Trading House Solusi Masalah Pemasaran Umkm

BINUS UNIVERSITY 2010

TRADING HOUSE SOLUSI MASALAH PEMASARAN UMKM

Paper Topik-topik Lanjutan Manajemen

Oleh : Muhammad Panji Panutan 1100024102

05//2010

Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Jurusan Manajemen Universitas Bina Nusantara Jakarta 2010

Abstrak
Masalah kesulitan pemasaran terus menghantui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk dapat berkembang.Salah satu solusinya adalah pendirian trading house yang diharapkan bisa menjadi pusat promosi.Saat ini hampir 99 persen sektor usaha kecil menengah (UMKM) tidak mampu memasarkan hasil produksi secara maksimal.Penyebabnya karena mereka terpaksa melalui jalur distribusi yang panjang lewat pengepul barang, dan apabila melakukan ekspor harus melalui pengusaha kargo.Di Indonesia sudah banyak lembaga yang mengurusi masalah UMKM, namun belum ada koordinasi.bila ada trading house posisi tawar pengusaha UMKM akan kuat seperti pengalaman negara Jepang, India dan cina. UMKM di negara tersebut bisa besar dengan penetrasi pasar kemana-mana karena punya trading house.Yang melakukan itu hanyalah pengepul, pengumpul atau kargo.Pengusaha mikro dan kecil kita sekarang ini butuh terobosan untuk mengembangkan UKM khususnya dalam hal pemasaran, permodalan dan capacity building. Oleh sebab itu UKM sudah harus dikembangkan dan diberdayakan dengan berbagai cara. Salah satu cara alternatif pengembangan UKM adalah dengan Trading House secara harafiah, Trading House terdiri dari dua kata yaitu trading yang berarti dagang dan house yang berarti rumah. Disebut rumah karena dalam kegiatan ini mencakup berbagai macam barang yang ada di dalamnya dan disebut dagang karena menunjukkan kegiatan yang berlangsung berkaitan dengan perdagangan yang dapat berbentuk ekspor, domestik maupun lokal. Studi tentang UKM telah banyak dilakukan, utamanya pada saat krisis ekonomi menerpa perekonomian Indonesia semenjak pertengahan 1997. Deteksi atas UKM mengarah pada muara kurang lebih sebagai berikut : pada dasarnya UKM mempunyai potensi untuk berkembang, baik dalam omset maupun penyerapan tenaga kerja, tetapi secara umum setiap peluang yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Peluang ini tidak harus diartikan hanya yang ada pada setiap individu UKM tetapi semua sumber daya yang ada yang dapat dimanfaatkan oleh UKM.

Bab 1
Latar Belakang Pemasaran produk UMKM sebagian dilakukan oleh UMKM produsen sendiri dan sebagian dilakukan oleh UMKM lain dan sebagian lain oleh usaha besar. Pemasaran produk UMKM yang dilakukan oleh bukan UMKM produsennya dapat terjadi karena bagi UMKM produsennya lebih menguntungkan konsentrasi pada produksi, atau karena volume, kualitas, jalur pemasaran dan tuntutan ketentuan serta persaingan pasar maka lebih efisien kalau pemasaran produk dilakukan oleh non-UMKM produsen. Secara alami, pemasaran produk UMKM merupakan kesempatan usaha baik bagi UMKM sendiri maupun usaha skala besar.Adanya usaha pemasaran produk UMKM sangat mendukung pengembangan usaha UMKM produsen dan dengan demikian memungkinkan berputarnya usaha UMKM atau memungkinkan UMKM merealisasikan potensi nilai tambah usaha dan menerima pembayaran untuk upah tenaga kerja yang terlibat.

Menurut Asosiasi Trading House Ontario (Ontario Assosiation of Trading HousesOATH),usaha yang beroperasi jangka secara komersil dengan dan mengkhususkan jasa yang diri

dalampengembangan

panjang

pemasaran

barang

diproduksi

ataudisediakan pihak lain disebut sebagai trading house. Trading house beroperasi secarabisnis (komersial), sebagai perantara antara produsen atau penyedia barang denganpembeli (buyer) yang lokasinya berbeda, dapat berbeda kota dan bahkan berbeda negara. Suatu trading house dapat bersifat internasional, dan dapat pula bersifat

nasional.International trading house menfokuskan diri pada kegiatan ekspor, impor dan perdagangan dengan negara ketiga dengan memanfaatkan jaringan dan infrastruktur yang dimilikinya.Trading house international dapat melakukan pengadaan nasional dan penjualan internasional, pengadaan internasional dan penjualan nasional, atau pengadaan dan penjualan bersifat internasional. Trading house nasional melakukan kegiatan pemasaran bersifat nasional, baik antar kota, maupun antar pulau dalam satu negara. Trading house dapat berperan sebagai pedagang (merchants), manajer konsorsia, agen, dan fasilitator perdagangan. Sebagai pedagang (merchants), trading house melakukan

pembelian dan penjualan atas nama dirinya dan memperoleh marjin. Sebagai agen, trading house bertindak atas nama produsen, atau atas nama pembeli (buyer) dan menerima komisi, namun tidak memiliki hak atas barang yang diperdagangkan. Suatu trading house beroperasi dengan marjin relatif kecil, tetapi dengan volume yang besar atau perputaran yang cepat.Karena posisinya yang strategis dan keberhasilan usaha ini tergantung pada kredibilitasnya dalam membawa amanah, di beberapa negara suatu trading house harus terdaftar atau disertifikasi oleh pemerintah atau asosiasinya. Di beberapa negara, trading house memiliki kontribusi yang besar dalam perkembangan perdagangan dan pembangunan ekonomi negaranya. Tentang istilah, di Kanada dan Hongkong dosebut trading house, di Jepang disebut Sogo Shosha (trading house dengan multi produk) atau Semen Shosha (khusus produk tertentu), di India disebut export house, di Amerika disebut trading company atau export management company.

Identifikasi Masalah Dengan adanya latar belakang yang terjadi seperti yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi masalah yang ada mengenai paper Trading House ini yaitu : y y y Apakah UMKM yang dijalankan di Indonesia sudah berjalan dengan baik? Apakah kendala yang dihadapi UMKM di Indonesia? Apakah penunjang utama dalam UMKM di Indonesia?

Landasan Teori Trading House Secara harafiah, pengertian Trading House adalah Rumah (House) Dagang (Trading). Terdapat 2 (dua) arti di sini, yakni rumah dan dagang. Disebut rumah karena dalam kegiatan inimencakup beragam macam barang (seperti yang ada dalam rumah) sementara dagang menunjukkan bahwa kegiatan yang berlangsung berkaitandengan dagang. Kiranya jelas, kegiatan Trading House berkaitan dengan perdagangan. Perdagangan dalam hal ini dapat berbentuk ekspor, domestik maupun lokal. Adapun berdasarkan pada jenis kegiatannya, Trading House mempunyai kriteria sebagai berikut : y pedagang internasional, Dalam hal ini Trading House berperan sebagai jembatan bagi para pengusaha UKM dalam rangka memperluas pasar internasional y agen ekspor, Bila terjadi transaksi ekspor antara pengusaha UKM dengan pembeli luar negeri dalam hal ini Trading House akan berperan sebagai agen ekspor y promotor, Dalam melakukan promosi di luar negeri maka Trading House dapat berperan sebagai promotor di luar negeri. y Integrator, Dalam hal ini Trading House berperan sebagai integrator dalam memadukan kegiatan bisnisnya, antara lain: inovasi, pengelolaan bahan baku, dukungan dana, dll. y manajemen ekspor-impor, Dalam hal Ini Trading House membantu pengurusan keperluan ekspor dan impor bagi kegiatan UKM seperti: mesin, peralatan, bahan baku, dll. y agen pembelian, Dalam menjalankan bisnisnya mungkin saja UKM mengalami kesulitan dalam operasionalnya. Untuk itu Trading House dapat membantu dalam pengadaan sarana dan prasarana produksi. Manfaat Trading House Apakah manfaat Trading House bagi UKM?, Terdapat beberapa manfaat Trading House bagi UKM, antara lain : y y y Membuka akses pasar luar negeri untuk kemudian dimanfaatkan oleh UKM. Meningkatkan omset produksi UKM Membantu kesulitan yang dihadapi oleh UKM, misalnya dalam hal pendanaan, pasar, standar mutu produksi, teknologi, kualitas produksi, dll.

y y y

Memberikan informasi pasar kepada UKM utamanya pasar luar negeri. Membantu meningkatkan daya saing UKM utamanya di pasar luar negeri. Membangun rasa saling percaya antara Trading House dengan UKM.

Sedang manfaat lain dari Trading House, antara lain : y y y Meningkatkan devisa nasional melalui ekspor UKM. Meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan PAM (Pendapatan Asli Masyarakat). Menyerap tenaga kerja.

Badan Hukum Trading House Salah satu masalah dalam Trading House berkaitan dengan bentuk hukum dari Trading House. Masalah ini muncul karena pada awal pendiriannya banyak pihak yang terlibat dalam pendirian ini, mislanya swasta, pengusaha dan pemerintah daerah. Karena itu perlu dibuat kesepakatan terlebih dahulu tentang badan hukum karena sekali badan hukum ditentukan maka dia akan terus mengikat. Karena itu jelas, badan hukum yang akan dibentuk sangat tergantung dari kesepakatan dari semua pihak yang terlibat dalam pend irian Trading House. Dengan perkataan lain, badan hukum Trading House tidak dapat diseragamkan di semua tempat tetapi sangat tergantung pad a kesepakatan semua pihak yang mendirikan Trading House. Berbagai bentuk badan hukum yang dapat digunakan antara lain : y y y y y Individu gabungan beberapa orang koperasi PT BUMN atau BUMD

Pemasaran Menurut Kotler (2005, p10) Pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan

menciptakan,menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu untuk memilih pasar sasaran serta mendapatkan, mempertahankan dan menambah jumlah pelanggan melalui penciptaan, penyampaian, dan pengkomunikasian nilai pelanggan yang unggul. Tujuan Pemasaran Menurut Kotler (2005, p10) Tujuan pemasaran adalah membuat penjualan tidak terlalu penting lagi tetapi untuk mengetahui dan memahami para pelanggan denga baik sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya mampu menjual dirinya sendiri. Idealnya pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap membeli, yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk atau jasa.

Lingkup Pemasaran Menurut Kotler (2005, p6) Pemasaran secara garis besar memilki tugas untuk menciptakan,memperkenalkan dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen dan perusahaan lain. Para pemasar terampil dalam merangsang permintaan akan produk-produk perusahaan, tetapi pemandangan itu merupakan pandangan yang terlalu sempit tentang tugas yang dilakukan oleh pemasar. Ruang lingkup pemasaran meliputi : barang, jasa, pengalaman, event, orang, tempat, properti, organisasi informasi dan gagasan. UMKM UMKM adalah singkatan dari usaha kecil dan menengah. Ukm adalah salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara maupun daerah, begitu juga dengan negara indonesia ukm ini sangat memiliki peranan penting dalam lajunya perekonomian masyarakat. Ukm ini juga sangat membantu negara/pemerintah dalam hal penciptaan lapangan kerja baru dan lewat ukm juga banyak tercipta unit unit kerja baru yang menggunakan tenaga-tenaga baru yang dapat mendukung pendapatan rumah tangga.Selain dari itu ukm juga memiliki fleksibilitas yang tinggi jika dibandingkan dengan usaha yang berkapasitas lebih besar.Ukm ini perlu perhatian yang khusus dan di dukung oleh informasi yang akurat, agar terjadi link bisnis yang terarah antara pelaku usaha kecil dan menengah dengan elemen daya saing usaha, yaitu jaringan pasar. Terdapat dua aspek yang harus dikembangkan untuk membangun jaringan pasar, aspek tersebut adalah :

1. Membangun Sistem Promosi untuk Penetrasi Pasar 2. Merawat Jaringan Pasar untuk Mempertahankan Pangsa Pasar Kinerja nyata yang dihadapi oleh sebagian besar usaha terutama mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang paling menonjol adalah rendahnya tingkat produktivitas, rendahnya nilai tambah, dan rendahnya kualitas produk. Walau diakui pula bahwa UMKM menjadi lapangan kerja bagi sebagian besar pekerja di Indonesia , tetapi kontribusi dalam output nasional di katagorikan rendah. Hal ini dikarenakan UMKM, khususnya usaha mikro dan sektor pertanian (yang banyak menyerap tenaga kerja), mempunyai produktivitas yang sangat rendah. Bila upah dijadikan produktivitas, upah rata-rata di usaha mikro dan kecil umumnya berada dibawah upah minimum. Kondisi ini merefleksikan produktivitas sektor mikro dan kecil yang rendah bila di bandingkan dengan usaha yang lebih besar. Di antara berbagai faktor penyebabnya, rendahnya tingkat penguasaan teknologi dan kemampuan wirausaha di kalangan UMKM menjadi isue yang mengemuka saat

ini.Pengembangan UMKM secara parsial selama ini tidak banyak memberikan hasil yang maksimal terhadap peningkatan kinerja UMKM, perkembangan ekonomi secara lebih luas mengakibatkan tingkat daya saing kita tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita seperti misalnya Malaysia.Karena itu kebijakan bagi UMKM bukan karena ukurannya yang kecil, tapi karena produktivitasnya yang rendah. Peningkatan produktivitas pada UMKM, akan berdampak luas pada perbaikan kesejahteraan rakyat karena UMKM adalah tempat dimana banyak orang menggantungkan sumber kehidupannya. Salah satu alternatif dalam

meningkatkan produktivitas UMKM adalah dengan melakukan modernisasi sistem usaha dan perangkat kebijakannya yang sistemik sehingga akan memberikan dampak yang lebih luas lagi dalam meningkatkan daya saing daerah.

Bab II
Pembahasan
Pada umumnya permasalahan yang dihadapi oleh trading house terhadap pengembangan usaha kecil menengah (UKM) perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut agar seluruh permasalahan yang timbul dapat terjawab dengan tepat. Pengembangan usaha kecil menengah (UKM) pada hakekatnyamerupakan tanggungjawab bersamaantara pemerintah dan masyarakat.Dengan mencermati permasalahan

yangdihadapi oleh UKM, maka kedepan perludiupayakan hal-hal sebagai berikut:

Apakah UMKM yang dijalankan di Indonesia sudah berjalan dengan baik? Kegagalan pola pembangunan ekonomi yang bertumpu pada konglomerasi usaha besar telah mendorong para perencana ekonomi untuk mengalihkan upaya pembangunan dengan bertumpu pada pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi (www.ktin.org.id). Secara riil UMKM atau sering disebut UKM (Usaha Kecil Menengah) juga sebagai sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional, terbukti telah menyumbangkan sebesar Rp 1.013,5 triliun atau 56,7% dari PDB Indonesia (www.depkop.go.id). Selain itu, UMKM juga mampu menciptakan peluang kerja yang cukup besar bagi tenaga kerja dalam negeri, sehingga sangat membantu dalam mengurangi jumlah pengangguran. Namun dalam perkembangannya, UMKM memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, diantaranya keterbatasan mengakses informasi pasar, keterbatasan jangkauan pasar, keterbatasan jejaring kerja, dan keterbatasan mengakses lokasi usaha yang strategis.Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan akses UMKM pada informasi pasar, lokasi usaha dan jejaring usaha agar produktivitas dan daya saingnya meningkat.Maka dari itu menuntut adanya peran dan partisipasi bebagai pihak terutama pemerintah daerah dan kalangan perguruan tinggi untuk membantu dan memfasilitasi akses informasi bagi para UMKM yang sebagian besar berada di daerah pedesaan atau kota-kota kecil. Sebagai upaya mengatasi masalah yang dihadapi UMKM, melalui tulisan ini penulis mencoba menawarkan alternatif solusi untuk memberdayakan UMKM melalui gagasan

pemanfaatan teknologi informasi dalam bentuk Pusat Komunikasi Bisnis Berbasis Web di daerah.Sebagai sebuah gagasan, maka tulisan ini terbuka untuk ditanggapi oleh para pemerhati dan semua pihak yang perduli terhadap persoalan ekonomi rakyat khususnya pemberdayaan UMKM di Indonesia.

Apakah kendala yang dihadapi UMKM di Indonesia? Permasalahan yang paling sering timbul dalam usaha pengembangan ini berhubungan dengan karakteristik yang dimiliki oleh UMKM yang sedikit menyulitkan. Beberapa karakteristik yang paling melekat pada sebagian besar UMKM antara lain: Para pendiri UMKM berniat melakukan ekspansi usahanya ke luar negeri namun karena minimnya pengetahuan mereka tentang masalah ekspor impor usaha untuk melakukan

ekspansi ke luar negeri tersendat, mereka tidak memiliki keberanian dikarenakan pengetahuan mereka tentang tatacara ekspor impor tidak mereka pahami.

Pengelolanya yang kurang mengerti nilai tambah bagi UMKM yang dikelolanya. Mereka hanya mementingkan keuntungan yang minim tanpa mau merubah cara berkreasi untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari UMKM yang dikelolanya. Kesulitan dalam modal dan akses pinjam.Bank masih memberlakukan suku bunga tinggi.Namun beberapa program permodalan yang digagas pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) cukup menghibur, masalahnya seberapa besar KUR mampu menjangkau UMKM yang ada.Selain itu prosedur administrasi perbankan dan ketiadaan agunan.Juga masih memberikan hambatan bagi pengelola UMKM.

Apakah penunjang utama dalam UMKM di Indonesia? Jumlah usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia tergolong bejibun.Sayangnya.30 juta jenis usaha ini masih menggunakan sistem manual.Mereka belum melek teknologi modern.Mahalnya biaya investasi internet rupanya menjadi kendala bagi UKM menyediakan solusi berbasis teknologi.Sangat disayangkan, UKM sebagai penunjang perekonomian bangsa

tidak akan bisa berkembang jika tidak mengikuti perkembangan zaman, khususnya informasi teknologi. Adanya hubungan erat antara perkembangan ekonomi dengan pelayanan Telematika menyebabkan banyak negara berkembang mencoba untuk memperbaiki infrastruktur

Telematika yang ada untuk peningkatan pelayanan pada masyarakatnya (Per Helmersen, 2005). Beberapa negara berkembang seperti Hong Kong, Korea, Singapore dan Taiwan menggunakan Telematika sebagai bagian dari keseluruhan strategi ekonomi untuk membangun posisi yang sangat kompetitif di pasar dunia untuk industri dan jasa teknologi tinggi (Kao, Raymond W. Y., 1995). Meskipun menghadapi hambatan dalam restrukturisasi industri Telematikanya, beberapa negara berkembang telah berhasil tidak hanya membuka kompetisi (Abdus Salam,

2005).Mereka pun secara bersamaan mencapai kewajiban pelayanan Telematika untuk umum (Universal Services Obligation/USO). Misalnya pencapaian yang dilakukan oleh Grameen Telecom Bangladesh bekerja sama dengan pemberi mikro-kredit Grameen Bank, yang memungkinkan nasabahnya memperoleh kredit bergulir untuk berusaha di bidang warung Telematika di daerah pedesaan yang pada awalnya meliputi 950 Village Phone dan memberikan akses kepada 65.000 orang (Harmeet Gill, 2006). Maka dari itu para pengelola UMKM yang menyangkutkan usaha mereka dengan model teknologi lebih memberikan hasil yanglebih dibanding dengan mereka yang masih menganut sistem tradisional dalam UMKM yang mereka kelola.Mereka menggunakan fasilitas internet untuk mendukung UMKM yang mereka dirikan, pemasaran pun berkembang pesat dengan didasari e-marketing yang terapkan untuk memasarkan produknya.

Bab III
Kesimpulan Peran usaha mikro, kecil dan menengah dalam perekonomian negara sangat penting dan strategis, karena telah terbukti menjadi penyelamat perekonomian pasca krisis dan menjadi penyedia lapangan kerja terbesar. Tersedianya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan diharapkan akan membantu mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman dan damai; adil dan demokratis; serta sejahtera. Sehingga sektor UMKM perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional masa mendatang. UMKM yang tangguh dan tersebar di seluruh penjuru tanah air merupakan modal besar dalam memelihara dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dukungan terhadap sektor ini sekaligus dapat mengurangi dan menetralisir dampak negatif penerapan teknologi informasi seperti tejadi di banyak negara maju, yaitu semakin melebarnya kesenjangan ekonomi antar kelompok masyarakat. Kemudahan dan ketersediaan informasi pasar bagi UMKM akan sangat membantu mengembangkan usahanya. Jika informasi pasar sudah dapat diakses dengan mudah dan cepat, paling tidak akan menumbuhkan motivasi bagi para pelaku UMKM untuk menjalankan usahanya dengan lebih serius, sehingga UMKM berkembang lebih maju. Kemajuan UMKM berarti kemajuan bagi perekonomian negara, sehingga menumbuhkan kemandirian bangsa agar dapat lepas dari jeratan neo kolonialisme. Pengalaman di luar negeri telah membuktikan bahwa melalui aplikasi teknologi informasi, perusahaan kecil dan menengah dapat menjadi perusahaan besar kelas dunia dalam waktu yang singkat. Salah satu gagasan yang pantas dikembangkan di Indonesia adalah pembentukan Pusat Komunikasi Bisnis Berbasis Web, untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di era teknologi informasi sekarang ini.

Daftar Pustaka

Effendi Ishak. 2005. Artikel : Peranan Informasi Bagi Kemajuan UKM. Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta

M. Suyanto. 2005. Artikel : Aplikasi IT untuk UKM Menghadapi Persaingan Global. Kedaulatan Rakyat. Yogyakarta.

Danu Kusworo. Dana Segar Rp 27,5 Trilyun untuk Usaha Mikro dan UKM - Untuk Perangi Kemiskinan. 2002. www.kompas.com

Djoko Retnadi. Kebijakan UMKM di Malaysia. 2004. www.kompas.com

Ina Primiana. Manajemen Satu Atap Dalam Pemberdayaan UMKM di Jawa Barat. 2005. Harian Pikiran Rakyat

Robinson, Marguerita. S. The Micro Finance Revolution. Vol. 2. Lesson FromIndonesia. 2002. Communication Development Incorporated-World Bank

Sandee, Henry, dkk. Employment Growth in Small Scale and Cottage Industry Clusters in Indonesia. Mengembangkan Strategi Ekonomi. 1998. Pustaka Sinar Harapan

Sri Mulyati Tri Subari. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Bank Indonesia Dalam Mendukung Pelayanan Keuangan yang Berkelanjutan Bagi UMKM. 2004. www.bi.go.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful