P. 1
Skrining Fitokimia

Skrining Fitokimia

5.0

|Views: 7,205|Likes:

More info:

Published by: Normalita Eka Susanti on Oct 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2015

pdf

text

original

SKRINING FITOKIMIA

I. Tujuan Sebelum melakukan praktikum ini, praktikan wajib memahami berbagai golongan senyawa yang terdapat dalam tumbuhan, terutama yang disebut metabolit sekunder. Setelah melakukan praktikum ini, dengan menggunakan metode tabung dan metode KLT, mahasiswa mampu mengidentifikasi:
a) senyawa golongan flavonoid, b) senyawa golongan antrakinon, c)

senyawa golongan saponin (steroid dan triterpenoid),

d) senyawa golongan alkaloid, e) senyawa golongan fenolik dan polifenolik.

I. Pendahuluan Penelitian mengenai bahan alam hayati terutama dalam hal untuk menemukan senyawa yang memiliki bioaktivitas atau efek farmakologi dikenal dua pendekatan yaitu pendekatan fitofarmakologi dan pendekatan skrining fitokimia (Fransworth, 1966). Pendekatan fitofarmakologi meliputi uji berbagai efek farmakologi terhadap hewan percobaan dengan ekstrak tumbuhan atau bagian tumbuhan. Misalnya efek farmakologi terhadap susunan saraf pusat, terhadap organ tertentu, dan sebagainya. Percobaan farmakologi dapat dilakukan baik secara in vivo dan/atau in vitro. Adapun aktivitas yang diujikan antara lain antineoplastik, antiviral, antimikrobial, antimalaria, insektisida, hipoglikemik, kardiotonik, estrogenik atau androgenik, dan sebagainya. Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji), terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif, yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid, glikosida jantung, kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid), tanin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid), iridoid, dan sebagainya. Adapun tujuan utama dari pendekatan skrining fitokimia adala untuk mensurvei tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan. Metode yang digunakan untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain :
a. sederhana, b. cepat,

1

c. dirancang untuk peralatan minimal, d. bersifat selektif untuk golongan senyawa yang dipelajari, e. bersifat semi kuantitatif sebegitu jauh dapat diketahui batas terendah dari golongan

senyawa yang dipelajari,
f. dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu dari

golongan senyawa yang dipelajari. Adapun hingga saat ini prosedur yang banyak dipublikasikan memenuhi kriteria (a) sampai dengan (d) dan sangat sedikit memenuhi kriteria (e) sampai dengan (f) (Fransworth, 1966). Skrining fitokimia ini dilakukan dengan dua macam uji, yaitu uji tabung dan uji kromatografi. Uji tabung digunakan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui macam senyawa yang terdapat dalam serbuk tumbuhan yang belum diketahui. Sedangkan uji kromatografi digunakan sebagai penegas jenis senyawa dari uji tabung yang dilakukan sebelumnya. Dalam praktikum ini uji kromatografi dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).  UJI TABUNG 1. Minyak Atsiri Merupakan zat yang berbau, terdapat pada berbagai bagian tumbuhan. Karena mudah menguap bila disimpan di tempat terbuka pada suhu kamar, maka disebut minyak menguap, minyak atsiri, atau minyak esens esensial (Claus,1970). Minyak atsiri adalah campuran dari banyak substansi yang kompleks dan sangat bervariasi dalam komposisi kimiawi. Hampir setiap tipe senyawa organik dapat ditemukan dalam minyak atsiri (hidrokarbon, alkohol, keton, aldehid, eter, oksida, fenol, dan ester) dan hanya sedikit komponen tunggal dengan persentase tinggi yaitu terpena. (Claus,1970; Wagner, 1984). Walaupun minyak atsiri mengandung bermacam-macam komponen kimia yang berbeda, namun komponen tersebut dapat digolongkan menjadi 4 kelompok besar yang menentukan sifat minyak atsiri, yaitu :
• • • •

terpen, yang ada hubungannya dengan isoprena atau isopentena; senyawa hidrokarbon berantai lurus, tidak mengandung rantai cabang; turunan benzen; bermacam-macam senyawa lainnya.

Sebagian minyak atsiri mengandung senyawa hidrokarbon yang mempunyai rumus empiris C10H16 dan kelompok persenyawaan yang mengandung atom oksigen dengan rumus empiris C10H16O dan C10H18O.

2

Minyak atsiri memiliki beberapa aktivitas fisiologis yaitu sebagai antiseptik, antimalaria, antibakteri, antifungi, karminatif, analgetik, hemolitik, dan lain sebagainya. Secara ekonomi senyawa ini biasa digunakan untuk bahan pewangi, rempah-rempah, dan cita rasa dalam industri makanan (Claus, 1970; Harborne, 1987). 1. Steroid dan Triterpenoid Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isopren dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu skualen. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehid, atau asam karboksilat. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi LiebermannBurchard (anhidrida asetat-H2SO4 pekat) yang dengan kebanyakan triterpen dan sterol memberikan warna hijau-biru (Harborne, 1987). Sterol atau steroid adalah triterpenoid yang kerangka dasarnya cincin siklopentana perhidrofenantren. Senyawa sterol pada tumbuhan disebut dengan fitosterol, yang umum terdapat pada tumbuhan tinggi adalah sitosterol, stigmasterol, dan kampesterol (Harborne, 1987). 2. Alkaloid Alkaloid adalah senyawa nitrogen yang biasanya terdapat dalam tumbuhtumbuhan. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang banyak terdapat dalam tanaman angiospermae. Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Atom nitrogen dalam alkaloid terdapat sebagai amina primer, amina sekunder, amina tersier, dan amina kuarterner. Pada umumnya alkaloid terdapat dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik dan bersifat fisiologis aktif pada manusia dan hewan (Harborne, 1987; Trease dan Evans, 1978). Berdasarkan struktur kimianya alkaloid dapat digolongkan sebagai: • • • • • golongan piridina, misalnya arekolina (Areca catechu) dan nikotina (Nicotiana tabacum); golongan tropan, misalnya hiosiamina dan skopolamina (Atropa belladona, Hyoscyamus niger, Datura stramonium); golongan kinolin, mialnya kinina dan kinidina (Cinchona succirubra); golongan iso-kinolin, misalnya hidrastin (Hydrastis canadensis), emetin (Cephaelis ipecuanhae), morfin dan kodein (Papaver somniferum); golongan indol, misalnya ergotamina (Secale cornutum), strikhnina dan brusina (Strychnos nux vomica), dan reserpin (Rauwolfia serpentina);

3

Identifikasi alkaloid dapat dilakukan dengan reaksi pengendapan dan reaksi warna. di mana akan dihasilkan larutan berwarna merah. kecuali alkaloid golongan yang tidak diendapkan. misalnya akonitin (Aconitum napellus). lignin. violet. 1970). Identifikasi senyawa fenol secara umum dapat menggunakan FeCl3. misalnya efedrina (Ephedra sinica) dan kolkisina (Colchicum autumnale). c) mikrosublimasi. Glikosida Glikosida adalah senyawa yang tidak mereduksi. mengatur pertumbuhan. Endapan dapat berbentuk amorf maupun kristalin dengan warna yang bervariasi yaitu krem (Mayer). coklat kemerahan (Wagner dan Dragendorff). Alkaloid seringkali bersifat racun pada manusia tapi sebagian besar memiliki aktifitas fisiologis. b) penyekatan air-asam. diadakan isolasi antara lain dengan cara: a) penyekatan dengan pelarut organik. antrakinon. reaksi pengendapan dapat diganggu oleh adanya protein (Claus. Coffea arabica. Camellia sinensis).• • • golongan amina. 1970). Hager (larutan jenuh asam pikrat). dan teobromina (Theobroma cacao). Kebanyakan alkaloid diendapkan dari larutan netral atau sedikit asam oleh pereaksi Mayer (kalium iodida dan merkuri klorida). Dalam tanaman alkaloid mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai pertahanan terhadap insektisida dan herbivora. Beberapa senyawa yang termasuk dalam golongan fenolik antara lain fenol sederhana. larutan asam tanat. misalnya kofeina (Cola nitida. atau oleh pereaksi Dragendorff (larutan iodium bismut iodida). 1. teofilina (Camellia sinensis). Bagian gula ada yang tidak spesifik (misalnya glukosa) dan yang spesifik (misalnya digitoksosa. sarmentosa). flavonoid. yang apabila terhidrolisis akan menghasilkan gugus gula (glikon) dan gugus bukan gula (aglikon). Sebelum dilakukan reaksi tersebut. d) mikrodestilasi dengan alat tanur TAS dilanjutkan dengan kromatografi. merupakan hasil akhir dari proses detoksifikasi. golongan purin. Molekul gula yang lazimnya terdapat pada glikosida adalah β-D- 4 . Senyawa Fenolik Senyawa fenolik meliputi bermacam senyawa yang memiliki ciri yaitu berupa senyawa aromatis. atau merah-ungu. golongan steroid. tanin. dan fenil propanoid. Fenol sederhana memiliki kelarutan yang terbatas dalam air dan bersifat asam. dan merupakan elemen penting dalam tanaman untuk mengatur suplai nitrogen (Claus. 2. Wagner (larutan iod dalam KI).

glikosida dibedakan menjadi: glikosida jantung. Namun saponin juga dapat bersifat racun bagi hewan berdarah dingin karena kemampuannya untuk menurunkan tekanan darah. dan lain-lain.1970). Glikosida ini ditemukan pada berbagai bagian tanaman. akar. seperti daun. bunga. a. maka glikosida tersebut disebut dengan glukosida. Nama saponin sendiri berasal dari kata sapon yang berarti ‘sabun’. batang. glikosida fenolat.) Glikosida Saponin Glikosida saponin adalah glikosida yang terdiri atas 27 atom karbon steroid atau 30 atom karbon triterpen. glikosida saponin. yaitu rhamnosa. simarosa. tetapi kadang-kadang ditemukan juga jenis gula lain. Saponin yang telah teridentifikasi menyebabkan keracunan seperti ini disebut dengan sapotoksin. dan glikosida lakton. glikosida aldehid. oleandrin (pada Nerii folium). digitoksosa. keduanya terletak pada posisi atom C-17. Liquiritiae radix dan 5 . Beberapa saponin juga bersifat racun bila terhirup dan dapat menyebabkan urtikaria pada beberapa orang. b. glikosida flavanoid. sedangkan gula yang terikat pada lebih dari satu. yaitu mempengaruhi irama pergerakan kerja jantung. sedang bila berikatan dengan gula yang lain disebut sebagai glikosida (Claus.13spesifik. glikosida alkohol. Steroid ini merupakan dimethylcyclopentano-perhydrophenan-threne yang mempunyai lingkaran γlakton disebut kardenolida. glikosida sianogen. biasanya pada gugus hidroksi dan karboksil. glikosida antrakinon. Saponin dalam air membentuk busa yang stabil. Glikosida umumnya larut dalam air. Glikosida jantung yang terkandung dalam tanaman antara lain adalah digitoksin (pada Digitalis folium). strofantosid (pada Strophanthi semen). glikosida alil-isotiosianat.) Glikosida Jantung Glikosida strukturnya jantung mengandung glikosida steroid dengan efek yang turunan sistem cincin tetrasiklik 10. Saponin dipercaya sebagai alat pengontrol kolesterol bagi mereka yang berdiet. disebut sebagai saponin bis desmosida. sedang yang mempunyai lingkaran δ-lakton disebut bufadienolida. Bila ikatan glikosidik terjadi dengan molekul glukosa. Glikosida ini memiliki karakter dengan rasa yang pahit dan kemampuannya menghemolisis sel darah merah. sedangkan aglikonnya tidak larut dalam air. umbi.glukosa. Hal ini disebabkan oleh sifat alamiah saponin sebagai senyawa yang amfifilik. dan buah. Atas dasar aglikonnya. Kelompok gula yang terikat pada gugus hidroksi tunggal (umunya atom C-3 hidroksi) dari aglikon. disebut sebagai saponin monodesmosida.

Struktur antrakinon adalah sebagai berikut : Senyawa antrakinon dan turunannya seringkali bewarna kuning sampai merah sindur (oranye).10-dioxoanthracene) merupakan senyawa organik aromatic dan merupakan turunan dari antrasena. tidak beracun bagi binatang berdarah panas. misalnya dengan natrium bikarbonat. Diantron adalah senyawa dimer tunggal atau campuran dari molekul antron. mempunyai sifat deterjen yang baik. merusak sel darah merah. tidak menunjukkan fluoresensi. Oksantron merupakan zantara (intermediet) antara antrakinon dan antranol. Untuk identifikasi digunakan reaksi Borntraeger. yaitu antranol bewarna kuning kecoklatan dan dengan alkali membentuk larutan berpendar (berfluoresensi) kuat. larut dalam air panas atau alkohol encer.) Glikosida Antrakinon Merupakan glikosida dengan aglikon yang merupakan turunan dari antrakinon. c. dan tidak larut dalam alkali. Contoh dari glikosida antrakinon antara lain emodin (pada Rhei radix. Antrakinon (9. mempunyai sifat antieksudatif. terdapat bebas di alam atau sebagai glikosida. Glikosida antrakinon mempunyai efek laksatif atau purgatif. Antrakinon yang mengandung gugus karboksilat (rein) dapat diekstraksi dengan penambahan basa. 6 . sedangkan isomemya. mempunyai aktivitas hemolisis.Sarsaparllae cortex mengandung saponin. Rheum. Diantron merupakan aglikon penting dalam Cassia. aloe emodin (pada Aloe folium). Rhamni frangulae). Demikian juga daging buah Sapindus rarak. senosida A dan senosida B (pada Sennae folium). Sifat-sifat saponin : • • • • • • • berasa pahit dan berbusa dalam air. beracun bagi binatang berdarah dingin. Hasil reduksi antrakinon adalah antron dan antranol. mempunyai sifat antiinflamasi mempunyai aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi. Antron bewarna kuning pucat.

dan galaktosa. Glikosida antrakinon berfungsi sebagai stimulan katartika dengan cara meningkatkan tekanan otot polos pada dinding usus besar. Tanin Tanin merupakan senyawa polifenol yang berarti termasuk dalam senyawa fenolik. yaitu gula yang tidak dapat dihidrolisis menjadi gula yang lebih sederhana. Contohnya glukosa. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tak larut dalam air. dalam golongan ini misalnya senidin. Reidin A. Rumus umum dari karbohidrat adalah Cx(H2O)y.). juga terdapat pada kubis (Brassica oleracea). yaitu : a) Monosakarida. 2. Aksinya akan terasa sekitar 6 jam kemudian atau lebih lama. Elagitanin (tanin terhidrolisis) bereaksi khas dengan asam nitrit (NaNO2 ditambah dengan asam asetat) membentuk warna merah cerah yang kian lama berubah menjadi biru indigo (Harborne. amygdalin (pada Amygdalae semen). dan tanin terhidrolisis. 1. fruktosa. dan C yang terdapat dalam Sena dan Kelembak merupakan heterodiantron.dan Rhamnus. 7 . Namun selama proses isolasi penting untuk menonaktifkan enzim glikosidase yang ada bersama-sama dalam jaringan tumbuhan. tersebar pada paku-pakuan. baik secara kimiawi maupun oleh enzim endogen dalam sistem tertutup. Karbohidrat dapat digolongkan menjadi tiga golongan. prunasin (pada Prunus sp. angiospermae dan gymnospermae. 1987). Senyawa lain yang bila dihidrolisis menghasilkan senyawa polihidroksi keton atau polihidroksi aldehid digolongkan dalam kelompok karbohidrat. Glikosida sianogen dapat diisolasi dengan cara umum yang digunakan untuk glikosida. terdapat pada tumbuhan berkeping dua. Karbohidrat Karbohidrat atau sakarida merupakan senyawa yang termasuk polihidroksi keton atau polihidroksi aldehid. Glikosida sianogen ini antara lain laurocerasin (pada Laurocerasin folium). Tanin dapat dideteksi dengan sinar UV pendek berupa bercak lembayung yang bereaksi positif dengan setiap pereaksi fenol baku. B. Mekanisme aksinya diduga bahwa antrakinon dan antranol dan turunannya berpengaruh terhadap transpor ion dalam sel kolon dengan menghambat kanal ion Cl-. sawi (Brassica nigra). aglikon senosida. Terdapat 2 jenis utama tanin yaitu tanin terkondensasi. d) Glikosida sianogen Keberadaan glikosida sianogen didasarkan pada adanya gas HCN yang dibebaskan oleh hasil hidrolisis glikosida sianogen.

yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan 3 karbon yang dapat atau tidak membentuk cincin. Flavonoid disintesis melalui jalur metabolit fenilpropanoid di mana asam amino fenilalanin digunakan untuk memproduksi 4-coumaroyl-CoA. selulosa.2- benzopyrone). yaitu gula yang terdiri dari dua atau lebih satuan monosakarida yang berikatan dengan ikatan glikosidik. dan maltosa. sekelompok senyawa yang disebut chalcones yang mengandung dua cincin fenil. terdapat dalam bentuk aglikon maupun heterosida. c) neoflavonoid. Contohnya sakarosa. merupakan turunan dari struktur 4-phenylcoumarine (4-phenyl-1. dan gom. laktosa. merupakan turunan dari struktur 3-phenylchromen-4-one (3-phenyl- 1. Contohnya amilum. yang tersusun dalam konfigurasi C6C3C6.4 benzopyrone). flavonoid dapat diklasifikasi menjadi : a) flavonoid. 1. merupakan turunan dari stuktur 2-phenylchromen-4-one (2-phenyl-1. yaitu struktur tiga cincin dari flavon. yaitu molekul yang tersusun dari sejumlah besar satuan monosakarida yang berikatan dengan ikatan glikosidik. Konjugat ring-closure dari chalcones menghasilkan bentuk umum flavonoid.4- benzopyrone). Flavonoid Flavonoid merupakan metabolit sekunder dari tanaman yang memiliki 15 asam karbon dalam inti dasarnya.b) Oligosakarida. Berdasarkan nomenklatur IUPAC. Jalur metabolit kemudian berlanjut melalui 8 . yang selanjutnya digabungkan dengan malonyl CoA untuk membentuk kerangka dasar flavonoid. Beberapa senyawa tidak pernah ditemukan sebagai heterosida. c) Polisakarida. b) isoflavonoid. Kerangka dasar dari flavonoid adalah sebagai berikut: Flavonoid adalah pigmen yang tersebar luas dalam tanaman. seperti flavon tidak terhidroksilasi dan flavon yang teralkilasi penuh karena tidak memiliki gugus hidroksil dimana gula dapat dikombinasikan.

tanin. termasuk flavonol. d) mencegah keropos tulang. kromatografi lapis tipis (KLT) adalah yang paling cocok untuk analisis obat di laboratorium farmasi. e) sebagai antibiotik: dalam banyak kasus. Di antara berbagai jenis teknik kromatografi.serangkaian modifikasi enzimatik hingga menghasilkan flavon  dihidroflavonol  antosianin. baik bagi tumbuhan penghasil maupun untuk manusia. Metode ini hanya memerlukan investasi kecil untuk perlengkapan. b) untuk melindungi struktur sel. juga dihasilkan produk-produk. Sedangkan aktivitas biologi flavonoid untuk manusia antara lain : a) sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Sepanjang jalur ini. Flavonoid bagi tumbuhan penghasil berfungsi sebagai pigmen pada bunga dan untuk mencegah serangan dari serangga maupun mikroba. encok atau rematik. termasuk untuk virus HIV (AIDS) dan virus herpes. hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin terjadi. flavan-3-ol. kebutuhan ruang minimum dan penanganannya sederhana. Selain itu. menggunakan waktu singkat untuk menyelesaikan analisis (15-60 menit). c) antiinflamasi. fungsi flavonoid sebagai antivirus telah banyak dipublikasikan. Campuran yang akan dipisah berupa larutan dan 9 . katarak. Kromatografi adalah suatu proses migrasi diferensial dalam mana komponen-komponen cuplikan ditahan secara selektif oleh fase diam.1970)  UJI KROMATOGRAFI Kromatografi merupakan cara pemisahan yang mendasarkan partisi atau adsorbsi cuplikan antara fase gerak dan fase diam. diabetes. dan memerlukan jumlah cuplikan yang sangat sedikit (kira-kira 0. dan periodontitis (radang jaringan ikat penyangga akar gigi) (Claus. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam) yang ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas. wasir. migren. KLT adalah metode pemisahan fisikokimia. Flavonoid memiliki beberapa manfaat. f) pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperti asma. ataupun lapisan yang cocok. flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus.1 g). memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C). logam. dan senyawa polifenol yang lain.

kromatografi gas cair. hRf adalah angka Rf dikalikan faktor 100. campuran yang akan dipisahkan ditempatkan dalam keadaan sedemikian rupa sehingga komponen-komponennya harus menunjukkan 2 dari 3 sifat di atas. Selanjutnya pelat diletakkan dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). 1991). Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan mengubah-ubah secara langsung beberapa sifat fisik umum dari molekul. kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus. Sifat utama yang terlihat adalah: • • • kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan. Cuplikan ditotolkan sekitar 8-10 µl dari salah satu ujung kaca objek. Pada sistem kromatografi. Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 4 teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut. pertama tanpa dipanaskan. Keempat teknik kromatografi tersebut adalah kromatografi kertas. Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan dengan angka Rf atau hRf. Jika dengan kedua cara tersebut tidak dapat dideteksi. menghasilkan nilai berjangka antara 0 sampai 100. Hampir segala macam pelarut dapat dipakai untuk melarutkan campuran tetapi umumnya yang bertitik didih antara 50-100 0C. 1985). tetapi karena angka Rf merupakan fungsi sejumlah faktor maka angka ini dianggap sebagai petunjuk saja. kemudian bila perlu dipanaskan (Gritter.00 dan 1. harga hRflah yang dicantumkan untuk meninjukkan letak suatu senyawa pada kromatogram (Gritter. Senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (dideteksi) dengan penunjuk bercak (Stahl. Pelarut harus benar-benar dihilangkan sebelum dilakukan pengembangan. 1991). KLT.00 dan hanya dapat ditentukan 2 desimal. Rf = jarak elusi sampel Jarak elusi fase gerak Nilai Rf berjarak antara 0. Pelarut yang demikian ini mudah ditangani dan mudah menguap dari lapisan. pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan). harus dengan reaksi kimia. 1991). dan kromatografi cair kinerja tinggi. Penotolan dapat dilakukan dengan memakai pipa kapiler halus yang dibuat dari pipa kaca sedemikian rupa sehingga besarnya tak jauh beda dengan peniti.ditotolkan berupa bercak atau pita. 10 . Deteksi paling sederhana adalah jika senyawa menunjukkan penyerapan di daerah UV gelombang pendek atau senyawa tersebut dapat dieksitasi ke fluoresensi radiasi UV gelombang pendek dan atau gelombang panjang. Untuk mendeteksi senyawa tanpa warna pada kromatografi dapat dilakukan dengan berbagai cara. kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (Gritter.

Taning bajang (Dayak) Batang : berkayu. coklat kotor. Buah Biji Akar d. panjang 6-25 mm. Saga Telik (Jawa). pertulangan menyirip. obat batuk. Khasiat Abrus precatorius berkhasiat sebagai : • • • : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Leguminosae : Abrus precatorius L Bangsa: Rosales : Thaga (Aceh). setelah tua hijau kecoklatan. Morfologi Habitus Daun : perdu. Saga (Batak).I. Parusa (Mentawai). anak daun 8-18 pasang. tiga sampai 6 buah. lebar 3-8 mm. masih muda hijau. bagian bawah berkelamin dua. hijau. tajuk bunga bersayap. : polong. bulat. ungu muda hingga kemerahan. Kanderi (Lampung). Uraian tanaman a. merah bernoda hitam. obat radang tenggorokan. obat sariawan. merambat. Bunga : majemuk. Ga’saga’an lakek (Madura) : Piling – piling : Saga (Sampit). pangkal bulat. Nama daerah Sumatera Jawa Bali Kalimantan c. tepi rata (integer). tebal 4-5 mm. panjang 2-5 cm. Kundi (Minangkabau). membelit. Kendari (Melayu) : Saga areuy (Sunda). : tunggang. Klasifikasi tanaman Divisi Subdivisi Kelas Suku Marga : Abrus Jenis b. berbulu. 11 . bentuk tandan. warna hijau. ujung meruncing. keras. Seugew (Gayo). bagian atas hanya terdiri dari bunga jantan. bentuk daun bulat telur. panjang 6-7 mm. kelopak bergerigi pendek. : majemuk. : bulat telur. berselang-seling.

Alat Timbangan Tabung reaksi Corong pisah Gelas ukur 10 ml . batang. purgatif. antialergi. Metode (alat bahan + caker) a.• • • antikehamilan. biji Batang Biji Akar : saponin dan flavonoid : tanin : alkaloid. abruquinone : polifenol II. laksatif. • • • • • a. saponin. antiradang. polifenol. emetic. tonik. Kandungan kimia Daun. 100 ml Pengaduk kaca Labu erlenmeyer Penangas air Beaker glass 12 . aprodisiak.

Bahan Serbuk simplisia K37 Petroleum eter Eter Etanol 70% Aquadest KOH 0.Pipet tetes Cawan porselin Tabung refluks Kertas saring Corong Flakon b.5 N dalam etanol Aquadest panas Anhidrida asam asetat P Kloroform P Asam sulfat pekat SbCl3 dalam kloroform P HCl 2% Dragendorff Mayer Larutan FeCl3 K4(CN)6 Amonia encer NaOH 10% Bahan KLT Alkaloid Fase diam Fase gerak Sampel Jumlah sampel Pembanding Deteksi Keterangan Silika gel F 254 Toluena-etil asetat-dietilamina (7:2:1) • Sari eter • Larutan asam dari sari etanol air 3 totol @ sampel Kinin Dragendorff dilanjutkan natrium nitrit Bercak berwarna jingga sampai merah tua di bawah sinar tampak 13 .

5:10) sampel • Sari eter Jumlah sampel Pembanding Deteksi Keterangan Sari eter dari uji glikosida sari etanol air 3 totol @ sampel Asam galat FeCl3 Di bawah sinar tampak senyawa fenolik akan berwarna hijau hingga biru kehitaman Minyak atsiri Fase diam Fase gerak sampel Jumlah sampel Pembanding Deteksi Keterangan • Silika gel F 254 Toluena-etilasetat (93:7) Sari petroleum eter 3 totol @ sampel Anisaldehida asam sulfat. dipanaskan 100˚C Bercak di bawah sinar tampak berwarna biru. merah menunjukkan adanya senyawa terpen yang biasanya merupakan penyusun minyak atsiri 14 . hijau. merah menunjukkan adanya senyawa terpen yang biasanya merupakan penyusun minyak atsiri Flavonoid Fase diam Fase gerak sampel Jumlah sampel Pembanding Deteksi Keterangan Silika gel F 254 Etil asetat-asam format-asam asetat glasial-air (100:11:11:27) Sari petroleum eter 3 totol @ sampel AlCl3 Bercak di bawah sinar tampak berwarna biru. hijau.Kumarin Fase diam Fase gerak Sampel Jumlah sampel Pembanding Deteksi Keterangan Silika gel F 254 Dietileter-toluen (1:1) dijenuhkan dengan asam asetat 10% Sari eter 3 totol Kumarin standar KOH 5% etanolik Biru muda atau sawo matang Tanin dan senyawa fenolik lain Fase diam Silika gel F 254 Fase gerak Etil asetat-metanol-air (100:13.

a. Cara kerja Skema I Skema II 15 .

Skema III II. Hasil percobaan 16 .

Pembanding 2. + Mayer LP Hitam Biru : endapan putih (+) (+) (+) (-) Kuning menjadi hijau bening Menjadi larutan coklat a. Sari Etanol – Air 17 . Sari Eter Uji Alkaloid Hasil Pengamatan 3 Tabung : 1. Sari Petroleum Eter Uji Steroid triterpenoid Hasil Pengamatan dan Terbentuk 3 lapisan : • • Karotenoid Atas : ungu Tengah :coklat (-) ket (-) • Baawah : bening Berwarna kuning a. + Dragendorff: endapan oranye Ket (+) Senyawa fenolik 1) Fenol – fenol 2) Fenol propanoid 3) Antrakuinon 3.Uji Tabung a.

3 cm Terbentuk warna biru Terbentuk warna coklat seperti teh (+) (+) (+) 18 . Karbo hidrat Terbentuk buah setinggi 0. Alkaloi d Hasil Pengamatan Masing – masing uji 3 tabung : • • • Ket Pembanding + Mayer LP warna Pembanding + Mayer : coklat (+) : tidak ada perubahan ( . Senya wa fenolik c. Fenil propan oid e. Senya wa fenol – fenol d. Alkaloi d kuarte rner atau amina teroksi dasi Antosian • • • + Dragendorff : coklat muda Tidak terjadi perubahan warna pada ketiga reaksi : • • (-) Keadaan asam Keadaan netral Keadaan alkalis Reaksi Liebermann-Burchard terbentuk ( .) : coklat : coklat muda (-) (-) + Dragendorff : endapan merah b. Antrak • • • • • uinon Saponin Tanin Karbohidrat a. Steroid atau triterp enoid b.) larutan bening berwarna kuning kecoklatan Terbentuk warna hijau Terbentuk warna biru kehijauan Kuning menjadi hijau Terbentuk warna kuning (+) (+) (+) (-) • Glikosida a.Uji Garam alkaloid a.

35 0.09375 0.6125 Sebelum disemprot UV 254 Tampak Pemadaman ungu Setelah disemprot UV 366 UV 366 Tampak Fluoresensi Fluoresensi hijau hijau Fluoresensi Fluoresensi hijau hijau Fluoresensi Fluoresensi hijau hijau Fluoresensi Pembanding hijau fluoresensi kuning Sampel: Fluoresensi 5 0.25 0.275 Sebelum disemprot UV 254 Tampak Setelah disemprot UV 366 UV 366 Tampak Fluoresensi Fluoresensi pink pink Fluoresensi Fluoresensi hijau hijau - 19 .7625 hijau Fluoresensi Fluoresensi hijau hijau : - Pemadaman kuning b. Tanin dan senyawa fenolik lain No 1 2 Rf 0. Kumarin No 1 2 3 4 Rf 0.Uji KLT a.15 0.

Alkaloid UV 366 Setelah disemprot UV 366 Tampak - b.3 4 5 6 7 • • 0.2312 5 0.525 Sebelum disemprot UV 254 Tampak Pemadama n ungu Bercak hijau Bercak biru a.85cm A B C tampak UV 254 UV 366 UV 366 tampak A : pembanding kinin B : sari eter C: larutan asam dari sari etanol air : pemadaman ungu 20 .3875 0.96875 Pemadaman ungu Pemadaman Bercak ungu coklat Bercak - Fluoresensi Bercak hitam Bercak hijau hijau Fluoresensi Fluoresensi pink pink Fluoresensi Fluoresensi pink pink Fluoresensi Fluoresensi pink pink hijau Fluoresensi pink : senyawa sampel Bercak hijau : sari eter No 1 2 3 Rf 0.2cm 3.475 0. Alkaloid sebelum disemprot Setelah disemprot 4.8875 0. Minyak atsiri Sampel yang ditotolkan tidak terelusi.8125 0.8cm 1.83125 0.

maka penyarian dilakukan dengan cara maserasi. Sebelum dilakukan kedua uji tersebut. Maserasi merupakan proses merendam bahan simplisia yang telah 21 . 2009). terlebih dahulu dilakukan penyarian simplisia dengan menggunakan tiga macam penyari yang berbeda kepolarannya.9cm 2.65cm 6.2cm A B UV 254 UV 366 UV 366 tampak tampak A : pembanding kumarin standar B : sari eter : fluoressensi kuning : pemadaman ungu : pemadaman kuning : fluoresensi hijau Tanin dan fenolik lain sebelum disemprot Setelah disemprot 7. Hasil dari ekstraksi adalah ekstrak yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. kemudian semua pelarut diuapkan (Yuswantina. Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan skrining fitokimia terhadap suatu simplisia dengan kode SK 37.1cm 6.75cm 7. Penyarian adalah kegiatan penarikan zat aktif yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair.Kumarin sebelum disemprot Setelah disemprot 6. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang dapat digunakan untuk pengobatan maupun untuk pencegahan penyakit.5cm 4.1cm 4.8cm 2cm 1.9cm 3. yaitu uji tabung dan uji KLT.75cm A B C UV 254 tampak UV 366 UV 366 tampak A : pembanding asam galat B : sari eter C: Sari eter dari uji glikosida sari etanol air : fluoresensi pink : fluoresensi hijau : pemadaman ungu I.1cm 0. yaitu daun Abrus precatorius (Saga). Pada percobaan kali ini digunakan dua macam uji. Karena simplisia yang digunakan merupakan zat padat.

Untuk penyarian serbuk simplisia Abrus precatorius digunakan petroleum eter. disisihkan 1 mL untuk uji KLT. cairan disaring menggunakan corong dan kertas saring kemudian ampas dicuci dengan pelarut. Penyarian berkali-kali akan menyebabkan lebih banyak zat aktif yang tersari daripada penyarian tunggal dengan volume pelarut sejumlah akumulasi volume pelarut untuk penyarian berkali-kali. Sari petroleum eter mengandung zat-zat kimia yang larut dalam minyak. dan dikocok berulang-ulang selama 10 menit. dan 40 mL. Penyarian dilakukan sebanyak tiga kali dengan volume pelarut masing-masing 70 mL. 2009). disisihkan 5 mL untuk uji KLT. Selama proses maserasi. serta karotenoid. Sari eter dipekatkan hingga kira – kira 30 mL. eter. Keadaan diam dalam proses maserasi menyebabkan turunnya perpindahan zat aktif (Yuswantina. 2009). klorofil. sari eter. Sari petroleum eter dipekatkan hingga kira – kira 10 mL. Sari petroleum eter. a.dihaluskan dengan menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan sel. Pencucian ini dilakukan untuk memperoleh sisa kandungan bahan aktif dan untuk menyeimbangkan kembali kehilangan saat penguapan yang terjadi pada penyarian (Yuswantina. dan steroid. kemudian eter. dan etanol-air. Setelah disari dengan eter. Sari etanol-air dipekatkan hingga kira – kira 40 mL. serbuk simplisia dikeringkan kembali dan disari dengan etanol-air. lemak dan asam lemak tinggi. steroid dan triterpenoid. Filtrat yang diperoleh ditampung dalam cawan porselin dan kemudian dipekatkan. Pada skrining fitokimia yang dilakukan. Serbuk simplisia daun Abrus precatorius pertama kali dimaserasi dengan petroleum eter. 2009). sehingga zat-zat yang mudah larut akan terlarut. Setelah disari dengan petroleum eter. bahan direndam dalam wadah bermulut lebar (labu Erlenmeyer) . Adanya pengocokan ini. misalnya minyak atsiri. Uji tabung sari petroleum eter Petroleum eter adalah pelarut non polar yang merupakan campuran hidrokarbon cair yang bersifat mudah menguap (Yuswantina. Sebanyak 10 gram serbuk simplisia daun Abrus precatorius direndam dengan 150 mL pelarut. terpenoid. serbuk simplisia dikeringkan kemudian disari dengan eter. Petroleum eter akan melarutkan senyawa-senyawa yang bersifat kurang polar pada selubung sel dan dinding sel seperti lemak-lemak. 40 mL. fraksi petroleum eter daun Abrus precatorius digunakan untuk uji steroid atau 22 . disisihkan 5 mL untuk KLT. memberikan suatu keseimbangan konsentrasi bahan yang lebih cepat ke dalam cairan penyari. ditutup rapat menggunakan plastik. Tiap kali penyarian. dan terakhir dengan etanol-air. dan sari etanol-air kemudian diuji kandungan senyawanya dengan uji tabung dan uji KLT.

5 N dalam etanol. 1987). Uji steroid atau triterpenoid dilakukan menggunakan reaksi Liebermann-Burchard (asam asetat anhidrat-asam sulfat pekat). demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna. Pemanasan yang dilakukan akan menyebabkan pelarut menguap ke atas dan uap-uap cairan penyari yang terkondensasi akan turun kembali menuju tabung dan menyari kembali sampel yang berada pada tabung. Bila terdapat sterol (triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantrena) dalam sampel. Menurut literatur. Mekanisme reaksinya menurut salah satu telah menguap semuanya dan hilangnya bau etanol menandakan bahwa etanol telah menguap 23 . Sisa sari petroleum eter kemudian dilarutkan dalam air panas untuk melarutkan glikon (gula) lalu didinginkan. Oleh karena itu. Setelah dingin. sebelum dilakukan uji. Mulut tabung ditutup dengan kapas yang dibasahi air agar terjadi kondensasi. dan senyawa-senyawa yang akan diuji berada dalam keadaan kering. Tidak terlihatnya tetesan minyak menandakan bahwa petroleum eter semuanya. Penyarian berkali-kali akan menyebabkan lebih banyak zat aktif yang tersari daripada penyarian tunggal dengan volume pelarut sejumlah akumulasi volume pelarut untuk penyarian berkali-kali . Penambahan KOH dimaksudkan untuk membebaskan aglikon bila ada glikosida sehingga akan terbebaskan aglikon steroid dan glikon (gula). Cairan kemudian dituang ke dalam tabung reaksi yang kering karena uji Liebermann-Burchard akan memberikan hasil yang baik.triterpenoid dan karotenoid. cairan ditetesi asam sulfat pekat melalui dinding tabung reaksi. reagen-reagen. Setelah dipindah ke dalam tabung reaksi. Cairan kemudian direfluks hingga tidak terlihat tetesan minyak pada permukaan cairan dan bau etanol hilang.5 mL asam asetat anhidrida P dan 0. akan terjadi reaksi dengan asam kuat dalam kondisi bebas air dan akan dihasilkan warna yang spesifik. Sari eter yang mengandung aglikon steroid kemudian dipisahkan dan dikumpulkan kemudian diambil sebanyak 5 mL untuk diuapkan sampai kering kemudian ditambah 0. aglikon steroid yang tidak larut dalam air disari tiga kali dalam corong pisah dengan masing-masing 10 mL eter. Warna yang dihasilkan bervariasi sesuai dengan kondisi percobaan. triterpenoid yang merupakan aglikon triterpenoid harus dibebaskan dulu dari glikosida saponin. Sari petroleum eter diuapkan di atas penangas air hingga kering kemudian ditambah 5 mL KOH 0.5 ml kloroform P. bila alat-alat gelas. Hasil ekstraksi 10 gram serbuk daun Abrus precatorius dengan 150 mL petroleum eter diperoleh ekstrak encer berwarna coklat bening. daun Abrus precatorius mengandung saponin triterpenoid. Saponin merupakan triterpena atau steroid yang terutama terdapat sebagai glikosida (Harborne.

Selain uji steroid atau triterpenoid. 1. Uji alkaloid Dalam uji alkaloid. tidak terbentuk warna biru yang kemudian menjadi warna merah.teori adalah mula-mula dibentuk kompleks senyawa yang teraktivasi. Tujuan penambahan HCl adalah karena alkaloid bersifat basa sehingga biasanya diekstrak dengan pelarut yang mengandung asam. Uji tabung sari eter Sari ini mengandung senyawa alkaloid. Satu bagian sebagai pembanding. dan lapisan bawah bening sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung steroid atau triterpenoid. dan emas (Au). dilakukan juga uji karotenoid menggunakan reaksi Carr-Price (larutan antimon klorida (SbCl3) 20 % dalam kloroform) terhadap sampel.5 mL HCl 2 %. Lapisan atas berwarna ungu. 10 mL sari eter diuapkan kemudian ditambah 1. Pada hasil reaksi. melainkan terbentuk warna kuning sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung karotenoid. b. platina (Pt). Sampel dinyatakan positif mengandung karotenoid bila terbentuk warna biru yang kemudian menjadi warna merah. Hasil ekstraksi 10 gram serbuk daun Abrus precatorius dengan 150 mL eter diperoleh ekstrak encer berwarna hijau tua. komponen minyak atsiri tertentu. diikuti dengan agregasi beberapa molekul menghasilkan sistem terkonjugasi. lapisan tengah berwarna coklat. Sampel dinyatakan positif mengandung steroid atau triterpenoid jika terbentuk cincin coklat kemerahan atau ungu. tidak terbentuk cincin coklat kemerahan atau ungu melainkan terbentuk tiga lapisan tanpa cincin. Kebanyakan alkaloid diendapkan dari larutan netral atau asam oleh sejumlah reagen yang mengandung logam berat seperti merkuri (Hg). bismut (Bi). satu bagian direaksikan dengan pereaksi Dragendorff. senyawa-senyawa fenolik. Sebanyak 5 mL sari eter diuapkan sampai kering kemudian ditambah 2-3 tetes larutan jenuh SbCl3 dalam kloroform P. Senyawa-senyawa kromofor yang dihasilkan berlaku seperti indikator asam-basa. dan satu bagian direaksikan dengan pereaksi Mayer. Kemungkinan hal ini disebabkan karena hanya sedikit zat aktif yang tersari. atau tabung reaksi yang tidak kering sehingga reaksi Liebermann-Burchard tidak memberikan hasil yang baik. Pada hasil reaksi. dan asam lemak. Hasil reaksi yang didapat tidak sesuai dengan yang tertera di literatur bahwa daun Abrus precatorius mengandung triterpenoid bernama abrusosida dan aglikon triterpenoid dari glikosida saponin. Larutan uji kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Pereaksi Mayer merupakan larutan kalium merkuri iodida yang membentuk endapan berwarna krem atau putih terhadap 24 . aglikon steroid belum terbebaskan dari glikosida saponin.

Jika kalium iodida yang ditambahkan berlebih maka akan terbentuk kalium tetraiodomerkurat(II) (Svehla. nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat 25 .sebagian besar alkaloid. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Dragendorff. Gambar 3. Alkaloid mengandung atom nitrogen yang mempunyai pasangan elektron bebas sehingga dapat digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan ion logam (McMurry. Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodida membentuk endapan hitam bismut (III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium iodida berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat (Svehla. bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiO+). maka larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri. Pada pembuatan pereaksi Mayer. 1990). Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer. Diperkirakan endapan putih dengan penambahan pereaksi Mayer tersebut adalah kompleks kalium-alkaloid. Perkiraan reaksi uji Mayer Endapan pada penambahan pereaksi Dragendorff adalah kalium-alkaloid. Perkiraan reaksi yang terjadi pada uji Mayer ditunjukkan pada gambar berikut. 2004). Reaksi hidrolisis bismuth Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan. Gambar 2. diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. larutan merkurium (II) klorida ditambah kalium iodida akan bereaksi membentuk endapan merah merkurium(II) iodida. 1990). Sedangkan pereaksi Dragendorff merupakan larutan kalium bismut iodida yang memberikan endapan warna oranye hingga coklat kemerahan atau coklat muda sampai kuning dengan adanya alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff.

Terlebih menurut literatur. Uji Senyawa Fenolik Dalam uji senyawa fenolik. 3. Reaksi uji Dragendorff Pada penambahan pereaksi Dragendorff terbentuk endapan berwarna oranye dan pada penambahan pereaksi Mayer terbentuk endapan putih sehingga diperkirakan sampel mengandung alkaloid. kumarin. dan beberapa flavonoid sehingga sekalipun terbentuk endapan dengan pereaksi Dragendorff dan Mayer belum bisa disimpulkan bahwa serbuk simplisia Abrus precatorius mengandung alkaloid. daun Abrus precatorius juga mengandung flavonoid dan protein (Inventaris Tanaman Obat Indonesia. 2. sampai hitam dengan penambahan larutan FeCl3. ungu. 1971). Dengan penambahan larutan FeCl3. Sampel dikatakan positif mengandung senyawa fenolik terutama fenolik bebas bila terbentuk warna hijau. protein. biru. Tetapi reagen pengendap alkaloid juga dapat mengendapkan senyawa lain dari tumbuhan seperti tanin. Untuk memastikan. sebanyak 1 mL sari eter diuapkan kemudian sisa ditambah campuran kalium heksasianoferat (III) dan larutan besi (III) klorida. Gugus fenolik dari senyawa polifenol akan berikatan dengan FeCl3 membentuk senyawa kompleks yang berwarna dan tidak larut. 1994).dengan K+ yang merupakan ion logam. Fenol-fenol Dalam uji senyawa fenol-fenol. sebanyak 1 mL sari eter diuapkan kemudian sisa ditambah larutan FeCl3. Sampel dikatakan positif mengandung senyawa fenol-fenol bila terbentuk warna biru sampai hitam. perlu dilakukan uji lebih lanjut dengan KLT yang akan dibahas kemudian. Gambar 4. terbentuk warna hitam sehingga diperkirakan sampel mengandung senyawa fenolik. Reaksi pada uji Dragendorff ditunjukkan pada Gambar 4 (Miroslav. Dengan penambahan campuran kalium heksasianoferat 26 .

Alkaloid basa kemudian disari dengan kloroform karena alkaloid basa larut dalam pelarut organik. Sampel dikatakan positif mengandung senyawa antrakuinon bila warna larutan berubah menjadi merah keruh. sebanyak 3 mL sari eter diuapkan kemudian sisa dilarutkan dalam air panas dan dinginkan. saponin. tanin. 5. Uji Garam Alkaloid Dalam uji garam alkaloid. Satu bagian sebagai pembanding dan satu bagian ditambah dengan ammonia encer hingga pH larutan uji berada dalam rentang 8-9. Antrakuinon Dalam uji senyawa antrakuinon. Sari etanol-air kemudian dibagi menjadi dua bagian. alkaloid basa kuartener dan amina teroksidasi. sari etanol-air ditambah dengan ammonia encer hingga alkalis (pH 8-9). Uji tabung sari etanol air Sari ini mengandung garam alkaloid. Satu bagian untuk uji alkaloid dan satu bagian untuk uji alkaloid kuartener atau amina teroksidasi. a. Fenil Propanoid (Kumarin) Dalam uji senyawa fenil propanoid. sebanyak 10 mL sari etanol-air diuapkan dan sisa ditambah HCl 10 % kemudian dipanaskan sambil diaduk. glikosida. Alkaloid Dalam uji alkaloid. dan karbohidrat. sebanyak 3 mL sari eter dituang dalam tabung reaksi kemudian ditambah 1 mL ammonia 25% atau NaOH 10% lalu dikocok. Sampel yang dianalisis memberikan fluoresensi dari kuning menjadi hijau bening sehingga diperkirakan sampel mengandung senyawa kumarin turunan fenil propanoid. Setelah disari dengan kloroform. 1. antosian. terbentuk warna biru sehingga diperkirakan sampel mengandung senyawa fenol-fenol. Larutan uji kemudian dibagi menjadi dua bagian. Pembasaan lemah (ammonia) akan melepaskan alkaloid basa dari garamnya. 4. Dengan penambahan NaOH 10 %. 27 . larutan berwarna coklat dan tidak terbentuk warna merah keruh sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung antrakuinon.(III) dan larutan besi (III) klorida. Hasil ekstraksi 10 gram serbuk daun Abrus precatorius dengan 150 mL etanol-air diperoleh ekstrak encer berwarna coklat kehitaman. i. Sampel dikatakan positif mengandung senyawa kumarin atau derivatnya bila terjadi fluoresensi biru atau hijau di bawah sinar UV.

3. Setelah direfluks selama 30 menit. Uji Antosian Dalam uji antosian. satu bagian untuk direaksikan dengan pereaksi Mayer LP. Setelah dicuci dengan HCl 10 % LP. Pada penambahan pereaksi Mayer LP tidak terlihat endapan tetapi dengan penambahan pereaksi Dragendorff LP terlihat endapan berwarna merah sehingga diperkirakan sampel mengandung alkaloid. Sari etanol-air yang telah ditambah dengan NaCl padat kemudian disaring dan dicuci dengan HCl 10 % LP. dan warna biru atau hijau dalam suasana alkalis.cairan diuapkan hingga kering dan sisa ditambah HCl 2 %. ii. cairan ditambah dengan pereaksi Mayer atau pereaksi Dragendorff. 1998). sampel dikatakan positif bila memberikan warna merah dalam suasana asam. Namun karena penyarian dengan etanol-air bisa menyari glikosida seperti flavonoid. Perlakuan ekstrak dengan NaCl sebelum penambahan pereaksi dilakukan untuk menghilangkan protein. Cairan kemudian dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk pembanding. Dari ketiga suasana tersebut. sari etanol-air didinginkan dan fenol yang terbebaskan disari tiga kali masing-masing dengan 8 mL eter dalam 28 . yang menurut literatur merupakan salah satu kandungan daun Abrus precatorius. dan satu bagian untuk direaksikan dengan pereaksi Dragendorff LP. warna ungu dalam suasana netral. sari etanol-air ditambah dengan NaCl padat untuk kemudian diaduk. Adanya protein yang mengendap pada penambahan pereaksi yang mengandung logam berat (pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff) dapat memberikan reaksi positif palsu pada beberapa senyawa (Santos et al. Alkaloid kuartener atau amina teroksidasi Dalam uji alkaloid kuartener atau amina teroksidasi. tidak menutup kemungkinan bahwa endapan yang terbentuk bukan berasal dari alkaloid. sari etanol-air tidak memberikan perubahan warna sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung antosian. 2. Uji Glikosida Dalam uji glikosida. sebanyak 20 mL sari etanol-air ditambah dengan 15 mL HCl 10 % LP kemudian direfluks selama 30 menit untuk menghidrolisis jaringan tumbuhan. Dengan penambahan pereaksi Mayer atau pereaksi Dragendorff tidak terjadi endapan sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung alkaloid kuartener atau amina teroksidasi..

cairan berwarna kuning kecoklatan bening sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung steroid atau triterpenoid. Sari eter kemudian dikumpulkan dan ditambah natrium sulfat anhidrat sehingga terbentuk dua fase. Secara teoritis. terbentuk warna hitam sehingga diperkirakan sampel mengandung aglikon senyawa fenolik. cairan berwarna kuning dan tidak terbentuk warna merah keruh sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung aglikon antrakuinon. Fase eter digunakan untuk uji senyawa fenolik dengan metode yang sama seperti pada sari eter.corong pisah. v. iii. iv. vi. Uji senyawa fenil propanoid (kumarin) Sampel yang dianalisis memberikan fluoresensi dari kuning menjadi hijau sehingga diperkirakan sampel mengandung aglikon senyawa fenil propanoid (kumarin). Hasil yang negatif kemungkinan disebabkan karena glikosida yang belum terhidrolisis sempurna sehingga aglikon triterpenoid tidak berada bebas dalam cairan. Tujuan penambahan natrium sulfat anhidrat adalah untuk pengikatan fasa air yang terikutsertakan pada pemisahan fasa eter dan fasa air-asam dengan menggunakan corong pisah (pengeringan). dan fase air-asam digunakan untuk uji karbohidrat. Uji antrakuinon Dengan penambahan NaOH 10 %. Uji senyawa fenol-fenol Dengan penambahan campuran kalium heksasianoferat (III) dan larutan besi (III) klorida. i. terbentuk warna biru kehijauan sehingga diperkirakan sampel mengandung aglikon senyawa fenol-fenol. Uji karbohidrat Uji karbohidrat dilakukan untuk mengidentifikasi adanya glikon (gula) bebas dalam fase air –asam yang menunjukkan bahwa sampel mengandung 29 . Uji steroid atau triterpenoid Dengan reaksi Liebermann-Burchard. ii. akan membebaskan aglikon yang larut dalam fase eter dan glikon (gula) yang larut dalam fase airasam. Uji senyawa fenolik Dengan penambahan larutan FeCl3. Adanya glikosida yang terhidrolisis dengan pemanasan dalam asam. daun Abrus precatorius mengandung glikosida triterpenoid seperti abrusida dan saponin triterpenoid glizerizin sehingga hidrolisis akan membebaskan aglikon triterpenoid.

Sari etanol-air yang telah diencerkan kemudian dikocok selama 15 menit.glikosida. Uji Tanin Dalam uji tanin. Uji Saponin Dalam uji saponin. 5. Hasil yang negatif kemungkinan disebabkan karena glikosida yang belum terhidrolisis sempurna sehingga glikon (gula) tidak berada bebas dalam cairan. Sampel dinyatakan positif mengandung saponin bila terbentuk buih yang stabil. Secara teori. Warna biru yang dihasilkan 30 . 4. Kandungan tanin Abrus precatorius terdapat pada batangnya. uji karbohidrat akan memberikan hasil yang positif karena sampel mengandung glikosida. terbentuk warna biru sehingga diperkirakan sampel mengandung tanin. Gambar 5. saponin triterpenoid yang terkandung dalam daun Abrus precatorius Hasil positif pada uji senyawa fenol kemungkinan disebabkan karena adanya kemiripan struktur dengan cincin aromatik yang mengandung gugus hidroksil pada struktur glizerizin atau karena adanya batang pada serbuk simplisia yang mengandung tanin (senyawa fenol). Sampel dinyatakan positif mengandung tanin bila memberikan warna biru hingga hijau kehitaman. Secara teori. Struktur kimia glyzerizin (glycyrrhizin). Dengan penambahan 2 mL air dan FeCl3 P. terbentuk buih yang stabil setinggi 0. uji karbohidrat menunjukkan hasil negatif. Dengan pengocokan selama 15 menit. Pada percobaan.3 cm sehingga diperkirakan sampel mengandung saponin. sebanyak 1 mL sari etanol-air ditambah dengan 2 mL air dan FeCl3 P. Hasil ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa daun Abrus precatorius mengandung saponin. daun Abrus precatorius tidak mengandung tanin. sebanyak 2 mL sari etanol-air diuapkan hingga tinggal separuh kemudian sisa diencerkan dengan air sama banyak.

Uji Karbohidrat i.kemungkinan merupakan reaksi antara FeCl3 P dengan senyawa fenol yang terkandung dalam daun Abrus precatorius atau serbuk simplisia yang diuji tidak hanya berasal dari daun tapi juga dari batang Abrus precatorius. daun Abrus precatorius juga mengandung glikosida saponin yang berarti memiliki bagian glikon (gula) yang bisa memberikan reaksi positif bila terpisah dengan aglikonnya. Terbentuknya cincin ungu menyatakan reaksi positif. warna cairan tidak berubah menjadi biru melainkan coklat seperti teh sehingga diperkirakan sampel tidak mengandung pati. walalupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Hasil skrining fitokimia dengan uji tabung dibandingkan dengan kandungan senyawa daun Abrus precatorius menurut literatur dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 1. Tapi pada percobaan. Sampel positif mengandung pati bila terbentuk warna biru. Dalam percobaan. 6. Pati Dalam uji pati. sebanyak 2 mL sari etanol-air diuapkan hingga hampir kering kemudian ditambah dengan pereaksi Molisch dan 2-3 tetes asam sulfat pekat P. daun Abrus precatorius akan memberikan hasil positif karena daun mengandung selulosa yang termasuk karbohidrat. Karbohidrat Dalam uji karbohidrat. uji karbohidrat tidak dilakukan karena sampel habis. Secara teori. Selain itu. Uji ini bukan uji spesifik untuk karbohidrat. sebanyak 1 mL sari etanol-air dienaptuang dan diencerkan kemudian ditambah lugol LP. ii. Perbandingan Kandungan Senyawa Abrus precatorius Secara Teoritis dan Uji Tabung Kandungan Kimia Steroid triterpenoid Karotenoid Teoritis Hasil Uji Tabung - atau + 31 . Pereaksi Molisch yang terdiri dari α-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural membentuk senyawa kompleks berwarna ungu yang disebabkan oleh daya dehidrasi asam sulfat pekat terhadap karbohidrat.

Aglikon Triterpenoid d. Fase diam yang digunakan adalah Silika Gel F 254. Aglikon Steroid c. Senyawa kumarin Uji KLT untuk mengetahui kandungan kumarin di dalam sampel dilakukan dengan menggunakan kumarin standar sebagai pembanding dan sari eter sebagai 32 . Tiap sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT sebanyak 3 totol. Fenil Propanoid Tanin Karbohidrat Pati + + - + + + + + + + + - + + - + Tidak dilakukan uji - Secara garis besar. Jarak elusi masing – masing plat yang digunakan adalah 8 cm. Pembnding digunakan untuk memastikan bahwa senyawa sampel yang diuji mengandung senyawa atau gugus dasar yang sama dengan pembanding.Alkaloid Senyawa Fenolik Fenol-Fenol Fenil Propanoid Alkaloid Kuartener Amina Teroksidasi Antosian Saponin Glikosida a. Gula b. kandungan senyawa dalam daun Abrus precatorius secara teori dengan hasil skrining fitokimia menunjukkan persamaan kecuali pada beberapa hasil negatif yang disebabkan karena kekurangan dalam proses penyarian maupun pemisahan. a. Uji KLT Uji KLT dilakukan apabila uji tabung memberikan hasil yang positf.

6125 terlihat dua fluoresensi yang berwarna kuning. b. 0. 7625.6125 dan pemadaman berwarna hijau pada elusi sampel dengan Rf : 0. Uji kandungan kumarin ini dilakukan karena pada saat uji tabung senyawa fenil propanoid memberikan hasil yang positif. kedua fluoresensi tersebut merupakan hasil elusi dari totolan larutan pembanding yaitu kumarin standar dan totolan larutan sampel. Setelah dilakukan penyemprotan dengan KOH 5% etanolik pada sinar tampak tetap tidak terlihat bercak. Fase gerak yang digunakan adalah Dietileter-toluen dengan perbandingan 1:1 dan kemudian dijenuhkan dengan asam asetat 10%. Warna fluoresensi kuning pada pengamatan di bawah UV 366 menunjukkan bahwa sampel tersebut mengandung kumarin tak-tersubtitusi (Wagner . Hasil elusi dideteksi dengan penyemprotan dragendorff dilanjutkan natrium nitrit. hal ini menunjukkan senyawa sampel mengandung senyawa pembanding.sampel. yaitu sampel dari sari eter dan sampel dari larutan yang digunakan untuk identifikasi garam alkaloid dan alkaloid basa kuartener pada sari etanol-air. 0. tidak memberikan bercak ketika dilihat di bawah sinar tampak. 0.525 ketika dilihat di bawah sinar tampak.6125 . Senyawa alkaloid Uji KLT senyawa alkaloid dilakukan untuk identifikasi dua sampel sekaligus. 0. 1984).15. Sedangkan pada UV 366 terjadi fluoresensi berwarna kuning pada Rf : 0. Sedangkan pembanding yang digunakan adalah Kinin. Sedangkan pada UV 366 tidak terlihat adanya fluoresensi. Hasil KLT sebelum dilakukan reaksi semprot untuk mendeteksi adanya kandungan kumarin. Pengamatan di bawah UV 254 menunjukkan adanya pemadaman ungu pada Rf 0.475 dan bercak biru pada Rf 0.23125.25 . Fase gerak yang digunakan adalah Toluena-etilasetat-dietilamina (7:2:1). Ketika dilihat di bawah UV 254 terlihat pemadaman berwarna kuning pada elusi kumarin standar dengan Rf 0.15 . Kinin Hasil KLT sebelum disemprot menunjukkan adanya bercak hijau pada Rf 0. pada Rf 0. Setelah dilakukan reaksi semprot dengan Dragendorff dilanjutkan natrium nitrit tidak tampak adanya bercak pada pengamatan di bawah sinar tampak dan tidak terlihat adanya fluoresensi di bawah UV 33 .35 . Sedangkan di bawah UV 366.

Sedangkan pengamatan di bawah UV 366 menunjukkan adanya fluoresensi pada kedua sampel. bercak ungu pada Rf 0. Pengamatan di bawah UV 254 menunjukkan adanya pemadaman pada sampel dari sari eter pada Rf 0. Hanya digunakan fase gerak dari sari Petroleum Eter tanpa pembanding. Sedangkan bercak ungu pada Rf 0.8125 dan 0. Secara teoritis penggunaan reagen semprot anisaldehida asam sulfat pada pengamatan di bawah sinar visibel akan menunjukkan adanya warna biru kuat.96875 dan pada elusi dari sampel sari eter dari uji glikosida sari etanol air pada Rf 0. Rf pembanding = 0. Seperti uji KLT pada alkaloid.3875.83125. d.3875.96875. Elusi sampel dari sari eter terlihat fluoresensi pada Rf 0. Digunakan solvent tersebut karena solvent tersebut cocok untuk analisis dan perbanding langsung untuk semua minyak atsiri penting. 0.96875. Beberapa senyawa juga berfluoresensi di bawah UV 365 nm. Senyawa tanin dan fenolik yang lain Uji KLT untuk mendeteksi adanya senyawa Tanin dan fenolik lain menggunakan fase ferak etil asetat : metanol : air dengan perbandingan 100: 13. 34 . Pembanding yang digunakan adalah Asam galat. Apabila dalam sampel terdapat senyawa alkaloid maka akan tampak bercak berwarna jingga sampai merah tua pada pemngamatan di bawah sinar tampak.83125 . hijau. Pereaksi semprot yang digunakan untuk identifikasi adalah Anisaldehida asam sulfat.96875 terjadi pada sampel dari sari eter. Setelah penyemprotan. Minyak atsiri Uji tabung minyak atsiri tidak dilakukan dan langsung dilakukan uji KLT. 0.8875 . c.96875. Hasil KLT menunjukkan adanya tanin dan senyawa fenolik dalam sampel. Hasil elusi dideteksi dengan penyemprotan FeCl3.8125 terjadi pada senyawa pembanding yaitu asam galat. Fase gerak yang digunakan adalah toluena-etil asetat dengan perbandingan 93:7.09375 . yaitu sampel dari sari eter dan sari eter dari uji glikosida sari etanol air. Sedangkan elusi sampel dari sari eter dari uji glikosida sari etanol air terlihat adanya fluoresensi pada Rf 0. 0.5 : 10. Hasil KLT sebelum disemprot pada pengamatan di bawah sinar tampak menunjukkan adanya bercak ungu pada Rf 0. bertambah satu fluoresensi pada pengamatan di bawah UV 366 yaitu pada Rf 0.83125 dan Rf sampel = 0. 0. 0.83125 .366. Hasil ini menunjukkan tidak ada kandungan alkaloid dalam sampel. uji KLT pada tanin dan senyawa fenolik ini dilakukan untuk identifikasi dua sampel sekaligus. dan coklat. hal ini karena jarak Rf pada pembanding dan sampel tidak berbeda signifikan. merah.8875 .

Dari hasil uji tabung didapat bahwa sampel daun Saga (Abrus precatorius) mengandung: a. Fenol-fenol d. Setelah plat KLT dielusi. Alkaloid b.Pada uji minyak atsiri ini tidak digunakan pembanding. Pengujian senyawa flavonoid tidak dilakukan pada percobaan sehingga tidak dapat dibuktikan adanya kandungan flavonoid dalam sampel daun Saga (Abrus precatorius). Saponin f. Flavonoid Uji tabung untuk identifikasi adanya senyawa flavonoid dalam sampel tidak dilakukan. Secara teoritis sampel (daun saga) positif mengandung flavonoid. 35 . dan senyawa-senyawa fenolik yang lain. Fase gerak yang digunakan adalah etil asetat-asam format-asam asetat glasialair dengan perbandingan 100 : 11 : 11 : 27. uji KLT yang seharusnya dilakukan pun tidak sempat dilakukan. 4. Fenil Propanoid (Kumarin) e. e. tanin. Senyawa Fenolik c. Dari hasil uji KLT didapat bahwa sampel daun Saga (Abrus precatorius) mengandung kumarin. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kandungan minyak atsiri dalam sampel daun saga. I. hanya digunakan senyawa sampel sehingga tidak dapat dibandingkan Rf dan warna antara sampel dan pembanding. Apabila sampel positif mengandung flavonoid pada pengamatan di bawah UV 366 akan terlihat fluoresensi berwarna kuning intensif. Sehingga tidak diketahui ada atau tidaknya kandungan flavonoid dalam sampel. 3. Senyawa pembanding yang biasa digunakan adalah Rutin. Kesimpulan 1. Secara teori sampel daun Saga (Abrus precatorius) mengandung saponin dan flavonoid. plat disemprot dengan reagen semprot AlCl3. hijau. Tanin 2. atau jingga. Sampel kali ini tidak terelusi oleh fase gerak sehingga tidak didapatkan Rf. Selain itu Rf antara pembanding dan sampel tidak akan berbeda signifikan.

E.. B. Microbiological and Pharmacological. Etil Asetat.Y. and R. 1994. McMurry Fay Chemistry 4th edition. 2004. E. R.Badt. Terjemahan oleh Setiono. Bandung : Penerbit ITB Harborne.. A. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Kosasih & Soediro.. J. 1970. Philadelphia : Lea and Febiger Fransworth. Jakarta : PT Kalman Media Pusaka Wagner. L. Estrada. dkk. 1966. Iwang. 2009.F.Q. Mascardo. dan A. & C. E. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Claus. Richa. Bradley. 1985. Pudjaatmaka.DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1987. Bandung : Penerbit ITB Svehla. Pharmacognosy 6th ed. Tyler V.P. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta Phytochemical. G. Pengantar Kromatografi... dan Etanol Rhizoma Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) dengan metode DPPH (2. J.. 1978. H. Manila : 36 . Zgainski.. Jfarm.. Bandung : Penerbit ITB McMurry.. 1991.R.M..M. A. Fay. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi V. Screening of Medical Plants. Tokyo : Springer Verlag Yuswantina.Q. 1984. Belmont: Pearson Education International Santos.2-difenil-1-pikrihidrazil). Metode Fitokimia.C.. Research Center University of Santo Thomas Stahl. Skripsi. B. Guevera. L.. 1990.R. Plant Drug Analysis : A Thin Layer Chromatography Atlas. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopik. Terjemahan oleh Padmawinata.Sci Gritter. Uji Aktivitas Penangkap Radikal dari Ekstrak Petroleum Eter. N. Biological and Fitochemical Skrining of Plants. S.H. E.

Q. Zgainski. & C.F. Terjemahan oleh Padmawinata. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Terjemahan oleh Setiono. Bandung : Penerbit ITB Harborne.. McMurry Fay Chemistry 4th edition.. A. dan A. E. Fay.Q. Pengantar Kromatografi..Badt.2-difenil-1-pikrihidrazil). Mascardo. Belmont: Pearson Education International Santos. G..H.Sci Gritter. 2004. E. Manila : Research Center University of Santo Thomas Stahl. Screening of Medical Plants. E. Iwang... Plant Drug Analysis : A Thin Layer Chromatography Atlas. dan Etanol Rhizoma Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) dengan metode DPPH (2.R. 2009. 1970.R. 1994.M. R.M. Kosasih & Soediro. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopik. Uji Aktivitas Penangkap Radikal dari Ekstrak Petroleum Eter. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Claus. H. 1984.. Jfarm.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Richa. 1966. Pharmacognosy 6th ed. Tyler V. Jakarta : PT Kalman Media Pusaka Wagner.P. S. Estrada. 1985. B. A. Bandung : Penerbit ITB Svehla. 1987. L. J.E. Metode Fitokimia. Skripsi.C. Pudjaatmaka. J. 1978. Etil Asetat..Y. Philadelphia : Lea and Febiger Fransworth. and R.. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta 37 . 1991. 1990. Microbiological and Pharmacological.. Bradley. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi V. Phytochemical. Biological and Fitochemical Skrining of Plants. dkk. N. L. B... Tokyo : Springer Verlag Yuswantina. Bandung : Penerbit ITB McMurry. Guevera.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->