P. 1
MEWUJUDKAN PERKANTORAN YANG RAMAH LINGKUNGAN BERKONSEPKAN ”ECO OFFICE” DI PROVINSI DKI JAKARTA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KETERBATASAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

MEWUJUDKAN PERKANTORAN YANG RAMAH LINGKUNGAN BERKONSEPKAN ”ECO OFFICE” DI PROVINSI DKI JAKARTA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KETERBATASAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

|Views: 1,047|Likes:
Tugas Ilmu Lingkungan mengenai upaya peningkatan daya dukung lingkungan terhadap permasalahan yang terjadi di perkotaan DKI Jakarta. Upaya yang dilakukan penghematan energi listrik, hemat air, pengelolaan sampah, pelestarian lingkungan
Tugas Ilmu Lingkungan mengenai upaya peningkatan daya dukung lingkungan terhadap permasalahan yang terjadi di perkotaan DKI Jakarta. Upaya yang dilakukan penghematan energi listrik, hemat air, pengelolaan sampah, pelestarian lingkungan

More info:

Published by: Nur Fadli Hazhar Fachrial on Oct 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

TUGAS INDIVIDU MEWUJUDKAN PERKANTORAN YANG RAMAH LINGKUNGAN BERKONSEPKAN ”ECO OFFICE” DI PROVINSI DKI JAKARTA SEBAGAI UPAYA

PENINGKATAN KETERBATASAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Dalam Mata Kuliah: ILMU LINGKUNGAN

DOSEN : Dr. BETSY SIHOMBING, M.Si

DISUSUN OLEH : NUR FADLI HAZHAR FACHRIAL, ST NO REG : 7416100274

PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA TAHUN 2010

2

MEWUJUDKAN PERKANTORAN YANG RAMAH LINGKUNGAN BERKONSEPKAN ”ECO OFFICE” DI PROVINSI DKI JAKARTA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KETERBATASAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Sampah Perkantoran Aktivitas rumah tangga, pasar, dan lainnya di Provinsi DKI Jakarta menyisakan 600 ribu ton sampah setiap harinya. Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat rumah tangga menjadi penyumbang terbesar sampah dengan porsi 52,97 persen, pasar 4 persen, sekolah 5,32 persen, dan selebihnya perkantoran serta industri sebesar 37,72 persen. Ini berarti total perkantoran dan industri menghasilkan total sampah berkisar 226.320 ton setiap harinya. Kita ketahui bahwa jenis sampah yang dihasilkan oleh perkantoran maupun industri terbanyak berupa sampah non organik seperti kertas, peralatan perkantoran yang terbuat dari plastik, botol minuman ringan, kardus, fiber glass sedangkan sampah yang dihasilkan oleh industri berupa limbah cair dan padat seperti minyak hitam (oli), cecairan kimia, peralatan industri tidak terpakai (mesin-mesin), peralatan elektronik. Selama ini penanganan sampah perkantoran dan limbah industri tersebut hanya dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah akhir didaerah masingmasing. Meskipun untuk kalangan industri tertentu penanganan sampah atau limbah industri sudah ada yang bekerja sama dengan perusahaan pengolahan limbah untuk meminimalisir efek kepada lingkungan. DKI Jakarta sebagai pusat

1

pemerintahan, pusat hiburan dan bisnis memiliki banyak sekali perkantoran dan gedung-gedung bertingkat sebagai penunjang dan fasilitas perekonomian serta pemerintahan. Penanganan limbah hasil perkantoran baik yang berupa limbah cair maupun padat sudah seharusnya ditangani secara serius untuk mengurangi dampak pembuangan sampah tersebut pada lingkungan. Melakukan pengolahan kembali atau daur ulang sampah dan limbah perkantoran menjadi material yang dapat dipergunakan kembali sangat membantu pelestarian lingkungan terutamanya Pepohonan di area hutan sebagai bahan baku pembuatan kertas, kardus. Minyak bumi sebagai bahan baku pembuatan bijih plastik untuk membuat peralatan kantor, botol minuman kemasan. Mineral tambang seperti Magnesium, Seng (Zn), Timah, Tembaga, Tin sebagai bahan peralatan elektronik serta Silika bahan baku pembuatan botol minuman dari kaca. Konsumsi Air Bersih Perkantoran Konsumsi air bersih didaerah perkotaan setiap tahun akan terus meningkat. Seiring perkembangan wilayah DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan, ekonomi dan bisnis serta pemukiman kota hal ini perlu penanganan serius. Selama ini air bersih di DKI masih menggunakan air tanah sebagai sumber baku yang mudah terjangkau dan murah. Volume air tanah di DKI Jakarta terus mengalami penyusutan hingga 66,6 juta meter kubik per tahun. Penyusutan volume air tanah di DKI ini juga menyebabkan permukaan tanah di Jakarta terus mengalami penurunan antara 18 hingga 18-26 centimeter setiap tahunnya. Dengan estimasi penduduk Jakarta pada 2010 sebanyak 10 juta jiwa, seharusnya pemerintah bisa memasok kebutuhan air bersih sebesar 150 liter untuk setiap jiwa. Sehingga total kebutuhan air per tahun untuk wilayah DKI mencapai 547,5 juta meter kubik. Besarnya kebutuhan tahunan akan air bersih tersebut memerlukan perhatian dari pemegang kebijakan. Akibat yang ditimbulkan dari pengambilan air tanah sangatlah buruk dan sekarang pun dampak tersebut sudah kita rasakan yaitu dengan adanya intrusi air laut yang masuk ke daratan telah menjangkau daerah utara Jakarta seperti Kelapa Gading. Apabila hal ini dibiarkan tanpa penanganan kebijakan akan membuat semakin buruk dan sulit ditanggulangi. Salah satu yang

2

mudah untuk dilakukan adalah dengan upaya penghematan air. Perkantoran, Pemukiman dan Tempat-tempat di Jakarta yang banyak mengkonsumsi air seperti Mall dan Hotel-hotel perlu disosialisasikan untuk penghematan penggunaan air. Area Hijau Perkotaan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara terus mengalami perkembangan. Namun demikian DKI Jakarta sebagai Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas.Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Salah satu program pembangunan lingkungan hidup yang menjadi prioritas Pemerintah Provinsi DKI adalah penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) secara bertahap. Saat ini luas areal RTH yang baru diakui mencapai 9,3 persen dari total luas daratan DKI seluas 661,52 km2. Jika dilihat secara proporsional Ruang Terbuka Hijau DKI sangat jauh sekali dari yang seharusnya yaitu kurang dari 10 persen atau 6.615 ha2 dari total area keseluruhan. Fungsi Ruang Terbuka Hijau salah satunya ialah sebagai paru-paru kota dimana pada area tersebut ditanami sejumlah pepohononan yang nantinya dapat menyerap gas karbondioksida (CO2) dan menghasilkan Oksigen (O2). Kebutuhan akan RTH ini akan semakin meningkat, Populasi penduduk DKI Jakarta yang 10 juta jiwa sebagian besar beraktivitas pada siang harinya untuk bekerja di dalam maupun diluar area perkantoran. Didalam area perkantoran misalnya pada Gedung-gedung perkantoran, Mall, Hotel, Restoran, Rumah Sakit, Sekolah, Instansi Pemerintah maupun Swasta, Permukiman termasuk Apartemen, Rumah Susun, Condominium. Sedangkan diluar area perkantoran misalnya pekerjaan yang sebagian besar dihabiskan diluar ruangan terbuka seperti Jalan Raya (Transportasi), Kontraktor.

3

Dampak akibat minimnya RTH ini akan sangat terasa pada tingkat kesehatan pernafasan dimana pencemaran udara diatas ambang batas toleransi. Sama seperti kita berada dalam ruangan berisi gas berbahaya meskipun kita menutup hidung menggunakan masker tetapi kita tidak dapat menghindari masuknya Gas berbahaya CO2 tersebut ke dalam sistem pernafasan manusia. Upaya penghijauan dan pemanfaatan lahan perkotaan secara maksimal dengan pendirian bangunan secara vertikal untuk menghemat ruang yang sangat terbatas ini mutlak perlu diberlakukan sehingga Ruang Terbuka Hijau di Jakarta meningkat sebagai sarana paru-paru kota. Konsumsi Listrik Perkantoran Kebutuhan listrik bagi Provinsi DKI Jakarta mencapai rata-rata 20 persen dari total kebutuhan konsumsi seluruh Indonesia. Data PT Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jakarta Raya Tangerang menyebutkan pada hari kerja, SeninJumat, DKI dan sekitarnya membutuhkan listrik 5.100 megawatt (MW) per hari, sedangkan pada hari libur sabtu dan minggu turun menjadi 4.500 – 4.900 MW per hari. 20 persen dari 5.100 MW tersedot pada sektor industri besar dan menengah. Ini berarti sektor perkantoran dan rumah tangga mengambil porsi yang jauh lebih besar yakni 80 persen. Data dari WWF menyebutkan bahwa untuk konsumsi listrik rata-rata per jam dari DKI Jakarta berkisar 300 MW dan ini setara dengan mengistirahatkan satu pembangkit listrik, mampu menyalakan 900 desa. mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta. Mengurangi emisi CO2 sekitar 284 ton. Menyelamatkan lebih dari 284 pohon dan menghasilkan O2 bagi 568 orang. Artinya penghematan 1 jam pemakaian listrik untuk konsumsi DKI Jakarta tidak lah sedikit dan sangat significan apabila kebijakan penghematan listrik diterapkan secara berkelanjutan. Penghematan konsumsi listrik di wilayah DKI Jakarta dimana terdapat fasilitas perkantoran, hiburan, permukiman sangat membantu pemerintah mengurangi penggunaan sumber daya energi untuk pembangkit listrik yang akan berdampak pada upaya-upaya penanggulangan perubahan iklim global, pola

4

perilaku dan perubahan gaya hidup masyarakat dalam menghemat energi dimasa datang, Identifikasi Masalah Dari latar belakang permasalahan di atas dapat penulis identifikasikan masalaha sebagai berikut : 1. Masalah sampah atau limbah hasil perkantoran dan industri di Provinsi DKI Jakarta yang dibuang ke area pembuangan sampah akhir tercatat 37,72 persen dari total harian mencapai 600 ribu ton atau setara 226.320 ton sampah. Dan sebagian besar sampah yang dibuang tersebut merupakan sampah atau limbah Non Organik yang tidak dapat terurai langsung melalui proses alami 2. Masalah konsumsi air bersih di Provinsi DKI Jakarta tercatat membutuhkan sekitar 547, 5 juta meter kubik (M3) per tahun. Ini setara dengan pemenuhan 150 liter air per jiwa per hari penduduk Jakarta dengan total populasi penduduk 10 juta jiwa. 3. Penyedotan air tanah dalam di Provinsi DKI Jakarta disebabkan Pemerintah tidak dapat memenuhi kebutuhan sarana air bersih yang cukup dan murah untuk perkantoran, hotel-hotel dan restoran sehingga mengakibatkan masalah lingkungan seperti Intrusi air laut, penurunan permukaan tanah hingga mencapai 18 – 26 cm per tahun serta penyusutan Air Tanah dalam hingga 66 juta meter kubik per tahun. 4. Masalah minimnya atau kritis Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai penunjang bagi ketersediaan udara bersih bagi masyarakat perkotaan. Lahan hijau ini sebagian besar telah beralih fungsi menjadi tempat perbelanjaan, perkantoran, dan permukiman. Dari total luas wilayah provisnsi DKI Jakarta yaitu 661,52 Km 2, hanya tersedia lahan hijau 9,3 persen saja atau 6.615 Ha2 (6,62 Km2). 5. Permasalahan konsumsi listrik perkantoran dimana 80 persen dari 5.100 MW (Megawatt) konsumsi listrik DKI Jakarta dialokasikan untuk perkantoran, perbelanjaan dan permukiman (20 persen adalah sektor industri besar dan menengah). DKI Jakarta mengkonsumsi 20 persen dari total keseluruhan konsumsi listrik Indonesia.

5

Perumusan Masalah Setelah mengidentifikasi permasalahan yang ada di atas penulis perlu untuk merumuskan permasalahan tersebut. Rumusan permasalahan penulis kembangkan dalam bentuk pertanyaan yaitu : 1. Adakah solusi untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan seperti : Sampah/limbah perkantoran?, Ketersediaan air bersih yang memadai untuk seluruh penduduk DKI Jakarta?, Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang cukup untuk mendukung populasi penduduk dan tingkat pencemaran DKI Jakarta?, Konsumsi listrik yang tinggi dan pendistribusian listrik yang masih kurang? 2. Apakah implementasi peraturan dan kebijakan sebagai penyelenggara pemerintahan DKI Jakarta untuk penanggulangan krisis lingkungan seperti yang disebutkan diatas sudah ada? Sudahkah optimal? Bagaimana pemerintah Provinsi DKI Jakarta mensosialisasi kebijakan pelestarian lingkungan terhadap penduduknya untuk mendukung program yang dicanangkan pemerintah? Tujuan makalah Tujuan penulisan makalah ini ialah supaya penulis dan pembaca dapat memahami permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian dicarikan penyebabnya sebagai bahan evaluasi dan penerapan solusi penanganan krisis pelestaraian lingkungan. Secara spesifik tujuan makalah ini antara lain : 1. Menemukan cara yang tepat mendaur ulang sampah dan limbah perkantoran, penanggulangan kebutuhan air bersih yang dibutuhkan masyarakat, ketersediaan ruang yang cukup untuk udara bersih dalam perkotaan, Ketersediaan sarana listrik yang sehat dan ramah lingkungan 2. Implementasi Standar Internasional dalam ISO 14001 tahun 2004 melalui Konsep Eco Office dimana kebijakan tersebut menjadi acuan yang telah diakui baik Nasional dan Internasional.

6

BAB II PEMBAHASAN

Konsep Eco Office Istilah dalam bahasa inggrisnya Eco berasal dari penyingkatan kata Ecology dan Office tidak lain bermakna kantor atau perkantoran. Jadi Eco Office adalah kantor peduli lingkungan yang telah mewujudkan penerapan sistem manajemen lingkungan dalam kegiatan perkantoran. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan kantor yang bersih, indah, nyaman serta menyehatkan. Selain itu Eco Office bertujuan juga untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemakaian sumber daya alam. Prakteknya yang bisa dikerjakan antara lain adalah penghematan listrik dan air, penggunaan kertas seefisien mungkin, memilah sampah organik dan non organik. Yang paling penting adalah mengubah perilaku. Adanya Eco Office ini di prakarsai pertama kali di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak tahun 2006. Sasaran diterapkannya Eco Office tersebut adalah mengubah sikap dan perilaku individu kantor untuk lebih peduli lingkungan dan melakukan penghematan biaya operasional kantor terkait aspek lingkungan. Memberikan kenyamanan bagi individu yang berada di lingkungan kantor KLH dan sekitarnya. Sebagai salah satu pencetus konsep Eco Office, KLH juga sudah melakukan kampanye dan sosialisasi kepada kementerian lain dan juga perusahan-perusahan swasta untuk menerapkan Eco Office. Konsep Eco Office ini tidak akan berjalan maksimal jika individuindividunya belum sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Harus ada kemauan untuk merubah perilaku, tidak akan merubah jika tidak ada kemauan. Keuntungan tidak hanya bagi kantornya tapi bagi diri individu itu sendiri. Lingkungan kerja yang nyaman juga bisa meningkatkan kinerja kita dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Hal itu dapat disiasati dengan menaruh tanaman hijau di ruangan kerja kita misalnya. Ada tanaman di ruang kerja itu untuk menghilangkan kejenuhan, menambah oksigen, walaupun tidak signifikan tetapi

7

cukup berpengaruh. Penggunaan karpet di lingkungan kerja sebaiknya dikurangi karena hanya menyimpan debu yang akan mengganggu pernafasan kita. Lebih baik lantai ubin supaya bisa disapu dan dipel. Terdapat 5 (lima) prinsip yang dikemukakan oleh Green Bulding Council Indonesia (GBCI) antara lain : 1. Mengedepankan Kesehatan dan Kesejahteraan Lingkungan dalam ruangan sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Sebuah tempat kerja yang efektif harus dirancang sedemikian rupa untuk mendukung dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan penghuninya melalui prinsip-prinsip desain eko dan berkelanjutan membantu mencapai tujuan ini. 2. Menyediakan Lingkungan yang Nyaman Tempat kerja yang dirancang dan dioperasikan harus dapat memberikan tingkat kenyamanan tinggi dari segi visual, akustik, dan termal untuk penghuninya, yang mendukung efektivitas dan kreatifitas pekerja 3. Desain yang Dapat Mengikuti Perubahan Menyediakan ruang dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi, dukungan social dan perkembangan teknologi untuk memperkenalkan cara-cara baru bekerja, adalah dasar inovasi di dalam desain yang dapat diterapkan. 4. Mengintegrasikan Teknologi terkini dan Peralatan Pendukung Secara efektif mengintegrasikan peralatan pendukung, teknologi terkini dan sistem jaringan distribusi dan telekomunikasi dengan kondisi lingkungan tempat bekerja saat ini untuk memungkinkan pekerja melakukan tugas mereka dengan mudah dan lebih efisien. 5. Menyediakan Sistem Bangunan yang Handal serta Mendidik Sumber Daya Manusia yang tersedia Kehandalan sistem bangunan merupakan salah satu perhatian terbesar bagi para pengguna bangunan. Hal tersebut secara langsung mempengaruhi keselamatan, kesehatan dan kenyamanan para penghuninya. Setiap pekerja harus mampu mengandalkan sistem bangunan, peralatan, dan alat-alat yang tersedia agar berfungsi dengan baik dan secara konsisten pula mereka

8

diwajibkan agar dapat menggunakan dan memeliharanya dengan baik sesuai dengan standar pengoperasian. Untuk menentukan apakah perkantoran itu dapat dikatakan sebagai Eco Office, oleh Green Building Council Indonesia ditentukanlah kriteria menurut sudut pandang yang berbeda-beda antara lain: 1. Menurut Perencanaan Ruang atau Space planning/Facility Planning Disini kita dapat membahas akan kebutuhan ruang seperti : Berapakah luasan ruang yang dibutuhkan?. Siapakah penghuninya? (pimpinan atau bawahan). Kegiatan apa sajakah yang akan terjadi didalamnya?. Lalu berapa banyak ruang tersebut akan disediakan?. Apakah terbuka untuk umum atau tidak?. Fasilitas apa saja disekelilingnya yang akan mendukung ruangan tersebut?. Setelah kita mendapatkan informasi tersebut, mulailah dengan letak dan aksesbilitas dari ruang tersebut sehingga mudah terjangkau dan tidak merupakan territorial dari suatu bagian. Kegiatan yang akan berlangsung didalamnya juga menentukan fasilitas apa saja yang dibutuhkan oleh penghuni dan yang akan disediakan. Konsep Eco mengajarkan sebisa mungkin fasilitas yang akan disediakan dapat berbagi atau disentralisasikan sehingga menghemat penggunaan ruang serta menghemat pengadaan barang-barang inventaris yang akan digunakan didalamnya. Dari sini kita akan dapat menghemat ruang yang akan digunakan dan menghemat pula dalam pengunaan energi, air, dan material sehingga mengurangi produksi sampah. Seiring kemajuan jaman dimana sebagian besar peralatan dan perlengkapan bisa di “sharing“ dan digunakan bersama maka ruanganruangan yang tidak perlu dapat dieliminasi untuk menjadikannya lebih hemat. Hal ini dapat memungkinkan untuk komunikasi yang terbuka antara karyawan dan manajer mereka. Ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi di tempat kerja. Hapus bilik dan pembatas sehingga menurunkan hambatan-hambatan yang mencegah karyawan dari komunikasi dua arah. Desain kantor berdasarkan fungsi, kemudahan

9

penggunaan, tujuan ruang kantor dan tipe kerja yang akan diwadahi. Buatlah pemusatan-pemusatan kecil di mana karyawan dapat berkumpul dan mendiskusikan ide dalam ruang tersebut tanpa harus memerlukan ruang rapat tertentu. Peng-organsasian kegiatan didalam kantor saat ini juga dapat lebih sederhana sehingga setiap kebutuhan yang berbeda-beda dapat disamakan solusi penyelesaiannya. Yang tidak dapat disamakan hanya luasan ruang-ruang tertentu untuk kedudukan yang tertentu pula serta jenis dan jumlah perabot/ furniture yang akan secara khusus juga penyediaannya. Ditinjau dari desain tentunya lebih diutamakan melalui penyelesaian desain harus yang mudah dalam pembuatan, pemasangan serta pemeliharaanya 2. Menurut Jenis Bahan, Peralatan ataupun Material yang akan digunakan Apabila kita telah mengetahui fasilitas dan kebutuhan ruang, kita dapat mengatur sendiri jenis bahan bangunan yang akan digunakan sehingga dapat memberikan kita pertimbangan yang matang dalam pemakaian material yang ramah lingkungan dan murah namun masih berkualitas tinggi. Pertanyaannya adalah apakah material ramah lingkungan yang kita gunakan sudah dapat benar-benar mengurangi pengunaan energi, air, sampah dan dapat menghasilkan kualitas udara yang baik di dalam suatu ruang?. Kualitas udara di suatu ruang menjadi sangat penting demi terciptanya tingkat kesehatan yang tinggi bagi penghuni khususnya dalam bernafas. Material yang digunakan tidak boleh sampai mempengaruhi atau bahkan mengganggu aktivitas, skala gerak-gerik postur tubuh dan fungsi normal dari sistem pengindraan kita. Sebisa mungkin material yang digunakan juga dapat memberikan nilai lebih secara berkesinambungan seperti halnya mudah untuk di daur ulang, walaupun mungkin kualitasnya akan sedikit menurun setelah mereka mengalami tahap pendaur-ulangan. Namun yang terpenting adalah adanya pengurangan jumlah pemakaian material baru. Dengan kita menyiapkan segala sesuatunya dan

10

memberikan sarana dan prasarana yang menunjang maka pelaksanaan Eco Office ini akan dapat tercapai. Pelaksanaan tersebut dapat bersifat aktif maupun pasif. Contoh aktifnya: dalam usaha pengurangan energi, kita dapat mengunakan penerangan buatan bola lampu yang kita pakai sehari-hari dengan yang bola lampu yang hemat energi, terlebih dapat pula digunakan sensor pengatur yang disesuaikan dengan jenis kegiatan dan jumlah penghuni. Secara pasif dapat dengan cara lain seperti meletakan ruang-ruang yang tidak digunakan setiap hari di area tengah, sehingga ruang yang sering digunakan berada di tepi-tepi bangunan dekat dengan jendela untuk memungkinkan terciptanya penghawaan alami dan pencahayaan alami secara bersamaan. Contoh lain mengenai isu penghematan energi dapat kita realisasikan dengan menghemat air melalui penggunaan peralatan dan perlengkapan sanitair yang hemat penggunaan air seperti penggunaan closet berbasis “water saving 4/3.5 liter saat flushing atau kran yang sekali tekan selama 3 detik otomatis padam yang dapat digunakan di tempattempat pengambian air wudhu sehingga debit air bekas dapat dikurangi. Usahakan pembelian peralatan perkantoran yang tidak mengambil daya listrik yang tinggi dan mengeluarkan energi panas yang tinggi pula ke dalam ruang sehingga tidak membebani kerja pendingin ruangan. 3. Menurut Cara Penggunaan dan Operasinya Dalam kita mengatur kantor diperlukan ada aturan yang akan mempengaruhi cara kerja, perilaku kita sehari-hari. Tujuan juga perlu diperjelas sehingga sarana dan prasarana yang dapat mendukung sudah dapat disiapkan sehingga bukan hanya sekedar konsep semata menciptakan lingkungan yang hijau di perkantoran perlu juga diterapkan manajemen yang mengatur dan mengajak para penggunanya untuk menerapkan konsep hijau itu sendiri diantaranya melaksanakan konsep 4R seperti : Reduce (pengurangan dalam penggunaan produk yang terlalu

11

banyak mengkomsumsi energy), Reuse (menggunakan kembali segala sesuatunya sebelum benar-benar dibuang), Recycle (mendaur ulang sampah dan limbah yang dihasilkan), dan Refuse (menghindari penggunaan produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Disamping itu perlu adanya kedisiplinan dalam waktu bekerja sehingga disarankan untuk mengurangi bekerja diluar waktunya, sehingga konsumsi energi terhadap peralatan pun tidak berlebihan. 4. Perilaku/Behaviour Perubahan perilaku juga tidak kalah pentingnya karena merubah budaya kita sehari hari menjadi dalam kehidupan untuk lebih hemat terhadap energi, air, sampah dan pengunaan material. Dan ini tidak lah mudah, perubahan sedikit apapun terhadap lingkungan dapat berpengaruh terhadap perilaku yang terbentuk, ruang yang disediakan bukan lagi sebagai wadah kegiatan namun sebagai tools untuk kebutuhan eksternal dan internal ketika mencoba untuk menyeimbangkan kebutuhan klien. Informasi yang tersedia bukan lagi datang kepada kita namun kita yang akan menjemputnya, segi arsitektur ruang yang tadinya kurang terlihat menjadi lebih bermakna dan mempunyai identitas yang jelas, informasi yang tadinya hanya kita simpan sekarang harus kita sebarkan untuk mendapatkan ide, saran dan timbal balik untuk pengembangannya. Social prescription mengalami perubahan menuju social awareness, perilaku yang cenderung sedentary berubah menjadi mobile, proses management by controling menjadi facilitated management, sehingga kita sebagai pemakai sangat dituntut untuk memiliki persepsi yang sama dalam bersikap guna membangun teamwork, interaksi, komunikasi serta tanggung jawab namun dalam porsi yang disesuaikan dengan budaya dan latar belakang masing-masing.

12

Arti Dan Definisi Eco Office Penjelasan mengenai Eco Office di atas menurut sudut pandang kriteria dan prinsip-prinsipnya dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa Eco Office merupakan suatu konsep masa depan tentang fungsi perkantoran yang menerapkan asas pelestarian lingkungan yang berkesinambungan. Tolok ukur utama bahwa suatu perkantoran modern itu sudah mengadopsi konsep Eco Office dapat dilihat dari penerapan perencanaan fasilitas dan ruang, pemilihan jenis bahan, peralatan ataupun material yang akan digunakan, Strategi manajemen penerapan ke dalam bentuk operasional sehari-hari serta perubahan perilaku individu di dalam perkantoran tersebut yang mendukung pelestarian lingkungan. Disini lebih konkrit lagi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Eco Office ialah upaya-upaya dalam pelaksanaan pelestarian lingkungan tersebut yaitu penghematan penggunaan energi seperti energi listrik dan minyak bumi, penghematan terhadap penggunaan air, Usaha pendaur-ulangan sampah baik organik dan non organik, penerapan teknologi terkini dalam pemanfaatan ruang/fasilitas yang terbatas dan Usaha mengubah perilaku manusia untuk selalu ramah lingkungan sebagai central aktivitas dalam perkantoran. Manfaat Perkantoran Berkonsep Eco Office Daya dukung lingkungan dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta memiliki keterbatasan-keterbatasan. Untuk mampu menampung populasi penduduk dengan jumlah lebih kurang 10 juta jiwa dan memiliki pertumbuhan meningkat setiap tahun membutuhkan ruang yang cukup serta nyaman, air bersih, energi listrik, minyak bumi, makanan, udara dan tempat-tempat rekreasi. Keterbatasan yang disediakan oleh alam sekitar atau lingkungan perlu dipantau dan dicarikan solusi, sebab kalau tidak, lingkungan secara alamiah menemukan jalan sendiri untuk mencari keseimbangan baru menutupi keterbatasan itu atau istilah umumnya bencana (katastropi).

13

Manusia sebagai pengelola, dan pusat aktivitas yang mampu memikirkan, merubah daya dukung alamiah lingkungan untuk ditingkatkan. Perkantoran adalah sektor penunjang aktivitas perekonomian manusia. Keterbatasan ruang dan wilayah Provinsi DKI Jakarta, Keterbatasan penyediaan sarana dan fasilitas air bersih, Keterbatasan pengelolaan sampah dan limbah perkantoran baik yang sifatnya organik atau sampah basah maupun sampah non organik, Keterbatasan suplay energi listrik dan pengurangan gas CO2 untuk pembangkit listrik menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar. Kesemua keterbatasan tersebut dihitung dan dipertimbangkan sebagai alat kontrol supaya manusia menemukan jalan keluar dari keterbatasan-keterbatasan sehingga secara makro (menyeluruh) sektor perkantoran khususnya yang berada di Wilayah DKI Jakarta telah berpartisipasi meningkatkan daya dukung lingkungan. Mengatasi Keterbatasan Ruang Terbuka Hijau Perkantoran yang telah menerapkan konsep Eco Office akan menyediakan Ruang Terbuka Hijau dari total luas area lahan minimum 10 persen untuk ditumbuhi aneka ragam pepohonan dan tanaman. Menurut Peraturan Kementerian Dalam Negeri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) Pasal 9 luas ideal RTHKP minimal 20 persen dari luas kawasan perkotaan ini artinya perkantoran berkonsep Eco Office setidaknya menambah ruang hijau menjadi 30 persen dan ini bukti kontribusi kepada lingkungan yang sangat jelas. Ditambah adanya area lansekap berupa vegetasi (softscape) yang bebas dari bangunan taman (hardscape) yang terletak diatas permukaan tanah seluas minimal 40% luas total lahan berupa roofgarden, terrace garden,dan wallgarden. Mengatasi Keterbatasan Penyediaan Air Bersih Perkantoran Penggunaan air bersih pada perkantoran yang menerapkan Eco Office dibatasi maksimum 80 persen dari total kebutuhan air bersih yang bersumber dari air primer/baku. Ini sama artinya dengan penghematan air 20 persen tanpa harus mengurangi jumlah kebutuhan minimum air bersih per orang menurut Standar

14

Nasional Indonesia (SNI03-7065-2005). Pemanfaatan sumber air sebagai pengganti sumber air primer yaitu dari air hujan. Pemanfaatan air hujan ini minimum 50 persen dari total air hujan yang jatuh pada atap bangunan dengan memperhitungkan juga besarnya curah hujan yang telah ditentukan BMKG untuk daerah setempat. Air hujan kemudian ditampung menggunakan tanki berkapasitas hingga 100 persen dari air hujan yang jatuh pada atap banggunan tersebut. Penggunaan kembali atau Reuse air yang terbuang menggunakan teknologi filterasi alamiah maupun kimiawi juga masuk kategori ukuran Eco Office. Hasil filterasi tersebut kemudian dipergunakan misalnya untuk menyiram tanaman, air siram toilet dan untuk air mesin pendingin. Target penghematan air yang mampu dicapai beragam namun rata-rata bisa mencapai hingga 40 persen bahkan lebih. Mengatasi Keterbatasan Suplai Energi Listrik Perkantoran Konsep Eco Office memperhitungkan setiap 0,5 persen daya yang diperoleh dari sumber energi baru yang terbarukan. Ini artinya Eco Office sangat menghargai upaya pencarian sumber energi lain untuk memenuhi kebutuhan akan daya listrik. Perhitungan penghematan listrik ditentukan berdasarkan selisih antara perhitungan daya listrik Baseline dengan Desain untuk melakukan penghematan tersebut. Penilaian dihitung setelah penurunan sebesar 10 persen dari daya Baseline dan setiap 2,5 persen penurunan kembali memperoleh poin dengan nilai 1 hingga maksimum untuk Eco Office Platinum sebesar 20 poin (25 persen), Sehingga total penghematan menjadi 35 persen dari Baseline. Perhitungan standar konsumsi listrik diperkantoran adalah sekitar 15 watt/m2. katakanlah luas total perkantoran (10 lantai dengan luas per lantai 1.000m2) = 10.000 m2 x 15 watt/m2 = 150.000 watt x 8 jam rata-rata harian penggunaan listrik = 1.200 Kwh/hari. Dengan Eco Office konsumsi listrik mampu dikurangi hingga 35 persen = 1.200Kwh x 35% = 420Kwh. 1.200-420 = 780 Kwh/hari dikalikan harga listrik per Kwh Rp.1.200/Kwh berarti penghematan sebesar 420 Kwh x Rp.1.200/Kwh = Rp.540.000/Hari. Angka penghematan tersebut cukup besar untuk diinvestasikan misalnya untuk membeli Solar Cell,

15

sensor pemadaman arus listrik ditempat dimana penghuni perkantoran tidak selalu menggunakan listrik. Penghematan akan sangat signifikan dirasakan apabila kesuluruhan pengguna listrik di DKI Jakarta berhasil menerapkan penghematan ala Eco Office di atas maka setidaknya suplai listrik harian PLN untuk DKI Jakarta sebesar 5.100MW setelah dikurangi penggunaan listrik sektor industri (20%) maka daya listrik yang mampu dihemat sebesar 5.100MW x 80% (diluar sektor industri) = 4.080MW = (4.080MW x 35% penghematan) = 1.428 MW/hari. Mengatasi Keterbatasan pengelolaan sampah dan limbah perkantoran Konsep Eco Office akan memberikan solusi terbaik dalam penanganan sampah dan limbah perkantoran. Hal ini dikarenakan ketentuan/aturan yang menekan pada setiap perkantoran yang telah menerapkan Eco Office dalam pemilihan Material yang digunakan harus bisa di Reuse (digunakan/dimanfaatkan kembali) dan di Recycle (daur ulang). Kemudian aturan penggunaan material yang berbahaya bagi lingkungan tidak dapat dibenarkan untuk dipakai contohnya CFC (Chloro Fluoro Carbon) dan gas Holon untuk pemadam kebakaran. Penggunaan material yang dimanfaatkan kembali harus minimal 10 persen dari nilai paket pengajuan pembelian material baru, poin tambahan akan diberikan apabila material lama dimanfaatkan kembali sebesar 20 persen dari total nilai pembelian. Ini berarti perhatian untuk melakukan penghematan dalam hal pembelian material baru mempertimbangkan pemakaian material lama. Standar pemasok pada perkantoran berkonsep Eco Office menetapkan ketentuan bersertifikat ISO 14001 atau standar sertifikasi lain yang setara. Ini untuk memastikan penggunaan material dalam perkantoran tersebut berasal dari pemasok yang juga memperhatikan lingkungan terhadap produk yang dijual. Besarnya minimum 30 persen dari total nilai pembelian material. Material daur ulang ditentukan sebesar minimal 5 persen dari nilai total material dan pemanfaatan material terbarukan (renewable material) minimal 2 persen. Ketentuan untuk material yang lain ialah melarang penggunaan material kayu yang dipasok tidak menggunakan sertifikat bebas kayu ilegal.

16

Pemanfaatan material ramah lingkungan sangat membantu dalam menekan membeli dari produsen nakal yang tidak memperhatikan produknya untuk pelestarian lingkungan. Penggunaan material lama yang masih dapat dimanfaatkan sangat membantu tidak hanya dari segi keuangan namun juga menekan pemborosan mengeksploitasi material yang sebenarnya masih dapat dipergunakan. Dalam perkantoran biasanya penggunaan produk turunan dari kayu seperti kertas, tisu, kardus, furnitur kantor masih dominan dalam menyumbang pengeluaran sampah non organik. Pengurangan sebesar 10 persen hingga 20 persen memang tidak terasa terlalu signifikan tetapi kalau dari 600 ribu ton sampah/hari 37,72 persen diantaranya adalah non organik (perkantoran dan industri) berarti penghematan hingga 20 persen menjadi (600.000 x 37,72%=226.320 ton sampah non organik x 20 persen penghematan = 45.264 ton/perhari).

17

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Kesimpulan yang dapat penulis ungkapkan dalam makalah ini antara lain : 1. Konsep Eco Office menawarkan solusi berupa penghematan dan pencarian alternatif cara yang baru terhadap pelestarian lingkungan. Khususnya permasalahan yang menyangkut dengan area perkantoran dalam wilayah perkotaan seperti Provinsi DKI Jakarta. 2. Solusi yang dapat diberikan antara lain penghematan pada keterbatasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), Konsumsi air bersih dan listrik serta Penanganan sampah perkantoran. 3. Besarnya hasil penghematan yang mampu diwujudkan dari penerapan konsep Eco Office ini berkisar dari minimal 5 persen hingga 30 persen dari Baseline atau standar semula yang disepakati. 4. Konsep Eco Office tidak dapat terwujud apabila tidak ada intervensi kebijakan dari pemegang wewenang atau otorita daerah karena taraf signifikan keberhasilan baru dapat dirasakan dampaknya setelah implentasi secara masif/menyeluruh Saran 1. Makalah ini penulis rasakan masih kurang menyempit dan detil dalam hal pembahasanya. Untuk itu perlu pengkajian tiap-tiap topik satu persatu untuk memperoleh lebih dalam makna dan pembelajaran 2. kritis. 3. Makalah ini belum mengkaji aspek penyuluhan dan sosialisasi terhadap penghuni perkantoran sebagai pusat aktivitas atau objek pengubah, pelaku sekaligus pelaksana. Konsep Eco Office ini perlu disandingkan dengan kebijakan aturan pemerintahan sebagai wujud kepedulian pelestarian lingkungan yang semakin

18

DAFTAR PUSTAKA

Chiras, Daniel D., Environmetal Science Action For Suitanable Future, 3Rd Edition, The Benjamin/Cumming Publishing Company Inc, California 1990. Odum, Eugene P,Ph.D. & Gary W Barrett,P.hd., Fundamental Of Ecology, Fifth Edition, Thomson Books/Cole, California,2005 Soeriaatmadja, E.,Ilmu Lingkungan, Cet ke 7, Penerbit ITB, Bandung, 1997 Green Building Council Indonesia website: www.gbcindonesia.org ISO 14001:2004 website: www.iso.org Kompas online website: www.Kompas.com SNI 14001:2005 website : www.bsn.or.id Republika online website : www.Republika.co.id WWF website : www.wwf.or.id

i

LAMPIRAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 30 /PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PARTISIPATIF PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 30/PRT/M/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS FASILITAS DAN AKSESIBILITAS PADA BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR :33/PERMEN/M/2006 TENTANG PEDOMAN TATACARA PENUNJUKAN BADAN PENGELOLA KAWASAN SIAP BANGUN DAN PENYELENGGARA LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 26 TAHUN HIDUP 2009 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI BIDANG LINGKUNGAN

ii

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->