1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial, tindakannya yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan sosial. Suatu tindakan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan dan saling mengekpresikan serta menyetujui sesuatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang merupakan suatu masyarakat untuk

mewujudkan hal tersebut diperlukan komunikasi. Di sini perlu disadari bahwa ³Bahasa berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena tanpa bahasa maka segala jenis kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh´ (Keraf, 1993:1). Berbahasa pada dasarnya tidak lain adalah mencetuskan pikiran, gagasan dan maksud dengan perkataan lain, manfaat yang paling besar dari bahasa adalah dapat dipergunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan, atau maksud kepada orang lain. Bahasa merupakan kegiatan keterampilan yang 1

2

meliputi beberapa aspek, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. ³Terampil berbahasa berarti terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis (Tarigan, 1986:22). Setiap keterampilan tersebut saling berhubungan dengan prosesproses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Semua itu dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan berlatih. ³Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir.´ (Tarigan, 1986:1). Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan belajat itu, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran (Oemar Hamalik, 2008: 3).

3

Pembelajaran ada yang bersifat universal atau semua mempelajarinya, seperti berbicara, berjalan, atau makan. Ada pula pembelajaran yang tidak universal, karena seseorang mempelajari sesuatu yag berbeda dari orang lain. Inilah yang menunjukkan bahwa pembelajaran adalah kontekstual. Sesorang belajar apa dan kapan waktunya tergantung pada lingkungan mereka dianggap penting dan relevan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mempelajari sesuatu karena mereka memiliki kesempatan untuk menerapkan pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian pembelajaran dapat dilakukan oleh seseorang pada waktu yang berbeda dengan orang lain dengan tempat yang berbeda pula, seperti di rumah, di sekolah, atau dimasyarakat. Orang dewasa akan mempelajari sesuatu karena yang dipelajarinya itu berguna dan mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan peserta didik memiliki kesempatan terbatas untuk menerapkan pembelajarannya dalam konteks kehidupan nyata. Mereka masih mengembangkannya, sehingga seringkali tidak melihat relevansi dari isi pelajaran di kelas dengan kehidupan nyata sehari-hari. Upaya guru untuk membantu peserta didik memahami relevansi materi pembelajaran yang dipelajarinya itu adalah dengan melakukan suatu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di kelas.

4

Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorong ingin mengetahui peningkatan kemampuan belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) terhadap peserta didik kelas V di SD Inpres No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros dan selain itu pertimbangan biaya dan kemudahan akomodasi. Selain itu pula, di tempat tersebut belum ada yang mengangkat masalah tersebut. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah apakah dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan kemampuan belajar Bahasa Indonesia di SD Negeri No. 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan belajar Bahasa Indonesia melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) di SD Negeri No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros.

5

2. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah : 1. Dapat memberikan suatu masukan pada pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya kemampuan belajar Bahasa Indonesia di SD Negeri No 27 Pepebulaeng kabupaten Maros; 2. Memberikan sumbangan pikiran terhadap guru-guru mata

pelajaran bahasa Indonesia di SD tentang cara penyusunan materi bagi pembelajaran/ pengajaran Bahasa Indonesia. 3. Memberikan masukan dalam rangka peningkatan kemampuan kreativitas guru-guru bahasa Indonesia di SDN No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros dalam mengajarkan keterampilan berbahasa.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Belajar Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang ´belajar´. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalaui pengalaman (Hamalik, 2008: 36). Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.(Hamalik, 2008: 36) Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.

6

7

Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik, 2008: 36) Dibandingkan dengan pengertian pertama, maka jelas, tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapainnya. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. Pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap, dan sebagainya yang dimiliki seseorang tidak dapat diidentifikasi, karena ini merupakan

kecenderungan perilaku saja. Hal ini dapat diidentifikasi bahkan dapat diukur dari penampilan (behavior performance). Penampilan ini dapat berupa kemampuan menjelaskan, menyebutkan sesuatu, atau melakukan suatu perbuatan. Jadi, kita dapat mengidentifikasi hasil belajar melalui penampilan. Namun demikian, individu dapat dikatakan telah menjalani proses belajar, meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecenderungan perilaku. De Cocco & Crawford (dalam Hamalik: 2008). Menurut Kimble & Garmezy (dalam Hamalik: 2008), sifat perubahan perilaku dalam belajar relatif permanen. Dengan demikian hasil

8

belajar dapat diidentifikasi dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara permanen, dapat berulang-ulang dengan hasil yang sama. Kita membedakan antara perubahan perilaku hasil belajar dengan apa yang terjadi di luar lingkungan sekolah. Orang yang secara kebetulan dapat melakukan seasuatu, tentu tidak dapat menghalangi perbuatan itu dengan hasil yang sama. Sedangkan orang dapat melakukan sesuatu karena hasil belajar dapat melakukannya secara berulang-ulang dengan hasil yang sama. 2. Pengertian Pembelajaran dan Pengajaran Jika kita mengamati berbagai praktik pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru, akan dapat dijumpai gejala beraneka ragam. Keanekaragaman itu terjadi, baik pada tingkah laku guru, peserta didik, maupun situasi kelas. Secara umum gejala yang dapat diamati dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok utama Sumiati & Asra (dalam Hamalik: 2008), yaitu : 1. Ada guru yang mengajar dengan cara menyampaikan materi pelajaran semata-mata. 2. Ada guru yang sengaja menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga peserta didik dapat melakukan berbagai kegiatan yang beraneka ragam dalam mempelajari materi pembelajaran.

9

3. Ada guru yang mengajar dengan memberi kebebasan kepada peserta didik memilih materi pembelajaran apa akan dipelajari sesuai dengan minat dan pilihannya, juga memberi kebebasan kepada setiap peserta didik untuk melakukan proses mempelajari materi pembelajaran tersebut. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari peserta didik, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Meterial meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, sliem dan film, audio, dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio vidual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, elajar, ujian dan sebagaianya. (Oemar Hamalik, 2008: 57). 3. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran Jika ditelusuri secara mendalam, proses pembelajaran yang

merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai kompoen pembelajaran. Komponen-komponen ini

10

dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu guru, isi atau materi pembelajaran, dan peserta didik. Interaksi antara ketiga komponen utama melibatkan sarana dan prasarana, seperti metode pemelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dengan demikian, guru memegang peranan sentral dalam proses pembelajaran. Pada awal proses pembelajaran peran guru bisa lebih aktif. Guru memberikan pengetahuan yang dibutuhkan peserta didik dengan

mengemukakan pendapat, bertanya, menjelaskan, memberikan contoh yang akan dipelajari peserta didik. Selanjutnya, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif dan berpartisipasi secara nyata menerapkan apa yang telah pelajarinya dari guru dengan bertanya, berpendapat, mengerjakan tugas, berlatih, atau mencoba. Ketika peserta didik aktif peran guru mulai berubah menjadi lebih pasif, misalnya dengan cara mengawasi atau membimbing peserta didik dan memberikan feedback. Sebaliknya dari guru, pada awal pelajaran peserta didik cenderung pasif. Mereka mendengarkan dan mengamati penjelasan guru. Selanjutnya, peserta didik menjadi lebih aktif dengan menerapkan pengetahuan yang mereka terima di awal pembelajaran

11

tadi. Misalnya dengan melakukan praktik, latihan, atau percobaan. Seluruh proses belajar seharusnya memungkinkan peserta didik aktif hingga berhasil. Peran guru dalam proses pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas peserta didik setidak-tidaknya menjalankan tugas utama Sumiati & Asra (dalam Oemar Hamalik: 2008), berikut ini: 1. Merencanakan Pembelajaran 2. Melaksanakan Pembelajaran 3. Mengevaluasi Pembelajaran 4. Memberikan Umpan Balik

4. Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran Peserta didik adalah peserta yang aktif. Titik tolak pemikiran peserta didik diajar dan guru mengajar beralih ke pandangan bahwa peserta didik belajar, peserta didik mempelajari berbagai hal terus menerus dalam perjalanan hidupnya. Sekolah merupakan tempat dan kesempatan belajar untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan sepanjang hayati, kegiatan yang tidak berhenti pada saat peserta didik tamat sekolah. Oleh karena itu, kegiatan di sekolah adalah lebih daripada sekedar belajar. Kegiatan di sekolah adalah kegiatan pembelajaran. Peserta didik belajar, saling belajar, bukan hanya dari

12

guru melainkan juga dari teman-teman sekelas, dari sumer belajar yang lain (media cetak, media elektronik). Guru dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran, teknik dan pendekatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Teknik dan metode pembelajaran yang dipilih harus pembelajaran dalam bentuk pemberian tugas proyek demonstrasi, pemecahan masalah untuk menghasilkannya yang meliatkan partisipasi aktif peserta didik. Guru perlu mempertimbangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan. Guru juga garus membuat perencanaan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, jenis penugasan, dan batas akhir suatu tugas. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran berorientasi peserta didik adalah peran guru bergeser dari menentukan ´apa yang akan dipelajari?´ ke ´bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik´. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan narasumber lain. 5. Pembelajaran Kontekstual (CTL; Contextual Teaching and Learning) Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses

pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka

13

sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. CTL disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Di samping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri,

mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan

14

pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Peserta didik sebagai pelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Komponen pembelajaran yang efektif meliputi: a. Konstruktivisme Konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan. b. Tanya jawab Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

15

c. Inkuiri Merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. d. Komunitas belajar Adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat. e. Pemodelan Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektroniksi.

16

f. Refleksi Yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya. g. Penilaian otentik Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. Perkembangan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).

17

Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa. 6. Hasil Belajar a. Pengertian hasil belajar Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinfarcemen), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persistem pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behavior of experience),demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran bahavioural approach (Dwitaqma, 2008: 1). Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah pada kesempatan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dan tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (coqnitive domain), aspek afektif (afektive domain). Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Winkel (1996: 244) bahwa ³Dalam taksonomi Bloom, aspek belajar yang harus diukur keberhasilannya adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga dapat menggambarkan tingkah laku menyeluruh sebagai hasil belajar siswa?´.

18

Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar yang diperoleh pada proses pembelajaran. Tingkah laku sebagai hasil belajar juga tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya. Menurut Sudjana (1984: 3) bahwa hasil belajar adalah ³Tingkah laku yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Hasil belajar dalam hal ini, meliputi wawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Adapun menurut Mappasoro (2006: 1-2) bahwa ³Hasil belajar adalah sejumlah perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh faktor lain di luar seperti perubahan karena kematangan, perubahan karena kelelahan fisik dan sebagainya´. Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dari sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Oleh Karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang dicapai seorang pelajar setelah mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berdasarkan hal tersebut, maka hasil yang dimaksudkan adalah prestasi belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian,

19

tujuan pembelajaran dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini sebagaimana

dikemukakan oleh Nasution (2000 : 61) bahwa ³hasil belajar siswa dirumuskan sebagai standar kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi´.

b. Fungsi hasil belajar Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan indikator untuk mengikuti tingkat kemampuan, kesanggupan, penguasaan tentang materi belajar. Sehingga hasil belajar dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Di dalam pengertian tentang evaluasi pendidikan ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan kurikuler. Di samping hasil belajar yang digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidik untuk mengukur dan menilai sampai di mana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metodemetode mengajar yang digunakan. Dengan demikian, dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi hasil belajar dalam pendidikan dan pengajaran dikelompokkan menjadi empat fungsi (Purnama, 1996 : 2) yaitu : 1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan peserta didik setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar

20

selama jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar peserta didik (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi rapor atau Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional, yang berbarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidak hanya seorang peserta didik dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif). 2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya. 3. Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK). Hasil-hasil yang telah dilaksanakan terhadapa peserta didiknya dapat dijadikan informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah. 4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Adapun menurut Winkel (1996: 483-484) bahwa hasil belajar dapat digunakan untuk : 1. Mendapatkan informasi tentang masing-masing peserta didik, sampai sejauh mana mereka telah mencapai tujuan-tujuan intruksional. Hasil belajar pada tahap evaluasi formatif merupakan bahan untuk memonitor kemajuan peserta didik menyangkut pencapaian tujuan intruksional untuk unit pelajaran tertentu, pada tahap evaluasi sumatif dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk menentukan tingkat keberhasilan peserta didik dalam beberapa tujuan instruksional yang diuji bersama-sama. Mendapatkan informasi tentang suatu kelompok peserta didik sampai berapa jauh kelompok peserta didik mengenai tujuan-tujuan instruksional, misalnya satu satuan kelas di bidang studi Bahasa Indonesia. Informasi ini diperoleh dengan menerapkan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Hasil evaluasi tersebut juga bersifat diganostik yaitu membantu menentukan faktor kesulitan dan kesukaran yang masih dialami peserta didik dalam mencapai tujuan instruksional tertentu, dimana faktor tersebut mungkin terdapat pada pribadi peserta didik dan mungkin juga terletak dalam model proses belajar mengajar itu sendiri.

2.

21

c. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku subyek belajar ternyata banyak faktor yang mempengaruhi dari sekian banyak yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar, menurur Sardiman (2003: 49) bahwa secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor interen (dari dalam) dan faktor eksteren (dari luar) diri subyek belajar. Hal ini, sama dikemukakan oleh Abdurahman (1993: 114) bahwa ³Hasil belajar secara

pokok dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: 1. Faktor internal dan 2. Faktor eksternal. Faktor internal terdapat pada diri siswa itu sendiri, yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologi. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang berada di luar siswa yang terdiri atas faktor keluarga atau rumah tangga, faktor sekolah dan faktor lingkungan masyarakat. Menurut Abdurrahman (1993: 114) bahwa Faktor fisiologis-biologis yang berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik, antara lain: (1) bentuk atau postur tubuh, (2) kesegaran dan kebugaran, (3) kesehatan atau keutuhan tubuh, (4) instink, refleks dan driff (dorongan), (5) komposisi zat cair tubuh, dan (6) rentang dan susunan saraf. Adapun faktor psikologis, antara lain : (1) kemampuan kognitif (pengenalan) berupa pengamatan, tanggapan, ingatan, assosiasi/ reproduksi, fantasi dan intelegensi, (2) kematangan emosi (perasaan berupa kematangan emosi biologis dan emosi rohani, (3) kekuatan konasi (kemauan), dan dorongan kombinasi berupa minat, perhatian, dan sugesti.

22

Lebih lanjut Abdurrahman (1993: 115) Faktor-faktor yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungan, antara lain: (1) suasana kehidupan dalam keluarga, (2) kondisi sosial ekonomi, (3) perhatian orang tua terhadap pelajaran anaknya, (4) pemberian motivasi dan dorongan untuk belajar, (5) fasilitas belajar. Faktor sekolah berkaitan dengan (1) pengelolaan kelas dan sekolah, (2) hubungan antara guru dan peserta didik, antara peserta didik dan antara peserta didik dengan guru, (3) pelaksanaan bimbingan konseling, (4) fasilitas dan sumber belajar, (5) penetapan dan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru, (6) kondisi ruangan dan tempat belajar, dan (7) kerjasama orang tua dengan guru dan sekolah dengan masyarakat. Sedangkan faktor ligkungan masyarakat berkaitan dengan (8) perhatian dan kepedulian lembaga-lembaga masyarakat akan pendidikan, (9) keteladanan para pemimpin formal dan informal, (10) peranan media massa, dan (11) bentuk kehidupan masyarakat.

7. Prinsip-prinsip pengembangan hasil belajar Pengembangan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan cara mengemas pelajaran dan suasana menantang, merangsang dan menggugah daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan. Gagne dalam Mulyasa (2007 : 111) menambahkan bahwa jika seorang peserta didik dihadapkan pada suatu masalah pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan

masalah memegang peranan penting dalam pemgembangan siswa. Menurut Abdurrahman (1993 : 189-110) bahwa ³beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam mengembangkan hasil belajar antara lain:

23

a) Prinsip motivasi Prinsip motivasi dimaksudkan untuk merangsan daya dorong pribadi peserta didik melakukan sesuatu (motivasi intrinsil dan motivasi ekstrinsik). Untuk motivasi instrinsik, gairahkanlah perasaan ingin tahu anak, keinginan mencoba dan hasrta untuk lebih memajukan hasil belajar.

b) Prinsip latar atau konteks; Peserta didik akan terangsang mempelajari sesuatu jika mengetahui adanya hubungan langsung pada hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya. Guru hendaknya mengetahui apa kira-kira pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang sudah dimiliki peserta didi. Dengan pengetahuan latar ini, guru dapat mengembangkan kemampuan dan hasil belajar peserta didik.

c) Prinsip sosialisasi; Kegiatan belajar bersama dala kelompok perlu dikembangkan di kalangan peserta didik, karena hasil belajar akan lebih baik. Pengelompokan peserta idik dapat dilakukan dengan pendekatan kemampuan, tempat tinggal, jenis kelamin, dan minat. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda dari sumber yang sama.

24

d) Prinsip belajar sambil bermain. Bekerja merupakan tuntutan menyatakan diri untuk berprestasi pada diri anak, karena itu berilah kesempatan mengembangkan kemampuan dan hasil belajarnya melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. B. Kerangka Pikir Pembelajaran bahasa adalah proses memberi rangsangan belajar berbahasa kepada siswa dalam upaya siswa mencapai kemampuan belajar. Untuk meningkatkan hasil belajar, harus menarik peserta didik sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajaran interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada peserta didik sebagai subyek belajar. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan peserta didik secara integrative dan komprehensif pada aspek kognitif, efaketif, dan psikomotorik sehingga terapai hasil belajar. Agar hasil belajar membaca meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan peserta didik secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotorik dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat utuk melibatkan peserta didik secara totalitas adalaha pembelajaran degan pendekatan keterampilan proses.

25

Pendekatan Kontekstual menekankan pada upaya mengajarkan kepada peserta didik terlibat secara optimal dalam proses belajar mengajar. Dari uraian di atas dapat diperoleh bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Secara sistematika kerangka pikir dapat dilihat pada gambar berikut.

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Model Pembelajaran

Contextual Teaching Learning (CTL) Hasil Belajar

Temuan Gambar 1 Skema Kerangka Pikir

26

BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini di SD Inpres No 27 Pepebulaeng Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.

B. Variabel dan Desain Penelitian

1. Variabel penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Pendekatan keterampilan proses sebagai variabel bebas. 2. Hasil belajar membaca sebagai variabel terikat.

2. Desain Penelitian Terdapat beberapa macam model PTK. Namun yang akan dipilih dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc Taggart (Tiro, 2007), model ini terdiri dari empat komponen dalam satu siklus, yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Obervasi, (4) Refleksi. Keempat komponen tersebut dilaksanakan secara berurutan dalam dua siklus. Daur penelitian tindakan kelas ditujukan sebagai perbaikan atau hasil refleksi terhadap 26

27

tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil. Secara skematik desain PTK dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Perencanaan

Refleksi

Tindakan

Observasi

Gambar 2 Skema Penelitian tindakan kelas dalam satu siklus

C. Subjek Penelitian Adapun subjek dalam penelitian tindakan kelas adalah kelas V SD No. 27 Inpres Pepebulang terletak di dusun Pepebulaeng, Desa Balosi, Kec. Bontoa Kabupaten Maros tahun Pelajaran 2009/2010 dibina oleh 15 (lima belas) guru dan seorang bujang yang berjumlah sebanyak 27 orang. Siswa dengan rincian 14 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki.

D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui beberapa teknik sebagai berikut:

28

1. Tes, dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan butir soal sehingga dapat diseleksi atau revisi. 2. Observasi, tentang hasil belajar peserta didik dan keaktifan peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. Observasi terhadap aktivitas kelas yang berhubungan dengan perilaku peserta didik maupun guru. Kegiatan dimulai dari awal pembelajaran yang berkaitan dengan membaca.

E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Siklus I 1. Tahap Perencanaan (planning) 1. Guru membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2. Membuat bahan evaluasi berdasarkan materi yang diajarkan. 3. Selain perangkat pembelajaran juga disiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi dan tes hasil belajar.

2. Tahap Tindakan (acting) Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah disiapkan.

29

Adapun hal yang dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan adalah implementasi rencana yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini yang dimaksud adalah pelaksanaan langkah-langkah proses pembelajaran yang telah disusun pada rencana perbaikan pembelajaran.

3. Tahap Observasi (observation) Untuk melihat penampilan guru dan pengaruhnya terhadap aktivitas peserta didik selama proses belajar mengajar, maka peneliti mengamati lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Pelaksanaan tindakan, dilakukan pencatatan dengan menggunakan daftar observasi untuk memudahkan pelaksanaannya. Observator mengamati kegiatan yang berlangsung sambil mengisi daftar observasi yang telah disiapkan. Adapun hal-hal yang dicatat selama berlangsungnya kegiatan observasi adalah keaktifan peserta didik meliputi kerjasama, partisipasi, kejujuran. Sedangkan observasi untuk guru adala segala perubahan tindakan/ perilaku guru saat terjadi proses belajar mengajar yang meliputi memotivasi peserta didik, menyampaikan tujuan, peguasaan materi, dan pemberian umpan balik.

30

4. Tahap Refleksi (reflection) Guru dan peneliti berdiskusi untuk melihat keberhasilan dan kegagalan yang telah terjadi setelah proses belajar mengajar dalam selang waktu tertentu. Hasil sebagai masukan guru dan observer untuk membuat perencanaan siklus berikutnya. Untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan siklus I, maka disepakati bersama observatory untuk merevisi rencana perbaikan pembelajaran siklus II. Revisi dilakukan metode pendekatan proses dan mengoptimalkan motivasi peserta didik serta peraikan umpan balik.

Siklus II 1. Perencanaan (planning) Rencana tindakan untuk siklus II masih menggunakan tahap kegiatan seperti pada siklus I, namun diberikan penekanan untuk perbaikan terhadap kekurangan berdasarkan hasil refleksi dan penemuan penelitian siklus I, rencana tindakan perbaikan dilaksanakan pada siklus II.

2. Pelaksaaan Tindakan (actioan) Fokus utama dalam siklus II dibandingkan siklus sebelumnya adalah mengupayakan semaksimal mungkin bagaimana peserta didik menjawab soalsoal pertanyaan yang berkaitan dengan materi.

31

3. Tahap Observasi (observation) Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ternyata paa siklus kedua ini menunjukkan kreativitas belajar dengan kegiatan sangat baik pada seluruh aktivitas yang diamati. Selanjutnya tindakan/ perilaku guru memperlihatkan perubahan yang signifikan setelah rencana perbaikan pembelajaran direvisi. Seluruh aspek yang diamati dalam proses belajar mengajar dengan kualitas yang baik.

4. Refleksi (reflection) Pada akhir siklus dilakukan refleksi hal yang diperoleh baik dari hasil observasi maupun hasil tes. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I akan diperbaiki pada siklus selanjutnya. Siklus II dilakukan dengan mangacu pada prosedur kegiatan yang sama pada siklus I yang meliputi perencanaan, tindakan, osbservasi, dan refleksi. Hanya saja, pada siklus II seluruh perencanaan dan pengambilan tindakan mengacu pada upaya perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan yang diperoleh pada siklus I guna mencapai hasil yang diharapkan.

32

Alur pelaksanaan penelitian sebagai berikut. Perencanaan

Perencanaan tindakan I

Pelaksanaan Tindakan I

Observasi

Refleksi

Pelaksanaan Tindakan II

Perencanaan Tindakan II

Hasil

Observasi

Refleksi

Observasi

Hasil

Gambar 2 Skema Alur pelaksanaan penelitian

F. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, yang terdiri dari rata-rata nilai maksimal dan minimum yang

33

diperoleh siswa pada setiap siklus untuk analisis kuantitatif, yang digunakan teknik kategorisasi yang dikemukakan oleh Suherman (1990 : 272) sebagai berikut: 1. Tingkat penguasaan 85 % ”A” 100% atau 85 % - 100% sangat tinggi 2. Tingkat penguasaan 75% ”B” 84% atau 75% - 84% tinggi 3. Tingkat penguasaan 55 % ”C” 74% atau 55 % - 74% sedang, cukup 4. Tingkat penguasaan 40 % ”D” 54% atau 35 % - 54% rendah 5. Tingkat penguasaan 0 % ”A” 39 % atau 0 % - 34 % jelek, sangat rendah Untuk analisis deskriptif, rumus yang digunakan sebagai berikut :

Keterangan : Me f x N = Mean = Frekuensi = Nilai perolehan siswa = Jumlah siswa

34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini akan dibahas hasil dari rata-rata yang diambil selama melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD Inpres No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros . Data tentang hasil belajar siswa yang diambil dari hasil tes akan dibahas secara kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan data tentang hasil pengamatan beserta tanggapan siswa dianalisis secara kualitatif.

A. Hasil Penelitian 1. Aktivitas siswa Data kualitatif merupakan data sikap siswa kelas V SD Inpres No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros dalam mengikuti materi membaca dengan teknik pengelompokan kata yang diperoleh dari lembar observasi. Lembar Observasi pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari dua, yaitu lembar observasi siklus I dan siklus II. Lembar observasi siklus I merupakan gambaran sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran tiap pertemuan pada siklus I. Sedang lembar observasi siklus II merupakan gambaran sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran tiap pertemuan pada siklus II. 35

35

Berikut hasil analisis sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran siklus I dan siklus II. Tabel 1. Frekuensi Hasil Observasi dengan Menggunakan Pendekatan Keterampilan Proses pada Siswa Kelas V SD Inpres Pepebulaeng Kabupaten Maros pada Siklus I dan Siklus II Frekuensi No Kegiatan Siklus Siklus I 1 2 3 4 Menyimak Pengajaran Guru Kerja Sama Kelompok Meminta Bimbingan Guru Mengajukan Pertanyaan Kegiatan yang tidak relevan 5 dengan KBM 5a Keluar Masuk Kelas 5b Mengganggu teman 6 7 Menjawab Pertanyaan Keterampilan Proses 7a Mengamati 7b Mengklasifikasikan 7c Mengkomunikasikan 7d Mengukur 16 5 10 0 21 0 21 0 19 3 16 0 53 17 33 0 70 0 70 0 62 8 52 0 2 3 0 0 0 21 1 2 11 7 10 0 0 0 70 3 5 35 14 18 11 12 II 18 21 7 12 Ratarata 16 20 9 12 Persentase (%) Siklus Siklus RataI 47 60 37 40 II 60 70 23 40 rata 53 65 30 40

36

Frekuensi No Kegiatan Siklus Siklus I 7e Memproduksi 7f Menyimpulkan 7g Merancang Penelitian 7h Bereksperimen Sumber : Hasil Observasi, 2010 0 15 0 0 II 0 21 0 0 Ratarata 0 18 0 0

Persentase (%) Siklus Siklus RataI 0 50 0 0 II 0 70 0 0 rata 0 60 0 0

Dari data tabel 1 di atas maka dapat diketahui bahwa terjadi perubahan sikap belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas V SD Inpres No 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros. Perhatikan tabel 1 di atas frekuensi siswa yang menyimak penjelasan guru pada siklus I sebanyak 47% dan pada siklus II naik menjadi 60%, siswa yang bekerjasama dalam kelompok atau teman sebangkunya pada siklus I sebanyak 60% dan pada siklus II sebanyak 70%, siswa yang meminta bimbingan guru pada siklus I sebanyak 37% dan pada siklus II sebanyak 23%, siswa yang mengajukan pertanyaan pada siklus I sebanyak 40% dan pada siklus II tidak terjadi perubahan yakni sama dengan siklus I sebanyak 40%, siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan pada siklus I sebanyak 17% dan pada siklus II sudah tidak ada siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan, siswa yang menjawab pertanyaan saat melakukan kegiatan secara individual pada siklus I sebanyak 0% dan pada

37

siklus II semua siswa sudah mampu menjawab pertanyaan yang diajukan guru sebanyak 70%, dan pada proses pembelajaran siswa yang menyimpulkan hasil pembelajaran pada siklus I sebanyak 50% dan pada siklus II sebanyak 70%. Hal ini berarti bahwa pada siklus II terjadi peningkatan aktivitas belajar karena adanya perubahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengikuti materi membaca pemahaman.

2. Hasil belajar a. Siklus I Proses belajar mengajar dimulai dengan perkenalan oleh guru dengan siswa. Siklus I dilakukan dua kali pertemuan proses belajar mengajar, dan tes akhir siklus I pada pertemuan ketiga. Khusus untuk pertemuan pertama semua siswa hadir dan begitupun pada pertemuan kedua semua siswa hadir yang berjumlah 21 orang sebagai subjek penelitian. Pertemuan ketiga yang merupakan tes akhir siklus I semua siswa menjadi sampel hadir. Tes akhir ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yag telah diberikan, adapun skor hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 1 berikut

38

Tabel 2

Statistik Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Pendekatan Kontekstual pada siklus I Statistik Subjek Penelitian Mean Median Modus Standar Deviasi Skor Tertinggi Skor Terendah Rentang Nilai Nilai Statistik 21 66,7 70 80 12 80 50 30

Sumber : Hasil Penelitian, 2010 Dari tabel 2 di atas, menunjukkan bahwa dari 21 subjek penelitian di SD Inpres 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros, diperoleh nilai mean senilai 66,7, nilai median senilai 70, nilai modus senilai 80, nilai standar deviasi senilai 12, nilai skor tertinggi senilai 80, nilai skor terendah senilai 50, dan rentang nilai senilai 30. Jika skor penguasaan siswa pada tabel 1 di atas, dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor seperti yang ditunjukkan pada tabel 2 berikut;

39

Tabel 3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa pada Kelas V SD Inpres No. 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros Siklus I Interval 0 ± 39 40 ± 54 55 ± 74 75 ± 84 85 ± 100 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Sumber : Hasil Penelitian, 2010 Berdasarkan tabel 3 di atas, diperoleh bahwa dari 21 siwa kelas V SD Inpres No. 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros, pada kategori sangat rendah sebanyak 0%, yang termasuk kategori rendah sebanyak 6 orang dengan persentase 28,57%, yang termasuk kategori sedang sebanyak 10 orang dengan persentase 47,62%, yang termasuk kategori tinggi sebanyak 5 orang dengan persentase 23,81%, yang termasuk kategori sangat tinggi sebanyak 0%. Pada siklus I ini jumlah siswa yang mempunyai kategori sedang yang paling dominan. Oleh karena itu, keberhasilan siklus ini tidak mencapai skor nilai yang diharapkan. Dari tabel 2 dan 3 di atas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata siklus I berada pada kategori rendah. Frekuensi 0 6 10 5 0 21 Persentase 0 28,57 47,62 23,81 0 100

40

Persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4 berikut: Tabel 4 Deskripsi Ketuntasan Belajas Siswa Kelas V pada Siklus I Interval 0 ± 59 60 ± 100 Kategori Tidak Tuntas Tuntas Frekuensi 16 5 Persentase 76,19 23,81

Sumber : Hasil Analisis data, 2010 Dari tabel 4 di atas menunjukkan bahwa 16 orang atau sebanyak 76,19% siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan 5 orang dengan persentase 23,81% yag termasuk dalam kategori tuntas dalam pembelajaran bahasa indonesia dengan tema kegiatan. Hal ini berarti masih ada siswa sebanyak 16 orang yang memerlukan perbaikan secara individual maupun kelompok.

b. Siklus II Setelah melihat hasil tes akhir siklus I, maka semua yang ada pada siklus I dilakukan perbaikan pada proses tindakan siklus II. Proses belajar mengajar pada siklus II dilakukan selama dua kali pertemuan dan pertemuan ketiga diadakan tes akhir. Hasil tes akhir siklus II dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

41

Tabel 5 Statistik Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Pendekatan Kontekstual pada Tes Akhir Siklus II Statistik Subjek Penelitian Mean Median Modus Standar Deviasi Skor Tertinggi Skor Terendah Rentang Nilai Sumber : Hasil Penelitian, 2010 Berdasarkan tabel 5 di atas, diperolah bahwa dari 21 subjek penelitian di SD Inpres No 27 Kabupaten Maros, nilai mean yang diperoleh adalah senilai 78,1, nilai median yang diperoleh adalah senilai 80, nilai modus yang diperoleh adalah senilai 80, nilai standar deviasi yang diperoleh adalah senilai 7,5, nilai skor tertinggi yang diperoleh adalah 90, dan nilai skor terendah yang diperoleh adalah 70, dan rentang nilai yang diperoleh adalah 30. Jika skor penguasaan siswa pada tabel 5 di atas, dikelompokkan ke dalam lima kategori maka diperoleh distribusi frekuensi skor seperti yang ditunjukkan pada tabel 6 berikut: Nilai Statistik 21 78,1 80 80 7,5 90 70 30

42

Tabel 6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa kelas V SD Inpres No. 27 Kabupaten Maros pada siklus II. Interval 0 ± 39 40 ± 54 55 ± 74 75 ± 84 85 ± 100 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Sumber : Hasil Penelitian, 2010 Dari tabel 6 di atas, menujukkan bahwa dari 21 subjek penelitian di SD Inpres No. 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros, yang termasuk dalam kategori sangat rendah sebanyak 0%, yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak 0%, yang termasuk kategori sedang sebanyak 8 orang dengan persentase 38,10%, yang termasuk kategori tinggi sebanyak 9 orang dengan persentase 42,86%, dan yang termasuk kategori sangat tinggi sebanyak 4 orang dengan persentase 19,04%. Dari tabel 5 dan 6 di atas, dapat disimpulkan bahwa rata-rata siklus II berada pada ketegori tinggi. Persentase ketuntasan belajar siswa kelas V pada siklus II dapat dilihat pada tabel 7 berikut: Frekuensi 0 0 8 9 4 21 Persentase 0 0 38,10 42,86 19,04 100

43

Tabel 7 Persentasen Ketuntasan Belajar Siswa Kelas V pada Siklus II Interval 0 ± 59 60 ± 100 Kategori Tidak Tuntas Tuntas Frekuensi 0 21 Persentase 0 100

Sumber : Hasil Analisis data, 2010 Dari tabel 7 di atas, menunjukkan bahwa 0 siswa yang termasuk dalam ketegori tidak tuntas dalam pembelajaran dan 21 siswa dalam kategori tuntas dalam pembelajaran bahasa indonesia dengan pendekatan kontekstual. Untuk melihat secara jelas perubahan yang terjadi setelah penerapan pendekatan kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar dari siklus I hingga siklus II. Perhatikan tabel 8 berikut: Tabel 8 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa kelas V SD Inpres No. 27 Kabupaten Maros pada siklus II. Interval 0 ± 39 40 ± 54 55 ± 74 75 ± 84 85 ± 100 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Sumber : Hasil Penelitian, 2010 Frekuensi Siklus I 0 6 10 5 0 21 Siklus II 0 0 8 9 4 Persentase Siklus I 0 28,57 47,62 23,81 0 Siklus II 0 0 38,10 42,86 19,04 100

44

Dari tabel 8 di atas menunjukkan bahwa terjadi perubahan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Pada sikus I frekunsi hasil belajar siswa berada pada kategori rendah yaitu 6 dengan frekuensi 28,57%. Kemudian kategori sangat rendah dengan frekuensi 0 dan persentase 0%, yang mendapat skor yang sangat sedikit. Pada siklus II terlihat bahwa skor hasil belajar siswa meninkat menjadi kategori sedang dengan frekuensi 8 orang dengan persentase 38,10%, yang berada pada kategori tinggi dengan frekuensi 9 dan persentase 42,86%, kategori rendah 0 dengan persentase 0% serta kategori sangat rendah sudah tidak ada lagi. Hal ini, terbukti bahwa setelah menerapkan pedekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa kela V SD Inpres No. 27 Pepebulaeng Kabupaten Maros. B. Pembahasan 1. Aktivitas siswa Faktor lain yang menyebabkan belum maksimalnya hasil belajar siswa pada siklus I, dikarenakan masih banyak siswa yang melakukan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran di antaranya: tidak memperhatikan penjelasan guru, mengobrol teman, mengerjakan tugas lain, bersikap seadanya dalam melakukan kegiatan. Meskipun jumlah siswa yang melakukan kegiatan tersebut tidak terlalu signifikan dan masih terkategori ditoleransi, namun tetap

45

harus menjadi perhatian karena jika dibiarkan tanpa tindakan korektif akan mengakibatkan orientasi belajar siswa terganggu sehingga tujuan pembelajaran tak dapat dicapai. Pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I. siklus II keaktifan siswa sudah nampak, dorongan dan minat siswa dalam belajar sudah dapat terlihat dari keaktifannya bertanya, bekerja sama dalam kelompok dan hasil belajarnya.

2. Hasil belajar Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan tes siklus I dengan pendekatan kontekstual adalah rata-rata yang diperoleh adalah 66,7 dengan nilai tertinggi 80 dan terendah adalah 50 serta mediannya adalah 80 dari skor ideal 100 dan berada pada kategori sedang. Hal ini disebakan karena kurangnya motivasi belajar, sehingga siswa tidak tertarik dengan pembelajaran yang diberikan. Dalam pendekatan kontekstual siswa ditekankan pada pembelajaran secara individual, namum dalam siklus I siswa belum dapat bekerja seefisien mungkin, dalam kelas masih banyak siswa yang memonopoli tugas yang diberikan dan yang lainnya hanya bercerita dan tidak membantu temannya. Siswa belum mengetahui apa arti dalam bekerja sama dengan teman

46

sebangkunya. Oleh karena itu, dalam siklus I ini guru lebih membimbing dan mengarahkan siswa. Tes siklus II menunjukkan nilai yang lebih baik dari siklus I yaitu dengan rata-rata 78,1, nilai tertinggi adalah 90 dan terendah adalah 70, mediannya adalah 80 dan modusnya adalah 80 dengan standar deviasi 7,5 dan berada pada kategori tinggi. Dengan pendekatan kontekstual, aktivitas siswa dalam kelompok sudah baik, pasangan-pasangan bekerja dengan baik, laporan lembar kerja siswa sudah merupakan hasil diskusi kelompok. Dari pembahasan di atas diketahui bahwa pada siklus I dengan siklus II terjadi peningkatan mulai dari rata-ratanya naik sebesar 11,4. Nilai tertinggi meningkat dari 80 menjadi 90. Dan nilai terendah adalah dari 50 menjadi 70.

47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas, peneliti mengemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Hasil belajar siswa yang diperoleh setelah dilakukan tes siklus I dengan pendekatan kontekstual adalah rata-rata yang diperoleh adalah 66,7 dengan nilai tertinggi 80 dan terendah adalah 50 serta mediannya adalah 80 dari skor ideal 100 dan berada pada kategori sedang. Tes siklus II menunjukkan nilai yang lebih baik dari siklus I yaitu dengan rata-rata 78,1, nilai tertinggi adalah 90 dan terendah adalah 70, mediannya adalah 80 dan modusnya adalah 80 dengan standar deviasi 7,5 dan berada pada kategori tinggi. pada siklus I dengan siklus II terjadi peningkatan mulai dari rata-ratanya naik sebesar 11,4. Nilai tertinggi meningkat dari 80 menjadi 90. Dan nilai terendah adalah dari 50 menjadi 70. 2. Pada siklus I siswa masih belum terlalu aktif, dikarenakan masih banyak siswa yang melakukan aktivitas yang tidak relevan dengan

pembelajaran di antaranya: tidak memperhatikan penjelasan guru, mengobrol teman, mengerjakan tugas lain, bersikap seadanya dalam melakukan kegiatan. Pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I. 48

48

siklus II keaktifan siswa sudah nampak, dorongan dan minat siswa dalam belajar sudah dapat terlihat dari keaktifannya bertanya, bekerja sama dalam kelompok dan hasil belajarnya.

B. Saran Dalam upaya peningkatan hasil belajar membaca maka melalui penelitian ini disarankan hal-hal sebagai berikut. 1. Menetapkan pendekatan melalui keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar membaca siswa dalam menyelesaikan soal-soal. 2. Dalam kegiatan pembelajaran guru hendaknya memberikan situasi yang bervariasi sehingga tidak menyebabkan kejenuhan bagi siswa. 3. Diharapkan para peneliti dibidang pendidikan, agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan pendekatan keterampilan proses.

49

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, 1993. Pengelolahan Pengajaran. Ujung Pandang :PT. Bintang Selatan. Ali, Muhammad. 1985. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa Arikunto, Suharsimi, 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta Dimyanti, Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud. Dwitaqama, D, 2008. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (online). Hamalik, Oemar. 2008. Keterampilan Membaca di Sekolah Dasar. Penerbit. Keraf, Gorys. 1993. Komposisi Jakarta : Ikrar Mandiri Abadi. Mappasaro, S, 2006. Belajar dan Pengajaran. Makassar : FIP UNM Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Moedjiono, Moh. Dimyanti, 1992, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud. Nasution. 2000. Metode Research. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Sudjana, Nana. 1984. Pedoman Praktis Mengajar. Jakarta: PPPP. Agama Islam. Suherman. E. 1990. Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Matematika untuk Guru dan Calon Guru. Wijaya Kusuma: Bandung. Tarigan, Hendry Guntur. 1986. Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung Angkasa. Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.