P. 1
Nutrisi Pada Geriatri_REFRAT

Nutrisi Pada Geriatri_REFRAT

|Views: 955|Likes:
Published by gizara

More info:

Published by: gizara on Nov 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2013

pdf

text

original

REFERAT

NUTRISI PADA GERIATRI

Disusun oleh : Gizara Sugihartono Dewi Kartika DJ Anwar Fitriana Nurwinarsih Ismawardi Noer Azizah G 0004104 G 0005079 G 0005099 G 0005118 G 0005141

Pembimbing : dr. Fatichati B, Sp. PD

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2010

1

BAB I
PENDAHULUAN Tetap berprestasi dimasa tua adalah harapan setiap insan, baik individu itu sendiri maupun keluarga dan kerabatnya. Namun demikian, tidak setiap harapan dapat diwujudkan dengan mulus. Harapan yang demikian pernah dikemukakan oleh seorang Gerontolog dari Amerika yang menyatakan "Not only add years to life, but also life to years" atau jangan hanya menambah tahun pada kehidupan, tetapi juga menambah kehidupan pada tahun-tahun itu. Dengan adanya kemajuan ilmu dan teknologi, termasuk teknologi kedokteran, maka umur harapan hidup manusia menjadi lebih panjang dan umur rata-rata penduduk menjadi lebih tua. Tetapi, menambah panjang umur tanpa peningkatan kualitas hidup tentunya tidak cukup, karena hanya akan menambah panjang penderitaan bagi individu tersebut maupun keluarga dan masyarakat, baik ditinjau dari segi budaya, sosial, maupun ekonomi. Dengan bertambahnya usia, ditunjang kemunduran kemampuan psikis dan fisik, serta menderita berbagai penyakit, merupakan keadaan yang sangat tidak diharapkan. Padahal, pada kenyataannya terdapat beberapa orang usia lanjut yang masih mempunyai keinginan dan harapan-harapan yang ingin dicapai. Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul seiring dengan semakin bertambahnya populasi usia lanjut di berbagai belahan dunia. Telah banyak dikemukakan bahwa proses menua amat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Proses menua bukanlah sesuatu yang terjadi hanya pada orang berusia lanjut, melainkan suatu proses normal yang berlangsung sejak maturitas dan berakhir dengan kematian. Namun demikian, efek penuaan tersebut menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun.1 Secara umum dapat dikatakan terjadi kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat seluler maupun pada tingkat organ sejalan dengan proses menua. Akibat penurunan kapasitas fungsional tersebut, orang berusia lanjut umumnya tidak berespon terhadap berbagai rangsangan internal maupun eksternal. Menurunnya kapasitas untuk berespon terhadap lingkungan
2

internal cenderung membuat orang usia lanjut kesulitan untuk memelihara kestabilan status fisik dan kimiawi dalam tubuh. Gangguan pada homeostasis tubuh tersebut dapat memudahkan terjadinya berbagai disfungsi sistem organ.1 Nutrisi merupakan penentu yang sangat penting terhadap kesehatan, fungsi fisis, dan kognitif, vitalitas, kualitas hidup keseluruhan, dan panjangnya usia. Status nutrisi memiliki dampak utama pada timbulnya penyakit dan hendaya pada usia lanjut. Kecenderungan pola diet saat ini di negara – negara yang sedang berkembang adalah menuju diet tinggi lemak yang ikut menambah resiko penyakit kronik.2 Prevalensi malnutrisi meningkat seiring dengan timbulnya kelemahan dan ketergantungan fisik pada geriatri. Selain malnutrisi, obesitas dan defisiensi mikronutrien juga kerap terjadi pada populasi lanjut usia yang kemudian akan mencetuskan berbagai penyakit kronik.2 A. Batasan Usia Lanjut Batas umur untuk usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. WHO membagi umur tua sebagai berikut: 1. Umur lanjut (elderly): 60--74 tahun 2. Umur tua (old): 75--90 tahun
3. Umur sangat tua (very-old): > 90 tahun

B. Beberapa Jenis Penyakit pada Kelompok Usia Lanjut Jenis penyakit yang ditemukan pada kelompok usia lanjut sebenarnya tidak berbeda dengan yang ditemukan pada kelompok usia lebih muda. Penyakit yang diketemukan pada usia lanjut antara lain osteoporosis, osteomalasia, dementia, penyakit alzheimer, katarak, dan otosklerosis. Beberapa penyakit yang frekuensinya lebih lebih tinggi dari usia muda lainnya antara lain osteoartritis, artritis reumatoid, penyakit keganasan, penyakit parkinson, dan gangguan pembuluh darah otak (cerebro-vascular disease = CVD). Beberapa penyakit lain yang menimbulkan masalah pada kelompok usia lanjut, misalnya diabetes militus,

3

Rata – rata penurunannya adalah 12kal/m2/jam untuk tiap tahun antara usia 20 sampai dengan 90 tahun. penyakit paru obstruksi menahun. C. Bersamaan dengan pesatnya peningkatan populasi usia lanjut. Diet barat modern Aneka ragam Tinggi lemak Rendah serat tidak hati-hati Gizi kurang. Transisi Nutrisi D. didapatkan bukti perubahan tingkah laku dan pola aktivitas fisik yang meningkatkan resiko timbulnya penyakit kronis. Transisi Nutrisi Penyebab kematian utama pada usia lanjut adalah penyakit vaskuler dan penyakit kronik yang menyertainya.2 Urbanisasi. 4 . Metabolisme Energi Produksi energi untuk tiap m2 luas tubuh menurun secara progresif dengan bertambahnya usia. Penurunan ini terjadi oleh karena berkurangnya jaringan aktif (metabolizing tissue) sejalan dengan bertambahnya usia. bronkopneumonia. diet bergizi. Hal ini disebut dengan transisi nutrisi. fraktur. penyakit infeksi. pertumbuhan ekonomi.hipertensi. diet tradisional pedesaan Kurang variasi Kurang lemak Tinggi serat tidak adekuat Progresivita s adekuat & hatihati Makanan olahan. penyakit infeksi Nutrisi optimal obesitas peny kronik Bagan 1. tuberkulosis. dan tidak merokok. dan lain-lain. Upaya pencegahan penyakit ini dilakukan melalui pola hidup sehat yang mencakup aktivitas fisik.

5 5 . Kebutuhan energi untuk aktivitas menurun lebih besar daripada untuk metabolism basal. terutama pada lansia.Produksi ini merupakan produksi untuk metabolisme basal ditambah dengan energi untuk aktivitas.

kekuatan. menua ditandai dengan kehilangan lean body mass secara progresif dan perubahan di semua sistem dalam tubuh manusia. dan kualitas otot). Selama periode pertumbuhan.3.4. Saluran Gastrointestinal Terjadi perubahan – perubahan pada kemampuan digesti dan absorbsi yang terjadi sebagai akibat hilangnya opioid endogen dan efek berlebihan dari kolesistokin.5 C. kecepatan katabolisme atau proses degenerasi lebih besar daripada proses regenerasi sel. berikut ini adalah perubahan fisiologik yang berhubungan dan mempengaruhi status gizi lansia. overgrowth bakteri yang 6 . Papila pengecap mulai mengalami atrofi pada usia 50 tahun. Atropi gastritis.BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI Menua (aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian. Selain itu muncul glossodyna atau nyeri pada lidah. menurunnya motilitas usus hingga terjadi konstipasi. menurunnya sekresi saliva dan mucus hingga terjadi gangguan pengunyahan dan penelanan. hiperchlorhidria yakni berkurangnya sel parietal mukosa lambung yang akan mengakibatkan penurunan absorbsi kalsium dan non-hem iron. dari jumlah 245 pada anak menjadi hanya 88 pada usia 74 – 85 tahun. A. Terjadi penurunan sensitifitas terhadap rasa manis dan asin.5 B. menurunnya sekresi asam lambung. pencium. disfagia. Komposisi tubuh Sarcopenia (berkurangnya massa. dan penglihatan menurun yang akan secara langsung dan tak langsung mempengaruhi nafsu dan asupan makan. Akibat yang muncul adalah anoreksia. proses anabolisme melampaui proses katabolisme. Akibat yang timbul adalah hilangnya sel – sel yang berdampak dalam bentuk penurunan efisiensi dan gangguan fungsi organ. Indera Indera pengecap. gigi tanggal dan karies sehingga menimbulkan rasa nyeri dan gangguan pengunyahan. Pada saat tubuh sudah mencapai tingkat kematangan fisiologik.

Metabolisme Pada lansia dapat terjadi penurunan toleransi glukosa yang akan mengakibatkan kenaikan glukosa dalam plasma sekitar 1.3. Hal ini terjadi mungkin karena penurunan produksi insulin atau karena respon jaringan terhadap insulin yang menurun. serta fungsi indra.5 D. dan diare. Faktor fisiologis dan metabolik yang mempengaruhi kebutuhan gizi3 Faktor Atropik gastritis Efek terhadap kebutuhan Meningkatkan kebutuhan akan folat. dan besi Meningkatkan kebutuhan vitamin D dan kalsium Menurunnya sintesis Vit D di kulit. penurunan fungsi asam empedu.5 mg/dl untuk tiap dekade umur.4 Tabel 1. malabsorbsi lemak.5 F. Metabolisme basal (BM) menurun sekitar 20% antara usia 30 – 90 tahun.4. Ginjal Fungsi ginjal menurun sekitar 50% antara usia 30 – 80 tahun. Pembuangan sisa metabolisme protein dan elektrolit yang harus dilakukan ginjal akan merupakan beban tersendiri. Vit K.5 E. Endokrin Menurunnya kadar estrogen. gangguan aktivasi renal. Reaksi respon asam basa terhadap perubahan metabolik melambat.terjadi dapat menurunkan bioavailibilitas B12.3. GH.3. perubahan Berkurangnya kebutuhan vitamin A metabolisme hepar Peningkatan homosistein Meningkatkan kebutuhan folat dan vitamin B12 7 . menurunnya respon GIT terhadap 1. B12. Hal ini terjadi karena berkurangnya lean body mass pada lansia.25(OH)2D3 Retensi Vitamin A. progesterone. Sistem saraf Menurunnya regulasi selera makan.4 G. Ca. dan toleransi glukosa. rasa haus.

serta merupakan faktor resiko untuk timbulnya infeksi 2. Usia lanjut merupakan kelompok yang rentan terhadap malnutrisi. cara berjalan dan keseimbangan.5 A. Definisi Manutrisi energi protein adalah kondisi dimana energi dan atau protein yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan metabolik. Patofisiologi Manutrisi energi protein dapat terjadi sebagai akibat dari asupan yang tidak adekuat. Perubahan fisiologis yang terjadi sering reversible dengan kembalinya asupan dan aktivitas seperti biasa. Kakeksia dicirikan dengan tingginya respon fase akut yang berkaitan dengan peningkatan mediator 8 . mengevaluasi faktor – faktor yang berhubungan dengan gangguan gizi serta merencanakan bagaimana gangguan gizi teresebut dapat diperbaiki. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan terlebih dahulu ada tidaknya gangguan gizi. Malnutrisi Energi Protein 1. Banyaknya penyakit serta meningkatnya hendaya berkaitan dengan indikator – indikator resiko nutrisi. komposisi tubuh. atau meningkatnya kehilangan zat gizi. dan selera makan (contohnya kakeksia). fungsi kognitif. Pada keadaan defisiensi kalori primer. Gangguan ini dapat menyebabkan munculnya penyakit atau terjadi sebagai akibat dari penyakit tertentu. Status nutrisi mempengaruhi berbagai sistem pada usia lanjut seperti imunitas. tubuh beradaptasi dengan menggunakan cadangan lemak sambil menghemat protein dan otot. atau berhubungan dengan mekanisme fisiologis penyakit yang mempengaruhi metabolisme. meningkatnya kebutuhan metabolik bila terdapat penyakit atau trauma. Hal ini dapat terjadi karena buruknya asupan protein atau kalori.BAB III JENIS GANGGUAN GIZI PADA USIA LANJUT Gangguan gizi yang dapat muncul pada usia lanjut dapat berbentuk gizi kurang maupun gizi lebih.

biasanya telah terjadi malnutrisi berat. Penyebab gizi kurang pada lansia a.2 4. Pengukuran antropometri cadangan lemak dan massa otot dapat membantu penilaian malnutrisi. dan pengukuran imunologis sangat kompleks. Kehilangan ≥ 5% berat badan biasanya berkaitan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Evaluasi klinis kehilangan turgor kulit.1 mg/dl. biokimia. Kehilangan berat badan 15-20% atau lebih biasanya secara tidak langsung menunjukan manutrisi berat. Perubahan berat badan dinyatakan dalam persentase perubahan dibandingkan saat sebelum sakit. albumin serum kurang dari 2. dan trasferin serum kurang dari 80 U/ul. Bila kehilangan berat badan >10% biasanya berkaitan dengan penurunan status fungsional dan hasil pengobatan. tidak ada keinginan untuk memasak • Ketidaktahuan dapat terjadi sejak kecil atau karena pengetahuan yang rendah 9 . 3. Penyebab PRIMER • Isolasi sosial Hidup sendiri. kehilangan gairah hidup. Meskipun kakeksia biasanya berhubungan dengan kondisi penyakit kronis spesifik. keadaan ini dapat timbul pada usia lanjut tanpa penyakit yang jelas. bila berat badan turun >20% berat badan sebelum sakit.inflamasi (seperti TNF-α dan interleukin 1) serta meningkatnya degradasi protein dan otot yang dapat pulih dengan membaiknya asupan. atrofi otot interosseus tangan dan otot temporalis kepala juga dapat menilai hilangnya lemak subkutan dan massa otot. Monitor ketat berat badan yang mencerminkan ketidakseimbangan antara asupan kalori dan kebutuhan energi. merupakan cara yang paling sederhana dan paling dapat dipercaya untuk menilai malnutrisi. kehilangan pasangan hidup.Meskipun tidak ada kriteria definitif untuk klasifikasi derajat manutrisi energi protein. Presentasi klinis Penilaian status nutrisi dengan antropometri standar.

low cholesterol diets S Social problems 10 . hyperparathyroidism. artritis Depresi. demensia Diet lambung jangka lama hingga terjadi kekurangan vitamin C b. Penyebab SEKUNDER • • • • • • Gangguan nafsu makan Gangguan mengunyah Malabsorbsi Obat – obatan Peningkatan kebutuhan gizi Alkoholisme4. hemiplegic/hemiparese.5 Tabel 2. alcoholism L Late-life paranoia S Swallowing disorder O Oral factors N No Money W Wondering and other dementia-related behaviours H Hyperthyroidism.• • • • Gangguan fisik Gangguan mental Kemiskinan Iatrogenik Gangguan indra. hypoadrenalism E Enteric problems E Eating problem L Low salt. hypothyroidism. Penyebab kehilangan berat badan Penyebab Kehilangan Berat Badan2 M Medication effects E Emotional problems A Anorexia tardive (nervosa).

Pendekatan yang diambil tergantung kondisi klinis pasien. Bagi yang membutuhkan support jangka pendek (<10hari) diberikan hiperalimentasi melalui vena perifer berupa larutan asam amino. Pemberian diet per NGT harus dihindari pada pasien usia lanjut dengan delirium karena resiko aspirasi dan tarikan selang oleh pasien. dianjurkan pemberian melalui gastrostomi atau yeyunostomi. apakah memerlukan support nutrisi jangka pendek atau jangka panjang. Diet cair harus mengandung tidak lebih dari 1 kkal/ml dengan kecepatan 25 ml/jam agar tidak terlalu kental dan dapat masuk ke selang dengan mudah. Penatalaksanaan a. Selang ini tidak mengiritasi dan tidak terlalu mengganggu mobilitas atau kemampuan menelan makanan. kontrol tekanan darah. b. Target utama adalah kemandirian fungsional dan meningkatkan kekuatan otot sehingga strategi yang bertujuan memperbaiki massa otot sangatlah penting. dalam 48 jam pertama perawatan sudah diberikan asupan gizi adekuat.2 11 . Intervensi nutrisi agresif hanya merupakan bagian dari keseluruhan strategi.5. Sangatlah penting memahami perlunya pendekatan terpadu dalam tatalaksana malnutrisi pada usia lanjut. dekstrosa 10%. Tujuannya adalah memberikan asupan kalori kira – kira 35 kkal/kgBB ideal. Untuk pasien yang membutuhkan terapi nutrisi selama 6 minggu atau lebih. pasien diminta mengkonsumsi sebanyak mungkin makanan. Lakukan upaya intervensi nutrisi yang agresif. elektrolit. c. Sebagai patokan umum. Latihan fisik yang sesuai dapat dilakukan untuk tujuan ini. Setelah masalah akut teratasi. Bila pasien tidak delirium dapat diberikan diet per flowcare. dan intralipid. Atasi problem akut (jika ada) seperti mengatasi infeksi. dan menjaga kondisi keseimbangan metabolik. dan cairan.

Kegemukan juga meningkatkan resiko diabetes dan penyakit jantung koroner. Saat ini diketahui bahwa jaringan lemak secara aktif memproduksi dan mensekresi sejumlah hormone dan protein yang disebut adipokin yang memiliki efek lokal dan sistemik.2 Dilakukan dengan upaya meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi asupan kalori. Bila program penggunaan berat badan diambil. Lemak juga berperan penting dalam promosi inflamasi. Dengan meningkatnya usia. lemak intraabdominal berkaitan dengan resistensi insulin yang dapat menimbulkan abnormalitas metabolik. dislipidemia. atau resiko mortalitas. Pasien disebut menderita obesitas bila indeks massa tubuh ≥20 kg/m2. lemak merupakan jaringan penyimpan energia aktif utama untuk produksi steroid seks dan metabolisme glukokortikoid. adiponektin. Lemak terdistribusi secara sentral dengan pertambahan lemak visceral yang dicerminkan oleh lingkar pinggang. Bertambahnya berat badan dan massa lemak berkaitan dengan perubahan metabolik dan fisiologis yang mempengaruhi kesehatan dan fungsi fisik.B. plasminogen-activator inhibitor 1. Banyak dari zat ini yang berhubungan dengan morbiditas kardiovaskuler. Faktor – faktor ini mencakup leptin. penting diingat bahwa tulang dan otot akan turut 12 . biasanya terjadi peningkatan massa lemak total serta berkurangnya massa tubuh kering dan massa tulang. Terdapatnya faktor – faktor resiko kardiovaskuler seperti hipertensi. Terapi farmakologis harus dipertimbangkan bila tampaknya sulit untuk mengontrol akibat metabolik obesitas. angiotensin. Berat badan lebih juga merupakan penyebab osteoarthritis lutut dan panggul. Pada wanita pasca menopause. dan sitokin IL-6 dan TNF-α. resistin. dan diabetes mencerminkan adanya peningkatan berat badan dan lemak tubuh. hendaya. kegemukan berkaitan dengan resiko kanker payudara dan kanker kolon. Pada tingkat yang lebih tinggi. Obesitas Berat badan lebih per definisi adalah indeks massa tubuh ≥25 kg/m2.

penurunan fungsi ginjal menyebabkan malabsorbsi kalsium dan meningkatnya kehilangan massa tulang. Perbandingan antara kriteria WHO dan Asia Pasifik KATEGORI Underweight Batas normal Overweight At risk Obese I Obese II WHO < 18. suatu asam amino yang secara konsisten berhubungan dengan resiko penyakit vaskuler. kemampuan kulit membentuk provitamin D-3 dari sinar ultraviolet berkurang. Sebagai contoh.5 – 22. dan asam folat dibutuhkan untuk mencegah akumulasi homosistein. Perlu dilakukan upaya guna mencegah kehilangan massa tulang dan otot seperti latihan aerobic dan daya tahan atau terapi antiosteoporotik lainnya. Pada proses menua.9 25 – 29. sayuran.9 ≥ 23 23 – 24. restriksi kalori perlu ditambahkan guna memastikan asupan adekuat zat gizi dan vitamin selama periode diet. Dengan transisi nutrient menuju diet tinggi lemak dan rendah serat. Kalsium dan vitamin D juga merupakan zat gizi yang perlu mendapat perhatian pada usia lanjut.9 ≥ 30 C. Juga terdapat hubungan antara rendahnya konsentrasi vtamin B dengan menurunnya fungsi kognitif. Terdapat beberapa bukti manfaat suplementasi vitamin pada fungsi kognitif dan penyembuhan ulkus. Defisiensi Vitamin dan Mineral Tidak memadai asupan mikronutrien sering terjadi pada usia lanjut. 13 . Selain itu. vitamin B6.2 Tabel 3. B12. dan biji – bijian utuh yang akan sangat membantu mengontrol peningkatan insidensi penyakit kronik.berkurang selama periode penurunan berat badan. perlu dijaga dan ditingkatkan asupan buah.5 18. Kebutuhan vitamin D juga meningkat pada usia lanjut. Dengan bertambahnya usia.5 > 25 25 – 30 30 – 40 > 40 ASIA PASIFIK < 18.5 20 – 20.

Kebutuhan terhadap zat besi dan vitamin A pada usia lanjut lebih rendah daripada dewasa muda.2 14 . Cadangan zat besi pada usia lanjut terakumulasi dan tingginya kadar feritin serum berkaitan dengan makin besarnya resiko penyakit jantung koroner. Pada usia lanjut terdapat penurunan klirens vitamin A lewat hepar dan jaringan perifer lainnya.

g. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan. Membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan (menempel pada bahan pangan. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien. menu a. d. f. b. tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan persyaratan kebutuhan manula. Indonesia memiliki Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (KGA) A. c. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut : a. Menu Harian Lansia 1. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan. 2. posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit. Setelah selesai makan. terutama pangan hewani) sehari-hari hendaknya 15 . Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan b. tanyakan pemberian makan terlalu cepat atau lambat. Bervariasi jenis makanan dan cara olahnya c. Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien yang ingin dimakan. Posisikan pasien duduk atau setengah duduk. e. Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk manula yang sehat.BAB IV KEBUTUHAN ZAT GIZI PADA LANSIA Tiap negara mempunyai standar/baku untuk kebutuhan zat gizi dengan menggunakan standar FAO/WHO sebagai acuan utamanya. Prinsip Pemberian Makan Melalui Mulut (Oral) Pemberian makan melalui mulut dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi pasien lanjut usia yang tidak memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan. Tidak berlebihan.

Cukup banyak mengkonsumsi makanan berserat (buah-buahan. kelompok lauk pauk misalnya daging (1 potong = 50 gram) atau tahu (1 potong = 25 gram). kelompok buah-buahan misalnya pepaya (1 potong = 100 gram) dan susu ( 1 gelas = 100 gram).). Susunan makanan sehari-hari untuk manula hendaknya tidak terlalu banyak menyimpang dari kebiasaan makan. sayuran dan serealia) untuk menghindari sembekit atau konstipasi g. Minuman yang cukup. kelompok sayuran misalnya sayur bayam (1 mangkok = 100 gram ). Sebagai contoh menu berdasarkan “empat sehat lima sempurna” terdiri atas kelompok makanan pangan pokok (utama) yaitu nasi (1 porsi = 200 gram). Pola susunan makan manula dalam sehari berdasarkan empat sehat lima sempurna tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Masing-masing kelompok makanan tersebut dapat diganti atau ditukar sesuai dengan kebiasaan makan dan ketersediaan pangan di tempat (akan diuraikan kemudian). 16 . dan menu makannya dapat disesuaikan dengan ketersediaan dan kebiasaan makan tiap daerah.d. Menghindari konsumsi garam yang terlalu banyak. merokok dan minuman alkohol f. Menu makanan manula dalam sehari dapat disusun berdasarkan konsep “empat sehat lima sempurna” atau konsep “gizi seimbang”. dan minuman yang banyak mengandung gula e. Pola makan disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (lihat Tabel 1. serta disesuaikan dengan keadaan pisikologisnya. Membatasi konsumsi gula.

Tabel 5.Tabel 4.5 5 1. Depkes RI (1992) Sedangkan berdasarkan konsep “gizi seimbang”. Menu untuk manula dalam sehari Waktu makan Pagi Selingan Siang Menu Roti – telur Susu Papais Nasi Semur daging Pepes tahu Sayur bayam Pisang Kolak pisang Mie baso Pepaya Porsi 1 tangkep 1 gelas 2 bungkus 1 piring 1 potong 1 bungkus 1 mangkok 1 buah 1 mangkok 1 mangkok 1 buah Selingan Malam Sumber : Amini Nasoetion dan Dodik Briawan (1993) 17 .5 2 1 Sayuran Buah-buahan Susu Sumber : Ditjen Binkesmas. Pola susunan makanan manula dalam sehari Kelompok Makanan Jenis Pangan Per Porsi Jumlah Porsi Per Hari Laki-Laki Bahan Pokok Lauk pauk Nasi (1 prg = 200 g) Daging (1 ptg = 50 g) Tahu (1 ptg = 25 g) Bayam (1 mgk = 100 g) Pepaya (1 ptg = 100 g) Skim (1 gls = 100 g) 3 1. Menu ini disusun berdasarkan kecukupan energi dan gizi bagi manula.5 2 1 Perempuan 2 2 4 1. contoh menu manula dalam sehari disajikan pada Tabel 4.

nangka. kacang tolo. sawo. mie kering. Tabel 5 menyajikan berbagai bahan makanan pengganti atau penukar bagi kelompok makanan yang telah disajikan pada Tabel 2 dan 3. ikan sarden. kacang panjang. pisang nangka. Asupan yang dianjurkan Tabel 7. kecipir. apel. kacang hijau. telur unggas. kroket. bihun. risoles Susu Susu sapi. ketan. skim B. jagung. kacang merah. mie instan. biskuit. ikan kembung. selada Makanan Jajanan Bika ambon. hati (ayam atau sapi). tomat Sayuran Bayam. ubi jalar. Tabel 6. tempe. sawi. singkong. buncis. makaroni Sumber Protein Hewani Daging ayam. belimbing. talas. sirsak. roti tawar. tetapi bervariasi. jeruk. oncom Buah-buahan Pepaya. Variasi dalam menu harian sangat diperlukan karena sangat menghindari rasa bosan dan baik bagi kelengkapan zat gizi (komplementasi zat gizi). wortel. alpukat. susu kambing. baso daging Sumber Protein Nabati Kacang tanah. beluntas.Untuk menjaga menjaga agar menu harian tidak monoton. tahu. kue pia. semangka. daun singkong. susu kedelai. Berbagai kelompok makanan pengganti/penukar Kelompok Makanan Sumber Karbohidrat Jenis Makanan Nasi. mangga. bandeng. jambu biji. daun pepaya. susu kerbau. pisang ambon. kue putu. katuk. kentang. getuk lindri. daging sapi. dadar gulung. kapri. apem. ikan mas. Asupan nutrisi yang dianjurkan Laki – laki (60+) Perempuan (60+) Energi (Kal) 2200 1850 Protein (gram) 62 54 Zat besi (mgram) 13 14 Kalsium (mgram) 500 500 Vit C (mgram) 60 60 • • Serat : perlu untuk pencegahan penyakit kronis Lemak : 10 – 15% asam lemak jenuh tunggal dan 10% asam lemak jenuh ganda 18 . kedelai.

kacang – kacangan. dan menunda penyakit degeneratif.25(OH)2D dan menurunnya kemampuan absorbsi vitamin D. Vitamin K.• • Protein 10-15 % Cairan Vitamin A. margarine. pelindung membrane biologis. Piramida makanan 19 . Lansia lebih rentan mengalami retensi vitamin A dimana akumulasi dari vitamin A (>3000 Å) akan meningkatkan resiko fraktur osteoporosis. Vitamin D. yakni menurunnya fotosintesis di kulit. sehingga defisiensi vitamin K juga dapat meningkatkan resiko menurunnya bone mineral density (BMD) dan fraktur. sehingga asupan vitamin D yang adekuat penting pada lansia karena vitamin D dapat menurunkan penyerapan kalsium yang beresiko osteomalasia dan osteoporosis. RDA menganjurkan konsumsi vitamin E sebanyak 15 mg/hari. dan gandum. Sumber vitamin E yang baik adalah minyak sayur. Tidak ada peningkatan kebutuhan vitamin A pada lansia. berkurangnya kemampuan ginjal untuk mengkonversi 25-hydroxyvitamin D menjadi vitamin D aktif (calcitriol) serta menurunnya respon usus pada 1.3 C. termasuk pembentukan osteoocalcin. Vitamin K juga berperan sebagai kofaktor enzim yang mengkatalisis konversi protein-bound glutamyl residu menjadi carboxyglutamyl residu. Vitamin E. Fungsi utama vitamin ini adalah sebagai lipid antioksidan. Fungsi vitamin K adalah untuk sintesis faktor koagulan. Pada lansia terdapat perubahan fungsi tubuh yang berpengaruh terhadap kebutuhan vitamin D.

1) Variatif Tidak ada satupun jenis makanan yang dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan. gula dan minuman beralkohol. lemak jenuh. dapat memenuhi kebutuhan kalori dan zat gizi. Kebutuhan setiap orang berbeda tergantung dari umur. dan terbatas. 3) Tidak berlebihan Memilih makanan dan minuman secara hati-hati akan membantu anda mengontrol kalori dan jumlah lemak total. garam. Piramida makanan memenuhi prinsip-prinsip dasar dari makanan sehat. yaitu variatif.Piramida makanan dengan beragam pilihan makanan dapat menjadi suatu petunjuk dalam memilih makanan sehat. tidak tergantung pada usia (mulai usia 2 tahun ke atas) atau gaya hidup anda. jenis kelamin dan aktifitas fisik yang dilakukan. Sistem ini juga fleksibel sehingga anda dapat memilih dan menikmati jenis makanan yang tersedia 20 . Diet bervariasi yang mengandung beberapa jenis makanan berbeda dari lima kelompok makanan utama pada Piramida dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan. 2) Seimbang Diet dengan gizi seimbang dalam jumlah yang cukup dari kelima jenis makanan. kolesterol. seimbang.

Vitamin B6 dalam tubuh memiliki fungsi sebagai koenzim beberapa reaksi kimia. 21 . dan E (alfa tokoferol). dan mencegah katarak. menurunkan resiko stroke. B12 (sianokobalamin). Piramida makanan Suplemen Penggunaan suplemen bermanfaat dalam meningkatkan status vitamin dan status antioksidan serta fungsi imun. C. Suplemen yang digunakan sebaiknya berupa multivitamin dengan tambahan kalsium. Kondisi yang memerlukan suplemen antara lain adalah saat berkurangnya nafsu makan dan gangguan absorbsi zat gizi. terutama metabolisme protein. Manfaatnya yang telah teruji adalah menghambat pertumbuhan sel kanker. mencegah penyumbatan arteri yang dapat menyebabkan serangan jantung. merangsang fungsi kekebalan tubuh. asam folat. B6 (piridoksin). Beta karoten berfungsi melawan radikal bebas penyebab proses penuaan.Gambar 2.3 Beberapa jenis vitamin yang menunjang kebugaran di usia lanjut dan mempunyai dampak anti penuaan adalah beta karoten (provitamin A). D.

meningkatkan kekebalan tubuh. bekerja sama dengan asam folat membantu memproduksi sel darah merah dan dibutuhkan untuk sintesis asam amino. Mineral ini juga berperan sebagai faktor esensial pada enzim glutation peroksidase yang berfungsi mereduksi peroksida untuk mencegah pembentukan 22 . Vitamin ini penting untuk membantu penyimpanan kalsium dalam tulang serta mencegah penyakit tulang. selenium. serta mencegah gangguan prostat dan infertilitas. Zat besi diperlukan oleh tubuh untuk pembentukan hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen dan karbondioksida antara paru dan jaringan. menghindari kanker dan katarak. dan melawan kolesterol. Sehubungan dengan proses penuaan. seng. beberapa jenis mineral yang menunjang kebugaran di usia lanjut dan mempunyai efek anti penuaan adalah kalsium. melindungi dari serangan kanker. dan mencegah penyakit gusi. dan kalium. Disamping itu. Vitamin C sangat bermanfaat untuk menghambat berbagai penyakit. melindungi arteri. magnesium.Vitamin B12 merupakan unsure penting untuk meningkatkan kemampuan daya ingat. meremajakan dan memproduksi leukosit. mencegah katarak. zat besi. Kekurangan zat besi pada usia lanjut bisa menyebabkan anemia. mencegah kanker. Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi. menghambat tekanan darah tinggi. Kalsium berfungsi menjaga kesehatan tulang dan gigi.6 Sementara itu. Untuk mempertahankan kekuatan tulang diperlukan Vitamin D serta kalsium. Vitamin E berfungsi menghambat penyumbatan arteri. Selenium memiliki kemampuan antioksidan yang berpengaruh terhadap proses penuaan dan menjaga elastisitas jaringan tubuh. mencegah serangan jantung. Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung asan folat dapat pula menurunkan resiko terkena kanker usus besar. Seng juga dapat kembali mengaktifkan kelenjar timus untuk memproduksi horman timulan yang berfungsi merangsang produksi sel T. memperbaiki kualitas sperma. Seng dibutuhkan tubuh untuk melawan infeksi. memperbaiki jaringan tubuh. kromium. mangan. memperlambat penuaan pada otak. Fungsinya antara lain meningkatkan kekebalan tubuh. mineral ini dapat mengembalikan fungsi kekebalan dan melawan radikal bebas. dan membantu mengurangi gejala arthritis.

(2) gejala – gejala yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Harvard. Pemeriksaan antropemetri adalah pengukuran variasi berbagai dimensi fisik dan komposisi tubuh secara umum pada berbagai tahapan umur dan derajat kesehatan. kulit. memperlancar metabolisme lemak dan karbohidrat. hati. Penentuan Status Gizi Status gizi lansia dapat dinilai dengan cara – cara yang baku bagi berbagai tahapan umur yakni penilaian secara langsung dan tak langsung. dan meningkatkan produksi hormone dehydroepiandrosterone (DHEA). Semua hasil pengukuran tersebut harus dikontrol terhadap umur dan jenis kelamin. mengirim oksigen ke otak. Kalium bersama natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan elektrolit dalam tubuh. lidah. dan biofisik.radikal bebas. Penilaian secara langsung dilakukan melalui pemeriksaan klinik. antropometri. lingkar lengan atas. Tanda – tanda yang masuk ketiga kategori dapat ditemukan pada berbagai organ seperti pada rambut. metabolisme lemak. melawan radikal bebas. Dalam melakukan pemeriksaan klinik perlu dibedakan tiga kelompok gejala. tinggi badan. dan mencegah diabetes. dan sebagainya. Mangan berfungsi untuk memperbaiki daya ingat. menurunkan tekanan darah. fungsi lainnya adalah untuk kontraksi otot. Dalam melakukan interpetrasi. Magnesium berfungsi memperkuat tulang. Perlu ditekankan di sini bahwa pemeriksaan tinggi badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna 23 . Pengukuran yang dilakukan meliputi berat badan. limpa. NCHC. dan sebagainya. biokimia. serta untuk integritas jaringan kartilago dan tulang. dan tebal lemak di bawah kulit. menurunkan kolesterol darah. digunakan beberapa standar internasional maupun nasional seperti standar WHO. bibir. yaitu : (1) tanda – tanda yang dianggap mempunyai nilai dalam pemeriksaan gizi. konjungtiva. dan menjaga kestabilan tekanan darah.6 D. menyehatkan jantung. (3) gejala – gejala yang tidak berhubungan dengan gizi. Kromium di dalam tubuh memiliki fungsi meningkatkan efektivitas insulin dalam memproses gula sehingga dapat menjaga kadar glukosa normal dalam darah.

sulit untuk menyiapkan makanan. Sementara untuk kekurangan vitamin D. makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. 24 . akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat. jantung untuk kecurigaan beri – beri. Anjuran Gizi Seimbang dengan Pertimbangan Berbagai Resiko Penyakit Degenerasi pada Usia Lanjut Khusus untuk Indonesia. hati. iodium protein.5 Untuk kekurangan kalori protein. kurang bersosialisasi. biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari. Pemeriksaan biofisik dapat dilakukan misalnya pada tulang untuk menilai derajat osteoporosis. Pemeriksaan biokimia dapat dilakukan terhadap berbagai jaringan tubuh. Zat gizi tertentu dapat dievaluasi statusnya melalui pemeriksaan biokimiawi seperti status besi. dan smear terhadap mukosa organ tertentu.oleh karena telah terjadinya osteoporosis pada lansia yang berakibat kompresi pada columna vertebra. mudah. vitamin A. waspadai lansia dengan riwayat pendapatan yang kurang. pemasangan gigi palsu yang kurang tepat. E. dan praktis adalah darah dan urin. 1995) yang berisi pesan dasar gizi seimbang bagi lansia dengan dasar PUGS dan dengan mempertimbangkan pengurangan berbagai resiko penyakit degenerasi yang dihadapi para lansia. dan sebagainya. kesulitan mengunyah. dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan. Departemen Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) (DepKes. susu dan produk olahannya. jarang atau tidak pernah minum susu. namun yang paling lazim. sering mangkonsumsi obat-obatan yang mengganggu nafsu makan. hidup sendirian. nafsu makan berkurang. Untuk itu para ahli sepakat bahwa sebagai gantinya tinggi badan dapat diganti dengan panjang rentang tangan (armspan) dalam penentuan indeks massa tubuh (BMI). kehilangan pasangan hidup atau teman. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia.

8. 6. 2. Gunakan sumber lemak nabati seperti kacang – kacangan. cukup jumlahnya. 5. aman. namun batasi jumlahnya atau kurangi konsumsi makanan yang diawetkan atau diolah dengan banyak menggunakan garam. Tujuannya mengurangi konsumsi lemak jenuh. dan minuman yang tinggi gula murni dan lemak. jajanan. Makanlah aneka ragam makanan Mengkonsumsi berbagai bahan makanan secara bergantian akan menurunkan kemungkinan kekurangan zat gizi tertentu. Anjuran ini diberikan untuk mengurangi kemungkinan terkena penyakit diabetes mellitus. Lemak tak jenuh omega 3 yang banyak pada golongan ikan telah terbukti memberikan perlindungan terhadap/mencegah terjadinya aterosklerosis. 25 . dan telah dididihkan. Anjuran ini bersifat mendidik agar tiap orang meminum air bersih yang tidak membawa kontaminan baik bahan kimiawi maupun mikroorganisme. Penggunaan garam iodium masih perlu dikampanyekan mengingat gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia dan dapat mengenai semua golongan umur. 7. dan kolesterol yang merupakan faktor resiko penyakit kardiovaskuler. sumber hewani ada pada daging (red meat) dan sumber nabati ada pada semua sayur yang berwarna hijau pekat. serta tidak bersifat refined carbohydrate. Hal ini perlu ditekankan karena anemia masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia dan terdapat di berbagai kelompok umur. Gunakan garam beryodium. penyedap. Tujuannya adalah untuk menjamin kecukupan serat. Minum air bersih. Perbanyak frekuensi konsumsi hewan laut. umbi) dalam jumlah sesuai anjuran. Kurangi konsumsi makanan. Sumber karbohidrat komplek (serealia. 3. Batasi konsumsi lemak dan minyak yang berlebihan. trigliserida. Makan sumber zat besi secara cukup Bergantian antara sumber hewan dan nabati. 4.1. atau pengawet lain.

11. kuning. daging rendah lemak. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus. Perlu diperhatikan porsi makanan. susu. Batasi minum kopi atau teh. bayam. Perbanyak sayur dan buah berwarna hijau. seperti sayuran dan buah-buahan segar. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. direbus. 14. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari. telur. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan. gurih. dan sari buah sebaiknya Diberikan 12. vitamin C. buah.9. roti dan sereal. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk melembutkan feses.4. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin . karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif. provitamin A. dan sayuran hijau.5 10. jangan terlalu kenyang. hati. Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:  Makanlah makanan yang mudah dicerna  Hindari makanan yang terlalu manis. Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid: a. c. dan vitamin E yang melindungi sel – sel tubuh dan kerusakan yang terjadi secara dini. 26 . maupun oranye karena banyak mengandung serat. makanan harus lunak/lembek atau dicincang  Makan dalam porsi kecil tetapi sering  Makanan selingan atau snack. b. 13. dan goring-gorengan  Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik. boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan. atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng 15.

3. Tanda – tanda vital 1) 2) Terjadi peningkatan suhu tubuh Dapat terjadi peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan (normal : 14 – 20 x/mnt) 27 . diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia. b. Tanda-tanda kekurangan cairan a. Terdapat penurunan asam lambung. dan penurunan aktivitas fisik dapat menunjang perkembangan konstipasi. Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Pada Lansia a. Penggunaan laksatif yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengarah pada masalah diare.F. Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. d. pantangan diit. mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi. c. Lansia terutama rentan terhadap konstipasi karena penurunan pergerakan usus. 2. Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Masalah Cairan Pada Lansia Masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan tubuh. yang dapat mempengaruhi individu untuk mentoleransi makanan-makanan tertentu. Kebutuhan Cairan Pada Lansia 1. penurunan fungsi ginjal untuk memekatkan urin dan penurunan rasa haus. hal ini berhubungan dengan berbagai perubahan-perubahan yang dialami lansia. sehingga komposisi air dalam tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan bayi. Lansia mempunyai pusat haus yang kurang sensitif dan mungkin mempunyai masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam berjalan ) atau mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien stroke). Masukan cairan yang terbatas. Terjadi penurunan kemampuan untuk memekatkan urin. sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air.

halus b. Tanda-tanda kelebihan cairan a. denyut nadi (normal : 60-100 x/mnt). nadi Tekanan darah menurun Kulit kering dan agak kemerahan Lidah kering dan kasar Mata cekung Penurunan BB yang terjadi scr tiba2/drastis Turgor kulit menurun (Lansia kurang akurat) Penurunan kesadaran Gelisah Lemah Pusing Tidak nafsu makan Mual dan muntah Kehausan (pada lansia kurang signifikan) lemah. Pemeriksaan Fisik c. Tanda –tanda vital: 1) Terjadi penurunan suhu tubuh 2) Dapat terjadi sesak nafas 3) Denyut nadi teraba kuat dan frekuensinya meningkat 4) Tekanan darah meningkat b. Terjadi penurunan jumlah urin 4. Perilaku: 1) Pusing 28 . Perilaku: d. Pemeriksaan fisik: 1) Turgor kulit meningkat (lansia kurang akurat) 2) Edema 3) Peningkatan BB secara tiba-tiba 4) Kulit lembab c.3) 4) 1) 2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Peningkatan frek.

Pada pasien yang akan mengalami home care . atau pada pasien yang melalui oral feeding nya tak dapat mempertahankan status gizinya. c. Nutrisi Enteral dan Parenteral Pada keadaan tertentu. Pedomannya adalah sebagai berikut : 1. Peningkatan berat badan dalam 2 – 3 hari pertama yang mencerminkan adanya retensi cairan bila pertambahan berat badan berkaitan dengan penurunan signifikan kadar hemoglobin dan albumin serum. lansia dan perawatnyaharus dididik tentang prosedur yang perlu dan diberi tahu tentang komplikasi yang dapat terjadi. Efek samping utama adalah retensi cairan berlebihan. mekanik. Aspen (American Society for Parenteral and Enteral Nutrition) Board of Disorder telah membuat pedoman umum pada tahun 1993. Bila pasien menderita gangguan fungsi ginjal maka dapat terjadi oedema 29 . d. terkadang diperlukan pemberian makan secara enteral maupun parenteral bagi lansia terutama yang mengalami perawatan di rumah sakit. Program nutrisinya harus sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pola hidup di rumah. Disamping perawat/anggota berkala keluarga oleh yang tenaga terlatih.2) Anoreksia / tidak nafsu makan 3) mual muntah d. yang masih diperlukan pemantauan memiliki pengetahuan tentang potensi resiko infeksi. Dukungan nutrisi enteral melalui feeding tube hendaknya dilakukan pada pasien yang akan atau telah mengalami malnutrisi. b. e. dan metabolik dari feeding tube. Nutrisi Enteral a. Peningkatan jumlah urin (jika ginjal masih baik) G.

Calon penerima nutrisi parenteral adalah mereka yang telah mengalami malnutrisi atau berpotensi mengalami malnutrisi namun tidak bisa mencerna atau tidak dapat menyerap nutrient yang diberikan secara oral.perifer atau bahkan gagal jantung. 6) Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera. 5) Periksa kerekatan selang. jika selang longgar beritahu perawat. g. 3) Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu. 2. 4) Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan atau air. Minimalkan dengan pemberian infuse lambat. Total parenteral nutrition (TPN) diberikan bila nutrisi parenteral diindikasikan lebih dari 2 minggu atau terbatasnya jalan masuk perifer. c. Prinsip Pemberian Makan Melalui Sonde (Ngt) 1) Siapkan makanan cair dan minuman hangat 2) Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan 30 menit setelah memberi makan. b. Adapun prinsip penghitungannya adalah sebagai berikut : 30 . f. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan.5 d. Pemberian cairan infus ini membutuhkan pengaturan yang dihitung secara seksama. Masalah lain yang mungkin timbul adalah diare berat. Cara Menghitung Tetesan Infus Adakalanya pasien lanjut usia membutuhkan asupan cairan melalui infus. Nutrisi Parenteral a. Pada kondisi ini diet dimodifikasi menjadi bentuk yang lebih padat. Peripheral parenteral nutrition (PPN) diindikasikan untuk dukungan nutrisi parsial atau total sampai dengan 2 minggu.

gagal jantung. hipotensi.5 mmol/L (normal 0. yang terdiri atas rhabdomiolisis.Rumus : N = ∑ cairan x FT W (menit) Keterangan : N = Jumlah tetesan dalam menit FT = Faktor tetes ( biasanya 15 ) W = Waktu pemberian dalam menit ∑ cairan = Jumlah cairan dalam ml e. Kadar fosfat serum kurang dari 0. Sebagai kompensasi. koma bahkan mati mendadak. Fosfat dibutuhkan untuk menghasilkan adenin trifosfat dari adenin monofosfat dan reaksi fosforilasi penting lainnya. Refeeding Syndrome Refeeding syndrome merupakan kekacauan elektrolit yang sering terjadi pada pasien malnutrisi yang sakit akut setelah diberi larutan glukosa dari nutrisi parenteral dan enteral. cadangan lemak dan protein dikatabolisme untuk menghasilkan energi. kejang. Tanda khasnya adalah fosfatemia.85 – 1. Ketika pasien malnutrisi mulai makan kembali pola metabolisme berubah dari lemak ke karbohidrat menyebabkan sekresi insulin meningkat. gagal nafas.4 mmol/L) bisa menghasilkan gambarab klinis refeeding sindrom. Cadangan fosfat intraseluler dari pasien malnutrisi bisa berkurang walaupun kadar fosfat serum normal. disfungsi leukosit. aritmia. Pada starvasi atau kelaparan sekresi insulin berkurang akibat asupan karbohidrat yang rendah. namun hipokalemia dan hipomagnesemia juga bisa terjadi. Penting 31 .hal ini merangsang ambilan fosfat ke dalam sel dan bisa mencetuskan hipofosfatemia yang signifikan. Hal ini mengakibatkan elektrolit intrasel terkuras terutama fosfat.

H. Berjalan-jalan Berjalan-jalan dengan baik berguna untuk meregangkan kaki dan menjaga daya tahan tubuh. Berikut ini beberapa aktivitas kegiatan yang baik bagi kelompok usia lanjut: 1. hematologi dan neurologis. Jogging 32 . Pekerjaan rumah dan berkebun Pekerjaan rumah dan berkebun merupakan suatu latihan untuk menjaga kesegaran dan daya tahan tubuh. akan makin sempurna. Terapi dari refeeding syndrome dengan awalnya dengan memberikan elektrolit. Refeeding syndrom dapat menyebabkan komplikasi metabolik. vitamin dan mineral yang dibutuhkan kemudian dilanjutkan kadar kalori yang rendah (25% dari kebutuhan) untuk mengurangi terjadinya refeeding syndrome. Macam-macam Olah Raga/ Latihan yang Baik bagi Kelompok Usia Lanjut Agar tetap memperoleh gizi seimbang. Fenomena ini biasa terjadi dalam beberapa hari setelah mulai makan. 4. Senam tera dan aerobik Senam tera dan aerobik atau yoga memberikan keuntungan dalam mempertahan bentuk fisik dan mental. 2. 3. selain variasi penyajian makanan yang menarik juga perlu tetap aktif dan bergaul untuk meningkatkan nafsu makan dan penyerapan nutrisi. Bila berjalan dilakukan makin lama makin cepat. kardiovaskular.diketahu nahwa gambaran klinis dari refeeding syndrome tidak spesifik dan mungkin tidak dikenali. Tetapi. karena denyut jantung usia lanjut cenderung melemah. pekerjaan dimaksud perlu dilakukan secara cepat sehingga denyut jantung dan otot akan lebih cepat.

berguna untuk memperbaiki kemampuan pengambilan zat asam (O2) yang menyangkut fungsi jantung. paru-paru. dan lain-lain. 5. terutama untuk penderita artritis. Bersepeda atau berenang Kegiatan ini dapat dilakukan apabila memungkinkan.Dilakukan dengan tidak terlalu cepat. peredaran darah kaki. tapi tidak menambah kelenturan pada derajat yang lebih tinggi. karena dapat meningkatkan keregangan dan daya tahan tubuh. 33 .

melainkan suatu proses normal yang berlangsung sejak maturitas dan berakhir dengan kematian. orang berusia lanjut umumnya tidak berespon terhadap berbagai rangsangan internal maupun eksternal. Upaya pencegahan penyakit ini dilakukan melalui pola hidup sehat yang mencakup aktivitas fisik. Secara umum dapat dikatakan terjadi kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat seluler maupun pada tingkat organ sejalan dengan proses menua. Efek penuaan tersebut menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun. Menurunnya kapasitas untuk berespon terhadap lingkungan internal cenderung membuat orang usia lanjut kesulitan untuk memelihara kestabilan status fisik dan kimiawi dalam tubuh. Proses menua bukanlah sesuatu yang terjadi hanya pada orang berusia lanjut. 34 . Orang lanjut usia juga mengalami persoalan khusus tentang nutrisi. Akibat penurunan kapasitas fungsional tersebut. diet bergizi. Gangguan pada homeostasis tubuh tersebut dapat memudahkan terjadinya berbagai disfungsi sistem organ. Penyebab kematian utama pada usia lanjut adalah penyakit vaskuler dan penyakit kronik yang menyertainya. Mereka beresiko tinggi menderita malnutrisi dan lebih rentan terkena dampak malnutrisi. dan menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol.BAB V RINGKASAN Penuaan merupakan proses yang terjadi secara alami.

Laksmiarti. Edisi IV. Dalam : Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Buku Ajar Geriatri. Darmojo. Potter & Perry. 2009. 2006. Darmojo. Dalam : Blok Geriatri Fakultas Kedokteran UNS. Jakarta : EGC 10. Herti.. R. 2009. Dalam : Blok Geriatri Fakultas Kedokteran UNS. Siti. Atikah.1999. Gizi pada Usia Lanjut. Boedhi. Edisi IV. Gallo. Joseph. Nugroho.Jakarta : EGC 11. 2009. 5.2005. Dalam : Buku Ajar Geriatri. Wahjudi. Boedhi. 2006.dkk. Solo : UNS. 2. Yogyakarta : NuMed 7.1998.KEPUSTAKAAN 1. Sumarmi. Wiboworini. Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan Surabaya 8. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. 1999. Tetap Sehat di Usia Lanjut Dengan Gizi Sehat. Edisi 4. Soewoto. Turniani Dan Maryani. Gizi untuk Dewasa dan Lansia.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Nutrisi pada Usia lanjut. Keperawatan Gerontik. Nina. Gizi bagi Lanjut Usia. Jakarta : FKUI 6. Budi. Setiati. Buku Saku Gerontologi.2000. Jakarta : PAPDI.Jakarta :EGC 35 . Jakarta : Balai Penerbit FKUI 9. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. Proverawati. Jakarta : PAPDI. 4. Sari. 3.R. Solo : UNS. Gangguan Nutrisi pada Usia Lanjut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->