You are on page 1of 7

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008

INVENTARISASI JENIS BURUNG DI KAWASAN HUTAN SEKITAR WADUK BATUTEGI KABUPATEN TANGGAMUS LAMPUNG Nuning Nurcahyani, M. Kanedi, Akhmad Mahendra
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung

ABSTRAK Burung dengan jenisnya yang beragam memiliki peranan penting dalam ekosistem. Keberadaan burung sangat ditentukan oleh kondisi habitat. Hutan sebagai suatu kawasan yang dihuni oleh berbagai hewan dan tumbuhan sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup manusia. Burung menjadikan hutan sebagai habitat untuk hidup dan berkembang biak. Waduk Batutegi dikelilingi oleh kawasan hutan yang memiliki beberapa tipe habitat. Oleh karena itu diadakan penelitian tentang keanekaragaman jenis burung yang ada di kawasan ini. Penelitian ini dilaksanakan di waduk Batutegi Kabupaten Tanggamus Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis burung yang ada di kawasan hutan sekitar waduk Batutegi sebagai salah satu upaya konservasi burung dan bahan pertimbangan dalam pengelolaan serta pemanfaatan kawasan ini. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati burung pada setiap tipe vegetasi yang ditemukan di 3 areal pengamatan pada pagi, siang, dan sore hari. Pengamat diam pada salah satu titik dimana pengamat dapat melihat jelas burung-burung yang ada di lokasi pengamatan. Teropong binokuler digunakan untuk membantu mengamati burung yang berada relatif jauh dan sulit teridentifikasi oleh pengamat. Penelitian ini hanya mencatat burung-burung yang dapat dilihat oleh pengamat, bukan didengar. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan buku panduan lapangan identifikasi burung MacKinnon dkk (1992). Dari hasil penelitian ditemukan 47 spesies yang berasal dari 21 famili. Empat diantaranya merupakan burung endemik Sumatera yaitu cucak mutiara (Pycnonotus tympanistrigus), empuloh paruh-kait (Setornis criniger), brinji gunung (Iole virescens), dan srigunting Sumatera (Dicrurus sumatranus). Cucak mutiara (Pycnonotus tympanistrigus) juga dimasukkan kategori rentan dalam daftar burung-burung terancam punah di Indonesia. Spesies yang paling sering dijumpai adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), cucak kuricang (Pycnonotus atriceps), dan walet sapi (Collocalia esculenta). Spesies yang paling banyak dijumpai berasal dari famili Pycnonotidae (Cucak-cucakan). Kata kunci: Waduk Batutegi, endemik, konservasi, inventarisasi

1. PENDAHULUAN Indonesia diketahui sebagai salah satu tempat terkonsentrasinya keanekaragaman hayati dunia, sehingga dijuluki “negara maha-anekaragam” (megadiversity country) (Sujatnika, Jepson, Soehartono, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). Salah satu kelompok hewan yang beranekaragam itu adalah burung. Diperkirakan 17 % persen dari seluruh spesies burung di dunia ada di Indonesia (Sujatnika dkk., 1995). Propinsi Lampung sebagai salah satu bagian dari kepulauan Indonesia sedikitnya memiliki 3 Daerah Penting bagi Burung (DPB), yaitu Taman Nasional Way Kambas, Taman

ISBN : 978-979-1165-74-7

III-311

Burung memiliki peranan penting di dalam ekosistem. Kegiatan yang dilakukan adalah penentuan areal pengamatan. Waduk Batutegi sebagai suatu kawasan yang cukup luas memiliki beberapa tipe habitat yang dapat dihuni oleh burung.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Kabupaten Tanggamus. Pengamat diam pada salah satu titik dimana pengamat dapat melihat jelas burung-burung yang ada di lokasi pengamatan. 2. dan Rawa Pacing Tulang Bawang (Holmes dan Rombang. uji metode di lapangan. dan pengambilan data pada areal pengamatan I. Waduk ini berjarak kira-kira 90 km dari Bandar Lampung dan berada pada ketinggian 165-450 meter di atas permukaan laut. Menurut Sujatnika dkk (1995). Propinsi Lampung. Kecamatan Pulau Panggung. Titik pengamatan ditentukan berdasarkan kriteria dapat dilakukan pengamatan visual yang baik ke segala arah. Perubahan ini akan sangat mempengaruhi keberadaan burung di waduk Batutegi. Teropong binokuler digunakan ISBN : 978-979-1165-74-7 III-312 . METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan sekitar waduk Batutegi yang terletak di Desa Way Harong. Selanjutnya ditentukan lokasi pengamatan yang didasarkan pada tipe vegetasi yang ada pada masing-masing areal pengamatan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus sampai September 2005. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dilakukan pada bulan Juni untuk mendapatkan gambaran umum mengenai lokasi penelitian. sehingga menyebabkan perubahan pada kondisi habitat. Penentuan Lokasi Pengamatan Pengambilan data dilakukan di 3 areal pengamatan yang diperkirakan mewakili seluruh areal yang ada di kawasan hutan waduk Batutegi. burung merupakan satwa yang distribusi populasinya sangat luas dan menempati berbagai tipe habitat. 17-18 November 2008 Nasional Bukit Barisan Selatan. Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati burung pada setiap tipe vegetasi di masing-masing areal pengamatan. 2001). Waduk ini dibuat dengan menenggelamkan sebagian daratan yang berupa perbukitan. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian untuk mendapatkan data terbaru mengenai jenis-jenis burung di kawasan ini.

Pengamatan dilakukan selama 4 hari pada masing-masing areal pengamatan. serta ciri khusus seperti corak warna. tipe vegetasi. Burung yang teramati diidentifikasi dengan menggunakan buku panduan lapangan identifikasi burung MacKinnon dkk (1992). ketinggian tempat. 17-18 November 2008 untuk membantu mengamati burung yang berada relatif jauh dan sulit teridentifikasi oleh pengamat. 3. dan sore hari (pukul 15. Keterangan (tajuk) pada pohon saat ditemukan dan intensitas perjumpaan juga dicatat sebagai data pendukung penelitian. dan lingkar mata. Selain itu juga dilakukan pengamatan di Mess Departemen Pekerjaan Umum – Direktorat Jenderal Pengairan dan sekitar rumah penduduk di waduk Batutegi selama 3 hari. sayap.08. Penelitian ini hanya mencatat burung-burung yang dapat dilihat oleh pengamat. tanggal. kepala.00 WIB). warna tubuh bagian atas dan bawah. bukan didengar. pada pagi (pukul 06. yaitu : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Lokal Elang hitam Ayam-hutan merah Uncal kouran Kangkok ranting Bubut alang-alang Serak bukit Walet sapi Raja-udang kalung-biru Cekakak sungai Rangkong badak Pemandu-lebah Asia Cipoh jantung Cucak mutiara Cucak sakit-tubuh Cucak kuricang Cucak kuning Cucak kutilang Nama Ilmiah Ictinaetus malayensis Gallus gallus Macropygia ruficeps Cuculus saturatus Centropus bengalensis Phodilus badius Collocalia esculenta Alcedo euryzona Todirhamphus chloris Buceros rhinoceros Indicator archipelagicus Aegithina viridissima Pycnonotus tympanistrigus Pycnonotus melanoleucos Pycnonotus atriceps Pycnonotus melanicterus Pycnonotus aurigaster III-313 ISBN : 978-979-1165-74-7 . Jenis yang belum dapat diidentifikasi saat pengamatan tetap dicatat dengan memberikan deskripsinya agar saat bertemu kembali dapat teridentifikasi.00 – 12. waktu. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan selama 15 hari ditemukan 47 spesies burung di kawasan hutan sekitar Waduk Batutegi.00 . dan ekor. siang (pukul 10. Informasi lain yang dicatat adalah nama pengamat.00 WIB). ada atau tidaknya kumis. bentuk dan ukuran paruh.00 – 17. Identifikasi meliputi ukuran tubuh.00 WIB).Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. dan perilaku burung.

hutan sonokeling. Ini ditandai dengan ditemukan 47 spesies burung yang tersebar pada vegetasi tersebut. Selanjutnya Shannaz. dan hutan primer. yaitu kebun kopi.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Jepson. dan srigunting Sumatera (Dicrurus sumatranus). dan Rudtanto (1995) menambahkan cucak mutiara termasuk kategori rentan dalam daftar burung-burung terancam punah di Indonesia Ditemukannya spesies ini setidaknya memberi gambaran tentang kehadiran kawasan hutan di waduk Batutegi yang turut menentukan kelestarian spesies-spesies burung. belukar. yaitu cucak mutiara (Pycnonotus tympanistrigus). empuloh paruh-kait (Setornis criniger). hutan tebangan. ISBN : 978-979-1165-74-7 III-314 . semak-semak. brinji gunung (Iole virescens). empat diantaranya merupakan burung endemik Sumatera. Bahkan menurut MacKinnon dkk (1992). 17-18 November 2008 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 Merbah cerukcuk Merbah corok-corok Merbah mata-merah Empuloh leher-kuning Empuloh ragum Empuloh paruh-kait Brinji gunung Srigunting Sumatera Sibia ekor-panjang Kucica kampung Kucica hutan Cinenen pisang Sikatan-rimba dada-kelabu Sikatan bubik Sikatan belang Sikatan biru-putih Sikatan bakau Seriwang Asia Kicuit batu Bentet loreng Burung-madu polos Burung-madu belukar Burung-madu sriganti Pentis kumbang Pentis pelangi Cabai tunggir-coklat Cabai polos Cabai merah Cabai perut-kuning Bondol Jawa Pycnonotus goiavier Pycnonotus simplex Pycnonotus brunneus Criniger finschii Alophoixus ochraceus Setornis criniger Iole virescens Dicrurus sumatranus Heterophasia picaoides Copsychus saularis Copsychus malabaricus Orthotomus sutorius Rhinomyias umbratilis Muscicapa dauurica Ficedula westermanni Cyanoptila cyanomelana Cyornis rufigastra Terpsiphone paradisi Motacilla cinerea Lanius tigrinus Anthreptes simplex Anthreptes singalensis Nectarinia jugularis Prionochilus thoracicus Prionochilus percussus Dicaeum everetti Dicaeum concolor Dicaeum cruentatum Dicaeum ignipectus Lonchura leucogastroides Berdasarkan hasil pengamatan sedikitnya ada 6 tipe vegetasi di kawasan hutan sekitar waduk Batutegi yang penting bagi burung.

. yaitu pemandu-lebah Asia (Indicator archipelagicus). Diperkirakan tangga ini digunakan untuk memasang jerat atau mengambil telur burung yang ada di pohon tersebut. rangkong badak (Buceros rhinoceros). tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa menunjukkan bahwa 7 spesies yang ditemukan di waduk Batutegi dikategorikan sebagai spesies yang dilindungi oleh pemerintah. Spesies-spesies tersebut yaitu elang hitam (Ictinaetus malayensis). srigunting Sumatera (Dicrurus sumatranus). Walker. Bahkan untuk spesies elang hitam (Ictinaetus malayensis) juga ditemukan di areal permukiman penduduk yang diperkirakan sebagai tempat mencari mangsa bagi spesies ini. Data lain yaitu berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Penebangan pohon sebagai salah satu penyebab rusaknya habitat sering dilakukan di waduk Batutegi. dan Setiawan (1999). raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona). apalagi jika penebangan dilakukan tanpa diiringi dengan penanaman pohon kembali. juga ditemukan spesies-spesies lain yang digolongkan ke dalam spesies-spesies yang mendekati terancam punah. Jika habitat spesies ini di waduk Batutegi habis akibat penebangan. Hal ini ditandai dengan ditemukannya beberapa areal bekas tebangan dan adanya suara-suara bising alat penebang pohon yang terdengar saat dilakukan pengamatan. Bishop. 17-18 November 2008 Selain cucak mutiara. cekakak sungai (Todirhamphus chloris). Umumnya ISBN : 978-979-1165-74-7 III-315 . burung-madu polos (Anthreptes simplex). Penebangan pohon seperti ini menyebabkan rusaknya kondisi habitat yang memang sangat mempengaruhi keberadaan hewan terutama burung sebagai kelompok yang sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan. rangkong cenderung berumur panjang dan tingkat keberhasilan reproduksinya tinggi. Terutama untuk spesies rangkong badak (Buceros rhinoceros) yang menggunakan pohon-pohon tinggi sebagai habitatnya.. Selain penebangan. 1992) untuk berkembang biak. Menurut Sozer. dan untuk pasangan menempati tajuk pohon tertinggi (MacKinnon dkk. dan burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis). dan Cahill (2003). burung-madu belukar (Anthreptes singalensis). empuloh paruh-kait (Setornis criniger).Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. penangkapan burung juga merupakan masalah kelangsungan hidup burung di waduk Batutegi. Salah satu contohnya adalah ditemukannya tangga pada pohon pakan rangkong badak (Buceros rhinoceros) saat pengamatan. and Balen (1987) dalam Balen menjelaskan bahwa masa depan dari kebanyakan spesies hutan dipengaruhi oleh kemampuannya untuk bertahan dalam hutan terisolasi. 1995). Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan terhadap habitat spesies ini. maka spesies ini juga akan habis mengingat pohon-pohon tinggi membutuhkan waktu yang relatif lama untuk tumbuh meski menurut Kinnaird. famili Accipitridae dihuni oleh kelompok burung yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan. 7 Tahun 1999. dan cabai tunggir-coklat (Dicaeum everetti) (Shannaz dkk. tanggal 27 Januari 1999. Kelompok ini menjadi kelompok pertama yang meninggalkan kawasan jika terjadi gangguan terhadap habitat. Sitompul. Diamond. Nijman.

Yogyakarta. 1998. merbah mata-merah (Pycnonotus brunneus). Pulau Sumba “Ringkasan Hasil Penelitian 1995 – 2002” Dengan Rekomendasi Konservasi Bagi Rangkong Sumba. Ekologi Umum.. 2003). D. Phillipps. Wolf.S.. 1992. Oleh karena itu. J. Burung-Burung di Sumatera. PHKA/ Birdlife International Indonesia Programme. DAFTAR PUSTAKA Diamond. Bogor. Daerah Penting bagi Burung : Sumatera. Artinya. Wageningen University. Bird Survival in An Isolated Javan Woodland : Island or Mirror ?. mandi dan mencuci. KESIMPULAN Jumlah spesies burung yang ditemukan di kawasan hutan sekitar waduk Batutegi sebanyak 47 spesies yang berasal dari 21 famili. dan A. polusi suara. Walker.F.V. dan walet sapi (Collocalia esculenta). Spesies-spesies ini tersebar pada enam tipe vegetasi yang ditemukan. S. M.M. dan hutan primer. cucak kuricang (Pycnonotus atriceps). kicuit batu (Motacilla cinerea). 2001. Selain itu. Balen. McNaughton.L. Jenis-jenis burung yang ditemukan di waduk Batutegi yang umumnya ada di pasaran antara lain ayam-hutan merah (Gallus gallus). aktivitas manusia seperti mencari ikan dan rumput.M. dan B. A. Holmes. Bogor. cabai polos (Dicaeum concolor).. perhatian dan kerjasama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menangani masalah ini. 4. MacKinnon. cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). Cahill.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Balen. Memorandum Teknis 6. Spesies yang paling sering dijumpai adalah cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster). hutan sonokeling. ISBN : 978-979-1165-74-7 III-316 .J. 1987. Bishop. cucak kuricang (Pycnonotus atriceps). areal waduk Batutegi berpotensi besar bagi masyarakat yang ingin menangkap dan menjual jenis-jenis burung ini. Rombang. dan bentet loreng (Lanius tigrinus). yaitu raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona) dan cekakak sungai (Todirhamphus chloris). Bogor. hutan tebangan. K. belukar.J. Jawa. Sarawak dan Brunei Darussalam).V. and S. Dua spesies diantaranya merupakan burung air.D. dan W. dan L. Sitompul. J. 2003. 17-18 November 2008 burung ditangkap untuk dipelihara dan dijual di pasaran. Kinnaird. Bali dan Kalimantan (Termasuk Sabah. bondol Jawa (Lonchura leucogastroides). J. dan pencemaran air akibat limbah rumah tangga juga merupakan gangguan bagi keberadaan burung (Solahudin. Gadjah Mada University Press. K. yaitu kebun kopi. Puslitbang Biologi LIPI. PHKA/ Wildlife Conservation Society-Indonesia Program. merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier). B. Famili Pycnonotidae memiliki jumlah spesies yang paling banyak. semaksemak. Edisi Kedua. Balen.V. yaitu 12 spesies.F. Kakatua cempaka dan habitatnya.

Pendekatan DBE. Biodiversity Conservation Project (LIPI-JICA). Keanekaragaman Jenis Burung Air di Lebak Pampangan Kecamatan Pampangan. Sozer. ISBN : 978-979-1165-74-7 III-317 .. Universitas Lampung. Panduan Identifikasi Elang Jawa Spizaetus bartelsi. 1995. dan I. Mardiastuti. Sujatnika. Nijman. Melestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia. 17-18 November 2008 Shanaz. Burung-Burung Terancam Punah di Indonesia. PHPA-MOF-Birdlife Indonesia Programme.J. R. PHPA/ Birdlife International Indonesia Programme. Jepson. dan A.Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung. Soehartono.. 2003. Kabupaten Ogan Komering Ilir. M. J. P. 1995. Jakarta. dan Rudyanto.R. Skripsi. V. Bandar Lampung. A. T. Bogor. Sumatera Selatan. Setiawan. P. Solahudin.M. Crosby. 1999. Jepson.