You are on page 1of 143

KATA PENGANTAR
(Edisi Revisi)

Buku Hukum Waris yang sedang Anda baca ini adalah sebuah buku
yang penulis susun serta diterbitkan pertama kali pada tahun 1984, kemudian
dicetak ulang pada tahun 1995. Sejak saat itu buku ini tidak diterbitkan
karena berbagai pertimbangan. Kini buku tersebut hadir kembali ke hadapan
para pembaca setelah mengalami proses revisi dengan judul yang juga
mengalami perubahan. Pada terbitan pertama dan kedua buku ini berjudul
“Intisari Hukum Waris Indonesia”. Kini setelah materinya mengalami revisi,
judul buku ini pun diubah menjadi “Hukum Waris Indonesia Dalam
Perspektif Islam, Adat, dan BW”.
Bagi para Mahasiswa (S1) Ilmu Hukum yang sedang mengikuti
perkuliahan Hukum Keluarga dan Waris (A1A.301), Hukum
Perkawinan dan Waris Islam (A1A.302), serta mata kuliah Hukum
Perkawinan dan Waris Adat (A10.405), ada baiknya apabila memiliki dan
membaca buku ini. Demikian pula kepada para Mahasiswa (S2)
Pascasarjana Magister Kenotariatan yang sedang mengikuti perkuliahan
Hukum Waris Islam, Hukum Waris BW, dan Hukum Waris Adat,
semoga buku ini dapat membantu anda dalam rangka menelusuri serta
memahami hal ihwal hukum waris yang sedang dikaji.
Ucapan terima kasih tentu saja saya sampaikan kepada Penerbit
Refika Aditama Bandung yang telah bersedia untuk menerima naskah buku
ini untuk diproses penerbitannya.
Last but not least, menyadari segala kekurangan buku ini, sehingga
kritik dan saran dari pembaca, insya Allah akan sangat penulis hargai.
Paling akhir, kepada semua pihak yang telah memungkinkan terbitnya
kembali buku ini, penulis mengucapkan terima kasih.

Taruna Parahiangan, Bandung, 5 Mei 2005

ii

Eman Suparman, Lahir di Kuningan, 23 April 1959. Islam, Laki-laki. Lektor
Kepala Hukum Acara Perdata pada Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran Bandung.
Pendidikan: S1 bidang Hukum Perdata,Universitas Padjadjaran,1982; S2 bidang
Hukum Acara Perdata, Universitas Gadjah Mada, 1988; S3 bidang Hukum
Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa, Universitas Diponegoro, 2004. Judul
Tesis: Keharusan Mewakilkan Dalam Menunjang Proses Pemeriksaan Perkara
yang Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Pembimbing: Prof. Dr. R.M.
Sudikno Mertokusumo, S.H.; Judul Disertasi: Pilihan Forum Arbitrase Dalam
Sengketa Komersial Untuk Penegakan Keadilan. Promotor: Prof. Dr. I.S.
Susanto,S.H. (alm), Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, S.H. (Ketua Muda
Mahkamah Agung RI), Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Pujirahayu, S.H.,M.S.
Pengalaman tambahan: “Sandwich Programme” untuk studi lanjutan,
penelitian, dan studi perbandingan bidang Hukum Perdata Internasional dan
Hukum Arbitrase di Rijksuniversiteit Leiden, The Netherlands, 1990/1991.
Sebagai “Visiting Scholar for the European Council Session at Strasborough,
France, March 1991.” Awal 1997 dengan ABWPP & Associates stipend kembali
berkesempatan sebagai Visiting Scholar at “de Hoge Raad der Nederlanden”;
The Hague, The Netherlands, March 1997; Visiting Academic and Research
Programme, organised by The Departement of Law The University of
Nottingham, United Kingdom, April 1997; Visiting Scholar at “The 7th Annual
Writers” Festival Prague ’97 at Franz Kafka Centre on Prague’s Old Town
Square, Prague, Czech Republic, May 1997; Participant at The SANGIS
Training Programme: South East Asian Network for a Geological Information
System; International Centre for Training and Exchanges in Geosciences; United
Nations Buildings, Bangkok, Thailand, June 2001.
Buku yang pernah dan sedang dalam proses penerbitan
(1) INTISARI HUKUM WARIS INDONESIA, CV Mandar Maju, Bandung,
1995.
(2) HUKUM DAN BIROKRASI (sebagai salah satu penulis), Semarang:
Walisongo Research Institute, April 2001.
(3) PILIHAN FORUM ARBITRASE DALAM SENGKETA KOMERSIAL
UNTUK PENEGAKAN KEADILAN, PT Tatanusa, Jakarta, 2004.
(4) HUKUM WARIS INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, ADAT,
DAN BW; (Dalam Proses Penerbitan).
Memperoleh Penghargaan Karya Ilmiah Terbaik Universitas Padjadjaran,
Bandung, 21 September 1998.
Pernah ditugaskan oleh Ditjen Dikti Depdiknas sebagai tenaga Detasering pada
Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura, Agustus-Desember 2004.
Dari pernikahannya dengan Dra. Ella Dewi Laraswati, dikaruniai 2 (dua) orang
putri. (1) Risa Dewi Angganiawati (Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Bandung) dan (2) Anggiani Dewi Rahmawati (Siswi SMA Negeri 1
Kota Bandung).

................... 10 2........................ Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris ............. 5 C......................1 B................. 17 b................................................................................................. Pewaris dan dasar hukum mewaris .......... 31 5.................................. 20 5.................. Kelompok keutamaan ahli waris menurut Al Qur'an ...................... 16 a.......... DAFTAR ISI Kata Sambutan ................... 18 c........... Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa'idh..... Sifat Hukum Waris .................................................... Warisan dalam sistem hukum waris BW ............. 23 7.......... 13 3..................................................... i Kata Pengantar ... Ahli Waris menurut sistem BW .................... 25 2.................................... Aneka Ragam Hukum Waris ............................. Hukum waris menurut BW ... Ashabah ............................... Bagian masing-masing ahli waris menurut BW 36 iii .... Dzul Arhaam ...... Pewaris dan dasar hukum mewaris ....... 27 3... 29 4....... 20 6.. Hukum waris dalam Al Qur'an ............ 8 BAB II : HUKUM WARIS ISLAM DAN HUKUM WARIS BW DI INDONESIA A.... Hukum Perdata Barat (BW) 1.................. Ahli waris dalam Islam ........ Hukum Islam 1.............................. iii BAB I : PENDAHULUAN A.................................. Warisan dalam sistem hukum waris Islam ....... 16 4....... ii Daftar Isi ........ 24 B....... Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak men- dapat warisan ............................................................................................................... Dzul faraa'idh .

............. Peranan Balai Harta Peninggalan dalam pembagian warisan ..... Anak angkat dan perkawinan poligami dalam hukum adat parental .. 67 b) Kepunahan atau nunggul pinang ..................... 66 b) Harta bersama ...................................... 54 C.. Sistem Kekeluargaan dan hukum adat waris . Hukum waris adat Matrilineal ........... Pewaris.................................................. dan pembagian harta pusaka................. Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971 .......................... Sistem Kekeluargaan Matrilineal .............................................................. Sistem kekeluargaan Patrilineal .................................................................. 63 D........................................ Beberapa pendapat kesimpulan tentang hukum adat waris patrilineal ... 64 2........................................................... 68 b) Ahli waris dalam perkawinan poligami ................. 43 B. Hukum waris adat parental atau Bilateral .... 64 1.. Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan .................... 47 1..... 66 a) harta asal .......... Hukum waris adat partilineal ..... ahli waris. 67 a) Sedarah dan tidak sedarah ........... 68 3.. 58 4.................. 41 BAB III : HUKUM WARIS ADAT DI INDONESIA A.......... 57 3.................. 68 a) Anak angkat .............. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral ... 40 7................................................................... 69 iv ............. 50 3.......... 55 1.. Ahli waris dan hak mewaris menurut adat Minangkabau ...... 68 4. 6...... Harta warisan dalam hukum adat waris Minangkabau ....... Ahli waris dalam hukum adat waris Parental ... 47 2......................... 55 2................ Harta warisan menurut hukum adat waris Parental ...

.... 109 a) Wasiat Olografis ...................... 71 E......................... Besarnya bagian yang diterima ahli waris .................................... Pengertian Pokok Hibah ................................................................... 109 b) Wasiat Umum ............................. 73 3........................................................ 114 DAFTAR PUSTAKA ....... 119 v ................................................ 94 4........................................... Tata cara membagi harta warisan ............................ Hibah menurut Hukum Islam . Pengertian Hibah wasiat atau Wasiat ...... c) Kehilangan hak mewaris .. 89 1...................................... 83 5..... 83 F........................... Ihtisar Hibah ................. 71 1. Mengesampingkan ahli waris ........................................... 90 3............... Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW) ...... 111 3............... Ihtisar Hibah Wasiat ........................................ 73 4............................ 71 2.... Pengertian Hibah .... Hutang Pewaris ......... 103 C....................... 89 2.............. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan ....... Hibah wasiat menurut hukum Adat Jawa Barat 112 D.. 84 BAB IV : PERIHAL HIBAH DAN HIBAH WASIAT A..... 106 2.............. Hibah wasiat menurut BW ........... Saat pembagian warisan ............................ Ihtisar .................................................................69 d) Penggantian tempat ahli waris . 105 1..... Hibah wasiat menurut hukum waris Islam ...............................70 e) Penetapan ahli waris ......... Hibah menurut hukum adat Jawa Barat ............... 110 c) Wasiat Rahasia ..... 95 B...............

............................LAMPIRAN-LAMPIRAN 1............................ 124 3.10-12 Pebruari 1983) ................................ Kesimpulan Simposium Hukum Waris Nasional 127 Ihwal Penulis ................128 vi .............. 123 2.................. 120 Susunan Ashabah ... Ahli Waris laki-laki................. Ahli waris yang mempunyai bagian-bagian Tertentu ............................................... Ahli Waris Perempuan............ Pidato Pengarahan Menteri Kehakiman RI Pada Simposium Hukum Waris Nasional (Jakarta....

H. Bandung. R. salah seorang pengajar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini harus disambut dengan gembira. bidang penelitian. Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran i . Oleh karena itu. R. tulisan yang dikerjakan oleh saudara Eman Suparman. yaitu dharma dalam bidang pendidikan pengajaran. 27 Maret 1985 Prof.H. Dr. (Pada Edisi Pertama) Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai Tridharma. Tridharma Perguruan Tinggi tersebut harus dipenuhi oleh setiap orang pengajar di Perguruan Tinggi. dan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Sri Soemantri M. Dari tulisan ini saudara Eman Suparman berusaha mengemukakan buah pikirannya. oleh karena hal itu juga merupakan syarat bukan saja bagi kemajuan dan perkembangan Perguruan Tinggi akan tetapi juga mempunyai arti penting dalam jenjang karir seorang anggota staf pengajar.. Sri Soemantri Martosoewignjo. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua.S. bahwa penulis mencoba mengemukakan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam bidang hukum waris. Bukan saja karena tulisan ini merupakan perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi. akan tetapi dari isinya dapat dikaji. KATA SAMBUTAN Prof. Dr.S.

belum terdapat keseragaman pengertian. 1982. penulis 1 M. sebab setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. 2 Thn. Untuk pengertian hukum “waris” sampai saat ini baik para ahli hukum Indonesia maupun di dalam kepustakaan ilmu hukum Indonesia. Bab-bab tentang Hukum Adat. Jakarta: FHUI. 154. “Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i dan Wasiat Wajib di Mesir tentang Pembagian Harta Warisan untuk Cucu menurut Islam”. Vorkink van Hoeve. Bandung. mempergunakan istilah “hukum kewarisan”. 3 Hazairin. 2 Wirjono Prodjodikoro. 1 A. Hukum Kewarisan Bilateral menurut Al Qur. 1 . baik tentang penyebutan istilahnya maupun berkenaan dengan pengertian hukum waris itu sendiri. menggunakan istilah “hukum warisan”. diatur oleh hukum waris. sehingga istilah untuk hukum waris masih beraneka ragam. h. Penyelesaian hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai akibat meninggalnya seseorang. 1. Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. 8.3 dan Soepomo menyebutnya dengan istilah “hukum waris”. Misalnya saja.an. 72. Jakarta: Tintamas. h. h. 1996. h. Hukum Warisan di Indonesia. Idris Ramulyo.2 Hazairin. 4 Memperhatikan ketiga istilah yang dikemukakan oleh ketiga ahli hukum Indonesia di atas. Jakarta: Penerbitan Universitas. 4 Soepomo. XII Maret 1982. Akibat hukum yang dilanjutnya timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang 1 meninggal dunia itu. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. Wirjono Prodjodokoro. 's-Gravenhage. Majalah Hukum dan Pembangunan No.

3.5 Oleh karena itu. pusaka. pusaka. 5 Soepomo. 2. hampir tidak dapat dihindarkan untuk terlebih dahulu memahami beberapa istilah yang lazim dijumpai dan dikenal. berarti orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan pewaris. 72. Ahli waris: Yaitu sekalian orang yang menjadi waris. istilah “hukum waris” mengandung pengertian yang meliputi “kaidah-kaidah” dan asas-asas yang mengatur proses beralihnya harta benda dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia“. Istilah- istilah dimaksud tentu saja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengertian hukum waris itu sendiri. Waris: Istilah ini berarti orang yang berhak menerima pusaka (peninggalan) orang yang telah meninggal. maupun surat wasiat. h. Dalam rangka memahami kaidah-kaidah serta seluk beluk hukum waris.. Beberapa istilah tersebut beserta pengertiannya seperti dapat disimak berikut ini: 1. Warisan: Berarti harta peninggalan. Cit. Beliau menerangkan bahwa “hukum waris” itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tak terwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya. Loc. 4. yakni orang yang meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. 2 .lebih cenderung untuk mengikuti istilah dan pengertian “hukum waris” sebagaimana yang digunakan oleh Soepomo. Pewaris: Adalah orang yang memberi pusaka. dan surat wasiat.

72-73.J.6 6. Jakarta: Depdikbud. Cit. h. Proses pewarisan: Istilah proses pewarisan mempunyai dua pengertian atau dua makna. yaitu: 1) berarti penerusan atau penunjukan para waris ketika pewaris masih hidup. Hilman Hadikusumah dalam bukunya mengemukakan bahwa “warisan menunjukkan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal.. h.Cit...10 “Hukum waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan 6 W. 10 Soepomo. Hukum Waris Adat. dan 2) berarti pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal. beberapa difinisi di antaranya penulis sajikan sebagai berikut: Wirjono Prodjodikoro9 mengemukakan: “Warisan adalah soal apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang yang masih hidup”. Mewarisi: Yaitu mendapat harta pusaka. Bab-Bab. 21.Op. biasanya segenap ahli waris adalah mewarisi harta peninggalan pewarisnya.5.7 Berkaitan dengan beberapa istilah tersebut di atas. h. 1980. 9 Wirjono Prodjodikoro. Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia. 7 Hilman Hadikusumah. Bandung : Alumni. h. 23.S. 1148. 3 . 8. 1982. Op. h.. Kamus Umum Bahasa Indonesia.8 Beberapa penulis dan ahli hukum Indonesia telah mencoba memberikan rumusan mengenai pengertian hukum waris yang disusun dalam bentuk batasan (definisi). yang kemudian disebut pewaris. Poerwardaminta. 8 Ibid. Menurut Soepomo. baik harta itu telah dibagi-bagi atau pun masih dalam keadaan tidak terbagi-bagi”. Sebagai pedoman dalam upya memahami pengertian hukum waris secara utuh.

R. h. akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut. Ter Haar Bzn12 dalam bukunya "Azas-azas dan Susunan Hukum Adat" yang dialihbahasakan oleh K. dan selanjutnya terdapat orang-orang yang berhak menerima harta yang ditinggalkan itu. Azas dan Susunan Hukum Adat. Proses tersebut tidak menjadi “akuut” oleh sebab orang tua meninggal dunia. B. Masalah Hukum Sehari-hari. h. 12 K.barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya.Ng.Ng. Proses ini telah mulai pada waktu orang tua masih hidup. 4 . Yogyakarta: Hien Hoo Sing. 1964. Santoso Pudjosubroto. R. Selanjutnya beliau menguraikan bahwa sengketa pewarisan timbul apabila ada orang yang meninggal. kemudian lagi tidak ada kesepakatan dalam pembagian harta warisan itu. 8. 11 mengemukakan. Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu. 197. Soebakti Poesponoto memberikan rumusan hukum waris sebagai berikut : "Hukum waris adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi ke generasi". 1960. “Yang dimaksud dengan hukum warisan adalah hukum yang mengatur apakah dan bagaimanakah hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang harta benda seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup”. Jakarta: Pradnya Paramita. kemudian terdapat harta benda yang ditinggalkan. Santoso Pudjosubroto juga memakai istilah serupa di dalam rumusannya. Soebakti Poesponoto. Seperti halnya Wirjono Prodjodikoro yang menggunakan istilah "hukum warisan". yakni menggunakan istilah "hukum warisan" untuk menyebut "hukum waris". 11 R. Santoso Pudjosubroto.

14 Untuk mengetahui serta mengelaborasi perihal hukum waris di Indonesia. 13 Suatu hal yang perlu diperhatikan. berpokok pangkal pada sistem menarik garis keturunan. Idris Ramulyo. baik dalam hubungan antara mereka dengan mereka. Op. adalah kumpulan peraturan. maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga". Sedangkan sistem kekeluargaan pada masyarakat Indonesia. Bentuk dan sistem hukum waris sangat erat kaitannya dengan bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan. 5 . sudah barang tentu terlebih dahulu perlu diketahui bentuk masyarakat serta sifat-sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan yang dikenal itu. 13 A. B. 155. 1979. Sifat Hukum Waris Hukum waris yang ada dan berlaku di Indonesia sampai saat ini masih belum merupakan unifikasi hukum. h. Terjemahan M. Jakarta: Intermasa. pada umumnya para penulis hukum sependapat bahwa "Hukum waris itu merupakan perangkat kaidah yang mengatur tentang cara atau proses peralihan harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris atau para ahli warisnya". 1. Berkaitan dengan sistem penarikan garis keturunan. seperti telah diketahui di Indonesia secara umum setidak-tidaknya dikenal tiga macam sistem keturunan. Atas dasar peta hukum waris yang masih demikian plurailistiknya. yaitu walaupun terdapat rumusan dan uraian yang beragam tentang hukum waris. akibatnya sampai sekarang ini pengaturan masalah warisan di Indonesia masih belum terdapat keseragaman.Isa Arief.Cit. yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya."Hukum waris. Hukum Waris menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda. h. Pitlo. 14 M.

Kondisi tersebut sudah tentu sangat menarik untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut. Alas. Sumatera Selatan. kiranya semakin jelas jelas menunjukkan bahwa sistem hukum warisnya pun sangat pluralistik. Sistem ini. Dari kajian saksama itulah akan dapat dipahami betapa pluralisme hukum yang menghiasi 15 Wirjono Prodjodikoro. Sistem ini di Indonesia terdapat di berbagai daerah. Ketiga sistem keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaannya yang unik serta sudah sedemikian populer disebabkan segi-segi perbedaannya amat mencolok. Sumatera Timur. yaitu Minangkabau. Timor. Kekeluargaan yang bersifat keibuan ini di Indonesia hanya terdapat di satu daerah. seluruh Kalimantan.Cit.16 3. yaitu sistem yang menarik garis keturunan baik melalui garis bapak maupun garis ibu. 6 . Op. sehingga dalam kekeluargaan semacam ini pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara pihak ibu dan pihak ayah. antara lain: di Jawa. Riau. 16 Ibid. selanjutnya dapat disimak dalam paparan singkat berikut ini sekaligus pula dengan contoh lokasi geografis lingkungan adatnya. Madura. Sistem ini di Indonesia antara lain terdapat pada masyarakat- masyarakat di Tanah Gayo. Irian Jaya. dan Lombok.15 2. Sistem matrilineal/ sifat keibuan Pada dasarnya sistem ini adalah sistem yang menarik garis keturunan ibu dan seterusnya ke atas mengambil garis keturunan dari nenek moyang perempuan. 10. 1. h. Ternate. 10. Memperhatikan perbedaan-perbedaan dari ketiga macam sistem keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaan masyarakatnya tersebut di atas. h. Batak. dan Bali. seluruh Sulawesi. Ambon. Aceh. Sistem bilateral atau parental / sifat kebapak-ibuan. Sistem patrilineal / sifat kebapaan Sistem ini pada prinsipnya adalah sistem yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki.

pewaris. Namun demikian pluralistiknya sistem hukum waris di Indonesia tidak hanya karena sistem kekeluargaan masyarakat yang beragam. maupun para ahli waris. Sistem hukum waris yang dimaksud adalah Hukum Waris Islam yang berdasar dan bersumber pada Kitab Suci Al-Qur’an dan Hukum Waris Barat peninggalan zaman Hindia Belanda yang bersumber pada BW (Burgerlijk Wetboek). Kedua macam sistem hukum waris yang disebut terakhir itu memiliki corak dan sifat yang berbeda dengan corak dan sifat hukum waris adat. 7 . Buku kecil ini penulis sajikan ke hadapan sidang pembaca dengan segala kekurangannya. tidak heran kalau sistem hukum waris adat yang ada juga beraneka ragam serta memiliki corak dan sifat-sifat tersendiri sesuai dengan sistem kekeluargaan dari masyarakat adat tersebut. Tugas selanjutnya adalah berupaya untuk memahami masing-masing ketentuan hukum waris tersebut dalam mengatur kedudukan baik harta benda warisan. Melengkapi pluralistisnya sistem hukum waris adat yang diakibatkan beraneka ragamnya masyarakat adat di Indonesia. berikutnya diharapkan para pembaca akan dapat mengetahui dengan sendirinya tentang hukum waris manakah yang seyogianya dan bahkan semestinya diberlakukan kepada kita masing-masing. Selanjutnya diharapkan akan dapat memahami baik segi-segi perbedaannya maupun segi-segi persamaannya dari masing-masing sistem hukum waris dimaksud. Setelah dipahami. melainkan juga disebabkan adat-istiadat masyarakat Indonesia yang juga dikenal sangat bervariasi. masing-masing menurut Hukum Waris Adat. tidak lain kecuali dalam rangka memahami pengaturan ketiga jenis sistem hukum waris yang bersumber pada ketentuan yang berbeda-beda itu. dua sistem hukum lainnya yang juga cukup dominan hadir bersama serta berlaku terhadap masyarakat dalam wilayah hukum Indonesia. terutama dalam sistem hukum warisnya. Oleh sebab itu. bumi Indonesia ini masih sangat tampak dan akan terus ada bahkan mungkin sampai akhir zaman.

keagamaan dan sosiologi". mengingat beranekaragamnya corak budaya. Op.bidang hukum waris dianggap sebagai salah satu bidang hukum yang berada di luar "bidang-bidang yang bersifat "netral" seperti hukum perseroan. bahwa “. 12. dan hukum lalu-lintas (darat. Di Indonesia dimana undang-undang merupakan cara pengaturan hukum yang utama. hukum kontrak (perikatan).Hukum Waris Islam. Satu di antaranya seperti yang dikemukakan Mochtar Kusumaatmadja. air dan udara)". Hukum.. h. agama. Hal itu disebabkan upaya ke arah membuat hukum waris yang sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan senantiasa mendapat kesulitan. h.14. 19 Mochtar Kusumaatmadja.19 Hukum waris sebagai salah satu bidang hukum yang berada di luar bidang yang bersifat netral kiranya sulit untuk diperbaharui dengan jalan perundang-undangan atau kodifikasi guna mencapai suatu unifikasi hukum. h. Bandung: Binacipta. maupun menurut Hukum Waris Barat yang bersumber pada BW. 14. 17 Mochtar Kusumaatmadja. 1975. Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional. adanya komplikasi-komplikasi kultural. 8 . C.17 Dengan demikian. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. pembaharuan masyarakat dengan jalan hukum berarti pembaharuan hukum terutama melalui perundang- undangan.. 18 Mochtar Kusumaatmadja. Bandung: Binacipta. 1976. Aneka Ragam Hukum Waris Tampaknya sampai kapan pun usaha ke arah unifikasi hukum waris di Indonesia merupakan suatu upaya yang dapat dipastikan sulit untuk diwujudkan. termasuk "bidang hukum yang mengandung terlalu banyak halangan.cit. Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional.18 Di samping itu beliau juga menyadari bahwa terdapat beberapa masalah dalam pelaksanaan konsepsi "hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat". bidang hukum waris ini menurut kriteria Mochtar Kusumaatmadja.

paparan dalam Bab-Bab selanjutnya akan berkisar pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing ketentuan hukum waris yang secara bersama-sama berlaku di Indonesia. 84-85. apabila yang meninggal dunia atau pewaris termasuk golongan penduduk Indonesia.sosial." Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk Timur Asing lainnya (seperti: Arab. Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk Eropa atau Timur Asing Cina. Pakistan atau India). 20 Ny. maka terhadap mereka berlaku hukum adat mereka masing-masing". 85. Yang dimaksud dengan hukumnya si pewaris adalah “hukum waris mana yang berlaku bagi orang yang meninggal dunia”. bagi mereka berlaku hukum waris Barat". sehingga apabila pewaris termasuk golongan penduduk Indonesia yang beragama Islam. h.20 Di lain pihak masih ada hukum yang juga hidup dalam masyarakat yang berdasarkan kaidah-kaiadah agama. 21 Ibid.21 Bertolak dari uraian pendahuluan ini. hukum waris yang berlaku di Indonesia dewasa ini masih tergantung pada hukumnya si pewaris. Sebagai akibat dari keadaan masyarakat seperti dikemukakan di atas. Oleh karena itu. maka tidak dapat disangkal bahwa dalam beberapa hal mereka akan mempergunakan peraturan hukum waris berdasarkan hukum waris Islam. Dari prinsip-prinsip hukum waris Indonesia existing yang pluralistik itulah kiranya dapat dipahami betapa sulitnya upaya untuk menyatukan sistem hukum waris dalam bentuk Sistem Hukum Waris Nasional Indonesia yang dicita-citakan (ius Constituendum). maka yang berlaku adalah hukum waris adat. 1979. Retnowulan Sutantio. dan adat istiadat serta sistem kekeluargaan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Bandung: Alumni. Wanita dan Hukum. 9 . khususnya Islam (Al-Qur’an). h.

IV) di antaranya sebagai berikut: a) Q. Dalam ayat ini secara tegas Allah menyebutkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan merupakan ahli waris. bagian 10 . baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah di tetapkan”. II).S. di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat suci Al-Qur’an yang merupakan sendi utama pengaturan warisan dalam Islam. sebagian besar terdapat dalam surat An Nisaa (Q. dan terdapat pula pada dalam surat Al-Ahzab (Q. Berkaitan dengan hal tersebut.“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta sepeninggalan Ibu-Bapak. Ayat-ayat tersebut secara langsung menegaskan perihal pembagian harta warisan di dalam Al-Qur’an. S. 2 A. IV : 11-“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. dan kerabatnya . satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah Al-Qur’an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Sunnah Rasul beserta hasil-hasil ijtihad atau upaya para ahli hukum Islam terkemuka. dan kerabatnya. masing-masing tercantum dalam surat An Nissa (Q. IV). Hukum Islam 1.S. XXXIII). surat Al- Baqarah (Q. b) Q.S.S. yaitu.S. dan bagi wanita ada pula dari harta peninggalan Ibu-Bapak. IV : 7. Hukum waris dalam Al-Qur’an Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam. Ayat-ayat suci yang berisi ketentuan hukum waris dalam Al- Qur’an.

(Pembagian- pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.. jika orang yang meninggal tidak amempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. maka ibunya mendapat sepertiga. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan. di samping itu juga diatur tentang wasiat dan hutang pewaris. Dan untuk dua orang ibu- bapa.12 dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika anak perempuan itu seorang saja. Dari ayat ini dapat diketahui tentang bagian anak.“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. seperti kewajiban membayar mas kawin dan memberi nafkah (lihat Surat An Nisaa ayat 34). seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan.13 maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. jika yang meninggal itu mempunyai anak. maka ibunya mendapat seperenam. Ini adalah ketetapan dari Allah. c) Q. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang 12 Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan. 13 Lebih dari dua maksudnya: dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak. IV : 12. 11 . maka ia memperoleh separo harta. jika mereka tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. bagian ibu dan bapa. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.S. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu.

jika ia tidak mempunyai anak. ahli waris yang mendapat peninggalan dari saudara seperjanjian. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu.”. IV : 33-“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat. kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang- hutangmu. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. d) Q.S.14.S. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) saudara-saudara laki dan perempuan. yaitu seorang yang meninggal dunia tanpa meninggalkan ayah dan juga anak. 14 Lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa.. Di dalam ayat ini juga ditentukan secara tegas mengenai bagian duda serta bagian janda. IV : 176.“.. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan).. e) Q. Ayat ini berkaitan dengan masalah pusaka atau harta peninggalan kalalah. Selanjutnya Allah memerintahkan agar pembagian itu dilaksanakan. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya.Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia. tetapi jika saudara perempuan itudua orang. supaya kamu tidak sesat. Allah menentukan ahli waris yang mendapat harta peninggalan dari ibu-bapaknya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan. maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Kami jadikan pewaris-pewarisnya.”.. 12 . Secara rinci dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa di atas...

2. Warisan dalam Sistem Hukum Waris Islam
Wujud warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam
sangat berbeda dengan wujud warisan menurut hukum waris barat
sebagaimana diatur dalam BW maupun menurut hukum waris adat.
Warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam yaitu “sejumlah
harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan
bersih”. Artinya, harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris
adalah sejumlah harta benda serta segala hak, “setelah dikurangi
dengan pembayaran hutang-hutang pewaris dan pembayaran-
pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si peninggal
waris”.15
Wujud harta peninggalan menurut hukum perdata barat yang
tercantum dalam BW meliputi “seluruh hak dan kewajiban dalam
lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang”.16
Jadi harta peninggalan yang akan diwarisi oleh para ahli waris tidak
hanya meliputi hal-hal yang bermanfaat berupa aktiva atau
keuntungan, melainkan juga termasuk hutang-hutang si pewaris yang
merupakan pasiva dari harta kekayaan yang ditinggalkan, sehingga
“kewajiban membayar hutang pada hakikatnya beralih juga kepada
ahli waris”.17 Demikian pula dalam hukum adat, pembagian harta
warisan tidak selalu ditangguhkan sampai semua hutang si peninggal
warisan dibayar. Artinya, harta warisan yang dapat beralih kepada para
ahli waris tidak selalu harus dalam keadaan bersih setelah dikurangi
hutang-hutang pewaris, melainkan dapat saja ahli waris menerima
harta warisan yang di dalamnya tercakup kewajiban membayar
hutang-hutang pewaris. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukan
oleh B. Ter Haar Bzn dalam bukunya, bahwa ”kewajiban-kewajiban
untuk membayar hutang yang ada atau yang timbul pada waktu
matinya atau karena matinya si peninggal warisan itu; akhirnya
15
Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit, h. 17.
16
R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa. 1977, h. 78.
17
Wirjono Prodjodikoro,Op. Cit, h. 17.

13

termasuk juga bagian-bagian dari harta peninggalan walaupun sebagai
bagian negatif”.18 Selanjutnya, Ter Haar mengemukakan bahwa “ahli
waris bertanggung jawab atas hutang-hutang peninggal warisan
sepanjang mereka sudah mendapat laba dari pembagian harta
peninggalan itu, serta barang-barang warisan yang mereka terima
kiranya dapat mencukupi untuk membayar hutang-hutang itu”.19
Jadi apabila harta peninggalan pewaris tidak mencukupi, maka
hutang-hutang pewaris sebagian kadang-kadang dibiarkan tetap tidak
dibayar. Namun kenyataan dalam praktik di berbagai lingkungan
hukum adat di Indonesia menunjukkan keadaan yang berbeda sebab
walaupun harta peninggalan pewaris ternyata tidak mencukupi untuk
membayar hutang-hutangnya, akan tetapi hutang-hutang tersebut akan
dibayar lunas oleh para ahli waris tanpa memperhatikan jumlah harta
peninggalan pewaris. Hal ini umumnya didasarkan pada suatu
penghormatan kepada yang meninggal dunia, serta keyakinan bahwa
diharapkan pewaris dapat menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa
dengan tenang tanpa suatu beban yang akan dapat memberatkannya.

Sistem Hukum Waris Islam
Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut
Al-Qur’an” mengemukakan bahwa “sistem kewarisan Islam adalah
sitem individual bilateral”.20 Dikatakan demikian, atas dasar ayat-ayat
kewarisan dalam Al-Qur’an antara lain seperti yang tercantum masing-
masing dalam surat An Nissa (Q.S. IV) ayat 7, 8,11, 12, 33, dan ayat
176 serta setelah sistem kewarisan atau sistem hukum waris menurut
Al-Quran yang individual bilateral itu dibandingkan dengan sistem
hukum waris individual bilateral dalam masyarakat yang bilateral.
18
K.Ng. Soebakti Poesponoto, Op. Cit., ,h. 215.
19
Ibid, h. 217.
20
Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Tintamas, TT, h.
14-15.

14

Hazairin juga mengemukakan beberapa hal baru yang merupakan ciri
atau spesifikasi sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an, yaitu
sebagai berikut:
a) Anak-anak si pewaris bersama-sama dengan orang
tua si pewaris serentak sebagai ahli waris. Sedangkan
dalam sistem hukum waris di luar Al-Qur’an hal itu
tidak mungkin sebab orang tua baru mungkin menjadi
ahli waris jika pewaris meninggal dunia tanpa
keturunan; mati punah.
b) Jika meninggal dunia tanpa keturunan maka ada
kemungkinan saudara-saudara pewaris bertindak
bersama-sama sebagai ahli waris dengan orang
tuanya, setidak-tidaknya dengan ibunya. Prinsip di
atas maksudnya ialah jika orang tua pewaris, dapat
berkonkurensi dengan anak-anak pewaris, apabila
dengan saudara-saudaranya yang sederajat lebih jauh
dari anak-anaknya. Menurut sistem hukum waris di
luar Al-Qur’an hal tersebut tidak mungkin sebab
saudara si pewaris tertutup haknya oleh orang tuanya.
c) Bahwa suami-isteri saling mewaris; Artinya, pihak
yang hidup paling lama menjadi ahli waris dari pihak
lainnya.
Sistem kewarisan Islam menurut Al-Qur’an sesungguhnya
merupakan perbaikan dan perubahan dari prinsip-prinsip hukum waris
yang berlaku di negeri Arab sebelum Islam, dengan sistem
kekeluargaannya yang patrilineal. Pada dasarnya sebelum Islam telah
dikenal tiga prinsip pokok dalam hukum waris, yaitu:
(1) Anggota keluarga yang berhak mewaris pertama
adalah kaum kerabat laki-laki dari pihak bapak yang
terdekat atau disebut ashabah;

15

Pewaris dan Dasar Hukum Mewaris. 33. d. Hubungan persaudaraan. b. Pewaris adalah orang yang meninggal dunia. 4.S Al-Anfaal: 75). Adapun yang menjadi dasar hak untuk mewaris atau dasar untuk mendapat bagian harta peninggalan menurut Al-Qur’an yaitu: a. Hubungan semenda atau pernikahan. Secara garis besar golongan 16 . Setelah Islam datang. baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta benda maupun hak-hak yang diperoleh selama hidupnya. Al-Ahzab: 6). Ahli waris dalam Islam Ahli waris adalah seseorang atau beberapa orang yang berhak mendapat bagian dari harta peninggalan. 12. Hubungan kerabat karena sesama hijrah pada permulaan pengembangan Islam. cucu. maupun buyutnya. 3. Karena hubungan darah.S. ayah. c. pada dasarnya lebih berhak mewaris dari pada leluhur pewaris. dan 176). baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. ini ditentukan secara jelas dalam (Q. tidak mempunyai hak waris. (3) Keturunannya yaitu anak. 11. karena agama yang ditentukan oleh Al-Qur’an bagiannya tidak lebih dari sepertiga harta pewaris (Q. kakak. yaitu. canggah.S. meskipun tidak ada hubungan darah (Q. An-Nisaa: 7. (2) Pihak perempuan dan anggota keluarga dari garis ibu. Al-Qur’an membawa perubahan dan perbaikan terhadap ketiga prinsip di atas sehingga pokok-pokok hukum waris Islam dalam Al-Qur’an sebagaimana ditentukan dalam surat An-Nisaa ayat-ayat tersebut di atas.

yaitu : (1) Dalam garis ke bawah: 1. dan 176 yang dielaborasi secara akademis oleh Th. yaitu : a) Ahli waris menurut Al-Qur’an atau yang sudah di tentukan di dalam Al-Qur’an disebut dzul faraa’idh. (3) Dalam garis ke samping: 21 Hazairin. yakni ahli waris langsung yang mesti selalu mendapat bagian tetap tertentu yang tidak berubah-ubah”. Jakarta: Tintamas. Juynboll dalam bukunya ”Hanleiding tot de kennis van den Mohammedaansche School”. b) Ahli waris yang ditarik dari garis ayah. a) dzul Faraa’idh “Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur’an. Komar Andasasmita. menguraikan jumlah ahli waris menurut atau berdasarkan Al-Qur’an yang terdiri atas dua belas jenis. (3) kakek dari garis ayah 6. (1) anak perempuan 2. Sementara itu. (1) ayah 4. ahli waris di dalam Islam dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) golongan. IV : 11). c) Ahli waris menurut garis ibu. h. 17 . 12. Hukum Kekeluargaan Nasional.S. 1968. 38. (4) nenek baik dari garis ayah maupun dari garis ibu (Q. N. disebut dzul arhaam. (2) anak perempuan dari anak laki-laki (Q.21 Adapun rincian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh ini dalam Al-Qur’an tertera dalam surat An- Nisaa ayat 11.S. dengan mengutip buku karya Juynboll di atas. disebut ashabah.IV : 11) (2) Dalam garis ke atas: 3. (2) ibu 5.

Duda (5). ashabah bilghairi. 15. IV : 12) b) Ashabah Ashabah dalam bahasa Arab berarti “Anak lelaki dan kaum kerabat dari pihak bapak”. yaitu bagian yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an. Jadi bagian ahli waris yang terlebih dahulu dikeluarkan adalah dzul faraa’idh. setelah itu sisanya baru diberikan kepada ashabah. (3) Saudara lelaki tiri (halfbroeder) dari garis ibu (Q. Op. 26. 18 . 8. h. 12. Hukum Warisan dalam Islam. IV : 12) (4). (4) Saudar perempuan tiri (halfzuster) dari garis ibu (Q.” dinamakan ahli waris bukan dzul faraa’idh. Ahli waris ashabah ini menurut pembagian Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an. IV : 12) 10. dan ashabah ma’al ghairi”. cit.23 Ashabah- 22 M. h. apabila ada pewaris yang meninggal tidak mempunyai ahli waris dzul faraa’idh (ahli waris yang mendapat bagian tertentu). yang kemudian beliau membagi ahli waris ashabah menjadi tiga golongan yaitu ”ashabah binafsihi. Dengan demikian.S. 11. Janda (Q. maka harta peninggalan diwarisi oleh ashabah.S. IV : 176) 9..22 Ashabah menurut ajaran kewarisan patrilineal Sjafi’i adalah golongan ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau bagian sisa. (1) Sauadara perempuan yang seayah dan seibu dari garis ayah.S. 1973.S. Akan tetapi jika ahli waris dzul faraa’idh itu ada maka sisa bagian dzul faraa’idh menjadi bagian ashabah. Jakarta: Bulan Bintang. Ali Hasan. (2) Saudara perempuan tiri (halfzuster) dari garis ayah (Q. 23 Hazairin. 7.

Paman yang seayah dengan ayah. yakni seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh seorang laki-laki. Anak saudara laki-laki sekandung. 9. Paman yang sekandung dengan ayah. mereka yang termasuk dalam ashabah bilghairi ini adalah sebagai berikut: 1. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah asal saja pertaliannya masih terus laki-laki. yang urutannya sebagai berikut: 1. Anak saudara laki-laki seayah. Saudara laki-laki seayah. (2) Ashabah bilghairi yaitu ashabah dengan sebab orang lain. 4. 24 terdiri atas: (1) Ashabah binafsihi yaitu ashabah-ashabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah. 11. Kakek dari pihak ayah dan terus ke atas asal saja pertaliannya belum putus dari pihak ayah. Cit.. Ali Hasan dalam bukunya “Hukum Warisan dalam Islam”. 2. 24 M.ashabah tersebut menurut M. h. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah. 8. Anak perempuan yang didampingi oleh anak laki- laki. Anak laki-laki. Saudara laki-laki sekandung.. Ayah. 6. 12. 5. 10. 3. Saudara perempuan yang didampingi oleh saudara laki-laki. Op. 27. 2. Ali Hasan. 19 . 7.

15. Saudara perempuan sekandung. yang dapat digolongkan sebagai dzul arhaam adalah anggota keluarga yang penghubungnya kepada keluarga itu seorang wanita.. c) dzul Arhaam Arti kata dzul arhaam adalah “orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui puhak wanita saja”. dan 2. antara lain cucu melalui anak perempuan. 15. Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh Di antara ahli waris yang ditentukan bagiannya di dalam Al- Qur’an hanya ahli waris dzul faraa’idh. dzul arhaam akan mewaris kalau sudah tidak ada dzul faraa’idh dan tidak ada pula ashabah. h. tetapi diberi kedudukan sendiri dengan sebutan dzul arhaam atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris.25 Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral” memberikan perincian mengenai dzul arhaam. h. sehingga bagian mereka 25 Sajui Thalib. menurut kewarisan patrilineal tidak menempati tempat anak.. Selain cucu melalui anak perempuan. Op. (3) Ashabah ma’al ghairi yakni saudara perempuan yang mewaris bersama keturunan dari pewaris. Cit. Artinya. Cit. tetapi telah agak di belakang. 5. Akibat dari pengertian ini maka dzul arhaam mewaris juga. yaitu: “semua orang yang bukan dzul faraa’idh dan bukan ashabah. Saudara perempuan seayah. umumnya terdiri atas orang yang temasuk anggota-anggota keluarga patrilineal pihak menantu laki-laki atau anggota pihak menantu laki-laki atau anggota-anggota keluarga pihak ayah dan ibu”. 26 Hazairin.. mereka itu adalah: 1. Op. tetapi telah agak jauh. 20 .26 Sajuti Thalib dalam bukunya menguraikan pula tentang dzul arhaam.

selamanya tetap tertentu dan tidak berubah-ubah. Bagian mereka yang disebut terakhir. 2. bila tidak ada saudara laki-laki (Q. 1. 5. IV : 11).S. IV : 176). 2. bila tidak ada cucu laki-laki. Berbeda halnya dengan para ahli waris lain yang bukan dzul faraa’idh. c. IV : 12). seorang saudara perempuan seayah. (Q. IV : 12). Adapun bagian tetap para ahli waris dzul faraa’idh secara terrinci dapat disimak lebih lanjut dalam uraian dibawah ini: a. Isteri. (Q. bila suami yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu. Mereka yang mendapat ¼ bagian dari harta peninggalan terdapat dua golongan: 1. Suami.S.S. merupakan sisa setelah dikeluarkan hak para ahli waris dzul faraa’idh. bila isteri yang meninggal mempunyai anak atau cucu (Q. 4. seperti ahli waris ashabah dan dzul arhaam. yaitu: 1. bila suami yang meninggal dengan meninggalkan anak atau cucu.S. seorang anak perempuan (dari anak laki-laki). Ahli waris yang mendapat ¼ dari harta peninggalan hanya satu golongan. Isteri. IV : 176). IV : 12) 21 . seorang anak perempuan bila tidak ada anak laki-laki. b.S. anak perempuan.S. seorang saudara perempuan kandung.S. 3. Mereka yang mendapat ½ dari harta peninggalan terdapat lima golongan. bila tidak ada saudara laki-laki (Q. (Q. suami bila isteri yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu (Q. IV: 12).

dua atau lebih saudara. IV :176). bila ada saudara laki-laki. IV :11). bila tidak ada saudara laki-laki. 2. Cetakan kedua 1984. Shohibul Munir. Ahli waris yang memperoleh bagian dari harta peninggalan terdapat 4 (empat) golongan: 1. (Q. Jakarta: Penerbit Attahiryah. (Q. bila yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu. Demikian pula jika suaminya itu meninggalkan anak dari anak laki-laki. Dua orang saudara perempuan kandung atau lebih. e. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.S. Dua orang atau lebih anak perempuan. cucu.S. yaitu: 1. Ilmu Faraidh (Tanatun Nawahidh). Para ahli waris yang meninggal memperoleh 1/6 dari harta peninggalan. Bandung : PT. f. 338. anak perempuan. 18. 1976. dengan pembagian yang sama. IV :176). Ayah. Ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan ada dua golongan.S. jika yang meninggal dunia meninggalkan anak. A. baik seorang ataupun lebih.S. h. Bdgk.Sulaiman Rasjid.S. 2. g. IV :11). baik anak laki-laki maupun anak perempuan (Q. Alma’arif. d. dari anak laki- laki bila tidak ada cucu laki-laki. Dua orang cucu perempuan atau lebih. atau dua orang saudara atau lebih. jika yang meninggal dunia mempunyai anak atau cucu ( Q. 4. bila tidak ada anak laki-laki (Q. (Q. 3. Ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan. Dua orang atau lebih saudara seibu baik laki-laki maupun perempuan. IV : 11). Bagian ini akan diperoleh isteri apabila suaminya yang meninggal dunia meninggalkan anak. 27 hanya isteri (zaujah). (Q. Cetakan Ketujuh belas. IV :12). Ibu. 22 . terdapat tujuh golongan : 1. Ibu. h. Fiqh Islam. IV: 11).S. 2. baik laki-laki maupun perempuan. 27 H.S.

yaitu “ahli waris yang didahulukan untuk mewaris”28 dari kelompok ahli waris lainnya.R. ibu dari ibu-bapak. Op. wasiat. seorang atau lebih bersamaan dengan saudara kandung. Seorang cucu perempuan. 6. dikenal pula kelompok keutamaan para ahli waris. dari anak laki-laki. laki-laki atau perempuan. 3. Cit. h. 7. bersamaan dengan anak atau cucu. 68.S.. Kakek. 23 . h. tertentu serta tidak berubah-ubah berdasarkan ketetapan yang ada di dalam Al-Qur’an. bersamaan dengan anak perempuan (H. di samping dikenal adanya ahli waris dzul faraa’idh yang bagiannya tetap.. 5. Op. IV :12). bapak dari bapak. 33. Nenek. dan bagian para ahli waris dzul faraa’idh. juga terdapat ahli dari waris ashabah dan ahli waris dzul arhaam. Buchari). 6. 29 Hazairin. Kedua macam ahli waris tersebut memperoleh bagian sisa dari harta peninggalan setelah dikurangi hutang-hutang pewaris termasuk ongkos-ongkos biaya kematian. Di samping itu semua. Cit. yaitu: 28 Sajuti Thalib. bila ayah tidak ada. Saudara perempuan. Kelompok keutamaan ahli waris menurut Al-Qur’an Dalam sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an yang merupakan sistem hukum waris bilateral. Seorang saudara seibu. (Q. 4. Mereka yang menurut Al-Qur’an termasuk kelompok yang didahulukan untuk mewaris atau disebut dengan “kelompok keutamaan”29 terdiri atas empat macam.

Orang yang murtad tidak berhak mendapat warisan dari keluarganya yang beragama Islam. c. Keutamaan ketiga: 1) Ibu dan ayah. ibu dan ayah. Orang kafir tidak berhak menerima warisan dari keluarga yang beragama Islam. b. c. 2) Janda atau duda. dan duda atau janda. baik laki-laki maupun perempuan. baik laki-laki maupun perempuan. b. tidak berhak mendapat warisan dari keluarga yang dibunuhnya. Keutamaan keempat: 1) Janda atau duda. bila tidak terdapat anak. Ahli waris yang membunuh pewaris. dan janda atau duda. demikian pula sebaliknya. a. apabila ternyata telah berpura-pura dan 24 . bila salah satu. bila ada keluarga. Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan Di antara ahli waris ada yang tidak patut dan tidak berhak mendapat bagian waris dari pewarisnya karena beberapa penyebab. atau ahli waris pengganti kedudukan saudara. d. 7. 2) Ayah. 2) Ayah. ibu. bila tidak ada anak dan tidak ada saudara. 2) Ahli waris pengganti kedudukan ibu dan ahli waris pengganti kedudukan ayah. bila tidak ada saudara. Keutamaan pertama. yaitu: 1) Anak. yaitu: a. Orang-orang yang tergolong dalam kriteria ahli waris seperti yang disebutkan di atas. ibu. Keutamaan kedua: 1) Saudara. atau ahli waris pengganti kedudukan anak yang meninggal dunia.

” karena yang menyebabkan timbulnya dua persoalan itu pun berbeda. Hal tersebut dapat terlihat dalam tabel di bawah ini. B. Disebabkan tindakan melawan 1. Hukum Perdata Barat (Burgerlijk Wetboek/BW) 1. Contohnya: Orang yang sehingga bagian warisnya membunuh pewaris dengan dikurangi. Karena ada ahli waris yang hukum. ini juga tidak dapat diwariskan. sengaja. Hak dan kewajiban dalam hukum publik.. yang meninggal (pewaris). Disebabkan berlainan agama 2. Contohnya: ibu memperoleh 1/6 bagian jika mewaris bersama anak atau cucu atau beberapa saudara. mendapat bagian selama ada anak laki-laki. Karena ada ahli waris yang lebih dengan pewaris yang beragama dekat hubungan dengan orang Islam. 2. 25 . merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. demikian pula halnya dengan hak dan kewajiban yang timbul dari hubungan hukum keluarga. Oleh karena itu. “Tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan” berbeda dengan “penghapusan hak waris” atau “hijab. Hukum waris menurut BW Hukum waris menurut konsepsi hukum perdata Barat yang bersumber pada BW.menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan pewaris. Contohnya: ahli waris yang Contohnya: cucu laki-laki tidak murtad atau kafir. mewaris bersama-sama dia. hak dan kewajiban yang timbul dari kesusilaan dan kesopanan tidak akan diwariskan. hanyalah hak dan kewajiban yang berwujud harta kekayaan yang merupakan warisan dan yang akan diwariskan. maka dia berkewajiban mengembalikan seluruh harta yang dikuasainya. Tidak patut dan tidak berhak Penghapusan hak waris mewaris 1.

31 R. maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga”. 26 . yaitu : a. yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya. Kiranya akan lebih jelas apabila kita memperhatikan rumusan hukum waris yang diberikan oleh Pitlo di bawah ini. Op.. h.. pewarisan baru akan terjadi jika terpenuhi tiga persyaratan. Cit. yang dinamakan pewarisan.31 Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang beralih pada ahli waris adalah sepanjang termasuk dalam lapangan hukum harta kekayaan atau hanya hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. rumusan tersebut menggambarkan bahwa hukum waris merupakan bagian dari kenyataan. terjadi hanya karena kematian. c. b. Subekti. yaitu : “Hukum waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang. Oleh karena itu. Dalam hukum waris menurut BW berlaku suatu asas bahwa “apabila seseorang meninggal dunia. ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan pewaris. 1. Pitlo. h. 79. Cit. ada seseorang yang meninggal dunia. Pada dasarnya proses beralihnya harta kekayaan seseorang kepada ahli warisnya. Yang merupakan ciri khas hukum waris menurut BW antara lain “adanya hak mutlak dari para ahli waris masing-masing untuk sewktu- 30 A.30 Adapun kekayaan yang dimaksud dalam rumusan di atas adalah sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal dunia berupa kumpulan aktiva dan pasiva. maka seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli warisnya”. baik dalam hubungan antar mereka dengan mereka. ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia. Op.

setelah dikurangi dengan pembayaran hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh 32 Wirjono Prodjodikoro. apabila seorang ahli waris menuntut pembagian harta warisan di depan pengadilan. menurut kedua sistem hukum di atas yang dimaksud dengan warisan atau harta peninggalan adalah sejumlah harta benda kekayaan pewaris dalam keadaan bersih. yaitu: a. Op. Cit. Ciri khas tersebut di antaranya hukum waris menurut BW menghendaki agar harta peninggalan seorang pewaris secepat mungkin dibagi-bagi kepada mereka yang berhak atas harta tersebut. Artinya. Perjanjian penagguhan pembagian hanya berlaku mengikat selama lima tahun. c. tuntutan tersebut tidak dapt ditolak oleh ahli waris yang lainnya. 12.32 Ini berarti. waktu menuntut pembagian dari harta warisan”. b. Warisan dalam sistem hukum waris BW Berbeda dengan sistem hukum adat tentang warisan. Perjanjian penangguhan pembagian harta peninggalan dapat saja dilakukan hanya untuk beberapa waktu tertentu. 27 . 2. d. dapat dipahami bahwa sistem hukum waris menurut BW memiliki ciri khas yang berbeda dari hukum waris yang lainnya. Ketentuan ini tertera dalam pasal 1066 BW. Seseorang yang mempunyai hak atas sebagian dari harta peninggalan tidak dapat dipaksa untuk memberikan harta benda peninggalan dalam keadaan tidak terbagi-bagi di antara para ahli waris yang ada. h.. Kalau pun hendak dibiarkan tidak terbagi. harus terlebih dahulu melalui persetujuan seluruh ahli waris. namun dapat diperbaharui jika masih dikehendaki oleh para pihak. Dari ketentuan pasal 1066 BW tentang pemisahan harta peninggalan dan akibat-akibatnya itu. Pembagian harta benda peninggalan itu selalu dapat dituntut walaupun ada perjanjian yang melarang hal tersebut.

dengan pekerjaan yang harus dilakukan bersifat pribadi. yaitu “sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang. Hak seorang ayah untuk menyangkal sahnya seorang anak. yaitu: a. baik yang berbentuk maatschap menurut BW maupun firma menurut WvK. c. yaitu ada beberapa hak yang walaupun hak itu terletak dalam lapangan hukum keluarga. Akan tetapi terhadap ketentuan tersebut ada beberapa pengecualian. Hal ini secara tegas disebutkan dalam pasal 833 ayat (1) BW. Pengecualian lain terdapat pula. Oleh karena itu. akan tetapi dapat diwariskan kepada ahli waris pemilik hak tersebut. dimana hak-hak dan kewajiban- kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan ada juga yang tidak dapat beralih kepada ahli waris.meninggalnya pewaris. Peralihan hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia kepada ahli warisnya disebut 28 . Di atas telah dikemukakan bahwa kematian seseorang menurut BW mengakibatkan peralihan segala hak dan kewajiban pada seketika itu juga kepada ahli warisnya. Perjanjian perkongsian dagang. Hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan sebagai anak yang sah dari bapak atau ibunya. dan segala piutang dari yang meninggal”. Sedangkan warisan dalam sistem hukum perdata barat yang bersumber pada BW itu meliputi seluruh harta benda beserta hak-hak dan kewajiban-kewajiban pewaris dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. Hak memungut hasil (vruchtgebruik). harta yang diterima oleh ahli waris menurut sistem hukum Islam dan sistem hukum adat itu benar- benar hak mereka yang bebas dari tuntutan kreditur pewaris. segala hak. Perjanjian perburuhan. b. antara lain: a. b. sebab perkongsian ini berakhir dengan meninggalnya salah seorang anggota/persero.

“saisine”.33 Adapun yang dimaksud dengan saisine yaitu: ahli waris
memperoleh segala hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia
tanpa memerlukan suatu tindakan tertentu, demikian pula bila ahli
waris tersebut belum mengetahui tentang adanya warisan itu.
Sistem waris BW tidak mengenal istilah “harta asal maupun
harta gono-gini” atau harta yang diperoleh bersama dalam perkawinan,
sebab harta warisan dalam BW dari siapa pun juga, merupakan
“kesatuan” yang secara bulat dan utuh dalam keseluruhan akan beralih
dari tangan peninggal warisan/pewaris ke ahli warisnya. Artinya,
dalam BW tidak dikenal perbedaan pengaturan atas dasar macam atau
asal barang-barang yang ditinggalkan pewaris. Seperti yang ditegaskan
dalam pasal 849 BW yaitu “Undang-undang tidak memandang akan
sifat atau asal dari pada barang-barang dalam suatu peninggalan
untuk mengatur pewarisan terhadapnya”. Sistem hukum waris BW
mengenal sebaliknya dari sistem hukum waris adat yang membedakan
“macam” dan “asal” barang yang ditinggalkan pewaris. Dalam hukum
adat jika seseorang meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta,
harta peninggalan tersebut senantiasa ditentukan dahulu, mana yang
termasuk harta asal yang dibawa salah satu pihak ketika menikah dan
mana yang termasuk harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh
bersama suami-istri selama dalam perkawinan. Sedangkan sistem BW,
tidak mengenal hal tersebut, melainkan sebaliknya yaitu harta asal
yang dibawa masing-masing ketika menikah, maupun harta yang
diperoleh selama dalam perkawinan digabungkan menjadi satu
kesatuan bulat yang akan beralih dan diwarisi oleh seluruh ahli
warisnya.

3. Pewaris dan dasar hukum mewaris
Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia, baik laki-laki
maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan

33
Lihat R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa, 1977, h. 79.

29

maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang
harus dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat wasiat maupun
tanpa surat wasiat.
Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi sejumlah harta
pewaris menurut sisten hukum waris BW ada dua cara, yaitu:
a. menurut ketentuan undang-undang;
b. ditunjuk dalam surat wasiat (testamen).34
Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan
kedudukan hukum seseorang yang meninggal, sedapat mungkin
disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Undang-
undang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan
kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia.
Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika
ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya
maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan
perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut.
Di samping undang-undang, dasar hukum seseorang mewarisi
harta peninggalan pewaris juga melalui cara ditunjuk dalam surat
wasiat. Surat wasiat atau testamen adalah “suatu pernyataan tentang
apa yang dikehendaki setelah ia meninggal dunia”.35 Sifat utama surat
wasiat adalah mempunyai kekuatan berlaku setelah pembuat surat
wasiat meninggal dan tidak dapat ditarik kembali.
Selama pembuat surat wasiat masih hidup, surat wasiat masih
dapat diubah atau dicabut, sedangkan setelah pembuat wasiat
meninggal dunia surat wasiat tidak dapat lagi diubah, dicabut, maupun
ditarik kembali oleh siapa pun.
Seseorang dapat mewariskan sebagian atau seluruhnya hartanya
dengan surat wasiat. Apabila seseorang hanya menetapkan sebagian
dari hartanya melalui surat wasiat, maka sisanya merupakan bagian

34
R. Subekti, Op. Cit., h. 78.
35
Ibid., h. 88.

30

ahli waris berdasarkan undang-undang (ahli waris ab intestato). Jadi,
pemberian seseorang pewaris berdasarkan surat wasiat tidak
bermaksud untuk menghapuskan hak untuk mewaris secara ab
intestato.

4. Ahli waris menurut sistem BW
Undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi
ahli waris, yaitu: Isteri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah
atau tidak sah dari pewaris. Ahli waris menurut undang undang atau
ahli waris ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat
golongan, yaitu:
a. Golongan pertama, keluarga dalam garis lurus ke bawah,
meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami
atau isteri yang ditinggalkan / atau yang hidup paling lama.
Suami atau isteri yang ditinggalkan / hidup paling lama ini
baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan
sebelumnya suami / isteri tidak saling mewarisi;
b. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus ke atas, meliputi
orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan,
serta keturunan mereka.
Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa
bagian mereka tidak akan kurang dari ¼ (seperempat) bagian
dari harta peninggalan, walaupun mereka mewaris bersama-
sama saudara pewaris;
c. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek, dan leluhur
selanjutnya ke atas dari pewaris;
d. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis ke
samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.
Undang-undang tidak membedakan ahli waris laki-laki dan
perempuan, juga tidak membedakan urutan kelahiran, hanya ada
ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka

31

Lihat. pihak yang mewariskan atau pewaris tidak boleh merugikan para ahli warisnya yang berhak atas sesuatu bagian mutlak”. timbullah persoalan ahliwaris yang manakah yang lebih diutamakan. h. R.akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam dalam garis lurus ke atas maupun ke samping. Suatu surat wasiat seringkali berisi penunjukan seseorang atau beberapa orang ahli waris yang akan mendapat seluruh atau sebagian dari warisan. dapat disimpulkan bahwa yang diutamakan adalah ahli waris menurut undang-undang. yaitu: “Dengan sesuatu pengangkatan waris atau pemberian hibah. Akan tetapi seperti juga ahli waris menurut undang- undang atau ab intestato. ahli waris menurut surat wasiat atau ahli waris testamenter akan memperoleh segala hak dan segala kewajiban dari pewaris. Demikian pula golongan yang lebih tinggi derajatnya menutup yang lebih rendah derajatnya. mereka adalah para ahli waris dalam garis lurus ke atas maupun dalam garis 36 Legitime portie. Ketentuan yang terdapat dalam BW yang isinya membatasi seseorang pembuat surat wasiat agar tidak merugikan ahli waris menurut undang-undang antara lain dapat dilihat dari substansi pasal 881 ayat (2). Cit. Sedangkan ahli waris menurut surat wasiat atau testamen. Dari kedua macam ahli waris di atas. Subekti. Hal ini terbukti beberapa peraturan yang membatasi kebebasan seseorang untuk membuat surat wasiat agar tidak sekehendak hatinya. Ahli waris yang memperoleh bagian mutlak atau “legitime portie”36 ini termasuk ahli waris menurut undang-undang. 32 .. yaitu: suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang tidak dapat dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan. Op. jumlahnya tidak tentu sebab ahli waris macam ini bergantung pada kehendak si pembuat wasiat. apakah ahli waris menurut undang-undang atau ahli waris menurut surat wasiat? Berdasarkan beberapa peraturan-peraturan yang termuat dalam BW tentang surat wasiat. 93.

Apabila ia meninggal saat dilahirkan. atau tidak dianggap sebagi tidak cakap untuk menjadi ahli waris. Dengan demikian berarti bayi dalam kandungan juga sudah diatur haknya oleh hukum sebagai ahli waris dan telah dianggap cakap untuk mewaris. mengemukakan dalam bukunya. bahwa “peraturan mengenai legitime portie oleh undang-undang dipandang sebagai pembatasan kemerdekaan seseorang untuk membuat wasiat atau testamen menurut sekehendak hatinya sendiri”. Op. c) Seseorang ahli waris harus cakap serta berhak mewaris. sebagai berikut: a) Harus ada orang yang meninggal dunia (pasal 830 BW). Ahli waris diberi hak untuk berfikir selama empat bulan setelah itu ia harus menyatakan sikapnya apakah menerima atau menolak warisan atau mungkin saja ia menerima warisan dengan syarat yang dinamakan “menerima warisan 37 R. bilamana kepentingan si anak menghendakinya”.. ia dianggap tidak pernah ada. Ketentuan ini tidak berarti mengurangi makna ketentuan pasal 2 BW. Subekti. seseorang yang akan menerima sejumlah harta peninggalan terlebih dahulu harus memenuhi syarat-syarat. yaitu: “anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan. b) Harus ahli waris atau para ahli waris harus ada pada saat pewaris meninggal dunia.37 Sebagaimana telah dikemukakan di atas. Setelah terpenuhi syarat-syarat tersebut di atas. h. Cit. para ahli waris diberi kelonggaran oleh undang-undang untuk selanjutnya menentukan sikap terhadap suatu harta warisan. 33 . Subekti. Berkaitan dengan hal tersebut di atas.lurus ke bawah yang memperoleh bagian tertentu dari harta peninggalan dan bagian itu tidak dapat dihapuskan oleh si pewaris. R. dalam arti ia tidak dinyatakan oleh undang-undang sebagai seorang yang tidak patut mewaris karena kematian. 94.

Artinya. Subekti. Menolak warisan. 34 . 85-86. yaitu: a. Op. Selama ahli waris mempergunakan haknya untuk berfikir guna menentukan sikap tersebut. ia tidak dapat dipaksa untuk memenuhi kewajiban sebagai ahli waris sampai jangka waktu itu berakhir selama empat bulan (pasal 1024 BW). Menerima warisan tetapi dengan ketentuan bahwa ia tidak akan diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris yang melebihi bagiannya dalam warisan itu. Menerima warisan dengan penuh. Penerimaan warisan secara penuh yang dilakukan dengan tegas yaitu melalui 38 Akibat terpenting dari menerima warisan secara beneficiaire adalah bahwa kewajiban si waris untuk melunasi hutang-hutangnya dan beban-beban lainnya dibatasi sedemikian rupa bahwa pelunasan itu hanyalah dilakukan menurut kekuatan warisan. atau disebut dengan istilah ”menerima warisan secara beneficiaire”. Untuk memahami konsekuensi dimaksud. b. baik secara diam-diam maupun secara tegas bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kewajiban yang melekat pada harta warisan. Baik menerima maupun menolak warisan. h. ahli waris harus menanggung segala macam hutang-hutang pewaris. Cit. Lihat R. Setelah jangka waktu yang ditetapkan undang-undang berakhir. seorang ahli waris dapat memilih antara tiga kemungkinan.38 yang merupakan suatu jalan tengah antara menerima dan menolak warisan. yaitu sebagai berikut: (1) Akibat menerima secara penuh. c. secara beneficiaire”. masing-masing memiliki konsekuensi sendiri-sendiri terhadap ahli waris. di bawah ini akan diuraikan akibat- akibat dari masing-masing pilihan yang dilakukan oleh ahli waris. Ahli waris atau para ahli waris yang menerima warisan secara penuh.. sehingga si waris itu tidak usah menanggung pembayaran hutang-hutang itu dengan kekayaan sendiri.

(a) seluruh warisan terpisah dari harta kekayaan pribadi ahli waris. (b) ahli waris tidak perlu menanggung pembayaran hutang- hutang pewaris dengan kekayaan sendiri sebab pelunasan hutang-hutang pewaris hanya dilakukan menurut kekuatan harta warisan yang ada. (2) Akibat menerima warisan secara beneficiaire. yaitu sejak meninggalnya pewaris. karena jika ia meninggal lebih dahulu dari pewaris ia tidak dapat digantikan kedudukannya oleh anak- anaknya yang masih hidup. (c) tidak terjadi percampuran harta kekayaan antara harta kekayaan ahli waris dengan harta warisan. Penolakan warisan dihitung dan berlaku surut. biasanya dengan cara mengambil tindakan tertentu yang menggambarkan adanya penerimaan secara penuh. (d) Jika hutang-hutang pewaris telah dilunasi semuanya dan masih ada sisa peninggalan. Seorang ahli waris yang menyatakan menerima warisan secara beneficiaire atau menerima dengan mengadakan inventarisasi harta peninggalan. Menolak warisan harus dilakukan dengan suatu pernyataan kepada panitera pengadilan negeri wilayah hukum tempat warisan terbuka. sedangkan penerimaan secara penuh yang dilakukan diam-diam. maka sisa itulah yang merupakan bagian ahli waris. akta otentik atau akta di bawah tangan. (3) Akibat menolak warisan Ahli waris yang menolak warisan dianggap tidak pernah menjadi ahli waris. mempunyai beberapa kewajiban yaitu: 35 .

36 . Subekti. Orang yang menerima legaat dinamakan legataris. misalnya memberikan seluruh benda bergerak. (e) wajib memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kreditur pewaris. dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perdata” menerangkan pengertian legaat yaitu suatu pemberian kepada seseorang yang bukan ahli waris melalui surat wasiat. Subekti. berupa : (1) satu atau beberapa benda tertentu.. (2) seluruh benda dari satu macam atau satu jenis. (f) wajib memanggil para kreditur pewaris yang tidak dikenal melalui surat kabar resmi. (d) wajib memberikan jaminan kepada kreditur. karena ia bukan ahli waris maka ia tidak diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris. baik kreditur benda bergerak maupun kreditur pemegang hipotik. 5. (3) hak memungut hasil dari seluruh atau sebagian harta warisan. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW Di atas telah dikemukakan bahwa BW mengenal empat golongan ahli waris yang bergiliran berhak atas harta peninggalan. h. Op. (a) wajib melakukan pencatatan atas jumlah harta peninggalan dalam waktu empat bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada panitera pengadilan negeri. maupun kepada orang-orang yang menerima pemberian secara “legaat”. Pengertian Legaat 39 R. ia hanya mempunyai hak untuk menuntut legaat yang diberikan kepadanya. (b) wajib mengurus harta peninggalan dengan sebaik-baiknya. 39 R. Artinya. (c) wajib membereskan urusan waris dengan segera. Cit. 88. (4) sesuatu hak lain terhadap harta peninggalan.

yaitu anak-anak beserta keturunan mereka. mereka masing-masing mendapat 1/5 bagian. dan janda atau duda yang hidup paling lama.apabila golongan pertama masih ada. jika pewaris hanya meninggalkan seorang anak dan dua orang cucu. b) Bagian golongan kedua yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke atas yaitu orang tua. yang berhak hanya golongan kedua. Apabila salah seorang anak telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris akan tetapi mempunyai empat orang anak. masing-masing memperoleh satu bagian yang sama. baik ayah. sedangkan golongan ketiga dan keempat tidak berhak. maka cucu tidak memperoleh warisan selama anak pewaris masih ada. Jadi apabila terdapat tiga 37 . Bagian masing-masing ahli waris menurut BW adalah sebagai berikut: a) Bagian golongan pertama yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke bawah. Jadi hakikat bagian dari golongan pertama ini. ibu maupun sudara-saudara pewaris masing-masing mendapat bagian yang sama. ayah dan ibu. sehingga masing-masing cucu memperoleh 1/20 bagian. baik laki-laki maupun perempuan beserta keturunan mereka. Menurut ketentuan BW. maka bagian anak yang 1/5 dibagi di antara anak-anak yang menggantikan kedudukan ayahnya yang telah meninggal itu (plaatsvervulling). Jadi bila terdapat empat orang anak dan janda. maka golongan kedua dan seterusnya tidak berhak atas harta peninggalan. demikian pula jika golongan pertama tidak ada sama sekali. serta saudara. baru apabila anak pewaris itu telah meninggal lebih dahulu dari pewaris. Akan tetapi bagian ayah dan ibu senantiasa diistimewakan karena mereka tidak boleh kurang dari ¼ bagian dari seluruh harta warisan. yaitu cucu pewaris. kedudukannya digantikan oleh anak- anaknya atau cucu pewaris.

Jika ibu atau ayah salah seorang sudah meninggal dunia. Dalam keadaan seperti ini sebelum harta warisan dibuka. yang hidup paling lama akan memperoleh bagian sebagai berikut: . dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris. . terlebih dahulu harus dibagi dua (kloving). masing-masing dari mereka akan memperoleh 1/6 bagian. Sedangkan separoh dari harta warisan itu akan diwarisi oleh tiga orang saudara. . Selanjutnya separoh yang satu merupakan bagian sanak 38 . maka harta warisan terlebih dahulu dibagi dua. ¼ (seperempat) bagian dari seluruh harta warisan. jika ia mewaris bersama-sama dengan dua orang saudara pewaris. apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris golongan pertama maupun kedua. orang saudara yang mewaris bersama-sama dengan ayah dan ibu. sebagai ahli waris golongan dua yang masih ada. maka bagian saudara kandung itu diperoleh dari dua bagian yang dipisahkan tadi. bagian dari seluruh harta warisan. jika ia mewaris bersama-sama dengan tiga orang atau lebih saudara pewaris. nenek. maka ayah dan ibu masing-masing akan memperoleh ¼ bagian dari seluruh harta warisan. baik laki- laki maupun perempuan. Apabila di antara saudara-saudara yang masih ada itu ternyata hanya ada yang seayah atau seibu saja dengan pewaris. Jika pewaris mempunyai saudara seayah dan seibu di samping saudara kandung. sama saja. ½ (setengah) bagian dari seluruh harta warisan. maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada saudara-saudara pewaris. Apabila ayah dan ibu semuanya sudah meninggal dunia. jika ia mewaris bersama dengan seorang saudaranya. c) Bagian golongan ketiga yang meliputi kakek. bagian yang satu bagian saudara seibu.

Bagian warisan untuk anak yang lahir di luar perkawinan antara lain diatur sebagai berikut : . Selanjutnya negara wajib melunasi hutang-hutang peninggal warisan. Apabila dalam bagian pancer ibu sama sekali tidak ada ahli waris sampai derajat keenam. bagian yang separoh dari pancer ayah atau dari pancer ibu jatuh kepada saudara- saudara sepupu si pewaris yakni saudara sekakek atau saudara senenek dengan pewaris. maka bagian pancer ibu jatuh kepada para ahli waris dari pancer ayah. maka seluruh harta peninggalan jatuh menjadi milik negara. keluarga dari pancer ayah pewaris. dari bagian anak sah. d) Bagian golongan keempat yang meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping sampai derajat keenam. demikian pula sebaliknya. apabila anak yang lahir di uar perkawinan mewaris bersama-sama dengan anak yang sah serta janda atau duda yang hidup paling lama. 39 . ½ dari bagian anak sah. . apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama dengan ahli waris golongan kedua dan golongan ketiga. maka cara pembagiannya. sedangkan untuk bagian dari pancer ibu harus diberikan kepada nenek. Bagian yang masing-masing separoh hasil dari kloving itu harus diberikan pada kakek pewaris untuk bagian dari pancer ayah. Dalam pasal 832 ayat (2) BW disebutkan: ”Apabila ahli waris yang berhak atas harta peninggalan sama sekali tidak ada. apabila pewaris tidak meninggalkan ahli waris golongan ketiga sekalipun. sepanjang harta warisan itu mencukupi”. dan bagian yang separohnya lagi merupakan bagian sanak keluarga dari pancer ibu pewaris.

(lihat Pasal 867 BW). maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada tangan anak yang lahir di luar pernikahan. sehingga menjadi ½ bagian. menurut sistem BW sama sekali tidak berhak atas harta warisan dari orang tuanya. yaitu sanak keluarga pewaris sampai derajat keenam. Apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris sampai derajat keenam sedang yang ada hanya anak yang lahir di luar nikah. sebab untuk ahli waris golongan keempat ini sebelum warisan dibuka terlebih dahulu diadakan kloving/ dibagi dua. Jadi dalam hal demikian. maka warisan tersebut dianggap sebagai harta warisan yang tidak terurus. . apabila ia mewaris hanya bersama- sama dengan kakek atau nenek pewaris. setelah terjadi kloving. ¾ dari bagian anak sah. anak-anak tersebut hanya berhak memperoleh bagian sekedar nafkah untuk hidup seperlunya. 6. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama ahli waris golongan keempat. . Peran Balai Harta Peninggalan dalam pembagian warisan Apabila harta warisan telah terbuka namun tidak seorang pun ahli waris yang tampil ke muka sebagai ahli waris. ½ dari bagian anak sah. Anak yang lahir dari zina dan anak yang lahir dari orang tua yang tidak boleh menikah karena keduanya sangat erat hubungan kekeluargaannya. 40 . sebagai ahli waris satu-satunya. bagian anak yang lahir di luar nikah bukan ¾. tak seorang pun yang menolak warisan. sehingga anak yang lahir di luar nikah akan memperoleh ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pancer ayah dan ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pacer ibu.

tanpa menunggu perintah hakim. Balai Harta Peninggalan juga wajib memberikan pertanggung jawaban. Balai Harta Peninggalan akan memberikan pertanggung jawaban atas pengurusan itu kepada negara. Dalam keadaaan seperti ini. Balai Harta Peninggalan wajib mengurus harta peninggalan tersebut. Apabila diminta oleh pihak yang berwajib. Pekerjaan pengurusan itu harus dilaporkan kepada kejaksaan negeri setempat. Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan Undang-undang menyebut empat hal yang menyebabkan seseorang ahli waris menjadi tidak patut mewaris karena kematian. 41 . Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan Balai Harta Peninggalan dalam tugasnya mengurus harta warisan yang tak terurus meliputi : a) wajib membuat perincian atau inventarisasi tentang keadaan harta peninggalan. 7. yaitu sebagai berikut: a) seorang ahli warais yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan membunuh atau setidak- tidaknya mencoba membunuh pewaris. Jika terjadi perselisihan tentang apakah suatu harta peninggalan tidak terurus atau tidak. c) wajib memanggil para ahli waris yang mungkin masih ada melalui surat kabar atau panggilan resmi lainnya. Apabila dalam jangka waktu tiga tahun terhitung mulai saat terbukanya warisan. dalam arti menagih piutang- piutang pewaris dan membayar semua hutang pewaris. penentuan ini akan diputus oleh hakim. Selanjutnya harta peninggalan itu akan diwarisi dan menjadi hak milik negara. yang didahului dengan penyegelan barang-barang. b) wajib membereskan warisan. belum juga ada ahli waris yang tampil ke muka.

d) seorang ahli waris yang telah menggelapkan. ia wajib mengembalikan semua yang dikuasainya termasuk hasil-hasil yang telah dinikmatinya. memusnahkan. c) ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata menghalangi atau mencegah pewaris untuk membuat atau menarik kembali surat wasiat. 42 . dan memalsukan surat wasiat. Apabila ternyata ahli waris yang tidak patut itu menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan dan ia berpura-pura sebagai ahli waris. b) seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewaris bahwa pewaris difitnah melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara empat tahun atau lebih.

Yang menjadi ahli waris hanya anak laki-laki sebab anak perempuam yang telah kawin dengan cara "kawin jujur" yang kemudian masuk menjadi anggota keluarga pihak suami. Oleh karena itu. Di dalam sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris untuk anak-anaknya. pokok pangkal uraian tentang hukum waris adat bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan. Sistem Kekeluargaan dan Hukum Adat Waris Seperti telah dikemukakan bahwa hukum waris merupakan salah satu bagian dari sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. Sistem Matrilineal. yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang laki-laki. sedangkan ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri. selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya yang meninggal dunia. contohnya pada masyarakat Batak. yaitu: Sistem Patrilineal. contoh sistem ini terdapat pada masyarakat Minangkabau.3 A. Anak-anak menjadi ahli waris dari garis perempuan/garis ibu karena anak-anak mereka merupakan bagian dari keluarga ibunya. Di dalam sistem ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris sangat menonjol. 43 . yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang perempuan. Setiap sistem keturunan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia memiliki kekhususan dalam hukum warisnya yang satu sama lain berbeda-beda.

Di samping itu. Tjokorda Raka Dherana. kondisi tersebut sudah banyak berubah. 284. Sistem Parental atau bilateral. Jakarta: Rajawali. Artinya. yaitu sistem yang menarik garis keturunan dari dua sisi. misalnya. Berkaitan dengan hal tersebut..40 Namun tentu saja masing-masing sistem memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan sistem yang lainnya. dalam tulisannya "Beberapa Segi Hukum Adat Waris Bali" yang dimuat dalam Majalah Hukum Nomor 2 mengemukakan. Hukum Adat Indonesia. Hal ini mengakibatkan pula bahwa meskipun hukum adat kekeluargaan di Bali menganut sistem patrilineal. antara lain: ". Di dalam sistem ini kedudukan anak laki-laki dan perempuan dalam hukum waris sama dan sejajar. Dari ketiga sistem keturunan di atas. 1981. Namun demikian. h. baik anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli waris dari harta peninggalan orang tua mereka.. baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. 44 . peranan agama yang dianut tidak kalah pentingnya pula dalam penentuan aturan-aturan tentang warisan karena unsur agama adalah salah satu unsur hukum adat. bagi masyarakat Minangkabau yang sudah merantau ke luar tanah aslinya. mungkin masih ada variasi lain yang merupakan perpaduan dari ketiga sistem tersebut.masalah hukum adat waris tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan tentang hukum adat kekeluargaan. Berdasarkan pada bentuk masyarakat dari sistem keturunan di atas. jelas bagi kita bahwa hukum adat waris di Indonesia sangat dipengaruhi oleh prinsip garis keturunan yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan. "sistem patrilineal beralih-alih (alternerend) dan sistem unilateral berganda (dubbel unilateral)". tetapi dalam 40 Soerjono Soekanto. karena sistem kekeluargaan yang dipergunakan membawa akibat kepada penentuan aturan-aturan tentang warisan.

h. yaitu sistem yang menentukan bahwa para ahli waris mewaris harta peninggalan secara bersama-sama (kolektif) sebab harta peninggalan yang di warisi itu tidak dapat dibagi-bagi pemilikannya kepada masing-masing ahli waris. seperti halnya di Batak". 41 Tjokorda Raka Dherana. hukum adat waris mengenal tiga sistem kewarisan. misalnya di Lampung. yaitu apabila anak perempuan tertua merupakan ahli waris tunggal dari pewaris.41 Di samping sistem kekeluargaan yang sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum adat waris terutama terhadap penetapan ahli waris dan bagian harta peninggalan yang diwariskan. Sistem kewarisan individual yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa para ahli waris mewarisi secara perorangan. c. Sistem kewarisan kolektif. (2) Mayorat perempuan. misalnya di: Jawa. pelaksanaannya berbeda dengan daerah-daerah lain yang juga memakai sistem patrilineal. Batak. dan lain- lain. Contohnya "harta pusaka” di Minangkabau dan "tanah dati” di semenanjung Hitu Ambon. 1975. yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa harta peninggalan pewaris hanya diwarisi oleh seorang anak. 101. Jakarta: Yayasan Penelitian dan Pengembangan Hukum (Law Center). Sulawesi. Majalah Hukum No. Sistem kewarisan mayorat. 2 Tahun Kedua. Beberapa Segi Hukum Adat Waris Bali. yaitu apabila anak laki-laki tertua/ sulung atau keturunan laki-laki merupakan ahli waris tunggal dari si pewaris. yaitu : a. misalnya pada masyarakat Tanah Semendo di Sumatera Selatan. Sistem mayorat ini ada dua macam. b. yaitu: (1) Mayorat laki-laki. 45 .

Akan tetapi secara umum yang dikenal sangat menonjol dalam percaturan hukum adat ada tiga corak. Namun tidak demikian halnya sebab mungkin saja sistem kekeluargaannya berbeda. Oleh karena itu. Hukum Adat Indonesia. selain dalam masyarakat patrilineal yang beralih-alih. yaitu: (1) Sistem patrilineal.42 Memperhatikan pendapat Hazairin di atas. Demikian juga sistem mayorat itu. memiliki sistem hukum adat waris yang mandiri yang berbeda sama sekali dengan sistem hukum adat waris pada masyarakat lainnya. di sana sini mungkin pula dijumpai sistem mayorat dan sistem kolektif yang terbatas. Hazairin. sebab sistem kewarisan yang individual bukan saja dapat ditemui dalam masyarakat yang bilateral. sebagai pedoman di bawah ini akan dipaparkan tiga besar sistem hukum adat waris yang sangat menonjol yang erat kaitannya dengan sistem kekeluargaan. tetapi juga dapat dijumpai dalam masyarakat patrilineal seperti di Tanah Batak. sedangkan sistem hukum adat warisnya memiliki unsur-unsur kesamaan. menerangkan tentang sistem kewarisan tersebut di atas bila dihubungkan dengan prinsip garis keturunan. Secara teoretis di Indonesia sesungguhnya di kenal banyak ragam sistem kekeluargaan di dalam masyarakat. 286. dengan contoh yang sangat 42 Soerjono Soekanto. yaitu : "Sifat individual ataupun kolektif maupun mayorat dalam hukum kewarisan tidak perlu langsung menunjukan kepada bentuk masyarakat di mana hukum kewarisan itu berlaku. Sedangkan sistem kolektif dalam batas-batas tertentu malahan dapat pula dijumpai dalam masyarakat yang bilateral seperti di Minahasa Sulawesi Utara". di dalam bukunya sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto. 1981. ternyata tidak mudah bagi kita untuk menentukan dengan pasti dan tegas bahwa dalam suatu masyarakat tertentu dengan sistem kekeluargaan yang berprinsip menarik garis keturunan. 46 . Jakarta: Rajawali. di Tanah Semendo dijumpai pula pada masyarakat bilateral orang Dayak di Kalimantan Barat. h. Malahan di Tanah Batak. sehingga akan dapat diketahui mengenai sistem hukum adat warisnya yang ada pada sistem kekeluargaan tersebut.

hanyalah anak laki-laki yang menjadi ahli waris. B. Sistem Kekeluargaan Patrilineal 1. Hukum Adat Waris Patrilineal “Dalam masyarakat tertib Patrilineal seperti halnya dalam masyarakat Batak Karo. 43 Djaja S. sehingga keturunan laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan pewaris yang meninggal dunia. karena anak perempuan di luar dari golongan patrilinealnya semula. Terdapat beberapa alasan atau argumentasi yang melandasi sistem hukum adat waris masyarakat patrilineal. yang membuktikan bahwa perempuan dijual.43 Selanjutnya secara terperinci perihal hukum adat waris patrilineal dalam masyarakat Batak Karo ini. dengan contoh daerah Minangkabau. Meliala. (2) Sistem matrilineal. dan (3) Sistem parental. 54. yaitu : a. Bandung: Tarsito.. h. Meliala & Aswin Peranginangin. Untuk itu. dan Aswin Peranginangin. 1978. sesudah mereka itu kawin”.44 Titik tolak anggapan tersebut. sedangkan anak perempuan sama sekali tidak mewaris. dan dalam masyarakat Batak pada umumnya”. Hal ini didasarkan pada anggapan kuno yang “memandang rendah kedudukan wanita dalam masyarakat Karo khususnya. h. 47 . dalam bukunya “Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan Hukum Nasional”. umum yakni Tanah Batak. Emas kawin (tukur). yang dikenal luas yakni Jawa. 44 Ibid. Hukum Perdata Adat Karo dalam Rangka Pembentukan Hukum Nasional. paparan di bawah ini pun akan dibatasi hanya mengenai hukum adat waris yang dikenal di dalam ketiga sistem kekeluargaan tersebut di atas. 65. diuraikan oleh Djaja S.

b. c. Di dalam masyarakat Karo. Anak-anak memakai nama keluarga (marga) ayah. isteri bukan kepala keluarga. (5) Apabila terjadi perceraian. Anak perempuan tidak dapat melanjutkan silsilah (keturunan keluarga). (4) Dalam adat. anak perempuan yang sudah kawin menjadi golongan anak beru. kalimbubu (laki-laki) dianggap anggota keluarga sebagai orang tua (ibu). maka pemeliharaan anak- anak menjadi tanggung jawab ayahnya. h.45 Meskipun demikian. Anak laki-laki kelak merupakan ahli waris dari ayahnya baik dalam adat maupun harta- benda. 48 . apabila anak perempuan sudah menikah. Dalam masyarakat Karo.. wanita tidak dapat mewakili orang tua (ayahnya) sebab ia masuk anggota keluarga suaminya. Perkataan “naki-naki” menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk tipuan. kenyataan bahwa anak laki-laki merupakan ahli waris pada masyarakat Karo. hanya anak laki- 45 Ibid. Sehubungan dengan itu. Istri digolongkan ke dalam keluarga (marga) suaminya. dipengaruhi pula oleh beberapa faktor sebagai berikut: (1) Silsilah keluarga didasarkan pada anak laki-laki. suami-isteri. Akan tetapi ternyata pendapat yang dikemukakan di atas hanya menunjukkan ketidaktahuan dan sama sekali dangkal sebab terbukti dalam cerita dan dalam kesusasteraan klasik Karo kaum wanita tidak kalah peranannya dibandingkan dengan kaum laki-laki. (3) Dalam adat. ia dianggap tergolong kelompok suaminya. seperti halnya dengan suaminya dan saudara- saudaranya yang semarga. Adat lakoman (levirat) yang membuktikan bahwa perempuan diwarisi oleh saudara dari suaminya yang telah meninggal. seperti juga masyarakat yang memiliki sistem kekerabatan yang sama. 66. Perempuan tidak mendapat warisan. dan lain-lain. d. (2) Dalam rumah-tangga.

dan juga banyak wanita Karo yang dengan gagah berani telah menunjukkan jiwa kepahlawanannya. dapatlah kiranya dilihat dari peranan yang dipegangnya di dalam masyarakat. Selain itu sistem sosial suatu masyarakat juga sangat menentukan sejauh mana wanita diberi kesempatan untuk melaksanakan peranannya. Akan tetapi walau bagaimana pun masalah tinggi rendahnya kedudukan seorang wanita dalam pergaulan di masyarakat. Meskipun demikian tidak berarti bahwa hak-hak kaum wanita pada masyarakat yang mempunyai sistem patrilineal menjadi tertekan sebab menurut cerita kuno masyarakat Karo. hendaknya masalah status hak dan kewajiban seorang wanita jangan ditinjau terlepas dari masyarakat. Berkaitan dengan hal di atas. Demikian pula dalam hal perundingan-perundingan adat. Oleh karena itu. perdagangan. pertanian. atau paling tidak sangat mempengaruhi keputusan. baik dalam hal perkara perdata maupun dalam perkara pidana.laki yang akan menerima warisan dari orang tuanya dan di sini menunjukkan. bahwa kaum wanita Karo mempunyai harga diri yang cukup besar serta mempunyai sifat mampu berdiri sendiri yang mengagumkan. lapangan ekonomi. sudah sangat banyak peranan yang dimainkan oleh kaum wanita Karo di segala bidang sejak dulu. adat istiadat. tidaklah beralasan jika memandang kaum wanita dalam masyarakat yang bersistem patrilineal secara apriori lebih rendah daripada masyarakat lain yang bersistem matrilineal dan bilateral. sering sekali suara seorang perempuan justru menentukan. 49 . Peranan kaum wanita Karo sejak dahulu sudah dapat terlihat di dalam masyarakat baik dalam lapangan keagamaan. maka dalam mempelajari hukum adat waris patrilineal di Tanah Karo. dan norma-norma yang berlaku di dalam sistem sosialnya.

karena di dalam hukum adat perkawinan suku Karo yang memakai marga itu berlaku keturunan patrilineal maka orang tua merupakan pewaris bagi anak-anaknya yang laki-laki dan hanya anak laki-laki yang merupakan ahli waris dari orang tuannya. setelah itu harta pusaka kembali kepada asalnya atau kembali kepada "pengulihen". 2. Apabila pewaris tidak mempunyai anak laki- laki. pewaris adalah seorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. ahliwaris. baik harta pencaharian maupun harta pusaka. demikian juga sebaliknya. maka masing-masing anak laki-laki akan mendapat bagian dari seluruh harta kekayaan termasuk harta pusaka. baik harta itu diperoleh selama dalam perkawinan maupun harta pusaka. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa orang tua (pewaris) bebas menentukan untuk membagi- bagi harta benda kepada anak-anaknya berdasarkan kebijaksanaan orang tua yang tidak membedakan kasih sayangnya kepada anak- anaknya. Jumlah harta kekayaan pewaris dibagi sama di antara para ahli waris. yang ada hanya anak perempuan dan isteri. Ahli waris atau para ahli waris dalam sistem hukum adat waris di Tanah Patrilineal. Pewaris. b) Anak angkat Dalam masyarakat Karo. maka harta pusaka tetap dapat dipakai. Misalnya pewaris mempunyai tiga orang anak laki-laki. dan pembagian harta pusaka Dalam sistem hukum adat waris di Tanah Karo. baik oleh anak-anak perempuan maupun oleh isteri seumur hidupnya. anak angkat merupakan ahli waris 50 . Akan tetapi anak laki-laki tidak dapat membantah pemberian kepada anak perempuan. terdiri atas: a) Anak laki-laki Yaitu semua anak laki-laki yang sah yang berhak mewarisi seluruh harta kekayaan.

h. 121.46 Barang-barang adat meliputi: tanah kering (ladang). Bandung : Alumni. hutan. dan sebagainya yang 46 Soerjono Soekanto. bambu. maupun saudara-saudara sekandung pewaris dan ayah-ibu pewaris tidak ada. anak angkat. maka harta warisan jatuh kepada persekutuan adat. anak angkat tidak berhak. c) Ayah dan Ibu serta saudara-saudara sekandung si pewaris. Apabila anak laki-laki yang sah. maka yang menjadi ahli waris adalah ayah dan ibu serta saudara-saudara kandung si pewaris yang mewaris bersama-sama. seperti ijuk. Ketentuan hukum adat waris di Tanah Karo menentukan. jambur atau sapo tempat menyimpan padi dari beberapa keluarga dan juga bahan-bahan untuk pembangunan. maka yang tampil sebagai ahli waris adalah keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu. Apabila anak laki-laki yang sah maupun anak angkat tidak ada. Rumah atau jabu mempunyai potongan rumah adat. 1978. namun anak angkat ini hanya menjadi ahli waris terhadap harta pencaharian/harta bersama orang tua angkatnya. bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak untuk mewarisi harta pusaka.Yang dimaksud dengan harta pusaka atau barang adat yaitu barang-barang adat yang tidak bergerak dan juga hewan atau pakaian- pakaian yang harganya mahal. kayu. yang kedudukannya sama seperti halnya anak sah. Kamus Hukum Adat. yaitu "bagian dari kampung secara fisik". Barang adat atau harta pusaka ini adalah barang kepunyaan marga atau berhubungan dengan kuasa kesain. d) Keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu. e) Persekutuan adat Apabila para ahli waris yang disebutkan di atas sama sekali tidak ada. Sedangkan untuk harta pusaka. dan kebun milik kesain. 51 .

seringkali sudah dilakukan ketika orang tua (pewaris) masih hidup.hukum adat waris Tanah Karo yang hanya mengakui anak laki-laki sebagai ahli waris. Proses penyerahan barang-barang harta benda kekayaan seseorang kepada turunannya. Apabila dalam pembagian itu terjadi sengketa. Apabila pembagian dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. Berkaitan dengan. (2) Setelah adanya musyawarah kepala-kepala adat Tanah Karo. maka perlu diperhatikan. bahwa walaupun pada dasarnya semua anak laki-laki mempunyai hak yang sama terhadap harta peninggalan orang tuanya. Pembagian yang dilakukan secara kerukunan itu terjadi di depan anak beru. maka anak beru dan senina mencoba menyelesaikannya melalui musyawarah. maka melalui putusan Mahkamah Agung tanggal 1 November 1961 No. dan kalimbubu. yaitu: (1) Dahulu cara pembagian harta peninggalan dalam keadaan semacam ini didasarkan pada banyaknya isteri.dihasilkan hutan marga atau kesain. misalnya mempunyai dua orang anak dari isteri pertama dan tiga orang anak dari isteri kedua. senina. sehingga dalam contoh di atas cara pembagiannya adalah menjadi ½ bagian untuk dua orang anak dari isteri pertama dan ½ bagian lagi untuk tiga orang anak dari isteri kedua. Kadang-kadang pembagian itu juga dihadiri oleh penghulu (Kepala Desa) untuk menambah terangnya pembagian tersebut.179 K/Sip/l961 telah 52 . Apabila seorang ayah sebagai pewaris meninggal dunia dengan meninggalkan isteri lebih dari satu. namun pembagian itu harus dilakukan dengan sangat bijaksana sesuai dengan kehendak/pesan pewaris sebelum meninggal dunia. maka pembagiannya ada dua cara. cara pembagian semacam di atas berubah menjadi atas dasar jumlah anak laki-laki yang masing-masing akan memperoleh bagian yang sama besar. sehingga dalam contoh di atas masing-masing akan memperoleh 1/5 bagian.

bahwa di Tanah Karo tetap ber1aku selaku hukum yang hidup. bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal warisan. Terhadap pertimbangan putusan Mahkamah Agung di atas. dalam beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia. Adapun yang menjadi pertimbangan dari putusan Mahkamah Agung dalam putusan tersebut di atas. bahwa seorang anak perempuan tidak berhak sama sekali atas barang warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya". maka juga di Tanah Karo. bahwa Mahkamah Agung berdasar selain atas rasa perikemanusiaan dan keadilan umum juga atas hakikat persamaan hak antara wanita dan pria. seorang anak perempuan harus dianggap ahli waris yang berhak menerima bagian warisan dari orang tuanya". dalam arti. bahwa berhubung dengan sikap yang tetap dari Mahkamah Agung ini. Tetapi kali ini kita 53 . (2) "Menimbang. ternyata tidak sedikit komentar dan tanggapan yang antara lain dikemukakan oleh Djaja S. (3) "Menimbang. sebagai berikut: (a) "Lazimnya suatu perubahan hukum dilaksanakan atas pertimbangan. Sebagai contoh hukum waris kolonial dirombak dan disesuaikan dengan kondisi nasional. antara lain: (1) "Menimbang. Meliala dkk. bahwa keberatan-keberatan tersebut berdasarkan atas anggapan. bahwa anak laki-laki sama dengan anak perempuan". namun tidak sedikit pula pihak-pihak yang justeru menyetujui hal tersebut. bahwa hukum yang lama tidak sesuai lagi dengan perasaan keadilan masyarakat tempat hukum itu berlaku.terjadi upaya ke arah proses persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria di Tanah Karo. bersama-sama berhak atas warisan. meskipun di sana-sini putusan Mahkamah Agung ini banyak mendapat tantangan.

dan lain-lain itu berbeda-beda. Jawa. dan lain-lain yang memiliki sistem warisan berbeda dengan anggapan Mahkamah Agung”. Bali. dirombak dan digantikan dengan suatu hukum baru yang tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat”. tidak perlu diubah secara radikal sebab sesuatu yang tidak sesuai akan berubah sendiri karena 54 . Batak. Beberapa pendapat dan kesimpulan tentang hukum adat waris patrilineal Di bawah ini berturut-turut akan dipaparkan tentang beberapa pendapat dan kesimpulan yang dikemukakan oleh penulis buku “Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan Hukum Nasional”. berhadapan dengan suatu perubahan hukum di dalam hukum yang masih tetap hidup dan sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat (masyarakat Karo). 3. dipandang sebagai keliru sebab terdapat beberapa masyarakat di Indonesia ini dengan sistem unilineal yang kuat seperti Minangkabau. Minangkabau. tidaklah tepat diadakan penilaian yang sama tentang hukum waris di seluruh Indonesia sebab kenyataan adat Batak. bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari si pewaris bersama-sama berhak atas warisan sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia. (b) “Anggapan Mahkamah Agung. b) Selama kita masih menghormati keragaman adat-istiadat yang hidup dalam masyarakat. yaitu: a) Hukum waris adalah sebagian dari adat. c) Adat istiadat yang masih dipegang teguh sebagai jiwa sesuatu masyarakat dan mampu menciptakan kesejahteraan dalam masyarakat tersebut. karena itu tidak dapat dipisahkan atau dinilai tersendiri dengan tidak memperhatikan factor-faktor lain.

. kiranya tidak dapat terlepas dari sistem kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. dan pada masa yang lampau sangat jauh berbeda sehingga harus ada penyesuaian pengertian tentang hal tersebut. d) Dalam adat di Tanah Karo. tugas dan kedudukan pria berbeda dengan wanita. Hukum Waris Adat Matrilineal Menguraikan sistem hukum adat waris dalam suatu masyarakat tertentu. kebutuhan hidup. pada waktu yang akan datang.anak perempuan mendapat pembagian yang adil untuk kepentingan sediri dan rumah tangganya kemudian. hak dan kewajiban. Sistem Kekeluargaan Matrilineal 1. Demikian pula 55 . bukan berarti kaum wanita lebih rendah dari kaum pria sebab pada dasarnya jiwa dan tujuan perlakuan orang tua bagi anak laki-laki dan perempuan dalam masalah waris.anak laki-laki sebagai ahli waris keluarga (marga) mewarisi harta benda yang menjadi tanda/lambang keluarga. bahwa anak perempuan secara mutlak tidak berhak atas warisan orang tuanya. terutama tanah dan benda-benda tidak bergerak lainnya. C. . .Anggapan. sehingga tidak baik untuk dipaksakan karena dapat merusak adat dan kebudayaan daerah tersebut. dewasa ini tidak sesuai lagi sehingga dianggap perlu penyesuaian. yaitu: . bahwa hak waris anak laki-laki sama dengan hak waris anak perempuan juga tidak sesuai dengan jiwa dan tujuan adat di Tanah Karo. dan sifat-sifat benda serta harta pusaka sekarang. pengaruh lingkungan atau zaman.Kemajuan zaman.Anggapan. .

Misalnya harta pencaharian yang diperoleh dengan melalui pembelian atau taruko. yakni saudara laki- laki dan saudara perempuan. baik untuk harta pusaka tinggi yaitu harta yang turun temurun dari beberapa generasi. maka semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya sendiri. dan anak-anak. akan jatuh kepada jurainya sebagai harta pusaka rendah jika pemilik harta pencaharian itu meninggal dunia. ibu. Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau senantiasa merupakan masalah yang aktual dalam berbagai pembahasan. nenek beserta saudara-saudaranya. Dengan sistem tersebut. Jika yang meninggal dunia itu seorang laki-laki. sedang yang menjadi ahli warisnya adalah seluruh kemenakannya. maka anak-anaknya serta jandanya tidak menjadi ahli waris untuk harta pusaka tinggi. Akan tetapi hukum waris kemenakan di Minangkabau tidak melanggar hukum faraidh sebab di dalam masyarakat Minangkabau tidak terdapat gezin dalam satu kesatuan unit yang terdiri atas ayah. bahwa sistem kekeluargaan di Minangkabau adalah sistem menarik garis keturunan dari pihak ibu yang dihitung menurut garis ibu. Seperti telah dikemukakan. 56 . sedangkan agama yang dipeluk oleh masyarakat memiliki pula hukum waris melalui anak pada umum yaitu faraidh. melainkan hanya dikenal kaum yaitu kesatuan unit yang lebih besar dari gezin. Di daerah Minangkabau pada umumnya sebagian besar masyarakat masih berkaum. Hal itu mungkin disebabkan karena kekhasan dan keunikannya bila dibandingkan dengan sistem hukum adat waris dari daerah-daerah lain di Indonesia ini. ini berkaitan erat dengan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari pihak ibu. baik laki-laki maupun perempuan. Masyarakat Minangkabau menurut adatnya melaksanakan hukum waris kemenakan. berkeluarga. maupun harta pusaka rendah yaitu harta yang turun dari satu generasi.halnya dengan sistem hukum adat waris dalam masyarakat matrilineal Minangkabau.

dari mamak turun ke kemenakan. Pusaka yang turun itu bisa mengenai gelar pusaka ataupun mengenai harta pusaka. Dasar hukum waris kemenakan di Minangkabau bermula dari pepatah adat Minangkabau.berkampung. kedua jenis harta pusaka tinggi ini menurut hukum adat akan jatuh kepada kemenakan dan tidak boleh diwariskan kepada anak. yaitu anak dari saudara perempuan dan tidak sah jika gelar itu dipakai oleh anaknya sendiri. gelar tersebut akan turun kepada kemenakannya. famili itu relatif sedikit sebab meskipun ada gezin. misalnya gelar Datuk Sati. b) Harta pusaka rendah Yaitu harta yang turun dari satu generasi. Apabila ia meninggal dunia. si ayah tetap menjadi anggota kaumnya. Demikian pula si ibu masih tetap menjadi anggota keluarganya. Harta pencaharian ini bila pemiliknya meninggal dunia akan 57 . baik yang berupa tembilang basi yakni harta tua yang diwarisi turun temurun dari mamak kepada kemenakan. yaitu pusaka itu dari nenek turun ke mamak. Harta warisan dalam hukum Adat waris Minangkabau Harta kaum dalam masyarakat Minangkabau yang akan diwariskan kepada ahli warisnya yang berhak terdiri atas: a) Harta pusaka tinggi Yaitu harta yang turun-temurun dari beberapa generasi. 2. maupun tembilang perak. yakni harta yang diperoleh dari hasil harta tua. Sedangkan gezin. c) Harta Pencaharian Yaitu harta yang diperoleh dengan melalui pembelian atau taruko. sehingga dalam masyarakat Minangkabau kita tidak dapat menemukan anak yatim-piatu atau juga orang jompo yang tidak punya usaha atau pencaharian sebab sistem kekeluargaan itulah yang membentuk demikian. dan bersuku.

bahwa “kaum” dalam masyarakat Minangkabau merupakan persekutuan hukum adat yang mempunyai daerah tertentu yang dinamakan “tanah ulayat”. Menurut hukum adat Minangkabau ahli waris dapat dibedakan antara: 47 H. Padang: Sri Dharma. atau Harta Salamo Baturutan. mamak kepala waris harus yang cerdas dan pintar. di antaranya: Harta Pasuarangan. yaitu seluruh harta benda yang diperoleh secara bersama-sama oleh suami-isteri selama masa perkawinan. 3. Untuk harta pencaharian ini sejak tahun 1952 ninik-mamak dan alim ulama telah sepakat agar harta warisan ini diwariskan kepada anaknya. Kaum serta anggota kaum diwakili ke luar oleh seorang “mamak kepala waris”. Tidak termasuk ke dalam harta suarang ini.47 d) Harta Suarang Sebutan untuk harta suarang ini ada beberapa. Perihal ini masih ada pendapat lain. Ahli waris dan hak mewaris menurut adat Minangkabau Sebagaimana diketahui. jatuh kepada jurainya sebagai harta pusaka rendah. Anggota kaum yang menjadi mamak kepala waris lazimnya adalah saudara laki-laki yang tertua dari ibu.1968. Nagari Basa. bukan pada mamak kepala waris. Anggota kaum terdiri atas kemenakan dan kemenakan ini adalah ahli waris. Harta Kaduo-duo. Harta Basarikatan. Hukum Waris Tanah dan Peradilan Agama. Dengan demikian jelaslah bahwa harta pencaharian berbeda dengan harta suarang. yakni harta bawaan suami atau harta tepatan isteri yang telah ada sebelum perkawinan berlangsung.137. Akan tetapi kekuasaan tertinggi di dalam kaum terletak pada rapat kaum. Mansur Dt. h. Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. yaitu "bahwa harta pencaharian harus diwariskan paling banyak (sepertiga) dari harta pencaharian untuk kemenakan". 58 .

Sedangkan hak mewaris dari masing-masing ahli waris yang disebutkan di atas satu sama lain berbeda-beda tergantung pada jenis harta peninggalan yang akan ia warisi dan hak mewarisinya diatur menurut urutan prioritasnya. selama waris bertali darah setampuk masih ada. Setiap nagari di Minangkabau mempunyai nama dan pengertian tersendiri untuk waris bertali adat. waris mahindu. 59 . Hal tersebut akan dapat terlihat dalam paparan di bawah ini.menurut datangnya. Masing- masing ahli waris yang termasuk waris bertali darah ini mewaris secara bergiliran. maka waris sehasta belum berhak mewaris. Demikian pula ahli waris seterusnya selama waris sejengkal masih ada. b) Waris bertali adat Yaitu waris yang sesama ibu asalnya yang berhak memperoleh hak warisnya bila tidak ada sama sekali waris bertali darah. . . waris batali budi. maka waris bertali darah sejengkal belum berhak mewaris. menurut jauh dekatnya terdiri atas: waris di bawah daguek. a) Waris bertali darah Yaitu ahli waris kandung atau ahli waris sedarah yang terdiri atas waris satampok (waris setampuk). sehingga waris bertali adat ini dibedakan sebagai berikut : . waris tembilang perak. yaitu : waris orang datang. waris di bawah lutut. waris di bawah pusat. waris batali suto. dan waris saheto (waris sehasta). waris didado. waris air tawar. waris sejangka (waris sejengkal). waris tambilang basi.menurut caranya menjadi waris: waris batali ameh. Artinya.

Di samping itu harta pusaka tinggi dapat dijual atau digadaikan.untuk ongkos naik haji ke Mekkah. .untuk membayar hutang darah.untuk menutupi kerugian bila ada kecelakaan kapal di pantai. pemilikannya di antara para ahli waris. . .untuk membayar ongkos memperbaiki bandar sawah kepunyaan kaum. cara pembagiannya berlaku sistem kewarisan kolektif. yaitu seluruh harta pusaka tinggi diwarisi oleh sekumpulan ahli waris dan tidak diperkenankan dibagi-bagi pemilikannya dan dimungkinkan dilakukan “ganggam bauntuek". Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya karena hubungan seorang ayah dengan anaknya bertambah erat dan juga sebagai pengaruh agama Islam. Pada mulanya harta pencaharian seseorang diwarisi oleh jurai atau setidak-tidaknya kaum masing-masing. . asal saja dengan sepengetahuan dan seizin seluruh ahli waris.untuk membayar hutang yang dibuat oleh kaum secara bersama-sama. guna keperluan: . Walaupun tidak boleh dibagi-bagi. (2) Mengenai harta pusaka rendah Semula harta pusaka rendah adalah harta pencaharian. harta pusaka tinggi dapat diberikan sebagian kepada seorang anggota kaum oleh mamak kepala waris untuk selanjutnya dijual atau digadaikan guna keperluan modal berdagang atau merantau.(1) Mengenai harta pusaka tinggi Apabila harta peninggalan itu menyangkut harta pusaka tinggi. .untuk membayar hutang kehormatan. Harta pencaharian mungkin milik seorang laki-laki atau mungkin juga milik seorang perempuan. maka seorang ayah dengan harta pencahariannya dapat membuatkan sebuah 60 .

baik bercerai hidup atau salah seorang meninggal dunia. ia berusaha bukan untuk anak-isterinya melainkan untuk orang tua dan para kemenakannya. sehingga dalam kondisi yang demikian keluarga tadi akan mengumpulkan harta sendiri yang merupakan harta keluarga yang disebut harta suarang. Hal ini dimaksudkan untuk membekali isteri dan anak-anak manakala ayah telah meninggal dunia. yaitu antara suami. Ketentuan pembagiannya sebagai berikut: 61 . yaitu dahulu ketika suami masih merupakan anggota keluarganya. sehingga ketika itu sedikit sekali kemungkinannya terbentuk harta suarang sebab yang mengurus dan membiayai anak-anak dan isterinya adalah saudara atau mamak isterinya. terutama masyarakat Minangkabau yang telah merantau jauh ke luar tanah asalnya. isteri dan anak-anak merupakan satu kesatuan dalam ikatan yang kompak. (3) Mengenai harta suarang Harta suarang berbeda sama sekali dengan harta pencaharian sebab harta suarang adalah seluruh harta yang diperoleh suami -isteri secara bersama-sama selama dalam perkawinan. pohon durian. dibedakan dalam dua periode. Harta suarang dapat dibagi-bagi apabila perkawinan bubar. misalnya pohon kelapa. dan lain-lain. Kriteria untuk menentukan adanya kerja sama dalam memperoleh harta suarang. Harta suarang dibagi-bagi setelah hutang suami-isteri dilunasi terlebih dahulu. telah menunjukkan perkembangan ke arah pembentukan hidup keluarga (somah).rumah untuk anak-anaknya atau menanami tanah pusaka isterinya dengan tanaman keras. pohon cengkeh. Sedangkan pada dewasa ini adanya kerja sama yang nyata antara suami-isteri untuk memperoleh harta suarang sudah jelas nampak. Dalam hal demikian suami telah bekerja dan berusaha untuk kepentingan isteri dan anak-anaknya.

(i) Putusan Landraad Talu tanggal 23 Januari 1937 No. anak-anak akan menikmati bagian ibunya. (b) bila salah seorang meninggal dunia dan tidak mempunyai anak. (ii) Putusan Landraad Payakumbuh tanggal 13 Juni 1938 No. separoh merupakan bagian jurai si suami dan separoh lagi merupakan bagian janda. . jika yang meninggal suami. (d) Apabila salah seorang meninggal dunia dan mempunyai anak. harta suarang dibagi dua antara jurai suami dengan janda beserta anak.148/508) menentukan bangunan yang didirikan atau tanaman yang ditanami di atas tanah harta kaum isteri bukanlah harta suarang. 62 . di bawah ini akan ditunjukkan beberapa putusan pengadilan mengenai harta suarang sebagai bukti. (a) bila suami-isteri bercerai dan tidak mempunyai anak. Berkaitan dengan pembahasan harta suarang. harta suarang dibagi dua. bagian masing-masing sebagai berikut: . jika yang meninggal isteri. maka sebagai berikut: . harta suarang seperdua untuk suami dan seperdua lagi untuk anak sebagai harta pusaka sendiri dari bagian ibunya. sehingga terbentuk harta keluarga. harta suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri. jika yang meninggal suami. .5 tahun 1937 yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang tanggal 13 Mei 1937 (T. harta suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri. harta suarang dibagi dua. Jika yang meninggal isteri. bahwa antara suami-isteri orang Minangkabau dalam perkembangan selanjutnya telah terjalin kerja sama dalam satu kesatuan unit yang disebut somah (gezin). (c) Apabila suami-isteri bercerai hidup dan mempunyai anak. sebagian untuk jurai suami dan sebagian lagi untuk duda.

atau telah dihibahkan kepada 63 . Kemudian adanya rumah di atas tanah kaum tidak dengan sendirinya membuktikan. bahwa harta suarang bertanggung jawab atas hutang suami. yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang tahun 1938 mengatakan: Bila suami meninggalkan beberapa orang janda. maka pembagian harta suarang menjadi pusaka rendah jurai si suami dan separoh lagi merupakan bagian para janda yang masih hidup. 4. sedangkan harta yang diperoleh di luar harta pusaka itu boleh diwariskan kepada anak-anaknya.perdata 11 tahun 1938. bahwa harta pencaharian itu diperuntukkan guna kepentingan anak-anak. b) Harta pencaharian diwariskan kepada anak-anaknya dengan tidak dipersoalkan apakah dibagi dengan sistem faraidh atau tidak. Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971 Berkaitan dengan berbagai persoalan yang menyangkut hukum adat waris di daerah Minangkabau. c) Apabila pihak isteri dari yang meninggal dunia menguasai harta pusaka dan ia enggan untuk mengembalikan harta tersebut kepada kaum suaminya dan malahan dikatakan sebagai harta pencaharian. yang menetapkan. mungkin saja rumah itu kepunyaan suami isteri bersama sebagai harta suarang. yang penting. bahwa rumah itu kepunyaan kaum. 46/1953 tanggal 26 Setember 1953 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Medan tanggal 13 Maret 1956 Nomor 23/1954. pada tahun 1971 Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (sekarang Badan Pembinaan Hukum Nasional atau Babinkumnas) pernah mengadakan kerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang dengan hasil sebagai berikut: a) Harta pusaka diwariskan kepada kemenakan. (iii) Putusan Pengadilan Bukittinggi No.

keduanya harus dipangku dalam arti dibesarkan. Di satu pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan 64 . kemenakan dibimbing". anak-anaknya tanpa sepengetahuan ahli warisnya (kemenakan) suaminya. dalam hal demikian Kerapatan Nagari yang diberi wewenang memutus secara perdamaian. sudah sewajarya jika kemenakan juga memperoleh bagian dari harta pencaharian. melainkan harus pula jatuh kepada kemenakannya sebab mamak laki-laki itu tadi dibesarkan. seorang ayah yang sekaligus berkedudukan selaku mamak bagi kemenakannya harus memelihara anak-anaknya dan juga kemenakannya. baik fisik maupun rokhaninya. Dengan demikian. Demikian pula kemenakan yang termasuk kaum mamak harus dibimbing. dan bahkan dikawinkan oleh kaumnya. dididik. dan dipertanggungjawabkan. e) Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil antara harta pusaka dengan harta pencaharian sebab kedua-duanya merupakan hasil jerih payah yang diperuntukkan bagi kesejahteraan anak-anak dan kemenakan untuk memenuhi pepatah adat "anak dipangku. d) Harta pencaharian tidak diharuskan seluruhnya jatuh kepada anak-anaknya. artinya harus dipelihara sama dengan anak. D. Hukum Waris Adat parental atau Bilateral Paparan terdahulu telah mengemukakan perihal prinsip-prinsip hukum adat waris yang dikenal di dalam dua kelompok masyarakat yang mempunyai sistem kekeluargaan yang satu sama lain berbeda. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral 1. sehingga anak-anak yang termasuk suku ibunya dan kemenakan yang termasuk suku mamaknya. dididik.

seluruh Kalimantan. Sudah banyak literatur hukum yang membahas dan memaparkan tentang sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. yaitu sistem parental atau bilateral. bahwa di antara ketiga sistem kekeluargaan itu perbedaannya sangat prinsipil karena seolah-olah sistem patrilineal merupakan kebalikan dari sistem matrilineal. Sistem parental ini di Indonesia dianut di banyak daerah.pihak ayah atau dikenal dengan sebutan sistem patrilineal dan di lain pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan pihak ibu atau matrilineal. anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama. seluruh Sulawesi. Aceh. Sumatera Timur. Ternate. Dari sekian banyak daerah yang menganut sistem parental di Indonesia ini. Madura. dan Lombok. Hal tersebut mungkin didasarkan pada pertimbangan. Kemudian kedua sistem tersebut dirangkum oleh satu sistem yang mengambil unsur dari kedua sistem tersebut. Sumatera Selatan. 65 . Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orang tuanya sehingga dalam proses pengalihan/pengoperan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris. Riau. Di bawah ini selanjutnya akan dipaparkan sistem hukum adat waris yang terdapat dalam masyarakat yang menganut sistem kekeluargan dengan menarik garis keturunan dari kedua belah pihak orang tua. sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula. yaitu baik dari garis bapak maupun dari garis ibu yang dikenal dengan sebutan sistem parental atau bilateral. Tiga bentuk sistem kekeluargaan yang sangat menonjol senantiasa merupakan contoh pembahasan. seperti: Jawa. yaitu bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan. satu di antaranya akan dijadikan bahan paparan di bawah ini. Berbeda dengan dua sistem kekeluargaan sebelumnya yaitu sistem patrilineal dan sistem matrilineal. yaitu sistem parental di Jawa khususnya di Jawa Barat.

Kecamaan Pagelaran. hadiah. Bandung. Kebayan. Banjar. Jasinga. Leuwiliang. barang sampakan (Cianjur. Karawang). yaitu sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia yang terdiri atas: a) Harta asal. Cilaja Kecamatan Pandeglang). 2. Citeureup. hibah. turun-temurun. Kecamatan Teluk Jambe. Pasireurih Kecamatan Saketi Pandeglang. raja kaya. Kecamatan Karawang Kabupaten Karawang). Cisarua. Harta asal dapat berubah wujud (misalnya dari sebidang tanah menjadi rumah). warisan (Cianjur. Kabupaten Pandeglang). tuturunan (Kecamatan Teluk Jambe Karawang). Perubahan wujud ini tidak menghilangkan harta asal. Saruni Kecamatan Pandeglang). Pagerbatu. Kecamatan Menes. harta pusaka/harta tuturunan (Cianjur. b) Harta bersama. a) Harta asal Harta asal adalah kekayaan yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh sebelum maupun selama perkawinan dengan cara pewarisan. barang pokok (Kecamatan Telagasari. Wanagiri. Raraton. Harta asal dikenal dengan berbagai sebutan. Depok. Ciamis. babawaan (Pelawad Kecamatan Karawang). yaitu: harta babawa (Leuwiliang. Rumah yang dibeli dari uang hasil penjualan harta asal akan tetap sebagai harta asal. Cianjur. Pondok Terong. Batujaya. Kecamatan Labuan. harta sulur (Saruni. Cileungsi. Bandung. Harta warisan menurut hukum adat waris parental Harta warisan. Bekasi). Karawang Wetan). Cilamaya. 66 . Pandeglang. yaitu rumah. Apabila sebidang tanah sebagai harta asal dijual dan kemudian dibelikan rumah. harta bawaan (Ratu Jaya.

Muara. campur kaya (Bandung. dan Ketiga. (Telukbuyung. barang kakayaan (Kecamatan Juntinyuat Indramayu). Cijakan. Cianjur. kaya reujeung (Cisarua. Cikoneng. janda/duda. saudara/saudara kalau tidak ada orang tua. Pandeglang). 67 . Jenjang atau urutan ahli waris adalah: Pertama. Wanagiri (Kecamatan Saketi. Batujaya Karawang) bareng molah: Singaraja (Kecamatan Indramayu). Pandeglang. orang tua. saudara. Kadupandak (Kecamatan Bojong. Ahli waris dalam hukum adat waris parental a) Sedarah dan Tidak Sedarah Ahli waris adalah ahli waris sedarah dan yang tidak sedarah. Depok. Banjar. yaitu anak angkat. Tegalwaru . Kecamatan Juntinyuat Indramayu). Pandeglang). Cilamaya. Kecamatan Pandeglang). Ahli waris yang tidak sedarah. Akan tetapi dari penelitian setempat tidak diperoleh keterangan apakah adanya satu kelompok ahli waris akan menutup hak ahli waris yang lain. Kedua. dan cucu. atau gono-gini (Leuwiliang. Leuwiliang Bandung. Kepandean. seorang anak angkat adalah ahli waris. orang tua apabila tidak ada anak. apabila pengangkatannya disahkan oleh pengadilan negeri. Karanganyar Kecamatan lndramayu. Istilah tumpang kaya ini terdapat dalam bentuk perkawinan nyalindung ka gelung dan manggih kaya. Sindangkerta Kecamatan Lohbener. Lohbener. Legok. 3. bareng sakaya (Kecamatan Kertasemaya. raja kaya (Bandung).Karawang). Di daerah Cianjur. Kecamatan Labuan-Pandeglang). anak/anakanak. saguna sakaya. tepung kaya (Cileungsi Kecamatan Telukjambe-Karawang. Ahli waris yang sedarah terdiri atas anak kandung. Di Kecamatan Telukjambe (Kabupaten Karawang) terdapat istilah tumpang kaya untuk harta bersama ini. Pandeg1ang). Menes. b) Harta bersama Harta bersama. Larangan. paoman (Lemahabang. Kecamatan Jatibarang. Pandeglang). sekaya (pekaya).

selain diserahkan kepada desa. 1974. barang atau harta peninggalan akan diserahkan kepada desa. selain diserahkan ke desa dapat juga diserahkan kepada yayasan sosial. kekayaan seorang yang meninggal tanpa ahli waris. Karawang Wetan. Di Kecamatan Kawali. Pandeglang. b) Kepunahan atau nunggul pinang Ada kemungkinan seorang pewaris tidak mempunyai ahli waris (punah) atau lazim disebut nunggul pinang. Bandung. 68 . apabila terjadi nunggul pinang. No. Jabar di Bandung tanggal 23 Januari 1971. 4. Ciamis..36/1969/Pdt. (PN. Di daerah Kabupaten Cianjur. PT. LPHKFH-UNPAD. mungkin diserahkan kepada baitulmaal atau kepada orang tidak mampu. Selanjutnya desalah yang akan menentukan pemanfaatan atau pembagian harta kekayaan tersebut. 48 Nomor 507/ 1969/Perd/PTB”.37. h. Di Pandeglang kalau pewaris mati punah. masjid atau wakaf. Pengadilan Negeri Indramayu yang dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa barat di Bandung. Indramayu tanggal 28 Agustus 1969. Banjar. harta warisan jatuh kepada desa atau mungkin juga pada baitulmaal. Cikoneng. memutuskan: “Apabila seseorang tidak mempunyai anak kandung. Anak angkat dan Perkawinan poligami dalam hukum adat parental a) Anak angkat Pengadilan Negeri Indramayu dan Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung pernah memutuskan. bahwa: 48 Yurisprudensi Jawa Barat (1969-1972) Buku I-Hukum Perdata. Kawali. maka keponakan-keponakannya berhak mewarisi harta peninggalannya yang merupakan barang asal atau barang yang diperolehnya sebagai warisan orang tuanya”. 36. Menurut ketentuan yang berlaku di daerah Kabupaten Bandung. Indramayu.

37.. Cileungsi. Dalam hal kehilangan hak mewaris ini. PT Bandung tanggal 29 Januari 1971.50 c. "Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya. Leuwiliang. Seorang ahli waris akan kehilangan hak mewaris karena alasan: a) Ahli waris atau para ahli waris membunuh pewaris (Banjar. selain karena alasan membunuh pewaris atau pindah agama (murtad).Indramayu tanggal 8 September 1969. Cikoneng. bagi mereka yang beragama Islam.49 b) Ahli waris dalam perkawinan poligami Dalam hal si pewaris beberapa kali kawin dan meninggalkan anak sah dari tiap perkawinan itu. Cianjur). Nomor 511/l969/Perd). P.. seorang pewaris mempunyai ahli waris. nampak pengaruh ajaran Islam sangat menonjol. No. (PN. h. Leuwiliang. 37. Cileungsi. 50 Loc Cit. Ciamis. maka harta peniggalan campur kaya yang dikuasai oleh janda yang masih hidup terakhir tidak dibagikan kepada semua anak dari tiap isteri (sehingga hanyalah anak yang sah daripada janda yang bersangkutan. (PN Indramayu tanggal 15 September 1969 Nomor 23/1969/Pdt. Cikoneng..T. Di Cikoneng. Kehilangan hak mewaris Ada kemungkinan terjadi. Banjar.h. seorang ahli waris dapat kehilangan hak 49 Ibid. Cianjur). 218/1969/Perd/PTB). Bandung tanggal 14 Mei 1970. 69 . Ciamis. atau b) Ahli waris atau para ahli waris berpindah agama (Cisarua. tetapi ada di antara ahli waris atau seluruh ahli waris tersebut kehilangan hak untuk mewarisi harta peninggalan pewaris. 24/1969/Perd. yang bukan barang asal atau barang warisan". No. yang menjadi ahli waris harta campur kaya yang ditinggalkan itu).

Apakah dalam kasus seperti ini. Dalam kehilangan hak mewaris. Cisarua. Penggantian tempat ahli waris Dengan kekecualian pada daerah Cikoneng Kecamatan Kertasemaya (Indramayu). Indramayu. pewaris mempunyai ahli waris. Kawali. Yayasan Sosial. dan Bekasi). Karawang. Di Karanganyar (Kecamatan Indramayu) cucu pewaris dari anak perempuan tidak bisa menggantikan tempat ibunya. atau karena melakukan perkawinan tanpa restu pewaris (teu doa). Seorang anak yang meninggal terlebih dahulu dari orang tuanya. Cianjur. Banjar. seorang ahli waris tidak akan kehilangan hak mewaris karena alasan tidak menurut (bandel).mewaris karena alasan pegat waris. 70 . Cileungsi. maka harta peninggalan akan tetap tidak dibagi. Hanya karena alasan tertentu ahli waris tidak berhak menerima harta peninggalan pewaris. Tetapi kemungkinan terdapat persamaan akibat antara nunggul pinang dengan kehilangan hak mewaris. maka hak anak tersebut sebagai ahli waris dapat digantikan oleh anaknya (cucu pewaris). Di daerah Cianjur. Perlu diperhatikan perbedaan antara kepunahan (nunggul pinang) dengan kehilangan hak mewaris. dan sebagainya. d. (Leuwiliang. lembaga (pranata) penggantian tempat dikenal hampir di semua daerah penelitian. Banjar. Bandung. Baitulmaal. Dapat pula digantikan oleh saudara pewaris (Ciamis. Lembaga (pranata) penggantian tempat semacam ini. Di daerah Cianjur. Ciamis. Penggantian tempat terjadi. Pandeglang. Apabila ahli waris tunggal atau para ahli waris dan mereka ini secara keseluruhan kehilangan hak mewaris. Kawali). tidak dikenal di daerah Kecamatan Cikoneng. harta peninggalan tersebut dapat diserahkan kepada lembaga atau badan-badan seperti: Desa. apabila seorang ahli waris meninggal terlebih dahulu dari si pewaris. Cianjur.

Penetapan Ahli Waris Ada beberapa yurisprudensi mengenai masalah penetapan ahli waris. Kliwed Kecamatan Kertasemaya-Indramayu. Pandeglang. pelaksanaan pembagian waris dilakukan 51 Ibid. ada kemungkinan seorang anak (sebagai cucu pewaris) tidak menggantikan tempat orang tua (Bapak/Ibu mereka) sebagai ahli waris pengganti. bahwa suatu gugatan penetapan ahli waris dapat dikabulkan apabila tergugat mengakui atau tidak membantah atau tidak menyangkal penggugat sebagai ahli waris. Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung. Tulungagung. Apakah penggantian tempat ini dapat juga terjadi apabila seorang ahli waris karena satu dan lain hal kehilangan hak mewaris. Pengadilan Negeri Indramayu. Putusan-putusan Mahkamah Agung. Pembagian warisan mungkin terjadi dalam suasana tanpa sengketa atau sebaliknya dalam suasana persengketaan di antara para ahli waris.51 E. sehingga kedudukannya sebagai ahli waris dapat digantikan oleh anaknya (cucu pewaris). suasana persaudaraan dengan penuh kesepakatan. Tata cara membagi harta warisan Pelaksanaan pembagian warisan tergantung pada hubungan dan sikap para ahli waris. Bandung. Dalam suasana tanpa persengketaan. Penggantian tempat selalu dikaitkan dengan ahli waris yang meninggal terlebih dahulu dari pewaris. dan Pengadilan Negeri Pandeglang. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan 1. Kecamatan Karawang. 36. h. pada prinsipnya menyatakan. e. 71 . Pengadilan Negeri Purwakarta. Tetapi seorang cucu menerima bagian berdasarkan rasa kasih sayang dari para ahli waris yang ada (saasihna).

maka pelaksanaan pembagian dilakukan dengan cara: a) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh sesepuh desa (Leuwiliang). Indramayu. Cikalong Kulon. Di Jatibarang. Karawang. Cikoneng. Indramayu. atau b) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh pamong desa (Cisarua. Sebaliknya. Juntikebon. Cianjur. c) Di Kabupaten Bandung. Kawali. Plawad. Depok. Di daerah Cisarua. Pandeglang). apabila suasana persengketaan mengiringi pembagian itu. Kabupaten Bandung. Di Juntinyuat. Pandeglang. Jasinga. yang dipakai sebagai pegangan dalam penyelesaian waris ini adalah Hukum Islam. Di Karawang dan Indramayu musyawarah antara ahli waris dengan disaksikan pamong desa ditambah kyai. Karawang. apabila terjadi sengketa waris. Depok. penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kebiasaan (hukum adat) dan/atau hukum Islam. Palangsari (Kecamatan Jatibarang-Indramayu) oleh sesepuh desa biasanya ditawarkan kepada yang bersangkutan apakah akan diselesaikan berdasarkan Hukum Adat atau Hukum Islam.dengan cara : a) Musyawarah antara sesama ahli waris/keluarga (Leuwiliang. Ciamis. Kabupaten Bandung. Dadap (Indramayu). Di Desa Adiarsa. Bulak. Karawang Wetan. Indramayu). Karawang. Pandeglang). juga dimintakan bantuan 72 . Banjar. Pandeglang. atau b) Musyawarah antara sesama ahli waris dengan disaksikan oleh sesepuh desa (Leuwiliang. Indramayu. Karawang. Di desa Pelembonsari (Kecamatan Karawang) saksinya adalah "kokolot". selain bantuan dari pamong desa. Tunggakjati (Karawang) saksinya adalah "kokolot lembur". Indramayu.

Ciamis. Apabila usaha-usaha permusyawaratan ini gagal. terdapat kebiasaan. ulama. Jatibarang (Indramayu). Sepanjang mengenai tanah/sawah. Di Menes (Kecamatan Menes Pandeglang). Kertasemaya. Indramayu. Di daerah Kabupaten Bandung. dijumpai praktik. Cikoneng. Di Kabupaten Bandung. Cikoneng. Kabupaten Bandung. bahwa harta warisan tidak akan dibagikan selama anak/anak-anak pewaris belum dewasa. Telagasari. Karawang. Di daerah Banjar. Telukjambe. Kecamatan Ciamis. Kecamatan Lohbener. Besarnya bagian yang diterima ahli waris a) Anak/anak-anak (1) Anak Kandung. Ratujaya (Karawang). Di beberapa daerah. Saat Pembagian Warisan Tidak ada kepastian waktu mengenai harta warisan harus dibagikan. Adiarsa. Banjar. tidak ada perbedaan antara anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan. dalam hal ahli waris masih belum dewasa dapat saja dilaksanakan pembagian harta warisan ini karena ada wali atas anak belum dewasa tersebut. Indramayu. Di daerah Cianjur. baru diajukan ke pengadilan. permusyawaratan tersebut mungkin dipimpin seorang sesepuh desa. Juntinyuat. akan selalu menghubungi desa untuk keperluan balik nama. saat pembagian warisan tersebut ditentukan berdasarkan lamanya pewaris meninggal. 3. dan Cianjur selain bantuan pamong desa. Kawali. Pandeglang. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan menerima jumlah yang sama besar 73 . dan Pandeglang pembagian harta warisan biasanya dilakukan pada hari ke 40 (empat puluh) atau hari ke100 (seratus) sejak pewaris meninggal dunia. 2. Kawali. Banjar.

dalam setiap pembagian warisan. Sedangkan di daerah
Kabupaten Cianjur, ada perbedaan jumlah yang diterima
anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan. Di
Cianjur dan Pandeglang berlaku prinsip satanggungan
saaisan antara anak laki-laki dan anak perempuan akan
menerima dalam perbandingan 2 : 1. Ketentuan seperti
yang terdapat di Cianjur, dijumpai pula di Cikoneng,
Kecamatan Indramayu, Jatibarang, Cilamaya, Teluk
Buyung. Di daerah Kecamatan Banjar, Ciamis, dan
Kawali, terdapat dua kemungkinan, yaitu: setiap anak
kandung akan menerima jumlah yang sama, tetapi
terdapat juga praktik satanggungan saaisan seperti di
Cianjur dan Cikoneng.
Apabila para ahli waris, baik seluruh maupun sebagian
dari mereka belum dewasa, dijumpai beberapa praktik,
yaitu:
a) Di daerah Kabupaten Bandung dan Banjar, apabila
para ahli waris belum dewasa biasanya harta warisan
terkumpul pada satu tangan dipegang oleh bibi atau
paman atau saudara yang sudah dewasa;
b) Di daerah Ciamis, Cikoneng, dan Kawali, anak/anak-
anak yang belum dewasa akan menerima haknya pada
saat pembagian warisan. Kemudian masing-masing
dari mereka memijah kuasanya (paman/ bibi/ nenek).

(2) Anak-anak angkat, tiri, dan anak tidak sah
a) Anak angkat
Di daerah-daerah Kabupaten Bandung, Cianjur, Banjar,
Pandeglang, Karawang, Indramayu, dan Ciamis, anak
angkat tidak dipandang sebagai ahli waris yang
mempunyai hak penuh atas warisan orang tua angkatnya.

74

Anak angkat akan menerima bagian harta peninggalan
orang tua angkat sapamere atau saasihna. Di Saruni,
Karaton (Kecamatan Pandeglang), anak angkat dianggap
sebagai ahli waris jika ditetapkan dengan akta pengadilan
negeri. Sedangkan di Cianjur seorang anak angkat yang
ditetapkan dengan akta notaris, baru dianggap sebagai
ahli waris. Baik di daerah Cianjur maupun di daerah
Kabupaten Bandung, demikian pula di daerah Banjar,
Ciamis, Kawali, seorang anak angkat tetap merupakan
ahli waris dari orang tua kandung. Oleh karena itu,
pengangkatan anak sama sekali tidak memutuskan
kedudukanya sebagai ahli waris dari orang tua
kandungnya. Anak angkat di daerah Kawali dan
Cikoneng, mempunyai kedudukan yang berbeda dengan
di daerah-daerah tersebut di atas. Di kedua daerah ini,
dijumpai ketentuan, bahwa anak angkat akan menerima
bagian dari harta peninggalan orang tua angkatnya sama
besar dengan anak kandung dari orang-orang tua angkat
tersebut. Dalam hal ada wasiat atau hibah, anak angkat
akan menerima bagian sesuai dengan bunyi wasiat atau
hibah, dengan ketentuan tidak melebihi dari seluruh
harta peninggalan (Kawali).
Dalam hubungan hak anak angkat atas
harta peninggalan orang tua angkatnya, terdapat beberapa
yurisprudensi berikut ini:52
(1) “Menurut Hukum Adat Jawa Barat seorang anak
angkat (anak kukut) hanya berhak atas harta guna
kaya kedua orang tua angkatnya”.
(PT. Bandung tanggal 6 Mei 1971 No. 80/Perd/PTB,

52
Yurisprudensi Jawa Barat; Loc . Cit., h. 40.

75

MA tanggal 30 Oktober 1971, No. 637 K/Sip/1971).
(2) “Anak angkat berhak atas barang gono-gini orang tua
angkatnya”. (PN. Ciamis tanggal 22 Februari 1968,
No.16/1967/Sip/Cms. PT. Bandung tanggal 9
Oktober 1970, No. 252/1969/Perd/PTB, MA tanggal
30 Oktober 1971 No.637 K/Sip/1971).
(3) “Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan
orang tua angkatnya, yang bukan barang asal atau
barang warisan”. (PN Indramayu tanggal 8
September 1969 No. 24/1969/Perd. PT. Bandung
tanggal 14 Mei 1970 No.511 /1969/Perd/ PTB).
(4) “Apabila baik anak angkat maupun janda telah
pernah mendapat hibah dari pewaris, maka lebih adil
apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan
bagian anak angkat, jika pewaris tak meninggalkan
anak kandung”. (PT Bandung tanggal 14 Mei 1970,
No.215 /1969/Perd. MA tanggal 24 Maret 1971 No.
60 K/Sip/1970).

b) Anak tiri
Sama halnya dengan anak angkat, seorang anak tiri akan
menerima bagian dari harta peninggalan orang tua tirinya
sapamerena / saasihna (Bandung, Cianjur). Hal yang
sama terdapat di daerah Banjar, Ciamis, Cikoneng, dan
Kawali. Di Indramayu anak tiri dengan istilahnya “anak
kawalon”, hanya mendapat bagian dari gawan orang tua
kandungnya. Di Karawang hanya mewaris dari orang tua
kandungnya.

c) Anak tidak sah
Di daerah-daerah dalam Kabupaten Bandung, Karawang,

76

Di desa Cibeber. anak tidak sah adalah ahli waris ibu kandungnya dan tidak dari bapak pembangkitnya. baik bapak pembangkitnya menikah dengan ibunya maupun tidak. bagaimanakah seandainya dari perkawinan ibu anak tidak sah tersebut dengan bapak pembangkitnya tidak lahir (tidak ada) anak sah? Di Kecamatan Banjar. Sedangkan mengenai harta asal. Cikoneng. di Kecamatan Ciranjang semua harta guna kaya jatuh pada janda/duda. anak tidak sah tidak mewarisi bersama-sama anak sah. dan Kawali.Indramayu. Di daerah-daerah dalam lingkungan Kabupaten Bandung hak seorang janda/duda diatur sebagai berikut. Di daerah Kabupaten Cianjur dalam hal ibu seorang anak tidak sah kemudian menikah secara sah dengan bapak pembangkitnya. akan kembali pada asal harta tersebut. besarya bagian yang diterima janda/duda adalah dari harta peninggalan suami/isteri. Tetapi di sini tidak dijumpai penjelasan bagaimanakah kedudukan seorang anak tidak sah tersebut terhadap bapak pembangkitnya. dengan kekecualian di Desa Cibeber. d) Hak Janda / Duda Dalam lingkungan Kabupaten Cianjur. apabila kemudian ibunya menikah secara sah dengan bapak pembangkitnya. (1) Harta asal 77 . maka hak untuk mendapat bagian tergantung kepada kebijaksanaan anak/anak-anak sah (saudara anak tidak sah tersebut). Ciamis. Dalam hal tidak ada anak. Tetapi satu pertanyaan perlu dijawab. seorang janda/duda akan menerima bagian sama besar dengan seorang anak.

Di Kecamatan Kawali dalam hal ada anak. seorang janda/duda akan menerima sapamerena / saasihna. Cilamaya.Kalau ada anak. Sedangkan di Kecamatan Kawali. Karawang. Di Tegalwaru (Cilamaya) Kuta Pohaci (Telukjambe) bagian janda ialah dari harta warisan. Kalau tidak ada anak/anak-anaknya. Apakah hak janda untuk menahan harta asal suami berlaku juga untuk duda? (Artinya. Telagasari. apakah duda juga dapat menguasai harta asal isteri?). Di beberapa tempat. (2) Harta bersama Janda/duda berhak mendapat ½ dari harta bersama. 78 . Di Kecamatan Banjar. Batujaya. Hal yang sama berlaku juga di Cikoneng. Janda/duda tidak berhak menerima bagian harta asal. Di Ciamis dan Cikoneng. dimungkinkan harta asal tersebut tetap dikuasai janda/duda sampai terjadi perubahan kedudukan janda/duda (menikah lagi) atau meninggal. harta asal kembali ke asal. Cikoneng. terdapat praktik yang sama seperti di daerah Kabupaten Bandung. Dalam hal harta bersama tidak mencukupi. janda/duda akan menerima . seluruh harta asal jatuh kepada anak/anaknya. Di Banjar. Di Karawang tidak ada ketentuan mengenai besarnya bagian seorang janda. di Telukbuyung (Batujaya) 1/6 (seperenam) atau (seperdelapan). dan Ciamis akan kembali ke asal. Sedangkan kalau tidak ada anak. janda/duda berhak atas ½ dari harta bersama. seorang janda/duda berhak atas ½ dari harta bersama. besarnya bagian janda sama dengan bagian anak. janda dapat menguasai harta asal suaminya sampai ia menikah lagi atau meninggal. Mengenai harta asal di Kecamatan Banjar. seperti di Telukjambe.

(PN Cianjur tanggal 29 Januari 1971 No. 53 Ibid. Di Batujaya apabila suami membeli sesuatu barang atas nama si suami. kalau barang tersebut dibeli atas nama isteri. Kecamatan Indramayu harta asal kembali ke asalnya kalau tidak ada anak. maka barang tersebut akan jatuh pada anak. dapat dijumpai beberapa yurisprudensi. Di desa Keraton (Pandeglang). seorang janda/duda bukan ahli waris. maka barang tersebut akan jatuh pada janda. Di Indramayu di Kecamatan Lohbener dan Indramayu harta asal dikuasai oleh janda apabila tidak ada anak. 218 /1969/Perd/PTB). Sedangkan di desa Cilaja (Kecamatan Pandeglang) janda/duda dianggap bukan ahli waris bilamana ada anak laki-laki. Sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan jatuh pada anak. barang asal dari peninggalan warisan harus dibagi sama rata antara anak-anak dan janda-janda pewaris". h. Pada semua daerah penelitian terdapat persamaan bahwa lamanya perkawinan tidak berpengaruh atas bagian yang harus diterima janda/ duda. Di Juntinyuat. Dalam hubungan dengan hak janda atas harta peninggalan suaminya.53 1) Hak waris janda dan anak “Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Juli 1962 No. 26 K/SIP/1963. 39-40 79 . antara lain. sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan jatuh kepada anak. Jatibarang.

941 K/Sip/1971). 60 K/Sip/1970). 4) Hak waris janda atas harta campur kaya "Barang-barang campur kaya hanya diwaris oleh janda dan anak si pewaris". selain menampakkan adanya keserasian antara perkembangan hukum adat dalam proses pewarisan dengan hukum adat yang hidup dalam masyarakat. (PT Bandung tanggal 14 Mei 1970 No.2) Hak seorang janda atas harta asal suaminya "Menurut yurisprudensi tetap dari Mahkamah Agung seorang janda berhak atas harta asal dari suaminya sebagai nafkah untuk kelangsungan hidupnya dan apabila diadakan pembagian waris. 80/1970/Perd/PTB. 3) Hak waris janda setengah diberi hibah "Apakah baik anak angkat maupun janda telah pernah mendapat hibah dari pewaris. 218/1969/Perd/PTB). (PN Indramayu tanggal 15 September 1969 No. Dari berbagai putusan Pengadilan di atas.23/1969/Pdt. PT Bandung tanggal 29 Januari 1971 No. MA tanggal 24 Maret 1971 No. maka lebih adil apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat. 215/1969/Perd/PTB.MA tanggal 1 Desember 1971 No. (PT Bandung tanggal 6 Mei 1971 No. dirasa masih perlu untuk memperoleh ketegasan atas hal-hal berikut : 80 . bagian seorang janda setidak- tidaknya adalah disamakan dengan bagian seorang anak". jika pewaris tak meninggalkan anak kandung".

masing-masing akan menerima separo dari harta campur kaya (50 : 50). konstruksi di atas akan nampak sebagai berikut : (a) Kalau salah satu pasangan meninggal. Sebab harta peninggalan pewaris hanya sebagian saja (misalnya 50%) dari seluruh harta campur kaya. perceraian maupun putusan hakim akan membawa konsekuensi pecahnya harta bersama. Dalam Hukum Adat di Jawa Barat pada umumnya. Apabila salah satu pasangan meninggal. adalah hak pasangan yang masih hidup dalam kedudukan sebagai pemegang sebagian hak atas harta campur kaya.1) Hak Janda atas harta campur kaya Harta campur kaya atau gono-gini adalah harta bersama atau milik bersama (community property). hak itu adalah atas harta guna kaya yang menjadi hak suami (50% ). Masing-masing pihak akan menerima bagian menurut kesepakatan atau hukum yang berlaku. dalam hal ini sebenarnya pasangan yang masih hidup tidak atau belum menerima warisan dari suami/isteri yang meninggal itu. maka pertama-tama diadakan pembagian harta campur kaya. Secara konkrit. Kalau pasangan yang masih hidup itu dipandang sebagai ahli waris suami/isteri atau setidak-tidaknya berhak atas harta peninggalan suami/isteri. ia tidak meninggalkan seluruh harta campur kaya (100%). seorang isteri atau suami merupakan pemilik dari sebagian (misalnya separo) dari keseluruhan harta tersebut. Jadi. Pasangan yang masih hidup akan menerima 81 . Berakhirnya suatu perkawinan baik karena meninggal. Jadi. Sedangkan sebagian lagi.

maka sesungguhnya dia bukan ahli waris atau dia sesunguhnya tidak berhak atas harta campur kaya peninggalan suami/isteri yang meninggal. akan menerima juga bagian harta guna kaya yang menjadi hak pasangan yang meninggal (pewaris). (c) Dalam bagian yang menjadi hak yang meninggal baru dapat dikatakan isteri/suami yang masih hidup mempunyai hak/tidak atas harta peninggalan suami/isteri. d) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan berhak atas harta peninggalan harta guna kaya yang menjadi bagian dari pasangan yang meninggal. tetapi semata-mata karena dia adalah pemilik atau pemegang hak atas sebagian dari harta campur 82 . bagian sebagai pemilik atas sebagian harta campur kaya. Dan dalam proses inilah sesungguhnya kedudukan janda sebagai ahli waris atau bukan ahli waris. sisa pembagian itu yang merupakan hak pasangan yang meninggal adalah harta peninggalan (warisan) dari yang meninggal. Oleh karena selain menerima bagian yang menjadi haknya sebagai pemilik bersama harta campur kaya. (b) Setelah pasangan yang masih hidup menerima bagian tersebut huruf (a) di atas. e) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan hanya berhak atas sebagian dari seluruh harta campur kaya (misalnya 50%). berarti pasangan yang masih hidup akan menerima lebih besar dari para ahli waris lain atas keseluruhan harta campur kaya itu. Karena apa yang diterima dari harta campur kaya itu bukan karena kedudukannya sebagai janda atau ahli waris.

Hutang Pewaris Para ahli waris bertanggung jawab untuk melunasi hutang- hutang pewaris. maka hibah yang telah diberikan ketika pewaris masih hidup dapat ditarik kembali untuk melunasi hutang-hutangnya. dan Kawali. Sedangkan di desa-desa Sukamah dan Langensari (keduanya di Kabupaten Bandung). Apabila hal ini terjadi. baik oleh pewaris maupun oleh sebagian ahli waris. Hal ini didasarkan kepada salah satu asas pokok dalam hukum kekeluargaan adat yaitu kesederajatan antara suami dan isteri. dan Cikoneng apabila harta peninggalan pewaris tidak mencukupi untuk melunasi hutang-hutangnya. 4. Banjar. Di desa Gununghalu Kabupaten Bandung. Ciamis. Cianjur. Mengesampingkan ahli waris Kecuali dalam kehilangan hak untuk mewaris (lihat tentang ahli waris). kaya. ahli waris yang bersangkutan dapat menuntut dipulihkan hak-haknya sebagai ahli waris (lihat yurisprudensi tentang ahli waris). hutang-hutang pewaris dilunasi dengan harta peninggalannya. Biaya penguburan merupakan salah satu hutang yang harus diutamakan pelunasannya. 2) Dari yurisprudensi di atas. Pada tahap pertama. seyogianya pengertian janda tidak terbatas pada janda perempuan melainkan juga berlaku pula bagi janda/laki-laki atau lazim dikenal dengan sebutan duda. 5. harta peninggalan pewaris baru akan dibagi setelah semua hutang-hutang tersebut dilunasi. 83 . hibah yang telah diberikan tidak dapat ditolak kembali untuk melunasi hutang-hutang pewaris. Karena itu.

apabila pewaris atau orang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan itu termasuk Warga Negara Indonesia Asli.F. baik yang materiil maupun immaterial. Artinya. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan sistem kekeluargaan yang dianut dan terdapat di dalam masyarakat Indonesia. Prinsip-prinsip kekeluargaan sangatlah berpengaruh. proses pewarisan itu terjadi disebabkan oleh meninggalnya seseorang dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. Pada dasarnya. yaitu sistem patrilineal. berdampingan mengatur hal waris bagi para subjek hukum yang tunduk pada masing-masing sistem hukum tersebut. Ketiga sistem hukum waris di atas. dalam waktu dan wilayah yang sama pula. terutama terhadap penetapan ahli waris maupun dalam hal penetapan bagian harta peninggalan yang akan diwarisi. Hukum Waris Islam. sistem Hukum Waris Islam. Ihtisar Bahwa hukum waris yang berlaku di Indonesia hingga saat ini masih bersifat pluralistik. Artinya. bilateral atau parental. dan Hukum Waris BW secara bersama-sama. maka yang berlaku adalah hukum waris Adat. matrilineal. bermacam-macam sistem hukum waris di Indonesia berlaku bersama-sama. Di samping itu khusus dalam bidang hukum adat juga masih menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan pengaturan hukum waris. maka berlaku pula 84 . maupun Hukum Waris BW. Hal itu terbukti dengan masih berlakunya Hukum Waris Adat. baik menurut sistem Hukum Waris Adat. dan sistem kekeluargaan yang lainnya yang mungkin ada sebagai hasil paduan serta variasi dari ketiga sistem tersebut. sampai saat ini keberlakuannya masih bergantung pada hukum mana yang berlaku bagi si pewaris atau orang yang meninggal dunia dasn meninggalkan warisan. atau dalam hal-hal tertentu apabila dikehendaki. dengan tidak dibedakan antara barang bergerak dengan barang tidak bergerak.

terhadap mereka diberlakukan Hukum Waris BW. ternyata terdapat perbedaan yang sangat prinsipil antara Hukum Waris Islam di 85 . antara lain dalam hal wujud harta peninggalan yang dapat diwarisi oleh para ahli waris.Hukum Waris Islam bagi mereka yang beragama Islam. ataukah Hukum Adat waris Jawa Barat. apakah Hukum Adat waris Batak. Berbeda dengan Hukum Waris BW dimana harta peninggalan yang dimaksudkan adalah seluruh hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. Hukum Adat sama dengan Hukum Islam yaitu bahwa harta benda peninggalan pewaris yang dapat diwarisi oleh para ahli waris adalah harta benda dalam keadaan bersih. Di samping itu jika pewaris termasuk golongan Warga Negara Indonesia Asli. para ahli waris hanya berhak terhadap peninggalan pewaris setelah dikurangi dengan pembayaran- pembayaran hutang serta segala sesuatu kewajiban pewaris yang belum sempat dilakukannya semasa pewaris hidup. Oleh karena itu. akan tetapi perbedaannya pun nampak di sana- sini. Artinya. di dalam hal pembagian harta warisan. Apabila pewaris termasuk golongan Warga Negara Indonesia keturunan Eropa atau Timur Asing Tionghoa. mencermati ketiga sistem hukum yang dikenal di Indonesia. Meskipun menurut ketiga sistem hukum waris yang berlaku proses pewarisan itu terjadi oleh peristiwa hukum yang sama yaitu kematian seseorang. Hukum Adat waris Minangkabau. yang dapat diwarisi oleh para ahli waris tidak hanya aktiva berupa hak-hak yang bermanfaat. melainkan juga segala hutang-hutang atau pasiva beserta seluruh kewajiban pewaris yang belum sempat dipenuhi olehnya sewaktu masih hidup. Maksudnya. Berkaitan dengan hal ini. selanjutnya masih harus ditentukan termasuk lingkungan Hukum Adat yang manakah orang tersebut sehingga dalam menentukan pembagian warisannya harus diberlakukan hukum waris adat yang mana.

dan ½ (setengah) bagian dari harta peninggalan jika tidak terdapat anak. sehingga dalam Hukum Waris Islam dan Hukum Waris BW tidak dikenal anak angkat sebagai ahli waris. menurut Hukum Adat. Jadi bagian anak perempuan sama besar dengan bagian anak laki-laki. anak angkat hanya akan mewarisi harta gono-gini bersama-sama dengan ahli waris yang lainnya. apabila terdapat anak angkat. maka bagian janda menjadi ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan. ia juga menjadi ahli waris atas harta gono-gini dari orang tua angkatnya.satu pihak dengan Hukum Waris Adat dan Hukum Waris BW di lain pihak. Sebagai contoh umpamanya. Sedangkan menurut Hukum Waris Adat dan Hukum Waris BW anak laki-laki dan anak perempuan sebagai ahli waris bagian mereka tidak dibedakan. Hukum waris Islam dan Hukum perdata waris BW tidak mengenal anak angkat. Jadi dalam Hukum Adat dikenal sebutan bahwa anak angkat memperoleh air dari dua sumber sebab di samping sebagai ahli waris orang tua kandungnya. sebab janda sebagai ahli waris dari mendiang suaminya hanya memperoleh (seperdelapan) bagian dari harta warisan almarhum suaminya jika terdapat anak-anak. 86 . Mengenai anak angkat ini. Demikian pula berkenaan dengan kedudukan janda menurut Hukum Islam berbeda dengan kedudukan duda. Berbeda dengan Hukum Adat dan Hukum perdata BW yang menempatkan kedudukan janda dan duda dalam posisi yang sama sebagai ahli waris dari yang meninggal lebih dahulu. Sedangkan apabila tidak terdapat anak. Pada sisi lainnya. Anak angkat tidak berhak atas harta asal dari orangtua angkatnya sebab ia juga akan menjadi ahliwaris dari orang tua kandungnya. menurut ketentuan dalam Hukum Waris Islam anak laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Adapun bagian duda sebesar ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan jika terdapat anak. Hukum Adat berbeda dengan Hukum Islam dan Hukum perdata BW.

Sedangkan anak yang lahir di luar perkawinan yang tidak diakui. Sedangkan yang dimaksud dengan “zinah” (overspel) menurut 54 Lihat R.54 baik menurut Hukum Adat maupun menurut Hukum Islam hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya. Untuk dapat melakukan pengesahan. Disamakan dengan anak yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel) adalah “anak sumbang”. anak tersebut hanya mewaris dari ibunya. yaitu anak yang lahir dari hubungan antara dua orang yang dilarang untuk menikah karena masih sangat erat hubungan kekeluargaannya. 55 Barulah dengan pengakuan terbit suatu pertalian kekeluargaan dengan orang tua yang mengakuinya. 41. Lihat R. Anak yang lahir di luar perkawinan yang tidak diakui adalah anak yang lahir dari perbuatan “zinah” (overspel). Subekti. Oleh karena itu. tidak dapat menjadi ahli waris sebab ia tidak mempunyai hubungan hukum apa pun dengan orang yang melahirkannya sekali pun. h. Hal itu disebabkan undang-undang tidak membolehkan pengakuan terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel). Anak yang lahir di luar perkawinan atau dinamakan “natuurlijk kind”. Subekti. maka diperlukan syarat kedua orang tua yang telah mengakui anaknya itu harus kawin secara sah. Anak yang lahir di luar perkawinan yang diakui selanjutnya menjadi ahli waris dari orang tua yang mengakuinya. Sedangkan menurut Hukum perdata BW anak yang lahir di luar perkawinan terdapat dua kemungkinan yaitu: (1) anak di luar perkawinan yang diakui selaku anak (erkenning). Hubungan itu hanya dapat diletakan dengan “pengesahan” anak atau “wettiging” sebagai langkah lebih lanjut dari pengakuan. Cit. Pokok-Pokok…Op. Akan tetapi suatu hubungan kekeluargaan antara anak dengan keluarga si ayah atau ibu yang mengakuinya belum juga ada. Cit. 87 . Pokok-Pokok…Loc.55 dan (2) anak di luar perkawinan yang tidak diakui..

Kedua macam anak yang disebutkan di atas.BW adalah hubungan suami isteri yang dilakukan oleh dua orang manusia yang salah satu dari mereka terikat dalam perkawinan dengan orang lain. bukanlah suatu tuntutan sebagai ahli waris melainkan tuntutan dari orang yang statusnya sebagi seorang yang berpiutang. yaitu anak yang dilahirkan dari perbuatan zinah dan anak sumbang. Dengan demikian. 88 . meskipun nafkah itu juga besarnya ditentukan menurut kekayaan ayah atau ibunya serta jumlah dan keadaan para ahli waris yang sah. atau orang tua yang membenihkannya. tuntutan seorang anak semacam itu terhadap nafkah yang seharusnya ia peroleh. tidak berhak mewarisi harta benda apa pun dari orang tua yang melahirkannya. Akan tetapi ia berhak untuk memperoleh sekedar nafkah yang cukup untuk hidup.

Hibah harus dilakukan dengan akta notaris. Di samping itu. 4 A. salah satu syarat dalam hukum waris untuk adanya proses pewarisan adalah adanya seseorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. 89 . seseorang pemberi hibah itu masih hidup pada waktu pelaksanaan pemberian. Pengertian Hibah Hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup dan pelaksanaan pembagiannya biasanya dilakukan pada waktu penghibah masih hidup juga. yaitu : a. maka hibah batal. c. Berkaitan dengan hibah ini. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.Biasanya pemberian-pemberian tersebut tidak akan pernah dicela oleh sanak keluarga yang tidak menerima pemberian itu. apabila tidak dengan akta notaris. b. oleh kerena pada dasarnya seseorang pemilik harta kekayaan berhak dan leluasa untuk memberikan harta bendanya kepada siapa pun. Sedangkan dalam hibah. Hibah yaitu perjanjian sepihak yang dilakukan oleh penghibah ketika hidupnya untuk memberikan sesuatu barang dengan cuma-cuma kepada penerima hibah. Hibah harus dilakukan antara orang yang masih hidup. Sebenarnya hibah ini tidak termasuk materi hukum waris melainkan termasuk hukum perikatan yang diatur di dalam Buku Ketiga Bab kesepuluh Burgerlijk Wetboek (BW). Pengertian Pokok Hibah 1.

h. 90 . Terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi dalam hal melakukan hibah menurut Hukum Islam ini. A. bahkan telah ditetapkan dengan tegas bahwa ”dalam Hukum Islam. pemberian berupa harta tidak bergerak dapat dilakukan 56 Asaf A.56 Pemberian semasa hidup itu lazim dikenal dengan sebutan ”hibah”. Qabul. d. Pokok-pokok Hukum Islam II. Jakarta: Tintamas. Asaf A. yaitu sebagai berikut: a. yaitu penyerahan milik itu sendiri. Hibah menurut Hukum Islam Hukum Islam memperbolehkan seseorang memberikan atau menghadiahkan sebagian atau seluruhnya harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain yang disebut ”intervivos”.A. Fayzee. b.57 Selanjutnya diuraikan bahwa Kitab Durru’l Muchtar memberikan definisi hibah sebagai ”pemindahan hak atas harta milik itu sendiri oleh seseorang kepada orang yang lain tanpa pemberian balasan. 57 Ibid. yaitu pernyataan tentang pemberian tersebut dari pihak yang memberikan. kecuali jika yang dihibahkan itu benda-benda bergerak yang harganya tidak terlampau mahal. Qabdlah. Di dalam Hukum Islam jumlah harta seseorang yang dapat dihibahkan itu tidak terbatas. Ijab. Fyzee dalam bukunya ”Pokok-pokok Hukum Islam II” memberikan rumusan hibah sebagai berikut: ”Hibah adalah penyerahan langsung dan tidak bersyarat tanpa pemberian balasan”. Hibah antara suami isteri selama dalam perkawinan dilarang. 2. Berkaitan dengan persoalan hibah tersebut di atas. baik dalam bentuk yang sebenarnya maupun secara simbolis. c. yaitu pernyataan dari pihak yang menerima pemberian hibah itu. Hibah dalam Hukum Islam dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan. 1.. 1961. h. 2. Berbeda halnya dengan pemberian seseorang melalui surat wasiat yang terbatas pada sepertiga dari harta peninggalan yang bersih.

Yang dimaksud dengan hibah yang tergantung pada suatu kejadian. Misalnya: Jika A meninggal dunia. adalah tidak sah. dalam Hukum Islam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Orang tersebut harus sudah dewasa. rumah A menjadi milik B. 91 . Bentuk tertulis yang perlu didaftarkan. Yang dimaksud dengan hibah bersyarat adalah suatu pemberian yang diserahkan dengan ketentuan bahwa yang diberi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.dengan lisan tanpa mempergunakan suatu dokumen tertulis”. yaitu pemberian yang hanya akan terjadi apabila hal-hal yang telah ditetapkan terlebih dahulu betul-betul terjadi. maka pemberian itu dapatlah dinyatakan dalam bentuk tulisan. apabila pernyataan dan penyerahan benda yang bersangkutan kemudian disusul oleh dokumen resmi tentang pemberian. Pemberian atau hibah semacam ini menurut Hukum Islam adalah batal. b. Artinya. jika surat itu merupakan alat dari penyerahan pemberian itu sendiri. jika B membantu pekerjaan A. Bentuk tertulis yang tidak perlu didaftarkan. yaitu: a. maka yang demikian itulah yang harus didaftarkan. Jika pemberian tersebut dilakukan dalam bentuk tertulis bentuk tersebut terdapat dua macam. Hibah dengan syarat dan hibah yang digantungkan pada suatu kejadian yang tertentu. Dalam hal ini jadi atau tidaknya rumah A itu dimiliki oleh B sangat tergantung pada suatu kejadian di masa datang yang tidak pasti. sehingga hibah semacam ini batal. Akan tetapi jika selanjutnya dikehendaki bukti-bukti yang cukup tentang terjadinya peralihan hak milik. Seseorang yang hendak menghibahkan sebagian atau seluruh harta kekayaannya semasa hidupnya. sebab di sini belumlah dapat dipastikan bahwa pihak yang diberi akan berusia lebih panjang dari pihak yang memberi. Misalnya: A akan memberikan rumahnya kepada B. jika isinya hanya menyatakan telah terjadinya pemberian.

Sedangkan hibah mempunyai arti yang lebih sempit yaitu pemberian atas hak milik penuh dari objek/harta tertentu tanpa pengganti kerugian apa pun. Hibah kepada seseorang yang belum lahir juga batal. maka harus diserahkan kepada wali atau pengampu yang sah dari anak di bawah umur atau orang yang tidak waras itu. b. Baik laki-laki maupun perempuan dapat melakukan hibah. d. Bila hibah terhadap anak di bawah umur atau orang yang tidak waras akal pikirannya. Pada dasarnya segala macam harta benda yang dapat dijadikan hak milik dapat dihibahkan. Pemindahan hak milik atau levering dalam hibah tidak perlu dilakukan apabila: a. Hibah dilakukan kepada seseorang yang tinggal dalam satu rumah. hibah menjadi batal. Benda tetap maupun benda bergerak dan segala macam piutang serta hak-hak yang tidak berwujud itu pun dapat dihibahkan oleh pemiliknya. b. baik harta pusaka maupun harta gono-gini seseorang. Orang tersebut harus sadar dan mengerti tentang apa yang diperbuatnya. Bila hibah dilakukan terhadap anak di bawah umur yang diwakili oleh saudaranya yang laki-laki atau oleh ibunya. c. Harus waras akan pikirannya. Hibah yang dilakukan antara suami-isteri dan sebaliknya. antara lain sebagai berikut: a. hanya ada beberapa pengecualian. Tidaklah terdapat persyaratan tertentu bagi pihak yang akan menerima hibah. sebab pemberian biasa mempunyai arti yang lebih luas yaitu meliputi semua pemindahan hak milik tanpa balasan. Hibah berbeda dengan pemberian-pemberian biasa. Perkawinan bukan merupakan penghalang untuk melakukan hibah. b. c. sehingga hibah dapat saja diberikan kepada siapapun. e. 92 .

Bila hibah tersebut bermotif keagamaan atau kerohanian. baik salah satu maupun dua-duanya. sehingga hibah yang demikian lebih bersifat sodaqoh. baik dijual. d. Hibah kepada seseorang yang karena hubungan darah. Bila barang yang dihibahkan itu telah dipindah-tangankan oleh si pemberi hibah. c. atau dengan cara-cara lain. mereka terlarang untuk kawin. Di bawah ini terdapat beberapa hibah yang tidak dapat dicabut kembali. e. f. yaitu: a. Menurut Hukum Islam pada dasarnya semua perjanjian yang dilakukan atas dasar suka rela seperti halnya juga hibah. 93 . b. d. c. h. Dalam beberapa hal pencabutan kembali hibah memerlukan persetujuan pihak penerima hibah atau atas persetujuan pengadilan. Hibah dari seorang ayah kepada anak lelakinya atau dari seorang ibu kepada anak lelakinya. Bila barang yang dihibahkan itu telah bertambah nilainya karena sesuatu sebab apa pun. Hibah yang dilakukan kepada seseorang yang sungguh- sungguh menguasai barang yang dihibahkan itu karena ia mendapat kepercayaan untuk menguasai barang tersebut sejak semula dari penghibahnya. g. Bila barang yang dihibahkan itu telah hilang atau hancur. diberikan kembali. Hibah yang dilakukan oleh seorang wali kepada seseorang yang berada di bawah perwaliannya. dapat dicabut kembali. Hibah antara suami isteri dan sebaliknya. Bila pemberi hibah telah mendapatkan suatu penggantian untuk hibah tersebut. e. meskipun tidak semua hibah dapat dicabut kembali oleh pemberi hibah. Bilamana pemberian hibah atau penerima hibah telah meninggal dunia.

Demikian pula hibah tidak boleh dilakukan kepada anak yang belum lahir. baik berada berwujud maupun tidak berwujud. sebagai berikut: a. g. pada waktu hidupnya. Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW) Di dalam BW hibah diatur dalam titel X Buku III yang dimulai dari pasal 1666 sampai dengan pasal 1693. dapat diketahui unsur-unsur hibah. b. yaitu: 94 . 3. Menurut pasal 1666 BW. menyerahkan sesuatu benda guna keperluan di penerima hibah yang menerima penyerahan itu”. Hibah tidak dapat ditarik kembali. Dari rumusan tersebut di atas. d. termasuk juga segala macam piutang penghibah. Hibah merupakan perjanjian sefihak yang dilakukan dengan cuma-cuma. kecuali kepentingan anak tersebut menghendaki. c. Dalam hibah selalu disyaratkan bahwa penghibah mempunyai maksud untuk menguntungkan pihak yang diberi hibah. f. e. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris. Hibah antara suami isteri selama perkawinan tidak diperbolehkan. dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali. Ada beberapa orang tertentu yang sama sekali dilarang menerima penghibahan dari penghibah. Artinya. Penghibahan harus dilakukan pada waktu penghibah masih hidup. Pelaksanaan dari penghibahan dapat juga dilakukan setelah penghibah meninggal dunia. hibah dirumuskan sebagai berikut: ”Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah. benda tetap maupun benda bergerak. Yang menjadi objek perjanjian hibah adalah segala macam harta benda milik penghibah. tidak ada kontra prestasi dari pihak penerima hibah. kecuali mengenai benda-benda bergerak yang bertubuh yang harganya tidak terlampau mahal.

Penyerahan harta warisan kepada ahli waris atau seorang 95 . Praktik semacam ini terdapat pula di Jawa Barat. Jika orang yang diberi hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan kejahatan lain terhadap penghibah. Dengan terjadinya penarikan atau penghapusan hibah ini. Akan tetapi dalam pasal 1688 BW dimungkinkan bahwa hibah dapat ditarik kembali atau bahkan dihapuskan oleh penghibah. b. c. Notaris yang membuat surat wasiat milik si penghibah. a. Misalnya saja. Meskipun hibah sebagai perjanjian sepihak yang menurut rumusannya dalam pasal 1666 BW tidak dapat ditarik kembali. yaitu: a. b. Hibah menurut Hukum Adat Jawa Barat Pada seluruh lingkungan hukum adat di Indonesia. Orang yang menjadi wali atau pengampun si penghibah. maka harus segera dilunasi oleh penerima hibah sebelum barang tersebut dikembalikan kepada pemberi hibah. c. Di daerah Kabupaten Bandung. tidak jarang terjadi pembagian tersebut dilaksanakan jauh sebelum pewaris meninggal. 4. setelah penghibah jatuh miskin. Apabila penerima hibah menolak memberi nafkah atau tunjangan kepada penghibah. diakui bahwa proses pewarisan harta seorang pewaris dapat mulai dilaksanakan sejak pewaris masih hidup. melainkan atas persetujuan pihak penerima hibah. barang tersebut sedang dijadikan jaminan hipotik ataupun crediet verband. Karena syarat-syarat resmi untuk penghibahan tidak dipenuhi. meskipun secara umum pembagian harta warisan dilakukan setelah pewaris meningal. Dokter yang merawat penghibah ketika sakit. maka segala macam barang yang telah dihibahkan harus segera dikembalikan kepada penghibah dalam keadaan bersih dari beban- beban yang melekat di atas barang tersebut.

Batujaya Karawang. Kecamatan Jatibarang. Tujuan/Maksud Hibah Hibah kepada seorang ahli waris atau kepada mereka yang dianggap berhak menerima bagian harta pewaris. Jasinga. Kecamatan Lonbener. Jasinga. atau antara para ahli waris dengan orang lain yang merasa berhak mendapat pembagian harta peninggalan pewaris. Cianjur. Cianjur Karawang. Kecamatan Talagasari. Karawang. Pandeglang). Cisarua. hibah mutlak. Jatibarang. Kecamatan Indramayu. Teluk Jambe. Batujaya. Talagasari. Kertasemaya. (Kabupaten Bandung.yang tidak termasuk ahli waris sebelum pewaris meninggal. Leuwiliang. (Singaraja-Kecamatan Indramayu). Sebagai bekal anak-anak dikemudian hari (Kabupaten Bandung). Pernyataan rasa kasih sayang kepada penerima hibah (kadeudeuh/kanyaah . 96 . Pandeglang). disebut hibah. dilakukan dengan tujuan: Mencegah perselisihan di antara para ahli waris. dikenal macam-macam hibah yaitu: hibah biasa. Cileungsi. Kecamatan Karawang. Untuk menyempurnakan arwah pewaris. hibah wasiat. Macam-macam Hibah Di daerah-daerah di Jawa Barat.Kabupaten Bandung. Juntinyuat (Indramayu).

Tunggakjati. penghibahan secara lisan selain di hadapan mereka yang berkepentingan/penghuni rumah. sama dengan di daerah Bandung. Penghibahan dapat terjadi dengan berbagai cara. Bandung. tanpa pemberitahuan kepada pejabat desa (Banjar. Di Kecamatan Banjar. Di beberapa daerah. Juntinyuat. Sedangkan di daerah Ciamis dan Kawali. Kawali. Leuwiliang. yaitu: Lisan. Karawang Wetan. penghibahan terjadi menjelang pewaris menunaikan ibadah haji. penghibahan biasanya terjadi pada saat perkawinan anak pewaris atau pada saat pewaris merasa ajalnya telah dekat. 97 . Plawad. Kecamatan Indramayu (Indramayu). Jatibarang (Indramayu). Kecamatan Lohbener. wakaf. Bekasi. kalau hibah lisan tersebut berupa tanah. Ciamis. Indramayu penghibahan biasanya terjadi karena merasa ajal sudah dekat. Tertulis : Akta notaris (Cianjur. Kawali. Proses penghibahan Seperti telah diutarakan di atas. dilakukan di hadapan tetangga. Bekasi). Di daerah Kaupaten Bandung. di hadapan mereka yang berkepentingan dan disaksikan oleh pejabat desa (Cianjur. Di daerah Banjar. Kecamatan Kertasemaya. selain karena alasan ajal dekat. Akta di bawah tangan (Bandung. Cisarua. Palimbonsari (Karawang). hibah sebagai satu bagian dari proses pewaris dilakukan sebelum pewaris meninggal. Di daerah Cianjur. Jatibarang. diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama. Karanganyar). yaitu pada saat perkawinan. Karawang. Kecamatan Cilamaya (Karawang).

Apakah dalam hal ini penerima hibah harus mengembalikan hibah yang telah diterima. baik kepada ahli waris maupun kepada orang lain yang bukan ahli waris. Dalam hal hibah jatuh kepada ahli waris terdapat berbagai ketentuan sebagai berikut: Di daerah Cianjur. Banjar. Dari 98 . Akan tetapi dari penelitian setempat. Karawang. Cikoneng. Juntinyuat. Penerimaan hibah dan perhitungan nilai hibah Pada semua daerah penelitian terdapat ketentuan yang sama mengenai mereka yang akan menerima hibah. Karawang. Kawali. Ratujaya (Karawang). Jasinga. belum berhasil diungkapkan tindakan apakah yang dapat diambil apabila jumlah hibah dianggap merugikan kepentingan ahli waris atau sebagian ahli waris. Jasinga. Cisarua. Cilamaya. Telagasari. penghibahan dibatasi sepanjang tidak merugikan hak para ahli waris. hibah yang diterima ahli waris akan diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris. Bandung. Di hadapan Kepala Desa (Bandung. Ciamis. Jatibarang Indramayu. Indramayu. Penghibah atau pewaris dapat menghibahkan harta peninggalannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. Ratujaya. hibah ditentukan sebesar dari kekayaan jika pewaris tidak mempunyai anak. Di daerah Kecamatan Banjar dan Ciamis. Telukjambe. hibah tidak akan diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris. Sebaliknya di Kecamatan Ciamis. Dalam hal pewaris menghibahkan hartanya kepada bukan ahliwaris. Cileungsi. Cisarua. Leuwiliang).

MA tanggal 29 Desember 1971. Apabila seseorang dengan kemungkinan akan meninggal dunia menetapkan mengenai kekayaan untuk kepentingan isteri dan anak atau sanak saudara lain yang terdekat. 58 Ibid. 215/1969/ Perd/PTB. karena perbuatan seperti itu dianggap biasa dan dilakukan secara turun-temurun (PT Bandung tanggal 6 Februari 1970 No. 16/1970/Perd/PTB. namun apabila kedua belah pihak sama-sama setuju. . (3) Cara penghibahan . Dilihat dari sudut agama dan sosial. 10/1969/Perd. (2) Perhitungan hibah dalam pembagian waris ”Apabila baik anak angkat maupun janda telah pernah mendapat hibah dari pewaris maka lebih adil apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat. 41-42 dan 71 – 73. 99 . yurisprudensi Jawa Barat. No. (PT. Bandung tanggal 14 Mei 1970. 855 K/Sip/1971). tidaklah salah. Meskipun suatu penghibahan merupakan hibah mutlak.58 yaitu: (1) Penghibahan dan penjualan harta kekayaan oleh pewaris ”Penghibahan dan penjualan harta. h. putusan-putusan pengadilan. PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No. MA tanggal 5 Februari 1972 No. maka ketetapan itu disebut penghibahan. No. masuk akal dan dapat dibenarkan. jika pewaris tidak meninggalkan anak kandung”. (PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No. kekayaan oleh seorang pewaris (yang hidup seorang diri setelah satu-satunya anaknya meninggal dunia). 439/1969/Perd/PTB). 925K/Sip/1971). dijumpai beberapa yurisprudensi yang ada kaitannya dengan soal hibah.

tiada halangan dalam hukum apabila tanah dan sawah selama hidup pemberi hibah masih dikuasai olehnya. (4) Syarat-syarat hibah yang sah: Suatu hibah. baik mengenai seluruh harta kekayaan maupun mengenai beberapa harta benda tertentu. Tetapi bila diadakan hibah mengenai tanah secara lisan. pada umumnya diajukan permintaan kepada Kepala Desa yang bersangkutan untuk memindahkan tanah atas nama orang yang berkepentingan. 16/1970/Perd/PTB MA tanggal 5 Februari 1972. No. (6) Surat bukti hibah yang sah : Surat zegel mengeai hibah yang konsepnya dibuat oleh Kepala Desa dan ditik oleh Jurutulis setempat serta diberi cap jempol oleh pemberi dan penerima hibah di depan jurutulis tersebut. tanpa pemberitahuan mengenai hal itu kepada seorang pejabat desa atau pejabat lain. 855 K/Sip/1971). PT Bandung tanggal 9 Oktober 1970 No. (PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No. dilakukan dengan lisan hanya di hadapan orang-orang yang berkepentingan atau penghuni rumah tangga atau sanak saudara. 637 K/Sip/1971). MA tanggal 30 Oktober 1971 No. (PN Ciamis tanggal 22 Februari 1968 No. (5) Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan pencabutan hak waris ahli waris lainnya: Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan pencabutan hak ahli waris lainnya (onterfing). lagi pula disaksikan dan ikut diberi cap 100 . 252/1969/Perd PTB. 16/1967/Sip/Cms.

(PT Bandung tanggal 10 Januari 1970 No. sedangkan surat hibahnya dibuat oleh jurutulis desa. juru tulis dan Kepala Desa yang bersangkutan. Reg. 9/1966/Perd. MA tanggal 5 Februari 1972 No. 16/1970/Perd/PTB. 233/1969/Perd/PTB. (9) Hibah kepada cucu gigir: . memperkuat angapan bahwa si penerima hibah adalah anak kukutnya si pemberi hibah. Camat dan Mantri Polisi setempat. (PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No. PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No. 101 . apabila ia disetujui oleh para ahli waris dan dilakukan di depan Kepala Desa. 855K/Sip/1971). jempol/tanda tangan oleh seorang saksi. (7) Penghibahan barang asal dalam hal si pemberi tidak mempunyai anak: Penghibahan barang asal seyogianya dihadiri/disahkan/disetujui oleh saudara sekandungnya. ditambah dengan kesaksian ijab-qabul dari hibah tersebut di Kantor Kepala Desa merupakan bukti lengkap tentang sahnya surat hibah tersebut dan kebenaran isinya. 621 K/Sip/1970). dalam hal si pemberi tidak mempunyai anak. MA tanggal 8 Mei 1971 No.PN Grt). Suatu penghibah kepada cucu gigir adalah sah. 10/1969/Perd. (PN Garut tanggal 30 Maret 1967 No. (8) Hibah mutlak kepada anak kukut : Pemberian hibah mutlak barang-barang kepada anak kukut.

(12) Pembatalan Hibah: Suatu hibah hanya dapat dibatalkan. No. 73/1970/Perd/PTB). No. (PN Karawang tanggal 12 Juni 1967. (PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969. . No. 82/1965/Perdata. 36/1971/Perd/PTB. No. PT Bandung tanggal 17 Desember 1970. 97 K/Sip/1972). (11) Barang yang belum dimiliki: Seseorang tidak dapat menghibahkan suatu barang yang belum ia miliki. (Putusan 102 . 20/Pdt/1969 Mjl. MA tanggal 19 April 1972. No. 243/1969 Perd/PTB). (PT Bandung tanggal 30 Maret 1971. (PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969. PT Bandung tanggal 23 Juli 1970. No. tanpa mengemukakan sebab- sebab yang diperkenankan oleh hukum (PT Bandung tanggal 27 Juni 1970. 73/1970/Perd/ PTB). No. Penghibahan tanah kepada dua orang cucu gigir di dalam satu surat hibah sebanyak setengah dari seluruh luas tanah yang dihibahkan. (10) Hibah kepada bukan ahli waris: Pemberian hibah mutlak kepada orang yang sebenarnya bukan ahli waris. apabila dapat dibuktikan adanya unsur paksaan. yang disetujui oleh para ahli waris di hadapan Kepala Desa adalah sah dan tidak dapat dilenyapkan begitu saja. No. 1970/Perd/PTB. kehilafan atau penipuan pada waktu surat hibah dibuat. 64.

dan Cikoneng. No. Teluk Buyung. Ciamis. MA tanggal 8 Mei 1971. Pisang Sambo. Banjar. sampai saat ini di Indonesia masih berlaku lebih dari satu hukum yang mengatur perihal hibah. Sebaliknya di daerah Cianjur. suatu hibah tidak dapat ditarik kembali meskipun utang pewaris tidak dapat terlunasi dari kekayaan yang ditinggalkannya. suatu hibah dapat ditarik kembali apabila bertentangan dengan ketentuan- ketentuan Hukum Adat dan Hukum Islam. Akhir). (13) Hak untuk berbuat sekehendaknya. jika tidak mempunyai keturunan: Suami isteri yang tidak mempunyai keturunan semasa hidupnya berhak untuk berbuat sekehendak hatinya dengan barang-barang kekayaannya karena adalah suatu kenyataan yang sulit dibantah bahwa yang menerima hak biasanya yang mengurus penghidupan mereka. Juntinyuat (Indramayu) apabila hibah tersebut berupa hibah mutlak maka hibah tersebut tidak dapat ditarik kembali. Apakah suatu hibah dapat ditarik kembali? Di desa Leuwiliang dan Citeureup. Kecamatan Karawang (Karawang). Hukum perdata yang bersumber pada BW. atas barang-barang kekayaan. MA tanggal 1 Maret 1972. 621 K/Sip/1970). maupun Hukum Adat. 827 K/Sip/1971). Artinya. perihal hibah diatur baik oleh hukum Islam. No. Ikhtisar Hibah Seperti halnya juga hukum waris. Pada dasarnya 103 . Di Batujaya. 233/1960/Perd/ PTB. No. (PT Bandung tanggal 10 Januari 1970.

baik dalam Hukum Islam. Menurut Hukum Islam dan Hukum Perdata BW. Sedangkan menurut Hukum Islam dan BW hibah harus dilakukan secara tertulis. maupun Hukum Adat di Indonesia. namun BW memberikan pengecualian dalam hal-hal tertentu hibah dapat ditarik kembali atau dihapuskan oleh penghibah. Baik menurut Hukum Islam. atau dengan kata lain perjanjian secara cuma-cuma. benda berwujud maupun tidak berwujud. Demikian pula menurut Hukum Adat bahwa hibah tidak dapat ditarik kembali. BW maupun Hukum Adat. sedangkan dalam Hukum Adat ada beberapa daerah yang menentukan besar hibah yaitu sepertiga dari kekayaan penghibah. jika penghibahan dilakukan kepada bukan ahli 104 . baik benda yang bergerak maupun benda tetap. hibah merupakan perjanjian sepihak yang dilakukan tanpa kontra prestasi dari pihak penerima hibah. Hal ini diatur sama. hibah dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis. Benda-benda yang dapat dihibahkan adalah segala sesuatu benda milik penghibah yang telah ada pada saat dilakukan hibah. Di bawah ini dapat dilihat beberapa unsur persamaan dan perbedaan ”hibah” menurut ketiga sistem hukum tersebut. meskipun dalam beberapa hal satu sama lain mengandung pula perbedaan. kecuali jika hibah itu bertentangan dengan Hukum Adat. bahkan BW mensyaratkan harus dengan akta notaris. Dalam Hukum Islam dan BW hibah tidak ditentukan besarnya. hibah tidak dapat ditarik kembali. Hibah adalah jenis pemberian yang dilakukan oleh seseorang ketika masih hidup. Hukum Perdata BW.pengaturan masalah hibah menurut ketiga sistem hukum tersebut di atas memiliki unsur-unsur kesamaan. Menurut Hukum Adat.

Meskipun pada dasarnya hibah itu tidak dibatasi jumlahnya. Istilah hibah wasiat diambil dari bahasa Arab. waris dan pemberi hibah tidak mempunyai anak. 105 . 1984. Sedangkan Hukum Islam dan BW tidak demikian halnya. Di dalam praktik pelaksanaannya. maka hibah semacam ini diperbolehkan. yaitu dalam hal kepentingan anak menghendaki. antara lain di daerah Kabupaten Ciamis. Dalam kaitan ini pula hukum membatasi kekuasaan seseorang untuk menentukan kehendak terakhirnya melalui hibah wasiat agar ia tidak mengesampingkan anak sebagai ahli waris melalui hibah wasiat. Ketiga sistem Hukum di atas. Pengertian Hibah Wasiat atau Wasiat Hibah wasiat atau wasiat atau sering juga disebut testamen adalah ”pernyataan kehendak seseorang mengenai apa yang akan dilakukan terhadap hartanya setelah ia meninggal dunia kelak”. maka Hukum Adat Jawa Barat mensyaratkan adanya persetujuan atau harus dihadiri oleh saudara sekandung penghibah. akan tetapi secara tersirat terdapat pembatasan hibah yaitu bahwa hibah tidak boleh berisi pencabutan hak ahli waris. apabila demikian maka hibah batal demi hukum. hibah wasiat harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu agar pelaksanaannya tidak bertentangan dengan ketentuan hukum waris dan tidak merugikan para ahli waris lain yang tidak memperoleh pemberian melalui hibah wasiat. sehingga dalam hukum waris Islam kedudukan hibah wasiat sangat penting sebab Al 59 Sajuti Thalib. Hibah juga dilarang kepada anak yang belum lahir. Jakarta: Binaaksara. 87. h.59 Pelaksanaan hibah wasiat ini baru dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. melarang penghibahan sejumlah barang yang baru akan ada di kemudian hari. BW mengecualikan hal ini. Bila yang dihibahkan adalah harta asal harta pusaka. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia.

Surat Al Baqarah (Q. Ayat 181: ”Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu. setelah ia mendengarnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. yakni menyuruh orang yang berwasiat berlaku adil dalam mewasiatkan sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syarat.181. apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. 1. jika ia meninggalkan harta yang banyak. b. Hibah wasiat menurut hukum waris Islam Demikian pentingnya hibah wasiat dalam Hukum Islam sehingga Al Qur’an secara tegas dan jelas memberikan tuntunan tentang hibah wasiat atau wasiat. maka tidak dosa baginya. Di samping dalam hukum waris Islam. Surat Al Baqarah ayat 240: ”Orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri. yakni secara adil dan baik. lalu ia mendamaikan. Ayat 182: ”Akan tetapi barang siapa khawatir terhadap orang yang verwasiat itu. yaitu: Ayat 180: ”Diwajibkan atas kamu. antara mereka. berlaku berat sebelah atau berbuat dosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf. maka sesungguhnya dosanya bagi orang-orang yang mengubahnya. hibah wasiat dikenal pula dalam hukum perdata menurut BW dan dalam hukum waris adat. 2 : ayat 180.182). Ayat-ayat yang berhubungan dengan hibah wasiat ini antara lain tercantum dalam: a.S. hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya 106 .Qur’an menyebut perihal hibah wasiat ini berulang kali.

.. ia tidak termasuk ahli waris pemberi hibah wasiat.. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dibayar hutang-hutangmu..”. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu.. c. IV : 11 dan 12). Ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan hibah wasiat antara lain terdiri atas: a. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. manfaatnya bagimu. Akan tetapi jika mereka pindah sendiri.. Almusja. dan harta yang diperoleh dari hibah wasiat itu tidak boleh dipergunakan bertentangan dengan hukum. b. wali atau waris dari yang meninggal membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat. c. Surat An Nissa (Q. yaitu orang yang membuat surat wasiat itu harus cakap dan bertindak secara sukarela tanpa paksaan serta ia harus benar- benar berhak atas harta yang akan diwasiatkan... Pembagian-pembagian tersebut di atas sesudah di penuhi wasiat yang ia buat atau sesudah dibayar hutangnya. Ayat 12: ”. diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya. lahu. yaitu benda yang akan dihibah wasiat kan sifatnya harus dapat dipindahtangankan.. Almusaji. yaitu orang yang akan menerima hibah wasiat harus cakap untuk menerimanya. hibah wasiat tidak boleh 107 . yaitu : Ayat 11: ”.. banyak. Ini adalah ketetapan dari Allah”. Almusji. bihi.S. Hibah.. maka tidak ada dosa bagimu.. Jika kamu mempunyai anak.

maka sebagai gantinya adalah ahli waris mereka masih berhak untuk itu”. 62 Komar Andasasmita. ”Hal tersebut hanya dapat dilakukan setelah pemberi hibah wasiat meninggal sebab ketika pemberi hibah wasiat hidup.Cit. 108 .60 d. 61 Sajuti Thalib.62 60 Abdul Wahid Selayan. 236. maka diselesaikan dengan salah satu cara sebagai berikut: (1) ”Dikurangi sampai btas sepertiga harta peninggalan”. hibah wasiat sewaktu-waktu dapat ia cabut kembali.61 Ketentuan lain yang berkaitan dengan hibah wasiat juga antara lain bahwa setelah pemberi hibah meninggal dunia. apakah mereka mengikhlaskan kelebihan dari sepertiga itu. melebihi (sepertiga) dari harta setelah dikurangi dengan semua hutang sebab melebihi dari sepertiga berarti mengurangi hak ahli waris. 1964. yaitu isi dari hibah wasiat harus terang dan jelas. atau (2) ”Diminta kesediaan semua ahli waris yang pada saat itu berhak menerima warisan. h. dan dilakukan di depan saksi-saksi paling sedikit dua orang. Ichtisar Hukum Islam. 29. penerima hibah wasiat harus menyatakan secara tegas bahwa ia menerima hibah wasiat. Apabila ternyata ada hibah wasiat yang melebihi sepertiga dari harta peninggalan. ”Hal itu berdasarkan pada Hadits Riwayat Buchari yang meriwayatkan tentag nasihat Rasullullah SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqas. Op.Op. 92-93. Asj Sjighah. ketika merasa dirinya akan meninggal dunia”.. tidak menimbulkan kekeliruan. akan tetapi penerima hibah wasiat belum secara tegas menyatakan menerima. Padang: Mimbar. maka pemberian hibah wasiat yang melebihi sepertiga itu halal hukumnya”. tidak bertentangan dengan peraturan yang telah ditentukan. h. Jika para ahli waris menyatakan ikhlas. h. Cit. Jika penerima hibah wasiat meninggal dunia setelah pemberi hibah wasiat wafat.

Wasiat Olografis Yaitu surat wasiat yang seluruhnya ditulis dengan tangan dan ditanda tangani pewaris sendiri.2. Dalam pasal 875 BW secara tegas disebutkan pengertian tentang surat wasiat. yaitu: ”Surat wasiat atau testamen adalah suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia dan dapat dicabut kembali. Salah satu ciri dan sifat yang terpenting dan khas dalam setiap surat wasiat. yaitu surat wasiat selalu dapat ditarik kembali oleh si pembuatnya. Hal ini disebabkan tindakan membuat surat wasiat adalah merupakan perbuatan hukum yang sifatnya sangat pribadi. BW mengenal tiga macam bentuk surat wasiat. Kemudian surat wasiat tersebut harus diserahkan untuk disimpan pada seorang notaris dan penyerahan kepada notaris ini ada dua cara. Kedua cara penyerahan dan penyimpanan pada notaris itu mempunyai akibat hukum yang satu sama lain berbeda. Akta penyimpanan tersebut ditulis di kaki surat wasiat tersebut. yaitu bisa diserahkan dalam keadaan terbuka bisa juga dalam keadaa tertutup. yaitu: a. jika 109 . Hibah wasiat menurut BW Hukum waris menurut BW mengenal pengaturan hibah wasiat ini dengan nama testamen yang diatur dalam buku kedua bab ketiga belas. yaitu: (1) Apabila surat wasiat diserahkan dalam keadaan terbuka maka dibuatlah akta notaris tentang penyerahan itu yang ditandatangani oleh pewaris. saksi-saksi. dan juga notaris.” Ketentuan lain dalam pembuatan surat wasiat ini adalah bahwa pembuat wasiat harus menyatakan kehendaknya yang berupa amanat terakhir ini secara lisan di hadapan notaris dan saksi-saksi.

jika surat wasiat diserahkan dalam keadaan tertutup. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan perantaraan orang lain. b. Jika pewaris meninggal dunia dan wasiat diserahkan kepada notaris dalam keadaan terbuka. baik anggota keluarganya maupun notaris 110 . Pembuat surat wasiat harus menyampaikan sendiri kehendaknya itu di hadapan saksi-saksi. Wasiat umum Yaitu surat wasiat yang dibuat oleh seorang notaris. Sedangkan notaris dilarang membuka sendiri surat wasiat tersebut. maka segera penetapan dalam surat wasiat dapat dilaksanakan sebab notaris mengetahui isi surat wasiat tersebut. maka amanat ditulis lagi pada sehelai kertas yang lain. (2) Apabila surat wasiat diserahkan kepada notaris dalam keadaan tertutup. Sedangkan sebaliknya. maka pewaris harus menuliskan kembali pada sampul dokumen itu bahwa surat tersebut berisikan wasiatnya dan harus menandatangani keterangan itu dihadapan notaris dan saksi-saksi. Surat wasiat yang disimpan pada seorang notaris kekuatanya sama dengan surat wasiat yang dibuat dengan akta umum. Setelah itu pewaris harus membuat akta penyimpanan surat wasiat pada kertas yang berbeda. maka untuk kepentingan itu surat wasiat harus diserahkan terlebih dahulu kepada Balai Harta Peninggalan untuk membukanya. tidak ada tempat kosong pada kaki surat wasiat tersebut. dengan cara orang yang akan meninggalkan warisan itu menghadap notaris serta menyatakan kehendaknya dan memohon kepada notaris agar dibuatkan akta notaris dengan dihadiri oleh dua orang saksi. maka pada saat pewaris meninggal dunia surat wasiat tidak dapat segera dilaksanakan sebab isi surat wasiat itu tidak dapat diketahui notaris.

2) anak-anak. Terdapat beberapa orang yang tidak boleh menjadi saksi dalam pembuatan surat wasiat umum ini. dan anak atau cucu notaris. Surat wasiat harus dibuat dalam bahasa yang dipergunakan oleh pewaris ketika menyampaikan kehendaknya. Kemudian notaris 111 . biasanya tidak dapat mengingat kesalahan dalam surat wasiat. Selanjutnya pembuat wasiat harus membuat keterangan di hadapan notaris dan saksi-saksi bahwa yang termuat dalam sampul itu adalah surat wasiatnya yang ia tulis sendiri atau ditulis orang lain dan ia menandatangani. Penutupan dan penyegelan dapat juga dilakukan di hadapan notaris dan empat orang saksi. Hal ini mengingat kesalahan dalam surat wasiat. kemudian diserahkan kepada notaris dengan dihadiri empat orang saksi. biasanya tidak dapat diperbaiki lagi sebab hal itu baru diketahui setelah pewaris meninggal dunia. dan anak-anak menantu. Syarat untuk saksi-saksi dalam surat wasiat umum antara lain harus sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Jadi sedapat mungkin kesalahan formalitas itu harus diperkecil. c. cucu-cucu. 3) pelayan-pelayan notaris yang bersangkutan. yang bersangkutan. Surat wasiat macam ini harus disampul dan disegel. Mereka harus warga negara Indonesia dan juga mengerti bahasa yang dipakai dalam surat wasiat tersebut. dengan syarat bahwa notaris dan saksi-saksi juga mengerti bahasa tersebut. Kemudian ia harus menandatangani sendiri surat tersebut. yaitu: 1) para ahli waris atau orang yang menerima hibah wasiat atau sanak keluarga mereka sampai derajat keempat. Wasiat Rahasia Yaitu surat wasiat yang ditulis sendiri atau ditulis orang lain yang disuruhnya untuk menulis kehendak terakhirnya.

Pandeglang). wasiat dibuat karena berbagai alasan. Cikoneng). seperti: i. Untuk menghindarkan persengketaan (Kabupaten Bandung. Kawali. Di desa Buyung. Pemberian dengan hibah wasiat ini terdapat sangat umum di Jawa Barat. Banjar. Banjar. Wasiat atau hibah ialah pemberian pewaris kepada seorang/beberapa ahli waris atau orang tertentu. Ciamis. para ahli waris berkewajiban untuk menghormati wasiat tersebut. Tetapi selama wasiat tidak dicabut atau ditarik kembali. Perwujudan rasa kasih sayang dari si pewaris (Kabupaten Bandung. Karawang. iii. Hibah wasiat merupakan salah satu proses dalam pewarisan. Pisang 112 . dan tidak dapat dipisahkan dari pewarisan. Pewaris merasa ajalnya telah dekat (Cianjur. 3. Pandeglang). Batujaya. Indramayu. Sama halnya dengan hibah biasa. Pewaris akan melaksanakan ibadah haji (Cianjur. Ciamis. iv. Kawali). a. surat wasiat itu selanjutnya harus disimpan pada notaris dan selanjutnya merupakan kewajiban notaris untuk memberitahukan adanya surat wasiat tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan. yang dilaksanakan setelah pewaris meninggal dunia. Pewaris dapat mencabut atau menarik kembali suatu wasiat yang sudah dibuat atau diikrarkan. Hibah Wasiat menurut Hukum Adat Jawa Barat. Setelah semua formalitas dipenuhi. apabila pembuat surat wasiat/peninggal warisan meninggal dunia. membuat keterangan yang isinya membenarkan keterangan tersebut. ii. Pengertian dan Tujuan Wasiat.

Cikoneng. Cianjur. Sambo (Karawang) hibah wasiat tidak dapat ditarik kembali apabila dibuat secara tertulis. Bandung. Demikian juga di daerah Cianjur. pemberian berdasarkan wasiat akan diperhitungkan pada saat pembagian waris. Di daerah Kabupaten Bandung. Pandangan yang umum berlaku adalah. sanak saudara tanpa pemberitahuan kepada pejabat desa (Cianjur. b) Di hadapan Kepala Desa (Ciamis.juga Karawang tidak ada batas jumlah secara pasti 113 . Kawali dan Pandeglang. Cikoneng). 2) Tertulis a) Di bawah tangan (Ciamis. Cikoneng. Bekasi. tetangga. Pandeglang). Ciamis. Tetapi di Ciamis. Pandeglang. c) Akta Notaris (Cianjur). Kawali. Cianjur. apabila wasiat berupa tanah diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama. Bekasi. Pendeglang). b. Bandung. d) Di hadapan saksi-saksi (Ciamis. b) Di hadapan pejabat desa (Saruni Kecamatan Pandeglang). Pandeglang). di peroleh keterangan bahwa barang yang diterima karena wasiat tidak diperhitungkan pada saat pembagian waris. Banjar. Mengenai besarnya kekayaan yang dapat diwariskan. Di Kecamatan Ciamis. berbeda- beda antara berbagai daerah. Bandung. tidak ada ketentuan mengenai batas besarnya wasiat kepada seorang bukan ahli waris. Pembuatan atau ikrar wasiat 1) Lisan a) Di hadapan orang-orang yang berkepentingan atau penghuni rumah. Kawali.

Jumlah tersebut akan diperhitungkan pada saat pembagian waris (apabila wasiat jatuh pada seorang/beberapa ahli waris). tidak dibenarkan pewarisan kepada bukan ahli waris. BW. Di Bulak (Kabupaten Indramayu) ada batas maksimum dalam pemberian wasiat yaitu . D. jadi di daerah-daerah ini. Hal ini diatur. apakah dimungkinkan seseorang di masa hidupnya memberikan hibah sebagai hadiah sebagian kekayaan kepada seorang yang bukan ahli waris. tetapi memiliki pertalian yang sangat erat dengannya. Juntikehon. baik dalam Hukum Islam. hibah atau hibah wasiat sebagai proses pewarisan hanya diperuntukan kepada ahli waris. Di desa Plawad (Kecamatan Karawang) hibah wasiat selalu diberikan kepada anggota keluarga. asal ada persetujuan terlebih dahulu dari ahli waris. hibah wasiat ditentukan sebanyak-banyaknya dari kekayaan. dan Dadap (Indramayu) hibah wasiat kepada orang lain dapat diberikan. Di daerah-daerah tersebut. ini diperkenalkan oleh hukum dan disebut hibah wasiat atau wasiat. Tetapi tidak ada jawaban. hanya sebagai suatu kebiasaan jumlah wasiat tidak akan melebihi dari seluruh kekayaan. Di Jutinyuat. Misalnya pemberian kepada saudara ipar (saudara isteri/suami). Banjar dan Kawali. Ihtisar Hibah Wasiat Pernyataan kehendak seseorang tentang apa yang akan dilakukan terhadap harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Di Cikoneng tidak dijumpai pembatasan pewarisan. Pewaris dapat mewariskan baik kepada ahli waris atau orang lain (bukan waris). 114 . Di Kecamatan Ciamis. maupun Hukum Adat dan di bawah ini akan dipaparkan ikhtisar tentang bagaimana masing-masing sistem hukum mengatur perihal hibah wasiat atau wasiat.

melalui surat wasiat atau testamen. yaitu dapat berbentuk lisan maupun tertulis. Tentu saja apabila wasiat dibuat dengan lisan melalui ucapan-ucapan terakhir peninggal warisan. dengan pembatasan adanya ”legitime portie”. Bahwa hibah wasiat atau wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain di luar ahli waris. Hukum Islam memberikan pembatasan tentang pemberian melalui surat wasiat ini sampai jumlah sepertiga dari harta peninggalan bersih. tidak boleh dikurangi oleh pewaris dengan adanya wasiat ataupun hibah sebab bagian mutlak para ahli waris itu telah ditentukan jumlahnya dalam Undang-undang. Hukum Perdata BW juga mengatur demikian. Di lain pihak. Akan tetapi pemberian itu dapat dilaksanakan setelah pewaris meninggal dunia. anak-anak beserta keturunannya dan orang tua beserta leluhur ke atas. Hukum Islam membatasi bahwa seseorang dilarang mewasiatkan kepada ahli warisnya sendiri. yaitu bagian mutlak para ahli waris dalam garis lurus. Bentuk yang dikenal dalam ketiga sistem hukum tersebut pada dasarnya sama. Demikian pula dalam Hukum Adat bahwa tidak diperbolehkan seseorang peninggal warisan dalam hibah wasiat mengesampingkan seorang anak sama sekali dari pembagian harta warisan. maka untuk sahnya wasiat semacam itu 115 . Hal ini dimaksudkan agar pewaris dengan surat wasiat yang ia buat tidak mengesampingkan hak para ahli waris menurut Undang-undang.Dikenal pada semua sistem hukum yang berlaku di Indonesia tentang waris. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang yang memperoleh pemberian melalui wasiat itu di luar para ahli waris atau setidak-tidaknya kepada orang-orang yang masih termasuk sanak keluarga yang sudah agak jauh hubungan kekeluargaannya. bahwa pemberian dengan surat wasiat umumnya dilakukan kepada orang-orang di luar ahli waris.

maupun Hukum Adat. wasiat tersebut sah menurut Hukum Islam. wasiat dapat ditarik kembali sewaktu-waktu oleh pembuat wasiat dengan secara tegas atau pun secara diam-diam selama pembuat wasiat belum meninggal dunia. Sedangkan menurut Hukum Islam jika wasiat dibuat secara tertulis. Dalam Hukum Adat antara lain. akan tetapi apabila surat tersebut ditandatangani oleh pembuat wasiat sendiri maka tidak perlu memakai saksi sebab sepanjang maksud pembuat wasiat sudah tersurat dengan jelas. maka wasiat tersebut dikurangi sampai jumlah sepertiga itu. Sedangkan apabila wasiat dibuat secara tertulis. Berlainan halnya dengan Hukum Adat yang mengatur tentang pembuatan wasiat tertulis bahwa isi surat wasiat tersebut yang merupakan kehendak terakhir pewaris harus dibacakan di depan beberapa orang sanak keluarga yang selanjutnya harus turut menandatangani wasiat tertulis itu. Oleh karena itu. jika wasiat tersebut melebihi jumlah sepertiga dari harta peninggalan bersih. hal ini bisa dilakukan di depan notaris atau tidak di depan notaris. Persetujuan para ahli waris dalam hal pembuatan wasiat dikenal dalam Hukum Islam maupun Hukum Adat. Jika para ahli waris tidak menyetujui. Sedangkan pencabutan secara tegas terjadi 116 . surat tersebut tidak perlu ditandatangani. menurut BW. para ahli waris harus turut serta menandatangani wasiat. hendaknya dihadiri oleh para saksi. Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa wasiat merupakan kehendak terakhir dari pewaris. Pencabutan secara diam-diam terjadi jika dari perbuatan pembuat wasiat dapat disimpulkan bahwa ia bermaksud mencabut wasiatnya. menurut BW. baik menurut Hukum Islam. sedang dalam Hukum Islam persetujuan para ahli waris harus diberikan baik sebelum meninggalnya pewaris maupun sesudah meningalnya pewaris.

jika pembuat wasiat membuat surat wasiat baru yang isinya nyata- nyata memuat tentang pencabutan kembali surat wasiat semula. ini berarti wasiat pertama dicabut kembali. Hukum Adat tidak mengenal formalitas tentang pencabutan wasiat semacam yang dikenal di dalam BW. yaitu ”pemberian warisan kepada seorang ahli waris dengan ketentuan bahwa yang memperoleh pemberian itu wajib menyimpan warisan tersebut dan setelah pewaris meninggal atau telah lewat waktu tertentu harta warisan itu harus diserahkan kembali kepada orang lain yang telah ditetapkan di dalam surat wasiat”. maka harta tersebut harus dibagi sama rata antara kedua orang tersebut. yaitu apabila pembuat wasiat kemudian dengan surat-surat wasiat yang lain memberikan harta itu juga kepada orang lain. agar anak-anak pewaris tidak menjual harta peninggalan itu dengan kewajiban memberikannya kembali kepada anak mereka. Hal ini secara tegas ditetapkan dalam surat wasiat. Hal ini hanya dikenal dalam Hukum Waris menurut BW. 117 . Akan tetapi undang-undang sendiri sesungguhnya melarang ”fidei-commis” ini. Hukum Adat dan Hukum Islam tidak mengenal ”fideicommis”. BW menyebut hal itu dengan istilah ”pemberian warisan secara melangkah”. Sebagai pengecualian dari larangan tersebut dikenal ada dua macam fidei-commis yang diperkenankan Undang-Undang. Sedangkan Hukum Islam mengatur pencabutan wasiat. yaitu: Fidei-commis yang isinya bertujuan agar harta pewaris tidak dihabiskan oleh anak-anak pewaris. atau bisa juga pencabutan dilakukan dengan akta notaris khusus yang dibuat untuk itu. Akan tetapi jika di dalam surat wasiat yang baru itu harta tersebut diberikan kepada dua orang.

118 .Fidei-commis de residuo yaitu penetapan pewaris agar anak-anak pewaris memberikan harta peninggalan yang tersisa saja kepada orang yang telah ditetapkan dalam surat wasiat.

A. Turutlah Hukum Warisan dalam Islam. MELIALA. _________________. Bandung: LPHK-FH Unpad. Bandung:Binacipta. Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional. ANDASASMITA.1984. M.1981. Jakarta: Bimbingan Masa. Asaf A. HukumWaris Adat. __________________. 1995. Bandung: Alumni. Pokok. Bandung: Tigenda Karya. Jakarta: Bulan Bintang. Jakarta: Intermasa..1971. Laporan Proyek Penelitian Hukum Adatdan Lembaga-LembagaHukum Adat di Jawa Barat. Hukum Waris jilid 2. Ter Bzn. Mochtar. FYZEE.Pembinaan Hukum dalam rangka Pembangunan Nasional. Lely. ____________. Bandung: Tarsito. Mochtar. Pokok-pokok Hukum Waris Islam II.1970. Djaja Sembiring. Jakarta: Bulan Bintang. Bandung: IMNO Unpad. 1971. 1973. Ali. 1972. Bandung: Binacipta. 1961. Hukum Kekeuargaan Nasional. Hukum Waris Menurut KUH Perdata. __________. Hukum Waris Menurut Al Quran dan Hadis. Syekh Muhammad. Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. ALI ASH SHABUNI. Jakarta: Tinta Mas.FH-Unhas. Hukum Adat karo dalam Rangka Pembentukan Hukum Nasional. Hukum Perdata I B. HAAR. Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran. Hukum Waris jilid I. Hardjito. Jakarta: TP. Padang: Sri Dharmawan. 1968. PITLO. JUNUS. 1960. H. Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Tinta Mas. NAIM. Al-Quran dan Ilmu Hukum. ICHSAN. A. 1979. 1968. Mahmud. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat.. Masalah-masalah dalam Hukum Waris di Indonesia. Komar. Jakarta: TP.1978. 1959. HAZAIRIN. Jakarta: Pradnya Paramita. DAFTAR PUSTAKA ABDOERAOEF. Fakultas Hukum Unpad. NIWAN. HADIKUSUMA. Kesimpulan Isi Al-Quran. Makasar: LPHK. Hilman. Hukum. 1968. NOTOPURO. Jakarta: Tinta Mas. Jakarta: Intermasa : 1979 119 . 1969. 1978. Achmad. KUSUMAATMADJA. 1976. Jakarta: Hadi karya Agung. 1980. HASAN.pokok Hukum Waris..

Bandung: Alumni. 1976. Santoso.2 tahun keXII. Retnowulan. Nani. Intisari Hukum Keluarga.1978. SUTANTIO. POERWADARMITA. 1980. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. 1968. SIHOMBING.. _______________. Hermawan. Yurisprudensi Hukum Waris. Iman. tentang Pembagian warisan untuk cucu menurut Islam. Hukum Perdata Jawa Barat. Jakarta: Bina Aksara. SAFIOEDIN. Bab-Bab Tentang Hukum Adat. 1984. Jakarta: Balai Pustaka. Bandung: Alumni. Asis. _______________. Yogyakarta: Hien Hoo Sing. Hukum. M. Beberapa Hal Tentang Burgelijk Wetboek. Achmad. Abdul Wahid. Hak Wanita. 1980. Jakarta: BPHN No. Pokok-pokok Hukum Perdata. Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i Hazairin dan Wasiat Wajib di Mesir. _______________. PRODJODIKORO. 120 . SOEKANTO. S. Jakarta: Inter Masa.3. SUBEKTI. Bandung: Vorkink. 1980. SALAYAN. Majalah Hukum dan Pembangunan No. Wanita dan Hukum. Bandung: Alumni. Bandung: Alumni. Wirjono. Kamus Hukum Adat. Bandung: Alumni. 1964. SOEWONDO. TT. Adat sketsa Asas. _______________. 1983. SUDIYAT. Hukum Adat Indonesia dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung. 1979. Jakarta: Maret 1982.. Perkembangan Kewarisandalam adat Minangkabau. Sayuti. 1973. Idris. Hukum Warisan di Indonesia. Bandung: Alumni. RAMULYO. Jakarta: Timur Mas. PUDJOSUBROTO. 1975. 1966. J. Soejono. 1959. Jakarta: Penerbit Universitas. Bandung: Alumni. Kekuasaan Mahkamah Agung RI. Kamus Umum Bahasa Indonesia. _______________. W. Ikhtisar Hukum Islam. THALIB. ______________. Yogyakarta: Liberty. Van Hoeve. 1981. 1964. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat. SAMSUDIN. Masalah Hukum Sehari-hari. Hukum Adat Indonesia.1977. SOEPOMO. Padang: Mimbar. Majalah Hukum dan Keadilan. Jakarta: Rajawali. Jakarta: Rajawali. R. Medan: Bintang. 1978. 1974.

Jakarta: Gunung Agung. Majalah Hukum dan Pembangunan No._______________. 121 . 2 tahun ke XII. 1982. WIGNJODIPURO Surojo. Jakarta: Maret 1982. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Usaha Pembaharuan Hukum Keawarisan Islam di Indonesia.

Anak saudara sebapak 2 10. Anak paman sebapak 14. Saudara sebapak 7. Yang memerdekakan Sumber: Al-Qawim. 2002. Bandung: YPP Nurul Iman.Lampiran 1 1. Ayah 4. Anak 2. Paman sebapak 12. Cucu sampai ke bawah 4 3. Kakek sampai ke atas 5. Ilmu yang Terlupakan. Saudara seibu 8. Saudara 3 10 11 sekandung 6. Suami 15. Anak saudara 14 12 13 sekandung Yang Mati 15 5 6 7 1 8 9 9. Paman sekandung 11. . Anak paman sekandung 13.

Saudara sebapak 8. Yang memerdekakan Sumber: Al-Qawim. Saudara sekandung 2 7. 1. . Bandung: YPP Nurul Iman. Saudara seibu 9. Isteri 10. Nenek dari Bapak 3 BAPAK 9 Yang 6 7 8 Mati 10 1 Anak Laki-laki 6. Ibu 4. Nenek dari Ibu 5. Ilmu yang Terlupakan. 2002. Anak 2. Cucu dari anak 5 laki-laki 4 3.

13 ayah atau sdr. M=Mahjub. Perempuan sebapak sekandung dua orang e A Bila Dg anak perempuan 12 atau lebih f A Bila Dg kakek 26 Saudara laki. a 1/6 Bila Seorang 8 Ayah/Kakek/anak/ laki/perempuan seibu b Bila Dua orang/lebih 9 cucu a ½ Bila Tidak ada anak/cucu 18 Suami b ¼ Bila Ada anak/cucu 19 Tidak ada Isteri seorang / lebih a ¼ Bila Tidak ada anak/cucu 16 b Bila Ada anak/cucu 17 Tidak ada Ayah a 1/6 +A Bila 27 Tidak ada Kakek dari ayah a 1/6 +A Bila Ada anak/cucu 27. A=Ashabah Sumber: Al-Qawim.dua orang/lebih 24 Nenek dari Ibu a 1/6 Bila Ibu Nenek dari Ayah a 1/6 Bila Ada anak cucu/tidak 2/3 Ibu/Ayah a ½ Bila Seorang 14 Saudara perempuan b Bila Dua orang/lebih 10 sekandung c A Bila dg sdr. Mahjub (terhalang) Dalil oleh Anak perempuan a ½ Bila Seorang 22 b Bila Dua orang/lebih 21 Tidak ada c A Bila Dengan anak laki-laki 20 a ½ Bila Seorang 22 b Bila Dua orang/lebih 21 Anak laki-laki atau Cucu perempuan c 1/6 Bila Dg.laki-laki 11 Anak laki-laki atau sekandung Ayah d A Bila Dg anak perempuan 12 e A Bila Dg kakek 26 a ½ Bila Seorang 14 Saudara perempuan b Bila Dua orang/lebih 10 Anak laki-laki atau sebapak c 1/6 Bila Dg seorang sdr. Ilmu yang Terlupakan. .laki-laki 11 sdr. suami/isteri 7 Tidak ada c 1/6 Bila Ada anak/cucu 6 d 1/6 Bila dg sdr.23 Ayah Ayah/kakek mendapat bagian 1/6 + Ashabah bila masih ada sisa. seorang anak 12 anak perempuan dua perempuan orang atau lebih d A Bila Dg cucu laki-laki 20 a Mal Bila Tak ada anak/cucu 5 Ibu b Sisa Bila Dg ayah. AHLI WARIS YANG MEMPUNYAI BAGIAN-BAGIAN TERTENTU NAMA Bagian KETERANGAN No. Laki- perempuan sekandung laki sekandung atau d A Bila Dg sdr. 2002. Bandung: YPP Nurul Iman.

Paman sekandung 10. Kakek dari Ayah 5. . Bandung: YPP Nurul Iman. Paman sebapak 11. 2002. Ayah 4. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak 9. Cucu laki-laki 3. 1. Ilmu yang Terlupakan. Anak paman sebapak 13. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung 8. Anak laki-laki 2. Saudara laki-laki sebapak 7. Laki-laki/Perempuan yang memerdekakan Sumber: Al-Qawim. Anak paman sekandung 12. Saudara laki-laki sekandung 6.

Terlihat masih berlakunya Hukum 131 . telah dikemukakan bahwa di bidang Hukum Waris ini masih nampak adanya sifat pluralistik. khususnya di bidang Hukum Waris sebagai salah satu unsur dari Hukum Perdata Nasional. Hadirin yang saya hormati. yang memungkinkan kita untuk berkumpul dalam pertemuan pagi hari ini dalam rangka mengisi program pertemuan ilmiah Badan Pembinaan Hukum Nasional yang terakhir dalam tahun anggaran 1982/1983. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam Simpoium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang diadakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Yogyakarta pada tanggal 21-23 Desember 1981. Simposium Hukum Waris Nasional ini juga merupakan tindak lanjut dari kegiatan Badan Pembinaan Hukum Nasional di bidang penelitian dan pengkajian hukum yang membahas mengenai hukum waris. Para peserta Simposium yang berbahagia. 10 – 12 PEBRUARI 1983 Hadirin yang saya hormati. Dilihat dari segi lain. Sebagaimana halnya pada pertemuan-pertemuan ilmiah terdahulu penyelenggaraaan pertemuan ilmiah kali inipun dimaksudkan sebagai usaha untuk memberi isi serta masukan ke arah pembinaan dan pembaharuan kodifikasi Hukum Nasional.Lampiran 2 PIDATO PENGARAHAN MENTERI KEHAKIMAN RI PADA SIMPOSIUM HUKUM WARIS NASIONAL JAKARTA. Perkenankanlah saya pertama-tama untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia serta hidayahNya.

Pemanfaatan bahan baku hukum dari berbagai sumber hukum tadi. untuk dirumuskan menjadi Hukum Waris Nasional. tetapi perlu dilakukan pula pada bidang-bidang hukum lainnya.Waris Adat. harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan titik-titik persamaan antara satu dengan yang lain melalui penetapan asas-asas Hukum Waris. Di samping ditunjukkan adanya perbedaan yang terdapat pada masing-masing sistem hukum tersebut. Hukum Adat maupun Hukum Barat. satu hal yang perlu saya tekankan secara khusus pada kesempatan ini adalah telah disepakatinya untuk tidak perlu menonjol masalah perbedaan tersebut. Islam dan BW secara bersama-sama. Saya sangat menghargai prakarsa Badan Pembinaan Hukum Nasional membahas topik dengan cara yang memungkinkan semua pandangan bertemu pada suatu titik untuk mengangkat asas-asas serta prinsip-prinsip Hukum Waris dan berbagai sistem hukum yang berbeda itu ke tingkat Nasional. matrilinial dan parental). dengan jenis serta status harta yang akan diwariskan. sementara di bidang Hukum Adat sendiri menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan darah Hukum Adat yang satu dengan lainnya. Para peserta Simposium sekalian. baik yang diambil dari Hukum Islam. Usaha semacam ini saya anjurkan hanya terbatas pada Hukum Waris saja. Saya sengaja mengemukakan kembali hal tersebut di atas karena berpendapat bahwa ia sangat relevan dengan masalah yang menjadi topik pembahasan Simposium ini. Sebaliknya. yang berkaitan erat dengan kekeluargaan (patrilinial. Dalam hubungan ini saya perlu mengingatkan bahwa dalam pembinaan hukum nasional bahan-bahan baku hukum yang digunakan dapat saja diambil dari berbagai sumber yang mungkin berbeda satu sama lain untuk dimanfaatkan secara maksimal. hasilnya akan merupakan norma hukum 132 .

H. Khusus mengenai Hukum Waris yang akan Saudara-saudara bahas selama tiga hari ini. Demikian sambutan singkat saya. 133 . 10 Pebruari 1983 MENTERI KEHAKIMAN RI ttd ALI SAID. saya sangat berharap ditemukannya asas-asas dan prinsip-prinsip yang bersifat nasional. yang saya sertai doa dambaan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati anda semua dan semoga pertemuan ilmiah ini sebagai bahagian dari usaha pembinaan Hukum Nasional akan menemukan manfaat besarnya. S. asas-asas dan prinsip-prinsip yang bersumber dari berbagai sistem hukum namun akhirnya akan bermuara pada Hukum Waris Nasional yang akan dirumuskan nanti.yang diharapkan dapat diterima oleh seluruh warga negara sebagaimana yang diinginkan dalam konsepsi Wawasan Nusantara di bidang hukum. Jakarta. Terima kasih. Akhirnya kepada para peserta saya ucapkan selamat bersimposium.

Persoalan ini kemudian dikembangkan pula sebagai salah satu topik pembahasan Seminar Hukum Nasional I Tahun 1963. Lembaga lembaga lainnya. d. Dr. iii. S. Sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan kesepakatan tersebut oleh Prof.S. Lembaga Pembinaan Hukum Nasional/ Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Departemen Agama RI. Hasil penelitian tentang masalah Hukum Waris yang dilakukan antara lain oleh: i. vi. v. b. Seminar tersebut telah berhasil merumuskan beberapa kesepakatan berkenaan dengan hukum kewarisan Nasional antara lain tentang perlu mengadakan kodifikasi dan unifikasi hukum kewarisan. iv. Hasil hasil pertemuan ilmiah tentang masalah Hukum Waris Nasional Antara lain : 134 . Bahan-bahan Langkah langkah untuk mewujudakan cita-cita tersebut didukung oleh sejumlah bahan-bahan yan tersedia berupa: a. Hazairin. Dr. Kesimpulan A. Universitas/ Institut. c.H. Kerangka Draf Hukum Waris Nasional oleh tim penyusun RUU Hukum Waris Nasional LPHN (1973). 2. Hazairin. Departemen Kehakiman RI. (1963).. Mahkamah Agung RI. Umum 1. Rancangan Undang-Undang Hukum Waris Nasional oleh Prof. Latar Belakang Pemikiran ke arah perlunya suatu pengaturan mengenai hukum waris Nasional yang telah dimulai sejak tahun 1960 sebagaimana dinyatakan dalam Ketetapan MPRS Nomor 11/MPRS/1960 agar supaya diundangkan undang-undang mengenai hukum waris. telah diselesaikan Rancangan Undang- Undang Hukum Kewarisan Nasional RI (1963) dan kemudian oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LHPN) telah pula disusun kerangka draft Hukum Waris Nasional yang berlaku untuk seluruh Indonesia dalam rangka mewujudkan prinsip Wawasan Nusantara.H. ii. Lampiran 3 KESIMPULAN SIMPOSIUM HUKUM WARIS NASIONAL 1.

Seminar Hukum Waris bagi umat Islam yang diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama di Jakarta pada tanggal 22 sampai dengan 26 Mei 1978. Bahan-bahan tersebut telah cukup memadai untuk dapat dijadikan dasar guna mengambil langkah-langkah konkrit ke arah penyusunaan Hukum Waris Nasional. Draft Akademis mengenai Adopsi dan Pengangkatan Anak (1980/1981). Simposium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional yang bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta tanggal 21-23 Desember1981. e. Sumbangan pikiran Panitia Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional 1980/1981 tentang paradigma filsafat untuk mengidentifikasi Asas Hukum Nasional. Pendekatan Usaha penyusunan Hukum Waris Nasional harus dilakukan secara hati-hati mengingat akan sifat pekanya bidang ini yang memang erat sekali hubungannya dengan Agama dan kebudayaan agar tidak 135 . ii. walaupun untuk beberapa hal tertentu bahan-bahan tersebut perlu untuk diolah dan dikaji kembali secara mendalam dengan memperhatikan perkembangan baru yang terjadi dalam masyarakat. Hasil-hasil pengkajian dari Panitia ahli dan Tim pengkaji Badan Pembinaan Hukum Nasional antara lain: i. Panel diskusi tentang pewarisan yang diselenggarakan oleh tim pengkajian Hukum Islam tahun 1981/1982 Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jogjakarta. tanggal 20 Desember 1981. ii. vi. vii. Laporan hasil tim pengkaji Hukum Perdata. viii. Seminar Hukum NasionalI 1983 khususnya untuk bidang asas-asas Tata Hukum Nasional di dalam bidang hukum waris. i. Lembaga Pembinaan Hukum Waris Nasional (LPHN)1973. dan Hukum Islam. 3. iii. Seminar Hukum Waris yang diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI di Cisarua Bogor tanggal 5-8 April1982. iv. Hasil Panel Diskusi Pengkajian bidang Hukum Islam Mengenai anak angkat tanggal 13 Desember 1980. Hukum Adat. v. Diskusi tentang Hukum Waris. Simposium Hukum Waris Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jakarta tanggal 10-12 Februari 1983.

dijadikan dasar bagi pembentukan Hukum Waris Nasional. Akan tetapi mengenai asas-asas khusus Hukum Waris masih terdapat perbedaan karena ada asas-asas yang dapat diterima dan ada pula yang belum disepakati. Asas Asas-asas yang telah ditetapkan dalam GBHN TAP/ MPR/ 1978 dan disepakati pula dalam Seminar Hukum Nasional IV Tahun 1979. Dengan demikian.menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Kesepakatan Pendapat a. (2) Tujuan utama adalah untuk membuat para penerima (ahli waris) hidup dengan sejahtera. Usaha tersebut dapat dimulai di bidang yang cukup netral. asas keadilan. setidak-tidaknya cenderung ke arah itu. Dari pendapat yang berkembang dalam Simposium didapat kesepakatan tentang asas-asas umum (general principles) Hukum Nasional di dalam bidang Hukum Waris seperti asas kemanfaatan. misalnya yang menyangkut bidang Administrasinya saja. Hal Pewarisan (1) Pewarisan pada dasarnya berlangsung menurut garis menurun. Untuk itu simposium baru berhasil menemukan persamaan dan perbedaan tentang asas-asas tersebut. (3) Pola pembagian warisan adalah parental individual. c. B. Disarankan pula agar Hukum Waris Nasional yang akan disusun nanti tidak perlu seluruhnya bersifat memaksa (dwingend recht) akan tetapi dimana perlu ada bagian-bagiannya yang yang bersifat mengatur saja (regelend recht). Mengingat akan pentingnya penyusunan Hukum Waris Nasional ini kiranya langkah- langkah ke arah itu harus mulai dilakukan secara bertahap. b. (4) Pola parental individual mengenai penggantian secara terbatas. Materi 1. dalam sistem Hukum Waris Nasional yang akan datang di samping hukum tertulis diakui pula berlakunya hukum tidak tertulis (Hukum Agama dan Hukum Adat). dan asas kepastian hukum. walaupun masih ada pendapat yang menyatakan bahwa pada saat ini masih belum waktunya. Pola penyusunan dapat dilakukan sesuai denan Undang-Undang Nomor 1/1974 tentang Perkawinan yang masih membuka kemungkinan diterapkannya hukum dari masing masing golongan. Subjek waris 136 .

isteri. . dan ibu adalah ahli waris satu sama lain. Dengan demikian suami. (3) Yang tidak mewarisi waris Orang yang membunuh pewaris tidak berhak mewaris dari harta peninggalan orang yang telah dibunuhnya. mengikuti asas tersebut dalam pasal 65 b dan c UU Nomor 1 Tahun1974. 137 . . (1) Ahli waris adalah mereka yang mempunyai pertalian keluarga dengan pewaris melalui: . Masalah Administras i (1) Mengenai surat keterangan waris a) Perlu adanya penetapan mengenai lembaga yang diberi kewenangan untuk menerbitkan surat keterangan waris. (2) Perlindungan . e. bapak.perlunya ada ketentuan untuk melindungi para ahli waris.pertalian darah. agar jangan sampai mereka dirugikan. b) Perlu adanya ketelitian dalam segi-segi teknis yuridis dari perolehan surat keterangan waris. Objek pewarisan (1) Apa yang diwariskan Pada hakikatnya yang beralih dari tangan yang wafat kepada ahli waris adalah barang-barang peninggalan dalam keadaan bersih dalam arti hutang-hutangnya telah dibayar (saldonya). d. anak. Mereka itu adalah ahli waris golongan pertama. (2) Mengenai surat wasiat a) Perlu adanya penyeragaman dan kemudahan dalam tata cara dan syarat syarat untuk membuat surat wasiat.tentang pewarisan untuk isteri kedua dan seterusnya. b) Perlu pendayagunaan pendaftaran surat wasiat dengan melembagakannya sampai ke daerah daerah.Perkawinaan. (2) Fungsi harta warisan Harta warisan berfungsi sebagai modal dasar materiil bagi pembinaan kehidupan dan mewujudkan keadilan sosial.

(2) Anak luar kawin Anak luar kawin dapat mewarisi dari ibu kandung dan keluarga ibu kandungnya lihat pasal 43 Undang-undang tentang Perkawinan. Satu pihak menghendaki diberikan hal mewaris. (4) Yang tidak berhak mewaris Adalah yang melakukanperbuatan tercela (mencoba membunuh. dan menggelapkan surat wasiat pewaris).2. (3) Anak angkat a) Ada dua pendapat mengenai anak angkat. sebaliknya pihak lain menyatakan hal itu tidak mungkin dilaksanakan sebab ada larangan agama. a) Besarnya bagian anak Tentang bagian-bagian yang akan diterma belum ada kesepakatan. Objek Hukum Waris (1) Dalam Hukum Adat harta kekayaan sebelum merupakan suatu kebulatan. sebaliknya dalam Hukum Islam dan BW terdapat kesatuan yang bulat. Ada pendapat yang menghendaki agar anak laki- laki dan perempuan mendapat bagian yang sama tanpa diskriminasi. 138 . b) Dalam hal ada perbedaan agama dan pendapat yang menyetujui pengalihan harta dilakukan melalui hibah atau wasiat. Mengenai hal-hal lain belum ada kesepakatan. memfitnah. anak angkat yang dapat mewaris dan yang tidak dapat mewaris. Pendapat pendapat yang masih berbeda a. menganiaya. b. (2) Ada pendapat yang berbeda mengenai pelaksanaan pewarisan atas harta pencaharian di Minangkabau. Subjek Hukum Waris (1) Ahli waris berbeda agama a) Terdapat perbedaan pendapat dalam hal waris mewaris antara orang yang berlainan agama. b) Dalam Hukum Islam anak angkat bukan ahli waris.

(2) Mengenai surat waris Ada usulan yang ditunjuk untuk membuat wasiat/akta adalah: Panitera Pengadilan Negeri. Camat) diberikan kewenangan waris. (ii) Anak angkat memperoleh bagian yang sama besarnya dengan anak kandung. Administrasi (1) Ada pendapat agar instansi pamong praja (Lurah. (iii)Menerima bagian secara hibah atau wasiat. demi kemudahan. Perihal wadah dan wewenang Diperlukan ketegasan dalam pengaturan tentang wadah yang berwenang memeriksa dan mengadili sengketa- sengketa waris maupun menetapkan “hukumnya” dalam hal tidak ada sengketa. (iii)Menurut Fadilah janda/duda tanpa anak ¼ dan janda/duda dengan setelah mendapat bagian dari harta bersama. Lain-lain a. Notaris. (iv) Anak angkat hanya mewaris dari gono gini. (i) Janda/duda memperoleh bagian sama dengan bagian anak. c. Tapi ketentuan ini tidak menutup kemungkinan di adakannya wasiat atau musyawarah untuk memberikan jumlah yang sama kepada anak perempuan. dan pejabat lain dengan mengingat asas yang tercantum dalam pasal 4 ayat (2) UU Pokok Kekuasaan Kehakiman. b) Bagian janda/duda Belum ada kesepakatan tentang besarnya jumlah bagian yang diterima oleh janda/duda. c) Anak angkat (i) Bagian anak angkat tidak sama besarnya dengan anak kandung. Sebaliknya ada pendapat yang mempertahankan bahwa bagian anak laki-laki harus 2 (dua) kali bagian anak perempuan yang berdasarkan ketentuan Hukum Waris Islam. 3. 139 . (ii) Janda/duda memperoleh bagian ½ dari harta warisan ditambah dengan 1 bagian anak. (v) Anak angkat tidak mendapat warisan dari orang tua angkatnya.

Semua hasil-hasil Simposium. 140 . (1) Ada pendapat. Perihal istilah-istilah Istilah-istilah dalam hukum waris perlu dibakukan agar lebih jelas dan pasti. Rekomendasi Di dalam Simposium terdapat petunjuk petunjuk adanya informasi yang berlainnya mengenai perkembangan- perkembangan hukum waris di daerah. Yang berfungsi mengecek kebenaran dan memonitor perkembangannya. hendaknya ditetapkan agar Peradilan Agama-lah yang diberi wewenang. Oleh karena itu. (2) Pengaturan selanjutnya diatur oleh Undang-Undang Hak Milik atas tanah. diusulkan agar diadakan penelitian lanjutan. maupun penelitian hendaknya dipergunakan dan dimanfaatkan secara maksimal. Perihal pewarisan tanah (1) Diusulkan agar calon pewaris pada masa hidupnya sudah menunjuk siapa-siapa ahli waris yang kelak akan menerima tanah tersebut sebagai warisan. Diperkirakan bahwa informasi yang berlainan itu terjadi karena adanya perbedaan metoda dan waktu penelitian. bahwa dalam hal mengenai hukum waris Islam. c. Seminar. b. (2) Ada pula pendapat bahwa hendaknya hanya Peradilan Umum yang diberi wewenang. Diusulkan agar diadakan tindak lanjut yang menuju kepada pembentukan naskah akademis RUU Hukum Waris. sedangkan untuk hukum waris lainya ditetapkan Peradilan Umum. II.