UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI MATERI MEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN

LEARNING TOGETHER PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 25 SURABAYA TAHUN PELAJARAN 2009 - 2010

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun Oleh : S U N A R S I H M.Pd. NIP. 1955 08 271982022002

PEMERINTAHAN KOTA SURABAYA DINAS PENDIDIKAN SMP NEGERI 25 SURABAYA TAHUN PELAJARAN

200

-2009

iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Penelitian Tindakan Kealasini dapat terselesaikan pada waktunya. Karya ilmiah yang berjudul “Meningkatkan Prestasi Belajar Geografi melalui Metode Pembelajaran kooperatif model Learning Together dalam Materi negara maju dan negara berkembang pada Siswa Kelas IXe di SMP Negeri 25 Surabaya Tahun Pelaja ran 200 – 2009 ini, disusun untuk Peningkatan Mutu guru,Dalam penyusunan dan penyelesaian Penelitian Tindakan Kelas ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1 2 3 4 Yth. Kepala Sekolah SMP Negeri 25 Surabaya Yth. Koordinator Perpustakaan SMP Negeri 25 Surabaya Yth. Rekan-rekan Guru – Guru SMP Negeri 25 Surabaya Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai Peneliti menyadari bahwa hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan penelitian ini dan demi penelitian yang akan datang.

Surabaya, 12 agustus 2008

Peneliti

ABSTRAK Sunarsih, 2008. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Geografi materi Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together Pada Siswa Kelas IX di SMP Negeri 25 Surabaya Tahun Pelajaran 2008-2009. Kata Kunci: pembelajaran matematika, kooperatif model learning together Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. Yang diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kelompok, melainkan pada penstrukturannya. Jadi, sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Apakah pembelajaran kooperatif model learning together berpengaruh terhadap hasil belajar geografi ? (b) Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran geografi dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together? Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model learning together terhadap hasil belajar geografi (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Matematika setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model learning together Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas IXE di SMP Negeri 25 Surabaya. Data yang diperoleh berupa hasil ulangan harian, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (60,71%), siklus II (75,00%), siklus III (89,29%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode kooperatif model learning together dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas IXE, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative geografi.

........................................... KATAPENGANTAR ........................... BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................... DAFTARISI ........... B Saran ................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................……………………................................................... 20 26 28 28 28 i ii iii iv v vi 1 1 3 4 4 5 5 7 7 7 12 13 14 15 15 18 18 20 ................................................................................................................. C Tujuan Penelitian ............................................. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... ......................................................... DAFTARLAMPIRAN .......................................................... F Batasan Masalah ....................................................... B Rumusan Masalah ............................. B Rancangan Penelitian ............ A Definisi Pembelajaran ............................................................................................................................... B Motivasi Belajar ................................................................................................................................... LEMBARPENGESAHAN ............... D Model LT (Learning Together)............................................................... D Pentingnya Penelitian ...................................................... ABSTRAK......................................... E Definisi Operasional Variabel ...................................................................................................... A Latar Belakang Masalah ............................................................................................................................. A Hubungan Pembelajaran Model Learning Together Dengan Ketuntasan Belajar ............................ C Alat Pengumpul Data ............................................................................................................................................................................................ BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................. BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...... C Meningkatkan Motivasi Belajar.................................. A Tempat....................... A Kesimpulan ......................... ................................................................................................................................... dan Subyek Penelitian ............................ BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. Waktu.......................................... B Pembahasan .................................................................................. D Analisis Data .......

........................ 30 ......................DAFTARPUSTAKA ...............................................

................... Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian II Pada Suklus II .... Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian III Pada Ssikluslll .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 32 3 34 Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian I Pada Siklus I .......................................................................

Simpulan dari penelitian ini adalah metode kooperatif model learning together dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas IXE.71%). sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur.00%). Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson. yaitu saling ketergantungan positif.29%). Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan. tanggung jawab individual.ABSTRAK Sunarsih. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas IXE di SMP Negeri 25 Surabaya. kegiatan dan pengamatan. kooperatif model learning together Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. siklus II (75. Kata Kunci: pembelajaran matematika. refleksi. keahlian bekerja sama. . dan proses kelompok. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Apakah pembelajaran kooperatif model learning together berpengaruh terhadap hasil belajar geografi ? (b) Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran geografi dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together? Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model learning together terhadap hasil belajar geografi (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Matematika setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model learning together Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu. dan refisi. siklus III (89. Data yang diperoleh berupa hasil ulangan harian. siklus I (60. 2008. interaksi personal. lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Geografi materi Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together Pada Siswa Kelas IX di SMP Negeri 25 Surabaya Tahun Pelajaran 2008-2009. serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative geografi. 1993). melainkan pada penstrukturannya. Yang diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative learning bukan sekedar kerja kelompok. Jadi.

....... i ii iii iv v vi 1 1 3 4 4 5 5 7 7 7 12 13 14 15 15 18 18 20 20 26 28 28 28 K Definisi Operasional Variabel .................. D Saran .......................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .............................................................................................................................................................................................................................................................................................................. I J Tujuan Penelitian ........................................ H Analisis Data .................................................................................. E Definisi Pembelajaran ............. L Batasan Masalah .................................................... D Pembahasan .......................................................................................................................................................................................... KATAPENGANTAR ........................................... G Alat Pengumpul Data ..................... DAFTARISI .....……………………......................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................................................ C Kesimpulan ................................... ABSTRAK.............. G Meningkatkan Motivasi Belajar............... BAB I PENDAHULUAN ....................................... G Latar Belakang Masalah ..................................................................................................................................................... dan Subyek Penelitian ................................... E Tempat................................................................................................................................................................. H Model LT (Learning Together).................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................................... F Rancangan Penelitian .................... .......................................... Pentingnya Penelitian ..................................................................................... BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... F Motivasi Belajar ................................................... C Hubungan Pembelajaran Model Learning Together Dengan Ketuntasan Belajar ............. LEMBARPENGESAHAN .......................................................................................................................................... DAFTARLAMPIRAN ...................................................................................................................................................................................... H Rumusan Masalah ... Waktu....................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA ..................................

................................................................................ 30 ..DAFTARPUSTAKA ...........

..................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 32 33 34 Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian I Pada Siklus I .............................................................................. Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian II Pada Suklus II .... ... Lampiran 1 Nilai Ulangan Harian III Pada Ssikluslll....................................

perlu adanya perubahan paradigma dalam menelaah proses belajar siswa dan interaksi antara siswa dan guru. kita perlu menelaah kembali praktik-praktik pembelajaran di sekolah-sekolah. alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Ada persepsi umum yang sudah berakar dalam dunia pendidikan dan juga sudah menjadi harapan masyarakat. Latar Belakang Masalah Pada abad 21 ini.BAB I PENDAHULUAN A. Sudah seyogyanyalah kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan akan didik untuk berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat berbeda dengan peranan tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah. siswa belajar dalam situasi yang membebani dan menakutkan karena dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengejar nilai-nilai tes dan ujian yang tinggi. Lebih celaka lagi. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatanmuatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Selain itu. Sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur disebut 19 . Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesama siswa yang lainnnya. Persepsi umum ini menganggap bahwa sudah merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan informasi dan pengetahuan. Guru perlu bersikap atau setidaknya dipandang oleh siswa sebagai yang mahatahu dan sumber informasi. Bahkan. Tampaknya.

Memang tidak bisa disangkal bahwa banyak guru telah sering menugaskan para siswa untuk bekerja dalam kelompok. Sesungguhnya. yakni menanamkan rasa persaudaraan dan kemampuan bekerja sama. muncul perasaan tidak adil. metode kerja kelompok yang seharusnya bertujuan mulia. guru bertindak sebagai fasilitator. Seiring dengan proses globalisasi. bagi guru-guru di negeri ini metode gotong royong tidak terlampau asing dan mereka telah sering menggunakannya dan mengenalnya sebagai metode kerja kelompok. bahkan kadang-kadang orang tua pun merasa was-was jika anak mereka dimasukkan dalam satu kelompok dengan siswa lain yang dianggap kurang seimbang. Jika kerja kelompok tidak berhasil.sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau cooperative learning. Dalam sistem ini. Ada beberapa alasan penting mengapa sistem pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Sebaliknya jika berhasil. Berbagai sikap dan kesan negative memang bermunculan dalam pelaksaan metode kerja kelompok. dan demografis yang mengharuskan sekolah untuk lebih dan berkembang pesat. juga terjadi transformasi sosial. siswa cenderung saling menyalahkan. Sayangnya. Yang diperkanalkan dalam metode pembelajaran cooperative 19 menyiapkan anak didik dengan keterampilanketerampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah . ekonomi. justru bisa berakhir dengan ketidakpuasaan dan kekecewaaan. Siswa yang pandai/rajin merasa rekannya yang kurang mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Berbagai dampak negatif dalam menggunakan metode kerja kelmpok tersebut seharusnya bisa dihindari jika saja guru mau meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian dalam mempersiapkan dan menyusun metode kerja kelompok. metode kerja kelompok sering dianggap kurang efektif. Akibatnya. Bukan hanya guru dan siswa yang merasa pesimis mengenai penggunaan metode kerja kelompok.

maka peneliti merasa terdorong untuk melihat pengaruh pembelajaran terstruktur dan pemberian balikan terhadap prestasi belajar siswa dengan mengambil judul “ Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Geografi materi negara maju dan negara berkembang Dengan Menerapkan Model Pengajaran Learning Together Pada Siswa Kelas IX di SMP Negeri 25 Surabaya Tahun Pelajaran 20082009” B. interaksi personal. melainkan belajar mendominasi ataupun melempar tanggung jawab. Dari latar belakang masalah tersebut. 1993). sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai kerja/belajar kelompok yang terstruktur. 19 . melainkan pada penstrukturannya. Jadi. dan proses kelompok.learning bukan sekedar kerja kelompok. tanggung jawab individual. dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: 1 Apakah pembelajaran kooperatif model learning together berpengaruh terhadap hasil belajar Geografi negara maju dan negara berkembang pada siswa kelas IX E tahun pelajaran 2008-2009. Rumusan Masalah Merujuk pada uraian latar belakang di atas. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsru pokok (Johnson & Johnson. Metode pembelajaran gotong royong distruktur sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota dalam satu kelompok melaksanakan taanggung jawab pribadinya karena ada sistem akuntabilitas individu. yaitu saling ketergantungan positif. Siswa tidak bisa begitu saja membonceng jerih payah rekannya dan usaha setiap siswa akan dihargai sesuai dengan poin-poin perbaikannya. siswa bukannya belajar secara maksimal. keahlian bekerja sama. Kekawatiran bahwa semangat siswa dalam mengembangkan diri secara individual bisa terancam dalam penggunaan metode kerja kelompok bisa dimengerti karena dalam penugasan kelompok yang dilakukan secara sembarangan.

dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar. Pentingnya Penelitian 1 Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran kooperatif model Learning Together dalam pembelajaran geografi oleh guru kelas IX E tahun pelajaran 2008 .2009 C. Guru.2009 D. Siswa. 5 6 Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Matematika dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar geografi . Tujuan Penelitian Berdasar atas rumusan masalaah di atas.2009. sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi siswa. Sumbangan pemikiran bagi guru geografi dalam mengajar dan meningkatkan pemahaman siswa belajar geografi . maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: 1 Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran kooperatif model learning together terhadap hasil belajar geografi materi negara maju dan negara berkembang pada siswa Kelas IXE tahun pelajaran 2008 .2009.2 Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pembelajaran Geografi ateri negara maju dan negara berkembang dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model learning together pada siswa Kelas IX E tahun pelajaran 2008 . 2 3 4 Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran geografi. 19 . 2 Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran geografi setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model learning together pada siswa Kelas IX E tahun pelajaran 2008 .

Materi yang disampaikan adalah negara maju dan negara berkembang 19 .2009. Penelitian ini dilakukan pada bulan desember semester ganjil tahun pelajaran 200 . maka diperlukan pembatasan masalah meliputi: 1 2 3 Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas IXE E tahun pelajaran 200-2009. Batasan Masalah Karena keterbatasan waktu. atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini. maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut: 1 Metode pembelajaran kooperatif model learning together adalah: Suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kelompokkelompok untuk menetapkan tujuan bersama. 2 Motivasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. 3 Prestasi belajar adalah: Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor.E. setelah siswa mengikuti pelajaran. F.

Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. kecakapan. tetapi perubahan dalam kebiasaan . 1996:14). Sependapat dengan pernyataan tersebut. bertambah pengetahuan. pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu. Pasal 1 Undang-Undang No. Sutomo (1993:68). berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman (KBBI. Jadi. sikap dan lain-lain (Soetomo. 19 . mengemukakan bahwa belajar adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan belajar adalah suatu proses pertumbuhan yang bersifat fisik.BAB II KAJIAN PUSTAKA A Definisi Pembelajaran Pembelajaran adalah proses. berkembang daya pikir. 1993:120). cara.

Tidak pula diperhatikan apakah bahan-bahan yang diberikan itu didasarkan atas motif-motif dan tujuan yang ada pada murid. Sejak adanya penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi tentang kepribadian dan tingkahlaku manusia. system persekolahan lainnya. John Dewey. dan tingkat kesanggupan. Kemudian menyusul tokoh pendidikan lainnya. bahwa tingkah laku manusia didorong oleh motif-motif tertentu. Oemar: 2001: 157). serta perkembangan dalam bidang ilmu pendidikan maka pandangan tersebut kemudin berubah. berdasarkan “Pusat minat” anak makan. yang terkenal dengan “pengajaran proyeknya”. yang berdasarkan pada masalahyang menarik minat siswa. Sehingga sejak itu pula para ahli berpendapat. yakni pengajaran dengan cara menuangkan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi murid (Hamalik. Cara ini tidak mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang diberikan itu sesuai atau tidak dengan kesanggupan. Murid dapat dipaksa untuk mengikuti semua 19 . serta pemahaman murid. seperti Dr. Faktor siswa didik justru menjadi unsur yang menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran pakaian. kebutuhan. dan perbuatan belajar akan berhasil apabila didasarkan pada motivasi yang aa pada murid. permainan/bekeraja. minat.B Motivasi Belajar 1 Konsep Motivasi Pengertian tradisional menitik beratkan pada metode imposisi.

Seekor kuda dapat digiring ke sungai tetapi tidak dapat dipaksa untuk minum. atau keadaan dan kesiapan dalam arti individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu (Usman. 2000: 28).. guru dapat memaksakan bahan pelajaran kepada mereka. motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasai dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. 2 Pengertian Motivasi Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukian sesuatu. Inilah yang menjadi tugas paling berat yakni bagaimana caranya berusaha aga murid mau belajar. dan memiliki keinginan untuk belajar secara kontinyu. tetapi ia tidak dapat dipaksa untuk menghayati perbuatan itu sebagaimana mestinya. akan tetapi guru tidak mungkin dapat memaksanya untuk belajar dalam arti sesungguhnya. Demikian pula halnya dengan murid. atau keadaan seorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku untuk memenuhi kebuuhan dan mencapai tujuan. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar. Hal ini sesui dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang bermotivasi dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu.perbuatan. sehingga siswa itu dapat 19 .

karena dalam setiap diri individu sedah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. 3 Macam-macam Motivasi Menurut jenisnya. 3 Memberikan banyak waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan 19 . strategi tersebut adalah sebagai berikut :L 1 Mengaitkan tujuan belajar dengan tujuan siswa. atau paksaan dari orang lain. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115). apakah karena adanya ajakan. 1994: 105) ada beberapa strategi dalam mengajar untuk mnembangun motivasi intrinsic. suruhan.menyerap dan mengendapkan materi itu. motivasi intrinsic adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu irangsang dari luar. motivasi dibedakan menjadi dua. sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik. yaitu : a Motivasi Intinsik Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam individu. sehingga dalam kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu untuk belajar (Usman. 2000: 29). Menurut Winata (dalam Erriniati. 2 Memberikan kebebasan dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok. Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai ujuan tertentu.

berusaha memperbaiki hasil prestasi 19 .mber belajar di sekolah. Misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama di kelasnya. 4 Sesekali memberikan penghargaan pada siswa atas pekerjaannya. Seseorang yang memiliki motivasi inrinsik dala dirinya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mnotivasi intrinsic adalah motivasi yang timbul dari dalam individu yang fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar.tugas dan memanfaatkan su. Motivasi ekstrinsik adalah motifmotif yang aktif dan berfunmgsi karena adanya perangsang dari luar. (Usman. Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117). b Motivasi Ekstrinsik Jenis motivasi ini timbut sebagai akibat pengaruh dari luar individu. atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu ata belajar. motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsic.n apakah karena adanya ajakan. suruhan. maka secara sadar akan melakukan sesuatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan moivasi instrinsik antara lain : 1 Kompetisi persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya. 2000: 29).

19 . 5 Minat yang besar: Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar. kesenangan dan kepercayaan teradap diri sendiri. sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. tentu saja dengan bimbingan guru. 2 Pace Making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru. guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha mandiri. 4 Kesempunaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas. makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan sesuatu perbuatan. 3 Tujuan yang jelas: Motif medorong individu untuk mencapai tujuan. hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa materi segi empat dan segitiga yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai materi tersebut.yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. Makin jelas tujuan. Dengan demikian.

Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Disamping itu kegiatan mengajar adalah satu aktivitas yang sangat kompleks. dn lain sebgainya. barulah siswa giat belajar dan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. misalnya adanya persaingan dari luar. Akan tetapi. angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa. Bila hal ini dilihat dari segi nilai lebih yang dimiliki oleh guru dibandingkan dengan siswanya. karena itu sangat sukar bagi guru matematika 19 . pabila ia tidak memiliki teknik-teknik yang tepat untuk mentransferkan kepada siswa. C Meningkatkan Motivasi Belajar Telah disepakati oleh ahli pendidikan bahwa guru merupakan kunci alam proses belajar mengajar. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tiak ada ulangan.6 Mengadakan penelitian atau tes. Dari uraian di atas diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang tibul dari luar individu yang berfungsinya Karen danya perangsang dari luar. Jadi. untuk mencapi nilai yang tinggi. Walau demikian nilai lebih itu tidak akan dapat diandalkan oleh guru. Nilai lebih ini dimiliki oleh guru terutama dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh guru bidang studi pengajarannya. bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan.

maka ada beberapa prinsip umum yang harus dipegang oleh guru matematika dalam menjalankan tugasnya. Dr. Untuk merealisasikan keinginan tersebut. 3 Guru hendaknya menyesuikan bahan pelajaran diberikan yang dengan kemampuan siswa. prinsip-prinsip umum yang harus dipegang oleh guru matematika dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut : 1 Guru yang baik dan memahami menghormaati siswa. S. 4 Guru hendaknya menyesuaikan 19 . Menurut Prof. Nasution. 2 Guru yang baik harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya.bagaimana caranya mengajar dengan baik agar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika.

unmtuk dalam menghindari verbalisme murid.metode dengan pengajar pelajarannya. 7 Guru menghubungkan pelajaran pada pada kehidupan siswa. 5 Guru yang baik mengaktifkan siswa belajar. 6 Guru yang baik memberikan pengertian. 8 Guru dengan terkait teks 19 . bukan hanya kata-kata Hal ini dengan belaka.

Sehubungan dengan upaya meningkatkan motivasi belajar siswa ada dua prinsip yang harus diperhatikan oleh guru sebagaimana yang dikemukakan oleh Thomas F. melainkan senantiasa membentuk kepribadian siswanya.book. 9 Guru yang baik tidak mengjar arti menyampaikan pengetahuan. Suton sebagi berikut : 1 Menyelidi ki dengan jelas dan tegas apa yang diharapka n dari hanya dalam 19 .

pelajaran untuk pelajari dan mengapa ia diharapka n mempelaj arinya. 2 Mencipta kan kesadaran yang tinggi pada pelajaran akan pentingny a memiliki skill dan di 19 .

pengetahu an akan diberikan oleh program pendidikn itu. Dari prinsip-prinsip umum di atas. yang D. begitu pula dalam meningkatkan motivasi belajar sisw tampaknya guru yng mengetahui akan kemampuan siswa-siswanya baik secara individual maupun secara kelompok. Para siswa bekerja sebagai suatu keompok untuk menyelesaikan sebuah produk kelompok. Model LT (Learning Together) Para siswa dikelompokkan ke dalam tim dengan empat sampai lima orang per tim dan heterogen kemampuannya. dan si guru memberikan 19 . guru mengetahui persoalan-persoalan belajar dan mengajar. guru pula yang mengethui kesulitan-kesulitan siswa teraap pelajaran matematika dan bagaimana cara memecahkannya. dan meminta bantuan dari teman yang lain sebelum bertanya kepada guru. berbagai gagasan. dan membantu satu sama lain dengan jawaban. menunjukkan bahwa perann guru matematika dlm mengajar matematika dapat dikatkan sangat dominant.

karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). sebab menggambarkan 19 . Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif.penghargaan kepada kelompok berdasarkan kinerja kelompok.

ada persamaan dan perbedaannya. dan refleksi. Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti. (2000) (dalam Sukidin. Keempat bentuk penelitian tindakan di atas. (3) penelitian tindakan simultan terintegratif. dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. observasi. dan (4) hubungan antara proyek dengan sekolah. tindakan. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil. Dalam bentuk ini. tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas. (3) proses yang digunakan dalam melakukan penelitian. guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan. ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada: (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya. Dalam kegiatan ini. (2) penelitian tindakan kolaboratif. Menurut Sukidin dkk (2002:54) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Siklus 19 . dkk. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi.bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. (2) tingkat Learning Together antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar. yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti. 2002:55). dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas.

Tempat. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan Learning Together 19 antara peneliti dengan . Suharsimi 2002:82). Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMP Negeri 25 Surabaya Tahun pelajaran 200-2009. 2. dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto. Rancangan Penelitian Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran. A. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan desember semester ganjil 3. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan.ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa-siswi kelas IXE tahun pelajaran 200-2009 pada materi negara maju dan negara berkembang serta menggunakan dalam pemecahan masalah B. Waktu dan Subyek Penelitian .

mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu. 3 Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien. (Arikunto. Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut: 1 Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria. dana dan tenaga. 2002:82-83). Suharsimi. Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. 2 Kegiatan penelitian. 19 .anggota kelompok sasaran. baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama. rinci. setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya. 5 Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going). Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain. 4 Metodologi yang digunakan harus jelas. yaitu benar-benar nyata dan penting. dan terbuka. menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. yaitu penelitian tindakan. artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu.

Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. observation (pengamatan). tindakan. dan refleksi. 2002:83). yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. action (tindakan). dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi. 19 . Suharsimi. pengamatan.maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut. Setiap siklus meliputi planning (rencana).

19 . berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya. 2 Kegiatan dan pengamatan. melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat. meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya pengajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah.1 Alur PTK Penjelasan alur di atas adalah: 1 Rancangan/rencana awal.Gambar 3. 4 Rancangan/rencana yang direvisi. sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah. tujuan dan membuat rencana tindakan. termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. 3 Refleksi. peneliti mengkaji.

Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Alat Pengumpul Data Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.Observasi dibagi dalam tiga siklus. khususnya pada bagian mana KD yang belum tercapai. 2. Analisis Data Dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup. yaitu siklus 1. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dilakukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. dan seterusnya. dan (3) untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto. C. D. (2) untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai. 2002:149). Suharsimi. maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi 19 . Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya. dimana masing siklus dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran.

1 2 Merekapitulasi hasil tes Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masingmasing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.digunakan data kualitatif. sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. 3 Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. 19 .

Siklus I a. dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hubungan Pembelajaran Model Learning Together dengan Ketuntasan Belajar Suatu KD atau Materi pembelajaran dianggap tuntas secara klasikal jika siswa yang mendapat nilai 70 lebih dari atau sama dengan 85%. 1. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 agustus 2008 di Kelas IXE jumlah siswa 38 siswa. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan 19 . Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. soal ulangan harian 1 dan alatalat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan model pembelajaran Learning Together. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1. b. sedangkan seorang siswa dinyatakan tuntas belajar pada KD atau materi tertentu jika mendapat nilai minimal 70.

19 . Tabel 4. Rekapitulasi Hasil ulangan harian Siswa Pada Siklus I No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata ulangan harian Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus I 70.00 dan ketuntasan belajar mencapai 68.pelaksanaan belajar mengajar.00 24 68. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut.18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.18 Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 70. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together .18% atau ada 15 siswa dari 38 siswa sudah tuntas belajar.1. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi ulangan harian I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 68.

Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: 1 Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran 2 3 Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung d. sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya.c. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran 19 . 2 Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. 1 Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. 2. 3 Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias. Refisi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan. Siklus II a.

soal ulangan harian 2 dan alatalat pengajaran yang mendukung. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I.yang terdiri dari rencana pelajaran 2. Tahap kegiatan dan pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 11 agustus 2008 di Kelas IXE dengan jumlah siswa 38 siswa. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.73 27 79.01 19 . Rekapitulasi Hasil ulangan harian Siswa Pada Siklus II No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata ulangan harian Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus II 77. Instrumen yang digunakan adalah ulangan harian II. sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. b. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi ulangan harian II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar.2. Tabel 4.

73 dan ketuntasan belajar mencapai 79. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II antara lain: 1 Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.01% atau ada 27 siswa dari 38 siswa sudah tuntas belajar.Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 77. 19 . 1 2 3 Memotivasi siswa Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep Pengelolaan waktu d. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran model Learning Together . Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut. c. Revisi Rancangan Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan.

5 Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar. Siklus III a.2 Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. soal ulangan harian 3 dan alatalat pengajaran yang mendukung. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. 3 Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep. 3. sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada 19 . 4 Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. b. Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3. Tahap kegiatan dan pengamatan Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 18 agustus 2008 di Kelas IX E dengan jumlah siswa 38 siswa.

Hasil ulangan harian Siswa Pada Siklus III No 1 2 3 Uraian Nilai rata-rata ulangan harian Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketuntasan belajar Hasil Siklus III 82.73 35 86.73 dan dari 38 siswa telah tuntas sebanyak 35 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Tabel 4. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86.3. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran model Learning Together sehingga siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan. c. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.siklus III. Refleksi 19 .36% (termasuk kategori tuntas). Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah sebagai berikut.36 Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata ulangan harian sebesar 82. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi ulangan harian III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah ulangan harian III. Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II.

2 Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran model Learning Together dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan model pengajaran Learning Together dapat meningkatkan proses belajar 19 . Dari datadata yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: 1 Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. d. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak.Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model Learning Together. 3 Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna. tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar. 4 Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan.

Pembahasan . 2. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model Learning Together memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. 79. diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan model pengajaran Learning Together dalam setiap siklus mengalami peningkatan.18%. dan III) yaitu masing-masing 68. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data.mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I. 3. II. diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran matematika pafa materi pokok menemukan luas jajaran genjang trspesium dan belah keupat dengan menggunakan luas segitiga 19 . Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pad setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.36%. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data.01%. dan 86. B.

19 . Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep.dan luas persegi panjang dengan model pengajaran Learning Together yang paling dominan adalah. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pengajaran konstekstual model pengajaran berbasis masalah dengan baik. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru. menjelaskan materi yang sulit. memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

4 Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok. yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. yaitu siklus I (68. 2 Pembelajaran model Learning Together memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus. 19 . serta mampu mempertanggungjawabkan segala tugas individu maupun kelompok. siklus III (86. ide dan pertanyaan. gagasan. siklus II (79.01%). 5 Penerapan pembelajaran model Learning Together mempunyai pengaruh positif.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.36%). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan selama tiga siklus.18%). 3 Model pengajaran Learning Together dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. hasil seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1 Model pengajaran Learning Together dapat meningkatkan kualitas pembelajaran geografi materi negara maju dan negara berkembang.

memperoleh konsep dan keterampilan.B. maka disampaikan saran sebagai berikut: 1 Untuk melaksanakan model pengajaran Learning Together memerlukan persiapan yang cukup matang. walau dalam taraf yang sederhana. Saran Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar geogradi lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa. sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan pembelajaran model Learning Together diperoleh hasil yang optimal. karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMP Negeri 25 Surabaya tahun pelajaran 200-2009 4 Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar diperoleh hasil yang lebih baik. dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru. dalam proses belajar mengajar sehingga 19 . guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran. sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. 3 Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut. 2 Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.

1993. 1993. Oemar. 1999. Djamarah. Metodologi Research. Jakarta: Bumi Aksara. Sutrisno. Moh. Bandung: Sinar Baru Algesindon. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Djamarah. 2002. Lalu Muhammad. Jakarta: Rineksa Cipta. Rineksa Cipta. Analisis Butir Tes. 1990. Jakarta: Rineksa Cipta. 1982. 1998. 2002.K. Jakarta: Rineksa Cipta. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Metodologi Penelitian Pendidikan. Psikologi Pendidikan. 1989. Proses Belajar Mengajar Pendidikan. 2001. Psikologi Belajar dan Mengajar. 19 . Suharsimi. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. 1997. Semarang: Aneka Ilmu. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Strategi Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. 1996. Muhammad.DAFTAR PUSTAKA Ali. Suharsimi. Psikologi UGM. Azhar. Jakarta: Usaha Nasional. Proses Belajar Mengajar. Surabaya: Universitas Press. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Purwanto M. 2002. 2001. Fak. Surabaya: University Press. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Arikunto. Jakarta. Bandung: PT. Nur. Hadi. Daroeso. Jilid 1. Syaiful Bahri. 2002. Yogyakarta: YP. Hasibuan K. Masriyah. Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Arikunto. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jakarta: Rineksa Cipta. Bambang. Hamalik. Margono. Suharsimi. Arikunto. Ngalim. dan Moerdjiono.

Jakarta: PT. Strategi Belajar Mengajar. Menjadi Guru Profesional. 1990. 1995. 19 . Rineksa Cipta. Jakarta: Bina Aksara. Psikologi Pendidikan. Moh. B. 1997. 1991. Rustiyah. Bandung: Jemmars. Uzer.K. Bandung: Remaja Rosdakarya.M. 2001. dkk. N. Sukidin.Univesitas Negeri Surabaya. Toeti. Surakhmad. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PAUPPAI. Universitas Terbuka. Syah. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Surabaya: Insan Cendekia. Suatu Pendekatan Baru. Suryosubroto. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. 1996. Winarno. Metode Pengajaran Nasional. A. 2002. Soekamto. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. 1997. Usman. Muhibbin. Jakarta: Bina Aksara. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sardiman.

Lampiran 1 Nilai ulangan harian Pada Siklus I No.00 68.18 19 . Urut Skor Keterangan T √ √ TT Keterangan: T TT Jumlah Siswa yang tuntas Jumlah Siswa yang tidak tuntas Skor Maksimal Ideal Skor Tercapai Rata-rata Skor Tercapai Prosentase Ketuntasan : : : : : : : : Tuntas Tidak tuntas 31 7 2200 1540 70. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jumlah Skor Keterangan T 100 60 80 60 70 80 70 50 70 40 90 770 √ 7 4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ TT 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Jumlah 80 50 70 70 80 70 50 60 100 70 70 770 √ √ √ 8 3 √ √ √ √ √ √ No.

19 .

Lampiran 3 Nilai ulangan harian Pada Siklus III No. Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jumlah Skor Keterangan T 100 70 90 80 80 90 90 60 90 60 100 910 √ 9 2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ TT 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Jumlah 90 70 90 90 90 80 60 80 100 80 80 910 √ √ √ √ 10 1 No.73 86.36 19 . Urut Skor Keterangan T √ √ √ √ √ √ √ TT Keterangan : T TT Jumlah Siswa yang tuntas Jumlah Siswa yang tidak tuntas Skor Maksimal Ideal Skor Tercapai Rata-rata Skor Tercapai Prosentase Ketuntasan : : : : : : : : Tuntas Tidak tuntas 35 3 2200 1820 82.