You are on page 1of 17

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA TUMBUHAN

ACARA I
PEMBELAHAN MITOSIS

Semester:
Genap 2008/2009

Oleh:
Nama : Arif Ardiawan
NIM : A1L008062
Rombongan : IV

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN
DAN BIOTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2009
ACARA V
PEMBELAHAN MITOSIS

Tanggal Praktikum : 28 Mei 2009


Nama Praktikan : Arif Ardiawan
NIM : A1L008062
Nama Partner : -
Rombongan : IV
Asisten : Meyrisa P
Ebo Satrio

2
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan teori evolusi, organisme multiseluler berasal dari organisme


uniseluler. Mekanisme tertentu telah ditempuh hingga terwujudnya organisme
multiseluler sampai dalam wujud seperti sekarang ini. Salah satu mekanisme yang
ditempuh adalah melalui reproduksi sel. Semua organisme mengalami reproduksi
baik dalam perkembangan ataupun dalam pertumbuhannya. Reproduksi sel dapat
terjadi karena peristiwa pembelahan sel. Pembelahan sel ini diawali dengan
adanya pembelahan kromosom dalam beberapa tahap pembelahan. Pada setiap
tahap pembelahan mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat diamati proses-
prosesnya melalui teknik atau perlakuan tertentu yang diberikan pada kromosom
dalam sel tersebut. Adapun pembelahan sel dibedakan menjadi dua macam, yaitu
mitosis dan meiosis.
Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel somatis
(sangat aktif pada jaringan meristem) yang menghasilkan dua sel anak yang
memiliki genotip sama dan identik dengan sel induknya. Sedangkan meiosis,
terjadi pada sel-sel germinal (gamet) dengan hasil akhir empat buah sel anak yang
haploid dengan komposisi genotip yang mungkin berbeda dengan sel induknya.
Sebelum terjadinya peristiwa pembelahan sel, terdapat beberapa peristiwa
penting seperti pembelahan kromosom. Dalam inti sel terdapat kromosom yaitu
benda–benda halus berbentuk batang panjang atau pendek dan lurus atau
bengkok. Kromosom merupakan pembawa bahan keturunan. Kromosom dapat
terlihat pada tahap-tahap tertentu pada pembelahan inti. Biasanya kromosom
digambarkan pada tahap metafase.
Pada saat sel aktif membelah, kromosom relatif mudah diamati dengan
memperlakukan sel-sel tersebut dengan metode fiksasi dan pewarnaan sederhana.
Sedangkan metode fiksasi yang digunakan adalah metode tennodifikasi dengan
menggunakan pre treatment 0,002 M 8-Hydroxychinolin dan larutan fiksasi 45
%Asam aselat, yang berfungsi menghentikan pembelahan sel.

3
Bahan standar yang biasa digunakan dalam pengamatan mitosis adalah sel-
sel ujung akar bawang merah (Allium ascalonicum). Pada sel bawang yang baru
terbentuk berisi 16 kromosom dan 8 diantaranya pada mulanya disumbangkann
oleh “bapak” tumbuhan bawang, yaitu tumbuhan yang menyediakan gamet jantan.
Kromosom ini sering dinamai kromosom paternal. Sisa yang 8 lagi semula
disediakan oleh indung bawang, yaitu bawang yang menghasilkan telur yang
dinamakan kromosom maternal. Sedangkan untuk pengamatan meiosis seringkali
digunakan kotak sari atau bakal biji tanaman lily. Kelebihan dari bahan-bahan
tyang digunakan pada acara praktikum ini adalah :
a. Komposisi dinding selnya yang tersusun atas lapisan senyawa-senyawa
yang relatif mudah ditembus oleh larutan fiksatif dan pewarna.
b. Jumlah kromosomnya tidak terlalu banyak, sehingga pengamatan
terhadap masing-masing fase yang sedang berlangsung relatif mudah
dilakukan.
c. Pengamatan terhadap pembelahan mitosis dilakukan pada jaringan
meristem pada suatu tanaman. Dipilihnya jaringan meristem karena pada
jaringan ini sel aktif melakukan pembelahan untuk pertumbuhan.

B. Tujuan

Untuk mengamati lebih jelas tahapan-tahapan pembelahan sel secara yang


terjadi secara mitosis .

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya semua mahluk hidup akan mengalami pertumbuhan dan


perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu dilakukan oleh sel,
sedangkan sel itu merupakan unit dasar dari setruktur dan fungsi di dalam semua
mahluk hidup Proses tersebut terjadi karena adanya pembelahan sel, dimana
terbagi menjadi pembelahan sel mitosis dan meiosis. Setiap sel berasal dari sel
sebelumnya. Pembelahan sel dapat dikatakan sebagai suatu proses yang
menyangkut terbentuknya sel-sel anak baru dari induknya. Pada sel somatis (sel
jaringan tubuh), akan terjadi suatu pembelahan sel induk menjadi dua sel anak
yang komponen-komponennya sama dan identik dengan sel induk. Peristiwa
pembelahan sel somatis semacam ini disebut sebagai mitosis. Mitosis adalah
pembelahan sel dimana berlangsung pembelahan dan pembagian nukleus beserta
kromosom-kromosom yang terdapat di dalamnya(Suryo, 1998). Di dalam inti sel
dari kebanyakan makhluk terdapat kromosom, yaitu benda-benda halus berbentuk
panjang atau pendek dan lurus atau bengkok. Kromosom pada dasarnya
merupakan pembawa bahan keturunan(Suryo, 1995).
Komosom dibedakan atas autosom (kromosom tubuh) dan genosom
(kromosom sex). Pada kromosom terdapat sentromer, yaitu bagian yang membagi
kromosom menjadi dua lengan. Pada makhluk tingkat tinggi, sel somatic
mengandung satu stel kromosom yang diterima dari kedua induk. Sepasang
kromosom disebut sebagai kromosom homolog karena kromosom dari induk
betina serupa dengan kromosom induk jantan. Oleh karena itu kromosom dalam
sel tubuh dinamakan diploid (2n). sedangkan kromosom sex berjumlah setengah
dari kromosom sel somatic/haploid (n). Sepasang kromosom haploid dinamakan
genom( Suryo, 1998).
Berbagai kejadian yang terdapat selama mitosis dibagi dalam empat
tahap/fase yang beruurtan: profase, ,etafase, anafase, dan telofase. Masa diantara
pembelahan-pembelahan disebut interfase. Pada sel somatic terjadi pembelahan
mitosis yang menghasilkan jumlah kromosom yang sama persis dengan induknya.
Penting untuk menyadari fase-fase ini hanyalah cara yang mudah untuk

5
memberikan pengertian atau bentuk mitosis. Proses sebenarnya meliputi urutan
kejadian yang berkesinambungan yang melebur sesamanya dengan rapid an
teratur atau mulus-mulusnya(Kimbal, 1983).
Pembelahan mitosis bekerja dengan mempertahankan pasangan
kromosom yang sama melalui pembelahan inti dari sel somatis secara berturut-
turut. Proses ini terjadi bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma dan bahan-
bahan di luar inti sel (sitokinesis). Proses ini mempunyai peranan penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan pada hampir semua organisme(Crowder, 1993).
Pada fase profase, aktivitas pembelahan sel ditandai dengan berubahnya
kromatin menjadi kromosom. Sementara itu terjadi penggandaan tiap kromosom
menjadi dua yang disebut kromatid. Tiap kromatid masih melekat, berarti
sentromer induk masih satu. Nukleolus hilang, karyoteheca hilang, sentriol
diselimuti serat-serat radial pendek, berpisah dan pergi ke kutub bersebrangan
menjadi bintang kutub. Terbentuknya serat gelendong di antara kedua bintang
kutub. Pada fase metaphase, tiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatid
yang masih melekat pergi ke bidang ekuator. Kromatid akan menggantung pada
serat gelendong lewat sentromernya. Fase anafase ditandai dengan membelahnya
sentromer, kromatid dalam satu kromosom induk berpisah menjadi kromosom
anak, lalu pergi ke kutub yang bersebrangan. Fase telofase adalah fase yang
ditandai dengan kromosom berubah menjadi kromatin. Serat gelendong
menghilang, terbentuk kariotheca. Nucleus muncul, bintang kutub kembali
menjadi sentriol. Gentingan pada bidang ekuator, sampai ke tengah, putus,
terbentuk dua sel anak, masing-masing mengandung kromosom 2n(Yatim, 1980).
Selesai pembelahan mitosis jika konstruksi dari sel telah terbentuk
lengkap dan dihasilkan dua sel anak yang serupa atau identik dengan induknya.
Kromosom yang dimiliki kedua sel anak identik. Membran inti dan nukleolus
telah timbul kembali di setiap sel anak dan kromosom telah kembali menjadi
kromatin(Pai, 1985).
Adanya perbedaan komponen-komponen sel tiap-tiap tumbuhan
menuntut perlakuan yang berbeda terhadap sel-sel tersebut agar kromosom dapat
diamati. Bahan standar yang bisa digunakan dalam pengamatan mitosis adalah

6
sel-sel yang terdapat pada jaringan meristem. Seperti pada sel-sel ujung akar
bawang merah karena komposisi dinding selnya tersusun atas lapisan senyawa-
senyawa yang mudah ditembus oleh larutan fiksatif dan pewarna. Pada saat sel
aktif membelah, kromosom relatif mudah diamati hanya dengan memperlakukan
sel-sel tersebut dengan metode fiksasi dan pewarnaan yang
sederhana(Kimbal,1987).
Pada praktikum kali ini juga dilakukan pra-perlakuan dalam pengamatan
kromosom. Pra-perlakuan ditempuh dengan tujuan untuk menjernihkan
sitoplasma, melunakkan jaringan, memisahkan atau menguraikan kromosom,
mempertahankan fase atau tahap metafase yang tinggi yang ditempuh melalui
penghambatan gelendong spindel. Bahan untuk pra-perlakuan kali ini adalah
Colchicine yang diekstrak dari tanaman Colchicum autumnale. Pada mitosis,
Colchicine dapat memperjelas detil morfologi kromosom, bahkan memungkinkan
terjadinya mutasi yang menghasilkan individu poliploidi (Gilberth, 2005).

7
III. ALAT DAN BAHAN

A. Alat
a. Cawan petri
b. Pemotong atau cutter
c. Penjepit/pinset
d. Api bunsen
e. Mikroskop
f. Kaca obyek dan gelas penutup
g. Kertas penutup/kertas buram
h. Pipet
i. Jarum

B. Bahan
a. Akar bawang merah (tumbuh dalam air dan pasir)
b. Larutan 8-Hydroxychnolin 0,002 M
c. Larutan maserasin (HCl + asam asetat = 3 : 1)
d. Aseto orcein/ aceto carmin
e. CH3COOH 45%

8
IV. PROSEDUR KERJA

1. Umbi bawang merah dikecambahkan di air sampai tumbuh akar.


2. Akar bawang merah dicuci sampai bersih.
3. Ujung akar bawang merah dipotong dan dimasukkan ke dalam larutan 0,002
M 8-Hydroxychincolin dan disimpan pada ruangan gelap dengan suhu 20 0C
selama 1 jam.
4. Dilakukan fiksasi pada ujung akar bawang merah dengan menggunakan
larutan 45% asam asetat selama 10 menit dan kemudian dimaserasi dalam
larutan maserasi HCl + asam asetat (3:1) pada suhu 60 0C kurang lebih 2-3
menit.
5. Diambil 1 cm bagian ujung akar bawang merah dengan menggunakan jarum
besi. Bahan diletakan di atas gelas preparat dan dihancurkan dengan ujung
jarum dengan hati-hati (Squashing), kemudian ditetesi dengan aseto
orcein/aseto carmin (larutan staining).
6. Ditutup dengan gelas penutup (cover glass). Diusahakan agar tidak ada udara
yang masuk, untuk menghindari timbulnya gelembung-gelembung udara.
7. Selanjutnya dilewatkan di atas nyala api Bunsen.
8. Diamati preparat di bawah mikroskop
 Fase-fase yang terdapat pada preparat digambar.
 Dicatat pembesaran yang digunakan
 Dicari dan diamati fase-fase mitosis pada preparat yang dibuat, kemudian
masing-masing fase tersebut digambar.

9
V. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan yang diperoleh dari pembuatan preparat akar bawang


merah (Allium ascalonicum) memperlihatkan kumpulan beberapa sel yang
menunjukan aktivitas yang berbeda-beda.

Dari gambar kumpulan sel yang ditemukan, beberapa aktivitas pembelahan sel
yang terlihat adalah:

Gambar Keterangan

Nama preparat : ujung akar bawang


Merah (Allium ascalonicum)
Perbesaran : 40 x 10
Jumlah kromosom : 16 buah
Keterangan :
Dinding sel
profase
Benang kromatid menebal

Nama preparat : ujung akar bawang


Merah (Allium ascalonicum)
Perbesaran : 40 x 10
Jumlah kromosom : 16 buah
Keterangan :
Sentromer, Kromosom
metafase
bidang ekuator
Dinding Sel

10
Nama preparat : ujung akar bawang
Merah (Allium ascalonicum)
Perbesaran : 40 x 10
Jumlah kromosom : 16 buah
Keterangan :
kromosom
anafase
Dinding Sel

Nama preparat : ujung akar bawang


Merah (Allium ascalonicum)
Perbesaran : 40 x 10
Jumlah kromosom : 16 buah
Keterangan :
Dinding Sel
telofase
Bidang/sekat pembelahan
kromosom

11
V. PEMBAHASAN

Setiap sel penyusun suatu makhluk hidup berasal dari sel sebelumnya.
Tubuh makhluk hidup dapat menjadi besar karena ada penambahan jumlah sel
didalam tubuhnya. Penambahan jumlah sel tersebut berasal dari hasil reproduksi
sel. Sel baru tersebut terbentuk dengan diawali oleh pembelahan inti lebih dahulu
yang dapat dilihat dari perubahan kedudukan kromosomnya. Ditinjau dari jumlah
kromosom pada sel baru, dibedakan dua tipe pembelahan sel, yaitu mitosis dan
meiosis. Sel sebagai unit fungsional kehidupan memiliki kemampuan
memperbanyak diri (reproduksi); reproduksi sel berlangsung melalui pembelahan.
Pembelahan sel pada organisme eukariotik meliputi pembagian inti sel
(kariokinesis) dan pembagian plasma sel (sitokinesis) melalui tahapan
pembelahan sel. Tahapan pembelahan didasarkan pada perubahan letak (tingkah
laku) kromosom selama pembelahan berlangsung. (Pratiwi, 2004).
Praktikum kali ini dilakukan pengamatan terhadap pembelahan mitosis
yang terjadi pada ujung akar bawang merah. Alasan penggunaan akar pada
praktikum kali ini adalah antara lain karena akar merupakan salah satu jaringan
yang tersusun oleh sel-sel somatik, khusus pada ujung akar bersifat meristematik.
Mitosis merupakan pembelahan sel yang umumnya terjadi pada sel-sel yang hidup
terutama sel-sel yang sedang tumbuh, dan sel-sel ini umunya terdapat pada ujung
akar dan ujung batang tumbuhan (Ali, 2007). Bawang merah memiliki jumlah
kromosom 16 sehingga mudah dihitung, ukuran kromosom besar sehingga mudah
diamati, telah diketahui rentang waktu mitosisnya (Listiawan, 2009), suatu hasil
penelitian menunjukkan bahwa rentang waktu mitosis bawang merah
berlangsung antara pukul 08.00-09.00 WIB dan tahap prometafase banyak
ditemukan pukul 08.15 WIB (Swastika, 2009). Hal inilah yang melatarbelakangi
digunakannya akar bawang merah pada praktikum pembelahan mitosis ini.
Sebelum diamati, akar bawang merah dimasukkan ke dalam larutan
0,002 M 8-Hydroxychinolin dan disimpan pada tempat gelap. Tujuan pemberian
8-Hydroxychinolin adalah untuk meluruhkan organel sel. Selain itu juga karena
sifatnya yang sangat peka terhadap cahaya (akan rusak jika terkena cahaya).

12
Proses selanjutnya yaitu dilakukan fiksasi akar bawang dengan asam
asetat yang bertujuan menghentikan aktifitas pembelahan sel tersebut (melarutkan
tudung akar). Setelah itu dimaserasi dengan menggunakan canpuran asam klorida
1N dengan asam asetat 45% (perbandingan 3:1) yang bertujuan untuk
melunakkan jaringan. Selanjutnya dilakukan perwarnaan dengan arseno orcein
agar mudah dalam pengamatan. Pemberian aceto carmin/aceno orcein adalah
sebagai pewarna, untuk memberi pigmen kepada sel-sel akar bawang sehingga
mudah untuk diamati. Tidak cukup dengan itu agar penyerapan warna lebih cepat
maka perlu ditambahkan FeCl2, yang pada praktikum kemarin didapatkan dengan
mencacah akar bawang merang dengan menggunakan jarum berkarat.(Ali, 2007)
Sel akar bawang merah yang baru terbentuk berisi 16 kromosom yang 8
diantaranya disumbangkan oleh bapak tumbuhan bawang, yaitu tumbuhan yang
menyediakan gamet jantan. Kromosom ini sering dinamai kromosom paternal.
Sisanya yang 8 lagi disebut kromosom maternal (Kimball, 1987). Berbagai
kejadian yang terdapat selama mitosis dibagi ke dalam empat fase yang berurutan
yaitu profase, metafase, anafase dan telofase. Masa diantara pembelahan-
pembelahan disebut interfase.

1. Profase
Merupakan tahapan pembelahan sel yang paling
lama dan membutuhkan energi yang cukup
bear, setrta merupakan permulaan dari mitosis
yang ditandai dengan beberapa perubahan.
Nukleolus mulai menghilang sedangkan
kromosomnya mulai timbul. Untaian kromosom
yang semula meluas menjadi pilinan (heliks). Dengan demikian untaian itu lebih
pendek dan menebal sehingga tampak lebih nyata. Pada tahapan ini, membran
nukleus mulai menghilang(Crowder, 1993). Pembelahan kromosom membentuk
kromatid. Selain itu sentriol juga ikut membelah. Hampir semua sel yang nampak
pada preparat menunjukan tahapan profase.

13
2. Metafase
Tahapan metafase membutuhkan waktu sekitar
2-6 menit. Ditandai dengan munculnya
gelendong. Sentromer setiap duplet mulai terikat
pada sekumpulan mikrotubula dan berpindah ke
suatu titik ditengah-tengah antara kutub-kutub.
Ujung kromosom dapat secara acak arahnya,
tetapi semua sentromer terletak persis dalam suatu bidang di equator. Terdapat
gelondong pembelahan (benang-benang spindel) yang menghubungkan sentromer
dengan kutub pembelahan(Crowder, 1993). Sangat sulit ditemukan fase metafase
ini, namun ada sel yang ditemukan terlihat bahwa kromatidnya seperti berada
pada bidang ekuator, sehingga disimpulkan sel tersebut sedang mengalami
tahapan metaphase.

3. Anafase
Tahapan anafase membutuhkan waktu sekitar 3-
15 menit. Tahapan anafase dimulai ketika
kromosom yang terduplikasi dari setiap duplet
saling berpisahan. Kini bergerak memisah,
masih pada gelondong dan bergerak kekutub
yang berlawanan. Jika dilihat dengan
menggunakan mikroskop, tiap-tiap belahan tampak mempunyai bagian yang
menggenting dan kurang menyerap warna. Bagian ini disebut sentromer. Masing-
masing kromatid yang berpasangan terpisah bersama sentromernya. Benang
spindel memendek, setiap kromatid bergerak menuju kutub yang berbeda dan
berlaku sebagai kromosom baru yang memiliki sifat keturunan yang sama.
Tertariknya sentromer kearah kutub yang berbeda dikarena adanya kontraksi dari
benang gelendong. Fase anafase adalah fase yang terjadi paling singkat pada
proses pembelahan (Crowder,1993). Pada beberapa sel terlihat tahapan ini,
kromosom mulai menuju kutub masing-masing.

14
4. Telofase
Tahapan telofase membutuhkan waktu sekitar 30-60
menit. Di tiap kutub terbentuk stel kromosom yang
identik. Serabut gelondong inti menghilang dan
membran inti terbentuk kembali. Setelah terbentuk dua
inti pada kutub yang berlawanan aster menghilang dan
terjadi penebalan sitoplasma yang diikuti pembagian
sitoplasma (sitokinesis). Sitokinesis ini di tandai dengan terbentuknya dinding
pemisah ditengah-tengah sel (pada tumbuhan) dan pada hewan ditandai dengan
melekuknya sel ke dalam(Crowder, 1993).
Setelah mitosis tersebut selesai, maka sel mulai mengalami stadium/fase
istirahat. Pada fase istirahat (interfase) ini mengalami beberapa periode yaitu
periode pertumbuhan G1, sintesis, dan fase pertumbuhan G2.
Praktikum kali ini, tidak semua preparat menunjukan tahapan-tahapan
pembelahan mitosis secara lengkap. Hal ini dapat disebabkan karena praktikum
dilakukan bukan pada rentang waktu pembelahan mitosis. Rentang waktu
pembelahan mitosis berdasarkan pada suatu hasil penelitian ditunjukan bahwa
rentang waktu pembelahan mitosis akar bawang merah berlangsung antara pukul
08.00-09.00 WIB dimana tahapan prometafase (tahapan antara profase dengan
metaphase) banyak ditemukan pukul 08.15 WIB (Swastika, 2009).

15
VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada sel-sel somatik
(sangat aktif pada jaringan meristem) yang menghasilkan dua sel anakan,
memiliki genotype yang sama dan identik dengan sel induknya. Tahapan yang
terjadi pada pembelahan mitosis yaitu profase, ,metafase, anaphase, telofase. Pada
tahapan ini, jumlah kromosom tidak berubah, berisi 16 kromosom yang 8
diantaranya disumbangkan oleh tumbuhan yang menyediakan gamet jantan.
Kromosom ini sering dinamai kromosom paternal. Sisanya yang 8 lagi disebut
kromosom maternal.

B. Saran
Pelaksanakan praktikum sebaiknya dilakukan pada waktu yang sesuai
dengan rantang waktu pembelahan mitosis yang tepat. Serta, asisten seharusnya
membuat preparat yang tepat sebelum praktikum dimulai, untuk memberikan
contoh pembelahan sel yang tepat. Bukan sekedar diperlihatkan melalui foto saja.

16
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Iqbal. 2007. “Fase Mitosis Akar Bawang”


http://iqbalali.com/2007/04/15/7. Diakses tangal 29 Mei 2009.

Campbell, Neil A. 1987. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Crowder L.V. 1993. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University


Press

Gilberth, Perth A. 2005. Animated meiosis. Yale University : America.


http://www. Grad. Thrush. Edu/courses//histo/notes//female.html.
diakses. 29 November 2008

Kimball. John W. 1987. Biologi. Jakarta : Erlangga

Listiawan, Dwi Andi. dkk. 2009. Potensi Ekstrak Etanolik Daun Tapak Dara
(Catharanthus roseus (l.) G. Don.) Sebagai Alternatif Pengganti
Kolkhisin Dalam Poliploidisasi Tanaman. Litbang News: Departemen
Penelitian dan pengembangan. Edisi Januari-Maret 2009.

Pai, Anna C. 1985. Foundations Of Genetics: A Science Society. Singapore:


McGraw-Hill Book

Pratiwi, D.A. 2004. Penuntun Biologi. Jakarta: Erlangga

Suryo H. 1995. Sitogenetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Suryo. 1998. Genetika Strata 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Swastika, Anak Agung Gde Raka Ardian dan Tuty Arisuryanti. 2009.
Karakterisasi Kromosom Bawang Merah Kultivar Samas (Allium
ascalonicum L. cv. Samas). Genetics News: Karyotype Organisme
Indonesia. Departemen Penelitian dan Pengembangan.

Yatim, Wildan.1983. Genetika. Bandung : Tarsito

17