P. 1
Stabilitas tanah 3

Stabilitas tanah 3

|Views: 2,775|Likes:
Published by Biringkanae

More info:

Published by: Biringkanae on Nov 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • Tabel 3.2Klasifikasi Tanah Sistem Unified
  • Gambar 3.1Hubungan Antara kadar air dan berat volume tanah
  • Gambar 3.2Rentang ukuran partikel (Craig 1974)
  • Tabel 3.4Komposisi Mineral Quartzdan Fieldspar(Bowles,1986)
  • 3.4.2Struktur Tanah Berpasir
  • Gambar 3.4Struktur sarang lebah (Das 1993)
  • 3.5.1Jenis Aspal
  • 3.5.2Komposisi Aspal
  • 3.6Kuat Geser Pasir
  • Gambar 3.5Susunan benda uji geser langsung (Das, 1995)
  • Tabel 3.5Pengelompokan tipe tanah berdasarkan sudut geser dalam
  • 3.6.1.2Pengujian TriaksialUU
  • 3.7Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb
  • Gambar 3.9Kondisi Tegangan pada Keadaan Runtuh
  • 3.8Stabilisasi Tanah Pasir
  • METODE PENELITIAN
  • 4.1Metode Penelitian
  • 4.2Rencana Penelitian
  • 4.3 Persiapan Penelitian
  • 4.4 Alat-alat dan bahan yangdigunakan
  • 4.5 Jalannya Penelitian
  • 4.5.1Pekerjaan Persiapan
  • 4.5.2Pekerjaan Lapangan
  • 4.5.3Pekerjaan Laboraturium
  • Gambar 4.1.Bagan alir penelitian
  • 5.1 Hasil Penelitian
  • 5.1.1 Pengujian Distribusi Butiran Tanah
  • Tabel 5.1.Hasil Pengujian Analisis Saringan
  • Gambar 5.1Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 1
  • Tabel 5.2Prosentase analisis butiran
  • Tabel 5.3.Hasil Pengujian Analisis Saringan
  • Gambar 5.2Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 2
  • Tabel 5.4Prosentase analisis butiran
  • 5.2Sifat Fisik dan Mekanis Tanah
  • 5.2.1 Hasil Pengujian Kadar AirTanah
  • Tabel 5.5Hasil Pengujian Kadar Air
  • 5.2.2Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah
  • Tabel 5.6Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah
  • 5.2.3Hasil Pengujian Berat Volume Tanah
  • Tabel 5.7Hasil Pengujian Berat Volume Tanah
  • 5.2.4Hasil Pengujian Pemadatan Tanah ( Proktor Standar )
  • Tabel 5.8Hasil uji proktor standarsampel 1
  • Gambar 5.3.Hasil Pengujian Pemadatan Tanah pasir sampel 1
  • Tabel 5.9Hasil uji proktor standar sampel II
  • Gambar 5.4Hasil uji kepadatan tanahpasir sampel II
  • sebanyak 2% dengan Lama Pemeraman 1 hari
  • SC60-70
  • Tabel 5.12Hasil Pengujian Geser Langsung Dicampur dengan Aspal SC60-70
  • 5.3.1NilaiKuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU
  • 5.3.2NilaiKuat Geser Pada Uji Geser Langsung
  • Berdasarkan Uji Geser Langsung
  • 6.1. Klasifikasi Tanah
  • 6.1.1 Klasifikasi tanah Unified
  • Tabel 6.1Klasifikasi Tanah Sistem Unified
  • 6.1.2Sistem Klasifikasi AASHTO
  • Tabel 6.3Klasifikasi tanah Sistem AASHTO
  • 6.2Pengaruh campuran Aspal CairSC60-70dan lama pemeraman
  • 6.3Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU
  • 6.4 NilaiKuat Geser Pada Uji Geser Langsung
  • Prosentase Campuran Aspal SC 60-70
  • 7.1 Kesimpulan
  • 7.2 Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

TUGAS AKHIR

PENGARUH STABILISASI TANAH PASIR DENGAN
MENGGUNAKAN ASPAL SC
60-70
TERHADAP KUAT GESER TANAH
Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Derajat Sarjana Strata Satu ( S1 ) Teknik Sipil
Disusun oleh :
Nama : Dian Purniasari
NIM : 03 511 190
Jurusan : Teknik Sipil
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA\
YOGYAKARTA
2008
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR
PENGARUH STABILISASI TANAH PASIR DENGAN
MENGGUNAKAN ASPAL SC
60-70
TERHADAP KUAT GESER TANAH
Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Derajat Sarjana Strata Satu ( S1 ) Teknik Sipil
Disusun oleh :
Dian Purniasari
03 511 190
Mengetahui, Disetujui Oleh,
Ketua Jurusan Teknik Sipil Dosen Pembimbing

Ir. Faisol AM, MS Ir. Akhmad Marzuko, MT
v
KATA PENGANTAR
Assalamu' alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah wa syukurillah, segala puji dan syukur adalah milikNya
yang telah mencurahkan samudra karunia dan hidayahNya kepada penulis,
sehingga penelitian dengan judul “Stabilisasi Tanah Pasir dengan
Menggunakan SC
60-70
Terhadap KuatGeser Tanah” dilakukan pada periode
September 2007 – Februari tahun 2008, bertempat di Laboratorium Mekanika
Tanah, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta dapat diselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam
dihaturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW.
Tugas Akhir ini adalah merupakan salah satu syarat dalam menempuh
pendidikan sarjana strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mempraktekkan teori yang diperoleh
dibangku kuliah, serta memperluas wawasan untuk bekal memasuki dunia kerja.
Dalam melakukan penelitian dan terselesaikannya tugas akhir ini,
penyusun telah banyak mendapat bantuan, bimbingan dan pengarahan dari
berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Bapak DR. Ir. H. Ruzardi, MS, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan, Universitas Islam Indonesia,
2. Bapak Ir. H. Faisol AM, MS, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia,
3. Bapak Ir. Akhmad Marzuko, MT, selaku Dosen Pembimbing,
4. Bapak Ibnu Sudarmadji, Ir, H, MS, selaku Dosen Penguji,
5. Bapak A Halim Hasmar, Ir, H, MT, selaku Dosen Penguji,
6. Ayah dan Ibu tercinta, terima kasih telah membimbingku untuk mencintai
Allah SWT, mengajarkan nilai – nilai kehidupan dan selalu memotivasi
hidupku untuk selalu semangat dalam hidup.
Tidak ada yang dapat disampaikan selain ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas bantuan yang diberikan, semoga mendapat balasan kebaikan
dari Allah SWT. Amin
Akhirnya besar harapan penulis Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi
penulis secara pribadi dan bagi siapa saja yang membacanya.
Wabillahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, Juni 2008
Penulis
iii
M OTTO
“ Hai or ang – orang yang beri man, mi nt al ah pert ol ongan dari Al l ah dengan
kesabaran dan shal at . Sungguh Al l ah bersama orang – orang yang sabar. “
( QS. Al Baqarah : 156 )
“ I brahi m berkat a, “ saya t i dak put us asa, sebab yang put us asa dari rahmat
t uhan hanya orang – orang yang sesat . “
( QS. Al Hi j r : 56 )
“ K arena sesungguhnya sesudah kesul i t an i t u ada kemudahan. Sesungguhnya
sesudah ada kesul i t an i t u ada kemudahan. “
( QS. Asy Syarh : 5 - 6 )
“ Ti ada K ehi dupan Tanpa I l mu Penget ahuan, Ti ada Penget ahuan
M endat angkan K ehi dupan
Penget ahuan Ti ada M enci pt akan K esombongan, Penget ahuan M anusi a Ti ada
Set i t i k Ai r di L aut an. “
( H. M . I hsanudi n. AS )
ABSTRAKSI
Tanah mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu bidang
pekerjaan konstruksi. Tanah yang dijumpai dilapangan sangat bervariasi dan
kualitasnya tidak selalu memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk suatu
konstruksi bangunan diatasnya. Penelitian ini mencoba menganalisis besarnya
kuat geser tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC
60-70
yang
dilakukan dengan pengujian Triaksial tipe UU dan Geser Langsung.
Pengujian dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah, Fakultas Teknik
Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Sampel tanah
diambil dari pantai Parangtritis, Yogyakarta dengan kondisi tanah terganggu
(disturbed soil). Nilai kuat geser tanah diambil dari Uji Triaksial tipe UU dan Uji
Geser Langsung berdasarkan parameter kuat geser yaitu sudut
dan kohesi (c). Variasi penambahan Aspal SC
60-70
yaitu 2%, 4%, dan 6% dengan
lama pemeraman (curring time) 1 hari, 7 hari dan 14 hari.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan
parameter kuat geser tanah setelah tanah pasir dicampur dengan Aspal SC
60-70
.
Perubahan ini mengakibatkan meningkatnya kuat geser. Pada pengujian
Triaksial tipe UU prosentase peningkatan kuat geser maksimum pada prosentase
campuran 6% dan lama pemeraman 14 hari, yaitu pada campuran 2% dan lama
pemeraman 1, 7, dan 14 hari nilai tegangan gesernya ( berturut-turut adalah
0,874 kg/cm
2
, 1,302 kg/cm
2
, dan 1,473 kg/cm
2
, pada pencampuran 4% dan lama
pemeraman 1, 7, dan 14 hari nilai tegangan gesernya adalah 1,139 kg/cm
2
, 1,486
kg/cm
2
, dan 1,768 kg/cm
2
, pada pencampuran 6%dan lama pemeraman 1, 7, dan
14 hari nilai tegangan gesernya adalah 1,417 kg/cm
2
, 1,824 kg/cm
2
, 2,036 kg/cm
2
,
sedangkan pada pengujian Geser Langsung prosentase peningkatan kuat geser
maksimum pada prosentase campuran 6% dan lama pemeraman 14 hari, yaitu
pada campuran 2% dan lama pemeraman 1, 7, dan 14 hari nilai tegangan
gesernya berturut-turut adalah 0,544 kg/cm
2
, 0,575 kg/cm
2
, dan 0,843 kg/cm
2
,
pada pencampuran 4% dan lama pemeraman 1, 7, dan 14 hari nilai tegangan
gesernya adalah 0,722 kg/cm
2
, 0,883 kg/cm
2
, dan 1,075 kg/cm
2
, pada
pencampuran 6% dan lama pemeraman 1, 7, dan 14 hari nilai tegangan gesernya
adalah 0,899 kg/cm
2
, 1,022 kg/cm
2
, 1,222 kg/cm
2
.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.…………………………………………………………………i
LEMBAR PENGESAHAAN…….………………………………………………….ii
KATA PENGANTAR................................................................................................iii
ABSTRAKSI………………………………………………………………………....v
DAFTAR ISI………………………………………………………………………...vi
DAFTAR TABEL……………………………………………………………..….....ix
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………..….x
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………….....xii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………........................1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………..2
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………...2
1.4 Batasan Penelitian……………………………………………………..3
1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………………….3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………...4
2.1 Stabilisasi Tanah Pasir………………………………………………...4
2.2 Aspal Cair……………………………………………………………..6
BAB III LANDASAN TEORI...........................................................................8
3.1 Tanah………………………………………………………………….8
3.2 Klasifikasi Tanah……………………………………………………...8
3.2.1 Sistem Klasifikasi AASHTO………………………………….9
3.2.2 Sistem Klasifikasi Unified…………………………………...10
3.3 Pemadatan Tanah (Proktor Standart)………………………………...12
3.4 Tanah Pasir…………………………………………………………..13
3.4.1 Kandungan Pasir dan Mineral yang ada di dalamnya……….13
3.4.2 Struktur Tanah Berpasir……………………………………...15
3.5 Aspal…………………………………………………………………16
3.5.1 Jenis Aspal…………………………………………………...16
3.5.2 Komposisi Aspal……………………………………………..17
3.6 Kuat Geser Pasir……………………………...……………………...18
3.6.1 Pengukuran Kekuatan Geser…………………………………18
3.6.1.1 Percobaan Geser Langsung…………………….…..18
3.6.1.2 Pengujian Triaksial……………………..……….....22
3.7 Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb………………………………...23
3.8 Stabilisasi Tanah Pasir……………………………………………….25
BAB IV METODE PENELITIAN..................................................................27
4.1 Metode Penelitian……………………………………………………27
4.2 Rencana Penelitian…………………………………………………...27
4.3 Persiapan Penelitian………………………………………………….27
4.4 Alat-alat dan bahan yang digunakan…………………………………27
4.5 Jalannya Penelitian…………………………………….…………….28
4.5.1 Pekerjaan Persiapan…………………………………….……28
4.5.2 Pekerjaan Lapangan…………………………….……………28
4.5.3 Pekerjaan Laboraturium……………………………………...28
4.6 Bagan Alir……………………………………………………………29
BAB V HASIL PENELITIAN…...................................................................30
5.1 Hasil Penelitian………………………………………………………30
5.1.1 Pengujian Distribusi Butiran Tanah………………………….30
5.2 Sifat Fisik dan Mekanis Tanah Asli…… ……………………………35
5.2.1 Hasil Pengujian Kadar air Tanah…………………………….35
5.2.2 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah………….……………….36
5.2.3 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah……………………….38
5.2.4 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah ( Proktor Standart ) …….38
5.2.5 Hasil Pengujian Triaksial Tipe UU………………………......42
5.2.6 Hasil Pengujian Geser Langsung…………………………….45
5.3 Nilai Kuat Geser Tanah……………………………………………...47
5.3.1 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU………….……48
5.3.2 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung………...……….49
BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN…………………………..50
6.1 Klasifikasi Tanah…………………………………………………….50
6.1.1 Klasifikasi Tanah Unified………………………………..…..50
6.1.2 Sistem Klasifikasi AASHTO………………………………...53
6.2 Pengaruh Campuran Aspal SC
60-70
dan Lama Pemeraman…………..55
6.3 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU…………………….…58
6.4 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung…………………………59
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………..61
7.1 Kesimpulan…………………………………………………………..61
7.2 Saran…………………………………………………………………63
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...……..64
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Hubungan Antara Kadar Air dan Berat Volume Tanah………….13
Gambar 3.2 Rentang Ukuran Pertikel ( Craig, 1974 )………………………...14
Gambar 3.3 Struktur butir tunggal…………………………………..………...15
Gambar 3.4 Struktur sarang lebah ( Das, 1993 )…………………..…………..15
Gambar 3.5 Susunan benda Uji Geser Langsung ( Das, 1995 )……………….19
Gambar 3.6 Diagram Tegangan dengan Perubahan Tinggi Benda Uji ( Das,
1995 )…………………………………………………………….20
Gambar 3.7 Grafik Hubungan Tegangan Geser ( dengan Tegangan normal
Langsung…………………………………...21
Gambar 3.8 Alat Pengujian Triaksial UU…………………………..……..…..23
Gambar 3.9 Kondisi Tegangan pada Keadaan Runtuh………………………..25
Gambar 4.1 Bagan Alir Penelitian…………………………………………….29
Gambar 5.1 Grafik Hasil Uji Analisis Distribusi Butiran Sampel 1…………..32
Gambar 5.2 Grafik Hasil Uji Analisis Distribusi Butiran Sampel 2…………..34
Gambar 5.3 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah Sampel 1…………………….40
Gambar 5.4 Hasil Uji Kepadatan Tanah Sampel 2……………………………41
Gambar 5.5 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Triaxial Tanah
Campuran dengan Prosentase Campuran 2% dan Lama
Pemeraman 1 hari...........................................................................42
Gambar 5.6 Lingkaran Mohr Uji Triaksial Tanah Campuran Aspal SC
60-70
sebanyak 2% dengan Lama Pemeraman 1 hari…………….…….43
Gambar 5.7 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Geser Langsung
Tanah asli………………………………………………………...45
Gambar 5.8 Hasil Uji Geser Langsung Pada Tanah Pasir
asli………………………………………………………………..46
Gambar 6.1 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman
pada prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada uji
Triaksial UU…………….……………………………………......55
xi
Gambar 6.2 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada
prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada uji Triaksial
UU ……………………………………………………………….56
Gambar 6.3 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman
pada prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada uji
Geser Langsung. ………………………………………………....57
Gambar 6.4 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada
prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada uji Geser
Langsung…………………………………………………………58
Gambar 6.5 Hubungan antara Tegangan Geser dengan prosentase campuran
Aspal SC
60-70
pada pemeraman yang berbeda pada uji Triaksial
UU…………………………………………………………..…...59
Gambar 6.6 Hubungan antara Tegangan Geser dengan prosentase campuran
Aspal SC
60-70
pada pemeraman yang berbeda pada uji Geser
Langsung…………………………………………………………60
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Klasifikasi AASHTO .……………………………………………9
Tabel 3.2 Klasifikasi Tanah SistemUnified…………………………………10
Tabel 3.3 Lanjutan Klasifikasi Tanah Unified…………………………...…11
Tabel 3.4 Komposisi Mineral Quartz dan Fieldspar ( Bowles, 1986 )……..14
Tabel 3.6 Pengelompokan Tipe Tanah Berdasarkan Sudut Geser Dalam….22
Tabel 5.1 Hasil Pengujian Analisis Saringan 1……………………………..31
Tabel 5.2 Prosentase Analisa Butiran………………………………………32
Tabel 5.3 Hasil Pengujian Analisis Saringan 2……………………………..33
Tabel 5.4 Prosentase Analisis Butiran………………………………………35
Tabel 5.5 Hasil Pengujian Kadar Air……………………………………….36
Tabel 5.6 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah……………………………….37
Tabel 5.7 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah……………………………38
Tabel 5.8 Hasil Uji Proktor Standar Sampel 1……………….……………..39
Tabel 5.9 Hasil Uji Proktor Standar Sanpel 2……………………….……...41
Tabel 5.10 Hasil Rata – rata Uji Proktor Standar Sampel 1 dan 2………..….41
Tabel 5.11 Hasil Pengujian Triaksial Tanah Pasir dicampur dengan
SC
60-70
…………………………………………………………….44
Tabel 5.12 Hasil Pengujian Geser Langsung dicampur Aspal SC
60-70
……….46
Tabel 5.13 Nilai Kuat Geser Tanah Pasir dengan campuran Aspal Cair
SC
60-70
Berdasarkan Uji Triaksial Tipe UU…………………..….48
Tabel 5.14 Nilai Kuat Geser Tanah Pasir dengan Campuran Aspal Cair
SC
60-70
Berdasarkan Uji Geser Langsung………………………...49
Tabel 6.1 Klasifikasi Tanah Sistem Unified………………………….……..51
Tabel 6.2 Lanjutan Tabel Klasifikasi Tanah Unified……………………….52
Tabel 6.3 Klasifikasi Tanah Sistem AASHTO……………………………..54
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pernyataan Bebas Plagiatisme
Lampiran 2 Kartu Peserta Tugas Akhir
Lampiran 3 Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanis Tanah
Lampiran 4 Hasil Uji Triaksial
Lampiran 5 Hasil Uji Geser Langsung
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada suatu lokasi konstruksi, tanah mempunyai peranan yang sangat
penting karena tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan atau bahan
konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul, jalan raya, dsb. Kondisi tanah
disetiap tempat sangatlah berbeda karena tanah secara alamiah merupakan
material yang rumit dan sangat bervariasi. Apabila suatu tanah yang terdapat
dilapangan bersifat sangat lepas atau sangat lunak sehingga tidak sesuai untuk
suatu pembangunan maka tanah tersebut sebaiknya distabilisasi.
Tanah pasir atau tanah berbutir kasar merupakan jenis tanah non kohesif
(cohesionless soil), mempunyai sifat antar butiran lepas (loose), hal ini
ditunjukkan dengan butiran tanah yang akan terpisah-pisah apabila dikeringkan
dan hanya akan melekat apabila dalam keadaan basah yang disebabkan oleh gaya
tarik permukaan. Tanah non kohesif tidak mempunyai garis batas antara keadaan
plastis dan tidak plastis, karena jenis tanah ini tidak plastis untuk semua nilai
kadar air. Tetapi dalam beberapa kondis tertentu, tanah non kohesif dengan kadar
air yang cukup tinggi dapat bersifat sebagai suatu cairan kental (Bowless, 1986).
Parameter kekuatan geser tanah ini terletak pada nilai kohesi (c) dan sudut gesek
dalam ( ). Ukuran butir yang seragam dan nilai kohesi nol menyebabkan
tingginya kuat geser pada tanah ini.
Tanah pasir Parangtristis Yogyakarta termasuk jenis pasir dengan gradasi
seragam hal ini merupakan sifat yang sangat tidak menguntungkan apabila pada
kondisi lereng sehingga perlu adanya stabilisasi pada tanah ini .
Stabilisasi tanah dapat dilakukan secara Mekanis, Kimiawi dan Elektris.
Secara Mekanis dilakukan dengan tujuan untuk menambah kekuatan dan daya
dukung tanah dengan mengatur gradasi butir tanah tersebut, secara Kimiawi
dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimiawi sebagai stabilisator yang
2
dapat mengubah, mengurangi sifat-sifat tanah yang kurang menguntungkan
didalamnya mencapai kestabilan yang biasanya, secara Elektris yaitu dengan
pemanasan atau menggunakan listrik.
Stabilisasi pada hal ini dengan cara stabilisasi kimia yaitu dengan
mencampurkan pasir dengan bahan adiktif SC
60-70
untuk diteliti kuat gesernya.
Berdasarkan pemikiran tersebut diatas, maka dirasa perlu dilakukan
penelitian, sedangkan penelitian yang akan dilakukan adalah menggunakan tanah
pasir yang distabilisasi dengan Aspal cair jenis SC
60-70
terhadap kuat geser tanah.
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas dapat diambil Rumusan Masalah
sebagai berikut.
1. Bagaimana perubahan parameter kuat geser sampel pasir setelah dicampur
dengan Aspal Cair SC
60-70
?
2. Bagaimana pengaruh waktu pemeraman terhadap perubahan parameter
kuat geser pasir setelah dicampur Aspal Cair SC
60-70
?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui jenis tanah berdasarkan klasifikasi AASHTO dan Unified
pada tanah Pasir Parangtritis, Bantul, Yogyakarta,
2. Mengetahui sifat fisik dan mekanis tanah,
3. Mengetahui perubahan parameter kohesi ( c ), sudut geser dalam ( ) tanah
pasir setelah dicampur dengan Aspal SC
60-70
dengan prosentase campuran
sebesar 2%, 4%, 6%, dan lama pemeraman 1 hari, 7 hari, dan 14 hari.
4. Mengetahui perubahan tegangan geser pada pengujian Triaxial Tipe UU
dan Geser Langsung tanah pasir yang dicampur dengan Aspal SC
60-70
dengan prosentase campuran sebesar 2%, 4%, 6% dan lama pemeraman 1
hari, 7 hari, 14 hari.
3
1.4 Batasan Penelitian
Untuk menghasilkan pemahaman dalam masalah ini maka diperlukan
adanya batasan-batasan masalah.
1. Tanah pasir yang berasal dari Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta
2. Aspal jenis SC
60-70
dibuat dahulu dengan pencampuran antara AC( Asphalt
Cement ) + solar pada suhu 60
0
C. Prosentase pencampuran Aspal SC
60-70
adalah 2%, 4%, dan 6%.
3. Pemeraman dilakukan selama 1 hari, 7 hari, dan 14 hari.
4. Pengujian yang dilakukan adalah Uji kadar air, Uji berat volume tanah, Uji
berat jenis tanah, Uji Analisa Saringan, Uji Proktor Standart, Uji Geser
Langsung, dan Uji Triaksial Tipe UU.
5. Pengujian dilakukan di Laboraturium Mekanika Tanah Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini nantinya dapat melengkapi pengetahuan yang ada
tentang penggunaan Aspal SC
60-70
sebagai bahan stabilisasi pasir sehingga dapat
diaplikasikan kedalam kasus-kasus geoteknik yang ada di lapangan.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stabilisasi Tanah Pasir Pantai
Menurut Zetty H, 2005 dengan penelitian tugas akhir dengan judul
pengaruh pasir pantai pada campuran lapis antara beton aspal dengan pendekatan
kepadatan mutlak, menerangkan bahwa kekuatan dan stabilisasi beton aspal
diperoleh sebagian besar dari interlocking agregatnya. Untuk mengatasi
kelangkaan material bahan perkerasan, penggunaan pasir pantai merupakan
alternatif, karena secara kuantitas ketersediaannya cukup banyak, namun masih
harus diteliti kualitasnya dalam campuran.
Pada penelitian ini menguraikan hasil penelitian Laboraturium terhadap
sifat fisik, mekanis dari batu pecah dan pasir pantai hitam yang dicuci bersih dan
susunan mineral kimianya, mengkaji karakteristik Marshal, kinerja campuran
terhadap rendaman, kuat tarik tidak langsung dan deformasi permanen dengan
menggunakan pendekatan kepadatan mutlak untuk lapis antara beton aspal. Batu
pecah dan pasir pantai yang digunakan berasal dari Propinsi Bengkulu. Variasi
campuran adalah tipe 1 dengan seluruh fraksi adalah batu pecah, Tipe 2 dengan
kandungan pasir pantai pada fraksi tertahan saringan no. 50 dan fraksi tertahan
saringan no.200.
Kadar Aspal Optimum tidak terlalu dipengaruhi oleh naiknya kandungan
pasir pantai dalam campuran. (KAO-1 = 5,3%, KAO-2 = 5,2% dan KAO-3 =
5,1%). Stabilisasi terbaik untuk tipe 2 = 974 kg, sedangkan stabilitas terendah
untuk tipe 1 = 859 kg dan tipe 3 = 930 kg. selisih VIM Marshal dengan refusal
untuk Tipe 1 dan 2 = 1,9%dan Tipe 3 = 1,2%.
Nilai Indeks kekuatan sisa (IKS) menunjukkan bahwa Tipe 1 lebih baik
dibandingkan Tipe 2 dan 3 yaitu 85,66% dan 80,33%. Kuat tarik tidak langsung
untuk tipe 1, tipe 2 dan tipe 3 pada temperatur 25
0
C adalah 0.16 N/m
3
, 0.16 N/m
3
.
Sedangkan pada temperatur 60
0
C adalah 0,0178 N/m
3
, 0,018 N/m
3
dan 0,016
5
N/m
3
. Nilai Stabilitas dinamis (DS) pada temperature 45
0
C, Tipe 1 menunjukkan
kinerja terbaik (DS-1 = 7000 lintasan/mm , DS-2 = 5727 lintasan/mm dan DS-3 =
3000 lintasan /mm), demikian juga pada temperature 60
0
C (DS-1 = 1500
lintasan/mm, DS-2 = 1313 lintasan/mm dan DS-3 = 1145 lintasan/mm).
Secara keseluruhan pemakaian pasir pantai dalam campuran lapis antara
beton aspal masih menunjukkan kinerja yang baik.
Menurut Desiana. V, 1997, dengan penelitian tesisnya dengan judul
stabilitas pasir laut Tanjung Priok dengan semen cleanset, menerangkan bahwa
pasir yang menjadi obyek penelitian ini adalah pasir laut Tanjung Priok Daya
dukungnya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat penumpukan peti
kemas di proyek Terminal Peti Kemas III Kota Tanjung Priok Gradasinya
seragam, merupakan sifat yang sangat tidak menguntungkan, karenanya perlu
distabilisasi. Metode stabilisasi untuk tanah berbutir yang cocok adalah antara lain
dengan sementasi. Dalam penelitian ini pasir tersebut distabilisasi dengan clean
set merupakan produk khusus untuk stabilisasi tanah yang mengatasi kekurangan
semen Portland disamping itui dicoba stabilisasi dengan semen Portland campur
additif baru yaitu glorit.
Metode pelaksanaan stabilitas seperti metode yang disarankan dalam SNI
03-3438-1994, pasir laut dicampur cleanset/semen Portland tambah glorit di mana
air yang digunakan untuk pemadatan adalah air laut, kemudian dilakukan
pemeraman untuk pengerasan semen. Kadar kedua jenis bahan pencampur
tersebut didasarkan atas prosentase berat kering pasir, yaitu masing-masing 4%,
6%, 8%, 10%. Sedangkan variasi masa peram masing-masing 3, 7, 14, 28 hari.
Peralatan pengukur sifat mekanis yang digunakan pada pasir laut campur cleanset
untuk mengamati kecendurungan kohesi dan sudut geser dalamnya. Triaksial CD
dilakukan terhadap campuran pasir laut dengan 8% clean set untuk melihat
kekuatan sisa setelah mengalami pembebanan sampai runtuh. Dari hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa kenaikan prosentase clean set maupun masa peram akan
meningkatkan nilai CBRnya. Ini sejalan dengan peningkatan kohesi maupun sudut
gesernya. Pada CBR setara dengan kenaikan prosentase semen Portland campur
6
grolit. Tetapi untuk respon terhadap masa peram dibutuhkan pemeraman lebih
lama, sebab pada hasil sementara menunjukkan pada masa peram 7 hari nilai
CBRnya lebih rendah dari pada 3 hari. Kemudian pada 14 hari mulai
menunjukkan peningkatan kembali. Jika ditinjau dari bentuk grafiknya ada
kemungkinan dalam jangka panjang stabilisasi pasir laut dengan semen Portland
dan grolit tersebut akan menunjukkan hasil lebih baik.
2.2 Aspal Cair
Menurut Fahmi Eti dan Hisfarini, 2003 dengan penelitian tugas akhir
dengan judul stabilisasi tanah lempung dengan menggunakan aspal cair sebagai
subgrade untuk perencanaan jalan kelas I, menerangkan bahwa jenis tanah yang
akan distabilisasi dengan aspal cair SC 70, menurut klasifikasi tekstur oleh
Departemen Amerika Serikat termasuk jenis tanah Lempung Lanau Berkerikil.
Menurut klasifikasi tanah dengan system AASHTO termasuk jenis Lempung (A-
7-6) yang buruk untuk subgrade jalan raya. Klasifikasi tanah dengan system
AASHTO, akibat dari penambahan variasi kadar aspal cair SC 70 menunjukkan
peningkatan mutu tanah dari klasifikasi tanah jelek (A-7-6), menjadi tanah baik
(A-2-5). Pada kadar variasi campuran kadar aspal SC 70 4% menunjukkan
penungkatan yang maksimal.
Pada variasi campuran aspal cair SC 70 6% nilai CBR pemeraman 3 hari
didapat nilai CBR maksimumdengan nilai CBR sebesar 20.56%, sedangkan pada
tanah variasi campuran aspal cair SC 70 0% didapat nilai CBR sebesar 8.68%, hal
ini menunjukkan terjadi peningkatan niali CBR ± 2 (dua) kali lebih besar dari nilai
CBR tanah tanpa campuran aspal cair SC 70, hal ini dikarenakan terjadinya proses
pengikatan antara lempung dengan aspal cair SC 70.
Pada pengujian kepadatan, kadar air optimum semakin meningkat seiring
meningkatnya kadar aspal yang diberikan. Kadar air optimum yang tertinggi
sebesar 16.92% dicapai pada kadar aspal SC 70 sebesar 8%. Hal ini disebabkan
oleh karena aspal cair SC 70 yang sudah berfungsi sebagai pelumas.
Pada pengujian tekan bebas dari tanah lempung dengan campuran aspal.
Nilai kuat tekan bebas berangsus-angsur bertambah seiring dengan penambahan
7
kadar aspal cair SC 70. Penambahan nilai ini tercapai puncaknya pada kadar aspal
sebesar 4% (qu = 1.8476 Kg/cm
2
), setelah itu dengan penambahan kadar aspal
nilai tekan bebasnya mengecil dari nilai qu = 1.8476 Kg/cm
2
pada kadar aspal 4%
menjadi qu = 1.6953 Kg/cm
2
pada kadar aspal 6%.
Dari hasil stabilisasi tanah lempung dengan aspal cair SC 70 ini didapat
kondisi efisien dari harga perkerasan yaitu pada penambahan kadar aspal sebesar
2% dengan biaya total Rp. 50.755,875/m
3
.
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan daya dukung tanah, sehingga
tanah memenuhi sebagai sub grade pada jalan kelas I. dengan penelitian ini bahwa
aspal cair SC 70 sebagai stabilisator tanah lempung dapat memenuhi spesifikasi
untuk memperbaiki kualitas tanah.
BAB III
LANDASAN TEORI
3.1. Tanah
Dalam pengertian teknik secara umum, Braja M. Das (1988)
mendefinisikan tanah sebagai material yang terdiri agregat ( butiran ) mineral-
mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan
dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai
dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-
partikel padat tersebut.
Menurut Craig (1997) yang dimaksud dengan tanah adalah akumulasi
partikel mineral yang tidak mempunyai ikatan antara atau lemah ikatan antara
partikel yang terbentuk karena pelapukan batuan. Yang memperlemah ikatan
tersebut adalah pengaruh karbonat atau oksida atau pengaruh kandungan organik.
Menurut Karl Tarzaghi (1987) tanah adalah kumpulan (agregat) butiran
mineral alami yang biasa dipisahkan oleh suatu cara mekanik bila agregat
termasuk diaduk dalam air.
Peranan tanah sangat penting dalam perencanaan atau pelaksanaan
bangunan, dikarenakan tanah tersebut berfungsi untuk mendukung beban yang
diatasnya. Oleh karena itu tanah yang akan dipergunakan sebagai pendukung
konstruksi haruslah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan sebagai
tanah dasar (subgrade).
3.2. Klasifikasi Tanah
Sistem Klasifikasi Tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis
tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok-
kelompok dan subkelompok-subkelompok berdasarkan pemakaiannya. Terdapat
dua sistem klasifikasi yang sering digunakan, yaitu sistem AASHTO (American
Association of Highway and Transportation Official ) dan sistem Unified.
9
3.2.1 Sistem Klasifikasi AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO (American Association of Highway and
Transportation Official ) dikembangkan pada tahun 1929 sebagai Public Road
Administration Classification System. Sistem ini sudah mengalami beberapa
perbaikan, sedangkan yang berlaku saat ini adalah ASTM Standart No. D-
3282,AASHTO metode M145 (Sumber : Braja M Das, 1995).
Tabel 3.1 Klasifikasi AASHTO untuk Lapisan Tanah Dasar Jalan Raya ( Braja M
Das, 1995)
Klasifikasi
Umum
material berbutir
(<35% lolos saringan no.200)
tanah lanau-lempung
(>35% lolos saringan no.200)
klasifikasi
kelompok
A-1
A-3
A-2
A-4 A-5 A-6
A-7
A-1-a A-1-b A-2-4 A-2-5 A-2-6 A-2-7
A-7-5
A-7-6
Analisis ayakan
(% lolos)
No. 10
No. 40
No. 200
50
maks
30
maks
15
maks
--------
50
maks
25
maks
-------
51
maks
10
maks
--------
--------
35
maks
--------
--------
35
maks
--------
--------
35
maks
--------
--------
35
maks
--------
--------
36 min
--------
--------
36 min
--------
--------
36 min
--------
--------
36 min
Sifat Fraksi
yang lewat :
# No.40 :
Batas Cair
Indeks
Plastisitas
--------
6 maks
-------
N.P
40
maks
10
maks
41 min
10
maks
40
maks
11 min
41 min
11 min
40
maks
10
maks
40 min
10
maks
40
maks
11 min
41 min
11 min
Jenis Umum
Fragmen batuan
Kerikil dan pasir
Pasir
halus
Kerikil atau pasir lanauan atau
lempungan
Tanah lanauan
Tamah
lempungan
Tingkat umum
sebagai Tanah
dasar
Sangat baik sampai baik Cukup baik sampai buruk
Catatan : Kelompok A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergantung pada batas
plastisnya (PL)
Untuk PL>30 klasifikasinya A-7-5
Untuk PL<30 klasifikasinya A-7-6
np = non plastis
GI = (F-38)((0.2+0.005(LL-40))+0.01(f-15)(PI-10)
Dengan :
GI = Indeks kelompok
LL = Batas cair
F = Persen material lolos saringan no.200
10
PI = Indeks plastisitas
3.2.2 Sistem Klasifikasi Unified
Sistem Unified membagi tanah dalam dua kelompok besar yaitu tanah
berbutir kasar dan tanah berbutir halus.
a) Tanah berbutir kasar (coarse grained-soil), yaitu tanah kerikil dan pasir
yang kurang dari 50% lolos saringan nomer 200. Simbol kelompok ini
adalah G (untuk tanah berkerikil) dan S (untuk tanah berpasir). Selain itu
juga dinyatakan gradasi tanah dengan symbol W (untuk tanah bergradasi
baik) dan P (untuk tanah bergradasi buruk).
b) Tanah berbutir halus (fine-grained-soil), yaitu tanah yang lebih dari 50%
lolos saringan nomer 200. symbol kelompok ini adalah C (untuk lempung
anorganik, clay dan O (untuk lanau organik). Plastisitas dinyatakan dengan
L (plastisitas rendah) dan H (plastisitas tinggi).
Tabel 3.2 Klasifikasi Tanah Sistem Unified
Divisi Utama
Simbol
Kelompok
Nama Jenis Nama jenis
t
a
n
a
h

b
e
r
b
u
t
i
r

k
a
s
a
r
L
e
b
i
h

d
a
r
i

5
0
%

b
u
t
i
r
a
n

t
e
r
t
a
h
a
n

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

(
0
,
0
7
5

m
m
)
k
e
r
i
k
i
l

5
0
%

a
t
a
u

l
e
b
i
h

d
a
r
i

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r

t
e
r
t
a
h
a
n

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

4

(
4
,
7
5

m
m
)
Kerikil bersih
(sedikit atau tak
ada butiran
halus)
GW
Kerikil Gradasi baik dan
campuran pasir kerikil,
sedikit atau tidak
mengandung butiran
halus
k
l
a
s
i
f
i
k
a
s
i

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
o
s
e
n
t
a
s
e

b
u
t
i
r
a
n

h
a
l
u
s
,

k
u
r
a
n
g

d
a
r
i

5
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

:

G
W
,

G
P
,

S
W
,

S
P
,

l
e
b
i
h

d
a
r
i

1
2
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

:
G
M
,

G
C
,

S
M
,

S
C
,

5
%
-
1
2
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0
.

b
a
t
a
s
a
n

k
l
a
s
i
f
i
k
a
s
i

y
a
n
g

m
e
m
p
u
n
y
a
i

s
i
m
b
o
l

d
o
b
e
l

antara 1 dan 3
GP
Kerikil Gradasi buruk
dan campuran pasir
kerikil, atau tidak
mengandung butiran
halus
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk
GW
Kerikil banyak
kandungan
butiran halus
GM
Kerikil berlanau,
campuran kerikil pasir-
lempung
Batas-batas
Atterberg
dibawah garis A
atau PI < 4
bila batas
Atterberg berada
didaerah arsir dari
diagram
plastisitas, maka
dipakai dobel
simbol
GC
Kerikil berlempung,
campuran kerikil pasir-
lempung
batas-batas
Atterberg di atas
garis A atau PI >
7
p
a
s
i
r

l
e
b
i
h

d
a
r
i

5
0
%

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
0
.

4

(
4
,
7
5

m
m
)
Pasir bersih (
hanya pasir )
SW
Pasir Gradasi baik,
pasir kerikil, sedikit atau
tidak mengandung
butiran halus

antara 1 dan 3
SP
Pasir Gradasi buruk,
pasir kerikil, sedikit atau
tidak mengandung
butiran halus
Tidak memenuhi kedua kriteria untuk
SW
Pasir dengan
butiran halus
SM
pasir berlanau,
campuran pasir lanau
Batas-batas
Atterberg
dibawah garis A
atau PI < 4
bila batas
Atterberg berada
didaerah arsir dari
diagram
plastisitas, maka
dipakai dobel
simbol
SC
pasir berlempung,
campuran pasir-
lempung
batas-batas
Atterberg di atas
garis A atau PI >
7
60 20
2
(D20)
Cc , 4
10
60
xD D D
D
Cu = > =
60 20
2
(D20)
Cc , 6
10
60
xD D D
D
Cu = > =
11
Lanjutan Tabel 3.3
t
a
n
a
h

b
e
r
b
u
t
i
r

h
a
l
u
s

>
5
0
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

(
0
,
0
7
5

m
m
)
Lanau dan
lempung
batas cair
50% atau
kurang
ML
lanau tak organik dan pasir
sangat halus, serbuk batuan
atau pasir halus berlanau
atau berlempung
CL
Lempung tak organik dengan
plastisitas rendah sampai
sedang, lempung berkerikil,
lempung berpasir, lempung
berlanau, lempung kurus
('lean clays)
Lanau dan
lempung
batas cair >
50%
OL
lanau organik dan lempung
berlanau organik dengan
plastisitas rendah
MH
lanau tak organik atau pasir
halus diatomae, lanau
elasris.
CH
lempung tak organik dengan
plastisitas tinggi, lempung
gemuk ('fatclays')
OH
lempung organik dengan
plastisitas sedang sampai
tinggi
Tanah dengan kadar
organik tinggi
Pt
Gambut ("peat") dan tanah
lain dengan kandungan
organik tinggi
manual untuk identifikasi secara visual
dapat dilihat di ASTM Designation D-2488
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
10
20
30
40
50
7
4
CL-ML
Diagram Plastisitas :
Untuk mengklasifikasi kadar butiran
halus yang terkandung dalam tanah
berbutir halus dan tanah berbutir kasar.
batas Atterberg yang termasuk
dalam daerah yang diarsir berarti
batasan klasifikasinya menggunakan
dua simbol
CL
ML
atau
OL
CH
MH atau OH
Batas Cair LL (%)
Garis A : PI =0,73 (LL - 20)
I
n
d
e
k
s

P
l
a
s
t
i
s
i
t
a
s

P
I

(
%
)
G
a
r
is
A
12
3.3 Pemadatan Tanah (Proktor Standar)
Pemadatan (compaction) adalah suatu proses bertambahnya berat volume
kering tanah akibat memadatnya partikel yang diikuti oleh pengurangan volume
udara dengan air tetap tidak berubah.
Tujuan pemadatan tanah adalah memadatkan tanah pada kadar air
optimum dan memperbaiki karakteristik mekanisme tanah yanag akan
memberikan keuntungan yaitu :
a) Memperkecil pengaruh air terhadap tanah.
b) Bertambahnya kekuatan tanah.
c) Memperkecil pemampatan dan daya rembes airnya.
d) Mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air.
Kegunaan pengujian ini untuk mencari nilai kepadatan maksimum
(Maximum Dry Density/MDD) dan kadar air optimum (Optimum Moisture
Content/OMC) dari suatu sampel tanah.
Derajat kepadatan tanah diukur dari berat volume keringnya. Hubungan
berat volu
d
) dan kadar air (w), dinyatakan dalam persamaan :
w
b
d
+
=
1
¸
¸ …………………………………………………………….3.1)
Berat volume tanah kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah,
kadar air, dan usaha yang diberikan oleh alat pemadatnya. Karakteristik kepadatan
tanah dapat dinilai dari pengujian standar Laboraturium yang disebut dengan
Pengujian Proktor.
Prinsip pengujian yaitu alat pemadatan bergantung pada jenis tanah, kadar
air dan usaha yang diberikan oleh alat pemadatnya. Karakteristik kepadatan tanah
dapat dinilai dari pengujian standar Laboraturium yang disebut dengan Pengujian
Proktor.
Prinsip pengujian yaitu alat pemadat berupa silinder mould yang
mempunyai volume 9.44 x 10
-4
m
3
. Tanah didalam mould dipadatkan dengan
penumbuk yang beratnya 2,5 kg dengan tinggi jatuh 30,5 cm. Tanah dipadatkan
dalam 3 lapisan dengan tiap lapisan ditumbuk 25 kali pukulan. Di dalam
13
“pengujian berat”, mould yang digunakan masih tetap sama, hanya berat
penumbuk diganti dengan 4,5 kg dengan tinggi jatuh penumbuk 40,8 kg.
Dalam pengujian ini, percobaan diulang paling sedikit 5 kali dengan kadar
air tiap percobaan divariasikan. Selanjutnya, digambarkan.

d (maks)


w
opt
Kadar air (w)
Gambar 3.1 Hubungan Antara kadar air dan berat volume tanah.
Kurva yang dihasilkan dari pengujian memperlihatkan nilai kadar air yang
terbaik untuk mencapai berat volume kering terbesar atau kepadatan maksimum.
Kadar air pada keadaan ini disebut kadar air optimum.
Pada nilai kadar air yang rendah, untuk kebanyakan tanah, tanah
cenderung bersifat kaku dan sulit dipadatkan. Setelah kadar air ditambah, tanah
menjadi lebih lunak. Pada kadar air yang tinggi, berat volume kering berkurang.
Bila seluruh udara di dalam tanah dapat dipaksa keluar pada waktu pemadatan,
tanah akan berada dalam kedudukan jenuh dan nilau berat volume kering akan
menjadi maksimum.
3.4 Tanah Pasir
3.4.1 Pasir dan Mineral yang Terkandung di Dalamnya
Pasir (sand) adalah partikel batuan yang berukuran 0.074 mm sampai
dengan 5 mm. berkisar dari kasar (3mm sampai 5mm) dan halus (<1mm). Jenis
tanah yang termasuk tipe pasir atau kerikil (disebut juga tanah berbutir kasar) jika,
setelah kerakal atau berangkalnya disingkirkan, lebih dari 65% material tersebut
berukuran pasir dan kerikil (Craig 1974). Secara visual, tanah pasir dapat
ditentukan melalui teksturnya, dan dengan berdasarkan penampilan tekstur ini
14
pula tanah pasir lebih mudah untuk diklasifikasikan. Pasir dan kerikil dapat dibagi
lagi menjadi fraksi-fraksi kasar, medium, dan halus, seperti didefinisikan dalam
Gambar 3.2. Pasir dan kerikil dapat dideskripsikan sebagai yang bergradasi baik,
bergradasi buruk, bergradasi seragam atau bergradasi timpang (gap graded).
Gambar 3.2 Rentang ukuran partikel (Craig 1974)
Pasir merupakan jenis tanah non kohesif (cohesionless soil). tanah non
kohesif mempunyai sifat antar butiran lepas (loose), hal ini ditunjukkan dengan
butiran tanah yang akan terpisah-pisah apabila dikeringkan dan hanya akan
melekat apabila dalam keadaan yang disebabkan oleh gaya tarik permukaan.
Tanah non kohesif tidak mempunyai garis batas antara keadaan plastis dan tidak
plastis, karena jenis tanah ini tidak plastis untuk semua nilai kadar air. Tetapi
dalam beberapa kondisi tertentu, tanah non kohesif dengan kadar air yang cukup
tinggi dapat bersifat sebagai suatu cairan kental ( Bowles 1986).
Berdasarkan mineral yang terkandung di dalamnya, pasir terdiri dari
sebagian besar mineral quartz (kwarsa) dan fieldspar. Komposisi mineral quartz
dan fieldspar (Bowles, 1986) ditunjukkan dalam Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Komposisi Mineral Quartz dan Fieldspar (Bowles,1986).
Mineral Komposisi
Quartz (kuarsa) SiO
2
(Silikon dioksida)
Fieldspar:
Ortoklas
Plagioklas
K(A1)Si
3
O
8
Na(A1)Si
3
O
8
15
3.4.2 Struktur Tanah Berpasir
Struktur tanah pasir pada umumnya dapat dibagi 2 kategori pokok yaitu
struktur butir tunggal (single frained) dan struktur sarang lebah (honeycombed).
Pada struktur butir tunggal, butiran tanah berbeda dalam keadaan relatif
stabil dan tiap-tiap butir bersentuhan satu terhadap yang lain. Bentuk dan
pembagian ukuran butiran tanah serta kedudukannya mempengaruhi sifat
kepadatan tanah. Variasi angka pori yang disebabkan oleh kedudukan butiran.
Untuk suatu susunan dalam keadaan lepas, angka pori adalah 0,9. tetapi angka
pori berkurang menjadi 0,35 apabila butiran dipadatkan sedemikian rupa,
sehingga susunan menjadi sangat padat (Das,1993).

Gambar 3.3 Struktur butir tunggal ( a ) Lepas, ( b ) Padat (Das,1993)
Pada struktur sarang lebah, pasir halus dan lanau membentuk lengkungan-
lengkungan kecil hingga merupakan rantai butiran. Tanah yang mempunyai
struktur sarang lebah mempunyai angka pori besar dan biasanya dapat memikul
beban statis yang tak begitu besar. Struktur tersebut bila dikenai beban berat atau
beban getar, struktur tanah akan rusak dan menyebabkan penurunan yang besar.

Gambar 3.4 Struktur sarang lebah (Das 1993)
16
3.5 Aspal
Aspal didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau coklat tua yang
berfungsi sebagai bahan ikat suatu struktur perkerasan. (Silvia Sukirman, 1992)
Sudah sejak 3000 SM aspal bukan material baru dalam sejarah manusia.
Dalam catatan sejarah, orang sumeria (3000 SM) sudah menggunakannya untuk
perekat batu perhiasan kerang atau mutiara. Selain itu, orang zaman dulu
menggunakan pula untuk mengawetkan mayat, water proofing (anti
rembes/bocor) dikapal misalnya, dan juga untuk menggantikan fungsi semen
dibangun. Aspal digunakan untuk melapisi permukaan jalan mulai tahun 1830 an.
Sementara aspal hot mix mulai dikenal tahun 1900. Aspal didapat sebagai bahan
alami, seperti yang ada di Buton, Amerika Serikat, prancis, dll. Namun, secara
global, hampir semua aspal kini berasal dari bottom of barrel, intip, atau sisa-sisa
penyulingan minyak.
3.5.1 Jenis Aspal
Berdasarkan cara memperolehnya aspal dibedakan menjadi :
1) Aspal Alam (Aspal Gunung – P. Buton dan Aspal Danau _ P. Bermuda,
Trinidad).
2) Aspal Buatan (Aspal Minyak : hasil penyulingan minyak bumi dan Tar :
hasil penyulingan batu bara).
Aspal minyak dengan bahan dasar aspal dapat dibedakan atas tingkat
kekerasannya, yaitu :
1) Aspal Keras/Asphalt Cement (AC) ; aspal ini digunakan dalam keadaan
cair dan panas. Dalam penyimpanan atau dalam kondisi dingin aspal
memadat. Aspal semen dibedakan berdasarkan penetrasinya, yaitu : AC
45/60, AC 60/80, AC 80/100, AC 120/150.
2) Aspal Cair/Cut Back Aspahalt ; aspal ini merupakan campuran antara
aspal semen dengan bahan pencair hasil penyulingan minyak bumi.
Berdasarkan bahan pencairnya dapat dibedakan atas :
a) RC (Rapid Curring) ; aspal semen yang dilarutkan dengan bensin.
b) MC (Medium Curring) ; dilarutkan dengan minyak tanah.
17
c) SC (Slow Curring) ; aspal semen yang dilarutkan dengan solar.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan SC (Slow Curring), yaitu aspal
semen yang dilarutkan dengan solar dengan prosentase pencampuran 2%, 4%, dan
6%.
3.5.2 Komposisi Aspal
Komposisi aspal terdiri dari aspaltenes dan maltnes. Aspaltnes merupakan
material berwarna hitam atau coklat tua yang tidak larut dalam heptane. Maltnes
merupakan cairan kental yang terdiri dari Resins dan Oil, yang larut dalam
heptane. Resins adalah cairan berwarna kuning atau coklat yang memberikan sifat
adhesi dari aspal, merupakan bagian yang mudah hilang atau berkurang selama
masa pelayanan jalan. Oil adalah cairan yang berwarna lebih muda merupakan
media dari asphaltenes dan resins. Proporsi dari asphaltenes, resins, dan oil
berbeda-beda, tergantung dari banyak faktor seperti kemungkinan beroksidasi,
proses pembuatannya dan ketebalan lapisan aspal dalam campuran (Silvia
Sukirman, 1992).
Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum
dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon
jenuh atau tak jenuh, alifatik dan aromatic yang senyawa karbon jenuh samapi
150 per molekul. Atom-atom selain hydrogen dan karbon yang juga menyusun
aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang, dan beberapa atom lain. Secara
kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon, 10% hydrogen, 6%
belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik besi, nikel dan
ranadium. Massa molekul aspal bervariasi, dari beberapa ratus sampai beberapa
ribu. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa
molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar). Biasanya aspal
mengandung 5 – 25% asplaten. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa
polar. (Sumber : Ismunandar, Dosen kimia FMIPA ITB, id. Wikipedia.org).
Pada rentang suhu 85
0
C dan 150
0
C, aspal cukup encer dan dapat
berperilaku seolah pelumas diantara kerikil atau agregat dalam campuran hot mix
18
dan Aspal mendingin dibawah suhu 85
0
C.(Sumber : Ismunandar, Dosen kimia
FMIPA ITB, id. Wikipedia.org).
3.6 Kuat Geser Pasir
Kekuatan geser suatu massa tanah merupakan perlawanan internal tanah
tersebut per satuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang bidang
geser dalam tanah yang dimaksud. Karakteristik kekuatan geser pasir dapat
ditentukan dari hasil-hasil uji Triaksial UU dalam kondisi terdrainasi maupun
hasil-hasil pengujian Geser Langsung. Karakteristik pasir kering dan pasir jenuh
adalah sama seperti yang dihasilkan oleh pasir jenuh dengan kelebihan tekanan air
pori nol. (Sumber : Braja. M. Das dan R. F. Craig)
Kekuatan geser tanah dapat dinyatakan dengan rumus berikut :
f
………………………………………………………….3.1)
Keterangan :
f =
kekuatan geser (kg/cm
2
)
c = kohesi (kg/cm
2
)
– internal (
o
)
Hubungan di atas juga disebut sebagai kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb.
3.6.1 Pengukuran Kuat Geser Tanah
Cara melakukan percobaan kuat geser ada 2 macam, yaitu :
3.6.1.1 Pengujian Geser Langsung
Pada pengujian geser langsung peralatan pengujian meliputi kotak geser
dari besi, yang berfungsi sebagai tempat benda uji. Kotak geser tempat benda uji
dapat berbentuk bujursangkar maupun lingkaran, dengan luas kira-kira 3 sampai 4
inchi
2
(1935,48 sampai 2580,64 mm
2
) luas penampangnya dan tingginya 1 inchi
(25,4 mm). Kotak terpisah menjadi 2 bagian yang sama. Tegangan normal pada
benda uji diberikan dari atas kotak geser. Gaya geser diterapkan pada setengan
bagian atau dari kotak geser, untuk memberikan geseran pada tengah-tengah
benda uji.
19
Gambar 3.5 Susunan benda uji geser langsung (Das, 1995)
Uji geser langsung dilakukan beberapa kali pada sebuah sampel tanah
dengan beberapa macam tegangan normal. Harga tegangan normal dan harga
tegangan geser yang didapat dengan melakukan pengujian dapat digambarkan
dengan beberapa grafik untuk menentukan harga parameter kuat geser.
Pada uji geser langsung dengan metode regangan terkendali, kotak geser
diberikan kecepatan pergeseran secara terkendali. Kecepatan, v selalu tetap
selama pengujian berlangsung dengan satuan jarak per waktu (mm/menit). Gaya
geser yang dihasilkan, P merupakan reaksi dari adanya pergeseran pada kotak
geser.
Tegangan normal dapat dihitung dengan persamaan berikut :
ah sampel ang l penampang luas
ja be yang normal Gaya
normal Tegangan
tan int
ker
= = o ...(3.9)
Tegangan geser yang melawan pergerakan geser dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut ini.
ah sampel ang l penampang luas
pergerakan melawan yang geser Gaya
geser Tegangan
tan int
= = t ... (3.10)
Dalam Gambar 3.6 dapat kita lihat potongan grafik tentang hubungan
antara tegangan geser dan perubahan ketinggian dari sampel tanah akibat
perpindahan geser tanah pasir lepas dan pasir padat. Pengamatan ini dihasilkan
20
oleh uji regangan –terkendali. Secara visual tanah jenis pasir dapat
dikelompokkan dalam dua tipe tanah pasir yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut
(Das, 1995).
1. Pasir lepas (renggang), pada tegangan geser penahan akan membesar
sesuai dengan membesarnya perpindahan geser sampai tegangan tadi
mencapai tegangan runtuh
f
setelah itu, besar tegangan geser akan kira-
kira konstan sejalan dengan bertambahnya perpindahan geser.
2. Pasir padat, tegangan geser penghambat akan naik sejalan dengan
membesarnya perpindahan geser hingga tegangan geser runtuh
(maksimum) tercapai. Bila tegangan runtuh telah tercapai, maka tegangan
geser penghambatan yang ada akan berkurang secara lambat laun dengan
bertambahnya perpindahan geser sampai pada suatu saat mencapai harga
konstan.
21
Gambar 3.6 Diagram tegangan dengan perubahan tinggi benda uji (Das, 1995)
Gambar 3.7 Grafik hubungan tegangan geser (
pada uji geser langsung
Pada Gambar 3.7 adalah uji dari tanah pasir kering. Persamaan untuk
harga rata-rata garis yang menghubungkan titik-titik dalam eksperimen tersebut
adalah :
f
.............................................................3.2)
Jadi, besar sudut geser adalah
-1
|
|
.
|

\
|
o
t
f
.....................................................................................3.3)
22
Dibawah ini adalah harga-harga yang umum dari sudut geser internal
kondisi drained untuk pasir dan lanau.
Tabel 3.5 Pengelompokan tipe tanah berdasarkan sudut geser dalam
Tipe Tanah
Pasir : butiran bulat
Renggang/lepas 27-30
Menengah 30-35
Padat 35-38
Pasir : butiran bersudut
Renggang/lepas 30-35
Menengah 35-40
Padat 40-45
Kerikil bercampur pasir 34-48
Lanau 26-35
(Sumber : Braja M. Das)
3.6.1.2 Pengujian Triaksial UU
Pengujian Triaksial adalah suatu cara untuk pengujian kuat geser tanah.
Pengujian Triaksial tipe UU tersebut untuk mendapatkan nilai kohesi (c) dan
u u
tersebut
yaitu dengan lingkaran Mohr dan regresi linier.
Pada pengujian Triaksial tipe UU (Unconsolidation-Undrained) benda uji
mula-mula dibebani dengan penerapan tegangan sel (
3
), kemudian dibebani
dengan beban normal, melalui penerapan tegangan deviator (∆
df
) sampai
mencapai keruntuhan.
Pada penerapan tegangan deviator selama penggeserannya tidak diijinkan air
keluar dari benda ujinya dan selama pengujian katup drainasi ditutup. Karena
pada pengujian air tidak diijinkan mengalir keluar, beban normal tidak ditransfer
ke butiran tanahnya. Keadaan tanpa drainasi ini menyebabkan adanya tekanan
23
kelebihan tekanan pori dengan tidak ada tahanan geser hasil perlawanan dari
butiran tanahnya
Untuk pengujian ini :
Tegangan utama mayor total =
3
+ ∆
df 1
3
Persamaan kuat geser pada kondisi undrained dapat dinyatakan dalam
persamaan :
2 2 2
3 1
Cu
qu df
=
A
=
÷
=
o o o
....................................................................(3.4 )
Dengan : Cu = kohesi undrained

df
= tegangan deviator
Gambar 3.8 Alat Pengujian Triaksial UU (Das, 1995)
3.7 Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb
Pengetahuan tentang kekuatan geser diperlukan untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang berhubungan dengan stabilitas massa tanah. Bila suatu titik
pada sembarang bidang dari suatu massa tanah memiliki tegangan geser yang
24
sama dengan kekuatan gesernya, maka keruntuhan akan terjadi pada titik tersebut.
Kekuatan geser tanah (
f
) pada bidang tersebut pada titik yang sama, sebagai
berikut:
f f
.....(3.5)
-parameter kuat geser, yang berturut-turut
didefinisikan sebagai kohesi (cohesion intercept atau apparent cohesion) dan
sudut tahanan geser (angle of shearing resitance). Berdasarkan konsep dasar
Terzaghi, tegangan geser pada suatu tanah hanya dapat ditahan oleh tegangan
partikel-partikel padatnya. Kekuatan geser tanah dapat juga dinyatakan sebagai
fungsi dari tegangan normal efektif sebagai berikut:
f f
..........(3.6)
-parameter kekuatan geser pada tegangan
efektif. Dengan demikian keruntuhan akan terjadi pada titik yang mengalami
keadaan kritis yang disebabkan oleh kombinasi antara tegangan geser dan
tegangan normal efektif.
Selain itu, kekuatan geser juga dapat dinyatakan dalam tegangan utama

1 3
pada keadaan runtuh dititik yang ditinjau. Garis yang
dihasilkan oleh persamaan 3.7 pada keadaan runtuh merupakan garis singgung
terhadap lingkaran Mohr yang menunjukkan keadaan tegangan dengan nilai
positif untuk tegangan tekan, seperti diperlihatkan pada Gambar 3.9. Koordinat
f f
, dimana:
f
=
2
1
1
-
3
..(3.7)
f
=
2
1
1 3
) +
2
1
1
-
3
..(3.8)
25
Gambar 3.9 Kondisi Tegangan pada Keadaan Runtuh.
Sumber : Mekanika Tanah,, R.F. Craig 1989, Hal 92
demikian jelas bahwa:
= 45° +
2
' m
.................................................................................(3.8)
3.8 Stabilisasi Tanah Pasir
Stabilisasi tanah disebut dengan perbaikan tanah dibidang rekayasa teknik
sipil. Stabilisasi dapat dilaksanakan dengan menambah sesuatu bahan atau
komposit tertentu untuk menambah kekuatan pada tanah. Menurut Bowles (1986)
stabilisasi dapat berupa:
1. meningkatkan kerapatan tanah,
2. menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan/atau
tahan gesek yang timbul,
3. menambah material untuk menyebabkan perubahan-perubahan kimiawi dan
fisik dari material tanah,
4. menurunkan muka air tanah,
5. mengganti tanah yang buruk.
Terdapat dua metode utama untuk menstabilisasi tanah yaitu stabilisasi
mekanis (mechanical stabilization) dan stabilisasi kimia (chemical stabilization).
26
1. stabilisasi mekanis (mechanical stabilization)
yaitu upaya pengaturan gradasi butiran tanah secara proporsional yangdiikuti
dengan proses pemadatan untuk mendapatkan kepadatan maksimum. Bowles
(1988) mengatakan bahwa cara pemadatan ini dapatditempuh, dengan cara
menggunakan peralatan mekanis (misal: sheep-foot roller), benda-benda berat
dijatuhkan, eksplosif, preloading, pembekuan, pemanasan dan lain-lain.
2. stabilisasi kimia (chemical stabilization)
yaitu stabilisasi dengan menggunakan cara penambahan bahan kimia padat,
cair maupun gel pada tanah sehingga megakibatkan perbaikan sifat-sifat fisik
dan mekanis dari tanah tersebut. Metode ini menggunakan cara
mencampurkan tanah dengan semen, aspal, kapur, bentonit atau bahan kimia
lainnya (Cernica, 1995).
Dalam penelitian ini menggunakan metode stabilisasi dengan penambahan
bahan kimia (Aspal Cair SC
60-70
) pada tanah pasir.
27
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara pelaksanaan penelitian dalam rangka
mencari jawaban dari permasalahan yang diajukan dan keaslian suatu penelitian
harus ditunjukkan juga dalam tabel masalah dengan cara mengungkapkan
perbedaan/penyempurnaan yang dilakukan terhadap penelitian sejenis yang
pernah dilakukan.
4.2 Rencana Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu pekerjaan persiapan,
pekerjaan lapangan dan pekerjaan Laboraturium. Perencanaan penelitian penting
dilakukan agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan dengan baik sehingga
mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan serta tepat waktu.
4.3 Persiapan Penelitian
Kegiatan persiapan penelitian meliputi :
a. Mengumpulkan informasi mengenai pasir dan Aspal SC
60-70
.
b. Mengkonsultasikan dengan Dosen Pembimbing Tugas Akhir.
c. Mempersiapkan bahan-bahan, yaitu tanah pasir dan Aspal SC
60-70
.
d. Mempersiapkan alat-alat yang dipakai.
e. Mengurus perijinan dari Laboraturium Mekanika Tanah, Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
4.4 Alat-alat dan bahan yang digunakan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pasir
28
Tanah Pasir yang dipergunakan untuk penelitian ini adalah tanah pasir
yang berasal dari Pantai Parangtritis Yogyakarta.
2. Aspal SC
60-70
Aspal cair yang digunakan sebagai bahan stabilisator yang berfungsi
sebagai bahan untuk mengikat butir-butir agregat yang ada pada pasir.
Pada penelitian ini akan digunakan aspal cair jenis SC
60-70
yang dibuat
terlebih dahulu dengan mencampurkan AC (Asphalt Cement) + solar pada
suhu 60
0
C.
Peralatan yang digunakan adalah semua alat yang terletak di Laboraturium
Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Islam Indonesia.
4.5 Jalannya Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tahap sebagai berikut ini.
4.5.1 Pekerjaan Persiapan
Dalam tahapan persiapan ini meliputi studi pendahuluan, konsultasi
dengan beberapa narasumber, pengajuan proposal dan mengurus perijinan untuk
kegiatan penelitian.
4.5.2 Pekerjaan Lapangan
Pekerjaan lapangan adalah pengambilan sampel tanah dilokasi, pekerjaan
lapangan dilakukan dalam beberapa tahap, pemilihan lokasi dan pengambilan
sampel tanah.
4.5.3 Pekerjaan Laboraturium
Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Mekanika Tanah Jurusan Teknik
Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia.
Beberapa pengujian yang akan dilakukan diantaranya :
a) Pengujian Kadar Air Tanah,
b) Pengujian Berat Jenis Tanah,
c) Pengujian Berat Volume Tanah,
29
d) Pengujian Analisa Saringan,
e) Pengujian Proktor Standart,
f) Pengujian Geser Langsung,
g) Pengujian Triaksial UU,
4.6 Bagan Alir
Dalam Tugas Akhir ini direncanakan pelaksanaannya berdasarkan bagan
alir yang dapat dilihat pada Gambar 4.1
Gambar 4.1. Bagan alir penelitian
Mulai
Pengumpulan buku refrensi dan
survey lapangan
Pengambilan sample tanah dan
pengumpulan data
Penelitian Laboraturium
Tanah Asli :
1. Uji Kadar Air Tanah
2. Uji Berat Jenis Tanah
3. Uji Berat Volume Tanah
4. Uji Analisa Saringan
5. Uji Proktor Standart
6. Uji Geser Langsung
Selesai
Hasil Penelitian
Pembahasan
Kesimpulan & Saran
Pencampuran tanah dengan bahan
stabilisasi (Aspal SC
60 – 70
) 2 %, 4 %
dan 6 % dan diperam 1 hari, 7 hari
dan 14 hari
Kemudian dilakukan Uji :
1. Uji Geser Langsung
2. Uji Triaksial tipe UU
30
BAB V
HASIL PENELITIAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian penggunaan campuran Aspal SC
60-70
sebagai stabilisasi tanah pasir. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia pada tanggal 27
Desember 2007 sampai dengan 5 Februari 2008.
Pada penelitian ini dibatasi pada pengujian sifat fisik tanah yaitu analisis
saringan., dan pengujian sifat mekanik tanah meliputi; kadar air, berat jenis, berat
volume, Analisa Saringan, pemadatan tanah (Proktor Standar), Uji Geser Langsung,
dan Uji Triaksial Tipe UU.
Sampel uji yang diujikan terdiri dari tanah asli dan tanah campuran. Tanah
asli berupa pasir pantai yang berasal dari Pantai Parangtritis, Yogyakarta, sedangkan
tanah campuran menggunakan bahan stabilisasi Aspal SC
60-70
dengan variasi
campuran 2%, 4%, 6%dan waktu pemeraman 1 hari, 7 hari, 14 hari.
Sedangkan data detail hasil pengujian dan perhitungan laboraturium disajikan
secara lengkap pada bagian lampiran laporan ini.
5.1 Hasil Penelitian
Pada bab ini akan di uraikan hasil penelitian dan pengujian pada tanah asli
yang meliputi pengujian sifat fisik tanah yaitu analisis saringan, sedangkan sifat
mekanik tanah meliputi; kadar air, berat jenis, berat volume, analisa saringan
pemadatan tanah ( Proktor Standar ), Uji geser langsung, dan Uji Triaksial Tipe UU.
5.1.1 Pengujian Distribusi Butiran Tanah
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui butir-butir tanah serta
prosentasenya berdasarkan batas-batas klasifikasi jenis tanah, sehingga dapat
31
diketahui jenis tanah yang diuji. Pada pengujian ini dilakukan satu pengujian yaitu
analisis saringan. Tanah pasir yang digunakan adalah tanah pasir yang tertahan #60.
Tabel 5.1. Hasil Pengujian Analisis Saringan
Sieve
No
Opening
(mm)
Mass
retained
(gr)
Mass
passed
(gr)
% finer
Remarks
by
mass
e/W x
100%
90 0 60.00 100.00
75 0 60.00 100.00
63 0 60.00 100.00
50.8 0 60.00 100.00
38.1 0 60.00 100.00
1 25.4 0 60.00 100.00
3/4 19 0 e1 = 60.00 100.00
13.2 0 e2 = 60.00 100.00
3/8 9.5 0 e3 = 60.00 100.00
1/4 6.7 0 e4 = 60.00 100.00
4 4.750 d1 = 0.00 e5 = 60.00 100.00 e7 = W - Sd
10 2.000 d2 = 0.00 e6 = 60.00 100.00
e6 = d7 +
e7
20 0.850 d3 0.00 e7 = 60.00 100.00
e5 = d6 +
e6
40 0.425 d4 = 0.00 e9 = 60.00 100.00
e4 = d5 +
e5
60 0.250 d5 = 60.00 e10 = 0.00 0.00 e3 = d4 +e4
140 0.106 d6 = 0.00 e11 = 0.00 0.00
e2 = d3 +
e3
200 0.075 d7 = 0.00 e12 = 0.00 0.00
e1 = d2 +
e2
Sd = 60.00
32
Gambar 5.1 Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 1
Dari hasil uji Analisa distribusi butiran diatas maka akan didapatkan
prosentase nilai rata-rata dari masing masing agregat yang hasilnya dapat kita lihat
dibawah ini.
Tabel 5.2 Prosentase analisis butiran
Finer # 200
0.00 %
D10 (mm) 0.263624
D30 (mm) 0.29314
Gravel
0.00 %
D60 (mm) 0.34372
Sand
100.00 %
Cu = D60/D10 1.304
Silt
0.00 %
Cc = D30² / (D10xD60) 0.948
Clay
0.00 %
D50(mm) 0.326
0.001 0.01 0.1 1 10 100
Graind diameter, mm
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
P
e
r
c
e
n
t

f
i
n
e
r
-
-
-
n
o
.

2
0
-
-
-
n
o
.

6
0
-
-
-
n
o
.

1
0
0
-
-
-
n
o
.

4
0
-
-
-
n
o
.

1
0
Sand
Medium
m
Fine
coarse
Silt Clay
Gravel
-
-
-
n
o
.

2
0
0
-
-
-
n
o
.

4
33
Keterangan :
D10 = bukaan yang lolos 10%
D30 = bukaan yang lolos 30%
D60 = bukaan yang lolos 60%
Cu = koefisien keseragaman =
10
60
D
D
Cc = koefisien gradasi =
( )
60 10
30
2
D D
D
×
Tabel 5.3. Hasil Pengujian Analisis Saringan
Sieve
No
Opening
(mm)
Mass
retained
(gr)
Mass
passed
(gr)
% finer
Remarks
by
mass
e/W x
100%
90 0 60.00 100.00
75 0 60.00 100.00
63 0 60.00 100.00
50.8 0 60.00 100.00
38.1 0 60.00 100.00
1 25.4 0 60.00 100.00
3/4 19 0 e1 = 60.00 100.00
13.2 0 e2 = 60.00 100.00
3/8 9.5 0 e3 = 60.00 100.00
1/4 6.7 0 e4 = 60.00 100.00
4 4.750 d1 = 0.00 e5 = 60.00 100.00 e7 = W - Sd
10 2.000 d2 = 0.00 e6 = 60.00 100.00
e6 = d7 +
e7
20 0.850 d3 0.00 e7 = 60.00 100.00
e5 = d6 +
e6
40 0.425 d4 = 0.00 e9 = 60.00 100.00
e4 = d5 +
e5
60 0.250 d5 = 60.00 e10 = 0.00 0.00 e3 = d4 +e4
140 0.106 d6 = 0.00 e11 = 0.00 0.00
e2 = d3 +
e3
200 0.075 d7 = 0.00 e12 = 0.00 0.00
e1 = d2 +
e2
Sd = 60.00
34
Gambar 5.2 Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 2
Dari hasil uji Analisa distribusi butiran diatas maka akan didapatkan
prosentase nilai rata-rata dari masing masing agregat yang hasilnya dapat kita lihat
pada Tabel 5.4.
0.001 0.01 0.1 1 10 100
Graind diameter, mm
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
P
e
r
c
e
n
t

f
i
n
e
r
-
-
-
n
o
.

2
0
-
-
-
n
o
.

6
0
-
-
-
n
o
.

1
0
0
-
-
-
n
o
.

4
0
-
-
-
n
o
.

1
0
Sand
Medium
m
Fine
coarse
Silt Clay
Gravel
-
-
-
n
o
.

2
0
0
-
-
-
n
o
.

4
35
Tabel 5.4 Prosentase analisis butiran
Finer # 200
0.00 %
D10 (mm) 0.263624
D30 (mm) 0.29314
Gravel
0.00 %
D60 (mm) 0.34372
Sand
100.00 %
Cu = D60/D10 1.304
Silt
0.00 %
Cc = D30² / (D10xD60) 0.948
Clay
0.00 %
D50(mm) 0.326
Keterangan :
D10 = bukaan yang lolos 10%
D30 = bukaan yang lolos 30%
D60 = bukaan yang lolos 60%
Cu = koefisien keseragaman =
10
60
D
D
Cc = koefisien gradasi =
( )
60 10
30
2
D D
D
×
5.2 Sifat Fisik dan Mekanis Tanah
Pengujian sifat mekanis tanah di Laboratorium meliputi pengujian : Kadar air,
Berat jenis, Berat Volume ,Analisa Saringan, Proktor Standar, Triaksial UU dan
Geser Langsung.
5.2.1 Hasil Pengujian Kadar Air Tanah
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya kadar air yang
terkandung dalam tanah. Kadar air tanah adalah nilai perbandingan antara berat air
dalam satuan tanah dengan berat kering tanah tersebut. Hasil pengujian kadar air
ditujukan pada tabel 5.5.
Hasil dari uji kadar air tanah dapat dihitung dengan persamaan berikut :
w =
Ws
Ww
x 100 % ....................................................................(5.1)
36
Tabel 5.5 Hasil Pengujian Kadar Air
1 No Pengujian 1 2
2 Berat Container (W1) 20.9 21.74
3 Berat Container + Tanah Basah (W2) 45.2 44.54
4 Berat Container + Tanah Kering (W3) 44.36 43.78
5 Berat Air (Wa) 0.84 0.76
6 Berat Tanah Kering (Wt) 23.46 22.04
7 Kadar Air (Wa/Wt) x 100% 3.58 3.45
8 Kadar Air rata-rata (%) 3.51
Dari pengujian dan perhitungan di dapat kadar air tanah pasir Pantai
Parangtritis, Yogyakarta sebesar 3.51 %.
Contoh perhitungan kadar air (w) :
w =
Ws
Ww
x 100 %
w =
1 3
3 2
W - W
W - W
x 100 %
w =
09 , 22 36 , 44
36 , 44 2 , 45
÷
÷
x 100 %
w = 3,77 %
5.2.2 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya nilai perbandingan
antara berat butir-butir tanah dengan berat air destilasi diudara dengan volume yang
sama pada suhu tertentu, biasanya diambil suhu 27.5
0
C. Hasil dari pengujian berat
jenis tanah ditunjukkan pada tabel 5.6.
Hasil dari pengujian berat jenis tanah dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
Gs (t
o
) =
) W - (W - ) W - (W
) W - (W
2 3 1 4
1 2
.............................................(5.2)
Gs (27
o
) = Gs (t
o
) x
o
o
27,5 air Bj
air t Bj
..............................................(5.3)
37
Tabel 5.6 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah
1 No Pengujian 1 2
2 Berat piknometer 16.76 19.98
3 Berat piknometer + Tanah Kering (W2) 43.99 52.1
4 Berat Piknometer + Tanah + Air (W3) 83.76 90.45
5 Berat Piknometer + Air (W4) 66.62 70.41
6 Temperatur (t°) 29 29
7 Bj air pada temperatur 0.99598 0.99598
8 Bj air pada 27.5 °C 0.99641 0.99641
9 Berat tanah kering (Wt) 27.23 32.12
10 A = Wt + W4 93.85 102.53
11 I = A - W3 10.09 12.08
12 Berat jenis, Gs (t°) = Wt/I 2.70 2.66
13
Gs pada 27.5°C = Gs(t°) . [Bj air °t / Bj air t
27.5] 2.698 2.658
14 Berat jenis rata-rata Gs 2.68
Contoh perhitungan berat jenis tanah :
Gs (t
o
) =
) W - (W - ) W - (W
) W - (W
2 3 1 4
1 2
=
09 , 10
29 , 27
= 2,70
Gs (27,5
o
C) = Gs (t
o
) x
o
o
27,5 air Bj
air t Bj

=

×
99641 , 0
99598 , 0
70 , 2
= 2,698
Dari pengujian dan perhitungan di dapat berat jenis tanah pasir Pantai
Parangtritis, Yogyakarta sebesar 2,68.
38
5.2.3 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui berat volume suatu sampel
tanah, berat volume tanah adalah nilai perbandingan berat tanah total termasuk air
yang terkandung didalamnya dengan volume tanah total. Hasil dari pengujian ini
ditujukan pada tabel 5.7.
Tabel 5.7 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah
1 No Pengujian 1 2
2 Diameter ring (d) 6.4 6.4
3 Tinggi cincin (t) 2.5 2.5
4 Volume ring (V) 80.38 80.380
5 Berat ring (W1) 81.55 81.55
6 Berat ring + tanah basah (W2) 189.7 198.1
7 Berat tanah basah (W2-W1) 108.15 116.55
8 1.35 1.43
9 Berat volume rata-rata (gr/cm³) 1.39
Dari pengujian dan perhitungan di dapat berat volume tanah pasir Pantai
Parangtritis, Yogyakarta sebesar 1.39 gr/cm
3
.
5.2.4 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah ( Proktor Standar )
Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai kadar air ( w ) optimum
d
) maksimum sampel tanah. Uji kepadatan tanah
dilakukan dengan uji Proktor Standar. Adapun volume cetakan silinder sebesar
947,87 cm
3
. Diameter cetakan sebesar 10,2 cmdan tinggi cetakkan 11,6 cm.
Berat penumbuk sebesar 2,5kg dan tinggi jatuh sebesar 30.
Untuk setiap percobaan, berat volume basah ( ) dari tanah basah yang dipadatkan
tersebut dapat dihitung dengan persamaan 5.4 berikut ini.

b
=
V
W
..................................................................................(5.4)
39
Dengan :
W = berat tanah yang dipadatkan dalam cetakan
V = volume cetakan (cm
3
).
Pada setiap percobaan besarnya kadar air dalam tanah yang dipadatkan dapat
ditentukan di laboratorium. Bila kadar air diketahui, maka berat volume kering (
d
)
dari tanah tersebut dapat dihitung dengan persamaan 5.5 berikut :

d
=
w + 1
¸
.............................................................................(5.5)
Dengan :
w (%) = persentase kadar air.
Harga
d
dari persamaan 5.5 tersebut dapat digambarkan terhadap kadar air
dengan d sebagai absis dan kadar air sebagai ordinat. Dengan demikian titik puncak
dari grafik merupakan kadar air optimum dan berat volume kering maksimum. Hasil
dari pengujian kadar air sampel dari pantai Parangtritis Bantul, DIY ditunjukkan pada
Tabel 5.8 yang kemudian hasilnya diposisikan pada grafik yang dapat dilihat pada
Gambar 5.8 dibawah ini.
Tabel 5.8 Hasil uji proktor standar sampel 1
Pengujian 1 2 3 4 5
w optimum (%)
11,53 12.51 15.96 18,44 19.51
d
maksimum (gr/cm
3
)
1,383 1,412 1,434 1,378 1,350
Contoh Perhitungan berat volume tanah basah :
b
=
V
W
b
=
3
947,87m
1462gr
= 1,542 gr/cm
3
40
Perhitungan berat volume kering :
d
=
w 1+
¸
d
=
0,1153 1
1,542
+
= 1,383 gr/cm
3
d
)
dibuat dengan kadar air (w) sebagai absis
d
) sebagai
ordinat
d
) maksimum, kemudian dari titik puncak
kurva ditarik garis vertikal memotong absis, pada titik ini adalah merupakan kadar air
optimumnya. Kurva hasil pengujian kapadatan tanah dapat dilihat pada Gambar 5.3
dan 5.4 dibawah ini.
1. 3
1. 3 5
1. 4
1. 4 5
1. 5
7 12 17 22
K ad ar ai r , w (%)
B
e
r
a
t

V
o
l
u
m
e

K
e
r
i
n
g
,

g
k

(
g
r
/
c
m
3
)
Gambar 5.3. Hasil Pengujian Pemadatan Tanah pasir sampel 1
Berat volume kering ma
d
) : 1,440 gr/cm
3
Kadar air optimum ( w ) : 14,90 %
41
Tabel 5.9 Hasil uji proktor standar sampel II
Pengujian 1 2 3 4 5
w optimum (%) 11 13,43 16 20,08 21
d
maksimum (gr/cm
3
) 1,339 1,443 1,466 1,329 1,291
1. 2
1.25
1. 3
1.35
1. 4
1.45
1. 5
1.55
1. 6
5 10 15 20 25
K ad ar ai r , w ( %)
B
e
r
a
t

V
o
l
u
m
e

K
e
r
i
n
g
,

g
k

(
g
r
/
c
m
3
)
Gambar 5.4 Hasil uji kepadatan tanah pasir sampel II
Dari kurva hubungan kadar air dengan berat volume tanah kering, maka didapatkan :
Kadar air optimum = 15,40 %.
Berat volume kering maksimum = 1,468 gr/cm
3
Tabel 5.10 Hasil rata-rata uji proktor standar sampel I dan II
Pengujian 1 2 rata-rata
Kadar air optimum rata-rata (%) 14,90 15,40 15,15
Berat volume tanah kering maksimum (gr/cm
3
) 1,440 1,468 1,454
42
5.2.5 Pengujian Triaksial Tipe UU
Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai sudut geser dalam (
dan nilai kohesi ( c ). Pengujian ini dilakukan pada sampel benda uji tanah campuran
dengan jumlah sampel seb
3
) 0.25 kg/cm
2
,
0.5 kg/cm
2
, dan 1.0 kg/cm
2
. Salah satu hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.5.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
0 5 10 15
Strain (%)
S
t
r
e
s
s

(
k
g
/
c
m
2
)
s
3
= 0.25 kg/cm2
s
3
= 1 kg/cm2
s
3
= 0.5 kg/m2
Gambar 5.5 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Triaksial UU Tanah
Campuran Aspal SC
60-70
dengan prosentase campuran 2% dan lama pemeraman 1
hari.
Kemudian dibuat lingkaran Mohr dari tegangan pada saat sampel pecah
dengan tegangan geser sebagai ordinat dan tegangan normal sebagai absis, seperti
pada gambar 5.6.
43
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
Normal Stress (kg/cm
2
)
S
h
e
a
r

S
t
r
e
s
s

(
k
b
/
c
m
2
)
Gambar 5.6 Lingkaran Mohr Uji Triaksial UU Tanah Campuran Aspal SC
60-70
sebanyak 2% dengan Lama Pemeraman 1 hari.
Dari hasil pengujian triaksial UU tanah pasir dicampur Aspal SC
60-70
d 29,591
0
dan nilai kohesi ( c ) 0,030 kg/cm
2
.
44
Tabel 5.11 Hasil Pengujian Triaksial UU Tanah Pasir Dicampur dengan Aspal
SC
60-70
% Aspal SC60-70
Pemeraman
Sampel
(
o
)
c
(Kg/cm
2
)
Rata-rata
( Hari ) c
2%
1
1 29.591 0.030
29.229 0.030
2 28.866 0.030
7
1 35.011 0.150
34.868 0.140
2 34.725 0.130
14
1 36.073 0.200
36.073 0.165
2 36.073 0.130
4%
1
1 33.457 0.090
32.960 0.090
2 32.462 0.090
7
1 36.706 0.200
36.164 0.195
2 35.622 0.190
14
1 38.219 0.320
37.830 0.310
2 37.440 0.300
6%
1
1 35.041 0.190
34.604 0.200
2 34.166 0.209
7
1 39.114 0.340
38.692 0.325
2 38.270 0.310
14
1 39.662 0.440
39.266 0.420
2 38.870 0.400
45
5.2.6 Pengujian Geser Langsung
Tujuan pengujian adalah untuk menentukan besar parameter geser langsung
pada kondisi Unconsolidated Undrained, Parameter geser tanah terdiri atas sudut
), dan cohesi ( c ). Pengujian ini dilakukan pada sampel benda uji
tanah campuran dengan jumlah sampel senanyak 3 buah, yaitu untuk beban 8 kg, 16
kg, dan 32 kg. hasil penelitian geser langsung tanah Pasir asli dapat dilihat pada
Gambar 5.7.
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0% 2% 4% 6% 8% 10%
Strain
S
t
r
e
s
s

(
k
g
/
c
m
2
)
Gambar 5.7 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Geser Langsung Tanah
Pasir asli.
46
Selubung keruntuhan kekuatan geser ditunjukan pada Gambar 5.8.
y = 0.53x + 0.00
0.00
0.10
0.20
0.30
0.40
0.50
0.60
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2
Normal Stress (kg/cm
2
)
S
h
e
a
r

S
t
r
e
s
s

(
k
g
/
c
m
2
)
Gambar 5.8 Hasil Uji Geser Langsung Pada Tanah Asli
Dari hasil pengujian geser langsung tanah pasir asli didapatkan nilai sudut
27,9
0
dan nilai kohesi ( c ) 0.00 kg/cm
2
.
Tabel 5.12 Hasil Pengujian Geser Langsung Dicampur dengan Aspal SC
60-70
% Aspal SC60-70
Pemeraman
( Hari )
Sampel
(
0
)
c
(Kg/cm
2
)
Rata-rata
c
0% 0 1 27.9 0 27.9 0
2%
1
1 27.9 0.03
28.15 0.03
2 28.4 0.02
7
1 34.6 0.15
34.20 0.15
2 33.8 0.14
14
1 35.4 0.20
35.00 0.20
2 34.6 0.19
4%
1
1 32.2 0.09
31.60 0.09
2 31.0 0.09
7
1 34.6 0.19
34.20 0.19
2 33.8 0.18
14
1 37.6 0.30
37.40 0.29
2 37.2 0.28
6%
1
1 34.6 0.19
35.20 0.18
2 35.8 0.16
7
1 38.3 0.22
38.15 0.22
2 38.0 0.21
14
1 38.3 0.43
38.15 0.42
2 38.0 0.40
47
5.3 Nilai Kuat Geser Tanah
Analisis kuat geser tanah diperlukan untuk menganalisis kapasitas dukung tanah,
stabilisasi lereng, dan gaya dorong pada dinding penahan tanah. Kuat geser tanah
adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau
tarikan. Nilai kuat geser tanah dilakukan dengan formula Coulomb sebagai berikut :
...................................................................................................5.6)
Keterangan :
Tegangan geser tanah ( kg/cm
2
)
c = kohesi tanah ( kg/cm
2
)
(
0
)
ng runtuh ( kg/cm
2
)
Kuat geser tanah juga biasa dinyatakan dalam bentuk tegangan-tegangan
1 3
pada saat terjadi keruntuhan. Persamaan tegangan geser, dinyatakan
oleh:
1
-
2
) sin …………………………………………………………(5.7)
1 3 1
-
3
) cos ……………………………………………(5.8)
0
…………………………………………………………………(5.9)
Keterangan :
= sudut runtuh antara bidang horizontal dengan bidang runtuh
Analisis kuat geser dilakukan dengan menggunakan nilai parameter kohesi
dan sudut geser dalam yang diperoleh dari pengujian Triaksial UU dan pengujian
Geser Langsung.
48
5.3.1 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU
Pada uji Triaksial Tipe UU tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair
SC
60-70
kuat geser nya dapat dicari dengan rumus :
= ½ (
1
-
3
) sin 2 …………………………………………………….(5.10)
di mana = 45
0
+ /2
Nilai kuat geser tanah dicampur Aspal SC
60-70
dapat dilihat pada Tabel berikut
ini.
Tabel 5.13 Nilai Kuat Geser Tanah pasir dengan campuran Aspal Cair SC
60-70
Berdasarkan Uji Triaksial Tipe UU.
%
Aspal
Pemeraman
(
o
)
c
( kg/cm
2
)
1
( kg/cm
2
)
3
( kg/cm
2
) (
o
) (
o
) (
o
)
( kg/cm
2
)
2%
1 29.229 0.030 1.000 3.002 59.614 119.228 0.873 0.874
7 34.868 0.140 1.000 4.175 62.434 124.868 0.820 1.302
14 36.073 0.165 1.000 4.556 63.037 126.074 0.808 1.437
4%
1 32.960 0.090 1.000 3.714 61.480 122.960 0.839 1.139
7 36.164 0.195 1.000 4.682 63.082 126.164 0.807 1.486
14 37.830 0.310 1.000 5.469 63.915 127.830 0.790 1.765
6%
1 34.604 0.200 1.000 4.442 62.302 124.604 0.823 1.417
7 38.692 0.325 1.000 5.675 64.346 128.692 0.781 1.824
14 39.266 0.420 1.000 6.214 64.333 128.666 0.781 2.036
49
5.3.2 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung
Pada uji Geser Langsung tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC
60-70 kekuatan geser dapat dicari dengan rumus :
n
……(5.11)
Nilai kuat geser tanah dicampur Aspal SC
60-70
dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Tabel 5.14 Nilai Kuat Geser Tanah pasir dengan campuran Aspal Cair SC
60-70
Berdasarkan Uji Geser Langsung
% Aspal
Pemeraman
Sampel
(
o
)
c
( kg/cm
2
)
Rata-rata
n
( kg/cm
2
) (
o
)
( kg/cm
2
)
( Hari ) c
0% 0 1 27.900 0.000 27.900 0.000
1.027 0.529 0.544
2%
1
1 27.900 0.030
28.150 0.025
1.027 0.535 0.575 2 28.400 0.020
7
1 34.600 0.150
34.200 0.145
1.027 0.680 0.843 2 33.800 0.140
14
1 35.400 0.200
35.000 0.195
1.027 0.700 0.914 2 34.600 0.190
4%
1
1 32.200 0.090
31.600 0.090
1.027 0.615 0.722 2 31.000 0.090
7
1 34.600 0.190
34.200 0.185
1.027 0.680 0.883 2 33.800 0.180
14
1 37.600 0.300
37.400 0.290
1.027 0.765 1.075 2 37.200 0.280
6%
1
1 34.600 0.190
35.200 0.175
1.027 0.705 0.899 2 35.800 0.160
7
1 38.300 0.220
38.150 0.215
1.027 0.786 1.022 2 38.000 0.210
14
1 38.300 0.430
38.150 0.415
1.027 0.786 1.222 2 38.000 0.400
BAB VI
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
6.1. Klasifikasi Tanah
6.1.1 Klasifikasi tanah Unified
Berdasarkan data hasil pengujian sifat fisik dan mekanik tanah yang
digunakan dalam penelitian ini dapat ditentukan karakteristik tanah dengan sistem
klasifikasi tanah Unified.
Pada Sistem Unified, tanah diklasifikasikan ke dalam tanah berbutir kasar
( kerikil dan pasir ) jika kurang dari 50% lolos saringan nomer 200, dan sebagai
tanah berbutir halus ( lanau/lempung ) jika lebih dari 50% lolos saringan nomer
200. Selanjutnya, tanah diklasifikasikan dalam sejumlah kelompok dan
subkelompok .
Pada Klasifikasai tanah sistem Y pada tanah pasir Parangtritis, Bantul
Yogyakarta digolongkan sebagai berikut :
1. Divisi Utama
a. Tanah berbutir kasar yaitu lebih dari 50% butiran tertahan saringan
no. 200( 0,075),
b. Pasir 50% atau lebih dari fraksi kasar tertahan pada ayakan No. 4,
c. Pasir bersih ( hanya pasir ).
2. Simbol Kelompok : SP
3. Nama Umum : Pasir bergradasi buruk dan pasir berkerikil, sedikit atau
sama sekali tidak mengandung butiran halus.
4. Kriteria Klasifikasi
Cu = 304 , 1
264 , 0
344 , 0
10
60
 
D
D
Cc = 948 , 0
) 344 , 0 264 , 0 (
293 , 0
) 60 10 (
30
2 2
 
x xD D
D
Cu<6 dan Cc<1, maka termasuk kedalam simbol kelompok SP dengan
gradasi buruk.
49
Tabel 6.1Klasifikasi Tanah Sistem Unified
Divisi Utama
Simbol
Kelompok
Nama Jenis Nama jenis
t
a
n
a
h

b
e
r
b
u
t
i
r

k
a
s
a
r

5
0
%

b
u
t
i
r
a
n

t
e
r
t
a
h
a
n

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

(
0
,
0
7
5

m
m
)
k
e
r
i
k
i
l

5
0
%

a
t
a
u

l
e
b
i
h

d
a
r
i

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r

t
e
r
t
a
h
a
n

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

4

(
4
,
7
5

m
m
)
Kerikil
bersih
(sedikit atau
tak ada
butiran
halus)
GW
Kerikil Gradasi
baik dan
campuran pasir
kerikil, sedikit
atau tidak
mengandung
butiran halus
k
l
a
s
i
f
i
k
a
s
i

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
o
s
e
n
t
a
s
e

b
u
t
i
r
a
n

h
a
l
u
s
,

k
u
r
a
n
g

d
a
r
i

5
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

:

G
W
,

G
P
,

S
W
,

S
P
,

l
e
b
i
h

d
a
r
i

1
2
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

:
G
M
,

G
C
,

S
M
,

S
C
,

5
%
-
1
2
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0
.

b
a
t
a
s
a
n

k
l
a
s
i
f
i
k
a
s
i

y
a
n
g

m
e
m
p
u
n
y
a
i

s
i
m
b
o
l

d
o
b
e
l

antara 1 dan 3
GP
Kerikil Gradasi
buruk dan
campuran pasir
kerikil, atau tidak
mengandung
butiran halus
Tidak memenuhi kedua
kriteria untuk GW
Kerikil
banyak
kandungan
butiran
halus
GM
Kerikil berlanau,
campuran kerikil
pasir-lempung
Batas-batas
Atterberg
dibawah
garis A atau
PI < 4
bila batas
Atterberg
berada
didaerah arsir
dari diagram
plastisitas,
maka dipakai
dobel simbol
GC
Kerikil
berlempung,
campuran kerikil
pasir-lempung
batas-batas
Atterberg di
atas garis A
atau PI > 7
p
a
s
i
r

l
e
b
i
h

d
a
r
i

5
0
%

f
r
a
k
s
i

k
a
s
a
r

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
0
.

4

(
4
,
7
5

m
m
)
Pasir bersih
( hanya
pasir )
SW
Pasir Gradasi
baik, pasir
kerikil, sedikit
atau tidak
mengandung
butiran halus

antara 1 dan 3
SP
Pasir Gradasi
buruk, pasir
kerikil, sedikit
atau tidak
mengandung
butiran halus
Tidak memenuhi kedua
kriteria untuk SW
Pasir
dengan
butiran
halus
SM
pasir berlanau,
campuran pasir
lanau
Batas-batas
Atterberg
dibawah
garis A atau
PI < 4
bila batas
Atterberg
berada
didaerah arsir
dari diagram
plastisitas,
maka dipakai
dobel simbol
SC
pasir
berlempung,
campuran pasir-
lempung
batas-batas
Atterberg di
atas garis A
atau PI > 7
60 20
2
(D20)
Cc , 4
10
60
xD D D
D
Cu   
60 20
2
(D20)
Cc , 6
10
60
xD D D
D
Cu   
50
Lanjutan Tabel 6.2
t
a
n
a
h

b
e
r
b
u
t
i
r

h
a
l
u
s


5
0
%

l
o
l
o
s

s
a
r
i
n
g
a
n

n
o
.

2
0
0

(
0
,
0
7
5

m
m
)
Lanau dan
lempung
batas cair
50% atau
kurang
ML
lanau tak organik dan pasir
sangat halus, serbuk batuan
atau pasir halus berlanau
atau berlempung
CL
Lempung tak organik dengan
plastisitas rendah sampai
sedang, lempung berkerikil,
lempung berpasir, lempung
berlanau, lempung kurus
('lean clays)
Lanau dan
lempung
batas cair >
50%
OL
lanau organik dan lempung
berlanau organik dengan
plastisitas rendah
MH
lanau tak organik atau pasir
halus diatomae, lanau
elasris.
CH
lempung tak organik dengan
plastisitas tinggi, lempung
gemuk ('fatclays')
OH
lempung organik dengan
plastisitas sedang sampai
tinggi
Tanah dengan kadar
organik tinggi
Pt
Gambut ("peat") dan tanah
lain dengan kandungan
organik tinggi
manual untuk identifikasi secara visual
dapat dilihat di ASTM Designation D-2488
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
10
20
30
40
50
7
4
CL-ML
Diagram Plastisitas :
Untuk mengklasifikasi kadar butiran
halus yang terkandung dalam tanah
berbutir halus dan tanah berbutir kasar.
batas Atterberg yang termasuk
dalam daerah yang diarsir berarti
batasan klasifikasinya menggunakan
dua simbol
CL
ML
atau
OL
CH
MH atau OH
Batas Cair LL (%)
Garis A : PI =0,73 (LL - 20)
I
n
d
e
k
s

P
l
a
s
t
i
s
i
t
a
s

P
I

(
%
)
G
a
r
is
A
51
6.1.2 Sistem Klasifikasi AASHTO
Sistem klasifikasi AASHTO ( American Association of State Highway and
Transporttation Officials Classification ) membagi tanah ke dalam 8 kelompok,
A-1 sampai A-8 termasuk sub-sub kelompok.
1. Klasfkas Umum : Material Granuler ( < 35% lolos saingan No.200 )
2. Klasifikasi Kelompok : A-3
3. Analisa Saringan ( % lolos )
2,00 mm ( no. 10 ) : -
0,425 mm ( no. 40 ) : 51 maks
0,075 mm ( no. 200 ) : 10 maks
4. Sifat fraksi lolos saringan no. 40
Batas cair ( LL ) : -
Indeks Plastis ( PI ) : NP
5. Indeks Kelompok : ( GI )
GI = ( F-35)[0,2 + 0,005 (LL-40)] + 0,01 (F-15)(PI-10)……………(6.1)
Dengan : GI = indeks kelompok ( group index )
F = persen butiran lolos saringan no. 200 (0,075 mm)
LL = batas cair
PI = indeks plastisitas
GI = ( F-35)[0,2 + 0,005 (LL-40)] + 0,01 (F-15)(PI-10)
= (0-35)[0,2 + 0,005 (0-40)] + 0,01 (0-15)(0-10)
= 0 -3 ( 0 )
6. Tipe material yang pokok pada umumnya : Pasir halus
7. Penilaian umum sebagai tanah dasar : Sangat baik sampai baik
52
Tabel 6.3 Klasifikasi tanah Sistem AASHTO
Klasifikasi Umum
material granuler
(< 35% lolos saringan no. 200)
Bahan-bahan Lanau-
Lempung
(> 35% lolos saringan no.
200)
Klasifikasi
kelompok
A-1
A-3
A-2
A-4 A-5 A-6
A-7
A-1-
a
A-1-
b
A-2-
4
A-2-
5
A-2-
6
A-2-
7
A-7-
5
A-7-
6
Analisis Saringan
(% lolos)
2,00 mm (no.10)
0,425 mm (no. 40)
0,075 mm (no.
200)
50
maks
- - - - - - - - - -
30
maks
50
maks
51
maks
- - - - - - - -
5
maks
25
maks
10
maks
35
maks
35
maks
35
maks
35
maks
36
min
36
min
36
min
36
min
Sifat fraksi lolos
saringan no. 40
Batas cair (LL)
Indeks Plastis (PI)

6 maks
- -
40
maks
41
min
40
maks
41
min
40
maks
41
min
40
maks
41
min
6 maks N.P
10
maks
10
maks
10
maks
11
min
10
maks
10
maks
10
maks
11
min
Indeks kelompok
(G)
0 0 0 4 maks
8
maks
12
maks
16
maks
20
maks
Tipe material yang
pokok pada
umumnya
Pecahan
batu, kerikil
dan pasir
Pasir
halus
Kerikil berlanau atau
berlempung dan pasir
Tanah
berlanau
Tanah
berlempung
Penilaian umum
sebagai tanah dasar
Sangat baik sampai baik Sedang sampai buruk
Sumber : Bowles, J.E, 1986
53
Catatan :
Kelompok A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergantung pada batas plastisnya
(PL)
Untuk PL > 30, Klasifikasinya A-7-5
Untuk PL < 30, Klasifikasinya A-7-6
N.P = Non Plastis
6.2 Pengaruh campuran Aspal Cair SC
60-70
dan lama pemeraman
(Curring time ) .
dan c) dari hasil uji Triaksial tipe UU seperti
pada Tabel 5.9 pada bab 5 kemudian diplotkan kedalam Gambar 6.1. dan
6.2.berikut:
27
29
31
33
35
37
39
41
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu pemeraman (Hr)
S
u
d
u
t

G
e
s
e
k

D
a
l
a
m

(
0
)
campuran 2%
campuran 4%
campuran 6%
Gambar 6.1 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman
pada prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada Uji Triaksial UU.
Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai sudut gesek dalam akan
terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak
campuran aspalnya. Nilai sudut gesek dalam terendah ada pada pemeraman 1 hari
dan dengan prosentase 2% yaitu 29,229
0
, kemudian semakin meningkat pada
pemeraman 7 hari yaitu 34,868
0
dan 14 hari yaitu sebesar 36,073
0
. Selanjutnya
akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan
54
pemeraman yang lama. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman
14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 39,226
0
.
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.25
0.30
0.35
0.40
0.45
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu pemeraman (Hr)
K
o
h
e
s
i

(
k
g
/
c
m
2
)
campuran 2%
campuran 4%
campuran 6%
Gambar 6.2 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase
campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada Uji Triaksial UU.
Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai kohesi akan terus
meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran
aspalnya. Nilai kohesi terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan
prosentase 2% yaitu 0,030 kg/cm
2
, kemudian semakin meningkat pada
pemeraman 7 hari yaitu 0,140 kg/cm
2
dan 14 hari yaitu sebesar 0,165 kg/cm
2
.
Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal
dan dengan pemeraman yang lama. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada
pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 0,420 kg/cm
2
.
55
Uji Geser Langsung seperti
pada Tabel 5.10 pada bab 5 kemudian diplotkan kedalam Gambar 6.3. dan 6.4.
berikut:
24
26
28
30
32
34
36
38
40
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu pemeraman (Hr)
S
u
d
u
t

G
e
s
e
k

D
a
l
a
m

(
0
)
campuran 2%
campuran 4%
campuran 6%
Gambar 6.3 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman
pada prosentase campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada Uji Geser Langsung.
Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai sudut gesek dalam akan
terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak
campuran aspalnya. Nilai sudut gesek dalam terendah ada pada pemeraman 1 hari
dan dengan prosentase 2% yaitu 28,15
0
, kemudian semakin meningkat pada
pemeraman 7 hari yaitu 34,20
0
dan 14 hari yaitu sebesar 35,00
0
. Selanjutnya akan
terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan
pemeraman yang lama. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman
14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 38,15
0
.
56
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.25
0.30
0.35
0.40
0.45
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Waktu pemeraman (Hr)
K
o
h
e
s
i

(
k
g
/
c
m
2
)
campuran 2%
campuran 4%
campuran 6%
Gambar 6.4 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase
campuran Aspal SC
60-70
yang berbeda pada Uji Geser Langsung.
Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai kohesi akan terus
meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran
aspalnya. Nilai kohesi terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan
prosentase 2% yaitu 0,030 kg/cm
2
, kemudian semakin meningkat pada
pemeraman 7 hari yaitu 0,150 kg/cm
2
dan 14 hari yaitu sebesar 0,20 kg/cm
2
.
Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal
dan dengan pemeraman yang lama. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada
pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 0,42 kg/cm
2
.
6.3 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU
Pada uji Triaksial Tipe UU tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal
Cair SC
60-70
kuat geser nya dapat dicari dengan rumus :
1
-
3
) sin (6.2)
di mana
0
Hasil kuat geser tanah dicampur Aspal SC
60-70
dapat dilihat pada Gambar
berikut ini.
57
0.000
0.500
1.000
1.500
2.000
2.500
0% 2% 4% 6% 8%
Prosentase Campuran Aspal SC 60-70
T
e
g
a
n
g
a
n

G
e
s
e
r

(
k
g
/
c
m
2
)
Pemeraman 1hari
Pemeraman 7 hari
Pemeraman 14
hari
Gambar 6.5 Hubungan antara Tegangan Geser dengan Persentase Campuran
Aspal SC
60-70
pada pemeraman yang berbeda pada Uji Triaksial.
Pada pengujian Triaxial UU tanah dicampur dengan Aspal Cair SC
60-70
pada penambahan campuran 6% mampu memberikan peningkatan tegangan
gesernya, yaitu pada pemeraman 1 hari 1,416 kg/cm
2
, pada pemeraman 7 hari
1,824 kg/cm
2
, dan pada pemeraman 14 hari 2,035 kg/cm
2
. NIlai tegangan
= 0,874 kg/cm
2
.
6.4 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung
Pada uji Geser Langsung tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair
SC
60-70
kuat geser dapat dicari dengan rumus :
n
(6.3)
Hasil kuat geser tanah dicampur Aspal Cair SC
60-70
dapat dilihat pada
Gambar berikut ini.
58
0.000
0.200
0.400
0.600
0.800
1.000
1.200
1.400
0.000 0.020 0.040 0.060 0.080
Prosentase Campuran Aspal SC 60-70
T
e
g
a
n
g
a
n

G
e
s
e
r

(
k
g
/
c
m
2
)
Pemeraman 1 hari
Pemeraman 7 hari
Pemeraman 14 hari
Gambar 6.6 Hubungan antara Tegangan Geser dengan Persentase Campuran
Aspal SC
60-70
pada pemeraman yang berbeda pada Uji Geser Langsung.
Pada pengujian Geser Langsung tanah dicampur dengan Aspal Cair SC
60-
70
pada penambahan campuran 6% mampu memberikan peningkatan tegangan
gesernya, yaitu pada pemera
2
, pada pemeraman 7 hari
2 2
. NIlai tegangan
= 0,575 kg/cm
2
.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan disimpulkan karakteristik dari tanah Pasir Pantai
berbutir seragam Pantai Parangtritis, Yogyakarta berdasarkan data-data yang
diperoleh dari penelitian di Laboratorium yang telah disajikan pada bab 5.
Berdasarkan hasil penelitian yang menguji Tanah pasir dengan
penambahan Aspal Cair SC
60-70
dengan variasi 2%, 4%, 6% dan lama pemeraman
1 hari, 7 hari, 14 hari, maka beberapa kesimpulan dan saran akan disampaikan
untuk kesinambungan dalam penelitian ini.
7.1 Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan dari hasil penelitian adalah
seperti berikut ini.
1. Berdasarkan klasifikasi tanah Unified tanah pasir Parangtritis, Bantul,
Yogyakarta termasuk dalam Divisi Utama ( Tanah berbutir kasar yaitu
>50% butiran tertahan saringan no. 200, maka termasuk dalam fraksi kasar
tertahan pada ayakan no. 4 dan termasuk golongan pasir bersih ( hanya
pasir )), Simbol kelompok adalah SP. Nama umum untuk tanah ini adalah
pasir bergradasi buruk, sedikit atau sama sekali tidak mengandung butiran
halus. Kriteria Klasifikasi didapatkan nilai Cu = 1,304 dan Cc = 0,948,
karena Cu < 6 dan Cc < 1 maka tanah termasuk gradasi buruk dengan
symbol SP,
Berdasarkan klasifikasi tanah AASHTO tanah pasir Parangtritis, Bantul,
Yogyakarta termasuk dalam Klasifikasi umum termasuk kedalam Material
Granuler ( <35% lolos saringan no.200 ). Klasifikasi kelompok dengan
symbol A-3. Tanah pasir merupakan tanah Non Plastis ( NP ), Indeks
Kelompok ( GI ) = 0, maka termasuk pada golongan A-3 ( 0 ), tipe
material adalah pasir halus, penilaian umum sebagai tanah dasar adalah
sangat baik sampai baik.
59
59
2. Sifat fisik tanah pasir Parangtritis, Bantul, Yogyakarta mempunyai kadar
b
) =
1,39 kg/cm
3
. Hasil Analisa Saringan didapat data Gravel = 0%, Sand =
100%, Silt = 0%, Clay = 0%. Pada pengujian Proktor didapatkan nilai w
opt
=
d
maksimum = 1,454 kg/cm
3
.
2. Tanah pasir dengan campuran Aspal SC
60-70
pada Uji Triaxial UU dan Uji
Geser Langsung mengalami perubahan dengan peningkatan nilai kohesi
dan nilai sudut geser dalam. Peningkatan maksimum terjadi pada
campuran Aspal SC
60-70
6% dengan pemeraman 14 hari, yaitu pada
pengujian Geser Langsung pada pada tanah asli pada pemeraman 0 hari
0
dan c = 0 kg/cm
2
dan c ter tinggi pada prosentase campuran SC
60-70
6% pada pemeraman 14
0
dan c = 0,415 kg/cm
2
. Pada pengujian Triaxial
peningkatan maximum pada pemeraman 14 hari dengan prosentase
0
dan c = 0,420 kg/cm
2
. Dari hasil
pengujian dan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa campuran
Aspal Cair SC
60-70
pada tanah pasir semakin lama pemeraman dan
tambahan bahan campuran dapat meningkatkan besarnya sudut geser
dalam dan kohesinya.
3. Parameter tegangan geser pada tanah pasir dengan campuran Aspal SC
60-
70
pada Uji Triaksial UU dan Uji Geser Langsung mengalami perubahan
peningkatan kekuatan gesernya pada lama pemeraman dan penambahan
campurannya. Kekuatan geser dari uji Triaksial dan Geser Langsung yang
terbesar adalah pada pemeraman 14 hari pada penambahan campuran
Aspal SC
60-70
sebanyak 6%, yaitu pada Uji Triaksial UU nilai = 2,036
kg/cm
2
dan pada Uji Geser Langsung nilai = 1,222 kg/cm
2
. Nilai
tegangan geser terendah pada prosentase campuran 2% dengan lama
kg/cm
2
dan pada Uji
kg/cm
2
, Jadi semakin lama pemeraman dan
semakin banyak campuran dapat meningkatkan kuat geser tanah pasir.
60
60
7.2 Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti menyarankan untuk mencoba
meneliti dengan bahan-bahan yang lain dengan prosentase campuran yang lebih
besar dan pemeraman yang lebih lama.
57
DAFTAR PUSTAKA
, AASHTO (1990), Standart Specification for highway bridges, 14 th ed,
420 Philadelphia, Pa
, ASTM (1986), Annual book of ASTM Standart, Vol 04, 08,
Philadelphia, Pa, 14 th ed, 420 Philadelphia, Pa
, 1970, Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya, No.13/1970, Dir.
Jendral Bina Marga, Badan Penerbit PU, Jakarta.
Bowles Joseph E, 1991, SIFAT-SIFAT FISIS TANAH DAN GEOTEKNIS
TANAH, Penerbit Erlangga, Bandung.
Craig, R.F, 1989, MEKANIKA TANAH Jilid I, Erlangga, Jakarta.
Das, M. Braja, 1994. MEKANIKA TANAH (Prinsip-prinsip rekayasa geoteknis
), Jilid I Erlangga. Jakarta.
Desiana Vidayanti, 1997, STABILITAS PASIR LAUT TANJUNG PRIOK
DENGAN SEMEN CLEAN SET, Tesis, tidak diterbitkan.
Fahmi Eti dan Hisfarini, 2003, STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN
MENGGUNAKAN ASPAL CAIR ( SC 70 ) SEBAGAI SUBGRADE
UNTUK PERENCANAAN JALAN KELAS I, Tugas Akhir, tidak
diterbitkan.
Hardiyatmo, Christady Hary., 2002, MEKANIKA TANAH I, PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Hardiyatmo, Christady Hary., 2002, MEKANIKA TANAH I, PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Karl Terzaghi, Ralp B. Pack, 1967, MEKANIKA TANAH DALAM PRAKTEK
REKAYASA, Edisi kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Zetty Hermylinda, 2005, PENGARUH PASIR PANTAI PADA CAMPURAN
LAPIS ANTARA BETON ASPAL DENGAN PENDEKATAN
KEPADATAN MUTLAK, Tesis, tidak diterbitkan
58
Wesley, L.D.,1977, MEKANIKA TANAH, Badan Penerbit Pekerjaan Umum,
Jakarta.

LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PENGARUH STABILISASI TANAH PASIR DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL SC60-70 TERHADAP KUAT GESER TANAH
Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat Sarjana Strata Satu ( S1 ) Teknik Sipil

Disusun oleh : Dian Purniasari 03 511 190

Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Sipil

Disetujui Oleh, Dosen Pembimbing

Ir. Faisol AM, MS

Ir. Akhmad Marzuko, MT

KATA PENGANTAR

Assalamu' alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah wa syukurillah, segala puji dan syukur adalah milikNya yang telah mencurahkan samudra karunia dan hidayahNya kepada penulis, sehingga penelitian dengan judul “Stabilisasi Tanah Pasir dengan

Menggunakan SC60-70 Terhadap KuatGeser Tanah” dilakukan pada periode September 2007 – Februari tahun 2008, bertempat di Laboratorium Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta dapat diselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam dihaturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Tugas Akhir ini adalah merupakan salah satu syarat dalam menempuh pendidikan sarjana strata satu (S1) pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Penelitian ini dimaksudkan untuk mempraktekkan teori yang diperoleh dibangku kuliah, serta memperluas wawasan untuk bekal memasuki dunia kerja. Dalam melakukan penelitian dan terselesaikannya tugas akhir ini, penyusun telah banyak mendapat bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penyusun menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak DR. Ir. H. Ruzardi, MS, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, 2. Bapak Ir. H. Faisol AM, MS, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, 3. Bapak Ir. Akhmad Marzuko, MT, selaku Dosen Pembimbing, 4. Bapak Ibnu Sudarmadji, Ir, H, MS, selaku Dosen Penguji, 5. Bapak A Halim Hasmar, Ir, H, MT, selaku Dosen Penguji,

v

terima kasih telah membimbingku untuk mencintai Allah SWT. Amin Akhirnya besar harapan penulis Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis secara pribadi dan bagi siapa saja yang membacanya. Wabillahittaufiq wal hidayah Wassalamu’alaikum Wr. Juni 2008 Penulis . mengajarkan nilai – nilai kehidupan dan selalu memotivasi hidupku untuk selalu semangat dalam hidup. Wb Yogyakarta. semoga mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.6. Tidak ada yang dapat disampaikan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan yang diberikan. Ayah dan Ibu tercinta.

AS ) iii . Asy Syarh : 5 .MOTTO “ Hai orang – orang yang beriman. Pengetahuan Manusia Tiada Setitik Air diLautan. Al Baqarah : 156 ) “ Ibrahim berkata. “ ( H. Tiada Pengetahuan Mendatangkan Kehidupan Pengetahuan Tiada Menciptakan Kesombongan. Ihsanudin. “ saya tidak putus asa. M. “ ( QS. Sungguh Allah bersama orang – orang yang sabar. mintalah pertolongan dari Allah dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya sesudah ada kesulitan itu ada kemudahan. Al Hijr : 56 ) “ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sebab yang putus asa dari rahmat tuhan hanya orang – orang yang sesat. “ ( QS. “ ( QS.6 ) “ Tiada Kehidupan Tanpa Ilmu Pengetahuan.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan parameter kuat geser tanah setelah tanah pasir dicampur dengan Aspal SC60-70. Yogyakarta dengan kondisi tanah terganggu (disturbed soil).302 kg/cm2. 7. dan 14 hari nilai tegangan gesernya adalah 1. sedangkan pada pengujian Geser Langsung prosentase peningkatan kuat geser maksimum pada prosentase campuran 6% dan lama pemeraman 14 hari.575 kg/cm2. yaitu pada campuran 2% dan lama pemeraman 1. pada pencampuran 4% dan lama pemeraman 1. yaitu pada campuran 2% dan lama pemeraman 1. 1. Yogyakarta. dan 6% dengan lama pemeraman (curring time) 1 hari.ABSTRAKSI Tanah mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu bidang pekerjaan konstruksi.075 kg/cm2. 1. pada pencampuran 6% dan lama pemeraman 1. . 7.544 kg/cm2. Pada pengujian Triaksial tipe UU prosentase peningkatan kuat geser maksimum pada prosentase campuran 6% dan lama pemeraman 14 hari. Tanah yang dijumpai dilapangan sangat bervariasi dan kualitasnya tidak selalu memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk suatu konstruksi bangunan diatasnya.417 kg/cm2. dan 1.768 kg/cm2. Variasi penambahan Aspal SC60-70 yaitu 2%. 1. 1. Sampel tanah diambil dari pantai Parangtritis. 2.899 kg/cm2. dan 1.036 kg/cm2.473 kg/cm2.843 kg/cm2. dan 14 hari nilai tegangan gesernya berturut-turut adalah 0. Perubahan ini mengakibatkan meningkatnya kuat geser. Penelitian ini mencoba menganalisis besarnya kuat geser tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC60-70 yang dilakukan dengan pengujian Triaksial tipe UU dan Geser Langsung. pada pencampuran 6% dan lama pemeraman 1. 0. Pengujian dilaksanakan di Laboratorium Mekanika Tanah. 4%. 7.883 kg/cm2. dan 14 hari nilai tegangan gesernya adalah 0. 7.222 kg/cm2.824 kg/cm2. 1. pada pencampuran 4% dan lama pemeraman 1. 7 hari dan 14 hari.722 kg/cm2. dan 14 hari nilai tegangan gesernya ( τ ) berturut-turut adalah 0. 7.486 kg/cm2. Universitas Islam Indonesia. dan 14 hari nilai tegangan gesernya adalah 1.874 kg/cm2. dan 0.139 kg/cm2. 0.022 kg/cm2. Nilai kuat geser tanah diambil dari Uji Triaksial tipe UU dan Uji Geser Langsung berdasarkan parameter kuat geser yaitu sudut geser dalam (φ) dan kohesi (c). dan 14 hari nilai tegangan gesernya adalah 0. 7. dan 1. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

...8 3..........3 Pemadatan Tanah (Proktor Standart)………………………………..................iii ABSTRAKSI………………………………………………………………………................4 Aspal Cair…………………………………………………………….1 3..8 Tanah…………………………………………………………………....6 BAB III 3....ii KATA PENGANTAR..x DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………....1 1..………………………………………………….1 1..........…......9 Sistem Klasifikasi Unified…………………………………...DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....2 LANDASAN TEORI.…...............1 3..10 3...........…………………………………………………………………i LEMBAR PENGESAHAAN…….........8 Klasifikasi Tanah……………………………………………………........2.......................2 Sistem Klasifikasi AASHTO………………………………….......xii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………....2 TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………….......3 BAB II 2.12 .....2 1...ix DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………….4 1........5 Latar Belakang………………………………………………………...............2...vi DAFTAR TABEL……………………………………………………………............3 1........3 Manfaat Penelitian……………………………………………………....4 Stabilisasi Tanah Pasir………………………………………………......v DAFTAR ISI………………………………………………………………………...2 Batasan Penelitian……………………………………………………..2 Tujuan Penelitian……………………………………………………..........1 2...1 Rumusan Masalah……………………………………………………....

3 Pekerjaan Persiapan……………………………………..25 BAB IV 4......16 Komposisi Aspal……………………………………………..1......18 3..23 Stabilisasi Tanah Pasir………………………………………………....1...4.....……………28 Pekerjaan Laboraturium……………………………………........30 Hasil Penelitian………………………………………………………30 5...6..……28 Pekerjaan Lapangan…………………………….....3.18 3.1 Percobaan Geser Langsung…………………….....2 4...……………..2 Kandungan Pasir dan Mineral yang ada di dalamnya……….......…………………….17 3.4 4.....13 3..5 Aspal…………………………………………………………………16 3..1 4..1 Hasil Pengujian Kadar air Tanah……………………………..6..8 Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb………………………………..2 4...1 3....1 Pengukuran Kekuatan Geser…………………………………18 3.2 Sifat Fisik dan Mekanis Tanah Asli…… ……………………………35 5.15 3.......27 Metode Penelitian……………………………………………………27 Rencana Penelitian………………………………………………….27 Persiapan Penelitian………………………………………………….....1 4..................………..28 4..1 Pengujian Distribusi Butiran Tanah…………………………...2 Jenis Aspal…………………………………………………....35 .1.22 3..6 Kuat Geser Pasir…………………………….7 3..28 4.2.13 Struktur Tanah Berpasir…………………………………….5...…...6 Bagan Alir……………………………………………………………29 BAB V 5.2 Pengujian Triaksial…………………….........27 Alat-alat dan bahan yang digunakan…………………………………27 Jalannya Penelitian……………………………………...6.1 HASIL PENELITIAN…...1 3......5 METODE PENELITIAN........3 4....5...30 5.5.............5..4 Tanah Pasir………………………………………………………….4.5........

…….42 Hasil Pengujian Geser Langsung…………………………….1 6..5..47 5.1.53 6.2..49 BAB VI 6.64 .……48 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung………..2..50 Klasifikasi Tanah…………………………………………………….55 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU…………………….2...2 5....36 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah……………………….6 5.61 Saran…………………………………………………………………63 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….……….50 6.2 Klasifikasi Tanah Unified……………………………….….2..45 Nilai Kuat Geser Tanah…………………………………………….61 Kesimpulan………………………………………………………….1 7...…58 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung…………………………59 BAB VII 7...4 5..3 6.2 KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….3 5.3..3 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah…………..2 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU………….1 5.38 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah ( Proktor Standart ) …….2..4 Pengaruh Campuran Aspal SC60-70 dan Lama Pemeraman………….……………….38 Hasil Pengujian Triaksial Tipe UU……………………….50 Sistem Klasifikasi AASHTO……………………………….3.1.5 5..1 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN………………………….2 6.

...20 Grafik Hubungan Tegangan Geser ( τ ) dengan Tegangan normal ( σ ) pada Uji Geser Langsung………………………………….....32 Grafik Hasil Uji Analisis Distribusi Butiran Sampel 2………….DAFTAR GAMBAR Gambar 3........43 Gambar 5.42 Gambar 5.14 Struktur butir tunggal…………………………………..3 Gambar 5...6 Hubungan Antara Kadar Air dan Berat Volume Tanah…………....40 Hasil Uji Kepadatan Tanah Sampel 2……………………………41 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Triaxial Tanah Campuran dengan Prosentase Campuran 2% dan Lama Pemeraman 1 hari..23 Kondisi Tegangan pada Keadaan Runtuh………………………..……..2 Gambar 5......…..8 Hasil Uji Geser Langsung Pada Tanah Pasir asli……………………………………………………………….7 Gambar 3..1 Gambar 5..15 Susunan benda Uji Geser Langsung ( Das...7 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Geser Langsung Tanah asli………………………………………………………....25 Bagan Alir Penelitian…………………………………………….5 Gambar 3..... 1995 )………………...45 Gambar 5.5 Alat Pengujian Triaksial UU…………………………...55 x ..…………………………………….3 Gambar 3.34 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah Sampel 1……………………...…………..……........46 Gambar 6. 1974 )……………………….13 Rentang Ukuran Pertikel ( Craig.1 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada uji Triaksial UU…………….1 Gambar 5..4 Gambar 5..19 Diagram Tegangan dengan Perubahan Tinggi Benda Uji ( Das........29 Grafik Hasil Uji Analisis Distribusi Butiran Sampel 1…………..21 Gambar 3..4 Gambar 3.2 Gambar 3.. 1995 )…………………………………………………………….15 Struktur sarang lebah ( Das........6 Lingkaran Mohr Uji Triaksial Tanah Campuran Aspal SC60-70 sebanyak 2% dengan Lama Pemeraman 1 hari……………..................9 Gambar 4.1 Gambar 3.. 1993 )…………………......8 Gambar 3.……….

Gambar 6.3 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada uji Geser Langsung...2 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada uji Triaksial UU ……………………………………………………………….4 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada uji Geser Langsung…………………………………………………………58 Gambar 6.57 Gambar 6.6 Hubungan antara Tegangan Geser dengan prosentase campuran Aspal SC60-70 pada pemeraman yang berbeda pada uji Geser Langsung…………………………………………………………60 xi .59 Gambar 6.…..5 Hubungan antara Tegangan Geser dengan prosentase campuran Aspal SC60-70 pada pemeraman yang berbeda pada uji Triaksial UU………………………………………………………….56 Gambar 6.. ………………………………………………...

48 Tabel 5. 1986 )…….41 Hasil Pengujian Triaksial Tanah Pasir dicampur dengan SC60-70…………………………………………………………….14 Pengelompokan Tipe Tanah Berdasarkan Sudut Geser Dalam…...13 Hasil Pengujian Geser Langsung dicampur Aspal SC60-70……….37 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah……………………………38 Hasil Uji Proktor Standar Sampel 1……………….2 Tabel 3..1 Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel 3.……...44 Tabel 5.22 Hasil Pengujian Analisis Saringan 1…………………………….…11 Komposisi Mineral Quartz dan Fieldspar ( Bowles.3 Tabel 5.2 Tabel 6.31 Prosentase Analisa Butiran………………………………………32 Hasil Pengujian Analisis Saringan 2…………………………….8 Tabel 5..3 Tabel 3.14 Nilai Kuat Geser Tanah Pasir dengan Campuran Aspal Cair SC60-70 Berdasarkan Uji Geser Langsung………………………..49 Tabel 6.11 Klasifikasi AASHTO .36 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah……………………………….7 Tabel 5.51 Lanjutan Tabel Klasifikasi Tanah Unified……………………….….39 Hasil Uji Proktor Standar Sanpel 2………………………..…….46 Nilai Kuat Geser Tanah Pasir dengan campuran Aspal Cair SC60-70 Berdasarkan Uji Triaksial Tipe UU…………………..33 Prosentase Analisis Butiran………………………………………35 Hasil Pengujian Kadar Air……………………………………….9 Tabel 5.4 Tabel 5.52 Klasifikasi Tanah Sistem AASHTO…………………………….41 Hasil Rata – rata Uji Proktor Standar Sampel 1 dan 2………..6 Tabel 5.10 Tabel 5..6 Tabel 5...54 ix .1 Tabel 6.….2 Tabel 5.5 Tabel 5.1 Tabel 3.……………..3 Klasifikasi Tanah Sistem Unified………………………….4 Tabel 3.12 Tabel 5.……………………………………………9 Klasifikasi Tanah SistemUnified…………………………………10 Lanjutan Klasifikasi Tanah Unified………………………….

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pernyataan Bebas Plagiatisme Lampiran 2 Kartu Peserta Tugas Akhir Lampiran 3 Hasil Uji Sifat Fisik dan Mekanis Tanah Lampiran 4 Hasil Uji Triaksial Lampiran 5 Hasil Uji Geser Langsung .

Apabila suatu tanah yang terdapat dilapangan bersifat sangat lepas atau sangat lunak sehingga tidak sesuai untuk suatu pembangunan maka tanah tersebut sebaiknya distabilisasi. Tanah non kohesif tidak mempunyai garis batas antara keadaan plastis dan tidak plastis. Tetapi dalam beberapa kondis tertentu. 1986). tanah non kohesif dengan kadar air yang cukup tinggi dapat bersifat sebagai suatu cairan kental (Bowless. mempunyai sifat antar butiran lepas (loose). hal ini ditunjukkan dengan butiran tanah yang akan terpisah-pisah apabila dikeringkan dan hanya akan melekat apabila dalam keadaan basah yang disebabkan oleh gaya tarik permukaan.BAB I PENDAHULUAN 1. tanah mempunyai peranan yang sangat penting karena tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan atau bahan konstruksi dari bangunan itu sendiri seperti tanggul. karena jenis tanah ini tidak plastis untuk semua nilai kadar air. Kondisi tanah disetiap tempat sangatlah berbeda karena tanah secara alamiah merupakan material yang rumit dan sangat bervariasi. Tanah pasir atau tanah berbutir kasar merupakan jenis tanah non kohesif (cohesionless soil). Ukuran butir yang seragam dan nilai kohesi nol menyebabkan tingginya kuat geser pada tanah ini. Secara Mekanis dilakukan dengan tujuan untuk menambah kekuatan dan daya dukung tanah dengan mengatur gradasi butir tanah tersebut. Kimiawi dan Elektris.1 Latar Belakang Pada suatu lokasi konstruksi. jalan raya. Stabilisasi tanah dapat dilakukan secara Mekanis. dsb. secara Kimiawi dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimiawi sebagai stabilisator yang 1 . Parameter kekuatan geser tanah ini terletak pada nilai kohesi (c) dan sudut gesek dalam (φ). Tanah pasir Parangtristis Yogyakarta termasuk jenis pasir dengan gradasi seragam hal ini merupakan sifat yang sangat tidak menguntungkan apabila pada kondisi lereng sehingga perlu adanya stabilisasi pada tanah ini .

6%. mengurangi sifat-sifat tanah yang kurang menguntungkan didalamnya mencapai kestabilan yang biasanya.3 Tujuan Penelitian 1. 2. 4%. 4. sudut geser dalam (φ) tanah pasir setelah dicampur dengan Aspal SC60-70 dengan prosentase campuran sebesar 2%. Mengetahui sifat fisik dan mekanis tanah. Mengetahui perubahan parameter kohesi ( c ).dapat mengubah. 14 hari. dan lama pemeraman 1 hari. Stabilisasi pada hal ini dengan cara stabilisasi kimia yaitu dengan mencampurkan pasir dengan bahan adiktif SC60-70 untuk diteliti kuat gesernya. maka dirasa perlu dilakukan penelitian. 3. 2 . Bantul.2 Rumusan Masalah Dari penjelasan latar belakang diatas dapat diambil Rumusan Masalah sebagai berikut. secara Elektris yaitu dengan pemanasan atau menggunakan listrik. sedangkan penelitian yang akan dilakukan adalah menggunakan tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal cair jenis SC60-70 terhadap kuat geser tanah. dan 14 hari. 7 hari. 6% dan lama pemeraman 1 hari. Yogyakarta. Berdasarkan pemikiran tersebut diatas. 4%. Bagaimana perubahan parameter kuat geser sampel pasir setelah dicampur dengan Aspal Cair SC60-70? 2. 1. Mengetahui perubahan tegangan geser pada pengujian Triaxial Tipe UU dan Geser Langsung tanah pasir yang dicampur dengan Aspal SC60-70 dengan prosentase campuran sebesar 2%. Bagaimana pengaruh waktu pemeraman terhadap perubahan parameter kuat geser pasir setelah dicampur Aspal Cair SC60-70? 1. Mengetahui jenis tanah berdasarkan klasifikasi AASHTO dan Unified pada tanah Pasir Parangtritis. 7 hari. 1.

7 hari. dan Uji Triaksial Tipe UU. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.4 Batasan Penelitian Untuk menghasilkan pemahaman dalam masalah ini maka diperlukan adanya batasan-batasan masalah. Uji Proktor Standart. Pengujian yang dilakukan adalah Uji kadar air. Yogyakarta 2.1. 4. 4%. 3 . 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini nantinya dapat melengkapi pengetahuan yang ada tentang penggunaan Aspal SC60-70 sebagai bahan stabilisasi pasir sehingga dapat diaplikasikan kedalam kasus-kasus geoteknik yang ada di lapangan. Pengujian dilakukan di Laboraturium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil. Aspal jenis SC60-70 dibuat dahulu dengan pencampuran antara AC( Asphalt Cement ) + solar pada suhu 600C. Uji Analisa Saringan. dan 6%. Prosentase pencampuran Aspal SC60-70 adalah 2%. 3. 1. 5. Universitas Islam Indonesia. Tanah pasir yang berasal dari Pantai Parangtritis. Uji berat jenis tanah. dan 14 hari. Uji Geser Langsung. Bantul. Uji berat volume tanah. Pemeraman dilakukan selama 1 hari.

mekanis dari batu pecah dan pasir pantai hitam yang dicuci bersih dan susunan mineral kimianya.2% dan KAO-3 = 5. tipe 2 dan tipe 3 pada temperatur 250C adalah 0. Batu pecah dan pasir pantai yang digunakan berasal dari Propinsi Bengkulu.1 Stabilisasi Tanah Pasir Pantai Menurut Zetty H.9%dan Tipe 3 = 1. penggunaan pasir pantai merupakan alternatif. 50 dan fraksi tertahan saringan no. Sedangkan pada temperatur 600C adalah 0. namun masih harus diteliti kualitasnya dalam campuran.33%. menerangkan bahwa kekuatan dan stabilisasi beton aspal diperoleh sebagian besar dari interlocking agregatnya. Pada penelitian ini menguraikan hasil penelitian Laboraturium terhadap sifat fisik. Nilai Indeks kekuatan sisa (IKS) menunjukkan bahwa Tipe 1 lebih baik dibandingkan Tipe 2 dan 3 yaitu 85. selisih VIM Marshal dengan refusal untuk Tipe 1 dan 2 = 1. 0.016 4 . (KAO-1 = 5. Tipe 2 dengan kandungan pasir pantai pada fraksi tertahan saringan no. 0.2%. KAO-2 = 5. Variasi campuran adalah tipe 1 dengan seluruh fraksi adalah batu pecah.66% dan 80. Stabilisasi terbaik untuk tipe 2 = 974 kg.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Untuk mengatasi kelangkaan material bahan perkerasan. mengkaji karakteristik Marshal. Kuat tarik tidak langsung untuk tipe 1.200. karena secara kuantitas ketersediaannya cukup banyak.018 N/m3 dan 0.1%).0178 N/m3.3%. 2005 dengan penelitian tugas akhir dengan judul pengaruh pasir pantai pada campuran lapis antara beton aspal dengan pendekatan kepadatan mutlak. sedangkan stabilitas terendah untuk tipe 1 = 859 kg dan tipe 3 = 930 kg. Kadar Aspal Optimum tidak terlalu dipengaruhi oleh naiknya kandungan pasir pantai dalam campuran.16 N/m3. kuat tarik tidak langsung dan deformasi permanen dengan menggunakan pendekatan kepadatan mutlak untuk lapis antara beton aspal.16 N/m3. kinerja campuran terhadap rendaman.

Ini sejalan dengan peningkatan kohesi maupun sudut gesernya. Nilai Stabilitas dinamis (DS) pada temperature 450C. Dalam penelitian ini pasir tersebut distabilisasi dengan clean set merupakan produk khusus untuk stabilisasi tanah yang mengatasi kekurangan semen Portland disamping itui dicoba stabilisasi dengan semen Portland campur additif baru yaitu glorit. DS-2 = 5727 lintasan/mm dan DS-3 = 3000 lintasan /mm). 10%. DS-2 = 1313 lintasan/mm dan DS-3 = 1145 lintasan/mm). dengan penelitian tesisnya dengan judul stabilitas pasir laut Tanjung Priok dengan semen cleanset. merupakan sifat yang sangat tidak menguntungkan. 8%. 6%. Triaksial CD dilakukan terhadap campuran pasir laut dengan 8% clean set untuk melihat kekuatan sisa setelah mengalami pembebanan sampai runtuh. menerangkan bahwa pasir yang menjadi obyek penelitian ini adalah pasir laut Tanjung Priok Daya dukungnya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat penumpukan peti kemas di proyek Terminal Peti Kemas III Kota Tanjung Priok Gradasinya seragam. pasir laut dicampur cleanset/semen Portland tambah glorit di mana air yang digunakan untuk pemadatan adalah air laut. Sedangkan variasi masa peram masing-masing 3. kemudian dilakukan pemeraman untuk pengerasan semen. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kenaikan prosentase clean set maupun masa peram akan meningkatkan nilai CBRnya. Metode pelaksanaan stabilitas seperti metode yang disarankan dalam SNI 03-3438-1994. Tipe 1 menunjukkan kinerja terbaik (DS-1 = 7000 lintasan/mm . V. Menurut Desiana. Metode stabilisasi untuk tanah berbutir yang cocok adalah antara lain dengan sementasi. Kadar kedua jenis bahan pencampur tersebut didasarkan atas prosentase berat kering pasir. Secara keseluruhan pemakaian pasir pantai dalam campuran lapis antara beton aspal masih menunjukkan kinerja yang baik. Pada CBR setara dengan kenaikan prosentase semen Portland campur 5 . demikian juga pada temperature 600C (DS-1 = 1500 lintasan/mm. yaitu masing-masing 4%. 1997. 28 hari. 7. karenanya perlu distabilisasi. 14. Peralatan pengukur sifat mekanis yang digunakan pada pasir laut campur cleanset untuk mengamati kecendurungan kohesi dan sudut geser dalamnya.N/m3.

grolit. Tetapi untuk respon terhadap masa peram dibutuhkan pemeraman lebih lama. Pada variasi campuran aspal cair SC 70 6% nilai CBR pemeraman 3 hari didapat nilai CBR maksimumdengan nilai CBR sebesar 20. 2. Pada kadar variasi campuran kadar aspal SC 70 4% menunjukkan penungkatan yang maksimal.92% dicapai pada kadar aspal SC 70 sebesar 8%.68%.56%. hal ini menunjukkan terjadi peningkatan niali CBR ± 2 (dua) kali lebih besar dari nilai CBR tanah tanpa campuran aspal cair SC 70. menurut klasifikasi tekstur oleh Departemen Amerika Serikat termasuk jenis tanah Lempung Lanau Berkerikil. kadar air optimum semakin meningkat seiring meningkatnya kadar aspal yang diberikan. menerangkan bahwa jenis tanah yang akan distabilisasi dengan aspal cair SC 70. menjadi tanah baik (A-2-5). Nilai kuat tekan bebas berangsus-angsur bertambah seiring dengan penambahan 6 . Pada pengujian tekan bebas dari tanah lempung dengan campuran aspal. Kadar air optimum yang tertinggi sebesar 16. Jika ditinjau dari bentuk grafiknya ada kemungkinan dalam jangka panjang stabilisasi pasir laut dengan semen Portland dan grolit tersebut akan menunjukkan hasil lebih baik. Hal ini disebabkan oleh karena aspal cair SC 70 yang sudah berfungsi sebagai pelumas. Menurut klasifikasi tanah dengan system AASHTO termasuk jenis Lempung (A7-6) yang buruk untuk subgrade jalan raya. 2003 dengan penelitian tugas akhir dengan judul stabilisasi tanah lempung dengan menggunakan aspal cair sebagai subgrade untuk perencanaan jalan kelas I. sedangkan pada tanah variasi campuran aspal cair SC 70 0% didapat nilai CBR sebesar 8. Kemudian pada 14 hari mulai menunjukkan peningkatan kembali. Klasifikasi tanah dengan system AASHTO. Pada pengujian kepadatan.2 Aspal Cair Menurut Fahmi Eti dan Hisfarini. hal ini dikarenakan terjadinya proses pengikatan antara lempung dengan aspal cair SC 70. sebab pada hasil sementara menunjukkan pada masa peram 7 hari nilai CBRnya lebih rendah dari pada 3 hari. akibat dari penambahan variasi kadar aspal cair SC 70 menunjukkan peningkatan mutu tanah dari klasifikasi tanah jelek (A-7-6).

8476 Kg/cm2).kadar aspal cair SC 70.755. Hasil penelitian ini dapat meningkatkan daya dukung tanah. 50. 7 .8476 Kg/cm2 pada kadar aspal 4% menjadi qu = 1. dengan penelitian ini bahwa aspal cair SC 70 sebagai stabilisator tanah lempung dapat memenuhi spesifikasi untuk memperbaiki kualitas tanah.875/m3. Dari hasil stabilisasi tanah lempung dengan aspal cair SC 70 ini didapat kondisi efisien dari harga perkerasan yaitu pada penambahan kadar aspal sebesar 2% dengan biaya total Rp. setelah itu dengan penambahan kadar aspal nilai tekan bebasnya mengecil dari nilai qu = 1.6953 Kg/cm2 pada kadar aspal 6%. sehingga tanah memenuhi sebagai sub grade pada jalan kelas I. Penambahan nilai ini tercapai puncaknya pada kadar aspal sebesar 4% (qu = 1.

yaitu sistem AASHTO (American Association of Highway and Transportation Official ) dan sistem Unified. Menurut Karl Tarzaghi (1987) tanah adalah kumpulan (agregat) butiran mineral alami yang biasa dipisahkan oleh suatu cara mekanik bila agregat termasuk diaduk dalam air.1.BAB III LANDASAN TEORI 3. Klasifikasi Tanah Sistem Klasifikasi Tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompokkelompok dan subkelompok-subkelompok berdasarkan pemakaiannya. . Yang memperlemah ikatan tersebut adalah pengaruh karbonat atau oksida atau pengaruh kandungan organik. Braja M. dikarenakan tanah tersebut berfungsi untuk mendukung beban yang diatasnya. 3. Terdapat dua sistem klasifikasi yang sering digunakan. Peranan tanah sangat penting dalam perencanaan atau pelaksanaan bangunan. Oleh karena itu tanah yang akan dipergunakan sebagai pendukung konstruksi haruslah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan sebagai tanah dasar (subgrade). Menurut Craig (1997) yang dimaksud dengan tanah adalah akumulasi partikel mineral yang tidak mempunyai ikatan antara atau lemah ikatan antara partikel yang terbentuk karena pelapukan batuan. Tanah Dalam pengertian teknik secara umum.2. Das (1988) mendefinisikan tanah sebagai material yang terdiri agregat ( butiran ) mineralmineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikelpartikel padat tersebut.

40 : Batas Cair Indeks Plastisitas Jenis Umum Tingkat umum sebagai Tanah dasar -------50 maks 25 maks ------51 maks 10 maks --------------35 maks --------------35 maks --------------35 maks --------------35 maks --------------36 min --------------36 min --------------36 min --------------36 min -------6 maks Fragmen batuan Kerikil dan pasir ------N. sedangkan yang berlaku saat ini adalah ASTM Standart No.AASHTO metode M145 (Sumber : Braja M Das.9 3.P Pasir halus 40 41 min 40 maks 41 min maks 10 10 11 min 11 min maks maks Kerikil atau pasir lanauan atau lempungan 40 maks 10 maks 40 min 10 maks 40 maks 11 min 41 min 11 min Tanah lanauan Tamah lempungan Sangat baik sampai baik Cukup baik sampai buruk Catatan : Kelompok A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergantung pada batas plastisnya (PL) Untuk PL>30 klasifikasinya A-7-5 Untuk PL<30 klasifikasinya A-7-6 np = non plastis GI = (F-38)((0.01(f-15)(PI-10) Dengan : GI = Indeks kelompok LL = Batas cair F = Persen material lolos saringan no.2+0.1 Klasifikasi AASHTO untuk Lapisan Tanah Dasar Jalan Raya ( Braja M Das. 200 Sifat Fraksi yang lewat : # No.2.200) A-7 A-7-5 A-7-6 Analisis ayakan (% lolos) No.1 Sistem Klasifikasi AASHTO Sistem klasifikasi AASHTO (American Association of Highway and Transportation Official ) dikembangkan pada tahun 1929 sebagai Public Road Administration Classification System. 1995) Klasifikasi Umum klasifikasi kelompok A-1 A-1-a 50 maks 30 maks 15 maks A-1-b A-3 A-2-4 A-2-5 material berbutir (<35% lolos saringan no. Sistem ini sudah mengalami beberapa perbaikan. 10 No.200 .200) A-2 A-2-6 A-2-7 A-4 A-5 A-6 tanah lanau-lempung (>35% lolos saringan no. Tabel 3. 40 No. D3282.005(LL-40))+0. 1995).

lebih dari 12% lolos saringan no.2. Selain itu juga dinyatakan gradasi tanah dengan symbol W (untuk tanah bergradasi baik) dan P (untuk tanah bergradasi buruk). maka dipakai dobel simbol . 200 (0.075 mm) Tidak memenuhi kedua kriteria untuk GW Batas-batas Atterberg dibawah garis A atau PI < 4 batas-batas Atterberg di atas garis A atau PI > 7 Cu  GM Kerikil banyak kandungan butiran halus GC bila batas Atterberg berada didaerah arsir dari diagram plastisitas. a) Tanah berbutir kasar (coarse grained-soil). SW. atau tidak mengandung butiran halus Kerikil berlanau. clay dan O (untuk lanau organik). SP. 200. GP. Plastisitas dinyatakan dengan L (plastisitas rendah) dan H (plastisitas tinggi). 200 : GW. pasir kerikil. batasan klasifikasi yang mempunyai simbol dobel Nama jenis D 60 (D20) 2  4 .2 Sistem Klasifikasi Unified Sistem Unified membagi tanah dalam dua kelompok besar yaitu tanah berbutir kasar dan tanah berbutir halus.75 mm) SW Pasir bersih ( hanya pasir ) SP D 60 (D20) 2  6 . GC.10 PI = Indeks plastisitas 3. sedikit atau tidak mengandung butiran halus Pasir Gradasi buruk. maka dipakai dobel simbol pasir lebih dari 50% fraksi kasar lolos saringan n0. SM. campuran kerikil pasirlempung Kerikil berlempung. yaitu tanah kerikil dan pasir yang kurang dari 50% lolos saringan nomer 200. 5%-12% lolos saringan no. 4 (4.2 Klasifikasi Tanah Sistem Unified Divisi Utama kerikil 50% atau lebih dari fraksi kasar tertahan saringan no. symbol kelompok ini adalah C (untuk lempung anorganik. 200 :GM. Cc  D10 D 20 xD 60 antara 1 dan 3 Tidak memenuhi kedua kriteria untuk SW Batas-batas Atterberg dibawah garis A atau PI < 4 batas-batas Atterberg di atas garis A atau PI > 7 SM Pasir dengan butiran halus SC bila batas Atterberg berada didaerah arsir dari diagram plastisitas. campuran pasirlempung klasifikasi berdasarkan prosentase butiran halus. yaitu tanah yang lebih dari 50% lolos saringan nomer 200. Tabel 3. kurang dari 5% lolos saringan no. SC.75 mm) Simbol Kelompok Nama Jenis Kerikil Gradasi baik dan campuran pasir kerikil. Cc  D10 antara 1 dan 3 D 20 xD 60 GW Kerikil bersih (sedikit atau tak ada butiran halus) GP Cu  tanah berbutir kasar Lebih dari 50% butiran tertahan saringan no. pasir kerikil. sedikit atau tidak mengandung butiran halus pasir berlanau. campuran kerikil pasirlempung Pasir Gradasi baik. Simbol kelompok ini adalah G (untuk tanah berkerikil) dan S (untuk tanah berpasir). campuran pasir lanau pasir berlempung. 4 (4. b) Tanah berbutir halus (fine-grained-soil). sedikit atau tidak mengandung butiran halus Kerikil Gradasi buruk dan campuran pasir kerikil.

3 ML Lanau dan lempung batas cair 50% atau kurang lanau tak organik dan pasir sangat halus. serbuk batuan atau pasir halus berlanau atau berlempung Lempung tak organik dengan plastisitas rendah sampai sedang. lempung gemuk ('fatclays') Batas Cair LL (%) Garis A : PI =0. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 lempung tak organik dengan plastisitas tinggi. lempung berkerikil. lempung berpasir. 200 (0.075 mm) 50 Indeks Plastisitas PI (%) CL 40 30 20 10 7 4 Diagram Plastisitas : Untuk mengklasifikasi kadar butiran halus yang terkandung dalam tanah berbutir halus dan tanah berbutir kasar. batas Atterberg yang termasuk dalam daerah yang diarsir berarti batasan klasifikasinya menggunakan dua simbol CH G ar i sA CL CL-ML ML atau OL OL lanau organik dan lempung berlanau organik dengan plastisitas rendah MH atau OH MH Lanau dan lempung batas cair > 50% CH lanau tak organik atau pasir halus diatomae. lanau elasris.20) OH lempung organik dengan plastisitas sedang sampai tinggi Tanah dengan kadar organik tinggi Pt Gambut ("peat") dan tanah lain dengan kandungan organik tinggi manual untuk identifikasi secara visual dapat dilihat di ASTM Designation D-2488 . lempung berlanau.11 Lanjutan Tabel 3. lempung kurus ('lean clays) tanah berbutir halus  50% lolos saringan no.73 (LL .

d) Mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air. dinyatakan dalam persamaan : d  b ……………………………………………………………. Kegunaan pengujian ini untuk mencari nilai kepadatan maksimum (Maximum Dry Density/MDD) dan kadar air optimum (Optimum Moisture Content/OMC) dari suatu sampel tanah.5 cm. Derajat kepadatan tanah diukur dari berat volume keringnya.3.5 kg dengan tinggi jatuh 30. b) Bertambahnya kekuatan tanah. Prinsip pengujian yaitu alat pemadatan bergantung pada jenis tanah.12 3. Tujuan pemadatan tanah adalah memadatkan tanah pada kadar air optimum dan memperbaiki karakteristik mekanisme tanah yanag akan memberikan keuntungan yaitu : a) Memperkecil pengaruh air terhadap tanah. Di dalam .3 Pemadatan Tanah (Proktor Standar) Pemadatan (compaction) adalah suatu proses bertambahnya berat volume kering tanah akibat memadatnya partikel yang diikuti oleh pengurangan volume udara dengan air tetap tidak berubah. dan usaha yang diberikan oleh alat pemadatnya.1) 1 w Berat volume tanah kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah.44 x 10-4m3. Karakteristik kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian standar Laboraturium yang disebut dengan Pengujian Proktor. c) Memperkecil pemampatan dan daya rembes airnya. Hubungan berat volume kering (γd) dan kadar air (w). Tanah didalam mould dipadatkan dengan penumbuk yang beratnya 2. kadar air. kadar air dan usaha yang diberikan oleh alat pemadatnya. Prinsip pengujian yaitu alat pemadat berupa silinder mould yang mempunyai volume 9. Tanah dipadatkan dalam 3 lapisan dengan tiap lapisan ditumbuk 25 kali pukulan. Karakteristik kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian standar Laboraturium yang disebut dengan Pengujian Proktor.

Selanjutnya. 3. tanah menjadi lebih lunak.13 “pengujian berat”.1 Hubungan Antara kadar air dan berat volume tanah. Kurva yang dihasilkan dari pengujian memperlihatkan nilai kadar air yang terbaik untuk mencapai berat volume kering terbesar atau kepadatan maksimum. Pada kadar air yang tinggi. untuk kebanyakan tanah. dan dengan berdasarkan penampilan tekstur ini . hanya berat penumbuk diganti dengan 4.5 kg dengan tinggi jatuh penumbuk 40. Kadar air pada keadaan ini disebut kadar air optimum.4 Tanah Pasir 3. mould yang digunakan masih tetap sama.074 mm sampai dengan 5 mm. Jenis tanah yang termasuk tipe pasir atau kerikil (disebut juga tanah berbutir kasar) jika. tanah akan berada dalam kedudukan jenuh dan nilau berat volume kering akan menjadi maksimum. berkisar dari kasar (3mm sampai 5mm) dan halus (<1mm). Secara visual. setelah kerakal atau berangkalnya disingkirkan. tanah cenderung bersifat kaku dan sulit dipadatkan. tanah pasir dapat ditentukan melalui teksturnya. Dalam pengujian ini. berat volume kering berkurang. digambarkan.8 kg. lebih dari 65% material tersebut berukuran pasir dan kerikil (Craig 1974). Setelah kadar air ditambah. Bila seluruh udara di dalam tanah dapat dipaksa keluar pada waktu pemadatan. percobaan diulang paling sedikit 5 kali dengan kadar air tiap percobaan divariasikan. Pada nilai kadar air yang rendah.1 Pasir dan Mineral yang Terkandung di Dalamnya Pasir (sand) adalah partikel batuan yang berukuran 0. γd (maks) wopt Kadar air (w) Gambar 3.4.

dan halus.2 Rentang ukuran partikel (Craig 1974) Pasir merupakan jenis tanah non kohesif (cohesionless soil). Lempung Lanau Halus M edium Pasir Kasar Halus 0. Komposisi mineral quartz dan fieldspar (Bowles.06 0.02 0. 1986) ditunjukkan dalam Tabel 3.2.01 0.1986).2 0. bergradasi buruk. Berdasarkan mineral yang terkandung di dalamnya.002 0. Pasir dan kerikil dapat dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi kasar. hal ini ditunjukkan dengan butiran tanah yang akan terpisah-pisah apabila dikeringkan dan hanya akan melekat apabila dalam keadaan yang disebabkan oleh gaya tarik permukaan.14 pula tanah pasir lebih mudah untuk diklasifikasikan. Pasir dan kerikil dapat dideskripsikan sebagai yang bergradasi baik. Tanah non kohesif tidak mempunyai garis batas antara keadaan plastis dan tidak plastis. tanah non kohesif mempunyai sifat antar butiran lepas (loose).006 0.4 Komposisi Mineral Quartz dan Fieldspar (Bowles. bergradasi seragam atau bergradasi timpang (gap graded). Tabel 3. seperti didefinisikan dalam Gambar 3. medium.6 60 200 U kuran Partikel Gambar 3. karena jenis tanah ini tidak plastis untuk semua nilai kadar air. tanah non kohesif dengan kadar air yang cukup tinggi dapat bersifat sebagai suatu cairan kental ( Bowles 1986).001 0. pasir terdiri dari sebagian besar mineral quartz (kwarsa) dan fieldspar.1 M edium Kerikil Kasar Halus M edium Kasar 2 1 6 20 cobbles Boulders 0. Mineral Quartz (kuarsa) Fieldspar: Ortoklas Plagioklas K(A1)Si3O8 Na(A1)Si3O8 Komposisi SiO2 (Silikon dioksida) .4. Tetapi dalam beberapa kondisi tertentu.

Tanah yang mempunyai struktur sarang lebah mempunyai angka pori besar dan biasanya dapat memikul beban statis yang tak begitu besar.1993) Pada struktur sarang lebah.4 Struktur sarang lebah (Das 1993) . Variasi angka pori yang disebabkan oleh kedudukan butiran. angka pori adalah 0. butiran tanah berbeda dalam keadaan relatif stabil dan tiap-tiap butir bersentuhan satu terhadap yang lain.4. sehingga susunan menjadi sangat padat (Das.15 3.2 Struktur Tanah Berpasir Struktur tanah pasir pada umumnya dapat dibagi 2 kategori pokok yaitu struktur butir tunggal (single frained) dan struktur sarang lebah (honeycombed). Gambar 3.35 apabila butiran dipadatkan sedemikian rupa. ( b ) Padat (Das. Struktur tersebut bila dikenai beban berat atau beban getar. tetapi angka pori berkurang menjadi 0.1993).3 Struktur butir tunggal ( a ) Lepas. Untuk suatu susunan dalam keadaan lepas. pasir halus dan lanau membentuk lengkunganlengkungan kecil hingga merupakan rantai butiran. struktur tanah akan rusak dan menyebabkan penurunan yang besar.9. Pada struktur butir tunggal. Gambar 3. Bentuk dan pembagian ukuran butiran tanah serta kedudukannya mempengaruhi sifat kepadatan tanah.

Namun. orang sumeria (3000 SM) sudah menggunakannya untuk perekat batu perhiasan kerang atau mutiara. AC 80/100. Dalam catatan sejarah. MC (Medium Curring) . Sementara aspal hot mix mulai dikenal tahun 1900. . 2) Aspal Buatan (Aspal Minyak : hasil penyulingan minyak bumi dan Tar : hasil penyulingan batu bara). 3. hampir semua aspal kini berasal dari bottom of barrel. Aspal digunakan untuk melapisi permukaan jalan mulai tahun 1830 an.16 3. Berdasarkan bahan pencairnya dapat dibedakan atas : a) b) RC (Rapid Curring) . yaitu : 1) Aspal Keras/Asphalt Cement (AC) . atau sisa-sisa penyulingan minyak. prancis. orang zaman dulu menggunakan pula untuk mengawetkan mayat. water proofing (anti rembes/bocor) dikapal misalnya. Selain itu. aspal semen yang dilarutkan dengan bensin. Aspal didapat sebagai bahan alami. aspal ini merupakan campuran antara aspal semen dengan bahan pencair hasil penyulingan minyak bumi. dll. AC 120/150.5 Aspal Aspal didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau coklat tua yang berfungsi sebagai bahan ikat suatu struktur perkerasan. (Silvia Sukirman. dilarutkan dengan minyak tanah. aspal ini digunakan dalam keadaan cair dan panas. Aspal semen dibedakan berdasarkan penetrasinya. dan juga untuk menggantikan fungsi semen dibangun.5. 2) Aspal Cair/Cut Back Aspahalt . Dalam penyimpanan atau dalam kondisi dingin aspal memadat. seperti yang ada di Buton. intip. Aspal minyak dengan bahan dasar aspal dapat dibedakan atas tingkat kekerasannya. secara global. Trinidad). Bermuda. Buton dan Aspal Danau _ P. 1992) Sudah sejak 3000 SM aspal bukan material baru dalam sejarah manusia. AC 60/80.1 Jenis Aspal Berdasarkan cara memperolehnya aspal dibedakan menjadi : 1) Aspal Alam (Aspal Gunung – P. yaitu : AC 45/60. Amerika Serikat.

4%. dan beberapa atom lain. dari beberapa ratus sampai beberapa ribu. Massa molekul aspal bervariasi. Wikipedia. biasanya 80% massa aspal adalah karbon. belerang. Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh atau tak jenuh. Proporsi dari asphaltenes. dan 6%. Biasanya aspal mengandung 5 – 25% asplaten. 1992). merupakan bagian yang mudah hilang atau berkurang selama masa pelayanan jalan. resins. (Sumber : Ismunandar. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Secara kuantitatif. id. yaitu aspal semen yang dilarutkan dengan solar dengan prosentase pencampuran 2%. Atom-atom selain hydrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen. dan sisanya oksigen dan nitrogen.org). aspal semen yang dilarutkan dengan solar. proses pembuatannya dan ketebalan lapisan aspal dalam campuran (Silvia Sukirman. Maltnes merupakan cairan kental yang terdiri dari Resins dan Oil.17 c) SC (Slow Curring) . 10% hydrogen. oksigen. aspal cukup encer dan dapat berperilaku seolah pelumas diantara kerikil atau agregat dalam campuran hot mix . 3. Resins adalah cairan berwarna kuning atau coklat yang memberikan sifat adhesi dari aspal. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan SC (Slow Curring).5. alifatik dan aromatic yang senyawa karbon jenuh samapi 150 per molekul. serta sejumlah renik besi. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa polar. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya besar). yang larut dalam heptane. Dosen kimia FMIPA ITB. nikel dan ranadium. dan oil berbeda-beda. Aspaltnes merupakan material berwarna hitam atau coklat tua yang tidak larut dalam heptane.2 Komposisi Aspal Komposisi aspal terdiri dari aspaltenes dan maltnes. Oil adalah cairan yang berwarna lebih muda merupakan media dari asphaltenes dan resins. Pada rentang suhu 850C dan 1500C. tergantung dari banyak faktor seperti kemungkinan beroksidasi. 6% belerang.

yaitu : 3. dengan luas kira-kira 3 sampai 4 inchi2 (1935.1) Keterangan : τf = kekuatan geser (kg/cm2) c = kohesi (kg/cm2) φ = sudut geser – internal ( o ) Hubungan di atas juga disebut sebagai kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb. F. M. yang berfungsi sebagai tempat benda uji. 3.(Sumber : Ismunandar. Tegangan normal pada benda uji diberikan dari atas kotak geser. Karakteristik pasir kering dan pasir jenuh adalah sama seperti yang dihasilkan oleh pasir jenuh dengan kelebihan tekanan air pori nol.4 mm). 3. untuk memberikan geseran pada tengah-tengah benda uji. Das dan R. Karakteristik kekuatan geser pasir dapat ditentukan dari hasil-hasil uji Triaksial UU dalam kondisi terdrainasi maupun hasil-hasil pengujian Geser Langsung.org). Craig) Kekuatan geser tanah dapat dinyatakan dengan rumus berikut : τf = c + σ tan φ………………………………………………………….6.1. Kotak terpisah menjadi 2 bagian yang sama.1 Pengujian Geser Langsung Pada pengujian geser langsung peralatan pengujian meliputi kotak geser dari besi. (Sumber : Braja.3. Wikipedia.6. Dosen kimia FMIPA ITB.18 dan Aspal mendingin dibawah suhu 850C. Kotak geser tempat benda uji dapat berbentuk bujursangkar maupun lingkaran.64 mm2) luas penampangnya dan tingginya 1 inchi (25. id. Gaya geser diterapkan pada setengan bagian atau dari kotak geser.6 Kuat Geser Pasir Kekuatan geser suatu massa tanah merupakan perlawanan internal tanah tersebut per satuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang bidang geser dalam tanah yang dimaksud.48 sampai 2580.1 Pengukuran Kuat Geser Tanah Cara melakukan percobaan kuat geser ada 2 macam. .

  Tegangan geser  Gaya geser yang melawan pergerakan . P merupakan reaksi dari adanya pergeseran pada kotak geser. Pada uji geser langsung dengan metode regangan terkendali..6 dapat kita lihat potongan grafik tentang hubungan antara tegangan geser dan perubahan ketinggian dari sampel tanah akibat perpindahan geser tanah pasir lepas dan pasir padat. v selalu tetap selama pengujian berlangsung dengan satuan jarak per waktu (mm/menit).. Kecepatan.9) luas penampang lintang sampel tanah Tegangan geser yang melawan pergerakan geser dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut ini.10) luas penampang lintang sampel tanah Dalam Gambar 3.(3. Pengamatan ini dihasilkan . kotak geser diberikan kecepatan pergeseran secara terkendali. Tegangan normal dapat dihitung dengan persamaan berikut :   Tegangan normal  Gaya normal yang beker ja ..5 Susunan benda uji geser langsung (Das.(3. 1995) Uji geser langsung dilakukan beberapa kali pada sebuah sampel tanah dengan beberapa macam tegangan normal.19 Gambar 3. Gaya geser yang dihasilkan.. Harga tegangan normal dan harga tegangan geser yang didapat dengan melakukan pengujian dapat digambarkan dengan beberapa grafik untuk menentukan harga parameter kuat geser.

2. Bila tegangan runtuh telah tercapai. pada tegangan geser penahan akan membesar sesuai dengan membesarnya perpindahan geser sampai tegangan tadi mencapai tegangan runtuh τf setelah itu. Pasir padat. Pasir lepas (renggang).20 oleh uji regangan –terkendali. maka tegangan geser penghambatan yang ada akan berkurang secara lambat laun dengan bertambahnya perpindahan geser sampai pada suatu saat mencapai harga konstan. 1995). Secara visual tanah jenis pasir dapat dikelompokkan dalam dua tipe tanah pasir yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut (Das. tegangan geser penghambat akan naik sejalan dengan membesarnya perpindahan geser hingga tegangan geser runtuh (maksimum) tercapai. besar tegangan geser akan kirakira konstan sejalan dengan bertambahnya perpindahan geser. 1. .

....................... besar sudut geser adalah  f φ = tan -1      ..21 Gambar 3.................... Persamaan untuk harga rata-rata garis yang menghubungkan titik-titik dalam eksperimen tersebut adalah : τf = σ tan φ...........................3....................6 Diagram tegangan dengan perubahan tinggi benda uji (Das.................. 1995) Gambar 3.............7 adalah uji dari tanah pasir kering...7 Grafik hubungan tegangan geser (τ )dengan tegangan normal (σ) pada uji geser langsung Pada Gambar 3..................3)   ..2) (catatan : c = 0 untuk parir dan σ = σ’) Jadi...........3..............................

Das) 3.6.1. Ada dua cara untuk mendapatkan nilai cu dan φu tersebut yaitu dengan lingkaran Mohr dan regresi linier. Pada penerapan tegangan deviator selama penggeserannya tidak diijinkan air keluar dari benda ujinya dan selama pengujian katup drainasi ditutup. Karena pada pengujian air tidak diijinkan mengalir keluar. beban normal tidak ditransfer ke butiran tanahnya. melalui penerapan tegangan deviator (∆σdf) sampai mencapai keruntuhan.5 Pengelompokan tipe tanah berdasarkan sudut geser dalam Tipe Tanah Pasir : butiran bulat Renggang/lepas Menengah Padat Pasir : butiran bersudut Renggang/lepas Menengah Padat Kerikil bercampur pasir Lanau (Sumber : Braja M. Pada pengujian Triaksial tipe UU (Unconsolidation-Undrained) benda uji mula-mula dibebani dengan penerapan tegangan sel (σ3). kemudian dibebani dengan beban normal.22 Dibawah ini adalah harga-harga yang umum dari sudut geser internal kondisi drained untuk pasir dan lanau. Pengujian Triaksial tipe UU tersebut untuk mendapatkan nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ).2 Pengujian Triaksial UU Pengujian Triaksial adalah suatu cara untuk pengujian kuat geser tanah. Keadaan tanpa drainasi ini menyebabkan adanya tekanan 30-35 35-40 40-45 34-48 26-35 27-30 30-35 35-38 φ(deg) . Tabel 3.

...... 1995) 3.(3.............. Bila suatu titik pada sembarang bidang dari suatu massa tanah memiliki tegangan geser yang .................................8 Alat Pengujian Triaksial UU (Das..23 kelebihan tekanan pori dengan tidak ada tahanan geser hasil perlawanan dari butiran tanahnya Untuk pengujian ini : Tegangan utama mayor total = σ3 + ∆σdf = σ1 Tegangan utama minor total = σ3 Persamaan kuat geser pada kondisi undrained dapat dinyatakan dalam persamaan : Cu   1   3 df qu   ....7 Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb Pengetahuan tentang kekuatan geser diperlukan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan stabilitas massa tanah.........4 ) 2 2 2 = kohesi undrained = tegangan deviator ∆σdf Dengan : Cu Gambar 3.....

.. Garis yang dihasilkan oleh persamaan 3................24 sama dengan kekuatan gesernya............................. dimana: τf σ’ f = = 1 (σ’ 1 ......(3........7 pada keadaan runtuh merupakan garis singgung terhadap lingkaran Mohr yang menunjukkan keadaan tegangan dengan nilai positif untuk tegangan tekan... sebagai berikut: τf = c + σf tanφ ....... Koordinat titik singgungnya adalah τf dan σ’ f........ yang berturut-turut didefinisikan sebagai kohesi (cohesion intercept atau apparent cohesion) dan sudut tahanan geser (angle of shearing resitance).............. maka keruntuhan akan terjadi pada titik tersebut... Kekuatan geser tanah dapat juga dinyatakan sebagai fungsi dari tegangan normal efektif sebagai berikut: τf = c’ + σ’ f tanφ’ ......(3.......5) dimana c dan φ adalah parameter-parameter kuat geser....... seperti diperlihatkan pada Gambar 3.. Berdasarkan konsep dasar Terzaghi..................(3..................7) 2 1 1 (σ’ 1 + σ’ 3) + (σ’ 1 ..8) 2 2 .........................(3...... Kekuatan geser tanah (σf) pada bidang tersebut pada titik yang sama....σ’ 3) cos 2θ... tegangan geser pada suatu tanah hanya dapat ditahan oleh tegangan partikel-partikel padatnya.................. Dengan demikian keruntuhan akan terjadi pada titik yang mengalami keadaan kritis yang disebabkan oleh kombinasi antara tegangan geser dan tegangan normal efektif..........σ’ 3) sin 2θ........ kekuatan geser juga dapat dinyatakan dalam tegangan utama besar σ’1 dan kecil σ’ 3 pada keadaan runtuh dititik yang ditinjau...........6) dimana c’ dan φ’ adalah parameter-parameter kekuatan geser pada tegangan efektif......9..................... Selain itu.............

.... menurunkan muka air tanah. Menurut Bowles (1986) stabilisasi dapat berupa: 1....F....8 Stabilisasi Tanah Pasir Stabilisasi tanah disebut dengan perbaikan tanah dibidang rekayasa teknik sipil...... 4.......8) 2 3...25 Gambar 3.......... menambah material untuk menyebabkan perubahan-perubahan kimiawi dan fisik dari material tanah.........(3.. 3. Sumber : Mekanika Tanah. meningkatkan kerapatan tanah.. Stabilisasi dapat dilaksanakan dengan menambah sesuatu bahan atau komposit tertentu untuk menambah kekuatan pada tanah...... menambah material yang tidak aktif sehingga meningkatkan kohesi dan/atau tahan gesek yang timbul... . mengganti tanah yang buruk........9 Kondisi Tegangan pada Keadaan Runtuh... R... Terdapat dua metode utama untuk menstabilisasi tanah yaitu stabilisasi mekanis (mechanical stabilization) dan stabilisasi kimia (chemical stabilization).. 2... Dengan demikian jelas bahwa: θ = 45° + ' ... 5.... Hal 92 dan θ adalah sudut teoritis antara bidang utama besar dan bidang runtuh.............. Craig 1989.

dengan cara menggunakan peralatan mekanis (misal: sheep-foot roller).26 1. pembekuan. kapur. eksplosif. pemanasan dan lain-lain. 1995). benda-benda berat dijatuhkan. . aspal. bentonit atau bahan kimia lainnya (Cernica. cair maupun gel pada tanah sehingga megakibatkan perbaikan sifat-sifat fisik dan mekanis dari tanah tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan metode stabilisasi dengan penambahan bahan kimia (Aspal Cair SC60-70) pada tanah pasir. stabilisasi kimia (chemical stabilization) yaitu stabilisasi dengan menggunakan cara penambahan bahan kimia padat. preloading. stabilisasi mekanis (mechanical stabilization) yaitu upaya pengaturan gradasi butiran tanah secara proporsional yangdiikuti dengan proses pemadatan untuk mendapatkan kepadatan maksimum. 2. Bowles (1988) mengatakan bahwa cara pemadatan ini dapatditempuh. Metode ini menggunakan cara mencampurkan tanah dengan semen.

4 Alat-alat dan bahan yang digunakan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. d.2 Rencana Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan. Perencanaan penelitian penting dilakukan agar pelaksanaan penelitian dapat berjalan dengan baik sehingga mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan serta tepat waktu. Mengkonsultasikan dengan Dosen Pembimbing Tugas Akhir. Pasir . Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. 4. Mengurus perijinan dari Laboraturium Mekanika Tanah. Mempersiapkan alat-alat yang dipakai. yaitu pekerjaan persiapan.3 Persiapan Penelitian Kegiatan persiapan penelitian meliputi : a. e. Mengumpulkan informasi mengenai pasir dan Aspal SC60-70. c.1 Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara pelaksanaan penelitian dalam rangka mencari jawaban dari permasalahan yang diajukan dan keaslian suatu penelitian harus ditunjukkan juga dalam tabel masalah dengan cara mengungkapkan perbedaan/penyempurnaan yang dilakukan terhadap penelitian sejenis yang pernah dilakukan. yaitu tanah pasir dan Aspal SC60-70. Universitas Islam Indonesia. 4. pekerjaan lapangan dan pekerjaan Laboraturium.27 BAB IV METODE PENELITIAN 4. b. 4. Mempersiapkan bahan-bahan. Jurusan Teknik Sipil.

4. Peralatan yang digunakan adalah semua alat yang terletak di Laboraturium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. konsultasi dengan beberapa narasumber. 2.2 Pekerjaan Lapangan Pekerjaan lapangan adalah pengambilan sampel tanah dilokasi.1 Pekerjaan Persiapan Dalam tahapan persiapan ini meliputi studi pendahuluan.5 Jalannya Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tahap sebagai berikut ini. 4.5. 4. Universitas Islam Indonesia. pengajuan proposal dan mengurus perijinan untuk kegiatan penelitian. b) Pengujian Berat Jenis Tanah. Universitas Islam Indonesia. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Aspal SC60-70 Aspal cair yang digunakan sebagai bahan stabilisator yang berfungsi sebagai bahan untuk mengikat butir-butir agregat yang ada pada pasir. 4.5. c) Pengujian Berat Volume Tanah. pekerjaan lapangan dilakukan dalam beberapa tahap. pemilihan lokasi dan pengambilan sampel tanah. . Pada penelitian ini akan digunakan aspal cair jenis SC60-70 yang dibuat terlebih dahulu dengan mencampurkan AC (Asphalt Cement) + solar pada suhu 600C. Beberapa pengujian yang akan dilakukan diantaranya : a) Pengujian Kadar Air Tanah.28 Tanah Pasir yang dipergunakan untuk penelitian ini adalah tanah pasir yang berasal dari Pantai Parangtritis Yogyakarta.5.3 Pekerjaan Laboraturium Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Mekanika Tanah Jurusan Teknik Sipil.

Uji Triaksial tipe UU Hasil Penelitian Pembahasan Kesimpulan & Saran Selesai Gambar 4. e) Pengujian Proktor Standart.1. Uji Berat Volume Tanah 4. Uji Proktor Standart 6.1 Mulai Pengumpulan buku refrensi dan survey lapangan Pengambilan sample tanah dan pengumpulan data Penelitian Laboraturium Tanah Asli : 1. Uji Analisa Saringan 5. Uji Kadar Air Tanah 2. Uji Berat Jenis Tanah 3. 4 % dan 6 % dan diperam 1 hari. f) Pengujian Geser Langsung. 7 hari dan 14 hari Kemudian dilakukan Uji : 1.29 d) Pengujian Analisa Saringan. 4. Bagan alir penelitian . Uji Geser Langsung 2. g) Pengujian Triaksial UU.6 Bagan Alir Dalam Tugas Akhir ini direncanakan pelaksanaannya berdasarkan bagan alir yang dapat dilihat pada Gambar 4. Uji Geser Langsung Pencampuran tanah dengan bahan stabilisasi (Aspal SC60 – 70) 2 %.

Analisa Saringan. sedangkan sifat mekanik tanah meliputi. kadar air. Tanah asli berupa pasir pantai yang berasal dari Pantai Parangtritis. dan Uji Triaksial Tipe UU. berat jenis.30 BAB V HASIL PENELITIAN Pada bab ini diuraikan hasil penelitian penggunaan campuran Aspal SC60-70 sebagai stabilisasi tanah pasir. Uji geser langsung. 5. pemadatan tanah (Proktor Standar).1. analisa saringan pemadatan tanah ( Proktor Standar ). Penelitian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia pada tanggal 27 Desember 2007 sampai dengan 5 Februari 2008.1 Pengujian Distribusi Butiran Tanah Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui butir-butir tanah serta prosentasenya berdasarkan batas-batas klasifikasi jenis tanah. Pada penelitian ini dibatasi pada pengujian sifat fisik tanah yaitu analisis saringan. 6% dan waktu pemeraman 1 hari. kadar air. berat jenis. sedangkan tanah campuran menggunakan bahan stabilisasi Aspal SC60-70 dengan variasi campuran 2%. Uji Geser Langsung. berat volume. 5. berat volume. 4%. sehingga dapat . 7 hari.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan di uraikan hasil penelitian dan pengujian pada tanah asli yang meliputi pengujian sifat fisik tanah yaitu analisis saringan. Yogyakarta. 14 hari. Sampel uji yang diujikan terdiri dari tanah asli dan tanah campuran. dan Uji Triaksial Tipe UU. Sedangkan data detail hasil pengujian dan perhitungan laboraturium disajikan secara lengkap pada bagian lampiran laporan ini.. dan pengujian sifat mekanik tanah meliputi.

00 0.00 100. Tanah pasir yang digunakan adalah tanah pasir yang tertahan #60.750 2.00 100.00 60.00 100.00 0.00 % finer by mass e/W x 100% 100.1 25.00 60.00 0.00 0.00 100.00 100.00 60.7 4.00 0.00 0.00 60.00 60.00 60.850 0.075 d1 = d2 = d3 d4 = d5 = d6 = d7 = Sd = retained (gr) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.31 diketahui jenis tanah yang diuji.00 60. Tabel 5.00 100.425 0.00 60.00 60.00 0.00 60.00 100.000 0.00 100.00 100.00 100.00 0.8 1 3/4 38.2 3/8 1/4 4 10 20 40 60 140 200 9.00 60.00 0.00 100.00 e7 = W .00 100. Pada pengujian ini dilakukan satu pengujian yaitu analisis saringan.Sd e6 = d7 + e7 e5 = d6 + e6 e4 = d5 + e5 e3 = d4 +e4 e2 = d3 + e3 e1 = d2 + e2 Remarks e1 = e2 = e3 = e4 = e5 = e6 = e7 = e9 = e10 = e11 = e12 = .00 Mass passed (gr) 60.1.00 0.00 60.4 19 13.00 100.00 60.5 6.00 60.250 0.00 60. Hasil Pengujian Analisis Saringan Mass Sieve No Opening (mm) 90 75 63 50.106 0.00 0.

200 ---no.2 Prosentase analisis butiran Finer # 200 Gravel Sand Silt Clay 0.00 0.32 Sand Gravel coarse Silt Medium Clay Fine m ---no.29314 0. m m Gambar 5. 20 ---no.1 ---no.34372 1. 10 ---no.00 100.948 0.01 0. 40 0.326 . 4 ---no.00 0.263624 0.001 Graind diameter. 100 100 90 80 70 Percent finer 60 50 40 30 20 10 0 100 10 1 0.00 0. Tabel 5.00 % % % % % D10 (mm) D30 (mm) D60 (mm) Cu = D60/D10 Cc = D30² / (D10xD60) D50(mm) 0. 60 ---no.304 0.1 Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 1 Dari hasil uji Analisa distribusi butiran diatas maka akan didapatkan prosentase nilai rata-rata dari masing masing agregat yang hasilnya dapat kita lihat dibawah ini.

00 60.00 100.00 100.00 0.250 0.00 60.000 0.00 100.750 2.00 e7 = W .00 60.00 0.425 0.00 60.00 100.00 0. Hasil Pengujian Analisis Saringan Mass Sieve No Opening (mm) 90 75 63 50.00 100.3.00 0.00 0.00 0.00 100.Sd e6 = d7 + e7 e5 = d6 + e6 e4 = d5 + e5 e3 = d4 +e4 e2 = d3 + e3 e1 = d2 + e2 Remarks e1 = e2 = e3 = e4 = e5 = e6 = e7 = e9 = e10 = e11 = e12 = .1 25.00 Mass passed (gr) 60.00 100.00 % finer by mass e/W x 100% 100.00 60.00 60.075 d1 = d2 = d3 d4 = d5 = d6 = d7 = Sd = retained (gr) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.5 6.7 4.2 9.00 100.00 60.00 60.4 19 13.00 100.00 60.00 60.33 Keterangan : D10 = bukaan yang lolos 10% D30 = bukaan yang lolos 30% D60 = bukaan yang lolos 60% Cu = koefisien keseragaman = D 60 D10 Cc = koefisien gradasi = D302 D10  D 60 Tabel 5.00 60.8 1 3/4 3/8 1/4 4 10 20 40 60 140 200 38.00 100.00 60.850 0.00 0.00 60.00 60.00 100.00 60.00 0.00 100.00 0.106 0.00 0.00 100.00 0.

34 Sand Gravel coarse Silt Medium Clay Fine m ---no. 20 ---no.1 ---no. 200 ---no.01 0.4. 10 ---no. 40 0. mm Gambar 5. 4 ---no.2 Grafik hasil uji analisa distribusi butiran sampel 2 Dari hasil uji Analisa distribusi butiran diatas maka akan didapatkan prosentase nilai rata-rata dari masing masing agregat yang hasilnya dapat kita lihat pada Tabel 5. .001 Graind diam eter. 60 ---no. 100 100 90 80 70 Percent finer 60 50 40 30 20 10 0 100 10 1 0.

Kadar air tanah adalah nilai perbandingan antara berat air dalam satuan tanah dengan berat kering tanah tersebut....... Hasil dari uji kadar air tanah dapat dihitung dengan persamaan berikut : w= Ww x 100 % .304 0..... Berat jenis........ Berat Volume ... Hasil pengujian kadar air ditujukan pada tabel 5....00 100.. Triaksial UU dan Geser Langsung..(5.......948 0..00 0. 5....2..1 Hasil Pengujian Kadar Air Tanah Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya kadar air yang terkandung dalam tanah..35 Tabel 5..1) Ws ..4 Prosentase analisis butiran Finer # 200 0.....326 Keterangan : D10 = bukaan yang lolos 10% D30 = bukaan yang lolos 30% D60 = bukaan yang lolos 60% Cu = koefisien keseragaman = D 60 D10 Cc = koefisien gradasi = D302 D10  D 60 5....00 0.29314 0...34372 1.00 % D10 (mm) D30 (mm) Gravel Sand Silt Clay 0.....5...Analisa Saringan....263624 0... Proktor Standar.....00 % % % % D60 (mm) Cu = D60/D10 Cc = D30² / (D10xD60) D50(mm) 0...2 Sifat Fisik dan Mekanis Tanah Pengujian sifat mekanis tanah di Laboratorium meliputi pengujian : Kadar air....

3) = Gs (t ) x Bj air 27........W1 ) ..36 0...(5....6.45 Dari pengujian dan perhitungan di dapat kadar air tanah pasir Pantai Parangtritis.....46 3.74 44..W2 ) o Gs (27 ) Bj air t o .....(W3 ...........36 x 100 % 44....36  22..77 % 5...(5.84 23. biasanya diambil suhu 27.2) (W4 .5 o .51 2 21......... Contoh perhitungan kadar air (w) : w= w= Ww x 100 % Ws W2 ...9 45.54 43.......09 w= w = 3.76 22......W1 45.5 Hasil Pengujian Kadar Air 1 2 3 4 5 6 7 8 No Pengujian Berat Container (W1) Berat Container + Tanah Basah (W2) Berat Container + Tanah Kering (W3) Berat Air (Wa) Berat Tanah Kering (Wt) Kadar Air (Wa/Wt) x 100% Kadar Air rata-rata (%) 1 20....2  44....... Yogyakarta sebesar 3.. Hasil dari pengujian berat jenis tanah dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : Gs (t o) o = (W2 ...W1 ) ..2..78 0.36 Tabel 5........W3 x 100 % W3 ..58 3.2 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya nilai perbandingan antara berat butir-butir tanah dengan berat air destilasi diudara dengan volume yang sama pada suhu tertentu.51 %..... Hasil dari pengujian berat jenis tanah ditunjukkan pada tabel 5.2 44.50C....04 3..

76 66.99598  = 2.99 83.09 = 2. Yogyakarta sebesar 2.53 12.12 102.62 29 0.(W3 .98 52.99641  = 2.66 2.99641 27.85 10.6 Hasil Pengujian Berat Jenis Tanah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 No Pengujian Berat piknometer Berat piknometer + Tanah Kering (W2) Berat Piknometer + Tanah + Air (W3) Berat Piknometer + Air (W4) Temperatur (t°) Bj air pada temperatur Bj air pada 27.76 43.70     0.1 90.W3 Berat jenis.29 10.68 2 19.698 Dari pengujian dan perhitungan di dapat berat jenis tanah pasir Pantai Parangtritis.658 Contoh perhitungan berat jenis tanah : Gs (to) = (W2 .23 93.W2 ) = 27.99598 0.70 Gs (27.5°C = Gs(t°) .70 2. [Bj air °t / Bj air t 27.5] Berat jenis rata-rata Gs 1 16.5o C) = Gs (t o) x Bj air t o Bj air 27.698 2.99641 32.37 Tabel 5.41 29 0. .W1 ) .5 °C Berat tanah kering (Wt) A = Wt + W4 I = A .45 70. Gs (t°) = Wt/I Gs pada 27.W1 ) (W4 .09 2.08 2.99598 0.5 o  0.68.

4 Hasil Pengujian Pemadatan Tanah ( Proktor Standar ) Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai kadar air ( w ) optimum dan berat volume kering ( γd ) maksimum sampel tanah..380 81.4 2.... Uji kepadatan tanah dilakukan dengan uji Proktor Standar....... Yogyakarta sebesar 1..1 116.......3 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui berat volume suatu sampel tanah. Berat penumbuk sebesar 2.....55 198..4) V ..5 80....87 cm3.. berat volume basah (γ) dari tanah basah yang dipadatkan tersebut dapat dihitung dengan persamaan 5.....55 189...4 berikut ini...4 2..5 80.39 2 6. berat volume tanah adalah nilai perbandingan berat tanah total termasuk air yang terkandung didalamnya dengan volume tanah total..38 81.43 Dari pengujian dan perhitungan di dapat berat volume tanah pasir Pantai Parangtritis. Diameter cetakan sebesar 10.. Untuk setiap percobaan....39 gr/cm3.55 1...6 cm....2. Tabel 5.2...7..2 cm dan tinggi cetakkan 11... Hasil dari pengujian ini ditujukan pada tabel 5.7 Hasil Pengujian Berat Volume Tanah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 No Pengujian Diameter ring (d) Tinggi cincin (t) Volume ring (V) Berat ring (W1) Berat ring + tanah basah (W2) Berat tanah basah (W2-W1) Berat volume tanah (γ) Berat volume rata-rata (gr/cm³) 1 6.........35 1.....38 5..5kg dan tinggi jatuh sebesar 30.....7 108...... Adapun volume cetakan silinder sebesar 947..15 1.... 5...(5.. γb = W ..

..8 Hasil uji proktor standar sampel 1 Pengujian w optimum (%) γd maksimum (gr/cm ) 3 1 11.......... Hasil dari pengujian kadar air sampel dari pantai Parangtritis Bantul.........................  ....51 1...5) 1 w Tabel 5.... Pada setiap percobaan besarnya kadar air dalam tanah yang dipadatkan dapat ditentukan di laboratorium.....39 Dengan : W V = berat tanah yang dipadatkan dalam cetakan = volume cetakan (cm3)..412 3 15.96 1....... Dengan demikian titik puncak dari grafik merupakan kadar air optimum dan berat volume kering maksimum..87m 3 = 1.542 gr/cm3 .383 2 12..8 dibawah ini.....5 tersebut dapat digambarkan terhadap kadar air dengan γd sebagai absis dan kadar air sebagai ordinat. Bila kadar air diketahui.. maka berat volume kering (γd) dari tanah tersebut dapat dihitung dengan persamaan 5.......378 5 19.51 1... DIY ditunjukkan pada Tabel 5...434 4 18.5 berikut : γd = Dengan : w (%) = persentase kadar air...(5.350 Contoh Perhitungan berat volume tanah basah : γb = γb = W V 1462gr 947.44 1.... Harga γd dari persamaan 5.8 yang kemudian hasilnya diposisikan pada grafik yang dapat dilihat pada Gambar 5.53 1.

Hasil Pengujian Pemadatan Tanah pasir sampel 1 Berat volume kering maksimum ( γd ) : 1.3. kemudian dari titik puncak kurva ditarik garis vertikal memotong absis.40 Perhitungan berat volume kering : γd = γd =  1 w 1.45 B erat Volume K ering .542 1  0. g k (g r/cm3) 1.5 1. Kurva hasil pengujian kapadatan tanah dapat dilihat pada Gambar 5. w (% ) 17 22 Gambar 5. 1.1153 = 1.440 gr/cm3 Kadar air optimum ( w ) : 14.3 dan 5. pada titik ini adalah merupakan kadar air optimumnya.4 dibawah ini.4 1. Puncak kurva merupakan nilai (γd) maksimum.383 gr/cm3 Kurva hubungan antara kadar air (w) dan berat volume tanah kering (γd) dibuat dengan kadar air (w) sebagai absis sedangkan berat volume kering (γd) sebagai ordinat.35 1.3 7 12 K adar air.90 % .

454 .40 %.4 1.43 1.466 4 20.291 1.08 1.90 1.9 Hasil uji proktor standar sampel II Pengujian w optimum (%) γd maksimum (gr/cm3) 1 11 1.45 1. w (% ) 20 25 Gambar 5. Berat volume kering maksimum = 1.2 5 10 15 K adar air.40 1.6 1.55 1.3 1. maka didapatkan : Kadar air optimum = 15.10 Hasil rata-rata uji proktor standar sampel I dan II Pengujian Kadar air optimum rata-rata (%) Berat volume tanah kering maksimum (gr/cm3) 1 14.443 3 16 1.468 gr/cm3 Tabel 5.25 1.35 1.41 Tabel 5. g k (g r/cm3) 1.15 1.329 5 21 1.339 2 13.4 Hasil uji kepadatan tanah pasir sampel II Dari kurva hubungan kadar air dengan berat volume tanah kering.5 B erat Volume K ering .440 2 15.468 rata-rata 15.

.5 s3 = 0.42 5. seperti pada gambar 5. dan 1.5. Salah satu hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar 5.5 Pengujian Triaksial Tipe UU Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan nilai sudut geser dalam ( φ ) dan nilai kohesi ( c ).5 2 Stress (kg/cm2) s3 = 1 kg/cm2 1. yaitu untuk tegangan sel ( σ3 ) 0. Kemudian dibuat lingkaran Mohr dari tegangan pada saat sampel pecah dengan tegangan geser sebagai ordinat dan tegangan normal sebagai absis.5 kg/cm2. 2.2.5 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Triaksial UU Tanah Campuran Aspal SC60-70 dengan prosentase campuran 2% dan lama pemeraman 1 hari.6.0 kg/cm2.25 kg/cm2 0.5 kg/m2 1 s3 = 0.5 0 0 5 Strain (%) 10 15 Gambar 5. Pengujian ini dilakukan pada sampel benda uji tanah campuran dengan jumlah sampel sebanyak 3 buah. 0.25 kg/cm2.

5910 dan nilai kohesi ( c ) 0.6 Lingkaran Mohr Uji Triaksial UU Tanah Campuran Aspal SC60-70 sebanyak 2% dengan Lama Pemeraman 1 hari.5 Shear Stress (kb/cm 2 1.5 5 Norm al Stress (kg/cm ) Gambar 5.43 3 2.5 2 2.5 3 2 3. Dari hasil pengujian triaksial UU tanah pasir dicampur Aspal SC60-70 didapatkan nilai sudut geser dalam ( φ ) 29.5 4 4.5 0.5 ) 2 1 0 0 0.030 kg/cm2. .5 1 1.

462 36.073 36.725 36.400 29.219 37.140 14 1 2 36.200 0.030 0.209 0.150 0.420 .622 38.090 0.195 14 1 2 37.270 39.130 0.440 0.190 0.325 14 1 2 39.11 Hasil Pengujian Triaksial UU Tanah Pasir Dicampur dengan Aspal SC60-70 % Aspal SC60-70 Pemeraman ( Hari ) Sampel φ o () c 2 (Kg/cm ) Rata-rata φ c 1 1 2 29.457 32.692 0.229 0.320 0.310 1 1 2 34.266 0.340 0.440 35.041 34.960 0.200 0.164 0.200 6% 7 1 2 38.300 0.870 0.706 35.166 39.604 0.073 0.090 4% 7 1 2 36.130 0.165 1 1 2 32.44 Tabel 5.591 28.073 33.830 0.030 2% 7 1 2 34.190 0.662 38.090 0.866 35.114 38.030 0.310 0.868 0.011 34.

2 0. Pengujian ini dilakukan pada sampel benda uji tanah campuran dengan jumlah sampel senanyak 3 buah.3 0. Parameter geser tanah terdiri atas sudut gesek intern ( φ ). 16 kg. dan 32 kg.7.7 Kurva Hubungan Tegangan dan Regangan Uji Geser Langsung Tanah Pasir asli. yaitu untuk beban 8 kg.2. hasil penelitian geser langsung tanah Pasir asli dapat dilihat pada Gambar 5.6 Pengujian Geser Langsung Tujuan pengujian adalah untuk menentukan besar parameter geser langsung pada kondisi Unconsolidated Undrained.6 0.5 Stress (kg/cm ) 2 0.4 0. .1 0 0% 2% 4% 6% Strain 8% 10% Gambar 5. dan cohesi ( c ).45 5. 0.

0 38.09 0.3 38.3 38.50 Shear Stress (kg/cm2) 0.2 31.15 34.53x + 0.19 0.6 35.9 c (Kg/cm ) 2 0 Rata-rata φ c 27.15 0. 0.30 0.03 0.46 Selubung keruntuhan kekuatan geser ditunjukan pada Gambar 5.30 0.6 33.15 0.4 34.00 31.21 0.9 28.15 38.15 0.8 1.60 y = 0.9 0 1 2% 7 14 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 27.2 34.0 34.6 32.14 0.19 0.20 0.2 Gambar 5.6 Normal Stress (kg/cm 2) 0.4 0.20 37.20 0.6 37.20 38.28 0.40 0.4 34.40 28.18 0.16 0.40 35.60 34.02 0.29 0.22 0.0 0.20 35.03 0.42 4% 7 14 1 6% 7 14 . Tabel 5.00 kg/cm2.0 0.8.22 0.0 1.8 35.19 0.10 0.6 33.8 38.43 0.8 Hasil Uji Geser Langsung Pada Tanah Asli Dari hasil pengujian geser langsung tanah pasir asli didapatkan nilai sudut geser dalam ( φ ) 27.00 0.9 0 dan nilai kohesi ( c ) 0.09 0.12 Hasil Pengujian Geser Langsung Dicampur dengan Aspal SC60-70 % Aspal SC60-70 0% Pemeraman ( Hari ) 0 Sampel 1 φ (0) 27.09 0.8 37.00 0.19 0.20 0.2 0.18 0.

.... Nilai kuat geser tanah dilakukan dengan formula Coulomb sebagai berikut : τ = c + σ tg φ......... ...7) σ = ½ (σ1+σ3) + ½ (σ1-σ3) cos 2θ……………………………………………(5..... Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan...5...47 5.6) Keterangan : τ = Tegangan geser tanah ( kg/cm2 ) c = kohesi tanah ( kg/cm2 ) φ = sudut gesek dalam tanah ( 0 ) σ = tegangan normal pada bidang runtuh ( kg/cm2 ) Kuat geser tanah juga biasa dinyatakan dalam bentuk tegangan-tegangan efektif σ1 dan σ3 pada saat terjadi keruntuhan.....9) Keterangan : θ = sudut runtuh antara bidang horizontal dengan bidang runtuh Analisis kuat geser dilakukan dengan menggunakan nilai parameter kohesi dan sudut geser dalam yang diperoleh dari pengujian Triaksial UU dan pengujian Geser Langsung......8) θ = 450 + φ/2…………………………………………………………………(5...... stabilisasi lereng.....................3 Nilai Kuat Geser Tanah Analisis kuat geser tanah diperlukan untuk menganalisis kapasitas dukung tanah............................ dinyatakan oleh: τ = ½ (σ1-σ2) sin 2θ…………………………………………………………(5...... Persamaan tegangan geser.. dan gaya dorong pada dinding penahan tanah..........

666 0.808 0.781 0.139 1.417 1.000 1.000 1.266 0.868 36.873 0.302 64.13 Nilai Kuat Geser Tanah pasir dengan campuran Aspal Cair SC60-70 Berdasarkan Uji Triaksial Tipe UU.469 4.002 4.000 1. Tabel 5.037 61.790 0.000 1.781 0.480 63.820 0.692 128.030 0.082 63.175 4.000 1.437 1.000 1.714 4. % Aspal Pemeraman φ o ( ) c 2 ( kg/cm ) σ1 2 ( kg/cm ) σ3 2 ( kg/cm ) θ o ( ) 2θ o ( ) sin 2θ o ( ) τ ( kg/cm ) 2 1 2% 7 14 1 4% 7 14 1 6% 7 14 29.074 122.000 1.839 0.692 39.960 36.765 1.036 .000 3.604 128.(5.682 5.830 34.090 0.556 3.333 119.823 0.325 0.807 0.868 126.228 124.960 126.302 1.10) di mana θ = 450 + φ/2 Nilai kuat geser tanah dicampur Aspal SC60-70 dapat dilihat pada Tabel berikut ini.434 63.229 34.310 0.164 127.442 5.874 1.1 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU Pada uji Triaksial Tipe UU tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC60-70 kuat geser nya dapat dicari dengan rumus : τ = ½ (σ1-σ3) sin 2θ…………………………………………………….195 0.915 62.3.346 64.420 1.824 2.140 0.830 124.200 0.486 1.164 37.000 1.214 59.675 6.165 0.073 32.48 5.604 38.614 62.

900 28.025 1.030 0.300 38.529 0.150 0.160 0.914 1 1 2 0.615 0.027 37.400 34.300 38.600 33.680 0.175 1.150 0.765 1.220 0.000 38.2 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung Pada uji Geser Langsung tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC 60-70 kekuatan geser dapat dicari dengan rumus : τ = c + σn tg φ……………………………………………………………(5.022 14 1 2 0.027 31.027 34. Tabel 5.11) Nilai kuat geser tanah dicampur Aspal SC60-70 dapat dilihat pada tabel berikut ini.200 34.280 0.575 2% 7 1 2 0.200 0.400 34.843 14 1 2 0.3.14 Nilai Kuat Geser Tanah pasir dengan campuran Aspal Cair SC60-70 Berdasarkan Uji Geser Langsung Pemeraman % Aspal ( Hari ) Sampel φ ( ) o c 2 ( kg/cm ) Rata-rata φ c σn 2 ( kg/cm ) tg φ o ( ) τ ( kg/cm ) 2 0% 0 1 1 1 2 27.900 28.415 1.400 27.700 0.210 0.180 0.544 1.000 0.800 37.000 0.027 38.000 34.680 0.190 0.190 0.200 0.300 0.140 0.185 1.145 1.200 0.600 35.900 27.027 0.150 0.027 35.200 31.49 5.883 14 1 2 0.600 32.190 0.027 35.150 0.290 1.430 0.600 0.899 6% 7 1 2 0.000 0.222 .090 1.090 0.195 1.705 0.600 37.400 0.020 0.215 1.722 4% 7 1 2 0.200 0.075 1 1 2 0.800 35.027 38.786 1.600 33.027 34.090 0.535 0.000 0.786 1.800 38.027 0.

344   1. 4.1. .264 0. Divisi Utama a. Bantul Yogyakarta digolongkan sebagai berikut : 1.1. Pada Sistem Unified.075). dan sebagai tanah berbutir halus ( lanau/lempung ) jika lebih dari 50% lolos saringan nomer 200. Simbol Kelompok : SP 3. Klasifikasi Tanah 6. 4. tanah diklasifikasikan ke dalam tanah berbutir kasar ( kerikil dan pasir ) jika kurang dari 50% lolos saringan nomer 200. 2.948 ( D10 xD60) (0.1 Klasifikasi tanah Unified Berdasarkan data hasil pengujian sifat fisik dan mekanik tanah yang digunakan dalam penelitian ini dapat ditentukan karakteristik tanah dengan sistem klasifikasi tanah Unified. Kriteria Klasifikasi Cu = D60 0. c. Tanah berbutir kasar yaitu lebih dari 50% butiran tertahan saringan no.304 D10 0. sedikit atau sama sekali tidak mengandung butiran halus.BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 6. Pada Klasifikasai tanah sistem Y pada tanah pasir Parangtritis.344) Cc = Cu<6 dan Cc<1. Pasir bersih ( hanya pasir ).293 2 D30 2   0. Pasir 50% atau lebih dari fraksi kasar tertahan pada ayakan No. b. tanah diklasifikasikan dalam sejumlah kelompok dan subkelompok . 200( 0. Selanjutnya. maka termasuk kedalam simbol kelompok SP dengan gradasi buruk.264 x0. Nama Umum : Pasir bergradasi buruk dan pasir berkerikil.

4 (4. campuran kerikil pasir-lempung Kerikil berlempung. sedikit atau tidak mengandung butiran halus Kerikil Gradasi buruk dan campuran pasir kerikil. maka dipakai dobel simbol pasir lebih dari 50% fraksi kasar lolos saringan n0. 4 (4. SC. kurang dari 5% lolos saringan no. campuran kerikil pasir-lempung Pasir Gradasi baik. Cc  D10 D 20 xD 60 SW Pasir bersih ( hanya pasir ) SP antara 1 dan 3 Tidak memenuhi kedua kriteria untuk SW SM Pasir dengan butiran halus SC Batas-batas Atterberg dibawah garis A atau PI < 4 batas-batas Atterberg di atas garis A atau PI > 7 bila batas Atterberg berada didaerah arsir dari diagram plastisitas. sedikit atau tidak mengandung butiran halus pasir berlanau.075 mm) Kerikil bersih (sedikit atau tak ada butiran halus) GW GP Kerikil Gradasi baik dan campuran pasir kerikil. 200 (0. GP. campuran pasir lanau pasir berlempung. pasir kerikil. SP. GC. 200.75 mm) Nama Jenis klasifikasi berdasarkan prosentase butiran halus. pasir kerikil. 200 : GW. campuran pasirlempung Cu  antara 1 dan 3 Tidak memenuhi kedua kriteria untuk GW Kerikil banyak kandungan butiran halus GM GC Batas-batas Atterberg dibawah garis A atau PI < 4 batas-batas Atterberg di atas garis A atau PI > 7 Cu  bila batas Atterberg berada didaerah arsir dari diagram plastisitas. batasan klasifikasi yang mempunyai simbol dobel Nama jenis D 60 (D20) 2  4 .1Klasifikasi Tanah Sistem Unified Simbol Kelompok Divisi Utama kerikil 50% atau lebih dari fraksi kasar tertahan saringan no. 5%-12% lolos saringan no.49 Tabel 6. maka dipakai dobel simbol . SW. Cc  D10 D 20 xD 60 tanah berbutir kasar 50% butiran tertahan saringan no. 200 :GM. sedikit atau tidak mengandung butiran halus Pasir Gradasi buruk. atau tidak mengandung butiran halus Kerikil berlanau. SM.75 mm) D 60 (D20) 2  6 . lebih dari 12% lolos saringan no.

lempung kurus ('lean clays) 40 30 20 10 7 4 Diagram Plastisitas : Untuk mengklasifikasi kadar butiran halus yang terkandung dalam tanah berbutir halus dan tanah berbutir kasar. lempung berlanau. serbuk batuan atau pasir halus berlanau atau berlempung 50 tanah berbutir halus  50% lolos saringan no.2 ML lanau tak organik dan pasir sangat halus. 200 (0. lempung berpasir.075 mm) Lanau dan lempung batas cair 50% atau kurang Indeks Plastisitas PI (%) CL Lempung tak organik dengan plastisitas rendah sampai sedang.50 Lanjutan Tabel 6. lempung berkerikil.73 (LL .20) MH Lanau dan lempung batas cair > 50% CH lanau tak organik atau pasir halus diatomae. lanau elasris. batas Atterberg yang termasuk dalam daerah yang diarsir berarti batasan klasifikasinya menggunakan dua simbol CH G ar i sA CL CL-ML ML atau OL MH atau OH OL lanau organik dan lempung berlanau organik dengan plastisitas rendah 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Batas Cair LL (%) Garis A : PI =0. lempung tak organik dengan plastisitas tinggi. lempung gemuk ('fatclays') OH lempung organik dengan plastisitas sedang sampai tinggi Tanah dengan kadar organik tinggi Pt Gambut ("peat") dan tanah lain dengan kandungan organik tinggi manual untuk identifikasi secara visual dapat dilihat di ASTM Designation D-2488 .

1.005 (LL-40)] + 0.1) Dengan : GI = indeks kelompok ( group index ) F = persen butiran lolos saringan no.01 (0-15)(0-10) = 0 → A-3 ( 0 ) 6.005 (0-40)] + 0. Sifat fraksi lolos saringan no. Tipe material yang pokok pada umumnya : Pasir halus 7.005 (LL-40)] + 0.2 + 0. Penilaian umum sebagai tanah dasar : Sangat baik sampai baik .01 (F-15)(PI-10) = (0-35)[0.425 mm ( no. Indeks Kelompok : ( GI ) GI = ( F-35)[0.2 + 0.2 + 0. 10 ) : 0. A-1 sampai A-8 termasuk sub-sub kelompok.1. 200 ) : 10 maks 4. 200 (0. 40 ) : 51 maks 0. Analisa Saringan ( % lolos ) 2. 40 Batas cair ( LL ) : Indeks Plastis ( PI ) : NP 5.075 mm ( no.00 mm ( no. Klasifikasi Kelompok : A-3 3.075 mm) LL = batas cair PI = indeks plastisitas GI = ( F-35)[0.200 ) 2.2 Sistem Klasifikasi AASHTO Sistem klasifikasi AASHTO ( American Association of State Highway and Transporttation Officials Classification ) membagi tanah ke dalam 8 kelompok.01 (F-15)(PI-10)……………(6. Klasfkas Umum : Material Granuler ( < 35% lolos saingan No.51 6.

200) A-7 A-4 A-5 A-6 A-75 A-76 Klasifikasi Umum A-1 Klasifikasi kelompok A-3 A-2 A-1a A-1b A-24 A-25 A-26 A-27 Analisis Saringan (% lolos) 2.075 mm (no. 40) 0. 1986 .10) 0. 40 Batas cair (LL) Indeks Plastis (PI) 6 maks 6 maks N.425 mm (no.P 0 40 maks 10 maks 0 41 min 10 maks 40 maks 10 maks 41 min 11 min 40 maks 10 maks 8 maks 41 min 10 maks 12 maks 40 maks 10 maks 16 maks 41 min 11 min 20 maks Indeks kelompok (G) Tipe material yang pokok pada umumnya 0 4 maks Pecahan batu. 200) Bahan-bahan LanauLempung (> 35% lolos saringan no.E. kerikil dan pasir Pasir halus Kerikil berlanau atau berlempung dan pasir Tanah berlanau Tanah berlempung Penilaian umum sebagai tanah dasar Sangat baik sampai baik Sedang sampai buruk Sumber : Bowles. J.00 mm (no.52 Tabel 6. 200) 50 maks 30 maks 5 maks 50 maks 25 maks 51 maks 10 maks 35 maks 35 maks 35 maks 35 maks 36 min 36 min 36 min 36 min Sifat fraksi lolos saringan no.3 Klasifikasi tanah Sistem AASHTO material granuler (< 35% lolos saringan no.

0730. Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan . kemudian semakin meningkat pada pemeraman 7 hari yaitu 34.8680 dan 14 hari yaitu sebesar 36.53 Catatan : Kelompok A-7 dibagi atas A-7-5 dan A-7-6 bergantung pada batas plastisnya (PL) Untuk PL > 30. Klasifikasinya A-7-5 Untuk PL < 30. Klasifikasinya A-7-6 N. Nilai sudut gesek dalam terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan prosentase 2% yaitu 29.1.2 Pengaruh campuran Aspal Cair SC60-70 dan lama pemeraman Nilai kuat geser tanah pasir (φ dan c) dari hasil uji Triaksial tipe UU seperti pada Tabel 5.berikut: 41 39 Sudut Gesek Dalam ( ) 0 (Curring time ) .9 pada bab 5 kemudian diplotkan kedalam Gambar 6. 37 35 33 31 29 27 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu pemeraman (Hr) campuran 2% campuran 4% campuran 6% Gambar 6.1 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada Uji Triaksial UU. Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai sudut gesek dalam akan terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran aspalnya.P = Non Plastis 6.2. dan 6.2290.

40 0. kemudian semakin meningkat pada pemeraman 7 hari yaitu 0.2 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada Uji Triaksial UU. 0.10 0.35 0. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 0.54 pemeraman yang lama.00 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu pemeraman (Hr) Kohesi (kg/cm2) campuran 2% campuran 4% campuran 6% Gambar 6.140 kg/cm2 dan 14 hari yaitu sebesar 0.030 kg/cm2. Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan pemeraman yang lama.165 kg/cm2. Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 39. Nilai kohesi terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan prosentase 2% yaitu 0.25 0.45 0.2260.20 0.05 0.420 kg/cm2. Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai kohesi akan terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran aspalnya.30 0.15 0. .

Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai sudut gesek dalam akan terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran aspalnya. Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan pemeraman yang lama.00 0. dan 6. Nilai sudut gesek dalam terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan prosentase 2% yaitu 28.10 pada bab 5 kemudian diplotkan kedalam Gambar 6.200 dan 14 hari yaitu sebesar 35.150.15 0. kemudian semakin meningkat pada pemeraman 7 hari yaitu 34. . Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 38.55 Nilai kuat geser tanah pasir (φ dan c) dari hasil Uji Geser Langsung seperti pada Tabel 5.3.4. berikut: 40 38 Sudut Gesek Dalam (0) 36 34 32 30 28 26 24 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu pemeraman (Hr) campuran 2% campuran 4% campuran 6% Gambar 6.3 Hubungan antara Sudut Gesek Dalam dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada Uji Geser Langsung.

Nilai sudut gesek dalam tertinggi adalah pada pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu 0.15 0.05 0.45 0.42 kg/cm2. Pada Gambar diatas dapat dijelaskan bahwa nilai kohesi akan terus meningkat berdasarkan semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran aspalnya. Nilai kohesi terendah ada pada pemeraman 1 hari dan dengan prosentase 2% yaitu 0.030 kg/cm2.2) di mana θ = 450 + φ/2 Hasil kuat geser tanah dicampur Aspal SC60-70 dapat dilihat pada Gambar berikut ini.35 0. 6.4 Hubungan antara Kohesi dengan waktu pemeraman pada prosentase campuran Aspal SC60-70 yang berbeda pada Uji Geser Langsung.00 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu pemeraman (Hr) Kohesi (kg/cm2) campuran 2% campuran 4% campuran 6% Gambar 6.40 0.30 0.56 0.20 0. Selanjutnya akan terus meningkat dengan penambahan prosentase campuran aspal dan dengan pemeraman yang lama.25 0. kemudian semakin 2 meningkat pada pemeraman 7 hari yaitu 0.3 Nilai Kuat Geser Pada Uji Triaksial Tipe UU Pada uji Triaksial Tipe UU tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC60-70 kuat geser nya dapat dicari dengan rumus : τ = ½ (σ1-σ3) sin 2θ……………………………………………………(6.150 kg/cm dan 14 hari yaitu sebesar 0.20 kg/cm2. .10 0.

5 Hubungan antara Tegangan Geser dengan Persentase Campuran Aspal SC60-70 pada pemeraman yang berbeda pada Uji Triaksial.57 2. NIlai tegangan geser terendah pada prosentase campuran 2% dan lama pemeraman 1 hari yaitu τ = 0.4 Nilai Kuat Geser Pada Uji Geser Langsung Pada uji Geser Langsung tanah pasir yang distabilisasi dengan Aspal Cair SC60-70 kuat geser dapat dicari dengan rumus : τ = c + σn tg φ…………………………………………………………(6.874 kg/cm2. .500 Pemeraman 7 hari 1.035 kg/cm2.824 kg/cm2. 6. dan pada pemeraman 14 hari τ = 2. pada pemeraman 7 hari τ = 1.500 0.416 kg/cm2.000 Pemeraman 14 hari 0. Pada pengujian Triaxial UU tanah dicampur dengan Aspal Cair SC60-70 pada penambahan campuran 6% mampu memberikan peningkatan tegangan gesernya.3) Hasil kuat geser tanah dicampur Aspal Cair SC60-70 dapat dilihat pada Gambar berikut ini. yaitu pada pemeraman 1 hari τ = 1.000 Tegangan Geser (kg/cm2) Pemeraman 1hari 1.500 2.000 0% 2% 4% 6% 8% Prosentase Campuran Aspal SC 60-70 Gambar 6.

58

1.400
Tegangan Geser (kg/cm2)

1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0.000 0.000 0.020 0.040 0.060 0.080 Prosentase Campuran Aspal SC 60-70

Pemeraman 1 hari Pemeraman 7 hari Pemeraman 14 hari

Gambar 6.6 Hubungan antara Tegangan Geser dengan Persentase Campuran Aspal SC60-70 pada pemeraman yang berbeda pada Uji Geser Langsung.

Pada pengujian Geser Langsung tanah dicampur dengan Aspal Cair SC6070

pada penambahan campuran 6% mampu memberikan peningkatan tegangan

gesernya, yaitu pada pemeraman 1 hari τ = 0,899 kg/cm2, pada pemeraman 7 hari τ = 1,022 kg/cm2, dan pada pemeraman 14 hari τ = 1,222 kg/cm2. NIlai tegangan geser terendah pada prosentase campuran 2% dan lama pemeraman 1 hari yaitu τ = 0,575 kg/cm2.

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disimpulkan karakteristik dari tanah

Pasir Pantai

berbutir seragam Pantai Parangtritis, Yogyakarta berdasarkan data-data yang diperoleh dari penelitian di Laboratorium yang telah disajikan pada bab 5. Berdasarkan hasil penelitian yang menguji Tanah pasir dengan penambahan Aspal Cair SC60-70 dengan variasi 2%, 4%, 6% dan lama pemeraman 1 hari, 7 hari, 14 hari, maka beberapa kesimpulan dan saran akan disampaikan untuk kesinambungan dalam penelitian ini.

7.1 Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat disampaikan dari hasil penelitian adalah seperti berikut ini. 1. Berdasarkan klasifikasi tanah Unified tanah pasir Parangtritis, Bantul, Yogyakarta termasuk dalam Divisi Utama ( Tanah berbutir kasar yaitu >50% butiran tertahan saringan no. 200, maka termasuk dalam fraksi kasar tertahan pada ayakan no. 4 dan termasuk golongan pasir bersih ( hanya pasir )), Simbol kelompok adalah SP. Nama umum untuk tanah ini adalah pasir bergradasi buruk, sedikit atau sama sekali tidak mengandung butiran halus. Kriteria Klasifikasi didapatkan nilai Cu = 1,304 dan Cc = 0,948, karena Cu < 6 dan Cc < 1 maka tanah termasuk gradasi buruk dengan symbol SP, Berdasarkan klasifikasi tanah AASHTO tanah pasir Parangtritis, Bantul, Yogyakarta termasuk dalam Klasifikasi umum termasuk kedalam Material Granuler ( <35% lolos saringan no.200 ). Klasifikasi kelompok dengan symbol A-3. Tanah pasir merupakan tanah Non Plastis ( NP ), Indeks Kelompok ( GI ) = 0, maka termasuk pada golongan A-3 ( 0 ), tipe material adalah pasir halus, penilaian umum sebagai tanah dasar adalah sangat baik sampai baik.

59

2.

Sifat fisik tanah pasir Parangtritis, Bantul, Yogyakarta mempunyai kadar air ( w ) = 3,51 %, Berat Jenis ( GS ) = 2,68, Berat Volume Tanah ( γb ) = 1,39 kg/cm3. Hasil Analisa Saringan didapat data Gravel = 0%, Sand = 100%, Silt = 0%, Clay = 0%. Pada pengujian Proktor didapatkan nilai w opt = 15,15%, γd maksimum = 1,454 kg/cm3.

2. Tanah pasir dengan campuran Aspal SC60-70 pada Uji Triaxial UU dan Uji Geser Langsung mengalami perubahan dengan peningkatan nilai kohesi dan nilai sudut geser dalam. Peningkatan maksimum terjadi pada campuran Aspal SC60-70 6% dengan pemeraman 14 hari, yaitu pada pengujian Geser Langsung pada pada tanah asli pada pemeraman 0 hari nilai φ = 27,90 dan c = 0 kg/cm2, sedangkan pada tanah campuran nilai φ dan c ter tinggi pada prosentase campuran SC60-70 6% pada pemeraman 14 hari dengan nilai φ = 38,150 dan c = 0,415 kg/cm2. Pada pengujian Triaxial peningkatan maximum pada pemeraman 14 hari dengan prosentase campuran 6% yaitu nilai φ= 39,2660 dan c = 0,420 kg/cm2. Dari hasil pengujian dan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa campuran Aspal Cair SC60-70 pada tanah pasir semakin lama pemeraman dan tambahan bahan campuran dapat meningkatkan besarnya sudut geser dalam dan kohesinya. 3. Parameter tegangan geser pada tanah pasir dengan campuran Aspal SC6070

pada Uji Triaksial UU dan Uji Geser Langsung mengalami perubahan

peningkatan kekuatan gesernya pada lama pemeraman dan penambahan campurannya. Kekuatan geser dari uji Triaksial dan Geser Langsung yang terbesar adalah pada pemeraman 14 hari pada penambahan campuran Aspal SC60-70 sebanyak 6%, yaitu pada Uji Triaksial UU nilai τ = 2,036 kg/cm2 dan pada Uji Geser Langsung nilai τ = 1,222 kg/cm2. Nilai tegangan geser terendah pada prosentase campuran 2% dengan lama pemeraman 1 hari yaitu pada Uji Triaksial τ = 0,874 kg/cm2 dan pada Uji Geser Langsung τ = 0,575 kg/cm2, Jadi semakin lama pemeraman dan semakin banyak campuran dapat meningkatkan kuat geser tanah pasir.

59

2 Saran Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti menyarankan untuk mencoba meneliti dengan bahan-bahan yang lain dengan prosentase campuran yang lebih besar dan pemeraman yang lebih lama. 60 .60 7.

Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya. Bowles Joseph E. MEKANIKA TANAH Jilid I. 1970. tidak diterbitkan. ASTM (1986). MEKANIKA TANAH (Prinsip-prinsip rekayasa geoteknis ). Tugas Akhir. Craig. Braja. 1991. Hardiyatmo. 1967. Ralp B. Edisi kedua. Annual book of ASTM Standart. 1989. Philadelphia. Badan Penerbit PU. Fahmi Eti dan Hisfarini. M. Gramedia Pustaka Utama. MEKANIKA TANAH I. Hardiyatmo. Pa..13/1970. Christady Hary. 2002. Bandung. PT. Jakarta. Vol 04. 2003. No. 14 th ed. 1994. Desiana Vidayanti. Gramedia Pustaka Utama.DAFTAR PUSTAKA . MEKANIKA TANAH I. 08. 2002. STABILITAS PASIR LAUT TANJUNG PRIOK DENGAN SEMEN CLEAN SET. 420 Philadelphia. Zetty Hermylinda. Standart Specification for highway bridges. Jakarta. Jendral Bina Marga. Jakarta.F. Das. PENGARUH PASIR PANTAI PADA CAMPURAN LAPIS ANTARA BETON ASPAL DENGAN PENDEKATAN KEPADATAN MUTLAK. Tesis. Karl Terzaghi. Christady Hary. 14 th ed. Pa . tidak diterbitkan. 420 Philadelphia.. Jakarta. PT. Penerbit Erlangga. Jakarta. SIFAT-SIFAT FISIS TANAH DAN GEOTEKNIS TANAH. Erlangga. tidak diterbitkan 57 . AASHTO (1990). Jilid I Erlangga. Pack. Jakarta. Dir. MEKANIKA TANAH DALAM PRAKTEK REKAYASA. Penerbit Erlangga. 1997. Tesis. R. 2005. STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL CAIR ( SC 70 ) SEBAGAI SUBGRADE UNTUK PERENCANAAN JALAN KELAS I. Pa .

58 . L.. MEKANIKA TANAH. Jakarta.Wesley. Badan Penerbit Pekerjaan Umum.D.1977.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->