P. 1
50 cerpen Kompas (1)

50 cerpen Kompas (1)

4.0

|Views: 1,209|Likes:
Published by tiktaktiktuk

More info:

Published by: tiktaktiktuk on Nov 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2015

pdf

text

original

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.

html

Penjual Nyawa Post: 06/05/2006 Disimak: 48 kali Cerpen: Setiawan G Sasongko Sumber: Kompas, Edisi 06/04/2006

Saat kanak-kanak, ketika hari pasaran Wage, kami selalu waswas bertemu Pak Timbil. Sebanding dengan ketakutan kami akan "montor pelet", mobil bergambar gunting yang diisukan mengambil mata anak-anak untuk dibuat cendol. Pak Timbil terkenal sebagai penjual nyawa, yang harus kulakan nyawa dengan cara menculik anak-anak sebagai tumbal.

Sebagai belantik kambing, dia berputar mengikuti rotasi hari pasaran. Bila Wage dia ke Pedan, Kliwon ke Klembon, Pon ke Jatinom, Paing ke Prambanan, dan Legi ke Delanggu. Tak ada hari istirahat kecuali baru tidak enak badan. Sebetulnya, bukan hanya kambing saja yang diperjualbelikannya. Tapi bila tak ada uang, atau kantongnya terlalu tipis, dia melenggang kangkung saja tanpa membawa apa-apa. Tabiat itu jadi rahasia umum sehingga sering ada yang berceloteh: "Uang Pak Timbil sedang banyak!" atau "Pak Timbil sedang tidak punya uang!" Dia menanggapi dengan senyum atau menjawab sambil tertawa: "Ya!"

Tidak pernah memakai alas kaki walau tanah jalan becek atau terbakar kemarau. Tetapi setelah jalan desa banyak yang diaspal dia memakai sandal jepit. "Tak tahan kakiku kena panas aspal!" katanya setiap kali disapa orang. Seolah minta dimaklumi kalau dia keluar dari pakemnya. Pak Timbil juga keluar dari tabiatnya yang lain. Dia tidak pernah lagi melenggang tanpa barang dagangan, walau mungkin yang dibawanya hanya anak bebek, anak kelinci, bahkan pernah membawa anak tupai. Bila ada yang menanyakan perubahannya itu, dia menjawab, "Biar tidak tergantung nasib pada ternak besar saja!" Setelah berlangsung cukup lama, orang jadi biasa, tidak menganggap perubahan itu sebagai hal yang aneh lagi.

Lalu gelar penjual nyawa didapat dari mana? Bermula ketika lahir tabiat barunya, yang suka mengunjungi orang sekarat. Suatu hari ada yang sedang sekarat di Desa Jambukidul, desa yang selalu dilaluinya bila ke Pasar Pedan. Kerabat si sakit sudah pasrah kalau akan diambil-Nya. Pak Timbil singgah, mendoakan agar calon almarhum diberi jalan lapang dan bersih. Pak Timbil memijit jari kakinya agar sedikit memberi rasa nyaman. Saat dipijit tangannya itulah, si sekarat bergerak, menyalangkan mata, tersenyum, dan bangun dari sekaratnya. Kerabatnya gembira, lalu ayam yang dibawa Pak Timbil dibeli untuk dipelihara. Anehnya, ketika ayam yang dibeli itu mati terlindas motor, si sekarat yang sembuh itu tiba-tiba mati. Mungkin itu hanya sebuah kebetulan semata dan segera dilupakan orang.

Di lain waktu, ketika dia sedang menuntun seekor kambing, ada yang sekarat karena usianya memang sudah uzur. Pak Timbil mampir memijitnya. Aneh, nyawa yang sudah sampai di ujung tenggorokan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kembali ke tempat semula. Laki-laki uzur itu bangkit lagi. Orang-orang jadi gempar. Lalu, kambing Pak Timbil dibeli untuk syukuran. Ketika kambing mati disembelih, si uzur yang sehat kembali itu tiba-tiba terjengkang dan mati. Acara syukuran pun berubah jadi duka. Orang teringat dengan kejadian pertama.

Ada lagi, yaitu ketika ada bocah sekarat dari keluarga kaya yang sembuh oleh sentuhannya. Anak bebek betinanya dibeli lalu dipelihara dengan manja. Ketika saatnya bertelur tidak diizinkan lewat jalur resmi, tapi dengan operasi cesar supaya saluran kloakanya tidak rusak. Dengan harapan umur si bebek jadi lebih panjang. Bebek itu mati tua dan ternyata seumuran bebek itu pula tambahan usia si bocah.

Sejak itu Pak Timbil dianggap sebagai orang orang keramat dan jadi perbincangan di mana-mana. Ternyata perpanjangan nyawa itu sebanding dengan umur binatang yang dibeli dari Pak Timbil. Tapi Pak Timbil tetap seperti dulu, berjalan kaki ke pasar dengan membawa ternak atau dagangan lainnya, tergantung berapa banyak uangnya. Dia juga tidak pernah menjual dagangannya di atas harga pasar. Tapi orang tak ada yang berani sembrono layaknya dulu, sekalipun hanya membawa kupu-kupu, wangwung, katimumul, atau belalang ke pasar. Dia sudah dianggap seorang wali yang menyamar, sekelas sunan atau wali era Demak Bintoro dulu. "Dia seorang wali masa kini!"

"Seharusnya demikianlah ’wong pinter’, bukannya iklan di koran atau televisi dengan kemampuan yang mengada-ada!"

"Pak Timbil punya ilmu laduni! Kekasih Allah!"

"Tapi katanya dia tak pernah berlama-lama di surau!"

"Apa hubungannya? Kamu sendiri suka berlama-lama zikir, tetapi hatimu seperti pasir, tak ada gunanya!"

"Penjual nyawa!" komentar seseorang di majelis taklim. Lalu, istilah penjual nyawa jadi populer.

Hampir saja sebutan penjual nyawa itu luntur. Ada keluarga si sembuh yang membeli anak sapinya dan dipelihara baik-baik. Sayangnya, anak sapi itu hilang dicuri. Keluarga itu sudah ketar-ketir. Tapi sampai terhitung bulan dan tahun tidak terjadi apa-apa. Tapi pada suatu hari, tepatnya jam tiga pagi, orang yang disembuhkan dari sekarat itu tiba-tiba ditemukan mati. "Tampaknya sapi yang hilang itu dipotong jam tiga tadi!" kata salah satu pelayat.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Pelayat lain menimpali, "Oleh malingnya, sapi itu tak segera dijual, tapi digemukkan dulu biar harganya lebih mahal saat dibawa ke penjagalan!"

Keanehan Pak Timbil mengusik sebuah pesantren, yang lantas menyuruh santrinya menyelidiki Pak Timbil secara diam-diam. Tapi litsus amatiran itu mendapati hasil bila Pak Timbil orang bersih dari hal kotor atau keji lainnya. Kecuali satu, di ka-te-pe-nya ada tanda ’c’. "Apakah dia bekas pe-ka-i?"

"Apa hubungan pe-ka-i dengan kebersihan hati. Mungkin dulu itu hanya salah tunjuk saja, korban fitnah!"

"Bukankah saat itu anaknya yang guru es-te-em dibunuh?"

"Anak dan bapak jangan kamu seragamkan! Semua juga tahu siapa yang mendalangi pembunuhan itu, yang lantas mengawani pacar anaknya!"

Tentu saja sebutan penjual nyawa tak berani diucapkan terang-terangan di depan Pak Timbil. Pernah ada yang menanyakan perihal kemampuannya itu, tapi dengan gigih Pak Timbil menyangkalnya. "Menghidupkan orang mati? Kalian sangka aku ini Tuhan!" kata Pak Timbil tak suka. Tetapi semakin banyak yang penasaran sehingga kalau ada orang sekarat dipanggillah Pak Timbil. Begitu disentuh tangannya, si sekarat selamat.

"Bagaimana, apakah kalian sudah bertemu Pak Timbil?" tanya Seruni kepada orang-orang suaminya di bangsal RS Tegalyoso.

"Belum!" jawab Lurah Jingklong mewakili mulut anak buahnya. Dia sendiri ogah-ogahan pergi ke belantik itu. Berat rasanya, lebih baik masuk penjara andai saja dia bisa memilih.

"Mengapa tidak dicari sendiri?" desak Seruni, penuh kecurigaan akan keseriusan suaminya.

"Ya, akan kucari sendiri!" kata Lurah Jingklong setengah hati dan beranjak pergi. Dengan mobil tuanya, dia menuju desa Pak Timbil. Tapi niat itu diurungkan. Mobilnya dibelokkan ke arah lain. Dengan muka

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

merah berhenti di tepi jalan tengah sawah. Turun dari mobil, lalu melorotkan celananya. Sudah dua hari dia anyang-anyangen, kencing sedikit-sedikit dan membuat nyeri lutut. Kadang dia harus bergetar saat airnya tidak jadi keluar. Dia berpikir, Seruni sengaja mempermalukannya supaya mengemis-ngemis perpanjangan nyawa anaknya. Tapi bukankah anaknya betul-betul sekarat karena kecelakaan. Sangat berat hatinya. Tatapan mata Pak Timbil dulu belum bisa dilupakannya. Tatapan yang menghunjam jantungnya, apalagi ketika kepala anaknya itu terkulai lemah di pangkuannya. Lurah Jingklong berbalik arah, kembali ke rumah sakit.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan Seruni...!" bujuk istrinya.

"Aku tidak suka disebut penjual nyawa!" jawabnya. Dia menyembunyikan hatinya. Luka lama terhadap Lurah Jingklong masih sangat terasa. Saat itu ketika dia sedang memangku anak laki-laki tunggalnya yang sekarat dengan leher tergorok, Jingklong muda meludahi mukanya layaknya binatang najis. Bukan itu saja, pemuda itu juga mengayunkan golok ke lehernya. Untung saja beberapa orang berhasil mencegah sehingga dia masih hidup sampai sekarang.

"Berangkatlah, Pakne! Kasihan anak Seruni...," ulang istrinya. Perempuan itu lebih lapang dada daripada dirinya. Belantik kambing itu diam saja. Tetapi dalam hatinya jadi menimbang-nimbang. Karma itu akan datang pada Lurah Jingklong, anaknya sekarat di depan matanya. Mungkin akan segera mati di dekapannya.

>diaC<

"Tidak kutemukan!" kata Lurah Jingklong kepada istrinya dengan nada sedih, menyembunyikan kebohongannya. Beberapa orang ikut kecewa. Dokter dan perawat sangat sibuk, ruang ICU jadi sunyi senyap. Hanya ada suara anak Seruni yang megap-megap ingin memisah dunia.

"Itu istri Pak Timbil!" seru beberapa orang ketika melihat istri Pak Timbil menuju arah mereka. Tak lama kemudian tergopoh Pak Timbil datang. Lurah Jingklong terpana seakan tak percaya, lalu menyambut dan menjatuhkan diri mendekap kaki Pak Timbil sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah!" kata Pak Timbil lirih sambil mengelus rambut Lurah Jingklong layaknya mengelus anaknya dulu. Dengan tergesa, beberapa orang masuk ke ruang intensif, dokter dan suster segera keluar ruangan. Pak Timbil masuk disertai Lurah Jingklong dan istrinya. Dipijitnya kaki anak Seruni. Tak berapa lama tubuh anak muda itu mulai memerah, tanda kehidupannya mulai mengalir. Setelah itu mata anak Seruni terbuka, menguap dan tersenyum. Pak Timbil keluar ruangan, Lurah Jingklong mengikutinya layaknya takut ditinggalkan bapaknya. "Apa yang Bapak bawa?" tanya Lurah Jingklong.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

"Ada di luar sana. Kutambatkan di pohon palem depan rumah sakit!" jawab Pak Timbil. Lurah Jingklong meraih tangannya, menciuminya, lalu bergegas keluar rumah sakit hendak memastikan jenis binatang sambungan nyawa anaknya. Sampai di luar dilihatnya seekor anak kerbau yang sempoyongan, lehernya terluka, dan mengucurkan darah. Gemparlah rumah sakit dan sejak itu Pak Timbil menghilang bersama istrinya, tidak pernah terlacak sampai sekarang. ***

Jakarta, 22 April 2006

Lagu Malam Seekor Anjing Post: 05/29/2006 Disimak: 102 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas, Edisi 05/28/2006

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti

Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. ia menjumpaiku. Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku. dan siap dihunjamkan di perutku. Maling pun tetap harus serius. bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi. Siapa tahu itu tangis buaya. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Ia pelan-pelan bangkit. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. penuh kerut-merut. mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. pukul besi. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku. Melihat urat-uratnya. alat pemotong kaca. Dengan langkah yang gagah. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. tampak wajahnya lebih tua dari usianya. linggis kecil dan masih banyak yang lain. Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. Hujan turun makin deras. Kuamati orang itu. Tangannya mengelus-elus kepalaku. namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. drei. ia meyakinkan bahwa daging itu murni. Ya.html berbisik. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Maka. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi. mengenai kakinya. Tapi aku menolak dengan halus. kuambil jarak beberapa depa. alat pemotong besi. Dia memandangku. Kukibaskan ekorku. Ya sangat dalam. ada besi pengungkit. Aku tahu itu. Aku menunduk. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. agar tidak konyol dicincang massa. Orang itu merasa serba salah. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Entah kenapa. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Rupanya ia tanggap. Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku.com/abclit. hand phone. Tuhan. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya Tidak lebih dari lima menit. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. Kudekati dia. sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku.processtext. orang itu telah keluar membawa bungkusan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Dari tempias cahaya lampu. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. menyiapkan berbagai peralatan. Dengan bahasa isyarat. aku selalu waspada. Perasaanku campur aduk. Aku pun menurut. aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji. atau benda lainnya. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. dia menangis. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu). karena dulu. . Tapi. naluriku memaksaku berpikiran begitu. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. http://www.

Makin keras. Aku menggonggong makin keras. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Entah kenapa. wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot. Sial. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar. Tangis itu sangat panjang dan dalam. maling itu tetap diam. makin berkurang. Senapannya terus menyalak. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Bahkan. Aku menggonggong sangat keras. Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. dan berharap ia segera berlari. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku. Orang itu tumbang. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. akhirnya. Ia tersedu-sedu. Yogyakarta 2006 Monang? Kau Mendengar Aku? Post: 05/22/2006 Disimak: 89 kali Cerpen: Palti R Tamba Sumber: Kompas. Aku sangat panik. dan canggung. . diiringi letusan senapan yang membabi buta. Aku memaksanya lari. ia menghentikan kegiatan itu. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Terus menatapku. Aneh. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok. tangis anak dan istrinya. Kata "maling" diteriakkan berulang-ulang. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. hingga orang-orang pun keluar rumah. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Istri tuanku menjerit-jerit histeris. http://www. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Mereka mengelu-elukan aku. muncul kilat. Melihat mata ibu. Ia tampak panik. Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu.processtext. Edisi 05/21/2006 Malam itu.com/abclit. Aku masih mendengar tangisnya. rebah ke tanah. seperti menatapku.html Tapi aku merasa kehilangan selera makan. Muncrat darah merah dari dadanya. Tiba-tiba saja. penuh kesunyian. sambil menyebut kalung berliannya yang hilang.

Beberapa kali. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya. Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Ah. Namun ia takut pada ayah.. di ruang dalam. Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Namun. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah.. ampun pak. Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Ketika kanak-kanak. ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu. apa? .html Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur.. Tubuhnya sampai gemetaran. mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan. ayah mendengus. Monang mencari-cari pisau.com/abclit. Kayu bakar? . Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. (Mungkin pula. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah. supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang. lalu memukuli ibu lagi. seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak. ia pun tidak menangis. masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat.. Batu penggilingan? . yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Tidak. Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah. Dan ibu menjerit-jerit lagi. http://www. Tapi. agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau. karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. Ia memang selalu dimanjakan. Ayahnya pasti bisa menghindar! . "Ampun. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken. ia juga tak menangis. Pastor dari paroki datang. tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). Tapi. mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah.. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah. ia tetap bergeming. Ayah berhenti memukul ibu.. Dan memang semestinya demikian. seperti baru saja kena sihir menjelma patung.processtext. besok." katanya. Tapi. minyak tanah! . Ia minta ijin pulang. Waktu ayah meninggal. Seumur-umur Monang jarang menangis. Dan lebih lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. Minyak tanah. Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Namun. tak lama berselang.. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing. dalam pikiran ayah. Monang minta digantikan. Monang berlari ke dapur..

http://www. ayah..!" . ada sebuah perahu yang terombang-ambing. "Mo-nang. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh! Monang terisak-isak.. tapi menahan diri. maka aku tidak membakar kamar ini. Ia merasa diajari seperti anak kecil. "Ayah. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. ayah. di malam pekat. Ayah menoleh. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi.. "Maafkanlah anakmu ini. Sebab. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!.?" suara si ayah pelan. Dan tetap tak menjawab. Namun. Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya... Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Lalu berbalik. ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat. Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Tapi tangis ibu yang lirih itu.com/abclit.html Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya.!" panggil Monang. ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. Di tengah samudera itu. Ia tak menjawab. "Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?" Ayah benar-benar marah dibuatnya. menghadap Monang menatap mata sang ayah.... Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu. "Apa yang ayah lihat di tanganku?" Ayah mendengus.processtext..

!" tangis ibu. "Ayah..Generated by ABC Amber LIT Converter. Berikutnya.?" ayah bergerak pelan mendekati Monang.?" Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat....processtext. "Ya. Tuhan. Monang terkejut mendengarnya.com/abclit. Lama. Ayah menggelengkan kepala. ayah.." Monang bergerak pelan mundur. tetap di situ.html "Kau.! Ya.!" "Kau. berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi.. bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?" katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri. Kemudian ayah tertegun. Nak.. ayah berlutut dengan punggung tegak. ayah. "Jangan. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya... Ibu pun demikian. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Monang melihat mata ayah berkaca-kaca.... Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. http://www. "Ya.. "Berhenti di situ. Mulai hari ini.!" Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.. Serasa sekejap. . lalu menghela napas panjang.

Monang membersihkan kelopak matanya. ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir. Allah.. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah.. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu. http://www.. Namun. Kak.. Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya...." suara kak Nurma terputus. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. Monang. "I-ibu.processtext. Berdoa?." katanya.?" . Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan.. Tapi menurut Monang. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?.. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya.com/abclit...... pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. "Engkau harus pulang sekarang." Sungguh. Monang terkesiap mendengar janji ayah. >diaC< Telepon genggam berbunyi... Hingga kini. "I-i-ibu kenapa.... Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam. "Ya. Kerabatmu datang menjemput. pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka.?" Monang menenangkan hati. waktu itu... waktu itu. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? "H-h-hallo... meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Dan akhirnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ayahnya sudah meninggal.html Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian. Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Ayahmu sakit keras. Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu.

.?" Monang mengangguk dan lega. berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu. http://www..? "Ya...?" .. Nak?" "Beginilah tukang koran. "Kau belum tidur..!" Oo.?" "Mo-nang.... tapi ini penting. nanti aku merepotkan mereka. permintaan! Monang terdiam. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?. Nak... Bu. Kak. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. "Mo-nang? Kau mendengar aku.....processtext.. Tapi.....html "Nah." jawab ibu waktu itu... Namun..com/abclit.. Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok... Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok. I-i-ibuu." "Ibu kenapa.. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang.. Jantungnya berdetak lebih cepat. ibu mau juga ikut. Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?. "Aku tukang mabuk. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau...?" "Mmm...Generated by ABC Amber LIT Converter. Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi. Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan.

Nak...i-i-iya. "Aku tahu keadaanmu. ia bertekad membahagiakan ibu. Tapi lima bulan kemudian.. anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Si ibu menguatkan hatinya. Namun. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Nak." "Oo.... http://www. menantu dan cucu-cucuku... "Hallo. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. Nanti terganggu usaha koranmu. Bu.. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu. Monang dan istrinya kekurangan biaya. Ibu tak bisa menginap di rumahmu. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi.processtext. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi..." "Lusa Ibu pulang.. ya. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. iya. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya.html "Mm.. Tak apa-apa." Terputus. Aku tahu hatimu!" katanya... Nak. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. ah! Lalu apa permintaan ibu?.. Maafkanlah. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! "Mon...Generated by ABC Amber LIT Converter. sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Bu. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian.. Ya.." . Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka..!" "Mm. Bu.. Tak ada yang sempat mengantarkan. Monang tak berani menanyakannya lebih dulu..." kata ibu dari seberang sana. Betapa." Ah.. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak. "Kenapa putus?" "Habis baterei.com/abclit.

.. Kau ingat tempat itu. Lantas?.. ada kak Nurma di situ. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain.?" Monang mengiyakan..... "Permintaanku?" "Ya.. di sebelahku. Berpantun pun.. "Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang. dua hari sebelum aku berangkat ke sini. di kampungnya ada pohon mangga. http://www... Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu.processtext. ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang. "Tapi.?" "Sejak tadi dia terlelap di sofa.?" "Iiya.html "Ibu. Bu. Monang." Monang ingat..... Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening.! Katakanlah apa permintaanmu itu. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya. pohon johar. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu.. Teruskanlah.." Monang memasang pendengaran baik-baik. Ia ingat. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan.. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. Pemiliknya Ompung Ojak... Bu." Monang menghela nafas. ... Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Dan. "Monang? Kau mendengarku kan." "Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ." kata Monang akhirnya. dan pohon-pohon bambu memagari kampung.Generated by ABC Amber LIT Converter.... Bila kayu bakar di rumah habis..com/abclit.

Nak. Nai Manjur sudah meninggal.. "Lagi pula.com/abclit....... aku akan beritahu Ompung Ojak.. kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?. Bagaimana.?" "Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu.. "Baiklah. Bu." jawab ibu cepat.. maka ditebang yang tidak lurus. Sepulang dari sini." "Terus. Kalau pohon johar.. http://www.html Sepeninggal ayah. tinggal Ibu. Ibu! Monang menarik nafas.....!" Monang mengangguk. "Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak... Nak.processtext.. tak ada anak-anaknya yang di kampung." "Apa.. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya..?" Oh.!" "Bagus... Diam beberapa saat.." "Satu batang digunakan sebagai peti.Generated by ABC Amber LIT Converter..?" "Ada." . Nak.. Bu.. Nak. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. ibulah yang selalu menyuruhnya. Nak. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang. Bu? Ibu kan masih sehat.. Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang.. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar... Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga. maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi.. "Sekarang dengarlah baik-baik.

Monang menelepon. Ibu.... Bu.processtext.... Jangan memikirkan yang tidak-tidak.!" Tut-tut-tut. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana.... Keindahan memang tak bisa diam. Aku ingin ada kacanya juga. selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya..html "Ibu masih kuat... Menelepon. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. .!" "Sebatang lagi sebagai tutupnya. http://www. Pergelangan tangan itu ngukel1. Aku ingin menyenangkan hatimu.com/abclit. Edisi 05/14/2006 Diangkatnya lengannya perlahan-lahan." "Ibu..Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti yang kakak-kakak lakukan. Dia tersenyum. lalu telunjuknya menjentik. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?*** Wening Post: 05/15/2006 Disimak: 126 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok. Menelepon. Sekali lagi dia tersenyum.. Nak.

tak banyak bicara.com/abclit. Memilih "ya" dia akan melukai jiwanya. rajangan dadar.anaknya entah ke mana. Bang Irfan sendiri. entah ada di ufuk mana saat ini. yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Ah.Generated by ABC Amber LIT Converter. setelah mereguk kenikmatan. Kadang muncul hanya untuk ganti baju. Berdiri luka.samar. nantinya. Wening si walet. siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri? Sepi sekali malam ini. kering tempe. tetapi menebarkan harum yang samar. boleh ya. sesuatu yang mustahil sebetulnya. lalu menghilang di kamar kerjanya. katanya tadi nonton "Berbagi Suami" ah. Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi. tetapi inilah hidupnya. Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Wening hanya diam. sejak 25 tahun yang lalu. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. Waktu terlipat oleh kecepatan. yang oleh Mas Ondi—penata busana. makan. entah siapa yang menjadi biang keladinya. suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Anak. harus masuk sangkar. sudah punah. Sony. si ABG-itu. abon. Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan. Neny. seperti tangan penari. mandi. Wening si prenjak telah musnah. Kadang begitu datang. Dia memang memilih untuk "ya" waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. Tetapi. menolak untuk "ya" pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. mengkristal di dinginnya malam. siap senyum. Di meja telah tersaji tumpeng kuning. ketimun. Jadi. dan menusuknya tanpa kata. mencium kening istrinya. tentu akan lain ceritanya. tak banyak gerak. seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah. dan dia bukan lagi Si Wening. Bang?" bisiknya suatu malam. Malam ini. akan diberi untaian melati. suaminya tak menjawab apa-apa. Tetapi. nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang. Wening si bunga matahari. . mungkin pergi dengan pacarnya. duduk luka. Airmatanya beku. si sulung. Sepi kian runcing. Sejak hampir sebulan ini. yang harus selalu menjaga penampilan. Dia berada di tandu. cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah. Dan sejak itu.processtext. "Aku ingin menari. http://www. sebetulnya adalah hari ulang tahunnya.html Dibayangkannya. hampir dua puluh tahun lalu. anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. mengeluarkan baju-baju dari koper. Barangkali saja. seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak. di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi. lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. sudah mendengkur kelelahan.

cermin.. entah kapan... bahkan sms. "Kenapa. Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Mom.. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan "Drupadi Mulat" sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya..com/abclit." "Aku hanya ingin menunjukkan keindahan. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh.. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi "anak idaman" orangtua." dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. ". dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari." bisik suaminya. enggak pakai ini. segalanya." "Aku enggak suka tarian. mengapa hanya ada pada dirinya? "Cobalah kau mengerti. karena kau istriku. atau apa pun impiannya... Mereka bergerak dalam diam. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa." "Keindahan tubuhmu hanya untuk aku ... Itu saja. Aku lebih suka kau .. Hidupnya memang menjadi barang taruhan." "Kalau begitu. dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa.. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian. rapi.. Tetapi tak ada dari Bang Irfan. Aku memberimu semuanya. Maka pembicaraan itu terkunci di situ. Apa susahnya?" ucap Bang Irfan. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya..Generated by ABC Amber LIT Converter.html Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Dia ingin menjelma Drupadi. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak. biar aku menari untuk Abang saja.. juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Hanya kecupan dan ucapan "Happy birthday. namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Dan jiwa itu. Dia ingin menari. Dialah dengan kain panjang .. Album foto pentas terakhirnya." dari Neny sebelum pergi.. http://www. Bang?" "Tidak boleh.processtext.. Wening beku. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. Dialah Drupadi berambut panjang itu. hening.. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya.

dia selalu lantang menjawab. Jiwamu lebih halus. mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Tetapi.. berulang.. Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. membelah kerumunan penonton yang masih di luar.!" dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya. Akulah keindahan. maka kau akan dilimpahi cahaya. bahwa inilah jiwa kalian. Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. http://www. "Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari.html putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya. Akan kuajarkan kepada kalian. dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya. Wening bangkit dari tempat duduknya. yang menciptakan jarak sepi. Mereka terhenti di suatu ruang. melintas perlahan di karpet merah.processtext. "jadi penari. Tepuk tangan berkepanjangan. menyedot seluruh pancaindera penonton. tertiup pendingin udara. Izinkan dia bersamaku malam ini. dan karenanya. memasuki pintu. Dan penonton memang tak bisa membedakan. menghidupkannya dalam sebuah lakon. memberikan keheningan. Dan ketika diwawancara wartawan seusai "Drupadi Mulat". namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya.com/abclit. GKJ pecah. malam itu.. membiarkan dengung gong pertama bergema. berjalan dari pelataran GKJ. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya. Wening ingat. Cahaya lampu berkebit. menggema. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup. Langkah yang sudah dihafalnya benar. . melangkah hati-hati. Biarkan matamu menangkapnya. Itulah yang menggerakkan Drupadi." jawabnya agak polos dan kekanakan. itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. wahai makhluk bumi. Bang Irfan pulang. Dalam gemulai geraknya.Generated by ABC Amber LIT Converter. membiarkan berpuluh. menaiki tangga. Wening remaja 18 tahun itu menjawab. menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya. ajaklah dia berbicara. Wening tersenyum pahit mengenang semuanya. manakah Wening dan manakah Drupadi.

http://www. api kemarahannya menggelegak. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. Didobraknya pintu. Irfan keluar dengan langkah besar. Ucapan kasar. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini. maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang. Sesaat kemudian. Bang?" sapanya. runcing." Wening tercambuk. Suaminya terdiam. Belum lagi Wening duduk. telanjang.processtext. dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. Silakan larang aku. mengapa kau tak mau mendengar suamimu?" "Apa salahku punya keinginan menari?" "Itu kesalahanmu!" "Baik. Dikenakannya kemben kain panjang putih. yang dulu dikenakannya ketika "Drupadi Mulat". terbuka dengan paksa. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang. Sunyi.. Begitu kasar ucapan bang Irfan. Wening melepas bajunya. Wening terpaku." Berkata demikian. tapi kali ini. Pasti bisnisnya gagal... tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. Diserbunya kamar Wening. Pintu rusak. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. Aku tidak suka. darah mengalir.com/abclit. dasar. . "Abang pulang? Sudah makan. Aku suamimu..Generated by ABC Amber LIT Converter.html "Masih saja . Wening masuk kamar. Pintu terbanting. Lakukan keinginan abang.. Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. "Kapan kau mau mendengar ucapanku.

. condong ke depan.processtext. Dan baginya.0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu.. Wening hanya melihat. Sesekali dia kengser. Tetapi Wening telah menari. Wening bergerak sangat lambat. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur. bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun. Kain samparannya terlalu panjang. sesekali pula dia tawing. menariknya perlahan. memang telah rusak—lama sebelum malam ini. malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. berenang dalam cahaya keindahan geraknya.com/abclit. please. dari tempatnya berdiri. tak paham akan keindahan. Wening yakin sekali. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu. kemudian sanak saudaranya. bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. kali ini.. yang diberikan manusia. yang menjaganya dari campur tangan orang lain.. Dia akan menari. laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh. mencoba mengingatkan ibunya. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender. entah sudah berapa lama. terseret gerak tubuhnya.. Mereka semua membisu. membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. pintu hidupnya. dan tak ada yang bisa menghentikannya. Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah. melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya. selebihnya dia melangkah perlahan.. laki-laki memang tak pernah dewasa. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir. Bumi yang halus." bisik Neny setengah menangis. yang berhasil diciptakannya. kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. Dia adalah Wening. dengan tatapan tertuju pada bumi. Namun. "Mama. sebuah bangun menakjubkan. dungu. Dilaluinya pintu yang rusak itu. ibu dan ayahnya yang renta. dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri.html Iringan rebab menyayat malam.0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang. sejak malam ini. yang anehnya. sesekali dia ukel. Tidak. http://www. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. Mereka berubah menjadi batu. Dibiarkannya. juga mertua. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. menoleh ke sudut. anak-anaknya berdatangan dalam bisu. dan membagikannya kepada dunia. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega? Dengan tatapan pada bumi. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. miring ke kanan. ah. Langkahnya terus mengalir. Perlahan langkahnya menjauh. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya. bahkan kerabat jauh dan para tetangganya.

2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral. Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi.html Irfan mencoba meringkus istrinya.. dia tengah menari dengan jiwanya. Wening bahkan tak melawan. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya..processtext. http://www. khususnya pada bagian tangan. seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora. karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. Tambo Raden Sukmakarto Post: 05/08/2006 Disimak: 158 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto. *** Bukit Nusa Indah. Karena saat ini.com/abclit. Wening tetap menari. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri. dibantu sanak saudara yang ada di situ. . Dia hanya tersenyum. tak terdengar sama sekali oleh Wening.Generated by ABC Amber LIT Converter.. 982 1 Gerak tari Jawa. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Edisi 05/07/2006 Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg. menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu.

Seorang opsir dan dua pembantunya." katanya bak seorang kampiun kurator lukisan. .html Ketika lagu Wilhelmus van Nassau mulai mengumandang di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring. Tubuhnya yang pendek dengan kulit coklat seperti memberi warna tersendiri dari kumpulan bangsa-bangsa kulit putih yang berdandan anggun malam itu. Wajahnya tak membersitkan apa pun selain ketidaktahuan ketika ia digelandang begitu saja dari ruang peresmian dan melewati lorong-lorong yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Rembrandt. Justru sepanjang digelandang. "Apa yang kau nyanyikan? Apakah kau menghina ratu kami?" tanya opsir itu setelah menggelandang lelaki aneh itu ke ruang keamanan. "Dasar Inlander! Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?! Perbuatanmu di ruang peresmian sudah cukup mengantarkanmu di tiang gantungan. Mereka menggelandang lelaki ganjil itu ke ruang pemeriksaan sementara. Sekalipun ia merasa beda di antara sebagian besar pengunjung.processtext. meninggalkan tempatnya berdiri di belakang Gubernur Jenderal Idenburg yang sedang berbahagia meresmikan gedung kesenian itu dan melangkah menuju pada lelaki berpakaian Jawa itu. sementara sorot matanya tak membersitkan kekejaman dan keculasan seperti yang ia praktikkan di masa perang. Dan ketika sudah berada di kantor keamanan di lantai dua itu.com/abclit. "Ia kurang hidup dengan memegang tongkat komando seperti itu. Sekarang kau menghina tuan Jenderal De Kock yang terhormat. Belangkon yang dikenakannya dipakai terbalik sejak irama lagu kebangsaan Belanda mulai mengalir. mulutnya berdecak-decak kagum mengamati lukisan pelukis Belanda itu walaupun hanya mengamatinya sambil lalu. ia tak henti-hentinya memandangi potret seorang Jenderal di masa perang Jawa." katanya dengan gusar. Sontak saja beberapa hadirin dalam ruangan bersuasana khidmat itu menoleh ke arahnya. Opsir itu murka dan menampar mukanya. setelah mendapat laporan dari seorang kacung. tak sedikit pun terpancar kerendah-dirian pada dirinya. Laki-laki itu memandang sang opsir dengan raut muka tiada salah. http://www. penakluk pemberontakan Diponegoro dan Bonjol.Generated by ABC Amber LIT Converter. seorang lelaki pribumi berdestar dan berterompah malah menyanyikan lagu aneh berbahasa Jawa meskipun nada-nadanya selaras dengan lagu kebangsaan Belanda tersebut.

" Opsir itu meninggalkan ruang keamanan yang disulap menjadi ruang interogasi dalam waktu singkat." jawabnya dengan enteng.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia kembali lagi dengan membawa seorang Belanda lain yang berpakaian indah dan pesolek. "Bahkan seorang seniman sekalipun harus punya aturan. Barangkali bibir dan tulang rawannya pecah dipukuli oleh opsir itu dan dua pengawalnya." "Itu bukan lagu kebangsaan bangsa kami. Itu lagu Jawa. "Saya tidak pernah melihat tuan sebelumnya.com/abclit. Ketika ia beralih memandang orang Belanda berpakaian sipil dan pesolek itu." Opsir itu memerintahnya. Tuan." jawab sang opsir. apakah aku salah kalau berpendapat? Bukankah gedung ini dibangun untuk keagungan kesenian Hindia Belanda?" kata lelaki berkulit sawo matang itu dengan mimik menuntut. ia mendapati kesan bersahabat pada dirinya. Sinar matanya menunjukkan rasa belas kasihan melihat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah.processtext." katanya tanpa mengindahkan perintah Opsir itu. http://www. "Kau mau menipu kami?!" "Saya tidak menipu. "Apa yang kau nyanyikan di ruang peresmian itu?" "Wilhelmus van Nassau. Lelaki itu memandang sang opsir yang tak sedikit pun memiliki senyum. .html "Aku seorang seniman. "Coba kau nyanyikan lagi lagu yang tadi kau lantunkan di ruang peresmian. Pukulan tangan beberapa kali dari opsir tinggi besar itu membuat darah meleleh dari mulut dan hidungnya." "Karena kunyanyikan dalam bahasa Jawa. Tak lama setelah meninggalkan ruangan itu. Saya bicara sesungguhnya. tentu tuan akan mengerti lagu itu. bukan seperti pemberontak macam kamu. Kalau tuan sekiranya tahu bahasa Jawa.

tahu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Wajahnya yang berdahi lebar sedang memikirkan sesuatu." katanya dengan bahasa Jawa yang halus. "Oh. tuan bisa menggubah liriknya ke dalam bahasa Jawa yang indah." kata Belanda pesolek itu dengan suara halus.html Sang Opsir murka dan berniat melayangkan pukulan padanya. tuan sungguh berbudaya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya tinggal di sana selama tiga tahun. Sementara Belanda pesolek bernama Hooykaas mendengarkan nyanyiannya dengan saksama. http://www. Apakah benar tuan telah menyanyikannya dalam bahasa Jawa?" "Benar. tuan. "Saya baru datang dari Surabaya. "Aha. Tak pernah kudengarkan lagu kebangsaan kami dinyanyikan dalam bahasa selain bahasa Belanda. tuan bisa berbahasa Jawa? Ah.processtext. Tapi saya malah mendapatkan pukulan." "Bagaimana tuan menerjemahkan lagu itu ke dalam bahasa Jawa? Ingin rasanya saya mendengarkannya dari mulut tuan sendiri. namun Belanda pesolek itu memberikan isyarat supaya ia menghentikan perbuatannya. Tentu saja tuan tak mengenal saya. Setelah lelaki itu selesai menyanyikan lagunya." katanya. Lelaki itu kemudian menyanyikan lagu Jawa yang terdengar aneh di telinga opsir dan dua pengawalnya itu. Tata cara sesama orang berbudaya lain lagi bukan? Ayolah. Katanya tuan menyanyikan Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa. Tuan benar-benar memiliki darah . Siapa nama tuan?" "Nama saya Hooykaas." "Pukulan dan kekerasan fisik adalah tata cara interogasi.com/abclit. bola mata Hooykaas bersinar-sinar gembira. "Apakah tuan benar-benar mau mendengarkan? Saya kira semua orang Belanda berbudaya. saya ingin mendengarkan tuan menggubah lagu kebangsaan negeri kami.

"Tapi ia menghina ratu karena menyanyikan lagu kebangsaan dengan cara yang aneh.html seni yang kuat." katanya sambil menunjuk lukisan yang ada di sisi kirinya. tuan membalikkan belangkon yang tuan pakai ketika lagu kebangsaan kami mulai berkumandang. tapi di mana tuan dapati kesan itu pada lukisan ini. aku yakin tuan tahu belaka letak kesalahan lukisan ini. Nasib hidup tuan barangkali tidak lama lagi. Dia seorang strateeg seperti kata tuan tadi. Diserahkannya benda putih persegi empat terbuat dari bahan sutra halus dan berkilat kepada lelaki itu. "Ya. Tuan tahu Peter Elberfeld? Nasib tuan tidak akan jauh seperti dia dahulu. Tiba-tiba cahaya terang seperti melintas dari dahi lebarnya dan merasuk ke dalam kepalanya. http://www. Tangannya bergerak ke arah kantong saku dan mengambil sapu tangannya. Dan yang ketiga. ia melirik sebentar ke arah lukisan itu. musuh Jenderal De Kock pahlawan tuan itu. "Bisa tuan bandingkan ketika pelukis kami yang tersohor di daratan Eropa melukis Pangeran Diponegoro. Telah saya cari . "Ah. Bangsa kami hanya memiliki Raden Saleh. saya kagum pada tuan. Kedua." katanya." "Ah." katanya dengan senyum simpul. Opsir yang mendengarkan komentar Belanda pesolek itu tertegun mendengar komentarnya. Pertama tuan menghina bangsa kami dengan menyanyikan lagu Wilhelmus van Nassau dalam bahasa Jawa." katanya. Padahal bangsa tuan memiliki pelukis-pelukis yang tersohor di seluruh dunia. Sambil menghapus darah yang masih menetes dari mulut dan hidungnya. Ia memalingkan muka ke arah lelaki itu. dan tinggal di Paris selama dua tahun. menurut pengakuan opsir kami. Itu perbuatan menghina bangsa tuan sendiri. Rupanya tuan memiliki pandangan yang luas.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. tuan menghina lukisan potret salah satu pahlawan perang kami di tanah Hindia ini. Tuan Gubernur Jenderal tentu akan murka dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Bagaimana Jenderal besar semacam De Kock tak memiliki syarat-syarat seperti yang saya katakan pada opsir tuan ini. Saya pernah merantau ke negeri tuan. Tuan Hooykaas memandang opsir yang tadi menyiksa lelaki itu. Apakah tuan pernah melihat lukisan Raden Saleh?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. tuan. "Hapuslah darah tuan. Tubuhnya akan dicerai-beraikan dengan empat kuda yang lari ke empat penjuru mata angin. masih menurut opsir kami.com/abclit. seorang strateeg yang andal seperti Jenderal De Kock.

Tapi orang seperti saya apakah menghina bangsa tuan?" Belanda pesolek itu terpukau dengan ketenangan dan wajah tiada bersalah dari lelaki itu. Sedangkan tuan Gubernur Jenderal Idenburg adalah teman saya semasa menyelesaikan studi di Belanda. Opsir itu silih berganti dengan tuan Hooykaas menanyai Raden Sukmakarto perihal perilaku-perilakunya di gedung itu. Tuan. Sampai pada saat ia dipanggil Tuan Gubernur Jenderal Idenburg ke kantornya di Weltevreden. Tapi dia juga penguasa politik di negeri ini. orang-orang di seluruh Batavia diam-diam menunggu-nunggu dengan tidak sabar. Itulah sebabnya saya dipanggil dalam peresmian gedung ini. .processtext.com/abclit. Multatuli. Saya datang ke bekas rumahnya di Belanda." sergahnya. http://www. mengetukkan jemarinya pada meja." katanya. Apa pekerjaan tuan kalau saya boleh tahu?" tanyanya dengan raut muka acuh tak acuh. sedangkan pihak yang lain berusaha mengarahkan pembicaraan ke arah kesenian. Yang satu dengan upaya menyudutkannya ke arah hukuman. Opsir yang menginterogasi lelaki itu duduk gelisah di atas kursinya. "Tentu saja. benarkah? Tapi seorang penguasa negeri sekalipun tak akan dengan mudah menjatuhkan hukuman bukan? Saya dengar dia banyak memanggil kaum intelektual dan seniman Hindia Belanda ke kantornya dan untuk acara-acara resmi. Rencananya berjalan mulus. "Kabarnya tuan Gubernur Jenderal sangat menghormati kesenian dan para intelektual.html seluruh lukisan raden Saleh di seluruh Eropa. Itulah sebabnya saya berani menyanyikan lagu kebangsaan tuan dalam bahasa bangsa kami. Dia amat menghormati kesenian. Ia memang keras terhadap aktivitas politik kaum pribumi seperti Dr Cipto dan Suwardi dan orang dari negeri tuan sendiri seperti Douwes Dekker. Sastrawan Agung Goethe dari negeri Jerman saja kagum dengan Hindia Belanda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Keduanya bersitegang dan hampir adu mulut untuk menentukan apakah inlander yang kini mereka interogasi itu bersalah." "Oh. Ucapannya tajam. namun apa yang keluar dari mulutnya amat menarik hatinya. "Saya seorang penulis. Orang-orang mulai bertaruh tentang berapa banyak waktu bagi lelaki nyentrik itu untuk menghirup napas bebas di muka bumi. Itulah sebabnya saya sampai di sini. Desas-desus perilaku Raden Sukmakarto menyebar di seluruh Batavia. Saya datang dari negeri Belanda dan tinggal di Hindia Belanda karena tertarik dengan alam khatulistiwa yang dituliskan sastrawan besar kami. Akhirnya mereka bersepakat menyerahkan persoalan itu kepada tuan Gubernur Jenderal setelah acara berlangsung.

bilik-bilik kandang. ia menyanyikan banyak lagu-lagu Eropa dan memainkan musik klasik kesukaan tuan Gubernur Jenderal sampai lelaki yang paling berkuasa di Batavia itu tertidur. Segaris cahaya menelusup. Raden Sukmakarto keluar dari kantor Gubernur Jenderal itu dengan wajah berbinar-binar gembira. tempat . Terang. Sejak itu para intel melayu selalu mengikutinya. Ia hanya bercerita di dalam kantor tuan Gubernur Jenderal. Edisi 04/30/2006 Bulan. Bayang-bayang pohon siwalan memanjang. Kisah Raden Sukmakarto itu menyebar menjadi berita heboh di Batavia. Namun mereka tak kunjung memiliki alasan kuat untuk membongkar desas-desus yang beredar itu." katanya dengan raut muka tiada bersalahnya. Tapi lelaki berkulit sawo matang dengan penampilan ganjil itu tak memberikan jawaban memuaskan. selaksa celurit menggantung di dinding. rebah di halaman. mengalahkan kedatangan rombongan pentas musik dan para pelukis negeri Belanda yang datang dan mengadakan pameran di Gedung yang baru diresmikan itu. di belakang rumah serupa gubuk. http://www. "Setelah bangun dari tidurnya ia menyuruhku pergi. Orang-orang bertanya padanya kenapa ia tak dihukum mati seperti perkiraan sebagian besar orang. Yogyakarta.html Entah bagaimana kejadiannya ketika bertemu dengan tuan Gubernur Jenderal Idenburg.com/abclit. Akhir Februari 2006 Selaksa Celurit Menggantung di Sebalik Dinding Post: 05/01/2006 Disimak: 171 kali Cerpen: Mahwi Air Tawar Sumber: Kompas. Muncul pula desas-desus lain bahwa lelaki berkulit sawo matang itu telah membohongi tuan Hooykaas dengan mengganti lirik lagu yang dinyanyikannya di dalam gedung peresmian dan di depan tuan Hooykaas sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. dan selamatlah aku dari hukuman mati.

Paman. memegang tangan. hampir memisahkan kepala dan tubuhnya. Beruntung. saling berpaut. ”Kamu. tak menyia-nyiakan kesempatan. ”Bilang sama eppakmu. ketika itu. kecipak air dari padasan.html tinggal Madrusin. mau merampas hak kami. Nasib tak bisa ditimang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Begitu pun. beberapa kanca Gani. http://www. terus terngiang kalimat-kalimat yang diucapkan Gani. Hubunganku dengan Asnain. calon istrinya yang telah raib. Lenguh sapi menggaung. Ia terdiam. perlahan redup. melambai menimbulkan komposisi bunyi dan gerak. menuju arena kerapan sapi. Kami tak ada masalah. kemerisik angin menyisir pelepah janur pohon berayun. kecewa kepada eppak-embuk. Garis-garis cahaya kian menipis di seruas jalan hingga pematang. hanya bergidik menyaksikan pertengkaran dua lelaki sefamili itu. Madrusin. di pematang sawah tak jauh dari tempat tinggalnya. tanpa sebab-musabab jelas. Madrusin bisa mengelak. Tak ada hubungannya dengan kekalahan sapi kerapan. tidak pantas jadi suami Asnain. merebut dan merampas tanah dari Eppak-Embuk. Beruntung. Madrusin segera menghindar. bersama Luki. Bulan sabit sepadan celurit itu kian susut. ia tidak langsung menuju rumahnya. waktu itu. Paman. sepetak ladang rimbun ilalang pucuknya turut bergoyang diayun angin.com/abclit. menyabitkannya ke arah perut Madrusin. yang sudah jelas-jelas oleh kae[3] diwariskan kepada. yang tidak bersalah apa-apa?!” Beberapa kanca Gani. Lalu. bergerak diarak angin mengantarkan lelaki yang sedang duduk di sisi lincak pada serajut pertalian kenangan manis yang tanggal. Tatap matanya lelap. ”Lancang benar mulutmu. Musdar. berontak. Kok. mencintai dan dicintai. Namun entah. decak cicak..” Gani geram. . Cericit tikus. serupa pengembara letih. Ya. yang belum lama ini.” Gani mengeluarkan sebilah celurit dari balik pinggang yang sungging. Gani belum kalah. Memang tidak pulang. Di benaknya. Serupa tarian rombongan seronen.” Gani seperti dipecundangi oleh ponakannya. bulan yang terus redup dan menepi mengantarkannya pada sebuah kenangan yang kadang menyakitkan. masing-masing dibawa pulang. Paman. jodoh pun tak bisa ditebak datang dan pulang. ”Dulu. paman. Dan sekarang. tak sanggup melanjutkan perjalanannya hingga tujuan. Eppak-Embukmu[2]…” Madrusin tergagap. ”Bagaimana mungkin. Mail. campuri. merampas dan segera menyeret keduanya.. atas keputusan Gani. baru saja pulang dari lotreng kerapan sapi. eppak-embuk. Gani. Pada Gani. beriringan. Madrusin. dilepaslah baju hitam Madrusin. Bulan. Gani langsung memutuskan hubungan pertunangan Asnain dan Madrusin. di tempat yang sama. Kalau. Sengaja. Cobalah sedikit sopan. Kenapa mesti dihubung-hubungkan dengan hubungan kami berdua. sabetan celurit Gani disebuah pematang sawah selepas lotreng[1] sapi senja hari.processtext. tiba-tiba. menepikan bayang. krik-jangkrik. Diam-diam arakan awan yang terus bergerak. Ia tunggui Asnain calon istrinya yang ikut nonton lotrengan. kala itu. Pada Asnain. Hubungan kami berdua tak bisa begitu saja Paman.

Ia nikmati secangkir kopi. Pertengkaran. Tapi benarkah? Bukankah bapak ibu Madrusin dengan keluarga Gani tidak begitu rukun lantaran sengketa tanah. baginya pagi tanpa kopi kurang lengkap. menggaruk. Asnain. Samar terdengar kicau burung dari sela rerimbun pelepah pohon siwalan. bapak Madrusin dipanggil untuk menemui Gani. Madrusin benar-benar gelisah. kandang dan pematang.Generated by ABC Amber LIT Converter. sepagi ini. Terasa. apa maksud dari semua itu. Entahlah. Hubungan Madrusin? Pertunangan Madrusin dengan Asnain yang diputus lantaran Gani kecewa perihal kekalahan sapinya. Ya. perihal kerapan sapi? Pagi yang cerah. sebelum akhirnya berangkat menyabit rumput untuk pakan sapi kerapannya. tak ubahnya seperti seseorang yang hendak berkabar tentang sesuatu yang mesteri. salah apakah Eppak? Tak puaskah ia menyakiti. bersama seorang gadis yang telah menjadi tunangannya.) Sepagi ini. Yang jelas baginya dan bagi warga kampung kami. (sebagaimana kebanyakan orang. sepanjang ruas jalan kampung menuju ladang. Ia mengernyitkan dahi. kalau perlu sekalian dengan dukun-dukunnya! Kenapa Gani sekasar itu? Eppak. Raut wajahnya yang hitam legam seperti sedang dihinggapi sesuatu yang membuatnya tak nyaman untuk tidak terus menggerakkan jemarinya.com/abclit. Sesekali. raib dari harap untuk dijadikan seorang istri. tepat pada tanggal lima belas saat bulan purnama. aku? Madrusin duduk terpaku tak beranjak. beberapa tempo lalu yang harus disampaikan kepada bapaknya: Bilang. Madrusin pun gairah. Gani kala itu berang. http://www. yang membuatnya gelisah sepagi ini? Angin pagi menyisir rambutnya yang tidak tertata. berjalan mengitari sekitar halaman panjang rumahnya. Ya. ilalang bagi Madrusin. Asnainkah. Masih dendamkah Madrusin sebagaimana peristiwa dipetang sawah hingga kedua pihak terjadi pertengkaran hebat. ingatannya kembali pada beberapa tempo lalu. di belakang kandang yang penuh rerimbun ilalang. bisa dibilang. menyabit rumput sebagai pakan sapi. Hijau daun-daun. Madrusin yang gelisah. di sela rerimbun pelepah pohon dan ilalang itu pernah tercipta sebuah tali ikat kasih asmara. seumur hidup baru kali ini. Kita bertemu beberapa bulan lagi. Atau. bunga desa yang pernah menjadi calon istrinya? Kini. mengantarkannya pada masa kanak-kanak. semenjak ia berusia sepuluh tahun. Madrusin. Madrusin tidaklah segairah seperti hari-hari kemarin. kepada Eppakmu. lengang.orang kampung kami. eppak-embuk. yang mesti disampaikan kepada Eppaknya. sepagi ini gelisah lantaran pesan dari Paman Asnain. belum kalah! Gani memalingkan muka. Keputusan sepihak.html Langit tampak lebih cerah. Siapkan sapi-sapi andalannya. Bahkan. mengusap. Atau jangan-jangan Gani berkehendak menyambung kembali pertunangan kami yang telah putus? Madrusin tersenyum simpul. (Tapi tidak. Kalau Gani. Dikeluarkannya sebilah celurit yang diselinapkan di balik pinggang yang sungging lalu disabitkan celurit yang keperakan itu hingga . secangkir kopi tak ubahnya sebuah spirit untuk bekerja. tunangan adalah hal pasti untuk menjadi seorang istri). Terang. Madrusin terpaku. sebuah tali ikat kasih bersama seorang gadis yang kini raib tak bisa diharap lagi untuk dirajut kembali sebagaimana dulu.processtext. mengingat pesan dari Gani.

tapi Madrusin khawatir ikatan kekeluargaan antara Gani dan keluarganya yang sudah tidak rukun lagi selama bertahun-tahun sejak duel. akan lebih berkepanjangan dan tak kunjung usai untuk berukun kembali sebagaimana tahun-tahun silam. menjalar pada saluran darah yang berkejaran dengan angka almanak: tanggal lima belas bulan purnama. ketika hendak dikerap di lapangan Trunojoyo. Madrusin mendesis di antara kebingungannya. Almanak di pojok dinding yang tak jauh berjejer dengan sebilah celurit lekat ditatap. namun tak membuatnya menyalakan api dendamnya untuk membalas kekecewaannya kepada Gani. saling meminta maaf. . cepat menghindar. terdengar suara Imron yang fals dari luar pagar: ”Sin. Ah. Kapan? Madrusin seperti diburu rasa takut.html merunduklah serimbunan ilalang. ingatannya menerawang pada ibunda tercinta yang mati sebab ditabrak sepasang sapi Gani. meski sebenarnya ia ragu dan curiga.processtext. Madrusin duduk terpaku di sisi lincak. Ia gugup bagaimana nanti kalau Gani. Kontan Madrusin tak menyiakan kesempatan. Madrusin. http://www. Sebagaimana tradisi di kampung kami. di sela kegelisahannya. ”Waktunya sekarang?” teriak Madrusin dari dalam. ”Ya. Karuan celurit itu luput sasaran. Gani menunggu terlalu lama. Pada Asnain mantan tunangannya. tiba-tiba.” imbuh Imron. kegetiran menemui Gani lebah di antara pori-pori. Ia kenakan peci dan baju hitam. Madrusin. dijemputlah celurit. Selang beberapa saat. Paman Asnain akan menyambung kembali hubungannya. celana komprang berlapis sarung.Generated by ABC Amber LIT Converter.” desisnya.com/abclit. Untunglah. Bukannya ia takut dibunuh. Tidak. apa gerangan yang membuat Gani. mengadakan acara ritual sekeluarga? Bisik. Baju itu menggulung celurit Gani hingga celurit lepas dari tangan Gani.” Madrusin tergagap. kenapa musti tanggal lima belas dan saat bulan purnama tiba? Bukankah tanggal lima belas adalah waktu yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. apalagi sampai ia kecewa. Madrusin segera mengambil celurit yang menggantung di dinding. segeralah Madrusin melepas bajunya yang berwarna hitam lalu dikibaskan ke arah tangan Gani. cepat ditunggu kakek. Sementara. lalu ia selipkan ke balik pinggangnya. Tentu saja Madrusin tak ingin. ”Asytaga. memanggil Eppak? Menemuinya saat bulan purnama? Bisik. Madrusin penuh tanya.

tak kunjung jatuh. Tidak. ada pula yang memasukkan anggas dan jerami ke dalam karung. Beribu tanya berdesak dalam benak Madrusin. tenang. Sesaat tubuh Madrusin tersentak.com/abclit. menampakkan seseorang yang sedang patah hati.html Senja beringsut dari bibir awan yang menawan. Madrusin tergagap.” Mendadak. Asnain sudah ada yang meminang. Sebagian di antara mereka membawa obor. ditangan kirinya sebuah kitab didekap dan pada barisan belakang terlihat bapak ibunya mengiring mengantarnya ngaji ke langgar. Sin. ”Itu. Asnain tak suka kepada tunangannya.processtext. Anak-anak seusia sepuluh tahunan berjalan bersama. beriringan menuntun sapi. menunggumu. Ranting-ranting pohon menggantung. pada batang pohon dan buah siwalan. berjejer sepanjang jalan dengan sangat rapi tanpa ada yang memandu. Beberapa ekor sapi dari dalam kandang Luki melenguh. ”Tapi. ada apa. Tentu ia akan marah-marah.” ujar Imron. Imron.” ”Tentang. ia . Lampu teplok menyala remang. wajahnya berkerut. ada yang perlu dibicarakan denganmu. Terlihat seorang lelaki seperti tengah menunggu sesuatu. Mata Madrusin nanar. orang-orang berjalan bersama. Kunang-kunang berkelabat hanya sesaat. ”Sebenarnya. sesaat terdengar lenguh sapi dari sebrang yang tak jauh dari sekitar. Ia masih ingin kamu jadi suaminya. http://www. tubuhnya agak bungkuk. Asnain?” ”Tidak mungkin. langsat warnanya keemasan. separuh wajahnya yang keriput terkipas cahaya bulan. Kakek. menggantung pada batang bambu atap kandang. Ron?” ”Barangkali. bulan menancapkan cahayanya pada hamparan ilalang. Sepoi angin menyisir luka masa lalunya. melihat Gani. barangkali sudah lama menunggu. di antara mereka sudah akrab dengan alam.Generated by ABC Amber LIT Converter.” imbuh. ia duduk.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Terbesit dalam benak Madrusin: Tanggal lima belas saat bulan purnama? Bimbang. ya?” ”Kita nego. ”Ada yang perlu kubantu. ”Tak apa-apa.” jawabnya. Ah.” suara Madrusin ramah.html harus tenang. ”O. bernafas lega. Madrusin mendekati Gani. tidak. kau dapat membujuk Eppakmu. terlambat.” ”Ada apa dengan sapi. Pelan. Man?" ”Ya. kita?” ”Bulan depan. seraya meminta maaf didekatinya Gani. Tenang menghadapi seseorang menyebabkan hubungannya bersama Asnain putus. benarkah Asnain sudah ditunangkan kembali? Bisiknya dalam hati.” ”Memang kenapa?” .” Sejenak Madrusin. agar tidak mengikutkan sapinya dalam pertandingan kerapan bulan depan.com/abclit. tanggal lima belas akan ada pertandingan besar-besaran. Diliriknya Gani yang sedang menggulung kelobot.processtext. Man. sapi kita. saya berharap. kalau soal itu maaf. http://www. yang tengah duduk menunggu.” ”O. ”Maaf. Madrusin.

tajam. naik pitam.” ”Bukankah sekarang setiap permainan harus dinegosiasi? Apalagi sekedar kerapan sapi. ingin menampar mulut Gani. tak bakal mau. Man.com/abclit. Tak seperti biasa. Jogja 2004-2006 . Dasar tidak tahu tata krama” ”Siapa yang mengajari?!” Mendengar jawaban Madrusin yang singkat.” ”Eppak. dan merubuhkannya ke tanah sembari ia mengucapkan satu kalimat. http://www. Namun. Asnain tetaplah akan menjadi istriku. dikeluarkan sebilah celurit dari pinggangnya yang sungging.processtext.” ”Sin. Secepat kilat ia segera menangkap tangan Gani.” desis Gani. Lancang benar kamu.” Madrusin. sangat kuat dengan prinsipnya. ”Naif benar. Paman. Percayalah. Madrusin tergagap. Kalau Asnain harus menjadi taruhan permainan. ”Kenapa dengan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Madrusin terus menjaga dirinya. Gani pun naik pitam. untung saja Madrusin segera menghindar. Beliau. yang hanya sisa tradisi. mengendalikan emosi. Madrusin yang selalu bersikap ramah: ”Maaf. Apa artinya sebuah permainan?” Gani menatap Madrusin.html ”Asnain. lalu ditodongkan kearah perut Madrusin. dia tak ingin dalam pertandingan ada kongkalikong dikhawatirkan akan terjadi pertandingan yang tidak sehat. Asnain?” ”Taruhannya.

com/abclit. Tadi pagi masih segar bugar. Saat ditemukan. Bapak Ibu. Tanpa firasat. Edisi 04/23/2006 Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. alim ulama. Amat menakutkan. uji coba pertandingan kerapan sapi.html Catatan [1] Lotreng sapi. seperti korban overdosis. mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kakek Tuba Post: 04/24/2006 Disimak: 100 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. Para sesepuh adat.processtext. [3] Kae. [2] Eppak Embuk. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. kini sudah terbujur kaku jadi mayat…. lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. http://www. istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat ." "Istighfar kak. juga tanpa wasiat.

Tapi." "Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya" Lusianna datang agak terlambat. tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati. Sebab." ketus Lusi. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. jika ayah tidak ’pandai-pandai’. ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini. yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. tidak segampang itu. "Maksudmu?" "Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. "Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…. sebelum diusung ke pemakaman. "Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur. Nah. kampung kita. semuanya terserah ayah….Generated by ABC Amber LIT Converter. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi. http://www.processtext. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne. "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri" "Tapi. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa.com/abclit. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap . menyelesaikan program doktor. agak sinis.html membendung kesedihan. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?" "Wah. bidang ilmu politik. sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan. sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya. Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya" "Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas. tak lama lagi akan segera disembahyangkan.

pasti akan diterima. ceritanya akan lain. jaringan telepon dipasang. sedikit berdiplomasi. nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas). . "Tentu saja boleh Nduang. Tapi. Hingga kini. Ah. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Itu saja tidak dikabulkan bupati. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati. itu artinya kita berkolusi. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. seperti hendak mengelak. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja. Selama menjabat. boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya. beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh. apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta.orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung. biar mampus!" umpatnya. Kalau saya bantu. menghormati beliau. lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas. "Iya pak. Bermohon kepada pak bupati. jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan. guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton. tapi saya berharap bapak dapat membantu" "Jika ia lulus seleksi. Meski sudah pensiun. ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang. meski tidak menjabat bupati lagi. Padahal. memalukan sekali…! Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau.html ke rumah dinasnya. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan. "Daripada menganggur saja.processtext.orang nagari Sungai Emas. http://www. agar si Bujang Paik. mentang-mentang kita sekampung." jawab bupati. Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan.

Kematian yang misterius. tidak pula penyakit kronis." kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya. Lagi pula. petugas parkir." "Ah.Generated by ABC Amber LIT Converter. lurus tabung. "Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. "Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum. tapi kini sudah mati. kuli bangunan. orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut . Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam. Ua-ha-ha-ha…. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. pergi merantau. Ironis! Namanya Sungai Emas. Apa boleh buat! Kini. Sejak itulah. jalan satu-satunya adalah. satpam. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer. mengadu peruntungan ke Jakarta.html Sayang sekali. tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi." balas kak Pi’ah. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. "Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…. kasar benar kelakar sutan. padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. Terlalu lurus. Sebenarnya.com/abclit. Ada yang menjadi pedagang kaki lima. janda tua pemilik kedai kopi. http://www. tak jelas juntrungan. entah sampai kapan. Tak ada biaya. sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan). tak layak tempuh. dasar orang jujur. agak kesal.processtext. Tak dihormati lagi. Sementara itu. bupati sudah tiada. Namun. tukang jahit. bupati mulai dimusuhi. Genap tujuh hari kematian bupati. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi. kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci. seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. pura-pura tidak paham. Anak-anak muda menganggur. hanya tinggal nama. almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana. sok jujur. seperti tabung. Maka.

Tak bakal berhasil. Tapi. hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. hanya akan mengundang musibah baru. ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. bisa saja jauh lebih mengerikan. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. http://www. orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?" "Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang.html sebab-sebab kematian almarhum bupati. bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Sejenak si Datuk menerawang. ganti bertanya.com/abclit. Bagaimana menurutmu?" "Nah. itu dia yang kita cari selama ini. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo. kali ini sambil bergurau. kematian selanjutnya. sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. Kabarnya. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Namun. apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya." Kelapa Dua. "Tapi. "Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan. Bila kelak ia memenangi pemilihan. musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Lagi pula. "Oh." jawab Marajo Kapunduang. tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. Iya. itu sama saja artinya dengan bunuh diri. mulai bersemangat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kenekatan macam itu. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. "Putuskan saja tali jantungnya…. "O. 2006 Catatan: . Lupa saya. Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo. di nagari Sungai Emas. tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Sebab. seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati. kini ia pejabat eselon di Jakarta.processtext. Meski diam-diam.

http://www. kaya. Dan kalaupun sumur itu memang muncul-melesak dari televisi. ia pikir itu bisa saja." Beruntung? Hmh. ia tak ingat bagaimana sumur itu ada. Tidakkah mereka memang menggali. "Dermawan. julur perekam.html *) Dubur Sumur Post: 04/17/2006 Disimak: 149 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. Karena. dari perut yang belah. Edisi 04/16/2006 Lima tahun setelah hari ini. sodoran mike. Di depan kamera. entah kenapa (dan juga entah bagaimana awalnya). si ayah. saat itu semua tak penting lagi. Tangis dibuat-buat. janji palsu." Timpal teman lain. Digelandang dari ruang sidang melambai-lambaikan tangan seperti itu. jadi budak rating dan iklan? Tetapi.com/abclit. akting murahan. Menggenang dari kepala yang rengkah.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi itulah tayangan yang saat ia lihat langsung membuatnya mual di detik pertama: darah. Lima tahun setelah hari ini. Lalu meluncur. gadis itu akan sering berada di depan televisi. "Itu ayahmu.processtext. Menatap kosong ke layar kaca yang hampir semua siarannya lima tahun lalu sangat ia benci. darah. temannya akan berkata. saat itu. "Betapa beruntungnya kamu …. kalau memang demikian adanya. yang terjadi adalah sebaliknya: lelaki itu. ia percaya suatu ketika akan melihat tayangan berbeda. Dan. Mengangguk-angguk. entah sampai kapan. Kenapa sumur bisa nyembul dari televisi? Tetapi ah. Ia toh juga telah tak percaya kepada mata. tentu pula. . awet muda. tak lebih seorang dungu. cengengesan. oh sungguh tak tahu malu." Masih akan ia dengar berbagai decak kagum. duh tampannya. Lihatlah semua ditelan dan masuk ke dalamnya: bual kosong. Tentu ia tak ingat nama-nama siarannya. tentu saja. tawa diejan. sang khianat yang tak lebih tipu-tipu belaka. omong sok tahu. melempar senyum kiri-kanan." sebelum kemudian ditutup. rakus." "Terkenal. Mengalir. Ayahnya sendiri bukankah juga. "Gagah. masuk ke dalam sumur. selalu darah.

Black-hole. Merangkak (rambut keriting. sumur itu. atau seperti apakah. nyembul-melesak. . Mungkin ia memang harus percaya sejumlah sumur. ia pun memutuskan untuk terjun—masuk ke sumur itu.html "Dua belas tahun putusan ringan. Begitu Anda tak lagi percaya kepada mata. angguk sopan—keramahan itu. dalam cangkang geronggang mata? Masih membayang geletir air. Dan begitulah ia. lenyap tiba-tiba. Serasa disedot. lubang hitam di jagat raya. Tengkorak yang sampai kapan pun kelak akan menjadi bantal. menjulurkan leher lambat-lambat. Ke angkasa? Bagaimana. Bahkan kepadanya. ke manakah sumur-sumur itu sebenarnya pergi? Dan kadang pula. sumur. ke angkasa. berputar-berpusing (sehingga juga tampak seperti gasing). Lima puluh tahun lalu. ataupun ketika ibu-ibu tetangga mulai berisik menyebut-nyebut kata itu … korupsi. membuat sosoknya tampak seperti induk hewan entah apa dalam remang sore yang terkepung hutan). peduli apa. dan tubuhnya yang gamang mau jatuh. Betulkah itu sumur (mereka menyebutnya mbede)—melesak membesar. Tengkorak suaminya. Melayang? Adakah sumur bisa muncul. walau samar (bagai dari alam bawah sadar). dengan melayang? Ah. serta-merta duduk. dan kembali terkejut: burung hitam! Lambang pengayau kepala! Aaaa…. si ayah … ah. mengerang-erang. sebuah lubang seperti sumur bagai muncul. Disedot? Hati-hati. keganjilan seperti apa pun segera jadi biasa. menjelma ada.Generated by ABC Amber LIT Converter. samar pantul wajah. tentu. kenapa Anda naik banding?!" "Betulkah Anda punya slip transfer ke rekening sejumlah hakim?!" Tak ada jawaban. takut-takut. kepada dirinya.com/abclit. saat gadis itu kian sering berpikir tentang black-hole. sebuah sumur melesat berpusing berputar-putar melayang di angkasa? Membuat ia kadang juga berpikir. kulit hitam. meruang merongga. lelaki. berputar-putar bagai melayang. ia teringat black-hole. kadang ingat kadang tiada. lama-lama. Dan suatu hari. Aaa! Tanak (sihir)! Begitulah perempuan itu terkejut. tubuh membuncit dengan tetek terjulai. http://www. di tempat berbeda—ribuan mil jaraknya—sebuah sumur nyembul-melesak dari lubang geronggang mata. berteriak. Black-hole.processtext. beringsut menjauh menarik tubuh dari si tengkorak. pernah muncul dalam hidupnya. perempuan itu kembali beringsut mendekati si tengkorak. mendapati sumur di mana-mana: nyembul-melesak. Senyum. mungkin memang tak nyembul hanya dari televisi. entah meneriakkan apa dengan tangan memegang entah cambuk entah ikat pinggang. kalau saja wartawan tahu. di awal remaja … wajah seseorang yang kadang bersalin rupa jadi wajah ibunya yang seolah merintih. entah kenapa. Ketika bocah … beberapa wajah tak jelas. lantas melesat. pengganjal kepala: tanda kasih dan cinta. Melesat? Ya. Terangkat.

Desoipits dan Biwiripits. walau kepala si pemberi isyarat telah terpisah dari badan. Dijulurkannya kepala lebih dalam ke mulut sumur. akan hilang sendiri setelah ia berkelana di hutan. Tetapi itu. Dan yang kini. pelan menghilang. dengan menegarkan dada. umbi-umbian yang bisa dimakan. Tapi hanya sebentar. Sang Pencipta. seperti kata damero juga.html Ia berdiri. di kedalaman geronggang mata. Oh. ia tahu cara mendapatkan. tetapi mendadak segera terhenti: tengkorak itu. Bagaimana bisa pukulan tifa terdengar jadi mendayu? Dan hei. Suaranya tak hanya mengentak. pelan-pelan menjulurkan leher. Maka. jelas tak masalah. http://www. dari kayu-kayu. yang menjadikan nenek moyang mereka dari pohon. Tak pernah ia melihat jenis pukulan seperti itu. tengkorak suaminya. Pemandangan yang mulanya juga samar. dan tubuhnya bergetar. lebar dan luas. sampai kapankah? Sebuah pertanyaan yang sejak awal selalu mengganggu benaknya. melainkan dengan mencuri. bahkan saat bekalnya—ulat dan bola-bola sagu—masih bersisa. ia lihat pemandangan itu: seseorang. tiba-tiba hidup. dan kemudian menjelas. mulanya samar dan kemudian jelas. melainkan—seperti kata damero—dunia arwah (mereka menyebutnya demir ow) yang terganggu.com/abclit. Juga berbagai buah. Apalagi ia putri cesema cowut (perempuan ketua adat) yang sejak kecil telah terlatih. telah menemukan jawab. semakin jelas. tak boleh bertemu dengan siapa pun. tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. patung-patung kayu yang berserakan rebah. tetapi juga mendayu. burung hitam (mereka menyebutnya keluwang) melesat terbang dari dalamnya. Tetapi si pemberi isyarat kelihatan memaksa. Riak kecil. lalu menari—mengikuti irama tetabuhan tifa. patung-patung itu. yang seorang seperti memberi isyarat agar seorang yang lain melakukan sesuatu. dua orang kakak beradik yang menurut cerita orang-orangtua mengawali . Tidakkah mestinya ia gembira? Gembira? Ya. Beberapa saat sesudahnya. Orang yang diberi isyarat tampak seperti menolak dan seolah ragu. Tetapi … itu. Di sekelilingnya berserakan patung-patung kayu. goyang pantul wajah. Itu biasa bagi mereka. Tabuhan yang ganjil. Oh. pelan-pelan bergerak. Jadi inilah ia: Fumeripits. Damero (dukun) telah mengatakan hal-hal ganjil bakal terjadi. Dua sosok? Dua orang? Ya. Sumur. geletir air. sumur melesak dari rongga mata. dan si penerima isyarat—meski tampak enggan—akhirnya melakukan. ingin melihat sosok Fumeripits lebih jelas. Berkelana di hutan. Tubuh yang seakan disedot? Juga tak lagi terasa. apakah … apakah ia Fumeripits? Fumeripits! Sang Pencipta! Perempuan itu terbelalak. Kadal. ia akan menanggungkan dunia tak nyata. Manakah ia si burung hitam? Mungkin telah pergi. di dalam rumah panjang (mereka menyebutnya je). Beginilah kiranya: untuk tengkorak orang-orang dicinta yang tak diperoleh dari musuh melalui perang. yang disebut jangka waktu tertentu. Oh! Apakah. dan tersandar ke dinding. ular. ia kembali melangkah. juga burung hitam—hal ganjil dan tak nyata. akan ia tinggalkan? O. membalikkan tubuh dan berlari. sumur itu … tampak begitu jelas. Hidup? Ya.processtext. lalu berganti dengan pemandangan lain. apakah mereka … Desoipits dan Biwiripits? Ya. apa yang ia lakukan? Mengayau kepala! Mengayau kepala si pemberi isyarat! Tetapi oh. ia masih bisa bicara dan seperti minta agar si penerima isyarat kembali menebas bagian tubuhnya yang lain. Merendahkan tubuh. dengan muncul melesaknya sumur dalam rongga mata. mendekati tengkorak suaminya. lalu merangkak. Semakin jelas. khusuk menabuh tifa. Tetapi pemandangan di dalam sumur tiba-tiba mengabur. duduk. semua akan ia peroleh dengan mudah. tikus hutan. tentu bukanlah tanak. tak muncul atau pulang ke kampung dalam jangka waktu tertentu. Maka semua ini. dedaun.

Tetapi. dupa china. Disiapkannya semua sesaji: kembang telon. Lagi. orang masih berseliweran di sana-sini. Sepuluh menit. oh …. tetapi yang lebih penting adalah beberapa "kiai" (keris) yang bagi dirinya dan Sang Guru lebih berharga dibanding apa pun itu semua.Generated by ABC Amber LIT Converter. kejadian yang entah kapan itu terpampang jelas di depan mata. Guci itu! Berada dalam semacam lubang seperti sumur. 30 menit. mangkok. Tak berbeda dengan tiga hari lalu saat ia datang pertama kali. bahkan beberapa penepi konon ada yang sudah mendapatkan akik. mulai nenepi.processtext. dada. 1 jam. dan dindingnya—melingkar searah . rujak degan. dalam rongga luas yang bagai semesta. Guci yang persis seperti digambarkan sang guru: tutupnya berhias stiliran binatang. crass. Crass. Lima hari sebelum Selasa Kliwon. pemandangan ini tentu juga akan hilang. tanpa sadar. Kecuali 3 guci yang tak sengaja ditemukan si petani. dijulurkannya kaki ke dalam sumur. cras. Sampai lama. Juga ada sekilas senyum di bibirnya yang tersembunyi. Biwiripits. cincin. seperti meremehkan. hiasan mahkota atau entah apa. jatuh meluncur (ataukah disedot?) ke dalam sumur. pusing yang kemudian menyusul. Kenapa bisa? Bukankah damero mengatakan semua hal ganjil yang akan ia alami adalah tak nyata? Desoipits. Telah didengarnya kabar kian hari kian banyak orang-orang datang untuk nenepi. darah. 3 jam. nyata! Sumur ini nyata! Kakinya bisa terjulur masuk ke dalam sumur. crass. melainkan di bawah pohon awer-awer di pinggir sawah kira-kira tigapuluhan meter dari situ. Tetapi ternyata tidak. pundak lepas. karena ia dan gurunya tahu—sang guru telah mendapat wangsit—bukan di tanah gimbal (angker yang tandus) itu peninggalan lainnya terbenam.html tradisi pengayauan kepala. ketika waktunya tiba. lalu rebah. ujung dini hari. darah menyembur. leher tertebas. membuat ia limbung. minyak bondet.com/abclit. darah. Hari telah malam. Dan ketika waktu beranjak mendekati subuh. Ia lewat di belakang bekas penggalian yang sudah semakin lebar yang masih dijaga beberapa orang entah siapa itu dengan tolehan sekilas. menyembur-nyembur. lelaki empat puluhan tahun itu kembali datang ke lokasi. batu merah delima. Senyum seperti mencemooh. O. tepat sudah dua minggu sejak 3 guci berisi emas-perak 13 kg yang menghebohkan itu ditemukan oleh seorang petani dan dua hari sesudahnya Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala provinsi melakukan ekskavasi. perut … oh. Ah. rasa mual itu. Lagi. ia dan gurunya kini tahu tak ada benda lain di lokasi selain sebuah guci besar—4 kali lebih besar—di dalam tanah di bawah pohon awer-awer berisikan tak hanya emas-perak berupa manik-manik. Darah. menyembur-nyembur memualkannya. http://www. Semakin dekat. Dan kini. seperti nasihat gurunya. sesosok benda cemerlang bagai melayang kian mendekat. nyata? Dan tiba-tiba. darah yang memancur. walau sudah senja. dan dingin. Dengan hari Kamis ini. itu bohong. Dua jam. Ada perasaan lega ketika ia sampai di pohon awer-awer itu dan tak menemukan seorang pun tengah nenepi (semedi). saat itulah: di dalam keterpejaman mata. yang akan sukar tertangkap oleh siapa pun karena ditutupi kumis tebal lebat yang nyaris mencapai bilah bibir bagian bawah. Ayun tangan. Ia pun dedekep. tirakatan semalam suntuk nglakoni. nyata? Darah. di dalam sumur yang melesak dari geronggang mata tengkorak suaminya. mata rantai. kelebat kapak. atau jarum emas.

http://www. tentu saja dengan syarat dalam nenepi malam ini ia berhasil melihatnya. pundak lepas. suku terasing juga. Menajamkan mata. tanda si guci mau (tak menolak) ber-"jodoh" dengan mereka. mereka ikuti arah teriakan perempuan kedua. akankah ia juga selega ini? Lubang seperti sumur memang akan tetap nyembul. "mengangkat" si guci dari sumur. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Desoipits-Biwiripits. nangka. Seperti oase. jauh dan kecil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Crass. Payakumbuh. Itulah hari yang menurut Sang Guru merupakan waktu tepat untuk mengambil. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus. sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. menatap kosong ke televisi. Maret 2006 Pohon Keramat Post: 04/11/2006 Disimak: 190 kali Cerpen: M. Dan di sana. . perempuan juga. tetapi subur bagi pohon jati.processtext. Selasa Kliwon…. Memancur-mancur. Hela napas lega. Tubuh lelaki itu bergetar. berteriak-teriak ke suatu arah seperti gila.html jarum jam—berhiaskan relief berupa cerita. Tetapi. leher putus. Apa yang ia dan gurunya lihat: seorang gadis termangu. "Selasa Kliwon. dibukanya mata. karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan. Lima hari lagi…. mereka lihat pemandangan lain: dua orang pemuda. dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu.com/abclit. lima hari lagi. yang namanya guci. Edisi 04/09/2006 Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Senyum lebar yang bagai tertawa. Crass . Crass. "Aku berhasil. takkan tampak sama sekali. berambut keriting berkulit hitam tetek terjulai. Lima hari lagi. Sedang mengapa? Tentu saja mereka tak tahu. Dan seorang lagi. lima hari lagi. Guru. sejenak. Lalu gumam. belimbing." Ya. Darah. Tetapi nanti. Selasa Kliwon. Selasa Kliwon itu.… Darah. Lalu pelan. terutama buah-buahan seperti mangga. jambu. Menyembur-nyembur…. Darah." Ya.

bidah. tak sebuah masjid atau langgar pun telah didirikan di desa yang terkebelakang perkembangan agamanya itu. ia atas nama kepala desa melarang penduduk untuk memetik buah sendiri. dengan cara duduk bersimpuh di antara dua batu besar yang menonjol di bawah pohon itu. Untuk praktisnya. Inilah yang menyebabkan maka Parto akhirnya disebut sebagai dukun. Hanya saja tanah di bawah pohon itu sering kotor karena daun-daun yang gugur dan karena itu setiap kali perlu dibersihkan. bukan sembarang air. Pagi dan sore selalu ramai dengan orang mandi. cuci.processtext. Ia setiap malam melakukan semadi atau bertapa. desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda. Buah-buahan hasil panen itu dijual dan hasilnya masuk kas desa dan dibelanjakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk desa. Pada waktu siang. Rupanya kegiatan pijat yang dilakukan di atas tikar pandan di bawah pohon trembesi yang rindang sejuk dan nyaman itu makin ramai. barangkali ratusan tahun umurnya dan karena itu sangat rimbun. Di pinggiran pohon-pohon itu tumbuh sebuah pohon trembesi besar yang telah tua. dan keluarganya ditugasi pula menjaga kebun itu. di dekat kolam air itu didirikan kamar mandi dan kakus sederhana tak beratap. Walaupun demikian. Rupanya ia pernah belajar pijat-memijat pada seorang tukang pijat terkenal di daerah hutan jati antara Purwodadi dan Pati yang terkenal dengan kegiatan kebatinan dan perdukunannya itu. Namun. di antara penduduk desa ini terdapat pula pemeluk Islam yang taat. Namun dengan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. Tetapi. Kaum santri Solo yang telah maju menyebut penduduk desa itu sebagai mengidap penyakit TBC. bahkan bisa dibilang fanatik. Asal-usulnya mungkin dari kegiatan bertapa yang dilakukan oleh Pak Parto di bawah pohon itu dan ucapan yang pernah terdengar dari mulut Parto bahwa pohon . Istrinya ikut pula memijat. Setiap akhir musim buah dilakukan panen. Bahkan. dan churafat. Mungkin untuk memberi sugesti kepada langganan pijatnya. Guna menjaga tempat mandi. demikian panggilan akrabnya. http://www. dan kakus. pohon itu dipercaya sebagai angker yang dihuni oleh roh-roh. Pak Parto melakukan praktik pijat. Biasanya perempuan lebih awal mandinya ketika pagi masih agak gelap.html Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya. Banyak orang dengan berbagai penyakit meminta terapi pada Parto. pak Lurah Samidjo menugaskan Partorejo. Ketika telah berumur empat puluh tahunan. Parto melakukan kegiatan yang mengundang perhatian seluruh penduduk desa. singkatan dari takhayul. Di desa itu terdapat pula sebuah kebun buah-buahan milik desa. Tentu saja dengan mengatakan bahwa air dari mata air itu berkhasiat tinggi. yang penduduknya beragama Islam santri. Pak Parto. yang dibantu oleh istrinya. Saking besarnya. walaupun agak jauh dari batangnya. seorang yang berusia setengah baya. terbuat hanya dari anyaman batang bambu dan kayu. penduduk desa mulai memberikan sesajen yang diletakkan di sekeliling pohon trembesi itu.com/abclit. Baru agak siangnya datang para lelaki untuk mandi. setelah memeriksa dan membersihkan kebun. para perempuan suka mandi langsung di dekat kolam itu dengan hanya mengenakan kain saja sehingga merupakan pemandangan menarik bagi lelaki. ia selalu memberikan sebotol kecil air yang diambil dari mata air itu setelah diberi mantra olehnya. dan ia tidak keberatan dengan sebutan magis itu. Sebagai penjaga kebun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pemerintah desa telah membuat sebuah kolam sederhana yang menampung air itu dan penduduk desa bebas mengambilnya. Di dekat pohon itu terdapat mata air yang jernih airnya sehingga dipakai oleh penduduk sebagai air minum.

" "Kalau orang sakit itu perginya ke puskesmas. Pohon dianggap sebagai makhluk hidup juga dan karena itu mereka harus berteman dengan sesama makhluk hidup. Tak mungkin desa ini mendapat proyek puskesmas sebelum penduduk di sini meninggalkan partai yang tidak berkuasa dan masuk partai yang berkuasa saat ini. orang-orang desa sulit diberi tahu. Parto sendiri sering mengajarkan kepada penduduk desa agar mereka memelihara pohon trembesi dan pohon-pohon yang lain di desa itu. http://www. Kalau tak ada pohon yang dianggap keramat. bagaimana caranya memberantas takhayul. Gejala itulah yang menggelisahkan batin seorang ustad yang dipandang paling ahli agama di desa itu. penduduk di sini banyak yang terlibat dalam gerakan komunis dan ikut dalam pembunuhan kaum santri dan pejabat pemerintahan. Bahkan pada masa pemberontakan PKI-Madiun. yaitu Sang Penjaga. "Tapi Kyai.com/abclit. Apalagi ia sering dianggap telah banyak menolong orang sakit dengan pijat dan jampi-jampinya. Pak Thohir.Generated by ABC Amber LIT Converter." kata Kyai Fauzan. "Wah. dan khurafat di sini?" tanya Kyai Fauzan kepada rekan bicaranya." kata Thohir dengan nada ketus. bidah. dengan menyediakan sesajen kepada raja pohon di antara pohon-pohon di daerah itu. orang yang memang dikenal punya pengetahuan luas. Penduduk desa harus ramah kepada Sing mBau Rekso agar desa itu diberkati.processtext. diam termenung cukup lama tak memberikan jawaban. si Parto itu tak akan melanjutkan praktik perdukunannya. bukan ke dukun syrik. "Cara memberantas TBC satu-satunya adalah menebang pohon trembesi itu. Dan syrik adalah dosa yang paling besar di hadapan Allah." Desa di daerah perbukitan kapur ini dulu memang dikenal sebagai basis PKI. . Mereka percaya kepada dukun Parto itu.html besar itu ada penjaganya yang disebut orang Jawa sebagai Sing mBau Rekso. demikian nama pemborong itu. "Di sini ’kan belum ada puskesmas pak Kyai. yang dikenal kaya karena bekerja sebagai pemborong jalan dan bangunan di daerah-daerah lain yang banyak proyeknya. Tapi akhirnya ia keluar dengan sebuah usul. "Itu syrik." kata Kyai Fauzan Saleh.

"Jaal khaqqo wa zahaqol baatil. "Saya akan mengusulkan proyek terpadu pembangunan prasarana desa. MCK menggantikan kolam yang sekarang. Innal Batila kaan zahuko. . Saya akan katakan kepada mereka agar penduduk desa mau mencoblos partai itu. Kedua. Keduanya juga bersama-sama menemui Pak Lurah dan kemudian Pak Camat mengutarakan usul mereka.processtext. Karena proyek itu menyangkut pembangunan desa dan mencakup pembangunan fisik maupun rohani. "Lalu apa hubungannya dengan pohon itu?" tanya Kyai Fauzan kurang tahu.com/abclit. Pak Kyai yang memimpin dakwah itu. Sedangkan saya mengusahakan proyek itu. Di situ akan kita pasang pompa Sanyo menggantikan mata air. http://www. saya kan kenal dengan Sekda dan orang-orang DPRD dari partai yang berkuasa." jelas Thohir lebih lanjut. Saya sendiri yang akan membangun prasarana desa itu?" kata Thohir penuh percaya diri. apa alasannya menebang pohon itu? Kita akan melawan si Parto dan pengikut-pengikutnya." jawab Thohir memakai bahasa santri. Kemudian jangan lupa puskesmas agar orang tak lagi datang ke dukun. rakyat harus dibuat simpati dulu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pertama. "Pohon itu kita tebang ramai-ramai. Keduanya pun melaksanakan tugasnya masing-masing. Kyai Fauzan pun tersenyum mengangguk-angguk tanda setuju dengan gagasan cemerlang itu. yang artinya "telah datang Kebenaran dan jika datang Kebenaran maka hancurlah kebathilan". Pohon trembesi terkutuk itu." kata Thohir menjelaskan usulnya." "Apa tugas itu?" tanya Kyai Fauzan lagi. "Kita harus berdakwah untuk menyerukan penghancuran TBC dengan menumbangkan sumber TBC itu sendiri. Kesepakatan pun tercapai antara ulama dan pemborong itu untuk melaksanakan proyek yang mulia itu. masjid. "Bagaimana menarik simpati penduduk desa?" tanya Kyai Fauzan ingin tahu. Kemusyrikan dan TBC kita ganti dengan tauhid yang semurni-murninya. maka dengan tidak sulit kedua tokoh desa itu bisa diyakinkan.html "Tapi." "Begini Pak Kyai. Di atasnya persis kita dirikan masjid. Tapi Thohir masih menambah keterangan: "Tapi masih ada tugas kita semua sekarang ini." kata Kyai Fauzon menirukan seruan kaum Muslim di Mekah ketika menghancurlan berhala-berhala di sekitar Ka’bah.

Parto berkata kepada para pengikutnya. dan gedung puskesmas." Penduduk desa cukup ketakutan mendengar peringatan Parto yang berapi-api itu. http://www. Mereka pun marah. penduduk desa Kalidoso itu tak bisa berbuat apa-apa. Masjid didirikan persis di atas tempat yang dulu ditumbuhi pohon trembesi itu. seluruh bangunan itu selesai. Tanah longsor mungkin gempa bumi. Tapi kesedihan mereka seolah-olah tersiram oleh air yang deras memencar dari pompa Sanyo. kemudian MCK. mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan rencana pemerintah desa yang disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Sragen itu. Dengan kembali kepada yang benar. datanglah penduduk desa yang diikuti dengan penduduk dari daerah lain. "Bagaimana marahnya Pak?" tanya orang desa tak mengetahui bagaimana caranya roh marah itu.html Rencana itu pun terdengar oleh Parto dan pengikut-pengikutnya. Pada suatu hari Jumat." tangkis Kyai Fauzan. "Lagi-lagi takhayul. al ruju’ ilal haq. Walaupun sebagian penduduk yang abangan protes. Justru TBC itulah yang bisa menimbulkan bencana karena menyimpang dari akidah. Dengan rubuhnya pohon itu dan akar-akarnya pun dicabut dan dibawa dengan sebuah truk oleh pemborong. Dua pandangan itu tentu membuat penduduk kebingungan. Dalam tempo hanya enam bulan. Maka hari yang ditunggu-tunggu pun tiba." kata Parto keras sebagai seorang yang dianggap suci karena pertapaannya dan perannya sebagai dukun yang terkenal sampai ke desa-desa lain itu. kita pasti akan mendapatkan rahmat dan pengampunan.processtext. "Wah saya juga tidak tahu. penyakit menular. ramai-ramai menebang pohon trembesi raksasa itu sambil meneriakkan "Allahu Akbar". maka Sing mBau Rekso akan marah besar. namun sulit menolak gagasan pembangunan yang telah disetujui oleh Pak Lurah dan Pak Camat. Pemborong Thohir pada gilirannya melaksanakan tugasnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kyai Fauzan yang mendengar aksi penolakan itu menjawab.com/abclit. "Pohon kita itu adalah pohon keramat yang memberi berkah kepada penduduk desa. Tapi pokoknya penduduk desa ini akan ditimpa bencana. Mana yang akan diikuti? Tapi yang jelas. Mereka merasa telah menumbangkan kebatilan. mula-mula membangun masjid. . atau kelaparan. Jika pohon itu ditebang. Pemborong Thohir berhasil memperoleh proyek pembangunan prasarana.

Bahkan hal itu pun juga tidak terpikirkan oleh Parto sendiri. Maka mereka pun datang kepada Kyai Fauzan "Pak Kyai. .processtext.html Mula-mula kebutuhan air tiga bangunan itu terpenuhi tanpa masalah. Guna menahan kemarahan Sing mBau Rekso. "Ya betul. Setahun kemudian. Air yang dinaikkan dengan pompa Sanyo itu tak mengalir lagi. Parto sendiri agar tidak marah tetap diberi tugas oleh Pak Lurah untuk menjaga tiga bangunan itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Apakah itu bencana yang dulu pernah diingatkan oleh dukun Parto? Penduduk desa tidak menghubungkan gejala baru itu dengan peringatan Partorejo. Hanya saja ia berhenti bertapa dan menjadi dukun. http://www. yang lebih mengherankan penduduk desa adalah tiga bangunan itu. Kyai Fauzan mengajarinya sholat sehingga ia berubah menjadi santri yang taat sholat di masjid. Bak penampung air kosong dan ketiga bangunan itu kekurangan air. Tanya saja pada Pak Kyai Fauzan. terutama masjid mulai retak-retak.com/abclit. Tugas itu pun dijalankan oleh Parto. Kemarahan Sing mBau Rekso yang dikatakan oleh Parto tidak terbukti datang. memangnya kenapa?" tanya balik sang kyai. bukankah masjid kita ini dibangun atas dasar taqwa?" tanya mereka." jawab Parto. Beberapa orang desa datang kepada Partorejo yang sudah jadi santri itu dan bertanya: "Pak. penduduk tidak lagi bisa memberikan sesajen kepada pohon keramat yang sudah hilang dari muka bumi itu. terutama bangunan masjid. "Tapi kok masjid kita itu terak-retak dan sebentar lagi bisa rubuh?" tanya mereka lebih lanjut. apakah ini semua tanda-tanda kemarahan Sing mBau Rekso?" tanya mereka benar-benar ingin tahu. Tapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa penduduk desa tidak lagi bisa menikmati mata air yang dulu pernah memancar dari bawah pohon keramat itu. Mungkin suatu hari masjid itu bisa runtuh sebab di dekat MCK sudah terjadi tanah longsor karena air hujan yang cukup deras sudah tidak ada yang menahan sehingga menimbulkan erosi. "Wah jangan tanya soal ini kepada saya. Tidak saja air tidak lagi mengalir. timbul suatu gejala yang aneh.

apakah ia mengurangi jatah semennya?" Tapi insinyur yang dimaksud tinggal di kota sehingga pertanyaan itu dijawab sendiri oleh pemborong Thohir seolah-olah mewakili insinyur dimaksud. menggali lubang untuk resapan. Aku biasa hidup paling sedikit dengan listrik yang berkapasitas 900 watt. Mungkin saja roh-roh jahat telah menyabot bangunan saya. karena . Mungkin semennya dikurangi atau pondasinya kurang kuat." Ketika pada gilirannya penduduk menanyakan hal itu pada Thohir. Tapi kapasitas listrik di rumah itu hanya 460 watt. http://www. membuat pagar bambu. Edisi 04/02/2006 Hampir dua minggu ini bayanganku sibuk dengan rumah kontrakan kami yang baru. "Tanya saja pada Pak Thohir yang membangun semua ini. Mungkin tanganku yang kanan tidak harus mendapatkan listrik. Tapi aku akan mencobanya. memperbaiki engsel pintu dan jendela. Memperbaiki talang yang bocor. Jakarta. "Jangan menuduh atau menghina saya tidak becus membangun ya. Biarkan tanganku yang kiri saja yang mendapatkan listrik." jawab Kyai Fauzan. memasang kabel-kabel listrik. bencana memang sedang mengancam setelah pohon keramat itu ditebang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa hidup dengan 460 watt.Generated by ABC Amber LIT Converter. Penduduk hanya bengong saja mendengar jawaban-jawaban yang mereka terima. "Lho kok malah saya yang dituduh korupsi. Hampir tak ada waktu untuk istirahat.processtext. hidup dengan 460 watt. bangunan rubuh bukan soal agama.html "Waduh." jawabnya sambil tertawa keras. Kenyataannya. 13 Februari 2005 Rumah Bercerita 460 Watt Post: 04/03/2006 Disimak: 145 kali Cerpen: Afrizal Malna Sumber: Kompas. Tidak cukup untukku hidup. mengecat kamar mandi. Tanya saja pada pak insinyur. pemborong itu merasa tersinggung.com/abclit.

html tanganku yang kanan lebih biasa kerja dengan tenaga alamiah. Jewe yang baru kukenal bersama istrinya yang sedang hamil ikut membantu sibuk-sibuk. karena kepalaku mengambil listrik terlalu banyak dibandingkan dengan tubuhku yang lain. Mereka tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara rumah dan jalan raya. Rumah ini sudah dua tahun kosong. tempat seorang petani biasa beristirahat. Dan sebuah galian terbuka di halaman belakang. Satu-satunya rumah yang berdiri sekitar tiga meter di bawah jalan raya. Maka rumah ini penuh dengan mural karya mereka. beberapa lukisan berjamur. Kadang aku seperti melihat bayangan hitam mirip binatang menyelinap ke dalam gubuk itu. Tak ada orang yang mengontrak..Generated by ABC Amber LIT Converter. Tanah untuk pembuatan batu bata diambil langsung dari tanah yang disewakan itu. Di sebelah rumah. Boi. aku menjadi sangat kerepotan. aku langsung bisa menduga pasti itu karena kepalaku yang botak yang terlalu rakus dengan listrik. Membiarkan tubuh mereka bebas tanpa rezim yang mendiktekan moralitas bikinan yang tidak sesuai dengan kodrati mereka sebagai manusia. Tengkeyu. Katon. Kehidupan mereka mirip dengan kaum yang berusaha mengusir negara dan agama dari tubuh mereka. Terus dikeduk. ada bilik sederhana berdiri. Han. Aku melihat mereka seperti sufi tanpa negara dan tanpa agama. sehingga terjadi sebuah kubangan besar. Wianta. tengkeyu. He-he. termasuk mengusir rezim kesenian. lalu kepalaku mulai berwarna keabu-abuan seperti gusi pada kedua ekor anjingku. Uang yang dikeluarkan menjadi sangat besar untuk perbaikan rumah itu.. Kepalaku yang botak selalu membutuhkan listrik yang lebih besar. kadang aku biarkan listrik tetap mati. Aku kadang cemas melihatnya bekerja berlebihan. apakah bayangan itu bayanganku sendiri yang melompat dari tubuhku untuk menyendiri dalam gubuk itu. http://www.com/abclit.. Sebagai seorang penulis. hanya sebuah bale tua terbuat dari bambu untuk tidur. Tubuh bayanganku seperti awan gelap yang menyimpan hujan. Kadang aku ragu. Tapi tak ada siapa-siapa dalam gubuk itu. Karena sebel. tengkeyu. Beberapa teman membantuku. tidak terlalu membutuhkan listrik. .. Hanya sekitar tiga meter dalamnya di halaman depan. Kadang aku sebel. Tak ada honor untuk kontrak rumah. dari teras depan hingga kamar mandi. Padahal aku mengontraknya hanya satu juta setahun. Dan aku tak tahu bagaimana mencegahnya bila terjadi banjir. Kalau listrik tiba-tiba mati. Ah.processtext.. Sebelumnya pernah ditinggali sekelompok seniman musik dan perupa. walau sudah dibuatkan lubang resapan air sedalam enam buah bis beton. man. Kubangan terjadi karena tanah di atas rumah itu sebelumnya pernah disewakan untuk pembuatan batu bata. Khawatir hujan tumpah dari tubuhnya.. karena pemakaian yang berlebihan. Rumah itu sebuah kubangan besar memang.

Kira-kira 10 tahun yang lalu. Sepasang anjing kami. Tembok seperti mengeluarkan keringat bukan karena panas. Seorang teman bercerita. http://www. Antara aku dan genteng kaca. Pelukis perempuan itu sudah mati. tetapi karena lembab. Dadang menyewa tanah ini .Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin tubuh mereka seperti angin. di antara lukisan itu terdapat lukisan seorang pelukis perempuan yang mengendarai motor menjelang pagi dalam keadaan mabuk.processtext. membersihkan diri dari kotoran. Mata memandang mata. Kalau mereka menggonggong sedemikian rupa. aku mulai lupa apakah tubuhku terbaring di bawah memandang genteng-genteng kaca itu. Mereka juga mungkin tidak membuat garis perbedaan yang memisahkan antara kehidupan dan kematian. Ada di depanku. Beberapa genteng kaca dan bambu-bambu tua pada atapnya. Kadang mereka menggonggongi bayanganku. kadang kilatan-kilatan petir. Kalau hampir satu jam aku memandangi genteng-genteng kaca itu. Orang lain mungkin akan melihatku telanjang.html timbunan pasir yang mengotorinya. Aku seperti melayang dalam ruang yang bersayap. Mata memandang mata. Kopi dan Kremi. atau tubuhku terbaring di atas dan genteng-genteng kaca itulah yang memandangiku. langsung kawin di rumah ini dan langsung hamil. tapi aku tak tahu apakah pintu itu untuk ke luar atau untuk ke dalam. Rumah tanpa kamar mandi seperti sebuah legenda-legenda tua tentang bidadari yang mandi di sungai. Dan banyak orang yang meninggalkan Jakarta atau meninggalkan Indonesia setelah itu.com/abclit. seperti sepasang mata yang hidup dalam sebuah boks. dan sebuah tempat pembakaran dari tanah untuk memasak di tengah-tengah ruang. Dan mereka tidak bisa saling mendusta. Tidak sama dengan bayanganku yang seperti awan gelap dan menyimpan hujan. Aku khawatir awan hitam pada bayanganku menumpahkan hujan seperti langit yang berlubang. Dan mandi di ruang terbuka di halaman belakang. aku pernah datang ke rumah ini. Dapur memang bisa berada di mana saja dalam rumah ini. kecemasanku muncul lagi. Lembab. Rasanya aku tak ingin punya kamar mandi. Mata memandang mata. tapi aku melihat tubuhku sedang mandi. lalu mengalami kecelakaan dan mati. Lukisan tentang seorang penari balet yang terperangkap dalam panggung akrobat. tapi lukisannya masih ada. Sepasang mata itu saling berganti posisi memandang satu sama lainnya. seorang perupa yang kini menetap di Australia sejak meletusnya reformasi. Aku bisa melihat gerimis lewat genteng kaca itu. atau sungai yang justru sedang mandi dalam tubuh bidadari-bidadari itu. Rumah yang pernah dihuni Dadang Christanto. Waktu yang membuat sebuah pintu. Aku tak tahu apakah bidadari itu sungguh-sungguh mandi di sungai.

lalu berdiri sebuah bangunan baru. Lalu bayang-bayangku begitu sibuk membongkari setiap halaman yang sudah tertutup semen. Uang dan barang kian tidak memiliki hubungan untuk mengukur hubungan antarmanusia. entah untuk rumah atau untuk ruko. Aku teringat 1. Rasa panik kalau-kalau rumah kami berubah menjadi sebuah telaga kecil. kalau kita hidup hanya untuk terus-terusan berhadapan dengan ketakutan. Air yang mendidih dalam panci sama dengan ketakutan yang berkeliaran di jalan raya. Dan sebagian lagi yang berada di luar air tidak bisa melompat seperti kodok. Aku merasa betapa kian terpisahnya nilai uang dengan nilai barang. Setengah tubuhnya ada di dalam air dan setengahnya lagi ada di luar. Rumah dari halaman sebelah juga ikut mengirim air ke halaman belakang. Harga yang kini tidak cukup untuk hidup seminggu. diambil oleh beton-beton. Betapa malangnya hidup ini. http://www. agar rumah tempat kami tinggal bisa berbagi halaman dengan air. . Ong cerita bahwa Dadang membeli rumah Jawa itu harganya masih 650 ribu. Bayang-bayangku mulai memasang pagar bambu. Manusia yang oleh keadaan tertentu harus hidup di antara sebagai ikan dan sebagai kodok. di Ancol. Sebagian tubuhnya yang berada di dalam air tidak bisa berenang seperti ikan. "Ya. air akan datang dari halaman depan dan halaman belakang. mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. karena dia harus pindah ke kota lain.com/abclit. dan memasang dua buah rumah Jawa dalam ukuran kecil. Rasa panik agar kalau air datang tidak ikut tidur bersama kami dengan kasur dan bantal yang sama.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dadang ternyata juga sedang mencari rumah di Australia dalam waktu yang bersamaan dengan saat aku pindah ke rumahnya." jawab Dadang. Membongkari dengan rasa panik yang berlebihan. Kesunyian yang membuat kawat berduri dari leher kita hingga saat kita menyalakan kompor untuk memasak air. Sebuah instalasi yang mengingatkanku tentang manusia-manusia yang hidupnya dalam keadaan setengah tenggelam. Rasanya hidup semakin sunyi dalam hubungan seperti ini. Kebun yang juga ketakutan setiap saat akan tergusur.processtext.000 patung-patung Dadang yang dipasang dengan sebagian tubuh-tubuh patung itu tenggelam di laut. Dan rumah untuk air dan tanaman kian berkurang lagi.html selama 15 tahun. "Dang. apakah rumah ini pernah mengalami banjir?" tanyaku kepada Dadang. kalau hujan besar. Menanam tanaman-tanaman liar yang aku ambil dari kebun sebelah.

Museum untuk berbagai cerita dari para penghuni sebelumnya. Aku menyambutnya dengan ember-ember. Ketika aku tak punya uang. Hmmm. 1. sayangku. pintu dan jendela-jendelanya tinggal ditutup. Aku terus menggali. maka rumah itu pun telah berubah menjadi peti mati. He-he-he. Air seperti tamu agung yang datang dari halaman depan dan halaman belakang. Di antaranya seorang manajer untuk furnitur di Jepara.. Aku terus menggali setiap halaman yang masih bisa digali untuk tempat duduk air. Air tak berdinding seperti makhluk buta memasuki rumah kami.. http://www.000 patung Dadang ada di dalamnya. Ketika dia meninggalkan rumah ini. . Peti mati tidak memerlukan pintu dan jendela-jendela. aku harus kembali menimba air dari sumur. Rumah itu memang terus bercerita.html Aku tak tahu apakah patung-patung itu sekarang berada di dasar laut atau di sebuah museum di luar negeri. Dia akan datang dengan sepeda yang stangnya tinggi melebihi kepalanya sendiri. Dia akan datang dengan sebotol Vodka. Dia akan bernyanyi tentang post-realisme. Fit. Kalau ada yang mencuri pompa listrikku. Hujan yang berjalan-jalan hingga ke kamar tidur kami. hari ini Petrus akan datang bersama Miko. dan kita bisa melihat hempasan-hempasan ombaknya lewat kaca jendela museum. Dan aku mulai kehabisan uang. Hampir setiap hari selalu ada tema baru yang muncul. Rumah yang aku tempati kini mungkin juga sebuah museum. Hmmm.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi aku tak yakin ada museum yang terbuat dari laut. Bayang-bayangku mulai berubah jadi hujan. saxophon. bukan? Karena itu pintu dan jendela-jendelanya memang harus ditutup. Rumah itu memang hampir tak ada bedanya dengan peti mati.com/abclit. Kalau aku mati. rumah itu mirip dengan peti mati.processtext. dan sebuah harmonika. dia juga meninggalkan sejumlah perabot antik yang kini raib entah ke mana. mungkin diberi judul: "Instalasi Manusia Pengungsi". Manajer itu orang asing.. Aku jadi ikut ketakutan pompa listrikku akan hilang dicuri.. Aku harus punya uang agar rumah itu terus bercerita.

Waktu terasa dingin. . Hujan mulai berhenti. Mereka saling memagut dan bercinta. bulu-bulu bergetar ketika mencapai puncak. menyembul. Edisi 03/26/2006 Pemandangan panggung malam itu dipenuhi puluhan ekor angsa putih menyebar memenuhi telaga. lalu mendarat kembali.. Kaki-kaki jenjang putih para balerina meluncur ke sana kemari.html Dan rumah itu semakin dalam seperti sebuah sumur. Angsa-angsa putih menyelam. Talinya yang terbuat dari karet ban menjulur hingga permukaan sumur. bergerak dari punggungku hingga jari-jari tanganku yang terus mengangkut tanah dengan ember... http://www. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba aku melihat bayang-bayang mataku sendiri yang dipantulkan cahaya di permukaan air sumur. Asmara angsa.. dan mengepak beberapa saat di atas permukaan air. biru yang tipis dan warna yang masih keabu-abuan.Generated by ABC Amber LIT Converter. menahan beratnya tanah dalam ember yang telah bercampur dengan air. maka aku harus menerima kenyataan bahwa air memiliki mata. dan bukan bayangan mata air.com/abclit. Mata menatap mata. Telaga Angsa Post: 03/28/2006 Disimak: 280 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Kalau itu juga adalah bayangan mata air. Membentuk komposisi yang senantiasa berubah. adakah yang lebih indah waktu tubuh bergetar. Langit mulai terang. Perlahan-lahan aku mulai melihat bayang-bayang timba sumur menggantung di atas. Perutku seperti tertekuk ke dalam. . Aku melihat hidup..processtext. Aku yakin itu adalah bayangan mataku sendiri.

processtext. Sebaliknya. Dia memilih minum air jeruk nipis. Odette. Maxim Fomin. Alvin Nikolai. Lalu bergabung ikut ngobrol pula. ngobrol dengan gubernur. Usaha Rothbart berhasil. Jerman. dan jus jambu kelutuk. Siang hari mereka adalah angsa yang merenangi telaga. yang putih maupun yang merah. buah-buahan. memamerkan putrinya. Russian State Ballet of Moscow memainkan ”Swan Lake” karya Tchaikovsky yang sudah melegenda. sup ikan tuna. Pangeran Siegfried langsung terpikat pada Odille. Mereka rame-rame menikmati salad.com/abclit. Irina Ablitsova. Zahra. Hanya cinta sejati yang mampu mengalahkan sihir itu. menteri. tentang balet di Rusia. Tampak Viatcheslav Gordeev. ngobrol dengan para pejabat bank Indonesia. Di antaranya di tempat ini. Dengan 1. Mendengar kabar ini. Begitu pula para pebalet teman Zahra. http://www. tampak berseliweran di antara para pebalet yang tinggi-tinggi dan besar-besar itu. kegemarannya. dan pembesar negara lainnya. Rothbart sang penyihir. Irma Ablitsova pemeran Odille dan Dmitry Protsenko serta Vladimir Mineev. dalam waktu dekat akan membangun panggung balet semegah Moscow. Lakon ”Swan Lake” menceritakan dayang-dayang istana dan ratunya. yang secantik Odette. gubernur berjanji. juga grup dari Perancis. Odille. Namun cinta mereka terhalang oleh sihir Rothbart yang ampuh.500 penonton. yang disihir Rothbart menjadi angsa. untuk merebut cinta Siegfried. Natalya Ashikhmina. plain croissant. Gadis ini masih mengenang adegan-adegan dalam pertunjukan balet ”Swan Lake” yang baru saja usai. Direktur Artistik Russian State Ballet of Moscow pertunjukan ”Swan Lake” itu. angin sepoi-sepoi. Pangeran Siegfried. Odette dan . pernah berpentas Martha Graham. sebagai sponsor pertunjukan. Zahra menemani para pebalet dari Negeri Tirai Besi itu. tidak minum wine. pemilik istana dan telaga. Di samping mencoba menggagalkan percintaan Siegfried dengan Odette. jatuh cinta kepada Odette. Maya Ivanova.html Annisa Zahra disadarkan oleh zefir. insya Allah. Baru pada malam hari mereka menjelma manusia kembali. Mereka tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun meski pertunjukan dua jam itu mengalir terus. Dalam pesta yang disuguhkan oleh Yayasan Jantung Indonesia. Sementara itu Zahra getol bercerita macam-macam kepada para tamunya. gubernur. Dengan meminta maaf karena gedung pertunjukan tidak representatif bagi tontonan segigantik balet Rusia. ayu dan ganteng. dan modern dance dari Eropa lainnya yang memainkan repertoar ”Le Sacre du Printemps” karya Igor Stravinsky. yang ditemani balerina Masami Chino. para pebalet Rusia itu mengagumi kecantikan dan rambut panjang Zahra dan apa saja perannya dalam balet di Indonesia. para pebalet pemeran utama dalam lakon itu di antaranya. yang mengelus rambutnya. Andrei Joukov. pemeran Rothbart bergantian. sangat populer di seluruh dunia.Generated by ABC Amber LIT Converter. pemeran Odette secara bergantian dan Andrei Joukov dan Maxim Fomin pemeran Siegfried bergantian. Zahra juga banyak mendulang informasi dari Maya Ivanova dan Natalya Ashikhmina. balerina 21 tahun.

Semuanya tertawa. kedua adiknya. ”Awas. Kakek terbatuk-batuk lagi. Secepatnya Siegfried menyatakan pilihan cinta sejatinya hanya pada Odette. lho.” sambung Oom sambil menyenggol Tante. angsa itu menjelma Odette. Begitulah. ibu. Pesta para pebalet Rusia dan para pebalet Indonesia malam itu seperti menandai suksesnya pertunjukan ”Swan Lake”. Eyang bisa kesleo.” tukas Kakek. Semuanya tertawa. Zahra menonton pertunjukan itu bersama keluarga. ”Odette atau Odille.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Rothbart marah besar. saya sih.html dayang-dayangnya jatuh sedih. ”Eyangmu ini tadi malam kan kepincut sama si Maya. ”Terpikat boleh terpikat. seluruh istana bergembira. Sekalipun dengan mata terpejam. Namun Siegfried mampu menewaskan Rothbart dan pasukan angsa hitamnya.” celetuk Nenek. juga tante dan oomnya. Eugenia Singur.com/abclit. dan Anna Vakina. Oxana Gasnikova. Olga Ivachenko. dan Anastasia Baranova. Sedang para pemeran angsa gede adalah Svetlana Ustyuszhaninova. asal encoknya tidak ketahuan sang balerina. cocok-cocok saja. Pagi harinya kakek berdiri lalu meliuk-liuk menirukan gerakan balet yang membuat semuanya tertawa. kakek dan neneknya. Dan pesta pernikahan Siegfried-Odette selama tujuh hari tujuh malam pun digelar dengan meriah. Siegfried sadar.” celetuk Zahra sambil memasukkan potongan roti lapis kacang dan cokelatnya ke dalam mulutnya. siapa pun tak bakal salah memilih. ayah. adalah para pemeran angsa kecil. semua balerina itu elok: Tatiana Protsenko. Tatiana Chungunkina.processtext. begitu juga puluhan ekor angsa yang lain. sampai Kakek terbatuk-batuk. http://www. Seketika.

Generated by ABC Amber LIT Converter. semuanya terkesan jelek.com/abclit. sih.” tukas Zahra. Aduh. Kesan. Semua tertawa. ”Aurat yang mana?” tukas Zahra. Melihat kostumnya. ”Saya sungguh risi dengan kostumnya. Jika kita bicara soal kesan.” kata Kakek. pertunjukan itu harusnya disensor.” sanggah Kakek. ”Lho. Eyang. ”Semuanya kan tertutup rapat.” ”Jangan begitu.” sergah Kakek lagi. yang ndak cocok bagi kamu.html ”Apa.processtext.” ”Tapi kesan telanjangnya kan jelas. ”Saya serius.” ”Jangan begitu. ”Tapi.” .” ”Kesan. ”Itulah kostum yang paling pas untuk lakon ”Swan Lake”. http://www. memangnya kenapa?” tanya Zahra. ”Itu kan mengumbar aurat.” ”Eyang kok tiba-tiba jadi diktator. Eyang.” tukas Nenek.” ”Rasa risi tidak relevan dengan Swan Lake. saya tidak setuju dengan kostum para penarinya.” sambung Kakek.

Generated by ABC Amber LIT Converter. peradaban.com/abclit. kostum Zahra ya seperti itu. Habis jadi diktator.” ”Mati orang kuburan!” potong Kakek kaget.” ”Wah. mendadak berubah jadi filosof.” ”Eyang yang kasmaran. kok yang disalahin balerinanya. deh. http://www.processtext.” sambung Kakek.html ”Wah. Ini kali pertama kakek dan nenek nonton balet. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Waktu grup balet Zahra memainkan Swan Lake. Meriah. Semuanya tertawa kecuali Kakek. Eyang ini gimana.” Semuanya tertawa. bubar. Ruang makan itu berubah jadi ruang pesta pagi hari. wah. Swan Lake dapat dikategorikan sebagai pertunjukan pornografi dan pornoaksi. kecuali Kakek. sih. Grup balet Rusia ini sudah melanglang buana. Obrolan berubah jadi perdebatan. ”Mati orang kuburan!” potong Zahra. . Semuanya tertawa kecuali Kakek. wah. ”Kok Eyang jadi sewot?” ”Mempertimbangkan kostum itu.

” ”Harus dicari kostum yang lebih cocok dengan budaya setempat. .” ”Omong kosong!” sergah Kakek. Jenjang kaki yang panjang dengan bentuk yang indah—laki-laki maupun perempuan—dalam menopang torso yang sepadan yang melahirkan kelenturan gerak bagai kijang.” sambung Kakek.” Zahra menukas. ”Justru karena saya sangat menghargai kebudayaan.com/abclit. ”Apa?” tanya Kakek. Ada yang jauh lebih subtil yaitu bentuk tubuh secara utuh. maka saya marah menyaksikan penampilan para pebalet Rusia itu.processtext. ”Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita. http://www. ” sergah Tante. ”Eyang dianggap tak menghargai kebudayaan. kok Eyang sampai segitunya.” cetus Kakek. ”Kalau pendapat Eyang dilaksanakan.” ”Saya heran.html ”Bagaimana parameternya?” ”Bagian-bagian tubuh tampak disengaja sangat menonjol. runtuhlah kebudayaan.” kata Oom. ”Kalian keras kepala!” Semuanya tertawa kecuali Kakek. ”Eyang benar-benar lowbrow.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Puluhan kali dia berpentas balet di kota-kota besar. ”Jangan melecehkan negeri sendiri.” sela Kakek. ”Dalam KKN ada tradisi.” sewot Zahra.” Semuanya tertawa kecuali Kakek. Eyang. ”Adalah tradisi balet.” .Generated by ABC Amber LIT Converter. jiwa raga kami…” Oleh orangtuanya. http://www. pesakitan KKN selalu jatuh sakit kalau mau diadili.” ”Sekalipun mereka ateis?” ”Sekalipun mereka ateis.” ”Jadi tanpa mempertimbangkan moral dan agama?” tukas Kakek. Kalau Eyang puas atas pertunjukan balet Rusia itu. semuanya menyanyi kecuali Kakek: ”Bagimu negeri. ”Kostum ketat itu.processtext. ”Moral dan agama ada pada keindahan kesenian itu. Zahra diperkenalkan pada balet sejak balita. Seperti para perenang yang hampir-hampir telanjang ketika bertanding di kolam renang.html ”Adat ketimuran kita adalah KKN. Mendengar kata Kakek ini.” kata Zahra.com/abclit. ini artinya balet Rusia itu telah berdakwah tentang kebenaran. begitu pula kostum ketat balet memudahkan untuk bergerak menari.

Betapa luhurnya seseorang yang tidak percaya akan Tuhan. bukankah itu artinya mereka telah berdakwah tentang keluhuran? Seandainya benar mereka ateis.” ”Eyang kok selalu curigesyen terhadap iman orang lain yang tidak dikenal. Barangkali besok. setiap hari yang dipikirkannya hanya keindahan.processtext.html ”Sungguh saya tidak paham jalan pikiranmu. Kita bisa menuduh mereka ateis. ”Banyak negara yang busuk. atau lusa. ”Kita harus membedakan antara iman warga negara dan iman negaranya.” kata si Oom. Mereka telah berbakti kepada Dewi Keindahan.” ”Mereka telah menari dengan anggunnya. Harus dipisahkan antara rakyat dan negaranya. tapi dari mana kita tahu bahwa mereka ateis? Obrolan kita ini sudah melenceng. Dalam hidup para balerina dan balerino itu. Cucuku. Eyang.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.” ”Mereka hanya berbakti kepada Dewi Keindahan. sedang warga negaranya mudah lolos ke surga. Eyang. . Bukan kepada Tuhan. mereka itu hanya belum sempat mendapat hidayah dari Allah saja. namun tariannya memberikan pencerahan kepada kita yang shalat lima kali sehari.com/abclit. kata Allah. Alangkah juwitanya pandangan hidup mereka. http://www. atau setahun lagi?” ”Seorang ateis bagaimana mungkin mendapat hidayah Allah?” ”Jiwa manusia itu seluas alam semesta. Janganlah berputus asa akan belas kasihKu. Dan itu bukan teori.” ”Tapi omongan kamu itu kan cuma teori.” tambah Tante.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang.” ”Hati orang siapa tahu.

” sergah Kakek.Generated by ABC Amber LIT Converter.” . Seperti tercium setan lewat. ”Saya pusing mendengar pikiran-pikiran anak muda sekarang. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri…. ”Contohnya tidak usah harus beli tiket pesawat. ”Apa yang sedang terjadi atas Eyangmu ini.” ”Eyangmu itu pantas jadi polisi moral. http://www. Semuanya tertawa kecuali Kakek.” tukas Kakek.” Semuanya tertawa kecuali Kakek.com/abclit.” jawab Tante. saya cuci tangan. Ada air yang mudah mematikan api. saya dikasih contoh.processtext.. Ada angin yang tidak kelihatan yang membuat kita bernapas hidup puluhan tahun. Allah mencintai keindahan.” ”Kita juga memiliki keindahan tradisi.” tambah Nenek. Kita wajib memeliharanya. Ada tanah yang bisa menumbuhkan padi sehingga kita tidak kelaparan. Lengang sejenak.” tukas Nenek. Kecuali Kakek. semuanya membaca puisi Gibran Khalil Gibran: ”Anakmu bukanlah anakmu. Ada api yang menyala-nyala. Anakmu bukan milikmu. Zahra melanjutkan obrolannya: ”Wajah Allah itu memancar memenuhi alam semesta dan kita makhluk ciptaannya dapat menatap Wajah itu secara gamblang.html ”Coba. ”Kok sekarang berubah jadi one dimensional man. Ada zat yang mendorong kita beranak-pinak. Dan ternyata Allah itu indah. Zahra.

Dalam balet.html ”Saya setuju.processtext. Edisi 03/19/2006 Aku bisa mengerti. seorang penari harus lebar-lebar merentangkan kakinya supaya bisa terbang. apa saja yang masih bisa . Mengingat dan masa lalu adalah dua hal yang terpilin dan sama-sama berdebu. Cobalah nikmati tari bedoyo.com/abclit. Suatu dakwah keindahan tiada tara. 14 Februari 2006 Retakan Kisah Post: 03/21/2006 Disimak: 265 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. tidak mudah baginya untuk mengingat. Mendorong keanggunan sembilan penari yang gemulai dalam balutan kain yang ketat. Mengingat adalah kerja masa kini yang mungkin melelahkannya. Para pujangga menyebutnya ”Glatik Nginguk” artinya ”Burung Gelatik yang Menjenguk” yang membuat dada para raja dan pangeran ”mak-sir”. Tidak mudah baginya untuk memanggil masa lalu. Dalam dandanan kebaya pinjungan.Generated by ABC Amber LIT Converter. cukup sulit. http://www. tumbuh. Dengan apa dan bagaimana ia memanggil.” ”Sebagaimana balet. apa saja yang masih bisa dipanggil. menyembulkan semburat merah jambu gunung kembar yang menjenguk lewat dada yang lebar terbuka. Eyang. dengan cara rumit dan sedih. tergetar.” sambung Zahra. itulah keunikan tiap tradisi yang mewariskan budaya dunia. sedang dalam bedoyo para penari bahkan untuk berjalan biasa saja. tidak ada pornografi dan pornoaksi. sedangkan masa lalu adalah belukar lampau yang terus hidup. Tangerang.” Tukas Kakek: ”Tidak ada pornografi dan pornoaksi dalam tari bedoyo. di sebuah tempat yang sulit dijangkau.

Bagiku sendiri. juga tidak kurang bermasalah. strategi bercerita yang sering menimbulkan tanda tanya: apakah ia sedang melakukan sebuah strategi tertentu untuk menghadapi masa lalunya. dengan cahaya lamat yang ada di dalam rumahnya. dan apa saja yang tidak boleh didengar. kemudian menjadi sebuah tenggang yang sangat bermakna. mendengarkan. ataukah karena ia sedang berhadapan dengan orang-orang di luar dirinya? Di awal percakapan. Rekahan waktu lambat laun mulai mengeluarkan sulurnya dari wilayah yang paling gelap. kalimat yang lebih banyak muncul adalah. Dan banyak telinga sudah diproteksi. seperti warna jarik dan kebaya yang dikenakannya.html tapi tidak ingin ia panggil. Juga tubuh yang gampang gemetar. kadang lirih. Ia lalu lebih sering diam. Kalimat itu terus menimbulkan tanda tanya di kepalaku. Apalagi. adalah sederet hal yang penuh dengan kerumitan masing-masing. Jarak psikologi yang jauh. berkaca sekaligus berkapur. >diaC< Hampir semua hal yang mengelilinginya terlihat muram. ataukah karena sebetulnya bukan itu yang ingin ia ceritakan. kalau bukan karena penderitaan? . Seluruh warna yang ada di dirinya adalah warna yang luntur dan kusam. Tapi suara-suara seperti ini tidak akan bisa ditahan. sebuah jeda yang sesungguhnya tegang. Mata yang menyempit. bahasa yang kabur.processtext. Diam. Dengan sabar aku menunggu sulur-sulur cerita yang keluar dari rekahan waktu yang gelap dan dalam. tafsir yang berkerumun. Dan suara seperti ini akan membuat perhitungan sendiri. karena sudah banyak yang mulai bersuara dan sudah banyak yang mulai mau mendengar. menyimak. dan sebuah lukisan kaca. dan bagaimana mengisahkannya. Ada suara yang mungkin dari dulu hanya dianggap dengungan. lalu menyodorkan ke hadapan orang banyak tentang suara yang lirih. mendengarkannya. Apakah kalimat itu berarti bahwa ia memang benar-benar tidak mampu mengingat. Suara lirih mulai terdengar. tubuh yang jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Sepasang mataku butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan dari terik yang memanggang di luar. sebuah tempat tidur yang tergeletak di lantai. ”Saya sudah tidak mampu lagi mengingat”. Ruangan ini berisi seperabot kursi-meja yang sudah tua dan tidak jelas warnanya.com/abclit. sayup dan lamat-lamat. http://www. untuk apa. Tugasku adalah belajar untuk diam. siap menyeleksi apa saja yang boleh didengar. Lalu aku tepis seluruh syak yang muncul. Suara yang groyok. kadang membesar tanpa irama. ataukah karena ia tidak mau menceritakan satu kejadian karena takut risiko tertentu. dan hanya ada dua hiasan yang menempel di dinding: potret seorang laki-laki.Generated by ABC Amber LIT Converter.

belajarlah dengan baik. salah seorang berkata: Ke kantor kecamatan!” Kembali ia diam. Lalu ketika keluar menemui rombongan tentara. Ya karena melihat guru-guru saya. hanya anak seorang janda. saya hanya ingin menjadi guru. Mengeluarkan sendiri tiga gelas teh dan satu gelas air putih. Rombongan itu mengikuti dari belakang.processtext. ”Tanpa menunggu jawaban mereka. berdandan. Saya ini dari kecil miskin. Waktu saya kecil. Suara lalu lintas dari jalan raya yang tidak jauh dari rumah ini mencoba mengingatkan bahwa hanya di sini.com/abclit. Lalu saya bilang: Pak. saya masih belum selesai menyapu halaman rumah…. ”Saya benar-benar tidak tahu. saya ini seorang guru. dan jangan nakal. Mbak.” Ia diam. ”Mereka sudah datang. Rasanya kok hidup saya bisa berguna kalau saya menjadi guru. Lalu saya sekolah di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak di Yogya. Memperhatikan baik-baik ketika dua temanku mempersiapkan alat rekam audiovisual. Lulus sekolah. diikuti suara anak-anak yang menyanyikan lagu Peterpan. saya pergi mandi. Di luar . saya menciumi wajah murid-murid. disusul oleh seekor yang lain. saya langsung masuk ke kelas: Anak-anak. kalau ada guru lain yang menggantikan. lalu juga pergi dengan meninggalkan suara kokok yang terus bergema. Seorang pedagang es melintas di jalan depan rumahnya. apa salah saya. Seekor cicak menjerit dan jatuh tidak jauh dari tempatnya duduk. ”Pagi itu. ia terlihat cukup tenang. Rapatnya mungkin akan lama. Beberapa ekor ayam muncul di pintu. Nanti. lalu keluar rumah menuju ke tempatku mengajar.html Tapi. ”Satu per satu. lalu mereka segera melesat pergi. ”Sesampai di sekolah. Kembali matanya temlawung jauh. sepi itu begitu menjadi-jadi. Sesekali aku menengok ke arah pintu. mencari cara agar mataku tidak silau karena cahaya di luar begitu tajam hinggap di pandanganku. ya saya langsung mengajar TK di kampung saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya sudah tahu apa maksud kedatangan mereka. Beri saya kesempatan untuk pamitan dulu ke murid-murid saya…. http://www. hari ini Ibu akan rapat dengan bapak-bapak tentara.

namun lirih. dengan nada yang seperti berteriak. Tangisan itu menjauh.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Saya juga tidak mengerti. Tubuh tuanya gemetar. makanya tidak adil kalau seorang suami beristrikan lebih dari satu orang.” Seorang anak kecil tiba-tiba menangis di depan rumah. ”Ya…. mengapa orang-orang sering menganggap organisasi itu jahat. di organisasi itu kami diajari untuk ikut mendamaikan suami-istri yang tidak akur. mirip suara kanak-kanak. Kami diajari bahwa laki-laki dan perempuan itu sama.” Tiba-tiba suara ibu itu mengecil. saya diambil lagi…. dan mataku kembali silau karena cahaya yang masuk dari arah pintu. saya ditanya pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak tahu. si bocah digendong ibunya. Di depan kantor kecamatan sudah berderet orang yang menunggu pemeriksaan. Ia dengan segera keluar. Kami juga diajari bahwa tidak benar kalau istri itu seperti suwarga nunut. neraka katut. Tapi saya juga lega karena tidak dibawa pergi seperti yang lain-lain. dan tidak boleh pergi-pergi dari kampung. ”Dua tahun kemudian. Saya sedih sekali. Mbak…. Lalu saya disuruh pulang dan tidak boleh mengajar lagi. Bu…. Mataku selamat dari rasa silau. Tiba-tiba di luar mendung.processtext.” Kedua temanku mengeluarkan kalimat yang berbeda. Ketika tiba giliran saya diperiksa. matanya semakin berkeruh. ya… sampai mana tadi?” ”Sampai menuju ke kantor kecamatan. dan aku tidak tahu mana yang tepat. memanggil-manggil nama seorang perempuan yang kupikir adalah ibu si bocah. Bu…. Saya mengira bahwa saya selamat. Tapi…. kembali duduk di sampingku.” Ibu itu lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Wong saya tahunya. saya aktif di organisasi itu. Ibu itu masuk kembali ke dalam rumah. .html kegiatan mengajar. wong saya memang tidak tahu. ternyata tidak…. http://www. ia berkata. Ya saya jawab kalau saya tidak tahu. neraka katut.” ”Sampai ke suwarga nunut. ”Maaf. lalu mencoba mendiamkan si bocah.

Saya menyebut nama Tuhan keras-keras supaya mereka eling bahwa ada Tuhan. kalau Bapak punya anak perempuan. Saya dibawa ke pabrik tebu.html ”Yang kedua itu. saya orang miskin dan tidak punya apa-apa. tanpa basa-basi. ”Tiga hari saya tidak diberi makan dan tidak boleh ke kamar mandi. Sesampai di kamar. ”Saya lalu menyahut bantal untuk menutupi kemaluan saya. Mas…. Saya bilang: Pak. Saya baru masuk saja. Saya menjerit waktu melihat kemaluannya yang membesar. Saya memohon berkali-kali. sedangkan Andre hanya menggigit-gigit sebatang rokok tanpa pernah menyalakannya. Mbak. Tapi dia tetap mendekati saya. sudah dikerumuni orang untuk meludahi saya ramai-ramai sambil mengumpati saya dengan kata-kata yang tidak senonoh…. Lalu membuka celananya…. saya ini belum bersuami. Saya langsung diangkut begitu saja. Tapi tidak ada yang menggubris. setelah saya bilang seperti itu.com/abclit.” Lagi-lagi. di dekat leher.processtext. membuatku harus terus mewaspadai alat rekam yang kuletakkan di sebelah atas kebayanya. Aku menawarinya minum.” Aku melirik ke arah dua temanku yang lain. . Kalau Bapak punya istri. Ibu itu diam. ”Lalu saya diseret beberapa orang menuju ke sebuah kamar. http://www. saya ditelanjangi…. dan mengambilkan segelas air putih di meja. tinggal satu orang yang sepertinya pemimpin mereka. Saya memohon ampun berkali-kali. Tubuh saya penuh dengan kutu. saya tidak diberi kesempatan untuk mandi apalagi berdandan. Hanya warna suaranya semakin lama semakin mengecil. Ia menutup pintu kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sepintas aku melihat mata Mirna sudah berair. ”Eh…. ingatlah istri Bapak. ingatlah anak perempuan Bapak…. Sepasang matanya dari pertama kulihat sudah seperti selalu berair. ”Maturnuwun. kemaluan bapak itu mengkeret.” Ibu itu terdiam. lalu… mengencingi saya…. Sepasang mata Mirna mulai memerah dan Andre sudah mulai mencari-cari rokok di sakunya. Aku tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. tapi saya tetap ditelanjangi…. Ia mendekati saya. Lalu orang-orang itu pergi.

yang saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. rambut saya itu panjang. Tahanan-tahanan itu begitu saya datang langsung disuruh memeluk dan menciumi saya. ”Pernah juga saya dibawa keluar dari tempat itu.processtext. Kedua tangannya semakin terlihat gemetar. Dan itu semua dipotret cekrak-cekrek. Dulu. saya juga dipukuli. semakin lirih penuh dengan tekanan. Muka saya sampai bengkak-bengkak penuh darah. Mirna memberi isyarat kepadaku untuk . http://www. Lalu…. ”Suatu kali. muka saya dipukuli pakai sepatu. mengguntingi rambut saya. saya disuruh masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan tahanan laki-laki. kok diperlakukan seperti itu.” Ibu itu terdiam lagi. mereka itu. Kalau saya jawab. Pabrik itu dipisahkan oleh jalan raya.” Ibu itu suaranya mengecil. Dengan segera Ibu itu mempersilakan kami untuk minum. Saya ini manusia. Lalu petugas-petugas yang ada di situ menyoraki sambil meneriaki dengan kata-kata yang tidak senonoh. saya minta rambut saya. apa ya layak….Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Setiap hari saya disiksa. Kalau tidak dijawab.com/abclit. Nanti kalau Mbak dan Mas ada waktu. ”Setelah itu… para tahanan laki-laki itu disuruh membuka celana mereka. Saya tidur di sebelah utara. Tapi. Eh. tapi katanya saya dianggap menentang. memperlakukan saya seperti bukan manusia. Semua serba salah.html ”Saya satu-satunya perempuan yang ditahan di pabrik tebu itu. saya juga dipukuli. Waktu saya mau dibawa pulang ke pabrik tebu lagi. Lalu ada yang membawa gunting terus kras-kres-kras-kres. Kami bertiga menunggu. Yang tidak mau dipukuli. lalu kalau diperiksa. saya juga dipukuli. padahal maksud saya menghormati orang yang bertanya. Saya diberi pertanyaan yang sama. ke kantor polisi. saya tunjukkan tempatnya. Kami meminum minuman hangat yang telah dingin. Kalau ditanya dan saya melihat mata yang bertanya. saya dibawa ke sebelah selatan. polisi yang menggunting itu bilang: Tidak. Menyiksa perempuan yang tidak tahu apa salahnya. kok masih mau menghadiahkan rambut saya untuk istrinya…. Di kantor polisi itu. Mbak. menyeberangi jalan raya.” Andre mengambil minuman di meja. hampir sampai lutut. saya juga dipukuli pakai sepatu. kalau tidak saya lihat matanya. Setelah itu…. itu untuk istriku! ”Kok tidak malu.

Lalu menghirup napas agak panjang. Sepasang mata Mirna bobol. Si Tamu memberi tahu bahwa ada tetangga mereka yang meninggal dunia. Lalu saya menciumi kemaluan tahanan-tahanan itu satu per satu. saya langsung menstruasi empat bulan tanpa pernah berhenti…. Tiba-tiba seorang perempuan menyembulkan mukanya di pintu. Ibu itu bangkit lalu keluar. cekrak-cekrek-cekrak-cekrek! Para tahanan itu juga menangis…. ”Saya disuruh menciumi kemaluan merekaaaa!” Gelas yang sudah kupegang hampir jatuh. Petugas-petugas itu malah tertawa. dan itu dipotret. Saya ingin tahu. Kok ada yang dinistakan seperti ini…. hanya terdengar isak Mirna yang tertahan. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Tidak ada suara apa pun sampai beberapa saat setelah Si Ibu mengucapkan kalimat itu. wajahnya yang putih segera memerah. teriak kesakitan dan tidak didengarkan. Tubuh Si Ibu terguncang. ”Dan rupanya itu belum cukup…. Gerimis turun di luar. Tintrim. saya harus ke tempat kesripahan. isak Mirna pun lenyap. Tidak ada suara cicak. seperti apa itu. Hampir saja aku mengambilkan minuman ketika Si Ibu meneruskan kelimatnya.html mengambilkan minuman. Selesai kejadian itu. Dipotret. Sepintas yang sempat kudengar. http://www. Mas.” Semua diam. dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu….Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu.processtext.” . saya minta waktu untuk berdoa. Saya menjerit. semua petugas beramai-ramai memelintir puting payudara saya. Ibu itu masuk sambil berkata. Di dalam ruangan lembap ini. Saya mengulurkan gelas air minumnya. janji Tuhan tentang keadilan. Sepasang mata ibu itu kembali melihat ke arah pintu dan berkata. Ia minum dengan pelan. ”Mbak. tidak terdengar suara lalu lintas yang menderu di luar sana.” Ibu itu kembali diam. Mbak.com/abclit. ”Sebelum melakukan itu.” Ruangan hening. Sebelum saya memakai pakaian. Ada tetangga yang meninggal dunia. Andre membuang muka.

Maka Gustaf hanya memandangi bocah itu dari dalam mobilnya yang merayap pelan dalam kemacetan. berbincang pelan. mungkin memastikan jadwal. ”Ibu baik-baik saja?” Mata Mungil yang Menyimpan Dunia Post: 03/13/2006 Disimak: 288 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas. aku bahkan tidak tahu harus berkata apa. Hari masih gerimis. saat dia mengibaskan kedua tangannya bagai menghalau sesuatu yang beterbangan. kami bertiga menelepon ibu kami masing-masing. Edisi 03/12/2006 Selalu. Karena kaca mobil yang selalu tertutup rapat. dan hanya bisa bertanya. Selalu bercelana pendek kucel.Generated by ABC Amber LIT Converter. Gustaf hanya melihat mulut bocah itu seperti berteriak dan tertawa-tawa. Rambutnya kusam kecoklatan karena panas matahari. Dia tak banyak beda dengan para anak jalanan yang sepertinya dari hari ke hari makin banyak saja jumlahnya. agar ia bisa mendengar apa yang diteriakkan bocah itu. Kadang Gustaf ingin menurunkan kaca mobil.html Kami mengiyakan. seolah ada yang perlahan tumbuh dari celah conblock.processtext. Ketika ibuku menyapa. Kadang hanya merunduk jongkok memandangi trotoar. Mirna lalu mendekati Si Ibu.com/abclit. Di dalam taksi. Hanya saja Gustaf sering merasa ada yang berbeda dari . Tapi Gustaf malas menghadapi puluhan pengemis yang pasti akan menyerbu begitu kaca mobilnya terbuka.tara aku keluar rumah mencari taksi. http://www. Andre merapikan alat. kapan kami bisa kembali lagi. semen. Berkoreng di lutut kirinya. Kadang berloncatan. Usianya paling 12 tahunan. Gustaf tak tak bisa mendengarkan teriakan-teriakan bocah itu. Setiap pagi.alat audiovisualnya. ia selalu melihat bocah itu tengah bermain-main di kolong jalan layang. seperti menjolok sesuatu. Setiap Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya.

yang kata Mama. Buru-buru Gustaf menghidupkan mobilnya dan melaju. Kicau burung terdengar dari pohon jambu berbuah lebat yang bagai dicangkok di tiang traffic light. Seperti ada cahaya yang perlahan berkeredapan dalam mata bocah itu. Gustaf jadi selalu terkenang mata bocah itu. kerakap tumbuh di dinding penyangga jalan tol. Hingga ia merasa segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Sering ia menggambar mata yang bagai liang hitam.” Sejak itu Gustaf suka memandang mata setiap orang yang dijumpainya. Kamu bisa menjenguk perasaan seseorang lewat matanya…. Dan itu rupanya membuat Mama cemas—waktu itu Mama takut ia akan jadi homoseks seperti Oom Ridwan. Memandang mata itu. Ia senang ketika Oma memuji gambar-gambarnya itu. Itu sebabnya ketika kanak-kanak ia menyukai boneka. ”Tak sopan menatap mata orang seperti itu!” Papa menyuruhnya agar selalu menundukkan pandang bila berbicara dengan seseorang.com/abclit. Tak ada keruwetan. Sering Gustaf memperlambat laju mobilnya. Ia menyukai bermacam warna dan bentuk mata boneka-boneka koleksinya. Tapi pada saat itulah ia terkejut oleh bising pekikan klakson mobil-mobil di belakangnya. Ia menurunkan kaca mobilnya. akar dedaunan hijau merambat melilit tiang lampu dan pagar pembatas jalan. karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela bebatuan hitam. ia selalu disuruh menggambar. Air yang jernih dan bening mengalir perlahan. Beberapa pengendara sepeda motor yang menyalip lewat trotoar melotot ke arahnya. saat ia berusia tujuh tahun.processtext. . seakan-akan ada mata air yang muncul dari dalam selokan. Seorang polisi lalu lintas bergegas mendekatinya. Dari retakan trotoar perlahan tumbuh bunga mawar.html bocah itu. Gustaf terpesona menyaksikan itu semua. Gustaf terkejut ketika tiba-tiba ia melihat seekor bangau bertengger di atas kotak pos yang kini tampak seperti terbuat dari gula-gula. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Ia suka menatapnya berlama-lama. menghirup lembab angin yang berembus lembut dari pegunungan. Jembatan penyeberangan di atas sana menjelma titian bambu yang menghubungkan gedung-gedung yang telah berubah perbukitan hijau. Sejak kecil Gustaf suka pada mata. Dan itu kian Gustaf rasakan setiap kali bersitatap dengannya. Ia tak pernah menyangka betapa di dunia ini ada mata yang begitu indah. Oma seperti bisa memahami apa yang ia rasakan. Berminggu-minggu mengikuti terapi. Sesekali ia menggambar bunga mawar tumbuh dari dalam mata itu. Ia ingat perkataan Oma. ”Mata itu seperti jendela hati. atau binatang-binatang yang berloncatan dari dalam mata berwarna hijau toska. agar ia bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. mata dengan sebilah pisau yang menancap. http://www. Dan ia selalu menggambar mata. Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. sewaktu kanak-kanak juga menyukai boneka—lantas segera membawanya ke psikolog. Tapi Papa kerap menghardik.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Mata bocah itu pastilah melihat sekawanan burung gelatik terbang merendah bagai hendak hinggap kepalanya. Pita gadis yang digandeng ibunya itu akan menjadi bunga lilly. Setiap menatap mata seseorang. karena mata mungil indah bocah itu bisa melihat dunia yang berbeda.com/abclit. bisa jadi mata bocah itu memang satu-satunya mata paling indah di dunia. Tentulah menyenangkan bila punya mata seperti itu. Gustaf jadi begitu terkesan dengan sepasang mata bocah itu. padang gersang ilalang. Agar ia bisa memandang semua yang kini dilihatnya dengan berbeda…. batin Gustaf. pastilah bocah itu sedang begitu senang memandangi seekor kumbang tanah yang muncul dari celah conblock. Kadang—tanpa sadar_ia sering mendapati dirinya tengah memandangi mata seseorang cukup lama. Gustaf kini bisa mengerti. Di lengkung selendang sutra yang dikenakan manequin di etalase itu akan terlihat kepompong mungil yang bergeletaran pelan ketika perlahan-lahan retak terbuka dan muncul seekor kupu-kupu. pecahan kaca yang menancap di kornea. pusaran kabut kelabu dengan kesedihan dan kesepian yang menggantung. Rasanya. hingga ia mengibas-kibaskan tangan menghalau agar burung-burung itu kembali terbang. http://www.html Saat remaja ia tak lagi menyukai boneka. Ketika berjongkok. Setiap kali terkenang mata itu. Atau karena mata mungil itu memang menyimpan sebuah dunia. kawat berduri yang terjulur panjang. Alangkah menyenangkan bila memiliki mata seperti itu. seperti mata bocah itu. kenapa bocah itu terlihat selalu berlarian riang—karena ia tengah berlarian mengejar capung yang hanya bisa dilihat matanya. Sembari menikmati secangkir cappucino di coffee shop sebuah mal. Karena itu. Di mana-mana Gustaf hanya melihat mata yang keruh menanggung beban hidup. Mata itu membuat dunia jadi terlihat berbeda. Apa yang kini ia pandangi akan terlihat beda. hingga orang itu merasa risi dan cepat-cepat menyingkir. tapi ia suka diam-diam memperhatikan mata orang-orang yang dijumpainya. Mata yang tertutup jelaga kebencian. Begitu bening begitu jernih. Membuat Gustaf berpikir. itulah mata paling indah yang pernah Gustaf tatap. Mata yang mungil tapi bagai menyimpan dunia. Barangkali seperti mata burung seriwang yang bisa menangkap lebih banyak warna. Eceng . Tapi Gustaf tak menemukan mata seperti itu. Sering pula ia melihat lelehan tomat merembes dari sudut mata seseorang yang tengah dipandanginya. Dan ia makin ingin memiliki mata itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kadang ia melihat api berkobar dalam mata itu. Mungkin ia akan menemukan mata yang indah.processtext. Seekor kepik bersayap merah berbintik hitam tampak merayap di atas meja. setiap kali itu pula Gustaf kian ingin memilikinya. Kadang ia melihat ribuan kelelawar terbang berhamburan. Ice cream di tangan anak kecil itu mungkin akan meleleh menjadi madu. Gustaf seperti melihat bermacam keajaiban yang tak terduga. Semua itu hanya mungkin. Mata yang penuh kemarahan. Bocah itu sering berloncatan—sebab itu tengah menjoloki buah jambu yang terlihat begitu segar di matanya. Gustaf memperhatikan mata orang-orang yang lalu lalang. Atau dalam mata itu ada bangkai bayi yang terapung-apung. Mata yang berkilat licik.

dan melemparkan recehan. tapi segera ia urungkan karena merasa percuma. Apa pun akan Gustaf lakukan agar ia bisa memiliki mata itu. Ia melangkah melewati lobby perkantoran dengan langkah penuh kegembiraan ketika melihat setiap orang memandang ke arahnya. Dengan gaya anggun Gustaf menuju lift. Ia tinggal datang ke Medical Eyes Centre untuk mengganti matanya dengan mata bocah itu! Gustaf hanya perlu menghilang sekitar dua bulan untuk menjalani operasi dan perawatan penggantian matanya. Terlalu banyak anak jalanan berkeliaran. Bila ia bisa memiliki mata itu. Bila perlu ia menculiknya. Gustaf terkesima memandang sekelilingnya…. semuanya sudah tampak sempurna. Begitu lift itu tertutup. Ia ingin membuka jendela.Generated by ABC Amber LIT Converter. sambil berbicara kepada temannya. Cahaya jadi terlihat seperti sulur-sulur benang berjuntaian…. Ia sering mendengar cerita soal operasi ganti mata. Atau ia bisa saja merayu bocah itu dengan sekotak cokelat. Orang-orang pasti akan terpesona begitu memandangi matanya. Ia ingin ketika ia muncul kembali. pikirnya. Kedua mata bocah itu kosong buta! Gustaf hanya memandangi bocah itu. Betapa menyenangkan bila ia bisa menyaksikan itu semua karena ia memiliki mata bocah itu. Gustaf tersenyum. Elevator itu menjadi tangga yang menuju rumah pohon di mana anak-anak berebutan ingin menaikinya. Pagi ketika Gustaf berangkat kerja dan terjebak rutin kemacetan perempatan jalan menjelang kantornya. bambu apus tumbuh di dekat pakaian yang dipajang. ia melihat seorang bocah duduk bersimpuh di trotoar dengan tangan terjulur ke arah jalan. Tentu lebih menyenangkan bila tak seorang pun tahu kalau aku baru saja ganti mata. .processtext. Beberapa orang malah terlihat melotot tak percaya. ia akan bisa melihat segalanya dengan berbeda sekaligus akan memiliki mata paling indah di dunia! Mungkin ia bisa menemui orang tua bocah itu baik-baik. seorang perempuan yang tadi gemetaran memandangi Gustaf terlihat menghela napas. menawarinya segepok uang agar mereka mau mendonorkan mata bocah itu buatnya. Semua orang akan memujinya memiliki mata paling indah yang bagai menyimpan dunia. Gustaf yakin mereka kagum pada sepasang matanya.com/abclit.html gondok tumbuh di lantai yang digenangi air bening. http://www. Ada rimpang menjalar di kaki-kaki kursi. dan pastilah tak seorang pun yang peduli bila salah satu dari mereka hilang.

html ”Kamu lihat mata tadi?” ”Ya. ia menyapa. Meneer.processtext. ia memberi salam. meletakkan selembar koran.” . membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. baca koran di ranjang. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya. menyeka tubuhnya. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya. pekerjaannya.” ”Persis mata iblis!” Jakarta. dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela. ”Selamat pagi. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya. makan di ranjang. apa pun di ranjang. 2006 Cucu Tukang Perang Post: 03/07/2006 Disimak: 199 kali Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo Sumber: Kompas. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya. ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri.com/abclit. http://www. mengantar sarapan.Generated by ABC Amber LIT Converter. datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. Edisi 03/05/2006 Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang. asal kota tempat tinggalnya. Dengan takzimnya.

saya terpaksa melakukannya. seterusnya akan diremehkan.” sahut lelaki itu singkat. ”Pagi sekali saya sudah harus bangun. Meneer!” ”Ya.” kata si pemuda. meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan.processtext. dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya. apa boleh buat. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka. Meneer. . tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar.com/abclit. tidak demikian halnya dengan lelaki itu. menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya. empat kilometer jauhnya. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut.” jawab lelaki itu.” >1<”Ya. lalu bangun. ”Sekali Anda membiarkannya. tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar.” mulut lelaki itu menyahut. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun.html ”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang. apalagi gusar. ”Musim rontok hampir berakhir Meneer. Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. Tetapi. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya. angin laut masih terus berembus dengan kencang. ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya. menggenjot sepeda dari rumah. Tetapi. tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya.” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. Namun. Ayo bangun. pemuda itu menyalakan lampu.

processtext..Generated by ABC Amber LIT Converter. bukan?” >d 1<”Mmmm. Sebabnya.. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan.com/abclit. bayangkanlah. Anda renungkan. saya akan kehilangan satu setengah tahun. gajinya kecil Meneer. si pemuda terus saja mengobrol... saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer. mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai..” ”Hhmm. Kendati bukan jawaban yang memuaskan.” . kenapa saya berada di sini.. http://www. tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya.html ”Kalau tidak.” ”Nah. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil.. ”Yaaa. kerja kasar seperti ini. ”.” ”Anda tahu sekarang.perang dingin sudah berakhir.” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja. ”Coba. saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya. lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu.” lelaki itu mengerinyutkan muka..” kata perawatnya. tidak memerlukan rekrut serdadu baru.

pikirnya. Anda pernah berdinas di mana. dan ya yang sangat menjemukan.. Bosnia. dalam satuan apa. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium.” ”Ya? Tetapi. Kroasia. Di Serbia.. Maka. tak ada juga tanggapan yang didengarnya. bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh.” ”Mmmm.html Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya.. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia. sebagai profesi. tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. Membunuh lalat saja saya tidak tega. ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. perang selalu berarti membunuh atau dibunuh.com/abclit. kecuali ya. misalnya. Saya tak tahu. Tragisnya. Tetapi. ”Perang memang mengerikan. perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. Irak. Itu saya tidak bisa.” Jawaban yang meragukan tentu saja. hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya. lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang.processtext. .” ”Mmmm. ya. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. Dan ia mendapat kesan. Tetapi. Meneer. ”Ya.” Suara lelaki itu terdengar datar. http://www. dilontarkannya pertanyaan.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan.

Tidak terlalu sukar.” ”Ya. lantas mengganti seprai. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya. Cukup beberapa menit saja. Meneer! Lakukanlah mulai esok. ”Ya.html Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja. tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana.” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan.Generated by ABC Amber LIT Converter. akhirnya ia gagal menemukannya. tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang. .” ujarnya. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri. lalu ditutup lagi bila udara dingin. tidak untuk membunuhnya.” ”Ya.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. http://www. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ”Terima kasih. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut. mendesing di sekeliling lampu.com/abclit. matanya nanar mengedari seluruh ruangan. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela. buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda. kapan itu terjadi. memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. Ia lantas beranjak ke jendela.” ”Ayo Meneer. di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. Tetapi. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat.processtext.

.” . Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang. mereka berada di bawah perintah penjajah. Konon.html Namun. Tetapi. saya rada neuwsgierig sebenarnya. pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut. kakek saya lupa.com/abclit. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi. Meneer. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. ”Meneer.” ”Saya menentang perang Meneer. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Meneer. http://www. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. ia mulai bicara lagi..” ”Mereka memerkosa wanita. apalagi melawan bangsa sendiri. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. tentara Ambon memang tukang perang. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai... si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan.” ”Ya. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm. di zaman dia dulu.Generated by ABC Amber LIT Converter. apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya. bukan?” ”Mmmm. Meneer.. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia..processtext.

. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu. Tidak terlalu sukar.. http://www. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. Ia .. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. ya. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang. tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman.html ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. Ketika ia berpaling.com/abclit. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu. bukan?” ”Ahh. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor.. di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda. menukar piyamanya. belum tertangkap sampai sekarang. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. Tetapi. kamar demi kamar. ”Maafkan saya. dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. dan mengganti seprai. bukan? Cukup sambil berbaring saja. Meneer. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. Delapan ribu orang Islam. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. ”Saya terkadang lupa.” ”Mmm. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu.” si pemuda nyengir karena merasa disindir. Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu.processtext. Tragisnya.” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang.. lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. Ia lantas bungkam. Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia melangkah keluar dari kamar.. seperti baru sadar.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya.

” ”Ya.” ujar lelaki itu. dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. tetapi. ”Dinas sipil gajinya kecil!” *** Paran. Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. kata Anda.processtext. perang perlu dilanjutkan.com/abclit...” ”Apa? Anda bilang apa. mulutnya diam.Generated by ABC Amber LIT Converter. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya. Panggil saja Patti. tetapi menggumam dalam hati. http://www. cucu tukang perang. bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau. 7206 . kerja sipil gajinya kecil..” ”Nah. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer. tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. Saya kehilangan dua tangan. tak semuanya berhasil dijinakkan. Tetapi. merenggut kertas tisu dari saku.html melangkah balik ke dalam.” Pemuda itu melangkah keluar.” ”Tetapi. Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza. ”Ah.

Diikutinya langkah-langkah rombongan terakhir yang menghadap Wali Kota itu dengan rasa cemburu dan sebal.” kata ajudan itu sambil tergopoh membuka pintu menuju ruang tamu utama. Engku Nawar menarik nafas panjang. Sesekali melesat menyambar serangga yang mendekat di luar akuarium. Di kursi-kursi berhadap-hadapan dengan Engku Nawar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ketujuh orang yang duduk di hadapan Engku Nawar tadi ternyata satu rombongan yang melangkah dengan bergegas menuju ruang tamu utama Wali Kota. Beberapa detik. tapi meyakinkan keganasannya. Rasa capai dan mengantuk sengaja diusirnya dengan paksa. Dengan bahasa kasarnya. Jam dinding yang tiap seperempat jam bermusik nyaring untuk kesekian kalinya bernyanyi menjelang tengah malam. dan menutup kembali. Tak lama. Tamu-tamu yang menunggu giliran dipanggil ajudan untuk segera menghadap Wali Kota di ruang penerimaan tamu di sebelah ruang duduk itu. dipersilakan. dan tiap sebentar ia membangunkan cucu perempuannya yang berkali-kali tertidur sambil duduk di kursi tamu yang lebar itu. Edisi 02/26/2006 Kapan ikan tidur dan istirahat? Tidak ada yang tahu. Usaha ikan arwana itu kelihatan bodoh. Ikan itu terus saja berenang dalam akuarium kaca berukuran cukup besar. duduk enam orang tamu pria dan satu perempuan menunggu panggilan. Ajudan setengah berlari membuka pintu.html Arwana Post: 02/27/2006 Disimak: 187 kali Cerpen: Harris Effendi Thahar Sumber: Kompas. ajudan itu tidak saja menyebalkan. http://www.processtext.com/abclit. ”Pak Muis. terdengar bunyi bel dari ruang tamu sebelah. dan sebal dengan perlakukan ajudan yang mirip arwana itu. seperti tak henti-hentinya terpesona menyaksikan gerakan akrobatik ikan cantik yang garang itu. Cemburu pada tamu-tamu yang telah mendahuluinya menemui Wali Kota. Engku Nawar yang di atas tujuh puluh tahun itu hanya bisa menduga bahwa seperempat jam lagi pukul nol-nol. masuk. berputar-putar dengan gagahnya. . ajudan yang lincah seperti arwana itu muncul lagi sambil tersenyum yang kelihatannya palsu. Siripnya yang mengilap keperakan kadang-kadang memantulkan sinar lampu yang menyilaukan mata tamu-tamu yang terpesona melihatnya. tapi sangat kurang ajar terhadap orang tua seperti dirinya yang merasa bukan sembarang orang. SH dan rombongan. Tidak juga Wali Kota yang memelihara ikan arwana di dalam rumah dinasnya.

nanti saya sampaikan. Ajudan hanya mendengar dengan wajah datar sambil berkata: ”Isi formulir ini. nama.” Mendengar pernyataan itu. tapi cucunya. ketika dibonceng Sarini naik sepeda motor. Oleh karena itu.” Lelaki tua itu merasa tak mampu lagi menulis. dan jalan kaki. Ambil saja airnya di sini. pohon dan tanaman hias serta halaman parkir di belakang yang luas. Tadi sudah isi formulir bukan? Nah. Seseorang berpakaian hansip mempersilakan tamu-tamu itu duduk di ruang sebelah rumah jaga di samping rumah gedung kediaman resmi Wali Kota itu. Engku Nawar berdiri dan mendekati orang yang bicara barusan sambil berbisik. Tak lama. yang lulusan kursus komputer berijazah itu. Pak. Sarini. Sebentar lagi Bapak juga dipanggil. Sebentar lagi selesai. ”Silakan Pak. ”Boleh saya menemuinya sebentar saja. menuju kediaman Wali Kota yang jauhnya lima belas kilo dari warungnya.processtext. habis itu saya pulang. Dari percakapan orang-orang. Baginya waktu terasa berjalan lambat. Sarini.” ”Sabar. Lampu-lampu taman yang besar dan terang. http://www. Ia merasa sesak duduk . alamat. Minum dulu. Dari ruang tamu yang terbuka itu. barangkali lima menit. Saya cuma sebentar. Ibu. Dialah yang paling awal datang ke rumah dinas itu dan langsung melapor pada ajudan yang berambut cepak. Ia memeluk erat Sarini.com/abclit.” Engku Nawar mencoba bersabar. Tunggu saja. Semua mengisi formulir yang sama. yang sudah merasa haus. ajudan sudah membawa formulir Bapak itu ke dalam.” Seseorang berpakaian seragam datang membawa sekardus air minum kemasan dalam gelas-gelas plastik. motor. cucu kesayangannya itu. Engku Nawar telah siap bersama cucunya.html Sehabis magrib. yang dari tadi memegang map berisi surat-surat penting itu cepat-cepat mengisi formulir itu dan memberikan pena pada kakeknya untuk menandatanganinya. bahkan Wali Kota itu sendiri bagaikan anaknya. Dengan rasa bangga ia menyatakan bahwa ia keluarga dekat.Generated by ABC Amber LIT Converter. minuman datang. terdengar seseorang berkata: ”Pak Wali lagi makan malam dengan tamu-tamunya dari Jakarta. Engku Nawar terpesona dengan pemandangan yang menakjubkannya. ia minta izin menemui Wali Kota sebentar saja untuk urusan keluarga. tuh. Semua seperti bermandikan cahaya listrik yang melimpah ruah. tamu-tamu rombongan dan perorangan silih berganti datang berkendaraan mobil. keperluan.

Istri dan dua anak Engku Nawar yang masih balita ikut jadi abu. keluar dan mencari bangku-bangku beton di taman halaman samping rumah dinas Wali Kota itu bersama Sarini yang mengikutinya dari belakang. sebagian beras itu dipasok untuk kebutuhan pasukan PRRI di kaki bukit. Kapten Tulus dan Engku Nawar lolos dari kepungan melalui lubang sumbu roda air penggerak gilingan gabah. Ia mempererat belitan sarung di lehernya. menghilangkan rasa jenuh. meski sangat berbahaya. .html beramai-ramai di ruang tamu yang sempit itu. Beras yang dihasilkan kincir itu biasanya diangkut ke kota dengan pedati yang ditarik oleh sapi benggala jantan yang kuat. tak jauh dari Kampung Padangilalang. biasanya mampir di warung kincir itu. Kalau pasukan TNI patroli ke perbatasan. Dialah yang menjabat sebagai Wali Kampung yang dipercaya oleh TNI dan Tentara PRRI. Baju koko terbaik yang dipakainya terasa sangat tipis dari sentuhan angin malam terhadap tubuhnya yang telah ringkih. komandan pasukan PRRI di garis depan yang bermarkas di kaki bukit. Pada masa itu. komandan pasukan PRRI. Mau tidak mau. Tapi. Bagian depan kincir penggilingan gabah itu berfungsi sebagai warung kopi dan sekaligus tempat tinggal Engku Nawar sekeluarga. Engku Nawar merasa sangat bahagia.processtext. di bulan puasa. warung kincir itu dikepung dan ditembaki oleh Tentara Soekarno. Komandan patroli selalu berbincang-bincang dan saling bertukar informasi dengan Engku Nawar. Akan tetapi. Rahasia Engku Nawar akhirnya terbongkar juga oleh pihak Tentara Soekarno. Lain halnya kalau malam telah larut. Hal itu telah berlangsung sejak perang dimulai 15 April 1958. tempat masyarakat mengurus surat-surat dan KTP. ketika Wali Kota ini terpilih dengan cara demokratis. Engku Nawar. http://www. Ia amat berharap Wali Kota yang muda dan gagah itu muncul menemuinya di tempat terpisah dari tamu-tamu lain. Wali Kota baru itu adalah putra Kapten Tulus. Meski batuk-batuk dan dilarang cucunya. Akan tetapi. Nyawa tantangannya. Kantor Wali Kampung adalah warung itu juga. Perjanjian rahasia antara Kapten Tulus dan Engku Nawar itu pada tahun pertama belum tercium oleh pihak Tentara Soekarno. Hanya ada satu kincir penggilingan gabah di kampung itu. antara pasukan TNI atau yang disebut dengan Tentara Soekarno dan pasukan PRRI yang memberontak. Mereka selamat ke kaki bukit melalui sungai kecil yang berhulu di kaki bukit itu. kedua lelaki itu menyaksikan warung kincir itu terbakar. dari kejauhan. Kapten Tulus. Dan.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan beberapa orang anak buahnya sering menyusup ke warung kincir itu melalui sungai kecil yang mengalir dengan deras di belakang kincir. Engku Nawar harus bermuka dua. tak ada yang mau menjabat sebagai Wali Kampung karena posisinya terjepit di antara dua kekuatan yang sedang berperang. Ia lalu berdiri.com/abclit. yakni milik Wali Kampung muda. di situ ada pengkhianat yang menyediakan diri untuk jadi mata-mata. ia masih mencoba merokok. di mana ada perang. Diam dengan pikirannya yang menerawang. ketika Engku Nawar dan Kapten Tulus menikmati kopi tubruk di gudang gabah. Air sungai itulah yang memutar roda kincir penggiling gabah dengan tujuh balok tegak yang menjadi alu penumbuknya. Hampir dua tahun lalu. Suatu malam bergerimis. Sarini hanya bisa mengunyah permen karet di samping kakeknya sambil mengasuh harapan-harapannya untuk diterima Wali Kota menjadi pegawai honorer. yang dikenal berani.

com/abclit. sejak tanahnya yang di kaki bukit itu dijadikan TPA. juallah tanah kosong di kaki bukit itu kepada pemerintah kota. Tapi. mampir minum kopi di warung itu. Engku Nawar dicarikan jodoh oleh Kapten Tulus. Untunglah perang cepat selesai. http://www. Beberapa bulan setelah menjadi Wali Kota putra Kapten Tulus itu.. kalau Engkau sayang sama almarhum bapak saya. kecuali bergabung menjadi tentara pemberontak bersama Kapten Tulus. Bahkan.. Sejak itu. Wali Kota bertepuk tangan dan mengumumkan kepada stafnya: ”Orang tua ini adalah orangtua saya juga. Satu-satunya warung di mulut jalan ke TPA milik Engku Nawar itu makin hari makin ramai. ”Engku Nawar. Tak seorang pun anggota Brimob yang lolos di hujan lebat dekat subuh itu. tak ada jalan lain bagi Engku Nawar. anakku?” ”Untuk dijadikan TPA. dengan ganas Engku Nawar ikut membumihanguskan pos Brimob yang berjarak tiga kilo dari Kampung Padangilalang bersama pasukan Kapten Tulus. Di mana ada bapak saya. Tanah itu tidak subur. Karena ekonomi mulai membaik itulah cucu Engku Nawar dapat menamatkan SMA dan melanjutkan ke kursus komputer di pusat kota. seorang gadis masih sepupu dekat Kapten itu. cucunya itu sudah dibelikan sepeda . Sopir-sopir truk sampah.” Engku Nawar bangga campur terharu ketika Wali Kota mengumumkan hubungan dan persahabatan almarhum Kapten Tulus dengan dirinya.” ”Untuk apa tanah buruk itu sama kamu Indober. ”Kapan Engku ada perlu dengan saya.. Tempat pembuangan akhir sampah kota. Warung itu dikelola oleh anak perempuan satu-satunya dengan suaminya yang dulunya jadi sopir oplet.processtext.html Sejak peristiwa itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Semua orang tahu. Esok malamnya.” Ketika orang tua itu mengiyakan. ia hanya jadi pengrajin lidi daun kelapa untuk bahan sapu. Sebelumnya.” bisik Wali Kota sebelum meninggalkan gubuk Engku Nawar. datang saja ke rumah sehabis magrib. Ia bagaikan sepasang sejoli dengan ayah saya dulunya sewaktu masih menjadi tentara pemberontak PRRI. para pemulung dan calo-calo tanah. ia bisa hidup lebih baik. di situ ada Engku Nawar. Engku Nawar berubah nasibnya sebagai pemilik warung di depan jalan masuk ke TPA. datang menjumpai Engku Nawar. lebih baik dijadikan uang untuk modal Engku naik haji dan anak cucu.

nomor tiga. ia akan menerobos masuk. Kalau saja ia tidak tua. ia akan mendapat giliran pertama. Kalau ke kantor. Dan. Sudah setahun lamanya Sarini tamat kursus komputer. kecuali Engku Nawar. Semula. Engku Nawar ingin benar salah seorang keturunannya jadi pegawai pemerintah. Buktinya? Nomor satu. . ternyata semua tamu yang telah terdaftar masuk ke ruang itu. dan selanjutnya. Tapi ia masih berharap.” kata ajudan berambut cepak tadi. Engku Nawar tidak percaya. ”Sabar. Engku Nawar sadar. nomor dua. Pak. mesti pakai uang jutaan. Tamu sebanyak itu. cukup dapat tempat duduk di sofa yang empuk. Tiap kali ikut tes. ”Bapak Engku Nawar. Kadang-kadang tergopoh-gopoh masuk menerobos pintu yang membatasi ruang itu dengan ruang tamu utama karena telepon itu penting dan dari orang penting untuk Wali Kota. Keduanya sama-sama lincah.com/abclit. dan itu pernah dialaminya sewaktu menjadi ajudan Kapten Tulus.” Meski tidak dibantahnya. yang lain seperti protes. kemudian pada ajudan itu. niat itu ditekannya. itulah yang membuat Engku Nawar gelisah. Itu pasti pandai-pandainya ajudan arwana itu. Ini bukan kemauan saya. setiap orang yang dipanggil dan diantar ke ruang tamu utama menghadap Wali Kota.processtext. Orang-orang bilang. tapi tidak dinyatakan. ia masuk bersama puluhan tamu yang hendak bertemu Wali Kota dengan berbagai kepentingan itu. Padahal. Orang-orang bilang. sang ajudan mondar-mandir dengan sikap sigap dan tegas. Engku Nawar mengira hanya dia saja yang dipanggil. dengan tanda bel listrik. Engku Nawar belum juga dipersilakan menghadap. Ruang tamu di bagian tengah rumah dinas itu. http://www. Di ruang yang terbatas itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. hampir tidak dapat layanan kalau masalah keluarga. Pak Wali yang minta.html motor. Jam dinding bernyanyi untuk pukul sembilan malam. Orang-orang yang sabar menunggu lebih banyak mencurahkan perhatian pada ikan arwana di dalam akuarium. Dengan sedikit lega. Tiap sebentar ajudan itu keluar masuk ke ruang tamu depan. Engku Nawar tidak setuju. besar sekali. Tapi. Tamu-tamu itu pun disambut oleh pelayan yang menghidangkan semangkuk teh panas untuk masing-masing tamu. tugas ajudan itu berat. Sarini tidak lulus. Semua seperti diatur oleh ajudan yang berpakaian rapi itu sambil terus memegang kertas-kertas formulir yang telah diisi tamu-tamu. sesuai urutan mendaftar. Sebentar-sebentar menjawab telepon. Tapi. tak satu pun kantor yang mau menerima lamarannya. dipersilakan menunggu di ruang tunggu dalam. orangtua Wali Kota itu. tanpa banyak senyum. Ia mau mengadukan nasib cucunya itu kepada Wali Kota Indober Tulus. lebih baik menemuinya di rumah.

com/abclit. 5 Januari 2006 . tulis saja surat. Ia menoleh dan memegang bahu Sarini kuat-kuat. ”Pak. nanti kasi sama ajudan saya ini di kantor. Angin malam menggigilkan Engku Nawar di atas sepeda motor cucunya.processtext.html Ikan arwana yang tetap mondar mandir di dalam akuarium itu kelihatan semakin besar dan terasa makin mendekat ke tempat Engku Nawar duduk sambil berselonjor kaki karena telah penat menunggu. Tapi Sarini seperti menghindar dan terlempar ke lantai. Pak. Menguap dan cepat tersadar. besok atau lusa lewat pukul dua.” ajudan menggoyang-goyang Engku Nawar yang tertidur di kursi sofa itu. akuarium itu kelihatan semakin miring ke depan. ”Gempa susulan?” Ajudan tersenyum. Atau saya suruh antar pakai sopir?” ”Tidak usah Pak Wali. Saya hari ini banyak tamu.Generated by ABC Amber LIT Converter. meski matanya juga sudah merah. ”Maaf Engku. sudah malam. Di perjalanan. Air di dalam akuarium itu berguncang hebat. Engku Nawar mengucek-ucek matanya. http://www.*** Rawamangun. Sekarang pulanglah dulu. Saya pulang dibonceng cucu saya ini. Wali Kota juga sudah kelihatan lelah dan bermata merah. Wali Kota telah berada di depannya. Merasa hendak muntah. Giliran Bapak.. seperti hendak jatuh dari kedudukannya. perutnya terasa mulas hingga ia tak mampu menahan berak di celananya. Engku Nawar merasa pusing dan hendak jatuh ke lantai. Kalau Engku ada perlu.” Wali Kota dan ajudan arwana itu mengantar Engku Nawar yang berjalan tertatih-tatih dibimbing cucunya ke depan pintu. Dan..

html Tina Diam Saja Post: 02/23/2006 Disimak: 205 kali Cerpen: Ratna Indraswari Ibrahim Sumber: Kompas. Dita menghela nafasnya. Untungnya. Kalau kau mau. siang ini aku tidak bisa makan siang bersamamu.processtext. tidak ada yang salah dalam diri gadis ini. apakah analisanya benar atau tidak? Dita kemudian memencet nomor HP suaminya dan mengirim SMS sangat singkat! ”Sori. Edisi 02/19/2006 Perempuan remaja ini sedang berdiri di muka Dita (sang psikiater). ”Gadis ini tidak bisa ngomong. aku mendengar dari Mamamu. diam saja. Apa yang jadi masalahmu sayang?” Perempuan muda itu. Dia capek sekali. http://www. sehingga penyelesaiannya tidak selalu bisa tuntas.com/abclit. menurut dokter neurolog. Keterangan yang dibaca oleh Dita. Ini pertemuan pertamanya dengan gadis itu. bisa curhat kepadaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada banyak kasus yang sangat pelik. Dita merasa lega. Bram selalu bisa memberinya semangat saat dia merasa capek dan tidak paham.” Perempuan remaja ini. pekerjaannya tidak semudah yang dia pikirkan. Hal ini akan memudahkan Dita untuk menganalisa dan membuat diagnosis.” . kau tidak bisa bicara atau tidak mampu berbicara. tidak ingin bicara! Dita yang mulai berbicara. ”Tina. Padahal. Tina tidak mencanangkan permusuhan terhadap dirinya. tidak berbicara. sekali lagi cuma diam. ada banyak kasus yang harus aku tuntaskan hari ini juga.

apakah ini kasih sayang antara kakak dan adik?” . dengan membisu?” ”Aku menelepon wali kelasnya. Bram. aku melihat Mama dicium oleh Om (Adik Papa) dan Mama berkata kepadaku. meneleponnya. aku kepingin pipis. ”Waktu umurku baru menginjak tujuh tahun. Setelah bertemu beberapa kali. orangtuaku merayakan ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan sangat istimewa. http://www. meneruskan tulisannya. ini sangat menyakitkan perasaanmu kan? Tapi solusi yang terbaik. hanyalah rasa kasih antara kakak dan adik.processtext. keluar dari masalah ini. yang sudah lama kau inginkan. dia tadi membelikan boneka. ’Ini bukan kejahatan. punya kemampuan berbahasa yang baik. Dita berhasil membujuk Tina menceritakan sesuatu lewat tulisan. bukan karena apa-apa. sebuah kasus yang menarik bukan?” kata Bram menutup teleponnya.” Tina. Menjadi ahli bahasa yang sangat hebat di masa depan. seperti yang kau pernah ceritakan kepada gurumu bahwa bahasa Indonesia bisa kehilangan akarnya. ”Kasus Tina membuat kamu bersemangat menggali ilmumu lebih dalam. padahal aku sendiri setiap hari baca koran tidak pernah kulihat yang akan punah dari bahasa kita. yang adik suaminya itu. takut melihat kemarahan di mata Mama.com/abclit. aku seperti Cinderella yang tanpa kehilangan sepatu kaca (sekalipun kadang-kadang kubayangkan enak juga kalau sepatuku ketinggalan dan ditemukan oleh seorang Pangeran). kau harus percaya itu! Sekarang katakan terima kasih kepada Om. Wali muridnya menyangka. Setelah pesta yang luar biasa itu. ”Mama. aku tertidur dengan nyenyak! Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan kulihat Mama mencium Om! Kukatakan kepadanya. Tiga bulan yang lampau. Masih menurut wali muridnya kedua orangtua Tina kelihatan cukup memerhatikan anaknya itu!” ”Sudah kuduga. mengapa gadis remaja itu ingin mengundurkan diri dari dunia ini. yang menyatakan selama ini Tina perempuan yang baik. ”Sayang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tina akan bisa menyelesaikan S1 bahasa dengan baik. Tulisan itu terbaca demikian.html Pada jam ini. Sebuah analisis yang sangat luar biasa dari seorang pelajar SMA.’ Aku mengangguk dengan cepat.” Dita berkata sungguh-sungguh. sekalipun Tina bukan seorang gadis yang pandai bergaul.

com/abclit.processtext. ”Dokter Dita. apakah itu cinta. kasus Tina sangat istimewa. tulis Tina. tahu hal itu. sekalipun Papa menurut kamu orang yang baik sekali? Seharusnya yang kamu lakukan terapi agar bisa ngomong lagi dan jadilah perempuan muda yang bahagia dan penuh cita-cita. kalau pusingmu semakin bertambah. tapi diam saja. karena saya yakin kamu tidak akan menghancurkan dirimu sendiri. Dita menelepon. ”Anak perempuanku memang tidak akan pernah sepaham denganku.html Mama melihatku dengan tatapan kebencian di matanya. dokter neurolog menganggap kau bisa melakukan hal itu sebaik dulu. Dita tersenyum gelisah.” Tina menuliskan di atas kertas yang dibaca oleh Dita.” Dita tertawa dan sebetulnya banyak kasus yang sedang ditanganinya. ”Kau tahu kasus yang sangat klasik. di zaman ini akan sangat sulit mencari ibu yang seperti malaikat. tetaplah melakukan terapi bicara. aku merasa dia memang tidak pernah menyayangiku.” ”Kamu pasti bisa. O ya. Dita memegang tangan Tina dan berkata. Buat Dita. saya sejak lama ingin sekali bisa bicara lagi. dan saya kepingin menyanyi atau membaca puisi untuk anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya. Sehingga . apalagi Mamamu punya pergaulan yang luas dan kita tidak tahu pasti apakah dia bahagia dalam perkawinannya. tapi kami saling menyayangi. Aku pastikan. sayang.” ”Tina. Dengarlah. di seantero dunia ini. kakakku. Bisa jadi karena aku dianggap lancang. Bram-nya. yang penting belajarlah dari masalah ini. Windy. pasti tidak akan bisa mendefinisikan arti cinta itu.” Seandainya kau Mamaku. ”Ini masalah mereka. suamimu yang kakakku itu. perselingkuhan di antara orangtuanya. http://www. ”Kita saling membutuhkan. katakan kepadaku ya….” Kemudian setelah Tina pergi dari ruangan ini. aku tidak tahu.” Bram menyambar cepat. karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. dia sepertinya menemukan kembali keingintahuannya yang lebar tentang manusia.Generated by ABC Amber LIT Converter.

memasuki laboratorium yang besar. yaitu manusia! Sekalipun orangtuaku menganggap aku lebih cocok meneruskan cita-citaku di masa kecil. Ketika dokter menganjurkan aku untuk menulis pengalamanku ini. sahabat-sahabatku. Aku merasa kalau bercerita hal itu lebih memalukan daripada aku kepergok dalam keadaan telanjang di mukanya. Sebab. ha-ha-ha-ha. ini diary-mu yang boleh aku baca? Tentu saja aku akan merasa menjadi orang yang paling pinter sejagat kalau kamu mau percaya kepadaku dan mau ngomong lagi. terus aku ingin sekali bunuh diri. setelah sekian kali bertemu dengan adik iparnya itu.” Dear.” Bram mendengarkan ceritanya. kurobek-robek. . ”Jadi. dia lebih merasa pas di fakultas kedokteran. aku tahu di dalam tubuhku ada sebuah keindahan. Hari ini. Yaa Tuhan. aku akan bahagia kalau kamu mau terapi bicara. Kecurangan ini kami nikmati dengan tertawa bersama. ”Aku merasa. Dita merasa nyaman ngobrol dengan Bram. Barangkali perasaan sayang mereka muncul dari sini.html ketika orangtuanya menganjurkan memilih fakultas teknik. kue kesukaanku. http://www. Aku merasa jijik kepada Mama dan Papa yang telah melahirkan aku dan terkutuklah mereka karena tak bisa aku ceritakan ini kepada Eyang. ada dongeng. Aku dulu senang. kalau Eyang tidur di kamarku. apakah dia tidak menyukai suaminya? Rasanya tidak! Dia tetap menghormati suami sebagai kepala keluarga. aku seperti anak pelacur di jalanan! Aku sudah merencanakan bunuh diri. ia tidak ingin membandingkan Bram dengan. tanpa mengedipkan matanya. namun Eyang bilang. setiap selesai tulisan. sehingga mereka harus menutup hidungnya. dokter Dita yang baik. Pada suatu senja. ”Papa dari anaknya”. Sungguh. malam itu ingin tidur di kamarku. aku seperti sudah menebarkan bau busuk. Kemudian.Generated by ABC Amber LIT Converter. siapa bilang bujangan muda itu tidak cakep!” Tina melihatnya. dengan menjadi psikiater. menjadi ahli kimia yang terkenal itu. dan uang jajan yang diselipkan agar kakak tidak tahu.com/abclit. yang sudah diulang-ulang beberapa kali. Ini berarti sangat spesial.processtext. yang menyayanginya. Bude. juga pada pacarku. yang aku tidak bisa dengan tepat menyebut namanya. hal ini pernah diceritakan kepada Bram berulang-ulang. Tapi kalau aku menceritakan hal yang sebenar-benarnya dari aib keluargaku. Tina datang lagi. ”Sayang. Mas Ledret telaten sekali lo kalau terapi orang.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kemudian surat ini tidak dilanjutkan dan Dita berkata, ”Ayolah, hari ini kau pasienku yang terakhir, anakku sedang bersama neneknya. Aku kepingin mengajakmu makan. Kau suka makan di mana?”

Tina tersenyum dan Dita tahu ajakannya disambut dengan riang sekali. Di restoran ini Tina tidak begitu lahap, namun dia menulis untuk Dita (dia menulis di atas kertas tisu restoran ini).

Dokter Dita yang baik.

Aku senang sekali Dokter mengajakku makan di sini, aku tiba-tiba merasa iri terhadap anakmu, pasti sangat bahagiaaaaaaa sekali. Tolong, tolonglah aku.

Dita memeluk Tina.

Sore ini mereka merasa sangat bahagia, kebahagiaan itu membuat suaminya tercengang.

”Kau habis dapat undian kah?”

Dita masuk ke kamarnya dan merasa tidak perlu untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Menyimpan kebahagiaannya itu untuk diceritakan kepada Bram kalau besok mereka makan siang bersama.

Sesungguhnya, seperti semua dokter, dia seharusnya cuma berempati kepada pasien. Tapi entahlah, untuk Tina? Dia sudah tidak bisa membatasi dirinya lagi, sepertinya larut. Padahal, pada kasus-kasus lainnya, bahkan kasus seorang laki-laki yang berkali-kali ingin bunuh diri, dia menanganinya seperti kebanyakan dokter yang lain, ilmiah, netral, dan bisa jadi sangat dingin.

Hal ini dibicarakannya dengan Bram, dan Bram berkata, ”Rasa sayang itu, tanpa rencana dan pagar, seperti rasa sayang di antara kita.”

Dita menganggap omongan Bram benar sekali. Oleh karena itu, Dita mencari orang-orang yang mencintai Tina. Orangtuanya, Eyang, sahabat-sahabatnya, bahkan pacar Tina. Wawancara dilakukannya

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

secara maraton, hampir seharian penuh! Karena, dia merasa harus menuntaskan tugasnya sebelum seminar yang akan datang. Hasil wawancaranya menunjukkan bahwa Tina adalah perempuan pendiam, sulit bergaul, bisa jadi benar-benar tidak punya sahabat karib.

Tina menulis lagi.

Dokter Dita yang baik.

Apa yang saya pikirkan tentang masa kecil saya, rasanya sangat menyakitkan. Ketika saya main ke rumah seorang teman, sampai senja hari, sebagai hukuman Mama memasukkan saya ke gudang. Tidak seorang pun yang menolong, sampai Om membukakan pintu gudang itu, dan aku benci!

Sampai hari ini aku tidak akan pernah membayangkan diriku yang terkurung di menara dan ditolong oleh seorang lelaki (kak Windy selalu membayangkan hal itu). Sebab, kalau kukhayalkan hal itu, tiba-tiba laki-laki itu berubah seperti wajah Omku! Aku jijik! Aku pikir kalau aku boleh memilih ibu, aku kepingin memilih seorang perempuan sederhana yang selalu menjaga kesuciannya agar aku bangga menjadi anaknya. Tapi terasa tidak adil, orangtuaku bekerja keras karena ingin menyekolahkan aku dan Kak Windy ke mancanegara. Mama bilang, ”Dengan sekolah ke mancanegara, kalian akan terseleksi dari ribuan penganggur muda di negeri ini.”

Aku tidak merasa lagi cita-cita Mama mulia, karena aku benci perselingkuhan itu. Sebetulnya, ketidakinginanku ngomong hanya untuk menyakiti Mama. Tapi, keterusan hingga lidahku jadi kelu dan telingaku tidak mendengar apa-apa lagi. Padahal, aku suka sekali pada musik, kalau kulihat koleksi kaset, DVD dan CD-ku yang berhamburan di kamar, aku merasa sangat tersakiti. Dulu aku sangat rajin mengoleksi musik apa pun dan mencampurkan musik yang satu dengan musik yang lain, sehingga menjadi musik yang baru.

Dokter, tolong, tolonglah aku. Apakah tidak sebaiknya aku bunuh diri saja? Karena setiap melihatku, Eyang kini menangis! Dia pasti lebih suka melihatku mati daripada tidak bisa ngobrol dengannya. Aku sudah mulai terapi bicara dengan mas Ledret. Tapi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk bisa lebih baik dari kemarin. Padahal setiap aku latihan, Eyang mengantarku. Eyang berharap banyak untuk kesembuhanku.

>diaC<

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Di sudut sebuah restoran, satu senja yang bagus, sambil menikmati makanan ini, Dita berkata, ”Kamu tidak boleh terus-menerus begini sayang. Keluarlah dari lingkaran kesedihanmu, mulailah dengan hidup yang paling baru. Itu yang selalu aku impikan untukmu. Dari hasil wawancaraku dengan orang terdekatmu, mereka semua prihatin dengan kondisimu. Sekarang, jangan menghukum dirimu sendiri! Itu tidak adil bagimu, barangkali kamu bisa pindah dari kota ini ke rumah salah satu Budemu, dan menganggap masa lampaumu sudah mati. Yang ada hanyalah kekinianmu.

Kau tanyakan, apakah aku tidak punya problem?

Tentu saja aku punya. ”Sungguh, aku tidak pernah mencintai suamiku!” kata Dita telak.

Tina melihat, tetap dalam diamnya.***

Malang, 22 Januari 2006

Pengukir Nisan Post: 02/13/2006 Disimak: 252 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas, Edisi 02/12/2006

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kiranya matamu terbuka. Dia tidak meninggal karena lumpur dan sampah kanal ini, penyakit malaria, kolera atau sampar. Tidak! Sungguh, dia seorang perempuan halus dan religius. Penyakit tak akan tega mendatanginya, tak mau menyentuh kulit dan bagian dalam tubuhnya. Kiranya matamu terbuka,” katanya berulang-ulang bagai orang linglung.

Tan Kim Hok tak mengerti apa maksud lelaki itu. Ia yakin belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Tapi ajakan lelaki itu bagai tarikan magnet, ia terbawa tanpa perlawanan sedikit pun. Belum pula pikiran menguasai dirinya, tanpa pamit lelaki itu pergi. Tan Kim Hok terbengong memandang punggung laki-laki itu, dan seolah melihat dua sayap mengembang, berkepak-kepak lembut, makin mempercepat langkahnya. Kesiur angin menampar mukanya. Dari tempatnya berdiri, hidungnya mencium aroma aneh, semacam uap amis dari racun binatang mati atau upas tetumbuhan. Dalam ketakjuban semacam itu, Kim Hok lupa ia sedang berdiri di tepian kanal penyebar penyakit yang telah makan banyak korban. Ia mengikuti bayangan lelaki itu sampai hilang sebelum akhirnya tergeragap bangun.

Dipandangnya kini bakal nisan untuk perempuan saleh yang beberapa hari lalu telah mangkat itu. Joff Judit Barra Van Amsteldam, sebuah nama cantik, seanggun penyandangnya. Seluruh Batavia mengenalnya karena setiap minggu ia rajin ke gereja, menjadi anggota paduan suara dan terkenal karena rendanya yang amat bagus dan halus. Leher panjangnya banyak dikagumi orang, mirip angsa putih berhiaskan kalung mutiara dari Banda. Kim Hok menyentuh ukiran huruf-huruf pada nisan itu, dan membaca sekali lagi, mencermati apakah sudah tepat ia mengukirkannya ataukah masih perlu dirubah. ”Cristus is mijn opstanding.”

Setelah sempat sepi pemesanan nisan sejak lima tahun lalu, sekarang kembali ia menangguk untung besar. Kanal-kanal dipenuhi lumpur dan sampah, menciptakan pemandangan dan aroma tak sedap. Wabah penyakit menyerang seperti amukan setan, menumbangkan orang-orang ke liang kubur. Beberapa bulan ini orang-orang mulai menyebut- nyebut Batavia dengan julukan aneh, Het graf der Hollanders, kuburan orang-orang Belanda. Tuan Gubernur sampai-sampai membuat lokasi pemakaman tambahan di Nieuw Hollandsche Kerk dan Jassenskerk.

Istri Tuan Gubernur sendiri kini menjadi korban berikutnya, meskipun ia ragu apakah kematiannya karena air dan kanal-kanal sungai di Batavia atau oleh sebab lain.

”Barangkali suatu saat kau akan bangkit untuk menjelaskan sebab kematianmu, Nyonya,” pikirnya.

Sore hampir turun. Sebentar lagi Agustus akan benar-benar mengeringkan kanal-kanal di Batavia. Udara terasa sejuk. Ia duduk di depan rumahnya, menunggu pesuruh Gubernur jenderal datang mengambil pesanannya. Ia telah bersiap-siap seandainya ditanya kenapa ada gambar tengkorak dan tulang bersilang pada nisan. Bukankah dia sendiri yang mengabarkan ke seluruh Batavia bahwa istrinya meninggal akibat wabah penyakit yang diakibatkan oleh kanal-kanal yang biasa dilewati istrinya ketika

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sedang ke gereja? Dan siapa yang tak mengenalnya sebagai pengukir nisan paling bagus di Batavia ini. Sembarang alasan yang dibuatnya akan dipercaya orang.

Lagipula Tuan Gubernur tak mungkin menanyakannya. Pikiran lelaki tinggi besar dan berkumis tebal itu sedang terarah ke wilayah Celebes Utara, persiapan besar-besaran pertempuran anak buahnya dengan Spanyol. Sementara itu, Mooi-mooi Belanda kesukaannya akan lebih menyibukkan dia. Apalagi setelah istrinya meninggal.

”Ia akan berpikir perang dan perang, dan para perempuan berpaha lembut serta berpayudara besar. Tak akan lagi dia peduli apakah nisan istrinya diberi gambar tengkorak kepala ataukah binatang simbol kesetiaan.”

Orang-orang di Batavia tahu benar keahliannya. Dialah satu- satunya pembuat nisan yang paham ilmu Heraldik. Keluar dari garis keluarganya yang kebanyakan menjadi tabib, ia hidup dari kematian orang lain. Ia sadar kenapa Thian memberikan keahlian mengukir nisan.

”Untuk menjelaskan harapan orang-orang mati dan memberikan petunjuk bagi anak cucunya seperti apakah keturunan mereka di masa lalu,” kata Ban Sing Hwat, lelaki kurus yang mengajarinya mengukir nisan.

Kini ia tidak sekadar mengikuti pakem Heraldik, karena tersembul sedikit keinginan dalam hatinya agar suatu saat orang ingin tahu sebab musabab kematian Nyonya Gubernur ini, misteri yang diberitahukan oleh lelaki aneh dalam mimpinya.

Suatu hari, setelah musim hujan panjang di Batavia yang membuat kanal-kanal meluap, ia bertemu dengan Nyonya Judith Barra. Ia bertabik hormat padanya. Jika tidak berbuat demikian, opsir-opsir pengawal akan menendangnya ke air di bawah kanal.

”Kebahagiaan untukmu Nyonya. Apakah Anda akan ke gereja di pagi cerah ini?”

”Kaukah pembuat nisan tersohor itu? Belum tua benar seperti yang kubayangkan sebelumnya.”

”Berkat doa Nyonya di gereja.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau pemeluk Kristen sepertiku?”

”Tidak, Nyonya. Saya pemeluk Tao.”

Ia tidak berkomentar apa-apa. Seluruh Batavia ini tahu suaminya menerapkan peraturan aneh tentang peribadatan. Pelaksanaan ibadah agama selain Kristen Calvinis di ”Kerajaan Batavia” dilarang, paling tidak akan dihukum dengan menyita alat-alat peribadatannya. Orang-orang Cina dan pemeluk Islam dipersulit dalam beribadah. Satu tahun lalu, dipimpin Letnan Coa Sin Cu, teman-temannya diam-diam membangun kelenteng di luar kota. Namun, beberapa di antara mereka malah dimasukkan ke dalam penjara dan meninggal terjangkit penyakit kolera. Bangunannya dihancurkan dan tanahnya disita.

”Tapi kau bisa mengukirkan kalimat-kalimat dari kitab suci dalam nisan. Apakah kau juga belajar Injil?” tanyanya dengan senyum santun.

“Tentu saja Nyonya. Saya menyukai semua kitab suci. Semuanya memberikan saya kedamaian.”

Ia mengangguk.

”Tapi Injillah yang paling benar menyuarakan kebenaran,” gumamnya sembari pergi.

Sepotong percakapan pendek di bulan April itu membuatnya terkesan. Setelah Batavia diserang tentara Agung 16 tahun lalu, tak ada lagi masa-masa damai seperti sekarang. Sayang wabah penyakit bergentayangan tak mengenal mata. Ia memang tak lagi dipenuhi pesanan sebanyak lima tahun lalu, ketika para pembesar VOC beramai-ramai memesan nisan berukir yang meninggal akibat perang ataupun sakit. Kebanyakan di antara mereka meminta ukiran sepasang senapan, topi baja, dan gambar binatang seperti merpati, anjing, babi, dan elang. Kaum perempuan biasanya meminta digambar burung merpati sebagai lambang kesetiaan.

Bila sekarang ia tak menggambari nisan Nyonya Gubernur dengan sepasang burung merpati, ia pun bingung kenapa tak berhasrat menggambarkan sepasang merpati di nisan itu.

Inilah gambaran kaum bermartabat. Kini dipandangnya Kim Hok dengan saksama dan menyelidik.Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa ia begitu berhasrat menggambar simbol racun itu di nisan? Kepalanya berdenyut-denyut memikirkan kemungkinan buruk itu.processtext. Kesadaran baru merasuk ke alam pikirannya yang tengah mengembara ke mana-mana. Opsir itu mendekat dan mengamatinya dengan lagak seorang seniman.” Di tengah kelesuan dan lamunannya. ”Kenapa tak beri gambar binatang pada nisannya? Bukankah sudah menjadi kebiasaan perempuan bermartabat mendapatkan penghormatan dengan simbol merpati sebagai tanda kesetiaan? Dan apakah ini? Kenapa kau beri gambar begini mengerikan?” Kim Hok tergelak dalam hati melihat polah tingkah opsir muda itu.html Ia ingat gumaman Nyonya Gubernur itu sebelum meninggalkannya. Namun. Benarkah Nyonya itu diracun? Ia tak melihat jelas tubuhnya sebelum dikuburkan.com/abclit. ”Apakah kau mencurigai perihal meninggalnya Mevrouw Gubernur?” . Kim Hok teringat kembali dengan mimpinya semalam. aku telah memberikan tanda-tanda lebih terhormat berupa hiasan monumental seperti inskripsi kesukaan Mevrouw. hiasan perang layaknya kaum ksatria. ”Tuan Gubernur sendiri telah menyerahkan seluruh keputusan pembuatan nisan itu padaku. http://www. Dari jauh ia melihat opsir Kompeni tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Harap Tuan mengerti. ”Jesus is mijn opstanding. Adapun gambar tengkorak itu. Dia meninggal karena penyakit dari kanal-kanal itu bukan?” Opsir itu mengangguk-angguk. Tuan. ”Apakah pesanan tuan Gubernur sudah jadi?” tanya opsir itu tanpa memberikan salam terlebih dahulu. Ia mengarahkan pandangan ke nisan yang disandarkan di dinding rumah. mohonlah kiranya Tuan pahami sebagai tanda perhatian seluruh penduduk Batavia pada penyakit yang kini banyak menyerang. Ia mendekat dan menerangkan isi hatinya.

Tidak ada perempuan yang paling baik selain Mevrouw-Mevrouw Belanda. aku tak ingin menghancurkan martabat Tuan Gubernur. Tan Kim Hok memandangi punggung lelaki itu sampai jauh.” katanya sembari memanggul nisan itu ke arah kereta yang ia bawa. ia sangat menderita. Di antara sampah dan lumpur menggunung di salah satu kanal. Tuan. Tuan. seluruh penduduk sekitar permukiman itu geger oleh mayat yang dibuang di kanal tersebut. sebuah tubuh teronggok penuh luka. Saya tidak akan mengatakannya. gambar tengkorak dan dua tulang ini membuatku takut.” gumam opsir itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. . Sungguh. Tuan. meninggal terlalu cepat.com/abclit. ah. ”Begitulah kami bangsa Belanda. Sayang. Tak lama kemudian. menghiasi dinding. Sayang Tuan. ”Tidak. Aku harap Tuan Gubernur tidak akan murka. Tuan. Ia mengelus bulu kuduknya. Dalam kepalanya melintas bayangan lelaki yang membawanya ke tepian kanal. http://www. Tuan Carel terlalu lemah pada mooi-mooi cantik di Batavia ini. dan mencintai seni dan kerajinan. Seorang anak lelaki Belanda yang pertama melihatnya berlari sambil menjerit-jerit seperti dikejar hantu. ”Dia seorang perempuan saleh dan baik hati. Selamat jalan. Kabarnya anak kecil tak boleh bermain di dalam rumah. ”Tentu saja. Akan kubawa pulang. saleh.dinding rumah dengan lukisan-lukisan indah.” kata Kim Hok memuji.Generated by ABC Amber LIT Converter.html Kim Hok menggeleng. membayangkan apakah dari punggungnya keluar sayap seperti kejadian dalam mimpi semalam. Barangkali itulah yang diinginkan Tuhan. mengambil lebih cepat orang-orang baik dan saleh di dunia ini agar mereka tidak dikotori oleh banyak dosa. Meskipun tetap menunjukkan diri sebagai perempuan bermartabat. Lain dengan kaum pribumi dan bangsa kuning macam kalian. adalah yang utama di antara perempuan Belanda. menyiapkan tempat tidur nyaman dan beraroma wangi. Saya sering terheran-heran bagaimana mereka bisa membuat renda amat bagus. dirubung lalat-lalat hijau yang berbiak setiap musim kemarau. Mereka ditakdirkan menjadi kaum yang sangat bahagia. apa harus kubilang untuk Nyonya itu. Dan Mevrouw Gubernur.” ”Bagaimana Tuan bisa berkata demikian?” tanya Kim Hok ingin tahu. Aku seorang opsir biasa.processtext. Dia terlalu menderita. Potongan tubuhnya hampir mirip dengan opsir muda ini.

http://www. akhir Desember 2005 Lonceng Post: 02/06/2006 Disimak: 186 kali Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. mengapa ia dibunuh dan oleh siapa ia dibunuh. Tanpa keluarga adalah hidup yang sia-sia.” orang. seorang perempuan usia kira-kira tiga puluh lima tahun. tetapi orang-orang yang di warung geleng kepala. Keluarga mana yang mau mengaku? Semua mata orang kampung memandang dengan curiga. apa yang dikehendakinya? Siapa dia sebenarnya? Hanya dengan sebuah koper kecil. Edisi 02/05/2006 Pulang dari rantau tanpa harta adalah semacam aib. dan dilempar ke kanal. Sayangnya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lelaki tua ini. tidak kenal.com/abclit. . Banyak nama yang disebutkan.” kata pemilik warung itu. ya. ”Tanya saja kepada kepala desa.html ”Orang Tionghoa dibunuh. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan sang pengukir nisan meninggal. untuk menjelaskan kematiannya sendiri. ”Dia si pengukir nisan.*** Yogyakarta.” kata salah seorang yang mengenalnya. nama-nama seseorang. ia melenggang masuk desa dan mampir di warung menanyakan seseorang. ”Ia tak akan bangkit dari kuburnya. Tan Kim Hok. menjadi makanan lalat dan serangga. Kabar kematian Kim Hok menjadi buah bibir kaum Batavia selama berminggu-minggu.orang menyebarkan berita itu dari mulut ke mulut ke seluruh Batavia.” gumam orang-orang ketika memungkasi teka-teki pembunuhan si pengukir nisan itu. teka-teki pembunuhan itu tetap tak terjawab. Beberapa lelaki Tionghoa segera turun tangan dan memeriksa siapa gerangan orang yang meninggal itu.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Lelaki tua yang nyaris berusia enam puluh tahun itu, walaupun rambutnya belum penuh uban, berjalan menuju desa di atas bukit. Belum beberapa langkah ia berjalan, seseorang berseru dari dalam warung, ”He, bayar dulu!”

”Lho, saya toh tidak makan apa-apa,” kata lelaki tua itu sambil menoleh ke belakang. Melangkah kembali ke warung itu.

”Kalau Bapak dari desa ini, pulang dari rantau pula, mampir di warung ini, ya, Bapak wajib dong mentraktir kita semua yang ada di sini,” kata seseorang yang kemudian mereguk minuman yang berbuih dari gelasnya.

”Oh, ya,” jawab lelaki tua sambil merogoh kantongnya. ”Berapa semua?”

Pemilik warung menyebut jumlah harga makanan dan minuman yang dimakan lima orang yang duduk di warung itu. Lelaki tua itu membayarnya semua.

”Nah, begitu dong. Itu baru namanya orang rantau!” celetuk seorang anak muda. ”Terima kasih,” kata mereka sambil terus mereguk cairan berbuih, putih, dari gelas.

Hari masih siang ketika ia tiba di Desa Bukit, begitu nama desa yang terletak di atas bukit itu. Kepala desa yang ditemuinya, kebetulan baru saja pulang dari kota yang tidak jauh dari bukit itu. Usianya sekitar empat puluhan.

Lelaki tua memperkenalkan diri, bahwa ia dahulu lahir dan tinggal di desa ini. Meninggalkan desa ini ketika usia dua belas tahun dan baru sekali ini pulang kampung. Ia menyebutkan nama-nama keluarganya, ladang dan rumah orangtuanya, dan nama tetangga yang pernah tinggal di dekat rumah mereka. Lama ia bertutur tentang kampung dan peristiwa masa kecil yang pernah dialaminya, sekadar meyakinkan kepala desa bahwa dia memang orang sini. Betapapun, ia menyadari bahwa logatnya asing bagi penduduk desa ini, terlalu lembut.

Kepala desa lebih banyak mendengar. Sebelum ia memberi komentar, seorang ibu dengan kapur sirih di tangan, sambil mengunyah sesuatu, muncul di pintu. Rupanya dari kamar sebelah ia mendengar

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

percakapan mereka.

”Ibu saya,” kata kepala desa.

Lelaki tua itu mengulurkan tangan dan menyebut nama kecilnya. Ibu yang sudah berambut putih semua menatapnya dengan tajam. Ia memegang dahinya yang sudah mengerut, mencoba mengingat-ingat masa lalu. ”Dari ceritamu,” kata ibu berambut putih itu, ”aku mengingat sesuatu. Masa lalu. Sebagian dari mereka yang kau ceritakan sudah berlalu, sebagian lagi sudah pergi ke rantau. Kaukah salah satu dari mereka itu? Coba sebut namamu sekali lagi, pendengaranku kurang baik.”

”Namaku Barita.”

Hening sejenak. Kepala desa mengamati wajah ibunya, silih berganti dengan wajah lelaki tua.

”Ya, ya. Aku ingat. Ayahmu si anu, bukan?”

”Ya,” jawab Barita, lelaki tua itu.

”Ayah dan ibumu sudah tidak ada. Lama mereka tidak mendengar berita darimu. Saudara-saudaramu yang lain menyusul mereka, dan katanya, ada yang seorang lagi, adikmu, pergi entah ke mana. Merantau ke seberang lautan. Setelah menjual tanah kalian. Ya, ya, aku ingat kau. Masa sulit waktu itu, masa gerilya. Banyak anak muda yang hilang jejaknya, entah di mana kubur mereka. Dan kau, seorang dari antaranya. Aku ingat, ayahmu sering menyebut-nyebut namamu, nama yang terekam dalam lubuk hatinya, sampai kepada kematian yang menimpanya...”

Tutur nenek berambut putih itu meluncur begitu saja. Kepala desa, anaknya, semakin larut dalam kisah masa lalu itu. Ada bayang-bayang air mata di pelupuk mata lelaki tua yang duduk di hadapannya.

”Lalu, kau mau apa Barita?”

”Aku mau tinggal di desa ini. Menghabiskan masa tua,” jawabnya pelahan.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Dengan siapa?” tanya nenek tua, ibu kepala desa itu.

”Sendiri. Tak punya keluarga lagi.”

”Sendiri,” nenek tua itu mengulangi dengan suara lemah. ”Tanahmu?”

”Aku akan menebusnya,” jawab Barita.

”Harus ada saksi, Pak,” kata kepala desa. ”Selain bukti bahwa Bapak ahli waris.”

”Semua sudah berlalu, Nak. Tinggal aku saksi hidup. Biar ibu yang menjadi saksi.”

Barita sangat berterima kasih. Masih ada orang yang berbaik hati kepadanya. Atas bantuan kepala desa, ia menebus sebidang tanah, ladang peninggalan orangtuanya.

Sebuah rumah di hari tuakah? Tak lebih dari sebuah pondok yang reyot di tengah ladang itu. Tapi ia masih melihat perapian, tempat ibunya memasak. Sudut rumah bagian barat tempat dia berbaring dahulu. Di situlah ia dilahirkan. Itu yang penting. Pondok yang reyot itu bagian dari hidupnya. Ia memerlukan waktu untuk membersihkan kuburan keluarga di batas ladang. Ada nisan bertuliskan nama ayahnya, sedangkan kubur yang lain tak bernama, batu-batu berserakan di atasnya.

Sebuah gereja tua masih berdiri di atas bukit, tidak begitu jauh dari pondok lelaki itu. Dulu, ia rajin belajar nyanyi di sana. Berdoa dalam kebaktian yang khusyuk. Dan kini, ia kembali ke sana. Tidak satu wajah pun yang dikenalinya. Minggu pertama, orang-orang bertanya tentang dia. Sesudah itu, tidak seorang pun yang memedulikannya. Kalau berjumpa di jalan, orang- orang melihatnya sekilas, kemudian berlalu tanpa membalas sapaan. Hanya anak-anak SD yang suka mampir ke pondoknya yang reyot. Barangkali anak-anak itu mendengar dari orangtua mereka bahwa lelaki tua yang baru pulang dari rantau itu lama tinggal di seberang. Mereka ingin mendengarkan kisah-kisah dari seberang. Dan Barita, senang bercerita. Banyak cerita dari berbagai kota Pulau Jawa yang diceritakannya. Kisah-kisah menarik dari adat-istiadat suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa. Sekali, anak- anak terkejut melihat sebuah sedan parkir di samping gereja tua. Seorang lelaki diikuti lelaki lain, ia belakang sedang menuju tempat mereka yang sedang mendengar kisah dari kakek Barita.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Sebentar, anak-anak. Ada tamu datang,” katanya sambil berdiri dan menyongsong kedua orang itu. Mereka segera berpelukan.

”Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Barita dalam bahasa Jawa.

”Cerita selintas dari kepala desa, tentang seorang lelaki tua yang pulang dari perantauan, dan kini tinggal di sini.”

”Kau cerita siapa aku?”

”Tidak! Aku ingin lihat sendiri dan berjumpa denganmu. Ajaib, kau ada di sini!”

”Itulah kehidupan.”

”Kau baik-baik saja?”

”Ya.”

”Syukurlah.”

Kurang lebih setengah jam mereka berbincang-bincang di halaman rumah, dalam bahasa Jawa, sehingga anak-anak terbengong-bengong.

Menanam ubi kayu hanya sekali. Sesudah itu ia tumbuh sendiri. Tidak merepotkan. Karena itu, ia mau menambah kegiatan dari waktu ke waktu. Ia melamar menjadi koster gereja. Penatua jemaat agak terkejut, tapi tidak lama kemudian mereka menerima lamaran itu, tanpa upah. Barita mengatakan tidak apa-apa. Hanya ada sebuah permohonannya, ingin menghidupkan kembali lonceng gereja dan membunyikannya setiap jam, dari pukul enam pagi sampai pukul enam petang. Pengurus gereja setuju

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

dengan komentar, ”Tapi itu sudah karatan. Puluhan tahun tidak dibunyikan.”

”Tidak apa-apa. Akan saya bersihkan.”

Dan lonceng gereja di bukit berdentang setiap jam. Setiap pukulan menunjuk kepada jam. Dua belas kali berarti pukul dua belas. Satu kali berarti pukul satu. Dan itu telah berjalan enam bulan.

Suatu hari, seorang anak yang suka mendengar cerita Barita, bersama ayahnya duduk di dangau di kebun, di lembah. Mereka hendak menyantap makanan siang ketika mendengar sipongang lonceng gereja. Mereka menghitung dentangan itu, yang memantul dengan jelas, gema di lembah. ”Kau menghitung?” tanya sang ayah kepada anaknya. ”Ya,” jawab anaknya. ”Berapa kali?” tanya ayahnya. ”Tiga belas kali dan disusul dentangan kecil.”

Anak itu berlari ke atas bukit. Ia ingin tahu apa yang terjadi. Sesampai di gereja itu, ia melihat telah banyak juga orang berkerumun. Mereka menggotong tubuh lelaki tua menuruni bukit dan menaikkan ke atas mobil terbuka.

Tiba di rumah sakit, perawat memeriksa denyut jantungnya. Tiada.

Tidak banyak orang yang menunggui jenazahnya di pondok yang reyot itu. Lazimnya, sebelum upacara penguburan, banyak orang yang menunggui. Beberapa orang pengurus gereja membuat peti dan memasukkan tubuh yang sudah kaku itu ke dalamnya. Upacara pemakaman akan segera dilakukan. Anak-anak banyak yang hadir, beberapa orang tua dan orang muda. Upacara singkat diadakan di halaman. Sebelum jenazah diusung ke pekuburan keluarga, tampak ada beberapa bus yang berhenti dekat gereja. Berpuluh-puluh orang berpakaian seragam kantor dan satu pasukan tentara dengan sikap militer berbaris menuju pondok reyot itu. Orang-orang terkejut ketika bupati berjalan di depan diikuti sepasukan tentara yang membawa sebuah potret berbingkai. Bupati berbicara dengan penatua jemaat dan kemudian menceritakan riwayat almarhum Barita di depan khalayak.

”Saudara-saudara sekalian.

Hari ini kita memberangkatkan seorang prajurit pejuang bangsa. Prajurit yang telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya untuk nusa dan bangsa. Almarhum Barita mengembuskan napas terakhir kemarin. Telah kutelepon anaknya di Amerika, tetapi mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa hadir hari ini. Pak Barita tidak mau ikut anaknya ke Amerika karena ia telah berjuang untuk negara ini dan ingin mati di

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

sini, di kampung halamannya, di sisi ayah bundanya dan kerabat dekatnya.

Sauara-saudara, rakyatku di Desa Bukit,

Kalian harus berbahagia karena seorang pejuang lahir dari desa ini, walaupun ia berjuang di palagan Ambarawa dan sekitarnya. Ia komandanku, saudara- saudara... Seorang komandan yang tidak pernah gentar dan selalu berada di garis depan. Dalam sebuah pertempuran, sebutir peluru bersarang di dadanya. Dokter mengatakan bahwa peluru itu tidak dapat dikeluarkan tanpa membahayakan nyawanya. Ia kembali sehat, dengan peluru di dada. Ia pensiun dari kemiliteran dengan pangkat kolonel. Beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan surat-surat penghargaan pemerintah yang diberikan kepadanya. Dan hari ini, kita akan makamkan dia sesuai dengan permintaannya, di makam keluarga. Ia menampik dimakamkan di makam pahlawan. Ia amat mengasihi desa ini.

”Kolonel Barita, terima kasih atas perjuanganmu...”

Bupati menghapus air mata dari pipinya. Ia mendekatkan wajah ke peti dan kemudian undur ketika prajurit membungkus peti itu dengan bendera. Tembakan penghormatan terakhir bergema di udara dari laras senjata prajurit, suara tembakan itu bergema kembali di lembah.

Angin malam yang dingin menyentuh nisan almarhum Kolonel Barita.

Bandung, 31 Oktober 2005

Dendang Perempuan Pendendam Post: 01/23/2006 Disimak: 234 kali

”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali. Namun. Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde.com/abclit. sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan. sudah sejak lama aku menunggu kematiannya. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Emprit ganthil. dan dengan begitu menggeser pematang. karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Dan. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. Ketika aku berusia belasan. tempat jasad Pakde terkapar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut. masih saja dianggap sebagai keniscayaan. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. karena dia tahu. di pemakaman. aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah.” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah. Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan. Dendamku takkan pernah kehilangan isi. diiringi sedu-sedan. Membuat malam membeku sendiri. dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. Juga di dalam hatinya sendiri. limpahan lumpur itu lantas mengering. . ”Oh.html Cerpen: Martin Aleida Sumber: Kompas. aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. Ayah kami. Edisi 01/22/2006 Laksana gagak lapar. Saat menyiangi sawah. Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa.processtext. Gusti…. seperti tak pernah terjadi. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian. pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. http://www. dengan menggeser pematang secara licik. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. kematian suaminya. Dia adik Ayah kami semua. Empat puluh tahun! Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. untuk mengobati kepedihan hatiku. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Gerimis menyudahi dirinya. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu. Diganggang matahari. Namun.

Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. turun dari jip. sambil menggendong adikku yang terkecil. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya. dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin. dengan diiringi gerombolan pemuda. mencari kekuatan di situ. Di akhir tahun kekacauan. Tapi. mata tertutup. hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali. dan manakala dadanya belum tegak benar.processtext. dan kepala Ayah. maka kami memercayai kabar burung itu. supaya tak ada orang desa yang . Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah. namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan. dan dia digelandang ke dalam jip.Generated by ABC Amber LIT Converter. menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah. ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini. Ah. Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam.anak yang lain. Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah. seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya. Ibu. tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat. tidak hanya sebatas pematang itu. Ayah menginap di rumah Pakde Samin. setelah Ayah berangkat entah ke mana. Dengan cara yang sangat menghinakan. mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah. Suatu malam. betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar. dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol. Ayah tinggal berpindah-pindah. koé akan kubunuh!” Siangnya. Ah. hati kami semua. tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi. tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus. yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Selang beberapa hari kemudian. Takkan terkikis dari ingatanku. pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?! Ibu. dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah.com/abclit. Paginya. sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. dan kami anak. Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. 1965. Sakit hatiku. kebingungan. tentara menggedor rumah Pakde Samin. Berminggu-minggu kemudian. Ayah diperintahkan bersujud. apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur.html Dia sudah mati. Di bawah todongan pistol. tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. mata tertutup. dan penuh ketakutan. (Oh. Konon. mati!” Ayah diarak ke rumah kami. http://www. berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Tentara. kami anak-anak.

tidak bakal ditemukan di Aceh sana. bukankah dia juga ingin berziarah. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu. karena dia terpaksa pergi meninggalkanku. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul. cepat dilarikan arus. Sama seperti ketika menjemput maut. suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. dua ratus meter ke arah bengawan. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu. suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf. Bunga-bunga itu mengambang. dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan. aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. tak punya nisan. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali. meminta berkah. ada semacam nista yang akan selalu melekat. sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu. diperlebar nganganya. di mana salib dan nisan berbaur. dia taburkan bunga ke permukaan bengawan.com/abclit. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima. kami kira. yang katanya. kami pulang. Letakkan di tanah. mencari Ayah.Generated by ABC Amber LIT Converter. linggis. dia mendesak. Pukul dua siang sekarang. mengharukan. menghampiri bengawan. menakutkan. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar. Sebelum menuju bengawan. Begitulah. dan aku belum hamil juga. ketika kami menuruni tebing. Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. Walaupun tidak dikatakannya. Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. http://www. Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung. diperlebar. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. gerimis mendesah dari langit. beberapa kali dia tertegun. dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Peti matinya diusung menuju pemakaman. Tak punya kuburan. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Mengikuti aku. Setelah menikah. juga dicangkuli. Kedua sisi. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya.html melihat. dari mana mayat akan diluncurkan. Dia. Oh Tuhan. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. dan. mengapa aku tak pernah bertanya. ”Turunkan dulu. membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Cuma. Katanya. dengan tangan gemetar. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan. ke makam Ayahku. Tanpa itu. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap. Sesuatu. Setelah itu. kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal. maka mendengunglah . katanya. itulah akhir perkawinan kami.processtext. maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun. makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah.

terpaksa mendobrak adat kebiasaan. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. kami minta maaf kepadamu. Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung. ”Ampun…. biar Gusti mau menerimanya. meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Aku maju dengan dada tegak. menguak membukakan jalan untukku. mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. beku. ”Kami pasrah. mendekati peti mati. meninggalkan jejak di tanah basah. terutama mereka yang menggali berlumur tanah.com/abclit. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto. kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur. Ampunilah. perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri. sarat di wajah para pengantar. Ibu keluar menemui mereka di beranda. Aku membalik. Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah. kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. terimalah saudara kami ini…. http://www. mengiba-iba. Seperti mengutuk diri sendiri. ”Las…. Dari celah dinding tepas. seperti berbisik. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan. tapi tak bisa juga. atas nama jenazah dan keluarganya.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga panik. Kau yang jadi kunci. Kalau kau maafkan.html keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun. Sia-sia.processtext. orang sedesa akan tahu siapa kita. Dengan kepala tertunduk. Beberapa saat kemudian. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman. ”Jeng. ”cuih…. ”Sudah berapa kali kami menggali. diiringi isak-tangis.” Kuhela nafas. .” kusemburkan ludahku ke mulutnya. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto. maafkanlah umatmu ini. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah. dan dengan sebal.” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar.” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. Tolong.” katanya menunduk.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi. sudilah kiranya memaafkan. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis.

Desa Kwangko. tetapi tidak bisa menjelaskan rukun iman dan rukun Islam umpamanya. Asal-usul Patek juga tidak banyak diketahui. karena perilakunya yang aneh. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. dengan wirid yang lama. sebelah barat Desa Kwangko. Itu pun ia tidak banyak omong. Patek dikenal sebagai seorang gila. hampir tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Jali. seorang idiot. http://www. misalnya mengenai kepercayaan atau imannya. Edisi 01/15/2006 Patek dan Jali adalah dua orang yang bersahabat dalam pola hubungan yang mungkin bisa dianggap aneh. Paling tidak Patek dianggap sebagai seorang yang penuh misteri.processtext. ia tidak menjelaskan mengapa ia . terus menjauh. Jika bicara. di masjid yang berbeda-beda.com/abclit. yaitu dari Desa Labuhan Jambu. Namun. ada juga sebagian kecil orang yang menganggapnya pula sebagai semacam orang suci karena ia sangat rajin beribadah. Agaknya ia tidak bisa menjawab pertanyaan orang mengenai hal-hal yang sulit. sebuah permukiman nelayan di Kabupaten Dompu. Kitab suci Al Quran atau bahkan kehidupan akhirat yang ia percayai adanya. Berbeda dengan Jali yang dikenal sebagai manajer perusahaan. Si Gila dari Dusun nCuni Post: 01/16/2006 Disimak: 241 kali Cerpen: M. Tapi Patek.Generated by ABC Amber LIT Converter. mulai tinggal di Dusun nCuni. tidak mengandung arti apa pun. ia tidak menatap wajah orang yang mengajaknya berbicara. Walaupun ia menyadari dirinya seorang Muslim. Ia selalu menundukkan kepala. seorang warga dusun di tepi pantai Teluk Dompu itu sudah lebih lama menjadi warga dusun yang dikenal banyak orang. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Hanya saja ia mengatakan dari mana ia sebenarnya berasal sebelum pindah ke Dusun nCuni. sejak ia ditugaskan memimpin base-camp proyek budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba milik PT Solar Sahara Mina atau sering disebut SSM yang berkantor pusat di Jakarta. panggilan akrab Gazali. Ia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain siapa keluarganya. padahal ia tahu dan percaya pada nabi. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini…. Ia dianggap gila karena sangat pendiam dan tidak bergaul dengan orang dan tidak banyak celoteh. kira-kira delapan puluh kilometer. Namanya pun aneh.html Aku cuma membatu. Sebagian warga yang lain menganggapnya orang yang terbelakang mentalnya. Tidak pernah ia berkata-kata kalau tidak karena orang memulainya mengajak bicara atau bertanya. Namun sebaliknya.

Bahkan ia tidak mau menerima uang zakat karena ia merasa bukan fakir miskin dan masih sanggup bekerja mencari nafkah. Masjid atau surau itu tampak bersih. yang didirikan oleh Jali sebagai pimpinan base-camp. tak ragu lagi. surau yang sebenarnya cukup luas itu banyak dikunjungi orang. Jali tahu jumlah uang simpanan Patek. ia tak mau dibayar. Hanya riak air kecil ditiup angin. Perilaku itu menurut Jali bisa mengganggu kegiatan ekonomi desa. namun sulit meninggalkan kebiasaan berjudi dan minum minuman keras buatan lokal. Kadang kala Jali ikut memberi ceramah berdasar pengetahuan agama yang ia miliki. ia meninggalkan kampung kelahirannya untuk mengembara dan akhirnya terdampar di Dusun nCuni. maklum. Di dusun itu ia tinggal di sebuah gubuk yang sangat sederhana yang dibangunnya di tepi pantai teluk yang panjangnya sekitar seratus kilometer menjorok ke darat dari lautan Hindia itu. tanpa hijab. Boleh dibilang. walaupun Jali pernah memaksa Patek untuk menerima uang jasa. Pekerjaannya sebenarnya adalah pemulung. Bahkan ia sempat menabung di suatu bank di Dompu. laki-laki dan perempuan bercampur. Tapi ia pantang meminta-minta. dan selalu dihantui kenangan kepada kedua orangtuanya.com/abclit. barangkali lebih tepat disebut surau. Yang memberi pengajian di surau itu adalah ustadz-ustadz muda dari Desa Kwangko. sebagaimana di Laut Hindia. Walaupun kecil. misalnya merangsang kejahatan dan yang terang menimbulkan perilaku boros. baik karyawan maupun orang kampung. sebuah kota kabupaten yang jaraknya . adalah berkat peranan Patek. Untuk membersihkan masjid itu. yaitu memungut botol-botol kosong bekas aqua. ia tidak pernah berbuat zina karena tahu zina adalah perbuatan dosa. http://www. Ia hanya mengaku sudah tidak punya sanak saudara lagi. tapi ia tidak pernah memberi tahu kepada orang lain karena koperasi harus bisa menjaga rahasia nasabah. Tapi surau itu cukup makmur karena sering dipakai untuk pengajian. Mungkin karena sedihnya. tempat orang mengambil air wudu. Mereka itu walaupun menjalankan shalat dan pergi ke masjid. Tak ada debu. Patek mengalihkan dana tabungannya ke koperasi itu. Walaupun tidak kawin. Untuk mencari botol-botol itu ia seminggu tiga kali pergi ke Dompu. ia tidak pernah menginjak bangku sekolah. Ia sebenarnya baru ditinggal mati kedua orangtuanya ketika menjelang dewasa. Penghasilannya dari memungut sampah cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Kebersihan surau itu. Tekanan ceramahnya adalah soal-soal akhlak dan muamalat. walaupun terbuka tak berdinding. tempat tumpah darahnya itu. Patek tentu saja bukan orang kaya. Ia tidak pula punya istri dan tidak punya cita-cita untuk kawin karena ia mengira tidak seorang perempuan pun yang mau ia kawini. Di samping surau itu ada beberapa ledeng. tetapi dekat dengan sebuah masjid kecil. Teluk itu begitu tenang karena hampir tak ada gelombang. hidup sebatang kara. yang rajin membersihkan masjid. Ia hanya belajar mengaji saja dari seorang ustadz di kampung. Tak ada orang kampung yang punya pengalaman dimintai uang. bahkan dapat disebut orang miskin.html meninggalkan kampung halaman. Rumah warisan orangtuanya dijualnya dan dibelikan sebidang tanah di nCuni yang didirikannya bangunan baru. Jali adalah seorang profesional pimpinan perusahaan yang sangat berkepentingan dengan masalah-masalah perilaku mencari nafkah di sebuah kampung nelayan. Ketika Jali mendirikan koperasi syariah al Amin.processtext. Gubuknya itu agak terpisah dari perumahan penduduk.Generated by ABC Amber LIT Converter.

ketika orang itu sampai di kota. apakah benar ia sering ikut misa di gereja-gereja. Patek tidak pernah naik kendaraan apa pun. Tapi anehnya. Pastor Dhakidae. semuanya di kota Dompu. tapi naik kendaraan umum. misalnya Gereja Katolik Santa Maria dan St-Joseph. Hanya Jalilah yang mampu menggali pikiran Patek melalui percakapan. Akhirnya cerita mengenai Patek itu terdengar pula hingga ke Desa Kwangko termasuk oleh Jali. bahkan juga menyembuhkan orang sakit. Pastor itu sering berkhotbah tentang kasih sayang yang dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri. Jali selalu membeli botol-botol aqua itu dari Patek. Ternyata nama Patek juga dikenal luas di kalangan gereja. Ternyata. Pengalaman itu memang sulit dipercaya. Karena itu. http://www. Di samping ke masjid-masjid. Misalnya Yesus sering menghibur orang yang lagi susah. walaupun jaraknya cukup jauh. Patek menjual botol-botol aqua itu kepada nelayan-nelayan yang memelihara rumput laut di sepanjang pantai teluk itu. Para nelayan memakai botol-botol itu sebagai pelampung yang diikat dengan tali tempat bersandar rumput laut. Patek minta diizinkan mengikuti misa di geraja di hari Minggu. di samping kalangan masjid di kota Dompu itu. Cerita itulah yang membuat orang desa percaya bahwa nCuni adalah semacam Nabi Khidhir. Karena sering mendengar cerita itu. Patek yang jujur. Ia menanyakan kepada Patek. tak lain karena peranannya sebagai pembersih masjid dan gereja. tanpa pembelaan diri. Tapi Patek tidak mau karena merasa sudah beragama Islam. dengan kemampuannya yang terbatas untuk memahami suatu ajaran agama. hanya menjawab dengan anggukan. Kebiasaan yang dilakukannya adalah membersihkan masjid dan bahkan juga gereja. mencintai anak-anak. peranannya itu sebagai ibadah kepada Tuhan. Sering kali Jali mengajar Patek makan sehingga hubungan kedua insan itu sangat akrab. ia juga pergi ke gereja-gereja. Ia bisa menerima khotbah-khotbah itu karena ia mungkin adalah seorang yang haus kasih sayang. Dalam pagi yang temaram ia melihat di muka Patek berjalan kaki. Suatu ketika ada orang dari Dusun nCuni yang juga hendak pergi ke Dompu.processtext. Karena cukup rajin mengikuti misa di gereja-gereja. Botol-botol yang dipungutnya itu ditampungnya pada sebuah karung dan kemudian disandang di punggungnya untuk di bawa ke tempat-tempat lain guna dijual. menanyakan apa agamanya dan bahkan menawarinya untuk dibaptis. walaupun ia sama sekali bukan ahli agama. Tapi beberapa orang mempunyai pengalaman yang sama. Jika pergi ke kota Dompu. ia heran melihat Patek telah sampai terlebih dahulu. Gereja Masehi Injil atau Gereja Jemaat Syaloon. di sebelah timur.com/abclit. maka Ustadz Abdul Rasyid tidak bisa menahan kesalnya. tanpa mau menerima upah. tentu saja dengan izin penjaganya. dari Gereja Katolik Santa Maria. Jali juga membina nelayan memelihara rumput laut melalui koperasi. Ia menganggap.html sekitar seratus kilometer. ia suka juga mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Pastor Dhakidae yang berasal dari Flores itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. pernah tertarik pada Patek dan karena simpatinya. . Biasanya subuh-subuh ia sudah berangkat sehingga bisa memungut sampah di pagi hari. Namun. walaupun Patek tetap tidak banyak bicara. Ia hanya berjalan kaki tanpa istirahat. nama Patek cukup dikenal di kalangan jemaat.

http://www. Cuma ia tidak bisa memaksa Jali. Ia cuma bilang bahwa ia ingin memelihara hubungan dengan pimpinan gereja agar ia dapat terus bisa memungut sampah yang merupakan sumber penghasilannya itu. tetapi telah menjadi kesepakatan bersama dari para ustadz di Desa Kwanglo di sini.” Jali sebenarnya juga memahami pandangan Ustadz Abdul Rasyid dan ustadz-ustadz lainnya itu. Jali tidak bisa berbuat apa-apa. demi keselamatannya di akhirat nanti. Di samping itu ia pun mengancam Jali. Malah ia kasihan kepada Patek dan berdoa semoga Patek diberi petunjuk dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yang Maha Tahu luar dalam iman. Saya tidak perlu fatwa Majelis Ulama di Dompu untuk mengadili si Patek yang jelas sesatnya itu. Jali dituding sebagai pelindung orang sesat.Generated by ABC Amber LIT Converter. Malah Jali memandang Patek memendam kecerdasan rohani yang tinggi karena bisa menghargai kebenaran atau kebaikan pada agama lain. ”Sebagai pemimpin di Dusun nCuni ini. ”Saya juga tidak bertanggung jawab jika umat yang resah mengambil tindakan sendiri.” kata ustadz yang sering memakai topi putih itu mengancam Jali. Tapi ia tidak menjadi anggota gereja. Patek tetap saja sering pergi ke gereja walaupun setiap kali shalat ia pergi ke masjid untuk bisa memelihara kebiasaan berjamaah lima waktu. Jali terpaksa berbicara dengan Patek dan memberanikan diri menanyakan perilaku teman dekatnya yang dianggap sesat itu. walaupun orang yang dinilai . ia akan menghimpun massa untuk membakar masjid dan kalau perlu menyiksa Patek untuk meluruskan akidahnya. Tapi Jali tetap tegar melindungi Patek yang rajin shalat itu walaupun Patek dianggap gila.processtext. Ia juga tidak berhasil menghasut masyarakat untuk membakar masjid atau menganiaya Patek. ”Ya itu lebih baik. dan akhlak seseorang. karena ancaman dan sekaligus kasih sayang pada sahabatnya itu. maka saya akan mengusulkan kepada Pak Iryanto untuk memecat Anda. Jali yang akrab dengan Patek tidak bisa mengabulkan desakan Ustadz Abdul Rasyid. Pak Iryanto adalah bos Jali di Jakarta. Ia tidak hanya mengunjungi gereja Katolik. Melihat Patek bersikap lugu dan jujur itu.” ancamnya. tidak mengiyakan dan tidak pula menolak. sekalian pindah agama. Sebagai akibatnya. Ia meminta agar Jali mengambil tindakan tegas dengan melarang Patek membersihkan masjid dan ikut shalat berjamaah. Islam tidak memerlukan orang musyrik dan munafik. Sang ustadz pun menyiar-nyiarkan sikap Jali itu kepada penduduk desa. sehingga ia mengadu kepada Jali. tetapi juga Protestan. karena berlaku musyrik dan munafik sekaligus.” kata Ustadz Abdul Rasyid. Lagi pula ia telah telanjur memelihara hubungan baik dengan para pastor dan pendeta.” Yang diajak berbicara tidak bisa menjawab. ”Jangan lagi pergi ke gereja ya?” Patek hanya diam. Akhirnya Ustadz Abdul Rasyid pun tahu juga kelakuan Patek. ”Tapi kamu tak usah menjual agama hanya untuk sesuap nasi dong. Tapi dalam kenyataannya. Pak Jali harus bisa memelihara akidah” kata sang ustadz lantang. ”Lho kalau dia dilarang pergi ke masjid. Jali merasa bangga bisa tidak mencampuri kepercayaan orang lain. ”Patek itu sesat. ”Kalau Pak Jali tetap melindungi orang sesat dan murtad. Tapi.” lanjut sang ustadz. Terhadap keterangan itu Jali menjawab. malahan ia akan sembahyang di gereja?” jawab Jali. Sulit ia mempertanggungjawabkan perilakunya yang mungkin tidak ia pahami sendiri karena cuma mengikuti perasaan.com/abclit. ”Pak Jali.html ”Tahukah kamu itu perbuatan syirik.” sahut sang ustadz. Tapi Patek tidak banyak bicara. ibadah. Patek?” tanya ustadz yang memelihara janggut itu. ”Ini bukan hanya pandangan saya. ustadz yang menyala-nyala jika sedang berbicara mengenai akidah itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu. Karena keteguhan sikap Jali. jika tidak melarang Patek seperti yang ia inginkan.

Karena Tuhan Yang Maha Tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. melambai-lambai ditiup angin. Orang-orang pada umumnya tidak percaya terhadap hal itu dan karena itu menyangka dan menuduh Jali berdiri di belakang Patek dengan telah membiayai Patek membayar ONH.. Aku yakin. Akhirnya dalam suatu ceramahnya. Orang yang telah naik haji mendapatkan martabat dan penghormatan yang sangat tinggi. sorga itu ada di sini.com/abclit. Uang pembayaran ONH Patek sesungguhnya berasal dari tabungannya di Koperasi al Amin. Di pinggiran kali berwarna cokelat. Tapi Jali mengetahui betul berapa uang simpanan Patek di Koperasi al Amin. Patek telah mendaftarkan diri sebagai calon haji dan membayar ONH. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Kalau kau tak percaya. dengan rumah-rumah kardus atau tripleks. Pada suatu hari terdengar suatu berita yang menggemparkan seluruh penduduk kampung. naik haji adalah puncak cita-cita beribadah di tengah-tengah kemiskinan. Ia telah bertahun-tahun menabung sebagian penghasilannya. sesekali datanglah ke mari. Jali mengusulkan suatu program baru Koperasi al Amin. sekalipun masyarakat menganggapnya penuh misteri dan tokoh kontroversial. Ia menjadikan Patek sebagai tokoh teladan. Ia tidak merasa perlu membantah tuduhan atau kecurigaan orang. http://www.html tidak normal itu telah dianggap merusak akidah dan meresahkan masyarakat. Patek seorang pemulung sampah saja mampu menabung. Edisi 01/08/2006 Sorga itu ada di sini..*** Garis Cahaya Bulan. kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. khususnya orang suku Sasak. dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini. yaitu program Tabung Haji untuk kaum nelayan. Ya.processtext. Bagi orang Sumbawa. Post: 01/12/2006 Disimak: 183 kali Cerpen: Yanusa Nugroho Sumber: Kompas. . apalagi nelayan yang mampu menangkap ikan kerapu atau ikut dalam program pembudidayaan ikan kerapu yang diorganisasikan oleh SSM.

apakah yang tak bisa kita sebut musibah? Perintah itu datang begitu saja. Jangan salah. Sekali ini. perintah itu bertengger di pundakku. Jika tugasku selesai. kau salah sama sekali. Menjijikkan. Tapi. Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. kalau aku mau. Ah. kau sedikit lebih pintar daripada keledai. http://www. Hampir tiga hari aku berjalan. misalnya.. Tunggu dulu. Itu pekerjaan kotor. kawan. sebagaimana yang kukatakan tadi.html Aku sendiri tak mengerti. tanpa mempersalahkan siapa pun. Bayi merah. Tak seorang pun.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidak kali ini. persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu.com/abclit. mengendap-endap.. aku bisa membunuh.. Ah. kita tak pernah bisa memilih hidup kita.. sudah biasa terjadi. maaf terlalu kasar kalimatku. Maaf. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf. Tak ada yang aneh di sana. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan .processtext. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. dan semuanya beres. Hidup inilah yang memilih kita. itu pun tak sepenuhnya salah. ya. Begini saja. bukan? Ha-ha-ha.. Aku tidak bisa mengelak. Dialah yang memilihku. Bayi. dan manakala kau mengeluh. di tengah panas terik. kita tak pernah bisa memilih. Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan. tetapi. Jangankan hidup. lahir di rahim siapa pun.. Dan dengan enaknya. Aku tak mau hancur. menziarahi kubur ibuku. aku menemukan sorga itu di sini.. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. dan melompat dari rel berarti hancur.. kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Begitu saja. aku bukan pembunuh. mudah sekali mendapatkan uang banyak. jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. Aku masih bisa membangun hidupku. Kita ditentukan. siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini. mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan. karena semua sudah ada yang mengatur. Hujan yang turun. melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. aku harus . Mengelak berarti melompat dari rel. bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. Tidak. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. tetapi. tetapi saat ini. atas apa yang kau dapatkan. Aku tak mau mati sia-sia. Ikuti perintah.. Gampang. konyol dan tak sempat melakukan sesuatu. maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku.. Jangan dibalik. Oleh karenanya.. ha-ha-ha-ha.

tidak. Begitulah. aku muak. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. lalu aku letakkan di sudut jalan. demikianlah. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. baru saja rokok hendak kunyalakan. jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu? Kau tentu berpikir. ah. Jujur saja. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Bayi yang cantik. entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu. Siapakah aku. Salah seorang. Belum selesai dia berkata.Generated by ABC Amber LIT Converter.html merahasiakan orang yang memberiku kehidupan).. jangan pernah berpikir tentang itu padaku... Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng.. sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya.. bayangkan jika itu terjadi dan . tidak. Hening sekali perasaanku. bersih dan menawan hati. aku tak ingin menjadi juru rawat. mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo. dia. karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu. karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin.. pandangan yang wajar saja.processtext. entah siapa. Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir. tentu saja aku selimuti. dan semoga saja dia berbahagia selamanya. tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu. Kalau aku mau. dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain. bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang. seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. Tetapi. aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. http://www. Maka. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting. kurasa.com/abclit. Umurku masih belum tiga puluh.. tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah. Sepi sekali di sekitarku. kuberikan sebotol susu. ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di . tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu. Hmm. sudahlah. terlalu religius kurasa. Bayi itu. mendadak akan pulang.

processtext. Kalau itu yang akan terjadi.com/abclit. lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. air. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. akan kuhabisi mereka semuanya. http://www. Dari sana. dibawanya bayi itu ke sarangnya. Pagi itu. tetapi juga perempuan. Mereka bahagia. bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil. aku duduk di ruang tunggu. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu. Mereka gembira. hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu. bahkan sampah. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku). tepat ketika matahari tenggelam. bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain. mengikutinya dari jarak tertentu. Dan aku—mau tak mau. Tetapi. Kopi sudah separo kuhirup. Aku pun tahu. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya. karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu. Dia tiba di gubuknya. Tidak hanya laki-laki. besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu. Asisten si nyonya datang. penasaran apa yang terjadi di sana. yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. Tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. . lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa. dan anak-anak. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. lebih buruk lagi. Bulan di atas sana membulat putih. Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. bagai piring perak. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa. Tanpa bicara dia menatapku.. kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk. Detak sepatu mengisi sunyiku. Sempat kudengar ada suara anak kecil. Bayi itu dipungutnya. juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini. Digendongnya dengan sukacita. bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan "r". untuk pemerasan yang sama. karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka. mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang. membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun. bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Bisa jadi dia orang gila. gedung. jongkok di kotak bayi itu. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. Atau. sebaiknya mereka tidak merencanakan itu. Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. tentu saja kuurungkan. di pinggiran kali ini. Kubayangkan. Semua itu mungkin bagiku.html punggung. Adik? Aku tersenyum di tengah sampah..

yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Langit tanpa awan. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun. Ini aneh. Yang aneh. wajahnya. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Begitu tajam rasanya di mataku. Tetapi. teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. dan tergilas zaman. yang menganggapnya ancaman. dengan semuanya. http://www. masih bisa kusaksikan bulan purnama. Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Dia memiliki keluarga. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu. karena memang tak penting. Tetapi." ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh. Tidak.processtext. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. setelah menerima sesuatu. kesialan. namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu.. Kubayangkan. dia masih memiliki kasih sayang.html lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib. Malam ini. karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain. Ruang apartemenku harum. Aku tak peduli. Bulat penuh. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. Tidak mungkin. semoga sudah masuk hari ini. bersih. ". tangisnya.com/abclit. ah. jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini. betapa bahagianya si kecil itu. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan. Ada senyum tersudut di bibir. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi.. Bercahaya penuh. Aku beranjak.

menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Dan seperti kataku. kepalaku rasanya mau pecah. Semua sampah harus dibersihkan. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar. Bukit Nusa Indah. ini adalah sorga. Kubayangkan bulan. karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali. Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Aku duduk di tengah sampah ini. Gelap. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. dulu. di pinggiran kali ini. Dan sudah terlaksana. dan kini menyisakan kesepian yang menusukku. Alkohol menebar. Aroma sangit pembakaran. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. Aku pernah menyaksikannya. cobalah ke tempat ini. Ya. 982 . karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu. tergeletak di meja dan di karpet. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Kepalaku masih berat. aku bisa menolak permintaan. Dia tertawa penuh kemenangan. Kapan-kapan. semua penghuni gubuk merayakan pesta.html Aku terbangun oleh dering telepon. Di tempat ini. http://www. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Aku banting telepon itu. mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga. kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Ini sorga. Maafkan.processtext. bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Sunyi. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. di sini. jika kau ada waktu. kemarin malam. merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu. kemarin malam. Sudahlah. di pinggiran kali ini. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Semua sampah harus dibersihkan.

kalaupun aku menyukai prahara perkawinan Nguyen tentulah semata akibat kecintaanku yang teramat-sangat untuk memadu kasih yang tak pernah terlerai. Hampir sepekan aku berada di negeri yang kini berbenah. Edisi 12/18/2005 Langit merah jambu menyelubung Hanoi. Tapi. surat-suratnya yang sempat mengalir deras menyela perpisahan kami. Aku diberi peluang yang luas setelah dibina berbulan-bulan untuk berbisnis. Aku tahu. Nguyen sudah bersuami dan punya anak dua saat pertemuan terakhir beberapa tahun silam.html Langit Bertabur Nguyen Post: 12/19/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Fakhrunnas MA Jabbar Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen ternyata tak bahagia bersama suaminya. Rambo. Tapi. Tuan Chew Song Kit. Hening mengepung diriku yang terkurung di sebuah kamar hotel berbintang. Ini semua serba tak terduga setelah pertemuanku dengan seorang pengusaha Singapura yang secara tak sengaja saat menyeberang di atas ferry melintasi Selat Melaka. Tapi ada yang lebih kurindukan dari semua itu.processtext. Siapa duga. Nguyen telanjur segalanya bagiku. menjadi pengusaha kecil yang mengekspor arang bakau di pasar Asia dan Eropa. Padahal ada juga pilihan untuk berkunjung ke Seoul atau Shanghai. Aku mencari dan menunggu Nguyen Vet Tienh. Aku jadi teringat Vietkong. . http://www. penjara bambu dan granat tangan atau anak-anak terluka dengan tangan yang buntung dan buta terpercik mesiu perang Vietnam yang mengenaskan. Semestinya aku tak harus suka sebab perkawinan mestilah jadi selubung bagi seorang perempuan santun seperti Nguyen agar ia punya masa depan bersama anak-anak yang lincah. Apalagi bagi pengusaha yang baru merangkak naik dalam tiga-empat tahun berselang. pemilik sebuah grup usaha sukses di Negeri Singa itu hendak mencari mitra usaha di Indonesia. Atas nama kemandirian itu pula. aku sampai di Hanoi bersama belasan pengusaha Melayu lainnya. kedatanganku di Hanoi untuk apa dan buat sesiapa? Aku begitu bersemangat ketika misi perdagangan negeriku memilih Hanoi untuk berpromosi dan bertukar-pandang soal perdagangan lintas-negara. aku mengeja tiap kata-kata yang mengantarkan duka-lara dirinya. penuh cerita pilu. gadis molek yang pernah menikamkan jejak rindu di jantung pelupuk mataku semasa di Pulau Galang dulu. Batam. di bilik hatiku yang lain berucap gemulai. aku tiba-tiba diberi peluang berputar haluan dari pekerja makan gaji di sebuah industri elektronika di Muka Kuning. Antara suka dan tiada. Aku bisa jadi pengusaha yang tegak sendiri. Malam merangkak begitu lamban di antara deru terbang burung layang-layang.com/abclit. Aku jadi ragu berterus terang.

Tapi. Mana tahu. Ini memang sudah jadi tradisi orang Melayu di kampungku untuk berkias dalam menyampaikan sesuatu. dah menjadi hak orang lain Wan menyindirku dengan pantun pendek itu. Aku kehilangan jejak Nguyen. aku berbelah-pihak pada Nguyen. .processtext. Aku bagaikan mencari sebatang jarum di setumpukan jerami kota Hanoi yang terus menggeliat dan berbenah. Tapi mataku selalu saja mengintip kerumunan itu mana tahu terjadi keajaiban tak terduga.html Sekali lagi. pasti tak ada duanya di belahan bumi ini. Lalu-lalang ratusan pengunjung Pameran Dagang dan Industri di Gedung Hanoi Trade Center malam itu nyaris tak kuhirau. Atas keteguhan sikapku ini. telah menghakimi sebagai budak sengau yang kehilangan arah. sambung Wan berhujjah. Tapi semua ihwal ikhtiarku hampir tak membuahkan hasil. Mitra niaga dapat kucari bilamana dan di mana saja. manakah yang lebih besar hasrat untuk berniaga ataukah menjemput kerinduan Nguyen yang melambai-lambai sejak lama di jiwa yang hampa? Jujur harus kujawab. Nguyen muncul tiba-tiba. Aku lebih banyak menekan angka-angka di panel handphone-ku atau membolak-balik buku telepon untuk mencari nama dan alamat Nguyen Vet Tienh. beberapa perempuan Vietnam yang terbilang pengusaha sukses dan masih lajang. menjemput Nguyen saat rindu dan kasih yang tak pernah terkubur. Tak usahlah dicari barang yang tak jelas. Dari mana asalnya kapas. http://www. sampai-sampai sahabat karibku sesama pengusaha serumpun. tak hendak sedikit pun aku melunturkan kadar rindu-kasih pada Nguyen. Alamat yang disebutkannya di surat-suratnya sudah ditinggalkannya tanpa tanda-tanda. Wan Syariful. Tapi. Sesiapa yang sudah dilepas. Senyuman dan pipi ranumnya sulit kulupa saat kusentuh pertamakali di Pulau Galang dulu. Aku merasa punya kedaulatan sepenuh jiwa tanpa terusik oleh sesiapa. jujur.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. bukannya kurang molek dibanding Nguyen saat kami bertemu-muka sejak beberapa tahun terakhir. Aku benar-benar telah terperangkap dalam jeruji asmara yang dibentangkan Nguyen penuh ketulusan. bila ditanya. Tapi aku tak begitu hirau. Dan di bayang-bayang langit itu bertabur sosok Nguyen yang lembut. Langit Hanoi benar-benar merah jambu. Atau aku lebih tertarik menyusuri kawasan permukiman yang disebutkan Nguyen dalam surat-surat terakhirnya. Pameran Dagang dan Industri yang digelar di tengah kota Hanoi ini memang sudah berlangsung hampir sepekan. dari benang menjadi kain. Tangis dan derai airmatanya tak lekang dalam pintu ingatanku saat ia terburu-buru menyerahkan diri di dormitori yang selalu menjadi saksi kesendirianku. aku tetap merasa tertampar hingga wajahku terasa bersemu merah. Tapi. Wan Syariful. mulai melihat isyarat buruk dalam diriku. Padahal. teman sesama pengusaha Melayu yang selalu menjadi tempat curahan hati. Lebih-lebih aku hendak mendedahkan pada Nguyen bahwa budak Melayu yang dulu makan gaji sebagai pekerja kontrak di Kawasan Industri Muka Kuning kini sudah jadi pengusaha pula.

I love Indonesia sapa perempuan itu pada pramu stand yang menjaga stand kami. Dan perempuan itu langsung memelukku. aku sangat percaya bahwa bantuan Tuhan bisa datang tanpa disangka-sangka. Aku memburu perempuan itu yang membuat kedua anaknya menjadi ketakutan. hati kecilku kembali ingin berteriak begitu kulihat wajah perempuan itu benar-benar mirip Nguyen. teman setiaku sejak dulu. Sejumlah stand perusahaan dari berbagai negara Asia sudah ada yang tutup. Semua bisu. nama yang tertulis di situ: Nguyen Vet Tienh. aku bagai melompat menuju buku tamu. Pramu stand menyilakan perempuan itu menuliskan namanya di buku tamuku dan mempersilakan melihat-lihat pajangan komiditi perdagangan.processtext. Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt di hall raksasa itu. What do you think about Indonesia? giliran pramu stand kami yang balik bertanya. terus terang. Tak salah lagi. Meski. tak lain memohon agar aku bisa bertemu dengan Nguyen kembali. doaku usai shalat tahajjud di tengah malam sunyi. Aku masih betah duduk berlama-lama ditemani Wan Syariful. I have ever became a refugee in Galang Island sahut perempuan itu sambil tersenyum manja. aku harus malu karena beberapa kali menyapa sejumlah perempuan di arena pameran atau di lorong-lorong jalan yang kuduga Nguyen ternyata sama sekali bukan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebagai Muslim sejati yang memegang teguh ajaran agama. http://www. Begitu pengunjung yang satu itu melangkah berkeliling di dalam stand kami. di sudut pikiranku yang terdalam masih kutemukan kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Tapi aku tak mau malu dan kecewa bila menegur orang yang keliru. Apalagi. . Tapi. Pelan-pelan sama-sama tersenyum. Malam terakhir Pameran Dagang dan Industri itu terasa bergerak lamban. Sungguh. Matanya bercahaya mengeja tulisan Indonesia di blok stand.remember me? ucapku langsung meraih tangannya. seorang perempuan berwajah molek dan manis bersama sepasang anaknya yang berusia di bawah sepuluh tahun. Saat itu. sejenak kami tak peduli sesiapa di sekitar. Hanya kurasakan hangatnya airmata Nguyen yang jatuh di bahu kananku. lewat di depan stand kami. Pelan-pelan aku mengurai jejaring kenangan di bion-bion otakku. Hanya suara rindu yang berbicara di lubuk hati kami berdua. Nguyen. Suasana benar-benar hening beberapa lama. Kami bersitatap tegang. Kedua anaknya benar-benar bingung menatap perilaku kami.html Aku tertunduk lemas. Perempuan berhidung mangir itu benar-benar terperanjat sambil menatapku penuh keanehan pada mulanya. Bang Rajab suara Nguyen tersekat di kerongkongan sambil berbisik di telingaku.

Nguyen bercerita soal emaknya yang sudah meninggal akibat sakit paru-paru dua tahun silam. Sebab. Nguyen pasrah.html Bola mata Nguyen masih berkaca-kaca saat melepas pelukan. Pertemuan itu benar-benar mengalirkan semangat yang luar biasa di dalam jiwaku. yang berjarak puluhan kilometer dari Hanoi sudah jarang dikunjunginya. Aku memeluknya sepenuh-mesra. seorang perempuan baya setelah menghidangkan teh hangat buat kami. sudah berkeluarga dan tinggal terpisah jauh di bagian utara. Dua adiknya.com/abclit. Suasana malam benar-benar menghanyutkan perasaan hingga meluluhkan segala derita dan lara yang menyelimuti hidup mereka. Mana suamimu? tanyaku tiba-tiba. Aku tak hentinya tersenyum haru dengan mata yang sembab. Pantaslah Rajab tergila-gila datang ke Hanoi ini. setiap ucapan Nguyen dalam bahasa Indonesia terbata-bata berbancuh bahasa Inggris yang memadai. Wan Syariful yang sedari tadi berdiri mematung menatap ulah kami. Sing Anh. kami sudah pisah ranjang. Meskipun ayahnya terkasih terkubur bersama sejarah getir kekejaman tentara Vietkong di sana. Nguyen harus bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Seketika Nguyen mengenalkan kedua anaknya dalam bahasa Vietnam yang fasih. sahut Nguyen pelan. Malam itu aku mohon pamit pada Wan Syariful untuk mengantarkan Nguyen beserta kedua anaknya. Berulang-ulang perempuan lembut dan manja itu menjatuhkan diri di bahuku. San Nam dan San Nangh.processtext. Ada putri yang molek bertakhta di sini suara Wan makin meranumkan suasana penuh haru itu. Darahku mengaliri seluruh pembuluh penuh tenaga. Setiap helaan napasku hanya ada rasa syukur yang dalam kepada Allah. Larut malam mendera rasa kantuk Van Trangh dan San Minh sehingga keduanya tertidur pulas di kamar. Begitu pula kampung halamannya. Nguyen masih duduk . Ketika Nguyen bercerita ihwal suaminya yang berperilaku kasar padanya. Semua ini berlaku tak lain atas kehendak-Nya jua. Seketika itu juga aku perkenalkan temanku. Hampir setahun ini. Untunglah Nguyen tegar menerima kenyataan harus berpisah dari suaminya yang dirasakan lebih banyak menyakiti hidupnya. sudah kembali beristirahat di kamarnya. Hening benar-benar mencekam di ruang tamu itu. Mereka sudah jarang bertemu. Lelaki yang sulung bernama Van Thrang dan adiknya. Dalam perjalanan naik taksi itu. Aku telah keliru memilih jodoh.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nguyen menatapku dengan mata yang makin berkaca-kaca. http://www. Sampai-sampai Van Thrang dan San Minh yang kecik-belia itu turut pula bersedih. perempuan molek pula laksana emaknya sendiri selalu dipanggil San Minh. airmatanya tak henti mengalir. Aku makin memperkuat pelukan. selalu diulanginya dalam bahasa Vietnam kepada kedua anaknya. Pembantunya.

Aku tak akan merobek tirai perkawinanmu ucapku dengan suara pilu. Layar TV yang bergantikan menyajikan siaran berita dan hiburan malam dalam bahasa Vietnam yang tak bisa kumengerti nyaris tak kami hiraukan lagi. bukan? Tapi aku sudah menganggapnya bercerai. . Percintaan kita telah tertunda beberapa kali suara lirih Nguyen mendayu-dayu. Menelepon pun tidak. Napas kami bersahutan saat berdekapan di bawah selimut malam. Maksudmu?. kudengar dia sudah menikah dengan perempauan lain.com/abclit. Sungguh.. aku tak bisa. Tapi seketika aku tersadar dan bangkit mengejutkan Nguyen. Kamu tidak mencintaiku lagi. Inilah saatnya. suara Nguyen terdengar kecewa dengan bolamata yang penuh harap. Terus terang aku sempat terhanyut saat berduaan di kamar yang wangi. Mengisyaratkan ajakannya padaku untuk melangkah ke kamar. Aku terdiam dan ternganga..html menyandar didadaku. Dia tak pernah mempedulikan kami lagi. Nguyen. Pisah ranjang bukan bermakna bercerai. Tapi. aku sudah tak layak kamu cintai karena aku Suara Nguyen terhenti saat jemariku menyentuh bibirnya.processtext. Memang. Masih ada pagar di antara kita ucapku mengiringi alam sadarku. tak ada kata-kata yang lebih manja dari kehangatan tubuh Nguyen sambil membilang getar jantungku yang tak pernah reda. Bang Rajab. kami sudah pisah ranjang cukup lama. Nguyen meraih jemariku. kamu masih menjadi istri orang lain. http://www. Iya. Lampu temaram.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Lagi pula. Maaf.

aku tak kuasa terpisah jauh dari mereka. Dan riak ombak di lautan saat kutatap dari tingkap apartemen tempat tinggalku di Batam Center. Oktober 2005.com/abclit. Jangan biarkan hujan membasuh semua kenangan yang terdedah di lembaran sejarah hidup kita. dia sudah tak punya ikatan tali perkawinan lagi dengan suaminya akan kujadikan dirinya menjadi ratu dalam hidupku mulai malam itu. langit terus bertabur dirimu di mana pun aku menumpahkan rindu yang tak berujung. Mataku nyaris tak terpejam sepicing pun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Andai saja. Nguyen tanpa kutahu merekam kisah kasih kami sepanjang malam di bawah temaram lampu di bawah langit Hanoi yang tak pernah berhenti tersenyum. Puluhan burung sore yang terbang di atas Selat Melaka bagai mengantarkan pesan-pesan rindu dan kasih Nguyen yang tak terlerai. Aku berpesan pada Nguyen agar mengurus perceraiannya di pengadilan. Nguyen bercerita soal proses gugatan perceraiannya yang ternyata tak mudah. Tak mungkin aku mempersunting istri orang. Begitu pula Nguyen yang pasrah sepanjang malam hingga pagi.html Aku duduk di bibir ranjang. Nguyen terus saja menangis sesegukan. Tapi. Kepergianku pagi itu meninggalkan Nguyen dan kedua anaknya. pelukan kasih dan rindu pada Nguyen justru makin melipat-gandakan rasa cintaku. Sungguh. Aku selalu memberi ruh semangat dalam dirinya agar tak pernah putus asa. Langit masih bertabur Nguyen. Langit Hanoi terasa merah jambu. Aku adalah anak jati Melayu yang menjunjung tuah dan marwah. Selalu. . Tapi e-mail terakhir Nguyen yang kini terdedah di layar maya di kamar kerjaku benar-benar membuatku terkesima dan tak pernah bisa menutup mata. bagiku. memang bukan akhir segalanya. Nguyen. Setiap langkah yang salah kulewati tak sudi jadi arang yang mencoreng muka keluarga dan karib-kerabatku di kampung halaman. Aku dan Nguyen terus berkirim kamar lewat handphone dan e-mail. selalu mengalunkan derai tawa Nguyen dan anak-anaknya. http://www. saat aku sudah kembali ke Tanah Air. Jangan biarkan langit mendung sekejap pun. pulaskah tidurmu malam ini*** Pangkalan Kerinci. Nguyen.processtext. Malam yang terbalut rindu itu berlalu tanpa banyak makna bagi Nguyen. Kekecewaannya yang tergurat di wajahnya yang merah jambu. dan selalu kutemukan kemolekan dirinya yang tiada tara.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu. Edisi 12/04/2005 Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan. kata mereka. selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Tak ada yang peduli. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang .processtext. tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini. http://www. arus sungai menjadi sangat deras. Beberapa ratus meter ke arah bukit. Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat.html Radio Transistor Post: 12/06/2005 Disimak: 179 kali Cerpen: Akbar Faizal Sumber: Kompas. terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang.com/abclit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai. pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu.

Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan.com/abclit.processtext. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Dua anak gadisnya. berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat. Bahkan. Tak lama. Gelap. suaminya. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jona dan Warni. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. tepat di atas ranjang keduanya. Rencananya.html sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Tak terhitung dukun yang didatanginya. sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu. Kakek Lido. Tak hanya secara fisik. upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Hampir-hampir tak ada privacy. jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar.anaknya. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda. . http://www. Dua orang gadis tangguh. Tak ada apa-apa.

segar. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. dan kuat seperti ibunya. nenek Lido dulu cantik. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Saat istrinya membopong pisang. kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. ”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu. Nenek Lido bertubuh subur. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Alu kita patah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa. senyum tak pernah hilang dari wajahnya. kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya.. . Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis. Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Lagipula. mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Konon.processtext. Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya.” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah.html Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya. Kata ayahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu. http://www. dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah..

Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Baju Jona telah robek di bagian depan. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya.. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah. Rumah panggung itu bergerak. angin semakin kencang. Akh. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. http://www. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia. kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan.processtext..com/abclit.. krreeek dari loteng.html ”Kata Nisa. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. krreek. namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. .. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. ”Siapa kamu? Aaakkhh. Tiba-tiba.” kata Nenek Lido lagi.. pikirnya.. Kindo. Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit.” Jona dan Warni menjerit. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.

Rappe mundur. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Rappe semakin marah.com/abclit. nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. jawara kampung sebelah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya .?” teriaknya setengah melompat. http://www. ”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. dengan secepat kilat. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis. Rumah panggung itu bergoyang keras.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dari arah belakang. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya.. Rappe. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Dengan keras. Lelaki itu tersentak keras. Nenek Lido melengking marah. menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai.processtext.html ”Siapaa. Dalam gelap. Maka. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya.. sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Dengan sekali mengayunkan tangan. Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Sebilah pedang pendek. Dalam gelap.

Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Tangannya gemetar dan nyeri. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang.. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan.Generated by ABC Amber LIT Converter.. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido.com/abclit.. Dengan susah payah. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah.. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya.html ke depan pintu kamar. Cresss. Hanya itu. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari. kepalanya juga.”. bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan. Entah apa..” Nenek Lido menyuruh Jona. http://www.processtext. Nyalakan lampu. Tapi Nenek Lido tidak menangis. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. ”Kindo. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis. Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Berhasil. ”Dia sudah pergi. . Saat mendekati sakratul maut. Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri..

ikut-ikutan menjerit di samping ibunya.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya.processtext.html Jakarta. Kedua anaknya yang masih hidup. Korban berjatuhan. Ling-Ling. Dari balik kain penutup jasad. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Edisi 11/27/2005 Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Istrinya. dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. http://www. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka.com/abclit. 4 November 2005 Pao An Tui Post: 11/27/2005 Disimak: 180 kali Cerpen: Dwicipta Sumber: Kompas. A Cong dan Beng Sin. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya.

Jangan menangis terus-menerus.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya.processtext.” kata Keng Hong. Relakan kepergian Siong. ”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu.html Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. http://www.com/abclit. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Keng Hong melirik kedua adik iparnya. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Tuhan akan menerimanya di surga.” katanya. Ling. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Suamiku? Siong.” teriaknya sambil menggerung-gerung. Asap hio menyengat. Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. gantunganku bila kau tak ada. ”Orang-orang yang berkedok membela . Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat. ”Kenapa kau tega membiarkan ia mati. Rambutnya kusut. sebagian menutupi wajahnya. ”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. ”Sudahlah.

Tapi A Siong mewarisi .Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya.com/abclit. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik. meskipun tinggal rintik-rintik.” kata Keng Hong. Semalam.” ”Sudahlah. air masih menggenangi halaman belakang. tentu mau menolong kita. menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. Setelah empat jam menggali tanpa henti. kau pergi ke tempat Paman Cia. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat.html Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Jangan menangis terus. ”A Cong. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Sekarang. Jangan cengeng!” Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail.processtext. Malam. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil. Wajah-wajah mereka muram. Keng Hong mencangkul tanah basah. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Kau sekarang menjadi anak tertua. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar. kita pikirkan nanti saja. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Hujan terus turun sejak semalam. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. http://www. Dia orang baik. hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Dengan kalimat terbata-bata.

com/abclit. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu. ”Ayahku selamanya membela Republik.” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong.” kata Sin Liong dengan nada menyesal. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore.” kata Hong San dengan wajah penuh sesal. Kedua adik A Siong keluar dari kamar.orang miskin seperti kita. Setelah korbannya ambruk. ia bisa mewakili ayahnya. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. . Dan mati pun di sini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. mereka kabur dari tempat itu. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak. tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya.html keberanian ayahnya.processtext. ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. babah-babah kaya itu. pendiri Pao An Tui. Ia menjawab ayahnya tidak ada. ”Aku datang terlambat. Kalau ada apa-apa. http://www. ”Kita memang serba sulit. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu. walaupun kita loyal terhadap Republik. yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang. Ia lahir di sini. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Ayahku teman baik Oei Kim Sin. sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Sementara mereka. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir. Ling-Ling melolong-lolong.

orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya. Keng Hong mengangguk. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL. Kakak. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku.processtext. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui. Berkali-kali ia duduk dan berdiri. http://www.” kata Hong San yang dari tadi diam saja. meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Matanya menyelundup keluar.” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.” jawab Sin Liong kesal. resah. ”Puh. aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. baik yang kaya maupun yang miskin.html ”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita. Lihat saja buktinya. kau tidak tahu. Memang benar. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik. . Mereka berteman baik sejak kecil. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Ia mengenal baik Oei Kim Sin. menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap.com/abclit. kaum peranakan Cina miskin.” ”Benar.

” kata Hong San. ”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya.” ”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini.processtext. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita. . dan tidak banyak terpencar-pencar.html ”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal.” ”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun.Generated by ABC Amber LIT Converter. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.com/abclit. http://www. kepala Pao An Tui Semarang?” ”Benar. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah.

”Siapa?!” bentak Keng Hong. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Masuklah. tidur di sini. ”Kau gantilah pakaianmu. Bukalah pintunya.” jerit perempuan di luar pintu. temani kami. ”Aku. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong. tapi ditahan Keng Hong. http://www. Kakak Hong. Tadi baru saja ada orang mengintip. ”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.html Seseorang mengetuk pintu. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Semua cahaya di rumah kumatikan. . Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.com/abclit. ”Aku takut di rumah sendirian.” kata istrinya sambil menggigil.processtext. Mei Lan.” katanya dengan suara parau.

” Keng Hong tertawa samar dan kecut.Generated by ABC Amber LIT Converter. .” kata istrinya sambil terisak. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya.processtext. aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut. Kakak Hong?” tanya Hong San. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu. dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. meresahkan malam yang basah. meninggalkan mereka. tapi ratusan. Anakmu sendiri menjadi korban. ”Tidak. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can. dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu. Tidak hanya puluhan.” kata Hong San. ”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. http://www. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Suara tangisannya pecah. ”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Ia telah tercebur ke dalamnya.” katanya pelan.com/abclit. terbunuh sia-sia. dan kau diam saja. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya.html ”Sekarang apa yang harus kita lakukan.

”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Di Semarang. Apa yang harus kita lakukan. Dan tumbal kaum kita. ada seseorang mengendap-endap di luar. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya. Aku akan di sini sampai pagi. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. Mimpi orang-orang kecil macam kita. lalu menelentangkan tubuhnya di lantai. Malam turun semakin sunyi. Siong. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Lebih baik kutangguhkan besok pagi. Firasatnya tak enak. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya.html ”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. kita telah membagi dua kekuatan.” kata Keng Hong. . Tumbal revolusi kemerdekaan Republik.” ”Kakak beristirahatlah.com/abclit. Sementara Sin Liong menggelar tikar.” bisik Hong San.Generated by ABC Amber LIT Converter.” kata Hong San.” katanya dalam hati. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. ”Kakak. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya.processtext. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat. ”Kau telah menjadi tumbal untukku. http://www. Tapi aku sangat lelah.

html Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya.” kata Keng Hong. ”Mereka benar-benar meneror kita.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Dia menunggu di samping pintu.” katanya. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar. ”Jangan terjebak. ”Bangunkan Sin Liong. ”Sudah.” Keng Hong mendekati pintu depan. http://www.” jawab Hong San. ”Cuma ada satu orang. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.processtext. Kita sergap saja dia.” katanya.com/abclit.

Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. http://www. Kedua belah pihak mencurigai kita. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. lalu membukanya. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru.com/abclit. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Ia membaca tulisan itu. ”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Kedua adik iparnya memandang bingung. Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya. Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Di antara rentetan senjata api. orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Lama mereka tiarap. ia membuka selot pintu.processtext. Perlahan-lahan. ”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan. tak tahu mesti berbuat apa. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya. sebat.” Mereka berpandangan satu sama lain.” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. tercekam ketakutan. .html Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Dalam hitungan detik.Generated by ABC Amber LIT Converter. Diambilnya korek dari kantong celananya.

3. .com/abclit. NICA.Generated by ABC Amber LIT Converter. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. Pao An Tui : Barisan Polisi Keamanan Kota. 13 Januari 2005 Catatan: 1. http://www. suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya. Ia mati bunuh diri tahun 1949. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15. begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit. 2. Panglima Tentara Belanda. 4. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China.processtext.html Yogyakarta. di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda.

Dan gedung-gedung. Begitulah terik. seperti kemarin-kemarin. semua terbentang.com/abclit. matahari membelah. http://www. Pedih ini akan hilang.Generated by ABC Amber LIT Converter. . Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir. Tetapi bukan itu. Lingkaran hitam yang berputar-putar... Dan dari mata tuanya yang buram. Dan lalu. lelaki tua itu merasa nyaman. meranggas tak teratur panjang dan jarang. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip. dengan ganjil. itulah yang dilakukan olehnya. Bagai melayang. komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Edisi 11/13/2005 Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar. kuning kelabu. sebentar memusat sebentar menebar. seperti bintang. Bukan hanya tameng. siang memanggang meringkus dirinya. menjelma kerumun bulatan pijar. Begitulah semua datang. Dan. lantas mengembang.processtext. segera merembes air. terus mengembang.html 5. di puncak monumen. amat terang. Tetapi takkan lama. kelabu jadi samar.. Di sana. Begitulah hitam jadi kelabu. jambang. menggenang. Dan. samar jadi terang. dinding-dinding kaca. Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. putih pirang. dalam nanar. selintas tampak seperti mata kayu. yang semuanya kotor. melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China. ada sebuah titik. memang. tak tertahan oleh tatap. Tetapi bukan. bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot. ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas Post: 11/13/2005 Disimak: 254 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. lingkaran hitam itu lalu menyatu.

gema lori. di puncak Monas. di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok. mulailah hari-hari itu. Masa berganti. Melayang. Titik putih.. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas. langit goa yang runtuh. Dan lihatlah. Tambang emas! Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. Mungkin lebih tampak seolah rebah. menyandang tas di bahu kirinya... lift ke atas ke bawah. ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana. Tetapi ya.. Memandang ke luar.. Membujuk. Bagai melayang. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar. segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. Lorong-lorong. Dan gedung-gedung. menggandakan semakin banyak lalu memantulkan.” Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar. Berdebar.processtext.. ledakan dinamit. semua terbentang. Begitu juga tambang emas di Lebong. Menerobos hutan. dadanya..Generated by ABC Amber LIT Converter. Letusan? Belanda kembali datang. Huah! Orang. Bengkulu. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang... Dan Belanda pergi. Maka. matahari membelah. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka.. seperti angin menyapu ilalang. Derek (pos) I. tidak. sepatu boot. semua terbentang. Akar-akar yang juga bagai bersembulan... tangga-tangga besi. di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. ia . beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang. menjelma kerumun bulatan pijar. ada sebuah titik. Menyerang tambang. Dan ah. Maka. Makin jelas.html Begitulah semua datang.. ada banyak emas. tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa. Kini tertahan. tidak. tajam pedih. Di sana..com/abclit... tidak. pasokan senjata berdatangan. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. menghunjam mata. http://www. di atas kereta itulah ia. Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. tidakkah amat berdebar? Semuda ini. lihat. Jepang menyerah. bagai mengambang.” kata mereka. Ia akan bekerja di sebuah tambang. lalu proklamasi. orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Apakah hanya matanya? Karena hari ini. Dan seperti mimpi. Di atas papan itulah ia duduk. Monumen Nasional.. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita. berkacamata. Dan wajah-wajah itu muncul. Orang itu masih muda. bukan itu. Pak Daud.orang dengan helm. Tampak amat sibuk. Si remaja ini. bagai melayang. Berlompatan. Derek II. Atau menyibak. dalam nanar. Kata Pak Daud. meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. dinding-dinding kaca. Atau mungkin membelah. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. Tetapi memang. Seperti hamburan. orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang. pun mengajaknya. berlalu lalang.

Agaknya ia harus terus-terang. Pak Jusuf.. yang diangkat jadi juru tulis gudang..” Pak Jusuf inilah. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal.. Dari jauh ia datang karena yakin Nur.html tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana.” senyum itu kembali. emas Monas itu didatangkan dari Jepang. anak Pak Daud. Tetapi hei. dulu merupakan sosok sederhana. Tetapi. kenapa kini berbeda? Senyum itu. Maaf.. mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam. Ia tak suka.” katanya. ”Saya membutuhkannya. Tatapan di balik kacamata. ”saya punya usul. dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.” mendehem lagi. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. tapi mata di balik bingkai besar itu berubah. Cuping hidung besar. cacat. di tambang itu. Pak Jusuf berkata.. mendehem beberapa kali. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant).. seingatnya.. setelah Pak Daud meninggal. Dibuat di Jepang. memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu. Tiba-tiba si pemuda menoleh. . Tatapan di balik kacamata. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana. Kacamata itu.” ”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak. ia mengalihkan pandang. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lihatlah kini diri Dik Najir. Tak enak ketahuan mengamati. emas yang kita sumbangkan dulu.” Senyum itu masih.” ”Begini. disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Ia tak suka kalimat tak jelas itu.. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik. Jalan yang lebih baik. Kacamata itu. ”Ma-maaf. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang.. apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu. http://www. tatapan itu. ”Dulu. ”Begitulah yang orang-orang dengar. bagai melayang. dalam kepalanya? Tentu tidak. tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti..com/abclit. Tetapi. ”Saya paham.. yang ingin saya tahu yaa. itu. Untuk modal.. kini tersenyum. kita berjuang. coba berdagang. Refleks.processtext. Dik Najir. ”Tapi.. Dik Najir..” Yang orang-orang dengar. saya mengerti. kembali ia palingkan muka. menatap ke arahnya. terasa ganjil. apa adanya.

melainkan disalurkan.. Saya. Dik Najir. Kaki saya putus bukan karena berperang. mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas.processtext.” ”Maksud Pak Jusuf?” ”Yah.. Jemarinya merogoh. Saya akan membantu. Sumbangkan saja. Itu gampang.” . Dik Najir tentu bertanya-tanya. ia mengangguk. http://www. membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran.com/abclit. mendengus. mereka hanya meneruskan. Tapi karena dinamit itu. Pak Jusuf mengeruk saku celananya. ”Sebetulnya bukan dikembalikan. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang. soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah.” Ragu. seperti kecewa. langit goa yang runtuh.. saya kemari hanya untuk hal itu.. maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. Tak lebih. tapi jumlahnya tak lagi sama. ”Emas itu memang ada pada saya. sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.. maaf. lalu berkata. emas itu tak usah dibagikan. disalurkan.” ”Tenang.” Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas. Kemudian katanya.” ”Tidak.Generated by ABC Amber LIT Converter. Lalu. Dan karena jumlahnya sedikit. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya.. Pak Jusuf. mengeluarkan dompet. begini. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi. Jadi. mereka bilang ada yang digunakan. ”Nah. ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu. Dik Najir.” ”Ah tidak! Mana bisa..html Satu kaki tak ada. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama. Saya tak mau. seperti mencari lagi posisi yang tepat. Saya. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf. kata mereka. baiklah saya terangkan. bagai mencari persetujuan. ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini.” Diperbaikinya duduk.

menatap ke arah koin. Koin itu berhenti. Hanya satu rupiah? Seperti tahu keheranannya. kursi. Diayunnya kaki. semua kembali seperti biasa. bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong. si pemuda membalikkan tubuh. Saat koin itu bergerak turun. lapar. Semua tak bergerak. Waktukah. Tapi ajaib.. Mulutnya terbuka.. http://www.. mata itu.. terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti. yang siap menyambut koin. tertahan bagai mengambang. yang berhenti? Dan Pak Jusuf. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu. iseng. Pak Jusuf mengangguk. tetapi koin 1. Sepertiku.html Satu rupiah? Ia ternganga. kaku tergantung.000 rupiah itu kembali? ... kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. aku tahu yang ia rasakan.. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut. atau mungkin tiga puluh detik. Senyap. Bahkan udara pun seperti mati. nyaris menyentuh loteng. semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. Dan. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah.!” Lelaki tua itu terkejut. taplak. ketika itulah. teronggok di trotoar. ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut.. hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. Mata di balik bingkai besar itu menganga. tapi kembali tertegun. koin satu rupiah itu tak tersambut.. Sepuluh. tersentak. diam.Generated by ABC Amber LIT Converter. tidakkah berair bagai menangis? Pusing.. langkah si pemuda terhenti. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. Tetapi mendadak. Apa yang ia lakukan? Meminta 1. jatuh menimpa lantai: ”Triiingngng. Betulkah? Betul.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya. Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi. bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks.!” ”Triiingngng. diam. Wajah bulatnya tengadah.. sekilas tampak seperti mata kayu. tertahan bagai mengambang. kelihatan seperti patung. Ia terus meluncur. dua puluh.. Ketika koin itu bergerak turun. tak berkedip.. Meja. astaga. Tangannya yang terangkat. gorden. di puncak sana berkilauan 77 lidah emas.processtext. Semua tak bergerak..com/abclit. tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung. Dengan hanya seribu. Lalu.

Ramadhan telah berlalu. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran. mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu. http://www. Mencari kerja terus. tujuh puluh tujuh lidah emas. sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dan mata itu.html Konyol. dalam lukisanku. Muak. menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa? Salah tingkah.. Memasukkan lamaran terus. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana.. hari itu.. Tetapi ia telah di sini. Minggu 28 Maret 1830. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua.processtext. Tujuh puluh tujuh? Eh. 17 Agustus 2005 Sayap Kabut Sultan Ngamid Post: 11/13/2005 Disimak: 163 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Edisi 11/06/2005 Ya. kau juga tahu. Karena itu. Dungu. aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. ”Tujuh puluh tujuh. Jadi.” Si pengemis seperti lega.” Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. Tiba-tiba ia merasa letih...*** Payakumbuh.com/abclit. ”Maaf. di hadapan si pengemis. . berapa umur Bapak?” ”Oh. asalan ia berkata.

html Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Roest." Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan. "bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini. Lewat bisikan batin. Dan orang-orang. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Raden Mas Joned. aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram. Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar. ke langit sarat sriti. Namun di luar dugaan. Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. "Kalau mau Sultan . Karena itu. 1 Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda. percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. Pangeran harus kulukis tegak menantang. "Segalanya sudah diatur. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci. jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa. mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta.Generated by ABC Amber LIT Converter. sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan. Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas. terutama aku. Hanya aku saja yang boleh sedih. http://www. dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu.com/abclit. Jadi. Ya. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. de Stuers. tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Dia tak ingin de Kock atau Valck." desis Haji Ngisa. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir. Residen Kedu berwajah batu itu. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu.processtext. di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu.

Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. "Sampean juga jangan menatap wajah Sultan. Jenderal. Ya. apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?" Karena itu. mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi. Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. Tetapi." kata de Kock. saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean. de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan. Pangeran." desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu.com/abclit. "Jadi. hati Sampean bisa terbakar.html Ngamid bisa menghilang. Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan." Ya. saya tembak putra-putra Sampean. "Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun. http://www. Kalau berani menatap. Dan.processtext." "Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga. Nah." . Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi? "Mengapa saya tidak diperkenankan pulang. memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Setelah itu. jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua. Namun.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang. Jika ingin berkelahi.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Mengapa tak Sampean lagi takjub. "Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung. Saya siap dibunuh kapan pun. saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!" Setelah itu. jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak. Jenderal.Generated by ABC Amber LIT Converter. dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga." Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Apa orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. seperti Isa yang tersalib. sambil mendongakkan kepala. Karena itu. urusan Haji Ngisa. seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. "Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini. Sekarang. Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O. dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. membumbung menembus kabut. Ketahuilah. menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. Urusan siapa? Urusan saya. moksa ke langit. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. Kisanak?" Gandakusma mengangguk. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. Tuan.processtext. silakan bunuh saya. bukan urusan Sampean. andaikata de Kock dan para serdadu tahu. wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. De Kock akan tinggal arang. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang? . Jadi. Dengan hati-hati pula.com/abclit. kau tahu. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa. dia berseru.html Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Gusti. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. Kematian toh hanya kabut halus. "Hei. Karena itu. http://www. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. ketahuilah.

Sultan?" "Ya. sekali lagi. Sultan. saya khawatir Jenderal de Kock akan…" "Ya. Sampean tahu." "Maaf. dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. Namun. . Sampean boleh khawatir. kita hanya akan bersilaturahmi. kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!" Ya. saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma." "Jadi. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. ya. Sultan. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah. Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. Gandakusuma menyangkal. http://www. "Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan. berlebaran pada Jenderal de Kock. dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan." Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. "Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat." "Allah tak menghendaki seperti itu. wangi bunga kubur. Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar.html Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu.processtext. Ketakjuban. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan. Gandakusuma. Karena itu. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. > 0 Meski demikian.

Nanti kuberi sajadah dan sorban baru." Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya. Ayolah. "Sudahlah. bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. Ya." Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok. Sultan. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan. setelah pada pukul 08. tetapi de Kock telah menjelma iblis. tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?" desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan.Generated by ABC Amber LIT Converter." "Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita. "Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan. O. Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Gandakusuma. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. http://www.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan.processtext. Digambarkan bersayap atau tak bersayap. dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi.html "Kita memang akan bersilaturahmi. Juga sayap dan segala yang dicinta.com/abclit. de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu. Nanti kuberi kuda baru. namaku Saleh. mata yang kehilangan keperkasaan. "pada saat berperang pikirkanlah peperangan. . Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari? Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu." kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu. Dan sebagai iblis. Dia tahu sebentar lagi. Juga sayap dan kemegahan dunia. Nanti….

Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. 19 Oktober 2005 Catatan: 1. 5. 2. "Historische Tableau. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. Kata-kata Sultan Ngamid dalam "Babad Dipanegara". 3. Anak-anak Sultan Ngamid. die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro". nama Dipanegara dia berikan kepada putranya. Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh" yang diterbitkan oleh LKiS. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey.Generated by ABC Amber LIT Converter. 4. Juli 2004.com/abclit.html Semarang. Langit Malam Post: 10/31/2005 Disimak: 227 kali Cerpen: Iyut Fitra . Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon "Opera Diponegoro". Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi. "Asal Usul Perang Jawa.processtext. http://www.

hati-hati. Tak biasanya Ibu seperti itu.html Sumber: Kompas." ucapku pelan. sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Tetapi. Edisi 10/30/2005 Detak yang lamban. bagaimanapun aku harus mencoba untuk menjelaskan. Angin menusuk gigil. Menuju jantung kota kecilku. sejak saat itu pulalah Ibu hanya sendirian membesarkan aku.olah saja ia sedang disengat kalajengking. akhirnya Ibu berkata keras kepadaku seolah. memang tidak pernah membiarkan aku hidup kekurangan. Berjalan di atas lintasan trotoar yang menenggelamkanku ke ruang-ruang lengang melenakan. agar Ibu mengerti. http://www. Ah. bola mata tempat biasanya aku berteduh. Namun. Anak satu-satunya. Ibu yang kemudiannya melanjutkan bisnis Ayah di bidang konfeksi. Sebuah danau tenang. anak dendang itu juga manusia. Aku telah menyelidiki segala sesuatu tentang dirinya. Namun. Sampai aku menyelesaikan kuliah di fakultas ekonomi. sejak Ayah meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sampai aku besar. Seperti kemarin juga. Sampai Ibu lebih mengharapkan aku membantu bisnis konfeksinya daripada melamar pekerjaan lain.com/abclit. Telaga yang tidak pernah kehilangan kasih. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah. Setelah aku bercerita panjang. Kuingat kata-kata Ibu sore tadi. "Anak dendang? 1) Kau mau menikahi anak dendang? Apakah Ibu tidak salah dengar?" Aku menatap bola mata Ibu dalam-dalam. Di beranda tempat kami bisa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. bola mata itu serasa tak kuat untuk kulawan.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ibu. Semenjak usia lima tahun. Hatiku terbakar. Mencucuk sumsum dan tulang.processtext. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Telingaku mendadak panas mendengar kalimat Ibu yang amat menyudutkan profesi anak dendang. sore kali ini menjadi lain. Pukul dua belas tengah malam. sepuncak upaya aku berusaha untuk bertenang diri dalam kesabaran. . Mulai sinis. "Apa yang telah kau ketahui? Tentang ia yang selalu pulang subuh? Pulang dengan lelaki yang selalu bertukar-tukar? Atau kegenitannya merayu laki-laki di pagurawan? 2) "balas Ibu sengit.

Tidak ada yang menggoreskan cela. Sebatang rokok kuselai." "O. Bahkan. dekat sebuah lampu taman. Menyisik bersama angin malam yang tajam. Menusuk sudut hatiku yang paling lemah. Barangkali kenyataanlah atau keterdesakan kerasnya kehidupan yang memaksanya memilih menjadi anak dendang. keluarganya. http://www. Bayangan-bayangan itu membuatku tanpa terasa telah sampai di jantung kota. Aku telah selami pribadinya. Rabina itu perempuan yang baik. Percayalah. Karena hanya kepandaian berdendang itu yang dimilikinya. Bersipongang. bahkan latar belakang apa pun saja dari dirinya. "Ya. Tidak semua anak dendang seperti itu. semakin banyak aku berbicara. Ibu.html "Cobalah mengerti aku." "Ibu tetap tidak setuju!" jawab Ibu betapa kaku. Ibu. Lelapat kudengar tiupan saluang 3) yang ditingkahi dendang 4).com/abclit. jadi namanya Rabina?" Ibu memotong. Banyak lagi yang kucoba jelaskan. "Perempuan pulang pagi!" "Hidup tiada ubah bagai musang!" "Mana ada waktunya mengurus keluarga!" "Ibu tidak akan pernah setuju!" Kalimat-kalimat yang terus mengiang. Aku telah menyelaminya. Asapnya membaur dengan cuaca. Lapik gurau 5) tidak jauh lagi dari . Aku terpojok. kian pedas kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ibu. Aku duduk di tepi trotoar. Berbuai-buai.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. tetapi Ibu tetap pada pendiriannya. dan kesempatan seperti itulah yang dapat diraihnya.

kalimat-kalimat Ibu tadi sore seolah-olah menahan gerak langkahku. Membentur-bentur pikiran yang kini sulit lepas. Aku ingin mendengar suaranya lebih dekat. Pastilah Rabina yang tengah mendendangkannya. "Mengertilah. Pewaris. Di sebuah lorong toko yang sudah bertutup. jelas kutangkap dari gelagatnya. "Di samping berdendang. Ibu tetap tak sependapat denganku. dan penerus kesenian nenek moyang kita." terangku lebih panjang. Mengapa mereka harus kita sisihkan. Ingin menikmati rambut panjangnya. Apa Ibu percaya bahwa perempuan-perempuan lain pun akan selalu lebih baik daripada anak dendang? Ibu tentu lebih paham sesungguhnya. penjaga. Beralaskan tikar pandan dan dengan sebuah pengeras suara sederhana. Seolah berlari menjauh menembus cakrawala.com/abclit. http://www. Dan masih saja kalimat Ibu menghunjam bagai pisau-pisau yang berlepasan dari udara. Lekat di kedua belah anak telingaku.html trotoar itu. Di sanalah saluang tiap malam digelar.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kurasa Ibu tidak sepicik itu. Aku ingin ke sana. Suara yang sudah teramat kukenal. Lirih. Ibu tidak lagi menjawab dan meninggalkanku tanpa berkata-kata. Ibu. Memukul. Namun. bibirnya. kita lecehkan dalam keseharian. Berharap Ibu tidak tersinggung dengan uraianku. Dan suara itu. Mengimbau. Akrab.ulang datang. Bergendang-gendang. Ibu? Membiarkan mereka mati di saat mereka berusaha untuk tetap tumbuh. Sayup. mereka adalah perempuan-perempuan yang berusaha melestarikan kebudayaan. Bergema melantuni malam. . Haruskah kita membunuhnya. bulu matanya. Tetapi. Dan berulang. Seolah berpitunang.pandangan sebelah mata?" Selalu. berburu ke arahku.processtext. Samar-samar kudengar lagu Palayaran 6) yang sangat kusukai. Tetapi. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. Ingin melihat senyum Rabina." jawabku tenang. "Tak adakah pilihan yang lebih baik bagi seorang sarjana ekonomi? Untuk menjaga martabat keluarga dari pandangan.

Sebuah keprihatinan dari waktu-waktu yang tak tersisa. Pariaman Panjang 9). Pandangan-pandangan mata kami yang diam-diam saling mencuri seakan telah bercerita banyak dan seperti ingin mengakui bahwa kami telah saling menyukai. Untuk itulah aku terpaksa berdendang tiap malam. Lalu menunduk. Sawah Rawang 11). Sirompak Taeh 10). tentulah ia sedang memenuhi undangan di tempat lain. banyak orang-orang yang punya pandangan miring terhadap pekerjaanku. Tiba-tiba serasa ada sesuatu yang tengah datang menyerbu. Dendang yang melirih. Hidup memang keras bagi kami. semua bergantian berlayangan menembus udara dan cuaca. Sebuah rumah kecil. Untuk bersiap berangkat lagi malam harinya. aku harus membiayai keluargaku. "Ayah dan Ibuku sudah tua. Nyaris tak mempunyai kelebihan. Saat mula aku datang ke pagurawan. sejak singgalang 13) didaki. Suara Rabina terdengar seolah gambaran sebuah perahu yang terombang-ambing gelombang. "Aku mencintaimu.Generated by ABC Amber LIT Converter. bagaimana lagi. Tigo Giriak 12). Bolehkah aku mencintaimu?" ucapku ketika satu kali aku mengantarnya pulang setelah selesai berdendang. Rabina. aku setia menungguinya.com/abclit. Kemudian pada malam-malam berikutnya. http://www. Kalau tidak di lorong toko yang sudah bertutup itu. Tetapi. Aku tahu. Kuingat pertama kali berkenalan dengan Rabina. sampai jalu-jalu 14) dipuhunkan. aku mulai mengikutinya berdendang. Diam.ruang centang-perenang dan sudut-sudut yang tak rapi. Kadang terkesan merintih. aku sama sekali tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma. Karena setiap malam Rabina berdendang. Dari lagu yang satu ke lagu lain dialunkan untuk memenuhi permintaan demi permintaan rang pagurau 7). Ruang." ucapku lagi meyakinkan dirinya. Tidak jarang.processtext. aku telah mengatakan yang sesungguhnya. Dan lagi. Jam empat subuh saat itu. Banyak yang kuketahui ketika aku pun menjadi terbiasa berkunjung ke rumahnya. Sedangkan ketiga adikku masih sekolah. Tetapi. Sudut matanya yang melirik ke arahku membuatku terpukau. Ah. Sudah tidak bisa berbuat apa. dan siangnya adalah waktu yang lewat saja di atas ranjang. Ratok Bonjo 8). Dan Rabina seolah tak percaya. "Mungkin kamu tak percaya.apa lagi. Memburu dan mengepungku. Setiap berdendang pun Rabina mulai menyapaku dalam pantun-pantunnya. Bukankah kita punya nasib masing-masing!" demikian bagian dari cerita Rabina kepadaku. . Di saat lain aku justru merasa bahagia. Menatapku lama-lama.html Suara itu masih sangat jelas. Istirahat. Setelahnya kami mulai terjebak percakapan-percakapan yang hangat. Kadang aku merasa malu. Meratapi malam. biar sajalah. Hanya gambaran dari keberantakan.

Sedangkan kami hanya orang kecil yang bermimpi di kaki lima. "Cobalah berpikir kembali. http://www. . Ukur timbang matang-matang. Sudah hampir pagi. Kegelisahan tak dapat disembunyikannya bila aku belum datang ke pagurawan. Anak dendang. Tentang rindu. Bergulir. Kamu akan menyesal memilih orang seperti kami. Mencintaimu. Tetapi. pada malam-malam selanjutnya pantun-pantun Rabina semakin gencar menyerangku. tidak hanya ketika ia berdendang saja. Rasa cinta yang cemas. Sebuah kegelisahan terhadap hasrat yang takut bakal tidak sampai. Jatuh menimpa jemariku.processtext." katanya pelan. Perempuan yang mengekas hidup di tengah malam." ucap Rabina di pertemuan kami berikutnya. Lalu aku mencium keningnya. dua garis air bening tetes dari sudut matanya." "Jangan berkata seperti itu. Memendung. Meninggalkan sekeping keinginan yang belum tuntas.com/abclit. Namun. Lalu pulang meninggalkan rumah Rabina. kami akan menikmatinya berdua. pada waktu-waktu tersisa. mencoba menatapku lagi. Sejak saat itu pula kami mulai melewati hari-hari bersama. Wajah Rabina mengeruh. Lembut. Atau tentang perbedaan-perbedaan status yang membuatnya seolah ragu untuk melangkah. Kamu juga tak akan sanggup menepis ocehan orang-orang. "Aku sayang kamu.html Rabina mengangkat wajahnya. Sepenuh rasa cinta. saat-saat senggang ia tidak ada jadwal undangan. Rabina. Membenahi anak-anaknya yang berserakan. Tak kuduga. Aku juga hanya seorang laki-laki biasa yang kini mencintaimu. "Kamu berada di anjungan berukir megah. Rabina!" ucapku memegang kedua tangannya. Aku mengusap rambutnya." Berat rasanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tetapi. Rabina!" Sejak saat itu. aku mengangguk juga. Rabina selalu menunggu kedatanganku di setiap ia berdendang. Terima kasih sudah mengantarku pulang. "Pulanglah. Menatap bola matanya dan berusaha meyakinkannya. "Aku istirahat dulu ya.

Di langit malam. 8). 2) Istilah bagi tempat kesenian musik saluang berlangsung.Generated by ABC Amber LIT Converter. tempat kesenian musik sedang digelar. Ke lapik gurau tempat Rabina berada. . http://www. Menyelai rokok lagi.com/abclit. 10). Adakah yang lebih berkuasa daripada takdir Tuhan? Payakumbuh. Cahaya bintang berkilauan memendar bias. 11). Ingin berteriak. Pinanglah aku secepatnya!" ucapnya meminta. 12) Judul-judul lagu dalam kesenian musik saluang. Aku menatapnya. Aku ingin memberontak. "Aku mencintaimu. 6). 9). awan-awan diam.processtext. 7) Para pencandu atau penikmat kesenian saluang. Aku mencintaimu!" Namun.html "Pinanglah. kalimat-kalimat Ibu sore tadi terus memburuku. Rabina. Biasanya dilakukan oleh perempuan. Aku ingin ke sana. 5) Istilah. Agustus 2005 Catatan: 1) Orang-orang yang melagukan pantun-pantun dalam kesenian musik saluang. Lama. Lalu aku berjalan. 3) Alat musik tiup terbuat dari bambu (kesenian musik tradisi Minangkabau). Mendengar suara Rabina. 4) Pantun-pantun yang dilagukan. Aku ingin mengatakan kepadanya. Malam melilit. Aku masih di trotoar itu. Menikmati saluang yang masih berkumandang. Membelenggu. Meninggalkan trotoar itu.

com/abclit. . bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit. pendeta. mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi. Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. ”Kamu ini psikolog. http://www. ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya). fana.html 13) Lagu pembuka dalam kesenian musik saluang. Ini untuk melukiskan. Sebagai penulis. Di seberang sana. lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. ndrakila Post: 10/24/2005 Disimak: 194 kali Cerpen: Bre Redana Sumber: Kompas. 14) Lagu penutup dalam kesenian musik saluang. ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya. sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata. Edisi 10/23/2005 Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar. di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. lembah dan gunung-gunung. di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra. dia malah membayangkan produktivitasnya nanti. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. kebiasaan serta irama keseharian mereka. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak.processtext.

Kali ini aku mau. terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek.” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan.” tambahnya getas. Begitulah.Generated by ABC Amber LIT Converter. aku lupa. orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut. menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Beberapa teman ada yang mengusap air mata... Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. bukan teknis. Terus terang.. pekerjaanmu urban planner.. Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Terasalah. ”Wah.” sahutnya berseloroh. http://www. ”Kalau ingin menulis. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain.com/abclit. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi.. Setelah itu sore tiba.. ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu. ”Masih cantik ya.. sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Ketika hari pensiun tiba.. ha-ha-ha. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. ya mustinya bangun pagi. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri. Sang sahabat garuk-garuk kepala. waktu tidak seluas dibayangkannya.” tukas sang teman. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta. karena ini rumah wong edan. Dia disuruh pidato.html ”Sudahlah. mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”. untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri.” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual. teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung. Pimpinan perusahaan. Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi..processtext. kamu jawab semua pertanyaanku.” komentar istrinya. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. .

. space planning.” ujarnya dalam hati.” Begitulah kehidupan pensiunan ini. merapikan barang-barang. Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman. Ia mulai bangun saat subuh. ”Kenapa bangun sepagi itu. Coba tanya beberapa teman. jangan-jangan dia bahkan sudah lupa. ”Mas Daru kini jadi petani lho. Waktu saya ke sana. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. ”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya.. Pa?” tanyanya. dan lain-lain. dan semacamnya. gardening. ”Apa dia bisa pegang cangkul?” ”Hu. tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi..html Dia cuma tertawa. ”Ooh. Dia menjadi petani.Generated by ABC Amber LIT Converter. menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan.com/abclit. Pertama berat. Dia lebih tertarik pada tanaman... Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga.” pikir sang istri. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya..processtext. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. kalian tidak tahu. ”Benar juga.. . dia seolah seperti landscaper. http://www. sampai-sampai. barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan. memangkas dan merapikan daun-daun bambu. sesekali merawat dengan memberinya pupuk.. lanscaping. kebun singkongnya itu sudah seperti hutan.” celoteh orang di kantor. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. bersih-bersih. Katanya dia sampai diprotes tetangga. Soal menulis.. sebelum matahari terbit. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman. takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling.. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman..

processtext. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga. melihat kemajuan suaminya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. berada di ruang kerja menghadap komputer. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa. dari berbagai penjelasan dokter. ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi.. dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.. tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian. dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong..” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali. ”Liong bun. Bukan hanya stretching.. kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki. Ia dilarikan ke rumah sakit.html Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan. ... Hanya saja.. Ia merasa benar dengan feeling-nya. ”Stroke ya?” ”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?” ”Stres karena pensiun. langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung. Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya..” Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. kaget juga banyak orang). ia percaya. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Akan tetapi. Sang istri percaya. kali..” Perkembangan berikutnya lagi. selalu terjadi pada para pensiunan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Dia baru menyadari. tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya. si istri ini percaya suaminya akan segera pulih.com/abclit. http://www.

bukan Gunung Indrakila.. Ia ingin menguji memori suaminya. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango... Ah. . realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali.. Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Suaminya telah pulih kembali. Wanita ini tersenyum. ”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Didekatinya suaminya dari belakang. diiringi anjing kita.. Semua saudaranya tumbang di jalan. Itu tadi ucapan suaminya. dengan menggunakan nama panggilan suaminya. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan.. ”Indrakila!” jawabnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Itu Gunung Gede-Pangrango. penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.com/abclit.processtext. ”Itu gunung apa Bib. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.html ”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.. Di balik gunung ada gunung. Sang suami diam.. Sang istri kian penasaran. semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu. duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan. Patman. di balik cakrawala ada cakrawala.. http://www. Si istri kaget.” tanyanya.” suaminya melanjutkan kata-katanya.

Si suami diam sesaat. Langit semburat merah. ”Bibib telah benar-benar sehat.. episode-episode manis yang pernah mereka lewati. 2005 .com/abclit. siap menulis lagi. http://www. tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita.. Pagi benar-benar datang. tentang asal-usulnya.” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya. Ciawi Junction.. ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. sebelum berucap. Dia tahu.” Terhenyaklah sang istri.. Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri. suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari. ”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. di pinggir kolam. bukan Mertasari..html ”Kita sekarang berada di mana?” ”Mertasari!” Tersenyum sang istri. Dia peluk suaminya dari belakang.. Itu peristiwa puluhan tahun lalu. pertemuan mereka.

siul ringan. Ia tak ingin kecewa lagi. Melipat selimut. Menyemprotkan pewangi ruangan. Langsung. Ah.com/abclit. mengerut menatap laki-laki itu. mengusir bayangan buruk itu. Atau erang kesakitan leher digorok. hingga ia bisa mati tenang… Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. memandang langit siang yang terang. Setiap menjelang Ramadhan. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. dan segera saling bisik. Ia memejam. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. ia bisa mencium bau amis darah itu. keramas. Ramadhan kali ini. Menyisir rambut dan memotong kuku. ia berharap maut benar-benar akan datang. sembari bersiul-siul kecil. Bayangan kematian penuh darah. Merapikan pakaian. dan wangi. sembari terus bersiul. tapi ia masih saja hidup. Edisi 10/16/2005 Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi. http://www. >diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu.. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti. Ramadhan berlalu. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian. Saat Ramadhan kemarin. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih.processtext. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat ia berbaring di ranjang. rapi.Generated by ABC Amber LIT Converter. seperti lengket di hidungnya! Segera ia mandi. ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. .html Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini Post: 10/17/2005 Disimak: 302 kali Cerpen: Agus Noor Sumber: Kompas.. Ia berdiri di ambang pintu.

Misterius. Ini yang membuat kian penasaran. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka. seperti mengawasi. Entahlah. Mungkin intel. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat.com/abclit. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu.laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mengepungnya. Bila pulang. Menutup diri. seperti lilin panas mencair. atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan. Tiap sore ia keluar. Seperti selalu menghilang. Wajah. betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput. Menjelang Ramadhan ia muncul. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Sering. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Para tetangga jadi gelisah. .html Ia jarang berada di kamarnya. seperti kotak tempat menyimpan gitar. Aneh. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Kulit wajah mayat. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama. Berhari-hari. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Barangkali ia dukun. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam.mayat itu meleleh. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Bergegas. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini.wajah yang membuatnya mengerang panjang. Lihat saja tampang seramnya. Memakai jaket kulit hitam. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Tato di lengan kanan. ia terlihat merokok siang hari. banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. tapi pergi ke kuburan. Parut luka seputar pundak. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Sebab. Rutin yang ganjil. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. seperti bekas bacokan.processtext. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. menyapu. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Sesekali. Ia seperti tak mau dikenali. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. mereka mendengis bengis. http://www. Kadang berbulan-bulan. Beres-beres kamar. mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. memandang entah apa. Mungkin ia rampok. Menenteng koper besar. Ia mengerang.

Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Paling mentok jadi sersan. Mungkin. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir. Percuma kalo cuma jadi tentara. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. sebagai seorang pembunuh bayaran.processtext. tertib. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Ia akan tinggal di rumahnya. tak ada yang berani menghentikan. Ia selalu ingin berada sangat dekat. bisa memukuli orang sepuasnya. Benar kata komandannya. http://www. Dikirim ke medan perang. ia diberinya pekerjaan. ”Kamu punya bakat bagus.saat seperti itu. Lalu beberapa order ringan lainnya. Memang. Kamu pantas jadi tentara. Lalu sepulang perang. di bulan Ramadhan. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dan ia membusung bangga. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Tempat menyembunyikan diri.” kata komandannya. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. kata teman-temannya. ia suka membayangkan diri jadi tentara. . Saat SMP ia berkali-kali berkelahi. Sumpek bau comberan. Alangkah hebatnya jadi tentara. karena pejabat itu pingin kawin lagi. Tapi membuatnya merasa aman. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Dan itu disukai komandannya. Mati dengan tenang. ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang.html Ia tergeragap bangun. diam-diam ia membunuh kucing pamannya. dan disiplin.com/abclit. Menghabisi seorang wartawan. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Meski ia tahu. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran.orang mengerubung. saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Ia pun suka menikmati saat. Orang. Membunuh seorang pengusaha. Umur tujuh tahun. Di kampungnya. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia terkapar.Generated by ABC Amber LIT Converter. nanti bila sudah berhenti. Seorang hakim.

Kulitnya yang coklat resik. Kamu cukup membunuhku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sayang kan.sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. kamu mau membunuhku. Ia heran. Dan ia mulai mengawasi. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun. Bicaranya santun. http://www. aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Sorot matanya tenang. ”Aku tahu. Tanpa jejak. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. kenapa mobil perlahan berhenti. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Karena itulah. Biar tak banyak korban.” . Mencibir. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Tugasnya hanya membunuh. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu. Dan ia tersenyum. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan.processtext. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang. ”Kamu bisa membunuhku di sini.” ajak Kiai Karnawi. Beberapa menderita sakit jiwa. Rahang terkesan pipih. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. itu mobil mahal.com/abclit. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran. Getir. Sepotong. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Ia tak terlalu menyimak. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. lalu mendorong mobil ke jurang.html Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang.

Yogyakarta. lakukan tugasmu. Lalu menggelar sajadah. ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Dan semoga saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kalau boleh memilih. Ia meraba belati. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya. Jangan sampai aku kesakitan ya. kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia merasa senja meremang. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Amin. Ia mulai diusik gelisah. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. dan kini memburu kematiannya.com/abclit. Terdengar letusan. 2005 Di Balik Jendela Post: 10/10/2005 Disimak: 243 kali . Ia bisa menembaknya. aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. ia hanya berdiri gamang. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. yang pelan. Ia pun kemudian selalu berharap. Alhamdulillah. Kemeresek daun jati jatuh. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Kematian di bulan Ramadhan.processtext. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan. Tapi tolong. Pelan. hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. diperkenankan mati di bulan Ramadhan.” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Singup. Kelebat bayang burung menyambar. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Senyap. ”Sekarang.html Baru kali ini ia gemetar. Lengking gagak di kejauhan. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Dengung jutaan serangga mengepung. Enggak usah merepotkan sampeyan…. http://www. Gemetar tak yakin. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu.

Nyeri di kepala dan bagian . Rasa sehat bukan berarti tidak sakit. Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Jangan terlalu banyak bergerak. Seperti biasa. berakhir pukul satu siang. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku.com/abclit. Dengan tersenyum ia menjawab. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas. Terpaksa kuperiksakan ke dokter. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas. dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. aku selalu mencari teman untuk pulang. Kurasa benjolan itu mengganggu. Ada rasa ngeri dalam diriku. aku tidak tahu. Entah berapa lama. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Sejak itu. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. ternyata dibalut dengan perban.processtext. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Suster. Ketika aku membuka mata.Generated by ABC Amber LIT Converter. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. tetapi karena kalau tidur. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Kuraba kepalaku yang nyeri. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. di mana aku? tanyaku. bertahun-tahun. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Edisi 10/09/2005 Hal yang paling kutakuti ialah sakit. bukan karena sakit. Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah. Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan. http://www. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau. justru itulah yang kukatakan kataku. aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. benjolan itu sering pindah-pindah. Nah. kataku dalam hati. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter. kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. aku menjadi takut ke rumah sakit. Sendiri aku kembali. Sampai akhirnya. Setelah pulang dari rumah sakit. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. aku tidak tahu. kalau pulang.html Cerpen: Wilson Nadeak Sumber: Kompas. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Setelah sadar. katanya. Bapak perlu istirahat banyak. membuatku tidak betah.

Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja. Persis di pantat. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini. Tidak ada tulang yang patah. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. http://www. Ketika makan siang usai. Aku melihat cahaya yang indah. muncul lagi. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. . menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Aku sangat beruntung tidur di kamar ini. setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah. kalau boleh dengan menelan obat saja. Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Kami saling menyapa.. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu.. damai. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Tadi malam. sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. dekat jendela pula.processtext. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Aku merintih-rintih. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. tetapi tidak berhasil. kawan yang di sebelahku. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. Ia menyapaku dengan lembut.html kaki. tengah malam. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. jarum itu menancap. ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera. Ia melayang jauh. Beberapa kali aku disuntik. Sejak lama aku menghindari suntikan. yang berbaring dekat jendela menyapaku. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. hanya luka memar dan benturan di kepala. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain. indahnya. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara. Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Oh.

http://www. kawan.html Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. aku bertanya. Pak. seseorang menyapa aku. ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Suster. Lentiknya tangan mereka. ketika Anda tertidur. ayunannya yang menggoda. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan. Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua tampan dan cantik jelita. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa. Para pelayan yang sopan. Bidadari-bidadari dari kayangan menari. . hidangan anggur merah yang meriah. apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah. Suster itu tersenyum. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. oh. tidak usah takut. apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. ada suara menarik. mereka rindu bertemu dengan Anda. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. sebuah pesta yang meriah. tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap. tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. Tidur dekat jendela ini amat nyaman.processtext. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin.Generated by ABC Amber LIT Converter. Segala derita berlalu. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami. mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara. sungguh menyejukkan hati.com/abclit. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali. persediaan yang tidak habis-habisnya. ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Petang harinya aku membuka mata. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya... Dan belum lama berselang. Berjalanlah bersama kami. Ia harus mendapat tambahan darah. nikmatnya. HB-nya sedang menurun. Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Semua orang berpakaian yang indah-indah. dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita.

Saya akan minta bantuan kawan yang lain. katanya perlahan. Ah. katanya sambil melangkah ke pintu. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu? Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini? Ingin udara yang segar. http://www. Maksud suster? tanyaku penasaran. Rupanya ia sedang terburu-buru. jawab suster itu tenang. Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter. Baiklah. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah. Ya. Ruang perjalanan akhir. minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ruang penantian? Apa itu? Kamar paling akhir. saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Pak. Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah.html Paginya.processtext. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini. . Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya. tidak apa-apa.

Semula pada suatu sore dia datang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namanya Roni. kapan aku kenal temanku yang satu ini. tanpa mengenalkan diri. disangga bantal.html Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. Kudorong daun jendela. di bangsal yang lain. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas. 19 Agustus 2005 Kirimi Aku Makanan Post: 10/03/2005 Disimak: 234 kali Cerpen: GM Sudarta Sumber: Kompas. http://www. Buru-buru kutekan bel. Edisi 10/02/2005 Aku lupa. aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya.. tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua. Ada apa. Pak? Suster. Setelah suster pergi. Bandung. membukanya lebar-lebar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia . tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera. Suster berdatangan ke ruanganku. Kurasa lebih lima belas menit kemudian.com/abclit. dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar.processtext.. aku dipindahkan ke ruang sebelah.

jin. ”Ah yang benar!” sahutku. genderuwo. mobil. Berprofesi makelar tuyul.html gaib. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin. ”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor.com/abclit. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. sampai segala macam pesugihan. ”Kok tahu?” tanyaku tertawa. atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul. Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.” Saya terdiam bengong.” katanya.” ”Ah musyrik. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib. ”Betul kok Mas. Soal tuyul.” jawabku. http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. ”Anda sendiri gimana. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya. genderuwo atau jin.processtext. paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. apa tidak dosa?” . ”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?” Memang benar. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul.

Perempuan berambut ikal.” katanya. ”Ah memang. maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya. http://www. ”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku.” ”Saya tidak melihat apa-apa. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa. dan lain-lain. lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu. Dia minta memerhatikan air.com/abclit. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia. aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. ”Betul kan Mas. ada peristiwa aneh di rumahku. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang. ratusan ribu dengan ratusan ribu. Wong saya hanya perantara.” Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air.” . ”Mau tahu siapa yang punya. Uang kami atur menurut nilainya. perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Itu orangnya.processtext. ada tuyul di sekitar sini.” Beberapa hari kemudian. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian. Kami bingung mencarinya. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap uang di tas kerjaku hilang. Nah itu nomor rumahnya kelihatan. ”Lihat Mas. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu. itu dia sedang menggendong tuyul. detik itu pula raib di depan mata kami. Istriku merengut. kecuali bayang-bayang wajahku sendiri. Nanti akan terlihat siapa orangnya. Nanti kalau mau saya ajari. mana untuk uang sekolah anak-anak. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang. Harus dengan uang sebelumnya.” jawabku.html ”Ah ya tidak. bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan. ”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku. rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam.

Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh.” Benar-benar gila orang ini. ”Saya dengar mau bikin novel ya?” Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S. Pandansimping. pikirku. ”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!” Ah gila. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya.html Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat. ”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.” ujarnya. Roni mengunjungi kami lagi di rumah. http://www. dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka.” Bulu kudukku meremang. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala.” katanya. ”Bisa lho Mas. . ”Cerpenmu bagus Mas. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. atau di Desa Tempuran. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mana mungkin. pikirku. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.

dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Bapak tinggal di mana?” ”Tidak jauh dari sini kok.” Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku.com/abclit. http://www.” sapaku. pikirku.” ”Alamat anak Bapak di mana?” Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota. Tapi… senyum itu… ya Allah. rapal. supaya kerap mengirimi saya makanan.html ”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka. Ah. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa. sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. ”Lha. agak di luar kota.processtext. Nak.” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. telah membuatku tidak bisa . terasa bulu kudukku meremang. Ya Allah. saya boncengkan. ”Kalau mau ke kota. ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan. ini saya beri tahu ritualnya. pikirku. senyuman seperti orang menahan sakit itu. Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan.” ”Tidak kok Nak Mas.” jawabnya lirih. ”Monggo Pak. Pulangnya sehabis magrib. menjelang melintasi jembatan. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya. ini pasti perbuatan iseng si Roni. dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku. Hingga pada suatu sore. tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku.

kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta.) Klaten 2004 .processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Seorang lelaki paruh baya. menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga. Dia tertegun beberapa saat. serta kusampaikan pula pesan ayahnya. alis tebal. bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab.com/abclit. ”Dari mana Bapak tahu alamat saya. Ternyata tidak mudah. berjanggut yang sudah sebagian memutih. Katanya di sela sedu sedannya: ”Ya Allah. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni. Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. Setelah bertanya kesana-kemari. berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau. dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. ”Ayah saya? Seperti apa dia?” ”Rambut sudah beruban.html tidur semalaman. air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras.. eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga.” Jantungku serasa berhenti berdetak! (Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh.” jawabku seingatnya. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. kebanyakan orang mengatakan tidak tahu.. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran.. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya. http://www.

”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau. Hanya memandang. memeluk. jauh. http://www. tidak tidur malam. Kau akan dimasukkan kerja.. Kau senang dapat mengajar lagi.” pesan ibu. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. Kosong. dsb. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela. Rapal: Mantra Amalan: Bacaan Doa Monggo: Mari. ”Elok-elok di sana. Kakak tak hirau. ”Paman dan bibi akan menjagamu. kian lesi. serta menarik-narik tangannya. berlari mendekati. bukan?” Kakak diam saja.com/abclit. Post: 09/26/2005 Disimak: 246 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. silakan Kalau Lelaki Itu Pulang. Engkau akan mengajar lagi nanti. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Edisi 09/25/2005 Jika lelaki itu pulang ke kota kami. Lurus. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai. .. seperti puasa. tak terarah Laku: Melakukan ritual fisik. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela.html Catatan: Ngalor-ngidul: Utara Selatan. namun kakak bergeming.processtext. Nak. Wajahnya tambah putih.

Salamilah paman dan bibimu.” ”Malas bicara.” Kakak tetap tidak beringsut.com/abclit. Ah. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau. ”Ajaklah terus berkata-kata. Bukan kepala stasiun. Itu. Sedang kami hanya bisa memandang. ”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak. Nak. Ikal. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari. padahal hanya masinis kereta api.” . ”Payah hubungan pos sekarang. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA.” kata adik-adik.” ”Kakak mendengar. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela.” kata Paman Jafar seperti minta maaf. Legam. Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah.” ujar ibu. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak. tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa. disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan. Begitu. tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. tetapi ayah tidak terjangkau. ”Kakak sedang malas bicara. ”Tapi kakak diam saja. ”Seperti tak mendengar.html Tetapi ibu terus bicara. Lambat. Membawa ayah. menyeru namanya. seperti kalau aku ngambek?” ”Ya. Sampai kini. bertangisan.” jawab Kak Lela.” Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap. http://www. namun ayah tetap tidak dapat dicari. Seolah-olah beliau orang penting. Sudah lama kakak serupa patung hidup. Mariani. izin dulu ke komandan. Sejak dia tidak jadi mengajar. paman dan bibimu tiba.processtext. ai. ”Ai. harum dan bagus sekali rambutmu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.

”Anak-anak nakal itu.” Istri Paman Jafar menghampiri kakak.” istri paman menambahkan. Kuburu anak-anak itu. Kak. berteriak-teriak.” ”Terlalu! Tengoklah. Sudah kering sekarang. ”Tapi tidak dalam. ”Tapi mau dia makan. anak rancak? Eh. Kak?” ”Mau.processtext. http://www. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. Bang!” Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak.html ”Jalan pun buruk. ”Begitu keadaannya. Berlubang-lubang.com/abclit. Disuapi. Ada empat orang.” balas ibu mengangguk. ”Mereka lempar kakakku dengan batu. lihatlah. lalu menoleh kepada kakak. sama besar denganku. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!” ”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!” ”Mereka yang salah. Yang lain siap-siap menyergap.” .” kubilang.Generated by ABC Amber LIT Converter. kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap. Dia melengking. ”Paham aku itu. Ibu-ibu menceracau. ”Disuapi engkau Mariani. aku melesat ke luar rumah.” sahut ibu. berdarah-darah.” ”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!” Orang-orang berhamburan memisahkan. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat.

bagai rembesan pada panci rusak.com/abclit.” jawab ibu. Tumpahkan terus.” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar. Kuping mendenging. mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. Katanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji. ia bilang. ”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?” ”Dia tetap. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat. ingin bersih-lingkungan. Sengaja buya tua itu kemari. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat.html ”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!” Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui.processtext. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. ”Lepaskan. Pamanmu juga. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani. Nak. ”Bagaimana aku bisa pindah.” Tidak berjawab. ”Rumah ini bagaimana. Seorang lelaki membelalak garang di depanku. kubalas berteriak. Kakak terisak. Mengajilah saat maulud.” ”Jual. penumpangnya tak menengok. ya. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru. Bahunya bergerak-gerak. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi. http://www. Mariani? Nanti mengaji. ”Pergi!” Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Sebuah bendi lewat di muka rumah.” . ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Paman kembali melihat ibu. Hampir terjengkang. sebagai biasa’. Jafar.” Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Tapi yang muda-muda menolak. Kepalaku nanar.” dia bilang.

” Berbisik pula pada adik-adik. ”Tidur. sewaktu pulang. menanti pengangkatan. Juga karena status ayah. Juga siang. tak menengok. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar….Generated by ABC Amber LIT Converter. diputus tunangan. Karena status ayah. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak. aku. Berangkat gembira di pagi hari. menatap kejauhan tak berbatas. Sesekali kubawa pula ke sekolah. ”Sstt!” ucap bibi perlahan. saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. Orang-orang tetap lewat di muka rumah. Atau diajaknya adik-adik. memandang paman serta bibi penuh harap. Lalu. Paling tidak. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. supaya ayah lekas kembali—entah dari mana. Padahal. Jafar.” ulang Paman Jafar. Tetapi. Bersih. Melihat pula ke luar. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex.processtext. Sementara kakak semakin betah di muka jendela. Dia luruskan kakinya.html ”Ei.com/abclit. Jafar.” ”Kukhawatirkan justru Kakak. bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih. serupa badai. selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap. ”Ikutlah ke Pakanbaru!” ”Tak perlu khawatir. Polos. ”Ambil bantal. ditolak jadi guru. sudah tiga bulan ia mengajar. siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. bila aku pindah. Menyulut rokok.” lanjut bibi. http://www. ”Tenanglah Kakak. Diselimuti. belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. meski tak diucapkan. dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah. tahu keberadaannya. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?” ”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. Lagi pula. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman. Bagaimana . ”Belum juga ia berubah. Kak Lela berdoa. ”Sudah ke mana-mana kuobati. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang. banyak. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. penolakan jadi guru itu tiba suatu hari. Tapi aku yang tak rela!” Adik ibu itu terdiam.” balas ibu. berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan.” kata ibu. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi.

com/abclit. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat. Napasnya lunak. Dia kawanku. ”Rencanaku besok kembali. kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. ”Terpikir olehku. Juga lalu di muka rumah. seperti ayah. tak bergerak-gerak seperti bayi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Tapi. mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya. tak mungkin tidak. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. putri sulung. Di Pakanbaru juga kacau keadaan.” Kakak terus tidur di beranda. Dik. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah. kakak. ”Kakek-nenek kalian guru. Bila mati di mana berkubur…. Dekat kami. turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas.processtext. ”Kubawa Mariani sekalian. ”Komandanku tahu. Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami.html keadaannya.” Ibu bernapas lega. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?” ”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. Tugasku menunggu. *** . Tetapi malah juru-api kereta api. Kak. Tetapi. dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela. Mestinya ayah juga.” ucap Paman Jafar. Barangkali karena perempuan. atau kami yang kehilangan mereka. tapi tangannya campin pula. http://www. ya?” Kami mengangguk. Rumah jadi lengang—lengang sekali. ”Syukur ada kakak kalian.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ujarnya kemudian. memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas.” Ayah tertawa suatu ketika. kakak dibawa paman dan istrinya. Termasuk jalan hidup anak manusia. kalau laki-laki itu pulang suatu hari. Kakak telah pergi. terampil-cekatan menangani rumah. Putih. kalau cukup biaya. berharap kakak jadi guru tamat SGA. Kulitnya bersih.” Ibu mengangguk-angguk. Anak Ampek Angkek. Ibu menangis. Ayah bangga dengannya. Besoknya. Kami juga.

Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun. di Pontianak. Edisi 09/18/2005 Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta. Di rapat persiapan perkawinanku. yang selalu mendukung semua kehendak Ma. Sempit.html Jakarta. kamar itu amat sangat sederhana. aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. Jangan lupa baju buat Cik Giok. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu. Pa bilang. Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. http://www. Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Malah sejak aku belum lahir.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap kali Pa bersuara. Ma. yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa. . Kalau mengikuti urutan keluarga. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok. Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung. Separuh dindingnya dari tembok. Di rumah kami. diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi. mengalahkan aku. diam. ibunya sakit-sakitan. 30 Juli 2005 Cik Giok Post: 09/19/2005 Disimak: 185 kali Cerpen: Reda Gaudiamo Sumber: Kompas. Cik Giok menempati kamar belakang.processtext. mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting. Supaya anak dan ibu selamat. Emak mau. apalagi dengan jumlah anak yang banyak. bisu. orangtua Cik Giok kurang mampu. Karena kata Pa. aku mengikut saja. Emak. dekat dapur. Kalau tak boleh dibilang paling jelek. Hidup mereka susah. di sebelah gudang. Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi.com/abclit. lalu di pelabuhan.

aku mengantuk.com/abclit. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung. berusaha mengeluarkan senyum. Satu kuartal. ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor. berdebu. Cik Giok menangis seharian. Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Cik Giok harus dipanggil. buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu.processtext. Lewat seminggu. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Katanya. Tetapi aku diam saja. Ma bilang. kudapati kamar itu sudah kosong. yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. mengajakku merasakan kesejukan di sana. Sebulan. waktu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Aku ditariknya keluar. kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Emak. Pulang sekolah. Kalau sudah begitu. Terutama siang hari. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik! Aku ingin berteriak. Sore hari. Itu hari yang paling tepat. http://www. Esok harinya. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. aku bayi yang cengeng.. Aku kelas enam.html Aku pernah bertanya. dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. katanya. Juga beberapa malam setelah itu. hingga aku terlelap. Jadi Cik . sebelum Emak bangun. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. mengapa Sabtu. dan mengurusi segala keperluan Emak). ketika pulang sekolah. Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. menggosok. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. membereskan rumah. saat bisa sedikit bersantai di kamar. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak. Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. dibuatkan baju. ibunya Cik Giok sakit keras. Lewat. bahwa ia bohong. Memeluk bantalnya yang tipis. Supaya di hari Minggu. yang kebetulan tidak tidur siang. katanya. Sehari sebelumnya. Sering di tengah cerita. bilang pada Emak. ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin. ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. mencuci. memanggil. Sudah dekat ujian. aku masuk kamarnya. Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. Katanya. Tidak apa-apa. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. tahu. Enam bulan. menemuinya. Malam itu aku tak bisa tidur. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi.. Tiba-tiba aku menangis. Hingga seminggu lalu. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan..

Ubannya sudah banyak sekali. Persis seperti dulu. Wajahnya lebih tirus sekarang. Aku menyeringai saja. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. Siangnya. Semua dari kampung. Aku berlari menyambutnya.com/abclit. kelihatan sedih. Tidak. acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. aku bertanya pada Ma. Cik Giok menangkupkan tangannya.processtext. Bubur encer dengan tung cai. Aku bilang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kami berpelukan erat. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi. tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok. Di ruang tamu. lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu. Baik. aku harus mengepas baju pengantin. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. yang tak beranjak dari meja makan. Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Pa. Tetapi melihat wajah Emak. atas perintah Ma. siap menyusulnya.html Giok akan datang. kataku. Kurebut tas kain dari tangannya. Ma kelihatan kurang senang. Kami menyantapnya dengan lahap. Menghabiskan bubur di mangkukku. Keras. Semua baik. kata Ma. Cik Giok bergegas pergi ke belakang. dan aku. selamat. Aku sudah berdiri. Setelah empat belas tahun pergi. Tenggorokanku kering. Sudah. katanya. mau mengajak Cik Giok. Ia kutarik masuk. Cik Giok sudah sibuk di dapur. Emak. Pagi-pagi. Mau kawin kamu. suwiran ikan asin bakar. Menyiapkan sarapan untuk Emak. Ma menanyakan kabar Cik Giok. Ia akan tinggal terus bersama kita. aku putuskan kembali duduk. Dan Cik Giok benar-benar datang. http://www. dengan dahi berkerut. Ma. Cik. kata Cik Giok. mendengus. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur. ia kembali ke rumah ini lagi. . Aku mengikutinya dari belakang. memberi hormat pada Emak. Matanya. Makan.

bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Katanya lagi. Aku keluar kamar. perutku terasa sangat penuh. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Kami berjalan beriring. kataku. http://www. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Cik Giok tampak bingung. Sakit.html Ayo ikut. Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi. Sama persis dengan Ma.com/abclit. Mungkin. kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. mencari makanan di dapur. Tubuhku lelah. Menuju pulang. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Mataku berat. Baju sudah hampir selesai. Ma menjelaskan. Ma mencubit lenganku. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan. Ia membereskan kertas suratnya. Meski masih agak longgar di pinggang. setiap calon pengantin selalu begitu. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Tulis surat buat siapa. Antar Alin mengepas baju pengantinnya. Terkejut dia melihatku. Aku berputar-putar di depan cermin. Itu karena terlalu senang. Cik? . Tidak bisa tidur. Tak berkomentar. Ada apa? Ia bertanya. Cik Giok tetap diam. Dia belum tidur. Cik. Sedikit lebih gelap. Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Ma menggeret Cik Giok keluar. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. menuju jalan besar. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku. Mencari bajaj. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat.processtext. kata Ma. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara. hanya beda warna.Generated by ABC Amber LIT Converter. tak tersenyum. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Cik. Aku hanya mengangkat bahu. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah. Ma bilang itu biasa.

Entah untuk berapa lama. dan Kuku telah menunggu di ruang makan. Aku melompat. Entah dari mana. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Cik Giok sudah pergi. Malamnya. Aku berlari ke kamar tidurnya. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Ketika aku tiba.html Keluarga di kampung. katanya. Dengan suara keras. Malas. Emak. Terserah apa kata Ma. Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Terlambat. Menguncinya dari dalam. Ma minta aku pulang. Kuku menyuruhnya masuk. Cik Giok sudah pergi. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. kata Ma. Meninggalkanku. Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. aku masuk kamar. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku. Aku sudah tua. Kosong. Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Dia cuma bilang. nanti aku akan mengerti. menuju kamar mandi. Wajahnya tegang. katanya. Kau harus berangkat ke Pontianak. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Ma ikut bersungut-sungut. siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya. Nanti. Tetapi suami malah mendesak. katanya. Aku tak ingin pergi. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu. Temani Pa. Pa tiba-tiba menghilang. http://www. Urus Emak. Cik Giok kena stroke. Tidak juga untuk pesta perkawinanku. Katanya.com/abclit. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. tetapi Kuku menahanku. dua belas hari lagi. Aku tertidur. Dicari Emak. . Dia akan segera kembali menjelang pesta. Ketika aku kembali ke ruang tamu. Keesokan harinya aku bangun terlambat. Penting. Lalu aku terbangun oleh suara Cik. Kuku—kakak perempuan Papa—datang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ma. Pa. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Cepat bangun. aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Nanti semua akan jelas. Sehat dan selamat. Di tangannya ada kursi plastik. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar. Mereka khawatir. sudah lama tidak jalan jauh.processtext. Emak menangis. Aku bersiap menyusul Cik Giok.

saling menindih. Aku menangis. dan kaku melakukan proses pembentukan corak topografi yang besar di muka Bumi. Edisi 09/11/2005 Lempeng tektonik adalah batuan pegunungan yang padat. Semua yang ada di sana menangis. Ia memelukku. menyeka matanya. Lempeng-lempeng tektonik ini secara berkesinambungan bergerak tanpa henti. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. ia berbisik. Juli 2005 Gelombang yang Berlabuh Post: 09/12/2005 Disimak: 213 kali Cerpen: Hamsad Rangkuti Sumber: Kompas. Pa. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. Erat. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. menjerit sambil berebut mendekati aku. http://www. Pa menangis lebih keras lagi. genta-genta kecil bertalu-talu. diam-diam. Bumi yang tampak padat ini sebenarnya terdiri dari beberapa lempeng tektonik membalut planet Bumi layaknya cangkang telur rebus yang merekah. barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan. Rawamangun. besar. . kakak Cik Giok mencium pipiku. membuang muka. Di rumah duka.html Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. menjemput kami. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok.com/abclit. menggilas. katanya berulang-ulang. hingga aku sulit bernapas.processtext. mengalami proses perusakan dan pembangunan secara silih berganti. Dengan muka basah. mendorong. yang wajahnya amat mirip dengannya. Maafkan aku. Kakak perempuan Cik Giok. Beri hormat pada Mamamu. memelukku. Cik Giok tak menunggu aku tiba. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Perutku mulas.

Hampir 300. penyair. Lantai samudra yang patah menyebabkan kestabilan air laut terganggu secara vertikal maupun horizontal. Gelombang yang berlabuh. menyurukkannya ke bawah serbet penutup. di dasar kerak samudra.000 jiwa melayang. Said Huseini. penganjur kebaikan. mengabadikan lidah ombak mengusung puing bangunan. Dan itu bukanlah unsur kebetulan. http://www.com/abclit. politikus. dan jasad manusia. Kedua pemberani itu memungkinkan aku bisa melihat peristiwa itu di Depok. Tergantung kau dari jenis yang mana? Pengisi Surga. kecuali menyimak tragedi bencana alam itu. . Air samudra yang masuk ke dalam celah disemburkan kembali saat ruang menutup. kendaraan roda empat. Pembunuh yang tak pernah gagal. Bantuan dan pertolongan berdatangan dari pelosok dunia. Menjarah perhatian. pengusaha. di Nanggroe Aceh Darussalam. Ya Allah. Hasyim menyambung pemandangan duka itu melintas di depan Masjid Baiturrahman. Banyak yang bisa dituai di sana. Televisi memperlihatkan semua itu kepadaku. kepada seorang pengarang cerita pendek yang tak bisa berbuat apa-apa. di negeri yang aku cintai ini. Dan: Menjarah! Menjarah harta.processtext. mengabadikan detik-detik datangnya gelombang. atau Pengisi Neraka. gelombang itu menyemai ratapan. dari hari ke hari. Pencapaian yang luar biasa. pengarang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jumlah yang kemudian membikin duka dunia. Ketika surut. Maling pun Engkau kirim ke tempat duka semacam itu. di Nanggroe Aceh Darussalam. Serapan ruang kosong yang tercipta menyurutkan air di pantai.html Gerakan tunjaman dalam jarak waktu 200 tahun mencapai klimaksnya dan mendapat reaksi dari lempeng yang ditunjam. Walau tak jarang ada pula yang sekadar cengengesan melakukan tamasya duka. Aku sempat menangis melihat ada orang tertangkap basah dengan muka lebam dihajar petugas. meraup uang selawat. di saat orang masih banyak terlelap setelah melewatkan malam Minggu yang panjang. dari waktu ke waktu. manusia macam apa yang Engkau tinggalkan di zaman kami ini. secepat pesawat B747. Engkau biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam baskom. bermunculan di sana mengusung misi mulia. Patahan (sesar) naik ditambah dengan kemungkinan gerakan bukaan atau rekahan lantai samudra menimbulkan gempa berkekuatan 9 skala Richter. tempat di mana dua lempeng tektonik bertemu. Menjarah popularitas. kataku dengan titik air mata. pukul 07:58:53 di ujung Pulau Sumatera. Gelombang itu bernama tsunami. Cut Putri dari lantai dua rumah pamannya. Kulihat semua itu ditayangkan mereka di televisi. Itulah yang terjadi pada Minggu. Apakah negarawan. Terciptalah gelombang besar setinggi puluhan meter menuju pantai. Kedua lempeng tektonik yang bergeser dalam prosesnya menyesuaikan keberadaannya kembali. 26 Desember 2004.

Generated by ABC Amber LIT Converter. Angin berembus membawa sejuk pagi. Aku disambut banyak pemuda dan gadis remaja. subuh tadi. Seperti menuju masjid. Itu yang menimbulkan inspirasi bagiku. Merbah terbang di ujung ranting. menggendong anak perempuan berkepang dua. Di lobi. memakai pita. Kunjungan singkat di Banda Aceh. shalat subuh berjemaah di Baiturrahman dan sarapan pagi di luar hotel. Setelah itu. Kami menuju tempat berangin-angin. Terkadang aku melempar pancing dari sini. seorang lelaki berdiri dari sofa. kecuali ayunan rotan tersangkut. Kami diajak ke belakang rumah. Aku suka deburan ombak. aku kembali ke hotel berjalan kaki. tiga potong pisang goreng.html Ini adalah gambaran nasib bangsa kami. Maling-maling Engkau biarkan mengurus bangsa kami. Matahari terlindung di balik puncak menara Baiturrahman. Aku selalu bertanya kepada-Mu.” ”Abang tak suka laut. Aceh Besar. Tak ada hiasan di dinding. . Kututup sarapan pagi itu dengan sebatang rokok. Dia adalah penyair besar dari ujung Pulau Sumatera.com/abclit. kapan lagi Engkau beri kami pemimpin-pemimpin yang benar? Jangan azab kami menunggu lima tahun yang melelahkan. Berjalan di atas dua keping papan. Inilah saat yang bisa kudapat dalam sejarah hidupku. Di bawahnya hidangan santap siang sudah tersedia. Secangkir kopi. Tali ayunan menjuntai di kaso. Mak menunggu berhari-hari di pantai. Pertikaian bersenjata tak kunjung selesai. ”Penyair besar yang tak pernah gemuk! Ke mana saja kekayaan bumi kalian?” Dia senyum dan menyampaikan maksud: mengundang makan siang ke rumahnya. mencari buah pohon seri yang ranum. sepiring kecil ketan hitam dengan taburan parutan kelapa. Di bawah langkah kami berkeliaran kepiting pantai. Gelombangnya menelan perahu Ayah. Aku duduk di halaman kedai kopi.processtext. Istrinya masih muda. kurasa sulit datang ke Banda Aceh. menyongsong kedatanganku. dalam doaku: Kalau ini juga tidak benar. di Kajhu. http://www. ”Aku suka laut. Celah daun tersibak. Inilah sarapan pagi di luar hotel. bila pasang. Angin samudra mengabarkan pesan untuk ditulis. Kami masuk ke ruang tamu.

meletakkan tubuhnya yang lelah.” ”Engkau tak bisa menjadi orang pantai. Deburan itu sudah menjadi senandung pengantar tidur. Si lelaki yang sekarang telah menjadi suaminya memandang perempuan itu. Dalam kampung terapung.” ”Bacakan puisimu untuk Abang. malam pertama engkau menginap di sini. Dia tidak tanggalkan pakaian pengantin dari tubuhnya. Dia berdiri. ”Aku heran. Engkau pernah dengar.processtext. ”Suara apa yang engkau maksud?” ”Deburan ombak di karang. menyumbat telinga ini. http://www. Di rumah kekasihmu. orang dilahirkan di perahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Malam pengantin kita dirusak terpaan golombang itu. Kami melihat dia.html Ayah tak pernah pulang. Di rumah istrimu sekarang. Kami bertepuk dan bergeser membentuk ruang. dibesarkan di perahu. Malam ini. juga melihat laut di belakangnya. Tak ada sunyi di sini.” ”Aku sangat terganggu. bagaimana engkau melewatkan malam-malam di sepanjang hidupmu dengan suara semacam itu?” Perempuan itu mendengar ucapan itu sambil berbaring di tempat tidur.” ”Aku terganggu!” ”Engkau hanya belum terbiasa. bagiku.” . Mau rasanya aku mengambil kapas.” teriak seseorang.com/abclit.” ”Aku tidak terganggu.

Dia pergi ke jendela. Dia mungkin sedang tertarik pada sampulnya. malam pengantin ini ingin kupindahkan ke tempat yang sepi. Mengapa Desember?” Dia tersenyum. ”Sampah Bulan Desember. ”Sampah Bulan Desember.” . Minggu. Mungkin dia ingin melihat laut. pernah datang kemari ketika aku masih dalam ayunan.” katanya ditujukan kepada si istri. ”tahun adalah lakon.html Lelaki itu tidak hiraukan perkataan istrinya.” Dia senyum. 2004 akan digantikan 2005. dia meneruskan ocehannya. kecuali kegelapan.” Dia tampak seperti menghitung dengan jari. ’Gulai pakis dan santan durian. Mungkin dia senyum karena dia berpikir begitu. Mak menggendongku. Desember adalah aktor terakhir dalam sebuah pertunjukan waktu. 26 Desember 2004.” Lelaki itu tidak tertarik dengan cerita istrinya. Mak menjelaskannya.” Dia menoleh kepada istrinya. Kata Mak. sebentar lagi layar akan ditutup. Akan muncul lakon baru penghias dinding.’ Ayah dan Mak mengenang semuanya. Dia alihkan perhatian ke buku itu. Dia berdiri dari tempat tidur.com/abclit. tidak. Angin masuk membawa bau garam. Ayah gembira dan puas. Mak ?’ tanyaku. Mak mengembangkan tikar rotan dan meletakkan hidangan santap siang di situ. Dan aku tertawa.” ”Maksudku. jauh dari deburan itu.” Dia melihat jam tangannya: ”Oh. Pengarang itu makan dengan lahap. Dan. http://www. Mengapa dia tiba-tiba begitu tertarik. kata Ayah. Sekarang sudah pukul 01:45. ’Apa maksudnya. ”Semisal pementasan. ’Mala menyambut pengarang itu dengan garis air di bawah ayunan’. Malahayati.Generated by ABC Amber LIT Converter. saat Pak Pos mengantar sebuah paket. Orang Jakarta. Desember akan digantikan Januari.processtext. Usia Desember sudah tinggal lima hari lagi. Mereka tak pernah bisa melupakan lidah masa lalunya. Hanya tinggal beberapa hari lagi. ”Tinggal enam hari lagi. atau mungkin pada judulnya. Tetapi dia tidak melihat apa-apa.” Tak ada jawaban. Berarti ini sudah Minggu. Menyangkutkan ayunan di dinding dan mengepel garis air itu dengan karbol. engkau sudah pernah membacanya di perpustakaan kampus?” ”Pengarang buku itu. ”Engkau sudah tidur rupanya. ”Kalau adat membolehkan. itulah istimewanya Desember. Mala. Bulan yang ditunggu-tunggu orang di seluruh dunia. ”Mengapa ia ditulis? Mengapa tidak Mei? Juni? Atau Agustus?” Seakan diganggu judul buku itu. Bulan yang bisa mengubah tahun setelah angka 31 di kalender. Buru-buru daun jendela dia tutup. Sudah engkau baca buku ini?” ”Bagaimana aku sempat membacanya? Buku itu saja baru kita keluarkan dari kertas kadonya. aku menyambut kunjungannya dengan garis air di bawah ayunan. ”Tapi mungkin.

processtext. Kedua . Pelan-pelan dia rebahkan dirinya di samping wanita itu.html Dia angkat kaki istrinya yang terjuntai. Kerabu bungong matauroe di kedua daun telinga. Disempurnakannya letak berbaring perempuan itu.com/abclit. beranjak turun. Edisi 08/28/2005 Taksi berhenti. Dia perhatikan dari kepala hingga ke kaki. masih juga dia tersenyum. Cahayanya yang redup tersekap kap penutupnya. Malam-malam lain masih ada. Dipandangnya istrinya yang sudah lama terlelap karena lelah. Di dinding ruang tengah. Baru kali ini dalam masa bergaul menjalin cinta dia melihat wanita itu tidur lelap di atas ranjang. Dia tidak ingin mengganggunya. Kalung lhee lapeh limong suson dengan mainan bungong meulu dan taloe gulee. membuka pintu. Semula ada gerak ingin membuka semua itu. Rita menyerahkan ongkos. jam berdentang dua kali.Generated by ABC Amber LIT Converter. Barangkali dia tak ingin wanita itu terbangun. Apalagi malam ini. Sanggul masih tertata rapi dengan hiasan emas murni tiga tusuk konde bungong keupula. Akhirnya dia tertidur juga dengan pulas. Melihat semua itu. kekasihnya itu. Ayu mengikutinya. http://www. Dia beranjak ke dekat pintu. Sehari penuh menyambut tamu. Kamar pengantin itu hanya diterangi lampu meja. Perjumpaan Perempuan Post: 08/29/2005 Disimak: 228 kali Cerpen: Akhlis Suryapati Sumber: Kompas. Perempuan Aceh tidur dengan pulasnya mengenakan pakaian pengantin dan perhiasan begitu lengkap. Ditekannya alat pemadam lampu. Dia senyum memandang istrinya yang tidur pulas masih dalam pakaian pengantin. Masih panjang kehidupan bersamanya. tetapi gerak itu tidak berlanjut. Kamar pengantin itu menjadi gelap. Barangkali dia berpikir seperti itu. tidur dengan pakaian pengantin adat negerinya. sambil berusaha melupakan suara gelombang yang terus-menerus menghantam karang. Gelang pucok reubong di kiri dan kanan tangan yang seluruh ujung jarinya berwarna merah inai. Dibiarkannya perempuan itu tidur pulas.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

perempuan itu berjalan mendekati sebuah rumah yang cukup mentereng. Sudah tidak nampak tanda-tanda dukacita, setelah dua minggu lalu kepala keluarga di rumah itu, Rahardjo, meninggal dunia.

Ma, apa ini benar-benar perlu kita lakukan sih?” tanya Ayu.

”Sudahlah. Jangan ragu begitu….”

”Aku malu, Ma,” kata Ayu. ”Kita pasti dipandang rendah oleh perempuan itu.”

”Tidak perlu malu. Dia juga perempuan. Mama perempuan. Kamu juga perempuan. Ingat lho, kamu sudah delapan belas tahun.”

”Nyonya Rahardjo mungkin bisa bijaksana seperti Mama. Tetapi anak-anaknya bagaimana? Bisa-bisa aku dicibir sama mereka.”

”Papa mereka kan Papa kamu juga, buat apa mereka mencibir,” kata Rita. ”Dua anak Nyonya Rahardjo juga perempuan, hanya satu yang lelaki.”

”Ah, jadi repot. Amit-amit deh, tidak bakal aku nanti mau menjadi istri kedua seperti Mama,” kata Ayu.

Rita memandang tajam ke arah Ayu. Kemudian menghela napas panjang. Selanjutnya mencari-cari bel untuk dipencet.

Dua puluh tahun lalu, Rita dinikahi oleh Rahardjo.

”Kamu tidak menuntut agar aku menceraikan istriku kan?” tanya Rahardjo ketika itu. ”Aku sungguh tidak bermaksud main-main menikah denganmu, namun aku tidak ingin rumah tangga yang sudah kubina lebih dulu jadi rusak akibat pernikahan kita.”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Masalah itu sudah sering kita bicarakan,” jawab Rita.

”Kalau kita menikah, kamu tentunya menjadi istri serta ibu rumah tangga sebagaimana umumnya perempuan punya suami kan?”

”Itu pun telah berulang kali aku sanggupi.”

”Yah, aku percaya kepadamu.”

”Aku sudah pertimbangkan masak-masak semua konsekuensinya,” kata Rita. ”Aku menghormati semua itu,” kata Rahardjo.

Ketika itu Rita berusia 25 tahun, terpaut dua puluh puluh tahun lebih muda dibanding usia Rahardjo. Kesegaran dan kemudaan Rita tentu menjadi faktor penting yang membuat Rahardjo menyukai Rita, di saat dirinya sudah punya istri dan tiga orang anak. Rita memberikan semangat, tenaga, juga keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuatan, kemampuan, mungkin semacam keperkasaan.

Rita dianggap telah membawakan dan menyediakan diri untuk memberi keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan yang dibutuhkan Rahardjo. Sore-sore yang senggang seusai jam kantor, Rahardjo bisa bertemu dengan Rita di rumah kontrakan perempuan itu, menikmati suasana romantis, berhubungan seks seperti dalam fantasi-fantasi. Semua berlangsung dalam komitmen yang aman, saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, saling menyadari posisi dan kondisi masing-masing.

”Maaf kalau aku tidak pernah mengajak kamu jalan-jalan di mal, atau menghadiri undangan pesta,” kata Rahardjo suatu ketika. ”Kadang aku merasa tidak enak terhadapmu, namun sungguh aku tak bermaksud tidak menghargaimu.”

”Sudahlah. Aku tahu, dan itu sudah berkali-kali Mas kemukakan,” jawab Rita. ”Aku berterima kasih kok. Kan Mas juga memberi hal-hal yang aku butuhkan.”

Bagi Rita, menjalin hubungan dengan Rahardjo adalah sebuah pilihan. Setelah memasuki usia 25 tahun, banyak hal dia jalani lebih rasional. Dia semakin terlatih mengelola perasaannya ke dalam bingkai rasionalitas itu. Terhadap hubungannya dengan lelaki, ketika usianya memasuki 25 tahun, dia sanggup

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengarahkan perasaan-perasaan yang semula dominan menjadi lebih mendekat kepada perhitungan akal. Pasang-surut hidup berikut kemudahan dan kesulitannya mengajarkan kepada Rita tentang bagaimana secara bijaksana membawakan diri.

Kenyataannya, selama dua puluh tahun ini dia tidak merasa menderita. Rita bersama Ayu bisa menempati rumah cukup bagus di komplek pemukiman yang baik serta sanggup membiayai hidup lebih dari memadai.

Sekarang Rita akan melakukan perjumpaan dengan Nyonya Rahardjo, setelah dua minggu yang lalu Rahardjo meninggal dunia. Menyimpan rahasia merupakan ganjalan tersendiri, kini saatnya ganjalan itu dilepaskan. Rita tidak berharap ganjalan itu terwariskan kepada Ayu, putrinya. Maka Ayu diajaknya serta. Diusirnya rasa khawatir, waswas, takut. Toh Rita punya keberanian tatkala dulu menikah dengan Rahardjo untuk menjadi istri kedua. Itu keputusan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Waktu di SMA atau semasa kuliah dulu, mana mungkin membayangkan menjadi pacar atau selingkuhan dari lelaki beristri dan beranak tiga, lalu menjadi istri kedua yang dirahasiakan. Kiranya seperti sikap Ayu sekarang, amit-amit deh….

Tapi cinta yang seperti dalam novel cukuplah untuk masa remaja. Waktu SMA Rita punya pacar, kakak kelas. Bermula kakak kelas itu memberi perhatian, berlanjut kirim surat-surat cinta, akhirnya sering mengajak jalan-jalan. Tidak ada lelaki yang lebih baik dibanding kakak kelasnya itu. Rita merasa terhibur, punya tempat berlindung, juga punya gairah. Maka dirinya tidak keberatan dan menyesal ketika pada suatu hari kakak kelasnya itu mencium bibirnya, pada hari yang lain meraba tubuhnya, hari yang lain lagi menyuruh Rita memegangi kelaminnya, dan pada hari lainnya lagi mengajak Rita melakukan hubungan seks.

Semasa kuliah, Rita juga berhubungan dengan beberapa lelaki. Semuanya dihayati dan dinikmati. Rita bukan orang egois, apalagi merasa diri berharga mahal. Namun Rita juga bukan orang yang rela tergiring pada nasib pasrah untuk direndahkan atau dihargai murah oleh orang lain.

”Aku memang bukan bintang di langit, tetapi aku juga bukan debu jalanan,” tulisnya mengutip sepenggal syair lagu, ketika membalas SMS cinta dari seorang mahasiswa satu kampus yang merayunya.

”I love you, Say.. Swear..” tulis mahasiswa itu melalui SMS.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”What is love, Say?” balas Rita.

”Yah, kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Aku juga selalu kangen dan sayang sama orangtuaku di kampung.”

”Itu lain, Say. Itu cinta kepada orangtua. Ini cinta antara lelaki dan perempuan.”

”Lalu aku harus bagaimana?”

”Please, Say, ucapkan bahwa kamu juga mencintaiku…”

Mengingatnya, Rita sering tertawa sendiri. Rita memang pernah mengucapkan cinta karena menurutnya hal itu sepadan untuk ucapan cinta yang ditujukan kepada dirinya. Ketika mahasiswa itu sering mengajak jalan-jalan, berdiskusi, merencanakan masa depan, atau memadu kasih, melakukan hubungan seks, Rita menilainya sebagai sesuatu yang sepadan pula. Dirinya juga menikmati pengalaman-pengalaman itu dan mendapatkan keuntungan darinya.

Setelahnya Rita masih punya beberapa pengalaman menjalin hubungan dengan lelaki, termasuk tatkala dia bekerja di perusahaan biro jasa pariwisata. Banyak lelaki mendekatinya.

”Lelaki menawarkan cinta untuk mendapatkan seks, sedangkan perempuan menawarkan seks untuk mendapatkan cinta,” kata Rita selalu kepada lelaki-lelaki yang mendekatinya. Kalimat itu dia kutip dari sebuah puisi yang pernah dibacanya. Kalimat itu pula yang pernah diucapkan di depan Rahardjo, yang dikenalnya setelah Rita sering mengurus kebutuhan-kebutuhan perjalanan tugas lelaki itu.

”What is love?. Apa sih cinta? Sejak SMA dulu aku sering menanyakan hal itu kepada para lelaki. Katanya sih perasaan kangen, sayang, pokoknya gitu deh.”

”Sederhananya memang begitu. Itulah juga perasaanku kepadamu. Tetapi terserah kamu bilang apa. Pokoknya kita saling suka, saling senang, saling tidak menyakiti,” kata Rahardjo.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Bapak bisa saja deh. Aku jadi tergoda.”

”Jangan panggil Bapak lagi, panggil aku Mas, biar merasa muda lagi gitu lho.”

Maka bercintalah Rita dengan Rahardjo. Hubungan itu makin bersifat permanen, walau tetap di dalam komitmen kerahasiaan. Beberapa kali Rita sempat mengikuti perjalanan dinas Rahardjo ke luar kota dan ke luar negeri, namun mereka mengaturnya sedemikian rupa supaya kerahasiaan itu tetap terjaga. Tatkala Rahardjo dan Rita mengikat diri dalam pernikahan bawah tangan dua puluh tahun yang lalu, komitmen kerahasiaan itu tetap berlaku.

Semula Ayu bersikeras tidak bersedia ikut. Namun Rita dengan sabar memberi pengertian. Akhirnya Ayu mau berangkat. Sebenarnya bukan hanya Ayu yang di kepalanya berkecamuk rasa khawatir. Rita juga terpikir, bagaimana kalau Nyonya Rahardjo menyambutnya sinis dan penuh cercaan. Rita memahami, hampir sulit bagi perempuan bisa menerima kehadiran perempuan lain sebagai sesama istri suaminya.

Pintu gerbang terbuka. Seorang pembantu perempuan mempersilakan Rita dan Ayu agar langsung masuk.

”Bu Rita ya? Silakan. Nyonya Rahardjo sudah menunggu,” kata pembantu perempuan itu.

Sejenak Rita dan Ayu berpandangan. Kemudian mereka melangkah memasuki pintu gerbang. Terbentang halaman cukup luas dan asri, rumput dan tanaman tertata rapi. Ada dua mobil terlihat di garasi, salah satunya mobil di mana Rita pernah menaikinya. Rita dan Ayu kakinya dirasakan bergetar ketika mendekati pintu rumah.

Di depan pintu rumah yang terbuka, berdiri Nyonya Rahardjo. Berusia 60-an tahun, rambut sudah memutih namun berpenampilan anggun. Dia mengenakan kain batik, baju kebaya warna coklat bermotif bunga-bunga. Nampak kalau perempuan itu benar-benar menyiapkan diri untuk menerima tamu istimewa.

Rita melangkah menapaki teras dan tersenyum kepada Nyonya Rahardjo. Ayu hampir tidak berani

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

mengangkat muka.

”Silakan-silakan, sini masuk,” suara Nyonya Rahardjo terdengar ramah. ”Sini Jeng Rita, dan ini siapa namanya?”

Keramahan itu memupus semua kekhawatiran. Rita menyalami Nyonya Rahardjo, dan Nyonya Rahardjo membalas salam itu, seraya memeluk Rita. Ayu menyebutkan namanya, menyalami Nyonya Rahardjo dan mencium telapak tangan perempuan itu.

”Aduh, sudah tua begini, jalan jadi tertatih-tatih. Ayo masuk ke dalam,” ajak Nyonya Rahardjo.

Rita dan Ayu masuk ke ruang tamu. Sesaat kemudian muncul dua orang perempuan, yang langsung diperkenalkan oleh Nyonya Rahardjo.

”Ini anak-anakku, Si Eva dan Leila,” kata Nyonya Rahardjo. ”Satu lagi, yang lelaki, namanya Ramadian. Malu ikut pertemuan ini. Katanya, ini perjumpaan khusus kaum perempuan….”

Tidak sesulit dan serepot yang dibayangkan Ayu. Perjumpaan itu berjalan dengan baik, ramah, akrab, penuh silaturahim. Mereka ngobrol, makan bersama, bercanda-canda. Nyonya Rahardjo menceritakan kenangan-kenangan manisnya bersuamikan almarhum Rahardjo, begitu pula Rita. Kalau cerita menyangkut kenangan hubungan intim, anak-anak mereka mengingatkan ibunya masing-masing agar tidak ngelantur.

”Jeng Rita, Ayu, juga Eva dan Leila, kita ini kaum perempuan. Hidup dalam kenyataan. Bukan hanya dalam perasaan dan impian-impian,” kata Nyonya Rahardjo. ”Saya sudah tahu Mas Rahardjo menikah dengan Jeng Rita, sejak awal pernikahan itu berlangsung. Begitu juga anak-anak, semua mengetahui sejak awal.”

”Maafkan, selama ini saya dan Mas Rahardjo merahasiakannya,” sahut Rita.

”Tidak apa-apa. Kami di sini juga merahasiakan. Karena itulah yang terbaik buat kita semua. Dengan tetap menjadi rahasia, Mas Rahardjo semakin baik dan hati-hati memperlakukan kami, bahkan apa pun keinginan kami dipenuhi. Tentu karena Mas Rahardjo takut rahasianya kami ketahui. Buat apa saya

Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai. http://www. ”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.” kata Ayu. hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik.” Saat meninggalkan rumah Nyonya Rahardjo. Balada Cinta Ferdi dan Firda Post: 08/22/2005 Disimak: 248 kali Cerpen: Jujur Prananto Sumber: Kompas. Nggak suka ya. perasaan Rita dan Ayu benar-benar lega. Rita dan Ayu berpelukan. Dan aku tidak perlu menyesali diri karena aku terlahir dari istri kedua.Generated by ABC Amber LIT Converter. kalau cerai sulit cari suami lagi. selain rusaknya rumah tangga? Usia saya waktu itu 40 tahun. Mata mereka tiba-tiba sama-sama basah.com/abclit. punya tiga anak.” . ”Aku tidak seharusnya menyinggung perasaan Mama karena Mama menjadi istri kedua. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut. he…he…he. apalagi sampai minta cerai? Apa yang akan kami dapatkan. Nyonya Rahardjo dan kedua anak perempuannya menemani Rita dan Ayu sampai taksi yang menjemput tiba. ”Suka juga. Edisi 08/21/2005 Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima.html marah. maafkan kata-kataku tadi. tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar.processtext. tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar. ”Mama. memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Sebuah perjumpaan yang indah bagi para perempuan telah dijalaninya. Di dalam taksi.” jawabnya datar. menginap di sini?” Firda menoleh sesaat. Firda menyibak vitrage. berdebur-debur keras.

. Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu. Memeluknya dari belakang. mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Kenapa kamu mengajak aku ke sini?” ”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.Generated by ABC Amber LIT Converter. kita begini-begini aja ?” Firda menggeleng. ”..” ”Tapi kata orang hotel. Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. kan?” Ferdi tersenyum lebar.” ”Aku serius.. Firda?” Firda tidak segera menjawab. ”Kamu bosan ya. Dan Ferdi ternyata merasakannya. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu..com/abclit. Perasaannya lembut berdesir. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.” Senyum Ferdi memudar.processtext.” ”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali. ”Ada apa.html ”Ya.” ”So what ?” ”..” Firda terdiam sesaat. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur. Di luar penglihatan Ferdi.. http://www.. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. .

”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?” ”Nggak pernah pacaran. . Guru yang beruntung.?” ”. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.html ”Jadi kenapa..Generated by ABC Amber LIT Converter.” Tangan Ferdi perlahan merenggang.” ”Oh.processtext. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku.. berikut bursa saham yang terguncang. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Tapi sudah lama kenal. yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. nyaris tak terdengar. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci.” Firda terdiam.com/abclit. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London. Bulan depan aku mau nikah..” ”Kerja apa dia?” ”Guru SMP. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh. Tetangga dekat.. http://www.” bisiknya dalam hati.. Dan Firda tak berusaha mencegahnya.. duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah.” ”Kenapa beruntung?” ”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.. melepaskan pelukan pada pinggang Firda. berlalu begitu saja tanpa perhatian.

Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam.processtext. ”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?” ”Jangan. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab.com/abclit. sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji.” ”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita. akan lebih jarang bertemu?” ”Apalagi. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu.” Ferdi terdiam.” ”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya.” .. tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya.. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.!” ”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu.... Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula..600 cc berhenti di tempat gelap.html ”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?” Firda tak menjawab. Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.. ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut. http://www. beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. ”Maafin aku. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah.

dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi.” Firda terdiam. berbelok memasuki gang.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Cetak undangan.” ”Nggak usah. . ”Tolong kamu terima. Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh. http://www. ”Tunggu!” Firda menahan langkah dan menoleh. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil.. dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit.html Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya..... saling melambaikan tangan. mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda.. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu..com/abclit. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa. Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya. sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras..” ”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya. Sampai kemudian keduanya berpisah. biaya katering. Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. buru-buru membuka laci dashboard. sewa gedung. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu..” Firda menjawab dengan pelukan erat. ”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan.

html ”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.” jawab ibu Firda. Karyawati biasa. ya. kepribadian. Tapi uang lemburnya tinggi. http://www. pulangnya antara jam dua belas jam satu. Bulan lalu malah di . Restoran di hotel berbintang lagi.com/abclit.” ”Memang gajinya berapa?” ”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya. katanya.” ”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung. belanja-belanja.” si bibi menimpali.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Malam sekali. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Jadi masih ada waktu buat rekreasi. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. yang bukanya dua puluh empat jam. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih.” ”Ah.. komputer. ”Bukan lumayan lagi. tapi lebih seringnya di Bandung.” ”Berat juga ya.” ”Namanya juga kerja di restoran. sampai harus ke Bandung segala.. beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Manajemen. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. bahasa Inggris.” kata ibu Firda. Kadang di Jakarta. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam.processtext.” ”Yang penting gajinya lumayan.. ”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. belum.” ”Berat sekali juga enggak.

. ya. tapi juga dikasih uang saku!” ”Hebat sekali!!?” ”Makanya saya sendiri suka terharu.” Ferdi tertawa.html Bali sampai seminggu. nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga.processtext.com/abclit. pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?” ”Aku Icha. sayang?” ”Ental siang jangan lupa. Pasti.” . Jam dinding menunjuk setengah tujuh. ”Ini siapa. Alloh. ya. Aku kan ulang tahun.” ”Oh. tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa.. sih. ”Ada apa.. Eyang nggak mungkin lupa.” Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. http://www..Generated by ABC Amber LIT Converter. terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami.’. cucunya eyang Feldi.” ”Semuanya dibiayai kantor?” ”Bukan cuma dibiayai. Ia pun bangkit hendak keluar kamar. dateng ke lumahku. ”Halo?” ”Bisa bicala sama eyang Feldianto?” Ferdi tersenyum. ’Ya. yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan.

seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. Astrid sudah nemuin Papa?” ”Belum....” Ferdi menutup gagang telepon.” ”Ya. Pa!” Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. Senyumnya seketika memudar.” ”Icha sendiri yang nelpon???” ”Iya.” .. ”Icha..Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Hampir lupa. http://www.html ”Dah.” ”Anak sekarang. Ada apa?” Belum lagi ibunya menjawab.” ”Dadaah.processtext. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.” ”Eh. ”Siapa yang nelpon?” Ferdi kaget dan menoleh. ”Minta sendiri gih sama Papa. eyaaang.!” katanya dalam hati.com/abclit. ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget. ”Hai. melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar.

”Mau minta apa.. Maksudku. Sudah papa siapin. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya. ”Rumah..” ”Ah yang bener. mau ngasih apa. Pa...” ”Kamu suka. rumah di Bukit Kayangan?” ”Suka banget! Memang papa sudah beli???” . http://www.” Setelah berpikir beberapa saat..” Ferdi tertegun.” ”Kado kok minta. Papa jangan ngasih aku mobil juga. Pa.html Ferdi bertanya-tanya.. ”Tenang aja. Tergantung papa dong. kan.?” ”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah. kado perkawinan.” ”Soalnya gini. sih?” ”Mmm.processtext. kamu pengin dikasih kado apa?” ”Mmm.” ”Terus. berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa.Generated by ABC Amber LIT Converter.. rumah.com/abclit.

processtext.html ”Sudah. apa sih yang nggak papa kasih. 26 Juli 2005 Bang Acung Tidak Bunuh Diri.” Astrid sesaat terkesima...?” Jakarta. ”Thanks. ”Kok pakai balik nama segala. lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 08/14/2005 .” Astrid heran. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama. http://www. Pa! Makasih banget!!!” ”Buat kamu.” ”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?” ”Sudah ada. Yah Post: 08/15/2005 Disimak: 156 kali Cerpen: Aba Mardjani Sumber: Kompas.com/abclit.

Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar. gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya. Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Matanya sembab. Mona. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya. Suka bermain sepak bola. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Mansur meninggal karena bunuh diri. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. anaknya. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. juga membacakan Surat Yasin. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya.com/abclit. ia adalah anak yang lincah. Sesekali ia menyeka air mata. Pada usia 16 dua tahun lalu. duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing. suaminya. Di sebelahnya. Mahmud. Mansur adalah anak yang sangat sehat.html Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. http://www. begitu mendengar kabar duka itu. kata Mansur kepada ibunya. Meskipun badannya gemuk. Suaranya patah-patah. ayahnya. seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. kakak Mansur. Tatapan matanya kosong. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu.processtext. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Karena itu. Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. meninggal dunia. Mahfud. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Keduanya gagal membujuk Mahmud. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Sesekali air matanya meleleh. . Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. menolak cintanya. Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Memasuki usia 17.

Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. hasilnya sangat manjur. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Ny Laila membesuk putranya. Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. baru berjalan satu bulan. Tetapi. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Amat merindukan ibunya. Juga kemarin. ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan. ia berhenti karena tak tahan godaan.html Mengikuti nasihat ibunya. arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap. sebelum itu. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Dan.com/abclit. Karena itu. Kata Mahmud. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. suaminya. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Lima malam sebelum kematian Mansur.processtext. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau . Mansur kemudian jadi langganan. ternyata. Dengan alasan tubuhnya masih lemah. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri. Selain luka di usus yang kembali kumat. Empat malam sebelumnya. http://www. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi. Dan menginap di rumah sakit. Sesampainya di rumah. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Mansur ingin segera dibawa pulang. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Duka mendalam menderanya. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh.Generated by ABC Amber LIT Converter. ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. ia mengalami komplikasi. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Tetapi. ginjalnya juga terganggu. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia menangis lagi. Tetapi. panas dinginnya tak kunjung hilang. Karena itu. Yang terakhir. sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya. kata dokter. ia tak lagi berani membesuk putranya.

Tatapannya kosong. ”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. ”Iya.” kataku. ”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. dengan tulus kuucapkan pula doa. Memangnya kenapa. . Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Apa pun penyebab kematiannya.processtext.” Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya. Menembus relung-relung gelap di antah berantah. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Matanya tampak lelah dan marah.Generated by ABC Amber LIT Converter.” istriku menimpali sambil lewat. Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. Suaranya serak. Bang Acung itu Bang Mansur.com/abclit. Ia tersenyum getir. putriku. ”Bang Acung? Bukan. ”O. Sebelum pulang. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Air matanya meleleh. baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. gitu. Tak ada senyum. ia tampak damai. Yah. Sebagai tetangga. Tetapi. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Ocha. Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik. Bang Mansur. http://www. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. ”Habis melayat. aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan.html memaafkan segala kesalahan anaknya.

Kepalanya dua. Yah. kalau mau sembuh dari penyakitnya. Juli 2005 . Tetapi.com/abclit. Kata suara itu. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. Yah.” ”Kenapa Ocha bilang begitu?” ”Tadi Ocha mimpi. Yah. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah. ”Ocha dengar dari siapa?” ”Kata orang-orang. Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri.” jawabnya. Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. menyambar cecak itu untuk dimakan. Tak jauh dari tempatnya berdiri. orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri. Tanah Kusir. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Yah.html ”Yah. ia melihat seekor cecak. Orang-orang tidak pada tahu sih.Generated by ABC Amber LIT Converter. Bang Acung itu bukan bunuh diri. orang-orang enggak tahu sih.processtext.” Aku agak tertegun. Dia jatuh. Yah. Suaranya datang dari samping kamarnya. Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. http://www. ”Jadi begitu ceritanya.” gadisku bersila di hadapanku. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Katanya. Jadi. Bang Acung. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. cerita putriku selanjutnya. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur. Yah.

sedangkan di tangan kanan bergambar perempuan telanjang. Tubuhnya padat. Dadanya bertato gunting menganga dan tengkorak kepala di tengahnya. ”Baru pindah. matanya memerah. Tangan kiri tato ular naga yang menggeliat ke arah pangkal lengan. Dari mulutnya tercium bau alkohol.Generated by ABC Amber LIT Converter. cahaya matahari masih bisa menjalar ke lantai dalam rumah. Ketika pintu dibuka. ”Mau ketemu siapa?” tanya saya lunak. kurang nyaman. tanpa ada senyum. setelah melewati pekarangan kecil dan teras. yang di pinggir-pinggirnya direnda dengan tato menyerupai kelabang. Suatu sore. Garis bibirnya yang tebal melengkung ke bawah.html Pisau Post: 08/07/2005 Disimak: 183 kali Cerpen: Yusrizal KW Sumber: Kompas. Diam-diam saya perhatikan seluruh tangannya penuh tato. sedikit parau. ada bekas luka sepanjang telunjuk. Saya amati tamu ini hati-hati. ”Iyya. ya saya baru pindah! Ada yang bisa saya bantu?” ”Di dapurmu ada berapa pisau?” . seorang tak dikenal mendatangi saya. http://www. ya!” terdengar suaranya berat. Edisi 08/07/2005 Rumah baru kami menghadap ke timur.processtext. tinggi besar. Pipi kirinya. Kancing baju bagian atasnya ternganga. Berkumis tebal.com/abclit. Kulit hitam. Sangar sekali kesannya.

ada sesuatu yang ganjil. Rautnya bengis. hei!” ia sedikit membentak karena melihat saya mengernyitkan kening dan tidak segera menjawab. masukkan dalam amplop uang Rp 10. untuk pertanyaan yang sama. ”Mulai besok pagi. http://www. sekali setiap bulan pada tanggal yang sama. pisaumu letakkan di dekat pintu pagar.com/abclit. merasakan betapa sore ini hidup mulai tidak nyaman. Bang….processtext. . iya. Saya takut. Saya menarik napas.000. Pisau dapur biasa.html Pisau? Pertanyaan yang sangat tidak biasa. saling berhadapan. ”Ada dua. ”Iyyya. Saya tidak ingin banyak tanya soal meletakkan pisau dan uang dalam amplop besok pagi.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Bodoh! Mau atau tidak?” ia membentak. Jangan lupa. garis bibir seperti menikam ke hulu hati saya. Kami masih berdiri di teras. berarti kamu tidak ingin menjadikan pisaumu bermanfaat bagi orang lain…. Mau?” Setelah itu. Saya merasa. Itu artinya cari masalah!” katanya dengan raut muka yang tegang. ”Ada berapa. ”Bagaimana?” ”Maksudnya?” saya ingin mencairkan keraguan saya. Bagaimana seandainya laki-laki sangar ini datang setiap sore. Saya kaget. pertanyaan yang salah berakibat ”bencana” bagi saya dan keluarga. setiap bulan pada tanggal yang sama di dekat pintu pagar. saya. Jantung saya bagai mengecil oleh remasan tatapan mata dan suaranya yang berat. Kalau tidak.” ”Kamu ingin pisau dapurmu bermanfaat bagi orang lain?” dengan kasar ia mengajukan pertanyaan yang aneh dan bernada kasar. Di kepala saya mengira-ngira seperti apa yang dimaksud ”pisau bermanfaat bagi orang lain” itu.

Tiduran. Dengan sedikit terkekeh ia balik badan. memang si sangar adanya. ”Kita pindah saja. Ketika pintu saya buka. Bang!” Ia menatap sembari mengangguk-angguk. Bang.com/abclit. ”Maaf.processtext. Gedoran pintu terdengar makin kasar. ia orang paling ditakuti di daerah kompleks kami ini. badan sedikit dibungkukkan. Si sangar itu pasti. ”Lagi kurang sehat. http://www. Saya lepas ia dengan tatapan yang menyimpan rasa cemas. Pucat membias di wajahnya. Kemudian. Saya dan istri terkejut. Dengan keramahan yang sangat berlebihan.” ”Suruh dia keluar! . Saya mencoba menenangkannya. Pasti tadi ia mengintip atau nguping dari dalam. Nekat!” Memelas suara istri saya. tidak takut mati.Generated by ABC Amber LIT Converter. di dalam saya mendapatkan istri sedang ketakutan di sudut kamar. pergi begitu saja. saya bertanya. ada yang terlupa?” ”Istrimu. Tampaknya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan kasar di luar. mana? Aku belum lihat!” Oh! Pertanyaan yang mempertebal kecemasan saya.html ”Saya bersedia. Bang. Salah-salah. orang itu bisa bunuh kita! Aku takut! Orang seperti dia itu tidak takut polisi.

cantik juga istrimu. saya tuntun istri menemui si sangar dalam keadaan pucat.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. si sangar menoleh dan berkata. saya masuk menemui istri di kamar. ”Cantik…. Dengan perut terasa mulas. Setelah itu. ”Istrimu cantik. Pisau dimasukkannya ke dalam karung. Saya menunggu. Di hadapan si sangar. ternyata karung yang dibawanya itu terlihat berat sekali.com/abclit. ia terlihat cengengesan.” Si sangar tertawa terbahak-bahak. Bibirnya saya lihat seperti sedang beku.000 di tempat yang ditunjukkan si sangar.” >diaC< Matahari dari arah timur kembali mendatangi rumah saya. istri saya mencoba tersenyum. ha-ha-ha….html ”Tapi. ”Ini istri saya. Akhirnya si sangar datang. Mungkin inilah hari paling mencekam dalam hidupnya.processtext. Akhirnya dengan menguatkan diri. lalu masuk dan mengambil dua pisau serta sebuah amplop. Jangan-jangan itu semua pisau . Tampaknya ia mendengar apa yang diminta si sangar. Diam-diam saya mengintip di balik gorden kamar depan yang sengaja tidak dibuka lebar-lebar. membuat saya tergagap. tapi wajahnya pucat sekali. Tangan istri saya terasa dingin. Bang…. Saya meletakkan dua pisau dapur dan sebuah amplop berisi uang Rp 10. Sebelum jauh melangkah dari pagar. amplop ke kantong celananya yang besar. Setelah menatap istri saya beberapa jenak. Saya amati. Bang?” ”Panggil istrimu!” suaranya meninggi.” katanya di sela sisa tawanya. pintu saya tutup. Pintu pagar dibukanya. Saya tatap istri yang mengerut saking cemasnya. kira-kira apa yang dilakukannya pada benda itu.

http://www.” katanya sambil memperlihatkan kedua pisau di pegangannya. terduduk dengan napas sesak. dipakai menyembelih.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Kalau setajam ini. ya pisau kami. Menyembelih! Kata-kata itu bermuara pada imajinasi paling buruk dalam kepala saya. Pintu dibukakan perlahan.html beberapa warga kompleks? Empat hari kemudian. Mata pisau pun terlihat lebih tajam. Pisau itu kini terlihat berada di masing-masing tangannya. pisau itu tampak mengilap di bawah sinar lampu teras.” ia berkata dengan sangat dingin. apa yang bisa saya bantu!” ”Pisau ini. Tapi. pukul sebelas malam. ha-ha-ha…. Maaf. sama artinya sebuah penyiksaan. akan sangat sakiiiit sekali. Kalau sebelum ke tanganku.processtext. ”Jangan dibuka!” gemetar istri saya berkata. Huffft! Ternyata si sangar berdiri dengan seringaiannya yang tidak sedap dipandang. ”Nanti makin kasar!” ”Telepon polisi saja!” ”Biar kubuka saja!” Saya setengah berlari ke ruang depan. pintu rumah terdengar digedor kasar. termasuk menyembelih kambing atau ayam.com/abclit. pisau ini digorokkan ke leher kita. Pisau tumpul. Saya lihat di tangannya ada dua pisau. kan? Berbeda dengan ketika kamu letakkan di dekat pagar empat hari lalu. rasa sakit disembelihnya tidak begitu menyiksa. ”Ada apa. Bang. Bang. ”Sudah sangat tajam. Istri saya yang sudah mulai terlayang tidur.” . Pasti si sangar itu.

”Mmmaaf. Bermandikan cahaya. Kemudian. ”Bang.” Langit malam bertaburan bintang. untuk melukai kulit ini.” ia melayangkan segoresan garis dengan salah satu mata pisau di tangan kanannya. diangkatnya sehingga saya terduduk berhadapan dengannya. Tak ada suara siapa-siapa di kompleks ini kalau sudah lewat pukul 20. Tegang! ”Kamu mau mencoba betapa tajamnya pisau ini?” Mungkin karena perasaan mencekam—yang saya bayangkan leher saya disembelih—saya tiba-tiba terduduk. Kemudian seperti sujud di kaki si sangar. dingin. tidak menyakitkan! Termasuk.” Saya merasakan tenggorokkan ini menyempit. ”Darah manis. mohon Bang! Jangan. Bang! Saya tidak tahu maksud. ia akan menyembelih saya. . kemudian berdiri lalu balik badan dan pergi begitu saja. Ya. Rumah-rumah orang sudah tutup. salah saya apa? Sesaat kemudian. karena luka oleh mata pisau yang tajam. kemudian dipegangnya lambat-lambat. pandangilah saya saat ini. http://www.html Ia akan menyembelih.Generated by ABC Amber LIT Converter. bagai dicubit saja…. darah meleleh kecil dari kulit bertato yang dilukainya sendiri.” ia menyerahkan dua pisau ke saya. Tapi.com/abclit. Terlihat. Saya takut!” Saya rasakan kuduk saya dipegangnya.00. Tuhan. ia raba leher saya.processtext.” Ia terbahak. nyaris tidak mampu berdiri. ”Berikan pisau ini ke istrimu. Lihatlah. Abang…. ”Kamu memang tidak perlu cepat mengerti. Keringat dingin mengalir begitu deras dari pori-pori saya yang melebar. ha-ha-ha-ha…. Sunyi. Jangan ya Tuhan. Siapa? Saya? Istri saya? Jangan. ”Pisau tajam ketika digunakan dengan baik.

ia menoleh! Mata kami bersirobok pandang. berharap matahari bisa menyemangati hati dan hari-hari kami. http://www. ”Saya baru setahun keluar penjara. Saya pun duduk di kursi sebelahnya. ya!” sapa si sangar. Kaki kanannya menyilang di atas paha kiri.com/abclit.processtext. Saya gelagapan. Semoga semalam akhir dari kenyataan buruk. ”Eh. dengan seringaiannya. Bang?” ”Duduklah sejenak!” Ia menunjuk kursi di sebelahnya. membunuh orang. Abang. Saya membuka pintu depan.html Kami bangun agak kesiangan. Apa kabar. ”Kesiangan. di kursi teras terlihat si sangar duduk sambil merokok menghadap ke jalan. mempersilakan saya. berusaha tenang. Santai sekali tampaknya. Baru saja pintu dingangakan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Si sangar menyadari pintu terbuka. Sepertinya ia tuan rumah bagi saya di teras. Kamu tahu bagaimana seorang mantan pembunuh seperti saya ini hidup setelah menghirup udara bebas?” . ”Kamu tahu siapa saya?” tanyanya dengan suara datar. Saya menggeleng.

Bentuknya dengan menyiapkan mata pisau yang tajam. Uang dari keringat sendiri. misalnya.” Saya mencoba belajar memahaminya. Istrimu. ketimun.com/abclit. Kalau seratus rumah wajib mengasahkan pisau kepadanya berarti ia bergaji minimal Rp 1.html Saya hanya diam. ”Pisau tajam itu penting kita miliki.000.000 sebulan. saya cobakan tertawa sebisanya. Begitu juga kentang. Saya mulai tahu caranya yang aneh dan kasar karena tuntutan hidup. Karena itulah. harus mengasah pisaunya sekali sebulan denganku. musuh-musuhku kusayat sampai menjerit dengan pisau yang tajam. Karena keluarga dan saudara-saudaraku ingin aku baik. saya ikuti senyumnya. bisa kugarap jadi ladang. Terbayang tanah keluarga yang luas. ia mungkin akan tersenyum. mati. apakah ia tahu. Bayarannya Rp 10. http://www. aku perlu uang untuk kebutuhan hari-hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. Saya hanya melayani dengan tatapan mata. ”Aku mahir mengasah pisau. Sesekali mengangguk. ”Dengan mengasah pisau!” terangnya. Iya. ketika dipotong menggunakan pisau tajam. aku berpikir tobat. Kalau dia tertawa.processtext. Memotong sayur. yang jumlahnya lebih seratus rumah. kasih sayang perlu dimiliki oleh pisau. sebidang tanah dan rumah kecil dibangunkan untukku dan keluarga. ”Aku ingin anak dan istriku hidup tenang. kangkung. Kacang panjang.” paparnya. setiap rumah di kompleks ini. Karena tidak menyakitkan baginya. Karena ingin hidup normal. golok atau merampok dan membunuh. bawang. Jangan-jangan ini teori marketing si sangar. Dan aku pun dipenjara. wortel. Kalau tidak mau. Dan terakhir. ”Ketika dipenjara. Dalam hal ini. sebagai ibu rumah tangga.000. tentu sayur tidak merasa sakit ketika dipotong atau disayat-sayat. Tapi. toh?” . bahwa harga pisau dapur kadang tidak sampai Rp 10.000. orang itu sama artinya menyuruhku ke penjara lagi…. Lagi pula bukankah ini pemaksaan. oleh mereka. dulu. Ternyata. buncis. kusembelih. dan sebagainya. Kalau dia tersenyum. tanah dijual kemudian tahu-tahu aku hanya melihat kompleks perumahan ini sudah ada. Dan. Aku tidak punya keterampilan kecuali mengasah pisau.” suaranya agak lunak. kalau pisaunya tajam.

Kemudian ia lanjut kalimatnya dengan suara yang berat dan perlahan. kembali mengalami gaduh yang tak terlukiskan cemasnya di dalam hati.html Saya cepat mengangguk. Saya mulai merasakan ia mencoba ramah dan bersahabat. Juga nyawamu!” .” kata si sangar sambil melintangkan telunjuknya di tengah lehernya. atau bisa jadi pisaumulah yang akan kupakai menyelesaikannya. rezekiku ada pada pisaumu. menyembelih ayam. sembari berkata. kalau kamu tidak lagi berminat mengasahkan pisau kepadaku. ”Kamu telah membantu saya. Ia seakan mulai menganggap saya pelanggan bulanannya yang harus dijaga.com/abclit. kalau dengan pisau yang tajam. tetapi menjual jasa keterampilan mengasah pisau. katakan padaku. Dia berdiri.” ia berhenti sejenak. Saya rasakan ketiaknya melekat di bahu. ”Begitu juga memperlakukan ikan. Bang!” ”Itu artinya. Ia kemudian melepaskan rangkulannya.” Saya yang sedikit mulai nyaman oleh rangkulan awalnya. Terasa lebih penyayang. Kita yang menggunakannya.000 per bulan tidak terlalu memberatkan jika dibanding teror yang nanti diakibatkan penolakan kesediaan mengasah pisau. Jika orang kompleks tidak ada yang menantang. kamu bersama warga kompleks ini bersama-sama menutup pintu kejahatan bagiku. mempererat rangkulannya. dan lipatan sikunya mengetat di leher saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. juga enak. tidak ada yang berani mengganggumu. Mengasah pisau? Pekerjaan yang aneh. Percayalah. kan?” Saya mengangguk. http://www. saya pun ikut berdiri. Menjelang sampai di pintu pagar. akan lebih baik. Iya.processtext. Kamu telah mendengarkan aku. melangkah dengan lebih dulu menoleh ke saya di balik pagar. ”Ingat. Saya terima uangmu tidak dengan berpangku tangan. Itu artinya. Jika ada orang yang mengganggumu. yah barangkali saja Rp 10. ”Benar. Dan anak buahku. ia merangkul bahu saya dengan hangat. ”Terima kasih. ”Itu artinya kamu siap saya sembelih…. Paham. kan?” Ia menerangkan alasan-alasan yang mendukung pekerjaannya.

sejak peristiwa berdarah itu berlalu. Para kelelawar muncul dari lubang lebar. ia berjalan menuju suatu ruang. Edisi 07/31/2005 Depan Gedung Komnas HAM pagi hari. ”Di sinikah Bapak hilang?” ujar Her pelan.processtext. Tampak dari atas. untuk pertama kalinya perempuan itu mendatangi tempat itu. Memasuki lorong gedung.Generated by ABC Amber LIT Converter. Memasuki kompleks gedung. 20 Juni 2004 Menunggu Telinga Tumbuh Post: 08/02/2005 Disimak: 182 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. Tubuh laki-laki itu muntah dari bus kota bersama para penumpang lainnya. Bajunya basah. Kecemasan mengambang di bola matanya. Ada perasaan setengah gemetar yang mencuat dari bawah sadar. dan gelap yang lebih akrab disebut luweng.com/abclit. sambil menimang dokumen lusuh itu. http://www. Masih terngiang-ngiang. ”Her. Ia menimbang-nimbang dalam bimbang. aku masih mendengar jeritan bapakmu. gemetar. dalam. saya sering berkhayal membunuhnya! Padang. Senja dirasakannya gemetar dengan kelelawar yang terbang menyambar-nyambar. tubuhnya ditelan pilar-pilar kokoh. dengan gumpalan rindu dan rasa sedih yang menekan. Gemanya sangat panjang. laki-laki itu berjalan tersaruk-saruk membawa kertas bertumpuk-tumpuk. Kamu juga dengar?” bisik perempuan itu seusai menabur bunga di luweng itu.html Sejak saat itu. Setelah hampir 40 tahun. . Ia datang bersama anak laki-lakinya.

Seperti puluhan tahun lalu. kami terdiam. Ketika mobil itu hendak menikung di sebuah jalan. Soal jasadnya. bukankah makam Bapak di desa yang tadi kita lewati?” ”Bukan. Mobil pun terus melaju. setelah Mas Drajat dikabarkan meninggal di tahanan. Ibu meneleponku. Kata petugas. ”Maaf Bu. Ketika pagi masih separuh tumbuh dan embun masih terpahat di daun-daun. Di Karang Bolong. aku merasa bingung dan cemas. tatapan mata Ibu tetap terasa menghunjam dan mencekam.html ”Bukan hilang. dan sunyi.” Pada usianya yang hampir 75 tahun. ”Her. menembus desa demi desa.” Urusan negara? Kenapa mengubur jasad suami sendiri harus dilarang? Apa salah Mas Drajat terhadap negara hingga dia tidak mendapatkan hak untuk dikuburkan secara layak? Bagaimana jika saudara. kalau kamu tidak mengajar. Suatu pagi.com/abclit.processtext. atau handai tolan menanyakan soal kematiannya? Apakah aku juga akan menjawab.” Aku sebenarnya ingin terus terang kepada Herjuno dan anak-anakku yang lain: Darsono. Tapi dilenyapkan…. Sepanjang perjalanan. teman. Tapi aku takut mereka kaget. gelap. diam-diam kubangun makam tipuan agar orang-orang tahu bahwa suamiku meninggal secara . Makam itu kosong. Kulihat puluhan atau ratusan pohon melintas-lintas di kaca jendela. Ia minta mobil berjalan lurus. Tapi di sana. dalam. Organ-organ tubuh Ibu yang lain boleh menua. Nastiti. bola mata Ibu masih tetap sama: dalam dan hitam. antar Ibu nyekar bapakmu. Di sana kutemukan rongga yang menyerupai lorong panjang.” Aku pun dengan penuh semangat menyambutnya. kami berangkat ke makam Bapak. http://www. Waktu itu. tapi tidak matanya. ya bapaknya Herjuno itu. Aku kaget. buru-buru Ibu mencegah. Aku bisa minta izin kepada kepala sekolah tempat aku mengajar sebagai guru sejarah. Masih jauh. dan Murti. besok pagi. itu urusan negara. dengan colt station sewaan. ”Yang penting Ibu tahu kalau Pak Drajat sudah meninggal. Cemas karena jasad Mas Drajat tidak pernah diserahkan kepadaku.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sesungguhnya makam yang dulu sering kami ziarahi itu bukan makam Mas Drajat. Tapi kutahan. ”Itu urusan negara”? Apakah negara punya telinga? Bukankah ia hanya punya mulut dan tangan untuk membentak dan memerintah? Maka.

”ganyang nekolim”. rasa pedih terus merajamku. ada NU. diiringi sorak-sorai. Mosok saya tega pakai baju berkolin atau tetoron dan celana dril…. bendera dan panji-panji partai berkibar-kibar. Seperti siang itu. Aroma kemarau bercampur bau keringat diisap ribuan orang. ”Dik Rohani ini gimana to? Negara kita ini masih berduka dan melarat. kami bisa saling minta garam atau ngutang minyak goreng). suamiku meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Apakah noda itu benar-benar ada? Siapa yang membuatnya? Atau ia hanya diciptakan dan dipelihara demi sikap patuh yang diwajibkan? Seperti kota-kota yang lain. warisan mertua.com/abclit. kaku seperti baja. Dalam zaman yang gemuruh itu. http://www. Waktu itu. khas jahitan pasar.html wajar dan terhormat.” ujarnya dengan gemetar. ”Bersama tahanan lainnya. dan ada PSI. Aku terbebas? Tidak juga. langit kota kecil itu pun selalu menyala. kami hidup menepi. Bukan. debu mengepul di jalanan. Ada PNI. Tinggal di kampung dalam suasana guyub (dalam pergaulan yang tulus. ada Masyumi. Hingga kini. Di pendopo itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan yel-yel lain pun berloncatan penuh tanda seru. Rupanya kegiatan itu menarik perhatian Pak Tular. ketika ”revolusi dan ideologi” dipuja bagai dewa. ”Makam” itulah yang kemudian membebaskan aku dari kepungan pertanyaan soal kematian suamiku. Menurut Swanggani.” . ada ruang keluarga yang dikelilingi deretan kamar. Pernah saya dengan iseng bertanya soal itu. Bagai tepung terigu ditebah angin.processtext. Wajah para pemuda itu tampak mengeras. Mereka mengelu-elukan pawai para pemuda yang berderap-derap. Sebuah rumah bergaya limasan. Di bagian belakang. ada PKI. Kan nggak sopan to. Mas Drajat menambahi kesibukannya sebagai guru SD dengan mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis atau berhitung. Dia menjawab ringan. ”hidup Nasakom”. Dia selalu datang mengenakan pakaian dari kantong gandum yang dijahit kasar. secara cuma-cuma. suamimu dilemparkan hidup-hidup ke luweng di Karang Bolong. seorang tokoh PKI di kota kami. Dari tempatku bersembunyi. Kata-kata ”revolusi”. anggota Gerwani yang lolos dari pembantaian. Tangan mereka terkepal. partai-partai saling bersaing. Sesungguhnya Mas Drajat meninggal bukan di tahanan. dengan pendopo seluas lapangan bulu tangkis. aku mendengar jeritan mereka…. Kami menempati rumah besar. Benarkah rasa kalap itu telah melampaui batas hingga mereka dengan beringas memperlakukan suamiku seperti batang pisang? Atau nasib suamiku sendiri yang terlalu naas hingga ia harus tewas dengan cara yang begitu mengenaskan? Atau hidup ini telah begitu kikir dan tidak berbelas? Termasuk terhadap aku dan anak-anakku yang puluhan tahun dihukum hanya karena kami dianggap punya noda sejarah.

Beberapa bulan kemudian. ”Hati-hati dengan Pak Tular. Sehabis isya. Kami hanya saling memandang. Katanya untuk rapat partainya. Suara itu seperti punya tenaga yang menyihir kepala kami untuk mengangguk. kami mendengar ada pergolakan di Jakarta. tapi juga menjadi pusat kegiatan partai.html Suatu ketika. http://www. lewat RRI. Dik Drajat dan Dik Rohani ini sudah memberikan sumbangan yang berarti bagi revolusi…. Apa salahnya?” kataku.processtext. Pak Tular meminta izin untuk menggunakan pendopo kami. bau mayat tercium di mana-mana. Ada latihan menari dan menyanyi. Ia memandangku. ke kampung kami yang menjelma menjadi kampung hantu. Beberapa tokoh PKI diciduk dan ditahan. Ternyata pendopo kami tidak hanya untuk rapat. Bahkan kegiatan belajar anak-anak yang selama ini ditangani Mas Drajat telah diambil alih mereka. Terima kasih. Pendopo kami selalu ramai. Mas Drajat pun tidak keberatan. Wajah bapakku tampak masam.com/abclit. Mayat Pak Tular dan kawan-kawannya ditemukan di pinggir Kali Mambu. Mas Drajat terdiam. ”Bagaimana? Boleh kan?” Suara Pak Tular terdengar sangat berat. Aku pun terdiam.” pesan bapakku ketika aku mengunjunginya bersama Mas Drajat. suasana yang mencekam pun merembet ke kota kami. ”Terima kasih. ”Kami kan hanya meminjamkan tempat…. dengan rajaman senjata di seluruh tubuh mereka. Ada latihan ketoprak.” Tawa Pak Tular berderai. Tidak sampai seminggu. Ada pendidikan bagi kader-kader partai.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Ganyang Drajat!!!” . mendadak rumah kami digedor-gedor banyak orang. Setiap saat itu. Beberapa jenderal diculik.

Generated by ABC Amber LIT Converter.” Aku pun bergegas membawa Darsono. Itulah terakhir kali aku mencium bau tubuhnya. aku membuka pintu. Menuju rumah Bapak.” Namun orang-orang itu langsung menggelandangnya.com/abclit. bambu runcing. kerumunan pun bubar. Aku sendiri tidak paham. Dia sangat tenang. Sangat keras. Dia mencoba memberikan penjelasan. Esoknya. Dua tangan ibuku menjelma sayap induk ayam yang melindungi anaknya dari terkaman elang. Dengan gemetar. seorang petugas memberi kabar: suamiku meninggal di tahanan. Nastiti. terakhir kali mendengarkan degup jantungnya. kamu!!” ”Jangan ngawur kamu!” Amarahku meledak.processtext. ”Saya tidak tahu apa-apa…. atau lonjoran besi yang mereka acung-acungkan. pada dini hari. Dan ajaib. kelewang. Sungguh. Beberapa laki-laki berseragam memandang kami dengan tatapan menghunjam. Sebulan kemudian. Aku memeluknya. Aku tak bisa lagi menangis. aku melahirkan Herjuno. aku gemetaran melihat parang. Pintu rumah kami digedor-gedor.html ”Perkosa saja istrinya!!!” ”Gantung PKI itu!!!” ”Habisi keluarganya!!! Pokoknya tumpes kelor!!!” Dengan jiwa yang kutegarkan. Tubuh Mas Drajat menghilang diringkus kegelapan. Mas Drajat keluar dari kamar. bentakanku menundukkan wajah mereka. Pak RT mampu menyabarkan mereka. Akhirnya. kenapa mendadak aku jadi begitu berani? Padahal sesungguhnya. ”Jaga kandunganmu. Keras. http://www. Kukatakan bahwa Mas Drajat bukan anggota PKI. Tatapan mata mereka sedingin moncong senapan. . kudengar suara derap sepatu lars menghajar ubin pendopo. Menembus malam. ”Bohong! Dasar Gerwani. dan Murti lari keluar. Di rumah itu. aku menemui mereka. Aku hanya ingat kata-kata terakhir Mas Drajat. Dadaku sesak.

sedalam luweng abadi yang menyimpan jeritan bapaknya. yang sepanjang hidup harus menanggung ’dosa sejarah’.” Herjuno tergeragap bangun. Kami pun berdoa. ia cukup pintar menyembunyikan perasaannya.processtext. Herjuno berjalan menuju ke sebuah ruang. Dengan tenang. Ia hendak berbalik. http://www. sambil menggigit kuat-kuat kenangan pahit akan Mas Drajat. Bahkan mungkin terguncang. Ia berharap negara berani untuk punya telinga. Sampai di depan pintu sebuah ruangan. ia menemui seseorang.” Yogyakarta. pagi hari.Generated by ABC Amber LIT Converter. ”Mana makam Bapak?” ”Di sana.” Herjuno sangat kaget. ”Bu…. langkahnya tertahan. membawa dokumen setebal kecemasan ibunya.html ”Bangun Her. 2005 . Namun. tapi luweng.com/abclit. Kantor Komnas HAM.” ”Itu bukan makam Bu. Ia hanya punya impian sederhana yang kelak akan dikabarkan kepada ibunya. hingga sedikit ramah terhadap nasib orang semacam ibunya dan keluarganya. kita sudah sampai. Kami keluar dari mobil. kini telinga negara telah tumbuh…. namun dokumen itu seperti meronta-ronta dan memaksanya masuk.

processtext.” kata Pak Marjan. Aku pun keluar kamar.” Demikian tamu itu menyodorkan surat ukuran setengah folio. Dan suara berikutnya. Aku membaca surat tersebut. ”Saya mengantarkan karena takut keliru. Aku sudah tahu roh surat itu. istriku menyilakan tamu tersebut duduk. ”Boleh membawa perlengkapan?” tanyaku tenang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Edisi 07/24/2005 Sekitar jam empat sore mereka mengetuk pintu. ”Pak Bagus. juga ikut. ketua RT di wilayahku. Ketua RT tersebut dikenal sebagai kepala keamanan di tingkat rukun warga. sementara istri memberitahukan kedatangannya kepadaku. .html Surat Undangan Post: 07/24/2005 Disimak: 229 kali Cerpen: Putu Oka Sukanta Sumber: Kompas.com/abclit. seorang ketua RT dari wilayah yang berbeda. Aku sudah cukup lama menelan pengalaman memaknai secara lahiriah bentuk dan bunyi huruf yang ternyata sangat berlawanan dengan roh yang menghidupinya. ini ada surat undangan. ya aku ada di rumah. ”Tidak usah. http://www. Tulisannya sudah tidak begitu penting bagiku sebab tulisan itu bisa berbohong dan mengandung kebohongan yang merupakan watak dari pengundangnya. Pak Memet. Ternyata ia ditemani oleh Pak Marjan. Istriku yang menyambutnya. Kudengar juga suara istriku mengatakan. stensilan.” jawab tamu itu. Cuma sebentar saja. Orang yang tak kukenal sudah duduk dan melemparkan senyum kepadaku. Suara seorang laki-laki aku dengar menanyakan apakah aku ada di rumah. Tapi ia tidak berbicara.

Aku pamitan kepada istri yang sedang menggendong anak kami yang baru berumur empat bulan. sapu tangan tidak lupa. Aku pun diam sambil mengenali jalan yang sedang ditempuh. seorang berada di depan rumah.” jawabnya. saya ganti baju saja. ”Ya dibawa sebagai bukti. Tanpa menunggu jawabannya aku pun masuk kamar dan mengganti baju dengan baju tangan panjang.” jawabnya singkat. yang warnanya sudah pudar. Peradaban dan budaya seperti ini sudah berlangsung puluhan tahun di negeri ini. Salah seorang kemudian menghidupkan mesin mobil Kijang dan menyilakan aku duduk di bangku kedua. ”Sabar Mam. ternyata ada tiga orang lainnya. dan yang seorang lagi datang berlari-lari dari ujung jalan di depan rumah kami.” Aku memakai kaus oblong dan celana panjang yang lusuh. Rupanya ketiga orang lainnya itu memencar.com/abclit.html ”Kalau begitu. Dan semua isi dompet kutinggalkan. atau di tempat tujuan. ”Nanti juga tahu. kaus singlet diganti dengan kaus oblong. celana dalam baru.processtext. Aku mencium dahinya. diapit oleh dua orang dari mereka. ”Surat ini dibawa?” tanyaku kepada penjemput sambil menunjukkan surat undangan tersebut. Tersirat posisinya dan posisiku.” Tamu itu. berpamitan bersamaan. . Ada kejaksaan. Ada lembaga-lembaga masyarakat yang pretensius membela masyarakat. Ada tumpukan buku perundang-undangan yang nafasnya melindungi masyarakat tetapi di dalam praktiknya memperdayakan masyarakat. ”Ke mana kita Pak?” tanyaku sebab dalam surat undangan itu tidak ada alamatnya. yang perangkat pemerintahan dan masyarakatnya lengkap.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kartu SIM kutinggalkan. Jawaban itu sudah cukup bagiku. Ada Mahkamah Agung. pakai kaus kaki. takut hilang di tengah jalan. Mukanya pucat dan matanya kosong. Dengan jawaban itu. serta posisi perangkat masyarakat yang lainnya. http://www. Tidak sopan pakai pakaian begini. kecuali uang beberapa ribu saja. dan kedua pak RT. Sesampai di halaman. Ada polisi. tersirat peradaban dan budaya yang dianutnya. Seorang baru keluar dari mulut gang di tepi rumahku.

Tak ada suara lain. Pada malam harinya diadakan pesta di taman. Aku teringat kawan dari Singapura yang meringkuk masuk tahanan sesudah pulang dari Banglades. Tapi tidak terdengar suara manusia. Aku masih duduk sendiri di ruang kosong. Suara banyak sepatu melangkah. Langit biru dan angin segar musim gugur.Generated by ABC Amber LIT Converter. Disusul suara orang memberi perintah mengatur barisan. yang kukunjungi beberapa hari. Sementara aku duduk sendirian. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara ramai langkah sepatu. jari-jari dipukul suara detak jantung dan aku mendengarkannya. Pukul 16. Nonton musik klasik beramai-ramai dan juga ikut merobohkan Tembok Berlin. Daun kemerisik kuinjak. Suara mobil di jalanan sesekali terdengar. Seorang jurnalis perempuan yang pernah gentayangan di Indonesia menyediakan tumpangan di rumahnya di Sydney. Aku tidak mau melihat jam. aku mengasuh anaknya yang diperoleh dari lelaki Vietnam. kasta paria tak tersentuh di Madras yang sempat aku ajari akupresur.processtext. Suara sepatu pun sudah tidak terdengar. bulan sepertinya membukakan kedua tangannya untuk menyambutku dengan pelukan hangat. mengajakku menginap di rumahnya. Aku teringat dengan petani tanpa tanah di Koita di selatan Dhaka. Gigil segar menyemangati. untuk latihan teater dan membantu mengobati lututnya yang bengkak dengan akupunktur. Pohon-pohon ligir. menit ke jam. Detik ke menit. Aku tetap duduk. demikian juga seorang pemain teater dari Filipina. ”Bagus. Lampu yang bergayut dari langit-langit ruangan belum menyala. Aku teringat teman-teman yang menyambutku di Melbourne.com/abclit. Keringat membasahi tubuh. Kutempelkan sebelah tangan menutup kuping. Muncul juga wajah-wajah gelap pekak berdaki kaum Harijan. Ketika ia bekerja. yang tak pernah kurasakan di . Disambung suara memberi komando. Suara mobil masuk atau keluar halaman sesekali terdengar juga. Kemudian suara sepatu ramai. Aku juga teringat dengan peneliti perempuan yang menerimaku di Canberra. Banglades. Juga tidak ada suara radio atau televisi.” kata salah seorang dari mereka yang mengantar. Sepi mencekam. Anak perempuannya suka menggesek biola dan aku mendengarkannya dengan tekun. Juga suara mobil. yang jelas bukan dari kamar sebelah. Suaranya agak jauh. terus berjalan. Jam di dinding juga menunjukkan waktu yang sama. berdetak besar dan cepat. bulan telanjang dan dingin tengah malam tidak membuat aku kelelahan. Tiba-tiba suara orang tertawa memecah kesepian. aku teringat dengan mahasiswa-mahasiswi di Flinders University yang pernah berakrab-akrab dengan aku ketika mengunjungi Adelaide.html Akhirnya sampailah aku di tujuan. Hidup kembali wajah-wajah teman sekelas yang berasal dari berbagai negeri ketika berada di Berlin. Kudengar suara langkah orang di ruang sebelah. tunggu di situ.35. Dengan sopan aku duduk di sebuah kursi di ruangan yang kosong. Juga suara orang tertawa sirna. yang langsung dijemput di bandara dan tak ketahuan rimbanya. Tidak ada yang datang. Ada tiga meja dan masing-masing meja mempunyai dua kursi saling berhadapan yang dipisahkan oleh mejanya. Tidak ada AC juga tidak ada kipas angin yang hidup. Aku diantarkan ke sebuah ruangan kosong. Remang malam turun menambah senyap. http://www.

http://www. ”Ini Blitz-krieg. Aku mengangguk. Aku melihat ludahnya yang meleleh di tepi bibirnya sudah berubah menjadi darah. . di Kuala Lumpur mendampingiku membahas bukuku yang tak bisa terbit di tanah air. Ia tidak menyahut. Banyak lagi yang hidup menyeruak di dalam otakku selama aku menunggu di ruangan kosong yang lampunya belum menyala meskipun remang-remang sudah menyelimuti alam.” Suaranya lagi. apa yang akan aku jalani di sini? Rasa haus kuobati dengan menelan air liur. Kebebasan.processtext. Mengapa mereka hidup kembali di dalam kesunyianku ini? Mereka hadir menyaksikan. Ia merogoh sesuatu di pinggang dari balik bajunya. Aku teringat dengan pengarang tersohor dari Malaysia yang sangat ramah. Ia menyalakan lampu.” Suaranya menggelegar mengagetkan. Aku mengangguk sambil mendoyongkan tubuh ke belakang.” Aku mendahului.com/abclit. Ia meletakkan pistol di atas meja. ”Kalau Pak Bagus mati di sini tak ada artinya.” suaranya tajam menukik bagai bayonet ke jantungku. bibirnya senyum tapi mungkin hatinya perih.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk. ”Di sini tidak ada Pancasila. ”Selamat malam Pak. Aku mengangguk terlebih karena terkejut. Terbayang etalase perempuan pekerja seks di Hamburg dan Amsterdam. Tanpa kusadari muncul wajah kawan perempuan di Amsterdam yang memboncengku dengan sepedanya pada malam gerimis untuk mengunjungi seorang temannya ”manusia perahu”.html negeri ini. Terasa jengkelku bangkit kembali terhadap tingkah laku orang di Taiwan dan juga di Hongkong. Aku tidak senang di kedua negeri itu. Ia menyeret kursi dan duduk di hadapanku.

Aku melangkah meninggalkan barak kecil itu. Suaranya yang terus-menerus terdengar sudah berubah. tersengal-sengal dan batuk tak berkesudahan. di tanah airku. kencing ludah. Perangai. aku tidak tahu lagi.Generated by ABC Amber LIT Converter.” Suaranya menyobek malam sekeras tangannya memukul meja. dan menerobos lingkaran-lingkaran kawat berduri yang berlapis-lapis di nusantara. Pada saat bersamaan dengan muncratnya raung dan gonggongan anjing. Terkadang di tengah malam ada siluman berujud ular-ular mematukku sehingga aku menggeliat-geliat. sedangkan induknya bertelur terus di dalam sarangnya di Senayan. mana ular. ”What can I do for you?” ”Kamu jangan mengajari aku. Sejak malam itu. Patukan ular itu menyengat dan mengalirkan bisanya ke sekujur tubuhku sehingga aku menggeliat-geliat tanpa kendali. aku berada di kebun binatang tanpa kerangkeng. Kecoak lalu lalang juga di atas tubuhku. ”Kenapa ia berubah?” aku bertanya sendiri Tidak berapa lama terdengar suara langkah sepatu datang. terkadang sendiri-sendiri.com/abclit. Ketika aku tidur. yang telah menjadi kekuatan yang memboyongku. sampai ke rambut dan kukuku. menggeledah seluruh organ tubuhku. tikus besar-besar berlarian di tubuhku. lintah dan semut menggerayangi tubuh. tetapi tetap yang kudengar gonggong anjing. mana kecoak. sambil menahan napas. dengan kawat berduri berlapis-lapis.processtext. Aku terperanjat tetapi tetap duduk tenang di kursi. Aku boleh pulang setelah anjing-anjing. bukan lagi suara manusia. Kupingku mendengar teriakannya seperti gonggong anjing. setelah hampir dua minggu. atau berapa ekor. lintah. tulang-belulangku. Alhasil. Mereka muncul terkadang bersamaan. Aku ingat bahasa Inggris. dan tikus. terasa darahku diisap lintah. Tapi apa yang kulihat tidak berubah. membuat sesak napas. sperma. tikus dan kecoak. Aku bermain silat mengusir nyamuk yang tidak tahu di mana keberadaannya sebab gelap gulita. Aku mengusap mataku. Giginya tampak memanjang dan mulutnya menyerupai moncong. menciumi bau keringatku. tengkorak. Aku mengusap kupingku. pancaindraku. Aku tidak bisa lagi membedakan mana anjing. Sebab cucu cicit hantu itu sebagian bersemayam dan tertawa terkekeh-kekeh di dalam batok kepalanya sendiri. bahkan mencicipi darahku untuk mencari jejak hantu yang diduga telah menyelusup ke tubuhku. Entah berapa orang.html ”Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku pelan dan sopan. getah bening. http://www. masuk dan mengembara di dalam barak yang lebih luas. pintu keluar barak itu dibuka. menerbangkanku berkeliling dunia. Mereka mencari hantu komunis itu pada diriku. tetapi tidak menemukannya. Terkadang sewaktu terlena ujung jariku digigitnya sehingga tikus dapat mencicipi rasa darahku. nyamuk.*** . ke organ-organ tubuh dan mengalir di cairan darah. Mataku yang memandangnya dengan ketakutan melihat tubuhnya yang kekar dengan baju safari warna polos berubah menjadi herder. tindak tanduk hantu itu telah melanggar semua tatanan keamanan. ingus.

lelah. dan menggelepar di sana. . mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang.com/abclit.” Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Sebagian dari kepala mereka menunduk. Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Lingsut. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat. Mungkin selamanya. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga.processtext. ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. Ruang tunggu dengan warna pastel. Kepala-kepala itu masih penuh derita. ruang nyaman. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. menekuni lantai. Ruang teduh. seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai. mungkin ingin membaca masa lalu.html Bocah-bocah Berseragam Biru Laut Post: 07/17/2005 Disimak: 295 kali Cerpen: Puthut EA Sumber: Kompas. anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu. Aku mengitari mereka perlahan-lahan. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. mungkin ingin kembali membaca masa lalu. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang. Tunggulah sejenak. sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Ada masa memang. Edisi 07/17/2005 Aku seperti kupu-kupu di ruang ini.

ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap.com/abclit. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari. Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. Demikianlah. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Mereka bertiga berpelukan. ”Nak. Bocah-bocah itu seperti berjongkok. Hanya bermodal harap dan cita. mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. aku terlempar. Dan aku terus mencoba lagi. Aku mencium sari kisah yang terbakar. aku lebih sering terpelanting. Mereka mati dibalut api. berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah. Sekali dua. membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. sebelum kemudian kembali terlempar jauh. seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan. dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai. Mengepak pelan. dan saling melingkarkan lengan. http://www. Dua kakak beradik. mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. mendekati lubang ventilasi. Ibu mereka terlalu bersedih. berpelukan. Dua orang yang masih lelap. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap. mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia.html Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. sempat aku hinggap. membuat rantai . Tangan ibu mereka sendiri. setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. dengan mereka yang mengalami sendiri.” Dan api berkobar. menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Lalu aku akan terbang agak tinggi. Tapi satu di antara mereka. antara aku yang hanya membaca dan mendengar. halaman-halaman tak terbaca. ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai.Generated by ABC Amber LIT Converter. kembali aku mengitari mereka.processtext. melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. *** Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Tapi selalu dan selalu. Hanya sesekali. seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api. penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu. Setelah cukup tenaga. Mereka bertiga meregang. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. bisa kubawa pergi. kuberanikan diri untuk merangkainya. beradu kepala. Percobaan yang selalu aku ulang.

tubuh-tubuh kecil berbaring. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Kami ingin belajar menjadi manusia. Mereka tahu kami akan mati. bermata alum. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. Kami tidak ingin di sini. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. dia harus menanggung nista dan sengsara.processtext. Kami ingin bernyanyi dan berlari. sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. Kami ingin bermain air dan bermain api. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah. Dunia yang pahit. untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. begitu bayi terlahirkan. Tapi di hari itu. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih. Hanya kami sungguh tidak mengerti. Mereka tahu kami mati. Ibuku tahu aku akan mati. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Kaki-kaki mereka bengkok. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar. Kami belum ingin ke sini. inilah kota kami yang indah dan makmur. Mereka membiarkan aku mati. Tapi mereka memaksa kami. Satu di antaranya berkata. kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji. Aku tidak enak dengan ibu guru. Mereka ingin mengatakan pada dunia. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Mereka . uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang.” Di samping lingkaran besar itu. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Pertama membiarkanku tidak punya gizi. Kami ingin dunia.rita. Suaranya serak. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Kembali aku hampir terpelanting. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. Ibuku kalah dalam menagih janji.” Si anak yang berkata.html lingkaran yang kokoh. ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. menyadap sari ce.com/abclit. ”Kami belum ingin surga. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. http://www. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. ada celah di dunia sana.” Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka. Ibuku sudah tidak punya air mata. Mereka bohong. sebelum kembali terlempar jauh. sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana. dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Mereka mendorong kami. Mulut mereka sangat lemah. selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Kaki-kaki mereka mengecil.” ”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi. aku malu dengan teman-temanku. Aku mengambil selendang milik ibu.

Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. tanpa takut terserang polio. dan mereka diam saja!” Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata. mati pun masih menyisakan masalah. Aku digendong naik kereta. dengan tubuh terlilit kabel. Ya. Seperti hilang. Aku hanya seperti kupu-kupu. Dan tibalah satu sentakan besar.com/abclit.” Aku hinggap lagi.tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan. .html tahu. Aku hanya seperti kupu-kupu..”. sambil menyeringai dan berkata. bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. Dengan wajah dan kulit plastik. Aku terlempar lagi. itu hanya kabar yang berlebihan. Sangat besar dan kuat. Bahkan. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar. tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. menebangi hutan. Hanya seperti. ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta.Generated by ABC Amber LIT Converter. akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita. tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit.. dengan tangan penuh tombol. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil. Bagi orang miskin seperti kami. pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit. namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Aku mati karena muntaber. http://www. Aku ditabrak warna putih.processtext. membobol gunung.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang. beterbangan. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah. gitu loogh. Lihatlah. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi. Aku seperti hancur. Kembali. Mereka datang dari mana-mana. meracuni laut. *** Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. Tidak lebih. di tengah. berharap menyadap dan menghadirkan kisah. generasi yang lebih baik. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Mungkin sampai mati. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi. ”Hari gini. ”Ah. Aku ditabrak warna hitam. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu.

Setelah itu dia kembali mengiris helaian daun kelapa. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu.html Mereka benar. Hari itu. memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu. sampai lidinya terkumpul cukup banyak untuk diikat menjadi sapu. Mbah Gimun mengiris helaian daun kelapa satu demi satu. hingga tampak putih dan halus. maka dia pun berhenti sejenak. depresi.processtext. yang terus menempel di antara dua bibirnya yang tebal dan hitam. disorientasi. tembakau dan kertas lintingan itu hanya hangus dengan warna hitam.*** Rokok Mbah Gimun Post: 07/11/2005 Disimak: 323 kali Cerpen: F Rahardi Sumber: Kompas.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. Mereka benar. Kalau bibirnya mulai merasakan panas api rokoknya.com/abclit. Mbah Gimun tidak pernah tampak mengisap rokok yang ada di mulutnya itu. bunuh diri. Edisi 07/10/2005 Ke mana-mana Mbah Gimun selalu tampak dengan rokok lintingan. atau kalau kepulan asap itu mulai mengganggu mata dan hidungnya. Lidi yang kekar dia serut beberapa kali dengan pisaunya. . bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat. Di sisi yang lain. Sambil tetap membiarkan rokok lintingan mengepul di mulutnya. sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku. Rokok itu sangat besar dan hanya terbuat dari tembakau kasar dengan kertas lintingan yang juga kasar. kurang gizi. kelaparan. dan mungkin sekaligus mereka tolol. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat. Helaian itu terkulai begitu terpisah dari lidinya. Hingga bagian yang terbakar itu. Ada perbedaan memang. membuang puntung yang masih menyala itu ke mana saja. http://www. dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. keracunan kabar bohong dan bahan makanan. selalu bengkok dengan bentuk yang sangat tidak beraturan. lalu melinting lagi dan menyalakannya dengan bara api. Rokok itu hanya dibiarkannya di sana dan terbakar begitu saja sampai habis di salah satu sisinya.

Tetapi Mbah Gimun selalu menolak. lalu menyerahkannya kepada Mbah Gimun. ”Ya memang rokoknya Embah itu baunya seperti itu. Pada suatu pagi yang mulai agak kering pada bulan Juli. Ketika Mbah Gimun mempersilakan mereka masuk. Dalam sehari.Generated by ABC Amber LIT Converter. membawa tas bagus. ”Minggu depan ini kita akan memilih pak bupati baru Mbah!” kata salah satu tamu itu. Lalu seminggu sekali pedagang datang mengambil sapu lidi yang sudah terkumpul. Mbah Gimun kedatangan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya. Apa kalian ingin cucu-cucuku itu sakit batuk?” Begitu selalu yang dikatakannya kalau anak-anak dan menantu itu memintanya untuk tinggal bersama mereka. dan naik mobil yang juga sangat bagus. anak-anak dan menantunya sebenarnya ingin sekali memboyongnya. ”Benar Mbah. minyak tanah. Dengan uang itu dia bisa membeli beras. Mereka tampak mendatangi rumah-rumah lain di kampung itu. maka Mbah Gimun sendirilah yang akan mengantar ikatan-ikatan sapu lidi itu ke kota. pendapatan dari membuat sapu lidi itu lumayan. Tiap hari juga selalu ada anak-anak yang mengantar pelepah daun kelapa segar. Mereka akan mabok asap rokokku yang sangit ini. ini gambar calon pak bupati itu. gula. http://www. garam. nanti ditempel di sana ya Mbah?” .” begitu selalu cucu-cucu itu menjawabnya. Bagi Mbah Gimun. saya sudah diberi tahu Pak RT dan sudah diberi kartunya. Apa Mas-mas ini juga petugas pencoblosan?” tanya Mbah Gimun.html Sehari-hari Mbah Gimun hanya membuat sapu lidi. sebelum akhirnya masuk ke halaman rumah Mbah Gimun. orang-orang itu menolak. Nama-nama mereka sulit untuk diingat apalagi diucapkan oleh Mbah Gimun. Mereka malah mengajak Mbah Gimun duduk di lincak bambu di bawah pohon jambu di halamam rumah. Kalau pedagang itu tidak datang. maka bisa sepuluh sapu lidi yang diselesaikannya. Kalau dia bekerja dari pagi sekali sampai larut malam. Sejak istrinya meninggal beberapa tahun silam. ”Iya.processtext. dan yang paling penting adalah tembakau serta kertas lintingan. bersepatu bagus. ”Kalau aku ikut kalian. Mbah Gimun tinggal sendirian saja di rumahnya yang terletak di ujung kampung. Padahal selama ini tidak pernah ada seorang cucu pun protes. Salah satu di antara tiga tamu itu memperkenalkan diri mereka. Mereka berpakaian bagus-bagus. atau helaian daun yang telah disisir dan diikat. cucu-cucuku itu akan batuk semua. Tamu yang satu lagi mengeluarkan bungkusan tembakau dan kertas lintingan.com/abclit. Mbah gimun bisa membuat lima sampai enam ikat sapu lidi.

menyalakannya dengan bara api dan menaruhnya di antara dua bibirnya. . Mbah Gimun lalu membuka besek. Cucu itu lalu memamerkan dua butir permen di telapak tangan dan satu yang sudah berada di mulutnya. Mbah Gimun menarik satu lembar kertas lintingan. mencomot tembakaunya. Jangan yang lain ya!” ”Pasti Mas. Lumayan.html ”Tetapi kok saya diberi tembakau banyak sekali?” ”Tidak apa-apa Mbah. kan Pak Bupati yang ini yang telah memberi saya tembakau dan uang. Baru kali ini Mbah Gimun merasakan ada tembakau seenak ini.Generated by ABC Amber LIT Converter. Belum sempat Mbah Gimun bertanya lebih lanjut. Uang itu disimpannya di antara tumpukan surat-surat dan kartu-kartu. Katanya. cucu itu sudah berlari dengan cepat meninggalkannya. sambil tetap membiarkan aroma asap tembakau yang harum menyentuh bagian terdalam dari indera penciumannya. Di dalamnya tampak tembakau yang cokelat kehitaman dengan aromanya yang harum. salah satu cucu laki-lakinya datang dengan berlari sangat kencang hingga hampir menabraknya.processtext. pasti. permen itu juga berasal dari tamu yang datang ke rumahnya baru saja.” Setelah para tamu itu pergi. diberi uang lagi. Tadi bapak yang rumahnya di depan sana itu yang memberitahu bahwa inilah rumah Mbah Gimun. Limapuluh ribu itu berarti pendapatannya selama seminggu. nanti Mbah harus mencoblos gambar yang ini lo Mbah. Aroma harum tembakau mahal itu terasa menyentuh bagian paling dalam di hidungnya. bahwa baru saja ada tiga orang tamu datang ke rumahnya. Baru sebentar dia menaruh lintingan di bibirnya. melintingnya.” ”Kok sampeyan ini sudah tahu nama saya to?” ”Kan ada daftarnya Mbah. http://www. Mbah Gimun membuka amplop putih itu dan di dalamnya ada lembaran uang limapuluh ribu rupiah. ya terima kasih sekali. Mbah Gimun lalu melanjutkan pekerjaannya. Cucu itu memberi tahu. Mereka memberi beras dan uang kepada bapaknya.com/abclit. saya diberi tembakau.” ”Tapi begini Mbah.” ”O. Mbah Gimun kaget tetapi senang. sebab kami tahu Mbah Gimun suka merokok lintingan. Bukan hanya itu Mbah. ini juga ada sedikit uang untuk tambahan belanja Mbah Gimun.

”Iya Pak RT. ”Lalu yang harus saya coblos yang mana Pak RT?” tanya Mbah Gimun lagi. teh dan lembaran uang duapuluh ribu rupiah. ”Tetapi calon bupatinya kok ada dua Jan?” tanya Mbah Gimun heran. Yang ini yang kiri ini bupatinya.html Beberapa hari kemudian. Pak RT dan Tukijan juga datang. supaya ingat bahwa gambar itulah yang harus dicoblos. gula. kita semua harus datang ke lapangan bola. Tetapi jangan mencoblos gambar yang lain!” jelas Pak RT. ”Terserah Embah. http://www. Kertas gambar itu tebal dan kaku.com/abclit. Mbah Gimun diminta mereka untuk menempelkannya di dinding.Generated by ABC Amber LIT Converter. tetapi yang paling sopan ya dicoblos baju jasnya saja. bupatinya juga boleh. Kalau yang dicoblos mata atau mulutnya kan kasihan Pak Bupatinya. ”Bukan dua tetapi satu Mbah.” ”Ada apa lagi Jan?” ”Ada pembagian sembako lagi dan mudah-mudahan juga ada uangnya.” ”Ya kalau begitu saya akan coblos bajunya saja. Ada dang-dutnya lo Mbah!” . ”Lalu minggu depan ini Mbah. ”Salah satu saja Mbah. Mereka mengantar beras. Yang kanan wakilnya. Kalau yang bolong bajunya kan bisa ditambal ya Pak RT?” kata Mbah Gimun. tetapi yang dicoblos matanya atau mulutnya?” tanya Mbah Gimun lebih terinci. lebarnya seperti sajadah.processtext.” jawab Tukijan dan Pak RT hampir berbarengan. Mau dicoblos wakilnya boleh. Tetapi yang dibawa Pak RT dan Tukijan gambar calon bupati yang lain lagi.

sekitar jam empat. agar menjelang pencoblosan mereka tidak mengantar daun kelapa terlalu banyak. Dia kan pengusaha. Mbah Gimun menerima semuanya. Diselipkan di kantong saya ini waktu salaman. jadi nanti kita semua makmur.processtext. ”Ya siapa saja. Tetapi yang seratus ribu ini kelihatannya hanya dikhususkan untuk Mbah Gimun. ”Pak Calon Bupati itu sendiri yang memberikannya langsung. Bau tembakaunya sudah tidak ada. sepuluh ribu.” Enam calon bupati dan wakilnya. http://www. semua membagi-bagikan uang dan barang. dan tidak hapal wajahnya. Rokok lintingan itu juga tetap menempel di bibirnya. Hanya dia berpesan kepada anak-anak.html ”Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Nyoblos Pak Dipo saja Mbah. Mbah Gimun juga menerima banyak rokok tetapi langsung dibagikannya kepada anak-anaknya. Sebab baunya seperti minyak wangi. Jam berapa Pak RT?” ”Sore. Mbah Gimun tetap menyisir lidi dengan pisaunya. Kampung kita ini dapat bagian yang terakhir. ”Nanti kalau pas coblosan tidak bisa diirat semua. ”Mau nyoblos siapa Mbah nanti?” tanya anak-anak. Ada yang limapuluh ribu. Sebab saya tidak tahu nama-namanya. ”Bukan nyoblos yang paling banyak ngasih uang Mbah?” ”Saya juga sudah lupa yang mana yang pernah ngasih uang paling banyak.” .” katanya pada anak-anak itu. ya.com/abclit.” begitu alasan Mbah Gimun. ”Saya tidak suka mengisap rokok pabrik. Sebab pagi dan siangnya Pak Calon Bupati itu akan keliling-keliling dulu untuk pidato. akan layu.” kata Mbah Gimun senang. Kalau layu mengiratnya alot. tetapi ada pula yang sampai seratus ribu. saya akan datang nanti. Baju dan pecinya juga sama kan?” jawab Mbah Gimun. Menjelang hari pencoblosan. duapuluh ribu.

Dengan mengucap Bismillah. Dari saku surjannya. ”Sayang. Dia lalu memilih duduk di kursi plastik di pojok belakang. Sebab tahun lalu dia juga ikut tiga kali pencoblosan seperti ini. . baju surjan hitam. Di sana ada 12 wajah manusia yang sama-sama mengenakan jas dan kepalanya ditutup peci. Ada yang tersenyum.com/abclit. Di tempat pencoblosan sudah ada banyak orang. Bukan pak bupati. memberi tembakau.html ”Yang pasti makmur ya bupatinya itu. dia kebingungan.” Cimanggis. dan kepalanya ditutup udeng. 2005. dengan anak-anaknya. sebenarnya Mbah Gimun masih tetap bingung. Mbah Gimun berjalan beriring-iringan dengan tetangga-tetangganya. Mbah Gimun tidak jadi mencoblos baju jas yang dikenakan oleh para calon itu. Mbah Gimun memungut rokok lintingan dari bibirnya. http://www. Selamanya kita ini tidak akan pernah jadi makmur meskipun bupatinya ganti-ganti. Beberapa kali Mbah Gimun menyedot rokok lintingannya. Tidak lama kemudian Mbah Gimun juga dipanggil. udara terasa tidak terlalu panas. mencomot gumpalan tembakau dan melintingnya. dan diberi kertas suara. Baunya sangit dan keras. Rokok Mbah Gimun lalu mengepulkan asap yang segera menyebar ke mana-mana. Asap mengepul deras sampai menyembul ke luar bilik pencoblosan. ada yang tertawa. dicatat. Semuanya memakai baju bagus-bagus dan warna-warni. memberi beras.” Sampai dengan berangkat ke tempat pencoblosan. menawarinya tempat duduk. memberi teh. satu-per satu warga kampung dipanggil. Mbah Gimun mencoblos 12 wajah dengan api rokoknya. Di rumah. Mbah Gimun sudah tahu bagaimana caranya mencoblos. Sebab hampir seluruh warga kampung yang melihatnya. Mbah Gimun mengeluarkan kantong plastik berisi tembakau dan kertas lintingan. di mata. di hidung. Ada yang dicoblos di jidat. dilihat kartunya. bukan kita. Enam calon semuanya memberi uang. baju bagus-bagus begitu kalau dicoblos api rokok. dengan menantu-menantunya. ada pula yang tegang dan cemberut. Mbah Gimun menggelar lipatan kertas suara yang baru saja diterimanya. memberi gula. Bara api di ujung rokok itu memerah. banyak warga kampung yang menyodorkan korek api gas. Dia lalu melolos satu lembar kertas. ada yang di mulut. Di langit juga tidak kelihatan ada awan.Generated by ABC Amber LIT Converter. Pagi itu pohon-pohon tampak diam saja karena tidak ada angin. Setelah panitia mengumumkan hal-ihwal pencoblosan. Tetapi ketika lintingan itu ditaruh di mulutnya. Karena masih pagi. Mereka menyusuri jalan desa yang hanya dikeraskan dengan batu. Tetapi ketika itu yang dipilih pak presiden dan DPR. biasanya Mbah Gimun menyalakan rokok lintingannya dengan bara api dari dapur. Dia mencari tempat duduk yang pas. Mbah Gimun memakai kain sarung. sandal jepit. Melihat Mbah Gimun kebingungan. Di bilik pencoblosan.processtext. ada yang di pipi.

bukan?” ”Ibaratkan peluru itu seorang anak. Ya. Edisi 07/03/2005 (1) Anakku.Generated by ABC Amber LIT Converter. tak akan kembali ke moncong senapan. masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi.com/abclit. dan moncong senapan itu seorang ibu. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Saat itu. ”Ibu restui kepergianmu. hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu. Nak! Tapi. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu. entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!” ”Anak Peluru? Maksud ibu?” ”Peluru jika sudah ditembakkan. ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang.” . meski kau tak pernah lagi membalasnya.html Anak-anak Peluru Post: 07/05/2005 Disimak: 211 kali Cerpen: Damhuri Muhammad Sumber: Kompas. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. http://www.processtext.

Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya kau yang tersisa. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Setelah lulus jadi polisi. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan. seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit. dan tinggal bersama ibu. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya.html Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu. Delapan orang anak nenek. setelah masa tugasnya berakhir. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. . tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya. Mencuci pakaian. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? ”Jangan cemas. ibu sendiri saja di rumah!” katanya. Umurnya sudah berkepala delapan. Abangmu. sekaligus menjaganya. berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing. tentu ibu akan bersendiri. apalagi kerinduan ingin merawatnya. Tanpa bapakmu. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. Tapi. ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. abangmu yang satu lagi. http://www. Acin akan pulang membawa istrinya. ”Kasihan. merengek-rengek minta izin untuk merantau. bukan Anak Peluru!” (2) Perempuan itu. lambat laun ia sukses. Tanpa Rehan. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma. Acin berjanji. tak terdengar lagi khabar Acin.” Rumah kita makin lengang. Rehan. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki. namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. Saat itu. Tapi.com/abclit. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Pada surat itu. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. menyuapkan makan. Selain bergiat sebagai pelukis. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Lain lagi ceritanya dengan Acin. nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan. ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. Acin dan juga kau. Bapakmu rela di-perempuan-kan. Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Jika kau sudah pergi. Sejak enam tahun lalu. Sejak itu. ”Ruz ingin jadi anak ibu. Wafa Sulastri. bule perempuan berkebangsaan Spanyol.processtext. melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. setelah tamat SMU di Payakumbuh. termasuk bapakmu. hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh. sejak menikah dengan perempuan rantau. Kecuali bapakmu. menimba air mandi.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) Post: 06/27/2005 Disimak: 159 kali Cerpen: Arie MP Tamba Sumber: Kompas, Edisi 06/27/2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Generated by ABC Amber LIT Converter, http://www.processtext.com/abclit.html

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

13 tahun. yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh. Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Pada saat itu. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu. tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya.com/abclit. Belum lama berselang. di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas. Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak. si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap. Yang jelas.processtext. Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan.html ”Mau beli apa?” Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli. telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu. . Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali. menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya. Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih.

” ”Tapi. makanya sering saling tubruk.” Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka. ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap.com/abclit. Berlalu dari samping Anggi dan Olan.” ”Mereka belum bisa melihat penuh. Cuma asal terbang.Generated by ABC Amber LIT Converter. setiap kali aku mau menghalau. mereka sudah terbang duluan. Horas? Mau ke mana?” ”Kau tidak belajar mesin?” Horas menggeleng. Mereka memahami gerak-gerik kita. http://www. .processtext. ”Heh.html Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap ”Anak-anak burung itu tidak bodoh.

di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka.processtext. ”Dia dipanggil ayahku. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.Generated by ABC Amber LIT Converter. . http://www.” kata Anggi. ”Mau ke mana?” ulang Anggi.html Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. ”Ke rumah Gumortap. Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau.” kata Horas.” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan. ”Mau apa?” tanya Olan. ”Ada enggak?” tanya Horas.com/abclit. ”Paling-paling masih di sawahnya di bukit.

” ungkap Olan.com/abclit. Nanti malam musim ombak besar. ”Heh.” kata Anggi. ”Tapi semua sudah tahu. kita harus mengusir burung.” kata Anggi.html ”Mau membawa kapal?” tanya Anggi. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak.” Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” katanya. tak akan banyak!” . Gumortap sekarang membenci ayahmu.” kata Olan. siap berkelahi dengan ayahmu. ”Aku jalan dulu. ”Mesinnya kan sedang rusak.” kata Horas.” kata Anggi. ”Coba dia membawa kapal sekarang.processtext. ”Mereka masih anak-anak burung. http://www. ”Biarkan saja mereka makan padinya. ”Aku ikut.

Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. http://www. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya.processtext. Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. juru mesin dan juru mudi yang baik. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. ”Bilang sangat penting. . Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. melalui jendela. Dan sejak itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota. tak banyak yang tahu. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau. sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore.” kata Ayah Horas. pemain gondang yang baik.” kata Ayah Horas kepada abang Horas. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun. Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah. tapi kemudian berlanjut saling pukul.html Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. ”Kau saja yang memanggil lagi. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal. ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu. sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka. seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya.com/abclit. bahwa Gumortap tidak bisa datang. Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang. karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam. dan tentu saja. semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka.

Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. ”Banyak yang marah. Licin dan halus. Dan seseorang itu bisa saja.html Begitulah. ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. . Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak. Entah siapa yang datang bertamu.” kata salah seorang tamu itu. Suara ayahnya dan beberapa orang lain.” kata yang lain.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua. Dia baru saja menutupkan jendela. http://www. Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Horas mendengarkan dari balik pintu.com/abclit. ”Kami mendengar lagi Pak. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah..ayahnya! Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal.. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Enam hari sebelum kematian Gumortap Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil. tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal.

Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua.” kata yang lain.processtext. kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya. dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.” ”Ya. Perintahkan.html ”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua. barangkali seusia ayahnya.” . jangan mendatanginya. ”Bapak harus menegurnya.” ”Jangan mendatanginya. ”Dia kurang ajar.” ”Kita paksa saja!” ”Bawa belati ke mana-mana. akan saya panggil ia ke sini. http://www.” ”Bila perlu mendatangi rumahnya.

Tapi kalau ia keluar. Inang?” tanya salah seorang tamu itu.Generated by ABC Amber LIT Converter.” ”Jangan!” Belum terdengar suara ayah Horas. ”Eh. berjaga-jaga. Ia . Yang dapat dilakukannya adalah. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya.” ”Mana mungkin!” ”Bapak juga bawa belati. “Baru dari pekan. bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah.com/abclit.processtext.html ””Katanya Bapak menghinanya. ada tamu. maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura.” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas. segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. http://www.

Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. darah seharum ombak malam.com/abclit. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. menusuk. hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Langit sore sebagian memerah.html khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya! Hari kematian Gumortap ”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. ”Anak gila!” umpatnya. Di sebelahnya. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir. seraya mengatakan sesuatu. Namun Horas tak mendengar. tapi Horas berhasil mengibaskan. Horas melihat sekilas. dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Tangan Horas kini berlepotan darah. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. menusuk. entah mengkhawatirkan siapa. menusuk. Horas terus merangsek. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya. tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Beberapa orangtua berusaha menolong. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Lalu Horas . di kakinya. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya. Horas tak menjawab. http://www. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Belati telanjang dan berbahaya. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil.processtext. Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah.

Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. dan seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah. semuanya telah lulus perguruan tinggi. Tapi pada suatu hari. Edisi 06/19/2005 USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan. yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya. Di situ ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. tapi kawin dengan seorang keturunan Arab juga asal Solo. Sebagian pekarangannya dipakai untuk memelihhara ayam. Mereka mendirikan rumah berderetan. karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak dalam. Usamah sendiri memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka. Usamah juga ikut membeli tanah. bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. tapi ia terpisah. seorang di antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank. dari kampung Pasar Kliwon. Sesaat. Dawam Rahardjo Sumber: Kompas. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. termasuk ia sendiri.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Bank Jerman. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya. seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah. Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak. Tangannya gemetar menggenggam belati.processtext. Teman-temannya itu. daerah permukiman keturunan Arab di Solo. tapi tak semuanya jadi pegawai. Tapi semuanya sukses. Ia juga mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang cukup berkembang. sebagian memilih jadi pengusaha. di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Tapi suatu ketika mereka sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. http://www. beberapa .html menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya.*** Anjing yang Masuk Surga Post: 06/19/2005 Disimak: 263 kali Cerpen: M.

al Irsyad. Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi di hutan. yaitu anjing yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah." jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu. hanya karena ia memberi minuman kepada anjing yang mau mati kehausan. anjing itu pun mati. "Boleh tidak Buya. memberanikan diri. anjing yang masih muda usianya itu mati diracun. jika Faris ingin . Rahmah el Yunusiyah. sangat sedih kehilangan Nero. dekat Masjid al Azhar. yang memelihara bisa tidak disukai orang sekampung. Tapi sebelum memutuskan memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru. Ia dan keluarga. terutama anak kecilnya. Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah.Generated by ABC Amber LIT Converter. banyak penduduk yang memelihara anjing. Kebetulan ia mengikuti aliran modern. Itu ada anjing besar. http://www. memelihara anjing sudah biasa. Menurut dugaan Usamah sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung. Pernah ada hadist yang menceritakan. dekat sawah. Hector selalu menggonggong keras. Nabi sendiri suka dengan kucing." jawab Buya. "Tengok ke halaman rumah. Tapi baru berjalan satu setengah tahun. Karena itu seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing. Tak tanggung-tanggung. bersama pengasuhnya. Najib." jelas ulama asal Minang itu. mungkin oleh tetangga yang tak suka. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga. Teman-temannya dari Solo pun ikut manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan. Bahkan ulama-ulama juga memelihara anjing. memutuskan untuk memelihara seokor anjing. bermain-main di rerumputan pinggir kali.processtext. maklum bertanya kepada ulama besar." jelasnya lagi.html ekor dicuri orang. "Orang Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang.com/abclit. Adanya seorang pelacur yang dinyatakan Nabi akan masuk surga. itu separuh penghuninya adalah anjing. "Di Minangkabau. Tapi kemudian ia bertekad untuk memelihara lagi. ia memelihara jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang. Kali ini ia memelihara jenis Gaberman yang diberinya nama Hector. termasuk anjing. dengan persetujuan seluruh keluarga. Tapi sahabatnya yang mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua binatang. "Di Mekkah. Minah. yang menceriterakan kisah para pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran. tertidur selama 300 tahun itu. seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya. Faris.

akan mengganggu orang yang takut atau jijik pada anjing." "Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri. Hector mengejarnya sampai tertangkap.html bermain-main di kali. "Walaupun seekor anjing. Anjing juga tidak pernah mencuri. Penduduk kampung pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya. "Tidak. Pencuri itu tidak mengaku mau mencuri.com/abclit. Jika istri Usamah pergi ke pasar. Hector disuruh menunggu. Ia sempat membawa lari seekor ayam.processtext. "Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya. Pada suatu hari. berusaha mencuri ayam. setelah melapas ayam curiannya. tidak. tapi ia selalu disuruh menunggu di jalan di luar pasar. jika tidak mau mengambil barang saya. ia tak pernah berbohong." jawab si pencuri. tapi orang itu keburu lari melompat pagar tanaman. Pernah suatu pagi hari. Hector selalu dibawanya. anjing itu pasti mati kami hajar. saya tidak mencuri. Namun ternyata ada juga oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. Orang-orang yang berkerumun sepertinya memahami pertanyaan si pencuri. maka istri Usamah kembali ke mobilnya." . teriak-teriak minta tolong. setelah selesai belanja. Tapi penduduk malah memarahi Usamah. rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang menjaganya. barang-barang belanjaannya ditaruh di dekat mobil. "Jaga dong anjingnya. Mendengar gonggongan anjingnya. Kalau Bapak tidak datang." jawab Bu Usamah. Tapi karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri. Ketika mau mengambil kompor. ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri. karena mendapat gonggongan Hector. "Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah. maka pencuri itu pun bebas. Pencuri itu pun. Ketika lari terbirit-birit. bahkan marah-marah kepada Hector dan istri Usamah. karena jika ikut masuk. http://www. Untung Usamah sempat datang mencegah pemukulan. sedangkan ia kembali ke pasar membeli barang yang kelupaan dibeli.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong keras-keras.

Tapi lama benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Benar tidak pak haji?" tanya orang kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Hanya bisa menjalankan tugas menurut kodratnya. Kalau siang. Cuma. . Dan Faris sangat menyayanginya.processtext.com/abclit. tanda ada yang mengganggu. Anjing ini sehat dan bersih. Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. Tapi kalau malam. Pernah ada seorang kiai di kampung itu yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh malaikat. "Masya Allah. Ia terutama dekat sekali dengan Faris. ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Faris sudah berangkat besar. Ia masih akrab saja dengan Hector. Pada suatu sore di hari Sabtu. http://www. Karena itu orang yang berniat jahat. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Hector sudah berhenti bernapas." "Apa Bapak tidak tahu. Hector sering masuk rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. Usamah tidak mau terlibat dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya sama sekali. mengurungkan niatnya. tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Dulu saya pernah kecurian ayam. Tak pernah mencuri dan berbohong. tidak ada lagi orang yang mencoba mencuri ayam." jawab Usamah. cuma mengangguk. baru Hector menggonggong. Padahal Hector tidak menggonggong jika ada tamu. Anjing itu seperti malaikat." "Yang najis itu air liur anjing gila. Minta ampun pada Tuhan dong karena melanggar ketentuan agama. maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari pencuri yang suka datang malam-malam. Hector rela dan biasa tidur di luar rumah. sebelum punya anjing. Setelah sejenak duduk. Ketika Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV. Kalau ada yang dicurigainya. menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi memelihara. tapi Hector tidak bangun juga.html "Lho Pak. anaknya yang terkecil. Faris pun menggoyang-goyangkannya. karena tidak bisa. Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu. Rupanya. Haram. setia menjaga rumah dan majikannya. Usamah sekeluarga menonton TV. Orang yang ditanya itu tidak berkata apa-apa. sudah masuk SMP. tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek. sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. Tapi Usamah sendiri percaya bahwa Hector itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik.

Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh.html Melihat Hector tak bangun lagi. tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami. Tapi Hector lebih menyerupai manusia. Hanya menatap.processtext. Semuanya berasal dari Allah. Abah yakin. Kawan-kawan lama kami jarang pulang." Keesokan harinya. Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan putih. apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Pak Usamah sempat membaca doa. Nius. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak. Hector sudah berumur hampir lima belas tahun. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali kepadaNya. http://www. terutama Faris. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun. Ia pun dikuburkan. Ibu Usamah menangis menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya. Edisi 06/12/2005 SUDAH hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. malaikat akan masuk surga. seperti anjing para pemuda Ashabul Kahfi. Kepada mereka. Hector akan masuk surga. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak. "Seperti ada dan tiada. Tidak sekalipun berkedip. seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana. sambil menitikkan air matanya." . tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh.Generated by ABC Amber LIT Converter.* Mata Sultani Post: 06/14/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Adek Alwi Sumber: Kompas. bagian dari keluarga Usamah. seperti tidak kenal lelah. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu.com/abclit. Melihat keadaan itu maka Usamah pun. bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. pagi-pagi benar. seperti manusia. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai. manusia pun akan mati. padahal anjing-anjing yang lain hanya berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. tanpa doa pun. memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Sebenarnya. seluruh keluarga gempar.

Dulu kami sering . ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. http://www. Ayah Bun tukang gigi. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami. si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. akrab dengan pribumi." jawab Tum. "Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Berubah sekarang. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil." "Hanya si Cudik." tambah Amril. Si Talib di Dumai. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya." Biju menerangkan dengan gembira. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Nius.html jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. kendati kota kami tetap saja setelempap. Dia dan keluarganya tergolong aneh. Nius.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Kami ajak bermalam tidak mau. lebih-lebih tukang gigi. setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. "Bun di Medan jadi dokter. "Tak lama lagi pensiun. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue." Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa. "Seperti orang-orang di dalam mimpi. yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Dua lepau nasinya sekarang. "Si Cudik kini di Lubuk Sikaping. sebagai grosir roti dan permen. "Tentu!" kubilang. Satu di Palembang. dewasa atau jadi tua. Bahkan mengerikan. di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang. diduduki hingga kini. Kalau aku pulang. "Di mana dia?" tanyaku antusias. Hebat dia!" "Ingat si Bun Kay?" tiba-tiba Tum menyela. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir. sudah bercucu satu.

Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung. "Percuma.processtext. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur. Suka-suka kami mau makan apa." bilang Tum. Seperti di rumah Bun. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Rambut ekor kuda. Juga pandai menjahit. Dia kapten sepak bola.com/abclit. "Jelas enak. Minumnya teh hangat. mencukur. Mereka menggeleng. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong. adik kelas kami.Generated by ABC Amber LIT Converter. adik Bun. "Tidak halam. Ibunya baik seperti ibu Bun. Bak orang-orang dalam mimpi. atau menjelepak duduk di lantai. "Itulah. kembali menampakkan senyum yang ganjil. mengantar kue mohok hangat-hangat. Pagi-pagi Lin terlihat segar." sahut Tum. Nius. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh. menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. "Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?" tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. http://www. "Di dalamnya ada kerak gigi!" Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka "ketupat Bengkulu". juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok. . dan tak pakai babi!" komentar anak-anak yang iri. lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin. Tidak kecuali Sultani. "Banyak kawan kita serasa ada dan tiada. "Didiamkan berhenti sendiri!" Bagiku. tak pake babi laaa. Matanya tak terlalu sipit. berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Suara Lin halus: "Ko Bun! Engko Bun!" Dadaku berdebar mendengar suara itu. lucu. pintar di sekolah. kami kerap nginap di rumah Sultani." KAWAN masa kecil itu lincah. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami. Tapi kami cegah. tidak halam! Enak laaa." ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin.html bermalam di rumah itu. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. kadang susu.

Lalu ia sambar roti. Biju dan Tunik juga. Dan pernah pula Buya Makruf. ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik." ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. tidak terasa. "Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!" Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia. jadi keras. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Kelas enam disunat. serta sarung beliau "terbang. Terbahak-bahak seperti hantu air. Berenang kalang kabut ke tepi. http://www. guru mengaji kami. "Malah. kopiah. Mukanya pucat serupa mayat. Bun?" Bun mengangguk lemah. mengajak makan. terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Babah mau coba? Sret. Iya kan. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air." "Tidak sakit. "Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak. "Ular! Ular!" Bun berteriak panik. Kami berebut. Ulah Sultani! Suatu kali.Generated by ABC Amber LIT Converter. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Dan Bun disunat. . Portir bioskop juga dia ulahi. Mestinya waktu kita kelas tiga. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa. Ibunya tersipu. Bun mau potong bulung bole potong. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng.processtext. ke halaman masjid. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung. selesai!" Ayah Bun terkekeh. "Sebetulnya telat Bun. alias usil plus kurang ajar. Baju.com/abclit. makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!" Sultani cengar-cengir menyindir. laaa. mencangkunginya seperti buang hajat. Ayah dan ibunya setuju. Bah!" Sultani meyakinkan bak tukang obat. "Ayaaa.html "Makan.

Tetapi. tajwid dan kiraahnya elok. tentu saja. Jangan pula licin tandas bak kelapa. Bukan saja Bun. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku. Dan sesekali. setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil.com/abclit. potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Rustam. Sudahlah. terpaksa begitu!" Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Tapi aku merasa. ikut mengaji saja. Sebulan ditanggung fasih. Bun!" Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. kuratakan. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. malah sebelah sini terlampau pendek.Generated by ABC Amber LIT Converter. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. kan?" Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga. Rancak. "Seperti model rambut Bang Rustam.html Setelah sembuh.processtext. Aku malah tak sekali. Suaranya merdu. banyak kawan merasakan ulah Sultani. dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji. sepekan rambutmu . ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Ketika kuraba. tidur-tidur ayam. Tunik juga. Eh. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. kan?" Aku mengangguk. http://www. Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. "Rambutku dia cukur. Mendesis-desis lunak. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan. melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai! "Tak ada jalan lain. Mataku merem melek. Kepandaian itu turun dari ibunya. "Tadi di sini terlampau pendek. Sultani berkata: "Sudah Bun. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Tak licin di sekeliling kepala. dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari. "Cukur sama Sultani!" Biju menyarankan. Biar aku yang ngajar.

Dia mendekat. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. suatu pagi." sambung Biju lesu. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. "Kepala Ko Nius kenapa?" Alamak. "Jangan ikut! Jangan ikut kau!" Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh.com/abclit. Kaca-kaca pecah berderai. seperti Yull Bryner kau!" Sejak hari itu kami tak berteguran. aku menghindar. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya. http://www. Mereka menuju rumah Sultani.Generated by ABC Amber LIT Converter. dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak. "Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Tahi kambing." Tum diam saja mendengarkan sunyi. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Lebih-lebih waktu Sui Lin. Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami. aku menghambur ke jalan. mati awak rasanya menanggung aib! "KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani.processtext. Atau pergi. tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. Pernah kami tanya ke situ. "Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya. Menyepak pintu hingga rubuh. tahi kuda dan entah dengan apa lagi." kata Amril. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu.html panjang lagi. berteriak-teriak. Mereka melempar rumah itu dengan batu. melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran. Suara mereka teramat gaduh. Nius. Tetapi mereka pun tidak tahu. Bagus juga kau gundul. Mereka . Tepatnya. Nius. Sejumlah orang menerabas masuk. hasilnya nihil.

Ibu Sultani berlari mengejar. ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. http://www. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani. "Mulai kurang ajar ya. diseret abangku pulang. tegak kaku di ambang pintu. Tubuhnya tidak ada!" Kami bertatapan. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. "Semua orang bilang begitu. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku. yang menatapku tanpa berkedip. Orang-orang masih berteriak. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. 2 April 2005 . Menangis. Aneh sekali. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa. "Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?" kami tanyai Cudik ramai-ramai.com/abclit. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. Lututku menggigil. tak mendengar orangtua!" Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang.html terus berteriak. Dia juga menangis. Menghabisinya. dua buah. "Seperti mencampakkan bangkai anjing!" cerita Cudik. Buas sekali. Bergelombang-gelombang manusia. melihat aku di tengah kerumunan. walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara. Sultani juga.* Jakarta. kemarin pagi. Perempuan itu terjerembap di halaman.processtext. meraung-raung. Kusaksikan ayah Sultani diseret. seolah-olah tidak pernah lelah. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!" Cudik berkeras. Mukanya berdarah. Bahkan sampai kini. "Dan. Tanganku dicekal. Hanya mata saja. Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Di samping para tetangga. Edisi 06/05/2005 SUBUH itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Kadang-kadang saya juga diundang camat. saya menjawab sekenanya.processtext. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Saya rasa kali ini juga begitu. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang. . Istri saya belum menemui mereka. menantu dengan mertua. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya.html Nistagmus Post: 06/05/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Danarto Sumber: Kompas. Misalnya. sekadar yang saya tahu. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Sudah sering datang orang.com/abclit. yang sama sekali tidak saya ketahui. menjenguk lewat jendela.Generated by ABC Amber LIT Converter. satu dua. setelah sarapan. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng. satu dua. dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman. Kadang datang berbondong. pengairan sawah. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Jika ditanya. bibit tanaman. soal usaha tambak udang. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. mengular sampai jalanan. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan. Karena istri saya gelisah. perbankan. ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit. Istri saya memberi tahu. persoalan anak dengan orangtuanya. juga masalah percintaan antaranak-anak remaja. Ada apa? Saya acuh tak acuh. Sungguh menghabiskan waktu. http://www. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Juga tentang hubungan suami istri. bawahan dengan atasan. perburuhan. maupun wali kota. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik. bupati. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan.

Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya.000 orang. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat. . lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Untuk sikap saya itu. ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya. Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil. Cukup menyenangkan. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. sementara beban keluarganya besar. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara.html Rasanya camat. Sebagai penulis lepas.000 karakter. Saya catat riwayat hidupnya. Begitulah. Keluarganya memberi tahu. lalu saya cari alamatnya. juga tayangan televisi. Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu. ia kaget.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari. tidak ke mana-mana. dan berapa orang saudaranya. ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. sekitar 5. dan wali kota. teman. Saya interviu keluarganya. yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal. Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. ia seharian di rumah saja. dibawa pulang ke rumahnya. di sebuah desa yang lengang. http://www. kenapa tidur di rumah. Seluruhnya orangorang biasa. lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Dan pembicaraan beralih ke olahraga. pekerjaan terakhirnya. agaknya hanya saya seorang. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. sampai kenalan baru. mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. menyebabkan banyak orang mengenal saya.Generated by ABC Amber LIT Converter. misalnya. sebagaimana kematian itu pasti tiba. orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya.com/abclit. saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu. Tulisan obituari itu tidak panjang. teman-teman. Masa pensiun pasti datang. bupati. tidak benar-benar membutuhkan saya. Alasan saya. Begitu siuman. Kepala kantor orang itu kebingungan. sedangkan untuk orang-orang biasa. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. keluarga. Kadang sampai 8. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Misalnya. mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. menyadarkan saya. saya dijuluki "pendengar yang baik".processtext. apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan.

Pak Jurnalis. Pak. seseorang yang ngobrol dengan saya. jika seseorang ngobrol dengan saya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya. "Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!" "Biar kamu mati. ataupun di stasiun bus. itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang." Tapi. yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Yang jail maupun pelesetan. Ada yang bilang. Wah. Tapi ini kebetulan saja. Maka ada saja orang yang anti-saya. ia meninggal. http://www.html Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar. kompleks pertokoan. saya mendapat sebutan yang aneh-aneh." Atau ada yang berteriak: "Pak Jurnalis." . ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. "Lho. Saya tak bisa menjawab. ada yang mengartikan. sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!" Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. meski kamu membayar Pak Jurnalis!" "Kamu tidak akan mati." jawabnya. Tidak kenapa-kenapa. Banyak komentar. ini bahaya. Dan sebagainya. Saya nggak mau ditulis sekarang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ini benar-benar klenik. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios. Sementara itu ada pula yang bilang.processtext. Dari kejadian itu. Ntar saya yang menulis Bapak. kenapa?" "Maaf. "Maaf. saya sedang mewawancarainya. selalu saja orang nyeletuk: "Pak Jurnalis. tinggal di mana?" tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya. tak ada yang menulis.com/abclit. "Pak. Banyak usulan.

sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi." "Jangan ditinggal korek apinya ini." "Lho.html "Baiklah. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya. katanya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. kenapa?" "Maaf.processtext. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala. yang paling kritis. Pak. Lalu malah terjadi serba-salah. wah. Tidak kenapa-kenapa. Pak. Di pertemuan-pertemuan desa. Keterlaluan. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. dan si bungsu di SD kelas 5. saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. sedikit saja saya ngomong. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu: ." "Saya permisi. terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2.com/abclit. Apa yang akan terjadi dengan saya. Banyak ngomong dianggap meramal.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Memangnya saya cenayang. Anak-anak saya. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang." Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Pak. http://www. Kritiknya tidak berdasar. Pak?" Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Menurut mereka. orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: "Bapak menghindar dari saya. tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain." "Biar untuk Bapak saja. anak-anak ini sok tahu. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Ketika orang menanyakan pendapat saya. lima orang.

"Kalian ngawur." "Boleh saja.html "Dari mana kalian tahu." "Nah.processtext. http://www. kalian ngawur. ." "Semua orang bicara dosa dan pahala. Nah. sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?" "Dari Ayah.com/abclit. kan. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga." "Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala." "Tidak bisa seenaknya begitu." "Begini.Generated by ABC Amber LIT Converter. karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga." jawab anak-anak itu. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari. Itu doa saya." "Ayah marah kena keritik." "Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu. ini dosa." "Semuanya. Ayah pernah menulis obituari." "Itu harapan saya." jawab saya.

Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya. Ada apa? Setelah sarapan. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus? . sedangkan saya sejak remaja penulis lepas. kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai.processtext. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. satu dua. dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda.Generated by ABC Amber LIT Converter. Karena istri saya gelisah. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Kami sebenarnya keluarga bahagia. Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam. Hari baru membuka matanya. yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Sebagai ayah. Saya menulis apa saja.html "Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Jam baru menunjukkan pukul 05. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. saya menyiapkan kertas dan alat tulis. anak-anak saya itu diam. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan. Nah. Istri saya belum menemui mereka. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli. saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. http://www. menjenguk lewat jendela. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. setelah sarapan.00. cerdas dan berani. Istri saya guru SMP. ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain. banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Istri saya memberi tahu. Sudah sering datang orang. Padahal saya selalu bilang. mengular sampai jalanan. saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar.anak saya tersebut." Mendengar keterangan saya. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan. sedang rakus-rakusnya makan. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit." "Nah. Saya sering lelah berdebat dengan anak. Anak-anak yang bersiap ke sekolah. Lima anak semuanya sekolah. Saya rasa kali ini juga begitu. Saya acuh tak acuh.com/abclit. termasuk menulis berita. merangsek ke depan meja saya.

processtext. di pekarangan. http://www. 20 Januari 2005. terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. di atas pohon. Entah berapa lama saya pingsan. panas. Waktu saya siuman. bayi. Bahkan burung-burung. Cuaca cerah. tak seekor pun tampak terbang. berserakan memenuhi ruang dan udara. Kecemasan pun tergambar pada wajah bapak-ibu dan para cucu. laki-laki. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. berserak. Ahad. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. perempuan. Seluruh mayat itu. Dua-tiga kali bubur itu hanya disisir bagian pinggir. itu bukan karena ia ingin. seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. di kebun. Tangerang. entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini. Tapi tidur itu tak pernah panjang. Edisi 05/29/2005 SUDAH hampir seminggu Eyang Putri mengurung diri di kamar.html Mata mereka nanar. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk. Kalau toh ia tertidur. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun.. Alhamdulillah. anak-anak. muda. Kulihat Eyang Menangis Post: 05/29/2005 Disimak: 244 kali Cerpen: Indra Tranggono Sumber: Kompas. mencecap pencerahan. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya. di luar kemauan. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota. di jalan. tua. nistagmus.tanggal akhir hayat. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah. 26 Desember 2004. Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur. diselimuti lumpur. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja. Sinar matahari memancar.Generated by ABC Amber LIT Converter. . lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Mungkin hanya karena terlalu lelah. Bubur yang disediakan Mbok Nah hanya sedikit yang dimakan. Eyang juga jauh dari bantal dan guling. Sangat sering ia mendadak terjaga dan membangunkan Mbok Nah yang tidur di bawah samping ranjang. di reruntuhan rumah. kemudian dibiarkannya mencair.com/abclit. mereka menatap kebenaran..

Ndut? Anak dan istrimu sehat?" ujar perempuan itu.html "Gendut sudah datang?" ujarnya pelan. Masmu Jito tidak ikut. Bagaimana kabarmu. Mbok Nah diam. Pada siang yang murung itu. "Mana Eyang Putri?" "Masih di kamar. memasuki pekarangan luas yang ditumbuhi pohon sawo dan pohon melinjo. Kantuk masih menggelayutinya. mereka sehat… Kapan Mbak Ambar datang?" "Kemarin. Mobil sedan putih mengilap menembus tirai hujan.processtext. Kami juga sudah menunggu lama.com/abclit. hingga warna itu berubah tua. Tapi sayang. namun tetap tanpa jawaban. "Ya. Pertanyaan serupa diulang. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yang langsung menyodorkan handuk.Generated by ABC Amber LIT Converter. Eyang Putri tak tega bertanya lagi. Bajunya yang merah maroon dipahat rapat jarum-jarum hujan. melihat wajah Mbok Nah yang tertidur lelap dikeroyok kelelahan. seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dan berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. http://www. Laki-laki itu menggosokkan handuk di kepalanya. Katanya sedang ada kunjungan ke Nias dan Aceh…" "Yang lain mana?" .

kehangatan yang sangat ia harapkan setelah hampir setahun tidak bertemu dengan mereka. Gendut merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya.html "Di ruang tengah. Swandaru yang anggota DPRD. "Di kamar." . entahlah. "Ndut…" suara kakak-kakak Gendut kompak.. persisnya sejak Lebaran tahun lalu.com/abclit.processtext. yang kini bekerja di Jakarta menjadi redaktur majalah wanita. dan Drajat yang pengusaha real estate. Gendut langsung memeluk mereka satu per satu: Kunthi." Ambar membimbing Gendut masuk ruang tengah. tapi dicegah Ambar. Mereka sudah lama menunggumu. Tapi. hendak menyulut.Generated by ABC Amber LIT Converter. Sebaiknya ditunggu saja…" Gendut mengeluarkan rokok kreteknya. Sudah hampir satu jam kami menunggu…" "Ada apa? Apa beliau sakit?" "Tidak. seperti koor. "Eyang Putri tidak senang bau rokok. http://www. "Di mana Eyang Putri?" bisik Gendut di telinga Drajat.

Cepatlah kamu ketuk pintu kamar.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Mbak Kunti. "Saya Gendut. Pintu kamar itu diketuknya. "Ndut. Tatapan mata saudara-saudaranya seperti bilah-bilah tombak yang mengungkit pantatnya untuk beranjak dan segera mengetuk pintu kamar Eyang Putri. coba kamu temui Eyang Putri. perlahan. Gendut pun beranjak. atau Mas Drajat?" "Beda Ndut… beda.. Kamu kan cucunya yang paling disayangi..html Gendut memasukkan rokok di sakunya. http://www. Setelah diam beberapa jenak." Gendut termangu. "Siapa?" suara lirih dari dalam kamar. Swandaru merangkul Gendut." "Lho apa bedanya aku dengan Mas Ndaru. Mbak Ambar. Sejak tadi Eyang Putri menyebut-nyebut namamu. Eyang…" "Gendut? Tunggu…" .com/abclit. Empat pasang mata mengepung dirinya.

Semua kakaknya saling memandang. pasti Eyang memanggil kami karena persoalan Mbak Ratri. "Itu insinuasi! Tuduhan itu sangat tak berdasar! Mengada-ada! You mesti lihat reputasi saya. mataku disergap gambar yang bikin jantungku berdebar. Namanya dihapal jutaan orang dalam pembicaraan yang dilumuri prasangka. Ada satu dua polisi tampak berjaga-jaga di situ. Gendut langsung menyelinap masuk. Ketika menonton televisi. Perkara pembangunan itu macet. semua beres. Dalam minggu terakhir wajah Mbak Ratri muncul di banyak koran dan televisi.com/abclit. Mbak Ratri tampak turun dari mobil dan langsung dirubung para wartawan.Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext. Kalian mesti tanya developernya. http://www. namun hanya beberapa puluh senti.html Pintu pelan dibuka. dong." "Tapi kenapa perumahan untuk para korban tsunami itu hingga kini macet?" . Nggak ada komplain. Sudah puluhan ribu unit rumah rakyat yang saya tangani." "Tapi kenapa Anda diperiksa? Ini terkait dengan dugaan penggelapan anggaran yang katanya sampai 150 miliar?" desak wartawan. AKU tidak terlalu kaget ketika Bapak mengontak anak-anaknya untuk sowan Eyang Putri. Seperti yang kami kenal. Aku menebak. "Saya memang mengelola dana pembangunan rumah untuk masyarakat miskin itu. wajah Mbak Ratri tetap tegar meski dicecar berbagai pertanyaan. ya bukan urusan saya.

Kami pun mencoba menemui Mbak Ratri di rumah tahanan. . mereka juga belum dibayar lunas… Ini bagaimana?" "Ah… tanya saja penasihat hukum saya. hingga commercial break memotong tayangan berita itu. Mereka menangis. Temui saja Pak Rambela!" Aku pun merasa ikut terpojok oleh cecaran pertanyaan para wartawan itu. http://www. Penahanan Mbak Ratri membuat bapak dan ibu terguncang. mencoba membela Mbak Ratri sambil menuding-nuding layar televisi. Mereka pun langsung masuk rumah sakit. Aku terus mengomel.processtext.com/abclit. Aku ngomel sendiri. Tanya mereka…" "Tapi developer itu sudah bikin statement. Ke mana anak-anak Mbak Ratri? Ke mana suaminya? Pasti mereka kini jadi lintang pukang dihajar kabar yang sangat mengejutkan itu.html "Tanya itu developer. Ternyata kecemasan juga dirasakan kakak-kakakku.Generated by ABC Amber LIT Converter. tapi gagal. tapi HP-nya off. Mereka berulang kali menelponku mengungkapkan galau hatinya. Begitu juga ketika telpon rumahnya kami hubungi. Berita di televisi itu bagi kami telah menjelma pisau karatan yang menikam-nikam harga diri kami. Kami mencoba menghubungi Mbak Ratri. Anak dan istriku tampak cemas.

Ia hanya mematung di samping ranjang. Mbak Ratri yang selama ini kami kenal sebagai pribadi yang mengagumkan. Namun. http://www. takut menambah beban perasaan Eyang Putri. dan berani. Gendut belum berani bicara. semakin bersilangan. Tapi kami kan sekadar menganalisis… eh menduga-duga. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan kantor kejaksaan. Watak dasar ini-ditambah kecerdasannya yang terpancar di matanya yang berkilat-kilat saat berdebat-yang mengantarkan Mbak Ratri memegang jabatan penting di sebuah departemen yang berurusan dengan program pengentasan kemiskinan masyarakat. no comment" .Generated by ABC Amber LIT Converter. yang gigih menentang setiap penyimpangan. tapi juga sangat sedih. Jangan-jangan…" ujar Pak Nano. jujur. ucapan bapak yang terngiang kembali itu seakan mencair ketika Mbak Ratri dalam posisi sulit. bukan hanya bapak dan ibu yang bangga. "Jangan-jangan apa?! Kalian ini tahu apa sih? Sok analitis!" DI kamar itu. dia akan mengejarmu sampai neraka. kami pun sangat bangga kepada kakak kami tertua itu. wajah Eyang Putri tampak pucat.. ia hanya berucap "no comment.processtext. Sesungguhnya.html Kami sama sekali tidak menyangka." pesan bapak belasan tahun lalu. "Jangan sampai kamu mencurangi Ratri. DI antara para cucu. wajahnya tampak lelah. Ia melihat. dengan bangga. berada dalam pusaran persoalan yang bukan hanya membikin kami terpukul. Mbak Ratrilah yang paling mewarisi sikap Eyang Putri yang berwatak keras.com/abclit. semakin tumpang-tindih. Gendut merasa tidak tega untuk mengajak bicara. Walau cuma serupiah.. Aku pun sering membentak kepada setiap teman sekantor yang sok tahu soal berita itu yang nada bicaranya setengah memojokkan Mbak Ratri. Kerut merut di wajahnya pun semakin tampak jelas. malu. Di layar televisi siang tadi. "Maaf-maaf kalau omongan saya menyinggung Pak Gendut.

Banyak pembeli merasa cocok dengan jamu itu. Rumah kami pun penuh aroma jamu. Eyang Putri itulah sosok yang sesungguhnya mendidik kami. dan berbagai dedaunan melimpah di atas balai-balai bambu di dapur. Bahkan juga masa kanak-kanak ayah kami. pemberani. meskipun akhirnya tidak ." ujarnya. Setiap pagi. Eyang Putri selalu mendongeng sebelum kami tidur. Tapi. cabe puyang. Meskipun usianya di atas delapan puluh. Watak-watak tokoh rekaan itu menjelma seperti wayang yang berkebat dalam benak. Eyang Putri melarang kami pindah rumah. Entah sudah berapa ratus cerita yang membawa kami ke alam yang indah: rimbun hutan. dengan berbagai wataknya. atau penjilat. dlingo bengle. Harum tapi juga semegrak. adas pula waras. Rimpang-rimpang jahe. Dan ingatannya masih tajam. Dengan runtut. Eyang Putri tak mau hanya mengandalkan hidup dari uang pensiun suaminya sebagai guru. Dibantu Yu Jum dan Yu Gik. KAMI dan Mbak Ratri tumbuh dalam dekapan kasih sayang Eyang Putri. Kami bertemu dengan tokoh-tokoh cerita. Setelah Eyang Kakung meninggal.html Setegar apa pun hati keluarga kami. Kebetulan sejak kecil kami tinggal di rumah Eyang Putri bersama bapak dan Ibu. jahe. Gaya bercerita Eyang Putri yang mempesona.processtext. Selalu saja ada kisah yang diceritakan dalam setiap malam. licik. Jamu itu kemudian dijual di pasar. Ketika kami kecil. Kami pun merasa menjadi seperti tokoh pujaan kami: seorang satria yang membela yang lemah. Eyang Putri juga masih ingat berapa nomor telpon rumah kami. Eyang Putri memanfaatkan keterampilannya membuat jamu. ia mampu bercerita tentang masa kanak-kanak kami. Eyang Putri masih tampak seperti perempuan berusia 50-an. dan entah apa lagi. Berita penangkapan Mbak Ratri itu kini menjelma menjadi bongkahan batu yang mengganjal di rongga dada kami. laut yang bergelombang. Ada yang culas. "Untuk apa? Rumah ini masih terlalu besar untuk kita. Tubuhnya masih cukup tegap. kalimat-kalimatku seperti lumer dan menyatu dalam butiran-butiran keringat dingin bapak-ibu yang kemudian pingsan. Eyang Putri meracik dan memasak jamu itu. hingga nama Eyang Putri menjadi sangat terkenal. http://www. jujur. Eyang Putri pergi ke pasar membeli rempah-rempah: kencur. Padahal jumlahnya belasan. menjelma menjadi kereta kencana yang membawa kami ke dalam petualangan yang menggairahkan. kencur. toh akhirnya goyah juga. gunung yang menjulang atau langit yang biru. Makin lama bongkahan batu itu makin membesar. sawah yang membentang.Generated by ABC Amber LIT Converter. sungai yang mengalir. Matanya masih bercahaya. Aku mencoba meyakinkan dan menghibur bapak-ibu bahwa Mbak Ratri belum tentu menggelapkan uang. Juga nama cicit-cicitnya.com/abclit.

"Nama baik dan kejujuran itu jauh lebih penting dari semua kekayaan.com/abclit. "Kalau kamu bagaimana." pesan Eyang Putri." sergah Mbak Ratri.processtext. Aku kelimpungan. Gendhut." Eyang menatapku. "Kalau saya ya pilih kaya. http://www.html hidup bahagia. "Aku nggak tau Eyang…" jawabku sekenanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. nggak apa-apa…" . "Bicaralah." ujar Mas Swandaru sambil bercanda. Bingung. Semua tertawa. Eyang Putri mengangguk-angguk sambil mengelus kepala Mbak Ratri. Ayo. yang dipikir cuma perut. "Ah kamu.

tapi licik. "Pintar kamu. "Tapi dia itu pintar lho Eyang…" Mbak Ambar masih mengejar. http://www." Semua tertawa. Dia punya banyak akal. "Dia bukan pintar. Eyang Putri diam.html "Kalau aku ya pilih kaya… tapi juga punya nama baik. Kalian ingat ketika kancil ditangkap dan hendak disembelih Pak Tani gara-gara mencuri mentimun?" . ketakutan diam-diam merambat. mengurung kami. Mendadak. "Eyang tidak suka kancil!" ujar Eyang tandas. tapi hanya untuk mengakali. "Eyang-eyang… gimana kalau Eyang sekarang ndongeng kancil?" ujar Mbak Ambar.com/abclit.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ndhut…" Eyang Putri terkekeh.processtext.

" Malam makin larut. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan.com/abclit. Sayup-sayup kami mendengar pembicaraan Eyang Putri dengan Mbak Ratri. tapi kancil akhirnya lolos setelah menipu anjing milik Pak Tani. Yang harus kita bunuh adalah sifatnya. dalam gelap malam. hingga kepalanya remuk…" kataku meramaikan suasana.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Benar Eyang. Satu per satu kami tertidur. Kantuk pun bergelayut. Juga saat ia terpaku di depan Eyang Putrinya yang sejak tadi tetap diam.html Kami mengangguk. kalau kalian besar nanti. "Akhirnya.…"sahut Mas Swandaru. "Iya. Kita harus membunuh kancil!" "Bukan… bukan begitu Ratri. http://www. anjing itulah yang dipukul Pak Tani. "Maka. . Ratri menyahut. "Dan anjing yang celaka itu dirayu kancil untuk menggantikannya sebagai calon mempelai." ujar Mbak Kunthi. Dia bilang.processtext. dirinya akan dikawinkan dengan putri Pak Tani…. KENANGAN itu masih basah melekat di benak Gendut. jangan mau jadi kancil…" ujar Eyang.

tapi masih tetap tegap. http://www. tak ada suara terucap. Mata tua itu tetap bening dan bercahaya. "Kita berdoa. empat kakak Gandut masih menunggu. lemah. Eyang Putri menggeleng. pikir Gendut.html "Eyang sakit?" Gendut mencoba membuka pembicaraan. Tak satu pun dari mereka yang berani menatapnya. Ke mana air mata itu. apa benar kini Ratri telah berubah menjadi kancil? Atau bahkan sudah jadi ular piton yang kelaparan? Ahh… katanya dia mau membunuh kancil?" Ucapan itu terasa sangat menyentak. Bukan kancil atau ular piton…" . Di luar kamar.processtext. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah cucu-cucunya. Wajah mereka tertunduk. Tapi Eyang Putri tak begitu menanggapinya. Tapi Gendut memberanikan diri bicara. Dalam beberapa kejap. Perempuan renta itu berjalan pelan.com/abclit. Gendut kaget. Gendut berhasil membujuk Eyang Putri untuk keluar dari kamar. Ternyata dari mata Eyang Putri tidak mengalir air mata setetes pun. Para cucunya ramai-ramai menghambur dan mencoba memeluknya. semoga ia tetap Ratri seperti yang kita kenal selama ini. Urat-urat wajah mereka menegang. Eyang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jam dinding berdetak terdengar sangat keras." ujarnya pelan. "Ndut. "Biar aku duduk…. Mereka hanya saling memandang.

meskipun kami tidak punya bukti. Bukankah… Eyang sendiri yang dulu mencegah Ratri untuk…. Ya. Ratri membunuh kancil itu…" ujar Eyang Putri lirih. "Tapi maaf Eyang. "Itu yang aku sesalkan. kami percaya dan yakin.processtext. merintih." "Tapi. "Mestinya sejak dulu. Mestinya kancil itu sejak dulu dibunuh dalam pikirannya…. Bukankah sudah hampir tiga tahun dia menutup diri?" Swandaru melepaskan napasnya. kami hanya bisa percaya… hanya bisa berharap…" .html "Bagaimana kamu tahu. Mbak Ratri tidak mungkin menjadi kancil.Generated by ABC Amber LIT Converter. Ndut? Bukankah kamu tak berada di sana? Di tempat yang gemerlap dan bisa membuat siapa saja berubah?" Gendut terdiam. "Kalian berani menjamin keyakinan itu?" "Maaf Eyang.com/abclit." ujar Gendut. http://www.

atau mencium semerbak kisah-kisah kepahlawanan yang indah dan mendebarkan. "Kebenaran akan membersihkan namanya.Generated by ABC Amber LIT Converter. sebelum akhirnya pingsan.com/abclit. Tubuh mereka serasa berubah transparan. Mungkin…. Eyang Putri berkali-kali menarik napas." ujar Kunthi. kami tak lagi menemukan aroma harum jamu. Tapi kini ia telah berada dalam kurungan. Eyang Putri mengedarkan pandangan ke wajah para cucunya. Itu masalahnya. DI rumah itu. akan mengembalikan martabatnya….html "Terus bagaimana? Apakah aib yang telah tercoreng di wajah kita ini bisa hilang sendiri? Mungkin saja dia bukan kancil yang suka nyolong timun. seperti terbaca. Semua mendadak terasa terlepas. Kami justru mencium bau keringat kami yang mengandung miliaran bakteri….processtext." ujar Eyang setengah meradang. ditelanjangi. Mereka merasa dilucuti. * Bantul-Yogyakarta-Mendut 2004-2005 Jejak yang Kekal Post: 05/22/2005 Disimak: 217 kali Cerpen: Gus tf Sakai Sumber: Kompas. http://www. Berbagai borok dan lendir yang tersimpan di balik tubuh mereka. Edisi 05/22/2005 .

memanjang ke fragmen tengkorak.html SEPATU itu. pikirmu.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www.sia? Maka sembunyi itu. Dengarlah sepatu berderap. Semua akan hancur.. Di suatu waktu di zaman lain. tak kurang dua ratus juta tahun lalu. dengan bertumpu di bagian tumit. Betapa kekal. TETAPI trilobite. SEPATU itu. Dari satu waktu ke lain waktu. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong.. tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite. yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini. Sepatu lars. homo sapiens. dari satu batu ke lain batu. ternyata sia. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada? Kenyataan itu. makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu.. bongkah itu akhirnya pecah. Homo habilis. sepatu serupa. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu.com/abclit. Betapa kekal jejak itu. sepatu manusia. Dan itu artinya. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi. tertahan dalam bongkah batu. melesak di leher. selain fosil antilope. homo erectus. tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa.processtext. ditemukan juga jejak sepatu. ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua? . seperti yang selalu kami yakin. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu. menguap. bagi kami. makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. di zaman homo habilis juga belum ada. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih. lekuk bawah tumit 2 cm. Jejak melesak di tubuh-tubuh . dan waktu melenguh. tak bisa tidak. artinya pula tak lain satu kata: gila. seluruh waktumu. segera jadi bohong besar. harus kami bikin tetap sembunyi. lebar 11 cm. menginjak seekor trilobite. setiap detik dalam hidupmu. neanderthal. Jejak celaka! Bagaimana bisa. bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu. dengan cara begitu rupa. Jejak sepatu celaka.

Menggasak leher. timbul-hilang. jerit. Menembus ruang. adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. SEPATU itu. http://www. Bisa heboh. perpustakaan. bertumpang tindih dengan hardik. Pekik. begitu jauh. menjalar lirih ke telingamu. Betulkah foto itu hilang? Atau. Jadi. Tetapi lalu. dengan amarah bagai meluah.html Tetapi. kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul. merangsek masuk ke dalam kampus. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science.processtext. dengan foto-foto yang dideformasi. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain.. Memang muncul berita di koran lokal. apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. rusuk. Orang-orang berseragam ini. Artinya. ruang kuliah. selesai. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu. membuat kami sungguh kelabakan. menerjang. penemuan itu boleh dikata bisa kami "tangani" tanpa kesulitan. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh. telah hampir sepuluh tahun kini. tetapi kami lupa? Tetapi toh. untunglah. Dengan satu kali jumpa pers. bentak. bagaimana bisa? Jejak melesak di tubuh-tubuh. Terdengar pula suara seperti letusan. juga lolongan.. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. Mahasiswa berlarian. Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu.com/abclit. fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Racau panik. yang membuat kami betul-betul bagai akan gila. kenapa mereka menyerbu kampus? . tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. Tulisan yang tentu saja direkayasa. gebuk pukulan. sebetulnya telah ikut terbakar. foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. berhamburan. penuh literatur fiktif. tetapi itu biasa. ketika muncul di Science.Generated by ABC Amber LIT Converter. Fragmen tengkorak itu. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. lengking tangis. semua kami musnahkan. melipat waktu. Dan setelah segalanya beres. tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. Baiklah. Gemuruh derap menggasak koridor.. Bisa runyam.

Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. bagai tertidur. pada setiap kepala yang tepekur. Labor-ruang praktikum hancur.bermimpi tentang demokrasi. kursi-meja berjumpalitan. tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. demonstrasi. Takkah aneh bahwa foto itu. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. Mahasiswa diburu. setiap detik dalam hidup kami. Sungguh situasi yang tak terduga. Menatap ruyup ke tengah ruangan. meresap dalam senyap. aku bagai melayang. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. . tegak termangu di puncak tangga. Menetes. kami gunakan untuk mencari. Pulau-pulau yang terbujur. Beberapa digelandang digiring ke truk. ruangan itu juga tampak porak-poranda. bukan? Sesekali terdengar helaan napas.Generated by ABC Amber LIT Converter. menembus ruang. Tak ada hujan. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. Tetapi. Ke sesosok tubuh yang terbujur. Merembes dalam bisik. tetapi terasa seperti hujan. Masuk ke halaman yang kukenal. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Tak ada becek.processtext. Menembus waktu. itu bukan urusan kami. Dan lihatlah lembab itu. basah itu. Melalui pintu yang ternganga. Dan setelah segalanya selesai. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. berbaku tindih jejak sepatu. entah ruangan apa. Tetapi yang jelas. Kampus diserbu. Lihatlah seorang dari kami. dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Rumah yang kukenal. Di dalam juga tak kalah sesak. TAK ada hujan.com/abclit. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk. di sinilah foto itu kini. Dan di lantai. Beberapa kepala pelan terangkat. Bila sebelumnya tampak heroik. Mungkinkah hujan lain. beberapa dilarikan ambulans. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Ke arah kanan sebuah ruangan luas. kemudian. Dan lihatlah itu tadi. Juga senggukan tertelan. seperti berat. seperti halnya juga tadi di lantai satu. Padahal tak ada hujan. dalam basah. dari hari lain. kini menjelma jadi kuyu. Dan takkah pula lumpur lain. lihatlah kini: kaca-kaca berserakan. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal. seluruh waktu kami. Di luar rumah sangat banyak orang.html Namun tentu. Seperti lelap. salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini). Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. di luar tak ada becek. http://www. ternyata ada di sini? Memang aneh. Dan juga celaka. Dalam lembab. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. bagai tertidur. pun ruang perpustakaan. telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti). Begitu tenang.

Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa. akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Begitu pas. Menggasak leher.html Itulah aku. Dengarlah sepatu berderap. Meremukkan leher. Kamar yang juga tampak begitu tenang. tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku. Dan. Betapa kekal jejak itu. menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. Jejak melesak di tubuh-tubuh. di hampir seluruh bagian tubuh itu. melipat waktu. Begitu lengang.Generated by ABC Amber LIT Converter. Menembus dinding. Dan. pernah atau tidak. atau mencoba melihat menggunakan mataku. bukan aku. ganjilnya pula: di atas foto itu. http://www. kamarku. rusuk. dan waktu melenguh. sehingga ia begitu marah? Tetapi. Bebas waktu. ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu. tak jauh dari tubuhku. ke lain ruang. Siapa tahu. tak lagi penting. kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah. Kembali aku melayang. Menerima makian. masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. 4 April 2005 . Mungkin juga itu orang lain. Menembus ruang. sang arkeolog ini. Tubuhku. Ruang kerja Ayah. memintaku mencarinya. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap? Aku terus melayang. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja. aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Sangat serupa. Gebrakan meja. Dari satu waktu ke lain waktu. takkah itu jejak yang sama? Payakumbuh. begitu jauh.com/abclit. menjalar lirih ke telingamu. Mungkin pula itu di masa depan.processtext. kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Kini aku bebas ruang. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus. Tetapi. Tetapi itulah. aku selalu lupa. timbul-hilang. mematahkan rusuk. ada foto itu. Dan. pikirmu. Dan inilah ia. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat. sebuah jejak baru. Menghunjam dan melesak. dari satu batu ke lain batu. tepat menimpa si fosil jejak sepatu.

processtext. sehingga kau tak perlu lagi menari di pantai. . http://www.Generated by ABC Amber LIT Converter. Tapi tak seorang pun boleh menceritakan gerimis-Mu yang menghanyutkan kisah-kisah orang-orang yang teraniaya di penjara-penjara penuh kalajengking dan lipan itu.com/abclit. Kresna akan selalu menghapus jejak cinta dan menatah candi penuh tumbal dan kesengsaraan. Dengarkanlah lengking mataku yang kehabisan sungai dan embun sejuk itu. memedihkan mata dengan getir pasir. karena Kresna telah mati dan Kurusetra tak melahirkan pahlawan lagi. Ramli? Bukankah teriakan Kumar Kundu dalam lagu-lagu pedih itu tak juga bisa menghentikan kereta perang yang melesat ke ujung malam dan pekat darahmu? Bayangkan saja Kresna telah mati. Edisi 05/15/2005 Siapa pun boleh menari. Karena itu. Maka. dengarkanlah ceritaku. Ayat-ayat Sunyi Ramli Mengapa masih kau cari Kresna di ujung rambutmu. Gusti. Bersekutulah dengan tarianmu sendiri. untukmu Gusti. tanpa cambukan. mencari surga yang tak pernah diciptakan di telapak kaki. Memang biola Naranjan Bival telah menidurkan Kuala Lumpur.html Lumpur Kuala Lumpur Post: 05/15/2005 Disimak: 131 kali Cerpen: Triyanto Triwikromo Sumber: Kompas. Namun Kresna tak bisa bermimpi tentang Sungai Buloh tanpa penjara. dan membaca sutra-ayat-ayat suci yang perih itu-dengan telinga yang disumbat derita. dengarlah lengking seruling Abhiram Nanda yang mengembuskan tangis indah Arjuna.

Tak bisa mengutuk. Ramli. bertanyalah pada Guru Dhaneswar Swain tentang kaki-kaki yang dipatahkan. di mana dikuburkan mata kebenaran?" Tak di mana-mana. "Kalau begitu aku akan mendengarkan tangis-Nya. http://www. "O.processtext. Dengan petikan sitar gaib. darah yang terus mengucur. Tak di mana-mana." Ia tak bisa lagi menangis. .html "Tapi Tuhan tak pernah mati!" katamu tersedu-sedu. Ia tak bisa mengamuk. "Aku hanya ingin mencari jejak-Nya. dan malam yang kehilangan rembulan." Ia tak lagi punya jejak. tapi keretanya telah remuk. Chakraborty telah menyalib tubuh Kresna di tengah kota. Ya.Generated by ABC Amber LIT Converter. Jika tak percaya.com/abclit. dia telah menusukkan segala kepedihan orang-orang miskin ke lambung Kresna yang senantiasa menganga. kepala yang dilindas truk.

Tapi bayangan tubuhku pun tak layak dipenjara hanya karena . mengapa masih kauburu Kresna sampai di ujung matamu. "Aku hanya minta segelas air dan seembus kemungkinan untuk hidup. aku memang cuma budak haram. Ini mungkin senja terakhir setelah mereka merubuhkan bedeng dan menghancurkan keberanianku. Ramli? Kopi Terakhir Lukman "Ini mungkin kopi terakhir sebelum cambuk dan nyamuk membunuhku.’’ Dan kopi atau topi-mungkin dengan sebatang rokok-bisa menerbangkan Lukman ke surga. ke gaji yang terhapus dari catatan yang terbuang di selokan. http://www.html "Tak di mata yang menyimpan surga." Tak di mata yang menciptakan surga. Lukman.processtext. "Ya. Aku hanya berharap mereka mengerti kami juga bisa jadi gelombang yang merubuhkan jembatan dan kondominium. Maka. ke jalanan becek bertabur roti.Generated by ABC Amber LIT Converter.com/abclit." Kamu cuma budak haram. ke got becek untuk mandi.

http://www. "Mereka tak akan berani mencambuk aku dan 800.html pasporku hanyut di sungai." Ya. Hanya karena pasar tak bisa memajang bekas cambukan pantat di etalase-etalase toko. segeralah pulang. Negeri Ilusi tak sepi duri dan impian. ..com/abclit. Nanti kamu dicambuk algojo dan para tuan." Tentu kau boleh punya keberanian seperti Hang Tuah. aku akan pulang." Maka. Ringgitku masih disimpan di laci busuk para juragan. tetapi segera pulanglah. Lukman. pulanglah ke negeri ibumu. "Ya." Mereka akan berani dan tak peduli kau anak setan atau malaikat Tuhan. "Mereka tak punya algojo.000 budak haram. di keriuhan stasiun kereta pukul delapan. Kau hanya cacing yang banyak cakap dan tak tahu undang-undang. Mereka hanya punya ringgit dan telepon genggam. Tapi di negeri ini kau hanya semut di lubang yang gelap. Ayolah. Tapi tunggu dulu! Jevander Sing-tauke Keling itu-masih berutang padaku. Nanti kamu dipenjara.processtext. Negeri Ludruk sarat tawa semalaman. Aku bilang pada Yeni Abdurrahman di desaku sungai menjalar seperti ular. Hanya. Mereka hanya berani menggertak orang-orang miskin yang cuma bisa tidur di bedeng-bedeng penuh lipan. Nanti kamu didenda.. Lukman. Negeri Celurit penuh darah dan pertikaian. Lukman.Generated by ABC Amber LIT Converter.

Ke puntung-puntung rokok yang tak habis-habis kauisap itu. ." Kalau begitu pulanglah ke matamu sendiri. Kalaupun masih hidup.html "Pulang? Ke mana harus pulang kalau utang masih segudang?" Pulang ke rumah ibumu. ke kopi terakhirmu.com/abclit. ia akan mencekikku karena pulang tak membawa keranjang penuh gobang. http://www. Sayang. "Ke gua gelap itu?" Ya. ke sungai keruh itu? "Ke harapan yang menghilang pelan-pelan?" Ya.processtext.Generated by ABC Amber LIT Converter. "Ibu? Ibuku telah mati. Sayang.

" Setelah itu Tuhan akan memejamkan matamu.processtext.html "Setelah itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. http://www. Rahma Begitulah cara Waktu menyembunyikan kilau mata yang bisa membakar masjid-masjid di Kuala Lumpur sekadar menjadi abu sekadar menjadi ngilu. Karena itu. ia menyelimuti tubuhmu dengan dedahan asam di Rimbun Dahan. Ia biarkan kau mengguratkan kata-kata getir di hening anyelir. "Kalau begitu aku tak mau pulang. Ia biarkan kau menari di taman penuh Sedap Malam. Menguburmu dalam haribaan ibumu yang senantiasa memaknaimu sebagai nabi sejati. "Aku tak mengerti mengapa mereka begitu membenci tubuh perempuan? Aku tak mengerti mengapa .. Rahma.." Begitulah Cara Waktu Mengaduh." Kau tak takut pada cambuk itu? "Aku tak takut pada maut itu. Aku tak takut pada kabut yang menghalang pandanganku pada hidup yang carut-marut itu.com/abclit. menguburmu dengan bunga mimpi.

com/abclit.html para perempuan hanya disembunyikan di almari atau dipingit di dapur atau halaman belakang? Mengapa keindahan harus disembunyikan?" katamu sambil mengajakku memahami bahasa hujan dan menyingkirkan cambukan petir dari rambut yang kian menguban. Rahma. Padri Minohek itu. menyelam di hijau danau sambil mendesiskan gumam-gumam paling urakan. "Tidak di keriuhan?" Ya. "Apakah aku harus cuma meniti sepi mencari bayang-bayang matahari yang tak mati-mati?" Tentu tidak. Tidak di jalan-jalan. http://www. Rahma. kota ini memang sialan. Tidak di benak orang-orang yang menganggap seribu masjid bisa menerbangkan jiwamu ke surga idaman.Generated by ABC Amber LIT Converter. telentang sambil membentangkan sepasang tangan dalam kegaiban hujan. Rahma. Kau tentu bisa telanjang di tengah hutan.processtext. Rahma. dan mendesahkan doa-doa paling kasmaran. Tentu keindahan tak harus disembunyikan. "Apakah aku harus ngelindur di ranjang setan?" Tentu tidak. Rahma. "Jadi mengapa aku tak pergi saja dari kota munafik ini?" Kau tak akan pernah bisa pergi karena kau tak . "Aku harus menari di dasar kolam?" Tentu tidak. Kau tahu bukan Romo Sindu." Ya. Ia bukan langit yang menumpahkan hujan cintamu yang penuh salju dan hutan gaib itu. Kau tentu bisa menjelma ikan. lebih ingin menatapmu menarikan berahi malam di pucuk gunung. tak suka melihatmu tidur sambil menenggak anggur. Kau tahu bukan Harry Roesli telah pergi dan kita hanya menangkap jejak tanpa bunyi. Ia bukan cermin yang memantulkan tarian belantaramu yang penuh siul murai. Pangeran Kelelawar itu. Kau tahu bukan Redana. Tidak di benak orang-orang yang menganggap tak ada surga bagi perempuan yang suka menari dan mendendangkan segala tembang di jalan-jalan. "Kalau begitu kota ini sungguh sialan. Tapi tidak di jalan-jalan penuh kosmetik.

Rahma." Dor! "Namaku Guspar Hasan. Aku hanya. aku tahu. 37 tahun. aku hanya ingin mereguk gelegak cinta pada ilusi kendi.. Ia menangis dalam gerimis. http://www. Kunti.. Tetapi mereka hendak dijagal juga. Rahma. Kunti. Kau telah menyerupai Waktu yang melampau di batu-batu. aku hanya ingin menegakkan sepasang kaki. Kunti. Kami polisi!" mereka menyalak seperti Rahwana. Tetapi. Ia ngelindur di Kuala Lumpur yang abai pada tubuhmu yang berlumur anggur. Bukan di Kurusetra.html pernah pulang. aku hanya ingin tidur dan menjaring mimpi. "Jangan lari. mereka melenguh seperti kerbau api. aku hanya ingin bersembunyi setelah tak bisa kembali ke rumah sendiri." Dor! .. Rahma. ke ujung mati. Kau tak akan akan peduli amuk waktu atau apa pun yang hendak memelukmu di senja yang getir itu.Generated by ABC Amber LIT Converter. 23 tahun.com/abclit. Kau akan terus menari dan mengguratkan api ke ujung api. Aku hanya. "Namaku Petro Sale.. Bukan di Kurusetra Bukan di Kurusetra.processtext. Maka begitulah cara Waktu mengaduh. Kau telah menyerupai batu yang melesat ke bianglala esok yang kabur dan berdebu. Tetapi mereka hendak dibunuh juga. Bukan di padang pembantaian. Kunti.

"Halo..Generated by ABC Amber LIT Converter. ular. kami polisi dan kalian cuma maling yang tak tahu diri. tikus. http://www. Tak ada obat. . buaya." Dor! "Namaku Remi Guis.. ya Kasturi. "Aku mencintai Hang Tuah. dan keheningan setelah Selangor memolek diri dalam ilusi. Aku. Aku tinggalkan bedeng karena takut pada razia yang mengerikan. kuldi. musang. 25 tahun. Soekarno. Lalu kaulepaskan angsa." katamu sambil menawariku mencecap kopi dan kue cina serupa roti komuni.. aku hanya membawa tikar menuju belukar. Tak ada kiblat untuk cari selamat dan harga diri. Kunti.processtext." Danau Gaduh Hijjaz Kasturi Telah kauciptakan hutan dan danau gaduh untuk Angela." Dor! Lalu kau pun tahu. hospital menolak menyembuhkan luka dan sakit hati. dan kisah sepasang nabi yang tak henti-henti mempercakapkan mimpi..html "Namaku Markus Taji.com/abclit. dan pagi yang selalu meneriakkan revolusi. Aku hanya.

dan kita akan kesepian. http://www. revolusi telah patah. kalau dia menangis. "kita cuma eng-krok." "Ah. kita adalah budak yang tak punya malu. Kita kesepian karena kita cuma hidup seperti kodok. kenapa harus bersedih?" Hijazz bertanya. Sayang. Soekarno kehilangan tuah.com/abclit. kau keliru. Sebab di hadapan Sang Waktu. dan kita belum menemukan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Angela. dia tampak bahagia karena memang tak punya kesempatan untuk menangis." tiba-tiba Angela menyela. kita memang bahagia." "Ya.processtext. danau akan gaduh. kita juga tak punya korek api dan Angela tetap saja mengaku bahagia. eng-krok. kita memang kodok. Ya. . "Aku tak pernah menyakiti apa pun yang kauandaikan sebagai budak. "Jadi. burung-burung terbang ke langit entah.html "Dan aku sedang tersesat di rumahmu yang indah sambil sesekali mencari pekerja-pekerja Indonesia yang tersakiti. krok. krok. krok. Melompat dari waktu batu ke waktu yang terpeleset ke liang luka kau dan lukaku." kataku sambil membaca wajah pengantin Australiamu yang gaib dan sarat tanda itu. Oke." "Aha! Aku suka metaforamu." kataku mengolok-olok.Generated by ABC Amber LIT Converter.’’ "Kita kesepian karena kita tak hadir di taman ini sebagai sepasang nabi atas sepasang ikan tanpa sirip. dan selalu mereguk tuah cinta dari gelas kencana. tua. Hijazz.

com/abclit. suami-istri yang kian merenta itu. Bukan kisah maya sepasang nabi yang diciptakan secara serampangan dan tergesa-gesa. Mereka sungguh seperti sepasang ikan yang mahir menceritakan kisah sepasang nabi yang tak pernah diasingkan dari surga. Apakah kau ingin mendesiskan juga desah-desah sampah sebelum kapal-kapal itu saling membakar diri. aku pun tersihir menatap Hijazz-Angela. liurmu lebih ingin kurampok ketimbang kugenggam lautmu di sela-sela jemari yang bocor. semua ternyata hanya lumpur. Aku sedih karena aku cuma musafir kikir yang kehilangan rasa getir. 2005 .html "Aku sedih karena tak punya taman dan sepasang nabi bersayap cinta. Cintaku. http://www. Karena itu. Mungkin mereka memang malaikat yang menjelma sebagai sepasang kekasih yang tak pernah bersedih meski gerimis kian mendera. "Lihat Hijazz. itu aku dan engkau. Apakah kau ingin kita juga bercinta dengan liar di mercusuar itu? Gusti." Aneh. Hikayat Ambalat Kita masih bercinta di hotel penuh vampir ketika kapal-kapal di Karang Unarang saling menggertak dan melepaskan amarah agung. Lumpur-Mu. Kuala Lumpur-Selangor. bagaimana mungkin aku bisa bahagia?’’ Lalu bayangan menyerupai sepasang nabi mendadak menggaduhkan danau dengan mengepakkan sirip yang menyala.processtext. Jadi. Ciuman memang bikin mata kehilangan mata. mataku yang lamur tak bisa menceritakan kisah sedih yang membius-Mu itu. Dan Kau tahu.Generated by ABC Amber LIT Converter. Kekasihku.

Generated by ABC Amber LIT Converter.processtext.com/abclit. http://www.html .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->