KEDUDUKAN HUKUM PERSAINGAN USAHA DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

Oleh: M. Fikry Yonesyahardi 0806342573

TUGAS HUKUM PERSAINGAN USAHA

DAFTAR ISI 1

BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................... I.1 I.2 I.3 I.4 Latar Belakang ............................................................................... Pokok Permasalahan ....................................................................... Tujuan Penulisan ............................................................................. Sistematika ......................................................................................

3 3 4 4 5 6 6

BAB II. PEMBAHASAN ..................................................................................... II.1 II.2 Sejarah hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia... Kedudukan hukum persaingan usaha dalam sistem hukum

Indonesia........................................................................................... II.3 Undang-undang No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.................................................... II.4 Peraturan Perundang-undangan Umum dan Sektoral yang

8

11

berhubungan dengan Hukum Persaingan Usaha.................................

16

BAB III. PENUTUP .............................................................................................. III.1 Kesimpulan .......................................................................................

20 20 21

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN 2

Namun bila aturan hukum tersebut berada di bawah tingkat “undang-undang” maka dapat berlaku prinsip bahwa “hukum di atasnya mengatasi hukum di bawahnya”. serta isu kebijakan persaingan usaha nasional. Pembidangan hukum tersebut tidak mengenal adanya bidang hukum yang merupakan kombinasi di antaranya. perspektif ekonomi sangatlah menonjol. isu prilaku mendukung persaingan atau tidak mendukung persaingan dari para pelaku usaha nasional. Dalam karya tulis ini akan dibahas mengenai posisi hukum persaingan usaha di dalam sistem hukum nasional Indonesia. Untuk peraturan hukum lain ini akan dapat dilihat bahwa ada peraturan hukum yang substansinya pro-persaingan dan ada pula yang anti persaingan. Dalam isu pertama. Pembidangan hukum yang membagi-bagi permasalahan hukum secara rigid pada bidang hukum publik (hukum negara (HTN dan HAN) dan hukum pidana) dan hukum perdata (private). Jikalau peraturan hukum yang anti persaingan tersebut memiliki tingkat yang setara dengan “undang-undang” maka peraturan hukum tersebut jelas kontra produktif terhadap UU No. Oleh karenanya. perspektif ekonomi terkait dengan masalah motif ekonomi dari prilaku tersebut dan sudut pandang hukum akan membahas ada atau tidaknya aturan dari prilaku tersebut.1 Latar Belakang Di dalam fenomena persaingan usaha nasional selalu terdapat isu kondisi struktural ekonomi. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disingkat “UU No. aturan 3 . Kemudian akan pula dibahas secara umum mengenai eksistensi dan isu di seputar Undang-Undang No. untuk isu yang kedua. Selanjutnya akan dibahas pula secara umum mengenai peraturan hukum lain yang juga memiliki hubungan dengan hukum persaingan usaha. sangat menonjol perspektif hukumnya. Oleh karenanya sebagaimana pula diungkapkan secara implisit dalam peralihan undang-undang ini. 5 tahun 1999 karena dapat saja berlaku prinsip “lex specialist derogat lex generalist”.I. dalam pembahasan isu persaingan usaha pastinya akan terdapat perspektif ekonomi dan perspektif hukumnya. sedangkan isu yang ketiga. 5 / 1999”) yang sampai saat ini dianggap sebagai hukum yang mengatur isu persaingan usaha di Indonesia. hal ini ditujukan agar dapat diidentifikasi posisi hukum persaingan usaha di dalam pembidangan hukum nasional sehingga pembaca tidak terperangkap pada paradigma pembidangan hukum yang telah usang.

Tujuan Khusus Penulisan makalah ini dilaksanakan untuk : a) Mengetahui bagaimana kedudukan hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia. Tujuan Umum Pembahasan masalah ini ditujukan untuk mengkaji lebih mendalam mengenai Hukum Persaingan Usaha secara lebih mendalam. yaitu tujuan penulisan secara umum dan tujuan penulisan secara khusus. Bagaimana kedudukan Hukum Persaingan Usaha dalam sistem hukum Indonesia. c) Menjelaskan tentang hubungan Hukum Persaingan Usaha dengan hukum-hukum lain di Indonesia.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini dibagi menjadi dua.2 Pokok Permasalahan 1. Bagaimana hubunganan antara Undang-undang No.hukum yang memiliki tingkat di bawah undang-undang bila itu kontradiktif dengan UU No. I. 4 . b) Menjelaskan tentang peran dan kedudukan Hukum Persaingan Usaha sebagai hukum yang mengatur persaingan usaha. Adapun tujuannya sebagai berikut. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan peraturan perundang-undangan yang lain. 2. 2. 5/1999 maka aturan hukum itu secara otomatis tidak berlaku lagi. I. 1.

dan Sistematika. Sistematika Penulisan Dalam penulisan makalah yang berjudul “Kedudukan Persaingan Usaha Sebagai Penegak Hukum Dalam Penyelesaian Perkara Persaingan Usaha” maka sistematika penulisan yang dipakai dan disusun adalah sebagai berikut: Bab I yang merupakan Pendahuluan. Bab II merupakan Pembahasan yang selanjutnya terbagi atas pembahasan yang mengulas tentang Sejarah hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia.4. Pokok Permasalahan.I. dan Peraturan Perundang-undangan Umum dan Sektoral yang berhubungan dengan Hukum Persaingan Usaha. BAB II PEMBAHASAN 5 . Undang-undang No. terdiri dari Latar Belakang. Kedudukan hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia. Tujuan. 5 / 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Bab III merupakan Bab Penutup yang berisi Kesimpulan atas permasalahan yang diangkat.

lemahnya fundamental ekonomi Indonesia terjadi karena berbagai kebijakan pemerintah di berbagai sektor ekonomi yang kurang tepat. Lahirnya Undang-undang Persaingan Usaha sebenarnya tidak lepas dari krisis moneter yang kemudian berlanjut kepada krisis ekonomi yang melanda Indonesia di pertengahan tahun 1997. dimana pemerintah disadarkan bahwa sebenarnya fundamental ekonomi Indonesia pada waktu itu ternyata begitu lemah. Sedang pengertian dan lingkup bidang dari Hukum Persaingan Usaha tidak melingkupi seluruh pengertian dan bidang dalam Kebijakan Persaingan Usaha. foreign direct investment. serta kebijakan lain yang ditujukan untuk mendukung persaingan usaha seperti pengurangan pembatasan kuantifikasi impor dan juga melingkupi aspek kepemilikan intelektual (intellectual property). dan terbentuknya integrasi baik horizontal dan vertikal. Pengertian Kebijakan Persaingan Usaha (Competition Policy) melingkupi pula pengertian dari Hukum Persaingan Usaha (Competition Law) atau dengan kata lain bidang Hukum Persaingan Usaha merupakan salah satu cabang pembahasan dalam Kebijakan Persaingan Usaha. Di sisi lain perkembangan usaha swasta pada kenyataannya sebagian besar merupakan perwujudan dari kondisi persaingan usaha yang tidak sehat. Kedudukan monopoli yang ada lahir karena adanya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah serta ditempuh melalui praktek bisnis yang tidak sehat. juga melingkupi perihal deregulasi. Definisi Kebijakan Persaingan Usaha disamping melingkupi Hukum Persaingan Usaha.II. menetapkan mekanisme yang menghalangi terbentuknya kompetisi. seperti persekongkolan untuk menetapkan harga (price fixing) melalui kartel. perlu kiranya disinggung terlebih dahulu mengenai beda antara terminologi kebijakan (policy) dan hukum (law). Terkait dengan prihal eksistensi kebijakan ekonomi yang memang kental perspektif hukumnya. menciptakan barrier of entry. 6 . Perbedaan pengertian antara terminologi “Kebijakan Persaingan Usaha” (yang dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan sebagai “Competition Policy”) dengan Hukum Persaingan Usaha (yang dalam bahasa Inggrisnya diterjemahkan sebagai Competition Law) pada dasarnya terletak pada keluasan lingkup pengertian dan bidang pembahasan dari kedua terminologi tersebut.1 Sejarah hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia Sebelum prihal aspek hukum dari persaingan usaha dibahas lebih jauh memang perlu kiranya dicapai suatu pemahaman bersama berkaitan dengan posisi hukum persaingan usaha dalam wacana sistem hukum nasional Indonesia. Sehingga apabila di dalam laporan ini digunakan istilah “Kebijakan Persaingan Usaha” maka berarti termasuk pula di dalamnya “Hukum Persaingan Usaha”.

tidak dapat dipungkiri telah pula memacu pula perkembangan bidang hukum yang merupakan peraturan dari kegiatan ekonomi. Oleh karenanya kecenderungan penyusunan berbagai produk peraturan perundang-undangan yang khusus (lex specialist) di bidang ekonomi tidak lagi dapat terbendung. • Hukum Internasional Ekonomi Indonesia memerlukan landasan pemikiran bidang-bidang non-hukum seperti filsafat. administrasi pembangunan.Perlu dicatat bahwa pesatnya dinamika bidang ekonomi nasional. kini pembidangan hukum seharusnya didasarkan pembidangan dari kegiatan yang terkait. • Hukum Pidana bahkan juga tidak mengabaikan Hukum Publik Internasional dan Hukum Perdata Internasional. karena: • Hukum Ekonomi Indonesia tidak hanya bersifat hukum perdata. Pada akhirnya. masih sebagian pakar hukum tadi. Interdisipliner." 7 . Sunaryati Hartono berpendapat bahwa: "Kalau metode penelitian dan penyajian mata kuliah hukum dagang (lama) bersifat perdata murni. ekonomi. maka hukum ekonomi Indonesia telah memerlukan metode penelitian dan penyajian yang inter-disipliner dan transnasional. misalnya untuk kegiatan di bidang ekonomi maka bidang hukumnya adalah hukum ekonomi. sosiologi. ilmu wilayah. ilmu lingkungan dan bahkan juga futurologi. tetapi juga berkaitan erat dengan hukum Administrasi Negara. Hukum Antar Wewenang. Kekhasan yang sangat menonjol dari produk perundang-undangan yang khusus ini adalah kondisi karakteristik substansialnya dimana telah terlingkupinya seluruh aspek dari bidang-bidang hukum yang selama ini dikenal (hukum perdata dan hukum publik) di dalam sistem hukum nasional. Berbagai perangkat hukum di bidang ekonomi sebelum ini yang berbasis kepada KUH Perdata dan KUH Dagang serta KUH Pidana yang tidak lain merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang berkiblat kepada mahzab Eropa Kontinental tidak lagi mampu mengakomodasi permasalahan dari dinamika kegiatan ekonomi yang ada. Sehingga sebagian pakar hukum Indonesia menyatakan bahwa pembidangan hukum yang selama ini dianut (hukum perdata dan hukum publik) dalam sistem hukum nasional sudah tidak relevan lagi untuk dipertahankan.

(3) Hukum Pribadi. (2) Hukum Administrasi Negara. Hukum Benda Lepas. Oleh karenanya hukum ekonomi dapat mengandung berbagai asas hukum yang bersumber dari kedua aspek hukum tersebut yang dapat digambarkan sebagai berikut: II. 8 . bidang hukum dapat dibedakan sebagai berikut: (1) Hukum Tata Negara. karena dalam kenyataannya kini hampir tidak ada bidang kehidupan yang terlepas dari campur tangan negara. Dua aspek hukum itu meliputi aspek hukum publik maupun aspek hukumperdata. ii.Sri Redjeki Hartono berpendapat bahwa luasnya bidang kajian hukum ekonomi membuatnya mampu mengakomodasikan dua aspek hukum sekaligus sebagai suatu kajian yang komprehensif.2 Kedudukan hukum persaingan usaha dalam sistem hukum Indonesia Agus Brotosusilo berpendapat bahwa pembidangan hukum dalam bidang publik dan perdata seperti sekarang tidak dapat dipertahankan lagi. (4) Hukum Harta Kekayaan: (a) Hukum Benda: i. Hukum Benda Tetap. Dengan demikian untuk keperluan pengkajian ilmiah.

hukum kesehatan dan sebagainya. hukum administrasi negara (pelaksanaan peranan kelembagaan tersebut). Perkembangan tersebut menimbulkan berbagai spesialisasi baru di bidang hukum. Ciri-ciri bentuk hukum baru seperti ini tampak sangat nyata di bidang hukum ekonomi. (7) Hukum Pidana Masing masing bidang hukum terdiri dari hukum ajektif (formil) dan hukum substantif (materiel). Oleh karena hukum persaingan usaha merupakan bagian dari hukum ekonomi maka dapat dikatakan pula bahwa hukum persaingan usaha juga memiliki dimensi bidang hukum tata negara (lembaga dan instansi resmi. (6) Hukum Waris. hukum kependudukan. dikenal adanya: hukum lingkungan. Sesuai dengan pandangan-pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa memang hukum ekonomi memiliki dimensi baik hukum publik dan hukum perdata (privat). (5) Hukum Keluarga. yaitu seringkali bidang hukum baru ini tidak secara ketat mengikuti pembidangan. (c) Hukum Hak Imateriel. Hal ini terjadi karena semakin banyak aspek-aspek kehidupan bersama yang diatur oleh hukum. Hukum Perikatan lainnya. Suatu bidang spesialisasi hukum kadang-kadang mencakup beberapa bidang tata hukum sekaligus. iii. 9 . ii. hukum kedokteran. bidang hukum perdata (seperti eksistensi perjanjian dan kontrak di dalam kasus-kasus persaingan usaha). karena seringkali suatu sikap-tindak melibatkan lebih dari satu bidang hukum. pusat dan daerah seperti eksistensi Departemen dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan eksistensi Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Hukum Perjanjian. Misalnya saja. Hukum Penyelewengan Perdata.(b) Hukum Perikatan: i. Pembedaan tersebut di atas bukan merupakan pengkotak-kotakkan.

Hukum Administrasi Negara (HAN) yang melingkupi perihal proses pelaksanaan peranan 10 . Hukum Tata Negara (HTN) yang melingkupi perihal Instansi/Pejabat dan Peranannya.dan ada bidang pidananya (sanksi pidana dalam Undang-Undang No. Penjelasan: Hukum Publik terdiri dari Hukum Negara dan Hukum Pidana. misalnya tentang keberadaan institusi pengawas pelaksanaan undang-undang persaingan usaha di dalam struktur ketatanegaraan. sebagaimana terlihat dalam skema lingkaran di bawah ini. 5 tahun 1999). Hukum Negara terdiri dari Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.

5 / 1999 sebagaimana berikut. membuat harga di bawah harga pasar. Pasal 5-8). Hukum Pidana yang melingkupi perihal keberadaan sanksi pidana yang masuk dalam kategori yang lebih khusus lagi yaitu pidana ekonomi. • Penetapan Harga (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk: menetapkan harga (kecuali dalam usaha patungan atau berdasar undang-undang). 5 / 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pasal 9). Di bawah ini dipaparkan secara ringkas substansi dari UU No. • Pembagian wilayah pemasaran (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk menetapkan wilayah pemasaran atau alokasi pasar sehingga dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hukum Perdata (termasuk di dalamnya Hukum Dagang) yang melingkupi perihal keberadaan perjanjian (kontrak. a. 11 . Larangan terhadap dua atau lebih pelaku usaha untuk melakukan perjanjian yang bersubstansi: • Praktek Oligopoli (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk menguasai produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. hukum persaingan usaha sebagai bagian dari hukum ekonomi tidak hanya berdimensi hukum perdata saja tapi lebih luas lagi yaitu melikupi hukum publik (hukum negara dan pidana). diskriminasi harga.3 Undang-undang No. Pasal 4). II. atau melarang penjualan kembali dengan harga yang lebih rendah dari harga yang ditetapkan.dari institusiinstitusi terkait. bila tertulis) dan para pelaku usaha (baik yang berbentuk badan hukum maupun persekutuan perdata lainnya). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam kerangka sistem hukum nasional.

• Trust (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk membentuk gabungan perusahaan dengan tetap mempertahankan kelangsungan perusahaan masing masing dengan tujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran sehingga dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Larangan terhadap suatu kegiatan atau tindakan sebagai berikut: • Monopoli (pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan pemasaran yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. harus bersedia membeli produk lainnya dari pemasok. Pasal 11). • Perjanjian Tertutup (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih yang berisi syarat bahwa penerima pasokan hanya akan memasok atau tidak akan memasok produk tersebut kepada pelaku usaha lain. • Integrasi Vertikal (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk menguasai rangkaian produksi berkelanjutan yang dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat dan merugikan masyarakat. Pasal 10) • Kartel (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. • Perjanjian denga Pihak Luar Negeri (perjanjian dengan pelaku usaha luar negeri yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Pasal 12). 12 . Pasal 14). Pasal 15). • Oligopsoni (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk menguasai pasokan agar dapat mengendalikan harga yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. b. atau mengenai harga atau potongan harga yang akan diterima bila bersedia membeli produk lain atau tidak membeli produk yang sama dari pelaku usaha lain.• Pemboikotan (perjanjian dua pelaku usaha atau lebih untuk menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama atau menolak untukmenjual produk pelaku usaha lain. Pasal 17). Pasal 16). Pasal 13).

Penyalahgunaan Posisi Dominan: • Dilarang menggunakan posisi dominan secara langsung maupun tidak untuk menetapkan syarat perdagangan guna menghalangi konsumen. sendiri atau bersama yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat berupa: menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama. melakukan jual rugi untuk menyingkirkan pesaing (Pasal 20). Penggabungan. Pasal 27. atau membatasi peredaran dan penjualan produk.• Monopsoni (pelaku usaha dilarang menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. dan pengambilalihan (dilarang bila dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dan ada 13 . atau melakukan diskriminasi (Pasal 19). atau dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 75% pangsa pasar). Pasal 18). membatasi pasar dan pengembangan teknologi. • Pemilikan saham (dilarang pemilikan saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis apabila mengakibatkan satu atau sekelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar. Pasal 26. atau menghalangi konsumen untuk bertransaksi dengan pelaku usaha tertentu. peleburan. c. yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat). bersekongkol mendapatkan rahasia perusahaan pesaing (Pasal 23). • Penguasaan Pasar (dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan. berada dalam pasar bersangkutan yang sama. atau menghambat pesaing memasuki pasar bersangkutan. Pasal 25. • Jabatan rangkap (dilarang merangkap jabatan direktur/komisaris di dua perusahaan atau lebih bila perusahaan lainnya. secara bersama menguasai pangsa pasar. dengan curang menetapkan biaya produksi dan biaya lainnya (Pasal 21)). • Persekongkolan (dilarang melakukan tender kolusif (Pasal 22). atau memiliki keterkaitan dalam bidang dan jenis usaha. bersekongkol untuk menghambat produksi dan atau pemasaran pesaing (Pasal 24)).

atau penghentian kegiatan atau tindakan usaha yang menyebabkan kerugian. memutuskan dan menjatuhkan sanksi administratif yang berkaitan dengan kasus dugaan pelanggaran undang-undang ini. Undang-undang ini menetapkan pembentukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha yang memiliki kewenangan yang signifikan untuk tidak hanya mengawasi pelaksanaan undang-undang ini tetapi juga untuk melakukan tugas penilaian perjanjian. Sedangkan untuk sanksi pidana dapat terdiri dari pidana pokok berupa pidana denda sebesar Rp 1 miliar sampai Rp 100 miliar rupiah dengan pidana kurungan antara 3 sampai 6 bulan serta pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha. meminta keterangan institusi pemerintah. memanggil pelaku usaha dan saksi. melakukan tindakan berdasar kewenangan. d. . Undang-undang ini juga menetapkan adanya pengecualian berlakunya aturan dalam undang-undang (Pasal 50-51) untuk: • Perbuatan dan atau perjanjian itu untuk melaksanakan peraturan 14 perundangundangan yang berlaku. Pasal 47-49. pembatalan penggabungan. e. Pasal 30-37. Pasal 28 dan 29. Undngan-undang ini juga menetapkan suatu tata cara khusus dalam penanganan perkara persaingan usaha. peleburan dan pengambilalihan. Sanksi administratif bisa terdiri dari pembatalan perjanjian. Dan terdapat ketentuan acara khusus bagi lembaga peradilan dalam menangani kasus persaingan usaha seperti ditiadakannya upaya banding ke Pengadilan Tinggi yang ada adalah upaya kasasi ke Mahkamah Agung terhadap putusan Pengadilan Negeri atas kasus persaingan usaha. memberi saran dan pertimbangan kepada pemerintah serta berwenang untuk menerima laporan. penelitian. dan atau pengenaan denda sebesar antara Rp 1 miliar sampai Rp 25 miliar. kegiatan usaha. Pasal 38-46. g. penyelidikan. penyalahgunaan posisi dominan. larangan untuk menduduki posis direksi atau komisaris selama 2 sampai 5 tahun. kegiatan usaha. dan penyalahgunaan posisi dominan. Sanksi dalam undang-undang ini dibagi dua yaitu sanksi administratif (kewenangan KPPU) dan sanksi pidana (kewenangan peradilan umum).kewajiban notifikasi bila mengakibatkan penguasaan aset atau nilai tertentu). f. penetapan ganti rugi. penghentian integrasi vertikal.

kepres. Perjanjian kerjasama penelitian. 15 . peraturan yang memiliki tingkat dibawahnya apabila bertentangan secara hukum otomatis tidak lagi valid. Tidak dibahasnya produk peraturan di bawah tingkat “undang-undang” seperti peraturan pemerintah. • • • Pelaku usaha kecil. 5 tahun 1999. karena memang dengan adanya UU No. Kegiatan yang dilakukan oleh BUMN atau badan atau lembaga yang dibentuk pemerintah. Sedangkan bila aturan tersebut memiliki kesamaan tingkat (hirarki) dengan UU No. 5 tahun 1999. Perjanjian dalam kerangka keagenan. 5 tahun 1999. Terdapat aturan perundang-undangan yang sifatnya mendukung kebijakan pro-persaingan maupun yang menghambat atau potensial menghambat persaingan. II. inpres.• • • • • • Perjanjian yang terkait dengan Hak atas Kekayaan Intelektual dan waralaba. dan seterusnya yang “anti persaingan”. baik yang umum (seperti KUH Per dan KUHP) maupun sektoral (seperti UU Perseroan Terbatas dll) yang memiliki substansi yang secara signifikan menyinggung issue persaingan usaha. Yang berkaitan dengan standar teknis. Perjanjian internasional yang telah diratifikasi. Perjanjian dan atau perbuatan dalam rangka ekspor dengan tidak mengganggu pasokan dalam negeri. Kegiatan usaha koperasi yang melayani anggotanya. Mengingat adanya asas hukum “lex specialist derogat lex generalist” yang artinya “hukum (bersubstansi) khusus dapat mengenyampingkan hukum (bersubstansi) umum”.4 Peraturan Perundang-undangan Umum dan Sektoral yang berhubungan dengan Hukum Persaingan Usaha Di bawah ini dipaparkan mengenai beberapa aturan perundang-undangan di luar UU No. maka potensi konflik dalam law enforcement-nya boleh jadi ada.

semakin besar potensi penyimpangan akan terjadi di tingkat peraturan pelaksanaannya (yang merupakan produk hukum dari lembaga eksekutif). Di dalam Pasal 382 bis KUH Pidana memberikan ancaman pidana penjara terhadap atau kepada orang yang melakukan "persaingan curang". dan 16 . peleburan. Peleburan dan Pengambilalihan.Sebagai catatan tambahan bahwa kebanyakan praktek usaha yang menghambat persaingan usaha atau praktek usaha tidak sehat selama ini. perbuatan itu dilakukan untuk menarik keuntungan di dalam usahanya atau usaha orang lain. Semakin umum substansi pengaturan dari sebuah undang-undang (yang merupakan produk hukum hasil kesepakatan lembaga legislatif dan eksekutif). Undang-Undang No. tidak dapat dipidana oleh pasal ini. karena memang distorsi itu terjadi pada produk hukum yang menjadi peraturan pelaksanaannya. Seseorang disebut melakukan persaingan curang menurut pasal ini adalah apabila dapat dibuktikan memenuhi unsur-unsur bahwa ia melakukan suatu perbuatan penipuan. Dalam Undang-Undang No. dan perbuatan itu dapat menimbulkan kerugian bagi saingannya. kepres dst. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Menurut pasal ini. setiap pihak yang menderita kerugian akibat suatu persaingan yang tidak wajar. tepatnya pada Pasal 104 yang menyatakan bahwa “perbuatan hukum penggabungan.). Pasal 1365 ini yang terkait dengan perihal “perbuatan melanggar hukum” dalam lingkup KUH perdata. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. penipuan itu dilakukan untuk memperdayai masyarakat atau orang lain. dapat menuntut ganti rugi apabila dapat dibuktikan bahwa perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang "melanggar hukum". 1 tahun 1995 disinggung masalah persaingan usaha antara lain pada Bab VII tentang Penggabungan. Lain perkataan bahwa rata-rata produk hukum setingkat undang-undang selama ini secara normatif sangat baik dan tidak banyak yang mendistorsi secara langsung dunia persaingan usaha Indonesia. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. sebagian besar mendapat legitimasi dari peraturan di bawah undang-undang (seperti peraturan pemerintah. Ketiadaan pemenuhan salah satu unsur. Di antara berbagai ketentuan yang terdapat pada KUH Perdata yang dapat melindungi pelaku usaha dari tindak pelaku usaha lain yang merugikan adalah Pasal 1365.

pengambilalihan perseroan harus memperhatikan kepentingan perseroan. Biasanya pengadopsian issue perlindungan konsumen di dalam produk hukum persaingan usaha ialah melalui segmen “unfair business practices” atau dengan terjemahan bebasnya “praktek usaha tidak jujur / sehat”. kenyataannya adalah bahwa terkadang pelaku usaha pun berperan sebagai “konsumen” pada saat memerankan diri sebagai “pembeli” meskipun masuk ke dalam katagori “konsumen antara”14. Rusia. Di beberapa negara. peleburan. Ketentuan dalam undang-undang ini kemudian dipertegas dan dielaborasi di dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah No. dan Amerika Serikat. dan pengambilalihan perseroan tidak boleh mengurangi hak pemegang saham minoritas untuk menjual sahamnya dengan harga yang wajar. Namun begitu. dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas. Sedangkan di dalam UU No. Karena salah satu tujuan dari kebijakan persaingan usaha adalah untuk memberi keuntungan kepada konsumen misalnya berupa harga dan pelayanan yang kompetitif. 17 . issue “unfair business practices” atau diterjemahkan dengan “praktek persaingan usaha tidak sehat” ternyata penekanannya hanya pada hubungan antar pelaku usaha tidak melingkupi hubungan dengan konsumen. dan pengambilalihan juga memperhatikan kepentingan kreditor. 5 / 1999 tentang persaingan usaha di atas. pemegang saham minoritas dan karyawan perseroan dan kepentingan masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha”. Peleburan. peleburan.” Undang-undang No. Kalaupun di beberapa negara kebijakan persaingan usaha dan kebijakan perlindungan konsumen terpisah ke dalam dua produk perundang-undangan. issue mengenai persaingan usaha dan perlindungan konsumen disatukan dalam satu produk peraturan perundangundangan. 8 / 1999 lingkup konsumen yang di diatur adalah konsumen dalam katagori “konsumen akhir”. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Hal tersebut dapat dimaklumi karena memang kedua issue itu sangatlah dekat yaitu terkait dengan perlindungan kepentingan ekonomi konsumen. Dan penggabungan. Selain itu Pasal 5 peraturan pemerintah ini pun menyatakan bahwa “Penggabungan. 27/1998 tentang Penggabungan. namun banyak negara yang menganut pemisahan tersebut menyerahkan penanganan pengawasan dan pembinaan ke satu badan yang sama seperti di Perancis. Berkaitan dengan eksistensi UU No. seperti Australia juga di Canada dan India.

Adapun issue yang telah dibahas oleh UU No. 8 / 1999 di dalam Pasal 7. b. 8/1999 adalah: a. 8 / 1999 belum dapat secara sempurna melindungi konsumen. 5 / 1999 kemudian dibahas pula oleh UU No. 8 / 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinilai cukup mendukung UU No. Namun begitu secara umum UU No. 8 / 1999 dilakukan melalui pengaturan mengenai “pencantuman klausula baku” (Pasal 18). 5 / 1999 terutama pada aspek penegakan praktek persaingan usaha jujur /sehat. 5 / 1999. Perlindungan posisi tawar-menawar atau menghindari adanya penyalahgunaan posisi dominan terhadap konsumen. dalam UU No. 18 . Meskipun dinilai oleh sementara kalangan bahwa UU No. Atau paling tidak. Adanya larangan perlakuan diskriminasi oleh pelaku usaha kepada konsumen yang diatur oleh UU No. 8 / 1999 tidak bertentangan dengan UU No. UU No.

kesepakatan harga dan lain-lain seperti yang tercantum 19 . Agenda kedepan yang harus dilakukan tentunya mendorong agar mekanisme pasar bisa berjalan dengan menghilangkan intervensi yang mendistorsi pasar. Oleh karena itu. Atau. tata niaga perdagangan. kebijakan investasi yang membatasi penanaman modal. Setelah mekanisme pasar bejalan dengan persaingan yang terjadi antar pelaku usaha. kartel.1 Kesimpulan Persaingan usaha merupakan cara untuk menjamin tercapainya alokasi sumber daya dengan tepat. seperti: monopoli/monopsoni. KPPU sebagai lembaga yang bertugas mengawasi jalannya persaingan usaha harus meningkatkan kemampuannya secara kelembagaan untuk mengawasi prilaku anti persaingan.BAB III PENUTUP III. Kebijakan-kebijakan yang mungkin mendistorsi pasar adalah kebijakan hambatan perdagangan. deregulasi dan liberalisasi ekonomi perlu secepatnya dilakukan yang tidak hanya melingkupi deregulasi dan liberalisasi dengan perekonomian luar negeri tapi juga deregulasi dan liberalisasi perdagangan di dan antar daerah karena secara langsung berkaitan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat daerah. dan kebijakankebijakan lain yang bersifat diskriminatif. dengan kata lain membuka seluas-luasnya kepada para pelaku usaha untuk memasuki pasar. menjamin konsumen mendapatkan barang/jasa dengan harga dan kualitas terbaik dan merangsang peningkatan efisiensi perusahaan.

2000. Pengantar Hukum Persaingan Usaha. Depok : Fakultas Hukum Universitas Indonesia 20 . hakim dan pengacara.baik di tingkat nasional maupun di daerah-daerah. 2008. Sri Redjeki. kepolisian. juga tentunya mengawasi peraturan pemerintah pusat atau daerah yang memberikan peluang perusahaan melakukan tindakan anti persaingan seperti tata niaga yang memberikan hak monopoli/monopsoni. Selain itu. DAFTAR PUSTAKA Hartono. Penegakan Undang-undang Nomor 5/1999 tidak hanya menjadi tugas KPPU tapi juga menjadi tugas aparat penegak hukum yang lain yaitu kejaksaan. Kapita Selekta Hukum Ekonomi. Kesiapan dari aparat penegak hukum ini sangat penting untuk menjamin penegakan hukum persaingan usaha ini.dalam undang-undang . Bandung : Penerbit CV Mandar Maju Kurnia.