You are on page 1of 7

Aliran±aliran Pendidikan dalam Filsafat Pendidikan

Abstrak Pendidikan yang diberikan harus didasarkan atas landasan pelaksanaan pendidikan, kebutuhan peserta didik serta tujuan yang hendak dicapai lewat proses pendidikan tersebut. Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli. Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat. Filsafat pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat dan isi yang ideal dari pendidikan. Pada intinya filsafat pendidikan mempertanyakan sejumlah pertanyaan penting sebagai berikut : pengetahuan apa yang paling berharga, pengetahuan apa yang mesti diajarkan, apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan, bagaimana manusia belajar, bagaimana sebaiknya hubungan antara guru dan siswa. Untuk menjawab kelima pertanyaan di atas terdapat sejumlah mazhab atau aliran filsafat yang lazim dirujuk dalam pendidikan, yaitu : esensialisme, perrenialisme, progresivisme, eksistensialisme, rekonstruksi dan pedagogi kritis. Pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengenalkan manusia terhadap realita kehidupannya. Dalam hal tersebut secara jelas bahwa pendidikan yang diberikan harus didasarkan atas landasan pelaksanaan pendidikan, kebutuhan peserta didik serta tujuan yang hendak dicapai lewat proses pendidikan tersebut. Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli. Walaupun kenyataannya berbagai pemikiran yang kemudian menjadi ³mazhab´ dalam penyelenggaraan pendidikan dicetuskan beberapa puluh tahun yang lalu, bahkan beberapa ratus tahun yang lalu, namun nampak nyata bahwasanya pemikiran tersebut sangat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan pada masa kini. Pemikiran para ahli tersebut lazimnya dikatakan sebagai aliran pendidikan atau ada pula yang menamakan sebagai mazhab filsafat pendidikan. Contoh daripada aliran-aliran tersebut ialah esensialisme, perrenialisme, progresivisme, eksistensialisme dan rekonstruksi. Kesemua aliran tersebut memiliki ciri yang khas baik dari segi tujuan maupun metoda pengajaran dalam pendidikan yang telah dicetuskan oleh para ahli. Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat. Disamping itu para tenaga kependidikan juga diharapkan dapat memiliki bekal dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Filsafat pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat dan isi yang ideal dari pendidikan. Pada intinya filsafat pendidikan mempertanyakan sejumlah pertanyaan penting sebagai berikut : pengetahuan apa yang paling berharga, pengetahuan apa yang mesti diajarkan, apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan, bagaimana manusia belajar, bagaimana sebaiknya hubungan antara guru dan siswa. Untuk menjawab kelima pertanyaan di atas ada sejumlah mazhab atau aliran filsafat yang

1

progresivisme. yaitu : esensialisme. Siswa seyogyianya diajari gagasan besar agar mencintainya. Chaedar Alwasilah. Akar filsafat ini datang dari gagasan besar Plato. Aliran ini mengikuti paham realisme. dan (4) pendidikan adalah kegiatan liberal untuk mengembangkan nalar. (3) kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung. berhitung dan komputer agar memiliki literasi literasi kultural yang memadai. dan kesusasteraan. Mata pelajaran tradisional yang lazim dianggap penting antara lain matematika. analitik. (2) pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran. Pendidikan hendaknya menekankan pemahaman dunia lewat percobaan saintifik dan penguasaan ilmu-ilmu alamiah daripada ilmu-ilmu seperti filsafat atau agama. liberal bukan vokasional. Aristoteles dan kemudian dari St. Ajaran yang mesti diberikan kepada siswa antara lain hormat kepada kekuasaan. dan bahasa asing. Berbeda dari esensialis. Pembuatan rangkuman ini bersumber dari bab mengenai filsafat pendidikan dari buku karya A. Perrenialisme Perennial berarti everlasting. eksperimen saintifik dianggap mengurangi pentingnya kapasitas manusia untuk berpikir. membaca. Kurikulum sekolah menengah seyogyianya terdiri atas sains.lazim dirujuk dalam pendidikan. taat menjalankan kewajiban. sejarah. ketabahan. Semuanya ini merupakan alat pendidikan liberal dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan personal dan sosial. IPA. kejadian. dan menguasai hal-hal praktis. Paham ini populer pada tahun 1930an dengan pelopornya William Bagley (1874-1946). Kaum perrenialis mendasarkan teorinya pada pandangan universal bahwa semua manusia memiliki sifat esensial sebagai mahluk rasional. perrenialisme. Siswa SD harus menguasai menulis. Sekolah adalah lembaga yang didesain untuk menumbuhkan kecerdasan. bahasa asing. agar siswa mampu berpikir mendalam. sejarah. tenggang rasa kepada orang lain. Pendidikan menurut filsafat ini mesti membangun sejumlah mata pelajaran yang umum bukan spesialis. berjudul Filsafat Bahasa dan Pendidikan terbitan UPI dan Rosda Karya. bahasa inggris. Ada empat prinsip dari aliran ini : (1) kebenaran bersifat universal dan tidak tergantung pada tempat. yang bertujuan untuk mengetahui berbagai macam aliran pendidikan yang ada dalam dunia pendidikan. dan penuh imajinatif. Esensialisme Mungkin deskripsi yang paling mengena bagi mazhab ini adalah ³tradisional´. Sekolah seharusnya mengajarkan nilai-nilai moral tradisional dan pengetahuan agar siswa kelak menjadi warganegara teladan. gagasan dan institusi publik. dan orang. waktu. Dengan cara inilah pendidikan akan memenuhi fungsinya humanistiknya yang mesti dimiliki manusia. sehingga mereka menjadi intelektual sejati. Filsafat ini berdasarkan filsafat konservatif bahwasanya sekolah itu tidak dapat mengubah masyarakat secara radikal. Thomas Aquinas yang sangat berpengaruh pada model-model sekolah Katolik. yang humanistik bukan teknikal. Mazhab ini diberi label demikian karena upayanya dalam menanamkan pada para siswa apa yang menjadi esensi dari ilmu pengetahuan dan pembangunan karakter siswa. yang sejalan dengan pemikrian Aristoteles bahwa manusia itu rasional. atau back to basics. jadi tidaklah baik menggiring dan mencocok hidung mereka ke penguasaan keterampilan vokasional. matematika. rekonstruksi dan pedagogi kritis. yakni memiliki pengetahuan ihwal orang. eksistensialisme. tahan lama atau abadi. fleksibel. kembali ke khittah. Pelajaran filsafat dengan demikian menjadi penting. Mata-mata pelajaran yang bersifat vokasional atau kurang akademik kurang berkenan bagi kelompok ini. Progresivisme 2 .

definiskan problem itu.Aliran ini lengket dengan nama besar John Dewey (1859-1952) yang mngembangkan Sekolah Laboratorium di Chicago. setiap orang memiliki keinginan untuk bebas (free will) dan berkembang. Nietzsche (1811 ± 1900) dan Jean Paul Sartre. uji telik konsekuensi setiap hipotesis dengan melihat pengalaman silam. Aliran ini menghormati perseorangan. berpikir bebas dan cerdas. Inti ajaran ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Para pendidik aliran ini sangat menentang praktik sekolah tradisional. Semua itu merupakan alat untuk memungkinkan 3 . (2) terlampau mengandalkan metode berbasis buku teks. kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih siswa. alami dan tes solusi yang paling memungkinkan. ‡ Guru membangkitkan minat siswa melalui permainan yang menantang siswa untuk berpikir. bukan sekedar menyiapkan siswa untuk kehidupan dewasa. bukan hanya sebagai pembangunan nalar. maka kaum eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh. dan menerima perubahan sesuai dengan perkembangan. Eksistensialisme Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme. Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan membiarkan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. dan (5) penggunaan rasa takut atau hukuman badan sebagai alat untuk menanamkan disiplin pada siswa. Dewey mengajarkan metode ilmiah dengan langkah-langkah sebagai berikut : sadari problem yang ada. Filsafat yang dianut Dewey adalah bahwa dunia fisik itu real dan perubahan itu bukan sesuatu yang tak dapat direncanakan. ‡ Siswa didorong untuk berinteraksi dengan sesamanya untuk membangun pemahaman sosial. sains. ‡ Pendidikan sebagai proses yang terus menerus memperkaya siswa untuk tumbuh. yang para tokohnya antara lain Kierkegaard (1813 ± 1915). indah dan jelek. Pendidikan seyogyanya menekankan refleksi yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri. ‡ Kurikulum menekankan studi alami dan siswa dipajankan (exposed) terhadap perkembangan baru dalam saintifik dan sosial. khusunya dalam lima hal : (1) guru yang otoriter. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri. yakni terisolasinya pendidikan dari kehidupan nyata. Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar. Eksistensi mendahului esensi. Proses belajar mengajar di kelas ditandai dengan beberapa hal antara lain : ‡ Guru merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa. salah. ajukan sejumlah hipotesis untuk memecahkannya. Tidak ada bentuk universal. dan drama. antara lain dalam bentuk karya sastra film. Sekolah mesti membuat siswa sebagai warganegara yang lebih demokratik. Aliran ini menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat siswa. Untuk memecahkan problem. Pendidikan dengan demikian adalah rekonstruksi pengalaman. Bagi Dewey ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dan dikembangkan dengan mengaplikasikan pengalaman. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar. Manusia adalah pencipta esensi dirinya. Perubahan dapat diarahkan oleh kepandaian manusia. ‡ Selain membaca buku siswa juga diharuskan berinteraksi dengan alam misalnya melalui kerja lapangan atau lintas alam. lalu dipakai untuk menyelesaikan persoalan baru. Sejalan dengan tujuan itu. Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masingmasing. (3) pembelajaran pasif dengan mengingat fakta (4) filsafat empat tembok.

Bila tujuan pendidikan untuk menyiapkan anak didik sebagai pengubah dunia. Dengan menguasai bahasa sampai tingkat literasi tinggi seseorang dapat menggapai kekuasaan dan mampu mentransformasi kebudayaan. dan kehidupan yang lebih memuaskan dirinya dan masyarakatnya. Illich melihat keterkaitan bahasa dengan kekuasaan. Illich dalam bukunya Deschooling Society (1970) mempertanyakan apakah dunia ini rela membiarkan mayoritas penduduk tidak sekolah. membiarkan drop out anak-anak dari golongan kelas bawah. Pedagogi Kritis Teori ini bernafsu untuk mengidentifikasi minat dan motivasi politik sosial dari sebuah dominasi kekuasaan (ilmu pengetahuan dan kebudayaan secara umum). di balik sistem persekolahan itu ada ideologi yang mendominasi yang harus dicermati dengan kritis dengan mengkaji sejumlah ideologi alternatif. Theodore Brameld. Bila diaplikasikan dalam bidang pendidikan maka teori kritis ini memunculkan pendekatan critical pedagogy dan salah satu pelopornya adalah Henry Giroux. siswa dan 4 . Dalam teori ini maka pendidik harus mempunyai keahlian sebagai berikut : ‡ Untuk menganalisis sistem yang ada secara politis.siswa µberfilsafat¶ ihwal makna dari pengalaman hidup. Pendekatan ini antara lain menekankan pentingnya memberdayakan dan mendidik siswa agar mampu memecahkan masalah dan mampu berpikir kritis. yakni realisasi diri. Persamaan antara dua aliran filsafat ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat relatif dan semua manusia mengelola dunia ini untuk memahaminya dan mengubahnya. cinta dan kematian. ‡ Untuk memahami kultur yang mendominasi sistem persekolahan. diperlukan pemahaman atas suara ideologis dari tiga kelompok besar. kepercayaannya. Guru dengan demikian memiliki peran penting dalam mengubah kebudayaan. Dalam bukunya Education for the Emerging Age (1950) Brameld menyarankan bahwa tujuan pendidikan bukan untuk memperoleh kredit atau sekedar pengetahuan. di balik ilmu pengetahuan yang dpelajari di sekolah dan kebudayaan yang dominan dalam sistem persekolahan sesungguhnya ada minat dan vested interest dari kelompok tertentu. Mereka kritis terhadap masyarakat kontemporer dan dianggap sebagai penggiat sosial yang peduli terhadap isu-isu nasional dan internasional. Pengetahuan. tetapi untuk melonggarkan pelembagaan (deinstituionalize) pengalaman pendidikan di sekolah. yakni demi transformasi dunia ini lewat rekonstruksi sosial. agar siswa mampu mentransformasi kultur yang ada. pelatihan dan keterampilan adalah alat untuk mencapai tujuan ini. Pendidik sering disebut critical educator yang secara kritis mempertanyakan kultur yang sudah mapan atau dominan dan menjadikannya sebagai objek analisis politik. Aliran rekonstruksi menginginkan transformasi kultur yang ada berdasarkan analisis terhadap ketidakadilan dan kesalahan-kesalahan mendasar dalam praktik-praktik pendidikan selama ini. diperlukan penguasaan bahasa kritis demi pemahaman yang sempurna. dan Paulo Freire. Rekonstruksi Aliran rekonstruksi memiliki akar-akar filsafat eksistensialisme namun terutama berlandaskan pada pemikiran aliran progresif. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1995). yaitu pihak sekolah. Ivan Illich. Maksudnya adalah demi emansipasi dan pencerahan. maka sekolah harus membekali siswa dengan alat untuk melakukan perubahan. Pedagogi kritis mempunyai gambaran sebagai berikut : memiliki kepedulian tinggi terhadap ketidakadilan sosial sebagaimana tercermin dalam sistem pendidikan atau persekolahan. Illich menekankan pentingnya kemampuan manusia untuk mengidentifikasi dan mempertanyakan asumsi-asumsi ihwal hakikat dunia lewat dialog dan diskusi. Tokoh-tokoh besar aliran ini antara lain George Counts. tetapi memberi manusia apapun rasanya. Konstribusi aliran ini bukan untuk menghapus sekolah.

tujuan pendidikan ialah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama. Berikut delapan dalil dari critical pedagogy : ‡ Pendidikan memproduksi bukan hanya pengetahuan tapi juga politik. Sedangkan guru secara moral harus merupakan orang yang dapat dipercaya dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam mengarahkan proses belajar dan metode pembelajaran ditekankan pada guru. penindasan. bahasa dan gender. 2007 : 161). Chaedar Alwasilah ini sangat membantu kita dalam mengetahui seluk beluk filsafat pendidikan. 2007 : 165) bahwa sekolah bertanggungjawab atas pemberian pengajaran yang logis atau dapat dipercaya.guru. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Power (Uyoh Sadulloh. ‡ Pendidikan menawarkan visi demi masa mendatang yang lebih baik dan pantas diperjuangkan tanpa mengenal lelah. Karena sebagai akademisi dan praktisi pendidikan. ‡ Pendidikan seyogyianya bukan hanya mengkritisi bentuk-bentuk ilmu pengetahuan yang ada tetapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan baru. Siswa disarankan untuk memahami hakikat kekuasaan. ‡ Etika seyogyianya dipahami sebagai sentralnya pendidikan. ‡ Para guru seyogyianya menjadi transformative intellectual. Membincangkan tentang aliran/mazhab pendidikan memang menarik untuk kita kaji. menulis dan mendengar dalam multiperspectival language. mengenali adanya ketidakadilan dalam masyarakat. teknologi. Mata pelajaran tidak hanya mewariskan ilmu pengetahuan. ‡ Pendidikan seyogyianya mereformulasi apa yang selama ini diklaim sebagai kebenaran demi mendapatkan versi dan interpretasi yang lebih parsial dan khusus dari ilmu pengetahuan. yakni intelektual yang memiliki komitmen perkasa untuk melakukan transformasi sosial demi perbaikan. Kedudukan sekolah ini sebagai penanggungjawab dari kegiatan belajar-mengajar. Hal lain yang tidak ditemukan dalam pembahasan buku tersebut coba untuk penulis paparkan dalam bagian ini. ‡ Pendidikan bertoleransi terhadap perbedaan-perbedaan pada siswa dan guru dalam aspek-aspek ras. diperlukan keberanian untuk membangun pengetahuan baru. Tugas siswa adalah menginternalisasikan atau menjadikan milik pribadi elemen-elemen tersebut (Uyoh Sadulloh. Untuk itu guru harus menyiapkan kelas yang mefasilitasi siswa untuk mampu berbicara. etnis. serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang. aliran perrenialisme nampak dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu berbahasa dengan sudut pandang yang berbagaibagai. ‡ Untuk menantang wilayah pengetahuan yang dominan saat ini. Pemaparan yang dikemukakan dalam buku karya A. kajian terhadap aliran pendidikan dapat menjadikan sebagai pisau analisa dalam membedah hal-hal yang menyangkut tentang pelaksanaan pendidikan. Hal 5 . Guru mengajarkan bukan hanya pengetahuan dan keterampilan tetapi juga mengajarkan apa yang benar dan tidak benar. fakta atau dalil. tetapi juga harus menanamkan pada siswa kesadaran akan hak-hak politiknya sebagai warga negara. dan dilatih kritis untuk mampu mengembangkan pemahaman dan kepekaan untuk melakukan perubahan. Dalam pandangan aliran essensialisme. Parrenialisme yang mengedepankan pemeliharaan nilai-nilai warisan budaya juga menjadi kajian menarik tersendiri dalam konteks filsafat pendidikan. ‡ Kurikulum tidak boleh dimaknai sebagai teks suci yang mengharamkan munculnya interpretasi dan perbedaan-perbedaan pada pihak pelaksanaannya. Dalam konteks Indonesia. kebenaran dan alasan serta kebernalaran.

2000 : 91). Aliran rekonstruksi mengedepankan pemikiran bahwasanya di sekolah. tetapi juga harus mempelopori masyarakat ke arah bau yang diinginkan. Dalam konteks lain. Guru harus mengetahui sejumlah pengetahuan yang esensial demi pertumbuhan muridnya dan berperan sebagai pemimpin bagi murid dalam proses pendidikan (Umar Tirtarahardja dan La Sula. Progresivisme merupakan aliran yang mengedepankan peran siswa yang aktif dalam pembelajaran. 2004 : 11) mengatakan bahwa pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehingga mengantar rang menemukan dirinya sendiri. Karena pada hakekatnya siswa merupakan subjek yang utama dalam proses pembelajaran. Maka sebaiknya kurikulum bersifat wajib dan berlaku umum yang meliputi bahasa. 6 . untuk kemudian secara kritis menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif. Model pembelajaran yang diutarakan oleh Freire bukanlah model ³bank´ tetapi model ³hadap masalah´ yang memposisikan guru dan siswa sebagai subjek-subjek yang mengetahui tugas dan tanggungjawabnya. serta terpaut (linking) dengan lingkungan sosio-kultural dan sosio-politik siswa (Saiful Arif. sekolah diharapkan mampu membekali siswa dengan pengetahuan dan pengalaman dalam menghadapi perubahan dunia. rekonstruksi dan pedagogi kritis memiliki kesamaan. Siswa juga harus dikenalkan dengan realita kehidupannya. Hal ini mengingat bahwasanya sistem pendidikan nasional mengamanatkan terciptanya peserta didik yang utuh (fisik dan rohani) serta sesuai dengan nilai-nilai bangsa dan negara Indonesia. Aliran eksistensialisme mengedepankan pandangan bahwa manusia ialah mahluk yang memiliki kewenangan untuk menentukan arah dirinya kelak. Dalam bahasa lain. Dalam Umar Tirtarahardja dan La Sula (2000 : 90) diberikan penekanan terhadap aliran progresivisme. Tujuan aliran eksistensialisme oleh Uyoh Sadulloh (2007 : 137) diantaranya ialah mendorong individu untuk mengembangkan semua potensi dirinya. Yakni bahwa dalam aliran ini pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar. matematika. Kesamaan tersebut diantaranya ialah terpusat pada siswa (student sentris). tetapi sebagai subjek pebelajaran. Oleh karenanya sekolah perlu mengembangkan suatu ideologi kemasyarakatan yang demokratis. sedangkan anak (siswa) harus bebas untuk dapat berkembang secara wajar. Disamping itu penggunaan aliran ini berguna untuk membentuk siswa yang kritis sehingga mampu turut serta dalam merumuskan solusi yang tengah dihadapi oleh bangsa dan negaranya. Hal tersebut nampak berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang menyiratkan bahwa pendidikan berfungsi sebagai pengembangan potensi peserta didik. Untuk mencapai tujuan ini. Dalam aliran ini sekolah diumpamakan sebagai laboratorium bagi siswa dalam menyongsong kehidupan yang demokratis dan mengenal kehidupan nyata dirinya.tersebut diutarakan oleh Umar Tirtarahardja dan La Sula (2000 : 89-90) yang mengatakan bahwa aliran ini dianut karena mengintegrasikan kebenaran agama dan kebenaran ilmu. IPA dan sejarah. logika. Freire (Siti Murtiningsih. Uyoh Sadulloh (2007 : 147) mengatakan bahwa sekolah harus menekankan ³bagaimana berpikir´ bukan ³apa yang dipikirkan´. Dalam konteks ke-Indonesia-an nampaknya aliran ini harus diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah. Aliran rekontruksi dan pedagogi kritis juga menekankan bahwa siswa ialah bukan sebagai objek pembelajaran. Disamping itu guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar. Lebih lanjut Uyoh Sadulloh juga menambahkan bahwa siswa harus diberikan alat keterampilan berupa kemampuan untuk memecahkan masalah serta perilaku cooperative dan disiplin diri. individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini. 2003 : 162). Aliran progresivisme.

Arif. Bandung : Alfabeta. Pengantar Pendidikan. Anthony Giddens. Sadulloh. Chaedar. Asghar Ali Engineer. Saiful (Ed). 2000. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Pemikiran-pemikiran Revolusioner . 2004. 2003. Yogyakarta : Resist Book.daftar pustaka : Alwasilah. Uyoh. Siti. Erich Fromm. Jakarta : Depdikbud dan Rineka Cipta. Pendidikan Alat Perlawanan . Antonio Gramsci. 2007. 7 . A. Paulo Freire. Karl Marx. Murtiningsih. Pengantar Filsafat Pendidikan. Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire. Bandung : UPI dan Rosdakarya. Tirtarahardja. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Umar dan La Sula. 2008.