> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

ISSN : 1979 - 3499

Jurnal DIALOG Kebijakan Publik >> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

Politik Bumi dan Manajemen Bencana

Bencana Alam Dalam Perspektif Sosio-Kultural

Menuju Politik Bumi Yang Melestarikan Lingkungan Penanggulangan Bencana Dalam Perspektif Perempuan Dan Anak Manajemen Risiko Bencana Berbasis Komunitas: Alternatif Dari Bawah Bencana Dalam Perspektif Agamaagama Berkesadaran Global, Bertindak Lokal

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Departemen Komunikasi Dan Informatika 2008

i >>

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Jurnal “DIALOG”
Kebijakan Publik

Politik Bumi dan Manajemen Bencana

Tim Redaksi

Pengarah Penanggungjawab Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Anggota Dewan Redaksi

: : : : : :

Koordinator Tenaga Ahli - Anggota Sekretaris Redaksi Sekretariat Desain Grafis

: : : : :

Menteri Komunikasi dan Informatika Kepala Badan Informasi Publik Prof. Dr. Musa Asy’arie Drs. Bambang Wiswalujo, MPA Drs. M. Abduh Sandiah 1. Drs. Supomo, MM 2. Drs. Ismail Cawidu, M.Si 3. H. Agussalim Husein, SE 4. Drs. Syofyan Tanjung, M.Si 5. Dra. Fauziah Dr. Sugeng Bayu Wahyono 1. Lambang Trijono, MA 2. Hairus Salim, M. Hum 3. Murti Kusuma Wirasti, M.Si Hafida Riana, SH. M.Si 1. Sigit Gunwan, BA 2. Hasnelita 3. Lucy Tri Amintasari Farida Dewi Maharani

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

iii >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Daftar Isi
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Salam Redaksi ........................................................................................................................................................................................................................ v Daftar Isi vi Bencana Alam Dalam Perspektif Sosio-Kultural Menuju Politik Bumi Yang Melestarikan Lingkungan 1

a. Bencana Alam dan Eksploitasi Lingkungan ................................................................................ 1 b. Penanggulan Risiko Bencana Dalam Kebijakan Publik .............................................................. 3 c. Faktor Budaya yang Menentukan: Belajar dari Alam .................................................................. 6

Penanggulangan Bencana Dalam Perspektif Perempuan Dan Anak

Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM) ........................................................... Penanggulangan Bencana dalam Perspektif Anak ...................................................................... Perlindungan Hak Anak Dalam Situasi Darurat .......................................................................... Kerentanan Anak (Berkait dengan Hak Perlindungan Anak) ...................................................... Kebutuhan Khusus Anak (Berkaitan dengan hak hidup dan tumbuh kembang) ......................... Peran Anak Dalam Penanggulangan Bencana (Berkait dengan Hak Partisipasi anak) ............... Penanggulangan Bencana dalam Perspektif Perempuan ............................................................. Peran dan Sumbangan Perempuan Dalam Masa Darurat Bencana .............................................. Dapur Umum Sebagai Strategi Pemeliharaan Ketahanan Hidup Masyarakat Korban Bencana ... Nasi Bungkus Sebagai Strategi Pengorganisasian Perempuan .................................................... Pemberdayaan Perempuan dalam Upaya Pengurangan Resiko Bencana dan Kesiapsiagaan Bencana ......................................................................................................... Seputar Bencana ........................................................................................................................... Seputar Partisipasi Komunitas ..................................................................................................... Seputar Proses .............................................................................................................................. Seputar Strategi Penerapan .......................................................................................................... Peran Penganggaran .....................................................................................................................

12 13 13 14 15 15 18 19 19 20 21

11

a. b. c. d. e.

Manajemen Risiko Bencana Berbasis Komunitas: Alternatif Dari Bawah

23

24 25 26 29 30

a. Bencana dalam Takaran Teologis ................................................................................................. 32 b. Jenis-jenis Aliran Teologis dan Implikasi Etis terhadap Ekologi ................................................. 33 c. Kontribusi Teologi Agama-agam dalam Penanganan Ekologi .................................................... 35 a. b. c. d. e. Penanganan risiko bencana .......................................................................................................... Studi Lapangan ............................................................................................................................ Pandangan, sikap dan respon terhadap bencana .......................................................................... Hikmah pembelajaran penanganan resiko bencana ..................................................................... Harapan pada penanganan bencana ke depan ............................................................................... 41 43 44 46 48

Bencana Dalam Perspektif Agama-agama ....................................................................................................................... 31

Berkesadaran Global, Bertindak Lokal .............................................................................................................................. 39

<<

iv

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Menunggu Implementasi Kebijakan Penanganan Bencana
Dalam sepuluh tahun terakhir, bencana demi bencana telah melanda wilayah Indonesia baik bencana alam, nonalam, maupun bencana sosial. Serentetan peristiwa seperti tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, banjir di Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tanah longsor di berbagai daerah, dan Lumpur Lapindo Sidoarjo menunjukan bahwa bencana semakin fenomenal dan terjadi secara susul-menyusul. Demikian pula bencana sosial seperti konflik-konflik yang berlatar belakang etnis di Kalimantan Barat dan KalimantanTengah, konflik antaragama di Poso dan Ambon, dan juga konflik politik menyusul penyelenggaraan Pilkada adalah serentetan yang mengindikasikan bahwa negeri kita rawan bencana. Terhadap peristiwa yang semakin menunjukkan frekuensi tinggi tersebut, pada awalnya respon Pemerintah masih bersifat spontan, parsial, dan kurang terlembagakan. Setiap kali terjadi bencana, reaksi pemerintah selalu terkesan lamban, kurang terprogram secara komprehensif, dan cenderung kurang terkoordinasi. Strategi yang diterapkan pun kurang mencerminkan penanganan bencana yang berbasis manajemen bencana, dan sering kali minim data dan informasi sehingga kurang tepat sasaran. Penanganan bencana pun lebih terfokus pada saat tanggap darurat, sementara masa prabencana belum tergarap secara terprogram dengan jelas. Menyadari akan hal itu, pemerintah kemudian membuat landasan hukum dengan lahirnya Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang disusul terbitnya PP No. 8 Tahun 2007 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Benacana; PP No.22 Tahun 2008 Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana; PP No. 23 Tahun 2008 Tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana; dan Perda serta berbagai SK Bupati/Walikota di daerah rawan bencana. Langkah ini merupakan kemajuan yang signifikan, setidaknya penanganan bencana akan lebih standar dan terlembagakan. Akan tetapi, implementasi program sebagaimana amanat dalam undangundang tersebut masih banyak terhadang oleh berbagai masalah, mulai belum tersosialisasinya peraturan perundangan tersebut, belum terbentuknya lembaga di daerah, soal sumber anggaran yang terbatas, dan lebih dari semua itu adalah masalah masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya manajemen bencana. Oleh karena itu, edisi ke-2 Jurnal Dialog ini menurunkan beberapa tulisan yang mencoba menganalisis masalah bencana dari berbagai perspektif. Dari sudut pandang sosio-kultural, melihat masalah bencana bersumber dari antroposentrisme yang meskipun bencana disebabkan oleh factor alam sekalipun, tetapi faktor manusia tetap menjadi penyebab utama terjadinya bencana. Tesisnya adalah, bencana alam terjadi tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor alam seperti perubahan iklim, melainkan juga oleh faktor antroposentris – yakni aktivitas yang berpusat pada kehidupan manusia. Kegiatan aktivitas manusia yang mengabaikan faktor menjaga keseimbangan keserasian lingkungan merupakan faktor terbesar yang menyumbang kerusakan lingkungan. Demikian pula dari sudut pandangan agama, mencoba melihat masalah bencana bukan semata-mata takdir Tuhan, tetapi juga faktor manusia yang kurang mengembangkan kesadaran bahwa kanonik agama terbuka tafsir untuk memelihara alam semesta. Sementara itu, diturunkan pula tulisan yang mencoba mengupas pentingnya pendekatan partisipatif dalam upaya penanganan dan penanggulangan bencana. Minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penanganan bencana, menyebabkan berkembangnya persepsi bahwa masalah bencana adalah masalah nanti saja, dan hanya bersikap pasif, menunggu bantuan dari pihak luar. Sedangkan dari sisi korban, diturunkan tulisan yang membuka kesadaran bahwa korban utama dalam peristiwa bencana terutama adalah kaum perempuan dan anak-anak. Berangkat dari berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi di Indonesia dalam lima tahun terakhir, tim redaksi Jurnal Dialog juga mencoba mengadakan studi lapangan di daerah bencana yang laporannya juga diturunkan dalam edisi kali ini. Studi ini dilakukan terutama untuk melihat seberapa jauh tingkat kesadaran publik terhadap masalah bencana. Beberapa temuan menarik dipaparkan dalam laporan studi ini, dan kemudian berusaha memberikan tawaran alternatif yang sekiranya dapat menjadi pilihan tepat dalam upaya penanggulangan bencana secara efektif di masa mendatang.

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

v >>

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Bencana Alam Dalam Perspektif Sosio-Kultural

Menuju Politik Bumi Yang Melestarikan Lingkungan
oleh Prof. Dr. Heru Nugroho alam seperti perubahan iklim, melainkan juga oleh faktor antroposentris – yakni aktivitas yang berpusat pada kehidupan manusia. Kegiatan aktivitas manusia yang mengabaikan faktor menjaga keseimbangan keserasian lingkungan merupakan faktor terbesar yang menyumbang kerusakan lingkungan. Faktor antroposentris itu ketika bertemu dengan faktor alamiah yang sulit terhindarkan, misalnya pengaruh dari pergeseran lempeng bumi (gempa tektonik, gunung meletus) maupun perubahan iklim (badai, topan, kekeringan) akan melahirkan kerugian amat besar sehingga berdampak pada diri manusia itu sendiri. Meskipun kerugian yang besar itu sebenarnya dapat dihindari. Pada kasus tanah longsor dan banjir, perubahan iklim global akhir-akhir ini juga turut mempengaruhi curah hujan yang cukup tinggi, sehingga luapan air tak mampu diserap oleh lahan hutan yang gundul di wilayah hulu, serta penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS). Meskipun dalam analisis geologis, fenomena banjir dan tanah longsor adalah suatu fenomena alam yang bisa terjadi secara terpisah, tetapi seringkali juga berlangsung secara bersamaan di suatu daerah. Sesungguhnya, faktor curah hujan hanya merupakan ‘pemicu’ saja, akan tetapi banjir dan tanah longsor justru terjadi karena faktor ‘erosi’ permukaan tanah khususnya di wilayah hulu dan Daerah Aliran Sungai (DAS), dimana faktor ‘human-activities’ berpotensi besar dalam memperparah tingkat erosi tersebut. Identifikasi BPS mela-

Bencana Alam dan Eksploitasi Lingkungan

Bencana alam yang melanda wilayah Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan kekeringan telah banyak menimbulkan kerugian yang amat besar, baik jiwa, harta-benda, dan tertundanya aktivitas kegiatan sosial maupun ekonomi masyarakat. Rentetan bencana tersebut harus menjadi peringatan bagi kita bahwa dalam mengelola alam kita telah salah arah sehinga perlu merancang suatu upaya pencegahan bencana sedini mungkin dalam upaya meminimalisasi kerugian baik jiwa maupun material. Contoh konkret dari kesalahan kebijakan mengelola alam adalah bencana-bencana yang melanda kawasan Pulau Jawa. Misalnya banjir yang melanda wilayah Jakarta dan sebagian daerah di Jawa Tengah, serta tanah longsor di wilayah Karanganyar – Jawa Tengah pada awal tahun 2008, menunjukkan bahwa bencana alam terjadi tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

1 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

lui Sensus Pertanian pada tahun 2003 mengenai data sosial di Pulau Jawa-Madura menunjukkan terdapat 5.073 desa, dan sekitar 536.350 KK (Kepala Keluarga) yang mendiami wilayah yang secara potensial rawan banjir. Dalam kasus tanah longsor yang melanda wilayah di sekitar Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah pada bulan Januari 2008, menunjukkan semakin rendahnya kesadaran masyarakat serta kurang sensitifnya Pemerintah daerah dalam mengawasi pembangunan tata ruang yang berdampak pada peningkatan erosi dan meluasnya lahan-lahan kritis akibat penebangan hutan dan berkurangnya daerah resapan air hujan. Proses erosi sendiri sesungguhnya merupakan suatu proses alamiah yang berlangsung di permukaan bumi, karena bumi sesungguhnya ‘hidup’ karena bumi terus bergerak dan mengalami perubahan bentuk meskipuun tidak dipengaruhi oleh campur-tangan manusia. Bumi memiliki kuasa dan hak-haknya untuk berevolusi, sesuatu yang sulit dihindari oleh manusia dan karenanya harus diterima sebagai suatu kesadaran dalam mendiaminya. Sedangkan proses erosi secara geologis adalah proses terlepasnya dan terangkutnya material bumi oleh tenaga air yang mengalir, gelombang, arus tsunami, gletser, dan angin. Masalahnya, erosi yang seringkali terjadi dalam skala besar di wilayah Indonesia, justru berlangsung karena lebih banyak campur-tangan manusia yang mengeksploitasi lingkungan, padahal secara alamiah kondisi lingkungan geologis di Indonesia adalah ‘rawan-longsor’. Perubahan

iklim yang berpengaruh pada kacau– nya musim-musim yang biasa kita alami di daerah tropis seperti musim penghujan – dan musim kemarau sebagai dampak dari perubahan siklus El-Nino, juga menjadi faktor yang tak terhindarkan dalam memperparah potensi terjadinya longsor. Pada saat musim kemarau yang cenderung semakin panjang di beberapa wilayah, berakibat pada retakan rekahan tanah, sehingga ketika hujan datang dengan curah yang cukup besar, tanah tersebut tidak mampu menampung resapan airnya sehingga terjadilah bencana tersebut. Aktivitas produksi manusia yang mengakibatkan erosi sehingga terjadi bencana banjir dan longsor bukan hanya berlangsung di wilayah resapan air di hulu sungai karena penebangan pohon secara berlebihan, melainkan juga pada wilayah DAS yang mengarah ke hilir sehingga luas sungai bergeser dan mengalami penyempitan. Kebanyakan penyempitan DAS ini dikarenakan semakin meluasnya wilayah pemukiman di pinggiran sungai dan juga perubahan fungsi tanah di sekitarnya sebagai lahan pertanian produktif. Peta daerah rawan bencana yang memberi petunjuk tentang dinamika gerakan tanah secara umum di Indonesia sesungguhnya telah dilakukan oleh Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan (Direktorat GTL), akan tetapi peta tersebut secara operasional

masih belum ditindak-lanjuti oleh banyak Pemerintah Daerah sebagai rujukan perencanaan pembangunan yang sensitif terhadap penanganan bencana alam. Adapun peta itu sendiri masih dibuat dalam skala yang sangat besar (1: 1.000.000 sampai 1.: 100.000) sehingga belum menggambarkan secara detil, wilayah rawan bencana seperti zona-zona kerentanan yang mencangkup wilayah kabupaten, kota, kecamatan, hingga ke desadesa, sehingga Pemerintah Daerah juga sulit menanggapi pelaksanaannya. Padahal, peta rawan longsor dan banjir yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana dan acuan perencanaan tata lingkungan seharusnya dibuat dalam skala yang lebih rinci, misalnya 1: 25.000 sampai 1: 10.000 (Dwikorita Ratnawati, Kompas 2006). Hal itu berarti bahwa upaya untuk melakukan investigasi atas wilayah yang rawan bencana memerlukan kerjasama dan koordinasi antar berbagai institusi pemerintah, karena tanpa adanya koordinasi maka upaya penanganan dampak bencana hanya akan sekedar bersifat reaktif semata. Selain itu, perlu suatu upaya penataan kembali fungsi hutan (khususnya di seluruh Pulau Jawa – yang saat ini paling rawan terjadi banjir dan longsor – dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia) sesuai fungsi dan karakter fisik hutan tersebut yang sesuai dalam mendukung fungsi

<<

2

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 utama Daerah Aliran Sungai. Upaya ini menjadi sesuatu yang sampai sekarang masih merupakan rencana tindak lanjut jangka panjang, mengingat sebaran masyarakat yang menggunakan lahan yang seharusnya merupakan wilayah konservasi telah berubah fungsi menjadi basis produktivitas ekonomi mereka. Upaya merelokasi penduduk di wilayah sekitar bencana alam, masih menemui ba-

Kebijakan Publik

nyak kendala, oleh karena itu kesadaran mengenai kerawanan bencana memang perlu disosialisasikan terus agar dapat menjadi pengetahuan kolektif yang dimiliki masyarakat.

Penanggulangan Risiko Bencana Dalam Kebijakan Publik

Pengungkapan data di atas ditujukan untuk melihat bahwa dalam merespon bencana alam, sikap saling menyalahkan antar berbagai instrumen pemerintah maupun masyarakat tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh bencana alam semacam ini. Oleh karena itu diperlukan kesadaran kritis untuk mengelola lingkungan hidup, melanjutkan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah yang terkena dampak bencana, sekaligus mulai belajar untuk membangun kesadaran kolektif dalam merawat lingkungan dan perencanaan pembangunan yang sensitif – bukan hanya dalam merespon sewaktuwaktu terjadi bencana – melainkan juga dalam menjaga keseimbangan ekologi lingkungan. Meningkatnya bahaya yang diakibatkan oleh bencana alam khususnya di Negara berkembang juga dikarenakan oleh upaya pemenuhan kebutuhan kondisi material mendasar seperti pangan, papan, pakaian, sehingga mengabaikan pengendalian dan konservasi hutan, tanah, dan air. Kondisi semacam ini mendorong Perserikatan BangsaBangsa (PBB) untuk memprakarsai upaya penanggulangan bencana alam secara internasional melalui deklarasi ‘Dekade Pengurangan Bencana Alam Internasional’ (International Decade for Natural Disaster Reduction) pada awal abad 21. Meskipun upaya ini masih lebih banyak berlangsung pada level advokasi, akan tetapi kesadaran itu harus segera direspon dalam wujud kelembagaan yang terkoordinasi karena kebutuhan untuk mengurangi risiko bencana secara sistematis memerlukan bukan hanya pemahaman, melainkan juga komitmen bersama antar semua pihak yang saling terkait,

terutama di tingkat pengambil keputusan. Upaya untuk merespon deklarasi PBB dalam mengurangi dampak bencana alam baik secara regional maupun nasional, di beberapa negara ditindak-lanjuti dengan strategi kerangka kerja bersama negara-negara dalam mengatasi dampak bencana maupun risikonya, misalnya seperti yang dilakukan melalui ‘the Beijing Action’. Dalam merespon upaya di tingkat regional semacam itu, Pemerintah Indonesia menindaklanjutinya dengan ‘Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana’ pada akhir tahun 2006 yang lalu. Rencana aksi ini memuat aspek penanganan bencana dalam prioritas Rencana Kerja Pembangunan Pemerintah (RKP) mulai tahun 2007, termasuk merancang produk legal - hukum penanganan bencana dan pengurangan risiko bencana melalui ‘RUU Penanganan Bencana’. Harus diakui bahwa memang dalam level wacana di tingkat pengambil kebijakan khususnya di Pemerintah Pusat, sudah muncul kesadaran paradigmatik dalam penanganan bencana alam. Yakni, penanganan bencana tidak lagi hanya menekankan pada aspek ‘tanggap darurat’ saja, tetapi juga meliputi manajemen risiko. Di dalamnya memuat tanggung-jawab bersama antara pemerintah dan seluruh anggota masyarakat untuk menjaga keseimbangan lingkungan dalam aktivitas sosial dan produksi ekonomi. Meskipun rencana ini merupakan suatu agenda yang progresif, tetapi pelaksanaannya memerlukan pemantauan secara kritis khususnya dari elemen masyarakat sipil. Hal ini dikarenakan upaya untuk menindaklanjuti renca-

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

3 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada aktivitas hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan termasuk kesehatan; (2) kontribusi publik menjadi bagian yang mempengaruhi regulasi yang diputuskan oleh lembaga/pihak terkait; (3) perhatian publik atas masalah lingkungan hidup yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari mereka harus menjadi unsur utama dalam proses pengambilan keputusan; (4) para pengambil keputusan harus secara aktif mencari-tahu dan memfasilitasi keterlibatan masyarakat dalam penyusunan kebijakan yang secara potensial mempengaruhi mereka. Secara praktis, prinsip keadilan lingkungan mengutamakan prosedur kebijakan yang memuat unsur-unsur keadilan sebagai berikut: a. Keadilan Distributif Dalam prakteknya merupakan langkah-langkah proteksi (perlindungan) untuk mendapatkan kesetaraan dalam memperoleh rasa aman dari dampak eksploitasi lingkungan, misalnya dari pencemaran alam. Pencemaran lingkungan yang bukan diakibatkan dari kehendak warga masyarakat, melainkan karena faktorfaktor pembangunan ekonomi seperti limbah industri, tidak bisa didistribusikan sebagai beban yang ditanggung oleh warga masyarakat di sekitarnya. b. Keadilan Prosedural Prakteknya harus merupakan penyusunan regulasi dan aturan yang bersifat ‘transparan’ sehingga memungkinkan anggota masyarakat untuk mengakses informasi dalam pengambilan keputusan yang memiliki dampak pada lingkungan. c. Keadilan Korektif Upaya untuk menerapkan aturan legal formal melalui legislasi, aturan dan regulasi atau proses hukum yang memungkinkan upaya-upaya untuk mendapatkan ‘keadilan formal’ sebagai dampak lingkungan, misalnya melalui perwujudan kompensasi bagi warga masyarakat yang dirugikan dan hukuman bagi mereka yang terbukti melakukan ‘kerusakan alam’. d. Keadilan Sosial Mengupayakan keadilan yang terfokus pada upaya membangun kesejahteraan masyarakat dengan menghindarkan eksploitasi secara berlebih-lebihan terhadap sumber daya alam melalui mekanisme keadilan prosedural, misalnya penerapan kajian dampak lingkungan, melibatkan peran-serta warga masyarakat dalam pembangunan ekonomi ramah lingkungan, serta pengenaan pajak atas eksploitasi sumber daya alam oleh kepentingan bisnis (korporasi) untuk didistribusikan sebagai tanggung-jawab sosial bagi kesejahteraan masyarakat. Rancangan kebijakan yang hanya sekedar merespon persoalan jangkapendek bukanlah solusi yang tepat dalam menjaga kesinambungan daya tahan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah rentan bencana. Perumusan visi dan perencanaan agenda dalam penyusunan kebijakan bukan hanya sekedar melihat konteks ‘bencana’ dan kerusakan lingkungan sebagai masalah ekologis dan ekonomi semata, melainkan juga masalah yang bersifat sosial, politis dan kultural. Artinya, prinsip ‘keadilan lingkungan’ memuat pula norma dan nilai kultural dalam penerapan aturan dan regulasi yang mendukung pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Prinsip keadilan sosial justru akan memiliki ‘daya guna’ ketika masyarakat mulai menyadari potensi yang mereka miliki, baik potensi yang berpengaruh pada kerentanan maupun kekuatan dalam mengelola hubungan produktifnya dengan lingkungan alam. Efek ‘daya guna’ itu hanya akan muncul apabila masyarakat merasa bahwa ‘prinsip keadilan lingkungan’ adalah ‘kebutuhan’ mereka, bukan suatu ideologi yang dipaksakan tanpa memberikan daya manfaat apapun bagi keberlanjutan hidup dan kesejahteraan mereka sendiri. Oleh karena itu, gerakan sosial yang bertujuan untuk mereformasi lingkungan hidup juga harus

na strategi pembangunan yang mempertimbangkan risiko khususnya dalam mengatasi dan menanggulangi dampak bencana alam bukan hanya melibatkan mobilisasi secara ekonomi dan politik, melainkan juga harus mempertimbangkan konteks budaya dari masyarakat di sekitar wilayah yang rentan bencana dalam tujuan untuk memobilisasi partisipasi sosial mereka. Belajar dari pengalaman yang berlangsung di negara lain misalnya, upaya untuk mempertimbangkan unsur budaya dalam penyusunan formulasi kebijakan publik yang mempertimbangkan aspek keseimbangan lingkungan dimunculkan melalui wacana dan gerakan sosial mengenai prinsip ‘Environmental Justice’ (keadilan lingkungan). Aktivitas yang memobilisasi partisipasi masyarakat semacam ini merupakan suatu gerakan yang meliputi upaya advokasi dan proses lobi dalam formulasi kebijakan publik yang datang dari inisiatif masyarakat setempat khususnya yang berkenaan dengan upaya konservasi lingkungan. Prinsip mengenai ‘environmental justice’ sebenarnya bukan hal yang baru karena gagasan dan gerakannya secara global telah berlangsung kira-kira selama tiga puluh tahun terakhir. Gerakan ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1976 yang diprakarsai oleh Serikat Pekerja Automobil Seluruh Amerika Serikat akibat adanya kontaminasi limbah industri yang mempengaruhi kondisi lingkungan dan mencemari air sungai. Prinsip ‘environmental justice’ yang diadvokasikan secara global itu meliputi nilai-nilai antara lain : (1) semua

<<

4

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 berorientasi pada upaya untuk mereformasi struktur kuasa yang melingkupi berbagai kebijakan yang berdampak baik secara langsung, maupun tidak langsung pada lingkungan hidup dan lingkungan manusia itu sendiri. Dengan mencermati rujukan konsep ‘keadilan lingkungan’ dalam upaya menyusun manajemen risiko bencana, maka asumsi mendasar yang harus dikembangkan adalah keterlibatan – peran serta aktif seluruh anggota masyarakat. Oleh karenanya program manajemen risiko haruslah berbasis pada pendekatan komunitas. Pendekatan berbasis komunitas merupakan pembukaan ruang bagi advokasi dan kesempatan yang lebih luas untuk masyarakat agar berperan lebih aktif. Langkah ini meliputi bagaimana mengintegrasikan peran masyarakat ke dalam upaya-upaya untuk pencegahan kerusakan lingkungan, langkah-langkah kesiap-siagaan, tindakan tanggap-bencana, serta tindakan pemulihan setelah terjadinya bencana. Dengan mengedepankan pendekatan mobilisasi partisipasi masyarakat yang memiliki basis di dalam komunitas, maka masyarakat akan memiliki kesadaran kritis, daya sensitif dalam mewaspadai potensi bencana alam di wilayah mereka tinggal, termasuk bagaimana menangani dampak bencana melalui upaya meningkatkan kemampuan untuk mengkonsolidasikan sumber daya di tingkat lokal. Perencanaan program manajemen risiko bencana berbasis komunitas (CBDRM – Disaster Risk Management) yang dilakukan mulai di tingkat lokal merujuk pada tiga elemen utama paradigma penanggulangan bencana, yakni: 1. Mengubah respon darurat ke manajemen risiko; yang secara esensial mencangkup segala kegiatan untuk mengurangi dampak bencana alam dan bahkan menghindarinya. 2. Melindungi rakyat dari akibat yang ditimbulkan oleh bencana sebagai kewajiban pemerintah dalam memberikan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM); yang secara esensial merupakan wujud tugas dan kewajiban pemerintah dimana bentuk-bentuk respon terhadap bencana bukan sekedar memobilisasi ‘kemurahatian’ (charity) – melainkan bagian terintegrasi dalam perlindungan harkat hidup kemanusiaan bagi setiap warga negaranya. 3. Menanggulangi dampak bencana sebagai tanggung-jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat; yang secara esensial mengajak masyarakat bertanggung-jawab atas penanggulangan bencana melalui kegiatan berbasis pada inisiatif warga masyarakat seperti praktek tanggung-jawab sosial dari korporasi (CSR- Corporate Social Responsibility), serta penguatan strategi berbasis pengetahuan lokal dan penggunaan tradisi masyarakat yang mendukung upaya sentral dalam menanggulangi dampak bencana. Secara garis besar, CBDRM mensyaratkan fungsi semua elemen, pemerintah, masyarakat sipil, dan kalangan bisnis-korporasi untuk secara aktif mengupayakan model perencanaan pembangunan yang sensitif terhadap risiko bencana, baik yang diakibatkan oleh alam, maupun karena adanya intervensi manusia. Upaya ini secara teknis menyangkut prosedur pendayagunaan informasi data spasial daerah yang memiliki kerentanan bencana khususnya di dalam penyusunan pembangunan tata ruang yang mengkalkulasi risiko bencana serta penangulangannya. Oleh karena itu,

Kebijakan Publik

prosedur ini hanya bisa berjalan baik apabila dilengkapi dengan sistem informasi dan pengawasan pembangunan tata-ruang melalui penguatan kelembagaan khususnya di dalam tata pemerintahan (baik pusat maupun daerah) sebagai motor utama penjabaran nilai paradigma pembangunan yang sensitif terhadap bencana, juga sebagai wujud tanggung-jawab pemerintah dalam melindungi warga negaranya (masyarakat). Jika dicermati ketiga elemen utama dalam paradigma manajemen risiko berbasis komunitas sebagaimana yang diulas di muka, maka nampak upaya untuk memuat prinsip nilai mengenai ‘environmental justice’ diturunkan ke dalam formulasi strategi penyusunan kebijakan manajemen risiko berbasis komunitas (CBDRM). Meskipun demikian, dikarenakan pendekatan CBDRM merupakan suatu program yang juga mengakomodasi nilai dan tradisi lokal, karenanya harus melihat kenyataan bahwa unsur nilai-nilai budaya lokal dalam masyarakat Indonesia itu bersifat majemuk. Mengapa hal tersebut perlu menjadi suatu kesadaran kritis, karena pada konteks budaya multikultur sesungguhnya memuat ‘kerentanan sosial’ karena masyarakat kita yang memiliki nilai-nilai kultural beragam. Hal semacam inilah yang acapkali merupakan salah satu tantangan tersendiri dalam aplikasi CBDRM di tingkat lokal. Konteks semacam ini juga yang kita saksikan ketika nilai-nilai kultural seperti sistem kepercayaan dalam suatu masyarakat berhadapan langsung dengan kuasa rasionalitas ilmu pengetahuan. Misalnya ketika dampak pemberitaan akan meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu di Propinsi D.I Yogyakarta secara politis berpengaruh terhadap mobilisasi pendanaan dan secara ekonomis amat besar kaitannya bagi upaya tanggap bencana, tetapi transparasi prosesnya hingga kini masih jauh dari pantauan publik. Disisi lain, dalam kasus yang sama keberadaan pengetahuan lokal

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

5 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 lenggaraan kebijakan publik yang mengutamakan demokratisasi di dalam prosesnya. Tentu hal ini, bukan sesuatu yang mudah, karena sebagian besar masyarakat juga perlu memiliki kesadaran bersama untuk merawat lingkungan di sekitar mereka, sedangkan tanggung-jawab sosial baik dari pemerintah maupun kalangan bisnis-korporasi adalah bagaimana menyokong ruang hidup bagi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang rentan akan bencana (baik bencana alam, maupun karena faktor ‘human-eror’ seperti pada kasus lumpur- Lapindo Sidoarjo) – agar bekerjasama, dan bagaimana menyusun suatu kesiapan yang memobilisasi partisipasi sosial masyarakat apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

yang dimiliki masyarakat di sekitar gunung berapi itu, yang diwarisi secara turun-menurun untuk menandai kewaspadaan, justru kurang diperhatikan. Dengan kata lain, tantangan di dalam memberlakukan prinsip keadilan lingkungan melalui CBDRM, sebenarnya sesuatu yang memuat unsurunsur dan mekanisme penye-

Faktor Budaya yang Menentukan: Belajar dari Alam

Esensi kritis dari penjabaran di muka merupakan suatu refleksi dimana bencana sesungguhnya bukan hanya permasalahan lingkungan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik secara ekologis, sosial, ekonomi, maupun politis. Melainkan juga dipengaruhi oleh nilai-budaya yang melandasi perilaku hidup manusia. Budaya yang dimaksudkan disini bukan hanya sekedar tradisi, melainkan nilai dan norma yang terus-menerus dipengaruhi khususnya oleh aktivitas sosial, ekonomi dan politik kita. Politik bumi yang kita berlakukan mengakomodasikan sifat keserakahan sehingga jauh dari keselarasan lingkungan. Manusia memiliki hak untuk hidup, bertahan dan merekayasa alam, dan oleh karena itu hanya melalui tatanan sosial yang demokratis, relasi antara manusia dengan alam yang selaras dapat diwujudkan sebagai suatu kesejahteraan yang berkesinambungan. Kegagalan manusia menjaga keharmonisan hubungan dengan alam akibat rasionalitas ekonomi politik yang membudaya dalam bentukbentuk kehidupan konsumtif tanpa mempertimbangkan dampak yang diakibatkan oleh konsumsi itu sendiri bagi kelangsungan generasi berikutnya. Juga aktivitas produksi manusia yang ironisnya jauh dari mekanisme demokratis, dimana keuntungan ekonomis hanya menjangkau segelitir manusia saja, sedangkan sebagian besar manusia yang lain harus menang-

gung dampak akibat kerusakan alam seperti bencana. Dorongan libido ekonomi manusia yang mengkomodifikasikan segala hal apapun yang ada di alam semesta, juga melahirkan bencana budaya, yakni kecendrungan untuk semakin serakah dan egois. Teknologi cendrung dikonsumsi bukan dalam kerangka membangun suatu basis yang memberi dukungan bagi kelestarian alam, melainkan hanya bertujuan untuk pemuasan diri, sedangkan produksi teknologi canggih memfasilitasi hasrat pemujaan komoditas (fetisisme) ini dengan membuat produk yang kurang ramah lingkungan, cenderung membuat manusia menjadi egois – teralienasi karena mengandalkan kecepatan (speedy), budaya instan (langsung pakai), dan kurang bertanggung-jawab pada keberlanjutan lingkungan (memakai produk yang tak dapat didaur ulang). Pembangunan yang secara ekstensif menggunakan lahan pertanahan, merupakan areal bisnis yang hanya sekedar mengkalkulasi benefit kapital ekonomi, tanpa disertai tanggung-jawab sosial yang memadai. Kavling tanah untuk keperluan pembangunan real estate, reklamasi pantai untuk hunian mewah dan resort pariwisata, merupakan praktek budaya yang seolah-olah ‘dibiarkan’ begitu saja. Sesungguhnya, kita sendiri telah menganiaya alam. Kasus kerusakan lingkungan hidup akhir-akhir ini menjadi gaung yang mulai didengarkan khalayak aki-

<<

6

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 bat terjadinya bencana beruntun, baik oleh faktor alam, dan juga faktor manusia. Faktor alam, sesungguhnya tak bisa dihindari, akan tetapi apabila kita memiliki kesadaran budaya atas kepentingan hidup kolektif baik untuk hari ini dan masa depan bagi generasi kita, maka bencana alam tak akan membawa banyak kerugian. Kerugian itu justru paling banyak diakibatkan oleh kecerobohan dan keserakahan manusia sendiri. Faktor lain yang membuat advokasi bagi kelestarian lingkungan mulai menjadi fokus bagi kegiatan perancangan pembangunan juga dikarenakan saat ini wilayah yang rawan terjadi bencana adalah wilayah di Indonesia yang secara potensial berpenduduk paling besar, seperti di Pulau Jawa dan Sumatra. Kita harus menyadari, mau tidak mau, memang ada keberpihakan politis dalam menanggapi akibat dari bencana disini. Kerusakan lingkungan yang melanda kawasan di pedalaman Indonesia, jauh-jauh hari telah berlangsung, bahkan sudah merusak bukan hanya kondisi ekologi daerah tersebut, melainkan juga mencederai tatanan sosial masyarakatnya, sehingga rawan konflik sosial, yang menambah risiko bencana alam dengan beban penderitaan risiko bencana sosial. Tengok saja kasus hilangnya bukit-bukit di kawasan eksplorasi pertambangan Freeport di wilayah Papua. Juga daerah aliran sungai yang terkontaminasi, akibat pembuangan limbah secara serampangan selama bertahuntahun. Kondisi atas eksploitasi lingkungan disana, bukan hanya telah mempengaruhi keseimbangan alam, tetapi juga keseimbangan sosial dan budaya antara warga masyarakat disana. Orang-orang Papua memang memiliki karakter budaya yang cukup beragam, meskipun sebagian orang menganggap mereka masih cenderung kuat dalam menerapkan tradisi. Akan tetapi, tradisi mereka yakni bertahan hidup pada mekanisme keseimbangan alam menjadi terganggu ketika tempat bernaung itu tidak lagi memberikan ruang hidup yang memadai. Apalagi perilaku budaya sebagian masyarakatnya juga dipengaruhi oleh unsur-unsur kehidupan moderen yang mengadaptasi bentuk-bentuk rasionalitas ekonomi yang konsumtif dan mulai meninggalkan keterikatan secara kolektif untuk kepentingan individual. Mekanisme adat, saat ini justru potensial memfasilitasi kepentingan yang tersembunyi dari keserakahan individual semata. Hal ini bukan sebagai suatu pernyataan yang bermaksud untuk menyudutkan keberadaan ‘adat’ sebagai instrumen politik yang tidak cukup signifikan dalam keberlanjutan hidup warga setempat. Justru mekanisme adat yang mengutamakan unsur-unsur kolektivitas dalam menjaga keserasian alam mulai terkikis, akibat adanya proyek-proyek pembangunan yang masih belum dilengkapi oleh mekanisme demokratis. Pertikaian antar-suku misalnya, bukan lagi dikarenakan faktor ritual atau tradisi, melainkan berakar dari konflik perebutan antar ruang – misalnya perbatasan tanah yang dianggap memiliki nilai ekonomis. Kondisi ini diperparah karena intervensi kepentingan politik sekelompok orang yang menghendaki keuntungan ekonomis dan politis ke dalam mekanisme masyarakat adat. Artinya, memang tidak ada satu pun kehidupan masyarakat Indonesia sekarang ini, bahkan masyarakat tradisional sekalipun yang tidak terkontaminasi oleh efek negatif modernisasi. Dengan pengertian lain, upaya penggalian nilai-nilai lokal yang memuat unsur tradisi lama yang menjaga keselarasan relasi manusia dengan alam memang dibu-

Kebijakan Publik

tuhkan saat ini. Hanya saja tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan keadaan lingkungan sosial dimana masyarakat tradisional pun mengalami proses modernisasi juga perlu dipertimbangkan. Hal semacam ini merupakan upaya untuk mendamaikan nilai-nilai tradisi yang bersifat lokal dengan nilai-nilai universal yang tak terhindarkan misalnya mengenai perencanaan pembangunan. Pembahasan mengenai ‘environmental justice’ di muka merupakan suatu landasan moral sekaligus landasan epistemologis dalam menyusun metode pembangunan sosial yang berkelanjutan, bukan hanya sekedar pembangunan ekonomi. Pembangunan sosial memiliki karakter yang mengintegrasikan seluruh aktivitas produktif manusia dengan pelembagaan sistem nilai dan norma yang mengutamakan distribusi keadilan khususnya bagi kesejahteraan warga masyarakat. Hal ini tidak akan pernah tercapai apabila perumusan kebijakan pembangunan hanya mengutamakan upaya memperoleh keuntungan ekonomis semata, tanpa mempertimbangkan aspek distribusi kesejahteraan untuk meminimalisasi jurang perbedaan ekonomi dan sosial yang terlalu dalam (jauh). Dalam konteks pembangunan sosial di Indonesia khususnya di era reformasi, konsepsi mengenai ‘kesejahteraan sosial’ mengacu pada upaya-upaya strategis dan pelembagaan peningkatan kualitas hidup yang berimplikasi pada pembagian kinerja pembangunan yang bersifat sektoral yang meliputi sektor di bidang kesehatan, pekerjaan sosial (social works), dan pendidikan. Kinerja semacam inilah yang secara struktural berada di bawah pengawasan kementrian koordinasi kesejahteraan sosial. Sedangkan di luar struktur negara, kesejahteraan sosial menjadi bagian dari keterlibatan aktor di luar institusi negara, seperti NGO’s. Memang nampak mulai adanya upaya pemerintah untuk melakukan kebijakan lintas sektoral berkaitan dengan peningkatan kapasitas kesejahteraan,

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

7 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 obyek yang diproblematisasikan’ yang secara khusus mengacu pada bekerjanya kekuasaan dan pengetahuan sebagai kategori pembeda (othering) 2. Dimensi politis: ‘kemiskinan merupakan wilayah strategis obyektifikasi berbagai kepentingan yang dinegosiasikan oleh berbagai pihak untuk direpresentasikan sebagai kepentingan bersama’ 3. Dimensi institusionalisasi: ‘kemiskinan yang diturunkan dari penerjemahan dimensi etis-moral dan politik mendorong mobilisasi dan pengorganisasian sumber daya ekonomi, sosial dan budaya yang terformulasikan didalam perencanaan pembangunan dan implementasi strategis melalui kebijakan publik’ Kritik Arturo Escobar diatas perlu dicermati oleh berbagai pihak terkait dalam penentuan kebijakan pembangunan sosial, termasuk mereka yang terlibat di dalam penyusunan formulasi program CBDRM (Community Based – Disaster Risk Management), baik oleh lembaga pemerintah maupun juga NGO’s. Kritik dari masyarakat terhadap kinerja NGO saat ini juga perlu menjadi perhatian dan kesadaran dari para aktor pelaku di dalamnya. Hal ini karena masyarakat mulai menyadari posisi kritis mereka, sehingga kondisi rentan yang mereka alami, khususnya yang diakibatkan oleh bencana seringkali justru menjadi peluang strategis yang menguntungkan bagi kelompok-kelompok diluar mereka, termasuk juga NGO. Sebagaimana hal-nya Arturo Escobar yang memproblematisasikan ‘kemiskinan’ sebagai proyek kepentingan ekonomi-politik yang ‘terselubung’, maka menangkap ekspresi kesadaran kritis masyarakat yang tidak menghendaki ‘bencana’ sebagai proyek kepentingan yang terselubung, harus pula disadari oleh berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Kerjasama dan komitmen sebagaimana yang menjadi persyaratan di dalam mekanisme implementasi CBDRM – yang memuat prinsip moral ‘keadilan lingkungan’ – sebaiknya juga diselaraskan dengan upaya menyusun agenda pembangunan masyarakat, karena keduanya memiliki persamaan yakni berkenaan dengan distribusi kesejahteraan sebagai wujud keadilan sosial. Distribusi keadilan sosial ini berkaitan dengan berbagai peluang dan akses kesempatan hidup yang bukan hanya mempertimbangkan keselarasan antara manusia dengan alam, tetapi sekaligus keselarasan antar manusia itu sendiri di dalam berhubungan dengan aktivitas produktif yang memanfaatkan sumber daya alam. Keselarasan antar manusia hanya dapat diakomodasi melalui sistem demokrasi yang menghargai nilai-nilai budaya yang bersifat multikultur. Kesadaran ini harus mendasari upaya dalam menggali nilai-nilai lokal yang mendukung implementasi program CDBRM tadi. Hal ini tidak lain karena, kondisi sosial masyarakat Indonesia yang multikultur merupakan fakta keberagaman, yang juga secara laten menyimpan potensi bagi perbedaan setiap kelompok budaya dalam memperoleh kesempatan hidup yang setara. Hal ini dimaklumi karena secara natural individu merupakan bagian dari jaringan dalam komunitas kolektifnya dimana ia memiliki kecendrungan untuk memperoleh kesempatan dan sumber daya (opportunities and resources). Sehingga proses perancangan kebijakan maupun implementasi pembangunan sosial, khususnya yang menggunakan strategi berbasis komunitas harus berdasarkan pada mekanisme demokrasi dengan kesadaran moral-etis atas keberagaman relasi sosial yang memberi ruang memfasilitasi berbagai bentuk-bentuk perbedaan budaya. Sehingga implementasi pengorganisasian masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas untuk tujuan keberlanjutan pembangunan tidak semata-mata terjebak

tetapi seringkali pula isu tentang ‘kesejahteraan sosial’ baru mengemuka di masamasa rentan, misalnya ketika muncul bencana (baik bencana sosial, maupun bencana alam), apalagi jika implementasi program seperti rekonstruksi tidak atau kurang berjalan sebagaimana yang sebelumnya diwacanakan oleh pemerintah. Rancangan identifikasi ‘locus of social development’ dalam agenda tindak lanjut sangat diperlukan, agar berlangsung penguatan kapasitas negara yang sinergis dengan penguatan kapasitas masyarakat sipil. Lokus pembangunan sosial merupakan suatu kerangka acuan strategis untuk mengidentifikasi berbagai aktor yang terlibat di dalam perencanaan pembangunan yang memiliki kapasitas fungsi dan tanggung jawab pada distribusi kesejahteraan sosial. Sekaligus menandai sumber daya (ekonomi, politik, sosial dan budaya) yang secara potensial dimiliki oleh setiap aktor yang terlibat di dalam kinerja jaringan yang melembaga melalui struktur agensi dimana masing-masing aktor tersebut berinteraksi dan melakukan pertukaran berbagai kepentingan (James Midgley, 1998). Kajian yang dikembangkan oleh Arturo Escobar (2002) mengenai ‘arkeologi kemiskinan’ di Negara Dunia Ketiga menem patkan beberapa poin kritis mengenai dimensi moral-etis, politis dan institusionalisasi yang menyangkut upaya kritis dalam merefleksikan proses pembangunan yang selama ini cendrung mengabaikan aspek pembangunan sosial. Dimensi kritis ini meliputi antara lain: 1. Dimensi etis-moral: ‘kemiskinan merupakan konsep pengorganisasian

<<

8

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 pada struktur pengorganisasian sumber daya politis, melainkan juga menyediakan ruang negosiasi bagi berlangsungnya budaya alternatif khususnya yang memuat unsur lokalitas. Unsur lokalitas ini adalah ruang artikulasi praktek budaya multikultur yang dilembagakan secara sosial di dalam masingmasing entitas kelompok sosial – budaya (kelas, etnis/suku, gender, agama dsb), dimana agenda pembangunan sosial secara berkelanjutan menjadi bagian dari komunikasi aktif di dalamnya. Masyarakat kita sesungguhnya masih memiliki warisan berharga peninggalan nenek-moyang, yakni tradisi yang beragam dalam menjaga keseimbangan alam. Hal ini bukan sekedar meromantisasi sejarah lama karena bagaimanapun perubahan lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung melalui globalisasi sulit untuk terhindarkan. Sudah saatnya kita belajar kembali dari alam. Kita perlu melakukan sedikit refleksi bahwa ada kecenderungan jumlah korban dalam setiap bencana alam yang terjadi di wilayah RI cenderung besar. Hal ini dapat dipandang sebagai tragedi kemanusiaan yang seharusnya bisa dihindari atau diminimalkan kalau kegiatan ekspolitasi terhadap alam yang bernuansa ekonomi dapat mengakomodasi “hukum alam” dan suara kearifan budaya lokal. Memang di muka bumi ini, manusia memiliki hak untuk hidup, bertahan, merekayasa alam, dan membentuk tatanan sosial yang demokratis untuk kesejahteraan. Namun, dari perspektif politik bumi yang selaras dengan lingkungan, manusia harus memahami bahwa bumi memiliki hak untuk berevolusi sesuai dengan hukum alam tanpa gangguan dari pihakpihak dan kepentingan-kepentingan manusia. Ada atau tidak ada manusia di bumi, lempengan-lempengan samudera dan benua akan terus saling menekan sehingga menggeser daratan rata-rata 6 cm per tahun, menciptakan gempa dan Tsunami. Hal itu merupakan bagian dari evolusinya, sekaligus bukti bahwa bumi seperti makhluk hidup lain, terus berkembang! Alam bukan merupakan sesuatu hal yang misterius. Alam telah terbukti menjadi sahabat sejati yang tidak pernah berbohong jika manusia bersahabat dan mengakrabinya. Alam akan selalu memberikan penanda tentang apa yang akan terjadi. Contohnya, ketika akan terjadi gelombang pasang tsunami yang tingginya lebih dari 10 meter di Aceh, alam telah memberikan isyarat dengan banyaknya burung-burung berbulu putih yang melakukan migrasi dari laut ke tengah Kota Banda Aceh. Tetapi, karena kita telah banyak meninggalkan pengetahuan lokal tentang alam, isyarat alam itu kurang atau bahkan tidak ditangkap. Seandainya kita masih mengakrabi pengetahuan tradisional tentang cuaca laut, mungkin korban dapat diminimalkan. Bahkan ketika ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi kapitalis mengalami perkembangan tahap lanjut, manusia justru gagal menangkap tanda-tanda alam. Saat ini, yang menonjol justru dorongan ekonomi libido manusia yang mengkomodifikasikan segala hal yang ada di dalam alam. Ruang dan waktu telah dimampatkan dalam teknologi multimedia (TV, cyber, seluler, dan sebagainya) dengan tujuan utama mengejar hasrat pencapaian profit setinggi-tingginya dan akumulasi kapital berkelanjutan. Setiap sentimeter tanah adalah arena space of production yang sekadar menjadi arena produksi dan konsumsi. Terjadilah pengkavlingan ruang untuk keperluan real estate, reklamasi pantai untuk hunian elite, resort pariwisata, dan sebagainya. Semua itu

Kebijakan Publik

menjadi komoditas bergengsi yang bisa menempatkan posisi konsumen pada status atas. Kita telah menganiaya alam dan alam telah memberikan respons. Tragedi kemanusiaan akibat bencana Tsunami seyogianya menjadi kritik dan refleksi atas politik bumi yang selama ini kita lakukan. Hentikan segera ekonomi keserakahan berkedok pertumbuhan yang jelas-jelas merusak lingkungan. Manusia harus mulai belajar menahan diri agar tetap bisa survive di muka bumi. Itulah momentum bagi kita untuk mengubah politik bumi dengan mewujudkan demokrasi lingkungan. Sebuah tatanan yang diusulkan para penganut green politics agar terjadi komunikasi otentik antara manusia (human) dan alam (nonhuman-world) dalam rangka mewujudkan kelangsungan hidup manusia. Manusia memang memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan membentuk tatanan demokratis di muka bumi. Tapi, bumi juga memiliki hak untuk terus eksis dan berevolusi sesuai dengan hukum alam. Karena itu, manusia harus menghormati yang dituangkan dalam bentuk kebijakan politik pelestarian lingkungan jika tidak ingin terjadi bencana kemanusiaan. Bentuk konkret dari politik bumi yang melestarikan alam dapat meliputi tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan seperti bersikap adil dengan lingkungan, mengimplementasikan secara proporsional CBDRM (Community Based Disaster Risk Management) dan mengakomodasi bentuk-bentuk kearifan budaya lokal dalam berekonomi dan beraktivitas lainnya dalam kaitannya dengan eksploitasi alam.

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

9 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

<<

10

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Penanggulangan Bencana Dalam Perspektif Perempuan Dan Anak
oleh Lusi Margiyani

Berita seputar bencana di Indonesia hampir setiap hari dapat kita jumpai di media massa. Sejak empat tahun terakhir beragam bencana seakan secara beruntun menimpa bangsa Indonesia ini. Mulai dari bencana tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004, gempa bumi di Jogjakarta-Klaten hingga bencana tanah longsor dan banjir di berbagai wilayah di Jawa akhir-akhir ini. Tsunami, banjir dan tanah longsor merupakan bagian dari gejala alam dan bagian dari kehidupan kita. Namun gejala alam ini dapat menjadi
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

sebuah bencana apabila tidak mempersiapkan langkah-langkah untuk penanggulangan. “Bencana merupakan sebuah peristiwa yang terjadi karena bertemunya ancaman dari luar terhadap kehidupan manusia dengan kerentanan, yaitu kondisi yang melemahkan masyarakat untuk menangani bencana” Dalam lima tahun terakhir ini wacana mengenai bencana dan upaya penanggulangannya mulai menarik perhatian banyak kalangan seperti lembaga-lembaga internasional, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan organisasi kemanusiaan di tingkat nasional/lokal maupun dari pemerintah. Pengesahan Undang Undang Penang-

gulangan Bencana (UU No 24 tahun 2007), merupakan wujud keseriusan pemerintah untuk melindungi rakyatnya dalam upaya penangulangan bencana. Kesadaran mengenai kondisi geografis Indonesia di wilayah rentan dan upaya penanggulangan sudah mulai dilakukan. Namun perhatian secara khusus terhadap persoalan perempuan dan anak dalam penanggulangan bencana, masih terbatas. Padahal apabila kita simak laporan dari UNFPA terhadap bencana Aceh tahun 2004, dinyatakan bahwa 75% jumlah pengungsi atau orang yang kehilangan ataupun tergusur dari tempat tinggalnya adalah perempuan

11 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 nanggulangan bencana karena mereka mempunyai kerentanan yang berbeda dan kebutuhan khusus yang berbeda pula. Mereka juga mempunyai poKonsep penanggulangan bencana telah terjadi perubahan yang cukup mendasar. Pemaknaan terhadap bencana yang secara konvensional dianggap sebagai sebuah kejadian yang tidak dapat dicegah, kemudian mengalami pergeseran makna bahwa bencana dapat diduga sebelumnya sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan dan pengurangan resiko. Rentang waktu dan fokus bantuan yang awalnya hanya berorientasi pemberian bantuan fisik, teknis semata dan hanya dilakukan pada saat tanggap darurat bencana, kemudian dengan konsep penanggulangan bencana berbasis masyarakat, kerja-kerja penanggulangan bencana dilakukan sejak sebelum bencana terjadi yaitu melalui upaya pencegahan, peredaman resiko dan peringatan dini. Bantuan juga lebih bersifat ke menyeluruh termasuk pendampingan trauma atau psikososial. Perubahan yang sangat mendasar terlihat dari siapa pelaku utama dan manajemen bencana. Dalam penanggulangan bencana secara konvensional terjadi anggapan bahwa penanggungjawab utama untuk “memikirkan” penanggulangan bencana adalah pemerintah, para ahli ataupun LSM. Namun dalam pandangan PBBM , manajemen bencana adalah tanggungjawab setiap orang. Pengutamaan partisipasi sangat ditekankan karena pada dasarnya masyarakat yang terkena bencana lah yang paling merasakan akibatnya, tentunya mereka sendiri yang paling paham mengenai kebutuhan dan cara-cara mengatasinya. Partisipasi masyarakat meliputi laki-laki, perempuan, anak-anak dan mereka yang terpinggirkan misalnya orang yang memiliki cacat tubuh (diffabel). Masyarakat yang terkena bencana, yang semula diposisikan sebagai objek yang pasif hanya menunggu dan menerima bantuan saja, kemudian tensi dan kemampuan yang dapat diikutkan secara aktif dalam masa darurat maupun kesiapsiagaan bencana.

dan anak. Persoalan perempuan dan anak mempunyai keunikan tersendiri dalam upaya pe-

Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM)

dalam PBBM diubah menjadi subyek yang aktif dan dengan kesadaran diri merasa bertanggungjawab untuk melakukan upaya-upaya penanggulangan bencana. Dengan demikian tujuan penanggulangan bencana tidak hanya sebatas mengurangi penderitaan korban dan pemulihan kondisi masyarakat kembali ke situasi normal, namun lebih jauh lagi tujuan PBBM berupaya mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat. Perempuan dan anak merupakan bagian dari mereka yang terpinggirkan dalam tatanan masyarakat kita, biasanya diposisikan rendah ataupun tidak pernah diikutkan berpartisipasi aktif dalam proses-proses perencanaan maupun pengambilan keputusan di masyarakat. PBBM lebih membuka kesempatan partisipasi perempuan anak karena pelibatan aktif seluruh komponen masyarakat diutamakn terlebih untuk kalangan yang selama ini termarginal dikarenakan usia, jenis kelamin ataupun kecacatan fisik. Mengenai bantuan yang diberikan ketika bencana terjadi, dalam pandangan PBBM masyarakat korban didorong berpartisipasi penuh dalam pembuatan keputusan yang menyangkut prioritas kebutuhan serta identivikasi ukuran kesiapan dan peredaman resiko bencana. Dalam proses ini perempuan dan anak-anak dapat berperan aktif untuk penentuan kebutuhan khusus mereka. Seringkali dalam banyak kejadian bencana, kebutuhan khusus untuk perempuan dan anak terlewatkan karena pemberian bantuan ditentukan oleh pihak luar tanpa berkonsultasi dengan yang bersangkutan terlebih dahulu. Ibu hamil tentunya mempunyai kebutuhan khusus yang tidak bisa diabaikan begitu saja meski pada masa darurat. Kebutuhan akan makanan bergizi terutama sayuran dan buah sangat mendukung kesehatan si ibu
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

<<

12

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 maupun janin yang dikandungnya. “Saya ingin sekali makan buah, sejak disini saya jarang sekali makan buah dan sayuran, padahal saya butuh gizi untuk anak yang saya kandung. Di sini makanannya lagi-lagi mie instant. Sejak disini pula saya tidak pernah mendapat pemeriksaan dokter, tenaga medis memang ada, tetapi masih terbatas”, ujar Yusnidar seorang korban tsunami yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 . Selanjutnya mengenai gamAnak adalah “Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Definisi mengenai anak tersebut secara jelas sudah disebutkan dalam Konvensi Hak Anak (KHA) ataupun dalam Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) Nomor 23 tahun 2003 pada Bab I Ketentuan Umum. Konvensi Hak Anak (KHA) dicanangkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa(PBB) untuk memastikan adanya jaminan perlindungan bagi hak anak di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia telah merativikasi konvensi ini melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. Kemudian diikuti dengan berbagai kebijakan yang mendukung perlindungan anak, yang dimotori oleh kalangan LSM maupun aktivis perlindungan anak, dengan dibentuknya Komisi Nasional Perlindungan Anak hingga kemudian muncul dan disyahkannya Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 tahun 2003. Ini semua memperlihatkan komitmen besar dari Berdasarkan laporan dari IFRC World Disaster Report 2006, diperkirakan 175 juta anak setiap tahun terkena dampak bencana dikarenakan perubahan iklim/cuaca. Perubahan cuaca dapat tejadi disemua belahan bumi sebagai bagian dari gejala alam. Namun besar kecilnya dampak bencana bergantung dari besar kecilnya kerentanan dan kapasitas sebuah negara. Kebanyakan dampak bencana yang besar terjadi di negaranegara dunia ketiga termasuk Indonesia. Hal ini dikarenakan tingkat kerentanan tinggi namun kapasitas yang dimiliki rendah. Padahal negara berkembang seperti Indonesia mem-

Kebijakan Publik

baran kebutuhan khusus perempuan maupun anak serta pembahasan mengenai peran dan keterlibatan perempuan dan anak, akan dibahas secara tersendiri dalam tulisan berikutnya.

Penanggulangan Bencana dalam Perspektif Anak

pemerintah dan masyarakat terhadap perlindungan anak di Indonesia. Prinsip-prinsip umum yang terkandung dalam KHA yang kemudian diserap sebagai prinsip dasar dalam UUPA Nomor 23 tahun 2002, yaitu : 1. Non diskriminasi 2. Untuk kepentingan terbaik anak 3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan berkembang 4. Penghargaan terhadap pendapat anak. Selain itu terdapat 3 kategori hak anak yang tercantum dalam KHA yaitu meliputi : 1. hak untuk bertahan hidup dan tumbuh kembang ; 2. hak untuk mendapat perlindungan; dan 3. hak untuk berpartisipasi. Ketiga kategori tersebut mempunyai nilai yang sama pentingnya dan saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Prinsip dasar dan ke 3 kategori hak tersebut menjadi pertimbangan penting ketika melakukan kerja kemanusiaan dalam penanggulangan bencana. punyai jumlah penduduk yang besar. Diperkirakan sepertiga diantaranya adalah anak-anak. Dalam KHA disebutkan bahwa setiap anak mempunyai hak universal yang berlaku bagi semua anak dari berbagai latar belakang dan mencakup semua yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup dan mendapatkan kesempatan untuk hidup mapan dan berguna. Penekanan semua anak tersebut termasuk anak korban bencana. Bahkan dalam UUPA terdapat beberapa pasal yang secara eksplisit menyebut upaya perlindungan untuk anak pada masa darurat bencana.

Perlindungan Hak Anak Dalam Situasi Darurat

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

13 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 ngungsi, anak korban kerusuhan, anak korban bencana alam dan anak dalam situasi konflik bersenjata. Bahkan dalam pasal 62 disebutkan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri dari atas pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, belajar dan berkreasi, jaminan keamanan dan persamaan perlakuan. Pemenuhan kebutuhan juga harus terpenuhi terlebih bagi anak penyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial seperti misalnya anak yang trauma atau kehilangan orang tua. kerentanan perempuan yang hamil dan menyusui. Eratnya kerentanan perempuan dan anak di masa darurat bencana disebabkan oleh terganggunya pusat pelayanan kesehatan yang ada, kurangnya ketersediaan air bersih dan makanan serta buruknya sanitasi di sekitar lokasi bencana sehingga memicu munculnya berbagai penyakit seperti diare, desentri, infeksi saluran pernafasaan dsb. Dalam kondisi seperti ini penularan penyakit sangat memungkinkan terjadi. Selain kerentanan yang dikarenakan ketersediaan bahan makanan dan sarana kesehatan, anak sangat rentan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang tuanya dikarenakan terjadi perubahan situasi yang drastis sehingga memicu munculnya kemarahan dan kekesalan. Bisa juga kekerasan dilakukan oleh pihak luar, anak pada masa darurat bencana juga rentan sebagai korban perdagangan anak. Pada bencana tsunami di Aceh tahun 2006 lalu, banyak media massa yang memberitahukan penemuan sejumlah anak korban bencana dari Aceh yang menjadi korban perdagangan anak yang dilakukan sebuah lembaga berkedok yayasan di Jakarta. Kerentanan yang lain berupa terganggunya proses belajar anak dikarenakan hancurnya fasilitas pendidikan dan belum berfungsinya pelayanan pendidikan yang tersedia. Dalam KHA maupun UUPA disebutkan bahwa pendidikan sebagai salah satu hak yang melekat pada setiap anak termasuk dalam situasi darurat.

Dalam UUPA pasal 59 dan 60 disebutkan mengenai perlindungan khusus yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat karena bencana alam maupun karena situasi konflik, yaitu anak yang menjadi pe-

Kerentanan Anak (Berkait dengan Hak Perlindungan Anak)

Dalam situasi darurat manapun, anak-anak merupakan pihak yang paling rentan terpengaruh dampak dari bencana. Minimnya sarana kesehatan yang ada, terbatasnya makanan sehat dan bergizi yang tersedia akan berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang mereka. Secara fisik, kejiwaan maupun secara sosial, anak masih belum mampu untuk hidup mandiri. Kerentanan anak pada masa darurat bencana diantaranya keterpisahan dengan keluarga. Keberadaan orang dewasa di sekitarnya diperlukan untuk memberikan perlindungan dan membantu dalam upaya kelang-

sungan hidup anak. Kerentanan anak pada masa darurat terlebih untuk anak usia balita (bawah lima tahun) karena berkait dengan resiko terkena penyakit bahkan kematian anak. Dalam kondisi darurat anak balita sangat rentan terhadap kekurangan gizi, penyakit dan juga kekerasan. Kerentanan anak balita maupun bayi yang masih dalam kandungan sangat berkait erat dengan

<<

14

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Kebutuhan Khusus Anak (Berkaitan dengan hak hidup dan tumbuh kembang)

Kebutuhan dasar anak berupa pakaian, makanan dan penampungan sementara memang hampir sama dengan kebutuhan orang dewasa pada umumnya. Namun dengan memperhatikan kerentanan anak seperti dipaparkan di atas, menuntut pemenuhan berbagai kebutuhan untuk anak pada masa darurat bencana. Seringkali bantuan untuk korban bencana tidak mencakup pakaian anak-anak khususnya untuk bayi, ataupun selimut. Padahal anak usia balita sangat rentan dengan perubahan cuaca ataupun tidak tahan dengan cuaca dingin di alam terbuka. Seharusnya hal ini juga menjadikan pertimbangan dalam pembuatan penampungan sementara bagi korban bencana untuk memberikan perlindungan yang memadai untuk bayi dan anak. Berkaitan dengan makanan, anak mempunyai kebutuhan khusus yaitu makanan sehat bergizi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tubuh, Untuk anak balita kebutuhan berupa susu sangat diperlukan. Namun Demikian pada saat terjadi gempa di Jogjakarta tahun 2006 dan tsunami di Aceh tahun 2004, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat – Departemen Kesehatan mengeluarkan surat ditujukan ke Kepala Dinas Kesehatan terkait, untuk memperhatikan Seringkali anak dan perempuan dalam konteks penanganan bencana, lebih diposisikan sebagai pihak korban yang tidak berdaya. Padahal anak mempunyai potensi untuk berpartisipasi seperti dijamin dalam Konvensi Hak Anak. Partipasi anak dan remaja dapat dikembangkan dan didorong untuk turut serta dalam pengambilan keputusan dan upaya penanggulangan bencana tanpa mengeksploitasi mereka. Dengan demikian mereka ini menjadi bagian dari agen perubah di masyarakatnya. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan oleh Plan International dan Save the Children , menunjukkan bahwa anak dan remaja dapat berperan memberikan sumba-

tentang aturan pengawasan pemberian susu formula pada masa darurat. Pembagian susu formula hanya diperkenakan apabila ada pendampingan dari petugas kesehatan untuk menjelaskan mengenai peruntukan berkait dengan umur anak, takaran yang benar, serta cara pembuatan yang terjamin kebersihan dan kesehatannya. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) lebih disarankan pada masa darurat dibandingkan dengan susu formula. ASI merupakan makanan bayi yang sangat bagus karena praktis, murah dan sangat baik untuk kesehatan bayi. Kandungan ASI tidak sekadar memenuhi kebutuhan makan bagi bayi, namun juga memberikan perlindungan kekebalan tubuh bayi dari berbagai penyakit. Kebutuhan anak yang lain yang hampir tidak pernah diagendakan dalam pemberian bantuan oleh berbagai pihak yaitu berupa alat permainan edukatif anak ataupun buku-buku cerita. Barang-barang tersebut tidak sekadar untuk sarana hiburan dan alat bermain anak, namun merupakan bagian dari stimulasi tumbuh kembang anak. Bahkan alat permainan dan buku-buku seperti itu dapat menjadi sarana penyembuhan trauma anak pada masa darurat bencana. ngan besar dalam pengurangan resiko bencana, baik yang mengancam mereka sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Berikut ini beberapa peran yang dapat dilakukan oleh anak dan remaja dalam penanggulangan bencana : a. Sebagai sumber, pembawa dan penyebaran informasi baik kepada keluarga, teman maupun masyarakatnya. Peran ini semakin penting khususnya di lingkungan keluarga atau masyarakat yang buta huruf ataupun mempunyai kendala untuk mendapatkan informasi. b. Anak mempunyai kreativitas dan inovasi yang tinggi. Pemberian

Peran Anak Dalam Penanggulangan Bencana (Berkait dengan Hak Partisipasi anak)

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

15 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 mang bencana seperti gempa bumi tidak bisa diperkirakan kapan akan terjadi. Oleh karenanya anak-anak perlu dibekali pengetahuan, informasi dan ketrampilan berkait dengan penanggulangan bencana alam. Awalnya bidang pendidikan anak bukanlah bagian dari program tanggap darurat. Baru tahun 2006, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan persetujuan dengan adanya education cluster (kelompok kerja bidang pendidikan). Ada beberapa alasan yang mendasari bidang pendidikan anak merupakan bagian dari program tanggap darurat yaitu: a. Pendidikan merupakan bagian dari hak anak yang harus dipenuhi pada masa darurat b. Sarana untuk perlindungan anak. Melalui pendidikan (misal sekolah sementara), anak berada di lingkungan yang aman secara fisik maupun mental. Hal ini penting sekali mengingat pada masa darurat anak rentan mengalami berbagai bahaya, kecelakaan, kekerasan maupun kemungkinan sebagai korban pedagangan anak. c. Sebagai titik masuk berbagai program yang lain. Dengan berkumpulnya anak di sebuah tempat yang aman, memudahkan untuk melakukan program-program lain yang diperlukan untuk anak di masa darurat misalnya pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan tambahan ataupun kegiatan psikososial untuk mengurangi trauma. d. Memberi sumbangan terhadap proses pemulihan kehidupan sehari-hari di keluarga maupun masyarakat. Kegiatan sekolah anak, akan mempengaruhi rutinitas kegiatan yang dilakukan oleh orang tua maupun masyarakat sekitar, misalnya kembali untuk bekerja. Program pendidikan pada masa tanggap darurat bencana bertujuan mengupayakan anak dapat kembali bersekolah di tempat yang aman, nyaman dan terjangkau. Hal ini sebagai bagian dari pemenuhan hak anak untuk mendapatkan pendidikan meskipun dalam masa darurat, Kegiatan yang dilakukan di bidang pendidikan pada masa darurat : a. Distribusi sarana pendukung pendidikan saat darurat, seperti tenda sekolah perlengkapan sekolah (papan tulis, kapur tulis dsb) dan perlengkapan sekolah anak (bukubuku, alat tulis dan tas) b. Kegiatan psikososial untuk anak melalui beragam kegiatan permainan edukatif dan terstruktur untuk mengurangi trauma anak dan mempercepat proses pemulihan menuju kehidupan seperti keseharian sebelum terjadi bencana c. Pelatihan psikosial dan penguatan guru untuk mendukung pemulihan kondisi kejiwaan guru agar mampu kembali menjalankan fungsinya sebagai pengajar. Program pendidikan tidak hanya dilakukan pada masa darurat, namun juga dilakukan pada masa pemulihan menuju pengembangan kesiapsiagaan bencana. Save the Children dan MDMC (Muhamadiya Disaster Management Center) mengembangkan program kesiapsiagaan bencana untuk Sekolah Dasar (SD) dengan menerbitkan buku panduan dan media untuk sosialisasi dan pemahaman seputar penanggulangan bencana. Save the Children lebih menitikkan pada pengembangan buku yang berisi kumpulan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mengenai kesiapsiagaan bencana yang diintegrasikan kedalam kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) . Sedangkan kalau MMTC lebih mengmbangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dilengkapi dengan media berupa CD (Compact Disk) Buku panduan untuk guru maupun LKS untuk kesiapsiagaan bencana semacam ini akan efektif apabila memang diterapkan di sekolah dan

informasi dan kesempatan untuk berpartisipasi akan mendorong mereka melakukan terobosan yang berkait dengan penanggulangan bencana, yang mungkin kadang terlewat dari pemikiran orang dewasa. c. Membantu memetakan resiko bencana. Melalui kegiatan ini anak mampu mengenali kawasan yang berbahaya yang dapat menimbulkan resiko bencana. d. Anak mampu mengenali keterkaitan bencana dengan persoalan yang lebih luas yang meliputi berbagai aspek kehidupan. e. Anak juga mampu menggerakkan teman-temannya melalui di kelompok anak seperti di kelompok pengajian anak atau sekolah. Berikut ini beberapa contoh program kesiapsiagaan bencana untuk anak dilakukan oleh beberapa lembaga international maupun lokal di bidang pendidikan dan perlindungan anak. 1. Bidang Pendidikan Gempa bumi 27 Mei 2006 di Jogyakarta dan Jawa Tengah lalu, terjadi sekitar pukul 6 pagi. Anak-anak masih berada di rumah, baru melakukan persiapan berangkat ke sekolah. Artinya ketika bencana terjadi, anak-anak masih berada ditengah keluarga. Dapat dibayangkan apabila peristiwa tersebut terjadi pada saat jam sekolah. Pastilah jumlah korban anak-anak akan mencapai angka yang sangat besar, mengingat hampir semua bangunan sekolah di wilayah Bantul selatan dan di Klaten roboh atau rusak berat. Me-

<<

16

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 secara berkala perlu dilakukan simulasi untuk mempraktekkan yang ada dalam RPP. Berdasarkan dari penuturan anak, dari simulasi yang dipraktekkan di salah satu sekolah dasar di Bantul, Jogjakarta, buku semacam ini membawa manfaat untuk melatih diri dalam menghadapi bencana. ”Dalam praktek gempa tadi, perasaanku kaget dan deg-degan banget seperti gempa beneran, praktek itu memberi pengalaman bagiku. Ya aku akan meniru praktek itu. Kalau ada gempa aku akan berlindung di bawah meja, dan kalau keluar tidak berdesakdesakan” kata Putri Suryana Ismi (SD Bakulan, Jetis, Bantul, Jogyakarta). ”Aku takut waktu praktek gempa bumi seperti sungguhan. Hatiku berdebar-debar, tapi aku senang karena seru sekali. Aku jadi ingat waktu gempa dulu semua orang berlari ketakutan tapi semua itu berhenti dalam beberapa menit. Pak guru telah memberi contoh petunjuk simulasi, jadi aku tidak takut lagi dengan gempa bumi” kata Wahyu (SD Bakulan, Jetis, Bantul, Jogjakarta). 2. Program Di Bidang Perlindungan Anak Bencana yang besar seperti tsunami di Aceh dan gempa bumi di Jogjakarta-Jawa Tengah, telah mengundang banyak organisasi kemanusian baik di tingkat lokal, nasional maupun international melakukan berbagai program tanggap darurat untuk anak. Program yang banyak dilakukan diantaranya mendirikan Safe Play Area (tempat bermain anak yang aman) atau sering disebut pula SPA atau Sanggar Anak. Melalui program perlindungan anak di SPA ini anak akan : a. Dapat mengatasi persoalan trauma yang dialami. Di SPA anak-anak berkumpul bersama di sebuah tempat melakukan kegiatan bersama, sehingga bisa saling berbagi rasa dan memberikan dukungan satu dengan yang lain b. Mendapat perlindungan mengenai keterpisahan dari keluarga. Salah satu kegiatan yang dilakukan di SPA ini adalah pendataan ulang anak dan keluarga untuk memastikan anak masih berkumpul dengan keluarganya. c. Mendapat perlindungan dari diskriminasi pelayanan dasar anak pada kondisi darurat. Keberadaan anak di SPA lebih memudahkan untuk memonitor pemenuhan kebutuhan dasar dan tumbuh kembang anak. Pada masa pemulihan menuju kesiapsiagaan bencana, program SPA ini kemudian dikembangkan untuk penguatan kesadaran hak anak, penguatan fungsi keluarga serta penguatan institusi lokal/desa untuk perlindungan hak anak. Beberapa kegiatan untuk kesiapsiagaan bencana diantaranya pembentukan organisasi anak, pembentukan kelompok orang tua peduli anak dan penyiapan peraturan atau kebijakan di tingkat desa untuk perlindungan anak khususnya berkait dengan bencana. Salah satu kegiatan untuk anak dan remaja yaitu mengadakan pelatihan partisipatif mengenai kesiapsiagaan bencana untuk remaja. Dari pelatihan ini diharapkan mereka mampu memahami kesiapsiagaan bencana untuk perlindungan diri dan masyarakat sekitar. Selain itu hal yang tidak kalah penting diharapkan mereka mampu menghasilkan peta kerentanan desa yang kemudian dikomunikasikan kepada keluarga, masyarakat dan pemerintah desa. Dengan demikian ada upaya nyata dari anak yang diusulkan untuk ditindaklanjuti menjadi sebuah kebijakan ditingkat lokal

Kebijakan Publik

sebagai bagian dari penanggulangan bencana. Berikut ini progarm penanggulangan bencana yang disarankan yaitu: 1. Di tingkat pemerintah dan lembaga kemanusiaan di tingkat nasional, lokal : a. Mengembangkan kebijakan perlindungan anak dalam bencana di berbagai tingkatan pemerintahan b. Membuat modul pelatihan penanggulanagn bencana yang mengundang partisipasi anak secara aktif c. Mengadakan pelatihan kesiapsiagaan bencana yang berperspektif anak untuk para relawan/petugas d. Kebutuhan khusus anak menjadi perhatian dan prioritas dalam program pemberian bantuan korban bencana e. Menyediakan referensi mengenai hak anak, gambaran kondisi dan persoalan anak dalam masa darurat bencana maupun programprogram pemulihan dan kesiapsiagaan bencana untuk anak f. Mendokumentasikan dan menyebarluaskan pengalaman terbaik pendampingan anak dalam penanggulangan bencana yang telah dilakukan. 2. Di masyarakat : a. Melibatkan remaja secara aktif dalam kerja-kerja penanggulangan bencana b. Memastikan bantuan yang diberikan dapat sampai dan memenuhi kebutuhan anak c. Membentuk atau menguatkan kelompok anak-anak sebagai media untuk perlindungan dan pengembangan anak pada masa darurat maupun sebagai bagian kesiapsiagaan bencana d. Mengembangkan forum orang dewasa untuk menumbuhkan kepedulian dan kesadaran untuk pemenuhan hak anak e. Membuat kebijakan ditingkat lokal untuk upaya pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak.

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

17 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Jumlah penduduk perempuan di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Namun keterwakilan perempuan dalam berbagai pegambilan keputusan dan kehidupan publik masih sangat minim. Hal ini terjadi karena masih kuatnya budaya patriarchy yang tidak saja mempengaruhi dalam tatanan kehidupan keseharian di masyarakat namun juga proses pengambilan/pembuatan keputusan di tingkat yang lebih luas. Begitu pula dalam upaya penanggulangan bencana, pelibatan perempuan, pemahaman terhadap kebutuhan khusus perempuan serta pengakuan peran signifikan perempuan masih kurang mendapat perhatian Di berbagai belahan bumi, perempuan terbukti mampu secara efektif ikut terlibat dalam berbagai penanggulangan bencana. Namun seringkali sumbangan atau upaya perempuan ini kurang diakui dan kurang mendapat perhatian secara serius sebagai bagian Relasi gender berdampak secara nyata terhadap kehidupan keseharian antara perempuan dan laki-laki. Relasi demikian dalam kaitannya dengan bencana tentunya akan memberikan dampak yang berbeda. Laki-laki yang telah dikonstruksikan dalam posisi yang lebih dekat dengan akses, sumberdaya maupun kekuasaan dan berperan di wilayah publik, tentunya hampir dapat dipastikan memiliki peluang yang lebih besar. Sedangkan perempuan dengan konstruksi sosial yang lebih berada di wilayah domestik dan terjauhkan dari akses dan sumberdaya, tentunya akan lebih rentan. Setiap kedaruratan, perempuan selain membutuhkan bantuan kebutuhan dasar seperti kebanyakan masyarakat yang lain seperti makanan, pakaian dan penampungan sementara, perempuan juga memiliki kebutuhan khusus yang berkait dengan fungsi reproduksinya seperti pembalut, pakaian dalam dan sarana air bersih untuk MCK(Mandi, Cuci dan Kakus). Kebutuhan air bersih ini akan sangat dari upaya penanggulangan bencana. Bahkan di beberapa tempat kadang perempuan disalahkan sebagai penyebab terjadinya bencana misalnya karena perempuan sudah tidak lagi taat kepada suami atau banyak melakukan dosa, sehingga Tuhan menurunkan bencana Sebuah pandangan yang sangat patriarkhis dan merendahkan perempuan Tulisan berikut ini akan mencoba untuk memaparkan gambaran yang berkait dengan kebutuhan khusus perempuan, kerentanan perempuan dalam masa darurat bencana, peranperan dan sumbangan yang dapat dilakukan oleh perempuan serta berbagai produk kebijakan yang mendukung pentingnya memperhatikan persoalan perempuan dalam penanggulangan bencana dan contoh kegiatan kesiapsiagaan bencana yang mendukung yang lebih memperhatikan perempuan.

Penanggulangan Bencana dalam Perspektif Perempuan

Kebutuhan Khusus dan Kerentanan Perempuan Dalam Masa Darurat Bencana

menunjang untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan khususnya ketika masa haid. Dari wawancara yang dilakukan Eko Bambang Subiyantoro dengan pengungsi perempuan di Banda Aceh beberapa saat setelah bencana tsunami tahun 2004, mereka mengatakan bahwa pembalut dan pakaian dalam sangat diperlukan, namun ketika menanyakan ke posko-posko yang ada, barang tersebut tidak didapatkan. Sehingga ada perempuan yang sedang haid sampai dua hari tidak mengganti pembalutnya, ada juga yang kemudian menggunakan sobekan kain yang belum tentu terjamin kebersihannya. Ketersediaan MCK hendaknya dipertimbangkan dari segi kemudahan perempuan untuk menjangkaunya dan tingkat keamanannya. Seringkali perempuan pengungsi enggan untuk menggunakan MCK yang ada salah satunya karena merasa tidak aman, sehingga lebih memilih hanya dengan membentangkan kain untuk penutup, yang dibantu oleh sesama

<<

18

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 perempuan. Untuk perempuan yang hamil, mereka ini memerlukan asupan gizi yang memadai (multi vitamin) agar dapat terpenuhi kebutuhan gizi untuk dirinya dan janin yang dikandungnya. Hal ini untuk menghindari resiko terganggunya kesehatan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayinya. Berdasarkan data dari Unicef, Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Indonesia sebanyak 380 per 100.000 kelahiran. Angka yang cukup tinggi, karena AKI tersebut merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara. Begitu pula untuk ibu yang menyusui selain kebutuhan gizi yang cukup, karena dapat mempengaruhi kelancaran produksi air susu ibu (ASI) untuk si bayi. Dengan lebih memperhatikan kebutuhan khusus perempuan berarti akan membantu pemenuhan kebutuhan anak, khususnya untuk bayi yang masih dalam kandungan ataupun anak yang masih menyusui. Kerentanan perempuan yang lain berupa terbatasnya akses perempuan untuk mendapatkan bantuan khususnya di daerah yang sulit dijangkau. Hal ini disebabkan perempuan menPerempuan dibalik kerentanannya sebenarnya menyimpan potensi kekuatan, strategi survival maupun pengorganisasian yang luar biasa. Belajar dari pengalaman yang dilakukan oleh organisasi/LSM perempuan di Jogyakarta ketika tanggap darurat bencana gempa bumi Mei 2006 lalu. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dan dapat kita pergunakan sebagai acuan ketika menghadapi bencana di tempat yang lain. Organisasi perempuan bersama masyarakat setempat dengan caranya sendiri berupaya mengatasi permasalahan darurat akibat gempa bumi dengan mengerahkan sumberdaya yang dipunyai. Semangat untuk bangkit kembali dari keterpurukan dilandasi semangat untuk mampu menolong diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya, telah memSalah satu peran perempuan yang sangat menonjol dalam sebuah bencana yang biasa dilakukan oleh kelompok perempuan adalah pendirian dapur umum. Konstruksi gender bahwa perempuan diidentikkan dengan kerja domestik seperti memasak misalnya, justru pada saat darurat bencana menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa bagi perempuan dan dirasakan manfaat nyata oleh keluarga dan masyarakat secara luas. Ini merupakan bagian dari upaya peme-

Kebijakan Publik

jalankan fungsi ganda yaitu merawat dan melindungi anak maupun harta benda yang masih tersisa dan bertugas untuk penyediaan makanan untuk keluarga ataupun masyarakat di sekitarnya. Dalam masa darurat yang serba tidak menentu, perempuan juga rentan terhadap kekerasan dilakukan oleh suami atau keluarganya dikarenakan adanya perubahan kondisi yang drastis sehingga memicu munculnya kekerasan. Atau kekerasan yang dilakukan oleh orang luar yaitu rentan menjadi korban perdagangan perempuan.

Peran dan Sumbangan Perempuan Dalam Masa Darurat Bencana

buktikan mempercepat proses pemulihan dan rehabilitasi di masa pasca darurat. Perempuan Merawat Perempuan dikarenakan konstruksi gender cenderung membentuk perempuan untuk lebih perhatian pada hal-hal yang menyentuh perasaan diantaranya merawat orang sekelilingnya. Sebuah konstruksi social yang justru menjadi potensi yang luar biasa bagi perempuan dalam masa darurat bencana dengan memberikan pertolongan perawatan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Apalagi dengan jumlah korban bencana yang membutuhkan perawatan, tidak dapat sepenuhnya dilakukan oleh rumah sakit ataupun pusat pelayanan kesehatan yang ada secara memadai. liharaan masyarakat untuk bertahan hidup khususnya untuk perempuan dan anak di masa bencana. Secara spontan perempuan korban bencana mengorganisir diri mendirikan dapur umum di sekitar wilayahnya. Mereka secara sukarela membawa peralatan ataupun bahan makanan yang masih tersisa seperti beras, sayuran, telur, tahu, tempe dsb untuk dikumpulkan dan dikelola bersama. Keberadaan dapur umum dalam

Dapur Umum Sebagai Strategi Pemeliharaan Ketahanan Hidup Masyarakat Korban Bencana
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

19 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 bencana seperti ini mempunyai peran strategis bagi pengorganisasian masyarakat khususnya perempuan anak-anak serta upaya survival sekelompok masyarakat yang dimotori oleh perempuan. Untuk mengelola dapur umum ini diperlukan kemampuan pengorganisasian masyarakat dan managemen yang berkait dengan pengaturan penyediaan bahan makanan, pembagian kerja dalam penyediaan makanan sampai dengan distribusi yang merata untuk semua warga.

Nasi Bungkus Sebagai Strategi Pengorganisasian Perempuan

Strategi serupa dengan pendirian dapur umum juga dilakukan oleh organisasi perempuan ataupun LSM perempuan lokal untuk melakukan kegiatan kemanusiaan di masa darurat. Terlepas dari suara sumbang karena menganggap pemberian nasi bungkus justru akan memperkuat anggapan domestikasi perempuan dan memanjakan masyarakat. Namun justru apa yang dilakukan oleh mereka ini sebenarnya sebagai awal dari membangun sistem penanggulangan bencana dari perspektif perempuan. Penyediaan nasi bungkus untuk korban bencana bukanlah sebuah tindakan kecil. Seringkali banyak kalangan menganggap sepele nasi bungkus karena merupakan produk domestik perempuan dan kadang dinilai tidak pretisius dan termarjinalkan, namun justru ini merupakan sumberdaya yang dipunyai oleh perempuan hingga tingkat akar rumput. Dari nasi bungkus pula, akan terbentuk jaringan distribusi yang kemudian menjadi sebuah networking (jaringan) yang tidak hanya sebatas urusan praktis pembagian nasi, namun juga upaya menemukan persoalan perempuan dan menumbuhkan kesadaran kritis berkait dengan persoalan perempuan. Mereka sambil membagi nasi bungkus sekaligus melakukan pendataan, identifikasi kerentanan dan issue perempuan dan anak yang muncul. Hal yang lebih penting lagi sambil mereka memulai membangun hubungan dengan orang kunci di setiap kelompok masyarakat.

Pemberi Rasa Aman Peran dan sumbangan perempuan yang lain dalam masa pasca terjadinya bencana adalah kemampuan perempuan dalam memberikan rasa aman kepada sesama perempuan, terhadap anak-anak dan masyarakat di lingkungannya. Secara konstruksi sosial perempuan “dibentuk” memiliki kecenderungan karakter merawat, melindungi dan tabah dalam menghadapi cobaan. Dengan demikian mereka lebih terlatih untuk tabah dan menerima cobaan berupa bencana, dan kemauan untuk berbagi perasaan kepada sesamanya maupun kepada anak-anak. Dalam situasi darurat keamanan dan kenyamanan kejiwaan seperti ini sangat dibutuhkan. “Saya harus tetap tegar untuk melanjutkan kehidupan baru dan memberi semangat kepada kedua anakku yang masih kecil sudah ditinggal oleh ayahnya”, kata Ibu Nurhayati, korban gempa bumi di Jogjakarta. Penyebar Informasi Dapur umum tidak hanya memiliki fungsi penyedia makanan semata, namun juga sebagai pusat berkumpul dan distribusi informasi antar warga masyarakat. Perempuan memiliki peran penyebar informasi mengenai perkembangan yang terjadi (informasi mengenai bencana, bantuan, keadaan anggota keluarga dsb).

<<

20

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Pemberdayaan Perempuan dalam Upaya Pengurangan Resiko Bencana dan Kesiapsiagaan Bencana

Semangat untuk melindungi dan memberdayakan perempuan atau gender mainstreaming berkaitan dengan bencana, sudah mulai diagendakan dalam beberapa produk kebijakan diantaranya : - Prioritas aksi Hyogo framework tahun 2005 -2015 - Millennium Development Goals 2015 - Rencana Strategi Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan (tentang penetapan standar nasional penanganan bencana yang berperspektif gender) - Undang-Undang No 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional - Undang-Undang No 23 tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak (termasuk perempuan). Terdapat pasal-pasal perlindungan terhadap bencana alam. - Undang Undang Penanggulangan Bencana tahun Nomor 24 tahun 2007. Pengarusutamaan gender dalam penanggulangan bencana merupakan bagian integral dari pembangunan, karena mendorong partisipasi perempuan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan, kepemimpinan maupun dalam aspek manajemen. Artinya keberhasilan upaya ini akan menyumbang tingkat kesejahteraan, kesetaraan dan keadilan. Persoalan partisipasi perempuan ini selayaknya menjadi perhatian yang serius dalam upaya penanggulangan bencana. Kendala pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan berkait dengan konstruksi gender di masyarakat yang masih mendudukkan laki-laki sebagai pengambilan keputusan di tingkat keluarga, masyarakat bahkan juga negara. Kendala seringkali juga muncul dari perempuan sendiri, dikarenakan konstruksi gender, mereka tidak terbiasa untuk berani mengemukakan pendapat, apalagi di ruang publik. Dalam Buku Catatan Harian Sketsa Perempuan Pengungsi Gunung Kelir, ada banyak contoh potret rendahnya keterlibatan perem-

puan dalam pengambilan keputusan pada program pembuatan hunian sementara untuk korban tanah longsor di Gunung Kelir, Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Sebagai contoh, Sujiah yang seorang janda, meskipun dia turut hadir dalam pertemuan warga, namun Sujiah tidak usul ataupun berpendapat karena merasa bodoh dan tidak bisa bicara di depan umum. Bahkan Sujiah berpendapat bahwa keputusan dari bapak-bapak dari hasil pertemuan akan baik juga untuk perempuan. Persoalan perempuan dan bencana juga mendapatkan perhatian yang besar dari kalangan aktivis perempuan, isu tersebut merupakan salah satu agenda khusus 12 isu kritis Gerakan Perempuan Indonesia tahun 2006-2011. Gerakan perempuan merupakan bagian dari gerakan sosial yang mempunyai agenda bersama membangun kesadaran kritis masyarakat yang berperspektif gender. Perubahan terhadap kondisi perempuan harus dilakukan bersama berbagai elemen gerakan sosial. Begitu pula sebaliknya dengan munculnya partisipasi perempuan akan menyumbang perwujudan demokrasi yang lebih nyata. Ada 6 tuntutan aktivis perempuan yang berkait dengan perempuan dan bencana yaitu : 1. Membuat data base tentang bencana dan permasalahannya 2. Membangun manajemen dan melibatkan perempuan dalam penanggulanagn bencana yang berperspektif gender 3. Mendesak adanya UU yang melindungi perempuan dan anak sebagai korban konflik 4. Mengkritisi dan mendesak RUU atau peraturan tentang penanggulangan bencana termasuk alokasi dana yang berperspektif gender 5. Membangun sinergi antar berbagai pihak dalam penanggulangan bencana 6. Mendesak negara untuk menyediakan pelayanan trauma healing

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

21 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 sebagai referensi Mendokumentasikan dan menyebarluaskan pengalaman terbaik penyetaraan gender dari kerjakerja penanggulangan bencana yang telah dilakukan. Kegiatan semacam ini mulai banyak dilakukan oleh LSM/organisasi perempuan terutama sejak lima tahun terakhir ini banyak terjadi bencana di Indonesia. Dokumentasi ini sangat berguna untuk replikasi di tempat lain, dan untuk menghindari kesalahan-kesalahan penanganan bencana yang pernah dilakukan. Mengembangkan alat analisa gender dalam bencana yang sederhana agar mudah digunakan dalam penerapan pelaksanaan penanggulangan bencana. Di Tingkat Masyarakat : Perencanaan dan pelaksanaan program penanggulangan bencana, berkonsultasi dan melibatkan perempuan dalam setiap proses Memastikan dalam penyaluran bantuan secara adil dan merata khususnya kepada perempuan dan anak-anak Meningkatkan keterlibatan dan keterwakilan perempuan dalam proses pengambilan keputusan Mendorong perempuan untuk berperan dalam kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk penanggulangan bencana dengan melatih tenaga sukarela dari masyarakat lokal dan mendorong perempuan untuk terlibatat dalam pelatihanpelatihan. Membekali masyarakat lokal dengan pengetahuan praktis seputar pengenalan bencana dan penanggulangannya serta ketrampilan sederhana yang berkait dengan bencana, misal pelatihan mengenai pertolongan pertama pada kecelakan Secara berkala melakukan simulasi upaya penyelamatan diri dari bencana, dengan memperhatikan kelompok rentan Mengembangkan sistem peringatan dini yang dapat dimengerti oleh semua masyarakat (khususnya untuk perempuan dan anak) Menyiapkan fasilitas yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan sebagai tempat pengungsian yang mudah dijangkau oleh perempuan dan anak.

dan psikososial Untuk memastikan agar isu gender atau perspektif perempuan menjadi bagian dari penanggulangan bencana perlu diupayakan berbagai kegiatan diantaranya : 1. Untuk Pemerintah dan Lembaga Kemanusiaan ditingkat nasional maupun lokal : - Gender dimasukkan ke dalam rencana kerja dan strategi penanggulangan bencana - Membuat data terpisah berdasarkan jenis kelamin dan kerentanan perempuan perlu dikembangkan, misal jumlah perempuan hamil, menyusui, perempuan diffabel (cacat tubuh) - Menggunakan prinsip dan panduan gender dalam pelaksanaan kerjanya dan memadukan pertimbangan gender dalam mekanisme bantuan darurat - Mengembangkan persiapan dalam penyediaan bantuan paling tidak sampai di tingkat kabupaten. - Memastikan bantuan yang diberikan kepada korban bencana sesuai dengan kebutuhan perempuan - Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan penanggulangan bencana dengan mengikutsertakan perempuan di dalamnya - Memasukkan materi gender ke dalam modul-modul pelatihan yang berkait dengan penanggulangan bencana. Hal ini terutama menyangkut pengetahuan, pemahaman dan kepekaan terhadap kondisi dan kebutuhan khusus perempuan. - Menyediakan referensi seputar persoalan gender dan analisa gender, sehingga memudahkan sewaktu-waktu diperlukan

-

-

2. -

-

-

-

-

Kesimpulan 1. Perempuan dan anak memiliki kerentanan tersendiri ketika terjadi bencana. Mereka mempunyai kebutuhan khusus yang perlu diagendakan dalam distribusi bantuan maupun dalam perencanaan persedian barang. 2. Upaya penanggulangan bencana sudah mulai menjadi perhatian banyak kalangan, baik lembaga international, lembaga lokal seperti LSM dan organisasi sosial maupun pemerintah. Namun perhatian secara khusus mengenai persoalan perempuan dan anak dalam bencana masih terbatas. 3. Perempuan dan anak masih sering diposisikan sebagai objek korban bencana. Mereka sebenarnya mempunyai kemampuan dan potensi besar untuk dilibatkan secara aktif dalam upaya penanggulangan bencana. 4. Belajar dari pengalaman penanganan bencana gempa bumi di Jogjakarta, terjadi proses transformasi perempuan korban bencana menjadi penolong masyarakat korban. Mereka dengan caranya sendiri misal dengan pendirian dapur umum dan distribusi nasi bungkus, mampu mengorganisir dan memberikan sumbangan yang besar kepada masyarakat dalam mempertahankan dan kelangsungan hidup. 5. Dari pengalaman beberapa lembaga kemanusiaan menunjukkan perempuan dan anak dapat berperan penting dalam upaya penanggulangan bencana baik di masa darurat maupun dalam di saat untuk kesiapsiagaan bencana.
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

<<

22

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Manajemen Risiko Bencana Berbasis Komunitas: Alternatif Dari Bawah
oleh: Dr. Eko Teguh Paripurno, MT munculnya ancaman itu. Bukan saja karena kekuatannya yang luar biasa, namun juga karena waktu terjadinya sulit ditentukan secara tepat. Beberapa kejadian bencana alam menunjukkan bahwa betapa besar ukuran suatu bencana alam itu, sehingga manusia tidak mempunyai makna terhadap besarnya bencana tersebut. Namun, dilain pihak, manusia mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memahami bencana tersebut. Tindakan tersebut merupakan salah satu upaya untuk meredam kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam, atau sering disebut sebagai bagian dari penanggulangan bencana. Tindakan penanggulangan bencana merupakan bagian penting dan strategis bagi aksi kemanusiaan, dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari kebijakan pembangunan dan usaha peningkatan kesejahteraan. Saat bencana terjadi, hampir seluruh aktor mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan tindakan gawat darurat bagi korban bencana. Selanjutnya, kita disibukkan berbenah melakukan rehabilitasi maupun rekontruksi. Berbagai pengelolaan bencana yang telah kita lakukan jelas sesuai dan bukan tanpa alasan. Kita melakukan tindakan darurat karena memang begitu banyak korban yang memerlukan pertolongan. Kita perlu melakukan rehabilitasi dan rekontruksi berbagai infrastruktur yang rusak oleh bencana, agar bisa menjalankan rutinitas hidup kita secara normal. Dan, siklus itu selalu saja kita lakukan.

Manajemen bencana berbasis komunitas: alternatif dari bawah? Dari mana sih sebenarnya manajemen bencana harus dimulai?. Entah dari bawah, ataupun dari atas, belakangan ini, setiap terjadi bencana kita cenderung meletakkan kesalahan pada pihak lain, lembaga lain, orang lain, kelompok lain, dan lain lain lainnya. Bahkan, bencana sePolitik Bumi Dan Manajemen Bencana

ringkali dianggap sebagai sesuatu yang harus terjadi, cenderung diterima apa adanya sebagai sebuah takdir. Bencana alam seringkali dianggap sebagai sesuatu yang harus terjadi. Gerakan tanah/tanah longsor, sebagaimana gempa bumi, letusan gunung api, gelombang pasang, kekeringan, banjir dan lainnya, adalah kondisi alam yang melekat pada bumi kita. Sampai sekarang, manusia belum mampu secara tuntas menghentikan

23 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Bencana (disaster) merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu (trigger), ancaman (hazard), dan kerentanan (vulnerability) bekerja bersama secara sistematis, sehingga menyebabkan terjadinya risiko (risk) pada komunitas. Dilihat dari waktu terjadinya, ancaman dapat muncul secara tiba-tiba dan tidak terduga (shocks); ancaman berangsur, terduga dan dapat dicermati (trends); serta ancaman musiman yang datang setiap periode waktu tertentu (seasonality). Ancaman yang muncul secara tiba-tiba akan menimbulkan bencana tiba-tiba (misal tumpahan limbah, kebocoran nuklir); ancaman yang berangsur dan musiman akan menyebabkan bencana yang berangsur (banjir kiriman, kekeringan, degradasi lingkungan akibat polusi, pestisida dan pupuk kimia) dan musiman (gerakan tanah/tanah longsor, kekeringan, banjir pasang surut, banjir hujan). Status ancaman ini sangat tergantung dari kapasitas individu maupun komunitas dalam menguasai sistem peringatan dini (early warning system). Artinya, ancaman yang dimaknai shocks oleh satu individu atau komunitas, merupakan trends untuk individu atau komunitas lain yang mempunyai sistem peringatan dini yang lebih baik. Sebaliknya, ancaman yang dimaknai trends oleh satu individu atau komunitas, merupakan shocks untuk individu atau komunitas lain yang mempunyai sistem peringatan dini yang buruk. Ancaman gerakan tanah/tanah longsor akan dipahami sebagai sesuatu yang mendadak oleh masyarakat yang tidak memahami penanggulangan bencana, tetapi akan dipahami sebagai sesuatu yang berangsur oleh masyarakat yang paham penanggulangan bencana. Bencana akan mereduksi kapasitas komunitas dalam menguasai maupun mengakses aset penghidupan (livelihood assets). Dibeberapa peristiwa bencana seluruh kapasitas dan aset tersebut hilang sama sekali. Reduksi kapasitas itu pula yang memungkinkan bencana cenderung akan hadir berulang di suatu kawasan dan komunitas. Menurut konsep sustainable livelihood ada lima aset penghidupan yang dimiliki oleh setiap individu atau unit sosial yang lebih tinggi di dalam upayanya mengembangkan kehidupannya yaitu: (1) humane capital, yakni modal yang dimiliki manusia; (2) social capital, adalah kekayaan sosial yang dimiliki komunitas; (3) natural capital: adalah persediaan sumber daya alam; (4) physical capital adalah infrastruktur dasar dan memproduksi barang-barang yang dibutuhkan; serta (5) financial capital, yaitu sumber-sumber keuangan yang digunakan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan kehidupannya. Setiap individu, komunitas maupun unit sosial yang lebih besar mengembangkan kapasitas sistem penyesuaian dalam merespon ancaman. Renspons itu bersifat jangka pendek yang disebut mekanisme penyesuaian (coping mechanism) atau yang lebih jangka panjang yang dikenal sebagai mekanisme adaptasi (adaptatif mechanism). Mekanisme dalam menghadapi perubahan dalam jangka pendek terutama bertujuan untuk mengakses kebutuhan hidup dasar: keamanam, sandang, pangan, sedangkan jangka panjang bertujuan untuk memperkuat sumber-sumber kehidupannya. Prinsip kehati-hatian dimulai dari mencermati setiap bagian kegiatan yang berpotensi menjadi ancaman terhadap keberadaan aset penghidupan dan jiwa manusia. Ancaman tersebut perlahan-lahan maupun tiba-tiba akan berpotensi menjadi sebuah bencana, sehingga menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan lingkungan. Kejadian ini terjadi di luar kemampuan adaptasi masyarakat dengan sumber-dayanya. Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dipahami potensi risiko yang mungkin muncul, yaitu besarnya kerugian atau kemungkinan hilang-

Seputar Bencana

<<

24

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 nya (jiwa, korban, kerusakan dan kerugian ekonomi) yang disebabkan oleh ancaman tertentu di suatu daerah pada suatu waktu tertentu. Resiko biasanya dihitung secara matematis, merupakan probabilitas dari dampak atau konsekuensi suatu ancaman. Jika potensi risiko pada pelaksanaan kegiatan jauh lebih besar dari manfaatnya, maka kehati-hatian perlu dilipat-gandakan. Upaya mengurangi kerentanan (vulnerability) yang melekat, yaitu sekumpulan kondisi yang mengarah dan menimbulkan konsekuensi (fisik, sosial, ekonomi dan perilaku) yang berpengaruh buruk terhadap upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana, misalnya: menebang, penambangan batu, membakar . Siklus penanggulangan bencana yang perlu dilakukan secara utuh. Upaya pencegahan (prevention) terhadap munculnya dampak adalah perlakuan utama. Untuk mencegah banjir maka perlu mendorong usaha masyarakat membuat sumur resapan, dan sebaliknya mencegah penebangan. Agar tidak terjadi jebolnya tanggul, maka perlu disusun save procedure dan kontrol terhadap kepatuhan perlakuan. Walaupun pencegahan sudah dilakukan, sementara peluang adanya kejadian masih ada, maka perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi (mitigation), yaitu upaya-upaya untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Ada 2 bentuk mitigasi, yaitu mitigasi struktural berupa pembuatan infrastruktur pendorong minimalisasi dampak, serta mitigasi non struktural berupa penyusuan peraturan-peraturan, pengelolaan tata ruang dan pelatihan. Usaha-usaha di atas perlu didukung dengan upaya kesiapsiagaan (preparedness), yaitu melakukan upaya untuk mengantisipasi bencana, melalui pengorganisasian langkah-langkah yang tepat, efektif dan siap siaga. Misalnya : penyiapan sarana komunikasi, pos komando dan penyiapan lokasi evakuasi. Di dalam usaha kesiapsiagaan ini juga dilakukan penguatan sistem peringatan dini (early warning system), yaitu upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi. Upaya ini misalnya dengan membuat perangkat yang akan menginformasikan ke masyarakat apabila terjadi kenaikan kandungan unsur yang tidak diinginkan di sungai atau sumur di sekitar sumber ancaman. Pemberian peringatan dini harus (1) menjangkau dan dipahami masyarakat (accesible), (2) segera (immediate), (3) tidak membingungkan (coherent), dan (4) bersifat resmi (official) Pada akhirnya jika bencana dari sumber ancaman terpaksa harus terjadi, maka tindakan tanggap darurat (response), yaitu upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak Komunitas merupakan sebuah istilah yang digunakan secara luas. Satu konsep umum mengenai komunitas adalah bahwa suatu komunitas adalah harmonis, mempunyai satu keselarasan minat dan aspirasi, dan terikat oleh nilai-nilai dan tujuan yang sama. Definisi ini menunjukkan bahwa komunitas bersifat homogen. Dalam kenyataannya, suatu komunitas dapat dibedakan secara sosial dan beragam. Gender, kelas, kasta, kekayaan, usia,

Kebijakan Publik

yang ditimbulkan dan mengurangi dampak lebih besar, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda. Secara sinergis juga diperlukan bantuan darurat (relief), yaitu upaya memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa: pangan, sandang, tempat tinggal sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih. Agar dampak tidak berkepanjangan maka proses pemulihan (recovery) kondisi lingkungan dan masyarakat yang terkena dampak/bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan semula. Upaya yang dilakukan bukan sekedar memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll) tetapi termasuk fungsi-fungsi ekologis. Upaya tersebut, dalam jangka pendek umumnya terdiri dari usaha rehabilitasi (rehabilitation), yaitu upaya untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian dan fungsi ekologis setelah bencana terjadi. Penyelesaian masalah lingkungan sejauh ini hanya melakukan tindakan fisik ini, yang umumnya belum menyentuh rehabilitasi fungsi ekologis. Selanjutnya rekonstruksi (reconstruction) merupakan upaya jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.

Seputar Partisipasi Komunitas

etnis, agama, bahasa, dan aspek-aspek lain membedakan dan saling melengkapi dalam komunitas. Kepercayaan, minat, dan nilai-nilai anggota komunitas dapat bertentangan satu sama lain. Oleh karena itu, sebuah komunitas tidak perlu homogen. Dalam manajemen risiko bencana berbasis masyarakat ini, sebuah komunitas dapat diartikan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang dapat mempunyai satu atau dua ke-

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

25 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 kat partisipasi ini dapat diperkuat dari kecenderungan partisipasi yang bermakna ”untuk” komunitas, menjadi ”bersama” komunitas, dan akhirnya ”oleh” komunitas. Ada berbagai pemangku-kepentingan (stakeholder) dan aktor dalam proses pengelolaan resiko bencana oleh komunitas. Pemangku-kepentingan pengelolaan bencana secara umum dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (i) penerima manfaat, komunitas yang mendapat manfaat/dampak secara langsung maupun tidak langsung, (ii) intermediari, kelompok komunitas, lembaga atau perseorangan yang dapat memberikan pertimbangan atau fasilitasi dalam pengelolaan bencana antara lain: konsultan, pakar, LSM, dan profesional di bidang kebencanaan, dan (iii) pembuat kebijakan, lembaga/institusi yang berwenang membuat keputusan dan landasan hukum seperti lembaga pemerintahan dan dewan kebencanaan. Penentuan dan pemilahan pemangku-kepentingan dilakukan melalui 4 (empat) tahap proses yaitu: (a) identifikasi pemangku-kepentingan; (b) penilaian ketertarikan pemangku-kepentingan terhadap kegiatan penanggulangan bencana; (c) penilaian tingkat pengaruh dan kepentingan setiap pemangku-kepentingan; dan (d) perumusan rencana strategi partisipasi stakeholder dalam penanggulangan bencana pada setiap fase kegiatan. Semua proses dilakukan dengan cara mempromosikan kegiatan pembelajaran dan meningkatkan potensi komunitas untuk secara aktif berpartisipasi, serta menyediakan kesempatan untuk ikut bagian dan memiliki kewenangan dalam proses pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya dalam kegiatan penanggulangan bencana. Peran komunitas dalam proses pembangunan adalah penting karena dalam kenyataannya tidak seorang pun yang dapat memahami kesempatan dan hambatan di tingkat lokal selain komunitas setempat itu sendiri, dan tidak seorang pun lebih tertarik untuk memahami urusan setempat selain komunitas yang keberlanjutan hidup dan kesejahteraannya dipertaruhkan. Oleh karena komunitas tempatan harus dilibatkan dalam identifikasi dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kerentanan terhadap bencana dan informasi harus diperoleh dengan cara dan bahasa yang dapat dipahami oleh komunitas. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa kebanyakan pengelolaan resiko bencana dan program pengelolaan yang bersifat topdown gagal untuk mencakup kebutuhan setempat khusus dari komunitas yang rentan, mengabaikan potensi sumber daya dan kapasitas setempat, dan mungkin dalam beberapa kasus bahkan meningkatkan ketergantungan sekaligus kerentanan komunitas. Sebagai hasilnya, para praktisi pengelolaan resiko bencana telah menghasilkan suatu kesepakatan umum untuk lebih memberikan penekanan pada program-program pengelolaan resiko bencana oleh komunitas. Ini berarti bahwa komunitas yang rentan itu sendiri yang akan dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan pengelolaan resiko bencana bersama dengan semua entitas tingkat lokal, propinsi, dan nasional dalam bentuk kerja sama. Tujuan penanggulangan risiko bencana oleh komunitas adalah mengurangi kerentanan dan memperkuat kapasitas komunitas untuk menghadapi resiko bencana yang mereka hadapi. Keterlibatan langsung komunitas dalam melaksanakan tindakantindakan peredaman resiko di tingkat lokal adalah suatu keharusan. Beberapa penulis membedakan antara keikutsertaan komunitas dengan keterlibatan komunitas. Keikutsertaan dan keterlibatan komunitas digunakan secara bergantian, yang berarti bahwa komunitas bertanggung jawab untuk semua tahapan program termasuk perencanaan dan pelaksanaan. Pada akhirnya, ujung dari partisipasi komunitas ini adalah mewujudkan

samaan seperti misalnya tinggal dilingkungan yang sama, terpapar ke resiko bahaya yang serupa, atau sama-sama telah terkena dampak suatu bencana. Komunitas juga dapat mempunyai masalah, kekawatiran dan harapan yang sama tentang resiko bencana. Meskipun demikian, mereka yang tinggal dalam sebuah komunitas mempunyai kerentanan dan kapasitas yang berbeda-beda, misalnya laki-laki dan perempuan. Ada yang mungkin lebih rentan atau lebih mampu dari yang lain. Partisipasi komunitas merupakan suatu proses untuk memberikan wewenang lebih luas kepada komunitas untuk secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan. Pembagian kewenangan ini dilakukan berdasarkan tingkat keikutsertaan komunitas dalam kegiatan tersebut. Partisipasi komunitas bertujuan untuk mencari jawaban atas masalah dengan cara lebih baik, dengan memberi peran komunitas untuk memberikan kontribusi sehingga implementasi kegiatan berjalan lebih efektif, efesien, dan berkelanjutan. Partisipasi komunitas dilakukan mulai dari tahapan kegiatan pembuatan konsep, konstruksi, operasional-pemeliharaan, serta evaluasi dan pengawasan. Tingkat partisipasi komunitas dalam kegiatan penanggulangan bencana terdiri dari 7 (tujuh) tingkatan yang didasarkan pada mekanisme interaksinya, yaitu: (1) penolakan; (2) berbagi informasi; (3) konsultasi tanpa komentar; (4) konsensus dan pengambilan kesepakatan bersama; (5) kolaborasi; (6) berbagi penguatan dan risiko; dan (7) pemberdayaan dan kemitraan. Lebih lanjut ting-

<<

26

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 penanggulangan bencana oleh komunitas itu sendiri. Pengalaman dalam pelaksanaan penanggulangan bencana yang berorientasi pada pemberdayaan dan kemandirian komunitas akan merujuk pada: (1) melakukan upaya pengurangan resiko bencana bersama komunitas di kawasan rawan bencana, agar selanjutnya komunitas mampu mengelola resiko bencana secara mandiri, (2) menghindari munculnya kerentanan baru & ketergantungan komunitas di kawasan rawan bencana pada pihak luar, (3) penanggulangan risiko bencana merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembangunan dan pengelolaan sumberdaya alam untuk pemberlanjutan kehidupan komunitas di kawasan rawan bencana, (4) pendekatan multisektor, multi disiplin, dan multibudaya. Lebih lanjut penanggulangan risiko bencana berbasis komunitas dapat mengacu kepada hal-hal penting berikut : (1) Fokus perhatian dalam pengelolaan resiko bencana adalah komunitas setempat. (2) Peredaman resiko bencana adalah tujuannya. Strategi utama adalah untuk meningkatkan kapasitas dan sumber daya kelompok-kelompok yang paling rentan dan mengurangi kerentanan mereka untuk mencegah terjadinya bencana di kemudian hari. (3) Pengakuan adanya hubungan antara pengelolaan resiko bencana dan proses pembangunan. Pendekatan ini beranggapan bahwa menangani penyebab mendasar bencana, misalnya kemiskinan, diskriminasi dan marginalisasi, penyelenggaraan pemerintahan yang lemah dan pengelolaan politik dan ekonomi yang buruk, akan berperan dalam perbaikan menyeluruh kualitas hidup dan lingkungan. (4) Komunitas adalah sumber daya kunci dalam pengelolaan resiko bencana. Komunitas adalah aktor utama dan juga penerima manfaat utama dalam proses pengelolaan resiko bencana. (5) Penerapan pendekatan multi-sektor dan multi-disipliner; menyatukan begitu banyak komunitas lokal dan bahkan pemangku kepentingan pengelolaan resiko bencana untuk memperluas basis sumber dayanya. (6) Merupakan kerangka kerja yang berkembang dan Seperti telah dikemukakan di atas, penanggulangan risiko bencana oleh komunitas merupakan proses untuk mendorong komunitas di kawasan rawan bencana mampu secara mandiri menangani ancaman yang ada di lingkungannya dan kerentanan yang ada pada dirinya. Oleh karena itu komunitas yang menghadapi resiko perlu terlibat secara aktif dalam identifikasi, analisis, tindakan, pemantauan dan evaluasi resiko bencana untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas mereka. Ini berarti bahwa komunitas menjadi pusat pengambilan keputusan dan pelaksanaan aktivitas-aktivitas pengelolaan resiko bencana. Berdasarkan pengalaman bekerja bersama komunitas, terdapat ke-

Kebijakan Publik

dinamis. Pelajaran yang dipetik dari prakek-praktek yang telah ada terus mengembangkan teori. Pembagian pengalaman, metodologi dan alatalat oleh komunitas dan para praktisi terus berlangsung untuk memperkaya praktek. (7) Mengakui bahwa berbagai komunitas yang berbeda memiliki persepsi yang berbeda tentang resiko. Terutama laki-laki dan perempuan yang mungkin mempunyai pemahaman dan pengalaman yang berbeda dalam menangani resiko juga mempunyai persepsi yang berbeda tentang resiko dan oleh karena itu mungkin mempunyai pandangan yang berbeda tentang bagaimana meredam resiko. Adalah penting untuk mengenali perbedaan-perbedaan tersebut. (8) Berbagai anggota komunitas dan kelompok dalam komunitas mempunyai kerentanan dan kapasitas yang berbeda. Individu, keluarga, dan kelompok yang berbeda dalam komunitas mempunyai kerentanan dan kapasitas yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut ditentukan oleh usia, jender, kelas, pekerjaan (sumber penghidupan), etnisitas, bahasa, agama dan lokasi fisik.

Seputar Proses

cenderungan dalam proses penanggulangan risiko bencana oleh komunitas ini. Walaupun tidak secara linier dan berurutan, beberapa tahapan tersebut di bawah ini dapat digunakan sebagai acuan bagi “orang luar” yang akan mendorong terwujudnya penanggulangan risiko bencana oleh komunitas. 1. Melakukan mobilisasi untuk memahami konteks dilakukan untuk lebih memungkinkan masalah untuk ditangani melalui intervensi yang tepat.melakukan kegiatan-kegiatan untuk secara bersama-sama menggeluti konteks resiko bencana melalui pelatihan, berbagi pengalaman dan lainnya: manajemen bencana & kedaruratan, penanganan pen-

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

27 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 jian bersama tingkat resiko di masyarakat meliputi: persepsi masyarakat atas risiko, pemetaan bahaya, kerentanan dan kapasitas, identifikasi risiko, evaluasi dan penilaian risiko, potensi sumberdaya yang tersedia dan mobilisasi sumberdaya, analisis dan pelaporan bersama ke komunitas 4. Tindakan perencanaan program dan memformulasikan rencana dilakukan berdasarkan hasil analisis risiko. Perencanaan ini meliputi memformulasikan tujuan (meningkatkan kapasitas & mengurangi kerentanan untuk meningkatkan kemampuan mencegah, memitigasi dan menyiapkan diri), manfaat dan hasil (mengurangi risiko), merencanakan kegiatan penting, mengidentifikasikan dan mencari dukungan finansial, memformulasikan rencana kegiatan. 5. Tahapan ini hampir selalu ditempatkan sebagai puncak upaya peredaman risiko bencana. Tahapan ini adalah menjalankan kesepakatan perencanaan yang telah diformulasikan yang dianggap mampu meredam risiko. Dalam tahapan ini terdapat serangkaian kegiatan yang terdiri dari: pengorganisasian pelaksana kegiatan, memobilisasi sumberdaya, melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan, melakukan pemantauan kegiatan dan menggunakan hasil pemantauan untuk memperbaiki rencana peredaman risiko yang dilaksanakan. 6. Penilaian dan memberikan umpan balik cenderung jarang dilakukan. Menilai hasil kegiatan yang disesuaikan dengan hasil yang diharapkan untuk meredam bencana diharapkan dapat digunakan untuk sejak dini mengetahui efektifitas usaha yang telah dilakuakan. Untuk selanjutnya menggunakan hasil evaluasi untuk pemberdayaan komunitas lain dalam meningkatkan kemampuan peredaman bencana. 7. Di sisi lain, dilakukan mendokumentasikan proses pembelajaran dan penyebarluasan praktekpraktek sukses ke masyarakat dan wilayah lain menjadi proses penting agar sebanyak mungkin mengurangi tumpang tindih tindakan dalam peredaman risiko bencana yang sama. Penyebarluasan ini bukan hanya dari sisi geografis, tetapi sekaligus penyebarluasan secara sektoral yang sekaligus juga mengupayakan pengintegrasian usaha-usaha peredaman resiko bencana pada aspek pembangunan dan perikehidupan lainnya dan untuk pembudayaan usaha-usaha peredaman risiko bencana. 8. Akhir dari proses ini adalah melengkapi kelembagaan peredaman bencana yang bertumpu pada komunitas (mendorong pembentukan organisasi rakyat dalam penanggulangan risiko bencana) untuk menjaga keberlanjutan, penyebarluasan dan pengintegrasian. Pada tahap in pula dibangun mekanisme konsultatif antara organisasi rakyat dengan faktor lain. Hal ini penting dilakukan karena proses intervensi peredaman risiko bencana yang melibatkan pihak lain pada umumnya bersifat ”sebagaian” dari upaya peredaman seluruh risiko. Dalam posisi ini tentunya komunitas secara mandiri yang harus melanjutkan upaya-upaya peredaman tersebut. Pelembagaan ini pada dasarnya merupakan sebuah pemastian bahwa upaya peredaman risiko bencana tidak berhenti.

derita gawat darurat, pengamatan & pemantauan ancaman, advokasi kebijakan, ekonomi mikro dan lainnya 2. Penjajagan situasi dan kondisi masyarakat. Penjajagan dilakukan untuk prediksi kebutuhan untuk penanggulangan bencana. Hal ini perlu dilakukan agar terjadi kesesuaian antara kebutuhan dan ketersediaan sumberdaya. Analisis situasi ini dapat mulai dengan menyusun profil masyarakat untuk memahami resiko bencana melalui riset partisipatif tentang: informasi historis kebencanaan, ciri-ciri geoklimat, fisik, keruangan, tatanan sosiopolitik, dan budaya, kegiatan-kegiatan ekonomik serta kelompok-kelompok rentan. 3. Penjajakan yang menyeluruh mengenai keterpaparan komunitas terhadap bahaya dan analisis mengenai kerentanan mereka serta kapasitas mereka merupakan dasar dalam semua aktivitas, proyek dan program untuk meredam resiko bencana. Penjajakan resiko bencana merupakan proses partisipatif dalam menentukan sifat, cakupan, dan besarnya dampak negatif dari ancaman terhadap komunitas dan rumah tangga di dalamnya dalam suatu periode waktu yang dapat diramalkan. Penjajakan resiko bencana komunitas juga memfasilitasi suatu proses menentukan dampak negatif yang mungkin atau cenderung terjadi (kerusakan dan kerugian) pada aset penghidupan yang beresiko. Pengka-

<<

28

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Seputar Strategi Penerapan

Sejak UU Nomor 22 Tahun 1999 (tentang pemerintahan daerah) dan UU Nomor 25 Tahun 1999 (tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah) ditetapkan. Perbincangan tentang kebijakan pembangunan hanya terbatas mengenai pemanfaatan sumberdaya alam daerah untuk kepentingan ekonomi sesaat. Sasarannya: menggenjot pendapatan asli daerah (PAD). Belum terlihat usaha-usaha menerapkan otonomi daerah untuk menangani kawasan-kawasan rawan bencana, atau sebaliknya membuat strategi penanggulangan bencana dalam konteks otonomi daerah. Hal ini berdampak saat otonomi daerah diberlakukan, penanggulangan bencana terkesan lamban. Benarkah ada “saling ketidak pedulian” antara pusat dan daerah? Di satu sisi, daerah perlu bantuan mendesak; di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan tidak ada dana khusus untuk penanggulangan bencana. Dan begitu pula antara masyarakat dengan pemerintah di daerahnya. Ini merupakan tantangan tersendiri buat otonomi daerah. Penanggulangan bencana yang berbasis pada kemampuan masyarakat di kawasan rawan bencana merupakan jawaban atas kelemahan-kelemahan tersebut. Penanggulangan ini dilakukan dengan asas pemberdayaan yang memposisikan masyarakat selaku stakeholder internal tempatan sebagai subyek. Dengan segala keterbatasan yang ada, maka masyarakat diberdayakan untuk mampu membangun dan mengelola sistem penanggulangan bencana di daerahnya. Sementara, kita para stakeholder eksternal, yang bukan masyarakat tempatan, dengan penuh kesadaran menjadi pendukung. Dalam perpektif penanggulangan bencana berbasis komunitas, bencana alam dan lingkungan sebagai fenomena sosial tidak akan muncul begitu saja, tetapi sangat berhubungan dengan kapasitas komunitas. Bencana cenderung terjadi pada komunitas yang rentan, dan akan membuat komunitas semakin rentan. Kerentan-

an komunitas diawali oleh kondisikondisi lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi yang tidak aman yang melekat padanya. Kondisi tidak aman tersebut terjadi oleh tekanan-tekanan dinamik, baik internal maupun eksternal. Dinamika-dinamika internal tersebut bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi karena terdapat akar permasalahan yang menyertainya, baik secara internal maupun eksternal. Di beberapa wilayah, kerentanan tersebut disebabkan oleh (1) didominasi oleh posisi dan tidak aman, (3) meningkatnya aktifitas pembangunan yang tidak selaras dengan alam dan lingkungan, (4) organisasi sosial di dalam penanggulangan bencana yang belum terbangun dan mempunyai kapasitas yang rendah, (4) institusi penanggulangan bencana di tingkat lokal yang tidak aktif dan mempunyai kapasitas yang lemah dalam penanggulangan bencana. Seluruh kondisi tersebut merupakan hasil proses dinamis; antara lain (1) kebijakan pembangunan regional tidak selaras alam dan lingkungan, (2) komunitas seluruh waktunya digunakan untuk kepentingan ekonomi instan, dalam keterbatasan waktu, uang dan pikiran untuk pemberdayaan, (3) pertumbuhan populasi yang tinggi, dan terbatasnya dukungan untuk penanggulangan bencana. Pada akhirnya akar permasalahannya adalah (1) tidak ada hukum positif dalam penanggulangan bencana, (2) penanggulangan bencana dipahami sepotong-sepotong, dan (3) kebijakan bias dalam perpektif penanggulangan bencana. Penanggulangan bencana secara menyeluruh, baik melalui pengurangan dampak maupun menghilangkan penyebab bencana, bukan pekerjaan yang sederhana. Para pelaku perlu melakukan transformasi penanggulangan bencana secara menyeluruh dan sinergis, baik secara struktural maupun proses. Individu, keluarga, komunitas dan unit sosial yang lebih tinggi, maupun pemerintah daerah dan pusat perlu melakukan transfor-

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

29 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 cekung, (2) membangun praktek penanggulangan bencana secara terprogram, menyeluruh, multi pihak dan berbasis pada kebutuhan, (3) meningkatkan keanekaragaaman aset dan sumberdaya masyarakat, (4) membangun organisasi masyarakat di bidang penanggulangan bencana, (5) membangun keanekaragaman produksi dan sumber pendapatan masyarakat, (6) membangun institusi penanggulangan bencana di tingkat lokal. Mengacu pada faktor-faktor penekan dinamis yang ada, maka reduksi faktor penekan dapat dengan Pada kondisi kita saat ini yang terbiasa dengan mekanisme “top-down”, proses partisipasi alias “bottom-up” tidak akan mudah muncul dengan sendirinya. Pemerintah sebagai pemilik mandat utama dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana perlu mendorong proses tersebut, dan memperbesar ruang peran masyarakat. Karena penyelenggaraan penanggulangan bencana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan penyelenggaraan pembangunan, maka mekanisme musyawarah perencanaan pembangunan desa sampai tingka kabupaten misalnya, dapat digunakan sebagai salah satu mekanisme perencanaan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. cara (1) membangun kebijakan dan praktek pengaturan kelahiran, (2) membangun kebijakan dan praktek pengelolaan sumberdaya yang peka lingkungan, tidak berorientasi sesaat, adil dan mutualis. (3) membangun kebijakan dan praktek pengelolaan tata ruang yang peka permasalahan lingkungan, holistik, dan tidak berorientasi sesaat (4) memperkuat hubungan antar keluarga, dan unit sosial di atasnya (5) membangun kebijakan, praktek dan institusi penanggulangan bencana secara utuh di tingkat pemerintah daerah. Tidak cukup ruang peran dalam partisipasi, tetapi perlu alokasi dana yang cukup untuk memperbesar peran tersebut. Misalnya melalui alokasi dana desa (ADD) yang memadai bagi desa kawasan rawan bencana maupun SKPD-SKPD yang berhubungan erat dengan penyelenggaraaan penanggulangan bencana. SKPD pertanian, kehutanan, pendidikan, kepemudaan dan olahraga adalah contoh-contoh SKPD yang dapat digunakan untuk memperbesar peran tersebut. Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana juga dapat dilakukan dengan memperbesar pos-pos anggaran yang dimungkinkan digunakan untuk itu, misalnya melalui pos kegiatan kepemudaan dan olahraga. Tentu sangat tidak adil apabila dana kegiatan keolahragaan di suatu kabupaten yang rawan bencana mencapai 10 milyar, sementara dana untuk kegiatan kepemudaan hanya 1 milyar. Padahal jelas-jelas partisipasi pemuda untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana hanya dapat digunakan melalui kegiatan kepemudaan, baik Pramuka, Karang Taruna, Palang Merah Indonesia dan lainnya. Bukan memalui kegiatan olahraga. Mengapa dana olahraga besar? Ah, rupanya alokasi yang besar itu diperlukan karena kita harus membayar pemain asing untuk sepakbola. Hati kita yang dapat menjawab: itu sesat pikir atau tidak?

masi perilaku, kebijakan, hukum dan institusi. Direkomendasikan para pihak melakukan penanggulangan bencana dengan mereduksi kerentanan dan kondisi tidak aman, tekanan-tekanan dinamis dan akar permasalahan. Mengacu pada kerentanan yang ada, reduksi kerentanan dapat dengan cara (1) meningkatkan kapasitas individu, keluarga dan komunitas dalam melakukan penyesuaian dan adaptasi terhadap tipologi kawasan yang rendah dan

Peran Penganggaran

<<

30

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Bencana Dalam Perspektif Agama-agama
Oleh: Saifudin Zuhri, M.Si

Tragedi bencana silih berganti yang terjadi di negeri ini seakan menggugurkan image atau meruntuhkan mitos selama ini bahwa Indonesia adalah negeri nan elok, subur makmur, jauh dari mala bencana, gemah ripah loh jinawe. Kebanggan terhadap rona alam yang mempesona itu salah satunya terekspresi dalam seuntai bait indah lagu grup band populer era 70-an Koes Plus yang berbunyi: “Bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

dirimu, orang bilang tanah kita tanah surga, ...” Sejak beragam bencana terjadi susul-menyusul di negeri ini, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, hingga tsunami bergegaslah khalayak tercengang, seakan tak percaya. Keagungan, keasrian, dan keindahan alam yang sangat dibanggakan itu seakan sirna oleh aneka bencana yang kian mengakrabi tempat tinggal dan hari-hari kehidupan kita. Kedahsyatan bencana tersebut telah merenggut ribuan nyawa, memporakporandakan infrastruktur privat maupun publik, dan dampak ikutan yang menyertainya. Selain bencana alam tersebut di atas,

tidak kurang dahsyatnya adalah jenis bencana kemanusiaan, seperti merebaknya penyakit menular, kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, korupsi, konflik sosial, dll. Sungguh, kedamaian dan ketentraman menjadi hal yang mahal untuk digapai. Seiring berakhirnya abad ke-20, masalah lingkungan menjadi salah satu pembahasan yang paling utama dan signifikan untuk didiskusikan. Yang demikian, karena manusia dihadapkan pada serangkaian masalahmasalah global yang membahayakan biosfer dan kehidupan umat manusia dalam bentuk-bentuk yang sangat mengejutkan yang, dalam waktu relatif singkat akan menjadi fenomena

31 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Tidak urung, tragedi bencana yang susul-menyusul tersebut memunculkan tanda tanya mendasar; ada apa sebenarnya dengan bumi dan lingkungan kita? Bagaimana bencana itu dimaknai? Bagaimana penanganan bencana seharusnya dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut pada akhirnya kita bertemu dengan beragam pendapat, perspektif, tafsir dan bahkan konsep. Sebagian ada yang melihat bencana sebagai fenomena alam biasa dimana ia dapat diverifikasi berdasar logika rasional dan hukum sebab akibat alamiah. Sebagian lagi ada yang menafsir bencana sebagai fenomena yang tidak Menilik bencana dalam kacamata agama memang menuntut penyelaman lebih dan mendalam. Bukan hanya antara agama dan alam merupakan dua bidang yang berbeda, sehingga keduanya memiliki metodologi dan perspektif yang berlainan; agama berada dalam dimensi profetis dan teologis sedangkan alam berada dalam dimensi empiris dan antroposentris atau ekosentris. Namun demikian, bukan berarti kedua hal tersebut tidak saling berelasi dan berpandangan. Dalam sejarah agama sendiri, konsep ketuhanan sebagai hal pokok dalam ajaran agama, justru dimulai dari permenungan terhadap alam semesta, atau lazim disebut dengan Tadabbur. Dari telaah alam (tadabbur) inilah konsep mengenai Tuhan dikontruksi. Karena itu sangatlah banyak dijumpai di berbagai surat dalam kitab suci peran alam dalam mekonstruksi kesadaran religiusitas. Bahkan norma yang dibangun oleh agama selalu berdimensi tata hubungan antara hubungan manusia dengan Allah (mu’amalah ma’a Allah), hubungan antara sesama manusia (mu’amalah ma’a An-Nas), dan dari kedua hubungan itu hubungan antara manusia dengan alam semesta dibangun. Tidaklah berlebihan jika dikatakan perspektif agama justru memiliki cara pandang yang komprehensif mengenai segitiga relasi antara dapat dipisahkan dengan dimensi etis manusia bahkan teologis. Karenanya apa yang terjadi termasuk bencana tidak bisa serta merta diartikan menurut differensiasi dan falsifikasi logika rasional. Tidaklah mengherankan jika cara pandang kelompok terakhir ini selalu mempersepsikan bencana (musibah) sebagai adzab, cobaan, atau ujian dari Tuhan. Pada kelompok pendapat terakhir biasanya sangat kental disuarakan oleh kaum agamawan. Namun apakah benar demikian adanya? Tulisan ini membatasi hanya pada bagaimana agama melihat bencana atau dengan kata lain bencana dalam persepektif agama. Tuhan, Manusia, dan Alam. Karena itu dalam perspektif agama tidaklah adil ketika terjadi bencana muncul tuduhan bahwa itu sebagai pertanda ketidakramahan lingkungan terhadap kehidupan umat manusia. Mestinya pertanyaan balik diajukan: ramahkah kita memperlakukan alam? Sebab, keramahan kita dalam memperlakukan alam lebih lanjut akan berdampak pada keramahan alam itu sendiri kepada kita. Keduanya menciptakan hubungan timbal balik. Dalam agama, hubungan timbal balik itu bermuara pada titik simpul pertangggungjawaban di hadapan Allah. Sebab apapun yang diperbuat di dunia ini tidak terlepas dari pengawasan dan pertanggungjawaban kepada Allah, termasuk bagaimana perlakuan terhadap lingkungan alam. Oleh karena itu, ketika terjadi berbagai bencana alam, maka pertanyaannya adalah apakah itu wujud dari ketidakramahan alam, atau akibat ketidakramahan kita memperlakukan alam? Di sini, bagaimana manusia memahami dan memosisikan alam merupakan persoalan mendasar. Sebab hal itulah yang menentukan cara manusia melakukan hubungan dengan seluruh elemen alam. Dengan kata lain, konsep teologis, kosmologis, dan ontologis terhadap eksistensi alam akan sangat menentukan

yang tidak dapat dikembalikan lagi (irreversible), sehingga secara cepat kehancuran bumi tidak dapat dihindari. Para ilmuwan mengatakan bahwa manusia dalam tahap sejarah bumi, Anthropocence Epoch, benar-benar telah menjadi kekuatan utama global. Sejumlah ilmuwan terkemuka juga prihatin karena manusia terlalu berhasil dalam mengancam keseimbangan ekosistem bumi dan mengancam keberlangsungan hidup masa depan manusia itu sendiri sebagai sebuah spesies.

Bencana dalam Takaran Teologis

<<

32

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 bagaimana bentuk relasi dan konsep etis dalam memperlakukan alam semesta. Jika demikian, maka paradigma manusia tentang alam semesta dan eksistensi dirinya dalam hubungan dengan Tuhan merupakan titik tolak terbentuknya cara merajut hubungan dengan alam itu sendiri. Kesadaran adalah aspek yang paling fundamental dalam hal ini. Bagaimana kesadaran manusia tentang alam semesta, akan menjadi titik tolak perlakuan manusia itu sendiri terhadap alam semesta. Pola relasi yang dibangun manusia dengan alam semesta bertumpu pada kesadarannya tentang posisi alam semesta itu sendiri terhadap dirinya. Karena itu, jika kita mau merubah cara manusia membangun relasinya dengan alam semesta, yang penting adalah perubahan kesadarannya tentang alam semesta itu sendiri. Banyak hal yang mempengaruhi terbangunnya paradigma tentang alam ini. Salah satunya yang paling signifikan adalah aspek teologis. Teologi memberikan andil pada konstruksi pandangan manusia (world view) dalam memahami dan memposisikan alam semesta. Pola relasi yang dibangun manusia dengan alam, dalam batas tertentu, dipengaruhi oleh pandangan teologisnya. Sebab secara konsepsional, agama sangat mengapresiasi eksistensi alam semesta. Keberadaan alam semesta menjadi salah satu aspek penting dalam konsep keagamaan. Bahkan konsepsi dasar keagamaan, bertolak dari persoalan tentang alam semesta. Karenanya, sangat wajar jika agama menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya kesadaran manusia tentang alam semesta. Bagaimana manusia membangun relasinya dengan alam semesta, biasanya itu dipengaruhi juga oleh pandangan keagamaannya. Bahkan dalam aspek yang paling mendasar sekalipun yakni keimanan terhadap Tuhan, konstruksi konsep ketuhanan secara kronologis dimulai dari permenungan terhadap alam semesta. Karena itu, menganalisa fenomena bencana alam dari perspektif teologis, akan sangat menarik, korelatif dan relevan. Konsepsi agama terkait dengan alam semesta dimulai dari pandangan tentang terciptanya alam semesta itu sendiri. Ini yang paling fundamental. Dalam hal ini, dengan mengacu pada hukum kausalitas, agama sampai pada kesimpulan bahwa keberadaan alam merupakan bukti imperatif adanya Pertama, pandangan teologis bahwa setelah menciptakan alam semesta, Tuhan tidak melakukan intervensi atas alam semesta tersebut. Apa yang terjadi dalam alam semesta adalah proses alamiah. Ini merupakan cikal lahirnya konsep tentang kebebasan manusia. Dengan demikian manusia di alam ini memiliki hak sepenuhnya 3 (tiga) jenis kebebasan, yakni free will (bebas berkehendak), free act (bebas berbuat) dan free choice (bebas memilih/menentukan). Dalam khazanah ke-Islaman aliran ini masuk dalam aliran Qadariah, yakni paham yang menyatakan bahwa manusia

Kebijakan Publik

eksistensi Tuhan selaku penciptanya. Terciptanya alam semesta merupakan akibat dari sebuah sebab penciptaan yang dilakukan oleh ‘tangan’ Tuhan. Karena itu dalam perspektif filsafat ketuhanan, Tuhan bukan hanya Sang Kreator (Maha Pencipta) tetapi juga berpredikat sebagai omne potence (Maha Kuasa), sekaligus omni science (Maha Mengetahui). Secara konsepsional, inilah titik awal terbentuknya relasi antara alam dan manusia. Di sini, alam dan manusia diasumsikan sebagai satu kesatuan. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam semesta hasil ciptaan Tuhan. Dalam hal ini, konsepsi teologi menganut pandangan yang sama. Manusia merupakan bagian dari alam. Tak ada ‘jarak’ antara alam dan manusia sebagai hasil kreasi Tuhan. Perbedaan pandangan teologis mulai muncul dalam memahami eksistensi alam semesta pasca penciptaan. Muncul beberapa aliran teologi dalam memahami fenomena ini. Dari perbedaan ini lahir tiga pandangan (aliran) tentang kebebasan manusia dalam kaitannya dengan kekuasaan Tuhan. Pandangan-pandangan inilah yang kemudian memberikan pengaruh pada pola relasi manusia dengan Tuhan.

Jenis-jenis Aliran Teologis dan Implikasi Etis terhadap Ekologi

sesuai dengan potensi (qadar) yang telah dimilikinya mampu menentukan nasib dirinya sendiri. Karena itu garis kehidupan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh takdir Tuhan, tetapi ada ruang upaya (iradah) manusia yang sangat menentukan. Dalam pandangan ini apa pun yang terjadi serta dicapai oleh manusia merupakan akibat atau hasil dari apa yang telah dilakukan dan diusahakannya (ikhtiyar). Dilihat dalam perspektif teologi ini, fenomena bencana alam harus dilihat dalam konteks proses alamiah itu sendiri atau akibat dari ulah perbuatan manusia terhadap

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

33 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 alat Tuhan untuk mengimplementasikan takdir yang telah ditentukanNya. Jadi, proses sebab akibat, dalam perspektif ini, harus dilihat dalam konteks takdir Tuhan. Dalam hal ini, terjadinya bencana ‘dirasionalisasi’ sebagai bentuk peringatan (bahkan adzab) atau pelajaran (ibroh dan ikmah) dari Tuhan kepada manusia agar berintrospeksi. Bencana adalah bentuk teguran, bahkan tanda kemarahan Tuhan terhadap manusia yang ingkar, kufur dan berbuat maksiat kepada-Nya. Sementara bagi orang yang beriman, bencana adalah cobaan terhadap kesabaran dan ketakwaan. Ketiga, ada sebuah pandangan yang mencoba mencari jalan tengah di antara dua titik ekstrem tersebut. Dalam pandangan jalan tengah ini, disimpulkan bahwa dalam beberapa hal, Tuhan tetap melakukan intervensi terhadap alam semesta, karena itu ada beberapa hal yang telah menjadi ketentuan takdir Tuhan, dan karena itu tidak lagi dapat dirubah oleh kuasa manusia. Namun ada juga beberapa hal yang ditentukan sepenuhnya oleh usaha yang dijalankan manusia itu sendiri. Jika ditilik dari perspektif teologis ini, fenomena bencana alam disimpulkan dalam dua kategori berbeda: ada bencana alam yang merupakan takdir Tuhan dan ada yang merupakan semata-mata akibat dari ulah tangan manusia. Imperasi etis dalam konteks bencana menurut cara pandang ketiga ini adalah jika bencana itu merupakan takdir Tuhan maka sikap tawakkal dan do’a yang dibarengi dengan ikhtiyar dan ijtihad terus menerus melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi wajib dilakukan. Tetapi jika bencana itu merupakan akibat langsung dari ulah destruktif tangan manusia maka ia dituntut untuk instrospeksi, bertaubat dan memperbaiki diri dalam memperlakukan lingkungan. Dari berbagai pandangan teologis tersebut ada beberapa hal yang menjadi fundamental keterkaitan antara konsep teologi dengan pola relasi manusia dan alam. Dalam konsep dasar teologis tentang pembuktian adanya eksistensi Tuhan, manusia dan alam diasumsikan sebagai satu kesatuan hasil kreasi Tuhan. Keduanya bukan merupakan bagian yang terpisahkan. Bahkan, sekali lagi, permenungan atau tadabbur alam merupakan pintu masuk menuju kesadaran eksistensi jati manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu, keutuhan alam semesta pada dasarnya merupakan masa depan manusia itu sendiri. Pola relasi manusia dengan alam, secara substansial merupakan relasi manusia dengan dirinya sendiri. Bagaimana manusia memosisikan serta memperlakukan alam merupakan pemosisian dan perlakuannya terhadap dirinya sendiri. Pemahaman manusia akan alam adalah pemahaman tentang dirinya sendiri. Maka kesalahan dalam memahami alam secara substansial sebenarnya merupakan kesalahan manusia dalam memahami dirinya sendiri. Sehingga dampak dari kesalahan pemahaman tersebut akan dirasakan efeknya oleh manusia. Timbulnya bencana alam sebagai akibat dari tindakan eksploitatif dan destruktif manusia, pada dasarnya merupakan eksploitasi dan penghancuran manusia terhadap dirinya sendiri. Kedua konsep teologis yang berpandangan bahwa bencana alam bisa terjadi sebagai akibat dari pola relasi yang dibangun manusia dengan alam, cenderung mengarahkan pada sikap bertanggung jawab terhadap eksistensi alam. Di sini, manusia memikul tanggung jawab untuk menjaga alam. Jika manusia lengah dalam memikul tanggung jawab tersebut maka akibatnya akan ditanggung oleh manusia sendiri. Sebaliknya, kelestarian alam semesta merupakan jaminan masa depan yang cerah bagi umat manusia sendiri. Dalam konteks ini, manusia diasumsikan menjadi sebab dari segala akibat yang dihadapinya terkait dengan fenomena alam semesta, termasuk bencana alam walaupun ada juga beberapa fenomena alam yang

alam. Bencana alam bukanlah takdir Tuhan, melainkan karena akibat dari perbuatan tangan-tangan manusia. Alam akan berjalan sesuai dengan mekanisme dimana hukumhukumnya secara inherent telah melekat di dalamnya. Jika ia diperlakukan dengan benar, dijaga kelestariannya, dipertahankan keseimbangannya maka secara otomatis akan lestari, terpelihara, dan memberi perlindungan nyaman bagi penghuninya. Namun jika ia dirusak, dijegal keseimbangannya, dieksploitasi tanpa batas, maka banjir, tanah longsor, pencemaran udara, kekeringan, dan berbagai bencana lainnya merupakan konsekuensi logis yang niscaya terjadi. Bencana alam terjadi akibat dari kesalahan pola relasi manusia dengan alam. Kedua, pandangan teologis yang meyakini adanya kendali dan intervensi Tuhan secara total dalam proses berjalannya kehidupan di alam semesta. Dalam hal ini, kuasa Tuhan sepenuhnya berada di atas usaha manusia. Dalam hal ini, Tuhan dinisbatkan sebagai entitas yang sejak zaman azali telah menentukan takdir dari masing-masing manusia. Sehingga usaha apa pun yang dilakukan manusia, berada dalam lingkar garis batas takdir Tuhan. Dalam sejarah aliran Islam, cara pandang ini disebut dengan paham Jabbariyah, yakni kelompok yang sangat bertentangan dengan kelompok Qadariyyah Dibaca dari perspektif teologi ini, fenomena bencana alam dipahami sebagai sebuah ketentuan (taqdir) yang telah ditetapkan Tuhan. Ada pun segala macam penyebab terjadinya bencana ini dipahami hanya sebagai perantara atau

<<

34

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 merupakan gejala alamiah atau di luar kemampuan jangkauan akal dan teknologi ciptaan manusia. Bencana alam yang dapat dipastikan sebagai akibat dari apa yang dilakukan manusia, di antaranya adalah penebangan hutan secara liar, mengabaikan tindakan reboisasi, akumulasi produksi karbon, serta sebab-sebab yang lainnya. Kesemuanya itu bermuara pada kesalahan manusia dalam membangun relasi dengan alam semesta. Jadi, dalam konsep teologis ini, manusia benar- benar diserahi tanggung jawab atas masa depan eksistensi alam semesta. Ada pun konsep teologis yang menganut pandangan bahwa terjadinya bencana alam merupakan hasil dari proses intervensi Tuhan, cenderung mengarahkan manusia pada sikap tidak memikul tanggung jawab terhadap eksistensi alam. Ada kecenderungan fatalisme, atau bahkan nihilisme, dalam memosisikan dan memperlakukan alam, yang konsekuensinya dilihat dalam kaca mata yang sama, itu dianggap bukan merupakan dari tanggung jawab manusia. Dalam konsep ini, terjadinya bencana alam tidak dilihat dalam keterkaitannya dengan tindakan eksploitasi dan desktruktif ‘tangan’ manusia. Dalam menghadapi bencana, biasanya cara pandang ini cenderung tidak menyelesaikan masalah secara konkrit dan produktif, tetapi lebih berorientasi pada proyeksi individu pada ritus-ritus yang bersifat eskapis dan tidak solutif. Sedangkan pandangan teologis ‘jalan tengah’ secara konsepsional masih memiliki problem krusial. Pandangan tersebut tidak bisa memberikan batasan yang tegas tentang kebebasan manusia dan takdir (intervensi) Tuhan. Sejauh mana intervensi ‘tangan’ Tuhan mempengaruhi usaha yang dilakukan manusia? Dan sejauh mana pula, usaha yang dilakukan manusia bisa merubah takdir yang telah ditetapkan manusia? Akibatnya, dalam batas tertentu, konsep teologis jenis ini memang memberikan rasa tanggung jawab kepada manusia untuk menjaga eksistensi alam. Tapi pada sisi yang lain, konsep ini juga mengarahkan pada sikap fatalistik (tidak bertanggung jawab) terhadap eksistensi alam. Dalam pada itu upaya jalan tengah juga didera masalah epistemolo-

Kebijakan Publik

gis dan metodologis yang memilah keduanya. Kuasa Tuhan di satu sisi dan kemampuan manusia yang selalu berkembang di sisi lain akan sangat sulit ditarik dimensi differensiasi dan falsifikasi yang menjadi landasan utama dalam menentukan konsep ontologi, epistemologi dan metodologi. Harus diakui bahwa persoalan bagaimana tilikan teologi dalam melihat bencana tidak sesederhana dan sesingkat sebagaimana dijelaskan di atas. Namun, kita tentu dapat menimbang pandangan tersebut secara bijaksana terkait dengan bagaimana manusia membangun relasinya dengan alam. Di negara kita, pandangan teologis fatalistik mungkin masih kuat menancapkan dalam kesadaran keberagamaan banyak orang. Sehingga itu berdampak pada rendahnya kadar responsibility terhadap eksistensi alam. Terjadinya bencana alam tidak dibaca sebagai akibat dari pola relasi yang salah kaprah yang kita bangun dengan alam semesta. Tapi dilimpahkan dan dialihkan sebagai adzab, peringatan, kemurkaan dan pelajaran yang Tuhan turunkan kepada manusia Indonesia. Kita memang suka melempar tanggung jawab kepada ‘langit’.

Kontribusi Teologi Agama-agama dalam Penanganan Ekologi

Sudah maklum dalam sejarah masyarakat Indonesia, bahkan dunia, bahwa agama menjadi rujukan nilai paling fundamental. Dalam norma agamalah takaran baik buruk ditentukan. Kuatnya pengaruh agama sebagai sumber nilai itu telah merembesi dalam setiap lekuk kehidupan masyarakat sebegitu jauh, ia bukan hanya mengatur pada tataran urusan pribadi (private domain) tetapi tidak dapat disangkal ia juga merambah sampai ranah publik (public domain). Sekarang ini lingkungan hidup sudah menjadi isu global. Kerusakan lingkungan sudah menjadi bencana yang akibatnya tidak hanya ditanggung

secara lokal maupun regional tetapi sudah menjadi persoalan global. Karena itu tidaklah mengherankan jika persoalan lingkungan sekarang ini menyita perhatian berbagai pihak, termasuk kaum agamawan. Berbagai Konferensi Tingkat Tinggi antar negara-negara di dunia yang telah dilaksanakan, seperti KTT Bumi di Rio De Jeneiro, Brazil, kesepakatan Traktat Kyoto, termasuk yang paling baru adalah agenda bahasan global warming di Nusa Dua Bali adalah contoh betapa umat manusia kini mulai khawatir akan masa depan lingkungan yang selama ini menjadi tempat menyandarkan

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

35 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 lai terganggu yang ditandai dengan berbagai bencana, manusia lantas menyalahkan alam bahkan menyalahkan Tuhan. Karenanya ketika sebagian manusia menyadari bahaya akan eksploitasi alam, muncullah berbagai gerakan untuk menyelamatkan alam dan lingkungan. Barulah ketika laju kerusakan lingkungan tak terbendung dan dampaknya mulai dirasakan secara global muncul gerakan ”sustainable development” (pembangunan berwawasan lingkungan) atau sloganslogan ”hanya satu bumi”. Hal ini menunjukkan bahwa manusia makin menyadari bahwa alam dan sumberdayanya sangat terbatas jumlahnya. Benar kata Mahatma Gandhi, ”Bumi menyediakan makanan yang cukup bagi manusia, namun tidak bagi keserakahan”. Meskipun agama mengajarkan tentang alam ciptaan Tuhan, namun pada umumnya para penganut agama masih dipertanyakan kontribusinya dalam perawatan lingkungan. Banyak kasus perusakan alam justru dilakukan oleh orang yang beragama atau setidaknya mengaku beragama sesuai KTP-nya. Akibatnya banyak kalangan yang menuduh bahwa agama tidak berpihak kepada lingkungan. Padahal studi-studi tentang hubungan krisis ekologi dan pemikiran religius sudah banyak dilakukan, baik dalam arti yang positif maupun negatif seperti oleh Arnold Toynbee , Theodore Roszak , Fraser Darling, Jerome Ravets, dll. Harus diakui, banyak para pemuka agama yang salah dalam mengajarkan agama kepada anak didiknya. Pelajaran agama (religiusitas) dan pelajaran ”tentang agama”, tidak dapat dibedakannya. Pengajaran-pengajaran tentang agama hanya berhenti pada tataran ritual-formal, tanpa bisa membangkitkan kesadaran religius sang anak didik. Wacana keilmuan dan praktik keagamaan pun hanya terbatas pada persoalan-persoalan fiqih ibadah individul yang hanya memupuk kemesraan dan hubungan intim antara manusia dengan Tuhan yang dipersepsikan secara sempit dan egois. Akibatnya sering ditemui ironi-ironi, seorang pemuka agama yang mengajarkan bahwa ”kebersihan itu sebagian dari iman”, namun dalam tataran praktiknya, lingkungan tempat ia tinggal dan bahkan tempat ibadah sangat kotor dan tidak terawat. Padahal pandangan-pandangan agama lingkungan sangat diapresiasi tinggi yang karena itu harus dipelihara supaya menyejahterakan manusia. Sebagaimana dinyatakan dalam ”Kitab Kejadian” yang berbunyi: ”Kuasai serta taklukkan ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan makhluk hidup yang ada di darat”. Prof Lynn White Jr dalam The Historical Roots of Our Ecologic Crisis (1967) mengatakan, tradisi JudeoKristen yang juga memperkenalkan konsep tentang waktu yang linear dan selalu maju, dari sebelum penciptaan alam sampai kiamat nanti. Sedangkan dalam Alquran juga difirmankan bahwa burung-burung mengagungkan Nama-Nya ketika mengepakkan sayap-sayapnya, sementara gunung memuji nama-Nya dengan caranya sendiri. Diceritakan dalam sebuah sejarah seorang sufi yang begitu takut untuk membunuh seekor semutpun karena dia memiliki hak hidup dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak. Hal ini juga diamati oleh G Hodgson dalam The Venture of Islam yang mengatakan bahwa intisari Islam juga mengajarkan tanggung jawab moral dari manusia untuk merawat alam. Apalagi manusia sebagai masterpice sebagai khalifah, menerima amanat untuk memelihara bumi dan isinya. Dalam tradisi atau ajaran Jawa terdapat istilah memayu hayuning buwono, dan seterusnya yang intinya juga diserukan kepada manusia untuk menjaga alam ini bagi kesejahteraan bersama. Sementara Santo Fransiskus dari Asisi mengajarkan kerendahhatian, dan percaya bahwa bukan

kehidupan. Dalam kitab suci Allah SWT juga telah memperingatkan bahwa ”Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi”. Dalam terminologi Islam, manusia diturunkan di muka bumi sebagai khalifah, yang diimperasikan berbuat kebajikan dan kearifan tidak saja terhadap sesama manusia, bahkan dengan sehelai rumput dan seekor semut sekalipun. Dan para nabi diturunkan sebagai rahmatan lil alamin (membawa rahmat bagi alam semesta). Berawal dari lahirnya masa abad pencerahan (renaissance) dimana ortodoksi abad pertengahan yang dibangun di bawah kendali theocentris didekonstruksi dan perlahan namun pasti peradaban umat manusia berganti ke arah anthropocentris, maka manusia dengan kemampuan rasionalitasnya menjadikan dirinya sebagai pusat segalanya. Dalam proses sejarah berikutnya, berkembanglah ilmu pengetahuan dan teknologi berperan sangat dominan dalam mengendalikan arah peradabannya. Bahkan teknologi sebagai ”anak kandung” yang lahir dari rahim kecerdasan masnusia memangsa ”ibu kandungnya” sendiri. Teknologi yang semula dimaksudkan untuk mempermudah kerja otot manusia, di ujungnya digunakan untuk menaklukan alam. Manusia tidak lagi bergantung dengan alam, namun malahan menguasai alam. Tahapan anthropocentris ini dalam perkembangan berikutnya bahkan mencapai pada tahap holism, dimana manusia tidak lagi merasa bagian dari alam. Ketika manusia merasa telah menduduki supremasi tertinggi di jagat ini dan ketika itu keseimbangan alam sudah mu-

<<

36

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 saja manusia sebagai spesies, melainkan ia sebagai bagian dari alam semesta. Ia menyebut seekor semut sebagai saudara semut. Sehelai rumput atau seekor semut diciptakan Tuhan sebagai bagian dari alam dan orang beragama harus bertindak demokratis terhadap alam. Dalam bahasa Alquran manusia disebut sebagai khalifatullah . Predikat khalifatullah bukan hanya menunjukkan supremasi manusia di atas semua makhluk ciptaan Tuhan tetapi juga mengandung imperasi untuk mengelola dan mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan dzat yang mempercayakan perwakilan kepada manusia, yakni Allah SWT. Kalau ego kesadaran manusia hanya sebagai ”ana insan” (aku manusia), maka ketika ia melihat seekor semut atau sehelai rumput, ia hanya akan memperlakukan sebagai fakta semut sehingga layak untuk diperlakukan apapun, termasuk dibunuh atau diinjak-injak, karena ego keakuan masih nampak dan semut atau rumput tidak nampak dalam pandangan (batinnya). Demikian pula kalau manusia naik derajat sebagai ”ana-abdullah” (aku hamba Allah), maka ia dalam menilai fakta-fakta masih dalam kalkulasi untung rugi, seperti bagaimana ia memperlakukan semut atau rumput. Kalau memperlakukan semut dan rumput secara baik akan menguntungkan dirinya atau mendapat pahala, maka ia akan memperlakukannya dengan baik, dan sebaliknya jika tidak, ia akan sewenang-wenang. Namun kalau ia sudah sampai kepada derajat ”khalifatullah”, orang yang diserahi tugas oleh Allah untuk merawat alam, maka ia akan memperlakukan semut atau rumput sebagai bagian dari alam secara demokratis. Hamparan fakta-fakta akan dirangkai dalam jaring kosmis-holistik ”fakta-faktor-fungsi-peran” yang kesemuanya dirajut dalam rangka penyembahan dan pengabdian kepada Allah SWT. Seorang khalifatullah kata Emha Ainun Nadjib (1987) menerjemahkan komitmen sosial di dalam perspektif kosmis, tidak sekadar terbatas pada dunia kehidupan manusia, dengan bagian-bagian alam yang lain sebagai ”instrumen” bagi kesejahteraannya. Semut dan rumput hanyalah simbol alam lingkungan. Di dalam tradisi suku-suku primitif pun yang belum tersentuh ajaran agama ”formal”, pada hakikatnya sudah memiliki kesadaran religius yang baik mengenai pelestarian lingkungan. Tanpa mengenal konsep dosa atau pahala, surga-neraka, ia mampu mengembangkan nalurinya bahwa merusak pohon atau membunuh binatang sembarangan akan mendatangkan bencana. Seorang Suku Wintu di California, atau Suku Dayak di Kalimantan misalnya, hanya mengambil kayu dari pohon yang sudah mati. Ia mengambil ikan di sungai secukupnya saja. Ada satu intensitas rohani tertentu dari hidupnya, bahwa Tuhan atau apa pun namanya merupakan dzat tertinggi yang mutlak. Adalah Parvez Mansoor dalam bukunya yang berjudul Environmental and Values: the Islamic Perspective, juga menyusun beberapa prinsip metafisik dan filosofi yang mendasarkan etika lingkungan Islam, dengan prinsip-prinsip tauhid, khilafah, amanat, keadilan, kecenderungan kepada hal yang baik, dan sebagainya. Tanda-tanda akan bahaya kehancuran ekologi sebenarnya sudah lama diperingatkan oleh berbagai kitab suci. Dalam Alquran misalnya ada perspektif teologis tentang tanah. Manusia diciptakan dari tanah, hidup di atas tanah, dan nanti dikubur atau dikembalikan ke dalam tanah. Ini artinya tanah itu milik Allah (ardlu-

Kebijakan Publik

Allah). Manusia hanyalah khalifah yang ditugasi merawat. Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, demikian firman Allah. Karenanya Hasan Hanafi dari Mesir pernah mengungkapkan pandangannya tentang teologi-tanah. Ia memandang bahwa tanah adalah teologi pembebasan. Alasannya ajaran agama monoteisme umumnya berwatak pembebasan, terutama dari watak pengakuan kekuasaan dan kekuatan yang melampaui batas di luar Allah SWT. Setiap kekuatan dan kekuasaan yang berlebihan adalah berhala, karena kekuasaan yang berlebihan akan menuntunnya ke arah kesewenangan. Pola konsumsi berlebihan yang dirangsang secara terus-menerus oleh mesin kapitalisme global menggiring orang modern terjerat dalam kemubadziran tak terbatas. Padahal Alquran sendiri telah menegaskan bahwa kemubadziran adalah bagian dari pekerjaan setan (sebagai metafor perilaku destruktif). Ajaran monoteisme (tauhid) mengajak manusia ke dalam samudra pembebasan kepada sesama manusia dan alam. Intensitas, skala, dan kompleksitas bencana ekologi yang semakin marak melanda bumi menjadi masalah yang kian biasa dihadapi sehari-hari, seolah-olah kita sudah tak mungkin lagi menemukan jalan keluar dari labirin degradasi lingkungan yang terus berjalan. Namun bukan berarti umat manusia menyerah dan fatalistik, karena jika itu yang dilakukan maka sebenarnya kita telah sepakat untuk memastikan percepatan kehancuran kehidupan secara bersama-sama. Kita masih memiliki kesempatan dan potensi untuk menyadari kesalahan untuk kemudian memperbaiki kerusakan bumi. Kita akan selalu berupaya mencari jalan keluar hingga akar persoalan yang paling mendasar. Dengan demikian, yang diperlukan dalam tugas penting memikirkan kembali hubungan manusia-bumi adalah dengan menggunakan banyak perspektif, termasuk

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

37 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Oleh sebab itu harus ada upaya untuk menggeser cara pandang dari antroposentrisme ke arah ekosentrisme dan mulai membangun dasar hidup yang berkelanjutan di masa depan. Perlu dicatat bahwa “hidup yang berkelanjutan” boleh jadi tidak berkaitan dengan “pembangunan yang berkelanjutan dan orientasi pertumbuhan” karena yang belakangan itu semakin kerap digunakan untuk meningkatkan perkembangan ekonomi dengan hanya menaruh sedikit perhatian terhadap keterbatasan yang melekat pada sistem-sistem ekologi. Dengan demikian “Eko-Spiritualitas dalam Perspektif Agama” menjadi kian mungkin untuk kita telaah dan renungi bersama.

yang muncul dari agama dan filsafat. Tentu saja agama-agama dunia berperan dalam merumuskan pandangan-pandangan mengenai alam, sekaligus mentransendenkan perspektif mengenai peran manusia di muka bumi. Maka jelas bahwa tinjauan mengenai pelbagai pandangan-dunia yang religius penting artinya untuk menganalisis akar-akar krisis lingkungan sekaligus memberikan usulan terhadap pemecahannya. Isu kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme. Munculnya gerakan New Age, filsafat perenial, SQ, bahkan isu titik temu sains dan agama, kerap dipandang sebagai isyarat kebangkitan tersebut. Namun kebangkitan spritualitas yang dimaksud belum juga berhasil mengerem laju kerusakan ekologi. Sehingga penting untuk mendekati sumber-sumber religius sebagai sarana untuk menemukan perspektif-perspektif kosmologis yang lebih tepat mengenai alam dan membangun etika lingkungan yang lebih fungsional. Perubahanperubahan penting di dalam sikap terhadap alam akan muncul bila dapat dirumuskan suatu landasan etis yang komprehensif untuk menghormati dan melestarikan alam.

Potret Bencana Lumpur Lapindo. Awal bencana terjadi pada Mei 2006, namun hingga sekarang belum dapat ditangani. Pemerintah menyimpulkannya sebagai bencana alam.

<<

38

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

Berkesadaran Global, Bertindak Lokal
(Studi Lapangan tentang Penanganan Risiko Bencana di Berbagai Daerah) Oleh Tim Redaksi Jurnal Dialog Kebijakan Publik Paparan bagian ini merupakan hasil studi lapangan di berbagai daerah di Indonesia mengenai sikap, pendapat dan pandangan publik tentang peristiwa bencana dan bagaimana mereka menilai penanganan bencana dilakukan selama ini serta rekomendasi yang mereka ajukan untuk perbaikan penanganan bencana di Indonesia ke depan. Setiap bencana selalu membawa resiko-resiko (risks) pada kehidupan, bisa berupa kerusakan lingkungan alam maupun risiko-risiko sosial kehidupan manusia dan masyarakat. Risiko-risiko demikian itu, meskipun sama sekali tidak dikehendaki, seringkali tidak terhindarkan menimpa warga masyarakat, dan akibatnya seringkali fatal menimbulkan korban jiwa, kerusakan lingkungan alam, kehidupan sosial, kerusakan berbagai sarana hidup dan menyebabkan kemerosotan kualitas hidup warga masyarakat. Dalam negara yang demokratis, pemerintah yang responsif terhadap pendapat atau opini masyarakat (opinion-responsive government), merupakan salah satu prasyarat penting untuk mendapatkan solusi terbaik dalam menangani bencana, sehingga secara proaktif bisa diambil kebijakan terbaik dan melakukan pengaturanpengaturan atas resiko-resiko yang mungkin terjadi (risk regulation) secara memadai, sehingga risiko-risiko yang ada bisa dikurangi, dicegah dan diatasi, atau seminimal mungkin bisa dihindari, sehingga tidak membawa dampak kerusakan semakin parah, baik terhadap lingkungan alam, kehidupan warga negara dan komunitas sosial . Sikap responsif dan proaktif demikian itu penting, mengingat, dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa demi peristiwa bencana menimpa warga masyarakat di daerahdaerah di Indonesia, yang barangkali dimungkinkan masih akan terjadi di masa-masa yang akan datang, sehingga mengancam dan menganggu keberlangsungan hidup masyarakat. Sejak gempa bumi dan tsunami melanda

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

39 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 tersendiri dan mengancam keberlangsungan dan kemajuan pembangunan, yang mestinya bisa dicapai dalam kehidupan normal. Sebagai dampak dari bencana itu, kualitas hidup manusia, keluarga, dan masyarakat semakin merosot. Selain menimbulkan korban jiwa, berbagai bencana itu juga menimbulkan dampak pada kerusakan fisik dan mental, lingkungan alam, prasarana dan sarana publik, yang sangat penting artinya untuk menopang hidup dan keberlangsungan hidup warga masyarakat. Semua itu, bila tidak ditangani secara preventif, responsif dan proaktif, akan membawa dampak lanjutan terganggu dan terhambatnya keberlangsungan hidup dan kemajuan pembangunan, yang akan mengakibatkan keterbelakangan hidup bangsa. Pemerintah dan masyarakat sendiri sejauh ini telah berusaha dan melakukan berbagai upaya menangani bencana dan dampak resikonya pada masyarakat melalui berbagai kebijakan dan bantuan kemanusiaan. Merespon bencana terjadi, pemerintah baik di pusat maupun di daerah telah melakukan berbagai intervensi penanganan, seperti pencegahan, tanggap darurat, intervensi bantuan kemanusiaan, pemulihan, rehabilitasi dan pembangunan kembali masyarakat terkena dampak bencana. Demikian pula, kalangan masyarakat sipil, baik secara mandiri atas prakarsanya sendiri maupun dibantu lembaga donor internasional, juga melakukan berbagai upaya penanganan dalam berbagai bentuk intervensi, seperti memberikan bantuan kemanusian, pembangunan kembali komunitas dan pemberdayaan masyarakat. Namun demikian, berbagai intervensi penanganan itu dirasa banyak pihak, di kalangan publik, baik di tingkat nasional maupun di daerah, masih terasa kurang dan belum optimal, bukan hanya dalam mengantisipasi terjadinya bencana tetapi juga dalam menangani dampaknya. Selain karena begitu banyaknya bencana yang terjadi, sehingga menuntut pemerintah dan masyarakat harus mencurahkan energi dan sumberdaya finansial yang begitu besar untuk menanganinya, hal itu juga disebabkan karena belum sistematis dan terarahnya strategi dan mekanisme penanganan bencana di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam masih lemahnya kapasitas, baik kelembagaan pemerintah maupun masyarakat sipil, dalam menangani bencana dan resiko dampaknya, seperti terdapat dalam kesenjangankesenjangan (gaps) yang ada antara kapasitas kelembagaan dan masalah yang seharusnya mereka atasi. Studi lapangan ini mengkaji bagaimana sikap, pendapat dan opini publik tentang penanganan bencana dilakukan selama ini, dengan mempertimbangkan sumber penyebab, kejadian peristiwa, jenis bencana, dampak dan kandungan risiko-risiko yang ada di dalamnya. Studi lapangan memusatkan perhatian pada sejauhmana sikap publik terhadap bencana dan penanganannya yang mencerminkan apakah telah dilandasi oleh sikap ‘berkesadaran global, dan bertindak lokal’, ataukah masih sebatas pada kesadaran lokal saja. Sikap ‘berkesadaran global’ ini menjadi fokus perhatian riset ini karena, sebagaimana akan dipaparkan dalam kerangka pendekatan di bawah ini, sumber bencana yang kelihatannya berada di tingkat nasional atau lokal itu, dalam konteks perkembangan masyarakat dewasa ini sebenarnya tidak terlepas dari konteks global, dari politik bumi dalam masyarakat industrial atau kapitalisme lanjut ini, dengan segala resiko-resiko yang ada dan dampak yang ditimbulkannya. Sejauhmana kesadaran ini tercermin dalam penanganan bencana selama ini, dan hikmah pelajaran apa yang bisa dipetik dari penangananan bencana ini untuk perbaikan penanganan bencana di masa depan, menjadi fokus utama riset ini. Studi lapangan ini secara khusus difokuskan pada tiga masalah utama, yaitu: (1) bagaimana pandangan, sikap dan respon publik dalam me-

propinsi Aceh dan sekitarnya, kita warga bangsa Indonesia dihadapkan pada resiko-resiko yang mengancam dan ketidakpastian-ketidapastian dalam hidup disebabkan oleh bencana gempa bumi. Sejak gempa besar terjadi di Aceh, bersumber dari keretakan bumi di dasar laut Samudera Hindia, seakan dasar bumi, dimana warga bangsa Indonesia berpijak, terus bergerak retak, disusul gempa bumi-gempa bumi lainnya, di daerah-daerah di Indonesia, seperti di Sumatera bagian selatan, Jawa bagian selatan, Sulawesi bagian barat, dan merembet ke daerah-daerah Indonesia Timur lainnya. Selain bencana gempa bumi itu, kita juga dihadapkan pada resiko-resiko yang ditimbulkan oleh bencana-bencana dalam bentuk lain, sebagai akibat dari perubahan iklim dan cuaca yang drastis, seperti tiupan keras badai angin puting beliung, luapan banjir dan tanah longsor di suatu tempat dan kekeringan drastis di tempat lain, yang membawa resiko-resiko tersendiri, menimbulkan ketidakpastianketidakpastian dalam hidup mengancam kehidupan warga masyarakat dari sisi lain. Bahkan, di tengah-tengah adanya ancaman resikoresiko bencana alam itu, kita juga dihadapkan pada resikoresiko lain, yang ditimbulkan oleh bencana dalam bentuk lain, bencana buatan manusia (man-made disaster), karena kesalahan dalam penggunaan teknologi, kesalahan dalam praktek pembangunan, dan bencana-bencana sosial, seperti konflik sosial, baik terjadi di daerah bencana maupun di daerah lainnya. Berbagai peristiwa bencana itu membawa beban hidup

<<

40

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 mandang sumber bencana dan mengatasi resiko dampaknya pada lingkungan alam dan kehidupan komunitas; (2) bagaimana publik memandang penanganan bencana selama ini dan hikmah pelajaran (lesson learnt) apa yang bisa dipetik, kelebihan dan kekurangannya, dan kasus contoh terbaik (the best practices) dalam penanganan bencana selama ini di daerahnya; dan (3) menurut Menghadapi berbagai bencana penuh risiko, sebagaimana dikemukakan di muka, diperlukan sikap tersendiri, yaitu sikap refleksif dan kritis terhadap apa yang terjadi, mencermati

Kebijakan Publik

pandangan mereka, apa rekomendasi prioritas-prioritas kebijakan, agenda, atau program-program yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk perbaikan penanganan resiko bencana ke depan. ini, hendaknya kita selalu bersikap refleksif dan kritis terhadap apa yang terjadi, terhadap perkembangan yang ada, karena perkembangan itu selain membawa manfaat-manfaat (benefits) pada kehidupan kita, juga membawa risiko-risiko (risks) tersendiri. Perkembangan kapitalisme dan industri maju dewasa ini, selain membuahkan akumulasi kapital, dari dorongan-dorongan mengejar keuntungan, beserta perkembangan teknologi dan aktivitas industrial menyertainya, juga menuai akumulasi resiko (risk accumulation) yang berdampak pada kerusakan lingkungan alam, komunitas sosial, yang bila tidak bisa ditangani, bisa menimbulkan krisis dan bencana pada masyarakat. Resiko-resiko itu sendiri memang sulit dihitung dalam kalkulasi matematis, dan karena itu diperlukan analisis ilmiah dari pengetahuan dan sains moderen untuk mengkajinya. Namun demikian, hal itu bisa dengan sangat jelas dibaca, dalam kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas yang ada dari terjadinya sebuah peristiwa atau bencana dan dampaknya yang ditimbulkan terhadap kehidupan masyarakat. Peringatan Ulrich Beck itu sangat berharga, mendorong kalangan ahli dan para analis resiko, untuk tidak hanya melihat resiko-resiko ditimbulkan oleh perkembangan industri dan kemajuan teknologi dibawa kapitalisme maju, sebagaimana terjadi di negara-negara maju, tetapi lebih dari itu mendorong mereka untuk semakin menyadari akan adanya resiko dan bencana dari berbagai aspek kehidupan, baik disebabkan oleh perubahan alam maupun perubahan sosial. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa resiko-resiko yang ditumbul-

Penanganan risiko bencana

perubahan lingkungan sekitar, perubahan-perubahan alam, cuaca dan lingkungan sosial, berserta dampak resiko-resiko yang mungkin timbul, sehingga kita bisa mengantisipasi, mencegah, dan mengatasinya, dalam resiko seminimal mungkin. Menghadapi situasi ini, adalah penting untuk mengingat apa yang dikemukakan Ulrich Beck, seorang ilmuwan sosial kritis Jerman, dalam bukunya Risk Society , bahwa hidup dalam alam moderen industrial, kapitalisme maju, disertai perkembangan dan ketergantungan kita pada teknologi, aktivitas manusia dan perilaku serta gaya hidup penuh variasi

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

41 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 manusia, terutama aktivitas ekonomi, industrialisasi, dan perkembangan teknologi. Berbagai peristiwa bencana itu seakan diluar jangkauan kita untuk menanganinya, sehingga mendorong kita untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains teknologi moderen lebih maju untuk mencegahnya. Namun, kesadaran akan politik bumi ini, atau politik ekonomi global dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan penggunaan teknologi berdampak lintas negara itu, menggugah kesadaran kita untuk memiliki kesadaran global dalam membaca dan memahami sumber berbagai peristiwa bencana itu. Namun, apakah kesadaran demikian telah dimiliki masyarakat kita, sehingga meningkatkan keberdayaan kita dalam menangani bencana itu, masih menjadi tanda tanya. Peringatan Ulrich Beck dan tumbuhnya kesadaran global akan sumber dan resiko politik bumi itu dalam hal ini sangat penting dan relevan untuk menghadapi berbagai bencana yang ada dan kemungkinan terjadi. Sebagaimana berkembangnya risiko-risiko kehidupan di masyarakat moderen, kita juga mengenal berkembangnya penanganan atau pengaturan negara (regulatory state) atas risiko-risiko itu . Kedua konsepsi ini, masyarakat beresiko dan pengaturanpengaturan negara atas risiko-risiko bencana itu bisa dikaitkan satu sama lain, karena yang terakhir itu tumbuh dan berkembang berkat kesadaran dan tuntutan masyarakat kepada negara untuk mengatasi risiko mereka hadapi. Sebaliknya, berkembangnya pengaturan risiko oleh negara itu memiliki kekuatan mengubah dan mendorong dan mengubah perilaku masyarakat dan kalangan industrial untuk mengatasi risiko-risiko sebagai akibat dari perilaku dan tindakan mereka itu. Dalam tingkat perkembangan selanjutnya keduanya menciptakan semacam mekanisme audit sosial atau transparansi politik tersendiri, baik negara atau pemerintah dan masyarakat, sama-sama bertanggungjawab untuk mengatasi berbagai resiko dan dampak ditimbulkan oleh bencana. Kebijakan dan pengaturan negara atas risiko-risiko dampak bencana itu sendiri haruslah dijalankan dalam domain-domain pengaturan resiko (risk regulation regime) yang khusus, tergantung pada jenis bencananya, karena berbeda jenis bencana berbeda pula pengaturan dan pemecahannya, sesuai dengan pengetahuan dan sarana teknologi yang diperlukan. Domain bencana alam gempa, misalnya, berbeda penanganannya dengan bencana karena perubahan iklim dan cuaca. Demikian pula, penanganan bencana perubahan iklim dan cuaca berbeda penanganannya dengan bencana penyakit disebabkan pola makan, atau pemberian asuransi karena kegagalan pasar. Meskipun demikian, terdapat prinsip-prinsip umum yang harus dijunjung tinggi dalam setiap penanganan bencana, bahwa selain pentingnya intervensi dan bantuan kemanusiaan dalam situasi darurat, dalam hal ini setiap jenis bencana apapun berlaku, juga dalam setiap penanganan bencana negara dan masyarakat diharuskan untuk mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan universal, profesionalisme, dan ketepatan kebijakan dalam pengunaan pengetahuan, informasi, teknologi, standar, mekanisme dan prosedur untuk menangani bencana. Dalam setiap kebijakan dan penanganan resiko dampak bencana, baik dalam intervensi minimal seperti disyaratkan oleh kalangan neo-liberal untuk intervensi terhadap kegagalan pasar (market failure), atau, perlunya sikap responsif pemerintah terhadap opini publik (opinion-responsive government), sebagaimana ditekankan kalangan demokrasi populis, maupun perlunya mempertimbangkan kepentingan kelompok-kelompok kepentingan, pelobi dan kalangan profesional, sebagaimana ditekankan oleh kalangan realis, semua mensyaratkan pentingnya pengumpulan informasi (information gathering), untuk mendapatkan data yang akurat untuk

kan oleh perilaku manusia moderen ini sudah mencapai tingkat ‘maniak resiko’, bencana kolektif, global, yang dampaknya tidak bisa diubah atau diputar kembali, menimbulkan bencana yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya . Bencana-bencana ditimbulkan oleh pola makan dan minum yang menimbulkan persebaran penyakit, seperti penyakit sapi gila, kegagalan pasar sehingga diperlukan asuransi, kecelakaan lalu lintas karena gagap teknologi transportasi, cacat tubuh karena kesalahan penggunaan teknologi reproduksi biologis, dan kecanduan, kehilangan memori dan tumor otak karena ketergantungan pada teknologi komunikasi, merupakan beberapa contoh bencana disebabkan perilaku manusia moderen. Bencana-bencana itu tampaknya terkesan murni bencana sosial, tidak ada kaitannya dengan bencana alam. Namun, dalam bencana alam pun sebenarnya kita bisa menemukan banyak bencana alam, meski sekilas terkesan murni bencana alam, terjadi karena perilaku manusia (man-made disaster). Tekanan reaktor nuklir di bawah tanah menyebabkan desakan-desakan lempengan bumi, terjadi gempa dan mendorong letusan gunung berapi, pemanasan global sehingga daratan es di kutub utama dan selatan meleleh, menimbulkan gelombang pasang, perubahan cuaca drastis, curah hujan tinggi, banjir, tanah longsor, musim kering berkepanjangan, kerusakan ekologis dan kelangkaan pangan, punahnya habitat tumbuhan dan hewan karena racun pestisida, dan lain sebagainya, merupakan jenis-jenis bencana alam disebabkan oleh aktivitas

<<

42

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

mengambil kebijakan, penetapan standar dan mekanisme penanganan (standard setting) dan perubahan perilaku masyarakat (behaviour modification) untuk meminimalkan resiko ditimbulkan oleh bencana.

Studi Lapangan

Studi lapangan ini berharap mendapatkan gambaran atau protret yang jelas atas sikap, pandangan dan opini publik atas penanganan bencana selama ini, apakah telah mencerminkan sikap ‘berkesadaran global, bertindak lokal’, dalam memandang sebabsebab bencana dan dalam mengatasi risiko-risiko bencana yang terjadi. Studi lapangan dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara dengan berbagai pihak, dari kalangan pemerintah, masyarakat sipil, kalangan warga komunitas korban dan kalangan warga komunitas pada umumnya, bukan korban langsung, untuk menemukan data dan realitas empiris, baik realitas obyektif maupun subjektif dari peristiwa bencana, sebab-sebab, risiko-risiko dan dampaknya terhadap lingkungan alam dan kehidupan komunitas manusia dan masyarakat. Studi lapangan dilakukan dengan observasi di daerah bencana dan wawancara mendalam ke berbagai pihak untuk menemukan data dan realitas, baik realitas objektif situasional di daerah bencana maupun realitas subjektif kesadaran individual dan sosial, atas terjadinya peristiwa bencana dan resiko dampaknya terhadap lingkungan kehidupan alam dan sosial di daerah bencana. Selain itu, data dan informasi dasar yang melingkupi realitas ini, baik realitas natural maupun sosial atas terjadinya peristiwa bencana di daerah bencana, akan dikumpulkan untuk menopang temuan dihasilkan berkaitan dengan ketiga fokus utama penelitian di atas. Studi lapangan ini menggunakan metode observasi dan wawancara mendalam, dilakukan di daerah-daerah bencana di Indonesia, meliputi berbagai jenis peristiwa bencana penting terjadi di Indonesia, meliputi tiga daerah dan jenis bencana sebagai berikut: (1) bencana gempa tsunamiAceh dan gempa susulannya di daerah lain (Aceh dan Yogyakarta); (2)

bencana alam karena perubahan iklim dan cuaca, seperti angin puting beliung, gelombang pasang laut, banjir, longsor, dan kekeringan (Riau, Karanganyar Jawa Tengah, Makasar, dan NTT); (3) bencana buatan manusia, kesalahan penggunaan teknologi, atau bencana akibat kegiatan pembangunan yaitu bencana Lumpur Lapindo (Sidoharjo, Jatim). Di masing-masing daerah bencana, wawancara dilakukan terhadap sejumlah informan dari berbagai pihak, sebagai berikut: (1) kalangan agen pembangunan, baik pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil, dan; (2) kalangan warga komunitas masyarakat pada umumnya. Informan ditentukan secara purposive, dimulai dari penentuan responden kunci (key informan), tiga (3) orang dari kalangan pemerintah, LSM, dan warga komunitas pada umumnya, di masing-masing ketiga daerah atau jenis bencana. Dari sini, kemudian dilakukan penentuan informan berikutnya melalui metode snow balling, penentuan dua (2) orang informan oleh responden kunci dari masingmasing ketujuh dan jenis bencana secara bergulir, sehingga diperoleh sekurang-kurangnya sembilan (9) orang informan di masing-masing ketujuh daerah dan jenis bencana. Selanjutnya, bila datanya dirasa belum mencukupi, kepada ke delapan belas orang responden itu diminta menunjuk satu (1) orang responden untuk pendalaman studi, sehingga sekurang-kurangnya akan diperoleh, secara keseluruhan, enampuluh tiga (63) orang informan dari ketujuh daerah dan jenis bencana, sehingga mencapai keterwakilan yang cukup untuk mendapatkan realitas objektif sasaran penelitian. Realitas dan data dihasilkan dari studi lapangan ini, sebagimana digambarkan dalam paparan di bawah, cukup menarik menggambarkan bagaimana pandangan publik terha-

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

43 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 dipandang mencerminkan bagaimana pandangan atau perspektif publik Indonesia terhadap penanganan bencana selama ini dan bagaimana seharusnya penanganan bencana dilakukan ke depan, untuk perbaikan penanganan dan pengaturan resiko dan dampak bencana di Indonesia. Kondisi bencana di daerah selain mengambarkan seberapa besar bencana terjadi juga seberapa luas resiko dampaknya terhadap kehidupan, yang mencerminkan seberapa luas cakupan atau domain bencana dan resikonya yang harus dikontrol, dikendalikan dan ditangani. Peristiwa bencana ada yang terjadi sekali dan sesudah itu berhenti, seperti terjadi dalam kasus bencana gempa. Dampaknya memang sangat besar, tergantung besaran skalanya, tetapi hal itu hanya Sikap, padangan dan respon berbagai kalangan terhadap resiko bencana sangat bervariasi, tergantung cara pandangan dunia atau kultural dimiliki dalam mendefinisikan situasi, tingkat pengetahuan dan sarana teknologi dan organisasi sosial dimiliki, termasuk didalamnya mekanisme pengaturan dan prosedur dalam mengatasi resiko bencana. Kebanyakan memang sangat idealis, terkesan kurang mencerminkan kesadaran yang tinggi atau ‘berkesadaran global’ dalam mamandang bencana. Pandangan responden umumnya, menggunakan klasifikasi Albert Einstein, masih sangat kuat didasari oleh kosmologi agama tradisekali terjadi, namun resikonya bisa bergulir tergantung dari penanganan dan masalah-masalah yang muncul di masyarakat. Tetapi, ada juga yang berlangsung cukup lama, dalam rentang waktu agak lama dan berubahubah naik turun, seperti terjadi dalam kasus perubahan iklim dan cuaca drastis, dalam badai angin puting beliung, banjir, tanah longsor, kekeringan dan resiko-resiko kerusakan dan kelangkaan ditimbulkan. Sementara, bencana kesalahan penggunaan teknologi atau resiko pembangunan, umumnya berlangsung cukup lama dengan resiko selalu muncul, meskipun sudah ditangani tetapi resiko tetap ada, seperti ekstrimnya terjadi dalam kasus bencana lumpur Lapindo dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas pembangunan lainnya. sional, atau agama mistis, belum agama moral atau mencapai agama kosmik, di dasari oleh kesadaran makrokosmik agama pengetahuan dan sains moderen. Namun, kombinasi ketiganya juga kita temukan, karena dalam memandang peristiwa ini mereka juga dibingkai oleh keterbatasan pengetahuan dan teknologi dimiliki. Keterbatasan-keterbatasan ini menentukan respon tindakan responden dalam bertindak mengatasi resiko bencana. Dari sini kita menemukan, kesadaran dan respon tindakan itu bervariasi dan bertingkat-tingkat; ada yang berkesadaran global tetapi

dap penanganan bencana di Indonesia, yang selama ini boleh dikata sangat minim mendapat perhatian dan kajian publik Indonesia dalam bentuk riset. Banyak tulisan dan laporan yang ada selama ini tentang bencana di Indonesia umumnya berupa laporan dari projek kalangan agen-agen pembangunan dalam penanganan bencana, yang meskipun datanya lengkap, tetapi belum dianalisis dan dikaji secara mendalam. Melengkapi artikel-artikel paparan pandangan dan opini dari dari para ahli, dalam berbagai sudut pandang, sebagimana disajikan Jurnal ini di depan, hasil studi opini publik ini sedikit banyak bisa

Pandangan, sikap dan respon terhadap bencana

Tabel 1: Tingkat Kesadaran dan Tindakan terhadap Peristiwa Bencana Aktor/agen Kalangan Pemerintah Kesadaran Mempunyai global Tindakan Kecenderungan kesadaran Tindakannya bersifat lo- Berkesadaran global cal dan hilir tetapi tidak tercermin dalam tindakannya. kesadaran Bertindak global Berkesadaran global dan sekaligus tercermin dalam tindakannya Tidak mempunyai kesadaran global dan sekaligus tidak bertindak global

Kalangan Lembaga Swa- Mempunyai daya Masyarakat global

Kalangan warga komuni- Belum mempunyai kesa- Bertindak lokal tas korban daran global

<<

44

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 tidak tercermin dalam respon tindakannya di tingkat lokal, ada yang berkesadaran global dan tercermin dalam respon tindakannya di tingkat lokal, ada yang tidak berkesadaran global tetapi respon tindakannya bersifat global setidaknya dalam tataran agama mistis dan moral saja, dan ada pula yang tidak dua-duanya, tidak berkesadaran global dan tidak pula melakukan respon tindakan lokal. Tabel di bawah ini menggambarkan pandangan, sikap dan respon publik yang mencerminkan tingkat berkesadaran global dan bertindak lokal dalam mengatasi resiko bencana. Memperhatikan table 1 di atas, pada prinsipnya pemerintah sudah mempunyai kesadaran global dalam upaya penanganan bencana. Salah satu indicator adalah telah diterbitkannya UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana yang disusul terbitnya PP No. 8 Tahun 2007 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Benacana; PP No.22 Tahun 2008 Tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana; PP No. 23 Tahun 2008 Tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana; dan Perda serta berbagai SK Bupati/Walikota di daerah rawan bencana. Akan tetapi kesadaran global yang sudah berkembang di kalangan pemerintah itu tidak tercermin pada tindakannya ketika setiap kali menangani peristiwa bencana, baik bencana alam, nonalam, maupun bencana social. Dalam menangani bencana banjir di Kabupaten Karanganyar dan Bojonegoro misalnya, hampir semua program dan kegiatan yang dilakukan lebih sibuk menangani pada masalah hilir. Kegiatan pengumpulan data dan informasi dilakukan secara dadakan, sumber daya manusia yang kurang terlatih, dan peralatan pendukung yang tidak memadai. Akibatnya, seluruh penanganan pada saat tanggap darurat terkesan tidak ada koordinasi, semuanya dilakukan secara spontan dan kurang terencana dan terprogram secara rapi. Gambaran yang sama juga tercermin dalam penanggulangan bencan tsunami di Aceh dan gempa di Yogyakarta, Kerusakan Hutan di Riau, Kekeringan di NTT, serta demikian pula dalam penangani bencan kesalahan teknologi Lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa di kalangan pemerintah kecenderungannya adalah meski sudah memiliki kesadaran global, tetapi belum bertindak global. Sedangkan di kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tampak mempunyai kesadaran global, dan sekaligus bertindak global pula. Strategi, program, dan kegiatan yang dilakukan terasa adanya kesadaran global dan lebih melihat persoalan pada ranah hulu. Boleh jadi itu disebabkan karena jaringan LSM dengan lembaga-lembaga internasional cukup terjalin secara intensif, dan pada kenyataannya penyandang dana dari lembaga asing itu lebih sering bekerjasama dengan LSM ketimbang dengan pemerintah ketika menangani peristiwa bencana. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam penangganan bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, kekeringan di NTT dan banjir di Jawa Tengah yang dilakukan oleh kalangan LSM terasa lebih mencerminkan tindakan global. Seluruh aktivitasnya menggunakan standar penanganan bencana secara internasional, dan lebih mengutamakan pada program dan kegiatan yang berjangka panjang yang prefentif, seperti menekankan pentingnya peringatan dini. Posisi LSM lebih otonom daripada kalangan pemerintah terhadap kepentingan kapitalisme interna-

Kebijakan Publik

sional, sehingga cukup mempunyai keleluasaan untuk mengimplementasikan kesadaran globalnya pada tindakan penanganan bencana. Ini berbeda dengan kalangan pemerintah yang sering kali kurang berdaya terhadap tekanan kepentingan kapitalisme internasional yang cenderung mengabaikan kerusakan lingkungan alam ketika melakukan eksploitasi sektor pertambangan dan hutan tropis, sehingga menimbulkan bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kesalahan teknologi. Sementara itu, di kalangan komunitas korban bencana belum muncul kesadaran global dan tindakannya sangat spontan ketika sedang terjadi peristiwa bencana. Setiap kali terjadi bencana fakta menunjukkan adanya korban jiwa maupun material sangat banyak, karena belum ada tindakan yang bersifat prefentif dan antisipatif. Tingkat kerentanannya meningkat, sementara kapasitas penanganan bencana menurun, karena berkembang persepsi di kalangan masyarakat bahwa bencana adalah masalah nanti saja. Sementara itu tingkat kepekaan kepada tanda-tandan bencana secara tradisional seperti sensitive terhadap perilaku binatang dan perubahan suhu sudah mulai menurun, sedangkan kemapuan membaca bencana secara modern masih belum memiliki. Tindakan komunitas korban di daerah bencana kurang mengenal adanya perencanaan dan tidak memiliki kesadaran akan pentingan data dan informasi. Bahkan cenderung pasif dan menunggu uluran bantuan dari pihak luar baik dari pemerintah maupun masyarakat luas pada umumnya. Fenomena ini tampak pada komunitas korban gempa di Yogyakarta, tsunami Aceh, dan juga di daerah banjir sungai Bengawan Solo. Bahkan di bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo, hingga sekarang keadaannya masih sangat memprihatinkan, banyak sekali warga masyarakat korban bencana yang masih terlantar dan menghuni di tenda-tenda darurat.

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

45 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Hikmah pembelajaran atas penanganan resiko bencana bisa disebut semacam ‘audit sosial’ atau penilaian dan evaluasi publik atas penanganan resiko bencana dilakukan berbagai pihak, baik oleh kalangan pemerintah, LSM atau masyarakat, dan warga komunitas korban dan komunitas bukan korban secara mandiri tanpa bantuan dari luar. Penanganan yang terakhir, meskipun skala organisasi dan institusinya kecil, pada umumnya bersifat swadaya berdasar modal-sosial kultural dimiliki masyarakat setempat, atau dikenal dengan kearifan lokal (local wisdom), namun kebanyakan justru efektif mengatasi resiko langsung (direct risk) menimpa korban. Sementara, penanganan oleh pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, terutama LSM dari luar didanai lembaga donor, umumnya dilakukan setelah bencana terjadi (pasca disaster), dengan kelembagaan atau institusi dan sumberdaya finansial lebih besar, biasanya melakukan penanganan atas resiko-resiko dampak lanjutannya dan pemulihanpemulihan menuju normalisasi kehidupan dan pembangunan kembali masyarakat terkena bencana dalam jangka panjang. Meskipun, ada juga pemerintah, terutama pemerintah daerah, sejalan dengan desentralisasi dan pendelegasian wewenang lebih besar dari pusat ke daerah dilakukan selama ini, begitu bencana terjadi langsung melakukan berbagai upaya penanganan darurat, dan juga melakukan pendataan dan pengumpulan informasi, untuk dijadikan dasar dalam menangani korban dan mengurangi resiko yang terjadi, seperti dilakukan pemerintah kabupaten Bantul, Yogyakarta, ketika daerah itu dilanda bencana gempa bulan Mei, 2006. Dari berbagai bentuk intervensi penanganan bencana itu, baik dilakukan warga komunitas setempat, pemerintah maupun LSM serta lembaga donor internasional, kita menemukan berbagai variasi intervensi penanganan resiko dampak bencana, yang dapat diklasifikasi sebagai berikut. Ada yang menekankan pada intervensi bersifat jangka pendek, sebatas darurat kemanusiaan saja, ada pula yang menekankan strategi jangka panjang sampai pada pemulihan kembali, atau pada tingkat mengembalikan masyarakat menuju kondisi normal seperti semula, bahkan ada yang lebih dari itu, melakukan transformasi sosial, menciptakan masyarakat yang baru, disertai dengan kelengkapan sarana dan prasarana baru untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana di masa mendatang, belajar dari bencana yang terjadi. Variasi berbagai jenis intervensi penanganan itu, dapat dilihat dari bentuk respon yang dilakukan, strategi yang digunakan, program-program yang dijalankan, dan praktek koordinasi dan implementasi yang dilakukan. Tabel di bawah ini mengambarkan hasil analisis data dari respon, strategi, program-program aktivitas, hasil dan dampaknya, serta kapasitas dan kelemahahannya, dilihat dari kesenjangan antara kapasitas dan hasil yang dicapai, dari penanganan resiko bencana dilakukan berbagai pihak selama ini. Sebagaimana tercermin dalam Tabel 2, secara umum dapat dikatakan bahwa penanganan bencana belum dilakukan secara sistematis untuk mencegah dan menangani resiko, terutama resiko-resiko dalam tiap domain bencana yang sangat bervariasi di daerah. Pemerintah pusat sendiri sejauh ini telah mengeluarkan kebijakan dan regulasi penanganan resiko bencana dalam UU Penanganan Bencana dan Peraturan Pemerintah tentang Penanganan Bencana, tahun 2007, tetapi belum diintegrasikan dalam kegiatan pembangunan disertai mekanisme pelaksanaan di tingkat daerah. Dalam konteks desentralisasi sekarang ini, daerah sangat berperan penting untuk menjalankan UU dan peraturan pemerintah ini, tergantung pada kapasitas daerah masing-masing. Namun yang terjadi selama ini, secara umum dapat dikatakan, bahwa kebanyakan penanganan resiko ben-

Hikmah pembelajaran penanganan resiko bencana

<<

46

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008

Kebijakan Publik

cana dilakukan secara darurat, sehingga pengumpulan data dan informasi juga dilakukan secara darurat pula. Pemerintah lebih mengandalkan pada data dan informasi yang ada selama ini, belum disertai pendataan khusus atas resiko bencana yang ada pada masing-masing domain. Sementara itu, di kalangan masyarakat sipil, pendataan dan informasi umumnya dilakukan oleh masing-masing lembaga mengikuti program yang mereka jalankan, jarang sekali menggunakan data pemerintah yang umumnya kurang mereka percayai. Tabel 2. Pembelajaran atas penanganan resiko bencana

Kalangan pemerintah

Kalangan masyarakat sipil
Pengumpulan data dan informasi dilakukan bersamaan dengan pemberian bantuan kemanusiaan, cenderung menggunakan data dan informasi dikumpulkan sendiri-sendiri oleh masingmasing LSM Mengikuti standar dan mekanisme lembaga-lembaga donor, menurut kebijakan dan mekanisme masing-masing

Kalangan komunitas warga korban langsung terkena bencana
Sering menjadi objek pendataan dan pengumpulan informasi dilakukan berbagai pihak, memiliki informasi sangat terbatas tergantung pada pendataan dan bantuan pemerintah dan LSM

Kalangan komunitas warga bukan korban langsung
Mendapatkan informasi dari lembaga-lembaga sosial keagamaan di daerahnya, dari informasi bersifat informal mengikuti jaringan sosialkekerabatan dan sosial-keagamaan Berdasar pada mekanisme lokal dalam penanganan bencana, mengikuti kearifan lokal, belum diakomodasi dan berpartisipasi dalam penentuan kebijakan dan mekanisme penanganan resiko bencana Masih bersifat reaktif, belum proaktif menangani resiko dampaknya, menjadi bagian dari korban yang harus menanggung resiko

Kapasitas, kelemahan dan kelebihan, dalam penanganan resiko
Belum punya pendataan dan pengumpulan infomasi yang sistematis, bersifat sektoral masing-masing, tidak ada pemusatan data dan informasi, belum terekam dalam aktivitas BPS dan badan informasi lainnya Kapasitas daerah masih rendah, belum disertai mekanisme terinci dalam masingmasing domain bencana, belum terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan di daerahnya

Dalam pengumpulan data dan informasi

Umumnya masih bersifat darurat, pengumpulan data dan informasi dilakukan dalam kondisi darurat, pendataan dan pengumpulan informasi dilakukan kurang disertai perbandingan data sebelum dan sesudah bencana

Dalam regulasi dan penentuan mekanisme

Sudah ada undangundang dan peraturannya, tetapi belum disertai mekanisme pelaksanaan yang koheren, terutama di tingkat daerah

Korban belum diakomodasi dan berpartisipasi dalam penentuan kebijakan dan mekanisme yang ada, korban sangat tergantung mekanisme ditetapkan pemerintah, lembaga donor dan LSM Menyadari akan bahaya resiko bencana, tetapi dalam kondisi sangat rentan untuk mengatasi resiko bencana, masih bersifat reaktif, belum proaktif terlibat dalam penanganan resiko di komunitas dan daerahnya

Dalam mengubah perilaku masyarakat

Regulasi dan mekanisme belum efektif mengubah perilaku, sosialisasi dilakukan tetapi belum disertai dengan penyebaran informasi memadai, pemerintah cenderung menyerahkan pada mekanisme lokal, kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk mengubah perilaku warga

Memberikan penyadaran pada komunitas yang menjadi target program, tetapi belum disertai upaya perubahan sikap dan tindakan pengurangan resiko berkelanjutan

Kesadaran akan resiko belum tercermin dalam tindakan mengubah perilaku untuk menangani resiko, masih bersifat reaktif belum proaktif melakukan pencegahan dan penanganan resiko

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

47 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 ga bukan korban langsung, umumnya mereka menanggung beban, dengan kebijakan dan mekanisme sepenuhnya bersandar pada mekanisme lokal atau kearifan lokal yang ada. Namun demikian, di banyak daerah, komunitas korban tidak langsung ini umumnya banyak yang efektif memberikan bantuan dan mengurangi resiko bencana dari kegiatan-kegiatan langsung (immediate) yang mereka lakukan begitu bencana terjadi, mengikuti mekanisme dan kelembagaan lokal yang ada, terutama mekanisme dan kelembagaan menangani krisis dan kemanusiaan dimiliki oleh lembaga sosial-keagamaan dan komunitas berdasar solidaritas kekerabatan dan modal sosial-kultural lainnya. Dari temuan ini, secara umum dapat dikatakan bahwa penanganan resiko bencana selama ini belum sistematis dilakukan dalam domaindomain bencana yang spesifik dan bervariasi. Penanganan umumnya dilakukan dalam kondisi darurat, reaktif ketika bencana terjadi, dengan data dan informasi sangat minim, belum dilakukan secara proaktif untuk Kelemahan dan kelebihan penanganan resiko bencana, sebagaimana di paparkan dimuka, mencerminkan kesenjangan-kesenjangan (gaps) antara kapasitas kelembagaan agen dan aktor dan resiko bencana yang seharusnya ditangani. Kesenjangan itu dapat ditemukan dalam respon dilakukan dalam pendataan dan pengumpulan informasi dengan strategi yang diambil atau kesenjangan informasi (information gaps), antara strategi yang diambil dengan masalah mendesak dan jangka panjang yang dihadapi atau kesenjangan stretegis (strategic gaps), antara strategi dan program yang dijalankan atau kesenjangan implementasi (implementation gaps). Ketiga jenis kesenjangan ini dapat dirangkum dalam kesenjangan kapasitas (capacity gaps), yaitu kesenjangan antara kapasitas kelembagaan agen atau aktor dan masalah yang dihadapi, sebagaimana tercermin dari mencegah dan mengurangi dampak resiko bencana. Pemerintah pusat sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan penanganan resiko bencana dalam bentuk regulasi dan perundang-undangan, tetapi dalam pelaksanaannya belum disertai dengan mekanisme yang memadai, terutama di tingkat daerah atau kabupatan. Kapasitas daerah atau kabupaten dalam menangani resiko bencana masih sangat kurang, belum terintegrasi dalam kebijakan pembangunan dan penganggaran APBD di daerahnya. Ketidakjelasan arah dan kebijakan ini menyebabkan perubahan perilaku dalam menangani resiko bencana di masyarakat belum terjadi secara meluas, sehingga masyarakat umumnya masih sangat rentan terhadap resiko bencana, sebagaimana tercermin dalam sikap reaktif dan serba darurat selama ini dalam penanganan resiko bencana, baik tercermin dalam tindakan pemerintah maupun tindakan masyarakat sipil maupun komunitas korban.

Di sisi lain, di kalangan korban langsung, karena kerentanan yang mereka derita, umumnya sering menjadi objek dari pendataan dan informasi dari berbagai pihak, sehingga banyak yang mengeluh jenuh dengan berbagai jenis pendataan. Mereka umumnya memiliki informasi dan data sangat minim dan terbatas, sangat tergantung pada data bantuan kemanusiaan diberikan berbagai pihak, yang karena pendataannya kurang baik seringkali menimbulkan kecemburuan sosial diantara mereka. Demikian pula, kebijakan dan mekanisme penanganan dilakukan berbagai pihak belum mengakomodasi kepentingan korban, dan kalaupun sudah mengakomodasi tidak disertai partisipasi korban dalam penentuan mekanisme, sehingga seringkali menimbulkan kebingungan, keluhan dan kekecewaan diantara mereka. Demikian pula kalangan war-

Harapan pada penanganan bencana ke depan

hasil atau dampak penanganan dalam pengurangan resiko bencana. Dari identifikasi atas kesenjangan-kesenjangan itu, dalam penelitian ini responden diminta untuk mengisi kesenjangan (gaps) yang ada, berupa harapan untuk merumuskan bagaimana seharusnya respon, strategi, dan prioritas agendaagenda program penanganan resiko bencana dilakukan ke depan, yang mencerminkan pemecahan atas kelemahan-kelemahan yang ada, dari kapasitas kelembagaan agen dan aktor dalam memecahkan masalah, dan prioritas-prioritas agenda ke depan yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Tabel 3 menyajikan rekomendasi dari berbagai kalangan agen dan aktor untuk perbaikan penanganan resiko bencana, meliputi prioritas-prioritas strategis kebijakan seharusnya dilakukan menurut kemendesakan atau urgensinya,
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

<<

48

Jurnal DIALOG

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 Tabel 3: Program dan Harapan Perbaikan Penanganan (Resiko) Bencana
Pemerintah Program LSM Komunitas Korban Langsung

Kebijakan Publik

Komunitas Bukan Korban Langsung

Mendirikan Posko Regulasi (UU, Perda, - Riset pemetaan atau kelompok kordaerah bencana dll.) ban bencana - Sosialisasi regulasi - Penyadaran dan pengurangan resiko - Pendirian lembencana baga-lembaga/ - Bantuan tanggap unit-unit penangdarurat gulangan bencana di berbagai level pemerintahan - Bantuan tanggap darurat Normatif-karikatif -Kegiatan-kegiatan sosialisasi dan koordinasi antar instansi -Melakukan bantuan tanggap darurat -Relokasi masyarakat korban bencana - Kanalisasi - Himbauan -Partisipatif -Kooperatif -Pelatihan-pelatihan kesadaran pengurangan resiko bencana -Gerakan penghijauan dan kritik terhadap industrialisasi, penebangan hutan, dll. - Melakukan bantuan tanggap darurat -Pasif-kritis -Partisipasif-kritis - Protes ketidaklancaran bantuan dan penyalahgunaan bantuan - Membangun Posko dan organisasi korban bencana - Ikut dalam pelatihan-pelatihan -Gerakan penghijauan dan kritik terhadap industrialisasi, penebangan hutan, dll. Partisipatif-kritis - Ikut dalam pelatihan-pelatihan DRM - Terlibat sebagai relawan dalam kegiatan-kegiatan tanggap darurat - Gerakan penghijauan dan kritik terhadap industrialisasi, penebangan hutan, dll.

Strategi Kegiatan

strategi seharusnya diambil, prioritas agenda programnya, implementasi kegiatannya, dan koordinasi, pembagian peran, dukungan fasilitas sumberdaya dan finansial yang diperlukan, untuk perbaikan penanganan resiko bencana ke depan. Rentetan berbagai jenis bencana yang datang menuntut perhatian dan penanganan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum pemerintah sejauh ini lebih terkonsentrasi memberikan kerangka hukum untuk penanganan bencana, misalnya setahun lalu mengeluarkan UU No 24 Tahun 2007 mengenai Penanggulangan Bencana. Se-

mentara itu, di daerah-daerah tertentu, NTT misalnya, sedang digodok Perda Penanggulangan Bencana. Menyusul upaya regulasi itu, program-program dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi regulasi-regulasi tersebut dan langkah-langkah pelembagaannya di berbagai tingkatan pemerintahan, misal mendirikan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di tingkat propinsi atau lebih khusus misalnya mendirikan BPLS dalam kasus Lumpur Sidoarjo. Regulasi ini memang penting sebagai kerangka dan payung aturan penanggulangan bencana, agar tidak terjadi chaos dan konflik dalam penanggulangan bencana. Kendati demikian, implementasi dari program ini belum seluruhnya berjalan lancar: hal ini terutama muncul dari kenyataan masih belum

maksimalnya sosialisasi dan kurangnya infrastruktur dan sumberdaya bagi penerapan regulasi tersebut. Di luar itu, pemerintah lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang berorientasi pada upaya tanggap darurat, yang kebanyakan bersifat parsial, sektoral, kurang terpadu, berjangka pendek, dan berdana besar. Yang digarap pemerintah biasanya bersifat fisik, misal mendirikan tanggul-tanggul (kanalisasi) dalam kasus bencana banjir. Kegiatan ini tentu saja sangat penting, tetapi kadang aspek manusianya kurang diperhatikan. Kalaupun dilakukan biasanya bersifat himbauan, yang sebelumnya didahului dengan tuduhan-tuduhan, misal dalam kasus kebakaran hutan. Masyarakat sering dituduh membakar hutan, baik sengaja maupun

Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

49 >>

Jurnal DIALOG
Kebijakan Publik

> Edisi 1 / Juni / Tahun II / 2008 sifat integratif. DRM juga merupakan sebuah terminologi kolektif yang meliputi seluruh aspek perencanaan untuk kesiapan dan mitigasi, maupun penanganan dampak pasca bencana (respon darurat). Bencana bukan semata dilihat sebagai peristiwa atau kejadian tiba-tiba (sudden on-set) tetapi merupakan hasil salah urus manusia (pembangunan) yang terjadi secara perlahan (slow on-set). Dengan perspektif itu, dan ditambah dengan riset-riset pemetaan yang sebelumnya mereka lakukan, kalangan NGO aktif melakukan latihanlatihan penyadaran DRM di kalangan masyarakat. Posisi masyarakat di sini pun jadi bergeser. Jika sebelumnya masyarakat, terutama masyarakat korban bencana langsung, berorientasi pada bantuan langsung dan fisik, cukup terjalin secara intensif, dan pada kenyataannya penyandang dana dari lembaga asing itu lebih sering bekerjasama dengan LSM ketimbang dengan pemerintah ketika menangani peristiwa bencana. Sementara itu, di kalangan komunitas korban bencana belum muncul kesadaran global dan tindakannya sangat spontan ketika sedang terjadi peristiwa bencana. Setiap kali terjadi bencana fakta menunjukkan adanya korban jiwa maupun material sangat banyak, karena belum ada tindakan yang bersifat prefentif dan antisipatif. Tingkat kerentanannya meningkat, sementara kapasitas penanganan bencana menurun, karena berkembang persepsi di kalangan masyarakat bahwa bencana adalah urusan nanti saja. Belum berkembang kesadaran yang mendorong ke arah kultur yang meningkatkan kapasitas manajemen bencana. Hikmah atas peristiwa bencana yang selama ini terjadi, ternyata belum tercermin pada upaya penanganan bencana. Secara umum dapat dikatakan bahwa penanganan resiko bencana selama ini belum sistematis dilakukan dalam domain-domain bencana yang spesifik dan bervariasi. kini mereka diarahkan pada pemberdayaan diri sendiri. Jika sebelumnya mereka hanya bersifat pasif, menunggu, dan akan menggelar protes jika dianggap ada yang tak beres dalam penyaluran bantuan, dalam DRM mereka lebih bersifat aktif-partisipatif. Dalam rumus DRM, ketika terjadi bencana, orang yang pertama-tama membantu dan menolong korban adalah masyarakat korban bencana itu sendiri. Selain itu, sebagai bagian dari DRM ini juga, kalangan LSM gencar mengritik industrialisasi yang mengabaikan dan merusak keamanan lingkungan. Pada saat yang sama mereka mendorong pentingnya menjaga lingkungan dan penghijauan. Sayangnya, kegiatan DRM yang dilakukan LSM ini juga masih sangat terbatas dan belum terlalu meluas. Penanganan umumnya dilakukan dalam kondisi darurat, reaktif ketika bencana terjadi, dengan data dan informasi sangat minim, belum dilakukan secara proaktif untuk mencegah dan mengurangi dampak resiko bencana. Pemerintah pusat sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan penanganan resiko bencana dalam bentuk regulasi dan perundang-undangan, tetapi dalam pelaksanaannya belum disertai dengan mekanisme yang memadai, terutama di tingkat daerah atau kabupaten. Kapasitas daerah atau kabupaten dalam menangani resiko bencana masih sangat kurang, belum terintegrasi dalam kebijakan pembangunan dan penganggaran APBD di daerahnya. Ketidakjelasan arah dan kebijakan ini menyebabkan perubahan perilaku dalam menangani resiko bencana di masyarakat belum terjadi secara meluas, sehingga masyarakat umumnya masih sangat rentan terhadap resiko bencana, sebagaimana tercermin dalam sikap reaktif dan serba darurat selama ini dalam penanganan resiko bencana, baik tercermin dalam tindakan pemerintah maupun tindakan masyarakat sipil maupun komunitas korban.
Politik Bumi Dan Manajemen Bencana

tidak sengaja, lalu mereka dihimbau untuk tidak ‘membakar’ hutan. Sejauh ini belum ada usaha yang serius untuk melakukan program-program pengelolaan dan pengurangan resiko bencana (disaster risk management-DRM) yang lebih berjangka panjang, terpadu, dan relatif berbeaya lebih murah. Celah inilah yang diisi oleh kalangan LSM. Secara konseptual, DRM dimengerti sebagai suatu perspektif yang menawarkan konsep penanganan bencana dengan menempatkan pembangunan sebagai kondisi dan konteks di mana bencana terjadi, karena itu respon terhadap bencana berPenutup Pada prinsipnya pemerintah sudah mempunyai kesadaran global dalam upaya penanganan bencana. Salah satu indicator adalah telah diterbitkannya UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana yang disusul terbitnya PP No. 8 Tahun 2007 Tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Akan tetapi kesadaran global yang sudah berkembang di kalangan pemerintah itu tidak tercermin pada tindakannya ketika setiap kali menangani peristiwa bencana, baik bencana alam, non alam, maupun bencana sosial. Sedangkan di kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tampak mempunyai kesadaran global, dan sekaligus bertindak global pula. Strategi, program, dan kegiatan yang dilakukan terasa adanya kesadaran global dan lebih melihat persoalan pada ranah hulu. Boleh jadi itu disebabkan karena jaringan LSM dengan lembaga-lembaga internasional

<<

50

Prof. Dr. Heru Nugroho

Guru Besar pada Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Ketua Program Studi Sosiologi Pascasarjana UGM; Direktur Center for Critical Social Studies; Peneliti Senior Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, dan memperoleh doktor dari Fakultaet fuer Soziologie Universitaet Bilefeld Jerman. Saat ini bekerja di Save the Children UK sebagai Program Coordinator Education (Koordiantor Program Pendidikan) dan menjadi anggota Emergency Response Team (ERT), dan tim fasilitator Education in Emergencies Training (Pelatihan Pendidikan dalam Masa Darurat) di tingkat nasional, serta terlibat dalam Emergency Response bencana banjir di Solo, Jawa Tengah. Beberapa pelatihan yang diikuti berkait dengan penanggulangan bencana : Education in Emergency (Pendidikan dalam Masa Darurat), Emergency Preparedness and Responses Plan (EPRP) dan Tindakan Pertolongan Pertama untuk korban bencana; Pendiri dan Pemimpin Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) Yogyakarta. Juga sebagai pendiri Early Childhood Care and Development – Resource Center (ECCD-RC), Pusat Pelayanan dan Pendampingan Anak “Warna-Warni”, serta Mitra Pendidikan Indonesia (MPI). Pernah mendapatkan penghargaan sebagai fellow Ashoka (sebuah organisasi nirlaba berkantor pusat di Arlington, Amerika. Juga pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu nominasi The fearless Indonesian Women of the year dari Majalah Kosmopolitan.

Lusi Margiani

Dr. Eko Teguh Paripurno, MT

Dosen Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta; Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN; Konsultan untuk Program Recovery and Prevention Unit pada UNDP; Konsultan untuk Pengkajian Risiko Bencana Wilayah Sulawesi dan Maluku pada Oxfam Great Britanian Humanitarian Assistance; Pengurus Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI). Pernah mengikuti pendidikan Natural Disaster Reduction di Kobe Jepang.

Saifudin Zuhri M.Si

Alumnus Jurusan Usuludin Universitas Islam Negeri Sunankalijaga Yogyakarta, dan Sosiologi Pascasarjana UGM. Peneliti pada Institut Pengembangan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (INPEDHAM) Yogyakarta, dan Staf Pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi SBI Yogyakarta. Editor Buku pada penerbit Kajian Kalam Semesta (KKS) Yogyakarta. Tim penulis buku Pesantren, Radikalisme, dan Konspirasi Global; dan buku Dinamika Konflik dalam Transisi Demokrasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful