P. 1
Kelas09 Bahasa-Indonesia Sri

Kelas09 Bahasa-Indonesia Sri

|Views: 60|Likes:
Published by SMAN 2 Pontianak

More info:

Published by: SMAN 2 Pontianak on Nov 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2011

pdf

text

original

Bacalah cerpen berikut ini dengan saksama!

1.a.Buatlah diskusi kelompok

untuk saling menukarkan

dan menganalisis pekerjaan

masing-masing anggota

kelompok!

b.Perhatikan segi kebakuan

bahasa, isi karangan, dan

koherensi antarkalimatnya!

2.Berikan saran kepada teman

Anda bagian-bagian yang kurang

tepat dan perlu diperbaiki!

KKKKKereta Raksasa
ereta Raksasa

ereta Raksasa
ereta Raksasa
ereta Raksasa

Karya Dasmo Rahardiyanto

Malam dingin menggigil. Udara terasa membekukan sendi-
sendiku. Angin yang berhembus disertai derasnya hujan, mem-
buat malam semakin terasa keparat. Gemercik air hujan
terdengar berjatuhan membentuk simfoni alam yang mengge-
lisahkan. Kecuali suara kodok yang menjengkelkan, tak terdengar
binatang malam yang berbunyi. Aku duduk termangu terjebak
hujan di sebuah stasiun. Hujan seperti tumpah. Malas rasanya
aku pulang berhujan-hujan.

Kunyalakan sebatang rokok. Kuhisap dalam-dalam sambil
kusandarkan badanku pada salah satu kursi fiber yang berjejer
di halaman stasiun itu. Hah, lelah betul aku hari ini, gerutuku.
Sebagai karyawan kecil di sebuah perusahaan swasta, seharian
bekerja selalu membawa dan menyisakan kele-lahan luar biasa.
Tidak jarang pula membawa pulang sakit hati dan menjemukan,
dan ke-sengsaraan yang seperti mengolok-olok nasib wong cilik.
Apakah kesalahanku sama dengan stasiun ini? Stasiun yang sudah
tua, kelihatan pucat ditelan masa. Renta, jorok, tidak terawat.
Sosoknya yang dulu barangkali gagah, kini lemas kedinginan,
berantakan.

Hujan semakin deras. Suara kereta terdengar menderu dari
kejauhan. Tak lama kemudian kulihat kereta yang padat siap
memuntahkan penumpangnya yang berjejalan, lalu serabutan
menyerbu dan memasuki stasiun. Pengeras suara mewartakan
jalur yang akan dilintasi kereta itu. Belum juga kereta itu berhenti
benar, para penum-pang berhamburan dari dalamnya. Muntahan
kereta itu, tumpah-ruah memenuhi peron. Suara derap sepatu
dari para penumpang segera memecah kesunyian. Wajah-wajah
lelah, bau busuk keringat, dan pakaian yang lusuh, seperti
berseliweran mengganggu mataku.

Di antara temaram lampu-lampu yang menyinari stasiun,
kudengar deru mobil sekali-sekali melintas di bawah air hujan.
Sementara itu, beberapa meter dari tempatku duduk, sekelompok
orang sedang asyik ngobrol di loket penjualan karcis.

71

Bab 5 Teknologi

Tepat di atas kepalaku tergantung sebuah
tulisan yang tidak jelas hurufnya terbuat dari seng,
dengan ukuran kira-kira 20 x 30 sentimeter.
Bergoyang-goyang terkena hembusan angin.
Kadang-kadang berbunyi lesu jika angin besar
menghempasnya.

Tempat duduk berderet di sepanjang stasiun.
Di atas deretan tempat duduk itu, kokoh
terbentang atap seng sebagai pelindungnya.
Semua penyangga dan tiangnya terbuat dari besi.
Tetapi, kurasakan stasiun ini agak berbeda. Tidak
seperti waktu pertama kali aku menginjakkan kaki
di stasiun ini tiga tahun lalu. Cat temboknya tam-
pak sudah muram. Lantainya menggambarkan
kejorokan, dan jalanan di sepanjang stasiun becek
tergenang air dan lumpur. Sampah yang berserak
seperti telah menjadi bagian penting dari ke-
jorokan.

Sejurus pandanganku tertanam pada rel
kereta api. Serta merta kereta kembali terdengar.
Tampak, lampunya berkedip-kedip dari kejauhan.
Selang beberapa menit kelihatanlah kepala kereta
dengan gerbong panjangnya. Astaga ada apa ini!
Aku terkejut dan bermaksud hendak lari menjauh.
Kulihat si ular besi ini wujudnya menjadi lebih
besar dan semakin besar. Ukurannya kira-kira
sepuluh kali lipat dari kereta biasa.

Derunya yang bergemuruh dan wujudnya
yang besar lagi mengerikan, seakan hendak
memakan segala yang ada di depannya. Tanpa

bisa ditahan lagi, entah bagaimana tiba-tiba
stasiun ditabraknya. Suara dahsyat yang luar biasa
kerasnya, memecahkan telingaku. Kereta terge-
lincir dan ambruk menyeruduk stasiun. Suara ber-
derak-derak dan kacau terdengar ditimpali
beberapa kali ledakan. Stasiun hancur seketika,
sementara kereta terus menggerus semua benda
yang menghalanginya. Api menyala di sepanjang
stasiun. Jeritan dan teriakan memekik menjadi
sungguh-sungguh menciptakan kengerian yang
tak terperikan.

Dalam situasi seperti itu, aku terpana di antara
bengong, ketidakpercayaan, dan ketakutan pada
penglihatanku sendiri. Tangan dan kakiku gemetar.
Nafas seakan terputus seketika itu. Kulihat di
sekelilingku, orang berlarian lintang pukang. Apa-
kah ini kiamat?

“Tolong! Tolong!” Suara orang menjerit-jerit
terdengar jelas di tengah hiruk-pikuk dan teriakan
histeris. Masih ada orang hidup, pikirku cepat.
Dengan jantung yang berdegup kencang, aku
nekat mendekati suara itu.

Tampak di depanku seorang wanita tua
terjepit di antara reruntuhan. Besi-besi yang meng-
himpitnya membuat dia tak berdaya. Wajahnya
kacau, sementara matanya tampak sedang
meradang maut.

Aku segera menghampirinya. Entah dapat
kekuatan dari mana tiba-tiba saja badanku yang
tadi lemas, kini segar kembali. Dan luar biasa!
Tenaganya seperti datang berlipat-lipat ganda.
Dengan enteng kubengkokkan besi yang meng-
himpit wanita itu. Aku tak menyangka mempunyai
kekuatan seperti ini. Di luar dugaan aku berhasil
menarik keluar wanita tua itu dari reruntuhan.

Setelah berhasil kuselamatkan, tampak
tubuhnya bergetar. Mulutnya menganga. Nafasnya
berat terengah-engah. Sedang sekaratkah, pikirku.
Dan tak lama kemudian dia diam. Kugoyang-go-
yangkan kepalanya. Tetapi ia tetap diam. Badannya
terasa makin dingin. Inilah kematian yang menge-
naskan!

Tak seberapa jauh dari situ kulihat kepala
yang lepas dari badannya. Darahnya mengalir. Ra-
sanya aku ingin berlari seketika itu juga. Mengeri-
kan sekali! Aku terus mencari korban yang mungkin
masih hidup.

Di antara langkahku yang tergesa-gesa, ku-

Kunyalakan sebatang rokok. Kuhisap
dalam-dalam sambil kusandarkan
badanku pada salah satu kursi fiber yang
berjejer di halaman stasiun itu.

72

Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas X SMA/MA

lihat korban-korban bergelimpangan di mana-
mana. Tiba-tiba saja ada yang menabrakku dari
belakang. Aku jatuh dan tersungkur. Aku kaget.
Kemudian, aku bangun. Kulihat sesosok tubuh
terkapar. Sembari menangis perempuan tua itu
mencoba bangkit. Kuangkat tubuhnya. Terlihat
olehku mata orang ini berlumuran darah.

Suasana stasiun kini menjadi lebih kacau.
Orang-orang berdatangan. Seperti halnya aku,
mereka juga mencari korban yang ada di antara
reruntuhan stasiun dan besi-besi kereta. Tak
jarang terdengar suara jeritan dan ketakutan. Di
antara mereka ada yang mengais-ngais potongan-
potongan tubuh korban atau menyeret korban
yang tewas.

Hujan masih saja turun. Suasana duka terasa
menyelimuti stasiun ini. Dari kejauhan kudengar
suara raungan mobil ambulans dan pemadam
kebakaran. Para korban dilempar begitu saja ke
dalam mobil ambulans. Mereka yang masih hidup
dilarikan segera. Sementara yang meninggal
dijejerkan di tempat yang agak terbuka. Suara
tangis, rintihan dan hiruk-pikuk yang tak jelas,
terdengar di sana-sini dan terus memekakkan
telinga.

Sekali-kali kulihat kaki, tangan, dan bahkan
kepala bergelimpangan. Darahnya tampak masih
segar. Tak terbayangkan betapa shocknya aku pada
saat itu. Mengapa hal seperti ini harus kusaksikan?
Rasanya aku tak mempercayainya segala yang ku-
lihat saat ini.

Hujan sudah mulai reda. Di beberapa bagian
peron stasiun tampak orang masih berkerumun,
ada juga yang terus mencari korban. Setelah
berapa lama, terdengar lagi suara kereta dari ke-
jauhan. Kami pun tersentak kaget. Tidak me-
nyangka, dalam situasi yang porak poranda seperti
ini, masih juga ada kereta yang akan melintas
stasiun ini. Seharusnya jalur kereta ditutup untuk
sementara, pikirku. Kami berlari tak tentu arah.
Suasana menjadi semakin kacau. Aku tidak lagi
mempedulikan para korban. Orang-orang yang
tadi ikut membantu para korban, segera berlari
menyelamatkan diri.

Dari kejauhan kulihat kereta melaju dengan
kencang dari arah berlawanan dengan kereta
yang tadi menabrak. Anehnya kereta ini berjalan
tidak melewati stasiun, melainkan melintas menuju
ke arah reruntuhan kereta yang tadi. Secara

refleks, aku melompat dan berlari tidak tentu arah.
Suara teriakan dan jeritan tak terelakkan lagi.
Kutengok ke belakang. Kulihat kereta sudah
semakin dekat. Aku tersungkur, tak kuasa lagi
berlari. Tetapi, masih sempat aku menjerit
sekencangnya sebelum sesuatu terjadi atas diriku.

“Bang! Ada apa?” Sekonyong-konyong
seseorang menegurku. Aku tersadar dan
gelagapan.

“Oh, tidak ... ! Tidak apa-apa!” jawabku

sekenanya.

Orang itu pergi sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Aku masih bingung. Kulihat stasiun yang
tadi hancur ternyata masih utuh. Kuperiksa anggota
badanku, tidak apa-apa, juga tidak mengalami luka
apa pun. Lalu, bagaimana dengan peristiwa tadi?

Setengah sadar, aku beranjak bangun.
Setengah berlari kutinggalkan stasiun tanpa kuasa
lagi menepis sisa mimpi yang masih terasa
mengejarku.

Dikutip dengan pengubahan seperlunya
untuk keperluan pembelajaran

Setelah berhasil kuselamatkan,
tampak tubuhnya bergetar. Mulutnya
menganga. Nafasnya berat
terengah-engah.

Cerpen ini ditulis oleh Dasmo Kahadiyanto ketika

yang bersangkutan masih tercatat sebagai siswa

kelas IC Sekolah Menengah Umum Yayasan Remaja

Masa Depan (SMU YRMD) Kebon baru, Tebet,

Jakarta Selatan. Cerpen ini dimuat di Majalah
Horison 2002 - dirubrik Kaki langit.

73

Bab 5 Teknologi

Bentuklah kelompok, masing-

masing 4—5 siswa, kemudian

diskusikan soal-soal berikut ini!

1.Tuliskan tokoh-tokoh yang ada

dalam cerpen!

2.Tuliskan latar yang ada dalam

cerpen!

3.Ungkapkan hal-hal yang me-

narik atau mengesankan dilihat

dari tokoh dan latar cerpen!

Jelaskan!

4.Nilai-nilai apa saja yang terdapat

dalam cerpen tersebut!

5.Nilai-nilai apa yang dapat Anda

terapkan dalam kehidupan se-

hari-hari!

6.Ceritakan kembali isi cerpen

tersebut dalam beberapa kali-

mat!

Tulis hasil diskusi dalam buku

kelompok, kemudian bacakan di

depan kelas, supaya ditanggapi

oleh kelompok lain!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->