BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Perkembangan teknologi khususnya media massa di era globalisasi saat ini dituntut untuk selalu maju mengikuti perubahan zaman. Salah satunya dengan munculnya televisi sebagai sarana penyampai informasi setelah surat kabar dan radio. Televisi sebagai media yang terakhir muncul belakangan dibandingkan dengan media-media lainnya, ternyata telah memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam interaksi sosial manusia. Kemampuan televisi dalam menarik perhatian khalayak telah menjadi panutan baru (news religius) bagi kehidupan manusia (Kuswandi, 1996 : 22-23). Dan kedatangan media televisi di Indonesia pertama kali dipelopori oleh TVRI pada tahun 1962 sebagai satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah di negeri ini. Namun seiring dengan perkembangan dunia pertelevisian sejak tahun 1990-an banyak bermunculan stasiun televisi swasta baru. Keadaan ini terjadi sebab pemerintah memberikan deregulasi dalam bidang pertelevisian atau

swastanisasi pertelevisian di Indonesia yang salah satunya ditandai dengan berdirinya stasiun televisi swasta yang pertama yaitu RCTI. Dan sejak mengudara pada tahun 1990-an RCTI banyak menyajikan sepaket acara menarik mulai dari paket acara berita, hiburan, pendidikan, agama/religius, dan sebagainya Diantara paket acara yang di siarkan oleh stasiun televisi RCTI, paket hiburan yang banyak mendapat perhatian lebih dari khalayak. Karena dalam paket tersebut banyak memberikan pilihan

program-program acara yang menarik mulai dari sinetron, film, kuis, acara musik, talk show, infotainment, dan lainnya. Di sini infotainment yang mendapat tempat khusus di hati pemirsa, oleh sebab itu semenjak kemunculannya pada tahun 1997 RCTI juga menayangkannya lebih dari satu kali yaitu mulai dari pagi, siang, dan sore setiap harinya. Terkait semakin maraknya tayangan infotainment, maka dalam Kongres Nasional Persatuan Wartawan Indonesia pada 9 Februari 2005 di Pekanbaru, pekerja infotainment dinyatakan resmi tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dengan begitu sekarang ini infotainment resmi termasuk dalam dunia jurnalistik dengan nama Jurnalistik Infotainment. Tayangan infotainment sendiri dinyatakan termasuk kegiatan jurnalistik karena di dalamnya terdapat aktivitas meliput, membuat, dan

menyebarluaskan peristiwa yang bernilai berita (news) serta pandangan khalayak melalui saluran media massa baik cetak maupun elektronik. Di mana hal itu merupakan hakekat pokok kegiatan jurnalistik. Hanya saja berbeda dengan aktifitas jurnalistik pada umumnya, jurnalistik infotainment lebih bersifat berita hiburan karena menyajikan berbagai informasi tentang artis, aktris/aktor dan subyek dunia hiburan lainnya, termasuk tempat-tempat hiburan. Terkait maraknya tayangan infotainment di televisi, RCTI sebagai stasiun televisi swasta tertua juga tidak mau ketinggalan. Alhasil, beberapa tayangan infotainment pun diproduksi RCTI di antaranya Cek & Ricek, Kabar Kabari, Go Spot, desas desus dan Silet. Namun diantara tayangan infotainment

2

yang lain, tayangan infotainment Silet memiliki format yang paling berbeda karena tayangan ini mengkategorikan dirinya sebagai tayangan investigasi. Selain itu tayangan yang disiarkan mulai dari hari senin sampai minggu dengan jam tayang senin sampai jumat selama setengah jam yaitu pukul 11.30-pukul 12.00 WIB sedangkan khusus pada hari sabtu dan minggu tayang selama satu jam yaitu mulai pukul 11.00-pukul 12.00 WIB. Silet hadir untuk mengupas tuntas kisah dari kasus para selebritis tanah air. Namun seiring dengan waktu akhirnya sekarang infotainment Silet mengalami perubahan jam tayang dengan menetapkan jam siarannya setiap hari menjadi satu jam yaitu mulai pukul 11.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Bukan hanya itu saja Silet juga selalu berhasil membuat selebritis angkat bicara tentang persoalan yang telah mereka hadapi, bahkan tidak jarang sampai menguraikan air mata. Selain itu terkadang juga mengangkat masalah sosial masyarakat yang dikaitkan dengan selebritis, sehingga tayangannya selalu lain dari infotainment lain. Bahkan ke-khas-an Silet juga terlihat dari motto-nya yaitu “Mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi layak dan pantas untuk diperbincangkan”. Bahkan presenter utama Silet yaitu Fenny Rose berhasil tiga kali menjadi presenter infotainment favorit dalam ajang penghargaan Panasonic Award di Indoensia serta yang terbaru penghargaan yang diterima yaitu terpilihnya kembali Fenny Rose menjadi presenter infotainment terfavorit dalam ajang yang sama pada tahun 2007. Karena itulah peneliti memilih tayangan infotainment Silet di RCTI sebagai obyek dalam penelitian ini. Ditambah lagi, sebagaimana dilansir dari www.Pintunet.com

3

bahwa tayangan Silet di RCTI menjadi tayangan infotainment terbaik 2007 mengalahkan tayangan infotainment Go Show TPI, Cek & Ricek RCTI, E…ko Ngegosip Trans TV, KISS Indosiar. Hal itu menjadi menarik sebab di tengah maraknya tayangan infotainment, pada bulan Agustus 2006 justru muncul “fatwa haram” yang ditujukan kepada tayangan infotainment oleh Nahdhatul Ulama (NU). Alasannya, semua tayangan infotainment termasuk Silet, tidak seharusnya ditayangkan lagi sebab kurang sesuai dengan norma-norma masyarakat Indonesia, khususnya di sini Islam. Karena menurut NU, tayangan seperti infotainment lebih banyak mudharat (akibat negatif) di banding manfaatnya. Bahkan apabila diteruskan bukan tidak mungkin akan merusak mental masyarakat karena selalu disuguhi informasi aib seseorang serta berbagai kejelekan si artis yang seharusnya tidak dijadikan konsumsi publik. Dan di dalam Al-Quran pun sudah dijelaskan melalui surat-surat serta ayat-ayat tentang ahlak manusia di dunia. Salah satunya dalam surat An Nuur ayat 11, 15, dan 19 yang mengatakan bahwa “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar; (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan

4

kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar; Dan sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui". Berangkat dari ke-kontras-an dua fenomena tersebut, di mana ketika tayangan infotainment sedang marak dan disukai oleh semua kalangan masyarakat justru menerima “fatwa haram” terhadap tayangan tersebut. Maka peneliti ingin meneliti motif atau dorongan mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa FAI UMM angakatan 2005 yang menyaksikan tayangan infotainment Silet. Di sini mahasiswa FAI dipilih sebagai responden karena sesuai dengan background pendidikan mereka yaitu agama Islam, maka peneliti berasumsi bahwa mereka tahu persis bagaimana tayangan

infotainment (Silet) di mata Islam. Jadi mahasiswa FAI yang dijadikan responden adalah mereka yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet. Hal itu menarik karena meski sudah ada fatwa haram dengan segala alasan dari ajaran Islam tapi kenapa mereka tetap menyaksikan tayangan infotainment tersebut. Untuk itu peneliti mengangkat judul sebagai berikut : MOTIF MAHASISWA MENYAKSIKAN TAYANGAN INFOTAINMENT SILET DI RCTI STUDI PADA MAHASISWA FAKULTAS AGAMA ISLAM ANGKATAN 2005 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MALANG.

5

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas serta penetapan judul yang telah dipilih, maka secara spesifik yang menjadi rumusan masalah adalah: apa motif mahasiswa menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI ? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah peneliti dapat mengetahui motif yang mendasari mahasiswa FAI angkatan 2005

menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI.. D. Manfaat Penelitian 1. Kegunaan Akademis a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi, menambah pengetahuan serta dapat dijadikan sebagai masukan, sumbangan pemikiran yang berkaitan dengan motif mahasiswa menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. b. Sebagai wahana untuk menambah bahan bacaan dan perbandingan di masa yang akan datang khususnya yang berhubungan dengan ilmu komunikasi terutama konsentrasi jurnalistik. 2. Kegunaan Praktis Diharapkan dari hasil penelitian yang telah dicapai ini bisa dijadikan sebagai kontribusi panduan bagi stasiun televisi RCTI untuk lebih memilih setiap program acara yang akan ditayangkan salah satunya adalah tayangan infotainment Silet. Sehingga bisa dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menyiarkan paket acara hiburan

6

E. Definisi Konseptual dan Operasional E. 1. Definisi konseptual Untuk membantu peneliti dan pembaca dalam memahami konsep penelitian ini, maka diperlukan beberapa konsep untuk didefinisikan. Adapun definisi konsepnya adalah: 1. Infotainment Silet di RCTI Semenjak kemunculan tayangan Silet pada tanggal 21 Oktober 2002, Silet merupakan sebuah tayangan infotainment investigasi yang menyiarkan berita artis secara eksklusif. Tayangan ini hadir setiap hari, mulai dari hari senin sampai minggu. Pada hari senin sampai jumat tayang selama setengah jam yaitu pukul 11.30 – pukul 12.00 WIB sedangkan khusus pada hari sabtu dan minggu tayang selama satu jam yaitu mulai pukul 11.00 sampai pukul 12.00 WIB. Akan tetapi semenjak November 2007, infotainment Silet sudah mengalami perubahan jam tayang yaitu dengan menyiarkan tayangan tersebut menjadi satu jam setiap harinya mulai dari pukul 11.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Dengan motto-nya yaitu “Mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi layak dan pantas untuk diperbincangkan” Silet hadir untuk mengupas tuntas kisah dan kasus para selebritis tanah air. Dengan gaya bahasa yang puitis, Silet menjadikan hal-hal yang tabu menjadi layak dan patut diperbincangkan. Infotainment yang mampu membahas dunia selebritis setajam Silet ini sanggup menghadirkan nara sumber yang sulit ditemui sekali pun. Dengan reputasinya, Silet selalu berhasil membuat selebritis angkat bicara tentang persoalan yang tengah mereka

7

hadapi bahkan tidak jarang sampai menguraikan air mata. Investigasi yang mendalam juga turut menjadikan Silet berbeda dari tayangan infotainment lainnya. Tidak heran jika acara yang dipandu Fenny Rose dan Donna Arsita ini selalu dinantikan kehadirannya dan menjadi unggulan diantara tayangan infotainment lainnya. 2. Motif menyaksikan infotainment Silet Motif merupakan dorongan dari dalam diri seseorang yang berorientasi pada pemuasan kebutuhan. Karena itu motif tidak harus dipersepsikan secara sadar sebab motif yang mendasari prilaku seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini motif yang dimaksud adalah motif intrinsik dan ekstrinsik. Motif intrinsik adalah motif ataupun motivasi yang datang dari dalam diri individu itu sendiri ketika ia ingin memenuhi kebutuhannya. Motif ini terjadi tanpa adanya dorongan dari luar. Sedangkan motif ekstrinsik yaitu motif ataupun motivasi yang berasal dari luar diri individu, dimana tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu disebabkan oleh dorongan dari luar. 3. Mahasiswa FAI Mahasiswa FAI yang dimaksud adalah mahasiswa/mahasiswi yang sedang menempuh atau menyelesaikan proses belajar tentang keagamaan Islam di Universitas Muhammadiyah Malang. Responden yang akan diteliti merupakan mahasiswa/mahasiswi FAI, baik dari Jurusan Tarbiyah maupun Syari’ah. Dan lebih spesifik lagi mahasiswa yang akan menjadi responden yaitu mahasiswa/mahasiswi FAI angkatan 2005. Karena jumlah mahasiswa

8

angkatan 2005 sudah dianggap cukup mewakili sebagai responden yang akan diteliti. E. 2. Definisi operasional Sebagai petunjuk untuk mempertegas fokus penelitian, maka dalam definisi operasional ini ditentukan indikator dari motif intrinsik dan ekstrinsik secara lebih spesifik. Berikut adalah indikator-indikator penenlitian ini: 1. Motif intrinsik. a) Adanya kebutuhan responden akan hiburan yang mendorong untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet, ketertarikan tentang tayangan tersebut, serta adanya rasa senang dengan menyaksikan tayangan infotainment Silet b) Keingintahuan responden akan informasi tentang dunia entertainment diantaranya dengan menyaksikan tayangan tersebut sesering mungkin. c) Karena sudah menjadi kebiasaan (habit) untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet (kecanduan), sehingga akan merasa kecewa jika ketinggalan tayangan tersebut, karena itu responden akan melakukan cara-cara tertentu supaya tidak ketinggalan tayangan infotainment Silet. 2. Motif ekstrinsik. a) Karena kemasan tayangan infotainment Silet, diantaranya meliputi bagaimana penampilan presenter saat memandu acara infotainment Silet. Ketertarikan akan tema yang sedang dibahas, dan mengenai background dari studio tayangan tersebut.

9

b) Karena faktor lingkungan. Responden pada saat menyaksikan tayangan infotainment Silet dipengaruhi oleh apa dan siapa, keinginan untuk merubah cara berpenampilan mengikuti selebriti yang di idolakannya.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Televisi Sebagai Komunikasi Massa A. 1. Pengertian televisI Menurut Effendi (2003 : 174) televisi terdiri dari istilah “tele” yang berarti jauh dan “visi” (vision) yang berarti penglihatan. Segi “jauh” nya diperoleh dari prinsip radio sedangkan “penglihatan” nya diperoleh melalui gambar. Karena itu televisi merupakan hasil dari perpaduan antara radio (broadcast) dan film (moving picture). Sedangkan menurut Sumadiria (2006 : 128) televisi adalah satu jenis dari bentuk media massa yang paling canggih dilihat dari sisi teknologi yang digunakan, dan paling mahal dilihat dari segi investasi yang ditanamkan. Menurut (Wahyudi, 1986 : 3-4 dalam Sumadiria, 2006 : 128-130) televisi sebagai media komunikasi massa memiliki lima ciri pokok diantaranya : a. Bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis. b. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi. c. Bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada publik yang tidak terbatas dan anonim. d. Mempunyai publik yang secara geografis tersebar. Khalayak televisi tidak berada di suatu wilayah, tetapi tersebar di berbagai wilayah dalam lingkup lokal, regional, dan bahkan internasional.

11

e.

12

3. Kesinambungan a. Mengekspresikan budaya dominan dan mengakui

keberadaan khusus (sub culture) serta perkembangan budaya baru. b. Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai budaya. 4. Hiburan a. Menyediakan hiburan, sarana relaksasi dan pengalih perhatian. b. Meredakan ketegangan sosial. c. Mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, pembangunan ekonomi, pekerjaan dan juga bidang agama (Mc Quail, 1989). A. 3. Kekurangan dan kekuatan televisi Menurut Kuswandi (1996 : 23) ada beberapa kekurangan dan

kekuatan yang dimiliki oleh televisi diantaranya adalah : 1. Kekurangan televisi a) Karena bersifat “transitory” maka isi pesannya tidak dapat di memori oleh pemirsa. b) Media televisi terikat oleh waktu tontonan. c) Televisi tidak bisa melakukan kritik sosial serta pengawasan sosial secara langsung dan vulgar. Hal ini terjadi karena faktor penyebaran siaran televisi yang begitu luas kepada massa yang heterogen.

13

d) Pengaruh televisi lebih cenderung menyentuh aspek psikologis massa. 2. Kekuatan televisi a) Media televisi menguasai jarak dan ruang karena teknologi televisi telah menggunakan elektromagnetik, kabel dan fiber yang dipancarkan melalui satelit. b) Sasaran yang dicapai untuk menjangkau massa cukup besar. c) Nilai aktualitas terhadap suatu liputan atau pemberitaan sangat cepat. d) Daya rangsang seseorang terhadap media televisi cukup tinggi. Hal ini disebabakan oleh kekuatan suara dan gambarnya yang bergerak. A. 4. Daya tarik televisi Keberadaan televisi sebagai media komunikasi massa telah memiliki daya tarik yang kuat bagi khalayak, sehingga pola-pola kehidupan rutinitas manusia sebelum muncul televisi berubah total. Adanya beberapa unsur penunjang seperti kata-kata, musik, sound effect dan juga adanya unsur visual yang berupa gambar semakin mendorong khalayak untuk melakukan perubahan tersebut. Semua unsur-unsur penunjang yang dimiliki oleh televisi diberikan agar khalayak merasa terpuaskan dengan kemunculan televisi. Sebagai sarana pemuas akan hadirnya televisi, maka banyak pengelola stasiun televisi berusaha menampilkan tayangan yang menghibur ke hadapan pemirsa. Dengan banyaknya program acara yang tersaji di televisi, khalayak menjadikkan media televisi sebagai “agama baru” bagi mereka. Seperti yang

14

diungkapkan oleh Kuswandi (1996 : 23), media televisi menjadi panutan baru (news religius) bagi kehidupan manusia. Tidak menonton televisi sama saja dengan makhluk buta yang hidup dalam tempurung. Dan satu hal yang paling berpengaruh dari daya tarik televisi ialah bahwa informasi atau berita-berita yang disampaikan lebih singkat, jelas dan sistematis, sehingga pemirsa tidak perlu lagi mempelajari isi pesan dalam menangkap siaran televisi. B. Audience Televisi Audience yang dimaksud dalam komunikasi massa ini sangat beragam, mereka berbeda dalam cara berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterima, pengalaman dan orientasi hidupnya. Tetapi masing-masing individu ini juga bisa saling mereaksi satu sama lain terhadap pesan yang diterima (Nurudin, 2003 : 96). Masih (dalam Nurudin 2003 : 97-98), menurut Hiebert dan kawankawan audience dalam komunikasi massa setidak-tidaknya mempunyai lima karakter yaitu: 1) Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial di antara mereka. Individu-individu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran. 2) Audience cenderung besar. Luas di sini berarti tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. 3) Audience cenderung heterogen. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. 4) Audience cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain. 5) Audience secara fisik dipisahkan dari komunikator. Teori Individual Differences Perspective menggambarkan khususnya perilaku audience. Proses ini berlangsung berdasarkan ide dasar dari stimulus-

15

response. Di sini tidak ada audience yang relatif sama, pengaruh media massa pada masing-masing individu berbeda dan tergantung pada kondisi psikologis individu itu yang berasal dari pengalaman masa lalu. Sedangkan dalam teori Sosial Categories Perspective mengambil posisi bahwa ada perkumpulan sosial pada masyarakat yang didasarkan pada karakteristik umum seperti jenis, kelamin, umur, pendidikan, pendapatan, kesempatan dan seterusnya Menurut Frank Biocca (dalam Syahputra, 2006 : 89) memaparkan ada lima ciri audience aktif yaitu : 1. Selectivity, mempunyai pilihan selektif dalam menggunakanmedia. 2. Utilitarianisme, penggunaan media ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu. 3. Itentionality, secara implisit mengakui penggunaan isi media untuk maksud tertentu. 4. Involvement, audience secara aktif mengikuti, berpikir tentang dan menggunakan media. 5. Impervious to influence, sangat tidak mudah terbujuk oleh media itu sendiri. Sedangkan menurut Norman H. Andeson (dalam Syahputra, 2006 : 89) mengatakan bahwa sebenarnya semua informasi memiliki potensi untuk mempengaruhi sikap seseorang. Informasi juga akan membentuk persepsi audience ketika menerima informasi tersebut. Dan dampak dari media televisi yang berhasil menampilkan realitas sosial akan bisa membuat pemirsa bisa menilai diri sendiri, mental, moral, perilaku, wawasan, cita-cita dan sebagainya (Kuswandi, 1996 : 22).

16

C. Jurnalistik Infotainment Wujud dari perkembangan dan kemajuan dunia pertelevisian salah satunya ditandai dengan kemunculan jurnalistik infotainment. Istilah infotainment sendiri memiliki arti suatu kemasan acara yang bersifat informatif namun dibungkus dan disisipi dengan entertainment untuk menarik perhatian khalayak sehingga informasi sebagai pesan utamanya dapat diterima. Jadilah infotainment seperti formula ajaib yang dapat menyihir pemirsa untuk betah duduk berlama-lama di depan layar kaca televisi (Syahputra, 2006 : 66). Carpini dan Williams (2001) menyebut beberapa alasan pokok penyebab maraknya infotainment. Antara lain, perubahan struktural industri penyiaran dan telekomunikasi, integrasi vertikal dan horizontal industri media, tekanan pencapaian ekonomi, munculnya pekerja media yang hanya memiliki keterikatan minim pada kode-kode etik jurnalistik, dan cara pandang bahwa lapangan jurnalisme dan hiburan itu sama saja

(www.mediaindonesiaonline.com). Akan tetapi. pada awal kemunculan infotainment tahun 1997, tayangan ini belum diakui sebagai karya jurnalistik. Karena jika dilihat dari unsur pemberitaan jurnalistik, infotainment belum memenuhi syarat kejurnalistikan Hal ini disebabkan karena infotainment hanya mengedepankan berita gosip para pelaku entertainment yang belum diketahui faktanya. Namun pada tanggal 9 Februari 2005 di Pekanbaru yang juga bertepatan dengan Hari Pers Nasional, para pekerja infotainment resmi diputuskan

17

tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Keputusan tersebut berangkat dari asumsi, apa yang dikerjakan oleh para pekerja infotainment termasuk dalam kegiatan kewartawanaan. Wartawan infotainment dalam tugasnya juga melakukan peliputan, pembuatan berita untuk kemudian ditayangkan di media-media televisi. (www.kampus.com/pikiran rakyat). Bukan hanya itu saja, dalam salah satu fungsi jurnalistik juga terdapat fungsi untuk menghibur serta terdapat unsur 5W+1H (what, why, where, when, who dan how) dan itu juga terdapat dalam berita infotainment. Berangkat dari hal tersebut, tidak salah juga apabila infotainment akhirnya resmi diangkat menjadi saudara baru dalam keluarga kejurnalistikan. Hal itu sesuai dengan hakekat jurnalistik pada umumnya yang memiliki arti, proses kegiatan meliput, membuat dan menyebarluaskan peristiwa yang bernilai berita (news) serta pandangan khalayak melalui saluran media massa baik cetak maupun elektronik. Sedangkan pers sendiri mempunyai arti karyawan yang melakukan secara kontinuitas pekerjaan atau kegiatan atau usaha yang sah yang berhubungan dengan pengumpulan, pengolahan, dan penyiaran dalam bentuk fakta, pendapat, ulasan, gambar-gambar dan sebagainya untuk perusahaan pers, radio, televisi dan film (Romli, 2001 : 6970). Dari paparan diatas, infotainment memang layak digolongkan sebagai produk jurnalistik, karena intinya adalah informasi atau berita seputar hiburan, yakni informasi tentang artis, aktor atau aktris, dan subyek dunia hiburan lainnya, termasuk tempat-tempat hiburan (www.eramuslim.com/konsultasi

18

jurnalistik). Sedangkan menurut Syahputra dalam Jurnalistik Infotainment (2006 : 68), para ahli komunikasi dan media menyebutkan infotainment sebagai soft journalism, jenis jurnalisme yang menawarkan berita-berita sensasional, lebih personal, dengan selebritis sebagai perhatian liputannya. D. Pendekatan Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan) Terkait dengan permasalahan penelitian yang akan diangkat, dimana lebih menekankan pada pendekatan media, maka dipilihlah teori Uses and Gratification (kegunaan dan kepuasan). Menurut Herbert Blumer dan Elihu Katz sebagai orang yang pertama kali mengenalkan teori Uses and Gratifications mengatakan bahwa penggunaan media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Artinya, teori Uses and Gratifications mengasumsikan bahwa pengguna mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhanya ( Nurudin, 2003 : 181). Bradley S. Geenberg (dalam Liliweri, 1991) dalam tulisannya merumuskan tujuan penggunaan media massa, terutama televisi adalah: a. For Learning. Televisi dipergunakan untuk proses pemahaman terhadap pengetahuan. b. As Habit. Orang menonton dikarenakan kebiasaan yang berhubungan (correlation) dengan ketertarikan dan kesenangan. c. For Arousel. Melampiaskan ketiadakenakan hati. d. For Companionship. Untuk membunuh rasa sepi. e. To Relax. Sekedar untuk santai. f. To Forget. Untuk melupakan problem atau masalah. g. To Pass Time. Karena jenuh, tidak ada perbuatan yang lebih baik. Selanjutnya Jalaludin Rahmat (2000 : 207) menyatakan bahwa penggunaan media massa itu sebenarnya didorong oleh motif-motif tertentu.

19

Ada berbagai macam kebutuhan yang dapat dipuaskan oleh media massa. Kita ingin mencari kesenangan, media memberi hiburan, kita kesepian, media massa dapat berfungsi sebagai sahabat. Menurut Winarso (2005 : 44-50) ada beberapa peneliti telah mengkalsifikasikan bermacam-macam teori Uses&Gratifications media kedalam empat sistem kategori diantaranya adalah : 1. Pengetahuan (cognition), bahwa tindakan yang diambil oleh khalayak adalah untuk memperoleh informasi mengenai sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. 2. Pelepasan (diversion), kebutuhan dasar manusia yang lain adalah hiburan yang meliputi usaha pembebasan dari rasa kebosanan, relaksasi, pelepasan emosional dari emosi dan energi yang terpendam. 3. Kegunaan sosial (social utility), media dapat dijadikan sebagai seperangkat kebutuhan sosial yang bersifat menyeluruh antar individu. 4. Penarikan diri (withdrawal), bahwa manusia kadang-kadang perlu untuk melarikan diri dari aktivitas-aktivitas tertentu dengan menggunakan media bukan hanya untuk relaksasi melainkan juga untuk tujuan-tujuan yang digambarkan sebagi penggunaan untuk menarik diri. Setiap orang menggunakan media secara sadar, dilakukan dengan berbagai alasan, motivasi, tujuan, sebab media berfungsi menghibur, memberi

20

informasi, menjual, mendidik, membekali aktualisasi diri dalam pergaulan, membentuk sikap dan perilaku individu itu sendiri. Menurut Katz dan Blumler&Gurevitch (1974) (dalam Winarni, 2003 : 92-93) mengasumsikan teori Uses&Gratifications kedalam lima asumsi dasar yaitu : a. khalayak dianggap aktif, artinya sebagian besar dari penggunaan media diasumsikan mempunyai tujuan. b. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak. c. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. d. Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari satu yang diberikan anggota khalayak, artinya orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu. e. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak. Dengan kata lain, asumsi teori ini mengatakan bahwa audience/penonton itu sebenarnya aktif dalam menentukan pilihan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Sebab itu teori ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui motif apa yang dilakukan audience terhadap media dan bukan sebaliknya yang mengatakan bahwa audience itu pasif.

21

E. Motif Motif pada hakekatnya merupakan terminologi umum yang memberikan makna, daya dorong, keinginan, kebutuhan, dan kemauan (Muslimin, 2004 : 290). Sedangkan menurut Giddens (dalam James Lull, 1998 : 121), motif adalah implus atau dorongan yang memberi energi pada tindakan manusia sepanjang lintasan kognitif atau prilaku ke arah pemuasan kebutuhan. Motif tidak harus dipersepsikan secara sadar. Ia lebih merupakan “keadaan perasaan”. Dan motif tidak hanya merupakan dorongan fisik tetapi juga orientasi kognitif elementer yang diarahkan pada pemuasan kebutuhan. Sebab motif Seseorang dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dari khalayak. Semakin sesuai pesan komunikasi dengan motif seseorang maka semakin besar kemungkinan pesan yang bisa diterima oleh khalayak. Semua tingkah laku manusia pada hakekatnya mempunyai motif karena tingkah laku dan perbuatan manusia yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Tingkah laku yang disebut tingkah laku secara refleks dan yang berlangsung secara otomatis, mempunyai maksud tertentu walaupun maksud tersebut tidak senantiasa sadar bagi manusia. Motif-motif manusia dapat bekerja secara tidak sadar bagi manusia (Gerungan, 1991 : 140).

22

Berbagai aktifitas kita sehari-hari sering terkait oleh adanya motif, untuk itu E. Koswara dalam bukunya, mengklasifikasikan motif menjadi beberapa macam yaitu: 1. Motif bawaan, tingkah laku manusia yang timbul dari halhal bersifat naluriah (instingatif) seperti dorongan untuk makan, minum dan biologis. 2. Motif yang timbul karena dipelajari (learning), bersumber dari hasil pengamatan inderawi. 3. Motif interaksi sosial, situasi sosial atau kelompok memiliki pengaruh besar terhadap corak, arah dan intensitas tingkah laku individu. 4. Motif hedonisme, tingkah laku manusia selalu digerakkan ke arah pencapaian rasa senang. 5. Motif pertumbuhan, manusia terutama dimotivasi oleh keinginan atau kebutuhan untuk mencapai pertumbuhan diri yang optimal melalui potensi yang dimiliki. Sedangkan dari segi asalnya, W. A. Gerungan (1991 : 142-143) menyebutkan: a. Motif biogenetis, motif yang berkembang pada diri orang dan berasal dari organismenya sebagai mahkluk biologis. a. Motif sosiogenetis adalah motif-motif yang dipelajari orang dan berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang itu berada dan berkembang. b. Motif teogenetis, yaitu motif-motif yang berasal dari interaksi antara manusia dengan tuhan seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupannya sehari-hari dimana ia berusaha merealisasi norma-norma agama tertentu. Bahwa motif sebenarnya memunculkan adanya suatu perubahan terhadap suatu perbuatan yang sifatnya disadari oleh individu yang

23

bersangkutan. Berbagai aktifitas kita sehari-hari sering terkait oleh adanya motif. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi suatu penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Gerungan, 1983 : 142). Motivasi Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong yang mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya. Motivasi dapat dipandang sebagai suatu istilah umum yang mengarah pada pengaturan tingkah laku individu, dimana kebutuhan-kebutuhan atau dorongan-dorongan dari dalam dan insentif (semacam hadiah) dari lingkungan mendorong individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya dan atau untuk berusaha menuju tercapainya tujuan yang diharapkan (Ardhana, 1963 : 165). Motif dan motivasi merupakan dua komponen yang sangat penting yang membuat manusia mengerjakan suatu aktivitas. Menurut Mc Cleland (1987 : 95), ada perbedaan antara motif dan motivasi. Motif adalah potensi yang dimiliki seseorang sedangkan motivasi adalah aktualisasi dari motif yang potensial dalam perbuatan nyata. Secara alami manusia memiliki motif untuk ingin mengetahui dan mengerti tentang keadaan di sekitarnya. Motif ini merangsang rasa ingin tahu, memotivasi diri individu untuk malakukan eksplorasi dengan lingkungan. Motif dan motivasi merupakan dua komponen yang sangat penting yang membuat manusia mengerjakan suatu aktivitas.

24

Sedangkan menurut Thournburg (dalam Prayitno, 1989 : 12), jenis atau bentuk motivasi adalah : 1. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam individu atau keinginan bertindak yang disebabkan faktor pendorong dari dalam diri individu. Ini berarti bahwa tingkah laku dari individu terjadi tanpa faktor dari lingkungan atau dengan kata lain individu terdorong untuk bertingkah laku ke arah tujuan tertentu tanpa ada faktor dari luar. 2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari luar individu, dimana tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu disebabkan oleh dorongan dari luar. Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang aktif berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Dinamakan ekstrinsik karena tujuan individu melakukan kegiatan adalah untuk mencapai tujuan yang terletak di luar aktivitas. .Jadi, motivasi merupakan suatu proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Dan motivasi sebagai proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor didalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsik atau faktor diluar diri yang disebut ekstrinsik (Muslimin, 2004 : 287). Karena itu, ketika khalayak mempunyai keinginan menyaksikan tayangan di media massa televisi, sebenarnya keinginan tersebut muncul dari adanya suatu motif tertentu terhadap tayangan tersebut. Khalayak

menggunakan media televisi karena didorong oleh motif-motif tertentu, hal ini

25

dikarenakan ada berbagai kebutuhan yang bisa dipuaskan oleh media. Motifmotif di sini yang di maksud adalah motif ekstrinsik maupun motif intrinsik yang dimiliki oleh khalayak. Adapun motif khalayak untuk menyaksikan suatu tayangan di televisi adalah karena ingin mengetahui serta memperoleh informasi yang sedang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya.

26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tipe Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang berarti bahwa penelitian yang dilakukan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data atau mengukur status variabel yang diteliti yaitu tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2002 : 6). Karenanya dalam penelitian deskriptif tidak menggunakan dan tidak melakukan pengujian hipotesis. Karena peneliti hanya ingin mendiskripsikan bagaimana data yang diperoleh oleh peneliti yang berupa konsep jawaban detail dari responden itu akan menjelaskan obyek yang diteliti melalui data yang terkumpul tanpa melakukan perbandingan dengan data yang lain. B. Populasi Populasi merupakan keseluruhan dari obyek penelitian dan menurut Sugiyono (2002 : 57) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa/mahasiswi FAI angkatan 2005 dari Jurusan Tarbiyah maupun Syari’ah yang berada di lingkungan UMM dengan jumlah mahasiswa 52 orang. Jumlah mahasiswa sebanyak 52 responden tersebut diperoleh setelah dilakukannya pra penelitian. Dari 57 mahasiswa FAI yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini

27

hanya 52 mahasiswa sebab hanya 52 mahasiswa tersebut yang telah memenuhi kriteria penelitian yaitu mereka yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Peneliti memeilih menggunakan responden dari mahasiswa FAI angkatan 2005 karena jumlah dari keseluruhan mahasiwa FAI 2005 telah cukup mewakili jika dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Mahasiswa angkatan 2005 merupakan jumlah yang terbanyak apabila dibandingkan dengan angkatan sebelumnya yaitu mencapai 57 mahasiswa. C. Sampel Sampel adalah sebagian atau keseluruhan wakil dari populasi yang akan diteliti. Dalam menentukan jumlah sampel peneliti menggunakan responden yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI sebagai sampel. Jadi teknik yang digunakan adalah total sampling yaitu peneliti dalam hal ini menjadikan seluruh populasi sebagai subyek pengumpulan data. Sehingga jumlah sampel yang ditetapkan peneliti sebesar 52 responden dari jumlah populasi yaitu sebanyak 52 responden. Sebab setelah melakukan pra penelitian peneliti mengetahui dari 57 responden terdapat 5 responden yang menjawab tidak pernah menyaksikan tayangan infotainmnet Silet. Sedangkan sisanya sebanyak 52 responden menyatakan pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet. Karena itu peneliti hanya meneliti dan menggunakan data dari 52 responden yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet, 52 responden tersebut terdiri atas 25 responden dari Tarbiyah dan 27 responden dari Syari’ah. Penetapan tersebut

28

dilakukan pada mahasiswa yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet saja. D. Responden Penelitian dan Lokasi Penelitian D. 1. Responden penelitian Dalam penelitian ini peneliti memilih responden penelitiannya adalah para mahasisiwa/mahasiswi Fakultas Agama Islam (FAI) angkatan 2005 yang kuliah di UMM dengan memiliki kriteria sebagai berikut:

Mahasiswa/mahasiswi FAI angkatan 2005 tayangan infotainment Silet..

yang pernah menyaksikan

Untuk mendapatkan responden penelitian dengan kriteria yang tersebut di atas, maka peneliti melakukan pra penelitian terlebih dahulu. Dan pada saat peneliti menyebarkan kuesioner pada responden sudah di ketahui berapa jumlah responden yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet. Dan jumlah responden tersebut yang akan dijadikan sebagai sampel. D. 2. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang pada saat mahasiswa/mahasiswi angkatan 2005 ada jadwal mengikuti perkuliahan. E. Teknik Pengumpulan Data E. 1. Kuesioner Teknik pengumpulan data yang dipakai bertujuan untuk menemukan motif ekstrinsik dan intrinsik pada mahasiswa FAI UMM dalam menyaksikan tayangan Silet di RCTI. Data yang diperoleh adalah dengan menyebarkan

29

kuesioner kepada responden. Adapun kuesioner menurut Arikunto (1992: 124) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Adapun penelitian ini akan menggunakan jenis kuesioner daftar pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka, yaitu kuesioner yang jawabannya sudah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka (Singarimbun dan Handayani dalam Singarimbun dan Effendi, 1995: 177-178) Sehingga nantinya akan diketahui pula apa alasan responden memilih jawaban dari pilihan jawaban yang sudah ditentukan. Sehingga hasil dari kuesioner yang berupa penilaian, pendapat, dan tanggapan responden merupakan data utama atau jawaban mengenai motif menyaksikan tayangan Silet yang disampaikan secara tertulis oleh responden. Berikut contoh bentuk pertanyaan jenis kombinasi tertutup dan terbuka: 1. ……………………………………………………….. a. ………….. b. …………. c. …………. Alasan ………………………………………………….. ……………………………………………………….. Jawaban :……………………………………………….. ………………………………………………………. a. ……………. b…………….. c. ……………

2. 3.

E. 2. Dokomentasi Teknik dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari

30

seseorang. Penelitian ini berhubungan dengan data-data yang tertulis dari lokasi, dimana peneliti melakukan penelitian. Utamanya mengenai data yang berkaitan dengan deskripsi wilayah dimana responden bernaung sebagai mahasiswa/mahasiswi FAI serta data mengenai profil tayangan infotainment Silet di RCTI. F. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknis analisis statistik deskriptif, yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2002:112). Setelah data yang diperlukan terkumpul kemudian peneliti melakukan pengolahan data dengan menghitung presentase dari hasil kuesioner yang telah diisi/disebarkan kepada responden (menjadi berupa statistik/angka). Setelah itu, hasil presentase (statistik/angka) tersebut akan dianalisis lebih lanjut dengan cara mendeskripsikannya.

31

BAB IV PROFIL OBYEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian Kemunculan infotainment Silet di layar kaca RCTI sebagai pelopor tayangan infotainment yeng berbau investigasi ikut menambah deretan jenis hiburan di televisi. Sebagai pelopor tayangan infotainment investigasi, Silet sudah mendapat kepercayaan dari para khalayak, ini terbukti dengan terpilihnya infotainment Silet sebagai tayangan infotainment terbaik tahun 2007 mengalahkan acara infotainment lainnya. Karena itu infotainment Silet juga turut andil dengan bermunculannya acara infotainmnet yang memiliki format sama dengan tayangan Silet tersebut. Dengan banyaknya tayangan hiburan yang berbau gosip, maka NU mengeluarkan fatwa haram terhadap tayangan infotainment. Karena selama menyaksikan tayangan tersebut khalayak akan terbuai dengan informasi yang biasanya kurang sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Walaupun begitu, acara infotainment tetap dicari oleh penggemarnya sebagai hiburan. Begitu pula dengan mahasiswa/mahasiswi FAI juga membutuhkan adanya suatu hiburan. Meskipun mereka berstatus sebagai mahasiswa/mahasiswi FAI, yang pada dasarnya lebih memahami tentang ajaran Islam tetapi mereka tetap membutuhkan suatu tayangan yang menghibur. Karena sebagai khalayak mereka juga memanfaatkan televisi

sebagai media penghibur. Dengan adanya media televisi mereka akan terdorong untuk menyaksikan tayangan entertainment sebagai media

32

penghibur. Karena pada saat mereka membutuhkan informasi tentang hiburan, tayangan infotainment juga akan menjadi salah satu pilihannya. Dan setelah dikeluarkannya fatwa haram terhadap tayangan infotainment sebagai mahasiswa/mahasiswi FAI apakah akan berpengaruh terhadap pemilihan hiburan yang akan disaksikan. Hal itu kemudian menjadi alasan kenapa penelitian ini dilakukan pada mahasiswa FAI, Sebab sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka tentunya mereka akan memahami seperti apa tayangan infotainment khususnya tayangan infotainment Silet di mata mereka. Sehingga mahasiswa FAI termotivasi untuk menyaksikan tayangan Silet di RCTI B. Profil Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang B. 1. Sejarah Fakultas Agama Islam Fakultas Agama Islam (FAI) adalah salah satu fakultas di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ketika Universitas

Muhammadiyah Malang berdiri sebagai cabang Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun 1964, salah satu jurusan yang pertama berdiri adalah Jurusan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam Fakultas Pendidikan dan Pengajaran (sekarang FKIP). Dengan demikian, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu cikal bakal berdirinya Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai organisasi keagamaan Islam yang bersifat modernis dan sekaligus sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang bergerak dibidang sosial dan pendidikan, para tokoh Muhammadiyah mencita-citakan

33

manusia ideal yaitu manusia yang mampu mengemban visi dan misi Muhammadiyah. Manusia ideal itu dikonsepkan dalam bahasa yang sederhana tetapi memiliki makna yang mendalam yaitu “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”. Atas dasar itulah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang didirikan. Pada waktu berdiri pada tahun 1968, terjadi peristiwa bersejarah dimana Jurusan Pendidikan dan Pengajaran Universitas Muhammadiyah Malang resmi berdiri sendiri, terlepas dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dan pada tahun 1970 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan dan Pengajaran Islam berubah namanya menjadi Fakultas Tarbiyah. Pada masa ini, berdasarkan adanya pembinaan dan penertiban administrasi perguruan tinggi agama swasta yang dilakukan oleh Departemen Agama, yang tidak membenarkan fakultas-fakultas agama berinduk pada perguruan tinggi di luar wilayah kopertais yang bersangkutan, maka atas prakarsa Majelis Pendidkan dan Pengajaran Muhammadiyah Wilayah (Mapendapwil) Jawa Timur, di adakan musyawarah kerja perguruan Tinggi Muhammadiyah yang ada di wilayah Jawa Timur dan memutuskan bahwa Universitas Muhammadiyah Malang khususnya Fakultas Tarbiyah ditunjuk sebagai perguruan tinggi induk yang memiliki semacam filial/fakultas jauh di berbagai daerah seperti: a. Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah (FIAD) di Surabaya. b. Fakultas Tarbiyah IAIM Kediri.

34

c. Fakultas Tarbiyah IAIM di Ponorogo. d. Fakultas Tarbiyah Blitar dan Surabaya. Pada tahun akademik 1984/1985, didirikan Fakultas Syari’ah, namun sejak tahun 1993 Fakultas Syari’ah dan Fakultas Tarbiyah digabung menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) dan akhirnya menjadi Fakultas Agama Islam (FAI). Pada tahun akademik 1984/1985, didirikan Fakultas Syari’ah, namun sejak tahun 1993 Fakultas Syari’ah dan Fakultas Tarbiyah digabung menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) dan akhirnya menjadi Fakultas Agama Islam (FAI). Dalam rangka membangun kualitas perguruan tinggi yamg

sesumgguhnya (the real university), dari waktu ke waktu, Fakultas Agama Islam melakukan terobosan dengan mengembangkan proses prmbelajaran dan kelembagaan. Sejak tahun 1990, FAI UMM mengembangkan program pembelajaran bahasa Arab secara intensif pada tahun pertama perkuliahan. Program ini membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa Arab sebagai alat untuk mempelajari secara mendalam ilmu-ilmu keislaman. Sejak tahun 1998, dilaksanakan program kembaran (twinning program) antara Jurusan Syari’ah dengan Fakultas Hukum, sehingga mahasiswa yang mengikuti program ini bisa meraih dua gelar dalam waktu yang relatif singkat (5 tahun). Dan Jurusan Tarbiyah sampai saat ini mengembangkan program Komunikasi Dakwah untuk memberikan kemampuan khusus kepada mahasiswa.

35

Program-program tersebut didukung oleh sarana belajar, antara lain laboratorium bahasa arab, laboratorium pendidikan agama, laboratorium Syari’ah dan hukum Islam, laboratorium komputer, pusat studi Islam dan filsafat, perpustakaan studi Islam (kitab-kiab klasik dan kontemporer berbahasa arab). B. 2. Visi Fakultas Agama Islam a. Menjadi Fakultas yang kokoh dan berpengaruh dalam bidang studi Islam di Indonesia. b. Mempunyai pusat-pusat studi keislaman, dan program-program pendidikan unggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. c. Menjadi lembaga yang kondusif untuk pendidikan dan pengamalan agama Islam. B. 3. Misi Fakultas Agama Islam a. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama bagi mahasiswa Strata 1. b. Mengadakan penelitian-penelitian untuk pengembangan pemikiran dan ilmu-ilmu agama Islam. c. Melakukan dakwah Islam dan pengabdian pada masyarakat. B. 4. Produk Fakultas Agama Islam Berdasarkan visi dan misi di atas, Fakultas Agama Islam bertujuan mengantarkan mahasiswa menjadi sarjana yang berkompetensi pada tiga hal: a. Ahli dalam bidang Agama Islam, komitmen pada Islam dan menjalankan ajaran-ajarannya.

36

b. Penggerak bidang keagamaan di masyarkat umum dan berbagai sektor kehidupan serta kelembagaan. c. Tenaga profesional dalam bidang keagamaan tertentu yang menjadi konsentrasi studinya. B. 5. Struktur Organisasi Fakultas Agama Islam Universitas

Muhammadiyah

Malang

Struktur Organisasi

PD I

Dekan PD II PD III

Senat Fakultas

Markas Dakwah dan Khidmat Mujtama’k

Pusat Kajian dan Publikasi

Kaur . TU TU

Lab. Bahasa Arab

Kajur Tarbiyah Sekjur Tarbiyah

Kajur Syari’ah Twinning Program Sekjur Syari’ah Twinning Program Lab. Syari’ah dan Hukum

Lab. P3i

Dosen Wali

Klmpk Dosen

Islam

Dosen Wali

Klmpk Dosen

37

Pimpinan dan Staf Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang Dekan PD I PD II PD III Kajur Tarbiyah Kajur Syari’ah Ka. Lab. Bahasa Arab Ka. MKDM Ka. Lab. P3i Ka. Lab. Syariah Ka. Kajian dan Penerbitan Kaur TU : Drs. Khozin, M.Si : Drs. Sunarto, M.Ag : Drs. Faridi, M.Si : Drs. M. Nurul Humaidi, M.Ag : Drs. Romlah, M.Ag : Drs. Muhammad Sarif, M.Ag : Drs. Abdul Haris, MA : Azhar Muttaqin, M.Ag : Saiful Amin, S.Ag : Idaul Hasmah, S.Ag : Drs. Agus Purwadi : Sri Wahyudi, S.Sos

I. Jurusan/Program Studi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah) a. Visi 1. Menjadi pusat keunggulan dalam bidang kajian keislaman dan kependidikan Islam. 2. Menjadi wadah pembentukan insan akademis yang profesional, memiliki integritas moral dan intelektual yang mampu

memerankan diri sebagai pengemban misi keilmuan dan keislaman yang berwawasan ke-Indonesiaan dan kemodernan.

38

b. Misi 1. Menyelenggarakan pendidikan tingkat Sarjana Strata Satu (S-1) yang berbasis riset sebagai pijakan pengembnagan kajian keislaman dan kependidikan Islam. 2. Mengembangkan kemampuan metodologis kepada mahasiswa Strata Satu (S-1) untuk melakukan kajian dan penelitian di bidang keislaman dan kependidikan. 3. Mengembangkan keahlian dan ketrampilan mahasiswa yang mendukung profesi di bidang kependidikan. c. Tujuan Jurusan Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam FAI UMM bertujuan untuk melahirkan Sarjana Strata Satu (S-1) yang memiliki integritas intelektual dan moral sesuai dengan bidangnya, dengan kualifikasi : 1. Menguasai ilmu-ilmu keislaman baik yang normatif maupun empirik-historis dan melaksanakannya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. 2. Menguasai ilmu-ilmu kependidikan Islam, baik pada tataran konsep, teorotok maupun praktis. 3. Menguasai dasar-dsar metodologi untuk mengembangkan ilmuilmu keislaman dan kependidikan Islam.

39

II. Jurusan/Program Studi Ahwalal-Syakhshiyyah (Syari’ah) a. Visi Menjadi lembaga pengajaran ilmu syari’ah, hukum dan perundangundangan untuk reformasi hukum nasional dengan cara mencetak sarjana hukum Islami dan kader ulama tarjih dan pengembangan pemikiran Islam. b. Misi Membantu mahasiswa menjadi tenaga ahli yang profesional di bidang Syari’ah dan atau hukum yang dapat mengembangkan keahliannya secara teoritis metodologis dan mampu menerapkan secara empiris. c. Tujuan Program Studi Syari’ah FAI UMM bertujuan untuk menghasilkan sarjana-sarjana muslim yang memiliki integritas keilmuan, keimanan dan ketaqwaan dengan kualifikasi : 1. Memiliki kemampuan ynag profesional untuk menganalisa dan memecahkan masalah-masalah keagamaan dan hukum dalam masyarakat serta dsapat mengembangkan ilmu kesyari’ahan dan hukum dengan pendekatan interdisipliner. 2. Memiliki keahlian advokasi hukum dan keagamaan untuk masyarakat melalui lembaga formal dan non formal baik secara individual maupun kolektif. 3. Memiliki kepekaan sosial yang tertinggi dan mampu memberikan solusinya secara tepat.

40

4. Memiliki semangat untuk berperan serta memajukan kehidupan masyarakat. Sumber : Buku panduan akademik dan papan struktur organisasi di TU FAI C. Profil Mahasiswa Fakultas Agama Islam Sebagai salah satu Fakultas yang bernaung dalam Universitas Muhammadiyah Malang, FAI merupakan Fakultas yang akan dijadikan pilihan oleh para mahasiwa/mahasiswi yang ingin memperoleh serta memperdalam keilmuan mereka tentang agama Islam. Selain itu alasan mereka memilih FAI kerena ingin meneruskan pendidikan tentang keislaman yang telah diperoleh ketika mereka belajar dibangku sekolah. Mahasiswa yang memilih kuliah di Fakultas Agama Islam sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan yang berbasis agama Islam. Ratarata mahasiswa memulai pendidikan mereka dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan latar belakang pendidikan keislaman. Jenjang pendidikan yang dipilih mereka diantaranya adalah MI, MTs N, MAN/MA, Tsanawiyah, pondok pesantren serta sekolah-sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah seperti SD, SLTP, SMU Muhammadiyah. Karena berbekal pendidikan yang sebelumnya telah mereka miliki inilah, mereka tetap memilih FAI sebagai jenjang pendidikan yang lebih tinggi untuk memperdalam serta menambah pengetahuan keilmuan mereka soal kaislaman. Namun ada juga beberapa mahasiswa yang berbasik pendidikan sekolah umum seperti SD, SLTP dan SMU umum. Walaupun mereka jebolan dari

41

sekolah umum tetapi antusias mereka tetap tinggi untuk tetap belajar di Fakultas Agama Islam sebagai tempat mempelajari mengenai ilmu Islam. Meskipun para mahasiswa FAI berasal dari berbagai macam daerah di seluruh Indonesia akan tetapi tujuan mereka memilih masuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan motivasi yang hampir serupa yaitu karena mereka ingin membina dirinya sendiri sesuai dengan ciri khas kampus ini. Yang dimaksud dengan khas kampus UMM yakni kampus yang berpondasikan keislaman serta keilmuan. Dari berbagai keragaman yang dimiliki oleh mahasiswa FAI, sebenarnya sebagian besar dari mahasiswa tersebut sudah berusia pasca remaja yang artinya mereka telah mengalami perubahan baik perubahan fisik, mental maupun rohaninya. Sedangkan sebagian besar lagi tergolong sudah dewasa dan matang. Sehingga mereka bisa menetukan sendiri Fakultas yang bagaimana yang cocok untuk dirinya. Fakultas Agama Islam sendiri memiliki dua Jurusan yang harus dipilih oleh mahasiswa yaitu Jurusan Syari’ah dan Jurusan Tarbiyah. Bagi mahasiswa yang ingin memperdalam ilmu pengajaran tentang keislaman mereka akan memilih Jurusan Tarbiyah. Sebab Jurusan Tarbiyah cocok bagi mahasiswa yang ingin menjadi guru agama Islam. Sedangkan bagi mahasiswa yang ingin mengetahui tentang hukum-hukum agama Islam mereka akan memilih Jurusan Syari’ah. Karena Jurusan Syari’ah ini sesuai dengan mahasiswa yang ingin mengetahui tentang segala macam hukum-hukum Islam. Dapat dibayangkan para mahasiswa/mahasiswi FAI mengikuti perkuliahan dengan berbusana rapi yang mencerminkan bahwa mereka

42

memang benar-benar seorang muslim yang taat pada agama. Para mahasiswa Tarbiyah mengikuti perkulihan setiap hari mulai dari hari senin sampai hari kamis dengan jadwal perkuliahan yang padat yaitu mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.50 WIB. Sedangkan bagi mahasiswa Syari’ah memulai perkuliahan mereka setiap hari pula yaitu dimulai dari hari senin sampai hari jum’at. Dengan jam perkuliahan yang cukup padat juga yaitu mulai pukul 07.00 sampai pukul 16.55 WIB. Dari dua jurusan yang dimiliki oleh FAI terdapat 52 mahasiswa yang terdiri dari 25 mahasiswa Syari’ah dan 27 mahasiswa Tarbiyah. Jurusan Syari’ah memiliki 17 jumlah mahasiswa laki-laki dan 8 mahasiswa perempuan sedangkan Jurusan Tarbiyah memiliki 17 mahasiswa laki-laki dan 10 mahaiswa perempuan. Dan yang menjadi keinginan setelah mereka lulus dari Fakultas Agama Islam adalah mereka ingin mengaplikasikan pendidikan yang telah diperolehnya dengan cara menjadi orang yang sukses dengan mengabdikan diri pada masyarakat. Salah satunya dengan menjadi praktisi hukum, hakim, dan menjadi tenaga pendidik yang profesional sesuai dengan ilmu yamg mereka peroleh. Sunber : Dari menyebarkan angket D. Profil Program Acara Infotainment Silet di RCTI Program acara infotainment adalah salah satu bagian dari beberapa program-program acara di RCTI yang menjadi unggulan bagi stasiun televisi tersebut. Dan dari salah satu program infotainment di RCTI, program acara infotainment Silet yang dipriduksi oleh Indigo Entertainment termasuk di

43

dalamnya. Program tayangan infotainment Silet merupakan sebuah acara gosip yang memberitakan seputar kehidupan pribadi serta segala seluk beluk mengenai karir keselebritisan aktor/artis di tanah air secara investigasi. Semenjak kemunculan infotainment Silet pada tanggal 21 0ktober 2002 sampai sekarang keberadaan infotainment Silet tetap menjadi utama bagi pemirsa televisi. Hal ini terbukti dengan bertambahnya usia infotainment Silet semakin banyak pula award yang di peroleh diantaranya dalam ajang Panasonic Award pada tanggal 1 Desember 2006 dan 2007 sebagai program acara infotainment terbaik, dinobatkan sebagai acara infotainment terbaik tahun 2007 berdasarkan penilaian konsumen di PintuNet.com dan dinobatkannya Fenny Rose dalam ajang Panasonic Award selama tiga kali berturut-turut yang menjadi presenter infotainment terfavorit. Dan

penghargaan yang baru-baru ini diterima adalah dinobatkannya kembali Fenny Rose sebagai presenter infotainment terbaik dalam Panasonic Award tahun 2007. Selama lima tahun program acara infotainment Silet sudah menemani pemirsa setia stasiun televisi RCTI. Acara yang dipandu oleh dua presenter yaitu Donna Arsinta dan Fenny Rose ini menjadi pelopor terbentuknya infotainment investigasi. Dengan beckground studio yang dibuat klasik serat tata bahasa yang tegas dan puitis semakin menambah sensasi tersendiri bagi pemirsa. Tayangan yang disiarkan setiap hari yaitu pada hari senin-jum’at pukul 11.30 WIB sampai pukul 12.00 WIB dan pada hari sabtu-minggu pukul 11.00 WIB sampai pukil 12.00 WIB yang kini berubah jam tayang menjadi

44

setiap hari selama satu jam yaitu mulai pukul 11.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB memiliki motto yaitu “Mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi layak dan pantas untuk diperbincangkan”. Sesuai dengan motto dari infotainment Silet, maka tayangan ini berhasil menghadirkan nara sumber yang sulit ditemui dan mampu membahas dunia selebritis setajam Silet sesuai dengan logo yang dimiliki oleh infotainment Silet. Dengan reputasinya, Silet selalu berhasil membuat selebritis angkat bicara tentang persoalan yang tengah mereka hadapi bahkan tidak jarang sampai menguraikan air mata. Bukan hanya itu saja Silet juga berhasil menguak tentang persoalan-persoalan yang disembunyikan oleh para selebritis. Dan dengan usia lima tahun ini semakin memantapkan tayangan infotainment Silet sebagai tayangan infotainment investigasi. Keberhasilan dari tayangan infotainment Silet ini tidak lepas dari campur tangan Indigo Entertainment sebagai rumah produksi yang menaungi tayangan tersebut. Berkat kerja keras dari tim produksi, tayangan infotainment Silet bisa bertahan sampai lima tahun dan memperoleh banyak penghargaan dibandingkan dengan tayangan infotainment yang lain. Sumber : Tayangan infotainment Silet di RCTI

45

BAB V PENYAJIAN dan ANALISIS DATA Dalam bab ini akan menyajikan hasil penelitian yang telah diperoleh oleh peneliti melalui penyebaran kuesioner. Pengambilan atau pengumpulan data penelitian ini diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner kepada para responden. Pengambilan data dengan melalui kuesioner tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran serta jawaban akhir dari permasalahan yang diangkat oleh peneliti baik melalui data kuesioner maupun dokumentasi. Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa teknik kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 1992 : 124). Adapun penelitian ini akan menggunakan jenis kuesioner daftar pertanyaan kombinasi tertutup dan terbuka, yaitu kuesioner yang jawabannya sudah ditentukan tetapi kemudian disusul dengan pertanyaan terbuka (Singarimbun dan Handayani dalam Singarimbun dan Effendi, 1995: 177-178) Sedangkan jumlah populasi yang akan dijadikan sampel adalah responden yang memiliki kriteria-kritaria tertentu yaitu mereka yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Karena itu peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Dan oleh sebab itu, untuk menganalisis data yang telah diperoleh melalui penyebaran kuesioner maka peneliti akan menggunakan teknik analisis data yang disebut statistik deskriptif. Jadi data yang sudah diperoleh

46

oleh peneliti akan diolah dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang terlah terkumpul sebagaimana adanya A. Penyajian Data A. 1. Pertanyaan awal Pertanyaan awal yang dimaksud disini adalah suatu pengelompokan pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Dan pertanyaan awal tersebut dilakukan pada saat pra penelitian. Point pertanyaan pada pertanyaan awal ini berisi mengenai pertanyaan pembuka untuk megetahui responden pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet atau tidak. Pengelompokan pertanyaan awal ini dilakukan guna membantu responden untuk menjawab pertanyan yang ada dalam pertanyaan inti. Serta membantu peneliti untuk mengetahui berapa jumlah responden yang termasuk dalam kriteria penelitian yaitu responden yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Motif merupakan bagian yang penting dalam kehidupan seseorang. Melalui motif banyak keinginan manusia yang bisa terwujud salah satunya adalah sebagai hiburan. Lewat media massa motif ekstrinsik maupun intrinsik yang mendorong khalayak untuk melakukan sesuatu bisa terwujud sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. Dengan adanya media massa khalayak akan terdorong atau termotivasi untuk memilih program tayangan seperti apa yang sesuai dengan kebutuhannya. Seperti kebutuhan akan adanya hiburan serta informasi yang menghibur, dari situ responden akan termotivasi untuk memilih tayangan yang mengandung unsur entertainment.

47

Dari kesemua tayangan, tayangan infotainment yang paling merajai program-program acara di media massa sebagai pemuas kebutuhan akan hiburan. Dan tayangan Silet dipilih sebagai perwujudan akan tersampaikannya rasa keingintahuan responden tentang dunia hiburan. Karena itu untuk mengetahui motif awal mahasiswa saat menyaksikan tayangan infotainment Silet terdapat pertanyaan yang berkaitan dengan motif yang mendorong responden menyaksikan tayangan tersebut yaitu Apakah Anda pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Dari pertanyaan tersebut akan diketahui berapa jumlah responden yang tertarik terhadap tayangan infotainment dan berapa yang tidak, dan kemungkinan ada atau tidak tingkat pengaruh atau perubahan terhadap motif menyaksikan tayangan tersebut. Berikut data yang diperoleh melalui pertanyaan yang diambil pada saat pra penelitian, berdasarkan kuesioner yang telah diajukan kepada 57 responden mahasiswa FAI angkatan 2005 Tabel 1 Responden Pernah Menyaksikan Tayangan Infotainmnet Silet di RCTI No 1. 2. Pernah Tidak Jumlah Sumber: Pertanyaan pra penelitian Dari tabel di atas bisa dilihat data yang diperoleh melalui pra penelitian bisa diketahui bahwa responden yang menjawab pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet sebanyak 52 atau 91,73 persen responden Kategori F 52 5 57 % 91,73 8,77 100

48

sedangkan yang menjawab tidak pernah menyaksikan sebanyak 5 atau 8,77 persen responden. Meskipun ada 5 atau 8,77 persen yang menjawab tidak pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet tetap tidak mempengaruhi jumlah responden yang pernah menyaksikan tayangan tersebut sebanyak 52 atau 91,73 persen responden. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu fungsi media massa masih tetap berlaku bagi khalayak yaitu selain sebagai tempat untuk mendapatkan informasi juga sebagai sarana hiburan. Dari fungsi media massa tersebut responden akan termotivasi untuk menyaksikan tayangan

infotainment untuk tujuan pemenuhan kepuasan dirinya. A. 2. Identitas responden. Sebagaimana telah diungkap dalam bab sebelumnya bahwa yang menjadi poplasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa FAI angkatan 2005 UMM, baik dari Jurusan Tarbiyah maupun Jurusan Syari’ah. Mahasiswa FAI yang dijadikan sampel berjumlah 52 responden dari jumlah populasi 57 responden seluruhnya. Diantaranya terdapat 17 mahasiswa dan 10 mahasiswi dari Tarbiyah sedangkan dari Syari’ah terdapat 22 mahasiswa dan 8 mahasiswi. Namun hanya 52 responden yang dijadikan sampel sebab hanya mereka sudah memenuhi kriteria untuk menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu dengan menyatakan bahwa mereka pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Sedangkan 5 mahasiswa lainnya dari Jurusan Syari’ah, mereka menyatakan tidak pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet, maka dari

49

itu mereka tidak menjadi responden dalam penelitian ini. Karena itu yang menjadi sampel hanya berjumlah 52 responden. Sehingga ada 17 mahasiswa dan 10 mahasiswi Jurusan Tarbiyah yang menyatakan pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Sedangkan dari Jurusan Syari”ah hanya ada 17 mahasiswa dan 8 mahasiswi yang menyatakan pernah meyaksikan taayangan infotainment Silet. Sebelum menganalisis lebih jauh mengenai penjabaran dari isi kuesioner yang diajukan, maka peneliti ingin mengungkapkan identitas responden yang telah diperoleh dari penyebaran kuesioner tersebut. Berdasarkan lingkungan penelitian yang diambil adalah mahasiswa FAI, maka terdapat dua Jurusan yaitu Syariah dan Tarbiyah. Berikut adalah tabel mengenai data diri para responden. Tabel 2 Jurusan Reasponden No 1. 2. Tarbiyah Syari’ah Jumlah Sumber: Identitas responden Dari keterangan tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat menyaksikan tayangan infotainment Silet dari responden Tarbiyah lebih banyak dibandingkan Syari’ah yaitu sebanyak 27 responden atau 51,92 persen. Sedangkan responden Syari’ah tingkat menyaksikan tayangan infotainment tersebut lebih sedikit yaitu 52 responden atau 48,08 persen. Alasan ini Kategori F 27 25 52 % 51,92 48,08 100

50

disebabkan karena responden dari Tarbiyah masih memiliki motif atau dorongan untuk mencari hiburan, meskipun responden mengerti tentang ajaran agama Islam tetapi berdasarkan latar belakang Jurusan yang diambil yaitu berbasis pendidikan Islam maka, responden masih mempunyai dorongan untuk menyaksikan tayangan gosip guna memenuhi kebutuhan akan hiburan. Berbeda halnya dengan Jurusan Syari’ah yang memiliki latar belakang Jurusan untuk mempelajari dan memahami tentang hukum-hukum Islam. Jadi responden kurang tertarik untuk menyaksikan tayangan infotainment sebab bagi responden tayangan tersebut hanya mempergunjingkan orang lain dan itu menyalahi serta tidak diperbolehkan dalam ajaran hukum Islam. Tabel 3 Jenis Kelamin No 1. 2. Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : Identitas responden Data dari tabel di atas menyebutkan bahwa ketertarikan responden menyaksikan tayangan infotainment Silet lebih banyak di minati oleh responden yang bergender laki-laki sebesar 34 atau 65.38 persen responden sedangkan responden yang bergender perempuan lebih sedikit sebanyak 18 atau 34,62 persen responden. Dari sini bisa diketahui bahwa tidak semua mereka yang bergender laki-laki tidak menyukai menyaksikan tayangan infotainment. Dan bukan berarti hanya kaum perempuan yang gemar Kategori F 34 18 52 % 65,38 34,62 100

51

menyaksikan tayangan infotainment sebab tayangan tersebut sangat di identikkan dengan perempuan. Hal ini terwakili dari data yang telah di peroleh peneliti, meskipun jumlah responden laki-laki lebih mendominasi dibanding responden perempuan tetapi pada kenyataannya responden laki-laki mengakui bahwa mereka juga menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Dengan demikian membuktikan bahwa perkataan masyarakat pada umumnya yang mengatakan kalau tayangan infotainment hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khalayak perempuan dewasa di kelas menengah kebawah itu tidak benar adanya. Sebab dari 34 atau 65,38 persen responden, yang merupakan responden laki-laki menyatakan bahwa mereka juga pernah menyaksikan tayangan infotainment di televisi meski tidak sesering yang disaksikan kaum perempuan. B. Analisis Data B. 1. Pertanyaan Seputar Ketertarikan TerhadapTayangan Infotainment Silet Pertanyaan seputar ketertarikan responden terhadap tayangan Silet yang dimaksud disini adalah suatu pengelompokan pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Point-point pertanyaan pada pertanyaan seputar ketertarikan responden terhadap tayangan Silet ini berisi seputar pertanyaan mengenai seluk beluk ketertarikan tayangan Silet di televisi dan seperti apa tanggapan yang dilontarkan responden terhadap tayangan tersebut. Pengelompokan pertanyaan seputar ketertarikan responden terhadap tayangan Silet ini dilakukan guna membantu responden untuk mengenal tayangan infotainment

52

Silet lebih dalam lagi sehingga membantu responden untuk menjawab pertanyan demi pertanyaan dalam point pertanyaan itu. .Tayangan Silet adalah salah satu bentuk program acara yang dimuat dalam televisi sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan seseorang terhadap suatu motif tertentu. Kebutuhan menyaksikan tayangan infotainment Silet di televisi merupakan bentuk tingkah laku manusia yang memiliki motivasi tertentu untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi belakangan ini media televisi sudah dipadati oleh berbagai macam tayangan infotainment. Oleh sebab itu untuk mengetahui motif yang melatar belakangi responden untuk tetap meilih dan menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI akan terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan yakni; berkaitan dengan sejauh mana ketertarikan terhadap tayangan Silet di RCTI, alasan mengapa responden tetap memilih tayangan infotainment Silet, Seberapa sering menyaksikan tayangan infotainment Silet, di mana biasanya menyaksikan tayangan infotainment Silet, seberapa sering ketinggalan menyaksikan tayangan infotainment Silet, alasan responden selalu

menyaksikan tayangan infotainment Silet, tindakan yang dilakukan ketika ada teman atau keluarga yang ingin menyaksikan tayangan lain, apakah responden pernah kecewa ketika tidak bisa menyaksikan tayangan infotainment Silet, tindakan yang diambil supaya tidak ketinggalan menyaksikan tayangan infotainmnet Silet, bersama siapa biasanya responden menyaksikan tayangan infotainment Silet, hari dan jam tayang tayangan infotainment Silet di RCTI,

53

penampilan presenter tayangan infotainment Silet, beckground studio tayangan infotainment Silet. Agar lebih jelas dalam mengetahui motif mahasiswa FAI menyaksikan tayangan infotainment Silet di televisi, maka akan dilihat dalam indikatorindikator dan tabel pada setiap variabel pertanyaan. B. 1.1. Ketertarikan Terhadap Tayangan Infotainment Silet di RCTI. Untuk mengetahui dan menyenangi tayangan yang disaksikan diperlukan suatu kecintaan serta kedekatan dengan tayangan tersebut. Dari rasa itu akan muncul suatu motivasi yang mendorong untuk menyaksikan suatu tayangan infotainment di televisi. Ada beberapa indikator yang bisa diketahui untuk mengetahui sejauh mana responden menyukai tayangan infotainment Silet di RCTI, diantaranya yaitu; sangat menyukai, biasa saja, dan kurang menyukai. Tabel 4 Ketertarikan Responden Terhadap Tayangan Infotainment Silet di RCTI No 1. 2. 3. Kategori Sangat tertarik Biasa saja Kurang tertarik Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 1 Melalui tabel di atas dapat diketahui responden yang sangat tertarik dengan tayangan infotainment Silet sebanyak 4 responden atau 7,69 persen. Alasan responden sangat tertarik dengan tayangan tersebut sebab menurut F 4 36 12 52 % 7,69 69,23 23,08 100

54

responden dengan menyaksikan tayangan infotainment Silet biar tidak kuper dan tahu gosip-gosip artis. Alasan responden yang menjawab biasa saja sebanyak 36 responden atau 69,23 persen. Karena responden menganggap tayangan tersebut bisa digunakan sebagai hiburan sambil mengisi waktu luang. sedangkan yang menjawab kurang tertarik sebanyak 12 responden atau 23,08 persen menganggap tayangan tersebut karena acara itu dianggap tidak penting dan kurang baik karena membuka aib orang. Dari keterangan diatas dapat diartikan bahwa paling banyak tingkat ketertarikan responden terhadap tayangan infotainment dengan alasan biasabiasa saja sebesar 69,23 persen atau 36 responden. Hal ini sangat berkaitan dengan motif audience, ketika audience menyaksikan tayangan infotainment maka, akan timbul efek setelah menyaksikan tayangan tersebut yaitu berupa interaksi audience dan tindakan audience terhadap isi tayangan di media. Dalam teori komunikasi massa individual differences perspektif

menggambarkan bahwa prilaku audience tidak ada yang sama terhadap pengaruh media massa tergantung pada masing-masing kondisi psikologis individu saat menerima informasi tersebut. B. 1.2. Frekuensi Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet di RCTI. Ketika responden menyaksikan tayangan infotainment secara tidak sadar mereka akan termotivasi untuk menyaksikan tayangan tersebut beberapa kali lagi. Tindakan seseorang yang demikian merupakan suatu kondisi yang menggambarkan bahwa tingkat keseringan responden pada saat menyaksikan tayangan infotainment di pengaruhi oleh motif ketertarikan pada tayangan

55

tersebut. Dari sini dapat diketahui indikator-indikator yang menunjukkan tingkat keseringan responden menyaksikan tayangan infotainment Silet yaitu sebanyak; setiap hari (7 kali), 1-3 kali, 3-6 kali serta abstain khusus bagi responden yang tidak memiliki pilihan jawab. Tabel 5 Frekuensi Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet di RCTI dalam satu minggu No 1. 2. 3. 4. Kategori Setiap hari (7 kali) 1-3 kali 3-6 kali Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 2 Tabel di atas telah menunjukkan bahwa jumlah responden yang memiliki tingkat keseringan menyaksikan tayangan infotainment Silet dalam satu minggu yaitu untuk responden yang menjawab setiap hari (7 kali) sebanyak 1 responden atau 1,93 persen. Selanjutnya untuk responden yang meiliki jawaban 1-3 kali sebanyak 39 responden atau 75 persen. Serta untuk responden yang menjawab 3-6 kali sebanyak 3 responden atau 5,77 persen. Sedangkan bagi responden yang memilih abstain atau tidak menentukan pilihan jawaban sebanyak 9 responden atau 17,31 persen. Frekuensi menyaksikan tayangan di televisi berpengaruh terhadap seberapa besar atau kecilnya suatu tayangan itu bisa mengena di hati F 1 39 3 9 52 % 1,92 75 5,77 17,31 100

56

pemirsanya. Ketika menyaksikan tayangan infotainment Silet responden pernah menyaksikan tayangan itu sebanyak 1-3 kali dalam seminggu dengan jumlah responden 39 atau 75 persen. Keadaan ini disebabkan karena adanya motif umpan balik terhadap tayangan tersebut, artinya jika tayangan infotainment Silet dirasa cukup menarik untuk disaksikan oleh responden, maka mereka akan menyisahkan waktu sesering mungkin untuk menyaksikan tayangan itu. Dan apabila informasi yang disampaikan tayangan infotainment itu dirasa kurang memuaskan, maka umpan balik yang diberikan oleh responden akan biasa-biasa saja. Karena itu tingkat keseringan responden untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet yang terbesar adalah 1-3 kali dalam seminggu. B. 1. 3. Tempat Untuk Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet. Pada saat menyaksikan suatu acara di televisi seseorang akan memilih tempat atau posisi yang nyaman untuk dirinya. Dengan kenyamanan tempat atau posisi yang dipilih oleh responden nantinya akan mempengaruhi motif mereka untuk tetap menyaksikan suatu tayangan sampai selesai. Tindakan ini sangat wajar dilakukan responden ketika menyaksikan suatu tayangan sebab suatu tayangan akan terasa lebih puas ditonton jika saat menyaksikannya memperoleh tempat atau posisi yang tepat. Untuk itu perlu diketahui indikator-indikator mengenai tempat dimana biasanya rseponden menyaksikan tayangan infotainment Silet adalah di kamar kos sendiri, di ruang santai, di kamar kos teman yang mempunyai televisi, di rumah, dirumah tetangga.

57

Tabel 6 Tempat atau Ruangan Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. Kategori Di kamar kos sendiri Di ruang santai Di kamar kos teman yang mempunyai televisi Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 3 Dari tabel di atas menunjukkan kalau responden biasanya memilih menyaksikan tayangan infotainment Silet di kamar kos sendiri sebanyak 17 responden atau 32,69 persen. Selanjutnya untuk responden yang menjawab di ruang santai sebanyak 27 responden atau 51,92 persen. Dan bagi responden yang memilih jawaban di kamar kos teman yang mempunyai televisi sebanyak 8 responden atau 15, 39 persen. Di mana pun responden memilih tempat untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet pasti memiliki rasa kenyamanan tersendiri bagi yang memilihnya. Akan tetapi jika responden memilih untuk menyaksikan tayangan tersebut di ruang santai karena menurut mereka ruang itu yang paling cocok untuk menikmati suatu tayangan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah responden yang terbanyak memilih untuk menjawab menyaksikan tayangan infotainment Silet di ruang santai sebanyak 27 responden atau 51,92 persen. Pilihan ini didasari oleh adanya motif interaksi sosial artinya bahwa adanya suatu kebersamaan di ruangan tersebut akan membawa pengaruh terhadap hubungan 52 100 F 17 27 8 % 32,69 51,92 15,39

58

sosial mereka yaitu dengan adanya suatu rasa kedekatan antar sesama penonton tayangan itu. B. 1. 4. Tingkat keseringan Ketinggalan Menyaksikan Tayangan

Infotainment Silet. Banyak penyebab mengapa responden mempunyai pengalaman pernah atau tidak ketinggalan untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet. Melihat berbagai macam bentuk penyebabnya, dari situ akan muncul motif mengapa responden mempunyai pengalaman terhadap masalah penanyangan acara infotainment itu. Karena itu kita lihat indikator-indikator mengenai pengalaman tersebut yakni; sering, kadang-kadang, pernah, dan tidak. Tabel 7 Seberapa Sering Ketinggalan Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4. Sering Kadang-kadang Pernah Tidak Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 4 Tabel di atas menunjukkan bahwa ketika responden menyaksikan tayangan infotainment Silet mereka sering ketinggalan untuk menyaksikannya yaitu sebanyak 40 responden atau 76,92 persen. Alasan mereka sering ketinggalan menyaksikan tayangan itu karena berbarengan dengan jadwal kuliah mereka sehingga tidak sempat untuk menyaksikan televisi. Selanjutnya Kategori F 40 6 4 2 52 % 76,92 11,54 7,69 3,85 100

59

untuk responden yang menjawab kadang-kadang sebanyak 6 responden atau 11,54 persen dengan alasan mereka sedang sibuk melakukan kegiatan lain selain kuliah. Dan bagi responden yang menjawab pernah ketinggalan menyaksikan tayangan itu sebanyak 4 responden atau 7,69 persen sebab menurut mereka tayangan infotainment Silet mepet dengan waktu sholat. Sedangkan responden yang menjawab tidak pernah ketinggalan untuk menyaksikan tayangan infotainment sebanyak 2 responden atau 3,85 persen. Dalam media massa khususnya televisi akan mempengaruhi

ketertarikan khalayak terhadap tayangan. Sudah jelas disebutkan bahwa ketika menyaksikan tayangan infotainment Silet responden sering ketinggalan untuk menyaksikannya yaitu sebanyak 40 responden atau 76,92 persen. Kejadian ini di dorong oleh faktor motif individu yang dipengaruhi oleh pemikiran psikologisnya. Motif individu akan mempengaruhi pribadi seseorang untuk ikut menentukan kebutuhan mana yang lebih utama di jalankan. B. 1. 5. Perasaan Responden Ketika Tidak Bisa Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet. Perasaan yang timbul ketika menyaksikan tayangan di media televisi akan mempengaruhi rasa kecintaan serta kesetiaan terhadap tayangan itu. Seseorang akan memotivasi dirinya untuk selalu setia menyaksikan tayangan tertentu apabila tayangan itu dirasa tidak mengecewakan bagi dirinya. Lalu adakah perasaan kecewa yang muncul ketika responden tidak bisa menyaksikan tayangan infotainment Silet, berikut indikator-indikator yang muncul yaitu; merasa kecewa dan tidak merasa kecewa

60

Tabel 8 Perasaan Responden Ketika Tidak Bisa Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. Kategori Merasa kecewa Tidak merasa kecewa Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 5 Tabel di atas menunjukkan ketika responden tidak menyaksikan tayangan infotainment Silet yang menjawab ”ya” mereka pernah merasa kecewa sebanyak 3 atau 5,77 persen responden. Alasan mereka menjawab pernah kecewa sebab mereka akan ketinggalan dengan gosip aktor/aktris favoritnya. Sedangkan responden yang menjawab tidak pernah kecewa apabila ketinggan menyaksikan tayangan itu sebanyak 48 atau 92,31 persen responden dengan alasan karena menurut mereka tayangan infotainment bukan merupakan suatu tayangan prioritas utama. Alasan ini dikarenakan tayangan infotainment Silet hadir setiap hari jadi apabila mereka ketinggalan untuk menyaksikan hari ini, mereka bisa melihat tayangan itu di lain hari. Selanjutnya untuk responden yang memilih abstain karena tidak mempunyai pilihan jawaban sebanyak 1 atau 1,92 persen responden. Ada kalanya sebuah informasi yang disiarkan tidak menimbulkan efek yang sesuai dengan harapan para pembuat tayangan. Sebab dalam teori efek terbatas menjelaskan bahwa rendahnya terpaan media massa menyebabkan F 3 48 1 52 % 5,77 92,31 1,92 100

61

pengelolaan

televisi

sering

yakin

bahwa

informasi

yang

disiarkan

mempengaruhi audience. Pendapat ini menganggap bahwa banyak orang yang menyaksikan media televisi berarti informasi yang disampaikan mendapat perhatian khusus dari khalayak. Namun data diatas menunjukkan sebaliknya sebagian besar responden tidak kecewa ketika mereka tidak bisa menyaksikan tayangan infotainment Silet dengan jumlah responden sebesar 48 atau 92,31 persen responden. Asumsinya bahwa meskipun sebagian besar responden pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI akan tetapi pada kenyataannya mereka menyaksikan tayangan di televisi tersebut dengan tidak begitu serius. Sehingga apabila responden ketinggalan untuk menyaksikan tayangan tersebut mereka tidak akan merasa kecewa. B. 1. 6. Tindakan yang Dilakukan Ketika Ada Teman atau Keluarga Lain yang Ingin Menyaksikan Tayangan Lain. Keberadaan seorang teman atau keluarga di samping kita akan menambah suasana saat menyaksikan televisi lebih menyenangkan. Namun apa yang terjadi apabila kehadiran keluarga atau seseorang akan menggangu responden untuk menyaksikan tayangan yang di saksikannya. Dan motivasi tindakan yang dilakukan oleh responden akan menimbulkan prilaku yang berbeda-beda. Berikut merupakan indikator-indikator dari permasalah itu yakni; mengalah dengan tidak menyaksikan tayangan tersebut, lihat di tempat lain, menyaksikannya dengan bergantian saat iklan, menyuruh teman atau keluarga ikut menyaksikan juga.

62

Tabel 9 Tindakan yang Dilakukan Ketika Ada Teman Atau Keluarga yang Ingin Menyaksikan Tayangan Lain No 1. Kategori Mengalah dengan tidak menyaksikan tayangan tersebut 2. 3. Lihat di tempat lain Menyaksikannya dengan bergantian saat iklan 4. Menyuruh teman atau keluarga ikut menyaksikannya juga 5. Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 6 Tabel di atas menunjukkan ketika responden memperoleh gangguan saat menyaksikan tayangan infotainment Silet tindakan yang akan 5 52 9,61 100 2 3,85 6 19 11,54 36,54 F 20 % 38,46

dilakukannya adalah mengalah dengan tidak menyaksikan tayangan tersebut sebanyak 20 responden atau 38,46 persen. Lalu untuk responden yang mempunyai jawaban lihat di tempat lain sebanyak 6 responden atau 11,54 persen. Selanjutnya responden yang menjawab menyaksikannya dengan bergantian saat iklan sebanyak 19 rseponden atau 36,54 persen. Dan responden yamng memilih untuk menjawab menyuruh teman atau keluarga ikut menyaksikannya sebanyak 2 responden atau 3,85 persen. Sedangkan bagi

63

responden yang tidak mempunyai pilihan jawaban atau abstain sebanyak 5 responden atau 9,61 persen. Dalam komunikasi massa terdapat beberapa elemen yang dalam

mempengaruhi suatu

tayangan.

Jika terjadi suatu

hambatan

menyaksikan tayangan diantaranya saat menyaksikan tayangan ada keluarga atau teman yang ingin menyaksikan tayangan lain tindakan apa yang akan responden lakukan. Salah satu tindakan yang akan dilakukan adalah mengalah dengan tidak menyaksikan tayangan tersebut. Keadaan semacam ini sudah di buktikan dengan banyaknya responden yang menjawab tindakan itu yakni sebanyak 20 responden atau 38,46 persen. Peristiwa semacam ini disebut dengan gangguan. Gangguan bukan hanya berasal dari kesalahan suatu sistem tetapi gangguan juga bisa berasal dari luar yaitu pada saat menyaksikan tayangan ada keluarga atau teman yang juga ingin menyaksikan tayangan lain. Akibat dari gangguan itu responden akan termotivasi supaya mereka mengalah dengan memilih tidak menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. B. 1. 7. Bersama Siapa Ketika Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet. Kehadiran seseorang di tengah-tengah audience ketika menyaksikan program acara di media massa khususnya televisi akan menjadi nilai tersendiri. Ketika audience disuruh untuk memilih siapa seseorang yang akan dijadikan teman untuk menyaksikan suatu tayangan mereka mempunyai beberapa pilihan. Dan beberapa pilihan itu akan terlihat dari indikatorindikator berikut; sendiri, bersama teman bermain, bersama teman di kost, dan bersama keluarga

64

Tabel 10 Bersama Siapa Biasanya Responden Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4. Sendiri Bersama teman bermain Bersama teman di kost Bersama keluarga Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 7 Menurut tabel di atas responden yang memilih menjawab tidak memerlukan kehadiran seseorang atau sendiri sewaktu menyaksikan tayangan infotainment Silet, itu sebanyak 30 atau 57,70 persen responden. Alasan mereka mejawab itu karena menurut mereka menyaksikan sendiri masih bisa dan tetap menyenangkan. Lalu responden yang memilih untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet bersama dengan teman bermain sebanyak 5 responden atau 9,61 persen. Dengan alasan mereka lebih merasa enjoy menyaksikan infotainment bersama teman bermain. Kemudian bagi responden yang suka menyaksikan tayangan itu bersama teman di kost sebanyak 12 responden atau 23,08 persen. Alasan para responden sebab mereka tinggal di kost jadi menyaksikannya bersama teman-teman di kosan dan mereka bisa ikut ngobrolin tema yang sedang di bahas. Selanjutnya untuk responden yang lebih memilih untuk di menyaksikan tayangan itu bersama keluarga sebanyak 5 responden atau 9,61 persen. Dan alasan responden memilih menyaksikan Kategori F 30 5 12 5 52 % 57,70 9,61 23,08 9,61 100

65

bersama keluarga sebab infotainment Silet tayangnya tepat dengan waktu istirahat dan kumpulnya anggota keluarga. Beberapa khalayak mengartikan kalau keberadaan atau kedatangan seseorang akan menggangu keasyikannya ketika menyaksikan suatu tayangan. Karena itu mereka memiliki kemauan atau motivasi dirinya untuk menikmati tayangan tersebut seorang diri saja. Sebab menurut responden kehadiran seseorang akan menjadi gangguan saat mereka menyaksikan tayangan infotainment Silet. Dengan alasan itu maka, responden yang terbesar memilih untuk menikmati tayangan tersebut untuk tidak ditemani seseorang atau sendiri yaitu sebesar 30 atau 57,70 persen responden. Gangguan yang terjadi pada saat menyaksikan tayangan itu bisa mengakibatkan hilangnya motivasi atau tidak berminatnya seseorang untuk menyaksikan tayangan itu karena adanya gangguan yang disebabkan oleh faktor dari luar. Jika gangguan sudah muncul maka, informasi yang diterima oleh responden sudah tidak bisa diterima dengan baik. Sehingga motivasi yang ada pada diri responden untuk menyaksikan infotainment akan hilang. B. 1. 8. Kesesuaian Hari dan Jam Penayangan Infotainment Silet di RCTI. Setiap program acara yang ditayangkan di televisi mempunyai jadwal mengenai jam serta hari penayangan suatu acara yang akan disiarkan. Pemilihan hari dan jam penayangan suatu program acara akan disesuaikan dengan keadaan sosial khalayak yang terjadi saat itu. Seperti pemilihan hari serta jam penayangan infotainment Silet yang memilih menyiarkan acara tersebut pada setiap hari selama satu minggu penuh serta pemilihan jam

66

tayangan di siang hari saat waktu istirahat. Dengan pemilihan waktu yang tepat akan membuat khalayak semakin terdorong untuk menyaksikan infotainment Silet karena tayangan itu dianggap bisa mengerti keadaan atau situasi apa yang sedang dibutuhkan. Dengan begitu akan diperlukan indikatorindikator dari waktu penayangan yang tepat suatu tayangan infotainment itu diantaranya; sangat sesuai, sesuai, dan kurang sesuai. Tabel 11 Kesesuaian Hari dan Jam Penayangan Infotainment Silet di RCTI No 1. 2. 3. 4. Sangat sesuai Sesuai Kurang sesuai Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 8 Dari sumber data diatas menunjukkan bahwa jumlah rseponden yang menjawab penempatan hari dan jam tayang tayangan infotainment Silet sudah sangat sesuai sebesar 2 responden atau 3,85 persen. Kemudian untuk responden yang menyatakan bahwa waktu penayangan infotainment Silet sudah sesuai sebanyak 28 responden atau 53,85 persen Dengan alasan bahwa waktu tayangnya bertepatan saat istirahat siang yang berarti responden dalam keadaan yang santai. Lalu untuk responden yang menjawab kurang setuju dengan penempatan jam dan hari tayangan itu sebanyak 17 responden atau 32,69 persen. Menurut alasan para responden karena pada saat tayangan Kategori F 2 28 17 5 52 % 3,85 53,85 32,69 9,61 100

67

tersebut tayang mereka masih mengikuti perkuliahan. Sedangkan bagi responden yang tidak menentukan pilihan jawabannya atau abstain dengan alasan yang tidak jelas sebesar 5 responden atau 9,61 peresn. Dalam pemilihan waktu yaitu hari dan jam penayangan suatu tayangan di televisi harus disesuaikan dengan kondisi yang sedang dialami oleh khalayak saat itu. Karena fungsi televisi dalam komunikasi massa sebagai motif hiburan menduduki posisi yang paling tinggi. Untuk itu tayangan infotainment Silet memilih waktu penayangannya setiap hari dan pemilihan jam tayang pada saat waktu istirahat atau siang hari. Dari sebab itu responden terbesar menjawab bahwa pemilihan waktu tayangan infotainment Silet sudah sesuai dengan besar prosentase 53,85 persen atau 28 responden. Alasan pemilihan waktu ini sebab pada jam-jam prime time acara-acara hiburan sangat diminati sebagai teman saat santai.dan istirahat siang hari. Ketika kebutuhan akan suatu hiburan diperlukan maka, dengan sendirinya responden termotivasi untuk mencari tahu serta mengingat-ingat waktu mengenai tayangan yang menyiarkan mengenai hiburan. B. 1. 9. Penampilan Presenter Tayangan Infotainment Silet. Suatu tayangan akan semakin menarik jika tayangan tersebut memiliki nilai lebih di bandingkan dengan tayangan yang lainnya. Contohnya dengan pemilihan serta penunjukan presenter yang tepat akan menambah daya tarik tersendiri tentang suatu tayangan di televisi. Penonton akan semakin terdorong untuk menyaksikan tayangan apabila presenter dari suatu tayangan itu memiliki penampilan yang indah untuk dilihat saat memandu

68

acara yang dibawakannya. Dan tidak salah apabila khalayak menyaksikan suatu tayangan karena termotivasi untuk menyaksikan presenter dari tayangan tersebut. Dari sini bisa diketahui indikator-indikatornya yakni; penampilan menarik, tata rias wajah yang cantik, kata-kata yang diucapkan puitis, serta pandai berimprovisasi. Tabel 12 Penampilan Presenter Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4. 5. Kategori Penampilan menarik Tata rias wajah yang cantik Kata-kata yang diucapkan puitis Pandai berimprovisasi Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 9 Dari sumber data di atas memberitahukan bahwa responden yang menjawab suatu tayangan akan mempunyai nilai yang lebih apabila memiliki presenter yang berpenampilan menarik dengan jumlah responden sebesar 7 atau 23,46 persen responden. Selanjutnya untuk responden yang menyukai presenter yang memiliki tata rias wajah yang cantik sebesar 2 atau 3,85 persen responden. Kemudian bagi responden yang lebih suka untuk melihat presenter tayangan yang suka mengucapkan kata-kata yang puitis sebesar 11 atau 21,15 persen responden. Lalu untuk responden yang tertarik melihat presenter yang mempunyai kemampuan pandai dalam berimprovisasi sebesar 31 atau 59,62 F 7 2 11 31 1 52 % 13,46 3,85 21,15 59,62 1,92 100

69

persen responden. Dan responden yang memilih untuk abstain karena tidak mempunyai pilihan jawaban dalam menentukan seperti apa penampilan presenter dalam tayangan infotainment Silet sebesar 1 atau 1,92 persen responden. Setiap tayangan memiliki kelebihan untuk menarik responden agar tertarik menyaksikan acara tersebut. Salah satunya dengan adanya presenter sebagai pemandu acara tentunya akan menambah daya tarik program tayangan itu. Menurut responden penampilan presenter suatu tayangan infotainment harus pandai dalam berimprovisasi dengan besar prosentase 59,62 persen atau 31 responden dan jawaban tersebut merupakan pilihan jawaban yang terbesar. Keadaan ini dilandasi oleh motif ekstrinsik yaitu responden akan semakin termotivasi menyaksikan tayangan infotainment Silet karena keberadaan seorang presenter yang pandai berimprovisasi setiap tayangan infotainment Silet tayang. B. 1. 10. Keseuaian Background Studio Tayangan Infotainment Silet Dengan Tema. Dalam point nomer 11 sudah dijelaskan mengenai nilai lebih yang dimiliki oleh setiap tayangan di televisi. Selain pemilihan presenter yang berkualitas untuk memberi nilai lebih, juga diperlukan penataan background studio yang menarik dalam suatu tayangan. Dengan penataan background studio yang sesuai dengan latar belakang program tayangan, maka akan semakin menambah hidup suasana dari tayangan itu. Dengan ciri khusus yang dimiliki oleh suatu tayangan akan memudahkan audience untuk mengingat

70

serta memilih tayangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Karena motivasi seseorang bisa saja muncul ketika menyaksikan suatu tayangan yang memiliki penataan backgruond studio yang menarik. Dan berangkat dari situ akan muncul indikator-indikator yang menyatakan apakah background dari tayangan infotainment Silet sudah sesuai atau belum yaitu; sudah dan belum. Tabel 13 Kesesuaian Beackground Studio Tayangan Infotainment Silet Dengan Tema. No 1. 2. 3. Sudah Belum Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 10 Menurut tabel di atas menjelaskan bahwasannya beckground studio tayangan infotainment Silet sudah sesuai dengan karakter tayangan tersebut dengan jumlah responden sebanyak 40 atau 76,92 persen responden . Menurut responden beckground tayangan itu sudah sesuai karena sudah memiliki tampilan yang berbeda dengan tayangan infotainment yang lain. Selain itu tampilannya dikemas dengan warna hitam sesuai dengan tagline tayangan infotainment Silet yaitu tajam setajam Silet. Selanjutnya soal responden yang menjawab bahwa beckground dari infotainment Silet belum sesuai sebanyak 10 atau 19,23 persen responden. Alasan responden menjawab sebab menurut mereka tayangan infotainment Silet dianggap sok misterius. Sedangkan Kategori F 40 10 2 52 % 76,92 19,23 3,85 100

71

terdapat 2 responden atau 3,85 persen yang memilih untuk abstain atau tidak mempunyai jawaban serta alasan yang jelas. Memang dengan pemilihan serta penataan beckground studio yang tepat akan memberikan warna tersendiri terhadap suatu tayangan. Hal ini terbukti dengan adanya jumlah responden yang terbanyak yaitu sebesar 40 responden atau 76,92 persen yang menjawab bahwa infotainment Silet sudah sesuai dalam penataan studionya. Dengan pengemasan tayangan yang berbeda dari yang lain akan memberi kesan lebih pada tayangan tersebut. Jika tayangan infotainment Silet dikemas dengan menarik dan responden memberikan tanggapan yang positif sehingga menimbulkan adanya dorongan untuk menyaksikan tayangan itu. Dan dorongan untuk menyaksikan infotainment Silet berasal dari motif ekstrinsik yang mempengaruhi pola pikir responden. B. 2. Pertanyaan yang Berkaitan Dengan Motif. Pertanyaan berkaitan dengan motif yang dimaksud disini adalah suatu pengelompokan pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Point-point pertanyaan pada pertanyaan yang berkaitan dengan motif ini berisi seputar pertanyaan mengenai segala macam motif yang melatar belakangi responden

menyaksikan tayangan Silet di televisi dan seperti apa perasaan yang timbul pada responden setelah menyaksikan tayangan tersebut. Pengelompokan pertanyaan yang berkaitan dengan motif ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar interest responden untuk menyaksikan tayangan infotainment

72

Silet. Karena pada point pertanyaan ini merupakan point untuk mengetahui motif responden menyaksikan tayangan infotainment Silet. Berbagai motif yang dimiliki oleh audience saat menyaksikan suatu program tayangan di televisi membuat mereka selalu mempunyai keinginan untuk tetap memanfaatkan media massa itu sebagai sarana yang efektif untuk pemuas kebutuhan pribadinya. Audience memlandasi pribadinya dengan pemilihan motif yang berbeda pada setiap ingin menyaksikan suatu program tayangan. Jika responden ingin memenuhi kebutuhan akan hiburan maka, mereka akan memiliki motif yang kuat untuk mencari program-program tayangan yang menghibur. Salah satu contohnya dengan menyaksikan tayangan infotainment bisa membebaskan seseorang dari rasa kelelahan Dengan demikian akan diketahui motif–motif audience dalam pemenuhan kebutuhan terhadap madia televisi melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: apa yang membuat responden terdorong untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI, hal apa saja yang membuat tertarik untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet, apakah responden sudah merasa senang dengan menyaksikan tayangan infotainment Silet, apa yang bisa diperoleh setelah menyaksikan tayangan infotainment Silet, perubahan apa yang dirasakan setelah menyaksikan tayangan infotainment Silet, tema yang paling di sukai responden dari tayangan infotainment Silet, apakah semua persoalan atau kisah selebritis boleh disiarkan/diceritakan secara umum, kelebihan yang dimiliki infotainment Silet. Untuk selanjutnya mengenai motif mahasiswa FAI menyaksikan tayangan infotainment Silet di televisi, maka

73

akan dilihat dalam indikator-indikator dan tabel pada setiap variabel pertanyaan. B. 2. 1. Motivasi Untuk Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet di RCTI. Ketika individu sudah menentukan pilihan program tayangan mana yang akan dijadikan rujukan saat membutuhkan hiburan maka, tayangan tersebut sudah mampu untuk memuaskan kebutuhan individu tersebut. Tentu saja dengan sendirinya seseorang tersebut dalam hal ini responden akan memotivasi dirinya untuk menyaksikan infotainment pilihannya. Dari situ akan muncul berbagai macam indikator-indikator yang mendorong individu tersebut untuk menyaksikan program tayangan pilihannya diantaranya; untuk mencari hiburan, untuk mengetahui informasi tentang dunia entertainment, serta untuk mengisis waktu luang. Tabel 14 Motivasi Responden Untuk Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet di RCTI No 1. 2. Kategori Untuk mencari hiburan Untuk mengetahui informasi tentang dunia entertainment 3. 4. Untuk mengisis waktu luang. Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 11 17 2 52 32,69 3,85 100 F 18 15 % 34,61 28,85

74

Sesuai dengan data di atas bahwasannya responden terdorong untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet karena adanya kebutuhan responden untuk mencari hiburan dengan jumlah prosentase sebesar 34,61 persen atau 18 responden. Kemudian untuk rseponden yang terdorong menyaksikan tayangan infotainment Silet untuk mengetahui informasi tentang dunia entertainment sebesar 15 responden atau 28,85 persen. Lalu untuk responden yang memiliki alasan untuk mengisi waktu luang sebesar 17 responden atau 32,69 persen. Sedangkan untuk responden yang memilih abstain karena tidak mempunyai pilihan jawaban sebesar 2 responden atau 3,85 persen. Keinginan responden untuk menentukan tayangan yang akan disaksikannya dengan alasan untuk mencari hiburan sebesar 18 responden atau 34,61 persen merupakan pilihan jawaban terbesar. Alasan ini didorong oleh adanya motif hedonisme yaitu tingkah laku yang dimiliki individu atau manusia selalu digerakkan kearah pencapaian rasa senang dalam hal ini adalah untuk mencari kebutuhan akan hiburan. Pada saat individu ingin melakukan tindakan mereka dengan menyaksikan tayangan infotainment Stlet maka, motivasi atau keinginan untuk mencari hiburan dengan menyaksikan tayangan tersebut merupakan suatu pilihan yang tepat untuk pemuasan kebutuhan dirinya. Serta sebagai bentuk dari terwujudnya pemenuhan akan suatu tujuan tertentu yang ingin dicapainya. B. 2. 2. Hal-Hal yang Menarik Pada Tayangan Infotainment Silet di RCTI. Pemilihan program tayangan pada media televisi banyak ditemui disetiap channel namun apakah program tersebut sudah cocok dengan

75

kebutuhan individu. Untuk membuat khalayak bisa memilih channel yang tepat dengan tayangan yang sesuai kebutuhan akan hiburan di perlukan adanya trik-trik agar khalayak tertarik untuk menyaksikannya. Dengan trik-trik khusus yang dimiliki suatu tayangan akan membuat khalayak terdorong untuk menyaksikan tayangan tersebut. Untuk mengetahui hal-hal apa saja yang membuat responden tertarik untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet diperlukan suatu indikator-indikator yakni; mengenai cerita aktor/aktrisnya yang menarik, informasinya beragam, selalu up to date, dan informasinya diungkap secara detail dan mendalam. Tabel 15 Hal-Hal yang Membuat Menarik Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4. Kategori Cerita aktor/aktrisnya yang menarik Informasinya beragam Selalu up to date Informasinya diungkap secara detail dan mendalam Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 12 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa hal-hal yang bisa membuat responden tertarik untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet karena dipengaruhi oleh faktor cerita aktor/aktrisnya yang menarik mendapat respon dari responden sebesar 8 atau 15,38 persen responden. Kemudian untuk responden yang memberi alasan mereka tertarik menyaksikan infotainment 52 100 F 8 12 11 21 % 15,38 23,08 21,16 40,38

76

Silet karena informasinya yang beragam sebanyak 12 atau 23,08 persen responden. Selanjutnya responden yang memilih jawaban karena selalu up to date sebanyak 11 atau 21,16 persen responden. Lalu responden yang memberi alasan bahwa mereka tertarik menyaksikan infotainment Silet karena informasinya diungkap secara detail dan mendalam sebesar 21 atau 40,38 persen responden. Suatu program tayangan yang baik akan memberikan tambahan triktrik yang berbeda dalam setiap informasi yang disampaikan kepada khalayaknya. Sehingga khalayak akan menjadikan suatu tayangan itu menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi kebutuhan pribadinya. Begitu juga dengan infotainment Silet yang selalu hadir dengan informasi yang selalu diungkap secara detail dan mendalam. Responden memilih alasan itu dengan jumlah prosentase terbesar sebanyak 40,38 persen atau 21 responden. Dengan kelebihan yang dimiliki tayangan Silet itu maka tayangan tersebut memiliki kekuatan lebih untuk membuat responden tetap termotivasi untuk selalu menyaksikan tayangan tersebut. Motif yang dimiliki oleh responden itu berasal dari motif intrinsik yakni responden akan memotivasi dirinya sendiri untuk lebih menyukai dan memilih menyaksikan infotainment Silet karena informasi yang disajikan diungkap secara detail dan mendalam. Motif intrinsik ini muncul tanpa adanya dorongan dari pihak luar yang menyuruh responden untuk tertarik dengan infotainment Silet.

77

B. 2. 3. Responden Sudah Merasa Senang Dengan Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet. Tujuan utama audience menyaksikan televisi agar mereka bisa memperoleh hiburan dari suatu tayangan tertentu yang disiarkan melalui stasiun televisi tersebut. Pada waktu tujuan yang ingin dicapai itu bisa terpenuhi maka, perasaan senang akan muncul dari dalam diri audience setelah menyaksikan tayangan itu. Begitu pula saat responden memilih untuk menyaksikan program tayangan infotainment berarti mereka saat itu memang memerlukan informasi mengenai dunia hiburan. Dan program tayangan yang menyajikan informasi mengenai hiburan salah satunya adalah infotainment Silet. Dengan adanya program infotainment Silet itu apakah responden sudah merasa senang setelah menyaksikannya atau akan ada perasaan lain yang dirasakannya. Karena itu diperlukan adanya indikator-indikator yakni; sudah, belum dan biasa-biasa saja. Tabel 16 Responden Sudah Merasa Senang Dengan Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4. Sudah Belum Biasa-biasa saja Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 13 Kategori F 12 4 35 1 52 % 23,08 7,69 67,31 1,92 100

78

Melalui sumber data yang diperoleh dari tabel di atas menjelaskan bahwasannya ketika menyaksikan tayangan infotainment Silet responden yang menjawab mereka sudah merasa senang sebanyak 12 responden atau 23,08 persen. Alasan mereka sudah merasa senang karena berita yang diulas secara mendetail atau terfokus pada satu informasi. Jadi setelah menyaksikan tayangan tersebut tidak stress lagi. Sedangkan responden yang menjawab belum merasa senang saat menyaksikan infotainment Silet sebanyak 4 responden atau 7,69 persen. Namun untuk jawaban ini responden tidak memberitahukan alasan mereka menjawab belum. Selanjutnya untuk responden yang menanggapi biasa-biasa saja saat menyaksikan tayangan tersebut sebanyak 35 responden atau 67,31 persen. Alasan responden menjawab biasa-biasa saja sebab mereka menyaksikan infotainmnet Silet hanya digunakan sebagai hiburan saja dan sebab lain karena banyak tayangan infotainment sekarang yang meniru gaya ”Silet”. Dan untuk responden yang menjawab abstain sebab mereka tidak mempunyai pilihan jawaban yang jelas sebanyak 1 responden atau 1,92 persen. Banyak reaksi yang dirasakan responden setelah menyaksikan suatu tayangan tertentu. Seperti perasaan biasa-biasa saja yang paling banyak muncul saat menyaksikan infotainmnet Silet yaitu sebanyak 35 responden atau 67,31 persen. Perasaan ini muncul akibat dari adanya teori Uses and Gratifications yang menyatakan pengguna media dalam hal ini yaitu responden berhak atau mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana mereka menggunakan media dan bagaimana media itu akan berdampak pada

79

dirinya. Artinya responden berhak untuk mempunyai motif pemanfaatan serta pemuasan terhadap media ketika mereka membutuhkannya dan responden juga berhak untuk menyeleksi parasaan yang muncul saat menyaksikan infotainment Silet yaitu perasan biasa-biasa saja mengenai tayangan tersebut. B. 2. 4. Informasi yang Diperoleh setelah Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet. Khalayak percaya bahwa dengan memanfaatkan media massa masyarakat akan menjadi cerdas dan menunjuk media sebagai satu-satunya faktor yang ikut mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Karena itu khalayak menjadikan media televisi sebagai salah satu sumber dalam mencari informasi yang terkini. Begitu pula waktu seseorang menyaksikan infotainment di media televisi mereka yakin akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya. Dari sini akan ditemukan motif yang memperkuat keinginan seseorang untuk memilih program tayangan infotainment sebagai bagian dari pencapaian tujuan mereka. Berikut beberapa indikator-indikator yang ada yaitu; bisa mengetahui kehidupan para selebritis, menambah bahan obrolan dengan teman, bisa mengetahui kabar idola.

80

Tabel 17 Informasi yang Diperoleh Setelah Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. Bisa Kategori mengetahui kehidupan para F 29 % 55,77

selebritis 2. Menambah teman 3. 4. Bisa mengetahui kabar idola Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 17 Sesuai dengan tabel di atas setelah responden menyaksikan infotainment Silet mereka akan mengetahui kehidupan para selebritis dengan prosentase sebesar 29 atau 55,77 persen responden. Kemudian untuk responden yang akan menambah bahan obrolan dengan teman setelah menyaksikan infotainment Silet sebesar 14 atau 26,93 persen responden. Lalu responden yang bisa mengetahui kabar idola dengan menyaksikan tayangan tersebut sebesar 8 atau 15,38 persen responden. Sedangkan untuk responden yang memilih abstain sebab tidak menemukan jawaban sebanyak 1 atau 1,92 persen responden. Dalam setiap penayangan suatu acara pasti akan menyebarkan suatu informasi yang terbaru bagi khalayaknya. Begitu pula dengan tayangan infotainment dalam hal ini yaitu infotainment Silet juga akan menyebarkan 8 1 52 15,38 1,92 100 bahan obrolan dengan 14 26,93

81

suatu informasi dalam setiap infonya. Ketika suatu tayangan disiarkan kepada khalayak ramai maka, hal terpenting adalah mengenai fungsi informasi yang akan disebarkan. Dari informasi yang disebarkan akan banyak berita yang bisa ditangkap oleh responden. Dengan menyaksikan tayangan infotainment Silet maka, secara langsung responden akan mengetahui informasi mengenai kehidupan para selebritis. Jawaban ini merupakan prosentase yang terbesar setelah menyaksikan tayangan infotainment Silet yaitu 29 atau 55,77 persen responden. Hal ini berasumsi dari adanya teori Uses and Gratifications yang menyatakan bahwa tayangan infotainment Silet selain berguna untuk memuaskan kebutuhan responden juga memiliki kegunaan untuk

menyebarkan informasi. Dengan menyaksikan tayangan tersebut responden akan mengetahui berita mengenai kehidupan para selebritis. Karena dalam salah satu kriteria teori Uses and Gratifications juga menyebutkan bahwa teori tersebut mempunyai kegunan untuk Pengetahuan (cognition), bahwa tindakan yang diambil oleh khalayak adalah untuk memperoleh informasi mengenai sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. B. 2. 5. Perubahan yang Dirasakan Setelah Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet di RCTI. Media televisi merupakan salah satu alat yang dijadikan khalayak sebagai media pembelajaran. Dari media televisi khalayak akan belajar tentang dunia, kebiasaan, kebudayaan, kehidupan sosial dan sebagainya. Melalui televisi pula banyak perubahan yang akan dilakukan oleh khalayak mengenai pribadinya. Dengan adanya media televisi motif seseorang untuk

82

melakukan perubahan semakin kuat. Karena itu akan ada beberapa indikatorindikator untuk mengetahui perubahan apa yang terjadi pada responden setelah menyaksikan tayangan infotainment yakni; perubahan cara berpakaian, lebih sering mengikuti perubahan trend model pakaian, perubahan pola berpikir dan perubahan cara bergaul. Tabel 18 Perubahan yang Dirasakan Setelah Menyaksikan Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. Kategori Perubahan cara berpakaian Lebih sering mengikuti perubahan F 2 7 % 3,85 13,46

trend model pakaian 3. 4 5.. Perubahan pola berpikir Perubahan cara bergaul. Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 18 Berdasarkan pada tabel di atas perubahan yang dirasakan responden setelah menyaksikan tayangan infotainment Silet yaitu terjadi pada perubahan cara berpakaian sebesar 2 responden atau 3,85 persen. Selanjutnya responden yang mengalami perubahan dengan lebih sering mengikuti perubahan trend model pakaian sebesar 7 responden atau 13,46 persen. Kemudian dengan responden yang mengalami perubahan pola berpikir setelah menyaksikan infotainment Silet sebesar 24 responden atau 46,16 persen. Dan perubahan 24 11 8 52 46,16 21,15 15,38 100

83

yang terjadi pada responden lainnya adalah perubahan pada cara bergaul sebesar 11 responden atau 21,15 persen. Sedangkan responden yang memilih abstain sebesar 8 responden atau 15,38 persen. Pengaruh yang ditimbulkan dari menyaksikan media televisi sangat berdampak besar pada perubahan yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu setelah menyaksikan tayangan infotainment Silet responden merasakan adanya perubahan pada dirinya. Dengan kata lain tayangan tersebut membawa informasi yang menyebabkan responden termotivasi untuk melakukan suatu perubahan prilaku. Dan perubahan yang dialami responden berupa perubahan pada pola berpikir mereka yang memiliki prosentase terbesar sebanyak 46,16 persen atau 24 responden. Perubahan yang terjadi pada responden ini merupakan jumlah yang terbesar dibanding dengan perubahan lain yang dialami oleh responden. Perubahan pola berpikir para responden ini didorong oleh sebuah teori kultivasi yaitu sebuah teori yang mengasumsikan bahwa media televisi mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap pilihan prilaku audience. Jadi artinya jika responden menyaksikan infotainment Silet yang informasinya menyiarkan mengenai seluk beluk kehidupan para selebritis maka, apabila tayangan tersebut memiliki kesesuaian dengan apa yang dibutuhkan oleh responden sudah tentu mereka akan termotivasi untuk melakukan perubahan. Dan perubahan yang di maksud mengenai pola berpikirnya disesuaikan seperti para selebritis yang terlihat di televisi.

84

B. 2. 6. Tema yang Paling Disukai dari Tayangan Infotainment Silet. Setiap tayangan pada televisi selalu mempunyai tema-tema yang berbeda dalam setiap penayangannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari tayangan yang monoton sehingga khalayak saat menyaksikan suatu tayangan tidak mengalami kejenuhan. Demikian juga yang dilakukan oleh infotainment Silet yang selalu menghadirkan berbagai tema yang berbeda dalam setiap hari penayangannya. Karena tujuan utama khalayak menyaksikan tayangan tersebut untuk mencari hiburan dan menghilangkan rasa jenuh setelah beraktivitas. Dari tema-tema tersebut responden tentunya mempunyai tema yang paling disukai, yang nantinya memberikan dorongan untuk tetap menyaksikan taynagn itu. Dengan adanya tema yang paling disukai responden akan menciptakan indikator-indikator diantaranya adalah soal perceraian selebritis, cerita eksklusif sang aktor/aktris, kisah asmara selebritis, dan cerita mengenai masalah sosial. Tabel 19 Tema yang Paling di Sukai Responden dari Tayangan Infotainment Silet No 1. 2. 3. 4 5.. Kategori Soal perceraian selebritis Cerita eksklusif sang aktor/aktris Kisah asmara selebritis Cerita mengenai masalah sosial. Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 19 F 6 14 11 20 1 52 % 11,54 26,93 21,15 38,46 1,92 100

85

Sesuai dengan sumber data di atas yang menyebutkan bahwasannya tema yang paling disukai responden dari tayangan infotainment Silet berasal dari bermacam-macam tema. Di antaranya responden yang menyukai tema soal peceraian selebritis sebanyak 6 responden atau 11,54 persen. Kemudian yang memilih menyukai tema mengenai cerita eksklusif sang aktor/aktris sebanyak 14 responden atau 26,93 persen. Selanjutnya untuk responden yang meyukai tema tentang kisah asmara selebritis sebanyak 11 responden atau 21,15 persen. Lalu untuk responden yang menyukai tema yang membahas soal cerita mengenai masalah sosial sebesar 20 responden atau 38,46 persen, Sedangkan untuk responden yang memilih untuk abstain dengan tidak memberikan pilihan jawaban dari pertanyaan tersebut sebesar 1 responden atau 1,92 persen. Media televisi melalui penyajiannya selalu selektif dalam pemilihan mengenai tema-tema tayangannya, sehingga akan membentuk kesan-kesan tertentu pada responden. Dari kesan yang ditimbulkan oleh suatu tayangan dalam arti tayangan infotainment Silet akan menuntut responden untuk mempunyai motif memilih tema yang paling disukai menurut pribadinya. Dan tema yang paling besar disukai oleh responden adalah cerita mengenai masalah sosial dengan prosentase 38,46 persen atau 20 responden. Keadaan ini terjadi karena dalam diri pribadi setiap seseorang selalu memiliki motif human interest yaitu suatu motif yang dimiliki seseorang tentang ketertarikan terhadap peristiwa atau cerita-cerita mengenai kehidupan sosial seseorang. Dengan motif human interest ini responden semakin tertarik untuk

86

menyaksikan tayangan-tayangan yang mempunyai cerita kehidupan sosial. Sebab peristiwa atau cerita ini juga pernah terjadi pada kisah nyata di kehidupan sesungguhnya, sehingga responden memiliki rasa empati yang tinggi terhadap peristiwa atau cerita mengenai kehidupan sosial. B. 2. 7. Kebebasaan Dalam Menyampaikan Persoalan Pribadi Selebritis pada Madia Televisi. Setiap program tayangan mempunyai kewajiban untuk menyiarkan serta menyebarkan berbagai macam informasi kepada khalayak umum. Akan tetapi informasi seperti apa yang bisa ditayangkan oleh infotainment, sehingga audience dmemperoleh haknya untuk menikmati semua informasi yang datang dari para selebritis. Padahal informasi mengenai kehidupan para selebritis tidak semuanya bersifat positif dan kadang kala hal-hal yang bersifat pribadi pun bisa diberitakan di media televisi yang seharusnya tidak menjadi konsumsi umum. Oleh sebab itu adakah motif yang mendorong responden untuk memperbolehkan persoalan/kisah selebritis dikomersialkan atau disiarkan oleh media televisi dalam tayangan infotainmnet.sehingga haknya untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan selebritis bisa terpenuhi Berikut merupakan indikator-indikator dari pertanyaan tersebut yaitu; boleh dan tidak.

87

Tabel 20 Jika Semua Persoalan atau Kisah Pribadi Selebritis Disiarkan/Diceritakan Secara Umum Pada Media Televisi No 1. 2. 3. Setuju Tidak Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 20 Dari data tabel di atas menjelaskan bahwasannya persoalan atau kisah selebritis memang merupakan suatu informasi yang dibutuhkan oleh responden sebagai sumber informasi hiburan. Namun apakah semua informasi mengenai kisah selebritis boleh disiarkan secara umum oleh media televisi. Menurut sejumlah responden sebanyak 5 responden atau 9,61 persen mengatakan bahwa informasi mengenai kisah selebritis boleh disiarkan secara umum. Karena responden mempunyai alasan ketika menjawab boleh yaitu selama sang selebritis tidak keberatan kisahnya konsumsi publik maka, tidak jadi masalah karena hal tersebut sudah menjadi resiko menjadi seleb. Sedangkan untuk responden yang menjawab tidak boleh sebanyak 45 responden atau 86,54 persen. Alasan responden menyatakan bahwa kisah selebritis tidak boleh disiarkan secara umum sebab hal teresbut merupakan privasi seseorang yang seharusnya disimpan untuk pribadinya dan tidak pantas untuk dipublikasikan secara umum. Karena dengan memperbolehkan infotainment Silet menayangkan informasi yang bersifat pribadi seseorang Kategori F 5 45 2 52 % 9,61 86,54 3,85 100

88

sama saja dengan membuka aib seseorang dan itu tidak diperbolehkan dalam agama islam. Dan untuk responden yang memilih abstain dengan tidak menentukan pilihan jawabannya sebanyak 2 responden atau 3,85 persen. Keberadaan media televisi sebagai sumber informasi bagi masyarakat umum memang sangat diperlukan dalam keseharian mereka. Namun semua informasi yang disiarkan oleh suatu tayangan tidak boleh melupakan tentang norma-norma yang berlaku dalam lingkungan suatu masyarakat. Begitu pula dalam tayangan infotainment yang sebaiknnya juga mematuhi rambu-rambu yang berlaku pada kehidupan masyarakat di sekitar. Karena hal tersebut responden memilih untuk tidak bolek memperbolehkan kalau semua persoalan atau kisah selebritis disiarkan secara umum. Prosentase dari jawaban yang terbesar dipilih oleh responden ini adalah 86,54 persen atau 45 responden. Pilihan jawaban yang dikemukakan oleh responden ini diperkuat oleh teori normatif yaitu teori yang mengatakan bagaimana seharusnya media berperan ketika serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai sesuai dengan sifat dasar nilai-nilai sosia tersebut. Artinya ketika seseorang yang dalam hal ini yaitu responden sudah mulai merasa tidak nyaman dengan berbagai informasi selebritis yang bersifar negatif dengan mengumbar masalah privasinya kepada khalayak umum melalui madia televisi. Maka mereka akan memberlakukan serangkaian nilai sosial yang berlaku. Salah satunya adalah organisasi islam Nahdotul Ulama (NU) yang memiliki motif untuk mengeluarkan fatwa haram terhadap tayangan infotainment. Sebab menurut NU informasi yang ditayangkan oleh infotainment sudah menyalahi aturan dalam agama islam.

89

B. 2. 8. Kelebihan Tayangan Infotainment Silet Sehingga Banyak yang Menyukai. Semua program tayangan infotainment akan menawarkan berbagai macam kelebihan-kelebihan yang dimilikinya untuk menarik perhatian semua khalayak. Baik dari segi artistik studionya, pemilihan presenternya maupun pemilihan model tayangan yang seperti apa supaya bisa menumbuhkan motivasi khalayak terhadap tayangan tersebut. Tidak terkecuali tayangan infotainmnet Silet yang juga memiliki jurus-jurus jitu untuk menarik perhatian khalayak yang menjadi pangsa pasarnya. Berikut merupakan indikatorindikatornya yaitu; adanya presenter yang berkualitas, informasi yang disajikan berjanis investigasi, informasinya menggangkat masalah soaial, gaya bahasa yang puitis, dan menyiarkan berita-berita artis secara eksklusif.

90

Tabel 21 Kelebihan yang Dimiliki Infotainmnet Silet No 1. Kategori Adanya presenter yang memiliki daya tarik. 2. Informasi investigasi 3. Informasinya sosial 4. 5. Gaya bahasa yang puitis Menyiarkan berita-berita artis secara eksklusif. 6. Abstain Jumlah Sumber : Pertanyaan No. 23 Berdasarkan sumber data di atas menyebutkan bahwa kelebihan yang dimiliki oleh tayangan infotinment Silet adalah adanya presenter yang berkualitas dengan jumlah responden yang menjawab sebanyak 4 responden atau 7,69 persen. Kemudian responden yang memilih jawaban bahwa kelebihan infotainment Silet terletak pada informasi yang disajikan berjenis investigasi sebanyak 20 responden atau 38,46 persen. Selanjutnya kelebihan lain yang dimiliki infotainment Silet yaitu informasinya menganggkat masalah sosiaol dipilih responden sebanyak 8 responden atau 15,38 persen. Lalu untuk responden dengan pilihan jawaban karena gaya bahasa yang puitis sebanayk 6 3 52 5,77 100 6 11 11,54 21,16 menggangkat masalah 8 15,38 yang disajikan berjanis 20 38,46 F 4 % 7,69

91

responden atau 11,54 persen. Sedangkan bagi responden yang memandang kelebihan infotainment Silet dari cara menyiarkan berita-berita artis secara eksklusif sebanyak 11 responden atau 21,16 persen. Dan untuk responden yang memilih untuk abstain dari pertanyaan ini sebanyak 3 responden atau 5,77 persen. Berbagai macam bentuk kelebihan disuguhkan kepada khalayak dengan harapan khalayak akan terpuaskan saat menyaksikan tayangan tersebut. Melalui kelebihan-kelebihan yang disajikan oleh tayangan

infotainment Silet diharapkan supaya dengan mudah responden meneriam informasi yang disampaikan tayangan tersebut. Dengan menentukan jenis tayangan infotainment apa yang akan disajikan kepada masyarakat umum akan mempermudah lagi khalayak dalam menentukan pemilihan program tayangan sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh infotainment Silet adalah mengenai informasi yang disajikan berjenis investigasi sebanyak 20 responden atau 38,46 persen. Dan jumlah prosentase ini merupakan pilihan jawanban yang terbesar dipilih oleh responden. Alasan ini di landasi dari motif ekstrinsik yaitu motif yang datang dari luar diri individu salah satunya melalui informasi yang disajikan oleh infotainment Silet berjenis investigasi. Dari motif ekstrinsik inilah responden memilih untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet dari pada menyaksikan infotainment yang lain.

92

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa sebenarnya mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) UMM khususnya angkatan 2005 merupakan audience yang aktif dalam menentukan tayangan infotainment yang cocok untuk kebutuhan pribadinya. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan tayangan infotainment Silet yang dipilih oleh responden untuk memenuhi kebutuhan tentang suatu informasi hiburan. Karena hal tersebut, Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui motif mahasiswa FAI menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Motif untuk menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI dapat

diidentifikasikan ke dalam point-point pertanyaan yang terbagi atas dua indikator yaitu indikator dari variabel motif intrinsik yang meliputi kebutuhan responden akan hiburan, ketertarikan tentang tayangan tersebut, serta adanya rasa senang dengan menyaksikan tayangan infotainment Silet, keingintahuan responden akan informasi tentang dunia entertainment. Dan indikator dari motif ekstrinsik yaitu meliputi kemasan tayangan infotainment Silet, diantaranya penampilan presenter, ketertarikan akan tema yang sedang dibahas, mengenai background dari studio tayangan tersebut, dan karena faktor lingkungan. Dan sesuai dengan kuesioner yang dibagikan kepada 52 responden FAI maka dari semua 52 responden tersebut dijadikan sebagai sempel. Yang

93

kemudian data dari sampel tersebut akan diolah serta dianalisis oleh peneliti dengan menggunakan statistik deskriptif. Dari hasil pengolahan data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada 52 responden atau 91,23 persen yang pernah menyaksikan tayangan infotainment Silet di RCTI. Keadaan ini di pengaruhi dari keinginan responden untuk memenuhi motif ekstrinsik dan intrinsik dengan mencari informasi tentang hiburan. Sehingga motif yang mendasari responden untuk memilih menyaksikan tayangan infotainment Silet karena masing-masing individu tersebut ingin mencari pemuasan kebutuhan sesuai dengan tujuannya yaitu kebutuhan akan hiburan. Apabila dilihat dari latar belakang pendidikan responden yang berbasis Islam tayangan infotainment Silet tidak begitu berpengaruh sebab tujuan

mereka menyaksikan tayangan infotainment Silet hanya untuk mencari hiburan. Dan hal itu bisa dilihat dari jumlah prosentase sebesar 32,69 persen atau 17 responden yang menyatakan alasan tersebut. Dan meskipun dengan adanya fatwa haram yang datang dari Nahdatul Ulama (NU) juga tidak berpengaruh sebab tujuan utama responden menyaksikan infotainment itu karena untuk mencari hiburan. Dari hal di atas juga menegaskan bahwa keberadaan teori Uses and Gratifications juga diperlukan bagi mahasiswa FAI. Karena mahasiswa FAI menggunakan tayangan infotainment Silet di RCTI sebagai alat pemuas yang mempunyai kegunaan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dalam hal mencari hiburan.

94

B. Saran Setelah menarik kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan, maka terdapat saran yang dapat berguna serta bermanfaat antara lain: 1. Untuk membuat suatu tayangan yang bisa dimanfaatkan untuk semua audience, hendaknya sebelum membuat suatu program tayangan dilakukan riset atau survei terlebih dahulu untuk mengetahui program tayangan apa yang sedang dibutuhkan oleh khalayak. Dan dengan tayangan tersebut apa manfaat atau efisiensi yang akan diperoleh oleh khalayak. 2. Dan kepada peneliti yang lain, diharapkan supaya bisa menyempurnakan penelitian ini dengan pemilihan program tayangan yang lebih spesifik lagi tidak hanya pada program tayangan investigasi saja. Karena berbagai program tayangan baru bermunculan seiring dengan perubahan pasar mengenai minat tayangan yang digemari oleh khalayak di televisi. Sehingga ada perkembangan dalam metode penelitian komunikasi dan keilmuan.

.

95

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful