You are on page 1of 12

PERKULIAHAN

Tik : Pada akhir perkuliahan ini mahasiswa/i mampu menjelaskan hospes definitif,
predileksi, siklus hidup dan mengidentifikasi cacing trematoda, cestoda dan
nematode yang menginfeksi ternak.

Pokok Bahasan : Trematoda, Kestoda dan Nematoda

Deskripsi : pada pertemuan ini mahasiswa/i akan mempelajari Trematoda, kestoda


dan nematoda secara lengkap, menggenai : morfologi umum, nomenklatur,
sistimatika, spesies dengan ciri-ciri identifikasi, predileksi, siklus hidup lengkap
dengan hospes intermedier dan bentuk telur dari cacing

Bahan bacaan :

1. Bowman, D.D (1999). Georgi’s Parasitology for Veterinarians. 8th Ed.Saunders an


Imprint of Elsevier Science

2. Dunn, A.M (1978). Veterinary Helminthology. 2nd Ed. William Heinemann


Medical Books. LTD London

3. Levine, N.D (1995). Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi. Gajah


Mada University Press.

4. Soulsby, E.J.L (1982). Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated


Animals. 7th Ed. Bailliere Tindal London.

5. Urquhart, G.M; J. Armour; J.L. Duncan; A.M. Dunn and F.W. Jennings (1985).
Veterinary Parasitology. Longman Scientificf and Technical.

6. Supan Kusumamiharja (1992). Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan
Hewan Piaraan di Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bioteknologi.
Institut Pertanian Bogor
PHILUM PLATYHELMINTHES

Golongan cacing ini dapat digolongkan menjadi 2 Klas yang penting yaitu :
I. Klas Trematoda ( memiliki canalis alimentarius )
II. Klas Cestoda (tidak memiliki canalis alimentarius)

KLAS TREMATODA
Trematoda juga dikenal dengan cacing daun dengan ciri-ciri :
1. Tidak memiliki rongga badan dan semua organ berada didalam jaringan parenkim.
2. Tubuh biasanya pipih dorso-ventral, biasanya tidak bersegmen, kebanyakan bentuk
seperti daun , ada juga bentuk panjang langsing (Schistosoma sp.) dan berbentuk conus
(Paramphistoma sp.).
3. Mempunyai lekukan yang ditengahnya ada lubang yang disebut alat penghisap( batil
isap/sucker) berjumlah dua buah, yang satu mengelilingi mulut dikenal dengan istilah
”Oral Sucker ” dan yang lain berada 1/3 anterior tubuh dibagian ventral atau pada
ujung posterior disebut ” ventral Sucker” (Asetabulum).
4. Kutikula atau tegumen cacing ada yang licin dan ada yang berduri, berfungsi sebagai
pembungkus badan juga secara faal bertanggung jawab dalam melaksanakan
makanan.

STRUKTUR ANATOMI

Sistem digesti : dinding luar atau tegumen cacing daun disusun oleh kutikula halus atau
berduri.
Sistem pencernaan : masih sangat sederhana, mulai dari mulut pada bagian anterior yang
dikelilingi oral sucker makanan masuk, melanjut keposterior menuju parings yang berotot
kemudian esofagus dan akhirnya menuju usus yang terbagi menjadi 2 sekum bercabang-
cabang dan akhirnya buntu. Kebanyakan trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa
bahan makanan harus diregurgitasi.
Sistem syaraf : sangat sederhana, ditemukan cincin serabut syaraf dan ganglia
mengelilingi esofagus.
Sistem sirkulasi : tidak ada

2
Sistem ekskresi : tersusun oleh sebuah kantong kemih posterior.
Sistem reproduksi, sangat komplek sebagian besar trematoda adalah
Hermaphrodit (satu individu memiliki organ jantan dan betina) kecuali Schistosomatidae,
tetapi pada umumnya terjadi pembuahan silang dan pembuahan sendiri kurang umum.
Sistem reproduksi jantan terdiri dari 2 testis berbentuk lobus atau bercabang-cabang,
selanjutnya dari masing-masing testis dilanjutkan dengan sebuah vas eferens, vas eferens
kemudian bergabung membentuk vas deferens. Pembuluh ini kadang –kadang melebar
membentuk vesika seminalis yang dikelilingi oleh glandula prostata dan terakhir cirrus.
Sistem reproduksi betina secara berturutan dimulai dari ovarium yang tunggal berlobi-lobi
atau bercabang-cabang, oviduks, reseptabulum seminalis, saluran vitelina yang
menampung kelenjar viteliria, terusan laurel, kemudian menuju ootipe, uterus yang
berkelok-kelok, metratem dan akhirnya keluar dari lubang kelami (Porus genitalis).

SIKLUS HIDUP
Telur cacing akan keluar bersama tinja penderita saat defikasi. Pada kondisi menunjang
(kelembaban suhu yang sesuai) , telur akan berkembang dan menetas mengeluarkan larva
mirasidium. Mirasidium berbentuk segitiga , dengan bagian depan melebar dan biasanya
ditutupi oleh silia , juga biasanya mempunyai duri untuk membuat lubang masuk kedalam
tubuh hospes antara ( biasanya adalah siput). Mirasidium biasanya dilengkapi dengan
sistem ekskresi dan sistem syaraf dan mempunyai usus berbentuk kantung, serta bintik
mata.
Pada waktu mirasidium menembus kulit hospes antara silianya lepas dan larva menjadi
sporokista, yaitu masa sel yang tanpa diferensiasi.
Didalam sporokista terbentuk redia dan didalam tubuh redia terbentuk cercaria .
Cercaria adalah bentuk infektifdari larva dan dapat langsung menginfeksi hospes definitif
melalui makanan , minuman atau aktif menembus kulit, namun cercaria dapat mengkista
diluar tubuh terutama pada tanaman air/rerumputan dan bentuk kista ini disebut
metacercaria yang bersifat infeksius.

3
GENUS : FASCIOLA SP.

Cacing Fasciola (cacing hati ) ini terdapat dua spesies yang penting tersebar diseluruh
dunia adalah :
1. Fasciola hepatica ( wilayah iklim dingin sampai sedang)
2. Fasciola gigantika ( beriklim tropis )
Cacing ini hidup sebagai parasit didalam pembuluh empedu domba, kambing, sapi dan
ruminansia lain. Juga babi, kelinci, kuda dan manusia dapat terserang.

Fasciola hepatika
Morfologi, cacing dewasa berwarna coklat abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih,
melebar dan lebih melebar keanterior dan berakhir dengan tonjolan berbentuk conus.
Ukuran tubuh cacing dewasa panjangnya 30 mm dan lebarnya 13 mm. Mempunyai batil
isap mulut (oral sucker ) dan batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya hampir sama.
Cacing hati adalah hermaprodit, dimana porus genitalisnya (lubang kelamin) terletak tepat
dibelakang batil isap perut. Alat kelamin jantan (testis) bentuknya bercabang-cabang dan
berlobus, sedangkan lat kelamin betina (vitellaria) memenuhi sisi lateral tubuh. Cacing
hati memiliki sebuah pharing dan esofagus yang pendek , sedangkan caecumnya
bercabang-cabang terutama disebelah lateral.
Telur cacing bentuknya oval, berdinding sangat halus dan tipis, berwarna kuning
dan bersifat sangat permiabel. Telur yang baru keluar bersama tinja didalamnya ada
granula halus berukuran 130 – 150 u X 63 – 90 mikron. Pada salah satu ujung telur
terdapat operculum (merupakan daun pintu tempat keluarnya larva mirasidium dari dalam
telur ).

SIKLUS HIDUP
Didalam tubuh ternak yang terinfeksi cacing hati dewasa berpredeleksi didalam
pembuluh empedu hati. Selain hidup dari cairan empedu , cacing juga akan merusak sel-
sel epitel dinding empedu untuk menghisap darah., sedangkan cacing muda bermigrasi
pada parenkim hati dan dapat merusak dan memakan parenkim hati kemudian bermigrasi
ke pembuluh empedu.

4
Catatan : cairan empedu bersuasana alkalis dan mengandung garam empedu,pigmen
empedu, kholesterol, lechitin dll .

Cacing hati bertelur didalam kantong empedu mengikuti aliran empedu


didalam ductus choleductus lumen duodenum keluar saat
defikasi.
Pada kondisi lingkungan yang mendukung (air tergenang, suhu (26oC ), PH) telur akan
menetas (17 hari ) dan terbebaslah larva mirasidium. Mirasidium mutlak harus berada
dalam air dan berenang mencari hospes intermidier ( HI ) serasi ialah golongan siput
Lymnaea tumentosa (di Australia ), L. truncatula (Eropa). Didalam tubuh siput tersebut
mirasidium berubah menjadi sporokista yang memperbanyak diri dengan pembelahan sel
secara transversal. Di dalam tubuh sporokista terbentuk banyak redia, pada masing-
masing redia induk, terbentuk banyak redia anak ( cercaria ) yang berekor. Kemudian
cercaria keluar dari tubuh siput dan berenang didalam air, dalam waktu 20-21 hari hari
setelah memasuki tubuh siput.
Pada kondisi menunjang cercaria berenang di air mencari tumbuhan air
/rerumputan untuk segera melekat dan ekor dilepaskan dan tubuhnya membentuk zat
pelindung dari zat viskus metacercaria . Infeksi pada host terjadi bila
memakan rumput yang ditempeli metacercaria . di dalam duodenum kista pecah dan
keluarlah cacing muda. Dalam waktu 24 jam cacing muda sampai dalam ruang peritonium
sesudah menembus dinding usus. Sekitar 4-8 hari sesudah infeksi, sebagaian besar cacing
telah menembus kapsul hati dan migrasi dalam parenkim hati. Migrasi dalam hati
memerlukan waktu 5-6 minggu dan minggu ke-7 telah sampai dalam saluran empedu dan
delapan minggu setelah infeksi cacing telah bertelur.

Fasciola gigantica
Morfologi : tubuhnya pada umumnya lebih besar dibandingkan F. hepatika dengan
panjang 25 – 75 mm dengan lebar 12 mm. Bentuk yang lebih spesifik lebih langsing dan
bahu yang lebih sempit. Ventral sucker lebih besar dibanding oral sucker. F. gigantica
terlihat lebih transparan jika dibandingkan dengan F. hepatica.

Predeleksi F. gigantica pada saluran empedu dari ruminansia (terutama sapi), kambing,
domba didaerah beriklim tropis.

5
Secara skematis F. gigantica dan F. hepatica dapat dibedakan :

Morfologi F GIGANTICA F. HEPATICA

- Tubuh Lebih langsing Lebih besar


- Bahunya Menyempit Melebar

- Penampakan Lebih transparan Agak tebal


Hamper sama besar Ventral sucker lebih besar
- oral dan ventral sucker
156-197 X 90-104 130-150 X 63 –90
- ukuran telur
coklat abu-abu coklat abu-abu
- warna tubuh

Siklus hidup F.gigantica sama dengan F. hipatica , namun hospes intermidiernya dari
golongan siput L. rubiginosa ( di Indonesia disebut L. javanica).
Catatan : di Indonesia tidak ditemukan siput yang cocok sebagai hospes intermidier F.
hepatica , maka di Indonesia cacing ini tidak ditemukan, kecuali sapi impor. L.
rubiginosa biasanya hidup dalam air jernih.

FAMILIA : PARAMPHISTOMATIDAE
Trematoda jenis ini biasanya bertubuh tebal. Ventral sucker terletak pada ujung posterior
tubuh. Tidak memiliki pharinx, tetapi memiliki esofagus, sedangkan intestinal sederhana.
Cutikula tanpa spina, porus genitalis terletak ventral. Testis berlobi terletak anterior dan
ovarium yang kecil. Glandula vitellaria disebelah lateral tubuh.

Genus : Paramphistomum
Spesies yang penting : - P. cervi, P. microbothrium, P. ichikawae.
Predeleksi : di dalam rumen dan retikulum sapi, domba, kambing, kerbau, kijang dan
ruminansia lain, sedangkan cacing muda berpredeleksi didalam usus halus dan baru akan
bermigrasi kedalam rumen dan retikulum setelah menjadi dewasa.

6
Morfologi : bentuk cacing bulat seperti kerucut, pada bagian ventralnya agak cekung,
bagian dorsalnya cembung, agak tebal dan berwarna merah muda. Tubuh cacing dewasa
berukuran panjang 5-13 mm dan lebarnya 2-3 mm. Ditemukan adanya batil isap mulut
( oral sucker) berukuran kecil dan ventrak sucker berkembang sempurna terletak pada
ujung posterior. Tidak memiliki pharing, tetapi memiliki oesopagus sedangkan saluran
pencernaannya sangat sederhana. Cacing ini bersifat hermaphrodit, dimana porus
genitalisnya terletak pada bagian akhir 1/3 anterior tubuhnya. Alat kelamin betina terdiri
dari ovarium kecil yang letaknya dibelakang testis. Alat kelamin jantan mempunyai testis
besar, agak berlobi dan letaknya disebelah depan dan belakang disebelah anterior ovarium.
Seekor cacing betina dapat bertelur setiap hari sebanyak 75 butir per hari. Telur cacing
berdinding tipis, memiliki operculum, ukuran panjangnya 114 – 176 X 73 – 100 mikron.

SIKLUS HIDUP
Telur cacing keluar saat defikasi yang telah mengalami perkembangan awal dan pada
kondisi yang menunjang (air tergenang dan suhu 270 C) setelah lebih kurang 12 hari
melalui operculum akan keluar larva yang disebut mirasidium. Mirasidium selanjutnya
akan berenang di air dan secara aktif akan mencari hospes intermidier berupa siput dari
genus ( Planorbis, Bulinus, Fossaria sp., Gliptanisus dan Fysmanisus ) setelah masuk
dalam tubuh siput mirasidium akan berubah menjadi sporokista. Dalam waktu 11 hari
sporokista akan berkembang dan didalamnya mengandung maksimal 8-9 redia. Pada hari
ke- 21 sporokista akan pecah dan menghasilkan redia dengan ukuran panjang 0,5 – 1 mm.
Di dalam tubuh redia ditemukan 15-30 cercaria. Serkaria akan keluar dari dalam tubuh
siput terutama pada saat kena sinar matahari. Serkaria yang bebas memiliki ekor
sederhana dan sepasang titik mata, berenang dalam air beberapa jam, kemudian akhirnya
akan mengkista disebut metaserkaria didalam tumbuhan air yang dapat tahan pengaruh
luar sampai 3 bulan. Infeksi terjadi karena tertelannya rumput yang mengandung
metaserkaria, setelah sampai didalam usus kista akan pecah dan terbebaslah cacing muda.
Cacing muda akan menembus masuk kedalam mukosa usus halus, kemudian setelah 6-8
minggu cacing muda akan bermigrasi keatas menuju rumen dan retikulum dan akhirnya
berkembang menjadi cacing dewasa.

FAMILIA SCHISTOSOMATIDAE

7
Trematoda berbentuk memanjang, unisexsual, dan dijumpai sebagai parasit dalam
pembuluh darah penderita. Tidak memiliki pharinx. Porus genitalis terletak dibelakang
ventral sucker. Testis terdiri 4 lobi, ovarium memanjang. Telur memiliki kulit yang tipis
dan tidak memiliki operculum.

GENUS : SCHISTOSOMA SP.


SPESIES : S. bovis, S. javanicum, S. hematobium
Predeleksi : di dalam vena porta dan vena mesenterika dari kambing, sapi, domba, anjing
dan manusia.
MORPOLOGI : cacing Schistosoma merupakan trematoda berbentuk panjang, unisexual.
Cacing jantan pipih seperti daun, sedangkan cacing betina bentuknya gilig dan ukurannya
lebih panjang. Cacing betina pada umumnya melekat pada cacing jantan, terutama pada
saat kopulasi disebabkan karena pada bagian ventral cacing jantan terdapat suatu celah
yang berbentuk silindris dan mengikuti sisi lateral tubuh yang dinamakan canalis
gynaecophorus .
Sucker (batil isap) tidak jelas atau menutup dan tidak memiliki sucker. Testis terbentuk 4
lobi atau lebih lobi yang menempati bagian anterior atau posterior. Ovarium memanjang
dan kompak. Glandula vitelaria terletak dibelakang ovarium.
Ukuran tubuh cacing schistosoma berbeda-beda tergantung spesiesnya. S. javanicum
jantan panjang 9,5 –20 mm dan lebarnya 0,55 – 0,99 mm. Sedangkan cacing betina 12-26
mm. Telur cacing ini memiliki selaput yang tipis dan tidak memiliki operculum. Pada
dinding memiliki spina (duri) yang terletak disebelah lateral atau terminal. Ukuran telur
bervariasi tergantung spesies dengan kisaran 70 – 100 X 50-80 mikron.

SIKLUS HIDUP
Cacing betina dewasa yang telah siap untuk bertelur akan segera memasuki pembuluh
darah kecil sampai jauh kedalam atau mukosa intestinum untuk meletakkan telurnya .
beberapa telur dapat terbawa aliran darah dan kemudian dapat dijumpai dalam hati dan
organ-organ lainnya.
Telur cacing berjumlah 300 – 3500 butir per hari akan ada yang terbebas di dalam lumen
usus dan terbawa keluar bersama tinja saat defikasi.
Setelah telur keluar bersama tinja saat defikasi di alam luar pada kondisi yang menunjang
( cahaya, suhu 25-30oC, PH 5-8 ) telur akan menetas dan terbebaslah larva mirasidium

8
larva mirasidium yang terbebas akan berenang selama 16-24 jam untuk menginfeksi HI
yaitu siput jenis Bulinus sp., Oncomelania sp.. Seandainya tidak menemukan inang antara
yang serasi maka mirasidium akan mati. Mirasidium menembus tubuh siput dan
melepaskan silianya selanjutnya mengembara kearah kelenjar pencernaan dan berkembang
menjadi sporokista generasi I dan berkembang membentuk sporokista generasi ke II,
kemudia menghasilkan cercaria dengan ekor bercabang ( furcocercous) .
Infeksi terjadi dengan menembus kulit sapi (hospes) pada waktu sapi kontak dengan air.
Proses penembusan kulit itu dibantu oleh ludah yang mengandung enzem proteolitik yang
dikeluarkan oleh kelenjar ludah daerah kepala. Cacing muda (Schistosumola) tersebut
berkumpul dalam saluran darah vorta tempat predeleksinya, mungkin mengikuti aliran
darah.

FAMILIA : ECHINOSTOMATIDAE
Cacing daun berbentuk agak memanjang dengan ventral sucker yang besar dan kuat
terletak tidak jauh dari oral sucker. Oral sucker dipersenjatai oleh spinae disebelah dorsal
dan lateral.

GENUS : ECHINOSTOMA
Spesies : E. revolutum
Predeleksi : didalam rektum dan caecum bangsa bebek, bangsa burung air dan unggas.
Morfologi : cacing daun berbentuk agak memanjang dengan ventral sucker yang besar dan
kuat terletak tidak jauh dari oral sucker. Oral sucker dipersenjatai oleh spina disebelah
dorsal dan lateral. Panjang tubuh 10-22 mm, lebar 2,25 mm. Oral sucker dipersenjatai oleh
37 spina. Testis memanjang atau oval terletak sedikit posterior dari tengah-tengah tubuh
dengan ovarium terletak didepannya. Telur berukuran 90 – 126 X 59 – 71 mikron.

SIKLUS HIDUP
Siklus hidup pada perinsipnya sama dengan Fasciola sp., tetapi HI nya lain dan cercaria
yang keluar akan memasuki HI lain ialah bangsa siput atau amphibi atau ikan dan
mengkista disana. Hospes definitif terinfeksi dengan memakan HI kedua yang
mengandung kista infeksius tersebut. Sebagai HI pertama adalah siput jenis Lymnaea,
Planorbis dan Physa. Sedangkan HI kedua ialah Fossaria, vivipora dan Sphaerium

9
LIFE CYCLES OF DIGENETIC TREMATODES

ADULT FLUKE
IN
DEFINITIF HOST

EGG

MIRACIDIUM

MIRACIDIUM MOTHER SPOROCYST

HI SPOROCYSTS

(MOLUSCA)

REDIA

CERCARIA

PENETRATE ENCYSTE ENCYST


DIRECTLY IN ON IN
HOST HERBAGE MOLLUSC
(1) (2,3) (4)

ADULT FLUKE IN HOST

10
1. Schistosoma sp. 2. Fasciola sp. 3. Paramphistomum sp. 4. Echinostoma sp.

11
12