An Element of Sadness Apakah kalian pernah mengetahui bahwa musim dingin dan salju adalah lambang dari sebuah

kesedihan? Musim dingin membekukan perasaan siapapun di musim itu. Mematahkan hati siapapun pada musim itu. Dan menorehkan luka yang terjadi pada musim itu juga. Start of girl's POV Aku duduk di meja sebuah cafe sambil memandangi butiran-butiran salju yang turun perlahan menyentuh permukaan jalanan kota ini. Kutopang daguku dan memoriku langsung berputar, berputar dengan bebasnya. Membuatku kembali mengingat hari bersalju itu. Setiap butiran salju yang menyentuh kulit masih dapat kurasakan dengan jelas. Sensasi dingin yang diberikan oleh musim dingin masih begitu terasa di kulitku hingga hari ini... Setiap aku mengingat hal itu. Selalu, setiap musim dingin ini dimulai dan salju pun turun, aku akan kembali mengingat hari itu. Hari saat pemuda bernama Ulquiorra Schiffer memaksaku untuk memilih... dan berujung pada kepedihan di antara kami berdua. “Aku menyukaimu, Kuchiki Rukia,” nada datarnya yang dingin masih terngiang di kepalaku. Saat itu aku tidak mengerti kenapa dengan tiba-tiba dia berkata seperti itu. Aku, Kuchiki Rukia, hanya perempuan biasa yang tidak terlalu sering berbicara pada siapapun. Kecuali kepada mereka yang dekat dengan diriku. Di situlah dia berada, di saat keheningan mengisi ruang kepalaku dia duduk di sebelahku. Tidak, dia tidak berbicara, tapi kami mulai berbagi keheningan sejak saat itu. Entah sejak kapan, dia selalu berada di sampingku tanpa mengucapkan beribu-ribu untaian kata. Diam dan hanya mengucapkan kata-kata singkat, membuatku sedikit nyaman akan keadaan itu. Keadaan itu membuatku tidak harus mengungkapkan apa yang aku rasakan dan apa yang aku alami, karena aku tidak terlalu menyukainya. Dan aku tidak menyangka hubungan penuh keheningan tadi membuatnya dapat berkata seperti itu. Padahal dia tahu pasti bahwa aku hanya menganggapnya sebagai ‘sahabat’. Dia menatapku dengan serius. Tatapannya membuatku tak dapat berkelit walau hanya sekedar untuk memutar bola mataku. “Ulquiorra, kau tahu bahwa aku...,” aku tak sanggup melanjutkan kata-kata itu. Aku tidak ingin melukai dia. Dia yang selalu ada di sebelahku saat aku membutuhkan sebuah keheningan.

dia melangkah dengan santai dan tidak terburu-buru. tapi aku sama sekali tidak memiliki hal khusus seperti rasa suka kepada dirinya. tidak ada salahnya 'kan menerima sahabat yang sudah mengerti diri kita sendiri? Aku mulai berpikir positif. menyukaimu. Apa yang sedang dia lakukan? Berkencan? Aku sedikit tidak senang dengan dugaanku kali ini.” Setelah aku mengucapkan kata-kata yang penuh keraguan itu dia menciumku. a-aku juga. Aku menjulurkan tanganku dan menyentuh pundaknya. Langkahnya pun tetap sama dengan dulu. . Dia sahabatku dan tak pernah kupikirkan sekalipun akan datangnya hari ini. Aku terbangun dari lamunanku saat mendengar bunyi gemerincing saat pintu cafe itu dibuka. Sepertinya dia tidak menyadari bahwa aku juga ada di sini. Dia tidak berubah.” Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. rambutnya yang sedikit berantakan dan tangannya yang selalu tersimpan di saku celananya. “Kuchiki Rukia. Tiba-tiba dia kembali mengambil mantelnya dan berjalan. Aku menurunkan tanganku yang sedari tadi bertengger di dagu. Tidak ada senyuman . “A-aku. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.” aku melihat dia mendekat dan menyentuh daguku. Dia hanya menatap gelas yang berisi kopi hangat di hadapannya. Aku sedikit tersenyum menatap gayanya itu. Sesekali dia melihat ponselnya dan berakhir dengan decakan dari bibirnya. menunggu kelanjutan dari kalimatku yang terhenti barusan. Di tengah para manusia yang melangkah dengan cepat. Apakah dia juga sedang mengingat hari itu? Baiklah. Dia menghentikan langkah dan jantungku berdegup kencang melihat reaksinya.“Apa?” dia kembali bertanya. aku ingin sekali berbicara dengan pemuda di hadapanku ini. Oh Tuhan.. Dia menoleh perlahan dan menatap wajahku.” aku memejamkan mataku sejenak dan mulai menggerakkan bibirku. Mata emeraldnya sangat menarik perhatian dari sekian banyak pasang mata yang berwarna abu di kafe itu... Tapi. aku menyukai dugaanku yang ini. Sejak hari itu aku mulai merasa bersalah akan dirinya.. tunggu kau mau kemana? Dengan segera aku mengambil tasku dan mengikutinya keluar dari cafe. “I-iya. “Ulquiorra? Ulquiorra Schiffer?” aku menyebutkan namanya. Dia mendekati salah satu meja yang hanya berbeda tiga meja dari mejaku. Dia menatap jam tangannya berkali-kali dan memandang salju yang masih turun di luar sana. “. Hei. Dia berjalan di hadapanku. Aku terkejut menatap wajahnya. Memberikan rasa dingin yang membekas setiap aku menyentuh bibir ini....

dia menatapku tajam. tidak bisakah kau tidak membahas hal ini?” Aku menatapnya dan dia kembali menatap lurus ke depan. tidak tahukah dia? Tak tahukah bahwa boneka itulah yang menemani tidurku dalam beberapa waktu yang lewat? “Ulquiorra.” aku sedikit tersenyum menatapnya. Tidak.” dia menyebut namaku.. “Bagaimana pekerjaanmu?” Dia sedikit berdecak. “Kuchiki Rukia. Ulquiorra. apa yang harus kubahas?” Aku dapat merasakannya. Aku benar-benar merasa bersalah akan boneka itu. Sangat senang nadanya yang dingin itu kembali menyebut namaku dan dia masih mengingatnya. Aku tahu ini pertanyaan yang sangat aneh dan aku tahu tidak seharusnya aku bertanya seperti ini padanya. saat itu aku tidak punya pilihan. Tapi. hal seperti itu memang tidak ada sejak pertama kali kami bertemu. Sakit dan tepat mengenai jantungku yang berdebar kencang saat berada disampingnya. “Ternyata benar kau.. “Kau ingin mengembalikan boneka pemberianku? Boneka yang kau letakkan di tempat yang bahkan sangat jarang kau sentuh?” Ulquiorra menelengkan kepalanya menatapku. Aku dapat melihat kepedihan di dalamnya. dia begitu kecewa sangat kecewa dengan diriku.” . Dia tidak pernah berubah. Sangat sulit untuknya memberitahukan sebuah jawaban langsung padaku. Aku senang. Tapi. “Kenapa kau kembali menyapaku?” pertanyaan itu terdengar bagai usiran untuk diriku. apakah sebegitu parahnya luka yang aku torehkan? Aku menatapnya sendu dan menundukkan wajahku. “Ada apa kau memanggilku?” Apakah dia berpikir aku tak akan mengacuhkannya walaupun aku melihatnya? “Tidak ada salahnya memanggil teman lama. “Aku tidak memiliki alasan untuk menjawab pertanyaanmu itu. “Ada apa?” tanyanya langsung. “Yang kau lihat?” Dalam hati aku tertawa.hangat untuk menyambutku. Aku menyusulnya. Dia tidak membalasku. dan kembali melangkah. Dia kembali melangkah. malah berbalik. bukan?” dia menghentikan langkahnya dan menatap mataku. Bola matanya menatap mataku sejenak. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku sambil melirik wajahnya sejenak. Tatapan itu. “Lalu.

Hisana. dan menggenggam tanganku. . xXxXx Aku duduk di tepi kasurku. Tidak. Ternyata salju memang lambang kesedihan.. “Ambilah. “Lakukan sesukamu. sambil mengeringkan rambut hitamku yang masih basah. meninggal karena sakit. salju sangat cantik dan putih. Hingga aku tidak menyadari aku telah berdiri di depan sebuah bangunan yang menjulang tinggi. kok.. “Apa ini?” aku bertanya saat dia mengubah posisinya menjadi duduk di sebelahku dan menyodorkan boneka ini kepadaku. Aku pun menengadahkan tanganku dan menyambut salju itu. Saat itu pertama kalinya dia melihatku menangis. Aku mengangkat boneka itu dan meletakannya di pangkuanku.. Sedari tadi aku hanya memikirkan tentang perkatannya. Dia berdiri di hadapanku. Dia menghentikan langkahnya lagi dan berbalik menatapku. Aku menatap sendu boneka itu.” Aku terkejut dan menatapnya. Tapi. sakit. Tapi tidak. Dan jangan menangis lagi. dia menghapus sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk. Aku mengangkat kepalaku dan menatap butiran salju yang kembali turun. aku dapat merasakan kecemasan dari setiap ucapan yang dia keluarkan.Tidak seharusnya aku tersinggung dengan ucapannya. menekuk lututnya. Aku bersedih dan menangis di ruang tunggu rumah sakit... Aku hanya menghela nafas dan menatap punggungnya. Setelah sesenggukanku terhenti.” nadanya masih terdengar datar dan dingin. “Apa yang sedang kau lakukan? Mengikutiku? Pulanglah. kali ini nada penolakan berbeda terdengar dari bicaranya dan membuatku sedikit merasa.. “A-aku ingin ke sana.” Ulquiorra langsung berjalan masuk ke dalam gedung itu. Dan dia memberikan boneka itu di depanku. Aku memutar bola mataku. Dia memberiku boneka ini ketika aku sedang menangis karena kakakku. Padahal. Aku menatap boneka yang dia berikan saat itu. dia tidak berbicara dia seolah menemaniku bersedih dalam diam. karena seperti itulah dia. Aku menyesal pernah meletakkannya di kamar yang sudah tidak pernah dipakai saat itu.” jawabku gugup sambil menunjuk sebuah bangunan yang tak kalah tinggi dari bangunan di hadapanku.

aku tidak ingin sosok sahabat yang aku kagumi itu menghilang. dia selalu ada di sana menatapku dan menghampiriku. Akal sehatku menghalangiku untuk mengatakan kata ‘maaf’ kepada Ulquiorra. Darinya ditampilkan pemandangan lampulampu kendaraan yang melintasi jalanan kota ini.Aku menatap ragu boneka itu. Aku membaringkan tubuhku. Sepulang dari rumah sakit itu. yang tiba-tiba membuatku ingin menguasainya. Tapi tidak. Aku mengerti mengapa sekarang dia tidak ingin berbicara lagi. rasanya sulit untuk berbicara dengannya sekarang. aku kembali bertemu dengannya. Aku . yang awalnya aku melakukannya agar tidak menyakitinya malah membuatnya membenciku. mungkin dia berpikir aku tidak dapat tersenyum karena aku sedang bersedih. Bukankah bagus. Dia tidak berubah secara fisik. Karena sekarang aku sangat menyukainya dan merindukan kehadirannya. Tapi sekarang tidak lagi. End of girl's POV xXxXx Start of boy's POV Aku berdiri di depan sebuah kaca yang besar. aku ingin memutar kembali waktu dan tidak ingin mengucapkan kata perpisahan itu..” aku mengucapkannya tanpa tersenyum. Padahal dulu setiap aku menoleh. Aku kembali mengingat kejadian tadi. Aku ingin meminta maaf pada dirinya. aku meletakkannya di kamar sebelah. Aku kejam saat itu. aku melakukannya karena aku tidak begitu menyukai boneka yang dia berikan. Harusnya saat itu aku tidak mengiakan pernyataannya. Tapi kehadirannya membuat rasa kecewaku kembali menguar. tapi hati ini terlalu gengsi untuk mengucapkan kata seperti itu. jika aku menyukainya? Tapi. Aku melakukannya karena aku takut jika aku menyimpannya aku dapat menyukainya. lalu mengambilnya. Dan menjadi orang yang aku sukai. Rasanya aku ingin bertemu dengan Ulquiorra sekarang. Aku merasa tidak dapat menjangkau dirinya lagi. tidak lagi setelah apa yang aku lakukan pada dirinya. Aku menghela nafas dan memejamkan mataku. Jika aku melakukannya.. “Terima kasih. Aku tahu itu alasan yang bodoh. Dan esoknya adalah hari di mana aku memberinya sebuah perpisahan dan membuatku terkurung akan kenangan yang selalu berputar setiap musim dingin. hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Jika aku mampu. Aku mendesah pelan.

Aku membaringkan tubuhku dan memejamkan mataku. aku ingin menepuk pundakmu. Dan aku tahu ini tidak sepenuhnya kesalahan dirinya karena menerima pernyataanku. tidakkah dia tahu bahwa hal seperti itu semakin membuatku kecewa akan dirimu. kau berdiri di hadapanku. mencegahmu agar tidak kedinginan. Besok adalah tepat tiga tahun setelah dia mengucapkannya. dan membuatmu kembali tersenyum? Tidak. Foto itu adalah foto Rukia. dia tidak tahu. Aku tahu dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Dia tidak tahu semua itu karena aku tidak pernah mengatakannya. Tapi.. Tidak tahukah kau? Saat aku menatap ekspresi kepedihanmu. Tidak ada hubungan yang berhasil saat kau menyatakannya pada musim dingin. Foto yang kuambil saat mengamati dia bertopang dagu dan menatap ke luar jendela di sebelahnya. Di hari terakhir musim dingin itu.. bahwa sebenarnya kau tidak menyukaiku. Saat di hari terakhir musim dingin sekaligus hari terakhir turunnya butiran salju itu. Dan mengalihkan pandanganmu dari mata emeraldku. karena kekecewaanku menghalangiku untuk melakukannya. . tapi sulit setiap aku menatap salju yang menyentuh permukaan kulitku. Dan hubungan ini memang membuatku sedih. Karena musim dingin adalah lambang kesedihan.” Aku tahu kau bohong.” aku tahu dia mengalihkan pandangannya karena tidak ingin menyakitiku. Kuchiki Rukia? “Kenapa?” Aku sudah mengetahui hubungan ini tidak akan berjalan dengan baik dan lancar. aku ingin memeluk tubuhmu dan kembali melilitkan syalku kepadamu. Tidak tahukah dia? Bahwa aku masih memiliki perasaan kepadanya? Bahwa saat kita tadi bertemu. Memori itu langsung berputar tanpa aku tahu bagaimana caranya untuk menghentikannya. Ulquiorra. saat aku mengucapkan setiap kata-kata yang menyakitimu. hingga saat itu dia masih membohongi diriku. “Karena musim dingin. Aku berusaha untuk tidak mengingatnya. “Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi. Dan berbalik menatap sebuah foto yang terpajang di pigura berukuran kecil. tapi aku tidak dapat melakukannya. Tapi kenapa kau membawa nama musim dalam hubungan kita? Aku ingin kau mengatkannya dengan jujur. Tidak. aku sudah memutuskan tidak menemuinya lagi.tidak mengerti kenapa saat itu dia mau menerima pernyataanku jika dia hanya menganggapku sahabat? Apakah dia mengira aku hanya bercanda dengannya? Aku memejamkan mataku. Tapi.

kau benar. aku katakan dengan jujur. saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu selain sebagai sahabat.” Aku kembali melihat ekspresi kesedihan di matanya. Saat aku melangkahkan kakiku.” dia mengalihkan pandangannya dan tersenyum pelan.” aku langsung berbalik dan meninggalkan dirinya.” pintanya. Sebuah senyum langsung terukir di wajahnya. Aku menatap dia berdiri di depan sebuah taman yang sangat sepi. perasaan ini semakin tumbuh saat aku kembali menatap wajahnya. “Tidak. “Sekali saja. kenapa kau bisa tersenyum menatap benda yang mendukung musim dingin itu?” Suaraku membuatnya terkejut dan membuatnya menatapku yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Tapi. “Dan di musim ini juga kau mengatakan perpisahan padaku.“Baiklah. Aku takut . “Apa lagi yang ingin kau jelaskan? Kau ingin menjelaskan kebohongan lagi padaku?” Dia menundukkan kepalanya. jika aku tidak mengatakannya. Dia mengangkat kepalaku dan menatapku yakin. dia menarik tanganku. Akhirnya aku memutuskan untuk berbalik dan meninggalkan tempat itu. Tapi. Aku menepis tangannya dan memutar tubuhku. aku tidak ingin menjauh darinya. mungkin aku yang terlalu kejam.” aku mengucapkannya dengan pelan. “Dengarkan penjelasanku dulu. “Iya. ekspresinya yang begitu tenang saat butiran putih itu menyentuh kulitnya. “Apa lagi yang kau inginkan?” tanyaku dingin. jangan pergi. Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu? Sedangkan dia mengucapkan kesedihan saat berpisah dariku. xXxXx Keesokkan harinya aku menyusuri jalanan yang kembali tertimbun salju. Aku tersenyum karena di musim ini kau menyatakan perasaanmu. Lalu. katakan perasaanmu dengan jujur. Sebab.” Dia menarik nafasnya perlahan. Aku kembali melihatnya. Aku tahu saat itu dia langsung terduduk lemas karena telah mengucapkannya. Dia berdiri dan menatap butiran salju itu menyentuh dirinya.” Aku menatap wajahnya dari sudut mataku. tapi aku tidak ingin menyakitimu. “Baiklah. “Saat kau mengatakan perasaanmu kepadaku. “Katamu musim dingin adalah lambang kesedihan. Aku tahu tidak ada gunananya mengungkit masa lalu. Dia kembali mengalihkan pandangannya. sangat pelan seperti berbisik. aku berusaha untuk tidak menghiraukan dirinya lagi.

“Dan aku meminta maaf atas segala perlakukanku padamu sekarang. 3. Ulquiorra Schiffer. “Tentu tidak apa.. 1.menyimpan boneka itu di dekatku. karena aku tidak ingin menyukaimu. dan membuatnya menangis. dia yang diam dan tidak membalas ciumanku. Mungkin ini yang dikeluhkan pembaca.” dia mengucapkannya dengan sangat pelan. 2. membuatku menjauh darinya. Kuhapus beberapa kata: yang. Musim dingin boleh menjadi simbol kesedihan. Sebab kata tersebut membuat kalimat tidak ringkas. Aku melepas ciumanku dan berbisik kepadanya. Dan aku tidak ingin kau menjauh dariku. Dia menggerakkan tangannya dan menyentuh bajuku. dan membuatku ingin menguasaimu. '-nya' gunakan di salah satu kata benda jika ada dua benda dengan pemilik sama. “Aku-. Tidak. misal: -nya. Penggunaannya justru mubazir. Kali ini tidak seperti waktu itu. dengan. karena akan lebih menyedihkan. Kata ganti 'itu' digunakan jika subjek telah disebutkan sebelumnya.” Dia berhenti berbicara dan menatap wajahku. .“ aku tak dapat mendengarkan lanjutan dari ucapannya. “Tidak apakah kita kembali berhubungan di musim kesedihan ini?” Dia tertawa pelan dan menatap mataku lekat-lekat. lebih besar rasa sayangku dan takut kehilangan akan dirinya. karena aku tidak ingin melukaimu lebih lagi. End of boy's POV Catatan editor: Aku minta maaf karena banyak sekali yang kuubah. Sudah cukup! Aku tidak ingin perasaan hitamku ini menguasaiku. Masih ada beberapa kekeliruan peletakan 'di' sebagai partikel kata tempat atau arah. Mubazir juga di kata ganti. karena aku telah mengunci bibirnya dengan bibirku. sebesar apapun kebencianku padanya. Dan aku tidak ingin melanjutkan hubungan kita. Sekali lagi kami kembali menjalin hubungan pada musim dingin. Karena kali ini aku benar-benar menyukaimu..” Aku langsung memeluknya ketika mendengar jawabannya. tapi kesedihan itu telah kami lewati. hingga aku hampir tidak dapat mendengarnya jika dia tidak berada di dekatku. jika kamu pergi di musim ini. Aku pun menggerakkan tanganku dan memeluknya. itu. Kini dia membalas ciumanku dan mulai memelukku.

kata 'sekarang' kuhapus. Agar pembaca segera memahami. 8. bentuk baku adalah mengubah bukan merubah. acuh = peduli. Maaf kalimatmu banyak yang kupenggal. Sebab. Aku ngga tahu penggantinya. Dengan pertimbangan kelogisan. Marker ijo = silakan putuskan sendiri. Maaf sku mengedit dengan sadis. (Bisa kau lihat penggalannya dgn membandingkan fic sebelum dg setelah revisi). Ada kata yang bertolak belakang pada satu kalimat. kalimatmu mengandung dua gagasan atau lebih. 6. 7. 5. satu kalimat cukup satu gagasan saja. Pemisahan dialog juga kuubah agar pembaca paham siapa yang sedang berbicara.  . misal: 'sekarang' dgn 'beberapa waktu yang telah lewat'. cuek = tak acuh.4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful