P. 1
Islam Sebagai Teologi Pembebasan Dari Ide Menuju Praksis

Islam Sebagai Teologi Pembebasan Dari Ide Menuju Praksis

|Views: 484|Likes:
Published by UU_ahmad

More info:

Published by: UU_ahmad on Oct 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/02/2013

pdf

text

original

ISLAM SEBAGAI TEOLOGI PEMBEBASAN, DARI IDE MENUJU PRAKSIS

Friday, 21 August 2009 00:17 |

Islam lahir dibumi ini bukan tanpa maksud. Sejauh yang penulis tangkap Islam lahir sebagai rahmatan lil alamin, ia berlaku untuk siapa saja dan Ia akan menerima kritikan apapun yang sifatnya konstruktif. Namun Islam juga berfungsi sebagai agama kritik atau agama protes - meminjam bahasanya Ali Syariati yang menolak penindasan dalam bentuk apapun-. Disini, Islam hadir membuahkan revolusi yang selama berabad ± abad telah berperan secara sangat signifikan dalam panggung sejarah kehidupan umat manusia.

Tidak diragukan lagi, Islam telah menjadi penanda perubahan, bukan hanya dalam dimensi Tauhid namun juga dalam dimensi sosial, ekonomi, politik dan budaya. Islam membebaskan bentuk-bentuk penyembahan yang irasional menuju pada penyembahan yang rasional. Islam menolak terhadap penyembahan manusia kepada berhala berupa latta, manat, hubal, dan puluhan bahkan ratusan berhala-berhala lainnya. Islam menolak penyembahan terhadap benda mati yang tidak mampu memberi faedah apapun terhadap kemaslahatan ummat Tetapi Islam juga membebaskan segala bentuk rasisme, exploitasi ekonomi yang menindas, marginalisasi perempuan dan praktikpraktik lain yang merugikan ummat. Islam juga menentang praktek dehumanisasi terhadap budak dan kaum perempuan. Suatu praksis yang sangat liberatif dan revolusioner tentunya. Namun, kredo itu bergeser setelah Nabi Wafat dan sepeninggal khalifah yang empat. Yang terjadi adalah perebutan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, hadirlah ulama-ulama yang membela kekuasaan status quo yang hegemonik, sehingga Islam kehilangan daya kritis atau revolusionernya. Sementara itu disisi lain, lahir pemeluk Islam yang ritual, normatif dan simbolik. Corak keberagamaan mereka sangat eksklusif yang tanpa sadar menimbulkan kelas-kelas baru dalam praktik beragama. Banyak ummat Islam yang hafal kitab kuning, fasih dalam membaca ayat-ayat Tuhan (kouliyah) namun tidak mempunyai kepekaan sosial sehingga Islam menjadi agama yang statis, tidak mampu menjadi pisau yang tajam untuk membebaskan penderitaan ummat. Bahkan Ada yang mendikotomikan antara peran agama dan realitas kehidupan manusia. Kalau lah pandangan ini dibenarkan maka posisi agama semakin jauh dari tugas sucinya untuk senantiasa memberikan pencerahan dan pembebasan. Pandangan ini menyatakan bahwa tidak ada peran agama dalam proses revolusi sosial. Pandangan ini dibantah oleh Syariati yang menghasilkan revolusi Islam Iran dimana agama (Islam) berfungsi sebagai subjek perubahan. Bahkan Syariati mengirimkan surat kepada Frantz Fanon1 setelah kembali ke Iran. Dalam surat itu ia menentang teori Fanon berkait hubungan antara agama dan revolusi. Saat itu, tidak ada orang-orang di Sorbonne termasuk Fanon yang percaya bahwa agama apalagi Islam dapat mengambil inisiatif terjadinya revolusi atau proses liberatif. Namun, Syariati tetap bersikukuh bahwa tidak akan terjadi rakyat dunia ketiga berperang melawan imperialisme barat kecuali mereka pertama-tama harus mendapatkan kembali harga diri dan identitas kulturalnya. Menurutnya, Identitas kultural itu sama dengan soal identitas dan budaya agama dikalangan massa.Teori Syariati ini menjadi tesis intelektualnya, dan kemudian dengan revolusi Iran telah ia buktikan bahwa agama Islam mempu menjadi artikulasi melawan Hegemoni Pahlevi yang didukung oleh modernisasi barat. Maksud dari tulisan ini adalah mencoba menyegarkan pemahaman kita antara keterkaitan agama (Islam) dengan proses pembebasan akibat adanya ketidakadilan yang berujung kepada kemiskinan, kebodohan, penindasan, dan marginalisasi sektor kehidupan oleh mereka-mereka yang dalam bahasa Al-quran disebut dengan kelompok Al Mustakbirin (penindas yang menyombongkan diri). Kemudian ditegaskan disini bahwa agama bisa menjadi idiologi pembebasan di mana agama tidak hanya berkutat pada persoalan-persoalan metafisis yang cendrung melangit dan tidak pernah membumi. Teologi Pembebasan Sebelum berbicara lebih jauh tentang teologi pembebasan, akan dipaparkan beberapa pertanyaan penting dan perlu diberikan suatu jawaban sehingga tidak menimbulkan kesalahan interpretasi dalam memahami tulisan ini. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul kepermukaan menyangkut teologi pembebasan. Diantaranya adalah Apa teologi pembebasan ( Liberation Theologh) itu dan Apa yang membuat kita perlu membicarakan teologi pembebasan.

Dengan kata lain teologi pembebasan itu anti kemapanan (establishment). menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun. Maulana Ibrahim moosa seperti yang dikutip oleh Farid Essack menekankan hubungan antara praksis dengan teori pembebasan sebagai berikut : Praksis pembebasan berlawanan dengan praktik harus menjadi semboyan kita Praksis berarti melakukan dan merefleksikan Halaqat mesti menjadi lingkaran aktif pengetahuan dan praksis yang menyatukan kaum intelektual organic (alim/ulama) dengan aktifis ( mujahid ) untuk memenuhi deskripsi komunitas muslim awal yang gagah berani. rasialis dan bentuk ± bentuk penindasan lainnya. Artinya Aspek Ketuhanan dalam beragama tidak hanya berhenti pada praktik beragama yang individualis. Membaca disini tidak hanya berhenti pada dataran teks ( kouliyah ) tetapi juga melakukan pembacaan yang sifatnya kontextual ( Kouniyah ). Hasan AL bana memberikan definisi µaqidah yaitu perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati.dan Logy yang diambil dari kata Logos berarti ilmu sehingga Teologi adalah Ilmu tentang Ketuhanan6 Dalam Agama Islam konsep keyakinan dikenal dengan Aqidah.3 Teologi pembebasan menurut Farid Essack.Sebelum dijelaskan lebih jauh seputar teologi pembebasan ada baiknya kalau kita simak beberapa pendapat tentang pemaknaan terhadap Teologi pembebasan. Sebagai hubungan yang transenden maka hubungan itu sangat sakral dan sangat berkait dengan fondasi keyakinan. praksis pembebasan melakukan suatu tindakan semacam evaluating . Sementara. yaitu "integrasi ilmiah dari sabda Tuhan sebagaimana itu ditujukan kepada kita". Aqidah berakar kata dari µaqada-ya¶qidu-µaqdanµaqidatan yang berarti simpul. Dalam hal ini.5 Secara umum. Disini Teologi Pembebasan mencoba melakukan transformasi antara pendekatan kosmologis dengan pendekatan empiris.8 Disini praksis pembebasan menjadi penting karena inti dari transformasi sosial itu adalah adanya kerja rill untuk melakukan pembebasan dari ketidakadilan ekonomi. disiang hari bagaikan singa dan menjadi rahib ± rahib dimalam hari. ikatan perjanjian. Menurut Schoof (1970) teologi adalah refleksi sistematis dan metodis tentang realitas iman. tetapi mempunyai konsekwensi logis untuk melakukan perubahan sosial terhadap ketidakadilan. Dari Terminologi yang digunakan Teo berarti ketuhanan. Teologi pembebasan memberikan prioritas yang mutlak pada praxis diatas teori. Tujuannya adalah untuk merubah satus quo bukan untuk mempertahankannya. politik.berkait tentang Tuhan.Hanyasaja dalam praktiknya. yang dihegemoni oleh pihak gereja yang membela penguasa) dan bukan sekedar pangalaman rohani yang ritus dan dogmatis tanpa merasakan kepekaan sosial. Keempat Teologi pembebasan tidak hanya mengakui satu konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam tetapi juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. karena teologi adalah disiplin ilmu yang membahas hakikat dan hubungan antara Tuhan dengan Manusia dan makhluk lainnya. Dari beberapa pendapat diatas terdapat beberapa simpul yang menjadi point penting dalam teologi pembebasan. apakah itu kemapanan religius atau kemapanan politik yang menindas. kelas dan agama. Kedua. tindakan dan realitas kesejarahan. pertama. politik.mendatangkan ketentraman jiwa. gender.Teologi pembebasan pada dasarnya bukanlah suatu teori perubahan sosial atau pembangunan. gender. Kerangka yang dibangun adalah pembacaan terhadap realitas sosial. Ketiga Teologi pembebasan memainkan peranan dalam membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya dan memperjuangkan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat melawan golongan yang menindasnya. Teologi pembebasan mencoba mencapai tujuannya lewat suatu proses yang bebas dan partisipatif. dengan demikian teologi pembebasan merupakan kombinasi antara analisis dan teori sosial kritik dengan teologi atau merupakan analisis kritis situasi kesejarahan sosial kaum tertindas. ekonomi dan religius yang didasarkan pada ketundukan yang dogmatis dan pembebasan seluruh masyarakat dari semua bentuk ketidak adilan dan exploitasi ras. Menurut Asghar Ali Engineer. Teologi ini tidak menginginkan status Quo yang melindungi golongan kaya yang berhadapan dengan golongan miskin. "pembebasan" adalah refleksi kritis tentang Tuhan baik dalam iman. dan sebagai komitmen transformasi politik para penganut agama ( konteks agama disini adalah agama kristen. teologi adalah pembicaraan tentang Tuhan.4 Teologi Pembebasan bagi Gustafo Gutierez (1973) merupakan suatu refleksi yang lahir dari ungkapan dan pengalaman serta usaha bersama untuk menghapus suatu ketidakadilan dan untuk membangun suatu mesyarakat yang berbeda yang lebih bebas dan manusiawi. Teologi Pembebasan dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan Akhirat. adalah sesuatu yang bekerja kearah pembebasan agama dari struktur serta ide sosial. Teologi Pembebasan mengandung unsur pokok sebagai berikut.

agama.Kami ciptakan kamu dari laki ± laki dan perempuan. dan keadilan sosial ( social justice ). kesetaraan ( equality ). fakir miskin dan kaum mustadh¶afin lainnya. Ayat ini secara tegas membantah semua konsep superioritas rasial. Bahwa sesungguhnya agama mampu menjadi garda depan dalam melakukan kritik sosial.( QS Al Maun : 1-7 ). warna kulit.Prestasi yang hendak diraih tidak berkutat pada prestasi yang ritus saja tetapi juga prestasi sosial. karena itu lebih dekat kepada Taqwa´( QS Al maidah ayat :8 ) .12 Istilah Theology of liberation muncul berkat tulisan Guiteress atas pembacaan reflektif realitas sosial keberagamaan di Amerika Latin ( latin Amerika ) yang sangat deskriminatif.Tujuan dasarnya adalah persaudaraan yang universal ( Universal brotherhood ). kekuasaan. termasuk penindasan dalam bentuk jenis kelamin. Bahkan secara tegas Al quran mengancam dengan sebutan pendusta agama kepada orang yang asik dengan kebutuhan rohani pribadi namun melupakan kewajiban sosial terhadap anak yatim. dan proses politik yang menjadikan mereka kecewa terhadap negara atau kelas yang menindas. harus ditolak. Dan keadilan itu tidaklah akan tercapai tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marginal dari penderitaan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat diatas nilai ± nilai kebersamaan tanpa penindasan baik struktural maupun kultural. Point penting lain dalam teologi Pembebasan adalah Dalam teologi pembebasan mengambil dua dimensi sector yang berhadapan atau berlawanan. Kami jadikan kamu berbangsa ± bangsa dan bersuku ± suku supaya kamu saling mengenal sungguh yang paling mulia disisi kamu adalah orang ± orang yang paling bertaqwa. Antara adil dan Taqwa adalah dua determinan yang saling berkaitan. yang miskin melawan yang kaya yang didiskriminasi melawan yang mendeskriminasi dan sejenisnya.11 Secara Substansial. Dari sini Islam menekankan kesatuan manusia ( Unity of mankind ) yang dijelaskan dalam Al qur¶an. Konsep teologi yang mencoba membumikan nilai ± nilai Ketuhanan kepada nilai ± nilai humanitas sesungguhnya berasal dari barat. Ia hadir sebagai jawaban atas analisis Marx dan Engels tentang ketidakberdayaan agama dalam menjawab tantangan global. Konsep teologi pembebasan dapat difahami sebagai intervensi wilayah garapan gereja ke wilayah garapan kaisar atas nama Tuhan demi kemanusiaan. etnisitas. keagamaan dan berbagai kelas lainnya didalam masyarakat. Al quran sebagai kitab suci umat Islam sarat dengan berbagai simbol pembebasan dan pencerahan. ³ Hai manusia.sosial.Kesalehan yang dimaksud dalam Islam bukanlah kesalehan yang berkutat pada persoalan pribadi tetapi juga kesalehan sosial.13 Pertanyaannya adalah apakah Teologi pembebasan Islam secara substansial mengakomodir isu teologi pembebasan dari barat secara totalitas? Menurut saya Islam telah lebih dahulu menyuarakan pembebasan terhadap . Sebagai contoh saja sangat sia ± sia dimata Tuhan seorang yang sudah menunaikan ibadah Haji berulang kali sementara ia tidak mempunyai kepekaan sosial. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosial ± revolutif yang menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas pada saat ini didalam maupun diluar Arab.sungguh Allah maha mengetahui (QS Al hujurat ayat 13 ). kebangsaan dan keluarga dengan satu penegasan akan pentingnya sifat kesalehan. Justru itu semua penafsiran texs Al qur¶an yang menindas. Munculnya Teologi Pembebasan dari Gutieres dalam agama Kristen dengan berbagai corak dan derivasinya adalah sebagai reaksi terhadap konsep teologi sebelumnya yang dinilai kurang menyentuh tema ± tema persoalan rill masyarakat yang semakin kapitalis dan korup. Tujuan umum Al quran adalah untuk mengeliminir segala bentuk penindasan.proceesing yang dalam bahasanya Budhi Munawar Rachman disebut Refleksi Teologi (Theology Reflection ) 9 Renungan teologi menjadi niscaya sehingga ada evaluasi tindakan untuk mengetahui kekurangan dalam strategi pembebasan.sebagaimana disebutkan dalam AL quran ³Berbuatlah adil. Lebih jelas lagi dua sudut yang berlawanan dalam Teologi pembebasan itu sebagaimana disebutkan Hasan Hanafi adalah sisi yang dianiaya melawan penganiaya. kesukuan. Artinya tingkat ketaqwaan seseorang tidaklah sempurna sebelum ia memperjuangkan nilai ± nilai keadilan dan kesetaraan.10 Liberation Theology merupakan aspirasi kaum tertindas dan kelas sosial dengan menekankan konfliktual aspek ekonomi. Disini agama menjadi subjek perubahan atas ketidaksewenangan penguasa negara dan ³penguasa´ agama. Islam sebagai Praksis Pembebasan yang Berpihak Islam adalah agama pembebasan ( Liberation Religion ). Islam di promosikan sebagai agama Ketuhanan sekaligus agama kemanusiaan dan agama kemasyarakatan( QS Ali Imran :112 ) Kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya diperoleh melalui upaya penyucian diri yang sufistik tetapi juga kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

yatim. 17 Dari sini tentunya harus ditemukan paradigma apa yang akan diusung oleh teologi pembebasan. bahwa Islam adalah agama yang tradisionalis konservatif sebagaimana terjadi pada pemerintahan yang dinastik ( Ummayaah dan Abbasiyah). 14 Namun esensi dari Islam tetap berada pada wilayah ± wilayah praksis liberatif. maupun sosial kemasyarakatan yang membumi.praktik ketidakadilan. Pembebasan Oleh Islam terus berlangsung hingga akhir masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. dan orang ± orang yang terhukum sekalipun. fakir. Karena itu lahirlah para nabi untuk menyelamatkan manusia dengan memberi peringatan agar kembali kepada kebenaran. Tetapi Agama. Namun. petunjuk metodologis. tetap berfungsi sebagai posisi ideal sebagai Transformasi sosial. Penyimpangan ± penyimpangan dalam beragama dari substansi yang ideal adalah kesalahan dari pemeluk agama yang menafsirkan agamanya. Dan lahirnya Revolusi Islam Iran menentang berbagai kebijakan Reza Pahlevi yang sangat tidak berpihak pada kepentingan ummat adalah bukti nyata bahwa Islam mampu sebagai idiologi pembebasan.perempuan budak. Lahirnya Muhammad yang melakukan kritik praksis terhadap kesewenangan penguasa Quraiys terhadap mesyarakat Mekah adalah suatu concern Islam yang sangat revolusioner pada saat itu. 2001 ) Paradigma Menurut Wahono Nitiprawiro adalah model pemikiran mengenai tata masyarakat.dimana kaum agamawan tidak lagi menjadi penanda pembebasan justru membela penguasa otoriter yang menindas rakyat dengan menggunakan ayat ± ayat Tuhan. miskin. termasuk kesepakatan tentang kerangka konseptual. namun karena tindakan munkar yang melahirkan dosa membuat manusia menjadi kotor. yaitu Kaum Mustad¶afin. masyarakat tertindas dari ketidak adilan system ekonomi. dapat juga di sebut utopia yang mungkin dioperasionalkan kendatipun tidak pernah akan benar ± benar secara untuh tercapai semuanya.bagi saya agama dan pemeluk agama tidaklah sama.(QS Al ±Nisa¶ : 75. Al maun: 1-7. politik.Kemerdekaan ( Independency ) Yang kita mengerti tidak sekadar otonomi atau kemerdekaan wilayah.15 Yang lebih penting dalam agenda pembebasan adalah bagaimana mewujudkan Islam sebagai ide pembebasan dalam bentuk praksis yang sebenarnya. Hanya saja aspek ± aspek Liberatif dalam Islam mulai terabaikan sejak munculnya pemerintahan yang bersifat dinastik dimulai dari dinasti Ummayyah dan Abbasiyah. justru Islamlah yang menentang praktik ± praktik kesewenangan raja atau penguasa Keberpihakan Islam dalam teologi pembebasannya sangat jelas yaitu kaum Mustad¶afin. Dimana Ayat ± ayat Allah SWT tidak saja menjadi ayat yang metafisis tetapi juga liberatif terhadap praktik penindasan ekonomi. mereka ± mereka yang haknya dirampas. Adz ±zariat: 15-19 dll). contoh tatanan yang dicita ± citakan. Analisis Marx tentang agama tersebut lebih kepada pemeluk agama yang konservatif dan cendrung menjalankan agama dengan doktrin yang dogmatis. dan lainnya.sosial. bukan hanya berhenti pada persoalan wacana ( discourse ). tetapi .politik. Keberpihakan Islam dalam Teologi Pembebasannya sangatlah jelas. Artinya sebenarnya manusia terlahir dalam keadaan selamat tanpa dosa. Bahkan Muhammad berkata andaikan matahari diletakkan ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku aku tidak akan pernah berhenti untuk berda¶wah untuk menolong kaum mustad¶afin.16 Sedangkan Thomas Kuhn yang melahirkan The Structure Of Scientific Revolutions Menjelaskan bahwa Paradigma adalah Aliran pemikiran yang memiliki kesamaan asumsi dasar tentang suatu bidang studi. Kritik Terhadap Pemikiran Karl Marx. bahwa agama tidak mampu membuat suatu perubahan terhadap problematika ummat. dan tehnik analisis. Sejak awal Islam telah concern dan peduli kepada orang ± orang yang tertindas seperti orang ± orang yang teraniaya. Dan dengung Teologi Pembebasan dalam Islam yang monumental adalah ketika Ali Syariati mengkampanyekan Islam sebagai ide kritik terhadap ketidakadilan. Islam adalah agama yang sejak lahir telah menjadi garda terdepan dalam teologi pembebasannya. The Religion is opium bagi Marx adalah sebuah krtitik terhadap kondisi keberagamaan pada saat itu. Paradigma Pembebasan Paradigma Pembebasan adalah penegasan dari paradigma penyelamatan. Disini tidaklah benar anggapan Fanon. janda. Penulis sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Romo Wahono bahawa dalam Teologi Pembebasan terdapat setidaknya empat pilar paradigma pembebasan yaitu : 1. Tugas para Nabi ini dikenal dengan tugas kenabian atau Profetik ( Kuntowijoyo. Dalam hal ini Islam bukanlah agama yang mementingkan kepentingan penguasa yang menindas. Dan Engels Tidaklah benar anggapan Karl Marx dan Engels pada abad ke-19.

Islam sebagai agen perubahan dan elemen lain tentunya perlu menegakkan keempat nilai pembangunan paradigma pembebasan tersebut. keadilan sosial dan kerakyatan.20 Senada dengan Gramsci. kedua Liberasi. IRM sebagai Intelektual Organik Tidak bisa dipungkiri bahwa proses perubahan atau pembebasan butuh instrument penggerak yang aktif pro aktif. Menurut Budi Munawar Rahman. membungkus dua fase sebelumnya dalam bingkai keTuhanan. Dari sini akan muncul agensi aktif yang menjadi dan mencari. Dalam praktiknya peran Rausyan fikr / Intelektual organik tadi bisa diambil oleh posisi mahasiswa. Ali syariati mengistilahkan Intelektual organic dengan Rausyan Fikr yang harus memihak dan terlibat dalam perjuangan rakyat. Bukan sekadar cinta bangsa ( Nationhood/Ukhuwah wathoniyah ) tetapi lebih jauh kepada rasa cinta kepada kemanusiaan terutama mereka yang terpinggirkan. Antonio Gramsci pernah membuat dua kategorisasi Intelektual. Instument penggerak tersebut mempunyai tugas penyadaran terhadap masyarakat sebagai dasar perjuangan dan pembebasan. Hanya saja dalam praktiknya Paradigma yang dibangun dengan nilai ± nilai universal ini perlu memahami nilai local dalam bentuk kearifan local.21 Strategi taktis untuk menjalankan misi kenabian ini pernah dikemukakan oleh Kuntowijoyo. pedagang. guru. kesaudaraan.Keadilan Sosial ( Social Justice ). Kunto menyebut perjuangan rakyat dalam membebaskan diri dari ketertindasan dengan Idiologi Profetik. budayawan dan lain sebagainya yang concern terhadap penyadaran menuju pada praksis pembebasan. Biasanya mereka hanya duduk dibelakang meja dan menghitung rumus ± rumus matematis dimenara gading. Proses Liberalisasi. Karena inti dari Ajaran agama adalah membebaskan maka ayat ± ayat Allah SWT ditafsirkan sebagai wahana pembebasan dari ketertindasan bukan malah membelenggu rakyat/ummat dengan legitimasi ayat ± ayat Tuhan. Proses penyadaran adalah kemampuan masyarakat untuk melihat kontradiksi sosial ekonomi dan politk untuk bergerak melawan unsur ± unsur penindasan yang terkandung dalam kenyataan sosial yang dilihatnya. terlebih pada tumbuhnya rasa hormat kepada pribadi lain dengan keunikan dan kemajemukannya.Kerakyatan ( Populist ). Seorang Intelektual tradisional adalah mereka yang berjarak dan tidak peduli terhadap perubahan sosial dan penderitaan masyarakat. Disini kesadaran masyarakat menjadi penting karena mustahil sebuah praksis liberatif tanpa sebuah kesadaran. Dalam keadilan sosial paradigma yang usung tidak sekadar persama-rataan ( equality ) tetapi lebih kepada pencukupan syarat atau sarana dasar kehidupan bagi manusia.. bertujuan membebaskan manusia dari kejumudan berfikir. Saya lebih sepakat menggunakan istilah kesadaran kolektif sebagai subjek analisis terhadap otoritas penguasa yang otoriter. Sedangkan Intelektual organic adalah intelektual yang terlibat dalam proses kebijakan publik atau isu ± isu yang berkembang dimasyarakat. 3. Dalam Proses Transendensi. Tak ayal lagi.Seorang Intelektual mempunyai kekuatan Moral yang berpihak pada perjuangan rakyat. bukan saja dibidang ekonomi tetapi juga dibidang sosial kemasyarakatan. Karena kesadaran individu tidak mampu untuk melakukan sebuah pembaharuan karena tidak mempunyai kekuatan yang kuat dalam proses pembebasan. palajar. proses penyadaran menjadi sebuah keniscayaan sebagai kerangka berpijak menuju kesadaran kolektif. IA juga melakukan gerakan empowering atau gerakan liberasi dengan basis pemihakan terhadap kelompok Mustadh¶afin. LSM. 18 Empat pilar diatas yang menjadi tema sentral dalam teologi pembebasan. Intelektual Organik bagi Gramsci mengakui hubungan mereka dengan kelompok dan memberikannya homogenitas serta kesadaran tentang fungsinya. 4. politik dan bidang lainnya. Artinya adanya penyadaran bahwa manusia mempunyai peran sebagai aktor sejarah yang mampu berkarya/ berbuat dan bukan budak sejarah. dominasi system yang menindas. dan ketiga transendensi. dosen. aktifis gerakan. kaum agamawan.terlebih kepada kemandirian manusia / rakyat / ummat / sebagai makhluk Allah SWT. Inti dari kerakyatan adalah kedaulatan dan pemberdayaan rakyat.22 Proses Humanisasi merupakan proses memanusiakan manusia. dan memiliki kerangka tafsir/hermeneutic yang berpihak demi mewujudkan sosailitas Islam sebagai agama kritik/protes. . 2. Dalam bukunya Islam tanpa Masjid Kunto menjelaskan ada tiga tahapan yang perlu dilakukan oleh umat Islam dalam proses pembebasan.yaitu pertama Humanisasi. sehingga ketika kita membawa obor nilai ± nilai kemanusiaan akan diterima oleh masyarakat lokal untuk menyumbangkan relevansi semangat bagi pelaksanaan nilai ± nilai universal bagi kehidupan berwarga dunia yang meliputi kemerdekaan.19 Instrument pembebasan selanjutnya.yaitu Intelektual Tradisional dan Intelektual Organik. menyangkut siapa yang berperan dalam proses Penyadaran tersebut?.Kesaudaraan ( solidarity/Brotherhood/Ukhuwah Insaniyah ) Disini tidak hanya berhenti pada kekeluargaan. Menurut hemat saya Islam sebagai praksis pembebas perlu memahami lebih dalam strategi apa yang perlu dilakukan.

Tulisan Budhi Munawar Rachman JAkarta : Penerbit Mizan * Hanafi.Asghar.Komaruddin et. Pemahaman umat dalam beragama ( Islam ) harus holistic dan tidak separuh ± separuh. Membebaskan Yang Tertindas Al quran . Moeslim. dan persaudaraan. Justru itu IRM harus memposisikan dirinya sebagai agen perubahan dengan metodologi gerakan yang jelas.Makalah Membumikan Visi Intelektualitas dan Gerakan IMM. Semoga bumi Allah SWT ini senantiasa diridhoinya dan negara Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur yang kita cita ± citakan dapat segera terwujud. *** DAFTAR PUSTAKA * Abdurrahman. catatan pasca Muktamar IMM ke 11 Agustus 2003 * Patria.Jogjakarta : Insist Press dan Pustaka Pelajar * Abdurrahman.Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM ) adalah sebuah elemen gerakan sosial keagamaan yang sangat strategis dalam mengambil peran seperti apa yang telah dipaparkan Gramschi.2003. maupun Syariati. Islam sebagai Kritik Sosial. Ilmu Hubungan Internasional.Jakarta : Penerbit Erlangga * Ali Engineer.Jogjakarta : LPPI * Ihsan Ali -Fauzy dan Haidar Bagir.Islam sebagai Kritik Sosial.Antonio Gramsci. 2003. Untuk itu IRM perlu mentafsir ulang metodologi gerakannya. sistematis tidak lari dari idealisme yang dibangun. Dalam beragama tentu kita tidak berhenti pada persoalan individu saja. Terdapat banyak kepentingan disana. 2000. Karena itu perlu disusun sebuah kerangka untuk membangun gerakan yang massif bagi IRM. Setelah proses penyadaran dilakukan.Bandung : Mizan * Fakih. 2001 Agama ditengah Kemelut Jakarta : Media cita * Lowy. Praksis dan Isinya.. saya hendak mengatakan bahwa teologi pembebasan berguna untuk menjembatani keberimanan dan praksisi dan juga merupakan jalan tanpa kekerasan. Persoalan yang muncul adalah bagaimana membumikan gagasan kritis tansformatif dalam kerangka kerja yang programatik. Disini saya mengisaratkan bahwa jalan itu adalah Jalan tanpa kekerasanTeologi Praksis non violence. Amin «. 1994.2000. Mansour.Michael.Yunahar.2003. maka agenda selanjutnya adalah memilih cara yang tepat untuk melakukan praksis pembebasan. tetapi akan selalu melahirkan spiral kekerasan dan tidak jarang bumerang kekerasan bagi yang melempar kekerasan pertama kali.Jakarta :Penerbit Erlangga * Francis Wahono Nitiprawiro. Dibawah ini adalah contoh bagaimana IRM harus melihat realitas sosial sembari melakukan strategi pencapaian tujuan organisasi.Islam dan Teologi pembebasan Jogjakarta : Pustaka Pelajar * Essack.Farid. Islam mengedepankan nilai ± nilai keadilan. 2000.Hasan. Falsafah gerakan yang ingin diwujudkan tentu tidak lepas dari tujuan organisasi yang ingin dicapai IRM. Realitas sosial merupakan rekayasa sosial yang tidak bebas nilai.Mencari Islam Bab Menuju suatu Teologi Yang Membebaskan.2003. Moeslim. kebersamaan.Ahmad. Revolusi.2003. Saya kira icon Kritis transformatif IRM yang dipilih sebagai dasar penggerak oleh IRM tetap relevan dalam konteks kekininian. Marther Luther King dan Nelson Mandela yang membela rakyat tanpa kekeasan.Jogjakarta : LkiS Yogyakarta * Mohtar Masoed.liberalismeda.2003.Bongkar Tafsir Liberalisasi. Mungkin tidak berlebihan kalau saya mencontohkan Mahatma Gandhi dari India.2003. Justu itu praksis pembebasan tanpa kekerasan memang pilihan cerdas untuk mencapai tujuan perjuangan rakyat.Nezar dan Andi Arief.(tahun tak disebutkan). Teologi Pembebasan. Metode.Negara dan Hegemoni Jogjakarta : Pustaka Pelajar . ( Nugi) STRATEGI MEMBANGUN GERAKAN SOSIAL Membangun Idealisme Berbasis Program ALAT BACA GERAKAN Penutup : Jalan Pembebasan Tanpa Kekerasan Sebagai penutup dari makalah ini. Karena masih banyak dosa ± dosa sosial yang masih belum kita tebus dengan melkukan da¶wah amar ma¶ruf nahi munkar.Hermeneutik Jogjakarta : Penerbit Prismasophie * Hidayat. Jakarta : LP3ES * Fuad Fanani. Pluralisme.2001Sesat Pikir Teori Pembangunan dan GlobalisasiJogjakarta : Insist Press dan Pustaka Pelajar * Ilyas.Teologi Pembebasan Sejarah. Disiplin dan Metodologi.Kuliah µAqidah Islam. Kekerasan dibalas dengan kekerasan memang dapat menjadi pilihan.al.

Jakarta :Penerbit Erlangga. Islam tanpa Masjid Bandung : Mizan. 8 18. 2000. Patria. Moeslim.Komaruddin et. Mohtar Masoed.1 8.* Kuntowijoyo. Praksis dan Isinya.Michael. 2.Teologi Pembebasan Sejarah. hal 269 10.Pluralisme. Mansour. Kuntowijoyo. 2001Agama ditengah Kemelut Jakarta : Media cita hal 348 12. hal vi 14.Makalah Membumikan Visi Intelektualitas dan Gerakan IMM.Yunahar. hal 261 20.Bongkar Tafsir Liberalisasi.al.Ahmad.2003.Antonio Gramsci. 2001. catatan pasca Muktamar IMM ke 11 Agustus 2003. Essack. hal 1-2 4.Hasan. ibid. Ibid.Jogjakarta : Insist Press dan Pustaka Pelajar. Jurusan Aqidah Filsafat Fakuktas Ushuluddin semester pertama.2003.Asghar. Ihsan Ali -Fauzy dan Haidar Bagir.Islam dan Teologi pembebasan Jogjakarta : Pustaka Pelajar.Bandung : Mizan hal 121122 9. Metode. xxvix 19.Membebaskan Yang Tertindas Al quran.2001Sesat Pikir Teori Pembangunan dan GlobalisasiJogjakarta : Insist Press dan Pustaka Pelajar hal 177 ± 178 6.(tahun tak disebutkan).liberalismeda. Teologi Pembebasan. Hanafi. Fakih.Mencari Islam Bab Menuju suatu Teologi Yang Membebaskan.Hermeneutik Jogjakarta : Penerbit Prismasophie. 1994.Islam sebagai Kritik Sosial.Jogjakarta : LkiS Yogyakarta hal.Nezar dan Andi Arief. . Islam tanpa Masjid Bandung : Mizan Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Negeri Yogyakarta.hal 124 11.Farid.2003. Abdurrahman. Lowy. hal 38 15. Ilyas. 2003. frantz fanon adalah salah seorang Profesor yang mendalami pemikiran Karl Marx. Penulis adalah utusan PW IRM DIY 1. 2000.Asghar..Jogjakarta : LPPI hal. Tulisan ini merupakan prasyarat mengikuti Pengkaderan Taruna Melati III Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah Jawa Tengah.Mencari Islam Bab Menuju suatu Teologi Yang Membebaskan. Fuad Fanani. Metode.Negara dan Hegemoni Jogjakarta : Pustaka Pelajar hal 161 ± 162 22.hal 349 13.Pluralisme. 2001. xxvii 17.Islam dan Teologi pembebasan Jogjakarta : Pustaka Pelajar. Abdurrahman.2000.Jakarta :Penerbit Erlangga. Moeslim.diantaranya adalah The Wretched of the earth ( Yang terkutuk dibumi ).hal 177 7. Disiplin dan Metodologi.Farid. Revolusi.. 2000. Praksis dan Isinya.Jogjakarta : LkiS Yogyakarta hal. hal 94 16. 2000.Bandung : Mizan hal 120 5.Tokoh berkebangsaan Al jazair ini telah menulis berbagai buku.(tahun tak disebutkan). Ali Engineer. 2003. Ali Engineer. Jakarta : LP3ES hal. Francis Wahono Nitiprawiro. Francis Wahono Nitiprawiro.2003.Teologi Pembebasan Sejarah.Membebaskan Yang Tertindas Al quran.Kuliah µAqidah Islam. hal 99 3.liberalismeda.Tulisan Budhi Munawar Rachman JAkarta : Penerbit Mizan.2003.Tulisan Budhi Munawar Rachman JAkarta : Penerbit Mizan.hal 1 21.2003. Hidayat. Ilmu Hubungan Internasional. Ihsan Ali -Fauzy dan Haidar Bagir. Essack.Islam sebagai Kritik Sosial.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->