BAB ENAM PENYUSUNAN IDENTITAS GAY, LESBIAN, DAN BISEKSUAL

Kelompok gay, lesbian, atau biseksual (GLB) yang ada di perguruan tinggi menghadapi berbagai masalah rumit, mulai dari keinginan untuk menunjukkan keberadaan mereka di kampus, keinginan untuk memperjuangkan kesamaan hak, masalah rasisme dan gender bias (baik di dalam maupun diluar kelompok GLB), sampai masalah eksplorasi identitas. Sebagian besar mahasiswa GLB memulai atau memperdalam penggalian identitas mereka selama masa perkuliahan (Evans & D’Augelli, 1996). Meski mereka mungkin telah menyadari orientasi seksualnya sejak sebelum masuk perguruan tinggi, lingkungan perkuliahan dianggap sebagai lingkungan yang ”lebih aman” untuk mengeksplorasi identitas dan ”menyatakan diri” sebagai gay, lesbian, atau biseksual dibandingkan lingkungan rumah dan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa 10 persen mahasiswa perguruan tinggi menyatakan diri sebagai gay, lesbian, atau biseksual, dan sisanya masih meragukan orientasi seksualnya (Ellis, 1996); dengan demikian, para pegawai bidang kemahasiswaan harus memahami tantangan perkembangan diri yang dihadapi oleh para mahasiswa ini dan harus memberikan dukungan yang tepat untuk membantu mengarahkan lingkungan mereka (Obear, 1991). Berdasarkan sebuah kajian singkat tentang penelitian mengenai homoseksualitas dan perkembangan homoseksual, bab ini akan membahas penyusunan identitas gay, lesbian, dan biseksual dari dua sudut pandang: model psikologi sosial, yang dikemukakan oleh Vivienne Cass (1979), dan pendekatan jangka hidup (life span), yang diutarakan oleh Anthony R. D’Augelli (1994a).

Kajian Historis
Sejumlah penelitian awal yang penting mengenai homoseksualitas, yang saat itu dianggap sebagai penyakit, menitikberatkan pada ”penyebab”nya, agar bisa menemukan ”obat”nya (L.S. Brown, 1995). Salah satu yang menjadi bahan perdebatan utama dalam berbagai literatur adalah pertanyaan mengenai apakah orientasi seksual merupakan sifat bawaan (pandangan kaum esensialis) atau merupakan sifat sebagai tanggapan terhadap konteks dan pengalaman interpersonal dan bisa diubah seiring dengan waktu

Lee (1977). dan perilaku seksual yang dialami seseorang selama hidupnya harus diperhatikan juga untuk bisa mendapatkan gambaran yang akurat mengenai orientasi seksual orang tersebut. fantasi seksual. Klein (1990) menekankan bahwa orientasi seksual mencakup lebih dari sekedar aktivitas seksual. 1991). dan identifikasi diri serta ketertarikan seksual. lesbian. 1995). gaya hidup. 1983-1984). seperti Dank (1971). dan biseksual yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Hencken and O’Dowd (1977). perhatian para peneliti bergeser dari etiologi (penelitian tentang penyebab penyakit) orientasi seksual ke perkembangan atau penyusunan identitas homoseksual (Cass. politik. para penyusun teori identitas homoseksual kemudian menafsirkan istilah ini sebagai identitas gay. Teori-teori sosiologis cenderung menitikberatkan pada dampak Sementara para ahli identitas terhadap masyarakat. Pandangan kaum esensialis dijadikan dasar perjuangan kaum homoseksual untuk memperjuangkan haknya sebagai warga negara sebab pandangan ini menyatakan bahwa manusia tidak bisa ”memilih” orientasi seksualnya dan orientasi seksual tersebut tidak bisa diubah. dan stigma. hanya menitikberatkan pada proses penerimaan GLB mengenai . Kitzinger. Namun. gaya hidup. Identitas homoseksual dibedakan dari tindakan/perilaku homoseksual sebab ada banyak orang yang melakukan berbagai tindakan dan perilaku homoseksual tanpa menyatakan diri sebagai homoseksual (Cass. Para ahli teori sosiologis ini mencakup Warren (1974) dan Dubay (1987). 1995). Istilah “identitas homoseksual” pada awalnya hanya merujuk pada jenis perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Kaum esensialis menyatakan berpendapat bahwa para homoseksual telah ada sejak dulu. dan Coleman (1981-1982). 1991). 1995. pilihan sosial. perkembangan peran sosial. Brown. Dia menyatakan bahwa pilihan emosional. Pada awal tahun 1970-an.S. sementara kaum konstruksionis beranggapan bahwa konsep ”homoseksual” merupakan hasil dari konstruksi sosial dan berubah seiring dengan perubahan definisi sosial (Kitzinger.(pandangan kaum konstruksionis) (L. sosiologis lain. Pengertian yang lebih luas ini umumnya lebih diterima oleh kaum GLB karena konotasinya tidak terlalu negatif (Levine & Evans. 1983-1984). dan hubungan seksual. termasuk aspek emosional. Model penyusunan identitas secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua kategori: model perkembangan sosiologis dan model perkembangan psikologis (Levine & Evans.

Minton and McDonald (1984). dan integrasi (penyatuan) identitas. Setelah mengkaji berbagai model tersebut. Para penyusun teori psikologis. Lesbian dan Biseksual Model Pembentukan Identitas Homoseksual Cass Vivienne Cass (1979) menyajikan model pembentukan identitas homoseksual berdasarkan hasil penelitian klinisnya terhadap kaum gay dan lesbian di Australia. Ada banyak model atau teori yang menyajikan tahapan-tahapan penyusunan identitas secara spesifik (misalnya. Levine dan Evans (1991) mengidentifikasi empat tahap umum perkembangan: kesadaran awal. Lee. dan keputusan personal mengenai manajemen identitas pribadi. seperti Plummer (1975). Pertama. Yang terakhir. kebanyakan penelitian awal mengenai penyusunan identitas homoseksual menitikberatkan pada kaum gay (pria). 1981-1982. mengamati pertumbuhan kesadaran diri.kondisi mereka (coming-out process). sebagian besar model ini sangat menggambarkan tekanan sosial dan politik era 1970-an dimana teori-teori tersebut disusun. keterlibatan dan pengungkapan dalam masyarakat. pelabelan-diri. 1983-1984. dan bukan menggambarkan realita sosial saat itu. Kedua hanya ada sedikit sekali penelitian yang benar-benar menguji model/teori yang disusun. Cass mendefinisikan pembentukan identitas sebagai “sebuah proses dimana seseorang terlebih dulu mempertimbangkan dan kemudian menerima identitas ‘homoseksual’ sebagai salah satu aspek yang relevan dalam dirinya. Ketiga. 1991).” Model pembentukan identitas Cass didasarkan pada asumsi bahwa pemerolehan identitas . Ada sejumlah masalah dengan model-model awal penyusunan identitas ini (Levine & Evans. Troiden. Minton & McDonald. Plummer. Dia juga membahas kemungkinan penerapan model/teorinya pada kaum biseksual pria dan wanita. Teori-teori psikologis menitikberatkan pada perubahan internal yang dialami oleh individu saat mereka mengidentifikasi diri sebagai seorang homoseksual. 1977. model-model ini didasarkan. pada populasi kulit putih yang berpusat di Eropa. secara ekslusif. Teori-Teori Penyusunan Identitas Gay. dan Troiden (1989). 1989). 1975. Coleman.

Cass (1979) menyatakan bahwa penyusunan identitas tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial. Cass menjabarkan enam tahap persepsi (anggapan) dan perilaku. Sementara. Dia menekankan bahwa tidak semua individu melewati semua tahapan yang ada. Konflik ini merupakan akibat dari pergerakan ke tahap baru atau pengungkapan identitas (tetap di tahap baru tersebut atau kembali ke tahap sebelumnya). terjadi konflik antara konsep diri. Individu mungkin bereaksi secara positif terhadap perasaan yang baru disadarinya tersebut dengan mencari informasi lebih banyak. individu tersebut menganggap dirinya seorang heteroseksual. yang menunjukkan bagaimana perasaan seseorang tentang pandangan dirinya dan pandangan orang lain terhadap dirinya sendiri. akan berujung pada penolakan dan penutupan diri. Saat anggapan terhadap diri berubah. dan untuk tiap periode” (hal. yang menunjukkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. 1979). dan persepsi (anggapan) terhadap orang lain. 111). Individu Tahap 1 yang menolak perasaan homoseksualnya mungkin akan melibatkan diri dalam kegiatan “menolak kaum gay” . yang berarti pergerakan ke tahap berikutnya.homoseksual merupakan sebuah proses penyusunan yang dihasilkan dari interaksi antara seorang individu dengan lingkungannya. Tahapan-tahapan tersebut diberi label dan dijabarkan sebagai berikut: Tahap 1: Kebingungan Identitas. Kesadaran awal ini ditandai oleh kebingungan dan kecemasan. untuk tiap situasi. dan menekankan bahwa tiap individu membuat pilihan sendiri dan berperan aktif dalam penyusunan identitasnya. Dia menyatakan bahwa pergerakan seorang individu dari satu tahap ke tahap lain didasarkan pada usaha individu tersebut untuk mengatasi ketidaksamaan antara persepsi terhadap diri dengan persepsi terhadap orang lain. perilaku. mulai dari kesadaran minimal dan penerimaan identitas seksual sampai ke tahap akhir dimana identitas homoseksual diintegrasikan (dipadukan) dengan aspek-aspek lain dalam diri seorang individu (Cass. dan ketertarikan yang bersifat homoseksual. Tahap ini dimulai dengan kesadaran awal seorang individu mengenai pikiran. reaksi negatif. misalnya menolak berbagai bukti homoseksualitas dalam dirinya. Tahapan-tahapan dalam model Cass (1979) memiliki komponen kognitif. Cass (1983-1984) menyatakan bahwa identitas homoseksual berbeda-beda “untuk tiap orang. perasaan. dan komponen afektif. Sebelum tahap pertama.

Individu tersebut akan berusaha mengatasi masalah ini dengan berbagai cara: mencari individu gay dan lesbian lain untuk mengetahui apa sebenarnya makna menjadi gay atau lesbian. Sejumlah individu mungkin memilih untuk “berpura-pura” menjadi heteroseksual.atau secara agresif berusaha melakukan berbagai kegiatan seksual yang bersifat heteroseksual. interaksi negatif akan menyebabkan penolakan identitas (kembali ke identitas/tahap awal sebagai heteroseksual yang tertekan atau homoseksual yang tersembunyi). individu tersebut akan maju ke tahap berikutnya. Jika interaksinya dengan kaum gay dan lesbian lain bersifat positif. Sifat dan jenis hubungan inilah yang akhirnya akan menentukan bagaimana individu tersebut menanggapi dirinya sendiri dan identitas barunya tersebut. Tahap 2: Pembandingan Identitas. mereka mungkin terus mempertahankan identitas heteroseksualnya di mata publik sambil berusaha “menjelaskan” perilaku homoseksual mereka. sebagian lain mungkin akan mengungkapkan identitas homoseksualnya pada orang-orang tertentu. dan sebagian lagi akan menyatakan dengan jelas identitas homoseksualnya kepada masyarakat umum. individu sangat fokus pada . identitas homoseksual mulai diterima dan dipandang secara positif. Pergerakan dari Tahap 1 ke Tahap 2 hanya terjadi jika individu telah menerima kemungkinan bahwa dirinya mungkin gay atau lesbian. terutama dalam masyarakat heteroseksual. atau mereka justru menjalani perilaku homoseksualnya secara utuh dan meninggalkan perilaku heteroseksualnya. dan hubungan pertemanan pun berkembang menjadi persahabatan atau bahkan ‘partner’. individu tersebut berhadapan dengan masalah bagaimana mengatasi alienasi masyarakat (pengucilan sosial) yang biasa diterima oleh identitas homoseksual. Tahap 4: Penerimaan Identitas. Di tahap 2 ini. Di tahap ini. Tahap 5: Kebanggaan akan Identitas. mereka mungkin berusaha mengubah perilaku homoseksualnya. Di tahap ini. Individu yang telah memasuki Tahap 3 mengakui dan menerima bahwa mereka mungkin gay atau lesbian dan mencari kaum gay dan lesbian lain untuk mengurangi perasaan terasing yang dirasakannya. Norma dan perilaku kelompok sosial yang ada di sekitar individu tersebut akan mempengaruhi cara yang dipilih oleh individu tersebut untuk menyatakan dirinya. sementara. Tahap 3: Toleransi Identitas. Hubungan dengan homoseksual lain (gay atau lesbian) lebih sering terjadi.

Merelakan identitas heteroseksual berarti merelakan berbagai kemudahan dan penerimaan sosial yang berhubungan dengan identitas ini. Lesbian. dunia homoseksual dan dunia heteroseksual tidak terlalu dibedakan lagi. menjadi utuh ketika seseorang menginjak awal usia dewasa. individu tidak lagi mempedulikan pandangan orang lain sehingga mereka lebih vokal dan lebih aktif menyatakan identitasnya kepada masyarakat. Identitas yang ditampilkan individu di lingkungan pribadi dan di lingkungan umum menjadi makin sebangun karena individu di tahap ini telah merasa nyaman dan aman dengan identitasnya. Di tahap ini. dan Biseksual D’Augelli D’Augelli (1994a) menentang pandangan kaum esensialis mengenai penyusunan identitas yang menganggap bahwa identitas seseorang terbentuk dalam tahapan-tahapan. dan bertahan sepanjang sisa hidupnya. Tekanan sosial yang disebabkan oleh homophobia. atau biseksual. Model Penyusunan Identitas Gay. lesbian. lesbian. Perasaan bangga terhadap segala sesuatu yang bersifat homoseksual dan marah atau benci terhadap segala sesuatu yang ‘non-homoseksual’ akan mendorong individu bersikap aktif dan berkonfrontasi dengan masyarakat yang menentang homoseksual. Untuk menyusun dan mengembangkan identitas gay.masalah-masalah dan kegiatan-kegiatan homoseksual dan meminimalisir hubungan dengan kaum heteroseksual. serta mengenakan identitas yang direndahkan oleh masyarakat umum. dan individu dinilai berdasarkan kualitas personalnya. yang dibentuk oleh lingkungan dan kondisi sosial serta bisa berubah. bukan lagi berdasarkan identitas seksualnya. seseorang harus merelakan identitas heteroseksual yang telah disandangnya sejak lahir. identitas homoseksual dipandang hanya sebagai salah satu aspek dari diri (identitas). individu yang pengungkapan dirinya diterima secara negatif oleh lingkungan sekitar akan menutupi identitasnya dan kembali ke tahap sebelumnya. atau biseksual yang positif. bukan lagi sebagai keseluruhan identitas individu tersebut. D’Augelli memandang identitas sebagai sebuah ‘konstruksi sosial’. Di tahap ini. Di tahap terakhir penyusunan identitas ini. D’Augelli (1994a) menyatakan bahwa kondisi sosial yang tidak mau menerima orientasi sosial tertentu serta sanksi hukum dan sanksi sosial yang diberikan kepada kaum homoseksual merupakan dua pembatas yang sangat kuat bagi identitas diri gay. Alih-alih. Di tahap ini. Tahap 6: Penyatuan Identitas. rasa takut dan benci berlebihan terhadap kaum .

Hubungan Sosio-historis didefinisikan sebagai norma. kedekatan interaktif (interactive intimacy). “Kelenturan perkembangan” sangat penting dalam teori yang dikemukakan oleh terhadap lingkungan tersebut. D’Augelli (1994a. Subjektivitas dan tindakan personal mencakup pandangan dan perasaan individu mengenai identitas seksualnya dan mengenai perilaku seksual yang dilakukannya. para individu membentuk lingkungannya sambil bereaksi Ada tiga variabel yang saling terkait yang terlibat dalam pembentukan identitas: subjektivitas dan tindakan personal (personal subjectivity and action). Dengan menerima asumsi-asumsi dari model jangka hidup (life span) yang lebih umum (misalnya. Misalnya. lesbian. keyakinan bahwa heteroseksualitas lebih superior (Lorde. dan hubungan sosio-historis (sociohistorical connection). Misalnya. kecemasan. D’Augelli (1994a) menjabarkan sebuah model penyusunan identitas GLB sepanjang 317). . Sebagai akibat dari norma kultural ini. 1987). proses pelepasan identitas heteroseksual dan penerimaan identitas gay. 1988). 1983). 1994b) memandang pembentukan orientasi seksual sebagai sebuah proses penyusunan yang berlangsung seumur hidup. teman. hidup yang mempertimbangkan “berbagai faktor kompleks yang mempengaruhi perkembangan manusia dalam konteks rentang waktu tertentu” (hal. serta makna yang terkandung dalam identitas dan perilaku tersebut. dan perilaku bisa terjadi berkali-kali seumur hidup. kebijakan. Baltes. dan heterosexism. Asumsi-Asumsi dalam Model D’Augelli.homoseksual (Pharr. atau biseksual berjalan lambat. dan penolakan yang dialami oleh individu saat pertama kali menyadari bahwa dia memiliki pikiran dan hasrat homoseksual. Kedekatan interaktif mencakup pengaruh dari keluarga. identitas (homo-)seksual mungkin dianggap sebagai proses sosial atau pengalaman politik. Perubahan dalam hal sikap. dan aturan sosial yang ada di berbagai tempat dan budaya serta berbagai nilai yang ada dalam satu periode historis tertentu. merupakan sumber utama rasa takut. Dalam model ini. dan hubungan dekat (semacam pacaran) serta makna yang terkandung dalam pengalaman individu tersebut dengan orang lain yang penting bagi dirinya. para mahasiswa saat ini memiliki lebih banyak peluang untuk berkumpul dan tinggal dalam masyarakat yang lebih terbuka dalam hal orientasi seksual dibandingkan dengan para mahasiswa di awal abad kedua puluh. perasaan.

D’Augelli menyatakan bawha perbedaan individu cenderung meningkat ketika individu tersebut berada di akhir masa remaja. perasaan. Menyusun identitas lesbian/gay/biseksual untuk lingkungan sosial mencakup . Menyusun status identitas lesbian/gay/biseksual untuk diri pribadi melibatkan “semacam keseimbangan perasaan ketertarikan sosial (socio-affection) yang bersifat personal dan bisa secara efektif merangkum atau menjelaskan pikiran. Yang terakhir. Keluar dari identitas heteroseksual mengharuskan adanya kesadaran bahwa perasaan dan ketertarikan seseorang tidak bersifat heteroseksual serta mengungkapkan pada orang lain bahwa dirinya adalah gay. dan hasrat” (D’Augelli. 325). Konsep kelenturan perkembangan ini menyatakan bahwa “fungsi seorang manusia sangat tergantung pada kondisi lingkungan dan pada berbagai perubahan yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor fisik dan biologis” (hal. Dalam proses ini individu harus menentang mitos mengenai gay. Manusia tidak hanya bereaksi terhadap kondisi sosial. lesbian. 2. sebab saat itu. Penyusunan status identitas persnal harus dilakukan dalam sebuah hubungan dengan orang lain yang bisa membantu memperjelas (memvalidasi) seperti apa menjadi non-heteroseksual itu. kondisi sosial. 1994b) dari pendekatan jangka hidup adalah pandangan tentang perbedaan individu—yang menyatakan bahwa tidak ada dua orang individu yang menjalani proses perkembangan yang sama persis. 320). D’Augelli menekankan dampak yang diberikan oleh individu terhadap perkembangannya sendiri. dan hubungan pertemanan di berbagai tahap kehidupan merupakan tiga faktor penting yang bisa mempengaruhi kelenturan perkembangan identitas. sementara di waktuwaktu lain. identitas seksual bisa saja sangat lentur. manusia menemukan lebih banyak model perilaku dan lebih banyak pilihan mengenai bagaimana mereka akan menjalani sisa hidupnya. atau biseksual yang ada dalam dirinya. atau biseksual. Konsep ketiga yang dipinjam oleh D’Augelli (1994a. 3. Proses Penyusunan Identitas. Perubahan hormonal. identitas tersebut bisa sangat solid. hal. Pada waktu-waktu tertentu. 1994a.D’Augelli (1994a). lesbian dan biseksual. lesbian. 1. Kaum GLB cenderung membentuk sendiri identitasnya sebab budaya heteroseksis di lingkungan kita saat ini tidak memberikan peluang sosialisasi bagi kaum tersebut. D’Augelli (1994a) menjabarkan enam proses interaktif (bukan tahapan) yang ada dalam penyusunan identitas gay. tapi juga membuat pilihan dan mengambil tindakan.

Memasuki komunitas lesbian/gay/biseksual melibatkan proses penyusunan sejumlah komitmen tertentu terhadap berbagai tindakan sosial dan politik. “Definisi operasional kita tentang orientasi seksual harus direvisi. fleksibilitas dan keterikatan. orangtua. Keputusan untuk menjalani proses ini kembali pada tiap individu. 327).pencarian atau penciptaan sebuah jaringan pendukung yang terdiri dari sejumlah orang yang mengetahui dan menerima orientasi seksual individu tersebut. Inti dari proses ini adalah penerimaan dan dukungan dari lingkungan sosial. 4. ada juga individu yang berani melakukannya meski dengan mengorbankan sejumlah hal tertentu (misalnya keluarga. dan dalam hubungannya dengan budaya dan sejarah” (hal. D’Augelli (194a) menyatakan bahwa membangun hubungan positif dengan orangtua setelah pengungkapan identitas akan memakan waktu lama. Untuk merangkum teorinya. D’Augelli (1994a) menyatakan bahwa. Reaksi tersebut juga mungkin berubah seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan kondisi. “kurangnya panduan budaya yang bisa diaplikasikan langsung terhadap kaum gay/lesbian/biseksual cenderung memunculkan ambiguitas dan ketidakjelasan. di berbagai konteks berbeda. D’Augelli (1994a) menyatakan. 5. 331). Mengetahui dan menentukan reaksi sebenarnya dari seseorang yang mengetahui orientasi seksual individu tersebut mungkin membutuhkan waktu lama. Menjadi anak lesbian/gay/biseksual melibatkan proses pengungkapan identitas individu kepada orangtua dan merumuskan kembali hubungan dengan mereka setelah pengungkapan tersebut. Teknik Penilaian . 6. sekaligus mendorong munculnya norma-norma personal yang khusus komunitas itu saja” (hal. perasaan ketertarikan dan perasaan seksual sepanjang hidup manusia. tapi tetap mungkin dilakukan dengan memberikan pelajaran (menerangkan) dan bersabar. atau jabatan). Ada individu yang tidak pernah sampai pada proses ini. sehingga akan terus ada penelitian mengenai keberlangsungan dan ketidakberlangsungan. Menyusun status kedekatan lesbian/gay/biseksual jauh lebih rumit dibandingkan dengan proses penyusunan status kedekatan (dalam arti hubungan dekat/kekasih) heteroseksual sebab kaum GLB cenderung menyembunyikan diri atau tidak terlihat dalam masyarakat kita.

Ukuran Alokasi Tahapan terdiri dari deskripsi sepanjang satu paragraf untuk keenam tahap dalam model identitas Cass (1979) ditambah satu identitas praTahap 1. sementara tiga pertanyaan sisanya untuk memverifikasi bahwa individu tersebut memiliki pikiran.78. kesesuaian antar item berkisar dari r = . Cass (1984) pernah mencoba menilai validitas model yang disusunnya dengan membuat dua buah ukuran.Sebagian besar teori-teori awal mengenai homoseksual dan penyusunan identitas gay. sehingga kedua tahap tersebut tidak bisa dinilai. Penulis juga menemukan adanya hubungan signifikan antara tahapan dengan penilaian kesehatan psikologis serta penyesuaian dengan identitas homoseksual. Cass (1984) meneliti sejauh mana skor di keenam skala KIH mewakili definisi diri yang didapat dari Ukuran Alokasi Tahapan. sejumlah tahapan di KIH diidentifikasi dengan lebih jelas. KIG terdiri dari 45 pertanyaan benar-salah (Brady & Busse. sehingga tidak mungkin melakukan validasi berbagai teori yang telah disusun tersebut. dan tindakan. empat puluh dua diantaranya digunakan untuk menempatkan individu di salah satu dari keenam tahapan Cass. Dalam sebuah studi validitas yang melibatkan 225 pria gay (Brady & Busse. Levine (1997) menunjukkan penggunaan instrumen Brady untuk mengukur tiga Meski hasil penelitiannya menunjukkan kesesuaian secara umum antara kedua instrumen tersebut. . Brady sendirian menyusun sebuah ukuran untuk Model identitas Cass (1979) yang disebut Kuesioner Identitas Gay (KIG). Kuesioner Identitas Homoseksual (KIH) terdiri dari 210 pertanyaan pilihan ganda dan pertanyaan pilihan yang harus dicentang yang menjabarkan perasaan. Tahun 1983. pikiran. Tidak ada ukuran standar urutan penyusunan identitas yang diteorikan. atau biseksual didasarkan pada wawancara yang meminta individu untuk mengungkapkan berbagai pengalaman yang menyebabkan terbentuknya identitas mereka (misalnya. atau perilaku homoseksual. 1994). hanya ada sedikit sekali individu Tahap 1 dan Tahap 2 yang teridentifikasi. 1981-1982. perasaan. yang bisa dianggap sebagai contoh tahapan-tahapan tertentu dalam model identitasnya.44 sampai r = . lesbian. Untuk keempat Tahap lainnya. Tiap individu diminta memilih satu paragraf yang dianggap paling menggambarkan kondisi mereka. Coleman. sebagaimana yang diprediksi oleh model Cass. Ukuran Alokasi Tahapan dan Kuesioner Identitas Homoseksual. 1974). 1994). Warren.

1995). Dia juga menyarankan penggunaan penelitian longitudinal untuk meneliti penyusunan identitas di berbagai periode waktu. namun para remaja tersebut cenderung enggan melabeli diri mereka sebagai gay. Ada lebih banyak remaja yang mengalami ketertarikan erotis terhadap sesama jenis. Titik Tolak. Pengkajian komprehensif terhadap penelitian tentang proses pengakuan identitas (Cohen & Savin-Williams. 195. 1989) menunjukkan bahwa kebanyakan lesbian dan gay yang telah dewasa merasa “berbeda” dari temantemannya di masa kecil karena mereka tidak mengikuti norma perilaku gender yang umum. Kesadaran mereka tentang ketertarikan pada individu bergender (jenis kelamin) sama makin meningkat di masa pubertas. Para peneliti sekarang mulai menggali perbedaan kultural dan gender dalam penyusunan identitas seksual serta proses pengidentifikasian diri sebagai biseksual. 1994b. dan Pola Penyusunan Identitas Untuk mendukung pandangan jangka hidup. Dia menekankan pentingnya penggunaan lebih dari satu ukuran untuk menilai tiap faktor yang mempengaruhi penyusunan identitas di sepanjang masa hidup individu (D’Augelli. para peneliti telah mencatat berbagai pola penyusunan identitas GLB dan memberikan bukti bahwa penyusunan identitas tersebut terjadi pada berbagai rentang usia (D’Augelli. dan tidak yakin tentang orientasi seksual mereka dibandingkan dengan . Savin-Williams. para peneliti telah meneliti proses pengakuan identitas kepada masyarakat (coming-out) dan sejumlah titik tolak (milestone) identitas dalam kehidupan individu gay dan lesbian. 1994b). Namun. Tidak ada ukuran yang tersedia untuk model penyusunan identitas GLB D’Augelli (1994a). Waktu. D’Augelli memperingatkan bahwa meneliti individunya saja tidak cukup untuk dijadikan ukuran penyusunan identitas yang akurat. Savin-Williams.tahap akhir penyusunan identitas lesbian. lesbian. Troiden. atau biseksual karena ketakutan mereka akan penolakan sosial (Cohen & Savin-Williams. “bereksperimen” dengan perilaku sesama jenis. Faktor-faktor yang mempengaruhi dan berhubungan dengan penyusunan identitas gay dan lesbian juga telah diteliti. 1996. Troiden). Penelitian Sedikit sekali penelitian yang meneliti penyusunan identitas dalam hubungannya dengan mahasiswa.

Troiden (1989). Penelitian menunjukkan bahwa pengakuan identitas kepada diri sendiri cenderung terjadi lebih awal.remaja yang memberi label gay. 1991. mereka juga cenderung mengungkapkan identitas homoseksualnya lebih awal dibandingkan dengan remaja di kota kecil (Savin-Williams. pengakuan identitas kepada orang-orang terpilih dan kepada lingkungan secara umum (biasanya setelah masa SMA) merupakan sebuah proses yang bersifat psikologis dan sosiologis (Cohen & Savin-Williams. Dan karena remaja di kota besar memiliki peluang lebih besar untuk bertemu dengan individu GLB dan untuk mengenali budaya gay. Seringkali. Kebanyakan remaja tidak mengungkapkan identitasnya kepada masyarakat umum sampai mereka meninggalkan rumah orangtuanya. Kahn (1991). lesbian. para remaja tersebut mengakui identitasnya pada teman terdekat. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Identitas GLB Individu yang tidak mengikuti norma gender dalam hubungannya dengan penampilan. 1989). Finlandia) mengembangkan konsep diri yang lebih positif dibandingkan dengan remaja dari masyarakat konservatif (Australia. Penelitian Troiden juga menunjukkan bahwa pengalaman homoseksual yang positif sangat mendukung definisi diri GLB dan pengalaman negatif . namun. 1996). terutama teman putri. atau biseksual pada diri mereka sendiri (SavinWilliams). Irlandia) (Ross. dan perilaku cenderung mempertanyakan orientasi seksualnya lebih dini dibandingkan dengan remaja yang mengikuti norma gender tipikal (Troiden. McDonald (1982) melaporkan bahwa rata-rata sebelas tahun berlalu bagi pria gay antara kesadaran awal tentang perasaan sesama jenis dengan pembentukan identitas gay yang positif. Sears. Pengkajian terhadap penelitian terbaru yang dilakukan oleh Savin-Williams 91995) menyatakan bahwa lebih banyak remaja yang mengungkapkan identitasnya di usia yang lebih muda (pertengahan masa remaja) dibandingkan periode sebelumnya. dan mereka mengakui bahwa memberitahu keluarga merupakan tantangan terbesar yang mereka hadapi sebagai seorang gay (D’Augelli. remaja yang tumbuh di lingkungan masyarakat liberal (Swedia. dan Rhoads (1994) melaporkan bahwa keluarga dan teman yang bersifat suportif sangat membantu pembentukan identitas GLB yang positif dan pengungkapan identitas tersebut. D’Augelli. 1991). Selain itu. 1989). ketertarikan. 1995. 1991).

akan menghambat proses identifikasi tersebut. Faktor-faktor ini sama sekali tidak dipengaruhi oleh tahap penyusunan identitas gay. 1996. Kaum Latin (Latina dan Latino) . Rhoads (1994) menemukan bahwa menyembunyikan identitas sangat menghambat perkembangan hubungan mendalam bagi mahasiswa (pria) gay dan biseksual. 1994). Penyusunan Identitas dan Perilaku Para pria yang memiliki identitas gay positif lebih berpartisipasi dalam budaya gay dan lebih mungkin mengungkapkan identitasnya pada orang lain (McDonalds. definisi perilaku homoseksual dan biseksual dalam budaya Hispanik berbeda dari definisi perilaku tersebut di budaya Kulit Putih. 1995). Rhoads. Cain menyatakan bahwa penerimaan identitas diri sama sekali tidak mempengaruhi keputusan untuk mengungkapkan identitas tersebut kepada orang lain. Troiden. Namun. seperti yang ditemukan oleh Rhoad. 1989). dan orang lain. Pengakuan diri sebagai gay atau lesbian diketahui mendukung kepercayaan diri dan proses penyesuaian identitas (Cohen & Savin-Williams. Cain (1991) menemukan sejumlah masalah situasional dan masalah hubungan yang mempengaruhi apakah serta bagaimana seorang pria mengungkapkan orientasi seksualnya pada keluarga. Penyusunan Identitas dan Kesehatan Psikologis Tahap-tahap awal penyusunan identitas seringkali diasosiasikan dengan perasaan terasing. 1989). Perbedaan Kultural dalam Penyusunan Identitas GLB Pengaruh budaya terhadap penyusunan identitas GLB sangat besar (Chan. bersikap terbuka terhadap identitas diri berarti mengambil resiko untuk menghadapi penghinaan. bagi pria biseksual dan gay. Brady dan Busse (1994) menemukan hubungan positif antara tahapan penyusunan identitas dalam model Cass dengan kesehatan psikologis para para pria gay. dan diskriminasi. teman. kekerasan. dan kebingungan (Buhrke & Stabb. 1994. Misalnya. Troiden. 1982). 1995. Para pria gay dan biseksual yang bersikap terbuka terhadap identitasnya juga cenderung lebih bersikap politis dan mau menghadapi konfrontasi dalam memperjuangkan hak kaum gay (Rhoads. kecemasa.

dan homoseksualitas hanya bisa diungkapkan jika identitas tersebut tidak mengganggu peran seseorang dalam keluarganya (misalnya. 1995). konsep mengenai identitas seksual yang bertentangan dengan harapan keluarga sama sekali tidak ada. Berkebalikan dari budaya-budaya yang dibahas diatas. Sejalan dengan norma kultural ini. warga Amerika keturunan Asia yang secara terbuka mengungkapkan identitasnya sebagai gay. Seringkali. namun mereka sama sekali tidak berperan aktif secara politik dan sangat enggan mengungkapkan identitas gay mereka kepada orangtua masing-masing. Pengaruh keluarga dan agama juga membuat proses pengungkapan identitas diri kepada orang lain sangat sulit bagi kaum AfroAmerika (warga Amerika keturunan Afrika) (Walls & Washington. 1991). 1991). atau biseksual lebih terakulturasi dengan nilai-nilai Amerika. yaitu Toleransi Identitas dan Penerimaan Identitas. budaya Amerika Asli justru menerima dan menghargai kontribusi kaum GLB (Williams. atau perempuan sebagai ibu) (Chan. 1989). sehingga mereka kesulitan dalam proses penerimaan identitas diri sebagai gay (Icard. sebab dalam budaya Latino. keharusan untuk mengikuti peran gender yang umum sangat menekan para pria. Dalam budaya Asia. dan lebih sering mengungkapkan identitasnya kepada warga non Asia dibandingkan pada warga Asia (Chan. 1996). Wooden. dan Mayeda (1983) menemukan bahwa 13 orang pria gay Amerika keturunan Jepang yang menjadi subjek penelitian mereka hanya berada di tahap ketiga dan keempat dalam model Cass. Manalansan (1996) menemukan bahwa komunitas Afro-Amerika lebih toleran terhadap kaum gay pria selama mereka tidak terlalu mengungkapkan identitasnya tersebut. Kawasaki. 1989). konsep gay dan lesbian hanya berlaku untuk orang kulit putih (Morales.lebih sering mengidentifikasi dirinya sebagai biseksual daripada gay atau lesbian. Manalansan (1996) menyatakan bahwa tidak semua warga Amerika keturunan Asia memiliki pandangan yang sama mengenai homoseksualitas dan memberikan bukti bahwa menjadi gay sama sekali bukan masalah bagi banyak warga Amerika keturunan Filipina yang diwawancarainya. Namun. peran laki-laki sebagai ayah. Namun. 1985-1986). Dalam . lesbian. Di komunitas kulit hitam. Pengaruh kuat dari keluarga dan agama juga diketahui menghambat proses pengungkapan identitas diri kepada orang lain di budaya Hispanik (Wall & Washington.

dan pengungkapan kedekatan.budaya Amerika Asli. dibandingkan dengan penyusunan identitas gay (Kahn. 1985-1986). mereka cenderung membutuhkan pengalaman keterlibatan dalam hubungan lesbian sebelum bisa menerima dan mengakui identitas lesbiannya (Buhrke & Stabb. Karena pengalaman sosial remaja wanita sangat menekankan peran heteroseksual. Orang-orang dengan dua jiwa dianggap sebagai orang yang lahir dengan kelainan. Berbagai penelitian ini menunjukkan adanya fleksibilitas orientasi seksual dan bahwa pandangan mengenai orientasi seksual sangat tergantung konteksnya. Dalam budaya ini. seksualitas dianggap sebagai bentuk rekreasi (kesenangan). Penyusunan Identitas Lesbian Penelitian mengenai penyusunan identitas lesbian sedikit sekali dilakukan. Penelitianpenelitian yang ada menunjukkan bahwa pengalaman penyusunan identitas lesbian sangat bervariasi dan waktu terjadinya juga sangat beragam. Ponse. 1989). 1991. 1984. 1995). Golden (1996) menemukan bahwa sejumlah lesbian menyatakan bahwa orientasi seksual mereka berada diluar kendali mereka. Tidak seperti kaum gay pria. Penyusunan Identitas Biseksual . dan keluarga memainkan peran penting dalam membantu anak-anak dan remaja memahami peran yang akan mereka mainkan dalam masyarakat. Wall dan Washington (1991) menemukan bahwa para GLB dari etnis kulit berwarna sangat sulit menyeimbangkan kedua identitas tersebut untuk bisa merasa nyaman dengan identitasnya. para wanita biasanya mengungkapkan dirinya sebagai lesbian sebelum secara aktif memasuki komunitas GLB (Grammick. 1980). relaksasi (ketenangan diri). sementara para lesbian lain menyatakan bahwa mereka orientasi seksual tersebut merupakan pilihan sadar. Memadukan dua identitas utama (homoseksual dan identitas etnis) merupakan masalah penting bagi kaum GLB yang juga merupakan anggota ras/etnis minoritas (Loiacano. homoseksual disebut sebagai “orang dengan dua jiwa”. Sopie.

penyusunan identitas biseksual sangat menantang (Paul. Williams. Akhir-akhir ini. Kaum biseksual umumnya menyadari identitas dirinya dua atau tiga tahun lebih lama dari kaum gay atau lesbian (Fox. Kebanyakan biseksual wanita pada awalnya mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual dan kemudian baru menyadari perasaan homoseksualnya. Orientasi seksual kaum biseksual dewasa tidak terlalu tergantung pada orientasi seksual mereka sebelum dewasa (Weinberg & Hammersmith. dan menyesuaikan diri dengan identitas baru tersebut. kurangnya penerimaan oleh kaum gay dan lesbian serta kaum heteroseksual membuat Penerapan . biseksualitas telah diterima sebagai sebuah orientasi seksual tersendiri. berangkat dari identitas homoseksual.Pada awalnya. 1993). hubungan yang dijalani oleh individu. para ahli teori penyusunan identitas memandang biseksual sebagai salah satu bentuk penyembunyian identitas homoseksual atau sebagai tahap transisi antara identitas heteroseksual dan identitas gay dan lesbian (Fox. dibandingkan dengan pria. sementara kebanyakan pria justru sebaliknya. Mereka juga menyatakan bahwa seringkali ada tahap keempat. Kebanyakan kaum biseksual dalam penelitian Bell dkk (1981) menyatakan bahwa mereka mengalami konflik dalam menyeimbangkan berbagai variabel yang terkait dengan ketertarikan dan perilaku seksual mereka namun seiring dengan berjalannya waktu merasa lebih aman dengan identitas biseksual tersebut. Namun. 1996). baru menemukan identitas biseksualnya (Bell dkk. 1995). Konteks sosial. dan Pryor (1994) mengemukakan tiga tahap penyusunan identitas biseksual: kebingungan awal. Weinberg. dan seberapa terbuka individu tersebut terhadap biseksualitas sangat mempengaruhi cara mereka menafsirkan identitas mereka (Fox. yaitu kebingungan lanjutan. 1981). Menggunakan tiga penelitian yang dilakukan pada tahun 1980-an. menemukan dan memakai label (identitas). Biseksualitas tidak terlalu menjadi masalah bagi wanita. 1995). Rust.. yang dialami oleh kaum biseksual karena kurangnya penerimaan (validasi) atas orientasi seksual ini. Namun. 1995). para peneliti lain menyimpulkan bahwa penyusunan identitas biseksual merupakan sebuah proses rumit yang tidak bisa dimasukkan dalam tahapan-tahapan linear seperti itu.

Sedikit sekali perhatian yang diberikan untuk meningkatkan pengalaman mahasiswa GLB di kampus. perkembangan dalam kelompok pertemanan. Literatur mengenai konseling terhadap para mahasiswa GLB menekankan pentingnya mengakrabkan diri dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa di berbagai tahap penyusunan identitas. menggali kemungkinan bekerja (karir). Groves & Ventura. Ditekankan juga pentingnya bagi terapis untuk menyadari dan mengatasi pandangan mereka sendiri mengenai homoseksualitas dan memberikan lingkungan yang suportif bagi pengembangan diri kliennya (Eldridge & Barnett. 1983). 1982). Hampir semua literatur yang ada hanya membahas intervensi terapis terhadap mahasiswa GLB dalam seting konseling. terutama tantangan yang dihadapi dalam hubungan dengan orangtua dan keluarga. Sophie. 1987. . Hetherington. 1991. dan hampir tidak ada literatur yang didasarkan pada teori identitas. dan mengungkapkan identitas pada diri sendiri dan orang lain (Browning. 1991. pengembangan hubungan dekat (semacam pacaran).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful