PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL OLEH GURU PKn DI SMA NEGERI I BANJARNEGARA

Skripsi Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh: Nama NIM Jurusan : Anggun Kusuma Wardani : 3401403029 : Hukum dan Kewarganegaraan

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing dan untuk selanjutnya diajukan ke depan sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Tijan, M.Si NIP. 131658237

Drs. Sumarno NIM. 131475652

Mengetahui Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan

Drs. Slamet Sumarto, M.Pd NIP. 131570070

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan sidang panitia skripsi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : :

Penguji Skripsi

Drs. AT Sugeng Priyanto, M.Si NIP. 131813668

Anggota I

Anggota II

Drs. Tijan, M.Si NIP. 131658237

Drs. Sumarno NIP. 131475652

Mengetahui Dekan Fakultas Universitas Negeri Semarang

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iii

Semarang. 3401403029 iv . bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Juni 2007 Anggun Kusuma W NIM. baik sebagian atau seluruhnya.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis didalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

membimbing. Bambang..… yang semasa hidup beliau telah merawat.Esav…….yang sudah membantu dan mensupport-qu Sahabat KFC………(Diyah. Enrica. mendidik dengan penuh kasih sayang (terima kasih Ibu…Engkau telah berikan yang terbaik untukku) Adikku Dani……….. Santi.. Rini.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: “Berdoa dan berusaha adalah dua kunci keberhasilan sedangkan tawakal adalah awal dari kesempurnaan” “Be humble Alloh Creature” Persembahan: Untuk orang tuaku sekaligus keluargaku di Banjarnegara Dan Teruntuk Almarhumah Ibu tercinta…………. Dwi. kau penyemangat bagiku dan kau menambah keceriaan dalam hidup ini Terima kasih untuk mas.yang selama ini mewarnai hari-hariku Teman-teman PPKn’03 dan Almamaterku v . Yeni.terima kasih sayang. Edi) terima kasih kau memberiku arti kebersamaan Teman-teman wisma Annisa…….

Bapak Prof..T yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara” dengan lancar.M.. Bapak Drs... maka skripsi ini dapat tersusun. Fakultas Ilmu Sosial.W. M. M.Pd. Sumarno.Si. Bapak Drs. H. Tijan. Bapak Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. M.. Dosen Pembimbing I yang dengan sabar mengarahkan dan membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini dari awal hingga akhir 5.Si. Bapak Drs. Untuk itu penulis sampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada: 1.PRAKATA Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Alloh S. Penulis menyadari bahwa berkat bantuan dari berbagai pihak. Dr. Dekan Fakultas Ilmu Sosial 3. petunjuk dan bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini vi . Sunardi. Universitas Negeri Semarang. Skripsi ini merupakan syarat akademis dalam menyelesaikan pendidikan SI di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. M. Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan 4.Sudijono Sastroatmodjo. Dosen Pembimbing II yang penuh ikhlas dalam memberikan saran. Slamet Sumarto.

Ag. Almarhumah Ibu tercinta yang semasa hidup beliau selalu membimbing serta memberikan kasih sayang kepada penulis 9. Semarang. Adikku Dani yang senantiasa memberi semangat dan keceriaan dalam hidup penulis 10. S. Guru pengampu bidang studi Kewarganegaraan yang telah membantu penulis di lapangan dalam mendapatkan data-data yang kami butuhkan 8. M.6. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Keluarga di rumah yang selalu memberi semangat dan bantuan hingga penulis jadi sarjana 11. Juni 2007 Penulis vii . Mahmudi. Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. H. Sigit Budi Nurani. oleh karena itu penulis sangat berterimakasih bila ada saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya penyusunan skripsi ini. Bapak Drs.Pd dan Bapak Drs.. Ibu Purwati.. Kepala Sekolah SMA Negeri I Banjarnegara yang mengijinkan penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah yang beliau pimpin 7.

Kualitas pembelajaran diantaranya bergantung pada kemampuan guru. Lokasi penelitian yang dijadikan objek adalah SMA Negeri I Banjarnegara. Kontekstual. (2) Untuk mengetahui proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. viii . PKn Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. program semester. wawancara. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. perhitungan minggu efektif. Kata Kunci: Pembelajaran. maka perlu diadakan peneliitan terhadap hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. (2) Kegiatan belajar mengajar PKn sudah cukup baik meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah dibandingkan dengan metode yang lain.SARI Anggun K. Berdasarkan hasil penelitian. Untuk mengetahui sejauh mana penerapan pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran PKn di sekolah. namun guru tetap menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif dengan cara melibatkan 7 komponen utama pembelajaran kontekstual. dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau yang sering disingkat CTL merupakan salah satu strategi belajar yang diharapkan mampu mengefektifkan proses belajar mengajar dimana pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. 2007. terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. (3) Untuk mengetahui sistem penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. Sedangkan untuk pengembangan silabus dibuat secara bersama-sama dalam MGMP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. dapat disimpulkan bahwa: (1) Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara secar mandiri meliputi: program tahunan. (3) Penilaian pembelajaran PKn dilakukan guru secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Sehingga pada akhirnya pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi. bukan hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa.W. serta dokumentasi yang diolah dan diperiksa dengan menggunakan tekhnik triangulasi untuk pengecekan keabsahan data dengan proses hasil wawancara dan observasi kemudian dicocokkan dengan isi dokumen yang terkait. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara?”.

pengertian dan pemahaman tentang pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). ix . Dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memberikan pengalaman belajar secara kontekstual dan praktis kepada siswa. Dan bagi sekolah diharapkan meningkatkan sarana dan prasarana guna mendukung proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.Saran. Secara global masih perlu adanya pelatihan-pelatihan ataupun seminar untuk menambah pengetahuan.

... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN .... Manfaat Penelitian ......... Perumusan Masalah ............................................................................................................................... Konsep Pembelajaran..... xiii DAFTAR LAMPIRAN............ Konsep Mata Pelajaran PKn ........................................................................... Konsep Pembelajaran Kontekstual ........................................................................................................................................................ 6 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................................................... Tujuan Penelitian ...................................... 8 B............................................................................................................ Konsep Dasar dan Perubahan Kurikulum ........................................................... 5 D.......... ii PENGESAHAN KELULUSAN .......... viii DAFTAR ISI........................................... xiv BAB I PENDAHULUAN ................... 8 A................................................................................. 17 x ................... 6 E............................................................................. 14 D........................................ x DAFTAR TABEL................................................................................................................... vi SARI .......... 1 B................................................. 1 A..................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING................................ v KATA PENGANTAR ....................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................ 5 C........................................................... 10 C........................................................................................ Latar Belakang .................................................................. iii PERNYATAAN.......................... Sistematika Skripsi.................................................

.. Penilaian Pembelajaran Kontekstual .............................................. Tinjauan Umum Sekolah yang diteliti ......................................................................... 52 4... 55 B............................... Proses Pembelajaran Kontekstual ............................................................................................................................................... 40 H........... Penilaian Pembelajaran Kontekstual . Pembahasan........................................... 44 2........ 44 1................................................................................... Perencanaan Pembelajaran Kontekstual........ 36 E.. Metode Analisis Data............................. Kerangka Berfikir ...... 75 A........... 75 xi .............................................................. Hasil Penelitian ................... 59 1...................................................................... Prosedur Penelitian .................... Fokus Penelitian ................................... 60 2........ Metode Pengumpulan Data .............. 47 3........................ 64 3....................... 38 G........... 35 D....... 34 A............................... 34 B.......................................................................................................................... 37 F.......... 23 F..... 74 BAB V SIMPULAN DAN SARAN .................................... Dasar Penelitian ............. 42 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................................... Sumber Data Penelitian................................... Proses Pembelajaran Kontekstual ..................................... 34 C...........E.. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual......................................................... Simpulan .............................................................................................................................. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual.................... Validitas Data Penelitian....... 44 A................................... Lokasi Penelitian.......... 30 BAB III METODE PENELITIAN ............................................................................

.................................. 78 LAMPIRAN-LAMPIRAN xii .......B................................................................................ Saran .............................. 76 DAFTAR PUSTAKA ...................................

................................................... Perbedaan Pembelajaran Konvensional dengan Kontekstual ... Kondisi Guru................. 51 Tabel 6............................... 50 Tabel 4........................................ Eksistensi Perencanaan Pembelajaran . Komposisi Siswa............................................ 62 xiii ............................... Sarana dan Prasarana ..................................... 23 Tabel 3............................... Sistem Penilaian ................. 14 Tabel 2.........................................................................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1..................... 53 Tabel 7............. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar..... 50 Tabel 5.........

Program Unggulan Sekolah 7. Daftar nama dan Kode Guru 8. Pedoman Wawancara untuk Siswa 18. Kalender Pendidikan 10. Catatan Dokumentasi 19. Struktur Organisasi SMA Negeri I Banjarnegara 9. Program Semester 12. Program Tahunan 11.DAFTAR LAMPIRAN 1. Daftar Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan 16. KTSP SMA Negeri I Banjarnegara 4. Surat Ijin Survey Pendahuluan 2. Foto-foto Dokumentasi xiv . Penilaian Proses dan Hasil Belajar Siswa 15. Pedoman Wawancara untuk Guru 17. Lembar Pengamatan 20. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 14. Profil Sekolah 6. Perhitungan Alokasi Waktu 13. Surat Ijin Penelitian 3. Visi dan Misi Sekolah 5.

serta mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. di mana tiap-tiap sekolah memiliki wewenang untuk mengelola dan meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Salah satu pengaruh tersebut adalah diberlakukannya otonomi sekolah. bahwa pengetahuan sebagi perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kualitas pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru. peran dan tanggung jawab guru sesuai dengan kebijakan otonomi sekolah antara lain adalah menguasai dan mengembangkan materi pembelajaran. Guru merupakan personil sekolah yang memiliki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan siswanya.BAB I PENDAHULUAN A. terutama dalam memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara efektif dan efisien. Dengan demikian. maka guru mempunyai peran yang strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam lingkup kelas. LATAR BELAKANG Otonomi daerah membawa pengaruh bagi manajemen pendidikan di Indonesia. Kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. Berdasarkan pengamatan. sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan. Kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. merencanakan dan mempersiapkan pembelajaran. 1 .

Sering dijumpai guru terbiasa melaksanakan kegiatan pembelajarannnya dengan metode konvensional di mana siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pencapaian dan keberhasilan pendidikan berdasarkan hasil akhir pembelajaran dengan mengabaikan proses. Dengan konsep itu. . bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa ibarat kertas putih bersih yang siap diisi dengan ilmu pengetahuan. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. maka diperlukan suatu inovasi strategi belajar yang diharapkan lebih efektif dan efisien sebagai alternatif yaitu pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat dengan CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. kurang fleksibel dan guru cenderung kurang demokratis.2 ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Proses belajar mengajar terkesan kaku. Siswa cenderung pasif dan hanya sebagai pendengar ceramah guru tanpa diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Adanya kenyataan seperti di atas.

yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. dalam status apa mereka. dan bagaimana mancapainya. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung di SMA Negeri I Banjarnegara telah berkembang seiring dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini. apa manfaatnya. teknologi dan informasi. Keberadaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut peran aktif guru dalam mengolah pembelajaran menjadi pembelajaran yang berkualitas dan mengembangkan ranah atau domain pembelajaran siswa yang . siswa perlu mengerti apa makna belajar. Dalam upaya itu. Kondisi SMA Negeri I Banjarnegara yang terletak secara strategis di tengah kota sangat dominan dalam mengembangkan dunia kependidikan di kota Banjarnegara. SMA Negeri I Banjarnegara yang mrupakan sebuah institusi pendidikan merupakan wadah pengembang wawasan keilmuan masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Terbukti bahwa SMA Negeri I Bajarnegara telah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal lain yang ada di kota Banjarnegara. Adapun kurikulum tersebut merupakan kurikulum penyempurnaan atas kurikulum sebelumnya yakni Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. seiring dengan kemajuan zaman. mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. khususnya dalam bidang akademik maupun prestasi.3 Dalam konteks tersebut.

Kurikulum yang digunakanpun telah disesuaikan dengan kurikulum yang saat ini berlaku yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Di samping itu. pemodelan (modelling). refleksi (reflection). Strategi pembelajaran menuntut guru PKn agar dapat menjadikan siswa mampu menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata. Untuk mengetahui sejauh mana penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah. bertanya (questioning). Salah satu strategi pembelajaran yang merupakan perangkat pembelajaran berasosiasi dengan KTSP adalah strategi pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan tujuh komponen pembelajaran yang meliputi konstruktivisme (constructivism). Adapun penelitian akan dilaksanakan di SMA Negeri I Banjarnegara dengan pertimbangan bahwa di sekolah tersebut pelaksanaan pembelajaran kontekstual telah dilaksanakan pada semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. ranah afektif dan ranah psikomotorik. dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). namun strategi yang secara adaptif mampu dikembangkan oleh siswa secara mandiri. Dalam hal ini strategi yang digunakan tidak hanya strategi yang secara konvensional saja.4 meliputi ranah kognitif. menemukan (inquiry). karena SMA Negeri I Banjarnegara merupakan salah . masyarakat belajar (learning community). maka perlu diadakan penelitian terhadap hal tersebut.

78 (lihat lampiran 3). Dari latar belakang tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual oleh Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara”. Bagaimanakah sistem penilaian pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? C. 1. maka masalah utama yang akan diteliti adalah “Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara”. TUJUAN PENELITIAN Adanya penulisan penelitian ini bertujuan sebagai berikut. B. 1. Bagaimanakah persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? 2.36 sedangkan untuk NEM keluar (kelas III) rata-ratanya untuk IPA yaitu 8. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas. dengan data tahun pelajaran 2006/2007 NEM masuk (kelas I baru) rata-ratanya 8. Untuk mengetahui persiapan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara .5 satu SMA favorit yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Bagaimanakah proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara? 3. Dengan uraian sub permasalahan sebagai berikut.62 dan untuk IPS yaitu 7.

1. Adapun skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: 1. Pendahuluan. daftar tabel. D. Untuk mengetahui sistem penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dalam pembelajaran kontekstual. Untuk mengetahui proses pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara 3. Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara 2. kata pengantar.6 2. . daftar isi. abstrak. motto dan melalui pengembangan pendekatan pembelajaran persembahan. Memberikan konstribusi dan motivasi bagi guru PKn pada khususnya dan guru mata pelajaran pada umunya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran kontekstual 3. meliputi: judul. E. perlu dikemukakan garis besar pembahasan melalui sistematika skripsi. Memberikan masukan bagi sekolah dalam mensosialisasikan pembelajaran kontekstual kepada guru-guru mata pelajaran agar lebih memaksimalkan pelaksanaan pendekatan tersebut dan memperbaiki kualitas pembelajaran. pengesahan. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut. GARIS-GARIS BESAR SISTEMATIKA SKRIPSI Dalam memberikan gambaran umum mengenai isi penelitian skripsi ini. dan daftar lampiran.

metode pengumpulan data. dan prosedur penelitian. proses pembelajaran kontekstual. Bagian isi. konsep pembelajaran. berisi: konsep dasar dan perubahan kurikulum. konsep pembelajaran kontekstual. e. Bab I Pendahuluan. permasalahan. fokus penelitian. meliputi: dasar penelitian. meliputi: a. c.7 2. Bagian akhir. metode analisis data. lokasi penelitian. pelaksanaan pembelajaran kontekstual. meliputi: tinjauan umum sekolah yang diteliti. tujuan penelitian. dan sistematika penulisan skripsi b. meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran . Bab III Metode Penelitian. validitas data penelitian. dan penilaian pembelajaran kontekstual. sumber data penelitian. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. meliputi simpulan dan saran 3. dan kerangka berpikir. perencanaan pembelajaran kontekstual. d. konsep mata pelajaran PKn. berisi: latar belakang. Bab V Penutup. Bab II Landasan Teori.

a. c. Macdonal. Seperti dikemukakan oleh Darsono (2000: 127) bahwa pengertian kurikulum menurut para ahli dapat dicermati seperti di bawah ini. b. Krugi.BAB II LANDASAN TEORI A. isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. pengaturan tentang pelaksanaan proses belajar 8 . mengemukakan kurikulum sebagai rencana kegiatan untuk menuntun pengajaran. Konsep Dasar dan Perubahan Kurikulum Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Artinya kurikulum merupakan rencana. Beauchamp. menguraikan bahwa kurikulum merupakan semua cara yang ditempuh sekolah agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang diinginkan. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada sisi lain yaitu Pasal 1 ayat 19 UU No. berpendapat bahwa kurikulum adalah dokumen tertulis yang memuat rencana untuk pendidikan peserta didik selama belajar di sekolah. mendefinisikan kurikulum sebagai rencana untuk membelajarkan peserta didik. d. Hilda Taba. menerangkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan.

Kurikulum itu disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum merupakan pedoman yang akan direalisasikan oleh guru dalam menciptakan situasi belajar. 060/V/1993 dan No. Atas dasar pengertian diatas. Dengan mengacu pada UU No. maka draf kurikulum tersebut perlu disesuaikan kembali. Adapun penyempurnaan kurikulum selanjutnya dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum senantiasa berubah seiring dengan perkembangan zaman dan adanya perubahan terhadap pendidikan oleh pemerintah pusat.9 mengajar yang akan dilaksanakan oleh guru. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Namun dengan lahirnya UU No. Setelah beberapa tahun diimplementasikan. 19 Tahun 2005 tentang SNP. . Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah yang berlaku pada awalnya adalah Kurikulum 1994 yang ditetapkan melalui Keputusan Mendikbud No. Draf kurikulum hasil rintisan tersebut semula akan diberlakukan penerapannya di sekolah-sekolah mulai tahun ajaran 2004/2005. Permen Diknas No. 061/V/1993. maka dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah rencana kegiatan yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai pengalaman belajar yang diinginkan. pemerintah memandang perlu dilakukan kajian dan penyempurnaan sehingga mulai tahun 2001 Depdiknas melakukan serangkaian kegiatan untuk menyempurnakan Kurikulum 1994 dan melakukan rintisan secara terbatas untuk validasi dan mendapatkan masukan yang empiris. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. PP No.

B. selanjutnya BSNP menggagas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. 2006). KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan. dan bagi sekolah yang telah siap. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Pada tahun 2009/2010 diharapkan semua sekolah telah melaksanakan KTSP (Puskur Balitbang. menguasai pengetahuan. Konsep Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 1.24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. dan silabus. Pengertian dan Dimensi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di dalam kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kewarganegaraan dijelaskan bahwa mata pelajaran kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang ingin membentuk warga negara yang ideal yaitu warga negara yang memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. keterampilan dan nilai-nilai sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip kewarganegaraan. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Sehubungan dengan itu. Permen Diknas No. kalender pendidikan. dinyatakan bahwa mata pelajaran kewarganegaraan mencakup tiga dimensi yaitu: . Permen Diknas No. Adapun KTSP mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2006/2007 bagi Sekolah Standar Nasional (SSN). Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI).10 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.

hak asasi manusia. keberbasan pers. dan mengelola konflik. sejarah nasioanal. dan proses pengambilan keputusan politik. kebebasan berserikat dan berkumpul dan perlindungan terhadap minoritas (Depdiknas). usia. bahas. lembaga pemerintah dan non pemerintah. keterampilan mempengruhi dan memonitoring jalannya pemerintahan. identitas nasional. kebebasan individual. Misalnya dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society). kerja sama. dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge) yang mencakup bidang politik. sosio-kultural. hak sipil dan hak politik. dimensi keterampilan kewarganegaraan (civics skill) yang meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. hak dan kewajiban warga negara. kebebasan berbicara. 2. dan suku bangsa untuk menjadi warga negara . meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan proses demokrasi. hukum dan moral. komitmen. pemerintah berdasar hukum dan peradilan yang bebas dan tidak memihak. keterampilan mengadakan koalisi. Hakikat Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kewarganegaraan (citizenship) adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. keterampilan memecahkan masalah sosial. dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civics values) yang mencakup kepercayaan diri. 2. 3. toleransi.11 1. konstitusi. penguasaan atas nilai-nilai religi.

Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk riri berdasarkan pada karakter-karakter Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Kewarganegaraan Mata pelajaran Kewarganegaraan berfungsi sebagai wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas. 3. b. 4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas. a. dan d. berbangsa dan bernegara. dan kreatif dalam menggapai isu kewarganegaraan. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi aspek-aspek sebagai berikut: . terampil. dan berkarakter sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas. Tujuan mata pelajaran kewarganegaraan adalah untuk memberikan kompetensi-kompetensi sebagai berikut. 2002).12 Indonesia yang cerdas. rasional. Berpartisipasi secara bermutu dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat. terampil dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berfikir sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Berfikir secara kritis. c. 2002).

Kemerdekaan mengeluarkan pendapat. Instrumen nasional dan internasional HAM. Menghargai keputusan bersama. Demokrasi dan sistem politik. Konstitusi Negara. harga diri sebagai warga masyarakat. Kebutuhan warga negara. penghormatan dan perlindungan HAM d. Cinta lingkungan. meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama. Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia. Hak dan kewajiban anggota masyarakat. Hak asasi manusia. meliputi: Pemerintahan desa dengan kecamatan. Sistim hukum dan peradilan nasional. Peraturan-peraturan daerah. Pemajuan. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tata tertib di sekolah. meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga.13 a. Prestasi diri. Norma. Norma yang berlaku di masyarakat. meliputi: Hak dan kewajiban anak. meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan. Kebebasan berorganisasi. Hukum dan peradilan internasional c. Partisipasi dalam pembelaan negara. Budaya demokrasi . Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Keterbukaan dan jaminan keadilan b. Persamaan kedudukan warga negara e. Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonsia. Pemerintah pusat. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Pemerintahan daerah dan otonomi. Sumpah Pemuda. Hubungan dasar negara dengan konstitusi f. meliputi: Hidup gotong royong. Budaya politik. hukum dan peraturan. Kekuasaan dan politik. Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hubungan internasional globalisasi. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran PKn Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). dan kelas XII lebih lanjut dapat dilihat dalam lampiran.. meliputi: Kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara. 5.14 menuju masyarakat madani. Pancasila sebagai ideologi terbuka h. Globalisasi. 22 Tahun 2006). Pengertian Belajar dan Pembelajaran Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. kelas XI. Pancasila. Belajar bukan hanya mengingat. dinyatakan bahwa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan minimal harus ada dalam Standar Isi (Permen diknas No. dan organisasi internasional. Dampak globalisasi. dan Mengevaluasi C. meliputi: Globalisasi di lingkungannya. Sistem pemerintahan. Pers dalam masyarakat demokrasi g. Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil . Konsep Pembelajaran 1. akan tetapi lebih luas daripada itu yakni mengalami. Adapun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PKn kelas X.

15 latihan. Teori Kognitif. sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. jasmani. . sikap dan lain-lain. sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna). Teori Gestalt. menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). melainkan perubahan kelakuan yang meliputi aspek-aspek seperti pengetahuan. Sedangkan secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut. apresiasi. Kalau seseorang telah melakukan perbuatan belajar. a. dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau reinforcement (penguatan). b. budi pekerti (etika). menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa. Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan. 2002: 36). hubungan sosial. Teori Behavioristik. c. kebiasaan. maka terjadi perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut (Hamalik. emosional. pemahaman. Darsono (2002: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa.

Didalamnya terkandung tujuan yang menjadi target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan pengalaman-pengalaman belajar. Oleh karena itu pembelajaran . Ciri-ciri Pembelajaran Darsono (2002: 65) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut. Teori Humanistik. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang bagi siswa d. baik secara fisik dan psikologis. Pembelajaran dapat membuat siswa menerima pelajaran. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar c. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncana secara sistematis b. 2. Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa f. 3. a. Tujuan Pembelajaran Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menyenangkan bagi siswa e.16 d.

D. dan Pendekatan Pembelajaran J. 2002: 24-26). Konsep Pembelajaran Kontekstual 1. keterampilan. dalam dunia pendidikan strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di disain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan pembelajaran adalah membantu pada siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah. Pengertian Strategi. dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa (Darsono. Metode.R. Artinya. Ada dua hal yang perlu dicermati dari pengertian strategi pembelajaran tersebut. Kedua.17 pasti mempunyai tujuan. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. sebelum menentukan strategi perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pembelajaran. sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi. arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan. baik kuantitas maupun kualitas. David dalam Wina Sanjaya (2006: 124) menjelaskan bahwa. Pertama. Oleh sebab itu. strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. .

18 Adapun upaya pengimplementasian rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal disebut dengan metode. Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Menurut Roy Killen (1998) ada dua pendekatan pembelajaran. 2006: 124-125). Pengertian strategi berbeda dengan metode. Oleh karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber atau tergantung dari pendekatan tersebut. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiry serta pembelajaran induktif (Sanjaya. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu. Hakikat Pendekatan dan Pembelajaran Kontekstual Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah diciptakan dalam proses belajar. sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centred-approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred-approaches). 2. Pendekatan kontekstual . Sebenarnya pendekatan berbeda baik dengan strategi maupun metode. agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori.

masyarakat belajar (Learning Community). 2003: 3). pemodelan (Modeling). pembelajaran terintegrasi.19 merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan. 2002: 4). dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. bertanya (Questioning). dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment) (Depdiknas. yakni: kontruktivisme (Contrucivism). memperluas. menggunakan berbagai sumber. dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa. baik di sekolah maupun di luar sekolah (Nurhadi. serta guru kreatif. menyenangkan dan tidak membosankan. belajar dengan bergairah. dan . 3. adanya kerjasama. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Menurut Nurhadi (2002: 20) ada beberapa karakter pembelajaran berbasis kontekstual. d. b. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. menemukan (Inquiry). refleksi (reflection). c. dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik dalam berbagai macam tatanan kehidupan. sharing dengan teman dan saling menunjang. yaitu: a. siswa aktif dan kritis.

Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri. b. Dalam pembelajaran CTL. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. d. dan karangan siswa.20 e. tindakan atau perilaku . Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional Ada perbedaan pokok antara pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional. Dibawah ini dijelaskan perbedaan kedua model tersebut dilihat dari konteks tertentu. 4. laporan kepada orang tua bukan sekedar rapor tetapi hasil karya siswa. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima. Dalam CTL. laporan praktikum. sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan. misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat. siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok. CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar. kemampuan didasarkan atas pengalaman. mencatat. dan menghafal materi pelajaran. artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. berdiskusi. sedangkan dalam pembelajaran konvensional. saling menerima dan memberi. a. c.

siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara. Dalam pembelajaran CTL.21 individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya. . misalnya dengan evaluasi proses. oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak mungkin terjadi. sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran. Dalam CTL. pembelajaran bisa terjadi di mana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan. g. pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. e. oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain. penampilan. f. wawancara. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa. sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes. sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas. misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru. observasi. Dalam pembelajaran CTL. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final. rekaman. dan lain sebagainya. hasil karya siswa. h.

22 Beberapa perbedaan pokok diatas. . 2. Memperhatikan multi-intelegensia siswa. 2005: 102-104). Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. 6. 1. 2006: 260). Mempertimbangkan keragaman siswa. 5. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan. Peran Guru dalam Pembelajaran Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa. 3. menggambarkan bahwa CTL memang memiliki karakteristik tersendiri baik dilihat dari asumsi maupun proses pelaksanaan dan pengelolaannya (Sanjaya. dan keteampilan berpikir tinggi. tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. perkembangan pemecahan masalah. 5. 4. maka guru perlu melaksanakan hal-hal sebagai berikut. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual. Agar pelaksanaan pembelajaran kontekstual lebih efektif. dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan (Mulyasa. dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai.

pertanyaan kedua menyangkut strategi. perlu menjawab tiga pertanyaan pokok: (1) kompetensi apakah yang akan diajarkan. kegiatan pembelajaran. Guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik.23 7. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual 1. termasuk didalamnya pengembangan paket pembelajaran. Menerapkan penilaian autentik yang akan mengevaluasi pengetahuan dan berpikir kompleks seorang siswa. dan lingkungan pembelajaran. (2) bagaimana cara memberikan pengalaman belajar untuk mencapai kompetensi tersebut. metode. Pertanyaan pertama “kompetensi apakah yang akan diajarkan” menyangkut tujuan dan materi pelajaran. dan terakhir mengevaluasi program dan hasil belajar (Dirjen dikdasmen. E. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Rencana pembelajaran adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan sistem penyampaiannya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan belajar. daripada hanya sekedar hafalan informasi faktual (Nurhadi. uji coba dan revisi paket pembelajaran. logis dan sistematis. Karena disamping untuk . media. dan (3) bagaimana mengetahui bahwa kompetensi yang diajarkan telah dikuasai oleh siswa. 2003: 6). 2003: 20-21). sedangkan pertanyaan ketiga menyangkut masalah evaluasi atau penilaian. Gafur (2003: 22) menjelaskan bahwa dalam menyusun disain pembelajaran atau merencanakan kegiatan pembelajaran.

a. Ketujuh komponen utama itu adalah sebagai berikut ini. Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. setiap guru harus memiliki persiapan mengajar yang matang sebelum melaksanakan pembelajaran. Persiapan mengajar yang dikembangkan guru memiliki makna yang cukup mendalam bukan hanya kegiatan ritmis untuk memenuhi kelengkapan administratif. Dalam hal ini anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. 2005: 82). menemukan sendiri. konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. . tetapi merupakan cerminan dari pandangan. 2. Konstruktivisme (constructivism) Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. baik persiapan tertulis maupun tidak tertulis (Mulyasa.24 melaksanakan pembelajaran. sikap dan keyakinan profesional guru mengenai apa yang terbaik untuk peserta didiknya. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Oleh karena itu. persiapan tersebut mengemban “profesional accountability” sehingga guru dapat mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya.

Artinya. akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta dari mengingat. akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. atau audiens yang lain. dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca. Karena itu peran bertanya sangat penting. gambar. Dalam pembelajaran melalui CTL. . tabel dan karya lainnya. Adapun langkahlangkah kegiatan inquiry yaitu: (1) merumuskan masalah. Bertanya (questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. guru tidak menyampaikan informasi begitu saja. proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan.25 b. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dan keingintahuan setiap individu. (2) mengumpulkan data melalui observasi. Dengan demikian dalam proses perencanaan. Menemukan (inquiry) Komponen kedua dalam CTL adalah inkuiri. c. (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan. teman sekelas. akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. bagan. sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal. sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya.

mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar.26 d. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi. antar kelompok. f. Guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar” . dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya pada orang lain. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. e. pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran. yang sudah tahu memberi tahu pada yang belum tahu. Adapun . Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga dapat didatangkan dari luar. Pemodelan (modeling) Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan. Dalam pembelajaran kontekstual. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa yang lalu. antar teman. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain. Dalam pembelajaran kontekstual. Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. guru bukan satu-satunya model.

Adapun prinsip yang dipakai dalam penilaian autentik yaitu: (a) harus mengukur semua aspek pembelajaran (proses. catatan atau jurmal di buku siswa. (2). pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu. (d) tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. (b) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung. kinerja. (c) menggunakan berbagai cara dan sumber. hasil karya. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar. 2003).27 realisasinya didalam kelas dapat berupa: (1). (3). bukan keluasannya (Nurhadi. cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari. (5). g. (6). Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment) Authentic assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. dan produk). maka guru segera bisa melakukan tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. . diskusi. kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. serta (f) penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa. (4). (e) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan kehidupan siswa yang nyata setiap hari.

misalnya analisis hasil belajar. raport dan hasil ulangan. Penilaian dalam pembelajaran tidak semata-mata dilakukan terhadap hasil belajar. Penilaian kemampuan peserta didik Penilaian terhadap kemampuan peserta atau didik idealnya yang menggunakan pengukuran intelegensia potensi dimilikinya. mengingat sulitnya alat ukur tersebut diperoleh guru. Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian adalah unsur yang penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus sebagai umpan balik proses pembelajaran selanjutnya (Rohani. tetapi juga harus dilakukan terhadap proses pembelajaran itu sendiri. a. Adapun penilaian proses pembelajaran meliputi: 1. 2004: 168). Penilaian proses pembelajaran Penilaian terhadap proses pembelajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pembelajaran itu sendiri.28 3. maka guru dapat melakukan penilaian ini dengan mempelajari dan menganalisis kemajuan-kemajuan belajar yang ditunjukkannya. Artinya penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran. Namun. . Penialaian proses bertujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensi pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya.

melakukan wawancara. cara memecahkan masalah. Penilaian hasil pembelajaran Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. guru perlu mengamati tingkah laku peserta didik dalam berbagai situasi. b. melakukan analisis. Karakteristik peserta didik Untuk mengetahui informasi mengenai karakteristik peserta didik. 5. Minat. kunjungan rumah. Pengetahuan awal dan prasarat Penilaian terhadap pengetahuan awal dan prasarat dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik. dialog dengan orang tuanya. dan cara diskusi. . Kebiasaan belajar Untuk memperoleh informasi mengenai kebiasaan belajar peserta didik. perhatian dan motivasi belajar peserta didik Penilaian ini dapat dilakukan dengan menggunakan pengamatan terhadap kegiatan belajar peserta didik. cara menjawab pertanyaan. dan sebagainya. data pribadi. misalnya cara mengerjakan tugas. 3. dan memberikan kuesioner atau daftar isian mengenai sifat dan karakter peserta didik. guru dapat menggunakan teknik pengamatan terhadap cara belajar. 4.29 2.

30 Adapun penilaian hasil pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama. dan tes sumatif yakni pada akhir suatu program atau pertengahan program. suku bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas. Sasaran penilaian Sasaran atau objek evaluasi hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif. bahasa. 3. usia. afektif dan psikomotorik secara seimbang. Alat penilaian Penggunaan alat penilaian hendaknya komprehensif yang meliputi tes dan bukan tes sehingga diperoleh gambaran hasil belajar yang objektif. . terampil dan berkarakter seperti yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. F. sosio kultural. Prosedur pelaksanaan tes Penilaian hasil belajar dapat dilaksanakan dalam bentuk tes formatif yakni pada akhir pengajaran. 2. Kerangka Berfikir Berdasarkan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1.

tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta. Adapun tahap-tahap dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi “mengingat” jangka pendek. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau yang sering disingkat CTL merupakan salah satu strategi belajar yang diharapkan mampu mengefektifkan proses belajar mengajar dimana proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Belajar akan lebih bermanfaat jika anak “mengalami” apa yang dipelajarinya. bukan “mengetahuinya”. dapat dijelaskan sebagai berikut: . Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. dan ceramah menjadi pilihan utama strategi pembelajaran. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan.31 Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. bukan transfer pengetahuan guru ke siswa. Sehingga pada akhirnya pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

2. yaitu guru melakukan penilaian baik selama proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran berlangsung. pemodelan ( modelling). Bagi siswa yang telah lulus kompetensi guru bisa saja mengadakan pengayaan. menemukan (inquiry). media pembelajaran yang akan digunakan. 3. Tentunya dengan . masyarakat belajar (learning community). maka guru harus membuat rencana remidial. dan pemilihan metode. misalnya siswa harus observasi ke lapangan. Tahap pertama. 4. Tahap keempat.32 1. Tahap ketiga. refleksi (reflection). Guru harus dapat merencanakan kegiatan siswa yang harus dilakukan oleh siswa. yaitu melaksanakan pembelajaran kontekstual dimana guru mengaitkan materi pelajaran dengan pembelajaran kontekstual yang meliputi: konstruktivisme (constructivism). yaitu guru melakukan persiapan dan perencanaan yang matang sebelum pembelajaran kontekstual dilaksanakan yang meliputi kesiapan guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran. yaitu setelah melaksanakan penilaian maka guru akan memperoleh hasil akhir pembelajaran. Guru menganalisis nilai-nilai yang sudah masuk untuk disimpulkan siswa yang lulus atau belum lulus kompetensi. dan penilaian yang sebenarya (authentic assessment). Dalam tahap ini siswa melaksanakan pembelajaran kontekstual secara individu maupun kelompok. Tahap kedua. dan bagi siswa yang belum lulus kompetensi. wawancara atau pemodelan dalam kelas yang kesemuanya itu terungkap dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru sebelumnya. bertanya (questioning).

.33 perencanaan yang lebih baik lagi dan disesuaikan dengan peserta didik agar dapat lulus kompetensi.

Pemilihan lokasi di SMA Negeri I Banjarnegara karena di sekolah tersebut. lokasi yang peneliti pilih adalah SMA Negeri I Banjarnegara. Pendekatan deskriptif analisis adalah suatu pengumpulan data secara kaya dari suatu fenomena yang ada untuk dianalisis. Dasar Penelitian Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang bermaksud menemukan kebenaran (Rachman.BAB III METODE PENELITIAN A. Penemuan kebenaran melalui kegiatan penelitian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. sehingga diperoleh gambaran terhadap apa yang sudah diteliti. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2004:4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 1999:2). Data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Lokasi Penelitian Penetapan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertanggungjawabkan data yang diperoleh. pelaksanaan pembelajaran 34 . maka lokasi penelitian perlu ditetapkan terlebih dahulu. Dalam penelitin ini. gambar. Oleh karena itu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. tingkah laku. B.

pemilihan metode yang akan digunakan. 1. dan c.35 kontekstual dilaksanakan pada semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Di dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut. 2. penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusieksklusi atau kriteria masuk-keluar suatu informasi yang baru diperoleh di lapangan (Moleong. Pertama. Proses pembelajaran kontrekstual yang akan diteliti: a. Kurikulum yang digunakanpun telah disesuaikan dengan kurikulum yang saat ini berlaku yaitu Kurikulum Tingkat Suatu Pendidikan (KTSP). penetapan fokus dapat membatasi studi. cara mengajar guru. C. dan c. Disamping itu. Persiapan pembelajaran kontekstual yang akan diteliti: a. . pembuatan perangkat pembelajaran. b. Jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri. persiapan media pembelajaran yang akan digunakan. b. Fokus Penelitian Penentuan fokus penelitian memiliki dua tujuan. cara guru menyampaikan materi. 2004:92). cara guru memberikan stimulus kepada siswa. Kedua. karena SMA Negeri I Banjarnegara merupakan salah satu SMA favorit yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

Sumber Data Penelitian 1. ulangan harian. tingkah laku. Rencana Pelaksanaan . keadaan dan fenomena-fenomena yang terjadi. b. Sistem penilaian pembelajaran kontekstual yang akan diteliti: a. Kata-kata. tugas-tugas terstruktur. Guna melengkapi dan mendukung sumber data utama digunakan sumber data tambahan yang berupa dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang terdapat di sekolah seperti Silabus. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara serta siswa dan para pelaku kegiatan sekolah yang lainnya dengan harapan dapat memberikan informasi dan keteranganketerangan yang memadai sesuai dengan aspek kajian yang dirumuskan. laporan kegiatan siswa. catatan perilaku harian. tingkah laku atau tindakan serta fenomena-fenomena yang dihimpun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kegiatan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. D.36 3. c. 2. Jenis Data Sejalan dengan tujuan penelitian serta pendekatan yang digunakan maka jenis data yang digunakan dalam penelitian ini lebih banyak berbentuk kata-kata. dan d.

. dan sebagainya (Arikunto. surat kabar. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. Metode Pengumpulan Data Penelitian disamping dengan menggunakan metode yang tepat. legger agenda. Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai perangkat pembelajaran guru. Metode Dokumentasi Dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. notulen rapat. 2. Adapun metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara adalah: 1. prasasti. 1997:206). Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur dengan menggunakan alat bantu yaitu pedoman wawancara. Penggunaan teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. 1999:77). E. daftar nama siswa kelas X dan daftar nama guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. buku. juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan (Rachman.37 Pembelajaran. 2004:186). Daftar Nilai beserta komponen lainnya untuk dijadikan bahan studi kelayakan. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang membeikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong. transkrip. majalah. Metode Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

38 Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. lembar pengamatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh guru. 1997:204). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpul data yang berupa pertanyaan yang ditujukan pada guru PKn dan siswa. Metode ini digunakan untuk memperoleh data variabel proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan kontekstual yang berupa lembar observasi atau lembar pengamatan yang terdiri dari lembar pengamatan silabus. Metode Observasi Metode observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang akan diteliti. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. F. 3. Dimana dilakukan pengamatan atau pemusatan perhatian terhadap obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. dan lembar pengamatan komponen pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan. Suatu tes dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur. Validitas Data Penelitian Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. . penciuman. pendengaran dan pengecap (Arikunto.

Peneliti hanya menggunakan: (1). pejabat pemerintah 5. membandingkan . Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. Membandingkan yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi 3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa. Pemeriksaan keabsahan data diterapkan dalam membuktikan hasil penelitian dengan kenyataan yang ada dalam lapangan. Lincoln dan Guba dalam bukunya Moleong (2004:176) untuk memeriksa keabsahan pada penelitian kualitatif maka digunakan taraf kepercayaan data dengan teknik triangulasi. Akan tetapi dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan kelimanya untuk membandingkan. orang yang berpendidikan. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara 2. 1.39 Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud (Arikunto. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu 4. Teknik pemeriksaan data ini memanfaatkan sesuatu yang lain untuk keperluan pengecekan atau membandingkan triangulasi dengan sumber data dapat ditempuh dengan jalan sebagai berikut ini. 2004:144).

G. Metode Analisis Data Analisis data adalah proses pengorganisasian dan mensyaratkan data kedalam pola. Menurut Milles dan Huberman dalam bukunya Maman Rachman (1999:20) ada dua metode analisis data: Pertama. Data yang diperoleh dari lapangan berupa data kualitatif dan data tersebut diolah dengan model interaksi. penarikan kesimpulan/verifikasi) dilakukan saling menjalin dengan proses pengumpulan data dan mengalir bersamaan. Setelah data terkumpul.40 data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. dan satuan ukuran dasar sehingga ditemukan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data. sajian data. model analisis mengalir. dimana tiga komponen analisis (reduksi data. model analisis interaksi. sajian data. Dalam penelitian ini. dan (2). dimana komponen reduksi data dan sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. 1. maka tiga komponen analisis (reduksi data. peneliti menggunakan metode yang kedua dari penjelasan diatas yaitu menggunakan model analisis interaksi untuk menganalisis data hasil penelitiannya. . Pengumpulan data Dalam hal ini peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan. membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. penarikan kesimpulan) berinteraksi. kategori. Adapun langkah-langkah dalam model interaksi adalah sebagai berikut. yaitu pencatatan data yang diperlukan terhadap berbagai jenis data dan berbagai bentuk data yang ada di lapangan serta melakukan pencatatan di lapangan. Kedua.

1992:19). 3. kekokohannya dan kecocokannya yang merupakan validitasnya (Milles. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang manajamkan. 1992: 15 – 16). mengarahkan dan membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data sekunder sedemikian rupa sehingga dapat ditarik dan diverifikasi (Milles. 1992:17-18). Verifikasi data Verifikasi data adalah penarikan kesimpulan oleh peneliti berdasarkan analisis data penelitian. Kesimpulan adalah suatu tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau kesimpulan dapat ditinjau sebagaimana yang timbul dari data yang harus diuji kebenarannya.41 2. 4. Penyajian data merupakan analisis merancang deretan dan kolom-kolom dalam sebuah matriks untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matriks (Milles. pengabstrakkan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data Reduksi yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan. menggolongkan. Penyajian data Penyajian data yaitu sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Tahap analisis data dapat dilihat pada bagan berikut ini: .

Karena data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini dilakukan meliputi 3 (tiga) tahap yaitu: 1. Pelaksanaan penelitian. Tahap penelitian a. b. Setelah direduksi kemudian diadakan sajian data. Tahap pra penelitian Dalam tahap ini peneliti membuat rancangan skripsi. maka diambil suatu keputusan atau verifikasi. H. dan . 2. Pengamatan secara langsung yang dilaksanakan di SMA Negeri I Banjarnegara mengenai pelaksanaan pembelajaran kontekstual oleh guru PKn. Pertama-tama peneliti melakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Apabila ketiga tersebut selesai dilakukan. yaitu mengadakan observasi pendahuluan di SMA Negeri I Banjarnegara. selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. membuat instrumen penelitian dan membuat surat ijin penelitian.42 Pengumpulan Data Reduksi Data Penyajian Data Penarikan Kesimpulan / Verifikasi Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait.

3. Tahap pembuatan laporan Dalam tahap ini peneliti menyusun data hasil penelitian untuk dianalisis kemudian di deskripsikan sebagai suatu pembahasan dan terbentuk suatu laporan hasil penelitian. Kajian pustaka yaitu pengumpulan data dari informasi dan buku-buku. .43 c.

Visi dan Misi SMA Negeri I Banjarnegara berdiri sejak tanggal 1 Agustus 1961. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian diikuti dengan peraturan pelaksanaannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian di era globalisasi dewasa ini semakin mempertegas tuntutan diatas dan bahwa lulusan SMA Negeri I Banjarnegara harus memiliki kemampuan lebih dalam segala bidang moral maupun akademis/non akademis. Dambaan tersebut mengandung arti suatu tuntutan agar semua pelaksana kependidikan di SMA Negeri I Banjarnegara harus selalu meningkatkan kwalitas dan kinerjanya agar SMA Negeri I Banjarnegara selalu menjadi sekolah terbaik mutunya dalam mengelola kegiatan kependidikan. Tinjauan Umum Sekolah yang Diteliti a.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Dalam usianya yang telah lebih dari 40 tahun tersebut. SMA Negeri I Banjarnegara telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sekolah yang menjadi dambaan dan harapan warga masyarakat Banjarnegara khususnya dan Jawa Tengah umumnya. 44 .

Dengan Visi ini. semua warga sekolah diharapkan memiliki arah kedepan yang jelas dan memiliki motivasi yang kuat dalam rangka mendukung tercapainya Visi tersebut melalui Misi yang jelas yang akan dilakukan. . 9) Unggul dalam lomba kesenian.45 Untuk mewujudkan tujuan diatas sekaligus merespon kebijakan pemerintah di era reformasi yaitu Otonomi Daerah dibidang pendidikan yang diberlakukan di seluruh Indonesia SMA Negeri I Banjarnegara menetapkan Visi sekolah “Teguh dalam iman dan taqwa. semua warganya mempunyai akhlak yang mulia dan tanggung menghadapi segala tantangan. 2) Unggul dalam aktivitas keagamaan. 6) Unggul dan lomba olahraga. 4) Unggul dalam perolehan ujian nasional. 5) Unggul dalam kegiatan ilmiah remaja. Optimis dalam menghadapi tantangan serta Prestasi yang unggul”. Indikator Visi tersebut adalah sebagai berikut. Jika disingkat Visi tersebut berbunyi “TOP” yang artinya SMA Negeri I Banjarnegara akan berusaha sekuat tenaga supaya menjadi “TOP”. 7) Unggul dalam kedisiplinan. 10) Unggul dalam lomba keterampilan. menjadi yang teratas baik dalam bidang akademik maupun non akademik. 1) Luas dalam wawasan keilmuan agama. 3) Unggul dalam persaingan SPMB. 8) Unggul dalam lomba keterampilan berbahasa.

2) Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki. Dengan Visi diatas itu. 4) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya melalui kegiatan olahraga. 3) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya sehingga dapat dikembangkan secara optimal. kerjasama yang baik antara segenap tenaga kependidikan. segenap warga SMA Negeri I Banjarnegara diharapkan mempunyai gambaran yang jelas tentang keberadaanya di masa depan dengan meningkatkan dedikasi dan loyalitas.46 Berdasarkan pada Visi sekolah yang dilengakapi dengan indikator diatas. 5) Membiasakan warga sekolah khususnya para siswa untuk selalu berdisiplin. 6) Menerapkan managemen partisipasi dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pelanggaran sekolah. . ditetapkan Misi yang jelas sebagai berikut. 1) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut sehingga menjadi sumber kearifan dan kebijakan dalam bertindak. siswa-siswi dan masyarakat. keterampilan komputer dan keterampilan berbahasa asing khususnya bahasa Inggris. kesenian.

Berkenaan dengan hal tersebut. Adapun hasil dari pengamatan yang peneliti lakukan di SMA Negeri I Banjarnegara. 2. sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru membuat perangkat pembelajaran yang meliputi program tahunan. Pembuatan perangkat pembelajaran dilakukan sebagai langakah awal guru agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. Dalam pembuatan perangkat pembelajaran. Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Persiapan atau perencanaan merupakan faktor yang sangat mendukung dan memegang peranan yang sangat penting untuk dapat melaksanakan suatu pembelajaran yang baik dan untuk dapat menciptakan sebuah kondisi yang kondusif yang dalam kegiatan belajar mengajar dapat mendorong peserta didik untuk dapat lebih mudah menguasai sejumlah kompetensi sebagaimana yang termuat dalam kurikulum. perhitungan minggu efektif. serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). maka guru SMA Negeri I Banjarnegara termasuk guru PKn dituntut untuk dapat mempersiapkan sebaik mungkin segala sesuatu yang sekiranya perlu dalam sebuah proses belajar mengajar. Hanya saja seringkali guru membuat perangkat pembelajaran karena adanya tuntutan . guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara pada dasarnya tidak mengalami kesulitan.47 7) Mendorong warga sekolah khususnya para siswa untuk mngembangkan budaya gemar membaca dan menulis. program semester. pengembangan silabus dan sistem penilaian.

Berisi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Untuk perangkat pembelajaran selain silabus. Berisi jumlah minggu keseluruhan dalam 1 semester. Artinya rencana atau program yang telah dibuat oleh guru terkadang tidak sesuai dengan waktu atau pelaksanaan yang telah ditentukan dikarenakan suatu sebab tertentu sehingga guru perlu menyesuaikan dan memperhitungkan alokasi waktu untuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. guru membuat sendiri dengan berpedoman Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kalender pendidikan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. 2. dan Kompetensi Dasar. dan keterangan. Adapun perangkat pembelajaran tersebut bersifat kondisional.48 atau kewajiban dari pihak sekolah. Mengenai eksistensi perencanaan program pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dilihat dalam tabel berikut ini. jumlah minggu tidak efektif. Program Semester Sudah dibuat 3. alokasi waktu (bulan/minggu). terkadang baru jadi sesaat setelah berlangsung kegiatan belajar mengajar. Perhitungan Minggu Efektif Sudah dibuat . pencapaian target pembelajaran. serta alokasi waktu selama 1 tahun. dan distribusi waktu dalam 1 semester. No 1. Sehingga perangkat pembelajaran yang seharusnya sudah jadi diawal semester sebelum dimulai kegiatan belajar mengajar. Program Program Tahunan Eksistensi Sudah dibuat Keterangan Berisi identitas satuan pelajaran. Sehingga pada akhirnya semua kompetensi pada mata pelajaran PKn dalam satu semester dapat dicapai oleh siswa. Standar Kompetensi.

49

4.

Sudah Pengembangan Silabus dan dibuat Sistem Penilaian

5.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sudah dibuat

6.

Program Pengayaan Remidial

Sudah dan direncanakan

Berisi identitas satuan pelajaran, perumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, sistem penilaian dan pemilihan sumber bacaan/belajar. Berisi identitas satuan pelajaran, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, indikator, materi pokok, strategi pembelajaran, media pembelajaran, penilaian, dan sumber bacaan/belajar. Hanya dibuat guru jika ada siswa yang tidak tuntas belajar.

Berdasarkan tabel di atas, dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut. a. Program Tahunan Program tahunan sudah disusun oleh guru PKn dengan acuan kalender pendidikan yang telah ditetapkan oleh sekolah. Program tahunan dibuat sebelum proses pembelajaran dimulai dan harus diserahkan terlebih dahulu kepada Kepala Sekolah untuk memperoleh persetujuan. Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah membuat program tahunan dengan baik, hal ini ditandai dengan format program tahunan yang dibuat sudah sesuai dengan format yang ada dalam kurikulum yang berlaku saat ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Lihat lampiran 5).

50

b. Program Semester Sama halnya dengan program tahunan, guru sudah membuat program semester dengan baik, hal ini ditandai dengan program semester yang dibuat sudah memuat mengenai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, alokasi waktu (bulan/minggu), pencapaian target pembelajaran, dan keterangan. Program semester juga telah diserahkan kepada Kepala Sekolah dan telah memperoleh persetujuan sebelum digunakan untuk mengajar (lihat lampiran 6). c. Perhitungan Minggu Efektif Perhitungan minggu efektif diperoleh dari jumlah minggu keseluruhan dalam satu semester dikurangi jumlah minggu tidak efektif dalam satu semester. Misalnya dalam satu semester terdiri dari 6 bulan (20 minggu), sedangkan minggu tidak efektif yaitu untuk ulangan umum, ulangan blok, persiapan pembagian raport, dan cadangan selama 5 minggu, maka dalam 20 minggu dipotong 5 minggu. Sehingga jumlah mingggu yang efektif untuk kegiatan belajar mengajar sebanyak 15 minggu. Adapun perhitungan minggu efektif tersebut kemudian dibuat distribusi waktu untuk masing-masing Standar Kompetensi atau Kompetensi Dasar (lihat lampiran 7).

51

d. Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Didalam penyusunan dan pengembangan silabus, guru Pkn diberi kewenangan yang cukup luas untuk mengembangkan silabus yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah serta karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik, namun

pengembangan silabus di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Adapun indikator ketercapaian materi pelajaran dalam silabus PKn di SMA Negeri I Banjarnegara meliputi beberapa aspek diantaranya kemampuan siswa dalam menganalisis, menguraikan,

menyimpulkan, menunjukkan, menerapkan mendeskripsikan dan juga mensimulasikan. (lihat lampiran 9). e. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan baik. Hal ini ditandai dengan guru mengembangkan RPP dari setiap pokok bahasan / Standar Kompetensi yang akan disampaikan. Selain itu, format desain pembelajaran yang dibuat oleh guru sudah memuat identitas satuan pelajaran (sekolah, mata pelajaran, kelas/semester) dan isi yaitu Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikator, alokasi waktu, tujuan pembelajaran, materi pokok, metode, strategi pembelajaran, sumber dan media belajar serta penilaian hasil belajar. Adapun langkah-langkah pembelajaran yang muncul

3. dapat diuraikan bahwa suasana kelas saat proses pembelajaran PKn berlangsung cukup baik. kegiatan inti. Seperti yang peneliti amati pada saat guru memberikan materi pokok bahasan Menghargai Persamaan Kedudukan Warga Negara dalam Berbagai Aspek Kehidupan.52 dalam RPP yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mencakup pendahuluan. Proses Pembelajaran Kontekstual Berdasarkan hasil pengamatan kelas yang peneliti lakukan dari tanggal 2 sampai 14 April 2007 di SMA Negeri I Banjarnegara. Program Pengayaan dan Remidial Guru memberikan perlakuan khusus bagi siswa yang mendapat kesulitan belajar melalui kegiatan remidial. Kegiatan awal pembelajaran yang dilakukan guru yaitu memberikan motivasi kepada siswa dengan cara menggali pengetahuan siswa tentang topik yang telah diberikan maupun tentang topik yang akan diberikan. rata-rata dengan melalui kegiatan . guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mengadakan di setiap akhir ulangan baik ulangan blok maupun ulangan akhir semester. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 8. Sedangkan bagi siswa yang telah tuntas belajar diberikan kesempatan untuk mempertahankan kecepatan belajarnya yang diatas pengayaan. dan penutup yang pengalokasian waktunya disesuaikan dengan pokok bahasan yang ada. Untuk program remidial ini. f.

tetapi siswa belum mempunyai keberanian untuk menjawab sendiri. guru memberikan ilustrasi atau gambaran nyata mengenai bagaimana cara memperoleh status warga negara dan hilangnya status warga negara. Seringkali guru hanya memberikan materimateri pelajaran dan kemudian setelah selesai pemberian materi maka akan dilanjutkan dengan pemberian soal-soal kepada siswa untuk dikerjakan. Guru masih harus mengendalikan dan menunjuk siswa untuk menjawab.53 Awal pertemuan. Menurut Drs. Sigit Budi Nurani (guru PKn kelas XI). Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara masih cenderung menggunakan metode ceramah. Memasuki topik baru. pembelajaran dengan metode ceramah tersebut dilakukan oleh guru mengingat materi pelajaran PKn cukup banyak sehingga kalau sering menggunakan metode yang lain dikhawatirkan dalam satu semester . meskipun kadang juga divariasi dengan metode yang lain seperti simulasi di depan kelas dan diskusi. Hal ini menunjukkan bagaimana keaktifan siswa di kelas. Secara serempak dan tidak beraturan sebagian besar siswa menjawab pertanyaan guru. dimana pertanyaan yang diberikan guru hampir semua dapat dijawab oleh siswa dengan benar meskipun siswa tidak menjawab jika tidak ditunjuk oleh guru. guru sedikit mengulang materi yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya dengan pertanyaan-pertanyaan singkat.

karena siswa secara langsung dapat membangun pengetahuan yang sudah ada pada diri siswa itu sendiri. Hal tersebut tentunya memberikan efek yang positif terhadap siswa.54 materi ada yang tidak tersampaikan kepada siswa. Siswa banyak dilibatkan secara langsung dalam proses belajar mengajar misalnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk mensimulasikan tata cara pemilihan kepala desa di depan kelas. atau juga guru memberikan tugas kelompok untuk mendiskusikan dan mencari jalan keluar suatu permasalahan yang ada di masyarakat kemudian dipresentasikan di depan kelas. namun guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara tetap berusaha menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif. (wawancara 12 April 2007). serta dapat menjadi bekal yang cukup dalam hidup bermasyarakat baik sekarang maupun yang akan datang. membangun daya kritis dan kreatifitas siswa. Guru memberikan metode yang lain seperti simulasi ataupun diskusi kelompok untuk menjaga agar siswa tidak merasa jenuh dengan metode pembelajaran yang dilakukan guru yaitu ceramah. Menurutnya metode ceramah merupakan salah satu metode yang dianggap cukup efektif dalam pembelajaran PKn. Biasanya guru menjelaskan materi yang sudah ada di LKS namun jika materi yang ada . guru mengambil sumber bahan dari buku paket dan lembar kerja siswa (LKS). Meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru sering menggunakan metode ceramah. Dalam pemberian materi pelajaran.

Adapun pemberian tugas oleh guru kepada siswa sudah mulai bervariasi yaitu mulai dari tugas mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS. Dalam penilaian pembelajaran PKn yang dilaksanakan dengan teknik tes. Adapun penilaian pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. sampai dengan tugas pembuatan makalah dengan tema-tema tertentu yang sumber bahannya diambil dari media massa ataupun internet yang selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. tugas kelompok untuk simulasi di depan kelas. guru melakukannya secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Hasil penilaian tersebut digunakan guru sebagai alat evaluasi untuk mengetahui dimana dan dalam hal apa siswa perlu memperoleh bimbingan untuk mencapai ketuntasan belajar secara maksimal. Pemberian tugas-tugas tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kreatifitas serta cara berpikir kritis siswa. Penilaian dapat dilaksanakan melalui teknik tes dan non tes. Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian adalah unsur penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar sekaligus sebagai umpan balik proses pembelajaran selanjutnya. guru menambahinya dengan penjelasan atau memberikan catatan tambahan kepada siswa. guru lebih .55 dalam LKS tersebut kurang. 4. sehingga nantinya setelah mereka terjun di masyarakat mereka menemui masalah yang hampir sama maka tidak akan mengalami kesulitan yang berarti karena sudah mendapat pengalaman sebelumnya.

guru biasanya memberikan nilai plus (+) bagi mereka. . S. Maksudnya. Namun demikian sudah barang tentu apabila guru melaksanakan penilaian non tes. pemahaman. guru dituntut untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan subjektivitasnya melalui berbagai judment atau perkiraan tentang sikap dan perilaku siswa. Menurut hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Ibu Purwati.56 menekankan pada soal-soal yang berbentuk uraian dengan kadar kesulitan yang cukup tinggi. Keputusan apa yang akan diambil tetap berada pada jalur objektif. maka tidak akan mempengaruhi guru dalam memberikan nilai secara objektif”. beliau mengemukakan bahwa ”perlu pertimbangan yang cukup matang dalam memberi nilai kepada siswa terutama bagi mereka yang catatan perilakunya tergolong sangat baik namun nilai tesnya jelek. tetapi juga pada penerapan dan kemampuan analisis siswa. bahwa dalam melaksanakan penilaian non tes. Hal ini tidak menjadi persoalan sepanjang subjektivitas tersebut bersifat objektif. sehingga aspek yang dinilai tidak hanya pada ingatan. Tetapi apabila sebaliknya jika siswa mempunyai catatan perilaku yang kurang baik namun nilai tesnya bagus. guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara biasa melakukannya dengan membuat catatan mengenai sikap dan perilaku siswa selama di sekolah. yaitu bisa diterima oleh semua pihak. Pernyataan diatas mengandung arti bahwa sesungguhnya guru harus mampu memberikan nilai pada siswa secara apa adanya (objektif).Pd (guru PKn kelas X dan XI) tanggal 12 April 2007. sudah dapat dipastikan sikap subjektivitas akan muncul. Sedangkan penilaian yang dilakukan dengan teknik non tes.

Penilaian Ulangan Harian. Bagi siswa yang belum mencapai batas tuntas. b. Sistem penilaian yang diterapkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yaitu dengan sistem bonus. dilaksanakan pada setiap akhir semester dengan materi tes semua kompetensi dasar pada semester yang bersangkutan. Penilaian Ulangan Blok. Adapun ketentuan mengenai sistem bonus adalah sebagai berikut. c. dilaksanakan dengan sistem penilaian berkelanjutan yang meliputi aspek kognitif dan afektif. dilaksanakan pada pertengahan semester dengan materi tes adalah kompetensi dasar yang belum diteskan atau diulangkan. a. a. Penilaian Akhir Semester/Ulangan Komprehensif.57 Tingkat ketercapaian materi dan daya serap siswa dalam mencapai ketuntasan belajar di SMA Negeri I Banjarnegara dapat diukur dengan melaksanakan hal-hal berikut ini. Ujian pertama/utama Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi II Tuntas Tidak tuntas Nilai Akhir Ditambah 4 dari nilai yang diperoleh Ditambah 2 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh . diadakan remidi pada kompetensi dasar yang belum tuntas maksimal dua kali.

Artinya nilai siswa setelah diakumulasikan harus mencapai 65 atau lebih. kemudian diadakan evaluasi ulang. Siswa yang batas tuntasnya kurang dari 65 harus mengikuti remidiasi.58 b. diadakan pengayaan. yaitu 65. Remidiasi ditekankan pada materi yang belum memenuhi standar komopetensi. Ujian susulan (ujian pertama tidak ikut karena sakit atau ijin) Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi II Tuntas Tidak tuntas Nilai Akhir Ditambah 2 dari nilai yang diperoleh Ditambah 1 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh c. Kegiatan pengayaan yang diadakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara biasanya . Ujian susulan (karena ujian pertama tidak ikut tanpa alasan) Ujian Lulus / tuntas Tidak tuntas Tidak tuntas Remidi I Tuntas Tidak tuntas Remidi II tuntas Nilai Akhir Ditambah 2 dari nilai batas tuntas Tidak ditambah (= nilai batas tuntas) Nilai tertinggi yang diperoleh Dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara batas minimal yang harus diperoleh siswa atau batas ketuntasan belajar ditentukan oleh sekolah. Sedangkan bagi siswa yang mencapai batas ketuntasan belajar 65 atau lebih.

(4) . baik ulangan harian. Guru membuat skala sikap atau minat misalnya mengenai kehadiran di kelas. Sebagaimana diungkapkan oleh Nurhadi. jawaban singkat. B. dapat dikatakan telah dilaksanakan dengan baik karena hampir sesuai dengan prinsip penerapan pembelajaran kontekstual. dkk (2003:20-21) bahwa tahap-tahap pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut: (1) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa. dan tahap penilaian pembelajaran kontekstual. uraian. tahap proses pembelajaran kontekstual. Sedangkan untuk instrumen non tes yaitu dengan melakukan pengamatan. ulangan blok maupun ulangan akhir semester. serta menjodohkan. (3) menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri. yaitu tahap persiapan pembelajaran kontekstual. pilihan ganda. (2) membentuk kelompok belajar yang saling tergantung. Bentuk instrumen tes diantaranya adalah dengan pertanyaan lisan. Instrumen penilaian yang digunakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara meliputi dua bentuk yaitu tes dan non tes.59 dilakukan pada saat menjelang diadakan ulangan. keaktifan dalam bertanya dan ketetapan waktu mengumpulkan tugas. Pembahasan Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dilihat ada tiga tahap dalam pelaksanaan pembelajaran kontekstual yang dilakukan oleh guru di SMA Negeri I Banjarnegara. Dari tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran kontekstual di SMA Negeri I Banjarnegara tersebut.

1) Perencanaan Pembelajaran Kontekstual Guru dituntut untuk berusaha sedapat mungkin agar pembelajaran berhasil. Meskipun pelaksanaan pembelajaran kontekstual di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dikatakan cenderung dilaksanakan dengan baik. dan mendorong motivasi belajar.60 mempertimbangkan keragaman siswa. (6) menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu ialah guru senantiasa nembuat perencanaan mengajar sebelumnya. (3) mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar. . (5) memperhatikan multi-intelegensi siswa. dan (7) menerapkan penilaian autentik. namun keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran PKn masih kurang sehingga dalam proses pelaksanaan pembelajaran kurang maksimal. Menurut Hamalik (2001:135) pada dasarnya perencanaan megajar yang dibuat oleh guru berfungsi untuk: (1) memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut. minat siswa. (2) membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa. Namun demikian hal tersebut tidak menjadi persolan yang begitu berarti karena sekolah dapat mempertahankan kualitas dan mutu hasil belajar mengajar. serta (4) memberikan kesempatan bagi guruguru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.

61 Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. indikator. memberikan umpan balik. Silabus dapat berfungsi untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. penilaian alokasi waktu. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. sosial. Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muataqn dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara keilmuan. kompetensi dasar. (b) Relevan. dan indikator pencapaian untuk penilaian. intelektual. (c) Sistematis. pengertian silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan / atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi. Cakupan. materi pokok/pembelajaran. dan spriritual peserta didik. tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam sibus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik. melakukan perbaikan. emosional. mendiagnosis kesulitan belajar. dan sumber/bahan/alat belajar. . motivasi guru agar mengajar lebih baik dan memotivasi siswa agar belajar lebih baik. Adapun prinsip-prinsip pengembangan silabus bedasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) antara lain: (a) Ilmiah. kegiatan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok pembelajaran. kedalaman.

pengalaman belajar. sumber belajar. afektif dan psikomotor. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi pengalaman belajar. (h) Menyeluruh. Cakupan indikator. kondisi untuk sekolah dan keseluruhan ranah lingkungannya. indikator. sumber belajar. Adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar. Apabila dilihat dari segi prinsip-prinsip pengembangan silabus sebagaimana telah terurai diatas. dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu. (e). materi pokok. menyusun serta membuat silabus sendiri dengan memperhatikan Namun karakter siswa. Aktual dan kontekstual. kesempatan mengembangkan ide/gagasan/kreativitas tersebut tidak dimanfaatkan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara. Penyusunan dan pengembangan silabus oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan secara bersama-sama . Komponen silabus mencakup kompetensi yaitu kognitif. (f) Memadai. dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.62 (d) Konsisten. materi pokok. dan keragaman peserta didik. maka sebenarnya guru memiliki kewenangan untuk merancang. dan seni yang mutakhir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi. serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. teknologi. sumber belajar. pengalaman belajar. (g) Fleksibel. sistem penilaian. Cakupan indikator. materi pokok.

Namun demikian. Dan apabila sekolah belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri. maka silabus dan RPP yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara pada dasarnya sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual dimana didalamnya termuat unsur-unsur atau 7 pilar pembelajaran kontekstual seperti misalnya konstruktivisme dan inkuiri yang merupakan bagian dari pilar pembelajaran kontekstual diwujudkan . maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah tersebut. bila pembuatan dan pengembangan silabus dilakukan secara bersama oleh MGMP.63 dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP PKn) se-kabupaten Banjarnegara. maka sebaiknya bergabung dengan sekolahsekolah lain melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP setempat. Hal tersebut tentunya tidak menyalahi aturan atau kurikulum yang ada karena dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa apabila guru mata pelajaran karena suatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. Dari uraian mengenai perencanaan pembelajaran diatas. maka bukan tidak mungkin guru akan merasa enggan untuk membuat dan mengembangkan silabus secara mandiri karena terpancang pada silabus yang telah ada.

sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. sentuhan. 2) Proses Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. gagasan. menganalisis. Sehingga dalam proses pembelajaran siswa merupakan sentral kegiatan atau pelaku utama. belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemhaman terhadap konsep. maupun ideidenya. Untuk lebih jelasnya lihat lampiran 8. tepat. tugas guru yang paling penting atau utama adalah mengkondisikan lingkungan sehingga terjadi perubahan perilaku bagi peserta didik (Mulyasa. Salah satu tugas guru dalam proses belajar mengajar (PBM) yaitu terus memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar mengeluarkan atau menyampaikan pendapat. Dalam KTSP seperti halnya KBK. sedangkan guru hanya menciptakan suasana yang mendorong timbulnya motivasi belajar pada siswa sekaligus sebagai fasilitator. dan (2) penguatan non verbal yang dapat dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik. bapak/ibu puas dengan hasil kerja kalian. 2005). acungan jempol. Penguatan .. dan kegiatan yang menyenangkan. dan menunjukkan. Dalam pembelajaran. Salah satu bentuk motivasi guru PKn terhadap siswa yaitu dengan cara memberikan penguatan (reinforcement) pada peserta didiknya. Menurut Sigalingging (2004) penguatan dibagi menjadi dua macam yaitu: (1) penguatan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian seperti bagus.64 dalam RPP yaitu melalui indikator mendeskripsikan.

65 bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran. Djamarah dan Zain (2002:109) menyatakan bahwa dalam penggunaan metode ceramah terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan. (2) mudah mengorganisasikan tempat duduk atau kelas. apalagi dalam pembelajaran dimana sekolah kurang fasilitas dalam mendukung kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. serta guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik. Meskipun metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik. serta meningkatkan kegiatan belajar dan membina perilaku yang produktif. (3) dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar. merangsang dan meningkatkan motivasi belajar. (3) bila selalu digunakan dan terlalu lama membosankan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan metode ceramah oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara masih sangat dominan jika dibandingkan dengan penggunaan metode-metode yang lain. (2) yang visual menjadi rugi sedang yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya. Sedangkan kelemahan metode ceramah yaitu : (1) mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). (4) mudah mempersiapkan dan melaksanakannya. tetapi metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah merupakan metode tradisional karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar. (4) guru menyimpulkan bahwa . Kelebihan metode ceramah yaitu: (1) guru mudah menguasai kelas.

serta (5) menyebabkan siswa menjadi pasif. bertanya. (3) situasi yang berbagai keadaannya. (2) anak didik yang berbagai tingkat kematangannya. dan penilaian sebenarnya. pemodelan. dan (5) pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. . menemukan. masyarakat belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar. dengan melibatkan 7 komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme.66 siswa mengerti dan tertarik pada ceramahnya. refleksi. (4) fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya. Disinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan tetapi menarik perhatian siswa sehingga siswa dapat belajar seoptimal mungkin. Pelaksanaan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata nyata dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam penerapan kehidupan mereka sehari-hari. Pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya. Winarno dalam Djamarah dan Zain (2002:54) disebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar yaitu: (1) tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya.

Cara penerapan komponen konstruktivisme adalah dengan menghubungkan pola pemikiran peserta didik atau dengan menanamkan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna bila dilakukan dalam bekerja. dengan diistilahkan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik tidak dilakukan dalam sekali waktu. Tugas guru dalam hal ini adalah memfasilitasi dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. menemukan.67 a. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai fasilitator. Konstruktivisme (constructivisme) Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari pembelajaran kontekstual yaitu pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik dibangun sendiri oleh peserta didik sedikit demi sedikit atau pengetahuan dilakukan secara bertahap. mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan yang baru diperoleh. guru hanya menyampaikan beberapa contoh kasus kewarganegaraan yang terjadi di Indonesia. dan dibuat laporan dalam bentuk tertulis untuk selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. Didalamnya terdapat pengalaman belajar yaitu mendeskripsikan dan menganalisis artikel yang menampilkan persamaan kedudukan warga negara dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perangkat pembelajaran yang dibuat dan digunakan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara yaitu dalam RPP kelas X pokok bahasan kelima terdapat makna konstruktivisme. . berbangsa dan bernegara yang dikerjakan oleh siswa secara berkelompok.

hal ini juga memancing rasa keingintahuan dari benak peserta didik untuk selalu mengungkapkan berbagai hal atau sesuatu yang baru. apapun materi yang diajarkan. Untuk itu tugas guru yang diemban adalah memberikan stimulus respon pada peserta didik agar peserta didik lebih memahami dan menemukan segala hal-hal yang hangat sebagai pengalaman baru yang harus diketahuinya. siswa mencari sumber bahan secara kelompok mengenai contoh kasus-kasus pelanggaran HAM di berbagai media massa. Menemukan (inquiry) Inkuiri merupakan kegiatan yang mendorong seluruh pikiran dan tubuh untuk bersama-sama aktif di dalam maupun di luar kelas. Tujuan dari menemukan adalah memupuk kreatifitas dan kekritisan dari diri peserta didik. maupun internet yang kemudian didiskusikan oleh kelompoknya masing-masing untuk selanjutnya dipresentasikan di . sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan menarik dan menyenangkan. b. Dalam proses pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara terdapat komponen menemukan atau inquiry yang diterapkan oleh guru kepada siswa yaitu dalam pengalaman belajar mempresentasikan dan mengilustrasikan berbagai kasus pelanggaran HAM. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Dalam prakteknya. media elektronik.68 misalnya kasus-kasus mengenai status kewarganegaraan di kalangan artis yang mana siswa biasanya lebih tertarik dan cepat merespon.

Dengan bertanya. mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.69 depan kelas. diharapkan akan dapat melatih peserta didik untuk dapat berpikir secara kritis. Siswa diberikan kesempatan dan kebebasan untuk dapat mengilustrasikan dan mengemukakan pendapatnya sedangkan guru hanya mengarahkan sekaligus mengendalikan kelas agar tetap kondusif. bertanya tidak harus dilakukan antara peserta didik dengan guru tetapi dapat pula dilakukan diantara peserta didik satu dengan peserta didik yang lain sehingga terjadi proses saling belajar diantara peserta didik. c. Bertanya (questioning) Bertanya merupakan sarana untuk mengembangkan rasa keingintahuan peserta didik dan tidak jarang digunakan oleh guru untuk mengetahui dan menilai kemampuan siswanya dalam menerima materi yang telah disampaikan. Tugas guru dalam hal ini adalah mendorong dan mengarahkan peserta didik untuk mengetahui tentang sesuatu dan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik serta menghilangkan ketakutan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri yaitu menggapai informasi. . Dalam proses belajar mengajar.

Guru biasanya menyampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah tanya jawab. Namun kegiatan bertanya yang dipadu dengan ceramah pemberian materi kurang begitu menyita antusias siswa untuk aktif bertanya. yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu dan seterusnya. Biasanya siswa lebih antusias untuk bertanya dalam sebuah diskusi-diskusi kelas. d. Baru kalau siswa tidak bisa atau kurang sempurna dalam menjawab. guru melengkapi. Yang pandai mengajari yang lemah. Hal semacam itu dimaksudkan agar siswa terdorong untuk berpikir kritis serta membangun rasa kepercayaan diri siswa dalam menjawab pertanyaan. Dalam menjawab pertanyaan siswa. Masyarakat belajar (learning community) Masyarakat belajar merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Siswa diberi kesempatan bertanya pada guru baik sebelum maupun sesudah guru menyampaikan materi. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.70 Kegiatan bertanya dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara diterapkan hampir disetiap proses belajar mengajar. guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompokkelompok belajar. Masyarakat belajar dapat tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah. Kegiatan saling belajar tersebut bisa terjadi apabila tidak ada pihak . Dalam kelas CTL. biasanya guru tidak langsung menjawabnya sendiri tetapi dilemparkan pada siswa.

e. . tidak ada pihak yang menganggap paling tahu dan semua pihak saling mendengarkan.71 yang merasa segan untuk bertanya. Komponen masyarakat belajar oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara diwujudkan dalam bentuk diskusi-diskusi kelompok. selanjutnya guru memberikan topik permasalahan yang berbeda-beda kesemua kelompok untuk didiskusikan yang kemudian dipresentasikan dan dibahas bersama di depan kelas. lebih bermakna. aktifitas anak dalam kelas lebih tinggi. Melalui kegiatan masyarakat belajar atau diskusi ini. karena model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau juga di datangkan dari luar. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang biasanya terdiri dari 5 sampai 6 orang. Pemodelan (modeling) Pemodelan pada dasarnya membahas gagasan yang dipikirkan. Pemodelan dapat berupa demonstrasi. Guru bukan satu satunya model. karena siswa diberikan kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya dengan cara bertukar informasi antara siswa satu ke siswa lainnya ataupun siswa ke guru. pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam artian bahwa bagi siswa pembelajaran akan dirasa lebih menyenangkan.

72

Adapun komponen pemodelan dalam pembelajaran PKn diwujudkan dalam berbagai bentuk. Selain guru sebagai model dalam kelas, tidak jaran siswa dilibatakan sebagai model dalam proses belajar mengajar. Selain itu komponen pemodelan juga diwujudkan dalam bentuk simulasi. Sebagai contoh dalam pengalaman belajar berupa menampilkan peran serta dalam sistem politik di Indonesia, guru memberi tugas kepada siswa untuk mensimulasikan didepan kelas tata cara pemilihan kepala desa. Dengan adanya simulasi atau pemodelan tersebut, siswa dirangsang untuk menjadi kreatif dan mencoba menampilkan segala kemampuannya. f. Refleksi (reflection) Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dalam masa lalu. Refleksi dilakukan dengan tujuan agar peserta didik dapat mengingat kembali hal-hal yang telah dipelajari, sehingga kelak dapat menjadi tolak ukur di dalam mengadakan suatu penilaian. Kegiatan refleksi atau mengevaluasi diri sendiri baik dilakukan, karena hal itu merupakan siklus kehidupan nyata. Mengalami-umpan balik dan berusaha berkali-kali akan lebih efektif daripada jika siswa dibiarkan memahami pengetahuan secara sepotong-sepotong dan mengandalkan penilaian dari orang lain (guru). Kegiatan refleksi dalam pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan pada setiap akhir pemberian materi oleh guru

73

dan juga dilakukan pada saat menjelang ulangan baik ulangan tengah semester maupun ulangan semester. Namun demikian dalam refleksi yang dilakukan oleh guru di akhir pemberian materi, terkadang tidak terlaksana karena sebelum guru memberikan refleksi atau memberi pertanyaan pada siswa mengenai hal-hal yang belum jelas, jam pelajaran sudah selesai. g. Penilaian sebenarnya (authentic assessment) Penilaian sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat dan benar sehingga siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak hanya dilakukan di akhir periode atau semester tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Adapun penilaian yang dilakukan oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara mencakup penilaian proses pembelajaran dan

penilaian hasil pembelajaran. Dalam penilaian proses pembelajaran, guru lebih menekankan pada segi afektif yaitu dengan memberi

74

catatan mengenai aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar, keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, maupun ketepatan siswa dalam mengumpulkan tugas. Sedangkan untuk penilaian hasil belajar, penekanannya yaitu pada segi kognitif. Guru menilai tingksat kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran dengan cara memberikan tes atau ulangan baik dalam bentuk essay tes maupun objektif tes. 3) Penilaian Pembelajaran Kontekstual Penilaian dapat dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk mengambil suatu keputusan yang didasarkan atas data yang telah disusun secara sistematis. Penilaian yang merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran, dalam pelaksanaannya di kelas tidak hanya yang bersifat produk yaitu dilaksanakan setelah selesai proses pembelajaran, akan tetapi harus dilaksanakan juga pada awal proses pembelajaran. Hal ini terlebih dalam mata pelajaran PKn yang mempunyai tujuan dan misi mengembangkan aspek civic intellegence, civic responcibility, dan civic participation, maka bukan hanya dilakukan melalui penilaian produk atau hasil tetapi juga melalui penilaian proses. Melalui kegiatan penilaian yang dilakukan pada awal dan akhir kegiatan pembelajaran, segala informasi dan data yang didapat mengenai diri siswa akan jauh menjadi lebih lengkap, misalnya bagaimana aktifitas, kreatifitas, keseriusan, ketekunan dan respon terhadap berbagai pertanyaan-pertanyaan guru dan siswa lainnya. Sebaiknya guru juga dituntut untuk benar-benar lebih serius

Sugandi (2004:44) menjelaskan bahwa refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. baik perkembangan intelektual. Siswa dapat mengukur sejauh mana penguasaan materi pelajaran dan penggunaanya untuk memecahkan masalah masyarakat dan negaranya. dan peduli terhadap persoalan lingkungan dalam rangka pembentukan warga negara Indonesia yang cerds.75 dalam memperhatikan setiap perkembangan siswanya. peka. Dalam pembelajaran kontekstual. kemampuan siswa untuk merefleksikan hasil belajar dapat ditumbuhkan. . sebab proses pembelajaran memungkinkan untuk itu. Hasil belajar yang telah lama ini diperoleh apabila siswa mampu merefleksikan hasil belajarnya. Dengan demikian kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PKn dengan menggunakan kontekstual diharapkan mampu memberdayakan siswa dalam mengkonstruksikan pengetahuan. Melalui refleksi diri siswa dilatih untuk memiliki kemampuan bersikap kritis. kreatif dan berkarakter. Salah satu keberhasilan dalam belajar apabila hasil belajar yang diperoleh siswa mampu bertahan lama. sikap ataupun keterampilannya. terampil. sikap dan keterampilan belajarnya.

Proses pembelajaran kontekstual oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara sudah cukup baik. Perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dapat dikatakan cukup ideal dimana 7 pilar pembelajaran kontekstual tercermin atau diwujudkan dalam silabus dan RPP.BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Instrumen penilaian yang digunakan melalui teknik tes dan non tes. maka dapat disimpulkan hal-hal berikut ini. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dengan baik apabila guru. namun guru tetap menciptakan suasana belajar yang efektif dan kondusif dengan cara melibatkan 7 komponen utama pembelajaran kontekstual disetiap pokok bahasan. 1. 2. Meskipun dalam penyampaian materi pelajaran guru lebih sering menggunakan metode ceramah dibandingkan dengan metode yang lainnya. siswa dan lingkungan sekolah saling mendukung satu sama lain. 4. Penilaian pembelajaran PKn di SMA Negeri I Banjarnegara dilakukan dengan cukup baik oleh guru secara terintegrasi baik selama proses pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran. Adapun sistem penilaian yang digunakan sesuai dengan ketentuan yang dibuat pihak sekolah yaitu dengan menggunakan sistem bonus. 3. 75 .

artinya pembelajaran harus bermakna dan memberikan kesempatan berlatih bagi siswa menjadi warga negara yang sebenarnya. akan tetapi guru hendaknya dapat mengembangkannya lagi misalnya dengan guru membuat buku ajar sendiri dimana materi-materi yang ada disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. .76 B. karena pada dasarnya silabus seharusnya dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan karakter siswa. 2. Masih sangat diharapkan adanya pelatihan-pelatihan ataupun seminarseminar yang memperjelas tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). sehingga pemelajaran kontekstual dapat dipraktekkan secara benar dan tepat dalam poses pembelajaran di kelas. Saran 1. kondisi dan lingkungan sekolah. Dalam proses belajar mengajar. sehingga mampu menghadapi persoalan keseharian di masyarakat nantinya. mengerti. guru diharapkan tidak hanya terpancang pada sarana dan prasarana serta buku pelajaran pokok yang sudaha ada. 4. agar guru-guru di SMA Negeri I Banjarnegara termasuk guru PKn dapat mengetahui. guru diharapkan mampu mengembangkannya secara mandiri dan tidak hanya terpancang pada silabus yang sudah ada yaitu hasil dari MGMP. 3. Guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dengan cara memberikan pengalaman belajar secara kontekstual dan praktis kepada siswa. Dalam pembuatan silabus. dan paham tentang KTSP.

. serta mengupayakan buku pelajaran maupun buku pengetahuan umum untuk memenuhi keinginan siswa yang haus akan ilmu pengetahuan dan mendukung kelancaran pembelajaran PKn khususnya serta mata pelajaran lain pada umumnya.77 5. Bagi pihak sekolah diharapkan mampu meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar di kelas.

1996. Gafur. Jakarta: Depdiknas. Jakarta: Rineka Cipta. Mulyasa. Kurikulum dan Pembelajaran. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Pedoman PPL Universitas Negeri Semarang. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. 2002. Jakarta: Depdiknas. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: UI Press. Semarang: IKIP Semarang. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2002. 1992. 2001. Modul Perencanaan Pembelajaran PPKn Berbasis Kompetensi. 2004. Prosedur Penelitian. Depdiknas. Saiful Bahri dan Aswan Zain. Analisis Data Kualitatif. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Dirjen Dikdasmen. Puskur Balitbang. 2005. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Moleong. Max. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1997. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bumi Aksara. Mulyasa. Huberman.78 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Rohani. Djamarah. Michael dan Milles. Suharsimi. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2003. Abdul. Arnie. Hamalik. Semarang: UNNES Pres. 2003. Nurhadi. Fajar. 2006. Ahmad. Oemar. Belajar dan Pembelajaran. 2005. 2004. 2006. Malang: Universitas Negeri Malang Press. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Depdiknas. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. . 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya. Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan. Lexy. Darsono. Hadi. Strategi Belajar Mengajar. 2003. Sutrisno. Metodologi Research.

Sigalingging. Paparan Kuliah Evaluasi Pengajaran PKn.79 Sanjaya. FIS UNNES. Wina. . H. Jakarta: Sinar Grafika. Jakarta: Kencana Prenada Media. 2004. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful