$~

Botanical Research Bulletin

$~ adalah Publikasi resmi dari Herbarium Manokwariense (MAN) Pusat Studi Keanekaragaman Hayati Universitas Negeri Papua (PSKH-UNIPA). Buletin ini memuat hasilhasil penelitian di bidang tumbuh-tumbuhan yang mencakup Taksonomi, Ekologi, Fisiologi, Keanekaragaman, serta penelitian Etnobotani di Papua dan daerah lainnya. Buletin ini terbit secara teratur dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan September.

Beccariana is officially published by Herbarium Manokwariense (MAN), Biodiversity Study Centre of Papua University. The bulletin contains researches of several aspects including Plant Taxonomy, Plant Ecology, Plant Biodiversity, and Ethnobotany. It is regularly issued twice a year, in May and September.

Dewan Pelindung (Adviser board) Rektor Universitas Negeri Papua

Kepala Pusat Studi Keanekaragaman Hayati UNIP A

PenyuntiBg Ahli (Editorial Board) John Dransfield (RBG _ Kew) William Baker (RBG _ Kew) Rugayah (Herbarium Bogoriense)

Elisabeth A. Wijaya (Herbarium Bogoriense) Johanes P. Mogea (Herbarium Bogoriense)

..

Penyunting Pelaksana (Desk Editor) J. Wanggai (Ketua)

Rudi A. Maturbongs (Anggota) Obed Lense (Anggota)

Agustina Arobaya (Anggota) Nurhadia 1. Sinaga (Anggota) Charlie D. Heatubun (Anggota) Yohanes Y. Rahawarin (Anggota)

Alamat Redaksi (Address for correspondence):

Herbarium Manokwariense (MAN), Pusat Studi Keanekaragaman Hayati Universitas Negeri Papua (The Biodiversity Study Centre Of The State University Of Papua) J1. Gunung Salju _ Amban Pf). Box 23, Manokwari 98314 Papua, Indonesia.

Esmail : pskh_mkw@manokwari.wasantara.net.id.

Telepon (0986) 212758.

Gambar Sampul (Cover): Bunga Tecomanthe sp.

---------------------------- .. _--,----------,---------- .. --------

ISSN 1410-5403 BULETIN PENELITIAN BOTANI "aJe".'IJtZ,~olome 4 Nomor 1, Mei 2002

_________________ 11_. e Halaman (1 - 67)

CONTENTS

1. Biodiversitas Palem pada Bagian Utara Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclops (Diversity of palm in Northern Cylops Natinal Reserve) B.Desianto, Rudi. A. Maturbongs, dan Charlie D. Heatubun (1-14).

2. Teknik Pemanenan Berkelanjutan Kulit Pohon Lawang (Ctnnamommum culillawanne Bl.) (Sustainable harvesting oflawang bark Cinnamommum culillawanne Bl.). M. J.Tokede dan C.M.E. Susanti (15-19) ..

3. Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (Traditional Medicinal plants from Biak).

S.D. Hastnti, M.J. Tokede, dan Rudi. A. Maturbongs (20-40).,

4. Identifikasi Jenis Anggrek Efifit pada Kawasan Hutan Maaggrove Desa Waijan Kecamatan Samate Kabupaten Sorong (Epiphyte orchids from mangrove forest in Wayan VillageSorong Regency). Nelce Duwit, C. Y. Hans Arwam, dan J.IV[anusawai

(41-48).

5. Teknik Pembibitan dan Penanaman Sagu (Metroxylon Sagu Rottb.) Oleh Penduduk Desa Air Besar dan Desa Kanantare Kecamatan Fakfak Kabupaten Fakfak

(The propagation and planting of sago in community Air Besar and Kamante Fak-Fak Regency). E .. Herlina, A. Rumbino, dan J. Manusawai (59-55).

6. Kearifan Pemanfaatan Tumbuh-Tumbuhan Sebagai Obat Tradisonal oleh Masyarakat Suku Wondama di Desa Tandia Kecamatan Wasior Kabupaten Manokwari (The utilize of traditional medicinal plants by Wondama tribe in Manokwari Regency). W. Indatyani, F.Wanggai, dan Rudi, A. Maturbongs (56 .. 67).

DIVERSITASPALEMPADA BAGIAN UTARAKAWASAN eAGAR ALAM PEGUNUNGrAN CYCLOPS (THEDJlVERSITY OF PALMS IN THE NORTBERN MOUNT ~CYCLOPSNATI[JRAL RESERVE)

Oleh/By

Barnabas Desianto 1), Rudi A. Manubongs 2) dan Cb2lrlie D. Heafubun 3)

Ab.'itract

The primary aim of this research was to identify the diversity of 'palms in the the northern Mount Cyclops Natural Reserve, Jayapura, Papua. Main variable were observed in this study including stem morphology, leaf, spine, flower, fruit, seed, and-habitat. Research indicated that there are four sub-family of palms found if! this area including Calamoideae, Corypoidea, Nypoidea; Arecoidea. The research also found that. there are 22 species including Areca macrocalyx . ex. Blume. Arenga microcarpa Becc, Cyrtostaehys SP:, Calyptrocalyx sp. 1, Calyptrocalyx sp. 2, Calamus humboldtianus, Calamus sp. 1, Calamus sp. 2, Calamus sp. 3, CaryotarumphianaMart, Gronophyllum sp.; Gulubtacostata; Hydriastele sp., Karthalsiazippelli Burr, Licuala sp. 1, Licuala sp. 2, Linospadixsp., Nypa-frucucans Wurb, Orania

sp., Piytcosperma 'sp., Pigafetta filaris; Rhopaloblata sp. .

Key Word: Diversity, morphology, palm.

PENDAHULUAN

Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan' dapat dimanfaatkan untnk . memenuhi berbagai kehidupan manusia, Didalam pembangunan dewasa ini, fungsi dan perannya sangat penting seperti pengatur tata air . maupun penghasil kayu dan non kayu terutama penyediaanbahan baku industri . Menurut peruntukannya hutan di Indonesiadibagi atas beberapa fungsi sesuai dengan keadaan hutan tersebut antara lain ; fungsi produksi, fungsi perlindungan dan fungsi wisata.

Propinsi Irian Jaya (sekarangdikenal sebagai propinsi Papua) merupakan salahsatu propinsi yang memiliki sumberdaya ralam yang kaya akan berbagai jenis flora dan fauna dengan tipe hutan yang lengkapmulaidari hutan mangrove sampai vegetasialpin. Sedangkan jumlah flora yang terdapat di daratan New Guinea. (termasuk Papua) diperkirakan sekitar 15.000-20.000 spesies, beberapa .. spesies diantaranya memiliki sifat yang khas dan unik yang tidak ditemukan

I} Fakultas Kehutanan UNIP A, Manokwari 2), 3) Herbarium Manokwariense. PSKH UNIPA, Manokwari

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 ... 67)

padapropinsi lain qi Indonesia bahkan di negara laindidunia (petoez, .1987)

Palem adalah sekelompok tumbuhan yang banyak terdapat di hutan Papua dan meme~lltlg fungsi dan peran yang penting di dalam menyusun ekosistem hutan. Sedangkan di daratan New Guinea terdapat 31 marga palem dari 200 .marga palem yang terdapat didunia. (Hay, 1984; Uhl & Dransfield, 1987)

Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclopsjnerupakan salah satu bagian dari kawasan hutan hujan tropis yang terletak di bagian Utara propinsi ini .. selain fungsinya sebagai daerah hidrologi atau daerah penampung hujan yang utamabagi penduduk Jayapura dan sekitamya, Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclops juga mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi khususnyaflora.

Pieters (1982) dalam Petocz (1987) menyatakan bahwaPegunungan Cyclops merupakan suatu blok pegunungan pantai yang terpencildimana proses pembentukannya terjadi akibat· suatu pengangkatan dari dasar Iaut yang disebabkan karena adanya pertemuan antara dua lempeng

1

Biodiversita$ Palem Pada Bagian UtarG KawQScml Cagar Alam Cyclop:s: (1 - 14)

palem di lapangan dilakukan secara

a.ksidential tentang keberadaan jenis palem. Variabel pengamataa meliputi nama marga, ciri morfologi daun, batang, duri, bunga, buah, biji, dan tempat tumbuh palem. Khususnya untnk data kuantitatif berupa hasil pengukuran dibuat kisaran dari yang minimal sampai maksimal.

BASIL DAN PEMBABASAN

Basil penelitian menunjukkan bahwa palem di bagian Utara Kawasan Cagar Alam PegununganCyclops ditemukan 22 Jenis dari 17 Margayang terdiri dari 4 Sub Famili yaitu Sub Famili Arecoideae, Sub Famili Calamoideae., Sub FamiliCoryphoideae, Sub Famili Nypoideae. .Jenis-jenis palem tersebut disnsun berdasarkan em vegetatifuya dan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabell. lenis-jenis Palem pacta Bagian Utara Cagar Alam Pegunungan Cyclops

--~~---------------

Jenis

yaitu lempeng Lautan Pasifikdan Iempengan Australia. Dengan demikisn maka ·pegum,lngan ini mempunyai suatu karakteristik tersendiri yang berbeda dengan daerah pegunungan disekitarnya. Akibat dan proses pembentukan pegunungan yang unik menyebabkan terjadi berbagai isolasi seeara lokal yang kemungkinan besar dapat menyebabkan terjadinya atau terbentuknya suatu jenis tumbuhan khususnya palem yang bersifat endemik,

METODEPENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pacta bagian Utara Kawasan CagarAlam Pegunungan Cyclops. Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan tehnik survei. Tehnik pengambilan contoh

No Sub Famili Marga

01 Arecoideae Arenga

02 Arecoideae Areca'

--~7----7~~~----~ ~~-

03 •. Areeoideae Cyrtostachys

04 Arecoideae Calyptocalyx

os . Arecoideae CalyPtrocalyx

06 Calamoideae Calamus

07 Calamoideae Calamus

08 Calamoideae Calamus

09 . Calamoideae Calamus

10 Arecoideae Caryota

11 Arecoideae Gronophyl1um

12 Arecoideae Gulubia

13 Arecoideae Hydriilstele

14Calamoideae Korthalsia

15 CoryphoideaeLicuaIa

16 'Coryphoideae .' Licuala

17 Areeoideae Linosfadix

18 Nypoideae Nypa

19 Arecoideae Orania

20 Calamoideae Pigafetta

21 Arecoideae Ptychos,perma

22 Arecoideae Rhopaloblaste

Deskripsi Palem

Deskripsi jenis..jenis palem pada bagian utarakawasan eagar alam Pegunungan Cyclops adalahsebagai berikut :

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2:002 (1 - 67)

Arenga mi:croca.rpa B~.

Areca macrocalvx ex. Blume

Cyrtostachys sp.

Calyptrocalyx sp. 1

CarypttocalyxsQ.~.2~ __

Calamus humboldtianus

Calamus sp:2

Calamus sp. 3 Calamus spA

Caryota rnmphiana Mart.

Gronophyllu'm s

Gulubiacotata

., Hydriastele sp .----------------

Korthalsia ztppellti. Burr ..

Licuala SR. 1 Licuala s .2

Linosfildix sp. _==--:-- ~ _

Nypa.fructicans _W __ ur~b-,-. ,..-

Oraniasp _

Pigafetta jilaris _. _

Pt_ychosperma sp.

Rhopaloblaste Sl,)_. _

1. Arenga microcarpa Beec

Palem ·sedang, berumpun. tinggi 5-8

meter. Batang : berdimneter 10.:.13. em, berserabut hitam waktu mnda, setelah tua berwama coklat, tekstur beralur dan,gkal, bentuk bnlat silindris, arab tumbuh tegak,

2

Biodiversitas Palem Pada Bagiah Vtara KawCl:SCliI'l C,agarAlarA Cyclc;ps(l ... 14)

panjang ruas 10-20 em. Daun : berjumlah 9··· 11 helai, panjang270-290 em, lebar 137-1:56 em, bentuk ujung membelah dua (bifid), warna bagian atas bijau dan bagian bawah putih, permukaan liein, bentuk menyirip (pinnate). 1\nalt .daun : .panjang· 70 ... 95 em" Iebar 3 ;5-4 em, bentuk elongate, bentuk ujung bergerigi (unevenly praemorse), berjamlah 144-152helai, panjang tangkai daun50-80 em, leba! tangkai daun 3-4 em; permukaan tangkai daun bersisik, erowJ[lshaft membentuk pelepah; berwarna bijau dengan pinggiran pelepah berserabut hitam, Pembungaan : panjang 50-80 em, jumlah percabangan 10 ... 35, panjang tangkai 35~50 em, warna tangkai: bijau kekuningan, Ietak tandan I tempat keluarnya bungaInterfoliar (keluar padaketiak daun), prophyll berbentuk seperti tanduk, berwarna bijau, panjang· 20-:50 em.Bunga: tersusun sepanjang raehilla, berwarna . kuning. Buah .: . bulat, tektur permukaan (epicarp) liein, mesocarp tipis tidak berserat; berwarna bijau waktu muda merah waktu tua, diameter 15 nun. Bijj : berbiji:' sam, tekstur·· permukaan (endocarp) licin, berwarna eoldat kehitaman setelab. masak, endosperm: ruminate, embrio sub apical.

Penyebaran:ditemukan pada daereh pinggiran pantai dan sepanjang aliran sungai, pada ketinggian 15-11 o meter dpl,

Habitat: tumbuhpadakeadaantanallL berbatu berserasah tipis, kebauyakan bidup dibawa nanngan yang tidak terlalu rapat, berasosiasi dengau Pandanus sp,Pometia sp, piper anduncum, Ficus sp.

Nama daerah:lri Nyi (bahasa Ormu)

Pemanfaatan : Dann dimanfaatkan ·untW;:: pembuatan map I mmah (pondok),bata1tqr, dijadikan tiang penyangga rumaltI . atan pondok, tulsng daun sekunder digunak.an untuk sapu lim, wnbutnyadapat dimakan.

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 31 Jannari 2001, Barnabas Desianto 10(MAN).

Beceariana Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 -, 67)

2. Areca macrocalyx Zipp ex. Blume

Palem jenis sedang, tumbuh. tunggal dengan tinggi 4-6 meter. Batang berdiameter 5~6 cm,.berwarna hijau waktu mudaeoklat setelah tua, mempunyai tekstur pennukaan licin, bentuk bulat silindris, panjang mas 15-30cm,. arahtumbuh tegak. Daun:berjumlah6-7 helai, panjang 170-180 em, lebar 120-122 em, berwarna hijau, keadaan permukaan ·liein; ~lung membelah dua (bifid), bentuk menyirip (pinnate). Anak d.aun: panjang 40-60 em, Iebar 4-4,5 em, bentuk . lancolate, bentuk ujung acute (meruncing), berjumlah 44-46 helm, tata letak berseling~panjang tangkai daun 2,-4,5 em, Iebar tangkai daun 1,5-2 em, crown shaft membentuk seludang berwarba hijau, berindumen:tun1putih. Pembungaan : tersusun dalam: tandan,panjang 15-25 em, panjang tangkai 5 .. 6 em, tata letak infrafoliar, bunga betmatedetak di pangkal, bunga jantan pada ·raehilla. ·Bunga·: pada saat dilakukan penelitiantidak dijumpai adanya·bunga. Buab : bentuk lonjong, tekstur permukaan (epicarp) licin;lapisantengah (mesocarp) berserat (berserabut), wama buah waktu mnda hijau, berdiameter 15-17 lD1ll;panjang 2-2,3 em .. Bijl: berbiji··satu, endocarp licinendosperm ruminate, embrio lateral.

Penvebaran : ·menyebar hampir merata pada daerah lereng gummg, dan tempattempat yang datar, padaketinggian 100 .. 200 meter dpl.

Habitat : tmnbuh padatanah berbatu, hidup dibawah naungan, beasosiasi dengan Insia sp, Callophylum sp, Cinamomum cullilawangCanarium sp.

Nama Daerah .:: Torfleru Nyi (Bahasa Ormu} Pemanfaatan : buahnya yang masih muda sering dipakaJi sebagai pengganti pinang (Areca catechu).

Spesimenl8lcuan.: Papua, Jayapura,C.A.

Peg. Cyclops, 30 Januari 2001, Barnabas Desianto ·04 (MAN).

3

Biodiversitos Palem Pade Boglan· Utora Kowosal'l Cogar Atom Cyclops (1- 14)

3. Cyrtostachys-~Ip.

Palem besar dengantinggi 12-17 meter, tumbuhtunggal. Batang: berdiameter 15-20 cm,berbentuk bulatsilindris, panjangruas 10-30 em berwama eoklatbercak keabuan, tekstur permukaan beralur dangkal, arab twnbuh tegak .. Daun:berjum1ah 12·,14 helai, panjang 265-30()cm, lebar 160-200 em, berwama hijau, keadaan permukaan licin, ujung membelah dua (bifid), bentukmenyirip (pinnate).Anak daun : panjang80;"100 em, lebar 4,5-5 em, bentuk meruncing (lancolate), bentuk ujung meruncing (aeute),berjutnlah 174-176 helai dengan letak anakvdaun berhadapan I seJ~ar. panjang tangkai daun 1 0-12 em, lebar 5-7 em" crown shaft membentuk seludang lieinberwarnahijau. Pembungaan: panjang 100 .. 120 em, panjang tangkai 6~1 0 em, jumlah percabangan 11-13, warna tandan. atau rachilla-rachilla kuning pucat, letak keluartandan atau tempat keluarnya bungainfrafoliar .. Bunga : wama bunga pntih, jumlah stamen 12, wama stamen putih.. warnapistil putih, jumlahpistil 1" bentnk pistil elongate, terletak di sepanjang rachilla; Buah: bentuk lonjong meruncing, wama buah masak hitam, tekstur petmukaan buah (epicarp) liein,berdiameter 4,.5 rom" panjang 5-7 rom. Biji : mesocarp tipis berserat mempunyai endocarp keras endosperm ruminate, berembrio basal.

Penyebaran :. hampir pada semua daerah (lereng, punggung, datar ), pada ketinggian 50-700 meterdpl.

lIabitat: tumbuh pada keadaan tanah berbatu dengan lapisan serasah yang agak tebal, twnbuh sejajar.dengan vegetasi lain di hutan,berasosiasidoogan Semecarpus sp, Drymys sp, Ficus sp.

Nama Daerah : Tnang nyi (BabasaOnnu) Pemanfaatan: daun digunakan untuk atap rumah,batang sebagai Iantai rumah.

Spesimenacuan :. Papua, Jayapura, C.A, Peg. Cyclops, 30 Januari 2001, Barnabas Desianto 01 (MAN).

8ec:cariaftQ Volume 4 Nomor 1. Mei 2002 (1 - 67)

4. Calyptrocalyx sp 1

Palem kecil, berumpun, tinggi pohon 1~5-2 meter. Batang: berdiameter 2-3 em, panjang ruas 3-4 em, berwamacoklat.vtekstur permukaan Iicin, arab tumbuh tegak. Daun: berjumlah 10-12 helai, panjang 60-70 em, Iebar 40·60 ern, warna dannhijau, keadaan permukaan licin, bentuk pinnate (menyirip), ujung vmembelah dua (bifid); Anak daun: panjang 19-26 em, lebar5-7cm, tata letak lberseling,bentuk sigmoid, bentuk ujung obligue acuminate, berjumlah 18-20helai, panjang tangkai daun 18-25 em, lebar tangkai daun 1 em, pelepabberwarna kuning tua dengan sera but di pinggiran pelepah. Pembungaan : panjang 15.20cm, panjang tangkai30-40 em, tunggal, letak tandan interfoliar, Wama brach coklat muda, ujung brach meruncing berbentuk seperti perahu. Bungs rberwama coklat, Bush: bentuk bulat telur, tekstut permukaan licin-panjang 10-15 mm, diameter 0,8-10 mm, warna hijau waktu mndah setelah matang menjadi merah, Biji :berbiji satu, mesocarp berserat, endocarp . keras kasar, endosperm ruminate; berembryo basal.

Penyebaran : pada ketinggian 130-160 meter dpl, kebanyakan pada daerah-daerah lembah terutarna dekatpingiran aliran-aliran air.

Habitat : tnmbuh pada tanah berbatu dengan lapisan '. serasahnya tipis, hidup dibawah naungan yang 1embab, berasosiasi dengan tumbuhan Myrisuea sp, Antiaris toxiearl, Mussaenda sp

Bahasa Daerah : YanyasaNyi (Bahasa Ormu)

Spes,imen aeaan : Papua, Jayapur8;C.A ..

Peg. Cyclops, 30 J anuari 2001, Barnabas Desianto 2 . (MAN).

5.Calyptroca{~'x Sp2

Palem .kecil, dengan tinggi pohon 2-4 meter, hidup berumpun. Batang : berdiameter 3-5 em, bentuk bulat silindris, panjang mas 2- 3 em, wama coklat, tekstur licin, arah tumbuh tegak, Daun : berjumlah 8-1 Ohelai, panjang 10-96 em, Iebar 66-73 em, bentuk pinnate

4

8iodiversitas Palem Pada Bagian Utara KawascRI"Cagar Alom Cyclop$(1 - 14)

(menyirip), warna daun bagian permukaan dan bagian bawah permnkaan daun bijau, keadaan pennukaan .daun licin, bentuk ujung daunmembelah dua (bifid). Anak daun: panjang 37",45 em, lebar2-2,5cm, bentuk

meruncing (lancolate), bentuk ujung

meruncing membelah dua (acuminate

notched), berjrunlah . 42·45hell~ letak berselingan, panjang tangkai daun 14-16cm, lebartangkaidaun 1-1,2 em; pelepah berwarna orange. Pembungaan :panjang 20 em. panjang tangkai 10· em, percabangan tunggal, letak keluar tandan atau tempat keluarnya bunga interfoliar. Bunga " berwarba coklat, Buah: .padasaat dilakukan penelitian tidak dijumpaiadanya buah,

Penyebaran: pada ketinggian.SQO meter dpl, tumbuh padadaerah lerenggunungdan punggung-punggung gunung.

Habitat : tempat tumbuh tanah, hidup dibawah .naungaa, .dengan kondisi suhu yang lembab; jenis .vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitu Callophylum sp, Canarium sp, Myristica sp, Mangipera sp,

Bahasa Daerah: Tnang Nyi (Bahasa Ormu)

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura., a.A.

Peg. Cyclops, 2 Februari 2001, BD15 (MAN).

6. Calamus humboldtianus

Rotan kecil, arab trimbuh memanjat / menggantung mencapai ketinggian 5-8 meter, bidup berumpun. 'Batang" : mamefelr dengan pelepah 2-3 em, tanpa pelepah 1-1,5 em, panjang mas 10-20 em, warna batang hijau, tekstur . permukaan ficin, Daun : berwama hijau, keadaan permukaan lic:in, panjang 62-86cm, Iebar 61"-66 cm,bentuk pinnate(menyilip). bentuk ujung membelah dna (bifid) .: ADak daun: panjang, 30-40· em, 1ebar 4,5-5 em, bentuk~ung menmcing, berjumlah. 20 . helm, tata letak . berbadapan / sejajar, pinggiran anak daun " berdurihalus yang berwama coklat muda. panjang tangkai daun 35-45 em, lebartangkai daunO,5-1 em, tangkai daun berduri, mempunyai lutut daun, okrea berwarna coklat rnuda membentuk

BeccQriana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 _.' 67)

tabung dijumpai pada tanaman muda dan setelah dewasatidak dijumpai adanya okrea. Duri : daerah.penyebaran duri hampir .pada semaa bagian .'. tumbuhan, warna duri coklat muda.,berulruran 2-55 rom, dengan bentuk pipih, AIat pemanjat: berupa.flageladengan panjangJ50-333cm, wama.duripada flagela knning tuabagian ujung duri kehitaman, arah duri berlawanan dengan arah daun, berbentuk seperti.cakar ayam, Pembungaan: panjang 47-49 em, panjang tangkai 50-60cm, tangkai berwama bijau, letak keluarnya bunga interfoliar, jumlah. percabangan .2-3. . Bunga: berwarna coklar mnda (miripbunga salak). Buah :. bentuk bulat telur, berdiameter6-8 rnm, panjang 10 .mm, tekstur permukaan (epicarp). bersisik; berwama . coklat muda sudah matang berwamacoklat, Biji:. berbiji satu, berwarnavcoklat kehitaman, tekstur permukaan halus, berbijikeras,

Penyebaran : pada ketinggian 20-500 meter dpl, tumbuh hampir merata pada daerah-daerah yang rata dan lereng-lereng gunnng.

Habitat : tumbuh pada tanah berbatu dengan lapisan serasah yang tipis, hidup dibawah naungan yang tidak terlalu rapat, berasiosiasi .dengan vegetasi sekitamya .yaitu Piper anduncum, Octomeles sumatrana, Intsia sp,

Bahasa Daerah : Ajabf kwa . Nyi (Bahasa Daerah)

Pemtanfaatail: digunakan sebagai tali pengikatrumeh, .tali pengikat . semang perahu, tali busur, aimya dapat diminum

Spesimen .aeuan : Papua, Jayapura, C.A Peg. Cyclops" I Febmari 2001, Barnabas Desianto 05 (.MAN).

7. Calamus sp 1

Jenis rotan keei], tumbuh menggantung mencapai.ketinggian 5-2Q meter, bidup secara berumpun. Batang: diameter dengan pelepab 3-3,5 em diameter tanpa pelepah 1,5-2 em, panjang mas 17-19 em, tekstur licin, berwarna hijau. Daun: warna hijau, panjaag 115-1~O em, 14ebar.42-50 em, bentuk pinnate

.s

Biodiversitas Palem Pacta BagianUtara Kawa=JGn CC149Clr.· Alahrt CyctOlllIS· (1 - 14)

(menyirip), ujung memebelah dna (bifid), ADak daun : panjang 20-30 em, lebar 1-2 em, bentuk meruneing (lancolate linear), bentuk ujung meruncing (acute linear),berjumllah 112;.;114helai, letak berseling.v rkeadaan permnkaan licin~dengan dnri halus berwama kuning pada :sekitarpennukaan daun dan pinggiran anak daun, panjang tangkai. dann 26..,35 em,le:bar tangkai daun 1 em" mempunyai tutut claun, okrea tercabik-cabik berwarna . coklat tua.Pembungaan : pada saat . dilakukan penelitian tidak dijumpai adanya bunga, Buah : pada saat dilakukan tidak dijumpai adanya buah. Duri : daerah penyebaran . pertulangan daun, . tangkai daun, tepidaun, wama kuning ujung kehitaman, panjang 2-20 mm,bentukpipih. Alat pemanjat··: .berupa flagela dengan panjang 290-350 em, warna duripada flagela kuning tua dengan ujung kehitaman bentuk duri seperti eakarayam, menyebar tidak merata antara2-3.

Penyebaran : pada ketinggian 100-300 meter dpl, pada daerah lereng dan daerah yang rata.

Habitat : . bidup pada tempat . yang naunganya tidak terlalu rapat,dengan keadaan tempat tumbuh padaberbatu, jenis vegetasi sekitamya Semecarpus sp, Octomeles sumatrana, Sterculia sp.

Bahasa Daerah : Hajabf kwa Nyi (Bahasa Onnu)

Pemanfaatan : batang digunakan untuk membuat tali busur, alat pengikat rumah atau pondok, tali pengikat semang perahu.

Spesimen· aeuan : Papua, Jayapura, c.A.

Peg. Cyclops, 2 Februari 2001, Barnabas Desianto 02 (MAN).

8. Calamus sp 2

Jenis rotan kecil-sedang arahtumbuh mengantung I memanjat mencapai 10-15 meter, tumbuh tunggal. Batang: diameter dengan pelepah 2,5-4 em, diameter tanpa pelepah 2-3 em, bentuk bulat silindris, teksturpermukaan licin; warna hijau keabuan, panjang mas 10-15 em. Daun: panjang 150·,

Beecariana Volume 4 NomOI' 1, Mel 2.002 (1 ... 67)

200cm, lebar 57-70cm, bentuk pinnate (menyirip); warnahijau, permukaan licin, pada ujung daun terdapat sirus dengan panjang 50 .. 100 em, ujung membelah dna (bifid) .. Anakdaun :berkelompok 2-3 helai, berjumlah 22-24, panjang 34-40 em, lebar 5-7· em, bentuk sigmoid, bentuk ujung meruneing, tata letak berselingan (teratur). panjang tangkai 50-90 em, lebar tangkai 1,5-1,7 em, mempunyai ·lutut daun, tidak dijumpai adanya okrea pada saat tanaman muda rnaupun dewasa Duri: daerah penyebaran sekitar pelepah, wama coklat, panjang 5-35 rom, bentuk ·.pipih.Bunga .: pada ·saat dilakukan penelitian tidak dijumpai adanyabunga.· Bush: Pada saat penelitian tidak. dijumpai adanya bush ..

Penyebaran: pada ketinggian 115-200 meter dpl, menyebar.padadaerah-daerah yang tidak terlalu bergelombang (rata).

Habitat: tumbuh pada daerah tanah berbam, hidup dibawah naungan yangtidak terlalu rapat, berasosiasi dengan jenis vegetasi Casuarina sp, Geniostemo sp, Hopea sp. Bahasa Daerab.: Uncufrei (Bahasa Ormn)

Ptmanfaatan: batang digunakan untuk membuat tali busur, dan digunakan juga sebagai tali pengikat rumah, pengikat semang perahu

Spesimen acuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 2 Februari 2001,. Barnabas Desianto 07 (MAN).

9. Calamussp 3

Jenis rotan sedang, dengan arah tumbuh menggannmg I memanjat mencapai 12-18 meter, hidup secara rberumpun. Batang : diameter batangdengan pelepah 3-3,5 em, tanpa pelepah 1,5-2 em, bentuk bulat silindris,.panjang mas 15-20 em, warna kuning. pucat; mempunyai. tekstur permukaan licin, pelepah waktu muda berwarna keunguan setelah tua berwarna hijaa. Daun : panjang 40~ 70 em, lebar 30-54 em, bentuk pinnate (menyirip), warna daun bagian permukaan . dan . bagian bawah pennukaan hijau, keadaan permukaan berduri halus,

6

Biodiversitas Paiem Pada &agia" Utara KaWQSCIlft Cagar Alain Cyclops' (1 - 14)

ujung membelah dua (bifid), .Anak daun: panjang 15-30 em, lebar O,5~1 em, bentuk meruneing (lancolate linear),bentuk ujung meruneing(acute linear), jumlah helai 184 helai, tata letak berhadapan / sejajar. Panjang tangkai daun 5 .. 9 em, Iebar tangkai daun 1-1,5 em, mempunyai Iutut daun dan tidak dijumpai adanya okrea baik .pada tanaman mnda maupuudewasa. Pembungaan : padasaat dilakukan peneIitian tidak dijumpai adanya bunga. Buah : pada.saat dilakukan penelitian tidak dijumpai adanya buah.Duri :tataletat. penyebaran pada sekitar .pemukaan . daun, pinggiran anak daun tangkai daun, pelepah, tulang daun primer,flagela, warna duri kuning dengan ujung duri kehitaman, Allat pemanjat :a1atpemanjatberupa flagela dengan panjang 250-300 em, duri yang terdapatdiflagela meyerupai cakar 'aYEall terdiri dari .3-4. duri 'yang menyebartidak merata, warna duri kuning tua dengan ujung duri berwama kehitaman. '

Penyebaran : pada ketinggian 400-650 meter dpl,tumbuh pada daerah-daerahlereng; dan tempatyang agak rata.

Habitat: keadaaa tempat tambuh .. tanah berbatu, hidup dibawah. naungan yang rapat, jenis vegetasi sekitartempat tumbuh yaitu. Sceratopetalum sp, Callophylum sp, Intsia sp, Pandanus sp.

Bahasa Daerah : Hajabfkwa Nyi(bahas

Ormu) ,

Pemanfaatan : batangdigunakan sebagai tali busnr dan alat pengikat tiang-tiangrcmah

atau pondok. ,

Spesimell acuan : Papua, .Jayapura, C.A., Peg, Cyclops, 2 Februari 2001, Barnabas Desianto14 (MAN).

10. Caryotarumphlana Mart.

Palem sedang-hingga besar, tumbuh tunggal, tinggi meneapai 10-13 meter .. Bamllg : diameter" 15-20 em, bentuk bulat silindris,panjang ruas 10-30 em, wama coklat, mempunyai tekstur beralur dangkal, arah tumbuhtegak. Daun : berjwnlah 5-"7 helai, panjang 600-700 em, lebar 400-450

Beccarlana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 _, 67)

em, wama bagian permukaan dan bagian bawah pennukaan hijau kusam,· keadaan permukaan licin,bentuk bipinnate (menyirip ganda), bentuk ujungbergerigi. Anak daun: ukuran Ll-Iticm, panjang 14-24 em, bentuk flabellate (mengipas), tata letak berseling, bentuk ujung bergerigi, jumlah 15-20 helai, panjang tangkai daun 10-12 em dengan lebar tangkai daun 8-10 em. Pembungaan:

Panjang70 .. 150 em, panjang tangkai 15 .. 23 em, . warna tangkai coklat keabuan, warna rachilla hijaukekuningan, letak keluar tandan atau itempat keluarnya bunga interfoliar, prophyllberbentuk seperti perahu, dengan tekstur yang keras, warna 'coklatabu-abu kehitaman, berjumlah 3-5prophyll setiap pembungaan. Bunga: warna kuningpucat, terletak di.sepanjangrachillaBuah.: bentuk bulat, warna sewaktu muda hijau keabuan setelah masak berwarna merah , berdiameter 25-28 mm, tekstur pennukaan (epicarp)licin mesocarp tipis .. Biji : berbiji dua,bijikeras berwamaeoklat kehitaman, Endosperm ruminate.

Penyebaran .: pada ketinggian50.J20 meter dpl, tumbuh di pingiran aliran sungai dan bekas-bekas kebun atau ladang masyarakat setempat.

Habitat : tumbuh pada daerah terbuka (bebasnaungan) dengankead.aan tempat tumbuh tanah berbatu, jenis vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitu Pometia Coreaceae, Palaquium sp, Fagraea recennosa.

Bahasa Daerab. : Tere Nyi (Bahasa Ormu)

Pemanfaatan : batang digunakan untuk membuatlantai rumah atan pondok-pondok.

Spesimenaeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyelops,09Februari 2001, Barnabas Desianto 20 (MAN).

11. Gronophyiliumsp.

Palem jeniskecil, hidupsecara berumpun, tinggipohon 2~3 meter. Satang: diameter 2-3 em, teksturpermukaan liein, panjang ru.as 6-1J,crn, wama waktu muda berwarna hijau, tua berwama coklat, mempunyai arah tumbuh tegak. Daun : berjumlah 5-8helai, panjang 30

7

Biodiversitas Palem Pada Bagian Utara Kawascnn Clagar Alarn Cyclops (1 - 14)

- 50cm, Iebar 30 ,- 40 em, bentuk pinnate (menyirip), warna hijan, keadaan permukaan licin, bentuk ujungdaun membela dua;anal~ daun: panjang 20- 26 em, lebar 10 :- 15·· em, bentuk ujungbergerigi,be{jumlah 10 helai, tata letak berhadapan, panjang tangkai d31Wl 28 - 32 em , lebar tangkai daun. 0,5 em, crown shaft membentuk seludang berwama bijau, berindomentum coklat; Pembungaan: panjang 1 0-13 ern, . jumlah percabangan ··1-3 percabangan, wama racbilla hijau waktu buah mnda setelah matang menjadi knning, keluarnya tandanbungan dibawah pelepah daun(infrafo1i.ar).Bunga: pada saat dilakukanpenelitian . tidak dijumpai adanya bunga. Buah: bentuk lonjong,.panjang 15.-16 mm, diameter 5-6 nun, tekstur .permukaan licin, warna buah waktumuda hijan, sudah matangberwarna merah. Biji:· biji keras (endocarp), berbiji sam, emdosperm homogenous, berembryo basal.

Penyebal'8n e pada ketinggian 160 meter dpl, tumbuh pada daerah yang rata dan punggung gunnng.

Habitat : bidup dibawa naungan yang padat, .. dengan keadaan tempat tumbuh tanah berbatu, jenis vegetasi sekitarnya yaitu Cinnamomum culilawang, Mangipera sp, Myrisuea sp.

Bahasa Daerah: Tnang wafo (Bahasa Ormu)

Spesimen· aeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 27 Februari 2001, Barnabas Desianto 03 (MAN).

12. Gulubia cosuua

Palem besar, tumbuh tunggaI, 6nggi antara 9 - 15 meter. Batang: diameter 15 - 25~m, bentuk bulat silindris, panjang mas 5~19 em, wama coklat, tekstur pennukaan beralnr dangkal, arab tumbuh tegak. Daun:: berjumlah 13-15 helai, panjang 350-440 em, lebar 165 ~180 cm,bentukpinnatli! (menyirip), wama bagian pennukaandan bagian bawah bijau, keadaan permukaanlicin, bentuk ujung d31Wl membelah;anak· datm ,; panjang60-90 . CII4 .lebar 3-4,5 em, bentuk meruncing (lancolate), bentuk. ujung

BeccariaftQ Volulone 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 •. 67)

meruncing (acute), jumlah helai 126-135 helai, tata .letak anakberhadapan / sejajar. pelepah membentuk seludang, liein, wama seludang eoklat. Pembungaan : panjang20- 96 em, jumlah pereabangan 10-21, panjang tangkai 10-16 em, warna percabangan (rachilla) bijau, letak keluar tandan atau tempat keluamya bunga infrafoliar. Bunga : pada saat dilakukan penelitian tidak ditemukan.Buah: : bentuk bulat telur dengan ujung meruncing, diameter 4 .. 5 mm, warna waktu masak.merah bata, waktu masih muda berwamahijau, teksturpermukaan liein. Biji : endocarp keras, endosperm ruminate, berembryo basal; berbiji satu.

Penyebaran: pada ketinggian 15-120 meter dpl; ditemukan pada daerah-daerah bekas tebangan (kebun).

Habitat : tumbuhpada tanah berbatu, hidup didaerahbebas naungan, jenis vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitn, Intsta sp, Pometia coreacea, Piper .anduncum:

BahasaDaerah : Tabavu Nyi (BahasaOnnu) PeJlllaDfaaUln : batang digunakan untuk membuat lantai rumah atau pondok-pondok, daun digunakan. sebagaiatap rumah.

Spesimen aeuan.: Papua, Jayapura, c.A.

Peg. Cyclops, 8· .. Februari 2001, Barnabas Desianto 21 (MAN); .

13. H_vdriastele sp.

Jeais palem sedang, berumpnn, jenis

perakarandalam, tinggi pohon 4-7 meter. Batang: diameter 5-7 em, bentuk bulat silindris, berwama bijau waktll muda, setelah tua berwarna coldat, panjang ruas ·5-15 ern, tekstur. permukaan beralur, arab tumbuh tegak. nann : jumlah 6-8helai,. panjang daun 117-125 em, lebar 80 .. 90· ern, bentnk pinate, warna hijau, keadaan permukaan licin,bentuk ujung membelah dua bergerigi. Anak datUD : panjang3S-56 em. lebar anak 3.5-5 CQl.. bentukelongate. bentuk ujung bergerigi, jumlahhelai 26-30 helai, tata Ietak sejajar, panjang tangkaidaun 20-30 em dengan Iebar tangkai daun 1,5-2 em, pelepah membentuk seludang berwama hijau berindumen.tum

8

Biodiversitas Palem Pada BagianUtarG KaWQS(1ft Cogar· Alam Cyclops (1 - 14)

putih.Pembungaan : panjang 18-25 em, panjang tangkai 3-5 em, jumlah percabangan bunga 12-18, letak tandan infrafoliar, wama rachilla hijau muda, Bunga:bunga berwama hijau mudah.Buah :bentukbulattellUI', diameter 5~6 mm;: panjang 6-8 mm, dengan tekstur permukaaa Iicin, warna muda hijau., masak merah batao Biji : mempunyai endocarp yang cukup keras, endosperm homogenus, berembryo basal.

Penyebaran :. pada . ketinggian 20-800 meter dpl, hidnp hampir-disemna temps:' (daerah berlereng, dan daerah rata).

Habitat : tumbuh ·pada tanah berbam, kebanyakan berada hudup dibawah naungan, jenis vegetasi sekitarnya . Pometia sp. Calophyllum sp, Casuarina sp

Bahasa daerah: Tacohoi (Bahasa Ormu) Pemanfaatan : batang digunakan untuk membuat mata anak panah, garpumakan.

Spesimen aeuan :. Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 31 Januari 2001, Barnabas Desianto 8 (MAN).

14- Korthalsia zippelHi-Bun.

Jenis rotan sedang-besar, tumbuh secara bemmpun, dengan arah tumbuh menggantung I menianjat bingga mencapai ketmggiaa 8-17 meter. Batang: diameter dengan pelepah.3-5 em, diameter tanpa pelepah 2-3 em, bentuk bulat silindris, panjang mas 15-22 em, warna hijaukeabuan,. tekstar liein. Daun :. panjan~~ 153-250 em, lebar 74-80 em, bentukpinnate, warnabagian pennukaanhijau dan bagian bawah permukaan coklatmuda keaba-abuan, keadaan permukaan daun.· bergelombang, bentukujung ·membel~ dua (bifid). Anll:" daun : panjang 34~50 em, lebar 12-15 em,berbentuk belah ketupat (rhomboid), bentuk ujung bergerigi, jumIahhelai 18-22; tata letak berhadapan 1 sejajar~ panjang tangkai daun 17-26 em, lebar tangkaidaun 1 .. · 1,3 em, .. tidak: mempunyai lututdalm. Pembungaan : pada soot dilakukaa penelitian tidak dijumpai adanya bunga, Buah: ·.Pada soot penelitiantidak dijumpai adanya buah, Durl·: daerah penyebaran. pada sekitar

BeccQriana Volume 4 Nomor I, Mei 2002 (1 - 6T)

pelepah.. pertulangan daun primer, tangkai daun, sims, duri berwama ·coklat panjang 5- 12 mm. Alat Pemanjat: berupa sirus panjang 140-160 em, bentuk duripada sims seperticakar ayam,berkelompok 3 .. 4, berwama kuning tua, ·ujung· kehitaman dengan pola penyebaran duri tidak merata.

Penyebarn : pade-ketmggian -, 50-480 meter dpl, menyebar disetiap tempat (daerah berlerengdandaerah yang rata).

Habitat :mmbuhpada tanah berbatu dengan ketebalan serasah yang tipis, kebannyakan hidup dibawah naungan, jenis vegetasi sekitar tempat ttnnbuh yaitu Calla phylum sp, Syzygium sp, Geniostemon sp;

Bahasa Daerah : Haiabfkwa Nyi(Bahasa Ormu)

Pemanfaatan : batang dimanfaat untuk membuat. tali busur, air dari batang dapat diminum, digunakan sebagai tali pengikat tiang rumah atau pondok, pengikat lantai rumah atau pondok-pondok.

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 7 Februari 2()Ot, Barnabas Desianto 18 ·(MAN).

15. Licuala sp 1

Jenis palem sedang, tumbuh tunggal, tinggi palem iui 4-6 meter; Ba.tang: diameter 8- I Lcm, bentuk bulatsilindris, panjangruas 6 .. 12 ·Clll", warna coklat, tekstur pennukaan liein. Daun: jllmlah8-10· helai,panjang 180- 200 em. lebar 180 .. 200 em, bentuk palmate (melingkat), betuktepi daun bergerigi, wama hijau, keadaan pennukaan Iiein dan bergelombang, bentuk ujungbergerigi .: Anak daun :panjang 80-100 em, lebar 4-18 em, ujungbergerigi,.jumlahhelai 21-26 helai, tata letak melingkar, bersegmen.dalamcpenjeag tangkai dann 200-250 em· dengan lebar tangkai daun 2 ... 2,5cm;terdapatduri pada pinggiran tangkai daun berwamakuning ma; terktur tangkai daun licin.Pembungaan : panjang 90-140 em; jumlab 5-7 percabangan, panjang tangkai 20-25 em, letak tandan.i/ tempat keluarnya ··bunga interfoliar. Bunga·:

9

Biodiversltas Paiem Pada Bagian Utar"Q Kawa:scwtClttgarAlam Cyclops (1 -14)

pada saat dilakukan. penelitian tidak dijumpai adanya blingaBuah":' bentuk bulat, .diameter 8~9 mm, warna buah waktumuda . hijau, masakmenjadi v.orange, tekstur permnkaan (epicarp) liein, rnesocarptipis. Biji tendocarp keras,endosper homogenous.

Penyebaran : padaketinggian600-800 meterdpl, tumbuh pada.daerah-daersh lereng,

Habitat: keadaan tempat tumbuh tanah, hidup dibawah naungan yang' cukup rapat berasosiasi dengan jenis vegetasi sekitamya yaitu Maessa sp, Palaqium sp, Canarium sp" Callophylumsp.

Bahasa Daerah: Wacharaw Nyi (Bahasa Ormu)

Pemanfaat&n : batang digunakan untuk membuattiangpondok, daundigunakan sebagai atap pondok dan sebagai payung diwaktu hujan.

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, C.A Peg. Cyclops, I Januari 2001, Barnabas Desianto 13 (MAN).

16. Licuala sp 2

Palem kecil, tumbuh funggal, tinggi 1,S .. · 2,5 meter. Batang:diameter batang 2-2,5 em, bentuk: bulat silindris, panjang mas 2,5-7 em, warna coklat, tekstur pennukaan .licin, arahtwnbuh tegak Daun : betjumlah 12-16 helai, . panjang 29,.40 em, lebar 46.,58 C11l" bentuk palmate (menjari), warna bagian permukaan dan bagian bawah permukaan bijau .dengan .keadaan : 'permukaan licin bergelombang, 'bentuk ujungbergerigi. Anall' daun: panjang 29-40em,lebar3-6em, bentuk ujung bergerigi, jumlah helai 8~ 10helai, bersegmendalam, letakanak daun melingkar. panjang tangkaidaun. 40-68 em, lebar tangkai daun 0,5-0, 7 em, terdapa.tduri di sepanjang .pinggiran tangkai daun berwama kuning tua, tekstnr permukaantangkai daun licin.Pembungaan: panjang 20-30 em" jumlahpereabangan 3-4,pa:n.langtangkai 40,,· 50 em, warna tangkai (rachilla) hijau muda letak- keluartandanatau tempatkeluarnya bungainterfoliar, prophylltipisberwarnf:l eoklat . .muda, ujungmeruncing, brach

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 61)

berjumlah 5-4. Bunga : warna krem. Buah: bentuk bulat, 7 ~8 nun, warna waktu masih muda hija'usetelah masak orange, tekstur permukaan (epicarp) licin, mesocarp berdaging . tipis, Biji : endoearp keras, endosperm homogenous. Penyebaran: pada ketinggianSO-lOO meter dpl, menyebarpada daerah-daerah lereng gunung dan lembah,

Habitat : tumbuh -pada tanah berbatu dengan ketebalan serasah yang tipis,hidup' di bawah naungan, jenis vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitu Antidesma sp, Antiarts toxiearl, Palaquium sp,

Bahasa Daerah : Wacharaw nyi (bahasa Ormu)

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 7 Februari 2001, Barnabas Desianto 22 (MAN).

17. Linosfadix sp,

Palem kecil, berumpun, dengan tinggi pohon 1~2 llleter.Batang : diameter 0,5~1 em, bentuk bulat silindris, panjang mas 3,5 - 4 em, warna coklat, tekstur permukaan liein, arab tumbuh tegak. Daun: Jumlah 12-15 helai, warna bagian permukaan dan 'bagian ba:wah permukaan hijau dengan keadaan permukaan dalmlicin,panjang 38-40 em, lebar13-15ctD,bentuk daun entire (seperti ekorikan), ADak daun : panjang 25-40 em, lebar 4,,5-7 em, jumlah dna. yangsimetris, bentuk ujung meruneing ( acute), panjang tangkai dannSvl O em, .lebar tangkai daunO.e- 0,5 em. Pembungaan :panjang 13-15 em, panjang tangkai 20-30 em, letak keluar tandan atau tempat keluamya bunga interfoliar, warna putih, Bush: bentuk Ionjong, diameter 4-5 mm, panjang 10-12 nun, wama waktu mudah hijau setelah masak berwama merah, tekstur permukaan licin, Biji : berbiji satu, lapisan . mesocarp keras, endosperm ruminate, berembryo basal.

Penyebaran : pada . ketinggian 560-700 meterdpl, ditemukan pada.daerah yang rata.

Habitat : tumbuhpada tanah dengan solum yang dangkal, dilapisi serasah yang tipis, jenis-vegetasi sekitar tempat tumbuh

1.0

Biodiversitas Palem Pada Bagian Uta''ClKaWCliSl:ln CCll9QrAlamCyclcll,OS (1- 14)

yaitu Callophylum sp.: S(!mecarpus sp, Sceratopetalum sp.

Bahasa Daerah : Hara Cho (basa Ormu)

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 2 Februari 2001, BD Hi (r..:tAN).

18~ NY]J!ljru,cticans Wurb

Palem .sedang, tinggi 5-6 meter, mdup secara -bemmpua. BataDg': memiliiki batang semu Daan: beJjumlah 6 ~ 8. helai, wama hijau, . keadaan permukaan Iiein; bentuk ujung meruncing, panjang 300 .. 400 em, lebar 150,· ~OO . em, bentuk pinnate (menyirip); anak dauB: panjang 30 -: 100 em, lebar:3 ~ 8 em, bentuk alongate, jumlah '140 ,helm" bentuk ujWlg memncing (acute), tata Ietak berhadapan, lebar tangkai daun 10-13 em warna pelepah coIdat tua kehiraman, PembUBgaan : panjang 120-150crn, jumlah percabangan 4 .. 5, panjang .tangkai 50-60 em, wama tangkai coIdat tna, letakkeluarnya bunga ·interfoliar. jumlah. brach 5-6, tekstm liciniberwama eoldattua. dengan ujuug meruncing. BUlllga : wamaOrange,bentulc menyerupai bunga salak, berumah sam. Buah ~ bentuk Ionjong; diameter 5-9 em, ·panjang 10., 15 em, tekstur pennukaan (epicarp) .licin bergelombang, mesocarp berserabut, 'watna buah coIdat. Biji : berbijisatu, endocarp keras; endosperm homogenous, berembryo basal.

Penyebaran: pada ketinggian 10 meter dpldan hanya terdapat pada rdaerah Nakasawa.

Habitat: jems vegetasi ,sekitamya Pandanus sp, keadaan tempattumbuh berm. Bahasa Daerah : Farerna (Bahasa Onnu)

PemaBfaatan: tangkai daun digunakan sebagai dinding ramah, daan digunakan sebagai atap rumah, sering disadapWltu1: dibuat minuman. beralkohot "bobo",

Spesimenacuan ! Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 2 Februari 200t,Barnabas Desianto 10 (MAN).

Beccariana Volume 4 Nornor 1, Mei 2.002 (1 - 67)

19. Orania sp,

Palem sedang, hidup aunggal, tinggi 4-6 meter. Batang : diameter 10,..13 em, bentuk bulat silindris" panjang mas 5-7 em, warna eoklat, . tekstur pennukaan liein, panjang ruas 5-10 em, arah tumbuh tegak. Daun: berjnmlah 8,.10 helai, panjang 290-300 ern, Iebar 180-200 ern, bentuk pinnate (menyirip), wama hijau pada bagianpemmkaan dan abuabu kecoklatan pada bagian bawah permnkaan, . keadaan pennukaan 'Iicin, bentuk ujung bembelah dua (bifid). AnakdaUB : panjang 50-60 em, lebar 6-8 cm,bentuk elongate, bentuk ujung bergerigi, jumlah helai 62..;66 helai, tata Ietak berseling. panjang tangkai 50-60 em, lebartangkai 4-5 em, pelepah berwarna orange. Pembungaan: panjang 80-150 em, panjang tangkai 120-146 ern, jumlah percabangan 17-20, warna percabangan hijau kekuningan, letak keluarnyavbunga interfoliar,mempunyai prophyllyang panjang, berwama coklat, ujung· menmeing dan keras, jumlah prophyli sanr, Bunga' : warna bunga kuning pucat, tersnsun pada rachilla-rachilla, Buah : bentuk bulat, diameter 45-47 mm, tektur pennukaan (epicarp) Iicin, wama kuning, mesocarp berserabuttipisBiji .: endocarp: tipis, endospermhomogenous.

Penyebaran : padaketinggian 700-900 meter dpl; menyebar. disepanjang lereng dan daerah yang rata.

Habitat : keadaan tempat tumbuhnya tanah, tumbuh dibawa naungan, dengan kondisi yang lembab, jenis vegetasi sekitar Dileina sp, Polyalthia sp, Drymys sp ..

Bahasa Daerah : Hara cho (bahasa Onnu)

Pemanfaatan : batang .. digunakan untuk membuat . tiang-tiang pondok ··atau . ramah, dann digunakan sebagai .atap pondok atau rumah

Spesimen aeuan : Papua, J ayapura, C.A.Peg. Cyclops, 2 Februari 2001, Barnabas Desianto 12 (MAN).

11

Biodiversitas Palem Pada Bagian UtaraKawQSQn Cagar Alain Cyclops (1 - 1.4)

20. Pigafetta fllaris

Palem· besar, tumbuh tuaggal, tinggi pohon 20-25 meter. Batang: diameter 3045 em" bentuk bulat silindris, panjang mas 10-20 em" warna hijau waktu.mnda dan setelah tna. berwama coldat muda mempunyai tekstur permnkaan -licin, arab. tumbuh tegak. Daun -: berjumlah 18-20cm,panjang 280-300 em, lebar 220.230·· em, warna bagian permukaan dan bagian bawah permukaan hijau dengan keadaan permukaan daun -licin, bentuk ujung membelab. dna (bifid), bentuk . pinnate (menyirip). Anall daun : panjang 90-134 em, lebar 5-8 em" bentuk mernncing (lancolate), bentukujung meruneing (acute),jumlah helai 115-120, tata letak berhadapan/ sejajar, panjang . tangkai daun 7-8 em, lebar tangkai: dann 6-8 em. pelepah berwatna hijau yang ditumbuhi dengan duri-duri ·halus berwama kuning pucat,p.anjang 5-20. mm. Pembu ngaan.: panjang tangkai tidakterlalu jelas, tata letak di ketiak pelepah daenfinterfolier), jumlah . percabangan 18.19, wama brach eoklat tua, membentuk corong, tekstumy:a halus sepertikertas. Bunga : tidak ditemukan bnnga.pada saatdilakukan penekitian. Buab : bentuk bulat telur, panjang 7-8 rom, lebar 3-4 mm warna waktumuda hijau . setelah masak knning pucat, tekstur permukaan bersisik, Biji : tekstur mengkenn, wama coklat kehitaman, endosperm ruminate, letak embryo lateral.

Penyebaran: menyebar di sepanjang

Iereng-Iereng gunung, tumbuh pada

ketinggian 100-150 meter dpI.

Habitat :. tumbuh padatanah berbatu dengan serasah yang tidak begitu tebal, tumbuh.sejajar dengan jenis vegetasi. yang lain, jenis vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitu Intsia sp, Pometiasp, Piperanduncum:

Bahasa Daerah : Tnang Nyi (Bahasa Ormu)

Pemanfaatan : batangdigunakan. untuk membuat .Iantai. runiah ataupondok-pondek, daun dignnakan sebagai atap rumah. .. lsi batatig digunakan untuk memhudidayakan ulatsagu.

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2C)()2 (1 - 67)

Spesimen aeuan : Papua, Jayapura, c.A.

Peg. Cyclops, 8 Febmari 2001, Barnabas Desianto 19 (MAN).

21. Ptycl~osperma sp,

. Jenis palero sedang, bemmpun, mempunyai perakaran dalam, tinggi pohon 3-4 meter. Uatang : diameter 5-7 . em, bentuk bulat silindris, warna waktu mudah berwama hijau, setelah tua .. berwarnacoklat keabuhan, panjang mas berkisar 5-10 em tekstur permukaan ·liein, arah tumbuh tegak, DaUD : jumlah6-8 helai daun, panjang 105-120 em, Ieban 50-67cm, warnahijau, keadaan permukaan Iicin, . bentuk ujung bergerigi membelah dna {bifid). ADak daun : panjang 24 ... 29 em, lebar 4-5 em, bentuk ujung bergerigi, jumlah helai 42-44. tats. letak berseling, panjang tangkai daun 17-19 em, lebar tangkai daun 2 em, crown shaft membentnk seludang betwarna bijau, mempunyai indumentum (lapisan lilin) berwama.pntih .. Pembungaan : panjang 15- 25 em, panjang tangkai 3-4 em" jum1ah percabangan 7-8, tempat keluamya bnngan infrafoliar, prophyll kecil, berwarna hijau, warna rachilla bijau kekWlingan. Bunga: warna bunga putih.. terletak . di sepanjang rachilla, Buah : bentuk bulat telur dengan ujungmemncing, diameter 9-10 rom, panjang 12-15 mm, warna waktu muda hijau pucat, setelah masak berwarna merah bata/ungu tua, tektur permukaan licin; mesocarp tipis. Biji :

Endoeaq~kerasdan kasar, endosperm ruminate, letak embryo basal

PenyebaraJll : menyebar di sepanjang pantai, dengan ketinggian tempat 10 meter dpl.

Habitat :. twnbuh pada tanah berbatu dengan. lapisan tanah yang tipis berasosiasi dengan vegetasi sekitarnya Pandanus sp, Bahasa Daerah : Atmonte (Bahasa Ormu)

Pemanfaatan .: batang· digunakanuntuk membuat mata tombak,garpu untuk makan ..

SpesiD1en acuan : Papua, Jayapura, C.A:

Peg. Cyclops, 1 Februari 2001, Barnabas Desianto 09 (MAN).

Biodiversitas Palem Pada Bagian Utara KawOISl:an Cagar AlamCyelc~!JS(1 - 14)

22. Rhophaloblaste'Sp.

Palem besar, tumbuh tunggal, tinggi pobon 12-16 meter. Datang: diameter 10-15 em, bentuk bulat silindris, panjang. mas 10-20 em, berwama eoklat berbercak keabwm mempunyaitekstur permukaan beralu~' dangkal, arah tumbubtegak:. Daun : jumlah 12-15 helai, panjang daun222,.330 em, Iebar 190-230 em,bentuk pinnate (rnenyirip), warna bagian permukaan dan bagian bawah permukaan hijau, keadaan permukaan Iicin, bentuk ujung membelah dna (bifid). Anak. daun: panjang 30-124 em, lebar 2-2,5 em, jumIah helai 132-140 helai, tata letak saling ~erhadap811, bentuk linear, bentuk ujung linear . meruncing (linear acute), panjang tangkai daun 13-20 em dengan lebar tangkai dann 3,5-5 em; crown shaft membentuk seludang berbulu haIus berwama coklar, Pemb':lngaan : Panjang 60-80 em, panjang tangkai 11-19 em, wama rachilla hijau tna letak keluar tandan atau tempat keluamya bunga infrafoHar, prophyU berwarna hitam coklat keabuan, bentuknya seperti perahu, keras. Dunga : warna kuning, terletak disepanjang rachilla, berumah satu, Buab.: bentuk lonjong, diameter IS-18 mm, panjang 18-25 mm, warna waktu mudah hijau setelah masak: berwama orange, tekstur permukaan (epicarp) licin, kulit bagian tengah (mesocarp) ber~rabut. Biji : berbiji sam, endosperm rummate.

Penyebaran : hidup secara berkelompok " meyebar pada daerah-daerah sepanjang aliran snngai dan daerah Iembah, pada ketinggian berkisar antara 100-400 meter dpl.

Habitat: keadaan tempat tnmbuh tanah berbatu yang berserasah dangkaI, hampir dominan ditemukan di sepanjang sungai jenis vegetasi sekitar tempat tumbuh yaitu Myriastiea sp, Intsia sp, Piper anduncum. Bahasa Daerah : Bau Nyi (Bahasa Onnu)

Pemanfaatan : batang digunakan untuk membuat 1811tai rumah atau pondok-pondok, daun digunakau sebagai atap nnnah.

Beecarlana Volurne 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

Spesimea acuan : Papua, Jayapura, C.A.

Peg. Cyclops, 6 Februari 2001, Barnabas Desianto 17 (MAN).

KESIMPULAN

1. Tutnbuhan palem di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclops bagian Utara terdiri dari 4 Sub Famili yaitu :

Coryphoideae, Calamoideae, Arecoideae, Nypoideae,

2. Terdapat22margadalam 4 sub Famili :

Famih Arecoidedeae yai:tu Arenga microcarpa Becc, Arecamacrocalyx Zipp ex. Blume, Cyrtostachys sp, Calyptrocatyx spl, Calyptrocalyx sp.2, Caryota rumphiana Mart, Gronophyllum sp, Gulubia sp, Hydriatele sp, Orania sp, Ptychosperma sp, Rhopaloblate sp, Linosfadix sp; Famili Calamoideae yaitu Calamus sp.l, Calamus sp.2, Calamus sp.3, Calamus spA, Kortalsia zippellii. Burr. Pigafotta filaris ; Famili Caryphoideae yaitu Licuala sp J, Licuala sp.2; Famili Nypoideae yaitu Nypa fructicans Wurb.

3. Palem tersebut tumbuh pada ketinggian 10 meter dpl - ketinggian 900 meter dpl, menyebar di sepanjang Iereng - lereng gunung dan lembah.

4. Sebagian tumbuh pada daerah di bawah naungan yaitu Areca maerocalyx Zipp ex. Blume, Caiyptroealyx spl, Calyptrocalyx sp02, Gronophyllum sp, Hydrtatele sp, Orania SP. Ptychosperma sp, • Ltnosfadix sp, Calamus spl, Calamus sp2, Calamus sp.3, Calamus sp.4, KOI'talsia zippellii. Burr, Licuala sp.I, Licuala sp.2, yang tu:mbuh pada daerah yang bebas naungan yaitu Arenga microcarpa Becc, Cynostachys sp, Caryota rumphiana Mart, Gulubia sp, Rhopaloblate sp, Pigafetta filans, Nypa fructicans Wurb,

SARAN

1. Perlu dilaknkan penelitian lanjutan

khususnya aspek etno botani dan ekologi

13

Biodiversitas Pallem Pada Bagian Utara KawascluA eagar AlarnCyctops (1 - 14)

4ari beberapa .jenis palem yang terdapat pada Kawasan eagar Alam Pegunungan Cyclops bagian Utara.

2. Sebagai tumbuhan yang banyak

dimanfaatkan oleh masyarakat lokal maupun umum sebagai tanaman-bias maupun keperluar lainsehingga perlu adanya pembudidayaan khusus.nya jenis palem endemik Papua.

3. Pengkajian .secara taksonomi yang lebib mendalam ten tang palem yang berada di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyclops bagian Utara.

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei2002 (1 - 67)

DAFTAR PUSTAKA

Hay, A.J. M. 1984. Palmae in. Johns & Hay (eds) A Guide To The Monocotyledons Of Papua New Guinea. Part 3.

Petocz R.G.1987. Konservasi Alam Irian Jeya.P.T. Grafiti. Jakarta.

Uhl.N.W. and lDtansfield. 1987. The Genera Palmarum A Classifications Of Palms Based On. The Work Of Harorld E.

Moore. Kansas.

Allen Press, Lawrence.

14

TEKNIK PEMANENANAN BERKELANJUTAN KULIT POHON LA WANG Cinnamommum culillawanne BL. (SUSTAINABLE HARVESTING TECHNIQUE OF THE LA WANG Cinnamommum culillawanne BL. TREE BARK)

Oleh/By

Max J. Tokede 1) dan Cicilia M.E. Snsanti 2)

Abstract

The objetive of the research is to determine the application posibilities of sustainable harvesting technique of lawang (cinnamommum cuillawanne BI.) tree. bark base on the recovery ability after the bark peeling. The result of the research showed that sustainable harvesting technique can be applied to lawang plant. The harvesting is conducted by peeling the tree bark altenately with the width of peel of oneseven until one-six of the stem circumference, and the length of the peel is up to the bole height. The next harvesting is conducted on other side of its tree bark with one year interval. For the cultivated lawang trees, gardens, the first harvesting is conducted at ten years old and for natural forests lawang trees, the harvesting is conducted when the diameter of plants reach 30 cm .

Key Word: Teknik Pemanenan, Pohon Lawang

PENDAHULUAN

Minyak lawang tergolong minyak atsiri hasil ekstraksi dari kulit pohon lawang (Cmnamommum cullilawanne BI). Minyak lawang dapat langsung digunakan sebagai obat gosok atau digunakan untuk bahan baku berbagai produk farmasi. Produk ini telah dikenal luas dan memiliki nilai ekonomi tinggi dalam dunia perdagangan.

Bahan baku kulit lawang dewasa ini sulit diperoleh akibat teknik pemanenan yang tidak berkelanjutan dimana pohon lawang ditebang untuk diambil kulitnya. Oleh sebab itu perlu diupayakan teknik pemanenan yang menjamin keberlanjutan produksi kulit, yaitu suatu teknik pemanenan tanpa harus menebang pohon induk. Teknik pemanenan ini telah berhasil diterapkan terhadap tegakan pohon Pygaeum di Gunung Oku, Kamerun seperti yang dilaporkan oleh Gradwohl and Greenberg, 1988.

Salah satu syarat penerapan teknik tersebut adalah jenis pohon yang dipanen hams mempunyai kemampuan membentuk kulit barn setelah pengupasan kulit batang.

1),2), Fakultas Kehutanan UNIPA, Manokwari

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

Hasil pengamatan pendahuluan terhadap tegakan lawang di Kebun Koleksi tanaman Kehutanan Unipa menunjukkan bahwa pohon lawang yang dikuliti dapat membentuk kulit barn pada periode waktu tertentu setelah pengulitan.

Dengan demikian terdapat kemungkinan penerapan teknik ini terhadap pemanenan kulit tanaman lawang.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengkaji kemungkinan penerapan teknik pemanenan berkelanjutan kulit pohon berdasarkan kemampuan penutupan luka bekas sayatan oleh kulit barn.

METODE PENELITIAN

Penelitian vdirancang mengikuti prosedur Rancang Acak Kelompok ( RAK) yang terdiri dari 3 macam perlakuan dan empat kelompok diameter sebagai program percobaan.

Perlakuan program percobaan adalah bentuk sayatan kulit pohon lawang masingmasing bujur sangkar, empat persegi panjang dan belah ketupat dengan ukuran sayatan sama.

15

Teknik Pemanenan Berkelanjutan Kulit Pohon Lawang (15 - 19)

BASIL DAN PEMBAHASAN

Nilai rata-rata hasil pengamatan

pertumbuhan kulit barn pada periode 6 (enam)

bulan setelah penyayatan pada masing-masing bentuk sayatan disajikan pada tabel 1.

Perlakuan bentuk penyatan

Tabel1. Rata-rata Pengamatan Pertumbuhan Kulit Baru pada Periode Enam Bulan Setelah Penyatan

Pertumbuhan Kulit Baru (mm)

Bujur sangkar

18.75 a

Empat persegi panjang

17.83 a

Belah ketupat

21.83 a

Keterangan: Hurufyang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada peluang 0,95

Pertumbuhan kulit barn pada peri ode enam bulan setelah penyayatan kulit batang tanaman lawang berumur 8 tahun (diameter 5-27 em) berkisar antara 17.83-21.83 mm, dimana bentuk sayatan belah ketupat menunjukkan pertumbuhan kulit bam yang lebih lebar dibanding bentuk sayatan bujur sangkar dan empat persegipanjang

Hasil Analisis Ragam (Lampiran 1.),

menunjukkan bahwa bentuk sayatan

berpengaruh tidak nyata terhadap

pertumbuhan kulit bam pada peri ode enam bulan setelah penyayatan. Artinya bahwa bentuk sayatan apapun yang diperlakukan untuk pemanenan pohon lawang berumur 8 tahun, lebar pertum- buhan kulit bam pada luka bekas sayat secara statistik tidak berbeda. Namun bila diperhatikan secara seksama tampak bahwa terdapat kecen- derungan pertum- buhan kulit bam yang berbeda antar kelas diameter. Fakta ini dibuktikan oleh hasil analisis regresi-korelasi (Lampiran 2);

menunjukkan bahwa diameter pohon

berkorelasi nyata positif terhadap

pertumbuhan kulit bam dengan koefisien detenninasi (R2 ) sebesar 35,7 %. Artinya bahwa sebesar 35,7% variasipertumbuhan kulit bam tanaman lawang dipengaruhi oleh variasi diameter. Uji keberartian regresi (Lampiran 3), menunjukan bahwa persamaan fungi hubungan PK = 13.5 + 0.384 D (dimana PK = pertumbuhan kalus (em) dan D = Diameter setinggi dada) cukup kuat

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

digunakan untuk .menarik kesimpulan bahwa semakin besar diameter pohon lawang semakin besar pula kemampuan untuk membentuk kulit bam.

Fenge1 dan Wegener (1995), menyatakan bahwa kambium merupakan titik tumbuh pada tumbuhan dimana pada bagian tersebut terdapat zat tumbuh yang mamp~ menggantikan bagian yang. mengalann pe1ukaan. Pada struktur anatomi kayu, 1apisan kambium terletak pada bagian dalam kulit kayu dekat dengan kayu yang diapit oleh 1apisan floem dan xylem.

Haygreen dan Bowyer (1982), menyatakan bahwa pembe1ahan sel pada awalnya membentuk dua formasi sel yaitu meristematik dan satu bagian kambium. F ormasi sel berikutnya adalah sel induk dari xylem dan floem. Sel induk Iebih aw~ bekembang secara radial dan mungkin membelah menjadi satu kali atau Iebih sebelum berkembang kedalam bagian xylem dan phloem. Pada perkembangan diemeter pohon, akibat proses tersebut kambium didesak ke bagian Iuar dan berkembang secara radial melingkar untuk menjamin ketidak putusan Iapisan sekeliling batang. Proses pertumbuhan demikian memungkinkan tanaman masih dapat tumbuh dan berkembang sekalipun sebagian dari batang dikuliti. Grafik fungsi hubungan antara diameter pohon dengan pertumbuhan kulit bam (kalus) pada peri ode enam bulan setelah penyayatan disajikan pada Gambar 1.

16

Teknik Pemanenan Berkelanjutan Kulit Pohon lawang (15 - 19)

50
40
II)
.2
ttl
~ 30
c:
ttl
~ 20
::J
"E
Q) 10
..0
E
Q)
a. 0
5 10 15 20 25 30
Diameter Gambar 1. Grafik Fungsi Hubungan Antara Diemeter Pohon Dengan Pertumbuhan Kulit Baru (Kalus) EnamBulan

Hasil pertumbuhan kulit barn (kalus) pohon lawang pada masing-masing bentuk

(a) Bujur Sangkar

sayatan setelah periode enam bulan penyayatan dipetlihatkan pada Gambar 2.

(b). Empat Persegi Panjang

Gambar 2. Pertumbuhan Kulit Baru (kalus) Pohon Lawang Pada Periode Enam Bulan Setelah Penyayatan.

(c) Belah Ketupat

Arah perkembangan kalus mengikuti arah radial melingkar batang. Perkembangan ini sejalan dengan pertumbuhan diameter pohon. Berdasarkan hasil percobaan penyayatan kulit pohon lawang, lebar pertumbuhan kulit pada umur enam bulan setelah sayat berturut-turut bentuk sayatan belah ketupat 21.83 mm (2,18 em); bujur sangkar 18,75 mm (1,88 em) dan empat persegipanjang 17.83 mm (1.78 em). Karena perkembangannya dua sisi, maka pertumbuhan kulit barn tersebut pada

perlakuan bentuk sayatan belah ketupat

bujur sangkar dan empatpersegipanjang

masing-masing 4,36 em; 3,75 em dan 3.57 em.

Bila diasumsikan bahwa seluruh faktor tempat tumbuh (tanah dan iklim) memadai untuk pertumbuhan pohon lawang, maka

diameter pohon merupakan faktor penentu pertumbuhan kulit barn. Semakin besar diameter pohonnya akan semakin eepat pertumbuhan kulit barn. Berdasar asumsi ini, maka untuk periode satu tahun pertumbuhan kulit barn dapat meneapai 7,14-8,72 em. Untuk kasus tanaman lawang di anggori pada umur 7 tahun dengan diameter rata-rata 16 em (keliling 50 em), maka lebar sayatan untuk periode ekstraksi satu tahunan berkisar 117- 1/6 dari keliling batang, dengan panjang sayatan tergantung pada tinggi pohon bebas eabangnya.Ditinjau dari segi kepaktisan dalam ekstraksi kulit, maka dipilih bentuk sayatan Empat persegi panjang.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik

kesimpulan semen tara bahwa terbuka ke-

mungkinan penerapan teknik pemanenan

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

17

Teknik Pemanenan Berkelanjutan Kulit Pohon Lawang (15 - 19)

berke1anjutan terhadap tumbuhan 1awang, seperti yang dipraktekkan pada tanaman Pygaeum di Gunung Oku, yaitu dengan cara batang pohon Pigaeum dibagi dalam empat baris memanjang dan dua kuadran berhadapan dikuliti. Pohon dengan bagian kulit tetap utuh dan dibiarkan istirahat se1ama empat tahun sebelum panen berikutnya (Gradwohl dan Greeberg ,1988).

KESIMPULAN

1. Pertumbuhan kulit baru pada 1uka bekas sayatan batang pohon lawang setelah periode enam bulan setelah penyayatan berkisar antara 3,57-4.36 cm atau berkisar antara 60-73 % dari 1ebar sayatan.

2. Pemanenan kulit 1awang dapat dilakukan secara berse1ang setahun sekali, dengan lebar sayatan sebesar 1/7-1/6 ke1i1ing pohon dengan panjang sayatan sampai batas bebas cabang pertama.

3. Tumbuhan pohon 1awang pada kondisi

tempat tumbuh yang memadai,

kemampuan penutupan 1uka bekas

sayatan (pembentukan kulit baru) 1ebih cepat pada diameter pohon besar dibanding diameter pohon kecil.

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6n

4. Untuk sementara, teknik pemanenan berkelanjutan dengan Cara mrnguliti sebagian ku1it pohon secara berselang pada periode waktu tertentu (minimum satu tahun berselang) dapat dilakukan pada tanaman pohon lawang berdiameter besar (minimum 30 em up) untuk pohon alam dan atau pada umur tanaman 10 tahun ke atas untuk hutan tanaman.

SARAN

Perlu penelitian lanjutan yang berkaitan dengan tingkat produksi kulit perpohon dan rendemen minyak yang dihasilkan dengan teknik pemanenan berkelanjutan serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan pohon lawang selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Fengel dan D. Wegener, 1995. Kimia,

Ultrastruktur dan Reaksi-Reaksi, Terjemahan.Gajah Mada University Press, Jogyakarta.

Gradwohl, J. Dan R. Greenberg, 1988.

Menyelamatkan Rutan Tropika. Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Haygreen J,G. And J.L. Bowyer, 1982. Forest Product sand Wood Science.Introduction. The Iowa State University Press. Ames-Iowa.

18

Teknik Pemanenclft Berkefanjutan Kulit Poho.n LIClwang (15 - 19)

Lampiran 1. Uji Analisis Varians (Anova) Pengaruh Bentuk Sayatan Terhadap PertumbuhanKulit Barn Tanaman

Pohon Lawang . Periode Enam Bulan. Setelah Penyayatan .

------.-----~.----~~------------------

Sumber Keragaman Deraja1l: JUlmla.h Kwadrat Fhitung Peluang
Bebas Kwadl'at Tengah
Klas Diameter 3 83.583 27.861 4.55 0.055
Bentuk Sal:atan 2 55.130 11.565 2.87 0.133
Kesalahan Dugaan 6 3§.n~ 6.120
Total 11 lS5.43S
Keterangan : Pengujian pada peluang 0.95 Lampiran 2.

Analisis . Fungsi .. Hubungan Amara Periode Enam Bulap Setelah Penyayatan

Koef. Regresi

Parameter

Konstanta

13.513

Klas Diameter

0.3844

S = 3.162

R-sq=35.7% R-sq(adj.)

Fungsi Hubungalll

PK = 13.50 + O.384J[)

Keterangan: .Pengujian pada peluang 0.95

Lampiran 3. tJji Keberartian Persamaan Fungsi Hubungan

Sumber KeragamanDerajat . JumJah

Bebas Kwadrat

1 55.42

Regresi

Kesalahan Dugaan

10 100.01

Total

11 155.44

Keterangan.: Pengujian pada peEuang 0.95

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei ZOO2 (1 .. ·61)

Diameter. dengan Pertumbuhan

Kulit Barn pada

SltandarDeviasi

t- hitung

Peluang

2.691

.5.02

0.000

0.1633

2.35

0.040

= 29.2%

PK = 1350 .+ 0.384D

Kwadrat Tengah

F-Hitung

Peluang

55.42

5.54

0.040

moo

19

TUMBUHAN OBAT MENlJRUTETNOBOTANI SUKU BIAK (TRADITIONAl. MEDICINAL PLANTS J!'ROMBIAK)

Oleh z By

Sefti D., Hastuti 1\ Max J. Tokede 2) dan Rudi. A. Maturbongs 3)

Abstract

The aims of this research were to identify the plant species which are used by native people in Biak as traditional medicinal plant and to describe the ways in preparation and applying traditional medicinal plant. Results indicate that the native people in Biak have used 80 plant species from 44 families which are used to treat 48 medical conditions. The medical conditions can be treated using one or more medicinal plants. Root parts, stem, bark, leaf, flower, and fruit were the most common plant part used;' In general, the potion was applied by dropping or rubbing on to the body part affected or bathing and preparing as a decoction.

Key Words;' Medicinal plant, Biak Tribe, plant part, etnobotany

PENDAHULUAN

Emobotani didefinisikan sebagai suatu studi yang menjelaskan hubungan antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan yang secara kese1uruhan menggambarkan peran dan fungsi tumbuhan dalam suatu budaya (Ford, 1978 dalam Aleorn, 1984).

Hayne (1987) melaporkan bahwa terdapat 1.100 spesies tumbuhan obat dari 30.000-,- 40.000 spesies tumbuhan berbunga yang tumbuh di hutan alam tropis Indonesia, Potensi tumbuhan obat ini bervariasi menu mit tempat tumbuh dan ekosistemnya.

Biak, sebagai ekosistem kepulauan daerah tropis tentunya memiliki kekayaan tumbuhan yang khas termasuk tumbuhan obat menurut etnobotani mayrakat yang mendiaminya, Masyarakat suku Biak secara turon temurun telah mengenal pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan alam yang ada di lingkungan hidupnya. Etnobotani tumbuhan obat merupakan salah satu bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingknngan alamnya. Interaksi demikian pada setiap suku memiliki karakteristik tersendiri dan bergantung kepada karakteristik wilayah dan potensi kekayaan tumbuhan yang ada.

1),2) Fakultas Kehutanan UNIPA, Manokwari

3) Herbarium Manokwariense PSKH UNIP A, Manokwari

BeccariaftQ Volu"Ie 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

Pengkajian tumbuhan obat menurut etnobotani suku tertentu dimaksudkan untuk mendokumentasikan potensi sumberdaya twnbuhan obat dan merupakan upaya untuk mengembangkan dan melestarikannya. Untuk alasan tersebut, maka .penelitian tumbuhan obat menurut etnobotani suku Biak dilaksanakan. Tujuan pellelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi jenis tumbuhan obat, sinusia dan eksudat yang .. dimanfatkan sebagai obat, proses peramuan dan pengobatan tradisional oleh masyarakat suku Biak.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di tiga desa, masing-masing Desa Sarwom, Desa Sosmay, Desa Rimba Jaya. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi lapangan. Responden contoh ditentukan secara purposif pada setiap desa contoh. Penentuan responden contoh didasarkan pada pengetahuan masyarakat tentang jenis tumbuhan obat dan cara pengobatan tradisonal yang berlaku pada suku Biak, Berdasarkan pertimbangan tersebut terpilih 21 responden yang tersebar di tiga desa contoh, berumur 16 hingga 67 tahun, berstatus Kepala Desa, Dukun Beranak,

20

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotoni ~)uku .8iok. (20 -40)

30 25 20 15 10

5

O*---~~- .~ . ~.~~_~ ~

Petugas Kesehatan, Pegawai Negeri Sipil, Petani dan Pelajar.

Data yang dikumpulkan meliputi nama. jenis tnmbuhan, tipe tumbuh, bagian yang dimanfaatkan (sin usia dan eksudat), ears, peramuan, cara pengobatan, jenis penyakit yang diobati termasuk dosis, dan pantangan selama pengobatan.

BASIL nAN PEMBAHASAN

Deskripsi secara rinci informasi tumbuhan obat menurut etnobotani suku Biak disajikan pada Tabel Iampiran 1. Berdasarkan informasi tersebut, maka uraian temang tumbuhan obat dan pengobatan tradisional masyrakat su:lru Biak sebagai berikut :

. Hetba

Perdu

Tipe pertumbuhan

Gambar 1. Komposisi JenisTumbuhan Ohat Menurut Tipe Pertumbuhan

Gambar 1 menunjUkkan bahwa jenis

. tumbuhan obat yang paling banyak dimanfaatkan .adalah dari golongan herba, disusul oleh perdu dan pohon lianadansemak termasuk didalamnya rumput-rumputan tergolong jenis yang relatif sedikit. . Tumbuhan herba umumnya memiliki batang yang lunak, kulit batang tebal dan daun berdaging sehingga.vkelompokvtambuhan inibanyak dijadikan bahan baku obat ·tradisional

yang dimanfaatkan 0100 masyarakat suku Biak disajikan pada graftk Gambar 2.

BeccariClna Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 " 67)

Komposisi Jenis Tumbuban Obat

Masyarakat suku Biak mengenal 80 jenis tumbuhan obat yang tergolong dalam 44 famili dan 72 genus. Yang paling banyak digunakan adalah famili Euphorbiaeeae (9 jenis), famili Poaeeae (5 jenis) kemudian Urticaceae (4 jenis). Famili Euphorbiaceae banyakdimanfaatkan karena memiliki daun yang tebal, berdaging dan berserat disamping batangnyayang mengandung.getah putih. Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional, bila ditinjau dari tipe perttunbuhannya dapat digolongkan dalam lima tipe yaitu herba, perdu, pohon, liana dan semak. Jenis twnbuhan obat disajikan pada grafikgarabar 1: .

. _--------------------,

Pohon

Liana

Semak

disamping kandungan senyawa bioaktif yang dikandungnya,

Bagian yanl: dim.anfaatkan (Sinusia dan Eksuw.tl

Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakatsuku Biak sebagai bahan obat tradisonal terdiri dari vdaun, batang, kulit batang, getah, bush, bunga,akar, umbidan tunas, Bagian dan jumlah jenis tumbuhan

21

Tumbuhan abat Menurut Etnobotani :Suku Biak (20 - «0)

I

I

l

! .

Bagi~tn Tumbuhan

Keterangan : A = akar; B=Umbi; C=Batartg;D= Kulit; E=Dmm; F=Bunga; G=Buah; H=Getah; I=Tunas Gambar 2. Bagian Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai Obat Tradisional

Pada gambar 2 di atas memperlihatkan bahwa daun merupakan bagian tumbuhan (sinusia) yang banyak digunakan sebagai obat tradisional. Daun umumnya bertekstur lunak karena mempunyai kandungan air yang tinggi (70-80%). Daun yangdiman.fatkan dapat berupa daun muda/tua dan umumnya drum yang dimanfaatkan adalah daun yang masih segar.

DaUIl tumbuhan merupakan tempat akumulasi fotosintat yang didnga mengandung unsur-unsur atau zat organik yang memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Keuntungan lain dan daun adalah memiliki serat yang hmak sehingga muda untuk mengekstrak eksudat (zat-zat) yangakan .. digunakan sebagai obat. Eksudat umumnya berupa cairan atau getah yang keluar dari batang pohon dan dapat langsung digunakan sebagai obat. Batang, kulit, buah.akar, umbidantunas yangdimanfaatkan adalahbagian yang masih segar.

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 - 67)

Cara peramuan

Bahan tumbuhan yang digunakan oleh suku ... Biak .... untuk pengobatan tradisional dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. . Penggunaan secara langsung

Penggunaan secara langsung maksudnya jenis tumbuahnobat tertentu tanpa harus diramu terlebih . dahulu langsung dapat dikonsumsi. Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan secara langsung yaitu getah, daun muda/tua, batang bagian dalam, buah dan umbi. Contoh batang man.gkabraren ± 1 m (Merremia peltatas, dipotong akan mengeluarkan getah, Getah tersebut ditampung di . gelas kemudian Iangsung dapat diminum sebagai obat malaria, batuk dan panas dalam.

2. Penggunaan dengan Cara Peramuan Peramuan yaitu tumbuhan sebelum digunakansebagai obat harus diramu terlebih dahulu melalui proses yang sederhana

Proses peramuan tumbuban obat yang dilakukan oleh masyarakat suku Biak disajikan pada Tabel 1:

22

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku BiQ~t (210 -40)

Tabell.Proses.penUlluantumbullanobat yang dilakukan.oleh masyarakat suku B,iak

.------.------.~------------------~-

No Cara Peramuan

1. Pengasapan + Pemerasan + sarinya diminum-

2. Pengasapan + Penempelan

3. Pengasapan + Pemerasan + penetesan

4. Perebusan + sarinya diminum

5. Perebusan +Uap air rebus an digunakan sebagai obat

6. Penumbukan + pemerasan + sarinya diminum

7. Penumbukan+ penempelan

8. Penumbukan+ perebusan + digunakanuntuk berkumur

9. Penumbukari + digosokkan

10. . Pembekaran + penumbukkan + penempelan

11. Pembakaran + pentnnbukkan + sarinya diminum

12. Pemerasan + sarinya diminum

13. Pemarutan + penempelan

14. Pemarutan + pemerasan + sarinya diminurn

15. Pemotongan + perebusan + sarinya diminum

16. Pemotongan + penjemuran + digunakan seperti tembakau

17. Pemerasan + dicampurair + digunakan untuk mandi

18. Pemerasan + penempelan 19.Penyayatan + penempelan .

20. Penyayatan + dicampur air + sarin.ya diminum

21. Pereri.dmnan +penumbukkan + sarinya dirrllil~ _

Cara Pellgobatan

Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, ·Sulawesil" Maluku dan Irian Jaya mempunyai .adat istiadat yang berbeda baik dad .segi seni,

budaya dan cara mengobati suatu penyakit. Masyarakat .suku Biak .. mengenal beberapa caramengobatisuatu penyakit yairu disajikan pada grafik Gambar 3. ..

60 50 40 30 20 10

o ~==~~~~~-==::~~::~~==:,~~~_==~~~

Cara Pengobi!ltan'

---------~--~~

Keterangan : A = akar; B=Umbi; C=Batang; D= Kulit; E=Daun; F=Bunga; Gs=Buah; H=Getah; I=Tunas Gambar 3. Cara Pengobatan yang dilakukan oleh Masyarakat Suku Biak

Berdasarkan cara pengobatan yang dilakukan olehmasyarakat sukuBiak, maka

8ecc:ariana Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 ... 611,

penggunaan tumbuhan obatdapat

dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu :

23

Tumbuhan. abat Menurut Etnobotani Suku' 8ila~; (2jl - 40).'

1. Bentuk Tunggal

Pemakaian bentuk tunggal yaim penggunaan bahan baku obat yang terdiri dari satu jenis tumbuhan obat. Contohnya daun mansnanem (Widelia biflora) yang muda ± 7-12Iembar, dibungkus dengan daun pisang, diasapi sampai Iayu kemudian peras sarinya satu sendok dan minum. Digunakan untuk mengobati sakit malaria dan sariawan f stomatitis.

2. Bentuk Majemuk

Pemakaian bentuk majemuk yaitu penggunaan bahan baku obat yamg terdiri lebih dari satu jenis bagian tumbuhan obat.

Contohnya satu buah andaer I rnengkudu tMortnda citrifolia) yang masak dan lengkuas satu umbi (± 50 -75 gr), direbus dengan air dua gelas sampai mendidih tersisa satu gelas, saring setelah dingin / hangar kemudian diminum, Digunakan untuk mengobati sakit malaria.

Bahan-bahan campuran yang digunakan dalampengobatan tradisionruantara lain yaitu : air kelapa, minyak tanah,niinyak kelapa, kapur sirih, kuning telur,gula merah gulabetu danmadu.

Dosis yang digunakan untuk mengobati suatu penyakit berbeda-beda untuk anak-anak dan orang dewasa. Untuk jenis ramuan yang diminum biasanya dua sampai tiga kali sehari yaitu pagi, siang dan sore dengan ukuran sam sampai dua sendok dan setengah sampai satu gelas setiap minum ramuan obar yang disesuaikan untuk anak-anak dan dewasa, Jangka waktu yang digunakan biasanya tiga hari, seandainya selama tiga hari si penderita tidak mengalarni perubahan maka pengobatan yang dilakukan dihentikan. Dianjurkan sebelum minum ohat sebaiknya makan terlebih dahulu.

Selama pengobatan dilakukan terdapat pantangan I ketentuan yang hams diperhatikan oleh si penderita yaitu khusns bagi ibn yang sedang hamiI tidak boteh memakan isi dari buah kelapa yang airnya

Beeeariana Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 -, 67)

telah digunakan sebagai bahan campuran obat, Seandainya isi dari buah kelapa tersebut dimakan maka bila anggotatubuhnya terkena benda tajam, ibu hamil tersebut akan pingsan dan sadamya cuknp lama. Contoh lain bagi si penderita asma, kelapa yang telah diambil aimya tidak boleh dimakan isinya oleh si penderita, melainkan dihanyutkan disungai, bila kelapa tersebut tidak hanyut maka si penderitatidak sernbuh. Pantangan yang diberikan untuk pengobatan tradisional lebih bersifat sugesti dan tujuannya agar si penderita benar-benar mentaatipantangan tersebut sehingga efek samping ataupun pengarauh pencampuran obat dengan bahan lain yang bersifat racun dapat terhindari.

~l1is Penyakit Yang dapat diobati

Masyarakat sukuBiakmerupakan salah satu suku yang menggunakan berbagai jenis tumbuhan untuk mengobati penyakit anatara lainsakit malaria, reumatik,mata dan lainlain. Jumlah jenis yang dapatdiobati cukup ban yak yaitu 48 jenis penyakit. Rincian jenisjenis penyakit dengan jumlah jemsa tumbuhan obat yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit menurut pranata suku Biak disajikan pada tabel Iampiran 2.

Masyarakat suku biak dalam menggunakan tumbuhan obat untuk mengobati suatu jems penyakit tidak hanya selamanya menggunakan satu jenis tumbuhan obat saja. Karena mereka berkeyakinan bahwa tidak sernua jenis tumbuhanobat cocok untuk seseorang, terkadang dalam satu keluarga yang menderita penyakit yang sama dapat menggunakan jenis tumbuhan obat yang berbeda

Selain digunakan untuk mengobati jenis penyakit, masyarakat suku Biak juga meman:faatkan jenis-jenis tumbuhan tertentu untuk melindungi d:iri dari gangguan (gangguan makhluk halus (Alternanthera sp.) dan mimpi buruk (Areca sp.) sebagai perangsang (Imperata cylindrical, Curcurma domestica, Abelmoschus manihot, Plumeria acuminata, Pleomele sp., Ageratum

24

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (2101 -·40)

conyzoides dan Sauropus androgynusy; penarik lawan jenis yang biasa dignnakan oleh anak-anak muda seperti (Musaenda frandosa) . dan dapat pula digunakan unmk menyembukan sakit yang disebabkan oleh pengaruh guna-guna yang sengaja dibuat oleh manusia yang ingin mencelakai orang lain seperti (Dioscorea SpI, Nicotiana tabacum, Dioscorea laur~folia).

KESlMPULAN

1. Masyarakat suku Biak memanfaatkan 80 jenis tumbuahn yang digunakan untuk mengobati 48 jenis penyakit yang terdiri dari 44 famili dan 72 genus dengan tipe pertumbuhan yaitu herba, perdu, pohon, liana dan semak,

2. Bagian tnmbuhan (sinusia) yang

dimanfaatk:an adalah akar, umbi, batang, kulit batang.vdaun, bunga, buah, getah, tunas dan bagian yang paling banyak dimanfaatkanadalah dannnya baik daun mudamaupun daun tua. Sedangkan eksudat berupa getah tumbuhan yang langsung dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

3. Pengobatan tradisional dilakukan dengan dua cara yaitu penggunaan secara langsung dan penggunaan dengan cara peramuan melalui proses yang sederhana,

8ec:cariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6T)

4. Masyarakat suku Biak menggunakan tumbuhan untuk mengobati suatu jenis penyakit dalam dua bentuk yaitu bentuk tunggal clan bentuk majemuk yang dilakukan dengan cara penetesan, penempelan, digosokkan / diurut, dioleskan, dikunyah, digunakan untuk mandi, berkumur dan dihisap.

SARAN

1. PerIu adanya perhatian khusus dari Pemerintah Daerah dalam rangka upaya pele:staraian dan pembudidayaan semua jenis tumbu.ahn obat yang ada si daerah Kabupaten Biak Numfor.

2. Perlu diajukan uji klinik senyawa bioaktif yang terkandung dalam setiap tumbuhan obat tradisional yang bariyak dimanfaatkan oleh masyarakat suku Biak,

DAPTAR PUTSAKA

Aleorn, C. B. 1984. Huastec Mayan Ethnobotany, University Texas Press. Austin.

Heyne, K. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan RI, 1987. Jakarta.

25

TurnbuhQn Obert MenuM EtnobotQni Suku BiQk (20 ;.. .40)

8ecrcariana Volume 4 Nornor 1, Mei 2002 {l - 16 n

_ Z . =

26

Tumbuhan Obat A'enurut Etnobotani Suku Bialk (20 - 40)

>-l
:C' ;QO :-oJ 9' ~ ~
a.
~: "'d li l t"'Z i
J ~. ;:!
~ 1:1'
~~ !
'-< ~ ~
e Vl
~
::;- ~) £:. ~ ~ ~ 1
tl <1>' ?; S
g..~ ~! ::1 ;:, l
f} til
1l~ 1::1 <:) <'l t;.
:::1 ~ <:)
::t ;::,., ~ ~ '"
;:, ~ ~) -.
§ ~, g. tl
)~- l::i
s t:l -?
"Q<: 1:'- r: ~ >- "2j
o 0 ~~" g (') ~
=-g. ~
g 1>:, e; ~
J::$ e-
~ ~. 0 §
0 8
g 0 ~
g g
t;l:1 e tl' 0 =
a § § § ~
~ I!:S.
~
=
t:r!!l '" tl:Ir'" Po"'!' j; S-&.~O i~! ~o ~
e. a! e a : g. § ~~ e- §:l ~ § ft 0 1:01
$<§"O§ '< s .... =~1:01 gs ~
-.~ = CJtI s· '1;l:;'- '< 0 S &. .... '" = f
~ § '< ....1:01 .... ~ ff
1:01 = a' . -! .,'. ! ~~ I;l !~aga
~ &...g.~. § CJtI 0'0 ~!~J [1l ~CJtI ~ i
~e:! -§-
§ . §- e:~ g .... ! S"
!t:r!!l~ i:'I"~~iO" a: ~.~ til §&'S::l:01ff
* i:'I",g '!!l CT§J '" =;'
rIl ~ e ~ .... C'Po ~.~ , g'~'N:O
e" , -Ell» CJtII:01CJt1 ....
a= ~ ~l~:s ! ''0 ...... a.g
!l ~. !.?A8lCI !~ ~~t:r
~ I» i" el
0 c a "O~ i ~
0- c:i~, ' 9 9
a ~~ . ~
~. 11:01 ~.
~ c:,'·, ;'" t:r
~;~ := ~ ~
I!!., ~L ~
~ " §g
E' '1;l
;:i ~ I» llt/
s: ~t 1:01 1 §
, t:r
rIl C:"~
~: ....
: ')" ~
e"
,
"'''
~
"';1 -.:. --.l
<,:]" V. W
~.~ i Po tr'i S ft::t .• ~ '~g &. ~ "OPot-§rIltlli ~
§ § c:~: .~ til ~!§ q:j. Q. ~! § .~g..
~1. rIl"C:i .. g. CJtII»~1» !*. ~ g:~ ~ ~ s. . R'
«0"" =~tIl 1>;'0" !
l»>;f.II:Sml- §~CJtI @ § 8l ~ g: g:'i s
'1;l (1l ",1'1:01 '"
§:~ e: g ';,., .... e. ~ 1:01 t:r ~ £! §' IJQ
~fii3~Fir"W ~
... 5;' =- § ~ g. go SQ.. ::to I ! ~, ~
i &~ S. !~ .... ~ ~.~ ~a ~ ~ .
e. w CJtI 1:01 llt/
I» Beceariana Volume <4 Nomor 1, Mei 2002 Cl .. 6~~)

27

T umbuh<m Obat MenuM Etnobotani SlUku 8iCik 1(20 ,. 40)

~
..... :z g.
:-' P e
-
,.e' gi e.t:t~ t""Z f
-0 ~i ~ e I:j'
~ ~~ [" !
! -e O?l
~ -
g' i./)
l:$ ''I;I C":l~ ~ ~
-, ~:S-. ~~ i
::s ,,- "
-.... c; SJ' <Il '"
~ g" ~~ a'
" is' I:) -

~

Bec:cariana Volume 4 Nomor 1; Mel ;2002 (1 ... 67)

28

Tumbuhan Obat MenuM Etnobotani ,siuku Biak (20 - 40)

:z >-3
.... ...... ...... - ...... g..
:-J ?'> y. .j:. w 0 2,.
:s:: a ~ ~?; Er. f f
@l ~ [~ £!l ):j'
'" ~
I e- ~
~ 0
[ Vl
~
~ ~ s ~ n. ~ ~~
~ ~. ~~ ~§. ;:t ~ ~ f
~ :So <::l ;:t §-~ ~.
t) !::. ~!::. ~§- "" ~
Cl- ~ ~ !::.~ '"
~ t)
c
~
Vl> :zc "1:1< ~g' [~ ~
~ ft ~a. &~ .... 0'" ~
~~ ~ ~ ~ r::r @"!'
s §
0 8
ft g g
ft
'0 '0 '0 '0 §Q.'O t::d
§ § § § ~~§ 1:1)
ee.
I
..... "C:I eo: 0 r '" .e- ...... 0 eo: ~.... 0 • • .,< Q. "C:I §; l';' ~ '0 Q
riJ' c:i .. ~ .~... . . e 1». @lS.1» . g . ~
9 ! § § . . § 0'" § § em· § OQ OQ Sfl ~ e § ..,
~
~~ i ~ e :.~ .. ~ = i l';' ~l ~ .. ~ :~. ~ ~ ~ ~. i ft t.r ~r! fl .. r! ! a:
~f ~ ~~ii§ ~ ~~§]~~~'~'O"'i_~§ .1 ~! ~ ct ~
"'I
l}!i" i~l~~t~i1 "h1il.~[~~l .. g-~f~U ~
@! 'g (5 ~ I» .ft i i Q. ~ J" i' OQ So! ...., ~ '" .... ! e: Q. §;
... "C:I - ":::I ~= titI··. ~ ......
riHJ~{~!J; ~~itt'§~Hl: II~ml!
. £!l eo: ~ . § ~. at< I» ~ OQ ~. § "C:I ~! at<@l
§ .~ § el ~ g e. ! a
~@ ~g ~ Vl SP. Ii ~
s !!? e !!? eo: ~ a 1=
'" ...
~[ ~[ I ~ ~l &:
'" ~. '" ~. r::r
~.~ g.!" ~ ! =
~ ~ ._.. ~
~ ~ ~ g.~
~ gs. ! gs. '" '"
s
"0 1 ~
~ .s.
uo
-..J
-..J -..J -..J .j:.
.j:. VI .j:. I
8
"0"'1 gf: =e:o:; <Il f § e:"C:I sr r- ~
it: 'lg ~ . at<'cl= I t:f' ~
r::r . ~ .~!;. ~
~§ &§ ..,
i!~ a '" :t ..... !
~"'! sr.
I» 1» ~ .... 8.c§ eo:e.. I
'g. § e- 1=
... w [ri·~iQ. ::I
I» '" ~i
<Il ~
~~ . ....!
e. OQ 8eccariana Volume 4 Nomor 1. Mei2'OO2 (!, ... 6j~

29

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani St.lku 8iak 11~20 ._ 40)

>-l
N N t....;, N - ..... 'i' g..
~ !'.l >-. 9 :0 00 g..
~ > ~ -- 3' r ~ ~ -< t-z [
"d'
~ ., ... ~::s l ~ e e ~.
~. o ~ <.e ~:.> ~
~ tIq g., ..._
..., al f ~
~ sr (',I}
~ S
r.JJ cr'
;:... ~~ "1:::s ;>, ~~ ~ ~ ~ "0 f
~ t:l ~, ~
~. ~ § 5"6' ...
i:S fii[ ~ 't~ a'
~ l~ is' :!.
~ t;. (;:;. ~~ ::.I. ~
~. tl ~ ""
t:l
s:::. ~
'"
~~ ;OS? :::z:: t7' i~ ro f "I'j
5~ ~ ~, g' ~. e
g ~ cr'f
~ . :.> ~ ;::: (1l :.> 8 e:
~ I ~ 13. a
~ ~ tt R
0 ~
~ ~
0 t:I:l o '< 0"' ~ [~ =
~ a (1) ~g$ :.>
jJ ~. g ~: 1J3.
':t 0'Cl tIq !1
I.

rn [liiE & ~:§!§"' ,§i~~ [[~~ ~.~ ~~ n
~[ 2;"'n'i};~ Oq1i~§ . B ~ .... ~·&.l ;: ~
B '" ~ 0;
Ii· f1.iic~ :.> jI';" ~ A" .~ [I" ~l$aO" :::
~. ! -g' !f' 0; • '" 0; o:.~sg
! ~~g §I';'si ~
1Ir,"0'Cl "O"dg~ "d"O fI' "0 ee @l~ OQ Oq ;
~r Jgr~Oq ~g,OQ '<: ~~l ~ ~ e.~ r-~O" c·
Oq ~f~ ~ (;)"~ E! i'~ i- [ . .~~.~.
&.<.e .:.> C1'~
~ ! ~ ft '8 (jS. tIq :3 CIS. iII"'~ !~~~ § 5- '" §
00 81 ~ l?:i~~ § ~ :.> ",sQ;.e., ~'i ~
, ~o; i ~ IE;; g.~ ~~] s e·S
S. ~f ~.
~.~ ge :.> '>" ?r~ cr'0 ~ ~
=;. ~ ~i
'S.~ ~~ "d B Jg= a 0;
§ 1~' ~ ... §; s s·
l~ s = .. ~I ~[
00 g' e.. ....
s- !.
i ~ ~' ~ ~ I»
I '< ~
§ c:r' 0
Oq ~. i =
~ !:O
.0
! ~~ ~
!:O
~ ~ --.11 ~ ;j
v. .j;>. t.'" V.
ffoo & ~. '" t-' ~S? &.~lO l.~rf3:~1i ~
o~ . o e
i}; Jg [~ '3 I>l
~::r ~i @l:. "d .... !" .g.~~.
Q..g!a. III g g.. ... e a. tv ~ .. ~ 0- ;-
"'I
~~&. 5- OQ &. Eg &.g ~ -~g ;
Bl § ~ ~ 0'* :si~ ...,=0
'~. 0"(:; ! '"1 ~qg'lOl< 0:
I» ~ '" ~o a s. fIl" i ~!~§ =
g ~. [E~ 'g.§
g .0 e. :.> "'dOl<
qg. ~ 8eccariana Volu.,.. 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

30

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku 8iak j(20- 40)

'""'l
w N ~..l N N N ~ [
!=' :0 coo ;--I y. ~
til '"d tI} ~ :> f r-z f
a- =;. ,~!. "" ;:!
g Q t:;.
~, ~
~;
e' e; '""'
~t
S' til
~l. ~
~£i ~ ~ ~? ~~ s ~ ~ ~
~o § t>, S. ::so ~ ~ !l !
~.~ ::::- <:::1'" 1:)' S. ~
'" ;:"'I:l ~,'§ SI ~ "" 5' ~
"G -. .g '2!i~
-. s. ~s. ~.
~ [S. ~ I:) ~j' ~ t) t :;:, s
~ ~ t) s,
a
'"d~ ~~ '"d,"'; '"d'"d '"d(') r:.n ~
~t g.;·~1 o;~ [0' sf =
9 g o =.: 8":::.: = i ~ ~
= €I = .....
a- ~ '"' s §.
~. R. 8 ~
J:<' ~
~ ('I. ft R
~
0 0 0 o-~ 0 [~ =
§ § ~ i~ a- li;
g. ~ ;:;: 'e.
(IQ (IQ ;
~~i"~o r,~ l!~ i"! rf [rf E!~ ~ 0 ra-~g~~ ~.tll i9:g!~ ~
....... - ..... cr' G I» og 0;
rll! d! •. [§ =(IQ'@Ii.@~"Oe ~. [~ -::: ~l~ ~; ..
n I»
Er.f'j~~ !.~~ § .... g.o- ,~CICi ~
;f~I~~g.aB~ @I , 9: ~ ~.~ ~ ~~. t- i g ,~ § J~'~ i
= e:.. ~ 2 = "0"0 "'II
r m '.e: ~ § ~. 0"'< g.~ 7"~ (JQ r !~(IQ =
. ~"'lg i~i ~ = a ~
~go-~; ag l!tlVao- i"!- a'(IQ J!i. g-
11 g 1+ i ! ~. ;: §g~~~~g<: .1)] ~[(s. [.~ ~ ~a 9:o,s.
1)]. Q. ~ I:: i';.i' 1+ ~ . !rnss~~=" Si:·Ii~ e. aa~!
tl'J9:§o e:=-O'" ~s "Ot:"J"'~ i~ i~ '1 I:.> ~ ~ t
J-tl 0' g ~~ ...... ~ ..... 1
~ "0 . a.a-,
.§ a - a. e::
1:.>.... 0- ~ "§;. _. a'li
el I:.>
~ ~ ~sPo~ ~ tll ~ ~
a a ('I. ~ CD [
. ~ 1:.>= 1:1'. a =
~. ~. CICi a; "0 qIC: ~ ..
I:.> I» "C Q' == g: a e:
Po Ii ~:. g. §" § Q
g Ef r·< tlei 03.
'" CICi g~'
~. "';;(IQ §
I:.> g I:>;'
~ t::J:~ :£:e ..
§ ~
.... : ~.
l:l QO o

QO o

8eccariaftQ Volume. 4 Nomor 1, Mer 2002 (1 ... 67)

31

Tumbuhan Obat ManuM Etnobotani 5uku 8iak (20- 40)

""'l
w w w w w w z ~
?" ~ ~ ~ N ,_. Q a.
i ~ en E:: G: s:: :z f
i ~ a ..
=:I. 51 =r
i t fl> g- 111 ~
I:""
~ t ~
00
~
~ ~~ ~ ~~ g~ t--< til ~
~ ~~ I':> 'i
~' lS"1':> ~ ~~ ~ ~
SI);i ~ ~ ..,
'" ~'l:l C iIS·
§~' '" ~
~ ~ ~. ~~ QO
E" ::to it
0;' ;:s l:l :.:t. SI
fl> 2' ~ ~
"!='
~~ '1:1'1:1 ~~ ~ !f,E- ~6' '1:Ic I!!j
~I cL~ g. a. i.
c:t'~ ~E. ct'~ g ~
l» 8 =: n S' l» (1)
~ ~ ~ (1)
~ (1) (1) 8 ~
~ ~
t:1 t:1 ~ 0 0 g'~ =
§ § § § 111
S i ::;.' 1J3.
(JQ =
rJftii lifi 8ds fl> e;'~ ¥ 8::~~ftt:1 l f1 i ~r~~ ~
'" G' S (1) '" B '(1) 0) . ~ ~ ..
~.='t:I C"S .,
~'()Q ''0 l S 111
l~ ~~ UCleiJ5a UCl ~ e·a ~"O [a e: ~ e- ~
§1~ l[ i: a' g"s. ~O!:I. ~ ga t*g. e- ~ ~ i
!( ~ §. ~ ""
·gi~ .~ !.UCl ~ @l~~0!:1~ c:t'=fit- f't:lO!:l ~
l~ go ~r~w r. ~ @l 0) rS" 0. @l 0) e:. e. g'
e: fl> UCl e:- 'gj '~,1+ .'" e: ~.l+ llS. @l 9 't:I [llS.
l» al ~ e:~!tl, ..... Ul t.,;h s ff. r!:. VI ~ e: f ~ @l
[~·r s~~r;"o, '" _. .~. ~ 0.
~:~ @l ~ g.l» ~ ~ il~·
~1Il 't:I s- e"! s- ffl 't:I ~
'i ~ ~~~ ~ !. S
@l "" ~. ~ ~. e; Ol
e, '"1 @l
"'0 I .g~ .g~ i§~ i ~
I
l=l,~ a~ 0!:It:
~ .~ ~~ • @l ~.
§~~ ~ ~
't:I g: e; fl> e; l!:l ""@l~ Co.
@l Q> .a "0 ~Q.. @l
al 0) ~ ~ ~
a l» 9 @l
e; c:t' c:t' If Ol
t t \0 -.l - ,_. \0
0 0
0 VI 0 0 0
IJ i~i [~[[§ f: [~~ ~l ~ ~~w ~
!» e; ~~ . !»I:l~f.()q~. = l» @l ~
lnh .g; .!,§ 03. a Q.. .,
Q> r!: ... i § ~ ~a' ;
!!!.i 0 !.~! ~ =l»~ IrQ
111
_. I» Q> 0' @l i!. III
al 0) ~ ~f '" =;;:; =- "'g;;:; =-
~~~ g- ~"O 't:I g- O) 0)
0) <~
~ ""l=i.0) P!i ~ ~ BeccariaftQ Volurne 4 Nomor 1, Mai 2002 (1 - 6T}

32

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (20 - 40)

....,
""" """ ..j:~ w w w ~ ~
~ ~ q :.0 ?O ~ g.
~ ~ t3 g~ ~$' ...., ~ ~ f
[ [ cr" § ~ a 1:;'
S '"" ~ ....
r~ 0 ~ » §
er ! ~ ~ r- ~
!:i' Q
!:i' S e. ~ til
-- f
~ ~ ~ ~ ~~ "";; §.~ .~ ~ of
'" ...... ~ .... c, ~~.' I;:) 8 '" ~
:;'~ ~;:;. ~ ::to :3. -s ~.
;:.,~ ~ ~ ~: e- ;S-'"
-. ~ ~~ ;:;! ~ ~ 00
t'.! s· ;:: ~
~ E" $';) 1::). ~ ~
~
~~ r€ ~ .~~ t'"''"t:I ~~ ~ .. t:;:;. ~
~'l »
a.~ g @ ~i a.a. §:
=-1 ~~ 8 =- 8 ~ I
g. ~ ,~ n
i :~ ~ ~
'r.>
,n
III
,n
e 0 t) :¥ 0 0 ==
§ § .. § § »
is § "3.
!
-[0 !i r~aft"'''rl§''rjl"''' ~
!~§ ftSt:t'g:el ~ [f»
'-e:1)Q 15 . 0-9' § ""
iilr!l~![!r !- .~~ §OQej §) i »
~l! ~ e~ . ~ ~ ~.l)Qf :e: [ >a [ f
.I)Q
-. til e:OQ f go e:'l ~ '0 ~ ... l~ til I";" l}l 8 til III 8
. I
9:0.. I cm·1;l· a'; ~'i:" i =- I;: III ~ ~ =: ~
I ~ca.t- 'r~ el ft-~ ~ !:r;"
!i 'I::l ~ no =,; is . }i,~ l!!¢l go
! ~. ~ § _, til 0 ~ I} ~~ ~ If \" ~~ ""'i I
I: '0 >a . 'j{lS[I+~ ~',i ~.F" ~ !. el ~ :. ~ gr
_ J;O S:VI't:I""" i
o§go:>'i" .s- 0.0 1)Q§.>aft-§ ·Ul~ $-'$
.;i . .' @l ~ e. 9 ~
ca. <S. 0.. .I)Q OQ VI 'l::l § l~ e. go 0" @l l VI ~ ~. ~
III
g. 1:(9. ca. ;' I)Q n. . @l ... f ~1:l~'O III
II> e. "S. ~ " III e.
Ii tn :> § '""l 0" '"1:1 1 i '< 0 'tI ~
~ S !~ ~f, E!l 0- i
'l" ClC1 ~"~ I)Q I)Q III »
~l ca. Il> 19 ~~. @ltll~ t
IS. g ·..:1Q~S-
li '00" E!l- 'l:l
o..g S"? ' . o..~ g
~ !It ~~ ~~~ ~
ci€o.. ca 'I' ''t::l S)I';"
~ 'g fr l~[
~'CJQ
"0 a~ til !

g- el :r' III
...
VI
--..I '? 0<:' 'c) <.0
VI - (A 0 0
0
0
~.tIl ltll '" til f:tIl 0 til e:c:: ~
~!l- n~~ e tr
"0 ~.:j ::I. 8- CJQ CJQ I ,~ I'P
.,
~o..a 'iw§!-fr (j' §
.... ·~\U ~["'~~§N~' ':
I»i'\'" v s- ~t =
~ ~ l!l.-.'O e3 I» ~8.
'< ! e. 0 '0
1»" l';" Bec:cariana Volume 4 Nomor 1, Mei Z~ (1 -" 67)

33

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Sial< 1(20 - 40)

;-j
-"* -"* -"* -"* -"* 2 g.
:-..J 9' ~ ~ ~ Q a-
f !:r Ji 6: f l r
'tI
1:;' 1:;'
9. ~~ ~ §
t"" ~
~ I» 0
.~ U'}
~
~.~ ~ ~ Q Si ~ ~ Vl ~
~""I <:J-'::l C ~ g ~ 1 ~
~. s· c (!:, ~ ~ ~ '"
~. ~ ::;. 1j.
::;. -.. Q §: ~ -. tl
~ f} c· ::i-'tl S'
::II ~.
Si ;:s ~ tl S
~
s
"Cn ~\:l1 ci'.§ =e;- o ~
g.r ci'~ ~
J:T''§ at::r &8 a'" ~
8 .... g~ t:: ~ t::~
I I» =
r::1' G H'
.... ~ .
g
fg ~ ~
O::J 0 0 0 0 =
~ § § § § I»
!{S.
0t1 ;
e:l+ txl e:e:o 19~e:~ r"l
<tv.1» i!1l§ .~~ i § ~
W § ig- .~§ ~. r r r 9 .~ 9 g- ..,
P" t'-:r u r;: i !;' ~~.g ~
~a [ NO" .o.~Ot1 § ~. ~ J~ g,g S! 6 ~1 ~ i[~~l f
6 ~ r ~ ~'-J!l ~§~~.§ ~ ..,
§ 9.:~~~ ~~ t ~ IS. g.~e~g e
'< e- '.~ !1l i. . rf-a go g- ...... "', ::;. =§ 0.. ~ ft~~ '<§0t1"01IO c::
~ I» [!d.",.. 51110 ~ ~. ~ ", e:: c, ~ = ~ J€ ~ § e. g
~ cs. ~ em· ~ a .. ~ ~ rn § ~ e-e- .., t:: ~ ft -
~ §e: - ~. i . '" "S. r::1' S"~ 9.. e g.. !l '" ~ i i5·! '" ~~.[[
~ ~ l,-let §~.! I !"~.!-~&1 ~ = ~~l~'tI
a. [~'<
§a '!1l 0t1 ~go g. § §. '" ~ e; i ~
(J(/. § _ ft
i V-l ~ f ~ ~ ~
=
r.o S ~
~ ;. !l f
g §. ....
0t1 r '" ~
!l:\.
e. i
....... 0t1
i ~. !
~ r::1' e:
~ E..
e;
Q.i!:;
-~
...... ee -..l 00 ...... ~
0 0 v. 0 0 g-
o 0
e
§ r .., 'tI 0 ~a~ ~
,~~. ~: Ci! I» II
0" . [~~ q
5-§ :; !a !
'" O'Cl ~ N 8-"" ;
~ !(;l[ !l:\.~
e. ~gi' i!
.... t::r e'l
~. BeccGt'lan4 Volume .. Nomor 1, Mel 2002 (1 - 67)

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (20 ._ 40)

'l- >-l
VI VI VI ,f::. ,f::. [
:f'- ~ :=> :-0 ?O
9- ..... s· $" S' t f f
~ J i~ e;
~ I:j'
e; • ~
e. e-
[ !""'
til
~
~) ~ ~ ~ ~ a.§ ~ t
"C
t:) ~. t) ~ g. ~. ~
~.~ ~ ~ ~ '"
:0::. ?5 § !ii'
t) .~ ~ i::: '" ~ ....
t) t) ~ t)
'ti ::. ""
t) t) '?
~f ::I" "1:1 ~~ d'$ [i "!!!.l
a: ~ =
a~ 6::i a
Ij:: t:: !!j = ~ 8 e:
0 ~
pt g 0 g
fg
t;I ~ tj e tj c=
§ § § § =
§. ~.
=
~ I";' til g-'<tj tl "C --1:00;' tI:1 S[~~ !:~tl ~
'~l(tQ~§ o~ .. ~~~ .... OQ §
~r !.~l§ . ~s ~
~~~!!~s ~. ~ i1;;' i ~ ~. 9" ~ g"!f { a:
§~ .. = 'g I:J. E NO'$ !i ~
~ fa .... 5' @: t~l~~ ~. ~ Q.. S
(Ij. (Ij ~ ..... '-'(iil l~ ~ ;
. ::.::[ §~!~
.at!. o· l+ &: ..... oQ. § '" § '"
Q..~ - . (tQ ::I. .~ go r~J ri ~'i 'OJ
-11" QO .... :::.:~
§~r.o~[ ~ = i:i> e: a
§~ls! Ii «-
§g. g ~ ::s '0 !~
i.~ ~ 'Ql a . (tQ 0 l»~
§ '" Ql
a= ~ VI a'tI:1 i ~
Jcl ~ l'~·
!:l •
I a' ~ ~.
~. "=' u ~
~
~
~
t::
g \0 \0 \0 \0
0 0 c' Vt
··r ~~ "''''l;! ~
~ g. . ;3 § [~~:
o g.' . -
c, ... ~
!i'f "I
'0 ~~ =
Ql
~·w :>';' til ~
"'''''' '" ~a =
.... e. !
§ -. 'l:l
'JCI el. 1:1. Bec:cariaftCl Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 _. 67)

35

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani ~Suku B.iclk (2(1 - 40)

....,
~ ,'" VI VI VI VI ~ go
9 ~o ee :--.J ?" ~ g.
8WSl:: '"g ~ '"rj ~ ~ ~ f
~ ~ .g S·
~ ~~ e,. ~ g. ~ i I:j'
~ ~ CD I?;" § '" s
*' ~ i t"" !'"""
§ (J(l ~
~ CIl
~ ~
~("'.l ~ ~ ~ ):I:.. ~ t:e ti \Il !
~~ ..... ~ .~ ~ ~ "CI
~ t) ~ l::l €I ~
::i. ~ ~ ~. ~
~'" ~.~ og "IS ~ ;SO ~ ~ !IS'
I::l ::s- ;:s ::s- ~
'" ~ I:l ::: I::l is i5' is ......
~ ~
~
o::r \Il~ ':I:.>-c:;1 l r:-'(") ;fl '!!!j
~S: § 't:i f~ g. .... g '"
! '" e.
1» s- ~5 (:l'~ go 1» 1» @"=--
~·o I g J:'!
(1) el- I:! a- e-
§" ~ ~r §'
(1) ~
"" g g 0 g
ct' g
0 0 0 0 0 0 =
§ § § § § § '"
~.
=
rl-~ gO 'g~8;:;-~t1 &."9. H~O ~ .~~O 'O~&.W ("")
~ "'toT' II> §.! 1§ ! !l['< ~=--I?;"r 0 '"
. ·~i~§ ~! 1 i g. § ! s:: g ;1
§(J(l.~tIJ.eJa (J(l ,".1
~jQ.,~ lie ~. ~l, a lI';" J.... a ~
a~~ ~~ !e-:g~ [~i~ !- ~ ~ ~ eJ ~ ~ [] cr §
~ ! '" ~Q ~ I! €t' @: :0:- !lO';"sr",~. "'~ ..
~ I el. g. ~ '"
, ~~.:; i ~. =Pj"C~ l~l~g[~[~~[ ~
'3 ~ ~ ~ -.
~ .~~- c:o J""'aq
R-(J(l ~ =. VI 9 "'Eft ~ !!5 '" til ~ '::c:o~l g.~~ga:_
~ Q.. &.J& '? Q.."CI I:j • i:l~r
g e. el. i+ ;::~ !a. ~. ~:"' VI ! ~ 5; g g' !. § §' ~
= :1 ......
!'J&~!C: as w§ .. '< E: (1) ~~ f t~~ § (JQ lI';"VI
II> .. I, 9 i~ . m' ~
g ~.~. ~ ~ 0" er
-~ ~
II> tv ~ .
rf>-c:;1 s:::: ~ O"c:e..= 0 CIl :::c ~
~g ~ ~ 2 I:' eJ ~ S' ~ ~
~ e. (;l I.
!~ ~ ~ - "C :0:-
~! ~~ .g ~ a
(J(l!- ;l
!~ s '" ~ '" "C a.
\:I' .§[ fls II>
~= ~ '" (~
0"."" ~ =.: 9-! g.
0 0" ~ ~ CIS. a
[!{. ~ (J(l CIS. !
eJ (JQ - VI VI VI VI . .,.
0 0 0 0 '0
~ ~ "C ~ 0 ~
g. a:
Q'§ ~. ~ S Ii
s .. ~ el· i
~;
= IJQ
;.~. lID
III :=
! Q.":'"
el. ~~ Beecariana Volutne 4 Nomor 1, Mei ,002 (1 _. 67)

36

Tumbuhan Obet Menurut Etnobotani Suku 8iak j(20· - 40}

2: ,....,
0\ 0, cr- 0\ 0\ 0\ 0\ g.
:--l 9" ~" ~ :u N ~ CI
~
-
~ er ~ ':T !;!=--' a ~ £ ~ f !
88 s. gf I
i = ! =1'
e5 § l-e~ § lID !!i
§ § 5l l>l t'" ~
g as. CI
;: tI.l
~
.~ ~ t-' <"l ~ ~ ~::J:! ~ ::t.. s tI.l ~
~. >§ Q (]q § ~ 1
s ~ !II ~ Ii: ;::!
:::! ;:SO. C ~ ~ ;;:.§" §. ~
:::! ~~ ~ .5t ~ ;::;. ~ ;.
2 -. Ii:: "' sa ~ .,.
-. 'tl ~~ lii !::I -. ~
~ ~" '" ~ ~~ g. ;liI
t;
'"tim g:.g' ::z:: ;t> ::z::c: '"ti> '"tim ~C!;- ~
g.fi ~ Vol ~ ~ 8-1 S_L§ ~
9 g g::r i'~ i'8 9 F!':::r a!.
!= ~ .
.a .g Ei l>l' ~ 0
~: ~: 0 8 8' ~
8 _. ~
~ i ~
\:) til ~:.. 0" t, i ~ \:) to =:1
§ § gg § I lID
1J,9,
(jQ lID
1:1
rl~'~\:)~l[f~~ rOQ Vol ff ~ fr~~~ -o~ ~~~ if n
Q_.: ~ . - : a.[
!i~"·-!!~·· e51g.9~ m er ~ 8 i~· e;
~i lID
§l>l".1:" i l>l ·'g·a S pr,-. . fi _- ~~ ~s .~~ ig' ~
~ (,.) @ s: ~ .t!l.'O ~
..... ~ 11!_ .~!!i ~ 11!_ . SQ.&,
~.~!§' rs-ga !S·li ~l "I
s e5 , s : ~·s "'11!_ ~
t!l..gg ~i:o'Og. , g,a
0"'1 0"" Re, ~f~. - ;:: = '" - .1:0 ~Q.
pr,-:g .. 0/' §.,§~' ~l . '" c s;~~ ~~ '< l>l
e: "=1' §- l>l '" ft!.
["'go- . oj . tI'.I ~I. -tv.= . _!!i a- al. f~ is
e5 .;:: '< i ." ~ en = ~~
~ 58 ~ ~ .§ • l>l (jQ "' ~ ~{ I
CtQ ~ .. a 1~ e5]
~ 0" ,~ g e5 ee fo
III J'>
J'&> to :<:' sn i E:: ~ ~
S 1-' tJ'
~~ l 9 -I lID
'0", IS ca .... ~,
13 § a
![ ~. ~ J ::l..
1:.0 g
0" ,::I [
i g' III
,_, ~ Q. ~
'< F-. S. f.
~ j::l' =
1:.0 ~
l~' ~
.::1 e VI v- .1>. W .j;>.
0 0 ,=' VI Vl
~r '" 0 J'& ~ t;;~ pr,-::ro ~
8 ... ~,,~ ~. ~~,~, l::s"
'" . i:T§ Q. . ~. !'II
~s §.~ ~,~ l~ ~s ..... j
~- ~ 1:1 ... ~ pr,-
'"d ~ ;_1 ::r~ ~ »
i! rIl g"§!l ~ ~~ 1:1
~ '« f~ t
.... l>l ~.
e. tv w "C 8eccariana Volume 4 Nomor 1. M.ei 2002 (1 - 67)

37

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Sluku Biaki(20 - 40)

....;
....;, -..l ....;, -...J 0\ 0- Z ~
~ !'-l :-- P :a ?O Q g.
[~ ~ i. "C ~ a::: z f
! ~ 9' ~ a
~. ~ g 1:;'
§~ "" e- II; s
i §' ~ e-
(JQS Jg ~ Q :--
[ $' i til
(JQ l
~ ~ s ~ ;:;'0 <":l ~ "sl,~ ~~ tIJ !
t:l .... ~«: 'C Fl
~~ ~$:! 1::! S. ~ ~ §s- fl
~ ~ "" n ~ ::i
-~ ~. ~ g.1:l ~[ I:l OS, ~.
~] ~ "€i' ~ ::i '"
""
'" ;:s- is'
~ ~
'" ::i
'"1:IVl [I ::t::r ~~ ~~ ifW '""1
~g. ~ ~ II;
§-§ cr -. go. 8-= ~
~ s g ~ = () ~ i·
~ ~ ~ ~
CD f CD a
~ 8 g
g ~
t} ttJ 0 ~ 0 i cro ==
§ ! § § I§ II;
5 II,S.
I>l [ I¥I
=
g"[o[.~tl' 0 ~! ~o rri ~ 0 ('9. ~ 0 [~g~ 5
~. == § '1 Jg § - 0 § 'tIg fl>O"'g
f)5 t:1' ~ ==! 5 ~~l!
§~ (JQ .~ e ::-;- !:l.S e 'if~:'~i~lJ f
ggti:!~ fr § .i3~ fr ! ~ @i. ~
O"-e~~o ~g= 00 ·!li' f)5 .
50 ~ f)5 .=: S ~ . Co°l- g.r~ ,.0.. V,\;' e- ~
.", ~ ~ "0
'< J,g a = 0"' g e; ~ '< - .. t» i . _.! i . - a. Iii
g 9 EiOj< i r !:ro~._ ~ 5' - § 1l g
(JQ lii? .... "0 c" fJl ~f)5~
~§~~~§- '" ~n' t....-. .(r ~~ g ~ ~t . i~ i
~ I» (JQ e ft·. fI> "0
~'l 2" a~ S ,-, a. 0" §" §-. '" 5 = "0=
I¥I = g. . ~ I!l . :~ l ~ a, '"
~
~ i N >c ~ '3 l>;"' Vl '"1:1 o "C ~~ ~
I:I! '" = .: 0 ~ ~ g. ~
~ -.~ =. ~~ 1:1
g'Q. eq~ s· .... ~ ~ II;
~ fI> '"
.... ...
~.§ e ~ (JQ B [ (JQ ~ ~ ~
,-, Q. §
~~ g I!l O. Q.
~! n ~ = ~ 8 §
~ Q. (JQ "0
§ '" E?§j 1
i! JS
til
, ..
!- Vt Vt V. ~ fJl
0 0 0 0 0
([~ :><:"0 ,~ i O"wc gi ~
s· .
~~. .rl. . !'n'", = ~
a.~ '" . ~!~ 0" .
a§ ;§ 5-§ "'I
l>;"' .... II;
§ 8~· ~ fr g =
~ - ~. '" ~
go;' w=" '\"..,) !!.. [Q.~ I ~
O"~ s s ::m fI>~f
2 ~ ~. w =-: g. f)5 _. ~
~I»-
W . N
. Beecariana VoWn. 4 Namor 1, M.el 2002 (1 - 61)

38

Tumbuhan Obat Menurut Etnobotani Suku Biak (20 . .,. 40)

""'l
-...) -...) -...) -...) -...) -...) 't g..
~ ?O :--J ?' v. f- a.
f i >- s::: ~ ti3S::: z f
go eJ [! s
t:::.: [
~: s 0 ~ ~
0tI ....
~. .._ ::: 8 t:""C :-
"" '" i
'" ~ ~. en
~ S ~
i!O §.Q g.~ §f:J ~ ._g ~'~ ~ t
~ ~ ~ ~ ~ 'S '" a as! • ""I 11
::s '" '" ~ ~. ~ '1:1 ..... ~ 0- § ;.
<§, f;. ~ ~ I; ", . .g s- ri>
C l;) f.:l &1 ~. ~ ~
~ ~ ;:s
S'i'C ;:1:: t-1 fir @l c-:~ =~ t;S ~
~
::r'~ !, t§. CI--g. ~l ~~ ~ ... ~
8 8 0-1:00 Pol g
~ ~ ~ f
8 8 ~
~ ~
r ~ e tJ =
! § ~
(JQ
sr. t:I if
r8'"'~r '"'UiV ~~9:9:ErSO ""sgo r.l
- ca.gSilil!! ~ ~0tI ~ lID
t:l"'0tI 'a ~ .. r t(iQ 'S e- !}l"lOc:r ~19 "I
lID
~~e;-' "" g,..... e ... · fet~e;E. '" ~Si~~ ~
, l s Q. 1+ ~ ioa ~l 'S: § s Q.. Q. e. ~ ~ ~~
"tIl E. g ~ ~ Pol a .P i~' ~g! ~.] I+ 1+ r~''''''' ;
'" !}l
g::: 9:C!!j ~f ",,_,-, 1+ g' 9: ~ c:r V. l'oJ ::. ~. ~
. 'F;l .. ~" ~ ~ gOtl .... , =
(iQ '0' '" ~l· g. ~ ~(!! ~ r~: ~.~ 8. ~ i §~ '" ~
F; ~ ~ g'l e:,i 9: Pol (~ '" .1+ '< ~ eJ d" .S"§g..
~ 9. ~!}l ~ E; l a ';'_ ""'t-.JI» '" "lO ~
!;l ~. !...... !;l s g' § .... ~ " ~ .eJ el.
. ....

~ '"
~ s;:; O"en "lO"CI ~
a.~ ~i
1 ~ ~""'. lID
c:r r:l ~::l "lOp.. ~.
~ oe s· a ; ....
p..gs
::: r:l ~ I
ca O'<l
~
~ ......

o o

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 61)

39

Tumbuhon Obot Menurut Etnobotoni Suku Biak (20 - 40)

~
~ 00 ee 00 00 00 ~ go
:--" :I"- ~ ~ !""' P g.
i7~ > ~ ~ i ~ .~ l f
§. ~ J ; 1:1'
en '<, t~ lID !
~" s s· ~ t"" !""'
g. ('\l til 1= Q
er til [ tn
... ~
CJtI !
~ ~) ~!. ~ ~ i3; .9:' ~ Otl~ ~. ~ 00- ~
i!~ (':, <:l" ";:::!:, -. ~"S' s s 1 ~
Sl So ~ ~ § s
s a ~ ~ ~ ~. S:1 ~ ~ :::II 5-
. ::s 'IS ~ ~ E;' ~~
~ %. So ::to "" I::>
'" ::to ;::~
s "" I:)
::z:: t""' i~~~ Vl> W~ ~~ ~
~ g. ~ til & lID
d"' .... er'ti ! g. & 0"' qs. @" ~. e.
I>'> ~. 1'>l51>'>~ ~g 1>'>[ :::
a- s::
..... (') f€ ~
~ I>'> 8
('\l ~
~
t;1 t;1 ~ g; t:=
§ § I»
9: !- i'
~~. H- £f ~ ~ ~ !fr!i ~(JQ ......:, i ,._ ~
CJtIg.o d"'
m. I>'> N Ct" "". . i3 g.8l~1= I»
-OCI ~, '" o~ :>;"g~.~ [ ~ (.0 Y !- ~
S~~"Ii.g'< Hiil
_8l §!. ! ge:!~
8l11'J (t .~ lIC1 .,
~ ~ '''' II'J ",,'g ~ § a a
II'J. e- ~« 1= ~:~ ~~~
~'ti~ :~~ ! ~ "" !3 =
'1» (,).Q.
_.·CI .. S' ~ engs~l+ r~s=~
lIC1eSOCl=~ §~'til:"~
"" 9 cr.. - IQ • .a .~. e . ~i!~
!~!o~~ en' V1
~~. t~ ~ I»~OCI s"''''v.g
-'ti ~ ~'I:1'O
e. I>'> N'
~ ~ f ~
=. a
a ~. '"
,...
Q. I» ~
!
'ti
?
'ti
~
e~
Vo ~ 'IQ.j
0 v.
. . f" "C Q.
'I 8 8-=('\l
Vo
gr§,,::z:: 'ti Q. f. ~r ~
s ~~. ~ ~~ .
...... "'; § "C . ('\l
~ ~·s .,
s· ~3 ~ ~ ..... ;
§ ,:I.. s· IJQ
'~ ::r g;; ;
E§ lIC1 fg !.
=r s· Vol gs ~.
~. [ a N
<.>J BeccorioftQ Volume 4 Nomor 1, M.ei 2002 (1 - 67)

40

IDENTIFIKASI JENIS ANGGREK EPIFIT PADA KA WASAN RUTAN MANGGROVE DESA WAIJAN KECAMATAN SAMATE KABUPATEN SORONG (EPIPHYTE ORCHIDS FROM MANGROVE FOREST IN WAIJAN VILLAGE-SORONG REGENCY)

Oleh/By

NeIce Duwit ", C. Y. Hans Arwam 2) dan J. Manusawai 3)

Abstract

The objectives of this research were to identify epiphyte orchids in mangrove forest in Waijan village - Sorong. Results indicate that mangrove forest in Waijan village consists of 8 epifit orchids: Bulbophyllum sp., Dendrobium antennatum Lindl, Dendrobium schulleri J.J.S, Dendrobium similliae, Dendrobium sp 1., Dendrobium sp 2., Dendrobium sp 3, and Dendrobium sp 4.

Key Word: Mangrove forest, epiphyte orchid, host tree.

PENDAHULUAN

Irian Jaya dengan luas daratan 41.066.000 ha merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki berbagai potensi sumber daya alam, diantaranya hutan yang kaya akan berbagaijenis flora dan fauna (Petocz, 1987).

Salah satu flora endemik di Irian J aya yang terdapat dalam jumlah yang banyakadalah anggrek (famili Orchidaceae) dimana hidupnya ada yang menempel pada pohonpohon dan ada yang hidup di tanah. Millar (1978), melaporkan bahwa hutan di Irian Jaya ditumbuhi 2700 jenis anggrek dari 15.000- 20,000 spesies yang ada. Sejauh ini telah diketahui 133 marga yang sebagian besar terdiri dari Bullbophyllum sp dan Dendrobium sp. Daerah penyebarannya mulai dari pantai sampai ketinggian lebih dari 3750 m dpl., dan terdapat di semua habitat, terutama di hutanhutan dataran rendah dan rawa-rawa.

Keindahan tumbuhan anggrek terletak pada bunganya yang khas dan unik, serta menjadi faktor utama bagi manusia untuk membudidayakannya. Hasil budidaya dari beberapa jenis anggrek saat ini telah dikembangkan dengan komoditas yang

1),2),3 Fakultas Kehutanan UNIPA, Manokwari

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6n

menguntungkan terutama sebagai tanaman hias dan bunga potong.

Keindahan tersebut dapat dilihat dari bentuk bunganya yang beragam serta warna bunga yang bervariasi. Disamping warnanya, bunga anggrek mempunyai daya tarik lain yaitu baunya yang spesifik, Tumbuhan anggrek bukan saja menarik dari segi botani, keindahan serta keragaman jenis, tetapi memiliki kegunaan yang beragam. Di Indonesia tumbuhan anggrek digunakan sebagai hiasan sanggul pada upacara keagamaan, pesta-pesta, dan peringatanperingatan. Berdasarkan baunya, di Eropa orang membuat campuran bahan-bahan minyak wangi dengan bau-bauan bunga anggrek, menurut Soeryowinoto (1987).

Keunikan anggrek serta keragamannya telah menempatkan anggrek sebagai tumbuhan yang memiliki nilai komersil dan prospek yang baik, khususnya untuk tanaman Wisata dan tanamari hias. Disamping memiliki nilai komersil dan prospek yang baik, anggrek juga merupakan salah satu jenis flora yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dan menempati habitat yang berbeda, salah satunya adalah pada kawasan hutan mangrove.

41

I~entifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Manggrove (41 - 48)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada kawasan hutan mangrove yang terdapat di Desa Waijan Keeamatan Samate Kabupaten Sorong.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik survei. Pengambilan spesimen dilakukan seeara purposif sesuai keberadaan tumbuh dari anggrek epifit yang dijumpai di lapangan melalui survei pendahuluan dan informasi yang diterima dari masyarakat setempat.

Varia bel yang diamati terdiri dari variabel Utama dan varia bel Penunjang. Variabel utama yang diamati adalah :

1. Karakter morfologi yang meliputi akar, batang, daun, bunga, dan buah.

2. Habitat, meliputi jenis pohon inang, posisi letak anggrek pada pohon inang, ketinggian Ietak anggrek pada pohon mango

Sedangkan variabel penunjang yang diamati adalah iklim, keadaan umum Iokasi penelitian.

PEMBAHASAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Anggrek Epifit

1. Bulbophyllum sp

Perawakan : merambatpada pohon inang, pendek. Akar : panjang 27-61 em, tak berrambut akar dan berwarna putih keeoklatan. Batang : sympodial, berumbi semu, tinggi 5,9-7,0 em, diameter 2,9-7,0 mm, beruas tunggal (heteroblastik) dan berwarna hijau kekuningan. Daun : monophyllous, tata letak daun menaneap pada ujung umbi semu berbentuk eliptieal, bentuk lipatan daun duplikatif, panjang 10,0-13,5 em, lebar 3 -8 mm, tebal dan kaku, tepi daun entire, pangkal acute, ujung obtuse, permukaan daun leavis, pertulangan daun sejajar ibu tulang daun, dan berwarna hijau. Bunga dan Buah : tidak dijumpai pada saat pengamatan.

Habitat : anggrek epifit yang tumbuh dibawah naungan maupun ditempat terbuka dan jenis anggrek ini terletak pada bagian

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6n

. batang dari pohon Rhizophora mucronata, Xylocarpus mollucensisdan Carallia brachiata dengan letak ketinggian anggrek dari permukaan tanah 2-5 m dan jatak dari tepi pantai 15-50 m menuju ke arah Barat.

Spesimen acuan : Papua, Sorong, Samate, Waijan, 17 September 2001, NeIce Duwit 01 (MAN).

2. Dendrobium antennatum Lindl

Perawakan: tumbuh tegak dan berumpun.

Akar : panjang17-61 em, tak berrambut akar dan berwarna putih keeoklatan. Batang : sympodial, berumbi semu dan berbentuk silindris, tinggi 35,4-36,5 em, diamter 0,2-0,9 mm dan jumlah ruas 5-18 ruas per batang (homoblastik)dan berwarna hijau kekuningan. Daun : jumlah daun 12-14 helai per batang, tata letak daun alternate, berbentuk oblong, bentuk lipatan daun duplikatif, panjang 6,5- 9,9 em dan lebar 2,2-4,0 em, berdaging tebal, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung acute, permukaan leavis pertulangan sejajar dengan ibu tulang daun dan berwana hijau tua. Bunga dan Buah : tipe pembungaan berbentuk tandan, terletak pada tangkai bunga, dengan jumlah 4-6 kuntumltangkai, sepal dorsale dan lateralia berwarna putih berbentuk segitiga dengan panjang sepal dorsale 21 mm dan lebar 7 mm, sedangkan sepallateralia 21 mm dan lebar 5 mm, petal berwarna hijau kekuningan terpilin dengan panjang 26 mm dan 7 mm, labellum berwarna putih dengan bintik ungu luar (tajuh tengah) sedangkan bagian dalam atau columna berwarna ungu tua, panjang labellum 20 mm dan lebar 8 mm. Buah tidak dapat dijumpai pada saat pengamatan dilapangan.

Habitat : Anggrek epifit yang tumbuh dibawah naungan yang agak tertutup maupun terbuka. Jenis ini terletak pada bagian batang, dahan dan percabangan antara batang dan dahan dari pohon Rhizophora apicullata, Xylocarpus mollucensis dan Rhizophora mucronata dan dengan letak ketingian dari permukaan tanah 1-15 m dan jarak dari tepi

42

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan I-futan Manggrove (41 - 48)

pantai 5·130 meter mengikuti arab sungai Waijan.

Spesimen aeuan : Papua, Sorong, Samate, Waijan, 17 September 2001, NeIce Duwit 02 (MAN)

3. Dendrobium schullerl J. J. S

Perawakan : tegak, kaku dan berumpun; Akar : panjang 40,5-82,4 em, tak berrambut akar dan berwama putih kecoklatan; Batang : sympodial, berumbi semu dan berbentuk silindris, tinggi 18-50 em, diameter 5-17 mm, , dan jumlah mas 6-18 mas per batang (homoblastik) dan berwama hijau kekuningan dan bergaris eoklat. Daun : jumlah daun 7-11 helai per batang, tata letak daun alternate, berbentuk eliptieal, bentuk lipatan daun duplikatif, kaku dan tebal, panjang 10-16 em dan lebar 4,5-6,0 em, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung obtuse, permukaan leavis, pertulangan sejajar ibu tulang daun dan berwama hijau tua; Bunga dan Buah : tidak dijumpai pada saat pengamatan di lapangan.

Habitat: Anggrek epifit ini tumbuh dibawah naungan yang agak terbuka dan terbuka. Jenis ini terletak pada bagian batang dan dahan dari pohon Rhizophora mucronata, Carallia brachiata dan Heritiera littoralts dengan letak ketinggian dari perinukaan tanah 3-5 m dan jarak dari tepi pantai 5-80 m mengikuti arab sungai Waijan.

Spesimen aeuan : Papua, Sorong, Samate, Waijan, 18 September 2001, NeIce Duwit 03 (MAN).

4. Dendroblum smilliae

Perawakan : tegak dan berumpun; Akar : panjang 11,5-35,5 em, tak berrambut akar dan berwama putih kecoklatan; Batang sympodial, berbentuk silindris, batang tegak dan kaku, tinggi 28,5-80,0 em, diameter 0,9- 1,0 111m, jumlah mas 30 ruas/batang (homoblastik) dan berwama hijau; Daun : jumlah daun 6-14 helai/batang, tata letak daun alternate, berbentuk eliptieal, bentuk lipatan daun duplikatif, kaku dan tebal, panjang 6-15 em, lebar 3-4 em, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung aeute, permukaan leavis,

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6n

pertulangan sejajar ibu tulangan daun dan berwama hijau tua, Bunga dan Buah : tidak ditemukan pada saat pengamatan berlangsung.

Habitat : anggrek epifit ini tumbuh dibawah naungan yang agak terbuka dan terbuka. Jenis ini terletak pada bagian batang dari pohon Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata dan Xylocarpus mollucensis dengan letak ketinggian anggrek dari permukaan tanah 3-6 m dan jarak dari tepi pantai 30-140 meter mengikuti arab sungai Waijan.

Spesimen Aeuan Papua, Sorong,

Samate, Waijan, 19 september 2001, NeIce Duwit 04 (MAN).

5. Dendroblum sp':

Perawakan : kaku dan berumpun. Akar : panjang 8,7-14.5 em, tak berrambut akar dan berwama putih sampai hitam kecoklatan. Batang : sympodial, bercabang dan berbentuk pipib dengan tinggi 28,5-58,5 em, diameter 0,2-0,4 mm, dan beruas banyak (homoblastik) dan berwama hijau kekuningan sampai kecoklatan. Daun : jumlah daun 8-11 helailbatang, tata letak daun alternate, berbentuk tiangular (segitiga), bentuk lipatan daun duplikatif, kaku dan tebal, panjang daun 5,4-8,5 em dan lebar 0,8-2,0 em, pangkal membungkus batang, ujung aeute, permukaan leavis dan pertulangan sejajar ibu tulang daun. Bunga dan Buah : tidak ditemukan padasaat pengamatan dilapangan.

Habitat : anggrek epifit ini tumbuh dibawah naungan yang agak terbuka dan terbuka, Jenis ini tumbuh pada bagian batang, dahan dan ranting dari pohon, Rhizophora mucronataCeriops tag al, dan Xylocarpus granatum dengan letak ketinggian dari permukaan tanah 6-19 meter dan jarak dari tepi pantai 20·180 m mengikuti arab sungai Waijan,

Spesimen aeuan : Papua, sorong, Samate, Waijan, 19 September 2001, NeIce Duwit 05 (MA.l\T).

43

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Manggrove (41 - 48)

6. Dendrobium Sp2.

Perawakan : tegak dan berumpun. Akar : panjang 14-42 em, tak berrambut akar dan berwama putih kecoklatan.' Batang sympodia, berbentuk si1indris, dengan tinggi 23,0-24,5 em, diameter 2-4 mm dan jumlah mas lOmas I batang dan berwama bijau kekuningan. Daun : jumlah daun 4-10 helailbatang, tata letak daun alternate, berbentuk lonjong, bentuk lipatan daun duplikatif, paniang 3,5-6,0 em, lebar 1,7-2,0 em, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung obtuse, pennukaan leavis, pertulangan sejajar ibu tulang daun dan berwama bijau tua; Bunga dan Buah : tidak ditemukanpada saat pengamatan berlangsung.

Habitat : anggrek epifit ini tumbuh dibawah naungan yang tertutup maupun terbuka. J enis ini terletak pada bagian batang dan percabangan antara batang dan dahan dati pohon Xylocarpus granatum, Ceriops tagal dan Carallia brachiata dengan letak ketinggian anggrek dari pennukaan tanah 3-6 m dan jarak dari tepi pantai 60-180 m mengikuti arah sungai Waijan.

Spesimen aeuan : Papua, Sorong, Samate, Waijan, 20 September 2001, NeIce Duwit 06 (MAN).

7. Dendrobium Sp3.

Perawakan : tegak dan berumpun, Akar : panjang 2,5-4,5 em, tak berrambut akar dan berwama putih keeoklatan. Batang sympodial, berumbi semu dan berbentuk silindris, tinggi 22,6-37,0 em, diameter 0,2- 1,2 rum dan jumlah mas 12 mas per batang dan berwama hijau kekuningan. Daun : jumlah daun 20 helai perbatang, tata letak daun alternate, bentuk lonjong, bentuk 1ipatan daun duplikatif, panjang 8,1-9,0 em dan lebar 0,8-2,5 em, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung acute, permukaan 1eavis pertu1angan sejajar ibu tulang daun dan berwama hijau. Bunga dan Buah : tidak ditemnkan pada saat pene1itian.

L'

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2QO~ (1 - 67) ,.,\.;

,\

Habitat : anggrek epifit ini tumbuh di bawah naungan yang tertutup maupun terbuka. Jenis ini ter1etak pada bagian batang dan pereabangan antara batang dan dahan dari pohon Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata dan Heritiera ltitoralis dengan 1etak ketinggian anggrek dari pennukaan tanah 4-5 m danjarak dati tepi pantai 20-70 m.

Spesimen Aeuan Papua, Sorong,

Samate,' Waijan, 21 September 2001, NeIce Duwit 07 (MAN).

8. Dendrobium Sp4.

Perawakan : tegak dan berumpun. Akar : panjang 20,9-38,9 em, tak berrambut akar dan berwarna eoklat kebitaman. Batang sympodial, bentuk silindris, dengan tinggi 50- 80 em, diameter 0,2-0,5 mm, jumlah mas 12 mas perbatang dan berwama hijau. Daun : jumlah daun 12 helai per batang, tata letak daun alternate, berbentuk eliptical sampai lonjong, bentuk lipatan daun duplikatif, kaku dan tebal, panjang 4,5-5,5 em dan lebar 1,8-3 em, bertepi entire, pangkal obtuse, ujung obtuse, permukaan leavis, pertu1angan sejajar ibu tulang daun dan berwama bijau tua; Bunga dan Buah : tidak .dijumpai pada saat penelitian.

Habitat : anggrek epifit ini tumbuh dibawah naungan tertutup maupun terbuka. J enis ini terletak pada bagian batang dan dahan dari pohon Rhizophora apiculata, Ceriops tagal dan Heritiera littoralis dengan letak ketinggian anggrek dari permukaan tanah 2-5 m dan jarak dari tepi pantai 25-160 m mengikuti arah sungai Wrujan.

Spesimen aeuan : Papua, Sorong, Samate, Waijan, 22 September 2001, NeIce Duwit 08 (MAN).

Tinggi dan Diameter Pohon Inang yang ditumbubi Anggrek Epifit.

Tinggi dan diameterpohon inang yang ditumbuhiunggrekepifir'yang terdapat pada kawasan hutan maiigreveDesa Waijan dapat dilihat pada tabel f.

\ \t\., :\,'_"

44

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Huton Manggrove (41 - 48)

Tabell. Tinggi dan Diameter Pohon Inang.
Tinggi (m) Diameter Ukuran Tajuk
No. Jenis Pohon Inang (em) Tinggi(m) Lebar (m)
1 Carallia brachiata 20 15 3 3
2 Carallia brachiata 15 10 6 3
3 Carallia brachiata 15 10 7 3
4 Ceriops tagal 8 10 4 3
5 Ceriops tagal 10 30 5 6
6 Ceriops tagal 25 18 7 4
7 Herittera littoralis 23 33 7 3
8 Heritiera littoralis 5 20 3 2
9 Heritiera littoralis 20 25 4 6
10 Rhizophora mucronata 10 4 5 3
11 Rhizophora mucronata 20 30 3 5
12 Rhizophora mucronata 24 25 8 8
13 Rhizophora mucronata 6 10 3 4
14 Rhizophora mucronata 15 10 6 4
15 Rhizophora mucronata 7 10 1 2
16 Rhizophora apiculata 24 25 4 8
17 Rhizophora apiculata 9 10 8 4
18 Rhizophora apiculata 7 10 6 3
19 Rhizophora apiculata 6 10 2 3
20 Xylocarpus mollucensis 25 21 6 8
21 Xylocarpus mollucensis 6 12 6 2
22 Xylocarpus mollucensis 18 10 8 4
23 Xy/ocarpus granatum 10 20 6 2
24 Xylocarpus granatum 15 10 5 3
Jumlah 323 388 123 96
Rata- rata 13.4 16.17 5.125 4 Dari tabel 1. diatas terlihat bahwa tinggi pohon berkisar antara 5-25 m, diameter berkisar antara 4-33 em, tinggi tajuk berkisar 1-8 m dan lebar tajuk berkisar antara 2-8 meter. Hal ini menunjukkan bahwa anggrek epifit menerima eahaya matahari yang mas~ melalui penutupan tajuk yang eukup baik yang berkisar antara 2-8 meter.

Cahaya matahari yang diterima anggrek epifit tidak begitu mempengaruhi pertumbuhan anggrek epifit yang dit~~uk~ karena jenis anggrek yang dijumpai merupakan jenis yang dapat tumbuh dibawah naungan yang tertutup maupun terbuka dan tanpa naungan antara lain; Bulbophyllum spp. dan Dendrobium spp.

Kehadiran suatu jenis anggrek sangat ditentukan oleh suhu dan kelembaban serta kemampuan beradaptasi dengan habitatnya. Nuhuyanan (1995), menjelaskan bahwa pada eahaya yang eukup dan tajuk yang baik,

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

anggrek dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan keadaannya, karena setiap jenis anggrek membutuhkan cahaya, suhu dan curah hujan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian jenis anggrek epifit yang banyak ditemukan adalah jenis Dendrobium spp. terdiri dari 7 spesies/jenis, jenis ini banyak ditemukan karena jenis ini mampu beradaptasi dengan habitatnya.

Menurut Kalo (1997), Dendrobium sp. merupakan jenis yang mampu beradaptasi karena dapat tumbuh dibawah naungan tertutup, terbuka dan ditempat yang tanpa naungan.

Letak dan Jumlah Rumpun Aneerek Epifit pada Pohon Inane

Letak dan jumlah rumpun anggrek epifit pada pohon inang yang terdapat pada kawasan hutan mangrove Desa Waijan dapat dilihat pada tabe12.

45

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Manggrove (41 - 48)

Tabe12. Letak dan Jumlah Rumpun Anggrek Epifit pada Pohon Inang
No. Jenis Pohon Inang Jenis Anggrek Letak
B D R B&D
1 Carallia brachiata Bulbophyllum sp 5
2 Carallia brachiata Dendrobium schulleri U.S 2
3 Carallia brachiata Dendrobium s~ . 2
4 Ceriops tagal Dendrobiumsp 2
5 Ceriops tagal Dendrobiumsp2 3
6 Ceriops tagal Dendrobiumsp 5
7 Heritiera littoralis Dendrobium schulleri JJ.S 3
8 Heritiera littoralis Dendrobium sp . 4
9 Heritiera littoralis Dendrobium sp 4. 6
10 Rhizophora mucronata Bulbophyllum sp 5
11 Rhizophora mucronata Dendrobium antennatum Lindl 3
12 Rhizophora mucronata Dendrobium spl. 7
13 Rhizophora mucronata Dendrobium schulleri JJ. S 6
14 Rhizophora mucronata Dendrobium smilliae 5
15 Rhizophora mucronata Dendrobium Sp3. 1
16 Rhizophora apiculata Dendrobium antennatum Lindl 7
17 Rhizophora apiculata Dendrobium smilliae 3
18 Rhizophora apiculata Dendrobium Sp3. 5 5
19 Rhizophora apiculata Dendrobium Sp4. 5 5
20 Xylocarpus granatum Dendrobium spl. 4
21 Xylocarpus granatum Dendrobium Sp2. 3
22 Xylocarpus mollucensis Bulbophyllum sp 5
23 Xylocarpus mollucensis Dendrobium antennatum Lindl 3
24 Xylocarpus mollucensis Dendrobium smilliae 4
Keterangan : B= Batang, D= Dahan, R= Ranting, B&D= Pangkal percabangan antara batang dan dahan Dari tabel 2 diatas terlihat bahwa letak anggrek epifit pada pohon inang dominan terletak pada bagian batang, Hal ini disebabkan karena pohon-pohon inang yang dijumpai pada kawasan hutan mangrove Desa Waijan umumnya memiliki lapisan kulit kayu yang kasar, sehinnga menjadi media tumbuh yang baik bagi anggrek epifit.

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

Tinggi Anggrek Epifit pada Pohon Inang dari Permukaan Tanah dan Jarak dari TepiPantai

Tinggi anggrek epifit pada pohon inang dari permukaan tanah dan jarak dari tepi pantai pada kawasan hutan mangrove Desa Waijan dapat dilihat pada tabe13.

46

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Manggrove (41 - 48)

Tabel. 3. Tinggi Anggrek Epifit pada Pohon Inang dari Permukaan Tanah dan Jarak dari Tepi Pantai.
Tinggidari
No. Jenis Pohon Inang Jenis Anggrek Jarak(m) Permukaan
Tanah{m}
1 Caralia brachiataa BulboE_hy_llum s]2 95 4
2 Carallia brachiata Dendrobium Schulleri J. J. S 80 3
3 Carallia brachiata Dendrobium s]2 . 60 4
4 Cerio]2s tagal Dendrobium S]2l. 175 6
5 Cerio{!_s tagal Dendrobium 8]22. 180 6
6 Cerio{!_s tagal Dendrobium S]24. 160 5
7 Heritiera littoralis Dendrobium schullerii 1. 1. S 20 5
8 Herittera littoralis Dendrobium 8]2 . 25 4
9 Heritiera ltttoralis Dendrobium S]24. 25 2
10 Rhizophora apiculata Dendrobium antennatum Lindl 20 10
11 Rhizo{!_hora ap_iculata Dendrobium smilliae 140 6
12 Rhizop_hora a{!_iculata Dendrobium S]23. 70 4
13 Rhizop_hora a[!_iculata Dendrobium S]24. 45 3
14 Rhizophora mucronata Bulbophyllum sp 15 2
15 Rhizo{!_hora mucronata Dendrobium antennatum Lindl 5 15
16 Rhizo{!_hora mucronata Dendrobium Sl{ 20 19
17 Rhizop_hora mucronata Dendrobium schulleri J. J. S 5 3
18 Rhizophora mucronata Dendrobium smilliae 30 4
19 Rhizo{!_hora mucronata Dendrobium sl2 . 30 5
20 Xyiocar{!_us granatum Dendrobium SIt 180 6
21 Xy_!ocarp_us granatum Dendrobium S122. 180 3
22 Xylocarpus mollucensis Bulbophyllum sp 150 5
23 XJ!locar{!_us mollucensis Dendrobium antenatum Lindl 130 1
24 Xyloocarpus mollucensis Dendrobium smilliae 130 3 Berdasarkan tabel. 3 dapat diketahui bahwa yang mempunyai letak tinggi anggrek epi:fit pada pohon inang dari permukaan tanah

yang tertinggi adalah jenis anggrek

Dendrobium sp' pada pohon inang Rhizophora mucronata dan jenis anggrek Dendrobium antenna tum Lindl pada pohon Rhizophora mucronata dan pohon Rhizophora apiculata dan jenis anggrek Dendrobium smilliae.Dendrobium Sp2 pada pohon inang Ceriops tagal dan Rhizophora apiculata serta jenis anggrek Bulbophyllum sp, Dendrobium schulleri, Dendrobium Sp3. , Dendrobium Sp4. pada pohon inang Heritiera littoralis, Xylocarpus mollucensis, Rhizophora mucronata dan Ceriops tagal.

Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa penyebaran anggrek yang berasosiasi dengan pohon inang hampir menyebar merata. Daerah penyebarannya mulai dari

8eccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

sepanjang pesisir pantai sampai kearah darat dengan jarak 180 meter. Keadaan ini menunjukkan bahwa anggrek epi:fit ini pada umumnya cendrung tumbuh pada kawasan pantai yang mempunyai habitat yang tumbuh secara penuh mendapat sinar matahari.

KESIMPULAN

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Kawasan Hutan Mangrove '-.~ Desa Waijan terdapat dua genus anggrek epifit yang terdiri dati 8 jenis yaitu; Bulbophyllum sp., Dendrobium antennatum Lindl, Dendrobium schulleri J.J.S, Dendrobium similliae, Dendrobium sp"; Dendrobium Sp2, Dendrobium Sp3 .. dan Dendrobium Sp4

2. Deskripsi morfologis anggrek epifit dikawasan Hutan Mangrove adalah sebagai berikut : Batang Tipe pertumbuhan batang umumnya sympodial,

47

Identifikasi Jenis Anggrek Epifit Pada Kawasan Hutan Manggrove (41 - 48)

berumbi semu (pseudobulb) dan homoblastik tetapi ada juga yang heteroblastik yaitu Bulbophyllum sp. Bentuk batang bervariasi dari pipih sampai silindris. Akar. Pada umumnya berwarna putih kecoklatan dan putih kehitaman. Daun. Bentuk lipatan daun duplikatif, warna daun umumnya hijau, tata letak daun umumnya alternate, kecuali pada Bulbophyllum sp daun terletak pada ujung umbi semu. Bentuk daun bervariasi dari eliptieal sarnpai lonjong dan oblong serta berbentuk segitiga, permukaan daun umumnya leavis dan pertulangan daun sejajar ibu tulang daun serta jumlah daun dari 1 helai sampai 20 helai/batang. Bunga. Tipe pembungaan solitair, terletak pada tangkai dan mempunyai 3 buah sepal, yaitu 2 sepal laterallia dan 1 sepal dorsale. Petala pada anggrek terdapat dua buah yang letaknya berseling dengan sepal dan memiliki satu buah labellum.

3. Kedelapan jenis anggrek epifit di kawasan hutan mangrove di Desa Waijan berasosiasi dengan Carallia brachiata, Ceriops tagal, Heritiera littoralis, Rhizophroa apiculata, Rhizophora mucronata, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus mollucensis.

4. Anggrek epifit yang tumbuh pada 7 jenis pohon inang terletak pada batang, dahan dan pangkal percabangan antara batang dan dahan. Tinggi rata-rata pohon inang adalah 13.4 m, diarneter 16.17 em dan

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

ketinggian 1etak anggrek dari permukaan tanah berkisar antara 1-19 m dan jarak dari tepi pantai 5-180 meter.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian yang sama pada lokasi yang sarna yaitu pada hutan daratan untuk jenis-jenis anggrek epifit

dan teresterial sehingga dapat diperoleh data-data yang lengkap untuk pengembangan taksonomi anggrek lebih lanjut,

1. Perlu dilakukan penelitian yang sarna pada berbagai wilayah di Papua guna mengetahui seeara lengkap jenis-jenis anggrek epifit yang menyebar pada kawasan hutan mangrove.

DAFTAR PUSTAKA

Kalo, D. 1997. Karakterisasi Jenis-Jenis Anggrek Epifit Di Pulau Mansinam Kabupaten Manokwari, Skripsi Sarjana Kehutanan Faperta Uncen Manokwari. (Tidak diterbitkan).

Millar, A. 1978. Orchids of Papua New Guinea Introduction. Australia National University Perss. Canbera,

Petoez, R. G. 1987. Konservasi Alam dan Pembangunan Di Irian Jaya PT. Temprint. Jakarta.

Soeryowinoto, M. 1987. Mengenal Anggrek Alam Indonesia. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

48

TEKNIK PEMBffilTAN DAN PENANAJ~N SAGU (Metroxyion sap Rottb.) OLEH PENDUDUK DESAAIR.BESAR DAN DlI~SA KANANTARE KECAMATANFAKFAKKABUPATF:NFAKFAK(PROPAGATION AND PLANTING TECHNIQUE OF.SAGO UYINDIGENOUSPEOPLE IN AIR BES~ANDKANANTARE VILLAGE,

FAK-]?AK H.I:,iGF:NCY, PAPUA)

Olc~h/ By

Eva Bettinal), A. Rumbmo 2) dan J. Mauusawai 3)

Abstract

The primary aim of the research was to describe the technique in propagating and-planting by the native people in Air Besar and Kanantare, Fak-Fak. Results indicated that the indigenous people in these villagges Propagated sago using the-surface ground-suckles., .The techniques include separating young sago (suckles) from the hosts, reducing the "ental sago ", and storing the suckles unt:!er the sago trees

until new roots come out. . .

KeyWord: Propagation and Planting of sago, Indigenous people in Fak-fak

PENDAlIULUAN

Sagu (Metroxylon sagu Rottb,) adalah tumbullan asli di Kepulauan Pasifik termasuk Indonesia merupakan basil hutan non kayu, darikelompoktumbuhansUkuPalmae yang memiliki banyak manfaat. Seisin dapat digunakansebagai bahan pangan, juga dapat diolah lebih ·lanjut untuk kepetltingan industri. Sebagai salah satu sumber karbohidrat, sagu memiliki peranan yang. sangat penting pada berb8.gaibidang, meskipun pada saat ini peranan 83gU masih berkembang secara

tradisional, . .

Flach (1983), 'menyatakan ··hah'wa

Indonesia memiliki hutan dan kebun sagu seluas 1,124 juta hektar dan sekitar 0,994 juta hektar terdapat di Papua. Menurut perkiraan Dinas Kehutanan PropinsiTri::1D Jaya (1991),potensi sumberdaya hutan sagu di Irian Jaya kurang .lebih 1. 474. 181hektar dan merupakan kawasan hutan sagu terluas eli Indonesia.

Sagu diIndonesia pada umumnya tumbuh dan berkembang biak secara alamiah, belum dibudidayakan secara intensif seperti tanaman

1),2),3) Fakultas Kehutanan UNIPA, Manokwari

8eccariarIQ Volume 4 Nomor 1, Mel 2002 (1 - (7)

penghasil karbohidrat lainnya. Sagu dapat berkembang biak melalui biji (generatif) atau anakan (vegetatif) yang tumbuhdalam bentuk tunas-tunas pada pangkal batang sagu (Haryanto dan Pangloli, 1992).

Sagu oIeh sebagianmasyarakat Papua digunakan sebagei.vbahan makanan pokok dalambentuk .. olahan papeda dan sagu lempeng. Selainsebagai sumber pangan penghasil karbohidrat bagi pemenuhan kebutuhan. sehari-hari; . bagian tumbuhan lain dati pohonsagu dapat ·dimanfaatkan untuk berbagai . keperluan. Misa1nya daun untuk atap, pelepah daun untuk dinding rumah, kulit batang untukIantai danpueukpohon muda sebagai sayur.

Bagi pendnduk asli Fakfak, sagu memiliki peranan pentingdalam memenuhi kebutuhan hidup yaitu sebagai bahan makanan yang dikonsumsi . sendiri dan sebagian keeil dijual untuk menambah penghasilan keluarga.

Pemanfaatan sagu sangat bergantung pada potensi sumberdaya sagu yang tersedia. Untuk itu diperlukan suatu tindakan pengelolaan yang baik, meliputi tindakan budidaya, pemanenan, so sial ekonomi, aspek

49

Teknik Pembibitan Dan Penanaman Sagu (Metn:J>xytorl Sagu Rottb.) (49 - 55)

teknologiserta pengolahandan . pemanfaatan

tanaman sagu. .

Budidaya tanamansagu khususnyadi Papua. umumnya bersifat tradisional atan dapat dikatakan masih tumbuh secara liar. Masih ban yak petani sagu belum melaksanakan teknik budidaya sagu secara intensif. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya informasi mengenai teknik budidaya sagu,

Kabupaten Fakfakmetupakan salah satu daerah penghasil sagu di Papua dengan mas: hutan sagu sekitar 389.840 hektar (Manan dan Supangkat. 1986 dalam Haryanto dan Pangloli, 1992), yangpenduduknya melakukan budidaya sagu secara tradisional. Begitn juga dengan penduduk pada Desa Air Besar dan Desa Kanantare, mereka telah melakukan pembudidayaan sagu walaupun masih sederhana dan bersifattradisional. Hal . in] ditunjukkan dengan adanya kegiatan penanainan yang dilakukan oleh penduduk Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk: usaha pelestarianhutan sagu yang perlu mendapatkan perhatian agar dapat diketahui teknik-teknik budidaya. tanaman sagu ·yallg tepat unmk menjaminpengelolaan dan pemanfaatari hutan sagusecara .lestari, Namun sampai . saatini belum diketahui teknik-teknik pembibitan dan penanaman sagu yang dilakukan olehpenduduk setempat. Berdasarkan faktadi atas. maka dipandang perlu lUltukdilakukan penelitian tentang bagaimana teknik pembibitan . dan pcmanaman sagu yang dilaknkan oleh penduduk. asli Fakfak

Penelitian rm bertujuan untnk

mendeskripsikan teknik ··pembibitan . dan penaaaman. . sagu yang dilakukan oleh

Tabel L TeknikPembibitan Sagu

pendudukasli Fakfak di Desa Air Besar dan Kanantare. Hasil. penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi dalam . kajian teknik pembibitan dan penanaman sagu yang sesuai untuk diterapkan pada hutansagu di daerah Papua.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Air Besar dan Desa Kanantare Kabupaten Fakfak selama kurang lebih 2 (dna) minggu dimulai dari tanggal 10 sampai 25 September 2001.

Subjek penelitian ini adalah penduduk pada kedna desa yang mempunyai kebnn sago. Bahan yang digunakan adalah tanaman sagu. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik wawancara struktural dan ·PeIlgat118.t.an langsung di lapangan. Penentuan responden contoh diIakukan secara purposif sebesar 20 %.dari 51 KK di Desa Air Besar dan 27 KK di Desa Kanantare dengan mempertimbangkan pengalaman responden dalam kegiatan pembibitan dati penanaman sagu, sehingga diperoleh 15 KK sebagai respondencontoh. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data. primer diperoleh dari wawane:ara ": terhadap ma:syarakat yang mempunyai kebun sagu dengan berpedoman pada knisioner yang telah disiapkan terlebih dahulu dan. pengamatan di Iapangan. Data seknnder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait.dengan penelitian mi.

RASa DAN PEMBAHASAN Teknik Pembibitan

Teknik pembibitan . sagu yang dilakukan oleh penduduk asli Fakfak berdasarkan hasil wawancara disajikan pada TabelL

8eccariaftQ Volume 4 Nomor 1. Mei 2002 (1 _, 67)

50

Teknik Pembibitcln Dan PenanamQnScgu(M.tI"I,xy~",SaguRottb.) (49 -55)

Tabel 1. menunjukkan bahwa 100%,

responden contoh melakukan pembibitan secara vegetatif. Teknik pembibitan secara vegetatif dianggap lebm' baik dengan menggunakan anakan yang berasal dati tunas. pangkal . batang,karenaanakan tersebut mudah diperoleh,daya tumbuhnyatinggi,. pertumbuhannya cepat dan waktu panen. tidak terlalu lama (antara 7-10 tahun).

Bibit sagu (Metroxylon sagu Rottb.) yang. digunakan dalam pembibitan secara vegetatif diambil dati anakansagu yang berasal dati pohon induksagu yangproduksi acinyatinggi dan merupaksn. pohon .sagu yang 'ditanam. Kultivarsagu yang ditanam oleh pendudnk asli Fakfak dan yang biasa diambilanakannya sebagai bibit menurutbahasa.daerah setempat ada 5kultivar yang terdiri dari kultivar sagu berduri dan sagutidak berduri.Yang termasuk kultivar sago berduri antara . lain. Mbembemi, Poundan Reni ; sedangkankultivarsagutidak berduri antara lain Mbanang dan Gumor.

Penduduksetempat dalam membedakan sagu-sagu tersebut berdasarkan ciri-ciri pokok dati masing-masing kultivarrUntuk kultivar sagu berduri berdasarkan ukuran duri, meliputi kultivar Mbembemiberduri pendek dan halus, Poun berduri panjang sedangkan Rem memiliki duri yang lebih panjang dari kedua kultivar sagu di atas. Untuk sagu tidak berduri, dibedakan dengan melihat wama pueuk dam muda. Untuksagu kultivar Mbanang pueuk daun muda berwama merah sedangkan Gumor pucuknya berwama hijau muda.

Khusus untuk kandungan aci· ·sagu, menurut pendudnk setiap kultivar rmemiliki peringkat ataukualitas yang . sama, hal ini disebabkan karenasagu-sagu tersebut keberadaannya merupakan hasil penanaman yang ·dilakukan nenek rnoyang mereka sehingga kandtmgandan kualitas aci sagu sudah diperhatikan sejak awalvpemilihan bibit.

em-em pohon indnk yang dipilih oleh

penduduk setempat berdasarkan hasil

Beccariana Volumle 4 Nomor 1, Mei 21lO2 (1 - 67)

pengamatanlapangan adalah tinggi pohon rata-rata 12 m yangberkisat antara 10.;16 m dengan diameter rata-rata 49,6 ern yang berkisar antara 44-54 em. Sedangkan jumlah anakan yang dimiliki untuk tiap pohon induk minimal 5anakan dan jumlah anakan yang biasa diambilsebagai bibit ·untuk . tiap pohon adalah 2:. anakan.

Anakan sagu yang diambilsebagai bibit oleh penduduk setempat adalahanakan yang keluar dati pangkal batang danterletak diatas permukaan tanah, Anakan sagu yang baik untukciijadikartbibit yaitu anakan yang diambil dari pohon indnk sagu yang sudah dipanen atau berasal daripohon induk yang siap dipanen. Sebab selain anakan tersebut sudah cukup kuat untuk dipisahkan dati pohon induk, juga tidak merusak pohon induk yang rnasihdapat berproduksi. Hal ini sejalan dengan . pendapat Flach (1983), yang menyatakan bahwa anakan sago untuk bibit sebaiknya diambil dari. pohon induk sagu yang sudah panenuntuk menghindari kerusakan . pohon induk yang' rnasih dapat berproduksi,

PendudukasliFakfak di Desa Air Besar dan Kanantaredalam rnenentukan ciri-ciri pohon yang. dipanen sejalan denganpendapat Anon (1981) dalam Haryanto dan Pangloli (1992) bahwa· masyarakat Irian Jaya mengenal ciri-ciri pohon sago yang siap dipanenberdasarkan pelepahdaun yang menjadipendekhila dibandingkan dengan pelepah sebelumnya, kuneup bunga mulai tampak dan pncuk pohon 'mendsrar bila dibandingkan dengan pohon sago yang Iebih muda, Tetapi yang menjadi eiri khas dati pohon sagu yang siap panen yang biasa dilihatoleh penduduk setempat .ialah pelepah: daun yang mulai berwama keputih-putihan,

Untukmengetahui kandunganaci sagu, pendnduk setempat biasanya melukai batang sagu. .Jika terdapat bekasputih aci ipada parang. 'atau kapak yang digunakan maka pohon tersebutmemiliki kandungan aei yang cukup tinggi dan siap untukditebang.

51

Teknik Pembibitcm l)anPenanaman Sagu (Metrle'x~"rn· StJgu Rottb.) . (49 -55)

Pemotonganpaagkal anakan yangmelekat pada pohon induk dilakukan dengan arah tegak lurus ke pennukaantanah dan. rapat dengan pohon induk dan bekas potongan diusahakan serata mungkin.Hal ini sejalan dengan pendapat Hatyantodan Pangloli (1992) yang menyatakan. bahwa pemotongan pangkal anakan dilakukan dengan arab. tegak lurus kepennukaan . tanah dan diusahakan agar permukaan bekas potongan serata mung kin. Lukabekaspotongan pada bibit sagll. tidak: mendapatkan perlakuan . karena menurutpengalaman penduduk setempat walaupun· bekas luka tersebut dibiarkan begitusaja, bibit sagu tetap dapat: tumbuh dengan baik.

Perlakuan yang umum dilakukan oleh penduduk asli Fakfak adalab. pengurangan daun. Daun bibit sagu dikurangi bingga tinggal 1-2. ental, tetapipada umnmnyahanya daun pucuk saja yang ditinggalkan sehingga jika bibit sagu tersebut diangkat atau dipindahkan tidak menyebabkan kerusakan pada bibit . sagu tersebut. Hal mi sejalan dengan pernyataan Rostiwati, dkk (1998/1999) bahwa untuk mengurangi luka bibit akibat kesalahanpenanganan, maka selama pengangkutan ke areal tanam.ipelepah yang panjang biasanya dipangkas.

Menurut .kebiasaan .penduduk, . bibit 8a!;U. tidak disimpan apabila lokasi penanaman letaknya disekitar .lokasi pengambilan bibit, sebab .jika bibit tersebut ·nantinya mati .. atan tidak tumbuh dengan baik dapat dengan mudah-dilakukan .penyulaman. Tetapi jika lokasi penanamanaya jauh, bibit tersebut ekan disimpanbeberapahari menunggu isaas mereka pergi ke lokasi penanaman. Lokasi penyimpanan biasanya di tempatyang lembah dan terlindung dari eahaya matahari, Bibit sagu disimpan selama 1-2. minggu hingga tumbuh akar-akar muda yang berwama merah. .Jika akar-akar .tersebut telah tnmbuh, maka akar-akar yang lama biasanya dipangkas/dikurangi jumlahnya. Keadaan sagu yang demikian menurut mereka, jika

Beeeariana Volunrte 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 61)1

ditanam keberhasilan untuk tumbuh lebih besar dibandingkan dengan yang langsung ditanam. Waktu pengambilan bibit sagu menurut kebiasaanpendudukdilaknkan pada pagi dan sore hari tanpa membedakan musim baik musim panas, awal penghuJan ataupun pada musim hujan. Mereka tidakmengambil bibit sagu pada siang hari, sebabberdasarkan hasil wawancara, hal ini disebabkan untuk menghindari kerusakan bibit jika terkena cahaya matahari seeara langsung.

Ukuran anakan sagu . yang biasanya digunakanoleh penduduk untuk dijadikan bibit yaitu tinggi rata-rata 378,2 em atau berkisarantara 221-631 em, diameter rata-rata 9,05 ern atau berkisar antara 5,5-15 em, jumlah ental rata-rata 3,3 ·ental atau berkisar antara 1-5en~paIijang ental rata-rata 341 em atau berkisar antara 170-585 em, jumlah daun pucuk rata-rata 1 pucuk, jumlah anak daun rata-rata 62,4atauberkisar antara.40~82 anak daun,panjang rhizome rata-rata 24,9 em atauberkisar antara 18 ... 32 em, diameter rhizome rata-rata 15,6 em atau berkisar antara 12 .. 22 em dan berat anakan rata-rata3,8 kg atau berkisar antara 2-6 kg. Bibit sagu tersebut biasanya yang memiliki bonggol berbentuk L.

Peralatan yang biasa digunakan dalam kegiatan pembibitan sagu adaIah parang dan kapak. Alat tersebut digunakan untuk memotong anakan sagu yang masih menempelpada pohon induksagu dan juga untuk mengurangi jumlah ·enta1 sagu pada anakan tersebut.

Berdasarkan basil wawanearadengan responden vcontoh, ternyata dalam kegiatan pembibitan sagu, mulai dati pemilihan pohon induk, pengambilan anakan, perlakuan terhadap anakan, waktu dan musim pengambilananakan dan alat yang digunakan, ternyata tidak dipengaruhi oleh ketentuanketentuan adat yang berlaku di desa tersebut.

Cara Generatiif

Pembibitan sagu secara generatif tidak dilakukan oleh penduduk asliFakfak di Desa

52

Teknlk Pernbibitcm ban Penanarnon Scllgu (Memnty/on SGguRottb.) (49 - !Sa)

Air Besar dan Kanantare (Tabel 1); Hal ini disebabkan karena masyarakat telah melakukan pemanenan pohon sagu sebelum pohon tersebut . berbuah atau menghasilkan biji sehingga jarang sekaliditemui pohon sagu yang dibiarkan tumbuh sampaii menghasilkan buah . atau biji. Hal uri sejalan dengan ·pendapat·.· Harsanto (1986) . yang menyatakan bahwa pohon sagu sebaiknya dipanen sebelum berbuah karena kandungan tepung sagu akan berkurang, ditransfer menjadi energ:i yang digunakan dalam pembentukanbnnga dan buah,

Selain itu, • biji sagu. yang jatuh ke tanah tidak dapat berkecambah secara alami. Hal ini diduga karena pengatuhfaktor lingknngan yang kurang mendukung bagiperkecambahan biji sagu tersebut, Ami dan Suripatty (1996) menyatakan bahwa perkecambahan biji sagu ditentukan oleh beberapa faktor seperti tingkat kelembaban, temperatur, kondisi tanah (habitat) dan waktu penyimpanan biji ..

TeknikPenAAaman

Lokasipenanamansagu yang· baik yaitu lokasi yang dekat sumber air dan padatanah berawa, Pendndukasli Fakfak memilih lokasi penanamancsagu. di tanah berawa dan pinggiran sungai, Pembersihan lahan dilakukan dengan jalan membersihkan rumput-romputdi sekitar lubang tanam, Lubang tanam dibuat pada tempat ... tempat yang kosong dan tidak terdapat pohon-pohon besar di ·sekitarn'ya,hal mi dimaksudkan agar bibitsagu yang akan ditanamdapat memperoleh .. cahaya matahari yang cukup baik bagi pertumbuhamtya.

Ukuran lubang tanam lebih besar daripadla besamya anak:an. Diameter lubang tanam disesuaikan dengan panjang rhizome sedangkan dalamnya lubangdisesuaikan dengan panjang akar. Darihasil pengamatan, ukuran lubang tanam yang dibuat oleh penduduk meliputi, 'diameter ·1ubangrata-rata 37,3. om atau berkisar antara 28-52cmserta dalam .lubangtanam rata-rata 34,3 em atau berkisarantara25-46 em.

BeCcariona Volume 4 Notnor 1, Mei 2002 (1 .- 61)

Carapenanaman anakan sagu yang dilakukan oleh penduduk setempat yaitu setelah lubangtanatndisiapkan, anakan sagu dibenamkan ke dalam lubang tanam kemudian ditutup dengan 'tanah. Tanah bagian permukaan atas dari lubang tanam tersebutdimasukkan terlebih . dulu karena lebih banyak mengandung humus, kemlldian ditutupdengan .tanah padabagian.bawah.

Jarak tanam saguyang digunakan rata-rata adalah 6 m x 6m. atau berkisar antara 4m x 4 m sampai 8 m )(8 m. Penduduk setempat juga memperhatikan jarak tanam dalammeaanam sagu karena pohon sagu tumbuhdalam bentuk rumpun yang memerlukan ruang tumbuh yang cnkup sehingga dapat . mencapai pertumbuhanyang optimum.

Hasil pengamatan terhadap eiri-eiri stan ukuran bibit sagu yang siap ditanatn meliputi tinggirata-rata 161,9 em atau berkisar antara 71-326 em dengan jutrilahdau.npucuk ratarata 1 atau berkisar antara 0-2, jumlah . ental per anakan jata-rata 0,3entalatauberkisar antara 0-1·· ental dan berat anakan rata-rata 2,6 kg atan berkisar antara 1,5-4 kg.

Penanaman dilaknkan padapagi dm sore ban dan. padamusim panas, awal. penghujan maupun musim hujan. Hal iniidisebabkan karena penduduk telah mengetahui lokasi penaneman s.agu yang sesuai : . bagi pertumbuhan sagu yaitu pada daerahyang lembab . dantidak jauh dari sumber air, sehingga waktu dan musim tidak . menjadi hambatan bagi kegiatan penanaman sagu, Keeuali . pada . siang hari,hal Uri disebabkan karenamenghindanpenyinaran matahari secara Iangsung pada bibit sagu yang baru ditanamvkarena menurut mereka dapat mengganggu pertumbuaan.bibitsagu tersebut. .

Menurut hasil wawancara dengan

responden contoh, temyata ada yang menanam sagu di daerah pegunungan yang jauh dati swnberair (biasanya di sekitar kebun peadudukj.: Penanaman biasa dilakukan pada mnsim . hujan, hal inimengingat lokasi penanaman yang jauh dati sumber air

53

Teknik Pembibitan Dan Penanamon Sagu (M~~tf''t»Q'I'on StIgu Rottb.) (49 -55)

dan kondisi tanah yang tidak lembab sehingga kemungkinan .bibit -sagu tersebut unmk tumbuh lebih besar pada musim hujan. Selain itu, bibit yang digunakan telah mendapatkan perlakuan penyimpanan hingga tumbuhakarakar yang .baru.

Penanaman bibit sagu yang dilakukan di daerah pegunnngan.oleh penduduk ·setempalt biasanya bukan untuk tujuan pengambilan ac:i sagukarena menurut mereka jauh dari sumber air sehinggaakan menyusabkan mereka untuk menokok ., sagu. . Penan:aman tersebut dimaksudkan untuk memanfaatkan bagianbagian daritanaman saguseperti daun dan pelepah untuk pembuatan rumah tempat untuk beristirahat,

Jarak lokasi penanamandari tempat pembibitan menurut penduduk setempat biasanya ada yang . dekat atau di sekitar tempat pengambilan bibit sagu tetapi ada juga yang jauh dari lokasi pembibitan. Hal ini tergantung .dari keinginan penduduk untuk menanam . bibit-sagu tersebutdi areal-areal yang menurut mereka kosong dan perlu dilakukan penanaman.

Untuk lokasi penanaman yang .jauh dari tempatpengambilan bibit, biasanya bibit-bibit tersebut diikat dengan menggunakan kulit pelepah muda lalu -diletakkan dalam tas .atau kantong untuk diangkat ke lokasi penanaman, Berdasarkan hasil wawancara dengan responden contoh, temyata tidak terdapat hal .. hal yangberkaitan dengan ketentuanadat dalam kegiatan penanaman sagubaik dalam persiapan lahan, penanamanmaupun waknr dan musim yang digunakan dalam kegiatan penanaman.

Pendllduk asli Fakfak di Desa Air Besar dan Kanantare telah melakukan kegiatan pemeliharaan. Kegiatan tersebut meliputi penyu1aman terhadap bibit sagu yang rusak atau matidan jugakegiatan pembersihan eli sekitarbibit yan,g telah ditanam dari tanaman pengganggu sampai anakan tersebut dapat tnmbuh dengan baik dan menjadi pohon sagu yang memiliki produksi aci tinggi, Hal

Beccariona Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

tersebut sangat diperhatikan oleh penduduk karena menurut mereka pohon-pohen sagu yang ada di desa tersebut tidak tumbuh dengan sendirinya tetapi merupakan hasil penanaman .. yang dilakukanoleh nenek moyang mereka sehingga keberadaannya hams. dijaga sebagai sumber bahan makanan pokok yang penting bagikehidupan penduduk

setempat. '

KESIMPULAN

L Pendudukasli Fakfak: di Desa Air Besar dall'Kanantare melairukan teknik pembibitan sagu secara vegetatif dengan . menggunakan anakan sagu yang tumbuh pada pangkal pohon induk sagu yang siap dipanenatau telah dipanen dan terletakdi atas permukaan tanah.

2. Teknik pembibitan meliputi pemisahan anakan sagu dati pohon induk sagu menggunakan parang atau kapak, pengurangan ental sagu : dan penyimpanan di tempat lembab atau di bawah pohon sagu hingga tumbuh akarakar barn. Penyimpanandilakukan jika lokasi penanaman jauh dari tempat pengambilan bibit sagu.

3; Kultivar sagu yang digunakan daIam kegiatan pembibitan menurut bahasa daerah setempat yaitu: Kultivar sagu berduri meliputi Mbembemi, Poun dan Rent sed:angkan kultivar sagu tidak berduri meliputi Mbanang dan Gumor.

4. Waktu pengambilan bibitsagu menurut kebiasaan penduduk dilakukan pada pagi dan sore hari tanpa membedakan musim, baik musim panas, awal penghujan maupun musimhujan.

5. Lokasi penanaman bibit sagu yaitu pada tan:ah berawa dan dekat dengan sumber air. Penanaman biasanya dilakukan . di sepanjang sungai dengan llkuran lubang tanam yang digunakan disesuaikan dengan besarnyabibit sagu. Diameter lubang tanam disesuaikan dengan panjang . rhizome sedangkan dalamnya lubang disesuaikan denganpanjang akar.

54

Teknik Pernbibiton Dan Penancman SCligu (Metn:JXylc", Sagu Rottb.) (49 - 55)

6. Penduduk .asliFakfaktelah. melakukan kegiatan pemeliharaan yang meliputi kegiatanpenyulaman terhadap bibit yang rusak atau mati dan kegiatan pembersihan di sekitar bibit yang telah ditanam sampai bibit sagu tersebut dapat tumbuh den.gan baik.

SARAN

1. Perlu dilakukan penelitian yang sama pada lokasi yang berbeda untuk menambah informasi terhadap upaya. pengembangan budidaya sagu di daerah Papua.

2. Khusus untuk lokasi penanaman yang dekat dengan lokasi pembibitan S3!l~ sebaiknya bibit sagu diberi perlakuan penyimpanan, sehingga kemampuan tumbuhnya lebih tinggi,

3. Perlu adanya perhatian dan kebijakan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Fakfak terutama dalam hal pembinaan dan penyuluhan terhadap penduduk setempat mengenai pemanfaatan dan pelestarianibudidaya tanaman sagu.

Beccariana Valume 4 Nornor 1, Mel 2002 (1 .. 67)

DAFTARPUSTAKA

Auri, J.P. danB.Suripatty. 1996.pengaruh Waktu Penyimpanan Setelah Pengundnhan Terhadap Perkecambahan Biji Sagu. Jumal Penelitian Kehutanan, vol III, No.1. Departemen Kehutanan. Manokwari.

Dinas Kehutanan Propinsilrian Jaya. 1991.

Pengusahaan HPH Sagu dan Perkembangannya di Irian Jaya. Proseding Seminar Pengembangan Sumberdaya Sagu -, ·· I·. di Irian Jaya. Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih .. Manokwari.

Flach, M. 1983. The Sago Palm

Domestication Exploitation and

Product Food and Agriculture

Organization Of United Nation. Rome.

Haryanto, B. dan P. .Pangloli, 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Penerbit Kanisius . Jogyakarta.

Rostiwati, T., Jong F.S., dan M. Natadiwirya. 1998/1999. Penanaman Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) Berskala

Besar, Badan Penelitian dan

Pengembangan Kehutanan dan

Perkebunan. Jakarta.

55.

KEARIFANPEMANFAATAN T1J]~rnlJH-TUMBUlIAN SEBAGAIOBAT TRADISONALOLEH MASYARAKAT SUKIJWONDAMA DI DESA TANDIA KECAMATAN W ASIOR KABUPAl'EN MANOKW ARI (THE UTILIZE OF TRADITIONALMEDIC:INAL II'LA:NTSBY WONDAMA TRIBE IN' MANO~r ARI REGENCy)

Oleh/By

Wabyu Jndaryaui 1) "Frans. ~V:lllngigai 2} dan Rudi A.Maturbongs 3)

Abstract

The primary aim of the project reported in this paper was' to identi./Y the plant species which are used as medicines by Wondama tribe inWasior District, Manokwari Regency. This research was carried out in Kampong Tandia-Manokwari Regency. The project found that the indigenous people in the Kampong Tandia used 49from 59 plant families for medicinal-purposes with the Moraceae being the most commonly used family. Twenty-eight diseases have been treated in which wounds, swollen, and malaria are, the common medical conditions treated using these medicinal plants. In most cases plants, or plant parts are prepared by crushing and/or extracting the liquid from fresh material and applying this directly to the affected part of the body or by brewing a tea or infusion for drinking. Leaf, stem, bark, latex, and root part were the plant part' used by 'the traditional medical practitioners. Medicinal plants were usually

gathered from the wild and few ate cultivated. '

Key Word: Medicinal plant, Wondama tribe.

P1<:NDAHULUAN

Kemajuan teknologi terutama transportasi dan komunikasi secara tidak langsllng telah mengubah pola pikir manusia dalam memanfaatkan swnber·· daya .alam yang ada. Perubahan ini akan berIaku pula pada pengetahuan mayarakat dalam memanfaatkan tumbuhan, temtama tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat tertentu.

Pada umnmnya pengetahuan tentang pemanfaatan, perlindungan pembedidayaan tumbuhan obat hanya dimiIiki generasi yang telah lalu, sehingga diperlukan penanganan untuk melestankan kembali pengetahnan pemanfaatan turnbuhan obat yang digunakan sebagai obat tradisional.

Papua dengan kurang lebih 250 sukunya akan sangat bervariasi dalam memanfaatkan sumber daya alam (Petocz, 1984). Variasi yang tinggi ini akan membantu memperkaya

1), 2) Fakultas Kehutanaa UNIPA, Manokwari

3) Herbarium Manokwariense PSKH UNWA, Manokwari

Bec:cariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

khasanah pengetahuan etnobotani yang sedang berkembang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian deskriptif dengan teknik observasi. Variabel utama dalam penelitian ini adalah masyarakat aslli suku Wondama di desa Tandia dan tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional, sedangkan variabel penunjang dalam penelitian ini meliputi lkeadaan umum lokasi, sosial ekonomi dan budaya, jumlah pendnduk, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Responden contoh ditentukan secara acak berstrata Pengacakan dilakukan berdasarkan tiga tingkatan umur, yaitu dibawah umur 25 tahun, 25-40 tahun dan dims 40 tahun. Intensitas sampling yang digunakan adalah 25%. Dari jumlah penduduk yang ada diambil 100 orang dengan pertimbangan anak kecil dan pendatang tidak diambil, kemudian deri 100 orang fersebut diambil 25%, sehingga diperoleh 25 orang yang dijadikan responden.

56

Kearifan Pemanfaatan Tumbuh- Tumbuhan Sebq:IgQilObat Tradisonal ~ - 67)

Responden yang diambil dari umurdibawah 25 tahun sebanyak 5 orang, 25-40 tahunlO orang dan diatas 40 tahun 10 orang.

BASIL DAN PEMBAHASAN Tumbuhan Yaug Dimanfaatkan Sebagai[ O_pat Tradisional

Hasilpengamatan yangdilakukan pads masyarakat suku Wondama dalam memanfaatkan tumbuhan untukpengobatan tradisionaldiketahui 49 jenis tumbuhan yang termasukdalamBu famili. Tumbuhan yang paling banyak dligunakan berasal dati famili Maraceae untukmengobati penyakit lendir pada bayi,. luka, bengkak, dansakit gigr, Jumlah jenis tumbuhan menurut famili yang ditemukan dapatdilihat pada lamp iran 1.

Menurut . Tjitrosoepomo (1993), bahwa famili Moraceae banyak tumbuh di daerah tropis dan bayak dimanfaatkanoleh manusia, Lebih lanjut dikatakanbahwa biasanya famili Moraceae terdiridari pohon-pohon yang bergetah dan jarang vmerupakan tumhuhan terna.

Dari hasil pengamatan pada masyarakat suku Wondama diketahui bahwa 5 jenis tumbuhan dari famili Moraceae dalam penggunaannya 2 jenisdiambil daunnya, ·1 jenis diambil getahnya, 1 jenis diambil talinya dan 1 jenis diambil bagianakamya,

Jeu Tuml!uhan danCara J31pnraatannya

. Bentukvpemanfaatan tumbuhan sebagai obat pada masyarakat suku Wondama sebagian besar diolah dengan cara direbus dan airnya diminum .: Cara pengolahan lainadalah dengancara ditumb~dikikis, direndam eli airhangat atau dingiu-dipanaskan di api dan ada pula yang langsung ditempelkan pada bagian yang.vsakit, Jenis tumbuhan yang paling ·banyak. digunakan .adalah Ficus sp. Dan cara -pemanfaatannyavsebagian besar dengan direbuskemudian diminum.

Contohtumbuhan yang berasal dari famili Moraceae adalah Warakou (Ficus sp.)

8eccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2CI02 (1 _. '1~,7)

caranya dengan mengambil getahnya lalu ditempelkanpada luka,

Species lain dari famili Moraceae yang ditemukanadalah Kasiei (Ficus sp.). Tumbuhan 'ini banyak digunakan untuk mengobati sakit gigr; caranya dengan mengambil akamya yang berada di bawah tanahkemudian ditumbuk lalu ditempelkan pada gigi yang sakit. Tumbuhan ini dapat pula digunakan untuk menyembuhkan bengkak -dengan menumbuk daunnya lalu ditempelkanpada bagian yang bengkak atau d.apat juga menggunakan daunnya dengan cara daun ditumbuk secu.ku.pnya sampai hancur . kemndian ditempel padabagian yang yang bengkak,

Tumbuhan lainnya yangdapat digunakan sebagai obat oleh suku. Wondama contohnya bagiankulit tumbuhan Sanai weporirau (Glochidion sp.) dari famili Euphorbiaceae. Tumbuhan ini banyak digunakan untuk menyembuhkan sakit perut dengan gejala sakit ususbuntu. Caranya dengan mengambil bagian kulit secukupnya+kemndian airhya direndam dalam air' panas kemudian aimya diminum, Tumbuhan Baruarau (Leucosyke sp.) yang digunakan untuk memacu anakanak yang baru belajar jalan. Caranya adalah denganmemetik tangkainya dan dikebas pada kaki anak yang sedang belajarjalan.

Jenis tumbuhan Awen . (Asclepias

curassavvica L)· digunakan ·oleh masyarakat setempat untuk mengobati gejala sakirusus . buntu.. Caranya dengan memetik ibeberapa lembar daunnya, kemudian direbus, sesudahnyadisaringdandiminum aimya.

Tumbuhan Waindawo (Pandorea

pandorana Steem) yang oleh pendnduk Wondama digunakan: untuk mengobati gejala penyakit kuning. Caranya dengan mengambil batangnya kemudian dibersihkan dari dlurinya dan·· direndam . dalam airdingin

maupunair panas lalu aimya diminum.

Tumbuhari.\Vaibiria (Merremia peltata Merr) yang dapat digunakan untuk obat luka baru, caranya dengan memotong tali I tangkai

57

Kearifan Pemcmf:aatan Tumbuh- Tumbuhan 5ebcagai Obat Tr'Gdisonc:d (56 ~ 67) .

kemudianditiup agar getahnyakeluar kemudian getah tersebut . dioleskan ke Inka. Tumbuhan inidapat juga digunakan untuk sakit bengkak dengan cara dann mndanya dipanaskan di. api kemudian di tempelkan padabagian yang bengkak.

L$ halnya dengan daun Woriori (Hibiscus tiltaceus L) dimana vdannnya ditumbuk kemudian ditempel padabagian yang -, terkena .racun ikan. Contoh lainnya adalah untuk luka, masyarakat suku Wondama menggunakan airanakanpisang .. Caranya adalah dengan memotong anakan pisang tersebut lalu airnya dioleskan pada luka .. Untuk malaria dapat digunakan dann pepaya (Carica papaya), caranya ambil dann yangtidak . terlalu tua secukupnya lalu ditumbuk dan diperas aimya kira-kira setengah gelas kemudian diminum (Lampiran 2).

Je~s tumbahan yang ditemukan dalam penelitian inisebagian besarmasih digunakan oleh. masyarakat. suku Wondamadalam mengobati penyakit yang. mereka ala mi, namnn tidak .: menutup kemungkinan mereka memanfaatkan obat modem yang telah banyak beredar, Obat tradisional yang mereka milikidigunakan padakeadaan .. yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke Puskesmas, misalnya kejadiannya di dalam hutan sebagai pertolongan pertama mereka memanfaatkan tumbuhan yang ada ·disekitar mereka untuk mengobatinya.

JenisPenyakit Yang Dapa. Diobati Masyarakat suku Wondama menggunakan tumbuhan untuk mengobati 28 jenis penyakit. Penyakit yang ban.yakdideritadi desa Tandia. diantaranya luka, bengkak, malaria, usus buntu; dan sakit gigi (Lampiran 3 dan 4).

Dari lampiran. 3 dan 4 terlihat bahwa penyakit karena luka yang . paling banyak dialami dan. palig banyak memanfaatkan tumbuahn untuk mengobatinya sebanyak 9 jenistumbuhan, yaitu Piper sp., .Pothos sp., Ficussp., Merremia peltataMerr, Musa SJlI., Dryopteris arida O.K, Pometia sp., Cerbera

BeccarianQ Volume 4 Nomor 1, Mei 2~OO2 (1 - 167)

floribunda dan Bambusa sp. Kemudian bengkak sebanyak 6 jenis yaitu Pandorea pandorana Steem, Ficus sp.,Merremia peltata Merr, Intsia sp., dan Costus speciosus dan malaria sebanyak 5 jenis yaitu Glochidion sp.. Carica papaya, Alstoniascholaris, Endospermum mollucana dan Polygonum sp.

Selain itu .. efek samping dari penggunaan obat tersebut juga sulit didata karena sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat. . Bagi mereka yang tingkat pendidikannya tinggi tentu lebih cepat menganalisisapa yang mereka lihat dan dapat mengambil tiudakanselanjumya, tetapi bagi mereka yang tingkat pendidiakannya rendah bisa sajamereka tidak mengetahui apa yang. mereka lakukan bila melihat akibat yang ditimbul oleh pemakaian obat tersebut.

KOJ1lservasi Tradisional

Jenis tumbuhan yang digunakansebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat suku Wondama sebagian besar. berasal dari hutan alam dan hanya sebagian kecil yang berasal dari bekas kebun danpekarangan. Banyaknya JeD1S yang berasal dati hutan alam

dimungkinkan karena sebagian besar .

kehidupan masyarakat suku Wondama masih sangat tergantung dati alamo sekit:arnya.

Usaha konservasi pada masyarakat suku .; Wondama secara langsung sudah terlihat dari cara pengambilan tumbuhan yang akan dijadikan obat, 'seperti. hanya mengambil lbagian tertentu dari tumbuhan tanpa menebang atau mematikan tumbuhan tersebut. Namun usaha konservasi yang dilakukan 8eC8l"3. khusus belum nampak, ini bukan ., berarti masyarakat tidakmenyadari pentingnya perlindungan tumbuhan obat melainkan mereka menganggap belum adanya ancaman . yang serius bagi kepunahan jenis tumbuhan obat tradisional. .. Selain itu cara pengambilan bahan .obat tidak semua dilakukan dengan cara menebang seluruh pohon, melainkan hanya mengambil bagian tertentu dari tumbuhan tersebut, misa1nya daun, batang, kulit, tali dan akar.

58

Kearifan Pernanfaatan Turnbuh- TUlIlbuhan Seb~3gai Obat Tr'Cldisonaf (56 - 67)·.

Persepsi Masvarakat Suku WODldama TeotangPentobatao Tradisiooal Dan Modem

Darijumlah responden yang ada 30 % atan 8 responden, 6 dari umur diatas 40 tahun dan 2 dari umur 25 - 40 tahun memilih pengobatan tradisional tetap menjadi prioritas utama dalam mengobati penyakit yang mereka alami. Hal inidikarenakan bahan yang dijadikan obat banyak terdapat dilingkungan sekitar, mengelolanyapun mudahselain itu alasan mereka memilih obat tradisional adalah karena Puskesmas yang ada! jauh dari tempat kejadian ataupun obat yang tersedia terbatas, sehingga masyarakat memilih mengobati sendiri dengan obat yang mereka miliki, sedangkan 70 % Iainnya atau 17 orang responden, 4 dari umur diatas 40 tahun, 8 dari umur 25 - 40 tahun dan 5 dari umur dibawah 25 tahun memilih pegobatan moderen dengan alasan Puskesmas yang ada dekat dengan tempat tinggal dan tidak perlu susah-susah mencari bahan dan mengolahnya untuk dijadikan obat.Mereka berpendapat bahwa pengobatan moderen Iebih mujarab dari pengobatan tradisional.

Pola Mentraosfer Peogetahuan Pada Masyarakat Suku Wondama Seba1!ai Ob~lt Tradisional Dan Generasi Ke Ge'nerasi

Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada masyarakat suku Wondama mengenai pemanfaatan tumbuhan, diketahui bahwa pengetahuan yang ada sekarang berasal dari generasi sebelumnya. Pengetahuan tersebut umumnya diperoleh dari pengalaman yang dialami dan yang diturunkan dari orang tua maupun melalui pelatihan yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.

Pengetahuan tentang pemanfaatan

tumbuhan sebagai obat tradisional pada masyarakat suku Wondama tidak diajarkan

Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 167)

oleh suatu lembagatertentu, melainkan diajarkan melalui cerita . pada saat berkumpuInyakeluarga di malam hari maupun dalamaktifitas berkebun, berburu atau . aktifitas ': lainnya. . Dengan demikian transfer pengetahuan tradisional hanya terjadi karenapengtllaman atau mendengar dari orang lain dan mencoba-cobanya,

KESIMPULAN

1. Masyarakat suku Wondama diketahui memanfaatkan 49 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 30 famili sebagai tumbuan obat dan yang paling banyak digunakan adalah dari famili Moraceae.

2. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional digunakan untuk mengobati 28 jenis penyakit dan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat suku Wondama adalah Iuka, bengkak dan malaria.

:3. Tumbuhan yangdigtmakan sebagai obat ~anfaatkann dengan cara direbus, diseduh dengan air hangar, direndam dengan air hangat atau dingin, ditumbuk, dikikis, dipanaskan dan dilumatkan.

4. Bagian tumbuhan yang digunakan

sebagai obat antara lain daun, batang, kulit, tali, getah serta akar.

:5. Sebagaian besar tumbuhan obat di ambil dari hutan dan sebagian kecil ditemukan pada bekas kebun dan pekarangan.

6. Usaha konservasi secara langsung telah terlihat dari cara pengambilan bahan yang akan dijadikan obat, yaitu dengan mengambil bagian tertentu dari tumbuhan tanpa memrnatiakn tumbuhan tersebut.

'7. Ketergantungan tentang obat tradisional di desa Tandia masih sangat rendah

8. Proses mentransfer pengetahuan tentang tumbuhan obat, diturunkan dan generasi ke generasi melalui pengalaman yang diialami serta dalam aktifitas sehari-hari.

,59

Kearifan Pemanfaatan Tumbuh- Tumblllhan SttbU9aiObat TradisOnu,I(56 -·67)

SARAN

1. Bagi pemerintah daerah perlu dilaknkan usaha . konservasi tumbuhan obat yang Iangka agar tidak pnnah di kemudian hari.

2. Perlu dilakukan. analisis kimia mengenai komposisi kimia dari tumbuhann yang dimanfaatkan sebagai obat (penelitian fitokimia).

Beccariana Volume 4 Nomer 1, Mel 2:002 (1 - 67)1

DAFTARPUSTAKA,

Petocz, R. G. 1984. Conservation And

Development, In Irian Jaya: A Strategy For Rational Resaurces Utilization. PT. Sinar Agape Press. Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 1993. Taxonomi Tumbuhtumbuhan (Spermatophyta). Gadjah mada University Press. Y ogyakarta.

60

Kearifan Peenanfaatan TUn'lbuh- Tumbuhan Sebl~i ·Obat Tradisonal (56 -. 67)

Lampiran 1. Jumlah Jenis Tumbuhan menurut Famili Yang Digunkan Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Suku Wondama

No Famili Jumlah Jenis Tumbuhan
1 Anacardiaceae 2
2 Annonaceae 1
3 Apocynaceae 2
4 Araceae 4
5 Asteraceae 3
6 Asclepiadaceae 2
7 Bignonoaceae 2
8 Caricaceae 1
9 Convolvulaceae 1
10 Cucurbitaceae 2
11 Cyperaceae 1
12 Euphorbiaceae 3
13 Fabaceae 2
14 Flagellariaoeae 1
15 Guttiferae I
16 Leguminoceae I
17 Malvaceae 2
18 Moraceae 5
19 Musaceae I
20 Pa1mae 2
21 Passifloraceae 1
22 Piperaceae 1
23 Poaceae 2
24 Polygalaceae 1
25 Polygalaceae 3
26 Pteridophyta 2
27 Rubiaceae 1
28 Sapindanceae 2
29 Urticaceae J:
30 Verbenaceae I
31 Zingiberaceae 1 8ec:c:ariana Volume 4 Nornor 1, Mei 2002 (1 - 67)

61

Kearifan PemanfaQtanTumbuh- TumbuhanSeb.i Obat Tr'Cdisoncd (56 - 67)

Lampiran 2. Jenis Tumbuhan; Bagian-bagiannya dan Cam Pemanfaatan yang digunakan Sebagai Obat Tradisional
Oleh Suku Wondama
No Lokal Wondama S~ies FamiHi Bagian Cara Pemanfaatan Khasiat
1. Mengkudu/ Mortnda Rubiac<::a~~-- Daun Pucuk daun diambil Maag
Ninggua citrifolia L secukupnya direbus,
kemudian disaringdan
diminum
2. Inarawui Polygala sp. Polygalaceae Daun Daun secukupnya Lendir
direbus kemudian padabayi
airnya diminum
3. Warakou Ficus sp Moraceae Daun Daun secukupnya Lendir
direbus kemudian padabayi
airnya diminum
4. Kalau Sellaginela sp. Pteridophyta Daun Daun secukupnya kira- Reumatik
kira segenggam
ditumbuk dibungkus
dengan daun lain
dipanaskan di api
keltl'udian ditempe1kan
pada bagian tumbuh
yang sakit
5. Remandau Pipersp. Piperaceae Daun Daun secukupnya Lukabaru
muda ditumbuk dicampur
dengan sedikit kapur
sirih kemudian
ditempelkan pada luka
6. Tataikai Pothos sp. Araceae Batang Potong batangnya, kikis Lukabaru
kulitnya dan tempelkan
pada luka
7. Rawakou Ficus sp. Moraceae Getah Getah diambil Lukabaru
secukupnya ditaruh
padaluka
8. Waibiria Merremia Convolvulaceae Tali Potong talinya Lukabam
peltata Moo kemudian ditiup agar
getahnya keluar lalu
ditaruh diluka
9. NandoRaja Musasp. Musaceae Air Air pada anakan muda Luka bam
yang dipotong
dioleskan pada luka
10. Makumu Dryopteris Pteridophyte Daun Daun ditumbuk banyak Luka baru
arindaO.K sesuai luka kemudian
ditempelkan pada luka
11. Tagwa Pometia sp. Sapindaceae Kulit Kulit dibakar kemudian Luka
abunya ditempelkan
padaluka
Tabe12.Sambungml Bec:cariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 67)

62

Kearifan Pemanfaatan Tumbuh- Tumbuhan ~ai ,abat Tr'adiSOftol (56 - 67)

No Lokal Wondama S~esies Famili Bag!an Cara Pemanfaatan Khasiat
12. Kiriwi Cerbera Apocynaceae Daun Air rebusan daun Luka
floribunda disiramkan pada luka
13. Mamura Bambusa sp, Poaceae Batang Kulit batang clikikis Lukabaru
kemudian
dioleskanpada luka
14. Papirireu Calophyllumsp. Guttiferae Daun Daun kira-kira 3 lembar Sakit mata
mnda direndam air pada
piring I mangkok
setelah mengeluarkan
zat, mata direndam
dalam keadaan terbuka
15. Piriau aniawi Ageratum Asteraceae Daun Daun diambil kira-kira Sakit mata
conyzotdes L. 2-3 Iembar, dicuci,
diremas-remas
kemudian diperas di
mata
16. Samisou Blumea lacera Asteraceae Daun Daun diambil, dicuci, Sakit mata
(Burm. F) diremss-remas
kemudian diperas
dimata
17. Waindao Pandorea Bignoniaceae Tali Tali dipotong, getabnya TBC
pandorana diambil, di isis pada
Steem bulu, dipanaskan diapi
kemudian diminum
18. Waindao Pandorea Bignoniaceae Tali Tali dipotong, getahnya Bengkak
pandorana diambil, di isis pada
Steem buludipanaskan di api
kemudian diminum
19. Kamanawai Ficus sp. Moraceae Tali Tali diambil Bengkak
secukupnya lalu
ditumbuk, kemudian
dilingkar pada bagian
yang bengkak
20. Waibiria Merremia Conylvulaeeae Daun Daun muda di panaskan Bengkak
peltat« Merr muda di api kemudian
ditempelkan pada
bagian yang bengkak
21. Kasiei Ficus sp. Moraceae Daun Daun ditumbuk Bengkak
secukupnya kemudian
ditempelkan pada
bagian yang bengkak Beccariana Volume <4 Nemor 1, Mel 2()o2 (1- j~7)

63

Kearifan Pemanfaatan Tumbuh-Tumbuhcm St~bil:19ai Obat Tr'Gdisonal (56 - 67)

Tabe12_Smnbungan
No LobI Wondama S~ies ____ !lIIlmi~L Bag!an CaraPemanfaatan Khasjat
22. Ion Insia bijUga O.K Fabaceae Daun Daun ditmnbuk Bengkak
secukupnya dicampur
dengansedildtnrinyak
kelapa dan dioleskan
pada bagian yang
bengkak
23. Kokoti Wesapena Costus Zingiberaceae Batang Satang ditmnbuk Bengkak
speciosa L atau kemudian ditempel
kulit pada bagian yang
bengkak
24. Waindao Pandorea Bignoniaceae Tali Tali dipotonng getahnya Sakit
pandorana diambil di isi pada buIu knning
Steem dipanaskan di api
kemudian diminum
25. Waindao Pandorea Bignoniaceae Batang Hilangkan duri-duri Sakit
pandorana pada batang, rendam kuning
Steem dalam airdingin /
hangat kemudian
diminum
26. Tatal wemararis Schizocasia Araceae Daun Daun dipotong antara Sakit
acutaEng. L pucuk dan pangkal kuning
ditumbuk secukupnya
sampai mengeluarkan
aimya, saring diminum
pagi dan sore
27. Ariaurau Cucurbita Cucurbitaceae Daun Daun ditumbuk Bisul
moschata muda secupnya, dicampur
Duch sedikit garam kemudian
ditempelkan pada bisul
28. Ruriarau Annona Annonaceae Daun Bagian atas daun Bisul
muricata muda digosok dengan minyak
kelapa asli kemudian
ditempelkan pada bisul
29. Ion Insia biJuga O.KLegtmlllnoceae Akar Daun dipanaskan di api Bisul
kemudianditempelkan
pada bisul
30. Korowe Avicennia sp. Verbenaceae Batang Akar dibersihkan, diisi Sakit gigi
dalam bulu, dipanaskan
sampai panas kemudian
digigit berulang-ulang
31. Tataikai Pothos sp. Araceae Akar Batang dikikis, bungkus Sakit gigi
dengan daun pisang
muda dipanaskan
ditempelkan pada gigi
yang sakit Beccariana Volume 4 Nomor 1, M.i 2002 (1 - 67)

64

i(earifan Pemanfaatan Tumbuh- TurnbuhanSebagoi Obat iraciisonal (56 - 67)

Tabe12.Sarnbungan
No Lokal Wondama Spesies Famili .- Bagian Cara Pemanfaatan Kh~siat
32. Kasiei Ficus sp. Moraceae Daun Akar bawah tanah Sakit gigi
muda diarnbil secukupnya
kem.udian ditumbuk
tempelkan pada gigi
yang sakit
33. Kangkung darat Bidens.ptlosa L. Asteraceae Daun Daun dikinyah-kunyah Sakit gigi
muda kemudian tempelkan
pada gigi yang sakit
34. Rauwewa Abelmoscus Malvaceae Daun Dann ditumbuk Keseleo
moschatus dicmnpurkan dengan
Medic sedikit sagu mentah
dtempelkan pada bagian
yang keseleo,
sebelumnya diolesi
dengan minyak kelapa
35. Rauwewa Abelmoscus Malvaceae Kulit DalID secukupnya Ususbuntu
moschatus direbus dengan kira-kira
2 gelas air, disaring dan
diminum
36. Sanai weporirau Glochidion sp. Euphorbiaceae Daun Kulit direndarn pada air Ususbuntu
hangat kemudian
diminum
37. Tatairau Pothos sp. Araceae Daun Daun direbus Usus buntu
secukupnya disaring dan
diminum
38. Awen Asclepias Ascleapiadacea Kulit Daun direbus Usus buntu
curassavica L. secukupnya disaring dan
diminum
39. Sanai weporirau Glochidton sp. Euphorbiaceae Daun Kulit direndarn air Malaria
hangat kemudian
diminum
40. Sereni Carica Caricaceae Kulit Daun ditumbuk Malaria
papaya secukupnya,disaring
kernudian diminum
41. Woniai Alstonia Apocynaceae Daun Kulit direbus dengan Malaria
scholaris kira-kira 2-3 gelas air
kemudian airnya
dimrrinum Beccariana Volume 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - ,67)

65

Kearifan Peman1Faatan Tumbuh-TumbuhQnSeb~i Obat Ti"adisOnol(56.:. 67)

TabeI2, Srunb~gan
No LobI WQodaUna Spesies Faraili Ba~lI1I Cara Petnanfalitan Khasiat
42. Taraparo . Endospermum Euphorbiaceae Daun Daun direbus Malaria
mullucanum secukupnya kemudian
airnya diminum
43. Sambiroto Polygonum sp. Polygonacea Sagu 3 lembar daun direbus Malaria
dengan air secukupnya
disaring dan diminum
44. Anawepea Metroxylon sp. Palmae Daun Sedikit sagu ditokok, Sarampa
dicampur dengan
segelas air matang
kemudian diminum
45. Sunai Cypterus hi/ax Cyperaceae Daun Daun yang kering Sarrunpa
C.B muda secukupnya dipanaskan
ditindis pada bagian
yang terkena sarampah
46. Mengkudul Morinda Rubiaceae Daun Daun direbus Melanearkan
ninggua dlri/olia L. secukupnya disaring proses
dandiminum melahirkan
47. Ruriarau Allnona Annonaceae Daun Daun ditumbuk, dibalut M*ikan
muricata L. pada bagian yang sakit
48. Baruarau Leucosyke sp. Urticaoeae Daun Daun diambil dikebas Belajar
pada kaki anak yang jalan
baru belajar jalan
49. Mrunbusi Hollrungia sp. Passifloraceae Daun Ambil 3 lembar daun Asma
rendrun kira-kira pada
segelas air hangar
setelah daun
mengeluarkan zatnyaa
kemudian diminum
50. Anggandi Cocos nucifera L.Pa'lmae Buah Buah dipetik dan tidak Kaskado
wekrunaru dibuang ke bawah,
dipotong pada bagian
pangkal ditumbuk dan
dicampur dengan
sedikit kapur sirih
kemudian gosok pada
bagian yang sakit
51. Airauamber Polygonum sp, Polygonaceae Akar Akar dicuci kemudian Sakit
ditumbuk campur kepala
dengan sedikit minyak
kelapa dioleskan pada
bagian yang sakit
52. Tawabo sorandau Pometia pinnata Sapindaceae Daun Daun dipanaskan diapi Penurun
Forst. muda kemudian ditempelkan panas
dikepala Beccariana Volurll8 4 Nomor 1, Mel 2,002 (1 - 67)

66

Kearifan Pemanfoatan Tumbuh- Tumbuhan SebC:&94i Obat TNldisonal (56 - 67)

Tabe12.Srunbungan
No Lobi Woodllma Spesies Famili Bagian Cant Pemaofaatao Khasiat
53. Paparirau Momordica Cucurbitaceae Daun DaUltl! ditumbuk Mencret
charantia L. secukupnya diperas
disaring kemudian
dimiaum airnya
54. Warauri Fladellaria Flagellariceae Tunas Ambil tunas baru, Amandel
curasavica L. tumbuk rendam dengan
air panas diminum 1-2
kali
55. Awen Asclepias Asclepiadaceae Daun Daun direbus dengan Kanker
curasavica L. kira-kira 2 gelas air
disaring dan diminum
56. Oberbarai Polygonum sp. Polygonaceae Daun Daun direbus Racun ikan
secukupnya, disaring
dandlminum
57. Wariori Hibiscus Malvaceae Daun Daun ditumbuk, Pegal
tiliaceus L. kemndian ditempel
pada bagian yang sakit
58. Daun kaskado Cassia alata L. Fabaceae Daun Daun dipukul-pukul Batuk
pada bagian yang pegal
59. Karisirei Spondias Anacardiaceae Pucuk Pucuk muda dimakan Batuk
dulcis secukupnya
60. Karisi Spondias Anacardiaceae Pucuk Pueuk muda dimakan batuk
cytherea secukupnya
61. Daun sipilis Paspalum Poaceae Daun Daun direbus sipilis
coryugatum secukupnya, disaring
Berg. dandiminum BeccariQna Volume: 4 Nomor 1, Mei 2002 (1 - 6.1)

67

PETUNJUK PENUI,ISAN NASKAJEI instructions to authors

Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pemah diterbitkan dalam media lain. Naskah yang masuk dievaluasi dan disunting untuk keseragaman format, istilah dan tata cara lain. Panjang naskah paling banyak 20 halaman, dengan fonnat seperti tercantum di bawah ini:

1. Makalah diketik dengan huruf Times New Roman ( 11 huruf per satu inci panjang ) pada kertas kwarto (ukuran kertas 28x21 em) (Typescript is in 11 font size of times new roman on 28x21 em white paper).

2. Judul bab diketik dengan huruf besar semua, simetris, Ietak.nya ditengan, dicetak: tebal (Title should be in capital letter, bold, and centered).

3. Sub-judul diketik ditengah, simetris, digaris bawah, tiap kata diawali dengan huruf besar, dicetak: tebal (Sub-title is centered, underlined, balded, and should be in title case).

4. Sub-sub judul diketik mulai dari tepi kiri, tiap kata diawali dengan huruf besar, dicetak: tebal (Sub-heading is left-margined, balded, title case).

5. Alinea baru dimulai dengan satu tabulasi (5 ketukan) (New paragraph starts with 5 characters)

6. Jarak antara 2 baris ialah dua spasi kecuali untuk daftar, tabel, keterangan gambar, abstrak dan daftar pustaka (The distance between 2 tables is 2 spaces, except the notes of of table or figure should be single space).

7. Nama pengarang pada daftar pustakaharus ditulis semuanya, Pengarang pertama, nama belakang atau nama keluarga ditulis Iebih dulu, bam nama depan dan tengah ditulis dengan insia1nya saja (The authors should be started with family name and then follow by the initial of'first or middle names).

8. Apabila tulisan menggunakan bahasa Indonesia, maka kata-kata dalam bahasa agar dicetak miring atau diberi garis dibawahnya, demikian pula nama ilmiah suatu tanaman (If the manuscript is in Bahasa Indonesia, English terms should be italic or underlined).

9. Tulisan agar disertai abstrak; tulisannya berbahasa Indonesia abstraknyaberbahasa Inggris, abstraknya berbahasan Indonesia (Each typescript should be provided with with an abstract not exceeding 250 words; should the manuscript is in Bahasa Indonesia, an abstract should be in English or vise-versa).