HUKUM WARIS

INDONLSIA
Dalam Perspektif
ISLAM, ADA1, dan BW
Dr. EMAN SUPARMAN, S.H.,M.H.
Penerbit
Refika Aditama 2005

ii

KATA PENGANTAR
(Edisi Revisi)

Buku Hukum Waris yang sedang Anda baca ini adalah sebuah buku
yang penulis susun serta diterbitkan pertama kali pada tahun 1984, kemudian
dicetak ulang pada tahun 1995. Sejak saat itu buku ini tidak diterbitkan
karena berbagai pertimbangan. Kini buku tersebut hadir kembali ke hadapan
para pembaca setelah mengalami proses revisi dengan judul yang juga
mengalami perubahan. Pada terbitan pertama dan kedua buku ini berjudul
“Intisari Hukum Waris Indonesia”. Kini setelah materinya mengalami revisi,
judul buku ini pun diubah menjadi “Hukum Waris Indonesia Dalam
Perspektif Islam, Adat, dan BW”.
Bagi para Mahasiswa (S1) Ilmu Hukum yang sedang mengikuti
perkuliahan Hukum Keluarga dan Waris (A1A.301), Hukum
Perkawinan dan Waris Islam (A1A.302), serta mata kuliah Hukum
Perkawinan dan Waris Adat (A10.405), ada baiknya apabila memiliki dan
membaca buku ini. Demikian pula kepada para Mahasiswa (S2)
Pascasarjana Magister Kenotariatan yang sedang mengikuti perkuliahan
Hukum Waris Islam, Hukum Waris BW, dan Hukum Waris Adat,
semoga buku ini dapat membantu anda dalam rangka menelusuri serta
memahami hal ihwal hukum waris yang sedang dikaji.
Ucapan terima kasih tentu saja saya sampaikan kepada Penerbit
Refika Aditama Bandung yang telah bersedia untuk menerima naskah buku
ini untuk diproses penerbitannya.
Last but not least, menyadari segala kekurangan buku ini, sehingga
kritik dan saran dari pembaca, insya Allah akan sangat penulis hargai.
Paling akhir, kepada semua pihak yang telah memungkinkan terbitnya
kembali buku ini, penulis mengucapkan terima kasih.

Taruna Parahiangan, Bandung, 5 Mei 2005

-.. .··.. -.. .··.. -.. .··.. -.. .··..



IHWAL PENULIS

Eman Suparman, Lahir di Kuningan, 23 April 1959. Islam, Laki-laki. Lektor
Kepala Hukum Acara Perdata pada Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran Bandung.
Pendidikan: S1 bidang Hukum Perdata,Universitas Padjadjaran,1982; S2 bidang
Hukum Acara Perdata, Universitas Gadjah Mada, 1988; S3 bidang Hukum
Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa, Universitas Diponegoro, 2004. Judul
Tesis: Keharusan Mewakilkan Dalam Menunjang Proses Pemeriksaan Perkara
yang Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Pembimbing: Prof. Dr. R.M.
Sudikno Mertokusumo, S.H.; Judul Disertasi: Pilihan Forum Arbitrase Dalam
Sengketa Komersial Untuk Penegakan Keadilan. Promotor: Prof. Dr. I.S.
Susanto,S.H. (alm), Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, S.H. (Ketua Muda
Mahkamah Agung RI), Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Pujirahayu, S.H.,M.S.
Pengalaman tambahan: “Sandwich Programme” untuk studi lanjutan,
penelitian, dan studi perbandingan bidang Hukum Perdata Internasional dan
Hukum Arbitrase di Rijksuniversiteit Leiden, The Netherlands, 1990/1991.
Sebagai “Visiting Scholar for the European Council Session at Strasborough,
France, March 1991.” Awal 1997 dengan ABWPP & Associates stipend kembali
berkesempatan sebagai Visiting Scholar at “de Hoge Raad der Nederlanden”;
The Hague, The Netherlands, March 1997; Visiting Academic and Research
Programme, organised by The Departement of Law The University of
Nottingham, United Kingdom, April 1997; Visiting Scholar at “The 7th Annual
Writers” Festival Prague ’97 at Franz Kafka Centre on Prague’s Old Town
Square, Prague, Czech Republic, May 1997; Participant at The SANGIS
Training Programme: South East Asian Network for a Geological Information
System; International Centre for Training and Exchanges in Geosciences; United
Nations Buildings, Bangkok, Thailand, June 2001.
Buku yang pernah dan sedang dalam proses penerbitan
(1) INTISARI HUKUM WARIS INDONESIA, CV Mandar Maju, Bandung,
1995.
(2) HUKUM DAN BIROKRASI (sebagai salah satu penulis), Semarang:
Walisongo Research Institute, April 2001.
(3) PILIHAN FORUM ARBITRASE DALAM SENGKETA KOMERSIAL
UNTUK PENEGAKAN KEADILAN, PT Tatanusa, Jakarta, 2004.
(4) HUKUM WARIS INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, ADAT,
DAN BW; (Dalam Proses Penerbitan).
Memperoleh Penghargaan Karya Ilmiah Terbaik Universitas Padjadjaran,
Bandung, 21 September 1998.
Pernah ditugaskan oleh Ditjen Dikti Depdiknas sebagai tenaga Detasering pada
Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura, Agustus-Desember 2004.
Dari pernikahannya dengan Dra. Ella Dewi Laraswati, dikaruniai 2 (dua) orang
putri. (1) Risa Dewi Angganiawati (Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Bandung) dan (2) Anggiani Dewi Rahmawati (Siswi SMA Negeri 1
Kota Bandung).


iii
DAFTAR ISI

Kata Sambutan ........................................................................................... i
Kata Pengantar .......................................................................................... ii
Daftar Isi .................................................................................................. iii

BAB I : PENDAHULUAN
A. Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris ............1
B. Sifat Hukum Waris .................................................... 5
C. Aneka Ragam Hukum Waris ...................................... 8

BAB II : HUKUM WARIS ISLAM DAN HUKUM WARIS BW
DI INDONESIA
A. Hukum Islam
1. Hukum waris dalam Al Qur'an ............................ 10
2. Warisan dalam sistem hukum waris Islam .......... 13
3. Pewaris dan dasar hukum mewaris ..................... 16
4. Ahli waris dalam Islam ...................................... 16
a. Dzul faraa'idh ................................................. 17
b. Ashabah ......................................................... 18
c. Dzul Arhaam ................................................. 20
5. Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa'idh. 20
6. Kelompok keutamaan ahli waris menurut
Al Qur'an ............................................................ 23
7. Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak men-
dapat warisan ..................................................... 24
B. Hukum Perdata Barat (BW)
1. Hukum waris menurut BW .............................. 25
2. Warisan dalam sistem hukum waris BW ......... 27
3. Pewaris dan dasar hukum mewaris .................. 29
4. Ahli Waris menurut sistem BW ...................... 31
5. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW 36
iv
6. Peranan Balai Harta Peninggalan
dalam pembagian warisan ................................... 40
7. Ahli waris yang tidak patut
menerima harta warisan ..................................... 41

BAB III : HUKUM WARIS ADAT DI INDONESIA
A. Sistem Kekeluargaan dan hukum adat waris .............. 43
B. Sistem kekeluargaan Patrilineal .................................. 47
1. Hukum waris adat partilineal ................................. 47
2. Pewaris, ahli waris, dan pembagian harta pusaka... 50
3. Beberapa pendapat kesimpulan tentang hukum
adat waris patrilineal ............................................ 54
C. Sistem Kekeluargaan Matrilineal ............................. 55
1. Hukum waris adat Matrilineal .............................. 55
2. Harta warisan dalam hukum adat waris
Minangkabau ........................................................ 57
3. Ahli waris dan hak mewaris menurut adat
Minangkabau ....................................................... 58
4. Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971 .. 63
D. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral ......... 64
1. Hukum waris adat parental atau Bilateral ......... 64
2. Harta warisan menurut hukum adat waris
Parental .............................................................. 66
a) harta asal ....................................................... 66
b) Harta bersama ............................................... 68
3. Ahli waris dalam hukum adat waris Parental .... 67
a) Sedarah dan tidak sedarah ........................... 67
b) Kepunahan atau nunggul pinang ................. 68
4. Anak angkat dan perkawinan poligami dalam
hukum adat parental ......................................... 68
a) Anak angkat ................................................ 68
b) Ahli waris dalam perkawinan poligami ..... 69
v
c) Kehilangan hak mewaris ....................................69
d) Penggantian tempat ahli waris ...........................70
e) Penetapan ahli waris ......................................... 71
E. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan ...................... 71
1. Tata cara membagi harta warisan ........................ 71
2. Saat pembagian warisan ...................................... 73
3. Besarnya bagian yang diterima ahli waris .......... 73
4. Hutang Pewaris .................................................. 83
5. Mengesampingkan ahli waris ............................ 83
F. Ihtisar ...................................................................... 84

BAB IV : PERIHAL HIBAH DAN HIBAH WASIAT
A. Pengertian Pokok Hibah ........................................... 89
1. Pengertian Hibah ................................................. 89
2. Hibah menurut Hukum Islam .............................. 90
3. Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW) ...... 94
4. Hibah menurut hukum adat Jawa Barat ............. 95
B. Ihtisar Hibah ............................................................ 103
C. Pengertian Hibah wasiat atau Wasiat ...................... 105
1. Hibah wasiat menurut hukum waris Islam ........ 106
2. Hibah wasiat menurut BW ................................ 109
a) Wasiat Olografis .......................................... 109
b) Wasiat Umum ............................................... 110
c) Wasiat Rahasia ............................................. 111
3. Hibah wasiat menurut hukum Adat Jawa Barat 112
D. Ihtisar Hibah Wasiat .............................................. 114

DAFTAR PUSTAKA .................................................................... 119




vi
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Ahli Waris laki-laki, Ahli Waris Perempuan,
Ahli waris yang mempunyai bagian-bagian
Tertentu ........................................................... 120
Susunan Ashabah ........................................... 123
2. Pidato Pengarahan Menteri Kehakiman
RI Pada Simposium Hukum Waris Nasional
(Jakarta,10-12 Pebruari 1983) ........................... 124
3. Kesimpulan Simposium Hukum Waris Nasional 127

Ihwal Penulis ....................................................................................128



i

KATA SAMBUTAN
Prof. Dr. R. Sri Soemantri Martosoewignjo,S.H.
(Pada Edisi Pertama)


Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai Tridharma, yaitu
dharma dalam bidang pendidikan pengajaran, bidang penelitian, dan dalam
bidang pengabdian kepada masyarakat. Tridharma Perguruan Tinggi
tersebut harus dipenuhi oleh setiap orang pengajar di Perguruan Tinggi, oleh
karena hal itu juga merupakan syarat bukan saja bagi kemajuan dan
perkembangan Perguruan Tinggi akan tetapi juga mempunyai arti penting
dalam jenjang karir seorang anggota staf pengajar.
Oleh karena itu, tulisan yang dikerjakan oleh saudara Eman
Suparman, salah seorang pengajar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
ini harus disambut dengan gembira. Bukan saja karena tulisan ini
merupakan perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi, akan tetapi dari isinya
dapat dikaji, bahwa penulis mencoba mengemukakan permasalahan yang
dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam bidang hukum waris.
Dari tulisan ini saudara Eman Suparman berusaha mengemukakan
buah pikirannya. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita
semua.


Bandung, 27 Maret 1985



Prof. Dr. R. Sri Soemantri M.,S.H.
Dekan Fakultas Hukum
Universitas Padjadjaran


1

·-~.~¬..~~ ·-~.~¬..~~ ·-~.~¬..~~ ·-~.~¬..~~

A. Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris
Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata
secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum
kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang
lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia pasti akan
mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum
yang dilanjutnya timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian
seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan
kelanjutan hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang
meninggal dunia itu.
1
Penyelesaian hak-hak dan kewajiban-kewajiban
sebagai akibat meninggalnya seseorang, diatur oleh hukum waris.
Untuk pengertian hukum “waris” sampai saat ini baik para ahli hukum
Indonesia maupun di dalam kepustakaan ilmu hukum Indonesia,
belum terdapat keseragaman pengertian, sehingga istilah untuk hukum
waris masih beraneka ragam. Misalnya saja, Wirjono Prodjodokoro,
menggunakan istilah “hukum warisan”.
2
Hazairin, mempergunakan
istilah “hukum kewarisan”.
3
dan Soepomo menyebutnya dengan istilah
“hukum waris”.
4

Memperhatikan ketiga istilah yang dikemukakan oleh ketiga
ahli hukum Indonesia di atas, baik tentang penyebutan istilahnya
maupun berkenaan dengan pengertian hukum waris itu sendiri, penulis

1
M. Idris Ramulyo, “Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i dan Wasiat Wajib
di Mesir tentang Pembagian Harta Warisan untuk Cucu menurut Islam”.
Majalah Hukum dan Pembangunan No. 2 Thn. XII Maret 1982, Jakarta: FHUI,
1982, h. 154.
2
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan di Indonesia. Bandung, Vorkink van
Hoeve, 's-Gravenhage, h. 8.
3
Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral menurut Al Qur,an. Jakarta: Tintamas, h. 1.
4
Soepomo, Bab-bab tentang Hukum Adat. Jakarta: Penerbitan Universitas, 1996, h.
72.
1
2
lebih cenderung untuk mengikuti istilah dan pengertian “hukum waris”
sebagaimana yang digunakan oleh Soepomo. Beliau menerangkan
bahwa “hukum waris” itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur
proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan
barang-barang yang tak terwujud benda dari suatu angkatan manusia
kepada keturunannya.
5
Oleh karena itu, istilah “hukum waris”
mengandung pengertian yang meliputi “kaidah-kaidah” dan asas-asas
yang mengatur proses beralihnya harta benda dan hak-hak serta
kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia“.
Dalam rangka memahami kaidah-kaidah serta seluk beluk
hukum waris, hampir tidak dapat dihindarkan untuk terlebih dahulu
memahami beberapa istilah yang lazim dijumpai dan dikenal. Istilah-
istilah dimaksud tentu saja merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari pengertian hukum waris itu sendiri. Beberapa istilah tersebut
beserta pengertiannya seperti dapat disimak berikut ini:
1. Waris:
Istilah ini berarti orang yang berhak menerima pusaka
(peninggalan) orang yang telah meninggal.
2. Warisan:
Berarti harta peninggalan, pusaka, dan surat wasiat.
3. Pewaris:
Adalah orang yang memberi pusaka, yakni orang yang meninggal
dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, pusaka,
maupun surat wasiat.
4. Ahli waris:
Yaitu sekalian orang yang menjadi waris, berarti orang-orang yang
berhak menerima harta peninggalan pewaris.




5
Soepomo, Loc. Cit., h. 72.
3

5. Mewarisi:
Yaitu mendapat harta pusaka, biasanya segenap ahli waris adalah
mewarisi harta peninggalan pewarisnya.
6

6. Proses pewarisan:
Istilah proses pewarisan mempunyai dua pengertian atau dua makna,
yaitu:
1) berarti penerusan atau penunjukan para waris ketika pewaris
masih hidup; dan
2) berarti pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal.
7

Berkaitan dengan beberapa istilah tersebut di atas, Hilman
Hadikusumah dalam bukunya mengemukakan bahwa “warisan
menunjukkan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal, yang
kemudian disebut pewaris, baik harta itu telah dibagi-bagi atau pun
masih dalam keadaan tidak terbagi-bagi”.
8

Beberapa penulis dan ahli hukum Indonesia telah mencoba
memberikan rumusan mengenai pengertian hukum waris yang disusun
dalam bentuk batasan (definisi). Sebagai pedoman dalam upya
memahami pengertian hukum waris secara utuh, beberapa difinisi di
antaranya penulis sajikan sebagai berikut:
Wirjono Prodjodikoro
9
mengemukakan:
“Warisan adalah soal apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan
kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia
meninggal dunia akan beralih kepada orang yang masih hidup”.
Menurut Soepomo,
10

“Hukum waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses
meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan

6
W.J.S. Poerwardaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud,
Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia, 1982, h. 1148.
7
Hilman Hadikusumah, Hukum Waris Adat. Bandung : Alumni, 1980, h. 23.
8
Ibid, h. 21.
9
Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit., h. 8.
10
Soepomo, Bab-Bab...Op. Cit., h. 72-73.
4
barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari
suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya. Proses ini
telah mulai pada waktu orang tua masih hidup. Proses tersebut tidak
menjadi “akuut” oleh sebab orang tua meninggal dunia. Memang
meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi
proses itu, akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara
radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan
benda tersebut.
R. Santoso Pudjosubroto,
11
mengemukakan,
“Yang dimaksud dengan hukum warisan adalah hukum yang mengatur
apakah dan bagaimanakah hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang
harta benda seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih
kepada orang lain yang masih hidup”.
Seperti halnya Wirjono Prodjodikoro yang menggunakan istilah
"hukum warisan", R. Santoso Pudjosubroto juga memakai istilah
serupa di dalam rumusannya, yakni menggunakan istilah "hukum
warisan" untuk menyebut "hukum waris". Selanjutnya beliau
menguraikan bahwa sengketa pewarisan timbul apabila ada orang
yang meninggal, kemudian terdapat harta benda yang ditinggalkan,
dan selanjutnya terdapat orang-orang yang berhak menerima harta
yang ditinggalkan itu; kemudian lagi tidak ada kesepakatan dalam
pembagian harta warisan itu.
B. Ter Haar Bzn
12
dalam bukunya "Azas-azas dan Susunan
Hukum Adat" yang dialihbahasakan oleh K.Ng. Soebakti Poesponoto
memberikan rumusan hukum waris sebagai berikut : "Hukum waris
adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad
ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud
dan tidak berwujud dari generasi ke generasi".

11
R. Santoso Pudjosubroto, Masalah Hukum Sehari-hari. Yogyakarta: Hien Hoo
Sing, 1964, h. 8.
12
K.Ng. Soebakti Poesponoto, Azas dan Susunan Hukum Adat. Jakarta: Pradnya
Paramita, 1960, h. 197.
5
"Hukum waris, adalah kumpulan peraturan, yang mengatur hukum
mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang yaitu mengenai
pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari
pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya, baik dalam
hubungan antara mereka dengan mereka, maupun dalam hubungan
antara mereka dengan pihak ketiga".
13

Suatu hal yang perlu diperhatikan, yaitu walaupun terdapat
rumusan dan uraian yang beragam tentang hukum waris, pada
umumnya para penulis hukum sependapat bahwa "Hukum waris itu
merupakan perangkat kaidah yang mengatur tentang cara atau proses
peralihan harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris atau para ahli
warisnya".

B. Sifat Hukum Waris
Hukum waris yang ada dan berlaku di Indonesia sampai saat ini
masih belum merupakan unifikasi hukum. Atas dasar peta hukum
waris yang masih demikian plurailistiknya, akibatnya sampai sekarang
ini pengaturan masalah warisan di Indonesia masih belum terdapat
keseragaman.
Bentuk dan sistem hukum waris sangat erat kaitannya dengan
bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan. Sedangkan sistem
kekeluargaan pada masyarakat Indonesia, berpokok pangkal pada
sistem menarik garis keturunan. Berkaitan dengan sistem penarikan
garis keturunan, seperti telah diketahui di Indonesia secara umum
setidak-tidaknya dikenal tiga macam sistem keturunan.
14
Untuk
mengetahui serta mengelaborasi perihal hukum waris di Indonesia,
sudah barang tentu terlebih dahulu perlu diketahui bentuk masyarakat
serta sifat-sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut
sistem keturunan yang dikenal itu.

13
A. Pitlo, Hukum Waris menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda.
Terjemahan M.Isa Arief, Jakarta: Intermasa, 1979, h. 1.
14
M. Idris Ramulyo, Op.Cit, h. 155.
6
Ketiga sistem keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaannya yang
unik serta sudah sedemikian populer disebabkan segi-segi
perbedaannya amat mencolok, selanjutnya dapat disimak dalam
paparan singkat berikut ini sekaligus pula dengan contoh lokasi
geografis lingkungan adatnya.
1. Sistem patrilineal / sifat kebapaan
Sistem ini pada prinsipnya adalah sistem yang menarik garis
keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki.
Sistem ini di Indonesia antara lain terdapat pada masyarakat-
masyarakat di Tanah Gayo, Alas, Batak, Ambon, Irian Jaya, Timor,
dan Bali.
15

2. Sistem matrilineal/ sifat keibuan
Pada dasarnya sistem ini adalah sistem yang menarik garis
keturunan ibu dan seterusnya ke atas mengambil garis keturunan dari
nenek moyang perempuan. Kekeluargaan yang bersifat keibuan ini di
Indonesia hanya terdapat di satu daerah, yaitu Minangkabau.
16

3. Sistem bilateral atau parental / sifat kebapak-ibuan.
Sistem ini, yaitu sistem yang menarik garis keturunan baik
melalui garis bapak maupun garis ibu, sehingga dalam kekeluargaan
semacam ini pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara pihak ibu dan
pihak ayah. Sistem ini di Indonesia terdapat di berbagai daerah, antara
lain: di Jawa, Madura, Sumatera Timur, Riau, Aceh, Sumatera Selatan,
seluruh Kalimantan, seluruh Sulawesi, Ternate, dan Lombok.
Memperhatikan perbedaan-perbedaan dari ketiga macam sistem
keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaan masyarakatnya tersebut di
atas, kiranya semakin jelas jelas menunjukkan bahwa sistem hukum
warisnya pun sangat pluralistik. Kondisi tersebut sudah tentu sangat
menarik untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut. Dari kajian saksama
itulah akan dapat dipahami betapa pluralisme hukum yang menghiasi

15
Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit, h. 10.
16
Ibid, h. 10.
7
bumi Indonesia ini masih sangat tampak dan akan terus ada bahkan
mungkin sampai akhir zaman, terutama dalam sistem hukum warisnya.
Namun demikian pluralistiknya sistem hukum waris di Indonesia
tidak hanya karena sistem kekeluargaan masyarakat yang beragam,
melainkan juga disebabkan adat-istiadat masyarakat Indonesia yang
juga dikenal sangat bervariasi. Oleh sebab itu, tidak heran kalau sistem
hukum waris adat yang ada juga beraneka ragam serta memiliki corak
dan sifat-sifat tersendiri sesuai dengan sistem kekeluargaan dari
masyarakat adat tersebut.
Melengkapi pluralistisnya sistem hukum waris adat yang
diakibatkan beraneka ragamnya masyarakat adat di Indonesia, dua sistem
hukum lainnya yang juga cukup dominan hadir bersama serta berlaku
terhadap masyarakat dalam wilayah hukum Indonesia. Kedua macam
sistem hukum waris yang disebut terakhir itu memiliki corak dan sifat
yang berbeda dengan corak dan sifat hukum waris adat. Sistem hukum
waris yang dimaksud adalah Hukum Waris Islam yang berdasar dan
bersumber pada Kitab Suci Al-Qur’an dan Hukum Waris Barat
peninggalan zaman Hindia Belanda yang bersumber pada BW (Burgerlijk
Wetboek).
Buku kecil ini penulis sajikan ke hadapan sidang pembaca dengan
segala kekurangannya, tidak lain kecuali dalam rangka memahami
pengaturan ketiga jenis sistem hukum waris yang bersumber pada
ketentuan yang berbeda-beda itu. Selanjutnya diharapkan akan dapat
memahami baik segi-segi perbedaannya maupun segi-segi persamaannya
dari masing-masing sistem hukum waris dimaksud. Setelah dipahami,
berikutnya diharapkan para pembaca akan dapat mengetahui dengan
sendirinya tentang hukum waris manakah yang seyogianya dan bahkan
semestinya diberlakukan kepada kita masing-masing. Tugas selanjutnya
adalah berupaya untuk memahami masing-masing ketentuan hukum waris
tersebut dalam mengatur kedudukan baik harta benda warisan, pewaris,
maupun para ahli waris; masing-masing menurut Hukum Waris Adat,
8
Hukum Waris Islam, maupun menurut Hukum Waris Barat yang
bersumber pada BW.

C. Aneka Ragam Hukum Waris
Tampaknya sampai kapan pun usaha ke arah unifikasi hukum
waris di Indonesia merupakan suatu upaya yang dapat dipastikan sulit
untuk diwujudkan. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Satu di
antaranya seperti yang dikemukakan Mochtar Kusumaatmadja, bahwa
“...bidang hukum waris dianggap sebagai salah satu bidang hukum yang
berada di luar "bidang-bidang yang bersifat "netral" seperti hukum
perseroan, hukum kontrak (perikatan), dan hukum lalu-lintas (darat, air
dan udara)".
17
Dengan demikian, bidang hukum waris ini menurut kriteria
Mochtar Kusumaatmadja, termasuk "bidang hukum yang mengandung
terlalu banyak halangan, adanya komplikasi-komplikasi kultural,
keagamaan dan sosiologi".
18

Di samping itu beliau juga menyadari bahwa terdapat beberapa
masalah dalam pelaksanaan konsepsi "hukum sebagai sarana pembaharuan
masyarakat". Di Indonesia dimana undang-undang merupakan cara
pengaturan hukum yang utama, pembaharuan masyarakat dengan jalan
hukum berarti pembaharuan hukum terutama melalui perundang-
undangan.
19
Hukum waris sebagai salah satu bidang hukum yang berada
di luar bidang yang bersifat netral kiranya sulit untuk diperbaharui dengan
jalan perundang-undangan atau kodifikasi guna mencapai suatu unifikasi
hukum. Hal itu disebabkan upaya ke arah membuat hukum waris yang
sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan senantiasa
mendapat kesulitan, mengingat beranekaragamnya corak budaya, agama,


17
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional.
Bandung: Binacipta, 1976, h.14.
18
Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional.
Bandung: Binacipta, 1975, h. 12.
19
Mochtar Kusumaatmadja, Op.cit, h. 14.
9
sosial, dan adat istiadat serta sistem kekeluargaan yang hidup dan
berkembang di dalam masyarakat Indonesia.
Sebagai akibat dari keadaan masyarakat seperti dikemukakan di
atas, hukum waris yang berlaku di Indonesia dewasa ini masih tergantung
pada hukumnya si pewaris. Yang dimaksud dengan hukumnya si pewaris
adalah “hukum waris mana yang berlaku bagi orang yang meninggal
dunia”. Oleh karena itu, apabila yang meninggal dunia atau pewaris
termasuk golongan penduduk Indonesia, maka yang berlaku adalah hukum
waris adat. Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk
Eropa atau Timur Asing Cina, bagi mereka berlaku hukum waris Barat".
20

Di lain pihak masih ada hukum yang juga hidup dalam masyarakat
yang berdasarkan kaidah-kaiadah agama, khususnya Islam (Al-Qur’an),
sehingga apabila pewaris termasuk golongan penduduk Indonesia yang
beragama Islam, maka tidak dapat disangkal bahwa dalam beberapa hal
mereka akan mempergunakan peraturan hukum waris berdasarkan hukum
waris Islam." Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk
Timur Asing lainnya (seperti: Arab, Pakistan atau India), maka terhadap
mereka berlaku hukum adat mereka masing-masing".
21

Bertolak dari uraian pendahuluan ini, paparan dalam Bab-Bab
selanjutnya akan berkisar pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam
masing-masing ketentuan hukum waris yang secara bersama-sama berlaku
di Indonesia. Dari prinsip-prinsip hukum waris Indonesia existing yang
pluralistik itulah kiranya dapat dipahami betapa sulitnya upaya untuk
menyatukan sistem hukum waris dalam bentuk Sistem Hukum Waris
Nasional Indonesia yang dicita-citakan (ius Constituendum).





20
Ny. Retnowulan Sutantio, Wanita dan Hukum. Bandung: Alumni, 1979, h. 84-85.
21
Ibid, h. 85.
10
¬.-. ~· ·~ ¬.-. ~· ·~ ¬.-. ~· ·~ ¬.-. ~· ·~
.~~ ¬.-. ~· .~~ ¬.-. ~· .~~ ¬.-. ~· .~~ ¬.-. ~·
: .· ·~.·~-·~ : .· ·~.·~-·~ : .· ·~.·~-·~ : .· ·~.·~-·~


A. Hukum Islam

1. Hukum waris dalam Al-Qur’an

Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan
hukum Islam, satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah
Al-Qur’an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah
Sunnah Rasul beserta hasil-hasil ijtihad atau upaya para ahli hukum
Islam terkemuka. Berkaitan dengan hal tersebut, di bawah ini akan
diuraikan beberapa ayat suci Al-Qur’an yang merupakan sendi utama
pengaturan warisan dalam Islam. Ayat-ayat tersebut secara langsung
menegaskan perihal pembagian harta warisan di dalam Al-Qur’an,
masing-masing tercantum dalam surat An Nissa (Q.S. IV), surat Al-
Baqarah (Q.S. II), dan terdapat pula pada dalam surat Al-Ahzab (Q.S.
XXXIII).
Ayat-ayat suci yang berisi ketentuan hukum waris dalam Al-
Qur’an, sebagian besar terdapat dalam surat An Nisaa (Q. S. IV) di
antaranya sebagai berikut:
a) Q.S. IV : 7- “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari
harta sepeninggalan Ibu-Bapak, dan kerabatnya , dan
bagi wanita ada pula dari harta peninggalan Ibu-Bapak,
dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian
yang telah di tetapkan”. Dalam ayat ini secara tegas
Allah menyebutkan bahwa baik laki-laki maupun
perempuan merupakan ahli waris.
b) Q.S. IV : 11-“Allah mensyariatkan bagimu tentang
(pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu; bagian
2
11
seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak
perempuan;
12
dan jika anak itu semuanya perempuan lebih
dari dua,
13
maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka
ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-
bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang
ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;
jika orang yang meninggal tidak amempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat
sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-
pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang
ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Tentang
orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui
siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak)
manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah..
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana”. Dari ayat ini dapat diketahui tentang
bagian anak, bagian ibu dan bapa, di samping itu juga
diatur tentang wasiat dan hutang pewaris.
c) Q.S. IV : 12- “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari
harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka
tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai
anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang
ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka
buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri
memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika
kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak,
maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta
yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang

12
Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan karena kewajiban laki-laki lebih berat
dari perempuan, seperti kewajiban membayar mas kawin dan memberi nafkah
(lihat Surat An Nisaa ayat 34).
13
Lebih dari dua maksudnya: dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi.
12
kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-
hutangmu...”. Di dalam ayat ini juga ditentukan secara
tegas mengenai bagian duda serta bagian janda.
d) Q.S. IV : 33-“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari
harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat,
Kami jadikan pewaris-pewarisnya.
14
...”. Secara rinci
dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa di atas, Allah
menentukan ahli waris yang mendapat harta
peninggalan dari ibu-bapaknya, ahli waris yang
mendapat peninggalan dari saudara seperjanjian.
Selanjutnya Allah memerintahkan agar pembagian itu
dilaksanakan.
e) Q.S. IV : 176- “...Katakanlah: Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal
dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai
saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang
perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya,
dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta
saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi
jika saudara perempuan itudua orang, maka bagi
keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh
yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri
atas) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian
seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang
saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini)
kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu”. Ayat ini berkaitan dengan
masalah pusaka atau harta peninggalan kalalah, yaitu
seorang yang meninggal dunia tanpa meninggalkan
ayah dan juga anak.


14
Lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa.
13
2. Warisan dalam Sistem Hukum Waris Islam
Wujud warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam
sangat berbeda dengan wujud warisan menurut hukum waris barat
sebagaimana diatur dalam BW maupun menurut hukum waris adat.
Warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam yaitu “sejumlah
harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan
bersih”. Artinya, harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris
adalah sejumlah harta benda serta segala hak, “setelah dikurangi
dengan pembayaran hutang-hutang pewaris dan pembayaran-
pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si peninggal
waris”.
15

Wujud harta peninggalan menurut hukum perdata barat yang
tercantum dalam BW meliputi “seluruh hak dan kewajiban dalam
lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang”.
16

Jadi harta peninggalan yang akan diwarisi oleh para ahli waris tidak
hanya meliputi hal-hal yang bermanfaat berupa aktiva atau
keuntungan, melainkan juga termasuk hutang-hutang si pewaris yang
merupakan pasiva dari harta kekayaan yang ditinggalkan, sehingga
“kewajiban membayar hutang pada hakikatnya beralih juga kepada
ahli waris”.
17
Demikian pula dalam hukum adat, pembagian harta
warisan tidak selalu ditangguhkan sampai semua hutang si peninggal
warisan dibayar. Artinya, harta warisan yang dapat beralih kepada para
ahli waris tidak selalu harus dalam keadaan bersih setelah dikurangi
hutang-hutang pewaris, melainkan dapat saja ahli waris menerima
harta warisan yang di dalamnya tercakup kewajiban membayar
hutang-hutang pewaris. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukan
oleh B. Ter Haar Bzn dalam bukunya, bahwa ”kewajiban-kewajiban
untuk membayar hutang yang ada atau yang timbul pada waktu
matinya atau karena matinya si peninggal warisan itu; akhirnya

15
Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit, h. 17.
16
R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa. 1977, h. 78.
17
Wirjono Prodjodikoro,Op. Cit, h. 17.
14
termasuk juga bagian-bagian dari harta peninggalan walaupun sebagai
bagian negatif”.
18
Selanjutnya, Ter Haar mengemukakan bahwa “ahli
waris bertanggung jawab atas hutang-hutang peninggal warisan
sepanjang mereka sudah mendapat laba dari pembagian harta
peninggalan itu, serta barang-barang warisan yang mereka terima
kiranya dapat mencukupi untuk membayar hutang-hutang itu”.
19

Jadi apabila harta peninggalan pewaris tidak mencukupi, maka
hutang-hutang pewaris sebagian kadang-kadang dibiarkan tetap tidak
dibayar. Namun kenyataan dalam praktik di berbagai lingkungan
hukum adat di Indonesia menunjukkan keadaan yang berbeda sebab
walaupun harta peninggalan pewaris ternyata tidak mencukupi untuk
membayar hutang-hutangnya, akan tetapi hutang-hutang tersebut akan
dibayar lunas oleh para ahli waris tanpa memperhatikan jumlah harta
peninggalan pewaris. Hal ini umumnya didasarkan pada suatu
penghormatan kepada yang meninggal dunia, serta keyakinan bahwa
diharapkan pewaris dapat menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa
dengan tenang tanpa suatu beban yang akan dapat memberatkannya.

Sistem Hukum Waris Islam
Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut
Al-Qur’an” mengemukakan bahwa “sistem kewarisan Islam adalah
sitem individual bilateral”.
20
Dikatakan demikian, atas dasar ayat-ayat
kewarisan dalam Al-Qur’an antara lain seperti yang tercantum masing-
masing dalam surat An Nissa (Q.S. IV) ayat 7, 8,11, 12, 33, dan ayat
176 serta setelah sistem kewarisan atau sistem hukum waris menurut
Al-Quran yang individual bilateral itu dibandingkan dengan sistem
hukum waris individual bilateral dalam masyarakat yang bilateral.

18
K.Ng. Soebakti Poesponoto, Op. Cit., ,h. 215.
19
Ibid, h. 217.
20
Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Tintamas, TT, h.
14-15.

15
Hazairin juga mengemukakan beberapa hal baru yang merupakan ciri
atau spesifikasi sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an, yaitu
sebagai berikut:
a) Anak-anak si pewaris bersama-sama dengan orang
tua si pewaris serentak sebagai ahli waris. Sedangkan
dalam sistem hukum waris di luar Al-Qur’an hal itu
tidak mungkin sebab orang tua baru mungkin menjadi
ahli waris jika pewaris meninggal dunia tanpa
keturunan; mati punah.
b) Jika meninggal dunia tanpa keturunan maka ada
kemungkinan saudara-saudara pewaris bertindak
bersama-sama sebagai ahli waris dengan orang
tuanya, setidak-tidaknya dengan ibunya. Prinsip di
atas maksudnya ialah jika orang tua pewaris, dapat
berkonkurensi dengan anak-anak pewaris, apabila
dengan saudara-saudaranya yang sederajat lebih jauh
dari anak-anaknya. Menurut sistem hukum waris di
luar Al-Qur’an hal tersebut tidak mungkin sebab
saudara si pewaris tertutup haknya oleh orang tuanya.
c) Bahwa suami-isteri saling mewaris; Artinya, pihak
yang hidup paling lama menjadi ahli waris dari pihak
lainnya.
Sistem kewarisan Islam menurut Al-Qur’an sesungguhnya
merupakan perbaikan dan perubahan dari prinsip-prinsip hukum waris
yang berlaku di negeri Arab sebelum Islam, dengan sistem
kekeluargaannya yang patrilineal. Pada dasarnya sebelum Islam telah
dikenal tiga prinsip pokok dalam hukum waris, yaitu:
(1) Anggota keluarga yang berhak mewaris pertama
adalah kaum kerabat laki-laki dari pihak bapak yang
terdekat atau disebut ashabah;
16
(2) Pihak perempuan dan anggota keluarga dari garis ibu,
tidak mempunyai hak waris;
(3) Keturunannya yaitu anak, cucu, canggah, pada
dasarnya lebih berhak mewaris dari pada leluhur
pewaris, yaitu, ayah, kakak, maupun buyutnya.
Setelah Islam datang, Al-Qur’an membawa perubahan dan
perbaikan terhadap ketiga prinsip di atas sehingga pokok-pokok
hukum waris Islam dalam Al-Qur’an sebagaimana ditentukan dalam
surat An-Nisaa ayat-ayat tersebut di atas.

3. Pewaris dan Dasar Hukum Mewaris.
Pewaris adalah orang yang meninggal dunia, baik laki-laki
maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta benda maupun
hak-hak yang diperoleh selama hidupnya, baik dengan surat wasiat
maupun tanpa surat wasiat.
Adapun yang menjadi dasar hak untuk mewaris atau dasar untuk
mendapat bagian harta peninggalan menurut Al-Qur’an yaitu:
a. Karena hubungan darah, ini ditentukan secara jelas dalam
(Q.S. An-Nisaa: 7, 11, 12, 33, dan 176).
b. Hubungan semenda atau pernikahan.
c. Hubungan persaudaraan, karena agama yang ditentukan oleh
Al-Qur’an bagiannya tidak lebih dari sepertiga harta pewaris (Q.S.
Al-Ahzab: 6).
d. Hubungan kerabat karena sesama hijrah pada permulaan
pengembangan Islam, meskipun tidak ada hubungan darah
(Q.S Al-Anfaal: 75).


4. Ahli waris dalam Islam
Ahli waris adalah seseorang atau beberapa orang yang berhak
mendapat bagian dari harta peninggalan. Secara garis besar golongan
17
ahli waris di dalam Islam dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) golongan,
yaitu :
a) Ahli waris menurut Al-Qur’an atau yang sudah di
tentukan di dalam Al-Qur’an disebut dzul faraa’idh.
b) Ahli waris yang ditarik dari garis ayah, disebut
ashabah.
c) Ahli waris menurut garis ibu, disebut dzul arhaam.

a) dzul Faraa’idh
“Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur’an,
yakni ahli waris langsung yang mesti selalu mendapat bagian tetap
tertentu yang tidak berubah-ubah”.
21
Adapun rincian masing-masing
ahli waris dzul faraa’idh ini dalam Al-Qur’an tertera dalam surat An-
Nisaa ayat 11, 12, dan 176 yang dielaborasi secara akademis oleh Th.
N. Juynboll dalam bukunya ”Hanleiding tot de kennis van den
Mohammedaansche School”. Sementara itu, Komar Andasasmita,
dengan mengutip buku karya Juynboll di atas, menguraikan jumlah
ahli waris menurut atau berdasarkan Al-Qur’an yang terdiri atas dua
belas jenis, yaitu :
(1) Dalam garis ke bawah:
1. (1) anak perempuan
2. (2) anak perempuan dari anak laki-laki (Q.S.IV : 11)
(2) Dalam garis ke atas:
3. (1) ayah
4. (2) ibu
5. (3) kakek dari garis ayah
6. (4) nenek baik dari garis ayah maupun dari garis ibu (Q.S.
IV : 11).
(3) Dalam garis ke samping:

21
Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional, Jakarta: Tintamas, 1968, h. 38.
18
7. (1) Sauadara perempuan yang seayah dan seibu dari garis
ayah.
8. (2) Saudara perempuan tiri (halfzuster) dari garis ayah
(Q.S. IV : 176)
9. (3) Saudara lelaki tiri (halfbroeder) dari garis ibu (Q.S.
IV : 12)
10. (4) Saudar perempuan tiri (halfzuster) dari garis ibu
(Q.S. IV : 12)
(4). 11. Duda
(5). 12. Janda (Q.S. IV : 12)

b) Ashabah
Ashabah dalam bahasa Arab berarti “Anak lelaki dan kaum
kerabat dari pihak bapak”.
22
Ashabah menurut ajaran kewarisan
patrilineal Sjafi’i adalah golongan ahli waris yang mendapat bagian
terbuka atau bagian sisa. Jadi bagian ahli waris yang terlebih dahulu
dikeluarkan adalah dzul faraa’idh, yaitu bagian yang telah ditentukan
di dalam Al-Qur’an, setelah itu sisanya baru diberikan kepada
ashabah. Dengan demikian, apabila ada pewaris yang meninggal tidak
mempunyai ahli waris dzul faraa’idh (ahli waris yang mendapat
bagian tertentu), maka harta peninggalan diwarisi oleh ashabah. Akan
tetapi jika ahli waris dzul faraa’idh itu ada maka sisa bagian dzul
faraa’idh menjadi bagian ashabah.
Ahli waris ashabah ini menurut pembagian Hazairin dalam
bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an,”
dinamakan ahli waris bukan dzul faraa’idh, yang kemudian beliau
membagi ahli waris ashabah menjadi tiga golongan yaitu ”ashabah
binafsihi, ashabah bilghairi, dan ashabah ma’al ghairi”.
23
Ashabah-

22
M. Ali Hasan, Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1973, h. 26.

23
Hazairin, Op. cit., h. 15.
19
ashabah tersebut menurut M. Ali Hasan dalam bukunya “Hukum
Warisan dalam Islam”,
24
terdiri atas:
(1) Ashabah binafsihi yaitu ashabah-ashabah yang berhak
mendapat semua harta atau semua sisa, yang urutannya
sebagai berikut:
1. Anak laki-laki;
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah
asal saja pertaliannya masih terus laki-laki;
3. Ayah;
4. Kakek dari pihak ayah dan terus ke atas asal saja
pertaliannya belum putus dari pihak ayah;
5. Saudara laki-laki sekandung;
6. Saudara laki-laki seayah;
7. Anak saudara laki-laki sekandung;
8. Anak saudara laki-laki seayah;
9. Paman yang sekandung dengan ayah;
10. Paman yang seayah dengan ayah;
11. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah;
12. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah.
(2) Ashabah bilghairi yaitu ashabah dengan sebab orang lain,
yakni seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik
oleh seorang laki-laki, mereka yang termasuk dalam ashabah
bilghairi ini adalah sebagai berikut:
1. Anak perempuan yang didampingi oleh anak laki-
laki;
2. Saudara perempuan yang didampingi oleh saudara
laki-laki.



24
M. Ali Hasan, Op., Cit., h. 27.
20
(3) Ashabah ma’al ghairi yakni saudara perempuan yang
mewaris bersama keturunan dari pewaris, mereka itu adalah:
1. Saudara perempuan sekandung, dan
2. Saudara perempuan seayah.

c) dzul Arhaam
Arti kata dzul arhaam adalah “orang yang mempunyai hubungan
darah dengan pewaris melalui puhak wanita saja”.
25
Hazairin dalam
bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral” memberikan perincian
mengenai dzul arhaam, yaitu: “semua orang yang bukan dzul
faraa’idh dan bukan ashabah, umumnya terdiri atas orang yang
temasuk anggota-anggota keluarga patrilineal pihak menantu laki-laki
atau anggota pihak menantu laki-laki atau anggota-anggota keluarga
pihak ayah dan ibu”.
26

Sajuti Thalib dalam bukunya menguraikan pula tentang dzul
arhaam, antara lain cucu melalui anak perempuan, menurut kewarisan
patrilineal tidak menempati tempat anak, tetapi diberi kedudukan
sendiri dengan sebutan dzul arhaam atau keluarga yang mempunyai
hubungan darah dengan pewaris, tetapi telah agak jauh. Akibat dari
pengertian ini maka dzul arhaam mewaris juga, tetapi telah agak di
belakang. Artinya, dzul arhaam akan mewaris kalau sudah tidak ada
dzul faraa’idh dan tidak ada pula ashabah. Selain cucu melalui anak
perempuan, yang dapat digolongkan sebagai dzul arhaam adalah
anggota keluarga yang penghubungnya kepada keluarga itu seorang
wanita.

5. Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh
Di antara ahli waris yang ditentukan bagiannya di dalam Al-
Qur’an hanya ahli waris dzul faraa’idh, sehingga bagian mereka

25
Sajui Thalib, Op., Cit., h. 15.
26
Hazairin, Op. Cit., h. 15.

21
selamanya tetap tertentu dan tidak berubah-ubah. Berbeda halnya
dengan para ahli waris lain yang bukan dzul faraa’idh, seperti ahli
waris ashabah dan dzul arhaam. Bagian mereka yang disebut terakhir,
merupakan sisa setelah dikeluarkan hak para ahli waris dzul faraa’idh.
Adapun bagian tetap para ahli waris dzul faraa’idh secara terrinci
dapat disimak lebih lanjut dalam uraian dibawah ini:
a. Mereka yang mendapat ½ dari harta peninggalan terdapat lima
golongan.
1. seorang anak perempuan bila tidak ada anak laki-laki.
(Q.S. IV : 11);
2. seorang anak perempuan (dari anak laki-laki), bila tidak
ada cucu laki-laki, anak perempuan;
3. seorang saudara perempuan kandung, bila tidak ada
saudara laki-laki (Q.S. IV : 176);
4. seorang saudara perempuan seayah, bila tidak ada
saudara laki-laki (Q.S. IV : 176);
5. suami bila isteri yang meninggal tidak meninggalkan
anak atau cucu (Q.S. IV: 12).
b. Mereka yang mendapat ¼ bagian dari harta peninggalan
terdapat dua golongan:
1. Suami, bila isteri yang meninggal mempunyai anak atau
cucu (Q.S. IV : 12);
2. Isteri, bila suami yang meninggal tidak meninggalkan
anak atau cucu. (Q.S. IV : 12).
c. Ahli waris yang mendapat ¼ dari harta peninggalan hanya
satu golongan, yaitu:
1. Isteri, bila suami yang meninggal dengan meninggalkan
anak atau cucu. (Q.S. IV : 12)
22
d. Ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan,
hanya isteri (zaujah),
27
baik seorang ataupun lebih. Bagian
ini akan diperoleh isteri apabila suaminya yang meninggal
dunia meninggalkan anak, baik anak laki-laki maupun anak
perempuan (Q.S. IV :12). Demikian pula jika suaminya itu
meninggalkan anak dari anak laki-laki, baik laki-laki maupun
perempuan.
e. Ahli waris yang mendapat bagian dari harta peninggalan ada
dua golongan, yaitu:
1. Ibu, bila yang meninggal tidak meninggalkan anak atau
cucu, atau dua orang saudara atau lebih. (Q.S. IV: 11);
2. Dua orang atau lebih saudara seibu baik laki-laki
maupun perempuan, dengan pembagian yang sama.
f. Ahli waris yang memperoleh bagian dari harta peninggalan
terdapat 4 (empat) golongan:
1. Dua orang atau lebih anak perempuan, bila tidak ada
anak laki-laki (Q.S. IV :11);
2. Dua orang cucu perempuan atau lebih, dari anak laki-
laki bila tidak ada cucu laki-laki, anak perempuan;
3. Dua orang saudara perempuan kandung atau lebih, bila
tidak ada saudara laki-laki. (Q.S. IV :176);
4. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih, bila
ada saudara laki-laki. (Q.S. IV :176).
g. Para ahli waris yang meninggal memperoleh 1/6 dari harta
peninggalan, terdapat tujuh golongan :
1. Ibu, jika yang meninggal dunia meninggalkan anak,
cucu, dua atau lebih saudara. (Q.S. IV :11);
2. Ayah, jika yang meninggal dunia mempunyai anak atau
cucu ( Q.S. IV : 11);

27
H.Sulaiman Rasjid. Fiqh Islam. Jakarta: Penerbit Attahiryah, Cetakan Ketujuh
belas. 1976. h. 338; Bdgk. A. Shohibul Munir, Ilmu Faraidh (Tanatun Nawahidh).
Bandung : PT. Alma’arif. Cetakan kedua 1984, h. 18.
23
3. Nenek, ibu dari ibu-bapak;
4. Seorang cucu perempuan, dari anak laki-laki,
bersamaan dengan anak perempuan (H.R. Buchari);
5. Kakek, bapak dari bapak, bersamaan dengan anak atau
cucu, bila ayah tidak ada;
6. Seorang saudara seibu, laki-laki atau perempuan. (Q.S.
IV :12);
7. Saudara perempuan, seorang atau lebih bersamaan
dengan saudara kandung.

6. Kelompok keutamaan ahli waris menurut Al-Qur’an
Dalam sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an yang
merupakan sistem hukum waris bilateral, di samping dikenal adanya
ahli waris dzul faraa’idh yang bagiannya tetap, tertentu serta tidak
berubah-ubah berdasarkan ketetapan yang ada di dalam Al-Qur’an,
juga terdapat ahli dari waris ashabah dan ahli waris dzul arhaam.
Kedua macam ahli waris tersebut memperoleh bagian sisa dari harta
peninggalan setelah dikurangi hutang-hutang pewaris termasuk
ongkos-ongkos biaya kematian, wasiat, dan bagian para ahli waris dzul
faraa’idh.
Di samping itu semua, dikenal pula kelompok keutamaan para
ahli waris, yaitu “ahli waris yang didahulukan untuk mewaris”
28
dari
kelompok ahli waris lainnya. Mereka yang menurut Al-Qur’an
termasuk kelompok yang didahulukan untuk mewaris atau disebut
dengan “kelompok keutamaan”
29
terdiri atas empat macam, yaitu:





28
Sajuti Thalib, Op. Cit., h. 68.
29
Hazairin, Op. Cit., h. 33.
24
a. Keutamaan pertama, yaitu:
1) Anak, baik laki-laki maupun perempuan, atau ahli waris
pengganti kedudukan anak yang meninggal dunia;
2) Ayah, ibu, dan duda atau janda, bila tidak terdapat anak.
b. Keutamaan kedua:
1) Saudara, baik laki-laki maupun perempuan, atau ahli
waris pengganti kedudukan saudara;
2) Ayah, ibu, dan janda atau duda, bila tidak ada saudara.
c. Keutamaan ketiga:
1) Ibu dan ayah, bila ada keluarga, ibu dan ayah, bila salah
satu, bila tidak ada anak dan tidak ada saudara;
2) Janda atau duda.
d. Keutamaan keempat:
1) Janda atau duda;
2) Ahli waris pengganti kedudukan ibu dan ahli waris
pengganti kedudukan ayah.

7. Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak mendapat
warisan

Di antara ahli waris ada yang tidak patut dan tidak berhak
mendapat bagian waris dari pewarisnya karena beberapa penyebab,
yaitu:
a. Ahli waris yang membunuh pewaris, tidak berhak mendapat
warisan dari keluarga yang dibunuhnya;
b. Orang yang murtad tidak berhak mendapat warisan dari
keluarganya yang beragama Islam, demikian pula sebaliknya;
c. Orang kafir tidak berhak menerima warisan dari keluarga
yang beragama Islam.
Orang-orang yang tergolong dalam kriteria ahli waris seperti
yang disebutkan di atas, apabila ternyata telah berpura-pura dan
25
menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan pewaris, maka dia
berkewajiban mengembalikan seluruh harta yang dikuasainya.
“Tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan” berbeda
dengan “penghapusan hak waris” atau “hijab,” karena yang
menyebabkan timbulnya dua persoalan itu pun berbeda. Hal tersebut
dapat terlihat dalam tabel di bawah ini.


Tidak patut dan tidak berhak
mewaris

Penghapusan hak waris

1. Disebabkan tindakan melawan
hukum.
Contohnya: Orang yang
membunuh pewaris dengan
sengaja.



2. Disebabkan berlainan agama
dengan pewaris yang beragama
Islam.
Contohnya: ahli waris yang
murtad atau kafir.

1. Karena ada ahli waris yang
mewaris bersama-sama dia,
sehingga bagian warisnya
dikurangi.
Contohnya: ibu memperoleh 1/6
bagian jika mewaris bersama
anak atau cucu atau beberapa
saudara..
2. Karena ada ahli waris yang lebih
dekat hubungan dengan orang
yang meninggal (pewaris).
Contohnya: cucu laki-laki tidak
mendapat bagian selama
ada anak laki-laki.



B. Hukum Perdata Barat (Burgerlijk Wetboek/BW)

1. Hukum waris menurut BW

Hukum waris menurut konsepsi hukum perdata Barat yang
bersumber pada BW, merupakan bagian dari hukum harta kekayaan.
Oleh karena itu, hanyalah hak dan kewajiban yang berwujud harta
kekayaan yang merupakan warisan dan yang akan diwariskan. Hak
dan kewajiban dalam hukum publik, hak dan kewajiban yang timbul
dari kesusilaan dan kesopanan tidak akan diwariskan, demikian pula
halnya dengan hak dan kewajiban yang timbul dari hubungan hukum
keluarga, ini juga tidak dapat diwariskan.
26
Kiranya akan lebih jelas apabila kita memperhatikan rumusan
hukum waris yang diberikan oleh Pitlo di bawah ini, rumusan tersebut
menggambarkan bahwa hukum waris merupakan bagian dari
kenyataan, yaitu :
“Hukum waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur
hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang, yaitu
mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati
dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang
memperolehnya, baik dalam hubungan antar mereka dengan
mereka, maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak
ketiga”.
30


Adapun kekayaan yang dimaksud dalam rumusan di atas adalah
sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal
dunia berupa kumpulan aktiva dan pasiva.
Pada dasarnya proses beralihnya harta kekayaan seseorang
kepada ahli warisnya, yang dinamakan pewarisan, terjadi hanya karena
kematian. Oleh karena itu, pewarisan baru akan terjadi jika terpenuhi
tiga persyaratan, yaitu :
a. ada seseorang yang meninggal dunia;
b. ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan
memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia;
c. ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan pewaris.
Dalam hukum waris menurut BW berlaku suatu asas bahwa
“apabila seseorang meninggal dunia, maka seketika itu juga segala hak
dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli warisnya”.
31
Hak-hak
dan kewajiban-kewajiban yang beralih pada ahli waris adalah
sepanjang termasuk dalam lapangan hukum harta kekayaan atau hanya
hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang.
Yang merupakan ciri khas hukum waris menurut BW antara lain
“adanya hak mutlak dari para ahli waris masing-masing untuk sewktu-

30
A. Pitlo, Op. Cit., h. 1.
31
R. Subekti, Op. Cit., h. 79.
27
waktu menuntut pembagian dari harta warisan”.
32
Ini berarti, apabila
seorang ahli waris menuntut pembagian harta warisan di depan
pengadilan, tuntutan tersebut tidak dapt ditolak oleh ahli waris yang
lainnya. Ketentuan ini tertera dalam pasal 1066 BW, yaitu:
a. Seseorang yang mempunyai hak atas sebagian dari harta
peninggalan tidak dapat dipaksa untuk memberikan harta
benda peninggalan dalam keadaan tidak terbagi-bagi di
antara para ahli waris yang ada;
b. Pembagian harta benda peninggalan itu selalu dapat dituntut
walaupun ada perjanjian yang melarang hal tersebut;
c. Perjanjian penangguhan pembagian harta peninggalan dapat
saja dilakukan hanya untuk beberapa waktu tertentu;
d. Perjanjian penagguhan pembagian hanya berlaku mengikat
selama lima tahun, namun dapat diperbaharui jika masih
dikehendaki oleh para pihak.
Dari ketentuan pasal 1066 BW tentang pemisahan harta
peninggalan dan akibat-akibatnya itu, dapat dipahami bahwa sistem
hukum waris menurut BW memiliki ciri khas yang berbeda dari
hukum waris yang lainnya. Ciri khas tersebut di antaranya hukum
waris menurut BW menghendaki agar harta peninggalan seorang
pewaris secepat mungkin dibagi-bagi kepada mereka yang berhak atas
harta tersebut. Kalau pun hendak dibiarkan tidak terbagi, harus terlebih
dahulu melalui persetujuan seluruh ahli waris.

2. Warisan dalam sistem hukum waris BW
Berbeda dengan sistem hukum adat tentang warisan, menurut
kedua sistem hukum di atas yang dimaksud dengan warisan atau harta
peninggalan adalah sejumlah harta benda kekayaan pewaris dalam
keadaan bersih. Artinya, setelah dikurangi dengan pembayaran hutang
pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh

32
Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit., h. 12.
28
meninggalnya pewaris. Oleh karena itu, harta yang diterima oleh ahli
waris menurut sistem hukum Islam dan sistem hukum adat itu benar-
benar hak mereka yang bebas dari tuntutan kreditur pewaris.
Sedangkan warisan dalam sistem hukum perdata barat yang bersumber
pada BW itu meliputi seluruh harta benda beserta hak-hak dan
kewajiban-kewajiban pewaris dalam lapangan hukum harta kekayaan
yang dapat dinilai dengan uang. Akan tetapi terhadap ketentuan
tersebut ada beberapa pengecualian, dimana hak-hak dan kewajiban-
kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan ada juga yang tidak
dapat beralih kepada ahli waris, antara lain:
a. Hak memungut hasil (vruchtgebruik);
b. Perjanjian perburuhan, dengan pekerjaan yang harus
dilakukan bersifat pribadi;
c. Perjanjian perkongsian dagang, baik yang berbentuk
maatschap menurut BW maupun firma menurut WvK, sebab
perkongsian ini berakhir dengan meninggalnya salah seorang
anggota/persero.
Pengecualian lain terdapat pula, yaitu ada beberapa hak yang
walaupun hak itu terletak dalam lapangan hukum keluarga, akan tetapi
dapat diwariskan kepada ahli waris pemilik hak tersebut, yaitu:
a. Hak seorang ayah untuk menyangkal sahnya seorang anak;
b. Hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan
sebagai anak yang sah dari bapak atau ibunya.
Di atas telah dikemukakan bahwa kematian seseorang menurut
BW mengakibatkan peralihan segala hak dan kewajiban pada seketika
itu juga kepada ahli warisnya. Hal ini secara tegas disebutkan dalam
pasal 833 ayat (1) BW, yaitu “sekalian ahli waris dengan sendirinya
karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak,
dan segala piutang dari yang meninggal”. Peralihan hak dan
kewajiban dari yang meninggal dunia kepada ahli warisnya disebut
29
“saisine”.
33
Adapun yang dimaksud dengan saisine yaitu: ahli waris
memperoleh segala hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia
tanpa memerlukan suatu tindakan tertentu, demikian pula bila ahli
waris tersebut belum mengetahui tentang adanya warisan itu.
Sistem waris BW tidak mengenal istilah “harta asal maupun
harta gono-gini” atau harta yang diperoleh bersama dalam perkawinan,
sebab harta warisan dalam BW dari siapa pun juga, merupakan
“kesatuan” yang secara bulat dan utuh dalam keseluruhan akan beralih
dari tangan peninggal warisan/pewaris ke ahli warisnya. Artinya,
dalam BW tidak dikenal perbedaan pengaturan atas dasar macam atau
asal barang-barang yang ditinggalkan pewaris. Seperti yang ditegaskan
dalam pasal 849 BW yaitu “Undang-undang tidak memandang akan
sifat atau asal dari pada barang-barang dalam suatu peninggalan
untuk mengatur pewarisan terhadapnya”. Sistem hukum waris BW
mengenal sebaliknya dari sistem hukum waris adat yang membedakan
“macam” dan “asal” barang yang ditinggalkan pewaris. Dalam hukum
adat jika seseorang meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta,
harta peninggalan tersebut senantiasa ditentukan dahulu, mana yang
termasuk harta asal yang dibawa salah satu pihak ketika menikah dan
mana yang termasuk harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh
bersama suami-istri selama dalam perkawinan. Sedangkan sistem BW,
tidak mengenal hal tersebut, melainkan sebaliknya yaitu harta asal
yang dibawa masing-masing ketika menikah, maupun harta yang
diperoleh selama dalam perkawinan digabungkan menjadi satu
kesatuan bulat yang akan beralih dan diwarisi oleh seluruh ahli
warisnya.

3. Pewaris dan dasar hukum mewaris
Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia, baik laki-laki
maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan

33
Lihat R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa, 1977, h. 79.
30
maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang
harus dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat wasiat maupun
tanpa surat wasiat.
Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi sejumlah harta
pewaris menurut sisten hukum waris BW ada dua cara, yaitu:
a. menurut ketentuan undang-undang;
b. ditunjuk dalam surat wasiat (testamen).
34

Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan
kedudukan hukum seseorang yang meninggal, sedapat mungkin
disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Undang-
undang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan
kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia.
Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika
ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya
maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan
perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut.
Di samping undang-undang, dasar hukum seseorang mewarisi
harta peninggalan pewaris juga melalui cara ditunjuk dalam surat
wasiat. Surat wasiat atau testamen adalah “suatu pernyataan tentang
apa yang dikehendaki setelah ia meninggal dunia”.
35
Sifat utama surat
wasiat adalah mempunyai kekuatan berlaku setelah pembuat surat
wasiat meninggal dan tidak dapat ditarik kembali.
Selama pembuat surat wasiat masih hidup, surat wasiat masih
dapat diubah atau dicabut, sedangkan setelah pembuat wasiat
meninggal dunia surat wasiat tidak dapat lagi diubah, dicabut, maupun
ditarik kembali oleh siapa pun.
Seseorang dapat mewariskan sebagian atau seluruhnya hartanya
dengan surat wasiat. Apabila seseorang hanya menetapkan sebagian
dari hartanya melalui surat wasiat, maka sisanya merupakan bagian

34
R. Subekti, Op. Cit., h. 78.
35
Ibid., h. 88.
31
ahli waris berdasarkan undang-undang (ahli waris ab intestato). Jadi,
pemberian seseorang pewaris berdasarkan surat wasiat tidak
bermaksud untuk menghapuskan hak untuk mewaris secara ab
intestato.

4. Ahli waris menurut sistem BW
Undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi
ahli waris, yaitu: Isteri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah
atau tidak sah dari pewaris. Ahli waris menurut undang undang atau
ahli waris ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat
golongan, yaitu:
a. Golongan pertama, keluarga dalam garis lurus ke bawah,
meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami
atau isteri yang ditinggalkan / atau yang hidup paling lama.
Suami atau isteri yang ditinggalkan / hidup paling lama ini
baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan
sebelumnya suami / isteri tidak saling mewarisi;
b. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus ke atas, meliputi
orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan,
serta keturunan mereka.
Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa
bagian mereka tidak akan kurang dari ¼ (seperempat) bagian
dari harta peninggalan, walaupun mereka mewaris bersama-
sama saudara pewaris;
c. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek, dan leluhur
selanjutnya ke atas dari pewaris;
d. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis ke
samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam.
Undang-undang tidak membedakan ahli waris laki-laki dan
perempuan, juga tidak membedakan urutan kelahiran, hanya ada
ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka
32
akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam dalam garis lurus
ke atas maupun ke samping. Demikian pula golongan yang lebih tinggi
derajatnya menutup yang lebih rendah derajatnya. Sedangkan ahli
waris menurut surat wasiat atau testamen, jumlahnya tidak tentu sebab
ahli waris macam ini bergantung pada kehendak si pembuat wasiat.
Suatu surat wasiat seringkali berisi penunjukan seseorang atau
beberapa orang ahli waris yang akan mendapat seluruh atau sebagian
dari warisan. Akan tetapi seperti juga ahli waris menurut undang-
undang atau ab intestato, ahli waris menurut surat wasiat atau ahli
waris testamenter akan memperoleh segala hak dan segala kewajiban
dari pewaris.
Dari kedua macam ahli waris di atas, timbullah persoalan
ahliwaris yang manakah yang lebih diutamakan, apakah ahli waris
menurut undang-undang atau ahli waris menurut surat wasiat?
Berdasarkan beberapa peraturan-peraturan yang termuat dalam BW
tentang surat wasiat, dapat disimpulkan bahwa yang diutamakan
adalah ahli waris menurut undang-undang. Hal ini terbukti beberapa
peraturan yang membatasi kebebasan seseorang untuk membuat surat
wasiat agar tidak sekehendak hatinya.
Ketentuan yang terdapat dalam BW yang isinya membatasi
seseorang pembuat surat wasiat agar tidak merugikan ahli waris
menurut undang-undang antara lain dapat dilihat dari substansi pasal
881 ayat (2), yaitu: “Dengan sesuatu pengangkatan waris atau
pemberian hibah, pihak yang mewariskan atau pewaris tidak boleh
merugikan para ahli warisnya yang berhak atas sesuatu bagian
mutlak”.
Ahli waris yang memperoleh bagian mutlak atau “legitime
portie”
36
ini termasuk ahli waris menurut undang-undang, mereka
adalah para ahli waris dalam garis lurus ke atas maupun dalam garis

36
Legitime portie, yaitu: suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang tidak dapat
dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan. Lihat, R. Subekti, Op. Cit., h.
93.
33
lurus ke bawah yang memperoleh bagian tertentu dari harta
peninggalan dan bagian itu tidak dapat dihapuskan oleh si pewaris.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, R. Subekti, mengemukakan
dalam bukunya, bahwa “peraturan mengenai legitime portie oleh
undang-undang dipandang sebagai pembatasan kemerdekaan
seseorang untuk membuat wasiat atau testamen menurut sekehendak
hatinya sendiri”.
37

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, seseorang yang akan
menerima sejumlah harta peninggalan terlebih dahulu harus memenuhi
syarat-syarat, sebagai berikut:
a) Harus ada orang yang meninggal dunia (pasal 830 BW);
b) Harus ahli waris atau para ahli waris harus ada pada saat
pewaris meninggal dunia. Ketentuan ini tidak berarti
mengurangi makna ketentuan pasal 2 BW, yaitu: “anak yang
ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai
telah dilahirkan, bilamana kepentingan si anak
menghendakinya”. Apabila ia meninggal saat dilahirkan, ia
dianggap tidak pernah ada. Dengan demikian berarti bayi
dalam kandungan juga sudah diatur haknya oleh hukum
sebagai ahli waris dan telah dianggap cakap untuk mewaris;
c) Seseorang ahli waris harus cakap serta berhak mewaris,
dalam arti ia tidak dinyatakan oleh undang-undang sebagai
seorang yang tidak patut mewaris karena kematian, atau tidak
dianggap sebagi tidak cakap untuk menjadi ahli waris.
Setelah terpenuhi syarat-syarat tersebut di atas, para ahli waris
diberi kelonggaran oleh undang-undang untuk selanjutnya menentukan
sikap terhadap suatu harta warisan. Ahli waris diberi hak untuk
berfikir selama empat bulan setelah itu ia harus menyatakan sikapnya
apakah menerima atau menolak warisan atau mungkin saja ia
menerima warisan dengan syarat yang dinamakan “menerima warisan

37
R. Subekti, Op. Cit., h. 94.
34
secara beneficiaire”,
38
yang merupakan suatu jalan tengah antara
menerima dan menolak warisan.
Selama ahli waris mempergunakan haknya untuk berfikir guna
menentukan sikap tersebut, ia tidak dapat dipaksa untuk memenuhi
kewajiban sebagai ahli waris sampai jangka waktu itu berakhir selama
empat bulan (pasal 1024 BW). Setelah jangka waktu yang ditetapkan
undang-undang berakhir, seorang ahli waris dapat memilih antara tiga
kemungkinan, yaitu:
a. Menerima warisan dengan penuh;
b. Menerima warisan tetapi dengan ketentuan bahwa ia tidak
akan diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris yang
melebihi bagiannya dalam warisan itu, atau disebut dengan
istilah ”menerima warisan secara beneficiaire”;
c. Menolak warisan.
Baik menerima maupun menolak warisan, masing-masing
memiliki konsekuensi sendiri-sendiri terhadap ahli waris. Untuk
memahami konsekuensi dimaksud, di bawah ini akan diuraikan akibat-
akibat dari masing-masing pilihan yang dilakukan oleh ahli waris,
yaitu sebagai berikut:

(1) Akibat menerima secara penuh;
Ahli waris atau para ahli waris yang menerima warisan
secara penuh, baik secara diam-diam maupun secara tegas
bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kewajiban yang
melekat pada harta warisan. Artinya, ahli waris harus
menanggung segala macam hutang-hutang pewaris. Penerimaan
warisan secara penuh yang dilakukan dengan tegas yaitu melalui

38
Akibat terpenting dari menerima warisan secara beneficiaire adalah bahwa kewajiban
si waris untuk melunasi hutang-hutangnya dan beban-beban lainnya dibatasi
sedemikian rupa bahwa pelunasan itu hanyalah dilakukan menurut kekuatan warisan,
sehingga si waris itu tidak usah menanggung pembayaran hutang-hutang itu dengan
kekayaan sendiri. Lihat R. Subekti, Op. Cit., h. 85-86.
35
akta otentik atau akta di bawah tangan, sedangkan penerimaan
secara penuh yang dilakukan diam-diam, biasanya dengan cara
mengambil tindakan tertentu yang menggambarkan adanya
penerimaan secara penuh.

(2) Akibat menerima warisan secara beneficiaire;
(a) seluruh warisan terpisah dari harta kekayaan pribadi ahli
waris;
(b) ahli waris tidak perlu menanggung pembayaran hutang-
hutang pewaris dengan kekayaan sendiri sebab pelunasan
hutang-hutang pewaris hanya dilakukan menurut
kekuatan harta warisan yang ada;
(c) tidak terjadi percampuran harta kekayaan antara harta
kekayaan ahli waris dengan harta warisan.
(d) Jika hutang-hutang pewaris telah dilunasi semuanya dan
masih ada sisa peninggalan, maka sisa itulah yang
merupakan bagian ahli waris.

(3) Akibat menolak warisan
Ahli waris yang menolak warisan dianggap tidak pernah
menjadi ahli waris, karena jika ia meninggal lebih dahulu dari
pewaris ia tidak dapat digantikan kedudukannya oleh anak-
anaknya yang masih hidup. Menolak warisan harus dilakukan
dengan suatu pernyataan kepada panitera pengadilan negeri
wilayah hukum tempat warisan terbuka. Penolakan warisan
dihitung dan berlaku surut, yaitu sejak meninggalnya pewaris.
Seorang ahli waris yang menyatakan menerima warisan secara
beneficiaire atau menerima dengan mengadakan inventarisasi harta
peninggalan, mempunyai beberapa kewajiban yaitu:
36
(a) wajib melakukan pencatatan atas jumlah harta peninggalan
dalam waktu empat bulan setelah ia menyatakan
kehendaknya kepada panitera pengadilan negeri;
(b) wajib mengurus harta peninggalan dengan sebaik-baiknya;
(c) wajib membereskan urusan waris dengan segera;
(d) wajib memberikan jaminan kepada kreditur, baik kreditur
benda bergerak maupun kreditur pemegang hipotik;
(e) wajib memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh
kreditur pewaris, maupun kepada orang-orang yang
menerima pemberian secara “legaat”;
(f) wajib memanggil para kreditur pewaris yang tidak dikenal
melalui surat kabar resmi.

Pengertian Legaat
39

R. Subekti, dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perdata”
menerangkan pengertian legaat yaitu suatu pemberian kepada
seseorang yang bukan ahli waris melalui surat wasiat, berupa :
(1) satu atau beberapa benda tertentu;
(2) seluruh benda dari satu macam atau satu jenis, misalnya
memberikan seluruh benda bergerak;
(3) hak memungut hasil dari seluruh atau sebagian harta warisan;
(4) sesuatu hak lain terhadap harta peninggalan.
Orang yang menerima legaat dinamakan legataris, karena ia
bukan ahli waris maka ia tidak diwajibkan membayar hutang-hutang
pewaris, ia hanya mempunyai hak untuk menuntut legaat yang
diberikan kepadanya.

5. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW
Di atas telah dikemukakan bahwa BW mengenal empat golongan
ahli waris yang bergiliran berhak atas harta peninggalan. Artinya,

39
R. Subekti, Op. Cit., h. 88.
37
apabila golongan pertama masih ada, maka golongan kedua dan
seterusnya tidak berhak atas harta peninggalan, demikian pula jika
golongan pertama tidak ada sama sekali, yang berhak hanya golongan
kedua, sedangkan golongan ketiga dan keempat tidak berhak. Bagian
masing-masing ahli waris menurut BW adalah sebagai berikut:
a) Bagian golongan pertama yang meliputi anggota keluarga
dalam garis lurus ke bawah, yaitu anak-anak beserta
keturunan mereka, dan janda atau duda yang hidup paling
lama, masing-masing memperoleh satu bagian yang sama.
Jadi bila terdapat empat orang anak dan janda, mereka
masing-masing mendapat 1/5 bagian.
Apabila salah seorang anak telah meninggal dunia terlebih
dahulu dari pewaris akan tetapi mempunyai empat orang
anak, yaitu cucu pewaris, maka bagian anak yang 1/5 dibagi
di antara anak-anak yang menggantikan kedudukan ayahnya
yang telah meninggal itu (plaatsvervulling), sehingga
masing-masing cucu memperoleh 1/20 bagian.
Jadi hakikat bagian dari golongan pertama ini, jika pewaris
hanya meninggalkan seorang anak dan dua orang cucu, maka
cucu tidak memperoleh warisan selama anak pewaris masih
ada, baru apabila anak pewaris itu telah meninggal lebih
dahulu dari pewaris, kedudukannya digantikan oleh anak-
anaknya atau cucu pewaris.
b) Bagian golongan kedua yang meliputi anggota keluarga
dalam garis lurus ke atas yaitu orang tua, ayah dan ibu, serta
saudara, baik laki-laki maupun perempuan beserta keturunan
mereka. Menurut ketentuan BW, baik ayah, ibu maupun
sudara-saudara pewaris masing-masing mendapat bagian
yang sama. Akan tetapi bagian ayah dan ibu senantiasa
diistimewakan karena mereka tidak boleh kurang dari ¼
bagian dari seluruh harta warisan. Jadi apabila terdapat tiga
38
orang saudara yang mewaris bersama-sama dengan ayah dan
ibu, maka ayah dan ibu masing-masing akan memperoleh ¼
bagian dari seluruh harta warisan. Sedangkan separoh dari
harta warisan itu akan diwarisi oleh tiga orang saudara,
masing-masing dari mereka akan memperoleh 1/6 bagian.
Jika ibu atau ayah salah seorang sudah meninggal dunia,
yang hidup paling lama akan memperoleh bagian sebagai
berikut:
- ½ (setengah) bagian dari seluruh harta warisan, jika ia
mewaris bersama dengan seorang saudaranya, baik laki-
laki maupun perempuan, sama saja;
- bagian dari seluruh harta warisan, jika ia mewaris
bersama-sama dengan dua orang saudara pewaris;
- ¼ (seperempat) bagian dari seluruh harta warisan, jika ia
mewaris bersama-sama dengan tiga orang atau lebih
saudara pewaris.
Apabila ayah dan ibu semuanya sudah meninggal dunia, maka harta peninggalan
seluruhnya jatuh pada saudara-saudara pewaris, sebagai ahli waris golongan dua yang masih
ada.
Apabila di antara saudara-saudara yang masih ada itu
ternyata hanya ada yang seayah atau seibu saja dengan
pewaris, maka harta warisan terlebih dahulu dibagi dua,
bagian yang satu bagian saudara seibu.
Jika pewaris mempunyai saudara seayah dan seibu di
samping saudara kandung, maka bagian saudara kandung itu
diperoleh dari dua bagian yang dipisahkan tadi.
c) Bagian golongan ketiga yang meliputi kakek, nenek, dan
leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris, apabila pewaris
sama sekali tidak meninggalkan ahli waris golongan pertama
maupun kedua. Dalam keadaan seperti ini sebelum harta
warisan dibuka, terlebih dahulu harus dibagi dua (kloving).
Selanjutnya separoh yang satu merupakan bagian sanak
39
keluarga dari pancer ayah pewaris, dan bagian yang
separohnya lagi merupakan bagian sanak keluarga dari
pancer ibu pewaris. Bagian yang masing-masing separoh
hasil dari kloving itu harus diberikan pada kakek pewaris
untuk bagian dari pancer ayah, sedangkan untuk bagian dari
pancer ibu harus diberikan kepada nenek.
d) Bagian golongan keempat yang meliputi anggota keluarga
dalam garis ke samping sampai derajat keenam, apabila
pewaris tidak meninggalkan ahli waris golongan ketiga
sekalipun, maka cara pembagiannya, bagian yang separoh
dari pancer ayah atau dari pancer ibu jatuh kepada saudara-
saudara sepupu si pewaris yakni saudara sekakek atau
saudara senenek dengan pewaris.
Apabila dalam bagian pancer ibu sama sekali tidak ada ahli
waris sampai derajat keenam, maka bagian pancer ibu jatuh
kepada para ahli waris dari pancer ayah, demikian pula
sebaliknya.
Dalam pasal 832 ayat (2) BW disebutkan: ”Apabila ahli
waris yang berhak atas harta peninggalan sama sekali tidak
ada, maka seluruh harta peninggalan jatuh menjadi milik
negara. Selanjutnya negara wajib melunasi hutang-hutang
peninggal warisan, sepanjang harta warisan itu mencukupi”.
Bagian warisan untuk anak yang lahir di luar perkawinan antara
lain diatur sebagai berikut :
- dari bagian anak sah, apabila anak yang lahir di uar
perkawinan mewaris bersama-sama dengan anak yang sah
serta janda atau duda yang hidup paling lama;
- ½ dari bagian anak sah, apabila anak yang lahir di luar
perkawinan mewaris bersama-sama dengan ahli waris
golongan kedua dan golongan ketiga;
40
- ¾ dari bagian anak sah, apabila anak yang lahir di luar
perkawinan mewaris bersama-sama ahli waris golongan
keempat, yaitu sanak keluarga pewaris sampai derajat
keenam.
- ½ dari bagian anak sah, apabila ia mewaris hanya bersama-
sama dengan kakek atau nenek pewaris, setelah terjadi
kloving. Jadi dalam hal demikian, bagian anak yang lahir di
luar nikah bukan ¾, sebab untuk ahli waris golongan
keempat ini sebelum warisan dibuka terlebih dahulu diadakan
kloving/ dibagi dua, sehingga anak yang lahir di luar nikah
akan memperoleh ¼ dari bagian anak sah dari separoh
warisan pancer ayah dan ¼ dari bagian anak sah dari separoh
warisan pacer ibu, sehingga menjadi ½ bagian. Apabila
pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris sampai
derajat keenam sedang yang ada hanya anak yang lahir di
luar nikah, maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada
tangan anak yang lahir di luar pernikahan, sebagai ahli waris
satu-satunya.
Anak yang lahir dari zina dan anak yang lahir dari orang tua
yang tidak boleh menikah karena keduanya sangat erat
hubungan kekeluargaannya, menurut sistem BW sama sekali
tidak berhak atas harta warisan dari orang tuanya, anak-anak
tersebut hanya berhak memperoleh bagian sekedar nafkah
untuk hidup seperlunya, (lihat Pasal 867 BW).

6. Peran Balai Harta Peninggalan dalam pembagian
warisan

Apabila harta warisan telah terbuka namun tidak seorang pun
ahli waris yang tampil ke muka sebagai ahli waris, tak seorang pun
yang menolak warisan, maka warisan tersebut dianggap sebagai harta
warisan yang tidak terurus.
41
Dalam keadaaan seperti ini, tanpa menunggu perintah hakim,
Balai Harta Peninggalan wajib mengurus harta peninggalan tersebut.
Pekerjaan pengurusan itu harus dilaporkan kepada kejaksaan negeri
setempat. Jika terjadi perselisihan tentang apakah suatu harta
peninggalan tidak terurus atau tidak, penentuan ini akan diputus oleh
hakim.
Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan Balai Harta
Peninggalan dalam tugasnya mengurus harta warisan yang tak terurus
meliputi :
a) wajib membuat perincian atau inventarisasi tentang keadaan
harta peninggalan, yang didahului dengan penyegelan
barang-barang;
b) wajib membereskan warisan, dalam arti menagih piutang-
piutang pewaris dan membayar semua hutang pewaris.
Apabila diminta oleh pihak yang berwajib, Balai Harta
Peninggalan juga wajib memberikan pertanggung jawaban;
c) wajib memanggil para ahli waris yang mungkin masih ada
melalui surat kabar atau panggilan resmi lainnya.
Apabila dalam jangka waktu tiga tahun terhitung mulai saat
terbukanya warisan, belum juga ada ahli waris yang tampil ke muka,
Balai Harta Peninggalan akan memberikan pertanggung jawaban atas
pengurusan itu kepada negara. Selanjutnya harta peninggalan itu akan
diwarisi dan menjadi hak milik negara.

7. Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan
Undang-undang menyebut empat hal yang menyebabkan
seseorang ahli waris menjadi tidak patut mewaris karena kematian,
yaitu sebagai berikut:
a) seorang ahli warais yang dengan putusan hakim telah
dipidana karena dipersalahkan membunuh atau setidak-
tidaknya mencoba membunuh pewaris;
42
b) seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana
karena dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewaris
bahwa pewaris difitnah melakukan kejahatan yang diancam
pidana penjara empat tahun atau lebih;
c) ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata
menghalangi atau mencegah pewaris untuk membuat atau
menarik kembali surat wasiat;
d) seorang ahli waris yang telah menggelapkan, memusnahkan,
dan memalsukan surat wasiat.
Apabila ternyata ahli waris yang tidak patut itu menguasai
sebagian atau seluruh harta peninggalan dan ia berpura-pura sebagai
ahli waris, ia wajib mengembalikan semua yang dikuasainya termasuk
hasil-hasil yang telah dinikmatinya.


















43
¬.-. ¬.-. ¬.-. ¬.-. ~· ~· ~· ~·
~.~ .· ·~.·~-·~ ~.~ .· ·~.·~-·~ ~.~ .· ·~.·~-·~ ~.~ .· ·~.·~-·~
A. Sistem Kekeluargaan dan Hukum Adat Waris

Seperti telah dikemukakan bahwa hukum waris merupakan
salah satu bagian dari sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia.
Oleh karena itu, pokok pangkal uraian tentang hukum waris adat
bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan yang
terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan. Setiap sistem
keturunan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia memiliki
kekhususan dalam hukum warisnya yang satu sama lain berbeda-beda,
yaitu:
Sistem Patrilineal, yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis
keturunan pihak nenek moyang laki-laki. Di dalam sistem
ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum
waris sangat menonjol, contohnya pada masyarakat Batak.
Yang menjadi ahli waris hanya anak laki-laki sebab anak
perempuam yang telah kawin dengan cara "kawin jujur" yang
kemudian masuk menjadi anggota keluarga pihak suami,
selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya
yang meninggal dunia.
Sistem Matrilineal, yaitu sistem kekeluargaan yang menarik
garis keturunan pihak nenek moyang perempuan. Di dalam
sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris
untuk anak-anaknya. Anak-anak menjadi ahli waris dari
garis perempuan/garis ibu karena anak-anak mereka
merupakan bagian dari keluarga ibunya, sedangkan
ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri,
contoh sistem ini terdapat pada masyarakat Minangkabau.
3
44
Namun demikian, bagi masyarakat Minangkabau yang
sudah merantau ke luar tanah aslinya, kondisi tersebut
sudah banyak berubah.
Sistem Parental atau bilateral, yaitu sistem yang menarik garis
keturunan dari dua sisi, baik dari pihak ayah maupun dari
pihak ibu. Di dalam sistem ini kedudukan anak laki-laki dan
perempuan dalam hukum waris sama dan sejajar. Artinya,
baik anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli
waris dari harta peninggalan orang tua mereka.
Dari ketiga sistem keturunan di atas, mungkin masih ada variasi
lain yang merupakan perpaduan dari ketiga sistem tersebut, misalnya,
"sistem patrilineal beralih-alih (alternerend) dan sistem unilateral
berganda (dubbel unilateral)".
40
Namun tentu saja masing-masing
sistem memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan sistem
yang lainnya.
Berdasarkan pada bentuk masyarakat dari sistem keturunan di
atas, jelas bagi kita bahwa hukum adat waris di Indonesia sangat
dipengaruhi oleh prinsip garis keturunan yang berlaku pada
masyarakat yang bersangkutan. Berkaitan dengan hal tersebut.
Tjokorda Raka Dherana, dalam tulisannya "Beberapa Segi Hukum
Adat Waris Bali" yang dimuat dalam Majalah Hukum Nomor 2
mengemukakan, antara lain:
"...masalah hukum adat waris tidak dapat dipisahkan dengan
pembicaraan tentang hukum adat kekeluargaan, karena sistem
kekeluargaan yang dipergunakan membawa akibat kepada penentuan
aturan-aturan tentang warisan. Di samping itu, peranan agama yang
dianut tidak kalah pentingnya pula dalam penentuan aturan-aturan
tentang warisan karena unsur agama adalah salah satu unsur hukum
adat. Hal ini mengakibatkan pula bahwa meskipun hukum adat
kekeluargaan di Bali menganut sistem patrilineal, tetapi dalam

40
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1981, h. 284.

45
pelaksanaannya berbeda dengan daerah-daerah lain yang juga
memakai sistem patrilineal, seperti halnya di Batak".
41


Di samping sistem kekeluargaan yang sangat berpengaruh
terhadap pengaturan hukum adat waris terutama terhadap penetapan
ahli waris dan bagian harta peninggalan yang diwariskan, hukum adat
waris mengenal tiga sistem kewarisan, yaitu :
a. Sistem kewarisan individual yaitu sistem kewarisan yang
menentukan bahwa para ahli waris mewarisi secara
perorangan, misalnya di: Jawa, Batak. Sulawesi, dan lain-
lain;
b. Sistem kewarisan kolektif, yaitu sistem yang menentukan
bahwa para ahli waris mewaris harta peninggalan secara
bersama-sama (kolektif) sebab harta peninggalan yang di
warisi itu tidak dapat dibagi-bagi pemilikannya kepada
masing-masing ahli waris. Contohnya "harta pusaka” di
Minangkabau dan "tanah dati” di semenanjung Hitu Ambon;
c. Sistem kewarisan mayorat, yaitu sistem kewarisan yang
menentukan bahwa harta peninggalan pewaris hanya diwarisi
oleh seorang anak. Sistem mayorat ini ada dua macam, yaitu:
(1) Mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki tertua/
sulung atau keturunan laki-laki merupakan ahli waris
tunggal dari si pewaris, misalnya di Lampung;
(2) Mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua
merupakan ahli waris tunggal dari pewaris, misalnya
pada masyarakat Tanah Semendo di Sumatera Selatan.

41
Tjokorda Raka Dherana, Beberapa Segi Hukum Adat Waris Bali; Majalah Hukum
No. 2 Tahun Kedua, Jakarta: Yayasan Penelitian dan Pengembangan Hukum (Law
Center), 1975, h. 101.


46
Hazairin, di dalam bukunya sebagaimana dikutip oleh Soerjono
Soekanto, menerangkan tentang sistem kewarisan tersebut di atas bila
dihubungkan dengan prinsip garis keturunan, yaitu :
"Sifat individual ataupun kolektif maupun mayorat dalam hukum
kewarisan tidak perlu langsung menunjukan kepada bentuk
masyarakat di mana hukum kewarisan itu berlaku, sebab sistem
kewarisan yang individual bukan saja dapat ditemui dalam
masyarakat yang bilateral, tetapi juga dapat dijumpai dalam
masyarakat patrilineal seperti di Tanah Batak. Malahan di Tanah
Batak, di sana sini mungkin pula dijumpai sistem mayorat dan sistem
kolektif yang terbatas. Demikian juga sistem mayorat itu, selain
dalam masyarakat patrilineal yang beralih-alih, di Tanah Semendo
dijumpai pula pada masyarakat bilateral orang Dayak di Kalimantan
Barat. Sedangkan sistem kolektif dalam batas-batas tertentu
malahan dapat pula dijumpai dalam masyarakat yang bilateral
seperti di Minahasa Sulawesi Utara".
42


Memperhatikan pendapat Hazairin di atas, ternyata tidak mudah
bagi kita untuk menentukan dengan pasti dan tegas bahwa dalam suatu
masyarakat tertentu dengan sistem kekeluargaan yang berprinsip
menarik garis keturunan, memiliki sistem hukum adat waris yang
mandiri yang berbeda sama sekali dengan sistem hukum adat waris
pada masyarakat lainnya. Namun tidak demikian halnya sebab
mungkin saja sistem kekeluargaannya berbeda, sedangkan sistem
hukum adat warisnya memiliki unsur-unsur kesamaan. Oleh karena
itu, sebagai pedoman di bawah ini akan dipaparkan tiga besar sistem
hukum adat waris yang sangat menonjol yang erat kaitannya dengan
sistem kekeluargaan, sehingga akan dapat diketahui mengenai sistem
hukum adat warisnya yang ada pada sistem kekeluargaan tersebut.
Secara teoretis di Indonesia sesungguhnya di kenal banyak
ragam sistem kekeluargaan di dalam masyarakat. Akan tetapi secara
umum yang dikenal sangat menonjol dalam percaturan hukum adat
ada tiga corak, yaitu: (1) Sistem patrilineal, dengan contoh yang sangat

42
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1981, h. 286.


47
umum yakni Tanah Batak; (2) Sistem matrilineal, dengan contoh
daerah Minangkabau, dan (3) Sistem parental, yang dikenal luas yakni
Jawa. Untuk itu, paparan di bawah ini pun akan dibatasi hanya
mengenai hukum adat waris yang dikenal di dalam ketiga sistem
kekeluargaan tersebut di atas.

B. Sistem Kekeluargaan Patrilineal

1. Hukum Adat Waris Patrilineal
“Dalam masyarakat tertib Patrilineal seperti halnya dalam
masyarakat Batak Karo, hanyalah anak laki-laki yang menjadi ahli
waris, karena anak perempuan di luar dari golongan patrilinealnya
semula, sesudah mereka itu kawin”.
43
Selanjutnya secara terperinci
perihal hukum adat waris patrilineal dalam masyarakat Batak Karo ini,
diuraikan oleh Djaja S. Meliala, dan Aswin Peranginangin, dalam
bukunya “Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan
Hukum Nasional”.
Terdapat beberapa alasan atau argumentasi yang melandasi
sistem hukum adat waris masyarakat patrilineal, sehingga keturunan
laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan pewaris yang
meninggal dunia, sedangkan anak perempuan sama sekali tidak
mewaris. Hal ini didasarkan pada anggapan kuno yang “memandang
rendah kedudukan wanita dalam masyarakat Karo khususnya, dan
dalam masyarakat Batak pada umumnya”.
44
Titik tolak anggapan
tersebut, yaitu :
a. Emas kawin (tukur), yang membuktikan bahwa
perempuan dijual;

43
Djaja S. Meliala & Aswin Peranginangin, Hukum Perdata Adat Karo dalam Rangka
Pembentukan Hukum Nasional. Bandung: Tarsito, 1978, h. 54.

44
Ibid., h. 65.
48
b. Adat lakoman (levirat) yang membuktikan bahwa perempuan
diwarisi oleh saudara dari suaminya yang telah meninggal;
c. Perempuan tidak mendapat warisan;
d. Perkataan “naki-naki” menunjukkan bahwa perempuan
adalah makhluk tipuan, dan lain-lain.
Akan tetapi ternyata pendapat yang dikemukakan di atas hanya
menunjukkan ketidaktahuan dan sama sekali dangkal sebab terbukti
dalam cerita dan dalam kesusasteraan klasik Karo kaum wanita tidak
kalah peranannya dibandingkan dengan kaum laki-laki.
45
Meskipun
demikian, kenyataan bahwa anak laki-laki merupakan ahli waris pada
masyarakat Karo, dipengaruhi pula oleh beberapa faktor sebagai
berikut:
(1) Silsilah keluarga didasarkan pada anak laki-laki. Anak perempuan
tidak dapat melanjutkan silsilah (keturunan keluarga);
(2) Dalam rumah-tangga, isteri bukan kepala keluarga. Anak-anak
memakai nama keluarga (marga) ayah. Istri digolongkan ke dalam
keluarga (marga) suaminya;
(3) Dalam adat, wanita tidak dapat mewakili orang tua (ayahnya)
sebab ia masuk anggota keluarga suaminya;
(4) Dalam adat, kalimbubu (laki-laki) dianggap anggota keluarga
sebagai orang tua (ibu);
(5) Apabila terjadi perceraian, suami-isteri, maka pemeliharaan anak-
anak menjadi tanggung jawab ayahnya. Anak laki-laki kelak
merupakan ahli waris dari ayahnya baik dalam adat maupun harta-
benda.
Di dalam masyarakat Karo, seperti juga masyarakat yang
memiliki sistem kekerabatan yang sama, apabila anak perempuan
sudah menikah, ia dianggap tergolong kelompok suaminya. Dalam
masyarakat Karo, anak perempuan yang sudah kawin menjadi
golongan anak beru, seperti halnya dengan suaminya dan saudara-
saudaranya yang semarga. Sehubungan dengan itu, hanya anak laki-

45
Ibid., h. 66.
49
laki yang akan menerima warisan dari orang tuanya dan di sini
menunjukkan, bahwa kaum wanita Karo mempunyai harga diri yang
cukup besar serta mempunyai sifat mampu berdiri sendiri yang
mengagumkan. Meskipun demikian tidak berarti bahwa hak-hak kaum
wanita pada masyarakat yang mempunyai sistem patrilineal menjadi
tertekan sebab menurut cerita kuno masyarakat Karo, sudah sangat
banyak peranan yang dimainkan oleh kaum wanita Karo di segala
bidang sejak dulu. Oleh karena itu, tidaklah beralasan jika memandang
kaum wanita dalam masyarakat yang bersistem patrilineal secara
apriori lebih rendah daripada masyarakat lain yang bersistem
matrilineal dan bilateral.
Peranan kaum wanita Karo sejak dahulu sudah dapat terlihat di
dalam masyarakat baik dalam lapangan keagamaan, lapangan
ekonomi, pertanian, perdagangan, dan juga banyak wanita Karo yang
dengan gagah berani telah menunjukkan jiwa kepahlawanannya.
Demikian pula dalam hal perundingan-perundingan adat, sering sekali
suara seorang perempuan justru menentukan, atau paling tidak sangat
mempengaruhi keputusan, baik dalam hal perkara perdata maupun
dalam perkara pidana. Akan tetapi walau bagaimana pun masalah
tinggi rendahnya kedudukan seorang wanita dalam pergaulan di
masyarakat, dapatlah kiranya dilihat dari peranan yang dipegangnya di
dalam masyarakat. Selain itu sistem sosial suatu masyarakat juga
sangat menentukan sejauh mana wanita diberi kesempatan untuk
melaksanakan peranannya.
Berkaitan dengan hal di atas, maka dalam mempelajari hukum
adat waris patrilineal di Tanah Karo, hendaknya masalah status hak
dan kewajiban seorang wanita jangan ditinjau terlepas dari
masyarakat, adat istiadat, dan norma-norma yang berlaku di dalam
sistem sosialnya.


50
2. Pewaris, ahliwaris, dan pembagian harta pusaka
Dalam sistem hukum adat waris di Tanah Karo, pewaris adalah
seorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta
kekayaan, baik harta itu diperoleh selama dalam perkawinan maupun
harta pusaka, karena di dalam hukum adat perkawinan suku Karo yang
memakai marga itu berlaku keturunan patrilineal maka orang tua
merupakan pewaris bagi anak-anaknya yang laki-laki dan hanya anak
laki-laki yang merupakan ahli waris dari orang tuannya. Akan tetapi
anak laki-laki tidak dapat membantah pemberian kepada anak
perempuan, demikian juga sebaliknya. Hal tersebut didasarkan pada
prinsip bahwa orang tua (pewaris) bebas menentukan untuk membagi-
bagi harta benda kepada anak-anaknya berdasarkan kebijaksanaan
orang tua yang tidak membedakan kasih sayangnya kepada anak-
anaknya.
Ahli waris atau para ahli waris dalam sistem hukum adat waris di
Tanah Patrilineal, terdiri atas:
a) Anak laki-laki
Yaitu semua anak laki-laki yang sah yang berhak mewarisi
seluruh harta kekayaan. baik harta pencaharian maupun harta
pusaka. Jumlah harta kekayaan pewaris dibagi sama di antara
para ahli waris. Misalnya pewaris mempunyai tiga orang
anak laki-laki, maka masing-masing anak laki-laki akan
mendapat bagian dari seluruh harta kekayaan termasuk
harta pusaka. Apabila pewaris tidak mempunyai anak laki-
laki, yang ada hanya anak perempuan dan isteri, maka harta
pusaka tetap dapat dipakai, baik oleh anak-anak perempuan
maupun oleh isteri seumur hidupnya, setelah itu harta
pusaka kembali kepada asalnya atau kembali kepada
"pengulihen".
b) Anak angkat
Dalam masyarakat Karo, anak angkat merupakan ahli waris
51
yang kedudukannya sama seperti halnya anak sah, namun
anak angkat ini hanya menjadi ahli waris terhadap harta
pencaharian/harta bersama orang tua angkatnya. Sedangkan
untuk harta pusaka, anak angkat tidak berhak.
c) Ayah dan Ibu serta saudara-saudara sekandung si
pewaris. Apabila anak laki-laki yang sah maupun anak
angkat tidak ada, maka yang menjadi ahli waris adalah ayah
dan ibu serta saudara-saudara kandung si pewaris yang
mewaris bersama-sama.
d) Keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu.
Apabila anak laki-laki yang sah, anak angkat, maupun
saudara-saudara sekandung pewaris dan ayah-ibu pewaris
tidak ada, maka yang tampil sebagai ahli waris adalah
keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu.
e) Persekutuan adat
Apabila para ahli waris yang disebutkan di atas sama sekali
tidak ada, maka harta warisan jatuh kepada persekutuan
adat.
Ketentuan hukum adat waris di Tanah Karo menentukan, bahwa
hanya keturunan laki-laki yang berhak untuk mewarisi harta
pusaka.Yang dimaksud dengan harta pusaka atau barang adat yaitu
barang-barang adat yang tidak bergerak dan juga hewan atau pakaian-
pakaian yang harganya mahal. Barang adat atau harta pusaka ini
adalah barang kepunyaan marga atau berhubungan dengan kuasa
kesain, yaitu "bagian dari kampung secara fisik".
46
Barang-barang
adat meliputi: tanah kering (ladang), hutan, dan kebun milik kesain.
Rumah atau jabu mempunyai potongan rumah adat, jambur atau sapo
tempat menyimpan padi dari beberapa keluarga dan juga bahan-bahan
untuk pembangunan, seperti ijuk, bambu, kayu, dan sebagainya yang

46
Soerjono Soekanto, Kamus Hukum Adat. Bandung : Alumni, 1978, h. 121.

52
dihasilkan hutan marga atau kesain.
Proses penyerahan barang-barang harta benda kekayaan
seseorang kepada turunannya, seringkali sudah dilakukan ketika orang
tua (pewaris) masih hidup. Pembagian yang dilakukan secara
kerukunan itu terjadi di depan anak beru, senina, dan kalimbubu.
Kadang-kadang pembagian itu juga dihadiri oleh penghulu (Kepala
Desa) untuk menambah terangnya pembagian tersebut. Apabila
pembagian dilakukan setelah pewaris meninggal dunia, maka perlu
diperhatikan, bahwa walaupun pada dasarnya semua anak laki-laki
mempunyai hak yang sama terhadap harta peninggalan orang tuanya,
namun pembagian itu harus dilakukan dengan sangat bijaksana sesuai
dengan kehendak/pesan pewaris sebelum meninggal dunia. Apabila
dalam pembagian itu terjadi sengketa, maka anak beru dan senina
mencoba menyelesaikannya melalui musyawarah.
Apabila seorang ayah sebagai pewaris meninggal dunia dengan
meninggalkan isteri lebih dari satu, misalnya mempunyai dua orang
anak dari isteri pertama dan tiga orang anak dari isteri kedua, maka
pembagiannya ada dua cara, yaitu:
(1) Dahulu cara pembagian harta peninggalan dalam keadaan
semacam ini didasarkan pada banyaknya isteri, sehingga
dalam contoh di atas cara pembagiannya adalah menjadi ½
bagian untuk dua orang anak dari isteri pertama dan ½
bagian lagi untuk tiga orang anak dari isteri kedua;
(2) Setelah adanya musyawarah kepala-kepala adat Tanah Karo,
cara pembagian semacam di atas berubah menjadi atas dasar
jumlah anak laki-laki yang masing-masing akan memperoleh
bagian yang sama besar, sehingga dalam contoh di atas
masing-masing akan memperoleh 1/5 bagian.
Berkaitan dengan.hukum adat waris Tanah Karo yang hanya
mengakui anak laki-laki sebagai ahli waris, maka melalui putusan
Mahkamah Agung tanggal 1 November 1961 No.179 K/Sip/l961 telah
53
terjadi upaya ke arah proses persamaan hak antara kaum wanita dan
kaum pria di Tanah Karo, meskipun di sana-sini putusan Mahkamah
Agung ini banyak mendapat tantangan, namun tidak sedikit pula
pihak-pihak yang justeru menyetujui hal tersebut.
Adapun yang menjadi pertimbangan dari putusan Mahkamah
Agung dalam putusan tersebut di atas, antara lain:
(1) "Menimbang, bahwa keberatan-keberatan tersebut
berdasarkan atas anggapan, bahwa di Tanah Karo tetap
ber1aku selaku hukum yang hidup, bahwa seorang anak
perempuan tidak berhak sama sekali atas barang warisan
yang ditinggalkan oleh orang tuanya";
(2) "Menimbang, bahwa Mahkamah Agung berdasar selain
atas rasa perikemanusiaan dan keadilan umum juga atas
hakikat persamaan hak antara wanita dan pria, dalam
beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap
sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia, bahwa anak
perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal
warisan, bersama-sama berhak atas warisan, dalam arti,
bahwa anak laki-laki sama dengan anak perempuan";
(3) "Menimbang, bahwa berhubung dengan sikap yang tetap dari
Mahkamah Agung ini, maka juga di Tanah Karo, seorang
anak perempuan harus dianggap ahli waris yang berhak
menerima bagian warisan dari orang tuanya".
Terhadap pertimbangan putusan Mahkamah Agung di atas,
ternyata tidak sedikit komentar dan tanggapan yang antara lain
dikemukakan oleh Djaja S. Meliala dkk, sebagai berikut:
(a) "Lazimnya suatu perubahan hukum dilaksanakan atas
pertimbangan, bahwa hukum yang lama tidak sesuai lagi
dengan perasaan keadilan masyarakat tempat hukum itu
berlaku. Sebagai contoh hukum waris kolonial dirombak dan
disesuaikan dengan kondisi nasional. Tetapi kali ini kita
54
berhadapan dengan suatu perubahan hukum di dalam hukum
yang masih tetap hidup dan sesuai dengan perasaan keadilan
masyarakat (masyarakat Karo), dirombak dan digantikan
dengan suatu hukum baru yang tidak sesuai dengan rasa
keadilan masyarakat”;
(b) “Anggapan Mahkamah Agung, bahwa anak perempuan dan
anak laki-laki dari si pewaris bersama-sama berhak atas
warisan sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia,
dipandang sebagai keliru sebab terdapat beberapa masyarakat
di Indonesia ini dengan sistem unilineal yang kuat seperti
Minangkabau, Batak, dan lain-lain yang memiliki sistem
warisan berbeda dengan anggapan Mahkamah Agung”.

3. Beberapa pendapat dan kesimpulan tentang hukum adat waris
patrilineal

Di bawah ini berturut-turut akan dipaparkan tentang beberapa
pendapat dan kesimpulan yang dikemukakan oleh penulis buku
“Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan Hukum
Nasional”, yaitu:
a) Hukum waris adalah sebagian dari adat, karena itu tidak dapat
dipisahkan atau dinilai tersendiri dengan tidak memperhatikan
factor-faktor lain;
b) Selama kita masih menghormati keragaman adat-istiadat
yang hidup dalam masyarakat, tidaklah tepat diadakan
penilaian yang sama tentang hukum waris di seluruh
Indonesia sebab kenyataan adat Batak, Minangkabau, Jawa,
Bali, dan lain-lain itu berbeda-beda;
c) Adat istiadat yang masih dipegang teguh sebagai jiwa sesuatu
masyarakat dan mampu menciptakan kesejahteraan dalam
masyarakat tersebut, tidak perlu diubah secara radikal sebab
sesuatu yang tidak sesuai akan berubah sendiri karena
55
pengaruh lingkungan atau zaman;
d) Dalam adat di Tanah Karo, hak dan kewajiban, tugas dan
kedudukan pria berbeda dengan wanita, bukan berarti kaum
wanita lebih rendah dari kaum pria sebab pada dasarnya
jiwa dan tujuan perlakuan orang tua bagi anak laki-laki dan
perempuan dalam masalah waris, yaitu:
- anak laki-laki sebagai ahli waris keluarga (marga)
mewarisi harta benda yang menjadi tanda/lambang
keluarga, terutama tanah dan benda-benda tidak bergerak
lainnya;
- anak perempuan mendapat pembagian yang adil untuk
kepentingan sediri dan rumah tangganya kemudian;
- Kemajuan zaman, kebutuhan hidup, dan sifat-sifat benda
serta harta pusaka sekarang, pada waktu yang akan datang,
dan pada masa yang lampau sangat jauh berbeda sehingga
harus ada penyesuaian pengertian tentang hal tersebut;
- Anggapan, bahwa anak perempuan secara mutlak tidak
berhak atas warisan orang tuanya, dewasa ini tidak sesuai
lagi sehingga dianggap perlu penyesuaian;
- Anggapan, bahwa hak waris anak laki-laki sama dengan
hak waris anak perempuan juga tidak sesuai dengan jiwa
dan tujuan adat di Tanah Karo, sehingga tidak baik untuk
dipaksakan karena dapat merusak adat dan kebudayaan
daerah tersebut.

C. Sistem Kekeluargaan Matrilineal


1. Hukum Waris Adat Matrilineal
Menguraikan sistem hukum adat waris dalam suatu masyarakat
tertentu, kiranya tidak dapat terlepas dari sistem kekeluargaan yang
terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula
56
halnya dengan sistem hukum adat waris dalam masyarakat matrilineal
Minangkabau, ini berkaitan erat dengan sistem kekeluargaan yang
menarik garis keturunan dari pihak ibu.
Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau senantiasa
merupakan masalah yang aktual dalam berbagai pembahasan. Hal itu
mungkin disebabkan karena kekhasan dan keunikannya bila
dibandingkan dengan sistem hukum adat waris dari daerah-daerah
lain di Indonesia ini. Seperti telah dikemukakan, bahwa sistem
kekeluargaan di Minangkabau adalah sistem menarik garis keturunan
dari pihak ibu yang dihitung menurut garis ibu, yakni saudara laki-
laki dan saudara perempuan, nenek beserta saudara-saudaranya, baik
laki-laki maupun perempuan.
Dengan sistem tersebut, maka semua anak-anak hanya dapat
menjadi ahli waris dari ibunya sendiri, baik untuk harta pusaka
tinggi yaitu harta yang turun temurun dari beberapa generasi,
maupun harta pusaka rendah yaitu harta yang turun dari satu
generasi. Misalnya harta pencaharian yang diperoleh dengan melalui
pembelian atau taruko, akan jatuh kepada jurainya sebagai harta
pusaka rendah jika pemilik harta pencaharian itu meninggal dunia.
Jika yang meninggal dunia itu seorang laki-laki, maka anak-anaknya
serta jandanya tidak menjadi ahli waris untuk harta pusaka tinggi,
sedang yang menjadi ahli warisnya adalah seluruh kemenakannya.
Masyarakat Minangkabau menurut adatnya melaksanakan hukum
waris kemenakan, sedangkan agama yang dipeluk oleh masyarakat
memiliki pula hukum waris melalui anak pada umum yaitu faraidh.
Akan tetapi hukum waris kemenakan di Minangkabau tidak
melanggar hukum faraidh sebab di dalam masyarakat Minangkabau
tidak terdapat gezin dalam satu kesatuan unit yang terdiri atas ayah,
ibu, dan anak-anak, melainkan hanya dikenal kaum yaitu kesatuan
unit yang lebih besar dari gezin. Di daerah Minangkabau pada
umumnya sebagian besar masyarakat masih berkaum, berkeluarga,
57
berkampung, dan bersuku. Sedangkan gezin, famili itu relatif sedikit
sebab meskipun ada gezin, si ayah tetap menjadi anggota kaumnya.
Demikian pula si ibu masih tetap menjadi anggota keluarganya,
sehingga dalam masyarakat Minangkabau kita tidak dapat
menemukan anak yatim-piatu atau juga orang jompo yang tidak
punya usaha atau pencaharian sebab sistem kekeluargaan itulah
yang membentuk demikian.
Dasar hukum waris kemenakan di Minangkabau bermula dari
pepatah adat Minangkabau, yaitu pusaka itu dari nenek turun ke
mamak, dari mamak turun ke kemenakan. Pusaka yang turun itu
bisa mengenai gelar pusaka ataupun mengenai harta pusaka, misalnya
gelar Datuk Sati. Apabila ia meninggal dunia, gelar tersebut akan
turun kepada kemenakannya, yaitu anak dari saudara perempuan
dan tidak sah jika gelar itu dipakai oleh anaknya sendiri.

2. Harta warisan dalam hukum Adat waris Minangkabau
Harta kaum dalam masyarakat Minangkabau yang akan
diwariskan kepada ahli warisnya yang berhak terdiri atas:
a) Harta pusaka tinggi
Yaitu harta yang turun-temurun dari beberapa generasi, baik
yang berupa tembilang basi yakni harta tua yang diwarisi turun
temurun dari mamak kepada kemenakan, maupun tembilang perak,
yakni harta yang diperoleh dari hasil harta tua, kedua jenis harta
pusaka tinggi ini menurut hukum adat akan jatuh kepada kemenakan
dan tidak boleh diwariskan kepada anak.
b) Harta pusaka rendah
Yaitu harta yang turun dari satu generasi.
c) Harta Pencaharian
Yaitu harta yang diperoleh dengan melalui pembelian atau
taruko. Harta pencaharian ini bila pemiliknya meninggal dunia akan
58
jatuh kepada jurainya sebagai harta pusaka rendah. Untuk harta
pencaharian ini sejak tahun 1952 ninik-mamak dan alim ulama telah
sepakat agar harta warisan ini diwariskan kepada anaknya. Perihal ini
masih ada pendapat lain, yaitu "bahwa harta pencaharian harus
diwariskan paling banyak (sepertiga) dari harta pencaharian untuk
kemenakan".
47

d) Harta Suarang
Sebutan untuk harta suarang ini ada beberapa, di antaranya:
Harta Pasuarangan, Harta Basarikatan, Harta Kaduo-duo, atau
Harta Salamo Baturutan, yaitu seluruh harta benda yang
diperoleh secara bersama-sama oleh suami-isteri selama masa
perkawinan. Tidak termasuk ke dalam harta suarang ini, yakni harta
bawaan suami atau harta tepatan isteri yang telah ada sebelum
perkawinan berlangsung. Dengan demikian jelaslah bahwa harta
pencaharian berbeda dengan harta suarang.

3. Ahli waris dan hak mewaris menurut adat Minangkabau
Sebagaimana diketahui, bahwa “kaum” dalam masyarakat
Minangkabau merupakan persekutuan hukum adat yang mempunyai
daerah tertentu yang dinamakan “tanah ulayat”. Kaum serta anggota
kaum diwakili ke luar oleh seorang “mamak kepala waris”. Anggota
kaum yang menjadi mamak kepala waris lazimnya adalah saudara
laki-laki yang tertua dari ibu, mamak kepala waris harus yang cerdas
dan pintar. Akan tetapi kekuasaan tertinggi di dalam kaum terletak
pada rapat kaum, bukan pada mamak kepala waris. Anggota kaum
terdiri atas kemenakan dan kemenakan ini adalah ahli waris. Menurut
hukum adat Minangkabau ahli waris dapat dibedakan antara:


47
H. Mansur Dt. Nagari Basa, Hukum Waris Tanah dan Peradilan Agama, Menggali
Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. Padang: Sri Dharma,1968, h.137.

59
a) Waris bertali darah
Yaitu ahli waris kandung atau ahli waris sedarah yang
terdiri atas waris satampok (waris setampuk), waris sejangka
(waris sejengkal), dan waris saheto (waris sehasta). Masing-
masing ahli waris yang termasuk waris bertali darah ini
mewaris secara bergiliran. Artinya, selama waris bertali
darah setampuk masih ada, maka waris bertali darah
sejengkal belum berhak mewaris. Demikian pula ahli waris
seterusnya selama waris sejengkal masih ada, maka waris
sehasta belum berhak mewaris.
b) Waris bertali adat
Yaitu waris yang sesama ibu asalnya yang berhak
memperoleh hak warisnya bila tidak ada sama sekali waris
bertali darah. Setiap nagari di Minangkabau mempunyai
nama dan pengertian tersendiri untuk waris bertali adat,
sehingga waris bertali adat ini dibedakan sebagai berikut :
- menurut caranya menjadi waris: waris batali ameh, waris
batali suto, waris batali budi, waris tambilang basi,
waris tembilang perak.
- menurut jauh dekatnya terdiri atas: waris di bawah
daguek, waris didado, waris di bawah pusat, waris di
bawah lutut.
- menurut datangnya, yaitu : waris orang datang, waris air
tawar, waris mahindu.
Sedangkan hak mewaris dari masing-masing ahli waris yang
disebutkan di atas satu sama lain berbeda-beda tergantung pada jenis
harta peninggalan yang akan ia warisi dan hak mewarisinya diatur
menurut urutan prioritasnya. Hal tersebut akan dapat terlihat dalam
paparan di bawah ini.

60
(1) Mengenai harta pusaka tinggi
Apabila harta peninggalan itu menyangkut harta pusaka tinggi,
cara pembagiannya berlaku sistem kewarisan kolektif, yaitu
seluruh harta pusaka tinggi diwarisi oleh sekumpulan ahli
waris dan tidak diperkenankan dibagi-bagi pemilikannya dan
dimungkinkan dilakukan “ganggam bauntuek". Walaupun tidak
boleh dibagi-bagi, pemilikannya di antara para ahli waris, harta
pusaka tinggi dapat diberikan sebagian kepada seorang anggota
kaum oleh mamak kepala waris untuk selanjutnya dijual atau
digadaikan guna keperluan modal berdagang atau merantau, asal
saja dengan sepengetahuan dan seizin seluruh ahli waris. Di
samping itu harta pusaka tinggi dapat dijual atau digadaikan,
guna keperluan:
- untuk membayar hutang kehormatan;
- untuk membayar ongkos memperbaiki bandar sawah
kepunyaan kaum;
- untuk membayar hutang darah;
- untuk menutupi kerugian bila ada kecelakaan kapal di pantai;
- untuk ongkos naik haji ke Mekkah;
- untuk membayar hutang yang dibuat oleh kaum secara
bersama-sama.

(2) Mengenai harta pusaka rendah
Semula harta pusaka rendah adalah harta pencaharian. Harta
pencaharian mungkin milik seorang laki-laki atau mungkin
juga milik seorang perempuan. Pada mulanya harta pencaharian
seseorang diwarisi oleh jurai atau setidak-tidaknya kaum
masing-masing. Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya
karena hubungan seorang ayah dengan anaknya bertambah
erat dan juga sebagai pengaruh agama Islam, maka seorang
ayah dengan harta pencahariannya dapat membuatkan sebuah
61
rumah untuk anak-anaknya atau menanami tanah pusaka
isterinya dengan tanaman keras, misalnya pohon kelapa, pohon
durian, pohon cengkeh, dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan untuk
membekali isteri dan anak-anak manakala ayah telah meninggal
dunia.
(3) Mengenai harta suarang
Harta suarang berbeda sama sekali dengan harta pencaharian
sebab harta suarang adalah seluruh harta yang diperoleh suami
-isteri secara bersama-sama selama dalam perkawinan. Kriteria
untuk menentukan adanya kerja sama dalam memperoleh harta
suarang, dibedakan dalam dua periode, yaitu dahulu ketika
suami masih merupakan anggota keluarganya, ia berusaha
bukan untuk anak-isterinya melainkan untuk orang tua dan para
kemenakannya, sehingga ketika itu sedikit sekali
kemungkinannya terbentuk harta suarang sebab yang mengurus
dan membiayai anak-anak dan isterinya adalah saudara atau
mamak isterinya. Sedangkan pada dewasa ini adanya kerja sama
yang nyata antara suami-isteri untuk memperoleh harta suarang
sudah jelas nampak, terutama masyarakat Minangkabau yang
telah merantau jauh ke luar tanah asalnya, telah menunjukkan
perkembangan ke arah pembentukan hidup keluarga (somah),
yaitu antara suami, isteri dan anak-anak merupakan satu kesatuan
dalam ikatan yang kompak. Dalam hal demikian suami telah
bekerja dan berusaha untuk kepentingan isteri dan anak-anaknya,
sehingga dalam kondisi yang demikian keluarga tadi akan
mengumpulkan harta sendiri yang merupakan harta keluarga
yang disebut harta suarang. Harta suarang dapat dibagi-bagi
apabila perkawinan bubar, baik bercerai hidup atau salah
seorang meninggal dunia. Harta suarang dibagi-bagi setelah
hutang suami-isteri dilunasi terlebih dahulu. Ketentuan
pembagiannya sebagai berikut:
62
(a) bila suami-isteri bercerai dan tidak mempunyai anak, harta
suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri;
(b) bila salah seorang meninggal dunia dan tidak mempunyai
anak, maka sebagai berikut:
- jika yang meninggal suami, harta suarang dibagi
dua, separoh merupakan bagian jurai si suami dan
separoh lagi merupakan bagian janda;
- Jika yang meninggal isteri, harta suarang dibagi dua,
sebagian untuk jurai suami dan sebagian lagi untuk duda.
(c) Apabila suami-isteri bercerai hidup dan mempunyai anak,
harta suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas
isteri, anak-anak akan menikmati bagian ibunya;
(d) Apabila salah seorang meninggal dunia dan mempunyai
anak, bagian masing-masing sebagai berikut:
- jika yang meninggal suami, harta suarang dibagi dua
antara jurai suami dengan janda beserta anak;
- jika yang meninggal isteri, harta suarang seperdua
untuk suami dan seperdua lagi untuk anak sebagai harta
pusaka sendiri dari bagian ibunya.
Berkaitan dengan pembahasan harta suarang, di bawah ini akan
ditunjukkan beberapa putusan pengadilan mengenai harta suarang
sebagai bukti, bahwa antara suami-isteri orang Minangkabau dalam
perkembangan selanjutnya telah terjalin kerja sama dalam satu
kesatuan unit yang disebut somah (gezin), sehingga terbentuk harta
keluarga.
(i) Putusan Landraad Talu tanggal 23 Januari 1937 No.5
tahun 1937 yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang tanggal 13
Mei 1937 (T.148/508) menentukan bangunan yang didirikan atau
tanaman yang ditanami di atas tanah harta kaum isteri bukanlah harta
suarang;
(ii) Putusan Landraad Payakumbuh tanggal 13 Juni 1938 No.
63
perdata 11 tahun 1938, yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang
tahun 1938 mengatakan: Bila suami meninggalkan beberapa orang
janda, maka pembagian harta suarang menjadi pusaka rendah jurai si
suami dan separoh lagi merupakan bagian para janda yang masih
hidup;
(iii) Putusan Pengadilan Bukittinggi No. 46/1953 tanggal 26
Setember 1953 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Medan tanggal
13 Maret 1956 Nomor 23/1954, yang menetapkan, bahwa harta
suarang bertanggung jawab atas hutang suami. Kemudian adanya
rumah di atas tanah kaum tidak dengan sendirinya membuktikan,
bahwa rumah itu kepunyaan kaum, mungkin saja rumah itu kepunyaan
suami isteri bersama sebagai harta suarang.

4. Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971
Berkaitan dengan berbagai persoalan yang menyangkut hukum
adat waris di daerah Minangkabau, pada tahun 1971 Lembaga
Pembinaan Hukum Nasional (sekarang Badan Pembinaan Hukum
Nasional atau Babinkumnas) pernah mengadakan kerjasama dengan
Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang dengan hasil sebagai
berikut:
a) Harta pusaka diwariskan kepada kemenakan, sedangkan
harta yang diperoleh di luar harta pusaka itu boleh
diwariskan kepada anak-anaknya;
b) Harta pencaharian diwariskan kepada anak-anaknya dengan
tidak dipersoalkan apakah dibagi dengan sistem faraidh atau
tidak, yang penting, bahwa harta pencaharian itu
diperuntukkan guna kepentingan anak-anak;
c) Apabila pihak isteri dari yang meninggal dunia menguasai
harta pusaka dan ia enggan untuk mengembalikan harta
tersebut kepada kaum suaminya dan malahan dikatakan
sebagai harta pencaharian, atau telah dihibahkan kepada
64
anak-anaknya tanpa sepengetahuan ahli warisnya
(kemenakan) suaminya, dalam hal demikian Kerapatan
Nagari yang diberi wewenang memutus secara perdamaian;
d) Harta pencaharian tidak diharuskan seluruhnya jatuh kepada
anak-anaknya, melainkan harus pula jatuh kepada
kemenakannya sebab mamak laki-laki itu tadi dibesarkan,
dididik, dan bahkan dikawinkan oleh kaumnya, sudah
sewajarya jika kemenakan juga memperoleh bagian dari
harta pencaharian;
e) Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil antara harta
pusaka dengan harta pencaharian sebab kedua-duanya
merupakan hasil jerih payah yang diperuntukkan bagi
kesejahteraan anak-anak dan kemenakan untuk memenuhi
pepatah adat "anak dipangku, kemenakan dibimbing",
sehingga anak-anak yang termasuk suku ibunya dan
kemenakan yang termasuk suku mamaknya, keduanya harus
dipangku dalam arti dibesarkan, dididik, dan
dipertanggungjawabkan, baik fisik maupun rokhaninya.
Demikian pula kemenakan yang termasuk kaum mamak
harus dibimbing, artinya harus dipelihara sama dengan anak.
Dengan demikian, seorang ayah yang sekaligus
berkedudukan selaku mamak bagi kemenakannya harus
memelihara anak-anaknya dan juga kemenakannya.

D. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral

1. Hukum Waris Adat parental atau Bilateral
Paparan terdahulu telah mengemukakan perihal prinsip-prinsip
hukum adat waris yang dikenal di dalam dua kelompok masyarakat
yang mempunyai sistem kekeluargaan yang satu sama lain berbeda.
Di satu pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan
65
pihak ayah atau dikenal dengan sebutan sistem patrilineal dan di lain
pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan pihak ibu
atau matrilineal. Di bawah ini selanjutnya akan dipaparkan sistem
hukum adat waris yang terdapat dalam masyarakat yang menganut
sistem kekeluargan dengan menarik garis keturunan dari kedua belah
pihak orang tua, yaitu baik dari garis bapak maupun dari garis ibu
yang dikenal dengan sebutan sistem parental atau bilateral. Sistem
parental ini di Indonesia dianut di banyak daerah, seperti: Jawa,
Madura, Sumatera Timur, Riau, Aceh, Sumatera Selatan, seluruh
Kalimantan, seluruh Sulawesi, Ternate, dan Lombok.
Berbeda dengan dua sistem kekeluargaan sebelumnya yaitu
sistem patrilineal dan sistem matrilineal, sistem kekeluargaan parental
atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula, yaitu bahwa yang
merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan.
Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orang
tuanya sehingga dalam proses pengalihan/pengoperan sejumlah harta
kekayaan dari pewaris kepada ahli waris, anak laki-laki dan anak
perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama.
Sudah banyak literatur hukum yang membahas dan memaparkan
tentang sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. Tiga bentuk
sistem kekeluargaan yang sangat menonjol senantiasa merupakan
contoh pembahasan. Hal tersebut mungkin didasarkan pada
pertimbangan, bahwa di antara ketiga sistem kekeluargaan itu
perbedaannya sangat prinsipil karena seolah-olah sistem patrilineal
merupakan kebalikan dari sistem matrilineal. Kemudian kedua sistem
tersebut dirangkum oleh satu sistem yang mengambil unsur dari kedua
sistem tersebut, yaitu sistem parental atau bilateral. Dari sekian banyak
daerah yang menganut sistem parental di Indonesia ini, satu di
antaranya akan dijadikan bahan paparan di bawah ini, yaitu sistem
parental di Jawa khususnya di Jawa Barat.

66
2. Harta warisan menurut hukum adat waris parental
Harta warisan, yaitu sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan
oleh seseorang yang meninggal dunia yang terdiri atas:
a) Harta asal;
b) Harta bersama.

a) Harta asal
Harta asal adalah kekayaan yang dimiliki oleh seseorang yang
diperoleh sebelum maupun selama perkawinan dengan cara pewarisan,
hibah, hadiah, turun-temurun. Harta asal dikenal dengan berbagai
sebutan. yaitu: harta babawa (Leuwiliang, Jasinga, Cianjur, Bekasi),
barang sampakan (Cianjur, Bandung, Leuwiliang, Cisarua, Depok,
Cileungsi, Citeureup, Banjar, Ciamis, Saruni Kecamatan Pandeglang),
harta bawaan (Ratu Jaya, Pondok Terong, Bandung, Karawang
Wetan), warisan (Cianjur, Kecamatan Teluk Jambe, Karawang),
barang pokok (Kecamatan Telagasari, Batujaya, Cilamaya, Kecamatan
Karawang Kabupaten Karawang), babawaan (Pelawad Kecamatan
Karawang), raja kaya, tuturunan (Kecamatan Teluk Jambe
Karawang), harta sulur (Saruni, Pandeglang, Kebayan, Pagerbatu,
Raraton, Cilaja Kecamatan Pandeglang), harta pusaka/harta tuturunan
(Cianjur, Wanagiri, Pasireurih Kecamatan Saketi Pandeglang,
Kecamatan Menes, Kecamaan Pagelaran, Kecamatan Labuan,
Kabupaten Pandeglang).
Harta asal dapat berubah wujud (misalnya dari sebidang
tanah menjadi rumah). Perubahan wujud ini tidak menghilangkan
harta asal. Apabila sebidang tanah sebagai harta asal dijual dan
kemudian dibelikan rumah. Rumah yang dibeli dari uang hasil
penjualan harta asal akan tetap sebagai harta asal, yaitu rumah.



67
b) Harta bersama
Harta bersama, atau gono-gini (Leuwiliang, Depok, Banjar,
Cikoneng, Pandeglang), kaya reujeung (Cisarua. Leuwiliang Bandung,
Kecamatan Pandeglang), Cijakan, Kadupandak (Kecamatan Bojong,
Pandeg1ang), Wanagiri (Kecamatan Saketi, Pandeglang, Menes,
Kecamatan Labuan-Pandeglang), tepung kaya (Cileungsi Kecamatan
Telukjambe-Karawang, Pandeglang), campur kaya (Bandung, Cianjur,
Pandeglang), raja kaya (Bandung), sekaya (pekaya), paoman
(Lemahabang, Lohbener, Kepandean, Karanganyar Kecamatan
lndramayu, Larangan, Legok, Sindangkerta Kecamatan Lohbener,
Cilamaya, Muara, Tegalwaru - Karawang), bareng sakaya (Kecamatan
Kertasemaya, Kecamatan Jatibarang, Kecamatan Juntinyuat
Indramayu), saguna sakaya, (Telukbuyung, Batujaya Karawang)
bareng molah: Singaraja (Kecamatan Indramayu), barang kakayaan
(Kecamatan Juntinyuat Indramayu). Di Kecamatan Telukjambe
(Kabupaten Karawang) terdapat istilah tumpang kaya untuk harta
bersama ini. Istilah tumpang kaya ini terdapat dalam bentuk
perkawinan nyalindung ka gelung dan manggih kaya.

3. Ahli waris dalam hukum adat waris parental
a) Sedarah dan Tidak Sedarah
Ahli waris adalah ahli waris sedarah dan yang tidak sedarah.
Ahli waris yang sedarah terdiri atas anak kandung, orang tua,
saudara, dan cucu. Ahli waris yang tidak sedarah, yaitu anak angkat,
janda/duda. Di daerah Cianjur, seorang anak angkat adalah ahli waris,
apabila pengangkatannya disahkan oleh pengadilan negeri.
Jenjang atau urutan ahli waris adalah: Pertama, anak/anakanak.
Kedua, orang tua apabila tidak ada anak, dan Ketiga, saudara/saudara
kalau tidak ada orang tua. Akan tetapi dari penelitian setempat tidak
diperoleh keterangan apakah adanya satu kelompok ahli waris akan
menutup hak ahli waris yang lain.
68

b) Kepunahan atau nunggul pinang
Ada kemungkinan seorang pewaris tidak mempunyai ahli
waris (punah) atau lazim disebut nunggul pinang. Menurut ketentuan
yang berlaku di daerah Kabupaten Bandung, Banjar, Ciamis, Kawali,
Cikoneng, Karawang Wetan, Indramayu, Pandeglang, apabila terjadi
nunggul pinang, barang atau harta peninggalan akan diserahkan
kepada desa. Selanjutnya desalah yang akan menentukan pemanfaatan
atau pembagian harta kekayaan tersebut. Di Pandeglang kalau pewaris
mati punah, harta warisan jatuh kepada desa atau mungkin juga pada
baitulmaal, masjid atau wakaf. Di daerah Kabupaten Cianjur,
kekayaan seorang yang meninggal tanpa ahli waris, selain diserahkan
kepada desa, mungkin diserahkan kepada baitulmaal atau kepada
orang tidak mampu. Di Kecamatan Kawali, selain diserahkan ke desa
dapat juga diserahkan kepada yayasan sosial.
Pengadilan Negeri Indramayu yang dikukuhkan oleh Pengadilan
Tinggi Jawa barat di Bandung, memutuskan:
“Apabila seseorang tidak mempunyai anak kandung, maka
keponakan-keponakannya berhak mewarisi harta peninggalannya yang
merupakan barang asal atau barang yang diperolehnya sebagai warisan
orang tuanya”. (PN. Indramayu tanggal 28 Agustus 1969,
No.36/1969/Pdt., PT. Jabar di Bandung tanggal 23 Januari 1971,
Nomor 507/ 1969/Perd/PTB”.
48


4. Anak angkat dan Perkawinan poligami dalam hukum
adat parental
a) Anak angkat
Pengadilan Negeri Indramayu dan Pengadilan Tinggi Jawa
Barat di Bandung pernah memutuskan, bahwa:

48
Yurisprudensi Jawa Barat (1969-1972) Buku I-Hukum Perdata, LPHKFH-UNPAD;
Bandung, 1974, h. 36,37.

69
"Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua
angkatnya, yang bukan barang asal atau barang warisan".
(PN.Indramayu tanggal 8 September 1969, No. 24/1969/Perd., P.T.
Bandung tanggal 14 Mei 1970, Nomor 511/l969/Perd).
49

b) Ahli waris dalam perkawinan poligami
Dalam hal si pewaris beberapa kali kawin dan meninggalkan
anak sah dari tiap perkawinan itu, maka harta peniggalan campur kaya
yang dikuasai oleh janda yang masih hidup terakhir tidak dibagikan
kepada semua anak dari tiap isteri (sehingga hanyalah anak yang sah
daripada janda yang bersangkutan, yang menjadi ahli waris harta
campur kaya yang ditinggalkan itu).
(PN Indramayu tanggal 15 September 1969 Nomor 23/1969/Pdt., PT
Bandung tanggal 29 Januari 1971, No. 218/1969/Perd/PTB).
50


c. Kehilangan hak mewaris

Ada kemungkinan terjadi, seorang pewaris mempunyai ahli
waris, tetapi ada di antara ahli waris atau seluruh ahli waris tersebut
kehilangan hak untuk mewarisi harta peninggalan pewaris. Dalam hal
kehilangan hak mewaris ini, bagi mereka yang beragama Islam,
nampak pengaruh ajaran Islam sangat menonjol.
Seorang ahli waris akan kehilangan hak mewaris karena alasan:
a) Ahli waris atau para ahli waris membunuh pewaris (Banjar,
Ciamis, Cikoneng, Leuwiliang, Cileungsi, Cianjur); atau
b) Ahli waris atau para ahli waris berpindah agama (Cisarua,
Leuwiliang, Cileungsi, Banjar, Ciamis, Cikoneng, Cianjur).
Di Cikoneng, selain karena alasan membunuh pewaris atau
pindah agama (murtad), seorang ahli waris dapat kehilangan hak

49
Ibid, h. 37.
50
Loc Cit.,h. 37.

70
mewaris karena alasan pegat waris. Di daerah Cianjur, seorang ahli
waris tidak akan kehilangan hak mewaris karena alasan tidak menurut
(bandel), atau karena melakukan perkawinan tanpa restu pewaris (teu
doa).
Perlu diperhatikan perbedaan antara kepunahan (nunggul
pinang) dengan kehilangan hak mewaris. Dalam kehilangan hak
mewaris, pewaris mempunyai ahli waris. Hanya karena alasan tertentu
ahli waris tidak berhak menerima harta peninggalan pewaris. Tetapi
kemungkinan terdapat persamaan akibat antara nunggul pinang
dengan kehilangan hak mewaris. Apabila ahli waris tunggal atau para
ahli waris dan mereka ini secara keseluruhan kehilangan hak mewaris,
maka harta peninggalan akan tetap tidak dibagi. Apakah dalam kasus
seperti ini, harta peninggalan tersebut dapat diserahkan kepada
lembaga atau badan-badan seperti: Desa, Baitulmaal, Yayasan Sosial,
dan sebagainya.

d. Penggantian tempat ahli waris
Dengan kekecualian pada daerah Cikoneng Kecamatan
Kertasemaya (Indramayu), lembaga (pranata) penggantian tempat
dikenal hampir di semua daerah penelitian. Penggantian tempat terjadi,
apabila seorang ahli waris meninggal terlebih dahulu dari si pewaris.
Seorang anak yang meninggal terlebih dahulu dari orang
tuanya, maka hak anak tersebut sebagai ahli waris dapat digantikan
oleh anaknya (cucu pewaris); (Leuwiliang, Cileungsi, Banjar, Ciamis,
Kawali, Cianjur, Bandung, Pandeglang, Karawang, Indramayu, dan
Bekasi). Dapat pula digantikan oleh saudara pewaris (Ciamis,
Cianjur, Banjar, Cisarua, Kawali). Di Karanganyar (Kecamatan
Indramayu) cucu pewaris dari anak perempuan tidak bisa
menggantikan tempat ibunya.
Lembaga (pranata) penggantian tempat semacam ini,
tidak dikenal di daerah Kecamatan Cikoneng. Di daerah Cianjur,
71
Bandung, Kecamatan Karawang, Pandeglang, Tulungagung, Kliwed
Kecamatan Kertasemaya-Indramayu, ada kemungkinan seorang anak
(sebagai cucu pewaris) tidak menggantikan tempat orang tua
(Bapak/Ibu mereka) sebagai ahli waris pengganti. Tetapi seorang cucu
menerima bagian berdasarkan rasa kasih sayang dari para ahli waris
yang ada (saasihna).
Penggantian tempat selalu dikaitkan dengan ahli waris
yang meninggal terlebih dahulu dari pewaris. Apakah penggantian
tempat ini dapat juga terjadi apabila seorang ahli waris karena satu dan
lain hal kehilangan hak mewaris, sehingga kedudukannya sebagai ahli
waris dapat digantikan oleh anaknya (cucu pewaris).

e. Penetapan Ahli Waris
Ada beberapa yurisprudensi mengenai masalah penetapan
ahli waris. Putusan-putusan Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi
Jawa Barat di Bandung, Pengadilan Negeri Indramayu, Pengadilan
Negeri Purwakarta, dan Pengadilan Negeri Pandeglang, pada
prinsipnya menyatakan, bahwa suatu gugatan penetapan ahli waris
dapat dikabulkan apabila tergugat mengakui atau tidak membantah
atau tidak menyangkal penggugat sebagai ahli waris.
51


E. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan

1. Tata cara membagi harta warisan
Pelaksanaan pembagian warisan tergantung pada
hubungan dan sikap para ahli waris. Pembagian warisan mungkin
terjadi dalam suasana tanpa sengketa atau sebaliknya dalam suasana
persengketaan di antara para ahli waris.
Dalam suasana tanpa persengketaan, suasana persaudaraan
dengan penuh kesepakatan, pelaksanaan pembagian waris dilakukan

51
Ibid, h. 36.

72
dengan cara :
a) Musyawarah antara sesama ahli waris/keluarga (Leuwiliang,
Kabupaten Bandung, Cianjur, Ciamis, Indramayu, Karawang,
Pandeglang); atau
b) Musyawarah antara sesama ahli waris dengan disaksikan
oleh sesepuh desa (Leuwiliang, Kabupaten Bandung, Banjar,
Kawali, Cikoneng, Pandeglang, Indramayu).
Di Karawang dan Indramayu musyawarah antara ahli waris
dengan disaksikan pamong desa ditambah kyai. Di desa
Pelembonsari (Kecamatan Karawang) saksinya adalah
"kokolot". Di Desa Adiarsa, Plawad, Karawang Wetan,
Tunggakjati (Karawang) saksinya adalah "kokolot lembur".
Sebaliknya, apabila suasana persengketaan mengiringi
pembagian itu, maka pelaksanaan pembagian dilakukan
dengan cara:
a) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh
sesepuh desa (Leuwiliang); atau
b) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh
pamong desa (Cisarua, Jasinga, Depok, Indramayu,
Karawang, Pandeglang), Di daerah Cisarua, Depok, Cikalong
Kulon, Indramayu, Karawang, apabila terjadi sengketa waris,
penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kebiasaan (hukum
adat) dan/atau hukum Islam. Di Jatibarang, Bulak, Palangsari
(Kecamatan Jatibarang-Indramayu) oleh sesepuh desa
biasanya ditawarkan kepada yang bersangkutan apakah akan
diselesaikan berdasarkan Hukum Adat atau Hukum Islam.
Di Juntinyuat, Juntikebon, Dadap (Indramayu), yang dipakai
sebagai pegangan dalam penyelesaian waris ini adalah
Hukum Islam.
c) Di Kabupaten Bandung, Pandeglang, Karawang, Indramayu,
selain bantuan dari pamong desa, juga dimintakan bantuan
73
ulama. Apabila usaha-usaha permusyawaratan ini gagal, baru
diajukan ke pengadilan. Sepanjang mengenai tanah/sawah,
akan selalu menghubungi desa untuk keperluan balik nama.
Di daerah Banjar, Kawali, Cikoneng, dan Cianjur selain
bantuan pamong desa, permusyawaratan tersebut mungkin
dipimpin seorang sesepuh desa.

2. Saat Pembagian Warisan
Tidak ada kepastian waktu mengenai harta warisan harus
dibagikan. Di daerah Cianjur, Kabupaten Bandung, Banjar, Ciamis,
Pandeglang, Indramayu, terdapat kebiasaan. bahwa harta warisan tidak
akan dibagikan selama anak/anak-anak pewaris belum dewasa. Di
Menes (Kecamatan Menes Pandeglang), dalam hal ahli waris masih
belum dewasa dapat saja dilaksanakan pembagian harta warisan ini
karena ada wali atas anak belum dewasa tersebut.
Di beberapa daerah, dijumpai praktik, saat pembagian warisan
tersebut ditentukan berdasarkan lamanya pewaris meninggal. Di
Kabupaten Bandung, Kecamatan Ciamis, Cikoneng, Kawali, Banjar,
Indramayu, Karawang, dan Pandeglang pembagian harta warisan
biasanya dilakukan pada hari ke 40 (empat puluh) atau hari ke100
(seratus) sejak pewaris meninggal dunia.

3. Besarnya bagian yang diterima ahli waris
a) Anak/anak-anak
(1) Anak Kandung,
Di daerah Kabupaten Bandung, Kecamatan Lohbener,
Juntinyuat, Kertasemaya, Jatibarang (Indramayu),
Telukjambe, Adiarsa, Telagasari, Ratujaya (Karawang),
tidak ada perbedaan antara anak kandung laki-laki dan
anak kandung perempuan. Baik anak laki-laki maupun
anak perempuan akan menerima jumlah yang sama besar
74
dalam setiap pembagian warisan. Sedangkan di daerah
Kabupaten Cianjur, ada perbedaan jumlah yang diterima
anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan. Di
Cianjur dan Pandeglang berlaku prinsip satanggungan
saaisan antara anak laki-laki dan anak perempuan akan
menerima dalam perbandingan 2 : 1. Ketentuan seperti
yang terdapat di Cianjur, dijumpai pula di Cikoneng,
Kecamatan Indramayu, Jatibarang, Cilamaya, Teluk
Buyung. Di daerah Kecamatan Banjar, Ciamis, dan
Kawali, terdapat dua kemungkinan, yaitu: setiap anak
kandung akan menerima jumlah yang sama, tetapi
terdapat juga praktik satanggungan saaisan seperti di
Cianjur dan Cikoneng.
Apabila para ahli waris, baik seluruh maupun sebagian
dari mereka belum dewasa, dijumpai beberapa praktik,
yaitu:
a) Di daerah Kabupaten Bandung dan Banjar, apabila
para ahli waris belum dewasa biasanya harta warisan
terkumpul pada satu tangan dipegang oleh bibi atau
paman atau saudara yang sudah dewasa;
b) Di daerah Ciamis, Cikoneng, dan Kawali, anak/anak-
anak yang belum dewasa akan menerima haknya pada
saat pembagian warisan. Kemudian masing-masing
dari mereka memijah kuasanya (paman/ bibi/ nenek).

(2) Anak-anak angkat, tiri, dan anak tidak sah
a) Anak angkat
Di daerah-daerah Kabupaten Bandung, Cianjur, Banjar,
Pandeglang, Karawang, Indramayu, dan Ciamis, anak
angkat tidak dipandang sebagai ahli waris yang
mempunyai hak penuh atas warisan orang tua angkatnya.
75
Anak angkat akan menerima bagian harta peninggalan
orang tua angkat sapamere atau saasihna. Di Saruni,
Karaton (Kecamatan Pandeglang), anak angkat dianggap
sebagai ahli waris jika ditetapkan dengan akta pengadilan
negeri. Sedangkan di Cianjur seorang anak angkat yang
ditetapkan dengan akta notaris, baru dianggap sebagai
ahli waris. Baik di daerah Cianjur maupun di daerah
Kabupaten Bandung, demikian pula di daerah Banjar,
Ciamis, Kawali, seorang anak angkat tetap merupakan
ahli waris dari orang tua kandung. Oleh karena itu,
pengangkatan anak sama sekali tidak memutuskan
kedudukanya sebagai ahli waris dari orang tua
kandungnya. Anak angkat di daerah Kawali dan
Cikoneng, mempunyai kedudukan yang berbeda dengan
di daerah-daerah tersebut di atas. Di kedua daerah ini,
dijumpai ketentuan, bahwa anak angkat akan menerima
bagian dari harta peninggalan orang tua angkatnya sama
besar dengan anak kandung dari orang-orang tua angkat
tersebut. Dalam hal ada wasiat atau hibah, anak angkat
akan menerima bagian sesuai dengan bunyi wasiat atau
hibah, dengan ketentuan tidak melebihi dari seluruh
harta peninggalan (Kawali).
Dalam hubungan hak anak angkat atas
harta peninggalan orang tua angkatnya, terdapat beberapa
yurisprudensi berikut ini:
52

(1) “Menurut Hukum Adat Jawa Barat seorang anak
angkat (anak kukut) hanya berhak atas harta guna
kaya kedua orang tua angkatnya”.
(PT. Bandung tanggal 6 Mei 1971 No. 80/Perd/PTB,

52
Yurisprudensi Jawa Barat; Loc . Cit., h. 40.

76
MA tanggal 30 Oktober 1971, No. 637 K/Sip/1971).
(2) “Anak angkat berhak atas barang gono-gini orang tua
angkatnya”. (PN. Ciamis tanggal 22 Februari 1968,
No.16/1967/Sip/Cms. PT. Bandung tanggal 9
Oktober 1970, No. 252/1969/Perd/PTB, MA tanggal
30 Oktober 1971 No.637 K/Sip/1971).
(3) “Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan
orang tua angkatnya, yang bukan barang asal atau
barang warisan”. (PN Indramayu tanggal 8
September 1969 No. 24/1969/Perd. PT. Bandung
tanggal 14 Mei 1970 No.511 /1969/Perd/ PTB).
(4) “Apabila baik anak angkat maupun janda telah
pernah mendapat hibah dari pewaris, maka lebih adil
apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan
bagian anak angkat, jika pewaris tak meninggalkan
anak kandung”. (PT Bandung tanggal 14 Mei 1970,
No.215 /1969/Perd. MA tanggal 24 Maret 1971 No.
60 K/Sip/1970).

b) Anak tiri
Sama halnya dengan anak angkat, seorang anak tiri akan
menerima bagian dari harta peninggalan orang tua tirinya
sapamerena / saasihna (Bandung, Cianjur). Hal yang
sama terdapat di daerah Banjar, Ciamis, Cikoneng, dan
Kawali. Di Indramayu anak tiri dengan istilahnya “anak
kawalon”, hanya mendapat bagian dari gawan orang tua
kandungnya. Di Karawang hanya mewaris dari orang tua
kandungnya.

c) Anak tidak sah
Di daerah-daerah dalam Kabupaten Bandung, Karawang,
77
Indramayu, anak tidak sah adalah ahli waris ibu
kandungnya dan tidak dari bapak pembangkitnya. Tetapi
di sini tidak dijumpai penjelasan bagaimanakah
kedudukan seorang anak tidak sah tersebut terhadap
bapak pembangkitnya, apabila kemudian ibunya menikah
secara sah dengan bapak pembangkitnya. Di daerah
Kabupaten Cianjur dalam hal ibu seorang anak tidak sah
kemudian menikah secara sah dengan bapak
pembangkitnya, maka hak untuk mendapat bagian
tergantung kepada kebijaksanaan anak/anak-anak sah
(saudara anak tidak sah tersebut).
Tetapi satu pertanyaan perlu dijawab, bagaimanakah
seandainya dari perkawinan ibu anak tidak sah tersebut
dengan bapak pembangkitnya tidak lahir (tidak ada) anak
sah? Di Kecamatan Banjar, Ciamis, Cikoneng, dan
Kawali, anak tidak sah tidak mewarisi bersama-sama
anak sah, baik bapak pembangkitnya menikah dengan
ibunya maupun tidak.

d) Hak Janda / Duda
Dalam lingkungan Kabupaten Cianjur, dengan
kekecualian di Desa Cibeber, seorang janda/duda akan
menerima bagian sama besar dengan seorang anak. Di
desa Cibeber, besarya bagian yang diterima janda/duda
adalah dari harta peninggalan suami/isteri. Dalam hal
tidak ada anak, di Kecamatan Ciranjang semua harta
guna kaya jatuh pada janda/duda. Sedangkan mengenai
harta asal, akan kembali pada asal harta tersebut.
Di daerah-daerah dalam lingkungan Kabupaten Bandung
hak seorang janda/duda diatur sebagai berikut;
(1) Harta asal
78
Kalau ada anak, seluruh harta asal jatuh kepada
anak/anaknya. Kalau tidak ada anak/anak-anaknya, harta
asal kembali ke asal. Janda/duda tidak berhak menerima
bagian harta asal.
(2) Harta bersama
Janda/duda berhak mendapat ½ dari harta bersama.
Dalam hal harta bersama tidak mencukupi, janda dapat
menguasai harta asal suaminya sampai ia menikah lagi
atau meninggal. Apakah hak janda untuk menahan harta
asal suami berlaku juga untuk duda? (Artinya, apakah
duda juga dapat menguasai harta asal isteri?).
Di Kecamatan Banjar, terdapat praktik yang sama seperti
di daerah Kabupaten Bandung. Di Banjar, seorang
janda/duda berhak atas ½ dari harta bersama. Di Ciamis
dan Cikoneng, seorang janda/duda akan menerima
sapamerena / saasihna. Di Kecamatan Kawali dalam hal
ada anak, janda/duda akan menerima . Sedangkan kalau
tidak ada anak, janda/duda berhak atas ½ dari harta
bersama. Hal yang sama berlaku juga di Cikoneng.
Mengenai harta asal di Kecamatan Banjar, Cikoneng, dan
Ciamis akan kembali ke asal. Sedangkan di Kecamatan
Kawali, dimungkinkan harta asal tersebut tetap dikuasai
janda/duda sampai terjadi perubahan kedudukan
janda/duda (menikah lagi) atau meninggal. Di Karawang
tidak ada ketentuan mengenai besarnya bagian seorang
janda. Di beberapa tempat, seperti di Telukjambe,
Cilamaya. Batujaya, Karawang, Telagasari, besarnya
bagian janda sama dengan bagian anak. Di Tegalwaru
(Cilamaya) Kuta Pohaci (Telukjambe) bagian janda ialah
dari harta warisan, di Telukbuyung (Batujaya) 1/6
(seperenam) atau (seperdelapan).
79
Di Batujaya apabila suami membeli sesuatu barang atas
nama si suami, maka barang tersebut akan jatuh pada
anak, kalau barang tersebut dibeli atas nama isteri, maka
barang tersebut akan jatuh pada janda.
Di Indramayu di Kecamatan Lohbener dan Indramayu
harta asal dikuasai oleh janda apabila tidak ada anak.
Sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan jatuh
pada anak. Di Juntinyuat, Jatibarang, Kecamatan
Indramayu harta asal kembali ke asalnya kalau tidak ada
anak, sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan
jatuh kepada anak.
Di desa Keraton (Pandeglang), seorang
janda/duda bukan ahli waris. Sedangkan di desa Cilaja
(Kecamatan Pandeglang) janda/duda dianggap bukan ahli
waris bilamana ada anak laki-laki.
Pada semua daerah penelitian terdapat persamaan bahwa
lamanya perkawinan tidak berpengaruh atas bagian yang
harus diterima janda/ duda.
Dalam hubungan dengan hak janda atas harta
peninggalan suaminya, dapat dijumpai beberapa
yurisprudensi. antara lain.
53


1) Hak waris janda dan anak
“Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Juli
1962 No. 26 K/SIP/1963, barang asal dari peninggalan
warisan harus dibagi sama rata antara anak-anak dan
janda-janda pewaris".
(PN Cianjur tanggal 29 Januari 1971 No. 218
/1969/Perd/PTB).

53
Ibid, h. 39-40

80

2) Hak seorang janda atas harta asal suaminya
"Menurut yurisprudensi tetap dari Mahkamah Agung
seorang janda berhak atas harta asal dari suaminya
sebagai nafkah untuk kelangsungan hidupnya dan apabila
diadakan pembagian waris, bagian seorang janda setidak-
tidaknya adalah disamakan dengan bagian seorang anak".
(PT Bandung tanggal 6 Mei 1971 No.
80/1970/Perd/PTB.MA tanggal 1 Desember 1971 No.
941 K/Sip/1971).

3) Hak waris janda setengah diberi hibah
"Apakah baik anak angkat maupun janda telah pernah
mendapat hibah dari pewaris, maka lebih adil apabila
bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak
angkat, jika pewaris tak meninggalkan anak kandung".
(PT Bandung tanggal 14 Mei 1970 No.
215/1969/Perd/PTB. MA tanggal 24 Maret 1971 No. 60
K/Sip/1970).

4) Hak waris janda atas harta campur kaya
"Barang-barang campur kaya hanya diwaris oleh janda
dan anak si pewaris". (PN Indramayu tanggal 15
September 1969 No.23/1969/Pdt, PT Bandung tanggal 29
Januari 1971 No. 218/1969/Perd/PTB).

Dari berbagai putusan Pengadilan di atas, selain
menampakkan adanya keserasian antara perkembangan
hukum adat dalam proses pewarisan dengan hukum adat
yang hidup dalam masyarakat, dirasa masih perlu untuk
memperoleh ketegasan atas hal-hal berikut :
81
1) Hak Janda atas harta campur kaya
Harta campur kaya atau gono-gini adalah harta bersama
atau milik bersama (community property). Jadi, seorang
isteri atau suami merupakan pemilik dari sebagian
(misalnya separo) dari keseluruhan harta tersebut.
Berakhirnya suatu perkawinan baik karena meninggal,
perceraian maupun putusan hakim akan membawa
konsekuensi pecahnya harta bersama.
Masing-masing pihak akan menerima bagian menurut
kesepakatan atau hukum yang berlaku. Dalam Hukum
Adat di Jawa Barat pada umumnya, masing-masing akan
menerima separo dari harta campur kaya (50 : 50).
Apabila salah satu pasangan meninggal, ia tidak
meninggalkan seluruh harta campur kaya (100%). Sebab
harta peninggalan pewaris hanya sebagian saja (misalnya
50%) dari seluruh harta campur kaya. Sedangkan
sebagian lagi, adalah hak pasangan yang masih hidup
dalam kedudukan sebagai pemegang sebagian hak atas
harta campur kaya.
Jadi, dalam hal ini sebenarnya pasangan yang masih
hidup tidak atau belum menerima warisan dari
suami/isteri yang meninggal itu. Kalau pasangan yang
masih hidup itu dipandang sebagai ahli waris suami/isteri
atau setidak-tidaknya berhak atas harta peninggalan
suami/isteri, hak itu adalah atas harta guna kaya yang
menjadi hak suami (50% ).
Secara konkrit, konstruksi di atas akan nampak sebagai
berikut :
(a) Kalau salah satu pasangan meninggal, maka
pertama-tama diadakan pembagian harta campur
kaya. Pasangan yang masih hidup akan menerima
82
bagian sebagai pemilik atas sebagian harta campur
kaya;
(b) Setelah pasangan yang masih hidup menerima bagian
tersebut huruf (a) di atas, sisa pembagian itu yang
merupakan hak pasangan yang meninggal adalah
harta peninggalan (warisan) dari yang meninggal;
(c) Dalam bagian yang menjadi hak yang meninggal
baru dapat dikatakan isteri/suami yang masih hidup
mempunyai hak/tidak atas harta peninggalan
suami/isteri;
d) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan
berhak atas harta peninggalan harta guna kaya yang
menjadi bagian dari pasangan yang meninggal,
berarti pasangan yang masih hidup akan menerima
lebih besar dari para ahli waris lain atas keseluruhan
harta campur kaya itu. Oleh karena selain menerima
bagian yang menjadi haknya sebagai pemilik
bersama harta campur kaya, akan menerima juga
bagian harta guna kaya yang menjadi hak pasangan
yang meninggal (pewaris). Dan dalam proses inilah
sesungguhnya kedudukan janda sebagai ahli waris
atau bukan ahli waris.
e) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan
hanya berhak atas sebagian dari seluruh harta campur
kaya (misalnya 50%), maka sesungguhnya dia bukan
ahli waris atau dia sesunguhnya tidak berhak atas harta
campur kaya peninggalan suami/isteri yang meninggal.
Karena apa yang diterima dari harta campur kaya itu
bukan karena kedudukannya sebagai janda atau ahli
waris, tetapi semata-mata karena dia adalah pemilik
atau pemegang hak atas sebagian dari harta campur
83
kaya.

2) Dari yurisprudensi di atas, seyogianya pengertian
janda tidak terbatas pada janda perempuan melainkan
juga berlaku pula bagi janda/laki-laki atau lazim
dikenal dengan sebutan duda. Hal ini didasarkan
kepada salah satu asas pokok dalam hukum
kekeluargaan adat yaitu kesederajatan antara suami
dan isteri.

4. Hutang Pewaris
Para ahli waris bertanggung jawab untuk melunasi hutang-
hutang pewaris. Pada tahap pertama, hutang-hutang pewaris dilunasi
dengan harta peninggalannya. Karena itu, harta peninggalan pewaris
baru akan dibagi setelah semua hutang-hutang tersebut dilunasi. Biaya
penguburan merupakan salah satu hutang yang harus diutamakan
pelunasannya. Di desa Gununghalu Kabupaten Bandung, Banjar,
Ciamis, dan Cikoneng apabila harta peninggalan pewaris tidak
mencukupi untuk melunasi hutang-hutangnya, maka hibah yang telah
diberikan ketika pewaris masih hidup dapat ditarik kembali untuk
melunasi hutang-hutangnya. Sedangkan di desa-desa Sukamah dan
Langensari (keduanya di Kabupaten Bandung), Cianjur, dan Kawali,
hibah yang telah diberikan tidak dapat ditolak kembali untuk melunasi
hutang-hutang pewaris.

5. Mengesampingkan ahli waris
Kecuali dalam kehilangan hak untuk mewaris (lihat tentang ahli
waris), baik oleh pewaris maupun oleh sebagian ahli waris. Apabila
hal ini terjadi, ahli waris yang bersangkutan dapat menuntut
dipulihkan hak-haknya sebagai ahli waris (lihat yurisprudensi tentang
ahli waris).
84

F. Ihtisar

Bahwa hukum waris yang berlaku di Indonesia hingga saat ini
masih bersifat pluralistik. Artinya, bermacam-macam sistem hukum
waris di Indonesia berlaku bersama-sama, dalam waktu dan wilayah
yang sama pula. Hal itu terbukti dengan masih berlakunya Hukum
Waris Adat, Hukum Waris Islam, dan Hukum Waris BW secara
bersama-sama, berdampingan mengatur hal waris bagi para subjek
hukum yang tunduk pada masing-masing sistem hukum tersebut. Di
samping itu khusus dalam bidang hukum adat juga masih
menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan pengaturan hukum waris.
Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan sistem kekeluargaan yang
dianut dan terdapat di dalam masyarakat Indonesia, yaitu sistem
patrilineal, matrilineal, bilateral atau parental, dan sistem kekeluargaan
yang lainnya yang mungkin ada sebagai hasil paduan serta variasi dari
ketiga sistem tersebut. Prinsip-prinsip kekeluargaan sangatlah
berpengaruh, terutama terhadap penetapan ahli waris maupun dalam
hal penetapan bagian harta peninggalan yang akan diwarisi.
Pada dasarnya, baik menurut sistem Hukum Waris Adat, sistem
Hukum Waris Islam, maupun Hukum Waris BW, proses pewarisan itu
terjadi disebabkan oleh meninggalnya seseorang dengan meninggalkan
sejumlah harta kekayaan, baik yang materiil maupun immaterial,
dengan tidak dibedakan antara barang bergerak dengan barang tidak
bergerak. Ketiga sistem hukum waris di atas, sampai saat ini
keberlakuannya masih bergantung pada hukum mana yang berlaku
bagi si pewaris atau orang yang meninggal dunia dasn meninggalkan
warisan. Artinya, apabila pewaris atau orang yang meninggal dunia
dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan itu termasuk Warga
Negara Indonesia Asli, maka yang berlaku adalah hukum waris Adat,
atau dalam hal-hal tertentu apabila dikehendaki, maka berlaku pula
85
Hukum Waris Islam bagi mereka yang beragama Islam. Apabila
pewaris termasuk golongan Warga Negara Indonesia keturunan Eropa
atau Timur Asing Tionghoa, terhadap mereka diberlakukan Hukum
Waris BW.
Di samping itu jika pewaris termasuk golongan Warga Negara
Indonesia Asli, selanjutnya masih harus ditentukan termasuk
lingkungan Hukum Adat yang manakah orang tersebut sehingga dalam
menentukan pembagian warisannya harus diberlakukan hukum waris
adat yang mana, apakah Hukum Adat waris Batak, Hukum Adat waris
Minangkabau, ataukah Hukum Adat waris Jawa Barat.
Meskipun menurut ketiga sistem hukum waris yang berlaku
proses pewarisan itu terjadi oleh peristiwa hukum yang sama yaitu
kematian seseorang, akan tetapi perbedaannya pun nampak di sana-
sini, antara lain dalam hal wujud harta peninggalan yang dapat
diwarisi oleh para ahli waris. Berkaitan dengan hal ini, Hukum Adat
sama dengan Hukum Islam yaitu bahwa harta benda peninggalan
pewaris yang dapat diwarisi oleh para ahli waris adalah harta benda
dalam keadaan bersih. Artinya, para ahli waris hanya berhak terhadap
peninggalan pewaris setelah dikurangi dengan pembayaran-
pembayaran hutang serta segala sesuatu kewajiban pewaris yang
belum sempat dilakukannya semasa pewaris hidup. Berbeda dengan
Hukum Waris BW dimana harta peninggalan yang dimaksudkan
adalah seluruh hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta
kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. Maksudnya, yang dapat
diwarisi oleh para ahli waris tidak hanya aktiva berupa hak-hak yang
bermanfaat, melainkan juga segala hutang-hutang atau pasiva beserta
seluruh kewajiban pewaris yang belum sempat dipenuhi olehnya
sewaktu masih hidup.
Oleh karena itu, di dalam hal pembagian harta warisan,
mencermati ketiga sistem hukum yang dikenal di Indonesia, ternyata
terdapat perbedaan yang sangat prinsipil antara Hukum Waris Islam di
86
satu pihak dengan Hukum Waris Adat dan Hukum Waris BW di lain
pihak. Sebagai contoh umpamanya, menurut ketentuan dalam
Hukum Waris Islam anak laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat
dari bagian anak perempuan. Sedangkan menurut Hukum Waris Adat
dan Hukum Waris BW anak laki-laki dan anak perempuan sebagai ahli
waris bagian mereka tidak dibedakan. Jadi bagian anak perempuan
sama besar dengan bagian anak laki-laki.
Pada sisi lainnya, apabila terdapat anak angkat, menurut Hukum
Adat, anak angkat hanya akan mewarisi harta gono-gini bersama-sama
dengan ahli waris yang lainnya. Anak angkat tidak berhak atas harta
asal dari orangtua angkatnya sebab ia juga akan menjadi ahliwaris dari
orang tua kandungnya. Jadi dalam Hukum Adat dikenal sebutan
bahwa anak angkat memperoleh air dari dua sumber sebab di samping
sebagai ahli waris orang tua kandungnya, ia juga menjadi ahli waris
atas harta gono-gini dari orang tua angkatnya. Mengenai anak angkat
ini, Hukum Adat berbeda dengan Hukum Islam dan Hukum perdata
BW. Hukum waris Islam dan Hukum perdata waris BW tidak
mengenal anak angkat, sehingga dalam Hukum Waris Islam dan
Hukum Waris BW tidak dikenal anak angkat sebagai ahli waris.
Demikian pula berkenaan dengan kedudukan janda menurut
Hukum Islam berbeda dengan kedudukan duda, sebab janda sebagai
ahli waris dari mendiang suaminya hanya memperoleh
(seperdelapan) bagian dari harta warisan almarhum suaminya jika
terdapat anak-anak. Sedangkan apabila tidak terdapat anak, maka
bagian janda menjadi ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan.
Adapun bagian duda sebesar ¼ (seperempat) bagian dari harta
peninggalan jika terdapat anak, dan ½ (setengah) bagian dari harta
peninggalan jika tidak terdapat anak. Berbeda dengan Hukum Adat
dan Hukum perdata BW yang menempatkan kedudukan janda dan
duda dalam posisi yang sama sebagai ahli waris dari yang meninggal
lebih dahulu.
87
Anak yang lahir di luar perkawinan atau dinamakan “natuurlijk
kind”,
54
baik menurut Hukum Adat maupun menurut Hukum Islam
hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya. Oleh karena itu,
anak tersebut hanya mewaris dari ibunya. Sedangkan menurut Hukum
perdata BW anak yang lahir di luar perkawinan terdapat dua
kemungkinan yaitu: (1) anak di luar perkawinan yang diakui selaku
anak (erkenning);
55
dan (2) anak di luar perkawinan yang tidak diakui.
Anak yang lahir di luar perkawinan yang diakui selanjutnya menjadi
ahli waris dari orang tua yang mengakuinya. Sedangkan anak yang
lahir di luar perkawinan yang tidak diakui, tidak dapat menjadi ahli
waris sebab ia tidak mempunyai hubungan hukum apa pun dengan
orang yang melahirkannya sekali pun.
Anak yang lahir di luar perkawinan yang tidak diakui adalah
anak yang lahir dari perbuatan “zinah” (overspel). Hal itu disebabkan
undang-undang tidak membolehkan pengakuan terhadap anak-anak
yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel). Disamakan dengan
anak yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel) adalah “anak
sumbang”, yaitu anak yang lahir dari hubungan antara dua orang yang
dilarang untuk menikah karena masih sangat erat hubungan
kekeluargaannya.
Sedangkan yang dimaksud dengan “zinah” (overspel) menurut

54
Lihat R. Subekti, Pokok-Pokok…Op. Cit., h. 41.
55
Barulah dengan pengakuan terbit suatu pertalian kekeluargaan dengan orang tua yang
mengakuinya. Akan tetapi suatu hubungan kekeluargaan antara anak dengan keluarga
si ayah atau ibu yang mengakuinya belum juga ada. Hubungan itu hanya dapat
diletakan dengan “pengesahan” anak atau “wettiging” sebagai langkah lebih lanjut
dari pengakuan. Untuk dapat melakukan pengesahan, maka diperlukan syarat kedua
orang tua yang telah mengakui anaknya itu harus kawin secara sah. Lihat R. Subekti,
Pokok-Pokok…Loc. Cit.








88
BW adalah hubungan suami isteri yang dilakukan oleh dua orang
manusia yang salah satu dari mereka terikat dalam perkawinan dengan
orang lain. Kedua macam anak yang disebutkan di atas, yaitu anak
yang dilahirkan dari perbuatan zinah dan anak sumbang, tidak berhak
mewarisi harta benda apa pun dari orang tua yang melahirkannya, atau
orang tua yang membenihkannya. Akan tetapi ia berhak untuk
memperoleh sekedar nafkah yang cukup untuk hidup, meskipun
nafkah itu juga besarnya ditentukan menurut kekayaan ayah atau
ibunya serta jumlah dan keadaan para ahli waris yang sah.
Dengan demikian, tuntutan seorang anak semacam itu terhadap
nafkah yang seharusnya ia peroleh, bukanlah suatu tuntutan sebagai
ahli waris melainkan tuntutan dari orang yang statusnya sebagi
seorang yang berpiutang.

















89
·-·¬~ ¬·:~¬ ·-·¬~ ¬·:~¬ ·-·¬~ ¬·:~¬ ·-·¬~ ¬·:~¬
·. ·. ·. ·.
¬·:~¬ ~·~ ¬·:~¬ ~·~ ¬·:~¬ ~·~ ¬·:~¬ ~·~

A. Pengertian Pokok Hibah
1. Pengertian Hibah
Hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada
pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup dan pelaksanaan
pembagiannya biasanya dilakukan pada waktu penghibah masih hidup
juga.Biasanya pemberian-pemberian tersebut tidak akan pernah dicela
oleh sanak keluarga yang tidak menerima pemberian itu, oleh kerena
pada dasarnya seseorang pemilik harta kekayaan berhak dan leluasa
untuk memberikan harta bendanya kepada siapa pun.
Sebenarnya hibah ini tidak termasuk materi hukum waris
melainkan termasuk hukum perikatan yang diatur di dalam Buku
Ketiga Bab kesepuluh Burgerlijk Wetboek (BW). Di samping itu, salah
satu syarat dalam hukum waris untuk adanya proses pewarisan adalah
adanya seseorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan
sejumlah harta kekayaan. Sedangkan dalam hibah, seseorang pemberi
hibah itu masih hidup pada waktu pelaksanaan pemberian.
Berkaitan dengan hibah ini, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
a. Hibah yaitu perjanjian sepihak yang dilakukan oleh penghibah
ketika hidupnya untuk memberikan sesuatu barang dengan
cuma-cuma kepada penerima hibah;
b. Hibah harus dilakukan antara orang yang masih hidup;
c. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris, apabila tidak
dengan akta notaris, maka hibah batal;
4
90
d. Hibah antara suami isteri selama dalam perkawinan dilarang,
kecuali jika yang dihibahkan itu benda-benda bergerak yang
harganya tidak terlampau mahal.
2. Hibah menurut Hukum Islam
Hukum Islam memperbolehkan seseorang memberikan atau
menghadiahkan sebagian atau seluruhnya harta kekayaan ketika masih
hidup kepada orang lain yang disebut ”intervivos”.
56
Pemberian
semasa hidup itu lazim dikenal dengan sebutan ”hibah”. Di dalam
Hukum Islam jumlah harta seseorang yang dapat dihibahkan itu tidak
terbatas. Berbeda halnya dengan pemberian seseorang melalui surat
wasiat yang terbatas pada sepertiga dari harta peninggalan yang bersih.
Berkaitan dengan persoalan hibah tersebut di atas, Asaf A. A.
Fyzee dalam bukunya ”Pokok-pokok Hukum Islam II” memberikan
rumusan hibah sebagai berikut: ”Hibah adalah penyerahan langsung
dan tidak bersyarat tanpa pemberian balasan”.
57
Selanjutnya diuraikan
bahwa Kitab Durru’l Muchtar memberikan definisi hibah sebagai
”pemindahan hak atas harta milik itu sendiri oleh seseorang kepada
orang yang lain tanpa pemberian balasan.
Terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi dalam hal melakukan
hibah menurut Hukum Islam ini, yaitu sebagai berikut:
a. Ijab, yaitu pernyataan tentang pemberian tersebut dari pihak
yang memberikan;
b. Qabul, yaitu pernyataan dari pihak yang menerima pemberian
hibah itu;
c. Qabdlah, yaitu penyerahan milik itu sendiri, baik dalam bentuk
yang sebenarnya maupun secara simbolis.
Hibah dalam Hukum Islam dapat dilakukan baik secara tertulis
maupun lisan, bahkan telah ditetapkan dengan tegas bahwa ”dalam
Hukum Islam, pemberian berupa harta tidak bergerak dapat dilakukan

56
Asaf A.A. Fayzee, Pokok-pokok Hukum Islam II. Jakarta: Tintamas, 1961, h. 1.
57
Ibid., h. 2.
91
dengan lisan tanpa mempergunakan suatu dokumen tertulis”. Akan
tetapi jika selanjutnya dikehendaki bukti-bukti yang cukup tentang
terjadinya peralihan hak milik, maka pemberian itu dapatlah
dinyatakan dalam bentuk tulisan. Jika pemberian tersebut dilakukan
dalam bentuk tertulis bentuk tersebut terdapat dua macam, yaitu:
a. Bentuk tertulis yang tidak perlu didaftarkan, jika isinya hanya
menyatakan telah terjadinya pemberian;
b. Bentuk tertulis yang perlu didaftarkan, jika surat itu merupakan
alat dari penyerahan pemberian itu sendiri. Artinya, apabila
pernyataan dan penyerahan benda yang bersangkutan
kemudian disusul oleh dokumen resmi tentang pemberian,
maka yang demikian itulah yang harus didaftarkan.
Hibah dengan syarat dan hibah yang digantungkan pada suatu
kejadian yang tertentu, adalah tidak sah. Yang dimaksud dengan hibah
bersyarat adalah suatu pemberian yang diserahkan dengan ketentuan
bahwa yang diberi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.
Misalnya: A akan memberikan rumahnya kepada B, jika B membantu
pekerjaan A. Pemberian atau hibah semacam ini menurut Hukum
Islam adalah batal.
Yang dimaksud dengan hibah yang tergantung pada suatu
kejadian, yaitu pemberian yang hanya akan terjadi apabila hal-hal
yang telah ditetapkan terlebih dahulu betul-betul terjadi. Misalnya:
Jika A meninggal dunia, rumah A menjadi milik B. Dalam hal ini jadi
atau tidaknya rumah A itu dimiliki oleh B sangat tergantung pada
suatu kejadian di masa datang yang tidak pasti, sebab di sini belumlah
dapat dipastikan bahwa pihak yang diberi akan berusia lebih panjang
dari pihak yang memberi, sehingga hibah semacam ini batal.
Seseorang yang hendak menghibahkan sebagian atau seluruh
harta kekayaannya semasa hidupnya, dalam Hukum Islam harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Orang tersebut harus sudah dewasa;
92
b. Harus waras akan pikirannya;
c. Orang tersebut harus sadar dan mengerti tentang apa yang
diperbuatnya;
d. Baik laki-laki maupun perempuan dapat melakukan hibah;
e. Perkawinan bukan merupakan penghalang untuk melakukan
hibah.
Tidaklah terdapat persyaratan tertentu bagi pihak yang akan
menerima hibah, sehingga hibah dapat saja diberikan kepada siapapun,
hanya ada beberapa pengecualian, antara lain sebagai berikut:
a. Bila hibah terhadap anak di bawah umur atau orang yang tidak
waras akal pikirannya, maka harus diserahkan kepada wali atau
pengampu yang sah dari anak di bawah umur atau orang yang
tidak waras itu;
b. Bila hibah dilakukan terhadap anak di bawah umur yang
diwakili oleh saudaranya yang laki-laki atau oleh ibunya, hibah
menjadi batal;
c. Hibah kepada seseorang yang belum lahir juga batal.
Pada dasarnya segala macam harta benda yang dapat dijadikan
hak milik dapat dihibahkan, baik harta pusaka maupun harta gono-gini
seseorang. Benda tetap maupun benda bergerak dan segala macam
piutang serta hak-hak yang tidak berwujud itu pun dapat dihibahkan
oleh pemiliknya.
Hibah berbeda dengan pemberian-pemberian biasa, sebab
pemberian biasa mempunyai arti yang lebih luas yaitu meliputi semua
pemindahan hak milik tanpa balasan. Sedangkan hibah mempunyai
arti yang lebih sempit yaitu pemberian atas hak milik penuh dari
objek/harta tertentu tanpa pengganti kerugian apa pun. Pemindahan
hak milik atau levering dalam hibah tidak perlu dilakukan apabila:
a. Hibah dilakukan kepada seseorang yang tinggal dalam satu
rumah;
b. Hibah yang dilakukan antara suami-isteri dan sebaliknya;
93
c. Hibah dari seorang ayah kepada anak lelakinya atau dari
seorang ibu kepada anak lelakinya;
d. Hibah yang dilakukan oleh seorang wali kepada seseorang
yang berada di bawah perwaliannya;
e. Hibah yang dilakukan kepada seseorang yang sungguh-
sungguh menguasai barang yang dihibahkan itu karena ia
mendapat kepercayaan untuk menguasai barang tersebut sejak
semula dari penghibahnya.
Menurut Hukum Islam pada dasarnya semua perjanjian yang
dilakukan atas dasar suka rela seperti halnya juga hibah, dapat dicabut
kembali, meskipun tidak semua hibah dapat dicabut kembali oleh
pemberi hibah. Dalam beberapa hal pencabutan kembali hibah
memerlukan persetujuan pihak penerima hibah atau atas persetujuan
pengadilan.
Di bawah ini terdapat beberapa hibah yang tidak dapat dicabut
kembali, yaitu:
a. Hibah kepada seseorang yang karena hubungan darah, mereka
terlarang untuk kawin;
b. Hibah antara suami isteri dan sebaliknya;
c. Bilamana pemberian hibah atau penerima hibah telah
meninggal dunia, baik salah satu maupun dua-duanya;
d. Bila barang yang dihibahkan itu telah hilang atau hancur;
e. Bila barang yang dihibahkan itu telah dipindah-tangankan oleh
si pemberi hibah, baik dijual, diberikan kembali, atau dengan
cara-cara lain;
f. Bila barang yang dihibahkan itu telah bertambah nilainya
karena sesuatu sebab apa pun;
g. Bila pemberi hibah telah mendapatkan suatu penggantian untuk
hibah tersebut;
h. Bila hibah tersebut bermotif keagamaan atau kerohanian,
sehingga hibah yang demikian lebih bersifat sodaqoh.
94
3. Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW)
Di dalam BW hibah diatur dalam titel X Buku III yang dimulai
dari pasal 1666 sampai dengan pasal 1693. Menurut pasal 1666 BW,
hibah dirumuskan sebagai berikut: ”Hibah adalah suatu perjanjian
dengan mana si penghibah, pada waktu hidupnya, dengan cuma-cuma
dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda
guna keperluan di penerima hibah yang menerima penyerahan itu”.
Dari rumusan tersebut di atas, dapat diketahui unsur-unsur hibah,
sebagai berikut:
a. Hibah merupakan perjanjian sefihak yang dilakukan dengan
cuma-cuma. Artinya, tidak ada kontra prestasi dari pihak
penerima hibah;
b. Dalam hibah selalu disyaratkan bahwa penghibah mempunyai
maksud untuk menguntungkan pihak yang diberi hibah;
c. Yang menjadi objek perjanjian hibah adalah segala macam
harta benda milik penghibah, baik berada berwujud maupun
tidak berwujud, benda tetap maupun benda bergerak, termasuk
juga segala macam piutang penghibah;
d. Hibah tidak dapat ditarik kembali;
e. Penghibahan harus dilakukan pada waktu penghibah masih
hidup;
f. Pelaksanaan dari penghibahan dapat juga dilakukan setelah
penghibah meninggal dunia;
g. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris.
Hibah antara suami isteri selama perkawinan tidak
diperbolehkan, kecuali mengenai benda-benda bergerak yang bertubuh
yang harganya tidak terlampau mahal. Demikian pula hibah tidak
boleh dilakukan kepada anak yang belum lahir, kecuali kepentingan
anak tersebut menghendaki.
Ada beberapa orang tertentu yang sama sekali dilarang
menerima penghibahan dari penghibah, yaitu:
95
a. Orang yang menjadi wali atau pengampun si penghibah;
b. Dokter yang merawat penghibah ketika sakit;
c. Notaris yang membuat surat wasiat milik si penghibah.
Meskipun hibah sebagai perjanjian sepihak yang menurut
rumusannya dalam pasal 1666 BW tidak dapat ditarik kembali,
melainkan atas persetujuan pihak penerima hibah. Akan tetapi dalam
pasal 1688 BW dimungkinkan bahwa hibah dapat ditarik kembali atau
bahkan dihapuskan oleh penghibah, yaitu:
a. Karena syarat-syarat resmi untuk penghibahan tidak dipenuhi;
b. Jika orang yang diberi hibah telah bersalah melakukan atau
membantu melakukan kejahatan lain terhadap penghibah;
c. Apabila penerima hibah menolak memberi nafkah atau
tunjangan kepada penghibah, setelah penghibah jatuh miskin.
Dengan terjadinya penarikan atau penghapusan hibah ini, maka
segala macam barang yang telah dihibahkan harus segera
dikembalikan kepada penghibah dalam keadaan bersih dari beban-
beban yang melekat di atas barang tersebut. Misalnya saja, barang
tersebut sedang dijadikan jaminan hipotik ataupun crediet verband,
maka harus segera dilunasi oleh penerima hibah sebelum barang
tersebut dikembalikan kepada pemberi hibah.

4. Hibah menurut Hukum Adat Jawa Barat
Pada seluruh lingkungan hukum adat di Indonesia, diakui bahwa
proses pewarisan harta seorang pewaris dapat mulai dilaksanakan
sejak pewaris masih hidup. Praktik semacam ini terdapat pula di Jawa
Barat. Di daerah Kabupaten Bandung, meskipun secara umum
pembagian harta warisan dilakukan setelah pewaris meningal, tidak
jarang terjadi pembagian tersebut dilaksanakan jauh sebelum pewaris
meninggal. Penyerahan harta warisan kepada ahli waris atau seorang
96
yang tidak termasuk ahli waris sebelum pewaris meninggal, disebut
hibah.


Tujuan/Maksud Hibah
Hibah kepada seorang ahli waris atau kepada mereka yang
dianggap berhak menerima bagian harta pewaris, dilakukan
dengan tujuan:
Mencegah perselisihan di antara para ahli waris, atau antara
para ahli waris dengan orang lain yang merasa berhak
mendapat pembagian harta peninggalan pewaris;
(Kabupaten Bandung, Cisarua, Jasinga, Leuwiliang,
Cileungsi, Cianjur, Karawang, Batujaya, Teluk Jambe,
Talagasari, Cianjur Karawang, Kecamatan Indramayu,
Kecamatan Jatibarang, Pandeglang);
Pernyataan rasa kasih sayang kepada penerima hibah
(kadeudeuh/kanyaah - Kabupaten Bandung, Jasinga,
Kecamatan Karawang, Kecamatan Talagasari, Batujaya
Karawang, Kecamatan Lonbener, Jatibarang, Kertasemaya,
Juntinyuat (Indramayu), Pandeglang);
Sebagai bekal anak-anak dikemudian hari (Kabupaten
Bandung);
Untuk menyempurnakan arwah pewaris, (Singaraja-Kecamatan
Indramayu).
Macam-macam Hibah
Di daerah-daerah di Jawa Barat, dikenal macam-macam hibah
yaitu:
hibah biasa;
hibah mutlak;
hibah wasiat;
97
wakaf.

Proses penghibahan
Seperti telah diutarakan di atas, hibah sebagai satu bagian dari
proses pewaris dilakukan sebelum pewaris meninggal. Di
daerah Kaupaten Bandung, penghibahan biasanya terjadi pada
saat perkawinan anak pewaris atau pada saat pewaris merasa
ajalnya telah dekat. Di daerah Banjar, sama dengan di daerah
Bandung, yaitu pada saat perkawinan. Sedangkan di daerah
Ciamis dan Kawali, selain karena alasan ajal dekat,
penghibahan terjadi menjelang pewaris menunaikan ibadah
haji.
Di daerah Cianjur, Karawang, Indramayu penghibahan
biasanya terjadi karena merasa ajal sudah dekat.
Penghibahan dapat terjadi dengan berbagai cara, yaitu:
Lisan, di hadapan mereka yang berkepentingan dan disaksikan
oleh pejabat desa (Cianjur, Bekasi, Kawali, Bandung,
Kecamatan Cilamaya (Karawang), Kecamatan
Kertasemaya, Kecamatan Lohbener, Kecamatan Indramayu
(Indramayu). Di beberapa daerah, penghibahan secara lisan
selain di hadapan mereka yang berkepentingan/penghuni
rumah, dilakukan di hadapan tetangga, tanpa
pemberitahuan kepada pejabat desa (Banjar, Kawali,
Leuwiliang, Juntinyuat, Jatibarang, Karanganyar). Di
Kecamatan Banjar, kalau hibah lisan tersebut berupa tanah,
diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama.
Tertulis :
Akta notaris (Cianjur, Ciamis, Karawang Wetan, Plawad,
Tunggakjati, Palimbonsari (Karawang), Jatibarang
(Indramayu);
Akta di bawah tangan (Bandung, Cisarua, Bekasi);
98
Di hadapan Kepala Desa (Bandung, Ciamis, Jasinga,
Cisarua, Leuwiliang), Ratujaya, Telagasari, Cilamaya,
Telukjambe, Karawang, Juntinyuat, Jatibarang
Indramayu.

Penerimaan hibah dan perhitungan nilai hibah
Pada semua daerah penelitian terdapat ketentuan yang sama
mengenai mereka yang akan menerima hibah. Penghibah atau
pewaris dapat menghibahkan harta peninggalannya kepada
siapa saja yang dikehendakinya, baik kepada ahli waris
maupun kepada orang lain yang bukan ahli waris. Dalam hal
hibah jatuh kepada ahli waris terdapat berbagai ketentuan
sebagai berikut:
Di daerah Cianjur, Banjar, Cisarua, Jasinga, Bandung, Ratujaya
(Karawang), hibah yang diterima ahli waris akan
diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris;
Sebaliknya di Kecamatan Ciamis, Kawali, Cikoneng,
Cileungsi, Karawang, Indramayu, hibah tidak akan
diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris.
Dalam hal pewaris menghibahkan hartanya kepada bukan
ahliwaris, penghibahan dibatasi sepanjang tidak merugikan hak
para ahli waris. Di daerah Kecamatan Banjar dan Ciamis, hibah
ditentukan sebesar dari kekayaan jika pewaris tidak
mempunyai anak. Akan tetapi dari penelitian setempat, belum
berhasil diungkapkan tindakan apakah yang dapat diambil
apabila jumlah hibah dianggap merugikan kepentingan ahli
waris atau sebagian ahli waris. Apakah dalam hal ini penerima
hibah harus mengembalikan hibah yang telah diterima. Dari
99
putusan-putusan pengadilan, dijumpai beberapa yurisprudensi
yang ada kaitannya dengan soal hibah.
58
yaitu:
(1) Penghibahan dan penjualan harta kekayaan oleh pewaris
”Penghibahan dan penjualan harta, kekayaan oleh seorang
pewaris (yang hidup seorang diri setelah satu-satunya
anaknya meninggal dunia). Dilihat dari sudut agama dan
sosial, tidaklah salah, masuk akal dan dapat dibenarkan,
karena perbuatan seperti itu dianggap biasa dan dilakukan
secara turun-temurun (PT Bandung tanggal 6 Februari 1970
No. 439/1969/Perd/PTB);
(2) Perhitungan hibah dalam pembagian waris
”Apabila baik anak angkat maupun janda telah pernah
mendapat hibah dari pewaris maka lebih adil apabila bagian
janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat,
jika pewaris tidak meninggalkan anak kandung”.
(PT. Bandung tanggal 14 Mei 1970, No. 215/1969/
Perd/PTB, MA tanggal 29 Desember 1971, No.
925K/Sip/1971).
(3) Cara penghibahan
- Apabila seseorang dengan kemungkinan akan
meninggal dunia menetapkan mengenai kekayaan untuk
kepentingan isteri dan anak atau sanak saudara lain
yang terdekat, maka ketetapan itu disebut penghibahan.
(PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No.
10/1969/Perd. PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No.
16/1970/Perd/PTB. MA tanggal 5 Februari 1972 No.
855 K/Sip/1971).
- Meskipun suatu penghibahan merupakan hibah mutlak,
namun apabila kedua belah pihak sama-sama setuju,

58
Ibid, yurisprudensi Jawa Barat, h. 41-42 dan 71 – 73.
100
tiada halangan dalam hukum apabila tanah dan sawah
selama hidup pemberi hibah masih dikuasai olehnya.
(PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No.
16/1970/Perd/PTB MA tanggal 5 Februari 1972, No.
855 K/Sip/1971).

(4) Syarat-syarat hibah yang sah:
Suatu hibah, baik mengenai seluruh harta kekayaan
maupun mengenai beberapa harta benda tertentu, dilakukan
dengan lisan hanya di hadapan orang-orang yang
berkepentingan atau penghuni rumah tangga atau sanak
saudara, tanpa pemberitahuan mengenai hal itu kepada
seorang pejabat desa atau pejabat lain. Tetapi bila diadakan
hibah mengenai tanah secara lisan, pada umumnya diajukan
permintaan kepada Kepala Desa yang bersangkutan untuk
memindahkan tanah atas nama orang yang berkepentingan.

(5) Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan
pencabutan hak waris ahli waris lainnya:

Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan
pencabutan hak ahli waris lainnya (onterfing).
(PN Ciamis tanggal 22 Februari 1968 No.
16/1967/Sip/Cms. PT Bandung tanggal 9 Oktober 1970 No.
252/1969/Perd PTB. MA tanggal 30 Oktober 1971 No. 637
K/Sip/1971).

(6) Surat bukti hibah yang sah :
Surat zegel mengeai hibah yang konsepnya dibuat oleh
Kepala Desa dan ditik oleh Jurutulis setempat serta diberi
cap jempol oleh pemberi dan penerima hibah di depan
jurutulis tersebut, lagi pula disaksikan dan ikut diberi cap
101
jempol/tanda tangan oleh seorang saksi, juru tulis dan
Kepala Desa yang bersangkutan, ditambah dengan
kesaksian ijab-qabul dari hibah tersebut di Kantor Kepala
Desa merupakan bukti lengkap tentang sahnya surat hibah
tersebut dan kebenaran isinya.
(PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No. 10/1969/Perd.
PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No.
16/1970/Perd/PTB. MA tanggal 5 Februari 1972 No.
855K/Sip/1971).

(7) Penghibahan barang asal dalam hal si pemberi tidak
mempunyai anak:

Penghibahan barang asal seyogianya
dihadiri/disahkan/disetujui oleh saudara sekandungnya,
dalam hal si pemberi tidak mempunyai anak.
(PN Garut tanggal 30 Maret 1967 No. Reg. 9/1966/Perd.PN
Grt).

(8) Hibah mutlak kepada anak kukut :
Pemberian hibah mutlak barang-barang kepada anak kukut,
memperkuat angapan bahwa si penerima hibah adalah anak
kukutnya si pemberi hibah.
(PT Bandung tanggal 10 Januari 1970 No.
233/1969/Perd/PTB. MA tanggal 8 Mei 1971 No. 621
K/Sip/1970).

(9) Hibah kepada cucu gigir:
- Suatu penghibah kepada cucu gigir adalah sah, apabila
ia disetujui oleh para ahli waris dan dilakukan di depan
Kepala Desa, Camat dan Mantri Polisi setempat,
sedangkan surat hibahnya dibuat oleh jurutulis desa.
102
(PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969, No.
73/1970/Perd/PTB).
- Penghibahan tanah kepada dua orang cucu gigir di
dalam satu surat hibah sebanyak setengah dari seluruh
luas tanah yang dihibahkan.
(PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969, No.
20/Pdt/1969 Mjl. PT Bandung tanggal 17 Desember
1970, No. 73/1970/Perd/ PTB).

(10) Hibah kepada bukan ahli waris:
Pemberian hibah mutlak kepada orang yang sebenarnya
bukan ahli waris, yang disetujui oleh para ahli waris di
hadapan Kepala Desa adalah sah dan tidak dapat
dilenyapkan begitu saja, tanpa mengemukakan sebab-
sebab yang diperkenankan oleh hukum (PT Bandung
tanggal 27 Juni 1970. No. 64, 1970/Perd/PTB. MA
tanggal 19 April 1972, No. 97 K/Sip/1972).



(11) Barang yang belum dimiliki:
Seseorang tidak dapat menghibahkan suatu barang yang
belum ia miliki. (PN Karawang tanggal 12 Juni 1967,
No. 82/1965/Perdata. PT Bandung tanggal 23 Juli 1970,
No. 243/1969 Perd/PTB).

(12) Pembatalan Hibah:
Suatu hibah hanya dapat dibatalkan, apabila dapat
dibuktikan adanya unsur paksaan, kehilafan atau
penipuan pada waktu surat hibah dibuat. (PT Bandung
tanggal 30 Maret 1971, No. 36/1971/Perd/PTB, (Putusan
103
Akhir). MA tanggal 1 Maret 1972, No. 827
K/Sip/1971).

(13) Hak untuk berbuat sekehendaknya, atas barang-barang
kekayaan, jika tidak mempunyai keturunan:

Suami isteri yang tidak mempunyai keturunan semasa
hidupnya berhak untuk berbuat sekehendak hatinya
dengan barang-barang kekayaannya karena adalah suatu
kenyataan yang sulit dibantah bahwa yang menerima hak
biasanya yang mengurus penghidupan mereka.
(PT Bandung tanggal 10 Januari 1970, No.
233/1960/Perd/ PTB, MA tanggal 8 Mei 1971, No. 621
K/Sip/1970).

Apakah suatu hibah dapat ditarik kembali?
Di desa Leuwiliang dan Citeureup, suatu hibah dapat
ditarik kembali apabila bertentangan dengan ketentuan-
ketentuan Hukum Adat dan Hukum Islam. Sebaliknya di
daerah Cianjur, Banjar, Ciamis, dan Cikoneng, suatu
hibah tidak dapat ditarik kembali meskipun utang
pewaris tidak dapat terlunasi dari kekayaan yang
ditinggalkannya. Di Batujaya, Teluk Buyung, Pisang
Sambo, Kecamatan Karawang (Karawang), Juntinyuat
(Indramayu) apabila hibah tersebut berupa hibah mutlak
maka hibah tersebut tidak dapat ditarik kembali.

Ikhtisar Hibah
Seperti halnya juga hukum waris, sampai saat ini di Indonesia masih
berlaku lebih dari satu hukum yang mengatur perihal hibah. Artinya,
perihal hibah diatur baik oleh hukum Islam. Hukum perdata yang
bersumber pada BW, maupun Hukum Adat. Pada dasarnya
104
pengaturan masalah hibah menurut ketiga sistem hukum tersebut di
atas memiliki unsur-unsur kesamaan, meskipun dalam beberapa hal
satu sama lain mengandung pula perbedaan. Di bawah ini dapat
dilihat beberapa unsur persamaan dan perbedaan ”hibah” menurut
ketiga sistem hukum tersebut.
Baik menurut Hukum Islam, Hukum Perdata BW, maupun Hukum
Adat di Indonesia, hibah merupakan perjanjian sepihak yang
dilakukan tanpa kontra prestasi dari pihak penerima hibah,
atau dengan kata lain perjanjian secara cuma-cuma;
Hibah adalah jenis pemberian yang dilakukan oleh seseorang
ketika masih hidup;
Menurut Hukum Islam dan Hukum Perdata BW, hibah tidak dapat
ditarik kembali, namun BW memberikan pengecualian dalam
hal-hal tertentu hibah dapat ditarik kembali atau dihapuskan
oleh penghibah. Demikian pula menurut Hukum Adat bahwa
hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali jika hibah itu
bertentangan dengan Hukum Adat.
Benda-benda yang dapat dihibahkan adalah segala sesuatu benda
milik penghibah yang telah ada pada saat dilakukan hibah,
baik benda yang bergerak maupun benda tetap, benda
berwujud maupun tidak berwujud. Hal ini diatur sama, baik
dalam Hukum Islam, BW maupun Hukum Adat.
Menurut Hukum Adat, hibah dapat dilakukan dengan lisan
maupun tertulis. Sedangkan menurut Hukum Islam dan BW
hibah harus dilakukan secara tertulis, bahkan BW
mensyaratkan harus dengan akta notaris.
Dalam Hukum Islam dan BW hibah tidak ditentukan besarnya,
sedangkan dalam Hukum Adat ada beberapa daerah yang
menentukan besar hibah yaitu sepertiga dari kekayaan
penghibah, jika penghibahan dilakukan kepada bukan ahli
105
waris dan pemberi hibah tidak mempunyai anak, antara lain di
daerah Kabupaten Ciamis.
Meskipun pada dasarnya hibah itu tidak dibatasi jumlahnya, akan
tetapi secara tersirat terdapat pembatasan hibah yaitu bahwa
hibah tidak boleh berisi pencabutan hak ahli waris, apabila
demikian maka hibah batal demi hukum.
Bila yang dihibahkan adalah harta asal harta pusaka, maka Hukum
Adat Jawa Barat mensyaratkan adanya persetujuan atau harus
dihadiri oleh saudara sekandung penghibah. Sedangkan
Hukum Islam dan BW tidak demikian halnya.
Ketiga sistem Hukum di atas, melarang penghibahan sejumlah
barang yang baru akan ada di kemudian hari.
Hibah juga dilarang kepada anak yang belum lahir. BW
mengecualikan hal ini, yaitu dalam hal kepentingan anak
menghendaki, maka hibah semacam ini diperbolehkan.

Pengertian Hibah Wasiat atau Wasiat
Hibah wasiat atau wasiat atau sering juga disebut testamen adalah
”pernyataan kehendak seseorang mengenai apa yang akan dilakukan
terhadap hartanya setelah ia meninggal dunia kelak”.
59
Pelaksanaan
hibah wasiat ini baru dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. Di
dalam praktik pelaksanaannya, hibah wasiat harus memenuhi beberapa
persyaratan tertentu agar pelaksanaannya tidak bertentangan dengan
ketentuan hukum waris dan tidak merugikan para ahli waris lain yang
tidak memperoleh pemberian melalui hibah wasiat. Dalam kaitan ini
pula hukum membatasi kekuasaan seseorang untuk menentukan
kehendak terakhirnya melalui hibah wasiat agar ia tidak
mengesampingkan anak sebagai ahli waris melalui hibah wasiat.
Istilah hibah wasiat diambil dari bahasa Arab, sehingga dalam
hukum waris Islam kedudukan hibah wasiat sangat penting sebab Al

59
Sajuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Jakarta: Binaaksara, 1984, h. 87.
106
Qur’an menyebut perihal hibah wasiat ini berulang kali. Di samping
dalam hukum waris Islam, hibah wasiat dikenal pula dalam hukum
perdata menurut BW dan dalam hukum waris adat.

1. Hibah wasiat menurut hukum waris Islam
Demikian pentingnya hibah wasiat dalam Hukum Islam sehingga Al
Qur’an secara tegas dan jelas memberikan tuntunan tentang hibah
wasiat atau wasiat. Ayat-ayat yang berhubungan dengan hibah wasiat
ini antara lain tercantum dalam:
a. Surat Al Baqarah (Q.S. 2 : ayat 180,181,182), yaitu:
Ayat 180:
”Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu
kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang
banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara
ma’ruf, yakni secara adil dan baik, ini adalah kewajiban atas
orang-orang yang bertaqwa”.
Ayat 181:
”Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia
mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya bagi orang-orang
yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui”.
Ayat 182:
”Akan tetapi barang siapa khawatir terhadap orang yang verwasiat
itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan,
yakni menyuruh orang yang berwasiat berlaku adil dalam
mewasiatkan sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syarat,
antara mereka, maka tidak dosa baginya. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

b. Surat Al Baqarah ayat 240:
”Orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan
meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya
107
diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah
dari rumahnya. Akan tetapi jika mereka pindah sendiri, maka tidak
ada dosa bagimu, wali atau waris dari yang meninggal membiarkan
mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.

c. Surat An Nissa (Q.S. IV : 11 dan 12), yaitu :
Ayat 11:
”..... Pembagian-pembagian tersebut di atas sesudah di penuhi
wasiat yang ia buat atau sesudah dibayar hutangnya. Tentang orang
tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara
mereka yang lebih dekat, banyak, manfaatnya bagimu. Ini adalah
ketetapan dari Allah”.
Ayat 12:
”..... Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dibayar
hutang-hutangmu.....”.

Ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan hibah wasiat
antara lain terdiri atas:
a. Almusji, yaitu orang yang membuat surat wasiat itu harus cakap
dan bertindak secara sukarela tanpa paksaan serta ia harus benar-
benar berhak atas harta yang akan diwasiatkan.
b. Almusja, lahu, yaitu orang yang akan menerima hibah wasiat harus
cakap untuk menerimanya, ia tidak termasuk ahli waris pemberi
hibah wasiat, dan harta yang diperoleh dari hibah wasiat itu tidak
boleh dipergunakan bertentangan dengan hukum.
c. Almusaji, bihi, yaitu benda yang akan dihibah wasiat kan sifatnya
harus dapat dipindahtangankan. Hibah, hibah wasiat tidak boleh
108
melebihi (sepertiga) dari harta setelah dikurangi dengan semua
hutang sebab melebihi dari sepertiga berarti mengurangi hak ahli
waris. ”Hal itu berdasarkan pada Hadits Riwayat Buchari yang
meriwayatkan tentag nasihat Rasullullah SAW kepada Sa’ad bin
Abi Waqqas, ketika merasa dirinya akan meninggal dunia”.
60

d. Asj Sjighah, yaitu isi dari hibah wasiat harus terang dan jelas, tidak
menimbulkan kekeliruan, tidak bertentangan dengan peraturan
yang telah ditentukan, dan dilakukan di depan saksi-saksi paling
sedikit dua orang.
Apabila ternyata ada hibah wasiat yang melebihi sepertiga dari
harta peninggalan, maka diselesaikan dengan salah satu cara
sebagai berikut:
(1) ”Dikurangi sampai btas sepertiga harta peninggalan”; atau
(2) ”Diminta kesediaan semua ahli waris yang pada saat itu berhak
menerima warisan, apakah mereka mengikhlaskan kelebihan
dari sepertiga itu. Jika para ahli waris menyatakan ikhlas, maka
pemberian hibah wasiat yang melebihi sepertiga itu halal
hukumnya”.
61

Ketentuan lain yang berkaitan dengan hibah wasiat juga antara lain
bahwa setelah pemberi hibah meninggal dunia, penerima hibah
wasiat harus menyatakan secara tegas bahwa ia menerima hibah
wasiat. ”Hal tersebut hanya dapat dilakukan setelah pemberi hibah
wasiat meninggal sebab ketika pemberi hibah wasiat hidup, hibah
wasiat sewaktu-waktu dapat ia cabut kembali. Jika penerima hibah
wasiat meninggal dunia setelah pemberi hibah wasiat wafat, akan
tetapi penerima hibah wasiat belum secara tegas menyatakan
menerima, maka sebagai gantinya adalah ahli waris mereka masih
berhak untuk itu”.
62


60
Abdul Wahid Selayan, Ichtisar Hukum Islam, Padang: Mimbar, 1964, h. 236.
61
Sajuti Thalib, Op.Cit, h. 92-93.
62
Komar Andasasmita.,Op. Cit, h. 29.
109

2. Hibah wasiat menurut BW
Hukum waris menurut BW mengenal pengaturan hibah wasiat ini
dengan nama testamen yang diatur dalam buku kedua bab ketiga belas.
Dalam pasal 875 BW secara tegas disebutkan pengertian tentang surat
wasiat, yaitu:
”Surat wasiat atau testamen adalah suatu akta yang memuat pernyataan
seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia
meninggal dunia dan dapat dicabut kembali.”
Ketentuan lain dalam pembuatan surat wasiat ini adalah bahwa
pembuat wasiat harus menyatakan kehendaknya yang berupa amanat
terakhir ini secara lisan di hadapan notaris dan saksi-saksi. Salah satu
ciri dan sifat yang terpenting dan khas dalam setiap surat wasiat, yaitu
surat wasiat selalu dapat ditarik kembali oleh si pembuatnya. Hal ini
disebabkan tindakan membuat surat wasiat adalah merupakan
perbuatan hukum yang sifatnya sangat pribadi.
BW mengenal tiga macam bentuk surat wasiat, yaitu:
a. Wasiat Olografis
Yaitu surat wasiat yang seluruhnya ditulis dengan tangan dan
ditanda tangani pewaris sendiri. Kemudian surat wasiat tersebut
harus diserahkan untuk disimpan pada seorang notaris dan
penyerahan kepada notaris ini ada dua cara, yaitu bisa diserahkan
dalam keadaan terbuka bisa juga dalam keadaa tertutup. Kedua
cara penyerahan dan penyimpanan pada notaris itu mempunyai
akibat hukum yang satu sama lain berbeda, yaitu:
(1) Apabila surat wasiat diserahkan dalam keadaan terbuka maka
dibuatlah akta notaris tentang penyerahan itu yang
ditandatangani oleh pewaris, saksi-saksi, dan juga notaris. Akta
penyimpanan tersebut ditulis di kaki surat wasiat tersebut, jika
110
tidak ada tempat kosong pada kaki surat wasiat tersebut, maka
amanat ditulis lagi pada sehelai kertas yang lain.
(2) Apabila surat wasiat diserahkan kepada notaris dalam keadaan
tertutup, maka pewaris harus menuliskan kembali pada sampul
dokumen itu bahwa surat tersebut berisikan wasiatnya dan
harus menandatangani keterangan itu dihadapan notaris dan
saksi-saksi. Setelah itu pewaris harus membuat akta
penyimpanan surat wasiat pada kertas yang berbeda.

Surat wasiat yang disimpan pada seorang notaris kekuatanya
sama dengan surat wasiat yang dibuat dengan akta umum. Jika
pewaris meninggal dunia dan wasiat diserahkan kepada notaris
dalam keadaan terbuka, maka segera penetapan dalam surat
wasiat dapat dilaksanakan sebab notaris mengetahui isi surat
wasiat tersebut. Sedangkan sebaliknya, jika surat wasiat
diserahkan dalam keadaan tertutup, maka pada saat pewaris
meninggal dunia surat wasiat tidak dapat segera dilaksanakan
sebab isi surat wasiat itu tidak dapat diketahui notaris.
Sedangkan notaris dilarang membuka sendiri surat wasiat
tersebut, maka untuk kepentingan itu surat wasiat harus
diserahkan terlebih dahulu kepada Balai Harta Peninggalan
untuk membukanya.

b. Wasiat umum
Yaitu surat wasiat yang dibuat oleh seorang notaris, dengan cara
orang yang akan meninggalkan warisan itu menghadap notaris
serta menyatakan kehendaknya dan memohon kepada notaris agar
dibuatkan akta notaris dengan dihadiri oleh dua orang saksi.
Pembuat surat wasiat harus menyampaikan sendiri kehendaknya itu
di hadapan saksi-saksi. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan
perantaraan orang lain, baik anggota keluarganya maupun notaris
111
yang bersangkutan. Surat wasiat harus dibuat dalam bahasa yang
dipergunakan oleh pewaris ketika menyampaikan kehendaknya,
dengan syarat bahwa notaris dan saksi-saksi juga mengerti bahasa
tersebut. Hal ini mengingat kesalahan dalam surat wasiat, biasanya
tidak dapat mengingat kesalahan dalam surat wasiat, biasanya tidak
dapat diperbaiki lagi sebab hal itu baru diketahui setelah pewaris
meninggal dunia. Jadi sedapat mungkin kesalahan formalitas itu
harus diperkecil. Syarat untuk saksi-saksi dalam surat wasiat umum
antara lain harus sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah.
Mereka harus warga negara Indonesia dan juga mengerti bahasa
yang dipakai dalam surat wasiat tersebut. Terdapat beberapa orang
yang tidak boleh menjadi saksi dalam pembuatan surat wasiat
umum ini, yaitu:
1) para ahli waris atau orang yang menerima hibah wasiat atau
sanak keluarga mereka sampai derajat keempat.
2) anak-anak, cucu-cucu, dan anak-anak menantu, dan anak atau
cucu notaris.
3) pelayan-pelayan notaris yang bersangkutan.

c. Wasiat Rahasia
Yaitu surat wasiat yang ditulis sendiri atau ditulis orang lain yang
disuruhnya untuk menulis kehendak terakhirnya. Kemudian ia
harus menandatangani sendiri surat tersebut. Surat wasiat macam
ini harus disampul dan disegel, kemudian diserahkan kepada
notaris dengan dihadiri empat orang saksi. Penutupan dan
penyegelan dapat juga dilakukan di hadapan notaris dan empat
orang saksi. Selanjutnya pembuat wasiat harus membuat
keterangan di hadapan notaris dan saksi-saksi bahwa yang termuat
dalam sampul itu adalah surat wasiatnya yang ia tulis sendiri atau
ditulis orang lain dan ia menandatangani. Kemudian notaris
112
membuat keterangan yang isinya membenarkan keterangan
tersebut.
Setelah semua formalitas dipenuhi, surat wasiat itu selanjutnya
harus disimpan pada notaris dan selanjutnya merupakan kewajiban
notaris untuk memberitahukan adanya surat wasiat tersebut kepada
orang-orang yang berkepentingan, apabila pembuat surat
wasiat/peninggal warisan meninggal dunia.

3. Hibah Wasiat menurut Hukum Adat Jawa Barat.
a. Pengertian dan Tujuan Wasiat.
Wasiat atau hibah ialah pemberian pewaris kepada
seorang/beberapa ahli waris atau orang tertentu, yang dilaksanakan
setelah pewaris meninggal dunia.
Pemberian dengan hibah wasiat ini terdapat sangat umum di Jawa
Barat, dan tidak dapat dipisahkan dari pewarisan.
Hibah wasiat merupakan salah satu proses dalam pewarisan. Sama
halnya dengan hibah biasa, wasiat dibuat karena berbagai alasan,
seperti:
i. Untuk menghindarkan persengketaan (Kabupaten Bandung,
Karawang, Indramayu, Pandeglang);
ii. Perwujudan rasa kasih sayang dari si pewaris (Kabupaten
Bandung, Pandeglang);
iii. Pewaris merasa ajalnya telah dekat (Cianjur, Banjar, Ciamis,
Kawali, Cikoneng);
iv. Pewaris akan melaksanakan ibadah haji (Cianjur, Banjar,
Ciamis, Kawali).
Pewaris dapat mencabut atau menarik kembali suatu wasiat yang
sudah dibuat atau diikrarkan. Tetapi selama wasiat tidak dicabut
atau ditarik kembali, para ahli waris berkewajiban untuk
menghormati wasiat tersebut. Di desa Buyung, Batujaya, Pisang
113
Sambo (Karawang) hibah wasiat tidak dapat ditarik kembali
apabila dibuat secara tertulis.

b. Pembuatan atau ikrar wasiat
1) Lisan
a) Di hadapan orang-orang yang berkepentingan atau
penghuni rumah, tetangga, sanak saudara tanpa
pemberitahuan kepada pejabat desa (Cianjur, Ciamis,
Banjar, Kawali, Bandung, Bekasi, Pandeglang). Di
Kecamatan Ciamis, apabila wasiat berupa tanah
diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama.
b) Di hadapan pejabat desa (Saruni Kecamatan Pandeglang).

2) Tertulis
a) Di bawah tangan (Ciamis, Bandung, Bekasi, Kawali,
Pandeglang);
b) Di hadapan Kepala Desa (Ciamis, Cianjur, Bandung,
Cikoneng, Pendeglang);
c) Akta Notaris (Cianjur);
d) Di hadapan saksi-saksi (Ciamis, Cianjur, Cikoneng).

Pandangan yang umum berlaku adalah; pemberian berdasarkan
wasiat akan diperhitungkan pada saat pembagian waris. Tetapi di
Ciamis, Cikoneng, Kawali dan Pandeglang, di peroleh keterangan
bahwa barang yang diterima karena wasiat tidak diperhitungkan
pada saat pembagian waris.
Mengenai besarnya kekayaan yang dapat diwariskan, berbeda-
beda antara berbagai daerah. Di daerah Kabupaten Bandung, tidak
ada ketentuan mengenai batas besarnya wasiat kepada seorang
bukan ahli waris. Demikian juga di daerah Cianjur,
Pandeglang,juga Karawang tidak ada batas jumlah secara pasti
114
hanya sebagai suatu kebiasaan jumlah wasiat tidak akan melebihi
dari seluruh kekayaan. Jumlah tersebut akan diperhitungkan
pada saat pembagian waris (apabila wasiat jatuh pada
seorang/beberapa ahli waris). Di Bulak (Kabupaten Indramayu)
ada batas maksimum dalam pemberian wasiat yaitu . Di
Kecamatan Ciamis, Banjar dan Kawali, tidak dibenarkan
pewarisan kepada bukan ahli waris, jadi di daerah-daerah ini, hibah
atau hibah wasiat sebagai proses pewarisan hanya diperuntukan
kepada ahli waris. Di daerah-daerah tersebut, hibah wasiat
ditentukan sebanyak-banyaknya dari kekayaan. Tetapi tidak ada
jawaban, apakah dimungkinkan seseorang di masa hidupnya
memberikan hibah sebagai hadiah sebagian kekayaan kepada
seorang yang bukan ahli waris, tetapi memiliki pertalian yang
sangat erat dengannya. Misalnya pemberian kepada saudara ipar
(saudara isteri/suami). Di Cikoneng tidak dijumpai pembatasan
pewarisan. Pewaris dapat mewariskan baik kepada ahli waris atau
orang lain (bukan waris). Di Jutinyuat, Juntikehon, dan Dadap
(Indramayu) hibah wasiat kepada orang lain dapat diberikan, asal
ada persetujuan terlebih dahulu dari ahli waris. Di desa Plawad
(Kecamatan Karawang) hibah wasiat selalu diberikan kepada
anggota keluarga.


D. Ihtisar Hibah Wasiat
Pernyataan kehendak seseorang tentang apa yang akan dilakukan
terhadap harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia, ini
diperkenalkan oleh hukum dan disebut hibah wasiat atau wasiat. Hal
ini diatur, baik dalam Hukum Islam, BW, maupun Hukum Adat dan di
bawah ini akan dipaparkan ikhtisar tentang bagaimana masing-masing
sistem hukum mengatur perihal hibah wasiat atau wasiat.
115
Dikenal pada semua sistem hukum yang berlaku di Indonesia tentang
waris. Bahwa hibah wasiat atau wasiat adalah pemberian seseorang
kepada orang lain di luar ahli waris, melalui surat wasiat atau
testamen. Akan tetapi pemberian itu dapat dilaksanakan setelah
pewaris meninggal dunia.
Hukum Islam memberikan pembatasan tentang pemberian melalui
surat wasiat ini sampai jumlah sepertiga dari harta peninggalan
bersih. Hal ini dimaksudkan agar pewaris dengan surat wasiat yang
ia buat tidak mengesampingkan hak para ahli waris menurut
Undang-undang. Di lain pihak, Hukum Islam membatasi bahwa
seseorang dilarang mewasiatkan kepada ahli warisnya sendiri.
Demikian pula dalam Hukum Adat bahwa tidak diperbolehkan
seseorang peninggal warisan dalam hibah wasiat
mengesampingkan seorang anak sama sekali dari pembagian harta
warisan. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang yang
memperoleh pemberian melalui wasiat itu di luar para ahli waris
atau setidak-tidaknya kepada orang-orang yang masih termasuk
sanak keluarga yang sudah agak jauh hubungan kekeluargaannya.
Hukum Perdata BW juga mengatur demikian, bahwa pemberian
dengan surat wasiat umumnya dilakukan kepada orang-orang di
luar ahli waris, dengan pembatasan adanya ”legitime portie”, yaitu
bagian mutlak para ahli waris dalam garis lurus, anak-anak beserta
keturunannya dan orang tua beserta leluhur ke atas, tidak boleh
dikurangi oleh pewaris dengan adanya wasiat ataupun hibah sebab
bagian mutlak para ahli waris itu telah ditentukan jumlahnya dalam
Undang-undang.
Bentuk yang dikenal dalam ketiga sistem hukum tersebut pada
dasarnya sama, yaitu dapat berbentuk lisan maupun tertulis. Tentu
saja apabila wasiat dibuat dengan lisan melalui ucapan-ucapan
terakhir peninggal warisan, maka untuk sahnya wasiat semacam itu
116
hendaknya dihadiri oleh para saksi. Sedangkan apabila wasiat
dibuat secara tertulis, hal ini bisa dilakukan di depan notaris atau
tidak di depan notaris, menurut BW. Sedangkan menurut Hukum
Islam jika wasiat dibuat secara tertulis, surat tersebut tidak perlu
ditandatangani, akan tetapi apabila surat tersebut ditandatangani
oleh pembuat wasiat sendiri maka tidak perlu memakai saksi sebab
sepanjang maksud pembuat wasiat sudah tersurat dengan jelas,
wasiat tersebut sah menurut Hukum Islam. Berlainan halnya
dengan Hukum Adat yang mengatur tentang pembuatan wasiat
tertulis bahwa isi surat wasiat tersebut yang merupakan kehendak
terakhir pewaris harus dibacakan di depan beberapa orang sanak
keluarga yang selanjutnya harus turut menandatangani wasiat
tertulis itu.
Persetujuan para ahli waris dalam hal pembuatan wasiat dikenal dalam
Hukum Islam maupun Hukum Adat. Dalam Hukum Adat antara
lain, para ahli waris harus turut serta menandatangani wasiat,
sedang dalam Hukum Islam persetujuan para ahli waris harus
diberikan baik sebelum meninggalnya pewaris maupun sesudah
meningalnya pewaris, jika wasiat tersebut melebihi jumlah
sepertiga dari harta peninggalan bersih. Jika para ahli waris tidak
menyetujui, maka wasiat tersebut dikurangi sampai jumlah
sepertiga itu.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa wasiat merupakan
kehendak terakhir dari pewaris. Oleh karena itu, baik menurut
Hukum Islam, menurut BW, maupun Hukum Adat, wasiat dapat
ditarik kembali sewaktu-waktu oleh pembuat wasiat dengan secara
tegas atau pun secara diam-diam selama pembuat wasiat belum
meninggal dunia. Pencabutan secara diam-diam terjadi jika dari
perbuatan pembuat wasiat dapat disimpulkan bahwa ia bermaksud
mencabut wasiatnya. Sedangkan pencabutan secara tegas terjadi
117
jika pembuat wasiat membuat surat wasiat baru yang isinya nyata-
nyata memuat tentang pencabutan kembali surat wasiat semula,
atau bisa juga pencabutan dilakukan dengan akta notaris khusus
yang dibuat untuk itu. Hukum Adat tidak mengenal formalitas
tentang pencabutan wasiat semacam yang dikenal di dalam BW.
Sedangkan Hukum Islam mengatur pencabutan wasiat, yaitu
apabila pembuat wasiat kemudian dengan surat-surat wasiat yang
lain memberikan harta itu juga kepada orang lain, ini berarti wasiat
pertama dicabut kembali. Akan tetapi jika di dalam surat wasiat
yang baru itu harta tersebut diberikan kepada dua orang, maka
harta tersebut harus dibagi sama rata antara kedua orang tersebut.
Hukum Adat dan Hukum Islam tidak mengenal ”fideicommis”. Hal ini
hanya dikenal dalam Hukum Waris menurut BW, yaitu ”pemberian
warisan kepada seorang ahli waris dengan ketentuan bahwa yang
memperoleh pemberian itu wajib menyimpan warisan tersebut dan
setelah pewaris meninggal atau telah lewat waktu tertentu harta
warisan itu harus diserahkan kembali kepada orang lain yang telah
ditetapkan di dalam surat wasiat”. BW menyebut hal itu dengan
istilah ”pemberian warisan secara melangkah”. Akan tetapi
undang-undang sendiri sesungguhnya melarang ”fidei-commis” ini.
Sebagai pengecualian dari larangan tersebut dikenal ada dua
macam fidei-commis yang diperkenankan Undang-Undang, yaitu:
Fidei-commis yang isinya bertujuan agar harta pewaris tidak
dihabiskan oleh anak-anak pewaris. Hal ini secara tegas
ditetapkan dalam surat wasiat, agar anak-anak pewaris tidak
menjual harta peninggalan itu dengan kewajiban
memberikannya kembali kepada anak mereka;
118
Fidei-commis de residuo yaitu penetapan pewaris agar anak-anak
pewaris memberikan harta peninggalan yang tersisa saja
kepada orang yang telah ditetapkan dalam surat wasiat.




























119
DAFTAR PUSTAKA

ABDOERAOEF, Al-Quran dan Ilmu Hukum. Jakarta: Bulan
Bintang,1970.
ALI ASH SHABUNI, Syekh Muhammad, Hukum Waris Menurut
Al Quran dan Hadis. Bandung: Tigenda Karya, 1995.
ANDASASMITA, Komar, Pokok- pokok Hukum Waris. Bandung:
IMNO Unpad,1984.
FYZEE, Asaf A.A., Pokok-pokok Hukum Waris Islam II. Jakarta:
Tinta Mas, 1961.
HAAR, Ter Bzn, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Jakarta:
Pradnya Paramita, 1960.
HADIKUSUMA, Hilman, HukumWaris Adat. Bandung: Alumni,
1980.
HASAN, M. Ali, Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Bulan
Bintang, 1973.
HAZAIRIN, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran.
Jakarta: Tinta Mas, 1959.
__________, Hukum Kekeuargaan Nasional. Jakarta: Tinta Mas,
1968.
ICHSAN, Achmad, Hukum Perdata I B. Jakarta: Bimbingan Masa,
1969.
JUNUS, Mahmud, H., Turutlah Hukum Warisan dalam Islam.
Jakarta: TP, 1968.
_________________, Kesimpulan Isi Al-Quran. Jakarta: Hadi
karya Agung,1978.
KUSUMAATMADJA, Mochtar, Hukum, Masyarakat dan
Pembinaan Hukum Nasional. Bandung:Binacipta,
1972.
__________________,Pembinaan Hukum dalam rangka
Pembangunan Nasional. Bandung: Binacipta, 1976.
Fakultas Hukum Unpad, Laporan Proyek Penelitian Hukum Adatdan
Lembaga-LembagaHukum Adat di Jawa Barat,
Bandung: LPHK-FH Unpad,1981.
MELIALA, Djaja Sembiring, Hukum Adat karo dalam Rangka
Pembentukan Hukum Nasional. Bandung: Tarsito,
1978.
NAIM, Mochtar, Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris
Minangkabau. Padang: Sri Dharmawan, 1968.
NIWAN, Lely, Hukum Waris Menurut KUH Perdata. Makasar:
LPHK- FH-Unhas,1971.
NOTOPURO, Hardjito, Masalah-masalah dalam Hukum Waris di
Indonesia. Jakarta: TP, 1971.
PITLO, A., Hukum Waris jilid I. Jakarta: Intermasa, 1979.
____________, Hukum Waris jilid 2, Jakarta: Intermasa : 1979
120
POERWADARMITA, W. J. S., Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
PRODJODIKORO. Wirjono, Hukum Warisan di Indonesia.
Bandung: Vorkink. Van Hoeve, TT.
PUDJOSUBROTO, Santoso, Masalah Hukum Sehari-hari.
Yogyakarta: Hien Hoo Sing, 1964.
RAMULYO, M. Idris, Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i
Hazairin dan Wasiat Wajib di Mesir, tentang
Pembagian warisan untuk cucu menurut Islam;
Majalah Hukum dan Pembangunan No.2 tahun
keXII, Jakarta: Maret 1982.
SAFIOEDIN, Asis, Beberapa Hal Tentang Burgelijk Wetboek.
Bandung: Alumni, 1973.
SALAYAN, Abdul Wahid, Hak Wanita. Medan: Bintang, 1959.
______________, Ikhtisar Hukum Islam. Padang: Mimbar, 1964.
SAMSUDIN, Achmad, Yurisprudensi Hukum Waris. Bandung:
Alumni, 1983.
SIHOMBING, Hermawan, Perkembangan Kewarisandalam adat
Minangkabau; Majalah Hukum dan Keadilan;
Jakarta: BPHN No.3, 1975.
SOEKANTO, Soejono, Kamus Hukum Adat. Bandung: Alumni,
1978.
_______________, Intisari Hukum Keluarga. Bandung: Alumni,
1980.
_______________, Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali,
1981.
SOEPOMO, Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Jakarta: Rajawali,
1980.
_______________, Hukum Perdata Jawa Barat. Jakarta: Penerbit
Universitas, 1966.
SOEWONDO, Nani, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum
dan Masyarakat. Jakarta: Timur Mas, 1968.
SUBEKTI, R., Hukum Adat Indonesia dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung. Bandung: Alumni,
1974.
_______________, Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: Inter
Masa,1977.
_______________, Kekuasaan Mahkamah Agung RI. Bandung:
Alumni, 1980.
SUDIYAT. Iman, Hukum, Adat sketsa Asas. Yogyakarta:
Liberty,1978.
SUTANTIO, Retnowulan, Wanita dan Hukum. Bandung: Alumni,
1979.
THALIB, Sayuti, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta:
Bina Aksara, 1984.
121
_______________, Usaha Pembaharuan Hukum Keawarisan Islam
di Indonesia; Majalah Hukum dan Pembangunan No.
2 tahun ke XII, Jakarta: Maret 1982.
WIGNJODIPURO Surojo, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat.
Jakarta: Gunung Agung, 1982.


Lampiran 1








































Sumber: Al-Qawim, Ilmu yang Terlupakan. Bandung: YPP Nurul Iman, 2002.

14
15
4
3


Yang
Mati
10
1
12
5
9 8
2
7 6
11
13
1. Anak
2. Cucu sampai ke
bawah
3. Ayah
4. Kakek sampai ke
atas
5. Saudara
sekandung
6. Saudara sebapak
7. Saudara seibu
8. Anak saudara
sekandung

9. Anak saudara
sebapak
10. Paman sekandung
11. Paman sebapak
12. Anak paman
sekandung
13. Anak paman
sebapak
14. Suami
15. Yang
memerdekakan












































Sumber: Al-Qawim, Ilmu yang Terlupakan. Bandung: YPP Nurul Iman, 2002.
9
10
4
3


Yang
Mati
BAPAK
1
6
5
Anak
Laki-laki
2
8 7


1. Anak
2. Cucu dari anak
laki-laki
3. Ibu
4. Nenek dari Ibu
5. Nenek dari Bapak




6. Saudara
sekandung
7. Saudara sebapak
8. Saudara seibu
9. Isteri
10. Yang
memerdekakan


AHLI WARIS YANG MEMPUNYAI BAGIAN-BAGIAN TERTENTU


NAMA Bagian KETERANGAN No.
Dalil
Mahjub (terhalang)
oleh

a ½ Bila Seorang 22
b Bila Dua orang/lebih 21

Anak perempuan
c A Bila Dengan anak laki-laki 20


Tidak ada
a ½ Bila Seorang 22
b Bila Dua orang/lebih 21
c 1/6

Bila Dg. seorang anak
perempuan
12



Cucu perempuan


d A Bila Dg cucu laki-laki 20

Anak laki-laki atau
anak perempuan dua
orang atau lebih

a Mal Bila Tak ada anak/cucu 5
b Sisa Bila Dg ayah, suami/isteri 7
c 1/6 Bila Ada anak/cucu 6

Ibu
d 1/6 Bila dg sdr.dua orang/lebih 24

Tidak ada
Nenek dari Ibu a 1/6 Bila Ibu
Nenek dari Ayah a 1/6 Bila

Ada anak cucu/tidak

2/3 Ibu/Ayah
a ½ Bila Seorang 14
b Bila Dua orang/lebih 10
c A

Bila dg sdr.laki-laki
sekandung
11

d A Bila Dg anak perempuan 12

Saudara perempuan
sekandung

e A Bila Dg kakek 26


Anak laki-laki atau
Ayah
a ½ Bila Seorang 14
b Bila Dua orang/lebih 10
c 1/6

Bila Dg seorang sdr.
perempuan sekandung
13

d A

Bila Dg sdr.laki-laki
sebapak
11

e A Bila Dg anak perempuan 12

Saudara perempuan
sebapak
f A Bila Dg kakek 26

Anak laki-laki atau
ayah atau sdr. Laki-
laki sekandung atau
sdr. Perempuan
sekandung dua orang
atau lebih
a 1/6 Bila Seorang 8 Saudara laki-
laki/perempuan seibu b Bila Dua orang/lebih 9
Ayah/Kakek/anak/
cucu
a ½ Bila Tidak ada anak/cucu 18
Suami b ¼ Bila Ada anak/cucu 19

Tidak ada
a ¼ Bila Tidak ada anak/cucu 16 Isteri seorang / lebih
b Bila Ada anak/cucu 17

Tidak ada
Ayah a 1/6 +A Bila 27 Tidak ada
Kakek dari ayah a 1/6 +A Bila

Ada anak/cucu 27,23 Ayah
Ayah/kakek mendapat bagian 1/6 + Ashabah bila masih ada sisa. M=Mahjub. A=Ashabah

Sumber: Al-Qawim, Ilmu yang Terlupakan. Bandung: YPP Nurul Iman, 2002.













1. Anak laki-laki
2. Cucu laki-laki
3. Ayah
4. Kakek dari Ayah
5. Saudara laki-laki sekandung
6. Saudara laki-laki sebapak
7. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
8. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak
9. Paman sekandung
10. Paman sebapak
11. Anak paman sekandung
12. Anak paman sebapak
13. Laki-laki/Perempuan yang memerdekakan








Sumber: Al-Qawim, Ilmu yang Terlupakan. Bandung: YPP Nurul Iman, 2002.
131

Lampiran 2

PIDATO PENGARAHAN MENTERI KEHAKIMAN RI
PADA SIMPOSIUM HUKUM WARIS NASIONAL
JAKARTA, 10 – 12 PEBRUARI 1983

Hadirin yang saya hormati,
Para peserta Simposium yang berbahagia,
Perkenankanlah saya pertama-tama untuk memanjatkan puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia serta
hidayahNya, yang memungkinkan kita untuk berkumpul dalam
pertemuan pagi hari ini dalam rangka mengisi program pertemuan ilmiah
Badan Pembinaan Hukum Nasional yang terakhir dalam tahun anggaran
1982/1983. Sebagaimana halnya pada pertemuan-pertemuan ilmiah
terdahulu penyelenggaraaan pertemuan ilmiah kali inipun dimaksudkan
sebagai usaha untuk memberi isi serta masukan ke arah pembinaan dan
pembaharuan kodifikasi Hukum Nasional, khususnya di bidang Hukum
Waris sebagai salah satu unsur dari Hukum Perdata Nasional. Dilihat dari
segi lain, Simposium Hukum Waris Nasional ini juga merupakan tindak
lanjut dari kegiatan Badan Pembinaan Hukum Nasional di bidang
penelitian dan pengkajian hukum yang membahas mengenai hukum
waris.
Hadirin yang saya hormati,
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam Simpoium
Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang diadakan oleh Badan
Pembinaan Hukum Nasional di Yogyakarta pada tanggal 21-23
Desember 1981, telah dikemukakan bahwa di bidang Hukum Waris ini
masih nampak adanya sifat pluralistik. Terlihat masih berlakunya Hukum
132
Waris Adat, Islam dan BW secara bersama-sama, sementara di bidang
Hukum Adat sendiri menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan darah
Hukum Adat yang satu dengan lainnya, yang berkaitan erat dengan
kekeluargaan (patrilinial, matrilinial dan parental), dengan jenis serta
status harta yang akan diwariskan.
Di samping ditunjukkan adanya perbedaan yang terdapat pada
masing-masing sistem hukum tersebut, satu hal yang perlu saya tekankan
secara khusus pada kesempatan ini adalah telah disepakatinya untuk tidak
perlu menonjol masalah perbedaan tersebut. Sebaliknya, harus
dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan titik-titik
persamaan antara satu dengan yang lain melalui penetapan asas-asas
Hukum Waris, baik yang diambil dari Hukum Islam, Hukum Adat
maupun Hukum Barat, untuk dirumuskan menjadi Hukum Waris
Nasional.
Para peserta Simposium sekalian,
Saya sengaja mengemukakan kembali hal tersebut di atas karena
berpendapat bahwa ia sangat relevan dengan masalah yang menjadi topik
pembahasan Simposium ini. Saya sangat menghargai prakarsa Badan
Pembinaan Hukum Nasional membahas topik dengan cara yang
memungkinkan semua pandangan bertemu pada suatu titik untuk
mengangkat asas-asas serta prinsip-prinsip Hukum Waris dan berbagai
sistem hukum yang berbeda itu ke tingkat Nasional. Usaha semacam ini
saya anjurkan hanya terbatas pada Hukum Waris saja, tetapi perlu
dilakukan pula pada bidang-bidang hukum lainnya. Dalam hubungan ini
saya perlu mengingatkan bahwa dalam pembinaan hukum nasional
bahan-bahan baku hukum yang digunakan dapat saja diambil dari
berbagai sumber yang mungkin berbeda satu sama lain untuk
dimanfaatkan secara maksimal. Pemanfaatan bahan baku hukum dari
berbagai sumber hukum tadi, hasilnya akan merupakan norma hukum
133
yang diharapkan dapat diterima oleh seluruh warga negara sebagaimana
yang diinginkan dalam konsepsi Wawasan Nusantara di bidang hukum.
Khusus mengenai Hukum Waris yang akan Saudara-saudara
bahas selama tiga hari ini, saya sangat berharap ditemukannya asas-asas
dan prinsip-prinsip yang bersifat nasional, asas-asas dan prinsip-prinsip
yang bersumber dari berbagai sistem hukum namun akhirnya akan
bermuara pada Hukum Waris Nasional yang akan dirumuskan nanti.
Demikian sambutan singkat saya, yang saya sertai doa dambaan
semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati anda semua dan semoga
pertemuan ilmiah ini sebagai bahagian dari usaha pembinaan Hukum
Nasional akan menemukan manfaat besarnya. Akhirnya kepada para
peserta saya ucapkan selamat bersimposium.
Terima kasih.

Jakarta, 10 Pebruari 1983
MENTERI KEHAKIMAN RI


ttd

ALI SAID, S.H.



134
Lampiran 3


KESIMPULAN SIMPOSIUM
HUKUM WARIS NASIONAL

1. Kesimpulan

A. Umum

1. Latar Belakang

Pemikiran ke arah perlunya suatu pengaturan mengenai hukum
waris Nasional yang telah dimulai sejak tahun 1960 sebagaimana
dinyatakan dalam Ketetapan MPRS Nomor 11/MPRS/1960 agar
supaya diundangkan undang-undang mengenai hukum waris.
Persoalan ini kemudian dikembangkan pula sebagai salah satu topik
pembahasan Seminar Hukum Nasional I Tahun 1963. Seminar
tersebut telah berhasil merumuskan beberapa kesepakatan berkenaan
dengan hukum kewarisan Nasional antara lain tentang perlu
mengadakan kodifikasi dan unifikasi hukum kewarisan.
Sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan kesepakatan tersebut
oleh Prof. Dr. Hazairin, S.H., telah diselesaikan Rancangan Undang-
Undang Hukum Kewarisan Nasional RI (1963) dan kemudian oleh
Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LHPN) telah pula disusun
kerangka draft Hukum Waris Nasional yang berlaku untuk seluruh
Indonesia dalam rangka mewujudkan prinsip Wawasan Nusantara.

2. Bahan-bahan

Langkah langkah untuk mewujudakan cita-cita tersebut didukung
oleh sejumlah bahan-bahan yan tersedia berupa:
a. Rancangan Undang-Undang Hukum Waris Nasional oleh Prof.
Dr. Hazairin,S.H. (1963);
b. Kerangka Draf Hukum Waris Nasional oleh tim penyusun
RUU Hukum Waris Nasional LPHN (1973);
c. Hasil penelitian tentang masalah Hukum Waris yang dilakukan
antara lain oleh:
i. Lembaga Pembinaan Hukum Nasional/ Badan Pembinaan
Hukum Nasional (BPHN);
ii. Mahkamah Agung RI;
iii. Departemen Kehakiman RI;
iv. Departemen Agama RI;
v. Universitas/ Institut;
vi. Lembaga lembaga lainnya.
d. Hasil hasil pertemuan ilmiah tentang masalah Hukum Waris
Nasional Antara lain :
135
i. Seminar Hukum NasionalI 1983 khususnya untuk bidang
asas-asas Tata Hukum Nasional di dalam bidang hukum
waris;
ii. Diskusi tentang Hukum Waris, Lembaga Pembinaan
Hukum Waris Nasional (LPHN)1973;
iii. Seminar Hukum Waris bagi umat Islam yang
diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Badan Peradilan
Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
Departemen Agama di Jakarta pada tanggal 22 sampai
dengan 26 Mei 1978;
iv. Seminar Hukum Waris yang diselenggarakan oleh Proyek
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen
Agama RI di Cisarua Bogor tanggal 5-8 April1982.
v. Panel diskusi tentang pewarisan yang diselenggarakan
oleh tim pengkajian Hukum Islam tahun 1981/1982
Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jogjakarta, tanggal
20 Desember 1981;
Hasil Panel Diskusi Pengkajian bidang Hukum Islam
Mengenai anak angkat tanggal 13 Desember 1980;
vi. Simposium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang
diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional
yang bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di
Jogjakarta tanggal 21-23 Desember1981;
vii. Simposium Hukum Waris Nasional yang diselenggarakan
oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jakarta
tanggal 10-12 Februari 1983;
viii. Draft Akademis mengenai Adopsi dan Pengangkatan
Anak (1980/1981).

e. Hasil-hasil pengkajian dari Panitia ahli dan Tim pengkaji
Badan Pembinaan Hukum Nasional antara lain:
i. Sumbangan pikiran Panitia Ahli Badan Pembinaan
Hukum Nasional 1980/1981 tentang paradigma filsafat
untuk mengidentifikasi Asas Hukum Nasional.
ii. Laporan hasil tim pengkaji Hukum Perdata, Hukum Adat,
dan Hukum Islam.
Bahan-bahan tersebut telah cukup memadai untuk dapat
dijadikan dasar guna mengambil langkah-langkah konkrit
ke arah penyusunaan Hukum Waris Nasional, walaupun
untuk beberapa hal tertentu bahan-bahan tersebut perlu
untuk diolah dan dikaji kembali secara mendalam dengan
memperhatikan perkembangan baru yang terjadi dalam
masyarakat.

3. Pendekatan

Usaha penyusunan Hukum Waris Nasional harus dilakukan
secara hati-hati mengingat akan sifat pekanya bidang ini yang memang
erat sekali hubungannya dengan Agama dan kebudayaan agar tidak
136
menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Mengingat akan
pentingnya penyusunan Hukum Waris Nasional ini kiranya langkah-
langkah ke arah itu harus mulai dilakukan secara bertahap, walaupun
masih ada pendapat yang menyatakan bahwa pada saat ini masih
belum waktunya. Usaha tersebut dapat dimulai di bidang yang cukup
netral, misalnya yang menyangkut bidang Administrasinya saja.
Disarankan pula agar Hukum Waris Nasional yang akan disusun
nanti tidak perlu seluruhnya bersifat memaksa (dwingend recht) akan
tetapi dimana perlu ada bagian-bagiannya yang yang bersifat mengatur
saja (regelend recht).
Pola penyusunan dapat dilakukan sesuai denan Undang-Undang
Nomor 1/1974 tentang Perkawinan yang masih membuka
kemungkinan diterapkannya hukum dari masing masing golongan.
Dengan demikian, dalam sistem Hukum Waris Nasional yang akan
datang di samping hukum tertulis diakui pula berlakunya hukum tidak
tertulis (Hukum Agama dan Hukum Adat).
Dari pendapat yang berkembang dalam Simposium didapat
kesepakatan tentang asas-asas umum (general principles) Hukum
Nasional di dalam bidang Hukum Waris seperti asas kemanfaatan,
asas keadilan, dan asas kepastian hukum.
Akan tetapi mengenai asas-asas khusus Hukum Waris masih
terdapat perbedaan karena ada asas-asas yang dapat diterima dan ada
pula yang belum disepakati. Untuk itu simposium baru berhasil
menemukan persamaan dan perbedaan tentang asas-asas tersebut.

B. Materi

1. Kesepakatan Pendapat

a. Asas

Asas-asas yang telah ditetapkan dalam GBHN TAP/ MPR/
1978 dan disepakati pula dalam Seminar Hukum Nasional
IV Tahun 1979, dijadikan dasar bagi pembentukan Hukum
Waris Nasional.

b. Hal Pewarisan

(1) Pewarisan pada dasarnya berlangsung menurut garis
menurun;
(2) Tujuan utama adalah untuk membuat para penerima
(ahli waris) hidup dengan sejahtera.
(3) Pola pembagian warisan adalah parental individual,
setidak-tidaknya cenderung ke arah itu.
(4) Pola parental individual mengenai penggantian secara
terbatas.

c. Subjek waris

137
(1) Ahli waris adalah mereka yang mempunyai pertalian
keluarga dengan pewaris melalui:
- Perkawinaan;
- pertalian darah;
Dengan demikian suami, isteri, anak, bapak, dan ibu
adalah ahli waris satu sama lain. Mereka itu adalah ahli
waris golongan pertama.

(2) Perlindungan
- perlunya ada ketentuan untuk melindungi para ahli
waris, agar jangan sampai mereka dirugikan.
- tentang pewarisan untuk isteri kedua dan seterusnya,
mengikuti asas tersebut dalam pasal 65 b dan c UU
Nomor 1 Tahun1974.

(3) Yang tidak mewarisi waris
Orang yang membunuh pewaris tidak berhak mewaris
dari harta peninggalan orang yang telah dibunuhnya.

d. Objek pewarisan

(1) Apa yang diwariskan
Pada hakikatnya yang beralih dari tangan yang wafat
kepada ahli waris adalah barang-barang peninggalan
dalam keadaan bersih dalam arti hutang-hutangnya
telah dibayar (saldonya).
(2) Fungsi harta warisan
Harta warisan berfungsi sebagai modal dasar materiil
bagi pembinaan kehidupan dan mewujudkan keadilan
sosial.

e. Masalah Administras
i
(1) Mengenai surat keterangan waris
a) Perlu adanya penetapan mengenai lembaga yang
diberi kewenangan untuk menerbitkan surat
keterangan waris.
b) Perlu adanya ketelitian dalam segi-segi teknis
yuridis dari perolehan surat keterangan waris.
(2) Mengenai surat wasiat
a) Perlu adanya penyeragaman dan kemudahan dalam
tata cara dan syarat syarat untuk membuat surat
wasiat.
b) Perlu pendayagunaan pendaftaran surat wasiat
dengan melembagakannya sampai ke daerah daerah.




138



2. Pendapat pendapat yang masih berbeda

a. Subjek Hukum Waris

(1) Ahli waris berbeda agama
a) Terdapat perbedaan pendapat dalam hal waris
mewaris antara orang yang berlainan agama. Satu
pihak menghendaki diberikan hal mewaris,
sebaliknya pihak lain menyatakan hal itu tidak
mungkin dilaksanakan sebab ada larangan agama.
b) Dalam hal ada perbedaan agama dan pendapat yang
menyetujui pengalihan harta dilakukan melalui
hibah atau wasiat.

(2) Anak luar kawin
Anak luar kawin dapat mewarisi dari ibu kandung dan
keluarga ibu kandungnya lihat pasal 43 Undang-undang
tentang Perkawinan. Mengenai hal-hal lain belum ada
kesepakatan.

(3) Anak angkat
a) Ada dua pendapat mengenai anak angkat, anak
angkat yang dapat mewaris dan yang tidak dapat
mewaris.
b) Dalam Hukum Islam anak angkat bukan ahli waris.

(4) Yang tidak berhak mewaris
Adalah yang melakukanperbuatan tercela (mencoba
membunuh, memfitnah, menganiaya, dan
menggelapkan surat wasiat pewaris).

b. Objek Hukum Waris

(1) Dalam Hukum Adat harta kekayaan sebelum
merupakan suatu kebulatan, sebaliknya dalam Hukum
Islam dan BW terdapat kesatuan yang bulat.

(2) Ada pendapat yang berbeda mengenai pelaksanaan
pewarisan atas harta pencaharian di Minangkabau.

a) Besarnya bagian anak
Tentang bagian-bagian yang akan diterma belum
ada kesepakatan.
Ada pendapat yang menghendaki agar anak laki-
laki dan perempuan mendapat bagian yang sama
tanpa diskriminasi.
139
Sebaliknya ada pendapat yang mempertahankan
bahwa bagian anak laki-laki harus 2 (dua) kali
bagian anak perempuan yang berdasarkan ketentuan
Hukum Waris Islam.
Tapi ketentuan ini tidak menutup kemungkinan di
adakannya wasiat atau musyawarah untuk
memberikan jumlah yang sama kepada anak
perempuan.

b) Bagian janda/duda
Belum ada kesepakatan tentang besarnya jumlah
bagian yang diterima oleh janda/duda.
(i) Janda/duda memperoleh bagian sama dengan
bagian anak;
(ii) Janda/duda memperoleh bagian ½ dari harta
warisan ditambah dengan 1 bagian anak;
(iii)Menurut Fadilah janda/duda tanpa anak ¼ dan
janda/duda dengan setelah mendapat bagian
dari harta bersama.

c) Anak angkat
(i) Bagian anak angkat tidak sama besarnya dengan
anak kandung;
(ii) Anak angkat memperoleh bagian yang sama
besarnya dengan anak kandung;
(iii)Menerima bagian secara hibah atau wasiat;
(iv) Anak angkat hanya mewaris dari gono gini;
(v) Anak angkat tidak mendapat warisan dari orang
tua angkatnya.


c. Administrasi

(1) Ada pendapat agar instansi pamong praja (Lurah,
Camat) diberikan kewenangan waris, demi kemudahan.
(2) Mengenai surat waris
Ada usulan yang ditunjuk untuk membuat wasiat/akta
adalah: Panitera Pengadilan Negeri, Notaris, dan
pejabat lain dengan mengingat asas yang tercantum
dalam pasal 4 ayat (2) UU Pokok Kekuasaan
Kehakiman.

3. Lain-lain

a. Perihal wadah dan wewenang
Diperlukan ketegasan dalam pengaturan tentang wadah
yang berwenang memeriksa dan mengadili sengketa-
sengketa waris maupun menetapkan “hukumnya” dalam hal
tidak ada sengketa;
140
(1) Ada pendapat, bahwa dalam hal mengenai hukum waris
Islam, hendaknya ditetapkan agar Peradilan Agama-lah
yang diberi wewenang, sedangkan untuk hukum waris
lainya ditetapkan Peradilan Umum;
(2) Ada pula pendapat bahwa hendaknya hanya Peradilan
Umum yang diberi wewenang.

b. Perihal pewarisan tanah
(1) Diusulkan agar calon pewaris pada masa hidupnya
sudah menunjuk siapa-siapa ahli waris yang kelak akan
menerima tanah tersebut sebagai warisan;
(2) Pengaturan selanjutnya diatur oleh Undang-Undang
Hak Milik atas tanah.
c. Perihal istilah-istilah
Istilah-istilah dalam hukum waris perlu dibakukan agar
lebih jelas dan pasti.


II. Rekomendasi

Di dalam Simposium terdapat petunjuk petunjuk adanya
informasi yang berlainnya mengenai perkembangan-
perkembangan hukum waris di daerah. Diperkirakan bahwa
informasi yang berlainan itu terjadi karena adanya
perbedaan metoda dan waktu penelitian. Oleh karena itu,
diusulkan agar diadakan penelitian lanjutan. Yang
berfungsi mengecek kebenaran dan memonitor
perkembangannya.

Diusulkan agar diadakan tindak lanjut yang menuju kepada
pembentukan naskah akademis RUU Hukum Waris.

Semua hasil-hasil Simposium, Seminar, maupun penelitian
hendaknya dipergunakan dan dimanfaatkan secara
maksimal.

KATA PENGANTAR (Edisi Revisi)
Buku Hukum Waris yang sedang Anda baca ini adalah sebuah buku yang penulis susun serta diterbitkan pertama kali pada tahun 1984, kemudian dicetak ulang pada tahun 1995. Sejak saat itu buku ini tidak diterbitkan karena berbagai pertimbangan. Kini buku tersebut hadir kembali ke hadapan para pembaca setelah mengalami proses revisi dengan judul yang juga mengalami perubahan. Pada terbitan pertama dan kedua buku ini berjudul “Intisari Hukum Waris Indonesia”. Kini setelah materinya mengalami revisi, judul buku ini pun diubah menjadi “Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat, dan BW”. Bagi para Mahasiswa (S1) Ilmu Hukum yang sedang mengikuti perkuliahan Hukum Keluarga dan Waris (A1A.301), Hukum Perkawinan dan Waris Islam (A1A.302), serta mata kuliah Hukum Perkawinan dan Waris Adat (A10.405), ada baiknya apabila memiliki dan membaca buku ini. Demikian pula kepada para Mahasiswa (S2) Pascasarjana Magister Kenotariatan yang sedang mengikuti perkuliahan Hukum Waris Islam, Hukum Waris BW, dan Hukum Waris Adat, semoga buku ini dapat membantu anda dalam rangka menelusuri serta memahami hal ihwal hukum waris yang sedang dikaji. Ucapan terima kasih tentu saja saya sampaikan kepada Penerbit Refika Aditama Bandung yang telah bersedia untuk menerima naskah buku ini untuk diproses penerbitannya. Last but not least, menyadari segala kekurangan buku ini, sehingga kritik dan saran dari pembaca, insya Allah akan sangat penulis hargai. Paling akhir, kepada semua pihak yang telah memungkinkan terbitnya kembali buku ini, penulis mengucapkan terima kasih. Taruna Parahiangan, Bandung, 5 Mei 2005

ii

Eman Suparman, Lahir di Kuningan, 23 April 1959. Islam, Laki-laki. Lektor Kepala Hukum Acara Perdata pada Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung. Pendidikan: S1 bidang Hukum Perdata,Universitas Padjadjaran,1982; S2 bidang Hukum Acara Perdata, Universitas Gadjah Mada, 1988; S3 bidang Hukum Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa, Universitas Diponegoro, 2004. Judul Tesis: Keharusan Mewakilkan Dalam Menunjang Proses Pemeriksaan Perkara yang Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan. Pembimbing: Prof. Dr. R.M. Sudikno Mertokusumo, S.H.; Judul Disertasi: Pilihan Forum Arbitrase Dalam Sengketa Komersial Untuk Penegakan Keadilan. Promotor: Prof. Dr. I.S. Susanto,S.H. (alm), Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, S.H. (Ketua Muda Mahkamah Agung RI), Prof. Dr. Hj. Esmi Warassih Pujirahayu, S.H.,M.S. Pengalaman tambahan: “Sandwich Programme” untuk studi lanjutan, penelitian, dan studi perbandingan bidang Hukum Perdata Internasional dan Hukum Arbitrase di Rijksuniversiteit Leiden, The Netherlands, 1990/1991. Sebagai “Visiting Scholar for the European Council Session at Strasborough, France, March 1991.” Awal 1997 dengan ABWPP & Associates stipend kembali berkesempatan sebagai Visiting Scholar at “de Hoge Raad der Nederlanden”; The Hague, The Netherlands, March 1997; Visiting Academic and Research Programme, organised by The Departement of Law The University of Nottingham, United Kingdom, April 1997; Visiting Scholar at “The 7th Annual Writers” Festival Prague ’97 at Franz Kafka Centre on Prague’s Old Town Square, Prague, Czech Republic, May 1997; Participant at The SANGIS Training Programme: South East Asian Network for a Geological Information System; International Centre for Training and Exchanges in Geosciences; United Nations Buildings, Bangkok, Thailand, June 2001. Buku yang pernah dan sedang dalam proses penerbitan (1) INTISARI HUKUM WARIS INDONESIA, CV Mandar Maju, Bandung, 1995. (2) HUKUM DAN BIROKRASI (sebagai salah satu penulis), Semarang: Walisongo Research Institute, April 2001. (3) PILIHAN FORUM ARBITRASE DALAM SENGKETA KOMERSIAL UNTUK PENEGAKAN KEADILAN, PT Tatanusa, Jakarta, 2004. (4) HUKUM WARIS INDONESIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM, ADAT, DAN BW; (Dalam Proses Penerbitan). Memperoleh Penghargaan Karya Ilmiah Terbaik Universitas Padjadjaran, Bandung, 21 September 1998. Pernah ditugaskan oleh Ditjen Dikti Depdiknas sebagai tenaga Detasering pada Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura, Agustus-Desember 2004. Dari pernikahannya dengan Dra. Ella Dewi Laraswati, dikaruniai 2 (dua) orang putri. (1) Risa Dewi Angganiawati (Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung) dan (2) Anggiani Dewi Rahmawati (Siswi SMA Negeri 1 Kota Bandung).

............. 29 4..............................DAFTAR ISI Kata Sambutan ................... Dzul Arhaam ..... Ahli Waris menurut sistem BW ........... Warisan dalam sistem hukum waris Islam ........... Hukum waris dalam Al Qur'an ................. Hukum Islam 1..... Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris . Warisan dalam sistem hukum waris BW ............... 13 3..... Hukum waris menurut BW ............................... Bagian masing-masing ahli waris menurut BW 36 18 20 5. 20 iii ......... 6............................................ 10 2............. c.................................. 23 7......................... Ahli waris dalam Islam ........................................ Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa'idh...................................................................... 16 4............................................. i Kata Pengantar .... Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan ............................... Ashabah .. ii Daftar Isi ... 16 a..................................................... Pewaris dan dasar hukum mewaris .................... Kelompok keutamaan ahli waris menurut Al Qur'an . 25 2............................................................................ Aneka Ragam Hukum Waris ..1 B..................................................................... 27 3.............. 8 BAB II : HUKUM WARIS ISLAM DAN HUKUM WARIS BW DI INDONESIA A..... 24 B......... 17 b... iii BAB I : PENDAHULUAN A..................................... 5 C. Hukum Perdata Barat (BW) 1........................... Dzul faraa'idh ..... 31 5.. Pewaris dan dasar hukum mewaris ...... Sifat Hukum Waris .................................

...... Beberapa pendapat kesimpulan tentang hukum adat waris patrilineal .. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral ............................................... Sistem Kekeluargaan dan hukum adat waris .......................... Ahli waris dalam hukum adat waris Parental .... b) Harta bersama . 47 1.. 50 3......... ahli waris... 40 7............. 1........................................... 54 C........ a) harta asal ..................................... Sistem kekeluargaan Patrilineal ..... dan pembagian harta pusaka................ 55 2................. Hukum waris adat Matrilineal ...... 43 B.... 57 3.................. Anak angkat dan perkawinan poligami dalam hukum adat parental ................................. Pewaris........ Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan ...................... Peranan Balai Harta Peninggalan dalam pembagian warisan ............. D.... a) Sedarah dan tidak sedarah ........ Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971 ................ 3..... Hukum waris adat partilineal ...... 2.................... b) Ahli waris dalam perkawinan poligami ................................................................... Harta warisan dalam hukum adat waris Minangkabau ......... 68 68 69 66 66 68 67 67 68 58 63 64 64 iv ... 55 1..................................... Harta warisan menurut hukum adat waris Parental ................................... 4.........6...................... 4....................... 41 BAB III : HUKUM WARIS ADAT DI INDONESIA A...... a) Anak angkat ............... Ahli waris dan hak mewaris menurut adat Minangkabau ....................... Hukum waris adat parental atau Bilateral ................ Sistem Kekeluargaan Matrilineal ................. b) Kepunahan atau nunggul pinang ...................... 47 2..........

...c) Kehilangan hak mewaris ...... Hibah menurut hukum adat Jawa Barat ....... DAFTAR PUSTAKA ..................................... 105 1.......... 89 1................................ Pengertian Hibah ..................... Ihtisar Hibah ................................. 94 95 83 84 B. 71 E.......................................... Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan ...........................69 d) Penggantian tempat ahli waris ........... Ihtisar ............................................ Ihtisar Hibah Wasiat ... Saat pembagian warisan ................................ Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW) ..................... Hutang Pewaris ........................................... 109 111 114 119 b) Wasiat Umum ....................................... F................................. D...70 e) Penetapan ahli waris . 103 C.......... 71 1..................................................................................... 110 3..... 83 5... Mengesampingkan ahli waris ....................... Tata cara membagi harta warisan . 73 3.... c) Wasiat Rahasia ............................... 71 2............. Hibah menurut Hukum Islam .............. Hibah wasiat menurut BW ......................... 89 2..................... Pengertian Hibah wasiat atau Wasiat ................................... 73 4.................. Hibah wasiat menurut hukum waris Islam .......................... 4....................................................... Hibah wasiat menurut hukum Adat Jawa Barat 112 v ... BAB IV : PERIHAL HIBAH DAN HIBAH WASIAT A......... Besarnya bagian yang diterima ahli waris ............. Pengertian Pokok Hibah ....... 109 a) Wasiat Olografis .............. 106 2...... 90 3......

.......................LAMPIRAN-LAMPIRAN 1......................128 120 123 vi ................... Pidato Pengarahan Menteri Kehakiman RI Pada Simposium Hukum Waris Nasional (Jakarta........... 124 3................. Ahli waris yang mempunyai bagian-bagian Tertentu ...................................... 2.. Ahli Waris laki-laki............. Ahli Waris Perempuan............... Susunan Ashabah ......................10-12 Pebruari 1983) ...... Kesimpulan Simposium Hukum Waris Nasional 127 Ihwal Penulis ................................

Sri Soemantri Martosoewignjo.S. Dr. salah seorang pengajar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini harus disambut dengan gembira. Oleh karena itu. Dr. yaitu dharma dalam bidang pendidikan pengajaran.S. R. dan dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Tridharma Perguruan Tinggi tersebut harus dipenuhi oleh setiap orang pengajar di Perguruan Tinggi. Dari tulisan ini saudara Eman Suparman berusaha mengemukakan buah pikirannya. Dekan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran i . tulisan yang dikerjakan oleh saudara Eman Suparman. Bukan saja karena tulisan ini merupakan perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi.KATA SAMBUTAN Prof. R. oleh karena hal itu juga merupakan syarat bukan saja bagi kemajuan dan perkembangan Perguruan Tinggi akan tetapi juga mempunyai arti penting dalam jenjang karir seorang anggota staf pengajar. Bandung. 27 Maret 1985 Prof. bidang penelitian. bahwa penulis mencoba mengemukakan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam bidang hukum waris. akan tetapi dari isinya dapat dikaji. (Pada Edisi Pertama) Perguruan Tinggi di Indonesia mempunyai Tridharma.H. Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua. Sri Soemantri M..H.

Majalah Hukum dan Pembangunan No. 72.2 Hazairin. penulis 1 2 3 4 M. Untuk pengertian hukum “waris” sampai saat ini baik para ahli hukum Indonesia maupun di dalam kepustakaan ilmu hukum Indonesia. diatur oleh hukum waris. “Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i dan Wasiat Wajib di Mesir tentang Pembagian Harta Warisan untuk Cucu menurut Islam”. 1982. baik tentang penyebutan istilahnya maupun berkenaan dengan pengertian hukum waris itu sendiri. Akibat hukum yang dilanjutnya timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak 1 dan kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu. 2 Thn. Hukum Warisan di Indonesia. 4 Memperhatikan ketiga istilah yang dikemukakan oleh ketiga ahli hukum Indonesia di atas. Idris Ramulyo. Hazairin. h. 1 . Wirjono Prodjodokoro. belum terdapat keseragaman pengertian.3 dan Soepomo menyebutnya dengan istilah “hukum waris”. 8. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. 154. Jakarta: FHUI. 1996. Jakarta: Penerbitan Universitas. Vorkink van Hoeve. Misalnya saja. Pengertian Istilah dan Batasan Hukum Waris Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Penyelesaian hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai akibat meninggalnya seseorang. Jakarta: Tintamas. Soepomo. Hukum Kewarisan Bilateral menurut Al Qur.1 A. h. sebab setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. 1. Bab-bab tentang Hukum Adat. menggunakan istilah “hukum warisan”. Wirjono Prodjodikoro.an. 's-Gravenhage. sehingga istilah untuk hukum waris masih beraneka ragam. h. Bandung. XII Maret 1982. mempergunakan istilah “hukum kewarisan”. h.

hampir tidak dapat dihindarkan untuk terlebih dahulu memahami beberapa istilah yang lazim dijumpai dan dikenal. Waris: Istilah ini berarti orang yang berhak menerima pusaka (peninggalan) orang yang telah meninggal. dan surat wasiat..lebih cenderung untuk mengikuti istilah dan pengertian “hukum waris” sebagaimana yang digunakan oleh Soepomo. Loc. 2.5 Oleh karena itu. 3. berarti orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan pewaris. 4. Istilahistilah dimaksud tentu saja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengertian hukum waris itu sendiri. 72. 2 . Dalam rangka memahami kaidah-kaidah serta seluk beluk hukum waris. Ahli waris: Yaitu sekalian orang yang menjadi waris. Beberapa istilah tersebut beserta pengertiannya seperti dapat disimak berikut ini: 1. h. 5 Soepomo. yakni orang yang meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. istilah “hukum waris” mengandung pengertian yang meliputi “kaidah-kaidah” dan asas-asas yang mengatur proses beralihnya harta benda dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia“. maupun surat wasiat. pusaka. Warisan: Berarti harta peninggalan. Cit. pusaka. Beliau menerangkan bahwa “hukum waris” itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tak terwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya. Pewaris: Adalah orang yang memberi pusaka.

Hukum Waris Adat.8 Beberapa penulis dan ahli hukum Indonesia telah mencoba memberikan rumusan mengenai pengertian hukum waris yang disusun dalam bentuk batasan (definisi). 1982. Bandung : Alumni.. yaitu: 1) berarti penerusan atau penunjukan para waris ketika pewaris masih hidup.Cit. Poerwardaminta. Menurut Soepomo. 1980. Hilman Hadikusumah dalam bukunya mengemukakan bahwa “warisan menunjukkan harta kekayaan dari orang yang telah meninggal. beberapa difinisi di antaranya penulis sajikan sebagai berikut: Wirjono Prodjodikoro9 mengemukakan: “Warisan adalah soal apakah dan bagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang yang masih hidup”. 9 Wirjono Prodjodikoro.6 6. dan 2) berarti pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal. Jakarta: Depdikbud. 7 Hilman Hadikusumah.10 “Hukum waris memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan 6 W.. Proses pewarisan: Istilah proses pewarisan mempunyai dua pengertian atau dua makna. 10 Soepomo. h.7 Berkaitan dengan beberapa istilah tersebut di atas. 1148. 3 . h..S. Bab-Bab. h. 8 Ibid. biasanya segenap ahli waris adalah mewarisi harta peninggalan pewarisnya. baik harta itu telah dibagi-bagi atau pun masih dalam keadaan tidak terbagi-bagi”. yang kemudian disebut pewaris. Cit. 8. Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 72-73.. 21. Mewarisi: Yaitu mendapat harta pusaka. Sebagai pedoman dalam upya memahami pengertian hukum waris secara utuh. h.Op.5. Op. 23. h.J.

Proses tersebut tidak menjadi “akuut” oleh sebab orang tua meninggal dunia. Santoso Pudjosubroto juga memakai istilah serupa di dalam rumusannya. 1964. Azas dan Susunan Hukum Adat.Ng. Masalah Hukum Sehari-hari. Proses ini telah mulai pada waktu orang tua masih hidup. “Yang dimaksud dengan hukum warisan adalah hukum yang mengatur apakah dan bagaimanakah hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang harta benda seseorang pada waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup”. Ter Haar Bzn12 dalam bukunya "Azas-azas dan Susunan Hukum Adat" yang dialihbahasakan oleh K. akan tetapi sesungguhnya tidak mempengaruhi secara radikal proses penerusan dan pengoperan harta benda dan harta bukan benda tersebut. 197. R.Ng. K. B. h.barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada turunannya. Santoso Pudjosubroto. 4 . Memang meninggalnya bapak atau ibu adalah suatu peristiwa yang penting bagi proses itu. Selanjutnya beliau menguraikan bahwa sengketa pewarisan timbul apabila ada orang yang meninggal. Seperti halnya Wirjono Prodjodikoro yang menggunakan istilah "hukum warisan". Soebakti Poesponoto memberikan rumusan hukum waris sebagai berikut : "Hukum waris adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi ke generasi". Soebakti Poesponoto. 11 mengemukakan. Santoso Pudjosubroto. 11 12 R. dan selanjutnya terdapat orang-orang yang berhak menerima harta yang ditinggalkan itu. Jakarta: Pradnya Paramita. kemudian terdapat harta benda yang ditinggalkan. kemudian lagi tidak ada kesepakatan dalam pembagian harta warisan itu. Yogyakarta: Hien Hoo Sing. yakni menggunakan istilah "hukum warisan" untuk menyebut "hukum waris". R. 8. h. 1960.

Atas dasar peta hukum waris yang masih demikian plurailistiknya. seperti telah diketahui di Indonesia secara umum setidak-tidaknya dikenal tiga macam sistem keturunan. maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga". Terjemahan M. Bentuk dan sistem hukum waris sangat erat kaitannya dengan bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan. Berkaitan dengan sistem penarikan garis keturunan. Op. Jakarta: Intermasa. Sedangkan sistem kekeluargaan pada masyarakat Indonesia. yaitu walaupun terdapat rumusan dan uraian yang beragam tentang hukum waris. yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya. akibatnya sampai sekarang ini pengaturan masalah warisan di Indonesia masih belum terdapat keseragaman. M. B. 5 .Isa Arief. baik dalam hubungan antara mereka dengan mereka."Hukum waris. Hukum Waris menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Belanda. pada umumnya para penulis hukum sependapat bahwa "Hukum waris itu merupakan perangkat kaidah yang mengatur tentang cara atau proses peralihan harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris atau para ahli warisnya". adalah kumpulan peraturan. 155. h. berpokok pangkal pada sistem menarik garis keturunan. Pitlo. 1.14 Untuk mengetahui serta mengelaborasi perihal hukum waris di Indonesia.Cit. 13 Suatu hal yang perlu diperhatikan. 13 14 A. 1979. sudah barang tentu terlebih dahulu perlu diketahui bentuk masyarakat serta sifat-sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan yang dikenal itu. Sifat Hukum Waris Hukum waris yang ada dan berlaku di Indonesia sampai saat ini masih belum merupakan unifikasi hukum. h. Idris Ramulyo.

Timor. Sistem matrilineal/ sifat keibuan Pada dasarnya sistem ini adalah sistem yang menarik garis keturunan ibu dan seterusnya ke atas mengambil garis keturunan dari nenek moyang perempuan. Sistem ini.15 2. Sistem ini di Indonesia antara lain terdapat pada masyarakatmasyarakat di Tanah Gayo. h. Alas. Irian Jaya.Cit. Madura. dan Lombok. 10. Aceh. seluruh Kalimantan. Sistem ini di Indonesia terdapat di berbagai daerah. Kondisi tersebut sudah tentu sangat menarik untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut. Sumatera Selatan. 1. Riau. kiranya semakin jelas jelas menunjukkan bahwa sistem hukum warisnya pun sangat pluralistik. Sumatera Timur. 10. Sistem patrilineal / sifat kebapaan Sistem ini pada prinsipnya adalah sistem yang menarik garis keturunan ayah atau garis keturunan nenek moyangnya yang laki-laki. yaitu sistem yang menarik garis keturunan baik melalui garis bapak maupun garis ibu. Op. sehingga dalam kekeluargaan semacam ini pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara pihak ibu dan pihak ayah. antara lain: di Jawa. Ternate.16 3. Ambon. dan Bali. selanjutnya dapat disimak dalam paparan singkat berikut ini sekaligus pula dengan contoh lokasi geografis lingkungan adatnya. seluruh Sulawesi. Ibid. Kekeluargaan yang bersifat keibuan ini di Indonesia hanya terdapat di satu daerah.Ketiga sistem keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaannya yang unik serta sudah sedemikian populer disebabkan segi-segi perbedaannya amat mencolok. Dari kajian saksama itulah akan dapat dipahami betapa pluralisme hukum yang menghiasi 15 16 Wirjono Prodjodikoro. 6 . h. yaitu Minangkabau. Sistem bilateral atau parental / sifat kebapak-ibuan. Batak. Memperhatikan perbedaan-perbedaan dari ketiga macam sistem keturunan dengan sifat-sifat kekeluargaan masyarakatnya tersebut di atas.

Oleh sebab itu. dua sistem hukum lainnya yang juga cukup dominan hadir bersama serta berlaku terhadap masyarakat dalam wilayah hukum Indonesia.bumi Indonesia ini masih sangat tampak dan akan terus ada bahkan mungkin sampai akhir zaman. Kedua macam sistem hukum waris yang disebut terakhir itu memiliki corak dan sifat yang berbeda dengan corak dan sifat hukum waris adat. 7 . Melengkapi pluralistisnya sistem hukum waris adat yang diakibatkan beraneka ragamnya masyarakat adat di Indonesia. tidak heran kalau sistem hukum waris adat yang ada juga beraneka ragam serta memiliki corak dan sifat-sifat tersendiri sesuai dengan sistem kekeluargaan dari masyarakat adat tersebut. Setelah dipahami. Namun demikian pluralistiknya sistem hukum waris di Indonesia tidak hanya karena sistem kekeluargaan masyarakat yang beragam. Sistem hukum waris yang dimaksud adalah Hukum Waris Islam yang berdasar dan bersumber pada Kitab Suci Al-Qur’an dan Hukum Waris Barat peninggalan zaman Hindia Belanda yang bersumber pada BW (Burgerlijk Wetboek). maupun para ahli waris. tidak lain kecuali dalam rangka memahami pengaturan ketiga jenis sistem hukum waris yang bersumber pada ketentuan yang berbeda-beda itu. Selanjutnya diharapkan akan dapat memahami baik segi-segi perbedaannya maupun segi-segi persamaannya dari masing-masing sistem hukum waris dimaksud. masing-masing menurut Hukum Waris Adat. Buku kecil ini penulis sajikan ke hadapan sidang pembaca dengan segala kekurangannya. terutama dalam sistem hukum warisnya. berikutnya diharapkan para pembaca akan dapat mengetahui dengan sendirinya tentang hukum waris manakah yang seyogianya dan bahkan semestinya diberlakukan kepada kita masing-masing. Tugas selanjutnya adalah berupaya untuk memahami masing-masing ketentuan hukum waris tersebut dalam mengatur kedudukan baik harta benda warisan. melainkan juga disebabkan adat-istiadat masyarakat Indonesia yang juga dikenal sangat bervariasi. pewaris.

hukum kontrak (perikatan). bahwa “.. Hukum.. h. Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional. dan hukum lalu-lintas (darat. pembaharuan masyarakat dengan jalan hukum berarti pembaharuan hukum terutama melalui perundangundangan. maupun menurut Hukum Waris Barat yang bersumber pada BW. 8 .18 Di samping itu beliau juga menyadari bahwa terdapat beberapa masalah dalam pelaksanaan konsepsi "hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat". Bandung: Binacipta.bidang hukum waris dianggap sebagai salah satu bidang hukum yang berada di luar "bidang-bidang yang bersifat "netral" seperti hukum perseroan. adanya komplikasi-komplikasi kultural.14. Hal itu disebabkan upaya ke arah membuat hukum waris yang sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan senantiasa mendapat kesulitan. Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bandung: Binacipta. mengingat beranekaragamnya corak budaya.Hukum Waris Islam. 1976. termasuk "bidang hukum yang mengandung terlalu banyak halangan. Satu di antaranya seperti yang dikemukakan Mochtar Kusumaatmadja. C. Di Indonesia dimana undang-undang merupakan cara pengaturan hukum yang utama. bidang hukum waris ini menurut kriteria Mochtar Kusumaatmadja.17 Dengan demikian. h. agama. Mochtar Kusumaatmadja. keagamaan dan sosiologi". h. 17 18 19 Mochtar Kusumaatmadja. Op. air dan udara)". 1975. 14. 12.19 Hukum waris sebagai salah satu bidang hukum yang berada di luar bidang yang bersifat netral kiranya sulit untuk diperbaharui dengan jalan perundang-undangan atau kodifikasi guna mencapai suatu unifikasi hukum. Aneka Ragam Hukum Waris Tampaknya sampai kapan pun usaha ke arah unifikasi hukum waris di Indonesia merupakan suatu upaya yang dapat dipastikan sulit untuk diwujudkan.cit. Mochtar Kusumaatmadja.

hukum waris yang berlaku di Indonesia dewasa ini masih tergantung pada hukumnya si pewaris. maka tidak dapat disangkal bahwa dalam beberapa hal mereka akan mempergunakan peraturan hukum waris berdasarkan hukum waris Islam. bagi mereka berlaku hukum waris Barat". paparan dalam Bab-Bab selanjutnya akan berkisar pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam masing-masing ketentuan hukum waris yang secara bersama-sama berlaku di Indonesia. maka terhadap mereka berlaku hukum adat mereka masing-masing". apabila yang meninggal dunia atau pewaris termasuk golongan penduduk Indonesia. Pakistan atau India). h. sehingga apabila pewaris termasuk golongan penduduk Indonesia yang beragama Islam. Bandung: Alumni. Yang dimaksud dengan hukumnya si pewaris adalah “hukum waris mana yang berlaku bagi orang yang meninggal dunia”.20 Di lain pihak masih ada hukum yang juga hidup dalam masyarakat yang berdasarkan kaidah-kaiadah agama. dan adat istiadat serta sistem kekeluargaan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Dari prinsip-prinsip hukum waris Indonesia existing yang pluralistik itulah kiranya dapat dipahami betapa sulitnya upaya untuk menyatukan sistem hukum waris dalam bentuk Sistem Hukum Waris Nasional Indonesia yang dicita-citakan (ius Constituendum). Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk Eropa atau Timur Asing Cina. 85. 9 . Retnowulan Sutantio. h.21 Bertolak dari uraian pendahuluan ini.sosial. Ibid. khususnya Islam (Al-Qur’an). Wanita dan Hukum. 20 21 Ny. Sebagai akibat dari keadaan masyarakat seperti dikemukakan di atas. 1979. 84-85. maka yang berlaku adalah hukum waris adat." Sedangkan apabila pewaris termasuk golongan penduduk Timur Asing lainnya (seperti: Arab. Oleh karena itu.

dan kerabatnya. Hukum waris dalam Al-Qur’an Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam. baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah di tetapkan”. S. Ayat-ayat suci yang berisi ketentuan hukum waris dalam AlQur’an.S. IV : 7. bagian 10 . satu-satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah Al-Qur’an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Sunnah Rasul beserta hasil-hasil ijtihad atau upaya para ahli hukum Islam terkemuka. IV) di antaranya sebagai berikut: a) Q. Hukum Islam 1. Dalam ayat ini secara tegas Allah menyebutkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan merupakan ahli waris. IV).“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta sepeninggalan Ibu-Bapak.2 A. II). dan bagi wanita ada pula dari harta peninggalan Ibu-Bapak.S. Berkaitan dengan hal tersebut. sebagian besar terdapat dalam surat An Nisaa (Q. Ayat-ayat tersebut secara langsung menegaskan perihal pembagian harta warisan di dalam Al-Qur’an. masing-masing tercantum dalam surat An Nissa (Q.S.S. dan kerabatnya . di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat suci Al-Qur’an yang merupakan sendi utama pengaturan warisan dalam Islam.S. b) Q. IV : 11-“Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. surat AlBaqarah (Q. dan terdapat pula pada dalam surat Al-Ahzab (Q. yaitu. XXXIII).

Tentang orang tuamu dan anak-anakmu. (Pembagianpembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.S..seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Lebih dari dua maksudnya: dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan Nabi. Dari ayat ini dapat diketahui tentang bagian anak. maka ia memperoleh separo harta. bagian ibu dan bapa. Dan untuk dua orang ibubapa. jika mereka tidak mempunyai anak. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak.“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. maka ibunya mendapat sepertiga. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. 11 . jika yang meninggal itu mempunyai anak. c) Q. maka ibunya mendapat seperenam. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. IV : 12. jika orang yang meninggal tidak amempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja). seperti kewajiban membayar mas kawin dan memberi nafkah (lihat Surat An Nisaa ayat 34). di samping itu juga diatur tentang wasiat dan hutang pewaris. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.12 dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua. jika anak perempuan itu seorang saja. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan 12 sesudah dipenuhi wasiat yang 13 Bagian laki-laki dua kali bagian perempuan karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan. bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.13 maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Ini adalah ketetapan dari Allah.

. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.S. maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. yaitu seorang yang meninggal dunia tanpa meninggalkan ayah dan juga anak. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu. Selanjutnya Allah memerintahkan agar pembagian itu dilaksanakan. supaya kamu tidak sesat. Kami jadikan pewaris-pewarisnya. 14 Lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa. Secara rinci dalam ayat 11 dan 12 surat An Nisaa di atas.S.“. Allah menentukan ahli waris yang mendapat harta peninggalan dari ibu-bapaknya. e) Q. IV : 176. 12 .. Di dalam ayat ini juga ditentukan secara tegas mengenai bagian duda serta bagian janda. d) Q.. tetapi jika saudara perempuan itudua orang... Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri atas) saudara-saudara laki dan perempuan.kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang- hutangmu.Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia.”. jika ia tidak mempunyai anak.”.. maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan). maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan.14. IV : 33-“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat. Ayat ini berkaitan dengan masalah pusaka atau harta peninggalan kalalah. ahli waris yang mendapat peninggalan dari saudara seperjanjian.

2. Warisan dalam Sistem Hukum Waris Islam Wujud warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam sangat berbeda dengan wujud warisan menurut hukum waris barat sebagaimana diatur dalam BW maupun menurut hukum waris adat. Warisan atau harta peninggalan menurut Hukum Islam yaitu “sejumlah harta benda serta segala hak dari yang meninggal dunia dalam keadaan bersih”. Artinya, harta peninggalan yang diwarisi oleh para ahli waris adalah sejumlah harta benda serta segala hak, “setelah dikurangi dengan waris”.15 Wujud harta peninggalan menurut hukum perdata barat yang tercantum dalam BW meliputi “seluruh hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang”.16 Jadi harta peninggalan yang akan diwarisi oleh para ahli waris tidak hanya meliputi hal-hal yang bermanfaat berupa aktiva atau keuntungan, melainkan juga termasuk hutang-hutang si pewaris yang merupakan pasiva dari harta kekayaan yang ditinggalkan, sehingga “kewajiban membayar hutang pada hakikatnya beralih juga kepada ahli waris”.17 Demikian pula dalam hukum adat, pembagian harta warisan tidak selalu ditangguhkan sampai semua hutang si peninggal warisan dibayar. Artinya, harta warisan yang dapat beralih kepada para ahli waris tidak selalu harus dalam keadaan bersih setelah dikurangi hutang-hutang pewaris, melainkan dapat saja ahli waris menerima harta warisan yang di dalamnya tercakup kewajiban membayar hutang-hutang pewaris. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukan oleh B. Ter Haar Bzn dalam bukunya, bahwa ”kewajiban-kewajiban untuk membayar hutang yang ada atau yang timbul pada waktu matinya atau karena matinya si peninggal warisan itu; akhirnya
15 16

pembayaran

hutang-hutang

pewaris

dan

pembayaran-

pembayaran lain yang diakibatkan oleh wafatnya si peninggal

Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit, h. 17. R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa. 1977, h. 78. 17 Wirjono Prodjodikoro,Op. Cit, h. 17.

13

termasuk juga bagian-bagian dari harta peninggalan walaupun sebagai bagian negatif”.18 Selanjutnya, Ter Haar mengemukakan bahwa “ahli waris bertanggung jawab atas hutang-hutang peninggal warisan sepanjang mereka sudah mendapat laba dari pembagian harta peninggalan itu, serta barang-barang warisan yang mereka terima kiranya dapat mencukupi untuk membayar hutang-hutang itu”.19 Jadi apabila harta peninggalan pewaris tidak mencukupi, maka hutang-hutang pewaris sebagian kadang-kadang dibiarkan tetap tidak dibayar. Namun kenyataan dalam praktik di berbagai lingkungan hukum adat di Indonesia menunjukkan keadaan yang berbeda sebab walaupun harta peninggalan pewaris ternyata tidak mencukupi untuk membayar hutang-hutangnya, akan tetapi hutang-hutang tersebut akan dibayar lunas oleh para ahli waris tanpa memperhatikan jumlah harta peninggalan pewaris. Hal ini umumnya didasarkan pada suatu penghormatan kepada yang meninggal dunia, serta keyakinan bahwa diharapkan pewaris dapat menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tenang tanpa suatu beban yang akan dapat memberatkannya.

Sistem Hukum Waris Islam
Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an” mengemukakan bahwa “sistem kewarisan Islam adalah sitem individual bilateral”.20 Dikatakan demikian, atas dasar ayat-ayat kewarisan dalam Al-Qur’an antara lain seperti yang tercantum masingmasing dalam surat An Nissa (Q.S. IV) ayat 7, 8,11, 12, 33, dan ayat 176 serta setelah sistem kewarisan atau sistem hukum waris menurut Al-Quran yang individual bilateral itu dibandingkan dengan sistem hukum waris individual bilateral dalam masyarakat yang bilateral.
18 19

K.Ng. Soebakti Poesponoto, Op. Cit., ,h. 215. Ibid, h. 217. 20 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Tintamas, TT, h. 14-15.

14

Hazairin juga mengemukakan beberapa hal baru yang merupakan ciri atau spesifikasi sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut: a) Anak-anak si pewaris bersama-sama dengan orang tua si pewaris serentak sebagai ahli waris. Sedangkan dalam sistem hukum waris di luar Al-Qur’an hal itu tidak mungkin sebab orang tua baru mungkin menjadi ahli waris jika pewaris meninggal dunia tanpa keturunan; mati punah. b) Jika meninggal dunia tanpa keturunan maka ada kemungkinan saudara-saudara pewaris bertindak bersama-sama sebagai ahli waris dengan orang tuanya, setidak-tidaknya dengan ibunya. Prinsip di atas maksudnya ialah jika orang tua pewaris, dapat berkonkurensi dengan anak-anak pewaris, apabila dengan saudara-saudaranya yang sederajat lebih jauh dari anak-anaknya. Menurut sistem hukum waris di luar Al-Qur’an hal tersebut tidak mungkin sebab saudara si pewaris tertutup haknya oleh orang tuanya. c) Bahwa suami-isteri saling mewaris; Artinya, pihak yang hidup paling lama menjadi ahli waris dari pihak lainnya. Sistem kewarisan Islam menurut Al-Qur’an sesungguhnya merupakan perbaikan dan perubahan dari prinsip-prinsip hukum waris yang berlaku di negeri Arab sebelum Islam, dengan sistem kekeluargaannya yang patrilineal. Pada dasarnya sebelum Islam telah dikenal tiga prinsip pokok dalam hukum waris, yaitu: (1) Anggota keluarga yang berhak mewaris pertama adalah kaum kerabat laki-laki dari pihak bapak yang terdekat atau disebut ashabah;

15

S. baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. cucu. Karena hubungan darah. 12. pada dasarnya lebih berhak mewaris dari pada leluhur pewaris. Al-Ahzab: 6). d. 3. Hubungan persaudaraan. canggah. 33. Pewaris dan Dasar Hukum Mewaris. Adapun yang menjadi dasar hak untuk mewaris atau dasar untuk mendapat bagian harta peninggalan menurut Al-Qur’an yaitu: a. meskipun tidak ada hubungan darah (Q.S Al-Anfaal: 75). maupun buyutnya. Hubungan semenda atau pernikahan.(2) Pihak perempuan dan anggota keluarga dari garis ibu. kakak. Secara garis besar golongan 16 . 4. b. 11. dan 176). Al-Qur’an membawa perubahan dan perbaikan terhadap ketiga prinsip di atas sehingga pokok-pokok hukum waris Islam dalam Al-Qur’an sebagaimana ditentukan dalam surat An-Nisaa ayat-ayat tersebut di atas. An-Nisaa: 7. ayah. baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta benda maupun hak-hak yang diperoleh selama hidupnya. tidak mempunyai hak waris. Hubungan kerabat karena sesama hijrah pada permulaan pengembangan Islam. karena agama yang ditentukan oleh Al-Qur’an bagiannya tidak lebih dari sepertiga harta pewaris (Q. c. (3) Keturunannya yaitu anak. Pewaris adalah orang yang meninggal dunia. Ahli waris dalam Islam Ahli waris adalah seseorang atau beberapa orang yang berhak mendapat bagian dari harta peninggalan.S. ini ditentukan secara jelas dalam (Q. yaitu. Setelah Islam datang.

IV : 11) (2) Dalam garis ke atas: 3. dengan mengutip buku karya Juynboll di atas. disebut dzul arhaam. 12. menguraikan jumlah ahli waris menurut atau berdasarkan Al-Qur’an yang terdiri atas dua belas jenis.ahli waris di dalam Islam dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga) golongan. (3) kakek dari garis ayah 6. dan 176 yang dielaborasi secara akademis oleh Th. 17 . Juynboll dalam bukunya ”Hanleiding tot de kennis van den Mohammedaansche School”.S. Komar Andasasmita. N. yaitu : a) Ahli waris menurut Al-Qur’an atau yang sudah di tentukan di dalam Al-Qur’an disebut dzul faraa’idh. a) dzul Faraa’idh “Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan di dalam Al-Qur’an. (1) anak perempuan 2. (2) ibu 5. (4) nenek baik dari garis ayah maupun dari garis ibu (Q. yakni ahli waris langsung yang mesti selalu mendapat bagian tetap tertentu yang tidak berubah-ubah”. Jakarta: Tintamas. Sementara itu. IV : 11). (1) ayah 4. disebut ashabah. 1968. c) Ahli waris menurut garis ibu.S. yaitu : (1) Dalam garis ke bawah: 1.21 Adapun rincian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh ini dalam Al-Qur’an tertera dalam surat AnNisaa ayat 11. 38. (3) Dalam garis ke samping: 21 Hazairin. Hukum Kekeluargaan Nasional. h. (2) anak perempuan dari anak laki-laki (Q. b) Ahli waris yang ditarik dari garis ayah.

h.S. 11. maka harta peninggalan diwarisi oleh ashabah.S. cit. Jadi bagian ahli waris yang terlebih dahulu dikeluarkan adalah dzul faraa’idh. Janda (Q. setelah itu sisanya baru diberikan kepada ashabah. h.S.23 Ashabah- 22 M. Ahli waris ashabah ini menurut pembagian Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an. dan ashabah ma’al ghairi”. yang kemudian beliau membagi ahli waris ashabah menjadi tiga golongan yaitu ”ashabah binafsihi. Duda (5)..S. (1) Sauadara perempuan yang seayah dan seibu dari garis ayah.22 Ashabah menurut ajaran kewarisan patrilineal Sjafi’i adalah golongan ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau bagian sisa. (2) Saudara perempuan tiri (halfzuster) dari garis ayah (Q. Op. IV : 12) (4).7. IV : 12) b) Ashabah Ashabah dalam bahasa Arab berarti “Anak lelaki dan kaum kerabat dari pihak bapak”. 8. (4) Saudar perempuan tiri (halfzuster) dari garis ibu (Q. 26. Ali Hasan.” dinamakan ahli waris bukan dzul faraa’idh. IV : 176) 9. 23 Hazairin. apabila ada pewaris yang meninggal tidak mempunyai ahli waris dzul faraa’idh (ahli waris yang mendapat bagian tertentu). 18 . IV : 12) 10. 15. Akan tetapi jika ahli waris dzul faraa’idh itu ada maka sisa bagian dzul faraa’idh menjadi bagian ashabah. ashabah bilghairi. 12. yaitu bagian yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an. Dengan demikian. 1973. (3) Saudara lelaki tiri (halfbroeder) dari garis ibu (Q. Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

ashabah tersebut menurut M. 7.. Ali Hasan dalam bukunya “Hukum Warisan dalam Islam”. 8. Paman yang sekandung dengan ayah. 12. Cit. 2. h. Paman yang seayah dengan ayah. (2) Ashabah bilghairi yaitu ashabah dengan sebab orang lain. 27. Op. 9. yang urutannya sebagai berikut: 1. 5. 3. Ayah. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus ke bawah asal saja pertaliannya masih terus laki-laki. Saudara perempuan yang didampingi oleh saudara laki-laki. 24 terdiri atas: (1) Ashabah binafsihi yaitu ashabah-ashabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa. 11. Saudara laki-laki sekandung. Anak laki-laki. 10. 19 . 2. 4. Anak laki-laki paman yang sekandung dengan ayah. Anak laki-laki paman yang seayah dengan ayah. 24 M. Anak perempuan yang didampingi oleh anak lakilaki. 6. Anak saudara laki-laki sekandung. Anak saudara laki-laki seayah.. mereka yang termasuk dalam ashabah bilghairi ini adalah sebagai berikut: 1. Saudara laki-laki seayah. Ali Hasan. yakni seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh seorang laki-laki. Kakek dari pihak ayah dan terus ke atas asal saja pertaliannya belum putus dari pihak ayah.

5. Cit.. dan 2. 20 .25 Hazairin dalam bukunya “Hukum Kewarisan Bilateral” memberikan perincian mengenai dzul arhaam. h. tetapi telah agak di belakang. yang dapat digolongkan sebagai dzul arhaam adalah anggota keluarga yang penghubungnya kepada keluarga itu seorang wanita. Bagian masing-masing ahli waris dzul faraa’idh Di antara ahli waris yang ditentukan bagiannya di dalam AlQur’an hanya ahli waris dzul faraa’idh. sehingga bagian mereka 25 26 Sajui Thalib. Saudara perempuan sekandung.. Cit. Op. 15. Akibat dari pengertian ini maka dzul arhaam mewaris juga. Selain cucu melalui anak perempuan. Artinya.26 Sajuti Thalib dalam bukunya menguraikan pula tentang dzul arhaam. dzul arhaam akan mewaris kalau sudah tidak ada dzul faraa’idh dan tidak ada pula ashabah.(3) Ashabah ma’al ghairi yakni saudara perempuan yang mewaris bersama keturunan dari pewaris. mereka itu adalah: 1. menurut kewarisan patrilineal tidak menempati tempat anak. Hazairin. yaitu: “semua orang yang bukan dzul faraa’idh dan bukan ashabah. Saudara perempuan seayah. h. antara lain cucu melalui anak perempuan.. tetapi telah agak jauh. umumnya terdiri atas orang yang temasuk anggota-anggota keluarga patrilineal pihak menantu laki-laki atau anggota pihak menantu laki-laki atau anggota-anggota keluarga pihak ayah dan ibu”. 15. Op. tetapi diberi kedudukan sendiri dengan sebutan dzul arhaam atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris. c) dzul Arhaam Arti kata dzul arhaam adalah “orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui puhak wanita saja”.

bila tidak ada saudara laki-laki (Q. (Q.S. (Q. 1. Mereka yang mendapat ¼ bagian dari harta peninggalan terdapat dua golongan: 1. seorang saudara perempuan kandung. IV : 176). c. seorang anak perempuan (dari anak laki-laki). Adapun bagian tetap para ahli waris dzul faraa’idh secara terrinci dapat disimak lebih lanjut dalam uraian dibawah ini: a. yaitu: 1.S. Isteri. IV : 12). Berbeda halnya dengan para ahli waris lain yang bukan dzul faraa’idh. IV : 176). anak perempuan. bila isteri yang meninggal mempunyai anak atau cucu (Q.S. seorang saudara perempuan seayah. 5. 4.selamanya tetap tertentu dan tidak berubah-ubah. Isteri. IV : 12). IV : 11). seperti ahli waris ashabah dan dzul arhaam. IV : 12) 21 .S. Bagian mereka yang disebut terakhir. bila tidak ada saudara laki-laki (Q. (Q.S. 2. Mereka yang mendapat ½ dari harta peninggalan terdapat lima golongan. merupakan sisa setelah dikeluarkan hak para ahli waris dzul faraa’idh. bila suami yang meninggal dengan meninggalkan anak atau cucu. b. bila suami yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu. Suami. bila tidak ada cucu laki-laki. 3.S. IV: 12). seorang anak perempuan bila tidak ada anak laki-laki. 2.S. Ahli waris yang mendapat ¼ dari harta peninggalan hanya satu golongan. suami bila isteri yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu (Q.

2. bila ada saudara laki-laki. Ibu. h. atau dua orang saudara atau lebih. baik laki-laki maupun perempuan. Dua orang cucu perempuan atau lebih.S.S. anak perempuan.S. Ilmu Faraidh (Tanatun Nawahidh). (Q. 1976. jika yang meninggal dunia mempunyai anak atau cucu ( Q. A. 27 bagian dari harta peninggalan ada bagian dari harta peninggalan H.d. baik anak laki-laki maupun anak perempuan (Q. Fiqh Islam. 2. Ahli waris yang mendapat dua golongan. yaitu: 1.S.Sulaiman Rasjid. dua atau lebih saudara. jika yang meninggal dunia meninggalkan anak. 2. (Q. g. cucu. IV :12). Ahli waris yang memperoleh terdapat 4 (empat) golongan: 1. IV :176). Alma’arif. Dua orang atau lebih saudara seibu baik laki-laki maupun perempuan. Bandung : PT. Ayah. IV: 11). e. Dua orang saudara perempuan kandung atau lebih. IV :11). Dua orang atau lebih anak perempuan. 4. IV : 11). Bdgk. 22 . 338. bila tidak ada saudara laki-laki. baik seorang ataupun lebih. (Q. dari anak lakilaki bila tidak ada cucu laki-laki. dengan pembagian yang sama. 18. IV :176). IV :11). bila tidak ada anak laki-laki (Q.S. Para ahli waris yang meninggal memperoleh 1/6 dari harta peninggalan. terdapat tujuh golongan : 1. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih. Ahli waris yang mendapat hanya isteri (zaujah). f. Cetakan kedua 1984. 3. bila yang meninggal tidak meninggalkan anak atau cucu.S. Bagian ini akan diperoleh isteri apabila suaminya yang meninggal dunia meninggalkan anak. Jakarta: Penerbit Attahiryah. Cetakan Ketujuh belas. 27 bagian dari harta peninggalan. Demikian pula jika suaminya itu meninggalkan anak dari anak laki-laki. (Q. Ibu. Shohibul Munir. h.S.

Hazairin. h. bila ayah tidak ada. dikenal pula kelompok keutamaan para ahli waris. Nenek. 6. dan bagian para ahli waris dzul faraa’idh. ibu dari ibu-bapak. Kakek. Saudara perempuan. Kedua macam ahli waris tersebut memperoleh bagian sisa dari harta peninggalan setelah dikurangi hutang-hutang pewaris termasuk ongkos-ongkos biaya kematian. 7. bersamaan dengan anak perempuan (H. Op. di samping dikenal adanya ahli waris dzul faraa’idh yang bagiannya tetap. tertentu serta tidak berubah-ubah berdasarkan ketetapan yang ada di dalam Al-Qur’an. Seorang saudara seibu. 68. 23 . Cit. laki-laki atau perempuan. Kelompok keutamaan ahli waris menurut Al-Qur’an Dalam sistem hukum waris Islam menurut Al-Qur’an yang merupakan sistem hukum waris bilateral. Mereka yang menurut Al-Qur’an termasuk kelompok yang didahulukan untuk mewaris atau disebut dengan “kelompok keutamaan”29 terdiri atas empat macam.. Op. 33. seorang atau lebih bersamaan dengan saudara kandung. yaitu “ahli waris yang didahulukan untuk mewaris”28 dari kelompok ahli waris lainnya. h. 6.. Cit. yaitu: 28 29 Sajuti Thalib. (Q. bersamaan dengan anak atau cucu. bapak dari bapak. dari anak laki-laki. IV :12). Seorang cucu perempuan.R. Buchari). wasiat. juga terdapat ahli dari waris ashabah dan ahli waris dzul arhaam. 5.S. Di samping itu semua. 4.3.

b.a. ibu. 7. Orang kafir tidak berhak menerima warisan dari keluarga yang beragama Islam. yaitu: a. dan duda atau janda. Keutamaan keempat: 1) Janda atau duda. ibu dan ayah. bila tidak terdapat anak. ibu. c. Keutamaan pertama. bila tidak ada anak dan tidak ada saudara. demikian pula sebaliknya. yaitu: 1) Anak. Ahli waris yang membunuh pewaris. bila tidak ada saudara. dan janda atau duda. 2) Janda atau duda. d. apabila ternyata telah berpura-pura dan 24 . bila salah satu. 2) Ahli waris pengganti kedudukan ibu dan ahli waris pengganti kedudukan ayah. atau ahli waris pengganti kedudukan saudara. c. baik laki-laki maupun perempuan. Keutamaan kedua: 1) Saudara. Orang yang murtad tidak berhak mendapat warisan dari keluarganya yang beragama Islam. 2) Ayah. 2) Ayah. Ahli waris yang tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan Di antara ahli waris ada yang tidak patut dan tidak berhak mendapat bagian waris dari pewarisnya karena beberapa penyebab. Keutamaan ketiga: 1) Ibu dan ayah. tidak berhak mendapat warisan dari keluarga yang dibunuhnya. atau ahli waris pengganti kedudukan anak yang meninggal dunia. bila ada keluarga. baik laki-laki maupun perempuan. b. Orang-orang yang tergolong dalam kriteria ahli waris seperti yang disebutkan di atas.

2. 25 . sehingga bagian warisnya dikurangi. Disebabkan berlainan agama dengan pewaris yang beragama Islam.” karena yang menyebabkan timbulnya dua persoalan itu pun berbeda. 2. Tidak patut dan tidak berhak mewaris 1. Oleh karena itu. Contohnya: cucu laki-laki tidak mendapat bagian selama ada anak laki-laki. ini juga tidak dapat diwariskan. demikian pula halnya dengan hak dan kewajiban yang timbul dari hubungan hukum keluarga.menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan pewaris. hak dan kewajiban yang timbul dari kesusilaan dan kesopanan tidak akan diwariskan. maka dia berkewajiban mengembalikan seluruh harta yang dikuasainya. Karena ada ahli waris yang mewaris bersama-sama dia. Karena ada ahli waris yang lebih dekat hubungan dengan orang yang meninggal (pewaris).. Disebabkan tindakan melawan hukum. Penghapusan hak waris 1. hanyalah hak dan kewajiban yang berwujud harta kekayaan yang merupakan warisan dan yang akan diwariskan. Hal tersebut dapat terlihat dalam tabel di bawah ini. B. Contohnya: ahli waris yang murtad atau kafir. Hak dan kewajiban dalam hukum publik. merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. Contohnya: ibu memperoleh 1/6 bagian jika mewaris bersama anak atau cucu atau beberapa saudara. Hukum Perdata Barat (Burgerlijk Wetboek/BW) 1. Hukum waris menurut BW Hukum waris menurut konsepsi hukum perdata Barat yang bersumber pada BW. Contohnya: Orang yang membunuh pewaris dengan sengaja. “Tidak patut dan tidak berhak mendapat warisan” berbeda dengan “penghapusan hak waris” atau “hijab.

pewarisan baru akan terjadi jika terpenuhi tiga persyaratan. b.. ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia. Op. 1. terjadi hanya karena kematian. ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan pewaris. Pitlo. Subekti. baik dalam hubungan antar mereka dengan mereka. Op. yang dinamakan pewarisan. maka seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli warisnya”. Dalam hukum waris menurut BW berlaku suatu asas bahwa “apabila seseorang meninggal dunia.Kiranya akan lebih jelas apabila kita memperhatikan rumusan hukum waris yang diberikan oleh Pitlo di bawah ini.30 Adapun kekayaan yang dimaksud dalam rumusan di atas adalah sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal dunia berupa kumpulan aktiva dan pasiva. maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga”. yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya.. ada seseorang yang meninggal dunia. c. h. Cit.31 Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang beralih pada ahli waris adalah sepanjang termasuk dalam lapangan hukum harta kekayaan atau hanya hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Yang merupakan ciri khas hukum waris menurut BW antara lain “adanya hak mutlak dari para ahli waris masing-masing untuk sewktu- 30 31 A. R. yaitu : a. Oleh karena itu. Pada dasarnya proses beralihnya harta kekayaan seseorang kepada ahli warisnya. Cit. h. yaitu : “Hukum waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang. 26 . rumusan tersebut menggambarkan bahwa hukum waris merupakan bagian dari kenyataan. 79.

Artinya. b. Cit. c.32 Ini berarti. dapat dipahami bahwa sistem hukum waris menurut BW memiliki ciri khas yang berbeda dari hukum waris yang lainnya. Ciri khas tersebut di antaranya hukum waris menurut BW menghendaki agar harta peninggalan seorang pewaris secepat mungkin dibagi-bagi kepada mereka yang berhak atas harta tersebut. 27 . Pembagian harta benda peninggalan itu selalu dapat dituntut walaupun ada perjanjian yang melarang hal tersebut. Perjanjian penagguhan pembagian hanya berlaku mengikat selama lima tahun. h. apabila seorang ahli waris menuntut pembagian harta warisan di depan pengadilan. 2. Seseorang yang mempunyai hak atas sebagian dari harta peninggalan tidak dapat dipaksa untuk memberikan harta benda peninggalan dalam keadaan tidak terbagi-bagi di antara para ahli waris yang ada. Op. namun dapat diperbaharui jika masih dikehendaki oleh para pihak.waktu menuntut pembagian dari harta warisan”.. d. Dari ketentuan pasal 1066 BW tentang pemisahan harta peninggalan dan akibat-akibatnya itu. Ketentuan ini tertera dalam pasal 1066 BW. tuntutan tersebut tidak dapt ditolak oleh ahli waris yang lainnya. Kalau pun hendak dibiarkan tidak terbagi. menurut kedua sistem hukum di atas yang dimaksud dengan warisan atau harta peninggalan adalah sejumlah harta benda kekayaan pewaris dalam keadaan bersih. Warisan dalam sistem hukum waris BW Berbeda dengan sistem hukum adat tentang warisan. 12. setelah dikurangi dengan pembayaran hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh 32 Wirjono Prodjodikoro. Perjanjian penangguhan pembagian harta peninggalan dapat saja dilakukan hanya untuk beberapa waktu tertentu. yaitu: a. harus terlebih dahulu melalui persetujuan seluruh ahli waris.

Oleh karena itu. b. yaitu: a. Hak memungut hasil (vruchtgebruik). yaitu “sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang. Peralihan hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia kepada ahli warisnya disebut 28 . segala hak. Sedangkan warisan dalam sistem hukum perdata barat yang bersumber pada BW itu meliputi seluruh harta benda beserta hak-hak dan kewajiban-kewajiban pewaris dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. akan tetapi dapat diwariskan kepada ahli waris pemilik hak tersebut. Hal ini secara tegas disebutkan dalam pasal 833 ayat (1) BW. Akan tetapi terhadap ketentuan tersebut ada beberapa pengecualian. antara lain: a. harta yang diterima oleh ahli waris menurut sistem hukum Islam dan sistem hukum adat itu benarbenar hak mereka yang bebas dari tuntutan kreditur pewaris. Perjanjian perburuhan. perkongsian dengan pekerjaan yang harus dilakukan bersifat pribadi. b. sebab perkongsian ini berakhir dengan meninggalnya salah seorang anggota/persero. Hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan sebagai anak yang sah dari bapak atau ibunya. yaitu ada beberapa hak yang walaupun hak itu terletak dalam lapangan hukum keluarga. dagang. Pengecualian lain terdapat pula. dimana hak-hak dan kewajibankewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan ada juga yang tidak dapat beralih kepada ahli waris. dan segala piutang dari yang meninggal”. Perjanjian c. baik yang berbentuk maatschap menurut BW maupun firma menurut WvK.meninggalnya pewaris. Hak seorang ayah untuk menyangkal sahnya seorang anak. Di atas telah dikemukakan bahwa kematian seseorang menurut BW mengakibatkan peralihan segala hak dan kewajiban pada seketika itu juga kepada ahli warisnya.

“saisine”.33 Adapun yang dimaksud dengan saisine yaitu: ahli waris memperoleh segala hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia tanpa memerlukan suatu tindakan tertentu, demikian pula bila ahli waris tersebut belum mengetahui tentang adanya warisan itu. Sistem waris BW tidak mengenal istilah “harta asal maupun harta gono-gini” atau harta yang diperoleh bersama dalam perkawinan, sebab harta warisan dalam BW dari siapa pun juga, merupakan “kesatuan” yang secara bulat dan utuh dalam keseluruhan akan beralih dari tangan peninggal warisan/pewaris ke ahli warisnya. Artinya, dalam BW tidak dikenal perbedaan pengaturan atas dasar macam atau asal barang-barang yang ditinggalkan pewaris. Seperti yang ditegaskan dalam pasal 849 BW yaitu “Undang-undang tidak memandang akan sifat atau asal dari pada barang-barang dalam suatu peninggalan untuk mengatur pewarisan terhadapnya”. Sistem hukum waris BW mengenal sebaliknya dari sistem hukum waris adat yang membedakan “macam” dan “asal” barang yang ditinggalkan pewaris. Dalam hukum adat jika seseorang meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta, harta peninggalan tersebut senantiasa ditentukan dahulu, mana yang termasuk harta asal yang dibawa salah satu pihak ketika menikah dan mana yang termasuk harta gono-gini, yaitu harta yang diperoleh bersama suami-istri selama dalam perkawinan. Sedangkan sistem BW, tidak mengenal hal tersebut, melainkan sebaliknya yaitu harta asal yang dibawa masing-masing ketika menikah, maupun harta yang diperoleh selama dalam perkawinan digabungkan menjadi satu kesatuan bulat yang akan beralih dan diwarisi oleh seluruh ahli warisnya. 3. Pewaris dan dasar hukum mewaris Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia, baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan
33

Lihat R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa, 1977, h. 79.

29

maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan selama hidupnya, baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi sejumlah harta pewaris menurut sisten hukum waris BW ada dua cara, yaitu: a. menurut ketentuan undang-undang; b. ditunjuk dalam surat wasiat (testamen).34 Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan kedudukan hukum seseorang yang meninggal, sedapat mungkin disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Undangundang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut. Di samping undang-undang, dasar hukum seseorang mewarisi harta peninggalan pewaris juga melalui cara ditunjuk dalam surat wasiat. Surat wasiat atau testamen adalah “suatu pernyataan tentang apa yang dikehendaki setelah ia meninggal dunia”.35 Sifat utama surat wasiat adalah mempunyai kekuatan berlaku setelah pembuat surat wasiat meninggal dan tidak dapat ditarik kembali. Selama pembuat surat wasiat masih hidup, surat wasiat masih dapat diubah atau dicabut, sedangkan setelah pembuat wasiat meninggal dunia surat wasiat tidak dapat lagi diubah, dicabut, maupun ditarik kembali oleh siapa pun. Seseorang dapat mewariskan sebagian atau seluruhnya hartanya dengan surat wasiat. Apabila seseorang hanya menetapkan sebagian dari hartanya melalui surat wasiat, maka sisanya merupakan bagian
34 35

R. Subekti, Op. Cit., h. 78. Ibid., h. 88.

30

ahli waris berdasarkan undang-undang (ahli waris ab intestato). Jadi, pemberian seseorang pewaris berdasarkan intestato. 4. Ahli waris menurut sistem BW Undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi ahli waris, yaitu: Isteri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah atau tidak sah dari pewaris. Ahli waris menurut undang undang atau ahli waris ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat golongan, yaitu: a. Golongan pertama, keluarga dalam garis lurus ke bawah, meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami atau isteri yang ditinggalkan / atau yang hidup paling lama. Suami atau isteri yang ditinggalkan / hidup paling lama ini baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935, sedangkan sebelumnya suami / isteri tidak saling mewarisi; b. Golongan kedua, keluarga dalam garis lurus ke atas, meliputi orang tua dan saudara, baik laki-laki maupun perempuan, serta keturunan mereka. Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa bagian mereka tidak akan kurang dari ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan, walaupun mereka mewaris bersamasama saudara pewaris; c. Golongan ketiga, meliputi kakek, nenek, dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris; d. Golongan keempat, meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam. Undang-undang tidak membedakan ahli waris laki-laki dan perempuan, juga tidak membedakan urutan kelahiran, hanya ada ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka surat wasiat tidak bermaksud untuk menghapuskan hak untuk mewaris secara ab

31

Cit. Sedangkan ahli waris menurut surat wasiat atau testamen.akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam dalam garis lurus ke atas maupun ke samping. pihak yang mewariskan atau pewaris tidak boleh merugikan para ahli warisnya yang berhak atas sesuatu bagian mutlak”. yaitu: suatu bagian tertentu dari harta peninggalan yang tidak dapat dihapuskan oleh orang yang meninggalkan warisan. apakah ahli waris menurut undang-undang atau ahli waris menurut surat wasiat? Berdasarkan beberapa peraturan-peraturan yang termuat dalam BW tentang surat wasiat. Lihat. Hal ini terbukti beberapa peraturan yang membatasi kebebasan seseorang untuk membuat surat wasiat agar tidak sekehendak hatinya. R. Ahli waris yang memperoleh bagian mutlak atau “legitime portie”36 ini termasuk ahli waris menurut undang-undang. h. yaitu: “Dengan sesuatu pengangkatan waris atau pemberian hibah. ahli waris menurut surat wasiat atau ahli waris testamenter akan memperoleh segala hak dan segala kewajiban dari pewaris. Op. Akan tetapi seperti juga ahli waris menurut undangundang atau ab intestato. Demikian pula golongan yang lebih tinggi derajatnya menutup yang lebih rendah derajatnya. dapat disimpulkan bahwa yang diutamakan adalah ahli waris menurut undang-undang. mereka adalah para ahli waris dalam garis lurus ke atas maupun dalam garis 36 Legitime portie.. Suatu surat wasiat seringkali berisi penunjukan seseorang atau beberapa orang ahli waris yang akan mendapat seluruh atau sebagian dari warisan. Subekti. Ketentuan yang terdapat dalam BW yang isinya membatasi seseorang pembuat surat wasiat agar tidak merugikan ahli waris menurut undang-undang antara lain dapat dilihat dari substansi pasal 881 ayat (2). Dari kedua macam ahli waris di atas. timbullah persoalan ahliwaris yang manakah yang lebih diutamakan. 93. jumlahnya tidak tentu sebab ahli waris macam ini bergantung pada kehendak si pembuat wasiat. 32 .

Apabila ia meninggal saat dilahirkan. atau tidak dianggap sebagi tidak cakap untuk menjadi ahli waris.37 Sebagaimana telah dikemukakan di atas. h. mengemukakan dalam bukunya. R. bilamana kepentingan si anak menghendakinya”. sebagai berikut: a) Harus ada orang yang meninggal dunia (pasal 830 BW). Ketentuan ini tidak berarti mengurangi makna ketentuan pasal 2 BW. Ahli waris diberi hak untuk berfikir selama empat bulan setelah itu ia harus menyatakan sikapnya apakah menerima atau menolak warisan atau mungkin saja ia menerima warisan dengan syarat yang dinamakan “menerima warisan 37 dipandang sebagai pembatasan kemerdekaan seseorang untuk membuat wasiat atau testamen menurut sekehendak R. Subekti. b) Harus ahli waris atau para ahli waris harus ada pada saat pewaris meninggal dunia. seseorang yang akan menerima sejumlah harta peninggalan terlebih dahulu harus memenuhi syarat-syarat. 94. dalam arti ia tidak dinyatakan oleh undang-undang sebagai seorang yang tidak patut mewaris karena kematian. Subekti.. Op. yaitu: “anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan. Dengan demikian berarti bayi dalam kandungan juga sudah diatur haknya oleh hukum sebagai ahli waris dan telah dianggap cakap untuk mewaris. bahwa “peraturan mengenai legitime portie oleh undang-undang hatinya sendiri”. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. para ahli waris diberi kelonggaran oleh undang-undang untuk selanjutnya menentukan sikap terhadap suatu harta warisan.lurus ke bawah yang memperoleh bagian tertentu dari harta peninggalan dan bagian itu tidak dapat dihapuskan oleh si pewaris. 33 . c) Seseorang ahli waris harus cakap serta berhak mewaris. ia dianggap tidak pernah ada. Setelah terpenuhi syarat-syarat tersebut di atas. Cit.

. Op. h. Baik menerima maupun menolak warisan. baik secara diam-diam maupun secara tegas bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kewajiban yang melekat pada harta warisan. Ahli waris atau para ahli waris yang menerima warisan secara penuh. Menolak warisan. yaitu: a. Setelah jangka waktu yang ditetapkan undang-undang berakhir. ahli waris harus menanggung segala macam hutang-hutang pewaris. b. Menerima warisan tetapi dengan ketentuan bahwa ia tidak akan diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris yang melebihi bagiannya dalam warisan itu.secara beneficiaire”.38 yang merupakan suatu jalan tengah antara menerima dan menolak warisan. 85-86. Menerima warisan dengan penuh. c. Untuk memahami konsekuensi dimaksud. Subekti. Lihat R. yaitu sebagai berikut: (1) Akibat menerima secara penuh. 34 . atau disebut dengan istilah ”menerima warisan secara beneficiaire”. Cit. masing-masing memiliki konsekuensi sendiri-sendiri terhadap ahli waris. Artinya. Selama ahli waris mempergunakan haknya untuk berfikir guna menentukan sikap tersebut. ia tidak dapat dipaksa untuk memenuhi kewajiban sebagai ahli waris sampai jangka waktu itu berakhir selama empat bulan (pasal 1024 BW). seorang ahli waris dapat memilih antara tiga kemungkinan. sehingga si waris itu tidak usah menanggung pembayaran hutang-hutang itu dengan kekayaan sendiri. Penerimaan warisan secara penuh yang dilakukan dengan tegas yaitu melalui 38 Akibat terpenting dari menerima warisan secara beneficiaire adalah bahwa kewajiban si waris untuk melunasi hutang-hutangnya dan beban-beban lainnya dibatasi sedemikian rupa bahwa pelunasan itu hanyalah dilakukan menurut kekuatan warisan. di bawah ini akan diuraikan akibatakibat dari masing-masing pilihan yang dilakukan oleh ahli waris.

(3) Akibat menolak warisan Ahli waris yang menolak warisan dianggap tidak pernah menjadi ahli waris. yaitu sejak meninggalnya pewaris. sedangkan penerimaan secara penuh yang dilakukan diam-diam. (c) tidak terjadi percampuran harta kekayaan antara harta kekayaan ahli waris dengan harta warisan. maka sisa itulah yang merupakan bagian ahli waris. Seorang ahli waris yang menyatakan menerima warisan secara beneficiaire atau menerima dengan mengadakan inventarisasi harta peninggalan.akta otentik atau akta di bawah tangan. biasanya dengan cara mengambil tindakan tertentu yang menggambarkan adanya penerimaan secara penuh. (d) Jika hutang-hutang pewaris telah dilunasi semuanya dan masih ada sisa peninggalan. (b) ahli waris tidak perlu menanggung pembayaran hutanghutang pewaris dengan kekayaan sendiri sebab pelunasan hutang-hutang pewaris hanya dilakukan menurut kekuatan harta warisan yang ada. (2) Akibat menerima warisan secara beneficiaire. mempunyai beberapa kewajiban yaitu: 35 . karena jika ia meninggal lebih dahulu dari pewaris ia tidak dapat digantikan kedudukannya oleh anakanaknya yang masih hidup. Penolakan warisan dihitung dan berlaku surut. Menolak warisan harus dilakukan dengan suatu pernyataan kepada panitera pengadilan negeri wilayah hukum tempat warisan terbuka. (a) seluruh warisan terpisah dari harta kekayaan pribadi ahli waris.

Subekti. berupa : (1) satu atau beberapa benda tertentu. maupun kepada orang-orang yang menerima pemberian secara “legaat”. (f) wajib memanggil para kreditur pewaris yang tidak dikenal melalui surat kabar resmi. Subekti. Artinya.. 36 . (b) wajib mengurus harta peninggalan dengan sebaik-baiknya. baik kreditur benda bergerak maupun kreditur pemegang hipotik. (e) wajib memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kreditur pewaris. Op. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW Di atas telah dikemukakan bahwa BW mengenal empat golongan ahli waris yang bergiliran berhak atas harta peninggalan. Orang yang menerima legaat dinamakan legataris. (3) hak memungut hasil dari seluruh atau sebagian harta warisan. dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perdata” menerangkan pengertian legaat yaitu suatu pemberian kepada seseorang yang bukan ahli waris melalui surat wasiat. 88. (4) sesuatu hak lain terhadap harta peninggalan.(a) wajib melakukan pencatatan atas jumlah harta peninggalan dalam waktu empat bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada panitera pengadilan negeri. karena ia bukan ahli waris maka ia tidak diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris. misalnya memberikan seluruh benda bergerak. Cit. ia hanya mempunyai hak untuk menuntut legaat yang diberikan kepadanya. h. (d) wajib memberikan jaminan kepada kreditur. 5. (2) seluruh benda dari satu macam atau satu jenis. (c) wajib membereskan urusan waris dengan segera. 39 R. Pengertian Legaat 39 R.

Menurut ketentuan BW. maka bagian anak yang 1/5 dibagi di antara anak-anak yang menggantikan kedudukan ayahnya yang telah meninggal itu (plaatsvervulling). Jadi hakikat bagian dari golongan pertama ini. Akan tetapi bagian ayah dan ibu senantiasa diistimewakan karena mereka tidak boleh kurang dari ¼ bagian dari seluruh harta warisan. Jadi apabila terdapat tiga 37 . baik laki-laki maupun perempuan beserta keturunan mereka. Jadi bila terdapat empat orang anak dan janda. sedangkan golongan ketiga dan keempat tidak berhak. yaitu cucu pewaris. baru apabila anak pewaris itu telah meninggal lebih dahulu dari pewaris. ibu maupun sudara-saudara pewaris masing-masing mendapat bagian yang sama. kedudukannya digantikan oleh anakanaknya atau cucu pewaris. yang berhak hanya golongan kedua. sehingga masing-masing cucu memperoleh 1/20 bagian. ayah dan ibu. baik ayah. maka cucu tidak memperoleh warisan selama anak pewaris masih ada. yaitu anak-anak beserta keturunan mereka. dan janda atau duda yang hidup paling lama. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW adalah sebagai berikut: a) Bagian golongan pertama yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke bawah. serta saudara. b) Bagian golongan kedua yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke atas yaitu orang tua. demikian pula jika golongan pertama tidak ada sama sekali. Apabila salah seorang anak telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris akan tetapi mempunyai empat orang anak. jika pewaris hanya meninggalkan seorang anak dan dua orang cucu. maka golongan kedua dan seterusnya tidak berhak atas harta peninggalan.apabila golongan pertama masih ada. mereka masing-masing mendapat 1/5 bagian. masing-masing memperoleh satu bagian yang sama.

Selanjutnya separoh yang satu merupakan bagian sanak 38 . sama saja. jika ia mewaris bersama dengan seorang saudaranya. apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris golongan pertama maupun kedua. dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris. jika ia mewaris bersama-sama dengan dua orang saudara pewaris. bagian yang satu bagian saudara seibu. jika ia mewaris bersama-sama dengan tiga orang atau lebih saudara pewaris. maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada saudara-saudara pewaris. maka harta warisan terlebih dahulu dibagi dua. ¼ (seperempat) bagian dari seluruh harta warisan. Jika pewaris mempunyai saudara seayah dan seibu di samping saudara kandung. sebagai ahli waris golongan dua yang masih ada. Jika ibu atau ayah salah seorang sudah meninggal dunia. c) Bagian golongan ketiga yang meliputi kakek. nenek. Sedangkan separoh dari harta warisan itu akan diwarisi oleh tiga orang saudara. bagian dari seluruh harta warisan. Dalam keadaan seperti ini sebelum harta warisan dibuka. maka ayah dan ibu masing-masing akan memperoleh ¼ bagian dari seluruh harta warisan. Apabila ayah dan ibu semuanya sudah meninggal dunia. masing-masing dari mereka akan memperoleh 1/6 bagian.orang saudara yang mewaris bersama-sama dengan ayah dan ibu. terlebih dahulu harus dibagi dua (kloving). Apabila di antara saudara-saudara yang masih ada itu ternyata hanya ada yang seayah atau seibu saja dengan pewaris. yang hidup paling lama akan memperoleh bagian sebagai berikut: ½ (setengah) bagian dari seluruh harta warisan. baik lakilaki maupun perempuan. maka bagian saudara kandung itu diperoleh dari dua bagian yang dipisahkan tadi.

Dalam pasal 832 ayat (2) BW disebutkan: ”Apabila ahli waris yang berhak atas harta peninggalan sama sekali tidak ada. Bagian warisan untuk anak yang lahir di luar perkawinan antara lain diatur sebagai berikut : dari bagian anak sah. ½ dari bagian anak sah. sedangkan untuk bagian dari pancer ibu harus diberikan kepada nenek. Bagian yang masing-masing separoh hasil dari kloving itu harus diberikan pada kakek pewaris untuk bagian dari pancer ayah. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama dengan ahli waris golongan kedua dan golongan ketiga. maka seluruh harta peninggalan jatuh menjadi milik negara. d) Bagian golongan keempat yang meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping sampai derajat keenam. apabila anak yang lahir di uar perkawinan mewaris bersama-sama dengan anak yang sah serta janda atau duda yang hidup paling lama. Selanjutnya negara wajib melunasi hutang-hutang peninggal warisan. Apabila dalam bagian pancer ibu sama sekali tidak ada ahli waris sampai derajat keenam.keluarga dari pancer ayah pewaris. demikian pula sebaliknya. maka cara pembagiannya. dan bagian yang separohnya lagi merupakan bagian sanak keluarga dari pancer ibu pewaris. sepanjang harta warisan itu mencukupi”. apabila pewaris tidak meninggalkan ahli waris golongan ketiga sekalipun. maka bagian pancer ibu jatuh kepada para ahli waris dari pancer ayah. bagian yang separoh dari pancer ayah atau dari pancer ibu jatuh kepada saudarasaudara sepupu si pewaris yakni saudara sekakek atau saudara senenek dengan pewaris. 39 .

6. yaitu sanak keluarga pewaris sampai derajat keenam. sebab untuk ahli waris golongan keempat ini sebelum warisan dibuka terlebih dahulu diadakan kloving/ dibagi dua. sehingga menjadi ½ bagian. 40 . maka warisan tersebut dianggap sebagai harta warisan yang tidak terurus. bagian anak yang lahir di luar nikah bukan ¾. anak-anak tersebut hanya berhak memperoleh bagian sekedar nafkah untuk hidup seperlunya. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama ahli waris golongan keempat. tak seorang pun yang menolak warisan. apabila ia mewaris hanya bersamasama dengan kakek atau nenek pewaris. sehingga anak yang lahir di luar nikah akan memperoleh ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pancer ayah dan ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pacer ibu. Peran Balai Harta Peninggalan dalam pembagian warisan Apabila harta warisan telah terbuka namun tidak seorang pun ahli waris yang tampil ke muka sebagai ahli waris. - ½ dari bagian anak sah. (lihat Pasal 867 BW). Anak yang lahir dari zina dan anak yang lahir dari orang tua yang tidak boleh menikah karena keduanya sangat erat hubungan kekeluargaannya. Apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris sampai derajat keenam sedang yang ada hanya anak yang lahir di luar nikah. maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada tangan anak yang lahir di luar pernikahan. menurut sistem BW sama sekali tidak berhak atas harta warisan dari orang tuanya. Jadi dalam hal demikian. setelah terjadi kloving.- ¾ dari bagian anak sah. sebagai ahli waris satu-satunya.

Dalam keadaaan seperti ini. Selanjutnya harta peninggalan itu akan diwarisi dan menjadi hak milik negara. yaitu sebagai berikut: a) seorang ahli warais yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan membunuh atau setidaktidaknya mencoba membunuh pewaris. penentuan ini akan diputus oleh hakim. dalam arti menagih piutangpiutang pewaris dan membayar semua hutang pewaris. Jika terjadi perselisihan tentang apakah suatu harta peninggalan tidak terurus atau tidak. Balai Harta Peninggalan juga wajib memberikan pertanggung jawaban. b) wajib membereskan warisan. belum juga ada ahli waris yang tampil ke muka. Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan Undang-undang menyebut empat hal yang menyebabkan seseorang ahli waris menjadi tidak patut mewaris karena kematian. Pekerjaan pengurusan itu harus dilaporkan kepada kejaksaan negeri setempat. Balai Harta Peninggalan wajib mengurus harta peninggalan tersebut. Apabila dalam jangka waktu tiga tahun terhitung mulai saat terbukanya warisan. yang harus dilakukan Balai Harta Peninggalan dalam tugasnya mengurus harta warisan yang tak terurus 41 . Kewajiban-kewajiban meliputi : a) wajib membuat perincian atau inventarisasi tentang keadaan harta peninggalan. Balai Harta Peninggalan akan memberikan pertanggung jawaban atas pengurusan itu kepada negara. c) wajib memanggil para ahli waris yang mungkin masih ada melalui surat kabar atau panggilan resmi lainnya. Apabila diminta oleh pihak yang berwajib. tanpa menunggu perintah hakim. 7. yang didahului dengan penyegelan barang-barang.

ia wajib mengembalikan semua yang dikuasainya termasuk hasil-hasil yang telah dinikmatinya. 42 . Apabila ternyata ahli waris yang tidak patut itu menguasai sebagian atau seluruh harta peninggalan dan ia berpura-pura sebagai ahli waris. memusnahkan. c) ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata menghalangi atau mencegah pewaris untuk membuat atau menarik kembali surat wasiat.b) seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewaris bahwa pewaris difitnah melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara empat tahun atau lebih. dan memalsukan surat wasiat. d) seorang ahli waris yang telah menggelapkan.

yaitu: Sistem Patrilineal. Di dalam sistem ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris sangat menonjol. yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang laki-laki. yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek moyang perempuan. contohnya pada masyarakat Batak.3 A. Di dalam sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris untuk anak-anaknya. Sistem Matrilineal. Oleh karena itu. contoh sistem ini terdapat pada masyarakat Minangkabau. Anak-anak menjadi ahli waris dari garis perempuan/garis ibu bagian dari karena anak-anak mereka merupakan keluarga ibunya. Yang menjadi ahli waris hanya anak laki-laki sebab anak perempuam yang telah kawin dengan cara "kawin jujur" yang kemudian masuk menjadi anggota keluarga pihak suami. selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya yang meninggal dunia. pokok pangkal uraian tentang hukum waris adat bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan. Sistem Kekeluargaan dan Hukum Adat Waris Seperti telah dikemukakan bahwa hukum waris merupakan salah satu bagian dari sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. 43 . sedangkan ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri. Setiap sistem keturunan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia memiliki kekhususan dalam hukum warisnya yang satu sama lain berbeda-beda.

1981. masyarakat Minangkabau yang sudah merantau ke luar tanah aslinya. antara lain: ". tetapi dalam 40 Soerjono Soekanto. h. karena sistem kekeluargaan yang dipergunakan membawa akibat kepada penentuan aturan-aturan tentang warisan. kondisi tersebut Sistem Parental atau bilateral. 44 . Hal ini mengakibatkan pula bahwa meskipun hukum adat kekeluargaan di Bali menganut sistem patrilineal. jelas bagi kita bahwa hukum adat waris di Indonesia sangat dipengaruhi oleh prinsip garis keturunan yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan. peranan agama yang dianut tidak kalah pentingnya pula dalam penentuan aturan-aturan tentang warisan karena unsur agama adalah salah satu unsur hukum adat. yaitu sistem yang menarik garis keturunan dari dua sisi. Di samping itu.Namun demikian. mungkin masih ada variasi lain yang merupakan perpaduan dari ketiga sistem tersebut. baik anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli waris dari harta peninggalan orang tua mereka. dalam tulisannya "Beberapa Segi Hukum Adat Waris Bali" yang dimuat dalam Majalah Hukum Nomor 2 mengemukakan. Berkaitan dengan hal tersebut. Artinya. bagi sudah banyak berubah. "sistem patrilineal beralih-alih (alternerend) dan sistem unilateral berganda (dubbel unilateral)". misalnya. Dari ketiga sistem keturunan di atas. Jakarta: Rajawali. baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.. Berdasarkan pada bentuk masyarakat dari sistem keturunan di atas.40 Namun tentu saja masing-masing sistem memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan sistem yang lainnya. 284. Di dalam sistem ini kedudukan anak laki-laki dan perempuan dalam hukum waris sama dan sejajar.masalah hukum adat waris tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan tentang hukum adat kekeluargaan.. Tjokorda Raka Dherana. Hukum Adat Indonesia.

Contohnya "harta pusaka” di Minangkabau dan "tanah dati” di semenanjung Hitu Ambon. (2) Mayorat perempuan. Jakarta: Yayasan Penelitian dan Pengembangan Hukum (Law Center). Sulawesi. yaitu apabila anak laki-laki tertua/ sulung atau keturunan laki-laki merupakan ahli waris tunggal dari si pewaris. Majalah Hukum No. seperti halnya di Batak". Batak. yaitu: (1) Mayorat laki-laki. 41 Tjokorda Raka Dherana.pelaksanaannya berbeda dengan daerah-daerah lain yang juga memakai sistem patrilineal. 1975. h. yaitu apabila anak perempuan tertua merupakan ahli waris tunggal dari pewaris. yaitu : a. 45 .41 Di samping sistem kekeluargaan yang sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum adat waris terutama terhadap penetapan ahli waris dan bagian harta peninggalan yang diwariskan. hukum adat waris mengenal tiga sistem kewarisan. misalnya pada masyarakat Tanah Semendo di Sumatera Selatan. Sistem kewarisan kolektif. 101. dan lainlain. misalnya di: Jawa. Beberapa Segi Hukum Adat Waris Bali. Sistem kewarisan mayorat. misalnya di Lampung. Sistem mayorat ini ada dua macam. 2 Tahun Kedua. yaitu sistem yang menentukan bahwa para ahli waris mewaris harta peninggalan secara bersama-sama (kolektif) sebab harta peninggalan yang di warisi itu tidak dapat dibagi-bagi pemilikannya kepada masing-masing ahli waris. yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa harta peninggalan pewaris hanya diwarisi oleh seorang anak. b. Sistem kewarisan individual yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa para ahli waris mewarisi secara perorangan. c.

286. dengan contoh yang sangat 42 Soerjono Soekanto. 46 . Namun tidak demikian halnya sebab mungkin saja sistem kekeluargaannya berbeda. di Tanah Semendo dijumpai pula pada masyarakat bilateral orang Dayak di Kalimantan Barat. Oleh karena itu. sebab sistem kewarisan yang individual bukan saja dapat ditemui dalam masyarakat yang bilateral. di dalam bukunya sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto. sehingga akan dapat diketahui mengenai sistem hukum adat warisnya yang ada pada sistem kekeluargaan tersebut. Jakarta: Rajawali. h. selain dalam masyarakat patrilineal yang beralih-alih. Secara teoretis di Indonesia sesungguhnya di kenal banyak ragam sistem kekeluargaan di dalam masyarakat. Hukum Adat Indonesia. sebagai pedoman di bawah ini akan dipaparkan tiga besar sistem hukum adat waris yang sangat menonjol yang erat kaitannya dengan sistem kekeluargaan. ternyata tidak mudah bagi kita untuk menentukan dengan pasti dan tegas bahwa dalam suatu masyarakat tertentu dengan sistem kekeluargaan yang berprinsip menarik garis keturunan. menerangkan tentang sistem kewarisan tersebut di atas bila dihubungkan dengan prinsip garis keturunan. Sedangkan sistem kolektif dalam batas-batas tertentu malahan dapat pula dijumpai dalam masyarakat yang bilateral seperti di Minahasa Sulawesi Utara". 1981. Demikian juga sistem mayorat itu. di sana sini mungkin pula dijumpai sistem mayorat dan sistem kolektif yang terbatas. Malahan di Tanah Batak. yaitu: (1) Sistem patrilineal.42 Memperhatikan pendapat Hazairin di atas. tetapi juga dapat dijumpai dalam masyarakat patrilineal seperti di Tanah Batak. yaitu : "Sifat individual ataupun kolektif maupun mayorat dalam hukum kewarisan tidak perlu langsung menunjukan kepada bentuk masyarakat di mana hukum kewarisan itu berlaku. sedangkan sistem hukum adat warisnya memiliki unsur-unsur kesamaan.Hazairin. Akan tetapi secara umum yang dikenal sangat menonjol dalam percaturan hukum adat ada tiga corak. memiliki sistem hukum adat waris yang mandiri yang berbeda sama sekali dengan sistem hukum adat waris pada masyarakat lainnya.

h. paparan di bawah ini pun akan dibatasi hanya mengenai hukum adat waris yang dikenal di dalam ketiga sistem kekeluargaan tersebut di atas. B. Bandung: Tarsito. 43 Djaja S. sesudah mereka itu kawin”. dan Aswin Peranginangin. (2) Sistem matrilineal. karena anak perempuan di luar dari golongan patrilinealnya semula. dengan contoh daerah Minangkabau.44 Titik tolak anggapan tersebut. diuraikan oleh Djaja S. dan (3) Sistem parental. Ibid. dan dalam masyarakat Batak pada umumnya”. h. Hukum Perdata Adat Karo dalam Rangka Pembentukan Hukum Nasional. Untuk itu. Emas kawin (tukur). 65. 1978.43 Selanjutnya secara terperinci perihal hukum adat waris patrilineal dalam masyarakat Batak Karo ini.. sehingga keturunan laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan pewaris yang meninggal dunia. 44 47 . yaitu : a. Terdapat beberapa alasan atau argumentasi yang melandasi sistem hukum adat waris masyarakat patrilineal. 54. Hukum Adat Waris Patrilineal “Dalam masyarakat tertib Patrilineal seperti halnya dalam masyarakat Batak Karo. Meliala & Aswin Peranginangin. sedangkan anak perempuan sama sekali tidak mewaris.umum yakni Tanah Batak. Hal ini didasarkan pada anggapan kuno yang “memandang rendah kedudukan wanita dalam masyarakat Karo khususnya. hanyalah anak laki-laki yang menjadi ahli waris. Sistem Kekeluargaan Patrilineal 1. dalam bukunya “Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan Hukum Nasional”. yang membuktikan bahwa perempuan dijual. Meliala. yang dikenal luas yakni Jawa.

45 Meskipun demikian. dipengaruhi pula oleh beberapa faktor sebagai (2) Dalam rumah-tangga. Sehubungan dengan itu. (4) Dalam adat. (3) Dalam adat. d. Anak-anak memakai nama keluarga (marga) ayah. c. Anak laki-laki kelak merupakan ahli waris dari ayahnya baik dalam adat maupun hartabenda. seperti juga masyarakat yang memiliki sistem kekerabatan yang sama. (5) Apabila terjadi perceraian. anak perempuan yang sudah kawin menjadi golongan anak beru.b. isteri bukan kepala keluarga. 66. Adat lakoman (levirat) yang membuktikan bahwa perempuan diwarisi oleh saudara dari suaminya yang telah meninggal. Dalam masyarakat Karo. suami-isteri. Anak perempuan tidak dapat melanjutkan silsilah (keturunan keluarga). Karo. Di dalam masyarakat Karo. wanita tidak dapat mewakili orang tua (ayahnya) sebab ia masuk anggota keluarga suaminya. Perempuan tidak mendapat warisan. seperti halnya dengan suaminya dan saudarasaudaranya yang semarga. hanya anak laki45 Ibid. Istri digolongkan ke dalam keluarga (marga) suaminya. dan lain-lain. maka pemeliharaan anakanak menjadi tanggung jawab ayahnya. h. Akan tetapi ternyata pendapat yang dikemukakan di atas hanya menunjukkan ketidaktahuan dan sama sekali dangkal sebab terbukti dalam cerita dan dalam kesusasteraan klasik Karo kaum wanita tidak kalah peranannya dibandingkan dengan kaum laki-laki. Perkataan “naki-naki” menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk tipuan. kalimbubu (laki-laki) dianggap anggota keluarga sebagai orang tua (ibu). 48 . kenyataan bahwa anak laki-laki merupakan ahli waris pada masyarakat berikut: (1) Silsilah keluarga didasarkan pada anak laki-laki.. ia dianggap tergolong kelompok suaminya. apabila anak perempuan sudah menikah.

pertanian. dapatlah kiranya dilihat dari peranan yang dipegangnya di dalam masyarakat. lapangan ekonomi. maka dalam mempelajari hukum adat waris patrilineal di Tanah Karo. Berkaitan dengan hal di atas.laki yang akan menerima warisan dari orang tuanya dan di sini menunjukkan. tidaklah beralasan jika memandang kaum wanita dalam masyarakat yang bersistem patrilineal secara apriori lebih rendah daripada masyarakat lain yang bersistem matrilineal dan bilateral. adat istiadat. Peranan kaum wanita Karo sejak dahulu sudah dapat terlihat di dalam masyarakat baik dalam lapangan keagamaan. perdagangan. sering sekali suara seorang perempuan justru menentukan. Selain itu sistem sosial suatu masyarakat juga sangat menentukan sejauh mana wanita diberi kesempatan untuk melaksanakan peranannya. dan norma-norma yang berlaku di dalam sistem sosialnya. atau paling tidak sangat mempengaruhi keputusan. Oleh karena itu. 49 . baik dalam hal perkara perdata maupun dalam perkara pidana. Demikian pula dalam hal perundingan-perundingan adat. bahwa kaum wanita Karo mempunyai harga diri yang cukup besar serta mempunyai sifat mampu berdiri sendiri yang mengagumkan. hendaknya masalah status hak dan kewajiban seorang wanita jangan ditinjau terlepas dari masyarakat. Akan tetapi walau bagaimana pun masalah tinggi rendahnya kedudukan seorang wanita dalam pergaulan di masyarakat. dan juga banyak wanita Karo yang dengan gagah berani telah menunjukkan jiwa kepahlawanannya. Meskipun demikian tidak berarti bahwa hak-hak kaum wanita pada masyarakat yang mempunyai sistem patrilineal menjadi tertekan sebab menurut cerita kuno masyarakat Karo. sudah sangat banyak peranan yang dimainkan oleh kaum wanita Karo di segala bidang sejak dulu.

ahliwaris. Misalnya pewaris mempunyai tiga orang anak laki-laki. b) Anak angkat Dalam masyarakat Karo. terdiri atas: a) Anak laki-laki Yaitu semua anak laki-laki yang sah yang berhak mewarisi seluruh harta kekayaan. Apabila pewaris tidak mempunyai anak lakilaki. setelah itu harta pusaka kembali kepada asalnya atau kembali kepada 50 . pewaris adalah seorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. dan pembagian harta pusaka Dalam sistem hukum adat waris di Tanah Karo. maka mendapat masing-masing anak laki-laki akan bagian dari seluruh harta kekayaan termasuk harta pusaka. baik oleh anak-anak perempuan maupun oleh isteri seumur "pengulihen". baik harta itu diperoleh selama dalam perkawinan maupun harta pusaka. anak angkat merupakan ahli waris hidupnya. baik harta pencaharian maupun harta pusaka. Ahli waris atau para ahli waris dalam sistem hukum adat waris di Tanah Patrilineal. demikian juga sebaliknya. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa orang tua (pewaris) bebas menentukan untuk membagibagi harta benda kepada anak-anaknya berdasarkan kebijaksanaan orang tua yang tidak membedakan kasih sayangnya kepada anakanaknya. Pewaris. maka harta pusaka tetap dapat dipakai.2. yang ada hanya anak perempuan dan isteri. Akan tetapi anak laki-laki tidak dapat membantah pemberian kepada anak perempuan. karena di dalam hukum adat perkawinan suku Karo yang memakai marga itu berlaku keturunan patrilineal maka orang tua merupakan pewaris bagi anak-anaknya yang laki-laki dan hanya anak laki-laki yang merupakan ahli waris dari orang tuannya. Jumlah harta kekayaan pewaris dibagi sama di antara para ahli waris.

maupun saudara-saudara sekandung pewaris dan ayah-ibu pewaris tidak ada. Ketentuan hukum adat waris di Tanah Karo menentukan. bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak untuk mewarisi harta pusaka. dan sebagainya yang 46 Soerjono Soekanto. namun anak angkat ini hanya menjadi ahli waris terhadap harta pencaharian/harta bersama orang tua angkatnya. Bandung : Alumni. 121. Kamus Hukum Adat. Barang adat atau harta pusaka ini adalah barang kepunyaan marga atau berhubungan dengan kuasa kesain. kayu. anak angkat tidak berhak. anak angkat.yang kedudukannya sama seperti halnya anak sah. d) Keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu. seperti ijuk. c) Ayah dan Ibu serta saudara-saudara sekandung si pewaris. hutan. Apabila anak laki-laki yang sah maupun anak angkat tidak ada. Rumah atau jabu mempunyai potongan rumah adat. maka harta warisan jatuh kepada persekutuan adat. yaitu "bagian dari kampung secara fisik". maka yang tampil sebagai ahli waris adalah keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu.Yang dimaksud dengan harta pusaka atau barang adat yaitu barang-barang adat yang tidak bergerak dan juga hewan atau pakaianpakaian yang harganya mahal. h. 51 . Sedangkan untuk harta pusaka. 1978.46 Barang-barang adat meliputi: tanah kering (ladang). jambur atau sapo tempat menyimpan padi dari beberapa keluarga dan juga bahan-bahan untuk pembangunan. Apabila anak laki-laki yang sah. maka yang menjadi ahli waris adalah ayah dan ibu serta saudara-saudara kandung si pewaris yang mewaris bersama-sama. dan kebun milik kesain. e) Persekutuan adat Apabila para ahli waris yang disebutkan di atas sama sekali tidak ada. bambu.

senina. Apabila dalam pembagian itu terjadi sengketa.179 K/Sip/l961 telah 52 . (2) Setelah adanya musyawarah kepala-kepala adat Tanah Karo. yaitu: (1) Dahulu cara pembagian harta peninggalan dalam keadaan semacam ini didasarkan pada banyaknya isteri. dan kalimbubu. Pembagian yang dilakukan secara kerukunan itu terjadi di depan anak beru. bahwa walaupun pada dasarnya semua anak laki-laki mempunyai hak yang sama terhadap harta peninggalan orang tuanya.hukum adat waris Tanah Karo yang hanya mengakui anak laki-laki sebagai ahli waris. maka anak beru dan senina mencoba menyelesaikannya melalui musyawarah. sehingga dalam contoh di atas cara pembagiannya adalah menjadi ½ bagian untuk dua orang anak dari isteri pertama dan ½ bagian lagi untuk tiga orang anak dari isteri kedua. seringkali sudah dilakukan ketika orang tua (pewaris) masih hidup. misalnya mempunyai dua orang anak dari isteri pertama dan tiga orang anak dari isteri kedua. Proses penyerahan barang-barang harta benda kekayaan seseorang kepada turunannya. Apabila pembagian dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. maka perlu diperhatikan. maka melalui putusan Mahkamah Agung tanggal 1 November 1961 No. Kadang-kadang pembagian itu juga dihadiri oleh penghulu (Kepala Desa) untuk menambah terangnya pembagian tersebut. sehingga dalam contoh di atas masing-masing akan memperoleh 1/5 bagian. namun pembagian itu harus dilakukan dengan sangat bijaksana sesuai dengan kehendak/pesan pewaris sebelum meninggal dunia.dihasilkan hutan marga atau kesain. maka pembagiannya ada dua cara. cara pembagian semacam di atas berubah menjadi atas dasar jumlah anak laki-laki yang masing-masing akan memperoleh bagian yang sama besar. Berkaitan dengan. Apabila seorang ayah sebagai pewaris meninggal dunia dengan meninggalkan isteri lebih dari satu.

meskipun di sana-sini putusan Mahkamah Agung ini banyak mendapat tantangan. (3) "Menimbang. Terhadap pertimbangan putusan Mahkamah Agung di atas.terjadi upaya ke arah proses persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria di Tanah Karo. bahwa di Tanah Karo tetap ber1aku selaku hukum yang hidup. dalam beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia. bahwa berhubung dengan sikap yang tetap dari Mahkamah Agung ini. antara lain: (1) "Menimbang. dalam arti. Tetapi kali ini kita 53 . namun tidak sedikit pula pihak-pihak yang justeru menyetujui hal tersebut. bahwa Mahkamah Agung berdasar selain atas rasa perikemanusiaan dan keadilan umum juga atas hakikat persamaan hak antara wanita dan pria. bersama-sama berhak atas warisan. ternyata tidak sedikit komentar dan tanggapan yang antara lain dikemukakan oleh Djaja S. Meliala dkk. seorang anak perempuan harus dianggap ahli waris yang berhak menerima bagian warisan dari orang tuanya". bahwa hukum yang lama tidak sesuai lagi dengan perasaan keadilan masyarakat tempat hukum itu berlaku. bahwa seorang anak perempuan tidak berhak sama sekali atas barang warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya". Adapun yang menjadi pertimbangan dari putusan Mahkamah Agung dalam putusan tersebut di atas. maka juga di Tanah Karo. bahwa keberatan-keberatan tersebut berdasarkan atas anggapan. bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal warisan. Sebagai contoh hukum waris kolonial dirombak dan disesuaikan dengan kondisi nasional. sebagai berikut: (a) "Lazimnya suatu perubahan hukum dilaksanakan atas pertimbangan. (2) "Menimbang. bahwa anak laki-laki sama dengan anak perempuan".

3. Bali. tidaklah tepat diadakan penilaian yang sama tentang hukum waris di seluruh Indonesia sebab kenyataan adat Batak. b) Selama kita masih menghormati keragaman adat-istiadat yang hidup dalam masyarakat. bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari si pewaris bersama-sama berhak atas warisan sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia. Jawa. c) Adat istiadat yang masih dipegang teguh sebagai jiwa sesuatu masyarakat dan mampu menciptakan kesejahteraan dalam masyarakat tersebut. karena itu tidak dapat dipisahkan atau dinilai tersendiri dengan tidak memperhatikan factor-faktor lain. tidak perlu diubah secara radikal sebab sesuatu yang tidak sesuai akan berubah sendiri karena 54 . Minangkabau. Beberapa pendapat dan kesimpulan tentang hukum adat waris patrilineal Di bawah ini berturut-turut akan dipaparkan tentang beberapa pendapat dan kesimpulan yang dikemukakan oleh penulis buku “Hukum Perdata Adat Karo dalam rangka Pembentukan Hukum Nasional”. dan lain-lain yang memiliki sistem warisan berbeda dengan anggapan Mahkamah Agung”. dan lain-lain itu berbeda-beda. yaitu: a) Hukum waris adalah sebagian dari adat.berhadapan dengan suatu perubahan hukum di dalam hukum yang masih tetap hidup dan sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat (masyarakat Karo). dipandang sebagai keliru sebab terdapat beberapa masyarakat di Indonesia ini dengan sistem unilineal yang kuat seperti Minangkabau. dirombak dan digantikan dengan suatu hukum baru yang tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat”. (b) “Anggapan Mahkamah Agung. Batak.

kebutuhan hidup.Anggapan. bahwa hak waris anak laki-laki sama dengan hak waris anak perempuan juga tidak sesuai dengan jiwa dan tujuan adat di Tanah Karo.anak perempuan mendapat pembagian yang adil untuk kepentingan sediri dan rumah tangganya kemudian. tugas dan kedudukan pria berbeda dengan wanita. hak dan kewajiban.Anggapan. dewasa ini tidak sesuai lagi sehingga dianggap perlu penyesuaian. Demikian pula 55 . Sistem Kekeluargaan Matrilineal 1. terutama tanah dan benda-benda tidak bergerak lainnya.anak laki-laki sebagai ahli waris keluarga (marga) mewarisi harta benda yang menjadi tanda/lambang keluarga. bukan berarti kaum wanita lebih rendah dari kaum pria sebab pada dasarnya jiwa dan tujuan perlakuan orang tua bagi anak laki-laki dan perempuan dalam masalah waris. d) Dalam adat di Tanah Karo. kiranya tidak dapat terlepas dari sistem kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. . dan pada masa yang lampau sangat jauh berbeda sehingga harus ada penyesuaian pengertian tentang hal tersebut. . sehingga tidak baik untuk dipaksakan karena dapat merusak adat dan kebudayaan daerah tersebut. C.pengaruh lingkungan atau zaman. . yaitu: . . pada waktu yang akan datang.Kemajuan zaman. Hukum Waris Adat Matrilineal Menguraikan sistem hukum adat waris dalam suatu masyarakat tertentu. bahwa anak perempuan secara mutlak tidak berhak atas warisan orang tuanya. dan sifat-sifat benda serta harta pusaka sekarang.

maka anak-anaknya serta jandanya tidak menjadi ahli waris untuk harta pusaka tinggi. akan jatuh kepada jurainya sebagai harta pusaka rendah jika pemilik harta pencaharian itu meninggal dunia. maka semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya sendiri. yakni saudara lakilaki dan saudara perempuan.halnya dengan sistem hukum adat waris dalam masyarakat matrilineal Minangkabau. baik laki-laki maupun perempuan. Jika yang meninggal dunia itu seorang laki-laki. Masyarakat Minangkabau menurut adatnya melaksanakan hukum waris kemenakan. ibu. melainkan hanya dikenal kaum yaitu kesatuan unit yang lebih besar dari gezin. Misalnya harta pencaharian yang diperoleh dengan melalui pembelian atau taruko. 56 . baik untuk harta pusaka tinggi yaitu harta yang turun temurun dari beberapa generasi. maupun harta pusaka rendah yaitu harta yang turun dari satu generasi. Hal itu mungkin disebabkan karena kekhasan dan keunikannya bila dibandingkan dengan sistem hukum adat waris dari daerah-daerah lain di Indonesia ini. sedangkan agama yang dipeluk oleh masyarakat memiliki pula hukum waris melalui anak pada umum yaitu faraidh. Akan tetapi hukum waris kemenakan di Minangkabau tidak melanggar hukum faraidh sebab di dalam masyarakat Minangkabau tidak terdapat gezin dalam satu kesatuan unit yang terdiri atas ayah. berkeluarga. dan anak-anak. nenek beserta saudara-saudaranya. Di daerah Minangkabau pada umumnya sebagian besar masyarakat masih berkaum. ini berkaitan erat dengan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari pihak ibu. sedang yang menjadi ahli warisnya adalah seluruh kemenakannya. Dengan sistem tersebut. bahwa sistem kekeluargaan di Minangkabau adalah sistem menarik garis keturunan dari pihak ibu yang dihitung menurut garis ibu. Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau senantiasa merupakan masalah yang aktual dalam berbagai pembahasan. Seperti telah dikemukakan.

2.berkampung. famili itu relatif sedikit sebab meskipun ada gezin. si ayah tetap menjadi anggota kaumnya. maupun tembilang perak. Sedangkan gezin. gelar tersebut akan turun kepada kemenakannya. c) Harta Pencaharian Yaitu harta yang diperoleh dengan melalui pembelian atau taruko. Harta warisan dalam hukum Adat waris Minangkabau Harta kaum dalam masyarakat Minangkabau yang akan diwariskan kepada ahli warisnya yang berhak terdiri atas: a) Harta pusaka tinggi Yaitu harta yang turun-temurun dari beberapa generasi. yaitu anak dari saudara perempuan dan tidak sah jika gelar itu dipakai oleh anaknya sendiri. Apabila ia meninggal dunia. Harta pencaharian ini bila pemiliknya meninggal dunia akan 57 . Demikian pula si ibu masih tetap menjadi anggota keluarganya. Pusaka yang turun itu bisa mengenai gelar pusaka ataupun mengenai harta pusaka. Dasar hukum waris kemenakan di Minangkabau bermula dari pepatah adat Minangkabau. misalnya gelar Datuk Sati. b) Harta pusaka rendah Yaitu harta yang turun dari satu generasi. kedua jenis harta pusaka tinggi ini menurut hukum adat akan jatuh kepada kemenakan dan tidak boleh diwariskan kepada anak. yaitu pusaka itu dari nenek turun ke mamak. dari mamak turun ke kemenakan. yakni harta yang diperoleh dari hasil harta tua. baik yang berupa tembilang basi yakni harta tua yang diwarisi turun temurun dari mamak kepada kemenakan. dan bersuku. sehingga dalam masyarakat Minangkabau kita tidak dapat menemukan anak yatim-piatu atau juga orang jompo yang tidak punya usaha atau pencaharian sebab sistem kekeluargaan itulah yang membentuk demikian.

1968. Menurut hukum adat Minangkabau ahli waris dapat dibedakan antara: 47 H. 58 .jatuh kepada jurainya sebagai harta pusaka rendah. Padang: Sri Dharma. atau Harta Salamo Baturutan. Ahli waris dan hak mewaris menurut adat Minangkabau Sebagaimana diketahui. Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. Hukum Waris Tanah dan Peradilan Agama. Perihal ini masih ada pendapat lain. bukan pada mamak kepala waris. bahwa “kaum” dalam masyarakat Minangkabau merupakan persekutuan hukum adat yang mempunyai daerah tertentu yang dinamakan “tanah ulayat”.47 d) Harta Suarang Sebutan untuk harta suarang ini ada beberapa. Kaum serta anggota kaum diwakili ke luar oleh seorang “mamak kepala waris”. Anggota kaum terdiri atas kemenakan dan kemenakan ini adalah ahli waris. Akan tetapi kekuasaan tertinggi di dalam kaum terletak pada rapat kaum.137. h. Tidak termasuk ke dalam harta suarang ini. Anggota kaum yang menjadi mamak kepala waris lazimnya adalah saudara laki-laki yang tertua dari ibu. mamak kepala waris harus yang cerdas dan pintar. (sepertiga) dari harta pencaharian untuk 3. Untuk harta pencaharian ini sejak tahun 1952 ninik-mamak dan alim ulama telah sepakat agar harta warisan ini diwariskan kepada anaknya. di antaranya: Harta Pasuarangan. yaitu "bahwa harta pencaharian harus diwariskan paling banyak kemenakan". yaitu seluruh harta benda yang diperoleh secara bersama-sama oleh suami-isteri selama masa perkawinan. Mansur Dt. yakni harta bawaan suami atau harta tepatan isteri yang telah ada sebelum perkawinan berlangsung. Harta Basarikatan. Nagari Basa. Dengan demikian jelaslah bahwa harta pencaharian berbeda dengan harta suarang. Harta Kaduo-duo.

dan waris saheto (waris sehasta). Sedangkan hak mewaris dari masing-masing ahli waris yang disebutkan di atas satu sama lain berbeda-beda tergantung pada jenis harta peninggalan yang akan ia warisi dan hak mewarisinya diatur menurut urutan prioritasnya. . waris tambilang basi. waris tembilang perak. waris batali budi. waris mahindu. waris didado. Setiap nagari di Minangkabau mempunyai nama dan pengertian tersendiri untuk waris bertali adat. waris di bawah pusat. sehingga waris bertali adat ini dibedakan sebagai berikut : . waris di bawah lutut. maka waris bertali darah sejengkal belum berhak mewaris. Hal tersebut akan dapat terlihat dalam paparan di bawah ini. menurut jauh dekatnya terdiri atas: waris di bawah daguek. 59 .menurut caranya menjadi waris: waris batali ameh. selama waris bertali darah setampuk masih ada. Masingmasing ahli waris yang termasuk waris bertali darah ini mewaris secara bergiliran. waris air tawar. b) Waris bertali adat Yaitu waris yang sesama ibu asalnya yang berhak memperoleh hak warisnya bila tidak ada sama sekali waris bertali darah.a) Waris bertali darah Yaitu ahli waris kandung atau ahli waris sedarah yang terdiri atas waris satampok (waris setampuk). Artinya. maka waris sehasta belum berhak mewaris. yaitu : waris orang datang.menurut datangnya. waris sejangka (waris sejengkal). Demikian pula ahli waris seterusnya selama waris sejengkal masih ada. waris batali suto.

Pada mulanya harta pencaharian seseorang diwarisi oleh jurai atau setidak-tidaknya kaum masing-masing.untuk ongkos naik haji ke Mekkah.untuk membayar hutang darah.untuk membayar hutang yang dibuat oleh kaum secara bersama-sama.untuk membayar hutang kehormatan. guna keperluan: . Walaupun tidak boleh dibagi-bagi. (2) Mengenai harta pusaka rendah Semula harta pusaka rendah adalah harta pencaharian. . cara pembagiannya berlaku sistem kewarisan kolektif. . maka seorang ayah dengan harta pencahariannya dapat membuatkan sebuah ongkos memperbaiki bandar sawah 60 . harta pusaka tinggi dapat diberikan sebagian kepada seorang anggota kaum oleh mamak kepala waris untuk selanjutnya dijual atau digadaikan guna keperluan modal berdagang atau merantau. Di samping itu harta pusaka tinggi dapat dijual atau digadaikan. Harta pencaharian mungkin milik seorang laki-laki atau mungkin juga milik seorang perempuan. .untuk membayar kepunyaan kaum. . pemilikannya di antara para ahli waris.(1) Mengenai harta pusaka tinggi Apabila harta peninggalan itu menyangkut harta pusaka tinggi. asal saja dengan sepengetahuan dan seizin seluruh ahli waris. .untuk menutupi kerugian bila ada kecelakaan kapal di pantai. yaitu seluruh harta pusaka tinggi diwarisi oleh sekumpulan ahli waris dan tidak diperkenankan dibagi-bagi pemilikannya dan dimungkinkan dilakukan “ganggam bauntuek". Akan tetapi dalam perkembangan berikutnya karena hubungan seorang ayah dengan anaknya bertambah erat dan juga sebagai pengaruh agama Islam.

Dalam hal demikian suami telah bekerja dan berusaha untuk kepentingan isteri dan anak-anaknya. yaitu antara suami. Hal ini dimaksudkan untuk membekali isteri dan anak-anak manakala ayah telah meninggal dunia. sehingga dalam kondisi yang demikian keluarga tadi akan mengumpulkan harta sendiri yang merupakan harta keluarga yang disebut harta suarang. pohon cengkeh. sehingga ketika itu sedikit sekali kemungkinannya terbentuk harta suarang sebab yang mengurus dan membiayai anak-anak dan isterinya adalah saudara atau mamak isterinya.rumah untuk anak-anaknya atau menanami tanah pusaka isterinya dengan tanaman keras. ia berusaha bukan untuk anak-isterinya melainkan untuk orang tua dan para kemenakannya. terutama masyarakat Minangkabau yang telah merantau jauh ke luar tanah asalnya. Sedangkan pada dewasa ini adanya kerja sama yang nyata antara suami-isteri untuk memperoleh harta suarang sudah jelas nampak. baik bercerai hidup atau salah suami-isteri dilunasi terlebih dahulu. dibedakan dalam dua periode. yaitu dahulu ketika suami masih merupakan anggota keluarganya. Harta suarang dibagi-bagi setelah pembagiannya sebagai berikut: 61 . (3) Mengenai harta suarang Harta suarang berbeda sama sekali dengan harta pencaharian sebab harta suarang adalah seluruh harta yang diperoleh suami -isteri secara bersama-sama selama dalam perkawinan. pohon durian. Harta suarang dapat dibagi-bagi apabila hutang perkawinan bubar. dan lain-lain. Kriteria untuk menentukan adanya kerja sama dalam memperoleh harta suarang. isteri dan anak-anak merupakan satu kesatuan dalam ikatan yang kompak. telah menunjukkan perkembangan ke arah pembentukan hidup keluarga (somah). misalnya pohon kelapa. Ketentuan seorang meninggal dunia.

5 tahun 1937 yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang tanggal 13 Mei 1937 (T. jika yang meninggal isteri. (d) Apabila salah seorang meninggal dunia dan mempunyai anak. (b) bila salah seorang meninggal dunia dan tidak mempunyai anak. harta suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri. (c) Apabila suami-isteri bercerai hidup dan mempunyai anak. (i) Putusan Landraad Talu tanggal 23 Januari 1937 No.148/508) menentukan bangunan yang didirikan atau tanaman yang ditanami di atas tanah harta kaum isteri bukanlah harta suarang. bagian masing-masing sebagai berikut: jika yang meninggal suami. (ii) Putusan Landraad Payakumbuh tanggal 13 Juni 1938 No. sehingga terbentuk harta keluarga. maka sebagai berikut: jika yang meninggal suami. Jika yang meninggal isteri.(a) bila suami-isteri bercerai dan tidak mempunyai anak. anak-anak akan menikmati bagian ibunya. harta suarang seperdua untuk suami dan seperdua lagi untuk anak sebagai harta pusaka sendiri dari bagian ibunya. harta suarang dibagi dua antara bekas suami dan bekas isteri. harta suarang dibagi dua. 62 . bahwa antara suami-isteri orang Minangkabau dalam perkembangan selanjutnya telah terjalin kerja sama dalam satu kesatuan unit yang disebut somah (gezin). harta suarang dibagi dua antara jurai suami dengan janda beserta anak. di bawah ini akan ditunjukkan beberapa putusan pengadilan mengenai harta suarang sebagai bukti. sebagian untuk jurai suami dan sebagian lagi untuk duda. separoh merupakan bagian jurai si suami dan separoh lagi merupakan bagian janda. harta suarang dibagi dua. Berkaitan dengan pembahasan harta suarang.

c) Apabila pihak isteri dari yang meninggal dunia menguasai harta pusaka dan ia enggan untuk mengembalikan harta tersebut kepada kaum suaminya dan malahan dikatakan sebagai harta pencaharian. Kesimpulan hasil penelitian LPHN tahun 1971 Berkaitan dengan berbagai persoalan yang menyangkut hukum adat waris di daerah Minangkabau. yang penting. sedangkan harta yang diperoleh di luar harta pusaka itu boleh diwariskan kepada anak-anaknya. pada tahun 1971 Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (sekarang Badan Pembinaan Hukum Nasional atau Babinkumnas) pernah mengadakan kerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Andalas Padang dengan hasil sebagai berikut: a) Harta pusaka diwariskan kepada kemenakan. bahwa harta suarang bertanggung jawab atas hutang suami. 4. yang dikuatkan oleh Raad van Justitie Padang tahun 1938 mengatakan: Bila suami meninggalkan beberapa orang janda.perdata 11 tahun 1938. (iii) Putusan Pengadilan Bukittinggi No. 46/1953 tanggal 26 Setember 1953 yang dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Medan tanggal 13 Maret 1956 Nomor 23/1954. bahwa harta pencaharian itu diperuntukkan guna kepentingan anak-anak. maka pembagian harta suarang menjadi pusaka rendah jurai si suami dan separoh lagi merupakan bagian para janda yang masih hidup. yang menetapkan. mungkin saja rumah itu kepunyaan suami isteri bersama sebagai harta suarang. bahwa rumah itu kepunyaan kaum. Kemudian adanya rumah di atas tanah kaum tidak dengan sendirinya membuktikan. atau telah dihibahkan kepada 63 . b) Harta pencaharian diwariskan kepada anak-anaknya dengan tidak dipersoalkan apakah dibagi dengan sistem faraidh atau tidak.

dididik. dalam hal demikian Kerapatan Nagari yang diberi wewenang memutus secara perdamaian. Hukum Waris Adat parental atau Bilateral Paparan terdahulu telah mengemukakan perihal prinsip-prinsip hukum adat waris yang dikenal di dalam dua kelompok masyarakat yang mempunyai sistem kekeluargaan yang satu sama lain berbeda. dididik. D. d) Harta pencaharian tidak diharuskan seluruhnya jatuh kepada anak-anaknya.anak-anaknya tanpa sepengetahuan ahli warisnya (kemenakan) suaminya. sehingga anak-anak yang termasuk suku ibunya dan kemenakan yang termasuk suku mamaknya. seorang ayah yang sekaligus berkedudukan selaku mamak bagi kemenakannya harus memelihara anak-anaknya dan juga kemenakannya. baik fisik maupun rokhaninya. dan bahkan dikawinkan oleh kaumnya. artinya harus dipelihara sama dengan anak. Di satu pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan 64 . Demikian pula kemenakan yang termasuk kaum mamak harus dibimbing. Dengan demikian. melainkan harus pula jatuh kepada kemenakannya sebab mamak laki-laki itu tadi dibesarkan. keduanya harus dipangku dalam arti dibesarkan. Sistem Kekeluargaan Parental atau Bilateral 1. kemenakan dibimbing". dan dipertanggungjawabkan. e) Pada dasarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil antara harta pusaka dengan harta pencaharian sebab kedua-duanya merupakan hasil jerih payah yang diperuntukkan bagi kesejahteraan anak-anak dan kemenakan untuk memenuhi pepatah adat "anak dipangku. sudah sewajarya jika kemenakan juga memperoleh bagian dari harta pencaharian.

Sistem parental ini di Indonesia dianut di banyak daerah. Berbeda dengan dua sistem kekeluargaan sebelumnya yaitu sistem patrilineal dan sistem matrilineal. Riau. seluruh Kalimantan. Kemudian kedua sistem tersebut dirangkum oleh satu sistem yang mengambil unsur dari kedua sistem tersebut. Tiga bentuk sistem kekeluargaan yang sangat menonjol senantiasa merupakan contoh pembahasan. sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula. yaitu bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan. anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama. yaitu sistem parental di Jawa khususnya di Jawa Barat. seluruh Sulawesi. Madura.pihak ayah atau dikenal dengan sebutan sistem patrilineal dan di lain pihak sistem kekeluargaan dengan menarik garis keturunan pihak ibu atau matrilineal. Sumatera Timur. seperti: Jawa. Aceh. Sudah banyak literatur hukum yang membahas dan memaparkan tentang sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. Di bawah ini selanjutnya akan dipaparkan sistem hukum adat waris yang terdapat dalam masyarakat yang menganut sistem kekeluargan dengan menarik garis keturunan dari kedua belah pihak orang tua. Ternate. yaitu sistem parental atau bilateral. Dari sekian banyak daerah yang menganut sistem parental di Indonesia ini. Hal tersebut mungkin didasarkan pada pertimbangan. dan Lombok. yaitu baik dari garis bapak maupun dari garis ibu yang dikenal dengan sebutan sistem parental atau bilateral. satu di antaranya akan dijadikan bahan paparan di bawah ini. bahwa di antara ketiga sistem kekeluargaan itu perbedaannya sangat prinsipil karena seolah-olah sistem patrilineal merupakan kebalikan dari sistem matrilineal. 65 . Sumatera Selatan. Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orang tuanya sehingga dalam proses pengalihan/pengoperan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris.

Cianjur. hibah. harta sulur (Saruni. Harta asal dikenal dengan berbagai sebutan. a) Harta asal Harta asal adalah kekayaan yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh sebelum maupun selama perkawinan dengan cara pewarisan. babawaan (Pelawad Kecamatan Karawang). Ciamis. b) Harta bersama. Kecamatan Labuan. Wanagiri. Apabila sebidang tanah sebagai harta asal dijual dan kemudian dibelikan rumah. Kecamatan Karawang Kabupaten Karawang). warisan (Cianjur. tuturunan (Kecamatan Teluk Jambe Karawang). raja kaya. Pasireurih Kecamatan Kabupaten Pandeglang). Cilamaya. 66 . barang sampakan (Cianjur. Bandung. Kecamatan Menes.2. Kecamatan Teluk Jambe. Saruni Kecamatan Pandeglang). Pondok Terong. Cisarua. Kecamaan Pagelaran. Karawang Wetan). Citeureup. turun-temurun. Bekasi). Pandeglang. Jasinga. Depok. harta pusaka/harta tuturunan (Cianjur. Raraton. Batujaya. Leuwiliang. yaitu: harta babawa (Leuwiliang. barang pokok (Kecamatan Telagasari. Cilaja Kecamatan Pandeglang). hadiah. Harta warisan menurut hukum adat waris parental Harta warisan. Harta asal dapat berubah wujud (misalnya dari sebidang tanah menjadi rumah). yaitu rumah. Banjar. Bandung. Pagerbatu. Karawang). harta bawaan (Ratu Jaya. Kebayan. Rumah yang dibeli dari uang hasil penjualan harta asal akan tetap sebagai harta asal. Perubahan wujud ini tidak menghilangkan harta asal. yaitu sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia yang terdiri atas: a) Harta asal. Cileungsi. Saketi Pandeglang.

Kadupandak (Kecamatan Bojong. Kecamatan Juntinyuat Indramayu). orang tua. 3. Larangan. saudara/saudara kalau tidak ada orang tua. Banjar. Jenjang atau urutan ahli waris adalah: Pertama. Akan tetapi dari penelitian setempat tidak diperoleh keterangan apakah adanya satu kelompok ahli waris akan menutup hak ahli waris yang lain. Pandeg1ang). Pandeglang). orang tua apabila tidak ada anak. sekaya (pekaya). anak/anakanak. Kedua. apabila pengangkatannya disahkan oleh pengadilan negeri. Di daerah Cianjur. Karanganyar Kecamatan lndramayu. raja kaya (Bandung). Kecamatan Pandeglang). Depok. Di Kecamatan Telukjambe (Kabupaten Karawang) terdapat istilah tumpang kaya untuk harta bersama ini. Istilah tumpang kaya ini terdapat dalam bentuk perkawinan nyalindung ka gelung dan manggih kaya. 67 . Cianjur. Kepandean. dan cucu. Sindangkerta Kecamatan Lohbener. Kecamatan Jatibarang. seorang anak angkat adalah ahli waris. barang kakayaan (Kecamatan Juntinyuat Indramayu).b) Harta bersama Harta bersama. bareng sakaya (Kecamatan Kertasemaya. (Telukbuyung. Cilamaya. Lohbener. janda/duda. atau gono-gini (Leuwiliang. Kecamatan Labuan-Pandeglang). Cijakan. Batujaya Karawang) bareng molah: Singaraja (Kecamatan Indramayu). paoman (Lemahabang. campur kaya (Bandung. Legok.Karawang). Pandeglang). Ahli waris dalam hukum adat waris parental a) Sedarah dan Tidak Sedarah Ahli waris adalah ahli waris sedarah dan yang tidak sedarah. saudara. tepung kaya (Cileungsi Kecamatan Telukjambe-Karawang. Pandeglang. Pandeglang). Muara. dan Ketiga. Tegalwaru . Wanagiri (Kecamatan Saketi. Ahli waris yang sedarah terdiri atas anak kandung. Leuwiliang Bandung. saguna sakaya. Cikoneng. yaitu anak angkat. kaya reujeung (Cisarua. Menes. Ahli waris yang tidak sedarah.

37. Di Kecamatan Kawali. mungkin diserahkan kepada baitulmaal atau kepada orang tidak mampu. apabila terjadi nunggul pinang. Kawali. Indramayu. 68 . h. barang atau harta peninggalan akan diserahkan kepada desa. Menurut ketentuan yang berlaku di daerah Kabupaten Bandung. kekayaan seorang yang meninggal tanpa ahli waris. Selanjutnya desalah yang akan menentukan pemanfaatan atau pembagian harta kekayaan tersebut. Pengadilan Negeri Indramayu yang dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa barat di Bandung. masjid atau wakaf.. Ciamis. harta warisan jatuh kepada desa atau mungkin juga pada baitulmaal. Bandung. Indramayu 48 tanggal 28 Agustus 1969.36/1969/Pdt. Di daerah Kabupaten Cianjur. Bandung tanggal 23 Januari 1971.b) Kepunahan atau nunggul pinang Ada kemungkinan seorang pewaris tidak mempunyai ahli waris (punah) atau lazim disebut nunggul pinang. Karawang Wetan. (PN. PT. Di Pandeglang kalau pewaris mati punah. Jabar di Nomor 507/ 1969/Perd/PTB”. Pandeglang. Banjar. selain diserahkan ke desa dapat juga diserahkan kepada yayasan sosial. Anak angkat dan Perkawinan poligami dalam hukum adat parental a) Anak angkat Pengadilan Negeri Indramayu dan Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung pernah memutuskan. 1974. bahwa: 48 Yurisprudensi Jawa Barat (1969-1972) Buku I-Hukum Perdata. 36. memutuskan: “Apabila seseorang tidak mempunyai anak kandung. No. maka keponakan-keponakannya berhak mewarisi harta peninggalannya yang merupakan barang asal atau barang yang diperolehnya sebagai warisan orang tuanya”. LPHKFH-UNPAD. selain diserahkan kepada desa. Cikoneng. 4.

tetapi ada di antara ahli waris atau seluruh ahli waris tersebut kehilangan hak untuk mewarisi harta peninggalan pewaris. PT Bandung tanggal 29 Januari 1971. Cileungsi. yang bukan barang asal atau barang warisan". Cikoneng. Cileungsi. h.. Ciamis. Kehilangan hak mewaris Ada kemungkinan terjadi. 37. atau b) Ahli waris atau para ahli waris berpindah agama (Cisarua. No.50 c. Dalam hal kehilangan hak mewaris ini. No. bagi mereka yang beragama Islam.T. maka harta peniggalan campur kaya yang dikuasai oleh janda yang masih hidup terakhir tidak dibagikan kepada semua anak dari tiap isteri (sehingga hanyalah anak yang sah daripada janda yang bersangkutan. (PN. selain karena alasan membunuh pewaris atau pindah agama (murtad). Cianjur). Cikoneng. 24/1969/Perd.49 b) Ahli waris dalam perkawinan poligami Dalam hal si pewaris beberapa kali kawin dan meninggalkan anak sah dari tiap perkawinan itu. Di Cikoneng. Seorang ahli waris akan kehilangan hak mewaris karena alasan: a) Ahli waris atau para ahli waris membunuh pewaris (Banjar. Loc Cit. Leuwiliang. Ciamis. 218/1969/Perd/PTB). seorang pewaris mempunyai ahli waris. P."Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya. Cianjur). Banjar. 69 . nampak pengaruh ajaran Islam sangat menonjol.Indramayu tanggal 8 September 1969. (PN Indramayu tanggal 15 September 1969 Nomor 23/1969/Pdt.. 37.h. Leuwiliang. yang menjadi ahli waris harta campur kaya yang ditinggalkan itu). Bandung tanggal 14 Mei 1970. Nomor 511/l969/Perd).. seorang ahli waris dapat kehilangan hak 49 50 Ibid.

70 . Banjar. Cianjur. Cianjur. Ciamis. Kawali. Apakah dalam kasus seperti ini. d. Banjar. lembaga (pranata) penggantian tempat dikenal hampir di semua daerah penelitian. Dapat pula digantikan oleh saudara pewaris (Ciamis. seorang ahli waris tidak akan kehilangan hak mewaris karena alasan tidak menurut (bandel). Cileungsi. tidak dikenal di daerah Kecamatan Cikoneng. Indramayu. Penggantian tempat ahli waris Dengan kekecualian pada daerah Cikoneng Kecamatan Kertasemaya (Indramayu). maka hak anak tersebut sebagai ahli waris dapat digantikan oleh anaknya (cucu pewaris). Di daerah Cianjur. Karawang. maka harta peninggalan akan tetap tidak dibagi. Yayasan Sosial. Seorang anak yang meninggal terlebih dahulu dari orang tuanya. dan Bekasi). Perlu diperhatikan perbedaan antara kepunahan (nunggul pinang) dengan kehilangan hak mewaris. atau karena melakukan perkawinan tanpa restu pewaris (teu doa). apabila seorang ahli waris meninggal terlebih dahulu dari si pewaris. dan sebagainya. Kawali). Cisarua. Pandeglang.mewaris karena alasan pegat waris. pewaris mempunyai ahli waris. Di daerah Cianjur. Baitulmaal. (Leuwiliang. Bandung. Dalam kehilangan hak mewaris. harta peninggalan tersebut dapat diserahkan kepada lembaga atau badan-badan seperti: Desa. Lembaga (pranata) penggantian tempat semacam ini. Apabila ahli waris tunggal atau para ahli waris dan mereka ini secara keseluruhan kehilangan hak mewaris. Penggantian tempat terjadi. Hanya karena alasan tertentu ahli waris tidak berhak menerima harta peninggalan pewaris. Di Karanganyar (Kecamatan Indramayu) cucu pewaris dari anak perempuan tidak bisa menggantikan tempat ibunya. Tetapi kemungkinan terdapat persamaan akibat antara nunggul pinang dengan kehilangan hak mewaris.

Pandeglang. Penggantian tempat selalu dikaitkan dengan ahli waris yang meninggal terlebih dahulu dari pewaris. Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung. suasana persaudaraan dengan penuh kesepakatan. Apakah penggantian tempat ini dapat juga terjadi apabila seorang ahli waris karena satu dan lain hal kehilangan hak mewaris.51 E. 36. bahwa suatu gugatan penetapan ahli waris dapat dikabulkan apabila tergugat mengakui atau tidak membantah atau tidak menyangkal penggugat sebagai ahli waris. Pengadilan Negeri Purwakarta. pelaksanaan pembagian waris dilakukan 51 Ibid. e. 71 . pada prinsipnya menyatakan. Tetapi seorang cucu menerima bagian berdasarkan rasa kasih sayang dari para ahli waris yang ada (saasihna). h. Tata cara membagi harta warisan Pelaksanaan pembagian warisan tergantung pada hubungan dan sikap para ahli waris. sehingga kedudukannya sebagai ahli waris dapat digantikan oleh anaknya (cucu pewaris). Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan 1. Dalam suasana tanpa persengketaan. Tulungagung. dan Pengadilan Negeri Pandeglang. Kecamatan Karawang. Kliwed Kecamatan Kertasemaya-Indramayu. Pembagian warisan mungkin terjadi dalam suasana tanpa sengketa atau sebaliknya dalam suasana persengketaan di antara para ahli waris. Pengadilan Negeri Indramayu. Penetapan Ahli Waris Ada beberapa yurisprudensi mengenai masalah penetapan ahli waris.Bandung. ada kemungkinan seorang anak (sebagai cucu pewaris) tidak menggantikan tempat orang tua (Bapak/Ibu mereka) sebagai ahli waris pengganti. Putusan-putusan Mahkamah Agung.

Pandeglang. Di Juntinyuat. Di desa Pelembonsari (Kecamatan Karawang) saksinya adalah "kokolot". juga dimintakan bantuan mengiringi pembagian itu. Karawang. apabila terjadi sengketa waris. Ciamis. maka pelaksanaan pembagian dilakukan 72 . c) Di Kabupaten Bandung. Depok. Di Desa Adiarsa. Indramayu. Karawang. Kabupaten Bandung. Juntikebon. Di Jatibarang. penyelesaiannya dilakukan berdasarkan kebiasaan (hukum adat) dan/atau hukum Islam. Sebaliknya. Pandeglang). Cikoneng. atau b) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh pamong desa (Cisarua.dengan cara : a) Musyawarah antara sesama ahli waris/keluarga (Leuwiliang. Cianjur. Di daerah Cisarua. Indramayu. apabila suasana persengketaan dengan cara: a) Musyawarah sesama ahli waris dengan disaksikan oleh sesepuh desa (Leuwiliang). Cikalong Kulon. selain bantuan dari pamong desa. Indramayu. Karawang Wetan. Karawang. Indramayu. Dadap (Indramayu). Pandeglang. Pandeglang). Tunggakjati (Karawang) saksinya adalah "kokolot lembur". Kabupaten Bandung. Karawang. Indramayu). Di Karawang dan Indramayu musyawarah antara ahli waris dengan disaksikan pamong desa ditambah kyai. atau b) Musyawarah antara sesama ahli waris dengan disaksikan oleh sesepuh desa (Leuwiliang. Kawali. yang dipakai sebagai pegangan dalam penyelesaian waris ini adalah Hukum Islam. Banjar. Jasinga. Bulak. Palangsari (Kecamatan Jatibarang-Indramayu) oleh sesepuh desa biasanya ditawarkan kepada yang bersangkutan apakah akan diselesaikan berdasarkan Hukum Adat atau Hukum Islam. Plawad. Depok.

Di daerah Banjar. Karawang. Ciamis. akan selalu menghubungi desa untuk keperluan balik nama. Kecamatan Lohbener. Telagasari. Juntinyuat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan akan menerima jumlah yang sama besar 73 . Cikoneng. Saat Pembagian Warisan Tidak ada kepastian waktu mengenai harta warisan harus dibagikan. Indramayu. Kabupaten Bandung. Ratujaya (Karawang). Kertasemaya. Besarnya bagian yang diterima ahli waris a) Anak/anak-anak (1) Anak Kandung. Telukjambe. Adiarsa. Di daerah Kabupaten Bandung. Kecamatan Ciamis. baru diajukan ke pengadilan. Kawali. Indramayu. Di Kabupaten Bandung. 3. Jatibarang (Indramayu). Apabila usaha-usaha permusyawaratan ini gagal. saat pembagian warisan tersebut ditentukan berdasarkan lamanya pewaris meninggal. Di beberapa daerah. dalam hal ahli waris masih belum dewasa dapat saja dilaksanakan pembagian harta warisan ini karena ada wali atas anak belum dewasa tersebut. Pandeglang. dan Pandeglang pembagian harta warisan biasanya dilakukan pada hari ke 40 (empat puluh) atau hari ke100 (seratus) sejak pewaris meninggal dunia. 2. Kawali. Banjar. terdapat kebiasaan. Di daerah Cianjur. permusyawaratan tersebut mungkin dipimpin seorang sesepuh desa.ulama. dijumpai praktik. Di Menes (Kecamatan Menes Pandeglang). Banjar. Cikoneng. bahwa harta warisan tidak akan dibagikan selama anak/anak-anak pewaris belum dewasa. dan Cianjur selain bantuan pamong desa. Sepanjang mengenai tanah/sawah. tidak ada perbedaan antara anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan.

dalam setiap pembagian warisan. Sedangkan di daerah Kabupaten Cianjur, ada perbedaan jumlah yang diterima anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan. Di Cianjur dan Pandeglang berlaku prinsip satanggungan saaisan antara anak laki-laki dan anak perempuan akan menerima dalam perbandingan 2 : 1. Ketentuan seperti yang terdapat di Cianjur, dijumpai pula di Cikoneng, Kecamatan Indramayu, Jatibarang, Cilamaya, Teluk Buyung. Di daerah Kecamatan Banjar, Ciamis, dan Kawali, terdapat dua kemungkinan, yaitu: setiap anak kandung akan menerima jumlah yang sama, tetapi terdapat juga praktik satanggungan saaisan seperti di Cianjur dan Cikoneng. Apabila para ahli waris, baik seluruh maupun sebagian dari mereka belum dewasa, dijumpai beberapa praktik, yaitu: a) Di daerah Kabupaten Bandung dan Banjar, apabila para ahli waris belum dewasa biasanya harta warisan terkumpul pada satu tangan dipegang oleh bibi atau paman atau saudara yang sudah dewasa; b) Di daerah Ciamis, Cikoneng, dan Kawali, anak/anakanak yang belum dewasa akan menerima haknya pada saat pembagian warisan. Kemudian masing-masing dari mereka memijah kuasanya (paman/ bibi/ nenek). (2) Anak-anak angkat, tiri, dan anak tidak sah a) Anak angkat Di daerah-daerah Kabupaten Bandung, Cianjur, Banjar, Pandeglang, Karawang, Indramayu, dan Ciamis, anak angkat tidak dipandang sebagai ahli waris yang mempunyai hak penuh atas warisan orang tua angkatnya.

74

Anak angkat akan menerima bagian harta peninggalan orang tua angkat sapamere atau saasihna. Di Saruni, Karaton (Kecamatan Pandeglang), anak angkat dianggap sebagai ahli waris jika ditetapkan dengan akta pengadilan negeri. Sedangkan di Cianjur seorang anak angkat yang ditetapkan dengan akta notaris, baru dianggap sebagai ahli waris. Baik di daerah Cianjur maupun di daerah Kabupaten Bandung, demikian pula di daerah Banjar, Ciamis, Kawali, seorang anak angkat tetap merupakan ahli waris dari orang tua kandung. Oleh karena itu, pengangkatan anak sama sekali tidak memutuskan kedudukanya sebagai ahli waris dari orang tua kandungnya. Anak angkat di daerah Kawali dan Cikoneng, mempunyai kedudukan yang berbeda dengan di daerah-daerah tersebut di atas. Di kedua daerah ini, dijumpai ketentuan, bahwa anak angkat akan menerima bagian dari harta peninggalan orang tua angkatnya sama besar dengan anak kandung dari orang-orang tua angkat tersebut. Dalam hal ada wasiat atau hibah, anak angkat akan menerima bagian sesuai dengan bunyi wasiat atau hibah, dengan ketentuan tidak melebihi harta peninggalan (Kawali). Dalam hubungan hak anak angkat atas harta peninggalan orang tua angkatnya, terdapat beberapa yurisprudensi berikut ini:52 (1) “Menurut Hukum Adat Jawa Barat seorang anak angkat (anak kukut) hanya berhak atas harta guna kaya kedua orang tua angkatnya”. (PT. Bandung tanggal 6 Mei 1971 No. 80/Perd/PTB,
52

dari seluruh

Yurisprudensi Jawa Barat; Loc . Cit., h. 40.

75

MA tanggal 30 Oktober 1971, No. 637 K/Sip/1971). (2) “Anak angkat berhak atas barang gono-gini orang tua angkatnya”. (PN. Ciamis tanggal 22 Februari 1968, No.16/1967/Sip/Cms. PT. Bandung tanggal 9 Oktober 1970, No. 252/1969/Perd/PTB, MA tanggal 30 Oktober 1971 No.637 K/Sip/1971). (3) “Anak angkat berhak mewarisi harta peninggalan orang tua angkatnya, yang bukan barang asal atau barang warisan”. (PN Indramayu tanggal 8 September 1969 No. 24/1969/Perd. PT. Bandung tanggal 14 Mei 1970 No.511 /1969/Perd/ PTB). (4) “Apabila baik anak angkat maupun janda telah pernah mendapat hibah dari pewaris, maka lebih adil apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat, jika pewaris tak meninggalkan anak kandung”. (PT Bandung tanggal 14 Mei 1970, No.215 /1969/Perd. MA tanggal 24 Maret 1971 No. 60 K/Sip/1970). b) Anak tiri Sama halnya dengan anak angkat, seorang anak tiri akan menerima bagian dari harta peninggalan orang tua tirinya sapamerena / saasihna (Bandung, Cianjur). Hal yang sama terdapat di daerah Banjar, Ciamis, Cikoneng, dan Kawali. Di Indramayu anak tiri dengan istilahnya “anak kawalon”, hanya mendapat bagian dari gawan orang tua kandungnya. Di Karawang hanya mewaris dari orang tua kandungnya. c) Anak tidak sah Di daerah-daerah dalam Kabupaten Bandung, Karawang,

76

akan kembali pada asal harta tersebut. Ciamis. Di daerah-daerah dalam lingkungan Kabupaten Bandung hak seorang janda/duda diatur sebagai berikut. (1) Harta asal 77 . Tetapi di sini tidak dijumpai penjelasan bagaimanakah kedudukan seorang anak tidak sah tersebut terhadap bapak pembangkitnya. Dalam hal tidak ada anak. anak tidak sah adalah ahli waris ibu kandungnya dan tidak dari bapak pembangkitnya. apabila kemudian ibunya menikah secara sah dengan bapak pembangkitnya. Tetapi satu pertanyaan perlu dijawab. besarya bagian yang diterima janda/duda adalah dari harta peninggalan suami/isteri. Sedangkan mengenai harta asal. Di daerah Kabupaten Cianjur dalam hal ibu seorang anak tidak sah kemudian menikah secara sah dengan bapak pembangkitnya. dengan kekecualian di Desa Cibeber.Indramayu. di Kecamatan Ciranjang semua harta guna kaya jatuh pada janda/duda. Di desa Cibeber. seorang janda/duda akan menerima bagian sama besar dengan seorang anak. anak tidak sah tidak mewarisi bersama-sama anak sah. bagaimanakah seandainya dari perkawinan ibu anak tidak sah tersebut dengan bapak pembangkitnya tidak lahir (tidak ada) anak sah? Di Kecamatan Banjar. Cikoneng. dan Kawali. baik bapak pembangkitnya menikah dengan ibunya maupun tidak. maka hak untuk mendapat bagian tergantung kepada kebijaksanaan anak/anak-anak sah (saudara anak tidak sah tersebut). d) Hak Janda / Duda Dalam lingkungan Kabupaten Cianjur.

dimungkinkan harta asal tersebut tetap dikuasai janda/duda sampai terjadi perubahan kedudukan janda/duda (menikah lagi) atau meninggal. Di Kecamatan Banjar. Sedangkan kalau tidak ada anak. Janda/duda tidak berhak menerima bagian harta asal. Di Karawang tidak ada ketentuan mengenai besarnya bagian seorang janda. Di Kecamatan Kawali dalam hal ada anak. dan Ciamis akan kembali ke asal. Batujaya. Apakah hak janda untuk menahan harta asal suami berlaku juga untuk duda? (Artinya. harta asal kembali ke asal. Sedangkan di Kecamatan Kawali. Cikoneng. seperti di Telukjambe. janda/duda akan menerima . seorang janda/duda akan menerima sapamerena / saasihna.Kalau ada anak. seorang janda/duda berhak atas ½ dari harta bersama. 78 . terdapat praktik yang sama seperti di daerah Kabupaten Bandung. Di beberapa tempat. Mengenai harta asal di Kecamatan Banjar. besarnya bagian janda sama dengan bagian anak. Di Ciamis dan Cikoneng. Di Tegalwaru (Cilamaya) Kuta Pohaci (Telukjambe) bagian janda ialah dari harta warisan. (2) Harta bersama Janda/duda berhak mendapat ½ dari harta bersama. Telagasari. seluruh harta asal jatuh kepada anak/anaknya. Hal yang sama berlaku juga di Cikoneng. apakah duda juga dapat menguasai harta asal isteri?). Cilamaya. di Telukbuyung (Batujaya) 1/6 (seperenam) atau (seperdelapan). janda dapat menguasai harta asal suaminya sampai ia menikah lagi atau meninggal. Dalam hal harta bersama tidak mencukupi. Kalau tidak ada anak/anak-anaknya. Karawang. janda/duda berhak atas ½ dari harta bersama. Di Banjar.

Sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan jatuh pada anak.53 1) Hak waris janda dan anak “Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 30 Juli 1962 No. sedangkan kalau ada anak harta asal tersebut akan jatuh kepada anak. Di desa Keraton (Pandeglang). Sedangkan di desa Cilaja (Kecamatan Pandeglang) janda/duda dianggap bukan ahli waris bilamana ada anak laki-laki. kalau barang tersebut dibeli atas nama isteri. Di Juntinyuat. maka barang tersebut akan jatuh pada anak. Pada semua daerah penelitian terdapat persamaan bahwa lamanya perkawinan tidak berpengaruh atas bagian yang harus diterima janda/ duda. dapat beberapa yurisprudensi. Jatibarang. 53 Ibid. barang asal dari peninggalan warisan harus dibagi sama rata antara anak-anak dan janda-janda pewaris". 39-40 79 . antara lain. Kecamatan Indramayu harta asal kembali ke asalnya kalau tidak ada anak.Di Batujaya apabila suami membeli sesuatu barang atas nama si suami. maka barang tersebut akan jatuh pada janda. 26 K/SIP/1963. seorang janda/duda bukan ahli waris. h. 218 /1969/Perd/PTB). Di Indramayu di Kecamatan Lohbener dan Indramayu harta asal dikuasai oleh janda apabila tidak ada anak. Dalam hubungan dengan hak janda dijumpai atas harta peninggalan suaminya. (PN Cianjur tanggal 29 Januari 1971 No.

selain menampakkan adanya keserasian antara perkembangan hukum adat dalam proses pewarisan dengan hukum adat yang hidup dalam masyarakat. jika pewaris tak meninggalkan anak kandung". 80 . (PN Indramayu tanggal 15 September 1969 No. bagian seorang janda setidaktidaknya adalah disamakan dengan bagian seorang anak". dirasa masih perlu untuk memperoleh ketegasan atas hal-hal berikut : tanggal 1 Desember 1971 No. 215/1969/Perd/PTB. 3) Hak waris janda setengah diberi hibah "Apakah baik anak angkat maupun janda telah pernah mendapat hibah dari pewaris. 80/1970/Perd/PTB. (PT Bandung tanggal 6 Mei 1971 No.23/1969/Pdt.2) Hak seorang janda atas harta asal suaminya "Menurut yurisprudensi tetap dari Mahkamah Agung seorang janda berhak atas harta asal dari suaminya sebagai nafkah untuk kelangsungan hidupnya dan apabila diadakan pembagian waris. 4) Hak waris janda atas harta campur kaya "Barang-barang campur kaya hanya diwaris oleh janda dan anak si pewaris". (PT Bandung tanggal 14 Mei 1970 No. 60 K/Sip/1970). 218/1969/Perd/PTB). Dari berbagai putusan Pengadilan di atas. maka lebih adil apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat. PT Bandung tanggal 29 Januari 1971 No. MA tanggal 24 Maret 1971 No.MA 941 K/Sip/1971).

ia tidak meninggalkan seluruh harta campur kaya (100%). Kalau pasangan yang masih hidup itu dipandang sebagai ahli waris suami/isteri atau setidak-tidaknya berhak atas harta peninggalan suami/isteri. maka pertama-tama diadakan pembagian harta campur kaya. dalam hal ini sebenarnya pasangan yang masih hidup tidak atau belum menerima warisan dari suami/isteri yang meninggal itu. Pasangan yang masih hidup akan menerima 81 . adalah hak pasangan yang masih hidup dalam kedudukan sebagai pemegang sebagian hak atas harta campur kaya. Jadi. Berakhirnya suatu perkawinan baik karena meninggal. Jadi. Sedangkan sebagian lagi. Masing-masing pihak akan menerima bagian menurut kesepakatan atau hukum yang berlaku. masing-masing akan menerima separo dari harta campur kaya (50 : 50). seorang isteri atau suami merupakan pemilik dari sebagian (misalnya separo) dari keseluruhan harta tersebut. konstruksi di atas akan nampak sebagai berikut : (a) Kalau salah satu pasangan meninggal. Secara konkrit.1) Hak Janda atas harta campur kaya Harta campur kaya atau gono-gini adalah harta bersama atau milik bersama (community property). Dalam Hukum Adat di Jawa Barat pada umumnya. Sebab harta peninggalan pewaris hanya sebagian saja (misalnya 50%) dari seluruh harta campur kaya. Apabila salah satu pasangan meninggal. hak itu adalah atas harta guna kaya yang menjadi hak suami (50% ). perceraian maupun putusan hakim akan membawa konsekuensi pecahnya harta bersama.

bagian sebagai pemilik atas sebagian harta campur kaya. d) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan berhak atas harta peninggalan harta guna kaya yang menjadi bagian dari pasangan yang meninggal. akan menerima juga bagian harta guna kaya yang menjadi hak pasangan yang meninggal (pewaris). Oleh karena selain menerima bagian yang menjadi haknya sebagai pemilik bersama harta campur kaya. Karena apa yang diterima dari harta campur kaya itu bukan karena kedudukannya sebagai janda atau ahli waris. (c) Dalam bagian yang menjadi hak yang meninggal baru dapat dikatakan isteri/suami yang masih hidup mempunyai suami/isteri. e) Kalau suami/isteri yang masih hidup menyatakan hanya berhak atas sebagian dari seluruh harta campur kaya (misalnya 50%). tetapi semata-mata karena dia adalah pemilik atau pemegang hak atas sebagian dari harta campur hak/tidak atas harta peninggalan 82 . sisa pembagian itu yang merupakan hak pasangan yang meninggal adalah harta peninggalan (warisan) dari yang meninggal. maka sesungguhnya dia bukan ahli waris atau dia sesunguhnya tidak berhak atas harta campur kaya peninggalan suami/isteri yang meninggal. Dan dalam proses inilah sesungguhnya kedudukan janda sebagai ahli waris atau bukan ahli waris. (b) Setelah pasangan yang masih hidup menerima bagian tersebut huruf (a) di atas. berarti pasangan yang masih hidup akan menerima lebih besar dari para ahli waris lain atas keseluruhan harta campur kaya itu.

Apabila hal ini terjadi. dan Cikoneng apabila harta peninggalan pewaris tidak mencukupi untuk melunasi hutang-hutangnya. Banjar. Pada tahap pertama. Hutang Pewaris Para ahli waris bertanggung jawab untuk melunasi hutanghutang pewaris. harta peninggalan pewaris baru akan dibagi setelah semua hutang-hutang tersebut dilunasi. ahli waris yang bersangkutan dapat menuntut dipulihkan hak-haknya sebagai ahli waris (lihat yurisprudensi tentang ahli waris). Di desa Gununghalu Kabupaten Bandung. maka hibah yang telah diberikan ketika pewaris masih hidup dapat ditarik kembali untuk melunasi hutang-hutangnya. baik oleh pewaris maupun oleh sebagian ahli waris. hibah yang telah diberikan tidak dapat ditolak kembali untuk melunasi hutang-hutang pewaris. Mengesampingkan ahli waris Kecuali dalam kehilangan hak untuk mewaris (lihat tentang ahli waris). hutang-hutang pewaris dilunasi dengan harta peninggalannya. seyogianya pengertian janda tidak terbatas pada janda perempuan melainkan juga berlaku pula bagi janda/laki-laki atau lazim dikenal dengan sebutan duda. Karena itu. Hal ini didasarkan kepada salah satu asas pokok dalam hukum kekeluargaan adat yaitu kesederajatan antara suami dan isteri. 5. Cianjur.kaya. 4. 2) Dari yurisprudensi di atas. Sedangkan di desa-desa Sukamah dan Langensari (keduanya di Kabupaten Bandung). dan Kawali. Biaya penguburan merupakan salah satu hutang yang harus diutamakan pelunasannya. Ciamis. 83 .

terutama terhadap penetapan ahli waris maupun dalam hal penetapan bagian harta peninggalan yang akan diwarisi. bermacam-macam sistem hukum waris di Indonesia berlaku bersama-sama. dan sistem kekeluargaan yang lainnya yang mungkin ada sebagai hasil paduan serta variasi dari ketiga sistem tersebut. yaitu sistem patrilineal. bilateral atau parental. Pada dasarnya. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan sistem kekeluargaan yang dianut dan terdapat di dalam masyarakat Indonesia.F. baik yang materiil maupun immaterial. atau dalam hal-hal tertentu apabila dikehendaki. Artinya. proses pewarisan itu terjadi disebabkan oleh meninggalnya seseorang dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. dengan tidak dibedakan antara barang bergerak dengan barang tidak bergerak. Ihtisar Bahwa hukum waris yang berlaku di Indonesia hingga saat ini masih bersifat pluralistik. Di samping itu khusus dalam bidang hukum adat juga masih menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan pengaturan hukum waris. apabila pewaris atau orang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan itu termasuk Warga Negara Indonesia Asli. dan Hukum Waris BW secara bersama-sama. Hal itu terbukti dengan masih berlakunya Hukum Waris Adat. Artinya. dalam waktu dan wilayah yang sama pula. sampai saat ini keberlakuannya masih bergantung pada hukum mana yang berlaku bagi si pewaris atau orang yang meninggal dunia dasn meninggalkan warisan. matrilineal. maka yang berlaku adalah hukum waris Adat. Ketiga sistem hukum waris di atas. sistem Hukum Waris Islam. baik menurut sistem Hukum Waris Adat. maka berlaku pula 84 . maupun Hukum Waris BW. Prinsip-prinsip kekeluargaan sangatlah berpengaruh. berdampingan mengatur hal waris bagi para subjek hukum yang tunduk pada masing-masing sistem hukum tersebut. Hukum Waris Islam.

Artinya. yang dapat diwarisi oleh para ahli waris tidak hanya aktiva berupa hak-hak yang bermanfaat. Hukum Adat waris Minangkabau. Hukum Adat sama dengan Hukum Islam yaitu bahwa harta benda peninggalan pewaris yang dapat diwarisi oleh para ahli waris adalah harta benda dalam keadaan bersih. akan tetapi perbedaannya pun nampak di sanasini. Berbeda dengan Hukum Waris BW dimana harta peninggalan yang dimaksudkan adalah seluruh hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. apakah Hukum Adat waris Batak. Oleh karena itu.Hukum Waris Islam bagi mereka yang beragama Islam. Di samping itu jika pewaris termasuk golongan Warga Negara Indonesia Asli. Berkaitan dengan hal ini. di dalam hal pembagian harta warisan. Meskipun menurut ketiga sistem hukum waris yang berlaku proses pewarisan itu terjadi oleh peristiwa hukum yang sama yaitu kematian seseorang. selanjutnya masih harus ditentukan termasuk lingkungan Hukum Adat yang manakah orang tersebut sehingga dalam menentukan pembagian warisannya harus diberlakukan hukum waris adat yang mana. melainkan juga segala hutang-hutang atau pasiva beserta seluruh kewajiban pewaris yang belum sempat dipenuhi olehnya sewaktu masih hidup. antara lain dalam hal wujud harta peninggalan yang dapat diwarisi oleh para ahli waris. Apabila pewaris termasuk golongan Warga Negara Indonesia keturunan Eropa atau Timur Asing Tionghoa. para ahli waris hanya berhak terhadap peninggalan pewaris setelah dikurangi dengan pembayaranpembayaran hutang serta segala sesuatu kewajiban pewaris yang belum sempat dilakukannya semasa pewaris hidup. ternyata terdapat perbedaan yang sangat prinsipil antara Hukum Waris Islam di 85 . terhadap mereka diberlakukan Hukum Waris BW. mencermati ketiga sistem hukum yang dikenal di Indonesia. Maksudnya. ataukah Hukum Adat waris Jawa Barat.

Pada sisi lainnya. menurut ketentuan dalam Hukum Waris Islam anak laki-laki memperoleh bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan. anak angkat hanya akan mewarisi harta gono-gini bersama-sama dengan ahli waris yang lainnya. Hukum Adat berbeda dengan Hukum Islam dan Hukum perdata BW. dan ½ (setengah) bagian dari harta peninggalan jika tidak terdapat anak. sebab janda sebagai ahli waris dari mendiang suaminya hanya memperoleh (seperdelapan) bagian dari harta warisan almarhum suaminya jika terdapat anak-anak. apabila terdapat anak angkat. menurut Hukum Adat. Mengenai anak angkat ini. Jadi dalam Hukum Adat dikenal sebutan bahwa anak angkat memperoleh air dari dua sumber sebab di samping sebagai ahli waris orang tua kandungnya. Berbeda dengan Hukum Adat dan Hukum perdata BW yang menempatkan kedudukan janda dan duda dalam posisi yang sama sebagai ahli waris dari yang meninggal lebih dahulu. Jadi bagian anak perempuan sama besar dengan bagian anak laki-laki. ia juga menjadi ahli waris atas harta gono-gini dari orang tua angkatnya. 86 . Adapun bagian duda sebesar ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan jika terdapat anak. Sedangkan apabila tidak terdapat anak. Hukum waris Islam dan Hukum perdata waris BW tidak mengenal anak angkat. Sebagai contoh umpamanya. maka bagian janda menjadi ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan. Sedangkan menurut Hukum Waris Adat dan Hukum Waris BW anak laki-laki dan anak perempuan sebagai ahli waris bagian mereka tidak dibedakan.satu pihak dengan Hukum Waris Adat dan Hukum Waris BW di lain pihak. Demikian pula berkenaan dengan kedudukan janda menurut Hukum Islam berbeda dengan kedudukan duda. Anak angkat tidak berhak atas harta asal dari orangtua angkatnya sebab ia juga akan menjadi ahliwaris dari orang tua kandungnya. sehingga dalam Hukum Waris Islam dan Hukum Waris BW tidak dikenal anak angkat sebagai ahli waris.

tidak dapat menjadi ahli waris sebab ia tidak mempunyai hubungan hukum apa pun dengan orang yang melahirkannya sekali pun. Pokok-Pokok…Op. Cit. h. 41. Untuk dapat melakukan pengesahan. Cit. Disamakan dengan anak yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel) adalah “anak sumbang”. maka diperlukan syarat kedua orang tua yang telah mengakui anaknya itu harus kawin secara sah. Anak yang lahir di luar perkawinan yang tidak diakui adalah anak yang lahir dari perbuatan “zinah” (overspel). Hal itu disebabkan undang-undang tidak membolehkan pengakuan terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perbuatan “zinah” (overspel). Sedangkan menurut Hukum perdata BW anak yang lahir di luar perkawinan terdapat dua kemungkinan yaitu: (1) anak di luar perkawinan yang diakui selaku anak (erkenning). 87 . Akan tetapi suatu hubungan kekeluargaan antara anak dengan keluarga si ayah atau ibu yang mengakuinya belum juga ada. Anak yang lahir di luar perkawinan yang diakui selanjutnya menjadi ahli waris dari orang tua yang mengakuinya. Subekti.55 dan (2) anak di luar perkawinan yang tidak diakui. Lihat R. anak tersebut hanya mewaris dari ibunya. Hubungan itu hanya dapat diletakan dengan “pengesahan” anak atau “wettiging” sebagai langkah lebih lanjut dari pengakuan. Pokok-Pokok…Loc. Sedangkan anak yang lahir di luar perkawinan yang tidak diakui. yaitu anak yang lahir dari hubungan antara dua orang yang dilarang untuk menikah karena masih sangat erat hubungan kekeluargaannya.54 baik menurut Hukum Adat maupun menurut Hukum Islam hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya.Anak yang lahir di luar perkawinan atau dinamakan “natuurlijk kind”. Sedangkan yang dimaksud dengan “zinah” (overspel) menurut 54 55 Lihat R. Barulah dengan pengakuan terbit suatu pertalian kekeluargaan dengan orang tua yang mengakuinya.. Subekti. Oleh karena itu.

tuntutan seorang anak semacam itu terhadap nafkah yang seharusnya ia peroleh. Akan tetapi ia berhak untuk memperoleh sekedar nafkah yang cukup untuk hidup. bukanlah suatu tuntutan sebagai ahli waris melainkan tuntutan dari orang yang statusnya sebagi seorang yang berpiutang. meskipun nafkah itu juga besarnya ditentukan menurut kekayaan ayah atau ibunya serta jumlah dan keadaan para ahli waris yang sah. yaitu anak yang dilahirkan dari perbuatan zinah dan anak sumbang.BW adalah hubungan suami isteri yang dilakukan oleh dua orang manusia yang salah satu dari mereka terikat dalam perkawinan dengan orang lain. tidak berhak mewarisi harta benda apa pun dari orang tua yang melahirkannya. atau orang tua yang membenihkannya. Kedua macam anak yang disebutkan di atas. 88 . Dengan demikian.

Sebenarnya hibah ini tidak termasuk materi hukum waris melainkan termasuk hukum perikatan yang diatur di dalam Buku Ketiga Bab kesepuluh Burgerlijk Wetboek (BW). maka hibah batal. Sedangkan dalam hibah. seseorang pemberi hibah itu masih hidup pada waktu pelaksanaan pemberian. 89 . Hibah yaitu perjanjian sepihak yang dilakukan oleh penghibah ketika hidupnya untuk memberikan sesuatu barang dengan cuma-cuma kepada penerima hibah.Biasanya pemberian-pemberian tersebut tidak akan pernah dicela oleh sanak keluarga yang tidak menerima pemberian itu. apabila tidak dengan akta notaris. b. Hibah harus dilakukan antara orang yang masih hidup. oleh kerena pada dasarnya seseorang pemilik harta kekayaan berhak dan leluasa untuk memberikan harta bendanya kepada siapa pun. Pengertian Pokok Hibah 1.4 A. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris. c. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pengertian Hibah Hibah adalah pemberian yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup dan pelaksanaan pembagiannya biasanya dilakukan pada waktu penghibah masih hidup juga. salah satu syarat dalam hukum waris untuk adanya proses pewarisan adalah adanya seseorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan. Di samping itu. yaitu : a. Berkaitan dengan hibah ini.

Pokok-pokok Hukum Islam II. Di dalam Hukum Islam jumlah harta seseorang yang dapat dihibahkan itu tidak terbatas. Ijab.56 Pemberian semasa hidup itu lazim dikenal dengan sebutan ”hibah”. Hibah antara suami isteri selama dalam perkawinan dilarang. Qabdlah. Qabul. yaitu pernyataan tentang pemberian tersebut dari pihak yang memberikan. Terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi dalam hal melakukan hibah menurut Hukum Islam ini.d. pemberian berupa harta tidak bergerak dapat dilakukan 56 57 Asaf A. 2.57 Selanjutnya diuraikan bahwa Kitab Durru’l Muchtar memberikan definisi hibah sebagai ”pemindahan hak atas harta milik itu sendiri oleh seseorang kepada orang yang lain tanpa pemberian balasan. Hibah dalam Hukum Islam dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan. h. A. b. yaitu pernyataan dari pihak yang menerima pemberian hibah itu. Berkaitan dengan persoalan hibah tersebut di atas. Fayzee. Berbeda halnya dengan pemberian seseorang melalui surat wasiat yang terbatas pada sepertiga dari harta peninggalan yang bersih.. Fyzee dalam bukunya ”Pokok-pokok Hukum Islam II” memberikan rumusan hibah sebagai berikut: ”Hibah adalah penyerahan langsung dan tidak bersyarat tanpa pemberian balasan”. 2. Ibid. bahkan telah ditetapkan dengan tegas bahwa ”dalam Hukum Islam. 1. yaitu sebagai berikut: a. kecuali jika yang dihibahkan itu benda-benda bergerak yang harganya tidak terlampau mahal. 1961. yaitu penyerahan milik itu sendiri.A. baik dalam bentuk yang sebenarnya maupun secara simbolis. Asaf A. h. 90 . c. Hibah menurut Hukum Islam Hukum Islam memperbolehkan seseorang memberikan atau menghadiahkan sebagian atau seluruhnya harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain yang disebut ”intervivos”. Jakarta: Tintamas.

Yang dimaksud dengan hibah yang tergantung pada suatu kejadian. 91 . Orang tersebut harus sudah dewasa. Akan tetapi jika selanjutnya dikehendaki bukti-bukti yang cukup tentang terjadinya peralihan hak milik. Yang dimaksud dengan hibah bersyarat adalah suatu pemberian yang diserahkan dengan ketentuan bahwa yang diberi harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. yaitu: a. Jika pemberian tersebut dilakukan dalam bentuk tertulis bentuk tersebut terdapat dua macam. dalam Hukum Islam harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Hibah dengan syarat dan hibah yang digantungkan pada suatu kejadian yang tertentu. Misalnya: Jika A meninggal dunia. Seseorang yang hendak menghibahkan sebagian atau seluruh harta kekayaannya semasa hidupnya. Bentuk tertulis yang perlu didaftarkan. maka pemberian itu dapatlah dinyatakan dalam bentuk tulisan. Misalnya: A akan memberikan rumahnya kepada B. jika B membantu pekerjaan A. Artinya. Dalam hal ini jadi atau tidaknya rumah A itu dimiliki oleh B sangat tergantung pada suatu kejadian di masa datang yang tidak pasti.dengan lisan tanpa mempergunakan suatu dokumen tertulis”. b. jika isinya hanya menyatakan telah terjadinya pemberian. maka yang demikian itulah yang harus didaftarkan. rumah A menjadi milik B. apabila pernyataan dan penyerahan benda yang bersangkutan kemudian disusul oleh dokumen resmi tentang pemberian. adalah tidak sah. Pemberian atau hibah semacam ini menurut Hukum Islam adalah batal. sebab di sini belumlah dapat dipastikan bahwa pihak yang diberi akan berusia lebih panjang dari pihak yang memberi. sehingga hibah semacam ini batal. Bentuk tertulis yang tidak perlu didaftarkan. yaitu pemberian yang hanya akan terjadi apabila hal-hal yang telah ditetapkan terlebih dahulu betul-betul terjadi. jika surat itu merupakan alat dari penyerahan pemberian itu sendiri.

Hibah kepada seseorang yang belum lahir juga batal. Perkawinan bukan merupakan penghalang untuk melakukan hibah. Baik laki-laki maupun perempuan dapat melakukan hibah. Benda tetap maupun benda bergerak dan segala macam piutang serta hak-hak yang tidak berwujud itu pun dapat dihibahkan oleh pemiliknya. Bila hibah terhadap anak di bawah umur atau orang yang tidak waras akal pikirannya. Hibah dilakukan kepada seseorang yang tinggal dalam satu rumah. Bila hibah dilakukan terhadap anak di bawah umur yang diwakili oleh saudaranya yang laki-laki atau oleh ibunya. sehingga hibah dapat saja diberikan kepada siapapun. hanya ada beberapa pengecualian. Sedangkan hibah mempunyai arti yang lebih sempit yaitu pemberian atas hak milik penuh dari objek/harta tertentu tanpa pengganti kerugian apa pun. b. d. 92 . c. baik harta pusaka maupun harta gono-gini seseorang. Orang tersebut harus sadar dan mengerti tentang apa yang diperbuatnya. b. Pemindahan hak milik atau levering dalam hibah tidak perlu dilakukan apabila: a. antara lain sebagai berikut: a. Pada dasarnya segala macam harta benda yang dapat dijadikan hak milik dapat dihibahkan. Hibah berbeda dengan pemberian-pemberian biasa. maka harus diserahkan kepada wali atau pengampu yang sah dari anak di bawah umur atau orang yang tidak waras itu. Tidaklah terdapat persyaratan tertentu bagi pihak yang akan menerima hibah. hibah menjadi batal. sebab pemberian biasa mempunyai arti yang lebih luas yaitu meliputi semua pemindahan hak milik tanpa balasan. Hibah yang dilakukan antara suami-isteri dan sebaliknya.b. c. Harus waras akan pikirannya. e.

Hibah dari seorang ayah kepada anak lelakinya atau dari seorang ibu kepada anak lelakinya. Bilamana pemberian hibah atau penerima hibah telah meninggal dunia. atau dengan cara-cara lain. diberikan kembali. d. Hibah yang dilakukan oleh seorang wali kepada seseorang yang berada di bawah perwaliannya. f. mereka terlarang untuk kawin. Di bawah ini terdapat beberapa hibah yang tidak dapat dicabut kembali. Hibah yang dilakukan kepada seseorang yang sungguhsungguh menguasai barang yang dihibahkan itu karena ia mendapat kepercayaan untuk menguasai barang tersebut sejak semula dari penghibahnya. 93 . e. baik salah satu maupun dua-duanya. c. d. Hibah kepada seseorang yang karena hubungan darah. sehingga hibah yang demikian lebih bersifat sodaqoh.c. e. Hibah antara suami isteri dan sebaliknya. meskipun tidak semua hibah dapat dicabut kembali oleh pemberi hibah. g. Bila barang yang dihibahkan itu telah hilang atau hancur. dapat dicabut kembali. yaitu: a. Menurut Hukum Islam pada dasarnya semua perjanjian yang dilakukan atas dasar suka rela seperti halnya juga hibah. Bila barang yang dihibahkan itu telah bertambah nilainya karena sesuatu sebab apa pun. h. Bila hibah tersebut bermotif keagamaan atau kerohanian. Dalam beberapa hal pencabutan kembali hibah memerlukan persetujuan pihak penerima hibah atau atas persetujuan pengadilan. Bila pemberi hibah telah mendapatkan suatu penggantian untuk hibah tersebut. baik dijual. b. Bila barang yang dihibahkan itu telah dipindah-tangankan oleh si pemberi hibah.

Artinya. d. Hibah merupakan perjanjian sefihak yang dilakukan dengan cuma-cuma. g. b. kecuali mengenai benda-benda bergerak yang bertubuh yang harganya tidak terlampau mahal. Hibah tidak dapat ditarik kembali. termasuk juga segala macam piutang penghibah. Yang menjadi objek perjanjian hibah adalah segala macam harta benda milik penghibah. sebagai berikut: a. hibah dirumuskan sebagai berikut: ”Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah. Hibah menurut Hukum Perdata Barat (BW) Di dalam BW hibah diatur dalam titel X Buku III yang dimulai dari pasal 1666 sampai dengan pasal 1693. Ada beberapa orang tertentu yang sama sekali dilarang menerima penghibahan dari penghibah. dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali. Penghibahan harus dilakukan pada waktu penghibah masih hidup. tidak ada kontra prestasi dari pihak penerima hibah. kecuali kepentingan anak tersebut menghendaki. Dalam hibah selalu disyaratkan bahwa penghibah mempunyai maksud untuk menguntungkan pihak yang diberi hibah. Demikian pula hibah tidak boleh dilakukan kepada anak yang belum lahir. Dari rumusan tersebut di atas. Hibah antara suami isteri selama perkawinan tidak diperbolehkan. menyerahkan sesuatu benda guna keperluan di penerima hibah yang menerima penyerahan itu”. Pelaksanaan dari penghibahan dapat juga dilakukan setelah penghibah meninggal dunia. pada waktu hidupnya. yaitu: 94 . baik berada berwujud maupun tidak berwujud. Menurut pasal 1666 BW.3. Hibah harus dilakukan dengan akta notaris. c. dapat diketahui unsur-unsur hibah. f. benda tetap maupun benda bergerak. e.

maka segala macam barang yang telah dihibahkan harus segera dikembalikan kepada penghibah dalam keadaan bersih dari bebanbeban yang melekat di atas barang tersebut. 4. Hibah menurut Hukum Adat Jawa Barat Pada seluruh lingkungan hukum adat di Indonesia. barang tersebut sedang dijadikan jaminan hipotik ataupun crediet verband. c. melainkan atas persetujuan pihak penerima hibah. Praktik semacam ini terdapat pula di Jawa Barat. Dokter yang merawat penghibah ketika sakit. Jika orang yang diberi hibah telah bersalah melakukan atau membantu melakukan kejahatan lain terhadap penghibah. Apabila penerima hibah menolak memberi nafkah atau tunjangan kepada penghibah. Di daerah Kabupaten Bandung. maka harus segera dilunasi oleh penerima hibah sebelum barang tersebut dikembalikan kepada pemberi hibah. Orang yang menjadi wali atau pengampun si penghibah. b. tidak jarang terjadi pembagian tersebut dilaksanakan jauh sebelum pewaris meninggal. meskipun secara umum pembagian harta warisan dilakukan setelah pewaris meningal. Penyerahan harta warisan kepada ahli waris atau seorang 95 . diakui bahwa proses pewarisan harta seorang pewaris dapat mulai dilaksanakan sejak pewaris masih hidup.a. Karena syarat-syarat resmi untuk penghibahan tidak dipenuhi. c. Meskipun hibah sebagai perjanjian sepihak yang menurut rumusannya dalam pasal 1666 BW tidak dapat ditarik kembali. Dengan terjadinya penarikan atau penghapusan hibah ini. b. Misalnya saja. Notaris yang membuat surat wasiat milik si penghibah. yaitu: a. setelah penghibah jatuh miskin. Akan tetapi dalam pasal 1688 BW dimungkinkan bahwa hibah dapat ditarik kembali atau bahkan dihapuskan oleh penghibah.

Jasinga. Kecamatan Karawang. disebut hibah. Sebagai bekal anak-anak dikemudian hari (Kabupaten Bandung). peninggalan Jasinga.Kabupaten Bandung. Pandeglang). Karawang. Kecamatan Indramayu. Cianjur Karawang. Macam-macam Hibah Di daerah-daerah di Jawa Barat. Kecamatan Talagasari. Teluk Jambe. hibah wasiat. Leuwiliang. Pandeglang). Untuk menyempurnakan arwah pewaris. Tujuan/Maksud Hibah Hibah kepada seorang ahli waris atau kepada mereka yang dianggap berhak menerima bagian harta pewaris. Kecamatan Lonbener.yang tidak termasuk ahli waris sebelum pewaris meninggal. Cileungsi. dikenal macam-macam hibah yaitu: hibah biasa. Kecamatan Jatibarang. (Singaraja-Kecamatan Indramayu). Juntinyuat (Indramayu). Pernyataan rasa kasih sayang kepada penerima hibah (kadeudeuh/kanyaah . 96 . dilakukan dengan tujuan: Mencegah perselisihan di antara para ahli waris. pewaris. Batujaya Karawang. hibah mutlak. atau antara para ahli waris dengan orang lain yang merasa berhak mendapat (Kabupaten pembagian Bandung. Jatibarang. Cianjur. Kertasemaya. Talagasari. harta Cisarua. Batujaya.

Bekasi). Karawang. Di Kecamatan Banjar. Di daerah Banjar. di hadapan mereka yang berkepentingan dan disaksikan oleh pejabat desa (Cianjur. Karanganyar). penghibahan secara lisan selain di hadapan mereka yang berkepentingan/penghuni rumah. Di beberapa daerah. Juntinyuat. 97 . Kecamatan Kertasemaya. Sedangkan di daerah Ciamis dan Kawali. yaitu: Lisan. Tertulis : Akta notaris (Cianjur. Karawang Wetan. tanpa pemberitahuan kepada pejabat desa (Banjar. Kawali. Leuwiliang. Jatibarang. Akta di bawah tangan (Bandung. Proses penghibahan Seperti telah diutarakan di atas. Di daerah Kaupaten Bandung. Bekasi. sama dengan di daerah Bandung. kalau hibah lisan tersebut berupa tanah. Cisarua. Kawali. Jatibarang (Indramayu). Plawad. Di daerah Cianjur. Tunggakjati. penghibahan terjadi menjelang pewaris menunaikan ibadah haji. Kecamatan Indramayu (Indramayu). Indramayu penghibahan biasanya terjadi karena merasa ajal sudah dekat. Kecamatan Cilamaya (Karawang). selain karena alasan ajal dekat. diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama. penghibahan biasanya terjadi pada saat perkawinan anak pewaris atau pada saat pewaris merasa ajalnya telah dekat. Bandung. dilakukan di hadapan tetangga.wakaf. Kecamatan Lohbener. hibah sebagai satu bagian dari proses pewaris dilakukan sebelum pewaris meninggal. Ciamis. Palimbonsari (Karawang). yaitu pada saat perkawinan. Penghibahan dapat terjadi dengan berbagai cara.

Dalam hal pewaris menghibahkan hartanya kepada bukan ahliwaris. Akan tetapi dari penelitian setempat. hibah Sebaliknya di yang diterima ahli waris akan Ciamis. hibah ditentukan sebesar dari kekayaan jika pewaris tidak mempunyai anak. Ciamis. Indramayu. Kawali. belum berhasil diungkapkan tindakan apakah yang dapat diambil apabila jumlah hibah dianggap merugikan kepentingan ahli waris atau sebagian ahli waris. Jatibarang 98 . Banjar. Jasinga. Leuwiliang). Karawang. Kecamatan Cileungsi. Bandung. Penerimaan hibah dan perhitungan nilai hibah Pada semua daerah penelitian terdapat ketentuan yang sama mengenai mereka yang akan menerima hibah. Juntinyuat. Apakah dalam hal ini penerima hibah harus mengembalikan hibah yang telah diterima. Ratujaya (Karawang). Dalam hal hibah jatuh kepada ahli waris terdapat berbagai ketentuan sebagai berikut: Di daerah Cianjur. Telukjambe. penghibahan dibatasi sepanjang tidak merugikan hak para ahli waris. hibah tidak akan diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris. Cilamaya. Penghibah atau pewaris dapat menghibahkan harta peninggalannya kepada siapa saja yang dikehendakinya. baik kepada ahli waris maupun kepada orang lain yang bukan ahli waris. Cisarua. Dari Karawang. Ratujaya. Indramayu. Cisarua.Di hadapan Kepala Desa (Bandung. Di daerah Kecamatan Banjar dan Ciamis. Telagasari. Cikoneng. diperhitungkan pada saat pelaksanaan pembagian waris. Jasinga.

Dilihat dari sudut agama dan sosial. namun apabila kedua belah pihak sama-sama setuju. yurisprudensi Jawa Barat. maka ketetapan itu disebut penghibahan. 925K/Sip/1971). dijumpai beberapa yurisprudensi yang ada kaitannya dengan soal hibah. PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No. h. (PT.putusan-putusan pengadilan. 855 K/Sip/1971). kekayaan oleh seorang pewaris (yang hidup seorang diri setelah satu-satunya anaknya meninggal dunia). karena perbuatan seperti itu dianggap biasa dan dilakukan secara turun-temurun (PT Bandung tanggal 6 Februari 1970 No. MA tanggal 5 Februari 1972 No. 215/1969/ Perd/PTB. 16/1970/Perd/PTB. (PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No. MA tanggal 29 Desember 1971. 58 Ibid. Bandung tanggal 14 Mei 1970. No. No.58 yaitu: (1) Penghibahan dan penjualan harta kekayaan oleh pewaris ”Penghibahan dan penjualan harta. 99 . (2) Perhitungan hibah dalam pembagian waris ”Apabila baik anak angkat maupun janda telah pernah mendapat hibah dari pewaris maka lebih adil apabila bagian janda adalah sama banyaknya dengan bagian anak angkat. Meskipun suatu penghibahan merupakan hibah mutlak. jika pewaris tidak meninggalkan anak kandung”. 10/1969/Perd. (3) Cara penghibahan Apabila seseorang dengan kemungkinan akan meninggal dunia menetapkan mengenai kekayaan untuk kepentingan isteri dan anak atau sanak saudara lain yang terdekat. 41-42 dan 71 – 73. masuk akal dan dapat dibenarkan. tidaklah salah. 439/1969/Perd/PTB).

tiada halangan dalam hukum apabila tanah dan sawah selama hidup pemberi hibah masih dikuasai olehnya. pada umumnya diajukan permintaan kepada Kepala Desa yang bersangkutan untuk memindahkan tanah atas nama orang yang berkepentingan. MA tanggal 30 Oktober 1971 No. Tetapi bila diadakan hibah mengenai tanah secara lisan. (4) Syarat-syarat hibah yang sah: Suatu hibah. (PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No. No. 16/1970/Perd/PTB MA tanggal 5 Februari 1972. baik mengenai seluruh harta kekayaan maupun mengenai beberapa harta benda tertentu. 637 K/Sip/1971). PT Bandung tanggal 9 Oktober 1970 No. (PN Ciamis tanggal 22 Februari 1968 No. (6) Surat bukti hibah yang sah : Surat zegel mengeai hibah yang konsepnya dibuat oleh Kepala Desa dan ditik oleh Jurutulis setempat serta diberi cap jempol oleh pemberi dan penerima hibah di depan jurutulis tersebut. 855 K/Sip/1971). (5) Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan pencabutan hak waris ahli waris lainnya: Penghibahan diperkenankan asal saja tidak merupakan pencabutan hak ahli waris lainnya (onterfing). dilakukan dengan lisan hanya di hadapan orang-orang yang berkepentingan atau penghuni rumah tangga atau sanak saudara. 252/1969/Perd PTB. lagi pula disaksikan dan ikut diberi cap 100 . tanpa pemberitahuan mengenai hal itu kepada seorang pejabat desa atau pejabat lain. 16/1967/Sip/Cms.

101 . PT Bandung tanggal 9 Februari 1971 No.PN Grt). 855K/Sip/1971). (8) Hibah mutlak kepada anak kukut : Pemberian hibah mutlak barang-barang kepada anak kukut. ditambah dengan kesaksian ijab-qabul dari hibah tersebut di Kantor Kepala Desa merupakan bukti lengkap tentang sahnya surat hibah tersebut dan kebenaran isinya. Camat dan Mantri Polisi setempat. (9) Hibah kepada cucu gigir: Suatu penghibah kepada cucu gigir adalah sah. 16/1970/Perd/PTB. MA tanggal 5 Februari 1972 No. memperkuat angapan bahwa si penerima hibah adalah anak kukutnya si pemberi hibah. (PN Garut tanggal 30 Maret 1967 No. sedangkan surat hibahnya dibuat oleh jurutulis desa. MA tanggal 8 Mei 1971 No. 621 K/Sip/1970). dalam hal si pemberi tidak mempunyai anak.jempol/tanda tangan oleh seorang saksi. (PN Tasikmalaya tanggal 5 Juni 1969 No. 10/1969/Perd. juru tulis dan Kepala Desa yang bersangkutan. apabila ia disetujui oleh para ahli waris dan dilakukan di depan Kepala Desa. (7) Penghibahan barang asal dalam hal si pemberi tidak mempunyai anak: Penghibahan barang asal seyogianya dihadiri/disahkan/disetujui oleh saudara sekandungnya. 9/1966/Perd. (PT Bandung tanggal 10 Januari 1970 No. Reg. 233/1969/Perd/PTB.

73/1970/Perd/ PTB). (PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969. No. (11) Barang yang belum dimiliki: Seseorang tidak dapat menghibahkan suatu barang yang belum ia miliki. MA tanggal 19 April 1972. 97 K/Sip/1972). No. 73/1970/Perd/PTB). kehilafan atau penipuan pada waktu surat hibah dibuat. No. 64. No. 82/1965/Perdata. 36/1971/Perd/PTB. 243/1969 Perd/PTB). No. Penghibahan tanah kepada dua orang cucu gigir di dalam satu surat hibah sebanyak setengah dari seluruh luas tanah yang dihibahkan. No. yang disetujui oleh para ahli waris di hadapan Kepala Desa adalah sah dan tidak dapat dilenyapkan begitu saja. tanpa mengemukakan sebabsebab yang diperkenankan oleh hukum (PT Bandung tanggal 27 Juni 1970. (Putusan 102 . apabila dapat dibuktikan adanya unsur paksaan. (PN Karawang tanggal 12 Juni 1967. (PT Bandung tanggal 30 Maret 1971. PT Bandung tanggal 17 Desember 1970.(PN Majalengka tanggal 20 Agustus 1969. No. PT Bandung tanggal 23 Juli 1970. No. 1970/Perd/PTB. 20/Pdt/1969 Mjl. (10) Hibah kepada bukan ahli waris: Pemberian hibah mutlak kepada orang yang sebenarnya bukan ahli waris. (12) Pembatalan Hibah: Suatu hibah hanya dapat dibatalkan.

sampai saat ini di Indonesia masih berlaku lebih dari satu hukum yang mengatur perihal hibah. No.Akhir). Artinya. perihal hibah diatur baik oleh hukum Islam. Ikhtisar Hibah Seperti halnya juga hukum waris. 621 K/Sip/1970). Banjar. Di Batujaya. (PT Bandung tanggal 10 Januari 1970. jika tidak mempunyai keturunan: Suami isteri yang tidak mempunyai keturunan semasa hidupnya berhak untuk berbuat sekehendak hatinya dengan barang-barang kekayaannya karena adalah suatu kenyataan yang sulit dibantah bahwa yang menerima hak biasanya yang mengurus penghidupan mereka. 233/1960/Perd/ PTB. maupun Hukum Adat. No. Apakah suatu hibah dapat ditarik kembali? Di desa Leuwiliang dan Citeureup. suatu hibah dapat ditarik kembali apabila bertentangan dengan ketentuanketentuan Hukum Adat dan Hukum Islam. (13) Hak untuk berbuat sekehendaknya. Hukum perdata yang bersumber pada BW. Pada dasarnya 103 . Juntinyuat (Indramayu) apabila hibah tersebut berupa hibah mutlak maka hibah tersebut tidak dapat ditarik kembali. Kecamatan Karawang (Karawang). atas barang-barang kekayaan. Teluk Buyung. suatu hibah tidak dapat ditarik kembali meskipun utang pewaris tidak dapat terlunasi dari kekayaan yang ditinggalkannya. No. Sebaliknya di daerah Cianjur. Ciamis. 827 K/Sip/1971). Pisang Sambo. dan Cikoneng. MA tanggal 1 Maret 1972. MA tanggal 8 Mei 1971.

baik dalam Hukum Islam. Menurut Hukum Islam dan Hukum Perdata BW. benda berwujud maupun tidak berwujud. Hukum Perdata BW. Menurut Hukum Adat. BW maupun Hukum Adat. namun BW memberikan pengecualian dalam hal-hal tertentu hibah dapat ditarik kembali atau dihapuskan oleh penghibah. Demikian pula menurut Hukum Adat bahwa hibah tidak dapat ditarik kembali. Hal ini diatur sama. hibah tidak dapat ditarik kembali. meskipun dalam beberapa hal satu sama lain mengandung pula perbedaan. maupun Hukum Adat di Indonesia. bahkan BW mensyaratkan harus dengan akta notaris. Benda-benda yang dapat dihibahkan adalah segala sesuatu benda milik penghibah yang telah ada pada saat dilakukan hibah. hibah dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis. Dalam Hukum Islam dan BW hibah tidak ditentukan besarnya. kecuali jika hibah itu bertentangan dengan Hukum Adat. Hibah adalah jenis pemberian yang dilakukan oleh seseorang ketika masih hidup. baik benda yang bergerak maupun benda tetap. atau dengan kata lain perjanjian secara cuma-cuma.pengaturan masalah hibah menurut ketiga sistem hukum tersebut di atas memiliki unsur-unsur kesamaan. hibah merupakan perjanjian sepihak yang dilakukan tanpa kontra prestasi dari pihak penerima hibah. Di bawah ini dapat dilihat beberapa unsur persamaan dan perbedaan ”hibah” menurut ketiga sistem hukum tersebut. Sedangkan menurut Hukum Islam dan BW hibah harus dilakukan secara tertulis. jika penghibahan dilakukan kepada bukan ahli 104 . sedangkan dalam Hukum Adat ada beberapa daerah yang menentukan besar hibah yaitu sepertiga dari kekayaan penghibah. Baik menurut Hukum Islam.

105 . Jakarta: Binaaksara. apabila demikian maka hibah batal demi hukum. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Pengertian Hibah Wasiat atau Wasiat Hibah wasiat atau wasiat atau sering juga disebut testamen adalah ”pernyataan kehendak seseorang mengenai apa yang akan dilakukan terhadap hartanya setelah ia meninggal dunia kelak”. h. Meskipun pada dasarnya hibah itu tidak dibatasi jumlahnya. sehingga dalam hukum waris Islam kedudukan hibah wasiat sangat penting sebab Al 59 Sajuti Thalib. Di dalam praktik pelaksanaannya.waris dan pemberi hibah tidak mempunyai anak.59 Pelaksanaan hibah wasiat ini baru dilakukan setelah pewaris meninggal dunia. yaitu dalam hal kepentingan anak menghendaki. 1984. Ketiga sistem Hukum di atas. Hibah juga dilarang kepada anak yang belum lahir. BW mengecualikan hal ini. Dalam kaitan ini pula hukum membatasi kekuasaan seseorang untuk menentukan kehendak terakhirnya melalui hibah wasiat agar ia tidak mengesampingkan anak sebagai ahli waris melalui hibah wasiat. hibah wasiat harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu agar pelaksanaannya tidak bertentangan dengan ketentuan hukum waris dan tidak merugikan para ahli waris lain yang tidak memperoleh pemberian melalui hibah wasiat. maka hibah semacam ini diperbolehkan. melarang penghibahan sejumlah barang yang baru akan ada di kemudian hari. Sedangkan Hukum Islam dan BW tidak demikian halnya. maka Hukum Adat Jawa Barat mensyaratkan adanya persetujuan atau harus dihadiri oleh saudara sekandung penghibah. akan tetapi secara tersirat terdapat pembatasan hibah yaitu bahwa hibah tidak boleh berisi pencabutan hak ahli waris. Istilah hibah wasiat diambil dari bahasa Arab. antara lain di daerah Kabupaten Ciamis. 87. Bila yang dihibahkan adalah harta asal harta pusaka.

yakni menyuruh orang yang berwasiat berlaku adil dalam mewasiatkan sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syarat. Ayat 181: ”Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu. antara mereka. Hibah wasiat menurut hukum waris Islam Demikian pentingnya hibah wasiat dalam Hukum Islam sehingga Al Qur’an secara tegas dan jelas memberikan tuntunan tentang hibah wasiat atau wasiat. apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut. hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya 106 . yakni secara adil dan baik. jika ia meninggalkan harta yang banyak.181. ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. maka sesungguhnya dosanya bagi orang-orang yang mengubahnya. yaitu: Ayat 180: ”Diwajibkan atas kamu. Ayat 182: ”Akan tetapi barang siapa khawatir terhadap orang yang verwasiat itu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Ayat-ayat yang berhubungan dengan hibah wasiat ini antara lain tercantum dalam: a. Surat Al Baqarah ayat 240: ”Orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri. setelah ia mendengarnya. b. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf. 2 : ayat 180.182). maka tidak dosa baginya. 1. lalu ia mendamaikan.Qur’an menyebut perihal hibah wasiat ini berulang kali. berlaku berat sebelah atau berbuat dosa. Surat Al Baqarah (Q. Di samping dalam hukum waris Islam.S. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. hibah wasiat dikenal pula dalam hukum perdata menurut BW dan dalam hukum waris adat.

yaitu orang yang membuat surat wasiat itu harus cakap dan bertindak secara sukarela tanpa paksaan serta ia harus benarbenar berhak atas harta yang akan diwasiatkan. Almusji. hibah wasiat tidak boleh 107 . dan harta yang diperoleh dari hibah wasiat itu tidak boleh dipergunakan bertentangan dengan hukum.. wali atau waris dari yang meninggal membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka.. yaitu : Ayat 11: ”. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat... ia tidak termasuk ahli waris pemberi hibah wasiat.S. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu.. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. b. Ayat 12: ”. Pembagian-pembagian tersebut di atas sesudah di penuhi wasiat yang ia buat atau sesudah dibayar hutangnya. lahu.. Almusaji.diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya.. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dibayar hutang-hutangmu. bihi. Akan tetapi jika mereka pindah sendiri. yaitu benda yang akan dihibah wasiat kan sifatnya harus dapat dipindahtangankan...”.. Jika kamu mempunyai anak. yaitu orang yang akan menerima hibah wasiat harus cakap untuk menerimanya. manfaatnya bagimu. Ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan hibah wasiat antara lain terdiri atas: a. Hibah. Almusja. c. Ini adalah ketetapan dari Allah”. c.. IV : 11 dan 12).. maka tidak ada dosa bagimu. Surat An Nissa (Q. banyak.

Sajuti Thalib. 29.60 d. apakah mereka mengikhlaskan kelebihan dari sepertiga itu. akan tetapi penerima hibah wasiat belum secara tegas menyatakan menerima. Padang: Mimbar. Apabila ternyata ada hibah wasiat yang melebihi sepertiga dari harta peninggalan. 92-93.Op. Jika para ahli waris menyatakan ikhlas. maka sebagai gantinya adalah ahli waris mereka masih berhak untuk itu”. ketika merasa dirinya akan meninggal dunia”. 62 Komar Andasasmita. h. Jika penerima hibah wasiat meninggal dunia setelah pemberi hibah wasiat wafat. atau (2) ”Diminta kesediaan semua ahli waris yang pada saat itu berhak menerima warisan.Cit. Cit. hibah wasiat sewaktu-waktu dapat ia cabut kembali. penerima hibah wasiat harus menyatakan secara tegas bahwa ia menerima hibah wasiat.61 Ketentuan lain yang berkaitan dengan hibah wasiat juga antara lain bahwa setelah pemberi hibah meninggal dunia. tidak menimbulkan kekeliruan. maka diselesaikan dengan salah satu cara sebagai berikut: (1) ”Dikurangi sampai btas sepertiga harta peninggalan”. Asj Sjighah.melebihi (sepertiga) dari harta setelah dikurangi dengan semua hutang sebab melebihi dari sepertiga berarti mengurangi hak ahli waris. Op. maka pemberian hibah wasiat yang melebihi sepertiga itu halal hukumnya”. dan dilakukan di depan saksi-saksi paling sedikit dua orang. h. tidak bertentangan dengan peraturan yang telah ditentukan. Ichtisar Hukum Islam. yaitu isi dari hibah wasiat harus terang dan jelas. 1964.62 60 61 Abdul Wahid Selayan. h.. ”Hal itu berdasarkan pada Hadits Riwayat Buchari yang meriwayatkan tentag nasihat Rasullullah SAW kepada Sa’ad bin Abi Waqqas. 108 . ”Hal tersebut hanya dapat dilakukan setelah pemberi hibah wasiat meninggal sebab ketika pemberi hibah wasiat hidup. 236.

yaitu: (1) Apabila surat wasiat diserahkan dalam keadaan terbuka maka dibuatlah akta notaris tentang penyerahan itu yang ditandatangani oleh pewaris. dan juga notaris. Salah satu ciri dan sifat yang terpenting dan khas dalam setiap surat wasiat.” Ketentuan lain dalam pembuatan surat wasiat ini adalah bahwa pembuat wasiat harus menyatakan kehendaknya yang berupa amanat terakhir ini secara lisan di hadapan notaris dan saksi-saksi. saksi-saksi. yaitu: a. yaitu surat wasiat selalu dapat ditarik kembali oleh si pembuatnya. Hibah wasiat menurut BW Hukum waris menurut BW mengenal pengaturan hibah wasiat ini dengan nama testamen yang diatur dalam buku kedua bab ketiga belas. Kemudian surat wasiat tersebut harus diserahkan untuk disimpan pada seorang notaris dan penyerahan kepada notaris ini ada dua cara. Kedua cara penyerahan dan penyimpanan pada notaris itu mempunyai akibat hukum yang satu sama lain berbeda.2. yaitu: ”Surat wasiat atau testamen adalah suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia dan dapat dicabut kembali. jika 109 . yaitu bisa diserahkan dalam keadaan terbuka bisa juga dalam keadaa tertutup. Dalam pasal 875 BW secara tegas disebutkan pengertian tentang surat wasiat. Hal ini disebabkan tindakan membuat surat wasiat adalah merupakan perbuatan hukum yang sifatnya sangat pribadi. BW mengenal tiga macam bentuk surat wasiat. Wasiat Olografis Yaitu surat wasiat yang seluruhnya ditulis dengan tangan dan ditanda tangani pewaris sendiri. Akta penyimpanan tersebut ditulis di kaki surat wasiat tersebut.

Hal itu tidak dapat dilakukan dengan perantaraan orang lain. b. dengan cara orang yang akan meninggalkan warisan itu menghadap notaris serta menyatakan kehendaknya dan memohon kepada notaris agar dibuatkan akta notaris dengan dihadiri oleh dua orang saksi. maka amanat ditulis lagi pada sehelai kertas yang lain. baik anggota keluarganya maupun notaris 110 . Sedangkan sebaliknya. jika surat wasiat diserahkan dalam keadaan tertutup. maka untuk kepentingan itu surat wasiat harus diserahkan terlebih dahulu kepada Balai Harta Peninggalan untuk membukanya. maka pada saat pewaris meninggal dunia surat wasiat tidak dapat segera dilaksanakan sebab isi surat wasiat itu tidak dapat diketahui notaris. Setelah itu pewaris harus membuat akta penyimpanan surat wasiat pada kertas yang berbeda.tidak ada tempat kosong pada kaki surat wasiat tersebut. maka pewaris harus menuliskan kembali pada sampul dokumen itu bahwa surat tersebut berisikan wasiatnya dan harus menandatangani keterangan itu dihadapan notaris dan saksi-saksi. Jika pewaris meninggal dunia dan wasiat diserahkan kepada notaris dalam keadaan terbuka. (2) Apabila surat wasiat diserahkan kepada notaris dalam keadaan tertutup. Surat wasiat yang disimpan pada seorang notaris kekuatanya sama dengan surat wasiat yang dibuat dengan akta umum. Pembuat surat wasiat harus menyampaikan sendiri kehendaknya itu di hadapan saksi-saksi. Sedangkan notaris dilarang membuka sendiri surat wasiat tersebut. maka segera penetapan dalam surat wasiat dapat dilaksanakan sebab notaris mengetahui isi surat wasiat tersebut. Wasiat umum Yaitu surat wasiat yang dibuat oleh seorang notaris.

kemudian diserahkan kepada notaris dengan dihadiri empat orang saksi. Terdapat beberapa orang yang tidak boleh menjadi saksi dalam pembuatan surat wasiat umum ini. Syarat untuk saksi-saksi dalam surat wasiat umum antara lain harus sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. biasanya tidak dapat mengingat kesalahan dalam surat wasiat. Surat wasiat macam ini harus disampul dan disegel. 2) anak-anak. Surat wasiat harus dibuat dalam bahasa yang dipergunakan oleh pewaris ketika menyampaikan kehendaknya. biasanya tidak dapat diperbaiki lagi sebab hal itu baru diketahui setelah pewaris meninggal dunia. Penutupan dan penyegelan dapat juga dilakukan di hadapan notaris dan empat orang saksi. Mereka harus warga negara Indonesia dan juga mengerti bahasa yang dipakai dalam surat wasiat tersebut. Jadi sedapat mungkin kesalahan formalitas itu harus diperkecil. Selanjutnya pembuat wasiat harus membuat keterangan di hadapan notaris dan saksi-saksi bahwa yang termuat dalam sampul itu adalah surat wasiatnya yang ia tulis sendiri atau ditulis orang lain dan ia menandatangani. cucu-cucu. c. 3) pelayan-pelayan notaris yang bersangkutan. yaitu: 1) para ahli waris atau orang yang menerima hibah wasiat atau sanak keluarga mereka sampai derajat keempat. Kemudian notaris 111 . dengan syarat bahwa notaris dan saksi-saksi juga mengerti bahasa tersebut. dan anak atau cucu notaris. Kemudian ia harus menandatangani sendiri surat tersebut. Hal ini mengingat kesalahan dalam surat wasiat.yang bersangkutan. Wasiat Rahasia Yaitu surat wasiat yang ditulis sendiri atau ditulis orang lain yang disuruhnya untuk menulis kehendak terakhirnya. dan anak-anak menantu.

Pengertian dan Tujuan Wasiat. Hibah wasiat merupakan salah satu proses dalam pewarisan. Wasiat atau hibah ialah pemberian pewaris kepada seorang/beberapa ahli waris atau orang tertentu. Pandeglang). iv. Untuk menghindarkan persengketaan (Kabupaten Bandung. Cikoneng). Ciamis. Batujaya. wasiat dibuat karena berbagai alasan. surat wasiat itu selanjutnya harus disimpan pada notaris dan selanjutnya merupakan kewajiban notaris untuk memberitahukan adanya surat wasiat tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan. Pisang 112 . Hibah Wasiat menurut Hukum Adat Jawa Barat. Banjar. para ahli waris berkewajiban untuk menghormati wasiat tersebut. Banjar. Sama halnya dengan hibah biasa. Kawali.membuat keterangan yang isinya membenarkan keterangan tersebut. Pemberian dengan hibah wasiat ini terdapat sangat umum di Jawa Barat. Setelah semua formalitas dipenuhi. Pewaris merasa ajalnya telah dekat (Cianjur. Kawali). Tetapi selama wasiat tidak dicabut atau ditarik kembali. a. ii. Karawang. yang dilaksanakan setelah pewaris meninggal dunia. dan tidak dapat dipisahkan dari pewarisan. Pandeglang). Pewaris akan melaksanakan ibadah haji (Cianjur. Ciamis. iii. Pewaris dapat mencabut atau menarik kembali suatu wasiat yang sudah dibuat atau diikrarkan. Di desa Buyung. apabila pembuat surat wasiat/peninggal warisan meninggal dunia. Perwujudan rasa kasih sayang dari si pewaris (Kabupaten Bandung. seperti: i. 3. Indramayu.

c) Akta Notaris (Cianjur). Bandung. pemberitahuan kepada pejabat desa (Cianjur. Pandangan yang umum berlaku adalah. Kawali dan Pandeglang. Tetapi di Ciamis. Pembuatan atau ikrar wasiat 1) Lisan a) Di hadapan orang-orang yang berkepentingan sanak saudara atau tanpa penghuni rumah. 2) Tertulis a) Di bawah tangan (Ciamis. Ciamis.Sambo (Karawang) hibah wasiat tidak dapat ditarik kembali apabila dibuat secara tertulis. b) Di hadapan Kepala Desa (Ciamis. Cikoneng). Cianjur. b) Di hadapan pejabat desa (Saruni Kecamatan Pandeglang). Kawali. Bekasi. Kawali. Bekasi. Di Kecamatan Ciamis. berbedabeda antara berbagai daerah. di peroleh keterangan bahwa barang yang diterima karena wasiat tidak diperhitungkan pada saat pembagian waris. Di daerah Kabupaten Bandung. Banjar. d) Di hadapan saksi-saksi (Ciamis. Mengenai besarnya kekayaan yang dapat diwariskan. Pandeglang). Bandung. Cikoneng. tidak ada ketentuan mengenai batas besarnya wasiat kepada seorang bukan ahli waris. Demikian juga di daerah Cianjur.juga Karawang tidak ada batas jumlah secara pasti 113 . Pandeglang). Cianjur. pemberian berdasarkan wasiat akan diperhitungkan pada saat pembagian waris. Pandeglang. Pendeglang). Bandung. tetangga. Cikoneng. apabila wasiat berupa tanah diberitahukan kepada desa untuk pemindahan nama. b.

Di daerah-daerah tersebut. D. Di seorang/beberapa ahli waris). 114 . jadi di daerah-daerah ini. asal ada persetujuan terlebih dahulu dari ahli waris. Misalnya pemberian kepada saudara ipar (saudara isteri/suami). tidak dibenarkan pewarisan kepada bukan ahli waris. ini diperkenalkan oleh hukum dan disebut hibah wasiat atau wasiat. hibah wasiat ditentukan sebanyak-banyaknya dari kekayaan. Ihtisar Hibah Wasiat Pernyataan kehendak seseorang tentang apa yang akan dilakukan terhadap harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Di Cikoneng tidak dijumpai pembatasan pewarisan. maupun Hukum Adat dan di bawah ini akan dipaparkan ikhtisar tentang bagaimana masing-masing sistem hukum mengatur perihal hibah wasiat atau wasiat. dan Dadap (Indramayu) hibah wasiat kepada orang lain dapat diberikan. Di desa Plawad (Kecamatan Karawang) hibah wasiat selalu diberikan kepada anggota keluarga. Jumlah tersebut akan diperhitungkan pada saat pembagian waris (apabila wasiat jatuh pada . Tetapi tidak ada jawaban. Hal ini diatur. baik dalam Hukum Islam. tetapi memiliki pertalian yang sangat erat dengannya. Juntikehon. Banjar dan Kawali. hibah atau hibah wasiat sebagai proses pewarisan hanya diperuntukan kepada ahli waris. BW.hanya sebagai suatu kebiasaan jumlah wasiat tidak akan melebihi dari seluruh kekayaan. Pewaris dapat mewariskan baik kepada ahli waris atau orang lain (bukan waris). Di Bulak (Kabupaten Indramayu) ada batas maksimum dalam pemberian wasiat yaitu Kecamatan Ciamis. Di Jutinyuat. apakah dimungkinkan seseorang di masa hidupnya memberikan hibah sebagai hadiah sebagian kekayaan kepada seorang yang bukan ahli waris.

Demikian pula dalam Hukum Adat bahwa tidak diperbolehkan seseorang peninggal warisan dalam hibah wasiat mengesampingkan seorang anak sama sekali dari pembagian harta warisan. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang yang memperoleh pemberian melalui wasiat itu di luar para ahli waris atau setidak-tidaknya kepada orang-orang yang masih termasuk sanak keluarga yang sudah agak jauh hubungan kekeluargaannya. maka untuk sahnya wasiat semacam itu 115 . Hukum Islam membatasi bahwa seseorang dilarang mewasiatkan kepada ahli warisnya sendiri. Hal ini dimaksudkan agar pewaris dengan surat wasiat yang ia buat tidak mengesampingkan hak para ahli waris menurut Undang-undang. Bentuk yang dikenal dalam ketiga sistem hukum tersebut pada dasarnya sama. melalui surat wasiat atau testamen. bahwa pemberian dengan surat wasiat umumnya dilakukan kepada orang-orang di luar ahli waris. Hukum Islam memberikan pembatasan tentang pemberian melalui surat wasiat ini sampai jumlah sepertiga dari harta peninggalan bersih. tidak boleh dikurangi oleh pewaris dengan adanya wasiat ataupun hibah sebab bagian mutlak para ahli waris itu telah ditentukan jumlahnya dalam Undang-undang. dengan pembatasan adanya ”legitime portie”. Tentu saja apabila wasiat dibuat dengan lisan melalui ucapan-ucapan terakhir peninggal warisan. anak-anak beserta keturunannya dan orang tua beserta leluhur ke atas.Dikenal pada semua sistem hukum yang berlaku di Indonesia tentang waris. Di lain pihak. Akan tetapi pemberian itu dapat dilaksanakan setelah pewaris meninggal dunia. Bahwa hibah wasiat atau wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang lain di luar ahli waris. yaitu bagian mutlak para ahli waris dalam garis lurus. Hukum Perdata BW juga mengatur demikian. yaitu dapat berbentuk lisan maupun tertulis.

maka wasiat tersebut dikurangi sampai jumlah sepertiga itu. Oleh karena itu. Jika para ahli waris tidak menyetujui. jika wasiat tersebut melebihi jumlah sepertiga dari harta peninggalan bersih. maupun Hukum Adat. Dalam Hukum Adat antara lain. Berlainan halnya dengan Hukum Adat yang mengatur tentang pembuatan wasiat tertulis bahwa isi surat wasiat tersebut yang merupakan kehendak terakhir pewaris harus dibacakan di depan beberapa orang sanak keluarga yang selanjutnya harus turut menandatangani wasiat tertulis itu. Persetujuan para ahli waris dalam hal pembuatan wasiat dikenal dalam Hukum Islam maupun Hukum Adat. surat tersebut tidak perlu ditandatangani. menurut BW. akan tetapi apabila surat tersebut ditandatangani oleh pembuat wasiat sendiri maka tidak perlu memakai saksi sebab sepanjang maksud pembuat wasiat sudah tersurat dengan jelas. sedang dalam Hukum Islam persetujuan para ahli waris harus diberikan baik sebelum meninggalnya pewaris maupun sesudah meningalnya pewaris. Sedangkan menurut Hukum Islam jika wasiat dibuat secara tertulis. baik menurut Hukum Islam. hal ini bisa dilakukan di depan notaris atau tidak di depan notaris.hendaknya dihadiri oleh para saksi. Sedangkan apabila wasiat dibuat secara tertulis. menurut BW. Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa wasiat merupakan kehendak terakhir dari pewaris. wasiat tersebut sah menurut Hukum Islam. wasiat dapat ditarik kembali sewaktu-waktu oleh pembuat wasiat dengan secara tegas atau pun secara diam-diam selama pembuat wasiat belum meninggal dunia. Pencabutan secara diam-diam terjadi jika dari perbuatan pembuat wasiat dapat disimpulkan bahwa ia bermaksud mencabut wasiatnya. Sedangkan pencabutan secara tegas terjadi 116 . para ahli waris harus turut serta menandatangani wasiat.

yaitu ”pemberian warisan kepada seorang ahli waris dengan ketentuan bahwa yang memperoleh pemberian itu wajib menyimpan warisan tersebut dan setelah pewaris meninggal atau telah lewat waktu tertentu harta warisan itu harus diserahkan kembali kepada orang lain yang telah ditetapkan di dalam surat wasiat”.jika pembuat wasiat membuat surat wasiat baru yang isinya nyatanyata memuat tentang pencabutan kembali surat wasiat semula. Hukum Adat dan Hukum Islam tidak mengenal ”fideicommis”. Akan tetapi undang-undang sendiri sesungguhnya melarang ”fidei-commis” ini. 117 . Hal ini hanya dikenal dalam Hukum Waris menurut BW. ini berarti wasiat pertama dicabut kembali. Sebagai pengecualian dari larangan tersebut dikenal ada dua macam fidei-commis yang diperkenankan Undang-Undang. yaitu: Fidei-commis yang isinya bertujuan agar harta pewaris tidak dihabiskan oleh anak-anak pewaris. maka harta tersebut harus dibagi sama rata antara kedua orang tersebut. yaitu apabila pembuat wasiat kemudian dengan surat-surat wasiat yang lain memberikan harta itu juga kepada orang lain. BW menyebut hal itu dengan istilah ”pemberian warisan secara melangkah”. Hukum Adat tidak mengenal formalitas tentang pencabutan wasiat semacam yang dikenal di dalam BW. Sedangkan Hukum Islam mengatur pencabutan wasiat. Akan tetapi jika di dalam surat wasiat yang baru itu harta tersebut diberikan kepada dua orang. Hal ini secara tegas ditetapkan dalam surat wasiat. agar anak-anak pewaris tidak menjual harta peninggalan itu dengan kewajiban memberikannya kembali kepada anak mereka. atau bisa juga pencabutan dilakukan dengan akta notaris khusus yang dibuat untuk itu.

Fidei-commis de residuo yaitu penetapan pewaris agar anak-anak pewaris memberikan harta peninggalan yang tersisa saja kepada orang yang telah ditetapkan dalam surat wasiat. 118 .

1979. Jakarta: Pradnya Paramita. 1968. 1976. HADIKUSUMA. JUNUS. 1978.FH-Unhas. 1980. Syekh Muhammad. Kesimpulan Isi Al-Quran... Jakarta: TP.1981. Pokok. Jakarta: Bulan Bintang. NAIM.pokok Hukum Waris. 1961. ____________.1984. Pokok-pokok Hukum Waris Islam II. 1968.Pembinaan Hukum dalam rangka Pembangunan Nasional. Hukum Perdata I B. Asaf A.1971. Hukum Kekeuargaan Nasional. 1972. HASAN. 1973. Jakarta: TP. 1969. Mahmud. Padang: Sri Dharmawan. 1971.1970. Bandung: Alumni. Hukum Waris Menurut Al Quran dan Hadis. ALI ASH SHABUNI.1978. Al-Quran dan Ilmu Hukum. Turutlah Hukum Warisan dalam Islam. Mochtar. ANDASASMITA. Hardjito. Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Quran. Jakarta: Bimbingan Masa. Masyarakat dan Pembinaan Hukum Nasional. NOTOPURO. __________________. Djaja Sembiring. Jakarta: Tinta Mas. Ali. Bandung: LPHK-FH Unpad. Jakarta: Tinta Mas. 1960. Hilman. NIWAN. KUSUMAATMADJA. Fakultas Hukum Unpad. Hukum Adat karo dalam Rangka Pembentukan Hukum Nasional.A. HukumWaris Adat. Komar. HAAR. Hukum Waris jilid 2. 1959.DAFTAR PUSTAKA ABDOERAOEF. H. Lely. 1968. MELIALA. Mochtar. 1995. M. Hukum Waris Menurut KUH Perdata. Jakarta: Intermasa. Bandung: Tarsito. Bandung: Binacipta. Jakarta: Hadi karya Agung. ICHSAN. Makasar: LPHK. Laporan Proyek Penelitian Hukum Adatdan Lembaga-LembagaHukum Adat di Jawa Barat. Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. FYZEE. Hukum Waris jilid I. Bandung:Binacipta. Jakarta: Bulan Bintang. __________. Hukum Warisan dalam Islam. Jakarta: Tinta Mas. Bandung: IMNO Unpad. Ter Bzn.. HAZAIRIN. Hukum. _________________. A. Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau. Jakarta: Intermasa : 1979 119 . PITLO. Achmad. Bandung: Tigenda Karya. Masalah-masalah dalam Hukum Waris di Indonesia.

J. S. 1968. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat. Bandung: Vorkink. Abdul Wahid. Jakarta: BPHN No. POERWADARMITA. SAFIOEDIN. Jakarta: Rajawali. SOEWONDO. Sayuti. Jakarta: Bina Aksara.1978. Jakarta: Penerbit Universitas. 120 . Medan: Bintang. Bandung: Alumni. Hukum Warisan di Indonesia. SALAYAN. 1976. _______________.1977. Nani. Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i Hazairin dan Wasiat Wajib di Mesir. PUDJOSUBROTO. 1983. SOEKANTO. 1973. Jakarta: Inter Masa. R. Jakarta: Rajawali. 1974. 1981. 1959.SUBEKTI. Yogyakarta: Liberty. 1984. W. Majalah Hukum dan Pembangunan No. SUTANTIO. Kamus Hukum Adat. 1966. ______________. Bandung: Alumni. Kekuasaan Mahkamah Agung RI. Hukum Adat Indonesia. 1980. THALIB. Bandung: Alumni. Santoso. RAMULYO. Yogyakarta: Hien Hoo Sing. 1979. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Maret 1982.. Ikhtisar Hukum Islam. Yurisprudensi Hukum Waris. _______________. tentang Pembagian warisan untuk cucu menurut Islam. TT. Jakarta: Timur Mas. Soejono. Achmad. 1964. Jakarta: Balai Pustaka. Pokok-pokok Hukum Perdata. Bandung: Alumni. 1975. 1980. Bandung: Alumni. Adat sketsa Asas.3. Hak Wanita. SUDIYAT. Bab-Bab Tentang Hukum Adat. 1980. Perkembangan Kewarisandalam adat Minangkabau. Beberapa Hal Tentang Burgelijk Wetboek. SOEPOMO. Majalah Hukum dan Keadilan. _______________. SIHOMBING. Wanita dan Hukum. Bandung: Alumni.2 tahun keXII. Retnowulan. SAMSUDIN. Asis. Hukum Adat Indonesia dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung. Masalah Hukum Sehari-hari.. 1978. Intisari Hukum Keluarga. Van Hoeve. _______________. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. 1964. Idris. Bandung: Alumni. Wirjono. Hermawan. PRODJODIKORO. Iman. Hukum. M. Hukum Perdata Jawa Barat. _______________. Padang: Mimbar.

Usaha Pembaharuan Hukum Keawarisan Islam di Indonesia. WIGNJODIPURO Surojo. 121 . 2 tahun ke XII._______________. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Majalah Hukum dan Pembangunan No. 1982. Jakarta: Gunung Agung. Jakarta: Maret 1982.

Anak paman sebapak 14. Anak saudara sebapak 10. Anak 2. Suami 15. Saudara sebapak 7. Cucu sampai ke bawah 3. Saudara seibu 8.Lampiran 1 4 3 10 11 14 Yang Mati 12 13 1. Anak saudara sekandung 15 5 6 7 1 8 9 9. Anak paman sekandung 13. Paman sebapak 12. Bandung: YPP Nurul Iman. Ilmu yang Terlupakan. Kakek sampai ke atas 5. Yang memerdekakan 2 Sumber: Al-Qawim. 2002. . Ayah 4. Saudara sekandung 6. Paman sekandung 11.

Saudara seibu 9. Saudara sebapak 8. Ilmu yang Terlupakan. 2002. Saudara sekandung 7. Cucu dari anak laki-laki 3. Ibu 4. Nenek dari Bapak 9 Yang Mati 6 7 8 10 1 Anak Laki-laki 6. Nenek dari Ibu 5. Anak 2. Bandung: YPP Nurul Iman. .4 5 3 BAPAK 1. Yang memerdekakan 2 Sumber: Al-Qawim. Isteri 10.

suami/isteri Ada anak/cucu dg sdr.dua orang/lebih Ada anak cucu/tidak Seorang Dua orang/lebih dg sdr.laki-laki sekandung Dg anak perempuan Dg kakek Seorang Dua orang/lebih Dg seorang sdr.laki-laki sebapak Dg anak perempuan Dg kakek Seorang Dua orang/lebih Tidak ada anak/cucu Ada anak/cucu Tidak ada anak/cucu Ada anak/cucu Ada anak/cucu No. seorang anak perempuan Dg cucu laki-laki Tak ada anak/cucu Dg ayah. . Perempuan sekandung dua orang atau lebih Ayah/Kakek/anak/ cucu Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ayah Saudara lakilaki/perempuan seibu Suami Isteri seorang / lebih Ayah Kakek dari ayah Ayah/kakek mendapat bagian 1/6 + Ashabah bila masih ada sisa.23 Mahjub (terhalang) oleh Tidak ada Anak laki-laki atau anak perempuan dua orang atau lebih Tidak ada Ibu Ibu/Ayah Anak laki-laki atau Ayah Cucu perempuan Ibu Nenek dari Ibu Nenek dari Ayah Saudara perempuan sekandung Saudara perempuan sebapak Anak laki-laki atau ayah atau sdr. Ilmu yang Terlupakan. Bandung: YPP Nurul Iman.AHLI WARIS YANG MEMPUNYAI BAGIAN-BAGIAN TERTENTU NAMA Anak perempuan a b c a b c d a b c d a a a b c d e a b c d e f a b a b a b a a Bagian ½ A ½ 1/6 A Mal Sisa 1/6 1/6 1/6 1/6 ½ A A A ½ 1/6 A A A 1/6 ½ ¼ ¼ 1/6 +A 1/6 +A Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila Bila KETERANGAN Seorang Dua orang/lebih Dengan anak laki-laki Seorang Dua orang/lebih Dg. A=Ashabah Sumber: Al-Qawim. Dalil 22 21 20 22 21 12 20 5 7 6 24 2/3 14 10 11 12 26 14 10 13 11 12 26 8 9 18 19 16 17 27 27. Lakilaki sekandung atau sdr. 2002. M=Mahjub. perempuan sekandung Dg sdr.

Saudara laki-laki sebapak 7. Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung 8. 2002. Cucu laki-laki 3. Laki-laki/Perempuan yang memerdekakan Sumber: Al-Qawim.1. Paman sekandung 10. Anak paman sekandung 12. Kakek dari Ayah 5. Ilmu yang Terlupakan. . Anak laki-laki 2. Paman sebapak 11. Bandung: YPP Nurul Iman. Saudara laki-laki sekandung 6. Anak paman sebapak 13. Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak 9. Ayah 4.

10 – 12 PEBRUARI 1983 Hadirin yang saya hormati. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam Simpoium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang diadakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Yogyakarta pada tanggal 21-23 Desember 1981. Perkenankanlah saya pertama-tama untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia serta hidayahNya. Sebagaimana halnya pada pertemuan-pertemuan ilmiah terdahulu penyelenggaraaan pertemuan ilmiah kali inipun dimaksudkan sebagai usaha untuk memberi isi serta masukan ke arah pembinaan dan pembaharuan kodifikasi Hukum Nasional. Terlihat masih berlakunya Hukum 131 . Dilihat dari segi lain. telah dikemukakan bahwa di bidang Hukum Waris ini masih nampak adanya sifat pluralistik. yang memungkinkan kita untuk berkumpul dalam pertemuan pagi hari ini dalam rangka mengisi program pertemuan ilmiah Badan Pembinaan Hukum Nasional yang terakhir dalam tahun anggaran 1982/1983. khususnya di bidang Hukum Waris sebagai salah satu unsur dari Hukum Perdata Nasional. Para peserta Simposium yang berbahagia. Simposium Hukum Waris Nasional ini juga merupakan tindak lanjut dari kegiatan Badan Pembinaan Hukum Nasional di bidang penelitian dan pengkajian hukum yang membahas mengenai hukum waris. Hadirin yang saya hormati.Lampiran 2 PIDATO PENGARAHAN MENTERI KEHAKIMAN RI PADA SIMPOSIUM HUKUM WARIS NASIONAL JAKARTA.

untuk dirumuskan menjadi Hukum Waris Nasional. harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat ditemukan titik-titik persamaan antara satu dengan yang lain melalui penetapan asas-asas Hukum Waris. matrilinial dan parental). Sebaliknya. Islam dan BW secara bersama-sama. Usaha semacam ini saya anjurkan hanya terbatas pada Hukum Waris saja. sementara di bidang Hukum Adat sendiri menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan darah Hukum Adat yang satu dengan lainnya. yang berkaitan erat dengan kekeluargaan (patrilinial. Dalam hubungan ini saya perlu mengingatkan bahwa dalam pembinaan hukum nasional bahan-bahan baku hukum yang digunakan dapat saja diambil dari berbagai sumber yang mungkin berbeda satu sama lain untuk dimanfaatkan secara maksimal. satu hal yang perlu saya tekankan secara khusus pada kesempatan ini adalah telah disepakatinya untuk tidak perlu menonjol masalah perbedaan tersebut. baik yang diambil dari Hukum Islam. Saya sangat menghargai prakarsa Badan Pembinaan Hukum Nasional membahas topik dengan cara yang memungkinkan semua pandangan bertemu pada suatu titik untuk mengangkat asas-asas serta prinsip-prinsip Hukum Waris dan berbagai sistem hukum yang berbeda itu ke tingkat Nasional. Di samping ditunjukkan adanya perbedaan yang terdapat pada masing-masing sistem hukum tersebut. Hukum Adat maupun Hukum Barat. Para peserta Simposium sekalian. Saya sengaja mengemukakan kembali hal tersebut di atas karena berpendapat bahwa ia sangat relevan dengan masalah yang menjadi topik pembahasan Simposium ini. hasilnya akan merupakan norma hukum 132 . tetapi perlu dilakukan pula pada bidang-bidang hukum lainnya. Pemanfaatan bahan baku hukum dari berbagai sumber hukum tadi. dengan jenis serta status harta yang akan diwariskan.Waris Adat.

H. yang saya sertai doa dambaan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati anda semua dan semoga pertemuan ilmiah ini sebagai bahagian dari usaha pembinaan Hukum Nasional akan menemukan manfaat besarnya. Jakarta. Khusus mengenai Hukum Waris yang akan Saudara-saudara bahas selama tiga hari ini. saya sangat berharap ditemukannya asas-asas dan prinsip-prinsip yang bersifat nasional. Akhirnya kepada para peserta saya ucapkan selamat bersimposium. Terima kasih. 10 Pebruari 1983 MENTERI KEHAKIMAN RI ttd ALI SAID.yang diharapkan dapat diterima oleh seluruh warga negara sebagaimana yang diinginkan dalam konsepsi Wawasan Nusantara di bidang hukum. 133 . Demikian sambutan singkat saya. S. asas-asas dan prinsip-prinsip yang bersumber dari berbagai sistem hukum namun akhirnya akan bermuara pada Hukum Waris Nasional yang akan dirumuskan nanti.

S. iv.S. Departemen Kehakiman RI. Dr.. Kesimpulan A. Universitas/ Institut. 2. v. telah diselesaikan Rancangan UndangUndang Hukum Kewarisan Nasional RI (1963) dan kemudian oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional (LHPN) telah pula disusun kerangka draft Hukum Waris Nasional yang berlaku untuk seluruh Indonesia dalam rangka mewujudkan prinsip Wawasan Nusantara. (1963). Seminar tersebut telah berhasil merumuskan beberapa kesepakatan berkenaan dengan hukum kewarisan Nasional antara lain tentang perlu mengadakan kodifikasi dan unifikasi hukum kewarisan. Hasil penelitian tentang masalah Hukum Waris yang dilakukan antara lain oleh: i. d.H. Mahkamah Agung RI. Sebagai langkah konkrit untuk mewujudkan kesepakatan tersebut oleh Prof. Dr. b.Lampiran 3 KESIMPULAN SIMPOSIUM HUKUM WARIS NASIONAL 1. vi. Rancangan Undang-Undang Hukum Waris Nasional oleh Prof. iii. Kerangka Draf Hukum Waris Nasional oleh tim penyusun RUU Hukum Waris Nasional LPHN (1973). Hazairin. Latar Belakang Pemikiran ke arah perlunya suatu pengaturan mengenai hukum waris Nasional yang telah dimulai sejak tahun 1960 sebagaimana dinyatakan dalam Ketetapan MPRS Nomor 11/MPRS/1960 agar supaya diundangkan undang-undang mengenai hukum waris. ii. Lembaga Pembinaan Hukum Nasional/ Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Bahan-bahan Langkah langkah untuk mewujudakan cita-cita tersebut didukung oleh sejumlah bahan-bahan yan tersedia berupa: a. Hasil hasil pertemuan ilmiah tentang masalah Hukum Waris Nasional Antara lain : 134 . Departemen Agama RI. Lembaga lembaga lainnya. Umum 1. Hazairin.H. Persoalan ini kemudian dikembangkan pula sebagai salah satu topik pembahasan Seminar Hukum Nasional I Tahun 1963. c.

tanggal 20 Desember 1981. v. iv. walaupun untuk beberapa hal tertentu bahan-bahan tersebut perlu untuk diolah dan dikaji kembali secara mendalam dengan memperhatikan perkembangan baru yang terjadi dalam masyarakat. dan Hukum Islam. iii. Hasil-hasil pengkajian dari Panitia ahli dan Tim pengkaji Badan Pembinaan Hukum Nasional antara lain: i. ii.i. Simposium Hukum Waris Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jakarta tanggal 10-12 Februari 1983. ii. Seminar Hukum NasionalI 1983 khususnya untuk bidang asas-asas Tata Hukum Nasional di dalam bidang hukum waris. Laporan hasil tim pengkaji Hukum Perdata. Pendekatan Usaha penyusunan Hukum Waris Nasional harus dilakukan secara hati-hati mengingat akan sifat pekanya bidang ini yang memang erat sekali hubungannya dengan Agama dan kebudayaan agar tidak 135 . vii. e. Seminar Hukum Waris yang diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI di Cisarua Bogor tanggal 5-8 April1982. 3. Bahan-bahan tersebut telah cukup memadai untuk dapat dijadikan dasar guna mengambil langkah-langkah konkrit ke arah penyusunaan Hukum Waris Nasional. Panel diskusi tentang pewarisan yang diselenggarakan oleh tim pengkajian Hukum Islam tahun 1981/1982 Badan Pembinaan Hukum Nasional di Jogjakarta. Simposium Pembaharuan Hukum Perdata Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional yang bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta tanggal 21-23 Desember1981. Hukum Adat. viii. Draft Akademis mengenai Adopsi dan Pengangkatan Anak (1980/1981). vi. Sumbangan pikiran Panitia Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional 1980/1981 tentang paradigma filsafat untuk mengidentifikasi Asas Hukum Nasional. Lembaga Pembinaan Hukum Waris Nasional (LPHN)1973. Seminar Hukum Waris bagi umat Islam yang diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama di Jakarta pada tanggal 22 sampai dengan 26 Mei 1978. Hasil Panel Diskusi Pengkajian bidang Hukum Islam Mengenai anak angkat tanggal 13 Desember 1980. Diskusi tentang Hukum Waris.

b. (2) Tujuan utama adalah untuk membuat para penerima (ahli waris) hidup dengan sejahtera. Dari pendapat yang berkembang dalam Simposium didapat kesepakatan tentang asas-asas umum (general principles) Hukum Nasional di dalam bidang Hukum Waris seperti asas kemanfaatan.menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Usaha tersebut dapat dimulai di bidang yang cukup netral. setidak-tidaknya cenderung ke arah itu. Pola penyusunan dapat dilakukan sesuai denan Undang-Undang Nomor 1/1974 tentang Perkawinan yang masih membuka kemungkinan diterapkannya hukum dari masing masing golongan. Akan tetapi mengenai asas-asas khusus Hukum Waris masih terdapat perbedaan karena ada asas-asas yang dapat diterima dan ada pula yang belum disepakati. Dengan demikian. B. (3) Pola pembagian warisan adalah parental individual. dan asas kepastian hukum. Kesepakatan Pendapat a. Materi 1. Disarankan pula agar Hukum Waris Nasional yang akan disusun nanti tidak perlu seluruhnya bersifat memaksa (dwingend recht) akan tetapi dimana perlu ada bagian-bagiannya yang yang bersifat mengatur saja (regelend recht). Hal Pewarisan (1) Pewarisan pada dasarnya berlangsung menurut garis menurun. dijadikan dasar bagi pembentukan Hukum Waris Nasional. misalnya yang menyangkut bidang Administrasinya saja. Untuk itu simposium baru berhasil menemukan persamaan dan perbedaan tentang asas-asas tersebut. Asas Asas-asas yang telah ditetapkan dalam GBHN TAP/ MPR/ 1978 dan disepakati pula dalam Seminar Hukum Nasional IV Tahun 1979. dalam sistem Hukum Waris Nasional yang akan datang di samping hukum tertulis diakui pula berlakunya hukum tidak tertulis (Hukum Agama dan Hukum Adat). Subjek waris 136 . c. asas keadilan. walaupun masih ada pendapat yang menyatakan bahwa pada saat ini masih belum waktunya. (4) Pola parental individual mengenai penggantian secara terbatas. Mengingat akan pentingnya penyusunan Hukum Waris Nasional ini kiranya langkahlangkah ke arah itu harus mulai dilakukan secara bertahap.

bapak. (2) Mengenai surat wasiat a) Perlu adanya penyeragaman dan kemudahan dalam tata cara dan syarat syarat untuk membuat surat wasiat.(1) Ahli waris adalah mereka yang mempunyai pertalian keluarga dengan pewaris melalui: . (2) Perlindungan .pertalian darah. (2) Fungsi harta warisan Harta warisan berfungsi sebagai modal dasar materiil bagi pembinaan kehidupan dan mewujudkan keadilan sosial. Dengan demikian suami. Mereka itu adalah ahli waris golongan pertama.Perkawinaan. anak. mengikuti asas tersebut dalam pasal 65 b dan c UU Nomor 1 Tahun1974. agar jangan sampai mereka dirugikan. b) Perlu adanya ketelitian dalam segi-segi teknis yuridis dari perolehan surat keterangan waris. i e. b) Perlu pendayagunaan pendaftaran surat wasiat dengan melembagakannya sampai ke daerah daerah. .perlunya ada ketentuan untuk melindungi para ahli waris. Masalah Administras (1) Mengenai surat keterangan waris a) Perlu adanya penetapan mengenai lembaga yang diberi kewenangan untuk menerbitkan surat keterangan waris. (3) Yang tidak mewarisi waris Orang yang membunuh pewaris tidak berhak mewaris dari harta peninggalan orang yang telah dibunuhnya. 137 . isteri.tentang pewarisan untuk isteri kedua dan seterusnya. Objek pewarisan (1) Apa yang diwariskan Pada hakikatnya yang beralih dari tangan yang wafat kepada ahli waris adalah barang-barang peninggalan dalam keadaan bersih dalam arti hutang-hutangnya telah dibayar (saldonya). d. dan ibu adalah ahli waris satu sama lain. .

dan menggelapkan surat wasiat pewaris). (4) Yang tidak berhak mewaris Adalah yang melakukanperbuatan tercela (mencoba membunuh. menganiaya. b. Ada pendapat yang menghendaki agar anak lakilaki dan perempuan mendapat bagian yang sama tanpa diskriminasi. sebaliknya dalam Hukum Islam dan BW terdapat kesatuan yang bulat. a) Besarnya bagian anak Tentang bagian-bagian yang akan diterma belum ada kesepakatan. (2) Anak luar kawin Anak luar kawin dapat mewarisi dari ibu kandung dan keluarga ibu kandungnya lihat pasal 43 Undang-undang tentang Perkawinan. sebaliknya pihak lain menyatakan hal itu tidak mungkin dilaksanakan sebab ada larangan agama. Mengenai hal-hal lain belum ada kesepakatan.2. Objek Hukum Waris (1) Dalam Hukum Adat harta kekayaan sebelum merupakan suatu kebulatan. Subjek Hukum Waris (1) Ahli waris berbeda agama a) Terdapat perbedaan pendapat dalam hal waris mewaris antara orang yang berlainan agama. 138 . anak angkat yang dapat mewaris dan yang tidak dapat mewaris. b) Dalam Hukum Islam anak angkat bukan ahli waris. memfitnah. Satu pihak menghendaki diberikan hal mewaris. Pendapat pendapat yang masih berbeda a. (2) Ada pendapat yang berbeda mengenai pelaksanaan pewarisan atas harta pencaharian di Minangkabau. (3) Anak angkat a) Ada dua pendapat mengenai anak angkat. b) Dalam hal ada perbedaan agama dan pendapat yang menyetujui pengalihan harta dilakukan melalui hibah atau wasiat.

Sebaliknya ada pendapat yang mempertahankan bahwa bagian anak laki-laki harus 2 (dua) kali bagian anak perempuan yang berdasarkan ketentuan Hukum Waris Islam. Tapi ketentuan ini tidak menutup kemungkinan di adakannya wasiat atau musyawarah untuk memberikan jumlah yang sama kepada anak perempuan. (i) Janda/duda memperoleh bagian sama dengan bagian anak. (iii)Menerima bagian secara hibah atau wasiat. Notaris. Perihal wadah dan wewenang Diperlukan ketegasan dalam pengaturan tentang wadah yang berwenang memeriksa dan mengadili sengketasengketa waris maupun menetapkan “hukumnya” dalam hal tidak ada sengketa. 3. (iii)Menurut Fadilah janda/duda tanpa anak ¼ dan setelah mendapat bagian janda/duda dengan dari harta bersama. (iv) Anak angkat hanya mewaris dari gono gini. (ii) Anak angkat memperoleh bagian yang sama besarnya dengan anak kandung. Administrasi (1) Ada pendapat agar instansi pamong praja (Lurah. (ii) Janda/duda memperoleh bagian ½ dari harta warisan ditambah dengan 1 bagian anak. Camat) diberikan kewenangan waris. b) Bagian janda/duda Belum ada kesepakatan tentang besarnya jumlah bagian yang diterima oleh janda/duda. (2) Mengenai surat waris Ada usulan yang ditunjuk untuk membuat wasiat/akta adalah: Panitera Pengadilan Negeri. c) Anak angkat (i) Bagian anak angkat tidak sama besarnya dengan anak kandung. dan pejabat lain dengan mengingat asas yang tercantum dalam pasal 4 ayat (2) UU Pokok Kekuasaan Kehakiman. 139 . c. (v) Anak angkat tidak mendapat warisan dari orang tua angkatnya. demi kemudahan. Lain-lain a.

Perihal istilah-istilah Istilah-istilah dalam hukum waris perlu dibakukan agar lebih jelas dan pasti.(1) Ada pendapat. sedangkan untuk hukum waris lainya ditetapkan Peradilan Umum. Semua hasil-hasil Simposium. maupun penelitian hendaknya dipergunakan dan dimanfaatkan secara maksimal. c. II. (2) Pengaturan selanjutnya diatur oleh Undang-Undang Hak Milik atas tanah. Diusulkan agar diadakan tindak lanjut yang menuju kepada pembentukan naskah akademis RUU Hukum Waris. bahwa dalam hal mengenai hukum waris Islam. hendaknya ditetapkan agar Peradilan Agama-lah yang diberi wewenang. Rekomendasi Di dalam Simposium terdapat petunjuk petunjuk adanya informasi yang berlainnya mengenai perkembanganperkembangan hukum waris di daerah. Perihal pewarisan tanah (1) Diusulkan agar calon pewaris pada masa hidupnya sudah menunjuk siapa-siapa ahli waris yang kelak akan menerima tanah tersebut sebagai warisan. Seminar. diusulkan agar diadakan penelitian lanjutan. b. 140 . Yang mengecek kebenaran dan memonitor berfungsi perkembangannya. Oleh karena itu. Diperkirakan bahwa informasi yang berlainan itu terjadi karena adanya perbedaan metoda dan waktu penelitian. (2) Ada pula pendapat bahwa hendaknya hanya Peradilan Umum yang diberi wewenang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful