METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF Oleh; Drs. Sumani, M.M., M.Hum.

Sebelum dilakukan pembahasan tentang metodologi penelitian kuantitatif lebih lanjut, berikut ini akan dikemukakan terlebih tentang keterkaitan antara ilmu pengetahuan dengan metodologi penelitian. A. Ilmu Pengetahuan dan Metodologi Penelitian Ilmu (ilmu pengetahuan) atau Science menurut Moh Nasir (1999:9) adalah pengetahuan tentang fakta-fakta baik natural maupun sosial yang berlaku umum dan sistematik. Ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. 1. Ilmu dan Proses Berpikir Ilmu lahir karena manusia dibekali oleh Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya, dari pertanyaanpertanyaan: Apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi, kemudian timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematik yang pada akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bulan mengelilingi bumi dan bumi mengeleilingi matahari. Kesimpulan ini terkadang masih dipertanyakan lagi seiring dengan semakin berkembangnya tingkat rasa ingin tahu manusia serta semakin berkembangnya ilmu itu sendiri. Konsep antara ilmu dan berfikir adalah sama. Dalam memecahkan masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentative melalui penyelidikan.
Modul 1 Tahun 2007 Drs. Sumani, M.M., M.Hum. Metodologi Penelitian Kuantitaif Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FPBS IKIP PGRI Madiun 1

2

Di dalam berpikir secara nalar, terdapat dua unsur penting yaitu unsur logis (berpikir secara logika) dan unsur analitis (berpikir ilmiah; deduktif dan induktif). 2. Definisi Penelitian Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris research yang berasal dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Jadi arti research yang sebenarnya adalah mencari kembali. Definisi lain dari penelitian menurut Moh. Nasir (1999: 13) adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan terus-menerus untuk memecahkan suatu masalah. Sementara itu, Kerlinger (1986) menjelaskan bahwa research adalah investigasi terhadap fenomena empirik yang dilakukan secara sistematis, terkendali, dan kritis berdasarkan teori dan hipotesis yang menunjukkan adanya hubungan antar fenomena. Dari definisi tersebut di atas, terdapat tiga hal penting untuk memahami pengertian dari riset yaitu: a. Riset merupakan proses yang berbasis masalah dengan objek suatu fenomena empiris. b. Proses riset dilakukan secara sistematis, terorganisasi, terkendali dan kritis. c. Tujuan riset menyajikan informasi untuk menjawab suatu masalah yang spesifik. 3. Ilmu, Penelitian dan Kebenaran Ilmu dan penelitian sebagaimana definisi di atas, menurut Whitney (1960) keduanya adalah sama-sama merupakan proses. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran (the truth). Berpikir sebagaimana halnya dengan ilmu, juga merupakan proses untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran

3

yang diperoleh melalui proses ilmiah, maka kebenarannya disebut dengan kebenaran ilmiah. Pada umumnya kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh tiga hal yaitu: a. Adanya koheren: konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. (Si Fulan akan mati = benar. Alasannya semua orang pasti mati). b. Adanya koresponden: Suatu pernyataan dianggap benar jika yang terkandung di dalam pernyataan tersebut pengetahuan

berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. (Ibu kota RI adalah Jakarta = benar. Karena sesuai dengan faktanya). c. Pragmatis: Pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat fungsional di dalam kehidupam praktis. (contoh: agama). Selain itu, ada kebanaran yang diperoleh melalui proses non ilmiah sehingga yang dihasilkannya adalah kebenaran non ilmiah seperti penemuan kebenaran secara kebetulan; secara common sense (akal sehat); melalui wahyu; secara intuitif; secara trial and error; melaui spekulasi; dan karena otoritas atau kewibawaan. B. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemology. Kualitas kebenaran yang diperoleh di dalam berilmu pengetahuan, terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Dengan prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik; dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori

4

yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran epistemologik dalam upaya menjangkau kebenaran absolut. Kebenaran absolut tersebut bagi pandangan religius adalah milik Allah; bagi pandangan sekuler adalah kebenaran obyektif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Kebenaran ilmiah dibangun dari sejumlah banyak kenyataan atau fakta. Kenyataan atau fakta dalam telaah filosofik menurut Noeng Muhajir (2000: 5) dapat dibedakan menjadi empat yaitu kenyataan empirik sensual, kenyataan empirik logik, kenyataan empirik etik, dan kenyataan empirik transenden. Selain sebagaimana dikemukakan di atas, metode penelitian juga nerupakan ilmu yang mempelajari tentang metode-metode penelitian serta ilmu tentang alat-alat di dalam penelitian. Di lingkungan filsafat terdapat juga logika yang dikena sebagai ilmu tentang alat untuk mencari kebenaran. Bila ditata di dalam sistematika, metodologi penelitian merupakan bagian dari logika. C. Metodologi Penelitian Kuantitatif Mengawali pembahasan mengenai metodologi penelitian,kuantitatif perlu disampaikan beberapa istilah yang berhubungan dengan penelitian yang maknanya sering kali dikacaukan dengan istilah metodologi. Istilah-istilah tersebut antara lain adalah prosedur, teknik, dan metode. Menurut Moh. Nasir (1999: 51), Prosedur penelitian memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang harus dilakukan di dalam suatu penelitian. Teknik penelitian menyatakan alat-alat pengukuran apa yang diperlukan di dalam melakukan suatu kegiatan penelitian, sedangkan metode penelitian memandu si peneliti tentang urut-urutan tentang cara penelitian tersebut dilakukan. Dengan memahami perbedaan pengertian dari ketiga istilah tersebut, maka akan isa dipahami pula tentang metodologi penelitian.

5

Metodologi penelitian, menurut Noeng muhajir (2000: 3), berkenaan dengan pembahasan tentang konsep-konsep teoretik berbagai metode, kelebihan dan kelemahannya, yang di dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Jadi secara garis besar metodologi dapat dibedakan dengan metode. Metodologi lebih menekankan kepada aspek teoretik, sedangkan metode lebih menekankan kepada aspek yang bersifat teknis. Metotodologi Penelitian kuantitatif dengan teknik statistiknya diakui mendominasi analisis penelitian sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan semakin canggihnya teknologi komputer, berkembang teknik-teknik analisis statistik yang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. Metodologi penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi daripada metodologi penelitian kuantitatif. Lebih-lebih bila diperhatikan pula pada sejumlah kenyataan bahwa ada sementara calon ilmuwan yang menggunakan metodologi kualitatif dengan alasan dan bukti ketidakmampuannya di dalam menggunakan teknik-teknik analisis statistik. Pada segi lain, karena bergengsinya metodologi penelitian kuantitatif dengan teknik-teknik statistiknya, banyak ilmuwan ataupun pakar ilmu yang tenggelam ke dalam teknik-teknik analisis yang canggih, sehingga melupakan kelemahan disamping keunggulan filsafat dan teori metodologi penelitian yang melandasinya. Secara garis besar, dapat dijelaskan bahwa metodologi penelitian kuantitatif mulai dengan menetapkan obyek studi yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya sehingga menjadi ekplisist atau jelas obyek studinya. Sesudah itu, baru disusun kerangka teori sesuai dengan obyek studi spesifiknya. Dari situ, dapat dimunculkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumen pengumpulan data, teknik sampling serta teknik analisisnya. Selain itu juga dapat ditentukan rancangan metodologi lainnya seperti penetapan batas signifikansi, teknik-teknik penyesuaian jika ada kekurangan atau kekeliruan di dalam hal data, adminstrasi, analisis, dan semacamnya. Dengan kata lain, semua dirancang dan direncanakan secara

6

matang sebelum peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan kegiatan penelitiannya. Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen sungguhan dan eksperimen semu (kuasi), subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey, dan ex post facto. Untuk memperjelas pemahaman tentang penelitian non experiment, maka berikut ini akan diuraikan dua rancangan non experiment yaitu rancangan deskriptif dan ex post facto untuk diperbandingkan dengan rancangan experimen. 1. Metode Deskriptif a. Pengertian Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Whitney (1960) berpendapat bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta prosesproses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan

7

memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study). Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. b. Tujuan Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. c. Ciri-ciri Metode Deskriptif 1) Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah) 2) Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental. 3) Secara umum dinamakan metode survei. 4) Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomenafenomena, tetapi juga: a) menerangkan hubungan, b) menguji hipotesis-hipotesis c) membuat prediksi, mendapatkan makna, dan d) implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan e) Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan menggunakan schedule qestionair/interview guide.

8

d. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu: 1) Metode survei, 2) Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive), 3) Penelitian studi kasus 4) Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas, 5) Penelitian tindakan (action research), 6) Peneltian perpustakaan dan dokumenter. e. Kriteria Pokok Metode Deskriptif Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai berikut: 1) kriteria umum a) Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas. b) Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum c) Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini. d) Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas. e) Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan. f) Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis

9

harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan. 2) Kriteria Khusus a) Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value). b) Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status c) Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya. f. Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkahlangkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut: 1) Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada. 2) Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah. 3) Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. 4) Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit. 5) Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian. 6) Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.

10

7) Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan. 8) Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan 9) Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian kerangka diturunkan analisis dapat dalam bentuk hipotesis-hipotesis bentuk-bentuk untuk model diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka dijabarkan dalam matematika. 2. Causal Comparative/Ex Post Facto a. Pengertian Ex Post Facto Penelitian dengan rancangan ex post facto sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut. Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi karena perkembangan suatu kejadian secara alami. Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang variabelvariabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin rekomendasirekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.

11

melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu. b. Perbandingan Antara Ex Post Facto dengan Eksperimen Dalam beberapa hal, penelitian ex post facto dapat dianggap sebagai kebalikan dari penelitian eksperimen. Sebagai pengganti dari pengambilan dua kelompok yang sama kemudian diberi perlakuan yang berbeda. Studi ex post facto dimulai dengan dua kelompok yang berbeda kemudian menetapkan sebab-sebab dari perbedaan tersebut. Studi ex post facto dimulai dengan melukiskan keadaan sekarang, yang dianggap sebagai akibat dari faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian mencoba menyelidiki ke belakang guna menetapkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya. Penelitian ex post facto memiliki persamaan dengan penelitian eksperimen. Logika dasar pendekatan dalam ex post facto sama dengan penelitian eksperimen, yaitu adanya variabel x dan y. Kedua metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama pada kondisi dan situasi tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk mencari atau menetapkan hubungan yang ada di antara variabelvariabel dalam data penelitian. Dengan demikian, banyak jenis informasi yang diberikan oleh eksperimen dapat juga diperoleh melalui analisis ex post facto. Dalam penelitian eksperimen, pengaruh variabel luar dikendalikan dengan kondisi eksperimental. Variabel bebas yang dianggap sebagai penyebab dimanipulasi secara langsung untuk meminimalkan pengaruh terhadap variabel terikat. Melalui eksperimen, peneliti dapat memperoleh bukti tentang hubungan kausal atau hubungan fungsional di antara variabel yang jauh lebih menyakinkan daripada yang dapat diperoleh menggunakan studi ex post facto.

12

Peneliti dalam penelitian ex post facto tidak dapat melakukan manipulasi atau pengacakan terhadap variabel-variabel bebasnya. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam variabel-variabelnya sudah terjadi. Peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab dari akibat yang diamati tersebut. Furchan (383:2001) menyatakan bahwa dengan tidak adanya kemungkinan peneliti untuk melakukan manipulasi atau pengacakan. Contoh perbedaan antara penelitian ex post facto dengan eksperimen adalah sebagai berikut. Sebuah penelitian berjudul Pengaruh Kecemasan Siswa pada Waktu Mengerjakan Ujian Terhadap Hasil Ujian Mereka dapat didekati dengan dua metode, yaitu eksperimen dan eks post facto. 1) Pendekatan Eksperimen Dalam judul di atas terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam judul di atas adalah kecemasan siswa dan ujian nasional. Variabel terikatnya adalah hasil ujian. Ciri dari penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi terhadap variabel bebas. Dari kondisi di atas, variabel bebas dapat dimanipulasi menjadi cemas dan tidak cemas. Konkritnya, sebuah kelas terdiri dari kelas A dan B. Masing-masing kelas dimanipulasi kondisinya menjadi kelas A menjadi kelas yang cemas, sementara kelas B menjadi kelas yang netral (pengendali). Pengkondisian kelas dapat dilakukan dengan memberikan sugesti kepada kelas A bahwa ujian yang diberikan akan berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Artinya, siswa yang memiliki nilai yang rendah bisa dimungkinkan tidak naik kelas. Sementara kelas B dikondisikan netral. Dengan pengertian bahwa ujian di kelas B hanyalah untuk mengukur kemampuan

13

pemahaman terhadap suatu kompetensi tanpa adanya pengaruh dari hasil dengan kenaikan kelas. Setelah kelas sudah terkondisikan, maka diberikan soal dengan tingkat kuantitas dan kualitas kesulitan yang sama. Pada waktu yang bersamaan, lembar jawaban dikumpulkan bersama dan dilakukan pengoreksian terhadap hasil jawab dari kelas A dan B. Apabila terjadi perbedaan nilai, semisal, nilai kelas A lebih tinggi daripada kelas B, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kecemasan ternyata mampu meningkatkan nilai ujian. Anggapan lain, bahwa dengan adanya kecemasan membuat siswa semakin berpacu untuk mendapatkan yang terbaik. 2) Pendekatan Ex Post Facto Hal penting dalam pendekatan ex post facto adalah tidak adanya manipulasi terhadap variabel. Dalam kasus di atas, dapat didekati dengan ex post facto dengan melihat situasi kelas A dan B yang sebelumnya tidak diadakan manipulasi. Artinya, kelas tersebut berjalan secara alami. Misalnya, hasil ujian kelas A dan B menunjukkan perbedaan dari satu siswa ke siswa lainnya. Dari hasil tersebut, dilakukan klasifikasi antara siswa yang memiliki nilai tinggi dengan siswa yang memiliki nilai rendah. Kemudian dihubungkan antara kecemasan dengan hasil nilai. Misalnya ditemukan kesimpulan bahwa nilai di atas rata-rata dikerjakan oleh siswa yang memiliki kecemasan. Oleh karena itu, pengaruh kecemasan siswa memang berpengaruh terhadap hasil ujian, yaitu menjadi lebih baik. Penelitian dengan menggunakan pendekatan ini tentu saja memiliki kekurangan. Dari kasus di atas dapat terlihat satu celah kelemahan bahwa bisa jadi adanya faktor ketiga selain kecemasan yang membuat nilai ujian meningkat. Hal ini dimungkinkan adanya faktor ketiga, yaitu kecerdasan. Selain kecemasan, bisa

14

dimungkinkan bahwa kecemasan adalah situasi lain, sedangkan kecerdasan menjadi penunjang utama. c. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Ex Post Facto 1) Keungggulan Metode ini baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang lebih kuat, yaitu metode eksperimental, tak dapat digunakan. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung. Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistik dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh. Apabila control di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan atau dipertanyakan. Studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan itu. Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan. 2) Kelemahan Pendekatan Ex Post Facto Pendekatan ex post facto memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut. a) Tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas. Oleh karena tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas, maka sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang

15

relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktorfaktor yang sedang diselidiki. b) Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks. c) Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain. d) Apabila saling hubungan antar dua variabel telah diketemukan, mungkin sukar untuk menentukan mana yang sebab dan mana yang akibat. e) Kenyataan bahwa dua, atau lebih, faktor saling berhubungan tidaklah mesti memberi implikasi adanya hubungan sebab akibat. f) Menggolongkan-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak mantap. g) Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subyek secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal kecuali dalam hal dihadapkannya kepada variabel bebas adalah sangat sukar.

16

D. Melakukan Penelitian Kuantitatif 1. Persyaratan Penelitian a. Sistematis Dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien. b. Berencana penelitian, sudah dipikirkan langkah-langkah Dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelum dilakukan c. pelaksanaanya. Mengikuti Konsep Ilmiah Mulai dari awal sampai dengan akhir kegiatan, penelitian dilakukan dengan mengikuti cara-cara atau langkah-langkah yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan (taraf berpikir ilmiah oleh John Dewey di dalam reflective thinking) yang antara lain meliputi: 1) The Felt Need Penelitian dilakukan karena diawali oleh adanya kebutuhan atau tantangan untuk menyelesaikan suatu masalah. 2) The Problem Merumuskan masalah agar suatu masalah penelitian menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masakah tersebut. 3) The Hypothesis Menetapkan hipotesis sebagai titik tolak mengadakan kegiatan pemecahan masalah. 4) 5) Collection of Data as Evidence Concluding Belief Mengumpulkan data untuk menguji hipotesis. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan kepada hipotesis yang sudah dirumuskan.

17

6)

General Value of The Conclusion

Menentukan kemungkinan untuk mengadakan generalisasi dari kesimpulan tersebut dan implikasinya di masa yang akan datang (Sutrisno Hadi di dalam Suharsimi Arikunto, 1998: 15). 2. Prosedur Penelitian kuantitatif Langkah-langkah a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. penelitian kuantitatif menurut Suharsimi Arikunto (1998: 17) adalah sebagai berikut: Memilih Masalah Melakukan Studi Pendahuluan Merumuskan Masalah Penelitian Merumuskan Anggapan Dasar dan Hipotesis Memilih Pendekatan Menentukan Variabel dan Sumber Data Menentukan dan Menyusun Instrumen Mengumpulkan Data Menganalisis Data Pelaksanaan Menarik Kesimpulan Menulis Laporan Pembuatan Laporan Langkah-langkah penelitian kuantitatif tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut: a. Memilih Masalah Masalah timbul karena adanya tantangan, kesangsian atau kebingungan terhadap suatu hal atau fenomena, kemenduaan arti (ambiguity), halangan dan rintangan, celah (gap) baik antarkegiatan Rancangan

18

atau antarfenomena baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Masalah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) a) b) c) d) e) 2) a) tersedia. b) c) d) Cukup waktu, tenaga dan biaya untuk memecahkan masalah tersebut. Ada dukungan dari pihak-pihak terkait. Masalah tidak bertentangan dengan hukum, Mempunyai Nilai Penelitian Masalah mempunyai nilai penelitian apabila: mempunyai sifat keaslian. menyatakan suatu hubungan. merupakan hal yang penting. dapat diuji. dinyatakan di dalam bentuk pertanyaan. Mempunyai Fisibilitas (Dapat Dilaksanakan) Persyaratan ini akan terpenuhi apabila: Data serta metode untuk memecahkan masalah

moral dan etika. 3) Sesuai Dengan Kualifikasi Si Peneliti Masalah yang baik adalah yang menarik bagi peneliti dan sesuai dengan kualifikasi dari si peneliti itu sendiri. 4) Hasil Penelitian Bermanfaat Ciri ini sekaligus merupakan syarat terpenting bagi suatu kegiatan penelitian karena penelitian yang baik pada dasarnya dilakukan dalam rangka untuk menyumbangkan hasil penelitian tersebut kemajuan ilmu pengetahuan, meningkatkan efektifitas kerja, atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada.

19

Masalah-masalah penelitian dapat diperoleh dari sumber masalah sebagai berikut: 1) Pengalaman pribadi peneliti di dalam kehidupan sehari-hari. 2) Pengamatan pribadi terhadap lingkungan sekitar. 3) Bacaan-bacaan, baik yang ilmiah maupun yang non ilmiah.

20

b. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dimaksudkan untuk menjajagi kemungkinan bisa tidaknya kegiatan penelitian diteruskan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya. 1) Manfaat Studi Pendahuluan Manfaat dari studi pendahuluan antara lain terkait dengan informasi yang di dapat oleh peneliti mengenai: a) apa yang akan diteliti. b) Di mana dan kepada siapa informasi dapat diperoleh. c) Bagaimana cara memperoleh data/informasi. d) Teknik apa yang akan dugunakan untuk menganalisis data. e) Bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil penelitian. 2) Cara Mengadakan Studi Pendahuluan Studi pendahuluan dapat dilakukan pada 3 obyek yang biasa di kenal dengan istila 3 p (paper, person, place). c. Merumuskan Masalah Penelitian Agar penelitian dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka peneliti perlu untuk merumuskan masalahnya sehingga menjadi jelas dari mana harus memulai, ke mana harus diarahkan dan dengan apa bisa dijalankan. Umumnya masalah penelitian dirumuskan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1) dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 2) Rumusan jelas dan padat. 3) mencerminkan ciri penelitian yang dilakukan. Selain ketentuan di atas, masih terdapat beberapa ketentuan yang diantaranya adalah rumusan masalah harus merupakan dasar bagi perumusan judul, perumusan tujuan, dan pembuatan hipotesis. Sebagai contohnya:

21

Judul

:

Studi Korelasi antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun Tahun Ajaran 2008-2009 Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun tahun ajaran 2008-2009? Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun tahun ajaran 2008-2009

Masalah:

Tujuan :

Untuk mengetahui apakah judul tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai judul penelitian yang baik, maka bisa dilihat dari unsur-unsur yang terdapat di dalam judul penelitian tersebut yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Sifat atau jenis penelitian 2) Obyek yang akan diteliti 3) Subyek Penelitian 4) Lokasi Penelitian 5) Waktu Penelitian

: Penelitian Korelasi : Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Bahasa Inggris : Siswa SMU 3 Madiun : Sekolah SMU 3 Madiun : Tahun Ajaran 2004-2005

d. Merumuskan Aggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian 1) Anggapan Dasar Anggapan dasar atau postulat menurut Winarno Surakhmad di dalam Suharsimi Arikunto (1998: 60) adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Setiap peneliti dapat merumuskan postulat sendiri-sendiri yang bersifat sangat subyektif. Seorang peneliti mungkin masih meragukan suatu anggapan dasar yang oleh peneliti lain sudah diterima sebagai

22

suatu kebenaran. Dari contoh Judul penelitian di atas anggapan dasar penelitian antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut: a) Siswa SMUN 3 Madiun mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris. b) Motivasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi. c) Prestasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi. 2) Hipotesis Penelitian a) Pengertian Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara yang masih perlu dibuktikan kebenarannya di lapangan. Berasal dari kata hipo = lemah dan thesis = kebenaran. Hipotesis diturunkan dari kajian teoretik yang dijembatani penyusunannya oleh kerangka berpikir. b) Macam Hipotesis Hipotesis dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu hipotesis nol (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan ketiadaan, dan hipotesis alternatif (Ha/H1) yang menyatakan keberadaan. Dari contoh judul penelitian di atas, hipotesis penelitiannya dapat dirumuskan sebagai berikut: a) Hipotesis Nol (Ho): Tidak ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005. b) Hipotesis Alternatif (Ha/H1): Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005

23

Contoh lain dari perumusan hipotesis penelitian adalah: Contoh Ho = “Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak mengikuti les” Contoh H1 = “Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak mengikuti les” Berkenaan dengan perumusan hipotesis tersebut terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam merumuskan hipotesis yaitu: a) Hipotesis diperlukan pada penelitian yang bersifat inferensial pertautan antara dua variabel atau lebih. b) Susunan hipotesis hendaknya menggunakan kalimat deklaratif, pertautan c) Penelitian antara yang 2 variabel, jelas dan padat, dua serta memungkinkan untuk diuji. mengkaji pertautan variabel, membutuhkan satu hipotesis (“Ada ….. antara variabel A dengan variabel B”). Penelitian yang mengkaji pertautan tiga variabel, membutuhkan tiga hipotesis = (1) “Ada ….. antara variabel A-1 dengan variabel B”, (2) “Ada ….. antara variabel A-2 dengan variabel B”, (3) “Ada interaksi antara A-1 dan A-2 dalam memberikan pengaruh kepada B” d) Penelitian deskriptif-kualitatif-eksploratif biasanya tidak cukup memerlukan hipotesis karena jenis penelitian ini cenderung bersifat menggali satu variabel saja. Peneliti angka maupun uraian kalimat. melaporkan secara deskriptif hasil galian itu baik dalam angkaContoh = “studi tentang kemampuan menulis karangan argumentasi siswa SD Bringin kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2002-2003”. Ingat dalam mata kuliah statistik disebutkan “statistik deskriptif hanya bertugas mengumpulkan-menata-menginterpretasi data, tidak

24

sampai pada penyimpulan”. Penyimpulan hanya terjadi pada statistik inferensial. e. Memilih Pendekatan (Metode dan Rancangan Penelitian) Menurut Moh Nasir (1999: 55-98), secara umum, terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk penelitian yang antara antara lain: 1) Metode survei = metode untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya. 2) Metode komparasional = metode penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. 3) Metode eksperimen = metode observasi di bawah kondisi buatan (artificial condition) di mana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti. 4) Metode sejarah = metode penelitian yang menyelidiki secara kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pemahaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari mana sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut. 5) Metode deskriptif = metode pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat, serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatankegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 6) Metode studi kasus = metode penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas

25

dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat.

dapat saja

7) Metode analisis isi / content analysis = metode yang biasa dipakai dalam analisis karya tulis seperti karya sastra dan lain-lain. Metode ini dapat dipadukan dengan metode kualitatif, desktiptif, dan teori kritik / apresiasi sastra, dan masih ada metode-metode yang lainnya. Sementara itu, metode penelitian kuantitatif juga memiliki cakupan yang sangat luas. Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen sungguhan dan kuasi (semu), subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey, dan ex post facto. Rancangan penelitian kuantitatif dapat didesain sesuai dengan pola hubungan antar variabel. Untuk itu, rancangan penelitian dapat berupa = penelitian eksperimental, deskriptif, korelasional, dan lain sebagainya. Pada intinya rancangan penelitian dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu = studi tentang hubungan dan studi tentang perbedaan. Pola dari dua kelompok itu digambar dalam diagram sebagai berikut: 1) Hubungan: X-1 (Interaksi antara X-1 dan X-2 terhadap Y)

Y

X-2

Diagram 1

26

(diagram di atas merupakan desain

koresional  pertautan 3

variabel = 2 variabel bebas yaitu X-1 dan X-2, dan 1 variabel terikat yaitu Y  membutuhkan tiga hipotesis) X Y Diagram 2 (Catatan: diagram di atas merupakan desain terikat yaitu Y  membutuhkan satu hipotesis) 2) Perbedaan: FAKTOR B B1 B2 Y Y Y Y Diagram 3 (diagram di atas merupakan desain factorial 2 X 2  2 faktor  pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas, yaitu A dan B, serta 1 variabel terikat yaitu Y  membutuhkan 3 hipotesis) FAKTOR A A-1 A-2 Y Y koresional  pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu X, dan 1 variabel

FAKTOR A

A1 A2

A-3 Y

A-4 Y Diagram 4

(diagram di atas merupakan desain 1 faktor  pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu A yang terdiri dari 4 jenis perlakuan, dan 1 variabel terikat yaitu Y  membutuhkan 1 hopotesis)

27

28

f. Menentukan Variabel dan Sumber Data 1) Variabel Penelitian a) Variabel adalah fenomena yang merupakan objek penelitian, yaitu konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, yaitu sumber dari mana data diambil. Contoh = jenis kelamin (punya nilai laki-laki dan perempuan), berat badan (punya nilai ringan, sedang, berat) b) Macam Variabel: (1) Variabel kontinu, yaitu variabel yang dapat ditentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan desimal yang tidak terbatas. Contoh = berat (75,09 kg., 76,14 kg., 80,00 kg.) (2) Variabel descrete atau variabel kategori yaitu variabel yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal di belakang koma, variabel ini bersifat dikotomis (dua kategori). Contoh = Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), status perkawinan (kawin dan belum kawin). Variabel yang nilainya lebih dari dua disebut variabel politom. Contoh = tingkat pendidikan (SD, SLTP, SLTA) (3) Variabel independent (bebas) = variabel anteseden, yaitu variabel yang secara bebas dapat dimanipulasi oleh peneliti (dalam penelitian eksperimen), secara bebas diambil oleh peneliti variabel (sebagai terikat in put) (dalam dan dapat mempengaruhi penelitian

eksperimen atau ex post facto). Variabel dependent (terikat) = variabel konsekuen, yaitu variabel yang kondisinya merupakan akibat (out put) dari variabel bebas, bergantung pada perilaku variabel bebas. (4) Variabel moderator, yaitu variabel yang berpengaruh terhadap variabel dependent tetapi tidak utama.

29

(5)

Variabel random, yaitu variabel lain kecuali

moderator yang dapat berpengaruh terhadap variabel dependent. (6) (7) Variabel aktif, yaitu variabel yang dimanipulasikan Variabel atribut, yaitu variabel yang tidak dapat oleh peneliti (yang aktif mempengaruhi variabel terikat). dimanipulasikan oleh peneliti karena karakternya melekat pada objek / manusia. Contoh = intelegensi, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dll. c) Pengukuran Variabel Penelitian (1) Pengukuran merupakan kegiatan penetapan atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu. (2) Macam-macam ukuran:  Ukuran nominal = adalah ukuran di mana angka hanya sebagai label saja, tidak menunjukkan tingkatan apaapa. Contoh = 1 (pria); 2 (wanita); 0 (banci)  Ukuran ordinal = absolut. Ukuran adalah ukuran di mana angka ini hanya digunakan untuk menyatakan tingkatan, tetapi tidak memberikan nilai mengurutkan / merangking objek dari rendah ke tinggi. Skala rangking bukanlah skala yang mempunyai interval yang sama. Contoh = 1 (25), 2 (60), 3 (65), 4 (95)  Ukuran interval = adalah ukuran di mana angka menunjukkan suatu tingkatan, tidak memberi nilai absolut. Ukuran ini menyatakan bahwa interval antara angka-angka tersebut sama besarnya / jaraknya. Contoh nilai tes = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

30

Ukuran rasio = adalah ukuran di mana angka menunjukkan suatu tingkatan dan memberi nilai absolut. Ukuran ini mempunyai titik nol. Angka menunjukkan nilai yang sebenarnya dari objek yang diukur. Contoh = jika ada 4 bayi: A, B, C, D mempunyai berat badan 1 kg, 3 kg, 4 kg, 5 kg, maka ukuran rasionya dapat digambarkan bahwa = 0 = 0, 1 = A, 2 = 0, 3 = B, 4 = C, 5 = D Teknik analisis statistik yang digunakan bagi sebuah

penelitian kuantitatif, sangat ditentukan oleh ukuran dari setiap variable penelitian yang digunakan. d) Devinisi operasional variabel adalah devinisi berdasarkan sifat yang diamati sesuai indikator-indikator yang ditentukan oleh peneliti. Contoh = Status sosial ekonomi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat atau kedudukan orang tua siswa dalam bidang ekonomi. Status sosial ekonomi tersebut diungkap dengan indikator-indikator yaitu: jenis/macam pekerjaan, jenjang pendidikan, masa kerja, ruang golongan gaji, jabatan struktural, instansi kerja, besar gaji dan tunjangan tiap bulan, fasilitas hidup. e) Penyusunan devinisi operasional variabel yang berdasarkan pada sifat dan indikator ini dapat (Nana Sujana, 1990:14). f) Devinisi operasional variabel berfungsi untuk mempertajam pemahaman konsep dan ruang lingkup variabel-variabel yang diambil peneliti sendiri, agar menjadi pedoman operasional bagi peneliti pada saat melaksanakan penelitian. 2) Sumber Data disusun dengan logika berpikir kritis, pengetahuan ilmiah dan pengalaman empiris

31

a) Pengertian Data Data adalah keterangan mengenai sesuatu yang berbentuk angka-angka dan mungkin bukan angka-angka (kuantitatif maupun kualitatif) b) Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling (1) Populasi = semua anggota dari kelompok manusia, kejadian, barang, data yang merupakan objek penelitian (2) Sampel = sebagian kecil dari populasi yang harus mewakili / representative. Jumlah sampel dapat ditentukan dengan berbagai kriteria. Donald Ary menyebut 10 – 20 persen atau lebih (lihat Terj. Arief Furchon, 1982:198). Jika jumlah objeknya kecil (kurang dari 30 orang) sebaiknya menggunakan sampel total (sensus), artinya semuanya dijadikan objek penelitian. (3) Macam-macam teknik sampling (teknik penentuan sample):  Random sampling = teknik pengambilan sampel di mana semua anggota populasi mempunyai hak / kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara (1) undian = dengan gulungan kertas, (2) ordinal = setelah ditentukan jumlah sampel 200 orang dari 1000 orang (jadi seper lima-nya), maka kita buat 5 gulungan kertas diberi angka 1, 2, 3, 4, 5. Kita ambil satu gulungan, jika jatuh nomor 3, maka angka pertama dimulai dengan nomor 3, lalu = 8, 13, 18, 23, dan seterusnya. (3) dengan tabel bilangan random, yaitu dengan menjatuhkan ujung pensil.  Sampel berstrata (stratified sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas tingkat-tingkat atau strata. Setelah ditentukan tiap-tiap stratanya (yang mewakili populasi),

32

lalu tiap strata diambil secara random. Contoh = tingkat pendidikan, strata umur, strata kelas, dll.  Sampel wilayah (area sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas area-area atau wilayah-wilayah. Setelah ditentukan tiaptiap wilayahnya (yang mewakili karakter seluruh wilayah), lalu tiap wilayah diambil secara random. Contoh = dari 34 provinsi di Indonesia diambil beberapa propinsi yang mencerminkan keberhasilan KB di Indonesia.  Sampel proporsi (proportional sampling) = teknik ini mirip sampel berstrata atau area dan tiap tiap bagian diambil secara proporsional dalam persen yang telah ditentukan. Setelah ditentukan tiap-tiap wilayahnya atau stratanya (yang mewakili karakter seluruh wilayah atau strata), lalu tiap bagian diambil secara random berdasarkan jumlah proporsi yang ditentukan peneliti. Sehingga sampel ini dapat digabung menjadi = stratifief proporsional random sampling atau area proporsional random sampling.  Sampel bertujuan (purposive sampling) = teknik ini digunakan karena peneliti mempunyai tujuan tertentu atas beberapa pertimbangan peneliti. Pertimbangan itu antara lain misalnya = keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar. Meskipun demikian, peneliti harus mempertimbangkan bahwa = sampel harus mewakili, sampel harus benar-benar diambil dari subjek yang banyak mengandung ciri-ciri yang ada pada populasi (key subject).

33

Sampel kuota (Quota sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti telah menentukan jumlah tertentu yang akan diambil sebagai sampel. Yang penting adalah memenuhi representatif. quota tertentu yang ditetapkan dan

Sampel kelompok (Cluster sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti merasa bahwa populasinya terdiri dari kelompok-kelompok yang setara, misalnya = petani, pegadang, nelayan, ABRI, pegawai, dll. Sampel tetap diambil secara representatif.

g. Menentukan dan Menyusun Instrumen 1) Intrumen penelitian dibuat dengan menyesuaikan teknik pengambilan data yang dipilih. 2) Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian a) Validitas (1) Validitas = menunjuk kepada sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Donald Ary, 1982:281). (2) Ada beberapa jenis validitas = (1) validitas isi = sejauh mana instrumen mencerminkan isi yang dikehendaki. Validitas ini sering disebut validitas kurikulum karena suatu tes disusun berdasarkan kurikulum. (2) Validitas bangun pengertian = menunjuk kepada apa unsur-unsur yang membentuk pengertian itu dan sejauh mana hasil tes dapat ditafsirkan menurut bangunan pengertian itu. Untuk menyusun bangun pengertian (yang lalu berwujud indikator-indikator) ini peneliti dapat menggunakan logika berpikir, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan empiris (Nana Sujana, 1990:14). (3) Validitas muka = berhubungan dengan penilaian para ahli terhadap suatu alat ukur. Valid

34

kalau telah diperiksa oleh seorang ahli (pembimbing). (4) Validitas empiris = valid jika telah diujicobakan di lapangan. (5) dan lain-lain. (3) Validitas empiris dapat diukur secara internal dan secara eksternal. Secara internal instrumen penelitian akan diukur tingkat kesulitannya dan tingkat daya bedanya. Secara eksternal, hasil uji cobanya akan dibandingkan dengan nilai standar. Ada banyak rumus statistik yang dapat digunakan untuk melakukan komputasi guna mengetes validitas ini = antara lain rumus korelasi product moment. Daya beda dan tingkat kesulitan dapat dikomputasi dengan metode Flanagan. b) Reliabilitas (4) Reliabilitas mengacu kepada sejauh mana suatu alat ukur secara ajeg mengukur apa yang diukurnya. (Donald Ary, 1982:281). Reliabilitas diukur dengan teknik: test-retest, splithalf, tes parallel dan komputasinya dapat dengan menggunakan rumus statistik korelasi product moment. h. Mengumpulkan Data Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan sesuai dengan sampel yang telah ditentukan. Macam-macam teknik sebagai berikut: 1) Interview atau wawancara. Dalam wawancara diperlukan panduan atau pedoman wawancara, yaitu kisi-kisi yang berisi butir-butir pertanyaan dilakukan agar secara wawancaranya terbuka/bebas terarah. Wawancara = dapat (mendalam in-depth

interviewing) atau tertutup (dengan jawaban ya-tidak atau dengan tanda checking)

35

2) Observasi. Sama dengan wawancara juga diperlukan kisi-kisi observasi sehingga observer dapat mencatat gejala secara terurai atau membubuhkan tanda checking. 3) Dokumentasi, yaitu teknik mengambil data dengan memeriksa dokumen-dokumen yang telah ada sebelum penelitian berlangsung. 4) Qoessioner atau angket. Sama dengan interview atau observasi, angket juga dibuat dengan kisi-kisi yang ditentukan oleh indikatorindikator atau diskriptor-diskriptor. Ingatlah bagaimana menyusun indikator (Nana Sujana, 1990:14). 5) Tes, dan lain-lain i. Menganalisis Data 1) Tahapan Analisis Data Kuantitatif Ada dua tahap dalam menganalisis data kuantitatif: a) Analisis deskriptif yang menganalisis pendeskripsian data dengan menyajikan: distribusi frekuensi. nilai median, mean, modus, standar deviasi, histogram dan poligon; b) Analisis inferensial yang macamnya terdiri antara lain sebagai berikut: c) Uji beda dua rata-rata = yaitu pembandingan dua rata-rata yang menguji 3 macam hipotesis yaitu (a) ada berbedaan VS tidak ada perbedaan, (b) lebih besar VS lebih kecil, (c) lebih kecil VS lebih besar. Pilihlah jenis hipotesis sesuai dengan desain penelitian yang dilakukan. Teknik komputasi statistik yang dapat digunakan untuk uji beda dua rata-rata ialah t-test atau z-test. Untuk uji beda lebih dari dua rata-rata menggunakan Anava (analysis of variance) baik satu jalan maupun dua jalan d) Korelasi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau tidak adanya hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada yang berpendapat bahwa uji korelasi ini dipakai untuk menguji

36

hubungan dua variabel atau lebih yang peneliti tidak tahu mana yang variabel aktif dan mana yang variabel pasif. e) Regresi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau tidak adanya sumbangan (kontribusi) variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikatnya. Uji regresi ini dapat regresi sederhana (1 prediktor) dan regresi ganda (2 atau lebih prediktor) f) Chi Kuadrat, dan lain sebagainya. (Sudjana, 1982, Bandung: Tarsito). 2) Hasil analisis data. Bagian ini merupakan bagian yang beriisi laporan hasil komputasi. lampiran. j. Menarik Kesimpulan Kesimpulan adalah hasil dari suatu proses tertentu, yaitu menarik dalam arti memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian harus selalu mendasarkan diri pada semua data yang diperoleh dari kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data. Oleh karena itu kesimpulan tidak dapat lepas dari problematic dan hipotesis penelitian. Contoh: Problematik: Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005? Hipotesis: Jadi, daftar data mentah (daftar nilai dalam tabel, misalnya) hendaknya tidak ditulis di sini, tetapi diletakkan dalam

37

Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 20042005. Kesimpulan: Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 20042005. k. Menulis Laporan Penelitian adalah kegiatan ilmiah. Maka dari itu laporan penelitian yang dibuat juga harus mengikuti aturan-aturan penulisan karya ilmiah. Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh pembuat laporan penelitian: 1) Penulis laporan harus tahu betul kepada siapa laporan itu ditujukan. 2) Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti proses penelitian. 3) Penulis sama. 4) Laporan harus jelas dan meyakinkan. Untuk melengkapi pemahaman mengenai penelitian kuantitatif, berikut ini akan diberikan beberapa karakteristik yang dapat membedakan pendekatan kuantitatif dari kualitatif. 1. Karakteristik Pendekatan Kuantitatif Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pendekatan kuantitatif berdasarkan atas paradigma positivisme yang berpandangan bahwa peneliti dapat dengan sengaja mengadakan perubahan terhadap dunia sekitar dengan melakukan berbagai eksperimen. Para penganut positivisme percaya bahwa manusia dapat menemukan aturan-aturan, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip umum tentang dunia kenyataan baik dalam ilmu-ilmu laporan harus menyadari bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman dan minat pembaca laporan tidaklah

38

alam maupun dalam ilmu-ilmu sosial termasuk pendidikan. Hukumhukum itu dapat ditemukan dari data empiris dengan menggunakan sampel yang representatif. Mereka juga berpendirian bahwa realitas itu dapat dipecah menjadi bagian-bagian dan hukum yang berlaku bagi bagian yang kecil juga berlaku untuk keseluruhan. Adapun karakteristik pendekatan kuantitatif yang dilandasi oleh paradigma positivisme menurut Nasution (1998), Brannen (1999), Bryman (1998) Strauss dan Corbin (2002) adalah sebagai berikut : (a) logika eksperimen dengan memanipulasi variabel yang dapat diukur secara kuantitatif agar dapat dicari hubungan antara berbagai variabel. (b) mencari hukum universal yang dapat meliputi semua kasus, meskipun dengan pengolahan statistik untuk dicapai mencari tingkat probabilitas (c) dengan netralitas mementingkan sampel generalisasi,

pengamatan dengan hanya meneliti gejala-gejala yang dapat diamati langsung dengan mengabaikan apa yang tidak dapat diamati dan diukur dengan instrumen yang valid dan reliabel. Netralitas memungkinkan penelitian itu direplikasi, (d) bersifat atomistik, yaitu memecah kenyataan dalam bagian-bagian dan mencari hubungannya, (e) bersifat deterministik, tertuju pada kepastian dengan mengadakan pengujian terhadap hipotesis, dan (f) tujuan yang pokok adalah mencapai generalisasi yang dapat digunakan untuk meramalkan atau memprediksi. Di samping itu pendekatan kuantitatif juga dapat dijelaskan ciricirinya ditinjau dari operasionalisasinya, yaitu : (1) desain penelitian kuantitatif bersifat spesifik, jelas, rinci, hipotesis dirumuskan dengan tegas dan ditentukan secara mantap sejak awal untuk dijadikan pegangan bagi setiap langkah penelitian yang dilakukan, (2) tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif, (3) instrumen penelitian menggunakan tes, angket, wawancara, dengan alat berupa kalkulator, komputer, dan sebagainya, (4) data penelitian bersifat kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengukuran berdasarkan variabel yang

39

dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen, (5) sampelnya besar, representatif, dan diusahakan sedapat mungkin diambil secara random, (6) analisis data dilakukan pada tahap akhir setelah pengumpulan data selesai, bersifat deduktif dan menggunakan statistik, dan (7) hubungan antara peneliti dengan responden berjarak, sering tanpa kontak langsung.

2. Karakteristik Pendekatan Kualitatif Pendekatan kualitatif berdasarkan paradigma post-positivisme yang mengikuti jalan yang berbeda dengan paradigma positivisme. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dilaksanakan dalam situasi alamiah atau “natural setting” sehingga pendekatan ini juga disebut metode naturalistik. Pada hakekatnya pendekatan kualitatif itu adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan penafsiran mereka mengenai dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus terjun ke lapangan dan berada di tengah-tengah mereka dalam waktu yang cukup. Menurut Nasution (1998), Suryabrata (1999), Moleong (1999), Bogdan dan Biklen (2002), Lincoln dan Guba (2003), pendekatan kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) sumber data adalah situasi alamiah, peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi sebagaimana adanya, langsung berhubungan dengan situasi dan orang yang diteliti, (b) peneliti merupakan alat pengumpul data utama sehingga disebut “key instrument”. Sebagai instrumen utama, peneliti dapat memahami interaksi antar manusia, mengetahui gerak roman muka, menyelami perasaan dan nilai yang terkandung dalam ucapan dan kegiatan responden, (c) bersifat deskriptif sehingga datanya dituangkan dalam bentuk uraian, (d) mengutamakan proses dari pada hasil, karena dengan mengamati proses tersebut, maka hubungan antara bagian-bagian yang diteliti akan jauh menjadi lebih jelas, (e) sampelnya purposif tidak bersifat random dan jumlahnya sedikit tetapi dipilih orang-orang yang benar-benar

40

mengetahui permasalahan (key person) sesuai dengan tujuan penelitian, (f) mengutamakan data langsung atau first hand dan mencari makna dibalik perilaku, (g) partisipasi tanpa mengganggu, artinya untuk memperoleh situasi alamiah, peneliti tidak menonjolkan diri saat melakukan observasi agar tidak dianggap sebagai “orang luar” sehingga tidak mengganggu kewajaran situasi, (h) mengutamakan perspektif emik, yaitu mengutamakan pandangan responden dan bukan pandangan peneliti (perspektif etik), (i) trianggulasi, yaitu mengadakan uji validitas data kualitatif dengan mengadakan pengecekan tentang kebenaran data yang diperoleh dari satu responden dengan responden lain yang dipandang juga mengetahui kebenaran data tersebut, dan (j) analisis data bersifat induktif. Di samping itu, ditinjau dari segi operasionalisasinya penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif juga dapat diidentifikasi ciricirinya, yaitu: (1) desain penelitian kualitatif bersifat umum, singkat, fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian, serta tidak ada hipotesis (2) tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pemahaman makna verstehen, menggambarkan realitas yang kompleks, (3) teknik penelitian adalah dengan observasi berpartisipasi dan wawancara mendalam sehingga bersifat deskriptif, (4) analisis data dilakukan secara terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian dan bersifat induktif, dan (5) hubungan antara peneliti dengan responden adalah akrab, empati, dan kedudukannya sama. Untuk memperjelas perbedaan di antara dua pendekatan tesebut, berikut ini disampaikan pula ciri pembeda diatara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif sebagaimana tercantum di dalam Tabel 1 berikut.

41

Tabel 1: PERBEDAAN ANTARA PENELITIAN KUANTITATIF DENGAN PENELITIAN KUALITATIF CIRI PEMBEDA 1. Datanya 2. Sifat Datanya 3. Peranan Hipotesis PENELITIAN PENELITIAN

KUANTITATIF KUALITATIF Berupa angka-angka Berupa kata-kata Bersifat monitetik (Satu Bersifat ideosinkretis (Satu tanda satu makna) Sangat penting tanda banyak makna) Tidak harus disebutkan, hanya sebagai alternatif, tidak untuk diuji. mutlak Tidak harus menggunakan statistik. pada Peneliti sendiri instrumen karena sebagai harus

4. Peranan Statistik 5. Peranan Instrumen

Statistik digunakan Mengandalkan intrumen

6. Sifat Proses dan Produk 7. Sifat interaktif 8. Nilai-nilai 9. Generalisasi 10. Struktur

berinteraksi dengan obyek. Lebih berorientasi pada Lebih berorientasi pada produk Tidak interaktif Bebas nilai Dapat digeneralisisikan proses Interaktif Tidak bebas nilai Tidak

dapat

digeneralisisikan Sudah memiliki struktur Sedang mencari bentuk yang baku

42

STRUKTUR PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF JUDUL PENGESAHAN DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan Masalah D. Rumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian BAB II. KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Kajian Teoretis B. Penelitian yang Relevan C. Kerangka Berpikir D. Hipotesis BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Metode Penelitian C. Populasi, Sampel, dan Sampling D. Teknik Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data F. Hipotesis Statistik DAFTAR PUSTAKA

43

PENJELASAN SINGKAT ELEMEN DALAM PROPOSAL PENELITIAN KUANTITATIF 1. Judul Judul penelitian ditulis secara ringkas tetapi lengkap. Elemen-elemen yang seyogyanya ada dalam judul adalah nama variabel, hubungan antar variabel, metode penelitian, lokasi penelitian, dan tahun penelitian. Gaya penulisan judul disesuaikan dengan selera penulis/pembimbing. 2. Pengesahan Pengesahan berupa persetujuan komisi pembimbing tentang proposal penelitian yang diajukan oleh mahasiswa. Persetujuan tersebut diberikan dalam bentuk tanda tangan dari komisi pembimbing, yang biasanya berjumlah dua orang untuk skripsi/tesis dan tiga orang untuk disertasi. 3. Daftar Isi Daftar isi ditulis dengan format sebagaimana daftar isi pada struktur penulisan proposal di atas. Masing-masing butir/elemen dalam daftar isi diikuti nomor halaman. 4. Latar Belakang Masalah Bagian ini berisi alasan yang melatarbelakangi dilaksanakannya penelitian dengan topik sebagaimana tercermin dalam judul. Untuk itu perlu dikemukakan beberapa hal sebagai berikut: Apa pentingnya masalah tersebut diteliti? Sudah adakah penelitian serupa yang dilaksanakan? Apabila sudah, apa perbedaan penelitian yang akan dilaksanakan dengan penelitian yang telah ada? 5. Identifikasi Masalah Dari uraian dalam Latar Belakang Masalah, diharapkan muncul berbagai persoalan yang terkait terutama dengan variabel terikat (Y). Oleh karena itu,

44

dalam bagian ini diidentifikasikan berbagai persoalan/masalah tersebut. Biasanya identifikasi masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dan ditulis dalam bentuk paragraf. Jumlah masalah yang diidentifikasi dalam bagian ini berkisar antara 5 hingga 10 buah. 6. Pembatasan Masalah Karena terbatasnya kemampuan peneliti (baik kemampuan metodologis maupun finansial/logistik) dan terbatasnya waktu, maka berbagai persoalan yang telah teridentifikasi tidak mungkin dapat ditangani oleh peneliti sekaligus. Oleh karena itu, dalam bagian ini peneliti membatasi lingkup penelitian yang akan digarap. Pembatasan tersebut menyangkut penentuan jenis dan jumlah variabel bebas dan variabel terikat serta hubungan antara keduanya. 7. Rumusan Masalah Atas dasar pembatasan masalah di atas, peneliti merumuskan masalah penelitiannya secara jelas. Rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif yang menguji hipotesis diformulasikan dalam bentuk kalimat tanya ya/tidak (yes/no question). Pertanyaan tersebut hendaknya bersifat jelas, operasional, dan terukur. 8. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dirumuskan secara spesifik berdasarkan masalah yang dikaji. Dalam beberapa hal tujuan penelitian merupakan parafrase dari rumusan masalah. Namun demikian rumusan lain dapat digunakan sepanjang relevan dengan masalahnya. Hendaknya dihindari rumusan tujuan penelitian yang terlalu umum. 9. Manfaat Penelitian Dalam bagian ini dikemukakan manfaat yang dapat dipetik apabila penelitian telah terlaksana. Manfaat tersebut dapat berupa manfaat praktis maupun manfaat teoretis. Uraian tentang manfaat tersebut hendaknya bersifat spesifik,

45

yang terkait langsung dengan topik penelitian. Hendaknya dihindarkan uraian tentang manfaat yang terlalu umum dan bombastis. 10. Kajian Teori Bagian ini berisi deskripsi teori yang relevan dengan masalah/variabel yang dikaji. Targetnya adalah terbentuknya konstruk teoiretis tiap variable. Proses yang dilalui adalah sebagai berikut: memilih beberapa sumber teori yang relevan, mendeskripsikan masing-masing teori, melakukan analisis kritis terhadap masing-masing teori, melakukan analisis komparatif antar teori berdasarkan hasil analisis kritis tersebut, dan membuat sintesis. Hendaknya dihindari penulisan kajian teoretis yang hanya berupa kompilasi pendapat orang lain. 11. Penelitian yang Relevan Pada bagian ini dikemukakan hasil penelitian yang relevan dengan topik yang sedang diteliti, baik yang dilakukan oleh peneliti sendiri maupun oleh orang lain. Di samping untuk menghindari plagiasi, hasil penelitian yang relevan dapat memperkuat teori sebagai landasan untuk menyusun kerangka berpikir. 12. Kerangka Berpikir Apabila dalam Bagian Kajian Teori peneliti hanya mendeskripsikan teori untuk masing-masing variabel, maka dalam Bagian Kerangka Berpikir peneliti membuat kaitan antarvariabel. Kerangka berpikir berupa uraian logis tentang hubungan antarvariabel berdasarkan konsep-konsep yang telah diuraikan dalam kajian teori. Dengan kekuatan analisis dan style-nya sendiri peneliti membuat kaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Untuk memperkuat uraiannya itu peneliti dapat mengutip hasil penelitian orang lain yang relevan. Kerangka berpikir ini digunakan sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis.

46

13. Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban teoretis atas masalah yang diajukan. Oleh karena itu, hipotesis dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan. Hipotesis diajukan berdasarkan kerangka berpikir yang telah dibuat. Ketepatan hipotesis tergantung pada ketajaman kerangka berpikirnya dan ketajaman kerangka berpikir sebagian ditentukan oleh kedalaman kajian teorinya. 14. Tempat dan Waktu Penelitian Dalam bagian ini dijelaskan tempat dan waktu penelitian. Ketika menjelaskan tempat penelitian, peneliti belum menyinggung subjek penelitian. Yang dijelaskan hanya tempatnya. Sementara itu, waktu penelitian mengacu pada rentang waktu yang digunakan untuk melaksanakan penelitian, dari perencanaan hingga pelaporan. 15. Metode Penelitian Dalam bagian ini dijelaskan metode penelitian yang digunakan (misalnya, metode eksperimen) sesuai dengan masalahnya. Yang perlu dijelaskan adalah konsep motode yang digunakan itu, rancangan, dan variabelnya. Dalam kaitannya dengan variabel penelitian, peneliti perlu menjelaskan jenis variabel, definisi operasional variabel, dan hubungan antar variabel. 16. Populasi, Sampel, dan Sampling Ketika menjelaskan populasi penelitian, peneliti menjelaskan karakteristik populasi berikut alasan pengambilan populasi itu. Ketika menjelaskan sampel penelitian, peneliti perlu menjelaskan jumlah sampel, alasan pengambilan anggota sampel sejumlah itu, dan teknik pengambilan sampelnya (sampling). Apabila perlu, peneliti dapat menjelaskan prosedur pengambilan sampel untuk meyakinkan pembaca bahwa sampel yang diambil dari populasi benarbenar representatif.

47

17. Teknik Pengambilan Data Sebelum menjelaskan teknik pengambilan data, seyogyanya peneliti menjelaskan jenis data dan ukuran-ukuran yang digunakan. Selanjutnya, penjelasan tentang teknik/instrumen pengambilan data hendaknya bersifat rinci/spesifik. Misalnya, apabila teknik pengambilan data berupa tes, maka perlu dijelaskan nama tes, jenis tes, cakupan tes, jumlah butir tes, dan bobot masing-masing butir tes. Peneliti perlu menjelaskan rancangan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen. 18. Teknik Analisis Data Teknik analisis data ditentukan berdasarkan masalah dan metode penelitiannya. Apabila rumusan masalahnya lebih dari satu dan masingmasing memerlukan teknik analisis yang berbeda, maka hal itu perlu dijelaskan. Kiranya juga perlu disadari bahwa masing-masing teknik analisis data memerlukan persyaratan tertentu; dan oleh karena itu, peneliti perlu menjelaskan rancangan pengujian persyaratan analisis data, seperti homogenitas varians populasi (sebelum peneliti membandingkan dua kelompok atau lebih). 19. Hipotesis Statistik Dalam bagian ini dikemukakan hipotesis statistik, yaitu hipotesis yang siap diuji di lapangan, yang berisi hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (H1). Bentuknya disesuaikan dengan rumusan masalahnya. 20. Daftar Pustaka Dalam bagian ini dituliskan seluruh referensi yang dijadikan acuan dalam penelitian dan yang disebut langsung dalam tubuh proposal. Rujukan yang tidak disebut tidak perlu ditulis. Penulisan daftar pustaka disesuaikan dengan aturan yang ada.

48

DAFTAR PUSTAKA

Brown, James Dean. Theodor S. Roger. 2003. Doing Second Language Research. Oxford: Oxford University Press. David, Nunan. Research Method in Language Learning. Cambrodge: Cambridge University Press. Isaac, Stephen and Michael, Wiliam B. 1984. Handbook in Research and Evaluation. Callifornia: Edits Publisher Kartini Kartono. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju. Moh. Nasir. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Winarno Surakhmad. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, Teknik. Bandung: Tarsito

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful