Pengantar Ilmu Ekonomi 1X 103060017195 Oliviane Theodora Wenno 1.

Mengapa utility marginal masih ada ketika beramal padahal seluruh consumers mementingkan diri sendiri? Adalah hal yang wajar jika setiap orang berusaha memaksimalkan pendapatan yang terbatas untuk mendapatkan dan memenuhi semua kebutuhan sehingga mencapai kesejahteraan. Namun realita justru menunjukkan bahwa tidak seorang pun yang bisa mencapai kesejahteraan sebagaimana yang diinginkan. Mengapa? Karena ego manusia selalu menginginkan hal yang lebih dan lebih lagi. Itulah sebabnya kita tidak pernah merasa puas yang akhirnya mengubah kita menjadi egois. Lalu, mengapa masih ada orang yang beramal padahal jelas-jelas kita rugi karena bukan kita yang memakai barang tersebut? Memang kebanyakan agama menganjurkan kita untuk saling berbagi dengan sesama yang berkekurangan namun ini tidak menjawab pertanyaan di atas. Menurut saya pribadi, ada kepuasan tersendiri yang dirasakan ketika kita memberi. Misalnya kaos yang kita anggap biasa saja karena bukan lagi barang baru mungkin akan memberikan kita pemahaman yang baru ketika kita menyumbangkannya untuk anak-anak Afrika yang membutuhkan. Apalagi jika kita melihat mereka tersenyum ceria menggunakan kaos pemberian kita. Hal ini tentu akan memberikan kepuasan yang berbeda jika kita memakai kaos tersebut hingga tidak bisa digunakan lagi karena ada peluang kepuasan kita akan menurun (Diminishing Law of Marginal Utility). Jadi, kepuasan dan kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan materi ( You can buy bed but not sleep, you can buy house but not home ). 2. Mengapa barang mewah punya elastisitas pendapatan yang lebih tinggi? Bila pendapatan konsumen naik maka secara otomatis daya beli mereka bertambah. Namun hal ini tidak berarti bahwa konsumen akan membeli barang yang sama dalam jumlah yang lebih banyak. Mengapa? Karena semakin mendasar suatu barang dalam pola konsumsi rumah tangga, elastisitasnya terhadap pendapatan semakin rendah. Banyaknya pilihan yang tersedia di depan mata ditambah peningkatan daya beli tentu akan memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi konsumen untuk memutuskan apa yang akan dibelinya sehingga mereka akan memilih apa yang menurut mereka lebih berkualitas dan punya nilai plus dibandingkan barang biasa yang mereka gunakan sebelumnya. Jadi wajar saja bila konsumen yang mengalami kenaikan pendapatan mulai melirik barang bermerek atau bahkan menjadikan perburuan barang bermerek sebagai hobi. Selain itu, barang mewah bukan hanya dilihat dari segi fungsional saja untuk memenuhi kebutuhan tetapi juga dari segi prestise karena kebanyakan dari kita melihat barang mewah sebagai simbol/identitas status sosial maupun tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Inilah alasan mengapa barang mewah seperti berlian, macbook, atau wine memiliki elastisitas pendapatan yang lebih tinggi. Meski begitu, mewah atau tidaknya suatu barang bergantung pada konsumen. Bagi sebagian orang barang-barang tersebut mungkin menjadi barang yang teramat mewah namun tidak bagi yang lain karena dianggap inferior.
Bedah : Pengantar Mikroekonomi (Lipsey) http://chazmi.wordpress.com/2010/02/07/marginal-utility/ http://agungyulianto.net/?p=8, Nobuta wo Produce silenceofryogi s doc

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful