WALISONGO

Oleh: M. Syafi'i WS al-Lamunjani (2008)

A. PENDAHULUAN Perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa tidak lepas dari peran Walisongo yang dipelopori Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara yang digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Peranan Mereka dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung yang membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut di bandingkan yang lain Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-KudusMuria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Makalah ini akan membahas tentang: Pengertian Walisongo, Asal-usul Walisongo, Kiprah Walisongo dalam Dakwah, Peradaban dan Kebudayaan Islam.

B. PENGERTIAN WALISONGO Perkataan wali sendiri berasal dari bahasa Arab. Wala atau waliya yang berarti qaraba yaitu dekat1. Sedangkan al-Qusyairi mengatakan, arti wali terdapat dua kemungkinan arti. Pertama, mengikuti wazan fa’iil sebagai bentuk mubalaghah seperti ‘aliim, qadiir dan lainnya. Dengan demikian, arti wali adalah orang selalu ta’at pada Allah. Kedua, mengikuti wazan fa’iil yang diperbolehkan mempunyai arti wazan maf’ul, seperti qatiil mempunyai arti maqtul. Dengan demikian arti wali adalah orang yang dijadikan wali (kekasih) oleh Allah.2
Louis Ma’luf, 1998, al-Munjid fi al-Lughah (Bairut: Dar al-Masyriq), hal. 1061 Abu Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, 1998, al-Risalah al-Qusyairiyah, alih bahasa: Umar Faruq, Sumber Kajian Ilmu Tasawwuf (Jakarta: Pustaka Amani) hal. 534
2 1

Jadi pengertian wali adalah orang yang dekat dengan Allah dan selalu taat pada-Nya, dia dikasihi dan dipelihara oleh Allah agar konsisten dan terus menerus taat kepada-Nya. Allah tidak menjadikannya terperangkap dalam maksiat tapi justru selalu memberikan pertolongan dan dengan keimanan dan ketaqwaan dia tidak merasa berkeluh kesah dalam segala hal. Akan tetapi dalam pemahaman Jawa yang berkembang selain definisi di atas, perkataan wali merupakan sebutan bagi orang yang keramat, sakti mandraguna yang mempunyai kekuatan yang berilmu tinggi. Karena mereka dipandang sebagai orang dekat dengan Allah dan dikasihiNya.3 Selanjutnya, kata songo menunjukkan angka hitungan Jawa yang berarti sembilan. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata songo berasal dari kata tsana yang diambil dari bahasa Arab, tsana (mulia) sepadan dengan mahmud (terpuji), sehingga pengucapan yang benar adalah Walisana, yang berarti wali-wali terpuji. Pendapat ini didukung oleh sebuah kitab Walisana. 4 Widji yang mengutip pendapat Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem yang lebih cenderung pada sembilan wali mengatakan, ada arti dan falsafah yang tekandung dalam sembilan (songo) bagi masyarakat Jawa. Bilangan sembilan bisa memecahkan masalah, sebab para wali memang juga sering berbeda pendapat. Dengan mengadakan rapat di Demak perbedaan pendapat tersebut bisa dipecahkan5 oleh para wali yang datang dari sembilan arah. Pendapat ini juga dikuatkan dengan rasionalisasi yang merujuk pada perhitungan abjadiyah (a ba ja dun ha wa zun dan seterusnya). Kata sembilan menurut rasionalisasi terebut memang sepadan dengan kata Jawa, yang mana Ja memiliki nilai tiga dan Wa memiliki nilai enam (Ja/3+Wa/6=9). Kebanyakan pakar juga sepakat, bahwa secara umum Walisongo merupakan kumpulan dakwah ulama yang bertujuan menegakkan agama Allah. Sedangkan jumlah mereka ada sembilan ulama’ pejuang yang tersohor dalam pengembangan Islam. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim (w.1419 M), Sunan Ampel (lhr.1401 M dan w.1481 M), Sunan Giri (w.1506 M), Sunan Bonang (lhr.1465 M dan w.1525 M), Sunan Kalijaga (lhr.1430 M), Sunan Gunung Jati
3 4

Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa (Bandung: Mizan), hal. 18 Ibid. 5 Ibid., hal. 20-21

(lhr.1448 M dan w.1570 M), Sunan Kudus(w.1550 M), Sunan Muria (w. abad 16) serta Sunan Derajat (lhr.1470 M dan w.1522 M).

C. ASAL-USUL DAN PENDIDIKAN WALISONGO Sangat penting untuk menelusuri asal-usul dan pendidikan para wali ini; pemahaman terhadap orang tua, keluarga dan guru-guru mereka. Dengan demikian akan banyak membantu bagi penyelidikan lebih lanjut tentang keislaman di Indonesia.6 Bagaimanapun juga mereka memiliki andil besar dalam menamkan bibit keislaman di Jawa dan Nusantara, yang kemudian terus berkembung sampai menjadi Islam seperti sekarang ini. Keahlian mereka tidak tentu saja bukan sembarangan, namun secara tekun dan mendalam dalam belajar dari guru-guru kenamaan dan memiliki ilmu yang luas. Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid, atau ikatan mertua-menantu. Dari merekalah peradaban dan kebudayaan Islam berkembang pesat ke seluruh nusantara, khususnya wilayah Timur Nusantara. Berikut ini akan disampaikan sekilas tentang asal-usul dan pendidikan walisongo; pemahaman terhadap orang tua, keluarga dan pendidikan mereka

1. Sunan Maulana Malik Ibrahim Di kalangan Walisongo, Maulana Malik Ibrahim disebut-sebut sebagai wali tersenior alias wali pertama. Putra beliau yang terkenal adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Beliau datang ke Indonesia pada tahun 1379 M. untuk syiar Islam dan wafat pada tahun 1419 M, kuburannya terletak di Gapura Wetan Gresik, Jawa Timur. Nama Maulana Malik Ibrahim juga disebut-sebut sebagai Maulana Maghribi, Syekh Magribi dan Sunan Gresik.7 Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara (ipar) dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, yang juga sekaligus kakek buyut
6 7

Woerjanigrat, t.t, Etika Jawa (Surakarta: DP2KJ), hal. 26 Budiono Hadi Sutrisno, 2007, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa (Yogyakarta: Graha Pustaka), hal. 17

para wali. Ibrahim adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.8 Sedangkan pendidikannya ditempuh dari ayahnya sendiri dan juga para ulama’ di Persia dan Samarkand. Sejak tahun 1379 Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa selama tiga belas tahun. Beliau menikahi putri Raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Gresik Jawa.9 Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah kecamatan Manyar.

2. Sunan Ampel Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana beliau lama bermukim, yaitu di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya. Ia adalah putera tertua Sunan Maulana Malik Ibrahim yang lahir di Campa pada 1401 M. Pada masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia menikah dengan Nyai Ageng Gede Manila (Putri Adipati Tuban) kemudian menetap di Ampel Denta. Putra beliau adalah: a) Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), b) Syarifuddin (Sunan Derajat), c)Putri Nyai Ageng Maloka, dan e) Dewi Sarah (istri Sunan Kali Jaga).10 Menurut beberapa sumber, Sunan Ampel mendapatkan pendidikan dari Syaikh Maulana Asmarakandi. Dengan demikian ia menganut paham sunni, baik dalam bidang syariat ataupun dalam bidang tasawwuf.11 Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang.12 Ia di Palembang selama dua bulan kemudian berlayar ke majapahit (dalam rangka berdakwah dan silaturrahmi pada bibinya). Setelah dari Majapahit ia menetap di Ampel
8 9

http://www.pakdenono.com. 2 mei 2008 Ibid. 10 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa, hal. 25 11 Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 68 12 http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008

Denta. Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M dalam keadaan sujud13 dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Giri Sunan Giri memiliki nama kecil Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh seorang janda kaya raya, nyai Gedeh Pinatih. Menjelang dewasa beliau berguru pada Sunan Ampel. Ada juga yang menyebutnyaRaden Paku, gelar yang deberikan oleh Sunan Ampel. Ia juga mendapatkan gelar Ainul Yakin, karena ia sudah sampai pada tingkat ilmu ladunni. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi). Ayahnya adalah Syekh Ya’qub bin Maulana Ishak.14 Ibunya bernama Sekardadu, putri raja Blambangan, Prabu Minak Sembayu.15 Beliau wafat pada tahun 1506 M,16 dalam usia 63 tahun. Selain menuntut ilmu di Ampel, tempat dimana Raden Fatah, Sunan Bonang dan Sunan Derajat belajar beliau juga berkelana ke Pasai, yang ketika itu tempat berkembangnya ilmu keimanan dan tasawwuf.17 Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.18 Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

13

Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa, hal. 45

14 15

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 35 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 91 16 TIM UIN Syarif Hidayatullah, 2005, Ensiklopedi Islam (Jakrata: Ichtiar Baru Van Hoeve) hal. 249 17 Ibid. 18 http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008

4. Sunan Bonang Sunan Bonang diperkirakan lahir pada tahun 1465 M dan wafat pada tahun 1525.19 Beliau anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama lain Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim. Ia lahir dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang Adipati Tuban sekaligus saudara sepupu sunan Kalijaga. Selain belajar pada ayahnya, Sunan Bonang juga mempalajari Islam di Pasai, Aceh. Di sana ia belajar pada Syekh Awwalul Islam (Maulana Ishak). Bersama dengan Sunan Giri, beliau juga banyak belajar pada sejumlah ulama’ besar di Pasai.20 Kemudian ia mendirikan pesantren di Tuban. Santri-santri yang menjadi meridnya berdatangan dari berbagai daerah Nusantara.21 Sunan bonang wafat di Pulau Bawehan pada tahun 1525 M. Ada perebutan mayat Sunan Bonang antara warga Bawehan dan Tuban. Warga Bawehan menginginkan Sunan Bonang dimakamkan di Bawehan, akan tetapi warga Tuban tidak terima. Akhirnya para santri Bonang Tuban mencuri mayat Sunan Bonang. Anehnya janazah Sunan Bonang masih ada, walaupun sudah dibawah oleh para santri bonang. Karenanya sampai kini diyakini, bahwa makam Sunan Bonang ada dua, satu di Pulau Bawehan dan satunya di barat Masjid Agung Tuban.22 Sunan Bonang adalah wali yang sangat berjasa yang mengubah jalan hidup Raden Syahid (Sunan Kalijaga) dari lingkungan hidup yang salah menuju jalan yang benar. Sehingga Raden Syahid yang semula terkenal sebagai penjahat besar, dinobatkan menjadi wali yang sangat masyhur.

5. Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga sangat terkenal di kalangan masyarakat. Ini disebabkan karena ia adalah wali berjiwa besar, memasyarakat, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek, sakti mandraguna. Di samping itu ia juga sebagai pengasuh para raja dan terkenal sebagai budayawan yang santun dan seniman wayang yang hebat. Nama aslinya adalah Raden Syahid. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi
19

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 29-30

20 21

Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 50 TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal. 248 22 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 68

menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.23 Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (keturunana Ranggalawe) yang menjadi Adipati Tuban, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawang Rum. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1430-an. Ini dihitung dari pernikahannya dengan putri sunan Ampel. Ketika itu ia berumur kurang lebih 20 tahun sedangkan Suanan Ampel berumur kurang lebih 50 tahun,24 dan wafatnya tidak diketahui secara jelas kecuali ia dimakamkan di Kadilangu dekat Demak. Ia mengalami zaman Demak, Pajang bahkan sampai awal Zaman Mataram (dibawah pimpinan Panembahan Senopati).25 Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 150 tahun. Selain menikah dengan anak Sunan Ampel, Sunan Kalijaga juga menikah dengan Retna Siti Jenab, saudara perempuan Sunan Gunung Jati. Dari perkawinan ini lahirlah Pangeran Pengging yang menganut ajaran Siti Jenar.26 Adapun pendidikannya, mula-mula berguru pada Sunan Bonang. Disebutkan dalam lieteratur Jawa, ia juga berguru pada para wali di Jawa dan juga para ulama’ luar Jawa, seperti Syaikh Sutabris di Pulau Upih (Malaka) dan Dara Petak di Palembang, sehingga ia dikenal sebagai wali yang sangat pandai dan tersohor.27 Bahkan Tanojo mengatakan, ia juga berguru pada Nabi Hidhir.28 Bisa dikatakan, bahwa Sunan Kalijaga adalah wali yang paling panjang umurnya dan terpopuler di tanah Jawa. Ini terbukti dari anggapan masyarakat yang hingga kini masih berkembang, bahwa dialah wali pelindung kerajaan Surakarata dan Yogyakarta. Bahkan orang Jawa menganggap sebagai guru agung dan suci.

6. Sunan Derajat Sunan Derajat lahir pada tahun 1470 M. Nama aslinya adalah Raden Qasim atau Syarifuddin. Ia adalah anak Sunan Ampel dari istri Dewi Candarwati (Nyai Ageng Manila). Ia mempunyai enam saudara seayah dan seibu, diantaranya Raden Maulana Malik Ibrahim (Sunan
23 24

http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 175

25 26

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 31 Ibid., hal. 33 27 Ibid., hal. 70 28 Tanojo, t.t, Wala Sanga; Babad Djati (Surabaya: Trimurti), hal. 94

Bonang). Di samping itu ia mempunyai saudara seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah (istri Raden Fattah) dan Dewi Muratsimah (istri Sunan Giri). Istri beliau adalah putri Sunan Gunung Jati.29 Dalam beberapa naskah sejarah, ia menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Derajat beliau menikah dengan Ratna Ayu Candra sekar, putri Adipati Kediri Raden Surya dilaga. Menurut Babad Cirebo, istri yang pertama adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati.30 Raden Qasim menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya untuk belajar di kampung halamannya di Ampel denta. Setelah dewasa beliau mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik melalui laut. Namun perahunya pecah dan terdampar di Dusun Jelak, pesisir Banjarwati atau Lamongan. Sunan Derajat disambut oleh Mbah Mayang Madu. Ini terjadi pada tahun 1485 M. Ia kemudian menetap di jelak dan menikah dengan kemuning, putri Mbah Mayang Madu . Disinilah ia mendirikan pesantren tempat mengaji ratusan penduduk. Selang tiga tahun ia pindah keselatan, sekitar satu kilu meter dari jelak, ketempat yang lebih tinggi agar terbebas dari banjir. Namun ia masih menganggap tempat ini belum strategis sebagai pusat dakwah islam. Atas petunjuk Sunan Giri, beliau menempati sisi perbukitan selatan, yang dinamai Dalem duwer. Ia menghabiskan sisa hidupnya disini hingga wafat pada tahun 1522.31 Dalam Ensiklopedi Islam dikatakan, bahwa Sunan Drajat meninggal di sedayu Gresik dan dimakamkan di sana. Akan tetapi menurut hemat penulis, ia wafat di Dalem Duwer Lamongan, sebagaimana yang dikatakan oleh Budiono.

7. Sunan Kudus Nama kecilnya Jakfar Shadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung. Kadangkadang ia dipanggil Raden Amir Haji. Ia adalah putra Raden Usman Haji yang menyiarkan Islam didaerah Cipang Pancolan, Blora. Ia juga masih mempunyai hubungan keturunan Rasulullah. Ia wafat pada tahun 1550 M
32

dan dimakamkan di Kudus. Raden Usman Haji adalah Sunan

29 30

TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal. 250 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 75 Ibid., hal.72-73 TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal..251

31 32

ngudung bin Khalifah kusen bin Maulana Ishaq. Dalam kitab Walisana disebutkan bahwa ia adalah cucu Maulana Ishaq, sebagaimana Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri.33 Pendidikan Sunan Qudus diperoleh dari ayahnya dan juga para ulama’ di Nusantara. Diriwayatkan, ia juga pernah berguru pada Sunan Kalijaga. Ia mendapatkan gelar Sunan Qudus, karena memilih tinggal di Qudus dan menyebarkan agama di sana. Ia adalah seorang yang gagah berani, sifat yang harus dimiliki oleh seorang panglima perang. Terbukti antara lain, ia menggantikan ayahnya yang terbunuh ketika menjabat sebagai panglima perang. Ia memiliki keahlian khusus dalam bidang ilmu agama, terutama dalam ilmu fiqih, usul fiqih, tauhid, hadits, tafsir dan logika. Karena itulah ia mendapatkan gelar waliyyul ‘ilmi.34

8. Sunan Muria Nama aslinya adalah Raden Umar Said, sedangkan nama kecilnya adalah Raden Purwoto. Namun ia lebih dikenal dengan Sunan Muria, karena pusat kegiatan da’wahnya dan makamnya terletak di gunung Muria (18 km di sebelah utara Kudus sekarang). Ia hidup pada abad 15-1635 Ia adalah putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah. Berdasarkan penelusuran A.M Noertjahja dan solihin, pernikahan Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah mempunyai tiga anak, yakni Sunan Muria, Dewi Rukyah dan Dewi Sofiyah.36 Sedangkan Slamet Mujiano mengatakan bahwa ayah Sunan Muria adalah Kapitan Tiongha Gan Sie Cang. Tetapi mayoritas ahli Sejarah. Berpendapat ia adalah putra Sunan Kalijaga. Di samping belajar pada ulama’ di Jawa, ia juga banyak menimba ilmu pada ayahnya. Yang demikian dapat dilihat dari Gaya dakwah Sunan Muria banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka berdakwah bagi kaum rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan yang jauh dari pusat kota dalam menyebarkan agama Islam.37

33 34

Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 34 Ibid.

35 36

Ibid. Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 135 37 Ibid., hal. 136

9. Sunan Gunung Jati Nama lainnnya adalah Syarif Hidayatullah, Fatahillah, Falatehan, Said Kamil dan Maulana Syekh Makdum Rahmatullah.38 Lahir (di Pasai) pada tahun 1448 M dan wafat pada tahun 1570 M. Ia adalah pendiri Kesultananan Cirebon dan kemudian juga Banten. Melalui tangan raja-raja Banten inilah Pajajajaran ditaklukan. Sunan Gunung Jati mendapatkan Gelar Raja Pandita, karena kedudukannya sebagai raja sekaligus ulama’. 39 Asal-usul Sunan Gunung Jati bisa dikatakan simpang siur. Dalam sejarah Banten disebutkan bahwa kehadirannya bukanlah menurut garis tabiat. Ia ditemukan oleh penduduk Pasai di dasar laut, ini semua karena didasarkan oleh sebuah mimpi. Untuk kepentingan pendidikannya, ia hijrah ke Cirebon dan akhirnya menetap di sana. Ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah putra seorang Pembesar dari Arab dan ibunya putri Raja Pajajaran.40 Akan tetapi dalam catatan Menurut Sunan Giri II dalam karyanya Wali Sana, sebagaimana yang dikutip oleh Widji, ia adalah Syaikh Zayn bin Sayyid Es Raden Suta Maharja bin Syekh Maulana Ishaq.41 Kemungkinan pendapat yang mengatakan, bahwa ia adalah putra seorang Pembesar dari Arab dan ibunya putri Raja Pajajaran ada tendensi membelokkan perhatian tentang cerita ini, karena disebabkan oleh keabsahan hak Tahta Sunan Gunung Jati Sebagai Raja di Cirebon. Dalam pendidikan ia belajar pada Maulana Ishak di Pasai. Dan pernah bermukim di Makkah kurang lebih tiga tahun untuk belajar ilmu agama.42 Ia dikenal menguasai ilmu yang terkandung dalam kitab Syaikh Arki (Kumpulan syair-syair al-Iraqi).

Skema Silsilah Walisongo Dari hasil pengamatan dari beberapa literatur, penulis menyimpulkan asal-usul walisongo yang tertera dalam skema sebagai berikut:

38 39

Ibid., hal. 159. TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal..252 40 http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008
41 42

Ibid., hal. 37 Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa, hal.

Syaikh Maulana Ishak*

Sunan Maulana Malik Ibrahim (w.1419 M)

Syaikh Ya’Qub

Sayyid Es

Khalif Kusen

Sunan Ampel (lhr.1401 M dan w.1481 M)

R. Usman Haji (Sunan Ngudung )

Sunan Giri Sunan Gunung Jati Sunan Qudus Sunan Bonang Sunan Derajat (w.1506 M) (lhr.1448 M dan w.1570 M) (w.1550 M) (lhr.1465 M. w.1525 M) (lhr.1470 M dan w.1522 M)

Sunan Kalijaga** (lhr. Pertengahan abad XV)

Sunan Muria (lhr. Awal abad XVI) * Syaikh Maulana Ishak menikah dengan adik Sunan Maulana Malik Ibrahim ** Hububungan Sunan Kalijaga dengan Sunan Ampel adalah mertua. Begitu juga dengan Sunan Gunung Jati adalah mertuanya. Sedangkan Sonan Bonang Adalah Gurunya.

D. KIPRAH WALISONGO DALAM DAKWAH, PERADABAN DAN KEBUDAYAAN ISLAM Walisongo adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, peradaban, kebudayaan, kesenian dan kemasyarakatan hingga pemerintahan. Mereka telah berhasil merubah era Budha-Hindu yang telah memegang peranan penting belasan abad di atas panggung sejarah dan kebudayaan Indonesia. Corak pemikiran dan praktik tasawwuf mereka adalah tasawwuf sunni al-Ghazali. Para wali sering menjadikan karya-karya Imam Ghazali sebagai landasan dasar pengajaran mereka.43 Kecuali Sunan Gunung Jati yang disebut-sebut sebagai Syi’ah Zaidiyah.44 Salah satu keunggulan mereka adalah keteladanan dalam menyebarkan Islam. Keunggulan yang lain boleh jadi karena kekuatan supranatural dalam sepak terjang mereka, sehingga apabila mereka berdo’a dikabulkan Allah.45

43 44

Muhammad Shalihin, 2005, Melacak Pemikiran Tasawwuf (Jakarta: RajaGrafindo Persada), hal. 131 Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa, hal. 231

1. Maulana Malik Ibrahim Di Campa pada tahun 1379 M. Sunan Malik mencoba membujuk Prabu Kiyan Raja Campa untuk masuk agama Islam. Raja menuruti ajakan Sunan karena pada saat itu di Campa juga sudah banyak yang memeluk Islam. Raja Campa memiliki dua putri dan satu putra. Putri pertama menikah dengan Prabu Brawijaya Majapahit sedangkan putri yang kedua Ratna Diyah Siti Asmara dinikahkan dengan Sunan Malik Ibrahim.46 Pada tahun 1392 M. Sunan Malik berdakwah ke Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Sunan Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Ia juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah-kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Kemudian Maulana Malik Ibrahim merasa perlu mendirikan bangunan untuk menimba ilmu bersama. Model seperti inilah kemudian dikenal sebagai pesantren. Dalam menagajarkan ilmu, Sunan Malik mempunyai kebiasaan khas dengan meletakkan kitabnya di atas bantal. Karena itu dia kemudian dijuluki kakek bantal.47 Meskipun pengikutnya sudah banyak, namun Sunan Malik belum merasa puas kalau belum bisa mengislamkan Raja Majapahit. Pada waktu itu Gresik di bawah kekuasaan Majapahit dan rakyatnya beragama Hindu-Budha. Ia sangat paham kultur Jawa yang selalu merujuk keteladanan dan prilaku Raja. Karena itu mengislamkan Raja merupakan aktivitas dakwah yang strategis.48 Dalam usaha mengislamkan Raja ini gagal, namun Sunan Malik tidak patah hati dengan kegagalan misi tersebut. Ia terus menjalankan misi dakwahnya hingga wafat pada tahun 1419 M.49 Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur. 2. Sunan Ampel Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang
45 46

Alwi Shihab, 2001, Islam Sufistik (Bandung: Mizan), hal. 39 Tanojo, t.t., Suluk Wali Songo (Surabaya: Trimurti), hal. 6 47 Muhammad Rahimsyah, 2002, Sejarah Lengkap Wali Songo (Surabaya: Amanah), hal. 16 48 Ibid, hal. 17 49 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 22

menunjuk muridnya Raden Fatah, putra dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Beliau juga berperan aktif dalam mendirikan masjid Demak pada tahun 1479 M. Sepeninggal Sunan Maualana Malik Ibrahim, ia dianggkat menjadi sesepuh para Wali. Sunan Ampel mengajak Prabu Angkawijaya Raja Majapahit untuk masuk Islam, akan tetapi ia menolak untuk memeluk agama Islam. Meskipun demikian, dengan hormat Raja memberi hadiah tanah di Ampel pada Sunan Ampel dan 300 keluarga untuk menemani bermukim di sana.50 Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya dengan membagi-bagikan kipas pada penduduk. Mereka cukup mengucapkan syahadat untuk mengambilnya.51 Di Ampel Denta ia membangun masjid dan pondok pesantren mengikuti jejak ayahnya. Format pesantrennya mirip dengan kosep biara yang sudah dikenal di Jawa. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentral pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Fatah. Para santrinya kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel juga dikenal masyarakat memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menenamkan akidah syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata “shalat” diganti dengan “sembahyang” (asalnya sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai mushalla tapi langgar mirip ka sanggar. Penuntut ilmu disebut santri berasal dari shatri (orang yang tahu buku suci agama hindu.52 Pada para santrinya, ia menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Ajarannya yang terkenal adalah falsafah "Mo Limo", maksudnya moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon (tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan nyandu, dan tidak berzina).53 Beliau memeang terkenal sebagai orator ulung, di antara nasihatnya yang sangat berharga yaitu: Yen siro kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, ojo siro malah rumangso pinter jalaran menowo Gusti mundut bali ngelmu kang marakake siro kaloka iku, siro ugo banjur koyo wong sejene, malah biso aji godhong jati aking (jika engkau memiliki ilmu yang menyebabkan banyak orang suka padamu, janganlah engkau merasa paling pandai. Sebab kalu Tuhan mengambil kembali ilmu yang menyebabkan engkau tersohor itu, maka engkau
50 51

Ibid., hal. 31 Asrari S. Karni, 2001, Menebar Islam Ditopang Mahapahit (Surabaya: Gatra), hal. 28 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 28 http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008

52 53

menjadi tidak berbeda seperti yang lain. Bahkan nilainya menjadi di bawah nilai jati yang sudah kering. Sing sopo gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luweh gedhe ketimbang opo kang wis ditindakake (Barang siapa yang membuat senag orang lain, ia akan mendapatkan balasan yang lebih banyak daripada yang ia lakukan.54 Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi dalam berdakwah. Ini terbukti dari anak kandungnya dan para santrinya menjadi para tokoh Islam yang terkemuka. Merekalah nanti yang meneruskan perjuangan dakwah untuk menegekkan panji-panji Islam. 3. Sunan Giri Seperti halnya guru Sunan Giri, ia juga berdakwah melalui pesantren. Di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas beliau mendirikan Pesantren. Sejak itulah ia dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, “Giri” berarti gunung. Pesantern ini sangat terkenal ke seluruh plosok Nusantara. Walaupun yang tertinggal kini hanya peninggalan situs kedaton, sekitar satu kilo meter dari makam Sunan Giri, namun jejak dakwanya sampai kini masih membekas di hati masyarakat. Di situs ini terdapat mushalla berukuran 6x5 meter. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih. Melalui santrisantrinya ia menyebarkan Islam ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.55 Di samping itu, ia berdakwah melalui jalur politik dan budaya. Ia menciptakan karya seni budaya yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran dan cublak suweng. Demikian pula karyanya adalah Gending Asmaradana dan Pucung. Selain itu, Sunan Giri juga sering berpesan pada santri-santrinya:56 Kahanan ndonyo ora langgeng, mulo ojo ngagungake kesugihan lan derajatiro. Awit sumongso ono wolak walik ing zaman ora ngisin-ngisini (Keadaan dunia ini tidak abadi, oleh karena itu jangan mengagung-agungkan kekayaan. Sebab bila sewaktu-waktu ada perubahan pada zaman tidak akan memalukan).

54 55

Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 30-31 http://www.pakdenono.com . 2 mei 2008 56 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 96-97

Kahanan kang ono iki ora suwe, mesthi ngalami owah gingsir, mulo ojo lali marang sapodho-podhoning tumitah (Keadaan yang ada ini tidak lama pasti mengalami perubahan. Oleh karena itu jangan melupakan sesama hidup). Ia juga ahli politik dan tatanegara. Pandangan politiknya banyak dijadikan rujukan. Ia juga pernah menyusun ketataprajaan dan pedoman tata cara di Keraton. Pada tahun 1478 M, Kerajaan Majapahit runtuh. Para Wali merumuskan perlunya didirikan sebuah Kerajaan yang melindungi Islam dan mendakwahkan Islam. Setelah dimusyawarahkan, maka Bintorolah sebagai pusatnya. Sunan Giri dipercaya untuk meletakkan dasar-dasar Kerajaan perintisan. Selama 40 hari Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Kemudian jabatan tersebut diserahkan pada Raden Fattah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabumi. Sejak itulah kerajaan Demak Bintoro berdiri. Sedangkan Sunan Giri kembali ke Kedaton Giri yang didirikannya sejak tahun 1470. Ia juga mendapatkan gelar Prabu Satmata, ini atas usulan Suanan Kalijaga pada tahun 1487.57 Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Faqih. Ia diyakini sebagai tokoh fikih dan menguasai ilmu falak (perbintangan Catatan Portugis dan Belanda di Ambon menyebut, Sunan Giri (dan pelanjutnya) sama dengan Paus di Roma yang memberkati para kepala Negeri sebelum naik takhta. Termasuk di dalamnya para Sultan Islam di Maluku, Hitu dan Ternate. Dengan demikian, Giri merupakan wujud lembaga kekuasaan tersendiri, meski lebih sebagai lembaga berwenang dalam soal keagamaan saja. 4. Sunan Bonang Sunan Bonang mengembangkan ajaran Islam di Pesisir Utara Jawa Timur. Ia menyesuaikan dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa.58 Sunan Bonang juga mendirikan Pesantren di Bonang. Santri-sntri yang menjadi meridnya juga berdatangan dari berbagai daerah Nusantara. Ia termasuk wali yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Ajarannya disampaikan dengan pesan-pesan simbolik yang harus ditafsirkan dengan jernih. Dalam bidang sastra, peradaban dan kebudayaan sumbangannya antara lain: a). dakwah melalui pewayangan, b) ikut mendirikan Masjid Demak, c) menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong dan kempul. Sedangkan karyanya yang sangat populer hingga kini
57 58

Ibid., hal. 92-93 Muhammad Shalihin, Melacak Pemikiran Tasawwuf, hal. 121

adalah ajaran yang memiliki butir lima dalam kehidupan pesantren. Kelima butir syair itu adalah: Tombo ati iku limo sak wernane, moco al-Qur’an angen-angen sak maknane, kaping pindho shalat wengi lakonono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono, kaping papat kudu weteng engkang luweh, kaping limo dziker wengi ingkang suwe. Salah saijine sopo iso ngelakoni, insyaallah taala ngijabahi.59 Sunan Bonang juga memberikan wejangan secara mendalam pada Raden Fattah, putra Raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Catatan-catatan pengajaran tersebut tertuang dalam “Suluk Sunan Bonang” atau “Primbon Sunan Bonang”. 5. Sunan Kalijaga Cara dakwah Sunan Kalijaga bisa dianggap berbeda dengan methode dakwah Wali lain. Ia dengan berani memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, sesaji dan batik yang sangat populer pada saat itu. Sesunggauhnya metode yang dilakukan Sunan Kalijaga ini pernah ditolak halus oleh Sunan Ampel. Sunan Ampel mengatakan, “Apakah tidak khawatir kelak adat ini akan dianggap berasal dari Islam? Nanti Islam bisa bid’ah dan tidak murni lagi.” Pandangan Suanan Ampel ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Derajat. Sementara sunan Bonang dan Sunan Kudus Menyetujui metode dakwah Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam dan adat yang tidak bisa sama sekali dimasuki.60 Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengganggu hubungan silaturrahmi para wali. Sunan Kalijaga merubah beberapa lakon wayang. Diantaranya yang terkenal adalah lakon Jimat kalimat sodo (tidak lain adalah perlambang kalimat syahadat), dewa Ruci (Nabi Khidir), dan Petruk dadi Ratu. Dengan lakon-lakon ini sunan Kalijaga mengajak masyarakat, baik di pedesaan atau kota untuk mengucapkan syahadat. Ia berkeliling ke penjuru pelosok Nusantara, bahakan menurut catatan Husein Jayadiningrat Sunan Kalijaga juga pernah sampai ke Bumi Sriwijaya. Dalam Babad Cirebon juga tercatat, bahwa Sunan Kalijaga tiba di kawasan Cirebon setelah berdakwa dari Palembang.61

59 60

Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 47 Ibid., hal. 30 61 Ibid., hal. 181-182

Daerah dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai muballigh ia keliling dari satu daerah ke daerah lain. Karena sistem dakwahnya yang intelek dan aktual, para bangsawan dan cendikiawan sangan simpati terhadapnya, demikian juga masyarakat awam hingga para penguasa. Dalam pemerintahan Demak, di samping sebagai ulama’ dan juru dakwah, ia juga sebagai penasihat Kesultananan Demak Bintoro.62 Sunan Kalijaga adalah seorang sufi yang negarawan. Ajaran-ajarannya diikuti oleh para penguasa kala itu. Diantara ajarannya adalah: Ojo seneng yen dadi penguwoso, serik yen ora dadi pengioso, jalaran kuwi bakal ono bebendune dhewe dhewe (jangan hanya senang ketika sedang menjadi penguasa, sakit hati kalau sedang tidak menjadi penguasa, sebab hal itu akan ada akibatnya sendiri-sendiri. Ojo mung kepingin menan dhewe kang biso marakake crahing negoro lan bongso, kudhu seneng rerembugan njogo ketentreman lahir-bathin (jangan hanya ingin menang sendiri yang dapat menyebabkan perpecahan negara dan bangsa, melainkan harus senang bermusyawarah demi menjaga ketentraman lahir dan batin)63 Ilir-ilir, ilir-ilir tandure wes sumilir, tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar, bocah angon penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu kok penekno kanggo masuh dodo tiro, dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, dondomono jrumatono kanggoh sebo mengko sore, mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane (ilir-ilir, ilir-ilir tanaman sudah bersemi, tampak menghijau ibarat penganten baru, wahai pengembala panjatlah blimbing itu, meski licin panjatlah untuk mencuci kain, kain yang sedang robek pinggirnya, jahitlah dan tamballah untuk menghadap nanti sore, mumpung bulan terang dan lebar tempatnya).64 Sunan Kalijaga juga mengajarkan sikap nrimo ing pandum yang diurainya menjadi lima sikap: 1) rilo, maksudnya tidak mengharapkan keuntungan dari pekerjaannya. Tidak merasa mengeluh dan susah. Orang yang rela tidak memiliki keinginan akan penghormatan dan pujian, 2) nrimo, maksudnya dia tidak mengharapkan milik orang lain dan tidak iri dengki atas kesenangan orang lain. Nrimo itu bukan berarti pemalas, tapi apa yang sudah dipegang disyukuri dan tidak terlalu meriasaukan apa yang belum didapat, 3) temen, maksudnya setia pada ucapannya dan memperjuangkan cita-cita dengan sungguh. Orang yang tidak menepati katakatanya sama dengan membohongi diri sendiri, 4) sabar, maksudnya berjiwa lapang seperti
62 63

TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal 250 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 178 64 Ibid., hal. 184-185

lautan luas. Kuat imannya, luas pengetahuannya dan tidak picik pandangannya, dan 5) budi luhur, maksudnya yang berhubungan dengan prilaku dan sifat sifat yang dimiliki oleh Tuhan, seperti penyayang, pemurah, pemaaf dan lainnya.65 Kalau dilihat, ajaran ini bersumber dari ridha dan ikhlas (rilo), qana’ah (nrimo), amanah (temen), shabr (sabar) dan akhlak al-karimah (budi luhur). Peninggalan Sunan Kalijaga yang terkenal lainnya adalah sokoguru Masjid demak yang terbuat dari tatal, Gamelan Nagawinaga, Gamelan Guntur Madu, Gamelan Nyai Sakati, Wayang Kulit Purwa, Baju Taqwa, Tembang Dhandanggulo, kain batik motif Garuda, dan Syair-syair pujian. Dalam dakwah Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padamaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede-Yogya).

6. Dakwah Sunan Derajat Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Derajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai suatu proyek sosial yang dianjurkan oleh Islam.66 Sunan Derajat memperkenalkan konsep dakwah bil hikmah, dengan cara bijak tanpa memaksa. Dalam menyampaikan dakwahnya beliau menempuh lima cara: 1) lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar, 2) melalui penyelenggaraan pendidikan di Pesantren, 3) memberikan fatwa dalam menyelesaikan suatu masalah, 3) melalui kesenian tradisional (beliau sering berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gamelan), dan 5) menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.67

65

Ibid., hal. 179-181 TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal..252 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 74

66 67

Sedangkan ajaran-ajarannya yang sangat terkenal hingga kini adalah:68 Paring teken marang kang kalunyon lan wuto; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudon; paring pangan payung marang kang kodanan (berikan tongkat pada orang yang buta; berikan makan pada orang yang kelaparan; berikan pakaian pada yang telanjang; dan berikan payung pada yang kehujanan). Sing sopo seneng urip tetonggoan kelebu janma linuwih. Tonggo iku perlu dicedahki (barang siapa yang senang hidup bertetangga itu tergolong orang yang arif. Tetangga iti perlu didekati). Sunan Derajat sangat memperhatikan masyarakat. Ia kerap mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan, baik dari manusia jahat ataupun makhluk halus. Sunan Derajat selalu menyadarkan pada manusia dari ambisi jabatan dan kedudukan yang hanya untuk berpoya-poya dan pemuasan nafsu semata serta pemuasan nafsu perut.69 Ia juga menjadi juru bicara untuk membela rakyat yang tertindas ketika Majapahit terjadi krisis ekonomi dan politik. Ia mengecam para elit politik waktu itu yang hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Sunan Derajat menghendaki keselarasan lahir batin, jasmani-rohani dan dunia-akhirat supaya hidup jadi sejahtera. Hidup di dunia yang fana ini harus dipergunakan dengan sebaikbaiknya untuk beramal shalih. 7. Suanan Kudus Sunan Kudus mengundurkan diri dari Demak Bintoro karena keinginannya untuk hidup merdeka dan membaktikan hidupnya untuk memperdalam ilmu ketuhanan serta menyebarkan Islam. Dalam pengunduran dirinya ini sulit ditebak. Yang jelas ini terjadi beberapa tahun sebulum 1549 M. Sunan Kudus menyiarkan agam Islam di Kudus dan sekitarnya. Setelah jama’ahnya makin banyak ia membangun masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Tempat

Ibid., hal. 74-75 Sifuddin Zuhri, 1981, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Bandung: alMa’arif), hal. 281
69

68

ibadah yang diyakini yang dibangun olehnya adalah Masjid Menara Kudus yang kini masih berdiri. Menurut catatan sejarah, masjid ini didirikan pada tahun 1549 M.70 Dalam menyebarkan Islam, Sunan Kudus mengikuti metode Sunan Kalijaga, yakni tut wuri handayani, maksudnya Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit demi sedikit. Ia mendekati masyarakat Kudus dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Sunan Kudus juga mencipatakan karya sastra budaya, yaitu: Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil. 8. Sunan Muria Gaya dakwah Sunan Muria banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka berdakwah bagi kaum rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan yang jauh dari pusat kota dalam menyebarkan agama Islam. Di samping berdakwah, ia bergaul dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilanketerampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut. Ia menyebarkan Islam mulai lereng gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai Pesisir Utara. Karena lebih suka berdakwah bagi kaum rakyat jelata inilah yang menyebabkannya dikenal sebagai sunan yang berdakwah topo ngeli (dengan menghanyutkan diri pada masyarakat).71 Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah tembang Sinom dan Kinanti.72 Sedangkan ajaran-ajarannya yang sangat terkenal hingga kini adalah:73 Ora ono kesakten sing madhani papesthen, awit pepasthen iku wis ora ono sing biso ngurungake (tiada kesaktian yang menyamai kepastian Tuhan, karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian dari Tuhan).

70 71

Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 119 Ibid., hal. 138 72 http://www.pakdenono.com 2 mei 2008 73 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 137

Bener kang asale soko pengeran iku lamun ora nduwe sipat angkoro murko lan seneng gawe sengsoro ning liyan (benar yang berasal dari Tuhan itu apabila tiada sifat angkara murka dan tidak suka menyengsarakan orang lain). 9. Sunan Gunug Jati Menyusul berdirinya Kesultanan Demak Bintoro, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.74 Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkan kepada Pangeran Pasarean.75 Sedangkan Hasanuddin, putranya yang kedua, telah lebih menggatikan ayahnya di Banten.76 Dari Cirebon Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke daerah-daerah lain, seperti Majalangka, Kuningan, Kawalih (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.77 Adapun ajaran-ajarannya yang sangat terkenal hingga kini adalah:78 Lamun siro kepingin wikan marang alam zaman kelanggenan, siro kudu weruh alamiro pribadi. Lamun siro dhorong mikani alamiro pribadi adoh ketemune (jikalau engkau ingin mengetahui alam abadi, engkau harus mengenal alam pribadimu. Kalau engkau belum mengenal alam pribadimu, masih jauhlah alam abadi itu darimu). E. PENUTUP Walisongo penyebar Islam di Jawa khususnya, dan di seluruh Nusantara umumnya. Mereka telah berhasil menanamkan Islam dalam ranah tauhid, akhlak, sosial, budaya dan politik. Puncak karya gemilang mereka adalah berdirinya Kedaton Giri, Kesultanan Demak, dan Kesultanan Cirebon, sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah sufi semata, akan tetapi juga ahli dalam pemerintahan.

74 75

http://www.pakdenono.com 2 mei 2008 Ibid. 76 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 168 77 TIM UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam, hal..252 78 Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa. hal. 162-163

Sunan Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati adalah anak keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Derajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Derajat dan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Kesuksesan dakwah dan perjuangan mereka bisa dilihat pada faktor kepribadian mereka yang ulet, penuh semangat dan kegembiraan, kesupelan dan kefleksibelan yang luwes. Dengan demikian mereka telah berhasil merubah era Budha-Hindu yang telah memegang peranan penting belasan abad di atas panggung sejarah dan kebudayaan Indonesia dengan digantikan oleh peranan Islam. Lakon hindu-Budah diganti dengan lakon baru yang di bawakan oleh Walisongo dengan mengambil cerita dari al-Qur’an dan al-Hadits.

REFERENSI

Al-Qusyairi, Abu Qasim Abdul Karim Hawazin, 1998, al-Risalah al-Qusyairiyah, alih bahasa: Faruq, Umar, Sumber Kajian Ilmu Tasawwuf (Jakarta: Pustaka Amani) http://www.pakdenono.com. 2 mei 2008 Karni, Asrari S., 2001, Menebar Islam Ditopang Mahapahit (Surabaya: Gatra) Ma’luf, Louis, 1998, al-Munjid fi al-Lughah (Bairut: Dar al-Masyriq) Rahimsyah, Muhammad, 2002, Sejarah Lengkap Wali Songo (Surabaya: Amanah) Saksono, Widji, 1995, Mengislamkan Tanah Jawa (Bandung: Mizan) Sutrisno, Budiono Hadi, 2007, Sejarah Wali Songo; Misi Pengislaman di Tanah Jawa (Yogyakarta: Graha Pustaka) Shalihin, Muhammad, 2005, Melacak Pemikiran Tasawwuf (Jakarta: RajaGrafindo Persada) Shihab, Alwi, 2001, Islam Sufistik (Bandung: Mizan) Tanojo, t.t., Suluk Wali Songo (Surabaya: Trimurti) Tanojo, t.t, Wala Sanga; Babad Djati (Surabaya: Trimurti) TIM UIN Syarif Hidayatullah, 2005, Ensiklopedi Islam (Jakrata: Ichtiar Baru Van Hoeve), jilid. 7 Woerjanigrat, t.t, Etika Jawa (Surakarta: DP2KJ) Zuhri, Sifuddin, 1981, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (Bandung: al-Ma’arif)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful