpai Seijuro sendirian menghangatkan kedua tangannya di bawah selimut merah yang menutup kotatsu. Kamar dalam keadaan tenang. Di halaman, angin lembut gemeresik lewat pohon-pohon pinus yang layu. "Kau keluar dalam udara dingin begini?" tanya Seijuro. "Apa maksudmu? Rasanya tidak dingin. Di pantai matahari terang." "Apa yang kaulakukan di sana?" "Mencari kerang laut." "Kau ini macam anak kecil." "Aku memang anak kecil." "Berapa kaukira umurmu pada hari ulang tahun yang akan datang?" "Tak ada artinya. Aku masih anak kecil. Apa salahnya?" "Banyak salahnya. Kau mesti memikirkan rencana-rencana ibumu untukm u.." "Ibuku? Dia tidak memikirkan aku. Dia sendiri yakin, dia masih muda." "Coba duduk sini." "Aku tak mau. Nanti aku kepanasan. Ingat tidak, aku masih muda." "Akemi!" Seijuro menangkap pergelangan tangannya dan menariknya ke dirinya. "Tak ada orang lain di sini hari ini. Ibumu cukup bijaksana dengan kembali ke Kyoto." Akemi memandang mata Seijuro yang menyala, dan tubuhnya pun menegang. Secara tak sadar ia mundur, tapi Seijuro memegang pergelangan tangannya erat-erat. "Kenapa mau lari?" tanya Seijuro menuduh. "Aku tak mau lari." "Tak ada orang lain sekarang di sim. Ini kesempatan baik, bukan, Akemi?" "Kesempatan apa?" "Jangan keras kepala begitu! Sudah hampir setahun kita saling bertemu. Kau tahu perasaanku padamu. Oko sudah lama memberi izin. Dia bilang, kau tak mau menyerah karena caraku yang salah. Jadi, hari ini mari kita..." "Berhenti! Lepaskan tanganku! Lepaskan, kataku!" Tiba-tiba Akemi membung-kuk dan merendahkan kepala dengan malunya. "Jadi, biar bagaimana kamu tak mau?" "Berhenti! Lepaskan!"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Sekalipun tangan Akemi sudah merah oleh cengkeramannya, Seijuro tetap tak mau melepaskannya. Tak mungkin gadis itu cukup kuat melawan teknik-teknik militer Delapan Perguruan Kyoto. Hari ini Seijuro lain dari biasanya. Sering ia mencari kesenangan dan hiburan dengan sake, tapi hari ini ia tak minum apa pun. "Kenapa kauperlakukan aku seperti ini, Akemi? Kau mau menghina aku?" "Tak mau aku bicara tentang itu! Kalau tidak kaulepaskan, aku menjerit!" "Menjeritlah. Tak ada yang akan mendengarmu. Rumah besar terlalu jauh dari sini, dan lagi, aku sudah bilang pada mereka supaya kita jangan diganggu." "Aku mau pergi dari sini." "Takkan kubiarkan." "Tubuhku bukan milikmu!" "Oh, jadi begitu perasaanmu? Lebih baik kautanyakan soal itu pada ibumu! Sudah cukup banyak aku membayar." "Oh, ibuku mungkin sudah menjualku, tapi aku belum menjual diriku! Lebih-lebih pada lelaki yang kupandang rendah, lebih dari maut sendiri!" "Apa?" pekik Seijuro sambil melontarkan selimut merah ke atas kepala Akemi. Akemi menjerit sekuat paru-parunya. "Menjeritlah, anak anjing! Jeritkan semua yang kaumau! Tak seorang pun akan datang." Di atas shoji, sinar matahari pucat berbaur dengan bayangan resah pohon-pohon pinus, seakan-akan tak sesuatu pun terjadi. Di luar, segalanya tenang kecuali pukulan ombak di kejauhan dan cicit burung-burung. Diam yang dalam mengiringi raungan Akemi yang teredam. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah pucat seperti mayat, Seijuro muncul di lorong luar, tangan kanannya memegang tangan kiri yang baret-baret berdarah. Tak lama sesudah itu pintu terbuka lagi dengan suara berdentam, dan Akemi muncul. Seijuro yang tangannya kini berbungkus handuk berseru kaget dan bergerak seakan hendak menghentikannya, tapi tidak cukup cepat. Gadis yang sudah setengah gila itu melarikan diri secepat kilat. Wajah Seijuro mengerut gundah, tapi ia tidak mengejar Akemi, sementara Akemi menyeberang halaman dan masuk bagian lain rumah penginapan. Tak lama kemudian senyuman tipis jahat tersungging di bibirnya. Senyuman kepuasan yang amat sangat.

bagian 11

Berlalunya Seorang Pahlawan
"Paman Gon!" " Apa? " "Paman capek?" "Ya, sedikit." "Kupikir begitu. Aku sendiri hampir mogok, tapi biara ini bagus sekali gedung-gedungnya, ya? Hei, apa ini bukan pohon jeruk yang disebut pohon rahasia Wakamiya Hachiman itu?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Rupanya." Barangkali inilah barang pertama dari delapan puluh kapal upeti yang disampaikan Raja Silla kepada Maharani Jingu, ketika maharani itu menaklukkan Korea." "Lihat kandang kuda-kuda suci itu! Apa bukan binatang yang elok itu? Pasti dia dapat nomor satu dalam pacuan kuda tahunan di Kamo." "Maksudmu yang putih itu?" "Ya. Hmm, apa bunyi papan nama itu?" "Katanya, air rebusan kacang yang dicampur makanan kuda kalau diminum bisa menghentikan teriakan dan kerotan gigi malam hari. Apa kau mau sedikit?" Paman Gon tertawa. "Jangan berbuat tolol macam itu!" Dan sambil menoleh ia bertanya, "Apa yang terjadi dengan Matahachi?" "Rupanya ngeluyur." "Oh, itu dia, istirahat dekat panggung tarian suci." Wanita tua itu mengangkat tangan memanggil anaknya. "Kalau kita lewat jalan itu, kita dapat melihat Tori Agung yang asli, tapi mari kita pergi ke Lentera Tinggi." Matahachi mengikuti dari belakang dengan malasnya. Semenjak ibunya menangkapnya di Osaka, ia selalu bersama mereka-jalan, jalan, dan sekali lagi jalan. Kesabarannya mulai menipis. Lima atau sepuluh hari melihat-lihat pemandangan mungkin bagus dan baik-baik saja, tapi ia takut memikirkan harus menyertai mereka membalas dendam. Sudah dicobanya meyakinkan mereka, bahwa berjalan bersama-sama seperti itu merupakan cara yang buruk. Lebih baik ia pergi mencari Musashi sendirian. Tapi ibunya tak hendak mendengarkan. "Sebentar lagi Tahun baru," ujarnya. "Dan Ibu ingin kau menyambutnya bersama Ibu. Sudah lama kita tidak bersama-sama merayakan Tahun Baru, dan ini barangkali kesempatan kita yang terakhir." Walaupun Matahachi tahu tak dapat menolak ibunya, ia telah membulatkan hati untuk meninggalkan mereka beberapa hari sesudah hari pertama Tahun Baru. Osugi dan Paman Gon barangkali kuatir takkan lama lagi hidup, karena itu mereka demikian tenggelam dalam agama, dan sedapat-dapatnya berhenti di setiap biara dan kuil dengan meninggalkan persembahan dan mengajukan permohonan panjang-panjang kepada para dewa dan Budha. Hampir seluruh hari ini mereka habiskan di Biara Sumiyoshi. Matahachi sudah kalut oleh rasa bosan, ia berjalan menyeret kaki dan cemberut. "Apa kamu tak bisa jalan lebih cepat?" tanya Osugi marah. Langkah Matahachi tidak berubah. Ia jengkel sekali pada ibunya, sama seperti jengkel ibunya kepadanya, dan gerutunya, "Ibu ini terus saja menyuruhku cepat dan tunggu! Cepat dan tunggu, cepat dan tunggu!" "Apa yang mesti Ibu lakukan pada anak lelaki macam kamu? Orang datang ke biara, sudah sewajarnya kalau dia berhenti dan berdoa kepada dewa-dewa. Belum pernah Ibu lihat kamu membungkuk kepada satu dewa atau Budha pun. Ingat-ingatlah kata-kata Ibu ini, kamu akan menyesal nanti. Kecuali itu, kalau kamu mau berdoa bersama kami, takkan lama kamu menunggu." "Menjengkelkan!" geram Matahachi. "Siapa yang menjengkelkan?" teriak Osugi berang. Dua-tiga hari pertama segalanya semanis madu antara mereka, tapi begitu Matahachi sudah terbiasa dengan ibunya lagi, mulailah ia tersinggung oleh segala yang dilakukan dan dikatakan ibunya. Ia memperolok-olok Osugi setiap kali ada kesempatan. Apabila malam tiba dan mereka kembali ke rumah penginapan, Osugi menyuruh Matahachi duduk di depannya dan kemudian mengkhotbahinya, yang membuat Matahachi jadi lebih murung lagi.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Bukan main pasangan ini!" keluh Paman Gon sendiri, sambil mencari-cari cara untuk meredakan kekesalan perempuan tua itu dan mengembalikan sedikit ketenangan pada wajah kemenakannya yang cemberut. Karena dirasanya akan terdengar khotbah lagi, ia bergerak memintasinya. "Oh," serunya riang. "Rasanya aku mencium bau enak! Orang menjual remis panggang di warung teh tepi pantai itu. Mari kita ke sana makan remis." Baik ibu maupun anak tidak memperlihatkan kegairahan, tapi Paman Gon berhasil membawa mereka ke warung tepi laut yang dipasangi kerai gelagah tipis itu. Sementara kedua orang itu duduk seenak-enaknya di bangku luar, Paman Gon masuk dan keluar lagi membawa sake. Sambil menawarkan mangkuk pada Osugi, katanya ramah, "Ini akan membikin Matahachi riang sedikit. Barangkali kau sedikit terlalu keras kepadanya." Osugi memalingkan muka, tukasnya, "Aku tak ingin minum apa-apa." Terjerat oleh sarang labah-labahnya sendiri, Paman Gon menawarkan mangkuk pada Matahachi. Matahachi masih marah-marah, dan segera mengosongkan tiga guci sake secepat-cepatnya, karena tahu benar hal itu akan membuat ibunya pucat kelabu. Ketika ia meminta guci keempat kepada Paman Gon, Osugi sampai pada batas kesabarannya. "Sudah cukup kamu minum!" omelnya. "Ini bukan piknik, dan kita rancang kemari bukan untuk mabuk! Kamu juga jaga dirimu, Paman Gon! kamu lebih tua daripada Matahachi, mestinya tahu." Paman Gon menjadi malu, seolah-olah ia sendiri yang minum, dan mencoba menyembunyikan wajahnya dengan menggosokkan tangan ke wajah itu. "Ya, kau benar," katanya menurut. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan pergi beberapa langkah jauhnya. Lalu semuanya terjadi dengan sangat seru. Matahachi sudah menyinggung sedalam-dalamnya cinta dan keprihatinan ibunya, rasa cinta yang dahsyat, walau rapuh. Osugi tak peduli lagi apakah harus menanti sampai mereka kembali ke rumah penginapan. Dimarahinya Matahachi dengan garang, tak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak. Matahachi menatapnya dengan pandangan ingkar yang muram, sampai ibunya selesai. "Baik," katanya. "Jadi, Ibu sudah menyimpulkan, aku orang dusun yang tak tahu terima kasih dan tak punya rasa hormat diri, kan? Betul?" "Betul! Apa yang sudah kamu lakukan sampai sekarang, yang menunjukkan kamu punya rasa bangga atau hormat diri?" "Ibu, aku bukan orang tak berharga seperti yang Ibu pikir, tapi Ibu takkan tahu soal itu." "Oh, jadi Ibu tak bisa tahu? Coba dengar, Matahachi, tak seorang pun yang lebih mengenal anak daripada orangtuanya, dan kupikir hari kelahiranmu itulah hari buruk buat Keluarga Hon'iden!" "Lebih baik Ibu tunggu dan lihat! Aku masih muda. Suatu hari nanti, kalau Ibu sudah mati dan dikubur, Ibu akan menyesal sudah mengatakan itu." "Ha! Kuharap memang demikian, tapi aku sangsi apa akan bisa terjadi meski seratus tahun lagi. Sungguh menyedihkan, kalau dipikir-pikir." "Kalau Ibu sedih sekali punya anak seperti aku, tak banyak lagi gunanya aku ada di sini. Aku pergi!" Mendidih karena marah, ia bangkit berdiri dan berjalan pergi dengan langkah-langkah panjang dan mantap. Karena terkejut, perempuan tua itu mencoba memanggilnya kembali dengan suara bergetar memilukan. Tapi Matahachi tak menghiraukannya. Paman Gon yang sebetulnya dapat berlari dan mencoba menghentikannya hanya berdiri memandang tajam ke laut, agaknya kepalanya disibukkan oleh pikiran-pikiran lain. Osugi berdiri, kemudian duduk kembali. "Jangan mencoba menghentikannya," katanya sia-sia kepada Paman Gon. "Tak ada gunanya." Paman Gon menoleh kepadanya, tapi bukan menjawab, melainkan mengatakan, "Gadis di sana itu aneh Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

sekali gerak-geriknya. Tunggu di sini sebentar!" Belum habis kata-kata itu diucapkan, ia sudah melemparkan capingnya ke bawah tepi atap warung dan berlari secepat anak panah ke air. "Goblok!!" teriak Osugi. "Ke mana kamu pergi? Matahachi..." Ia mengejar Paman Gon, tapi sekitar dua puluh meter dari warung itu kakinya terantuk gumpalan rumput laut dan ia jatuh tertelungkup. Sambil menggerutu marah ia bangun, wajah dan bahunya penuh dengan pasir. Ketika terlihat kembali Paman Gon, kedua matanya melotot seperti cermin. "Hei, orang tua goblok! Ke mana kamu pergi? Sudah kehilangan akal, ya?" jeritnya. Ia begitu kalang kabut, hingga tampaknya ia sendiri sudah gila. Ia lari kencang-kencang mengikuti Paman Gon, namun terlambat. Paman Gon sudah masuk air sampai setinggi lutut, dan terus ke tengah. Kelihatan la sudah hampir kesurupan, terselimut buih putih. Lebih jauh lagi di tengah laut kelihatan seorang gadis muda yang mati-matian berusaha masuk ke air dalam. Ketika Paman Gon pertama kali melihatnya, gadis itu masih berdiri dalam bayangan pohon-pohon pinus, memandang kosong ke laut, tapi kemudian tibatiba ia berlari menyeberang pasir dan masuk air, sementara rambutnya yang hitam berkibar di belakangnya. Air kini sudah sampai pinggangnya, dan dengan cepat ia mendekati titik terjal di dasar laut. Sambil mendekatinya, Paman Gon berseru-seru kalut, tapi gadis itu terus dengan tekadnya. Tiba-tiba tubuhnya menghilang diiringi bunyi aneh, meninggal-kan pusaran di permukaan. "Anak gila!" teriak Paman Gon. "Sudah nekat bunuh diri, ya?" Ia sendiri tenggelam ke bawah permukaan air, gelagapan. Osugi berlari ke sana kemari di tepian. Ketika dilihatnya kedua orang itu tenggelam, jeritannya berubah menjadi seruan-seruan lantang minta tolong. Sambil melambai-lambaikan tangan, berlari, dan jatuh-bangun ia memerintahkan orang-orang di pantai untuk menolong, seakan-akan merekalah penyebab terjadinya kecelakaan. "Selamatkan mereka, goblok! Cepat, kalau tidak mereka tenggelam." Beberapa menit kemudian, beberapa nelayan membawa tubuh mereka dan meletakkannya di atas pasir. "Bunuh diri karena cinta?" tanya seorang. "Kau berkelakar?" kata yang lain tertawa. Paman Gon berhasil mencekal obi gadis itu dan masih menggenggamnya, tapi baik ia maupun gadis itu sudah tidak bernapas lagi. Gadis itu menampilkan wajah aneh, karena sekalipun rambutnya kusut dan kacau, pupur dan lipstiknya tidak terhapus, dan ia tampak seakan masih hidup. Bahkan dengan giginya yang masih menggigit bibir bawah itu, mulutnya yang ungu seperti menampakan gerak tawa. "Saya pernah melihat gadis ini," seseorang berkata. "Apa bukan dia yang cari kerang di pantai belum lama ini?" "Ya, betul! Dia tinggal di penginapan sana itu." Dari arah rumah penginapan ada empat atau lima orang yang datang mendekat. Di antara mereka Seijuro yang dengan napas sesak menerobos kerumunan orang banyak itu. "Akemi!" teriaknya. Wajahnya menjadi pucat, tapi ia berdiri saja. "Apa bisa kita selamatkan dia?" "Tidak bisa, kalau Tuan cuma berdiri melongo." Para nelayan melepaskan cekalan Paman Gon, meletakkan kedua tubuh itu berdampingan. Mereka mulai menampar-nampar punggung kedua orang itu dan menekan-nekan perutnya. Akemi cepat sekali kembali bernapas. Karena ingin sekali menghindari tatapan mata para penonton, Seijuro menyuruh orang-orang dari rumah penginapan membawa Akemi pulang. "Paman Gon! Paman Gon!" panggil Osugi dengan mulut di telinga orang tua itu, berurai air mata. Akemi Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

dapat kembali hidup karena ia masih muda, tapi Paman Gon... Ia tidak hanya tua, tapi ia pun telah minum sake cukup banyak sebelum menyelamatkan gadis itu. Napasnya terhenti untuk selamanya. Seberapa banyak pun usaha Osugi tak akan dapat membukakan matanya kembali. Para nelayan menyerah, "Orang tua itu telah pergi." Osugi berhenti menangis cukup lama untuk berpaling kepada mereka, seakan-akan mereka musuh, bukan orang-orang yang telah membantu. "Apa maksud kalian? Kenapa dia mesti mati, sedangkan gadis muda itu dapat selamat?" Sikapnya menunjukkan seakan ia siap menyerang mereka secara fisik. Ditepiskannya orang-orang itu, dan katanya mantap, "Akan kuhidupkan dia kembali! Akan kutunjukkan pada kalian." Dan mulailah ia mencoba membangunkan Paman Gon dengan segala cara yang dapat dipergunakannya. Tekadnya itu menimbulkan air mata orang-orang yang menyaksikannya. Beberapa orang itu tinggal membantunya. Namun ia bukannya menghargai bantuan mereka, malahan memerintah mereka melakukan ini-itu seperti tenaga sewaan. Ia mengeluh bahwa mereka tidak menekan dengan cara yang benar, bahwa yang mereka lakukan takkkan ada hasilnya, ia memerintah mereka membuat api, dan ia menyuruh mereka pergi mencari obat. Apa pun yang ia lakukan, ia kerjakan dengan air muka semasam-masamnya. Bagi orang-orang di pantai itu, ia bukan sanak ataupun teman, melainkan sekadar orang asing, karena itu akhirnya orang yang paling bersimpati kepadanya pun menjadi marah. "Siapa sih perempuan tua jelek ini?" geram satu orang. "Hm! Tak tahu bedanya orang pingsan dan orang mati. Kalau dia bisa menghidupkannya lagi, biar saja." Tak lama kemudian, tinggallah Osugi sendirian dengan mayat itu. Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti, kabut bangkit dari laut, dan yang tertinggal dari hari itu hanyalah barisan awan jingga di dekat kaki langit. Osugi membuat api dan duduk di dekatnya, memeluk tubuh Paman Gon erat-erat. "Paman Gon. Oh, Paman Gon!" lolongnya. Ombak laut menggelap. Ia mencoba dan mencoba lagi mengembalikan kehangatan tubuh yang telah mati itu. Pandangan wajahnya menunjukkan betapa ia berharap sebentar lagi Paman Gon membuka mulut dan bicara dengannya. Ia kunyah beberapa pil dari kotak obat dalam obi-nya dan ia pindahkan kunyahan itu ke mulut Paman Gon. Ia peluk Paman Gon dan ia guncang-guncangkan. "Buka matamu, Paman Gon!" mohonnya. "Katakan sesuatu! Tak bisa kau pergi meninggalkan aku sendirian. Kita masih belum membunuh Musashi atau menghukum Otsu yang bejat itu." Di dalam rumah penginapan, Akemi terbaring dalam tidur yang resah. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak kepalanya yang demam itu di atas bantal, ia menggumam mengigau. Untuk sesaat Seijuro duduk di sampingnya, diam seribu bahasa, wajahnya lebih pucat daripada wajah Akemi. Ketika mengetahui penderitaan yang telah ditimpakannya kepada gadis itu, ia pun menderita. Ia sendiri yang dengan nafsu binatangnya memangsa gadis itu dan memuaskan birahinya. Sekarang ia duduk murung dan kaku, prihatin dengan denyut nadi dan napas gadis itu, dan berdoa semoga hidup yang untuk beberapa waktu lamanya meninggalkan gadis itu bisa dipulihkan kembali. Dalam satu hari yang singkat saja ia sekaligus menjadi binatang dan manusia yang berperasaan belas kasihan. Tetapi bagi Seijuro yang cenderung kepada ekstremitas, tingkah lakunya itu tidak terasa tidak konsisten. Matanya sedih dan sikap mulutnya rendah hati. Ia menatap Akemi dan berbisik, "Cobalah tenang, Akemi. Bukan cuma diriku seorang. Kebanyakan lelaki memang begitu.... Kau segera akan mengerti, walaupun kau tentunya dikejutkan oleh kekerasan cintaku." Sukarlah ditentukan, apakah kata-kata ini benar-benar ditujukan kepada gadis itu ataukah dimaksudkan untuk menenang-kan dirinya sendiri. Tapi ia terus juga menyuarakan perasaan itu berulang-ulang. Kegelapan dalam kamar itu pekat seperti tinta. Shoji yang tertutup kertas meredam bunyi angin dan ombak. Akemi bergerak, kedua tangannya yang putih menyelinap keluar dari bawah selimut. Ketika Seijuro mencoba membetulkan letak selimut itu, Akemi meng-gumam, "Tanggal berapa ini?" "Apa?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Berapa... berapa hari lagi... Tahun Baru?" "Tinggal tujuh hari lagi. Kau pasti sembuh sebelum waktu itu, dan kita akan kembali ke Kyoto." Direndahkannya wajahnya ke Akemi, tapi Akemi menolak-nya dengan telapak tangan. "Berhenti! Pergi! Aku tak suka padamu." Seijuro menarik diri, tapi kata-kata setengah gila menyembur dari bibir Akemi. "Orang tolol! Binatang!" Seijuro tinggal diam. "Kau binatang. Aku tak... aku tak ingin melihatmu." "Maafkan aku, Akemi, maafkan!" "Pergi dari sini! Jangan bicara padaku." Tangan Akemi melambai-lambai kacau dalam kegelapan. Seijuro menelan ludah dengan sedih, tapi terus juga me-mandanginya. "Tanggal... tanggal berapa?" Kali ini Seijuro tak menjawab. "Apa ini belum Tahun Baru?... Antara Tahun Baru dan tanggal tujuh.... Tiap hari.... Dia bilang akan ada di jembatan.... Kabar dari Musashi.... Tiap hari.... Jembatan Jalan Gojo.... Tak lama lagi Tahun Baru.... Aku mesti kembali ke Kyoto.... Kalau aku pergi ke jembatan itu, dia akan ada di sana." "Musashi?" tanya Seijuro heran. Gadis yang sedang mengigau itu terdiam. "Apa Musashi ini ... Miyamoto Musashi?" Seijuro menatap wajah Akemi, tapi Akemi tidak mengatakan apa-apa lagi. Kelopak matanya yang biru menutup. Ia tidur lelap. Daun-daun pinus kering mengetuk-ngetuk shoji. Seekor kuda meringkik. Cahaya muncul di seberang penyekat, dan suara seorang pelayan terdengar mengatakan, "Tuan Muda ada di sini." Buru-buru Seijuro masuk kamar sebelah, dengan hati-hati menutup pintu di belakangnya. "Siapa?" tanyanya. "Aku di sini." "Ueda Ryohei," terdengar jawabannya. Ryohei masuk dan duduk, masih dalam pakaian perjalanan lengkap dan penuh debu. Selagi mereka bertukar salam, Seijuro bertanya dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan orang itu datang. Karena seperti halnya Toji, Ryohei salah seorang siswa senior yang diperlukan di rumah, maka Seijuro takkan membawanya dalam perjalanan mendadak. "Kenapa datang kemari? Ada yang terjadi sepeninggalku?" tanya Seijuro. "Ya, dan saya harus minta Anda segera kembali." "Ada apa?" Ketika Ryohei memasukkan kedua tangannya ke dalam kimono dan meraba-raba, suara Akemi terdengar dari kamar sebelah. "Aku tak suka padamu!... Binatang!... Pergi!" Kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu penuh nada takut. Siapa pun akan mengira ia sedang terjaga dan dalam bahaya besar. Dengan terkejut Ryohei bertanya, "Siapa itu?" "Oh, itu? Akemi jatuh sakit ketika pulang. Dia demam, sekali-sekali dia sedikit mengigau." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu Akemi?" "Ya, tapi tak apalah. Aku ingin mendengar kenapa kau datang." Dari kantong perut di bawah kimononya akhirnya Ryohei mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya kepada Seijuro. "Ini," katanya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, kemudian mendekatkan lampu yang telah ditinggalkan oleh pelayan itu ke sisi Seijuro. "Hmm. Dari Miyamoto Musashi." "Ya!" kata Ryohei tegas. "Kau sudah membukanya?" "Ya. Saya sudah membicarakannya dengan yang lain-lain, dan kami memutus-kan bahwa kemungkinan surat ini penting, karena itu kami membuka dan mem-bacanya." Seijuro bukannya membaca sendiri isi surat itu, melainkan bertanya sedikit ragu, "Apa katanya?" Walau tak seorang pun berani menyebutkan persoalan kepadanya, namun di balik pikiran Seijuro sudah lama bersarang wujud Musashi. Walau demikian, ia sudah hampir meyakinkan dirinya bahwa ia tak akan bertemu lagi dengan orang itu. Surat yang tiba-tiba datang, tepat sesudah Akemi menyebut nama Musashi itu, membuat tulang punggung Seijuro panas dingin. Ryohei menggigit bibir, marah. "Akhirnya datang juga dia. Ketika dia pergi dengan omongan besar musim semi lalu, saya yakin dia takkan menjejakkan kaki lagi di Kyoto, tapi... coba Tuan bayangkan kesombongannya! Teruslah baca surat itu! Isinya tantangan, dan dia punya nyali pula menunjukkan tantangan pada seluruh Keluarga Yoshioka, dan menandatanganinya hanya dengan namanya sendiri. Dia pikir dia dapat menghadapi kita semua sendirian!" Musashi tidak menuliskan alamat untuk balasan surat, dan dalam surat pun tak ada isyarat tentang tempat ia berada. Tapi ia tidak melupakan janji yang telah ia tulis kepada Seijuro dan murid-muridnya, dan dengan surat kedua ini dadu telah dilemparkan. Ia mengumumkan perang pada Keluarga Yoshioka. Pertempuran akan terjadi, dan ini akan merupakan pertempuran habis-habisan-pertempuran di mana para samurai akan bertarung sampai mati untuk menjaga kehormatan dan memurnikan keterampilan mereka dengan pedang. Musashi mempertaruhkan hidupnya dan menantang Perguruan Yoshioka untuk melakukan hal yang sama. Apabila tiba waktunya, kata-kata dan keterampilan teknik yang mahir pun akan sedikit saja artinya. Sumber bahaya terbesar adalah bahwa Seijuro masih belum memahami kenyataan ini. Ia tidak melihat bahwa hari perhitungan sudah tiba, dan bahwa sekarang bukanlah saat untuk membuang-buang waktu dengan kesenangan-kesenangan kosong. Ketika surat itu tiba di Kyoto, di antara murid yang lebih teguh ada perasaan muak terhadap cara hidup Tuan Muda yang tidak berdisiplin itu. Mereka menggerutu marah karena ia tidak hadir justru pada saat yang demikian menentukan. Mereka gusar oleh penghinaan yang dilontarkan oleh ronin tunggal ini, dan menyesal bahwa Kempo tidak lagi hidup. Sesudah banyak membincang-kannya, mereka sepakat untuk menyampaikan keadaan itu kepada Seijuro dan memutuskan bahwa Seijuro mesti segera kembali ke Kyoto. Namun ketika surat sudah disampaikan sekarang, ternyata Seijuro hanya meletakkannya di pangkuan dan tak bergerak membukanya. Dengan perasaan jengkel yang tampak jelas, Ryohei bertanya, "Apa Anda tak merasa perlu membacanya?" "Apa? Oh, ini?" tanya Seijuro kosong. Ia membuka gulungan surat itu dan membacanya. Jari-jarinya mulai menggeletar tak terkendalikan lagi, suatu tanda ketidakmantapan yang disebabkan bukan oleh bahasa dan nada keras tantangan Musashi, melainkan oleh perasaan lemah dan perasaan rendah pada dirinya sendiri. Kata-kata penolakan kasar Akemi menghancurkan harga dirinya sebagai samurai. Belum pernah ia merasa demikian tanpa daya. Surat Musashi sederhana dan langsung, Apakah Anda dalam keadaan baik semenjak terakhir kali saya menyurati Anda. Sesuai dengan janji saya terdahulu, kini saya menulis untuk menanyakan di mana, pada hari apa, dan pada jam berapa kita akan bertemu. Saya tak punya pilihan khusus, dan saya bersedia melaksanakan pertandingan yang telah kita janjikan pada waktu dan tempat yang Anda tentukan. Saya mohon Anda memancangkan jawaban Anda di jembatan Jalan Gojo, sebelum hari ketujuh Tahun Baru. Saya percaya Anda telah menggosok ilmu pedang Anda sebagaimana biasa. Saya sendiri merasa bahwa sampai batas-batas tertentu telah mencapai perbaikan. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Shimmen Miyamota Musashi. Seijuro menjejalkan surat itu ke dalam kimononya, dan berdirl. "Aku akan kembali ke Kyoto sekarang," katanya. Kata-kata ini diucapkannya lebih karena perasaan sudah demikian kalut, hingga ia tidak dapat lagi tinggal di tempat itu lebih lama; jadi, bukan karena ketabahan. Ia harus pergi dan segera mungkin melupakan seluruh hari mengerikan itu. Disertai suasana hiruk-pikuk, pemilik rumah penginapan dipanggil dan diminta mengurus Akemi, suatu tugas yang diterimanya dengan perasaan enggan, sekalipun menerima uang Seijuro. "Akan kupakai kudamu," kata Seijuro pada Ryohei. Dan seperti seorang bandit yang sedang melarikan diri, ia melompat ke pelana dan melarikan kuda itu kencang-kencang melintasi baris-baris pohon gelap, meninggalkan Ryohei yang mengikutinya dengan berlari setengah mati.

Galah Pengering
"PEMUDA yang membawa monyet? Ya, dia memang kemari belum lama ini." "Apa Anda lihat, ke mana perginya?" "Ke sana, ke arah Jembatan Nojin. Tapi dia tidak menyeberangi jembatan-sepertinya dia masuk bengkel pandai pedang." Setelah berunding sebentar, murid-murid Yoshioka berangkat beramai-ramai, membuat orang yang memberikan keterangan itu menganga heran menyaksikan segala keributan tersebut. Walaupun waktu itu sudah lewat saat tutup bagi toko-toko sepanjang Parit Timur, toko pedang masih buka. Seorang dari orang-orang itu masuk, mengadakan pembicaraan dengan magang toko, kemudian keluar sambil berseru, "Temma! Dia menuju Temma!" Dan ke sanalah mereka berduyunduyun. Magang mengatakan bahwa ketika ia baru akan menutup daun jendela menjelang malam, seorang samurai berjambul panjang menurunkan monyet di dekat pintu depan, duduk di bangku dan minta bertemu dengan pandai pedang. Ketika kepadanya disampaikan bahwa pandai pedang sedang pergi, samurai itu mengatakan ingin menajamkan pedangnya, tapi pedang itu terlampau berharga untuk dipercayakan kepada orang lain di luar ahli pedang sendiri. Ia lalu mendesak minta melihat contoh-contoh karya pedang. Magang dengan sopan memperlihatkan kepadanya beberapa bilah pedang, tapi sesudah mengamati, yang diperlihatkan samurai itu tak lebih dari sikap muak. "Rupanya Anda sekalian di sini cuma mengerjakan senjata-senjata biasa," katanya kering. "Saya tidak yakin apakah akan menyerahkan pedang saya pada Anda. Pedang saya terlampau bagus, karya seorang pandai pedang Bizen. Namanya Galah Pengering. Lihat? Sempurna sekali." Ia mengangkat pedangnya, dan jelas dengan perasaan bangga. Tertarik akan bualan orang muda itu, si magang bergumam mengatakan bahwa satu-satunya ciri menonjol pedang itu adalah bentuknya yang panjang dan lurus. Samurai itu jelas sekali tersinggung karenanya, dan mendadak berdiri dan minta keterangan tentang bagaimana pergi ke pangkalan kapal tambangan Temma Kyoto. "Akan saya rawatkan pedang saya di Kyoto," tukasnya. "Semua pandai pedang Osaka yang sudah saya kunjungi rupanya hanya mengurusi barang rombengan prajurit biasa. Maaf, telah mengganggu." Ia berangkat dengan pandangan dingin. Cerita magang itu semakin membikin berang mereka. Itu bukti baru mengenai apa yang mereka anggap kecongkakan luar biasa orang muda itu. Jelas bagi mereka, pengalaman memotong gelungan Gion Toji membikin si pembual itu lebih congkak daripada sebelumnya.

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Itu pasti orang yang kita cari!" "Jadi, sudah kita temukan sekarang. Tertangkap dia sekarang." Orang-orang itu melanjutkan pengejaran tanpa satu kali pun berhenti untuk beristirahat, sekalipun matahari mulai terbenam. Mendekati dermaga Temma, seorang dari mereka berseru, "Ketinggalan kita!" Yang dimaksud adalah kapal terakhir hari itu. "Tidak mungkin." "Kenapa kaupikir kita sudah ketinggalan?" tanya yang lain. "Tidak lihat, ya? Di sana itu," kata orang yang pertama tadi, menuding dermaga. "Warung-warung teh sudah menumpuk bangkunya. Kapal tentunya sudah berangkat." Untuk sesaat mereka semua berdiri terpaku, kehilangan semangat. Kemudian, ketika mereka bertanya lagi pada orang lain, ternyata samurai itu memang sudah naik kapal terakhir. Mereka juga mendapat keterangan, kapal itu baru saja berangkat dan untuk beberapa lama tidak akan berhenti di perhentian berikut, Toyosaki. Kapal-kapal yang berjalan mudik ke Kyoto umumnya pelan. Maka mereka punya waktu banyak untuk menyusul kapal tambangan itu di Toyosaki, walaupun tanpa bergegas. Tahu akan hal ini, mereka memanfaatkan waktu dengan minum teh, makan kue betas, dan sedikit gula-gula murahan, sebelum berangkat dengan langkah cepat menempuh jalan sepanjang tepi sungai. Di hadapan sana, sungai tampak bagai seekor ular perak yang melenggok-lenggok ke kejauhan. Sungai Nakatsu dan Temma bergabung menjadi satu membentuk Sungai Yodo, di dekat percabangan ini cahaya berkelap-kelip di tengah sungai. "Itu kapalnya!" seru seseorang. Ketujuh orang itu bangkit semangatnya, dan segera mereka lupa akan udara dingin yang menembus kulit. Di ladang-ladang telanjang di tepi jalan, rumput merang kering yang tertutup embun beku berkilauan seperti pedang-pedang baja ramping. Angin seolah bermuatan es. Ketika jarak antara mereka dan cahaya mengapung itu memendek, mereka dapat melihat kapal itu dengan sangat jelas. Tanpa pikir lagi, seorang dari mereka berteriak, "Hei, yang di sana itu! Kurangi kecepatan!" "Kenapa?" terdengar balasan dari geladak. Jengkel karena perhatian orang jadi tertuju pada mereka, teman-temannya mengumpat orang yang besar mulut itu. Namun kapal berhenti juga di perhentian berikut. Sungguh suatu kebodohan besar, lebih dulu memberikan peringatan. Karena sudah telanjur, semua sependapat bahwa langkah terbaik adalah menuntut penumpang itu seketika itu juga. "Dia hanya sendirian. Jika kita tidak menantangnya sekarang juga, dia bisa curiga, melompat ke air, dan menyelamatkan diri." Sambil berjalan mengikuti jalan kapal, sekali lagi mereka berseru pada orang-orang yang ada di atas kapal. Sebuah suara berwibawa, yang tak sangsi lagi suara Kapten, meminta keterangan apa yang mereka kehendaki. "Rapatkan kapal ke tepi!" "Apa? Apa kalian gila?" terdengar jawabannya, disertai tawa parau. "Pinggirkan di sini!" "Mustahil" "Kalau begitu, kami tunggu Anda di perhentian berikut. Kami urusan dengan orang muda yang ada di kapal Anda. Pakai jambul bawa monyet. Katakan padanya, kalau dia punya hormat, dia mesti menampakkan diri. Dan kalau Anda membiarkan dia pergi, akan kami seret kalian semua ke darat." "Kapten, jangan jawab mereka!" mohon seorang penumpang. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Apa pun yang mereka katakan, abaikan saja," yang lain menasihati. "Mari jalan terus ke Moriguchi. Di sana ada pengawal." Kebanyakan penumpang berkumpul-kumpul ketakutan dan berbicara dengan suara ditekan. Orang yang berbicara dengan bebasnya kepada para samurai di pantai beberapa waktu lalu kini berdiri diam. Baginya dan bagi orang-orang lain, keselamatan mereka tergantung pada jarak antara kapal dan tepi sungai. Ketujuh orang itu tetap berada dekat kapal dengan lengan baju disingsingkan dan tangan dilekatkan ke pedang. Sekali mereka berhenti mendengarkan, agaknya mengharapkan jawaban atas tantangan mereka, tapi mereka tak men-dengar sesuatu. "Apa Anda tuli?" teriak seorang dari mereka. "Kami minta Anda menyampaikan kepada pembual muda itu supaya datang ke susuran." "Maksud Anda, saya?" teriak sebuah suara dari kapal. "Itu dia di sana, kurang ajar seperti biasanya!" Orang-orang itu menudingkan jari dan memandang ke kapal, sedangkan celoteh pelan para penumpang semakin hiruk-pikuk. Mereka itu setiap saat dapat melompat ke geladak. Orang muda berpedang panjang itu berdiri tegap di lambung kapal, giginya berkilauan seperti mutiara putih oleh pantulan sinar bulan. "Di kapal tak ada orang lain yang bawa monyet, jadi saya kira sayalah yang Anda cari. Siapa kalian, bromocorah malang? Gerombolan aktor lapar?" Ketika adu teriak semakin menghebat, kapal mendekati tanggul Kema yang memiliki tiang-tiang tambatan dan juga gudang. Ketujuh orang itu berlari maju untuk mengepung tempat mendarat, tapi belum lagi mereka sampai di sana, kapal sudah berhenti di tengah sungai dan mulai berputar beberapa kali. Wajah orang-orang Yoshioka jadi pucat kelabu. "Apa yang kaulakukan?" "Kalian tak bisa tinggal di situ selamanya!" "Sini kamu, atau kami akan datang ke situ." Ancaman-ancaman terus berlangsung, sampai akhirnya haluan kapal mulai bergerak ke tepi. Sebuah suara meraung di udara dingin, "Tutup mulut, orang-orang goblok! Kami akan mendarat! Lebih baik siapkan diri kalian untuk mempertahankan diri." Walaupun dicegah oleh penumpang-penumpang lain, orang muda itu tetap merebut galah orang kapal dan mendaratkan kapal tambangan itu. Ketujuh samurai segera berkerumun sekitar tempat yang akan disentuh haluan kapal, sementara tubuh yang menggerakkan kapal dengan galah itu semakin dekat dengan mereka. Tiba-tiba kecepatan kapal meningkat, dan orang muda itu menyerang mereka sebelum mereka mengetahuinya. Lunas kapal mencakar dasar sungai dan mereka undur serentak. Pada waktu itulah sebuah benda hitam bulat melayang melintasi gelagah dan menempelkan diri ke leher seorang di antara mereka. Sebelum mereka menyadari bahwa benda itu hanya seekor monyet, secara naluriah mereka semua mencabut pedang dan membabatkan ke udara kosong di sekitar mereka. Untuk menyembunyikan rasa malu, mereka saling meneriakkan perintah mendesak. Dengan harapan akan terhindar dari keributan, para penumpang menggerombol di sebuah sudut kapal. Aniaya yang diderita ketujuh orang di tepi sungai itu membesarkan hati mereka, sekalipun agak menimbulkan tanda tanya, tapi tak seorang pun berani bicara. Kemudian secara serentak semua kepala menoleh diiringi suara menggagap. Orang muda itu menancapkan galahnya ke dalam sungai dan melompat melintasi rumput mendoang, gerakannya lebih ringan daripada monyet tadi. Kejadian ini lebih mengacaukan lagi. Tanpa sempat menyusun diri kembali, orang-orang Yoshioka segera menyerang musuh mereka dalam satu barisan. Serangan demikian justru memberikan kedudukan menguntungkan bagi si orang muda untuk bertahan. Orang pertama sudah maju terlampau jauh untuk dapat mundur kembali, dan barulah ia menyadari kebodohan langkahnya. Pada saat itu segala keterampilan perang yang pernah dipelajarinya tak ada gunanya. Yang dapat diperbuatnya hanyalah memeringiskan gigi dan secara ngawur mengayun-ayunkan Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

pedang di depan dirinya. Sadar akan keuntungan psikologis yang dimilikinya, sosok pemuda tampan itu seakan tampak makin besar. Tangan kanannya di belakang mernegang gagang pedang, dan sikunya mencongak di atas bahunya. °Oh, jadi kalian dari Perguruan Yoshioka? Bagus. Saya memang merasa seperti sudah kenal kalian. Seorang dari kalian sudah berkenan mengizinkan saya memotong gelungannya. Rupanya itu tak cukup buat kalian. Apa kalian semua datang buat potong rambut? Kalau memang begitu, saya yakin dapat membantu kalian. Kebetulan sebentar lagi saya mesti menajamkan pedang ini, jadi sebaik-nya saya manfaatkan kesempatan ini." Ketika kata-kata itu berakhir, Galah Pengering pun membelah udara, dan kemudian membelah tubuh pemain pedang terdekat yang merunduk. Melihat kawannya terbantai demikian mudah, lumpuhlah otak mereka. Satu demi satu mereka mundur saling tunjang, seperti bola-bola yang saling ber-tumbukan. Dan mengambil keuntungan dari kedudukan mereka yang porak-poranda itu, si penyerang pun mengayunkan pedang ke samping, ke arah orang berikutnya, dan menjatuhkan pukulan demikian mantap hingga orang itu terjungkal ke rumput mendoang diiringi suara jeritan. Orang muda itu membelalakkan mata kepada lima orang sisanya, yang sementara itu menyusun diri di sekitarnya bagai daun bunga. Mereka saling meyakinkan bahwa taktik mereka kali itu cukup aman, dan keyakinan mereka pulih, sampai-sampai berani mengejek orang muda itu lagi. Namun kali ini kata-kata mereka gemetar dan palsu. Akhirnya, disertai teriakan keras, seorang dari mereka meloncat ke depan dan mengayunkan pedangnya. Ia yakin telah melakukan penebasan. Padahal ujung pedangnya masih dua kaki penuh jaraknya dari sasaran, dan kemudian mengakhiri gerak lengkungnya di sebuah batu karang dengan suara berdentang. Orang itu jatuh ke depan. Tubuhnya terbuka lebar untuk serangan. Orang muda itu bukannya membantai mangsa yang demikian mudahnya. Ia melompat ke samping dan mengayunkan pedang ke arah orang berikut. Jeritan perang masih mendering di udara, tapi ketiga orang lain sudah angkat kaki seribu. Dengan wajah kejam, orang muda itu berdiri memegang pedang dengan kedua tangannya. "Pengecut!" pekiknya. "Kembali ke sini dan ayo berkelahi! Apa ini Gaya Yoshioka yang kalian banggakan itu? Menantang seseorang, lalu melarikan diri? Tidak heran, Perguruan Yoshioka menjadi bahan tertawaan." Bagi samurai mana pun yang punya harga diri, penghinaan seperti itu lebih buruk daripada diludahi, tetapi bekas-bekas pengejar orang muda itu sudah terlampau sibuk berlari dan tidak memperhatikannya. Justru pada waktu itu dari sekitar tanggul terdengar dering giring-giring kuda. Sungai dan embun beku di ladang memantulkan cukup banyak cahaya bagi pemuda itu untuk melihat sosok tubuh di punggung kuda dan sosok tubuh lain berlari-lari di belakangnya. Sekalipun napas beku mengepulngepul dari lubang hidungnya, mereka kelihatan tidak memperhatikan dinginnya udara dan terus melaju ke depan. Ketiga samurai yang melarikan diri hampir saja bertumbukan dengan kuda, ketika penunggang kuda itu mendadak sontak mengekang kudanya. Kenal akan ketiga orang itu, Seijuro memberengut berang. "Apa yang kalian lakukan di sini?" salaknya. "Ke mana kalian lari?" "Oh... oh, Tuan Muda!" seorang dari mereka menggagap. Ueda Ryohei yang muncul dari balik kuda itu menyerang mereka. "Apa artinya ini? Kalian mestinya mengawal Tuan Muda, gerombolan tolol! Rupanya kalian terlalu sibuk ribut sesudah minum lagi, ya?" Ketiga orang itu dengan marah memuntahkan cerita tentang bagaimana mereka mempertahankan kehormatan Perguruan Yoshioka dan gurunya, dan betapa mereka mengalami kegagalan berhadapan dengan samurai muda yang seperti setan itu. Jadi, mereka bukannya berkelahi karena mabuk. "Lihat itu!" teriak seorang dari mereka. "Dia datang kemari." Mata-mata yang ketakutan memperhatikan musuh yang mendekat. Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Diam kalian!" perintah Ryohei dengan suara muak. "Terlalu banyak kalian bicara. Bagus sekali kalian melindungi kehormatan perguruan. Tak bakal kita bisa menebus dengan perbuatan macam itu. Minggir semua! Aku yang akan menghadapinya sendiri." Ia mengambil jurus menantang, dan menanti. Pemuda itu menuju ke arah mereka. "Berhenti kalian, dan ayo berkelahi!" teriaknya. "Apa lari itu seni bela diri Yoshioka? Secara pribadi tak ingin saya membunuh kalian, tapi Galah Pengering saya masih haus. Karena kalian pengecut, paling sedikit yang dapat kalian lakukan adalah meninggalkan kepala kalian." Ia lari menyusur tanggul dengan langkah-langkah besar dan yakin, dan kelihatan akan melompati kepala Ryohei yang waktu itu sudah meludah ke tangan dan menggenggam kembali pedangnya penuh kemantapan. Pada saat itulah pemuda itu terbang, sedangkan Ryohei mengeluarkan teriakan yang memekakkan telinga, mengangkat pedang ke atas jubah warna emas pemuda itu dan menebaskannya dengan ganas, tapi gagal. Pemuda itu mendadak menghentikan gerakan, menoleh, dan teriaknya. "Apa ini? Orang baru?" Ryohei terhuyung ke depan, terbawa oleh kecepatan ayunannya, dan pemuda itu menyapunya tanpa ampun lagi. Sepanjang hidupnya belum pernah Ryohei menyaksikan pukulan yang demikian hebat. Ia memang berhasil mengelakkan-nya pada waktunya, tapi terjungkal juga ia ke sawah. Untung baginya, karena tanggul itu cukup rendah dan sawah itu membeku. tapi ketika jatuh ia kehilangan senjatanya, dan dengan itu keyakinannya pula. Ketika ia merangkak kembali ke atas, pemuda itu sedang bergerak dengan kekuatan dan kecepatan seekor macan yang sedang marah, memporak-porandakan ketiga murid itu dengan kilasan pedangnya dan sedang mendekati Seijuro. Seijuro belum lagi merasa ngeri. Menurut pikirannya, segalanya akan berlalu sebelum ia sendiri terlibat. Tapi sekarang bahaya menyerang langsung dirimya dalam bentuk pedang yang tamak. Terdorong oleh suatu ilham yang tiba-tiba datang, ia berteriak, "Ganryu! Tunggu!" ia lepaskan sebelah kakinya dari sanggurdi, ia naikkan ke pelana, dan berdirilah ia lurus-lurus. Kuda melompat ke depan, ke arah kepala pemuda itu, sedangkan Seijuro terbang ke belakang, mendarat dengan kedua kakinya sekitar tiga langkah jauhnya. "Bukan main!" teriak orang muda itu kagum sekali, lalu mendekati Seijuro. "Biarpun kau musuhku, perbuatan tadi betul-betul bagus! Kau tentunya Seijuro sendiri. Jaga dirimu!" Mata pedang panjang itu menjadi perwujudan semangat juang. Ia semakin mendekati Seijuro, namun sekalipun memiliki kelemahan-kelemahan, Seijuro adalah anak Kempo. Ia dapat menghadapi bahaya itu dengan tenang. Kepada pemuda itu ia berkata yakin, "Kau Sasaki Kojiro dari Iwakuni. Benar seperti dugaanmu, aku Yoshioka Seijuro. Tak ada keinginanku berkelahi denganmu. Kalau benar-benar perlu, kita dapat mengundurkannya pada waktu lain. Sekarang ini aku cuma ingin mengetahui, apa sebab semua ini. Singkirkan pedangmu." Ketika Seijuro menyebutnya Ganryu, pemuda itu jelas tidak mendengarnya. Tapi sekarang, disebut Sasaki Kojiro itu ia pun terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu siapa aku?" tanyanya. Seijuro menampar paha. "Aku tahu! Aku cuma menduga, tapi dugaanku betul!" Kemudian ia maju ke depan, dan katanya, "Senang sekali bertemu denganmu. Aku sudah banyak mendengar tentangmu." "Dari siapa?" tanya Kojiro. "Dari teman seniormu, Ito Yagoro." "Oh, jadi kau ini temannya?" "Ya. Sampai musim gugur lalu dia memiliki tempat pertapaan di Bukit Kagura di Shirakawa, dan aku sering mengunjunginya di sana. Dia beberapa kali juga berkunjung ke rumahku." Kojiro tersenyum. "Kalau begitu, ini tampaknya bukan pertemuan yang pertama lagi, ya?"

Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

"Tidak. Ittosai agak sering menyebutmu. Dia mengatakan ada satu orang dari Iwakuni bernama Sasaki yang sudah mempelajari gaya Toda Seigen, dan kemudian belajar di bawah pimpinan Kanemaki Jisai. Dia mengatakan padaku, Sasaki murid termuda di perguruan Jisai, tapi suatu hari nanti akan menjadi satusatunya pemain pedang yang dapat menantang Ittosai." "Tapi aku masih belum mengerti, bagaimana bisa Anda mengetahui ini begitu cepat." "Nah, Anda muda dan cocok dengan gambaran itu. Melihat Anda mengguna-kan pedang panjang itu, aku ingat Anda disebut juga Ganryu—'Pohon Dedalu di Tepi Sungai'. Aku lalu mendapat firasat, tentu Anda-lah itu, dan aku benar." Sementara Kojiro mencecap gembira, matanya menoleh memandang pedangnya yang masih berdarah, yang mengingatkan kepadanya bahwa telah terjadi perkelahian, dan itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana mereka akan menyelesaikan urusan itu. Namun nyatanya ia dan Seijuro telah bertemu demikian baik, hingga saling pengertian pun segera tercapai, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan bahu-membahu seperti sahabat lama. Di belakang mereka berjalan Ryohei dan tiga murid yang kesal hati. Rombongan kecil itu berjalan menuju Kyoto. Kojiro berkata, "Dari semula aku tak mengerti, gara-gara apa perkelahian itu tadi. Aku tak punya soal dengan mereka." Pikiran Seijuro tertuju kepada tingkah laku Gion Toji baru-baru itu. "Aku muak dengan Toji," katanya. "Kalau aku kembali nanti, akan kupanggil dia supaya bercerita. Kuharap Anda tidak menganggap aku dendam terhadap Anda. Aku betul-betul malu melihat orang-orang perguruanku kurang baik disiplinnya." "Nah, Anda sudah lihat sendiri, orang macam apa aku ini," jawab Kojiro. "Bicaraku terlalu besar, dan aku selalu siap berkelahi dengan siapa saja. Murid-murid Anda bukan satu-satunya orang yang mesti dipersalahkan. Bahkan kukira Anda mesti memberikan pujian pada mereka karena telah berusaha mempertahankan nama baik perguruan. Sayang mereka itu tidak seberapa sebagai pejuang, tapi setidaktidaknya mereka sudah mencoba. Aku sedikit kasihan pada mereka." "Aku yang mesti dipersalahkan," kata Seijuro polos. Wajahnya menampakkan rasa sakit yang sebenarbenarnya. "Mari kita lupakan semuanya." "Tak ada yang lebih menyenangkan bagiku." Bersatunya kedua orang itu mendatangkan kelegaan pada yang lain-lain. Siapa menyangka bahwa anak lelaki yang tampan dan tumbuh lebih besar dari seharusnya ini Sasaki Kojiro yang besar, yang oleh Ittosai dipuji-puji? ("Keajaiban Iwakuni", begitulah yang dikatakannya). Tidak mengherankan kalau karena ketidaktahuannya, Toji tergoda untuk mempermainkannya sedikit. Dan tidak mengherankan bahwa akhirnya ia sendiri yang jadi tampak konyol. Ryohei dan ketiga orang temannya menggigil kalau ingat betapa mereka hampir kena berondong Galah Pengering. Kini mata mereka telah terbuka. Melihat bidangnya bahu dan tegapnya punggung Kojiro itu mereka heran, bagaimana mungkin mereka telah berlaku demikian bodoh dengan menyepelekannya. Tak lama kemudian, mereka sampai kembali di tempat perhentian kapal. Mayat-mayat sudah membeku, dan ketiga orang itu ditugaskan menguburnya, sedangkan Ryohei pergi mencari kuda. Kojiro pergi bersiul-siul memanggil monyetnya. Tiba-tiba monyet itu muncul entah dari mana dan melompat ke bahu tuannya. Seijuro tidak hanya mendesak Kojiro datang ke perguruannya di Jalan Shijo dan tinggal di sana sejenak, tapi juga menawarkan kudanya. Kojiro menolak. "Kurang baik," katanya. Sikap hormatnya tidak seperti biasa. "Aku cuma seorang ronin muda, sedangkan Anda guru sebuah perguruan besar, putra seorang terhormat, pemimpin beratus-ratus pengikut." Sambil memegang kendali, ia melanjutkan, "Silakan, Andalah yang naik. Aku memegang kendali ini saja. Lebih mudah jalan begini. Kalau memang tidak keberatan, aku menerima tawaran Anda tinggal dengan Anda sebentar di Kyoto." Dengan sikap sopan santun yang sama, Seijuro berkata, "Nah, kalau begitu, aku naik sekarang, dan kalau kaki Anda lelah nanti, kita dapat bertukar tempat." Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Seijuro merasa ada baiknya pemain pedang seperti Sasaki Kojiro itu berada di sampingnya, pada saat ia terpaksa bertarung dengan Miyamoto Musashi pada permulaan Tahun Baru.

Gunung Rajawali
PADA tahun 1550-an dan 1560-an, pemain-pemain pedang besar yang paling terkenal di Jepang Timur adalah Tsukahara Bokuden dan Yang Dipertuan Koizumi dari Ise, sedangkan saingannya di Honshu Tengah adalah Yoshioka Kempo dari Kyoto dan Yagyu Muneyoshi dari Yamato. Disamping itu ada Yang Dipertuan Kitabatake Tomonori dari Kuwana. seorang guru seni bela diri dan gubernur terkemuka. Lama sesudah ia meninggal, orang Kuwana masih berbicara tentang dirinya dengan rasa cinta, karena bagi mereka ia melambangkan hakikat pemerintahan yang baik dan kemakmuran. Ketika Kitabatake masih belajar di bawah pimpinan Bokuden, yang terakhir ini menurunkan kepadanya Ilmu Pedang Tertinggi, yaitu rahasia tertinggi di antara jurus-jurus rahasia miliknya. Anak Bokuden, Tsukuhara Hikoshiro, mewarisi nama dan tanah milik ayahnya, tapi tidak mendapat warisan jurus rahasia itu. Itulah sebabnya mengapa Gaya Bokuden bukannya menyebar di timur, di mana Hikoshiro bergiat, melainkan di daerah Kuwana, di mana Kitabatake memerintah. Konon, sesudah meninggalnya Bokuden, Hikoshiro datang ke Kuwana untuk mencoba memperdayakan Kitabatake agar membukakan jurus rahasia itu. "Ayah saya," demikian kabarnya ia mengatakan, "dahulu mengajarkannya pada saya, dan saya diberitahu bahwa dia mengajarkannya juga pada Anda. Belakangan ini saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah yang diajarkan pada kita itu bukan barang yang sama. Karena rahasia-rahasia tertinggi dalam aliran kita jadi kepentingan bersama, apakah tidak sebaiknya kita membandingkan apa yang telah kita pelajari?" Kitabatake segera menyadari maksud kurang baik pewaris Bokuden itu. namun ia cepat menyetujui memberikan demonstrasi. Rahasia yang diketahui Hikoshiro waktu itu hanyalah bentuk luar Ilmu Pedang Tertinggi, dan bukan rahasia yang paling dalam. Maka Kitabatake tetap merupakan satu-satunya guru Gaya Bokuden sejati, dan untuk mempelajarinya para murid harus pergi ke Kuwana. Di sebelah timur, Hikoshiro menurunkan kulit kosong lancung keterampilan ayahnya sebagai ajaran yang asli: suatu bentuk tanpa inti. Atau demikianlah setidak-tidaknya cerita yang disampaikan pada setiap musafir yang kebetulan menginjakkan kaki di daerah Kuwana. Bukan cerita yang jelek, karena cerita-cerita seperti itu memang beredar, dan karena didasarkan pada fakta, maka cerita itu lebih dapat diterima dan kurang ngawur dibandingkan lautan cerita rakyat setempat yang disampaikan orang untuk menegaskan kembali keunikan kota-kota dan provinsi-provinsi yang mereka cintai. Musashi yang sedang menuruni Gunung Tarusaka dalam perjalanan dari kota Kuwana mendengar cerita itu dari tukang kudanya. Ia mengangguk, dan katanya sopan, "Betul begitu? Menarik sekali!" Waktu itu pertengahan bulan terakhir. Sekalipun iklim Ise relatif hangat, namun angin yang berembus dari Teluk Nako dingin menggigit. Ia hanya mengenakan kimono tipis. Pakaian dalamnya dari katun dan jubah tak berlengan. Berarti pakaian yang terlalu tipis untuk ukuran mana pun. Dan lagi jelas tampak kotor. Wajahnya bukan lagi berwarna perunggu, melainkan hitam terbakar matahari. Di atas kepalanya yang termakan cuaca, topi anyamannya yang sudah aus dan berumbai tampak berlebihan. Sekiranya ia membuang barang itu di jalan, tak seorang pun akan bersusah payah memungutnya. Rambutnya yang sudah berhari-hari tak dicuci, diikat ke belakang, tapi tetap masih seperti sarang burung. Apa pun yang dilakukannya selama enam bulan terakhir itu, menyebabkan kulitnya tampak seperti kulit yang tersamak baik. Matanya bersinar seperti mutiara putih di tengah lingkungannya yang segelap arang. Tukang kuda sudah kuatir semenjak membawa penunggang kuda yang acak-acakan itu. Ia sangsi apakah akan menerima upah, dan yakin tak akan mendapat muatan pulang dari tempat jauh di tengah pegunungan itu. "Tuan," katanya agak takut-takut. "Mm?" "Kita akan sampai Yokkaichi sebelum tengah hari, dan sampai Kameyama petang hari. Sebelum sampai Ebook by Kang Zusi

property of: CROSSFiRE, netcafe, Inc.

Desa Ujii, hari pasti sudah tengah malam." "Mm." "Tak apa-apa?" "Mm." Musashi waktu itu lebih tertarik pada pemandangan teluk daripada berbicara, hingga tukang kuda itu tidak memperoleh jawaban lebih dari anggukan kepala dan kata "Mm" yang tak berisi pendapat itu. Tukang kuda mencoba lagi. "Ujii tak lebih dari dukuh kecil sekitar delapan mil masuk pegunungan dari punggung Gunung Suzuka. Bagaimana ceritanya sampai Tuan pergi ke tempat macam itu?" "Saya pergi untuk menemui seseorang." "Tak ada siapa-siapa di sana, kecuali petani dan penebang kayu." "Di Kuwana saya dengar ada satu orang yang pandai sekali main rantaipeluru-sabit." "Saya kira Shishido." "Itu dia. Namanya Shishido apa?" "Shishido Baiken." "Ya." "Dia pandai besi, biasa bikin sabit besar. Saya ingat pernah mendengar dia mahir sekali bikin senjata itu. Apa Tuan belajar seni bela diri?" "Mm." "Oh, kalau begitu, daripada menemui Baiken, saya sarankan Tuan pergi ke Matsuzaka. Beberapa pemain pedang terbaik Provinsi Ise tinggal di sana." "Siapa misalnya?" "Misalnya, Mikogami Tanzen." Musashi mengangguk. "Ya, saya pernah dengar." Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan ini memberikan kesan bahwa ia kenal betul kemampuan-kemampuan besar Mikogami. Sampai kota kecil Yokkaichi, ia berjalan terpincang-pincang kesakitan menuju sebuah warung, dan di situ ia memesan makan siang dan duduk makan. Kura-kura sebelah kakinya terbalut, karena telapak kakinya luka bernanah. Itulah sebabnya ia memilih menyewa kuda dan bukan berjalan. Walaupun biasanya ia selalu berhati-hati dengan tubuhnya, beberapa hari sebelumnya, di kota pelabuhan ramai Narumi terinjak olehnya papan berpaku. Kakinya yang merah bengkak itu tampak seperti kesemek asin, dan sejak kemarin ia demam. Menurut jalan pikirannya, ia bertempur dengan sebuah paku, dan paku itu menang. Sebagai murid bela diri, ia merasa malu membiarkan dirinya kena paku tanpa sadar. "Apa tak ada jalan buat melawan musuh macam itu?" tanyanya beberapa kali kepada dirinya. "Paku itu mencongak ke atas dan kelihatan jelas. Aku menginjaknya karena aku setengah tertidur-tidak, aku buta, karena semangatku belum lagi aktif di seluruh tubuhku. Lebih dan itu, aku membiarkan paku itu menembus dalam, dan ini terbukti gerak reflekku lamban. Sekiranya aku menguasai sepenuhnya diriku, pasti aku sudah melihat paku itu begitu sandalku menyentuhnya." Persoalan yang dihadapinya adalah ketidakmatangan, demikian kesimpulannya. Tubuhnya dan pedangnya masih belum menjadi satu. Sekalipun kedua tangannya jadi semakin kuat dari hari ke hari, semangatnya dan bagian lain tubuhnya tidak selaras. Dalam kerangka pikiran yang mengecam diri pribadi ini, hal itu terasa olehnya sebagai kelainan yang melumpuhkan. Namun demikian, ia tidak merasa membuang-buang waktu saja enam bulan lalu itu. Sesudah melarikan diri dari Yagyu, pertama-tama ia pergi ke Iga, kemudian ke jalan raya Omi, lalu menjelajahi Provinsi Mino dan Ebook by Kang Zusi

seyakin-yakinnya. Jumlahnya berlusin-lusin dan semuanya pemain pedang yang terlatih baik dan dari kelas tinggi. Pedang bukan logika. semacam utang terhadap biarawan itu. Gaya hidupnya di sana tampak jelas dari penampilannya ketika kembali ke peradaban-pipinya secekung pipi rusa. Memikirkan guru Yagyu tua itu membuatnya sinting dan sekaligus sedih. tubuhnya penuh cakaran dan luka memar. "Setidaknya aku beruntung telah mengenal seorang manusia sejati. maka khayalan itu pun lenyap. bahkan terlalu penuh. tapi menemukan seorang manusia sejati tidaklah mudah. Ia jadi demikian kotor akibat tidur di tanah. Yang sukar ditemukan adalah manusia sejati. masih ada waktu untuk melihat apakah Shishido Baiken sungguh seorang manusia sejati. Aku harus membuat pengalaman mengenal dia itu membuahkan sesuatu. melainkan beraksi. karena tak sangsi lagi dialah pribadi yang otentik. ia berusaha menguasai Jalan Pedang yang sejati. tapi ia pun bisa menjadi besar! Apabila kesangsian terhadap diri sendiri sudah mengancam akan menenggelamkannya. di setiap ngarai gunung. Selama perjalanannya. Khayalan itu cukup polos. ia akan tertawa dan katanya. netcafe. Tak ingat lagi ia. tapi rahasianya tetap saja sukar ditangkap. yang demikian banyaknya menghuni bumi ini? Ebook by Kang Zusi . apa yang dapat dikatakan oleh Takuan? Sudah pasti ia akan berteriak girang dan menyatakan. sejenis rasa nyeri menyebar dari pergelangan tangannya ke seluruh tubuhnya. maka Musashi biasa langsung pergi ke pegunungan dan hidup dengan dirinya dalam kesendirian itu. dunia yang pernah dikiranya penuh orang bodoh itu kelihatannya besar menakutkan. bahwa menghantam kepala Takuan dengan keunggulan pribadinya merupakan suatu keharusan. "Tunggulah!" sumpah Musashi. Yang penting bukan bicara atau berspekulasi. tapi masih bodoh!" Bagaimana persisnya kata-kata tidaklah menjadi persoalan benar. Dunia ini memang penuh orang. Takuan tak akan pernah bersikap langsung macam itu. Sebagai Takuan. dan aku akan duduk di tanah. yang unik. rambutnya kering dan kaku karena berjam-jam tersiram air terjun dingin. walaupun aneh. Dalam sepuluh hari yang masih tersisa sebelum ia memenuhi janjinya di Kyoto. dengan berapa banyak prajurit ia telah berbentrokan. pikirannya selalu kembali kepada Takuan. Tentu saja bisa terjadi bahwa segala sesuatu tidak berlangsung tepat seperti yang direncanakan. ia menyala penuh keyakinan. sampai terasa menyakitkan dan semangatnya mengendur. Musashi menjadi yakin akan hal itu. Perasaan itu aneh." Manakala Musashi memikirkan Takuan. Di dalam." Tapi tidak. hampir-hampir keangkuhan. Mungkin saja ada orang-orang lain yang sekarang ini jauh lebih besar daripadanya. ataukah sekadar cacing pemakan nasi juga. Lebih mengguncangkan lagi apabila ia memikirkan betapa mentah dan tak layak dirinya dibandingkan dengan Sekhishusai. Kadangkadang ia merasa sudah mencapainya. Ia dalam perjalanannya sekarang karena ingin tahu apakah ahli rantaipeluru-sabit Kuwana itu memang cakap. Musashi tersenyum memikirkan kemungkinan bahwa pada suatu hari nanti ia akan ganti menguasai biarawan eksentrik itu. suatu kenangan psikologis akan saat ia terikat erat pada cabang pohon kriptomeria. "Bodoh kamu! Kau makin maju. Kalau sisi praktis dirinya mengingatkan ia betapa Takuan sudah jauh lebih lanjut menempuh jalan itu dibandingkan dengannya. "Sebentar lagi akan kuikat Takuan di pohon itu juga." pikir Musashi. Dan Musashi berkata pada diri sendiri bahwa hidup ini bukanlah soal logika.property of: CROSSFiRE. Ia cuma ingin menunjukkan bahwa taraf yang dapat dicapai seseorang melalui Jalan Pedang lebih tinggi daripada yang dapat dicapai dengan mempraktekkan Zen. Di setiap kota. Namun demikian. Persoalannya Musashi merasa. tapi sekiranya ia memang mendapat kemajuan besar. Pada waktu-waktu seperti ini. dan meledak-ledak dengan hasrat menjumpai lawan yang berarti. "Kukira aku beruntung. Musashi telah menempuh jalannya sendiri. tentang Seni Bela Diri atau yang lain lagi dengan penuh keyakinan. mengkhotbahkan jalan hidup sejati kepadanya!" Bukannya ia benci kepada Takuan atau punya hasrat membalas dendam. Tidak sukar menemukan pemain-pemain pedang cakap. dan sekiranya pada akhirnya ia dapat mengikat Takuan di atas pohon dan menguliahinya. Owari. "Bagus sekali! Aku bahagia sekarang. sehingga giginya yang putih seakan-akan tidak berasal dari dunia. ia menjadi sadar sesadar-sadarnya akan ketidakmampuannya bicara tentang Jalan Kesempurnaan. Inc. Dan pencarian ujian atas keberanian inilah yang selalu membawanya turun dari pegunungan. sesuatu yang tak dapat ditemukan tersembunyi di kota ataupun di ngarai. dan dari hari kehari ia menemukan betapa paniang dan sukarnya jalan menuju kemanusiaan sejati. Namun semua itu hanyalah permukaan semata.

Tuan. seperti kepada anak kecil.. apa kita dapat menemukannya. Musashi tidak tertawa. "Kukira kau ini samurai muda lain lagi yang datang kemari buat dibikin berlumuran darah oleh suamiku." Musashi membungkuk dan mematuhi perintah itu. siapa pun di antara petani setempal dapat mengantar mereka ke rumahnya. kamu beruntung. Larut malam barulah ia sampai di tujuannya. Perempuan yang umurnya sekitar tiga puluh tahun dan agak manis itu meletakkan palunya dan kembali ke daerah tempat tinggal. "Saya kecewa suami Nyonya tidak ada. tapi karena sudah larut. "Saya membawa seseorang dari jauh untuk bertemu dengan suami Nyonya. Perempuan ini lebih gawat daripada kebanyakan istri." "Terima kasih. Ia datang ke desa terpencil ini bukan untuk dipermainkan oleh seorang perempuan. Kerutan keningnya jelas menunjukkan bahwa ia sudah lebih dari cukup menjumpai shugyosha dan sudah tahu bagaimana menghadapi mereka. Mereka berada di sebuah lembah yang tertutup tiga sisinya. Bagus sekali!" Tukang kuda langsung menuju dapur api itu." Karena Baiken membuka bengkel." Perempuan itu memandang masam ke arah Musashi. Mari kita lihat. Esok harinya ia akan dapat turun dari Celah Suzuka. cuaca waktu itu terlalu dingin dan gelap untuk mencoba kembali sebelum matahari terbit. netcafe. tapi. Musashi berkata." "Ke rumah Shishido Baiken?" "Ya. Ia perkirakan itulah senjatanya. dan jika beruntung ia dapat mengambil penumpang kembali di jalan. semua perempuan cenderung keterlaluan melebihkan status suaminya. Jalan mana pun terpaksa mendaki pegunungan yang tertimbun salju setinggi lutut. lalu mengangkat anak itu dan menyusuinya. si tukang kuda lebih suka mengawani Musashi ke rumah yang dicarinya dan menginap di bawah tepi atap. Kalau betul begitu. Kepada Musashi ia berkata. jadi kamu tak perlu kuatir cerbunuh.. karena terus terang saja. Maka berkilau-kilaulah matanya karena rasa ingin tahu. Alasannya yang lain mengadakan perjalanan kemari adalah karena ia berpendapat seorang murid semacam dirinya haruslah berkenalan dengan segala jenis senjata. "Selamat malam.. saya jelaskan. Pada sebuah papan yang dipakukan ke dinding tergantung sekitar sepuluh senjata rantai-peluru-sabit. "Siapa pula ini?" tanyanya. ia belum pernah melihatnya. dan menghentikan pekerjaannya. tukang kuda membuka pintu dan masuk." Ia tertawa riang. Kami baru saja sampai. Karena tak ingin melukai perasaannya. "ayolah ikut saya. Satu-satunya tanda kehidupan adalah bunyi godam yang secara teratur menghantam blok. Api menyala di dapur api dan seorang perempuan yang membelakangi api sedang menumbuk-numbuk kain. Musashi mengira ia akan membawakan teh. Nyonya! Oh! Nyonya ada api.property of: CROSSFiRE. "Kalau begitu. dikatakannya bahwa tukang kuda itu bebas untuk pergi. Dengan nada angkuh ia berkata kepada Musashi. udara dingin mendekati bunyi itu. Di depan terdapat timbunan logam tua: dan sisi bawah ujung atap hitam oleh asap. "Tutup pintu! Bayiku bisa masuk angin kalau udara dingin itu masuk. Bagaimanapun. Saya tukang kuda dari Kuwana. Atas perintah Musashi. Kemudian ia duduk di atas tunggul pohon di samping dapur api dan mengamati sekitarnyadari daerah penuangan best yang menghitam sampai ruangan tempat tinggal yang berkamar tiga." "Ya. Ternyata itu rumah pandai besi. Ia rupanya mengira suaminya orang terhebat di bumi ini. Musashi sependapat dengannya. jauh di pegunungan itu. Menurut renungannya. "Tunggu sebentar. tapi ternyata ia pergi ke tikar tempat tidur seorang bayi. Perempuan itu terlompat karena tukang kuda yang mendadak masuk itu." kata tukang kuda sambil memanaskan kedua tangannya. Inc. Sesudah berjalan melintas. Ia jengkel sekali. Sesudah mengucapkan terima kasih." kata Musashi. akhirnya mereka melihat cahaya. tapi pada waktu malam seperti itu seluruh desa sedang tidur. Suamiku sedang pergi. Ke mana dia pergi?" Ebook by Kang Zusi .

" kata Musashi seraya memegang sabit itu dengan tangan kiri dan rantai dengan tangan kanan. Musashi ingin melihatnya menggunakan alat itu lagi. perempuan itu menyanyikan lagu buaian dalam logat setempat. Musashi bertanya. setengah pada diri sendiri. Sesudah membersihkan dinding. Ujungnya memakai cincin tempat menyangkutkan rantai." Maka hampir tak sabar lagi ia ingin menjumpai Baiken. "Jadi. ya." Ia merebut senjata itu dari tangan Musashi dan memperlihatkan padanya bagaimana cara berdiri. Musashi melihat bahwa pada pedang berwarna biru kehitaman seperti punggung ikan makerel itu terdapat tulisan yang bunyinya." katanya. seperti mata sabit. tapi perempuan itu jelas tak punya keinginan melakukannya. Di lekuk yang dalam pada salah satu sisi batang logam itu tampak punggung pisau. dan umpatnya. "Apa ini senjata yang digunakan begitu fasihnya oleh suami Nyonya?" Perempuan itu menggerutu. "Kukira begini memegangnya. "Gaya Shishido Yaegaki". Ia mencuci pecah belah atau bersiap memasak sesuatu. "Kalau kamu memegangnya begitu. Sambil membayangkan seorang musuh di hadapannya. tamunya. "Yah. "Saya dengar orang banyak menggunakannya sekarang ini. itu nakal Dan bikin ibunya nangis juga. dan tanpa menghiraukan. orang yang bersenjata pedang bisa menebasmu tanpa kesulitan sama sekali. Pagi-pagi. dan ketika Musashi minta dibolehkan memeriksanya. Inc. ha! Kamu sudah datang di Ise. perempuan itu tampak betul-betul seperti sapi. tukang kuda menyatakan dengan suara gumam bahwa mereka itu keluarga yang ditugaskan mengawal Biara Ise. Musashi menurunkan satu senjata dari sangkutannya. tapi sekarang sesudah siap tempur ia tampak gagah." Senjata di tangannya itu terdiri atas satu batang logam yang panjangnya 60 cm (yang dengan mudah dapat disimpan di dalam obi). Kalau ini benar. Sambil bersandar ke dinding dan menghangatkan diri pada panas api. yang cukup kokoh untuk memecahkan tengkorak manusia. la memandang dengan mulut menganga. Dengan senjata itu. ia kembali sibuk dengan pekerjaan di dekat bak cuci. Perempuan itu mengalihkan matanya dari tempat tidur bayinya unruk memperhatikan. Ia mengambil keputusan untuk mencarinya. demikian pikir Musashi." katanya sambil melipatkan kembali pisau itu ke dalam gagangnya dan menggantungkan senjata itu ke sangkutannya. Sementara memperhatikan. Ketika ia menarik benda itu dengan kukunya. setidak-tidaknya ia bisa mempelajari sesuatu dari memperhatikan senjatasenjata pandai besi itu. Bayi jaga dan nangis. Musashi tak suka melihat seorang perempuan mengambil jurus tempur dengan senjata yang demikian brutal. Tidurlah. Pegang begini. Karena menurut pikirannya. kota terdekat dengan Biara Ise. Di ujung lain rantai itu terdapat peluru logam yang berat. bahkan cantik. Puas karena telah Ebook by Kang Zusi ." pikir Musashi. netcafe. dan menggerutu lagi. Ketika menyusui bayinya tadi. magang pandai besi itu bangun dan membuka luar bengkel. dan pelan-pelan ia bertanya kepada tukang kuda mengenai Keluarga Arakida.property of: CROSSFiRE. tak akan sukar menemukan tempat mereka itu. bermartabat. ia mengambil jurus dan menimbang-nimbang gerakan yang diperlukannya. "Ke rumah Arakida. lalu melingkarkan diri di tikar dekat api dan tidur. ia mendekat ke tempat Musashi berdiri. tidaklah sukar memotong kepala lawan. inilah macamnya. "Kalau perempuan ini dapat mengambil jurus demikian mengesankan." "Di mana itu?" "Ha. Musashi bangun juga dan minta kepada tukang kuda agar membawanya ke Yamada. "Bukan begitu! Salah sekali!" Sambil menjejalkan buah dadanya kembali ke dalam kimononya. dan. Perempuan itu mengambil jurus tersebut hanya sesaat. benda itu melenting ke samping. kira-kira seperti itulah. ia mengangguk. "suaminya tentunya benar-benar patut dilihat. tapi belum tahu Keluarga Arakida?" Waktu itu bayi di dadanya mulai rewel. tidurlah Bayi tidur sungguh manis.

Ketika membuka mata. Namun tak ada perbaikan. Warung-warung teh di situ tampak sangat sepi. menurut ingatannya tak pernah ia sakit. Lama-kelamaan mulai kelihatan olehnya bahwa puncak itu memang Sekishusai yang sedang memandang kepadanya dan atas awan-awan. Ia bertanya pada diri sendiri. Orang itu berani bersumpah bahwa keluarganya telah menggunakannya beberapa generasi. Sejumlah pohon yang tumbang oleh badai musim gugur masih menggeletak di tempat tumbangnya. dan rasanya sudah seberat balok kayu. dan menatap pula kepada Musash dengan kurang ajarnya. Hanya sedikit orang berjalan. Sakit rasanya. dan jalan itu sendiri dalam keadaan buruk. Musashi mengalihkan perhatian kepada kakinya yang luka. tapi dengan menutup mata. "Sakit adalah sejenis musuh yang paling jahat. Pagi berikutnya dengan putus asa ia cobakan resep-resep lain. Dari rumah penginapan di Yamada. Kakinya tampak seperti gumpalan tahu besar membengkak. ia peras sampai keluar airnya. "Itu burung rajawali. Jawaban yang datang menyatakan bahwa tentunya telah terjadi kekeliruan. "Tak bisa aku hanya tinggal di sini membuang-buang waktu!" Dalam keadaan terbaring dengan perasaan jengkel itu. bagaimana bisa aku mengalahkan seluruh Keluarga Yoshioka?" Ia membayangkan akan menghimpit dan mencekik setan di dalam dirinya. Musashi mengirim seorang pesuruh untuk bertanya ke rumah Arakida. Mestinya ia langsung ke Kyoto. Sibuk mengurusi kakinya. Disamping itu. ia tendang selimut dari kakinya yang bengkak. tanpa mengetahui bahwa namanva memang Gunung Rajawali. netcafe. Penampilan puncak gunung yang congkak itu menyinggung perasaannya. Bahkan lebih buruk lagi bahwa bau tahu itu memualkan. Pengalaman itu menyebabkan ia berpikir." pikir Musashi. tulang-tulang rusuknya terasa seperti menekan jantungnya dan dadanya terasa mengerut. dan ia rendam kakinya dalam air itu. Ia memaksa dirinya duduk bersimpuh dalam gaya resmi. ia berjanji menjumpai Matahachi di jembatan Jalan Gojo. baginya sungguh baru dan memaksanya untuk berpikir. sebelum akhirnya warna merah pada wajahnya mulai berkurang dan kepalanya mendingin sedikit. Ia gusar karena tinggal beberapa hari lagi waktu yang tersisa baginya untuk berada di Kyoto. Dalam surat tantangan yang dikirimkannya kepada Sekolah Yoshioka dari Nagoya. Ebook by Kang Zusi . "Namun tak berdaya aku dalam genggamannya. Tidak pernah dalam hidupnya ia terbaring tiga hari lamanya. Ampas tahu ia masukkan dalam kantong kain. "Tinggal berapa hari lagi tahun ini?" demikian ia bertanya-tanya. dibayar hari sebelumnya. yang dalam semalam itu sudah sangat membengkak. tampaklah di hadapannya hutan sekitar Biara Ise. maka kenyataan bahwa ia dibikin lumpuh oleh musuh dari dalam. Namun bengkak tidak juga surut. menertawakan kelemahan dan kekerdilannya. ia menyerahkan pada mereka untuk memilih salah satu hari dalam minggu pertama Tahun Baru. Selain bisul yang pernah dipunyainya di kepala semasa kanak-kanak. Di seberang pepohonan terlihat olehnya Gunung Mai. Karena kecewa. tukang kuda segera menyetujui. ia mengeluh atas kebodohannya telah menyeleweng pergi ke Ise. termasuk mengoleskan obat seperti minyak pemberian pemilik rumah penginapan. Cukup lama waktu berlalu. Malam itu kakinya ia bungkus di bawah selimut. Menjulang di atas pegunungan di antara kedua gunung itu tampak sebuah puncak yang menatap dengan pandangan merendahkan kepada gunung-gunung di sekitarnya. dan sedikit ke timur Gunung Asama. Ia tak dapat menolak sekarang dengan alasan kaki sakit. apakah setan akan menyerah pada kegigihannya yang pantang menyerah itu. Petang hari mereka sudah sampai di jalan panjang berapit pohon yang menuju biara itu. sakit sekali. Ia menghadap jendela. hingga semangat juangnya sekali lagi tergelitik. Inc. apakah Shishido Baiken tinggal di sana. Hampir-hampir pingsan. Tak seorang pun yang namanya demikian ada di sana.property of: CROSSFiRE." Sampai sekarang ia menduga musuh-musuhnya akan selalu datang dari luar. bahkan juga untuk musim dingin. Sepanjang hari berikutnya ia gunakan untuk menerapkan obat yang pernah didengarnya. Maka terpikirlah olehnya Yagyu Sekishusai. pemain pedang tua yang mirip dengan puncak angkuh ini. "Kalau menendang ini saja aku tak dapat. Demamnya menanjak dan rasa nyerinya tak tertahankan lagi. Gayanya yang sombong itu mengejeknya." demikian pikirnya.

Kadang-kadang ia merasa seolah tubuhnya tiba-tiba akan pecah berantakan. pada hakikatnya. tak dapat ia mengatakan. biar saya gosoki!" Mereka menarik-narik pakaiannya. Tubuhnya menyala demam. seperti batu karang. Untuk sampai ke biara itu. tangannya jadi selengket madu. Bahkan Otsu yang polos itu pun kadang-kadang menjadi khayalnya yang penuh nafsu. pasti tak terasa sakit lagi. yang berasal dari telapak kaki. dan menggoda. Tapi sekarang sedikit saja yang mengingatkan orang bahwa tempat itu tempat lahir para pahlawan. terpincang-pincang melewati lapangan pasar. pohon-pohonan. Belakangan. Tak hendak ia menerima kenyataan bahwa kaki itu benar-benar sebagian dari dirinya. untuk sementara ia lupa akan kakinya. Mengangkat kaki yang luka itu saja menghabiskan seluruh tenaga yang dapat ia kerahkan. Inc. serangan tangan-tangan putih itu menjadi gencar. dan usaha mental macam apa pun darinya takkan dapat menenangkannya. Semua itu hanya membikin perempuan-perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh. Betul-betul ia tak tahu bagaimana mengatasinya. Bagaimanapun ia sudah berhasil tetap mengendalikan diri. Ketika seorang dari mereka mengatakan bahwa Musashi "semungil anak macan tutul!". menggenggam tangannya. sekalipun kulitnya tersengat oleh angin dingin. Bibirnya memerah. Setiap langkah yang diambilnya berarti tikaman derita di kepala. Mereka memanggil-maggil orang lewat dan mencekal lengan baju calon-calon korban yang lewat. dan bau rambutnya menyengat karena keringat. Di situlah tentunya dilahirkan prajurit terkenal Tairo no Tadakiyo. Tidak mungkin bagi Musashi mengabaikan perempuan.property of: CROSSFiRE. Rangsangan yang ditimbulkan oleh tangan-tangan yang mencakar-cakar itu lama baru bisa reda. tapi melarikan diri dari mereka dalam keadaan hampir tak dapat berjalan itu sama saja dengan menyeberangi kancah logam cair panas. Lebih banyak perempuan penggoda berdiri di sepanjang jalan itu daripada pohon. walaupun tiap kali menyeret kaki sial itu ia mengutuk pelan. Itu ancaman yang lebih besar dibandingkan dengan musuh yang berdiri dengan pedang terhunus di hadapannya. bahkan ia tak mau berhenti memungut topinya ketika topi itu terlepas dari kepalanya. Sama sekali tak bisa ia bertahan terhadap serangan macam itu. Bukannya ia berkhayal. Apakah itu. Musashi betul-betul harus berjuang melintasi mereka sambil merengut dan menghindari pandangan mereka yang tak sopan itu. dan ia minta maaf pada sebagian dan mereka. membujuk. Ia merasakan suasana suci dalam tumbuh-tumbuhan. "Di mana saja semua orang ini?" pekiknya. dan ia pun lari. tapi ia ada di sana. Sekarang rempat itu lebih mirip bordil terbuka yang didereti warung-warung teh dan dikerumuni perempuan. dan ia bermaksud mengatasinya. Dengan suara keras ia panggil pesuruh. "Lelaki tampan takkan sampai ke mana-mana dengan mengerutkan dahi macam itu!" Musashi menjadi merah mukanya dan menghuyungkan diri dengan membuta. sambil mencumbu. sambil merintih pelan kesakitan dan memegangi kaki dengan kedua tangannya. ia tarik kaki yang besar bulat itu dari bawah dirinya dan ia tatap. bahkan juga dalam suara burung-burung. Tanpa dikehendakinya. pahlawan "Cerita Perang Hogen". Menyeberangi Sungai Isuzu dan memasuki pekarangan biara itu mendatangkan perubahan suasana yang menyenangkan. demikian pikirnya sedih. Maka suara-suara mengikik mengikutinya di antara pepohonan di luar kota itu. Selagi memandang gunung itu. Ebook by Kang Zusi . mencengkeram tangannya. Ia rebah di akar sebatang pohon kriptomeria besar. tapi segera kemudian rasa nyeri mendesak kembali ke dalam kesadarannya. netcafe. Sekiranya ia hantamkan kakinya ke api bengkel pandai besi itu. Ia sudah tahu ketika meninggalkan rumah penginapan itu bahwa ini akan merupakan siksaan baginya. Akhirnya ia tak peduli lagi dengan segala macam topeng harga diri. ia pukul tatami dengan tinjunya. dan dengan sopan menyatakan menyesal pada yang lain. apabila tubuhnya menyala oleh birahi. Hari ini kakinya memaksanya melepaskan pikiran tentang perempuan. Ingatan tentang bau bedak putih yang tajam tentu saja sudah dapat membuat detak nadinya menggebu. sepanjang malam ia gelisah. Ketika tidak cepat muncul. "Aku mau pergi dari sini! Mana rekening! Sediakan makanan-nasi gorengdan bawakan aku tiga pasang sandal jerami yang berat!" Sebentar kemudian ia sudah ada di jalan. Lama ia duduk di sana tak bergerak-gerak. "Kenapa kakimu?" "Apa mau saya obati?" "Sini.

Menghadapi kemungkinan seperti ini. Musik itu berasal dari bangunan yang agak lebih jauh letaknya. kalau itu cocok buat mereka. ia melepaskan pedang dan bungkusan dari punggungnya. walau tidak kehilangan keseimbangan menghadapi mati merupakan keadaan mental yang tinggi tarafnya. Merasa sudah mantap. bagaimana mungkin ia bertahan terhadap halangan-halangan yang lebih mengancam hidup? Dan pada saat ini persoalannya bukanlah kemungkinan masa depan yang abstrak. Kyoto tidak jauh. Wisma Para Perawan ini dihuni gadis-gadis muda yang mengabdi kepada dewa-dewa.property of: CROSSFiRE. tidak lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh mil. Musashi mendekati pintu belakang bangunan itu. helai rambut di sepanjang dahinya kaku menjadi kerat-kerat es. mencemplungkan diri ke sungai suci itu penting. ia menjadi gila sama sekali. kalau ia sudah tahu bahwa la harus mati. sesungguhnya tidaklah begitu sukar menghadapi maut. Karena melakukan penjarahan yang melanggar kesucian ini. Semua itu diikat bersama dan digantungkannya pada sangkutan di dinding dalam. Sementara ia mengeringkan diri dan mengenakan pakaian. sampai kakinya terobati. Musashi yang berbuat seperti orang itu dapat dengan mudah dikira hantu orang gila itu. Menurut legenda Ise. Ia berhenti dan memandang ke dalam. bahwa seorang dewasa membiarkan dirinya dikuasai ketidaksabaran? Namun bukan ketidaksabaran itu semata-mata yang menggerakkannya. dan membasuh badan. beserta seluruh pengikutnya. dan ia mencoba membangun keyakinan untuk berbuat demikian. seperti seekor burung kecil. Kalau ia dapat menjaga langkah. bukan sekadar hidup. Yang menggerakkannya adalah kebutuhan spiritual. demikian kata legenda itu. Kira-kira sejam kemudian. Tertarik oleh bunyi damai ini Musashi mencoba berdiri. ia memancing di Sungai Isuzu yang suci dan menggunakan burung elang pemburu untuk menangkap burung-burung kecil di hutan suci itu. Ketika akhirnya ia melompat ke atas batu. Kenapakah ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melarikan diri dari rumah penginapan itu? Orang normal mana pun akan tetap tinggal di sana tenang-tenang. Kendati dilanda nyeri dan derita fisik. semangat Musashi pekat dan berdetak penuh daya hidup. Namun waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri secara spiritual Ebook by Kang Zusi . Dalam keadaan tanpa beban itu ia letakkan kedua tangannya di pinggul dan ia berjalan terpincang-pincang kembali ke Sungai Isuzu. ia bisa sampai di sana dalam tiga hari. musik persembahan bagi para dewa. Memenangkan perkelahian hidup atau mati dengan segala kekuatan tidaklah lebih dari naluri binatang. tapi tujuannya memang mutlak. Kalau tubuhnya tak dapat menahan dingin. Lagi pula. Biarlah orang lain gugur secara heroik. dan kebutuhan yang sangat dalam. samurai pada umumnya pasti akan bicara tentang "berkelahi dengan segala tenaga" atau "siap menghadapi maut". Pendeta yang lewat bisa-bisa menduga ia sudah gila dan mengusirnya. ia dapat melakukan lompatan itu dengan ringannya. Inc. Tidak berapa jauh. Merasa lega karena tidak harus memberikan keterangan tentang dirinya. dan dengan mata nyalang ia pandang kehampaan di sekitarnya. Di sini mereka berlatih memainkan alat-alat musik kuno dan belajar menarikan tari-tarian suci yang diciptakan berabad-abad sebelumnya. Untung tak seorang pun ada di sekitar. seruling dan buluh menyuarakan musik kuno. Lewat rintihan pohon-pohon besar yang suram dan tak henti-hentinya terdengar di hutan suci itu telinga Musashi menangkap bunyi lain. bahkan bodoh. walau tubuhnya yang enggan itu menolak setiap gerak. tapi tak melihat seorang pun. berkecipak. melainkan kemungkinan menghadapi Yoshioka Seijuro yang sangat nyata. mencelupkan kepala dan memurnikan diri. ia pecahkan es di permukaan sungai dan ia ceburkan dirinya ke air dingin itu. Mereka harus berbuat demikian untuk menyelamatkan muka. Mereka tahu bahwa mereka tak punya pilihan lain kecual membunuhnya. dan Musashi tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawanya ia harus menggunakan muslihat. entah di mana. Seberkas cahaya bersinar lewat jendelanya yang berkisi-kisi. Sesudah mencapai dinding tanah gedung biara. sementara suara anak-anak yang halus menvanyikan doa suci. Ia angkatkan kepala. tapi menurut jalan pikiran Musashi semua itu omong kosong belaka. Musashi tidak takut mati. diraihnya dinding itu dengan kedua tangan dan berusaha merayap dengan gerakan kepiting yang kaku. netcafe. Bagi Musashi. seorang pemanah bernama Nikki Yoshinaga dahulu kala menyerang dan menduduki sebagian wilayah Biara Ise. Sambil menggigit bibir ia memaksakan diri berdiri. bertelanjang bulat. Musashi hanya mau membereskan pertempuran dengan kemenangan heroik. Mereka akan mengerahkan setiap daya yang ada pada mereka terhadapnya. Di sana ia diam. Apakah itu tidak kekanakkanakan.

Musashi memandang batu karang itu. baru ia dapat maju selangkah. Satu saja gerakan keliru akan membuatnya melayang ke riam karang dan batu-batu besar." pikirnya. Hanya dengan mengerahkan segala tenaga. tak dapat ia mengelak dari kebenaran sederhana ini: ia masih hijau! Analisis yang dilakukannya sendiri atas kemampuan dan sifat-sifat dirinya tidak hanya mengungkapkan kelemahan di beberapa bidang. Seluruh dunia terhampar di bawahnya: hutan besar yang memagari tempat suci. Ebook by Kang Zusi . Wajahnya semerah wajah setan. es—musuh-musuh yang mencoba mati-matian menyeretnya mundur. tapi alangkah sukar dicapai! Karena "sedikit lagi" itulah yang membedakan pedang kemenangan dengan pedang yang kalah. Majulah ia menentang perlawanan rumput liar. "Aku harus menang!" Ia melintasi air terjun yang tenang dan beku. dua ratus. Setiap langkah. tampak olehnva kaki Gunung Rajawali. Napasnya terengah-engah. Apakah secara mental ia sudah siap? Apakah pikiran dan semangatnya sudah benarbenar satu? Musashi belum dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini secara positif. menyeretnya mundur. Gunung Mae. merupakan tantangan. lalu berhenti lagi. setiap napas. lalu berhenti. batu-batu kecil menghujan. Berpegangan pada tumbuhan menjalar yang kuat. pohon. "Hampir sampai. di seberang belukar jarang yang berselimut kabut malam. mendesir-desir. Apabila awan-awan itu bersibak. itu pun dengan bergayut pada batu dan tumbuhan menjalar. hingga ikan forsel pun tak dapat melintasinya. bahwa ia masih jauh dari seorang manusia yang lengkap dan sempurna. ia pegang teguh hidupnya tercinta. Di ujungnya menjulang tebing yang hampir terjal. Dan di hadapannya. jalur putih yang tentunya sungai. menginjak-injak seenaknya kepala Sekishusai." Ia gembira melihat tak ada rintangan tak tertembus di sini. Tubuhnya bergetar ketika ia memekik. menimpa belukar di bawah. yaitu karena ia tahu dirinya belum matang. ia sadar. "Aku harus menang. Dulu ia tertawa ketika Musashi terbaring di tempat tidur. Dari sana terlihat olehnya aliran sungai yang putih dan pesisir perak sepanjang pantai Futamigaura. Darahnya yang belum lama ini kedinginan kini mendidih dan tubuhnya mengepul ketika keringat yang keluar dari pori-porinya berjumpa dengan udara dingin. seolah disangga oleh suatu gaya berat terbalik. penuh dengan tebing terjal dan riam. bahkan ia melahap udara dengan pori-porinya. setengah memanjat setengah berayun. Sesampainya di puncak karang meledaklah pekik kemenangan darinya. tidaklah dapat ditakar. tiga ratus—ia kini di tengah awan-awan. dari bawah ia tampak seperti tergantung di awang-awang tanpa berat. Gunung Asama. dan kini puncaknya melanjutkan ejekan itu. melainkan juga kekurangan dalam bidang-bidang lain. aku harus menang!" Sambil berjalan terpincangpincang memudiki Sungai Isuzu. Berangsur-angsur terbentuklah tujuan dalam dirinya: mendaki sampai puncak dan melampiaskan dendam. dan seperti manusia primitif ia merangkak ke atas batu-batu besar dan bersusah payah menerobos semak-semak rimbun di ngarai yang dalam. Demikian pekat tegangan yang dialaminya. ia mulai mendaki permukaan batu karang. Maka semangat Musashi yang tak kenal menyerah betul-betul tersengat oleh keunggulan Sekishusai. Musashi memeluk permukaan puncak yang merah warnanya itu sambil mencari-cari pijakan kaki. Kini. dan itu mengecewakannya. hingga jantungnya serasa akan naik dan meledak dari mulutnya. dan katanya tanpa khayal. Setiap kali ia merasa sudah ada pijakan itu. setelah dekat ke puncak tertinggi. Gunung itu Sekishusai. la hanya dapat memanjat beberapa kaki. beberapa kaki. ia memekik lagi agar semua pohon di hutan suci itu mendengar. Orang bilang hanya monyet dan peri dapat memanjatnva. dan lautan terbuka luas. yang sebelumnya tak banyak ditempuh orang. "Ini dia jalan ke Gunung Rajawali.property of: CROSSFiRE. Ia merasa bahwa jauh di dalam dirinya terdapat kelemahan. Puncak gunung menatap dingin kepadanya. bahwa ia belum mencapai taraf pikiran seorang guru sejati. Di seberang tempat bernama Ichinose terdapat jurang yang panjangnya lima atau enam ratus meter. Apabila ia membandingkan dirinya dengan Nikkan atau Sekishusai atau Takuan. Serangan itu menindasnya. Seratus kaki. kampung nelayan Toba. "Sedikit lagi!" "Sedikit lagi. netcafe. untuk menunjukkan kepadanya bahwa Musashi dapat dan harus menang." Alangkah mudah dikatakan. Inc.

Semangat manusia dan gunung kini sedang melaksanakan karya cipta yang agung di keluasan alam tak terbatas di waktu fajar. netcafe. para gadis yang hidup di Wisma Perawan dengan buku di tangan pergi ke ruang belajar di rumah Arakida. membubunglah napas kemanusiaan—napas manis kegelapan yang telah terhalau.property of: CROSSFiRE. yang pada malam sebelumnya digantungkan Musashi. Sekishusai! Untukmu. Kalau tubuh dan daya kemauannya melemah. "Aku sekarang berdiri di atas kepala rajawali!" Matahari pagi yang baru muncul menyinarkan cahaya kemerahan kepadanya dan kepada gunung itu. Dan dalam selimut kegembiraan meluap yang surgawi itu. begitu daya kemauannya yang sudah menegang itu mendetak seperti tali busur. dan waktu itu tampak olehnya seolah seember penuh nanah kekuningan merembes dari kakinya yang cedera. mengancam meniupnya bersama batu karang dan segalanya. Ia pandang kakinya yang terhujam teguh ke puncak tertinggi. bajingan!" Dengan segala daya yang ada padanya ia kutuki raksasaraksasa yang dihormatinya. demikian dikatakannya kepada dirinya. ia mulai samar-samar merasa sedang bersarang di dada ibunya. Ketika akhirnya ia mengangkat kepala. Sekelompok gadis menghambur keluar dari pintu belakang. Untuk menarikan tari-tarian keagamaan. dan tiba-tiba seorang di antaranya berseru. Tapi sekarang mereka berkimono lengan pendek dan berhakama katun putih. Angin di puncak tertinggi menghujani punggungnya dengan pasir dan batu. tidurlah ia dengan damai. pikirannya pun semurni dan sejernih kristal. Permukaan gunung yang kasar mulai terasa seperti kulit ibunya. dan cahaya fajar tiba-tiba tampak di tengah lautan awan putih di bawahnya. tapi seolah-olah heran melihat mahluk ini mencakarnya. "Satu untukmu. Kemudian tiba-tiba ia sudah tengkurap. ia dan gunung itu kini satu. maka sebagai pemain pedang pasti pada suatu hari ia akan terbunuh. Di tengah kemurnian angkasa yang mengitarinya. yang biasa mereka kenakan pada waktu belajar atau melakukan pekerjaan rumah tangga. Musashi merasa bahwa kegembiraan yang tak terlukiskan membengkak memenuhi seluruh dirinya. seakan seseorang menepukkan tangan ke mukanya. Di sinilah pertandingan akan ditentukan. bagian 12 Ngengat di Musim Dingin TIAP hari. "Berhasil! Aku menang!" Begitu ia sadar telah mencapai puncak. Ia mencari-cari pijakan lain. dan Musashi tahu itu. sementara ia merentangkan tangannya yang berotot dan liar ke langit. Tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat kini tersatukan dengan permukaan gunung. "Apa itu?" dan menuding bungkusan serta pedang yang terikat di sana. ia injak-injak dan ia tunjukkan pada mereka siapa yang terbaik di antara mereka. ia memandang ke segala jurusan. Tapi justru pada waktu itu sebutir batu di bawah ibu jari kakinya terlepas dan membuatnya sadar kembali. kembali ia mencakar gunung itu. matanya terpejam tak berani bergerak. sesudah menyelesaikan kewajiban di biara. Dan setelah meluruskan badan. Tapi dalam hatinya ia menyanyikan lagu kegembiraan meluap. para superman yang harus dan akan ditaklukkannya. "Ini dia! Hampir sampai!" Dengan kaki-tangan kejang dan sakit. Inc. Di sinilah. mereka mengenakan kimono sutra putih dengan celana bertepi lebar merah tua yang disebut hakama. Napas Musashi terhenti. para superman yang telah menyebabkannya datang kemari. Karena bau keringat. di perbatasan antara langit dan bumi. "Tak ada apa pun lagi di atasku!" teriaknya. angin berembus. Takuan!" Ia panjati kepala berhala-berhala itu. Sementara ia bergayut pada batu karang itu. dan ia jadi ingin sekali tidur. Di sana mereka belajar tata bahasa dan berlatih menulis sajak. "Ini untukmu. gunung itu menggertak dan meludahkan longsoran batu kerikil dan pasir. "Punya siapa itu menurutmu?" Ebook by Kang Zusi . Nikkan! Dan untukmu. Mendadak ia ingin melompat dan melejit ke sana kemari seperti ikan mino di sungai.

dan sambil mencengkeram barang bawaannya." "Tidak. Ketika Otsu melintasi halaman biara. melainkan karena berminat mempelajari musik kuno. bisa juga pencuri yang meninggalkannya di sini. dan Mino mencari Musashi. hari-hari itu patuh sekali dan dengan penuh tanggung jawab menyesuaikan diri dengan pekerjaan. gadis-gadis itu sudah pergi. angin yang menakutkan dan lain dari biasanya bersiul di antara pepohonan yang tak berdaun." saran seorang di antaranya." "Sudah pasti. jangan! Kami takut memegangnya. bagaimana kaum pria biasa berjalan membawa beban seberat itu. sesudah mondar-mandir di Jalan Iga. ia merasa senang bahwa Jotaro yang wataknya sukar diubah. "Mestinya punya samurai. slang hari Jotaro menyapu pekarangan suci dan malam hari menginap di gudang kayu Keluarga Arakida. "Ada apa?" tanyanya. Otsu dan Jotaro datang ke tempat itu dua bulan sebelumnya. bukan karena ingin mengajar. Yang tinggal di asrama itu hanyalah perempuan tua juru masak dan seorang gadis yang sakit." Begitu Otsu turun dari kamarnya.property of: CROSSFiRE. Semula Otsu memberikan pelajaran suling di daerah Toba. "Barangkali kita mesti memberitahu Otsu. Coba lihat sini!" Otsu meletakkan kuas tulisnya di meja dan menjulurkan kepala ke luar jendela. panggilnya. Terpikir oleh Otsu. Jotaro sebetulnya menjadi penghalang Otsu menerima jabatan itu." "Itu namanya ribut tak keruan saja." "Ha? Lebih baik itu kalian bawa ke rumah Arakida. netcafe. yang sebagai pemimpin upacara resmi menduduki tempat kedua sesudah pendeta kepala. barangkali Jotaro di sana sedang menyapu pekarangan dengan sapu bambunya. Mengangkat barang itu ia merasa heran. ia pun menerima. "Sensei! Sensei! Ada yang aneh di bawah sini. Juga. "Ada pencuri meninggalkan pedang dan bungkusan. Bunyi gemeretak keras yang didengarnya itu mirip bunyi cabang pohon yang patah. Seberkas asap naik dari sebuah belukar di kejauhan. Bunyi itu terdengar lagi. "Biar kubawa ke rumah Arakida. karena ada larangan menerima lelaki tinggal di asrama anak-anak perempuan. seakan-akan menemukan begal itu sendiri yang berikat kepala kulit dan sedang tidur slang. Omi. dan jangan buangbuang waktu lagi. Ayo belajar sana. Ketika Arakida meminta Otsu datang ke biara untuk mengajar gadis-gadis itu. Sesampai di Ise. tergantung di dinding belakang. yang umurnya sekurang-kurangnya tiga betas atau empat betas tahun. dan sebanyak-banyaknya sekitar dua puluh. Akhirnya keputusan yang mereka ambil adalah. kedamaian hutan tempat suci itu telah mengimbaunya. musik suci." kata Otsu. karena akan sukar berjalan menerobos pegunungan selagi ada salju. dan dengan persetujuan bersama mereka berlari kembali ke asrama dan berseru dari bawah susuran tangga di luar kamar Otsu. hampir saja barang-barang itu terjatuh karena beratnya. sekalipun umurnya masih muda. Ketika ia turun membawa bungkusan dan pedang itu. Inc. "Jotaro! Jo-o-ota-ro-o-o!" Ebook by Kang Zusi . Keduanya di sana." Mereka berpandangan dan menahan napas. "Barang-barang siapa yang tergantung di sini ini?" tanya Otsu kepada juru masak. Ia berhenti dan tersenyum. mereka putuskan untuk menetap selama menanti musim dingin. dan lagi ia ingin tinggal beberapa waktu lamanya bersama gadisgadis di tempat suci itu." "Ah. tapi kemudian ia menarik minat kepala Keluarga Arakida. Otsu berlari menyusuri jalan setapak melintas belukar. justru pada umur ketika anak-anak lelaki hanya senang bermain dan menyenang-nyenangkan diri. Juru masak tentu saja tidak tahu.

atau membunuh binatang? Memalukan kalau orang yang bekerja di sini mematahkan cabang-cabang pohon dengan pedang kayu. kitalah satu-satunya orang yang berarti. "Wah. Ini wilayah suci. biarpun yang dikatakannya itu benar. Latihan dengan pohon-pohon. Apa kau sudah lupa. kakak ini tadi. melukai. Lihat ke sana itu. "Apa kerjamu dengan pedang kayu itu? Dan pakai pakaian kerja putih lagi. apa Nobunaga. apa puri di Osaka itu tidak putih menyilaukan kalau kita lihat dari Samudra di Settsu? Apa Tokugawa Ieyasu tidak membangun purl-puri yang lebih megah di Fushimi dan selusin tempat lain? Apa rumah-rumah baru daimyo dan saudagar-saudagar kaya di Kyoto dan Osaka tidak mengilat karena perhiasan emasnya? Apa ahli-ahli upacara teh Rikyu dan Kobori Enshu tidak mengatakan bahwa secercah kotoran di halaman warung teh bisa merusak aroma teh? "Kebun ini sedang runtuh." "Membeokan apa yang dikatakan Pak Arakida tak ada artinya buatku." Ebook by Kang Zusi . dan pohon-pohon yang dirobohkan badai bergeletakan saja seperti waktu robohnya. Coba. di mana kau sekarang? Halaman ini lambang kedamaian dan kemurnian." gerutu Jotaro dengan wajah jengkel. Di mana-mana begitu.property of: CROSSFiRE. Hideyoshi. kenapa orang tidak merawatnya lebih baik?" "Memang sayang sekali mereka tidak merawatnya baik-baik." kata Otsu tajam. coba lihat berapa luasnya?" "Jotaro!" kata Otsu. dan Ieyasu itu betul-betul orang besar. aku jadi berpikir. Tapi ketika anak itu sudah berhenti di depannya. tapi apa indahnya menguasai negeri kalau menurut kita. Waktu aku mendengarkan dia bicara. Membiarkannya rusak seperti ini sama saja dengan membiarkan rumput liar tumbuh dalam jiwa." "Dia memang benar. Pohon-pohon yang disambar petir itu dibiarkan saja mati. Inc. "Yang kaukatakan itu cuma jiplakan kuliah Pak Arakida. bahwa di sini dilarang merusak pohon-pohonan. kalau begitu aku tak pernah bisa menang. memegang dagu Jotaro dan mengangkat wajahnya. Sebentar saja Otsu sudah mendengar langkah Jotaro." "Ah. "Oh." "Tak ada orang yang keberatan dengan latihanmu. sudah tahu aku semua itu. Tak ada salahnya kalau memang sudah mati." "Aku sedang latihan. ia hanya mengatakan. Burung-burung mematuki atap bangunan sampai bocor." "Kupikir kau sedang kerja tadi. yang kerja di sini cuma aku dan tiga atau empat lelaki tua! Padahal. netcafe. tapi bukan di sini Jotaro. jadi Kakak mendengar kuliah itu juga?" "Tentu saja. kan?" "Itu kalau tidak di sini!" "Itu yang Kakak ketahui! Coba sekarang aku mau tanya. Dan tak ada orang memperbaiki lentera kalau rusak. Aku tak setuju dengan cara itu. tapi lihat pohon-pohon itu. "Ya-a-a?" terdengar jawaban gagah." kata Otsu menyela." "Tanya apa?" "Kalau kebun ini begitu penting. tak ada salahnya mematahkan dahan yang sudah mati. "Kalau sudah tahu. suci buat dewi leluhur kita semua." "Tidak begitu jelek kalau cuma rumput liar. "Bagaimana bisa Kakak mengatakan tempat ini penting? Coba. kenapa kaulakukan? Kalau Pak Arakida menangkap basah kamu. Aku tahu mereka tentunya orang penting. pasti kita mendapat kesulitan!" "Menurutku." "Oh.

gadis itu memutar badan dan berlari kembali. mereka sudah memperbaiki istana kaisar di Kyoto dan mencoba mem-bahagiakan rakyat. waktu sudah dewasa orang suka lupa bahwa mereka berutang sumber hidup kepada leluhurnya. sesaat kupikir yang dia maksud guruku. Dalam hal tertentu. Jotaro menoleh ke sekitar dengan terheran-heran. "Sekarang siapa yang membeo Pak Arakida? Kakak pikir aku belum pernah mendengar itu sebelumnya. dan tak seorang pun punya perhatian sungguh-sungguh terhadap negeri secara keseluruhan. aku kan tak akan bikin rusak! Aku cuma mau lihat. Takuan orang yang begitu tanpa perasaan.property of: CROSSFiRE. Arakida Ujitsune menjadi pendeta kepala Tempat Suci Ise. Otsu kasihan pada biarawan itu dan pada ketidaktahuannya akan makna cinta. berdetap-detap bunyi sandal jeraminya. ke-shogun-an terlalu lemah. Paling tidak. kan?" ." "Ah." jawab anak itu kesal sambil menggigit jari telunjuknya." Hampir tanpa berhenti. bukan? Tapi kalau kita pikirkan. Biarpun seandainya mereka melakukan halhal itu hanya untuk membenarkan tindakannya sendiri terhadap dirt sendiri dan orang-orang lain. lebih seratus tahun lalu. Walaupun demikian. kan?" "Anak bandel kau ini!" ujar Otsu sambil tertawa sendiri. Rakyat biasa tidak mendapatkan kedamaian sedikit pun. "Tapi Nobunaga dan Hideyoshi itu tak seburuk orang-orang lain. "Pak Arakida memanggil Sensei. netcafe. Waktu itulah Jotaro melihat bungkusan yang lain dari yang lain. mereka tetap patut mendapat pujian. kenapa pula ia menyinggung Musashi? Sekalipun sudah mendapat nasihat Takuan. dan ranting-ranting berayun-ayun seperti ombak kecil." Puas karena sudah mendapat pidato panjang berapi-api dari Otsu. tak apa-apa. Maka sambil terus tersenyum ia tatap saja anak lelaki itu. "Apa yang kamu perhatikan?" "Ah. Shogun-shogun Ashikaga jauh lebih buruk. tapi bungkusan yang dibawanya menghalanginya. "Ada apa?" tanya Otsu. "Hm. ya?" Dan air liur Jotaro mengucur. Ingin sebetulnya ia menampar Jotaro. Mata Jotaro memandang seolah melihat hantu di antara bercak-bercak cahaya matahari. sama seperti kita semua berutang hidup kepada Dewi Ise. Ujitsune pergi berkeliling juga memperjuangkan cita-citanya. Berani sumpah. dan para prajurit begitu sibuk dengan pertumpahan darah." "Maksud Kakak pertempuran yang terkenal antara Keluarga Yaman dan Kosokawa?" "Ya. "Jangan sentuh! Tak tahu kita punya siapa ini. Walaupun pernyataan Jotaro itu diucapkan dengan penuh kepolosan.. Para prajurit selamanya saling perang untuk memperebutkan lebih banyak wilayah. Dua puluh tujuh kali Ujitsune mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk membetulkan bangunan-bangunan suci. Inc. "Ini cerita sedih." "Ke-shogun-an Ashikaga begitu tidak cakap.. Jotaro melompat ke udara sambil tertawa dan bertepuk tangan. "Sensei" Seorang di antara gadis tempat suci datang berlari-lari. "Punya siapa itu?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. Pedang panjang ini besar sekali. sampai terus-menerus terjadi perang. sampai akhirnya berhasil mendirikan tempat suci baru. ini mesti berat. sampai mereka tak peduli dengan apa yang terjadi." Otsu tiba-tiba merasa sedih dan sedikit kesal.. dan uang tak cukup untuk melanjutkan upacara-upacara kuno dan ritus-ritus suci. "Waktu gadis itu memanggil 'guru'." "Bagaimana buruknya?" "Kau pernah mendengar tentang Perang Onin. ia tak pernah bisa mengusir rasa rindu kepada Musashi dari hatinya. Matahari musim dingin bersinar melalui pohon-pohon. Waktu itulah. tapi istana kaisar terlalu miskin. Ebook by Kang Zusi .

Tanpa mengatakan sesuatu. Bagaimana mungkin ia memimpikan membawa barang-barang milik Musashi? Karena merasa telah berbuat salah. dan tanyanya. Di manakah dia? Dari segala kesedihan yang mungkin merundung mahluk hidup." katanya. sejarah tentang Jepang." "Ini bukan salahmu. tapi apabila kenangan mendatanginya." "Maaf. Ketika anak-anak sudah menghambur keluar seperti kawanan lebah dan melejit cepat ke rumah masing-masing. dan kemudian dengan curiga memperhatikan kedua pedang itu. Arakida melirik." Arakida Ujitomi menyebut tempat tinggalnya Wisma Belajar. Menurutnya. Kak. mendengarkan pelajaran Arakida. Ia coba memberikan kepada orang-orang muda itu sejenis pendidikan yang sekarang tidak terlalu populer: mempelajari sejarah Jepang Kuno yang di kota-kota besar dianggap tidak relevan. Betul-betul aku minta maaf. seorang gadis biara menyampaikan kepadanya bahwa Otsu sedang menanti." Ebook by Kang Zusi . tidak hanya untuk gadis-gadis biara. melainkan juga untuk empat puluh atau lima puluh anak lain dari tiga daerah yang termasuk daerah Biara Ise.property of: CROSSFiRE. Kalau orang lain mungkin menyatakan bahwa daerah-daerah provinsi tak ada sangkut pautnya dengan nasib bangsa. "Bapak memanggil saya?" "Saya minta maaf terpaksa membiarkan engkau menunggu. Kalau ia dapat mengajar anak-anak setempat mengenai masa lalu. tiap hari ia bicara pada anakanak itu tentang karya-karya klasik Tionghoa dan Catatan Tentang Hal-hal Kuno. Tengah malam tentunya orang datang masuk pekarangan. Cinta itu seperti sakit gigi. "Saya di sini. sehingga apa yang terjadi di masa lalu yang jauh itu tak banyak berarti. ia berjalan. paling celaka. Sudah lupa sama sekali. orang-orang muda nantinya akan mengerti bahwa Dewi Matahari yang agunglah yang menjadi lambang cita-cita bangsa. meletakkan kepala ke dadanya dan mengucurkan air mata bahagia. Tapi jangan kuatir. tak apa-apa. Arakida berkata. Dan dengan air mata meleleh di pipi ia berjalan terus. "Pemuda biasa takkan datang kemari membawa barang-barang seperti itu. Ujitomi berjuang seorang diri menanamkan benih-benih kebudayaan yang lebih awal dan lebih tradisional di antara orangorang muda daerah biara itu. ia tercengkam oleh keinginan yang amat sangat untuk menyusuri jalan-jalan raya lagi. agak jauh di belakang. bukan prajurit diktator yang tak tahu adat. ya? Karena kata-kataku?" "Oh. Sejarah awal negeri ini berhubungan erat sekali dengan Biara Ise dan tanahtanahnya. Hideyoshi boleh memegang kendali negeri dan menyatakan diri dengan wali. Di mana dia?" Otsu berada di luar. Aku cuma merasa sedikit sedih. Silakan masuk. dan yang paling menyengsarakan pastilah tak adanya kemampuan untuk memandang orang yang dirindukan." Ia mengantar Otsu masuk kamar belajar pribadinya. ia berlari mendekati Otsu. Aku kan memanggil tadi. perasaan cinta itu tidak mengganggu. Ia mengubah sebagian rumah itu menjadi sekolah. Ia melakukan hal tersebut lebih dari sepuluh tahun lamanya. tapi seperti halnya orangtuanya." serunya. yang paling menggerek. Sudah beberapa waktu ia berdiri di situ. apa yang dikehendaki Pak Arakida. Ujitomi memiliki pandangan lain. "Kakak marah. mencari dan menemukannya. Kalau ia bekerja keras dengan sabar. Baru ketika Otsu membelok masuk gerbang rumah Arakida. maka menurut pikirannya barangkali semangat masa lampau itu pada suatu hari akan tumbuh subur seperti pohon besar di hutan suci. Otsu menjelaskan bagaimana ia sampai mendapat barng-barang itu. tapi sebelum duduk ia menuding barang-barang yang dibawa Otsu dan bertanya apakah itu. Inc. Pedang berat dan perabot usang itu tak berarti apa-apa baginya. "Betul. netcafe. tidak. Jotaro ikut saja dengan sedih. Sedikit bingung. Ketika Otsu sedang sibuk. Dengan penuh keuletan dan pengabdian. anakanak muda tidak boleh salah membedakan bintang keberuntungan seorang pahlawan militer dengan matahari yang indah. Aku mau tahu. Kembalilah kau bekerja. padahal sekarang zaman orang banyak cenderung menganggap nasib bangsa ini adalah nasib kelas prajurit. Arakida keluar dari ruang belajarnya yang luas dengan wajah sedikit berkeringat. Ia berharap anak-anak didiknya akhirnya akan menghargai buku-buku itu. "Dan malam kemarin barang itu belum ada di sana. Tokugawa Ieyasu boleh menjadi shogun "penakluk orang barbar" yang mahakuasa.

"Tak mungkin aku menerima uang darimu. "Kalau Kakak pergi. Kyoto. "Tak banyak. padahal kenyataannya ia masih suci. kau memang bukan lagi benar-benar perawan. namun air mata marah membanjiri mata Otsu. kalau kebetulan engkau pergi ke Kyoto. Dia bilang. Dengan wajah terkejut ia menyatakan pada Arakida bahwa ia tak pantas mendapat bayaran." jawab Arakida.." Arakida berusaha meyakinkan Otsu." "Ini ada hadiah kecil. ia cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan Arakida selama ia tinggal di sana. benar ia terbiasa menjumpai orang banyak." "Apa ini ada hubungannya dengan saya?" "Nah." Ia mengulurkan bungkusan yang berisi beberapa keping mata uang emas. tentu. dia memperingatkan diriku. kan?" Karena sudah dipojokkan. untuk kebaikanku sendiri. "adalah menyampaikan bingkisan kepada Yang Dipertuan Karasumaru Mitsuhiro yang tinggal di Horikawa. "Boleh. Aku tak suka." "Dengan senang hati saya melakukan permintaan Bapak itu." "Oh? Apa menurut pendapat Bapak seorang lelaki telah masuk Wisma Perawan?" "Ya. Kau sudah ke sana kemari dengan lelaki. benar ia mengembara dalam hidup ini membawa serta cinta lamanya. dan bisiknya. Tapi sesudah berpikir lagi ia memandang Otsu. Benar ia banyak mengadakan perjalanan ke manamana. dan karena waktu itu akhir tahun "dan lain sebagainya itu". Dan justru itu yang ingin kukemukakan padamu. "Pertolongan yang kuminta padamu. Yang lebih tepat.property of: CROSSFiRE. Otsu cepat menyetujui." Arakida menoleh kepada Jotaro. hanya karena memberikan pelajaran suling kepada anak-anak gadis itu. "Oh. katanya. Jadi. yah. aku tak ingin engkau tersinggung tentang ini." "Terima kasih. terutama bagi Pak Arakida. Cuma inilah." kata Arakida. Inc. Otsu akhirnya menyetujui dan mengucapkan terima kasih kepada Arakida. karena itu barangkali sudah sewajarnya orang menganggapnya perempuan duniawi. Sekarang kau jangan marah. tapi aku ingin minta pertolonganmu. kau tahu sendiri bagaimana omongan orang." "Apa saya sudah melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Bapak?" "Tak ada yang mengecewakanku. Ia cuma terganggu bahwa orang membicarakan yang bukan-bukan. "Tidak. Jotaro yang tadi mengikuti Otsu memilih saat itu untuk menjengukkan kepalanya dari beranda. dialah yang mesti membayar untuk makanan dan penginapannya. Otsu menolak menyentuhnya." kata Arakida. aku ikut. Sekalipun ia benci kebohongan desas-desus itu. Namun sungguh merupakan pengalaman meremukkan hati dituduh tidak suci. biar bagaimana. Kebetulan aku sudah jemu menyapu kebun tua mereka ini. netcafe." Sambil berkata demikian. bolehlah engkau menganggap uang ini sebagai bayaran atas jasamu. Kemudian dengan wajah tak senang ia menggerutu." Sekalipun nada bicara Arakida biasa saja. dan orang mengatakan menyimpan perempuan yang bukan perawan bersamasama gadis-gadis di Wisma Perawan itu bisa menodai tempat suci. ia mengambil Ebook by Kang Zusi . dan gunakanlah untuk perjalanan. tapi terimalah. tapi soalnya begini. Arakida rupanya tidak terlalu mementingkan soal itu. bukan sebagai pengakuan kesalahan. "Ini barangkali kelakar samurai. tak perlu secepat itu sebetulnya.." kata Jotaro yang cepat mengulurkan tangannya untuk menerima bungkusan itu. Seorang samurai menegurku karena memasukkan engkau ke asrama perawan—perawan suci. "Bagaimana kalau uang ini kuberikan saja pada anak ini? Dia dapat membelikan apa-apa buat kalian berdua di perjalanan. demikianlah dikatakannya. katanya. dan menyatakan bahwa ia akan pergi hari itu juga. maka ia bertanya apakah Otsu berkenan menghentikan pelajaran suling itu dengan meninggalkan Wisma Perawan. melainkan karena ia memang tak punya rencana tinggal terus di situ dan tak ingin menimbulkan kesulitan. tapi kebaikan Bapak sendiri sudah merupakan bayaran buat saya. sambil menjangkau rak buku kecil dan mengeluarkan sejumlah uang yang dibungkus kertas.

dan dia jalan duluan. dua gulungan dari rak yang sudah goyang di dinding. "Ya-ya. mereka tidak mengetahui cerita apa yang dilukiskan di situ. "Apa belum juga siap?" serunya lagi." tegur Otsu. Beberapa di antara mereka menangis. perempuan begitu lama kalau berpakaian dan berkemas?" Waktu itu ia berjemur di pekarangan sambil menguap. Tapi kurang pantas kalau ia menolaknya.. Mendengar guru suling mereka akan pergi. seorang pesuruh masuk. cepat sekali!" "Aku selalu cepat!" jawab Jotaro pedas." jawab Otsu. Ebook by Kang Zusi ." Ia duduk dan mulai membuka lukisan itu di lantai di hadapannya. tapi sebelum membungkus dan memeterai gulungan itu. gadis-gadis Wisma Perawan pun jadi sedih.property of: CROSSFiRE. karena itu mereka tampak murung ketika berkumpul mengerumuni Otsu. "Lihat apinya itu. tapi ketika Arakida membuka gulungan itu adegan demi adegan. karena itu mereka corongkan tangan di mulut dan mereka panggil namanya. Otsu balas berteriak. "Kelihatan seperti menyala betulan. Karena komentar untuk lukisan itu belum lagi ditulis. Tapi memang dasar tidak sabaran. dan ia sendiri ingin melayangkan pandangan terakhir sebelum berpisah dengan karya itu. Di sana Jotaro tidak segera tampak. "Belum juga Kakak siap? Kenapa ya. Kemudian Arakida mengeluarkan kotak dan kertas minyak." "Anak brengsek!" ucap seorang gadis. Selama dua bulan Otsu tinggal bersama mereka." Dan ia menyerahkan bungkusan dan dua bilah pedang yang tadi dibawa Otsu. Walaupun Jotaro tak pernah mendapat pelajaran seni. Jotaro berteriak." Selagi mereka menatapkan mata dengan penuh kekaguman. sebentar kemudian ia sudah bosan. Mereka mengerumuninya dan mengantarnya ke luar. terpukau juga ia oleh apa yang dilihatnya. Kotak yang terbungkus kain berisi gulungan disandang melintang di punggung. dengan pedang kayu di pinggang. Barangkali gadis-gadis itu pun menerkanya demikian. sedangkan mata Jotaro melebar ketika ia membungkuk memperhatikannya lebih saksama.. jaga diri kalian baik-baik. Tapi sebaiknya suruh orang itu membuat surat tanda terima." ujarnya. Otsu sudah hafal dengan cara-cara Jotaro.. dan jawabnya. Inc. siap menyampaikan sesuatu kepada Arakida dengan suara pelan sekali. Sebetulnya ia sudah selesai berkemas. Otsu tersengal melihat keindahan gulungan itu. Sementara itu. mereka telah menganggapnya sebagai kakak sendiri. mereka saksikan di hadapan mereka gambaran kehidupan istana kekaisaran kuno dalam coretan kasar dan warna-warna indah serta sentuhan-sentuhan bubuk emas. Apa lagi yang ditunggu?" Ia sudah menanggalkan jubah putih dan kembali mengenakan kimono pendek yang biasa. katanya. "Tak usah sedih. ia berkata menghibur gadis-gadis itu. tapi gadis-gadis itu tak hendak melepaskannya. "Apa betul?" "Sensei betul akan pergi?" "Sensei takkan kembali lagi?" Dari seberang asrama. Saya akan datang berkunjung hari-hari ini. dan semula Otsu ragu-ragu menerimanya. Dalam usahanya meloloskan diri. "Sebentar lagi slap. Beliau ada rencana menulis komentar yang cocok dengan lukisan ini dan menghadiahkannya pada Kaisar. Itu sebabnya aku tak ingin mempercayakan-nya kepada pembawa surat biasa atau orang istana. Ia kelihatan bangga akan karyanya. Akhirnya lukisan-lukisan ini selesai. "Barangkali dia capek menunggu. dan sejenak kemudian ia menyatakan setuju. Arakida mengangguk. "Yang Dipertuan Karasumaru minta padaku dua tahun lalu untuk melukis ini. "Lihat saja. karena melihat keadaannya kecil kemungkinannya ia akan kembali lagi. "Ah." Tak enak juga ia bahwa yang dikatakannya itu tidak benar. tanpa perasaan kuatir ia berkata. Dari jendela. ya?" "Jangan sentuh. Lukisan itu dibuat dengan Gaya Tosa dan bersumber pada seni Jepang klasik. "Tapi barangkali ada baiknya kutunjukkan dulu padamu lukisan ini. netcafe. Akhirnya seorang dari mereka mengusulkan agar mereka semua mengantar Otsu sampai jembatan suci di seberang Sungai Isuzu. "Aku sudah siap. Apa engkau bersedia membawanya dan menjaga supaya lukisan-lukisan ini tak kena air atau minyak di jalan?" Ini tugas yang tak terduga-duga pentingnya. Kukira boleh. namun tak ada jawaban.

Ke mana pun mereka pergi." Ingat akan percakapannya dengan Arakida." kata Jotaro." Walaupun kelihatan puas. tapi sekarang Kakak berangkat tanpa aku!" "Tapi tadi kamu tak ada di tempat!" ujar Otsu. Aku mendekati sampai barisan pohon itu dan melihat orang itu baik-baik dari belakang. dan gadis-gadis itu pulih kembali semangatnya. Aku lari buat melihatnya. Jotaro masih juga melengos dan melontarkan pandangan kasar kepada gadisgadis yang berarak-arak di belakang. "Oh. dia anak Sensei. "Apa saja kerja mereka ini di sini? Apa akan pergi dengan kita?" "Tentu saja tidak. sesudah Jotaro menggabungkan diri dengan rombongan. Nah. "Dia pikir tak boleh meninggalkan tempat ini tanpa ucapan selamat berpisah kepada dewi. Tahu tidak. tapi gadis-gadis itu menyodok punggungnya dan bertanya kepadanya kenapa ia tidak mencontoh yang dilakukan Otsu. Kau bisa kena hukum suatu hari nanti. kan? Tadi kulihat di jalan raya Toba sana itu ada orang yang mirip guruku. "Apa dia anak Sensei?" "Anakku? Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? Tahun depan aku belum lagi dua puluh satu. Sambil menertawakan kejadian itu." "Tolol rasanya membungkuk macam itu. Apa tampangku begitu tua dan pantas punya anak sebesar itu?" "Tidak." Ebook by Kang Zusi . tapi kemudian ia menghibur diri dengan pendapat bahwa yang dikatakan orang lain tak berarti. begitu!" gumam Jotaro. kalau Otsu dan Jotaro mengadakan perjalanan." Selamanya seperti itu saja. tapi ternyata bukan dia. kalau kita memulai perjalanan dengan kesal. "Tapi mestinya Kakak bisa mencariku. "Tadi Kakak suruh aku menunggu berabad-abad. orang bilang. kita akan marah terus sepanjang jalan. jadi baik sekali mereka mengawani kita sampai jembatan. "Aku?" tanya anak itu tak percaya. netcafe. Tingkah Jotaro membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal. tapi ada yang bilang. Sambil menangkupkan tangan satu kali. yang disusul kekecewaan." "Aku tahu. katanya." panggil seorang di antaranya. tapi jangan lalu uring-uringan karena aku jalan dulu. apa betul dia. "Aku tak ingin membungkuk pada tempat suci tua mana pun. Kupikir aku akan menjumpaimu di jembatan. Hal seperti ini sering terjadi berlusin-lusin kali. Dengan harapan menjulang tinggi. Kini. ronin yang menunggang kuda. ia menundukkan kepala ke arah tempat suci itu dan beberapa saat lamanya mengambil sikap berdoa diam. tenanglah sekarang. dan tanyanya. selama Musashi setia kepadanya." Ia puas melihat dari kejauhan. samurai di perahu yang baru saja berangkat. kesedihan karena perpisahan menjadi surut." kata Otsu tenang. Ia memang membelok ke Gerbang Tamagushi untuk menyatakan hormat ke kuil pusat. betapa baiknya mereka. mereka mengejar untuk memastikannya. Tak ada hari tanpa menyaksikan cahaya harapan. Mereka cuma sayang melihat aku pergi." "Orang yang seperti Musashi?" "Ya. ada apa sih sebetulnya?" katanya memberengut. Karena itulah sekarang Otsu tidak sekesal biasanya. musafir yang samar-samar kelihatan dalam joli. Inc. Pada waktu itu Jotaro datang berlari-lari mendapatkan mereka." "Tak boleh kau bicara begitu. tapi akhirnya hanya saling pandang dengan sedih. Seorang lagi tiba-tiba memandang Otsu. "keliru. "Hei. wajah Otsu memerah. itu bukan jalan ke jembatan. meniru gaya kata-kata Otsu. tapi tak mungkin orang itu Musashi. "Sayang sekali kau keliru. "Sensei.property of: CROSSFiRE." "Oh. sekalipun Jotaro sendiri patah hati. karena dia pincang. mereka melihat orang yang mengingatkan keduanya kepada Musashi-orang yang lewat jendela.

Orang tua yang memasak siput memandangnya. hampir tak dapat ia percaya bahwa demam maupun bengkaknya akhirnya lenyap. Jotaro berlari ke arah Gerbang Tamagushi. aduh!" seru gadis-gadis itu serentak. Tukang perahu itu menawarkan tamasya perahu ke pulau-pulau lepas pantai. kalian semua perempuan sinting!" "Aduh. "Dia sebut kami perempuan sinting." "Tidak percaya. Inc. Waktu itu Otsu sudah selesai sembahyang dan datang kembali ke dekat mereka." Salah seorang gadis mengungkapkan. kami akan membalikkan badan. Sesudah menderita demikian hebat akibat luka itu." "Aku tak tahu!" "Nah. Kincir Mainan MUSASHI duduk di beranda sempit sebuah warung makanan laut yang menghadap ke laut. kaget oleh kekasaran Jotaro. Keistimewaan warung itu adalah siput laut yang dihidangkan mendidih bersama kerangnya. ya?" "Diam. "Apa yang terjadi?" tanyanya "Kalian kelihatan kesal. mereka semua melihat. Musashi sedang sibuk menanggalkan perban bernanah dari kakinya.. Kaki itu kembali pada ukuran semula. "Tukang tambangan menanyakan Tuan. sedikit saja ia merasa sakit.. Dua perempuan penyelam dengan keranjang berisi kerang sorban yang baru saja ditangkap dan seorang tukang perahu berdiri dekat beranda. supaya tidak melihat kamu.property of: CROSSFiRE. "Jahat sekali!" ujar salah seorang gadis. Sekalipun kulitnya menjadi putih dan mengerut. menunjukkan hormat kepada Dewi Matahari? Dia tak seperti dewa-dewa kecil yang dipuja orang di kota-kota itu. tapi tak lagi seperti sebelumnya. Kembali di beranda." tegur Otsu." Mereka pun membelakanginya. Waktu gadis itu kembali. Apa bukan Tuan yang punya rencana menyeberang ke Ominato?" "Ya. cuma karena kami menyuruhnya membungkuk kepada dewi. dikenakannya keduanya." "Baiklah. "Betul-betul kau mesti berdoa. sedangkan kedua perempuan mencoba membujuknya membeli siput laut. tapi Otsu mencuri pandang kepadanya. Sampai di sana ia menghadap tempat suci." "Kau tahu itu tidak baik. lalu ia menurunkan kakinya yang rawan itu ke pasir dan berjalanlah ia ke pesisir untuk membasuhnya. netcafe. "Apanya yang tolol. lalu ia mulai melangkah dengan hati-hati." Ebook by Kang Zusi . dan dengan cara yang sangat kekanak-kanakan ia membungkuk dalam-dalam secepat kilat. Dengan lambaian tangan diusirnya tukang perahu dan penyelam. ia nantikan gadis warung yang telah ia suruh membelikan kaus kulit dan sandal baru. kalau begitu kenapa kau tidak menyatakan hormat?" "Sebab aku tak mau. Saya kira ada perahu yang jalan teratur dari sini ke Tsu. Jotaro." "Buat apa?" "Apa kau sendiri tak pernah cerita? Waktu Musashi akan dibunuh pendeta-pendeta dari Hozoin itu kau mengangkat tanganmu dan berdoa sekeras-kerasnya! Kenapa di sini tak bisa kamu berdoa?" "Tapi. Jalannya masih sedikit pincang.

" "Dan kukira itu bikin kamu bangga. Pak!" "Ayolah jalan terus!" "Palu saya ketinggalan di perahu. Inc. membawa pentung pendek di pinggang. Kelihatannya umurnya empat puluh dua atau empat puluh tiga tahun. Pentung itu berlilit rantai dan di ujung rantai terdapat peluru. membawa sebuah kincir mainan yang bem. "Diam!" "Apa tak bisa kita bermalam di Tsu?" "Masih terang sekarang ini. dan makin lama makin cepat." "Senang sekali jadi orang muda!" Musashi lari berderap ke pangkalan perahu tambang. Peralihan dari sakit menjadi sehat itu meningkatkan semangatnya. ia berpindah ke perahu yang lebih besar. Hari ini tanggal dua puluh empat. Kalau ia pergi ke Matsuzaka. ya? Lain kali.arna-warni. "Tunggu sebentar. "Sungguh iri saya pada Tuan. Wajahnya gelap seperti Musashi dan bopeng-bopeng. Tapi tidak." "Jangan omong kosong!" Jalan masuk kota itu diapit barisan toko cindera mata dan penuh pencari pelanggan rumah penginapan. Jelas ia magang pandai besi.. Perjalanan begini harusnya dinikmati." "Pak. jalan raya Yamada. dan ada juga perahu-perahu ke Yokkaichi dan Kuwana. Ingin sekali ia terus berlari. sedangkan rambutnya yang kemerahan digelung ke belakang. °Ya. Orang itu mengenakan juga pedang pendek bersarung kulit. tapi yang menjadikannya jauh lebih bahagia adalah pengalaman spiritual yang telah didapatnya pagi itu. ia turun di Tsu. kupecahkan tengkorakmu." Ebook by Kang Zusi .. tapi ia masih mendapat tempat.. Perahu tambang sudah penuh. mungkin ia mendapat kesempatan bertemu dengan pemain pedang Mikogami Tenzen yang luar biasa itu." "Ketinggalan alat yang jadi penghidupanmu." "Tapi ingin rasanya berhenti. Musashi berdiri berdesakan dengan penumpang-penumpang lain dan memandang tenang ke seberang air di sebelah kiri-ke arah pasar lama. Pak. "Memang ada.property of: CROSSFiRE. Si magang sekali lagi kehilangan penglihatan atas tuannya dan dengan cemas mencari-carinya di tengah orang banyak. makin lama makin jauh. di Ominato. yang menuju Owari. ia perhatikan ada seorang lelaki berjalan di depannya. sampai akhirnya orang itu muncul dari sebuah toko mainan. terlalu cepat untuk itu." "Betul? Saya kira sudah lebih kemudian. dan Matsuzaka. "Iwa!" serunya memanggil anak itu. Di seberang teluk. Pipi anak itu hitam oleh jelaga dan ia membawa palu godam." "Tinggal berapa hari lagi akhir tahun ini?" Orang tua itu tertawa. orang itu bisa disangka bromocorah. seperti halnya kota-kota pelabuhan lain. Begitu meninggalkan perahu. kalau kamu lupa lagi. "Jelas Tuan tak punya kewajiban bayar utang akhir tahun. netcafe. Kita bisa sampai rumah sebelum malam tiba. Layar-layar menangkap angin. dan perahu meluncur di permukaan Teluk Ise yang seperti kaca itu." katanya. Dan seperti direncanakannya." mohon anak itu. ya?" "Akan saya ambil sekarang. Kalau bukan karena anak lelaki yang mengikutinya.

ia bertanya. istri orang ini sudah berkesan amat sok menguasai. Saya memang sudah banyak belajar dari istri Anda. "Ya. Jadinya seolah kedua orang itu menuntun arah jalan Musashi. "Oh. Kedua orang itu melintasi kota puri. sekalipun kadang-kadang hal itu bisa memberikan kesan pengecut atau tunduk kepada musuh." °Waktu itu aku sedang melakukan tugas untuk Arakida. Inc. jangan sampai pecah! Simpan dalam kerahmu. begitu. Dan dia mendemonstrasikan satu jurus Yaegaki pada saya. tapi pertemuan yang kebetulan ini demikian menggodanya. Saya dengar Anda ahli rantai-peluru-sabit. tapi orang ini sendiri benar-benar angkuh. Sesudah beberapa hari pergi melaksanakan tugas. Belum lama saya ke rumah Anda di Ujii dan bertemu dengan istri Anda. tapi aku tidak tinggal di rumahnya." "Hadiah buat bayi Bapak?" '"Mm. ha! Tapi katamu tadi sudah ketemu istriku?" "Ya. Dan hati-hati. Rupanya nasib mempertemukan kita di sini. begitu?" kata Baiken. Dan Anda siapa?" "Nama saya Miyamoto Musashi." "Oh." "Nah. Agaknya jalan yang akan ditempuh Baiken pulang ke rumahnya. kecuali aku." "Oh. Tentu saja aku dapat memperlihatkan lebih banyak lagi daripada yang diperlihatkan istriku. Ia mendekat. barangkali pandai besi itu Shishido Baiken." Bagi Musashi. Sebetulnya Musashi bermaksud langsung pergi ke Kyoto. Sementara meletakkan landasan bagi dirinya." Ebook by Kang Zusi . Dengan wajah yang tiba-tiba menyatakan paham. "Bawa ini. kemudian ke jalan gunung yang menuju Suzuka. tapi begitu engkau melihatnya. Itu pekerjaan yang tak bisa dilakukan orang lain. Saya calon prajurit. ia akan tetap bersikap ramah." gumam orang itu." "Ha. apakah Bapak ini Shishido Baiken. orang itu ingin memandang anaknya menyeringai girang waktu ia menyerahkan barang itu. namun ia tak bisa memperoleh kepastian. "Kembali ke Umehata?" Tapi jawaban orang itu kaku. yaitu bahwa di dunia ini terdapat orang-orang yang kemungkinan lebih baik dari diri kita. Sebelum ia membiarkan rasa bangga dan keyakinan mengkhianatinya dan menyebabkannya menyepelekan lawan. begitu engkau sampai di jalan ke dunia lain. Takuan telah mengajarkan kepadanya pelajaran pertama dalam hidup ini. ke Umehata. kan?" "Ya. tapi karena saya sudah beruntung bertemu dengan Anda. Kupinjam tempat kerja di desa. Setiap kali ia hendak membelok.property of: CROSSFiRE. Musashi cukup yakin bahwa dari apa yang dilihatnya ia sudah dapat mengukur kemampuan orang ini." "Memang. netcafe. dengan sikap hormat yang sesuai dengan umurnya ia berkata. begitu. Tak ada alasan buat mengikutiku. namun ia mengingatkan diri untuk tidak terburu-buru. saya akan berterima kasih kalau Anda mau lebih banyak menerangkan senjata yang Anda pergunakan. mereka membelok juga di depannya. Pelajaran ini diperkuat oleh pengalaman-pengalamannya di Hozoin dan Puri Koyagyu. karena itu ia gunakan akal kecil untuk mendapat kepastian. Menjawab ucapan Baiken yang merendahkan itu. ia ingin mengukur lawan itu dari segala segi. "Apa engkau yang tinggal di penginapan Yamada dan ingin bertarung denganku?" "Bagaimana Anda bisa dengar itu?" "Kau menyuruh orang ke rumah Arakida untuk mencariku. kemudian melambatkan jalan lagi sambil mendengarkan percakapan mereka. dan berjalan di depan mereka sebentar. Kalau digabungkan dengan potongan-potongan percakapan yang kebetulan didengarnya. Terpikir oleh Musashi. Kenapa?" "Dari tadi saya bertanya dalam hati. Musashi menyimpulkan orang itu memang Baiken. Ia berpura-pura tidak memperhatikan mereka. dan katanya dengan nada ramah. itu mestinya cukup buatmu.

acar. Akhirnya. "Lihat. apa yang barusan kaukatakan? Namamu. ini Bapak." Mata Baiken yang semula mengembara ke jurusan lain kini berayun kembali kepada Musashi dan mengamat-amatinya kembali dari kepala sampai jari kaki. "Apa kau minum sake?" "Saya bukan tak suka sake. Bermalam." Senja hari mereka sampai di kaki Gunung Suzuka. dan bertanya. Selesai meneguk. Baiken ingat akan tamunya. hanya bicara tentang bayi dan soal-soal rumah tangga. kalau kau bersedia tidur di bengkel bersama Iwa. ia memperlihatkan senyum kebapakan. kecuali kalau Anda berkenan menerima saya menginap semalam lagi. Tapi aku bukan pengusaha penginapan. supit. siapa namamu tadi?" "Miyamoto Musashi" "Bagaimana engkau menuliskan Musashi?" "Ditulis sama dengan Takezo." Ia memandang Musashi sesaat. dan mangkuk nasi di tikar jerami di depan Musashi.property of: CROSSFiRE. "Berapa umurmu?" "Dua puluh dua. Ebook by Kang Zusi . dan kami tak punya tilam ekstra. "Oh ya. Ia menghangatkan sake di perapian dengan suaminya. Inc." katanya kepada istrinya. ketika makan malam siap. "Baru kemarin dia dari sini. kasih orang itu makan." celotehnya sambil mengangkat sebelah tangan dan menari-narikan jarijarinya." Musashi mendekat ke ambang pintu kamar perapian serta menerima mangkuk berisi minuman dan menghirupnya. "Kalau yang engkau inginkan itu bicara." jawab perempuan itu cemberut. lihat. sudah ada. minum semangkuk. baik. itu dia. dan ketika mereka tiba di rumah itu. la bahkan tidak melepas sandalnya. Apa kau punya rencana menginap di penginapan dekat perbatasan?" "Itulah yang tadinya saya maksudkan. "Mari saya tuangkan buat Anda. netcafe. Asam rasanya. Iwa berlari mendahului untuk menyampaikan kedatangan mereka." "Asal dari mana?" "Mimasaka." Dalam sekejap mata saja si bapak sudah tidak lagi menjadi contoh keangkuhan. Musashi duduk di ruang bengkel yang berlantai tanah.. "Bapak pergi." panggil Baiken. "Nanti dulu. tanpa memperhatikan Musashi. "Orang muda. Suami-istri itu menghilang ke dalam dan duduk. menghangatkan diri di dekat api. lihat!" dekut perempuan itu. Desa kecil yang dipayungi awan merah itu tampak setenang danau. dan sekarang Bapak pulang. "Ini. katanya. menggendong bayinya yang memegang kincir mainan. ia kembalikan mangkuk itu kepada Baiken." "Nah." "Terima kasih. istri Baiken menanti di bawah ujung atap." "Kau boleh tinggal. Lihat." Istri orang itu masuk dan meletakkan sup.. Nak." "Tak usah.

Istri Baiken sudah di tempat tidur dengan bayinya. netcafe. Baiken sendiri tiba-tiba kelihatan lebih akrab." Musashi sudah cukup minum. Inc. "Oh." "Tapi sake tak ada lagi. tunggu. "Panas rasanya sekarang." kata Baiken dan cepat menangkap pergelangan Musashi. begitu? Kalau begitu. "Terima kasih. saya akan makan. "Tidak. dan aku pergi perang dengan rombongan samurai dari sana. "Ada apa. tidak. "Tak ada lagi yang lain. "Kalau Anda tidak keberatan. menunggu sembuhnya lukaluka. Ebook by Kang Zusi . "Aku minta lagi. Baiken menanti beberapa tarikan napas. aku tahu banyak hal." "Sejak pertempuran itu?" "Tidak tepat sejak itu. Aku di Sekigahara juga waktu itu. karena rendahnya ambang pintu. seolah pada diri sendiri." Baiken memberitahu istrinya bahwa sake mereka habis." jawabnya. "Makanlah!" katanya tanpa basa-basi. "Mestinya kita sudah berjumpa di pertempuran itu. "Bagaimana Anda bisa tahu?" tanyanya pelan. pinjam sebotol sake. "Ini bukan waktu makan. ia bertanya biasa saja." "Oh.property of: CROSSFiRE. Kami ada di garis depan waktu itu. Pak?" tanya anak itu." jawab Musashi. entah di mana." kata pandai besi itu. Ia membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya sambil membungkuk." "Apakah Anda pernah di kamp Ukita juga?" "Aku tinggal di Yasugawa waktu itu. Aku perlu sake lagi. dengan anak lain seumurmu?" Kini Musashi yang mendapat giliran terkejut." "Waktu umurmu sekitar itu." Mendengar ini. dan berpisah di situ." "Lalu apa yang terjadi dengan temanmu itu?" "Saya tak pernah lihat dia lagi sejak itu." "Iwa!" panggil Baiken lewat papan rapuh di sudut bengkel. Sekarang!" "Kenapa mesti minum begitu banyak malam ini?" "Percakapan kami menarik." katanya sambil memungut supitnya." "Apa engkau masih bernama begitu waktu umur sekitar tujuh belas?" "Ya. barangkali kita pernah bertemu. "Kupikir aku pernah melihatmu. kemudian katanya. apa kebetulan engkau tidak berada di pertempuran Sekigahara. Kami tinggal sementara waktu di sebuah rumah di Ibuki. sake itu!" Sambil menuangkan semangkuk lagi untuk Musashi. "Pergi ke rumah Onosaku. "Artinya namamu Takezo waktu engkau muda?" "Ya. Itulah penghabisan kali saya melihatnya. Musashi merasa lebih senang pada orang itu.

Baiken mendemonstrasikan satu jurus. Baiken sudah cukup banyak minum. lembing. Mendengar orang berbicara seperti ini. Itu satu cara." Sambil mengubah kedudukan. Besok saya sediakan sarapan yang enak dan panas. Musashi sendiri sudah jauh melewati batas kemampuannya dan sudah lebih mabuk dari yang pernah dialaminya. Akan kuceritakan semuanya sekarang. Musashi betul-betul terpesona. "Bangun!" seru Baiken lebih keras." Masih dalam keadaan duduk. tentang sepuluh atau lebih cerita turun-temurun mengenai senjata ini. tapi api di ada dekatmu. Bangun pasti tak menyenangkan. Rantai dilontarkan dengan terampil. atau apa pun. "dan barangkali capek karena perjalanan. karena itu tidurlah yang enak. senjata itu tidak memberikan kesempatan kepada musuh untuk mempertahankan diri." "Kalau sake itu buat saya.. "Suami saya juga sudah mabuk sekali.. Aku sudah mintakan sake. benih-benih pikiran lain terbentuk dalam kepalanya. dan katanya. Inc." "Ah. "Kaubilang dia dapat tidur di bengkel dengan Iwa." desak Baiken. Baiken menuangkannya sebagian ke guci pemanas dan meletakkannya di atas api. Sabit.. tentang miripnya rantai itu dengan ular. ada air panas di atas api buat bikin teh. Juga.property of: CROSSFiRE. Dua belah tangan. ia meneruskan. Biar dia tidur sekarang. Kau dan aku tidur di kamar belakang. kita sabet senjatanya dengan rantai." Baiken terus bercerita pada Musashi tentang cara-cara melemparkan peluru. "Kalau ada jarak antara kita dan musuh. sedangkan manusia punya dua tangan. Tidur yang enak. "Tamu kita sudah capek. Rantai. "Selimutnya sudah tua. "Katamu kau ingin dengar lebih banyak tentang rantai-peluru-sabit. Ia berkata. Ia sudah tak sabar lagi untuk melepaskan kaus kulit dan Ebook by Kang Zusi . Sementara ia mendengarkan. Kerjakan yang kusuruh!" Perempuan itu bangkit dengan gusar dan berangkat ke kamar belakang. Dia bilang mau tidur sampai siang. disentakkan tajam. "Berlainan dengan pedang. Tidurlah. tongkat kayu. Siapkan tempat tidur di sana. hingga pertahanan musuh akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. sebelum menyerang langsung. Kalau musuh mendatangi kita." Botol sake yang kedua pun kosong. "Jangan membantah. Ia ingin menyerap segala seluk-beluknya. kita hadapi dia dengan mata sabit. selama kau mau. dan musuh tak berpedang lagi. Tak peduli macam apa senjata itu—pedang. Kalau kau haus." Musashi tak dapat menjawab. Baiken mengambil bayinya yang tidur. kemudian kita hembalangkan bola ke mukanya." Ketika Iwa kembali membawa sake." katanya. "Lihat. tentang kemungkinan menciptakan khayal penglihatan orang dengan mengubah gerakan rantai dan sabit. tapi mari minum sedikit selagi bicara. netcafe. kemurungan wajahnya sudah hilang. ada kemungkinan merebut senjata musuh dengan rantai. Ketika perempuan itu datang kembali untuk mengganti bantal. lebih baik tak usah.." Ia sendiri pergi ke kamar belakang. jadi minumlah sedikit lagi. Rasanya saya tak bisa minum lagi. "Pedang dapat dipergunakan dengan satu tangan. "Biar tamu kita tidur di sini. kita pegang sabit dengan tangan kiri dan bola dengan tangan kanan." Perempuan itu tak beranjak dari tempatnya. "Bangun!" seru Baiken kepada istrinya." Kaki sang istri sudah enak dan hangat sekarang.." "Terima kasih. lalu bicara panjang-lebar tentang rantai-peluru-sabit serta cara-cara penggunaannya yang terbaik dalam pertempuran yang sebenar-benarnya. juga tentang semua cara rahasia dalam menggunakan senjata itu." gumamnya. ayolah. ia selalu mendengarkan dengan seluruh tubuhnya. dan mendesak Musashi minum lagi.

kemudian diam-diam meniup lilin. kenapa minum jauh lebih banyak dari biasanya. atau ibumu?" Munisai memekik dari tepi sungai. Ia membuka mata dan memandang ke langit-langit. Kenangan masa kecil melompat-lompat dalam otaknya seperti seekor serangga.property of: CROSSFiRE. Di tengah hitamnya jelaga terlihat cahaya kemerahan. Ketika ia mulai tertidur lagi. Musashi tak dapat mengingat wajah ibunya.. kelihatannya seperti mencoba menuliskan sesuatu dengan huruf-huruf cahaya. Serasa ia kembali berada di Mimasaka.. tapi ia tak dapat tidak memikirkan Baiken. Sering ia memikirkan ibunya. Dan ia mendengar kata-kata nyanyian menidurkan bayi. Pandangan matanya berhenti pada kincir mainan yang tergantung pada langit-langit di atasnya. dan katanya. Air mata berkilauan di pipi ibunya. dan di situ ia tergeletak melolong sekuat paru-parunya. pelipisnya berdentam-dentam sakit. rasa kantuk sudah menguasainya. seperti kembang buah pir. Tidurlah. Ibunya tenggelam ke dasar sungai Bayinya dilontarkan ke tepi yang berkerikil.. jubahnya. Perempuan itu tentunya ibunya. Dengan rasa nostalgia samar-samar ia terus berbaring setengah tidur. Ia sendiri bayi yang digendong seorang perempuan berkulit kuning berumur sekitar tiga puluh tahun.. Tampak sebuah tembok. dan menaikkan selimut. ibunya menyanyi lembut. menarik napas dalam. Kenapakah pandai besi yang semula tampak hampir tidak sopan itu tiba-tiba jadi bersahabat dan memintakan sake lagi? Kenapakah istrinya yang tak enak sikapnya itu menjadi manis dan tiba-tiba mau membantu? Kenapa mereka memberikan tempat tidur yang hangat ini? Semua itu seperti tak terjelaskan. Dan sebuah tembok tanah yang dipayungi dahandahan yang menggelap ketika malam mendatang. tapi tak dapat menggambarkan wajahnya. Sambil menangis ia berlari masuk sungai dan berjalan terus ke tengah.. yang berasal dari dalam rumah. netcafe." katanya.. diterangi bunga-bunga api yang sekali-sekali melenting dari perapian.. lalu ia menyusuri tanggul batu yang panjang. Istri Baiken berdiri di pintu mengawasinya. Bayi tidur itu manis. Apabila ia melihat ibu lain. "Selamat malam. seorang perempuan-ibunyakah? atau perempuan lain lagi? mengganggu tidurnya dan membangunkannya lagi. atau lebih tepat dikatakan melihat sebagian mimpi yang terus berulang-ulang. "Ada apa malam ini?" pikirnya. terpikir olehnya.. menatap kincir mainan itu. Pipinya yang basah disapukan ke pipi bayi itu. sebuah tembok batu panjang yang ditumbuhi tumbuhan menjalar. ibunya." Kepala Musashi terasa seperti dilingkari ikat baja yang ketat. bayi itu menggeliat dalam pelukan ibunya. Ia bertanya pada diri sendiri. Musashi membuka mata. Musashi bermimpi. tapi sebelum Musashi dapat memecahkan misteri itu. ".." Sambil mengayunayunkannya dalam gendongan. Dan si bayi memandang kagum air mata itu. Perasaannya dahsyat. barangkali ibunya seperti ibu itu. di tengah bunga mawar yang sedang berkembang. langkah kakinya yang ringan dan lengket menyeberang tatami. Inc. Dan itu suatu perintah. tidurlah. Wajahnya yang tirus terawat baik tampak sedikit kebiruan. nakal. Ebook by Kang Zusi . mendengarkan lagu menidurkan bayi yang dinyanyikan istri pandai besi dalam dialek Ise. Istri Baiken mengundurkan diri diam-diam ke kamar belakang. Karena tak dapat bicara. "Takezo. Sake itu telah hilang pengaruhnya. dan bikin ibunya menangis juga. pantulan bara di perapian.. tapi tubuhnya sendiri lebih panas lagi akibat minuman itu. Cuma dahinya yang tetap terbuka. Tapi semakin bayi itu bertingkah. Ia merasa juga bau ibu dan anak itu masih menempel pada seprai. "kau anak ayahmu. Di dada ibunya ia menengadah ke wajah putih itu. semakin ketat ibunya memeluknya. Segera kemudian terdengar tarikan napasnya yang dalam dan teratur." Ia menyelam ke dalam selimut yang masih hangat. "Pergi! Pulang sana ke rumahmu!" Suara itu suara Munisai yang menakutkan. Ia menutup mata. Cahaya lampu bersirur dari rumah itu.. Ibu Musashi bangkit pelan-pelan. mencoba mengatakan bahaya yang menghadang. "Terima kasih banvak.

ataukah meloloskan diri sebelum tiba waktunya.. menurut Bapak?" Ebook by Kang Zusi . kenapa kau kusuruh jaga di sini? Dia lari! Pasti dia lewat sini tadi." "Lari? Bagaimana dia bisa lari?" "Pakai tanya lagi? Keledai kepala besar!" Baiken kembali masuk rumah dan berjalan mondar-mandir dengan bingung. Inc. Diam-diam Musashi meletakkan kembali kepalanya ke bantal dan mencoba menduga apa yang sedang terjadi di rumah itu. sedangkan yang di bagian kaki melompat masuk bengkel dan membidikkan lembingnya ke benda terbaring itu.property of: CROSSFiRE. tapi dari mana? "Apa ini sarang penyamun?" begitu mula-mula ia bertanya pada diri sendiri. ketika Musashi pelan-pelan menggulung tilam menjadi bentuk tubuh manusia. "Ada pintu terbuka!" pekiknya. Pak?" tanya satu suara rendah bergairah." serunya. tentunya mereka tahu ia tak punya apa-apa. Baiken menatap berang. dan terpandang olehnya kincir mainan berputar cepat. "Dia tak ada. Orang itu Baiken sendiri yang memegang sabit dengan tangan kiri dan peluru dengan tangan kanan. kulit dan tulangnya dapat merasakan bahwa seseorang atau sesuatu sedang mengancam hidupnya tahu bahwa apa pun bentuknya. Tak ada yang aneh di situ. Pintu bengkel yang menghadap jalan setapak yang menuju ke belakang rumah terbuka sekitar tiga kali lebarnva. belum pernah ia melihat Baiken sebelumnya. Segera seorang lagi berseru marah. dia pasti belum jauh. apakah akan berbaring menunggu datangnya bahaya. dan angin tajam bertiup ke dalam. Kemudian. goblok? Menurutmu. Di bawah tirai pendek di pintu muncul sepasang mata milik orang yang sedang merangkak masuk dengan pedang terhunus. seperti gumpalan asap. "Apa maksudmu. Mana pun yang dia tempuh. baik di dalam maupun di luar rumah. Ia harus memutuskan dengan cepat. hidupnva dalam bahaya. Kincir mainan mulai berputar pelan-pelan. Terdengar bunyi pintu yang ditutupkan pelan-pelan. Kincir mainan berhenti berputar. ke bagian kaki tempat tidur. Tapi tidak. Orang yang memegang lembing menyingkapkan seprai. "Apa dia dendam padaku?" Itu pun rasanya tidak tepat. Seluruh tubuhnya sudah terbiasa dengan perubahan sekecil apa pun di sekitarnya. "Bangun. Kedua orang itu menatap seprai tempat tidur dan mendengarkan napas orang yang sedang tidur. Ia ulurkan tangannya ke atas ambang pintu bengkel untuk mencari sandalnya. memang ia dibuat supaya berputar. yang mencoba meramalkan cuaca di atasmya. Kejar dia!" "Lewat jalan mana. Ia selipkan mula-mula sebelah sandal. Seorang lagi yang membawa lembing dan bergayut erat pada dinding mengendap ke bagian kaki tempat tidur. "Dia keluar dari sini!" "Apa kerja orang-orang tolol itu!" jerit Baiken sambil berlari ke luar. Kalau mereka pencuri betul. Baiken berseru. orang ketiga melompat masuk.. dan mereka mempersamakan napas. tapi itu kalau ada angin! Maka Musashi bangun dan menajamkan pendengaran baik-baik. Musashi!" Tak ada jawaban atau gerakan datang dari tilam. Tapi. Musashi merasa pasti. "Beres. Orang yang berada di bagian kepala tempat tidur menendang bantal ke udara. Ia laksana seekor serangga di bawah selembar daun. Dengan sabit di belakang tubuhnya. Langkah-langkah kaki terdengar lirih. Musashi tahu. Walaupun tak dapat menggambarkan sebabnya. dan sarafnya yang peka betul-betul tegang. ancaman itu sangat dekat. Ketiga mata orang itu bertemu. netcafe. Kincir mainan itu mulai berputar lagi. Dari bawah ujung atap dan bayangan bermunculan sosok-sosok tubuh hitam. Dalam cahava api ia berputar seperti bunga yang terkena sihir. "Cuma ada dua jalan yang mungkin dia ambil: ke jalan raya Tsu. Baiken melontarkan pandangan bingung ke kamar. dan kemudian sandal yang lain ke bawah seprai.

Percakapan hanya terjadi di sana-sini dan kedengaran murung. Pasti dialah itu." Mereka berangkat cepat-cepat. Dia sudah membunuh saudaraku." Mereka semua membantunya ke tempat tidur. Melihat umurnya dan macamnya. Ketika mereka mencoba menggembirakan hatinya. yang sekarang menyebut dirinya Shishido Baiken. tapi Baiken hanya duduk memberengut karena pahitnya sake. tidak menegur siapa pun atas kegagalan itu. istri Baiken mengingatkan suaminya bahwa sake tak ada lagi. Segera kemudian minuman itu sudah panas." "Apa ronin itu betul-betul anak yang sembunyi di rumah Oko empat tahun yang lalu?" "Mestinya begitu. Baiken berseru. "Kalau kau temukan dia tembakkan bedil. Mereka semua orang-orang jembel—anak buah bromocorah seperti Tsujikaze Temma dari Ibuki dan Tsujikaze Kohei dari Yasugama. netcafe. Kamu tutup jalan bawah itu!" Orang-orang yang ada di dalam bergabung dengan orang-orang yang ada di luar. Seorang dari orang-orang itu dengan sukarela men-datangkan sake dari rumahnya. Jisim saudarakulah yang membawanya kemari. Bisa juga mereka itu sekadar begundal di anak tangga terbawah dalam masyarakat bebas. "Tak ada gunanya menangisinya sekarang. "Ambil sake! Aku mau minum. Bapak sudah lakukan semua yang mungkin. Inc." "Bajingan kecil busuk. tapi sekitar satu jam kemudian mereka kembali satu-satu dengan wajah murung." Untuk mencoba melampiaskan kemurkaannya. supaya mau pergi tidur. Seorang di antaranya yang membawa bedil tampak seperti pemburu lainnya. tapi kemudian dia mengatakan pernah di Sekigahara. sedangkan Tsujikaze Temma itu bukan pejuang kecil. Karena desakan waktu yang sedang mengalami perubahan. Orang-orang saling mengangguk dan mengundurkan diri. tukang." "Tak usah kuatir soal itu. Mereka mengira akan mendapat makian pemimpinnya. Ketika berpisah. berceloteh antara sesamanya dengan kesal. menjadi rombongan campuran terdiri atas sekitar sepuluh orang. Pak. dan ia lakukan itu dengan cepat. "Aku ke Suzuka. Berbaringlah dan tidurlah. Mestinya aku dapat menanganinya sendiri. Semula tak pernah terpikir olehku. dan semua kumpul. Begitu mata Baiken tertutup. Sambil mencoba menenangkan bayinya. aku yakin. kemurkaan yang memenuhi dirinya diganti oleh dengkur keras. mereka menjadi petani. Beberapa orang memungut bantal yang tadi ditendang dan meletakkannya di bawah kepalanya. dan namanya waktu itu Takezo." Orang-orang yang dimaksud itu meminta maaf dengan wajah malu. Orang-orang di luar inilah tadi yang gagal dalam tugas. tapi sampai di rumah mereka dapati Baiken duduk di lantai bengkel dengan mata tertunduk tanpa cahaya. bubar ke tengah kabut pagi buta. dan mangkuk-mangkuk diedarkan. kapan saja ada kesempatan." "Dia punya jimat! Pasti. "Mestinya tak usah aku membesarkan soal dengan mengerahkan begitu banyak bantuan dari kalian." Ia nyalakan api itu kembali dan ia masukkan lagi ranting-ranting kayu api. tapi tadinya kupikir aku mesti hati-hati. Akhirnya ia berkata. Baiken berkata. Mereka mencoba membuat Baiken mabuk. yang membawa pedang pendek barangkali pembelah kayu.property of: CROSSFiRE. ia ambil sepotong kayu arang dan ia patahkan kayu itu dengan lututnya. Yang terdengar di rumah itu kini hanya bunyi penghuni yang tidur dan gerekan tikus ladang. atau pemburu. "Bikin aku gila. tapi masih punya gigi yang siap dipakai menggigit orang baik-baik. memang dia yang membunuh saudaraku. Ebook by Kang Zusi . semuanya bersenjata." "Lebih baik Bapak tidak memikirkannya lagi malam ini.

dan samar-samar tercium olehnya bau manis susu ibu. Di dalam bayangan antara tungku dan dinding. menginap di sebuah rumah penginapan. karena dengkur Baiken bukan main kerasnya. ia punya alasan untuk melakukannya. Tubuh manusia yang seperti asap itu tiba-tiba seperti muncul dari dinding. kemudian melanjutkan perjalanan lagi sebelum kabut pagi menghilang. pelan dan lirih mengingsut ke dinding. tidak sangsi lagi. Namun kini tak ada satu pun manfaat yang bisa ia peroleh dari mengambil nyawa pandai besi itu. Musashi muncul dari dinding. Ia pergi ke dinding dekat kaki Baiken dan mengambil salah satu senjata pandai besi itu. Amandelnya bengkak. Malam itu berkali-kali Musashi memikirkan ayah dan ibunya sendiri. ia mengamati wajah orang yang sedang tidur itu. Dari Gunung Fudesute mereka berjalan ke Yonkenjaya. lagi pula waktu itu darahnya masih mendidih oleh demam pertempuran. "Saya minta maaf telah mengganggu kalian. Ia bahkan merasa enggan meninggalkan tempat itu. apakah orang itu pantas dibunuh. adalah menyingkirkannya sekarang juga. sampai akhirnya tergantung pada paku. dan ia menyeringai. demikian pikir Musashi. dan ia undur mengagumi hasil karyanya. Ketika Musashi membunuh Tsujikaze Temma dulu. Jotaro berkata senang. di samping tungku tanah besar. Kini ia berjalan pelan-pelan melintasi bengkel dan memandang Baiken. kincir itu bisa terbangun pagi harinya dan berputar kencang menyaksikan kepala tuannya terjatuh dari bantal. netcafe. Ia tampak penuh harapan dan keriangan. kalau ia membunuh orang itu. Jalan yang aman. Musashi tak satu langkah pun meninggalkan rumah itu. Tidurlah yang nyenyak. Mestikah Musashi membunuhnya? Kalau Musashi membiarkannya hidup. bahkan juga tumbuhan dan binatang." Ebook by Kang Zusi . Keadaan itu terasa lucu olehnya. Ia berhenti melihat bulatan emas besar itu. Inc. "Kita berdua yang pertama di jalan ini. Namun orang yang terbaring itu saudara Tsujikaze Temma dan sudah mencoba membunuhnya untuk menyenang-kan roh saudaranya yang telah mati—suatu sentimen yang mengagumkan untuk seorang bromocorah. Di atasnya tergantung sebuah payung dan mantel-mantel jerami yang berat. "Bukan main indahnya!" ujar Otsu. anaknya yang masih kecil nantinya akan menghabiskan hidupnya untuk berusaha membalas dendam kepada pembunuh ayahnya.property of: CROSSFiRE. Praktis ia sudah memenangkan pertarungan dengan Baiken. Kemudian dibungkuskannya secarik kertas lembap di sekitar mata sabit itu melintang di leher Baiken. Kincir mainan itu tidur juga. siapa tahu. berdiri setumpuk kayu bakar. bagian 13 Kuda Terbang OTSU dan Jotaro tiba di perbatasan larut malam. Tapi persoalan yang masih harus dijawab adalah. pikir Musashi. salah satu mantel hujan itu bergerak. Di sudut gang yang menghubungkan ruang kerja dengan dapur. Musashi berpikir keras sejenak. Tak ada orang di depan kita." Pelan-pelan ia membuka pintu luar dan pergi. berpikir. Ia berdiri di sana sejenak. Sesudah menyelinap dari bawah seprai tadi ia membuka pintu luar dan mencampurkan diri dengan kayu api. Sambil mengeluarkan mata sabit dari lekuknya. ia akan terus mencari kesempatan melaksanakan balas dendam. Dalam hatinya ia berkata pada mereka. Lagi pula. Ia merasa sedikit iri berdiri di dekat keluarga yang sedang tidur ini. Itulah saat indah ketika semua benda bernyawa. Di situ untuk pertama kali mereka merasakan hangatnya matahari terbit yang menyinari punggung. dan menutup dirinya dengan mantel hujan. Suatu kemenangan telak. sebelum akhirnya menemukan pemecahan yang kelihatannya paling tepat. merasa puas dan bangga karena hidup di dunia ini. Sekiranya tak ada kertas pembungkus itu.

" "Tapi aku ingin naik kuda." Otsu memungut sebatang bambu. aku merasa jalan itu milikku.property of: CROSSFiRE. "Kedengarannya bangga betul kamu. Inc. tapi hari ini saja." "Memang betul. Mesti Kakak akui. kenapa tidak kamu umpamakan dirimu seorang samurai besar yang sedang menunggang kuda dan memeriksa tanahmu yang luas? Aku akan jadi pembantumu. Kalau begitu pendapatmu. kan Kakak yang main tadi. biar cuma pertama di jalan. itu kan cuma tadi malam. Tertangkap basah sedang bermain seperti anak-anak. Pasti dikiranya kita sinting. netcafe. tapi kamu yang mulai. Lihat itu! Orang di warung teh itu memandang kita terus." "Ah. terpaksa aku membunuhmu!" "Aku tak mau main lagi. "Tak boleh kamu lari dari tuanmu. dan sambil mengayun-ayunkan bambu itu dengan khidmat ia berseru-seru dengan nada sama. bukan aku?" "Ya. Kita belum lagi tiga kilometer. Senang rasanya menjadi orang pertama. dan cuma karena sudah gelap dan kita mesti buru-buru. banyak artinya." "Anak-anak tak perlu naik kuda. itu lebih baik daripada berjalan di belakang joli atau kuda. "Hari ini giliranku naik kuda. Kita dapat menyewanya. bukan." "Mungkin. Tapi Kakak tak pernah lihat aku naik joli atau menaiki kuda seperti Kakak. aku akan jalan sepanjang hari im. Kalau lari. wajah Otsu memerah dan ia berjalan terus secepat-cepatnya. "Oh. tapi kamu kan belum capek? Menyewa kuda itu membuang-buang uang saja." "Kalau tak ada orang lain di jalan yang kujalani." "Buat apa?" "Aku lapar." "Kalau begitu. Apa artinya?" "Oh." "Jangan. sekarang masih terlalu pagi." "Apa menurutmu jalan ini lalu jadi lebih pendek?" "Oh. jangan begitu." Ebook by Kang Zusi . Kalau kubiarkan bisa-bisa kamu makan lima kali sehari." "Sudah lapar?" "Apa tak bisa kita makan separuh kue nasi yang buat makan siang?" "Sabar. Kakak bohong tadi bilang aku boleh naik kuda!" "Aku tidak bohong." "Kalau begitu." "Kulihat ada kuda terikat di warung teh itu." protes Jotaro. kan?" "Barangkali. ah!" "Lho." "Mari kita kembali ke sana. "Semua membungkuk! Semua membungkuk kepada Yang Dipertuan!" Seorang lelaki memandang bertanya-tanya dari bawah ujung atap warung teh. Apa tak bisa? Bisa.

Dengan muka masam ia menggerutu." Ketika mereka akan berangkat. Jotaro berlari menjumpai pemilik warung. Bajingan!" jerit si pemilik.ian membenturkan punggungnya ke tiang. maka Otsu menyetujui. Ranting iru tidak mengenai Jotaro." "Kenapa tak bisa?" "Tak ada tukang yang membawanya. tak bakal aku naik kuda. "Hei. Berapa sampai Minakuchi? Kalau tak begitu mahal. atau juga ke Kusatsu. siapa di situ? Aku mau kuda! Keluarkan satu buatku!" Orang tua itu sedang menurunkan daun jendela. dan ia mengambil keputusan bahwa ia dapat mempercayai Otsu. "Kupikir turunan liar dewa badai. Ayolah." jawab Jotaro kurang ajar. "Kalau begitu." "Tidak bisa. Jotaro menyahut. "Oh. Jotaro mulai lagi. biar kita jalan seratus hari atau seribu lima ratus kilo. Kalau mesti tunggu sampai lelah." Dan untuk mengimbangi nada bicara orang itu." "Tapi kamu ini anak siapa?" "Aku anak ibuku dan ayahku. Ia melompat keluar dari warung sambil memuntahkan sumpah serapah dan berlari mendapatkan binatang itu. Maka aku kuatir tidak mendapat kehormatan meminjamkannya kepada Tuan." "Kamu ini dewa badainya. Adapun warung yang baru mereka lewati itulah satu-satunya yang tampak oleh mereka. warungwarung itu terletak di berbagai tempat yang berlainan di lereng Gunung Fudesute dan Kutsutake. serunya." "Bandel!" "Mana kudanya!" "Oh. aku tak pernah capek. "Pinjamkan dia untuk aku. kalau tak ada tukang kuda ia dapat membayar uang di muka dan mengirimkan kuda pulang kembali dari Minakuchi bersama musafir yang pergi ke sini. ya?" teriak orang itu sambil mengambil ranting menyala dari api di bawah tungku dan melemparkannya kepada anak itu. Teriakan bernafsu anak itu mengejutkannya dan membangunkannya. bisa diteruskan sampai Kusatsu. Begitu Jotaro merasa Otsu mengangguk setuju. Ayolah!" Karena merasa bahwa kalau terus begitu mereka akan kehilangan waktu yang sudah mereka hemat dengan berangkat pagi-pagi. Inc. kalau kau mau. Cuma permintaanku. netcafe. Selagi ia melepaskan tali dan menuntun kuda itu ke pekarangan samping. "Apa pendapat Kakak tentang dia? Dia perlakukan aku Ebook by Kang Zusi . mari kita sewa kuda sekarang. Sambil menyerahkan tali kepada Otsu.property of: CROSSFiRE. mumpung tak ada orang di depan kita. bisa kaubawa dia ke Minakuchi. kemudian berhenti tiba-tiba. kau pikir kuda itu buat disewakan? Kuda itu tidak disewakan. kirim dia kembali. Walaupun di sekitar itu terdapat empat warung teh. ujar Jotaro marah. Tampangmu gila macam guntur. Minta disiapkan sekarang juga. karanva. tapi menimpa kuda tua yang tertambat di bawah ujung atap. Sambil meringkik membelah udara. seperti ditunjukkan oleh nama Yonkenjaya itu. kuda itu mundur . Ini lebih aman daripada kalau jalan ramai. Aku tak akan capek. "Apa saja ini! Buat apa memekik sekeras itu!" "Aku perlu kuda. Sikap Otsu yang memohon itu melunakkan si orang tua. jadi aku tak akan mendapat kehormatan menyewanya?" "Lancang kamu. ia berlari kembali ke warung teh ia memang tidak menantikan anggukan Otsu." Otsu memihak Jotaro dan menyarankan. "Kakak kan tahu betul.

Ebook by Kang Zusi . Kudanya ini mendengarkan. "Kakak jalan di depan. "Siapa itu kira-kira?" tanya Jotaro. lalu keduanya berangkat. perbatasan Omi." "Jangan kuatir. "Turun!" perintahnya sambil menatap Jotaro. Kuda itu berlari kecil mundur. Dalam udara dingin itu." "Baiklah. Jotaro memekik. katanya." "Apa menurut Kakak. "Namaku Shishido Baiken. Otsu melambaikan ucapan selamat berpisah kepada pemilik kuda dengan tangan satunya. Di tengah kabut putih mengasap itu terbentuk bayangan orang.. kemudian warnanya. tulang rusuknya mengembang dan mengempis. netcafe. hingga mereka dapat mengira-ngirakan penampilannya dan umurnya. Aku sedang mengejar orang yang namanya Miyamoto Musashi." "Hati-hati kamu. "Apa kita yang dipanggilnya?" tanya Otsu. "Kamu bilang Musashi?" ucap Jotaro. seperti keledai. seakan bumi di bawahnya menguras seluruh darah tubuhnya. Tapi ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Inc. tapi begitu dia lihat wajah manis. untuk memastikan apa yang didengarnya itu benar. Sambil mencekal bulu tengkuknya." Orang itu bicara sangat cepat. kuda tua lemah kaki ini bisa mengalahkan aku?" "Kamu kan belum bisa naik kuda?" "Siapa bilang tak bisa?" "Lalu macam apa pula ini.. menoleh kepada Otsu. Belum lagi seratus langkah.property of: CROSSFiRE. Mereka menghentikan kuda itu dan menoleh. Berikan kuda ini padaku. Semula mereka hanya dapat menangkap garis bentuknya saja." Sambil memegang tali kekang dengan satu tangan. naik dari belakang?" "Ah. kalau bicara tentang orang tua itu. Dia lewat jalan ini sebelum fajar tadi. "Perempuan!" "Ya?" kata Otsu lirih. dong.. Soal itu beres. bukan kamu!" Orang itu mendengus. tolong dong!" "Brengsek!" Otsu memegang ketiak Jotaro dan menaikkannya ke punggung binatang itu. dan dengan gerakan cepat merebut tali kekang dari tangan Otsu. tapi kamu menyesal nanti. diiringi langkah kaki berlari. Ia masih mencengkeram bulu tengkuk kuda itu. kabut mengental menjadi bunga es pada cabang-cabang dan ranting-ranting pohon." katanya. ke dunia di bawahnya. wajahnya putih seperti mayat. mana boleh begitu! Aku yang menyewa kuda ini. berhenti. Jotaro memandang megah ke sekitar. mereka sudah mendengar pekik keras dari tengah kabut di belakang mereka. Aku tinggal di Desa Ujii di pegunungan. Bibirnya menggeletar. seakan-akan orang itu diikuti angin pusaran yang sedang mengamuk. Hawa setani mengitari tubuhnya. tapi segera kemudian orang itu sudah cukup dekat. "Dudukmu belum benar. "Hei. Orang itu cepat mendekat ke samping Otsu. Dia bisa marah dan melemparkanmu. Otsu tegak diam. jadi aku mesti jalan cepat kalau mau berhasil mengejar dia di Yasugawa. Ingin sekali ia bertanya. tapi kaki dan tangannya gemetar. tapi leher orang itu berkelip-kelip seperti ular karena keringat. sebelah sana perbatasan. Barangkali dia lewat beberapa jam lalu.

kan. "Ayo cepat! Kalau tidak kucambuk kamu!" Dan ia mengacungkan ujung tali kekang itu seperti cambuk. ia sadar bahwa pedang mengenai pantat kuda. panjangnya hampir tiga kaki. Otsu jadi ngeri sekali. tidak setiap lelaki dapat menggunakannya." "Apa maksudmu tak mau?" "Ini kudaku. Tuan dapat menyewa salah satu kuda yang jalan naik-turun gunung ini dengan teratur. sehingga tak sengaja menghunus pedang dari sarungnya." jawab Jotaro geram. bukan tangan Otsu yang ia parut. netcafe. Musashi sedang dikejar makin lama ia dapat menghambat iblis ini. Kemudian. Baiken melakukan kesalahan lebih besar lagi daripada malam sebelumnya. "Lebih baik aku mati daripada turun!" "Sudah bulat kamu tak mau melepaskan kuda ini?" tanya Baiken kasar. kuda meringkik keras dan terbang ke jalan seperti anak Ebook by Kang Zusi . tidak adil kalau Tuan mencoba mengambil kuda ini dari kami. Baiken mencengkeram terus pergelangan tangan Otsu dan mencoba memperoleh kembali pedangnya. Luka itu tidak dalam." "Betul. "Betul. "Tak boleh dia ambil kuda ini. "Anak anjing!" teriak Baiken. Tak jadi soal baginya. kamu tak bisa mengambilnya. Baiken demikian terburu-buru. Baiken kehilangan ke-seimbangan. Baja berkilau cemerlang yang terulur dari tangan Otsu menggaruk tanah dan berhenti di belakang gadis itu.. Inilah saatnya Jotaro mesti menggunakan pedang kayunya. marah oleh nada bicara anak itu. "Kamu tidak boleh berbuat begitu!" ia memukul dada Baiken dengan tenaga yang bahkan ia sendiri pun tak menduganya. "Saya percaya Tuan memang buru-buru. dan itulah yang dilakukannya berulang-ulang. Disertai teriakan tak keruan. tapi waktu itu si kuda menyepak mereka berdua ke udara. "Anjing!" salak orang itu. "Aku tak mau. Inc. kujelaskan duduk perkaranya. Rasa takut akan terluka atau terbunuh oleh orang ini mendatangkan rasa asam dan kering dalam mulutnya.property of: CROSSFiRE. makin banyak Musashi punya waktu untuk lari. tapi. apakah jarak antara Musahi dan dirinya akan bertambah juga. Setelah pusing sebentar. Ujung dua jari tangan kanannya jatuh ke tanah. kemudian mundur dan menyepak dengan liarnya. kalian cuma seorang perempuan dan anak yang jalan sendiri. Jotaro yang mengetatkan cengkeramannya pada bulu tengkuk kuda itu tampak hanya sedikit lebih besar dari seekor kucu. tapi kuda itu memperdengarkan suara mengerikan. satu-satunya cara bertahan yang teringat olehnya adalah meludahi muka Baiken. Berhadapan dengan musuh yang lebih kuat daripada dirinya. ia berjuang untuk memperoleh kembali keseimbangannya. sambil berdiri pada kaki belakangnya. Sambil menggigit bibir dan kemudian menjerit. Tapi karena bingung ia lupa sama sekali akan senjata itu. Jotaro tetap menggeleng. tapi mata pedang. tetapi bagaimana mencegah orang jahat ini mengejar lebih cepat." ulang Jotaro. kami tak mau. hingga tidak melihat geletar tubuh mereka. Ia rasakan kedua tangannya terpilin sekilas dan darah hitam kemerahan menyembur ke wajahnya." "Aku tak mau turun. Otsu?" sela Jotaro. Sambil memegang tangan yang berdarah itu ia melompat mundur." "Awas kau! Sikapku sudah baik sekali. Karena sebagian pedang itu sudah keluar dari sarungnya. Baginya soalnya bukanlah kuda itu. kan?" Otsu ingin memeluk anak itu. "Mestinya kamu sudah tahu." katanya. berusaha mencengkeram pergelangan tangan Otsu. tangan Otsu guncang dan ia terhuyung ke depan. Ketika Baiken menghindar. justru pada waktu ia tahu bahwa setidak-tidaknya mereka berada di jalan yang sama. Tapi tiba-tiba ia melolong kesakitan. Baiken menjangkau sebelah kaki Jotaro dan menariknya turun. Tapi memang tak ada soal menyerah dan membiarkan orang itu mengambil kuda. Tapi senjata itu senjata besar berlempeng lebar. Tak peduli kamu terburu-buru atau tidak. Karena masih menghapus ludah dari wajahnya. ke arah orang itu. tapi kami juga buru-buru. Sambil mengutuk diri sendiri karena sikapnya yang tidak hati-hati. dan pada detik itulah tangan Otsu menangkap gagang pedangnya. Otsu kini tidak takut pada apa pun dan mengayunkan pedang itu ke samping.. Seperti dikatakan anak ini.

Ia tahu tak dapat menangkap binatang yang menggila itu. bukan soal. dan menyeret-nya dari ujung karang. mengitari sebuah rumah pertanian beratap lalang. dan lari ke Lembah Kaga. ke mata Baiken yang besar dan pedangnya yang berkilauan. memesan makan siang. Sesudah ia membenahi diri. Musashi akan mendahului kita ke Yasugawa. seorang samurai membangunkannva sebelum fajar. netcafe. sementara Jotaro terus bergayut kuat-kuat pada punggungnya dan darah mencurah di belakangnya. Ebook by Kang Zusi . menuju lembah di kejauhan. Baiken terhuyung-huyung di udara penuh debu. Tepat pada saat itu seorang begundalnya memanggil dari jalan. ia bisa menjadi umpan yang baik sekali. Ia merasakan dekatnya maut." Ketiga orang itu sebagian orang-orang yang ikut melakukan pencarian sia-sia malam sebelumya. Di situ tubuh itu berayun-ayun seperti bandul jam. Seorang perempuan tua yang membungkuk di balik mesin pemintal dalam rumah memandangnya ketakutan. "Tolol!" kata Baiken menghina. Kemudian tampak olehnya Otsu berlari kencang melintasi rumpun kriptomeria yang rimbun. Anehnya ia tidak takut. Otsu jatuh ke bawah dan berpegangan pada akar-akar sebatang pohon. menyerahkan diri kepada ruang terbuka di bawah. "Apa kerja Bapak di sana? Sebaiknya kita cepat-cepat. Kalau kita cepat-cepat ke Yasugawa. seakan terjebak oleh pandangan ganas Baiken. terpikir olehnya: tentunya ada hubungan antara perempuan ini dengan Musashi! Dan kalau ia teman Musashi. Setidaknya ia pasti tahu ke mana perginya Musashi. Semua jalan itu sampai Ishibe. Kelihatan bercak-bercak salju terakhir. tapi bukan itu yang dipikirkannya. Inc. mereka dapat menyerbu menuruni lereng dengan kecepatan gerombolan babi hutan. Karena terbiasa berjalan melintasi pegunungan. kita akan bisa menangkapnya di sana.property of: CROSSFiRE." Punggung Baiken membelakangi orang itu. Tapi dia pergi ke sana atau menyeberang Gunung Tsuchi ke Minakuchi. "Kau pikir kau bisa lolos sekarang?" Otsu menatap ke bawah. Orang tua di warung itu tadi bilang. memeriksa bawah lantai dan dalam gudangnya. dan sekali sergap ia mengambilnya kembali. "Hei!" raung Baiken. Sesaat kemudian ia melihat pedangnya di bawah sebatang pohon larch. Kapan saja ia mau. "Kalian bertiga turun sini!" "Ada apa?" "Turun sini cepat!" "Kalau kita buang waktu. sedangkan matanya terpancang pada Otsu yang meringkuk di depannya. mereka melihat Otsu. mengangkatnya. Pemimpin mereka cepat menjel