BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, Mycobacterium Bovis atau Mycobacterium Africanus. Namun hamper semua penyakit Tuberkulosis pada manusia disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Davis, 1998).

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat pula menyerang organ lainnya (Depkes RI, 2002). Saat ini diperkirakan terdapat 9 juta orang menderita TB setiap tahunnya dan 3 juta diantaranya terdapat di Negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Negara berkembang lainnya. Setiap tahunnya, sekitar 2 juta orang meninggal karena menderita penyakit TB di seluruh dunia

(Warta Gerdunas, 2003). Oleh karena itu jika tidak dilakukan antisipasi pencegahan dan pengobatan yang adekuat, maka antara tahun 2002 sampai dengan 2020, diperkirakan 1 milyar orang akan terinfeksi dengan Mycobacterium Tuberculosis. Sekitar 150 juta orang akan menderita sakit dan diperkirakan pula sekitar 36 juta orang akan meninggal. Disamping itu dengan menurunnya kualitas pelayanan kesehatan serta meningkatnya penyebaran penyakit HIV/AIDS akan semakin meningkatkan jumlah penderita TB dan munculnya strain mycobacterium yang resisten terhadap beberapa obat TB standar (Multi Drug Resistant TB/MDR-TB), serta semakin meningkatkan kekhawatiran pandemik penyakit TB (ALA 2002 dan WHO 2002).

yang sebenarnya dapat dicegah.5% (target 60%). Di Negara-negara berkembang kematian karena tuberculosis merupakan 25% dari seluruh kematian. sebanyak 1. Conversion Rate 93% (target 60%). Bukan Cuma penularan. . Sepuluh persen penderita TBC di dunia adalah orang Indonesia.000 orang meninggal akibat penyakit TBC. jumlah suspek sebanyak 60. tingginya prevalensi TBC disebabkan oleh banyaknya pengidap TBC jenis menular di Indonesia. Menurut laporan Subdin P2&PL Dinas Kesehatan Propinsi Sul-Sel sampai dengan triwulan IV tahun 2004. 75% penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Case Detection Rate (CDR) 69. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang.000 penduduk Indonesia terdapat 125 orang penderita TBC menular. Survey TBC Nasional pada tahun 2004.747. Dengan munculnya epidemic HIV/AIDS di dunia maka jumlah penderita TBC akan meningkat. memperlihatkan bahwa pada tiap 100.000 orang diantaranya adalah jenis TBC menular. penyakit tuberculosis masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di masyarakat.Riset terbaru Word Health Organization (WHO) pada tahun 2005 menunjukkan bahwa setiap tahunnya.897.196 orang. Demikian halnya di Sulawesi Selatan. WHO juga mengemukakan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus TBC terbesar ketiga di dunia. Survey yang sama menunjukkan bahwa setiap dua menit akan muncul satu penderita TBC baru di Indonesia. dengan 3. tingkat kematian akibat TBC di Indonesia tercatat sangat tinggi.

Keadaan tersebut disebabkan karena adanya kegiatan sosialisasi. Sejak tahun 1995. program pemberantasan penyakit tuberculosis telah dilaksanakan dengan menggunakan strategi Directly Observed Treatment.3%) orang.kasus baru sebanyak 1. Dengan .466 orang dengan penderita yang sputum BTA positif sebanyak 1. Tahun 2005 jumlah penderita TB paru BTA positif sebanyak 85 orang.722 orang. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost-effective.868 orang.2%) orang dan penderita yang sembuh sebanyak 1002 (65. kasus baru. menurun dibnading pada tahu 2004. kambuh dan penderita yang diobati. Penanggulangan dengan strategi DOTS dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. pada tahun 2004 jumlah penderita tuberculosis yang ada di Puskesmas maupun Rumah Sakit yaitu penderita TB paru klinis sebanyak 9. pada tahun 2004 jumlah penderita TB paru BTA positif sebanyak 90 orang. dengan angka konversi 87% an angka kesembuhan 84%. 2004). yang kambuh 48 kasus dan penderita yang diobati sebanyak 8. Di Kota Makassar. Kemudian berkembang seiring dengan pembentukan GERDUNASTBC. Shortcourse Chemotherapy (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO. maka pemberantasan penyakit tuberculosis berubah menjadi program penanggulangan tuberculosis. Bila dibandingkan dengan tahun 2003 pada periode yang sama terjadi peningkatan baik jumlah suspek.534 (16. Sementara di Puskesmas Kassi-Kassi. peran serta lintas program dan lintas sektoral dalam pemberantasan penyakit ini (Dinkes Sulsel.

penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik dilakukan pada mereka yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan karena adanya keluhan paru dan pernafasan. Keempat.strategi DOTS. Strategi DOTS mengandung lima komponen. pendekatan ini disebut Passive Care Finding. jaminan tersedianya obat secar teratur. menyeluruh dan tepat waktu. tetapi juga akan memepengaruhi peningkatan Case Detectioin Rate (angka penemuan kasus baru). tuntas dan tepat waktu. 2000). penanggulangan TBC di Indonesia ditekankan pada tingkat kabupaten/kota. sehingga dapat diharapkan terjaminnya keteraturan pengobatan. adanya jaminan komitmen pemerintah untuk menanggulangi TB. Selain itu petugas PMO diharapkan dapat membantu dalam penemuan kasus penderita TB baru sehingga keberadaan petugas PMO bukan hanya mempengaruhi peningkatan CureRat (angka kesembuhan) saja. Kelima. berkesinambungan. teratur. pemberian obat diawasi secara langsung atau dikenal dengan istilah Directly Observed Treatment. system monitoring. Sebagaimana disebutkan di atas. pencatatan dan pelaporan yang baik (Aditama. Keberadaan petugas PMO inilah yang akan mengawasi dan mendampingi penderita selama pengobatan sehingga patuh berobat. . salah satu komponen pengobatan DOTS-TB adalah pengobatan panduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh petugas Pengawas Minum Obat (PMO). Pertama. Ketiga. Kedua.

Faktor apakah yang paling berhubungan dengan kinerja pengawas menelan obat (PMO). supaya semua kuman (termasuk kuman persisten) dapat dibunuh (depkes.Seorang petugas PMO yang terpilih akan memulai bertugas sejak seseorang didiagnosa sebagai penderita TB dan mulai diobati dengan metode DOTS. B. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan seorang petugas PMO memiliki kinerja yang baik dan mampu bekerja sesuai tugasnya. Identifikasi factor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pengawas minum obat (PMO). Faktor-faktor apa yang berhubungan dengan kinerja pengawas menelan obat (PMO). dalam jumlah yang cukup dan dosis tepat selama 6 sampai 8 bulan. Pengobatan TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari berbagai jeins. yang . 2. Petugas PMO di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar untuk periode pengobatan November 2005 sampai dengan Mei 2006 berjumlah 31 orang yang masing-masing mengawasi 1 orang penderita TB. Selama bertugas sebagai PMO belum diketahui secara jelas kinerjanya dan factor-faktor apa yang berhubungan dengan kinerja seorang petugas PMO. 3. 2002). sehingga penulis berkeinginan untuk mengadakan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Pengawa Menelan Obat (PMO) pada Program Pengobatan TB dengan Strategi DOTS Di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar”. RUMUSAN MASALAH 1.

. h. Diketahuinya hubungan umur dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). e. Diketahuinya hubungan tingkat pendidikan dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). Diketahuinya factor yang paling besar hubungannya dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). 2. g. Tujuan Umum Diperoleh gambaran mengenai factor-faktor yang berhubungan dan paling berhubungan dengan kinerja pengawas menelan obat (PMO) pada program pengobatan TB dengan strategi DOTS di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Diketahuinya hubungan persepsi dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). Diketahuinya hubungan kemampuan dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO).C. d. Diketahuinya hubungan motivasi dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). f. TUJUAN PENELITIAN 1. Teridentifikasinya factor-faktor yang berhubungan dengan kinerja pengawas menelan obat (PMO). b. c. Diketahuinya hubungan lama kerja dengan kinerja pengwas menelan obat (PMO). Tujuan Khusus a.

3. Manfaat Praktis Sebagai informasi bagi instansi terkait khususnya di Kota Makassar dan di Indonesia pada umumnya mengenai penanggulangan TB dengan strategi DOTS. .D. Manfaat Bagi Institusi Hasil penelitian ini sebagai sumber informasi bagi Puskesmas Kassi-Kassi dan Dinas Kesehatan Kota Makssar serta pihak lain dalam mnentukan arah kebijakan dan pengembangan program serta upaya dalam pemilihan seorang petugas PMO pada program pengobatan TB dengan strategi DOTS. 2. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Ilmiah Hasil penelitian ini sebagai sumbangan ilmiah dan bahan bacaan bagi masyarakat dan peneliti selanjutnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful