P. 1
ANAH

ANAH

|Views: 522|Likes:
Published by jonamarjoni

More info:

Published by: jonamarjoni on Oct 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2012

pdf

text

original

NILAI SOSIAL DAN PERILAKU TUTUR (Studi Kasus Kata Sapaan dalam Masyarakat Jawa) Oleh: Drs.

Henry Yustanto, M.A. Universitas Sebelas Maret Surakarta Email: henryyustanto@yahoo.com 1. Pendahuluan Di dalam peristiwa komunikasi, ada beberapa pihak yang terlibat. Dengan kata lain, ada orang pertama (penutur) dan orang kedua (mitra tutur). Hubungan antara pembicara dan mitra tutur bisa bersifat akrab atau juga sebaliknya. Keakraban dalam berkomunikasi di antaranya bisa ditentukan oleh kebagusan dan ketepatan pilihan kata atau bahasa yang digunakan. Ketepatan pilihan kata mencereminkan kesantunan dalam berkomunikasi. Dalam hal yang demikian, penutur tunduk pada norma-norma budaya. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada. Apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan normanorma budayanya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya. Budaya Jawa, memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari budaya daerah lain. Salah satu budaya Jawa yang dominan adalah adanya pemakain bahasa yang sangat mempengaruhi perilaku sosial masyarakatnya. Pemakaian bahasa yang demikian mempengaruhi pula pilihan kata sapaan yang dipergunakan oleh masyarakat Jawa berkaitan dengan tingkat sosial pemakainya. Makalah ini akan berusaha mengungkap niali sosial dan perilaku tutur yang ada pada masyarakat Jawa khususnya dalam penggunaan kata sapaan. 2. Tingkat sosial dan pemakaian bahasa dalam masyarakat Jawa Di dalam bahasa Jawa terdapat pemilahan pemakaian bahasa akibat perbedaan tingkat sosial. Perbedaan ini dapat berupa tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan sebagainya (Suwito, 1985: 3). Dari perbedaan ini timbullah tingkat tutur yang berupa Krama, Madya, dan Ngoko di samping Ngoko sae, Krama inggil, Madyantara, dan sebagainya sebagai salah satu varian dari ketiga tingkat tutur tersebut. Ada tiga hal yang dapat disebutkan yang oleh masyarakat dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan pilihan tingkat tutur. Pertama tingkat keakraban dengan O2, kedua tingkat keangkeran O2, dan ketiga umur O2. Tingkat keakraban dengan O2 dapat dilihat pada orang yang baru berkenalan, sahabat karib, hubungan orang tua dengan anak, murid dengan guru, dan sebagainya. Tingkat keangkeran dapat berupa bentuk tubuh dan ekspresi wajah, cara berbahasanya, jabatan atau pangkat yang dimilikinya, kekuatan ekonomi, dan sebagainya. Adapun tingkat umur, dapat dijelaskan bahwa 1 sebagian besar orang Jawa berpendapat bahwa seseorang yang berumur lebih tua, utama untuk dihormati (Soepomo, dkk., 1979:16--17). 3. Sapaan dalam masyarakat Jawa Kata sapaan adalah seperangkat kata atau ekspresi untuk menunjuk pada seseorang yang diajak bicara ketika pembicaraan sedang berlangsung (Oyetade, 1995). Adapun Fasold (1990) mendefinisikan kata sapaan sebagai kata-kata yang digunakan seseorang untuk menunjuk seseorang yang sedang diajak bicara. Bahasa Jawa memiliki sistem sapaan yang kompleks. Di dalam masyarakat Jawa seseorang yang ingin berbicara dengan orang lain harus memperhitungkan hubungan antara penutur dan mitra tuturnya (Geertz dalam Pride dan Holmes, 1972). Mereka juga harus berhati-hati dengan posisi tingkat sosialnya (golongan masyarakat tinggi, menengah atau bawah) (Wardhaugh, 1998). Di dalam keluarga Jawa, terminologi kata sapaan berpangkal pada hubungan dua arah (ayah/ibu) dan generasi. Hal ini menghasilkan apa yang dinamakan hubungan atas bawah, di samping dua hal lain yakni kesenioran dan jenis kelamin (Geertz, 1961). Setiap individu menduduki posisi tertentu di dalam keluarga Jawa dan hal ini sangat menentukan jenis kata sapaannya. Menurut teori Brown dan Gilmann (dalarn Giglioli, 1972), kata sapaan dapat menandai ekspresi antara penutur dan lawan tutur yang memiliki perbedaan kedudukan (kekuasaan) dan keakraban. Sebagai akibatnya, kata sapaan dipergunakan secara berbeda kepada orang yang 1

memiliki perbedaan kedudukan (kekuasaan) dan keakraban. 4. Hubungan sosial (kekuasaan dan keakraban) Tu dan Vous adalah dua bentuk kata ganti orang kedua dalam bahasa Perancis yang digunakan sesuai dengan posisi antara penutur dan mitra tutur. Brown dan Gilman (1972) mengatakan bahwa tu dan vous dapat dijelaskan sebagai ekspresi hubungan antara penutur dan mitra tutur, kekuasaan dan keakraban, dalam penggunaan bahasa. Kekuasaan menunjuk pada kelebihan yang dimiliki seseorang di atas orang lain (Oyetade, 1995). Kekuasaan ini adalah bentuk hubungan vertikal, yaitu jarak antara penutur dan mitra tutur yang meliputi: umur, kedudukan, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan keakraban meliputi hubungan horisontal (keakraban) antara penutur dan mitra tutur. Brown dan Gilmann menyebutnya sebagai power and solidarity theory. Hal semacam itu terlihat juga dalam masyarakat Jawa. Di dalam masyarakat Jawa, penggunaan kata sapaan tidak hanya ditentukan oleh adanya kekuasaan dan keakraban tetapi juga oleh hubungan keluarga atau hubungan darah. Sistem hubungan keluarga/darah di masyarakat Jawa sangat memegang peranan penting dalam menentukan pilihan kata sapaan, sebab hubungan keluarga/darah akan menentukan apakah seseorang akan berkedudukan sebagai senior atau bukan. 2 Dalam masyarakat Jawa, seseorang berkedudukan sebagai senior atau yunior akan dapat dikenali dari segi umur (lebih tua atau muda), demikian juga untuk saudara kandung orang tuanya. Adapun untuk saudara-saudara sepupu, titik penunjuk kesenioran bukanlah umur sehubungan dengan diri tetapi umur perbandingan antara kedua orang sesaudara yang menghubungkan sepupu tersebut (misalnya orang tua diri dengan orang tua saudara sepupu atau kakek nenek mereka masing-masing). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sistem sapaan dalam masyarakat Jawa lebih melihat pada hubungan kekerabatan dan kesenioran. 5. Kata Sapaan dan Perilaku Tutur Masyarakat Jawa Beberapa bentuk sapaan yang sering dipergunakan oleh masyarakat Jawa meliputi: kata ganti orang pertama, kedua, nama diri, sapaan keluarga, dan titel. 5.1 Bentuk sapaan kata ganti orang pertama Kata sapaan untuk orang pertama yang sering dipergunakan adalah: aku, kula. Aku adalah kata sapaan bentuk rendah (ngoko) di dalam sistem sapaan masyarakat Jawa bentuk ini digunakan dalam hubungan yang tidak sejajar dan akrab. Pada hubungan tidak sejajar (kekuasaan) dapat dilihat pada lebih tua dari , lebih kaya dari , lebih kuat dari , atau hubungan yang sudah akrab. Penggunaan kata ganti orang pertama lain yang dipergunakan adalah kula. Kata ini digunakan berbalikan dengan kata aku dalam arti lain hubungan kekerabatan orang pertama lebih rendah dibandingkan dengan orang kedua. Hal ini dapat dilihat dalam contoh: 5.2 Bentuk sapaan kata ganti orang kedua Kowe adalah bentuk rendah (ngoko) yang digunakan pada hubungan tidak sejajar. Hal ini dapat dilihat adanya faktor lebih tua dari , lebih kaya dari , lebih kuat dari , dan sebagainya. 5.3 Nama diri Orang Jawa tidak memiliki nama depan, tengah, dan akhir seperti nama orang-orang Eropa. Orang Jawa hanya memiliki nama, meskipun terdiri atas satu, dua, atau tiga kata. Nama orang Jawa tidak berhubungan dengan nama ayah/keluarganya. Semua pemakaian nama diri dalam masyarakat Jawa dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama petutur hanya menyapa dengan namanya saja karena ia memiliki kekuasaan, dan kelompok kedua penutur menyapa dengan nama saja karena sudah akrab. 3 5.4 Sapaan berdasarkan posisinya dalam keluarga Sistem kekerabatan masyarakat Jawa agak berbeda dengan sistem kekerabatan masyarakat yang lain.. Dalam masyarakat Jawa sistem sapaan sangat tergantung di mana posisi seseorang dalam hubungan kekerabatannya. Beberapa kata sapaan yang merujuk pada sapaan yang berkaitan dengan posisi seseorang di dalam ikatan keluarga antara lain: a. bapa = rama = pak bapak 2

adi = di = rayi = jeng = dik adik f. http://sastra. Simpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai sosial/tingkat sosial seorang penutur akan sangat mempengaruhi pilihan bahasa/kata yang akan dipergunakannya di dalam berkomunikasi dengan mitra tuturnya. cucu (ku) 7.id/wp-content/uploads/2010/01/084-Henry-Yustanto-UNS-Nilai-Sosial-dan-PerilakuTutur. atau ragam bahasa tokoh-tokoh masyarakat akan berbeda dengan ragam bahasa masyarakat biasa.ac.um. yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4. Ia akan selalu mempertimbangkan posisinya dalam berbahasa dan bertutur sapa. yayi/rayi adik laki-laki/perempuan g. Pemilihan Bahasa. Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver C Currie (dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Sistem sapaan Jawa berkaitan erat dengan sistem kekerabatan dalam hal ini hubungan darah (Jawa: awu). ragam bahasa guru pasti berbeda dengan ragam bahasa pedagang.ac. 2009 • Related • Filed Under Ragam bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di lingkungan terminal tentu saja akan berbeda dengan ragam bahasa masyarakat yang hidup di lingkungan perumahan. Ia tidak bisa semaunya menggunakan bahasa serta kata sapaan pada mitra tuturnya.gunadarma. Penggunaan bahasa dan kata sapan dalam masyarakat Jawa sangat menentukan perilaku sosial penuturnya. Hudson 1996: 2). mak = mbok = simbok = biyung Ibu c. yakni Language in Society (1972) dan International Journal 3 . namun dengan adanya ragam tersebut sedikitnya memberi gambaran pada kita bahwa “kasta bahasa” memang masih ada. dan Masyarakat Multilingual Mei 11. yang nengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah. ngger anak(ku) . tetapi juga mempengaruhi pilihan kata sapaan yang dipergunakan untuk menyapa mitra tuturnya. kakang = kang = mas = kang mas = gus kakak laki-laki e. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Bangsa Indonesia pada zaman sekarang memang sudah tidak mengenal kasta. Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an. begitu pun ragam bahasa orang-orang yang memiliki tingkat perekonomian rendah umumnya berbeda dengan ragam bahasa orang-orang kaya. Holmes 1993: 1.id/2009/10/ragam-bahasa-vs-tingkat-sosialisasi-masyarakat/ Sosiolinguistik. Khusus di dalam masyarakat Jawa pilihan ini tidak saja mempengaruhi penggunaan bahasa. 2009 oleh fathurrokhmancenter PENDAHULUAN Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat. http://wartawarga. paman = man = pak lik = lik paman d.pdf Ragam Bahasa Vs Tingkat Sosial Masyarakat October 12th. Faktor kekuasaan dan keakraban memegang peran penting di dalam menentukan pilihan sapaan tersebut.b.

Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. Kartomihardjo (1988) lebih suka mempergunakan istilah ragam sebagai padanan dari style. Ketiga. Untuk istilah terakhir. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Kedua. FAKTOR PEMILIHAN BAHASA 4 . dan gaya untuk digunakan dalam interaksi sosial. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Dalam interaksi sehari-hari. ungkapan. Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa krama. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. variasi. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gadogado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. Di Indonesia. dengan melakukan alih kode (code switching). Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. Dengan tersedianya kode-kode itu. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan. dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Misalnya. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi.of Sociology of Language (1974). yaitu pemakaian satu kata. maka ia telah melakukan pemilihan bahasa kategori pertama ini. baik berupa bahasa. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa Yahudi-Inggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. Pertama. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. anggoa masyarakat akan memilih kode yang tersedia sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. atau frase. Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan. yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan (whole language) dalam suatu peristiwa komunikasi. dengan melakukan campur kode (code mixing) artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. KONSEP DAN KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Dalam masyarakat multibahasa tersedia berbagai kode. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafor yang melambangkan identitas penutur. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). misalnya. anggota masyarakat secara konstan mengubah variasi penggunaan bahasanya. Campur kode merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Statistik sekalipun menurut Fasold tidak akan diperlukan dalam sosiolinguistik apabila tidak ada variasi penggunaan bahasa dan pemilihan di antara variasi-variasi tersebut. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Peristiwa alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. dialek.

dan (4) memerintah atau meminta. dan topik harga barang di pasar. dan partisipan. (3) topik percakapan. Faktor isi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. yaitu pendekatan sosiologi. Berbeda dengan Gal. dan (4) fungsi interaksi. dan (4) tingkat keakraban. peristiwa-peristiwa aktual. (2) kehadiran pembicara monolingual. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). (3) isi wacana. atau mengucapkan terima kasih). apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. rapat di keluarahan. dan (3) tempat umum sangat menentukan pemilihan bahasa masyarakat. (2) situasi. dan pekerjaan. Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar. Dalam penelitiannya tentang pemilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. permohonan. Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikkan status. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. status sosial ekonomi. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Groesjean (1982: 136) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi pemilihan bahasa dalam interaksi sosial. (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa sesorang. selamatan kelahiran di sebuah keluarga. sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang menentukan dalam pemilihan bahasa dibanding faktor partisipan. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. (2) sekolah. Dari paparan berbagai faktor di atas. jenis kelamin. ketetanggaan. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. misalnya keluarga. topik. pendekatan psikologi sosial. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. (3) melarang masuk/ mengeluarkan seseorang dari pembicaraan. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. (2) partisipan dalam interkasi. penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. dan (4) fungsi interaksi. kuliah. keberhasilan anak. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. dan (2) tipe kosakata. agama. Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa suatu faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. kebiasaan rutin (salam. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. yaitu (1) partisipan. hubungan peran antarkomunikator. meminta maaf. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. (3) tingkat formalitas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat. Senada dengan Evin-Tripp. (2) penciptaan jarak sosial. Faktor keempat berupa fuingsi interaksi seperti penawaran. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. PENDEKATAN KAJIAN PEMILIHAN BAHASA Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan 5 . Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. pekerjaan. dan tawarmenawar barang di pasar. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. Evin-Tripp (1972) mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. menyanmpaikan informasi. dan pendekatan antropologi. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. Sebagai contoh. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur.Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur.

Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya.pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). akomodasi ke bawah. (1973). Pertama. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. yakni observasi terlibat (participant observation). Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Kondisi dan situasi yang 6 . bukan bersifat sosial melainkan individual. Sebagai contoh. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. Dengan demikian. Kedua. KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA Pada umumnya sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa (Appel dan Muysken 1987. Edwards 1994). akomodasi ke atas yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Kajian pemilihan bahasa juga bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu pastilah ada bahasa atau ragam lain yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). Giles et al. Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur. penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. Pengertian kedwibahasaan selalu berkembang mulai dari pengertian yang ketat sampai kepada pengertian yang longgar. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. dan juga merupakan karakteristik pemakaian bahasa. Batasan ini mengimplikasikan pengertian bahwa seorang dwibahasawan adalah orang yang menguasai dua bahasa dengan sama baiknya. bukan ciri kode melainkan ciri pengungkapan. Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Penelitian pemilihan bahasa dalam masyarakat tutur Jawa di Banyumas ini pun tidak terlepas dari permasalahan kedwibahasaan. serta Bourhish dan Taylor (1977). Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Kedwibahasaan dirumuskan sebagai praktik pemakaian dua bahasa secara bergantian oleh seorang penutur. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. Blommfield dalam bukunya Language (1933) memberikan batasan kedwibahasaan sebagai gejala penguasaan bahasa seperti penutur jati (native speaker). Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. dan antropologi. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Mackey (dalam Fishman ed 1968: 555) berpendapat bahwa kedwibahasaan bukanlah gejala bahasa sebagai sistem melainkan sebagai gejala penuturan. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Sementara itu. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. psikologi sosial.

either of an earlier period or in another speech community. negara-negara Arab. Mengingat latar belakang sejarah ragam ini yang sudah sejak lama mengenal ragam tulis dan menikmati gengsi yang tinggi itu. Situasi yang demikan tentu di luar batasan kedwibahasaan yang ketat sebagaimana diungkapkan oleh Bloomfield. Sebaliknya. Ragam yang disebut pertama adalah ragam bahasa tinggi (T) yang dipakai dalam situasi resmi. sedangkan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk mempelajarinya. masyarakat pemakainya tidak perlu mempelajari ragam bahasa ini di sekolah. serta bahasa Prancis dan kreol di Haiti. Penguasaan atas ragam ini merupakan kebanggaan bagi pemakainya. Istilah diglosia diperkenalkan pertama kali oleh Ferguson (1959) untuk melukiskan situasi kebahasaan yang terdapat di Yunani. Oleh karena itu. Ini berarti bahwa seorang dwibahasawan tidak perlu menguasai bahasa kedua secara aktif produktif sebagaimana dituntut oleh Bloomfield. dan Haiti. Dengan membading-bandingkan pengertian kedwibahasaan dari para ahli di atas. Padahal sosiolinguistik berkepentingan dalam hal tersebut. Mackey. Macnamara (1967) mengemukakan rumusan yang lebih longgar. there is a very divergent. sidang parlemen. Schriftsprache dan Schweizerdeutsch di Swis. dan Weinreich. ragam R tidak tercantum sebagai mata pelajaran di sekolah. Seorang dwibahasawan tidak harus menguasai secara aktif dua bahasa. (Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil. ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi tidak resmi adalah ragam bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah. highly codified (often grammatically more complex) superposed variety. Al-fusha dan Ad-dirij di negara-negara Arab. orang yang hanya menguasai ragam rendah saja sering merasa malu karena hal itu menunjukkan tingkat pendidikannya yang rendah. yaitu tahu dua bahasa. Oleh karena itu. Haugen (1972) merumuskan kedwibahasaan dengan rumusan yang lebih longgar. masing-masing adalah Katharevusa dan Dhimtiki di Yunani. dan khotbah di tempat-tempat ibadah) dianggap sebagai bahasa yang bergengsi tinggi oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan. ia tidak dapat memakainya secara bertanti-ganti. Ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi resmi (seperti perkuliahan. Menurutnya kedwibahasaan itu mengacu kepada pemilikan kemampuan sekurang-kurangnya bahasa pertama dan bahasa kedua. in addition to the primary dialects of the language (which may include a satandard or regional standars). Di setiap negara itu terdapat dua ragam bahasa yang berbeda. penguasaan bahasa kedua secara pasif pun dipandang cukup menjadikan seseorang disebut dwibahasawan. Ragam ini tidak mengenal ragam tulis dan tidak menjadi sasaran pembakuan bahasa. Swis. Ragam ini mengalami proses pembakuan dan harus dipelajari di sekolah. Definisi diglosia yang diberikan oleh Ferguson adalah sebagai berikut: “Diglosia is a relatively stable language situation in which. yang di samping adanya dialek-dialek utama dari bahasa 7 . Penguasaan atas ragam-ragam itu dapat dipakai sebagai penentu terpelajar atau tidaknya seseorang. Permasalahan kebahasaan yang dapat muncul berkaitan dengan batasan tersebut adalah bagaimana kalau kemampuan seseorang dalam bahasa kedua hanya sebatas mengerti dan dapat memahami tuturan bahasa kedua tetapi tidak mampu bertutur sehingga dalam praktik pemakaian bahasa yang melibatkan dirinya. Oleh para pemakainya ragam ini dianggap berkedudukan rendah dan tidak bergengsi. ragam inilah yang dipakai sebagai bahasa sastra di kalangan para pemakainya. sedangkan yang disebut kedua adalah ragam bahasa Rendah (R) yang dipakai dalam situasi sehari-hari tak resmi. Rumusan ini diikuti oleh Haugen (1972) mengenai dua bahasa. Fishman (1972: 92) menganjurkan bahwa dalam mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa hendaknya diperhatikan kaitannya dengan ada tidaknya diglosia.dihadapi dwibahasawan turut menentukan pergantian bahasa-bahasa yang dipakai. the vehicle of a large and respected body of written literature. Mengerti dua bahasa dirumuskan sebagai menguasai dua sistem kode yang berbeda dari bahasa yang berbeda atau bahasa yang sama. Pandangan Mackey didukung oleh Weinreich (1970). pengertian Haugen dijadikan kerangka konsep dalam penelitian ini karena gambaran kedwibahasaan anggota masyarakat memperlihatkan berbagai tingkat penguasaan bahasa atau ragam bahasa yang tampak di dalam pemakaiannya. meskipun kemampuan dalam bahasa kedua hanya sampai batas minimal. which is learned largely by formal education and is used for most written and formal spoken purposes but is not used in any sector of the community for the ordinary conversation”. melainkan cukup apabila ia memiliki kemampuan reseptif dalam bahasa kedua.

Oleh Fasold keadaan seperti itu digambarkan sebagai berikut: Tinggi Rendah 1 Rendah 2 Rendah 3 Rendah 4 Masalah yang kedua adalah masalah yang menyangkut pertanyaan apakah gejala diglosia itu hanya terwujud di dalam pembagian ragam bahasa yang menjadi pembagian serba dua. Istilah diglosia tidak hanya dikenakan pada ragam tinggi dan rendah dari bahasa yang sama akan tetapi juga dikenakan pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun. ada pendapat lain dari Fasold (1984) yang mencatat ada empat masalah yang perlu diperjelas. yang terkodifikasikan secara rapi (dan yang tatabahasanya lebih rumit). and not only in societies which employ separate dialects. yaitu bahwa ragam-ragam bahasa itu mengisi alokasi fungsi masing-masing dan bahwa ragam T hanya dipakai di dalam situasi resmi dan ragam R di dalam situasi yang tidak atau kurang resmi. Oleh Fishman (1972: 92) diglosia diartikan sebagai berikut. Di samping itu. dan linear polyglossia (poliglosia linear). atau ragam-ragam jenis apa pun yang berbeda secara fungsional. dan masalah fungsi. Fasold mengambil simpulan bahwa ada beberapa jenis diglosia. tetapi terdapat juga di dalam masyarakat bahasa yang memakai logat-logat. yang dipelajari melalui pendidikan formal dan sebagian besar dipakai untuk keperluan formal lisan dan tertulis tetapi tidak dipakai di sektor apa pun di dalam masyarakat itu untuk percakapan sehari-hari). juga mengenal suatu ragam yang ditinggikan. Masalah pertama dipersoalkan karena adanya kemungkinan adanya masyarakat bahasa yang menganggap ragam T justru bukan sebagai ragam T. dan tidak hanya terdapat terdapat di dalam masyarakat yang menggunakan ragam sehari-hari dan klasik. Di samping perbedaan. Yang menjadi tekanannya adalah perbedaan fungsi kedua bahasa tau ragam bahasa yang bersangkutan. Di samping itu. Ada kemungkinan juga bahwa masyarakat diglosik itu memiliki ragam T yang sama tetapi ragam R yang berbeda-beda dan ini berarti bahwa masyarakat itu merupakan masyarakat diglosik yang berbeda-beda pula. (c) masyarakat yang tidak bilingual dan sekaligus tidak diglosik. yang masing-masing disebutnya sebagai double overlapping diglossia (diglosia bertindih ganda). Diglosia ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan ragam R dan di dalam masing-masing ragam terdapat ragam t dan ragam r juga. masing-masing yang berkaitan dengan masalah bahasa baku dan dialek. yang berasal dari waktu yang lampau atau yang berasal dari masyarakat bahasa lain. Fishman juga berpendapat bahwa diglosia tidak hanya terdapat pada masyarakat yang mengenal satu bahasa dengan dua ragam bahasa semata-mata. Keadaan seperti ini didapatkan di Khalapur yang terletak di sebelah utara New Dehli. Fasold memberikan pengertian “masyarakat diglosik” sebagai satuan masyarakat yang memiliki ragamT dan ragam R bersama-sama. Situasi kebahasaan seperti itu terdapat di Tanganyika. tetapi salah satu dari ragam R itu merupakan ragam tinggi (T) terhadap ragam r lain. Berbagai laporan hasil penelitian di beberapa tempat yang berbeda. Implikasi teoretis dari definisi di atas. Kalau demikian halnya. masalah bungan genetis bahasa. 8 . Dari pengamatan terhadap jenis. “ … diglossia exits not only in multilingual societies which officially recognize several “language”. Diglosia bertindih ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan R juga. (b) masyarakat bahasa yang bilingual tetapi tidak diglosik. laras-laras. yang sangat berbeda. menurut batasan Fishman dapat dibedakan adanya (a) masyarakat bahasa yang bilingual sekaligus diglosik.(yang mungkin meliputi ragam-ragam baku setempat). dan (d) masyarakat yang tidak bilingual tetapi diglosik. Pengertian tentang diglosia kemudian dikembangkan oleh Fishman (1972: 92). diglosia dapat juga ditemukan pada masyarakat yang mengenal lebih dai dua bahasa. yakni ragam tinggi dan ragam rendah semata-mata. ada juga persamaan antara keduanya. masalah pembagian yang serba dua. India (Gumperz (1964). maka situasi semacam ini bukanlah situasi diglosia tetapi sekedar siatuasi yang mengenal adanya bahasa baku dan dialek.jenis diglosia di berbagai negara itu dapat disimpulkan bahwa istilah diglosia tidak harus diartikan sebagai situasi kebahasaan yang hanya melibatkan dua ragam saja. Oleh karena itu. Mikilifi (1978) menyebutnya dengan istilah polgylgossia). or funcitonally differentiated language varieties of whatever kind” (… diglosia tidak hanya terdapat di dalam masyakat aneka bahasa yang secara resmi mengakui beberapa bahasa”. registers.

fungsi komunikasi. alat komunikasi. komponen komunikatif. satu di antaranya adalah sosiolinguistik. Ancangan sosiolinguistik dalam kajian ini dipusatkan pada model fungsional pemakaian bahasa pada dimensi sosial budaya masyarakat tuturnya. usually through formal education) for situations perceived as more formal and guarded. bagaimana bagian-bagian tersebut tersusun di dalam suatu cara bahasa di dalam arti yang sangat luas dan bagaimana polapola yang ada berhubungan secara sistematis dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kerangka yang mula-mula disebut dengan etnografi pertuturan itu pada akhirnya berkembang menjadi etnografi komunikasi. Berdasarkan hasil pengamatan di dalam masyarakat Banyumas. tetapi dipelajari lebih kemudian dan dipelajari secara lebih sadar. Berdasarkan pertimbangan itu semua. Istilah etnografi komunikasi (ethnography of communication) merupakan pengembangan dari etnografi berbahasa (etnography of speaking).Demikian juga halnya dengan masalah yang ketiga. Perilaku bahasa diakui mempunyai pola teratur dan mempunyai kendala yang dapat dinyatakan di dalam bentuk-bentuk norma bahasa. berapa derajat pun hubungan kebahasaannya dengan segmen yang dinilai lebih tinggi. 9 . Pandangan demikan memang cukup beralasan karena pada dasarnya bahasa adalah bagian dari suatu sistem sosial. Fasold mengusulkan nama baru menjadi broad diglossia (diglosia luas) yang diartikan sebagai “ the reservation of higly valued segments of community’s linguistic repertoire (which are not the first to be learned. Hubungan bahasa dengan sistem sosial budaya dapat dikaji dari berbagai disiplin. Antara ragam T dan ragam R tidak harus ada hubungan genetis. Fasold malah mencatat adanya gejala yang mirip seperti diglosia yang melibatkan hubungan antara subdialek dan antara gaya seperti yang terjadi di dalam bahasa Rusia. but are learned later and more consciously. dan Moeliono (1988). Etnografi komunikasi terarah pada penyelidikan keteraturan yang terdapat di dalam penggunaan bahasa serta bagaimana bagian-bagian komunikasi dibentuk. gejala diglosik di Banyumas bukanlah sekedar gejala diglosik biner melainkan lebih mirip dengan diglosia ganda seperti dikemukakan oleh Fasold (1985). Kerangka etnografis melibatkan beraneka faktor yang terdapat di dalam pertuturan. dari (hanya sekedar) perbedaan stilistik sampai perbedaan bahasa. ancangan itu berusaha memberikan gambaran etnografis masyarakat bahasa yang di antaranya mencakup pola komunikasi. ETNOGRAFI KOMUNIKASI SEBAGAI MODEL ANALISIS Pemakaian bahasa dalam komunikasi selain ditentukan oleh faktor-faktor linguistik juga ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik atau luar bahasa. and the reservation of less highly valued segments (which are learned first with little or no conscious effort). untuk situasi-situasi yang dianggap sebagai lebih formal dan terjaga. dan pelestarian segmen yang dinilai kurang tinggi (yang dipelajari pertama kali dengan sedikit usaha atau tanpa usaha yang disadari). situasi diglosia di Indonesia selalu dilihat sebagai gejala diglosia biner seperti yang dikemukakan oleh Ferguson (1959). Pengembangan istilah itu dimaksudkan oleh Hymes (1980: untuk memfokuskan kerangka acuan karena pemerian tempat bahasa di dalam suatu kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri melainkan pada komunikasinya. hubungan bahasa dengan pikiran dan organisasi sosial. hakikat dan batasan masyarakat bahasa. Etnografi komunikasi adalah salah satu ancangan yang dapat digunakan di dalam penelitian hubungan bahasa dengan manusia (masyarakat). Konsep etnografi berbahasa oleh Hymes (1972: 37) dimaksudkan sebagai kajian situasi dan penggunaan tutur serta pola dan fungsi tutur dalam tindak tutur yang rutin dan khusus. Faktor yang demikian itu sering pula dikatakan berkaitan erat dengan faktor sosial. biasanya melalui pendidikan formal) dalam suatu masyarakat. from stylistic differences to separate languages. maka bahasa juga tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor budaya. untuk situasi yang dianggap sebagai lebih resmi. of any degree of linguistic relatedneess to the higher valued segments. Selanjutnya. 1980). for situations perceived as more informal and intimate”… ( pelestarian segmen khazanah bahasa yang dinilai sangat tinggi (yang tidak dipelajari pertama kali. Fishman (1971). dan perilaku bahasa lainnya. Model yang dimaksud adalah Model Etnografi Komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes (1972. Sepanjang pengetahuan penulis ini. Suwito (1987). 1973. Pada dasarnya. Karena sistem sosial erat sekali hubungannya dengan sistem budaya.

dan sorot mata. dan ciri-ciri organisasi sosial lainnya. Nada tutur diwujudkan. kedelapan variabel komponen tersebut tidak selalu hadir secara bersamaan dalam sebuah peristiwa tutur tertentu. Bentuk tutur dapat berupa bahasa sebagai sistem mandiri. iklan dan sebagainya. status sosial eknomi. uturan tutur). dan mengubah perilaku (konatif). Akibatnya adalah bahwa komponen tutur dalam versinya menjadi lebih rinci dan lebih luas. tetapi tergantung pada fokus variabel yang diperhatikan. Ends (tujuan tutur). legenda. Pada tingkat masyarakat. beberapa topik tutur dapat muncul secara berurutan. ciri-ciri dimensi sosial budaya yang bersifat etik dapat digolongkan dalam delapan komponen yang bersifat emik (bandingkan dengan Poedjosudarmo 1975). atau kesantaian tindak tutur. penduduk kota atau desa. Menurut Hymes (1972. Konsep komponen tutur yang disampaikan oleh Poedjosudarmo sebetulnya merupakan pengembangan konsep Hymes (1972) tentang peranan komponen tutur dalam rangka komunikasi. Untuk itu pembatasan variabel komponen tutur yang sesuai dengan fokus pemerian pemilihan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam penelitian ini sangatlah diperlukan. sedangkan norma interpretasi merupakan norma yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tutur tertentu. sedangkan suasana tutur mengacu pada suasana psikologis (baik bersifat resmi maupun tidak rsemi) tindak tutur dilaksanakan. baik berupa tingkah laku verbal maupun nonverbal. Topik tuturan mengacu pada apa yang dibicarakan (massage content) dan cara penyampaiannya (massage form). daerah geografis. Adapun jenis tutur meliputi kategori kebahasaan seperti prosa. Dalam kenyataannya. komunikasi biasanya terbentuk melalui fungsinya. melebihi jumlah komponen tutur yang dipakai sebagai dasarnya. kehumoran. Partisipant (peserta tutur). Kedelapan komponen tutur itu diakronimkan denang SPEAKING: Setting (latar). umur. Cara bahasa juga terbentuk menurut tingkat pendidikan. Nada tutur non-verbal dapat berujud gerak anggota badan. dan individu. Nada tutur verbal mengacu pada perubahan bunyi bahasa. Suatu tuturan mungkin bertujuan menyampaikan buah pikiran. Dalam kajiannya terhadap pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa Poedjosudarmo (1979) juga telah memaparkan komponen tutur. dan isyarat. membujuk. yang dapat menunjukkan keseriusan. dan register. dongeng. baik ditujukan kepada individu maupun masyarakat sebagai sasarnnya. Kedelapan variabel komponen tutur Hymes tidaklah sepenuhnya digunakan dalam setiap pemerian fenomena pemakaian bahasa dalam dimensi sosial budaya. Sarana tutur dapat berupa sarana lisan. Act sequence (topik . Pemilihan bahasa antar-peserta tutur ditentukan oleh perbedaan dimensi vertikal dan dimensi horisontal. doa. ragam. khususnya di Jawa. mitra tutur. Tempat tutur mengacu pada keadaan fisik. tulis. kategori percakapan. Sarana tutur mengacu pada saluran tutur dan bentuk tutur. Dalam sebuah peristiwa tutur. perubahan air muka. Latar tutur meliputi tempat tutur dan suasana tutur. 1980: 9-18). dan jenis pekerjaan. dan sikap serta konsepsi tentang bahasa dan manusia. kuliah. dan orang yang dituturkan. Norma tutur berhubungan dengan norma interaksi dan norma interpretasi/ Yang dimaksud norma interaksi adalah norma yang bertalian dengan boleh–tidaknya sesuatu dilaksanakan oleh peserta tutur pada waktu tuturan berlangsung. dan kedudukan dalam masyarakat. status sosial. Disebut demikian karena memang perwujudan makna sebuah tuturan atau ujaran ditentukan oleh komponen tutur. Perbedaan dimensi kedua antara lain meliputi perbedaan tingkat keakraban antarpeserta tutur. variasi bahasa seperti dialek. 10 . Perubahan topik tutur dalam peristiwa tutur akan berpengaruh terhadap pemilihan bahasa. Peserta tutur mengacu pada penutur. Kedelapan komponen itu disebut sebagai komponen tutur (speach component). Norms (norma tutur) dan Genre (jenis tutur). Komunikasi tentunya juga terbentuk menurut peran dan kelompok tertentu di tengah-tengah masyarakat serta menurut jenis kelamin.Pola bahasa terdapat pada semua tingkat komunikasi seperti masyarakat. Key (nada tutur). Beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Poedjosudamo disesuaikan dengan situasi kebahasaan di Indonesia. kelompok. puisi. Dimensi pertama meliputi perbedaan umur. Tujuan tutur merupakan hasil yang diharapkan atau yang tidak diharapkan dari tujuan tindak tutur.

masing-masing mempunyai aspek tersendiri. Sementara itu. dan (13) norma kebahasaan lainnya. sama dengan language. dan kehadiran orang ketiga. budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut menentukan wajah dari bahasa itu. Terlepas dari kemungkinan perbedaan tersebut. sehingga merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Sebagai contoh. Istilah bahasa dalam bahasa Indonesia. dapat disimpulkan sebagaimana dinyatakan Linda Thomas dan Shan Wareing dalam bukunya Bahasa. Istilah-istilah tersebut. (12) bentuk wacana. Seperti yang diungkapkan oleh para ahli: 1. kehendak tutur. Jika Hymes (1972) mengemukakan delapan komponen tutur. berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosisal untuk kerjasama dan saling berhubungan. Hymes (1972) menganggap pokok tutur sebagai pusat tindak tutur. each finite length and contructed out of a finite set of elements. bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat. sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua. taal dalam bahasa Belanda. 2. meskipun terdapat perbedaaan dan penekanannya. (2) warna emosi. Dengan demikian bahasa merupakan ujaran yang diucapkan secara lisan.com/2009/05/11/sosiolinguistik-pemilihan-bahasa-dan-masyarakatmultilingual/ Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia. maka Poedjosudarmo menyebut tiga belas butir komponen tutur. yang merupakan faktor yang banyak berpengaruh terhadap bentuk tutur. Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. 3. Ketiga belas komponen tutur itu dapatlah disebutkan di sini satu demi satu: (1) pribadi penutur. Butir-butir leksikal ini kemudian digabungkan lagi untuk membuat struktur tata bahasa. Masyarakat dan Kekuasaan bahwa salah satu cara dalam menelaah bahasa adalah dengan memandangnya sebagai cara sistematis untuk mengabungkan unit-unit kecil menjadi unit-unit yang lebih besar dengan tujuan komunikasi. Menurut Keraf. untuk menyebutkan suatu unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat luas.Perbedaan komponen tutur yang dikemukakan oleh Poedjosudarmo dan Hymes terletak pada jenis dan jumlah komponen. dalam bahasa Inggris. yang oleh Hymes ditempatkan di luar komponen tutur bersama dengan situasi tutur. dan tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa mengandung makna yang berkaitan dengan situasi hidup dan pengalaman nyata manusia. Poedjosudarma (1979) memasukkan adegan tutur sebagai salah satu komponen tutur. yang tampak dengan dikemukakannya lebih dulu secara berturut-turut adalah pribadi penutur. 11 . sedangkan Hymes (1972) tampak lebih menaruh perhatian pada latar tutur. (5) kehadiran orang ketiga. (4) angggapan penutur terhadap mitra tutur. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. (11) ekologi percakapan. kita menggabungkan bunyi-bunyi bahasa (fonem) menjadi kata (butir leksikal) sesuai dengan aturan dari bahasa yang kita gunakan. (7) adegan tutur. warna emosi. Poedjosudarmo (1979) menganggap pokok tutur hanya merupakan salah satu butir komponen tutur yang peranannya banyak dipengaruhi oleh komponen tutur lain. pada umumnya memiliki konsep-konsep yang sama. (8) pokok pembicaraan. Poedjosudarmo (1979) lebih menaruh perhatian terhadap aspek peserta tutur. anggapan terhadap mitra tutur.wordpress. sesuai dengan pemakainya. http://fathurrokhmancenter. Setiap batasan yang dikemukakan tersebut. sprache dalam bahasa Jerman. (3) kehendak tutur. Dalam aspek lain. Lambang. sesuai dengan aturanaturan sintaksis dalam bahasa. Dengan kata lain. Menurut Chomsky language is a set of sentences. verbal secara arbitrer. menurut Sturtevent berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang. simbol. (9) sarana tutur. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan. Masih banyak lagi definisi tentang bahasa yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. (6) nada dan suasana bicara. (10) urutan bicara. lughatun dalam bahasa Arab dan bhasa dalam bahasa Sansekerta.

Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayaan. kesepakatan. Dalam konsep ini kebudayaan dapat dimaknai sebagai fenomena material. Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuaikan diri kepada lingkungan. Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia. Definisi sturktural definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur. Definisi-definisi di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul Chaer yaitu: 1. Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan. menjadikan perbedaan antar-kebudayaan. Adapun Gooddenough sebagaimana disebutkan Mudjia Rahardjo dalam bukunya Relung-relung Bahasa mengatakan bahwa budaya suatu masyarakat adalah apa saja yang harus diketahui dan dipercayai seseorang sehngga dia bisa bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat. justru bermanfaat dalam mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. yang dapat diindentifikasi. Dan kebudayaan melingkupi semua aspek dan segi kehidupan manusia. dan suku bangsa telah ada sejak jaman nenek moyang. yang terdiri dari berbagai budaya. pemecahan persoalan dan belajar hidup. yang dapat diindentifikasi. sehingga pemaknaan kebudayaan lebih banyak dicermati sebagai keseluruhan sistem gagasan. 6. Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakekat kebuadayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku. oleh para anggota suatu masyarakat. 5. 12 . Adapun Menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam mengatakan kebudayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi. dan bersifat publik. sehingga tidak dapat dipisahkan. 2. baik itu berupa produk material atau non material. Ada yang mengatakan bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan. 4. namun mempunyai hubungan yang sangat erat. HUBUNGAN ANTARA BAHASA DAN BUDAYA Ada berbagai teori mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. dan bersifat publik. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat. bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang harus dicari dan perilaku harus dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan.PENGERTIAN BUDAYA Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama. keyakinan dan atauran-atauran yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka. kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan secara damai merupakan kekayaan yang tak ternilai dalam khasanah budaya nasional. 3. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama. Pluralisme masyarakat dalam tatanan sosial agama. Karena itu budaya merupakan “cara” yang harus dimiliki seseorang untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hidupnya. Karenanya tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang terlihat wujudnya dalam berbagai pranata yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia. Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial. tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda. Sehingga suatu kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan dan tata kelakuan tetapi suatu sistem perilaku yang terorganisasi.

makna tidak pernah bersifat absolut. FENOMENA ANTARA BAHASA DAN BUDAYA Bahasa bukan saja merupakan "property" yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa. Melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga berarti adik. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya. Mengapa hal ini bisa terjadi ? semua ini karena bahasa itu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. ada juga yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia atau masyarakat penuturnya. maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja. beras. Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak. sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Dalam budaya masyarakat inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi.10 Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif. yakni hubungan yang sederajat. Kalau kebudayaan itu adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat.html Masyarakat Bahasa Bahasa Sebagai Komunikasi Sosial 13 . Dalam analisis semantik. Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin: brother dan sister. sisi yang satu sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan. Sebaliknya. du buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang. Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya.com/2009/05/hubungan-bahasa-dengan-budaya. dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish. http://anaksastra. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish. Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia: yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Dengan demikian hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam. Jadi. tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada budaya.blogspot. hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif. Masinambouw menyebutkan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu. yang kedudukannya sama tinggi. kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain berarti gabah dan pada konteks lain lagi berarti beras atau padi. Karena itu. gabah.Ada yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan. Dari sudut pandang wacana. di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyakatnya tidak berbudaya makan nasi. dalam bahasa banjar disebut iwak. tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. dan padi. Lalu karena makan nasi bukan merupakan budaya Inggris.11 Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk. tidak ada kata yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa).

Sebagai sistem mediasi. Di dalam kehidupan masyarakat fungsi bahasa secara tradisional dapat dikatakan sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. yaitu budi manusia. maka bahasa sebagai penjelmaan daripada budi itu adalah cerminan selengkap-lengkapnya dan sesempurna dari kebudayaan. dan hal ini sulit ditentukan secara secara definitif dan pasti. untuk mengungkapkan hakikat bahasa dalam kehidupan manusia dapat dilaksanakan dengan melakukan suatu deskripsi serta memberikan contoh-contoh dalam kehidupan manusia yang digunakan secera berbeda. walaupun terdapat perbedaan adakalanya terdapat sutau kemiripan. Hal ini disebabkan karena jika bahasa sebagai sistem bunyi gagal mengendap dalam kantong-kantong budaya. bahasa tidak hanya menggambarkan cara pandang manusia tentang dunia dan konsepsinya. namun ia mengetahui apa yang harus diperbuat dalam suatu permainan. maka bahasa itu mendapat arti jauh lebih tinggi daripada sistem bunyi atau fonem. Bagi 14 . bahasa senantiasa digunakan secara khas dan memiliki suatu aturan permainan tersendiri. Jadi bahasa tersebut tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Untuk itu. fungsi bahasa tidak hanya semata-mata sebagai alat komunikasi. sebuah permainan dari simbol verbal yang didasarkan dengan rasa indera kita (pencitraan). tetapi juga membentuk visi tentang realitas. Dalam konteks proyeksi kehidupan manusia. Pandangan di atas. merajut pada pemikiran bahwa dengan melukiskan bahasa sebagai penjelmaan pikiran dan perasaan. Oleh karena itu budilah yang melahirkan kebudayaan. Oleh karena itu. maka masyarakat pun gagal untuk memahami dan dipahami dalam konteks komunikasi antarbudaya. bahkan dapat dikatakan tidak terbatas.Sebagian orang berpendapat bahwa bahasa sebagai sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain. namun diasumsikan bahwa komunikasi antabudaya itu sangat sulit. Perhatian terhadap kelompok-kelompok minoritas ini sekarang telah menjadi betapa penting dengan adanya kontak antarbudaya. terdapat banyak permainan bahasa dalam kehidupan manusia. Meskipun orang tidak mengetahui secara persis sebuah permainan bahasa tertentu. Dari pernyataan diatas dapat dirtarik kesimpulan bahwa bahasa merupakan salah satu alat untuk mengadakan interaksi terhadap manusia yang lain. Namun demikian. dan nantara tata permainan satu dengan lainnya tidak dapat dintentukan dengan suatu aturan yang bersifat umum. Akan tetapi. Dengan adanya bahasa kita kita dapat berhubungan dengan masyarakat lain yang akhirnya melahirkan komunikasi dalam masyarakat.

Segi topic Dilihat dari segi topik maka bahasa itu berfungsi referensial. pendengar. seperti pada saat mengajarkan tentang kaidah-kaidah atau aturan-aturan bahasa yang dijelaskan dengan menggunakan bahasa. Segi amanat 15 . 4. bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. ataupun gembira. Segi kode Dilihat dari segi kode maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metalinguistik. Adapun penjelasan tentang fungsi-fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut: 1. Segi pendengar Dilihat dari segi pendengar maka bahasa itu berfungsi direktif. 5. sedih. Chaer (2004:15) berpendapat bahwa fungsi yang menjadi persoalan Sosiolingustik adalah dari segi penutur. kode. Dalam hal ini. 3. Segi penutur Dilihat dari segi penutur maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. Maksud dari pernyataan tersebut pada intinya bahwa fungsi bahasa akan berbeda apabila ditinjau dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan di atas. tetapi melakukan hal sesuai dengan keinginan si pembieara 2. Dalam hal ini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya. yaitu bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.Sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat yang fungsinya menyampaikan pikiran saja dianggap terlalu sempit. yaitu mengatur tingkah laku pendengar. topik. dan amanat pembicaraan. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Maksudnya. baik sedang marah. bukan hanya menyatakan sikap lewat bahasa tetapi juga memperlihatkan sikap itu sewaktu menyampaikan tuturannya.

yaitu a. Berdasarkan verbal repertoire yang dimiliki oleh masyarakat. Kemampuan komunikatif meliputi kemampuan bahasa yang dimiliki oleh penutur beserta keterampilan mengungkapkan bahasa tersebut sesuai dengan.Dilihat dari segi amanat yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginatif. dan perasaan (baik sebenarnya maupun khayalan/rekaan). Menurut Wijaya dan Muhammad (2006 : 46) masyarakat tutur ialah sekelompok orang dalam lingkup luas atau sempit yang berinteraksi dengan bhasa tertentu yang dpat dibedakan dengan kelompok masyarakat tutur lain atas dasar perbedaan bahasa yang bersifat signifikan. yakni bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran. fungsi dan situasi serta norma pemakaian dalam konteks sosialnya. Masyarakat monolingual (satu bahasa) b. Chaer dan Agustina (2004 : 36) mendefinisikan masyarakat tutur sebagai suatu kelompok orang atau masyarakat memiliki verbal repetoir yang relatif sama serta mereka mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu. masyarakat bilingual (dua bahasa) c. masyarakat bahasa dibedakan menjadi tiga. atau yang berpegang pada bahasa standart yang sama.blogspot. yaitu verbal repertoire yang dimiliki individu dan yang dimiliki masyarakat. Masyarakat tutur menurut Kridalaksana (2008 : 150) ialah kelompok orang yang merasa memiliki bahasa bersama atau yang merasa termasuk dalam kelompok itu. masyarakat multilingual. Masyarakat Bahasa Dalam sosiolinguistik Dell Hymes tidak membedakan secara eksplisit antara bahasa sebagai sistem dan tutur sebagai keterampilan. gagasan. 16 .com/2009/02/hubungan-masyarakat-dan-bahasa.(lebih dari 2 bahasa) Kemampuan komunikatif yang dimiliki individu maupun kelompok disebut verbal repertoire.html 05 November 2008 Masyarakat Tutur Masyarakat Tutur. Jika suatu masyarakat memiliki verbal repertoire yang relatif sama dan memiliki penilaian yang sama terhadap pemakaian bahasa yang digunakan dalam masyarakat disebut masyarakat bahasa. Keduanya disebut sebagai kemampuan komunikatif (communicative competence). Jadi verbal repertoire dapat dikelompokkan menjadi dua. http://ferdinan01. Fishman dalam Cher dan Agustina (2004 : 36) mengatakan masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggitanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi bahasa dan norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya.

melainkan lebih banyak oleh partisipasi penutur dalam seperangkat norma bersama . Wijaya dan Muhammad (2006 : 51) memberikan contoh 17 . 2004 : 39) Verbal repertoire ialah semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai seorang penutur. jenis kelamin. dan dari keseragaman pola-pola variasai yang basatrak yang tetap sehubungan dengan tingkat penggunaan tertentu. Fishman dan Gumperz dalam Chaer dan Agustina (2004 : 38) mengatakan bahwa masayarakat modern mempunyai kecenderungan masyarakat tutur yang lebih terbuka dan cenderung menggunakan barbagai variasi dalam bahasa yang sama. Penutur berkompeten (Fully Fledge Speaker) Penutur berkompeten ialah penutur yang benar-benar mampu menggunakan bahasa dalam berbagai pengetahuan tentang kosa kata dan struktur bahasa yang bersangkutan. latar belakang keagamaan. dan menunjukkan pemilikan wilayah linguistic yang lebih sempit. 2. Variasi yang digunakan oleh orang-orang yang berbeda tingkat sosialnya termasuk variasi dialek social atau sosiolek. anggota-anggotanya memungkinkan memiliki ciri fisik yang berupa organ bicara (organ of speech) yang berbeda-neda yang pada gilirannya nantu menghasilkan idiolek yang berbeda. Sementara itu.Gumperz dalam Sumarsono (2007 : 318) mengatakan bahwa masyarakat tutur ialah sekelompok menusia yang memiliki karakteristik khas karena melakukan interaksi yang teratur dan berkali-kali dengan tanda-tanda verbal yang sama. Ciri khas bahasa seseorang disebut idiolek. tingkat keakraban. Berdasarkan pendapat para ahli bahasa dan sosiolinguistik diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat tutur ialah sekelompk orang atau individu yang memiliki kesamaan atau menggunakan sistem kebahasaan yang sama berdasarkan norma-norma kebahasaan yang sesuai. sehingga tidak mustahil bahwa dalam sebuah masyarakat tutur terdapat sejumlah masyarakat tutur lain dalam skope yang lebih kecil. dan sebagainya tentu menambah komplek wujud bahasa yang terdapat dalam sebuah masyarakat tutur. (Nababan dalam Chaer dan Agustina. Masyarakat tutur yang repertoire pemakaiannya lebih luas. Dalam masyarakat itu anggota-anggotanya dimungkinkan pula memiliki kepribadian yang berbeda yang nantinya menimbulkan wujud dan cara bahasa yang berlainan. misalnya. tetapi juga ditentukan oleh pandangan atau persepsi mereka terhadap bentuk bahasa yang digunakan oleh mereka dan bentuk bahasa yang digunakan oleh anggota masyarakat yang lain. yaitu : 1. (4) penegetahuan tentang bagaimana berbicara secara wajar. status sosial ekonomi anggota masyarakat yang berbeda-beda akan mewujudkan sosiolek yang berbeda. permohonan atau ucapan terima kasih. Dalam masyarakat yang sesungguhnya. pengetahuan bagaimana memulai sebuah pembicaraan. masyarakat tutur bahasa Jawa dialek Solo-Yogyakarta memiliki persepsi bahwa varian bahasa yang digunakannya memiliki prestise yang lebih tinggi dibandingkan dengan varian dialektal yang lain seperti bahasa Jawa dialek Jawa Timur. Faktor-faktor sosial dan individual yang lain. Misalnya. tetapi juga mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikannya secara pragmatis. seperti umur. dan berbeda dari kelompok lain karena adanya perbedaan yang signifikan dalam penggunaan bahasa. 2. termasuk juga perbedaan variasinya. asal kedaerahan yang berbeda akan melahirkan bermacam-macam variasi regional yang lazim disebut dialek. sedangkan masyarakat tradisional bersifat lebih tertutup dan cenderung menggunakan variasi dan beberapa bahasa yang berlainan. Anggota-anggota sebuah masyarakat tutur tidak hanya dicikan oleh bentuk bahasa yang digunakannya. Seorang penutur yang berkompeten harus memiliki empat pengetahuan yakni : (1) pengetahuan mengenai gramatikan dan kosa kata suatu bahasa. (2) pengetahuan mengenai kaidah-kaiah berbahasa (ules of speaking). William Labov dalam Sumarsono (2007 : 318) mengatakan bahwa masyarakat tutur tidaklah ditentukan oleh kesepakatan yang jelas dalam penggunaan unsur-unsur bahasa. (3) pengetahuan tentang bagaimana menggunakan dan merespon tipe-tipe tindak tutur yang berbeda-beda. Dalam sebuah masyarakat tutur. sepertyi perintah. Dan akhirnya. Masyarakat tutur yang sebagaian anggotanya mempunyai pengalaman sehari-hari dan aspirasi hidup yang sama. Seorang penutur partipatif biasanya ialah seorang pendatang dalam sebuah masyarakat tutur dan ia mengalami sebuah culture shock atau gegar budaya. dan menunjukan verbal repertoire setiap penutur lebih luas pula. sedangkan kumpulan idiolek dalam sebuah bahasa disebut dialek. Penutur Partisipatif ( Unfully Fledge Speaker) Penutur partisipatif ialah penutur yang tidak atau menguasai bahasa dalam berbagai tindak tutur atau komunkasi. terdiri atas dua jenis pnutur menurut Wijaya dan Muhammad (2006 : 48) yakni : 1. Berdasarkan luas dan sempitnya verbal repertoil sebuah masyarakat tutur dibagi menjadi dua. norma ini bias diamati pada perilaku evaluatif yang terbuka.

Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka.com/2008/11/masyarakat-tutur. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (social mobility) Pengertian Definisi Menurut Paul B. Ia mendengar seorang tetangganya yang penutur bahasa Jawa mengatakan “ Sesuk aku arep tunggu manuk. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi. ia gagal dan akhirnya jatuh miskin. pergeseran. seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang. ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Sementara menurut Kimball Young dan Raymond W. banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Contoh lain.” Perbedaan penafsiran kaliamt ini karena penutur dan lawan tutur memuliki perbedayaan budaya. pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Dengan demikian.” Orang bali tersebut tidak memahami makna sebenarnya kalimat tersebut sebab ia hanya memahami kalimatnya secara harfiah. seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Contohnya. tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Sebaliknya. meskipun latar belakang sosial berbeda. peningkatan. mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.sebagai berikut : Seorang penutur asli bahasa bali pindah ke kota semarang. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Horton. Individu-individu tersebut melaksanakan komunikasi antarindividu yang terjadi melalui dua tindakan yakni peristiwa tutur dan tindak tutur. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup.” Secara harfiah kalimat tersebut berarti “Bsok saya akan menunggu burung.blogspot. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta. padahal. meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Namun.html Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan. Cara untuk melakukan mobilitas sosial Secara umum. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Dalam dunia modern. Didalam sebuah masyarakat tutur terdapat individu-individu yang melakukan tuturan. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi. cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut : • Perubahan standar hidup 18 . tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah. http://muharrambanget. kalimat tersebut bermakna “Besok saya akan menghalau burung. Mack. Misalnya. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan.

Secara otomatis. Contoh: Seorang pegawai rendahan. seorang kulit hitam. sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak merubah standar hidupnya. Jika bertemu dengan kelompoknya. terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 19 . orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktekkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi. dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Perkawinan ini dapat menaikan status si wanita tersebut. karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela. ucapan. sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. indah. • Perubahan tingkah laku Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesau dengan kedudukannya yang baru seperti "Raden" Faktor penghambat mobilitas sosial Ada beberapa faktor penting yang justru menghambat mobilitas sosial. dan sebagainya. Bukan hanya tingkah laku. pejuang persamaan hak kulit hitam di Afrika selatan • Perbedaan kelas rasial. seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan "kang" di depan nama aslinya. Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa. minat. melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu. tetapi juga pakaian. • Perkawinan Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis. • Perubahan nama Dalam suatu masyarakat. dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing. ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Ini akan mempengaruhi peningkatan status. seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat. Dia merasa dituntut untuk mengkaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya. Faktor-faktor penghambat itu antara lain sebagai berikut : Nelson Mandela. misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan. Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas. dan mewah. • Perubahan tempat tinggal Untuk meningkatkan status sosial. seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas. Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah.

kekuasaan. Sesuai dengan arahnya. Mobilitas sosial vertikal Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. sehingga hanya 500 orang yang mendapat kesempatan untuk menaikan status sosialnya menjadi anggota DPR. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan. 20 . seperti yang terjadi di India yang menggunakan sistem kasta. dan kesempatan-kesenmpatan untuk meningkatkan status sosialya. • Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap prestasi. mobilitas sosial vertikal dapat dibagi menjadi dua. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya. mobilitas vertikal ke atas (social climbing) dan mobilitas sosial vertikal ke bawah (social sinking). Beberapa bentuk mobilitas sosial Mobilitas sosial horizontal Mobilitas horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Mobilitas vertikal ke atas (Social climbing) Mobilitas vertikal ke atas atau social climbing mempunyai dua bentuk yang utama • Masuk ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. Contoh: A adalah seorang guru sejarah di salah satu SMA. dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir tidak merubah status sosialnya. mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan Indonesia. Contoh: jumlah anggota DPR yag dibatasi hanya 500 orang. ia diangkat menjadi kepala sekolah. • Membentuk kelompok baru. misalnya dengan mengangkat diri menjadi ketua organisasi. di mana kedudukan tersebut telah ada sebelumnya. sehingga status sosialnya naik. Karena memenuhi persyaratan. Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi. • Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu. Diskriminasi Kelas dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk meningkatkan status sosialnya. Pembentukan suatu kelompok baru memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya. Contoh: Pembentukan organisasi baru memungkinkan seseorang untuk menjadi ketua dari organisasi baru tersebut. status sosial. Contoh: "A" memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayai.• • Agama. sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya. Contoh: Pak Amir seorang warga negara Amerika Serikat.

Kedudukan individu turun ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah. dan migrasi. Perbedaan status sosial antara Endra dengan adiknya ini juga dapat disebut sebagai mobilitas intragenerasi. melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi lainnya. Derajat sekelompok individu menjadi turun yang berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan. Contoh: Pak Parjo adalah seorang tukang becak. Namun. Namun. urbanisasi. kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. akibatnya. Mobilitas antargenerasi Mobilitas antargenerasi secara umum berarti mobilitas dua generasi atau lebih. ia kemudian memiliki unit usaha sendiri yang akhirnya semakin besar. Contoh: Pak Darjo awalnya adalah seorang buruh. Misalnya.Mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking) Mobilitas vertikal ke bawah mempunyai dua bentuk utama. status sosial tim pun turun. generasi anak. Contoh ini menunjukkan telah terjadi mobilitas vertikal antargenerasi. dan Anak ke-2. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru. dan seterusnya. Ia hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar. Contoh lain. • Turunnya kedudukan. Pak Bagyo memiliki dua orang anak. Ricky lebih beruntung daripada kakaknya. misalnya generasi ayah-ibu. Contoh: Juventus terdegradasi ke seri B. yang pada awalnya juga sebagai tukang becak. generasi cucu. Mobilitas ini ditandai dengan perkembangan taraf hidup. Mobilitas intragenerasi Mobilitas sosial intragenerasi adalah mobilitas yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam satu generasi. bernama Ricky. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas sosial Mobilitas sosial dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut. Sementara Endra tetap menjadi tukang becak. • Perubahan kondisi sosial Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. yang pertama bernama Endra bekerja sebagai tukang becak. baik naik atau turun dalam suatu generasi. Gerak sosial geografis Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi. karena ketekunannya dalam bekerja dan mungkin juga keberuntungan. Contoh: seorang prajurit dipecat karena melakukan tidakan pelanggaran berat ketika melaksanakan tugasnya. • Ekspansi teritorial dan gerak populasi 21 . karena ia dapat mengubah statusnya dari tukang becak menjadi seorang pengusaha. • Turunnya derajat kelompok. Penekanannya bukan pada perkembangan keturunan itu sendiri. tetapi ia berhasil mendidik anaknya menjadi seorang pengacara.

orang-orang dari tingkat ekonomi dan pendidikan yang lebih rendah mempunyai kesempatan untuk banyak bereproduksi dan memperbaiki kualitas keturunan. Sebaliknya. • Kemudahan dalam akses pendidikan Jika pendidikan berkualitas mudah didapat. biksu dan lain lain. menjadikan orang yang tak menjalani pendidikan yang bagus. kesulitan dalam mengakses pendidikan yang bermutu. Pada saat itu. perkembangan kota. akibat dari kurangnya pengetahuan. Dalam situasi itu. • Pembagian kerja Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. kesulitan untuk mengubah status. • Komunikasi yang bebas Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya. mobilitas sosial dapat terjadi. bertambah dan berkurangnya penduduk. • Lembaga pendidikan 22 . transmigrasi. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi.Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut. pendeta. Pada pihak lain. • Lembaga-lembaga keagamaan Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang. maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. tentu mempermudah orang untuk melakukan pergerakan/mobilitas dengan berbekal ilmu yang diperoleh saat menjadi peserta didik. Misalnya. walaupun berasal dari golongan masyarakat rendah. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan. Saluran-saluran mobilitas sosial • Angkatan bersenjata Angkatan bersenjata merupakan salah satu saluran mobilitas sosial Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan. • Tingkat Fertilitas (Kelahiran) yang Berbeda Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Misalnya. masyarakat kelas sosial yang lebih tinggi cenderung membatasi tingkat reproduksi dan angka kelahiran. misalnya yang berjasa dalam perkembangan Agama seperti ustad. ia akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat.

sehingga ia berhasil menjadi pedagang yang kaya. menggambarkan konflik antara kelas buruh dengan pengusaha. • Konflik antarkelompok sosial 23 . Contoh: Seorang anak dari keluarga miskin mengenyam sekolah sampai jenjang yang tinggi. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. orang yang rajin menulis dan menyumbangkan pengetahuan/keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas. • Organisasi keahlian Seperti di wikipedia ini. bahkan dianggap sebagai social elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. koperasi. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya. • Perkawinan Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. tinggi. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang ada di masyarakat dalam mobilitas sosial maka akan muncul konflik antarkelas. sehingga status sosialnya meningkat. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih . • Organisasi politik Seperti angkatan bersenjata. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi. yang secara otomatis telah meningkatkan status sosialnya. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Kelompok dalam lapisan-lapisan tadi disebut kelas sosial. • Organisasi ekonomi Organisasi ekonomi (seperti perusahaan. Semakin besar prestasinya. Setelah lulus ia memiliki pengetahuan dagang dan menggunakan pengetahuannya itu untuk berusaha. kekuasaan. Contoh: demonstrasi buruh yang menuntuk kenaikan upah. BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. maka semakin besar jabatannya. terdapat lapisan-lapisan sosial karena ukuran-ukuran seperti kekayaan. organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi.Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas. [sunting] Dampak mobilitas sosial Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Dan karena kekayaannya bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat. [sunting] Dampak negatif • Konflik antarkelas Dalam masyarakat. dan pendidikan.

profesi. http://id. agama.wikipedia. Di antaranya kelompok sosial berdasarkan ideologi. [sunting] Dampak positif • Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. • Konflik antargenerasi Konflik antar generasi terjadi antara generasi tua yang mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan.org/wiki/Gerak_sosial 24 . Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan. Contoh: tawuran pelajar. maka akan timbul penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa penyesuaian kembali yang didasari oleh adanya rasa toleransi atau rasa saling menghargai. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing.Di dalam masyatakat terdapat pula kelompok sosial yang beraneka ragam. Penyesuaian semacam ini disebut Akomodasi. Contoh: Pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. maka timbul konflik. • Penyesuaian kembali Setiap konflik pada dasarnya ingin menguasai atau mengalahkan lawan. Bagi pihak-pihak yang berkonflik bila menyadari bahwa konflik itu lebih banyak merugikan kelompoknya. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. suku. Bila salah satu kelompok berusaha untuk menguasai kelompok lain atau terjadi pemaksaan. perang antarkampung. • Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. dan ras.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->