You are on page 1of 23

Peter Kasenda

Nugroho Notosusanto
Di Antara Baju Sipil dan Militer

Sejarah adalah suatu disiplin yang dipelajari
secara luas di kalangan bangsa-bangsa dan ras-ras.
Ia banyak dicari dengan penuh keinginan.
Orang biasa berdaya upaya untuk mengetahuinya.
Raja-raja dan pemimpin-pemimpin berlomba untuk
memperolehnya .

(Ibn Khaldun, al-Muqaddimah, 1377)

Pada hari Senin, 3 Juni 1985 , di sebuah rumah tinggal di kompleks Perumahan
Menteri Jalan Gatot Subroto , Jakarta Pusat , Nugroho Notosusanto , Rektor Universitas
Indonesia merangkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, menutup mata untuk
selama-lamanya . Keesokan harinya, jenazahnya disemayamkan sebentar di Universitas
Indonesia , Alma Mater almarhum , sebelum diantar dengan iring-iringan menuju ke
Taman Makam Pahlwan Kalibata , Jakarta .

Di bangsal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , ada ratusan atau mungkin
ribuan mahasiswa Universitas Indonesia yang harus berdesak-desakan dalam memberi
penghormatan terakhir kepada almarhum Nugroho Notosusanto serta mengucapkan duka
cita yang mendalam kepada keluarga yng ditinggalkan . Istri , Irma Savitri dan ketiganya
Indriya Smita , Inggita Suksma dan Narottama. Di Taman Makam Pahlawan , ribuan
pelayat mengantar jenazah Rektor Universitas Indonesia yang merangkap Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI ke tempat peristirahatannya yang terakhir . Di situlah ada
sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia penghuni asrama Daksinapati
membentangkan spanduk yang cukup panjang dan bertuliskan “ Selamat Jalan
Bapakku”.Kesemuanya ini merupakan simpati terhadap almarhum Nugroho
Notosusanto . Kepergiannya jelas merupakan pukulan yang buat Civitas Akademika UI ,
tetapi itulah kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Tiga tahun sebelumnya. Di Aula Fakultas Kedokteran UI , hari Jum’at sorenya,
tanggal 15 January 1982 , berlangsung acara serah terima dan pelantikan Rektor UI yang
baru Prof. Dr. Nugroho Notosusanto . 1 Pelantikannya sendiri dilakukan oleh Dirjen
Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja mewakili Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan , Dr. Daoed Joesoef saat itu . Acara pelantikan diliputi oleh suasana yang
panas , dengan terdengarnya suitan, cemooh maupun teriakan histeris mahasiswa .

1
“ UI berusia 33 Tahun – Nugroho Notosusanto : UI Ibarat Menara Api “ , Suara Karya , 1 Feberuari 1983
.
1
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Malahan ada mahasiswa yang membakar petasan . Selesai pelantikan , para mahasiswa
menggelar spanduk besar kain kuning yang bertuliskan “ Jangan nodai kampus kami
dengan sepatu lars “. Kejadian tersebut rasanya sulit diketemukan sepanjang sejarah
Universitas Indonesia .

Kejadian itu jelas membekas di hati Nugroho Notosusanto , dan ia melukiskan
apa yang terjadi pada saat itu dalam sebuah tulisannya :

Upacara dimulai dengan pembacaan Keputusan Presiden yang mengungkapkan
pengangkatan saya menjadi Rektor Universitas Indonesia . Teriakan-teriakan tambah
menjadi-jadi ditambah dengan suitan-suitan dan bunyi pukulan-pukulan benda tumpul .
Pada waktu saya mengucapkan sumpah jabatan , teriakan-teriakan berlangsung terus,
sehingga menyulitkan lafal sumpah . Belum pernah saya mengalami atau menyaksikan
riuh seperti itu agaknya tidak pernah mengalami lagi . Ketika Prof. Dr. Dody
Tisnaamidjaja , Dirjen Pendidikan , membacakan amanat Bapak Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan teriakan-teriakan tersebut tetap ada. Dan yang sebentar membuat darah saya
mendidih ; ketika ulama membacakan doa , kekhusukan buyar berantakan karena
teriakan-teriakan yang menggila …! Kalaupun masih ada keraguaan-keraguan dalam hati
Saya mengenai tindakan yang harus saya ambil dalam menyelesaikan tahap pemantapan ,
maka pada saat itu saya tidak bimbang lagi. Suatu ketenangan yang luar biasa turun
dalam hati saya yang beberapa detik yang lalu bergolak .2

Melihat kejadian tersebut , timbul sebuah pertanyaan , apa yang menyebabkan
sejumlah mahasiswa sedemikian tidak menyukai kehadiran Nugroho Notosusanto sebagai
Rektor Universitas Indonesia yang baru ? Terlepas dari jawaban apapun yang bisa
diberikan sebenarnya Nugroho Notosusanto bukanlah orang baru di lingkungan
Universitas Indonesia .Hampir sepuluh tahun dia habiskan waktunya sebagai mahasiswa
di Fakultas Sastra dan Filsafat UI dan lebih dari 20 tahun dia mengabdikan dirinya pada
Alma Mater sebagai staf pengajar Bahkan dia menjadi Pembantu Rektor Bidang
Kemahasiswaan di bawah Rektor dr. Syarief Thayeb dan Prof Dr. Sumantri
Brodjonegoro pada pertenganan tahun 1960-an.

Dunia Kemahasiswaan

Nugroho Notosusanto dilahirkan di rumah kakeknya R.P. Notomijoyo , pensiunan
Patih Rembang , di kampung Pandean, pada hari Senin Wage, tanggal 15 Juni 1931 . Ia
adalah buah perkawinan antara Notosusanto lulusan Rechshogeschool Batavia dan Tini,
Putri seorang Hoofd Jaksa di Rembang .3 Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah
Atas di Yogyakarta pada tahun 1951. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan
Filsafat Universitas Indonesia . Saat itu ia terdaftar sebagai mahasiswa jurusan bebas
FSUI , yakni jurusan dengan bidang ilmunya belum menjadi program tersendiri .
2
Nugroho Notosusanto, Menegakkan Wawasan Alma Mater , ( Jakarta : UI Press, 1984 ) , hal. 121 – 122 .
3
Keluarga Nugroho Notosusanto , Mengenang Nugroho Notosusanto , ( Jakarta : PT Bulan Bintang ,
1984 ) , hal. 98 .
2
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Disinilah Nugroho Notosusanto mengembangkan minatnya dalam studi sejarah ,terutama
di bawah bimbingan Prof. Dr. Mr. Soekanto selaku guru besar dalam induk mata
pelajaran sejarah Indonesia .4 Sebagai mahasiswa , selain belajar , ia banyak
menyibukkan diri dalam dunia kemahasiswaan .

Setelah satu tahun sebagai aktivis mahasiswa pada tahun 1952. , Nugroho
Notosusanto terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI 5 , dan
kemudian ia bersama-sama teman-temannya yang lain ( antara lain : Emil Salim )
mendirikan Dewan Mahasiswa UI pada tahun 1954 . Di sana Nugroho Notosusanto
duduk sebagai anggota Badan Perwakilan DMUI dan juga menjadi Redaktur Penerbitan
DMUI Mahasiswa 6 Aktivitasnnya dalam penerbitan pers UI mengantarkannya menjadi
Ketua Serikat Pers Mahasiswa Indonesia pada tahun yang sama . Sementara itu ia
tercatat juga sebagai Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Djakarta (1955 -1956 ). Pada
tahun 1958 , ketika Serikat Pers Mahasiswa Indonesia dan Ikatan Wartawan Mahasiswa
Indonesia bergabung menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia , ia beralih ke bidang
kesenian mahasiswa dan menjadi Ketua Badan Kerja Sama Kesenian Mahasiswa
Indonesia , yang salah satu kegiatannya menyelenggarakan forum kegiatan Kesenian
mahasiswa dalam bentuk Pekan Kesenian Mahasiswa .7

Meskipun Nugroho Notosusanto disibukkan dengan kegiatan kemahasiswaan ,
namun ia tidak mengurangi kegiatannya di bidang penulisan sastra . Ia menjadi pemimpin
Redaksi Majalah Roman , dan kemudian majalah Sastra dan tak lupa ia menyumbangkan
karya tulisnya pada majalah Kisah 8 Di samping itu ia juga mengasuh majalah yang
cukup disegani ketika itu yakni Cerita .Hampir di setiap edisinya , Nugroho Notosusanto
memberikan komentar atas cerpen-cerpen orang lain yang dimuat . Adapun salah satu
bukti kemampuannya sebagai sastrawan adalah , kumpulan cerpen yang dibukukan ,
yaitu Hujan Kepagian (1958) , Tiga Kota (1959) , Rasa Sayange (1961) dan Hijau
Tanahku Hijau Bajuku (1963) .9 Pengakuan internasional atas dirinya sebagai sastrawan
Indonesia , antara lain ditunjukan dengan adanya undangan untuk menjadi peserta dalam
Harvard University Internasinal Seminar . Seminar ini sendiri dipimpin oleh Dr. Henry
A. Kissinger , politikus ternama dari Amerika Serikat . 10 Di kemudian hari beberapa
cerpennya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman dan Perancis . Cerpen Nugroho
Notosusanto yang dimuat dalam bungan rampai luar negeri . Mbah Danu , La Jeune
Mariee dan Tajuban dimuat dalam Denys Lombard ( 1969 ) , Histories Countes
d’Indonesie : Soixante huit ‘ Tjerpen ‘ ( 1933 – 1965 ) . Cerpen yang lain dengan judul
‘ Die Schlange ‘ dimuat dalam Irene Hilgers Hesse et. al , Parlen im Beisfeld :
Indonesien in Erzahlungen der besten zeitgenossichen Autoren ( 1971 ) . Harry Aveling
dalam kumpulan cerpennya , From Surabaya to Armegeddon : Indonesia Short Stories
4
Iskandar P. Nugraha , Mengenang Hidup dan Pengabdian Nugroho Notosusanto , “ Historia , Edisi
Khusus – Juni 1988 , hal. 3.
5
Daftar Ketua Senat Mahasiswa FSUI – 1950 – 1981 . Lihat Meutia F. Swasono , Buku Peringatan
Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1940 – 1980 , ( Jakarta : FSUI , 1980 ) , hal. 59 .
6
Keluarga Nugroho Notosusanto , ibid, hal. 93 .
7
Ibid, hal. 92.
8
Ibid, hal. 93.
9
Satyagraha Hoerip , “ Antara Mesiu , Menyan dan lainnya – 25 Cerpen Nugroho Notosusanto ,” Horizon
No. 10 Tahun 1983 , hal. 435.
10
Keluarga Nugroho Notosusanto , op.cit., hal. 93 – 94.
3
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

(1976 ) memuat artikel Nugroho Notosusanto yang berjudul ‘ The Soldier ‘ dan The
Transfer 11

Memang banyak cerpenis dasawarsa 1950-an yang mengalami Perang
Kemerdekaan, tetapi sedikit yang ikut aktif angkat senjata melawan Belanda . Nugroho
Notosusanto , bersama Trisnojuwono, Subagio Sastrowardojo, Muhammad
Diponogoro , adalah termasuk di dalamnya. 12 Pengalaman angkat senjata itu justru
memberi inspirasi kepada Nugroho Notosusanto , untuk menuangkan dalam banyak
cerpennya gambaran mengenai situasi dan suasana perjuangan fisik di awal kemerdekaan
Kecenderungan yang muncul dari tulisan-tulisan Nugroho Notosusanto adalah
kesukaannya pada hal-hal yang ajaib, misterius dan juga humor. 13 Lepas dari ini semua ,
sebenarnya tulisan-tulisan Nugroho Notosusanto menaruh perhatian pada masalah
kemanusiaan . 14 Sebagai penulis cerpen ia pun mendapat kritik dari H.B. Jassin , kritikus
yang sangat disegani Nugroho sendiri . 15 Dalam salah satu kritiknya terhadap Nugroho ,
H.B. Jassin mengutarakan bahwa “ Tjerita-tjerita itu terasa tidak didukung oleh
keharuan yang sungguh , keharuan yang ada seolah-olah dituangkan kemudian , sekedar
untuk memberi tjorak pada rangka tjerita yang telah direntjanakan “. 16

Pada tahun 1960, Nugroho Notosusanto memperoleh gelar sarjana dengan skripsi
yang berjudul “ Yogyakarta : Pembentukan Kota Kraton Indonesia pada
Pertengahan Abad 18 , di bawah bimbingan Prof. Mr. Dr. Sukanto , guru besar
Sejarah Indonesia di Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia . Nugroho
Notosusanto berusaha mengarahkan perhatiannya pada kota Yogyakarta berserta
pemerintahan dan masyarakat pada periode ( 1775 – 1825 ) secara integral . yang mana
diketahui belum ada yang membahasnya ketika itu . Ia menjadikan kerangka penulisan
Soekanto dalam Dari Djakarta ke Djakarta : Sejarah Ibukota kita (1955 ) sebagai
pedoman dalam menyusun skripsi . Dalam periodesisasinya , Nugroho Notosusanto
mengikuti pembatasan waktu dalam buku Soekanto , Sekitar Jogyakarta , 1775 – 1825 (
1952 ) , yang menyatakan bahwa periode itu sebagai latar belakang daripada kejadian-
kejadian sesudahnya , yaitu Perang Diponogoro ( 1825 – 1830 ) dan persoalan-persoalan
yang bersangkutan dengan perang tersebut , termasuk hal-ihwal Raden Saleh Syarief
Bastasman , Raden Arya Hadiningrat , Sentot Prawiradirdja dan lain-lain . Periode ini
dianggap penting karena diawali dengan terjadinya Perjanjian Giyanti antara Pangeran
Mangkubumi ( yang kemudian dikenal sebagai pendiri Kesulatanan Ngayogyakarta )
dengan VOC yang menyebabkan kerajaan Mataram terbagi menjadi kerajaan Kasunanan

11
Satyagraha Hoerip. Op.cit., hal. 438 . Lihat juga Disertasi Nugroho Notosusanto , The Peta Army During
the Japanese Occupation of Indonesia , ( Jakarta : Universitas Indonesia , 1977 ), hal. 11 .
12
Satyagraha Hoerip , loc. cit., hal. 438.
13
Sa[pardi Djoko Damono , “ Catatan Kecil tentang Cerpen Nugroho Notosusanto ,” Historia , Edisi
Khusus , Juni 1988 , hal. 16 . Lihat juga . H.B. Jassin , Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan
Esei , ( Jakarta : Gunung Agung , 1962 ) , hal.151 – 156. Dan H.B. Jassin , Analisa – Sorotan Atas Tjerita
Pendek , ( Jakarta : Gunung Agung , 1965 ), hal. 34 – 42.
14
Sapardi Djoko Damno , loc. cit., hal. 29 . Lihat juga , Goenawa Mohaamd , ‘ Catatan Pinggir – Tjon
Dll ,’ Tempo, 8 Juni 1985.
15
‘ Percakapan dengan Penulis Brigjen Prof. Dr. H. Nugroho Notosusanto : Saya ingin mengungkapkan
simpati terhadap manusia kecil, “ Optimis , 24 Desember 1981 , hal. 47.
16
H.B. Jassin , 1962 , hal. 151 – 156 .
4
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

dan Ngayogyakarta dan ditutup dengan terjadinya Perang Diponogoro . Nugroho
Notosusanto menyatakan bahwa periode ini bisa dipandang sebagai suatu ‘kesatuan ‘.
Dalam kerangka sejarah Mataram , periode ini bisa disebut sebagai ‘ masa permulaan
kerajaan Nagyogyakarta ‘ . Pada saat bersamaan dengan berdirinya kerajaan
Ngayogyakarta dan ibukota kerajaan , maka periode ini bisa dipandang sebagai’ masa
permulaan kota kraton Yogyakarta ‘. 17

Kemudian Nugroho Notosusanto mengabdikan dirinya sebagai dosen di Alma
Maternya, sambil terus mengembangkan program studi sejarah di FSUI . Ini bisa
dimengerti karena saat itu sedikit sekali putra Indonesia yang menjadi sejarawan
akademis . Para pengajar sejarah ketika itu , bisa seorang filolog, arkeolog atau meester
in de rechten. Setahun kemudian Nugroho Notosusanto yang diangkat menjadi Lektor
Kepala FSUI pada tahun 1960 , memperdalam pengetahuannya di bidang Metode Sejarah
dan Filsafat Sejarah pada University of London (1961-1962) Sebelum keberangkatannya,
ia mempersunting seorang mahasiswi Fakultas Hukum UI yang dikenal sebagai aktifis
Gerakan Mahasiswa Djakarta . Adapun nama mahasiswi ini adalah , Irma Savitri, anak
pertama keluarga dokter Ramelan . 18

Sekembalinya dari Inggris, anak pertama dari tiga bersaudara ini, segera
membenahi pengajaran sejarah di FSUI . Pada tahun 1963 , ia mendapat kepercayaan
sebagai Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan . 19 Bisa jadi, kepercayaan sebagai
Pembantu Dekan ini diberikan karena ia dikenal sebagai orang yang memiliki segudang
aktivitas semasa mahasiswa . Karena dianggap berhasil membimbing mahasiswa ,
akhirnya Nugroho Notosusanto dipromosikan menjadi Pembantu Rektor bidang
kemahasiswaan (1964 –1967 ). 20 Mengurusi mahasiswa bukanlah suatu hal yang mudah
, apalagi dalam periode saat itu yang sangat mengguncangkan, diwarnai dengan polarisasi
dan konflik antara kekuatan-kekuatan politik di Indonesia yang boleh dibilang sedang
mencapai puncaknya . Sebagai saksi mata, ia melihat mahasiswa yang terjun dalam
politik praktis terseret dalam pertikaian itu, dan ini pada gilirannya menyebabkan kampus
menjadi arena konflik antar berbagai ideologi . Pada masa-masa kritis itu, selaku
Pembantu Rektor Kemahasiswaan , ia senantiasa mendampingi mahasiswa Universitas
Indonesia, tanpa mengindahkan ancaman-ancaman atas dirinya . Maklum pada saat itu
banyak mahasiswa UI yang menjadi pemimpin dan pelopor aksi-aksi Tritura ( Tri
Tuntutan Rakyat ) . 21 Mungkin atas dasar pengalaman ini semua ,Nugroho Notosusanto
menjadi Rektor Universitas Indonesia memperkenalkan konsepsinya yakni ,
17
Suherman , Abstraksi Skripsi dari Nugroho Notosusanto , Jogyakarta : Pembentukan Kota Kraton
Indonesia pada Pertengahan Abad 18 ( Jakarta : Skrispsi Sarjana FSUI , 1960 ) , Historia , loc.cit., hal. 30-
31.
18
Pada suatu kesempatan , Nugroho Notosusanto mengatakan pada teman gadisnya yang sering ke
percetakan untuk membuat majalah , kalau dirinya mendapat bea siswa belajar ke Inggris . Di mana dalam
bea siswa itu diperbolehkan membawa istri . Akhirnya Nugroho Notosusanto memberanikan diri bertanya
kepada Irma Savitri, “ Kamu mau ikut nggak . Kalau mau ikut kita nikah “ . Tanpa ada pacaran , mereka
menikah dan berangkat ke Inggris selama dua tahun . Anak pertama lahir di Inggris / “ Ny. Erma Savitri
Nugroho ,” Suara Karya , 8 Juli 1984.
19
Sebagai Dekan FSUI adalah Prof. Dr. Raden Mas Soetjipto Wirjosoeparto ( 1961 – 1964 ) dan
digantikan oleh Prof . Dr. Ir. Raden Mas Soemantri Brojonegoro ( 1964 – 1965)
20
Nugropho Notosusanto pada awalnya membantu dr. Syarief Thayeb dan kemudian digantikan oleh Prof.
Dr. Ir. Soemantri Brojonegoro pada tahun 1965 .
5
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Institusionalisasi – Profesionalisasi – Transpolitisasi . Intinya ia melarang mahasiswa
Universitas Indonesia berpolitik praktis di kampus , tetapi ia menganjurkan agar
mahasiswa belajar memahami politik

Karier dalam Militer

Pada tahun 1960-an , selain mendominasi bidang sosial politik , PKI menaruh
perhatian pada bisang-bidang penulisan sejarah sebagai sarana pembenaran
ideologinya.Untuk itu menurut versi mereka ditulislah Sejarah Perjuangan Nasional
Indonesia dibawah pimpinan Anwar Sanusi , berusaha memperoleh pengesahan dari
Presiden Soekarno agar buku yang dirtulis tersebut dijadikan buku resmi mengenai
perjuangan bangsa . Bagi militer , jelas kegiatan itu dianggap membahayakan
kepentingan dan keberadaan militer . Dalam upaya mengimbangi , Menko Hankam
KSAB Jendral A.H. Nasution berinisiatif membentuk team untuk menulis buku semacam
itu dan ini dipimpin oleh Mayjen Mokoginta . Untuk keperluan itu , Jurusan Sejarah
FSUI diminta bantuannya dan ini kemudian tertuang dalam perjanjian kerjasama antara
UI dan ABRI , yang masing-masing diwakili oleh Rektor dr. Syarief Thayeb dan Jendral
A.H. Nasution (1964) . Sebagai realisasinya , Nugroho Notosusanto bersama beberapa
pengajar Jurusan Sejarah FSUI , diperbantukan pada Dinas Sejarah TNI-AD. Ada pun
hasilnya adalah, buku Sejarah Singkat Perjuangan Bersenjata Bangsa Indonesia . 22

Mengingat kebutuhan yang mendesak , dibentuklah Lembaga Sejarah Hankam
pada bulan Oktober 1964 . Sebenarnya banyak perwira menengah yang menginginkan
menduduki jabatan tertinggi di lembaga tersebut , tetapi kelihatannya Jendral A.H.
Nasution hanya mempercayakan kepada Nugroho Notosusanto untuk memimpinnya.
Sebagai orang sipil yang ditempatkan di jajaran militer, Deputi KASAB , Mayjen
Mokoginta merasa Nugroho Notosusanto perlu diberikan gelar tituler agar dapat
memudahkan hubungannya di kalangan Angkatan Bersenjata . Untuk itu , ia
mengusulkan agar Nugroho Notosusanto diberi pangkat Letnan Kolonel, tetapi usul itu
ditolak oleh seorang perwira yang pro PKI dengan alasan terlalu tinggi . Setelah tahun
1966 , Nugroho Nososusanto diberi pangkat Kolonel tituler . Dibawah kepemimpinannya
, lembaga tersebut berkembang pesat dan ini dapat diartikan pilihan Jendral A.H.
Nasution adalah tepat sekali . 23

Setelah beberapa tahun Universitas Indonesia terus bergolak , dan pada akhirnya
menjadi pulih kembali pada tahun 1967 . Nugroho Notosusanto memutuskan untuk
mencurahkan perhatiannya pada Pusat Sejarah ABRI , dan untuk ia menyerahkan
jabatannya selaku Pembantu Rektor UI pada bidang kemahasiswaan . Walaupun

21
Keluarga Nugroho Notosusanto , op.cit., hal. 95 dan Soe Hok Gie , Catatan Seorang Demonstran ,
( Jakarta : LP3ES , 1983 ) , hal. 161 serta “ Ny. Erma Savitri Nugroho , “ Suara Karya , 8 Juli 1984 .
22
“ Wawancara : Bermula dari Offensif PKI ,” Historia , loc. cit , hal. 16 – 17
23
Ibid.
6
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

demikian, ia tetap mengabdikan diri sebagai dosen FSUI, di samping sebagai pengajar
pada lembaga-lembaga pendidikan ABRI ( waktu itu : Seskoad, Seskoal , Seskau dan
Seskopal ) yang dimulainya sejak tahun 1964 . Ia merasa bahwa kesempatan bertugas di
bidang militer ini sebenarnya merupakan cita-citanya sejak muda pada tahun 1950. 24

Sebetulnya keinginan Nugroho Notosusanto untuk menekuni dunia militer, adalah
suatu hal yang wajar. Ini bisa dilacak kalau melihat kehidupannya semasa remaja.
Menjelang Proklamsi Kemerdekaan pada usia 14 tahun , sebagai siswa SMP Prapatan –
Jakarta., ia menggabungklan diri pada Badan Keamanan Rakyat . Tentu saja
perbuatannya ini menggelisahkan hati orangtuanya , sehingga diputuskan untuk
mengirimkan Nugroho ke rumah pamannya di Pati .25 Ketika keluarganya pindah ke
Yogyakarta , disebabkan ayahnya diangkat sebagai Kepala Jawatan Kepenjaraan RI,
Nugroho Notosusanto segera berkumpul kembali dengan orangtuannya, dan disana ia
menyelesaikan sekolahnya di SMP Negeri II Yogyakarta pada waktu itu, tanpa panjang
segera menggabungkan diri pada Batalyon A Mobiele Brigade MBT . Begitu pecah
Perang Kemerdekaan, ia bersama-sama teman-teman seusianya , meninggalkan bangku
sekolahnya dan kemudian memanggul senjata untuk turut berjuang sebagai anggota
Brigade XVII Tentara Pelajar , yang resminya merupakan jajaran Tentara Nasional
Indonesia . Pangkat terakhir yang disandang Nugroho Notosusanto sebagai Tentara
Pelajar , adalah Sersan Mayor . 26

Seusai Perang Kemerdekaan , Nugroho Notosusanto kembali ke bangku sekolah ,
dan tamat sekolah pada SMA /A Negeri II Yogyakarta pada tahun 1951 . Pengalaman
semasa remaja itu, membawa Nugroho Notosusanto berkeinginan untuk mengikuti
pendidikan militer, seperti yang dilakukan beberapa teman Tentara Pelajar
seperjuangnnya . Ada keinginan untuk memasuki Akademi Militer di Breda , Belanda
yang tersohor itu . Namun, Prof. Mr. Notosusanto yang diangkat sebagai guru besar
Fakultas Hukum UGM , sejak tahun 1950, menginginkan anaknya memasuki perguruan
tinggi di salah satu universitas , Nugroho Notosusanto muda saat ini merasa berada di
persimpangan jalan, mengikuti ayahnya untuk menjadi seorang akademisi atau bertugas
sebagai perwira .27 Sebagai anak yang berbakti , ia memenuhi permintaan ayahnya dan
memutuskan untuk melanjutkan pelajarannya ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia di
Jakarta.

Sejak pertengahan tahun 1960-an, Nugroho Notosusanto aktif mengikuti seminar-
seminar yang diadakan , baik di dalam maupun di luar negeri . Ada pun negara-negara
yang telah dikunjunginya , antara lain Amerika Serikat , Jerman Barat , Australia maupun
Malaysia , dan kelihatannya studi tentang militer di Indonesia senantiasa merupakan
materi yang ia sajikan.28 Selain itu, dari tangannya pula dihasilkan sejumlah buku/brosur
tentang militer di Indonesia atau juga penulisan textbook sejarah ABRI yang
dipergunakan pada lembaga-lembaga pendidikan ABRI . 29 Pada tahun 1968 , Nugroho
24
Keluarga N7groho Notosusanto , op.cit., hal. 96 .
25
Ibid, hal. 90. .
26
Ibid.
27
Iskandar P. Nugroho , loc. cit., hal. 3 .
28
Lihat . Disertasi Nugroho Notosusanto , op.cit., hal. 4 – 6. ( Halaman Riwayat Hidup )
29
Ibid., hal. 6 – 7 . ( Halaman Riwayat Hidup )
7
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Notosusanto dengan Ismail Saleh menyusun buku mengenai Peristiwa G-30-S/PKI dalam
bahasa Inggris The Coup Attempts of The September 30 Movement In Indonesia , yang
sering dianggap sebagai sanggahan atas Cornell Paper yang melihat kejadian G-30-
S/PKI itu sebagai masalah intern Angkatan Darat belaka .30 Tulisan ini berawal dari
laporan Kepala Biro Hankam , Nugroho Notosusanto , mengenai percobaan kup yang
diterbitkan dengan judul “ 40 Hari Kegagalan G.30.S “ , setelah dua bulan peristiwa itu
terjadi . Tulisan ini dianggap kurang memadai karena dikerjakan dengan bahan
seadanya dan dalam waktu singkat . Bersamaan dengan itu Nugroho Notosusanto yang
menjadi dosen Seskoad , memperoleh tugas dari Komandan Seskoad , Mayor Jendral
Soewarto untuk mempersiapkan buku yang mengisahkan peristiwa percobaan kup
tersebut dalam bahasa Inggris . Karena buku itu harus ditunjang dengan bukti-bukti dari
segi hukum yang berlaku , maka Suwarto menugaskan Letkol. Ismail Saleh sebagai
penulis pendamping . Ketika itu Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh memperoleh
tugas ke Amerika Serikat dan Belanda untuk mengamati kegiatan kampanye dari dekat ,
yang dilakukan oleh sejumlah organisasi dalam menentang Orde Baru . Rencananya
Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh akan dikirim ke negara-negara Blok Timur ,
tetapi karena ‘ gerilya politik ‘ yang dibiayai oleh negara-negara Blok Timur tertentu
cukup berpengalaman . Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh urung dikirim ke sana ,
agar bisa terhindar dari resiko yang tidak diinginkan. Dengan mempelajari kampanye-
kampanye yang bernada bermusuhan itu , kedua penulis itu bisa menyusun kembali
naskahnya , untuk menangkis issu-issu yang tertulis dalam berbagai tulisan . Nugroho
Notosusanto menulis bagian sejarah dengan sumber utama adalah hasil-hasil sidang
Mahkamah Militer Luar Biasa , yang mengadili pelaku percobaan kup . Sedangkan Ismail
Saleh menulis masalah-masalah hukum. 31

Sementara itu, Nugroho Notosusanto yang diangkat sebagai Ketua Team
Penulisan Biografi Pahlawan Nasional yang dibentuk oleh Departemen Sosial pada tahun
1970 , dalam waktu yang cukup singkat dapat menyelesaikan pembangunan Museum
ABRI Satria Mandala , yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1
Oktober 1972 . Pada tahun itu juga , pangkat titulernya dinaikkan menjadi Brigadir
Jendral TNI Tituler . Kegiatannya dalam usaha menumbuhkan pennghayatan Sejarah
Perjuangan Bangsa di lingkungan ABRI tidak berhenti sampai disitu saja. Langkah
berikutnya ia mulai merintis tradisi Napak Tilas Route Panglima Besar Sudirman yang
dimulai pada tahun 1973 dan pada awalnya hanya diperuntukan bagi taruna-taruna
AKABRI . Namun pada perkembangan selanjutnya , sewaktu Nugoho Notosusanto
menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , kegiatan ini diikuti oleh
Resimen Mahasiswa se-tanah air . 32

30
Pada awalnya Cornell Paper merupakan makalah biasa yang kemudian diterbitkan menjadi buku . Lihat .
B. R.O’G Annderson and Ruth McVey , A Prelimary Anal;ysis of the October 1 , 1965 , Coup in
Indonesia , Ithaca : Modern Indonesia Project , 1971 ) . Peritiwa Gerakan 30 September ini ditafsirkan
berbeda-beda . Lihat. Harlod Crouch , Militer dan Politik di Indonesia , ( Jakarta : Sinar Harapan , 1986 ) ,
hal. 111 – 134 dan Ulf Sundhaussen , Politik Militer Indonesia 1945 – 1967 – Menuju Dwi Fungsi ABRI ,
( Jakarta : LP3ES , 1986 ) , hal. 341 – 344.
31
Kata Pendahuluan dalam Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh , Tragedi Nasional – Percobaan Kup
G30S / PKI Di Indonesia , ( Jakarta : Intermassa , 1989 ) , hal. xiii – xiv .
32
Keluarga Nugroho Notosusanto , op.cit., hal. 97 – 98 dan 107 – 108 .
8
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Kendati Nugroho Notosusanto disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan , bukan
berarti ia melupakan untuk menyelesaikan disertasinya . Terbukti pada bulan November
1977 , Nugroho Notosusanto berhasil meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Sastra
dengan disertasi yang berjudul , The Peta Army during the Japanese Occupation of
Inddonesia , setebal 328 halaman. Di hadapan Promotor Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar ,
dan para penyangganya , Jendral (Purn ) A.H. Nasution, Prof. Dr. Selo Soemardjan, Prof.
Dr. Haryati Soebadio dan Prof. Koentjaraningrat , ia berhasil menjawab dengan baik
setiap sanggahan selama 1 jam , sehingga memperoleh predikat memuaskan. 33

Perhatian Nugroho Notosusanto terhadap tentara Pembela Tanah Air diawali
dengan artikel yang berjudul “ Instansi Yang Melaksanakan Pembentukan Tentara
PETA yang dimuat dalam majalah-majalah Ilmu-Ilmu Satra Indonesia pada tahun 1964 .
Tulisan itu kemudian dikembangan oleh Nugroho Notosusanto dengan menulis
Pemberontakan Tentara PETA Blitar melawan Jepang ( 14 Februari 1945 ) yang
diterbitkan oleh Lembaga Sejarah Hankam pada tahun 1968 . Cara pengerjaan penulisan
disertasi ini dianggap Nugroho Notosusanto diluar kebiasaan studi sejarah . Nugroho
Notosusanto menyatakan bahwa studinya merupakan “ daerah senja “ antara sejarah dan
ilmu-ilmu sejarah . Nugroho Notosusanto menggunakan teknik wawancara . qustionaire
dan sample dengan alasan langkanya sumber-sumber dokumenter serta untuk
memperoleh gambar mengenai profil sosial . Lebih dari 165 orang diwawancarai , tetapi
hanya 124 orang yang dimasukan dalam sampel dengan alasan tidak semua yang
diwawancarai adalah eks perwira Peta sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk
dimasukkan dan ada responden yang tidak cukup memberikan informasi bagi sampel ini.
Untuk memperoleh informasi yang diperlukan , terlebih dahulu digunakan questionaire ,
yang mencoba memperoleh informasi mengenai status responden yang sekarang , status
selama pendudukan Jepang sebelum memasuki Peta dan informasi mengenai ketika
menjadi anggota Peta . Melalui tulisan ini Nugroho Notosusanto ingin menyanggah
pernyataan yang menyatakan bahwa Peta sesungguh suatu formasi militer yang otonom
dan terintegrasi . Nugroho Nosusanto menyatakan bahwa sesungguhnya Peta tidak
merupakan suatu tentara sungguh-sungguh dengan suatu markas besar sentral serta suatu
komando sentral dan terdiri atas orang Indonesia .Peta telah dirancang sebagai satuan
bantuan lokal bagi pasukan-pasukan Jepang di setiap daerah .Nugroho Notosusanto ingin
juga menyatakan bahwa tidak benar bahwa Peta secara kesuluruhan telah
ditransformasikan menjadi TKR . Peta dibubarkan sebelum pembentukan Badan
Keamanan Rakyat . Para eks Peta yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali , sebagian besar
menggabungkan diri pada satuan-satuan BKR setempat , tidak berada dalam lokalitas
yang sama dengan daidan-nya yang dahulu . Di samping itu ribuan pemuda lainnya
masuk dalam BKR dan yang lainnya membentuk laskar-laskar perjuangan .Satuan
-satuan BKR ini kemudian ditransformasikan ke dalam TKR yang merupakan angkatan
perang reguler Republik Indonesia . Secara sederhana , Nugroho Notosusanto ingin
menyatakan bahwa Tentara Nasional Indonesia " lahir langsung dari rahim revolusi . Ia
merupakan produk dari kondisi-kondisi – yang seringkali chaostis - daripada Perang
Kemerdekaan . TNI bukanlah satu perkembangan – entah fisik entah spiritual – daripada
formasi militer mana pun . Dalam studinya ini Nugroho Notosusanto menyimpulkan

33
“ Doktor Sastra untuk Nugroho Notosusanto “, Kompas , 14 November 1977 dan “ Peta bukan inti dan
pemula pertumbuhan TNI , “ Sinar Harapan , 12 November 1977 .
9
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

bahwa makna pengalaman Peta bagi kebanyakan orang Indonesia adalah merupakan
suatu inspirasi . Hal itu telah memberikan kepada mereka kepecayaan kepada diri sendiri
yang sangat diperlukan untuk melawan suatu tentara yang lebih unggul dalam latihan dan
perlengkapannya , dengan sarana-sarana yang serba kurang . Dari sana bangsa Indonesia
dapat bertumpu kepada kemampuannya sendiri yang terus-menerus bertambah , dan
memperkembangkan dirinya lebih lanjut untuk mencapai taraf yang kini telah mereka
capai . 34

Akhirnya Nugroho Notosusanto mencapai tingkat akademik tertinggi pada Alma
Maternya , suatu jenjang yang sangat diimpikan bagi orang yang yang menekuni dunia
keilmuan di perguruan tinggi. Tanggal 5 Januari 1980., ia dikukuhkan sebagai gurubesar
FSUI , setelah mengabdi pada Ilmu-ilmu Sejarah selama 20 tahun . Promovendus dalam
pidato pengukuhannya yang berjudul “ Sejarah Demi Masa Kini “ , menyatakan isitilah
“Sejarah “ mengacu pada sejarah sebagai res gestae ( sebagai peristiwa yang benar-benar
telah terjadi ) dan sejarah sebagai rerum gestarum ( kisah daripada peristiwa-peristiwa
yang benar-benar terjadi ) . Nugroho Notosusanto sendiri mengacu pada sejarah sebagai
Rerum gestarum ( kecuali jika secara eksplisit dinyatakan sebaliknya ) . Nugroho
Notosusanto menyatakan bahwa setelah beberapa tahun menjadi sejarawan dan setelah
mempelajari filsafat – sejarah kritis , Nugroho Notosusano melihat ada empat guna
sejarah ; rekreatif, inspiratif , edukatif dan instruktif . Nugroho Notosusanto juga
menyatakan pada hakekatnya ‘ pelajaran-pelajaran sejarah ‘ merupakan peristiwa-
peristiwa yang terjadi pada masa lampau yang dapat terulang lagi pada masakini dan
masa akan datang . Bangsa Indonesia dianggap perlu mengenal apa yang dilakukan
sejak dahulu hingga kini dengan kata lain mengenal diri kita sendiri .Dengan demikian
kita memiliki wawasan sejarah dan dengan wawasan sejarah kita dapat
mengkonsepsikan ‘trend ‘ atau’ proses ‘ sejarah di mana peristiwa yang satu
menyebabkan peristiwa yang lain yang sedikit banyak logis .Berpikir secara itu sangat
membantu untuk mengerti bagaimana masakini – yang sesungguhnya adalah masa
lampau yang dapat dilihat secara langsung – berkembang dari masa masa lampau yang
lebih jauh. Pendekatan yang sama dapat dilakukan untuk mengantisipasi masa depan ,
dengan mengamati proses perubahan-perubahan yang terjadi dari dahulu hingga kini .
Oleh karena itu pula wawasan sejarah dapat digunakan untuk mengikuti jalannya
pembangunan dengan pelbagai masalahnya .Sekarang telah lahir sebuah generasi yang
tidak mengenal masa penjajahan .Jembatan penghubung antara mereka dengan tahun-
tahun formatif bangsa kita ( sepertiga abad yang lalu ) melalui sejarah . Jika sejarah tidak
sampai pada ke tangan yang mereka bisa menimbulkan persepsi yang tidak tepat
mengenai antiseden bagi masakini .Mereka tidak mengerti mengapa masakini seperti
sekarang ini bentuknya. Ketidakmengertian itu kemudian menimbulkan miskonsepsi dan
pada akhirnya membawa ke arah munculnya perasaan frustasi . Dia mencatat bahwa
pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melengkapi buku-buku Sejarah
Nasional Indonesia mulai dari perguruan tinggi sampai kepada sekolah dasar . Kendati
penyusunan kurikulum belum mengikuti penyediaan buku-buku sejarah tersebut .
Nugroho Notosusanto menekankan bahwa sejarah yang disampaikan bukan demi masa
lampau , melainkan demi masakini , demi pengertian masakini .Nugroho Notosusanto

34
Nugroho Notosusanto , Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia ( Jakarta : Gramedia ,
1979 )
10
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mengingatkan tentang betapa pentingnya wawasan sejarah bagi semua warga negara ,
terutama yang menduduki posisi pimpinan ( dan yang lebih khusus para perancang
sistim pendidikan kita )35

Sebagai ucapan syukur atas segala rahmatNya , Nugroho Notosusanto bersama
rekan-rekan yang tinggal di Kompleks Dosen UI Rawamangun berhasil mendirikan
Mesjid At-Taqwa, dan ia bertindak sebagai Ketua Yayasan Mesjid tersebut . Ia pun
menunaikan ibadah haji pada tahun 1979 .36 dan setahun kemudian pada acara peringatan
Maulud Nabi Muhammad S.A.W di Istana Negara , Nugroho Notosusanto memperoleh
kesempatan menyajikan ceramah yang berjudul “ Nabi Muhammad sebagai Pembangun
Umat” . Bagi teman-teman dekatnya semasa remaja , yang mengenalnya sebagai anak
priyaji , tentu saja penampilannya ini cukup mengejutkan . 37

Kontroversial

Sebagai seorang sejarawan , Nugroho Notosusanto memainkan peranan penting
dan sedikit agak kontroversial pendapatnya . Ia bisa dinggap sebagai pelopor dalam
penelitian Sejarah Kontemporer Di Indonesia penulisan sejarah kontemporer dianggap
riskan , dan ini disebabkan sumber-sumbernya sangat langka , pelaku-pelaku sudah tua
( secara alami ingatannya menjadi mundur ), berhubungan masyarakat kurang atau belum
begitu menyadari arti pentingnya menyimpan dokumentasi bahan-bahan tertulis dan
banyak bahan sejarah Indonesia berada di luar negeri akibat perang . Di samping itu
kadar subyektifitasnya sangat tinggi mengingat banyak pelakunya masih hidup. Sehingga
tidak jarang apabila peneliti sejarah kotemporer seringkali mengalami caki-maki ,
sebagaimana yang dialami Nugroho Notosusanto sendiri . Di bidang kritik masalah yang
dihadapi sejarawan kontemporer adalah adanya perbedaan persepsi pada para pelaku ,
sengketa pribadi , pikun dan berpretensi dirinya paling penting dalam peristiwa itu .
Untuk menghadapi subyektivitas pelaku , bisa dikerjakan dengan cara melaksanakan
kombinasi antara wawancara simultan dengan wawancara individual serta menguji
sumber atau saksi dengan melakukan apa sumber tersebut mampu dan mau memberi
keterangan yang benar . Seandainya sumber tersebut mampu dan mau memberi
keterangan yang benar berarti bisa dilakukan wawancara .Nugroho Notosusanto
menganggap bahwa subyektifitas bisa muncul karena adanya sikap berat sebelah pribadi,
prasangka kelompok ,teori-teori sejarah interprestasi sejarah yang bertentangan dan
konflik-konflik filsafat .38 Penulisan sejarah komtemporer banyak sekali bergantung pada
wawancara dan Nugroho Notosusanto kelihatannya dianggap sebagai pelopor dalam
teklnik wawancara simultan . Maksudnya dalam menegakkan suatu fakta sejarah ,
diperlukan kesaksian lebih dari satu orang dalam suatu kesempatan wawancara .Hanya

35
“ Prof. Nugroho Notosusanto Guru Besar Ilmu Sejarah FSUI ,” Kompas, 7 Januari 1980 dan Nugroho
Notosusanto , Sejarah Demi Masakini , ( Jakarta : UI Press , 1979 )
36
Keluarga Nugroho Notosusanto , op.cit., hal. 101.
37
Ibid dan Redaksi Yth , Kompas , 11 Februari 1980 . Ceramah Nugroho Notosusanto dianggap lebih
menekan pada wawasan sejarah ketimbang siraman rahani .
38
Nugroho Notosusanto , Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer , ( Jakarta : Yayasan Idayi , 1978 ) .
11
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

saja teknik ini terlalu sulit dipraktekkan bagi orang yang tidak mempunyai kedudukan.
39
Tetapi lewat kasus ini, secara tidak langsung menjawab alasan mengapa Nugroho
Notosusanto yang menggeluti sejarah , sangat senang memasuki dunia militer. Dalam
salah satu kesempatan , ia berkata “ Saya senang bekerja di sini, mengabdi pada
sejarah Kalau saya berbaju sipil susah melakukan penggalian sejarah . Dengan
hirarki militer , maka sejarah banyak bisa digali dan proyek sejarah berjalan dengan
mulus “.40

Tulisan Nugroho Notosusanto dalam studi sejarah kontemporer ,yang perlu
dibicarakan di sini , Teks Proklamasi yang Otentik dan Rumusan Pancasila yang Otentik
Tulisan ini berawal dari keprihatinan Nugroho Notosusanto terhadap pernyataan D.N.
Aidit yang menyatakan di depan perserta Kursus Kader Revolusi , bahwa Pancasila
adalah semata-mata “ alat pemersatu “ . Seandainya Indonesia telah bersatu , tidak
diperlukan Pancasila sebagai perekat bangsa Indonesia . Di awal pemerintahan Soeharto
yang sedang sibuk melakukan konsolidasi dan mempersiapkan pemilihan umum serta
melaksanakan Pelita I . Nugroho Notosusanto merasa perlu mengubah persepsi
masyarakat tentang teks Proklamasi , Lahirnya Pancasila dan Penggali Pancasila . Hasil
penelitian Nugroho Notosusanto itu dituangkan dalam naskah Teks Proklamasi yang
Otentik dan Rumusan Pancasila Yang Otentik . Melalui tulisan itu Nugroho Notosusanto
ingin mengatakan bahwa yang disebut Teks Proklamasi yang asli , bukan sebagaimana
yang disebut orang selama ini , yang mengatakan teks proklamasi yang asli adalah teks
tulisan tangan Presiden Soekarno tanpa tanda tangan disertai dengan corat-coret . Tulisan
tangan itu sebenarnya hanya merupakan ‘klad ‘ ( tulisan sementara ) dan kemudian
diketik oleh Sayuti Melik dengan mengadakan tiga perubahan , yakni kata ;tempoh ‘
mejadi ‘ tempo ‘ , ‘ Wakil –wakil bangsa Indonesia ‘ diganti dengan ‘ Atas Nama bangsa
Indonesia ‘ dan ‘ Djakarta , 17-8 –05 ‘ diganti menjadi ‘ Atas nama bangsa Indonesia ‘ .
Naskah yang sudah selesai diketik ini kemudian ditandatangani oleh Soekarno dan Moh.
Hatta . Mengenai proses perumusan Pancasila , Nugroho Notosusanto menyataan bahwa
selain Soekarno . Muh. Yamin turut serta di dalam usaha proses perumusan Pancasila .41

Lain daripada itu , Nugroho Notosusanto juga melopori penulisan buku teks
sejarah untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas . Ia
menjadi Ketua dan Editor Panitia Penyusunan buku Pelajaran Sejarah Nasional Indonesia

39
Nugroho Notosusanto bisa mengadakan wawancara tentang Peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret
dengan Presiden Soeharto , Jendral M. Jusuf dan Jendral Amir Machmud secara simultan pada tanggal 13
Maret 1977 di Jakarta . Lihat . Nugroho Notosusanto , Menegakkan Wawasan Alma Mater , op.cit, 174 .
40
“ Jenazah Alamarhum Nugroho Notosusanto Dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata .” Sinar
Harapan , 4 Juni 1985 .
41
Nugroho Notosusanto , Naskah Proklamasi Yang Otentik dan Rumusan Pancasila Yang Otentik ,
( Jakarta : Balai Pustaka , 1983 )
12
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

. 42 Sebenarnya penulisan buku-buku ini adalah bagian dari rangkaian penulisan Buku
Standard Sejarah Nasional Indonesia , yang telah dimulai sejak tahun 1971 dan saat itu
Nugroho menjadi Wakil Ketua dan Editor . Menulis buku Standar Sejarah Nasional
Indonesia Ini memang bukan suatu pekerjaan mudah . Kebanyakan buku Sejarah
Nasional Indonesia yang ditulis selama ini bertumpu pada hasil penelitian orang
Belanda, dan sebagai akibatnya paradigma kolonial, mendasari buku- buku yang
ditulis itu . 43

Pada tahun 1971 , dibentuk kepanitiaan proyek penyusunan buku standard .
Adapun sebagai ketuanya adalah, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo , sedangkan yang
bertindak sebagai wakil ketua adalah Dr. Marwati Djoened Poesponegoro dan Drs.
Nugroho Notosusanto . Dengan bantuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ,
dibentuk suatu panitia untuk dikirim ke luar negeri dalam rangka melakukan studi
perbandingan , disusun suatu rencana penulisan buku standard, dan Prof. Dr. Sartono
Kartodirdjo , sebagai ketua menyusun kerangka ilmiah dengan menggunakan pendekatan
multidimensional .44

Akan tetapi dalam perkembangannya, komposisi yang sedemikian beragam
pendidikannya, bahan baku yang sangat minim dan dibarengi dengan waktu yang tak
cukup panjang , pada gilirannya menjadikan buku tersebut hasilnya tidak memuaskan
semua pihak . Bahkan ada yang mengundurkan diri dari kepanitian . 45 Walaupun
demikian, Nugroho Notosusanto tetap bertahan untuk mempertahankan proyek ini
sampai selesai , meskipun ia tahu resiko apa yang akan didapatnya nantinya.46 Ternyata
benar , tidak sampai sebulan setelah keenam jilid buku ini diserahkan kepada Presiden
Soeharto pada tanggal 18 Maret 1976 oleh Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah
Nasional Indonesia yang terdiri dari 6 jilid ( Zaman Prasejarah Indonesia , Zaman
Kuno , Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia , Abad ke-
18 dan ke-19 , Zaman Kebangkitan Nasional dan Akhir Zaman Hindia Belanda serta
Jaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia ) dan Menteri P& K Syarief Thayeb ,
bermunculan serangan yang cukup gencar dalam tulisan-tulisan di harian Merdeka .
Kritik itu pada umumnya seputar peran politik Presiden Soekarno pada tahun-tahun
sebelum kejatuhan akibat Peristiwa G-30-S/PKI .Sebenarnya Nugroho Notosusanto
menyadari akan hal tersebut , sebagaimana yang dikatakan dalam prakata buku Sejarah

42
Textbook sejarah untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama pernah diramaikan , karena memuat kata-kata
sebagai berikut ,” Dalam pada itu Prsiden sendiri menerima komisi dari perusahaan asing yang melakukan
impor ke Indonesia pada pelbagai bank ke luar negeri tersimpan uang jutaan dollar atas nama Presiiden “ .
Para pengeritiknya menganggap kata-kata itu tidak layak dimuat dalam buku yang bersifat mendidik , tetapi
kurang mempersalahkan apakah fakta itu benar atau tidak . Serangan itu ramai dibicarakan pada bulan
September dan Oktober 1985 . Beberapa orang yang bertanggungjawab atas buku tersebut lepas tangan .
43
R.Z. Leiressa , “ Prof . Dr. Nugroho Notosusanto – Pelopor Sejarah Kotemporer ,” Historia , Edisi
Khusus / Juni 1988 , hal. 10 – 11 .
44
Ibid dam Lihat juga . Sartono Kartodirdjo , Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia –
Suatu Alternatif , ( Jakarta : Gramedia , 1982 )
45
Taufik Abdullah dan Abdurrachman Suryomihardjo (ed) , Ilmu Sejarah dan Historiografi – Arah dan
Perspektif ( Jakarta : Gramedia , 1985 ) , hal. 31 dan “ Wawancara dengan Prof . Dr. Nugroho Notosusanto
tentang Sejarah Kontemporer – Setuju konsep Sartono , kecuali yang ‘ Hahahaha ‘ “ , Sinar Harapan , 1
Oktober 1980 .serta Dialog : Mempelajari dan Belajar dari Sejarah “, Prisma , Agustus 1980 .
46
R.Z. Leiressa , loc. cit.
13
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Nasional Indonesia , Jilid 6 , yang mana dia sebagai editor . Dalam prakata buku itu
Nugroho Notosusanto mengatakan demikian :

Karena kebanyakan pelaku sejarah periode ini masih hidup, pastilah bahwa kadar emosi
Di dalam menghadapi peristiwa-peristiwa maupun tokoh-tokoh yang yang termasuk jenis
Kontroversial . Segalanya itu bertambah intensitasnya dengan tindakan menarik ujung
kisah –sejarah sampai periode ini sedekat-dekatnya ke jaman kita sekarang ini ……….
Kesemuanya itu cukup memberikan alasan bagi sejarawan yang ‘ mencari amannya’
Untuk menghindari periode yang begitu muthakir , 47

B.M. Diah yang risau terhadap gambaran yang ditampilkan oleh buku Sejarah
Nasional Indonesia tentang Soekarno pada zaman Demokrasi Terpimpin itu , menulis
dalam Harian Merdeka pada tanggal 8 April 1976 dengan judul , “ Sejarah Nasional
Indonesia Harus Tahan Uji “ . B.M. Diah yang mengenal dekat dan merasa dekat
dengan Presiden Soekarno menyatakan bahwa Sejarawan Indonesia 1976 menghukum
Soekarno sebagai aktor sejarah secara kurang atau tidak adil .. B.M. Diah menganggap
bahwa Soekarno telah diperlakukan dengan sinis dan kurang wajar . Gambaran yang
disampaikan penulis buku Sejarah Nasionali ( VI ) tentang Soekarno kurang berdasarkan
fakta-fakta sajarah yang mendukung , tetapi malahan membuat penafsiran-penafsiran
sendiri yang bobotnya perlu diperdebatkan.48 Atmakusumah yang meresensi buku
Sejarah Nasional Indonesia (VI ) ini menyatakan bahwa kritik yang ditujukan pada buku
itu bukan karena ketidak-benaran terhadap fakta yang disajikan , tetapi karena berbagai
penafsiran dan pemilihan fakta yang kurang lengkap .Tidak jarang terjadi bahwa
penilaian yang bersifat sepihak tidak dimbangi dengan pandangan pihak lain - sekalipun
dengan resiko harus mengungkapkan pandangan yang bertentangan – sebagaimana yang
dituntut oleh cara penulisan yang baik . Bahkan kadang-kadang amat terasa bahwa
keterangan sepihak itupun menjadi keyakinan penulis sejarah itu .49

Tulisan Nugroho Notosusanto yang berjudul , Naskah Proklamasi yang Otentik
dan Rumusan Pancasila yang Otentik kemudian dikembangkan dalam usaha melakukan
penelitian yang begitu lama tentang Siapa Penggali Pancasila dan Kapan Hari Lahirnya
Pancasila , melalui cara mewawancarai sejumlah bekas anggota Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia , dan ini juga ditambah dengan studi kepustakaan. Pada akhir ia
menyimpulkan bahwa sebenarnya ada 3 orang penggali Pancasila, yaitu Mr. Muhammad
Yamin, Mr. Supomo dan Ir. Soekarno yang menghadirkan konsepnya pada sidang
PPKI , pada tanggal 29 , 31 Mei dan 1 Juni l945. Jadi bukan hanya Soekarno saja,
sebagaimana pendapat umum. . Tulisan Nugroho Notosusanto itu kemudian dimuat
dalam majalah Persepsi No. 1 Tahun 1979 , dengan judul Mengamankan Pancasila
Dasar Negara . Dengan sedikit perbaikan tulisan itu diterbitkan Balai Pustaka di tahun
1981 dengan judul Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara yang disertai kata
pengantar dari Dardji Darmodihardjo , yang ketika itu menjabat sebagai Dirdjen
47
Kata Pengantar Nugroho Notopsusanto dalam Nugroho Notosusanto dan Marwati Djoend
Poesponegoro , Sejarah Nasional Indonesia VI ( Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
Balai Pustaka , 1990 ), hal. xix – xxi .
48
B.M. Diah , Meluruskan Sejarah , ( Jakarta : Pustaka Merdeka , 1987 ) , hal. 1 – 20.
49
Atmakusumah dkk , “ Tinjauan Buku-buku Babon Sejarah Nasional : Obyektivitas yang Ideal , “ Prisma
7 , Nomor Khusus 1976 , hal. 87 .
14
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Pendidikan Dasar dan Menengah . Sebagai pelengkap disertakan pula tulisan A.G.
Pringgodogdo ( yang mendukung tesis Nugroho Notosusanto ) yang berjudul “ Sekitar
Pancasila “ , yang semula diterbitkan oleh KODAM VII / Brawijaya . Pada akhirnya
buku itu itu dijadkan sebagai bahan bacaan pelengkap bagi guru sekolah dalam rangka
pengajaran PMP . Pemerintah juga memutuskan agar BP 7 menggunakannya sebagai
buku pegangan dalam Penataran P-4 .50

Kemudian isi buku ini dimuat kembali ke berbagai media massa atas permintaan
Departemen Penerangan di bawah kepemimpinan Ali Murtopo . Ternyata pandangan
Nugroho Notosusanto mendapat reaksi yang yang bersifat politis maupun non-politis.
Reaksi yang bersifat politis dikemukakan oleh Lembaga Soekarno –Hatta . B.M. Diah ,
Sunario dan Roeslan Abdulgani , sedangkan reaksi non politis terdapat nama orang-orang
seperti Ruben Nalenan ( Untag ) dan G. Moedjantho ( Sanata Dharma ) . Tak ketinggalan
sejarawan terkemuka seperti Abdurracman Suryomihardjo ( LIPI ) dan Kutowijoyo
( UGM ) juga memberi kritik tajam meskipun hanya lewat komentar saja . Sebaliknya
Onghokham ( UI ) hanya menulis komentar yang sifatnya netral . Yang menarik dalam
polemik ini adalah terlibatnya media massa . Mereka yang mendukung Nugroho
Nosusanto adalah Suara Karya .Yang bersikap netral adalah Kompas, Sinar Harapan
dan Tempo . Dan yang mengeritik adalah Merdeka , Simponi , Topik dan Indonesia
Observer . 51 Beberapa orang menyebut buku ini sebagai pamflet dan dengan Nugroho
Notosusanto menjelaskan bahwa bila yang dimaksudkan pamflet adalah sesuai dengan
pendapat pemerintah sekarang , maka itu cuma kebetulan . Lebih jauh dari itu ada
tuduhan yang paling menyakitkan hatinya sebagai pemalsu sejarah . Tetapi , itulah
konsekuensi bagi orang yang menganut semboyan – Ngluruk tanpa bala - dalam
penulisan sejarah . Artinya , berjuang sendirian dalam menegakkan fakta sejarah, seperti
apa yang diyakininya . 52

Dalam menulis Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara , sumber utama dan
satu-satunya yang dipakai Nugroho Notosusanto adalah buku Naskah Persiapan
Undang-Undang Dasar 1945 susunan Muhamad Yamin yang edisi pertamanya
diterbitkan pada tahun 1959 . Menurut buku itu , atas permintaan Ketua BPUPKI Dr.
Radjiman Wediodiningrat , 3 anggota badan itu dalam pidatonya membicarakan dasar
negara Indonesia Merdeka . Berturut-turut tampilah Muh. Yamin ( hari pertama , 29 Mei
1945 ) , Supomo ( 31 Mei ) dan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 . Maka Nugroho
Notosusanto menyimpulkan bahwa penggali –penggali utama dasar negara RI itu adalah
ketiga tokoh itu , Jadi 1 Juni 1945 bukanlah lahirnya Pancasila Dasar Negara , melainkan
hanya konsepsi Pancasila yang dicetuskan oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI itu
50
Nugroho Notosusanto, Proses Permusan Pancasila Dasar Negara ( Jakarta : Balai Pustaka , 1981 ) , hal.
24 – 29 . Sebenarnya ada beberapa orang yang mempunyai pandangan yang sama dengan Nugroho
Notosusanto . Lihat . B.J. Boland , Pergumulan Islam di Indonesia ( Jakarta : Grafitipers , 1985 ) , hal. 18 –
26 ; H. Endang Saefuddin Anshari , Piagam Jakarta 22 Juni 1945 , ( Bandung : Pustaka , 1981 ) , hal. 13 –
24 ; Prof. Dardji Darmodihardjo , Pancasila Suatu Orientasi Singkat ,( Jakarta : Balai Pustaka , 1981 ) dan
Prof . A.G. Pringgodigdo SH , Sekitar Pantjasila , ( Stensil Balai Penelitian Pendidikan IKIP Negeri
Surabaya , n.d ).
51
Peter Kasenda , Polemik tentang Soekarno dan Pancasila : Suatu Penjelasan , “ Historia , Edisi Khusus/
Juni , 1988 , hal. 21 – 26 .
52
Saleh As’ad Djamhari , “Nugroho Notosusanto – ngulurug tanpa bala , “ Historia – Edisi Khusus/Juni
1988 , hal. 19 .
15
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

.Argumentasi yang dikemukakan Nugroho Ntosusanto untuk mendukung tulisannya itu ,
adalah sebagai berikut ; (1) Buku Muh. Yamin itu dapat disebut sebagai sumber
primer Karena penyusunnya adalah pelaku dari proses perumusan Pancaila dasar Negara
.; (2) Buku itu diterbitkan dengan disertai kata pengantar oleh Presiden Soekarno
sendiri yang juga adalah pelaku sejarah ; (3) A.G. Pringgodigdo yang memangku jabatan
wakil kepala sekretariat BPUPKI dan bertugas memimpin pada stenograf yang
mengambil notulen persidangan badan itu mengatakan pada Nugroho Notosusanto
bahwa bagian buku Muh. Yamin yng berkaitan dengan persidangan BPUPKI , kata
demi kata ( wordelijk ) sama saja dengan notulensich Verslag yang dipinjam Muh.
Yamin dan kemudian tidak pernah dikembalikan . Oleh karena itu , Nugroho Notosusanto
menganggap buku Muh . Yamin itu authentik . dan (5) Beberapa kali Soekarno disebut
sebagai orang yang terutama dalam buku Uraian Pancasila yang dirumuskan Panitia
Lima atau ‘salah seorang’ ( dalam surat wasiat Moh.Hatta pada putra Soekarno ) yang
memberi jawab atas pertanyaan Ketua BPUPKI tentang dasar negara . Hal inilah
menunjukkan Soekarno bukanlah satu-satunya pembicara yang menanggapi pertanyaan
Dr. Radjiman Wedyodiningrat 53

Kritik tajam yang diarahkan pada Nugroho Notosusanto adalah yang berkaitan
dengan penggunaan sumber primer yakni buku Mh. Yamin itu , dengan kata lain lain
mengatakan bahwa Soekarno adalah satu-satunya yang mengemukakan dasar
Indonesia Merdeka . Kritik-kritik adalah yang diuraikan dibawah ini ; (1) Sulit
mempercayai tulisan Muh. Yamin sebagai sumber sejarah , sebab ia tekenal sebagai’
pujangga Istana ‘ semasa pemerintahan Soekarno , dan di samping itu , pribadinya dinilai
‘ licik ‘ dan ‘ pintar menyulap ‘ ; (2) Sebagai seorang pelaku dalam proses perumusan
dasar . Moh. Hatta sejak 1951 secara konsisten mengatakan bahwa Muh. Yamin tidak
pernah mengemukakan seperti apa yang tercantum dalam bukunya itu ; (3) Terlalu sulit
untuk mempercayai penilaian Pringgodigdo terhadap buku Muh. Yamin , karena ia
sendiri tidak pernah mengecek ulang berhubung notulen tersebut ‘ dihilangkan ‘ oleh
Moh. Yamin. Besar kemungkinan Muh. Yamin dalam bukunya mengubah ejaan dan
bahasa serta memperbaiki kata-kata yang janggal dalam notulen itu; (4) Penggunaan satu
sumber saja , menjadi tak asli lagi , karena Muh. Yamin tentu ‘ menyaringnya ; untuk
memperkuat posisiya sendiri . Sumber tunggal juga tidak memungkinkan adanya
perbandingan ; (5) Sebenarnya Muh. Yamin tidak bermaksud menjadikan buku
kompliasi yang disusunnya itu sebagai sumber primer , karena buku tu diterbitkan untuk
untuk mendukung Konsepsi Presiden Soekarno , Kembali ke UUD 1945 ; (6) Adanya
keanehan-keanehan yang terdapat dalam buku itu , seperti Muh. Yamin menempatkan
pidato Soekarno 1 Juni justru pada urutan pertama , kemudian baru disusul dengan pidato
Muh. Yamin ( 29 Mei ) dan Supomo ( 31 Mei 1945 ) . Lalu mengapa Muh. Yamin tidak
memasukan pidato tokoh-tokoh lain antara 29 Mei sampai 1 Juni 1945 ; (7) Adalah sukar
untuk menafsirkan kata pengantar Presiden Sokarno pada buku Muh. Yamin itu sebagai
pengakuan secara langsung terhadap ‘ fakta sejarah ‘ yang terdapat dalam buku itu . Dan
harus diingat bahwa tentunya Soekarno sulit untuk menolak memberi sambutan tertulis
atas buku yang ditulis seorang pendukung yang bermaksud memberi dukungan politik
tehadap gagasannya ; (8) Peranan Soekarno sebagai satu-satunya pengali Pancasila ,

53
A. Heuken SJ et al , Ensiklopedia Politik Poluler Pembangunan Pancasila , Jilid III Kas – Par ( Jakarta :
CLC , 1982 ) , hal. 280 – 282 .
16
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

diperkuat oleh saksi-saksi yang terlibat dalam proses penulisan Pancasila Dasar Negara ,
antara lain , Dr. Radjiman W. M. Hatta dan Muh. Yamin sendiri . Bahkan Muh. Yami
dalam SeminarPancasila pada 16 Februari 1959 di Yogyakarta , mengakui bahwa
Pancasila adalah ‘ penggalian ‘ Soekarno . Selanjutnya dalam pidatonya itu , ia juga
menegaskan ,” Saya tidak mau menyulap “. dan (9) Dalam pidato Lahirnya Pancasila ,
Sokarno menguraikan ,” Maaf, beriboe maaf ! Banyak anggota telah berpidato , dan
dalam pidato mereka itoe dioetarakan hal-hal yang sebenarnya boekanpermintaan
padoeka toean Ketoea yang moelia , jaitoe boekan dasarnya Indonesia Merdeka ….”.
Kutipan ini membuktikan bahwa Soekarno adalah satu-satunya orang yang
mengemukakan dasar negara . 54

Mungkin yang paling menarik adalah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh
Abdurrachman Suryomihardjo . Dia menyatakan bahwa sejarawan seharusnya hati-hati
membuat inteprestasi sejarah . Kalau inteprestasi itu tidak dikaitkan dengan maksud
untuk meniadakan peringatan nasional atau kelompok . Inteprestasi boleh saja
dilakukan . Tapi kalau inteprestasi dipakai untuk membenarkan logika untuk
rekomendasi keputusan politik , itu bisa dipersoalkan . Dengan kata lain , sebenarnya
pemberi komentar itu ingin mengatakan bahwa karya Nugroho Notosusant itu lebih
merupakan pamflet politik dari pada karya sejarah . Kritik semacam itu bisa dimengerti ,
sebab nampaknya Pemerintah mendukung tesis utama dari Nugroho Notosusanto itu.
Mendengar suara suara semacam itu , Nugroho Notosusanto bukannya tidak tanggap . Ia
mempunyai jawaban untuk itu . Kata Nugroho Notosusanto sendiri,” Kalau pendapat
saya dalam buku itu sama dengan pendapat Pemerintah , itu kebetulan saja . Hal itu
sudah menjadi pendapat saya sejak lama ‘. Dan ia menambahkan ,” yang ingin saya
lakukan adalah mengamankan Pancasila sebagai dasar negara , sesuai rumusan dalam
Pembukaan UUD 1945 “.55

Pandangan Nugroho Notosusanto yang sangat kritis terhadap Ir. Soekarno ,
sebagaimana yang terungkap dalam tulisannya , Hari Lahirnya Pncasila , Penggali
Pancasila , Buku Babon Sejarah Nasional Indonesia (VI) dan buku pelajaran SMP.
Memberi kesan kalau ia adalah pelopor di dalam bidang De Soekarnoisasi masa Orde
Baru . Apakah Nugrroho Notosusanto membenci Soekarno ? Dengan tegas ia
membantah tuduhan semacam itu , dan ia membantah tuduhan semacam itu , dan bahkan
menurut pengakuannya, bahwa ia adalah pengagum Bung Karno “ Saya merasa
bagaimana juga beliau itu jasanya amat besar . “ 56 Ternyata tuduhan kalau Nugroho
Notosusanto itu membenci Soekarno bukan saja diperoleh pada saat ini , tetapi dahulu
kaum komunis juga menuduh demikian . 57 Tetapi yang jelas , kasus-kasus berkisar
sekitar Soekarno memperlihatkan dengan jelas betapa unsur disintegratif telah berperan .
Perdebatan-perdebatan yang mengiringi kasus itu memperlihatkan betapa suatu
kewajaran historis ( historical fairness ) , yang telah dirasakan sebagai suatu kepastian ,
terguncang oleh tantangan baru . Tantangan ini ternyata tidak diterima sebagai pengujian
terhadap kewajaran hsitoris , tetapi dilihat sebagai ancaman terhadap mitos peneguh . 58

54
Ibid .
55
Peter Kasnda, loc. cit.
56
“ Ke Mana Dokumen-Dokumen itu Menghilang ? ,” Tempo, 5 September 1981 .
57
“ Ny. Erma Savitri Nugroho ,” Suara Karya , 8 Juni 1984 .
17
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Konsekuensi dari seorang sejarawan yang menaruh minat pada sejarah
kontemporer , ia banyak menerima kritik dari rekan-rekan seprofesi maupun dari tokoh-
tokoh politik. Kritik yang ditujukan kepadanya secara sederhana bisa dibagi dua: Pertama
, kalangan sejarawan yang menganggap bahwa metodelogi yang digunakan oleh Nugroho
Notosusanto kurang canggih dan ia dianggap kurang mau mengikuti arus historiografi
modern yang yang berkesimpung dengan metodelogi multidimensional . Bisa jadi, hal
disebabkan Nugro Notosusanto hanya menaruh perhatian pada sejarah politik saja dengan
penyajian seorang sastrawan . Kedua , dimata kalangan politisi , Nugroho Notosusanto
dianggap sebagai sejarawan yang berpihak pada Orde Baru ABRI , Generasi Muda
Angkatan 1966 serta Anti-Komunis . Konsekuensinya , ia mau tidak mau sedikit
mengabaikan peranan tokoh-tokoh yang berkecimpungan di masa sebelum Orde Baru .
Kecenderungan di menyebabkan ada orang-orang yang merasa dikecilkan peranannya
dalam tulisan-tulisannya. 59

Liku-Liku Memimpin

Setelah Brigjen . Prof . Dr. Nugroho Notosusanto mengabdikan diri selama 22
tahun di lingkungan UI, rupanya ia diperlukan oleh Alma Maternya untuk memimpin
Civitas Academica Universitas Indonesia . Pada tanggal 15 Januari 1982 , ia dilantik
sebagai Rektor Universitas Indonesia . Tetapi pengangkatannya sebagai pejabat tertinggi
di lingkungan UI , rupanya tidak berkesan di hati sejumlah mahasiswa . Sebagai rasa tak
suka atas kehadirannya , diperlihatkan ketika berlangsung acra serah terima dan
pelantikan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menggantikan Prof. Dr. Mahar Mardjono
serta pelantikannya dilakukan Dirdjen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Dody Tisnaamidjaja
mewakili Menteri Pendidikan , Dr. Daoed Joesoef . Acara yang seharusnya berlangsung
dengan penuh kehidmatan, tetapi dalam kenyataan justru diisi oleh suitan , cemooh atau
teriakan sejumlah mahasiswa yang kurang menyukai kehadirannya di lingkungan
Universitas Indonesia . Bahkan keesokan harinya , yakni hari pertama Nugroho
Notosusanto sebagai Rektor UI , ia disambut dengan corat-coret di tembok Salemba yang
bernada tidak setuju keberadaannya sebagai orang yang memimpin Universitas Indonesia
.
Memang ada suara-suara yang mengatakan bahwa ia mengatakan bahwa ia
merupakan droping dari atas , tepatnya dari Hankam . Hal ini bisa ditafsirkan melalui
acara tambahan yang diadakan sejumlah mahasiswa sesudah acara serah terima dan
pelantikan berlangsung . Dalam acara tambahan itu dibeberkan sebuah spanduk yang
cukup panjang dengan tulisan yang cukup panjang dengan tulisan Jangan nodai kampus
kita dengan sepatu lars . Tuduhan ini diperkuat juga dengan tulisan yang terdapat dalam

58
Taufik Abdullah ,” Pengalaman Yang Berlalu , Tantangan Yang Mendatang : Ilmu Sejarah Di Tahun
1970-an dan 1980 ,” dalam Harsya W. Bachtiar dkk , Masyarakat dan Kebudayaan , Kumpulan Karangan
untuk Prof . Dr. Selo Soemardjan , ( Jakarta : Penerbit Djambatan , 1988 ) , hal. 247 .
59
R.Z. Leiressa , loc. cit. , hal. 11 – 12.
18
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Komunikasi Massa, surat kabar laboratorium Departemen Ilmu Komunikasi Massa FIS-
UI , yang menuduh Nugroho Notosusanto orang yang didrop dari Hankam . 60 Dan
bahkan ada yang mengatakan kalau hasil pemilihan Rektor Universitas Indonesia tersebut
tidak bersifat demokratis . 61 Ia diangkat karena pernah menjadi teman satu sekolah
dengan Dr. Daoed Joesoef ketika belajar di Yogyakarta dahulu . 62 Menghadapi segala
macam tuduhan seperti ini , Nugroho Notosusanto menegaskan , kalau ia diangkat
disebabkan ia mempunyai konsep dan juga ia adalah bekas aktivis mahasiswa sehingga
dianggap bisa membimbing . 63

Walaupun Nugroho Notosusanto telah mengadakan dialog dengan mahasiswa di
10 Fakultas di lingkungan Universitas Indonesia, sambil memperkenalkan konsepsinya,
Instusionalisasi Dan Profesionalisasi Melalui Transpolitisasi 64 Tetap saja good will ini
tak mampu memadamkan rasa tidak suka sejumlah mahasiswa yang memang tak
menyukai kehadirannya sebagai Rektor Universitas Indonesia . Ketidaksukaan ini
diperlihatkan lagi, ketika Nugroho Notosusanto selaku Rektor Universitas Indonesia
memecat Peter Sumaryoto , mahasiswa Fakultas Teknik UI yang dikenal sebagai Ketua
DMUI ( organisasi mahasiswa tingkat universitas yang sudah dilarang keberadaannya )
pada tanggal 29 Maret l982. Pemecatan itu terjadi , menurut Nugroho Notosusanto ,
sebagai akibat dari serangkaian tindakannya yang dianggap merongrong kepemimpinan
UI, sejak pelantikan Nugroho Notosusanto sampai tidak mau ambil peduli dengan
larangan untuk tidak mengadakan apel siaga pada hari Sabtu , tanggal 20 Maret 1982 di
kampus Universitas Indonesia , selang dua hari setelah Insiden Lapangan Banteng .65

Sehari setelah pemecatan telah terjadi pengerusakan yang dilakukan oleh
mahasiswa terhadap beberapa bagian gedung Rektorat UI . Dan ini tampaknya terjadi
setelah tidak ada kata sepakat , dalam pertemuan antara pimpinan UI dengan Utusan
Senat Mahasiswa di lingkungan menyatakan Pernyataan Mogok Kuliah Mahasiswa
Universitas Indonesia , tertanggal 31 Maret 1982. Dalam menyambut seruannya ,
ternyata mahasiswa UI jawabannya tidak selalu sama , Ada fakultas yang sama sekali
mogok , ada yang semuanya masuk kuliah .

Menghadapi kejadian tersebut , Nugroho Notosusanto mengeluarkan Siaran
Putra Alma Mater sebanyak 3 seri berturut-turut , yang berisikan antara lain, tentang
kebijaksanaan pemecatan Peter Sumaryoto sebagai mahasiswa Uiniversitas Indonesia ,
kebijaksanaan selaku Rektor Universitas Indonesia terhadap aksi-aksi tersebut dan juga

60
“ Debat Nugroho dengan Mahasiswanya ,” Tempo , No. 51 Tahun XI , 20 Februari 1982 .
61
“ Penggantian Rektor Ui ,” Merdeka, 18 Januari 1982 dan “ UI Giatkan Penelitian & Profesionalisme –
Nugroho Notosusanto : Universitas Sadar Politik Tapi Tidak Melakukan Politik Praktis ,” Sinar Harapan,
15 Januari 1982 .
62
“ Wawancara Khusus Pos Kota dengan Rektor UI – Kampus UI Jangan Menjadi ; Extra Territorial ‘ ,
Pos Kota , 28 Januari 1982 .
63
Ibid.
64
Nugroho Notosusanto, Menegakkan Wawasan Alma Mater , Op.cit., hal. 10 – 25 .
65
Ibid ., hal. 120 . Mahasiswa yang dipecat Nugroho Notosusanto adalah anak dari bekas gurunya di SMP
Pati . “ Saya dipaksa keadaan . Peter keras kelapa, padahal saya sudah mencari jalan tengahnya ,” MS
Abbas , ,” Menegang Prof. Dr. Nugroho Notosusanto ,” Surabaya Post , 4 Juni 1985.
19
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

sekaligus menggambarkan situasi yang terjadi pada saat itu . 66 Acara mogok kuliah itu
sendiri tidak berlangsung lama, hanya memakan waktu selama satu minggu .

Sejak saat itulah dapat dikatakan suasana di Universitas Indonesia kembali
menjadi tenang . Dan selama tahun itu pula , Nugroho Notosusanto mengeluarkan Seri
Komunikasi untuk keperluan intern UI dan merupakan petunjuk bagi Civitas Academica
UI , yang kemudian diterbitkan dalam buku .67 Mungkin kemampuannya dapat
menenangkan situasi kampus , yang senantiasa bergolak itu, Nugroho Notosusanto yang
telah menduduki jabatan sebagai Rektor Universitas Indonesia selamaa setahun lebih dua
bulan itu, diangkat dan dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam
Kabinet Pembangunan IV menggantikan Dr. Daoed Joesoef . 68 Walaupun demikian ,
atas petunjuk Presiden Soeharto, tetap dipegangnya.

Meskipun Nugroho Notosusanto telah diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebuadayaan , ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai Rektor Universitas Indonesia . Ia
melakukan pembenahan-pembenahan ke dalam , dan sekaligus memulai pembangunan
kampus UI Depok yang sudah tertunda beberapa tahun . 69 Tak lupa Nugroho
Notosusanto memperkenalkan Penataran P-4 bagi mahasiswa UI mulai tahun 1983, yang
diikuti oleh 2000 mahasiswa UI . 70

Melihat sistem pendidikan yang selama ini berat sebelah, yakni hanya
menekankan kepada intelektual saja, sedangkan masalah emosi dan religius yang
membawa moralitas kurang diperhatikan, dianggap olehnya sebagai kecenderungan yang
berbahaya . Ini hanya akan menghasilkan orang yang pandai tetapi jiwanya kosong.
Nugroho Notosusanto mengibaratkan orang-orang itu bagaikan Dr. No , tokoh pandai
tetapi jahat dalam serial James Bond .71 Untuk itulah ia menawarkan gagasan tentang
betapa pentingnya pendidikan humaniora, dengan tujuan untuk menciptakan orang-orang
yang tidak hanya menguasai sains dan teknologi semata, tetapi juga berbudaya dan
berwatak . Ternyata gagasan Nugroho Notosusanto itu telah menimbulkan penafsiran
yang berbeda, “ Ada orang yang salah menafsirkan seolah-olah saya anti sains dan
teknologi karena saya berasal dari fakultas sastra “, demikian kata Nugroho
Notosusanto 72 . Sebenarnya apa yang dicetuskan itu sesuai dengan GBHN, bahwa anak-
anak didik tidak hanya harus pandai dan trampil , tetapi juga berbudi luhur , dan dapat
tumbuh sebagai manusia yang seutuhnya .

Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia berkunjung ke berbagai daerah
untuk melihat dari dekat tentang situasi pendidikan dewasa ini. Dan kunjungan itu
ternyata membuahkan berbagai kebijaksanaan pada tahun 1984. Pertama-tama ia
66
Nugroho Notosusanto, Menegakkan Wawasan Alma Mater , ibid., hal. 141 – 156 .
67
Ibid., hal. 1 – 122 .
68
“ Menteri P & K Segera Lakukan 2 Orientasi – Saya teruskan Tugas Seorang Kakak “ , Suara Karya , 22
Maret 1983 .
69
Keluarga Nugroho Notosusanto , ibid, hal. 104 .
70
“ Menteri P dan K Soroti Hambatan dalam Memasyarakat Pancasila di lingkungan Kampus , “ Kompas,
27 Juli 1983.
71
Sabar S, “ Saya Selalu Ingat Sosoknya Yang Gagh dan Selalu Tersenyum .” Pikiran Rakyat , 4 Juli 1085
.
72
“ Mendikbud : Kurikulum Tidak Bersifat Abadi , “ Suara Karya , 19 Oktober 1983
20
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

mempersiapkan program Wajib Belajar , dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada
tanggal 2 Mei 1984 sebagai acara puncak Hari Pendidikan Nasional. Sementara itu bagi
guru-guru di daerah terpencil atas pengorbanan mereka , ia mengusahakan pemberian
Satyalencana Pendidikan. Sementara itu, bagi guru-guru yang berada di seluruh tanah air,
dengan persetujuan Presiden diberikan kenaikan pangkat otomatis .73

Usahanya tidak berhentui sampai disitu saja . Sebagai kelanjutan dari program
Wajib Belajar , Nugroho Notosusanto juga memperkenalkan gagasan Orang Tua Asuh
yang dicanangkan olehnya pada tanggal 23 Juli 1984 di Yogyakarta bertepatan dengan
Hari Anak-anak .74 Maksud dari gagasan ini adalah, agar warga negara yang memperoleh
kelebihan penghasilan, diketuk hatinya agar dengan sukarela mau membantu anak –anak
dari orang tua yang tidak mampu , agar dapat memperoleh pendidikan dasar . Bisa jadi,
dalam hal ini, Nugroho Notosusanto mendapat inspirasi dari pada apa yang dilakukan
oleh dr. Wahidin Sudirohusodo saat merogoh kantongnya sendiri dan mendatangi kaum
priyayi dari zamannya , untuk mengumpulkan dana pendidikan yang diperuntukan bagi
anak-anak yang tak mampu .

Nugroho Notosusanto sendiri mengangkat anak asuh yang bernama Yahya
Tragedi, bocak cilik penjual TTS yang ditemuinya sedang menjajakan dagangannya di
depan pintu gerbang SMP 26 di Salemba . Yahya adalah pelajar SD di daerah Salemba
dan menjajahkan majalah TTS setelah pulang sekolah. Pekerjaan itu dilakukan untuk
membantu orangtua. Ayahnya cacad dan tidak bekerja, sedangkan ibunya bekerja sebagai
pramuwisma yang pulang ke rumah sebulan sekali .75

Setelah menyaksikan bertumpuknya peserta tes masuk perguruan tiggi negeri di
Istora Senayan , Jakarta, ia kemudian mencetusklan sistem penerimaan mahasiswa baru
dengan penelusuran Minat dan Kemampuan , agar anak-anak yang benar-benar pandai
dan berbakat dapat memasuki perguruan tinggi Negeri . Melihat jumlah lulusan SMA
semakin banyak saja, sedangkan daya tampung perguruan tinggi tidak memadai , ia
mencoba membatasi hal tersebut dengan cara mempersiapkan pembentukan Universitas
Terbuka yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 4 September 1984 .
Perguruan tinggi semacam ini, sebenarnya bukan hal yang baru di Eropah Barat .
Mungkin ia mendapatkan ide tersebut dari sana .

Dengan adanya jabatan rangkap berada di tangan Nugroho Notosusanto , sebagai
Rektor Universitas Indonesia merangkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , ternyata
sangat mendukung ide-idenya . Keberhasilannya melakukan gebrakan-gebrakan
pembaharunya di lingkungan Universitas Indonesia terus dilanjutkan dalam kapasitasnya
selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan . Penataran P-4 di Universitas Indonesia bagi
mahasiswa baru, kemudian dilaksanakan mulai tahun 1984 untuk semua mahasiswa baru
di seluruh Universitas Negeri di Indonesia . Kalau tidak salah, ada 500.000 mahasiswa

73
Keluarga Nugroho Notosusanto , op.cit, hal. 105 .
74
“ Kata Nugroho , Soal Minat Orangtua Asuh – Luar Biasa ? Saya sampai ngeri , Jangan-jangan …”,
Merdeka , 25 Juli 1984 .
75
“ Menteri Nugroho Jadi ‘ Bapak Angkat ‘ pertama bantu biaya bocah jual majalah , “ Pos Kota , 14 Juni
1984 .
21
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

baru yang mengikuti Penataran P4 . Selanjutnya , kegiatan ini juga diikuti pelbagai
perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia .

Kendati Nugroho Notosusanto disibukkan karena jabatannya ini, teryata ia masih
sempat menyelesaikan 2 buah buku yang memang sudah lama disusunnya . Pertama ,
buku Pejuang dan Prajurit – Konsepsi dan Implemntasi Dwi Fungsi ABRI , yang
diterbitkan pada tahun 1984 . Buku yang ditulis Nugroho Notosusanto , A.S.S.
Tambunan , Soebijono dan Hidayat Mukmin terdiri dari dua bagian , mengisahkan
Ikhtisar Sejarah Perkembangan Fungsi Sosial-Politik ABRI dan Konsepsi dan
Implementasi Dwifungsi ABRI , dan terlebih dahulu dengan peninjauan komperatif
terhadap Fungsi Sosial Politik ABRI . Dwifungsi ABRI lahir karena produk sejarah yang
menempatkan ABRI semula sebagai pejuang dalam membela negaranya dan setelah
adanya pembentukan TKR mereka menjadi prajurit yang sedikit banyak profesional ,
tanpa meninggalkan etos pejuangnya . Setelah berakhirnya perang kemerdekaan ada
usaha menyingkirkan AP dari percaturan politik sehingga menyebabkan terjadinya
peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa 27 Juni 1955 . Dan kemudian KSAD A.H.
Nasution mengetengahkan konsepsi ‘ Jalan Tengah “ TNI , yang dimaksud sebagai jalan
tengah antara sistim supremasi sipil ala Barat dengan sistim diktaktur atau junta militer .
Sekarang Dwifungsi ABRI dikendalikan oleh pimpinan ABRI untuk seluruh ABRI dan
dilaksanakan oleh karyawan-karyawan ABRI , baik di bidang eksekutif , legislatif
maupun judikatif .76 Buku yang mencoba membenarkan peranan militer dalam sosial
politik di Indonesia. David Jenkins menyebutnya sebagai Hankam Paper 77 tetapi Dr.
Burhan Magenda menganggap buku ini sebagai suatu usaha membahas peranan sosial-
politik ABRI dalam kerangka teoritis yang canggih .78

Setahun kemudian , terbit sebuah buku yang berjudul , Tercapainya Konsensus
Nasional 1966 – 1969 , yang diterbitkan oleh PN Balai Pustaka ( 1985 ).Buku yang
disusun oleh enam orang dengan diketuai oleh Nugroho Notosusanto ini melakukan
penelitian yang banyak menggunakan wawancara dengan 60 orang para pelaku peristiwa
Konsesus Nasional ( dari pihak Parpol/Golkar/Ormas sebanyak 30 orang , kelompok
pemerintah 2 orang , kelompok pimpinan DPRGR 2 orang , serta para anggota Panitia
Khusus 3 RUU DPRGR sebanyak 26 orang ) . Buku yang diberi kata pengantar dari
Presiden Soeharto ini , menyatakan bahwa sebenarnya Konsensus Nasional terbagi dua
macam . Konsensus Utama menyatakan bahwa adanya kebulatanan tekad dari
masyarakat dan Pemerintah untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni
dan konsekuen , yang kemudian dilembagakan menjadi Ketetapan No. XX tahun 1966 .
Sedangkan konsensus kedua adalah mengenai cara-cara melaksanakan konsensus utama
dengan salah satu jalan dengan melakukan pengangkatan sejumlah anggota ABRI yang
dianggap sebagai stabilisator dan dinamisator dalam kehidupan dan perkembangan sosial
politik .79
76
Nugroho Notosusanto (ed) , Pejuang dan Prajurit ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan , 1984 ) .
77
David Jenkins , Suharto and His Generals , Indonesia Military Politics 1975 – 1983 ( Ithaca : Cornell
Modern Indonesia Project , 1984 ) .
78
Lihat Kata Pengantar Burhan Magenda dalam edisi Indonesia pada buku Amos Permulter , Militer dan
Politik ( Jakarta : Rajawali Pers , 1984 ) .
79
Nugroho Notosusanto , Tercapainya Konsensus Nasional 1966 – 1060 , ( Jakarta : Balai Pustaka ,
1985 ) .
22
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com
Peter Kasenda

Selain itu , ia merasa perlu turut serta terlibat dalam menyusun textbook untuk
Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa yang merupakan gagasannya sendiri , bagi anak
didik di seluruh Indonesia , yang telah dimulai pada tahun 1984. Secara mendadak pada
tanggal 3 Juni 1985, siang hari , ia dipanggil menghadap Sang Pencipta, dalam usia 54
tahun ( kurang 12 hari ) . 80 Keesokan siangnya , jenazah alamarhum diantar iring-iringan
ke tempat peristirahatannya yang terakhir di Taman Makam Pahlawan Kalibata ,
Jakarta . Explevit brevi tempora multa, kata pepatah Latin Kuno , Sesingkat itu
hidupnya sebanyak itu amalnya . Tidak berlebihan rasanya pepatah Itu bagi Nugroho
Notosusanto , penyandang gelar 7 gelar kehormatan . 81 Tidak mudah untuk mencatat
seluruh bentuk pengabdian pada pribadi yang tidak pernah absen dalam menegakkan
kemerdekaan dan mengisi kemrdekaan Indonesia . Walaupun diterimanya secara
anumerta pada tanggal 18 Agustus 1985 , penganugerahan Bintang Mahaputera Adi
Pranada , merupakan bukti pengabdiannya yang tuntas sebagai salah satu putra terbaik
bangsa Indonesia.

80
Almarhum meninggal akibat pendarahan otak atau Cerebro vascular accident yang sangat sering
menyerang pengidap tekanan darah tinggi ( hypertensi ) . “ Satu Lagi , Seorang Tokoh ‘ pergi ‘ , Hidup ,
No. 24 Juni 1985.
81
“ In Memoriam Prof. Dr.. Nugroho Notosusanto – 15 Juni 1931 – 3 Juni 1985 ,” Guntingan Pers dan
Bibliografi , ( Jakarta : Yayasan Idayu , 1985 ) . Ada delapan bintang kehormatan yang dimiliki almarhum
Nugroho Notosusanto , yaitu Bintang Dharma , Bintang Gerilya , Bintang Yudha , Bintang Dharma
Nararya , Bintang Satya Lencana Perisriwa Perang Kemerdekaan I dan II , Bintang Satyalencana Dwudya
Sistha , Bintang Satyalencana {enegak dan Bintang Mahaputera di Pradana .
23
Web: www.peterkasenda.wordpress.com
Email: mr.kasenda@gmail.com