DEWAN KELAUTAN INDONESIA DEWAN KELAUTAN INDONESIA

PERUMUSAN KEBIJAKAN LINTAS PERUMUSAN KEBIJAKAN LINTAS SEKTORAL SEKTORAL DALAM RANGKA PERCEPATAN DALAM RANGKA PERCEPATAN PEMBANGUNAN PERIKANAN, PARIWISATA PEMBANGUNAN PERIKANAN, PARIWISATA BAHARI DAN JASA KELAUTAN BAHARI DAN JASA KELAUTAN
Hotel Jayakarta, 06 Nopember 2008 Hotel Jayakarta, 06 Nopember 2008

LATAR BELAKANG
1. Bahwa UUD 1945 (perubahan Pasal 25A) “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan” mempertegas jatidiri Indonesia sebagai negara kepulauan dan bahari yang menjadi potensi utama pembangunan nasional. 2. Bahwa Indonesia selain sebagai negara kepulauan terbesar, juga menempati posisi geografis yang sangat strategis, yang berada di jalur penting perdagangan dunia.
Los Ang. Long Beach New York
West Cost East Cost

Rotterdam Antwerp Europe
Dubai
TimTeng

Hongk ong Shang Jpn hai Korea Shenz China en Taiwn Kaoshi Asteng ung

Pusan Tokyo Yokoha ma

… fully 90 percent of International trade is carried by sea

South Afrc

Singa pura Laem Chab … ng 40 PortK percent lang lewat Tg Indonesia Priok

Austr. NZ

Sidney Melbourne Auckland

3. Bahwa dalam kenyataannya, lima puluh tahun setelah Deklarasi Djoeanda dan dua puluh lima tahun setelah UNCLOS 1982, pembangunan kelautan Indonesia belum menjadi Mainstream untuk memanfaatkan laut secara optimal. 4. Bahwa kondisi ekonomi kelautan Indonesia masih memprihatinkan dan belum dikembangkan dengan baik .

TUJUAN Untuk mengidentifikasi adanya kebijakan sektoral yang kurang mendukung pembangunan perikanan, pariwisata bahari dan jasa kelautan.

SASARAN 1. Tersusunnya kajian yang dapat mempercepat pembangunan perikanan, pariwisat bahari, dan jasa kelautan yang menjadi tupoksi lembaga pemerintah terkait. 2. Tersedianya rencana tindak (action plan) untuk rancangan rencana tindak dari ketiga sektor terkait yaitu perikanan, pariwisata bahari dan jasa kelautan.

Pariwisata Bahari.TUGAS DEKIN RENSTRA SEKTOR: 1. dan Pelayaran RPJM RPJP Nasional . DEPHUB Kesepahaman antar Kesepahaman antar Menteri Menteri Ttg Pembangunan Ttg Pembangunan Berkelanjutan Berkelanjutan Kelautan Indonesia Kelautan Indonesia Dukungan Kebijakan Lintas Sektoral PERMASALAH AN Analisis Keterpaduan Lintas Sektoral Strategi Kebijakan Pencapaian G O A LS Target Percepatan Pembangunan Perikanan. DKP 2. DEPBUDPAR 3.

SEKTOR PERIKANAN .

dan Papua. Teluk Tomini. Selatan Jawa. Meningkatnya kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir. Maluku Utara. Utara Jawa.000 unit dengan ukuran masing-masing +5 GT. payau dan air tawar) yang baru seluas 100. dan Selat Makasar. 3. Maluku Utara dan Papua Utara. Teluk Tomini. Teluk Tomini. Maluku dan Papua Selatan. Terbangunnya kawasan industri (cluster) pengolahan ikan terpadu dengan pusat-pusat distribusi dan pemasaran pada kawasan-kawasan di pesisir/perairan Barat Sumatera. Selat Karimata. Talaud.Perikanan 2025 1. Terbangunnya kawasan budidaya perikanan (marikultur. Selat Karimata. Terbangunnya kapal ikan baru sebanyak 5000 unit dengan ukuran masing-masing + 70 GT dan armada semut sebanyak 25. Utara Jawa. Teluk Tomini. Nusa Tenggara. Nusa Tenggara.. Selatan Jawa. Selat Karimata. dan Selat Makssar. 2. Maluku Utara dan Papua Utara. Sulawesi Utara. dan di pesisir Timur Sumatera. . Sangihe.000 Ha yang tersebar di pesisir Timur Sumatera. 4. Maluku. Nusa Tenggara. Selat Karimata. Maluku Utara. Maluku dan Papua Selatan. yang tersebar di pesisir/perairan Barat Sumatera. Nusa Tenggara. Maluku dan Papua.

. Bahkan lebih dari separuh sarana dan prasarana pelabuhan perikanan tidak difungsikan. 3. dan pertambahan kapal ikan sangat kurang berarti dibandingkan dengan ribuan kapal asing yang diduga melakukan illegal fishing di perairan dan yurisdiksi Indonesia. Nelayan dan pembudidaya ikan masih merupakan kelompok termiskin. khususnya perikanan laut masih sangat terbatas. Demikian pula kawasan-kawasan industri pengelolaan ikan belum terbangun.Saat ini 1. Armada kapal ikan bermotor yang dapat mencapai ZEEI masih sedikit.7%. Kontribusi sektor perikanan terhadap PDB masih belum berarti. 4. 7. 2. 5. 6. hanya sekitar 2. Pertambahan kawasan budidaya perikanan pun masih sangat kurang dan tidak signifikan. Disamping itu lembaga pembiayaan untuk mengembangkan perikanan.

. Unregulated. fiskal dan investasi belum kondusif.Permasalahan 1. Belum adanya dukungan permodalan yang memadai. yang terjadi karena masih lemahnya penegakan hukum (law enforcement) di laut. 3. Belum ada kebijakan yang mengatur secara jelas kewenangan daerah tentang wilayah sonasi penangkapan ikan terkait dengan amanat dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 4. Kebijakan moneter. 2. and Unreported (IUU) fishing. Masih banyaknya praktek Illegal.

9 .

615 1.43 -65.358 142.89 2.763 92.Komoditi Volume (Ton) Udang Tuna.24 -19.579 2000 519.084 419.643.421 888.783 137.797 2003 857.126 -0.205 2002 565.785 490.133 128.011 615.636 117.46 5.58 13. Cakalang.296 618.284 490.75 23.722 12 40.387 20. Tongkol Mutiara Rumput Laut Lainnya Tahun 1999 644.222 2 51.230 431.605.830 84.21 5.426 16.45 2.833 887.670 407.128 20.216 1.35 4.01 9.092 2004 902.20 0.511 542.031 1.741 124.503 243.375 6 28.074 1.188 92. Cakalang.471 15.604 109.190 1.073 287.00 27.047 212.29 -86.01 2003-2004 5.780.881 1.542 850.982 9 23.1662 562.182 1.53 73 25.675.937 5.651 90.002.20 3.39 10.680 218.33 14.26 8.560 319.958 2001 487.990 25.343 223.426 11.353 839.221 Kenaikan Rata-rata 1999-2004 9.03 10 .686 15.570.094 94.179 17.899 939.631.56 -9. Tongkol Mutiara Rumput Laut Lainnya Nilai (1000 US $) Udang Tuna.36 16.122 22 27.949 213.34 189.257 17.46 14.607 5.874 246.419 116.916 25.866 25.

dll .Perlu dukungan Kebijakan Lintas Sektor -Kelautan dan Perikanan -Perdagangan -Hukham -Keuangan -Deplu -Perhubungan -Depdagri -Tata Ruang dan Lingkungan Hidup.

000 unit perahu. Selatan Jawa. Nusa Tenggara. 2. yang tersebar di perairan Barat Sumatera. Meningkatkan ketersediaan dan keandalan prasarana. antara lain melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi keikutsertaan (kemitraan) pelaku ekonomi/swasta dalam pembangunan dan pengoperasian prasarana industri perikanan. sarana dan sistem jaringan perikanan.ARAHAN KEBIJAKAN 1. Mendorong percepatan terbangunnya kapal ikan baru sebanyak 5000 unit dengan ukuran masing-masing ± 70 GT. insentif pajak dan jaminan berusaha yang kondusif bagi pelaku perikanan. Selat Karimata. Maluku Utara. 3. Ciptakan iklim investasi sektor perikanan yang baik. Teluk Tomini. dan armada semut sebanyak 25. Maluku dan Papua. Percepatan pembentukan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) sebagai sentra industri perikanan terpadu di Bitung dan Papua. 4. melalui kebijakan perkreditan dengan kemudahan akses modal. aspek perijinan. .

di Jawa) dan membuka area baru bagi usaha “marikultur” sebanyak 50. Teluk Tomini. baik di ZEE maupun di perairan nusantara dan laut teritorial. Selat Karimata. Maluku Utara. . Mengembangkan sistem manajemen yang baik dalam pengamanan di perairan laut sehingga penurian ikan (Illegal Fishing) oleh kapal ikan asing masih cukup besar.5. sehingga banyak investor yang secara serius tertarik untuk terjun ke dunia bisnis perikanan.000 ha terutama di kawasan timur Indonesia. 7. Mendorong tersedianya modal usaha perikanan. Selatan Jawa. dari lembaga-lembaga keuangan pemerintah dan lembaga keuangan nonpemerintah dengan memberikan kemudahan fasilitas permodalan pada pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Membangun kawasan industri (cluster) pengolahan ikan terpadu dengan pusat-pusat distribusi dan pemasaran pada kawasan Barat Sumatera. 6. Maluku. Sulawesi Selatan. 8. Mengintensifkan area pertambakan udang dan ikan yang terbengkalai (di Sumatera Selatan. Nusa Tenggara. Papua dan Selat Makasar.

SEKTOR PELAYARAN .

dan Ambon. dan Bitung yang didukung oleh sub-sub system pelabuhan di dalam tatanan pelabuhan nasional yang berdaya saing. yaitu di Banda Aceh. Terbangun 6 Sekolah Tinggi Pelayaran yang merupakan center of excellences berstandar internasional. Bitung. b. Terbangun 2 kawasan industri galangan kapal utama nasional. d. Jakarta. yaitu 40 persen kegiatan ekspor impor. Makasar.Pelayaran 2025 a. Terbangun sekurang-kurangnya 3 pelabuhan hub-internasional yaitu di Sabang. yang terpadu dengan sistem SMK pelayaran berstandar internasional di kota-kota pesisir. Terbangunnya armada pelayaran nasional yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan di dalam negeri dan berdaya saing internasional sehingga dapat berperan fair share. khususnya dalam system distribusi logistik nasional dan angkutan penduduk antar pulau c. Pelayaran rakyat mendapat peranan penting dalam pelayaran nusantara. Batam. . Semarang. yaitu di BatamBintan-Karimun dan Bitung e. Batam.

Saat ini 1. 2. hingga saat ini belum berkembang. 5.6 % muatan angkatan laut asing dan 46. Daya saing sumberdaya manusia pelayaran. 6. baik pelaut maupun sumberdaya manusia di industri pelayaran masih relatif rendah. Industri galangan kapal. 100 Triliun dan menghasilkan defisit pada transaksi berjalan. yaitu membayar jasa kepada kapal luar negeri lebih besar ketimbang mendapat penerimaan dari komoditi yang diekspor. 7. Ditinjau dari segi daya saing. dan tidak produktif.8 % muatan angkutan laut dalam negeri dikuasai oleh kapal berbendera asing. Akibatnya setiap tahun Indonesia membayar kapal asing Rp. yang sebenarnya sangat strategis karena mempunyai rantai hulu-hilir yang panjang. . Sebesar 96. tidak aman. 4. saat ini hanya berperan sebagai cabang atau ranting dari Singapura atau pelabuhan luar negeri lainnya serta pelayanannya masih tidak efisien. yaitu sekitar 5 % untuk internasional dan 46 % untuk dalam negeri. Kontribusi sektor industri pelayaran terhadap PDB baru sekitar 1. pangsa muatan armada kapal nasional sangat rendah. 3. Sistem pelabuhan.64 %.

Permasalahan 1. 3. dan biaya yang diberlakukan terhadap kapal-kapal berbendera Indonesia. 5. 5/2006 telah menunjukan hasil. seperti adanya pungutan yang dikenakan pada proses perizinan. namun masih perlu lebih diefektifikan utamanya kemudahan di sektor keuangan. INPRES No. sedangkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak mengenakan pajak. Kewajiban perusahaan pelayaran Indonesia untuk melakukan sertifikasi masih terkendala biaya tinggi. 4. . Pajak kapal dirasakan terlalu besar. Kebijakan yang diberlakukan terhadap kapal yang berlayar di perairan Indonesia menimbulkan high cost economy yang membebani para pelaku usaha. sehingga membuat para pengusaha pelayaran enggan melakukan sertifikasi. sbg syarat mendapatkan asuransi untuk mendapatkan pinjaman Bank 2. Otonomi daerah telah mendorong pemda untuk mengembangkan pelabuhan di daerahnya sendiri.

381 1. JENIS PERUSAHAAN 2002 888 238 1.126 JUMLAH PERUSAHAAN 2003 2004 2005 2006 1.030 Jumlah Perusahaan 1000 800 600 400 888 238 200 0 267 300 317 330 346 2 0 0 6 2 0 0 4 2 0 0 2 2 0 0 3 2 0 0 5 2 0 0 7 Tahun SIUPAL SIOPSUS NO.030 267 1.589 1.381 330 1.150 300 1.272 1200 1.711 -18- 1 2 SIUPAL : SIOPSUS : ANGKUTAN LAUT (SIUPAL) ANGKUTAN LAUT KHUSUS (SIOPSUS) TOTAL Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut Surat Izin Operasi Perusahaan Angkutan Laut Khusus .139 1.PERKEMBANGAN PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT NASIONAL 1600 1.272 317 1.485 1400 1.297 1.450 1.

PERKEMBANGAN ARMADA NIAGA BERBENDERA NEGARA ASEAN (RIBUAN DWT) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Negara Brunei Cambodia Indonesia Malaysia Myanmar Philippines Singapore Thailand Vietnam Posisi 1 Jan 2005 422 5038 8709 656 7008 40943 4383 2127 Posisi 1 Jan 2006 421 5308 7755 645 7129 48562 4591 2479 Posisi 1 Jan 2007 421 2700 6392 8571 574 6704 51043 4320 3144 % Change 2005-2006 0 5 -11 -2 2 19 5 17 % Change 2006-2007 0 20 11 -11 -6 5 -6 27 -19- Sumber : Review of Maritime Transport 2007. UNCTAD .

2 (34.4 (38.5 (55.7 (65.3 (61.3 2006 135.7%) 227.3 (54.3 (46.9 -20- .5%) 91.7 2007 148.5%) 206.% Juta Ton No 1 2 Muatan Nasional Asing Jumlah 2004 101.0%) 86.8 (44.3%) 79.3%) 85.6 2005 114.7%) 220.0%) 187.

0 60.9 -21- .0%) 493.6 (5.0%) 468.1 80.5%) 465.PENINGKATAN PANGSA MUATAN PELAYARAN NASIONAL UNTUK ANGKUTAN LAUT LUAR NEGERI % 100.5 (94.3 94.7 2006 Kapal As ing 5.0 94.5 95.0 2005 Kapal Nas ional 5.5%) 448.4 (5.8 (94.4 (95.1%) 531.0 2006 29.0 3.3 (3.0 2004 5.3%) 515.0 96.8 (96.9%) 500.4 (5.9 2007 Juta Ton No 1 2 Muatan Nasional Asing Jumlah 2004 16.0 40.5 0.1 2005 24.2 2007 31.7%) 485.0 20.

Perlu dikembangkan kawasan berikat 5. Perlu dukungan lintas sektor . Tidak bisa bersaing 3. Minim fasilitas 2.Pelabuhan tua .Kendari 1. Pemda mau relokasi dan mengembangkan agar bisa ocean going 4.

Mengintegrasikan usaha hulu (sejak penyediaan bahan baku) sampai hilir (jasajasa yang berkaitan). 5. perlu dilaksanakan dengan tidak menggunakan waktu lama serta biaya yang logis. Mengembangkan pelabuhan Nasional dan Lokal. Azas cabotage sesuai INPRES 05 Tahun 2005 harus dilaksanakan secara tegas dan konsisten 3.ARAHAN KEBIJAKAN 1. Perlu dibangun kawasan industri galangan kapal utama Nasional di Batam-BintanKarimun dan Bitung. Batam dan Bitung yang didukung oleh sub-sub sistem pelabuhan di dalam tatanan pelabuhan nasional yang berdaya saing. 6. Sistem sertifikasi untuk keselamatan dan keamanan pelayaran yang sesuai dengan standard IMO. 4. Kebijakan fiskal dan pendanaan yang layak dan logis untuk mendukung percepatan industri pelayaran. Perlu dibangun 3 buah internasional hub port. . 7. 2. yaitu di Sabang. yang memenuhi standartpelayanan internasional.

SEKTOR PARIWISATA BAHARI .

Pulau Banyak. Parang Tritis. Lombok. yachting dan diving. Kupang. dan Raja Empat. .Pariwisata Bahari 2025 1. antara lain: di Pulau Weh. Bali. Komodo. Pulau Rupat. Alor. dan Mapia. Bintan Kepulauan Seribu. Pangandaran. Terbangunnya daya saing kawasan pariwisata bahari andalan yang telah ada. Talaud. antara lain: di Pulau Nias. Takabonerate. Lembata. Wakatobi. Pulau Enggano. Sangihe. 3. Ternate. Banda. Moyo. Siparamanita. Roti. Togean. Banggai. Anambas. Bunaken. 2. Terbangunnya industri pariwisata yang tangguh yang didorong oleh tiga pilar usaha pariwisata bahari : cruising. Mentawai. Pelabuhan Ratu. Biak. Natuna. Krakatau. Terbangunnya sarana dan prasarana kawasan pariwsata bahari baru. Derawan. Kepulauan Bangka Belitung. Batam.

meningkatkan pendapatan masyarakat. INPRES No. Industri hulu-hilir pariwisata kelautan termasuk multimoda transportasi dan jasa hospitality juga belum berkembang. 2.16 % (2002). mendatangkan devisa bagi negara. Namun demikian hingga saat ini pariwisata kelautan nasional belum berkembang yang ditunjukan oleh kontribusi terhadap PDB masih sangat kecil. 3. Pengembangan pariwisata bahari diyakini dapat mempunyai efek berganda (multiplier effect) yang dapat menyerap tenaga kerja.Saat ini 1. dan dapat menumbuh-kembangkan budaya bahari dan mendorong konservasi lingkungan. yaitu sebesar 2.16/2005 tentang Kebijakan pembangunan Kebudayaan dan Pariwista dinilai masih belum efektif dijalankan. Rangkaian/calendar event dan object (kawasan tujuan) pariwisata kelautan nusantara belum terbangun. sehingga masih ada kendala CIQP dalam penyelenggaraan wisata bahari (utamanya wisata layar) .

037.053.033.09 970.98 5.48 107.69 9.59 100.871.165 5.620 5.05 9.26 10.74 901.759 12.002.135.02 4.89 4.09 9.467.Tahun Jumlah Wisatawan Mancanegara Rata-rata pengeluaran per orang (usd) Per Kunjungan 1.29 93.400 4.88 4.49 9.02 5.86 100.56 4.42 91.797.396.101 4.26 903.217 5.18 1.064.021 5.98 Sumber: Statistical Report on Visitor Arrivals to Indonesia 27 .80 5.153.79 9.27 95.351 5.66 904.17 99.98 Per Hari 92.305.36 893.26 4.345.447.321.521.47 9.748.70 Rata-rata lama tinggal (hari) Penerimaan devisa (juta usd) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 5.00 913.505.

PENYEGELAN 105 KAPAL LAYAR Minggu. Kota Kupang. Memotivasi Pemerintah Daerah 7. Membuka wawasan pesisir dan pulau kecil 6. Merupakan agenda layar dunia yang diminati 3. Penyegelan itu memberikan citra buruk bagi program Visit Indonesia Year 2008. Mempromosikan potensi daerah secara langsung dan murah 9. MINGGU . Sudah berlangsung lebih dari 5 tahun 2.Penyegelan terhadap 105 kapal turis di Pantai Koepan. Merupakan the Largest Rally in Asia (SI-2006) 8. Menjangkau 10 Destinasi di Nusantara 5. 4. 3 Agustus 2008 | 19:40 WIB JAKARTA.SAIL INDONESIA 1. Nusa Tenggara Timur pada 29 Juli merupakan salah satu bukti kurang seriusnya pemerintah dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata. Merangkai kawasan dengan satu untaian acara . Ke-105 unit kapal atau yacht yang sedang berlabuh di Pantai Koepan dan dan sedianya mengunjungi sejumlah daerah di Indonesia disegel petugas bea dan cukai Kupang karena belum mengajukan surat pemberitahuan impor barang (PIB). Diikuti oleh lebih 20 negara KOMPAS.

sepeti Darwin-Ambon Jacht race.Permasalahan Wisata Layar 1. 3. Pengurusan CIQP masih perlu diperbaiki. ternyata sekitar 45 kapal layar masih belum diketahui keberadaannya. yang dapat dibebaskan bea-masuknya apabila ada Jaminan dari Pejabat eselon 1. Adanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 140/PMK. Regatta dan Saumlaki yang tidak dikenakan ketentuan PMK 140.04/2007 tentang Impor Sementara yang memberlakukan kapal. termasuk kapal layar pesiar (yacht) sebagai barang impor sementara. 4. utamanya mengenai durasi VoA (Visa on Arrival) maupun visa bisnis yang dinilai masih kurang lama dan tidak konsisten dengan durasi dari CAIT. Kasus SI 2006 dan 2007. ) . Ada diskriminasi perlakuan thdp kegiatan wisata layar lainnya. dan ini menyebabkan Depbudpar sbg PENJAMIN diharuskan membayar uang jaminan . Persoalan ini tampaknya akan terulang lagi pada SI 2008. 2.

Cukup dengan Visa dan CIQP. 2004)? . Dapat kah diperpanjang menjadi 4 bulan (agar dapat menjangkau wilayah Indonesia yang sangat luas dan memaksimalkan masa “teduh” perairan antara Juli – Nopember (studi Bappenas.Mabes TNI dan Dephub (harus diurus di Jakarta) Masa Berlaku : 3 (tiga) bulan Dapat diperpanjang tetapi harus keluar wilayah Indonesia dahulu. Thailand dan Maldives (mungkin juga di negara lain). 2. CAIT tidak dikenal di negara Australia.Biaya : 150 USD/kapal (diurus lewat agen) Lama pengurusan : 3-5 Minggu Instansi : Deplu. DISKUSI : 1. Singapura. Malaysia. Dapatkah diurus di Kedutaan besar (studi BAPPENAS 2004)? 3. Perlu dikaji ulang kemungkinan CAIT ditiadakan /disederhanakan (bahan Rapat IMT-GT 2002 di Thailand).

Ekonomi di daerah2 terpencil berkembang. Akan banyak Yachter mancanegara. Devisa meningkat. KARENA TIDAK ADA KAPAL LAYAR YANG MASUK. Bila terjadi maka diproses menurut aturan hukum PIDANA. Perlu diwaspadai jual-beli illegal. Terjadi pemerataan pembangunan . karena proses nya pasti terpantau jelas. Itupun hanya di kalangan hobiist yang sangat kecil. 2. BILA PMK 140 DICABUT. Faktor resiko jual beli illegal ditaksir minimal kurang dari 5%. kualifikasi kapal layar yang mewah – hanya mampu dibeli oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. BILA PMK 140 TETAP DIBERLAKUKAN . Tanpa ada jaminan Pejabat Pemerintah maka tidak akan ada yachter mancanegara yang akan ke Indonesia.DISKUSI 1. . Ini hanya bisa untuk event Nasional yang punya kepanitiaan PASTI TIDAK AKAN ADA KEHILANGAN /KEBOCORAN PENDAPATAN NEGARA AKIBAT DARI JUAL BELI KAPAL. Tidak perlu khawatir dengan jual-beli secara legal.

Visa : Sosial Budaya Lama : 2 bulan (diusulkan untuk tujuan wisata bahari/layar menjadi 4 bulan) Kasus : Di Kupang ada yang menggunakan agen perorangan sehingga ada sekitar 15 kapal yang dikenakan biaya tambahan Rp 150 ribu/orang .

Di Alor ada biaya dari PELINDO Ada perda Retribusi atas biaya tambat kapal. Adakah formula atau ketentuan untuk tarif atas jasa-jasa pelabuhan? Apakah kapal yang berlabuh di luar pelabuhan juga dikenakan pengutan jasa pelabuhan? Pada umumnya peserta sail berlabuh di luar wilayah pelabuhan. 3.Masalah : 1. . Apakah dibenarkan PELINDO memungut biaya? Bagaimana dgn retribusi daerah? 2. DISKUSI : 1. 2. Tarif biaya labuh dan Jasa Lampu tidak seragam. 4. 3.

(10..Perlu diinformasikan sebelumnya. Bila ini diperbolehkan. SARAN a.000.Perlu dikaji dasar hukum dan besaran retribusi yang layak.000 USD). b.000..Daerah lain akan mengikuti 2./kapal untuk 3 hari tambat.Apabila ada 40 daerah singgah.Sail Indonesia dijadikan obyek PAD di Kabupaten Dompu (Perda 5/2002) sebesar Rp 750.000. maka tiap kapal akan mengeluarkan biaya “sunk-cost” sebesar = Rp 90. maka : 1. .

Dimana ? Kupang untuk sementara (1-2 tahun) sulit utk jadi entry point karena sudah terlanjur citranya buruk. . Singapura : SYC dan Raffles Marina Thailand : phuket dan Krabi Indonesia perlu menetapkan point of entry and exit .Semua Negara membatasi point of entry and exit.

3. Mentawai. Parang Tritis. Togean. Anambas. kepulauan Bangka Belitung. Krakatau. 4. Kepulauan Seribu.Arahan Kebijakan 1. Lombok. Pelabuhan Ratu. Pulau Rupat. Bintan. Derawan. dan Raja Ampat. Membangun sarana dan prasarana untuk meningkatkan aksesibilitas. Kabupaten Sangihe. Banda Takabonerate. Biak dan Mapia. Bali. Kabupaten Talaud. Pulau Roti. Pulau Enggano. Siparamanita. Lembata. 2. Membangun kekuatan daya saing dari kawasan pariwisata bahari andalan yang telah ada. Batam. Pangandaraan. Ternate. Alor. banggai. Moyo. Membangun prasarana dan saranan kawasan pariwisata bahari di Pulau Weh. . Bunaken. antara lai: di Pulau Nias. Kupang. Pulau Banyak. keselamatan dan kesehatan untuk mendukung pariwisata bahari. Wakatobi. Natuna. Membangun kesepakatan politik untuk mengembangkan pariwisata bahari sebagai primadona pariwisata masa depan. Komodo.

Penatalaksanaan karantina yg lebih efektif. Pengaturan retribusi daerah utk kegiatan wisata layar. termasuk kebijakan penata-laksanaan kegiatan wisata layar di Indonesia. Pembatasan pintu masuk utk wisata layar. e. Pemberian visa khusus selama 4 bulan utk kegiatan wisata layar. Peraturan utk kapal layar yg berlabuh di luar wilayah pelabuhan. b. secara bersama dengan seluruh instansi terkait: a. d. . f. Mengefektifkan INPRES No. c. Penyederhanaan pengurusan CAIT dan perpanjangan masa berlaku jadi 4 bulan.16/2005 untuk mendorong percepatan pengembangan wisata bahari.Arahan Kebijakan 5. g. Perbaikan PMK 1402007 terkait dgn kapal wisata /layar.

dkp.TERIMA KASIH Dewan Kelautan Indonesia Kunjungi Situs Kami www.id .dekin.go.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful