You are on page 1of 11

Butet Kertaradjasa: Berpotensi Mati Muda

Inilah Butet Kertaradjasa, salah satu seniman paling “rasional” yang dimiliki
Jogja. Silahkan, katanya, jika orang mau menilainya sebagai seniman yang
kompromistis. Karenanya, ia setengah mengutuk para seniman yang menjadikan
seni sebagai legitimasi untuk abai terhadap keluarga. Seniman jenis ini, katanya,
tak lebih dari egoisitis berlebihan yang mengharap semua orang memahami
dirinya, sementara dirinya tak mau memahami orang lain, termasuk keluarganya.

Bagi Butet, kesenian kurang lebih sama dengan profesi lainnya. Karenanya, ia
mesti dikelola dengan baik. Waktulah yang akan menjawab, seberapa besar
seorang seniman telah mengelola kesenian dengan baik, dari sektor estetika,
manajemen, dan kemanfaatan buat diri si seniman maupun orang lain.

Hasilnya, paling tidak Butet sudah merasa siap untuk mati, kapan pun Tuhan
berkehendak “mengambilnya”. Katanya, tanggung jawab sebagai manusia sudah
ia kerjakan semampunya. Di antaranya, memberi jaminan “kesejahteraan”
berupa asuransi, tanah dan rumah buat ketiga anaknya serta istrinya.

Maka, pada tiap menjelang tidur, doa Butet adalah, ia meminta maaf kepada
Tuhan untuk kesalahannya terhadap keluarga, handai taulan, dan juga kepada
Tuhan yang telah memeliharanya.

Keinginan Butet kini, adalah mati dalam situasi yang paling indah, yakni saat
dirinya tidur. Keinginan lainnya, ia tak ingin mati dalam keadaan sakit, berutang,
dan merepotkan keluarga yang ditinggalkan.
Lahir di Yogyakarta 21 November 1961. Anak ke 5 dari 7 bersaudara keluarga
seniman (pelukis dan koreographer) Bagong Kussudiardja. Isteri: Rulyani Isfihana
(Kutai, Kalimantan Timur). Anak: Giras Basuwondo (1981), Suci Senanti (1988),
Galuh Paskamagma (1994). Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-
1982), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (1982-1987, jebol di
tengah jalan).

Sebelum dikenal sebagai aktor teater, sejak 1978-1992 Butet pernah menjadi
sketser (penggambar vignet) dan penulis freelance untuk liputan masalah-
masalah sosial budaya untuk media-media lokal maupun nasional: KR, Bernas,
Kompas, Mutiara, Sinar Harapan, Hai, Merdeka, Topik, Zaman, dan lain-lain. Ia
juga aktif sebagai pelukis dan pengamat senirupa. Sampai sekarang masih
menulis esai budaya atau kolom (tentang masalah sosial budaya) di berbagai
media massa cetak nasional.

Teater, yang kemudian menjadi basis dia berkesenian, mulai ditekuni sejak 1978.
Ia antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-
1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik

Orde Tabung. Komunitas ini merupakan wadah pengembagan gagasan kreatif di bidang seni pertunjukan: musik dan teater. Raja Rimba Jadi Pawang. Buruk Muka Cermin Dijual. sutradara Teater Koma-Red) kemarin. sebetulnya sudah lama dikenalnya. Paling nggak.) Sekarang sudah ada pendelegasian tugas. Tergantung situasi mood. Sinden. Atau kalau saya dan teman-teman mood main monolog. Terakhir bersama Teater Koma. Kepada Jodhi Yudono dari Kompas Cyber Media. Proyek. Teater Paku (1994). di Kua Etnika saya sudah ada yang mewakili. Semua acaramu di Jakarta kebanyakan sudah terencana atau improvisasi? Improvisasi. jalan. Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Pasar Seret. Butet mengawalinya sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau. Juragan Abiyoso. Saya nggak punya plan misalnya tahun depan mau ngapain. Brigade Maling. Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994). Anda masih memenejeri Gandrik dan Kua Etnika? (Tahun 1995 Mendirikan Komunitas Seni Kua Etnika bersama Djaduk Ferianto. ya kita bikin. dan Guru Ngambeg. Upeti. Air Kehidupan sampai (1998). Tahun 1999. Khayangan Goyang. Butet menuturkan romantika hidupnya. Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung. mood saya atau moodnya Jadug. Tapi semua masih bermuara ke saya untuk hal-hal yang sifatnya krusial. sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). saya cocokkan waktunya. Isyu. Flu. pada Kamis (25/4/2002) lalu. kemudian Lidah Pingsan. Saya ngalir saja. Dhemit. Butet juga pernah terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing Pak Selatiban (1985). Jadi saya nggak punya plan jangka panjang. Mayat Terhormat. Pada aspek pengelolan organisasi. saya on the spot saja. di sebuah kafe di kawasan Blok M. Kalau mereka nggak bisa mengambil keputusan dan berhadapan dengan hal-hal yang sulit. dia pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak. Asisten Sutradara “Tajuk” (1996).(1985-sekarang). Butet terlibat dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). mereka masih berkonsultasi dengan saya. Tangis. Cintaku Terhalang Tembok (2001). Juru Kunci. Atau kalau tiba-tiba ada teman yang nawari untuk pentas panggung seperti Mas Nano (N Riantiarno. Benggol Maling. karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Ketulusan Kartika (1995). sebuah cabang kesenian dari seni teater. Purwanto dan Indra Tranggono. . Pensiunan. Mau nggak lu main. Kera- Kera. kalau misalnya saya ada mood dan waktu saya memungkinkan ya saya pentas bersama Gandrik. Iblis Nganggur. Untuk Monolog. Yogyakarta kemudian mencatat prestasi Butet yang pernah terpilih sebagai Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979.

Tapi akhirnya toh Anda dan Jadug yang kelihatan sangat dominan di dalam kelompok-kelompok itu ya? Ya begitulah yang terjadi. Kalau itu saya paksakan. Gandrik. terus di Galang (badan usaha berbentuk advertising) juga. dan itu sangat saya sayangkan. Senin sudah berangkat lagi. Frekwensinya lebih banyak ke luar kota. saya nggak mau. Susahnya pada saat dituntut kewajiban… pada saat kewajiban itu tidak imbang. Dari seringnya Anda meninggalkan rumah tidak problem buat keluarga? Karena sejak lama sudah terbiasa dengan mekanisme seperti ini. karena peluang itu kita berikan. Tapi maunya saya juga dorongan dari penulisnya. tidak bisa mempersamakan dorongan kebutuhan berkesenian secara kolektif. anak istriku itu . tapi pada saat hak mereka menuntut egalitarian. Susahnya mereka mendudukan saya dan Jadug dalam posisi itu. tapi konsentrasinya ke desain grafis. Galang sendiri pada perkembangannya bergerak di bidang apa saja? Awalnya periklanan. Sekarang penerbitan. atau dorongan kreatif saya. (Tahun 1996 Mendirikan Galang Communication. sebuah institusi periklanan dan studio grafis. Saya baru pulang lagi hari Kamis. April ini. Setelah itu bulan Mei saya full di Jogja kecuali hari Senin.Kedudukanmu sekarang? Ya tetap di manajemen Kua Etnika. sehingga mereka tergantung. percetakan dan yayasan. Tapi di Galang saya sudah menyatakan non aktif. penulisnya enggak. Artinya fair itu tahu peran. Saya tak ingin terjadi andaikan itu terlaksana hanya karena ambisi saya. untuk tahun ini Gandrik main. Monolog pun begitu. Tahun 1997 Mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif jender. Omong-omong dalam sebulan Anda kumpul sama keluarga berapa hari? Sejak Januari tahun ini sangat sedikit. Itu yang kadang sangat memprihatinkan pada saat kita berhubungan dengan sejumlah kepala yang tidak sama dalam menyikapi dunia kerja itu. kadang ketika dorongan saya semangat untuk tampil. nanti yang kalang kabut cuma saya sendiri. Ada saja hambatannya. saya hanya enam hari berada di rumah. tapi saya sudah mengambil jarak. saya nggak mau hanya dorongan saya saja sebagai pemain. Seharusnya mereka berada dalam semangat dan dinamika yang sama. Kua Etnika main? Maunya gitu. inginnya semuanya terencana tapi pada prakteknya ternyata nggak mungkin. tahu posisi. Prinsip organisasi egaliter yang saya bayangkan nanti tidak terwujud. komisaris saja. ternyata kita nggak bisa mempersamakan ambisi. Besok Jumat saya pulang.) Kelompok-kelompok kesenian yang melibatkan Anda itu punya schedule nggak. Kadang-kadang kalau mereka fair sih nggak masalah. Tapi memang sulit. Sinten Remen.

Sebab saya mengartikan bergaul itu juga sebagai kerja. Tapi memang sejak saya main di Teater Koma agak lama mereka saya tinggalkan. Waktu saya jadi wartawan juga sudah kulino sudah latihan mereka. Di hotel teman saya paling TV. mengakomodasinya. Butet pernah bekerja sebagai wartawan Tabloid Monitor) Ada nggak perasaan curiga atau cemburu dari istri karena seringnya Anda jauh dari keluarga? Mungkin ya ada. Kalau anak-anak? Kalau pas libur sekolah. saya harus memfasilitasi. waktu pulang saya itu menjadi hak mereka. LP3Y. kalau istri saya sedang mood dan ingin menyusul saya. prestasi Butet juga di atas wartawan biasa. Kangen nggak sama mereka kalau ada di luar kota? Kangen. Ada kosekwensi logis nggak buat keluarga dari risiko sering ditinggal pergi? Apa yang saya lakukan semua ini buat mereka juga. Tahun 1983 sebagai Juara Pertama Lomba Esai Tentang Wartawan. Sekolah tidak harus ranking-rankingan. Saya percaya. saya tidak akan marah. makan- makan. Karena saya tidak pernah mentargetkan apa pun kepada mereka. any time. Apalagi kalau sudah berada di hotel. Biasanya mereka minta oleh-oleh apa? Kalau anak sulung saya biasanya minta mentahannya saja. Karena saya dan istri saya hanya melakukan fungsi kontrol. bahwa anak-anak itu akan melakukan pilihan-pilihan yang tepat. Kalau saya pas pulang. nggak harus pinter-pinter banget. Termasuk kalau misalnya raport mereka merah. Saya tumbuhkan kemampuan menyeleksi tindakan-tindakannya sendiri. Di mana pun. Tahun 1986-1990. Kangen sekali. mencari oleh-oleh buat mereka. sebisanya saya pulang membawa oleh-oleh buat mereka. sudah ngerti dunia saya. Semua yang saya peroleh baik bersifat materi maupun non materi buat mereka. Ia pernah menjadi juara pertama Lomba Esai TIM (1982). sementara di hotel kan sepi. duit saja. karena saya mencoba meyakini kepada mereka bahwa apa pun yang terjadi merekalah yang menentukan.sudah kulino (terbiasa) saya tinggal. formal. semuanya diserahkan ke istri? Sekolahan. Paling telpon- telponan sama mereka. Untuk urusan pendidikan anak-anak. kadang mereka juga ikut. Saya terhibur kalau pas ketemu teman-teman. . pokoknya penuhi sajalah kewajiban-kewajiban itu sebaik mungkin. tapi komitmennya. Kewajiban saya hanya menandatangani raport. Mereka mau ngajak renang. (Ketika menjadi wartawan. Untungnya mereka mengikhlaskan dan masih mempercayai saya. dan saya harus konsekwen untuk bertanggungjawab sebagai seorang ayah.

Kalau kamu mau mendapatkan eksistensi. kan Anda laris sekali. Tapi ketika dia bilang begitu.. kamu jangan dekat-dekat saya. saya tidak ingin kalau memang anak saya mau jadi kameraman. dan kamu bisa melihatnya. Kalau yang sulung minatnya apa? Kalau si mbarep (sulung) ke teater. Anakku justru mendapatkan kepuasan karena tidak mendapat fasilitas dari saya. sekali waktu boleh. Saya sebagai penulis juga diakui. buku bacaan. Buat mereka berat. Dia saya suruh mencari. okelah lupakan soal kamera. fungsinya sebagai alat kontrol saja. Apalagi anak saya masuk ke wilayah teater. Terus dia bilang. nanti kalau ada duit sekali waktu saya belikan deh. boneka. Seperti saya dulu. saya tidak ingin menjadikan dia terlalu mudah mendapatkan kemudahan-kemudahan itu. saya akan usahakan secara maksimal. tapi karena konon seorang ayah juga harus mendidik. biola. Dia minta kamera tapi belum saya penuhi karena mahal. ada kesalahan. bukan karena katabeletje ayah saya. Saya main teater diakui juga karena jerih payah sendiri. Nomor tiga itu monolog. jangan sama saya. Maksud saya. supaya kamu juga dapat melihat bahwa bapakmu ini nggak sempurna. Nomor dua minatnya apa? Minatnya musik. Mahal gimana. pertanyaan saya kepada dia. Dia ikut teater Garasi. kamu akan menyangka bahwa aku ini pusat kebenaran. Sebab dengan mudah orang akan mengkait-kaitkan seakan- akan saya membonceng nama besar ayah saya. sampai dia ngotot memiliki kamera. mecari. itu akan saya penuhi. joged. anak perempuan. Hal yang sama sekarang terjadi juga pada anak-anak saya.Sudah beli oleh-oleh apa buat anak-anak? Anakku yang paling kecil banyak oleh-olehnya. Kalau kamu di sini. Anda ngajarin mereka? Nggak. Beberapa kali pementasan kan cukup Kalau sekedar memenuhi hasrat itu bisa. Sebab saya dulu harus bergulat untuk mendapatkan . Anda merasa punya beban juga sebagai putranya Pak Bagong waktu masih dalam proses mencari itu? Ya. jangan-jangan dia butuh kamera hanya untuk kebutuhan melegitimasi dalam pergaulan sosialnya. Kalau itu yang dia inginkan. Karena dia sudah kelas dua SMP. beban buat saya. Anak saya yang belajar teater justru saya suruh ke mana-mana. makanya saya selalu bilang. main drum. pantomim dan film independen. kamu harus belajar dengan orang lain. Ya saya suruh merenungi itu. apa kamu mau dihargai teman-teman kamu bukan karena prestasi? Tapi hanya karena kamera. saya malah berpikir. nyanyi. Anakku yang kedua minta dibeliin ponsel. Tapi karena dia ingin menjadi sutradara. dan itu pun pemberianku.

Kadang-kadang nulis. Okelah. acara-acara di berbagai perusahaan yang aneh- aneh itu. Kalau untuk Gandrik sendiri saya malah nggak berpikir soal honor. Pengetahuan saya di bidang marketing yang sedikit ya saya bagi dengan mereka. saya diundang sebuah perusahaan untuk memotivasi karyawan yang patah semangat karena krisis moneter. tahun 1998. tapi frekwensinya jadi lebih padat. Kedua. dia pernah berkata. Misalnya. moral. sambil guyon. Main teater tidak bisa diandalkan. kalaupun tidak berbentuk material. kalaupun saya berderma. Harga tanggapannya berbeda dong. Mengartikan moral obligation tidak sesederhana itu dan tidak harus seperti itu. bisanya siapa yang menulis skenarionya? Biasanya Agus Noor. Begitu saya manjakan fasilitas. ada sinetron. diajak main sinetron sama temen. Anda mulai booming itu pas momen apa ya? Pas Soeharto-Soehartoan itu. mestinya Butet sudah mulai berbagi dengan komunitas kesenian yang membesarkan dirinya. Sekarang ini “jualan” Anda apa saja? Macem-macem. Untuk monolog Anda. Kalau kepepet ya saya tulis sendiri. harus dipahami bahwa saya bukan sinterklas. Anda laku sekali setelah itu. Dan ketika saya tumbuh pun saya tidak mau dimanja seperti itu. Saya membangun basis ekonomi melalui Galang itu. pertama-tama bukan karena disuruh orang lain. untuk kebutuhan komunitas kesenian dan mereka yang membuat anda merasa “terpaksa”? Ya Pasti lebih tinggi untuk yang “aneh-aneh” itu? Jelas. dulu ada Indra Tranggono. Kedua. tiap hari ada yang mengundang Anda? Ya tidak setiap hari. apa tanggapan Anda? Pengertian berbagi seperti apa? Barangkali Anda jadi semacam maisenas buat kelompok-kelompok teater di Jogja Kalau toh saya melakukan itu. Tapi saya tahu maksudnya Indra adalah moral obligation. sebetulnya diam-diam saya sedang membunuh dia. Omong-omong soal Indra Tranggono. Saya tidak ingin melakukan itu. Sebelum momen itu Anda mengandalkan nafkah dari apa? Dari Galang. Aneh kan? Aku sendiri lupa apa yang aku omongkan. Maksudnya ketika orang di luar komunitas kesenian mengenal saya. saya tidak ingin memamerkan kedermawanan saya untuk diketahui orang lain.apa yang saya inginkan. . tapi intinya memotivasi semangat hidup. Berbagi pengalaman dengan mereka.

Apa Anda ada masalah dengan Indra Tranggono? Saya merasa tidak ada masalah dengan dia. Natal. dinamika kesenian sebagaimana dulu ketika saya tumbuh. Tergantung mereka mau mengolah akses itu apa tidak. Situasi kesenian di Jogja sendiri sekarang macam apa? Saya tidak melihat yang mengkhawatirkan kalau melihat semangat mereka. saya tidak bisa menerima sebuah pikiran memaksakan kehendak orang kepada diri saya. dalam semangat mereka. datang kepada saya dan kebetulan pada saat itu saya punya uang. . Saya tidak tahu masalah apa sebenarnya. tapi seharusnya tidak saya omongkan. tidak mau lagi membantu saya. Saya tidak pernah pelit memberikan akses saya yang saya peroleh kepada teman-teman. Bisa kumpul di rumah bapak biasanya pas momen apa? Ya kalau hari raya. tapi dia yang tidak mau saya dekati. lebaran. Tapi Indro sudah menyatakan tidak mau bekerjasama lagi dengan saya. apakah secara spesifik hanya ditujukan kepada saya? Apakah juga untuk mereka yang tumbuh dalam atmosfir kesenian Jogja? Kalau kita berpikirnya egaliter. pasti kumpul. Yang ke industri juga ada. Kalau tidak mengolah akses. Guyon-guyon. karena saya sering pergi. atau pas slametan ibuku. saya tidak pelit. Mereka yang berproses dengan kesungguhan masih ada. pembuat film independen. Itu moral obligation saya. termasuk Indra Tranggono sendiri. mencintai dia. Pertanyaanku. hubungan sesama anggota keluarga Bagong Koesudiardjo bagaimana? Baik. kemudian menerima hasil. Karena putra-putra Pak Bagong sebagian sibuk. Tapi artinya orang harus bekerja untuk mengolah akses. terpaksa saya omongkan karena saya ditanya. karena saya merasa tidak pernah punya masalah. itu masih berlangsung dengan wajar dalam format mereka. Artinya. kalau ada waktu saya sempatkan main ke rumah bapak. Sejak kapan “berpisah” dengan dia? Ya sejak tiga bulan ini. kepada sejumlah anak muda yang melakukan kegiatan.Moral obligation apa yang sudah Anda berikan kepada dunia kesenian? Dengan memberikan kemungkinan-kemungkinan akses yang saya punya untuk kepentingan grup-grup kesenian di Jogja. Masih ada sisa-sisa romantisme Anda sebagai anak Pak Bagong? O masih. tahun baru. Itu namanya tiran. Tapi dengan bapak saya lama nggak ketemu. Jadi kalau yang diistilahkan tadi berbagi. Saya tidak bisa memaksakan romatisme saya yang dulu kepada anak muda sekarang. karena dia juga teman saya sejak SMP. sedikit-sedikitnya saya menunjukkan konsen kepada mereka. entah teater. Orang tidak bisa hanya tidur. macam Anda dan Jadug. Mereka yang melakukan pencarian-pencarian kreatif juga masih ada. ya tidak akan mendapatkan apa-apa. secara fair itu harus diaplikasikan kepada siapa pun. siapa pun mereka. Tapi diam-diam. Saya sangat menyayangi dia.

dia main musik. Paling kalau di hotel ya cuma nonton TV dan baca. Keakraban yang egaliter itu sudah terjalin sejak kapan? Sejak dia mulai berkesenian. Sekarang sudah sibuk. Jadi saya tidak perlu sekretaris. atau bisa juga bikin proposal. Saya itu nasibnya tergantung ini (Butet mengambil sebuah buku agenda kecil dari saku celana). kacau aku. asal waktunya cocok. atau bikin karangan untuk acara. sangat akrab sekali. Nyawaku ada di sini. ya cuma diriku. Ini ilang. Dulu aku jadi manajer produksinya. padahal jadwal kegiatan Anda sudah penuh sampai September bagaimana? Sebetulnya setiap saat bisa. Jadug. Sekretarisku ya yang di kantong ini. ya harus menyesuaikan dengan waktu yang masih bolong-bolong belum terisi itu. Sebagai orang sibuk. Aku main teater dia sudah musikin saya. Dia ngendang itu sejak SD. dulu. karena saya punya biro iklan itu (Galang-Red). Jadi kalau ada orang mau memesan saya. Aku main teater. jarang. Tahun 77/78 dia masih pakai celana pendek. Untuk menjaga stamina. . Pernah ada masalah nggak dengan jadwal acara Anda yang padat karena nggak ada asisten? Nggak. jamu Anda apa? Doping saya pakai obat Cina. Seperti ini (menunjukkan agenda acara). Hubungan Anda dengan adik Anda. yang ada ya guyon saja. Mulainya karena Tempo dan Jakarta Post selalu memberi agenda kepada saya tiap akhir tahun. Browsing sudah nggak sempet. sampai bulan September ada sejumlah kegiatan yang harus saya tangani. perangkat kerja Anda apa? Laptop barangkali? Nggak ada. Kalau ada order ya bikin tulisan buat media. Kalau nggak ada pekerjaan kesenian. sekarang anak-anak sudah mempunyai kepercayan diri dan kemandirian. Pokoknya nggak ada omongan serius. Terus kalau ada orang yang tiba-tiba memesan Anda pentas. Apa. Sejak sebelum 1998 saya sudah mempunyai tradisi pakai agenda harian. Anda masih suka membantu? Ya. Kalau Pak Bagong punya kegiatan. Waktu anak-anak sih serius. ndak konangan (nanti ketahuan honornya). kegiatan anda apa? Paling-paling kalau di luar kota ya ke warnet. Buat ngecek surat-surat. beberapa media cetak suka ngirim souvenir. Nggak butuh asisten? Nggak.Biasanya apa yang diperbicangkan kalau kumpul di rumah Pak Bagong? Paling-paling cuma ngomong saru (jorok). Tapi itu jarang. ginseng cair yang di botol kecil. Kalau kepingin ngetik ya di warnet. Jadi saya punya kebiasaan mencatat apa yang akan saya lakukan.

Tiba di hotel kalau ngantuk langsung tidur. Karena kalau saya tidak lakukan itu. saya memberikan kesempatan dia mandiri secara ekonomi. Dan kalau saya tidak mati. kalau malam tongseng. Tapi sehari-hari obatnya ya tidur. kolesterolnya 400. jajan soto. Anak-anakku ya ke mal. hehehe Pacar punya nggak? Nggak Untuk pencerahan batin? Nggak. Istri Anda kegiatannya apa di rumah? Nanti pementasan Gandrik dia ikut. Kalau istri saya mandiri secara ekonomi.paling kalau mau pentas yang membutuhkan kegiatan fisik. memangnya Anda merasakan apa belakangan ini? Ya menyadari keterbatasan fisik saya yang sudah terjangkit macam-macam penyakit. Soal potensi mati muda. Biasanya istriku yang ngurusi. Menyeleweng nggak? Ya harus mengaku nggak. Saya tidak ingin kalau saya mati ngrepotin orang. Jamunya pakai telor ayam dan asam cuka. saya ikut memfasilitasi agar dia mandiri. Refreshingnya biasanya apa? Makan bersama anak-anak. Karenanya dia saya fasilitasi untuk bisnis itu. Padahal aku ada batasnya kan? Fisik bisa hancur. bisa sakit. Prinsipnya kalau ngantuk terus tidur. entah siang. bisa mati pula. sate Kletek. Kenapa saya dorong dia untuk mandiri? Karena saya merasa saya punya potensi mati muda. Sempat coba saya lakukan sampai sepuluh hari. diajak relasi-relasi. Kegiatan lain. . ada kolesterol. makan malam bersama mereka. cukup istri saya Karena sering makan enak. nggak boleh ditunda. dia bisnis kecil-kecilan. soto Pak Slamet. hasilnya efektif. Pernah kadar gulaku sampai 400. Kalau refreshing ketika di luar rumah apa? Seperti di luar kota ini? Ya ketemu teman-teman. Dokter menyarankan saya supaya diet keras dan olahraga keras sampai mengeluarkan keringat. sedang di dalam taksi. Punya tempat favorit kalau ngajak makan anak-anak? Soto Kaditiro. mereka itu seneng nraktir aku. ada gula. tongseng Tamansari. punya pengalaman melakukan usaha. relatif amanlah. diabet dan kolesterol. ke kafe. secara ekonomi istriku dan anak-anakku tergantung pada aku semua. sudah mulai ada keluhan? Ada. Tapi kalau di luar kota begini jadi kacau nih acara jamu-jamuan.

tidak untuk saya. pada saat mereka membangun atau rumah selesai. saya ya ge-er merasa sedang berjuang untuk perusahaan itu sambil menghibur. jebol di tengah jalan). agar Tuhan memaafkan kesalahan saya kepada teman-teman saya. Suci Senanti (1988). Ketika saya berkesenian. Saya membeli tanah. mati nggak ngerepotin orang lain. udah deket nih matiku. Institut Seni Indonesia (1982-1987. Kegiatan: Tahun 1985 sampai kini. aku bilang sama istriku. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Dia itu ingin memfasilitasi anak-anaknya dalam hal sandang. tapi untuk anak saya. Sekarang rumahku sudah memasuki tahap finishing. Galuh Paskamagma (1994) Pendidikan: Sekolah Menengah Seni Rupa (1978-1982). tapi ketika orang mengundang saya untuk memotivasi karyawan. itu mati. Kalimantan Timur) Anak: Giras Basuwondo (1981). Karena perasaan saya besoknya ketika bangun tidur saya akan mati. pangan. saya ya ge-er merasa diri saya seniman. Untuk cadangan hari tua. bahkan setiap mau tidur doa saya kepada Tuhan adalah. Bersama Teater Gandrik berpentas di beberapa kota di Indonesia. Sampai sekarang menekuni teater dan pertunjukan monolog sebagai media berekspresi. Sudah melihat tanda-tandanya? Ini kebetulan saya sedang membuat rumah. Jadi ketika saya memutuskan membuat rumah. Itu mati yang indah buat saya. keluarga saya. aktif di Teater Gandrik sebagai pemain dan organisator produksi. aku ge-er ini aku bisa mati. saya ge-er bahwa diri saya sedang jadi seorang entertainer. tergantung kebutuhan dan situasi. Teman-temanku.Anda siap mati kapan saja? Ya. Mati tanpa siksa. meskipun saya sekarang merenovasi rumah itu. termasuk mewakili Indonesia dalam Second . dibuatkan rumah. sekarang saya sudah membeli tanah untuk anak-anak saya dalam ukuran yang pantas. Tergantung konteknya. Saya dibelikan tanah oleh bapak saya. Cita-citaku kan mati tanpa sakit. apa yang sudah Anda perbuat buat masa depan anak- anak? Saya meniru ayah saya. sekitar 200 m2. aku bisa mati ini. papan. kepada perilaku-perilakuku. *** Nama: Butet Kertaradjasa Lahir: Yogyakarta 21 November 1961 Ayah: Bagong Kussudiardja Isteri: Rulyani Isfihana (Kutai. Ketika orang mengundang saya untuk mengisi acara agar publik tertawa karena mereka sedang sedih. Menirukan gaya bicara orang masih suka dipakai di panggung? Kadang masih.

Isyu. Sanggarbambu (1978-1981). di Singapura. Repro Kompas Cyber Media) . Dan mementaskan lakon yang sama di Kuala Lumpur. Kera-Kera. dalam pementasan lakon Republik Bagong (2001). Terlibat di Sinetron untuk judul-judul seperti Kucing Pak Selatiban (1985). Proyek. mulai ditekuni sejak 1978. TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia). Sinden. Mayat Terhormat. Tahun 1991 menjadi Redaktur (Budaya) Tamu di Bernas. Juragan Abiyoso. Flu. Terakhir bersama Teater Koma. Benggol Maling. Melbourne. Teater Dinasti (1982-1985). Pensiunan. Pasar Seret. Australia (1999). Raja Rimba Jadi Pawang. Ketulusan Kartika (1995). karena perannya sebagai Pak Raden di film Petualangan Sherina. Orde Tabung. dan Guru Ngambeg. Air Kehidupan sampai (1998). Teater Paku (1994). Asisten Sutradara “Tajuk” (1996).ASEAN Theatre Festival (1990). Teater SSRI (1978-1981). Untuk Monolog. Buruk Muka Cermin Dijual. Tangis. Tahun 1999. mendukung pementasan “Brigade Maling” Teater Gandrik di Monash University. Teater Gandrik (1985- sekarang). Upeti. Teater. Dhemit. pernah menjadi figur yang paling dibenci oleh anak-anak. Penghargaan: Aktor Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-2 pada tahun 1979. Brigade Maling. Khayangan Goyang. diawali sejak tahun 1986 lewat judul Racun Tembakau. sebagai Aktor dan Sutradara Terbaik Festival Teater SLTA se DIY ke-4 (1981). Cintaku Terhalang Tembok (2001). Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Juru Kunci. membawakan lakon “Dhemit”. Malaysia. Antara lain pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977). kemudian Lidah Pingsan. Tahun 1999 dinobatkan sebagai “TOKOH SENI” oleh PWI Cabang Yogya dan tahun 2000 memperoleh “PENGHARGAAN SENI” dari Pemda DIY. Iblis Nganggur. Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994). Puluhan repertoar teater yang pernah diikuti di Teater Gandrik antara lain Kesandung.