kumpulanartikelteoribelaj arbahasakumpulanartikel teoribelajarbahasakumpu Kumpulan Artikel Kumpulan Artikel "Teori pengertian bahasa "Teori Belajar Belajar Bahasa" lanartikelteoribelajarbaha

Bahasa" sakumpulanartikelteoribe lajarbahasakumpulanarti kelteoribelajarbahasakum pulanartikelteoribelajarb ahasakumpulanartikelteo ribelajarbahasakumpulan artikelteoribelajarbahasa kumpulanartikelteoribelaj

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bahasa dan Ragamnya
Oleh: Ai Kurniati

1. Pengertian Bahasa Bahasa merupakan alat komunikasi kita setiap hari tapi, apakah semua orang mengetahui apa itu bahasa secara umum? Banyak ahli yang menyimpulkan tentang pengertian bahasa itu sendiri tapi secara umum intinya sama yaitu alat komunikasi yang digunakan sehari-hari yang digunakan oleh manusia untuk berhubungan dengan manusia lain yang di hasilkan oleh alat ucap manusia dan sangat diterima di kalangan masyarakat itu sendiri. Bahasa juga dapat melahirkan perasaan dan pikran. Dapat berpikir dan berbahasa merupakan ciri manusia dan itu pula yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Karena memiliki keduanya manusia disebut sebagai makhluk sosial dan makhluk yang paling mulia. Dengan pemikirannya manusia cenderung berkembang sehingga bahasa bersifat dinamis dan tidak statis. Bahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena dalam pengertiannya bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan sehari-hari meskipun dalam kenyataannya Indonesia memiliki banyak bahasa tetapi mempunyai satu bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia sebaga salah satu alat pemersatu bangsa. Bahasa itu bersifat arbiter atau mana suka sehingga bersifat berkembang dan setiap saat muncul bahasa-bahasa baru. Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan, dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya. Adapun beberapa fungsi utama dari bahasa itu sebagai berikut.  Alat untuk menyatakan ekspresi diri. Bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita.  Alat komunikasi bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan perasaan dan memungkinkan adanya kerja sama antarindividu.  Alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memungkinkan manusia memanfaatkan pengalamanpengalaman mereka, mempelajari, dan mengambil bagian dalam pengalaman tersebut, serta belajar berkenalan dengan orang lain.  Alat mengadakan kontrol sosial. Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa juga mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat. Kita tahu bahwa bahasa sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara terlisan maupun tertulis. Ini adalah fungsi

2

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

dasar bahasa yang tidak dihubungkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Setelah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, yang didalamnya selalu ada nilai-nilai dan status, bahasa tidak dapat ditinggalkan. Ia selalu mengikuti kehidupan manusia sehari-hari, baik sebagai manusia anggota suku maupun anggota bangsa. Karena kondisi dan pentingnya bahasa itulah, maka ia diberi ‗label‘ secara eksplisit oleh pemakainya yang berupa kedudukan dan fungsi tertentu. Di pihak lain, masyarakat yang dwibahasa (dwilingual) akan dapat ‗memilahmilahkan‘ sikap dan pemakaian kedua atau lebih bahasa yang digunakannya. Mereka tidak akan memakai secara sembarangan. Mereka bisa mengetahui kapan dan dalam situasi apa bahasa yang satu dipakai, dan kapan dan dalam situasi apa pula bahasa yang lainnya dipakai. Dengan demikian perkembangan bahasa-bahasa itu akan menjadi terarah. Pemakainya akan berusaha mempertahankan kedudukan dan fungsi bahasa yang telah disepakatinya dengan—antara lain—menyeleksi unsur-unsur bahasa lain yang ‗masuk‘ ke dalamnya. Unsur-unsur yang dianggap menguntungkannya akan diterima, sedangkan unsur-unsur yang dianggap merugikannya akan ditolak. Sehubungan dengan itulah maka perlu adanya aturan untuk menentukan kapan, misalnya, suatu unsur lain yang mempengaruhinya layak diterima, dan kapan seharusnya ditolak. Dapat disimpulkan bahwa memang bahasa sangat penting untuk kehidupan masyaraskat terutama pada zaman globalisasi seperti sekarang ini jika kita tidak pandai dalam berkomunikasi kita akan tertinggal oleh orang lain yang lebih pandai dalam berbahasa teruma pada kehidupan sehari-hari untuk bersosialisasi. Dalam masalah bahasa memang banyak dibahas mengenai hubungan manusia dengan manusia lain karena memang objek kajian dari bahasa yaitu manusia itu sendiri. Bahasa dibagi menjadi tiga yaitu bahasa lisan, bahasa tulisan, dan bahasa isyarat atau gestur. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau atau silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkatakata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara target komunikasi. Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara berkomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri. Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipakai sesuai dengan pemakainya karena sifatnya yang mana suka atau arbiter tetapi harus tetap berpacu pada kaidah atau peraturan yang ada karena meskipun mana suka kita harus memperhatikan situasi dengan siapa kita berbicara karena harus diterima oleh orang yang kita ajak berbicara sehingga bahasa tepat dengan fungsinya. Kita tahu bahwa bahasa sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tulis. Ini adalah fungsi dasar bahasa yang tidak dihubungkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Setelah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, yang di dalamnya selalu ada nilai-nilai dan status, bahasa tidak dapat ditinggalkan. Ia selalu mengikuti kehidupan manusia

3

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

sehari-hari, baik sebagai manusia anggota suku maupun anggota bangsa. Karena kondisi dan pentingnya bahasa itulah, maka ia diberi ‗label‘ secara eksplisit oleh pemakainya yang berupa kedudukan dan fungsi tertentu. Sehingga dengan itu lah perlu diadakannya peraturan yang dibentuk oleh pemerintah mengenai bahasa sehingga masyarakat lebih teratur dan tepat guna dalam berbahasa dan penempataanya pun tepat. 2. Ragam Bahasa Macam-macam dan jenis-jenis ragam atau keragaman bahasa :  Dalam bidangnya tentu bahasa banyak jenisnya karena lain bidang lain pula bahasanya, seperti dalam bidang kedokteran bahasanya berbeda dengan jurnalis karena kedokteran cenderung memakai bahasa ilmiah dan memiliki kamusnya sendiri.  Ragam perorangan, seperti Benyamin S. dan Soeharto memakai idialek masingmasing sebagai ciri khas dari mereka.  Ragam bahasa anggota masyarakat Indonesia memiliki banyak bahasa dan terbagi menjadi beberapa wilayah dan daerah karena tempat tinggalnya yang berbeda sehingga berbeda pula bahasanya seperti contoh orang Sunda dan orang Batak yang memiliki bahasanya masing-masing.  Bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial, seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.  Ragam bahasa pada bentuk bahasa, seperti bahasa lisan dan bahasa tulis.  Ragam bahasa pada suatu situasi, seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku). Meskipun ragam dan jenis bahasanya berbeda, tetapi kita harus mengacu pada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional karena bahasa Indonesia mempunyai fungssi utama yaitu; (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat yang memungkinkan terjadinya penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan bangsa, (4) alat penghubung antardaerah dan antarbudaya, selain bahasa asli dari daerahnya tentu dengan mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Kesimpulan dari pembahasan di atas bahwa pengertian bahasa adalah alat komunikasi anggota masyarakat yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari untuk mempermudah komunikasi antara satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh yang dihasilkan dari alat ucap manusia dan menghasilkan pikiran dan perasaan pada setiap penggunanya. Dan selain itu juga bahasa dapat mempengaruhi perilaku penggunaannya terdapat kontrol sosial yang sangat mengatur hubungan sosial antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Bahasa yang kita gunakan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi kita. Maksudnya, ketika kita tinggal dan menetap di suatu daerah yang menggunakan bahasa Sunda, kita juga akan cenderung menggunakan bahasa Sunda atau dialeknya karena kita terbiasa mendengar kata-kata tersebut. Sedanggkan dialek juga hampir sama dengan bahasa yang digunakan karena kita

4

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

terbiasa mendengar sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap pendengarnya. Dan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil konvensi dan sudah disetujui sehingga sesuai dengan adat istiadat dan kehidupan masyarakat tersebut.

5

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Ayu Nurhajar

Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan yang terjadi pada komunikasi. Kaidah, aturan, dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk, dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya. Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi, bekerjasama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbiter yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau/ silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara atau target komunikasi. Bahasa isyarat atau gestur atau bahasa tubuh adalah salah satu cara berkomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat, bisu, tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri. Pengertian bahasa banyak dijelaskan di dalam buku-buku linguistik dan kamus-kamus. Dalam bahasa Indonesia kata bahasa memiliki lebih dari satu makna atau pengertian sehingga seringkali membuat orang bingung. Adapun beberapa pengertian bahasa di bawah ini:

1. Bahasa adalah sistem

Kata sistem sudah biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan makna ‗cara‘ atau ‗aturan‘, seperti dalam kalimat ―kalau tahu sistemnya, tentu mudah mengerjakannya‖. Tetapi dalam keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya berhubungan secara fungsional. Sehingga maksud dari bahasa sebagai sistem adalah bahasa itu tunduk kepada kaidah-kaidah baik fonetik, fonemik, dan gramatik. Dalam arti lain bahasa itu tidak bebas tetapi terikat kepada kaidah-kaidah tertentu. 2. Sistem bahasa itu mana suka (arbitary) Sistem bahasa ini berlaku secara umum, dan bahasa merupakan peraturan yang mendasar. Sebagai contoh: ada beberapa bahasa yang memulai kalimat dengan kata benda seperti Bahasa Inggris, dan ada bahasa yang mengawali kalimatnya dengan kata kerja. Dan seseorang tidak dapat menolak aturan-aturan tersebut baik yang pertama maupun yang kedua. Jadi, tidak terpaku pada satu kalimat tertentu.

6

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
3. Bahasa pada dasarnya adalah bunyi

2010

Manusia sudah menggunakan bahasa lisan seperti halnya anak belajar menulis. Di dunia banyak orang yang bisa berbahasa lisan, tetapi tidak dapat menuliskannya. Jadi, bahasa itu pada dasarnya adalah bahasa lisan (berbicara), adapun menulis adalah bentuk bahasa kedua. Dengan kata lain bahasa itu adalah ucapan dan tulisan itu merupakan lambang bahasa.

4. Bahasa itu simbol

Bahasa itu merupakan simbol-simbol tertentu. Misalnya kata ―rumah‖ menggambarkan hakikat sebuah rumah. Jadi bahasa itu adalah lambang-lambang tertentu. Pendengar atau pembaca meletakkan simbol-simbol atau lambang-lambang tersebut secara proporsional.

5. Bahasa sebagai fungsi mengekspresikan pikiran dan perasaan

Tidak hanya untuk mengekspresikan pikiran saja, peranan bahasa terlihat jelas ketika mengekspresikan estetika, rasa sedih, senang, dan interaksi sosial. Dalam hal ini mereka mengekspresikan perasaan dan bukan pikiran. Karena itu bahasa mempunyai peranan sosial dan emosional, di samping berperan untuk mengemukakan ide. Secara umum bahasa juga mempunyai karakteristik bahasa tertentu, yaitu: 1. Dalam suatu dialek suatu masyarakat membedakan tingkat ekonomi dan budaya pemakai bahasa. Dialek orang yang pandai tentu berbeda dengan dialek orang awam. Dialek mahasiswa tentu berbeda dengan dialek petani, dialek professor tentu berbeda dengan dialek para pekerja biasa. 2. Secara geografis dialek suatu daerah akan berbeda dengan daerah yang lainnya. Dialek orang Aljazair tentunya akan berbeda dengan dialek orang Sudan, dialek orang Inggris berbeda dengan dialek orang Skotlandia dan Amerika. 3. Bahasa terbagi dua, bahasa resmi dan bahasa tidak resmi. 4. Bahasa dapat diungkapkan secara lisan dan tulisan. 5. Setiap pemakai bahasa akan berbeda dengan pemakai bahsa yang lainnya. 6. Dalam bahasa ada kaidah fonetis, morfologis, kosakata, dan gramatika. Bunyibunyi membentuk morfem, morfem membentuk kata, dan kata-kata membentuk kalimat. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Linguistik terbagi dalam dua bagian, yaitu linguistik teoritis dan linguistik aplikatif. Linguistik teoretis membahas beberapa pokok bahasan di antaranya fonetik, fonemik, sejarah linguistik, semantik, morfologi, dan gramatik. Sedangkan linguistik aplikatif menjelaskan tentang pengajaran bahasa asing, terjemah, psikolinguistik, dan sosiolinguistik. Apabila kita ingin mendefinisikan keduanya, kita bisa mendefinisikannya secara ringkas: 1. Fonetik adalah ilmu yang membahas cara pengucapan bunyi-bunyi bahasa. 2. Fonem adalah ilmu yang membahas fungsi-fungsi suara dan bagaimana cara membentuk fonem dan bagaimana menggunakannya dalam berbahasa.

7

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

3. Sejarah linguistik adalah ilmu yang membahas tentang perkembangan suatu bahasa perubahan dan pengaruh bahasa asing dalam kurun waktu tertentu. 4. Morfologi adalah ilmu yang membahas tentang morfem. Morfem adalah satuan bahasa yang terkecil yang membedakan arti. 5. Sintaksis adalah ilmu yang membahas jabatan kata dalam satu kalimat. Sintaksis disebut juga tata kalimat. Gabungan morfologis dan sintaksis disebut gramatika. 6. Semantik adalah ilmu yang membahas tentang makna suatu kata dalam hubungannya dengan kata lain ilmu semantik disebut juga ilmu ‖dialah‖. 7. Psikolinguistik adalah ilmu yang membahas tentang makna suatu kata dalam jiwa dan pikiran dalam hal perkembangan bahasa serta pengaruh-pengaruhnya terhadap jiwa seseorang yang terjadi ketika mengucapkan suatu kalimat. 8. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari fenomena masyarakat dalam hal dialek suatu masyarakat dan akses politik suatu bahasa. Fungsi bahasa dalam masyarakat adalah sebagai alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia, alat untuk bekerjasama dengan sesama manusia, dan alat untuk mengidentifikasi diri. Adapun fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sebagai berikut: 1. Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal balik antaranggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat. Berita, pengumuman, petunjuk pertanyaan lisan ataupun tulisan melalui media massa ataupun elektronik merupakan wujud fungsi bahasa sebagai fungsi informasi. 2. Fungsi ekspresi, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembicara. Bahasa sebagai alat mengekspresikan diri ini dapat menjadi media untuk menyatakan eksistensi (keberadaan) diri, membebaskan diri dari tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang. 3. Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat. Melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku dan etika masyarakatnya. Mereka menyesuaikan diri dengan semua ketentuan yang berlaku dalam masyarakat melalui bahasa. Kalau seseorang mudah beradaptasi dengan masyarakat di sekelilingnya, maka dengan mudah pula ia akan membaurkan diri (integras) dengan masyarakat tertentu. Manusia sebagai makhluk sosial perlu berintegrasi dengan manusia di sekelilingnya. Dengan bahasa manusia dapat saling bertukar pengalaman dan menjadi bagian dari pengalaman itu. Mereka memanfaatkan pengalaman itu untuk kehidupannya. Dengan demikian, mereka saling terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya. Bahasa menjadi alat integrasi (pembauran) bagi tiap manusia dengan masyarakatnya. 4. Fungsi kontrol sosial, yaitu bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Apabila fungsi ini berlaku dengan baik maka semua kegiatan sosial akan berlangsung dengan baik pula. Sebagai contoh pendapat seorang tokoh masyarakat akan didengar dan ditanggapi dengan tepat apabila ia dapat

8

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

menggunakan bahasa yang komunikatif dan persuasif. Kegagalannya dalam menggunakan bahasa akan menghambat pula usahanya dalam mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Dengan bahasa seseorang dapat mengembangkan kepribadian dan nilai-nilai sosial kepada tingkat yang lebih berkulitas. Macam-macam dan jenis-jenis ragam/ keragaman bahasa: 1. Ragam bahasa pada bidang tertentu, seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb. 2. Ragam bahasa pada perorangan atau ideolek, seperti gaya bahasa mantan Presiden Soeharto, gaya bahasa Benyamin S., dan lain sebagainya. 3. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek, seperti dialek bahasa Madura, bahasa Medan, bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa Jawa, dsb. 4. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat atau golongan sosial, seperti ragam bahasa orang akademis beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan. 5. Ragam bahasa pada bentuk bahasa, seperti bahasa lisan atau bahasa tulisan. 6. Ragam bahasa pada suatu situasi, seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa berperan penting dalam segala aspek kehidupan. Ia dapat membantu manusia dalam menjalankan tugasnya. Era globalisasi yang datang pada awal 2003 membawa berbagai pembaruan dalam dunia budaya dan teknologi. Masalahnya adalah dapatkah bahasa Indonesia tetap diakui keberadaanya di tanah airnya sendiri. Agar tetap eksis tentu saja banyak tantangannya karena bahasa asing dalam aspek tertentu lebih diterima oleh masyarakat daripada bahasa Indonesia. Perkembangan bahasa yang kalah cepat dengan perkembangan teknologi industri dan ilmu pengetahuan telah memunculkan masalah baru. Masalah ini adalah bagaimana bahasa Indonesia dapat berperan maksimal sebagai sarana komunikasi dalam era globalisasi.

9

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Deni Rusdiana

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian sehingga seringkali membingungkan. Untuk jelasnya, coba perhatikan pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut! (1) Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang. (2) Manusia mempunyai bahasa , sedangkan binatang tidak. (3) Hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa itu. Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu. Pada kalimat (2) kata bahasa menunjuk bahasa pada umumnya. Sedangkan pada kalimat (3) kata bahasa berarti ‗sopan santun‘. Dalam batasan pengertian bahasa yang lazim diberikan adalah sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Beberapa hal menarik yang dapat disimpulkan dari batasan pengertian itu adalah sebagai berikut. 1. Bahasa merupakan suatu sistem. 2. Sebagai sistem, bahasa bersifat arbitrer. 3. Sebagai sistem arbitrer, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Sebagai sistem, bahasa memiliki komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis. Komponen itu meliputi komponen fonologis, morfologis, sintaksis dan semantis. Sesuai dengan keberadaannya suatu sistem, masing-masing komponen tersebut saling memberi arti, saling berhubungan, dan saling menentukan. Pada sisi lain, setiap komponen juga memiliki sistemnya sendiri. Sistem pada tataran bunyi dikaji oleh bidang fonologi, pada tataran kata dikaji oleh bidang morfologi, dan kajian sistem pada tataran kalimat menjadi wilayah sintaksis. Sebagai subsistem, masing-masing komponen tersebut juga telah mengandung aspek semantik tertentu sehingga secara potensial dapat disusun dan dikombinasikan untuk digunakan dalam komunikasi. Sistem yang mengatur hubungan makna dalam lambang kebahasaan maupun hubungan makna dalam lambang dengan dunia luar bahasa menjadi bidang kajian semantik. Dari kenyataan bahwa bahasa merupakan sesuatu yang bersistem, maka bahasa sebenarnya, selain bersifat arbitrer, sekaligus juga nonarbitrer. Misalnya kata bunga, tidak mewakili bentuk, warna, maupun baunya, sehingga dalam bahasa Jawa dapat saja disebut kembang meskipun yang ditunjuk sama, kata bunga tidak dapat digabungkan seenaknya dengan kata buku sehingga menjadi bunga buku. Kesepakatan yang mengatur—meskipun terdapat kata bunga pujaan—pada gabungan

10

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

tersebut harus disisipi bentuk berkata depan, misalnya di atas sehingga terdapat tatanan bunga di atas buku. Dengan terdapatnya sistem dan sekaligus kesepakatan itulah, bahasa akhirnya dapat digunakan untuk berinteraksi. Pemakaian bahasa dalam berinteraksi, lebih lanjut juga membuahkan sejumlah ciri lain. Hal itu terjadi karena bahasa bukan satu-satunya alat yang digunakan untuk berinteraksi dalam bentuk komunikasi. Di luar bahasa masih ada tanda-tanda lain, baik berupa morse, rambu-rambu lalu lintas, lambang-lambang matematis, dan sebagainya. Dengan mengkaji perbedaan antara lambang kebahasaan dengan karakteristik lambang lain di luar bahasa, dapat diketahui bahwa bahasa memiliki ciri-ciri tertentu yang bersifat khusus. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat dalam paparan berikut ini. Ciri-ciri bahasa Ciri-ciri bahasa manusia, apabila dibandingkan dengan bahasa binatang serta sistem tanda lain, seperti telah diungkapkan antara lain oleh Hockett (1960), Osgood (1980), maupun Bolinger (1981), apabila dikaitkan dengan aspek makna adalah sebagai berikut. Alat fisis yang digunakan bersifat tetap dan memiliki kriteria tertentu. Disebut demikian karena bahasa yang beresensikan bunyi ujaran selalu menggunakan alat ujar sesuai dengan criteria tertentu. Organisme yang digunakan memiliki hubungan timbal balik. Alat ujaran yang digunakan manusia, baik jenis berkelamin laki-laki, perempuan, ataupun suku dan bangsa yang berlainan, semuanya sama. Contoh yang lazim dijumpai dalam kehidupan adalah sewaktu orang mendengarkan ujaran sengau maupun gagu, pendengaran tidak secara cepat dan tepat atau bahkan tidak dapat memahami informasi yang disampaikan. Menggunakan kriteria pragmatik. Disebut demikian karena perwujudan bentuk kebahasaan lewat pemakai, mengunakan kriteria pemakaian tertentu. Misalnya, memiliki kriteria yang berbeda bila dibandingkan dengan sewaktu menggunakan alat ucap itu untuk menghasilkan intonasi perintah, begitu juga sewaktu melafalkan bunyi [baru] dan [guru]. Mengandung kriteria semantis. Ciri kriteria itu muncul karena kegiatan berbahasa memiliki fungsi semantis tertentu. Butir-butir yang terkandung di dalam kriteria semantis ini antara lain pemilihan kata, penataan kalimat maupun wacana harus tepat karena—bila tidak—gagasan yang disampaikan imformasinya bisa menyimpang. Memiliki kriteria sintaksis. Disebut demikian karena kata-kata yang digunakan untuk menjadi suatu kalimat harus disusun sesuai dengan pola kalimat yang telah disepakati. Contoh kalimat, Ramdan menjenguk Ai, berbeda acuannya dengan Ai menjenguk Ramdan.

11

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Melibatkan unsur bunyi maupun unsur audiovisual. Disebut demikian karena pemakaian bahasa selain melibatkan media transmisi berupa bunyi, juga melibatkan unsur paralanguage, baik gerak mimik maupun gerak bagian-bagian tubuh. Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif. Terdapatnya ciri itu ditandai oleh adanya potensialitas unsur kebahasaan untuk bergabung secara sintagmatik, yakni hubungan unsur–unsur kebahasaan pada tataran tertentu secara linier maupun hubungan yang bersifat paradigmatis, yakni hubungan secara asositif dari unsur-unsur yang berbeda dalam struktur sintagmatik dengan unsur lain di luarnya sehingga dapat saling mengisi dan dipertukarkan. Contoh, saya belajar, kata belajar di situ secara asosiatif dapat dipertukarkan dengan kata makan, tidur, dan sebagainya. Bersifat arbitrer. Karena hubungan antarlambang kebahasaan dengan referen yang dilambangakan hanya berdasarkan kesepakatan, dan bukan pada kemampuan lambang itu dalam memberikan kembali realitas luar yang diacunya. Memiliki ciri verifikasi. Karena bahasa sebagai realitas terpisah dengan dunia luar yang diwakilinya, setelah muncul dalam pemakaian, isinya bisa benar, bisa tidak. Sebab itu pula, bakat menipu dapat dikembangkan, dan muncul juga baris lagu ―Memang Lidah Tak Bertulang‖. Terbatas dan relatif tetap, yakni dalam hal pola kalimat strutur kata. Urutan kata raba, arab, dan bara sebagai bentuk artikulasi ganda tidak akan berubah menjadi abra, berarti tidak pernah berubah menjadi taniber. Selain itu, pola kalimat Baju Amir hijau tidak pernah menjadi Hijau Amir baju. Mengandung diskontinyuitas. Secara paradoksal, bahasa, selain memiliki kontinyuitas, oleh Meilet disebutkan juga mengandung diskontinyuitas. Di atas telah disebutkan bahwa kata dapat mengalami perubahan dan perkembangan makna, baik secara sekuentif maupun evaluatif. Bersifat hierarkis. Bahasa disusun dan dibangun oleh perangkat komponen bunyi, bentuk, kata, kalimat, maupun wacana. Unsur itu, sebagai sistem, dalam pemakaian keberadaannya memiliki tataran yang berada dalam tata tingkat tertentu. Bersifat sistemis dan simultan. Meskipun bahasa merupakan suatu strata yang bertata tingkat tertentu sehingga komponen-komponennya dapat dianalisis secara terpisah, sebagai suatu sistem komponen-komponen tersebut harus digunakan secara laras dan simultan. Dengan demikian, kesalahan dalam pemilihan bunyi, bentuk, maupun pola kalimat secara serentak akan menentukan karakteristik satuan ujaran yang dimunculkan. Saling melengkapi dan mengisi. Hocket dalam hal ini menyebutkan ciri interchangeability dari bahasa sehingga bahasa itu memiliki komponen yang terpisah, karena adanya potensialitas dan mobilitas, masing-masing komponen itu dapat saling dipertukarkan, baik secara paradigmatic maupun secara sintagmatis saling melengkapi dan mengisi untuk menghindarkan struktur dan nuansa makna baru. Informasi kebahasaan dapat disegmentasi. Dihubungkan, disatukan, dan diabadikan. Dalam kegiatan tuturan, selama masing-masing pemeran masih hidup,

12

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

bahasa dapat digunakan dalam ruang dan satuan waktu yang berbeda-beda secara berkesinambungan. Misalnya, seseorang yang menulis surat sering kali mengakhiri dengan kalimat, ―Sekian dulu ya……lain waktu kita sambung lagi,‖ sementara pemeran dengan tergesa-gesa ngobrol di jalan, menutup obrolannya dengan kalimat, ―Ke rumah sajalah biar kita bisa ngobrol-ngobrol lagi lebih enak ‖. Transmisi budaya. Yakni bahasa selain dapat digunakan untuk menyampaikan rekaman unsur dan nilai kebudayaan saat sekarang, juga dapat digunakan sebagai alat pewaris kebudayaan itu sendiri. Kenyatan tersebut juga sesuai dengan kenyataan bahwa bahasa dapat menjadi realitas abadi sehingga dapat pula bagian dari sejarah. Dalam situasi demikian komunikasi yang berlangsung adalah komunikasi satu arah karena keberadaan sender telah telah diwakili oleh tulisan. Dalam kaitannya dengan upaya memperoleh makna, kenyataan tersebut tentu saja akan mendapatkan beberapa kesulitan karena identitas pemeran, referen yang diacu, maupun konteks sosial dan situasionalnya tidak lagi diidentifikasikan secara jelas. Bahasa itu dapat dipelajari. Baik bahasa yang masih hidup maupun yang sudah mati. Untuk bahasa yang masih hidup, pembelajarannya, selain dapat dilakukan melalui transfer, interaksi subjek belajar dengan masyarakat pemakai bahasa juga dapat ditempuh lewat pendidikan formal. Sedangkan untuk bahasa yang sudah mati, selain melalui pendidikan, objek belajar pun masih harus dapat ditemukan. Cara lain yang dapat ditempuh untuk mempelajari suatu bahasa, baik untuk tujuan pengetahuan atau mungkin sekaligus menggunakannya, adalah melalui kegiatan penelitian. Bahasa itu dalam pemakaian bersifat bidimensional. Disebut demikian karena makna keberadaannya, selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antarlambang kebahasaan itu sendiri, juga ditentukan oleh pemeran serta konteks sosial dan situasional yang melatarinya.

13

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Elis Susilawati

Bahasa adalah sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Beberapa hal menarik yang dapat disimpulkan dari batasan pengertian itu adalah: 1. Bahasa merupakan suatu sistem, 2. Bahasa bersifat arbitrer, 3. Bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Sebagai sistem, bahasa memiliki komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis. Komponen itu meliputi komponen fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik. Sesuai dengan keberadaannya sebagai suatu sistem, masing-masing komponen tersebut saling memberi arti, saling berhubungan, dan saling menentukan. Perbedaan antara kata dara dan dari, misalnya ditentukan oleh terdapatnya perbedaan antara fonem /a/ dan /i/. Fonem /i/ misalnya, pada tataran lebih lanjut dapat berkedudukan sebagai akhiran yang secara simultan dapat digabungkan dengan awalan me- sehingga dapat membentuk kata masak yang belum memiliki satuan informasi, akan memilikinya apabila digabungkan dengan kata ibu dan di dapur sehingga memiliki struktur sintaksis, ibu memasak di dapur. Setiap komponen memiliki sistemnya masing-masing. Sistem pada tataran bunyi, misalnya, dikaji pada bidang fonologi, pada tataran kata dikaji bidang morfologi, dan kajian sistem pada tataran kalimat menjadi wilayah sintaksis. Masingmasing komponen tersebut mengandung aspek semantik tertentu sehingga secara potensial dapat disusun dan dikombinasikan untuk digunakan dalam komunikasi. Sistem yang mengatur hubungan makna dalam lambang kebahasaaan maupun hubungan makna dalam lambang dengan dunia luar bahasa menjadi bidang kajian semantik. Bahasa merupakan sesuatu yang bersistem, maka bahasa sebenarnya selain bersifat arbitrer, sekaligus juga bersifat nonarbitrer. Sebab itu, meskipun kata bunga tidak mewakili bentuk warna maupun baunya, sehingga dalam bahasa Jawa dapat saja disebut kembang meskipun yang ditunjuk sama, kata bunga tidak dapat digabungkan seenaknya dengan kata buku sehingga menjadi bunga buku. Kesepakatan yang mengatur, meskipun terdapat kata bunga pujaan, pada gabungan tersebut harus disisipi bentuk berkata depan, misalnya di atas sehingga terdapat tatanan bunga di atas buku. Pemakaian bahasa dalam interaksi lebih lanjut juga membuahkan sejumlah ciri lain. Hal itu terjadi karena bahasa bukan satu-satunya alat yang digunakan untuk berinteraksi dalam bentuk komunikasi. Di luar bahasa masih ada tanda-tanda lain,

14

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

baik berupa morse, rambu-rambu lalu lintas, lambang-lambang matematis, dan sebagainya. Dengan mengkaji perbedaan antara lambang kebahasaan dengan karakteristik lambang lain di luar bahasa, dapat diketahui bahwa bahasa memiliki ciri-ciri tertentu yang beresifat khusus. Dalam kehidupan binatang, alat interaksi itu digunakan sewaktu mengadakan hubungan, membutuhkan perlindungan, perkelahian, maupun sewaktu membutuhkan makanan. Berbeda dengan bahasa manusia yang melibatkan proses berpikir dan kesadaran, bentuk bahasa binatang semata-mata bersifat fisis. Bentuk tanda yang diistilahkan dengan sign, antara lain dapat berupa gerakan, gerakan ekor, maupun gerakan bagian tubuh lainnya. Selain dapat dibandingkan dengan bahasa binatang seperti di atas, bahasa manusia yang berintikan bunyi, pengkajian perbedaannya juga dapat dilakukan dengan jalan memperhatikan sistem tanda lain yang digunakan manusia, misalnya ramburambu lalu lintas. Berbeda dengan lambang-lambang kebahasaan yang umumnya masih mengandung ambiguitas dan ketidakjelasan karena bergantung pada konteks, maka tanda-tanda seperti pada rambu lalu lintas telah memiliki satu pengertian secara pasti. Tanda pertama misalnya, yang memiliki warna dasar merah, berarti dilarang masuk, dan tanda kedua berarti arah yang diwajibkan. Karena telah memiliki satu pengertian yang pasti itulah, tanda seperti di atas bersifat tertutup, dalam arti pengertian itu selamanya bersifat tetap dan tidak dapat dikombinasikan dengan tanda-tanda lain untuk menghadirkan pengertian baru. Bahasa sebagai suatu sistem juga bersifat bidimensional. Sebagai suatu realitas dalam pemakaian, bahasa selain memiliki sistemnya sendiri juga berhubungan dengan sistem lain di luar dirinya. Keberadaan istilah kekerabatan dalam bahasa Jawa, seperti bapak, embok, pakdhe, budhe, misalnya ditentukan oleh sistem kekerabatan dalam masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, untuk memahaminya, sistem yang melatari harus dipahami terlebih dahulu. Begitu juga untuk memahami ideom seperti sugih tanpa bandha kaya tanpa harta; mangan ra mangan lek ngumpol (makan tidak makan asal berkumpul), seseorang harus memahami latar sosial budaya masyarakat Jawa. Setiap bahasa memiliki fungsi deiksis. Pengertian fungsi deiksis adalah fungsi menunjuk sesuatu di luar bentuk kebahasaan. Kedeiksisan itu dalam setiap bahasa akan meliputi penunjukan terhadap objek, persona dan peristiwa sehubungan dengan keberadaan pemeran dalam ruang dan waktu. Dalam bahasa Indonesia misalnya, terdapat bentuk kata saya, kita, maupun kamu sebagai bentuk yang menunjuk pada pesona sebagai pemeran; ini, itu serta di sini dan di situ sebagai bentuk yang berkaitan dengan penunjukan jarak ruang antara masing-masing pemeran dengan objek yang terlibat dalam kegiatan tuturan; serta bentuk seperti sekarang, kemarin, dan besok, sebagai bentuk yang berkaitan dengan penunjukan waktu. Bentuk kamu maupun kemarin, misalnya referennya dapat berpindah-pindah. Penentuan referennya baru dapat ditetapkan apabila konteks tuturan sudah

15

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

diketahui dengan pasti. Salah satu bentuk konteks itu, selain struktur, adalah konteks sosial dan situasional. Dengan menghubungkan struktur kebahasaan dengan dunia luar itulah referennya baru dapat ditetapkan secara pasti. Dapat disimpulkan bahwa kajian kebahasaan sebagai suatu kode yang telah muncul dalam pemakaian, selain berfokus pada : 1. Karakteristik hubungan antara bentuk, lambang atau kata yang satu dengan yang lainnya. 2. Hubungan antara bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang diacunya. 3. Berfokus pada hubungan antar kode dengan pemakainya. Studi tentang sistem tanda sehubungan dengan ketiga butir tersebut, baik berupa tanda kebahasaan maupun bentuk tanda lain yang digunakan manusia dalam komunikas. Dengan terdapatnya tiga pusat kajian kebahasaan dalam pemakaian, maka bahasa dalam sistem semiotik dibedakan dalam tiga komponen sistem. Tiga komponen sistem tersebut adalah : 1. Sintaksis, yakni komponen yang berkaitan dengan lambang atau sign serta bentuk hubungannya. 2. Semantik, yakni unsur yang berkaitan dengan masalah hubungan antara lambang dengan dunia luar yang diacunya. 3. Pragmatik, yakni unsur ataupun bidang kajian yang berkaitan dengan hubungan antara pemakai dengan lambang dalam pemakaian. Dilihat dari sudut pemakaian, telah diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa bahasa atau media verbal dengan media nonbahasa atau nonverbal. Media kebahasaan itu ditinjau dari alat pemunculannya, dibedakan pula antara media lisan dengan media tulis. Dalam media lisan misalnya, wujud kalimat perintah dan kalimat tanya, dengan mudah dapat dibedakan lewat pemakaian bunyi suprasegmental maupun pemunculan kinesiks, yakni gerak bagian tubuh yang menuansakan makna tertentu. Sedangkan dalam media tulisan dengan tingkat kualitas yang berlainan unsur itu diwakili oleh tanda seru dan tanda tanya. Kemungkinan terdapat unsur suprasegmental maupun kinesis, maka kalimat dalam bentuk tulisan lebih mengutamakan adanya kelengkapan unsur dan kejelasan urutan daripada kalimat yang dipaparkan secara lisan. Kalimat tanya seperti ke mana? Misalnya, dalam tuturan lisan telah mampu memberikan acuan semantik secara jelas. Akan tetapi apabila bentuk tersebut terdapat dalam kalimat tulis, ada kemungkinan masih menuansakan makna ‖ke mana perginya ayahku‖, ―ke mana harus saya cari buku yang jatuh itu‖. Oleh sebab itu, agar tidak menimbulkan ketaksaan unsur lain yang seharusnya ada, harus dikembalikan secara lengkap sehingga wujud kalimat yang hadir misalnya ―Mau berangkat ke mana?‖. Penataan kalimat selalu dilatari tendensi semantik tertentu. Dengan kata lain sistem kaidah penataan lambang secara gramatis selalu berkaitan dengan strata makna dalam suatu bahasa. Apabila kaidah hubungan tanda dengan objek yang diacunya tidak dipenuhi, maka pemakaian sign akan menyimpang dari tujuan yang

16

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

semula diinginkan. Oleh sebab itu, sangat tepat mengungkapkan bahwa unsur semantik berkaitan dengan masalah the relation of signs to the objects to witch the signs are applicable. Pendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang tidak dapat dipisahkan dengan pemakai, aspek lambang dan semantis, juga diungkapkan oleh Ferdinand de Saussure. Ferdinand mengungkapkan bahwa bahasa itu mencakup tiga unsur, meliputi (1) la langue, yakni unit sistem kebahasaan yang bersifat kolektif dan dimiliki oleh setiap anggota masyarakat bahasa, (2) la parole, sebagai wujud bahasa yang digunakan anggota masyarakat bahasa itu dalam pemakaian, serta (3) la langage, yaitu wujud dari pengelompokan yang nantinya akan menimbulkan dialek maupun register. La langaue sebagai unit sistem dilandasi oleh sistem sosial budaya dari suatu masyarakat bahasa. Hal itu sesuai dengan kenyataan bahwa bahasa sebagai fakta sosial ―berdiri di antara‖ dan memiliki hubungan dengan fakta sosial lainnya. Kehadiran sistem sapaan misalnya, sangat ditentukan oleh sistem hubungan pemeran, baik di dalam maupun di luar kelompok kekerabatan seperti pakdhe, budhe, dan bentuk sapaan lain dalam bahasa Jawa juga digunakan digunakan dalam menyapa orang di luar kelompok kekerabatan. Hal itu juga ditentukan oleh konsep sosial budaya masyarakat Jawa. Mengapa dalam pronominal kedua kamu dan bahkan anda tidak pernah digunakan sebagai kata ganti untuk orang kedua yang memiliki usia maupun kedudukan yang lebih tinggi. Dengan demikian kedudukan pemahaman terhadap sistem yang melandasi la langue sangat besar nilainya dalam upaya memahami suatu sistem kebahasaan. Pada sisi lain pemahaman terhadap sistem kebahasaan itu tentu sangat berperan dalam upaya memahami wujud kebahasaan atau signal yang dipresentasikan oleh pemakainya. Pemahaman terhadap sistem yang melatari sistem kebahasaan terhadap signal yang direpresentasikan sangat menentukan pemahaman terhadap aspek semantisnya. Bahasa sebagai sistem semiotik dapat disimpulkan bahwa pemakaian bahasa dalam komunikasai dapat diawali dan disertai sejumlah unsur, meliputi : 1. Sistem sosial budaya dalam suatu masyarakat bahasa, 2. Sistem kebahasaan yang melandasi, 3. Bentuk kebahasaan yang digunakan, 4. Aspek semantis yang dikandungnya. Dalam komunikasai dari keempat unsur di atas yang terampil yang terampil secara eksplisit adalah signal yang diartikan sebagai bentuk fisis yang digunakan untuk menyampaikan pesan, baik itu ujaran kebahasaan maupun unsur lain yang secara laras menunjang aspek-aspek semantik yang akan direpresentasikan. Dengan demikian, dalam proses komunikasi signal memiliki dua fungsi. Pertama, signal atau tanda menjadi alat paparan pengiriman pesan atau sender. Kedua, tanda juga menjadi tumpuan dalam penerimaan dan upaya memahami pesan.

17

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Evi Cepriadi Yantono

Ada beberapa pendapat, bahwa penguasaan tiap bahasa tidak memerlukan usaha sama sekali, kalau menurut saya tentulah pendapat ini sangat tidak tepat, karena apa? Karena yang saya ketahui yang namanya berbahasa pasti memerlukan usaha, contohnya: Kita mau belajar bahasa Inggris, kalau tidak didampingi dengan usaha maka belajar tersebut akan sia-sia, bahkan tidak akan mengerti bahasa tersebut itu seperti apa. Jadi, intinya mau berbahasa harus mau berusaha. Bahasa anak orang mengira bahwa anak tidak bisa berbicara seperti orang dewasa, kata siapa? Betahun-tahun dengan latihan yang tidak jemu-jemunya dan kesalahan-kesalahan yang dibetulkan berulang-ulang eksplisit maupun implisit si anak akhirnya dapat menguasai bahasa orang dewasa. Itu karena rajinnya seorang anak menyimak orang yang sedang berbicara. Jadi, jangan mengira bahwa anak tidak bisa berbicara seperti orang dewasa. Dan banyak orang menyangka bahwa anak Jawa tentulah akan pandai bahasa Jawa, anak Prancis berbahasa Prancis, anak Sunda berbahasa Sunda ,anak Indonesia berbahasa Indonesia, seakan-akan kepandaian bahasa merupakan keturunan belaka. Kalau hal seperti ini terjadi, maka negara ini akan hancur atau ketinggalan zaman, apalagi zaman sekarang sudah pada canggih. Jadi, kita harus bisa berbahasa tidak hanya negara kita sendiri, kita harus bisa menguasai bahasa yang lain misalnya: bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Cina ,dan yang lainya. Hal itu dikarenakan bahasa adalah merupakan kunci kesuksesan bagi kita semua. Yang menyebabkan orang dapat berbahasa itu bukanlah karena keturunan atau warisan, tetapi kemauan dan desakan untuk memakai salah satu bahasa tidak lain ialah keinginan manusia untuk mengadakan hubungan dengan manusia yang lain. Mungkin keinginan tersebut disebabkan oleh naluri, bukan suatu pembawaan. Memang suatu kenyataan bahwa bahasa wajar dimiliki oleh setiap manusia, dan kewajaran ini mungkin menyebabkan bahasa dianggap barang sehari-hari yang biasa saja, sehingga tidak perlu mendapat perhatian yang selayaknya sesuai dengan fungsinya di dalam masyarakat. Betapa pentingnya berbahasa saya telah kemukakan beberapa contoh kenyataannya saja, setiap orang harus pandai berbahasa karena kita hidup tidak hanya dalam lingkungan keluarga saja jadi tidak hanya menguasai bahasa yang ada dalam keluarga, tetapi kita harus bisa menguasai bahasa mana pun, misalnya didalam masyarakat kita dituntut menjadi peranan sebagai rumah warga, kita harus bisa menggunakan bahasa yang baik dan benar tidak hanya asal ucap saja yang dikeluarkan dari mulut tetapi kita harus bisa menguasai bahasa masyarakat seperti apa, jadilah pemimpin yang tidak hanya mementingkan diri sendiri saja. Yang namanya bahasa tidak akan terpisahkan dari manusia karena bahasa akan mengikuti kemana pun manusia pergi mulai saat bangun sampai jauh malam waktu ia

18

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

beristirahat, manusia tidak lepas memakai bahasa, malahan pada saat waktu tidur pun tidak jarang ia memakai bahasa, pada manusia kelihatan tidak berbicara, pada hakekatnya ia masih juga memakai bahasa, karena bahasa adalah merupakan alat yang dipakainya untuk membentuk pikiran dan perasaanya, dan bahasa adalah dasar pertama-tama dan paling berurat berakar dari masyarakat manusia. Bahasa adalah tanda jelas keperibadian karena bahasa merupakan kunci kesuksesan bagi setiap manusia, bahasa merupakan milik pribadi seseorang, bahasa merupakan tempat pelarian seseorang pada waktu kesunyian, bila rasa atau pikiran menjelajahi soal-soal kehidupan, baik di dalam manusia itu sendiri maupun di kehidupan sekelilingnya, misalnya seorang penyair atau buku harian seorang pemikir. Misalnya kita sebagai manusia atau makhluk sosial pasti mempunyai pemikiran apalagi kita hidup di dunia teater, bisa mengungkapkan apa untuk mengisi kesunyiannya yaitu misalnya membuat puisi, atau menulis tentang karya-karya sastra yang bisa dipahami oleh semua manusia, asalkan bahasa yang digunakanya baik dan benar. Sifat bahasa yang pertama, maka bahasa merupakan kunci yang paling menghasilkan untuk membuka ciri-ciri suatu kelompok masyarakat. Sifat bahasa yang kedua yaitu bahasa sebagai kegiatan sendiri. Seperti membuat novel, karya ilmiah, dan sebagainya. Menganalisis Bahasa Menurut pendapat saya menganalisis bahasa itu sangat penting bagi semua makhluk hidup, misalnya kita menganalisis bahasa luar supaya bahasa tersebut dapat dipahami. Jadi, menganalisis bahasa tersebut tidak hanya memantau saja. Supaya bahasa tersebut dapat dianalisis, kita sebagai makhluk sosial harus bisa menganalisis bahasa mana pun karena bahasa tersebut sangat penting bagi kita, agama, bangsa, maupun negara. Karena itu adalah kunci kesuksesan bagi kita semua dapat menguasai bahasa manapun. Hidup tanpa bahasa bagaikan kita tidak punya apa-apa. Kita sebagai warga Indonesia harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, jangan asal keluar dari mulut dan masuk ke mulut. Jagalah nama baik negara kita dengan menggunakan bahasa yang selayaknya kita katakana. Gunakanlah bahasa yang sepantasnya untuk menjaga negara kita dengan baik. Ada dua macam bahasa yang persoalanya mendapat perhatian kita. 1. Bahasa pertama yaitu bahasa sehari-hari atau bahasa daerah. Bahasa pertama atau bahasa ibu ialah bahasa yang diajarkan dan dipakai di lingkungan keluarga. 2. Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua yaitu bahasa yang diajarkan di sekolah dan dipakai dalam komunikasi resmi, tetapi pada dasarnya tidak dipakai di lingkungan keluarga. Bahasa sebagai alat kebudayaan bahasa dan sastra. Seniman pada umumnya, bila ternyalakan emosi keseniannya oleh sesuatu, akan berusaha semerdeka mungkin untuk bersatu dengan medium yang dipakainya untuk menyatakan haru yang ditimbulkannya itu. Saya katakan semerdeka mungkin karena pada hakekatnya seniman itu tidak memiliki kemerdekaan yang sepenuhnya. Kita ketahui bahwa bahasa mempunyai keanehan-keanehannya sendiri. Oleh karena sastrawan harus menuangkan harunya dalam bentuk yang telah ditentukan oleh bahasanya, agaknya jelas bahwa

19

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

sastra yang satu tidak akan sama dengan sastra yang lain. Sebenarnya keterangan ini agak berlebih-lebihan karena kita tahu bahwa tidak ada kebudayaan yang sama dan bahasa sebagai alat untuk mengkodekan kebudayaan itu tentulah berlainan pula, maka sudah barang tentu demikian juga sastranya. Oleh sebab itu, apa yang dikatakan Croce memang betul bahwa satu sastra tidak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain. Namun, ada pula terjemahan-terjemahan sastra yang baik. Beberapa contoh tentang kekusutan yang mungkin timbul tentang arti sesuatu yang kita katakan, bahasa mempunyai bahasa masing-masing atau gaya bahasa semua orang pasti akan berbeda, bahkan dalam satu keluarga pun dalam segi bahasa dan cara berbicara pasti akan berbeda karena semua mempunyai gaya bahasa masingmasing, misalnya dengan contoh kakak dengan adik kakak bahasanya seperti ini dan adik gaya bahasanya seperti ini contohnya daerah kabupaten Garut dengan kecamatan Bungbulang dengan Garut Kota pasti berbeda, walaupun satu kabupaten karena mereka mempunyai gaya bahasa masing-masing. Jadi, kita jangan menyepelekan bahasa karena bahasa merupakan bagian kehidupan kita. Bahasa Indonesia bagi kita merupan suatu karunia Tuhan karena adanya bahasa sekaligus telah melenyapkan persoalan bahasa nasional yang sangat pelik dan gampang menimbulkan emosi kedaerahan. Dalam hubungan inilah kita menyadari jasa penada Muhammad Yamin dengan kawan-kawannya. Di dalam suatu masyarakat yang mengalami perkembangan setapak demi setapak, di seluruh bidang kehidupannya perkembangan bahasa biasanya terdapat di dalam bidang ekonomi, politik, maupun kultural kadang-kadang diciptakan pula susunan-susunan mengemukan proposi-proposi yang baru. Umpamanya jika bahasa itu menempatkan sebab musabab sesuatu cara mengemukakan proposisi baru yang memerlukan.

20

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Hana Susana

Apakah Bahasa Itu? Dalam masyarakat, kata bahasa sering dipergunakan dalam pelbagai konteks dengan pelbagai macam makna. Ada orang yang berbicara tentang ―bahasa warna‖, ―bahasa bunga‖, ―bahasa diplomasi‖, dan sebagainya. Di samping itu dalam kalangan terbatas, terutama di kalangan orang yang membahas soal-soal bahasa, ada yang berbicara tentang ―bahasa tulisan‖, ―bahasa tutur‖, dan sebagainya. Untuk pemakaian pertama tersebut tidak akan ada komentar apa-apa di sini. Maklumlah, sudah lazim kata-kata yang sebenarnya mempunyai makna tertentu dalam suatu bidang dipakai secara luas oleh masyarakat umum sehingga maknanya menjadi kabur. Contoh lain dapat kita temukan dalam pemakaian kata-kata seperti; emas, film, logis, wacana, harga diri kurang, dan sebagainya. Kata-kata tersebut dalam pemakaian bidang ilmunya memiliki makna tetap dan tertentu, tetapi lebih banyak dipakai oleh orang awam, yakni orang yang tidak bergerak dalam bidang ilmu yang bersangkutan. Pemakaian kedua akan disinggung tentang bahasa dalam kebudayaan dan masyarakat, karena walaupun ada kebenaran di belakangnya namun dilihat dari sudut sistematik linguistik kata atau istilah bahasa di sana tidak dipergunakan dengan pengertian yang cukup tajam. Bagi linguistik (ilmu yang khusus mempelajari bahasa) bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Definisi tersebut perlu dijelaskan dan diuraikan sebagai berikut; 1. Bahasa adalah sebuah sistem , artinya bahasa itu bukanlah sebuah unsur yang terkumpul secara beraturan seperti halnya sistem-sistem lain. Unsur-unsur bahasa ―diatur‖ seperti pola-pola yang berulang sehingga kalau hanya salah satu bagian saja tidak tampak maka dapatlah ―diramalkan‖ atau ―dibayangkan‖ keseluruhan ujarannya, misalnya bila kita menemukan bentuk seperti;  berangkat . . . . . kantor,  ibu tinggal . . . . . rumah, dengan cepat dapat kita duga bagaimana bunyi kalimat itu secara keseluruhan. Sifat itu dapat dijabarkan lebih jauh dengan mengatakan bahwa bahasa itu sistematis, artinya bahasa itu dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang terkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan; di samping itu bahasa juga sistemis, artinya bahasa bukanlah sistem yang tunggal melainkan terdiri dari beberapa subsistem, yakni; subsistem fonologi, subsistem gramatika, dan subsistem leksikon. Agak berbeda dengan subsistem-subsistem dalam sepeda, subsistem-subsistem bahasa (terutama subsistem fonologi, subsistem morfologi,

21

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

dan subsistem sintaksis) tersusun secara hierarkial, artinya subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi. Ketiga subsistem itu (fonologi, morfologi, dan sintaksis) terkait dengan subsistem semantik. Sedangkan subsistem leksikon juga diliputi subsistem semantik, berada di luar ketiga subsistem struktural itu. Jenjang subsistem ini dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Jika diurutkan dari tataran yang terendah sampai tataran yang tertinggi, dalam hal ini yang menyangkut ketiga subsistem struktural di atas adalah tataran fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Tataran fonem termasuk dalam bidang kajian fonologi, tataran morfem dan kata termasuk dalam bidang kajian morfologi, sedangkan tataran frase, klausa, kalimat, dan wacana termasuk dalam bidang kajian sintaksis. Tetapi perlu dicatat, bahwa ―kata‖ selain dikaji dalam morfologi juga dikaji dalam sintakis. Dalam morfologi, kata menjadi satuan terbesar, sedangkan dalam sintaksis menjadi satuan terkecil. Dalam kajian morfologi kata itu dikaji struktur dan proses pembentukannya, sedangkan dalam sintaksis dikaji sebagai unsur pembentukan satuan sintaksis yang lebih besar. Perlu dicatat pula, kajian linguistik itu sendiri dibagi dalam beberapa tataran, yaitu; tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Tataran morfologi sering digabung dengan tataran sintaksis menjadi, yang disebut tataran gramatika atau tata bahasa. Di atas semua itu ada tataran pragmatik, yaitu kajian yang mempelajari penggunaan bahasa dengan pelbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia. Hierarki subsistem bahasa itu diterangkan seperti berikut; a. wacana, kalimat, klausa, frase, kata, morfem termasuk ke dalam kajian sintaksis; b. kata dan morfem termasuk ke dalam kajian morfologi; sedangkan c. fonem dan fon termasuk ke dalam kajian fonologi. 2. Bahasa merupakan sistem tanda, artinya hal atau benda yang mewakili sesuatu atau hal yang menimbulkan reaksi sama bila orang menanggapi apa yang diwakilinya itu. Setiap bagian dari sistem itu atau setiap bagian dari bahasa tentulah mewakili sesuatu. Tegasnya, bahasa itu bermakna. Hal itu berarti bahasa berkaitan dengan segala aspek kehidupan dan alam sekitar masyarakat yang memakainya. 3. Bahasa sebagai lambang. Kata lambang sudah sering didengar dalam percakapan sehari-hari. Umpamanya dalam membicarakan bendera Merah Putih sering dikatakan merah adalah lambang keberanian dan putih lambang kesucian. Gambar bintang dalam Garuda Pancasila yang merupakan lambang asas Ketuhanan Yang Maha Esa; serta gambar padi dan kapas yang merupakan lambang asas keadilan sosial. Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dengan pengertian yang sama. Lambang dengan pelbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah. Dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk

22

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

bahasa. Dalam semiotika atau semiologi (yang di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peierce dan di Eropa oleh Ferdinand de Saussure) dibedakan adanya beberapa jenis tanda, antara lain; tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Sebelum membicarakan konsep bahasa sebagai lambang, ada baiknya kita bicarakan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut. Tanda, selain dipakai sebagai istilah generik (dari semua yang termasuk kajian semiotika juga sebagai salah satu dari unsur spesifik kajian semiotika itu) adalah sesuatu yang dapat menandai atau mewakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah. Misalnya, kalau di kejauhan tampak ada asap membungbung tinggi, maka kita tahu di sana pasti ada api, sebab asap merupakan tanda akan adanya api itu. Jika di tengah jalan raya terdapat banyak pecahan kaca mobil berhamburan, maka kita akan tahu bahwa di tempat itu telah terjadi kecelakaan (tabrakan mobil). Dari contoh-contoh di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tanda bisa juga menandai bekas kejadian . Berbeda dengan tanda, lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional (tidak secara alamiah dan langsung). Untuk memahami lambang ini tidak ada jalan lain selain harus mempelajarinya. Sama halnya dengan cara mengenal lambang yang berupa gambar atau warna, untuk mengenal lambang bahasa yang berupa bunyi itu kita juga harus mempelajarinya. Dalam bahasa Indonesia untuk konsep ―binatang berkaki empat yang bisa dikendarai‖ dilambangkan berupa bunyi [kuda], sebab dalam bahasa lain, tidak sama lambangnya. Dalam bahasa Jawa lambangnya berupa bunyi [jaran], dalam bahasa Inggris berupa bunyi yang ditulis horse dan dalam bahasa Belanda berupa bunyi yang ditulis paard. Ferdinand de Sausure tidak menggunakan istilah lambang atau simbol, melainkan istilah tanda (signe) atau tanda linguistik (signelinguistique). Oleh karena itu, dalam kepustakaan kita ada yang menyatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda. Akhir-akhir ini sudah biasa juga digunakan istilah penanda untuk ‗yang menandai‘ (signifie menurut peristilahan de Saussure) dan pertanda untuk ‗yang ditandai‘ (significant menurut peristilahan de Saussure). 4. Bahasa merupakan sistem bunyi, memang pada dasarnya bahasa itu berupa bunyi. Apa yang kita kenal sebagai tulisan sifatnya sekunder karena manusia dapat berbahasa tanpa mengenal tulisan. Sebelumnya telah disebutkan bahwa bahasa adalah sistem dan lambang, tetapi yang dibahas sekarang yaitu bahasa merupakan bunyi. Maka seluruhnya dapat dikatakan, bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Jadi, sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Menurut Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahanperubahan dalam tekanan udara. 5. Bahasa bersifat produktif, artinya sebagai sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas namun bahasa dapat dipakai tidak terbatas oleh pemakainya

23

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

sesuai dengan kebutuhan. Bahasa Indonesia misalnya; mempunyai fonem kurang dari tiga puluh tetapi, mempunyai kata lebih dari 80.000 yang mengandung fonem-fonem itu. Kemungkinan saja, dengan fonem-fonem tersebut diciptakan kata-kata baru. Dilihat dari sudut penuturan, bahasa Indonesia mempunyai lima tipe kalimat yakni; pernyataan, pertanyaan, perintah, keinginan, dan seruan. Kegunaan kelima tipe tersebut adalah untuk menyusun kalimat yang jumlahnya ribuan, bahkan jutaan. 6. Bahasa bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai sistem yang khas (tidak harus ada dalam bahasa lain). Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap yang berubah hanya makna keseluruhan kalimat. Bahasa Jawa mempunyai sekitar seratus kata untuk menyebutkan anak pelbagai binatang yang tidak ada dalam bahasa lain. 7. Kebalikan dari hal yang digunakan sebelumnya, ada pula sifat-sifat bahasa yang dimiliki oleh bahasa lain sehingga ada sifat universal (ada pula yang hampir universal). Hal ini misalnya dapat kita lihat dalam bahasa Indonesia, salah satu ciri bahasa ini adalah bahwa konfiks ke-an hanya dapat bergabung dengan sebanyak-banyaknya dua bentuk, seperti; ketidakpastian kesalahpahaman kebolehjadian. 8. Bahasa mempunyai variasi, karena bahasa itu dipakai oleh kelompok manusia untuk bekerja sama dan berkomunikasi. Kelompok manusia banyak macamnya, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, ada orang yang bersekolah, ada orang yang tidak bersekolah, pendeknya yang berinteraksi dalam berbagai lapangan kehidupan dan mempunyai bahasa untuk pelbagai keperluan. Setiap manusia mempunyai kepribadian sendiri, hal ini yang paling nyata tertonjol dalam berbahasa. 9. Melalui bahasa suatu kelompok sosial akan mengidentifikasi dirinya sendiri. Di antara semua ciri budaya, bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena melalui bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok lain. Bagi kelompok sosial tertentu, bahasa tidak sekedar merupakan sistem tanda, melainkan sebagai lambang identitas sosial. Apa yang kita sebut bahasa Cina (misal) sebenarnya merupakan lambang sosial yang ditandai oleh satu sistem, tulisan yang mengikat jutaan manusia (terdiri dari berbagai suku bangsa) dengan berbagai bahasa yang cukup jauh perbedaannya. Sebaliknya, dipandang dari sudut tata bunyi dan tata bahasa tetapi oleh pemakainya dianggap dua bahasa dan menandai dua kelompok yang berbeda. Kenyataan bahwa bahasa adalah lambang sosial hanyalah mengukuhkan apa yang menjadi

  

Tidak pasti Salah paham Boleh jadi

24

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

telah lama (entah selama berapa abad) dikenal orang Melayu dengan pepatahnya ―bahasa menunjukkan bangsa‖. 10. Karena digunakan manusia yang masing-masing mempunyai cirinya sendiri untuk berbagai keperluan, bahasa memiliki fungsi. Fungsi itu tergantung pada faktorfaktor siapa, apa, kepada siapa, tentang apa, dimana, bilamana, berapa lama, untuk apa, dan dengan apa bahasa itu diujarkan. Bahasa yang digunakan manusia bermanfaat untuk saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Melalui bahasa pula, seseorang dengan mudah akan mampu mengeluarkan gagasan dan pendapat.

25

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Pika Widara

1. Jenis bahasa berdasarkan sosiologis

Penjenisan berdasarkan faktor sosiologis artinya penjenisan itu tidak terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga berdasarkan faktor sejarah, kaitannya dengan sistem linguistik lain, dan pewarisan dari satu generasi kegenerasi berikutnya.

26

Pengertian Bahasa

A. Pengertian Bahasa Bahasa banyak sekali ragamnya, apalagi mengenai pengertiannya karena bahasa pada hakikatnya bersipat arbitrer, produktif, dinamis, dan manusiawi. Maka dari itu, batasan mengenai pengertian bahasa merupakan suatu sistem, sebagai sistem, bahasa bersifat arbitrer, dan sebagai sistem arbitrer. Bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol pokok. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian bahasa diantaranya yaitu: Keraf (dalam Smarapradhipa 2005:1) memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama, bahasa sebagai alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komukasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal. Menurut Owen (dalam setiawan, 2006:1) bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan. Menurut Santoso (1990:1) bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Menurut Wibowo (2001:1) bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Menurut Syamsuddin (1986:1) beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. B. Jenis Bahasa Bahasa memiliki beberapa jenis, yaitu:

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Stewart (dalam Fishman (ed) 1968) menggunakan empat dasar untuk menjeniskan bahasa-bahasa secara sosiologis, yaitu: a. Standarisasi b. Otonomi c. Historitas d. Vitalitas Secara singkat, keempat dasar ini dapat dijelaskan sebagai berikut:  Standarisasi (pembukaan), adalah adanya kodifikasi dan penerimaan terhadap sebuah bahasa oleh masyarakat pemakaian bahasa itu akan seperangkat kaidah atau norma yang menentukan pemakaian ―bahasa yang benar‖.  Otonomi (keotonomian), sebuah sistem linguistik disebut mempunyai keotonomian jika sistem linguistik itu memiliki kemandirian sistem yang tidak berkaitan dengan bahasa lain.  Historitas (kesejarahan), sebuah sistem linguistik dianggap mempunyai historitas jika diketauhi atau dipercaya sebagai hasil perkembangan yang normal pada masa yang lalu. Faktor kesejarahan ini berkaitan dengan tradisi dari etnik tertentu. Jadi, faktor historis ini mempersoalkan, apakah sistem linguistik itu tumbuh melalui pemakaian oleh kelompok etnik atau sosial tertentu tidak.  Vitalitas (keterpakaian), maksudnya adalah pemakaian sistem linguistik oleh satu masyarakat penutur asli yang tidak terisolasi.

2. Jenis bahasa berdasarkn sikap politik

1. Keragaman bahasa
§ § § § § §

Ragam bahasa pada bidang tertentu. Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial. Ragam bahasa pada bentuk bahasa. Ragam bahasa pada suatu situasi.

27

Pengertian Bahasa

Berdasarkan sikap politik atau sosial politik dapat membedakan adanya bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa negara, dan bahasa persatuan. Pembedaan ini dikatakan berdasarkan sikap sosial politik karena sangat erat kaitannya dengan kepentingan kebangsaan. Sebuah sistem linguistik disebut bahasa nasional, seringkali disebut sebagai bahasa kebangsaan. 3. Jenis bahasa berdasarkan tahap pemerolehan Berdasarkan tahap pemerolehannya dapat dibedakan adanya bahasa pertama/bahasa ibu, bahasa kedua, dan bahasa asing. 1) Bahasa ibu lazim juga disebut bahasa pertama (disingkat B1) karena bahasa itulah yang pertama-tama dipelajarinya. 2) Bahasa kedua, lazimnya disebut bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu. Disebut bahasa ke dua (B2). 3) Bahasa asing lazimnya disebut juga sebagai bahasa ketiga (B3). Jadi mempelajari bahasa selain bahasa ibu dan bahasa ke dua.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
2. Fungsi bahasa dalam masyarakat
Berikut ini fungsi bahasa dalam masyarakat. § Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. § Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia. § Alat untuk mengidentifikasi diri.

2010

3. Fungsi-fungsi bahasa

Fungsi-fungsi bahasa antara lain dapat dilihat dari § Sudut penutur § Pendengar § Topik § Kode § Amanat pembicaraan Secara singkat, kelima fungsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut. o Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal (pribadi). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau bahagia. o Dilihat dari segi pendengar (lawan bicara), maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu untuk mengatur tingkah laku pendengar. o Bila dilihat dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial. Di sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada di sekeliling penutur. o Dilihat dari segi kode yang digunakan, maka bahsa itu berfungsi metalingual yakni, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. o Dilihat dari segi amanat (message) yang akan disampaikan, maka bahasa itu berfungsi imaginative. Fungsi imaginative ini biasanya berupa karya seni (puisi, dongeng) yang digunakan untuk kesenagan penutur maupun para pendengarnya. Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi, bekerjasama, dan identifikasi diri, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. Bahasa memiliki komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis meliputi komponen fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantis. Sesuai dengan keberadaannya sebagai suatu sistem masing-masing komponen saling memberi arti, saling berhubungan dan saling menentukan.

28

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Ramdhan Jaelani

Secara umum bahasa didefinisikan sebagai lambang. Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosa kata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus. Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. Fungsi Bahasa dalam Masyarakat 1. Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. 2. Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia. 3. Alat untuk mengidentifikasi diri. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau atau silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara atau target komunikasi. Keraf (dalam Smarapradhipa, 2005:1) memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut Owen (dalam Stiawan, 2006:1) definisi bahasa yaitu

yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan). Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang

29

Pengertian Bahasa

language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (language may be form and not matter ) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12). Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. Fungsi utama bahasa, seperti disebutkan di atas, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi. Tetapi bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi: (i) untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, (ii) untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia, (iii) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan, (iv) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis). Dikatakan oleh para ahli budaya bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagai makhluk bernalar, berbudaya, dan berperadaban. Dengan bahasa, kita membina hubungan dan kerja sama, mengadakan transaksi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan bidang dan peran kita masing-masing. Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa lampau, menghadapi hari ini, dan merencanakan masa depan. Jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh, misalnya mahasiswa. la membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar lulus dalam setiap ujian dan sukses meraih gelar atau tujuan yang diinginkan. Seorang dokter juga sama. la memerlukan informasi tentang kondisi fisik dan psikis pasiennya agar dapat menyembuhkannya dengan segera.

30

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Contoh lain, seorang manager yang mengoperasikan, mengontrol, atau mengawasi perusahaan tanpa informasi ia tidak mungkin dapat mengambil keputusan dan menemukan kebijaksanaan karena setiap orang membutuhkan informasi, komunikasi sebagai proses tukar-menukar informasi, dengan sendirinya juga mutlak menjadi kebutuhan setiap orang. Perkembangan Bahasa Indonesia Kata Indonesia berasal dari gabungan kata Yunani indus 'India' dan nesos 'pulau atau kepulauan'. Jadi, secara etimologis berarti kepulauan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, atau hanya kepulauan India. Pencipta kata tersebut ialah George Samuel Windsor Earl, sarjana Inggris yang menulis dan memakai kata itu dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. IVhlm 17, bulan Februari 1850. Ia menggunakan kata Indonesians dalam majalah itu, sedangkan orang yang mempopulerkan kata lndnesian adalah ahli etimologi Jerman, Adolf Bastian, yang memakainya dalam buku-buku yang ditulisnya sejak tahun 1884. Buku-buku ini diberi judul Indwonesien order die Inseln des Malayischen Archipel. Bahasa Indonesia yang sekarang itu ialah bahasa Melayu kuno yang dahulu digunakan orang Melayu di Riau, Johor, dan Lingga yang telah mengalami perkembanggan berabad-abad lamanya. Dalam keputusan Seksi A No. 8. hasil Kongres Bahasa Indonesia 11 di Medan 1954, dikatakan bahwa dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhan dalam masyarakat dan kebudayaan Indonesia sekarang. Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang penting sebagai berikut. 1. Masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca atau bahasa penghubung, bahasa pengantar. Bukti, historis dari masa ini antara lain prasasti atau batu bertulis yang ditemukan di Kedukan Bukit, Kota Kapur, Talang Tuwo. Karang Brahi yang berkerangka tahun 680 Masehi. Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa Melayu paling tua justru dalam prasasti yang ditemukan di Sojomerta dekat Pekalongan, Jawa Tengah. 2. Masa Kerajan Malaka, sekitar abad ke-15. Pada masa ini peran bahasa Melayu sebagai alat komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah peninggalan karya sastra tertue yang ditulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521, Antonio Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama. Daflar itu dibuat di Tidore dan berisi kata-kata yang dijumpai di sana. 3. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai sarana pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya Abdullah seperti Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah, Syair tentang Singapura Dimakan Api, dan Pancatanderan Tokoh lain yang Perlu dicatat di sini ialah Raja Ali Haji yang terkenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.

31

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

4. Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch. van Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe. 5. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan Commissie de lndlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat). Lembaga ini mempunyai andil besar dalam menyebarkan serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-bahan bacaan yang diterbitkan untuk umum. 6. Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober, dalam Sumpah Pemuda, bahasa Melayu diwisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa Indonesia. Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa tersebut (1) telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai Lingua Franca hampir di seluruh daerah kawasan Nusantara, (2) strukturnya sederhana sehingga mudah dipelajari dan mudah menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya. (3) bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan sentimen dan perpecahan, dan (4) adanya semangat kebangsaan yang lebih besar dari penutur bahasa Jawa dan Sunda. "Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa jang sama, bahasa Indonesia" demikian rumusan Sumpah Pemuda yang terakhir dan yang benar. 7. Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali . Pelopor pendiri majalah ini ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang ketiganya ingin dan berusaha memajukan bahasa Indonesia dalam segala bidang. 8. Tahun 1938, dalam rangka peringatan 10 tahun Sumpah Pemuda diadakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki Hadjar Dewantara, Prof Dr Purbatjaraka dan Prof Dr. Husain Djajadiningrat. Dalam kongres ditetapkan keputusan untuk menditikan Institut Bahasa Indonesia, mengganti ejaan van Ophuysen, serta menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan. 9. Masa pendudukan Jepang (1942-1945). Pada masa ini peran bahasa Indonesia semakin penting karena pemerintah Jepang melarang penggunnan bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai bahasa musuh penguasa Jepang terpaksa mengangkat bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan, karena bahasa Jepang sendiri belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, akhirnya Kantor Pengajaran Balatentara Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia. 10. Tahun 1945, tepatnya 18 Agustus bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara, sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36: Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia. 11. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Repoeblik sebagai penyempummn ejaan sebelumnya Ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.

32

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

12. Balai Bahasa yang dibentuk Wont 1948, yang kemudian namanya diubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan dirubah lagi menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Pada tahun 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam rangka usaha pemantapan perencanaan bahasa. 13. Atas prakarsa Mentri PP dam K, Mr. Moh. Yamin, Kongres Bahasa Indonesia Kedua diadakan di Medan tanggal 28 Oktober s.d. 1 November 1954 . Dalam kongres ini disepakati suatu rumusan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia berbeda dari bahasa Melayu karena bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang sudah disesuaikan pertumbuhannya dengan masyraakat Indonesia sekarang . 14. Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo , sebagai hasil usaha menyamakan ejaan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang digunakan Persekutuan Tanah Melayu. Akan tetapi, karena pertentangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut menjadi tidak pernah diresmikan pemakaiannya. 15. Tahun 1972 pada tanggal 17 Agustus, diresmikan pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan yang disingkat EYD. Ejaan yang pada dasarnya adalah hasil penyempurnaan dari Ejaan Bahasa Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai oleh A. M. Moeliono juga digunakan di Malaysia dan berlaku hingga sekarang. 16. Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50.

Bulan November di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III.

Kongres ini berhasil mengambil keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Di antaranya ialah penetapan bulan September sebagai bulan bahasa. 17. Tanggal 21 - 26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsang Kongres Bahasa Indonesia IV. Kongres yang dibuka oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr. Nugroho Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau tindak lanjut untuk memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara. 18. Dengan tujuan yang sama, di Jakarta 1988, diselenggarakan Kongres Bahasa

Indonesia V. 19. Tahun 1993, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta.

33

Pengertian Bahasa

Kongres Bahasa Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagaimana kita ketahui dari uraian di atas, bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oklober 1928 bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini berarti bahwa bahasa Indonesia mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.

34

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Roy Nuroni Budi

Bahasa memiliki makna lebih dari satu sehingga dapat membingungkan. Bahasa pun sering diartikan sebagai ―alat komunikasi‖, jawaban ini tidak salah tetapi ini juga tidak benar karena jawaban itu hanya mengatakan ―bahasa adalah alat‖. Jadi itu lebih menjelaskan kepada fungsi bahasa bukan terhadap ―sosok‖ bahasa itu sendiri. Sehingga banyak pakar yang membuat definisi tentang bahasa dengan pertama-tama menonjolkan segi fungsinya itu, seperti Sapir (122:8), Badudu (1989:3), Keraf (1984:16), dan Kridalaksana (1983, dan juga dalam Djoko Kentjono) ―bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para

anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri‖.

Beberapa contoh tentang kekusutan yang mungkin timbul tentang arti sesuatu yang kita katakan, bahasa mempunyai bahasa masing-masing atau gaya bahasa semua orang pasti akan berbeda, bahkan dalam satu keluarga pun dalam segi bahasa dan cara berbicara pasti akan berbeda karena semua mempunyai gaya bahasa masing-masing, misalnya dengan contoh kakak dengan adik kakak bahasanya seperti ini dan adik gaya bahasanya seperti ini contohnya daerah kabupaten Garut dengan kecamatan Bungbulang dengan Garut Kota pasti berbeda, walaupun satu kabupaten karena mereka mempunyai gaya bahasa masing-masing, jadi kita jangan menyepelekan bahasa karena bahasa merupakan bagin kehidupan kita. Bahasa Indonesia bagi kita merupakan suatu karunia Tuhan karena adanya bahasa sekaligus telah melenyapkan persoalan bahasa nasional yang sangat pelik dan gampang menimbulkan emosi kedaerahan. Banyak masalah yang berkenaan dengan pengertian bahasa seperti: bilamana sebuah tuturan disebut bahasa yang berbeda dalam bahasa lainnya, dan bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Dua buah tuturan tersebut bisa disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara linguistik dua buah tuturan dianggap sebagai dua buah bahasa yang berbeda. Meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena ―rumitnya‖ menentukan suatu parole (ujaran nyata yang di ucapkan) bahasa atau bukan. Bahasa dibentuk oleh kaidah atau aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasa.

35

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Setelah kita memahami pengertian bahwa bahasa itu memiliki makna yang bersifat arbitrer, sekarang kita mencoba mengenal lebih jauh tentang bahasa tersebut. Bahasa memiliki banyak ragam, misalnya kita ambil contoh tentang bahasa ibu. Bahasa ibu adalah bahasa yang sehari-hari yang didapat murni dari lingkungn keluarga maupun lingkungan masyarakat, kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa asli oleh karena itu memiliki peran pusat dalam. Kemudian, bahasa Indonesia bahasa yang didapat dari hasil belajar. Dalam konteks bahasa, bahasa ibu adalah bahasa pertama dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua, mengapa? Karena bahasa ibu paling kuat atau paling banyak berperan dalam kehidupan seseorang. Menganalisis bahasa menurut pendapat saya itu sangat penting sekali bagi semua makhluk hidup, misalnya kita menganalisis bahasa luar supaya bahasa tersebut dapat dipahami, jadi menganalisis bahasa tersebut tidak hanya memantau saja supaya bahasa tersebut dapat dianalisis, kita sebagai makhluk sosial harus bisa menganalisis bahasa manapun karena bahasa tersebut sangat penting bagi kita, agama, bangsa, maupun negara. Ragam bahasa yang lainnya adalah: ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan. Ragam bahasa pada bentuk bahasa, seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan. Ragam bahasa pada suatu situasi, seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku). Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa sebagai sebuah sistem adalah keteraturan, sehingga jelas. Jika bahasa itu tidak teratur dalam hal bunyi, fonem, morfem, kata, serta kalimat yang terdapat dalam sebuah bahasa, maka dapat dipastikan pesan bahasa yang akan disampaikan pun akan tidak teratur juga, maka harus ada aturan yang jelas. Bahasa itu berwujud lambang, dalam bidang ilmu, istilah lambang berada dalam kajian semiotika atau semiologi. Bahasa sebagai lambang, di dalamnya ada tanda, sinyal, gejala, gerak isyarat, kode, indeks, dan ikon. Lambang sendiri sering disamakan dengan simbol. Dengan demikian, bahasa sebagai lambang artinya memiliki simbol untuk menyampaikan pesan kepada lawan tutur. Ia berfungsi untuk menegaskan bahasa yang hendak disampaikan. Bahasa berupa bunyi, kata bunyi berbeda dengan kata suara. Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Karena itu, banyak ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan dan menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa skunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang

36

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

apabila dibacakan/ dilafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana disebutkan di atas bahwa bahasa juga bersifat lambang. Bahasa bersifat arbitrer, arbitrer dapat diartikan ‗sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka‘. Arbitrer diartikan pula dengan tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Hal ini berfungsi untuk memudahkan orang dalam melakukan tindakan kebahasaan. Bahasa itu bermakna, bahasa sebagai suatu hal yang bermakna erat kaitannya dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab bahasa itu dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi tersebut, maka bahasa itu dapat dikatakan memiliki makna. Lambang bunyi bahasa yang bermakna itu, dalam bahasa berupa satuansatuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Bahasa itu unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya. Di antara keunikan yang dimiliki bahasa bahwa tekanan kata bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersifat unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya. Bahasa itu universal, karena bahasa itu bersifat ujaran. Ciri yang paling umum dimiliki oleh setiap bahasa itu adalah memiliki vokal dan konsonan. Namun, beberapa vokal dan konsonan pada setiap bahasa tidak selamanya menjadi persoalan keunikan. Bahasa Indonesia misalnya, memiliki 6 buah vokal dan 22 konsonan, tetapi bahasa Arab memiliki 3 buah vokal pendek, 3 buah vokal panjang, serta 28 konsonan (Al-Khuli, 1982:321). Oleh sifatnya yang universal ini, bahasa memiliki fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan komunikasi. Bahasa itu bervariasi, setiap masyarakat bahasa pasti memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Bahasa Aceh misalnya, antara penutur bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh Barat dengan masyarakat Aceh di Aceh Utara memiliki variasi. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsiolek. Bahasa itu bersifat dinamis, karena setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang digunakan pun kerap memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengiku. Bahasa itu bersifat manusiawi, bahasa yang lahir alami oleh manusia penutur bahasa dimaksud. Hal ini karena pada binatang belum tentu ada bahasa meskipun binatang dapat berkomunikasi. Sifat ini memiliki fungsi sebagai citra bahasa adalah sangat baik dalam komunikasi.

37

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bahasa sebagai alat interaksi sosial, yakni dalam interaksi, manusia memang tidak dapat terlepas dari bahasa. Seperti dijelaskan di atas, hampir di setiap tindakan manusia tidak terlepas dari bahasa, maka salah satu hakekat bahasa adalah alat komunikasi dalam bergaul sehari-hari. Bahasa sebagai identitas diri. Hal ini disebabkan bahasa juga menjadi cerminan dari sikap seseorang dalam berinteraksi. Sebagai identitas diri, bahasa akan menjadi penunjuk karakter pemakai bahasa tersebut. Bahasa sebagai alat kebudayaan Bahasa dan sastra. Seniman pada umumnya, bila ternyalakan emosi keseniannya oleh sesuatu, akan berusaha semerdeka mungkin untuk bersatu dengan medium yang dipakainya untuk menyatakan haru yang ditimbulnya itu. Kami katakan semerdeka mungkin karena pada hakikatnya seniman itu tidak memiliki kemerdekaan yang sepenuhnya. Kita ketahui bahwa bahasa mempunyai keanehan-keanehannya sendiri. Oleh karena sastrawan harus menuangkan harunya dalam bentuk yang telah ditentukan oleh bahasanya, agaknya jelas bahwa sastra yang satu tidak akan sama dengan sastra yang lain. Sementara itu, Brown dan Yule (1996:1) berpendapat bahwa bahasa itu dapat berfungsi sebagai pengungkapan isi yang dideskripsikan menjadi fungsi transaksisional dan sebagai pengungkapan hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi yang dideskripsikannya menjadi fungsi interaksional. Dengan demikian, dalam pengertian bahasa menurut saya tidak terlalu menjurus terhadap kekonkretan bahasa melainkan lebih condong terhadap fungsi bahasa itu sendiri, meskipun banyak definisi kebahasaan yang di lontarkan oleh para ilmuwan, tetapi tetap saja ujung-ujungnya kembali terhadap fungsi bahasa. Demikian yang bisa saya jelaskan tentang pengertian bahasa. Saya menyadari banyak kesalahan dengan pengertian tersebut, bahkan tidak menutup kemungkinan pengertian yang saya tulis menyimpamg.

38

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Hakikat Bahasa
Oleh: Rudi Irawan

Boleh dikatakan setiap hari kita berbahasa mulai dari matahari terbit sampai dengan matahari terbenam, bahkan ketika bermimpi pun kita berbahasa. Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa pengertian sehingga membingungkan penggunanya. Bahasa di sini maksudnya sama seperti yang diungkapkan oleh Kridalaksana (dalam Abdul Chaer, 2003:32) bahwa ―bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri‖. Banyak pakar bahasa yang mencoba memberikan definisi tentang bahasa, tetapi pada artikel ini dituliskan beberapa sifat hakiki bahasa yang sejalan dengan definisi bahasa dari Kridalaksana. Berikut ini ulasan dari sifat-sifat hakiki bahasa.

Bahasa sebagai sistem

Bahasa itu adalah sebuah sistem. Sistem berarti sususan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur yang satu dengan unsur yang lain yang berhubungan secara fungsional. Jelas memang bahasa itu adalah sistem, mulai dari bunyi-bunyi, fonem-fonem, morfem-morfem, kata-kata, kalimat-kalimat, semuanya mempunyai sistem-sistem atau aturan-aturan.

Bahasa sebagai lambang

Bahasa itu adalah lambang-lambang. Ferdinand de Saussure tidak menggunakan istilah lambang atau simbol, melainkan istilah tanda (signe) atau tanda linguistik (signe linguistique). Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Kalau kita melayangkan pandangan ke atas di udara terbuka dan siang hari, maka akan terlihat sesuatu yang biru di atas. Sebenarnya itu adalah batas pandangan kita. Sebagai bangsa Indonesia kita namakan (lambangkan) itu dengan langit. Alat untuk melihat itu kita lambangkan mata. Jadi, seluruh benda, keadaan, perasaan, peristiwa, dan lain-lain kita berikan lambang tertentu. Jika dilihat dari dua sifat di atas, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah sistem lambang bunyi. Maksudnya, sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Menurut Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Namun, bunyi yang dimaksud di sini hanyalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Meskipun begitu ada juga bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang tidak termasuk bunyi bahasa.

39

Pengertian Bahasa

Bahasa adalah bunyi

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
Bahasa itu bermakna

2010

Sebelumnya dikatakan bahwa sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Lambang itu merupakan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi tersebut. Dikarenakan lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide, atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu memiliki makna. Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semua satuan itu memiliki makna. Oleh karena itu, segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat dikatakan bukan bahasa.

Bahasa itu arbitrer Kata arbitrer

dapat diartikan ‗sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, atau mana suka‘. Maksudnya, tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Lambang yang berupa bunyi itu tidak memberi petunjuk apa pun untuk mengenal konsep yang diwakilinya. Lambang-lambang itu timbul begitu saja.

Bahasa itu konvensional

Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Maksudnya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya di Indonesia telah disepakati bahwa alat untuk minum secara arbiter dilambangkan dengan bunyi [gelas], maka seluruh anggota masyarakat harus mematuhinya. Jika digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat karena tidak bisa dipahami oleh penutur bahasa Indonesia lainnya dan berarti dia telah keluar dari konvensi itu.

Bahasa itu produktif

Produktif artinya banyak hasilnya atau terus menerus menghasilkan. Bahasa dikatakan produktif karena meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi masih dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas—meski secara relatif—sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Keproduktifan bahasa Indonesia dapat dilihat dari kata-kata atau kalimat-kalimat yang dapat dibuat. Keproduktifan memang ada batasnya, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Bahasa itu unik maksudnya setiap suatu bahasa memiliki ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas di sini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya. Salah satu keunikan Bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis.

40

Pengertian Bahasa

Bahasa itu unik

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
Bahasa itu universal

2010

Bahasa itu bersifat universal. Maksudnya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri-ciri yang universal ini tentunya merupakan unsur bahasa yang paling umum, yang bisa dikaitkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat bahasa lain. Ciri bahasa yang paling umum adalah bunyinya yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Bahasa itu dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Oleh karena itu, bahasa ikut berubah sesuai dengan kegiatan dan kehidupan masyarakat dan dikatakan bahwa bahasa itu dinamis. Perubahan dalam bahasa ini dapat juga terjadi bukan berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran.

Bahasa itu bervariasi

Di Indonesia terdapat berbagai latar belakang dan lingkungan yang tentu saja tidak sama dan beragam. Oleh karena itu, bahasa yang kita gunakan menjadi bervariasi atau beragam, di mana antara variasi atau ragam yang satu dengan ragam yang lain seringkali memiliki perbedaan yang besar. Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam.

41

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Susanti

Bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian sehingga sering kali membingungkan. Bahasa sebagai alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia dan berupa simbol bunyi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang bersifat albiter atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem. Bahasa itu adalah fenomena sosial yang banyak seginya dan suatu sistem yang sistematis. Bahasa merupakan suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan, dan keadaan. Suatu bentuk prilaku, perlambangan konsep diri, dan sikap sosial seseorang yang menyimbolkan pikiran keinginan dan kepercayaan, karena bahasa sangat erat kaitannya dengan perbuatan pribadi dan perkembangan pemahaman dasar manusia. Suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep rill ke dalam pikiran orang lain yang merupakan alat kekuasaan dan kekuatan sosial yang mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan tingkah laku. Suatu kode yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk, makna, dan ucapan yang menempati tata bahasa yang telah ditetapkan. Bahasa mengalami proses perubahan yang tetap, seperti pembentukan kata baru untuk memenuhi tuntutan komunikasi dan tekanan sosial yang mengakibatkan perubahan terhadap item pemakaian khusus dan konstruksi bahasa. Bahasa adalah penggunaan bahasa kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaksis untuk membentuk kalimat yang memiliki arti, karena setiap bahasa memiliki struktur sendiri. Bahasa adalah fungsi kogini tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan hanya sutu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik. Bahasa merupakan kaidah aturan serta pola yang tidak boleh di langgar agar tidak menyababkan gangguan pada komunikasi yang terjadi, kaidah, aturan, dan pola-pola yang di bentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk, dan tata kalimat. Sistem lambang bunyi berarti kulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang di pakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi baik berupa suara, gestur, atau tanda-tanda berupa tulisan. Bisa dilihat dari dua sisi yaitu sacara sisi formal dan fungsional. Secara sisi formal semua kalimat yang terbayangkan yang dibuat menurut tata bahasa sedangkan fungsional alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Bahasa sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, di dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya manusia dapat juga

42

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

mengunakan alat komunikasi lain selain bahasa. Namun, tampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik dan paling sempurna dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain, termasuk juga alat komunikasi yang digunakan para hewan. Bahasa adalah sebuah sistem bahasa yang dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponenkomponen yang secara teratur tersusun dan membentuk satu kesatuan. Bahasa merupakan sarana berpikir. Manusia dapat berpikir dengan baik karena manusia memiliki bahasa, bahasa merupakan sarana berpikir yang pertama dan mungkin yang utama. Bahkan keunikan manusia sebetulnya bukan terletak pada kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa tidak mungkin manusia berpikir secara sistematis, teratur, dan berlajut. Bahasa memungkinkan pula manusia berpikir secara rumit dan abstrak. Objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Bahasa alat komunikasi ilmiah atau berfungsi untuk menyampaikan pikiran dan bertujuan menyampaikan informasi yang berupa ilmu. Penyampaian informasi harus di tunjang oleh pemakaian bahasa yang bebas nilai, bebas dari unsur emotif dan afektif. Bahasa adalah alat berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan, alat untuk menyampaikan pikiran sudah mempunyai sejarah yang panjang jika menelusuri sejarah studi. Pengertian bahasa menurut para ahli: 1. Menurut Keraf bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. 2. Menurut Owen dalam Setiawan defenisi bahasa yaitu kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan. 3. Menurut Santoso bahasa adalah rangkain bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. 4. Menurut Wibowo bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi yang bersifat arbiter dan konvensional yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran Bahasa adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya yang membutuhkan alat, sarana, dan media. Bahasa yang dalam bahasa inggrisnya disebut language yang merupakan alat berkomunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni, sistematik, mana suka, ujar, manusiawi, dan komunikatif. Disebut sistematik yaitu sistem bunyi dan sistem makna. Bunyi merupakan suatu yang bersifat yang dapat ditanggap oleh panca indra kita. Tidak semua bunyi dapat diklasifikasikan sebagai simbol sebuah kata, hanya bunyibunyi yang dapat diklasifikasikan, yaitu bunyi yang dapat digunakan atau digabungkan dengan bunyi lain sehingga membentuk satu kata,

43

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bahasa alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, karena setiap kelompok masyarakat bahasa baik kecil maupun besar secara konvensional telah menyepakati bahwa setiap struktur bunyi tertentu akan memiliki arti tertentu pula. Konvensi-konvensi masyarakat bahasa itu akhirnya menghasilkan bermacam-macam satuan struktur bunyi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Bahasa disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa sadar, sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki empat fungsi: a. lambang identitas nasional, b. lambang kebanggan nasional, c. alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda, d. alat perhubungan antar budaya dan daerah. Bahasa selalu mengikuti kaidah atau aturan yang tepat dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan yang bersistem. Bahasa juga merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaksis untuk membentuk kalimat yang memiliki arti bahasa memiliki berbagai defenisi. Defenisi bahasa adalah sebagai berikut: 1. Suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagsan, dan keadaan. 2. Suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka kedalam pikiran orang lain. 3. Suatu kesatuan sistem bermakna. 4. Suatu kode yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna. 5. Suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh perkataan, kalimat, dan lain-ain). 6. Suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik. Bahasa disebut juga ujaran karena media bahasa yang terpenting adalah bunyi walaupun kemudian ditemui ada juga media tulisan. Bahasa disebut manusiawi karena bahasa menjadi fungsi selama manusia yang memanfatkannya, bukan makhluk lainnya, bahasa disebut sebagai alat komunikasi karena fungsi bahasa sebagai penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam segala kegiatannya. Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarkat terbagi atas dua unsur utama, yakni bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk merupakan bagian yang dapat diserap oleh unsur panca indra (mendengar atau membaca). Bagian ini terdiri dua unsur, yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur segmental secara hierarkis dari segmen yang paling besar sampai segmen yang paling kecil, yaitu wacana, paragraf, kalimat, frasa, kata, morfem, dan fonem. Secara universal bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran. Bahasa dapat dilihat dari sifatnya, yaitu: 1. Sistematik, artinya memiliki sistem yaitu sistem bunyi (arus ujaran) dan makna.

44

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

2. Mana suka, artinya unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar atau tidak ada hubungan logis antara bunyi (arus ujaran) dengan maknanya. 3. Ujar, artinya berbentuk ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. 4. Manusiawi, artinya bahasa berfungsi selama manusia memanfaatkannya. 5. Komunikatif, artinya bahasa sebagai penyatu keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam kegiatannya. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, maka bahasa dapat dimaknai sebagai alat komunikasi antar manusia (anggota masyarakat) berupa lambang bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kridalaksana mengartikan bahasa sebagai sebuah lambang bunyi yang arbitrer. Yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa ditekankan sebagai sistem lambang. Istilah sistem mengandung makna adanya keteraturan dan adanya unsur-unsur pembentuk, dari sudut pandang pisikologi, karena bahasa itu sebuah sistem simbol berstruktur, maka bahasa bisa dipakai sebagai alat berfikir, merenung, bahkan untuk memahami segala sesuatu. Bahasa pada fungsi komunikasi ada yang mengutamakan bahasa sebagai sistem, ada pula yang memposisikan bahasa sebagai alat. Disini ada beberapa faktor tentang bahasa: 1. Berdasarkan faktor eksternal ada tiga prinsip belajar bahasa, yaitu: a. Memberikan situasi dan materi belajar sesuai dengan respon yang diharapkan. b. Ada pengulangan belajar agar sempurna dan tahan lama. c. Ada penguatan respon belajar siswa. 2. Berdasarkan faktor internal, belajar bahasa dapat dibantu dengan berbagai media visual, audio, atau audio visual. Jenis keterampilan dan perilaku dalam bahasa secara umum keterampilan belajar bahasa meliputi: menyimak, menulis, berbicara, dan membaca. Menurut Valette dan Disk, keterampilan belajar bahasa diurutkan secara hierarkis dari yang paling sederhana kepada yang paling komplek (luas), yang dibedakan pula atas perilaku internal dan perilaku eksternal yaitu sebagai berikut: 1. Keterampilam mekanis berupa hapalan atau ingatan (perilaku internal), yaitu menghapal atau mengingat bentuk-bentuk bahasa dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Perilaku ekstrenal (produktif) siswa meniru ajaran atau tulisan. 2. Keterampilan pengenalan (metocognition) berupa mengenal kaidah kebahasaan (perilaku internal) dan perilaku ekternal adalah mengingat kaidah bahasa. 3. Keterampilan transper berupa menggunakan pengetahuan bahasa dalam situasi baru (perilaku internal). Perilaku eksternal (produktif) yaitu apikasi pengetahuan atau kaidah bahasa. 4. Keterampilan komunikasi berupa penggunaan pengetahuan atau kaidah bahasa dalam berkomunikasi. Perilaku eksternal adalah ekspresi diri baik lisan maupun tulisan.

45

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pengertian Bahasa
Oleh: Yeyen Adawiah

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian. Disini beberapa contoh bahasa dalam kalimat. 1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang. 2. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak. 3. Hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa itu. 4. Dalam kasus itu ternyata lurah dan camat tidak mempunyai bahasa yang sama. 5. Katakanlah dengan bahasa bunga! 6. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer. 7. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken. 8. Kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut. Kata bahasa pada kalimat 1 jelas menunjuk pada bahasa tertentu, menurut peristilahan de Saussure itu merupakan sebuah langue. Pada kalimat ke 2 bahasa menunjuk pada umumnya ―jadi suatu langue‖. Pada kalimat ke 3 kata bahasa berarti ―sopan santun‖, pada kalimat ke 4 bahasa berarti ―kebijakan dalam bertindak‖, pada kalimat ke 5 bahasa berarti ―maksud-maksud dengan bunga sebagai lambang‖, pada kalimat ke 6 bahasa berarti ―dengan cara‖, dan pada kalimat ke 7 bahasa berarti ―ujarannya‖ yang sama dengan parole menurut peristilahan de Saussure. Yang terakhir pada kalimat ke 8 bahasa bersifat hipotetis. Dari keterangan diatas bisa disimpulkan hanya pada kalimat satu sampai dengan tujuh bahasa itu digunakan secara harfiah, sedangkan pada kalimat lain digunakan secara kias. Yang dikaji lebih dalam dan secara langsung adalah parole, karena parole itulah yang berwujud konkret, yang nyata, yang dapat diamati, atau diobservasi. Kajian terhadap parole dilakukan untuk mendapatkan kaidah-kaidah suatu langue, dan dari kajian suatu langue ini akan diperoleh kaidah-kaidah langage, kaidah bahasa secara universal. Sekarang pertanyaannya ―Apakah bahasa itu?‖ yang tidak menonjolkan fungsi tapi menonjolkan sosok. Bahasa seperti yang dikemukakan Kridalaksana dan juga Djoko Kentjono bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber, Wardhaugh, Trager, de Saussure, dan Bolinger. Masalah lain yang berkenaan dengan pengertian bahasa adalah: bilamana sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya, dan bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Secara linguistik dua buah tuturan dianggap sebagai dua buah bahasa yang berbeda, kalau anggota dari dua anggota masyarakat tuturan itu tidak saling

46

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

mengerti. Misalnya, seorang penduduk asli dari Lereng Gunung Slamet Jawa Tengah tidak akan mengerti tuturan penduduk asli yang datang dari lereng Gunung Galunggung Jawa Barat. Karena bahasa yang digunakan sangat berbeda, baik kosakata maupun sistem fonologinya. Sebaliknya kalau penduduk Gunung Slamet tadi berjumpa dengan seorang penduduk dari tepi Bengawan Solo baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur, dia akan dengan mudah dapat berkomunikasi. Mengapa? Karena perbedaan yang terdapat diantara bahasa di Lereng Gunung Slamet dan tepi Bengawan Solo itu hanya bersifat dialektis saja. Bagaiman dengan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang keduanya berasal dari bahasa yang sama yaitu Melayu?, dan juga jelas penutur bahasa Indonesia akan dengan mudah memahami bahasa Indonesia. Apakah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia merupakan dua buah bahasa yang berbeda, atau hanya dua buah dialek dari sebuah bahasa yang sama?. Secara linguistik, bahasa Indonesia dan Malaysia sebenarnya hanya dua buah dialek yang sama yaitu Melayu. Tetapi secara politis, dewasa ini bahasa Indonesia dan Malaysia adalah duah buah bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang nasional bangsa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah bahasa nasional bangsa Malaysia. Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena ‗rumitnya‘ menentukan suatu parole bahasa atau bukan hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti barapa jumlah bahasa yang ada di dunia. Begitu pula dengan jumlah bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa juga ada kaitannya dengan persoalan makna, tetapi ketrekaitan dan keterikatannya dengan segala segi kehidupan manusia sangat erat. Padahal segi-segi kehidupan itu sendiri sangat kompleks dan luas. Sebagai alat interaksi sosial peranan bahasa besar sekali. Hampir tidak ada kegiatan manusia yang berlangsung tanpa kehadiran bahasa. Bahasa muncul dan diperlukan dalam segala kegiatan seperti pendidikan, perdagangan, keagamaan, politik, militer, dan sebagainya. Bahasa telah mempermudah dan memperlancar semua kegiatan itu dengan baik. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan masyarakat manusia ini bila tidak ada bahasa. Sepi, sunyi, dan interaksi sosial juga akan banyak mengalami hambatan. Mengapa bahasa begitu besar peranannya dalam kehidupan manusia? Karena bahasa mampu mentrasfer keinginan, gagasan kehendak, dan emosi dari seorang manusia kepada manusia lainnya. Bahasa yang wujudnya berupa bunyi-bunyi ujar dalam suatu pola bersistem tidak lain daripada lambanglambang konsep dan gagasan yang dipahami dan disepakati bersama oleh para anggota penuturnya. Dalam bahasa juga terdapat ucapan dan keluhan, itu menunjukan kepada kita bahwa sebagai alat komunikasi, penyampai ide, konsep, gagasan, dan sebagainya. Persoalan dan hambatan kebahasaan ini memang ada kemungkinan bersumber dari bahasa itu sendiri. Seperti adanya lambang-lambang bahasa yang bisa melambangkan dua konsep atau lebih, atau sebaliknya ada dua lambang atau lebih yang

47

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

melambangkan konsep yang samar dan abstrak. Tapi kiranya persoalan dan hambatan itu lebih banyak terjadi sebagai akibat dari kemampuan bahasa dan yang disebut informasi dan maksud. Disini ada beberapa pengertian bahasa menurut para ahli : 1. Menurut Keraf beliau memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa symbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan symbol vokal yang bersifat arbitrer. 2. Lain halnya menurut Owen beliau menjelaskan definisi bahasa yaitu langue can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of dose symbols (bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol yang dikehendaki dan kombinasi symbol yang diatur oleh ketentuan). 3. Pendapat diatas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan, beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang mana suka atau simbol arbitrer. 4. Menurut Santoso bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. 5. Definisi lain, bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (language may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey. 6. Menurut Wibowo bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi yang bersifat arbitrer dan konvensional yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk malahirkan perasaan dan pikiran. 7. Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija mengungkapkan definisi bahasa adalah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan, dan pendapat kepada orang lain. 8. Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin, beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan prasaan, keinginan dan perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi manusia. 9. Sementara Pengabeian bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf. 10. Pendapat terakhir tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama. Secara umunya bahasa adalah lambang. Bahasa sebagai alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang dihasilakan alat ucap.

48

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Sebagaimana kita ketahui, bahasa terdiri atas kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan pikiran atau perasaan kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut Tata Bahasa. Fungsi utama bahasa, seperti disebutkam diatas adalah sebagai alat komunikasi atau sarana untuk menyampaikan informasi. Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari alat untuk menyampaikan informasi atau mengutarakan pikiran, perasan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi: 1. Untuk tujuan praktis, mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. 2. Untuk tujuan artistik, manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetika manusia. 3. Sebagai kunci mempelajari pengetahuan lain diluar pengetahuan kebahasaan. 4. Untuk mempelajari naskah atau guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, kebudayaan, adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri. Dikatakan pula oleh ahli budaya, bahwa bahasalah yang memungkinkan kita membentuk diri sebagai makhluk bernalar, berbudaya, dan berperadaban. Dengan bahasa kita membina hubungan dan kerja sama, mengadakan transaksi, dan melaksanakan kegiatan sosial dengan peran dan bidang masing-masing. Dengan bahasa kita mewarisi kekayaan masa lampau, dan merencanakan masa depan. Jika dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan informasi itu benar. Kita ambil contoh mahasiswa. Ia membutuhkan informasi yang berkaitan dengan bidang studinya agar lulus dalam setiap ujian dan sukses meraih gelar dan mencapai apa yang diinginkannya.

49

Pengertian Bahasa

kumpulanartikelteoribelaj arbahasakumpulanartikel teoribelajarbahasakumpu Kumpulan Artikel PENGERTIAN BAHASA "Teori Belajar lanartikelteoribelajarbaha Bahasa" sakumpulanartikelteoribe lajarbahasakumpulanarti kelteoribelajarbahasakum pulanartikelteoribelajarb ahasakumpulanartikelteo ribelajarbahasakumpulan artikelteoribelajarbahasa kumpulanartikelteoribelaj
Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
2010

50

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Beberapa Tokoh yang Mengungkapkan Teori-teori Bahasa
Oleh: Adeng Farlan S

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata bahasa, sedangkan kita tidak mengetahui apa pengertian dari bahasa itu sendiri, apa itu bahasa?. Untuk menjawab pertanyaan itu, di sini ada beberapa tokoh yang mengungkapkan mengenai teori-teori bahasa. Teori Belajar Menurut Thorndike Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan (Slavin, 2000). Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon. Teori Belajar Menurut Watson Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Teori Belajar Menurut Clark Hull Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi <span>Charles Darwin</span><span>.</span> Bagi Hull, seperti halnya teori

51

Pengertian Bahasa Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991). Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pembelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991). Teori Belajar Menurut Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut.

52

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya. Teori menurut anthony Menurut Anthony ( 1963 ),ada tiga teori untuk belajar bahasa;

1. Approach yang artinya pendekatan Approach adalah seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakikat 2. Method
bahasa, belajar, dan mengajar.

3. Technique Technique adalah kegiatan-kegiatan khusus yang diwujudkan di dalam kelas
yang konsisten dengan metode dan olehnya itu juga sejalan dengan pendekatan.

Method adalah suatu rencana – rencana menyeluruh mengenai penyajian bahasa yang sistematis.

Menurut Richard dan Rodger Menurut Richard dan Rodger (1982,1986), mereka mengajukan hasil kajiannya yang merumuskan kembali konsep metode. Istilah Anthony approach, method, dan technique dilabel menjadi approach, design, dan procedur secara berturut-turut dengan payung istilah method yang menjelaskan proses tiga langkah ini. Menurut Richard dan Rodge metode adalah istilah yang memayungi spesifikasi dan hubungan antara teori dan praktik. Approach adalah asumsi, keyakinan, dan belajar bahasa. Procedural merupakan teknik dan praktik yang diturunkan dari approach dan design.

53

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Teori Menurut Richard,dkk. Untuk belajar bahasa bahasa itu harus memberikan batasan mengenai metedologi pengajaran bahasa sebagai kajian praktik dan prosedur yang digunakan dalam pengajaran dan prinsip-prinsip dan keyakinan yang melandasinya . Metedologi meliputi; 1. Kajian tentang hakikat keterampilan berbahasa (yaitu listening, reading, dan writing) dan prosedurnya. 2. Kajian tentang rencana pembelajaran, materi ajar, buku teks untuk pengajaran, dan keteranpilan berbahasa. 3. Evaluasi dan perbandingan netode pengajaran bahasa (misalnya Audiolingual method).

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Tokoh-tokoh yang Mengungkapkan Teori-teori Bahasa
Oleh: Cecep Setia N

a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem

konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan). Anthony Menjurut Anthony (1963) berhubungan dengan teori belajar bahasa maka dia melahirkan beberapa istilah, yaitu; approach (pendekatan), method (metode),

54

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Seringkali kita dengar kata bahasa, apa itu bahasa? tapi secara umum kita tidak mengetahui apa pengertian dari bahasa itu sendiri dan juga beberapa tokoh yang mengungkapkan teori-teori tentang bahasa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknnya jika kita memperhatikan beberapa pengertian bahasa, dari beberapa istilah linguistik, dan menyimak aneka pendapat para ahli dari latar belakang yang berbeda. Dalam kamus umum, dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sedikit menyinggung, bahwa bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Dari sini makna dapat diketahui beberapa persamaan yang jelas bahwa bahasa ditempatkan sebagai alat komunikasi antar manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi baik yang berupa suara, gestur (sikap badan), atau tanda-tanda berupa tulisan. Pada dasaranya kata bahasa dalam bahasa indonesia memiliki lebih dari satu pengertian atau makna, sehingga seringkali membingungkan. Begitu pula tokoh-tokoh yang ikut mengungkapkan teori-teori bahasa. Pada dasarnya mereka yang mengungkapkan teori kebahasaan tersebut pasti tak jarang pendapat merka ada yang saling bertentangan, namun banyak juga yang saling melengkapi dan mendukung. Sehingga pemikiran para ahli mengenai bahasa tersebut menarik sekali untuk dikaji. Di bawah ini beberapa tokoh/para ahli yang mengutarakan teori tentang bahasa, yaitu:  Keraf Keraf (2005:1), memberikan dua teori pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi dan bersosialisasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.  Owen Owen (2006:1), menjelaskan bahwa bahasa yaitu language can be defined as

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan berdasarkan pendekatan dan metode yang telah direncanakan dan disusun.  Santoso Menurut Santoso (1990:1), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.  Wibowo Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.  Walija Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. Bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama. Bahasa sering kali oleh para tokoh ataupun ahli ditekankan sebagai sebuah sistem lambang. Istilah sistem mengandung makna adanya keteraturan dan adanya unsur-unsur pembentuk.  Jalaludin Rakhmat Menurut Jalaludin Rakhmat (1992:269), seorang pakar komunikasi, melihat bahasa dari dua sisi yaitu sisi formal dan fungsional. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dibuat menurut tatabahasa. Sedangkan secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Istilah sisi formal yang dikemukakan Rakhmat mirip dengan istilah sistem, sedangkan sisi fungsional sejalan dengan bahasa sebagai alat komunikasi. Dari sudut pandang psikologi, karena bahasa itu sebuah sistem simbol terstruktur, maka bahasa bisa dipakai sebagai alat berpikir, merenung, bahkan untuk memahami segala sesuatu. Kita lihat pendapat tentang para ahli di atas, melihat bahasa yaitu sebuah sistem yang tersusun secara sistematis dari lambang-lambang dan simbol-simbol. Sesungguhnya perbedaan pendapat tentang teori tidak dijadikan sebuah permasalahan namun dijadikan jalur untuk saling mendukung dan melengkapi satu sama lainnya. Dengan melihat deretan teori dari para ahli juga definisi tentang bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa cukup banyak dan bervariasi definisi tentang bahasa yang bisa kita temui. Variasi itu wajar terjadi karena sudut pandang keilmuan mereka yang juga berbeda. Meskipun demikian, variasi tersebut terletak pada penekanannya saja, akan tetapi hakikatnya sama. Ada yang menekankan bahasa pada fungsi komunikasi, ada yang mengutamakan bahasa sebagai sistem, ada pula yang

technicue (teknik). Berhubungan dengan approach ini, yaitu sebuah pendekatan yang berhubungan dengan belajar dan mengajar bahasa. Method tata awal yang di kaitkan sebagai cara untuk menyajian bahasa sesuai dengan pendekatan. Teknik

55

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

memposisikan bahasa sebagai alat. Meskipun demikian, ada persamaan dalam hal-hal prinsip, yang oleh Alwasilah (1993: 82-89) disebut dengan hakikat bahasa, sebagaimana bahasa yang di ucapkan manusia tercermin dalam gejala kejiwaannya. Telah kita ketahui bahwa bila kita mendengar orang yang berbicara, sebenarnya kita mendengar bunyi bahasa. Bunyi bahasa tersebut ada yang kita pahami dan ada yang tidak dipahami. Bila dimengerti berarti bunyi bahasa yang kita dengar, satu sistem dengan bahasa kita, dan bila tidak dimengerti berarti berbeda sistem. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu untuk mengungkapkan ide dan gagasan terhadap orang lain. Syarat terjadinya suatu komuinikasi yang baik yaitu antara pembicara, lingkungan dan pendengar sehingga ini merupakan sebuah proses bahasa. Sebagaimana di lihat pada teori pembelajaran bahasa, bahwa bahasa dibagi ke dalam empat kunci pembelajaran, yaitu: bahasa, belajar, mengajar bahasa, dan konteks. Apabila ke empat teori pembelajaran bahasa tersebut tidak terealisasikan dengan baik, maka akan terjadi mati konsep kunci pembelajaran bahasa. Selain itu diketahui pula beberapa teori yang memandang hakikat bahasa, bahwa bahasa itu bersifat lisan yang telah tertata dalam sistem yang di pandang dan di dengar. Dengan ini dapat diketahui kita belajar menggunakan symbol dengan cara kumulatif, yaitu dalam mendengar (menyimak) dan berbicara, serta membaca dan menulis. Oleh karena itu, program pembelajaran bahasa dimulai dengan kegiatan komunikasi lisan. Setelah terkuasainya kemampuan berbahasa tersebut dengan baik maka dapat dengan mudah melakukan pembelajaaran bahasa. Setelah kita ketahui hakikat dari pembelajaran bahasa, bahwa bahasa itu mencerminkan suasana jiwa si petuturnya. Selain itu juga, dari bahasa tercermin sebuah ciri suatu daerah tertentu yang membedakan dengan daerah lain baik dari segi linguistik, tingkatan budaya juga pengaruh dari berbagai macam dialek bahasa daerah tersebut. Selain itu juga, setiap bahasa memiliki hubungan terstruktural baik antara kata, urutan kata, kalimat yang dipelajari dari pengalaman dan kajian. Jadi pembelajaran bahasa itu meliputi pembangunan sebuah kalimat dan paragraf sehingga secara bertahap dapat diketahui peristilahhan dan prinsip tata bahasa. Pada dasarnya para ahli atau tokoh-tokoh yang mengungkapkan teori-teori tentang bahasa memiliki konsepsi dan juga pemikiran yang hampir sama. bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. Ada anggapan yang menyatakan bahwa dari sebuah perbedaaan tidak akan muncul sebuah pemikiran yang positif dan selanjutnya akan menimbulkan beberapa konflik, yang jelas dari sebuah perbedaan yang mengutamakannya cara berpikir justru kita akan dapat sebuah informasi pengertian yang beragam sehingga dapat saling mendukung dan melengkapi satu sama lainnya.

56

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Tokoh Teori Belajar Bahasa
Oleh: Damayanti

Ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yaitu manusia dapat berpikir dan berbahasa. Salah satu objek pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Para ahli banyak yang mengutarakan pendapatnya mengenai belajar dan bahasa. Tak jarang pendapat mereka ada yang saling bertentangan namun banyak juga yang saling mendukung dan melengkapi. Beberapa tokoh yang mengungkapkannya adalah : 1. Nietzsche Menurut Nietzsche, bahasa yang hanyalah merupakan simbol-simbol, adalah alat untuk menginformasikan sebuah kenyataan. Secara tidak langsung, maka bahasa memuat realitas. 2. Gorys Keraf Sebagai alat komunikasi bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Bahasa mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol, bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa merupakan sistem komunikasi yang menggunakan simbol-simbol vocal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. 3. Puji Santoso Bahasa secara universal merupakan suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran. Ujaran inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan ujaran ini pula, manusia mengungkapkan hal yang nyata atau tidak, yang berwujud maupun kasat mata, situasi dan kondisi yang lampau, kini, maupun yang akan datang. Ujaran manusia itu menjadi bahasa, apabila dua orang manusia atau lebih menetapkan bahwa seperangkat bunyi itu memiliki arti yang serupa. 4. Canale Bahasa adalah suatu bentuk interaksi sosial dan oleh karena itu secara normal diperoleh dan digunakan dalam interaksi sosial. 5. Richards & Rodgers Bahasa adalah suatu sistem pengungkapan gagasan. Fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi. 6. Plato Bahasa adalah physei (mirip realitas). 7. Aristoteles

57

Pengertian Bahasa Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi (sound symbolism). 8. Thorndike Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. 9. Watson Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. 10. Clark Hull Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. 11. Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Hubungan dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. 12. Skinner Konsep-konsep yang dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, sehingga stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi yang nantinya mempengaruhi munculnya prilaku. 13. Arhtur Combs Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pembelajarannya disusun dan

58

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

19. Mackey

59

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

disajikan sebagaimana mestinya. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa individu untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupan. 14. Abraham Maslow Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa didalam diri individu ada dua hal : a. Suatu usaha yang positif untuk berkembang b. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan tersebut Pada diri masing-masing, orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti takut untuk berusaha dan berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju kearah keutuhan, keunikan diri, kearah berfungsinya semua kemampuan, kearah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self). 15. Carl Rogers Rogers membedakan dua tife belajar yaitu :  Kognitif (kebermaknaan)  Experiential (pengalaman) Menurut Rogers yang penting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsif pendidikan dan pembelajaran, yaitu :  Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.  Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.  Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.  Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses. 16. Owen Menurut Owen bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan. 17. Tarigan Tarigan memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. 18. Santoso Menurut Santoso, bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistemsistem suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. 20. Wibowo Menurut Wibowo, bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. 21. Walija Walija mengungkapkan definisi bahasa adalah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. 22. Syamsuddin Syamsuddin memberikan dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatanperbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. 23. Pangabean Pangabean berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf. 24. Soejono Bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.

60

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Tokoh-tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa
Oleh: Didiet Supriadi

Tokoh-tokoh yang mengungkapkan teori bahasa dengan pendapat yang berbeda-beda isinya. Sebelum mengetahui tokoh-tokoh tersebut kita harus tau dulu apa itu bahasa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia. Selain itu Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang berisi dua bagian yaitu signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Keduanya merupakan wujud yang tidak terpisahkan, bila salah satu berubah maka yang lainnya juga berubah. Dan bahasa juga dapat dibedakan antara bahasa sebagai sistem yang terdapat dalam akal budi pemakai bahasa dari suatu kelompok sosial (langue) dengan bahasa sebagai manifestasi setiap penuturnya (parole). Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani. Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ; 1. Tata bahasa tradisioanal Pada zaman Yunani terdapat beberapa filsuf, para filsuf tersebut sependapat bahwa bahasa adalah sistem tanda. Dimana manusia hidup dalam tandatanda yang mencakup segala segi kehidupan manusia, misalnya kedokteran, geografi, dan sebagainya. Bahkan ada dua filsuf besar yang pemikirannya terus berpengaruh sampai saat ini, dia adalah Aristoteles dan Plato. Plato berpendapat bahwa bahasa adalah physei atau mirip realitas. Sedangkan Aristoteles berpendapat sebaliknya yaitu bahwa bahasa adalah thesei atau tidak mirip realitas kecuali onomatope dan lambang bunyi. Perbedaan pendapat ini juga menambah ke masalah keteraturan (regular) atau ketidakteraturan (irregular) dalam bahasa. Kelompok penganut pendapat adanya keteraturan bahasa adalah kaum analogis yang pandangannya tidak berbeda dengan kaum naturalis, sedangkan kaum anomalis yang berpendapat adanya ketidakteraturan dalam bahasa mewarisi pandangan kaum konvensionalis. Pandangan kaum anomalis mempengaruhi pengikut aliran Stoic. Kaum Stoic lebih tertarik pada masalah asal mula bahasa secara filosofis. Mereka membedakan adanya empat jenis kelas kata, yakni nomina, verba, konjungsi dan artikel. Studi bahasa dikembangkan di kota Alexandria yang merupakan koloni Yunani. Di kota itu dibangun perpustakaan besar yang menjadi pusat penelitian bahasa dan kesusastraan. Para ahli dari kota itu yang disebut kaum Alexandrian meneruskan pekerjaan kaum Stoic, walaupun mereka sebenarnya termasuk kaum analogis. Apa yang dewasa ini disebut "tata bahasa tradisional" atau "tata bahasa Yunani" , penamaan itu tidak lain didasarkan pada hasil karya kaum Alexandrian ini. Salah seorang ahli bahasa bemama Dionysius Thrax (akhir abad 2 SM) merupakan orang pertama yang berhasil membuat aturan tata bahasa secara sistematis serta

61

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

menambahkan kelas kata adverbia, partisipel, pronomina dan preposisi terhadap empat kelas kata yang sudah dibuat oleh kaum Stoic. Di samping itu sarjana ini juga berhasil mengklasifikasikan kata-kata bahasa Yunani menurut kasus, jender, jumlah, kala, diatesis (voice) dan modus. Minat meneliti bahasa-bahasa di Eropa sebenarnya sudah dimulai sebelum zaman Renaisans, antara lain dengan ditulisnya tata bahasa Irlandia, tata bahasa Eslandia, dan sebagainya. Pada masa itu bahasa menjadi sarana dalam kesusastraan, dan bila menjadi objek penelitian di universitas tetap dalam kerangka tradisional. Tata bahasa dianggap sebagai seni berbicara dan menulis dengan benar. Tugas utama tata bahasa adalah memberi petunjuk tentang pemakaian "bahasa yang baik", yaitu bahasa kaum terpelajar. Petunjuk pemakaian "bahasa yang baik" ini adalah untuk menghindarkan terjadinya pemakaian unsur-unsur yang dapat "merusak" bahasa seperti kata serapan, ragam percakapan, dan sebagainya. 2. Linguistik Modern Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia. Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif. Seorang ahli linguistik Amerika bemama William Dwight Whitney (1827-1894) menulis sejumlah buku mengenai bahasa, antara lain Language and the Study of Language (1867). Tokoh linguistik lain yang juga ahli antropologi adalah Franz Boas (18581942). Sarjana ini mendapat pendidikan di Jerman, tetapi menghabiskan waktu mengajar di negaranya sendiri. Karyanya berupa buku Handbook of American Indian languages (1911-1922) ditulis bersama sejumlah koleganya. Di dalam buku tersebut terdapat uraian tentang fonetik, kategori makna dan proses gramatikal yang digunakan untuk mengungkapkan makna. Pengikut Boas yang berpendidikan Amerika, Edward Sapir (1884-1939), juga seorang ahli antropologi dinilai menghasilkan karyakarya yang sangat cemerlang di bidang fonologi. Bukunya, Language (1921) sebagian besar mengenai tipologi bahasa. Sumbangan Sapir yang patut dicatat adalah mengenai klasifikasi bahasa-bahasa Indian.

62

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem. Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky. Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957), yang kemudian disebut classical theory. Dan dibawah ini adalah tokoh-tokoh yang mengungkapakan teori bahasa; Saussure yang berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang arbitrer digunakan dalam memecahkan masalah-masalah linguistik. Tercatat beberapa nama ahli linguistik seperti Bloomfield dan Chomsky yang dalam pemikirannya menunjukkan pengaruh Saussure dan paradigma Aristoteles. Haugen mengemukakan konsep yang berbeda tentang pengertian bilingualisme. Yang terpenting menurut Haugen adalah pemahaman terhadap bahasa kedua yang digunakan olehnya itu. Contoh sederhana dapat disebutkan sebagai berikut. Seseorang, selain menguasai bahasa Aceh sebagai bahasa pertamanya, ia juga menguasai bahasa Inggris. Akan tetapi, bahasa Inggris yang dikuasai olehnya tidak dapat dia gunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, berdasarkan pendapat Haugen tentang pengertian bilingualisme, orang yang seperti ini disebut bilingual. Tokoh bahasa yang satu ini bukan main pengaruhnya dalam ilmu Linguistik. Sampai-sampai, karena kebetulan ia adalah seorang laki-laki, ia dijuluki Bapak Linguistik Modern. Ferdinand de Saussure lahir di Jenewa, Swiss, pada tanggal 26 November 1857. Ia adalah seorang keturunan Prancis. Saussure mulai menampakkan tajinya di usia 21 tahun. Lewat sebuah karya-tulis berjudul (coba ucapkan dalam satu tarikan nafas) Mémoire Sur le système primitive des voyelles das les langues indoeuropéennes. Saussure mematahkan anggapan salah-kaprah para cendikiawan bahasa kala itu: bahwa bahasa-bahasa Proto-Indo-Eropa (bahasa induk rumpun bahasa Eropa, India, dan Asia Barat Daya) hanya memiliki tiga huruf hidup. Kalau Profesor Higgins, seorang ahli Fonetik yang merupakan tokoh rekaan George Bernard Shaw dalam drama berbau linguistiknya Pygmalion, mampu mengenali ratusan bunyi vokal lewat mesin suara, Saussure muda, yang kebanyakan pemikirannya tidak dilandasi oleh penelitian besar dan luas dan tanpa bantuan alat-alat canggih untuk mempelajari bunyi-bunyi bahasa, telah menemukan bahwa jumlah huruf hidup di bahasa ProtoIndo-Eropa tidak tiga. Saussure bilang: LIMA! Bahasa, menurut Saussure, adalah sistem tanda. Dan ‗apa pun yang menyatakan sesuatu yang lain dari dirinya sendiri‘ adalah tanda. Saussure adalah cendikiawan bahasa yang revolusioner. Di masanya, cendikiawan bahasa lain terkukung oleh ketertarikan mereka sendiri: kajian historis bahasa tentang asal-usul, perkembangan, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahasa.

63

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Stephen Krashen (1984) menyatakan bahwa teori pemerolehan bahasa kedua adalah bagian dari linguistik teoritik karena sifatnya yang abstrak. Menurutnya, dalam pengajaran bahasa kedua, yang praktis adalah teori pemerolehan bahasa yang baik. Harimurti Kridalaksana (1993:21) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

64

Pengertian Bahasa Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Tokoh yang Mengungkapkan tentang Teori Bahasa
Oleh: Lasty Fatra

Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki manusia hanyalah bahasa, karena bahasa merupakan sebuah sistem, yang dimana dapat diartikan bahwa bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Atau bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat untuk berkomunikasi, kerja sama, dan identifikasi diri. Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa juga memiliki beberapa fungsi. Seperti fungsi-fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut pandang, dari segi pendengar, dari segi topik, dari segi kode, dan dapat dilihat dari segi pembicaraan. Oleh karena itu, ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yaitu manusia dapat berpikir dan berbahasa. Dengan bahasalah manusia: mengkodifikasikan , mencatat, dan menyimpan berbagai hasil pengalaman pengamatannya berupa kesan dan tanggapan (persepsi), informasi fakta dan data, konsep atau pengertian, dalil atau kaidah atau hukum, sampai kepada bentuk ilmu pengetahuan dan sistem-sistem nilai. Mentransformasikan dan mengolah berbagai bentuk informasi tersebut melalui proses berpikir dan dengan mempergunakan kaidah-kaidah logika (direfensiasi, asosiasi, proporsi, atau komparasi, kausalitas, prediksi, konklusi, generalisasi, interpretasi dan inferensi) dalam rangka pemecahan masalah dan mencari, mengekspresikan, serta menemukan hal-hal baru. Mengkoordinasikan dan mengekspresikan cita-cita, sikap, penilaian, dan penghayatan (etis, estetis ekonomis, sosial, politik, religius dan cultural). Mengkomunikasikan (menyimpan dan menerima) berbagai informasi, buah pikiran, opini, sikap, penilaian, aspirasi, kehendak, dan rencana kepada orang lain. Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat ditarik beberapa pandangan tentang hakikat bahasa; Bahasa bersifat lisan, atau tulisan dengan mempergunakan tanda, huruf, bilangan, bunyi, sinar atau cahaya yang dapat merupakan kata-kata atau kalimat. Mungkin pula berbentuk gambar atau lukisan, gerak-gerik, dan mimik serta bentuk-bentuk simbol ekspresif lainnya. Oleh karena itu, program pembelajaran bahasa di mulai dengan kegiatan komunikasi lisan, karena setelah anak menguasai ketarampilan dalam aspek mendengar dan berbicara, barulah instruktur memulai kegiatan komunikasi lain, sehingga bahasa mencerminkan lingkungan sosial tempat yang ditinggali anak, baik dari segi linguistik maupun tingkatan budaya serta pengaruh berbagai macam dialek dan geografis. Bahasa juga mengalami proses perubahan yang tetap, seperti pembentukan kata baru untuk memenuhi tuntutan komunikasi, tekanan sosial yang mengakibatkan perubahan terhadap keberterimaan

65

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

item pemakaian khusus dan kontruksi bahasa. Oleh karena itu, program pembelajaran harus mencakup pembelajaran penggunaan bahasa dan struktur bahasa baku melalui pengalaman dalam percakapan, diskusi, laporan, wawancara, dan karangan, sehingga dalam pembelajaran itu meliputi kontruksi kalimat dan paragraf, dan secara bertahap memperkenalkan prinsip serta terminologi tata bahasa. Prinsip pembelajaran (belajar dan mengajar) bahasa itu, meliputi; prinsip kognitif, prinsip motivasi intrinsik, prinsip afektif dan prinsip linguistik. Prinsip linguistik ini, mencakup tentang: Efek bahasa ibu, antarbahasa, dan kompetensi komunikatif. Berdasarkan tahap pemerolehannya dapat dibedakan adanya bahasa pertama/bahasa ibu, bahasa kedua, dan bahasa asing. Bahasa ibu lazim juga disebut bahasa pertama (disingkat B1) karena bahasa itulah yang pertama-tama dipelajarinya. Bahasa kedua, bahasa ini lazimnya disebut bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu. Disebut bahasa kedua (B2). Khusus dalam konteks bahasa kedua (B2), keberhasilan seorang pelajar dibiasakan terhadap lingkungan budaya yang baru akan mempengaruhi keberhasilan pemerolehan bahasanya, begitu pula sebaliknya, karena dalam mengajarkan suatu bahasa juga mengajarkan sistem budaya yang rumit, tatakrama, nilai dan cara berpikir, merasa, dan bertindak. Bahasa asing, lazimnya bahasa ini disebut dengan bahasa ketiga (B3), karena bahasa inilah yang mempelajari bahasa selain bahasa ibu dan bahasa kedua. Para ahli berpendapat bahwa pembentukan bahasa pada anak-anak sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor latihan dan motivasi (kemauan) untuk belajar dengan melalui proses conditioning dan reinforcement (Lefrancois, 1975). Meskipun isi dan jenis bahasa yang dipelajari manusia itu berbeda-beda, namun terdapat pola urutan perkembangan yang bersifat universal dalam proses perkembangan bahasa itu, ialah mulai dengan meraba, lalu bicara monolog (pada dirinya atau benda mainannya), harus nama-nama, kemudian gemar bertanya (apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya) yang tidak selalu harus dijawab); membuat kalimat sederhana, dan bahasa ekspresif (dengan belajar menulis, membaca, dan menggambar permulaan). Tetapi dalam perkembangan bahasa di kalangan masyarakat sungguh sangat memprihatinkan karena banyak pengguna bahasa Indonesia yang tidak baku kadang sukar dimengerti oleh sebagian orang banyak penggunaan bahasa asing dikalangan masyarakat. Kadang orang salah menafsirkan bahasa yang baik dan benar yang menurut EYD, atau penulisan bahasa yang disingkat. Di dalam kehidupannya bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, tampaknya bahasa itulah yang merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain. Jadi, teori pembelajaran (mengajar dan belajar) bahasa pada umumnya didasarkan pada empat konsep; bahasa, belajar, mengajar bahasa, dan konteks. Dimana: suatu pembelajaran bahasa membutuhkan suatu konsep tentang hakikat bahasa, pembelajaran bahasa juga membutuhkan pandangan dan wawasan tentang pelajar dan hakikat belajar bahasa, pembelajaran bahasa mengimplikasikan

66

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

pandangan tentang pengajar bahasa dan pengajaran bahasa, serta pembelajaran bahasa juga terjadi pada konteks tertentu. Dewasa ini, banyak para ahli yang mengutarakan pendapatnya tentang teoriteori belajar bahasa. Menurut Mc Lauglin fungsi teori adalah untuk membantu kita menjadi mengerti serta mengorganisasi data tentang pengalaman dan memberikan makna yang merujuk dan sesuai. Menurut Ellis setiap guru pasti memiliki teori tentang pembelajaran bahasa, tetapi sebagian besar guru tidak pernah mengungkapkan seperti apa teori itu. Hamalik mengatakan bahwa ada beberapa prinsip dalam belajar; belajar dapat dilakukan dengan sengaja, belajar harus direncanakan terlebih dahulu sesuai dengan struktur tertentu, guru menciptakan pembelajaran untuk siswa, memberikan hasil tertentu untuk siswa, hasil-hasil yang dicapai dapat dikontrol dengan cermat, serta dalam sistem penilaian dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. (1985:177) Richards, dkk. mengatakan bahwa metode dalam pengajaran bahasa adalah cara mengajarkan suatu bahasa yang didasarkan pada prinsip dan prosedur yang sistematis, yakni penerapan pandangan tentang cara bahasa diajarkan dan dipelajari. Menurut Richards dan Rodgers (1982:154), bahwa metode adalah istilah yang memayungi spesifikasi dan hubungan antara teori dan praktik. Anthony inilah yang melahirkan istilah approach (pendekatan), method (metode), dan technique (teknik). Pendekatan dalam pengertian ini adalah suatu cara yang dianggap terbaik untuk mencapai sesuatu. Atau seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakikat bahasa, belajar, dan mengajar. Hakikat bahasa itu sendiri berkaitan dengan dengan pengajaran bahasa menurut aliran linguistik strukturalisme: Language is speech, not writing. A language

Canale (1987) memberikan karakteristik komunikasi melalui bahasa berikut ini: Bahasa adalah suatu bentuk interaksi sosial dan oleh karena itu secara normal diperoleh dan digunakan dalam interaksi sosial, juga bahasa melibatkan tingkat ketidakteramalan dan kreativitas yang tinggi dalam bentuk dan pesan, dan berlangsung dalam diskors dan konteks sosial budaya yang memberikan batasan tentang penggunaan bahasa yang baik dan sesuai dan sebagai penanda untuk mengoreksi interpretasi ungkapan, serta bahasa itu juga yang selalu memiliki tujuan yang melibatkan bahasa otentik dan dipertentangkan dengan bahasa yang dibuat seperti buku teks. Richards dan Rodgers (1989) menemukan butir-butir penting yang merupakan teori yang melandasi pengajaran bahasa. Nunan (1991:279) menawarkan 5 ciri khas utama pembelajaran bahasa komunikatif, yaitu: penekanan pada pembelajaran untuk berkomunikasi melalui

67

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

is what its native speakers say, not what someone thinks they ought to say. Languages are different. A language is a set of habitTeach the language, not about the language.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

interaksi dalam bahasa sasaran, pengenalan teks otentik dalam situasi pembelajaran, pemberiaan kesempatan bagi pelajar untuk berfokus bukan saja pada bahasa tetapi juga pada proses belajar itu sendiri, peningkatan pengalaman pribadi pelajar sendiri sebagai unsur yang memberikan sumbangan terhadap hasil belajar di kelas, dan upaya menghubungkan pembelajaran bahasa di kelas dengan pengaktifan bahasa di luar kelas. Keraf (dalam Smarapradhipa 2005:1) memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut Owen dalam Stiawan (2006:1) definisi bahasa yaitu

language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode

68

Pengertian Bahasa Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa

yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan). Pendapat di atas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer. Menurut Santoso (1990:1) bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey (1986:12). Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4) mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Teori Bahasa Menurut Para Tokoh
Oleh: Siti Haulah

Bahasa merupakan sarana berpikir atau untuk mengungkapkan buah pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu pasti akan menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikirannya atau menggunakan bahasa untuk merangkaikan pikiran di dalam otaknya. Manusia dapat berpikir dengan baik karena manusia memiliki bahasa. Bahasa merupakan sarana berpikir yang pertama dan mungkin yang utama. Bahkan keunikan bahasa manusia sebetulnya bukan terletak pada kemampuannya berbahasa. Akan tetapi, sebagai sarana komunikasi ilmiah bahasa memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan ini disebabkan oleh sifat bahasa yang multifungsi (Jujun S. Suriasumantri, 1981). Dalam komunikasi ilmiah itu pada hakikatnya bersifat objektif, bahasa sebagai sarana yang harus bebas dari aspek emotif dan afektif, atau dalam pemakaiannya harus menekankan hal-hal tersebut seminimal mungkin. Dalam kenyataannya syarat ini sulit dipenuhi karena pada hakikatnya kekurangan bahasa itu bersumber pada manusia yang tidak terlepas dari unsur emotif dan afektif (Sabarti Akhaidah, 1983). Dari kedua pendapat ini, maksudnya yaitu mengenai ―Bahasa sebagai sarana komunnikasi‖. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu untuk mengungkapkan ide dan gagasan terhadap orang lain. Dalam berkomunikasi sebenarnya melalui suatu proses yang disebut proses bahasa. Proses bahasa tersebut terjadi pada pembicara, lingkungan dan pendengar. Moulton (1976) mengemukakan bahwa terdapat 11 tahapan proses bahasa dari pembicara sampai pendengar pada saat berkomunikasi, yaitu; (1) membuat kode semantik, (2) membuat kode gramatikal, (3) membuat kode fonologis, (4) perintah otak, (5) gerakan alat ucap, (6) bunyi yang berupa getaran, (7) perubahan getaran melalui telinga pendengar, (8) getaran diteruskan ke otak, (9) pemecahan kode fonologis, (10) pemecahan kode gramatikal, (11) pemecahan kode semantis. Dari 11 proses tersebut, hanya no 5 dan 6 yang dapat diamati secara empiris. Tahap lain tidak dapat diamati karena berlangsung dalam jatidiri pembicara dan pendengar yang berlangsung sangat cepat, otomatis dan sempurna. Hal itu ditunjukkan dengan keluarnya bunyi bahasa yang teratur dan adanya respon dari pendengar yang terjadi berulang sampai dengan tujuan berkomunikasi tersebut tercapai. Berdasarkan ilmu linguistik, kata bahasa dalam bahasa Indonesia, memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga sering kali membingungkan. Karena itu tidak mengherankan kalau banyak juga pakar yang membuat definisi tentang bahasa dengan pertama-tama menonjolkan segi fungsinya itu, seperti Sapir (1221:8), Badudu (1989:3) dan Keraf (1984:16). Kridalaksana (1983) dan juga Djoko Kentjono (1982), mengemukakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi

69

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber (1964:21), Wardhaugh (1977:3), Trager (1949:18), de Saussure (1966:16), dan Bolinger (1975:15). Masalah lain yang berkenaan definisi bahasa adalah: bilamana sebuah tuturan disebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainnya; dan bilamana hanya dianggap sebagai varian dari suatu bahasa. Oleh karena itu, meskipun bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa, tetapi karena ―rumitnya‖ menentukan suatu parole bahasa atau bukan, hanya dialek saja dari bahasa yang lain, maka hingga kini belum pernah ada angka yang pasti berapa jumlah bahasa yang ada di dunia ini (Criystal:1988:284). Mengenai bahasa dari beberapa pakar, kalau dibutiri akan didapatkan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Sifat atau ciri itu, antara lain adalah; (1) bahasa itu adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Ciri atau sifat ini diantaranya dikemukakan oleh Charles Sanders Peirce dari Amerika, Ferdinand de Saussure (1966:67) dari Eropa, Kridalaksana (1983:27), Bolinger (1975:22), dan Kari Von Frisch (Fromkin 1974/Akmajian 1979). Sedangkan bahasa dalam sosiolinguistik adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh ssejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sifat bahasa itu produktif (Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Purwadarminta), dinamis, beragam dan manusiawi. Telah dikemukakan oleh Fishman (1972) bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah ―who speak what language to whom, when and to what end‖. Oleh karena itu, fungsi-fungsi bahasa antara lain dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni; (1) Setting and Scene, (2) Participants, (3) Ends, (4) Act sequences, (5) Key, (6) Instrumentalities, (7)Norms, dan (8) Genres. Dalam Webster s New Collegiale Dictionary (1981:225) dikatakan bahwa, komunikasi adalah proses pertukaran informasi antarindividual melalui sistem simbol, tanda atau tingkah laku yang umum. Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan nonlinguistik atau paralinguistik. Ada tiga pakar, yaitu Hockett, Mc Neill dan Chomsky yang tertarik terhadap keistimewaan bahasa sebagai alat komunikasi manusia dibandingkan dengan alat-alat komunikasi yang ada pada dunia hewan. Bila disarikan dari Hockett dan Mc Neill setidaknya ada delapan butir ciri khusus yang membedakan sistem komunikasi bahasa dari sistem komunikasi makhluk lainnya. Kedelapan ciri itu adalah sebagai

70

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

71

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

berikut; (1) bahasa itu menggunakan jalur vokal auditif, (2) bahasa dapat tersiar ke segala arah, (3) lambang bunyi bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah diucapkan, (4) partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi, (5) bahasa bersifat terbuka, (6) bahasa dapat dipelajari, (7) bahasa dapat digunakan untuk menyatakan yang benar dan yang tidak benar atau tidak bermakna secara logika, (8) bahasa memiliki dua subsistem, yaitu subsistem bunyi dan makna. Sedangkan hubungan yang terdapat diantara bahasa dengan masyarakat, adalah adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Hubungan antara bahasa dengan tingkatan sosial di dalam masyarakat, dapat dilihat dari dua segi; (1) dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan (2) dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Itulah sekelumit mengenai teori bahasa dari para tokoh yang dapat kita pelajari dan dapat juga sebagai bahan perbandingan untuk mempelajari bahasa. Teori-teori tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut: Bahasa bersifat lisan yang telah tertata dalam sistem simbol pandang dan dengar. Bahasa mencerminkan lingkungan social tempat, baik dari segi linguistik maupun tingkatan budaya serta pengaruh berbagai macam dialek dan geografis. Bahasa mengalami proses perubahan yang tetap. Setiap bahasa memiliki struktur sendiri. Bahasa merupakan suatu bentuk prilaku, perlambang konsep diri dan sikap sosial seseorang yang menyimbolkan pikiran, keinginan, dan kepercayaan. Bahasa merupakan media pengembangan dan pertukaran gagasan. Bahasa diajarkan untuk mencerminkan penggunaan dan struktur kontemporer, alphabet, tulisan, kata dan ejaannya. Bahasa merupakan alat kekuasaan dan kekuatan sosial yang mempengaruhi kepercayaan, sikap dan tingkah laku.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Teori-teori Bahasa sebagai Kontekstual Pembelajaran Bahasa Indonesia
Oleh: Wawan Setiawan

Tujuan umum pendidikan dan pengajaran bahasa di lembaga-lembaga adalah memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa itu sendiri. Teori-teori bahasa tidak muncul begitu saja bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi banyak mengalami perubahan-perubahan dari yang bersifat sederhana beragam sampai kepada yang bersifat kompleks. Pemerolehan bahasa sangat banyak ditentukan oleh interaksi antara aspek-aspek kematangan biologis, kognitif dan sosial. Slogin (dalam Tarigan, 1998) mengemukakan bahwa setiap pendekatan modern terhadap pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa telah dibangun sejak semula oleh anak, memanfaatkan aneka kapasitas bawaan sejak lahir yang beraneka ragam dalam interaksi dengan pengalaman-pengalaman dunia fisik dan sosial. Dalam rangka pengembangan ilmu kebahasaan para ahli telah banyak menggali dan mengembangkan hal-hal baru sehingga munculah tokoh-tokoh yang mengungkapkan teori-teori bahasa sehingga terdapatlah cabang-cabang ilmu bahasa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Bahasa merupakan penginterprestasian dari sebuah tanda yang selama ini menjadi tanda dalam kehidupan yang merupakan awal munculnya bahasa. Bahasa adalah cara utama untuk mengkominikasikan isi pikiran dan pendapat terhadap orang lain. Setiap masyarakat manusia memiliki bahasa dan manusia memiliki kecerdasan normal dalam memperoleh bahasa aslinya sekarang bahasa menjadi dilematis dan mulai berubah maknanya. Bahasa yang dulunya hanya digunakan sebagai alat berkomunikasi sekarang sudah bergeser seiring perubahan zaman kearah politik, budaya, dan kekuasaan. Faukaulet pernah berkata bahwa dengan menguasai sebuah bahasa kita akan menguasai orang yang menggunakan bahasa itu. Inilah yang disebut Faucault sebagai relasi kuasa bahasa. Pada zaman orde baru ketika pemerintah menuduh sebagai anti pembangunan ekstrim kiri, ekstrim kanan, komunis dan sebutan-sebutan yang sejenisnya, dia pasti akan tersingkir baik secara politik maupun sosial. Dalam pandangan orang Athena abad ke-5 bahasa menjadi instrumen untuk mencapai tujuan tertentu, yang kongkrit dan pasti. Bahasa dianggap sebagai senjata ampuh dalam peraturan politik tingkat tinggi (Latif dan Ibrahim 1996 : 17). Bahasa adalah ekspresi kekuasaan oleh karena itu bahasa merupakan kancah perhelatan kekuasaan. Dalam riil kehidupan manusia orang sering kali menggunakan sebuah bahasa dalam membohongi setiap orang. Dalam kancah perpolitikan ada sebuah pergolakan yang terjadi dan itu tentunya tidak terlepas dari bagaimana

72

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

menbuat bahasa sehingga menjadi isu yang bisa membuat konsentrasi elit politik bubar atau terpecahkan. Manusia mempergunakan bahasa sebagai alat vital dalam kehidupan seharihari yang mempunyai fungsi yang amat penting adalah sebagai instrumental, regulasi, interaksional, personal, dan imajinatif. Bahasa merupakan aspek kebudayaan sebagai pendukung dan bahasa sebagai cermin kebudayaan. Bahasa dan pendidikan merupakan yang bertalian dengan eratnya. Bahasa adalah alat utama dalam pendidikan keduanya bekerja sama saling menunjang dalam membentuk, memelihara, serta mengangkat martabat manusia. Gagne (1968) mengemukakan bahwa ―Instruction designed for effective learning may bedelivered in a number of ways and may us a veriety of media‖. Cara-cara untuk menyampaikan pengajaran lebih mengacu kepada jumlah pembelajar dan kreativitas penggunaan media. Gilstrap dan Martin (1975) juga menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pembelajar terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi belajar. Hamre dan Pianta (2005) pernah menjelaskan bahwa pembelajaran di sekolah akan melahirkan hasil maksimalnya ketika guru dapat menanggapi kebutuhan suasana hati, minat dan kemampuan murid, dapat menciptakan suasana kelas yang positif, banyak canda, kegairahan, hangat, dan memperlakukan murid secara positif, serta manajemen ruang kelas yang baik. Proses belajar mengajar, erat kaitannya dengan lingkungan dan suasana dimana proses itu berlangsung. Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh iklim kelas masih sangat penting. Hal ini beralasan karena ketika peserta didik belajar diruang kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun lingkungan nonfisik kemungkinan mendukung mereka atau bahkan mengganggu mereka. Oleh karena itu, Hyman (1980) mengatakan bahwa iklim yang kondusif dapat mendukung Interaksi yang bermanfaat diantara peserta didik 1. Memperjelas interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik 2. Memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan peserta didik 3. Menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik, dan 4. Mendukung saling pengertian dan peserta didik. Selain keempat hal di atas Moos dalam Walberg (1979) mengatakan bahwa iklim sosial juga mempunyai pengaruh penting terhadap kepuasan peserta didik. Walberg dalam farley dan Gordon (1981) mengemukakan bahwa prestasi peserta didik ditentukan oleh banyak faktor seperti usia, kemampuan dan motivasi, jumlah dan mutu pengajaran, lingkungn alamiah dirumah dan kelas. Selain itu Berliner dalam Walberg (1979) kelihatannya mendukung Welberg mengatakan bahwa iklim kelas yang ditandai dengan kehangatan, demokrasi, keramah tamahan, dapat digunakan sebagai alat prestasi belajar. Proses belajar mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi dimana siswa sebagai pihak yang belajar dan

73

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

guru sebagai pihak yang mengajar. Proses itu sendiri merupakan mata rantai yang menghubungkan antara guru dan siswa sehingga terbina komunikasi yang memiliki tujuan yaitu tujuan. Sebagai seorang yang memiliki kompetensi pedagogig, kompetensi kepribadian kompetensi sosial dan kompetensi propesional. Yang berkaitan dengan kompetensi pedagogig yaitu kompetensi yang berhubungan langsung dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan keterampilan guru dalam menciptakan iklim komunikatif diharapkan siswa dapat berpasitifasi aktif untuk mengeluarkan pendapatnya, mengembangkan imajinasinya dan daya kreativitasnya. Tentu komunikasi guru dan siswa yang dimaksud adalah dalam kegiatan pembelajaran tatap muka baik secara verbal maupun nonverbal, baik secara individual maupun kelompok dan dibantu dengan media atau sumber belajar. Proses berkomunikasi erat kaitannya denngan prilaku karena berbahasa adalah tindakan yang bersifat jasmani karena aspek psikomotor dan bersifat rohani. Bahasa juga merupakan medium yang digunakan manusia dengan melibatkan prilaku baik yang nampak ataupun tidak nampak. Dalam proses komunikasi bahasa merupakan suatu unsur yang tidak bisa dihilangkan sehingga pada umumnya penggunaan bahasa banyak sekali tokoh-tokoh yang mengungkapkannya tentang teori bahasa. Dalam hal ini otak juga berperan dalam kebahasaan sebagai pusat yang mengatur kegiatan berpikir dengan sendirinya karena pikiran yang dihasilkan oleh otak mengoprasikan sistem tanda atau simbol. Bahasapun mendorong kegiatan untuk berpikir realitas yang tampak didunia jika tidak diberi ―tanda‖, kode, atau simbol, maka ia akan menjadi realitas yang tidak terbahasakan dan akan tersimpan dalam pikiran secara statis dan tidak memiliki ruang untuk dikomunikasikan, atau mengendalikan proses berpikir yang bergerak secara dinamis. Prilaku bahasa dihasilkan oleh prilaku berpikir yang memproleh dan memahami bahasa dan membentuknya menjadi kalimat-kalimat mekanisme. Pada dasarnya berkomunikasi dan menggunakan bahasa adalah suatu proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode pikiran. Bahasa dalam hal ini juga memandu dan mengkondisikan pikiran individu tentang realitas dapat disimpulkan juga bahwa persepsi manusia tentang realitas sangat dipengaruhi oleh bahasa yang membentuk pemahamannya, dengan demikian pikiran tidak akan mampu mengenali dunia realitas tanpa disimbolkan lebih dulu dalam bentuk bahasa. Pikiran bisa bekerja bila ada bahasa .Kondisi pikiran dapat juga mempengaruhi prilaku bahasa yang dapat mempengaruhi kondisi pikiran. Bahasa yang kasar akan mempengaruhi seseorang menjadi negatif, bahasa tentu seseorang sakit hati, patah hati, gembira, bahkaan bunuh diri. Bahasa tidak saja menjadikan pikiran mengenali, menganalisis dan membuat generalisasi dan persepsi, bahasa juga dapat mempengauhi kondisi pikiran bila bahasa itu masuk kepikiran bawah sadar. Para ahli mencoba memaparkan bentuk hubungan antara bahasa dan pikiran atau lebih disempitkan lagi, bagaimana bahasa mempengaruhi pikiran manusia akan hanya berkata dan memahami satu dengan yang lainnya dalam kata-kata yang terbahasakan. Baahasa juga memiliki orientasi yang subjektif dalam menggambarkan dunia

74

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

pengalaman manusia. Orientasi ini yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan berbahasa secara baik. Simpulan Dari teori-teori bahasa yang ada munculah teori menjadi mata rantai proses pembelajaran, dmana penulis banyak menuangkan berbagai penemuan-penemuan. Karena dalam bahasa dan teorinya mempunyai fungsi yang saling mempengruhi dalam ilmu bahasa tersebut, sehingga bahasa akan terus menerus mengalami banyak perubahan yang bersifat dinamis.

75

Tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Pengertian Bahasa

kumpulanartikelteoribelaj arbahasakumpulanartikel teoribelajarbahasakumpu bagaimana PENGERTIAN BAHASA belajar bahasa lanartikelteoribelajarbaha sakumpulanartikelteoribe lajarbahasakumpulanarti kelteoribelajarbahasakum pulanartikelteoribelajarb ahasakumpulanartikelteo ribelajarbahasakumpulan artikelteoribelajarbahasa kumpulanartikelteoribelaj
Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
2010

76

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Cara Belajar Bahasa, Khususnya Bahasa Indonesia
Oleh: Ela Siti Julaeha

Sebelum kita bicara tentang bagaimana cara belajar bahasa Indonesia, kita harus mengetahui apa bahasa itu sendiri? Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan ―Ibu‖ meng……seekor…di…‖ adalah sebuah kalimat bahasa Indonesia yang benar sistemnya, meskipun ada sejumlah komponen yang ditanggalkan. Tetapi susunan ―Meng ibu se ikan goreng dapur‖ bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa Indonesia. Sebagai ssebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis. Dengan sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sistem bahasa yang dijelaskan di atas adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Artinya, lambang-lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Bahasa itu bersifat produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Bahasa bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Bahasa bersifat dinamis, artinya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Bahasa bersifat beragam, artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunysai latar belakang dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis, maupun pada tataran leksikon. Bahasa bersifat manusiawi, artinya, bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis. Belajar sebuah bahasa bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Bisa dengan cara membaca buku-buku teori tentang bahasa, bisa melalui media televisi, bisa dengan bercakap langsung dengan penutur asli suatu bahasa dan lain sebagainya. Dari beberapa cara tersebut, cara yang paling mendasar dalam mempelajari bahasa adalah dengan menyimak tuturan suatu bahasa. Ada empat cara untuk belajar bahasa yaitu, membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan. Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang

77

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

disampaikan oleh pembicara melalui ujaran. Menyimak sebuah informasi dapat berhasil dengan baik jika kita memfokuskan pikiran dan konsentrasi pada informasi yang disampaikan. Paham tidaknya kita terhadap informasi yang disampaikan sangat ditentukan oleh kadar keseriusan kita dalam menyimak informasi tersebut. Maka dari itu kita diharapkan menyimak informasi tersebut dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menangkap isinya dengan baik dan benar. Tanpa menyimak, seseorang tidak akan bisa berbicara, menulis ataupun membaca. Contoh kecilnya, seorang bayi tidak akan pernah bisa berkata ―Ibu‖ bila sebelumnya dia tidak pernah mendengar seseorang mangatakan kata itu. Seseorang juga tidak akan pernah bisa menulis, bahkan membaca apabila sebelumnya dia tidak mendengar seseorang berkata : huruf ―I-b-u‖ dibaca ―Ibu‖. Antara belajar bahasa dengan keterampilan menyimak itu ada kaitannya, dan menyimak mempunyai beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan keterampilan bahasa yang lainnya. Keterampilan menyimak erat hubungannya dengan ketiga keterampilan berbahasa yang lain. Seseorang memperoleh bahasa pertamanya karena mendengarkan orang-orang di sekelilingnya bertutur dan mengucapkan kata-kata, sehingga kata-kata yang didengar akan langsung terekam di dalam otak seseorang yang selanjutnya secara tidak sadar, kata-kata itu akan diucapkan pada saat ia menggunakan keterampilan berbicaranya. Orang juga lebih sering menggunakan bahasa tutur daripada bahasa tulis, sehingga orang lebih sering mendengar daripada membaca. Maka dalam memahami suatu tuturan, seseorang harus mempunyai daya simak yang baik dan didukung dengan pemahaman mengenai kaidah bahasa yang digunakan. Belajar bahasa Indonesia sangatlah penting hingga sekarang. Agar kita dapat menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita harus mengetahui kaidah-kaidah bahasa. Bahasa memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan dalam bahasa dapat dilihat dengan jelas dari susunan atau bentuknya. Kita sebagai warga negara indonesia harus mengetahui sejumlah fungsi bahasa agar kita dapat mengungkapkan tuturan bahasa sesuai dengan siapa, kapan, dan bagaimana bertutur. Fungsi bahasa itu sendiri yakni untuk komunikasi antar sesama, dengan kata lain bahwa pengembangan pembelajaran bahasa baik bahasa Inggris ataupun bahasa Arab dewasa ini seyogyanya diarahkan untuk kemampuan berbahasa peserta didik secara aktif. Adapun beberapa pendapat para ahli tentang fungsi bahasa : Menurut Lyon ada tiga fungsi bahasa antara lain : a. Fungsi deskriptif bahasa yaitu untuk menyampaikan informasi faktual. b. Fungsi ekspresif bahasa yaitu untuk menyediakan informasi mengenai sang pembicara, perasaannya, pilihannya, prasangkanya, dan pengalaman mas lalunya. c. Fungsi sosial bahasa yaitu melayani, memantapkan serta memelihara hubunganhunbungan sosial antara orang-orang.

78

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Sedangkan menurut Menurut Candlin dan Widdowson dan diikuti oleh beberapa ahli bahasa di Eropa melihat bahwa menjadi sebuah kebutuhan untuk lebih memfokuskan pembelajaran bahasa kepada kecakapan atau keahlian berkomunikasi dari pada pembelajaran bahasa yang berkutat pada penguasaan struktur belaka. Banyak orang dan yang lebih penting lagi apabila kita telah menguasai bahasa Indonesia dengan benar, itu akan menjadi nilai plus untuk diri kita pribadi karena kita akan terlihat lebih berwibawa saat berbicara didepan umum dibanding orang yang tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Banyak orang yang ingin belajar bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia adalah bahasa resmi bangsa Indonesia. Jadi masih banyak kalangan masyarakat kita yang belum menguasai bahasa dengan benar oleh sebab itu didalam dunia pendidikan disusunlah pelajaran bahasa Indonesia agar seluruh kalangan masyarakat Indonesia dapat mengetahui bagaimana cara belajar berbahasa Indonesia dengan baik. Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia harus terus belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar kita sendiri tidak dihina oleh negara lain karena bahasa sendiri saja kita belum menguasai dengan baik dan apabila kita telah menguasai bahasa Indonesia dengan baik, mungkin saja suatu saat nanti bahasa Indonesia kita dipakai untuk bahasa Internasional. Seseorang memperoleh bahasa pertamanya karena mendengarkan orangorang di sekelilingnya bertutur dan mengucapkan kata-kata, sehingga kata-kata yang didengar akan langsung terekam di dalam otak seseorang yang selanjutnya secara tidak sadar, kata-kata itu akan diucapkan pada saat ia menggunakan keterampilan berbicaranya. Orang juga lebih sering menggunakan bahasa tutur daripada bahasa tulis, sehingga orang lebih sering mendengar daripada membaca. Maka dalam memahami suatu tuturan, seseorang harus mempunyai daya simak yang baik dan didukung dengan pemahaman mengenai kaidah bahasa yang digunakan. Jadi apabila seseorang ingin belajar suatu bahasa maka harus sering mendengarkan tuturantuturan bahasa tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi perkembanagn bahasa menurut aliran navatisme berpandangan bahwa perkembangan kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir yang diturunkan oleh orang tuanya. Dengan demikian, jika orang tuanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan cepat, perkembangan bahasa anak pun juga akan baik dan cepat. Begitu juga sebaliknya, jika kemampuan bahasa orang tuanya lambat dan kurang baik, perkembangan bahasa anak pun ikut lambat dan kurang baik. Sedangkan menurut aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang. Dari perspektif ini, meskipun kemampuan bahasa orang tuanya kurang baik dan lambat tetapi jika proses stimulasi dan proses belajar

79

Pengertian Bahasa Bagaimana Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

dilakukan secara intensif dengan lingkungan berbahasa secara baik dan cepat, kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi baik dan cepat. Konsep bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran sudah mempunyai sejarah yang panjangjika kita menelusuri sejarah studi hahasa pada masa lalu. Pada abad pertengahan (500-1500M) studi bahasa kebanyakan dilakukan oleh para ahli logika atau ahli filsafat. Mereka menitikberatkan penyelidikan bahasa pada satuan-satuan kalimat yang dapat dianalisis sebagai alat untuk menyatakan proposisi benar atau salah. Sejak awal tahun enam puluhan ada perdebatan yang cukup seru mengenai bahan atau materi pengajaran bahasa Indonesia termasuk metodenya yang harus diberikan di sekolah, terutama di sekolah dasar. Dalam pendidikan normal, pendidikan bahasa Indonesia mempunyai dua muka yaitu : 1. Sebagai bahasa pengantar di dalam pendidikan 2. Sebagai mata pelajaran Belajar bahasa Indonesia termasuk mata pelajaran penting, sama dengan pendidikan agama. Sebagai bahasa resmi kenegaraan, maka bahasa Indonesia harus digunakan dalam setiap kegiatan yang bersifat resmi kenegaraan, termasuk sebagai bahasa pengantar dalam bidang pendidikan. Penggunaan bahasa Indonesia semakin hari semakin meluas, dan jumlah penuturnya bertambah banyak. Adapun beberapa alasan yang dapat dikemukakan : a. Bahasa Indonesia memiliki status sopsial yang tinggi, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahsa resmi kenegaraan. Ini berarti dapat berbahasa Indonesia mempunyai rasa kebanggaan tersendiri, yaitu kebanggaan nasional. b. Semakin banyak keluarga, terutama di kota-kota besar, yang langsung menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dengan anak-anak meraka.

80

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Belajar Bahasa
Oleh: Isna Priyanti

Bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran atau suatu ungkapan dalam bentuk bunyi ujaran. Bahasa juga merupakan alat komunsikasi dan interaksi yang sangat penting bagi manusia. Dengan bahasa kita, kita mendapatkan informasi, menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan. Oleh karena itu, bahasa sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia. Tidak ada bahasa tidak akan terjadi interaksi sosial antara satu dengan yang lainnya. Untuk belajar bahasa yang baik, sebelumnya kita harus mengetahui bentuk dan makna bahasa serta fungsi bahasa itu sendiri. Kemudian dalam belajar bahasa pun beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa.

Bentuk dan Makna Bahasa

Bahasa memiliki bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk bahasa terdiri dari : a. Unsur segmental (bagian dari unsur bahasa yang terkecil sampai dengan yang terbesar), yaitu : fonem, suku kata, kata, frase, kalimat, dan wawamcara. b. Unsur suprasegmental (bagian bahasa yang berupa intonasi) yang terdiri dari : tekanan, nada, durasi dan perhatian. Sedangkan makna bahasa terdiri dari: makna morfemis, makna leksikal, makna sintaksis, dan makna wacana.

Fungsi Bahasa

Bahasa memiliki fungsi: a. Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal balik, antara anggota masyarakat. b. Fungsi ekspresi, yaitu menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi, atau tekanan-tekanan perasaan pembicara. c. Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaur diri dengan anggota masyarakat d. Fungsi kontra sosial, yaitu untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi khusus, yaitu sebagai bahasa nasional yang berfungsi untuk menjalankan administrasi negara, sebagai alat pemersatu, dan sebuah wadah penampung kebudayaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, yaitu faktor eksternal, yaitu guru, lingkungan, teman, keluarga, orang tua, dan masyarakat. Sedangkan yang termasuk faktor internal yaitu motivasi, minat, bakat, sikap dan kecerdasan. Berdasarkan faktor eksternal, ada tiga prinsip belajar bahasa, yaitu : Memberikan situasi dan mteri belajar sesuai respon yang diharapkan siswa.

81

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Ada pengulangan belajar agar sempurna dan tahan lama, dan Ada penguatan respon belajar siswa Sedangkan berdasarkan faktor internal yaitu belajar bahasa dapat dibantu dengan berbagai media visual, audio atau audio visual. Jadi tidak hanya menggunakan buku sumber/acuan tetapi bisa dibantu dengan media lain. Apalagi teknologi yang sekarang ini semakin canggih dapat lebih banyak membantu dalam proses belajar dan dapat mempermudah guru dalam proses pembelajaran. Dalam belajar bahasa ada jenis keterampilan dan perilaku yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan ini sangat berpengaruh terhadap proses serta keberhasilan belajar siswa. Jika salah satu dari keempat keterampilan tersebut tidak ada, maka proses dan keberhasilan terhadap siswa pun akan tidak sempurna. Menurut Vallete dan Disk, keterampilan belajar bahasa diurutkan secara hirarkis dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks (luas), dan dibedakan pula atas perilaku internal dan perilaku eksternal, yaitu sebagai berikut : a. Keterampilan mekanis berupa hapalan atau ingatan. b. Yaitu menghapal atau mengingat bentuk-bentuk bahasa dari yang sederhana sampai ke yang kompleks, kemudian siswa meniru ajaran atau tulisan. c. Keterampilan pengenalan (metacognition) berupa mengenal kaidah kebahasaan dan mengingat kaidah bahasa terrtentu. d. Keterampilan transfer berupa menggunakan pengetahuan bahasa dalam situasi dan mengaflikasikan pengetahuan/kaidah bahasa, dan e. Keterampilan komunikasi berupa penggunaan pengetahuan/kaidah bahasa dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri baik lisan maupun tulisan. Kemudian untuk mendapat hasil belajar bahasa yang baik, harus memiliki strategi yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Dalam belajar bahasa harus memiliki metode/teknik seperti berikut : a. Menggunakan rasa ingin tahu murid b. Menantang murid untuk belajar c. Mengaktifkan mental, fisik, dan psikis murid d. Memudahkan guru e. Memudahkan kreativitas murid dan f. Mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari. Metode/teknik dalam belajar bahasa dapat menggunakan metode diskusi, inkuiri (siswa diberi kesempatan untuk meneliti suatu masalah sehingga dapat menemukan cara pemecahannya), sosiodrama (bermain drama), tanya jawab, latihan dan bercerita. Dengan begitu dapat terlihat seberapa berhasilkah belajar bahasa. Karena dengan menggunakan metode tersebut dapat mengembangkan pengetahuan untuk pemecahan masalah, menyampaikan pendapat dengan bahasa yang baik dan benar, menghargai orang lain, dan berfikir kreatif dan kritis.

82

Pengertian Bahasa Bagaimana Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, belajar bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan belajar dalam berkomunikasi, baik berupa lisan maupun tulisan. Jadi, jika ingin mengatahui sebaik apaa kemampuan berbahasa/berkomunikasi kita dapat dilihat dari bagaimanaa kita menggunakan bahasa dalam setiap berkomunikasi/berinteraksi.

Sifat Bahasa

Bahasa dapat dilihat dari segi sifatnya, yaitu : a. Sistematika, yaitu memiliki sistem berupa sistem bunyi (arus ujaran) dan makna. b. Mana suka, yaitu unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar atau tidak ada hubungan logis antara bunyi (arus ujaran) dengan maknanya. c. Ujar, yaitu berbentuk ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia d. Manusiawi, yaitu bahasa berfungsi selama manusia memanfaatkannya e. Komunikatif, yaitu bahwa bahasa sebagai penyatu keluarga, masyarakat dan bangsa dalam kegiatannya. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Mengenai strategi pembelajaran bahasa tidak terlepas dari pembicaraan mengenai pendekatan,metode,dan teknik mengajar. Machfudz (2002) mengutip penjelasa Edward M. Anthony menjelaskn dalam pembelajaran bahasa harus ada pendekatan pembelajaran untuk mengacu pada teori-teori tentang hakekat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai sumber landasan/prinsip pengajaran bahasa. Teori tentang hakekat bahasa mengemukakan asumsi-asumsi dan tesis-tesis tentang hakekat bahasa,karakteristik bahasa,unsur-unsur bahasa,serta fungsi danpemakaiannya sebagai media komunikasi dalam suatu masyarakat bahasa. Teori belajar bahasa mengemukakan proses psikologis dalam belajar bahasa sebagaimana dikemukakan dalam psikolinguistik. Pendakatan pembelajaran lebih bersifat aksiomatis dalam definisi bahwa kebenaran teori-teori linguistic dan teori belajar bahasa yang digunakan tidak dipergunakan lagi. Dari pendekatan ini diturunkan metode pembelajra bahasa. Misalnya dari pendekatan berdasarkan teori ilmu bahasa structural yang mengemukakan tesis-tesis linguistic menurut pandangan kaum strukturalis dan pendekatan teori belajar bahasa menganut aliran behaviorisme diturunkan metode pembelajaran bahasayang disebut Metode Tata Bahasa. Kondisi pembelajarn bahasa harus melakukan langkah ―revitalisasi‖, yaitu dengan menghidupkan dan menggairahkan kembali proses pembelajaran bahasa yang didukung oleh etos dan semangamt guru yang handal serta kegairahan siswa yang terus meningkat intensitasnya dalam belajar dan berlatih berbahasa. Langkah ―revitalisasi‖ yang mesti ditempuh,yaitu harus menciptakan dan sekaligus memberdayakan guru. Upaya pemberdayaan guru hendaknya dimulai sejak calon guru menempuh pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) agar kelak setelah benar-benar menjadi guru sudah tidak asing lagi dengan dunianya dan siap pakai. Jelas, tuntutan ideal semacam ini bukan tugas yang ringan ringan bagi LPTK , sebab selain harus mampu mencetak lulusan yang punya kemampuan akadenik tinggi ,

83

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

juga harus memiliki integritas kepribadian yang kuat dan keterampilan mengajar yang handal. Revitalisasi juga harus diimbangi dengan peran-peran masyarakat agar bias menciptakan suasana kondusif yang mampu merangsang siswa untuk belajar dan berlatih berbahasa Indonesia yang baik dan benar,dengan cara memberikan teladan yang baik dalam peristiwa tutur sehari-hari. Demikian dengan media massa (cetak/elektronik) hendaknya juga menaruh kepedulian yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku. Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa. Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisi tujuan dan karakteristik studi dan siswa,analisis sumber belajar,menetapkan strategi pengorganisasian,isi pembelajaran,menetapkan strategi penyampaian pembelajaran,menetapkan strategi pengelolaan pembelaajaran,dan menetapkan prosedur pengukuran hasil belajar. Maka dari itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat dalam setiap jenis kegiatan pembelajaran diharapkan pencapaian tujuan pembelajaran dapat terpenuhi. Untuk mencapai tujuan belajar bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya,serta menjadikan aspek-aspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsipprinsip belajar bahasa yaitu harus diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat,diberi kesempatan berpartisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas,keterampilan,dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa. Dalam strategi pembelajaran terdapat variable metode pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu strategi pengorganisasian isi pembelajaran,dan strategi pengelolaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran bahasa bukanlah untuk menjadikan siswa sebagai ahli bahasa,melainkan sebagai seorang yang dapat menggunakan bahasa untuk keperluannya sendiri,dapat memanfaatkan sebanyak-banyaknya apa yang ada di luar dirinya dari mendengar,membaca,dan mengalami,serta mampu berkomunikasi dengan orang disekitarnya tentang pengalaman dan pengetahuannya. Kondisi pembelajaran adalah factor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil belajar. Kondisi ini tentunya berinteraksi dengan metode pembelajaran dan hakikatnya tidak dapat dimanipulasi. Berbeda dengan hanya metode pembelajaran yang didefinisikan sebagai cara-cara yang berbeda dibawah kondisi pembelajaran yang berbeda. Semua cara tersebut dapat dimanipulasi oleh perancang-perancang pembelajaran. Sebaliknya,jika suatu kondisi pembelajaran dalam suatu situasi dapat dimanipulasi,maka ia ia berubah menjadi metode pembelajaran. Artinya klasifikasi variable-variabel yang termasuk kedalam kondisi

84

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

pembelajaran,yaitu variaberl-variabel yang berpengaruh pada penggunaan metode karena ia berinteraksi dengan metode dan sekaligus diluar control perancang pembelajaran. Variable dalam pembelajaran dapat dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu tujuan dan karakteristik bahasa,kendala dan karakteristiknya,dan karakteristik pelajar.

85

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Belajar Bahasa dan Perkembangan Bahasa
Oleh: Neng Widaningsih

Bahasa Remaja Bahasa remaja adalah bahsa yang telah berkembang. Anak remaja telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahsa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencangkup lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya pergaulan teman sebaya dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang didalam keluarga atau bahasa ibu. Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dari masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dan

86

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan mnasih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahsa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahsa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan.anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain ―meniru‖ dan ―mengulang‖ hasil yang telah di dapatkan merupakan cara belajar bahsa awal. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang di dengarkannya. Manusia dewasa di sekelilingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun di saat anak mulai bersekolah. Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunukaisi disini di artikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami oleh orang lain.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

perilaku berbahasa. Bersama dengan kehidupannya didalam masyarakat luas, anak (remaja) mengikuti proses belajar di sekolah. Sebagaimana diketahui di lembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan didalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang didalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah ― lebay‖ dikalangan remaja yang dimaksudkan adalah berlebihan. Bahasa ―prokem‖ tercipta secara khusus untuk kepentingan khusus pula. Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukan oleh pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidikan yang rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan dengan istilah-istilah yang ―kasar‖. Masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, akan menggunakan istilah-istilah lebih efektif, dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa secara lebih baik. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu, perkembangan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu adalah:

1. Umur anak

2. Kondisi lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan, dan daerah-daerah terpencil dan kelompok sosial yang lain. Bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian, remaja yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.

3. Kecerdasan anak

87

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalaman, dan meningkat kebutuhannya.bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik akan ikut mempengaruhi sehubunagn semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual anak akan mampu menunjukan cara berkomunikasi dengan baik.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Untuk meniru lingkungan tentang bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan motorik seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik, dan memahami dan menangkap maksud suatu pernyataan pihak lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

4. Status sosial ekonomi keluarga

Keluarga yang berstatus sosial baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan lebih tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga yang terdididk. Dengan kata lain pendididkan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.

5. Kondisi fisik

Kondisi fisik di sini dimaksudkan kondisi kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya untuk berkomunukasi sepert bisu, tuli, gagap, atau organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan berkomunikasi dan tentu saja akan mengganggu perkembangannya dalam berbahasa. Kemampuan Masyarakat Dalam Berbahasa Perkembangan bahasa di kalangan masyarakat sungguh sangat memprihatinkan karena banyak penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baku kadang sukar dimengerti oleh sebagian orang banyak penggunaan bahasa asing dikalagan masyarakat. Kadang orang salah menafsirkan bahasa yang baik dan benar yang menurut EYD atau penulisan bahasa yang di singkat. Dalam m,asyarakat multi bahasa tersedia berbagai kode, baik berupa bahasa dialek, variasi, dan gaya untuk digunakan dalam interaksi sosial. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan, yaitu ; 1. Dengan memilih satu variasi bahasa yang sama, maksudnya yaitu bila seseorang menggunakan bahasa asli bila seseorang berbicara dengan orang lain. 2. Dengan melakukan alih kode, menggunakan satu bahasa tapi menggunakanbahasa lain untuk keperluan lain 3. Dengan melakukan campur kode, menggunakan satu bahasa disertai dengan serpihan bahasa-bahasa lain Kemampuan individual dalam berbahasa Yang dimaksud kemampuan yaitu suatu bentuk keterampilan atau bakatbakat naluri yang sudah ada dan berkembnag sepenuhnya melalui proses belajar terhadap lingkungan sosial. Individual yaitu merupan diri pribadi seseorang. Sedangkan bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi. Jadi yang dimaksud kemampuan

88

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

89

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

individual dalam berbahasa adalah bakat-bakat yang sudah ada dalam pribadi seseorang untuk mengungkapkan sebuah kata yang cocok dalam pergaulan.  Sikap dalam berbahasa Dalam bahasa Indonesia kita sikap dapat mengacu pada bentuk tubuh, posisi berdiri yang tegak, perilaku atau gerak-gerik, dan perbuatan atau tindakan yang dilakukan berdasarkan pandangan (pendirian, keyakinan,atau pendapat) sebagai reksi atas adanya suatu hal atau kejadian. Sesungguhnya, sikap itu adalah fenomena kejiwaan yang biasanya termanifestasi dalam bentuk tindakan perilaku. Namun, menurut banyak penelitian tidak selalu yang dilakukan secara lahiriah merupakan cerminan dari sikap batiniah. Sikap dalam berbahasa yaitu perilaku atau keyakinan mengenai bahasa dan objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disenanginya.  Etika berbahasa dalam individu Etika yaitu membahas tentang nilai-nilai kebahasaaan dalam diri individu. Jadi yang dimaksud etika berbahasa dalam individu yaitu nilai-nilai kebahasaan yang ditonjolkan oleh setiap individu. Etika berbahasa dalam individu berkaitan dengan pemiilihan bahasa.oleh karena itu, etika berbahasa ini antara lain akan mengatur apa yang harus kitta katakan, ragam bahasa apa ynag paling wajar, kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara kiyta, kapan kita harus diam, bagaimana kualitas suara dan sikap fisik kita di dalam berbicara. Etika berbahasa itu tidaklah merupakan hal yang yang terpisah melainkan merupakan hal yang menyatu di dalam tindak laku berbahasa.  Kemampuan dalam berbahasa Kemempuan dalam berbahasa yaitu suatu bentuk keterampilan yang sudah ada dan berkembang sepenjuhnya melaluia proses belajar sehingga membentuk bahasa. Jadi kemampuan dalam berbahasa sudah ada sejak lahir.  Pemilihan bahasa dalam individu Di Indonesia secara umum digunakan tiga buah bahasa dengan tiga sasaran yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Bahasa Indonesia digunakan dalam keindonesiaan,yang sifatnya nasional, seperti dalam pembicaraan antar suku,bahasa dalam pengantar pendidikan, dan dalam surat menyurat. Bahasa daerah digunakan dalam kedaerahan seperti dalam upacara pernikahan, percakapan dalam keluarga daerah, dan komunikasi antar penutur daerah. Sedangan bahasa asing digunakan untuk kominikasi antar bangsa atu untuk keperluan keperluan tertentu yang menyangkut interlekutoor orang asing.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Belajar Bahasa
Oleh: Rina

Dikehidupan kita sehari-hari sudah tentu kita mengenal apa yang namanya bahasa,sebab bahasa merupakan alat komunikasi seperti dalam berbagai teori pendekatan komunikatif mengasumsikan bahwa bahasa adalah alat komunikasi, alat untuk berindividualisme dengan orang lain melalui alat ucap kita, sehingga kita bisa mengkomunikasikan sesuatu yang bermakna dan terarah, karena penggunaan bahasa manusia dapat dipahami dengan baik jika dipandang dari konteks alaminya sebagai seperangkat saluran yang tersedia bagi manusia untuk mengirimkan dan menerima informasi. Dengan komunikasi kita dapat mengkomunikasikan apa yang ada dipikiran kita serta dapat pula mengekspresikan dan perasaan kita. Adapun menurut Canale(1987) 1. Bahasa adalah suatu bentuk interaksi social. 2. Bahasa melibatkan tingkat ketidak-teramalan dan kreaktivitas yang tinggi dalam bentuk dan pesan. 3. Bahasa berlangsung dalam diskors dan konteks sosial budaya yang memberikan batasan tentang penggunaan bahasa yang baik dan sesuai, sehingga digunakan sebagai penanda untuk mengoreksi interpretasi ungkapan. 4. Bahasa selalu memiliki tujuan. 5. Bahasa melibatkan otentik dan dipertentangkan dengan bahasa yang dibuat buku teks. Di dalam bahasa kita mengenal empat macam dalam keterampilan berbahasa yaitu, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, setiap keterampilan itu sangat berhubungan erat dan beraneka ragam. Untuk memperoleh hubungan keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubunhan yang terratur. Mula-mula ketika kita kecil kita belajar menyimak bahasa dengan proses peniruan apa yang kita perhatikan di dalam rumah, misalnya pada saat orang tua kita mengajarkan baik itu ucapan ataupun tingkah laku yang mereka lakukan,kemudian kita melakukan proses berbicara. Menyimak dan berbicara kita lakukan sebelum memasuki sekolah. Berbicara merupakan suatu ketermpilan berbahasa yang berkembang dalam kehidupan anak yang didahului oleh keterampilan menyimak, karena pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.Keterampilan berbahasa sudah tentu erat berhubungan dengan perkembangan kosakata yang diperoleh pada anak kecil melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan berbahasa, maka dari itu kita perlu menyadari bahwa keterampilan-keterampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara yang efektif banyak persamaannya dengan

90

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif dalam keterampilan-keterampilan berbahasa itu. Berbicara saling berkaitan dengan berkomunikasi, sebab manusia merupakan makhluk sosial sehingga tindakan yang pertama dan yang paling penting adalah tindakan sosial karena itu merupakan suatu tindakan sosial tempat untuk mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan, dan saling mengekspresikan serta menyetujui terhadap suatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu didalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang umum. Hubungan antara berbicara dengan menyimak merupakan kegitan komunikasi dua arah yang langsung melalui komunikasi secara tatap muka. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan eratnya hubungan antara berbucara dengan menyimak ; 1. Ujaran(speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru(imitasi) 2. Kata-kat yang dipakai dan dipelajari oleh kita biasanya ditentukan oleh perangsang(stimuli) pada saat misalnya di kehidupan atau di lingkungan desa maupun kota. 3. Ujaran yang kita pakai sudah tentu mencerminkan pemakaian bahasa sesuai dengan tempatnya antara dirumah dan di kehidupan kita sehari-hari. 4. Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara sesesorang. 5. Suara yang merupakan suatu faktor yang paling penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata yang kita pakai. Batasan dan tujuan berbicara(ujaran) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas dan kepribadian yang mencerminkan lingkungan ketika kita berbicara, sehingga berbicara merupakan kemampuan pengucapan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekepresikan menyataka serta penyampaian pikiran, gagasan, dan perasaan. Berbicara juga dapat diartikan bahwa suatu sistem tanda-tanda yang dapat di dengar (audible) dan yang klihatan(visible) yang bermanfaat pada sejumlah otot dan otot jaringan tubuh manusia bertujuan agar gagasan atau ide-ide itu dapat disatukan lebih jauh lagi. Tujuan utama dari berbicara itu sendiri yaitu untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, sehingga orang yang berbicara memahami makna pada segala sesuatu yang di komunikasikan, harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar dan harus mengetahui prisipprisip yang mendasari segala situasi pembicara baik secara umum maupun perorangan. Seorang ahli lain, M. Doug Brown, setelah menelaah batasab bahasa dari 6 buah sumber, membuat rangkuman sebagai berikut; 1. batasan adalah sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif 2. bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka(simbol-simbol).

91

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
3. 4. 5. 6. 7.

2010

8. Bahasa diperoleh oleh semua bangsa /orang dengan cara yang hampir/ banyak
(universal characteristics). (Brown, 1980:5). Setiap masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistik; yang bertindak sebagai pembicara dan menyimak. Dalam komunikasi yang lancar, proses perubahan dari pembicara menjadi penyimak dan dari penyimak menjadi pembicara begitu cepat, terasa sebagai suatu peristiwa dan wajar, yang bagi orang kebanyakan tidak perlu dipermasalahkan apalagi dianalisis. Lain halnya bagi para ahli dalam bidang linguistik dan pengajaran bahasa. Bila kita analisis ―suatu peristiwa bahasa‖ atau ― a language event‖ yang terjadi antara sipembicara (speaker) dan si pendengar/penyimak (hearer/listener). Prisip dalam pembelajaran bermakna Pembelajaran nermakna akan menuntun kepada retensi jangka panjang yang lebih baik dibandingkan dengan rote learning. Beberapa kemungkinan prinsip diatas da dalam kelas sebagai berikut; 1. Gunakan kekuatan pembelajaran bermakna dengan menarik minat pelajar, tujuan akademik, dan tujuan karir pelajar. 2. Apabila topik atau konsep baru diperkenelkan, upayakan untuk menanamkannya dengan mempertimbangkan pengetahuan dan latar belakang pelajar sehinga topik baru itu dapat dikaitkan dengan apa yang diketahuinya. 3. Hindari pembeklajaran menghafal. Antisipasi penghargaan Manusia secara umum terdorong untuk bertindak atau bertingkah laku dengan mengharapkan semacam penghargaan nyata atau tidak nyata, jangka pendek atau jengka panjang yang akan terjadi sebagai akibat perilaku itu. Prinsip motivasi intrinsik 1. Penghargaan yang paling kuat adalah penghargaan yang secara intrisik termotivasi dalam diri pelajar. 2. Sebab perilaku ini tersumber dari kebutuhan, keinginan, dan hasrat dalam diri seseorang. 3. Perilaku itu sendiri dapat memberikan penghargaan terhadap diri sendiri, karena itu tidak perlu sama sekali adanya penghargaan yang diberikan secara eksternal. bersamaan; bahasa dan belajar bahasa mempunyai ciri-ciri kesemestaan

Lambang- lambang tersebut terutama sekali bersifat vical, tetapi mungkin juga bersifat visual. Lambang-lambang itu mengandung makna-makna konvensional. Bahasa dipergunakan sebagai komunikasi. Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa(a speech community) atau budaya. Bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak bersifat tidak terbatas pada manusia.

92

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

93

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Investasi strategis Penguasaan bahasa kedua yang sukses sebagian besar disebabkan oleh investasi perorangan pelajar terdiri dari aspek waktu, upaya, dan perhatian kepada bahasa kedua dalam bentuk deretan strategi perorangan guna memahami dan memproduksi bahasa. Prinsip efektif o) Ego bahasa o Sementara manusia belajar mnggunakan bahasa kedua, mereka juga mengembangkan suatu modus baru berpikir, berperasaan, danbertindak identitas kedua. o Ego bahasa kedua yang bergandeng dengan bahasa kedua dengan mudah dapat menciptakan dalam diri pelajar suatu perasaan keraouhan, kedefensivan, dan peningkatan tambahan. Kepercayaan diri Keberhasilan pelajar dalam suatu petugas sebagiannya merupakan faktor keyakinannya bahwa mereka benar-benar mampu menyelesaikan tugas itu. Penambilan resiko Pelajar bahasa yang sukses saat menilai diri mereka sendiri secara realistik merupakan orang yang rentan namun mampu menyelesaikan tugas harus sudi ―penjudi‖ dalam permainan bahasa, mencoba menghasilkan dan menafsirkan bahasa sedikit di batas keyakinan mutlak mereka. Hubungan bahasa- budaya a. kapanpun mengajarkan suatu bahasa, sistem budaya yang rumit, tata krama, nilai, dan cara berpikir, merasa, dan bertindak. b. Khusus dalam konteks pembelajaran bahasa kedua. Prinsip linguistik a. efek bahasa ibu. b. Antar bahasa. c. Kompetensi komunikatif Dengan demikian maka berbicara itu lebih dari pada hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata, berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Belajar Bahasa
Oleh: Rinrin Riansyah

Belajar berarti berusaha memperoleh ilmu atau kepandaian. Dalam bahasa sederhana kata belajar di artikan sebagai menuju ke arah yang lebih baik dengan cara sistematis. Belajar adalah suatu proses keinginan untuk ingin menjadi pandai dan mengetahui ilmu pengetahuan. Bruner mengemukakan proses belajar yang terdiri atas tiga tahapan yaitu informasi, transformasi, dan evaluasi. Yang di maksud tahap informasi adalah proses penjelasan, pengetahuan atau pengarahan mengenai pengetahuan, keterampilan dan sikap contohnya narasumber. Tahap transpormasi adalah proses perpindahan informasi. Namun, informasi itu harus di analisis atau di transformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak agar dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas. Di kemukakan oleh Gegne yang menetapkan proses belajar melalui analisis yang cermat dalam suatu konstibusi pengajaran. Ia membuat konstribusi pengajaran berdasarkan gambaran variasi perubahan. Yang di maksud dengan variasi perubahan adalah perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri anak didik. Tahapan evaluasi adalah penilaian sejauh mana pengetahuan, keterampilan dan sikap yang di miliki oleh peserta didik. Fungsi evaluasi adalah guru bisa mengetahui apakah pengetahuan siswa itu bertambah atau tidak, dalam evaluasi tidak hanya menilai siswa tetapi guru menilai cara belajar siswa. Bahasa adalah kombinasi kata yang di atur secara sistematis. Sehingga, bisa di pakai sebagai alat komunikasi. Kata itu sendiri, merupakan bagian integral dari simbol yang di pakai oleh kelompok masyarakatnya. Menurut Robert Sibarani (1992), mengutip pendapat Aart van zoest simbol adalah sesuatu yang dapat menyimbolkan dan mewakili ide, pikiran, perasaan, dan tindakan secara konvensional. Dalam hal ini tidak ada hubungan alamiah antara yang menyimbolkan dan yang di simbolkan berarti, baik yang batiniah (perasaan, pikiran, ide), maupun yang lahiriah (tindakan) dapat di simbolkan atau di wakili simbol. Dengan sifat konvensional tersebut, maka bahasa di dunia ini tidak ada yang sama. Adanya aspek simbol dan konvensi yang menyebabakan tidak ada bahasa yang sama maka bahasa pun memiliki variasi. Namun, untuk menetapkan faktor apa yang dominan memunculkan variasi bahasa, para ahli linguistik masih saling berdebat. Joshua A. Fishman (1972) contohnya menegaskan, berkomunikasi dengan bahasa bukan hanya di tentukan oleh faktor linguistik. Melainkan, juga oleh faktor non linguistik, seperti faktor sosial dan faktor situasional. Faktor sosial, di antaranya meliputi status sosial tingkat pendidikan, usia dan jenis kelamin. Sedangkan faktor situasional, di antaranya, mencakup siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, dimana, dan masalah apa yang di

94

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

bicarakan. Sesuai penegasan ini, berarti, dominasi faktor sosial dan faktor situasional dalam pemakain bahasa akan mempengaruhi munculnya variasi bahasa. Sedangkan, menurut David Crystal (1983) variasi bahasa adalah bentuk yang digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan yang asli, yang awal, atau yang baku. Di dalam bidang sosial linguistik, ungkap David Crystal, variasi bahasa itu mengacu pada sistem ekspresi linguistik yang dipengaruhi hanya oleh variabl-variabel situasional. Variasi bahasa dapat di lihat berdasarkan aspek-aspek (1) waktu, (2) regional, (3) status, (4) sosiokultural, (5) situasional, dan (6) medium pengungkapan. Belajar bahasa dapat dipelajari:

1. Pemilihan bahasa

Pemilihan bahasa dalam masyarakat multi bahasa merupakan gejala yang menarik untuk di kaji dari perspektif sosiolinguistik. Fasold mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa di dalam masyarakat. Dalam masyarakat multi bahasa tersedia berbagai kode, baik berupa bahasa, dialek, variasi, dan gaya untuk digunakan dalam interaksi sosial. Dengan tersedianya kode-kode tersebut, masyarakat akan memilih kode yang tersedia sesuai dengan factor-faktor yang mempengaruhinya. Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984) tidak sesederhana yang kita bayangkan, yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan dalam suatu peristiwa komunikasi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama. Kedua, dengan melakukan alih kode, artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Ketiga, dengan melakukan campur kode. Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat di sebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Evintrif (1972) mengidentifikasikan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa penutur dalam interaksi sosial, yaitu (1) latar dan situasi (2) partisipan dalam interaksi (3) topik percakapan (4) fungsi interaksi.

2. Pengertian pemerolehan bahasa

Pemerolehan bahasa di artikan sebagai periode seorang individu atau masyarakat sosial memperoleh bahasa atau kosakata yang baru. Pemerolehan bahasa sangat banyak di tentukan oleh interaksi rumit antara aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial. Menurut Slobin (dalam tarigan, 1988) mengemukakan bahwa setiap pendekatan modern terhadap pemerolehan bahasa akan menghadapi kenyataan bahwa bahasa di bangun sejak semula oleh anak, memanfaatkan aneka kapasitas bawaan sejak lahir yang beraneka ragam dalam interaksinya. Pemerolehan bahasa mempunyai suatu permulaan yang tiba-tiba, tanpa disadari. Kebebasan bahasa muali sekitar usia satu tahun di saat anak mulai menggunakan kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan gradual yang muncul dari masyarakat melalui proses yang

95

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

3. Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua

Masyarakat di luar ibukota Negara biasanya di anggap sebagai kelompok pertama. kelompok ini sebagai penyumbang utama pembendaharaan bahasa Indonesia melalui bahasa Jawa, Sunda dan beberapa daerah dengan demografis besar seperti Sumatra utara. Kelompok ini berkembang dengan pesat dalam segi demografisnya.. Kelmpok pengguna bahasa daerah sebagai bahasa ibu secara tradisional bertahan karena tuntutan dari lingkungan dimana mereka di lahirkan dan hidup. Tidak ada yang salah dengan situasi demikian seorang individu lahir di dalam

96

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

lama artinya proses peniruan tejadi kepada siapa saja dan di mana saja. Berkaitan dengan pemerolehan bahasa, setidaknya anak-anak mendapatkan dan mempelajari paling sedikit satu bahasa, kecuali anak-anak yang secara fisik mengalami gangguan. Para ahli mengemukakan bahwa anak akan mencapai tingkat penguasaan bahasa orang dewasa dalam jangka waktu kurang lebih 25 tahun. kemudian, anak akan berusaha menyempurnakan pemerolehannya dengan menambah penguasaan kosa kata, memperdalam pemahaman tata bahasa dan hal-hal lain yang berhubungan dengan seluk beluk bahasa. Berikut ini akan di jelaskan tahap-tahap perkembangan secara kronologis oleh Mackey (1965).  Usia 3 bulan, anak akan mulai mengenal suara manusia ingatan yang sederhana mungkin sudah ada, tetapi belum tampak jelas. Segala sesuatu masih terkait dengan apa yang di lihatnya.  Usia 6 bulan, anak sudah mulai dapat membedakan antara nada yang halus dan nada yang kasar. Anak mulai membuat vokal ―baBaba‖.  Usia 9 bulan, anak mulai bereaksi terhadap bahasa isarat. Dia mulai mengucapkan macam – macam suara dan tidak jarang kita bisa mendengarkan campuran suara yang menurut kita suara yang aneh atau suara yang tidak dapat kita pahami.  Usia 12 bulan, anak akan mulai membuat reaksi terhadap suruhan. Anak gemar mengeluarkan suara – suara dan bisa di amati, adanya beberapa kata yang di ucapkannya untuk mendapatkan sesuatu atau hal-hal yang d inginkan .  Usia 18 bulan, anak mulai mengikuti petunjuk atau arah. Kosakatanya sudah mencapai sekitar dua puluhan. Di dalam tahap ini komunikasi dengan menggunakan bahasa sudah mulai kelihatan dan cukup nampak.  Usia 2 – 3 tahun, anak sudah bisa memahami pertanyaan dan suruhan sederhana. Kosakatanya sudah mencapai beberapa ratus ( baik yang pasif ataupun yang aktif ) anak sudah bisa mengutarakan isi hatinya dengan kalimat sederhana.  Usia 4 – 5 tahun, pemikiran anak makin mantap meskipun masih sering membingungkan dalam hal – hal yang berkaitan dengan waktu belum bisa di pahami dengan jelas.  Usia 6 – 8 tahun, tidak ada kesukaran untuk memahami kalimat yang biasa di pakai oleh kita ( orang dewasa )sehari hari. Anak akan mulai beraktivitas dengan melakukan belajar membaca dengan sendirinya akan menambah pembendaharan katanya. Dia mulai membiasakan diri untuk pola kalimat yang agak rumit pada dasarnya di kuasainya sebagai alat untuk berkomunikasi.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

sebuah keluarga berbahasa ibu contohnya Sunda. Pada perkembangan selanjutnya kedua orang tuanya mulai menanamkan beberapa kosakata bahasa Sunda. Jarang sekali kosakata tersebut mulai berkombinasi dengan bahasa Indonesia yang telah di kuasainya. Bagi orang tua yang tidak mengenal bahasa Indonesia dengan baik, maka dapat di pastikan bahwa pemerolehan bahasa anak mereka akan di dominasikan oleh bahasa daerah setempat.. Keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua pada umumnya di berikan sejak usia dini. Jarang sekali bahasa Indonesia di berikan hampir bersamaan dengan bahasa ibu. Beberapa kosakata pada tahap inisiasi misalnya papa, mama, baik, senyum, cantik, dan banyak lagi kosakata lainnya yang terkenal bagi usia anak kecil. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, Tidak jarang keluarga berbahasa ibu bahasa daerah yang mengajarkan bahsa Indonesia secara formal kepada anaknya, mereka yakin akhirnya anak mereka akan dapat berbahasa Indonesia.

97

Bagaimana Belajar Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Belajar Bahasa
Oleh: Sumiyati

Dari Segi Proses dan Teori Belajar bahasa melalui proses terlebih dahulu terutama pada anak yang mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (B1) (anak) terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya. Bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Pembelajaran bahasa bisa diatasi dengan cara yakni pada proses pembelajaran awal dilakukan upaya atau langkah-langkah penambatan materi secara sistematis dan bermakna sejak awal guna meningkatkan proses pengingatan. Proses bahasa telah diketahui bahwa bila mendengar orang yang berbicara, sebenarnya mendengarkan bunyi bahasa. Bunyi bahasa tersebut ada yang dipahami dan ada yang tidak dipahami. Bila dimengerti berarti bunyi bahasa yang didengar, satu sistem dengan bahasa, dan bila tidak dimengerti berarti berbeda sistem. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi, yaitu untuk mengungkapkan ide dan gagasan terhadap orang lain. Syarat terjadinya suatu komuinikasi yang baik dalam berkomunikasi sebenarnya melalui suatu proses yang disebut proses bahasa. Proses bahasa tersebut terjadi pada pembicara, lingkungan, dan pendengar. Maka dari itu, seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tatakrama berkomunikasi dengan menyimak. Adapun pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit, ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi. Dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai dia memilih, berdasarkan suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang paling baik serta yang paling sederhana dari bahasa tersebut. Kanak-kanak melihat dengan pandangannya akan kenyataan-kenyataan bahasa yang dipelajarinya dengan melihat tata bahasa asli orang tuanya, serta pembaharuan-pembaharuan yang telah mereka perbuat, sebagai bahasa tunggal. Kemudian dia menyusun atau membangun suatu tata bahasa yang baru serta yang disederhanakan dengan pembaharuan-pembaharuan yang dibuatnya sendiri. Seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa anakanak dapat belajar menyusun kalimat. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoleh basa ibunya dengan memakai

98

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal pada saat dilahirkan Mempelajari sebuah bahasa bisa dilakukan dengan proses atau berbagai macam cara, bisa dengan cara membaca buku-buku teori tentang bahasa, bisa melalui media televisi, bisa dengan bercakap langsung dengan penutur asli suatu bahasa dan lain sebagainya. Dari beberapa cara tersebut, cara yang paling mendasar dalam mempelajari bahasa adalah dengan menyimak tuturan suatu bahasa. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak mempunyai beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan keterampilan bahasa yang lain. Seseorang memperoleh bahasa pertamanya karena mendengarkan orang-orang di sekelilingnya bertutur dan mengucapkan kata-kata, sehingga kata-kata yang didengar akan langsung terekam di dalam otak seseorang yang selanjutnya secara tidak sadar, kata-kata itu akan diucapkan pada saat ia menggunakan keterampilan berbicaranya. Orang juga lebih sering menggunakan bahasa tutur dari pada bahasa tulis, sehingga orang lebih sering mendengar dari pada membaca. Maka dalam memahami suatu tuturan, seseorang harus mempunyai daya menyimak yang baik dan didukung dengan pemahaman mengenai kaidah bahasa yang digunakan. Berbicara juga sebagai suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak. Dalam bahasa ada proses pendekatan berorientasi penuh pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antarsesama. Untuk mengungkapkan berbagai ungkapan dalam aktivitas komunikasi, seseorang harus mengetahui sejumlah fungsi bahasa agar ia dapat mengungkapkan tuturan bahasa sesuai dengan siapa, kapan, dan bagaimana bertutur. Adapun motivasi dalam bahasa adanya kebutuhan atau keinginan yang dirasakan pembelajar bahasa untuk balajar bahasa. Proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Selanjutnya proses belajar bahasa lebih ditentukan oleh cara anak mengatur materi bahasa bukan usia anak. Proses belajar bahasa didapat melalui: enaktif yaitu aktivitas untuk memahami lingkungan, ikonik yaitu melihat dunia lewat gambar dan visualisasi verbal; simbolik yaitu memahami gagasan-gagasan yang abstrak. Beberapa teori yang mengungkapkan bahwa bahasa teori belajar ini dapat bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran bahasa. Menurut pandangan kaum behavioris, tidak ada struktur linguis yang dibawa anak sejak lahir (anak kosong dari bahasa). Anak lahir seperti kain putih tanpa catatan tanpa potensi bahasa. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar yang akhirnya akan membentuk bahasa. Dengan demikian, bahasa dipandang sebagai sesuatu yang dipindahkan melalui pewarisan kebudayaan (sama seperti belajar mengemudi). Menurut teori bahavioris

99

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

proses akuisisi bahasa terjadi melalui perubahan tingkah laku yang terjadi karena lingkungan. Teori belajar termasuk psikologi, dan teori belajar bahasa termasuk psikolinguistik. Teori belajar bahasa dengan tujuan agar terdidik terampil menggunakan bahasa yang sedang dipelajarinya dengan demikian suatu ilmu terapan untuk kepentingan praktis yaitu terampil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Teori behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan. Respons itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi itu. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya ―alat penguasaan bahasa‖ bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi khusus bukan sekedar belajar secara umum. Cara berbahasa jauh lebih rumit dari sekedar penetapan stimulus, eksistensi bakat perkembangan bahasa anak bukanlah proses perkembangan sedikit demi sedikit stuktur yang salah, bukan dari bahasa tahap pertama yang lebih banyak salahnya ke tahap berikutnya, tetapi bahasa anak pada setiap tahapan itu sistematik dalam arti anak secara terus menerus dengan dasar masukan yang diterimanya dan kemudian mengujinya dalam ujarannya sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang, belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa lebih menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam pemerolehan, dan memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif dalam proses belajar bahasa, dan struktur kompleks dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam dan bukan pula sesuatu yang dipelajari lewat lingkungan. Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak dan lingkungan lingualnya. Struktur tersebut telah tersedia secara alamiah. Perubahan atau perkembangan bahasa pada anak akan bergantung pada sejauh mana keterlibatan kognitif sang anak secara aktif dengan lingkungannya. Menurut Chomsky (Woolflok, dkk, 1984:70) anak dilahirkan kedunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan mereka hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda. Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis, diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan belajar dapat diartikan sebagai proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, sedangkan tujuan pembelajaran bahasa adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks

100

Pengertian Bahasa Bagaimana Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Untuk mencapai tujuan di atas, pembelajaran bahasa harus mengetahui prinsip-prinsip belajar bahasa yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan pembelajarannya, serta menjadikan aspekaspek tersebut sebagai petunjuk dalam kegiatan pembelajarannya. Prinsip-prinsip belajar bahasa sebagai berikut. Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika; (1) diperlakukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan dan minat, (2) diberi kesempatan berapstisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, (3) bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, (4) ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya menjadi bagian dari bahasa sasaran, (5) jika menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, (6) jika diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan (7) jika diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri. Bahasa pun digunakan untuk belajar mengungkapkan buah pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu pasti akan menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikirannya atau menggunakan bahasa untuk merangkai pikiran didalam otaknya begitu cepatnya pemerolehan bahasa pada anak telah membuat baik orang tua. Ada dua pendapat mengenai pemerolehan bahasa pada anak. Pertama, beberapa ahli bahasa (biasanya disebut kaum nativist) menganggap bahwa bahasa pada dasarnya bersifat innate (bawaan), bahwa anak-anak dilahirkan dengan sebuah bakat spesial, unik, yang memungkinkan manusia untuk dapat memahami/menguasai tata bahasa sebuah bahasa tanpa harus mendapatkan pengajaran. Yang kedua, biasanya disebut kaum behaviorist, berpendapat bahwa para orang tua-lah yang mengajarkan bahasa kepada anak-anak mereka dengan cara menggunakan bahasa yang telah disederhanakan (saat berbicara dengan anak-anak mereka) dan dengan memberikan timbal-balik saat anak-anak menggunakan bahasa secara tidak benar atau kurang tepat.

101

Pengertian Belajar Bahasa Bagaimana Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Belajar Bahasa Indonesia
Oleh: Yogi Ginanjar
Dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa, bahasa Indonesia tidak menggunakan kata bergender. Sebagai contoh kata ganti seperti "dia" tidak secara spesifik menunjukkan apakah orang yang disebut itu lelaki atau perempuan. Hal yang sama juga ditemukan pada kata seperti "adik" dan "pacar" sebagai contohnya. Untuk memperinci sebuah jenis kelamin, sebuah kata sifat harus ditambahkan, "adik lakilaki" sebagai contohnya. Ada juga kata yang berjenis kelamin, seperti contohnya "putri" dan "putra". Kata-kata seperti ini biasanya diserap dari bahasa lain. Pada kasus di atas, kedua kata itu diserap dari bahasa Sanskerta melalui bahasa Jawa Kuno. Untuk mengubah sebuah kata benda menjadi bentuk jamak digunakanlah reduplikasi (perulangan kata), tapi hanya jika jumlahnya tidak terlibat dalam konteks. Sebagai contoh "seribu orang" dipakai, bukan "seribu orang-orang". Perulangan kata juga mempunyai banyak kegunaan lain, tidak terbatas pada kata benda. Bahasa Indonesia menggunakan dua jenis kata ganti orang pertama jamak, yaitu "kami" dan "kita". "Kami" adalah kata ganti eksklusif yang berarti tidak termasuk sang lawan bicara, sedangkan "kita" adalah kata ganti inklusif yang berarti kelompok orang yang disebut termasuk lawan bicaranya. Susunan kata dasar yaitu subjek - predikat - objek (SPO), walaupun susunan kata lain juga mungkin. Kata kerja tidak di bahasa berinfleksikan kepada orang atau jumlah subjek dan objek. Bahasa Indonesia juga tidak mengenal kala ( tense). Waktu dinyatakan dengan menambahkan kata keterangan waktu (seperti, "kemarin" atau "esok"), atau petunjuk lain seperti "sudah" atau "belum". Dengan tata bahasa yang cukup sederhana bahasa Indonesia mempunyai kerumitannya sendiri, yaitu pada penggunaan imbuhan yang mungkin akan cukup membingungkan bagi orang yang pertama kali belajar bahasa Indonesia. Tahapan Ejaan untuk Bahasa Melayu/ Indonesia Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/ Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Ejaan van Ophuijsen

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Ma‘moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim menyusun ejaan baru ini pada tahun 1896. Pedoman tata bahasa yang kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen itu resmi diakui pemerintah kolonial pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:

102

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

2. Ejaan Republik

a. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa. b. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb. c. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb. d. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma‘moer, ‘akal, ta‘, pa‘, dsb.

Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini juga dikenal dengan nama ejaan Soewandi. Ciri-ciri ejaan ini yaitu: a. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb. b. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb. c. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, kebarat2-an. d. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

3. Melindo (Melayu Indonesia)

Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan. o Penggolongan Indonesia termasuk anggota dari Bahasa Melayu-Polinesia Barat subkelompok dari bahasa Melayu-Polinesia yang pada gilirannya merupakan cabang dari bahasa Austronesia. Menurut situs Ethnologue, bahasa Indonesia didasarkan pada bahasa Melayu dialek Riau yang dituturkan di timur laut Sumatra o Distribusi geografis Bahasa Indonesia dituturkan di seluruh Indonesia, walaupun lebih banyak digunakan di area perkotaan (seperti di Jakarta dengan dialek Betawi serta logat Betawi). Penggunaan bahasa di daerah biasanya lebih resmi, dan seringkali terselip dialek dan logat di daerah bahasa Indonesia itu dituturkan. Untuk berkomunikasi dengan orang sedaerah kadang bahasa daerahlah yang digunakan sebagai pengganti untuk bahasa Indonesia. o Kedudukan resmi Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:

103

Pengertian Bahasa Bagaimana Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

o Berikut ini beberapa cara belajar bahasa dan membangun bahasa secara

1. Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ‖Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia‖. 2. Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ‖Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia‖. Dari Kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai: a. Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah. b. Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

kreatif: Awalan, akhiran, dan sisipan

o Dialek dan ragam bahasa Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu (1) varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialek dan (2) varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa. Dialek dibedakan atas hal sebagai berikut: 1) Dialek regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari eka bahasa. Oleh karena itu, dikenallah bahasa Melayu dialek Ambon, dialek Jakarta (Betawi), atau bahasa Melayu dialek Medan. 2) Dialek sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialek wanita dan dialek remaja. 3) Dialek temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialek Melayu zaman Sriwijaya dan dialek Melayu zaman Abdullah. 4) Idiolek, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia, kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata. Ragam bahasa dalam bahasa Indonesia berjumlah sangat banyak. Maka itu, ia dibagi atas dasar pokok pembicaraan, perantara pembicaraan, dan hubungan antarpembicara. Ragam bahasa menurut pokok pembicaraan meliputi: a) ragam undang-undang b) ragam jurnalistik c) ragam ilmiah d) ragam sastra Ragam bahasa menurut hubungan antarpembicara dibagi atas: 1) ragam lisan, terdiri dari: a) ragam percakapan b) ragam pidato

Bahasa Indonesia mempunyai banyak awalan, akhiran, maupun sisipan, baik yang asli dari bahasa-bahasa Nusantara maupun dipinjam dari bahasa-bahasa asing.

104

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

c) ragam kuliah d) ragam panggung 2) ragam tulis, terdiri dari: a) ragam teknis b) ragam undang-undang c) ragam catatan d) ragam surat-menyurat Dalam kenyataannya, bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk: 1) komunikasi resmi 2) wacana teknis 3) pembicaraan di depan khalayak ramai 4) pembicaraan dengan orang yang dihormati Selain keempat penggunaan tersebut, ada pula siasat belajar bahasa sebagai berikut: 1) Gunakanlah pemahaman nonlinguistik Anda sebagai dasar bagi penetapan atau pemikiran bahasa. 2) Gunakan apa saja atau segala sesuatu yang penting dan menonjol serta menarik hati Anda. 3) Anggaplah bahwa bahasa dipakai secara referensial atau eskpresi dan menggunakan data bahasa. 4) Amatilah bagaiamana caranya orang lain mengekspresikan berbagai makna. 5) Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing atau memperoleh data yang Anda inginkan. 6) Tirulah apa yang dikatakan orang lain. 7) Gunakan beberapa prinsip umum untuk memikirkan serta menetapkan bahasa. 8) Buatlah sebanyak mungkin dari yang telah Anda miliki dan Anda peroleh. 9) Hasilkanlah bahasa dan lihatlah bagaimana orang lain memberikan responsi.

105

Bagaimana Bahasa Pengertian Belajar Bahasa

kumpulanartikelteoribelaj arbahasakumpulanartikel teoribelajarbahasakumpu Kumpulan Artikel bagaimana "Teori Belajar Bahasa" lanartikelteoribelajarbaha Mengajarkan bahasa sakumpulanartikelteoribe lajarbahasakumpulanarti kelteoribelajarbahasakum pulanartikelteoribelajarb ahasakumpulanartikelteo ribelajarbahasakumpulan artikelteoribelajarbahasa kumpulanartikelteoribelaj
Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
2010

106

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Upaya Meningkatkan Mutu Pengajaran Bahasa dan Sasta Indonesia di Sekolah
Oleh: Ade Muhamad Pidin

Secara kasat mata selama ini masyarakat menilai pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah kurang menunjukan hasil yang memuaskan. Walau pelajaran bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, kompetensi bahasa Indonesia siswa tidaklah menggembirakan. Selama ini bahasa dan sastra Indonesia ditempatkan siswa sebagai mata pejaran yang kurang favorit setelah mata pelajaran eksak dan ilmu sosial. Siswa kurang memiliki pengalaman berbahasa yang baik. Di antaranya kemampuan menulis yang kurang memadai, kemampuan membaca yang tidak mentradisi, kurang mahir berbicara, serta belum mampu mengapresiasi dan mengekspresikan diri dalam sastra sesuai dengan harapan. Dalam proses belajar mengajar semua guru harus memberikan keteladanan kepada para siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kepedulian terhadap bahasa Indonesia para siswa tersebut akan mendorong siswa lebih berhati-hati dalam penggunan bahasa Indonesia sehingga memberikan pengalaman terhadap para siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar seuai dengan situasi,tujuan, tempat dan media. Pendidikan bahasa Indonesia di Sekolah ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian siswa, guru, tata usaha, dan kepala sekolah terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Kepedulian itu pada gilirannya diharapkan akan meningkatkan sikap positif mereka terhadap bahasa Indonesia dan sastra Indonesia, baik sebagai lambang identitas kebanggaan bangsa, persatuan, dan kesatuan bangsa, maupun pembangkit rasa solidaritas kemanusian. Meskipun kemampuan Bahasa Indonesia selalu mengalami perubahan— pelatihan-pelatihan guru tetap dilangsungkan, diskusi, seminar, kualitas buku diperbaiki, perpustakaan ditambah—,tapi persoalan tersebut tetap saja selalu muncul ke permukaan, di mana pernyataan tersebut tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah. Misalnya dari data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pusat menyebutkan pada tahun 2008 tidak urang dari 12.000 judul buku baru diterbitkan atau 2000 lebih banyak dari tahun sebelumnya. Berarti hal tersebut menunjukkan minat membaca dan menulis mulai tumbuh dan menjadi kebiasaan. Di kalangan remaja membaca dan menulis bahasa dan sastra Indonesia masih sebatas genre dan buku-buku yang dibaca pun hanya buku-buku chicklit dan teentlit, yaitu buku-buku sastra remaja yang digemari masyarakat. Sedangkan di luar sastra remaja sastra kurang dikenal, terutama ketika brsentuhan dengan karya sastra

107

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

yang memerlukan minat dan motivasi belajar serius, khusus, dan mendalam seperti karya Sutardji Calzoum Bachri, Taupik Ismail, dan lain-lain yang kurang diminati siswa. Untuk mengatasai hal tersebut guru tidak perlu kaku dan berpusat pada dirinya sendiri, tapi peran siswa dan keberadaannya perlu dilibatkan dalam karya sastra. Siswa dapat menggali nilai-nilai agama, budaya, sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan untuk mewujudkan idealisme pembelajaran serta diperlukan paradigma pembelajaran sastra, baik teoretis dari konseptual maupun teknis dan implementasinya yang meliputi komponen metode, strategi, materi, langkah-langkah penyajian, media pembelajaran, evaluasi, dan perumusan tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dengan demikian pembelajaran sastra dapat menjadi daya nalar dan kreativitas siswa. Hal ini juga diakui oleh Sumardjo, bahwa pembelajaran sastra (apresiasi) adalah salah satu sarana pengembangan intelektual siswa. Dalam perspektif pendidikan tujuan pembelajaran sastra lebih diarahkan pada kemampuan siswa dalam mengapresiasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra. Di dalam kurikulum 2004 guru diberi kebebasan berkreasi mengembangkan bahan ajar yang inovatif, menarik, menyenangkan, mengasyikan, mencerdaskan, dan membangkitkan kreativitas siswa. Guru berupaya mengajak siswa mengembangkan sastra remaja sebagai modal dasar dan tantangan dalam menyampaikan sastra yang lebih serius sehingga memperkaya wawasan dan bacaan para siswa untuk berfikir luas dan kritis. Kegiatan dan membandingkan sastra remaja yang lebih serius dapat dilakukan melalui kegiatan membaca cerpen, menonton acara baca puisi, teater, pagelaran, baik melalui kaset maupun DVD. Upaya ini adalah untuk merangsang dan meningkatkan mutu pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hal itu dapat dilakukan dengan melaksanakan inovasi pembelajaran, termasuk dalam memanfaatkan alat-alat teknologi atau information communication technology (ICT) school model. Untuk menguasai dan menerapkan teknologi tersebut diperlukan pelatihan-pelatihan langsung melalui diklat yang memberi kesempatan kepada guru untuk terjun langsung dalam menerapkan dan memanfaatkan pendidikan tersebut. Kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) harus lebih diintensifkan dengan bantun pihak sekolah dan dinas setempat. Hal ini dilakukan untuk menambah pengetahuan para guru dalam mengikuti perkembangan teknologi pendidikan, model, cara, dan teknik mengajar yang mutakhir. Dengan demikian para guru mampu mengikuti kemajuan bahasa dan sastra Indonesia yang terus berkembang dan bersifat dinamis. Kegiatan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia supaya menarik perhatian siswa dapat juga dengan membawa siswa pada suasana belajar di luar kelas atau di alam terbuka dengan mengambil objek alam (pesawahan, pegunungan, pedesaan, perkebunan, atau pantai), lingkungan di sekitar sekolah yang bersifat budaya (kesenian, kerajinan, museum/ peninggalan sejarah), industri, teknologi dan sebagainya.

108

Bagaimana Bahasa Pengertian Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

109

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Pengeloaan kelas dalam proses belajar mengajar harus berorientasi pada keperluan siwa dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan siswa. Tujuan pembelajaran sastra secara umum ditekankan agar terwujudnya kemampuan siswa untuk mengapresisi sastra memadai sedangkan secara khusus menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran siswa di SMA/SMK/MA adalah untuk kemampuan apresiasi kreatif. Karya sastra adalah miniatur kehidupan yang digali dalam spektrum kebudayaan yang mengakar dari suatu komunitas masyarakat. Pembelajaran di luar kelas sebaiknaya difokuskan pada kegiatan ekspresi bahasa, misalnya membaca karya tulis, menulis karya sastra, menulis resensi, menulis hasil wawancara, dan lain-lain. Aspek-aspek yang dinilai kurang maksimal dalam proses pendidikan bahasa dan sastra Indonesia adalah kurangnya daya minat mempelajari, mendalami, dan memahami. Padahal bahasa dan sastra Indonesia merupakan pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan kreativitas, penalaran, dan kematangan kepribadian siswa. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada umumnya berhadapan dengan dua kemungkinan yaitu pembelajaran teori sastra yang termasuk sejarah-sejarah bahasa dan pembelajaran apesiasi sastra. Keduanya sangat penting, sekolah tekanannya harus pada apresiasi sastra jika teori-teori ini termasuk pada ranah kognitif. Kegagalan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah disebabkan oleh metode yang digunakan olehh guru lebih banyak berorientasi pada metode klasik yang justru tidak merangsang minat dan memacu kreativitas siswa dalam bernalar. Masalah tujuan dan bahan pengajaran pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia lebih oprasional. Agar nilai-nilai yang terkandung dalam karya saatra dapat diapresiasi siswa secara kreatif, maka dibutuhkan rumusan dan pelajaran sastra yang lebih terbuka dan memberikan kebebasan mengungkapkan dan menggunakan daya nalar secara bebas. Jadi, pada intinya pengajaran bahasa itu harus didasari dengan wawasan atau pengetahuan yang lebih, supaya anak didik dapat mengambil pemahaman dari apa yang telah disampaikan serta dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk dirinya pribadi. Bahasa dan sastra Indonesia dapat diperoleh dari tiga unsur berikut ini. Bahasa pertama; bahasa yang berasal dari ibu, tetapi dilakukan secara tidak sadar. Bahasa kedua; mempelajari bahasa setelah bahasa ibu. Misalnya, ada salah seorang anak keturunan dari Garut dan pastinya menggunakan bahasa Sunda, setelah menguasai bahasa itu kemudian si anak mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa yang lainnya, maka bahasa itu disebut bahasa kedua, ketiga atau seterusnya.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah
Oleh: Ai Rima S.

Dalam perspektif pergaulan, bahasa dapat mempengaruhi tingkah laku manusia di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bersyukur manusia telah dianugerahi kemampuan dalam berbahasa oleh Allah SWT sehingga mampu berpikiran secara sistematis, kritis, dan dinamis. Pengaruh bahasa pada pikiran manusia besar sekali karena dengan bahasa kita dapat menyimpan pikiran, mengembangkan pikiran, dan mengungkapkan buah pikiran terhadap orang lain. Bahasa yang digunakan oleh seseorang bisa menunjukkan sikap yang bersangkutan. Pada hakikatnya bahasa merupakan satu kesatuan sebagai penjelmaan nyata. bahasa itu tercermin dalam kepribadian individu dan kebudayaan masyarakat. Pada gilirannya bahasa turut membentuk kepribadian dan kebudayaan suatu bangsa. Oleh karena itu, bahasa—khususnya bahasa anak—di samping mengalami transformasi makna, juga mengalami transformasi budaya. Dalam perkembangan bahasa anak usia sekolah yang menarik adalah mereka duduk di taman kanak-kanak sampai kelas 3 SD. Di sekolah maupun di rumah mereka dengan taat menggunakan bahasa standar. Begitu duduk di kelas 4, 5, dan 6 mereka mulai menggunakan ragam bahasa yang nonstandar. Bahkan setelah duduk di perguruan tinggi, mereka berhadapan dengan generasi lain dan memerlukan identitas diri, antara lain gaya hidup yang khas termasuk bahasa, yang terpengaruh dengan bahasa gaul. Di sinilah mereka menemukan dan menciptakan keAKUannya. Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, anak harus mampu bersosialisasi dengan ligkungan sekitar di mana mereka harus pandai menulis karya tulis, diskusi, dan komunikasi secara baik dan benar dalam menggunakan bahasa Indonesia. Perubahan orientasi budaya bahasa menuju baca-tulis merupakan hal yang terbaik. Percepatan perkembangan bahasa Indonesia akan banyak dipengaruhi ragam bahasa, misalnya bahasa gaul (prokem) yang begitu cepat dan mudah dikuasai oleh golongan anak-anak muda khususnnya. Dengan demikian anak-anak tidak boleh menggunakan bahasa gaul dalam lingkungan sekolah, sebagai bahasa sehari-hari yang dapat dihilangkan fungsi bahasa sebagai lambang identitas nasional. Guru di sekolah dihadapkan harus mengajarkan bahasa Indonesia yang baku (standar) ketika berhadapan dengan anak didiknya. Hadirnya bahasa prokem sah-sah saja dan wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja karena bahasa tumbuh dan berkambang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan. Kosakata bahasa prokem di

110

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Indonesia diambil dari lingkungan tertentu, maknanya tergantung pada kreativitas pemakainya itu sendiri. Dengan menggunakan bahasa prokem mereka ingin menyatakan diri sebagai kelompok masyarakat yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Bahasa prokem adalah bahasa sandi yang dipakai dan digemari oleh kalangan remaja tertentu. Namun, bahasa prokem sekarang lebih dikenal dan digunakan setelah dipopulerkan oleh seorang selebritis yaitu Debby Sahertian. Bahasa prokem konon berasal dari kalangan preman, atau mayoritas gank anak-anak muda yang telah dikamuskan. Fungsi bahasa prokem untuk menyampaikan hal-hal yang tertutup agar pihak lain tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Hal ini merupakan perilaku kebahasaan yang universal. Berikut contoh bahasa prokem: ―sepokat‖ = Sepatu, ―kongkau‖ = nongrong, ―ember‖ = memang benar, ―dugem‖ = dunia gemerlap, ―bokap‖ = bapak, dan ―nyokap‖ = ibu. Sekilas tentang Bahasa dan Sastra Harus Menyenangkan bagi Anak-anak Sekolah Bahasa merupakan milik manusia yang sangat berharga dan menjadi ciri khas yang membedakan dengan makhluk lainnya. Bahasa tumbuh dan berkembang sesuai dengan zaman. Pada awalnya bahasa hanya sebagai alat komunikasi antarsesama manusia. Kemudian bahasa menjadi sebuah disiplin ilmu yang disebut linguistik. Liguistik mendeskripsikan bahasa dalam bahasa itu sendiri karena kewenangannya. Oleh karena itu, deskripsi bahasa perlu dipandang oleh suatu dunia ilmu pengetahuan sebagai deskripsi yang valid. Bahasa perlu diolah dan ditata berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pendidikan sehingga menjadi bahan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pendidikan klasikal yang hanya menjelajahi peserta didik dengan teori selama ini terbukti kurang mampu menggairahkan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, harus ditempuh dengan metode pembelajaran yang lebih menyenangkan bagi anakanak. Pendekatan guru terhadap anak didik dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus mampu menjadikan mereka aktif, kreatif, dan asyik sehingga terlepas dari suasana tertekan dan terbebani dari situasi yang membosankan. Beberapa contoh pendekatan tersebut yaitu ―pembelajaran aktif‖ (active learning), ―pembelajaran yang mempesona― (attractive learning), ―pembelajaran yang mengasikan― (joyfull learning), dan ―pembelajaran berbasis kecerdasan jamak― (multiple intelligences approach). Kita berharap guru dapat mengembangkan aspekaspek pengetahuan bahasa melalui sikap dan keterampilan berbahasa pada anak usia dini dan diterapkan secara dini sehingga terlepas dari suasana tertekan, terbebani, dan situasi membosankan bagi anak-anak karena mereka sangat menyukai cara belajar yang menyenangkan (fun learning), berbasis pengalaman (learning by experience), harus bersifat nyata (by doing), dan saling terintegrasi. Karakter itulah yang harus dikembangkan di sekolah demi merangsang daya tarik dan minat anak dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dalam hal ini guru sangat berperan sebagai ujung tombak dalam menyebarluaskan bahasa Indonesia. Yang terpenting adalah bagaimana guru memposisikan bahasa Indonesia dan sastra sebagai suatu sistem kepribadian seseorang yang sangat mendasar dan

111

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

112

Bagaimana Bahasa Pengertian Mengajarkan Bahasa

mampu melahirkan peserta didik yang kreatif dan inovatif. Di sinilah perlunya insan pendidik yang harus berhadapan langsung dengan siswa dan masyarkat yang notabene menjadi penerus bangsa. Guru diupayakan tidak boleh galak, kasar, dan membosankan, tapi harus kreatif, humoris, dan variasi tidak menjemukan. Diharapkan mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia tidak memisahkan anak dan dunianya serta tidak boleh menjadi penjara baginya. Anak tidak hanya menjadi objek pembelajaran tetapi sebagai subjek pembelajaran. Siswa harus diterima apa adanya, tumbuh sesuai dengan bakat dan kemampuanya. Toh, tidak semua yang Allah SWT cipta menjadi ilmuan, tapi bermacam-macam. Untuk itu harus ada kesadaran bahwa kurikulum dibuat untuk kepentingan anak atau siswa. Guru lebih bersikap demokatis dan menempatkan dirinya sebagai fasilitator bukan sebagai komandan. Berkaitan dengan hal tersebut guru dituntut menjadi teladan bagi para siswa. Dalam hal ini bahasa Indonesia, guru senantiasa menjadi model dan acuan standar dalam berbahasa Indonesia bagi masyarakat. Jika guru ceroboh dalam menggunakan bahasanya, tentu akan fatal yang demikian bukan saja kehilangan wibawa di mata siswa dan masyarakat tetapi akan memicu kehancuran bahasa Indonesia. Pepatah mengatakan: ―Guru kencing berdiri murid kencing berlari‖. Begitu pula dengan berbahasa. Pendidikan formal yang dilakukan di sekolah-sekolah, mempelajari banyak ilmu-ilmu yang menunjang peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam menerapkan kesehariannya pembelajaran diarahkan pada konsep-konsep yang mengedepankan materi belum disertai dengan praktek lapangan. Banyak cara untuk menyampaikan materi agar tujuan yang dicita-citakan dalam pembelajaran itu bisa dicapai oleh guru dan peseta didik, baik menurut guru yang mengajar maupun menurut sistem yang berlaku ataupun menurut kemampuan serta kebutuhan masyarakat. Dunia pendidikan mengenal beberapa pendidikan yang ditempuh, yaitu fomal, informal, dan non formal. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang bersifat pendekatan komunikatif akan bervariasi yang berbeda-beda pada setiap jenjang pendidikan. Pembelajaran dalam kenyataannya hanya dibedakan pada bahan ajar yang disampaikan. Pendekatan komunikatif dapat disimpulkan, pendekatan yang efektif untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar yang menitikberatkan kepada peserta didik yang selalu aktif dan komunikatif. Harapan penulis semua guru bahasa dan sastra Indonesia bisa menerapkan pendekatan ini, apabila dalam proses pembelajaran atau proses pentransferan ilmu pengetahuan bahasa dan sastra Indonesia memerlukan pengalaman belajar, artinya peserta didik mengalami langsung apa yang sedang dipelajarinya, guru hanya menyukseskan tujuan dari pendekatan kontekstual secara komunikatif dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Mengajarkan Berbicara dalam Diskusi Kelompok
Oleh: Irmawati

Belajar bahasa artinya belajar menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, baik tertulis maupun lisan. Berbicara sebagai salah satu unsur kemampuan berbahasa sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Hal ini dibuktikan dari kegiatan pengajaran berbicara yang selama ini dilakukan. Dalam praktiknya, pengajaran berbicara dilakukan dengan menyuruh murid berdiri di depan kelas untuk berbicara, misalnya bercerita atau berpidato. Siswa yang lain diminta mendengarkan dan tidak mengganggu. Pengajaran berbicara di sekolah-sekolah itu akan kurang menarik. Siswa yang mendapat giliran merasa tertekan sebab di samping siswa itu harus mempersiapkan bahan sering kali guru melontarkan kritik yang berlebihlebihan. Sementara itu, siswa yang lain merasa kurang terikat pada kegiatan itu kecuali ketika mereka mendapatkan giliran. Agar seluruh anggota kelas dapat terlibat dalam kegiatan pengajaran berbicara, hendaklah selalu diingat bahwa hakikatnya berbicara itu berhubungan dengan kegiatan berbahasa yang lain Untuk latihan permulaan yang bertujuan melatih kemampuan bebicara siswa/ mahasiswa, lebih efektif kalau diterapkan diskusi kelompok. Mengingat jumlah siswa/ mahasiswa dalam satu kelas cukup banyak, maka untuk melibatkan setiap individu, diskusi kelompok lebih tepat digunakan. A. Persiapan Diskusi Kelompok Persiapan sebuah diskusi tentu sangat tergantung pada bentuk diskusi yang dipilih. Dalam pengajaran kemampuan berbicara, mengingat jumlah siswa/ mahasiswa yang cukup besar dalam satu kelas, lebih efektif diterapkan metode kelompok seperti yang telah dijelaskan.

 Memilih Topik untuk Diskusi

Setelah kelompok terbentuk barulah dilakukan persiapan-persiapan seperti: 1. Setiap kelompok menunjuk salah seorang anggotanya menjadi pemimpin diskusi atau moderator dan seorang lagi sebagai notulis. 2. Menentukan topik yang akan didiskusikan. Hal ini juga dapat diarahkan oleh pengajar, misalnya pengajar menentukan temanya, kemudian tiap kelompok menentukan topiknya. Perlu diingat kembali syarat-syarat sebuah topic berikut ini. a. Tidak terlalu asing bagi peserta diskusi, artinya sudah diketahui serba sedikit dan ada kemungkinan untuk memperoleh bahan. b. Menarik untuk didiskusikan. Topik yang menarik akan menimbulkan kegairahan peserta untuk berdiskusi. Ini merupakan modal utama bagi kelompok untuk melibatkan pendengarnya. Topik akan menarik bila:  menyangkut masalah bersama

113

Bagaimana Bahasa Pengertian Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

 Posisi Tempat Duduk

 Merupakan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi  Mengandung konflik pendapat  Tidak melampaui daya tangkap anggota atau sebaliknya tidak terlalu mudah  Dapat diselesaikan dalam waktu tertentu c. Topik jangan terlalu luas. d. Topik hendaknya bermanfaat untuk didiskusikan sehingga dapat menumbuhkan minat para peserta. e. Kemudian topik yang dipilih disetujui oleh semua anggota diskusi. Merumuskan tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan topik yang dipilih. Penentuan tujuan ini sangat penting karena akan menentukan bahan yang akan dibutuhkan dan bagaimana pula kerangkanya. 3. Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan. Setiap anggota harus aktif mencari bahan. 4. Yang terakhir adalah menyusun kerangka. Kerangka merupakan topik yang dipecah menjadi sub-topik. Posisi tempat duduk tentu harus disesuaikan dengan macam diskusi, tujuan, dan jumlah peserta, serta luas ruangan. Begitu juga masalah kebersihan dan pengaturan udara sehingga peserta merasa aman dan nyaman berdiskusi. Suksesnya sebuah diskusi sangat tergantung kepada kepemimpinan moderator atau pimpinan diskusi. Yang bertindak sebagai seorang peuntun atau pengendali kelompoknya. Tugas seorang pemimpin diskusi atau moderator: a. Menjelaskan tujuan dan maksud diskusi. b. Menjamin kelangsungan diskusi secara teratur dan tertib. c. Memberikan stimulant, anjuran, dan ajakan agar setiap peserta betul-betul mengambil bagian dalam diskusi. d. Menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan dan kemudian membuat kesimpulan e. Menyiapkan laporan. Di tangan moderatorlah terletak sukses atau tidaknya sebuah diskusi. Berdasarkan tugas-tugas di atas, kapada seorang moderator atau pemimpin diskusi dituntut hal di antaranya seperti: a. Mempunyai perhatian yang penuh terhadap topik diskusi. b. Mempunyai pengetahuan yang luas tentang topik diskusi. c. Seorang pemimpin diskusi harus bersikap demokratis, artinya tidak memihak dan dapat menumbuhkan gairah peserta untuk menyelesaikan diskusi. d. Seorang pemimpin diskusi harus mempunyai pandangan yang tajam tentang topik pembicaraan. e. Pemimpin yang baik akan menghindari sifat mengkritik dan berusaha membantu anggotanya untuk mengatasi rasa takut dengan memberikan sugesti atau penghargaan.

 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Berdiskusi

114

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

f. Membatasi anggota yang terlalu banyak berbicara dan memberi sugesti kepada anggota yang tidak mau berbicara. Seorang pemimpin diskusi dituntut: 1) Berkepribadian 2) Mempunyai sensitivitas/ kepekaan yang tinggi (mampu mengerti dan merasakan) 3) Bersimpati kepada orang lain 4) Tidak memihak 5) Mempunyai rasa humor 6) Bersikap ramah, sopan, dan terbuka 7) Mempunyai bakat berbicara dan mendengarkan 8) Berkemampuan mengambil keputusan dan inteligen Selain ketua, notulis bertugas mencatat jalannya diskusi dan membantu ketua menyimpulkan hasil diskusi. Dinamika dan aktivitas diskusi juga sangat ditentukan oleh peserta atau anggota diskusi. Oleh karena itu, peranan dan tugas serta sikap peserta diskusi sangat menentukan. Dalam komunikasi dua arah, peserta diskusi berperan sebagai pembicara dan pendengar. Untuk dapat menjadi pembicara yang baik harus pula membuat pendengar terangsang dengan apa yang dibicarakan, berbicara harus terang dan jelas yang akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraan dan untuk memperkuat argumennya pembicara dapat menggunakan contoh, angka, data, dan sebagainya. B. Pelaksanaan Diskusi Kelompok Setelah semua persiapan selesai dilaksanakan dan pengajar pun telah selesai memberikan pengarahan tentang cara berdiskusi maka setiap kelmpok diberi kesempatan berdiskusi dan yang lain berperan sebagai pengamat yang bertugas mengomentari. Secara garis besar, pelaksanaan diskusi itu dapat digambarkan seperti: 1. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap kelompok melakukan persiapan diskusi. 2. Kelompok berdiskusi dalam waktu yang telah ditentukan. 3. Guru-menentukan komponen-komponen yang diamati atau yang dikomentari. 4. Kelompok tertentu berdiskusi selama 10 atau 15 menit kelompok yang lain dan guru mengamati komponen-kmponen yang telah disepakati. 5. Selesai berdiskusi, para pengamat menyampaikan komentarnya. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan dua cara: a. Tiap kelompok mengemukakan komentarnya tentang pembicara yang diamati melalui juru bicaranya. Anggota yang lain dapat melengkapinya. Guru berperan membetulkan komentar. b. Setiap anggota bergabung ke dalam kelompok pengamatnya. Setiap pengamat mengemukakan komentarnya tentang cara pembicara. Dalam hal ini guru berkeliling melakukan pengamatan dan memberi petunjuk.

115

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

116

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

6. Peserta diskusi bergabung dengan para pengamatnya. Para pengamat memberikan umpan balik tentang cara berbicara temannya. Dalam kelompok ini para siswa pun berlatih mengemukakan pendapat. 7. Setelah selesai hasil pengamatan siswa dibuat dalam tabel penilaian sebaiknya dikumpulkan guru/ dosen lalu diperiksa (dinilai). Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation). Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk : a) Mendorong siswa berpikir kritis. b) Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas. c) Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirannya d) Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama. C. Kelebihan Metode Diskusi Kelebihan metode diskusi sebagai berikut : 1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan. 2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik. 3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) Walaupun belum ada indikator kuantitatif individual mengenai penigkatan kemampuan berbicara siswa, akan tetapi bila ditinjau secara keseluruhan dari proses belajar maupun proses diskusi dapat dilihat gambaran bahwa cara seperti ini dapat meningkatkan partisipasi siswa dengan mengungkapkan usul, pendapat, gagasan, argumen maupun sanggahan terhadap siswa lain. Sehingga, pada gilirannya diharapkan kemampuan berbicara mereka menigkat. Pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Diskusi kelompok dapat memancing kreativitas berpikir siswa/ mahasiswa melaksanakan aktivitas yang berbeda sehingga mereka lebih bergairah dan tidak bosan. Hal ini memungkinkan mereka mempelajari materi yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Melalui diskusi kelompok mereka dapat menganalisis dan mengaplikasikan materi yang sedang diajarkan.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Mengajar Bahasa
Oleh: Nurhayat

Sebelum berbicara lebih jauh tentang bagaimana mengajar bahasa, alangkah baiknya apabila kita berbicara dulu ―untuk apa kita belajar bahasa?‖. Untuk menjawab pertanyaan itu kita akan dihadapkan pada landasan filosofis yang pada hakikatnya berlaku universal pada semua bahasa manusia. Apabila ditinjau dari segi linguistik, semua bahasa sama yakni berperan sebagai sistem simbol dan merupakan alat untuk menyampaikan pesan. Kita belajar bahasa berarti kita belajar untuk hidup. Kita berbahasa karena kita hidup. Selain itu, kita berbicara ―untuk apa kita belajar?‖. Kita akan belajar bahwa belajar bahasa untuk menjadikan diri kita sebagai makhluk yang berpikir yang merupakan alat untuk menyampaikan pesan dari apa yang kita pikirkan itu. Lalu bagaimana mengajarkan bahasa? Mengajarkan bahasa berarti kita mengajarkan hidup. Selama kita hidup, selama itu pula kita akan berbahasa. Oleh sebab itu, alangkah baiknya kita belajar sekaligus mengajarkan bahasa yang baik pada setiap peserta didik. Mengapa di sini kita singgung peserta didik? Jawabannya karena saat ini kita sedang belajar bagaimana mengajarkan bahasa berarti berkaitan dengan dunia pendidikan yang bersifat formal maupun informal. Fakta membuktikan bahwa pendidikan nasional saat ini belum bisa membuat siswa atau peserta didik berpikir kritis. Selama ini pendidikan bahasa hanya melatih berbahasa sebagai proses komunikasi dengan kadar nalar rendah. Semua itu terbukti dengan amburadulnya bahasa di kalangan kaum terdidik Indonesia. Kita adalah calon guru bahasa. Lebih tepatnya calon guru bahasa dan sastra di Indonesia. Menurut A. Chaedar: guru bahasa seyogyanya meyakini bahwa mengajar adalah tanggung jawab profesionalnya sebagai khalifah kependidikan di muka bumi, karena itu harus dikerjakan dengan baik. Mengajarkan bahasa yang baik haruslah sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaaan yang ada. Ada dua hal besar di bawah payung studi bahasa, yaitu bahasa sebagai objek studi, khususnya bagi mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, dan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi secara luas untuk memperoleh pengetahuan. Masing-masing pendekatan ini memiliki tempat tersendiri dalam literatur kebahasaan dan pendidikan bahasa. Mengajarkan bahasa bagi setiap individu mungkin sulit, namun sebagian ada yang menilai mudah. Hal ini membuktikan bahwa tiap individu mempunyai kelebihan tersendiri. Indonesia mempunyai beribu-ribu bahasa yang berbeda satu sama lain atau yang sering kita kenal dengan bahasa ibu. Namun semua bahasa yang berbeda itu terkumpul dalam satu wadah yang mempunyai satu tujuan (berbeda-beda tapi

117

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

satu) yaitu tetap rukun dengan dipayungi satu bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Maka tidak heran apabila pelajaran bahasa ada dari singkatan SD, SMP, SMA, dan PT (setiap program studi). Hal ini hanya untuk menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Lalu muncul pertanyaan sudahkah kita mengajarkan bahasa? Pekerjaan rumah yang harus diperbaiki oleh pengajar bahasa atau saat mengajarkan bahasa adalah cara berbicara kita di depan peserta didik dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: memperhatikan tata bahasa baku saat berbicara, menggunakan intonasi yang tepat, dll. Mengajarkan bahasa tidak hanya menggunakan media ceramah, tapi juga menggunakan media lain seperti lewat karya tulis. Dalam membuat karya tulis alangkah baiknya apabila kita mengajarkan bahasa dengan memperhatikan subjek kalimat yang harus jelas, memperhatikan kata kerja aktif-pasif dalam kalimat, preposisi dalam kalimat, diksi yang tepat, dan lain-lain. Hal-hal seperti itulah yang harus diperhatikan saat kita mengajarkan bahasa. Sejauhmana anak didik berhasil dalam berbahasa berarti kita telah bisa mengajarkan bahasa. Untuk lebih jelas lagi tentang bagaimana mengajarkan bahasa. Alangkah baiknya kita mempunyai tujuan yang jelas tentang apa yang ingin tercapai. Pembinaan bahasa Indonesia merupakan bagian dari pola kebijakan bahasa nasional. Secara umum lembaga yang mempunyai tugas untuk melaksanakan pembinaan bahsa Indonesia adalah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sasaran pembinaan adalah pemakai (pendidik) atau calon pemakai (peserta didik) bahasa Indonesia. Karena sasarannya manusia, maka salah satu programnya yang paling cocok adalah pengajaran bahasa di lembaga-lembaga pendidikan. Harus kita ketahui keterampilan berbahasa Indonesia meliputi keterampilan mendengarkan, berbicra, membaca, dan menulis. Selain itu, pengetahuan bahasa Indonesia mencakup pengetahuan tentang lafal, ejaan, istilah, dan kaidah bahasa Indonesia. Untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia sebagaimana dicantumkan di atas tidak semudah yang kita pikirkan. Karena untuk melaksanakan itu kita akan dihadapkan pada beberapa faktor. Faktor-faktor itu tidak bisa dipisahkan sebab semua itu adalah sebuah sistem yang saling berkaitan. S. Effendi menyebutkan beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam mengajarkan bahasa yaitu: faktor tujuan, murid, lingkungan (yang mencakup keluarga, sekolah dan masyarakat) dan sarana (yang mencakup kurikulum, guru, metode, alat pelajaran dan evaluasi). Rumusan tujuan baik tujuan kurikuler maupun tujuan intruksional harus berporos pada tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan) secara menyeluruh mengajarkan bahasa Indonesia pun harus mempunyai tiga bidang yaitu bidang pemahaman, keterampilan dan sikap. Semua tujuan tersebut harus dapat dievaluasi untuk mengetahui apakah tujuan yang ingin kita capai tercapai atau tidak. Apabila komponen-komponen di atas sudah dikuasai, kita akan menemukan strategi yang tepat dalam mengajarkan bahasa. Harimukti Kridalaksana menyebutkan

118

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

bahwa mengajarkan bahasa adalah untuk memperkenalkan ciri-ciri dan membangkitkan pernghargaan pada bahasa Indonesia baku maupun nonbaku, memperkenalkan ciri-ciri variasi bahasa, dan mengajar mempergunakan ciri bahasa yang tepat untuk fungsi yang tepat. Apabila strategi di atas dijalankan oleh guru bahasa, berarti pengajaran bahasa Indonesia yang berpusat pada tata bahasa haruslah dinetralisasikan, sebab pengajaran bahasa hanya membuat anak didik tahu tentang bahasa tanpa terampil menerangkannya. Kita menyadari bahwa bahasa Indonesia tidak hanya dipakai dalam situasi resmi dan formal saja tetapi juga dalam situasi lain. Misalnya berbicara dengan teman. Disinilah letak peranan guru, guru bahasa Indonesia harus berkreatif sedemikian rupa sehingga tidak ada kesenjangan antara hasil pengajaran disekolah dan kenyataan di masyarakat. Variasi bahasa Indonesia nonbaku hanya dipakai dalam situasi nonresmi. Sebaliknya, variasi bahasa Indonesia baku hanyalah dipakai dalam situasi resmi. Misalnya dalam pidato kenegaraan, penulisan karya ilmiah dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, anak didik harus diperkenalkan fungsi pemakaian setiap variasi bahasa yang diketahuinya. Semua itu adalah tugas pendidik untuk membina peserta didik supaya mereka tahu semua itu.

119

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Mengajarkan Bahasa
Oleh: Rin Yoantriana

Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku yang tinggal di beberapa pulau. Negara Indonesia memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat penting kedudukannya dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia diajarkan sejak kelas 1 SD. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang dijadikan status sebagai bahasa persatuan sangat penting untuk diajarkan sejak anak-anak. Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan. Suatu model mengajar ialah suatu rencana atau suatu pola pendekatan yang digunakan untuk mendesain pengajaran. Model mengajar mengandung strategi mengajar, yaitu pola urutan kegiatan instruksional yang digunakan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Sedangkan di dalam strategi mengajar terdapat strategi instruksional dan keterampilan teknis mengajar yang amat spesifik seperti keterampilan mengajukan pertanyaan, mengkomunikasikan pengarahan, menstruktur dan mereaksi terhadap jawaban murid, dan lain-lain. Di dalam strategi mengajar guru juga menerapkan sejumlah teknik-teknik mengajar, atau teknik-teknik instruksional, seperti bagaimana menata kelas, bagaimana mengelompokkan murid, bagaimana cara berinteraksi, dan menerapkan beraneka macam pendekatan dalam penggunaan alatalat pengajaran.

Mengapa kita perlu belajar bahasa Indonesia?

Kita perlu belajar yang namanya bahasa Indonesia karena memang penggunaan bahasa kita saat ini amatlah kacau. Kata-kata yang semestinya tidak diucapkan, diucapkan begitu saja dengan santainya. Kata-kata kasar yang dilontarkan dari bibir mungil tak tentu usia itu, sudah barang tentu dapat menurunkan moral kita. Kita cenderung meremehkan orang lain dan tidak menghormati orang tersebut. Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan, dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk, dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi, bahwa bahasa rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar, dan bahwa bahasa itu diatur oleh suatu sistem. Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama, dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa

120

Bagaimana Bahasa Pengertian Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. Dalam mengajarkan bahasa, guru harus menguasai fungsi bahasa, macammacam bahasa, dan jenis-jenis ragam/ keragaman bahasa.

Fungsi Bahasa dalam Masyarakat

1. Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. 2. Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia. 3. Alat untuk mengidentifikasi diri.

Macam-macam dan Jenis-jenis Ragam/ Keragaman Bahasa
1. Ragam bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik, dsb. 2. Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa Benyamin S., dan lain sebagainya. 3. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa Madura, dialek bahasa Medan, dialek bahasa Sunda, dialek bahasa Bali, dialek bahasa Jawa, dan lain sebagainya. 4. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan. 5. Ragam bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan. 6. Ragam bahasa pada suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku). Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau/ silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.

Jadi, Bagaimana Mengajarkan Bahasa?

Agar pengajaran sastra lebih berhasil, guru kiranya perlu mengembangkan keterampilan (atau semacam bakat) khusus untuk memilih bahan pengajaran sastra yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswanya. Apabila bahasa merupakan pertimbangan utama, dalam pelajaran bahasa perlu disediakan bacaanbacaan khusus sebagai proses pengayaan pelajaran bahas itu sendiri. Guru hendaknya mengadakan pemilihan bahan berdasarkan wawasan yang ilmiah, misalnya: memperhitungkan kosa kata yang baru, memperhatikan segi ketatabahasaan dan sebagainya. Di samping itu, perlu kiranya setiap kali guru mengikuti penataran untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya. Dalam praktek, ketepatan pemilihan bahan ini sering kurang diperhatikan, dan dalam beberapa hal faktor-faktor kebahasaan memang sulit untuk dipisahkan dari faktor-faktor lain. Meski demikian, seorang guru hendaknya selalu berusaha memahami tingkat kebahasaan siswa-siswanya sehingga berdasarkan pemahaman itu guru dapat memilih materi yang cocok untuk disajikan. Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal tersebut, guru paling sedikit harus menguasai

121

Bagaimana Bahasa Pengertian Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

berbagai teknik yang erat hubungannya dengan kegiatan-kegiatan penting dalam pengajaran. Untuk mengajar guru harus mempunyai enam langkah-langkah yang penting. Pertama, “mendiagnosa kebutuh peserta didik”, berarti para guru harus menaruh perhatian khusus terhadap peserta didik dalam kelas. Antara lain bertalian dengan minat para individu, kebutuhan dan kemampuan meraka. Selanjutnya dicari jalan keluar bagaimana memenuhi hal tersebut. Di samping itu guru juga harus menentukan bahan pelajaran yang dipilih dan diajarkan kepada peserta didik. Kedua, yaitu “memilih isi dan menentukan sasaran”. Sasaran pengajaran kita melukiskan apa yang sebenarnya diharapkan dari pesera didik, agar mereka mampu melakukan sesuatu sesuai dengan urutan pembelajaran, dengan demikian para guru dapat mengetahui bahwa ‗peserta didik‘ tersebut telah mempelajari sesuatu dalam kelas. Dalam hubungan ini para guru juga perlu mempertimbangkan adanya perbedaan individu yang terdapat dalam kelas tersebut selama mengajar. Ketiga, “mengidentifikasi teknik-teknik pembelajaran”. Aktivitas ini dilakukan karena guru telah mengetahui sasaran-sasaran tertentu yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk mengambil suatu keputusan.

Keempat, “merencanakan aktivitas merumuskan unit-unit dan merencanakan pelajaran”. Dalam aktivitas ini yang paling penting adalah
mengorganisasi keputusan-keputusan yang telah diambil.

Kelima, “memberikan motivasi dan implementasi program”. Perencanaan pada aktivitas ini mempersiapkan guru secara khusus bertalian dengan teknik motivasional yang akan diterapkan dan beberapa prosedur administratif yang perlu diikuti agar rencana pengajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Keenam, merupakan aktivitas yang terakhir, yaitu ―perencanaan yang dipusatkan kepada pengukuran, evaluasi, dan penentuan tingkat” . Aktivitas ini merupakan pengembangan perencanaan untuk mengadakan tes dan penyesuaian tentang penampilan pesrta didik secara individual.

122

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Bagaimana Mengajar Bahasa
Oleh: Yudi Setiadi

Bagaimana Mengajar Bahasa Pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Guna mewujudkan tujuan di atas diperlukan usaha yang keras dari masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan dan telah melakukan pembaharuan sistem pendidikan. Usaha tersebut antara lain adalah penyempurnaan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana, serta peningkatan kualitas tenaga pengajar. Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan yang penting dalam dunia pendidikan. Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: (1) Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara, (2) Siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial, (4) Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (6) Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia, pengajarannya dilakukan sejak dini, yakni mulai dari sekolah dasar yang nantinya digunakan sebagai

123

Pengertian Bahasa Bagaimana Mengajarkan Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

landasan untuk jenjang yang lebih lanjut. Pembelajaran bahasa Indonesia ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dapat diketahui dari standar kompetensi yang meliputi, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan (menyimak). Cergam, Salah Satu Media Pengajaran Menulis Menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus menerus (Dawson, dkk, dalam Nurchasanah 1997:68). Pembelajaran keterampilan menulis pada jenjang sekolah dasar merupakan landasan untuk jenjang yang lebih tinggi nantinya. Siswa sekolah dasar diharapkan dapat menyerap aspek-aspek dasar dari keterampilan menulis guna menjadi bekal ke jenjang lebih tinggi. Sehingga, pembelajaran keterampilan menulis di sekolah dasar berfungsi sebagai landasan untuk latihan keterampilan menulis ke jenjang pembelajaran sekolah sesudahnya nanti. Dengan banyaknya latihan pembelajaran menulis, diharapkan dapat membangun keterampilan menulis siswa lebih meningkat lagi. Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, dan pengetahuan secara tertulis serta memiliki kegemaran menulis (Depdikbud, 1994). Dengan keterampilan menulis yang dimilikinya, siswa dapat mengembangkan kreativitas dan dapat mempergunakan bahasa sebagai sarana menyalurkan kreativitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran keterampilan menulis memiliki berbagai macam bentuk. Salah satunya adalah keterampilan menulis karangan. Dalam pembelajaran menulis, diharapkan siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan membuat karangan, namun juga diperlukan kecermatan untuk membuat argumen, memiliki kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan dengan cara membuat karangan yang menarik untuk dibaca. Di antaranya mereka harus dapat menyusun dan menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain sehingga menjadi karangan yang utuh. Media pembelajaran merupakan wahana penyalur atau wadah pesan pembelajaran. Media pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Di samping dapat menarik perhatian siswa, media pembelajaran juga dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan dalam setiap mata pelajaran. Dalam penerapan pembelajaran di sekolah, guru dapat menciptakan suasana belajar yang menarik perhatian dengan memanfaatkan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan variatif sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan mengoptimalkan proses dan berorientasi pada prestasi belajar. Secara umum, menggunakan media cergam sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa dalam pembelajaran menulis. Secara khusus, penggunaan cergam sebagai media adalah sebagai berikut: (1) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun cerita berdasarkan

124

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

rangkaian gambar secara urut sehingga menjadi karangan narasi yang utuh, (2) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memadukan kalimat menjadi karangan narasi yang padu dengan menggunakan kata sambung yang tepat, dan (3) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar dalam karangan narasi Terakhir, mari kita sebagai guru bahasa Indonesia hendaknya mengajarkan pembelajaran di kelas menjadi lebih menarik dan kreatif agar siswa bertendensi untuk mengikuti pelajaran secara aktif. Itulah kunci sukses pengajaran. Bukan terletak pada kecanggihan kurikulum, melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan memanfaatkan mediator yang ada di dalam kelas.

125

Bagaimana Mengajarkan Bahasa Pengertian Bahasa

kumpulanartikelteoribelaj arbahasakumpulanartikel teoribelajarbahasakumpu Kumpulan Artikel pendekatan "Teori Belajar lanartikelteoribelajarbaha kebahasaan Bahasa" sakumpulanartikelteoribe lajarbahasakumpulanarti kelteoribelajarbahasakum pulanartikelteoribelajarb ahasakumpulanartikelteo ribelajarbahasakumpulan artikelteoribelajarbahasa kumpulanartikelteoribelaj
Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”
2010

126

Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan-pendekatan Bahasa
Oleh: Elis Hindayati

Sebelum saya membahas pendekatan-pendekatan bahasa, saya akan membahas dulu sedikit tentang pengertian bahasa. Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki banyak arti lebih dari satu makna atau lebih dari satu pengertian. Salah satunya bahasa adalah suatu bentuk interaksi sosial dan oleh karena itu secara normal diperoleh dan digunakan dalam interaksi sosial. Tapi dalam pendidikan formal seperti di sekolah, biasanya pengertian bahasa sering diartikan ― Bahasa adalah alat komunikasi‖, jawaban tersebut tidak salah, tetapi tidak juga benar, karena jawaban itu hanya menyatakan ―bahasa adalah alat―. Jadi, fungsi dari bahasa itu yang dijelaskan, bukan ―sosok‖ bahasa itu sendiri. Memang benar fungsi bahasa itu adalah alat komunikasi bagi manusia. Meskipun pengertian bahasa itu tidak dapat dijelaskan secara jelas karena bahasa itu adalah fenomenal sosial yang banyak seginya. Maka itu tidak mengherankan kalau banyak juga pakar yang membuat definisi tentang bahasa dengan terlebih dahulu menonjolkan atau mengartikan dari segi fungsi bahasa itu sendiri, seperti Sapir (1221:8), Badudu (1989:3), dan Keraf (1984:16) yang tidak menonjolkan fungsi, tetapi menonjolkan ―sosok‖ bahasa itu adalah seperti yang dikemukakan Kridalaksana (1983, dan juga dalam Djoko Kentjono 1982 ): ―Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri‖. Definisi ini sejalan dengan definisi dari Barber (1964:21). Ada beberapa Pendekatan-pendekatan bahasa, yang pertama pendekatan bahasa komunikatif, arti dari pendekatan bahasa secara komunikatif adalah pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Di dalam konsep pendekatan komunikatif terdapat konsep kompetensi komunikatif yang membedakan komponen bahasa menjadi dua bagian, yaitu kompetensi dan performansi atau unjuk kerja. Kompetensi komunikatif itu adalah keterkaitan dan interelasi antara kompetensi gramatikal atau pengetahuan kaidah-kaidah bahasa dengan kompetensi sosiolinguistik atau atauran-aturan tentang penggunaan bahasa yang sesuai dengan kultur masyarakat. Kompetensi komunikatif hendaknya dibedakan dengan performansi komunikatif karena performansi komunikatif mengacu pada realisasi kompetensi kebahasaan beserta interaksinya dalam pemroduksian secara aktual dengan pemahaman terhadap tuturan-tuturan. Oleh sebab itu, seseorang yang dikatakan memiliki kompetensi dan performansi berbahasa yang baik hendaknya mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang dipelajarinya, baik dalam pemroduksian maupun dalam pemahaman. Ciri-ciri pendekatan komunikatif di

127

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

antaranya adalah (1) makna merupakan yang terpenting, (2) percakapan harus berpusat di sekitar fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal, (3) kontekstualisasi merupakan premis pertama, (4) belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi, (5) komunikasi efektif dianjurkan, (6) latihan penubihan atau drill diperbolehkan, tetapi tidak memberatkan, (7) ucapan yang dapat dipahami diutamakan, (8) setiap alat bantu peserta didik diterima dengan baik, (9) segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak awal, (10) penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak, (11) terjemahan digunakan jika diperlukan peserta didik, (12) membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal, (13) sistem bahasa dipelajari melalui kegiatan berkomunikasi, (14) komunikasi komunikatif merupakan tujuan, (15) variasi linguistik merupakan konsep inti dalam materi dan metodologi, (16) urutan ditentukan berdasarkan pertimbangan isi, fungsi, atau makna untuk memperkuat minat belajar. Pendekatan pembelajaran bahasa secara komunikatif selain yang di atas, Nunan (1991:279) menawarkan lima ciri khas utama dalam pendekatan komunukatif.  Penekanan pada pembelajaran untuk berkomunikasi melalui interaksi dalam bahasa sasaran;  Pengenalan teks otentik dalam situasi pembelajaran;  Pemberian kesempatan bagi pelajar untuk berfokus bukan saja pada bahasa tetapi juga pada proses belajar itu sendiri;  Peningkatan pengalaman pribadi pelajar sendiri sebagai unsur yang memberikan sumbangan terhadap hasil belajar di kelas;  Dan upaya menghubungkan pembelajaran bahasa di kelas dengan pengaktifan bahasa di luar kelas. Berbagai teori mengenai pendekatan komunikatif mengasumsikan bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Menurut Ellis dan Beattle (1986), penggunaan bahasa manusia dapat dipahami dengan baik jika dipandang dari konteks alaminya sebagai seperangkat saluran yang tersedia bagi manusia untuk mengirimkan dan menerima informasi. Kedua pendekatan secara kognitif, menurut para psikolog kognitif dan linguis generatif transformasional, bahasa merupakan prilaku yang bersifat internal. Yaitu, pengetahuan pembicara atau penutur mengenai bahasa didasarkan pada seperangkat kaidah terbatas yang dapat menurunkan berbagai kalimat yang tidak terbatas, akan tetapi kaidah-kaidah tersebut tidak perlu secara sadar dan mudah diungkapkan dengan kata-kata oleh para pemakai bahasa. Anak-anak belajar bahasa ibu atau bahasa asli mereka dengan cara mengembangkan sistem-sistem bahasa yang bersifat perkiraan yang secara berkesinambungan diperhalus sebaik pengetahuan mereka mengenai kaidah-kaidah itu mengalami perkembangan. Menurut teori nativis, anak-anak dapat melakukan hal ini karena semua insan dilahirkan dengan sarana pemerolehan bahasa.

128

Pendekatan Bahasa Pengertian Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Walaupun sangat sedikit psikolog kognitif dan linguis generatiftransformasional yang tertarik dalam bidang ilmu pendidikan, tapi teori-teori yang mereka kembangkan mempunyai pengaruh besar pada cara-cara mengajarkan bahasa. Keungulan dan kelemahan pendekatan kognitif dalam pengajaran bahasa. Keunggulannya adalah (1) dapat dilaksakan dalam kelas besar, (2) sabar menghadapi dan memperbaiki kesalahan, (3) cocok dan sesuai bagi semua tingkatan siswa. Sedangkan kelemahannya adalah (1) tidak terdapat di dalamnya metode tertentu, (2) bukan merupakan metode khusus (steinbreg, 1986:192). Ketiga pendekatan bahasa secara ganda. Para pendukung pendekatan ganda atau multiple approach menganjurkan menggunakan suatu metodologi yang didasarkan pada rencana Cleveland ataupun multiple approach method yang diperkenalkan oleh de Sauze pada tahun 1920-an. Pendekatan de Sauze tidaklah beranggapan bahwa orang dewasa belajar bahasa dengan cara yang sama seperti yang dilakukan seorang anak. Variasi-variasi yang diperkenalkan dalam pendekatan Ganda, sebagian besar menghubungkannya dengan kebutuhan yang beranggapan bahwa cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajr anak-anak. Dengan perkataan lain, variasi-variasi dibuat karena cara belajar orang dewasa berbeda dari cara belajar anak-anak. Oleh karena itu, terdapat beraneka ragam ciri pendekatan ganda. Di antara ciri-ciri utama pendekatan ganda yang diberikan oleh Puciani dan Hamel (1967), dan metode aktif verbal yang diberikan oleh Lenard (1980). 1. Bahasa diturunkan secara khas diciptakan oleh setiap pembicara. Bahasa tidak dipelajari melalui teknik-teknik tiruan dan hafalan. 2. Bahasa juga merupakan budaya; oleh karena itu pengetahuan kultural haruslah disebarkan melalui pelajaran itu sendiri, seperti juga halnya melalui kegiatankegiatan penyadaran kultural dan penggunaan bahan-bahan otentik yang bersifat kultural. 3. Bahasa sasaran hendaklah dipakai secara eklusif sebagai media pengajaran. 4. Haruslah ada penekanan pada tunggal pada setiap pelajaran. 5. Keempat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis) haruslah diajarkan secara serempak pada waktu yang sama, harus diatur dan dijaga supaya tidak terdapat kesenjangan, tetapi keserasian antara keempatnya. 6. Tata bahasa diajarkan secara induktif dalam bahasa sasaran, dengan memberikan contoh-contoh pertama dan kemudian penjelasan mengenai kaidah-kaidahnya. 7. Bahasa sasaran diperkenalkan melalui dialog-dialog yang relatif panjang, disertai dengan pergantian-pergantian tanya jawab yang di atur oleh guru. Dalam perkembangan pemakaiannya, bahasa Indonesia yang sekarang kita gunakan memiliki pendekatan-pendekatan terhadap beberapa dialek etnik atau dialek ras dan sejumlah unsur yang sifatnya gado-gado atau campuran . Dialek –dialek etnik yang muncul dalam pemakaian keseharian bahasa Indonesia ternyata mencuatkan logat-logat kebahasaan tersendiri.

129

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Karena masyarakat bangsa Indonesia terdiri atas beratus suku bangsa atau kelompok etnik, kalau benar-benar dicermati, maka muncul pula bermacam-macam logat dalam pemakain bahasa Indonesia. Jadi sebenarnya telah banyak terjadi interferensi dari bahasa daerah, dari bahasa suku-suku bangsa tertentu, terhadap bahasa Indonesia yang kita gunakandalam praktik komunikasi keseharian. Oleh karena itu, dalam pemakain bahasa Indonesia ada berbagai macam kekhasan dan keistimewaan yang lantas memunculkan ciri-ciri etnik atau kekhsan ras dari bahasa yang kita gunakan. Dalam korpus bahasa Indonesia, ada dialek Indonesia Jawa, dialek Indonesia Menado, dialek Indonesia Bali, dialek Indonesia Bugis, dan lain-lain. Masing-masing menunjukan kekhasan tersendiri di dalam logat-logatnya. Selain dalam pendekatan bahasa pada bahasa-bahasa daerah, bahasa juga memiliki pula ciri simplifikasi dan aneka macam pendekan. Pada umumnya, unsur-unsur yang disederhanakan dan dipendekan adalah aspek-aspek bahasa yang kuat atau dominan. Tujuan pemendekan adalah semata-mata untuk memudahkan pemahaman. Kenyataan kebahasaan demikian yang di dalam sosiolinguistik lazim disebut pijinasi, kemudian mewujud sosok bahasanya dinamakan bahasa pijin. Bahasa pijin muncul Karena adanya keharusan pertemuan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya sebagai akibat pertemuan antara sebagian warga bangsa yang satu dengan bangsa yang lainya. Pendekatan bahasa dari bahasa daerah ke bahsa Indonesia, contoh seorang mahasiswi bersku non-Jawa suatu ketika datang berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya yang bersuku Jawa. Percakapan berlangsung dalam bahasa Indonesia, tetapi sesekali mahasiswi mencuatkan kata-kata Jawa yang santun terhadapnya. Dalam contoh ini bahasa Indonesia digunakan untuk keperluan formal, kepentingan resmi, dan hal-hal yang berkonteks nasional. Bahasa daerah mereka gunakan sebagai bahasa ibu pertama dan digunakan di daerah tersebut dalam lingkungan kesukuanya yang berjati diri bahasa ibu dalam ranah keluarga. Sedangkan begitu bergaul dan berkomuniksi dengan warga suku yang berbeda di wilayah yang sama, mereka menggunakan bahasa Indonesia dan terkadang memakai bahasa daerah yang gampang di mengrti oleh lawan bicara. Pernahkan kalian menyadari bahwa pendekatan-pendekatan bahasa sesungguhnya salah satu sumber utama inovasi dan kreativitas berbahsa adalah kaum muda atau remaja? Bahkan sudah sejak lama bahasa tutur remaja mewarnai dinamika kehidupan dan perkembangan bahasa Indonesia, setidaknya jika diteropong dari kacamata sosiolinguisti atau sosiopragmatiknya. Contoh ketika sejumlah anak remaja sedang memperbincangkan sesuatu yang mereka pandang rahasia dan tidak boleh diketahui warga di luar kelompok, mereka sangat suka menggunakan bentukbentuk rahasia dan popular seperti cavantiviik untuk menyatakan kata ‗cantik‘, cavakevip untuk kata ‗cakep‘, dan lain-lain. Pendekatan-pendekatan di atas memberikan karakteristik komunikasi melalui bahasa itu sendiri, yaitu bahasa adalah suatu bentuk interaksi sosial. Oleh karena itu, secara normal diperoleh dan digunakan dalam interaksi sosial, bahasa

130

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

melibatkan tingkat ketidakteramalan dan kreativitas yang tinggi dalam bentuk dan pesan, bahasa berlangsung dalam konteks sosial budaya yang memberikan batasan tentang penggunaan bahasa yang baik dan sesuai dan sebagai penanda untuk mengoreksi interpretasi ungkapan, dan bahasapun melibatkan bahasa otentik dan dipertentangkan dengan bahasa yang dibuat seperti buku teks.

131

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan-pendekatan Kebahasaan
Oleh: Hesty Rinrin

Pendekatan-Pendekatan Kebahasaan

Sebelum ke teori tentang pendekatan-pendekatan kebahasaan, terlebih dahulu saya akan membahas tentang apa itu pendekatan, apa itu bahasa. Pendekatan

132

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

1. Pendekatan Formal Semi (1993) menyatakan bahwa pendekatan formal ini merupakan pendekatan klasik dan tradisional dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan ini dianggap bahwa pembelajaran bahasa itu sebagai suatu kegiatan rutin yang konvensional, dengan mengikuti cara-cara berdasarkan pengalaman. Menurut Semi pengajaran dilakukan dengan teoritis sehingga diaplikasikan dengan contoh-contoh pemakaiannya, dengan jalan menjabarkannya. Pendekatan ini disebut sebagai pendekatan informatif. Karena cara menyampaikannya tanpa mempedulikan pengetahuan praktis atau kemampuan berbahasa. Pendekatan ini dibagi dua metode, yakni metode terjemahan, tata bahasa, dan metode membaca. 2. Pendekatan Fungsional Semi (1993) menyarankan apabila mempelajari bahasa harus melakukan kontak langsung dengan masyarakat atau orang yang menggunakan bahasa itu. Agar siswa mampu menghadapi bahasa yang hidup dan mencoba memakainya sesuai dengan keperluan komunikasi. Pendekatan ini membagi beberapa metode dalam mengajarkan bahasa, yakni: a. Metode langsung b. Metode pembatasan c. Metode intensif d. Metode audio-visual e. Metode linguistik 3. Pendekatan Integral Yakni pengajaran bahasa harus merupakan sesuatu yang multi dimensional yaitu faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengajaran. 4. Pendekatan Sosiolinguistik Yakni studi tentang hubungan gejala masyarakat dengan gejala bahasa. 5. Pendekatan Psikologi Yakni berkaitan dengan ilmu menelaah bagaimana peserta didik belajar, dan sebagai individu yang kompleks. 6. Pendekatan Linguistik Yakni bagaimana proses yang terjadi dalam benak anak, apabila terjadi belajar bahasa.

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

adalah proses, perbuatan atau cara pendekatan (KBBI, 1995). Dikatakan pula bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang saling berkaitan. Pendekatan di sini bersifat aksiomatis, jadi tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. Dalam pengajaran atau pembelajaran bahasa, pendekatan merupakan, pandangan filsafat atau kepercayaan tentang hakikat bahasa dan hakikat pembelajaran atau pengajaran bahasa yang diyakini dan tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. Sedangkan bahasa adalah dalam bahasa Inggris language berasal dari bahasa latin ―lidah‖. Bahasa menurut Puji Santoso adalah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran (1.2 : 2007). Ujaran inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jadi, bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang miliki arti. Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat, yakni = sistematik, mana suka, ujaran, manusiawi, komunikatif. Jadi, pendekatan kebahasaan itu adalah ada pendekatan tujuan, pendekatan struktural, dan pendekatan komunity. Dalam pendekatan-pendekatan kebahasaan, dibagi menjadi dua, yakni pendekatan kognitif, dan pendekatan ganda, ini diambil dari buku Pengajaran Pemerolehan Bahasa, karangan Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan.

Pendekatan Kognitif

Nian Chomsky membuat perbedaan teoritis antara performasi dan kompetensi. Dalam pandangan transformasionalis generatif yang dikemukakan dalam karya Chomsky Aspects of the Theory of Syntax (1965), pembedaan lebih lanjut diadakan perbedaan yang menarik antara struktur permukakan ( surface structure) yang mudah diamati dan struktur dalam ( deep structure) yang tersirat dan tidak mudah diamati. Pembagian ini merupakan pendekatan kognitif dalam psikologis. Bagi para psikolog kognitif dan linguis generatif tranformasional, bahasa merupakan perlaku yang rule-governed yang bersifat internal. Pengetahuan pembicara atau penutur mengenai bahasa didasarkan pada seperangkat kaidah terbatas yang dapat menurunkan berbagai kalimat yang tidak terbatas yang dapat dipahami. Akan tetapi, kaidah-kaidah tersebut tidak perlu secara sadar dan mudah diungkapkan dengan kata-kata oleh para pemakaian bahasa. Anak-anak belajar bahasa ibu atau bahasa asli mereka dengan cara mengembangkan sistem-sistem bahasa yang bersifat berkiraan yang secara berkesinambungan diperhalus sebaik pengetuaan mereka mengenai kaidah-kaidah itu mengalami perkembangan. Menurut teori nativis, anakanak dapat melakukan hal ini karena semua insan dilahirkan dengan sarana pemerolehan bahasa (language acquisition device-LAD) yang sama, yang memungkinkan serta memberi kecenderungan bagi kita untuk memperoleh bahasa. Chomsky (1965) mengemukakan keberadaan atau eksistensi LAD ini, atau yang disebut juga ―little black box‖ (kota hitam kecil) yang menurut pemerian McNeil (1966) mempunyai empat ciri utama: a) Kemampuan membedakan bunyi-bunyi ujaran dari bunyi-bunyi lainnya.

133

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Para pendukung Pendekatan Ganda atau Multiple Approach dewasa ini menganjurkan menggunakan suatu metodologi yang didasarkan pada rencana

Pendekatan Ganda

134

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

b) Kemampuan mengorganisasi peristiwa-peristiwa linguistik ke dalam berbagai kelas c) Pengetahuan mengenai jenis sistem linguistik tertentu sajalah yang mungkin mengungkapkan hal itu, yang lain-lainnya tidak. d) Kemampuan memanfaatkan secara konstan evaluasi untuk membangun sistem yang mungkin paling sederhana dari data yang ditemukan. Para psikolog kognitif dan linguis generatif-transformasional yang tertarik dalam bidang ilmu pendidikan, teori-teori yang mereka kembangkan mempunyai pengaruh besar pada cara-cara mengajarkan bahasa pada masa-masa pasca-MAL. Ciri-ciri utama atau prinsip-prinsip dasar pendekatan kognitif telah dirangkum ileh Chastain (1976) sebagai berkut: 1) Tujuan pengajaran kognitif adalah mengembangkan pada diri para siswa tipetipe kemampuan yang sama seperti yang dimiliki oleh penutur asli. Hal ini dilakukan dengan cara membantu para siswa memperoleh pengawasan minimal terhadap kaidah-kaidah bahasa sasaran sehingga mereka dapat menurunkan bahasa mereka sendiri untuk menemukan suatu situasi yang tidak ditemui sebelumnya dalam suatu bentuk atau model yang memadai. 2) Dalam mengajarkan bahasa, guru harus bergerak dari yang telah diketahui menuju yang belum diketahui, maksudnya, dasar pengetahuan siswa kini (struktur kognitif) harus ditentukan sehingga prasyarat yang perlu bagi pemahaman bahan baru dapat diberikan. 3) Bahasa pelajaran dan guru harus memperkenalkan para siswa pada situasi-situasi yang akan meningkatkan pemakaian bahasa kreatif. 4) Karena perlaku bahasa secara konstan bersifat inovatif dan beragam, maka para siswa harus diajar memahami sistem kaidah di samping dituntut mengingat deretan permukaan dalam model hafalan. 5) Belajar haruslah selalu bermakan, artinya, para siswa hendaknya mengerti selalu apa yang disuruh untuk dilakukan; benar-benar memahami serta melakukan dengan baik apa yang disuruh. Dalam pendekatan kognitif, terdapat beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dalam pengajaran bahasa, yakni: o Dapat dilaksanakan dalam kelas besar o Sabar menghadapi, memperbaiki kesalahan o Gabungan keterampilan-keterampilan dapat memperkuat atau meningkatkan upaya belajar o Cocok dan sesuai bagi semua tingkatan siswa Kelemahan dalam pengajaran bahasa, yakni:  Tidak terdapat di dalamnya metode tertentu  Bukan merupakan metode khusus (Steinberg, 1986:192)  Banyak interpretasi dapat diberikan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Cleveland atau Multiple Approach Method yang diperkenalkan oleh de Sauze pada tahun 1920-an. Walaupun pada dasarnya itu merupakan suatu bentuk dari metode langsung yang dipakai pada abad 19 dan awal abad 20, pendekatan de Sauze tidaklah beranggapan bahwa orang dewasa belajar bahasa dengan cara yang persis sama seperti yang dilakukan oleh seorang anak. Ciri-ciri utama Pendekatan Ganda berikut ini merupakan gabungan dari Pendekatan Ganda yang diberikan oleh Puccianni dan Hamel (1967), dan Metode Aktif Verbal yang diperikan oleh Lenard (1980). 1) Bahasa diturunkan—secara khas diciptakan—oleh setiap pembicara. Bahasa tidak dipelajari melalui teknik-teknik tiruan dan hafalan. Oleh karena itu, penggunaan latihan-latihan pola yang bersifat eksesif atau berlebihan haruslah dihindarkan dan harus diganti dengan latihan respons-responsi secara spontan. 2) Bahasa juga merupakan budaya; oleh karena itu, pengetahuan kultural haruslah disebarkan melalui pengajaran bahasa itu sendiri, seperti juga halnya melalui kegiatan-kegiatan penyadaran kultural dan penggunaan bahan-bahan otentik yang bersifat kultural. Pendek kata, pengajaran bahasa harus mencakup pengajaran budaya juga secara sadar. 3) Bahasa sasaran hendaklah dipakai secara eksklusif sebagai media pengajaran. (Dalam Metode Aktif Verbal, beberapa terjemahan dipakai dalam latihan-latihan tertentu). 4) Haruslah ada penekanan tunggal pada setiap pelajaran; yaitu, hanya satu hal saja yang diajarkan pada satu waktu. Baik tata bahasa maupun kosakata haruslah diatur urutannya dan diprogramkan secara cermat untuk mempermantap dan mengaitkannya dengan pengetahuan sebelumnya. ―Guru harus memecahkan kerumitan-kerumitan yang ada menjadi bagian-bagiannya sehingga setiap unsur bagian itu mudah dikuasai. Hubungan setiap hal yang baru dengan yang telah dipelajari sebelumnya, dan informasi yang rumit disusun kembali, keterampilan yang sulit diperoleh, dan masalah dipecahkan tanpa terasa" (Lenard, 1971 : 13). 5) Keempat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) haruslah diajarkan serempak pada waktu yang sama; harus diatur dan dijaga supaya tidak terdapat kesenjangan, tetapi keserasian antara keempat-empatnya. 6) Tata bahasa diajarkan secara induktif dalam bahasa sasaran, dengan memberikan contoh-contoh pertama dan kemudian penjelasan mengenai kaidah-kaidahnya. Akan tetapi, hal itu tidak boleh mendominasi kelas bahasa dan harus dihindarkan hal-hal yang menyimpang dari prosedur. 7) Bahasa sasaran diperkenalkan melalui dialog-dialog yang relatif panjang, disertai dengan pergantian-pergantian tanya-jawab yang diatur oleh guru, atau melalui kelompok-kelompok kalimat yang terdiri dari pergantian tanya jawab. Sedangkan pendekatan-pendekatan kebahasaan, yang diambil dari buku Strategi Pembelajaran Bahasa, karangan Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd dan Dr. H. Dadang Suhendar, M. Hum pendekatan dibagi menjadi beberapa bagian dan ini yang dikemukakan beberapa pemikiran dari semi (1993):

135

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

7. Pendekatan Behavioristik Yakni dapat dikendalikan dari luar yakni dengan stimulus respons. 8. Pendekatan Pengelolaan Kelas a. Pendekatan otoriter merupakan proses belajar untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. b. Pendekatan permisif serangkaian kegiatan pengajar yang optimal. 9. Pendekatan Komunikatif Adanya ketidakpuasan para praktisi/ pengajar bahasa atas hasil yang dicapai.

136

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa
Oleh: Kania Puji Lestari

Pendekatan-pendekatan dalam pengajaran bahasa pada intinya mempunyai satu tujuan yang sama, yakni menetapkan langkah yang tepat dalam setiap pengajaran. Sebelum lebih jauh membahas pendekatan pengajaran bahasa, kita pahami dulu pengertian dari ‗pendekatan‘ itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendekatan adalah proses, perbuatan, atau cara mendekati. Dikatakan pula bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang saling berkaitan. Dalam pengajaran bahasa, pendekatan merupakan pandangan, filsafat, atau kepercayaan tentang hakikat bahasa dan hakikat pengajaran bahasa yang diyakini dan tidak perlu dibuktikan lagi kebenarannya. Sebenarnya banyak pendekatan dalam pengajaran bahasa, tetapi dalam tulisan ini hanya dipaparkan beberapa pendekatan dalam pengajaran bahasa. Pendekatan Tradisional Pendekatan tradisional, formal, klasik, atau informatif ini menganggap pembelajaran bahasa sebagai suatu kegiatan rutin yang konvensional, dengan mengikuti cara-cara pengajaran yang sudah biasa sesuai dengan pengalaman. Pada prosesnya cenderung menyampaikan informasi tentang bahasa tanpa mempedulikan pengetahuan praktis atau kemampuan berbahasa. Pendekatan ini biasanya digunakan dalam dua metode pembelajaran, yaitu metode terjemahan tatabahasa dan metode membaca. Pendekatan Fungsional Pendekatan fungsional ini menyarankan agar melakukan kontak langsung dengan masyarakat atau orang yang menggunakan bahasa yang bersangkutan ketika mempelajari sebuah bahasa. Dengan begitu peserta didik langsung menghadapi bahasa yang hidup dan memakainya sesuai dengan keperluan komunikasi serta merasakan fungsi dari bahasa itu dalam komunikasi langsung. Pendekatan ini memunculkan berbagai metode pengajaran bahasa sebagai berikut. 1. Metode langsung 2. Metode pembatasan 3. Metode intensif 4. Metode audio-visual 5. Metode linguistik

137

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan Pengajaran Bahasa yang Memanfaatkan Hasil Studi Lain Selain pendekatan-pendekatan di atas, terdapat juga beberapa pendekatan pengajaran bahasa yang memanfaatkan hasil studi lain, di antaranya sosiolinguistik, psikologi, dan psikolinguistik. Berikut ini sedikit ulasan tentang pendekatanpendekatan tersebut. 1. Pendekatan sosiolinguistik Pendekatan pengajaran bahasa ini memanfaatkan hasil studi dari ranah sosiolinguistik. Pendekatan ini merupakan studi tentang hubungan gejala masyarakat dengan gejala bahasa. Dalam sosiolinguistik terdapat konsep-konsep tertentu yang berguna untuk pengembangan pengajaran bahasa. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut. a. Bahasa merupakan sebuah sistem yang memiliki keragaman. Maksudnya, setiap ragam memiliki gejala bahasa, peranan dan fungsi, serta kawasan pemakaian tertentu. Masyarakat mempunyai sikap dan penghargaan yang berbeda terhadap ragam-ragam tersebut. Konsekuensinya, dalam pengajaran bahasa harus diajarkan pula peran dan fungsi, situasi, serta kawasan pemakaiannya, bukan hanya ciri-ciri kebahasaannya. Konsep ini menunjukkan bagaimana pentingnya posisi bahasa di masyarakat. b. Bahasa merupakan identitas kelompok. Maksudnya, setiap manusia normal harus menguasai setidak-tidaknya satu bahasa. Bahasa yang dikuasainya itu tidak terlepas dari identitas dan sikap masyarakat pemakainya. c. Bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Bahasa digunakan sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan terhadap seseorang atau sekelompok orang. Dalam hal ini orang yang dikatakan mampu berbahasa adalah orang yang mampu berkomunikasi.

2. Pendekatan psikologi

Pendekatan pengajaran bahasa ini memanfaatkan hasil studi dari ranah psikologi. Banyak yang menganggap bahwa pendekatan ini hanya dapat dilakukan oleh psikolog saja. Anggapan itu memang tidak sepenuhnya keliru karena banyak pengajar yang belum mampu mengenali psikologi perkembangan peserta didik. Pendekatan psikologi bahasa ini berkaitan dengan ilmu yang menelaah bagaimana peserta didik belajar, serta bagaimana peserta didik sebagai individu yang kompleks. Pengajar bahasa mutlak harus menguasai hasil studi psikologi karenapendekatan psikologi ini (terutama dalam penyusunan strategi mengajar) memanfaatkan premis dan asumsi psikologi. Asumsi tersebut diantaranya sebagai berikut. a. Teori behaviorisme Menurut teori behaviorisme segala tingkah laku atau kegiatan seseorang merupakan respon terhadap adanya stimulus. Sejalan dengan hal itu, proses belajar pun tidak lain merupakan mekanisme S-R (stimulus-respons). Dalam teori behaviorisme, proses belajar sangat bergantung pada faktor yang berada di luar

138

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

dirinya, dalam hal ini adalah stimulus dari pengajarnya. Hasil belajarnya banyak ditentukan oleh proses peniruan, pengulangan, dan penguatan. b. Teori gestalt Menurut teori gestalt setiap individu mempunyai kajian mendalam yang berfungsi untuk mereka-reka objek yang sedang diamati sehingga diterima menjadi sebuah objek yang utuh. Dalam pengajaran bahasa dianjurkan agar bahan pengajaran diberikan secara utuh dan dalam struktur yang bermakna.

c. Teori kognitif

Menurut teori kognitif segala aktivitas manusia yang dilakukan dengan sadar bersumber pada otak dan digerakkan oleh kognitif yang meliputi segala aspek kegiatan, mulai dari menyadari adanya masalah, mengidentifikasikannya, merumuskan hipotesis, mengumpulkan informasi atau data, mengambil simpulan, mengevaluasi simpulan, sampai kepadastrategi untuk mencapai tujuan.

3. Pendekatan psikolinguistik

Pendekatan pengajaran bahasa ini memanfaatkan hasil studi dari ranah psikolinguistik. Pendekatan ini bertumpu pada pemikiran tentang bagaimana proses yang terjadi dalam benak anak ketika mulai belajar bahasa, serta bagaimana pula perkembangannya. Psikolinguistik pada dasarnya merupakan ilmu yang mempelajari latar belakang psikologis kemampuan berbahasa manusia. Dalam proses penguasaan bahasa terdapat teori empirisme yang pada akhirnya sejalan dengan paham behaviorisme. Teori tersebut beranggapan bahwa keberhasilan belajar seseorang bergantung pada faktor luar. Menurut Skinner proses belajar bahasa sama saja dengan mempelajari sesuatu yang nonbahasa, yaitu melalui mekanisme stimulus-respon dan ditambah dengan penguatan. Ciri pokok dari pandangan ini adalah fisikalisme dan determinasi. Terdapat beberapa pengaruh yang terasa dari teori ini terhadsap pengajaran, di antaranya melalui program belajar yang disusun dalam tahapan yang baik, dari satu jenjang ke jenjang yang lain. Seiring berjalannya waktu di Amerika terjadi pertentangan yang dimulai oleh Chomsky terhadap behaviorisme ini. Chomsky mengkritik teori yang dicetuskan oleh Skinner, diantaranya sebagai berikut. a) Menurut Chomsky, bahasa merupakan produk proses yang tersembunyi di dalam benak anak, berupa sistem aturan yang abstrak dan terinternalisasi. Chomsky menentang keras teori Skinner bahwa proses penguasaan ditentukan oleh faktor eksternal. b) Menurut Chomsky, ada prinsip yang sangat spesifik dan yang secara genetik menentukan atau melandasi bahasa manusia. Prinsip tersebut dimiliki anak dalam belajar bahasa—yang sifatnya bawaan—sehingga menyebabkan kemampuan penerimaan bahasa menjadi spesifik bahasa itu. c) Kompetensi dan penampilan merupakan hipotesis Chomsky yang paling terkenal dan berpengaruh dalam pengajaran bahasa. Isi dari teori itu mengenai bahasa.

139

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan Komunikatif Pendekatan komunikatif ini cukup popular dalam pengajaran bahasa. Perkembangan pendekatan ini di negara lain relatif lebih lama jika dibandingkan dengan di Indonesia yang baru dikenal pada era 80-an. Lahirnya pendekatan ini disebabkan oleh adanya ketidakpuasan dari para praktisi atau pengajar bahasa atas hasil yang telah dicapai oleh tatabahasa-terjemahan yang hanya mengutamakan penguasaan kaidah tatabahasa dan mengesampingkan kemampuan berkomunikasi sebagai bentuk akhir yang diharapkan dari belajar bahasa. Berikut ini ciri-ciri pendekatan komunikatif.  Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa.  Tujuan belajar bahasa adalah membimbing peserta didik agar mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya.  Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa.  Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui.  Tujuan utamanya adalah kommunikasi yang mempunyai tujuan.  Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembibing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas.  Kegiatan belajar harus didasarkan pada kreativitas peserta didik dan peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Pendekatan-pendekatan tersebut memunculkan sejumlah metode baru dalam pembelajaran bahasa kedua. Bahasa semakin ditegaskan fungsinya sebagai alat komunikasi. Oleh karenanya pembelajar harus mampu berinteraksi secara lisan ataupun tulisan. Beberapa pendekatan dalam pengajaran bahasa pada prinsipnya dapat digunakan untuk pengajaran bahasa Indonesia atau bahasa lainnya karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa pada intinya semua pendekatan pengajaran— termasuk pengajaran bahasa—memiliki tujuan yang sama.

140

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Teori Pendekatan Kebahasaan
Oleh : Yeni Mulyani

Sebelum mengajar, seorang guru harus merancang pembelajaran, harus menguasai beberapa teori yang akan disampaikan atau fisafat tentang belajar dan sejumlah pendekatan dalam pembelajaran. Teori belajar itu telah dikenal dalam pelaksanaan kurikulum. Supaya guru mampu mempertanggungjawabkan secara ilmiah perilaku pengajarnya di depan kelas, maka teori belajar harus dikuasai. Teori nativisme pada hakekatnya bersumber dari leibnitzian tradition yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak, oleh sebab itu lingkungan termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orang tua. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/ bakat. Teori nativisme muncul dari filsafat nativisme sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir dan faktor alam yang kodrati. Teori ini dipelopori oleh filosof Jerman A. Schopenhuer (1788-1860) yang beranggapan bahwa faktor pembawaan bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh alam sekitar atau pendidikan. Dengan tegas Arthur Schaupenhour menyatakan ―yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik‖. Pandangan ini sebagai lawan dari optimisme yaitu pendidikan pesimisme memberikan dasar bahwa suatu keberhasilan ditentukan oleh anak itu sendiri. Lingkungan sekitar tidak ada artinya karena lingkungan itu tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkemangan anak. Walapun kenyataan sehari-hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu-satunya faktor yang menetukan perkembangan anak, tetapi masih ada faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukkan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri (jati diri). Teori behaviorisme di dalam linguistik diikuti diantarnya oleh L. Bloomfield dan Skinner. Dalam belajar bahasa, teori ini lebih mementingkan faktor eksternal ketimbang faktor internal dari individu. Terkesan siswa hanya pasif saja menunggu stimulus dari luar (guru). Belajar apapun dan siapa yang mengajarnya sama saja harus melalui mekanisme stimulus-respon. Guru memberikan stimulus, siswa mesponnya. Penerapan behaviorisme digunakan dalam kaidah ketatabahasaan, struktur bahasa (fonem, morfem, kata frasa, kalimat) dan bentuk-bentuk kebahasaan karena teori ini lebih mementingkan bentuk dan struktur bahasa ketimbang makna dan maksud. Behaviorisme berbeda dengan gestalt yang bersifat fragmentaris (mementingkan bagian demi bagian, sedikit demi sedikit), teori ini melihat pentingnya belajar secara keseluruhan. Dalam linguistik dan pengajaran bahasa, aliran ini

141

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

melihat bahasa sebagai keseluruhan yang utuh, melihat bahasa secara holistik, bukan bagian demi bagian, belajar bahasa dilakukan bukan hanya setapak demi setapak, dari fonem kemudian morfem dan kata, frase, klausa sampai dengan kalimat dan wacana. Bahasa adalah sesuatu yang mempunyai strukur dan sistem, dalam arti bahasa terdiri atas bagian-bagian yang saling berpengaruh dan bergantung. Teori kognitivisme mengakui pentingnya individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar adalah interaksi antara individu dan lingkungan, dan terjadi secara terus menerus sepanjang hayat. Jean Pieget adalah tokoh kognitivisme yang sangat berpengaruh besar yang dalam mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan kognitif anak yang terdiri dari beberapa tahap. Dalam pemerolehan bahasa ibu Pieget mengemukakan pendapatnya yaitu (i) anak itu di samping meniru-niru juga aktif dan kreatif dalam menguasai bahasa ibunya, (ii) kemampuan untuk menguasai bahasa itu didasari oleh adanya kognisi, (iii) kognisi itu memiliki struktur dan fungsi. Fungsi itu bersifat genetif, dibawa sejak lahir, sedangkan struktur kognisi bisa berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu. Teori ini pun mengahasilkan konsep bahwa belajar ialah hasil interaksi yang terus-menerus antara individu dan lingkungan melalui proses asimilasi akomodasi. Teori konstruktivisme dalam belajar juga dikemukakan oleh Pieget. Ia mengemukakan bahwa stuktur kognisi itu dapat berubah sesuai dengan kemampuan dan upaya individu sendiri. Menurut teori ini, pebelajar (learner, orang yang sedang belajar) akan membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan pengetahuannya. Oleh sebab itu, belajar tentang dan mempelajari sesuatu tidak dapat diwakilkan dan tidak dapat diborongkan kepada orang lain. Siswa juga harus proaktif mencari dan menemukan pengetahuan dan mengalami proses belajar secara langsung dengan mencari pengetahuan. Semua ini memerlukan pemahaman guru tentang apa yang sudah diketahui tentang pebelajar atau yang dimaksud pengetahuan awal ( prior knowlege), sehingga guru bisa tepat dalam menyajikan bahan pengajaran yang pas, jangan memberikan bahan yang telah diketahui oleh siswa. Sebelum belajar bahasa Indonesia siswa telah memiliki bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai pengetahuan awal mereka. Guru harus memanfaatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam bahasa daerahnya untuk belajar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pada tahun 1981 CBSA serta kurikulumnya telah dikenal oleh kita. CBSA merupakan suatu pendekatan yang lahir untuk mengantisipasi siswanya yang serba pasif. Suatu pandangan yang salah jika CBSA itu untuk mengaktifkan siswa dan membuat guru diam (tidak aktif). Dan juga salah jika CBSA harus berdiskusi secara kelompok, mesti memindahkan bangku dan kursi. Sebenarnya CBSA menuntut agar ada keterlibatan mental-psikologis pada siswa sepanjang proses belajar mengajar berlangsung. Namun, kadang-kadang keterlibatan mental-psikologis harus diwujudkan dalam perilaku fisik, misalnya bertanya, memberikan jawaban tanggapan, memberikan pendapat dan sebagainya. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, CBSA harus mewujud dalam kegitatan siswa dalam berbicara dan menulis, pokoknya harus aktif-produktif

142

Pendekatan Kebahasaan Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

bukan pasif-resesif. Dalam CBSA, siswa harus banyak terlibat dalam proses belajar mengajar siswa mengalami belajarnya sendiri, mendalami materi, dsb. CBSA sangat cocok dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena sejalan dengan pendekatan komunikatif. CBSA dan keterampilan proses serupa dan senafas karena dari kedua pendekatan itu sama yaitu bagaimana tidak pasif dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas. Keterampilan proses muncul karena di antara sebagian guru hanya memperhatikan hasil belajar dan kurang memperhatikan proses untuk mencapai hasilnya. Atau guru dan murid mengahalakan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang baik tanpa melihat cara (teknik metode, pendekatan, teori) memperoleh hasil itu. Oleh sebab itu, guru berlaku kurang jujur misalnya membuat soal-soal yang sangat mudah, membiarkan murid menyontek, dan sebagainya. Murid juga berlaku tidak jujur misalnya sengaja membuat contekan, turunan, dan sebagainya. TIK (Tujuan Intruksional Khusus) sejak kurikulum 1975 sudah dikenal yang rumusannya mencantumkan cara-cara untuk mencapai hasil belajar yang dapat diamai dan diukur. Dalam rumusan yang kira-kira sama, KBK juga merumuskan kompetensi dengan deskriptor-deskriptor tertentu. Dalam bahasa Indonesia pendekatan ini dapat secara langsung digunakan untuk menilai perilaku berbahasa sehari-hari di dalam kelas secara kontinyu. Belajar secara sosial (social learning) dikenal juga dengan istilah belajar dengan cara gotong royong. Pendekatan ini memprioritaskan untuk belajar bersama, secara berkelompok atau berpasangan, mengingat di dalam kehidupan bermasyarakat juga orang selalu bekerja sama untuk mengerjakan sesuatu. Pendekatan ini dalam pelajaran Bahasa Indonesia bisa diterapkan umpamanya dalam menyusun karya tulis (membuat sinopsis, membuat laporan, meringkas bacaan, dan sebagainya), berdiskusi, berdialog, mendengarkan, dan sebagainya. Sejalan dengan adanya KBK, muncul gagasan tentang CTL (Contextual Teaching and Learning) atau mengajar dengan dan belajar secara kontekstual. Pendekatan ini sebenarnya diilhami oleh filsafat konstruktivisme. Siswa itu sebenarnya bisa didorong untuk aktif melakukan tindak belajar jika apa yang dipelajari itu sesuai dengan konteks. Konteks ini bukan sekedar lingkungan belajar. Konteks bisa berupa konteks siswa (usia, kondisi sosial ekonomi, potensi intelektual, keadaan emosi, dsb), konteks isi (materi pelajaran), konteks tujuan (tiujuan belajar, kompetensi yang hendak dicapai, konteks sosial budaya, konteks lingkungan, dsb. Dalam proses belajar mengajar ada sejumlah unsur dalam CTL yang harus diterapkan di antaranya, pertanyaan, inkuri, penemuan, pengalaman dan sebagainya. Dalam pelajaran sastra dan bahasa Indonesia guru hendaknya memperhatikan kondisi kebahasaan siswa apakah siswa berasal dari pedesaan atau perkotaan, dari keluarga ekonomi lemah atau keluarga mampu, ada di SMP atau SMA. Guru mestinya memperhatikan besar kecilnya pengaruh bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia. Dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari. Hal ini menyulitkan seorang guru karena mempunyai latar belakang kebahasaan yang sama sehingga kedua pihak bisa melakukan kesalahan yang sama dalam bahasa Indonesia.

143

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Guru yang berlatar belakang bahasa Batak tentu sulit mengidentifikasi kesalahan dalam berbahasa Indonesia yang di lakukan siswa-siswanya yang juga berlatar belakang bahasa Batak karena dia tidak menyadari kesalahannya sendiri. Pendekatan Komunikatif adalah pendekatan yang khas dalam belajar berbahasa. Pendekatan ini menuntut agar (i) siswa diberi kesempatan berbicara tanpa beban (wajib berbahas Indonesia yang baik dan benar), (ii) siswa mampu mengomunikasikan gagasannya kepada orang lain dan mampu menangkap dan memahami gagasan orang lain, (iii) siswa lebih banyak belajar berbahasa (empat keterampilan berbahasa) ketimbang belajar bahasa (teori, kaidah tatabahasa, struktur bahasa, dan sebagainya), (iv) guru tidak perlu banyak menyalahkan ujaran siswa, apalagi mengintrupsi ketika siswa sedang berbicara. Bahasa harus dipandang secara holistik (menyeluruh), bukan serpih-serpih (bagian demi bagian). Pendekatan komunikatif hakekatnya seiring dengan prisip-prinsip dalam pragmatik. Pendekatan Tematik-Integratif sudah dikenal pada kurikulum 1984 yang isinya, tiap pelajaran harus berpijak pada tema atau subtema tertentu, dan tiap bahan tidaklah berdiri sendiri melainan dipadukan (diintegrasikan) dengan bahan pelajara yang lain. Dalam belajar berbahasa Indonesia, bahan pelajaran dapat dipadukan secara internal, umpamanya keterampilan berbicara dengan tema pariwisata dengan keterampilan menulis, dengan aspek kebahasaan seperti kalimat dan frasa. Bisa juga dengan eksternal dipadukan dengan sastra. Bahkan bahasa Indonesia dapat dipadukan dengan mata pelajaran yang lain. Misalnya, untuk pelajaran kalimat majemuk, guru dapat memadukan kalimat majemuk dengan keterampilan membaca, dan bacaan itu diambil dari teks PKn, sejarah, ekonomi, biologi, IPA, IPS, dsb. Artinya, siswa dapat ditugasi untuk mencari dan menemukan contoh-contoh kalimat dalam teks tersebut. Dalam hal penerapan teori penerapan belajar, guru hendaknya memperhatikan dulu kompetensi dasar yang hendak dicapai oleh siswa, indikator, deskriptor, dan bahan ajarnya. Misalnya untuk kompetensi K, indikator I, dan deskriptor D, serta bahan ajar fakta dan konsep frasa, guru akan menggunakan pendekatan tematik-integratif. Guru hendaknya menentukan tema, misalnya lalu-lintas. Bila kompetensi yang akan dicapai ialah keterampilan membaca pemahaman, maka ditentukan bacaan bertema lalu-lintas yang yang dipastikan mengandung sekian banyak frasa. Bila mengajar di SMP, bacaan tersebut bisa dilihat dalam teks IPS tentang transportasi. Dengan begitu berarti kita telah melakukan integrasi antardisiplin atau antarmata pelajaran. Di dalam bacaan itu siswa telah diperkenalkan dengan fakta tentang frasa dan bukan frasa. Kemudian bisa diajak mengalami belajar dengan cara mencari dan menemukan frasa-frasa lain dalm novel dan cerpen. Ini adalah pendekatan integratif. Siswa akhirnya diminta membuat laporan singkat secara tertulis. Artinya kita telah melakukan integrasi internal; aspek kebahasaan (yaitu konsep frasa), keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

144

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Pendekatan SAVI (Somatik Auditory Visual Intellectual) adalah Belajar berdasar aktivitas (BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indera sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/ pikiran terlibat dalam proses belajar. Pelatihan konvensional cenderung membuat orang tidak aktif secara fisik dalam jangka waktu lama. Terjadilah kelumpuhan otak dan belajar pun melambat layaknya merayap atau bahkan berhenti sama sekali. Mengajak orang untuk bangkit dan bergerak secara berkala akan menyegarkan tubuh, meningkatkan peredaran darah ke otak, dan dapat berpengaruh positif pada belajar. Belajar berdasar aktivitas secara umum jauh lebih efektif daripada yang didasarkan presentase, materi, dan media, serta mempunyai alasan sederhana, cara belajar itu mengajak orang terlibat sepenuhnya. Telah terbukti berkali-kali bahwa biasanya orang belajar lebih banyak dari berbagai aktivitas dan pengalaman yang dipilih dengan tepat daripada jika mereka belajar dengan duduk di depan penceramah, buku panduan, televise, ataupun komputer. Gerakan fisik dapat meningkatkan proses mental. Bagian otak manusia yang terlibat dalam gerakan tubuh (korteks motor) terletak tepat di sebelah bagian otak yang digunakan untuk berpikir dan memecahkan masalah.

145

Pengertian Bahasa Pendekatan Kebahasaan

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

Daftar Isi
DAFTAR ISI ........................................................................ i PENGERTIAN BAHASA ........................................................... 1

Bahasa dan Ragamnya Oleh: Ai Kurniati .............................................................................. 2 Pengertian Bahasa Oleh: Ayu Nurhajar ................................................................................ 6 Pengertian Bahasa Oleh: Deni Rusdiana ............................................................................. 10 Pengertian Bahasa Oleh: Elis Susilawati .............................................................................. 14 Pengertian Bahasa Oleh: Evi Cepriadi Yantono ................................................................. 18 Pengertian Bahasa Oleh: Hana Susana ............................................................................... 21 Pengertian Bahasa Oleh: Pika Widara ................................................................................. 26 Pengertian Bahasa Oleh: Ramdhan Jaelani ........................................................................ 29 Pengertian Bahasa Oleh: Roy Nuroni Budi .......................................................................... 35 Hakikat Bahasa Oleh: Rudi Irawan ........................................................................................ 39 Pengertian Bahasa Oleh: Susanti ......................................................................................... 42 Pengertian Bahasa Oleh: Yeyen Adawiah ......................................................................... 46
TOKOH YANG MENGUNGKAPKAN TEORI BAHASA .................................................... 50

Beberapa Tokoh yang Mengungkapkan Teori-teori Bahasa Oleh: Adeng Farlan S. .. 51 Tokoh-tokoh yang Mengungkapkan Teori-teori Bahasa Oleh: Cecep Setia N ........... 54 Tokoh Teori Belajar Bahasa Oleh: Damayanti ................................................................... 57 Tokoh-tokoh yang Mengungkapkan Teori Bahasa Oleh: Didiet Supriadi ..................... 61 Tokoh yang Mengungkapkan tentang Teori Bahasa Oleh: Lasty Fatra ......................... 65 Teori Bahasa Menurut Para Tokoh Oleh: Siti Haulah ...................................................... 69 Teori-teori Bahasa sebagai Kontekstual Pembelajaran Bahasa Indonesia Oleh: Wawan Setiawan ................................................................................................ 72
BAGAIMANA BELAJAR BAHASA ......................................................................................... 76

Bagaimana Cara Belajar Bahasa, Khususnya Bahasa Indonesia Oleh: Ela Stj ............... 77 Belajar Bahasa Oleh: Isna Priyanti ....................................................................................... 81 Belajar Bahasa dan Perkembangan Bahasa Oleh: Neng Widaningsih ........................... 86 Bagaimana Belajar Bahasa Oleh: Rina ................................................................................. 90 Belajar Bahasa Oleh: Rinrin Riansyah ................................................................................... 94 Bagaimana Belajar Bahasa Oleh: Sumiyati .......................................................................... 98 Bagaimana Belajar Bahasa Indonesia Oleh: Yogi Ginanjar ............................................ 102

146

Daftar Isi Pengertian Bahasa

Kumpulan Artikel “Teori Belajar Bahasa”

2010

BAGAIMANA MENGAJARKAN BAHASA ........................................................................ 106

Upaya Meningkatkan Mutu Pengajaran Bahasa dan Sasta Indonesia di Sekolah Oleh: Ade Muhamad Pidin ......................................................................................... 107 Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Oleh: Ai Rima S. ..............................................................................................110 Mengajarkan Berbicara dalam Diskusi Kelompok Oleh: Irmawati ...............................113 Bagaimana Mengajar Bahasa Oleh: Nurhayat ...................................................................117 Bagaimana Mengajarkan Bahasa Oleh: Rin Yoantriana ................................................. 120 Bagaimana Mengajar Bahasa Oleh: Yudi Setiadi ............................................................. 123
PENDEKATAN KEBAHASAAN ............................................................................................. 126

Pendekatan-pendekatan Bahasa Oleh: Elis Hindayati ................................................... 127 Pendekatan-pendekatan Kebahasaan Oleh: Hesty Rinrin ............................................. 132 Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa Oleh: Kania Puji Lestari .................................. 137 Teori Pendekatan Kebahasaan Oleh : Yeni Mulyani ........................................................141

DARI BERBAGAI SUMBER

147

Daftar Isi Pengertian Bahasa

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful