BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Diare merupakan kumpulan gejala yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (umumnya tiga kali atau lebih dalam sehari). 1 Umumnya, diare disertai nyeri abdomen, mual, dan muntah. Sebagian masyarakat mengenal diare dengan istilah mencret atau muntaber. Diare dapat menyebabkan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat dan berkurangnya nafsu makan. Kondisi umum penderita akan dapat diperburuk oleh dehidrasi dan kekurangan elektrolit sehingga jika tidak ditatalaksana dengan baik, diare dapat menyebabkan kematian.2 Prinsip utama diare adalah penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya.3 Pengelolaan diare yang dianjurkan WHO terdiri dari 4 unsur utama. Pertama, pemberian cairan untuk mencegah dan mengobati dehidrasi. Kedua, pemberian makanan yang diteruskan terutama ASI. Ketiga, tidak menggunakan obat-obat anti diare dan kecuali obat-obat antimikroba pada kasus-kasus tertentu. Terakhir adalah memberikan petunjuk yang efektif bagi ibu dan anak serta pengasuh yang meliputi petunjuk cara merawat anak sakit di rumah terutama tentang upaya rehidrasi oral (URO), kapan harus membawa kembali anak ke sarana atau petugas kesehatan dan cara mencegah diare di masa depan. Dalam pengelolaan diare yang terpenting adalah pencegahan dehidrasi dengan penggantian cairan dan elektrolit yang hilang. Upaya yang dilakukan berupa URO dan pemberian cairan intravena. URO merupakan hal terpenting dalam mencegah dehidrasi pada kasus dehidrasi ringan-sedang. Rehidrasi intravena hanya diberikan pada kasus dehidrasi berat dan dehidrasi ringan-sedang yang tidak dapat minum atau pada kasus-kasus dengan penyakit penyerta. Untuk mencegah dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minum lebih banyak seperti air tajin, kuah sayur, air sup.4 Oralit

1

merupakan produk kesehatan yang diformulasikan untuk dikonsumsi saat mengalami diare. Kandungan oralit adalah NaCl, KCl, glukosa, dan natrium bicaronat atau natrium sitarat. Fungsi oralit yang utama adalah menjaga keseimbangan jumlah cairan dan mineral dalam tubuh. Oralit merupakan obat yang dianjurkan untuk mengatasi diare. Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang hilang bersama tinja. Dengan menggantikan cairan tubuh tersebut, dehidrasi dapat dihindarkan.5 Penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada balita di Indonesia. Sekitar 60 juta kasus penderita diare dapat ditemukan setiap tahunnya, 70-80% dari penderita ini adalah anak di bawah lima tahun. Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare dan sebagian kecilnya (1-2%) akan mengalami dehidrasi yang bila tidak segera ditolong 5060% diantaranya dapat meninggal.6 Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga Departemen Kesehatan RI tahun 1996, 12% penyebab kematian adalah diare. Survei tersebut menyebutkan bahwa 70 dari 1000 bayi yang lahir meninggal dunia sebelum berusia satu tahun karena diare. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia, 66% nya adalah balita dengan korban meninggal 600.000 jiwa.7 Menurut hasil survei dari sistem surveilans terpadu (SST) yang dilakukan di Palembang pada periode Januari-Desember 2004, diare merupakan kasus nomor enam terbanyak di kota Palembang (16.799) dibandingkan dengan kasus lainnya. Paling banyak menyerang anak-anak usia 1-4 tahun (5.410). Penurunan angka kejadian diare pada bayi di negara-negara maju, erat kaitannya dengan pemberian ASI, yang sebagian disebabkan oleh kurangnya pencemaran minum anak dan sebagian lagi karena faktor pencegahan imunologik dari ASI (Asnil et al, 2003). Perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan resiko terjadinya diare antara lain, tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, tidak mencuci tangan sesudah buang

2

3 I.2.3. I.air besar (Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman.5 Bagaimana prevalensi penderita diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X.I Tujuan Umum Mengidentifikasi faktor sosiodemografi (pendidikan ibu dan pendapatan keluarga). Bagaimana tingkat pendidikan ibu dan hubungannya dengan diare pada balita? Bagaimana jumlah pendapatan keluarga dan hubungannya dengan diare pada balita? Bagaimana gambaran sumber air minum yang digunakan setiap hari dan hubungannya dengan diare pada balita? Bagaimana perilaku higiene ibu sehari-hari dan hubungannya dengan diare pada balita? I.2. Mengingat adanya hubungan antara faktor sosiodemografi.2. dan perilaku higiene ibu sehari-hari. Kota Palembang.2 Tujuan Khusus • Mengidentifikasi prevalensi penderita diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X. Provinsi Sumatera Selatan.4 I.2 Rumusan Masalah I. sumber air minum keluarga. dan perilaku higiene ibu sehari-hari terhadap diare pada balita. Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Selatan.3 Tujuan Penelitian I.3. Kota Palembang. 3 . maka akan dilakukan penelitian mengenai pengaruh faktor sosiodemografi. Kota Palembang.2. 1999). sumber air minum keluarga. dan perilaku higiene ibu sehari-hari serta hubungannya dengan diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X.2. sumber air minum keluarga.1 I.2 I. I.

Kota Palembang.• Mengidentifikasi tingkat pendidikan ibu dan hubungannya dengan diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X.2 Untuk Masyarakat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat terutama para ibu tentang pentingnya memperhatikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit diare pada balita dan pertolongan pertama yang dapat dilakukan.4.4 Manfaat Penelitian I. pengambilan keputusan dalam berbagai penelitian selanjutnya. dan lingkungan terhadap diare pada balita bagi peneliti dan pembaca. Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi Sumatera Selatan. 4 . • Mengetahui perilaku higiene ibu sehari-hari dan hubungannya dengan diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X. Kota Palembang. Kota Palembang. I. Kota Palembang. I. • Mengetahui gambaran sumber air minum yang digunakan setiap hari dan hubungannya dengan diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X. Provinsi Sumatera Selatan.4. Provinsi Sumatera Selatan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk penyusunan kebijakan. • Mengidentifikasi jumlah pendapatan keluarga dan hubungannya dengan diare pada balita yang datang berobat ke klinik MTBS puskesmas X.1 Untuk Institusi Hasil penelitian ini diharapkan dengan memberikan gambaran keadaan sosiodemografi dan pengetahuan ibu serta hubungan antara faktor sosiodemografi.

Dehidrasi Sedang Tandanya ditemukan 2 gejala atau lebih gejala berikut: • Gelisah. atau berat.1 Definisi Diare menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat). Dehidrasi berat Tandanya ditemukan 2 atau lebih gejala berikut: • Berak cair terus-menerus • • Muntah terus-menerus Kesadaran menurun. sedang. lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam dengan frekuensi lebih dari tiga kali per hari dan dapat/tanpa disertai lender dan darah.8. maka dehidrasi dibagi tiga menjadi dehidrasi ringan.9 II. konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. lemas luar biasa dan terus mengantuk 5 . kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya. cengeng • • • Kehausan Mata cekung Kulit keriput. haus. 1. dan agak rewel.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. kulit tidak segera kembali ke posisi semula. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat). Tandanya anak terlihat agak lesu. 2. Dehidrasi Ringan Tidak ada keluhan atau gejala yang mencolok. 3. misalnya kita cubit kulit dinding perut.2 Klasifikasi Berdasarkan klasifikasi dehidrasi WHO.

• • • • Tidak bisa minum. merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik. II. berlangsung kurang dari 14 hari. 2000. dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir dan darah 2. bibir kering dan biru Cubitan kulit baru kembali setelah lebih dari 2 detik Tidak kencing 6 jam atau lebih/frekuensi buang air kecil Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi berkurang/kurang dari 6 popok/hari. II. Asnil et al. tidak mau makan Mata cekung. atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi.1 Infeksi Infeksi terdiri dari infeksi enteral dan parenteral. 2003). Diare kronis Diare kronis adalah diare hilang-timbul. 2003). makanan. diare persisten dan diare kronis. (Asnil et al. Diare Akut Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu. seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun.3. Lama diare kronik lebih dari 30 hari. imunodefisiensi dan keadaan-keadaan tertentu. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan dan infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh 6 . • Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut. 1. efek obat. 3. Diare Persisten Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari.3 Etiologi Diare akut disebabkan oleh banyak faktor antara lain infeksi. (Mansjoer et al.

II. protein. kader kesehatan dan dengan dukungan pelayanan kesehatan di sarana kesehatan yang terkait.3. Vibrio cholera.3 Imunodefisiensi Defisiensi imun terutama SigA (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan berlipat gandanya bakteri. Clostridiumdifficile. gugup). Escherichiacoli. Mikroorganisme yang menjadi penyebabnya antara lain Aeromonas. Enterotoxigenic. Alergi terhadap makanan tertentu seperti susu sapi. Enteropathogenic. Alergi susu. disakarida.lain di luar alat pencernaan. II. 7 . Compylobacter. 2004). diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut. biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi angka kejadian diare Penyelenggaraan P2 diare pada balita dititikberatkan pada penemuan dan pengobatan penderita diare sedini mungkin dengan melibatkan peran aktif masyarakat.3. Shigella. flora usus.4 Terapi obat Obat-obat yang dapat menyebabkan diare diantaranya antibiotik dan antasid. terjadi malabsorbsi karbohidrat. II. terutama Candida II. II. 1998.5 Keadaan tertentu Keadaan lain yang menyebabkan seseorang diare seperti gangguan psikis (ketakutan. vitamin dan mineral. 2004). gangguan saraf. Ngastiyah. makanan yang mengandung bakteri atau toksin.2 Makanan Diare dapat disebabkan oleh intoksikasi makanan. lemak. Enteroinvasive (Pickering et al. Salmonella.3. makanan pedas.3. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI. jamur.

Faktor Genetik dan Biologi  Agen penyebab yang sebagian dapat bertahan di udara sampai beberapa hari. 3. Dibawah ini dapat kita lihat contoh-contoh gaya hidup tidak sehat pada masyarakat:  Tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setiap habis buang air besar. antara lain: 8 .  Kurang maksimalnya perhatian terhadap kebersihan peralatan makan balita seperti botol susu sehingga terkontaminasi dengan agen penyebab diare. 2.Intervensi yang ditujukan pada pencegahan penyakit diare pada balita dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi angka kejadian (insiden) diare. Faktor resiko yang berpengaruh terhadap angka kejadian diare terbagi dalam 4 kelompok yang meliputi faktor genetik dan biologi. terutama virus. Faktor Perilaku Masih kurangnya kesadaran individu untuk menerapkan gaya hidup bersih sehingga menimbulkan dampak terhadap peningkatan resiko terjadinya diare. 1.  Kurang Gizi: balita yang menderita kurang gizi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk terkena penyakit infeksi terutama diare. Faktor Lingkungan Beberapa faktor-faktor lingkungan yang menjadi pendukung timbulnya penyakit diare.  Kurangnya perhatian terhadap kebersihan makanan dan minuman yang menyebabkan makanan dapat terkontaminasi agen penyebab.  Penyakit yang ada sebelumnya: adanya penyakit yang menyebabkan balita lebih rentan sakit seperti penyakit Imunodefisiensi (seperti AIDS) dan penyakit infeksi kronis (seperti TBC). faktor perilaku dan lingkungan serta faktor pelayanan kesehatan. Pencegahan disini dengan melihat faktor resiko yang berpengaruh terhadap angka kejadian penyakit diare pada balita.

Nutrisi Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi. 1995) a. Rehidrasi Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. dimana infeksi agen penyebab diare sering terjadi pada musim hujan. Agar pemberian diet pada anak dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya. ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat. 4. Sarana air bersih: sumber air yang menjadi penopang hidup masyarakat (untuk minum. medikamentosa (Andrianto. mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga. pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi yakni 24 9 II.5 Penatalaksanaan Menurut Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Prinsip penatalaksanaan diare akut antara lain dengan rehidrasi. serta memperhatikan faktor yang mempengaruhi keadaan gizi anak. nutrisi.  Sarana pembuangan air limbah  Faktor musim. urin. maka diperlukan persyaratan diet sebagai berikut yakni. Faktor Pelayanan Kesehatan Adanya kecenderungan kekurangtahuan pada pelayanan kesehatan. Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan atau muntah. tenaga kesehatan kurang tepat dalam menegakkan derajat dehidrasi penderita. mandi. pernapasan dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung. II.1 Prinsip penatalaksanaan diare akut . Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur. dan lain-lain) tercemar dengan agen penyebab diare.5. b.

air tajin). kaolin.2 Rencana pengobatan Berdasarkan derajat dehidrasi maka terapi pada penderita diare dibagi menjadi tiga. Anti muntah termasuk prometazin dan klorpromazin II. Medikamentosa Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin. makanan cukup energi dan protein. difenoksilat. yakni rencana pengobatan A. Panmalabsorbsi berikan makanan rendah laktosa. Intoleransi laktosa berikan makanan rendah atau bebas laktosa. makanan tidak merangsang.5. 1999) c. pemberian cairan dan elektolit sesuai kebutuhan. adsorben seperti Norit. Gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dalam tabel berikut :\ 10 . Rencana pengobatan A Digunakan untuk mengatasi diare tanpa dehidrasi. memberikan terapi awal bila anak terkena diare lagi. air matang. meneruskan terapi diare di rumah. Khusus untuk penderita diare karena malabsorbsi diberikan makanan sesuai dengan penyebabnya.jam pertama. Pemberian ASI diutamakan pada bayi. makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering. Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas seperti loperamid. antara lain: Malabsorbsi lemak berikan trigliserida rantai menengah. opium. kodein. Cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti oralit. B dan C. makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna. parenteral nutrisi dapat dimulai apabila ternyata dalam 5-7 hari masukan nutrisi tidak optimal (Suandi. pemberian vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup. makanan cair (sup. attapulgit. a.

Bayi kurang dari 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI. berikan juga 100-200 ml air masak. dorong juga ibu untuk meneruskan ASI. Berat badan anak tidak diketahui. Pertamatama berikan cairan intravena.berikut ini tabel-tbel tentang derajat dehidrasi penderita. Setelah 3-4 jam. 1999) Berikan anak yang menginginkan lebih banyak oralit. Kebutuhan Oralit Per Kelompok Umur Umur < 12 bulan 1-4 tahun > 5 tahun Jumlah oralit yang diberikan tiap BAB 50-100 ml 100-200 ml 200-300 ml Jumlah oralit yang disediakan di rumah 400 ml/hari ( 2 bungkus) 600-800 ml/hari ( 3-4 bungkus) 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus) (Buku ajar diare. Rencana pengobatan C Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi berat. kemudian pilih rencana A. berikan oralit paling sedikit sesuai tabel berikut: Tabel 2. Setelah 1-3 jam berikutnya nilai ulang anak dan pilihlah rencana pengobatan yang sesuai. berikan 75 ml/KgBB. nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian. Rencana pengobatan B Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi ringan dan sedang. 1999) b. B atau C untuk melanjutkan pengobatan c. dalam 3 jam pertama. 11 . nilai setelah 3 jam. Jika keadaan anak sudah cukup baik maka berikan oralit. dengan cara . Jumlah Oralit Yang Diberikan Pada 3 Jam Pertama Umur Jumlah oralit < 1 tahun 300 ml 1-5 tahun > 5 tahun 600 ml 1200 ml (Buku ajar diare.Tabel 1.

6 Pencegahan Diare Tindakan dalam pencegahan diare ini antara lain dengan perbaikan keadaan lingkungan. sanitasi perumahan 12 . 1999) Tabel 4. lidah Rasa haus A B C Baik. pembuangan sampah pada tempatnya. seperti penyediaan sumber air minum yang bersih. sadar Gelisah. Derajat dehidrasi berdasarkan gejala klinis Penilaian Keadaan umum Mata Air mata Mulut. tidak sadar« Normal Cekung Sangat cekung Ada Tidak ada Tidak ada Basah Kering Sangat kering Minum sepertiHaus. Derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan berat badan Derajat dehidrasi Tidak dehidrasi Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang Dehidrasi berat Penurunan berat badan (%) <2½ 2½-5 5-10 10 (Buku ajar diare.Tabel 3. ingin minumMalas minum. tidak banyak« bisa minum Kembali lambat« Kembali sangat lambat Dehidrasi ringan/ Dehidrasi berat sedang ditambah Terapi Rencana pengobatan A (Buku ajar diare. penggunaan jamban. 1999) Bila 1/lebihlain ada 1 tanda Bila ada 1 tandaditambah 1/lebih tanda tanda lain Rencana pengobatanRencana pengobatanC B biasa Periksa:Turgor kulit Kembali cepat Hasil pemeriksaan Tanpa dehidrasi II. rewel« Lesu.

Melalui faktor lingkungan. 2003). malaria. Menurut model segitiga epidemiologi. tempat pembuangan kotoran. Syarat fisik yakni. kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. membuang tinja anak pada tempat yang tepat. hepatitis. campak. 1999) Masalah kesehatan lingkungan utama di negara-negara yang sedang berkembang adalah penyediaan air minum. Penyakit-penyakit tersebut seperti diare. 1995).dan penyediaan tempat pembuangan air limbah yang layak. pembuangan sampah. perbaikan cara menyapih. akan mudah terserang penyakit (Slamet. host dan lingkungan. 13 . 2003) Lingkungan Sejak pertengahan abad ke-15 para ahli kedokteran telah menyebutkan bahwa tingkat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan. tifus dan lain-lain yang dapat ditelusuri determinan-determinan lingkungannya (Noerolandra. influenza. Syarat kimia yakni. jernih dengan suhu sebaiknya di bawah suhu udara sehingga terasa nyaman. pertusis. sehingga untuk memberantas penyakit menular diperlukan upaya perbaikan lingkungan (Trisnanta. perumahan dan pembuangan air limbah (Notoatmodjo. 1995). sehingga perilaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat ( Notoadmodjo. 1994). tidak berbau. tidak berasa. air tidak berwarna. Menurut model roda timbulnya penyakit sangat tergantung dari lingkungan (Mukono. Sumber air Syarat air minum ditentukan oleh syarat fisik. demam berdarah dengue. kholera. Perbaikan perilaku ibu terhadap balita seperti pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun. a. kimia dan bakteriologis. memberikan imunisasi morbili (Andrianto. seseorang yang keadaan fisik atau daya tahannya terhadap penyakit kurang. 1995). Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat penting terhadap timbulnya berbagai penyakit tertentu. suatu penyakit timbul akibat beroperasinya faktor agen. difteri.

NH4. bermacam-macam cacing seperti cacing gelang. pit sumur penampungan feses atau cubluk. kurang dari 4 setiap 100 cc air. yakni sampah an-organik. mata air. Bangunan kakus yang memenuhi syarat kesehatan terdiri dari : rumah kakus. 2003) c. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain : tipus. kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipergunakan oleh lalat untuk bertelur atau berkembang biak. tidak mengotori air permukaan. Sumbersumber air ini antara lain : air hujan. diare. lantai kakus. schistosomiasis. Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. pita. kakus harus terlindung atau tertutup. tidak mengotori air tanah. air seni dan CO 2. 2003). bidang resapan. kremi. disentri. Jenis-jenis sampah antara lain. disediakan alat pembersih seperti air atau kertas pembersih.air tidak mengandung zat kimia atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan misalnya CO2. H2S. slab. bangunan jamban ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pandangan. (Notoatmodjo. closet tempat feses masuk. Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. b. kolera. Syarat pembuangan kotoran antara lain. coli yang melampaui batas yang ditentukan. pembuatannya mudah dan murah (Notoatmodjo. adalah sampah yang umumnya tidak dapat 14 . sebaiknya semen. air sumur dangkal. tidak mengotori tanah permukaan. tambang. air tidak mengandung bakteri E. air sumur dalam. Pembuangan kotoran manusia Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh seperti tinja. tidak menimbulkan bau. air sungai & danau. Syarat bakteriologis yakni. Pembuangan sampah Sampah adalah semua zat atau benda yang sudah tidak terpakai baik yang berasal dari rumah tangga atau hasil proses industri.

Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut : (Notoatmodjo.. misalnya : sisa makanan. ditempatkan di luar rumah. Pengangkutan dilakukan oleh dinas pengelola sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) • Pemusnahan dan pengelolaan sampah Dilakukan dengan berbagai cara yakni. terutama bakteri patogen. buah-buahan. ditanam (Landfill). plastik. daundaunan. harus tertutup rapat. adalah sampah yang pada umumnya dapat membusuk.membusuk. • Pengumpulan dan pengangkutan sampah Pengumpulan sampah diperlukan tempat sampah yang terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan. tidak mudah rusak. Sampah organik. 2003). luas bangunan rumah. cahaya. Luas ventilasi kurang lebih 15-20 % dari luas lantai rumah • Cahaya 15 . • Ventilasi Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar dan untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri. misalnya: logam/besi. dibakar (Inceneration). Perumahan Keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan higiene dan sanitasi lingkungan. dijadikan pupuk (Composting) d. Adapun syarat-syarat rumah yang sehat ditinjau dari ventilasi. Cara pengolahan sampah antara lain sebagai berikut: (Notoatmodjo. pecahan gelas. 2003).

pembuangan air limbah. gudang. Air limbah Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga. sehingga jika salah satu penghuni menderita penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada anggota keluarga lain. maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera. kandang ternak e. diare.5-3 m2 untuk tiap orang. tempat berkembangbiaknya nyamuk. menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak sedap. terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman. • Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat Rumah yang sehat harus memiliki fasilitas seperti penyediaan air bersih yang cukup. juga merupakan media atau tempat baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit. fasilitas dapur. persyaratan dan upaya sehingga air limbah tersebut tidak 16 . mengurangi produktivitas manusia. karena bekerja tidak nyaman (Notoatmodjo. • Luas bangunan rumah Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2. Usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat buruk tersebut diperlukan kondisi. ruang berkumpul keluarga. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah. kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah. pembuangan sampah.Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni maka menyebabkan kurangnya konsumsi O2. 2003). sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah dan lingkungan hidup lainnya. media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen. typus. industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux. pembuangan tinja.

mengkontaminasi sumber air minum. tidak mencemari permukaan tanah. 17 . tidak mencemari air mandi. 2003). air sungai. tidak terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak mengganggu (Notoatmodjo. tidak dihinggapi serangga. tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor.

3 Variabel bebas : 1.1 Populasi penelitian Populasi dari penelitian ini adalah para ibu atau wali yang anak balitanya dibawa ke Puskesmas X III. Sumber Air minum keluarga 4.3.5.BAB III METODE PENELITIAN III.2 Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di daerah cakupan puskesmas X III.3. Perilaku higiene ibu sehari-hari III.4 Variabel Penelitian III.4. yaitu para ibu atau wali yang anak balitanya dibawa ke Puskesmas X III. Tingkat pendapatan keluarga 3.5 Definisi Operasional III.1 Gejala diare 18 .2 Rancangan sampel Sampel diambil secara langsung dari seluruh populasi. III.3.3 Subjek penelitian III.1 Variabel terikat : Diare pada balita III.3 Jumlah sampel Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak X orang.1 Jenis Penelitan Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei deskriptif analitik didukung dengan pendekatan cross sectional. III.3. Tingkat pendidikan ibu 2.

3 poin. meliputi tidak sekolah.5. sekolah menengah atas (SMA). mencuci dan memakai peralatan makanan yang higienis. dan baik apabila responden melakukan 4-5 perilaku higiene. III. sekolah menengah pertama (SMP). dan air galon. Setiap perilaku higiene yang dikerjakan diberikan poin 1. Menggunting kuku minimal setiap satu minggu sekali. dan menyimpan makanan yang sudah dimasak dengan baik (ditutup/ disimpan dalam lemari pendingin/ tidak membiarkan makanan berada pada suhu kamar terlalu lama). Dinilai kurang apabila perilaku higiene yang dilakukan hanya 1-3 poin. Nilai dibagi menjadi 5 kategori.4 Perilaku higiene ibu sehari-hari Perilaku higiene ibu meliputi cuci tangan setiap sebelum memberikan makan anak dan setiap selesai BAB/membersihkan BAB anak. III. 2 poin. meliputi air ledeng.3. III. 4 poin. sekolah dasar (SD). dan semua poin.5.3 Sumber Air Minum Sumber air yang digunakan oleh keluarga responden untuk minum sehari-hari. dan Perguruan Tinggi. III.5.Gejala diare pada balita adalah buang air besar cair yang frekuensinya lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja. Nilai baik diklasifikasikan menjadi “Higienitas baik”.5. dan nilai kurang diklasifikasikan menjadi “higienitas kurang” untuk memudahkan uji chi-square.3.5.3 Karakteristik Sosiodemografi III.2 Balita Balita adalah bayi dan anak yang belum berusia lima tahun sampai waktu pengumpulan data untuk penelitian ini. 19 .1 Pendidikan ibu Pendidikan adalah ijazah terakhir yang diterima. poin tertinggi adalah 5. air sumur. yaitu melakukan 1 poin. III.2 Tingkat pendapatan keluarga Meliputi beberapa faktor penentu yaitu rata-rata jumlah uang yang dihasilkan oleh keluarga responden setiap bulannya dari pekerjaan utama dan sampingan.5.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai sampel yang datang ke Puskesmas X dengan metode semiterstruktur (penggunaan interview schedule). 20 .III.6 Cara Pengumpulan data Populasi penelitian diambil dari seluruh ibu atau wali yang anak balitanya berobat ke klinik MTBS Puskesmas X Kota Palembang.